8 BAB II LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka 1. Interaksi Sosial

advertisement
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
1. Interaksi Sosial
a. Pengertian Interaksi Sosial
Interaksi sosial adalah kunci dari semua kehidupan sosial, oleh
karena itu tanpa adanya interaksi sosial tidak akan mungkin ada kehidupan
bersama. Seperti yang ditunjukkan oleh Ahmadi (1999: 54) bahwa
interaksi sosial dimaksudkan sebagai pengaruh timbal balik antar individu
dengan golongan, dalam usaha untuk memecahkan persoalan dan juga
untuk mencapai suatu tujuan. Senada dengan Ahmadi, Bonner (dalam
Gerungan, 1986: 57) menjelaskan, ”interaksi sosial adalah hubungan
antara dua orang atau lebih individu manusia, dimana kelakuan individu
yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu
yang lain”. Kedua pendapat tersebut, dapat diartikan bahwa interaksi sosial
merupakan hubungan yang terjadi antara dua orang atau lebih yang
memiliki pengaruh timbal balik dan bertujuan untuk memecahkan
permasalahan yang terjadi.
Selain itu, Partowisastro (dalam Feranita, 2014) juga menyatakan
bahwa interaksi sosial terutama pada kelompok teman sebaya adalah
kedekatan hubungan dan sifat hubungan dari pergaulan kelompok teman
sebaya dan hubungan antar individu atau anggota kelompok yang
mencakup kontak sosial, aktivitas bersama, dan frekuensi hubungan.
Berdasarkan ketiga definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa interaksi
sosial adalah hubungan timbal balik dengan melakukan kontak sosial,
aktivitas bersama, dan frekuensi hubungan yang intens untuk memecahkan
persoalan dalam mencapai tujuan yang diinginkan secara bersama.
Adanya interaksi sosial, menjadikan setiap individu harus
melakukan kontak dengan individu lainnya. Interaksi yang terjadi akan
8
9
menciptakan pertukaran informasi, pengetahuan, budaya, gaya pergaulan,
dan perasaan. Hubungan interaksi sosial dalam lingkup sekolah,
ditunjukkan dengan adanya jalinan pertemanan antar siswa. Siswa
berkomunikasi, bertukar pendapat, mengungkapkan perasaan, dan bertukar
nilai dan norma, serta pemahaman dengan rekan sejawatnya ataupun
dengan adik kelas, kakak kelas, guru, dan warga sekolah lainnya. Maka
dari itu, perlu dibangun interaksi sosial yang baik agar terjalin hubungan
yang harmonis khususnya di lingkup sekolah.
b. Faktor-faktor Interaksi Sosial
Interaksi sosial terjadi karena adanya beberapa faktor yang
mendasarinya. Sejalan dengan hal tersebut, Walgito (2003: 66)
memaparkan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya interaksi sosial,
yaitu sebagai berikut:
1) Imitasi
Imitasi merupakan dorongan untuk meniru orang lain. Salah satu
segi positifnya yaitu mampu mendorong seseorang untuk mematuhi
kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku. Contohnya, siswa meniru
gaya rambut mohawk yang sedang menjadi trend.
2) Sugesti
Sugesti ialah pengaruh psikis, baik yang datang dari diri sendiri
maupun yang datang dari orang lain, pada umumnya diterima tanpa
adanya kritik dari individu yang bersangkutan. Contohnya, guru
menasehati siswa bahwa gaya rambut mohawk tidak cocok untuk siswa
dan memberi kesan yang negatif.
3) Identifikasi
Identifikasi merupakan dorongan untuk menjadi identik atau sama
dengan orang lain. Contohnya, siswa mengidolakan seorang artis luar
negeri yang bernama Maher Zein. Kemudian siswa tersebut mencoba
untuk bersikap, berpenampilan, menata gaya rambut, dan berperilaku
layaknya artis tersebut.
10
4) Simpati
Simpati merupakan suatu proses dimana seseorang merasa tertarik
pada pihak lain. Selama proses ini berlangsung, perasaan memegang
peranan yang sangat penting, walaupun dorongan utama pada simpati
adalah keinginan untuk memahami pihak lain dan bekerjasama
dengannya. Contohnya, siswa merasa prihatin melihat teman yang
sedang tertimpa musibah, kemudian siswa mencoba menghibur dan
membantu temannya.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami bahwa selama
interaksi sosial berlangsung tidak hanya terjadi pertukaran informasi,
pemikiran, gaya hidup, budaya, dan juga perasaan dari individu yang
terlibat, akan tetapi juga terlihat bahwasannya proses interaksi sosial
dapat mengubah perilaku serta pola pikir individu yang bersangkutan.
Hal ini dapat terjadi karena adanya jalinan hubungan yang dilakukan
satu sama lain. Hubungan yang ada, melibatkan kemampuan individu
dalam memahami sikap, perilaku, perasaan, maupun kompleksitas
permasalahan yang terjadi pada individu lawan bicaranya. Sehingga,
dalam menjalani proses interaksi sosial juga dapat mempengaruhi
perasaan dan emosi yang bersifat fluktuatif sesuai dengan situasi dan
kondisi saat terjadinya interaksi sosial.
c. Syarat Terjadi Interaksi Sosial
Suatu interaksi sosial tidak akan terjadi apabila tidak memenuhi
dua syarat yaitu adanya kontak sosial dan komunikasi. Seperti penjelasan
Gillin dan Gillin (dalam Soekanto, 2012: 58) berikut ini:
1) Kontak Sosial
Kontak sosial berasal dari bahasa latin con atau cum yang
berarti bersama-sama dan tango yang berarti menyentuh. Jadi, secara
harfiah kontak adalah bersama-sama menyentuh. Secara fisik, kontak
baru terjadi apabila terjadi hubungan badaniah. Sebagai gejala sosial
11
itu tidak perlu suatu hubungan badaniah, karena dapat mengadakan
hubungan tanpa harus menyentuhnya, misalnya cara berbicara dengan
individu yang bersangkutan dan ekspresi saat melakukan kontak.
Berkembangnya teknologi dewasa ini, membuat siswa lebih
mudah untuk melakukan kontak dengan temannya yaitu dapat melalui
telepon, telegraf, radio, email, video call, live chat dan lainnya yang
tidak perlu memerlukan sentuhan badaniah atau bertatap muka secara
langsung. Adanya fasilitas yang semakin canggih dan didukung
dengan perkembangan teknologi modern, membuat siswa lebih mudah
untuk menjalin kontak sosial dengan teman. Hanya saja, disamping
dengan penggunaan teknologi tersebut tentu menimbulkan masalah
baru, seperti siswa yang terlalu asyik dengan gadget dan merasa
canggung ketika bertatapan dan melakukan kontak secara langsung
dengan temannya. Oleh karena itu, kontak sosial secara langsung juga
sangat diperlukan agar siswa tidak terbiasa menyendiri dengan di
dunia virtual dan mampu menyesuaikan diri ketika berada dalam
fenomena lapangan sesungguhnya yaitu dalam lingkup pergaulan
dengan teman sebayanya.
Soekanto (2012: 59) lebih lanjut menerangkan bahwa kontak
sosial dapat berlangsung dalam tiga jenis, seperti uraian berikut :
a) Kontak Sosial yang Terjadi antara Orang Perorangan
Kontak sosial ini terjadi apabila anak mempelajari
kebiasaan-kebiasaan dalam keluarganya. Proses demikian terjadi
melalui komunikasi, yaitu suatu proses anggota masyarakat yang
baru
mempelajari
norma-norma
dan
nilai-nilai
masyarakat
tempatnya tinggal.
b) Kontak Sosial yang Terjadi antara Orang Perorangan dengan Suatu
Kelompok Manusia atau Sebaliknya
Kontak sosial ini terjadi apabila seseorang merasakan
bahwa tindakan-tindakannya berlawanan dengan norma-norma
masyarakat dan terjadi perbedaan ideologi.
12
c) Kontak Sosial antara Suatu Kelompok Manusia dengan Kelompok
Manusia lainnya
Kontak sosial antara satu kelompok dengan kelompok
lainnya dapat diumpamakan dalam hubungan dua komunitas yang
bekerjasama untuk mengadakan suatu acara, dimana terdapat
jalinan hubungan diantara dua komunitas tersebut.
