dasar akuntansi pajak

advertisement
Pusat Pengembangan Akuntansi dan
Perpajakan Indonesia (P2API)
AKUNTANSI PAJAK
Diklat Perpajakan Sehari
I KETUT SUASTIKA, S.E., Ak., M.M., CA, BKP
Denpasar, Sept 2015
DEFINISI AKUNTANSI
Akuntansi
adalah sistem informasi yang menghasilkan
laporan kepada pihak-pihak yg berkepentingan mengenai
aktivitas ekonomi dan kondisi perusahaan.
Akuntansi sebagai proses mengidentifikasi, mengukur,
dan melaporkan informasi ekonomi utk memungkinkan
adanya penilaian dan keputusan yg jelas dan tegas bagi
mereka yg menggunakan informasi tersebut.
Di bidang Perpajakan sering disebut Akuntansi Komersial
Laporan Keuangan Komersial
LAPORAN KEUANGAN KOMERSIAL

Laporan Laba Rugi
 Laporan Ekuitas Pemilik
 Neraca
 Laporan Arus Kas
SIKLUS AKUNTANSI
Dokumen
Transaksi
Jurnal
Posting ke buku
besar
Neraca Saldo
Worksheet
Jurnal Penyesuaian
Neraca Saldo
Setelah
Penyesuaian
Neraca Saldo
Setelah Penutupan
Jurnal Penutup
Laporan Keuangan
Persamaan Akuntansi
ASET = KEWAJIBAN + EKUITAS
Atau
AKTIVA = HUTANG + MODAL
Akuntansi Pajak
Akuntansi pajak adalah Akuntansi yang berkaitan
dengan perhitungan perpajakan dan mengacu
pada peraturan dan peraturan perundangundangan
perpajakan
berserta
aturan
perlaksanaannya
Laporan Keuangan Fiskal
Prinsip Akuntasi Pajak
A.
B.
C.
D.
E.
Kesatuan Akuntansi
Kesinambungan
Harga Pertukaran Yang Objektif
Konsistensi /taat azas
Substansi mengalahkan bentuk
Karakteristik Akuntansi Pajak
 Relevan
 dapat
dimengerti
 daya uji
 Netral
 tepat waktu
 daya banding
 lengkap
Ketentuan Terkait
Pasal 4 dan Pasal 5 ayat (1) UU PPh ― Penghasilan
Pasal 6 ayat (1) dan Pasal 5 ayat (3) a UU PPh - Biaya
Ketentuan
Pasal 9 ayat (1) dan Pasal 5 ayat (3) b UU PPh - Biaya
Pasal 4 ayat (1) UU KUP – Kewajiban terkait SPT
Pasal 28 UU KUP - Pembukuan
Ketentuan Terkait
Pasal 10 ayat (6) UU PPh ― Penghitungan HPP
Pasal 11 UU PPh – Penyusutan
Ketentuan
Pasal 11A UU PPh – Amortisasi
Pasal 13 PP 94/2010 – pengeluaran yang tidak boleh
dikurangkan
Proses Laporan Keuangan Fiskal
Dokumen
Transaksi
Jurnal
Posting ke buku
besar
Worksheet
Laporan Keuangan
Rekonsiliasi Fiskal
Laporan Keuangan
Fiskal
Pembukuan
Sesuai Pasal 1 angka 29 UU KUP, disebutkan bahwa
PEMBUKUAN adalah:
suatu proses pencatatan yang dilakukan secara teratur
untuk mengumpulkan data dan informasi keuangan yang
meliputi harta, kewajiban, modal, penghasilan dan biaya,
serta jumlah harga perolehan dan penyerahan barang atau
jasa, yang ditutup dengan menyusun laporan keuangan
berupa neraca, dan laporan laba rugi untuk periode Tahun
Pajak tersebut.
