PEMBELAJARAN APRESIASI DRAMA DI SEKOLAH MENENGAH

advertisement
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
PEMBELAJARAN APRESIASI DRAMA
DI SEKOLAH MENENGAH ATAS
(Studi Kasus di SMA Negeri Karangpandan)
SKRIPSI
Oleh:
Erma Susilowati
NIM K1208085
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
Juli 2012
commit
to user
i
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
commit to user
ii
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
PEMBELAJARAN APRESIASI DRAMA
DI SEKOLAH MENENGAH ATAS
(Studi Kasus di SMA Negeri Karangpandan)
Oleh:
ERMA SUSILOWATI
K1208085
SKRIPSI
Ditulis dan Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Mendapatkan
Gelar Sarjana Pendidikan Program Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
Juli 2012
commit to user
iii
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
commit to user
iv
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
commit to user
v
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
ABSTRAK
Erma Susilowati. K1208085. PEMBELAJARAN APRESIASI
DRAMA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (STUDI KASUS di SMA
NEGERI KARANGPANDAN). Skripsi. Surakarta: Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan. Universitas Sebelas Maret Surakarta, Juni 2012.
Tujuan Penelitian adalah untuk mendeskripsikan perencanaan
pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, pelaksanaan pementasan drama, dan
kendala-kendala serta upaya yang dilakukan untuk mengatasi kendala dalam
pembelajaran apresiasi drama di kelas XI IPS 1 SMA Negeri Karangpandan.
Bentuk penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Strategi penelitian yang
digunakan adalah studi kasus tunggal. Sumber data yang digunakan adalah tempat
dan peristiwa berkaitan dengan lokasi dan aktivitas pembelajaran yang dilakukan
oleh guru dalam kelas, informan, dan dokumen. Teknik pengambilan sampel yang
digunakan adalah purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan
teknik analisis dokumen, teknik observasi, dan teknik wawancara. Validitas data
diperoleh melalui triangulasi data, triangulasi metode, dan review informan.
Teknik analisis data menggunakan model interaktif yang terdiri dari empat tahap,
yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Hasil temuan penelitian tentang pembelajaran apresiasi drama di SMA
Negeri Karangpandan diperoleh simpulan: (1) Perencanaan pembelajaran
apresiasi drama (silabus dan RPP) yang disusun oleh masih terdapat kekurangan,
dalam RPP guru belum mencantumkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai
peserta didik. (2) Pelaksananaan pembelajaran apresiasi drama, guru menjelaskan
materi dengan metode inovatif, media yang digunakan guru laptop, LCD,
proyektor, speaker, papan tulis dan spidol. Evaluasi yang dilakukan oleh guru
dalam pembelajaran apresiasi drama terdapat dua jenis, yaitu evaluasi proses dan
hasil. (3) Pelaksanaan pementasan drama berwujud rekaman drama yang dimuat
dalam CD. (4) Kendala yang dihadapi guru (a) peserta didik yang malumalu/takut serta kurang rasa percaya diri dan tidak mengerjakan tugas; (b) belum
memiliki fasilitas yang lengkap; (c) waktu yang terbatas; (d) kurangnya bahan
dan materi ajar. Upaya yang dilakukan guru (a) guru memberikan motivasi,
semangat, menjelaskan tujuan dan manfaat mempelajari materi sekaligus praktik
dalam apresiasi drama, guru memberikan kelonggaran waktu untuk
menyelesaikan tugas dan bila terjadi berkai-kali guru memberikan sanksi; (b)
mengajak peserta didik untuk belajar di ruangan yang memiliki fasilitas lengkap,
seperti di laboratorium fisika; (c) guru menjelaskan materi drama dengan singkat,
padat, dan jelas, memberikan kepercayaan penuh kepada peserta didik untuk
bermain drama dengan kelompoknya masing-masing; (d) mengupayakan mencari
tambahan materi ajar dari sumber lain, salah satunya buku Terampil Bermain
Peran karya Asul Wiyanto atau dari sumber-sumber lain di internet yang dapat
dipertanggungjawabkan kebenarannya, serta menambahkan materi tentang
pengeditan sebuah film dalam pembelajaran TIK.
commit to user
Kata Kunci : pembelajaran, apresiasi, pementasan, drama
vi
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
MOTTO
“Pengalaman adalah segalanya yang aku miliki
Aku pernah jatuh, lalu bangkit kembali
Dan aku yakin bahwa pengalamanlah yang membantuku kembali kuat untuk
berdiri”
Carl Chirul
”Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan”
Q. S. Al Insyirah: 5
commit to user
vii
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
PERSEMBAHAN
Rasa syukur selalu ku panjatkan pada-Mu, kupersembahkan karya ini untuk:
 Ayah dan Ibu
Doa restu darimu mengalir tiada hentinya demi kelancaran dan
kesuksesanku
 Nur Syarohmawati
Adikku yang selalu menghibur kala susah dan memotivasiku
 Edy Setiyawan, S. Psi dan Uning Intan Fittriawati, S.E
Dukungan moralmu membuatku untuk selalu berpikir positif dan optimis.
 FACEL
Fira, Ardhy, Colin, Erma, Lina, lima bersaudara selamanya....
 Teman-teman tercinta
Wahyu Purwanto, Nita Nur’aini, Aditya Permana. S., Muhari Widi, Dwi,
Wahyudi, Ummi, dan seluruh teman-teman Bastind ’08.
 Bapak/Ibu Dosen PBS
Ilmu yang kau berikan adalah langkah awal untukku menuju sukses,...
commit to user
viii
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
KATA PENGANTAR
Puji syukur peneliti panjatkan ke hadirat Allah Swt yang telah melimpahkan
rahmat, nikmat, dan karunia-Nya, skripsi ini akhirnya dapat diselesaikan untuk
memenuhi sebagian persyaratan dalam mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan Bahasa
Indonesia. Peneliti menyadari banyak hambatan yang menimbulkan kesulitan dalam
penyelesaian penulisan skripsi ini, namun berkat bantuan dari berbagai pihak
akhirnya kesulitan yang timbul dapat teratasi. Untuk itu dengan segenap kerendahan
hati perkenankan peneliti menghaturkan terima kasih kepada:
1.
Prof. Dr. H. M. Furqon Hidayatullah, M.Pd., selaku Dekan Fakultas Keguruan
dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah
memberi izin penulisan skripsi.
2.
Dr. Muhammad Rohmadi, M.Hum., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa
dan Seni, yang telah menyetujui permohonan penyusunan skripsi.
3.
Dr. Kundharu Saddhono, M.Pd., selaku Ketua Program Pendidikan Bahasa
dan Sastra Indonesia yang telah memberikan izin penyusunan skripsi.
4.
Prof. Dr. Herman. J Waluyo, M. Pd., dan Drs. Purwadi, selaku Pembimbing
yang telah memberikan bimbingan, pengarahan, dan masukan positif kepada
peneliti hingga skripsi ini dapat terselesaikan.
5.
Bapak dan Ibu dosen Program Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang
dengan tulus membagikan ilmunya kepada peneliti.
6.
Drs. Amin Suryadi, M.Pd., selaku Kepala Sekolah SMA Negeri
Karangpandan yang memberikan izin untuk melakukan penelitian di sana.
7.
Dra. Ami Rahayu, selaku guru bahasa Indonesia SMA Negeri Karangpandan
yang telah memberikan informasi yang peneliti butuhkan dalam menyusun
skripsi.
Semoga amal kebaikan semua pihak tersebut mendapatkan imbalan dari Allah Swt.
Akhirnya peneliti berharap skripsi ini bermanfaat bagi perkembangan ilmu
pengetahuan dan dunia pendidikan, khususnya pendidikan bahasa Indonesia.
Surakarta,
commit to user
ix
Peneliti
Juli 2012
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
DAFTAR ISI
Halaman
JUDUL
..........................................................................................................
i
PERNYATAAN ................................................................................................
ii
PENGAJUAN ................................................................................................... iii
PERSETUJUAN ............................................................................................... iv
PENGESAHAN ................................................................................................
v
ABSTRAK ........................................................................................................ vi
MOTTO ….. .................................................................................................... vii
PERSEMBAHAN ............................................................................................. viii
KATA PENGANTAR ...................................................................................... ix
DAFTAR ISI .....................................................................................................
x
DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... xiii
DAFTAR TABEL ............................................................................................. xiv
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... xv
BAB I.
BAB II.
PENDAHULUAN ..........................................................................
1
A. Latar Belakang Masalah ............................................................
1
B. Rumusan Masalah .....................................................................
5
C. Tujuan Penelitian .......................................................................
5
D. Manfaat Penelitian .....................................................................
6
KAJIAN TEORI, PENELITIAN YANG RELEVAN, DAN
KERANGKA BERPIKIR
..............................................................
commit
to user
x
7
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
A. Kajian Teori ..............................................................................
7
1. Hakikat Pembelajaran .........................................................
7
2. Hakikat Drama .................................................................... 13
3. Hakikat Apresiasi Drama ..................................................... 23
4. Hakikat Pembelajaran Apresiasi Drama .............................. 26
B. Penelitian yang Relevan ............................................................. 39
C. Kerangka Berpikir ...................................................................... 41
BAB III. METODE PENELITIAN ................................................................ 44
A. Tempat dan Waktu Penelitian .................................................... 44
B. Pendekatan dan Jenis Penelitian................................................. 44
C. Data dan Sumber Data .............................................................. 45
D. Teknik Pengambilan Sampel ..................................................... 46
E. Teknik Pengumpulan Data ........................................................ 46
F. Uji Validitas Data ...................................................................... 47
G. Teknik Analisis Data ................................................................. 48
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................ 50
A. Deskripsi Temuan ...................................................................... 50
1. Perencanaan Pembelajaran Apresiasi Drama di Kelas XI
IPS 1 SMA Negeri Karangpandan ..................................... 50
2. Pelaksanaan Pembelajaran Apresiasi Drama di Kelas XI
IPS 1 SMA Negeri Karangpandan ..................................... 58
3. Pelaksanaan Pementasan Drama di Kelas XI IPS 1 SMA
Negeri Karangpandan ......................................................... 66
commit to user
xi
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
4. Kendala-kendala dan Upaya yang Dilakukan Guru dalam
Pembelajaran Apresiasi Drama di Kelas XI IPS 1 SMA
Negeri Karangpandan ......................................................... 68
B. Pembahasan ................................................................................ 72
1.
Perencanaan Pembelajaran Apresiasi Drama di Kelas XI
IPS 1 SMA Negeri Karangpandan ..................................... 72
2.
Pelaksanaan Pembelajaran Apresiasi Drama di Kelas XI
IPS 1 SMA Negeri Karangpandan ..................................... 77
3.
Pelaksanaan Pementasan Drama di Kelas XI IPS 1 SMA
Negeri Karangpandan ......................................................... 80
4.
Kendala-kendala dan Upaya yang Dilakukan Guru dalam
Pembelajaran Apresiasi Drama di Kelas XI IPS 1 SMA
Negeri Karangpandan .......................................................... 82
BAB V. SIMPULAN, IMPLIKASI, SARAN ............................................... 85
A. Simpulan ................................................................................... 85
B. Implikasi .................................................................................... 87
C. Saran .......................................................................................... 88
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 90
LAMPIRAN ...................................................................................................... 93
commit to user
xii
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1. Kerangka Berpikir ......................................................................... 43
Gambar 3.1. Analisis Interaktif (Miles& Hubermen) ....................................... 49
commit to user
xiii
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1. Format Penilaian Pribadi .................................................................. 37
Tabel 2.2. Format Penilaian Proyek .................................................................. 38
Tabel 3.1. Rincian Waktu dan Jenis Kegiatan Penelitian ................................. 44
Tabel 4.1. Rubrik Penilaian Pengekspresian Dialog dalam Drama .................. 58
commit to user
xiv
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 01 Catatan Lapangan Hasil Pengamatan .......................................... 94
Lampiran 02 Catatan Lapangan Hasil Analisis Data ........................................ 103
Lampiran 03 Catatan Lapangan Hasil Wawancara ........................................... 106
Lampiran 04 Silabus Materi Pembelajaran Apresiasi Drama ........................... 115
Lampiran 05 RPP Apresiasi Drama ................................................................... 118
Lampiran 06 Materi Pembelajaran Apresiasi Drama ........................................ 136
Lampiran 07 Daftar Nama Peserta Didik Kelas XI IPS 1 .................................. 153
Lampiran 08 Contoh Naskah Drama yang Ditulis Peserta Didik ..................... 154
Lampiran 09 Foto-foto Pembelajaran Apresiasi Drama dan Pengambilan
Adegan Drama Peserta Didik ............................................................................. 162
Lampiran 10 Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian di SMA Negeri
Karangpandan ................................................................................................... 164
Lampiran 11 Surat Keterangan Permohonan Izin Penelitian di SMA Negeri
Karangpandan ................................................................................................... 165
Lampiran 12 Surat Keterangan Permohonan Menyusun Skripsi ...................... 166
Lampiran 13 Surat Keputusan Dekan FKIP ...................................................... 167
Lampiran 14 Surat Permohonan Izin Research Kepada Rektor ........................ 168
commit to user
xv
1
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pembelajaran sastra di sekolah sesungguhnya sangat menyenangkan bagi
peserta didik. Pembelajaran sastra dapat membimbing peserta didik agar memiliki
wawasan tentang sastra, mampu mengapresiasi sastra, bersikap positif terhadap
sastra, dan dapat mengembangkan kemampuan dirinya guna kepentingan
pendidikan. Sunaryo (2011:156) berpendapat bahwa pembelajaran sastra dapat
benar-benar membimbing peserta didik apabila mampu mengolah aspek
kemanusian peserta didik, yang sekaligus dapat memperkokoh jati dirinya sebagai
manusia Indonesia. Berdasarkan pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan
bahwa peserta didik lulusan sekolah lanjutan diharapkan dapat terlibat dalam
berbagai kegiatan apresiasi di sekolah, di rumah, dan di masyarakat. Kegiatan
apresiasi tersebut antara lain: mendengarkan, membaca hasil karya sastra,
mengadakan pementasan, mendiskusikan hasil sastra, maupun menulis kritik
sastra sebagai sarana untuk memperkokoh jati dirinya.
Pembelajaran sastra dalam mata pelajaran bahasa Indonesia bertujuan untuk
meningkatkan kemampuan peserta didik dalam menikmati, menghayati, dan
memahami karya sastra. Namun, kegiatan bersastra belum dapat berkembang secara
maksimal yang dikarenakan kemampuan dan kebiasaan membaca dan menulis masih
relatif rendah. Temuan Ismail (dalam Suryaman, 2011: 3) menyebutkan bahwa
peserta didik tidak membaca karya sastra alias nol judul buku per tahun, padahal
mereka diwajibkan untuk membaca karya sastra minimal sebanyak lima belas judul
buku karya sastra. Selain itu, implementasi pembelajaran sastra di kelas selama ini
dimungkinkan peserta didik mahir dan terbiasa membaca dan menulis saja. Dalam
pembelajaran sastra guru dan peserta didik relatif menghabiskan banyak waktu untuk
keterampilan seperti bahasan kosakata, hubungan huruf-bunyi, dan jawaban terhadap
pertanyaan secara tertulis. Hal ini berbanding terbalik bahwa guru dan peserta didik
sedikit waktu yang digunakan untuk membaca prosa, menyimak cerita yang dibaca
commit to user
teman dan pendramatisasian suatu cerita.
1
2
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Pendramatisasian/pertunjukan drama termasuk salah satu pembelajaran
sastra yang terdapat di Sekolah Menengah Atas. Pembelajaran drama di Sekolah
Menengah Atas memiliki tujuan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik
dalam mengapresiasi drama. Hal ini berarti peserta didik harus mampu mengenal,
memahami, mengahayati dan menghargai drama sebagai karya sastra secara
kreatif. Selain itu, peserta didik diharapkan mampu mengkomunikasikan hasil
kegiatan mengapresiasi bentuk sastra tersebut kepada orang lain, baik secara lisan
maupun tulis
dan
dapat
mendorong keberanian menuangkan
gagasan,
pengalaman, dan perasaannya dalam bentuk drama. Pelaksanaan pembelajaran
drama, dan sastra pada umumnya masih menyatu atau merupakan dari pelajaran
bahasa Indonesia. Hal ini dapat dilihat pada kurikulum mata pelajaran bahasa
Indonesia dari dulu hingga sekarang. Dalam kaitanya dengan kepentingan
pembelajaran bahasa Indonesia, sastra dan pembelajaran sastra Indonesia sangat
membantu
pencapaian
tujuan
pembelajaran
bahasa
Indonesia,
sehingga
penyajiannya dalam pendidikan formal bahasa Indnesia dan sastra tidak dapat
dipisahkan.
Pembelajaran apresiasi drama dianggap masih belum memenuhi sasaran.
Di sekolah-sekolah pembelajaran drama terkadang tidak berjalan sesuai dengan
Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar mengingat alokasi waktu yang tidak
sebanding dengan banyaknya materi yang harus disampaikan membuat materi
terkesan dipaksakan, terkadang ada materi yang tercecer dan tidak dapat diajarkan
pada peserta didik. Akibatnya peserta didik menjadi kurang akrab dengan
apresiasi drama itu sendiri. Hal ini dapat dilihat dari hasil apresiasi drama peserta
didik masih rendah. Minimnya ketersediaan bahan ajar dan contoh teks-teks
drama juga menjadi penghambat tercapainya kompetensi yang diharapkan.
Kegiatan drama secara apresiatif tidak akan terwujud apabila peserta didik tidak
diperkenalkan secara langsung dengan teks drama maupun pementasan yang
kemudian membahasnya. Selain itu, minat peserta didik yang kurang antusias
pada pembelajaran drama di sekolah. Dibuktikan dengan hasil penelitian Yus
Rusyana (dalam Waluyo, 2003:1) menyatakan bahwa minat peserta didik dalam
commit
to user
membaca karya sastra yang paling
banyak,
yaitu prosa, menyusul puisi, baru
3
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
kemudian drama. Hal ini disebabkan karena ketika menghayati naskah drama
yang berbentuk dialog, peserta didik kurang teliti dibandingkan dengan
memahami prosa atau puisi terlebih lagi kurangnya rasa percaya didri dalam
menentukan gerak dan karakter dari pemain dalam naskah drama tersebut.
Hal lain yang menjadi permasalahan dalam pembelajaran drama adalah
faktor guru. Guru sebagai salah satu komponen pembelajaran adalah orang yang
bertindak dan bertanggung jawab langsung pada pengelolaan kelas. Peran serta
peserta didik secara aktif atau pasif dalam pembelajaran drama sangat tergantung
dengan cara guru mengajar. Sebagai pengelola seorang guru diharapkan dapat
membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Oleh karena itu, guru mata
pelajaran bahasa Indonesia harus mampu menyusun RPP secara matang dan
mampu melaksakan secara optimal dan sesuai dengan RPP yang telah dibuat, agar
kompetensi dasar yang terkait dengan pembelajaran drama dapat diraih dengan
baik. Menurut Mulyasa (2007:222) seorang guru dalam menyusun RPP paling
tidak harus mencakup beberapa aspek agar proses belajar dapat terkendali dengan
baik, yaitu (1) mengisi kolom identitas; (2) menentukan alokasi waktu yang
dibutuhkan untuk pertemuan yang telah ditetapkan; (3) menentukan standar
kompetensi dan kompetensi dasar, serta indikator yang akan digunakan yang
terdapat pada silabus yang telah disusun; (4) merumuskan tujuan pembelajaran
berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar,serta indikator yang telah
ditentukan;
(5)
mengidentifikasi
materi
standar
berdasarkan
materi
pokok/pembelajaran dalam silabus; (6) menetukan metode yang tepat dalam
pembelajaran
yang
akan
digunakan;
(7)
merumuskan
langkah-langkah
pembelajaran yang terdiri dari kegiatan awal, inti, dan akhir; (8) menentukan
sumber belajar yang digunakan; (9) menyusun kriteria penilaian, lembar
pengamatan, contoh soal, dan teknik penskoran. Pada saat pembuatan RPP,
hendaknya guru memilih metode yang akan digunakan dalam penyampaian materi
dengan inovatif, tidak monoton sehingga pesera didik tidak merasa jenuh dan
bosan. Pemilihan media yang kurang tepat atau kurang mendukung juga dapat
menghambat proses penyampaian materi kepada peserta didik. Kurangnya
commit
to user drama dikarenakan keterbatasan
pemahaman peserta didik terhadap
pembelajaran
4
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
pengetahuan yang diterima dari guru selain itu kurang memenuhinya buku teks
yang dipakai dalam pembelajaran apresiasi drama.
Dalam sebuah pembelajaran, berbagai pendukung atau komponen
diperlukan agar pembelajaran dapat terlaksana dengan lancar dan tujuan yang
diharapkan dapat tercapai semaksimal mungkin. Sejalan dengan pendapat
Hamalik (2003:10) bahwa pembelajaran merupakan suatu kombinasi yang
tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan
prosedur yang saling memengaruhi dalam mencapai tujuan pembelajaran. Begitu
pula dengan pembelajaran drama, diperlukan beberapa unsur yang dapat
menunjang pembelajaran drama agar berjalan dengan baik dan lancar. Beberapa
unsur tersebut antara lain: guru yang berpengalaman, peserta didik yang aktif dan
kreatif, fasilitas yang menunjang pembelajaran, perlengkapan yang memadai, dan
prosedur yang sistematis. Guru yang berpengalaman dalam pembelajaran
apresiasi drama harus mampu menciptakan pembelajaran yang menyenangkan
bagi peserta didiknya, sehingga peserta didik dapat mengeksplorasikan
kemampuannya secara aktif dan kreatif dalam pembelajaran apresiasi drama.
Fasilitas dan perlengkapan pembelajaran dalam apresiasi drama yang minim
menjadikan proses petransferan ilmu menjadi terhambat. Pada saat proses
penyampaian materi kebanyakan guru masih susah dalam pengelolaan fasilitas
terutama pada penggunaan media yang mendukung. Di SMA Negeri Karangpadan
fasilitas yang ada belum memenuhi kebutuhan peserta didiknya. Dalam
pembelajaran apresiasi drama guru masih terbatasi dengan media LCD dan
pengeras suara/speaker yang jumlahnya sedikit. Sehingga dalam memberikan
contoh pementasan drama guru harus meminjam laboratorium fisika untuk
memutarkan contoh drama pentas tersebut dikarenakan belum mempunyai
laboratorium bahasa sendiri.
commit to user
5
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dijelaskan di atas,
permasalahan utama dalam penelitian ini adalah bagaimanakah pelaksanaan
pembelajaran apresiasi drama kelas XI di SMA Negeri Karangpandan, secara
lebih terperinci dijabarkan sebagai berikut:
1. Bagaimanakah perencanaan pembelajaran apresiasi drama yang dilakukan
guru di kelas XI SMA Negeri Karangpandan (silabus dan RPP)?
2. Bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran apresiasi drama yang dilakukan
guru di kelas XI SMA Negeri Karangpandan (guru, peserta didik, tujuan,
materi, metode, media, dan evaluasi)?
3. Bagaimanakah guru melaksanakan pementasan drama di kelas XI SMA
Negeri Karangpandan (pembentukan kelompok, penulisan naskah, proses
latihan, dan proses perekaman drama)?
4. Apakah kendala-kendala dalam pembelajaran apresiasi drama dan
bagaimanakah upaya yang dilakukan guru untuk mengatasinya di kelas XI
SMA Negeri Karangpandan (peserta didik, fasilitas,waktu, bahan ajar)?
C. Tujuan Penelitian
Sesuai rumusan masalah yang dikemukaan, maka penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui.
1. Perencanaan pembelajaran apresiasi drama yang dilakukan oleh guru di
kelas XI SMA Negeri Karangpandan (silabus dan RPP).
2. Pelaksanaan pembelajaran apresiasi drama yang dilakukan oleh guru di
kelas XI SMA Negeri Karangpandan (guru, peserta didik, tujuan, materi,
metode, media, dan evaluasi).
3. Pementasan drama yang dilakukan oleh guru di kelas XI SMA Negeri
Karangpandan (pembentukan kelompok, penulisan naskah, proses latihan,
dan proses perekaman drama).
4. Kendala-kendala dalam pembelajaran apresiasi drama dan upaya yang
dilakukan oleh guru untuk mengatasi kendala-kendala yang ditemui di
commit to user
kelas XI SMA Negeri Karangpandan.
6
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
D. Manfaat Penelitian
Setiap penelitian yang dilakukan diharapkan memberikan manfaat bagi yang
membacanya. Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini sebagai berikut:
1. Manfaat Teoretis
Hasil dari penelitian yang hendak dilakukan diharapkan dapat
memperkaya khazanah keilmuan khususnya dalam hal pembelajaran
apresiasi drama di SMA Karangpandan.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Peneliti
Sebagai pengembangan secara lengkap potensi dan kreativitas dalam
diri peneliti terkait dengan aspek pembelajaran apresiasi drama dan
sekaligus dapat menjadi bahan perbandingan dalam kenyataan di
lapangan.
b. Bagi Guru
Memberikan gambaran mengenai pembelajaran apresiasi sastra pada
umumnya, pada apresiasi drama khususnya sehingga dapat menjadi
alternatif pemecahan masalah dan memunculkan kreativitas serta
inovasi dalam pelaksanaan pembelajaran apresiasi drama.
c. Bagi Sekolah
Memberi masukan dan pertimbangan untuk meningkatan mutu
pembelajaran apresiasi sastra, khususnya pada pembelajaran
apresiasi drama.
d. Bagi Peneliti Lain
Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan masukan bagi peneliti lain
lebih lanjut sehingga bermanfaat bagi perkembangan dan kemajuan
pembelajaran apresiasi sastra, pada pembelajaran apresiasi drama
khususnya.
commit to user
7
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
BAB II
KAJIAN TEORI, PENELITIAN YANG RELEVAN,
DAN KERANGKA BERPIKIR
A. Kajian Teori
1. Hakikat Pembelajaran
Sebelum membahas mengenai hakikat pembelajaran, terlebih dahulu
disinggung sedikit tentang arti belajar. Belajar menurut Witherington (dalam
Sukmadinata, 2009:155) merupakan perubahan dalam kepribadian, yang
dimanifestasikan
sebagai
pola-pola
respons
yang
baru
dengan
bentuk
keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan. Senada dengan
pendapat di atas belajar diartikan sebagai suatu proses di mana suatu perilaku
muncul atau berubah karena adanya respons terhadap situasi (Hilgrad dalam
Sukmadinata, 2009:156). Lain halnya dengan pendapat Hamalik (2003:37)
memberikan pengertian bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku
individu melalui interaksi dengan lingkungan.