Berdasarkan paparan di atas, dapat dimaknai bahwa kontak sosial
tidak hanya pada perseorangan saja, akan tetapi juga terjadi pada lingkup
kelompok, komunitas, ataupun masyarakat luas. Lingkup kontak sosial
yang luas ini, menjadikan diri siswa harus mampu melakukan penyesuaian
diri dan berinteraksi dengan kalangan manapun. Untuk itu, siswa harus
dipersiapkan dengan bekal yang cukup untuk menghadapi tantangan di
masa mendatang.
2) Komunikasi
Komunikasi adalah proses memberi tafsiran kepada orang lain
yang berwujud pembicaraan, gerak-gerak badaniah, sikap, serta perasaanperasaan yang ingin disampaikan dan individu yang bersangkutan
memberikan reaksi atas perasaan yang disampaikan. Selama proses
komunikasi, terjadi berbagai macam penafsiran terhadap tingkah laku
orang
lain.
Sehingga,
memungkinkan
terjadinya
kerjasama
atau
kesalahpahaman di antara pihak yang bersangkutan. Pendapat tersebut
dapat diartikan bahwa komunikasi tidak hanya dilakukan dengan verbalitas
semata tetapi juga terdapat gerakan non verbal yang diwujudkan dalam
sikap, sehingga informasi atau perasaan yang ingin disampaikan dapat
dimengerti dan diterima oleh lawan bicara. Selain itu, adanya komunikasi
yang baik dapat menciptakan hubungan kerjasama antar pihak yang
bersangkutan, namun juga dapat memunculkan pertikaian apabila
informasi atau perasaan tidak tersampaikan dengan lancar, sehingga terjadi
kesalahpahaman.
13
Senada dengan Soekanto, Walgito (2003: 75) juga memaparkan
bahwa komunikasi merupakan proses penyampaian dan penerimaan
lambang-lambang yang mengandung arti, baik yang berwujud informasi,
pemikiran, pengetahuan, ataupun yang lain dari penyampai (komunikator)
dan penerima (komunikan). Pendapat tersebut dapat diartikan bahwa
komunikasi merupakan salah satu bagian penting dari interaksi sosial
karena melibatkan individu sebagai komunikator dan komunikan yang
saling bertukar ide, gagasan, perasaan, dan pengetahuan. Dalam proses
komunikasi tentu terdapat aksi dan reaksi dari pihak yang terlibat sehingga
menghasilkan komunikasi dua arah. Komunikasi dua arah yang dimaksud
adalah adanya respon terhadap lawan bicara atas perasaan atau informasi
yang disampaikan. Komunikasi yang terjadi juga tidak menutup
kemungkinan
timbulnya
perselisihan
yang
disebabkan
oleh
kesalahpahaman dalam menyikapi dan menyimpulkan informasi yang
diterima.
Berdasarkan kedua paparan di atas, dapat dimengerti bahwa adanya
kontak sosial dan komunikasi yang baik tentu akan menciptakan hubungan
yang efektif, konstruktif, dan juga mendatangkan kebahagiaan serta
kenyamanan. Kenyamanan dalam menjalani interaksi sosial menimbulkan
kerjasama yang positif. Namun, sebaliknya apabila kontak sosial dan
komunikasi tidak berjalan lancar maka akan memberi dampak negatif
yaitu
terjadi
kesalahpahaman.
Timbulnya
kesalahpahaman
akan
menghadirkan masalah-masalah baru dan berujung pada pertikaian apabila
tidak diselesaikan secara bijaksana, hanya mengedepankan sikap
emosional, dan egoisme.
d. Bentuk Interaksi Sosial
Adapun bentuk-bentuk interaksi sosial yaitu asosiatif dan disasosiatif.
Seperti yang digolongkan Gillin dan Gillin (dalam Syarbaini & Rusdianta,
2009: 28). Penjelasan mengenai bentuk interaksi sosial tersebut diuraikan
seperti berikut ini:
14
1) Asosiatif
Asosiatif yaitu suatu proses sosial yang mengindikasikan adanya
gerak pendekatan atau penyatuan. Bentuk-bentuk khusus dari asosiatif
terdiri dari kerjasama (cooperation), akomodasi (accomodation) dan
asimilasi (assimilation). Kerjasama disini dimaksudkan sebagai suatu
usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok manusia untuk
mencapai satu atau beberapa tujuan bersama. Akomodasi merupakan suatu
cara untuk menyelesaikan pertentangan tanpa menghancurkan pihak lawan
sehingga lawan tidak kehilangan kepribadiannya. Asimilasi merupakan
proses sosial dalam taraf lanjut yang terjadi peleburan kebudayaan. Proses
asimilasi ditandai dengan usaha mengurangi perbedaan yang terdapat antar
individu atau kelompok. Jadi, asosiatif dapat diartikan interaksi yang
dijalin untuk menentukan tujuan dan penyelesaian bersama tanpa
merendahkan, menjatuhkan ataupun membeda-bedakan, yang diperoleh
dengan cara musyawarah mufakat.
2) Disasosiatif
Disasosiatif yaitu proses sosial yang mengindikasikan pada gerak
ke arah perpecahan. Bentuk-bentuk khusus dari disasosiaif terdiri dari
persaingan (competition), kontravensi (contravention), dan pertentangan
(conflict). Persaingan diartikan sebagai suatu proses sosial di mana
individu atau kelompok-kelompok manusia, bersaing mencari keuntungan
melalui bidang-bidang kehidupan. Sedangkan, kontravensi merupakan
sikap mental yang tersembunyi terhadap orang lain atau terhadap unsurunsur kebudayaan suatu golongan tertentu. Pengertian di atas, dapat
dimaknai bahwa dalam proses interaksi sosial juga tidak selalu berjalan
mulus tanpa adanya konflik. Tentu saja, selama proses berlangsung tidak
menutup kemungkinan adanya pertentangan nilai dari masing-masing
individu ataupun kelompok.
Terdapat pula istilah pertentangan yang merupakan suatu proses
sosial dimana individu atau kelompok berusaha untuk memenuhi
tujuannya dengan jalan menantang pihak lawan yang disertai dengan
15
ancaman dan kekerasan. Proses interaksi sosial melibatkan individu yaitu
siswa yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda pula sesuai dengan
nilai, agama, dan budaya yang dibawa oleh masing-masing siswa.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diketahui bahwasannya interaksi
sosial yang terjadi dalam kehidupan masayarakat sangatlah kompleks.
Kompleksitas tersebut dapat ditunjukkan dengan adanya persaingan dan
juga berbagai macam pertentangan yang terjadi. Adanya persaingan,
perbedaan pendapat, dan pertentangan harus disikapi secara bijak, dan
dibutuhkan pula kecerdasan dalam berperilaku, serta pengendalian emosi
agar mampu bertindak secara tepat dan berperilaku sesuai dengan norma
yang ada.
e. Urgensi Interaksi Sosial
Peralihan dari masa anak-anak menuju masa remaja memerlukan
dukungan dari berbagai pihak. Remaja, khususnya yang memasuki usia
remaja awal yaitu usia sekolah menengah membutuhkan bantuan dari
lingkungan sekitar selama proses pertumbuhan dan perkembangan. Namun,
terkadang terjadi kesenjangan antara kondisi yang sebenarnya dengan
harapan dan tuntutan yang ada di masyarakat. Hal tersebut dapat memicu
timbulnya permasalahan baru. Kesenjangan yang terjadi menimbulkan
dampak bagi diri remaja, dalam hal ini siswa. Apabila kesenjangan yang
terjadi kecil, maka hanya mengalami sedikit ketidakpuasan dalam diri.
Namun, apabila terjadi kesenjangan yang besar, maka siswa akan merasa
tidak berharga, tidak berguna, dan sering merenung. Maka dari itu, siswa
membutuhkan teman yang membuat diri nyaman, dapat berbagi kisah, serta
pengalaman. Adanya interaksi sosial dalam ikatan pertemanan yang sehat,
akan membentuk pribadi siswa yang percaya diri, mampu bersosialisasi
dengan baik, serta mampu mengaktualisasikan diri secara optimal.
