Selektivitas Ekstrak Piper retrofractum dan

advertisement
TINJAUAN PUSTAKA
Permasalahan dan Pengendalian Hama Nilaparvata lugens
Permasalahan N. lugens di Indonesia
Pada tahun 1970-an ketika pemerintah memberikan subsidi harga pestisida,
ledakan populasi wereng batang cokelat (WBC), N. lugens, sering terjadi di
Indonesia, khususnya di Jawa, Sumatera, dan Bali. Ledakan populasi WBC terus
terjadi karena sistem budi daya tanaman padi yang dilakukan terus-menerus
sepanjang tahun oleh para petani.
Adanya tanaman padi yang berlimpah
sepanjang tahun merupakan kondisi yang sangat menguntungkan bagi WBC
karena memberikan ketersediaan pakan dan habitat yang sesuai. Pada musim
hujan antara tahun 1976 dan 1977 lahan padi seluas 347.000 ha terserang WBC
(Kalshoven 1981).
Pada tahun 2004 dan 2005 telah terjadi serangan WBC
terhadap beberapa varietas padi di beberapa propinsi seperti Jawa dan Sumatera.
Serangan WBC yang sangat berarti dapat mengurangi hasil padi secara nyata dan
dapat mengakibatkan kelumpuhan perekonomian di tingkat petani (BB Padi
2009).
Biologi N. lugens
Wereng batang cokelat merupakan serangga paurometabola yang melewati
tahap perkembangan telur, nimfa, dan imago.
Telur WBC berwarna putih,
berkelompok, berbentuk seperti buah pisang, berukuran 1,3 mm x 0,3 mm (Tim
Pengendalian Hama WBC 1986). Setiap kelompok telur terdiri atas 4-10 butir.
Awalnya telur berwarna putih, kemudian berubah menjadi gelap saat mendekati
penetasan (Tsatsia & Grahame 2009). Telur diletakkan berkelompok di dalam
jaringan tanaman di bagian pangkal batang tanaman padi, terutama di dalam
pelepah dan juga di daun bendera. Ukuran dan tempat peletakan kelompok telur
bergantung pada tahapan pertumbuhan tanaman padi. Saat populasi WBC dewasa
tinggi, telur dapat ditemukan di bagian atas tanaman padi. Perkembangan telur
antara 7 dan 11 hari di daerah tropis. Lama stadium telur bergantung pada suhu
lingkungan dan varietas tanaman (Mochida & Okada 1979). Selama hidupnya,
WBC betina di laboratorium dapat menghasilkan telur sampai 1000 butir, tetapi
karena adanya pengaruh lingkungan, kemampuan bertelur di lapangan hanya
mencapai 100-600 butir (Tim Pengendalian Hama WBC 1986).
Perkembangan fase nimfa WBC melewati lima instar. Setiap instar dapat
dibedakan dari bentuk mesonotum dan metanotum serta ukuran tubuhnya. Lama
perkembangan nimfa 10-15 hari (Mochida & Okada 1979). Nimfa berwarna
keputihan, kemudian berubah menjadi cokelat kehitaman setelah menjadi imago.
Panjang tubuh nimfa instar terakhir mendekati 3 mm (Tsatsia & Grahame 2009).
Nimfa instar terakhir memiliki konsumsi pakan yang lebih tinggi daripada WBC
dewasa, dan konsumsi WBC betina lebih tinggi daripada WBC jantan. WBC
jantan dan betina memiliki dua tipe bentuk sayap, yaitu makroptera yang memiliki
kemampuan terbang, dan brakiptera yang bersayap pendek. WBC makroptera
dapat terbentuk jika kepadatan populasi sudah tinggi dan kualitas pakan yang
menurun.
WBC dapat menghasilkan 2 sampai 8 generasi dalam satu tahun
periode penanaman padi di daerah tropis dan tingkat populasinya bergantung pada
keberadaan tanaman padi di lapangan (Mochida & Okada 1979). Pada suhu
ruangan, rata-rata lama hidup WBC betina 17,8 hari dan WBC jantan 12,8 hari,
sedangkan pada suhu 29 oC, rata-rata lama hidup WBC betina dan jantan masingmasing 10,2 dan 7,5 hari (Bae 1966).
