almanak reformasi sektor keamanan indonesia 2009

advertisement
ALMANAK
REFORMASI SEKTOR KEAMANAN INDONESIA
2009
AH
K SIKAP
PIJA
BI
J
A
K
AR
Editor : Beni Sukadis
DCAF
LESPERSSI
Lembaga Studi Pertahanan dan
Studi Strategis Indonesia
The Geneva Centre for the
Democratic Control of Armed Forces
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
ALMANAK
REFORMASI SEKTOR KEAMANAN INDONESIA
2009
Editor : Beni Sukadis
Asisten Editor : Maryam Dato & Henwira Halim
September 2009
Foto sampul depan : - Majalah TEMPO, Hendri Ismail
Hak Cipta © LESPERSSI dan DCAF, 2009
ISBN : 978-979-25-2036-1
Peringatan : Pandangan-pandangan yang ada di dalam buku ini merupakan
tanggungjawab para penulisnya dan bukan merupakan pandangan resmi dari penerbit
yaitu Lesperssi dan DCAF.
ii
Daftar Isi
Daftar isi
Kata pengantar
Suripto, SH, Ketua Dewan Pendiri LESPERSSI
Dr. Philipp Fluri, Deputi Direktur DCAF
iii
v
vii
Pendahuluan
Beni Sukadis; editor
1
Presiden Dan Reformasi Sektor Keamanan
Yuliah Qotimah
5
Otonomi Relatif, Interdependensi dan Transformasi Orientasi
Departemen Pertahanan
Kusnanto Anggoro
25
Pengawasan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Dalam Reformasi
Sektor Keamanan
Suryama M. Sastra dan Yusa Djuyandi
37
Jalan Panjang Reformasi TNI
Al Araf
50
Komando Pasukan Khusus (Kopassus)
Galih
76
Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad)
Aris Santoso
91
Armada Republik Indonesia: Kini dan Ke Depan
Alman H. Ali
104
Korps Marinir
Fauzan Djamaluddin
114
BAIS
Rizal Darmaputra
128
Reformasi Polri
S. Yunanto
136
Brimob Polri
Muradi
159
Quo Vadis Densus 88 Anti Teror Polri ?
Eko Maryadi
174
iii
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Baintelkam: Beban Politik Intelijen Keamanan
Edwin Partogi
188
Merajut Perdamaian Dan Keadilan
Oslan Purba
211
Diplomasi Bertetangga Baik dan Penegakan Hukum
Dalam Manajemen Perbatasan Indonesia
Shiskha Prabawaningtyas
232
Organisasi Masyarakat Sipil dan Reformasi Sektor Keamanan
Mufti Makaarim A
250
Reformasi Legislasi Sektor Keamanan Indonesia 2008-2009:
Reformasi Tanpa Arah
Bhatara I.Reza.
267
Kontributor
300
Lampiran
304
Profil Intitusi
309
iv
Kata Pengantar
Kata Pengantar
Suripto, SH
Ketua Dewan Pendiri LESPERSSI
Hingga saat ini reformasi sektor keamanan di Indonesia belum mengalami kemajuan yang
berarti karena pihak yang berwenang di bidang pertahanan dan keamanan (Dephan dan TNI)
masih saja belum transparan dan akuntabel dengan bersembunyi di dibalik 'rahasia negara'.
Apabila RUU Rahasia Negara disahkan (tanpa perbaikan yang substansial), maka semakin
sulit para pemangku kepentingan (stake holders) untuk melakukan fungsi pengawasannya.
Artinya, jangankan pihak lembaga swadaya masyarakat atau media massa, bahkan DPR
sekalipun akan kehilangan fungsinya untuk melakukan pengawasan terhadap mitra kerjanya
yaitu Dephan dan Mabes TNI AD, TNI AL dan TNI AU serta lembaga intelijen (BIN).
Dari semua peristiwa yang terjadi selama 2007 - 2009 yang dapat terekam dalam Almanak
2009 ini membuktikan bahwa fungsi pengawasan dapat dikatakan masih lemah. Maka
tantangan yang dihadapi bangsa dan negara Indonesia ke depan adalah memberdayakan
fungsi pengawasan oleh DPR, media cetak dan media elektronik, serta lembaga swadaya
masyarakat. Bagaimana caranya? Indonesia adalah bangsa yang memiliki karakteristik
sendiri, dimana pembatasan akan mendapatkan perlawanan. Saat ini, Indonesia adalah salah
satu negara yang tengah menjalankan proses reformasi sektor keamanan yang menjalin
kerjasama dengan negara-negara lain yang peduli dengan persoalan reformasi sektor
keamanan Indonesia. Bentuk kerjasama inilah yang perlu terus dikembangkan dan
ditingkatkan agar para stakeholder memiliki kemampuan teknis dan profesional dalam
mengawasi isu atau masalah pertahanan dan keamanan.
Dalam era globalisasi ini masalah transparansi dan akuntabilitas tidak bisa lagi “dipagari”
lewat batas teritorial suatu negara, sehingga perangkat RUU rahasia negara tidak akan efektif
untuk melumpuhkan semangat pengawasan. Oleh karena itu sekalipun seandainya
akuntabilitas mau dibungkam di wilayah kedaulatan Indonesia, namun masyarakat
internasional bakal tidak berdiam diri, karena garis kecenderungan dunia sekarang sedang
menuju perubahan (reformasi) dan juga faktor interdependensi. Maka jika masih ada pihakpihak yang masih bermimpi untuk kembali ke masa Orde Baru, berarti mereka berlawanan
dengan gerak jarum jam dan konsekuensinya mereka akan berhadapan dengan rakyat
Indonesia yang mendambakan reformasi berjalan terus.
Mereka harus menyadari bahwa dua kutub dinamika yaitu dinamika eksternal dan internal
bakal menghapuskan mimpinya itu, sehingga akhirnya menyadari bahwa pilihan satusatunya adalah reformasi sektor keamanan terus berlanjut dengan tegaknya prinsip
transparansi dan akuntabilitas.
v
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Sebagai akhir kata, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada para
kontributor buku Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009 yang telah
meluangkan waktu dan tenaga untuk menyumbangkan pemikirannya sesuai dengan minat
dan keahliannya. Tanpa partisipasi dari para kontributor, tentunya buku ini tidak akan dapat
dipublikasikan. Tak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada pihak DCAF (Swiss) dan
Kementerian Luar Negeri Republik Federal Jerman atas bantuan dan kerjasama yang telah
diberikan dalam penulisan buku ini dan berbagai program reformasi sektor keamanan
lainnya. Semoga buku ini dapat memberikan sumbangan dalam menata sejumlah persoalan
di sektor keamanan Indonesia.¦
Jakarta
September 2009.
vi
Kata Pengantar
Kata Pengantar
Philipp Fluri
Deputi Direktur DCAF
Almanak tentang Aktor-aktor dan Badan-badan Sektor Keamanan Indonesia bertujuan
utama untuk memetakan kemajuan yang telah dibuat dalam mereformasi Sektor Keamanan
di sepuluh tahun terakhir. Kedua, dengan cara menandakan status reformasi dan kebutuhan
reformasi yang lebih jauh, Almanak ini bertujuan untuk menjadi sebuah fasilitas untuk
diskusi dan referensi yang bisa membantu untuk memprioritaskan berbagai upaya reformasi
sektor keamanan yang sedang berjalan untuk memastikan provisi keamanan publik yang
lebih baik oleh para aktor sektor keamanan.
Sejak awal era demokrasi di Indonesia, berbagai kebijakan dan praktek badan-badan
keamanan negara telah menjadi isu penting yang secara spontan merefleksikan tidak hanya
kebebasan dari rasa takut dan kebebasan berekspresi di Indonesia, tapi juga reputasi
Indonesia pada tingkat internasional. Pada umumnya tidak adanya provisi keamanan publik
telah menjadi katalis bagi protes, tidak adanya rasa percaya pada berbagai institusi publik
dan berkurangnya keabsahan berbagai kebijakan dan praktek pemerintah. Setelah sepuluh
tahun berlangsungnya reformasi, studi ini berupaya untuk menjelaskan kemajuan yang telah
dibuat dalam reformasi sektor keamanan dengan cara menganalisa berbagai institusi sektor
keamanan yang tetap eksis untuk memberikan pelayanan keamanan publik.
Dengan munculnya tata kelola sektor keamanan sebagai suatu norma demokratis pada
tingkat internasional, maka efektifitas berbagai program reformasi sektor keamanan, akses
masyarakat umum kepada keamanan publik dan konsistensi kebijakan, praktek dan
manajemen pemerintah di sektor keamanan telah memberikan pengaruh bagi persepsi
kepatuhan HAM di berbagai negara dan wilayah. Dalam konteks umum demokratisasi,
pembangunan dan tata pemerintahan yang baik, ide bahwa negara memberikan keamanan
sebagai suatu public good telah mapan. Negara sekarang kembali memfokuskan untuk
memberikan keamanan dan akses bagi para warga negara sampai dengan tingkat komunitas
daripada memberikan keamanan bagi kepentingan politik atau ekonomi kelompok tertentu.