Hal ini sejalan dengan penjelasan Conger (1977: 325) yang
mengatakan, ”peer relations perform many of the same functions in
adolesence as in childhood: they provide an opportunity to learn how to
16
interact with agemates, to control social behaviour, to develop age-relevant
skills and interests, and to share similar problems and feelings”. Pendapat
tersebut mengungkapkan bahwasannya hubungan teman sebaya juga
memiliki fungsi yang sama ketika berada di usia kanak-kanak. Pada usia
remaja, pertemanan dapat memberikan kesempatan bagi siswa untuk
melakukan interaksi dengan teman sebaya, mengontrol perilaku sosialnya,
mengembangkan diri, dan juga dapat berbagi permasalahan dan perasaan
yang bertujuan untuk tercapainya pemecahan atas masalah yang dialami.
Seperti diketahui bahwa membangun interaksi sosial sangat penting
bagi diri siswa khususnya pada saat remaja awal. Senada dengan pernyataan
tersebut, William Kay (dalam Yusuf, 2002: 72) menyebutkan bahwa salah
satu tugas perkembangan remaja yaitu mengembangkan keterampilan
komunikasi interpersonal dan belajar bergaul dengan teman sebaya baik
secara individual dan kelompok. Hal itu mempertegas bahwa menjalin
interaksi sosial memang menjadi komponen penting untuk menyelesaikan
salah satu tugas perkembangan siswa di usia remaja. Jika tugas tersebut dapat
terselesaikan dengan baik, siswa akan mampu membina hubungan yang lebih
baik
di masa mendatang. Namun, apabila siswa tidak mampu menjalin
interaksi sosial dengan baik maka akan berdampak buruk bagi dirinya dan
pergaulannya dalam lingkungan. Berikut tanda bahaya yang umum terjadi
akibat ketidakmampuan penyesuaian diri remaja, yang diungkapkan Hurlock
(1980: 239) yaitu sikap tidak bertanggungjawab, sikap yang sangat agresif
dan sangat yakin pada diri sendiri, perasaan tidak aman, merasa ingin pulang
bila berada jauh dari lingkungan yang tidak dikenal, perasaan menyerah,
terlalu banyak berkhayal untuk mengimbangi ketidakpuasan yang diperoleh
dari kehidupan sehari-hari, mundur ke tingkat perilaku yang sebelumnya agar
disenangi dan diperhatikan, serta menggunakan mekanisme pertahanan.
Dari uraian di atas, menunjukkan bahwa ketidakmampuan siswa
dalam penyesuaian diri di lingkungan pertemanan akan menimbulkan dampak
buruk
bagi
perkembangan
psikisnya
dan
juga
di
dalam
lingkup
pertemanannya. Siswa menjadi pribadi yang tidak terkontrol dan menjadi
17
penggerutu, serta tidak bisa mandiri. Selanjutnya, Conger (1977: 339) juga
menyebutkan bahwa pertemanan dapat membantu remaja dalam menjalani
penyesuaian sosialnya, yang diuraikan sebagai berikut:
Friendships may help the adolecent in dealing with his or her own
complex feelings and those of others. They can serve as a kind of
therapy by alowing the freer expressions and dangerously strong
feelings. The adolescent may also learn how to modify behaviour,
tastes, or ideas, without the necessity of learning only from painful
experiences of rejection by others.
Itu berarti bahwa pertemanan dapat membantu mengatasi kompleksitas
perasaan yang dialami remaja. Pertemanan dapat menjadi sebuah terapi untuk
mengeluarkan perasaan yang mendalam dan berbahaya bagi diri apabila terus
menerus terpendam. Remaja juga dapat belajar untuk mengubah kebiasaan
dan ide tanpa harus merasakan pengalaman pahit dan penolakan dari orang
sekitar.
Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa interaksi
sosial dengan teman sebaya memang sangat dibutuhkan untuk menunjang
tercapainya tugas-tugas perkembangan yang ada. Interaksi sosial yang
terwujud dalam hubungan pertemanan yang sehat, akan membantu
mengembangkan diri secara optimal. Hal tersebut juga harus diimbangi oleh
kemampuan-kemampuan lain yang dapat melancarkan proses interaksi sosial
agar berjalan semestinya. Kemampuan lain yang dimaksud, seperti
kecerdasan emosional yang juga berkontribusi selama interaksi sosial
berlangsung. Hal ini dikarenakan dalam kecerdasan emosional telah
mencakup kompetensi-kompetensi yang dapat menunjang dan menjadikan
diri siswa menjadi pribadi yang unggul. Hal tersebut sesuai dengan pemikiran
Manullang dan Milfayetty yang mengatakan, ”Emotional Quotient (EQ)
menggiring individu membangun kepercayaan diri dan membina hubungan
yang efektif dengan orang lain”. Berdasarkan pernyataan tersebut, diketahui
bahwa
memiliki
tingkat
kecerdasan
emosional
yang
baik
dapat
mempermudah siswa menjalin hubungan yang sehat dengan teman
sebayanya. Hal itu disebabkan karena dengan dimilikinya kecerdasan
18
emosional yang baik, maka siswa lebih percaya diri dan mampu melakukan
penyesuaian dalam pergaulan. Untuk itu, sangat diperlukan penguasaan
kecerdasan emosional yang tepat selama berinteraksi dengan lingkungannya
agar berjalan efektif dan tercapai tujuan yang diinginkan.
2. Kecerdasan Emosional
a. Pengertian
Dalam perkembangan bidang psikologi dan pendidikan, istilah
”kecerdasan emosional” pertama kali dilontarkan pada tahun 1990 oleh
psikolog Peter Salovey dan John Mayer untuk menerangkan kualitaskualitas emosi yang penting bagi keberhasilan. Salovey dan Mayer
mendefinisikan kecerdasan emosional atau yang sering disebut Emotional
Quotient (EQ) sebagai himpunan dari kecerdasan sosial yang melibatkan
kemampuan memantau perasaan sosial yang melibatkan kemampuan pada
orang lain, memilah-milah semuanya dan menggunakan informasi untuk
membimbing pikiran dan tindakan (Daniel Goleman, alih bahasa Alex Tri
Kantjono, 2001: 513). Pendapat tersebut dapat diartikan bahwa kecerdasan
emosional atau Emotional Quotient (EQ) merupakan himpunan atau
gabungan dari berbagai macam kecerdasan sosial yang melibatkan
individu dan orang lain. Kemampuan
yang dimiliki mencakup
keterampilan-keterampilan yang dapat mempertajam kecakapan personal
dan kecakapan antarpribadi. Kemampuan tersebut dapat dijadikan sebagai
pendukung dalam mengolah informasi atau pengetahuan individu dan
menjadikannya sebagai dasar dalam bertindak.
Menurut Goleman (terjemahan T. Hermaya, 2000: 512) kecerdasan
emosional adalah kemampuan mengenali perasaan sendiri dan orang lain,
memotivasi diri, dan kemampuan mengelola emosi pada diri sendiri
maupun dalam hubungan dengan orang lain. Selain itu, Cooper dan Sawaf
(alih bahasa Alex Tri Kantjono,
2002: xv) mengartikan kecerdasan
emosional adalah kemampuan merasakan, memahami, dan secara efektif
menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi,
19
koneksi, dan pengaruh manusiawi. Salovey (dalam Goleman, 2002) juga
mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai kemampuan memantau dan
mengendalikan perasaan sendiri dan orang lain, serta menggunakan
perasaan itu untuk memandu pikiran dan tindakan.
Berdasarkan definisi tersebut, dapat dirumuskan bahwa kecerdasan
emosional adalah kemampuan yang dimiliki seseorang dalam mengenali
perasaan sendiri, memahami perasaan orang lain, memotivasi diri,
mengelola emosi diri, mengelola emosi terhadap orang lain, merasakan
emosi, memahami emosi, menerapkan daya sebagai sumber energi,
menerapkan kepekaan emosi, memantau perasaan diri, mengendalikan
perasaan diri sendiri, mengendalikan emosi diri terhadap orang lain, serta
menggunakan
perasaan
untuk
memandu
pikiran
dan
tindakan.