Berdasarkan beberapa definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa yang
disebut dengan belajar adalah proses yang berkaitan dengan kegiatan/aktivitas
yang menghasilkan suatu perubahan, baik berupa penambahan informasi
(pengetahuan) maupun berupa perubahan tingkah laku melalui interaksi dengan
lingkungannya. Belajar merupakan suatu kegiatan penambahan informasi atau
perubahan tingkah laku. Belajar tidak hanya dapat dilakukan oleh anak kecil saja
tapi bisa dilakukan oleh setiap individu tanpa memandang umur. Kegiatan belajar
sendiri tidak hanya bisa dilakukan di bangku sekolah saja tetapi juga bisa di jalan,
di lingkungan keluarga dan masyarakat, juga berbagai tempat lainnya yang dapat
dijadikan sebagai penambah informasi dan pengalaman hidup bagi manusia.
Belajar sangat erat kaitannya dengan istilah pembelajaran. Istilah ini
sama dengan kata intruction atau pengajaran. Pengajaran merupakan interaksi
commit
to user Seiring dengan perkembangan
belajar dan mengajar (Hamalik,
2003:54).
7
8
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
kurikulum pendidikan istilah pengajaran bergeser padaistilah pembelajaran yang
dapat diartikan sebagai suatu proses pengaturan lingkungan yang diarahkan untuk
mengubah perilaku peserta didik kearah yang positif dan lebih baik sesuai dengan
potensi dan perbedaanyang dimiliki peserta didik (Sanjaya, 2008:77-78)
Menurut
Hamalik
(2003:57-64),
pembelajaran
merupakan
suatu
kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas,
perlengkapan, dan prosedur yang saling memengaruhi dalam mencapai tujuan
pembelajaran. Beliau juga mengemukakan bahwa ada lima pengertian
pembelajaran berdasarkan teori belajar.
a. Pembelajaran adalah upaya menyampaikan pengetahuan kepada peserta didik.
b. Pembelajaran adalah mewariskan kebudayaan kepada generasi muda melalui
lembaga pendidikan sekolah.
c. Pembelajaran adalah upaya mengorganisasikan lingkungan untuk menciptakan
kondisi belajar bagi peserta didik
d. Pembelajaran adalah upaya mempersiapkan peserta didik untuk menjadi
warga masyarakat yang baik.
e. Pembelajaran adalah suatu proses membantu peserta didik mengahadapi
kehidupan masyarakat sehari-hari.
Berdasarkan definisi-definisi pembelajaran yang diuraikan di atas, dapat
dikatakan bahwa pembelajaran adalah proses yang di dalamnya ada interaksi
antara guru dan peserta didik dengan mengoptimalkan faktor internal maupun
eksternal untuk mencapai tujuan berupa perubahan yang dialami oleh peserta
didik, perubahan itu meliputi aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik.
Komponen
(2003:57)
dalam
pembelajaran
berdasarkan
pendapat
Hamalik
yang terdiri dari unsur-unsur manusiawi, material,
fasilitas,
perlengkapan, dan prosedur. Hal ini dapat dijabarkan unsur manusiawi terdiri dari
peserta didik, guru, dan tenaga pendidikan lainnya. Unsur material dapat berupa
sumber belajar. Unsur fasilitas dan perlengkapan meliputi ruang kelas, media.
Prosedur meliputi metode, tujuan pembelajaran, isi pelajaran dan teknik evaluasi.
Berdasarkan uraian di atas dapat dijabarkan lebih rinci, sebagai berikut.
commit to user
9
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
a. Siswa/Peserta didik
Siswa adalah seseorang yang bertindak sebagai pencari, penerima, dan
penyimpan isi pelajaran yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Lain halnya
menurut UU no 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,
disebutkan bahwa istilah siswa berganti dengan istilah peserta didik yang
berarti anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri
melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis
pendidikan tertentu.
b. Guru
Guru adalah seseorang yang bertindak sebagai pengelola kegiatan
belajar mengajar, katalisator belajar mengajar, dan peranan lainnya yang
memungkinkan berlangsungnya kegiatan belajar mengajar yang efektif.
Seperti halnya dengan pengertian dan istilah peserta didik, guru pun memiliki
istilah lain dalam UU no 20 tahun 2003 yaitu pendidik. Pendidik adalah
tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor,
pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain
yang
sesuai
dengan
kekhususannya,
serta
berpartisipasi
dalam
menyelenggarakan pendidikan.
Lebih lanjut diuraikan bahwa sebagai tenaga profesional yang
memiliki kualifikasi, peranan guru dalam pendidikan, diantaranya: sebagai
sumber belajar, sebagai fasilitator, sebagai manajer, sebagai demonstrator,
sebagai administrator, sebagai motivator, sebagai organisator, dan sebagai
evaluator (Sanjaya, 2008:147). Peran guru tersebut selaras dengan pendapat
Soedomo (2005:23) yang secara ringkas mengelompokkan tugas seorang
guru pada dasarnya meliputi tiga hal, yakni: (1) tugas edukasional
(mendidik), (2) tugas instruksional (mengembangkan kemampuan afektif,
kognitif, dan psikomotorik), dan (3) tugas managerial (mengelola kelas dan
kegiatan belajar).
c. Tujuan
Tujuan merupakan pernyataan tentang perubahan perilaku yang
commitdidik
to user
diinginkan terjadi pada peserta
setelah mengikuti proses belajar
perpustakaan.uns.ac.id
10
digilib.uns.ac.id
mengajar. Perubahan perilaku tersebut mencakup perubahan kognitif,
psikomotor, dan afektif. Hamalik (2003:73)
menjelaskan bahwa tujuan
pengajaran adalah suatu deskripsi mengenai tingkah laku yang diharapkan
tercapai oleh peserta didik setelah berlangsung pengajaran. Tujuan belajar
merupakan cara yang akurat untuk menentukan hasil pengajaran. Lebih lanjut
Beliau menjelaskan bahwa suatu tujuan pengajaran terdiri dari tiga
komponenn yakni: (1) tingkah laku terminal, (2) kondisi-kondisi tes, dan (3)
standar (ukuran).
d. Isi pelajaran
Isi atau materi pelajaran yakni segala informasi berupa fakta, prinsip,
dan konsep yang diperlukan untuk mencapai tujuan. Bahan pengajaran adalah
bagian integral. Rahmanto (2004:27-33) menyebutkan tiga aspek yang tidak
boleh dilupakan jika ingin memilih bahan pembelajaran sastra, yaitu:
1)
bahasa, agar pengajaran sastra dapat berhasil, guru kiranya perlu
mengembangkan keterampilan khusus untuk memilih bahan pengajaran
yang bahasanya sesuai dengan tingkat penguasaan bahasa peserta didik;
2)
psikologis, dalam memilih materi pengajaran sastra hendaknya guru
memperhatikan tahap ini karena sangat besar pengaruhnya terhadap
minat dan keengganan peserta didik dalam banyak hal. Tahap
perkembangan psikologis ini sangat besar pengaruhnya bagi daya ingat,
kemauan mengerjakan tugas, kesiapan bekerja sama, dan kemungkina
pemecahan masalah yang dihadapi; dan
3)
latar belakang budaya, masalah-masalah yang ditampilkan oleh suatu
karya seyogyanya mendekati dengan apa yang dihadapi oleh para
peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.
e. Metode
Metode pembelajaran merupakan bagian dari strategi intruksional.
Metode adalah cara yang digunakan oleh guru dalam menyampaikan materi
pelajaran. Dalam usaha pemudahan ini guru memerlukan cara-cara (metode)
tertentu. Untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran yang baik tentunya
to user
diperlukan suatu cara yangcommit
efektif
dan efisien sehingga ketercapaian
11
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
pembelajaran yang baik dapat terealisasikan. Menurut Yamin (2006:147)
metode pembelajaran berfungsi sebagai cara untuk menyajikan, menguraikan,
memberi contoh, dan memberi latihan kepada peserta didik untuk mencapai
tujuan tertentu, tapi tidak setiap metode pembelajaran sesuai digunakan untuk
mencapai tujuan pembelajaran.
Selanjutnya
Yamin
(2006:148-152)
menjelaskan
beberapa
pertimbangan yang seharusnya dilakukan oleh pengajar dalam memilih
metode pengajaran secara tepat dan akurat, meliputi:
1) tujuan pembelajaran,
2) pengetahuan awal peserta didik,
3) bidang studi/pokok bahasan/aspek,
4) alokasi waktu dan sarana penunjang,
5) jumlah peserta didik, dan
6) pengalaman dan kewibawaan pengajar.
f. Media
Media merupakan bahan pengajaran dengan atau tanpa peralatan yang
digunakan untuk menyajikan informasi kepada peserta didik agar mereka
dapat mencapai tujuan. Suatu media yang digunakan tidak mungkin cocok
untuk semua peserta didik. Marshall Mcluhan (dalam Hamalik, 2003:201)
menjelaskan bahwa media adalah ekstensi manusia yang memungkinkan
mempengaruhi orag lain yang tidak mengadakan kontak langsung dengan dia.
William Burton (dalam Usman, 2005:32) memberikan petunjuk bahwa
dalam memilih media yang akan digunakan dalam pembelajaran, hendaknya
perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1) alat-alat yang dipilih harus sesuai dengan kematangan dan pengalaman
peserta didik serta perbedaan individual dalam kelompok,
2) alat yang dipilih harus tepat, memadai, dan mudah digunakan,
3) harus direncanakan dengan teliti dan diperiksa terlebih dahulu,
4) penggunaan alat peraga disertai kelanjutannya, seperti dengan diskusi,
analisis, dan evaluasi, dan
commitbiaya.
to user
5) sesuai dengan batas kemampuan
perpustakaan.uns.ac.id
12
digilib.uns.ac.id
g. Evaluasi
Evaluasi yakni suatu upaya untuk memeriksa sejauh mana peserta
didik telah mengalami kemajuan belajar atau telah mencapai tujuan belajar
dan mengajar (Hamalik, 2003:157). Wand dan Brown (dalam Sanjaya,
2008:181) mendefinisikan evaluasi sebagai “… refer to the act process to
determining the value of something”. Evaluasi mengacu kepada suatu proses
untuk menentukan nilai suatu yang dievaluasi. Beliau juga menyebutkan
karakteristik evaluasi, yakni suatu proses berhubungan dengan pemberian nilai
atau arti.
Keberhasilan pembelajaran juga dipengaruhi oleh beberapa faktor di
antaranya:
1) Minat Belajar
Minat, artinya kecenderungan yang agak menetap, mempengaruhi si
subjek agar merasa tertarik dan senang berkecimpung dalam kegiatan suatu
bidang.
2) Motivasi Belajar
Motivasi diartikan sebagai suatu dorongan yang timbul pada diri
seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan sesuatu tindakan
guna mencapai tujuan tertentu.
3) Bahan Belajar
Bahan atau materi yang digunakan dalam pembelajaran harus
disesuaikan dengan tujuan yang akan dicapai oleh peserta didik, dan harus
sesuai dengan karakteristik peserta didik agar diminati oleh peserta didik.
4) Alat Bantu Belajar
Alat bantu belajar adalah semua alat yang digunakan dalam kegiatan
belajar-mengajar, dengan maksud untuk menyampaikan pesan pembelajaran
dari sumber belajar (guru) kepada penerima (peserta didik). Dalam memilih
alat bantu belajar harus mempertimbangkan kesesuaian alat bantu belajar itu
dengan tujuan belajar, kemampuan peserta didik, bahan yang dipelajari, dan
ketersediaan di sekolah (Hamalik, 2003:69)
commit to user
13
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
5) Suasana Belajar
Suasana belajar merupakan situasi dan kondisi yang ada dalam
lingkungan tempat proses pembelajaran yang berlangsung.
6) Kondisi Peserta didik yang Belajar
Kondisi peserta didik adalah keadaan peserta didik pada saat kegiatan
belajar-mengajar berlangsung, baik fisik maupun psikis.
7) Kemampuan Guru
Kemampuan guru yang dimaksud dalam hal ini adalah kemampuan
guru dalam menyampaikan materi, dalam mengelola kelas, serta dalam
mengatasi berbagai masalah yang mungkin terjadi selama proses belajarmengajar berlangsung.
8) Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran merupakan cara yang dipilih oleh guru untuk
meyampaikan materi kepada peserta didik.
2. Hakikat Drama
Secara etimologis kata drama berasal dari bahasa Yunani yaitu draomai
yang memiliki arti berbuat, berlaku, bertindak, atau beraksi. Menurut Moulton
(dalam Tarigan, 1991: 70) drama adalah kehidupan yang ditampilkan dengan
gerak (life presentedin action). Kemudian Sudjiman (dalam Siswanto, 2008: 163)
menyatakan
bahwa
drama
merupakan
karya
sastra
yang
bertujuan
menggambarkan kehidupan dengan mengemukakan tikaian dan emosi lewat
lakuan dan dialog.
Selanjutnya, Waluyo (2006: 2) menyatakan bahwa drama memiliki arti
luas apabila ditinjau dari genre sastra atau cabang kesenian mandiri, yaitu drama
naskah dan drama pentas. Drama naskah merupakan genre sastra yang
disejajarkan dengan puisi dan prosa, sedangkan drama pentas merupakan kesenian
mandiri yang merupakan integrasi antara berbagai jenis kesenian seperti musik,
tata lampu, seni lukis (dekor, panggung), seni kostum, seni rias, dan sebagainya.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:342) “drama” memiliki beberapa
commit
userdiharapkan dapat menggambarkan
arti, yaitu (1) komposisi syair atau
prosa to
yang
perpustakaan.uns.ac.id
14
digilib.uns.ac.id
kehidupan dan watak melalui tingkah laku (akting) atau dialog yang dipentaskan;
(2) cerita atau kisah terutama yang melibatkan konflik atau emosi, yang khusus
disusun untuk pertunjukan teater; (3) kejadian yang menyedihkan. Subrata dalam
kamus Webster’s New World Dictionary (1989) akan menjumpai entri “drama”
(hlm. 413) yang menyatakan:
“a literary composition that tell a story, usually of human conflict, by means
of dialogue and action, to be performed by actors”
Kalimat di atas mempunyai makna bahwa drama merupakan suatu
karangan yang mengisahkan suatu cerita yang mengandung konflik yang disajikan
dalam bentuk dialog dan laga, dan dipertunjukkan oleh para aktor di atas pentas.
Kemudian Wijanto (dalam Dewojati, 2010: 8) menyimpulkan yang dimaksud
drama dalam arti luas adalah semua bentuk tontonan yang mengandung cerita
yang dipertunjukkan di depan orang banyak. Dalam arti sempit, drama adalah
kisah hidup manusia dalam masyarakat yang diproyeksikan ke atas panggung,
disajikan dalam bentuk dialog dan gerak dalam bentuk naskah, didukung tata
panggung, tata lampu, tata musik, tata rias, dan tata busana.
Dari beberapa definisi dan pendapat di atas, dapatlah disimpulkan bahwa
yang dimaksud dengan drama adalah sebuah bentuk karya sastra yang
menceritakan konflik kehidupan, dipertunjukkan oleh para aktor yang memiliki
karakter ditunjukkan lewat dialog dan tingkah dalam sebuah pementasan lengkap
dengan unsur-unsur pembangunnya.
Drama sering disebut dengan istilah “sandiwara” atau “teater”. Kata
“sandiwara” sendiri berasal dari bahasa Jawa yaitu “sandi” yang berarti rahasia
dan “warah” yang berarti ajaran. Sandiwara berarti ajaran ayng disampaikan
secara rahasia atau tidak terang-terangan. Hal ini karena pada hakikatnya setiap
sandiwara memiliki/mengandung pesan/ajaran (terutama ajaran moral) bagi
penontonnya. Kata “teater” berasal dari bahasa Inggris theater yang berarti
“gedung pertunjukkan” atau “dunia sandiwara”. Kata tersebut ternyata sebenarnya
berasal dari bahasa Yunani yaitu theatron yang artinya pertunjukan atau dunia
sandiwara yang spektakuler, Wiyanto dan Soemanto dan Padmodarmaya (dalam
commit
to user
Endraswara, 2011:12). Kedekatan
tiga kata
tersebut memang memiliki makna
perpustakaan.uns.ac.id
15
digilib.uns.ac.id
yang hampir sama, tetapi tetap memiliki perbedaan yang mampu membedakan
ketiganya.
Setelah dipaparkan beberapa pengertian dari drama, akan dijelaskan
pengklasifikasian drama. Drama diklasifikasikan atas dasar jenis stereotip
manusia dan tanggapan manusia terhadap hidup dan kehidupan. Drama dalam
Waluyo (2003:38) diklasifikasikan dalam 4 jenis, yaitu:
a. Tragedi
Tragedi atau drama duka adalah drama yang melukiskan kisah sedih yang
besar dan agung. Tokoh-tokohnya terlibat dalam bencana yang besar.
Dengan kisah tentang bencana ini, pengarang naskah mengharapkan agar
penonton memandang kehidupan secara optimis. Kenyataan hidup yang
dilukiskan berwana romantis atau idealis, sebab itu lakon yang dilukiskan
sering kali mengungkapkan kekecewaan hidup karena mengharapkan
sesuatu yang sempurna atau yang paling baik di dunia ini.
b. Melodrama
Melodrama adalah lakon/cerita yang sentimentil, dengan tokoh dan cerita
yang mendebarkan hati dan mengharukan. Tokoh dalam melodrama
adalah tokoh yang tidak ternama (bukan tokoh agung seperti tragedi).
Dalam kehidupan sehari-hari, sebutan melodramatik kepada seseorang
seringkali merendahkan martabat orang tersebut, karena dianggap
berperilaku yang melebih-lebihkan perasaannya.
c. Komedi
Drama ringan yang sifatnya menghibur dan di dalamnya terdapat dialog
kocak dan bersifat menyindir dan biasanya berakhir dengan kebahagiaan
yaitu disebut drama komedi. Lelucon bukan tujuan utama dalam komedi,
tetapi hanya untuk menimbulkan kelucuan atau tawa riang. Nilai dramatik
dari komedi masih tetap dipelihara. Hal ini berbeda dengan dagelan (farce)
yang mudah mengorbankan nilai dramatik dari lakon demi kepentingan
mencari kelucuan. Drama komedi ditampilkan tokoh yang tolol, konyol,
atau tokoh bijaksana tetapi lucu. Brockett dalam Waluyo (2003:43)
to menjadi
user
merinci pembagian dramacommit
komedi
6 yaitu: (1) komedi situasi,
perpustakaan.uns.ac.id
16
digilib.uns.ac.id
(2)komedi karakter/watak, (3) komedi pengembangan gagasan, (4) komedi
sosial, (5) komedi gaya, dan (6) komedi romantik.
d. Dagelan
Dagelan (farce) disebut juga banyolan. Seringkali jenis drama ini disebut
dengan komedi murahan atau komedi picisan. Sering pula disebut tontonan
konyol atau tontonan murahan. Dagelan adalah drama kocak dan ringan,
alurnya tersusun berdasarkan arus situasi, dan tidak berdasarkan
perkembangan struktur dramatik dan perkembang cerita sang tokoh. Isi
cerita dagelan ini biasanya kasar, lentur, dan vulgar. Jika melodrama
berhubungan dengan tragedi, dagelan berhubungan dengan dengan
komedi.
Wiyanto (2002:7-12) juga membagi beberapa jenis drama, yaitu
berdasarkan penyajian lakon, berdasarkan sasaran, dan berdasarkan keberadaan
naskah.
Bedasarkan penyajian, lakon (cerita) dapat di katagorikan menjadi
delapan jenis yaitu;
a. drama tagedi (duka cerita) adalah drama yang penuh kesedihan,
b. drama komedi (suka cerita) adalah drama penggeli hati. Drama ini penuh
kelucuan yang menimbulkan tawa penonton,
c. drama targekomedi adalah perpaduan antara drama tagedi dan komedi. Isi
lakonnya penuh kesedihan, tetapi juga menggandung hal-hal yang
menggembirakan dan menggelitik hati. Sedih dan gembira silih berganti,
d. drama opera adalah drama yang dialognya dinyanyikan dengan iringan
musik. Lagu yang dinyanyikan pemain satu berbeda dengan lagu yang
dinyanyikan pemain lain. Demikian pula irama musik pengiringgnya.
Drama jenis ini memang mengutamakan nyanyian dan musik, sedangkan
lakonnya sebagai sarana. Opera yang pendek namanya operet,
e. drama melodrama adalah drama yang dialognya diucapkan dengan iringan
melodi atau musik. Tentu saja cara mengucapkannya sesuai dengan musik
pengiringnya. Bahkan kadang-kadang pemain tidak berbicara apa-apa.
commit
to user
drama farce adalah drama
yang
menyerupai dalegan, tetapi tidak
perpustakaan.uns.ac.id
17
digilib.uns.ac.id
sepenuhnya dagelan. Cerita berpola komedi. Gelak tawa dimunculkan
lewat kata dan perbuatan,
f. drama tablo adalah jenis drama yang mengutamakan gerak. Para
pemainnya tidak mengucapkan dialog, tetapi hanya melakukan gerakangerakan. Jalan cerita dapat diketahui lewat gerakan-gerakan itu, dan
g. drama sendratari adalah gabungan antara seni drama dan seni tari. Para
pemain adalah penari-penari berbakat. Rangkaian peristiwa diwujudkan
dalam bentuk tari yang diringi musik. Tidak ada dialog hanya kadangkadang dibantu narasi singkat agar penonton mengetahui peristiwa yang
sedang dipentaskan.
Berdasarkan sarana atau alat yang digunakan untuk menyampaikan
kepada penonton, drama dibedakan menjadi 6 jenis, yaitu:
a. drama panggung dimainkan oleh para aktor di panggung pertunjukan.
Penonton berada di sekitar panggung dan dapat menikmati secara
langsung dengan melihat perbuatan para aktor, mendengarkankan dialog,
bahkan dapat meraba kalau mau dan boleh,
b. drama radio tidak bisa dilihat dan diraba, tetapi hanya bisa didengarkan
oleh penikmat,
c. drama televisi dapat didengar dan dilihat (meskipun hanya gambar).
Hampir sama dengan drama panggung, hanya bedanya, drama televisi tak
dapat diraba. Drama televisi dapat ditayangkan langsung, dapat pula
direkam dulu lalu ditayangkan kapan saja sesuai dengan program mata
acara televisi,
d. drama film hampir sama dengan drama televisi. Bedanya, drama film
menggunakan layar lebar dan biasanya dipertunjukan di bioskop. Namun,
drama film dapat pula ditanyangkan dari studio televisi sehingga penonton
dapat menikmati di rumah masing-masing,
e. drama wayang ciri khas tontonan drama adalah ada cerita dialog. Karena
itu, semua bentuk tontonan yang mengandug cerita disebut juga drama,
termasuk tontonan wayang kulit (Jawa) atau wayang golek (Sunda). Para
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
18
digilib.uns.ac.id
tokoh digambarkan dengan wayang atau golek (boneka kecil) yang
dimainkan oleh dalang, dan
f. drama boneka hampir sama dengan wayang. Perbedaanya, dalam drama
boneka para tokoh digambarkan dengan boneka yang dimainkan oleh
beberapa orang. bahkan, kalau bonekanya besar (di dalamnya ada orang)
boneka itu dapat bermain sendiri tanpa dimainkan dalang.
Berdasarkan ada atau tidaknya naskah yang digunakan, drama dapat
dibedakan menjadi dua jenis, yaitu: (1) drama tradisional, dan (2) drama modern.
Dalam Endraswara (2011: 20-24) membagi struktur baku sebuah drama,
antara lain:
a. Babak yang biasanya kalau dalam prosa disebut episode. Suatu babak
dalam naskah drama merupakan bagian dari naskah drama itu sendiri yang
merangkum semua peristiwa yang terjadi di satu tempat pada urutan waktu
tertentu.
b. Adegan yaitu bagian dari babak yang batasnya ditentukan oleh perubahan
peristiwa berhubung datangnya atau perginya seorang atau lebih tokoh ke
atas pentas
c. Dialog ialah bagian dari naskah drama yang berupa percakapan antara satu
tokoh dengan yang lain. Dialog memainkan peranan yang penting karena
menjadi pengarah lakon drama. Ini berarti, cerita dari sebuah drama dapat
diketahui oleh penonton dengan mudah dan cepat lewat dialog yang
mereka ucapkan. Dalam pengucapan dialog diperlukan penjiwaan
emosional agar dialog yang diucapkan tidak membosankan dan hambar.
Selain memerlukan penjiwaan, pelafalan yang jelas dan volume suara
juga perlu diperhatikan agar suara yang dihasilkan jelas terdengar oleh
semua penonton baik dari bagian depan sampai bagian paling belakang.
d. Prolog adalah bagian naskah yang ditulis pengarang pada bagian awal.