Tujuan Pembukuan
Berdasarkan penjelasan pasal 14 UU PPh adalah
mendapatkan informasi yang benar dan lengkap tentang
penghasilan Wajib Pajak untuk dapat mengenakan pajak
secara adil, benar dan wajar sesuai kemampuan ekonomis
Wajib Pajak
Pelaksanaan Pembukuan
Berdasarkan pasal 28 UU KUP diatur sebagai berikut:

Diselenggarakan dengan memperhatikan itikad baik dan
mencerminkan keadaan atau kegiatan usaha yang sebenarnya

Diselenggarakan di Indonesia dengan menggunakan huruf latin,
angka arab, satuan mata uang rupiah, dan disusun dalam bahasa
Indonesia atau bahasa asing yang diizinkan menteri keuangan
(dalam hal ini bahasa inggris)

Diselenggarakan dengan prinsip taat asas dan dengan stelsel
akrual, kas atau stelsel campuran

Sekurang-kurangnya terdiri dari catatan mengenai harta,
kewajiban, modal, penghasilan dan biaya, serta penjualan dan
pembelian.

Diselenggarakan dengan cara atau sistem yang lazim dipakai di
Indonesia. Misalnya SAK dan UU pajak.
Penghasilan
Menurut
PSAK 23, penghasilan (income) berarti suatu
penambahan aset atau penurunan kewajiban yg
mengakibatkan ekuitas yg tidak berasal dari kontribusi
penanaman modal
Berdasarkan Pasal 4 (1) UU No. 36/2008 Penghasilan
adalah “ Setiap tambahan kemampuan ekonomis yang
diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik berasal dari
Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai
untuk konsumsi atau menambah kekayaan Wajib Pajak
yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk
apapun”.
Stelsel Pengakuan Penghasilan
Stelsel
akrual
Contoh pengakuan penghasilan dengan metode
persentase tingkat penyelesaian misalnya di bidang
konstruksi, BOT dan real estat
stelsel
kas
contoh restoran, warung, jasa transportasi dll
stelsel
campuran
Adalah stelsel kas yang dimodifikasi untuk penghitungan
PPh.
Pengelompokan Penghasilan
 Penghasilan
yg merupakan obyek pajak
 Penghasilan yg dikenakan pajak bersifat
final
 Penghasilan yg bukan merupakan obyek
pajak
See Psl 4 UU PPh
Biaya/Pengeluaran

Biaya yg dapat dikurangkan utk menentukan
Penghasilan Kena Pajak
(Psl 6 UU PPh)
 Biaya yg tidak dapat dikurangkan utk menentukan
Penghasilan Kena Pajak
(Psl 9 UU PPh)
Biaya/Beban
1.
Biaya yang dapat dikurangkan (Bentuk Usaha Tetap –
Pasal 5 ayat (2) dan ayat (3))
biaya yang diperbolehkan untuk dibebankan adalah
biaya yang berkaitan dengan usaha atau kegiatan
bentuk usaha tetap, yang besarnya ditetapkan oleh
Direktur Jenderal Pajak.
Biaya/Beban
2.
Biaya yang tidak dapat dikurangkan:
a. pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk
apapun;
b. biaya yang dibebankan/ dikeluarkan untuk
kepentingan pribadi pemegang saham, sekutu, atau
anggota;
c. pembentukan / pemupukan dana cadangan dengan
pengecualian;
d. premi asuransi kesehatan, kecelakaan, jiwa,
dwiguna, & bea siswa yg dibayar oleh wp orang
pribadi dgn pengecualian;
Biaya/Beban
2.
Biaya yang tidak dapat dikurangkan:
e. penggantian atau imbalan sehubungan dengan
pekerjaan / jasa yang diberikan dalam bentuk
natura dan kenikmatan dengan pengecualian;
f. jumlah yang melebihi kewajaran yang
dibayarkan kepada pemegang saham atau kepada
pihak yang mempunyai hubungan istimewa
sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan
yg dilakukan;
g. harta yg dihibahkan, bantuan atau sumbangan,
dan warisan kecuali zakat;
Biaya/Beban
2.