Kemampuan dalam merasakan, mengenali, dan memahami perasaan diri
maupun orang lain akan membimbing pada perilaku dan tindakan yang
sesuai dengan norma. Sehingga, dapat meminimalisir pertikaian karena
memiliki sikap empati dan kepekaan emosi yang diungkapkan secara
tepat.
b. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kecerdasan Emosional
Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kecerdasan
emosional, seperti pendapat Goleman (2002) bahwa terdapat empat
faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosional, yaitu :
1) Pengalaman
Kecerdasan emosional dapat meningkat sepanjang perjalanan
hidup individu. Ketika individu belajar untuk menangani suasana
hati, menangani emosi yang sulit, maka semakin cerdas emosi
individu. Contohnya, suatu ketika siswa pernah mengalami masa
sulit, yaitu dijauhi teman dalam lingkungan pergaulan. Agar tidak
terisolir, siswa berusaha memperbaiki diri dan membuka diri dengan
temannya, berusaha meredam konflik, dan berbaur dengan semua.
20
2) Usia
Semakin tua usia individu maka kecerdasan emosionalnya
akan lebih baik dibanding dengan usia yang lebih muda. Hal ini
dipengaruhi proses belajar yang dialami oleh individu seiring dengan
pertambahan usianya. Contohnya, ketika awal masuk tahun pelajaran
baru yaitu pada kelas VII SMP, siswa masih bersikap kekanakkanakan karena masih berada pada peralihan dari kanak-kanak ke
remaja, kemudian di kelas VIII, siswa sudah mulai beradaptasi
dengan lingkungan dan kondisi barunya walaupun penyesuian
tersebut belum sepenuhnya matang dan harus terus dilatih.
3) Jenis Kelamin
Tidak ada perbedaan antara kemampuan pria dan wanita
dalam meningkatkan kecerdasan emosionalnya. Tetapi rata-rata
wanita
memiliki
keterampilan
emosional
yang
lebih
baik
dibandingkan dengan pria. Contohnya, siswa perempuan dianggap
memiliki kecerdasan emosional lebih tinggi daripada laki-laki karena
kebanyakan siswa perempuan lebih peka dalam hal perasaan, bisa
bersabar, dan tenang dalam menghadapi suatu hal, sedangkan siswa
laki-laki lebih tergesa-gesa dan lebih mengandalkan cara berpikir
secara logis.
4) Jabatan
Semakin tinggi jabatan seseorang maka semakin tinggi juga
kecerdasan emosionalnya, maka semakin penting keterampilan antar
pribadi dalam membuat diri menjadi menonjol dibanding yang lain.
Contohnya, kemampuan siswa yang mengikuti organisasi sekolah
tentu berbeda dengan siswa yang hanya belajar dan bermain saja.
Siswa yang terlibat ataupun menjadi pemimpin di organisasi,
memiliki sikap sebagai pemimpin yaitu bertindak secara matang,
tepat, dan mementingkan kemaslahatan bersama.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dimaknai bahwa tingkatan
kecerdasan emosional siswa juga dipengaruhi oleh pengalaman hidup,
21
usia, jenis kelamin, dan juga jabatan organisasi di sekolah maupun di luar
sekolah. Walaupun siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) masih
berada di jenjang remaja awal, tidak menutup kemungkinan siswa tersebut
memiliki banyak pengalaman hidup. Hal ini bisa terjadi karena faktor
budaya, kondisi keluarga, kondisi ekonomi, lingkungan, dan hal lainnya.
Selain itu, siswa yang mengikuti suatu organisasi dan ikut berperan aktif di
dalamnya, tentu memiliki pengalaman yang lebih dibandingkan dengan
siswa yang hanya berdiam diri di kelas. Semakin banyak pengalaman
hidup yang dijalani, maka siswa yang bersangkutan akan menemukan
banyak permasalahan yang harus dihadapi secara cermat, tenang, dan juga
bijaksana agar teracapai penyelesaian yang tepat. Permasalahan yang
timbul dalam hidup akan menjadi suatu pelajaran yang berharga dan
membantu diri siswa mencapai tingkat kematangan emosional yang lebih
baik dari jenjang sebelumnya.
c. Aspek Kecerdasan Emosional
Terdapat beberapa aspek dari kecerdasan emosional, seperti
Goleman (2002: 58—59) yang menguraikan kecerdasan emosional dalam
beberapa aspek penting, yaitu sebagai berikut:
1) Mengenali Emosi Diri
Mengenali emosi diri merupakan suatu kemampuan untuk
mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi. Kemampuan ini
merupakan dasar dari kecerdasan emosional. Para ahli psikologi
menyebutkan mengenali emosi diri atau biasa disebut kesadaran diri,
sebagai metamood, yakni kesadaran seseorang akan emosinya sendiri.
Menurut Mayer (dalam Goleman, 2002:
64) kesadaran diri adalah
waspada terhadap suasana hati maupun pikiran tentang suasana hati.
Apabila kurang waspada, maka individu menjadi mudah larut dalam
aliran emosi dan dikuasai oleh emosi. Kesadaran diri memang belum
menjamin penguasaan emosi, namun merupakan salah satu prasyarat
penting untuk mengendalikan emosi sehingga individu mudah
22
menguasai emosinya. Contohnya, ketika siswa sedang sedih, kemudian
menangis untuk meluapkan perasaan sedihnya.
2) Mengelola Emosi
Mengelola emosi merupakan kemampuan individu dalam
menangani perasaan agar dapat terungkap dengan tepat atau selaras,
sehingga tercapai keseimbangan dalam diri individu. Sejalan dengan hal
tersebut, Goleman (2002: 77—78) mengatakan, “menjaga agar emosi
tetap terkendali merupakan kunci menuju kesejahteraan emosi. Emosi
berlebihan, yang meningkat dengan intensitas terlalu lama akan
mempengaruhi kestabilan emosinya”.
Ary Ginanjar (2001: 9) juga mengemukakan bahwa inti
kemampuan pribadi dan sosial yang merupakan kunci utama
keberhasilan
seseorang,
sesungguhnya
adalah
kecerdasan
emosionalnya. Lebih lanjut Ary Ginanjar menyatakan kunci kecerdasan
emosional adalah kejujuran pada suara hati. Suara hati ini yang harus
dijadikan pusat prinsip yang memberi rasa aman, menjadi pedoman dan
kekuatan, serta kebijaksanaan. Kemampuan mengelola emosi ini,
mencakup kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan
kecemasan, kemurungan atau perasaan tersinggung, dan akibat-akibat
yang ditimbulkannya, serta kemampuan untuk bangkit dari perasaanperasaan yang membuat tertekan. Contohmya, ketika siswa menangis
karena perasaan sedih atau kecewa, siswa tersebut tidak berlarut-larut
meratapi kesedihan itu. Setelah mampu mengatasi kesedihannya, siswa
akan bangkit, melakukan hal yang positif, dan hal yang menyenangkan
bagi dirinya.
3) Memotivasi Diri Sendiri
Prestasi harus dilalui dengan dimilikinya motivasi dalam diri
individu, yang berarti memiliki ketekunan untuk menahan diri terhadap
kepuasan dan mengendalikan dorongan hati, serta mempunyai perasaan
motivasi yang positif; yaitu antusiasme, gairah, inisiatif, optimis, dan
23
keyakinan diri. Contohnya, siswa semangat dalam belajar untuk
mendapatkan prestasi yang baik di sekolah.
4) Mengenali Emosi Orang Lain
Kemampuan untuk mengenali emosi orang lain disebut juga
empati. Menurut Goleman (2002: 57) kemampuan seseorang untuk
mengenali orang lain atau peduli, menunjukkan kemampuan empati
seseorang. Individu yang memiliki kemampuan empati, lebih peka
terhadap lingkungan sosial, sehingga lebih mampu menerima sudut
pandang orang lain, peka terhadap perasaan orang lain, dan lebih
mampu untuk mendengarkan orang lain.