Semenjak tahun 1998, perkembangan demokrasi di Indonesia dan munculnya sebagai aktor
ekonomi penting di Asia telah menjadi latar belakang debat tentang reformasi sektor
keamanan pada era pasca Soeharto. Dalam konteks umum reformasi sektor keamanan, telah
banyak perhatian yang diberikan kepada Reformasi Pertahanan dan sekarang lebih banyak
perhatian yang diberikan kepada agenda Reformasi Polisi dan Reformasi Intelijen terutama
terkait dengan isu-isu seperti RUU Rahasia Negara. Inti dari berbagai perdebatan ini adalah
kebutuhan atas transparansi dan akuntabilitas dalam hal kebijakan, praktek dan pendanaan.
Sektor keamanan telah bekerjasama dengan berbagai platform reformasi dan hal tersebut
tidak hanya melalui berbagai kewajiban reformasi demokratis, tapi juga berbagai
kepentingannya yang saling menguntungkan di era reformasi.
vii
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Pada saat yang sama telah banyak organisasi masyarakat sipil (OMS) yang telah
mengembangkan kapasitas mereka untuk memonitor, melakukan riset dan menganalisa isuisu penting serta melakukan follow-up dengan berbagai rekomendasi untuk memperbaiki
provisi keamanan publik melalui lobi, advokasi dan peningkatan kesadaran kepada para
stakeholder.
Oleh karena itu, untuk menginformasikan lebih jauh debat tentang transparansi dan
akuntabilitas sektor keamanan di Indonesia dan mengidentifikasikan kebutuhan reformasi
yang sedang berjalan kepada pihak-pihak seperti bidang pertahanan, polisi dan intelijen,
maka Almanak ini merefleksikan sedikit upaya untuk memetakan sektor keamanan, berbagai
tingkat provisi keamanan publik dan status berbagai upaya reformasi yang tengah berjalan.
Dengan cara memetakan berbagai bidang masalah utama dan membagi berbagai aktor,
badan dan isu tematis sektor keamanan yang relevan, Almanak ini memberikan suatu
benchmark dari kontribusi-kontribusi berbagai badan bagi keamanan publik dan pada saat
bersamaan memberikan berbagai solusi yang bisa membantu untuk menyelesaikan isu-isu
penting yang teridentifikasi. Proses pemetaan ini ditujukan untuk bisa diulangi di masa
mendatang dalam rangka memetakan sejauh mana kepatuhan pada HAM telah lebih baik di
sektor keamanan. Selanjutnya studi ini juga merefleksikan kemajuan yang telah dilakukan
dalam berbagai upaya reformasi serta analisa sejak Almanak Reformasi Sektor Keamanan
yang terakhir dipublikasikan pada tahun 2007 1 yang mana merupakan upaya pertama untuk
memetakan sektor keamanan Indonesia dan pelayanan publiknya.
Lesperssi telah menjadikan pembuatan, implementasi dan publikasi Almanak ini sebagai
suatu komponen dari kinerjanya yang berkesinambungan atas penataan sektor keamanan
demokratis di Indonesia. Proyek ini adalah salah satu dari tiga proyek terkini antara Lesperssi
dan Geneva Centre for the Democratic Control of Armed Forces (DCAF) dan proyek lainnya
memfokuskan untuk membangun kapasitas para staf parlemen dalam rangka membantu
kinerja berbagai komisi parlemen dalam isu-isu pemantauan sektor keamanan; yang lainnya
membangun kapasitas media untuk menganalisa isu-isu penataan sektor keamanan.
Almanak ini merefleksikan kapasitas masyarakat sipil Indonesia dalam pemantauaan dan
advokasi untuk menganalisa isu-isu pemantauan sektor keamanan dan mengadvokasi
berbagai upaya reformasi berjangka lebih panjang. Oleh karena itu hal tersebut
mengindikasikan sejauh mana faktor lokal telah menjadi pendorong fundamental bagi
proses penataan sektor keamanan.
1 Beni Sukadis (ed.), Almanac on Indonesian Security Sector Reform 2007, (Jakarta: DCAF & Lesperssi, 2007).
Available at
http://www.dcaf.ch/publications/kms/details.cfm?ord279=title&q279=Beni%2BSukadis&lng=en&id=39772&nav1=5
viii
Kata Pengantar
Akhir kata, DCAF berterima kasih atas dukungan Kementerian Luar Negeri Republik Federal
Jerman yang membiayai proyek ini secara penuh sebagai bagian dari program dua tahun
untuk membantu pengembangan kapasitas penataan sektor keamanan yang demokratis
bagi berbagai institusi demokratis, masyarakat sipil, media massa dan sektor keamanan.
Jenewa, September 2009
ix
Pendahuluan
Pendahuluan
Almanak Reformasi Sektor Keamanan di Indonesia 2009
10 tahun Reformasi Sektor Keamanan
Beni Sukadis 1
Pengantar
Reformasi Sektor Keamanan (RSK) merupakan suatu komponen penting dalam gelombang
reformasi politik di tanah air sejak 1998. RSK adalah tindak lanjut dari tuntutan mahasiswa
dan kelompok-kelompok sipil lainnya di tanah air yang menghendaki aktor-aktor di bidang
keamanan seperti TNI, Polri dan intelijen menjadi institusi profesional. Esensi dari reformasi
sektor keamanan tersebut adalah transformasi struktur, legislasi dan budaya dari institusi
yang tertutup dan penuh kerahasiaan menjadi suatu institusi yang transparan dan
bertanggungjawab.
Sejatinya para aktor keamanan baik TNI, Polri dan BIN merupakan institusi negara yang
memberikan layanan publik di bidang keamanan pada masyarakat umum. Dengan
pengertian tersebut sebenarnya mereka seharusnya memiliki kewajiban dan
tanggungjawab untuk melindungi dan melayani masyarakat tanpa pamrih. Dalam kaitannya
dengan layanan publik untuk memberikan rasa aman, maka Reformasi Sektor Keamanan di
Indonesia sangat relevan untuk terus digulirkan agar terjadi transformasi institusi menjadi
suatu aktor keamanan yang handal dan profesional.
Dalam rangka transformasi menuju suatu institusi yang bertanggungjawab dan transparan
tentu diperlukan beberapa prasyarat dari segi landasan hukum dan landasan politik. Selama
sepuluh terakhir ini telah banyak produk hukum yang dapat mengawasi kinerja dari para
aktor keamanan. Dapat disebutkan bahwa TAP MPR No.VI/2000 tentang pemisahan TNI dan
Polri dan Tap MPR No. VII/2000 tentang peran TNI dan Polri, merupakan landasan hukum
utama agar kedua aktor keamanan tersebut dapat berperan. Tahun 2002 parlemen Indonesia
mensahkan dua produk UU yaitu UU No. 2/2002 tentang Polri dan UU No. 3/2002 tentang
Pertahanan Negara. Kedua landasan hukum ini makin menguatkan bahwa kedua institusi
yakni TNI dan Polri memiliki wewenang dan tugas yang berbeda. Pada tahun 2004, UU No.34
tentang TNI disahkan agar fungsi dan peran TNI bisa diatur secara lebih jelas. UU No.34/2004
ini makin menjelaskan bahwa fungsi TNI hanya sebagai pelaksana kebijakan yang dibuat oleh
eksekutif (Presiden dan Menhan).
Transformasi Institusi
Perlu diketahui hingga saat ini, dari publik, masih saja ada pertanyaan tentang sejauh mana
reformasi internal yang dilakukan masing-masing institusi baik TNI, Polri, maupun intelijen.
Kedua institusi pertama bisa dikatakan lebih maju dalam melakukan reformasi internal yakni
1
Beni Sukadis adalah Koordinator Program Lesperssi, Jakarta
1
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
dengan melakukan sejumlah validasi organisasi dan reformasi legislasi. Sebagai contoh
konkret, institusi TNI telah memiliki UU tersendiri pada tahun 2004, walaupun masih jauh dari
tuntutan ideal dari masyarakat sipil. Paling tidak UU No. 34/2004 tentang TNI semakin
menguatkan bahwa TNI hanya bertugas untuk mempertahankan Negara dari ancaman
eksternal.
Yang menarik dari proses reformasi di bidang keamanan adalah aktor-aktor tersebut harus
beradaptasi dengan situasi nasional, regional dan internasional. Pada awalnya memang
situasi nasional merupakan pendorong utama dari kebutuhan reformasi internalnya. Di
mana situasi politik dan ekonomi yang memburuk mengakibatkan jatuhnya rezim Soeharto.
