BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Musik adalah

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Musik adalah salah satu bentuk komunikasi massa yang setiap hari
didengar oleh manusia. Salah satu jenis musik pop yang termasuk baru diakui
dunia dan memiliki banyak peminat adalah K-Pop, kepanjangan dari Korean Pop,
yang artinya musik pop korea, yang berasal dari Korea Selatan. Banyak artis atau
idola K-Pop sudah menembus batas dalam negeri dan populer di mancanegara,
seperti Super Junior, SNSD, FT Island, 2PM, CN Blue. Kegemaran akan musik
K-Pop merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Hallyu atau Korean Wave,
yang artinya Demam Korea. Istilah ini menggambarkan fenomena tersebarnya
budaya pop Korea secara global di berbagai negara di dunia, seperti hampir di
seluruh penjuru Asia termasuk Indonesia, Amerika, bahkan menembus Eropa.
Di Indonesia sendiri, K-Pop sudah menjadi musik yang memiliki banyak
penggemar. Meskipun peminat K-Pop tidak sebesar peminat musik yang berasal
dari barat, namun keberadaan K-Pop secara perlahan dapat mengambil hati
anggota Indonesia. Perkembangan K-Pop di Indonesia yang paling nyata adalah
mulai banyaknya acara musik berupa konser maupun festival, yang mendatangkan
artis Korea sebagai bintang tamunya.
Mengacu pada banyaknya jumlah penggemar K-Pop saat ini, maka
terbentuklah basis penggemar Korea yang dikenal dengan sebutan K-Pop Lovers,
yang biasa tergabung dalam fanbase dari fandom tertentu. Fanbase merupakan
suatu wadah atau basis berkumpulnya fandom artis atau idola tertentu. Sedangkan
fandom adalah sebutan bagi fans yang mengidolakan artis tersebut, seperti
Primadonna untuk FT Island, E.L.F. untuk Super Junior, Sone untuk SNSD,
BOICE untuk CN Blue, Hottest untuk 2PM, dan masih banyak fandom lainnya.
Fanbase biasanya terdiri dari sekelompok orang yang memiliki kecintaan
terhadap fandom tertentu. Tujuan utama pembentukan fanbase ini sebenarnya
adalah sebagai wadah tempat berkumpulnya sekumpulan orang yang memiliki
idola yang sama untuk saling bertukar informasi, menambah pengetahuan, dan
1
menjalin pertemanan. Salah satu kegiatan fanbase misalnya mengadakan suatu
perkumpulan rutin, yang biasa disebut dengan gatehring, minimal sekali dalam
tiga bulan atau pada acara K-Pop massal dimana seluruh fanbase dari fandom KPop yang ada berkumpul.
Di Indonesia sendiri, terdapat beberapa fanbase besar yang bisa
dikatakan sebagai wadah berkumpulnya sub-fanbase, misalnya Primindo
(Primadonna Indonesia). Biasanya fanbase besar tersebut diakui sebagai
perwakilan untuk fanbase internasional karena memiliki anggota dalam skala
yang besar, bahkan sampai ribuan. Pada umumnya sebuah fanbase dibentuk oleh
beberapa orang yang sekaligus sebagai pengelola fanbase tersebut. Usaha mereka
dalam mengumpulkan dan menarik anggota untuk masuk ke dalam fanbase adalah
salah satu tujuan penting untuk bertahannya sebuah fanbase, karena semakin
banyak jumlah anggotanya, maka aktivitas perkumpulan tersebut akan terus
berjalan dan keberadaaanya semakin diakui di mata fanbase lain. Untuk mencapai
tujuan tersebut, kunci utama yang diperlukan kelompok pembentuk dan pengelola
fanbase adalah menjaga supaya anggota tersebut akan terus berada didalamnya,
salah satunya dengan melakukan komunikasi yang baik dengan anggota.
Kelompok pendiri dan pengelola fanbase tersebut, yang biasa disebut
admin, dan anggota melakukan berbagai usaha yang dikomunikasikan kepada
anggota yang diharapkan dapat menggugah partisipasi mereka dalam wujud
keikutsertaan meramaikan kegiatan fanbase dan turut serta dalam usaha
menuangkan ide dalam aktivitas fanbase tersebut. Maka dari itu, komunikasi
dalam kelompok diharapkan dapat berjalan baik sehingga tercipta sebuah
hubungan yang baik yang nantinya akan mempengaruhi kelancaran aktivitas
fanbase. Komunikasi kelompok tersebut dapat ditilik melalui proses komunikasi
yang terjadi antar anggota dan proses tersebut tampak dalam wujud nyata
partisipasi anggotanya dalam kegiatan yang diadakan fanbase itu.
Yogyakarta adalah salah satu kota yang memiliki fanbase K-Pop cukup
banyak dan tergolong aktif. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya event K-Pop
di Yogyakarta yang tergolong sukses, seperti K-Pop Festival dan K-Pop Day in
Jogja. Fanbase K-Pop di Yogyakarta yang tergolong aktif sampai saat ini,
2
termasuk Prof‟Djo. Prof‟Djo (Primadonna of Djogja) merupakan fanbase dari
“Idol Band” Korea Selatan, FT Island, dengan fandomnya yang disebut
Primadonna. Fanbase ini memiliki anggota aktif sekitar 10-15 orang yang sering
melakukan perkumpulan atau gathering.
Dalam fanbase tersebut proses komunikasi setidaknya terjalin antara
pengelola dengan anggota, serta antar anggota dalam kelompok tersebut.
Kemampuan individu atau kelompok untuk menyampaikan pesan atau informasi
dengan baik dan menjadi pendengar yang baik dalam proses komunikasi
merupakan bagian penting dalam melaksanakan komunikasi yang efektif dalam
suatu kelompok. Faktor penting dalam komunikasi bukan sekedar apa yang
dikatakan seseorang, melainkan lebih kepada bagaimana seseorang tersebut dapat
menyampaikan pesan kepada individu lainnya dan adanya umpan balik oleh
komunikan terhadap apa yang disampaikan oleh komunikator. Hal ini meliputi
faktor komunikator, pesan, komunikan, dan umpan balik yang merupakan unsur
penting agar proses komunikasi berjalan interaktif. Interaksi yang terjadi tidak
hanya semata-mata dalam bentuk verbal, namun juga secara non verbal.
Proses komunikasi yang terjalin dengan baik merupakan wujud
berjalannya sebuah kelompok. Sebuah kelompok dikatakan berjalan dengan baik
apabila adanya partisipasi dari anggota kelompok tersebut. Wujud partisipasi dari
anggota fanbase prof”djo adalah contoh konkrit terjadinya proses komunikasi
yang baik karena menunjukkan suatu interaksi yang baik didalamnya, baik dalam
keterlibatan anggota dalam menyampaikan pendapat, mengambil, keputusan,
keterlibatan dalam aktivitas fanbase, sampai pada tahap evaluasi dari kegiatan
yang dilaksanakan.
Berdasarkan uraian diatas, penelitian ini mencoba mendeskripsikan
tentang bagaimana komunikasi yang dilakukan oleh kelompok fanbase K-Pop,
khususnya proses komunikasi anggota fanbase Prof‟Djo, baik pendiri, pengelola,
maupun anggota itu sendiri, serta wujudnya berupa partisipasi anggotanya. Kajian
terhadap komunikasi kelompok dalam penelitian ini difokuskan berdasarkan
unsur-unsur dalam sebuah proses komunikasi yang meliputi komunikator, pesan,
saluran komunikasi, komunikan, dan umpan balik yang terjadi dalam aktivitas
3
fanbase dan dilihat wujud partisipasi anggotanya berdasarkan proses komunikasi
yang terjadi.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas, maka fokus kajian dalam penelitian ini adalah:
1. “Bagaimana proses komunikasi kelompok fanbase Prof‟Djo?”
2. “Bagaimana wujud partisipasi anggota kelompok fanbase Prof‟Djo dalam
proses komunikasi kelompok?”
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui dan menganalisis:
1. Proses komunikasi kelompok fanbase prof'djo.
2. Wujud partisipasi anggota kelompok fanbase Prof‟Djo dalam proses
komunikasi kelompok.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah:
1.
Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan pemikiran bagi
perkembangan ilmu komunikasi, khususnya komunikasi kelompok dalam
kajian ilmu komunikasi.
2.
Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini merupakan rekomendasi sebagai bahan masukan bagi
para pendiri, pengelola, dan anggota fanbase K-Pop di Yogyakarta,
khususnya dalam melakukan komunikasi kelompok yang efektif dalam
rangka meningkatkan partisipasi anggota dalam sebuah fanbase.
E. Kerangka Pemikiran
Salah satu unsur penting dalam kehidupan manusia untuk saling
berinteraksi adalah dengan berkomunikasi. Ruben dan Steward (2005: 16)
4
mengartikan komunikasi manusia adalah proses yang melibatkan individuindividu dalam suatu hubungan, kelompok, organisasi dan anggota yang
merespon dan menciptakan pesan untuk beradaptasi dengan lingkungan satu sama
lain. Secara umum, komunikasi dapat didefinisikan sebagai sebuah proses
penyampaian pikiran atau informasi dari seseorang kepada orang lain melalui
suatu cara tertentu sehingga orang lain tersebut mengerti apa yang dimaksudkan
oleh penyampai informasi. Komunikasi merupakan sebuah interaksi, penyataan
ini menggambarkan bahwa setiap elemen dalam proses interaksi didalamnya
saling terkait dan bergantung dengan elemen lainnya. Definisi komunikasi sebagai
proses interaksi dapat dilihat berdasarkan proses komunikasi yang dikemukakan
oleh Wilbur Schramm. Proses komunikasi tersebut dapat dilihat pada gambar
berikut (Mulyana, 2011:152) :
Gambar 1.1.
Model Komunikasi Schramm
Model interaksional dikembangkan oleh Wilbur Schramm pada tahun
1954 yang menekankan pada proses komunikasi dua arah di antara para
komunikator. Dengan kata lain, komunikasi berlangsung dua arah, dari pengirim
dan kepada penerima dan dari penerima kepada pengirim. Proses melingkar ini
menunjukkan bahwa komunikasi selalu berlangsung. Para peserta komunikasi
menurut model interaksional adalah orang-orang yang mengembangkan potensi
manusiawinya melalui interaksi sosial, tepatnya melalui pengambilan peran orang
lain. Patut dicatat bahwa model ini menempatkan sumber dan penerima
5
mempunyai kedudukan yang sederajat. Satu elemen yang penting bagi model
interaksional adalah umpan balik (feedback), atau tanggapan terhadap suatu
pesan.