Gejala Serangan dan Kerusakan Akibat N. lugens
Tanaman inang WBC termasuk dalam famili Graminae, tetapi tanaman yang
termasuk dalam genus Oryza (padi-padian) merupakan tanaman yang paling
cocok untuk dijadikan inang WBC. Nimfa dan imago WBC biasanya menetap di
bagian pangkal tanaman padi dan mengisap cairan pelepah daun.
WBC
menusukkan stiletnya ke dalam ikatan pembuluh vaskuler tanaman inang dan
mengisap cairan tanaman dari jaringan floem. Semakin mendekati imago, nimfa
WBC mengisap cairan tanaman lebih banyak daripada nimfa instar I atau II.
WBC betina mengisap cairan lebih banyak daripada yang jantan (Tim
Pengendalian Hama WBC 1986).
Gejala serangan WBC sering ditemukan di tempat pembibitan.
Bila
tanaman padi muda diserang, tanaman tersebut menguning, pertumbuhan
terhambat, dan kerdil (Kalshoven 1981).
Gejala kerusakan awal oleh WBC
ditandai dengan perubahan warna kuning pada helaian daun paling tua dan
dijumpai banyak ekskresi embun madu.
Perubahan warna berlangsung terus
hingga ke semua bagian tanaman, dan akhirnya seluruh tanaman berwarna
cokelat.
Kerusakan akibat isapan WBC pada tanaman padi menyebabkan
tanaman menjadi kering dan terbakar (hopperburn). Hal ini biasanya terjadi pada
fase setelah pembentukan malai dan saat pembungaan tanaman padi (Tsatsia &
Grahame 2009).
Pengendalian Hama Terpadu N. lugens
Status WBC sebagai hama penting tanaman padi menjadikan WBC sebagai
objek pengendalian utama.
Teknik pengendalian WBC dilaksanakan sesuai
dengan konsep pengendalian hama terpadu (PHT). Beberapa teknik PHT yang
dapat diterapkan pada tanaman padi antara lain (1) teknik bercocok tanam
meliputi penanaman serentak dan pergiliran tanaman (padi-padi-palawija, padipalawija-padi,
padi-padi-bera),
sanitasi,
penggunaan
jarak
tanam
tepat,
pengelolaan air dan pupuk, dan penggunaan varietas resisten untuk mengatasi
masalah perkembangan biotipe baru dari hama, (2) pengendalian fisik/mekanis,
(3) penggunaan musuh alami seperti parasit, predator, dan patogen serangga, dan
(4) penggunaan pestisida bila diperlukan (Oka 1990). Pemanfaatan musuh alami
serangga
predator
seperti
C.
lividipennis,
Paederus
sp.
(Hemiptera:
Staphylinidae), dan Coccinella sp. (Coleoptera: Coccinellidae) memiliki potensi
sebagai pengendali populasi telur, nimfa, dan imago WBC.
Penggunaan
insektisida sintetik merupakan alternatif terakhir dalam pengendalian WBC untuk
meminimumkan timbulnya permasalahan baru seperti resistensi serta resurjensi
hama (Kilin et al. 1993).
Biologi dan Potensi Cyrtorhinus lividipennis
Biologi C. lividipennis
Kepik C. lividipennis merupakan salah satu predator yang sering terdapat di
pertanaman padi dan kacang tanah di daerah Bogor (Kalshoven 1981).
Perkembangan kepik C. lividipennis melewati fase telur, nimfa, dan imago. Telur
kepik tersebut terdapat di dalam jaringan daun padi, berwarna putih, berbentuk
bulat telur, dan melewati masa inkubasi selama 8 hari. Kepik biasanya lebih
memilih meletakkan telur pada bagian daun tanaman padi yang berumur 20 hari
dibandingkan dengan tanaman padi yang telah berumur 40, 60, atau 75 hari
(Annamalai 1984). Nimfa kepik terdiri atas lima instar dengan lama stadium
masing-masing instar 2-3 hari (Annamalai & Asma 1985).
Imago kepik jantan memiliki panjang tubuh lebih pendek daripada kepik
betina, yaitu 2,6 mm, sedangkan yang betina 3,1 mm. Baik imago jantan maupun
betina memiliki ciri-ciri pada bagian kepala serta bahu terdapat bercak hitam dan
sayap berwarna hijau terang. Masa hidup imago jantan 9,6 hari, dan betina 13,3
hari. Nimfa maupun imago C. lividipennis memiliki sumber pakan yang sama,
yaitu telur WBC.