Lebih lanjut Nowicki, seorang ahli psikologi memaparkan
bahwa anak-anak yang tidak mampu membaca atau mengungkapkan
emosi dengan baik akan terus menerus merasa frustasi (Goleman, 2002:
172). Pribadi yang mampu membaca emosi orang lain juga memiliki
kesadaran diri yang tinggi. Semakin mampu terbuka pada emosinya
sendiri dan mampu mengenal serta mengakui emosinya sendiri, maka
orang tersebut mempunyai kemampuan untuk membaca perasaan orang
lain. Contohnya, siswa melihat teman kelasnya tidak jajan saat istirahat
sekolah karena tidak memiliki uang saku, kemudian karena merasa
prihatin siswa tersebut berbagi makanan dengan temannya.
5) Membina Hubungan
Kemampuan dalam membina hubungan merupakan keterampilan yang menunjang popularitas, kepemimpinan, dan keberhasilan hubungan antar pribadi (Goleman, 2002: 59). Keterampilan
dalam berkomunikasi merupakan kemampuan dasar dalam keberhasilan
menjalin hubungan dengan lancar.
Mempengaruhi, memimpin,
bermusyawarah, menyelesaikan perselisihan, toleransi, bekerjasama
dengan orang lain merupakan kemampuan penting yang harus dimliki
siswa.
Keterampilan membina hubungan ini dapat membantu dalam
membangun komunikasi yang baik, menjadi terkenal dalam lingkungan
24
pergaulan,
dan
kemampuannya
menjadi
dalam
teman
yang
berkomunikasi
menyenangkan
(Goleman,
karena
2002:
59).
Contohnya, siswa memiliki pribadi yang ramah, sopan, menghargai,
dan pandai dalam bertutur kata sehingga teman-temannya senang
menjalin persahabatan dan hubungan yang akrab dengannya.
Berdasarkan penjelasan Goleman tersebut, dapat dipahami bahwa
kecerdasan emosional sangat membantu individu dalam menjalin
hubungan yang baik dengan sesama. Hal ini disebabkan karena dengan
dimilikinya
kecerdasan
emosional,
maka
individu
akan
mampu
mengendalikan diri, membangun empati, memiliki motivasi hidup yang
konstruktif, serta dapat memperoleh relasi dengan menggunakan
keterampilan sosial yang dimiliki. Semua hal tersebut sangat mendukung
bagi kesuksesan individu dalam berinteraksi dengan sesamanya serta
mencapai kenyamanan hidup.
Adanya kecerdasan emosional yang baik dapat membantu siswa
dalam memahami segala potensi diri dan bisa mengembangkannya,
mengatur dan mengelola emosi terhadap orang lain, dapat menaruh empati
pada kejadian-kejadian sekitar yang memprihatinkan dan butuh perhatian
lebih, dapat mendorong dan menjadi stimulus siswa dalam meraih prestasi,
serta dapat membantu siswa dalam rangka menjalin pertemanan yang baik
dengan teman sebaya. Tentu saja hal di atas, dapat menggiring siswa
menjadi pribadi yang unggul dan matang.
Yusuf (2002: 115) memberikan uraian mengenai karakteristik
perilaku yang merupakan bagian dari aspek kecerdasan emosional, yang
dapat dilihat secara rinci dalam Tabel 2.1.
Tabel 2.1 Aspek Kecerdasan Emosional (Yusuf, 2002)
1.
Aspek
Kesadaran diri
2.
Mengelola emosi
Karakteristik Perilaku
a) Mengenal dan merasakan emosi sendiri.
b) Memahami penyebab perasaan yang timbul.
c) Mengenal pengaruh perasaan terhadap tindakan.
a) Bersikap toleran terhadap frustasi dan mampu
25
b)
c)
d)
e)
f)
3.
4.
Memanfaatkan emosi
secara produktif
mengelola amarah secara lebih baik.
Lebih mampu mengungkapkan amarah dengan
tepat tanpa berkelahi
Dapat mengendalikan perilaku agresif yang
merusak diri sendiri dan orang lain.
Memiliki perasaan yang positif tentang diri sendiri,
sekolah, dan keluarga.
Memiliki kemampuan untuk mengatasi ketegangan
jiwa.
Dapat mengurangi perasaan kesepian dan cemas
dalam pergaulan.
a) Memiliki rasa tanggungjawab.
b) Mampu memusatkan perhatian pada tugas yang
dikerjakan.
c) Mampu mengendalikan diri dan tidak bersifat
impulsif.
5.
Empati
a) Mampu menerima sudut pandang orang lain.
b) Memiliki sikap empati atau kepekaan terhadap
perasaan orang lain.
c) Mampu mendengarkan orang lain.
6.
Membina hubungan
a) Memiliki pemahaman dan kemampuan untuk
menganalisis hubungan dengan orang lain.
b) Dapat menyelesaikan konflik dengan orang lain.
c) Memiliki kemampuan berkomunikasi dengan orang
lain.
d) Memiliki sikap bersahabat atau mudah bergaul
dengan teman sebaya.
e) Memiliki sikap tenggang rasa dan perhatian
terhadap orang lain.
kepentingan sosial (senang
menolong orang lain) dan dapat hidup selaras
dengan kelompok.
Bersikap senang berbagi rasa dan bekerjasama.
Bersikap demokratis dalam bergaul dengan orang
lain.
f) Memperhatikan
g)
h)
d. Upaya Mengembangkan Kecerdasan Emosional
Kecerdasan emosional setiap siswa tentunya berbeda-beda, setiap
siswa
bisa
mengalami
kemerosotan
ataupun
peningkatan
dalam
perkembangan kecerdasan emosionalnya. Untuk itu, terdapat kegiatankegiatan yang dapat membantu siswa dalam mengembangkan kecerdasan
emosional yang dimilikinya, sesuai dengan materi yang dikembangkan
26
Goleman (dalam Ali dan Asrori, 2015: 74—75) yang diberi nama SelfScience Curriculum, seperti yang dipaparkan berikut ini:
1) Belajar Mengembangkan Kesadaran Diri
Caranya adalah mengamati sendiri dan mengenali perasaan sendiri,
menghimpun
kosakata
untuk
mengungkapkan
perasaan,
serta
memahami hubungan antara pikiran, perasaan, dan respon emosional.
Contohnya, siswa mengetahui hal yang membuatnya sedih, marah,
kecewa, senang.
2) Belajar Mengambil Keputusan Pribadi
Caranya adalah mencermati tindakan-tindakan dan akibatakibatnya, memahami apa yang menguasai suatu keputusan, pikiran,
atau perasaan, serta menerapkan pemahaman yang ada ke masalahmasalah yang cukup berat. Contohnya, Siswa diajak bolos dengan
teman sekelas, lalu menolaknya. Siswa berpikir bahwa tindakan bolos
bukanlah hal yang baik dan dapat merugikan dirinya karena dapat
tertinggal materi pelajaran.
3) Belajar Mengelola Perasaan
Caranya
adalah
memantau
pembicaraan
sendiri
untuk
mengungkapkan pesan-pesan negatif yang terkandung di dalamnya,
menyadari apa yang ada di balik perasaan, menentukan cara untuk
menangani rasa takut, cemas, amarah, dan kesedihan. Contohnya, Siswa
akan mengahadapi ulangan tengah semester, kemudian merasa cemas.
Akan tetapi siswa tersebut tetap harus menjalani ulangan, sehingga
berinisiatif untuk menenangkan pikiran dan perasaannya dengan
menghela nafas panjang serta meyakinkan dirinya mampu mengerjakan
ulangan tersebut.
4) Belajar Menangani Stres
Caranya adalah mempelajari pentingnya berolahraga, perenungan
yang terarah, dan metode relaksasi. Contohnya, siswa sedang
bermasalah dengan temannya yang membuatnya gusar, kemudian siswa
27
tersebut merenung dan memikirkan kembali kejadian apa yang
menimbulkan perselisihan dan berusaha mencari solusinya.
5) Belajar Berempati
Caranya adalah memahami perasaan dan masalah orang lain,
berpikir dengan sudut pandang orang lain, serta menghargai perbedaan
perasaan orang lain mengenai sesuatu. Contohnya, seorang teman
menceritakan permasalahan keluarga yang sedang dihadapi, siswa
mendengarkan dengan seksama dan memperhatikan cerita temannya,
serta memberikan respon dan tanggapan atas permasalahan tersebut.