Proses komunikasi terdiri dari berbagai macam bentuk dan salah satu
bentuk komunikasi yaitu komunikasi kelompok. Komunikasi bentuk ini
merupakan komunikasi yang terjadi antara sekelompok orang yang tergabung
dalam kelompok tertentu yang memiliki tujuan yang sama. Sekelompok orang
yang membentuk kelompok ini akan memiliki ciri-ciri tertentu untuk dapat
dikatakan sebagai kelompok antara lain: 1) kelompok ditandai dengan adanya
interaksi antar individu; 2) adanya ketentuan dan pembatasan tertentu untuk
menjadi anggota kelompok; 3) adanya kesadaran individu bahwa individu tersebut
merupakan bagian dari kelompok; 4) adanya kecenderungan untuk bereaksi dan
berperilaku yang sama dengan lingkungan sekitarnya; 5) adanya ketergantuangan
tiap anggota; 6) memiliki norma yang sesuai dengan kepentingan umum; 7)
memiliki sanksi terhadap anggota yang melanggar; dan 8) memiliki tujuan,
persepsi dan ketertarikan yang sama (Cathwright, 1986: 89).
Prof‟Djo merupakan fanbase yang tergolong kelompok kecil, karena
anggota aktif dalam fanbase itu sekitar 10-15 orang. Istilah kelompok kecil
memiliki tiga makna: 1) jumlah anggota kelompok itu hanya sedikit orang; 2)
diantara para anggota kelompok itu saling mengenal dengan baik; 3) pesan yang
dikomunikasikan bersifat unik, khusus, dan terbatas bagi anggota sehingga tidak
sembarang orang dapat bergabung dalam kelompok itu. Komunikasi kelompok
yang dilakukan pengelola dan anggota fanase prof‟djo dapat dimaknai sebagai
penyampaian informasi atau penjelasan yang dibutuhkan untuk membangun
kerjasama diantara keduanya. Agar tujuan tersebut tercapai maka proses
komunikasi yang dilakukan pengelola terhadap anggota diharapkan berjalan
dengan baik, sehingga wujud partisipasi anggota dapat terlihat secara nyata.
1. Pembentukan Kelompok dan Struktur Kelompok
Kita sebagai manusia merupakan makhluk sosial yang melihat pentingnya
berkelompok. Secara alamiah, manusia tidak dapat hidup sendiri. Dalam
6
memenuhi kebutuhannya pun manusia tidak jauh dari interaksi dengan manusia
lain yang ada disekelilingnya. Dengan demikian, hampir seluruh waktu kita
habiskan untuk berinteraksi, dididik, belajar serta bermain dalam kelompok.
Kelompok terbentuk karena adanya dua orang atau lebih yang memiliki kontak
untuk mencapai tujuan. Kelompok memiliki tujuan yang hendak dicapai. Tujuan
kelompok adalah suatu keadaan di masa mendatang yang diinginkan oleh anggota
kelompok. Oleh sebab itu masing-masing anggota melakukan berbagai tugas
kelompok.
Ivan Steiner (Forsyth, 1983) memandang dinamika kelompok melalui dua
perspektif, sosiologi dan psikologi. Sosiologi menekankan pada kelompok dan
pengaruh pada kelompok tersebut. Sedangkan psikologi memandang individu
sebagai diri yang unik. Keunikan ini terlihat dari cara berpikir, emosi, dan sikap
pada kelompok. Durkheim (Forsyth, 1983) lebih berfokus pada hubungan
interpersonal pada primary groups. Sedangkan Gustav Le Bon (dalam Forsyth,
1983) lebih memfokuskan pada dinamika individu pada kelompok. Pada akhirnya,
dinamika kelompok tidak hanya dimiliki oleh satu disiplin ilmu saja. Keduanya
mampu menjadikan dinamika kelompok sebagai sub bab yang tidak terpisahkan.
Menurut Johnson & Johnson (2000) kelompok terbentuk karena suatu
alasan. Orang masuk ke dalam suatu kelompok untuk mencapai tujuan yang tidak
dapat dicapai sendirian. Pengertian kelompok sendiri dapat dilihat dari beberapa
sudut pandang, diantaranya pengertian kelompok berdasarkan :
a. Motivasi
Pandangan ini terjadi karena para ahli mengamati adanya individuindividu yang bergabung dalam satu kelompok, dan mereka merasa
yakin bahwa dengan bergabung dengan kelompok tersebut, maka
kebutuhan yang ada pada dirinya terpenuhi. Menurut Cattel (Johnson &
Johnson, 2000) kelompok adalah kumpulan individu yang dalam
hubungannya dapat memuaskan kebutuhan satu dengan yang lainnya.
7
b. Tujuan
Mills (Johnson & Johnson, 2000) menyatakan bahwa kelompok
memiliki definisi, sebagai kelompok kecil yang terdiri dari dua atau
lebih dalam sebuah hubungan untuk sebuah tujuan dan menganggap
bahwa hubungan atau interaksi yang terjadi mempunyai makna. Setiap
kelompok memiliki tujuan yang hendak dicapai.
c. Organisasi
Johnson (2000) menjelaskan bahwa kelompok adalah suatu sistem yang
diorganisasikan pada dua orang atau lebih yang dihubungkan satu dengan
lainnya yang menunjukkan fungsi yang sama, memiliki standar peran
dalam berhubungan antar anggota dan memiliki norma yang mengatur
fungsi kelompok dan setiap anggotanya.
d. Interaksi
Interaksi atau hubungan timbal balik merupakan komponen yang penting
dalam kelompok, karena dengan hubungan timbal balik tersebut akan ada
proses memberi dan menerima informasi antar anggota kelompok
(kebutuhan akan informasi terpenuhi). Berdasarkan pengertian tersebut,
dapat dikatakan bahwa kelompok adalah sekumpulan orang yang terdiri
dari dua atau lebih individu yang melakukan interaksi satu dengan yang
lainnya yang dapat mempengaruhi pada setiap anggotanya.
Setelah memahami pengertian kelompok dari berbagai sudut pandang,
maka dapat melihat bagaimana pembentukan kelompok terjadi. Pembentukan
kelompok merupakan salah satu awal dari individu untuk berinteraksi dengan
sesamanya. Adapun tahap-tahap yang perlu diperhatikan dalam pembentukan
kelompok yang pertama kali diajukan oleh Bruce Tackman pada 1965. Teori ini
memfokuskan pada cara suatu kelompok menghadapi suatu tugas mulai dari awal
pembentukan kelompok hingga proyek selesai. Tahap pembentukan kelompok
Tuckman dapat dilihat sebagai berikut:
8
a. Tahap 1 – Forming. Pada tahap ini, kelompok baru saja dibentuk dan
diberikan tugas. Anggota kelompok masih cenderung untuk bekerja
sendiri dan masih belum saling mengenal dan belum bisa saling percaya.
Waktu banyak dihabiskan untuk merencanakan, mengumpulkan informasi
dan mendekatkan diri satu sama lain.
b. Tahap 2 – Storming. Pada tahap ini kelompok sudah mulai
mengembangkan ide-ide berhubungan dengan tugas yang mereka hadapi.
Anggota kelompok saling terbuka dan mengeluarkan ide-ide dan
perspektif mereka masing-masing. Sehingga kemungkinan tejadinya
konflik.
c. Tahap 3 – Norming. Pada tahap ini sudah terdapat kesepakatan antara
anggota kelompok. Kelompok mulai menemukan kesesuaian dengan
kesepakatan yang mereka buat mengenai aturan-aturan dan nilai-nilai yang
digunakan. Pada tahap ini, anggota kelompok mulai dapat mempercayai
satu sama lain seiring dengan melihat kontribusi penting masing-masing
anggota untuk kelompok.
d. Tahap 4 – Performing. Pada tahap ini, kelompok dapat berfungsi dalam
menyelesaikan pekerjaan atau tugas dengan lancar dan efektif. Anggota
kelompok saling tergantung satu sama lain dan mereka saling respek
dalam berkomunikasi.
e. Tahap 5 – Adjourning. Ini adalah tahap terakhir dalam kelompok dimana
proyek tugas atau pekerjaan berakhir dan kelompok membubarkan diri.
Dalam sebuah kelompok terdapat struktur yang membentuk perilaku
anggotanya dan memungkinkan untuk menjelaskan sebagian perilaku individu di
dalam kelompok maupun kinerja kelompok itu sendiri. Struktur kelompok terdiri
dari:
a. Norma
Norma merupakan standar perilaku yang dapat diterima yang digunakan
bersama oleh para anggota kelompok. Norma memberitahukan kepada anggota
apa yang seharusnya dan apa yang tidak seharusnya dilakukan. Norma sebagai
9
elemen dasar dalam struktur kelompok sebagai arahan dan motivasi,, pengatur
interaksi sosial, serta membuat tanggapan orang lain tersebut dapat diprediksi dan
bermakna. Johnson dan Johnson (2000) menyatakan bahwa norma sebagai
keyakinan umum dalam kelompok mengenai perilaku, sikap serta persepsi yang
sesuai. Adapun 2 bentuk norma yaitu norma deskriptif dan norma perspektif
dimana yang artinya sebagai berikut:
1) Norma deskriptif merupakan apa yang sering dilakukan, dirasakan, serta
dipikirkan oleh orang ketika sedang berada dalam suatu situasi tertentu.
Contoh: ketika di jalan tol ada himbauan bagi kendaraan yang berjalan
lambat untuk berjalan di bahu kiri dan bagi kendaraan yang ingin
mendahului dan melaju cepat untuk berjalan di lajur kanan.
2) Norma perspektif yang lebih evaluatif, menjelaskan apa yang harus dan
tidak boleh dilakukan oleh individu pada situasi tertentu, dan jika ada
yang melanggar akan dinilai negatif. Contoh: perintah membayar pajak
untuk para wajib pajak, bagi yang tidak mematuhi akan dikenai sanksi.