Semasa hidupnya, kepik C. lividipennis jantan dan betina
mengonsumsi telur WBC masing-masing 43,8 dan 123,6 butir. Jika jumlah telur
WBC di lapangan sedikit, kepik C. lividipennis juga dapat mengonsumsi nimfa
WBC instar I, II, dan III, tetapi hal ini membuat masa hidup kepik lebih pendek
dan berkurangnya kemampuan kepik dalam menghasilkan telur untuk
memperbanyak keturunannya (Chua & Mikil 1989).
Potensi C. lividipennis sebagai Musuh Alami (Predator) Hama N. lugens
Kepik C. lividipennis merupakan salah satu musuh alami yang berperan
sebagai predator telur polifag.
Pada ekosistem sawah, secara alami banyak
terdapat serangga fitofag yang dapat dimangsa oleh C. lividipennis, khususnya
hama tanaman padi seperti Nephotettix virescens (Distant) (Hemiptera: Jassidae)
dan N. lugens (Heong et al. 1990). Nimfa dan imago kepik mengisap telur
wereng dengan cara memasukkan alat mulutnya dan mengumpulkan cairan telur,
menyebabkan telur tesebut menjadi kosong (Shui 1979). Imago kepik
C. lividipennis jantan rata-rata dapat mengonsumsi 10,4 butir telur, 4,7 ekor
nimfa, atau 2,5 ekor imago N. virescens per hari dalam periode 10 hari, sedangkan
imago kepik betina rata-rata dapat mengonsumsi 10 butir telur, 4,8 ekor nimfa,
atau 3 ekor imago N. virescens per hari dalam periode yang sama (Reyes &
Gabriel 1975). Kemampuan pemangsaan telur WBC oleh kepik C. lividipennis
lebih tinggi dibandingkan dengan pemangsaan telur N. virescens karena telur
WBC lebih dapat meningkatkan kemampuan hidup, keperidian, dan fertilitas
C. lividipennis. Telur WBC yang dapat dikonsumsi kepik C. lividipennis berturutturut 22; 18; dan 6 ekor per hari untuk kepik betina, jantan, dan nimfa kepik instar
III (Annamalai & Asma 1985).
Kemampuan kepik C. lividipennis dalam memangsa telur WBC merupakan
salah satu potensi pengendalian hama secara biologi yang menjadi salah satu pilar
dari sistem PHT. Introduksi C. lividipennis yang dilakukan pada lahan percobaan
yang sebelumnya telah diinfestasi WBC selama 1 minggu, dengan perbandingan
populasi 2:1 dapat mengurangi populasi WBC secara efektif. Pada percobaan di
rumah kaca, teknik gabungan pengendalian hama antara tanaman padi resisten dan
C. lividipennis juga dapat mengurangi populasi WBC. C. lividipennis memberikan
efek positif dalam mengurangi populasi WBC. Tingkat pemangsaan kepik tinggi
sekitar 17,8 ekor mangsa ketika populasi kepik sekitar 1,2 ekor per hektar (Manti
1989). Penekanan populasi mangsa WBC oleh C. lividipennis terjadi di lahan saat
perbandingan predator dengan mangsa mulai 1:2 sampai 1:20 (Wheeler 2001). Di
lapangan, C. lividipennis juga dapat dilepaskan bersama dengan dua jenis predator
lainnya seperti Pardosa pseudoannulata (Boes. & Str.) (Araneae: Lycosidae) dan
Atypena formosana (Ol.) (Araneae: Linyphiidae) untuk mengurangi populasi telur
WBC (Sigsgaard 2007).
Tingkat konsumsi telur WBC oleh nimfa C. lividipennis lebih sedikit
dibandingkan dengan imago C. lividipennis (Annamalai & Asma 1985).
C. lividipennis lebih berpotensi dalam mengendalikan telur WBC dibandingkan
dengan nimfa WBC. Menurut Marheni (2004), tingkat konsumsi imago kepik
terhadap nimfa WBC tidak terlalu tinggi, yaitu hanya sekitar 0,38 ekor per hari.
Peluang hidup kepik menjadi imago adalah 17%. Laju pertumbuhan intrinsik
sebesar 0,11 sehingga seekor serangga betina dapat menghasilkan keturunan 25
pasang selama 1 bulan dan 652 pasang selama 2 bulan (Santosa & Sulistyo 2007).