Prolog berisi jalan cerita, perkenalan tokoh-tokoh dan pemerannya, serta
konflik-konflik yang akan terjadi di panggung. Selain itu, prolog juga bisa
berisi beberapa keterangan pengarang tentang cerita yang akan disajikan.
commit to user
19
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
e. Epilog merupakan kata penutup yang mengakhiri pementasan. Epilog
berisi kesimpulan atau ajaran yang bisa diambil dari tontonan drama yang
disaksikan yang biasanya dibacakan oleh pembawa acara atau announcer.
Unsur-unsur lakon (cerita) suatu drama dalam Wiyanto (2002:23-30)
meliputi delapan hal.
a. Tema
Tema adalah pikiran pokok yang mendasari cerita dalam drama. Pikiran
pokok dikembangkan sampai menjadi cerita yang menarik. Seorang
penulis cerita harus menentukan lebih dahulu tema yang akan diangkat
dalam cerita tersebut. Waluyo (2003:24) menyatakan bahwa tema
merupakan gagasan pokok yang terkandung dalam drama. Tema tersebut
berhubungan dengan premis dari drama itu sendiri yang berhubungan pola
dengan nada dasar dari sebuah drama dan sudut pandang yang
dikemukakan oleh pengarangnya. Dialog yang diucapkan oleh para tokoh
menjadi pengejawantahan tema dari cerita drama.
b. Amanat
Amanat merupakan pesan moral yang ingin disampaikan penulis kepada
pembaca naskah atau penonton drama. Pesan moral tersebut tidak
disampaikan sacara langsung tetapi bisa lewat cerita dalam naskah drama
tersebut. Rampan (1995:72) berpendapat bahwa amanat adalah peristiwa
yang melahirkan kejadian-kejadian yang membuat sebuah cerita menjadi
hidup, yang berkaitan dan berkesinambungan.
c. Plot
Ali Ahmad dalam Rampan menjelaskan bahwa alur atau plot merupakan
aksi-aksi
yang
berkembang
dan
berhubungan
satu
sama
lain,
perkembangan ini dimungkinkan oleh adanya perlawanan antara satu
kuasa dengan satu kuasa yang lain (1995:60). Wahyuningtyas dan Wijaya
membagi alur berdasarkan kriteria urutan waktu menjadi tiga jenis: (1)
alur garis lurus (progersif); (2) alur sorot balik (regersif) ; dan (3) alur
campuran (2011:6-7)
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
20
digilib.uns.ac.id
Dalam usaha mengembangkan suatu alur, pengarang juga
memiliki kebebasan untuk berkreativitas. Namun sebaik apapun buah
pikiran pengarang, kalau pembaca atau penonton tidak tertarik kepada
karya yang diciptanya berarti karya tersebut belum bisa diterima.
Pengarang hendaknya memperhatikan unsur-unsur dalam plot. Menurut
Endraswara (2011: 27-28) terdapat tiga unsur plot yang paling utama,
yaitu (1) ketegangan (suspense) adalah plot yang akan menimbulkan
ketegangan pada diri pembaca atau penonton melalui kemampuannya
untuk menumbuhkan dan memelihara rasa ingin tahu dan kepenasaran
penonton dari awal hingga akhir cerita; (2) dadakan (surprise) ialah plot
yang akan mengagetkan penonton dengan cerita yang sedang dinikmatinya
mengakibatkan penonton terus menduga-duga ceritanya; (3) ironi dramatik
(dramatic irony) merupakan plot yang membuat pembaca atau penonton
meramalkan apa yang akan terjadi kemudian.
Plot dalam drama berkembang secara bertahap, mulai dari konflik
yang sederhana, konflik yang kompleks, sampai pada penyelesaian
konflik. Secara rinci, Gustaf dalam Waluyo, (2006: 9-14) menjelaskan
perkembangan plot drama ada lima tahap, yaitu:
1) Exposition atau pelukisan awal cerita
Pembaca diperkenalkan dengan semua tokoh dalam drama dengan
watak masing-masing agar pembaca memperoleh gambaran tentang
cerita yang dibaca.
2) Komplikasi atau pertikaian awal
Dalam tahap ini pengen
alan terhadap para pelaku sudah menjurus pada pertikaian, sehingga
konflik pun mulai menanjak.
3) Klimaks atau titik puncak cerita
Konflik yang meningkat pada tahap komplikasi akan meningkat terus
sampai mencapai puncak atau klimaksnya.
4) Resolusi atau penyelesaian atau falling action
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
21
digilib.uns.ac.id
Dalam tahap ini konflik mereda atau menurun. Konflik tokoh hampir
selesai atau memperoleh pemecahan/penyelesaiannnya.
5) Catastrophe atau denoument atau keputusan
Dalam tahap terakhir ini semua konflik berakhir dan sebentar lagi
cerita selesai.
d. Karakter
Karakter atau perwatakan adalah keseluruhan ciri-ciri jiwa seorang tokoh
dalam cerita drama. Karakter diciptakan penulis cerita untuk diwujudkan
oleh pemain (aktor) yang memerankan tokoh itu. Pemain harus memahami
benar karakter yang dikehendaki penulis lakon drama, agar dapat
mewujudkannya. Dalam kaitannya dengan karakter ada yang dinamakan
penokohan. Menurut Waluyo penokohan perwatakan memiliki hubungan
yang sangat erat, tokoh-tokoh yang memiliki watak menyebabkan
terjadinya konflik-konflik yang kemudian dapat menghasilkan sebuah
cerita (2009:27). Beliau juga mengklasifikasikan tokoh-tokoh dalam
drama seperti pengklasifikasian berdasarkan peranannya terhadap jalan
cerita, meliputi tiga jenis tokoh (2006:16).
1) Tokoh protagonis, yaitu tokoh yang mendukung cerita. Biasanya ada
satu atau dua figur tokoh protagonis utama yang dibantu oleh para
tokoh lainnya.
2) Tokoh antagonis, yaitu tokoh penentang cerita. Biasanya ada seorang
tokoh utama yang menentang cerita dan beberapa figur pembantu yang
ikut menentang cerita.
3) Tokoh tritagonis, yaitu tokoh pembantu baik untuk tokoh protagonis
maupun untuk tokoh antagonis.
Pengklasifikasian berdasarkan perananya dalam lakon (cerita) serta
fungsinya, maka terdapat tokoh-tokoh sebagai berikut:
1) tokoh sentral, yaitu tokoh yang paling menentukan gerak lakon. Dalam
hal ini tokoh sentral adalah tokoh protagonis dan antagonis,
2) tokoh utama, yaitu tokoh pendukung atau penentang tokoh sentral.
commit
to user dan
Dalam hal ini adalah tokoh
tritagonis,
22
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
3) tokoh pembantu, yaitu tokoh yang memegang peran pelengkap atau
tambahan dalam suatu cerita.
Watak para tokoh dalam cerita dapat digambarkan dalam tiga
dimensi (watak dimensional), yaitu penggambaran berdasarkan fisik,
psikis, dan sosial. Menurut Waluyo (2003:19-20) cara pengarang untuk
menggambarkan watak tokohnya ada beberapa cara yaitu: 1) phisical
descriptionr; penggambaran watak pelaku cerita melalui pemerian
(deskripsi) bentuk lahir atau temperamen pelaku; 2) portrayal of thought
stream or of conscious thought, yaitu pengarang melukiskan jalan pikir
pelaku atau apa yang terlintas dalam pikirannya; 3) reaction to events,
yaitu pengarang melukiskan bagaimana reaksi pelaku terhadap peristiwa
tertentu; 4)
direct author analiysis, yaitu pengarang secara langsung
manganalisis atau melukiskan watak pelaku; 5) discussion of environment,
pengarang melukiskan keadaan sekitar pelaku, sehingga pembaca dapat
menyimpulkan watak pelaku tersebut; 6) reaction of others to character,
pengarang melukiskan pandangan-pandangan tokoh atau pelaku lain
dalam suatu cerita tentang pelaku cerita; dan 7) conversation of other
character, yaitu melalui dialog antar tokoh. Beberapa cara pelukisan
watak tersebut, maka perwatakan memiliki hubungan yang sangat erat,
tokoh-tokoh yang memiliki watak menyebabkan terjadinya konflik-konflik
yang kemudian dapat menghasilkan sebuah cerita .
e. Dialog
Ciri khas suatu drama adalah naskah dalam drama tersebut berbentuk
dialog atau cakapan. Ragam bahasa dalam dialog tokoh-tokoh drama
adalah bahasa lisan yang komunikatif dan bukan ragam bahasa tulis.
f. Setting
Setting adalah tempat dan suasana terjadinya suatu adegan. Setting
biasanya meliputi tiga dimensi, yaitu tempat, ruang, dan waktu. Menurut
Waluyo latar merupakan tempat kejadian cerita, tempat kejadian dapat
berkaitan dengan aspek fisik, aspek sosiologis, dan aspek psikis (2009:34).
commitmutlak
to userdibutuhkan untuk menggarap tema
Pada dasarnya, latar atau setting
perpustakaan.uns.ac.id
23
digilib.uns.ac.id
dan plot dalam sebuah cerita, karena merupakan tempat kejadian cerita
(Rampan, 1995:43).
Waluyo (2003:23) juga menjelaskan bahwa setting atau latar
biasanya meliputi tiga dimensi, yaitu: tempat, ruang, dan waktu. Setting
tempat tidak berdiri sendiri, melainkan berhubungan dengan waktu dan
ruang. Setting waktu berarti waktu terjadinya cerita yaitu siang, pagi, sore,
atau malam hari. Settting ruang dapat berarti ruang dalam rumah atau luar
rumah. Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa latar atau
setting adalah sebuah tempat untuk melukiskan berlangsungnya sebuah
peristiwa atau kejadian, baik menyangkut ruang atau pun waktu.
g. Bahasa
Dalam hubungannya dengan drama, bahasa adalah segala-galanya, karena
bahasa ini yang mengantarkan ide dan pikiran dari penulis naskah drama.
Bahasalah yang membantu penulis untuk mengungkapkan pikiran dan
perasaan lewat kata-kata. Bahasa yang digunakan dalam penulisan naskah
adalah bahasa yang hidup dalam masyarakat, bahasa speech-act
(Endraswara, 2011:38).
h. Interpretasi
Drama sebagai tiruan (mimetik) terhadap kehidupan, berusaha memotret
kehidupan secara nyata. Drama sebagai interpretasi dalam kehidupan
mempunyai kekayaan batin. Kehidupan yang ditiru oleh penulis drama
dalam cerita disentuh atau dimasuki berbagai hal agar sesuai dengan
kehidupan nyata.
3. Hakikat Apresiasi Drama
Kata apresiasi secara etimologis berasal dari bahasa Latin apreciatio
yang berarti “menghargai”. Dalam bahasa Inggris appreciation berarti
pemahaman, pengenalan, pertimbangan, penilaian, dan pernyataan yang berisi
evaluasi, Hornby (dalam Waluyo dan Nugraheni, 2009:43). Kata apresiasi dalam
bahasa Indonesia memilliki makna yang sejajar dengan kata apreciato (Latin),
commit
to usersastra berarti berusaha menerima
dan appreciation (Inggris) tersebut.
Apresiasi
perpustakaan.uns.ac.id
24
digilib.uns.ac.id
karya sastra sebagai sesuatu yang layak diterima dan menerima nilai-nilai sastra
sebagai suatu kebenaran. Dengan demikian berarti apresiasi tidak hanya
membutuhkan aspek afektif dan psikomotor tetapi juga aspek kognitif.
Kegiatan apresiasi bisa dilakukan dari tingkat yang paling rendah atau
sederhana yaitu tingkat membaca karya sastra, kemudian naik ke tingkatan yang
paling tinggi yaitu upaya untuk melakukan tindakan atau kegiatan. Dalam sebuah
kegiatan apresiasi drama misalnya, maka kegiatan awal yang paling mudah adalah
membaca naskah drama dan memahaminya, kemudian berlanjut ketingkat yang
paling sulit atau tinggi yaitu pada waktu memainkan peran suatu tokoh sesuai
dengan sifat dan karakter tokoh di atas sebuah panggung.
Secara lebih rinci, Abdul Rozak Z. (Waluyo dan Nugraheni, 2009:44)
menjelaskan bahwa apresiasi adalah penghargaan atas karya sastra sebagi hasil
pengenalan, pemahaman, penafsiran, penghayatan atas karya sastra tersebut
dengan didukung oleh kepekaan batin terhadap nilai-nilai yang terkandung di
dalam karya sastra tersebut.
Berdasarkan dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa
apresiasi drama adalah sebuah kegiatan yang berkaitan dengan perihal memahami,
menghayati, dan menghargai karya drama dengan jalan mendengarkan, membaca,
menyaksikan, memerankan bahkan sampai pada mementaskan drama serta
membuat resensi drama.
Dalam mengapresiasi drama diperlukan kecerdasan, kehalusan perasaan,
dan daya khayal yang cukup lincah, demikan juga untuk mementaskannya. Hal itu
karena kita harus menangkap makna drama dari dialog-dialog yang kadangkadang menggunakan bahasa yang bukan bahasa sehari-hari, bahkan kadangkadang dengan bahasa yang berkadar estetika atau filosofis tinggi (Waluyo,
2003:194).
Fowler (dalam Waluyo, 2006:202) menjelaskan bahwa apresiasi drama,
khususnya pementasan drama dan prosa dapat dibagi atas empat tingkat apresiasi.
a. Pembaca yang telah dapat merasakan karya sastra itu sebagai sesuatu yang
hidup, dengan pelakunya-pelakunya yang mengagumkan. Mereka dapat
commityang
to user
terbawa dalam cerita atau drama
sedang dibacanya, diiringi dengan
perpustakaan.uns.ac.id
25
digilib.uns.ac.id
tertawa, menangis, membeci seseorang pelaku dan sebagainya. Jadi, mereka
telah menggemari karya yang dibaca atau ditontonnya.
b. Pembaca drama yang telah dapat melihat dalamnya perasaan manusia atau jika
mereka telah dapat mengungkapkan rahasia kepribadian para pelaku suatu
drama telah selangkah lebih maju dari pembaca di atas. Pada tingkat ini
pembaca drama tidak saja minikmati kejadian-kejadian dalam drama secara
badaniah, tetapi lebih banyak pada apa yang terjadi dalam pikiran pelaku,
tingkat ini juga dinamakan tingkat menikmati.
c. Pembaca drama yang telah dapat membandingkan satu drama dengan yang
lain dapat memberi pendapatnya mengenai satu karya, telah dapat membaca
karya yang lebih sulit dengan kenikmatan. Tingkat ini dapat dikatakan tingkat
ketiga apresiasi drama, di mana telah dapat reaksi.
d. Pada tingkat keempat apresiasi drama, pembaca telah dapat melihat keindahan
susunan dialog, setting simbolis pemakaian kata-kata yang berirama yang
disajikan oleh sastrawan. Mereka telah mampu memberi respon pada daya
sastra yang merangsang mereka berpikir, diteruskan dengan memberi respon
pada seni yang disajikan sastrawan dan juga mereka telah dapat menghasilkan
karya sendiri. Tingkat ini disebut tingkat kreatif. Kegiatan apresiasi drama ini
menyebabkan seseorang memahami drama secara mendalam, mampu
merasakan apa yang ditulis oleh dramawan (penulis naskah drama), mampu
menyerap nilai-nilai yang terkandung di dalam drama, menghargai drama
sebagai karya seni dengan kekurangan dan kelebihannya.
Dissick (dalam Waluyo dan Nugraheni, 2009:44), menjelaskan ada 4
tingkatan apresiasi, yaitu: (1) tingkat menggemari, (2) tingkat menikmati, (3)
tingkat mereaksi, dan (4) tingkat produktif. Seseorang baru pada tingkat
menggemari, maka keterlibatan batinnya lebih kuat. Pada tingkat ini, seseorang
akan senang jika membaca dan mendengarkan karya sastra. Setelah sampai pada
tingkat menikmati keterlibatan batin akan semakin mendalam. Penikmat akan ikut
sedih, terharu, bahagia, dan sebagainya jika menikmati karya sastra. Kemudian
pada tingkat mereaksi, sikap kritis pembaca terhadap sastra lebih menonjol karena
commit
to user
ia telah mampu menafsirkan dengan
seksama
dan mampu menilai baik-buruknya
26
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
sebuah sastra. Penikmat mampu menunjukkan letak keindahan sastra dan
kekurangan sastra. Pada tingkat memproduksi, seoseorang mampu untuk
membuat sastra, atau membuat resensi sastra.
4. Hakikat Pembelajaran Apresiasi Drama
Di awal sudah dijelaskan bahwa drama merupakan salah satu bagian dari
karya sastra, oleh karena itu, untuk mempelajari drama kita tidak dapat
sepenuhnya lepas dari pembelajaran sastra secara umum, sehingga sebelum
membahas secara lebih rinci mengenai pembelajaran apresiasi drama, kita akan
membahasa terlebih dahulu pembelajaran apresiasi sastra pada umumnya.
Sastra adalah wujud dari gagasan seseorang yang dinyatakan dalam
sebuah tulisan yang berbentuk puisi, prosa, cerpen dan sejenisnya. Karya sastra
biasanya merupakan hasil dari pengalaman batin penulis, kejadian disekitar
lingkungan penulis, dan bisa juga hasil imajinasi penulis. Wellek dan Austin
Warren mengatakan, sastra adalah suatu kegiatan kreatif sebuah karya seni
(1995:3). Mereka juga mendefinisikan sastra merupakan segala sesuatu yang
tertulis dan tercetak (1995:11).
Dari definisi sastra tersebut, kita tahu bahwa sastra memang sebuah
kegiatan kreatif dari sebuah seni. Hal ini bisa terjadi karena seseorang yang
membuat sebuah karya sastra berarti dia sedang mengembangkan daya
kreatifitasnya untuk merangkai kata, memilih kata, ataupun menyusun kata–kata
menjadi indah dan bernilai. Sastra dikatakan seni karena sastra merupakan salah
satu perwujudan dari seni.
Pembelajaran apresiasi sastra Indonesia ialah memperkenalkan kepada
peserta didik nilai-nilai yang terkandung di dalam karya sastra dan mengajak
peserta
didik
ikut
menghayati
pengalaman-pengalaman
yang
disajikan.
Pembelajaran apresiasi sastra Indonesia bertujuan mengembangkan kepada
peserta didik terhadap nilai-nilai indrawi, nilai akali, nilai afektif, nilai
keagamaan, dan nilai sosial, secara sendiri-sendiri, atau gabungan keseluruhan,
seperti tercemin di dalam karya sastra.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
27
digilib.uns.ac.id
Pembelajaran drama tercakup dalam pembelajaran apresiasi sastra,
karena di dalamnya peserta didik tidak hanya diajari teori semata, tetapi juga
menemukan hubungan antara proses dan hasil yang nantinya akan dicapai. Drama
merupakan salah satu jenis karya sastra yang menjadi bahan ajar pembelajaran
Bahasa dan Sastra Indonesia di tingkat Sekolah Menengah Atas. Drama
merupakan bentuk karya sastra yang bersifat dialogis, karena berwujud
percakapan atau dialog antar tokoh. Pembelajaran apresiasi drama merupakan
bagian dari pembelajaran apresiasi sastra. Moody (dalam Rahmanto, 2004: 16-25)
mengungkapkan bahwa pembelajaran apresiasi sastra dapat membantu pendidikan
secara utuh apabila cakupannya meliputi empat manfaat, yaitu:
a. Membantu keterampilan berbahasa
Dengan pengajaran apresiasi sastra, peserta didik dapat melatih
keterampilan menyimak dengan mendengarkan suatu karya sastra yang
dibacakan oleh guru, teman, atau pita rekaman. Peserta didik dapat melatih
keterampilan berbicara dengan ikut berperan dalam suatu drama. Peserta didik
dapat juga meningkatkan keterampilan membaca dengan membacakan puisi
atau prosa cerita. Peserta didik dapat mendiskusikannya dan kemudian
menuliskan hasilnya sebagai latihan keterampilan menulis.
b. Meningkatkan pengetahuan budaya
Setiap sistem pendidikan kiranya perlu disertai usaha untuk
menanamkan wawasan pemahaman budaya bagi setiap peserta didik. Salah
satu tugas yang utama pengajaran adalah memperkenalkan peserta didik
dengan sederetan kemajuan yang dicapai manusia di seluruh dunia tanpa
merusak kebanggaan atas kebudayaan yang mereka miliki sendiri. Begitu pula
dengan pengajaran apresiasi sastra, jika dilaksanakan dengan bijaksana, dapat
mengantar peserta didik berkenalan dengan pribadi-pribadi dan pemikirpemikir besar dunia serta pemikiran-pemikiran utama dari zaman ke zaman.
c. Mengembangkan cipta dan rasa
Dalam pengajaran sastra, kecakapan yang perlu dikembangkan
adalah kecakapan yang bersifat indra, penalaran, efektif, sosial, dan religius.
commit
to user
Pengajaran sastra dapat digunakan
untuk
memperluas pengungkapan apa yang
perpustakaan.uns.ac.id
28
digilib.uns.ac.id
diterima oleh panca indra seperti penglihatan, pendengaran, pengecapan, dan
peraba. Artinya kata-kata yang diungkapkan pengarang melalui karyakaryanya, peserta didik akan diantar untuk mengenali berbagai pengertian dan
mampu membedakan satu hal dengan yang lain, misalnya kuning dengan
keemasan, bising dengan menggemparkan, harum dengan busuk, serta masih
banyak lagi.
d. Menunjang pembentukan watak
Dalam nilai pengajaran sastra ada dua tuntutan yang dapat
diungkapkan sehubungan dengan watak ini. Pertama, pengajaran sastra
hendaknya mampu membina perasaan yang lebih tajam. Seseorang yang telah
banyak mendalami berbagai karya sastra biasanya mempunyai perasaan yang
lebih peka untuk menunjuk hal mana yang bernilai dan mana yang tak
bernilai. Tuntutan kedua, bahwa pengajaran sastra hendaknya dapat
memberikan bantuan dalam usaha mengembangkan berbagai kualitas
kepribadian peserta didik yang antara lain meliputi ketekunan, kepandaian,
pengimajian, dan penciptaan.
Waluyo (2006:165) menyatakan pembelajaran drama sebagai penunjang
pemahaman bahasa berarti untuk melatih keterampilan membaca (teks drama) dan
menyimak atau mendengarkan (dialog dalam drama, mendengarkan. drama radio,
televisi, dan sebagainya. Sementara sebagai penunjang latihan penggunaan bahasa
dengan maksud yaitu melatih keterampilan menulis (teks drama, resensi drama,
dan sebagainya) dan wicara (dialog-dialog dalam pementasan drama).
Pembelajaran drama di sekolah dapat ditafsirkan menjadi dua macam,
yaitu pembelajaran teori dan pembelajaran apresiasi drama. Pembelajaran teori
mempelajari mengenai teori pembuatan dan pembacaan teks drama serta teori
tentang pementasan drama. Dalam pembelajaran apresiasi drama mempelajari
mengenai apresiasi terhadap naskah drama dan apresiasi pementasan drama
(Waluyo, 2003:153). Dalam pembelajaran teori menitikberatkan pada kemampuan
kognitif peserta didik yang mengutamakan masalah pengetahuan yang sifatnya
teoritis. Lain halnya dalam pembelajaran apresiasi menitikberatkan pada
to user
kemampuan afektif peserta didik commit
yang mengutamakan
kegiatan apresiasi. Namun,
perpustakaan.uns.ac.id
29
digilib.uns.ac.id
apabila peserta didik sudah mulai belajar untuk mementaskan, maka pengajaran
drama mulai memasuki kawasan kemampuan psikomotorik, meskipun sebenarnya
dalam pengajaran drama di sekolah tidak dapat sepenuhnya lepas dari kemampuan
kognitif, sebab bagaimanapun peserta didik pasti diminta untuk dapat menguasai
beberapa materi yang bersifat teori.
Dalam pembelajaran drama di sekolah, pembelajaran apresiasi drama
juga harus menitikberatkan pada apresiasi peserta didik yaitu kegiatan atau
aktivitas peserta didik dalam pembelajaran drama di sekolah. Apresiasi peserta
didik itu mencakup tiga hal, yakni kreasi, resepsi, dan ekspresi peserta didik
terhadap drama. Adapun kegiatan peserta didik yang berupa kreasi yaitu kegiatan
peserta didik ketika menulis naskah drama secara individu atau kelompok yang
berupa resepsi yaitu kegiatan peserta didik ketika membaca dan menghafalkan
naskah drama yang telah dibuat, sedangkan yang beupa ekspresi yaitu ketika
peserta didik mementaskan drama berdasarkan naskah drama tersebut.
Dalam pembelajaran drama ada beberapa strategi yang bisa dilakukan.
Pelaksanana pembelajaran akan menjadi semakin mudah apabila mengunakan
strategi tertentu dalam penyampaian materi, sehingga tujuan pembelajaran dapat
tercapai. Strategi pembelajaran drama yang menjadi patokan pembahasan adalah
strategi pembelajan yang berkaitan (1) strategi pembelajaran teks drama, meliputi:
a) strategi Stratta, b) langkah-langkah penyajian, c) strategi induktif model Taba,
d) strategi analisis, e) strategi sinektik (model Gordon), f) role playing (bermaian
peran), g) simulasi, dan (2) strategi pembelajaran drama pentas meliputi: a)
pementasan drama di kelas, b) pementasan drama oleh teater sekolah, c) teknik
pembinaan apresiasi drama, dan d) catatan tambahan tentang pemilihan materi.
a. Strategi Pembelajaran Teks Drama
1) Strategi Stratta
Strategi ini diciptakan oleh oleh Lesli StrattaI dan dapat diterapkan
untuk drama dan prosa fiksi. Wardani (dalam Waluyo, 2006: 186)
menjelaskan bahwa di dalam Strategi Stratta ada tiga tahap pembelajaran,
yaitu; (1) tahap penjelajahan, pada tahap ini di dalam pengajaran drama, guru
commit
to user
harus memberikan rangsangan
untuk
mempersiapkan peserta didik untuk
perpustakaan.uns.ac.id
30
digilib.uns.ac.id
membaca atau menonton suatu drama; (2) pada tahap interprestasi, hasil
bacaan atau tontonan mereka (peserta didik) berdiskusi dengan pertanyaanpertanyaan yang menggali oleh guru, mengenai kesan mereka, tokoh, latar,
watak, dan lain-lain; (3) pada tahap rekreasi, guru melatih peserta didik
membaca peran-peranya dan mencoba mementaskan kalau dapat. Kegiatan ini
dapat dilakukan dalam kelas tatap muka atau dan dilanjutkan di luar kelas
sebagai tugas terstruktur.