Kelompok kadang mengadopsi norma sebagai aturan kelompok mereka,
tetapi norma-norma kebanyakan muncul secara bertahap karena anggota
kelompok mencoba menyelaraskan perilaku mereka sampai mereka sesuai dengan
standar tertentu. Dalam proses perkembangan norma, ada seorang peneliti
bernama Muzafer Sherif (Forsyth, 1983) yang mencerminkan bagaimana orangorang dalam kelompok dari waktu ke waktu datang untuk mengembangkan
standar yang berfungsi sebagai kerangka acuan bagi perilaku dan persepsi. Sherif
mempelajari perkembangan norma dengan mengambil keuntungan dari gerak
refleks. Dalam penelitiannya, Sherif menemukan bahwa individu cenderung
mengambil keputusan itu sendiri. Akan tetapi ketika individu tersebut telah berada
dalam sebuah kelompok, pada sesi pertama dalam kelompok, individu tersebut
mulai mempertimbangkan keputusan lain dari anggota kelompok lainnya.
Selanjutnya, keputusan individu tersebut menjadi satu keputusan kelompok.
Proses bersatunya keputusan menjadi satu keputusan dalam kelompok oleh Sherif
10
disebut sebagai funnel pattern atau motif corong. Menurut Sherif, norma
berkembang karena adanya interaksi antar anggota kelompok tersebut.
Sherif menyimpulkan bahwa norma-norma baru berkembang dalam
kelompok bila konteksnya menyediakan sedikit informasi untuk menuntun
tindakan atau untuk memungkinkan anggota untuk menyusun keyakinan. Menurut
Kelman (dalam Forsyth, 1983) mereka yang mematuhi norma kelompok bahkan
ketika tidak ada tekanan eksternal untuk melakukannya, menunjukkan bahwa
mereka secara pribadi menerima standar tersebut sebagai milik mereka.
Kelompok juga menginternalisasikan norma yang ada pada kelompok mereka
dengan cara menerima norma tersebut sebagai standar yang pasti bagi perilaku
mereka.
b. Peran
Dalam suatu kelompok masing-masing anggota tentu tidak melakukan hal
yang sama dalam mencapai tujuan. Setiap anggota memiliki tugas dan fungsi yang
berbeda sesuai dengan harapan. Dengan kata lain, anggota kelompok yang
berbeda tentu akan memainkan peran yang berbeda.
Terkadang masyarakat sengaja menciptakan perannya. Hal ini ditunjukkan
dalam kelompok untuk memperjelas eksistensi mereka. Tidak hanya formal group
structure yang dibentuk, namun kelompok juga akan kemungkinan membentuk
informal group structure. Hal ini mengidentifikasikan peran dari masing-masing
anggota kelompok yang bervariasi. Forsyth (1983) menyatakan bahwa role
differentiation adalah perbedaan peran dalam suatu kelompok, misal menjadi
pemimpin, pengikut, atau pengeluh. Dalam suatu kelompok tentulah tidak akan
memiliki peran yang sama pada anggotanya. Ada yang berperan sebagai
pemimpin sehingga dituntut untuk optimis. Meskipun bukan menjadi jaminan
bahwa dengan status tertentu, setiap anggota di asosiakan dengan sifat terrtentu.
Benne dan Sheats (dalam Forsyth, 1983) membagi peran atas:
1) Task role: anggota kelompok yang melakukan tugasnya untuk mencapai
tujuan tertentu pada kelompok tersebut. Misalnya sebagai coordinator,
11
elaborator, energizer, evaluatorcritic, information giver, information
seeker, dan opinion seeker.
2) Sociemotional role: Posisi anggota dalam kelompok untuk mendukung
perilaku interpersonal
secara akomodatif.
Misalnya
compromiser,
encourager, follower, dan harmonizer.
3) Individual role : peran individu yang tidak berkontribusi dengan besar,
namun tetap dibutuhkan perannya sebagai penopang kebutuhan kelompok.
Misalnya aggressor, block, dominator, dan help seeker.
Terdapat perbedaan dengan ketiganya karena setiap anggota akan tidak
mudah untuk mencapai task role dan sociemotional role secara bersamaan.
Masing-masing telah memiliki spesifikasinya sendiri. Spesifikasi tugas cenderung
untuk mendapatkan pertanyaan lagi, menampilkan ketegangan, antagonisme, dan
perselisihan. Sedangkan spesifikasi sosioemosional menerima demostrasi dari
solidaritas, pengurangan ketegangan, dan solusi dari masalah. Namun bukan
berarti anggota kelompok tidak mampu menjalankan sekaligus. Bahkan ketika
anggota kelompok melakukan keduanya, maka peran mereka akan menjadi lebih
efektif.
2. Audien Dalam Kelompok
Kelompok fanbase K-Pop Prof‟Djo merupakan kumpulan dari individu
yang saling bertemu dalam satu lingkungan, berlangsung dalam rentang waktu
tertentu, dan terhimpun bersama oleh tindakan individual untuk memilij secara
sukarela sesuai dengan harapan tertentu. Audien dalam kelompok fanbase ini
merupakan kumpulan yang sudah direncanakan sebelumnya dan ditentukan
menurut waktu dan tempat. Lingkungan yang berada pada lingkup audien
seringkali dirancang sebagai indikasi peringkat dan status. Audien juga dapat
dikendalikan oleh pihak yang berwenang dan karenanya bentuk perilaku kolektif
yang dilembagakan.
Hunter beranggapan bahwa, Audien tidak sepenuhnya pasif tetapi mereka
merupakan individu yang secara sadar memilih jenis dan isi media. Dari media
12
inilah mereka mencari informasi dan mendapatkan hiburan untuk memuaskan
kebutuhan pribadi dan sosial mereka. Dengan kata lain, teori ini menunjukkan
bahwa yang menjadi permasalahan utama bukanlah bagaimana media mengubah
sikap dan perilaku khalayak, tetapi bagaimana media memenuhi kebutuhan
pribadi dan sosial khalayak (Effendi, 1993: 289).
Audien yang menggunakan medium sebagai kelompok yang memiliki
budaya, intelektual dan cita rasa, terdiri dari para individu dengan cita rasa yang
sama
dan
untuk
memenuhi
kebutuhan
sosial
yang
secara
spontan
mentransformasikan diri menjadi kelompok sosial.
Nightingale (2003) mengemukakan ada cara lain mencirikan macammacam perbedaan audiens yang telah muncul seiring perkembangan media dan
perubahan waktu. Nightingale menawarkan konsep tipologi baru yang
menggambarkan bagian inti dari variasi baru yang terangkai dalam 4 hal:
(McQuail, 2010: 399)
a. Audien sebagai rangkaian manusia maksudnya kekuatan besar
manusia yang bisa berpengaruh besar pada media atau poduk yang
ditampilkan pada waktu tertentu diistilahkan sebagai spektator (galeri).
b. Audien sebagai pengkhususan manusia maksudnya diasumsikan
sebagai kelompok manusia yang ditarget oleh komunikator dan
bagaimana paket media komunikasi sudah terencana. Ini maksud dari
inscribed audience (audien yang terkotakan).
c. Audien sesaat maksudnya kegiatan tunggal atau kelompok audien
aktivitas sehari-hari pada saat tertentu, ditempat tertentu dan untuk
kegiatan tertentu.
d. Audien sebagai pendengar maksudnya kelompok orang yang
mempunyai kepentingan yang sama dalam suatu tempat dan diarahkan
untuk menjalankan respon yang sama. Contohnya : audien yang berada
di program acara tukul diatur untuk bertepuk tangan dan tertawa
bersama sesuai arahan pengaruh panggung.
13
3. Fan, Fandom, dan Fanbase
Kelompok penggemar adalah fitur umum dari budaya populer dalam
masyarakat industri. Kelompok penggemar seringnya bergabung dengan bentuk
budaya yang mencemari sistem nilai dominan seperti musik pop, novel romantis,
komik, bintang Hollywood. Hal ini tergabung dengan selera budaya formasi
subordinat orang kebanyakan, terutama dengan pemberdayaan kombinasi gender,
umur, kelas dan ras (Fiske, 1992:29 dalam Lewis).
Para penggemar adalah bagian paling tampak dari khalayak teks dan
praktik budaya pop. Penggemar selalu dicirikan sebagai suatu kefanatikan yang
potensial. Hal ini berarti bahwa kelompok penggemar dilihat sebagai perilaku
yang berlebihan dan berdekatan dengan kegilaan.
Penggemar dipahami sebagai korban-korban pasif dari media massa.
Media massa mengkonstruksi wacana kepada penggemar dan membentuk theatre
of mind mereka. Hal ini menyebabkan penggemar tidak bisa mendiskriminasikan
dan menciptkan jarak antara diri mereka dan objek-objek kesenangan. Stereotip
yang paling umum misalnya adalah kelompok-kelompok gadis dan perempuan
histeris meneriaki para selebritis idola mereka, kelompok penggemar yang saling
bersaing mengadopsi gaya idolanya atau kelompok penggemar yang rela
melakukan apa saja demi bertemu idolanya.
Audiens terhubung dengan sumber media yang jauh dengan beberapa cara
yang berbeda melalui mediasi keluarga, teman dan lingkungan sosial yang lain.
Hal tersebut juga relevan dengan memasukkan fandom dalam kategori yang sama,
munkin ini tidak terlalu spontan dan dimanipulasi oleh media. Pengalaman
audiens selalu mengkarakteristikkan keadaan yang terhubung dengan penampilan
tertentu (kebanyakan), tapi juga pada jenis penampilan tertentu (tipe musik, genre
film). Kelemahan jenis fandom (kelompok penggemar) ini adalah sekedar atraksi
medium, sebagai ekspresi lama penggemar. Versi yang paling kuat meliputi
derajat tinggi investasi emosional pada personalitas media. Beberapa sedikit sama,
bisa terjadi pada pengkikut serial televisi tertentu, ketika tambahan karakter fiksi
bercampur dengan karakter aktor atau ketika perbedaan anatara fiksi dan realita
tidak terlihat secara kasat mata (McQuail, 2005: 445).
14
Fandom sering tergabung dengan pandangan kritik ketidakdewasaan dan
ketidakrasionalan sebagai sebuah outcome budaya massa dan contoh perilaku
massa. Fandom juga diinterpretasikan sebagai pendukung manipulasi dan
eksploitasi, sesuatu yang mendukung media untuk memperkuat hubungan dengan
produk dan performer, untuk membantu dengan publikasi dan untuk mndapatkan
uang ekstra dari merchandise dan produk media lainnya. Itu membantu
memperluas hidup produk dan memaksimalkan keuntungan. Selain itu, ada
pandangan alternatif dimana melihat fandom bukan sebagai manipulasi media tapi
sebagai kekuatan produktif dari audiens. Berdasarkan pandangan ini, penggemar
secara aktif membuat makna baru dari materi yang disuguhkan, membangun
sistem diskriminasi kultural, display yang stylis, identifikasi sosial dan
memisahkan kelompok penggemar dari hubungan manipulatif media (McQuail,
2005: 446).