Populasi kepik C. lividipennis kadang-kadang melimpah tetapi dapat menurun
karena pemakaian insektisida sintetik yang akhirnya dapat mengakibatkan
terjadinya resurjensi WBC (Kalshoven 1981).
Sifat Insektisida Piper retrofractum
Cabai jawa (Piper retrofractum) merupakan salah satu spesies tanaman
famili Piperaceae yang akar dan buahnya memiliki potensi sebagai sumber
insektisida nabati.
Ekstrak aseton buah P. retrofractum memiliki aktivitas
larvisida yang tinggi terhadap larva nyamuk instar III dan instar IV Culex
quinquefasciatus Say (Diptera: Culicidae) dan Aedes aegypti (L.) (Diptera:
Culicidae) (Chansang et al. 2005). Serbuk buah P. retrofractum yang dicampur
dengan pakan serangga dapat menghambat pertumbuhan populasi beberapa jenis
hama gudang seperti imago Sitophilus oryzae (L.) (Coleoptera; Curculionidae),
imago S. zeamais Motsch. (Coleoptera: Curculionidae), larva Tribolium
castaneum Herbst (Coleoptera: Tenebrionidae), dan larva Corcyra cephalonica
(St.) (Lepidoptera: Pyralidae). Serbuk buah P. retrofractum pada dosis 0,5%
(w/w) dapat menghambat aktivitas peneluran imago Sitophilus spp. sebesar 100%
dan dapat menghambat pertumbuhan larva T. castaneum pada dosis 5% (w/w)
sebesar 90% (Trakoontivakorn et al. 2005).
Ekstrak heksana buah
P. retrofractum bersifat racun perut yang baik (LC50 0,156%) terhadap larva instar
II Crocidolomia pavonana (F.) (Lepidoptera: Crambidae)dan bersifat racun
kontak yang lebih terbatas (LC50 0,798%) (Ferdi 2008).
Senyawa aktif yang bersifat insektisida yang terdapat dalam buah
P. retrofractum termasuk dalam golongan piperamida, seperti piperin, piperisida,
dan guininsin (Ahn et al. 1992, Kikuzaki et al. 1993, Scott et al. 2007). Senyawa
tersebut bersifat sebagai racun saraf dengan mengganggu aliran impuls saraf pada
akson saraf seperti cara kerja insektisida piretroid (Lees & Burt 1988 dalam Scott
et al. 2007). Piperin dari fraksi etanol buah P. nigrum dengan metode kontak
dapat mematikan larva instar I Ascia monuste orseis (L.) (Lepidoptera: Pieridae),
imago
Acanthosceliodes
obtectus
Say
(Coleoptera:
Bruchidae),
imago
Brevicoryne brassicae (L.) (Hemiptera: Aphididae), imago Protopolybia exigua
DeSaus (Hymenoptera: Vespidae), dan imago Cornitermes cumulans (Kollar)
(Isoptera: Termitidae) berturut-turut 45%, 30%, 90%, 33%, dan 28% pada dosis
10 µg/serangga (de Paula et al. 2000).
Piperin dapat menghambat enzim
polisubstrat monooksigenase dan memiliki efektivitas yang hampir sama dengan
piperonil
butoksida
terhadap
kumbang
Leptinotarsa
decemlineata
Say
(Coleoptera: Chrysomelidae) (Scott et al. 2003) yang resisten terhadap insektisida
karbamat, organofosfat, organoklorin, dan piretroid.
Sifat Insektisida Tephrosia vogelii
Kacang babi, Tephrosia vogelii, merupakan tumbuhan perdu tahunan
yang termasuk divisi Magnoliophyta, kelas Magnoliopsida, bangsa Rosales, dan
suku Caesalpiniaceae. T. vogelii berasal dari Afrika timur, terdapat di Assam dan
India selatan (Crooker 1983 dalam Prakash & Rao 1997), serta di Indonesia
(Martono 2004). Tumbuhan tersebut tumbuh tegak, bercabang banyak, tinggi
antara 3 dan 5 m, berdaun lebar, daun berwarna hijau, ukuran biji kecil-keraswarna hitam, berakar tunggang, batang berkayu bulat, dapat tumbuh pada
ketinggian antara 300 dan 1200 m dpl, dan tahan terhadap pemangkasan (Deptan
2006).