2) Langkah-langkah Penyajian
Sebelum guru melaksanakan kegiatan pembelajaran drama di kelas
harus melakukan persiapan terlebih dahulu. Persiapan tersebut antara lain
persiapan memilih bahan yang cocok dalam mengajar dan persiapan guru
sebelum membawa bahan tersebut di kelas, supaya dalam pelaksanaan
mengajarnya dapat terlaksana dengan baik seperti melakukan penjajagan
terlebih dahulu terhadap bahan yang akan diajarkan dan peserta didik yang
diajar, interprestasi yang dimaksudkan untuk membandingkan pemahaman
atau pendapat peserta didik mengenai drama dengan pendapat yang terdapat
dari buku materi, rekreasi ini adalah tingkat pelaksanaan atau praktik bermain
drama.
3) Strategi Induktif Model Taba
Strategi ini dikemukaan oleh Hilda Taba. Model pengajarannya
bersifat induktif dan biasanya strategi ini cocok untuk bagi pembahasan sastra.
Data-data sastra langsung diteliti oleh peserta didik, kemudian diadakan
penyimpulan-penyimpulan. Hilda Taba mengembangkan model pengajaran
yang berorientasi pada pengolahan orientasi. Adapun langkah-langkahnya
yaitu, (1) pembentukan konsep, meliputi mendaftar data, mengklasifikasikan,
dan memberi nama, (2) penganalisasian data, meliputi menafsirkan,
membandingkan, dan menyimpulkan, (3) penerapan prinsip, meliputi
menganalisa, membuat hipotesis, menerangkan, dan memeriksa hipotesis.
4) Strategi Analisis
Strategi ini menitikberatkan pada proses analisis terhadap tema
commit
to userplot, hubungan sebab akibat, dan
sebagai hasil akhir, setelah
penokohan,
perpustakaan.uns.ac.id
31
digilib.uns.ac.id
sebagainya, yang kemudian disusul dengan pemahaman hal atau unsur
yang abstrak dari naskah drama. Strategi analisis di dalam kelas, menurut
Wardani (dalam Waluyo, 2006:193) menempuh tiga langkah, yaitu
sebagai berikut.
a) Membaca secara keseluruhan yang menimbulkan kesan pertama bagi
peserta didik, dimana mungkin akan timbul kesan yang berbeda-beda.
b) Analisis, yang akan menimbulkan kesan yang lebih objektif.
c) Memberikan pendapat akhir yang merupakan perpaduan antara respon
yang subjektif dari peserta didik dengan analisis yang objektif yang
dilakukan.
5) Strategi Sinektik (Model Gordon)
Strategi ini dikombinasikan unsur-unsur yang berbeda dan nyata.
Strategi tersebut dikembangkan oleh Gordon. Ada tiga langkah dalam metode
sintetik ini, yaitu (1) analogi langsung (direct analogy), memerlukan
penjajagan problem yang dihayati setelah membaca atau menonton drama
secara pararel; (2) analogi personal merupakan hasil dari analogi langsung
yang harus dicatat, dianalisis secara personal. Dalam hal ini peserta didik akan
mengidentifikasi masalah yang dibahas. Peserta didik harus mencoba berpikir
dan merasa, bagaimanakah seandainya dia itu penulis drama tersebut; (3)
konflik kempaan merupakan hasil dari analisis personal yang akan
mempertahankan dua sudut pandangan yang berbeda. Dengan konflik
kempaan juga akan ditemukan pengertian atau wawasan baru.
6) Bermain Peran
Strategi pembelajaran teks drama dengan bermaian peran ini
sebetulnya termasuk strategi yang sangat sederhana. Peran dapat diambil dari
kehidupan sehari-hari. Sebagaimana dikutip Waluyo (2003:189), Shafel
menyebutkan adanya sembilan langkah dalam role playing, yaitu (1)
memotivasi kelompok, (2) memilih peran (casting), (3) menyiapkan
pengamat, (4) menyiapkan tahap-tahap peran, (5) pemeranan (pentas di depan
kelas), (6) diskusi dan evaluasi I (spontanitas), (7) pemeranan (pentas ulang),
commit to
user dan (9) membagi pengalaman
(8) diskusi dan evaluasi (pemecahan
masalah,
perpustakaan.uns.ac.id
32
digilib.uns.ac.id
dan menarik generalisasi. Melalui strategi pembelajaran drama role playing
dapat dicapai aspek perasaan, sikap, nilai, persepsi, keterampilan pemecahan
masalah, dan pemahaman terhadap pokok permasalahan.
7) Simulasi
Dalam pembelajaran drama, strategi simulasi merupakan strategi
yang digunakan untuk memberikan kemungkinan kepada peserta didik agar
dapat menguasai suatu keterampilan melalui latihan dalam situasi tiruan.
Prinsip-prinsip simulasi adalah: (1) harus ada tujuan kegiatan artinya
keterampilan berbahasa apa yang harus dikuasai; (2) peserta didik dibagi
dalam kelompok-kelompok dengan tugas melakukan simulasi (sama atau
beda); (3) penentuan topik dan peran disesuaikan dengan kemampuan bahasa,
tingkat sekolah, dan situasi; (4) di samping tujuan pokok, diarahkan tujuan
lain baik kognitif, afektif, maupun psikomotorik; (5) berikan petunjuk tentang
peran, situasi, dan pembagian tugas-tugas (Waluyo, 2003:191).
b. Strategi Pembelajaran Drama Pentas
Dalam hal pementasan drama, guru dapat berperan sebagai sutradara,
akan tetapi dapat sebagai pengaruh. Dalam hal ini guru dibantu oleh pekerja
teater yang bertugas melatih aktor/aktris dan memimpin pementasan.
Pementasan drama ini dalam pelaksanaanya dapat diselenggarakan di kelas
sebagai bagian dari pengajaran bahasa dan dapat juga sebagai kegiatan
ekstrakurikuler berteater.
1) Pementasan Drama di Kelas
Pementasan drama di kelas dalam kaitannya dengan pelajaran bahasa
Indonesia aspek sastra, dapat berupa pementasan satu naskah drama oleh satu
kelompok, atau dapat juga beberapa kelompok yang dibentuk dari sebagian
atau seluruh peserta didik di kelas. Pada waktu pementasan setiap kelompok
mendapat giliran untuk berpentas, tentu saja dengan naskah drama yang
berdurasi pendek. Hal ini dikarenakan dalam pengajaran drama di kelas,
alokasi waktu di dalam kelas pun hanya sedikit. Setelah melakukan
pementasan, sisa waktu yang tersedia digunakan untuk berdiskusi.
commit to user
33
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Pementasan drama di kelas ini hendaknya tidak dipentaskan di dalam
kelas. Hal tersebut dikarenakan ruang kelas tidak sepenuhnya mendukung
dalam sebuah pementasan. Aula merupakan salah satu tempat yang ideal
untuk melaksanakan sebuah pementasan. Aula sendiri sudah dirancang untuk
sebuah pertunjukan, apabila pementasan dilakukan di dalam ruang kelas tentu
akan menggangu kelas yang berada di sekitar kelas tersebut.
2) Teknik Pembinaan Apresiasi Drama
Pembinaan yang dimaksudkan yaitu membina hal yang sudah
terlaksana supaya lebih baik dan dapat juga berarti membuat yang belum ada.
Sulitnya naskah drama dan belum tentu guru bahasa Indonesia mempunyai
kemampuan menyutradarai drama, yang menjadikan pembelajaran drama
kurang memuaskan.
Tanpa pembacaan naskah sendiri oleh peserta didik dan menonton
pertunjukan drama sendiri, maka pembinaan sulit dilaksanakan. Pembinaan
dapat dilakukan berupa (1) pembinaan dan pengembangan apresiasi drama.
Dalam pembinaan ini guru dan peserta didik harus dilengkapi dengan bahan
yang serasi untuk kelompok-kelompok yang diajarkan dan menguasai teknik
mengajarkan drama dengan baik, serta dapat menyesuaikan teknik dan bahan
jika diperlukan. Buku-buku atau naskah-naskah drama yang cukup diberikan
oleh guru yang mencintai drama diharapkan apresiasi peserta didik akan
berangsur-angsur dapat berkembang; (2) aktivitas kelas dan kelompok, guru
harus sering-sering membacakan drama dengan nyaring untuk memberi
contoh dan sekaligus memperjelas watak pelaku. Pemutaran recorder atau
video juga sangat bermanfaat sebagai sarana dalam memberi contoh drama
yang baik.
Setelah berbagai teknik dijelaskan, perlu pula dipaparkan mengenai
beberapa hal yang harus diperhatikan berkenaan dengan pemilihan bahan naskah
drama. Naskah drama yang akan diajarkan oleh guru, harus memenuhi kriteria
sebagai berikut.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
34
digilib.uns.ac.id
(1) Sesuai dan menarik bagi tingkat kematangan para peserta didik.
(2) Tingkat kesulitan bahasanya sesuai tingkat kemapuan bahasa peserta didik
yang akan menggunkannya. Apabila bahasanya terlalu sulit, maka apresiasi
tidak mungkin baik.
(3) Bahasanya sedapat mungkin digunakan bahasa yang standar, kecuali kalau
cerita memang memasalahkan penggunaan dialek. Penggunaan dialek sedikit
mungkin tidaklah begitu jelek, tetapi jika dapat dihindarkan sebaik mungkin
dihindari saja.
(4) Isinya tidak bertentangan dengan haluan negara.
(5) Naskah hendaknya mempunyai ciri, yaitu adanya masalah yang jelas, tema
atau tujuan yang jelas, perwatakan peranan, adanya penggunaan kejutan yang
tepat, bertolak dari gagasan murni penulis, dan menggunkan bahasa yang baik.
Selanjutnya, seperti halnya dalam setiap pembelajaran mata pelajaran dan
materi apapun ada kegiatan akhir yang berupa evaluasi atau penilaian (assesment).
Evaluasi atau penilaian drama dilaksanakan pada akhir proses pembelajaran.
Evaluasi merupakan faktor yang sangat penting dalam mengetahui apakah peserta
didik benar-benar telah memahami bahan yang telah diajarkan guru atau belum.
Dalam penilaian berbasis kelas, jenis penilaian yang harus dibuat oleh guru
meliputi, penilaian kinerja, penilaian sikap, penilaian proyek, penilaian produk,
penialain portofolio, dan penilaian diri (Suwandi 2008:81-100). Semua jenis tes di
atas harus dilaksanakan oleh guru agar guru dapat melaksanakan evaluasi
pembelajaran.
Moody (dalam Waluyo, 2003: 177) mengatakan bahwa penilaian dalam
pembelajaran drama meliputi empat tingkatan, yaitu: (1) tingkatan informasi
(pengetahuan); (2) tingkatan konsep (pemahaman); (3) tingkatan perspektif (cara
pemikiran pengarang dan pembaca); (4) tingkatan apresiasi (penghargaan karya
sastra dan pemahaman jalan pikiran pengarang). Tingkatan yang dicapai dalam
evaluasi pembelajaran drama tingkat Sekolah Menengah Atas sampai pada
tingkatan konsep (pemahaman). Oleh karena itu, evaluasi yang dilakukan adalah
dengan tes tertulis dan diskusi mengenai unsur-unsur drama yang telah
commit to user
terkandung dalam suatu pementasan.
perpustakaan.uns.ac.id
35
digilib.uns.ac.id
Nurgiyantoro (2001:331) menyatakan bahwa tingkatan tes apresiasi
kesastraan terdiri dari dua pendekatan, yaitu tingkatan taksonomi Bloom seperti
tes kebahasaan dan yang kedua adalah tingkatan tes apresiasi kesastraan
berdasarkan pengkategorian Moody dengan modifikasi seperlunya. Penilaian
bermain peran dalam pembelajaran drama menggunakan tingkatan tes apresiasi
kesastraan berdasarkan taksonomi Bloom yang berupa penilaian ranah
psikomotorik. Ranah psikomotorik adalah segala sesuatu yang berhubungan
dengan aktivitas otot, fisik, atau gerakan-gerakan anggota badan. Keluaran hasil
belajar yang bersifat psikomotoris adalah keterampilan-keterampilan gerak
tertentu yang diperoleh setelah mengalami peristiwa belajar. Penilaian hasil
belajar psikomotoris juga harus dilakukan dengan alat tes yang berupa tes
perbuatan.
a. Penilaian dengan Tes
Tes merupakan suatu bentuk pemberian tugas atau pertanyaan yang
harus dikerjakan oleh peserta didik yang sedang dites. Jawaban yang diberikan
peserta didik terhadap pertanyaan-pertanyaan itu dianggap sebagai informasi
terpercaya yang mencerminkan kemampuannya. Informasi tersebut dinyatakan
sebagai masukan yang penting untuk mempertimbangkan peserta didik
(Suwandi, 2008:49).
Suwandi (2008:54) memaparkan pada umunya tes dipergunakan
untuk mengukur tingkat keberhasilan peserta didik dalam mencapai tujuan
dalam pembelajaran. Tingkat keberhasilan peserta didik dimaksudkan juga
tingkat kemampuan peserta didik yang diperoleh setelah mengikuti kegiatan
pembelajaran tersebut.
Bentuk tes dapat berupa tes esai dan tes objektif. Tes esai adalah
suatu bentuk pertanyaan yang menuntut jawaban peserta didik dalam bentuk
uraian dengan menggunakan bahasa sendiri. Tes ini menuntut peserta didik
untuk berpikir tentang dan mempergunakan apa yang diketahui yang
berkenaan dengan pertanyaan yang harus dijawab. Tes bentuk esai
memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk menyusun dan
commit
to user
mengemukakan jawaban sendiri
dalam
lingkup yang secara relatif dibatasi.
36
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Oleh karena itu, tes esai disebut sebagai tes subjektif. Lain halnya tes objektif
yaitu disebut juga sebagai tes jawaban singkat (short answer test). Jawaban
terhadap tes objektif bersifat pasti, hanya ada satu kemungkinan jawaban yang
benar. Jenis tes objektif yang banyak dipergunakan orang ádalah tes jawaban
benar-salah (trae-false), pilihan ganda (multipli choice), isian (complection),
dan penjodohan (maching) (Suwandi, 2008: 58-59).
Untuk mencari nilai setiap peserta didik menggunakan teknik
penilaian yang dikembangkan oleh FSI (Foreign Service Institute) sebagai
berikut:
1) Nilai setiap unsur yang dinilai dalam berbicara berkisar antara 1 sampai
dengan 5. Nilai 5 berarti baik sekali, nilai 4 berarti baik, nilai 3 berarti
sedang, nilai 2 berarti kurang, nilai 1 berarti kurang sekali.
2) Jumlah skor atau total nilai diperoleh dari menjumlahkan nilai setiap unsur
penilaian yang diperoleh peserta didik.
3) Nilai akhir peserta didik diperoleh dengan menggunakan rumus:
Total nilai
Skor maksimum (25)
x
skor ideal (100) = nilai
b. Penilaian Sikap
Suwandi (2008:89-90) memaparkan bahwa sikap bermula dari
perasaan yang terkait dengan kecenderungan seseorang dalam merespon
sesuatu atau objek. Sikap juga suatu ekspresi dari nilai-nilai atau pandangan
hidup yang dimiliki oleh seseorang. Secara umum, objek sikap yang perlu
dinilai dalam proses pembelajaran adalah sebagai berikut.
1) Sikap terhadap materi pelajaran.
2) Sikap terhadap guru atau pengajar.
3) Sikap terhadap proses pembelajaran.
4) Sikap berkaitan dengan nilai atau norma yang berhubungan dengan suatu
materi pelajaran.
Penilain sikap dapat dilakukan dengan beberapa cara atau teknik.
Teknik-teknik tersebut antara lain.
commit to user
37
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
1) Observasi Perilaku
Perilaku seseorang pada umunya menunjukan kecenderungan
seseorang dalam sesuatu hal. Guru dapat melakukan observasi terhadap
peserta didik yang dibinanya. Hasil pengamatan dapat dijadikan sebagai
umpan balik dalam pembinaan.
2) Pertanyaan Langsung
Menanyakan secara langsung atau wawancara tentang sikap
seseorang berkaitan dengan suatu hal. Jawaban atau reaksi yang diberikan
dapat dipahami sikap peserta didik terhadap objek sikap.
3) Laporan Pribadi
Penggunaan teknik ini peserta didik diminta membuat ulasan yang
berisi pandangan atau tanggapan tentang suatu masalah, keadaan, atau hal
yang menjadi objek sikap. Menurut Suwandi (2008: 94) dalam penilaian sikap
dapat menggunakan format penilaian sebagai berikut.
No Nama
Peserta
didik
Aspek yang Dinilai
antusias
terhapadap
drama
memperhatikan
guru pada saat
pembahasan
drama
Keaktifan
dalam pada saat
pembelajaran
apresiasi drama
Skor
Keaktifan
dalam
berlatih
peran
(Tabel 2.1. Format penilaian Pribadi)
Catatan:
a. Kolom perilaku diisi dengan angka yang sesuai dengan kriteria
berikut.
1 = sangat kurang
2 = kurang
3 = sedang
4 = baik
5 = amat baik
b. Nilai merupakan jumlah
skor-skor
commit
to usertiap indikator perilaku.
Nilai
38
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
c. Keterangan diisi dengan kriteria berikut.
Nilai 18-20 berarti amat baik
Nilai 14-17 berarti baik
Nilai 10-13 berarti sedang
Nilai 6-9 berarti kurang
Nilai 0-5 berarti sangat kurang
4) Penilaian Proyek
Penilaian proyek merupakan kegiatan penilai terhadap tugas yang
harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. Tugas tersebut berupa
suatu
investigasi
sejak
dari
perencanaan,
pengumpulan
data,
pengorganisasian, pengolahan, dan penyajian data. Dalam penilaian
proyek setidaknya ada tiga hal perlu dipertimbangkan, yaitu:
a) Kemampuan pengelolaan.
b) Relevansi, yaitu kesesuaian dengan mata pelajaran.
c) Keaslian, proyek yang dilakukan oleh peserta didik merupakan hasil
karyanya, (Suwandi, 2008: 95-98).
Penilaian proyek dilakukan mulai dari perencanaan, proses
kegiatan, sampai hasil akhir. Dalam penilaian proyek dapat menggunkan
format penilaian sebagai berikut.
No
Aspek
1
Perencanaan:
a. Persiapan
b. Rumusan naskah drama
2
Pelaksanaan:
a. Sistematika pelaksanan
b. Keakuratan dengan waktu pengerjaan
c. Kerja sama dan kekompakan tim
d. Penggunaan alat pendukung
3
Skor (1-5)
Laporan Proyek:
a. Performans
b. Kualitas hasil
Jumlah
commit to user
(Tabel 2.2. Format Penilaian Proyek)
39
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Evaluasi/penilaian sangat penting untuk dilakukan karena dengan adanya
evaluasi dapat diketahui keberhasilan seseorang dalam pembelajaran dan dari
hasil yang diperoleh akan membuat seseorang lebih termotivasi untuk belajar.
Evaluasi pembelajaran apresiasi drama tentu harus dapat mengukur tujuan
pembelajaran apresiasi drama, yakni apresiasi peserta didik terhadap drama bukan
semata tentang pengetahuan peserta didik terhadap drama.
B. Penelitian yang Relevan
Penelitian yang relevan dengan penelitian yang akan dilakukan yakni
penelitian Kristianto dengan hasil: (1) guru Bahasa dan Sastra Indonesia di kelas
XI SMA Negeri 6 Surakarta telah memiliki pemahaman yang positif terhadap
Kurikulum Tingkatan Satuan Pendidikan (KTSP), (2) perencanaan pembelajaran
yang telah dibuat oleh guru sudah sesuai dengan KTSP. Hal tersebut dapat dilihat
dari dibuatnya prota, silabus, dan rencana pembelajaran, (3) pelaksanaan
pembelajaran apresiasi drama di SMA Negeri 6 Surakarta sudah mengarah pada
pembelajaran yang bersifat apresiatif dan inovatif, (4) kendala-kendala dalam
pembelajaran apresiasi drama di SMA Negeri 6 Surakarta, yaitu: setiap peserta
didik sulit untuk menghafal naskah drama, peserta didik disuruh menampilkan
pementasan drama sulit, dengan alasan tidak berani dan malu; peserta didik hanya
memiliki sedikit pengetahuan tentang pengapresiasian drama, (5) tindakan yang
dilakukan guru untuk mengatasi kendala-kendala dalam pembelajaran apresiasi
drama di SMA 6 Surakarta, yaitu: guru menyediakan LKS; memberikan tugas
pada peserta didik untuk mengapresiasi drama; memacu peserta didik untuk
berkaya membuat naskah drama; memberikan pengarahan kepada peserta didik
yang kesulitan dalam mengapresiasi drama; guru menggunakan waktu seefisien
mungkin untuk mengatasi masalah waktu yang terbatas dalam pembelajaran
apresiasi drama.
Penelitian yang dilakukan oleh Su Jeong Wee dengan judul “A Case
Study of Drama Education Curriculum for Young Children in Early Childhood
Programs” menghasilkan temuan sebagai berikut.
commit to user
40
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Guru kelas tidak hanya membahas secara khusus kurikulum yang memuat
tentang drama yang menyoroti pengetahuan darama dan teknik drama
melain secra garis besar saja. Dalam pembelajaran drama dari mulai
pemanasan,kegiatan utama dan sampai berakhirnya pembelajaran yang
ditekankanguru adalah kemampuan eksplorasi kinestetik anak-anak dan
representasi serta ekspresivitas. Metode pembelajaran yang digunakan guru
harus sesuai dengan kemampuan yang dimiliki anak-anak dan bahan ajar
yang dibutuhkan untuk mengembangkan kepribadian mengajar guru dan
meningkatkan kualitas pendidikan drama.
Penelitian selanjutnya adalah dari Adhiwicaksono, yang menghasilkan
temuan: (1)
berkaitan dengan rencana pembeajaran apresoasi drama, dalam
menyusun RPP, guru sudah menyesuasikan kondisi peserta didik dan sekolah
dalam mengembangkan untuk menjadi lebih baik, (2) secara umum pelaksanaan
pembelajaran apresiasi drama di kelas XI IPA 5 SMA Negeri 4 Surakarta sudah
mengacu kepada pembelajaran apresiasi drama yang bersifat PAIKEM. Terlihat
dengan penggunaan media elektronik dan mengubah drama pentas menjadi drama
yang difilmkan
pada akhir pembelajaran, (3) Kendala yang timbul dalam
pembelajaran meliputi 3 hal yaitu: (a) rendahnya motivasi dan minat pada
beberapa peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, (b) alokasi waktu
pembelajaran yang kurang, dan (c) evaluasi dalam pembelajaran, dan (4) upaya
guru untuk mengatasi kendala-kendala pembelajaran apresiasi drama adalah
sebagai berikut: (a) memberikan motivasi, bimbingan, dan arahan bagi peserta
didik yang mempunyai motivasi belajar yang rendah untuk mengikuti
pembelajaran apresiasi drama, (b) upaya untuk mengatasi kendala tentang
kurangnya alokasi waktu pembelajaran, yaitu guru menyuruh peserta didik untuk
banyak menonton film dalam belajar drama, dan (c) upaya yang dilakuakan untuk
mengatasi kendala dalam kegiatan evaluasi, yaitu guru mewajibkan setiap
kelompok membuat laporan kegiatan yang berisi tentang keterlibatan setiap
peserta didik dalam membuat film.
Penelitian yang dilakukan Rina Aryani, Nafron Hasyim, dan Joko
Prayitno menghasilkan bahwa pembinaan dan pementasan pada kelompok Teater
Biroe SMA Pangudi Luhur Surakarta meliputi (1) pembinaan olah vokal
disampaikan secara bertahap dancommit
bervariasi,
(2) pembinaan nafas dan olah raga
to user
41
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
serta olah rasa dilatihkan secara bersama-sama, (3) pembinaan latihan materi
meliputi teknik berakting dan pemberian pengetahuan tentang bedah naskah, dan
(4) pementasan produksi. Fungsi teater sekolah dalampembelajaran apresiasi
drama adalah (1) sebagai sumber belajar dalam pembelajaran apresiasi drama, (2)
aktivitas latihan teater sebagai model dalampembelajaran apresiasi drama, dan (3)
teater sekolah sebagai pendorong kompetensi bersastra bagi peserta didik.
C. Kerangka Berpikir
Pembelajaran merupakan proses berinteraksinya antara pendidik, peserta
didik, dan lingkungan yang disertai dengan perubahan perilaku atau penambahan
informasi.
Dalam
suatu
pembelajaran,
terdapat
beberapa
faktor
yang
memengaruhi keberhasilan pembelajaran tersebut, anatra lain: peserta didik
(peserta didik), pendidik (guru), tujuan pembelajaran, materi, metode, media, dan
evaluasi. Begitu pula dengan pembelajaran apresiasi drama, diperlukan beberapa
komponen di atas agar pembelajaran berjalan dengan lancar sehingga peserta
didik dapat memahami dan menguasai materi yang telah dipelajari.