Fandom adalah pemikiran yang terbaik sebagai sesuatu yang kolektif.
Dengan mendefinisikan fandom yang dihubungkan dengan media dalam cara
yang memuaskan dan menjembatani jarak nyata yang bisa diprediksi antara
bintang dan penggemar. Namun, itu juga bisa menjadi pengalaman yang
menyakitkan dimana meliputi ekspektaksi tinggi dan emosi yang mengejutkan
bisa membuat penggemar berpotensi mendapatkan ejekan. Fandom juga
mempunyai sisi “down” dari objek afeksi karena penggemar bisa berubah-ubah.
Mereka juga memperlakukan bintang sebagai objek gosip, cemburu dan tidak
suka, sering mendorongnya oleh media lain (McQuail, 2005: 446).
4. Fanbase Sebagai Komunitas Nyata dan Virtual
Kelompok atau komunitas adalah sekumpulan individu yang biasanya
memiliki minat yang sama. Sebuah komunitas biasanya terbentuk karena memiliki
kebutuhan yang sama (ataupun tidak) pada sebuah minat tertentu. Sebuah
komunitas biasanya diawali dengan berkumpul bersama. Awalnya dengan
beberapa orang yang saling kenal, memiliki minat yang sama dan kemudian
berkembang dan anggotanya pun bertambah.
15
Di dalam suatu komunitas tetntunya kita dapat berbagi satu sama lain
baik itu cerita pribadi, pengalaman dan tentunya masih banyak lagi yang dapat
dibagi atau juga berdiskusi tentang suatu masalah yang nyata atau yang terjadi
didalam kehidupan dunia virtual itu sendiri. Apakah orang bergabung dalam
komunitas virtual karena sudah bosan dengan dunia nyata sehingga mereka
menciptakan dunia sendiri yaitu dunia virtual? Mungkin itu yang menjadi alasan
mereka menciptakan komunitas virtual agar mereka merasa lebih nyaman. Sangat
terasa manfaat internet untuk dunia komunikasi melalui media virtual dengan
berbagai
fasilitas
yang
ditawarkan
hanya
tinggal
bagaimana
cara
memanfaatkannya kearah yang positif dan menghindari negatifnya.
Beberapa studi telah mengungkap interaksi grup melalui komputer
dianggap lebih setara partisipasinya antara para anggota dibandingkan interaksi
kelompok tatap muka. Penjelasan umum efek adalah bahwa orang-orang merasa
sedikit tertutup ketika berinteraksi melalui jaringan komputer sebagai suatu
reduksi sinyal sosial yang menyediakan informasi yang dilihat dari status salah
satu grup. Karena orang-orang berkomunikasi secara elektronik itu kurang adar
terhadap perbedaan sosial, mereka merasa rasa anonim yang lebih hebat dan
hanya sedikit mendeteksi indivisualitas seseorang (Sproul and Kiesler, 1991).
Beberapa studi telah menemukan bahwa grup yang dimediasi lewat komputer
dalam pengambilan keputusan menukar sedikit informasi dan mengulang
informasi dibandingkan kelompok yang tatap muka (Hollingshead, 2009: 127).
Van Dijk menjelaskan empat karakteristik yang menurutnya menjadi
karakter umum semua komunitas yaitu antara lain memilki anggota, sebuah
organisasi sosial, memiliki bahasa dan pola interaksi serta sebuah identitasw
umum dan kultural. Karakteristik itulah yang nantinya digunakan untuk
membandingkan komunitas virtual dengan kehidupan nyata atau komunitas nyata,
yang disebut komunitas organik. Banyak komunitas virtual bisa dikarakteristikkan
berdasarkan kuatnya hubungan antara anggota-anggotanya berdasarkan tempat
dan waktu dan merefleksikan sebuah keanggotaan homogenitas (Lievrow, 2009:
63).
16
Van Dijk menyatakan bahwa grup elektronik akan menyerupai bagian
komunitas organik dalam hal struktur dan aturan. Keseluruhan kesimpulannya
adalah bahwa komunitas virtual tidak dapat memperoleh kembali hilangnya
komunitas dalam masyarakat, dalam hal yang luas karena budaya dan identitas
dibuat begitu parsial, heterogenitas dan ketidastabilan yang membuat rasa
keanggotaan dan rasa memilki yang kuat. Dan baiknya, komunitas virtual mamp[u
melengkapi komunitas organik, tapi tidak menggantikannya (Lievrouw, 2009:
63).
Tabel 1.1.
Ideal Types Organics and Virtual Communities
Characteristic
Composition and activity
Social organization
Organic
Tight Group (age)
Several activities
Tied to place and time
Language and interaction Verbal and nonverbal
Culture and identity
Total singular
Homogeneous
Virtual
Loose affiliation
Special activities
Not tied to place and
time
Verbal and
paralanguage
Partial plural
Heterogenerous
Sumber: (Livrouw, 2009: 63)
Dalam buku Community Media in The Information Age, Nicholas
Jankowski (2002) menyatakan bahwa seiring dengan perkembangan jejaring
teknologi elektronik dan digital, komunitas virtual terus terbentuk. Perkembangan
revolusioner di bidang teknologi tersebut telah menambahkan arti sebuah
komunitas, dibandingkan dengan pengertian konvensional yang selama ini
berkembang (Jankowski, 2002).
Oleh karena itu, definisi sebuah komunitas yang memiliki kesamaan
secara geografis dapat pula diperluas dengan adanya „community of interest‟
(komunitas minat) karena para anggotanya memiliki persamaan minat dalam hal
budaya, sosial, ekonomi, atau politik, yang tidak dipengaruhi oleh keberadaan
mereka secara geografis. Komunitas ini yang paling nyata difasilitasi oleh media
17
yang menawarkan konsep segmentasi sempit atau dengan bahasa lain disebut
media komunitas.
Jankowski (2002) menegaskan
bahwa media komunitas dapat
diwujudkan ke dalam bermacam bentuk media, yaitu media cetak (surat kabar dan
majalah), media elektronik (radio, televisi), serta dalam bentuk penggabungan
(konvergensi) antara media cetak dengan media elektronik, misalnya dalam
bentuk situs internet atau website.
Perwujudan media komunitas banyak ditemukan di dalam format inisiatif
jaringan elektronik (electronic network initiatives), yang sering juga disebut
sebagai jaringan pendidikan publik (publik educational networks), jaringan akses
publik (public access networks), jaringan sipil (civic networks), internet bebas
(free-nets), kota digital (digital cities), atau jaringan komunitas (community
networks). Tujuan pembangunan fasilitas tersebut bervariasi, antara lain untuk
menyebarluaskan sumber teknologi informasi kepada masyarakat, mendukung
proyek pembangunan komunitas atau penyediaan informasi.
5. Komunikasi Dalam Kelompok Fanbase
Komunikasi kelompok mencakup studi komunikasi untuk memberikan
informasi dan mempengaruhi keputusan bagi individu dalam meningkatkan
keinginan mereka menjadi bagian dalam sebuah kelompok yang memiliki
kecintaan dan tujuan yang sama. Kebutuhan bersama tersebut akan menimbulkan
rasa memiliki dari para anggota terhadap kelompoknya. Hal tersebut dapat dilihat
dari hal-hal berikut:
a.
Adanya loyalitas dari para anggota terhadap anggota lainnya.
b.
Adanya loyalitas para anggota terhadap kelompoknya.
c.
Kesediaan berkorban secara ikhlas dari para anggota baik secara moril
maupun materiil demi kelangsungan hidup kelompoknya.
Terdapat berbagai macam definisi komunikasi kelompok menurut
beberapa ahli, namun pada intinya definisi-definisi tersebut mengacu pada satu
pemikiran. Komunikasi kelompok terjadi dalam suatu kelompok kecil dan
18
mengamati interaksi yang terjadi antar anggota kelompok. Komunikasi kelompok
adalah suatu proses dimana tiga orang atau lebih saling menukar informasi untuk
mencapai kebersamaan pengertian satu sama lainnya dalam situasi dimana mereka
berkomunikasi. Komunikasi kelompok dapat pula didefinisikan sebagai
komunikasi yang berlangsung antara beberapa orang dalam suatu kelompok
“kecil” seperti dalam rapat, pertemuan, konferensi dan sebagainya (Kincaid dan
Rogers, 1981: 256).
Batasan mengenai komunikasi kelompok dikemukakan oleh Ronald
Adler dan George Rodman (2000), yang mengatakan bahwa kelompok merupakan
sekumpulan kecil orang yang saling berinterksi, biasanya tatap muka dalam waktu
lama guna mencapai tujuan tertentu. Ada empat elemen yang muncul dari definisi
yang dikemukakan oleh Adler dan Rodman, yaitu :
a. Elemen pertama adalah interaksi dalam komunikasi kelompok merupakan
faktor penting, karena melalui interaksi inilah, kita dapat melihat
perbedaan antara kelompok dengan istilah yang disebut coact. Coact
adalah sekumpulan orang yang secara serentak terkait dalam aktivitas
yang sama namun tanpa komunikasi satu sama lain.
b. Elemen kedua adalah waktu. Sekumpulan orang yang berinteraksi untuk
jangka waktu yang singkat, tidak dapat digolongkan sebagai kelompok.
Kelompok mempersyaratkan interaksi dalam jangka waktu yang panjang,
karena dengan interaksi ini akan dimiliki karakteristik atau ciri yang tidak
dipunyai oleh kumpulan yang bersifat sementara.
c. Elemen ketiga adalah ukuran atau jumlah partisipan dalam komunikasi
kelompok. Tidak ada ukuran yang pasti mengenai jumlah anggota dalam
suatu kelompok. Ada yang memberi batas 3-8 orang, 3-15 orang dan 3-20
orang. Untuk mengatasi perbedaan jumlah anggota tersebut, muncul
konsep yang dikenal smallness, yaitu kemampuan setiap anggota
kelompok untuk dapat mengenal dan memberi reaksi terhadap anggota
kelompok lainnya. Dengan smallness ini, kuantitas tidak dipersoalkan
sepanjang setiap anggota mampu mengenal dan memberi reaksi pada
19
anggota lain atau setiap anggota mampu melihat dan mendengar anggota
yang lain/seperti yang dikemukakan dalam definisi pertama.
d. Elemen keempat adalah tujuan yang mengandung pengertian bahwa
keanggotaan dalam suatu kelompok akan membantu individu yang
menjadi anggota kelompok tersebut dapat mewujudkan satu atau lebih
tujuannya.