Biaya yang tidak dapat dikurangkan:
h. Pajak Penghasilan;
i. biaya yg dibebankan / dikeluarkan untuk
kepentingan pribadi wp / orang yang menjadi
tanggungannya;
j. gaji yang dibayarkan kepada anggota persekutuan ,
firma, atau perseroan komanditer yang modalnya
tidak terbagi atas saham;
k. sanksi administrasi yang berkenaan dengan
pelaksanaan perundang – undangan dibidang
perpajakan
Biaya/Beban
2.
Biaya yang tidak dapat dikurangkan (BUT – Pasal 5 ayat
(3) huruf b):
Pembayaran kepada kantor pusat yang tidak
diperbolehkan dibebankan sebagai biaya adalah:
1) royalti atau imbalan lainnya sehubungan dengan
penggunaan harta, paten, atau hak-hak lainnya;
2) Imbalan sehubungan dengan jasa manajemen dan
jasa lainnya;
3) Bunga, kecuali bunga yang berkenaan dengan usaha
perbankan.
Biaya/Beban
3.
Pembebanan melalui Penyusutan/amortisasi
Pengeluaran untuk mendapatkan, menagih, dan
memelihara penghasilan yang mempunyai masa
manfaat lebih dari satu tahun tidak dibolehkan untuk
dibebankan sekaligus, melainkan dibebankan melalui
penyusutan / amortisasi (diatur dalam Pasal 11 & 11 a
UU PPh)
Pengeluaran
Masa
Manfaat >1th
Beban Tahun Berjalan
(Revenue expenditure)
Ps. 6 (1) UUPPh
T
Y
Berwujud?
Ps. 11 UU PPh
Y
Aktiva
Tetap
T
Masa manfaat
Pasti ?
Y
Penyusutan
Ps. 11 A UU PPh
T
Aktiva tdk
berwujud
B. dimuka
Amortisasi
Alokasi
biaya
Perolehan Aktiva Tetap
Pembelian
Ak. Komersial
Ak. Pajak
Ps. 10 (1) UU PPh
Tidak Ada Hub.
Istimewa
HP =
Jumlah yg sebenar
nya dikeluarkan
(Historical Cost)
Ada Hub. Istimewa
HP =
Jumlah yg seharus
nya dikeluarkan
(Market Price)
Kelompok Aktiva dan Tarif Penyusutan
Pasal 11 ayat (6) PPh
Kelompok
Harta Berwujud
I. Bukan Bangunan
Kelompok 1
Kelompok 2
Kelompok 3
Kelompok 4
II. Bangunan
Permanen
Tidak Permanen
Masa
Manfaat
Tarif Penyusutan
Garis Lurus
Saldo
menurun
4 tahun
8 tahun
16 tahun
20 tahun
25%
12,5%
6,25%
5%
20 tahun
10 tahun
5%
10%
Pengelompokan Jenis aktiva ditetapkan
dengan Keputusan Menteri Keuangan
50%
25%
12,5%
10%
Kelompok Aktiva Tdk berwujud
dan Tarif Amortisasi Pasal 11 A ayat (2) PPh
Kelompok
Harta Tidak Berwujut
Masa
Manfaat
Kelompok 1
Kelompok 2
Kelompok 3
Kelompok 4
4 tahun
8 tahun
16 tahun
20 tahun
Tarif Penyusutan
Garis Lurus
Saldo
menurun
25%
50%
12,5%
25%
6,25%
12,5%
5%
10%
• Pengelompokan aktiva dan masa manfaat dipilih
oleh WP
• Jika masa manfaat tidak tercantum dalam kelompok
masa manfaat yg ada, menggunakan masa manfaat
yang terdekat
KEUNTUNGAN (KERUGIAN) SELISIH KURS
(1) Keuntungan atau kerugian selisih kurs mata
uang asing diakui sebagai penghasilan atau
biaya berdasarkan sistem pembukuan yg dianut
dan dilakukan secara taat asas sesuai dgn SAK
yg berlaku di Indonesia.