Pembelajaran sastra khususnya drama harus ditekankan pada aspek
apersiasi reseptif dan aspek apresiasi ekspresif. Aspek apresiasi reseptif ini antara
lain melalui kegiatan peserta didik dalam mendengarkan (menyimak) dan
menonton drama, membaca dan memerankan drama. Sementara itu, aspek
apresiasi ekspresif dapat diwujudkan melalui kegiatan peserta didik dalam
mengungkapkan pikiran, pendapat, gagasan, dan perasaan dalam bentuk lisan
(berbicara) maupun tulis (menulis) tentang drama, seperti membuatkan teks drama
yang sederhana, menyusun resensi teks drama, dan bermain drama.
Untuk memulai suatu pembelajaran pastinya memerlukan berbagai
persiapan baik itu materi (bahan ajar), metode, teknik dan beberapa hal yang
tercakup dalam suatu rancangan pelaksanaan pengajaran (RPP). Selain itu perlu
pula skenario pembelajaran yanng menggambarkan seluruh kegiatan dalam
pembelajaran tersebut. Perencanaan dan persiapan dalam suatu pembelajaran
sangat penting agar apa yang sudah direncanakan untuk pembelajaran tersebut
commit to user
terlaksana dengan baik dan bisa lebih sistematis. Persiapan pembelajaran apresiasi
42
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
drama berhubungan dengan perencanaan yang dijadikan sebagai dasar
pelaksanaan pembelajaran antara lain silabus mata pelajaran, dan Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang disusun oleh guru. Adanya Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), kurikulum yang sudah diterapkan di berbagai
sekolah, guru dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif dalam mengajar, baik dari
segi materi atau pun dari segi metode mengajar.
Belajar pada dasarnya merupakan suatu proses pemerolehan informasi dan
pengembangan
potensi
yang
dimiliki
seseorang.
Keberhasilan
dalam
pembelajaran berkaitan dengan peran dan upaya guru dan peserta didik yang
menjalaninya. Keberhasilan guru dalam mengajar dapat dilihat dari penyampaian
materi yang dilakukan oleh guru dengan menggunakan metode yang inovatif,
penggunaan media yang sesuai, dan evaluasi proses dan hasil dilakukan guru
untuk mengetahui pemahaman peserta didikterhadap pembelajaran apresiasi
drama.
Pada pelakasanaan pembelajaran di kelas nantinya, peneliti akan
menyoroti bagaimana pembelajaran berlangsung. Hal yang penting untuk diamati
meliputi: (1) ketersedian sarana dan prasaran penunjang yang tersedia sebagai alat
atau media dalam membantu dalam pelaksanaan pembelajaran, (2) kekreatifan
dalam mengolah pembelajara sehingga dapat sesuai dengan tujuan yang
diharapkan dan dapat tersampaiakan dengan baik kepada semua peserta didik
serta relevansi antara Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan proses
belajar mengajar selamam di kelas, (3) kendala-kendala yang dihadapi guru
sebagai fasilitator, motivator, serta tugas utama guru lainnya, dan (4) kiat-kiat
tertentu yang dilakukan guru untuk mengatasi kendala yang terdapat pada saat
pembelajaran apresiasi drama berlangsung.
Mengenai kendala-kendala yang ada dalam pembelajaran apresiasi drama
dapat lebih rinci dipilah apakah kendala berupa faktor intern yaitu guru dan
sebagai pelaksana pembelajaran ataukah faktor ekstern yang dapat berupa sarana
dan prasarana dalam pelaksanaan pembelajaran apresiasi drama. Berdasarkan
temuan kendala dan hambatan tersebut nantinya dapat dijadikan dasar untuk
commit
userhendak dilakukan atau yang telah
mengetahui atau mencari beberapa
upayatoyang
43
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
dilakukan untuk membenahi pelaksanaan pembelajaran apresiasi drama, sehingga
kedepannya
(dalam
pembelajaran
selanjutnya)
dapat
diantisipasi
dan
diminimalisasi ketidakberhasilan pembelajaran tersebut.
Berdasarkan pada semua penjelasan dan paparan yang telah dijelaskan di
atas, dan hasil penelitian yang diperoleh, nantinya akan ditarik sebuah kesimpulan
mengenai pembelajaran apresiasi drama yang terjadi di SMA Negeri
Karangpandan yang pada khususnya terjadi
pada kelas XI. Oleh karena itu,
peneliti berusaha untuk mengetahui bagaimana persiapan yang dilakukan sebelum
melakukan pembelajaran, mengetahui sejauh mana pelaksanaan pembelajaran
apresiasi drama yang akan diterapkan pada proses belajar mengajar, mengetahui
pelaksanaan pementasa, dan mengetahui kendala-kendala yang dihadapi saat
pembelajaran dilakukan, serta mengetahui upaya-upaya yang dilakukan untuk
mengatasi kendala atau hambatan pembelajaran yang dihadapi di kelas. Berikut
ini alur kerangka berpikir yang digunakan oleh peneliti.
Pembelajaran Apresiasi Drama di Kelas XI SMA
Negeri Karangpandan
Perencanaan
Silabus,
RPP
Pelaksanaan
materi,
metode,
media, dan
evaluasi
Kendala
peserta didik,
fasilitas,
waktu, dan
bahan ajar
Mengatasi Kendala
peserta didik,
fasilitas,
waktu, dan
bahan ajar
Tercapainya Pembelajaran Apresiasi Drama yang
Kreatif dan Inovatif
Gambar 2.1. Alur Kerangka Bepikir
commit to user
44
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri Karangpandan yang ada di
Kabupaten Karanganyar. SMA Negeri Karangpandan beralamat di Jalan BloraKarangpandan, Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar 57791, telp
(0271) 662880.
Dilaksanakan pada kelas XI, karena materi pembelajaran apresiasi drama
terdapat pada jenjang kelas tersebut di semester genap. Waktu Penelitian ini
dilaksanakan dari bulan Januari-Mei 2012 sesuai dengan tabel kegiatan di bawah
ini:
Tabel 3.1. Rincian Waktu dan Jenis Kegiatan Penelitian
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Waktu
Jenis
penelitian
Pembuatan
proposal
Pengajuan
proposal
Revisi
proposal
dan
persiapan
instrumen
Pengumpul
-an data
Analisis
data
Penyusunan laporan
Bulan Ke-I Bulan Ke-II Bulan Ke-III Bulan Ke-IV Bulan Ke-V
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
√ √
√ √
√ √
√ √ √ √ √ √
√ √ √ √ √ √
√ √ √ √
B. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Berdasarkan masalah yang diajukan dalam penelitian ini, yakni tentang
commit to user
pembelajaran apresiasi drama di SMA Negeri Karangpandan, maka pendekatan
44
45
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Pendekatan
kualitatif dalam penelitian ini mampu mendeskripsikan secara rinci dan mendalam
tentang pembelajaran apresiasi drama di SMA Negeri Karangpandan khususnya
kelas XI IPS 1. Hal ini sesuai dengan pendapat Sutopo (2005:111) bahwa
penelitian kualitatif mengarah pada pendeskripsian secara rinci dan mendalam
mengenai potret kondisi tentang apa yang sebenarnya terjadi menurut apa adanya
di lapangan studinya.
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus
terpancang. Disebut terpancang karena permasalahan yang dibahas hanya
mengenai
pelaksanaan
pembelajaran
apresiasi
drama
di
SMA
Negeri
Karangpandan kelas XI IPS 1.
C. Data dan Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah :
1. Tempat dan Peristiwa
Tempat penelitian ini yaitu di SMA Negeri Karangpandan kelas XI IPS1.
Peristiwa berkaitan dengan aktivitas pembelajaran yang dilakukan oleh guru di
dalam kelas yang terfokuskan pada pola interaksi guru dengan peserta didik dan
peserta didik dengan peserta didik yang lainya untuk menspesifikasikan penelitian
dan memudahkan dalam pengambilan data, karena peristiwa mudah diamati.
2. Informan
Pengambilan informasi dilakukan pada informan yang telah dipilih yaitu
guru mata pelajaran bahasa Indonesia, serta peserta didik kelas XI IPS 1 SMA
Negeri Karangpandan
3. Dokumen
Pengambilan data dilakukan melalui dokumen-dokumen (hasil belajar
peserta didik, silabus, RPP, buku materi dan pendamping yang menunjang, dan
soal-soal evaluasi) yang berkaitan secara langsung dengan pokok pembahasan
dalam penelitian ini yaitu pembelajaran apresiasi drama.
commit to user
46
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
D. Teknik Pengambilan Sampel
Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling,
yaitu sumber data yang digunakan tidak mewakili populasinya, tetapi cenderung
mewakili informasinya (dalam Sutopo, 2005:56). Purposive sampling dilakukan
dengan memilih guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia kelas XI Ilmu
Sosial dikarenakan memiliki komitmen yang tinggi terhadap pembelajaran drama,
yaitu selalu melaksanakan pembelajaran tersebut sampai tahap perekaman drama.
Informan lainnya, yaitu guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia kelas XI
Ilmu Alam dan beberapa peserta didik yang ditunjuk sebagai ketua dalam
kelompoknya.
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam menyusun laporan ini
menggunakan teknik mengakaji dokumen. Teknik mengkaji dokumen dipilih
karena data dalam penelitian ini berupa dokumen. Teknik pengumpulan data tidak
hanya sekedar mencatat dokumen tetapi juga menemukan maknanya. Hal ini
sesuai dengan pendapat Yin (dalam H.B. Sutopo, 2005:70) yang menyatakan
bahwa analisis dokumen tidak hanya sekedar mencatat isi penting yang tersurat di
dalam dokumen tetapi juga tentang makna tersirat. Dalam hal ini peneliti
menganalisis data yang berupa nilai akhir, laporan hasil observasi, rencana
pembelajaran, rancangan silabus, sarana penunjang pembelajaran, misalnya:
buku-buku yang digunakan sebagai sumber acuan dan pegangan bagi guru dan
peserta didik, serta naskah drama yang digunakan, dan lain-lain. Data hasil
analisis dokumen tersebut dikumpulkan dan dicatat, kemudian dipadukan dengan
catatan lapangan (field note). Diharapkan perpaduan data tersebut akan
menghasilkan penelitian yang objektif dan komprehensif.
Selanjutnya, pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi.
Peneliti mengadakan pengamatan langsung terhadap proses pembelajaran di SMA
Negeri Karangpandan. Dalam hal ini peneliti berperan sebagai partisipan pasif, di
mana kehadiran peneliti diketahui namun tidak memengaruhi pembelajaran.
Observasi dilakukan di dalam kelas saat pembelajaran apresiasi drama
commit to data
user yang sesungguhnya di lokasi
berlangsung dan diharapkan diperoleh
47
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
penelitian. Hal-hal yang diobservasi meliputi: proses atau pelaksanaan
pembelajaran apresiasi drama yang meliputi kegiatan awal, kegiatan inti, dan
kegiatan akhir (penutup); proses evaluasi yang meliputi evaluasi proses dan hasil;
aktivitas guru dan peserta didik selama proses pembelajaran yang meliputi usahausaha yang dilakukan guru selama pembelajaran dan keterlibatan peserta didik
dalam pembelajaran. Observasi dilakukan pula terhadap proses pelatihan drama
yang dilakukan di luar ruang kelas, di luar jam pelajaran. Pada kegiatan pelatihan
drama ini akan diobservasi aktivitas dan kreativitas peserta didik dan guru selama
pembelajaran.
Selain itu juga menggunakan teknik wawancara mendalam kepada
informan untuk mendapatkan data yang tidak bisa didapat melalui teknik
observasi. Untuk itu peneliti melakukan wawancara secara langsung (face to
face). Isi wawancara difokuskan kepada pertanyaan yang menguji tingkat
apresiasi peserta didik terhadap pembelajaran drama. Wawancara dalam penelitian
ini dilakukan dengan terstrukutur dengan pertanyaan yang terbuka (open ended)
dan bersifat lentur guna mendapatkan informasi (pandangan) dari informan
tentang hal-hal yang bermanfaat bagi penelitian. Kelonggaran dan kelenturan
wawancara ini diharapkan akan mampu menggali kejujuran informasi, sehingga
mampu memberikan informasi yang sebenarnya dan seluas-luasnya. Wawancara
secara mendalam juga dilakukan guru mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas XI
Ilmu Sosial dan guru mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas XI Ilmu Alam, serta
peserta didik.
F. Uji Validitas Data
Uji validitas data dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik
triangulasi (data dan metode) dan review informan.
1.
Triangulasi data, yaitu peneliti menggunakan beberapa sumber untuk
mendapatkan/mengumpulkan data. Untuk mendapatkan data tersebut,
peneliti menggunakan beberapa sumber, yaitu dokumen (hasil rekaman
maupun catatan ujaran-ujaran yang disampaikan guru dan peserta didik),
peristiwa (proses pembelajaran),
informan (guru dan peserta didik).
commitdan
to user
48
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
2.
Triangulasi metode, yaitu peneliti menggunakan metode yang berbeda
untuk mendapatkan data yang sama. Peneliti menggunakan metode
pengumpulan data yang berupa analisis dokumen, observasi, dan
wawancara. Peneliti melakukan pengecekan hasil secara silang dengan
menggunakan teknik pengumpulan data yang berupa observasi langsung.
3.
Review informan, pada penelitian ini digunakan sebagai alat penjamin
validitas data. Pada waktu peneliti sudah mendapatkan data yang sudah
cukup lengkap dan berusaha menyusun sajiannya, walaupun mungkin
masih belum utuh dan menyeluruh, tetapi unit-unit laporan yang telah
disusun perlu dikomunikasikan dengan informan. Hal tersebut berfungsi
untuk mengecek kembali kebenaran data yang diperoleh dari informan.
G. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah model
analisis interaktif (interactive model of analysis). Analisis model interaktif ini
merupakan interaksi dari empat komponen, yaitu: pengumpulan data, reduksi
data, penyajian data (display data), dan penarikan simpulan (verifikasi). Pada
saaat melakukan tahap pengumpulan data sekaligus sesuai dengan kemunculan
data yang diperlukan. Adapun langkah-langkah analisis interaktif adalah sebagai
berikut:
1. Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah dengan cara
analisis dokumen, observasi, dan wawancara. peneliti mengumpulkan data
sebanyak-banyaknya yang berkaitan dengan segala sesuatu yang berhubungan
dengan pelaksanaan pembelajaran apresiasi drama di Kelas XI SMA Negeri
Karangpandan.
2. Reduksi Data
Teknik ini mengambil langkah yang berupa pencatatan data yang
diperoleh dari hasil observasi. Dalam pencatatan tersebut dilakukan seleksi,
pemfokusan dan penyederhanaan data, data mana yang akan diambil. Hal tersebut
bertujuan untuk lebih memudahkan
dalam
mengambil data-data yang dianggap
commit
to user
49
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
penting, yakni tentang pembelajaran apresiasi drama di kelas XI SMA Negeri
Karangpandan. Proses reduksi terus berlangsung sampai laporan akhir penelitian
selesai ditulis.
3. Penyajian Data
Melalui sajian data, data yang telah terkumpul dikelompokan dalam
beberapa bagian dengan jenis permasalahannya supaya mudah dilihat dan
dimengerti, sehingga mudah untuk dianalisis. Penyajian data penelitian yang
diperoleh melalui analisis dokumen ataupun pada saat proses belajar mengajar
berlangsung di kelas maupun diperoleh melalui wawancara dengan informan. Hal
tersebut meliputi: rencana pelaksanaan pembelajaran apresiasi drama yang dibuat
oleh guru, data hasil observasi yang diperoleh peneliti pada saat pembelajaran
berlangsung, hasil wawancara guru bahasa Indonesia, dan peserta didik berupa
kendala yang ada pada saat pembelajaran apresiasi drama, serta upaya guru
bahasa Indonesia dalam mengatasi kendala tersebut.
4. Penarikan Simpulan
Berdasarkan dari hasil analisis terhadap ujaran dan pembicaraan antara
guru dengan peserta didik yang terjadi pada proses pembelajaran dan pada saat
diwawancarai,
kemudian
ditarik
simpulan.
Simpulan-simpulan
tersebut
diverifikasi selama penelitian berlangsung. Pada penelitian ini data yang
diverifikasi meliputi: perencanaan pembelajaran apresiasi drama, pelaksanaan
pembelajaran, pelaksanaan pementasn dan kendala yang timbul dalam
pembelajaran apresiasi drama, serta upaya guru bahasa Indonesia. Visualisasi
proses
analisis
tersebut
sebagai
Pengumpulan Data
Display Data
Reduksi Data
Penarikan Kesimpulan
commit to
user & Huberman, 1992:23)
Gambar 3.1 Analisis Interaktif
(Miles
berikut:
50
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Temuan
Penelitian ini menghasilkan serangkaian data atau informasi mengenai
proses pembelajaran apresiasi drama di Sekolah Menegah Atas yang dilakukan
oleh guru bahasa Indonesia di SMA Negeri Karangpandan khususnya kelas XI
IPS 1. Sekolah tersebut beralamat di Jalan
Blora-Karangpandan, Kecamatan
Karangpandan,
57791,
Kabupaten
Karanganyar
telp
(0271)
662880.
Menghasilkan temuan yang meliputi: (1) perencanaan pembelajaran apresiasi
drama; (2) pelaksanaan pembelajaran apresiasi drama; dan (3) pementasan drama
di kelas; (4) kendala-kendala yang dihadapi guru dalam pelaksanaan pembelajaran
apresiasi drama dan upaya-upaya yang dilakukan guru untuk mengatasi masalah
tersebut. Hasil penelitian tersebut secara rinci dideskripsikan dalam pembahasan
berikut.
1.
Perencanaan Pembelajaran Apresiasi Drama di Kelas XI IPS 1
SMA Negeri Karangpandan
Dalam pembelajaran sebuah perencanaan sangat dibutuhkan guru dalam
proses mentransfer ilmu pengetahuan kepada peserta didiknya. Perencanaan
pembelajaran ini dapat membantu guru untuk mempermudah pelaksanaan
pembelajaran di kelas. Perencanaan yang dilakukan guru antara lain:
a. Silabus
Sebelum menyusun
perencanaan pembelajaran,
guru bahasa
Indonesia kelas XI IPS 1, yaitu Ibu Ami Rahayu menggunakan silabus dari
hasil Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) sebagai dasar pembuatan
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Hal ini sesuai dengan apa yang
diungkapkan oleh Ibu Ami pada saat diwawancarai oleh peneliti sebagai
berikut.
commit to user
50
51
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
begini mbak, kalau silabus yang saya gunakan itu hasil dari MGMP bahasa
Indonesia se-kabupaten Karanganyar. Untuk sekarang ini ada ketentuan
baru yang mengharuskan silabus dan perencanaan pembelajaran itu
berkarakter, artinya dapat membentuk karakter dari peserta didik itu
sendiri, mbak. Selain itu, silabus itu nanti dijadikan dasar dalam
pembuatan suatu perencanaan pembelajaran. (CLHW1)
Peneliti mencermati silabus yang disusun dalam forum MGMP
bahasa
Indonesia
se-kabupaten
Karanganyar
yang
terkait
dengan
pembelajaran apresiasi drama telah sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP). Komponen-komponen dalam silabus meliputi: (1)
identitas sekolah; (2) standar kompetensi; (3) kompetensi dasar; (4) materi
pokok/pembelajaran;
(5)
nilai
budaya
dan
karakter
bangsa;
(6)
kewirausahaan/ekonomi kreatif; (7) kegiatan pembelajaran; (8) indikator; (9)
penilaian yang terdiri dari jenis tugas, dan bentuk instrumen; (10) alokasi
waktu; dan (11) sumber/bahan/alat. Bentuk silabus dapat dilihat dalam
lampiran.
Terdapat dua standar kompetensi yang berkenaan dengan apresiasi
drama yang akan diajarkan oleh guru kepada peserta didik. Pertama, SK (14)
keterampilan berbicara, mengungkapkan wacana sastra dalam bentuk
pementasan
drama.
Kompetensi
dasar
yang
menyertainya:
(14.1)
mengekspresikan dialog para tokoh dalam pementasan drama. Materi yang
diajarkan guru dalam KD (14.1) berupa teks drama (penghayatan watak dan
pengekspresian dialog). Nilai budaya dan karakter bangsa yang terkandung,
yakni bersahabat/komunikatif dan mandiri, sedangkan kewirausahaan/
ekonomi kreatif berwujud kepemimpinan. Indikator yang hendak dicapai
antara lain: (1) menghayati watak tokoh yang akan diperankan; (2)
mengekspresikan dialog para tokoh dalam pementasan drama; (3)
menanggapi penampilan dialog para tokoh dalam pementasan drama.
Penilaian yang digunakan meliputi: (1) jenis tagihan yang berupa tugas
individu dan tugas kelompok; (2) bentuk instrumen yang berupa unjuk kerja
dan format pengamatan. Alokasi waktu yang diperkirakan untuk mengajarkan
KD (14.1), yaitu 4 x 45menit commit
dengan to
sumber/bahan/alat,
yaitu buku drama.
user
52
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Kompetensi dasar (14.2) menggunakan gerak-gerik, mimik, dan
intonasi, sesuai dengan watak tokoh dalam pementasan drama. Materi yang
diajarkan guru berupa teks drama (gerak-gerik, mimik, intonasi). Nilai
budaya dan karakter bangsa yang terkandung, yakni bersahabat/komunikatif
dan
mandiri,
sedangkan
kewirausahaan/ekonomi
kreatif
berwujud
kepemimpinan. Indikator yang hendak dicapai antara lain: (1) memerankan
drama dengan memperhatikan penggunaan lafal, intonasi, nada/tekanan,
mimik/gerak-gerik yang tepat sesuai dengan watak tokoh; (2) menanggapi
peran yang akan ditampilkan dalam pementasan drama. Penilaian yang
digunakan meliputi: (1) jenis tagihan yang berupa tugas individu dan tugas
kelompok; (2) bentuk instrumen yang berupa unjuk kerja dan format
pengamatan. Alokasi waktu yang diperkirakan untuk mengajarkan KD (14.2),
yaitu 4 x 45menit dengan sumber/bahan/alat, yaitu buku drama.
Kedua, SK (16) keterampilan menulis, menulis naskah drama.
Kompetensi dasar yang menyertainya, yaitu KD (16.1) mendeskripsikan
perilaku manusia melalui dialog naskah drama. Materi yang diajarkan oleh
guru berupa teks drama (unsur-unsur drama, yaitu tema, penokohan, konflik).
Nilai
budaya
dan
karakter
bangsa
yang
terkandung,
yakni
bersahabat/komunikatif dan mandiri, sedangkan kewirausahaan/ekonomi
kreatif berwujud kepemimpinan. Indikator yang hendak dicapai, yaitu
menuliskan teks drama dengan menggunakana bahasa yang sesuai untuk
mendeskripsikan perilaku manusia melalui dialog, menghidupkan konflik,
memunculkan penampilan (performance). Penilaian yang digunakan meliputi:
(1) jenis tagihan yang berupa tugas individu dan tugas kelompok; (2) bentuk
instrumen yang berupa uraian bebas. Alokasi waktu yang diperkirakan untuk
mengajarkan KD (16.1), yaitu 4 x 45menit dengan sumber/bahan/alat, yaitu
buku drama.
Kompetensi dasar (16.2) menarasikan pengalaman manusia dalam
bentuk adegan dan latar pada naskah drama. Materi yang diajarkan oleh guru
berupa teks drama (unsur-unsur drama, yaitu tema, penokohan, konflik). Nilai
to user
budaya dan karakter bangsa commit
yang terkandung,
yakni bersahabat/komunikatif
53
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
dan
mandiri,
sedangkan
kewirausahaan/ekonomi
kreatif
berwujud
kepemimpinan. Indikator yang hendak dicapai, yaitu: (1) mendaftar
pengalaman sendiri yang menarik; (2) menarasikan pengalaman sendiri dalam
bentuk adegan drama. Penilaian yang digunakan meliputi: (1) jenis tagihan
yang berupa tugas kelompok, individu dan ulangan; (2) bentuk instrumen
berupa uraian. Alokasi waktu yang diperkirakan untuk mengajarkan KD
(16.2), yaitu 4 x 45menit dengan sumber/bahan/alat, yaitu buku drama.
Berdasarkan temuan di atas, dapat disimpulkan bahwa silabus yang
digunakan oleh guru bahasa Indonesia di SMA Negeri Karangpandan, yaitu
Ibu Ami adalah hasil dari Musyawarah Guru Mata Pelajaran bahasa Indonesia
se-kabupaten Karanganyar yang telah mengacu pada pembelajaran apresiasi
drama yang melibatkan peserta didik secara aktif, kreatif, dan mandiri.
b. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Guru bahasa Indonesia di SMA Negeri Karangpandan kelas XI IPS1,
yaitu Ibu Ami menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang
bertumpu pada silabus. RPP tersebut disusun bersama guru mata pelajaran
bahasa Indonesia dalam forum MGMP bahasa Indonesia SMA se-kabupaten
Karanganyar setiap awal tahun pelajaran. RPP yang telah disusun bersama
tersebut selanjutnya dikembangkan oleh masing-masing guru untuk
disesuaikan dengan keadaan sekolah dan peserta didik. Isi dari RPP yang
disusun guru tersebut meliputi nama mata pelajaran, kelas/semester, program,
alokasi waktu, Standar Kompetensi (SK), Kompetensi Dasar (KD), aspek
pembelajaran,
indikator,
nilai
budaya
dan
karakter
bangsa,
Kewirausahaan/ekonomi kreatif, materi pokok pembelajaran, strategi
pembelajaran, kegiatan pembelajaran, metode dan sumber belajar, dan
penilaian. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara seperti berikut.