6) Belajar Berkomunikasi
Caranya adalah berbicara mengenai perasaaan secara efektif , yaitu
belajar menjadi pendengar dan penanya yang baik, serta mengirim
pesan dengan sopan bukan dengan mengumpat. Contohnya, ketika jam
istirahat di sekolah, siswa berbincang-bincang dan bergurau dengan
teman. Siswa saling memberikan respon positif dan bercanda tanpa
merendahkan temannya.
7) Belajar Membuka Diri
Caranya
adalah
menghargai
keterbukaan
dan
membina
kepercayaan dalam suatu hubungan serta mengetahui situasi yang aman
untuk membicarakan tentang perasaan diri sendiri. Contohnya, Siswa
bercerita tentang kondisi keluarga dengan sahabat karib yang dirasa
dapat dipercaya.
8) Belajar Mengembangkan Pemahaman
Caranya adalah mengidentifikasi pola-pola kehidupan emosional
dan reaksi-reaksinya, serta mengenali pola-pola serupa pada orang lain.
Contohnya, Siswa mulai peka dan mengamati kejadian atau peristiwa
yang terjadi di lingkungan sekitarnya dan mengambil pelajaran dari
peristiwa tersebut.
9) Belajar Menerima Diri Sendiri
Caranya adalah merasa bangga dan memandang diri sendiri secara
positif, mengenali kekuatan dan kelemahan, serta belajar mampu untuk
28
menertawakan diri sendiri. Contohnya, siswa memiliki kelemahan dan
mendapatkan nilai rendah dalam pelajaran matematika, hal tersebut
lantas tidak membuatnya minder, akan tetapi siswa tersebut justru
berusaha berlatih dan mempelajarinya.
10) Belajar Mengembangkan Tanggungjawab Pribadi
Caranya adalah belajar rela memikul tanggungjawab, mengenali
akibat dari keputusan dan tindakan, serta menindaklanjuti komitmen
yang telah dibuat dan disepakati. Contohnya, siswa ditunjuk guru dan
teman untuk menjadi ketua kelas, hal itu tidak dijadikan sebuah beban
tetapi siswa berusaha sebaik mungkin membuat kelasnya maju dan
berprestasi misal dengan diadakan belajar kelompok atau sekedar
berbagi tugas piket bersama dengan teman sekelas.
11) Belajar Mengembangkan Ketegasan
Caranya adalah mengungkapkan keprihatinan dan perasaan tanpa
rasa marah atau berdiam diri. Caranya, Seorang teman mengejek dan
merendahkan siswa. Untuk mengungkapkan ketidaksenangan karena
diperlakukan seperti itu, siswa yang bersangkutan mengajak temannya
untuk berbicara dan bertatap muka mengutarakan perasaannya secara
sopan namun tegas, tanpa marah dan membentak temannya.
12) Mempelajari Dinamika Kelompok
Caranya adalah mau bekerjasama, memahami cara memimpin,
serta memahami kapan harus mengikuti. Contohnya, diadakan diskusi
untuk membahas permasalahan yang ada di kelas, siswa berusaha
mengeluarkan pendapat dan mau mendengarkan ide temannya.
13) Belajar Menyelesaikan Konflik
Caranya adalah memahami cara melakukan konfrontasi secara
jujur dengan orang lain, orang tua, guru, teman, serta memahami contoh
penyelesaian
untuk
merundingkan
atau
menyelesaikan
suatu
perselisihan. Contohnya, terjadi perkelahian di kelas, siswa berusaha
memisahkan teman yang sedang bekelahi kemudian membantu
menyelesaikan perselisihan tanpa memihak salah satu pihak yang
29
bertikai. Ketika permasalahan belum bisa terselesaikan dengan tuntas,
siswa menghubungi guru Bimbingan dan Konseling atau guru piket
yang bertugas.
Berdasarkan pemaparan di atas, dapat dimengerti bahwa beberapa
kegiatan seperti; belajar mengembangkan kesadaran diri, belajar mengambil
keputusan pribadi, belajar mengelola perasaan, belajar menangani stres,
belajar berempati, belajar berkomunikasi, belajar membuka diri, belajar
mengembangkan pemahaman, belajar menerima diri
mengembangkan
tanggungjawab
pribadi,
belajar
sendiri, belajar
mengembangkan
ketegasan, mempelajari dinamika kelompok, belajar menyelesaikan konflik
dapat melatih siswa untuk mengembangkan kecerdasan emosionalnya.
Dengan melakukan kegiatan di atas, kepekaan siswa dalam menangani suatu
hal akan terangsang tumbuh dan berkembang. Latihan bisa dilakukan setiap
waktu karena berkaitan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Dapat
dikatakan pula, proses pengembangan kecerdasan emosional adalah long life
learning karena sifatnya yang fluktuatif dan berkembang seiring
pengalaman hidup siswa.
e. Penerapan Kecerdasan Emosional untuk Membangun Hubungan
Pengelolaan dan kontrol emosi secara baik, sangat bermanfaat untuk
membangun hubungan ataupun interaksi sosial yang positif dalam
lingkungan keluarga, pertemanan, maupun di masyarakat. Adapun beberapa
cara dalam membangun hubungan yang lebih baik dalam lingkungan
pergaulan dengan memanfaatkan kecerdasan emosional yang dimiliki siswa,
seperti pendapat Dr. Patricia Patton (alih bahasa Hermes, 1998: 102) dapat
ditempuh dengan keterampilan berikut ini:
1) Pengembangan Kesepakatan pada Komitmen
Kesalahpahaman sering terjadi pada interaksi dengan sesama,
baik dalam hubungan bisnis, keluarga, persahabatan, maupun pribadi.
Permasalahan tersebut dapat diselesaikan apabila ada kesepakatan dan
komitmen yang dilakukan secara bersama oleh orang yang terlibat dalam
interaksi tersebut.
30
2) Mengatasi Emosi dan Watak-watak Satu Sama Lain
Pemahaman akan emosi diri penting untuk mengenali jenis emosi
yang konstruktif atau destruktif. Watak yang berbeda antara satu dengan
lainnya, menjadikan siswa harus mampu menerapkan toleransi dan
menerima perubahan serta dapat berhadapan dan menangani emosi orang
lain.
3) Bertanggungjawab terhadap Apa yang Dapat Diubah
Siswa bersikap optimis dan mampu menerima informasi dan
gagasan dari orang lain serta memadukannya dengan ide yang
dimilikinya, sehingga menciptakan perubahan yang lebih baik khususnya
bagi diri pribadi.
4) Berani Mengambil Resiko
Banyak terjadi permasalahan dalam kehidupan sehari-hari, hal ini
menjadikan siswa banyak belajar dari pengalaman. Siswa belajar untuk
jujur pada diri sendiri dan orang lain, mengekspresikan emosi
sebenarnya, dan saling berbagi perasaan dengan orang lain. Tentunya,
mengambil hikmah dari setiap kejadian yang dialami.
5) Kesediaan Melupakan Pengalaman Menyakitkan
Kejadian pahit ataupun tidak mengenakkan terkadang tidak dapat
dihindari oleh siswa, sikap yang terpenting adalah menerimanya, tidak
menyalahkan diri sendiri ataupun orang lain, tidak bersikap agresif, dan
berdamai dengan perasaan yang berkecamuk.
6) Penyesuaian dengan Lingkungan
Siswa menerima dirinya dengan segala potensi, kekurangan, dan
kelebihan serta berusaha untuk
beradaptasi dengan lingkungannya.
Siswa juga harus pandai dalam memilih lingkungan yang positif bagi
dirinya.
7) Penyesuaian terhadap Perubahan
Perubahan
dalam
diri
dan
lingkungan
sering
menjadi
permasalahan baru yang dihadapi siswa. Maka dari itu, siswa perlu
31
beradaptasi dan mengunakan pikiran, gagasan, dan perasaannya untuk
menemukan alternatif penyelesaian yang tepat.