Disinilah perubahan insitutional menjadi kebutuhan sebagai akibat desakan situasi nasional
yang sedang mengalami krisis multidimensional.
Dengan demikian untuk mengetahui sampai sejauh mana reformasi internal para aktor
keamanan (TNI, Polri dan Intelijen) dan hubungannya dengan para pemangku kepentingan
(stakeholders) seperti Dephan, DPR, organisasi masyarakat sipil, media massa, dll, maka
Almanak RSK di Indonesia perlu dibuat. Reformasi internal akan sangat sulit dilihat jika para
aktor keamanan belum memiliki keinginan kuat untuk berperan serta dalam proses
transparansi terutama dalam kaitannya dengan perumusan dokumen-dokumen keamanan
nasional, penyusunan anggaran belanja ataupun berbagai dokumen lainnya.
Proses yang penting dalam RSK adalah sampai sejauh mana aktor keamanan melihat persepsi
ancaman baik dari lingkungan internal dan eksternal. Persepsi ancaman ataupun penilaian
terhadap ancaman sangat mempengaruhi force structure, kemampuan dan anggaran dari
masing-masing aktor. Penilaian terhadap ancaman akan dirumuskan pada pembagian peran
dan tugas yang lebih spesifik diantara aktor keamanan. Selain itu penilaian terhadap
ancaman yang komprehensif maka dapat disusun suatu perencanaan dan penyusunan
anggaran yang berorientasi kinerja. Proses ini tentunya harus melibatkan aktor-aktor
pengawas (oversight actors) baik itu otoritas politik yang berasal dari eksekutif, legislatif
maupun organisasi masyarakat sipil (CSO).
Tugas pengawasan ini menjadi salah satu indikator bahwa aktor keamanan telah beradaptasi
menjadi institusi yang bertanggungjawab dan terbuka. Salah satu tantangan yang dihadapi
saat ini bagaimana implementasi dari UU Keterbukaan Informasi Publik (KIP) yang telah
disahkan pada tahun 2008. Tugas-tugas pengawasan DPR dan masyarakat sipil dan lainnya
melalui landasan UU ini, akan melengkapi dan menjadi dorongan bagi optimalisasi peran
para aktor pengawas tersebut.
Memang kebutuhan informasi yang valid dan akurat adalah bagian dari proses pengawasan.
Tanpa informasi yang akurat agak sulit melakukan suatu pengawasan demokratis terhadap
para aktor keamanan terutama aktor intelijen (BIN) yang sampai saat ini belum memiliki
landasan hukum organisasi.
Mengapa Almanak Reformasi Sektor Keamanan di Indonesia perlu?
Buku ini merupakan lanjutan dari buku pertama yang berjudul sama yaitu Almanak
2
Pendahuluan
Reformasi Sektor Keamanan Indonesia yang diterbitkan 2007. Diharapkan buku kedua ini
dapat melengkapi kajian dan perkembangan RSK di Indonesia selama 2007 hingga 2009,
walaupun mungkin disana sini terdapat pengulangan disejumlah isu dan masalah.
Sebagaimana kita ketahui RSK adalah suatu upaya terus menerus dari para stakeholders
dalam melakukan kontrol terhadap para aktor keamanan sehingga mereka
bertanggungjawab terhadap otoritas politik dan masyarakat. Inti dari RSK adalah mengubah
institusi yang tadinya tertutup menjadi terbuka dengan melibatkan unsur-unsur masyarakat
dalam transformasi institusi terutama dalam perencanaan dan proses pembuatan keputusan
sesuai dengan prinsip-prinsip demokratis.
Almanak RSK 2009 dimaksudkan juga untuk memberikan gambaran yang komprehensif
tentang sejumlah isu, kebijakan ataupun praktek-praktek yang terkait dengan para aktor
keamanan dan pemangku kepentingan di Indonesia. Beberapa isu atau praktek dari TNI –
bisnis TNI dan koter - masih dibahas disini, tetapi dimasukkan dalam bab mengenai TNI.
Beberapa bab tambahan baru yaitu deskripsi tentang reformasi kelembagaan dari Kopassus,
Kostrad, Armada RI dan Marinir. Sedangkan dari Polri, yang diangkat adalah reformasi POLRI,
serta tiga institusi dibawah Polri yakni Brigade Mobil (Brimob) dan Detasemen Khusus 88
(DENSUS 88) serta Badan Intelijen Keamanan (BIK/Baintelkam). Untuk masalah Intelijen di
luar Intelijen Polisi hanya ada satu bab yakni dan organisasi intelijen militer (BAIS). Tulisan
BAIS ini bukan tulisan baru, hanya ada beberapa revisi baik terkait struktur BAIS dengan
penjelasan lebih detail.
Sejumlah masalah yang tak kalah pentingnya dimasukkan dalam Almanak ini yakni reformasi
legislasi (UU), manajemen perbatasan di Indonesia dan peran aktor keamanan di daerah
konflik seperti Aceh dan Poso. Ketiga topik ini saling terkait erat dengan pembagian peran
dan tugas diantara para aktor keamanan di Indonesia. Paling tidak ada dua regulasi yang
terkait dengan aparat keamanan yang dibahas cukup intensif sejak tahun 2006 yaitu RUU
Kamnas dan RUU Peradilan Militer. Kedua rancangan legislasi ini akan makin melengkapi
aturan dan hukum bagi terlaksananya kerja yang profesional dari para aktor keamanan.
Selain itu, Almanak RSK 2009 akan memaparkan lagi peran dan tugas dari sejumlah
pemangku kepentingan dari pemerintah yaitu pihak eksekutif direpresentasikan oleh
Presiden Departemen Pertahanan dan pihak legislatif yakni DPR RI. Dephan merupakan
otoritas politik yang paling bertanggungjawab dalam menyusun kebijakan pertahanan
negara (a.l Buku Putih Pertahanan, strategi pertahanan, dan postur pertahanan, dll) dan
dokumen pertahanan lainnya, sedangkan tugas DPR RI adalah melakukan pengawasan
terhadap para aktor keamanan baik dari segi akuntabilitas kinerja maupun anggaran. Peran
mereka dapat dilihat sampai sejauh mana dalam melakukan tugas-tugas konstitusional
tersebut.
Kemudian dibahas pula pemangku kepentingan dalam reformasi sektor keamanan yang
berasal dari masyarakat sipil yaitu LSM/akademisi. Institusi sipil ini bisa dikatakan sebagai
pendapat dari masyarakat umum. Peran mereka sangatlah signifikan sebagai kelompok
penekan dalam konteks reformasi sektor keamanan. Selama sepuluh tahun reformasi sektor
keamanan, mereka secara konsisten mengkritik dan mengkaji sejumlah isu reformasi sektor
keamanan.
3
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Almanak 2009 ini diharapkan dapat memberikan gambaran bagaimana relasi antara otoritas
politik (Dephan, DPR) dan otoritas operasional keamanan (TNI, Polri, BIN), ataupun diantara
para otoritas keamanan dalam menangani beberapa persoalan keamanan. Hubungan
diantara para aktor keamanan seharusnya terkoordinir dan saling membantu, sehingga
terjadi sinergi dalam mengelola persoalan keamanan. Kemudian juga relasi aktor keamanan
dengan masyarakat – sebagai salah pihak berkepentingan - perlu dilihat dari perspektif yang
lebih luas yaitu upaya meningkatkan transparansi dari para aktor keamanan.
Tentunya dengan bentuk tulisan yang deskriptis, analitis dan berupaya seobyektif mungkin,
maka penerbitan Almanak RSK di Indonesia 2009 diharapkan dapat pula memberikan
kontribusi bagi masyarakat umum seperti pelajar, mahasiswa, pengusaha, dan lain-lain,
selain bagi para stakeholders yaitu LSM, media massa, pejabat pemerintah, dan anggota DPR.
Almanak ini dibuat untuk memberikan gambaran apa yang telah dilakukan dalam Reformasi
Sektor Keamanan selama 2007-2009, apa saja hambatan yang masih merintangi dan apa atau
bagaimana yang harus dilakukan untuk mengatasinya. Almanak ini tidak ingin berpretensi
untuk memberikan semua jawaban atas masalah-masalah yang ada dalam reformasi sektor
keamanan.
Reformasi Sektor Keamanan yang dialami Indonesia saat ini adalah proses yang penuh liku
dan panjang, bisa dikatakan perlu waktu dan kesabaran untuk melihat hasil yang diinginkan.