(2) Keuntungan atau kerugian selisih kurs mata
uang asing sdp ayat (1) yg berkaitan langsung
dgn usaha WP yg:
a. dikenakan PPh yg bersifat final; atau
b. tidak termasuk objek pajak,
tidak diakui sebagai penghasilan atau biaya.
Ps. 9 PP 94/2010
Contoh:






PT A bergerak di bidang penyewaan apartemen. Sesuai dgn kontrak,
sewa apartemen tiap bulan adalah US$1,000 dan diterbitkan invoice
setiap tgl 1.
Pada tgl 1 September 2010 PT A menerbitkan invoice sebesar US$
1,000 kpd penyewa. Pada tgl tsb, kurs yg berlaku adalah Rp9.000,00
per 1 US$.
Pada tgl 1 September 2010 tsb PT A mengakui penghasilan atas sewa
apartemen Rp9.000.000,00 (US$ 1,000 x Rp9.000,00).
Pada tgl 15 September 2010 penyewa membayar sewa apartemen.
Pada tgl tsb, kurs yg berlaku adalah Rp8.700,00 per 1 US$, shg nilai
sewa yg dibayar adalah Rp8.700.000,00 (US$ 1,000 x Rp8.700,00).
Atas perbedaan waktu antara tgl penerbitan invoice dan tgl
pembayaran timbul kerugian selisih kurs bagi PT A sebesar
Rp300.000,00 ((Rp9.000,00 - Rp8.700,00) x US$ 1,000)).
Atas kerugian selisih kurs tsb tidak diakui sbg biaya bagi PT A karena
berasal dari penyewaan apartemen yg telah dikenai PPh bersifat final.
Ps. 9 PP 94/2010
KEUNTUNGAN (KERUGIAN) SELISIH KURS
(3) Keuntungan atau kerugian selisih kurs mata
uang asing sdp ayat (1) yg tidak berkaitan
langsung dgn usaha WP yg:
a. dikenakan PPh yg bersifat final; atau
b. tidak termasuk objek pajak,
diakui
sebagai
penghasilan
atau
biaya
sepanjang biaya tsb dipergunakan untuk 3M
penghasilan.
Ps. 9 PP 94/2010
Contoh:
PT A, usaha penyewaan apartemen, bulan September 2010
mendapatkan pinjaman US$10,000,000 yg digunakan:
 US$ 9,000,000 untuk membangun apartemen,
 US$ 1,000,000 untuk membeli alat transportasi yg akan
dipergunakan untuk usaha jasa angkutan.
Atas keuntungan atau kerugian selisih kurs mata uang asing yg berasal
dari pinjaman sebesar US$ 1,000,000 tsb dapat diakui sebagai
penghasilan atau biaya karena:
a. tidak berkaitan langsung dengan usaha PT A di bidang penyewaan
apartemen yang atas penghasilannya dikenai PPh bersifat final; dan
b. merupakan pengeluaran untuk 3M penghasilan lainnya berupa
usaha jasa angkutan yang atas penghasilannya dikenai PPh dgn tarif
Pasal 17 UU PPh.
Ps. 9 PP 94/2010
PAJAK MASUKAN YG TIDAK DAPAT DIKREDITKAN
(1) Pajak Masukan yg tidak dapat dikreditkan sdd Ps. 9 ayat
(8) UU PPN dapat dikurangkan dari penghasilan bruto
sepanjang dapat dibuktikan Pajak Masukan tsb:
a. benar-benar telah dibayar; dan
b. berkenaan dgn pengeluaran yg berhubungan dgn
kegiatan untuk 3M penghasilan.