Komunikasi kelompok mengacu pada fokus pertukaran informasi verbal
dan nonverbal di antara anggota kelompok. Sebagai anggota, mereka terlibat
dalam komunikasi kelompok kecil dalam membuat, memahami penafsiran, dan
merespon pesan. Goldberg dan Larson (2011: 15), menyatakan bahwa komunikasi
kelompok memiliki lingkup yang lebih kecil dibandingkan komunikasi organisasi.
Dari penjelasan tersebut dapat dilihat bahwa komunikasi kelompok lebih bersifat
interpersonal antara satu dengan lainnya sehingga dalam proses komunikasinya
cenderung terjadi sebagai berikut:
a. Komunikasi dalam komunikasi kelompok bersifat homogen.
b. Dalam komunikasi kelompok terjadi kesempatan dalam melakukan
tindakan pada saat itu juga.
c. Arus balik di dalam komunikasi kelompok terjadi secara langsung, karena
komunikator dapat mengetahui reaksi komunikan pada saat komunikasi
sedang berlangsung.
d. Pesan yang diterima komunikan dapat bersifat rasional dan bersifat
emosional.
e. Komunikator dapat mengetahui dan mengenal komunikan.
Kelompok fanbase termasuk dalam kategori kelompok primer, Charles
Horton Cooley (1909) mengatakan bahwa kelompok primer ditandai dengan ciriciri keakraban komunikasi antar personal anggota di dalamnya dan ikatan
emosionalnya lebih kuat. Sebagai kelompok primer, kelompok memiliki
karakteristik komunikasi yaitu (Jalaludin, 2005:142-143):
20
a. Kualitas komunikasi pada kelompok primer bersifat dalam dan meluas.
Anggota kelompok dalam berkomunikasi dengan sesama anggota akan
memberikan gambaran tentang kepribadian mereka, menunjukkan unsurunsur perilkau yang hanya dapat ditampilkan dalam suasana privat.
Meluas dalam karakteristik ini menunjukkan bahwa sedikit sekali
rintangan atau batas antar anggota dalam berkomunikasi.
b. Komunikasi
pada
kelompok
primer
bersifat
personal.
Personal
memberikan arti bahwa anggota kelompok memandang anggota lainnya
sebagai sebuah personal. Hal ini mengakibatkan akan terdapat perbedaan
perilaku kepada satu anggota dengan anggota lainnya. Kehadiran anggota
satu dengan anggota lainnya akan memberikan perbedaan maka. Sebagai
contoh adalah hubungan anggota A dengan B akan berbeda ketika A
dengan C atau pengganti B yang bukan merupakan B meskipun posisi
sama namun berbeda orang.
c. Komunikasi lebih menekankan aspek hubungan daripada isi. Hubungan
anggota satu dengan anggota lainnya merupakan hubungan komunikasi
interpersonal
yang lebih
mengedepankan
hubungan
daripada
isi
pembicaraan atau komunikasi mereka. Hal ini bertujuan untuk membina
hubungan baik antar individu yang melakukan komunikasi. Dalam
beberapa kondisi isi komunikasi bukanlah sesuatu yang penting namun
komunikasi dilakukan untuk memelihara hubungan.
d. Ekspresif dan informal. Berkomunikasi dalam kelompok primer
memberikan kebebasan pada individu untuk mengekpresikan diri mereka
secara personal. Ekspresi melibatkan perasaan yang ditunjukkan secara
personal melalui hubungan emosional. Hal ini sangat mungkin terjadi
karena hubungan bersifat personal yang menjadikan masing-masing
anggota membangun kedekatan dengan anggota lainnya. Informal berarti
santai dan tidak kaku.
21
6. Proses Komunikasi Dalam Kelompok
Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, bahwa komunikasi kelompok
cenderung melibatkan pengaruh antar pribadi atau interpersonal dan emosional,
sehingga terbentuk proses interaksi dengan rasa saling memiliki, berpengaruh satu
sama lain, dan berbagi tujuan bersama dalam kelompok tersebut. Kedekatan
secara emosional inilah yang membuat komunikasi dalam kelompok fanbase
terjalin dengan baik. Oleh karena itu, komunikasi interpersonal para anggotanya
juga turut berperan aktif dalam proses komunikasi kelompok.
Komunikasi adalah proses interaksi yang melibatkan akal manusia,
perasaan, makna, dan pengalaman budaya. Komunikasi sering dimodelkan dengan
komponen yang meliputi sumber, pesan, penerima, dan umpan balik (feedback).
Komunikasi dapat digambarkan sebagai proses dua arah atau proses sirkular
dengan umpan balik. Dalam sebuah jalinan proses komunikasi, terdapat unsurunsur penting yang menunjang proses tersebut agar terjalin dengan baik.
Proses komunikasi pada hakikatnya adalah proses penyampaian pikiran
atau perasaan oleh seseorang (komunikator) kepada orang lain (komunikan).
Pikiran bisa berupa gagasan, informasi, opini, dan lain-lain yang muncul dari
benak komunikator. Perasaan bisa berupa keyakinan, kepastian, keragu-raguan,
kekhawatiran, kemarahan, keberanian, kegairahan, dan sebagainya yang timbul
dari lubuk hati. Berikut adalah proses komunikasi yang dapat diaplikasikan dalam
sebuah kelompok berdasarkan proses komunikasi Schramm:
Gambar 1.2.
Proses Komunikasi Kelompok
a. Komunikator dan Komunikan
Komunikator sebagai pelaku utama dalam proses komunikasi berperan
penting dalam merancang suatu proses komunikasi. Pada komunikasi dalam
22
kelompok fanbase K-Pop, baik pengelola maupun anggota dapat berperan sebagai
komunikator maupun komunikan. Keduanya dapat berperan sebagai pengirim
pesan secara bergantian. Dalam komunikasi kelompok fanbase, baik pengelola
maupun anggota diharapkan berperan aktif. Pengelola sebagai pengirim pesan
menyampaikan aturan-aturan apa saja yang berlaku dalam fanbase, misalnya
harus saling menghargai antar anggota, tidak boleh bashing, membagi
pengetahuan dan memberikan informasi terbaru mengenai idolanya tersebut
kepada anggota fanbase. Sebagai penyampai pesan, pengelola memiliki tanggung
jawab untuk memastikan apakah penerima pesan, dalam konteks ini anggota,
memahami pesan yang disampaikan tersebut. Dan sebagai penerima pesan,
pengelola perlu memperhatikan setiap pernyataan anggota lain,seperti saran dan
kritik terhadap kegiatan fanbase, maupun usul mengenai pengelolaan fanbase
supaya lebih teratur.
Anggota pun dapat menjadi pengirim pesan kepada pengelola maupun
anggota lainnya, yang biasanya menyampaikan pengalaman pribadi mereka
terkait dengan idolanya, memberikan informasi tambahan dan bisa saja informasi
terbaru mengenai idolanya yang bisa dijadikan pengetahuan baru. Demikian juga
pada saat anggota berperan sebagai pengirim pesan, anggota tersebut harus
memastikan apakah pengelola dan anggota yang lain paham dengan maksud
tersebut. Dalam proses ini, pengelola maupun anggota lainnya memiliki peran
sebagai penerima pesan yang posisinya sama, dalam arti meskipun pengelola
memiliki wewenang lebih dalam mengatur fanbase, namun sebagai penerima
pesan pengelola sama derajatnya dengan anggota lain.
Meskipun pengelola dan anggota memiliki hak yang sama sebagai
komunikator dan komunikan, tetap saja pengelola memiliki wewenang untuk
mengatur kelompok tersebut, atau biasa disebut sebagai leader dalam kelompok.
Hal ini dibutuhkan agar komunikasi yang terjalin dalam kelompok berjalan
dengan baik dan tidak kacau, apabila terjadi pertentangan disinilah tugas
pengelola sebagai leader menjadi penengah.
Komunikator dalam komunikasi kelompok relatif mengenal komunikan,
dan demikian pula antarkomunikan. Komunikasi kelompok kecil, seperti
23
Fanbase, komunikasi ditujukan kepada kognisi komunikan, misalnya dalam
diskusi, rapat, pertemuan. Prosesnya terjadi secara dialogis dan sirkular, yang
artinya terdapat umpan balik dari komunikan karena dapat menanggapi apa yang
disampaikan oleh komunikator, boleh bertanya jika tidak mengerti, dan boleh pula
menyanggah apabila tidak setuju.
b. Pesan
Dalam melakukan aktivitas dan kegiatan komunikasi, manusia akan
mengirimkan pesan dalam berbagai macam bentuk. Pesan adalah komponen
penting lain dalam komunikasi, pesan merupakan keseluruhan apa yang
disampaikan dalam usaha mengubah sikap dan tingkah laku komunikan. Dilihat
dari sifat penyampaiannya, pesan dapat disampaikan secara verbal dan non verbal.
1) Pesan Verbal
Simbol atau pesan verbal adalah semua jenis simbol yang menggunakan
satu kata atau lebih. Bahasa dapat juga dianggap sebagai sistem kode verbal
(Deddy Mulyana, 2005). Bahasa dapat didefinisikan sebagai seperangkat simbol,
dengan aturan untuk mengkombinasikan simbol-simbol tersebut, yang digunakan
dan dipahami suatu komunitas.
Jalaluddin Rakhmat (2005), mendefinisikan bahasa secara fungsional dan
formal. Secara fungsional, bahasa diartikan sebagai alat yang dimiliki bersama
untuk mengungkapkan gagasan. Ia menekankan dimiliki bersama, karena bahasa
hanya dapat dipahami bila ada kesepakatan di antara anggota-anggota kelompok
sosial untuk menggunakannya. Dalam komunikasi, hal ini sangatlah penting,
karena apabila terjadi kesalahpahaman dalam penggunaan bahasa dalam proses
komunikasi, hal ini dapat menimbulkan masalah.