Perlakuan dengan ekstrak heksana daun T. vogelii 10 g/kg pada benih
kacang-kacangan dapat mengakibatkan kematian kumbang Acanthoscelides
obtectus,
Callosobruchus
maculatus
(F.)
(Coleoptera:
Bruchidae),
dan
C. chinensis (L.) (Coleoptera: Bruchidae) sebesar 18-23%. Selain itu, perlakuan
dengan ekstrak tersebut dapat menurunkan jumlah telur yang diletakkan imago
dan memperpendek masa hidup imago ketiga spesies kumbang tersebut (Koona &
Dorn 2005). Perlakuan ekstrak aseton daun T. vogelii 0,5% dengan menggunakan
metode kontak dapat menyebabkan 89% larva Pieris rapae L. (Lepidoptera:
Pieridae) gagal berpupa secara normal, sedangkan perlakuan ekstrak 0,1% dapat
menyebabkan kematian telur P. rapae sebesar 98% (Chiu 1989).
Perlakuan
dengan ekstrak etanol daun T. vogelii 100 µl yang dicampurkan dengan benih
kacang tunggak dapat mengurangi jumlah telur C. maculatus yang menetas
sebesar 32% (Boeke et al. 2007). Ekstrak T. vogelii paling bersifat repellent
terhadap imago S. zeamais pada konsentrasi 7,5-10% (w/w) dan dapat
menghambat pertumbuhan imago sebesar 87,5%, diikuti dengan konsentrasi 2,5%
(w/w) yang menghambat serangga sebesar 65% (Ogendo et al. 2003). Ekstrak
heksana daun T. vogelii memiliki aktivitas insektisida yang kuat terhadap larva
C. pavonana dengan nilai LC50 dan LC95 pada perlakuan metode residu pada daun
masing-masing 0,14% dan 0,34% (Wulan 2008).
T. vogelii mengandung senyawa rotenoid, termasuk rotenon, tefrosin, dan
deguelin (Gambar 1).
T. vogelii.
Rotenon banyak terdapat pada bagian daun tanaman
Kandungan rotenon semakin tinggi dengan bertambahnya umur
tanaman (Hagemann et al. 1972). Bahan aktif ini merupakan racun berspektrum
luas dan memiliki masa residu singkat (Ogendo et al. 2003). Rotenon aktif
terhadap berbagai jenis hama menggigit-mengunyah serta menusuk-mengisap
yang bersifat sebagai racun kontak dan racun perut (Caboni et al. 2004).
Pada saat rotenon memasuki tubuh serangga, serangga dapat mengalami
kesulitan bernafas, konsumsi gas oksigen berkurang, gangguan hati, dan kematian
(Cremlyn 1991). Hal ini akibat cara kerja rotenon sebagai racun respirasi sel
(Buss et al. 2009) yang menghambat proses oksidasi ganda NADH2 (Fuchs &
Schroder 1983), serta dapat menghambat transpor elektron di dalam mitokondria
(Cremlyn 1991).
(a)
(b)
(c)
Gambar 1 Struktur kandungan senyawa aktif Tephrosia vogelii : (a) rotenon (b)
deguelin, dan tefrosin (c) (Sumber: Caboni et al. 2004)
Potensi Campuran Insektisida Nabati
Ekstrak tumbuhan dapat digunakan dalam bentuk tunggal maupun
campuran. Campuran ekstrak tumbuhan dapat digunakan untuk mengendalikan
beberapa jenis hama sekaligus. Pemakaian campuran tersebut dapat menghemat
bahan baku karena campuran yang sinergis digunakan pada dosis yang lebih
rendah dibandingkan dengan dosis masing-masing ekstrak tunggal, serta dapat
mengurangi ketergantungan pada salah satu jenis tumbuhan mengingat tumbuhan
sumber ekstrak tidak selalu terdapat melimpah di suatu daerah (Dadang & Prijono
2008).
Hasil pengujian campuran dua ekstrak dari tiga ekstrak, yaitu ekstrak eter
buah P. retrofractum, ekstrak eter biji Annona squamosa, dan ekstrak metanol
ranting Aglaia odorata dengan metode residu daun, menunjukkan bahwa
campuran ekstrak A. odorata dan A. squamosa dengan konsentrasi 0,1% memiliki
efek sinergis terhadap larva C. pavonana untuk semua perbandingan, yaitu 1:2,
1:1, dan 2:1 (w/w), sedangkan campuran A. odorata dan P. retrofractum dengan
konsentrasi 0,1% menunjukkan pengaruh sinergis hanya pada perbandingan 1:1
terhadap larva C. pavonana (Dadang et al. 2007). Campuran ekstrak etil asetat
biji Aglaia harmsiana dan ekstrak daun Dysoxylum acutangulum (4:1) dengan
menggunakan metode residu pada daun brokoli menunjukkan efek sinergistik
terhadap larva instar III Plutella xylostella L. (Lepidoptera: Yponomeutidae).