Proses ini memerlukan beberapa prasyarat penting yakni Pertama, kesadaran ataupun
kesamaan pandangan diantara para stakeholders dalam melihat kepentingan nasional dan
melihat persepsi ancaman nasional. Kedua, ada perubahan mindset atau paradigma untuk
melihat peran dan tugas para aktor keamanan sesuai dengan mandatnya. Ketiga, perlu
adanya kesadaran bersama bahwa semua pihak bertanggungjawab untuk mengoptimalkan
perannya masing-masing. Keempat, yang tak kalah penting bahwa para aktor keamanan
harus tunduk dan bertanggungjawab terhadap otoritas politik yang terpilih.
Kami perlu ulangi disini bahwa proses reformasi sektor keamanan di Indonesia adalah proses
yang tidak mudah. Seperti telah disebutkan diatas perlu kesabaran, konsistensi dan yang
mungkin saja luput dari kita adalah soal stamina dari aktor pengawas baik pihak pemerintah
maupun dari luar pemerintah (CSO, media massa dan lain-lain). Sehingga cita-cita awal
reformasi yakni ingin mewujudkan aktor-aktor keamanan yang bertanggungjawab dan
handal bukanlah sekedar suatu impian belaka.
4
Presiden dan Reformasi Sektor Keamanan
PRESIDEN DAN REFORMASI SEKTOR KEAMANAN
Yuliah Qotimah
1
Pengantar
Mengkaji tentang Presiden (Eksekutif ) dalam konteks Reformasi Sektor Keamanan
(RSK) di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari bentuk sistem pemerintahan Indonesia dan
tujuan RSK. Hal ini mempengaruhi bagaimana pemerintah mengelola sektor keamanan
untuk menyediakan keamanan bagi warganya. Sejak awal, pendiri negara menghendaki
pemerintahan negara Indonesia yang modern dengan sistem presidensiil seperti sistem
demokrasi yang diterapkan di Amerika. Sistem ini menempatkan Presiden sebagai
pemegang kekuasaan pemerintahan (eksekutif ). Menurut teori pemisahan kekuasaan
Montesqiue yang menjadi acuan organisasi negara modern, kekuasaan eksekutif memiliki
kekuasaan untuk menjalankan undang-undang yang dibuat oleh kekuasaan legislatif dan
tidak memiliki kekuasaan untuk mengadili yang merupakan otoritas kekuasaan yudikatif.
Kekuasaan eksekutif harus terpisah dari kekuasaan legislatif karena dikhawatirkan pelaksana
hukum akan memperbesar kekuasaannya sendiri. Sementara bila kekuasaan eksekutif
digabungkan dengan kekuasaan yudikatif, akan terjadi tindakan kekerasan dan penindasan.
Sementara itu berkaitan dengan RSK, pada hakekatnya adalah sejumlah perubahan dari segi
pengaturan legislasi, perubahan orientasi kebijakan, strategi operasional maupun struktur
organisasi dari instansi-instansi yang bertugas sebagai pelaksana fungsi pemerintahan di
bidang keamanan. Tujuan utama dari RSK yaitu melakukan transformasi institusi-institusi
keamanan sehingga mereka dapat menjalankan perannya secara efektif, berdasar hukum
(legitimate) dan bertanggung gugat (accountable) dalam memberikan jaminan kepada
2
warga negaranya. RSK merupakan proses yang acapkali melelahkan khususnya di negaranegara yang sedang mengayuh transisi menuju demokrasi. Keharusan untuk melakukan RSK
di Indonesia didasarkan pada adanya kebutuhan nyata yang dihadapi masyarakat Indonesia
dalam masa transisi.Tuntutan ini sepenuhnya merupakan tugas yang diemban oleh Presiden
Indonesia di masa reformasi. Sebagai pemegang mandat otoritas sipil dan pelaksana
undang-undang, dalam mengupayakan tercapainya tujuan RSK, Presiden tidak dapat dilihat
hanya sebagai pemegang kekuasaan eksekutif, tetapi juga mempertimbangkan
kedudukannya sebagai kepala negara.
Pertanyaan mendasar yang akan dijawab dalam bab ini adalah bagaimanakah [ke depan]
peran Presiden dalam Reformasi Sektor Keamanan di Indonesia. Bab ini menggambarkan
perkembangan pengelolaan sektor keamanan di Indonesia dan peranan Presiden dalam
1
Yuliah Qotimah, adalah peneliti di Propatria Institute, Jakarta
Kusnanto Anggoro, “Reformasi Sektor Keamanan, Kewenangan Negara dan Partisipasi Publik,” Pengantar
Ketiga dalam Tim Propatria, (Andi Widjajanto (ed.)), Reformasi Sektor Keamanan Indonesia (Jakarta: ProPatria,
2004) h. xviii
2
5
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
reformasi sektor keamanan. Selanjutnya pertanyaan masalah akah dijawab berdasarkan
analisis terhadap lingkungan internal dan eksternal. Analisis lingkungan internal meliputi
kelemahan dan kekuatan dalam proses pengelolaan sektor keamanan.Sementara analisis
linkungan eksternal meliputi ancaman dan peluang bagi Presiden memainkan peranannya
dalam RSK .
Peran Ideal Presiden (Eksekutif) dalam Reformasi Sektor Keamanan
Dalam konteks RSK, fungsi dari lembaga eksekutif (otoritas sipil) adalah untuk melaksanakan
kontrol politik terhadap berbagai kebijakan, penganggaran dan operasi para aktor sektor
keamanan. Eksekutif harus memastikan terlaksananya prinsip-prinsip good governance
dalam RSK. Lingkup kegiatan RSK sendiri sangat luas yang meliputi pertanggung-gugatan
(accountability) aktor sektor keamanan; ketaatan dan kepatuhan aktor sektor keamanan
terhadap hukum baik domestik maupun internasional; transparansi perencanaan,
penganggaran dan operasi para aktor sektor keamanan; supremasi sipil atas militer yang
didasari penghormatan terhadap hak asasi manusia; pelibatan masyarakat sipil untuk
mengawasi, mengatur dan berpartisipasi secara konstruktif dalam berbagai debat politik
terkait dengan kebijakan, penganggaran dan operasi aktor sektor keamanan; dan terakhir
adalah kesetaraan individu di depan hukum maupun dalam proses hukum berdasar tata cara
3
yang adil dan transparan.
Berdasarkan lingkup kegiatan RSK di atas, maka programnya mencakup reformasi
pertahanan, reformasi kepolisian, reformasi intelijen, reformasi hukum dan peradilan,
pengawasan parlemen, penguatan masyarakat sipil serta akuntabilitas dan transparansi
4
anggaran dan keuangan aktor sektor keamanan. Pengertian RSK yang seperti ini melibatkan
banyak aktor dan terlalu luas yang belum tentu aktivitas utamanya terkait dengan masalah
keamanan. Oleh karenanya, bab ini memahami aktor RSK seperti yang didefinisikan oleh
David Chuter, 'semua institusi yang memiliki peranan utama dalam menyediakan keamanan
internal dan eksternal termasuk juga badan-badan yang bertanggung jawab dalam hal
administrasi, penugasan dan kontrol terhadap institusi-institusi tersebut. Dalam prakteknya,
institusi tersebut mencakup militer, polisi, intelijen, paramiliter dan badan-badan
5
pemerintahan yang bertanggung jawab dalam pengelolaan mereka.
Merujuk pada definisi Chuter, dengan demikian Presiden (Eksekutif) adalah institusi
pemerintahan yang bertanggung jawab dalam pengelolaan semua institusi keamanan.
Sehingga program RSK tersebut mencakup program reformasi pertahanan, reformasi
kepolisian dan reformasi intelijen. Dalam reformasi pertahanan, eksekutif mengawasi upaya
agar militer menjadi tentara profesional dengan karakteristik : 1) tidak berpolitik dan
3
Anak Agung Banyu Perwita, Rekam Jejak Proses SSR Indonesia 2000-2005.