2) Pesan Non Verbal
Komunikasi non verbal adalah komunikasi yang menggunakan pesanpesan nonverbal. Istilah non verbal biasanya digunakan untuk melukiskan semua
24
peristiwa komunikasi di luar kata-kata terucap dan tertulis. Jalaludin Rakhmat
(2005: 289) mengelompokkan pesan-pesan non verbal sebagai berikut:
a) Pesan kinesik, merupakan pesan non verbal yang menggunakan gerakan
tubuh yang berarti, terdiri dari tiga komponen utama:
 pesan fasial, yaitu pesan yang menggunakan air muka untuk
menyampaikan makna tertentu. Berbagai penelitian menunjukkan
bahwa wajah dapat menyampaikan paling sedikit sepuluh
kelompok
kemarahan,
makna:
kebahagiaan,
kesedihan,
rasa
kemuakan,
terkejut,
ketakutan,
pengecaman,
minat,
ketakjuban, dan tekad.
 pesan gestural, yaitu menunjukkan gerakan sebagian anggota
badan seperti mata dan tangan untuk mengkomunikasi berbagai
makna.
 pesan postural, yaitu berkenaan dengan keseluruhan anggota
badan, makna yang dapat disampaikan adalah immediacy yang
merupakan ungkapan kesukaan dan ketidak sukaan terhadap
individu yang lain, postur yang condong ke arah yang diajak
bicara menunjukkan kesukaan dan penilaian positif; power
mengungkapkan status yang tinggi pada diri komunikator;
responsiveness merupakan reaksi individu secara emosional pada
lingkungan secara positif dan negatif, postur yang tidak berubah
mengungkapkan sikap yang tidak responsif.
b) Pesan proksemik, disampaikan melalui pengaturan jarak dan ruang.
Umumnya dengan mengatur jarak kita mengungkapkan keakraban kita
dengan orang lain. Jarak antar individu untuk Indonesia belum terdapat
ukuran yang pasti. Peneliti hanya menemukan perbandingan jarak yang
disampaikan Edward T. Hall berdasarkan penelitiannya di Amerika,
bahwa terdapat 4 pembagian jarak yaitu akrab, personal, sosial, dan
publik. Jarak akrab memiliki jarak 0-18”, jarak personal memiliki jarak
18”-4‟, jarak sosial berada pada 4‟-12‟, dan jarak publik 12‟-25‟ atau
lebih.
25
c) Pesan artifaktual, diungkapkan melalui penampilan tubuh, pakaian, dan
kosmetik. Walaupun bentuk tubuh relatif menetap, orang sering
berperilaku dalam hubungan dengan orang lain sesuai dengan persepsinya
tentang tubuhnya (body image). Erat kaitannya dengan tubuh adalah upaya
kita membentuk citra tubuh dengan pakaian, dan kosmetik.
d) Pesan paralinguistik, merupakan pesan non verbal yang berhubungan
dengan dengan cara mengucapkan pesan verbal. Satu pesan verbal yang
sama dapat menyampaikan arti yang berbeda bila diucapkan secara
berbeda. Pesan ini disebut sebagai parabahasa.
e) Pesan sentuhan dan bau-bauan, alat penerima sentuhan adalah kulit, yang
mampu menerima dan membedakan emosi yang disampaikan orang
melalui
sentuhan.
Sentuhan
dengan
emosi
tertentu
dapat
mengkomunikasikan: kasih sayang, takut, marah, bercanda, dan tanpa
perhatian.
Secara teoritis komunikasi non verbal dan komunikasi verbal dapat
dipisahkan. Namun dalam kenyataannya, kedua jenis komunikasi ini saling
menjalin, saling melengkapi dalam komunikasi yang kita lakukan sehari-hari.
Dengan memahami peranan pesan dalam komunikasi kelompok fanbase,
pengelola maupun anggota harus mengetahui bagaimana menyampaikan pesan
yang dapat dimaknai bersama dan tidak keluar dari konteks tujuan kelompok.
Pesan tersebut nantinya akan disampaikan kepada komunikan, bisa secara
langsung maupun tidak langsung.
c. Saluran Komunikasi
Saluran komunikasi adalah alat yang digunakan komunikator untuk
menyampaikan pesannya kepada komunikan. Saluran komunikasi merujuk pada
cara penyajian pesan yang terdiri atas 3 bagian, yaitu lisan, tertulis, dan
elektronik.
Penelitian
mengenai
komunikasi
kelompok
sebagian
besar
menggambarkan anggota satu dengan yang lain hadir di tempat dan waktu yang
sama. Oleh karenanya, ketika membicarakan tentang komunikasi dalam
26
kelompok, komunikasi yang terjadi adalah komunikasi tatap muka. Saluran
komunikasi untuk kelompok fanbase adalah secara lisan, dimana dalam interaksi
tatap muka mereka berbicara dan mendengarkan, tetapi kita juga memberikan
isyarat tubuh dan menerima isyarat ini secara visual. Dalam proses komunikasi
kelompok fanbase yang terjadi secara langsung, bahasa (verbal dan non verbal)
adalah saluran
yang menonjol meskipun pancaindra dan udara
yang
mengantarakan gelombang suara juga merupakan saluran komunikasi tatap muka
tersebut.
d. Umpan Balik (Feedback)
Dalam sebuah proses komunikasi, umpan balik merupakan apa yang
disampaikan komunikan kepada komunikator. Umpan balik atau feedback adalah
tanggapan yang berisi kesan dari penerima pesan dalam bentuk verbal maupun
nonverbal. Umpan balik merupakan faktor penting dalam proses komunikasi
sebagai penanda oleh komunikator mengenai efektivitas pesan yang ia sampaikan
sebelumnya, apakah dapat dimengerti dan diterima oleh komunikan atau apakah
komunikan menghadapi kendala, sehingga berdasarkan umpan balik tersebut
komunikator dapat mengubah pesan selanjutnya agar sesuai tujuan. Umpan balik
yang ditimbulkan dalam proses komunikasi memberikan gambaran kepada
komunikator
tentang
seberapa
berhasil
komunikasi
yang dilakukannya.
Keberlangsungan komunikasi yang dibangun sebelumnya ditentukan oleh umpan
balik sebagai bentuk penilaian.
Konsep umpan balik dari komunikan ini sebenarnya sekaligus
merupakan pesan komunikan yang disampaikan kepada komunikator, sehingga
komunikan dalam umpan balik menjadi komunikator sedangkan komunikator
awal disini adalah sebagai komunikan, dan begitu selanjutnya. Dengan
mengetahui umpan balik yang dikirimkan oleh komunikan, maka sebagai
komunikator, kita akan dapat langsung mengetahui apakah tujuan dari pesan kita
tersampaikan atau tidak. Apakah umpan balik itu berupa respon negatif ataupun
respon positif. Dalam komunikasi fanbase ini, umpan balik terjadi pada saat itu
juga karena komunikasi yang terjalin adalah komunikasi langsung yang terjadi
27
pada saat kegiatan fanbase dilaksanakan. Umpan balik sendiri dapat berupa
umpan balik positif apabila reaksi komunikan sifatnya baik dan mendukung, dan
umpan balik negatif apabila terdapat hambatan dalam menerima pesan.
e. Gangguan atau Hambatan (Noise)
Noise merupakan elemen tambahan dalam sebuah proses komunikasi.
Namun noise akan berakibat pada terganggunya proses komunikasi yang akan
berdampak pada tidak sampainya pesan kepada komunikan. Kelompok fanbase
memang memiliki kesukaan dan tujuan yang sama dalam komunitas mereka,
namun terjadinya salah paham dan salah tangkap bisa saja terjadi dalam
komunikasi antar anggotanya. Gangguan tidak selalu dalam bentuk pertentangan
dalam komunikasi antar anggota, namun gangguan semantik yaitu salah tangkap
terhadap bahasa yang digunakan bisa menjadi salah artinya. Informasi yang baru
misalnya bisa jadi disalah artikan karena penerima pesan baru pertama kalinya
mendengar pesan tersebut. Ketidak awaman informasi bisa menjadi faktor
penghambat dalam sebuah proses komunikasi. Gangguan tidak hanya terjadi pada
pesan saja, namun bisa saja komunikator dan komunikannya yang bermasalah.
Untuk dapat mengatasi gangguan komunikasi tersebut, maka umpan balik
dibutuhkan untuk dapat memahami bahwa pesan tersebut sebenarnya sampai atau
tidak dan dimengerti atau tidak.
Penjelasan diatas merupakan penjelasan mengenai unsur-unsur yang
terdapat dalam suatu proses komunikasi. Masing-masing unsur tersebut nantinya
akan menjadi acuan peneliti untuk menjelaskan proses komunikasi yang terjadi
dalam fanbase prof‟djo. Penekanan penelitian ini lebih kepada proses komunikasi
yang terjalin dalam kelompok fanbase dan salah satu wujud nyata proses
komunikasi tersebut dapat dilihat dari wujud partisipasi anggota terhadap aktivitas
atau kegiatan fanbase, salah satunya dalam pengambilan keputusan sampai pada
tahap evaluasi.
28
7. Komunikasi Kelompok dan Partisipasi Anggota
Partisipasi berasal dari bahasa latin “partisipare” yang mempunyai arti
mengambil bagian atau turut serta, sebagai keterlibatan yang bersifat spontan
yang disertai kesadaran dan tanggung jawab terhadap kepentingan kelompok
untuk mencapai tujuan bersama. Partisipasi sendiri memiliki makna beragam
berdasar pada perbedaan definisi yang ada. Partisipasi mengandung arti berbagai
jenis dan derajat keterlibatan, kontrol atas dan pengambilan keputusan dalam
suatu kegiatan. Rahnema mendefinisikan partisipasi sebagai “the action or fact of
partaking, having or forming a a part of” (Muluk, 2007: 44). Dalam pengertian
ini, partisipasi dapat bersifat transitif dan intransitif, dapat pula bermoral atau tak
bermoral. Kandungan pengertian tersebut juga dapat bersifat dipaksa atau bebas
dan dapat pula bersifat manipulatif maupun spontan. Partisipasi transitif
berorientasi pada tujuan tertentu. Sebaliknya, partisipasi bersifat intransitif apabila
subyek tertentu berperan serta tanpa tujuan yang jelas. Partisipasi memenuhi sisi
moral apabila tujuan yang hendak dicapai sesuai dengan etika. Dalam pengertian
ini, partisipasi mengandung konotasi positif. Begitu pula sebaliknya, jika kegiatan
partisipasi ditujukan pada hal yang tidak sesuai dengan etika maka kegiatan
tersebut dianggap tidak bermoral. Dalam perspektif lain, partisipasi juga
berkonotasi positif apabila partisipasi dipersepsikan sebagai tindakan bebas yang
dilakukan oleh subyek, bukan terpaksa dilakukan atas nama partisipasi.