Nilai LC50 dan LC95 campuran ekstrak D. acutangulum dan A. harmsiana (4:1)
masing-masing 0,019% dan 0,101%. Nilai tersebut lebih kecil daripada nilai LC 50
dan LC95 ekstrak D. acutangulum dan A. harmsiana yang digunakan secara
terpisah, yaitu 0,031% dan 0,103% untuk ekstrak D. acutangulum, serta 0,054%
dan 0,129% untuk ekstrak A. harmsiana (Yuswanti & Prijono 2004). Campuran
ekstrak metanol P. retrofractum dengan ekstrak metanol T. vogelii (1:1) bersifat
sinergistik terhadap larva instar II C. pavonana dengan nilai LC50 dan LC95
masing-masing 0,159% dan 0,379% (Saryanah 2008).
Serbuk daun T. vogelii dan Nicotiana tabacum dapat lebih mengurangi
tingkat
parasitisme
Uscana
lariophaga
Steffan
(Hymenoptera:
Trichogrammatidae) dan Dinarmus basalis Rondani (Hymenoptera: Pteromalisae)
yang merupakan parasitoid telur dan larva C. maculatus dibandingkan dengan
penggunaan serbuk daun tanaman mimba, Azadirachta indica (Boeke et al. 2003).
Campuran ekstrak ranting D. acutangulum dan buah P. retrofractum (1:10)
dengan perlakuan kontak topikal bersifat antagonis terhadap larva instar II
Spodoptera litura (F.) (Lepidoptera: Noctuidae) baik pada LD50 maupun LD95
dengan nisbah ko-toksisitas masing-masing 0,93% dan 0,36%.
Campuran
tersebut bersifat selektif terhadap musuh alaminya, yaitu nimfa instar II kepik
Sycanus annulicornis (Dohrn.) (Hemiptera: Reduviidae) sehingga aman untuk
diaplikasikan di lapangan (Frensiska 2005).
Sifat Insektisida Imidakloprid
Insektisida sintetik imidakloprid (1-(6-kloro-3-piridilmetil)-N-nitroimidazolidin-2-ilideneamin) (Gambar 2) termasuk golongan senyawa kloronikotin
(neonikotinoid) yang bersifat sebagai racun kontak dan racun perut, memiliki
toksisitas rendah terhadap mamalia, dan masa efikasi yang cukup lama terhadap
hama sasaran (Buss et al. 2009). Imidakloprid digunakan untuk mengendalikan
serangga menusuk-mengisap seperti WBC, kutu-kutuan, trips, dan kutu kebul.
Insektisida tersebut umum digunakan pada tanaman padi, jagung, kentang,
sayuran, bit gula, buah buahan, dan kapas serta bersifat sistemik saat digunakan
pada perlakuan benih dan tanah (Nagel & Thielert 2006). Imidakloprid terserap
melalui perakaran tanaman dan berdifusi di dalam jaringan kemudian menyebar
ke seluruh bagian tanaman sehingga cairan tanaman tercampuri imidakloprid.
Gambar 2 Struktur kimia imidakloprid (Sumber: Kagabu & Matsuno 1997)
Cara kerja golongan neonikotinoid termasuk imidakloprid hampir sama
dengan nikotin. Imidakloprid awalnya masuk ke reseptor saraf serangga yang
berfungsi menerima asetilkolin, pembawa impuls saraf dari satu sel saraf ke sel
saraf lainnya.
Penghambatan reseptor asetilkolin mengakibatkan akumulasi
asetilkolin yang dapat menyebabkan serangga mengalami kelesuan, kesulitan
bernapas, kehilangan keseimbangan, kejang-kejang, kelumpuhan, dan kematian.
Efek imidakloprid ini lebih menimbulkan kerugian terhadap hewan berdarah
dingin yaitu serangga dibandingkan dengan hewan berdarah panas (Buss et al.
2009).
Download