Uraian di atas, memperjelas bahwa kecerdasan emosional sangat
berguna bagi siswa untuk membangun dan membina hubungan yang baik
utamanya dalam pergaulan dengan teman sebayanya. Di antara ketrampilan
yang dapat digunakan untuk menunjang tercapainya hubungan yang sehat
dan produktif adalah dengan menciptakan kesepakatan pada komitmen,
mengatasi emosi dan watak-watak satu sama lain, bertanggungjawab
terhadap apa yang dapat diubah, berani mengambil resiko, kesediaan
melupakan pengalaman menyakitkan, penyesuaian dengan lingkungan, dan
penyesuaian terhadap perubahan. Jalinan interaksi sosial diantara siswa
dengan teman sebayanya akan membantu proses kematangan emosional
siswa. Pernyataan ini diperkuat oleh Yusuf (2002: 197) yang menyebutkan,
” proses pencapaian kematangan emosional dipengaruhi oleh kondisi sosioemosional lingkungannya, terutama lingkungan keluarga dan kelompok
teman sebaya”. Pemikiran tersebut menjelaskan bahwa kematangan
emosional seseorang dipengaruhi oleh kondisi sosial dan emosional yang
ada pada lingkungan sekitarnya, dalam hal ini kondisi emosional siswa
sendiri dan juga kondisi pergaulannya dengan teman sebayanya. Sehingga,
dapat ditarik kesimpulan antara kecerdasan emosional dan interaksi sosial
siswa saling bersinergi dalam menunjang perkembangan siswa agar lebih
optimal.
3. Karakteristik Siswa SMP
Siswa SMP berada pada masa remaja awal yang umumnya berusia 12—14
tahun. Saat usia remaja, siswa menjalani proses penemuan jati diri. Siswa lebih
banyak menghabiskan kegiatannya di sekolah sehingga sering bertemu dan
berinteraksi dengan teman sebayanya. Seperti Hurlock (dalam Yusuf, 2002:
59) mengungkapkan, ”remaja lebih banyak berada di luar rumah bersama
teman-teman sebaya sebagai kelompok”. Maka, dapat dimengerti bahwa
pengaruh teman sebaya memiliki peranan cukup penting bagi perkembangan
32
kepribadiannya. Meskipun demikian, peranan orang tua juga penting bagi
siswa karena memiliki porsi dan kapasitas yang berbeda dengan hubungan
teman sebaya.
Selain itu, siswa juga mengalami perkembangan dalam hal kecerdasan
intelektual, kecerdasan emosional, maupun kecerdasan spiritual. Kecerdasan
intelektual akan menggiringnya pada pola pikir yang rasional yang berkaitan
dengan informasi dari berbagai sumber pengetahuan. Kecerdasan emosional
akan membantu siswa dalam mengolah dan memadukan segala sumber
pengetahuan yang dimilikinya dengan sumber-sumber perasaan yang secara
natural ada pada dirinya. Sedangkan, kecerdasan spiritual akan menuntunnya
pada ketenangan jiwa dan kedekatan pada Sang Pencipta.
Adanya perubahan pada diri siswa, membuatnya banyak melakukan
penyesuaian diri dari berbagai pengalaman dan situasi yag dijalaninya seharihari. Seperti, pendapat Fatimah (2006: 114) yang mengatakan, ”pergolakan
emosi yang terjadi pada remaja tidak terlepas dari bermacam pengaruh, seperti
lingkungan tempat tinggal, keluarga, sekolah, dan teman sebaya, serta aktivitas
yang dilakuknnya dalam kehidupan sehari-hari”. Berdasarkan pemikiran
tersebut, berarti siswa harus dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial
tempat berinteraksinya secara efektif karena terlibat dengan berbagai pihak
yang berada di sekitarnya. Siswa juga dihadapkan pada perubahan dalam ranah
kognitif, psikologis, dan fisiologis yang cukup signifikan. Tuntutan lingkungan
baik dari keluarga, teman, sekolah, maupun masyarakat
itulah yang
menimbulkan kekhawatiran tersendiri di dalam diri siswa. Oleh karena itu,
wajar bila timbul suatu kecemasan pada dirinya karena banyak melalui
tekanan, baik dalam diri maupun dari pihak luar. Siswa usia SMP
menunjukkan sikap kebigungan dan egosentris yang dominan dalam mencari
identitas dirinya. Seperti Fatimah (2006: 93—94) yang menyebutkan bahwa
egosentris masih sering terlihat pada usia remaja awal karena masih
menitikberatkan pada pikiran sendiri tanpa memikirkan akibat yang mungkin
menyebabkan kegagalan dalam menyelesaikan persoalan serta masih sulit
membedakan pokok perhatian orang lain daripada tujuan perhatiannya sendiri.
33
Berdasarkan pendapat tersebut, dijelaskan bahwa siswa khususnya usia remaja
awal masih mementingkan diri sendiri dan mengalami kesulitan dalam
memutuskan suatu hal yang baik bagi dirinya. Dari penjelasan tersebut, dapat
ditarik kesimpulan bahwa sangat diperlukan latihan dalam mengasah
kecerdasan emosional siswa agar tercapai kehidupan yang seimbang dan
efektif.
4. Kontribusi Kecerdasan Emosional terhadap Interaksi Sosial Siswa
Masa remaja merupakan masa yang berpengaruh besar dalam
menentukan masa depan siswa. Terdapat banyak kejadian dan penyesuaian
yang harus dilakukan oleh siswa. Maka dari itu, diperlukan bantuan dari pihak
lain dalam menjalani proses penyesuaian. Pihak-pihak tersebut dapat berasal
dari orangtua, keluarga, teman, dan masyarakat sekitar. Pihak yang terkait akan
membantu proses terbentuknya pribadi yang lebih matang.
Ali dan Asrori (2015: 99) memaparkan bahwa remaja sangat ingin
diterima dan dipandang sebagai anggota kelompok teman sebaya, baik di
sekolah maupun di luar sekolah. Hal tersebut mengandung arti bahwa dalam
perkembangan sosial remaja khususnya remaja awal yaitu usia SMP, sangat
membutuhkan jalinan hubungan yang intens, rukun, dan akrab dengan teman
sebayanya. Hal ini terjadi karena siswa membutuhkan pengakuan dan
penerimaan atas dirinya.
Yusuf (2002: 75) menjelaskan bahwa keberhasilan remaja dalam
menyelesaikan tugas mencapai hubungan yang lebih matang dengan teman
sebaya mengantarkan ke dalam satu kondisi penyesuaian sosial yang baik
dalam keseluruhan hidupnya. Maksudnya adalah ketika remaja sudah mampu
untuk berinteraksi dengan baik dan menciptakan hubungan yang sehat dengan
teman sebayanya, maka siswa akan lebih mampu melakukan penyesuaian di
segala bidang dalam kehidupannya di masa mendatang.
Selanjutnya, Suharsono (2002: 103) menjelaskan bahwa orang yang
memiliki kecerdasan emosional mampu berinteraksi dengan orang lain dengan
baik dan proporsional dan juga mampu mengendalikan diri dari nafsu liar.
34
Berdasarkan pendapat tersebut, dapat diketahui bahwa siswa membutuhkan
kecerdasan emosional dalam menjalin interaksi sosial khususnya dengan teman
sebayanya dan mengendalikan emosinya. Adanya kecerdasan emosional akan
membanntu siswa dalam memikirkan segala tindakan dan keputusan yang akan
diambil. Siswa akan mampu memutuskan hal baik dan buruk yang akan
berdampak pada dirinya.
Manullang dan Milfayetty (2006: 106) juga menerangkan ”kemampuan
mengelola suasana hati dan kemampuan membangun hubungan sinergis
dengan orang lain akan menjadi kekuatan bagi seseorang dalam menghadapi
suatu kehidupan”. Hal tersebut menegaskan bahwa kecerdasan emosional
merupakan hal yang krusial yang sangat bermanfaat bagi siswa, tidak hanya
untuk masa kini tetapi juga untuk kebahagiaannya di masa depan. Kecerdasan
emosional yang dimiliki siswa akan menunjang kemampuan siswa dalam
mengelola suasana hati dan membina hubungan yang bermanfaat bagi dirinya
dan orang sekitarnya.