(2) Pajak Masukan yg dapat dikurangkan dari penghasilan
bruto sdp ayat (1) sehubungan dgn pengeluaran untuk
memperoleh harta berwujud dan/atau harta tidak
berwujud serta biaya lainnya yg mempunyai masa
manfaat lebih dari 1 tahun sdd Ps. 11 dan Ps. 11A UU
PPh, harus dikapitalisasi dgn pengeluaran atau biaya tsb
dan dibebankan melalui penyusutan atau amortisasi.
Ps. 10 PP 94/2010
BIAYA PENGEMBANGAN TANAMAN INDUSTRI
(1)
Biaya pengembangan tanaman industri yg berumur lebih
dari 1 tahun dan hanya 1 kali memberikan hasil,
 dikapitalisasi selama periode pengembangan
 dan merupakan bagian dari harga pokok penjualan
pada saat hasil tanaman industri dijual.
Yang dimaksud dengan "biaya pengembangan" adalah seluruh
pengeluaran yang terkait dengan tanaman industri termasuk
pembelian bibit, pemeliharaan, dan pembesaran tanaman sampai
dijual.
Ps. 11 PP 94/2010
BIAYA PEMELIHARAAN TERNAK
(2)
Biaya pemeliharaan ternak yang berumur lebih dari 1
tahun dan hanya 1 kali memberikan hasil,
 dikapitalisasi selama periode pemeliharaan
 dan merupakan bagian dari harga pokok penjualan
pada saat ternak dijual.
Yang dimaksud dengan "biaya pemeliharaan" adalah seluruh
pengeluaran yang terkait dengan ternak termasuk pembelian bibit,
pemeliharaan, dan pembesaran ternak sampai dijual.
Ps. 11 PP 94/2010
PINJAMAN TANPA BUNGA
DARI PEMEGANG SAHAM
(1) Pinjaman tanpa bunga dari pemegang saham yg diterima
oleh WP berbentuk PT diperkenankan apabila:
a. pinjaman tsb berasal dari dana milik pemegang saham
itu sendiri dan bukan berasal dari pihak lain;
b. modal yg seharusnya disetor oleh pemegang saham
pemberi pinjaman telah disetor seluruhnya;
c. pemegang saham pemberi pinjaman tidak dalam
keadaan merugi; dan
d. perseroan terbatas penerima pinjaman sedang
mengalami kesulitan keuangan untuk
kelangsungan usahanya.
Ps. 12 PP 94/2010
PINJAMAN TANPA BUNGA
DARI PEMEGANG SAHAM
(2) Apabila pinjaman yg diterima oleh WP berbentuk PT dari
pemegang sahamnya tidak memenuhi ketentuan sdp
ayat (1), atas pinjaman tsb terutang bunga dgn tingkat
suku bunga wajar.
Yang dimaksud dengan "tingkat suku bunga wajar" adalah tingkat
suku bunga yg berlaku yg ditetapkan sesuai dgn prinsip kewajaran
dan kelaziman (best practice) jika transaksi dilakukan di antara pihak
yg tidak mempunyai hubungan istimewa sdd Ps. 18 ayat (4) UU PPh
Ps. 12 PP 94/2010
TERMASUK BIAYA
YANG TIDAK BOLEH DIKURANGKAN
Pengeluaran dan biaya yg tidak boleh dikurangkan dalam
menentukan besarnya PhKP bagi WPDN dan BUT, termasuk:
a. biaya untuk 3M penghasilan yang:
1) bukan merupakan objek pajak;
2) pengenaan pajaknya bersifat final; dan/atau
3) dikenakan pajak berdasarkan NPPN sdd Ps. 14 UU PPh
dan NPK sdd Ps. 15 UU PPh.
b. PPh yg ditanggung oleh pemberi penghasilan.