Peneliti
Ibu Ami
: Menurut ibu, hal apa saja yang harus diperhatikan dalam
pembuatan RPP?
: Kalau pembuatan RPP hal yang harus diperhatikan itu ya
seperti yang terdapat di RPP ini, mbak (sambil
menunjukkan RPP). Dari mencantumkan nama mata
to user
pelajaran commit
disini sudah
tentu bahasa Indonesia, kemudian
54
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
kelas/semester, program ini maksudnya di sini kan ada
program Imersi dan umum/reguler, penentuan alokasi
waktu, Standar Kompetensi (SK), Kompetensi Dasar
(KD), aspek pembelajaran, indikator, nilai budaya dan
karakter bangsa, Kewirausahaan/ekonomi kreatif materi
pokok pembelajaran, strategi pembelajaran, kegiatan
pembelajaran, metode dan sumber belajar, dan yang
terakhir penilaian. (CLHW 1)
Berdasarkan hasil wawancara peneliti, RPP yang disusun guru
bahasa Indonesia di SMA Negeri Karangpandan dalam
pembelajaran
apresiasi drama telah mengikuti ketentuan yang sesuai dengan Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Didukung dengan dokumen RPP yang
diperoleh peneliti sebagai berikut.
1) Identitas mata pelajaran yang meliputi:
a) mata pelajaran, yaitu Bahasa dan Sastra Indonesia
b) kelas/semester, yaitu XI (sebelas)/2 (dua)
c) program, yaitu umum
d) alokasi waktu, yaitu 3 x 45menit
e) tema,2) Standar Kompetensi
14. Mengungkapkan wacana sastra dalam bentuk pementasan drama
3) Kompetensi Dasar
14.1 Mengekspresikan dialog para tokoh dalam pementasan drama
4) Aspek Pembelajaran
Berbicara
5) Indikator Pencapaian Kompetensi
a) mampu memahami pengertian actor
b) mampu menyiapkan diri sebelum mementasakan drama
c) mampu melakukan latihan mengekspresikan dialog para tokoh drama
d) mampu menghayati watak tokoh yang diperankan
e) mampu menanggapi penampilan dialog para tokoh dalam pementasan
drama
commit to user
55
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
6) Nilai Budaya dan Karakter Bangsa
Bersahabat/komunikatif dan mandiri
7) Kewirausahaan/ekonomi kreatif, yaitu kepemimpinan
8) Materi Pokok Pembelajaran
a) teks drama
b) pengertian aktor
c) persiapan sebelum pementasan
d) macam-macam latihan mengekspresikan dialog tokoh drama
e) pengekspresian dialog para tokoh dalam pementasan drama
f) penghayatan watak tokoh dalam pementasan drama
g) tanggapan penampilan dialog para tokoh dalam pementasan drama
9) Strategi Pembelajaran
a) tatap muka, yaitu memahami wacana sastra dalam bentuk pementasan
drama
b) terstruktur,
yaitu
mengekspresikan
dialog
para
tokoh
dalam
pementasan drama
c) mandiri,
yaitu
peserta
didik
mampu
melakukan
latihan
mengekspresikan dialog tokoh drama
10) Kegiatan Pembelajaran
a) Pembuka (apersepsi), meliputi:
(1) peserta didik ditanya mengenai fungsi dialog dalam drama
(2) guru dan peserta didik bertukar pikiran mengenai
cara
mengekspresikan dialog dalam drama
b) Inti, meliputi:
Eksplorasi yang terdiri dari:
(1) peserta didik dibagi dalam beberapa kelompok pementasan
(2) peserta didik membaca dan memahami teks drama yang akan
diperankan
Elaborasi yang terdiri dari:
(1) peserta didik melakukan persiapan pementasan drama
commit
to user
(2) peserta didik berlatih
mengekspresikan
dialog tokoh dalam drama
56
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
(3) mengekspresikan dialog para tokoh dalam pementasan drama
(4) menghayati watak tokoh yang akan diperankan
(5) mendiskusikan dialog para tokoh dalam pementasan drama
(6) peserta didik saling memberikan tanggapan penampilan dialog
para tokoh dalam pementasan drama
Konfirmasi yang terdiri dari:
(1) peserta didik menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui
(2) peserta didik menjelaskan hal-hal yang belum diketahui
c) Penutup (internalisasi dan persepsi)
(1) peserta
didik
diminta
mengungkapkan
kesulitanya
dalam
mengekspresikan dialog tokoh yang diperankannya
(2) peserta didik diminta mengungkapkan manfaat yang diperolehnya
setelah memainkan peran tokoh dalam drama
11) Metode dan Sumber Belajar
Sumber belajar yang digunakan guru antara lain:
a) pustaka rujukan
Alex Suryanto dan Agus Haryanta. 2007. Panduan Belajar
Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA dan MA Kelas XI.
Jakarta: ESIS-Erlangga halaman 190-194.
Rumad (Ed). 1991. Kumpulan Drama Remaja. Jakarta: PT
Grasindo.
Harymawan, RMA Dramaturgi. Bandung: PT Rosdakarya.
b) material: VCD, kaset, poster
rekaman pengajaran drama dan rekaman pementasan drama.
c) media cetak dan elektronik
naskah drama di majalah/koran, siaran langsung atau rekaman
drama dari televisi.
d) website internet
naskah drama atau rekaman pementasan drama.
e) narasumber
commit
to user
dramawan, pemain
sinetron/rekaman
drama.
57
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
f) model peraga
peserta didik yang mempunyai pengalaman sebagai pemain
drama/sinetron/bermain drama.
g) Lingkungan
pementasan drama/sinetron/rekaman drama
Metode yang digunakan guru, yaitu:
a). presentasi
b). diskusi kelompok
c). inquary
d). demonstrasi
12) Penilaian
a). teknik dan bentuk
tes lisan
tes tertulis
observasi kinerja/demonstrasi
tagihan hasil karya/produk: tugas, projek, portofolio
pengukuran sikap
penilaian diri
b). instrumen/soal
Daftar pertanyaan lisan tentang fungsi dialog dalam drama dan
cara mengekspresikan dialog dalam drama.
Tugas/perintah untuk melakukan persiapan, latihan, pementasan,
dan tanggapan penampilan dialog dalam drama.
Daftar pertanyaan uji kompetensi dan kuis uji teori untuk
mengukur tingkat pemahaman peserta didik terhadap teori dan
konsep yang sudah dipelajari.
c). rubrik penilaian pengekspresian dialog tokoh dalam drama
Kompetensi Dasar
: Mengekspresikan dialog para tokoh dalam
pementasan drama
Nama Peserta Didik :
commit to user
58
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Kelas/Nomor Absen :
Tanggal Penilaian
:
KOMPONEN
1
SKOR
2 3 4
5
1. Ucapan (terdengar jelas oleh penonton?)
2. Intonasi (bervariasi sesuai tuntutan naskah?)
3. Pengaturan jeda (pengaturan jeda tepat
sehingga maksud kalimat mudah ditangkap
penonton?)
4. Intensitas
dan
kelancaran
berbicara
(konsisten?)
5. Kemunculan pertama (mantap& memberikan
kesan yang baik?)
6. Memanfaatkan ruang yang ada untuk
memosisikan
tubuh
(blocking)
saat
pementasan (baik/tidak?)
7. Ekspresi dialog untuk menggambarkan
karakter tokoh (sesuai karakter tokoh?)
8. Pandangan mata dan gerak anggota tubuh
untuk mendukung ekspresi dialog (sesuai
karakter tokoh?)
9. Pandangan mata dan gerak anggota tubuh
untuk mendukung ekspresi dialog (sesuai
karakter tokoh?)
10. Gerakan (bersifat alamiah dan tak dibuatbuat?)
SKOR (MAKSIMAL 50)
(Tabel 4.1. Rubrik Penilaian)
Bentuk silabus dan RPP yang dikembangkan oleh guru secara lebih jelas
dapat dilihat di lampiran. Penyusunan RPP oleh forum MGMP bahasa Indonesia
SMA se-kabupaten Karanganyar membuat pembelajaran yang akan dilakukan
oleh guru menjadi lebih terstruktur, walaupun tidak bisa dipungkiri dalam
pelaksanaannnya terkadang tidak sesuai dengan apa yang telah dituliskan dalam
RPP.
2.
Pelaksanaan Pembelajaran Apresiasi Drama di Kelas XI IPS 1
SMA Negeri Karangpandan
Peneliti mengadakan pengamatan dikelas XI IPS 1 tentang pembelajaran
commit to user
apresiasi drama sebanyak lima kali pertemuan dengan alokasi waktu setiap
59
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
pertemuan 2 x 45menit. Di kelas XI IPS 1 mendapatkan pelajaran bahasa
Indonesia dalam satu minggu terdapat dua kali pertemuan, yaitu pada hari senin
dan kamis. Pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh Ibu Ami sebagai
berikut.
a. Pengamatan Pertama
Peneliti
mengadakan
pengamatan
pelaksanaan
pembelajaran
apresiasi drama yang dilakukan oleh Ibu Ami dimulai pada hari Kamis, 9
Februari 2012 pukul 10.15 WIB. Pertemuan yang pertama ini, Ibu Ami tidak
mengajar di kelas melainkan peserta didik dibawa ke laboratorium fisika
untuk dipertontonkan sebuah rekaman drama hasil peserta didiknya angkatan
tahun yang lalu. Sebelum memulai pembelajaran Beliau membuka pelajaran
dengan salam dan peserta didik menjawabnya, setelah itu Beliau menanyakan
kehadiran peserta didik. Kemudian menjelaskan tujuan pembelajaran yang
hendak dicapai dalam pembelajaran dengan materi pokok penghayatan watak
dan pengekspresian dialog dalam teks drama.
Langkah-langkah pembelajaran yang dilakukan Ibu Ami pada
pertemuan pertama, antara lain: 1) Guru menyuruh peserta didik membuka
modul bahasa Indonesia halaman 53 dan menyuruh membaca materi tentang
mengekspresikan dialog para tokoh dalam pementasan drama; 2) peserta
didik membuka modul bahasa Indonesia dan membaca materi tersebut; 3)
Guru menjelaskan materi mengkspresikan dialog para tokoh dalam drama; 4)
peserta didik mendengarkan penjelasan guru; 5) Guru memberikan contoh
naskah drama yang terdapat dalam modul bahasa Indonesia yang berjudul
“Tanda Bahaya” karya Bakdi Soemanto, dilanjutkan penjelasan tentang
adegan dan unsur-unsur dalam drama (tema, alur, tokoh, watak tokoh, setting,
dialog, dan amanat); 6) Guru dan peserta didik mendiskusikan unsur-unsur
drama yang terdapat dalam naskah “Tanda Bahaya” beserta adegan yang
dilakukan para pemaindalam naskah tersebut; 7) Guru memperlihatkan
rekaman drama yang bertemakan akibat broken home; 8)Peserta didik
menyaksikan rekaman drama yang diperlihatkan guru; 9) Guru dan peserta
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
60
digilib.uns.ac.id
didik mendiskusikan adegan dan unsur- unsur drama dari rekaman drama
yang diputarkan. (CLHP 1)
Dalam pelaksanaan pembelajaran drama di kelas XI IPS 1 yang
dilakukan oleh Ibu Ami telah menggunakan media yang mengarah pada
pembelajaran apresiasi drama meskipun pelaksanaan pembelajarannya harus
di laboratorium fisika. Hal ini dikarenakan di ruang kelas XI IPS 1 belum ada
media yang memfasilitasi pembelajaran apresiasi drama. Di laboratorium
fisika guru menggunakan alat berupa LCD, proyektor, papan tulis, spidol, dan
buku materi. Pada saat pembelajaran suasana kelas sangat tenang sehingga
pembelajaran berjalan lancar. Guru menjelaskan tentang adegan dalam drama
dan unsur-unsur drama. Kemudian guru bersama peserta didik mendiskusikan
jumlah adegan dalam naskah drama yang berjudul “Tanda Bahaya” dan
meminta menyebutkan adegan apa saja yang terdapat dalam naskah tersebut.
Selain adegan, guru meminta kepada peserta didik untuk mencari tokoh
bayangan yang terdapat dalam naskah tersebut. Selanjutnya, guru
memutarkan rekaman drama yang bertemakan broken home karya peserta
didik yang sekarang kelas XII. Pemutaran rekaman drama tersebut
memerlukan durasi kurang lebih 30menit. Sisa waktu yang tinggal 15menit
digunakan guru untuk membicarakan adegan dan unsur-unsur dalam rekaman
drama tersebut. Sebelum diakhiri, guru memberikan tugas kepada peserta
didik untuk membaca dan menghayati naskah “Tanda Bahaya” yang akan
dilanjutkan pembahasan pada pertemuan berikutnya. Guru menanyakan
kepada peserta didik apakah ada kesulitan mengenai materi yang diajarkan
hari ini dan peserta didik menjawab “tidak ada, Bu” dan akhirnya guru
menutup pembelajaran pada pukul 11.45 WIB dengan mengucapkan salam
dan peserta didik menjawabnya.
Berdasarkan dari pelaksanaan pembelajaran apresiasi drama pada
pertemuan yang pertama, peneliti dapat menyimpulkan bahwa Ibu Ami sudah
mampu menguasai kondisi peserta didik di laboratorium fisika dan menguasai
materi yang diajarkan. Pada kegiatan pembelajaran dapat diketahui peserta
commit
to user dan bisa bekerja sama dengan
didik antusias dalam mengikuti
pembelajaran
perpustakaan.uns.ac.id
61
digilib.uns.ac.id
guru, sehingga guru mudah dalam memberikan dan menerangkan materi dan
peserta didik terlibat aktif dalam pembelajaran. Metode yang digunakan Ibu
Ami dalam pelaksanaan pembelajaran, yaitu metode ceramah, tanya jawab,
berdiskusi, dan inkuiri. Evaluasi yang dilakukan guru berupa pengamatan
keaktifan peserta didik dalam pembelajaran.
b. Pengamatan Kedua
Peneliti melaksanakan pengamatan kedua dalam pelaksanaan
pembelajaran apresiasi drama di kelas XI IPS 1 pada hari Senin, 13 Februari
2012 mulai pukul 08.30 WIB. Pelaksanaan pembelajaran apresiasi drama
yang kedua ini dilaksanakan di ruang kelas XI IPS 1, sudah tidak lagi di
laboratorium fisika. Sebelum memulai pembelajaran guru membuka pelajaran
dengan salam dan peserta didik menjawabnya, setelah itu guru menanyakan
kehadiran peserta didik.
Langkah-langkah pembelajaran apresiasi drama yang dilakukan guru
antara lain: 1) Guru melakukan tanya jawab dengan peserta didik terhadap
materi yang diajarkan kemarin tentang adegan, tema, penokohan, alur, setting
dan amanat; 2) Guru dan peserta didik membahas naskah drama “Tanda
Bahaya” dari tema, penokohan, petunjuk lakuan, konflik yang terjadi, alur,
setting, dan amanat; 3) Guru memberikan contoh ekspresi dan dialog orang
yang sedang marah, sedih, dan bahagia; 4) Peserta didik memperhatikan guru
dan mereka tertawa ketika melihat ekspresi dari guru; 5) Guru menunjuk
peserta didik secara acak untuk memerankan tokoh dalam naskah drama
“Tanda Bahaya”, setelah mendapatkan pemeran yang cocok dengan karakter
tokoh di dalam naskah guru menyuruh peserta didik tersebut maju untuk
mementaskan drama tersebut didepan kelas; 6) Peserta didik yang ditunjuk
tersebut maju untuk memeran tokoh di dalam drama; 7) Peserta didik yang
lainnya memerhatikan.
Dalam pelaksanaan pembelajaran apresiasi drama pertemuan kedua
ini, guru menyuruh peserta didik untuk mendemonstrasikan naskah drama
“Tanda Bahaya” di depan kelas. Setelah selesai mendemonstrasikan, guru dan
commit to user
peserta didik yang lainnya memberikan
penilaian terhadap pemeranan tokoh
perpustakaan.uns.ac.id
62
digilib.uns.ac.id
dalam naskah tersebut. Guru dan peserta didik menilai bahwa pemeran belum
menjiwai watak tokoh yang sesuai dengan naskah, ekspresinya masih kurang,
masih terjadi blocking. Kemudian guru memberikan contoh dialog-dialog
yang dirasa masih kurang sesuai dengan naskah. Guru menanyakan kepada
peserta didik apakah ada kesulitan mengenai materi yang diajarkan hari ini
dan peserta didik menjawab “tidak ada, Bu” . Guru memberikan tugas rumah
kepada peserta didik untuk mengerjakan uji kompetensi unit 12 halaman 5658 dalam modul bahasa Indonesia dan akhirnya guru menutup pembelajaran
pada pukul 09.45 WIB dengan mengucapkan salam dan peserta didik
menjawabnya. (CLHP 2)
Berdasarkan dari pelaksanaan pembelajaran apresiasi drama pada
pertemuan yang kedua, peneliti dapat menyimpulkan bahwa Ibu Ami telah
mengikutsertakan peserta didik untuk terlibat langsung sebagai model dalam
memerankan tokoh dalam naskah drama “Tanda Bahaya” meskipun hanya
beberapa peserta didik saja yang ditunjuk. Hasil dari permodelan tersebut
didiskusikan bersama untuk memberikan saran agar ketika berperan nanti
dapat meminimalisir kesalahan. Metode yang digunakan Ibu Ami ketika
mengajar, yaitu metode ceramah, tanya jawab, dan demonstrasi. Evaluasi
yang dilakukan oleh Ibu Ami berupa penilaian sikap dan pemberian tugas.
c. Pengamatan Ketiga
Peneliti melaksanakan pengamatan yang ketiga dalam pelaksanaan
pembelajaran apresiasi drama di kelas XI IPS 1 pada hari Kamis, 16 Februari
2012 mulai pukul 10.15 WIB. Sebelum memulai pembelajaran guru membuka
pelajaran dengan salam dan peserta didik menjawabnya, setelah itu guru
menanyakan kehadiran peserta didik.
Langkah-langkah pembelajaran yang dilakukan: 1) guru menanyakan
tugas rumah yang diberikan pada pertemuan sebelumnya; 2) peserta didik
menjawab “belum selesai Bu”; 3) guru menyuruh peserta didik untuk
melanjutkan mengerjakan tugasnya dengan diberi waktu 10menit; 4) guru dan
peserta didik membahas tugas tersebut bersama-sama; 5) guru menjelaskan
commit to dengan
user
soal-soal tersebut yang dikaitkan
materi; 6) peserta didik
perpustakaan.uns.ac.id
63
digilib.uns.ac.id
mendengarkan penjelasan guru; 7) guru melanjutkan materi kompetensi dasar
(KD) 14.2 menggunakan gerak-gerik, mimik, intonasi, sesuai dengan watak
tokoh dalam pementasan drama; 8) mendengarkan penjelasan guru; 9) guru
menjelaskan mengenai hal-hal yang perlu disiapkan dalam perekaman drama;
10) peserta didik mendengarkan penjelasan guru.
Dalam pelaksanaan pembelajaran apresiasi drama pada pertemuan
yang ketiga ini guru lebih menekankan aspek kognitif peserta didik. Terbukti
dengan pembahasan soal yang kemudian dikaitkan materi apresiasi drama.
Peserta didik secara urut dari belakang disuruh untuk membacakan soal dan
menjawab soal tersebut. Apabila terdapat kesalahan dan perlu penambahan
penjelasan barulah guru memberikan tambahan dan koreksi terhadap soal
tersebut. Setelah selesai menjawab soal guru melanjutkan materi pembelajaran
apresiasi drama berikutnya. Suasana saat pembelajaran merasa jenuh, dapat
dibuktikan adanya peserta didik yang asyik sendiri bahkan tertidur saat guru
menerangkan. Setelah guru menjelaskan mengenai kelompok dalam
perekaman drama peserta didik kembali memerhatikan guru. Guru membagi
kelompok dalam perekaman drama dengan cara diundi. Dalam setiap
kelompok terdiri dari empat anggota dan harus menghasilkan satu produksi
rekaman drama. Guru menanyakan kepada peserta didik “apakah ada yang
protes mengenai kelompoknya?” dan peserta didik menjawab “tidak ada, Bu”
. Guru memberikan tugas rumah kepada peserta didik untuk mengerjakan uji
kompetensi unit 13 halaman 61-63 dalam modul bahasa Indonesia dan
akhirnya guru menutup pembelajaran pada pukul 11.45 WIB dengan
mengucapkan salam dan peserta didik menjawabnya. (CLHP 3)
Berdasarkan dari pelaksanaan pembelajaran apresiasi drama pada
pertemuan yang ketiga, peneliti dapat menyimpulkan bahwa Ibu Ami dalam
mengajarkan materi hari ini terasa menjenuhkan bagi peserta didik. Peserta
didik kurang antusias dalam menerima materi yang disampaikan oleh guru, hal
ini dikarenakan metode mengajar yang dilakukan guru hanya menggunakan
metode ceramah dan tanya jawab. Pertemuan ketiga ini guru sudah mulai
commityang
to user
menentukan kelompok-kelompok
nantinya harus membuat sebuah
perpustakaan.uns.ac.id
64
digilib.uns.ac.id
naskah drama yang berdasarkan pengalamanya untuk kemudian direkaman
dramakan. Batas waktu pengumpulan hasil rekaman drama tersebut pada akhir
bulan Mei 2012. Evaluasi yang digunakan guru dalam pembelajaran apresiasi
drama pertemuan ketiga ini adalah penilaian sikap dan tugas.
d. Pengamatan Keempat
Peneliti melaksanakan pengamatan yang keempat dalam pelaksanaan
pembelajaran apresiasi drama di kelas XI IPS 1 pada hari Senin, 20 Februari
2012 pukul 08.30 WIB. Sebelum memulai pembelajaran guru membuka
pelajaran dengan salam dan peserta didik menjawabnya, setelah itu guru
menanyakan kehadiran peserta didik.
Langkah-langkah pembelajaran yang dilakukan: 1) guru menanyakan
tugas rumah, yaitu uji kompetensi unit 13; 2) peserta didik membuka modul
bahasa Indonesianya; 3) guru dan peserta didik membahas soal-soal tersebut
secara bersama-sama; 4) guru menyuruh peserta didik untuk berkelompok
sesuai dengan ketentuan kemarin; 5) peserta didik berkelompok dengan
anggotanya masing-masing; 6) guru menyuruh peserta didik untuk membaca
dan memahami materi di unit 16 tentang menulis naskah drama; 7) peserta
didik membaca dan memahami materi; 8) guru menjelaskan hal apa saja yang
perlu diperhatikan dalam menulis naskah drama; 9) peserta didik
mendengarkan penjelasan guru dan mencatatnya.
Dalam pelaksanaan pembelajaran apresiasi drama pada pertemuan
yang keempat ini guru melatih peserta didik untuk memuat naskah drama yang
akan diperankan oleh masing-masing kelompok. Pada saat berkelompok,
peserta didik disurh untuk menentukan tema, tema itu sendiri tidak dibatasi
oleh guru, hanya guru menyarankan mengambil tema berdasarkan pengalaman
agar lebih mudah membuat naskahnya. Setelah menentukan tema peserta didik
disuruh membuat urutan ceritanya secara singkat. Kemudian hasil dari diskusi
kelompok dikonsultasikan kepada Ibu Ami untuk diberi saran dan kritik. Bagi
kelompok peserta didik yang belum konsultasi diharapkan pertemuan
selanjutnya untuk konsultasi. Sebelum mengakhiri pertemuan Ibu Ami
commit to user
menanyakan “apakah ada kesulitan?”,
peserta didik menjawab “tidak ada
perpustakaan.uns.ac.id
65
digilib.uns.ac.id
bu”. Ibu Ami, “baik, kalau tidak ada pembelajaran hari ini Ibu akhiri, dan
jangan lupa tugas membuat naskahnya!”. Akhirnya guru menutup
pembelajaran pada pukul 09.45 WIB dengan mengucapkan salam dan peserta
didik menjawabnya. (CLHP 4)
Berdasarkan dari pelaksanaan pembelajaran apresiasi drama pada
pertemuan yang keempat, peneliti dapat menyimpulkan bahwa Ibu Ami dalam
pembelajaran kali ini berbeda dengan pertemuan yang sebelumnya, kali ini
lebih semangat dan peserta didik lebih antusias karena peserta didik disuruh
berkelompok untuk membuat rancangan naskah drama yang akan dipentaskan.
Guru mengajar menggunakan metode ceramah, inkuiri, dan kelompok.
Evaluasi yang digunakan guru adalah penilaian sikap dan penilaian tugas yang
berupa naskah drama.
e. Pengamatan Kelima
Peneliti melaksanakan pengamatan yang keempat dalam pelaksanaan
pembelajaran apresiasi drama di kelas XI IPS 1 pada hari Senin, 27 Februari
2012 pukul 09.15 WIB. Sebelum memulai pembelajaran guru membuka
pelajaran dengan salam dan peserta didik menjawabnya, setelah itu guru
menanyakan kehadiran peserta didik.
Langkah-langkah pembelajaran yang dilakukan: 1) guru memberikan
pengumuman tentang pengumpulan naskah drama pada akhir bulan April dan
pengumpulan rekaman drama pada akhir bulan Mei dalam bentuk kepingan
CD; 2) peserta didik mendengarkan dan mencatat pengumuman dari guru; 3)
guru menyuruh peserta didik membaca meteri yang terdapat di unit 17 dalam
modul bahasa Indonesia; 4) peserta didik membaca dan memahami materi
yang tertulis dalam unit 17; 5) guru menjelaskan materi yang terdapat di unit
17 tentang hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penulisan naskah drama dan
elemen-elemen yang terkandung dalam sebuah dialog; 6) peserta didik
mendengarkan penjelasan guru; 7) guru menyuruh pesert didik berkelompok
dan melanjutkan tugas menulis naskah drama; 8) peserta didik berkelompok
dan mengerjakan tugas untuk menulis naskah drama yang nantinya akan
commit to user
dipentaskan.