Dari pendapat tersebut bisa ditarik sebuah benang merah bahwa
partisipasi menunjuk pada keikutsertaan, keterlibatan, dan kebersamaan warga
anggota dalam suatu kegiatan tertentu baik langsung atau tidak langsung, yang
didasari oleh kesadaran warga anggota itu sendiri bukan dengan pihak-pihak
tertentu. Didalamnya terkandung unsur-unsur keterlibatan fisik, mental, dan
perasaan tanggung jawab terhadap hal-hal yang menyangkut kebutuhan diri,
keluarga, dan anggota.
Partisipasi sering diberi makna keterlibatan orang secara sukarela tanpa
tekanan dan jauh dari perintah. Ada bermacam-macam faktor yang mendorong
kerelaan untuk terlibat ini, bisa karena kepentingan, bisa karena solidaritas. Bisa
karena memang mempunyai tujuan yang sama, bisa juga karena ingin melakukan
29
langkah bersama walaupun tujuannya berbeda. Apa pun aktor yang mendorong,
partisipasi akhirnya harus membuahkan kesepakatan tentang tujuan yang hendak
dicapai dan tindak yang akan dilakukan bersama. Artinya, apa yang semula
bersifat individual harus secara sukarela diubah dan diolah menjadi tujuan dan
kepentingan kolektif.
Perlu adanya elemen penunjang agar partisipasi dapat terwujud, yaitu
dengan partisipasi komunikasi. Tujuannya adalah anggota bisa melakukan proses
komunikasi yang efektif, yang artinya tepat sasaran. Dengan konsep komunikasi
sebagai proses penyampaian pesan dari pengirim pesan untuk disampaikan ke
penerima pesan, yang bertujuan pula merubah sikap, opini, pendapat atau
pandangan, dan mengubah perilaku anggota. Konsep komunikasi tersebut
termasuk dalam model komunikasi dua arah yaitu apabila kedua belah pihak, baik
penyampai maupun penerima pesan, terlibat dalam proses komunikasi. Pada
komunikasi dua arah, sangat terbuka adanya respon dan umpan balik dari
penerima pesan, sehingga suara anggota keluar.
Pendekatan komunikasi yang partisipatif berangkat dari asumsi bahwa
anggota memiliki kemampuan untuk membangun dan menolong dirinya sendiri,
sehingga keterlibatan anggota merupakan elemen kunci dari sebuah pembangunan
(Birowo, 1999). Elemen-elemen dalam komunikasi dalam model komunikasi
partisipatif
pun
memiliki
karakteristik
tersendiri
yaitu
(Fakih
dan
Topatimangsang, 1998):
a. Tujuannya adalah pernyataan diri, pembentukan kesadaran, tindakan, dan
kebebasan.
b. Komunikasi
bersifat
menyebar,
mengembangkan
lembaga
dan
memperjuangkan kepentingan anggota setempat.
c. Isi pesan sesuai dengan masalah setempat, berdasarkan analisis sebab
masalah, erat kaitannya dengan sejarah dan nilai-nilai setempat.
d. Penyampaian pesan tidak terbatas pada penyampai pesan selaku penguasa
saja, tetapi dapat disalurkan dan diteruskan pula oleh penerima pesan.
e. Hubungan antara pemberi pesan dan penerima pesan adalah simetrik dan
setara.
30
f. Proses penyebaran pesan bersifat horizontal dari bawah ke atas dan dua
arah.
g. Peran anggota bukan sebagai kelompok sasaran, melainkan kelompok
partisipan.
Partisipasi dapat diuraikan sebagai keikutsertaan, keterlibatan, dan
kebersamaan anggota kelompok dalam suatu kegiatan tertentu, baik langsung
maupun tidak langsung, didasari oleh kesadaran anggota itu sendiri bukan dengan
paksaan dari pihak-pihak tertentu. Bentuk-bentuk partisipasi anggota adalah
sebagai berikut (Rukmana: 1995) :
a. Partisipasi dalam pengambilan keputusan, yaitu peran serta yang dilakukan
pada tahap suatu kegiatan sedang direncanakan, dipersiapkan serta
penetapan segala ketentuan-ketentuan yang akan dipakai nantinya dalam
pelaksanaan kegiatan.
b. Partisipasi dalam pelaksanaan rencana, yaitu peran serta yang dilakukan
pada tahap yang mencakup kegiatan yang direncanakan tersebut sedang
berjalan.
c. Partisipasi dalam evaluasi, dalam hal ini partisipasinya terlihat pada saat
telah selesai kegiatan fisik misalnya respon anggota dapat diartikan umpan
balik (feed back) sebagai masukan bagi kegiatan sejenis untuk selanjutnya.
Untuk menjalankan fungsi sebagai wadah penghubung antar anggota,
pengelola dan anggota fanbase harus mampu memanfaatkan potensi komunikasi
yang ada pada individu anggota dalam memperkaya jumlah anggota serta
kegiatan-kegiatan
kelompok.
Salah
satu
cara
yang
dilakukan
adalah
memperhatikan partisipasi anggota dalam proses komunikasi Tanpa partisipasi
anggota dari kelompok fanbase, kegiatan maupun hubungan baik dalam fanbase
tidak akan berjalan dengan baik. Partisipasi harus setara dan terbuka bagi siapa
yang memiliki minat yang sama.
Dari pemikiran yang telah diungkapkan di atas, untuk keperluan
penelitian ini perlu dipaparkan beberapa konsep, yaitu konsep yang akan
31
digunakan untuk memudahkan dalam membahas komunikasi kelompok fanbase
K-Pop, yaitu prof‟djo, dan partisipasi anggota. Komunikasi yang terjadi dalam
kelompok fanbase dikaitkan dengan proses komunikasi antara dua orang atau
sekelompok kecil orang secara tatap muka, baik melalui pesan verbal maupun non
verbal, yang memungkinkan setiap pesertanya memberikan umpan balik sebagai
reaksi langsung. Dalam prosesnya di dalam kelompok, komunikasi antar anggota
memperhatikan unsur komunikator, pesan, saluran komunikasi, komunikan, dan
umpan balik.
F. Metodologi Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini bersifat kualitatif. Moleong
mendefinisikan metode kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan
data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang dan
perilaku yang dapat diamati (2005: 4). Penelitian kualitatif digunakan untuk
maksud memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian
dengan cara mendeskripsikannya dalam bentuk kata-kata dan bahasa. Dalam
penelitian ini dideskripsikan suatu fenomena dalam bentuk kata – kata mengenai
proses komunikasi kelompok fanbase Prof‟Djo dan wujud partisipasi anggotanya
dalam fanbase tersebut.
Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan, mencatat, dan
menginterpretasikan komunikasi kelompok fanbase. Moleong (2005: 32),
mendefinisikan bahwa penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu
pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan
manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut
dalam bahasanya dan dalam peristilahannya.
1. Pendekatan Penelitian
Untuk mengetahui bagaimana komunikasi kelompok fanbase K-Pop dan
pertisipasi anggotanya, maka akan menggunakan pendekatan deskriptif yang
bersifat kualitatif. Metode deskriptif yaitu suatu metode dalam penelitian yang
menelaah status kelompok manusia, objek, kondisi, sistem pemikiran dan
32
peristiwa-peristiwa masa sekarang sehingga dapat dibuat suatu gambaran yang
sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan
antara fenomena yang diselidiki.
Metode deskriptif yang dipilih adalah metode studi kasus, yaitu studi
yang mengekplorasi suatu masalah dengan batasan terperinci, memiliki
pengambilan data yang mendalam, dan menyertakan berbagai sumber informasi.
Penelitian kasus bermaksud mempelajari secara intensif tentang latar belakang
keadaan, dan interaksi suatu sosial, individu, kelompok, lembaga dan anggota
(Usman dan Akbar, 2004: 5). Kasus komunikasi kelompok fanbase dianggap
sebagai suatu kasus yang menarik untuk diteliti dan diungkap karena dalam
sebuah komunikasi kelompok didalamnya selain meneliti tentang proses
komunikasi, dapat pula diteliti perilaku komunikasi anggotanya. Hal tersebut
yang dapat menggugah partisipasi anggota fanbase untuk ikut serta dalam
berbagai kegiatan. Sebagai medium kegiatan tersebut, fanbase dapat membantu
berjalannya kegiatan tersebut. Jika terjalin hubungan yang baik secara personal
antar anggota, maka otomatis hubungan dan komunikasi dalam kelompok tersebut
juga berjalan dengan baik.
Penelitian studi kasus adalah studi yang mengeksplorasi suatu masalah
dengan batasan terperinci, memiliki pengambilan data yang mendalam, dan
menyertakan berbagai sumber informasi. Adapun alasan penggunaan studi kasus
dalam penelitian ini yaitu: 1) Untuk memahami kompetensi komunikasi pengelola
dan anggota dalam kegiatan fanbase yang tampak dalam wujud partisipasi
anggotanya; 2) melakukan kajian mengenai proses berkomunikasi antara
pengelola dan anggota, serta sesama anggota; 3) studi kasus dianggap sangat
cocok karena dalam penelitian ini akan menjawab pertanyaan “bagaimana”.
2. Objek Penelitian
Penelitian ini berfokus pada komunikasi yang dilakukan oleh kelompok
fanbase K-Pop di Yogyakarta dan wujud partisipasi anggotanya. Dari fokus
tersebut maka objek dari penelitian ini adalah proses komunikasi kelompok
fanbase Prof‟Djo, serta wujud partisipasi anggotanya. Alasan peneliti memilih
33
proses komunikasi kelompok fanbase Prof‟Djo, serta wujud partisipasi
anggotanya sebagai objek penelitian karena proses komunikasi yang terjalin
dalam kelompok fanbase prof‟djo merupakan salah satu faktor penentu dalam
keterlibatan anggota dalam sebuah kegiatan atau aktifitas fanbase, dan wujud dari
proses komunikasi tersebut adalah partisipasi anggota dalam pengambilan
keputusan, pelaksanaan rencana, sampai evaluasi dari kegiatan yang sudah
dilaksanakan guna mewujudkan tujuan fanbase tersebut.