Selain itu, Martin (alih bahasa Angela Hindriati, 2003: 39)
menjelaskan, ”seorang pemimpin yang ber-EQ tinggi cenderung lebih sukses
daripada seorang pemimpin yang hanya ber-IQ tinggi”. Hal tersebut dapat
ditarik benang merah bahwa kesuksesan siswa tidak hanya bergantung pada
rational intelligence semata, akan tetapi kecerdasan emosional juga memiliki
peranan besar dalam pencapaian kesuksesan siswa karena melibatkan berbagai
macam kompetensi pribadi dan kompetensi sosial yang harus dikuasai. Akan
lebih baik lagi, jika antara kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional
memiliki kedudukan yang sama besar sehingga akan mempermudah siswa
mengembangkan segala potensi yang dimiliki dan juga membantunya dalam
menyelesaikan tugas-tugas perkembangan secara baik.
Berdasarkan pendapat-pendapat diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa
kecerdasan emosional yang baik akan membantu individu untuk bersikap
toleransi, empati, kasih sayang, dan lebih bertanggungjawab atas perasaan,
tindakan terhadap orang lain, dan masa depannya. Sedangkan, siswa yang
belum memiliki penguasaan kecerdasan emosional dengan baik akan
35
mengalami kesulitan dalam menjalani kehidupan sehari-harinya, utamanya
dalam hal pergaulan dengan teman karena akan sering mengalami perselisihan,
kesalahpahaman, ataupun diasingkan dari kelompok teman sebaya. Selain itu,
kecerdasan emosional yang dimiliki siswa tidak hanya bermanfaat dalam dunia
pergaulannya saja, akan tetapi dapat digunakan dalam berbagai sektor lain
yang bisa menunjang ke arah kehidupan yang lebih baik, misal pada bidang
pendidikan, bisnis, public speaking, dan juga dalam menciptakan sebuah ide
atupun inovasi baru.
5. Penelitian Sebelumnya yang Relevan
Penelitian kontribusi kecerdasan emosional terhadap interaksi sosial
pada siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Kartasura ini mengacu pada penelitian
sebelumnya, yaitu sebagai berikut:
a. Penelitian dilakukan oleh Rindy Jihan Permatasari yang berasal dari
Univeritas Negeri Semarang pada tahun 2013. Penelitian ini dilaksanakan
berdasarkan fenomena yang ada di SMP Negeri 13 Semarang yang
menunjukkan bahwa pada kelas VII A mempunyai kemampuan interaksi
sosial rendah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
keberhasilan dalam meningkatkan interaksi sosial melalui experiential
learning dengan teknik outbound. Jenis penelitian yang digunakan adalah
penelitian eksperimen. Subjek penelitian berjumlah 10 siswa terdiri dari 1
siswa yang memiliki interaksi sosial tinggi, 5 siswa yang memiliki
interaksi sosial sedang dan 4 siswa yang memiliki interaksi sosial rendah.
Metode pengumpulan data menggunakan skala psikologi. Sedangkan,
teknik analisis data yang digunakan adalah statistik non parametrik dengan
rumus wilcoxon. Hasil uji wilcoxon diperoleh thitung = 55,0 dan ttabel = 8,0
atau berarti Ha diterima dan Ho ditolak. Hasil tersebut menunjukkan
interaksi sosial siswa meningkat setelah memperoleh perlakuan berupa
experiential learning dengan teknik outbound. Dari hasil penelitian
tersebut, menunjukkan interaksi sosial siswa sebelum mendapatkan
perlakuan experiential learning dengan teknik outbound sebesar 60%
36
dengan kategori sedang dan setelah mendapatkan perlakuan berupa
experiential learning dengan teknik outbound sebesar 76% dengan
kategori tinggi. Selain itu, siswa mengalami perkembangan perilaku yang
lebih baik dilihat dari meningkatnya indikator percakapan, kerjasama,
saling menghormati, keterbukaan, empati, dukungan, rasa positif,
kesamaan, arus pesan yang cenderung dua arah, konteks hubungan tatap
muka, tingkat umpan balik yang tinggi, interaksi minimal dua orang dan
adanya akibat baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Simpulan dari
penelitian ini adalah rendahnya interaksi sosial siswa pada kelas VII A
SMP Negeri 13 Semarang meningkat setelah mendapatkan perlakuan
berupa experiential learning dengan teknik outbound. Berdasarkan
penelitian tersebut, dapat diketahui pula bahwa interaksi sosial tentu bisa
dikelola secara baik apabila terjalin hubungan sosial psikologis yang sehat.
Hubungan sosial psikologis terwujud secara nyata dalam interaksi sosial
yang terjalin dalam hubungan pertemanan yang intens dan akrab dengan
teman sebayanya.
b. Penelitian yang dilakukan oleh Mohammad Khaledian yang berasal dari
Faculty of Psychology Department of Payame Noor University di Iran.
Penelitian dilkukan pada Tahun 2013 yang berjudul ”The Relationship
between Emotional Intelligence (EQ) with Self-esteem and Test Anxiety
and also Their Academic Achievements”. Tujuan penelitiannya adalah
untuk mengetahui hubungan antara kecerdasan emosional dengan harga
diri (self esteem) dan juga prestasi akademik (Academic Achievements).
Subjek penelitiannya adalah mahasiswa akuntansi di Universitas Azad
pada tahun 2012—2013 yang mengambil sampel sejumlah 100 orang
secara acak dengan menggunakan random sampling. Langkah-langkah
pelaksanaannya dilakukan berdasar pada metode penelitian korelasional.
Angket yang dibagikan terdiri dari 58 butir soal tentang kecerdasan
emosional dan self esteem dan 25 butir soal mengenai prestasi belajar.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan
37
antara kecerdasan emosional kaitannya dengan prestasi akademik dan
tidak ada hubungan yang signifikan pula antara self esteem dengan prestasi
akademik. Sebaliknya, terdapat hubungan yang signifikan dan sangat
positif antara kecerdasan emosional dengan self esteem. Penelitian ini juga
menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan pada prestasi
akademik laki-laki dan perempuan. Namun, dalam kaitannya dengan
kecerdasan emosional, wanita memiliki tingkatan kecerdasan emosional
yang lebih besar dari laki-laki. Selain itu, terbukti bahwa kecerdasan
emosional memiliki peranan besar kaitannya dengan pengembaran diri
individu. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Mohammed
Khaledian ini, dapat disimpulkan bahwa kecerdasan emosional berbeda
dengan kecerdasan kognitif dan sangat berpengaruh pada ranah kejiwaan
dan emosi seseorang, karena melibatkan berbagai macam unsur emosi dan
perasaan sehingga menimbulkan pengalaman afektif yang beragam pula
pada diri individu.
B. Kerangka Berpikir
Berdasarkan teori-teori yang telah dipaparkan di atas, dapat disusun
kerangka pemikiran bahwa kecerdasan emosional diduga memiliki kontribusi
terhadap interaksi sosial siswa SMP kelas VIII. Remaja khususnya siswa SMP,
masih memiliki kontrol emosi yang fluktuatif. Siswa cenderung emosional dan
temperamental. Hal ini akan berdampak buruk bagi perkembangan dan
lingkungannya. Untuk memperoleh kontrol emosi yang baik dalam berinteraksi
dengan teman, siswa harus memiliki tingkat kecerdasan emosional yang baik pula.
Siswa yang memiliki penguasaan kecerdasan emosional yang baik, akan mudah
dalam menjalin hubungan dengan teman. Begitu pun sebaliknya, penguasaan
kecerdasan emosional yang rendah, akan menyulitkan siswa melakukan interaksi
dan menjalin hubungan dengan teman dalam lingkungan pergaulannya.
38
Pemikiran tersebut, dapat diilustrasikan dalam bagan sebagai berikut:
Kecerdasan emosional
siswa tergolong tinggi
Interaksi sosial siswa
Siswa
Kecerdasan emosional
siswa tergolong rendah
Gambar 2.1 Skema Kerangka Berpikir
C. Hipotesis
Berdasarkan uraian di atas, dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
1. Kondisi interaksi sosial siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Kartasura tergolong
sedang.
2. Tingkat kecerdasan emosional siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Kartasura
tergolong sedang.
3. Kecerdasan emosional siswa berkontribusi terhadap interaksi sosialnya.
Download