66
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Dalam pelaksanaan pembelajaran apresiasi drama untuk pertemuan
kelima, merupakan pertemuan terakhir guru mengingtakan peserta didik
kembali tentang pengumpulan naskah dan pengumpulan rekaman dramanya.
Kemudian dilanjutkan guru menerangkan tentang prolog, dialog, epilog,
tokoh, percakapan dan kramagung dalam sebuah naskah drama. Setelah itu
guru menyuruh peserta didik untuk melanjutkan dalam penulisan naskah
drama. Peserta didik banyak yang melakukan konsultasi kepada guru sehingga
kemungkinan cerita dan konflik yang terdapat dalam naskah dipastikan
kelompok satu dengan kelompok yang lainnya berbeda. Guru kembali
menekankan bahwa pengumpulan hasil rekaman dramanya tidak boleh ada
yang terlambat karena akan digunakan sebagai nilai akhir untuk kompetansi
apresiasi drama. Sebelum mengakhiri pertemuan Ibu Ami menanyakan
“apakah ada kesulitan?”, peserta didik menjawab “tidak ada bu”. Ibu Ami,
“baik, kalau tidak ada pembelajaran hari ini Ibu akhiri, kalau ada kesulitan
silahkan bertanya dan temui Ibu di kantor!”. Akhirnya guru menutup
pembelajaran pada pukul 10.45 WIB dengan mengucapkan salam dan peserta
didik menjawabnya. (CLHP 5)
Berdasarkan dari pelaksanaan pembelajaran apresiasi drama pada
pertemuan yang kelima, peneliti dapat menyimpulkan bahwa Ibu Ami telah
mengakhiri pembelajaran tentang materi apresiasi drama pada hari ini. Tugas
penulisan naskah dan perekaman dramanya diserahkan kepada peserta didik
masing-masing kelompok. Metode mengajar Ibu Ami menggunakan metode
ceramah, berkelompok. Evaluasi yang digunakan Ibu Ami pengamatan
keaktifan peserta didik dan hasil akhir dari perekaman drama.
3.
Pelaksanaan Pementasan Drama di Kelas XI IPS 1
SMA Negeri Karangpandan
Dalam pelaksanaan pementasan Drama di kelas XI IPS 1 SMA
Karangpandan tidak dilaksanakan di dalam kelas. Drama yang diperankan oleh
peserta didik termasuk jenis drama televisi. Hal ini sesuai dengan apa yang
commit
to user oleh peneliti sebagai berikut.
diungkapkan oleh Ibu Ami pada saat
diwawancarai
67
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
ee.. Begini ya mbak,, di SMA Negeri Karangpandan ini kurang lebih tiga
atau empat tahun yang lalu sudah tidak melakukan pementasan drama di
kelas, melainkan membuat sebuah rekaman drama/drama televisi.(CLHW1)
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru bahasa Indonesia kelas XI
IPS1 dapat disimpulkan bahwa bermain peran yang dilaksanakan di SMA Negeri
karangpandan bukan lagi drama panggung melainkan drama televisi. Jumlah
peserta didik di Kelas XI IPS 1 adalah tiga puluh dua orang peserta didik, sebelum
bermain peran, guru membagi kelompok menjadi delapan kelompok secara diundi
yang beranggotakan empat orang peserta didik tiap kelompok.
Setiap kelompok diwajibkan untuk membuat naskah drama yang sesuai
dengan pengalamannya. Setelah naskah jadi, peserta didik mengkonsultasikan
hasil pembuatan naskahnya kepada guru untuk diberi saran dan kritik yang
membangun agar ceritanya tidaksama dengan kelompok yang lain. Kemudian
setelah naskah sudah jadi peserta didik dengan kelompoknya mulai berlatih
reading naskah untuk menentukan pemeran yang cocok dengan karakter dalam
naskah drama tersebut. Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Kristy
pada saat diwawancarai oleh peneliti sebagai berikut.
kelompok saya mengangkat tema tentang perjuangan guru honorer, mbak.
Pembuatan naskahnya dikerjakan bersama-sama, terus dikumpulkan kepada
Bu Ami untuk mendapatkan saran, kritik. Setelah naskah selesai saya dan
kelompok saya latihan reading pas waktu istirahat gitu mbak. Kalo latihan
gerak-gerik, mimik, bloking itu setelah pulang sekolah mbak, pada hari
Jumat dan Sabtu. (CLHW 2)
Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu peserta didik kelas XI
IPS1 dapat disimpulkan bahwa tema yang diangkat dalam naskah drama berupa
pengalaman peserta didik dalam kelompok tersebut terhadap perjuangan guru
honorer. Setelah naskah selesai mereka mengkonsultasikan kepada Bu Ami untuk
mendapatkan masukan. Kemudian mereka latihan reading pada waktu jam
istirahat. Selanjutnya, dari proses reading ditentukan peran yang sesuai dengan
karakter yang terdapat dalam naskah. Latihan ekspresi, gerak dan bloking mereka
lakukan setelah pulang sekolah terutama pada hari Jumat dan Sabtu.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
68
digilib.uns.ac.id
Pengambilan video drama dilakukan peserta didik setelah mereka benarbenar sudah yakin terhadap aktingnya. Hal ini dikarenakan agar tidak banyak
kesalahan teknis dalam pengambilan video. Dalam pengambilan video ini, mereka
tidak menggunakan handycam melainkan camera digital. Pihak sekolah pun tidak
menyediakan peralatan yang menunjang untuk pembuatan drama televisi atau
rekaman drama ini, sehingga peserta didik melakukan semuanya sendiri. Proses
pengeditan drama televisi atau rekaman drama ini yang masih menjadikan momok
kabanyakan peserta didik. Hal ini dikarenakan, dalam pembelajaran Teknologi
Informasi Komunikasi tidak memberikan teori atau praktik tentang pengeditan
sebuah rekaman drama. Sehingga peserta didik masih kesulitan
dalam hal
pengeditan rekaman drama.
4.
Kendala dan Upaya yang Dilakukan Guru dalam Pembelajaran
Apresiasi Drama di Kelas XI IPS 1 SMA Negeri Karangpandan
a. Kendala-kendala yang Dihadapi Guru dalam Pembelajaran Apresiasi
drama di Kelas XI IPS 1 SMA Negeri Karangpandan
Pelaksanaan pembelajaran apresiasi drama yang terjadi di kelas XI IPS 1
SMA Negeri Karagpandan pada dasarnya berjalan lancar. Akan tetapi,
pembelajaran apresiasi drama yang dilaksanakan masih memiliki kendalakendala. Adapun kendala-kendala yang dihadapi guru dalam pelaksanaan
pembelajaran apresiasi drama tertuang pada pernyataan guru bahasa Indonesia,
Ibu Ami sebagai berikut.
kendalanya adalah tidak semua peserta didik itu senang dengan bermain
peran, mungkin malu, atau takut tapi kebanyakan peserta didik malu. Terus,
dalam satu kelompok itu ada yang malas latihan atau tidak mau latihan.
Kemudian fasilitas mbak, terutama untuk kondisi kelas-kelas di SMA
Karangpandan belum semuanya menyediakan fasilitas yang saya inginkan,
misalnya LCD. Selanjutnya kendala yang lain ketika mereka membuat
drama televisi, nah, itu angan-angan dan kenyataan berbeda, belum bisa
mengedit, jadi sering kali naskahnya bagus, ketika mau dibuat dalam proses
produksi di televisi mereka kesulitan. Kemudian di semester dua ini waktu
pembelajaran untuk apresiasi drama sangat terbatas mbak. Waktu-waktu itu
kesita dengan hari libur untuk
latihan
commit
to ujian
user akhir nasional, ujian praktik, dan
69
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
ujian akhir nasional, dan belum lagi adanya study tour juga yang
menyebabkan pembelajaran apresiasi drama dengan banyak indikator yang
harus dicapai peserta didik dilaksanakan dengan waktu seminimal mungkin
mengingat materi yang harus diajarkan masih banyak. Kalau masalah materi
drama ini saya menerangkan sesuai dengan yang di modul bahasa Indonesia
itu mbak.(CLHW 1)
Berdasarkan pernyataan di atas dapat disimpulkan kendala-kendala yang
dihadapi oleh guru dalam pembelajaran apresiasi drama terlihat dari beberapa segi
antara lain:
1) Peserta didik
Pada saat peserta didik diperintah untuk berakting di depan kelas maupun
pada saat latihan drama dengan kelompoknya masih malu-malu atau takut
kalau saja tidak sesuai dengan karakter yang diharapkan. Selain itu, masih
ada beberapa peserta didik yang tidak mengerjakan tugas yang diberikan
guru dipertemuan sebelumnya sehingga pembelajaran apresiasi drama
menjadi terhambat.
2) Fasilitas
Di SMA Negeri Karangpandan belum mempunyai Laboratorium bahasa.
Selain itu di kelas-kelas, terutama kelas XI IPS 1 belum terdapat LCD
yang
dibutuhkan
guru
untuk
membantu
menyampaikan
materi
pembelajaran apresiasi drama kepada peserta didik. Di sekolah juga belum
memfasilitasi peralatan untuk pengambilan video guna perekaman drama
oleh peserta didik.
3) Waktu
Jam pelajaran mata pelajaran bahasa Indonesia di SMA Negeri
Karangpandan setiap minggunya terdapat dua kali pertemuan dengan
alokasi waktu 2 kali 45 menit setiap pertemuannya. Apabila waktu tersebut
dihadapkan dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar serta
indikator yang harus dicapai peserta didik sangatlah kurang, khusus
pembelajaran apresiasi drama menutut praktik lebih banyak dibandingkan
teori. Selain itu, di semester dua ini banyak hari libur yang menyita banyak
commit to user
waktu.
perpustakaan.uns.ac.id
70
digilib.uns.ac.id
4) Bahan dan Materi Ajar
Sumber atau materi ajar yang digunakan guru mengacu pada modul bahasa
Indonesia (LKS) yang kandungan materinya masih kurang mendukung
dalam pembelajaran apresiasi drama. Dasar teori yang terkandung di
dalamnya sedikit dan banyak latihan soal. Selain itu, peserta didik tidak
mendapatkan ilmu pengetahuan tentang pengeditan rekaman drama dalam
pembelajaran TIK.
b. Upaya yang dilakukan Guru untuk Mengatasi Kendala dalam
Pembelajaran Apresiasi drama di Kelas XI IPS 1 SMA Negeri
Karangpandan
Upaya-upaya untuk mengatasi kendala-kendala dalam pembelajaran
Bahasa Indonesia terutama dalam pembelajaran apresiasi drama perlu dilakukan
untuk memaksimalkan kualitas proses dan hasil pembelajaran Berikut adalah
upaya-upaya yang dilakukan oleh guru di SMA Negeri Karangpandan (Ibu Ami)
untuk mengatasi kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pembelajaran
apresiasi drama yang tertuang dalam pernyataan hasil wawancara berikut.
cara saya untuk mengatasi kendala peserta didik yang takut dan malu
berakting tadi dengan cara memberikan motivasi dan arahan-arahan agar
mereka semangat untuk mengikuti pelajaran dan tidak malu-malu lagi.
Misalnya dengan menjelaskan maksud dan tujuan pembelajaran apresiasi
drama serta maanfaat yang akan di dapatkan. Untuk mengatasi fasilitas
sekolah dan kelas yang kurang mendukung saya mengajak peserta didik
belajar di ruang laboratorium fisika ketika melihat rekaman drama, selain itu
pembelajaran di kelas seperti biasa. Peserta didik membuat rekaman
dramanya saya bebaskan untuk meminjam alat untuk mengambil dengan
handycam, camera digital, atau pun hand phone, karena di sekolah belum
menyediakan. Masalah waktu yang kurang ini, saya dikelas kebanyakan
memberikan materi, untuk praktiknya tidak memungkinkan, maka peserta
didik saya suruh untuk latihan mandiri dengan kelompoknya di luar KBM,
mbak. Kemudian untuk materi, di sekolah sudah membagikan buku paket
BSE kepada peserta didik, namun itu masih kurang lengkap untuk itu saya
menyuruh peserta didik untuk browsing sendiri di internet tentang materi
apa yang belum dipahami baru nanti kalau masih belum paham saya bantu.
(CLHW 1)
Berdasarkan pernyataan di atas dapat disimpulkan upaya-upaya yang
commit to user
dilakukan oleh guru dalam pembelajaran apresiasi drama antara lain:
71
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
1) Peserta didik
Guru memberikan motivasi agar peserta didik semangat mengikuti
pembelajaran dan tidak malu-malu untuk berakting dengan menjelaskan
tujuan dan manfaat mempelajari materi sekaligus praktik dalam apresiasi
drama. Selain itu, guru memberikan kelonggaran waktu untuk
mengerjakan tugas tersebut di kelas. Akan tetapi kalau hal tersebut terjadi
berulang-ulang guru akan memberikan sanksi kepada peserta didik
tersebut.
2) Fasilitas
Guru dalam menjelaskan materi apresiasi drama menggunkan fasilitas
kelas yang ada, namun ketika guru ingin memutarkan contoh rekaman
drama hasil karya kakak kelas mereka, Beliau harus meminjam ruang
laboratorium fisika yang telah difasilitasi LCD dan proyektor, sedangkan
laptop dan speakernya pinjam kepada guru lain. Peralatan untuk
pengambilan rekaman drama diserahkan kepada peserta didik itu sendiri.
3) Waktu
Dalam mengefektifkan waktu, guru memberikan penjelasan materi drama
secara singkat, padat, dan jelas dan untuk bermain perannya guru
menyerahkan semuanya kepada peserta didik yang dilakukan di luar
KBM. Guru hanya memantau peserta didik dengan cara menanyai
perkembangan bermain peran dan terima jadi dari hasil perekaman drama
tersebut.
4) Bahan dan Materi Ajar
Solusi mengenai keterbatasan materi yang dialami adalah guru dan
peserta didik mencari materi ajar dari sumber lain, misalnya dari buku
drama yang berkaitan dengan materi, misalnya buku Terampil Bermain
Peran karya Asul Wiyanto atau dari sumber-sumber lain di internet.
Selain itu, peserta didik mencari ilmu sendiri tentang pengeditan rekaman
drama.
commit to user
72
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
B. PEMBAHASAN
1.
Perencanaan Pembelajaran Apresiasi Drama di Kelas XI IPS 1
SMA Negeri Karangpandan
Berdasarkan hasil pengamatan, pengolahan data dan wawancara dari
narasumber yang bersangkutan dapat diambil kesimpulan bahwa perencanaan
pembelajaran apresiasi drama di kelas XI IPS 1 SMA Negeri Karangpandan,
antara lain:
a. Silabus
Silabus mata pelajaran bahasa Indonesia kelas XI IPS 1 SMA Negeri
Karangpandan disusun oleh tim Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP)
se-kabupaten Karanganyar. Dalam perencanaan pembelajaran, silabus
berfungsi sebagai acuan/pedoman bagi pengembangan perencanaan yang lebih
lanjut, yaitu dalam penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
Menurut peneliti, silabus yang digunakan guru sudah sesuai dengan
format yang di standarkan oleh BSNP yang terdiri dari, Standar Kompetensi
(SK), Kompetensi Dasar (KD), materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran,
indikator pencapaian, penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat.
Standar kompetansi (SK) dalam kaitannya dengan pembelajaran apresiasi
drama mencakup dua aspek keterampilan berbahasa, yaitu mengungkapkan
wacana sastra dalam bentuk pementasn drama (berbicara) dan menulis naskah
drama (menulis). Kompetensi dasar (KD) yang terdapat dalam standar
kompetansi pembelajaran apresiasi drama, yaitu terdapat empat kompetensi
tertulis secara implisit, namun keempat kompetensi tersebut dapat tercapai.
Keempat KD tersebut, yaitu 1) mengekspresikan dialog para tokoh dalam
pementasan drama; 2) menggunakan gerak-gerik, mimik, dan intonasi, sesuai
dengan watak tokoh dalam pementasan drama; 3) mendeskripsikan perilaku
manusia melalui dialog naskah drama; 4) menarasikan pengalaman manusia
dalam bentuk adegan dan latar pada naskah drama.
commit to user
73
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Materi pokok pembelajaran apresiasi drama yang terdapat dalam
silabus, antara lain: 1) penghayatan watak; 2) pengekspresian dialog; 3) gerakgerik; 4) mimik; 5) intonasi; 6) unsur-unsur drama (tema, penokohan, konflik).
Selanjutnya, kegiatan pembelajarannya meliputi: 1) membaca dan memahami
teks drama; 2) menghayati watak tokoh; 3) mengekspresikan dialog para
tokoh; 3) mendiskusikan dialog para tokoh dalam drama; 4) memerankan
drama; 5) menulis naskah drama; 6) mendeskripsikan perilaku manusia
melalui dialog; 7) menghidupkan konflik; 8) memunculkan penampilan; 9)
mendaftar pengalaman sendiri yang menarik; 10) menarasikan pengalaman
sendiri dalam bentuk adegan drama; 11) menghadirkan latar yang mendukung
adegan.
Indikator pencapaian dalam apresiasi drama yang terdapat pada
silabus, antara lain: 1) menghayati watak tokoh yang akan diperankan; 2)
mengekspresikan dialog para tokoh dalam pementasan drama; 3) menanggapi
penampilan dialog para tokoh dalam pementasan drama; 4) memerankan
drama dengan memperhatikan penggunaan lafal, intonasi, nada/tekanan,
mimik/gerak-gerik yang tepat sesuai dengan watak tokoh; 5) menanggapi
peran yang akan ditampilkan dalam pementasan drama; 6) menuliskan teks
drama dengan menggunakana bahasa yang sesuai untuk mendeskripsikan
perilaku manusia melalui dialog; 7) menghidupkan konflik, memunculkan
penampilan (performance); 8) mendaftar pengalaman sendiri yang menarik; 9)
menarasikan pengalaman sendiri dalam bentuk adegan drama.
Penilaian apresiasi drama yang terdapat dalam silabus berupa: 1)
jenis tagihan yang terdiri berupa tugas individu dan tugas kelompok; 2) bentuk
instrumen yang berupa uraian bebas. Kemudian alokasi yang terdapat dalam
silabus
enam
belas
kali
empat
puluh
lima
menit.
Selanjutnya,
sumber/bahan/alat berupa buku drama.
Selain poin-poin di atas terdapat tambahan komponen yang
menggambarkan silabus berkarakter, yaitu terdapat nilai budaya dan karakter
bangsa, yang berupa bersahabat/komunikasi dan mandiri; tercantum juga
commit
to user kepemimpinan. Namun menurut
kewirausahaan/ekonomi kreatif
yang berupa
74
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
peneliti masih terdapat ketidaksesuaian dalam silabus yang mencantumkan
kewirausahaan/ekonomi kreatif yang berupa kepemimpinan, karena dalam
pencapaian indikator tidak menggambarkan hal kepemimpinan.
b. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Berdasarkan temuan penelitian yang dilakukan oleh peneliti, sudah
terdapat relevansi antara SK, KD, indikator pencapaian, namun tidak
tercantum tujuan pembelajaran dalam RPP. Selain itu, waktu yang digunakan
guru untuk menyampaikan meteri apresiasi drama tidak sesuai dengan waktu
yang ditentukan di RPP dan silabus. Pengukuran KD juga sudah relevan yang
terlihat dalam pencapaian indikator yang mencakup isi dari materi yang
disampaikan.
RPP ini disusun sesuai dengan pendidikan yang berkarakter seperti
yang tercantum dalam silabus, yaitu terdapat nilai budaya dan karakter bangsa,
yang
berupa
bersahabat/komunikasi
dan
mandiri;
tercantum
juga
kewirausahaan/ekonomi kreatif yang berupa kepemimpinan. Namun menurut
peneliti
masih
terdapat
ketidaksesuaian
dalam
mencantumkan
kewirausahaan/ekonomi kreatif yang berupa kepemimpinan, karena dalam
pencapaian indikator tidak menggambarkan hal kepemimpinan.
Materi pembelajaran telah memuat sebagaian besar bersifat fakta,
konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan dan ditulis dalam bentuk butirbutir yang sesuai dengan tujuan dan indikator pencapaian kompetensi. Materi
ajar yang digunakan Ibu Ami mengajar sesuai dengan RPP. Misalnya dalam
KD mengekspresikan dialog para tokoh dalam pementasan drama, butir-butir
teorinya terdiri dari: 1)teks drama; 2) pengertian aktor; 3) persiapan sebelum
pementasan; 4) macam-macam latihan mengekspresikan dialog tokoh drama;
5)pengekspresian dialog para tokoh dalam pementasan drama; 6)penghayatan
watak tokoh dalam pementasan drama; 7) tanggapan penampilan dialog para
tokoh dalam pementasan drama.
Berdasarkan materi pembelajaran di atas peneliti mengambil
kesimpulan kurang spesifiknya butir-butir materi pembelajaran. Hal ini terlihat
commit to guru
user menyebutkan judul teks drama
pada poin 1) teks drama, seharusnya
75
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
tersebut “Tanda Bahaya”. Kemudian pada poin 3) persiapan sebelum
pementasan, seharusnya lebih dipersempit lagi dengan membagi ke dalam sub
poin. Selanjutnya, pada poin 4) macam-macam latihan mengekspresikan
dialog tokoh drama, seharusnya macam-macamnya disebutkan sekalian.
Kemudian pada poin 5) penghayatan watak tokoh, seharusnya didahului
menjelaskan jenis-jenis watak tokoh dalam drama.
Dalam pembelajaran apresiasi drama guru menggunakan tiga strategi
pembelajaran, yaitu strategi tatap muka, terstruktur dan mandiri. Pada strategi
tatap muka guru menekankan pada pemahaman wacana, sedangkan strategi
terstruktur digunakan guru untuk menjelaskan materi pokok pembelajaran, dan
strategi mandiri guru gunakan untuk lebih cenderung ke suatu hal yang
bersifat operasional.
Pada kegiatan pembelajaran yang terdiri dari tiga bagian, yaitu
(1)pembukaan, yang di dalamnya terdapat apersepsi; (2) inti, yang di
dalamnya terdiri dari eksplorasi, elaborasi,dan konfirmasi; (3) penutup, yang
di dalamnya terdapat internalisasi dan persepsi. Dalam RPP ini, tidak
dituliskan
pembagian
alokasi
waktunya
di
setiap
langkah-langkah
pembelajaran. Hal ini dapat mempersulit guru untuk memperkirakan lamanya
waktu dalam mengkondisikan kegiatan pembelajaran apresiasi drama.
Sumber belajar yang digunakan guru dalam pembelajaran sudah
inovatif, namun masih terdapat kekurangan. Pustaka rujukan yang digunakan
guru masih ada yang tahun penerbitannya di bawah tahun 2000. Materi yang
berupa rekaman pengajaran drama ketika pembelajaran drama tidak
diputarkan, yang diputarkan hanya hasil rekaman drama angkatan sebelumnya
dan itu pun tidak diberi tema atau judul dari rekaman drama tersebut. Sumber
belajar yang diambil dari media cetak juga tidak terinci nama majalah/koran
yang diambil. Pada website internet juga tidak dicantumkan alamat website
yang bisa dibrowsing. Narasumber yang berupa dramawan, pemain
sinetron/film juga tidak disebutkan namanya, seharusnya disebutkan namanya.
Metode pembelajaran yang digunakan guru dalam pembelajaran
commit
to user
apresiasi drama cukup bervariasi.
Metode-metode
yang sudah ditentukan guru
perpustakaan.uns.ac.id
76
digilib.uns.ac.id
di RPP dapat membantu guru untuk lebih mudah menerangkan materi dan
menciptakan suasana kelas yang kondusif. Dalam pembelajaran apresiasi
drama ini guru menggunakan metode yang bermodel contexstual teaching and
learning (CTL) dan metode yang digunakan inquairy, diskusi kelompok
(learning community), demonstrasi (modelling), dan ceramah.
Prosedur dan instrumen penilaian proses dan hasil belajar sudah
disesuaikan dengan indikator pencapaian. Penilaian hasil belajar dalam RPP
yang digunakan guru merupakan pengembangan dari silabus, antara lain:
a). teknik dan bentuk
tes lisan/tes tertulis, observasi kinerja/demonstrasi,
tagihan hasil karya/produk: tugas, proyek, portofolio
pengukuran sikap, penilaian diri
b). instrumen/soal
Daftar pertanyaan lisan tentang fungsi dialog dalam drama dan cara
mengekspresikan dialog dalam drama.
Tugas/perintah untuk melakukan persiapan, latihan, pementasan, dan
tanggapan penampilan dialog dalam drama.
Daftar pertanyaan uji kompetensi dan kuis uji teori untuk mengukur
tingkat pemahaman peserta didik terhadap teori dan konsep yang sudah
dipelajari.
Evaluasi yang dilakukan oleh Ibu Ami dalam pembelajaran apresiasi
drama terdapat tiga macam penilaian, yaitu secara tertulis/lisan, rubrik
pengamatan dan penugasan. Penilaian tertulis dan lisan digunakan guru untuk
mengetahui tingkat pemahaman peserta didik terhadap materi apresiasi drama.
Rubrik pengamatan digunakan guru untuk memberikan penilaian terhadap
keaktifan peserta didik selama proses pembelajaran. Penilaian proyek untuk
memberikan penilaian terhadap hasil produksi rekaman drama peserta didik.
Akan tetapi, format penghitungan penilaian belum disertakan hanya berupa
rubrik penilaian saja yang terdapat di RPP yang disertai skor. Format-format
penilaian dan penskoran harusnya disertakan ketika membuat RPP.
commit to user
77
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
2.