Ann Fitzgerald, Security Sector Governance Modul, 7 Februari 2007, Cranfield University-ITB. Untuk daerah
pasca konflik ditambah dengan program Disarmament, Demobilization and Rehabilitation (DDR)/ Small Arms
and Light Weapons (SALW), sedangkan pada tingkatan solusi internasional atau regional juga mencakup UN
5
David Chuter, “Understanding Security Sector Reform” dalam Journal of Security Sector Management Volume 4
Number 2 – April 2006
4
6
Presiden dan Reformasi Sektor Keamanan
berniaga, 2) mempunyai keahlian, kesatuan profesi, kompetensi teknis, serta mengetahui
secara persis etika-etika militer, etika-etika perang, dan 3)Ketika tentara digelar untuk
digunakan, berhasil memenangkan perang.6 Sementara dalam reformasi kepolisian,
Eksekutif berperan untuk mewujudkan Kepolisian sipil yang demokratik, profesional dan
akuntabel dalam pelaksanaannya berpacu dengan tugasnya untuk penegakkan hukum dan
mewujudkan keamanan dan ketertiban dalam masyarakat. Polisi Sipil mengedepankan
pendekatan kemanusiaan sehingga pada Polisi Sipil melekat sikap budaya yang sopan,
santun, ramah , tidak melakukan kekerasan dan mengedepankan persuasi.7 Terkait reformasi
intelijen, eksekutif dituntut untuk memastikan lembaga-lembaga intelijen dapat diawasi
untuk menjamin bahwa lembaga intelijen melaksanakan prioritas kebijakan pemerintah
yang ditetapkan sesuai dengan tantangan keamanan nasional yang dihadapi. Idealnya,
lembaga intelijen bersifat sipil, tunduk pada kendali demokratis, memiliki payung hukum
setingkat undang-undang, merupakan bagian dari sistem keamanan nasional yang netral
secara politik, akuntabel dan siaga. 8
Tinjauan Singkat : Peranan Presiden (Eksekutif) dalam Pengelolaan Sektor Keamanan
Awal Kemerdekaan sampai Pra-Reformasi
Sarana dan prasarana yang kurang mendukung penerapan sistem demokrasi ala Amerika
berakibat pada rapuhnya kabinet presidensiil Soekarno yang dibentuk pada masa awal
kemerdekaan. Soekarno pun berperan sebagai kepala pemerintahan (pemegang kekuasaan
eksekutif ) hanya seumur jagung. Pada masa kabinet presidensiil ini, sektor militer
(pertahanan) tidak menjadi perhatian utama kekuasaan eksekutif, dengan tidak dibentuknya
kementerian pertahanan dalam kabinet Soekarno,9 walaupun PPKI membentuk sebuah
Badan Penolong Keluarga Kurban Perang yang mencakup Badan Keamanan Rakyat (BKR
pada 22 Agustus 1945. Seiring dengan perubahan BKR menjadi Tentara Keamanan Rakyat
(TKR) pada 5 Oktober 1945, tuntutan dibentuknya Menteri Pertahanan semakin menguat.
Akan tetapi realisasinya baru dapat terwujud pada masa kabinet pimpinan Perdana Menteri
Sjahrir yang menjabat pada November 1945.
Pada masa Demokrasi Parlementer (1950-1957), seiring dengan menguatnya militer dan
kementerian pertahanan, perdana menteri yang memimpin kabinet berupaya untuk
menguasai tentara (militer) dengan jalan memecah-belah militer bahkan hingga
mengurangi anggaran, memblokir dana, dan memperlambat gaji bagi militer bagi yang tidak
tunduk pada kebijakan eksekutif.10 Namun penerapan demokrasi parlementer dengan
6
IDSPS, “Reformasi TNI,” Seri 4 Penjelasan Singkat, 5/2008
IDSPS, “Reformasi Kepolisian Republik Indonesia,” Seri 6 Penjelasan Singkat, 06/2008
8
IDSPS, “Reformasi Intelijen di Indonesia, “ Seri 5 Penjelasan Singkat, 06/2008
9
Yang dibentuk adalah Menteri Keamanan Rakyat dijabat oleh Soeprijadi, namun jabatan yang diberikan
semata-mata jabatan kehormatan karena Soeprijadi tidak diketahui keberadaannya. Jabatan ini pun diisi oleh
pejabat ad interim Soeljadikoesoemo pada 20 Oktober 1945 yang hanya bertugas selama sebulan.
10 Ulf Sundhaussen, Politik Militer Indonesia 1945-1967: Menuju Dwi Fungsi ABRI, (Jakarta: LP3ES,1986) h.121
7
7
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
model konsensus masa itu tidak menjamin terciptanya situasi yang aman untuk
terlaksananya program pembangunan ekonomi demi memajukan kesejahteraan rakyat. Hal
ini mengakibatkan tuntutan yang kuat dari militer untuk berperan dalam politik. Pada masa
transisi dari Demokrasi Parlementer menuju Demokrasi Terpimpin (1957-1959), Presiden
menjawab situasi yang berkembang tersebut, dengan melibatkan militer bidang politik dan
ekonomi terkait dengan upaya nasionalisasi perkebunan dan perusahaan-perusahaan
Belanda, dan juga penetapan SOB (negara dalam keadaan bahaya) akibat munculnya
berbagai pemberontakan bersenjata. Ketika SOB diberlakukan, Polisi pun dimiliterisasikan
dan dinyatakan bahwa kedudukannya adalah salah satu unsur dari Angkatan Bersenjata
Republik Indonesia (ABRI). Dengan demikian, kedudukannya berada langsung di bawah
Presiden bersama dengan angkatan perang AD, AL, dan AU. 11
Silih bergantinya kabinet yang berusia singkat sejak 1950, mendesak Soekarno untuk
menerapkan sistem Demokrasi Terpimpin sejak 10 Juli 1959 dengan kekuasaan eksekutif
sepenuhnya berada di Presiden. Presiden membentuk kabinet yang mengakomodiir
kepentingan militer, dengan mengangkat sejumlah petinggi militer sebagai Menteri.
Presiden membentuk Badan Koordinasi Intelijen (BKI) yang sepenuhnya berada di bawah
arahan presiden, tetapi lembaga ini sulit berkoordinasi dengan intelijen militer sehingga
kurang dapat berperan optimal. Ketika hubungan Presiden memburuk dengan militer
terutama Angkatan Darat pada paruh kedua masa pemerintahan Demokrasi Terpimpin,
mendesak Presiden untuk mendirikan Badan Pusat Informasi (BPI) yang dipimpin Dr.
Subandrio. Badan ini dibentuk untuk mengimbangi ancaman politik yang datang dari
kelompok TNI Angkatan Darat.12 Nasib lembaga ini pun setali tiga uang dengan lembaga
intelijen sebelumnya.
Pada masa demokrasi terpimpin, Presiden Soekarno menggunakan kekuasaannya secara
berlebihan dengan dalih hak prerogatif yang dimilikinya dalam pengelolaan sektor
keamanan. Presiden pada paruh akhir demokrasi terpimpin sangat dekat dengan Partai
Komunis Indonesia (PKI), sehingga hal ini tidak disukai oleh militer terutama AD. Ketika terjadi
upaya Kudeta yang dipimpin oleh Kol. Untung kemudian ditindaklanjuti dengan peristiwa G
30 S PKI tahun 1965, AD dengan segera mengambil tindakan untuk pengalihan kekuasaan di
bawah pimpinan Letjend. Soeharto. Dengan legitimasi Surat Perintah 11 Maret 1966,
Soeharto membubarkan PKI beserta seluruh organisasi di bawah naungannya, menangkapi
anggota PKI termasuk beberapa orang menteri dan pembantu utama Presiden Soekarno,
yang akhirnya berkuasa pada tahun 1967.
11
“Sejarah Polisi”, Tempointeraktif, 21 April 2004. Polisi pada awal masa kemerdekaan ditempatkan di bawah
kementerian dalam negeri, dan kemudian pada 1 Juli 1946 berada langsung di bawah Perdana Menteri. Dengan
kedudukan yang sama dengan angkatan perang, Polisi dimiliterisasikan karena menempuh pendidikan yang
sama dengan angkatan perang di Magelang.
12
Hariyadi Wirawan, “Evolusi Intelijen Indonesia” dalam Andi Widjajanto (ed.), Reformasi Intelijen Negara,(
Jakarta:Pacivis &FES, 2005) h. 24
8
Presiden dan Reformasi Sektor Keamanan
Pada masa Presiden Soeharto dan rezim Orde Baru-nya, kekuasaan eksekutif begitu kuat
dalam pemerintahan Indonesia. Hal ini berdampak pada pengelolaan sektor keamanan.
Militer memegang peranan yang dominan dalam kehidupan sosial dan politik di masa Orde
Baru dengan ideologi Dwi Fungsi-nya. Dalam struktur tersebut AD menjadi angkatan
dominan dan mendapatkan perhatian yang lebih dari angkatan yang lainnya dalam hal
pembiayaan dan pengadaan alutsista. Dapat dipastikan bahwa yang menjadi Menhankam
pada masa Soeharto adalah para jenderal dari AD. Dengan dalih stabilitas politik untuk
pembangunan ekonomi, Soeharto mengelola sektor keamanan sebagai alat untuk
melanggengkan kekuasaannya. Melalui pembentukan Komando Pemulihan Keamanan dan
Ketertiban (Kopkamtib) di tahun 1965 yang digantikan dengan Badan Koordinasi Bantuan
Pemantapan Stabilitas Nasional (Bakorstanas) di tahun 1988, Soeharto juga menggunakan
seluruh aset dan personalia sipil di Indonesia demi kepentingan apa yang disebut
pemerintah Orde Baru sebagai mempertahankan pelaksanaan pembangunan yang berdasar
Pancasila dan UUD 1945. 13
Ketika Habibie menggantikan Soeharto 21 Mei 1998, tidak banyak perubahan yang
dilakukannya terkait pengelolaan sektor keamanan meskipun tuntutan reformasi sektor
keamanan diserukan. Salah satu kebijakan penting pada masa B.J. Habibie adalah
pencabutan status Daerah Operasi Militer di Aceh tanggal 7 Agustus 1998, walaupun hal
tersebut tidak mengurangi tingkat kekerasan di Aceh. Tuntutan reformasi ABRI dijawab oleh
Habibie dengan mengeluarkan Inpres No.2/1999, tanggal 1 April 1999 yang mendukung
pemisahan TNI-Polri namun hal tersebut belum terlaksana karena belum adanya pemisahan
jabatan Menhankam dan Panglima TNI. Tuntutan tersebut baru dijawab ketika pada
September 1999, ABRI menyatakan posisinya dalam buku Redefinisi, Reposisi dan
Reaktualisasi Peran ABRI, termasuk pencabutan dwi fungsi ABRI dan peran sosial politik ABRI.