Biaya yg berkenaan dgn Ph yg dikenakan pajak tersendiri, baik Ph yg
dikenakan pemotongan, pemungutan, atau pembayaran PPh yg bersifat final
sdd Ps. 4 ayat (2) maupun Ph yg dikenai pajak berdas. NPPN sdd Ps. 14 UU
PPh dan NPK sdd Ps. 15 UU PPh, telah diperhitungkan dlm tarif pajak
ataupun norma penghitungan yg berlaku untuk Ph tsb. Oleh karena itu,
biaya-biaya tsb tidak boleh lagi dikurangkan dari Ph bruto lainnya yg
pengenaan pajaknya dilakukan berdas. tarif sdd Ps. 17 UU PPh.
Ps. 13 PP 94/2010
Biaya lain-lain
SE-46/PJ.4/1995
1.
bunga pinjaman seluruhnya dikoreksi, apabila rata rata
pinjaman [rp] sama besar / lebih kecil dari rata rata
deposito / tabungan [rd]
2.
bunga pinjaman diakui sebahagian yaitu sebesar
bunga pinjaman [rp-rd] jika rp lebih besar dari rd
tkt
Biaya lain-lain
SE-46/PJ.4/1995 (lanjutan)
3.
bunga pinjaman diakui seluruhnya meskipun rp lebih
kecil / sama dengan rd atau rp lebih besar dari rd,
apabila dapat dibuktikan bahwa:
a. Deposito berasal dari laba ditahan atau setoran
modal, atau
b. Deposito merupakan suatu kewajiban menurut
ketentuan yang berlaku
Biaya lain-lain
SE-27/PJ.22/1986
biaya entertainment /jamuan tamu dan sejenisnya
dapat dikurangkan dari penghasilan bruto sepanjang
ada hubungannya dengan kegiatan usaha dan dapat
dibuatkan daftar nominatif biaya jamuan tamu dan
dilampirkan pada SPT tahunan PPh yang memuat
nama, jabatan, asal perusahaan / instansi penerima
jamuan, nilai dan tempat jamuan.
PMK-02/PMK.03/2010
Wajib Pajak wajib membuat daftar nominatif atas
pengeluaran Biaya Promosi
Biaya lain-lain
KEP-220/PJ/2000
dari biaya pemakaian ponsel yang meliputi
beban penyusutan, biaya berlangganan,
pengisian pulsa ulang dan perbaikan & biaya
pemakaian kendaraan sedan yang meliputi
beban penyusutan dan biaya
pemeliharaan/perbaikan rutin (dikoreksi 50%)
Biaya lain-lain
KEP 316/PJ/2002
atas pengeluaran biaya perolehan dan
upgrade perangkat lunak [software] komputer
berupa program aplikasi khusus (program yang
dirancang khusus untuk otomatisasi sistem
administrasi, pekerjaan atau kegiatan tertentu,
seperti di bidang perbankan, pasar modal ,
perhotelan, rumah sakit, penerbangan]
pembebannya melalui amortisasi berdasarkan
tarif kelompok 1 [ 25% / 50%)
Rekonsiliasi Fiskal
Rekonsiliasi Fiskal adalah proses penyesuaian atas laba
komersial yg berbeda dg ketentuan fiskal utk menghasilkan
penghasilan neto/laba yg sesuai dg ketentuan perpajakan.
Perbedaan-perbedaan antara akuntansi komersial dan
fiskal tsb dapat dikelompokkan menjadi :
1.Beda Tetap/Permanen
2.Beda Waktu/Sementara
Beda Tetap/Permanen
Beda tetap terjadi karena adanya perbedaan pengakuan penghasilan
dan biaya menurut akuntansi dg menurut pajak, yaitu adanya
penghasilan dan biaya yg diakui menurut akuntansi komersial namun
tidak diakui menurut fiskal.