Pelaksanaan Pembelajaran Apresiasi Drama di Kelas XI IPS 1
SMA Negeri Karangpandan
Pelaksanaan pembelajaran apresiasi drama yang dilakukan guru di kelas
XI IPS1 telah sesuai dengan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)
yang telah dibuat oleh guru tersebut. Dalam pelaksanaan pembelajaran apresiasi
drama terdapat komponen-komponen yang terlibat, antara lain:
a. Guru
Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara oleh peneliti mengenai
pelaksanaan pembelajaran apresiasi drama yang dilaksanakan guru di kelas
dan beberapa peserta didik sebagai informan mengenai cara guru mengajarkan
materi apresiasi drama dapat dikatakan variatif, yaitu menggunakan model
contexstual teaching and learning (CTL) dan metode yang digunakan sudah
inovatif.
Dalam proses pembelajaran guru menyampaikan materi sesuai
tuntutan yang terdapat dalam RPP. Penggunaan model CTL oleh guru
mengakibatkan suasana kelas tidak terasa menjenuhkan. Apalagi ketika guru
mengajak peserta didik melihat rekaman drama di laboratorium fisika, peserta
didik terlihat antusias sekali dalam mengikuti pembelajaran. Penilaian peserta
didik terhadap proses mengajar guru sudah baik, kreatif dan menyenangkan.
b. Peserta didik
Dalam pelaksanaan pembelajaran apresiasi drama ini peserta didik
dituntut untuk lebih aktif, tidak hanya sekedar menerima, menurut, dan pasrah
terhadap segala materi yang disampaikan oleh guru. Di kelas XI IPS 1 terdapat
tiga puluh dua peserta didik yang terdiri perempuan tiga belas orang dan lakilaki berjumlah sembilan belas orang, untuk lebih rinci dapat dilihat dalam
lampiran.
Pada waktu pembelajaran apresiasi drama di kelas, peserta didik
terlihat antusias mengikuti pelajaran yang sedang berlangsung, meskipun
terdapat beberapa peserta didik yang kurang antusias. Peserta didik dapat
bekerja sama dengan baik dengan guru sehingga materi yang disampaikan
commit to
user Hal ini diketahui oleh peneliti
guru dapat dengan mudah dipahami
olehnya.
perpustakaan.uns.ac.id
78
digilib.uns.ac.id
pada saat melakukan pengamatan pembelajaran apresiasi drama di kelas
sebagai partisipan pasif.
Bagi peserta didik yang tertarik dan antusias dalam pembelajaran
drama dikarenakan dapat berlatih berekspresi mengeksplorasikan kemampuan
ke dalam dialog dan gerak-gerik dalam drama, serta menjadi artis dadakan
meskipun dilingkup yang sempit. Lain halnya dengan peserta didik yang
kurang antusias terhadap pembelajaran apresiasi drama dikarenakan mereka
takut, malu, kesulitan menghafal naskah dan susah untuk berimprovisasi.
c. Tujuan Pembelajaran
Berdasarkan hasil analisis data yang berupa RPP oleh peneliti, guru
belum mencantumkan tujuan pembelajaran apresiasi drama di dalam RPP.
Akan tetapi berdasarkan pengamatan peneliti tentang proses belajar mengajar
di kelas guru menyampaikan tujuan pembelajaran apresiasi drama, yaitu
peserta didik mampu menghayati watak tokoh yang akan diperanka; peserta
didik mampu mengekspresikan dialog para tokoh dalam pementasan drama;
dan peserta didik mampu memberikan tanggapan terhadap penampilan
pemeran dalam pementasan drama. Seharusnya guru juga menuliskan tujuan
pembelajaran tersebut ke dalam RPP.
Dalam pelaksanaan pembelajaran apresiasi drama kelas XI di SMA
Negeri Karangpandan, tidak menuju pada pementasan drama panggung
malainkan drama televisi/rekaman drama. Hal ini menjadikan pembelajaran
apresiasi drama yang diharapkan oleh Ibu Ami bahwa peserta didik mampu
memproduksi sebuah rekaman drama sendiri tidak hanya bermain peran dan
menulis naskah drama.
d. Isi Pelajaran
Penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di SMA
Negeri Karangpandan memberikan kesempatan guru untuk memilih dan
mengembangkan materi pembelajaran sesuai dengan situasi dan kondisi
sekolah masing-masing. Selain itu, pemilihan dan pengembangan materi
pembelajaran yang digunakan guru juga disesuaikan dengan silabus.
commit to user
79
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Buku modul/Lembar Kegiatan Siswa (LKS) merupakan buku materi
yang dimiliki oleh seluruh guru SMA Negeri se-kabupaten Karanganyar
karena buku tersebut merupakan kesepakatan MGMP. Meskipun demikian,
guru tidak hanya menjadikan LKS sebagai satu-satunya referensi materi
pembelajaran apresiasi drama. Guru ternyata juga mengambil materi
pembelajaran dari internet dan buku-buku dengan alasan terkadang materi
yang termuat dalam LKS atau internet masih kurang sehingga guru mencari
buku-buku lain untuk melengkapi referensi materi pembelajaran apresiasi
drama selain untuk memperkaya pengetahuan pribadi guru.
Dengan demikian, dapat diketahui bahwa pemilihan materi
pembelajaran apresiasi drama di SMA Negeri Karangpandan yang utama
adalah disesuaikan dengan silabus dan RPP yang digunakan. Selanjutnya,
materi-materi pembelajaran yang ada perlu disesuaikan dengan kebutuhan
atau visi dan misi masing-masing sekolah. Selain itu, sumber materi
pembelajaran apresiasi drama juga tidak hanya mengacu dari satu sumber saja
melainkan menggunakan beragam sumber, baik dari buku teks maupun
internet.
e. Metode
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan peneliti,
metode pembelajaran apresiasi drama yang dipakai guru (Ibu Ami) termasuk
sudah inovatif. Pada saat pembelajaran apresiasi drama berlangsung Ibu Ami
menggunakan metode ceramah, inquiry, permodelan, tanya jawab, diskusi,
dan penugasan. Metode-metode tersebut dipilih Ibu Ami karena menurut
hemat beliau metode tersebut sesuai dengan materi dan dapat mempermudah
proses belajar mengajar di dalam kelas.
Penggunaan
metode
ceramah
yang
dilakukan
guru
untuk
menyampaikan materi yang berhubungan dengan apresiasi drama. Metode
inquiry digunakan oleh guru untuk mengetahui keaktifan peserta didik untuk
mencari dan menemukan informasi dalam materi apresiasi drama. Metode
permodelan digunakan oleh guru karena dapat membantu guru, misalnya
to user
untuk percontohan berakting.commit
Metode
tanya jawab untuk mempermudah
80
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
terjadinya komunikasi antara guru dengan peserta didik. Metode penugasan
untuk memberikan tugas kepada peserta didik guna mengetahui aspek,
kognitif, afektif, dan psikomotorik peserta didik.
f. Media
Pada saat pertemuan perdana pembelajaran apresiasi drama guru
bahasa Indonesia, yaitu Ibu Ami sudah menggunakan media elektronik saat
mengajar, terutama saat memperlihatkan contoh rekaman drama yang dibuat
oleh peserta didiknya yang kini kelas XII. Beliau mengajak peserta didik ke
laboratorium fisika yang di sana terdapat LCD dan proyektor, sedangkan
laptop, speaker, dan rekaman drama dibawa oleh guru dari kantor, yang telah
dipersiapkan sebelumnya. Pertemuan kedua samapi pertemuan kelima tentang
pembelajaran apresiasi drama dilaksanakan di kelas XI IPS 1 dan media yang
digunakan guru berupa papan tulis dan spidol.
g. Evaluasi
Dalam pembelajaran apresiasi drama guru melakukan evaluasi secara
tertulis, format pengamatan dan penugasan. Evaluasi pembelajaran apresiasi
drama dalam bentuk tertulis dilaksanakan dalam bentuk ulangan harian
(penilaian hasil). Evaluasi format pengamatan digunakan guru untuk menilai
keaktifan peserta didik dalam berekspresi, melakukan gerak-gerik, mimik,
intonasi, adegan saat proses bermain drama (penilaian proses). Evaluasi
penugasan, guru lakukan untuk mengambil penilaian dari hasil perekaman
drama (penilaian hasil).
3.
Pelaksanaan Pementasan Drama di Kelas XI IPS 1
SMA Negeri Karangpandan
SMA Negeri Karangpandan sudah sejak tiga tahun yang lalu dalam
pelaksanaan pementasan drama tidak di ruang kelas atau sering disebut
pementasan drama panggung melainkan drama televisi. Wujud dari drama televisi
ini berupa rekaman pementasan yang dilakukan oleh peserta didik. Persiapan yang
dilakukan guru dalam menghantarkan peserta didik ke dalam proses produksi
commit to user
antara lain:
perpustakaan.uns.ac.id
81
digilib.uns.ac.id
a. Pembentukan Kelompok
Pembentukan kelompok ini dilakukan oleh guru dengan cara mengundi
peserta didik. Jumlah peserta didik di kelas XI IPS 1 adalah tiga puluh dua
orang yang dibagi menjadi delapan kelompok dan setiap kelompok
beranggotakan empat orang. Awal pembentukan guru memanggil sekretaris
untuk menuliskan nomor satu sampai delapan di papan tulis, kemudian peserta
didik dipanggil urut nomor absen untuk mengambil undian dapat nomor
berapa, setelah itu melaporkan kepada sekretaris untuk ditulis namanya sesuai
dengan nomor yang diperolehnya. Hal ini dilakukan guru agar adil dan tidak
terkesan pilih-pilih.
b. Penulisan Naskah
Peserta didik telah terbagi sesuai dengan kelompoknya masing-masing.
Langkah selanjutnya adalah proses penulisan naskah. Sebelum kelompok
menulis naskah, didahului dengan penentuan tema. Guru menyarankan
pengambilan tema berdasarkan pengalaman saja agar mudah menyusun
naskahnya. Setelah penentuan tema, peserta didik dibimbing untuk
menuliskan synopsis naskah dramanya nanti seperti apa. Selanjutnya
penyusunan dialog dan pemberian petunjuk lakuan dalam naskah drama.
Setelah naskah selesai, peserta didik mengkonsultasikan naskah tersebut
kepada guru untuk mendapatkan penilaian. Kemudian setelah naskah sudah
benar-benar siap untuk diperankan, peserta didik barulah memerankan naskah
drama yang mereka buat tersebut.
c. Proses Latihan
Proses latihan ini diserahkan sepenuhnya oleh guru kepada peserta didiknya.
Latihan yang dilakukan peserta didik cukup lama hampir tiga bulan. Peserta
didik mengawali latihan drama dengan proses reading guna menentukan
tokoh yang sesuai dengan naskah yang dibuatnya. Proses reading mereka
lakukan di sela-sela waktu pelajaran, yaitu ketika jam istirahat. Proses reading
ini memakan waktu cukup lama hampir dua bulan karena dilakukan hanya
pada waktu istirahat saja. Setelah dialog-dialognya lancar, mereka mencoba
commit
user
latihan vokal, intonasi, ekspresi,
dan togerak-gerik
yang mereka lakukan pada
82
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
hari Jumat setelah ibadah sholat Jumat dan hari Sabtu setelah pulang sekolah.
Setelah mereka mendapatkan vokal, intonasi, ekspresi, gerak-gerik yang
sesuai, mereka mencoba melibatkan properti yang akan digunakan dalam
drama televisinya nanti supaya terbiasa.
d. Proses Perekaman Drama
Proses perekaman drama ini mengahabiskan waktu kurang lebih dua minggu
untuk perekaman video, pengeditan dan penambahan animasi-animasi yang
dibutuhkan untuk menarik perhatian penonton. Peralatan yang digunakan
peserta didik berupa camera digital atau handycam yang merupakan hasil
pinjaman, karena ada beberapa kelompok yang anggotanya tidak memiliki
camera digital atau pun handycam. Lokasi shooting yang mereka gunakan
kebanyakan di area sekolah, tetapi ada juga yang mengambil lokasi shooting
di area bukit kapur dan area pemakaman. Setelah proses pengambilan video
selesai, mereka kemudian melakukan pengeditan dan pemberian animasianimasi. Proses pengeditan mereka mengalami kendala, dikarenakan mereka
tidak mempunyai pengetahuan tentang pengeditan sebuah rekaman drama.
Dalam pembelajaran TIK juga tidak terdapat materi tentang pengeditan
rekaman drama, sampai akhirnya mereka membawa video tersebut kepada
orang yang lebih ahli, yaitu orang yang pekerjaannya sebagai pengeditan
rekaman
drama/video
shooting.
Setelah
selesai
pengeditan,
mereka
menyimpan hasil bermain perannya dalam bentuk kepingan CD yang
kemudian diserahkan kepada guru agar mendapatkan penilaian akhir dari KD
apresiasi drama.
4.
Kendala dan Upaya yang Dilakukan Guru dalam Pembelajaran
Apresiasi Drama di Kelas XI SMA Negeri Karangpandan
a. Kendala-kendala yang Dihadapi Guru dalam Pembelajaran Apresiasi
drama di Kelas XI IPS 1 SMA Negeri Karangpandan
Pelaksanaan pembelajaran apresiasi drama yang terjadi di kelas XI IPS 1
commit
to user berjalan lancar. Akan tetapi,
SMA Negeri Karagpandan pada
dasarnya
83
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
pembelajaran apresiasi drama yang dilaksanakan masih memiliki kendalakendala, antara lain:
1) Peserta didik
Peserta didik yan masih malu-malu/kurang percaya diri dalam berakting
di depan teman-teman kelompoknya. Selain itu, masih terdapat peserta
didik yang tidak mengerjakan tugas yang diberikan guru.
2) Fasilitas
Di SMA Negeri Karangpandan belum mempunyai LCD, proyektor, dan
speaker di setiap kelasnya; belum mempunyai ruangan laboratorium
bahasa sendiri; belum memiliki peralatan untuk pengambilan video guna
perekaman drama oleh peserta didik misalnya: handycam/camera digital.
3) Waktu
Waktu yang digunakan guru masih kurang apabila semua kegiatan
pembelajaran apresiasi drama dilakukan di dalam kelas, dengan aloksi 2 x
45 menit dan hanya lima kali pertemuan saja dalam pembelajaran apresiasi
drama.
4) Bahan dan Materi Ajar
Sumber atau materi ajar yang digunakan guru mengacu pada modul bahasa
Indonesia (LKS) yang kandungan materinya masih kurang mendukung
dalam pembelajaran apresiasi drama. Dasar teori yang terkandung di
dalamnya sedikit dan banyak latihan soal. Selain itu peserta didik tidak
mendapatkan materi tentang pengeditan rekaman drama.
b. Upaya yang dilakukan Guru untuk Mengatasi Kendala dalam
Pembelajaran Apresiasi drama di Kelas XI IPS 1 SMA Negeri
Karangpandan
Upaya-upaya yang dilakukan guru (Ibu Ami) untuk mengatasi kendalakendala
dalam
pembelajaran
apresiasi
drama
perlu
dilakukan
untuk
memaksimalkan kualitas proses dan hasil pembelajaran sebagai berikut:
1) Peserta didik
Guru memberikan motivasi, menjelaskan tujuan dan manfaat mempelajari
user
materi sekaligus praktikcommit
dalamto apresiasi
drama. Guru memberikan
84
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
kelonggaran waktu kepada peserta didik untuk mengerjakan tugas
tersebut di kelas. Akan tetapi kalau hal tersebut terjadi berulang-ulang
guru akan memberikan sanksi kepada peserta didik tersebut tidak diberi
nilai.
2) Fasilitas
Guru dalam menjelaskan materi apresiasi drama menggunakan fasilitas
kelas yang ada (papan tulis, spidol). Pada saat guru memperlihatkan
contoh rekaman drama, Beliau harus meminjam ruang laboratorium
Fisika yang telah difasilitasi LCD dan proyektor, sedangkan laptop dan
speakernya pinjam kepada guru lain. Masalah pengambilan rekaman
drama dan pengeditan rekaman drama diserahkan sepenuhnya kepada
peserta didik dalam setiap anggota kelompok.
3) Waktu
Dalam mengefektifkan waktu, guru memberikan penjelasan materi drama
secara singkat, padat, dan jelas dan untuk bermain perannya guru
menyerahkan semuanya kepada peserta didik yang dilakukan di luar
KBM. Guru hanya memantau perkembangan peserta didik dalam bermain
peran dan terima jadi dari hasil perekaman drama tersebut.
4) Bahan dan Materi Ajar
Guru dan peserta didik mencari materi tambahan yang berkaitan dengan
pembelajaran apresiasi drama dari sumber buku lain, salah satunya
Terampil Bermain Peran karya Asul Wiyanto atau dari sumber-sumber
lain di internet yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya dan
seharusnya dalam mata pelajaran TIK ditambahkan materi tentang
pengeditan rekaman drama.
commit to user
85
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
BAB V
SIMPULAN, IMPLIKASI, SARAN
A. Simpulan
Dari hasil temuan penelitian tentang pembelajaran apresiasi drama di
SMA Negeri Karangpandan diperoleh simpulan sebagai berikut.
1. Perencanaan pembelajaran apresiasi drama di SMA Negeri Karangpandan
khususnya kelas XI IPS 1 berupa: (1) silabus; dan (2) RPP. Penyusunannya
secara keseluruhan sudah baik sesuai dengan kondisi sekolah dan KTSP,
namun masih terdapat kekurangan dalam menyusun RPP, yaitu guru tidak
mencantumkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai peserta didik.
2. Pelaksanaan pembelajaran apresiasi drama di SMA Negeri Karangpandan
khususnya kelas XI IPS 1 secara umum dapat dilaksanakan dan berhasil baik.
Hal ini dibuktikan: (1) penyampaian materi oleh guru yang telah dipilih sesuai
dengan SK dan KD yang hendak dicapai; (2) penggunaan metode yang inovatif
ketika guru menyampaikan materi; (3) penggunaan media yang sesuai
perkembangan teknologi, yaitu menggunakan laptop, LCD, proyektor, dan
speaker; (4) evaluasi yang dilakukan oleh guru dalam pembelajaran apresiasi
drama terdapat dua jenis, yaitu evaluasi proses (penilaian pada saat
pembelajaran apresiasi drama berlangsung), dan evaluasi hasil (penilaian
terhadap produksi film peserta didik dan hasil ulangan harian).
3. Pelaksanaan pementasan drama di SMA Negeri Karangpandan khususnya
kelas XI ditiadakan diganti dengan pementasan drama televisi yang berwujud
sebuah rekaman drama dalam kepingan CD dengan durasi waktu maksimal tiga
puluh menit. Persiapan guru sebelum pelaksanaan pementasan antara lain: (1)
membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok, (2) setiap kelompok
menyusun naskah yang berdasarkan pengalaman, (3) melaksanakan perekaman
drama.
4. Kendala yang dihadapi guru dalam pembelajaran apresiasi drama di kelas XI
IPS 1 SMA Negeri Karangpandan antara lain:
commit to user
85
86
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
a). peserta didik yang malu-malu/takut serta kurang rasa percaya diri dan
tidak mengerjakan tugas;
b). belum memiliki fasilitas yang lengkap;
c). waktu yang terbatas;
d). bahan dan materi ajar.
Upaya yang dilakukan guru untuk mengatasi kendala yang muncul dalam
pembelajaran apresiasi drama di kelas XI IPS1 SMA Negeri Karangpandan,
yaitu:
a). guru memberikan motivasi, semangat, menjelaskan tujuan dan manfaat
mempelajari materi sekaligus praktik dalam apresiasi drama, guru
memberikan kelonggaran waktu untuk menyelesaikan tugas dan bila
terjadi berkai-kali guru memberikan sanksi;
b). guru mengajak peserta didik untuk belajar di ruangan yang memiliki
fasilitas lengkap, seperti di laboratorium fisika;
c). guru menjelaskan materi drama dengan singkat, padat, dan jelas, kemudian
guru memberikan kepercayaan penuh kepada peserta didik untuk bermain
drama dengan kelompoknya masing-masing;
d). guru dan peserta didik bersama-sama mencari tambahan materi ajar yang
berkaitan dengan pembelajaran apresiasi drama, salah satunya Terampil
Bermain Peran karya Asul Wiyanto atau dari sumber-sumber lain di
internet yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Selain itu,
dalam pembelajaran TIK guru menambahkan materi tentang pengeditan
film agar hasilnya nanti lebih baik.
B. Implikasi
Melalui simpulan yang telah diuraikan di atas, dapat dikemukakan
implikasi penelitian ini sebagai berikut.
1. Perencanaan pembelajaran yang benar-benar terprogram dengan baik dan
lebih rinci dapat memengaruhi proses dan produk hasil belajar peserta didik.
Oleh karena itu, guru sebagai pelaksana pendidikan hendaknya selalu
mempertahankan kemampuannya
dalam
menyusun rencana pembelajaran dan
commit
to user
87
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
perangkat pembelajaran secara lebih rinci dan matang. Penyusunan
perencanaan yang lebih rinci, matang dan sistematis dapat dijadikan guru
sebagai alat kontrol dan mengarahkan tindakan selanjutnya, sehingga langkahlangkah kerja guru bisa dikendalikan melalui perencanaan yang telah
dibuatnya.
2. Pelaksanaan pembelajaran apresiasi drama akan lebih apresiatif dapat
diciptakan melalui usaha-usaha berikut.
a. Peserta didik diajak langsung untuk mengakrabi sebuah pertunjukan
drama.
b. Peserta didik diberi contoh langsung mengenai penokohan, perwatakan,
adegan, dialog dan lain-lain yang berhubungan dengan darama dan
pementasan.
c. Peserta didik ditugasi untuk menonton, menanggapi, menceritakan
kembali sebuah pertunjukan drama maupun membaca dan menulis sebuah
naskah drama.
d. Peserta didik diberi pembekalan yang matang mengenai pembuatan
rekaman drama.
3. Pementasan drama/perekaman drama akan berhasil dengan baik apabila
peserta didik diberi bekal mengenai latihan akting, latihan vokal, latihan
perekaman dan tersedianya alat-alat yang dibutuhkan peserta didik.
Pengawasan guru terhadap proses penulisan naskah sampai perekaman drama
lebih dipertegas agar hasil yang dibuat oleh peserta didik dapat maksimal dan
cerita naskah drama terdapat konflik sehingga lebih menarik untuk dilihat.
4. Kendala-kendala yang dihadapi guru ketika pembelajaran hendaknya dapat
diminimalisir oleh guru dengan upaya memanfaatkan segala sesuatu yang
berada
di
lingkungan
sekolah
guna
membantu
tercapainya
tujuan
pembelajaran apresiasi drama yang diharapkan.
C. Saran
Berdasarkan simpulan dan implikasi, maka saran-saran yang dapat
peneliti tawarkan sebagai berikut.commit to user
88
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
1. Saran untuk Siswa
a. Memperluas pengetahuan tentang unsur-unsur apresiasi drama dan unsur
pendukungya. Untuk memperluas pengetahuan tentang penokohan, alur,
setting, gerak- gerik, adegan, vocal, properti dan lain-lain yang
berhubungan dengan apresiasi drama dapat dilakukan peserta didik dengan
cara membaca berbagai sumber pustaka atau buku yang terkait sebagai
acuan dan bertanya kepada orang yang ahli dalam bidang seni drama.
b. Peserta didik harus mempunyai rasa percaya diri yang tinggi dalam
pembelajaran apresiasi drama terutama ketika bermain peran hendaknya
peserta didik tidak perlu malu/takut, ketika berakting di depan kamera atau
pun di depan teman-temannya.
c. Bila peserta didik mengalami kesulitan hendaknya peserta didik bertanya
kepada guru yang bersangkutan agar lebih paham dan lebih jelas.
d. Frekuensi latihan bermain peran hendaknya ditingkatkan lagi meskipun di
luar jam pelajaran sehingga karakter tokoh dalam naskah dapat ditonjolkan
dan pesan dapat tersampaikan.
2. Saran untuk Guru
Agar pembelajaran apresiasi drama dapat berhasil sesuai tujuan yang
diharapkan, maka guru Bahasa Indonesia hendaknya :
a. Memberikan pengetahuan hal yang bersangkutan dengan pembelajaran
apresiasi drama secara lebih detail sebelum pelaksanaan pementasan. Hal
ini dapat dilakukan dengan menerapkan pendekatan proses dalam
pembelajaran apresiasi drama.
b. Guru
perlu
menjelaskan
langkah-langkah
sebelum
pelaksanaan
pementasan secara lebih jelas agar pelaksanaan pementasan yang
dilakukan oleh peserta didik dapat berjalan dengan baik.
c. Guru perlu meningkatkan kualitas mengajarnya yang disesuaikan dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
3. Saran untuk Sekolah
Demi memperlancar keberhasilan pembelajaran Bahasa Indonesia
commit
to didik,
user maka pihak sekolah hendaknya:
khususnya apresiasi drama bagi
peserta
89
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
a. menyediakan
peralatan
yang
dibutuhkan
peserta
didik
dalam
pengambilan video seperti : handycam atau camera digital.
b. memberikan skill dalam pengambilan dan pengeditan film melalui
pembelajaran TIK.
c. menyediakan sumber belajar yang dibutuhkan peserta didik dalam
pembelajaran apresiasi drama minimal terbitan di atas tahun 2000 dan
contoh- contoh naskah drama.
4. Saran untuk Instansi/Dinas Pendidikan
Demi meningkatkan apresiasi drama peserta didik hendaknya pihak
instansi Dinas Pendidikan kabupaten Karanganyar sering mengadakan lomba
pentas drama antar-sekolah.
commit to user
Download