Masa Awal Reformasi
Seiring dengan gema reformasi pemerintahan pada tahun 1998 yang menuntut penerapan
demokrasi untuk menjamin hak-hak asasi manusia, sektor keamanan pun tak luput dari
perhatian. Pengalaman yang buruk pada era Orde Baru menghantarkan kesadaran untuk
mewujudkan sektor keamanan yang dapat berfungsi sebagai penyedia keamanan bagi
rakyat. Bersamaan dengan lengsernya Soeharto, konflik internal dengan kekerasan yang
dinuansai dengan masalah ketidakadilan karena identitas etnik/agama merebak di Indonesia
seperti di Poso, Ambon, dan Sampit. Hal ini merupakan tantangan keamanan bagi
pemerintahan reformasi hasil pemilu 1999 di bawah Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Di satu
sisi, TNI harus menjauhkan dirinya dari persoalan keamanan internal sementara di sisi lain
Polisi belum siap sepenuhnya menghadapi berbagai kerusuhan yang terjadi pada saat itu.
Menghadapi hal ini, Gus Dur tidak memiliki pilihan lain kecuali membersihkan TNI dari
kekuatan pro-status quo.14 Demi tegaknya supremasi sipil, Gus Dur mengeluarkan kebijakan
13
“Ketua Mahkamah Agung dari Kusumah Atmadja hingga Harifin A. Tumpa”, diakses dari
http://www.hukumonline.com/detail.asp?id=21016&cl=Berita, pada 12 Mei 2009.
14
J. Sumardianta, “ Tonggak Supremasi Sipil” dalam Kompas, 4 Maret 2000
9
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
untuk memisahkan jabatan Menteri Pertahanan dengan Panglima TNI. Untuk membersihkan
pengaruh Orde Baru, Gus Dur pun melikuidasi Bakorstanas dan Litsus yang digunakan
Presiden Soeharto untuk mengamankan kekuasaannya.
Pada masanya, Gus Dur menandatangani sebuah keputusan (Keppres No. 89/2000) untuk
melepas pengawasan kepolisian nasional dari departemen pertahanan ke pengawasan
sipil.15 Dengan Keppres ini, Polri ditempatkan sebagai institusi utama penegakkan hukum
dan penanganan keamanan dan ketertiban dalam negeri yang secara langsung berada di
bawah kendali Presiden Penempatan institusi Polri terpisah dari TNI dan langsung di bawah
Presiden mengharuskan pembenahan, peningkatan sekaligus pemberdayaan institusi ini.16
Untuk memperkuat hal tersebut Gus Dur mengeluarkan Keputusan Presiden yang mengatur
organisasi dan tata kerja kepolisian Republik Indonesia, dalam Keppres No. 54 2001 yang
diperbarui dengan Keppres No. 77 Tahun 2001. Gus Dur juga mengubah nama BAKIN menjadi
Badan Intelijen Negara pada 22 Januari 2001. Dengan reorganisasi ini unsur-unsur sipil
dilibatkan dan paradigma intelijen berubah dari fokus pengawasan persoalan politik dalam
negeri menjadi keamanan yang preventif. BIN pun diharuskan bertanggung jawab ke
Parlemen dan Presiden. Sehingga parlemen dimungkinkan untuk memiliki fungsi
pengawasan terhadap badan tersebut. 17
Ketika Megawati menjadi Presiden pasca peristiwa impeachment Gus Dur, Megawati
mengesampingkan reformasi terhadap struktur komando teritorial, mencopot perwira yang
kontroversi dan mengijinkan serangan militer di Aceh dan Papua.18 Pada masanya beberapa
regulasi yang mendukung reformasi sektor keamanan berhasil diundangkan seperti UU
Kepolisian No.2 Tahun 2002, UU Pertahanan No.3 Tahun 2002 dan UU No. 34 Tahun 2004
tentang TNI. Pada masa pemerintahan Megawati, Indonesia menghadapi tantangan
keamanan yang cukup serius dengan adanya dua peristiwa teror Bom Hotel JW Marriot dan
Bom Bali pada tahun 2002. Untuk itu Megawati mengeluarkan Instruksi Presiden No.5/2002
kepada Kepala Badan Intelijen Negara, untuk melakukan pengkoordinasian penyusunan
perencanaan umum dan pengkoordinasian pelaksanaan operasional kegiatan intelijen
seluruh instansi lainnya, yang menyelenggarakan fungsi tersebut sebagai bagian atau untuk
mendukung penyelenggaraan tugas masing-masing.
Kekuasaan Presiden di Sektor Keamanan
Pada periode 1999-2004, MPR telah berhasil melakukan empat kali amandemen UUD 1945,
termasuk Pasal yang berkaitan dengan kekuasaan Presiden sebagai kepala negara dan
kepala pemerintahan. Merujuk pada UUD 1945 pasca amandemen, kekuasaan Presiden
15
“Dari Rezim ke Rezim : Penegakkan HAM Jalan di Tempat” diakses dari
http://www.elsam.or.id/txt/asasi/2001_0102/05.html, pada 24 April 2009, 2.09 WIB
16 Tutut Herlina, “Mengasingkan Diri dari Panggung Politik” dalam Sinar Harapan, 29 Januari 2007, diakses
dari http://www.sinarharapan.co.id/berita/0701/29/nas08.html, 24 April 2009, 3.21
17 The Military and Democracy in Indonesia: Challenges, Politics and Power. Diakses dari....
18 Marcus Mietzner, The Politics of Military Reform in Post- Suharto Indonesia: Elite Conflict, Nationalism and
Institutional Resistance (Washington: East West Center, 2006) h.34
10
Presiden dan Reformasi Sektor Keamanan
sebagai kepala negara diatur dalam Pasal 10 sampai Pasal 15. Namun, seringkali kekuasaan
sebagai kepala negara ini diidentikkan dengan kepemilikan atas hak prerogatif Presiden.
Tetapi mengingat pengalaman sejarah masa lalu, hak ini dibatasi dan dapat dikontrol oleh
lembaga negara lain. Sementara sebagai kepala pemerintahan diatur dalam Pasal 4 Ayat 1.
Kekuasaan pemerintahan identik dengan kekuasaan eksekutif dalam konsep pemisahan
kekuasaan yang terbatas sebagai pelaksana peraturan yang dibuat oleh lembaga legislatif.
Dalam menetapkan dan melaksanakan kebijakan-kebijakan politiknya, kekuasaan eksekutif
ini mendapat pengawasan dari badan legislatif. Dalam UUD 1945, fungsi pengawasan ini
dilaksanakan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).19
Pada periode yang sama, Presiden bersama DPR telah mengundangkan UU Pertahanan
Negara, UU Kepolisian RI dan UU TNI yang menjadi dasar bagi pengelolaan sektor keamanan.
Namun sayangnya, belum ada UU Intelijen yang menjadi dasar bagi pengelolaan lembaga
intelijen terkait dengan program reformasi intelijen. Dalam tabel berikut, diuraikan
mengenai landasan hukum kekuasaan Presiden dalam pengelolaan sektor keamanan di
Indonesia dan kedudukan institusi keamanan dalam struktur kekuasaan negara yang diatur
oleh UUD 1945 Pasca Amandemen, UU Pertahanan Negara, UU TNI dan UU Kepolisian.
Tabel 1 Kekuasaan Presiden Indonesia di Sektor Keamanan
Sumber Hukum
UUD 1945
Pasca
Amandemen
Pasal
10
11 (1)
12
30(3)
30(4)
UU Pertahanan
Negara
10 (1)
13 (1)
13(2)
14(1)
14(2)
19
Isi
Presiden memegang kekuasaan yang tertinggi atas Angkatan Darat,
Angkatan Laut dan Angkatan Udara
Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat menyatakan
perang, membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain.