3. Informan Penelitian
Dalam penelitian kualitatif, menentukan informan atau narasumber tidak
mengindahkan ukuran jumlah yang dibutuhkan. Yang terpenting adalah aspek
kedalaman informasi yang harus digali. Oleh karena itu, semua pihak yang
dianggap berpotensi memberikan informasi dapat dijadikan sumber data.
Pemilihan
narasumber
menggunakan
teknik
pengambilan
sampel
nonprobabilitas, dimana semua anggota populasi belum tentu memiliki peluang
yang sama untuk dipilih menjadi sampel. Pemilihan anggota sampel ini
didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan tertentu yang dimiliki oleh peneliti.
Teknik sampling nonpropabilitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah
purposive sampling. Teknik ini merupakan pemilihan atau sampel berdasarkan
kriteria-kriteria tertentu yang dibuat berdasarkan tujuan riset yang ingin dicapai.
Informan yang diwawancara dalam penelitian ini adalah anggota fanbase dari
fandom K-Pop di Yogyakarta, yaitu Prof‟Djo (Primadonna of Djogja) untuk
fanbase FT Island. Keseluruhan informan ini merupakan sumber data primer yang
digunakan untuk menganalisis komunikasi kelompok fanbase Prof‟Djo dan wujud
partisipasi anggotanya.
Sampel, dalam hal ini fanbase, pada penelitian ini dipilih berdasarkan
pertimbangan logis dan sesuai dengan tujuan penelitian. Pertimbangan tersebut
antara lain kelompok fanbase ini merupakan kelompok fanbase yang progresif dan
aktif, hal ini dibuktikan dengan rutinitas kelompok yang mengadakan gathering
atau perkumpulan minimal dua kali dalam sebulan. Mempertimbangkan kondisi
34
tersebut, maka peneliti mengasumsikan bahwa proses komunikasi kelompok dan
keterlibatan anggota dalam wujud partisipasi anggotanya cukup tinggi.
Sedangkan
kriteria
pemilihan
informan
dalam
fanbase
tersebut
berdasarkan posisi informan didalam kelompok. Maksud dari posisi disini adalah
seberapa sering atau intensitas narasumber mengikuti kegiatan fanbase, hubungan
kekerabatan narasumber dengan anggota lain didalam kelompok, dan lamanya
narasumber bergabung dengan fanbase tersebut. Narasumber yang dipilih adalah
narasumber yang selalu datang pada saat ada kegiatan kelompok, dan merupakan
kategori anggota terlama yang bergabung dalam fanbase. Hal ini diambil karena
mereka lebih paham terhadap situasi fanbase tersebut dibandingkan anggota lain
karena keberadaanya lebih lama dalam kelompok. Dari penjelasan tersebut, maka
peneliti memilih narasumber berdasarkan kriteria-kriteria tersebut sebagai berikut:
a. Lisa, 19 tahun, merupakan leader atau pengelola fanbase Prof‟Djo sejak
fanbase berdiri pada tahun 2010. Sebagai pengelola, dia selalu
menghadiri setiap gathering yang diadakan oleh kelompok. Ia adalah
orang yang paling mengenal semua anggota dan paling sering
berkomunikasi dengan anggota lain meskipun pada saat tidak bertemu.
b. Tika, 20 tahun, lama bergabung dalam fanbase adalah satu tahun 6
bulan, merupakan pendiri atau founder dari fanbase Prof‟Djo.
c. Anin, 19 tahun, lama bergabung dengan fanbase adalah 1 tahun 3 bulan.,
merupakan anggota fanbase yang memiliki pengalaman seputar K-Pop
dan budaya Korea dari negeri asalanya Korea Selatan.
d. Tizka, 23 tahun, lama bergabung dengan fanbase adalah satu tahun
empat bulan, merupakan anggota tertua dalam fanbase sekaligus salah
satu anggota terlama yang bergabung dalam fanbase.
e. Dika, 21 tahun, lama bergabung dengan fanbase adalah satu tahun 4
bulan, merupakan adik dari Tizka. Jadi dimana Tizka mengikuti kegiatan
fanbase, Dika selalu turut berpartisipasi didalamnya.
f. Putri, 20 tahun, lama bergabung dengan fanbase adalah satu tahun 3
bulan, merupakan anggota fanbase yang juga merupakan anggota
35
fanbase dari fandom K-Pop lainnya. Jadi pemilihan informan adalah
sebagai pembanding antara fanbase Prof‟Djo dan fanbase lainnya.
4. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini
berpatokan pada kebutuhan penelitian. Adapun metode pengumpulan data yang
dilakukan adalah:
a. Wawancara
Teknik ini dilakukan dengan maksud agar didapat data yang akurat dari
sumber penelitian dengan wawancara mendalam (in-depth interview)
dengan menggunakan pedoman wawancara (interview guide) sebagai
instrumen terhadap narasumber. Interview guide digunakan agar data
terfokus pada topik yang hendak diungkapkan serta untuk menghindari
terjadinya penyimpangan-penyimpangan dari masalah yang diteliti yang
mungkin tidak disadari dilakukan oleh peneliti. Tujuan dilakukannya
wawancara dalam penelitian ini adalah untuk memperoleh data secara
jelas dan konkret terkait dengan proses komunikasi kelompok anggota
fanbase Prof‟Djo serta wujud partisipasi anggotanya. Pengumpulan data
melalui cara ini akan dilakukan kepada orang-orang yang dianggap
memiliki informasi kunci (key informan) terhadap fenomena yang akan
diteliti.
b. Penelitian Pustaka (library research) atau Studi Literatur
Literatur dibutuhkan dalam penelitian ini sebagai referensi penelitian.
Bagaimanapun, penelitian mengenai komunikasi kelompok, khususnya
proses komunikasi kelompok, dan partisipasi anggota ini juga
membutuhkan literatur lain sebagai pembanding hasil temuan dengan
jalan mempelajari dan mengkaji literatur-literatur yang berhubungan
dengan permasalahan untuk mendukung asumsi sebagai landasan teori
permasalahan yang dikaji.
36
c. Observasi Partisipatif
Selain menggunakan kedua teknik diatas, dilakukan pula observasi
partisipasif pada acara gatehring yang merupakan bagian dari aktivitas
fanbase. Peneliti mengikuti acara tersebut untuk memperoleh informasi
serta gambaran empirik tentang data-data yang diperlukan. Observasi
yang dilakukan bersifat temporari, yang artinya sesuai dengan agenda
kegiatan
kelompok
serta
ketersediaan
waktu
peneliti.
Untuk
mempermudah hasil observasi, peneliti membuat kerangka apa saja yang
akan diamati saat observasi berlangsung, dan mencantumkan catatan
tambahan apabila menemukan hal baru yang belum terdapat pada
kerangka tersebut.
d. Studi Dokumentasi
Studi dokumentasi merupakan penelaah terhadap referensi-referensi yang
berhubungan dengan focus permasalahan penelitian. Dalam penelitian ini,
dokumentasi bertujuan untuk menafsirkan, mendukung atau memperkuat
temuan-temuan yang telah didapatkan dari hasil wawancara dan observasi.
Dokumen-dokumen yang dimaksud dalam penelitian ini berupa bahan
visual yang meliputi gambar logo, poster, foto benda-benda yang
merupakan seragam fanbase, yang dimiliki oleh pengelola fanbase
Prof‟Djo dan foto-foto yang diambil oleh peneliti saat melakukan
observasi guna mendukung temuan mengenai proses komunikasi
kelompok.
5. Teknik Analisis Data
Analisis data pada penelitian kualitatif lebih tertuju pada proses pelacakan
dan pengaturan secara sistematik transkrip wawancara, catatan lapangan, dan
bahan-bahan lain yang dikumpulkan untuk meningkatkan pemahaman terhadap
bahan-bahan tersebut agar dapat dipresentasikan temuannya kepada orang lain.
Data yang diperoleh melalui pengamatan, wawancara, dan pencatatan di lapangan
selanjutnya diolah, diinterpretasikan dengan memfokuskan penajaman makna
37
yang seringkali banyak dilukiskan dalam kata-kata daripada angka-angka sejauh
mungkin dalam bentuk aslinya
Miles dan Huberman, dalam Moleong (2005: 308), membagi analisis data
kualitatif menjadi tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan, yaitu reduksi
data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Rincian dari
proses analisis data tersebut adalah sebagai berikut:
a. Reduksi Data
Reduksi data merupakan proses pengumpulan data penelitian. Pada
tahap ini peneliti merekam data lapangan dalam bentuk catatan-catatan
lapangan (field note) yang diperoleh melalui hasil wawancara, observasi,
dan dokumentasi. Rekaman data tersebut diseleksi sesuai dengan
kebutuhan data yang penting dan utama, yang berkaitan dengan
komunikasi kelompok, proses komunikasi, dan partisipasi anggota.
Setelah diseleksi, rekaman data tersebut dirangkum guna memudahkan
peneliti untuk melihat fenomena yang terjadi dan dapat lebih jelas
melihat data yang relevan dengan fokus masalah yang diteliti. Dari hasil
proses reduksi data ini, hasil pengamatan dapat tergambarkan dengan
lebih tajam dan memudahkan peneliti apabila melihat data baru yang
diperlukan sebagai tambahan.
b. Penyajian Data
Dalam penelitian ini data yang diperoleh dari hasil wawancara serta
observasi di lapangan disajikan dalam bentuk uraian tentang proses
komunikasi kelompok dan partisipasi anggota yang didukung oleh data
berupa dokumentasi foto yang berkaitan dengan proses komunikasi
yang disajikan dalam bentuk gambar. Dalam proses ini, data yang
didaptkan dari hasil penelitian dianalisis untuk disusun secara sistematis
sehingga data yang diperoleh dapat menjelaskan atau menjawab
masalah yang diteliti.
38
c. Interpretasi Data dan Penarikan Kesimpulan
Setelah
melakukan
penyajian
data,
kemudian
data
tersebut
diinterpretasikan atau melakukan pemaknaan terhadap data yang ada
sesuai dengan permasalahan penelitian dan kemudian menganalisis data
yang ada dengan menggabungkan data yang didapat dari informan dan
data sekunder. Selanjutnya peneliti memberikan kesimpulan atas hasil
yang didapat dan memberikan saran-saran.
39
Download