Beda tetap biasanya timbul karena peraturan perpajakan
mengharuskan hal-hal berikut dikeluarkan dari perhitungan
Penghasilan Kena Pajak :
Penghasilan yg telah dikenakan final (Psl 4 ayat 2 UU PPh)
Penghasilan yg bukan obyek pajak
Penghasilan yg tdk berhubungan langsung dg kegiatan usaha yaitu
mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan serta
pengeluaran yg sifatnya pemakaian penghasilan atau yg jumlahnya
melebihi kewajaran (Psl 9 ayat 1 UU PPh)
Beda Waktu/Sementara
Beda waktu merupakan perbedaan perlakuan akuntansi
dan perpajakan yg sifatnya temporer, artinya secara
keseluruhan beban atau pendapatan akuntansi maupun
perpajakan sebenarnya sama, tetapi berbeda alokasi
setiap tahunnya.
Beda waktu biasanya timbul karena perbedaan yang
dipakai antara pajak dg akuntansi dalam hal:
Akrual dan realisasi
Penyusutan dan Amortisasi
Penilaian persediaan
Kompensasi kerugian fiskal
Koreksi Positif dan Negatif dari
Rekonsiliasi Fiskal
Koreksi positif terjadi apabila pendapatan menurut fiskal bertambah,
biasanya dilakukan akibat adanya:
Beban yg tidak diakui oleh pajak (non-deductable expenses)
Penyusutan komersial LEBIH BESAR dr fiskal
Amortisasi komersial LEBIH BESAR dr fiskal
Penyesuaian fiskal positif lainnya.
Koreksi negatif terjadi apabila pendapatan menurut fiskal berkurang,
biasanya dilakukan akibat adanya:
Penghasilan yg tidak termasuk obyek pajak
Penghasilan yg dikenakan final
Penyusutan komersial LEBIH KECIL dr fiskal
Amortisasi komersial LEBIH KECIL dr fiskal
Penghasilan yg ditangguhkan pengakuannya
Penyesuaian fiskal negatif lainnya
Tabel Rekonsiliasi Fiskal Terlampir…
Akuntansi Pajak Penghasilan
(PSAK 46)
Beda waktu akan menimbulkan aset/kewajiban pajak tangguhan, sementara
beda tetap tidak.
Beban PPh terdiri atas beban pajak kini dan beban pajak
tangguhan/pendapatan pajak tangguhan.
1.Pajak kini adalah jumlah PPh terutang atas Penghasilan Kena Pajak pada
satu periode.
2.Beban pajak tangguhan akan menimbulkan kewajiban pajak tangguhan,
sedangkan pendapatan pajak tangguhan menimbulkan aset pajak tangguhan.
Aset pajak tangguhan timbul apabila beda waktu menyebabkan terjadinya
koreksi positif dan merupakan jumlah PPh terpulihkan pada periode
mendatang sbg akibat adanya perbedaan temporer yg boleh dikurangkan dan
sisa kompensasi kerugian.
Kewajiban pajak tangguhan timbul apabila beda waktu menyebabkan
terjadinya koreksi negatif dan merupakan jumlah PPh terutang utk periode
mendatang sbg akibat adanya perbedaan temporer kena pajak.
Pencatatan dan Penyajian
Pengakuan aset dan kewajiban pajak tangguhan dilakukan thd fiskal yg
masih dapat dikompensasikan dan beda waktu antara laporan
keuangan komersial dg laporan keuangan fiskal yg dikenakan pajak,
dikalikan dg tarif pajak yg berlaku, yg dalam aplikasinya, tarif
maksimum PPh 25% digunakan karena alasan kepraktisan.
Jurnal timbulnya aset pajak tangguhan:
Debit
Kredit
Aset Pajak Tangguhan ..………………………..
xxx
Pendapatan Pajak Tangguhan ………
xxx
Jurnal timbulnya kewajiban pajak tangguhan:
Beban Pajak Tangguhan…..……………………
Kewajiban Pajak Tangguhan………….
Debit
xxx
Kredit
xxx
Selesai
Telp. 0361-247287 HP. 08211-242-1861
Email : [email protected]
Website : www.SOPINDOConsulting.com
Jl. Batusari I No. 4 (samping Jl. Tukad Yeh Ho II) Renon Denpasar
Download