Presiden menyatakan keadaan bahaya. Syarat-syarat dan akibatnya keadaan
bahaya ditetapkan dengan undang-undang
Tentara Nasional Indonesia terdiri atas Angkatan Darat, Angkatan Laut dan
Angkatan Udara sebagai alat negara yang bertugas mempertahankan,
melindungi, dan memelihara keutuhan dan kedaulatan negara.
Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai alat negara yang menjaga
keamanan dan ketertiban masyarakat bertugas melindungi, mengayomi,
melayani masyarakat serta menegakkan hukum.
Tentara Nasional Indonesia berperan sebagai alat pertahanan Negara
Kesatuan Republik Indonesia
Presiden berwenang dan bertanggung jawab dalam pengelolaan sistem
pertahanan negara
Dalam pengelolaan sistem pertahanan negara, sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1), Presiden menetapkan kebijakan umum pertahanan negara yang
menjadi acuan bagi perencanaan, penyelenggaraan dan pengawasan sistem
pertahanan negara.
Presiden berwenang dan bertanggung jawab atas pengerahan kekuatan
Tentara Nasional Indonesia
Dalam hal pengerahan kekuatan Tentara Nasional Indonesia untuk
menghadapi ancaman bersenjata , kewenangan (Presiden) harus mendapat
persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.
Inpres No. 5 Tahun 2002 kepada Kepala Badan Intelijen Negara
11
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
14(3)
14(4)
14(5)
15 (1)
16(2)
17(1)
17 (3)
17( 4)
18 (3)
UU TNI
3(1)
3(2)
5
12(4)
13(2)
13(3)
14(2)
17(1)
17 (2)
18 (1)
18(2)
19(2)
33(1)
43(1)
59(1)
12
Dalam hal keadaan memaksa untuk menghadapi ancaman bersenjata ,
Presiden dapat langsung mengerahkan kekuatan Tentara Nasional Indonesia
Pengerahan Kekuatan Tentara Nasional Indonesia sebagaimana dimaksud
dalam ayat (3), Presiden dalam waktu paling lambat 2 x 24 jam harus
mengajukan persetujuan kepada Dewan Perwakilan Rakyat
Dalam hal Dewan Perwakilan Rakyat tidak menyetujui pengerahan ,
sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) Presiden menghentikan pengerahan
operasi militer.
Dalam menetapkan kebijakan umum pertahanan negara sebagaimana
dimaksud dalam pasal 13 ayat (2) , Presiden dibantu oleh Dewan
Pertahanan Nasional.
Menteri membantu Presiden dalam merumuskan kebijakan umum
pertahanan negara
Presiden mengangkat dan memberhentikan Panglima setelah mendapat
persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat
Presiden mengangkat dan memberhentikan Kepala Staf Angkatan atas usul
Panglima
Tata cara pengangkatan dan pemberhentian Panglima dan Kepala Staf
Angkatan , sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (3), diatur lebih
lanjut dengan keputusan Presiden
Panglima TNI bertanggung jawab kepada Presiden dalam penggu naan
komponen pertahanan negara dan bekerja sama dengan Menteri dalam
pemenuhan kebutuhan Tentara Nasional Indonesia
Dalam pengerahan dan penggunaan kekuatan militer, TNI berkedudukan di
bawah Presiden
Dalam kebijakan dan strategi pertahanan serta dukungan administrasi TNI
di bawah koordinasi Departemen Pertahanan
TNI berperan sebagai alat negara di bidang pertahanan yang dalam
menjalankan tugasnya berdasarkan kebijakan dan keputusan politik negara
Susunan organisasi TNI sebagaimana dimaksud pada ayat 1, diatur lebih
lanjut dengan Keputusan Presiden
Panglima diangkat dan diberhentikan oleh Presiden setelah mendapat
Pengangkatan dan pemberhentian Panglima dilakukan berdasar kan
kepentingan organisasi TNI
Kepala Staf Angkatan diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas usul
Panglima
Kewenangan dan Tanggung Jawab pengerahan kekuatan TNI berada pada
Presiden
Dalam hal pengerahan kekuatan TNI sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
Presiden harus mendapat persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.
Dalam hal keadaan memaksa untuk menghadapi ancaman militer dan/atau
ancaman bersenjata , Presiden dapat langsung mengerahkan kekuatan TNI
Dalam hal pengerahan langsung kekuatan TNI sebagaimana dimaksud pada
ayat (1), dalam waktu 2 X 24 jam terhitung sejak dikeluarkannya keputusan
pengerahan kekuatan, Presiden harus melaporkan kepada Dewan
Perwakilan Rakyat.
Dalam hal penggunaan kekuatan TNI sebagaimana yang dimaksud pada
ayat (1), Panglima bertanggung jawab kepada Presiden
Perwira diangkat oleh Presiden atas usul Panglima
Kenaikan pangkat kolonel dan perwira tinggi ditetapkan oleh Presiden atas
usul Panglima
Prajurit berpangkat Kolonel dan Perwira Tinggi , diberhentikan dari Dinas
Keprajuritan dengan Keputusan presiden
Presiden dan Reformasi Sektor Keamanan
UU Kepolisian
5(1)
7
8(1)
8(2)
11(1)
11(2)
11(5)
11(7)
24(1)
24(2)
38(1)
Kepolisian Negara Republik Indonesia merupakan alat negara yang
berperan dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat,
menegakkan hukum serta memberikan perlindungan, pengayoman, dan
pelayanan kepada masyarakat dalam rangka terpeliharanya keamanan dalam
negeri.
Susunan organisasi dan tata kerja Kepolisian Negara Republik Indonesia
disesuaikan dengan kepentingan pelaksanaan tugas dan wewenangnya yang
diatur lebih lanjut dengan Keputusan Presiden
Kepolisian Negara Republik Indonesia berada di bawah Presiden
Kepolisian Negara Republik Indonesia dipimpin oleh Kapolri yang dalam
pelaksanaan tugasnya bertanggung jawab kepada Presiden sesuai dengan
peraturan perundang-undangan .
Kapolri diangkat dan diberhentikan oleh Presiden dengan persetujuan
Dewan Perwakilan Rakyat.
Usul pengangkatan dan pemberhentian Kapolri diajukan oleh Presiden
kepada Dewan Perwakilan Rakyat disertai dengan alasannya.
Dalam keadaan mendesak, Presiden dapat memberhentikannya sementara
Kapolri dan mengangkat pelaksana tugas Kapolri dan selanjutnya
dimintakan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat
Tata cara pengusulan atas pengangkatan dan pemberhentian Kapolri diatur
lebih lanjut dengan Keputusan Presiden
Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia menjalani dinas
keanggotaan dengan ikatan dinas
Ketentuan mengenai ikatan dinas sebagaimana dimaksud dalam a yat (1)
diatur lebih lanjut dengan Keputusan Presiden
Komisi kepolisian Nasional bertugas untuk :
a. membantu Presiden dalam menetapkan arah kebijakan Kepolisian
Negara Republik Indonesia
Berdasarkan tabel di atas, khususnya untuk sektor pertahanan, prinsip supremasi sipil telah
tercermin. Presiden memiliki kekuasaan dan tanggung jawab yang begitu luas untuk
pengelolaan sektor keamanan. Ini merefleksikan sistem presidensiil Indonesia. Namun
demikian, kedudukan ini akan menjadi bermasalah bila Presiden yang berkuasa terlalu
berlebihan dalam menggunakan hak prerogatifnya terutama dalam penggunaan kekuatan
militer. Dikhawatirkan akan terulang rezim-rezim otoriter seperti sebelum reformasi. Oleh
karenanya, berkembang wacana di Indonesia beberapa tahun terakhir untuk dibentuknya
Dewan Keamanan Nasional (DKN), suatu mekanisme pengambilan keputusan oleh para
pejabat eksekutif di bidang politik mengenai permasalahan keamanan nasional.
Gagasan pembentukan DKN sendiri, telah diwacanakan pada masa pemerintahan Megawati
di tahun 2002. Dewan ini akan membantu tugas-tugas presiden untuk memilih berbagai opsi
yang ada serta mengambil keputusan berkaitan dengan isu-isu internasional yang
berhubungan dengan keamanan negara.20 Melalui DKN, Presiden akan memiliki payung
hukum untuk menyusun suatu kebijakan strategis Keamanan Nasional sehingga secara
otomatis terbentuk suatu mekanisme koordinasi antara TNI, Polri dan Intelijen Negara. 21
20
“Dewan Keamanan Nasional Tangani Isu Internasional,” Tempointeraktif, 11 Oktober 2002
Hendrajit, “DPR Mendatang Harus Revisi UU Pertahanan No.3 / 2002,” diakses dari http://www.theglobalreview.com/content_detail.php?lang=id&id=188&type=8 , 18 Mei 2009, 11.01 WIB
21
13
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Tantangan dan Hambatan RSK di Masa Soesilo Bambang Yudhoyono
Wacana tentang pembentukan DKN adalah salah satu wacana yang menghangat ketika
Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) terpilih menjadi Presiden dalam Pemilihan Langsung
tahun 2004 bersama Jusuf Kalla. Gagasan mengenai DKN ini menjadi salah satu tantangan
yang dihadapi oleh pemerintahan SBY terkait dengan Reformasi Sektor Keamanan.
Tantangan lain yang dihadapi oleh SBY adalah regulasi RSK yang sangat penting untuk
menjadi landasan hukum bagi proses reformasi sektor keamanan. Tantangan spesifik yang
dihadapi oleh SBY terkait reformasi pertahanan adalah terkait penertiban bisnis TNI,
anggaran pertahanan dan alutsista. Sementara untuk reformasi kepolisian khususnya adalah
reformasi kultural dan untuk reformasi intelijen adalah RUU Intelijen dan koordinasi intelijen.
Tantangan terkait Regulasi RSK, untuk sektor pertahanan sendiri, menurut Kusnanto
Anggoro setidaknya diperlukan amandemen 7 Undang-undang (Pertahanan Negara, TNI,
Mobilisasi Demobilisasi), pencabutan 1 UU (rakyat terlatih), dan menyusun 10 UU baru (Wajib
Militer, Belanegara, Pendidikan Kewarganegaraan, Pelatihan Dasar Kemiliteran, Komponen
Cadangan Pertahanan Negara, Tataruang Wilayah Pertahanan, Operasi Militer selain Perang,
Perbantuan TNI, Intelijen Negara dan Rahasia Negara).22 Sementara itu, bila mengacu pada
program legislasi nasional 2005-2009, terdapat 10 RUU terkait RSK yang menjadi perhatian
DPR yakni RUU tentang Rahasia Negara, RUU tentang Kebebasan Memperoleh Informasi
Publik, RUU tentang Perubahan Atas UU No.31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer, RUU
tentang Komponen Cadangan, RUU tentang Komponen Pendukung, RUU tentang
Pertahanan dan Keamanan Negara, RUU tentang Pelatihan Dasar Kemiliteran Secara Wajib,
RUU tentang Pengabdian di Bidang Pertahanan Secara Profesi, RUU Perbantuan TNI kepada
POLRI (Dalam Rangka Tugas Keamanan) dan RUU tentang Intelijen Negara.23 (Lihat Tabel 2)
Tabel 2. RUU terkait RSK dalam PROLEGNAS 2005-2009
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
Nama RUU
RUU tentang Rahasia Negara
RUU tentang Kebebasan Memperoleh
Informasi Publik
RUU tentang Perubahan Atas UU No.31
Tahun 1997 tentang Peradilan Militer
RUU tentang Komponen Cadangan
RUU tentang Komponen Pendukung
RUU tentang Pertahanan dan Keamanan
Negara
RUU tentang Pelatihan Dasar
Kemiliteran secara Wajib
RUU tentang Pengabdian di bidang
Pertahanan secara profesi
RUU tentang Perbantuan TNI kepada
POLRI (Dalam Rangka Tugas
Keamanan)
RUU tentang Intelijen Negara
Prioritas berdasarkan tahun anggaran 2009 24
Sedang dalam Pembahasan, Luncuran pembahasan
tahun 2006
Sedang dalam Pembahasan, Luncuran pemba hasan
tahun 2005
Draft RUU dan Naskah Akademik telah disiapkan
oleh Pemerintah
Draft RUU dan Naskah Akademik telah disiapkan
oleh Pemerintah
22 Kusnanto Anggoro, “Menakar Reformasi Sektor Keamanan Masa Pemerintahan Yudhoyono” M. Najib Azca &
Moch. Faried Cahyono (ed.), Konflik dan Reformasi TNI di Era SBY, (Yogyakarta: CSPS Books, 2004) h. 38
23 Program Legislasi Nasional, Tahun 2005-2009, diakses dari
h t t p : / / w w w. d p r. g o. i d / a s s e t s / b e r k a s / b a d a n _ l e g i s l a t i f / p r o l e g n a s / P R O L E G N A S % 2 0 2 0 0 5 2009_Prolegnas%202005-2009.pdf, 27 Mei 2009, 19.23WIB
14
Presiden dan Reformasi Sektor Keamanan
Dalam perkembangannya, terdapat 1 RUU yang tidak masuk sebagai agenda Program
Legislasi Nasional namun menjadi perhatian masyarakat yakni RUU Keamanan Nasional (RUU
Kamnas). RUU Kamnas ini diusung oleh Departemen Pertahanan. Draft awal peraturan ini
dibahas sejak tahun 2005. RUU ini mulai mengemuka pada awal 2007, namun
keberadaannya mengundang kontroversi. RUU ini ditolak oleh Kepolisian RI karena akan
dinilai akan mengembalikan paradigma lama karena mencampuradukkan pertahanan dan
keamanan. RUU Kamnas dinilai akan mengerdilkan kewenangan Polri dan instansi lainnya
yang mempunyai kewenangan di bidang keamanan sesuai dengan undang-undang yang
mendasarinya.25 Tetapi yang luput dari kontroversi tersebut adalah bahwa RUU Kamnas
digagas untuk membuat aturan tentang pembentukan DKN dan bagaimana dewan itu
bekerja. RUU Kamnas juga dimaksudkan menjadi operasionalisasi Pasal 30 UUD 1945 untuk
membedakan antara manajemen pertahanan negara dan manajemen keamanan negara.26
Menanggapi polemik RUU Kamnas tersebut, akhirnya Dephan menyerahkan
pembahasannya pada Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum dan HAM
(Menkopolhukam). Awal 2008, draft RUU Kamnas kemudian dilimpahkan ke Lemhanas.
Lemhanas bertugas menyusun kajian akademik draft RUU Kamnas dan menetapkan
parameter dasar tentang isu keamanan nasional. Tugas tersebut diselesaikan oleh Lemhanas
pada Juli 2008 yang kemudian hasilnya diserahkan ke Menkopolhukam.27 Dephan
memberikan respon dengan mengadakan pertemuan yang membahas kewenangan
Menkominfo dan Polri dalam menetapkan keamanan dari segi ketertiban masyarakat dan
mengenai spektrum Kamnas.28 Ini mencerminkan sikap Presiden SBY yang tetap ingin
menghormati proses birokrasi yang telah dilakukan oleh Dephan dengan tidak
mengintervensi pembahasan yang sedang berlangsung.
Sementara itu, RUU yang juga dinilai lamban direspon oleh Presiden adalah RUU tentang
Perubahan atas UU No.31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer. Perdebatan awalnya adalah
mengenai keharusan anggota TNI yang melakukan tindakan pidana umum untuk diadili di
pengadilan umum. Namun setelah perdebatan tersebut berhasil disepakati, RUU tersebut
terganjal oleh perdebatan tentang penyidik yang akan menangani kasus pidana umum
anggota TNI tersebut. Pemerintah menghendaki agar penyidiknya tetap polisi militer. Dalam
perkembangannya terakhir sikap pemerintah ini didukung sebagian fraksi di DPR pada
sidang 12 Februari 2009. Sehingga RUU Peradilan militer tetap menjadi agenda DPR untuk
masa sidang IV yang berlangsung 13 April – 3 Juli 2009. Meski RUU Peradilan Militer
disinggung Presiden dalam keterangan pers pasca Rapat Konsultasi Presiden dan DPR, 27 Mei
2009, Presiden lebih memberi perhatian pada proses RUU Tipikor daripada proses RUU
Peradilan Militer .
24
Program Legislasi Nasional, Rancangan Undang-undang Prioritas Tahun Anggaran 2009, diakses dari
http://www.dpr.go.id/assets/berkas/badan_legislatif/prolegnas/PROLEGNAS%20RUU%20PRIORITAS%20TAH
UN%202009_Prolegnas%20Tahun%202009.pdf, 27 Mei 2009, 19.27WIB
25 “Polri Tolak Draf RUU Keamanan Nasional: Konsep Dephan Dinilai Menyimpang dari Amanat Reformasi,”
Kompas, 6 Februari 2007
26 “Pemerintah Disarankan Tunda RUU Keamanan Nasional,” Kompas, 12 Februari 2007
27 “Bola Panas RUU Kamnas kembali ke Polhukham,” Kompas, 7 Juli 2008
28 “Dephan Kembali Jajaki Bahas RUU Kamnas,” Kompas, 10 Februari 2009
15
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Selain RUU Peradilan Militer, RUU terkait RSK yang masuk dalam daftar program legislasi
nasional untuk masa Sidang IV adalah RUU Rahasia Negara. Presiden menunjuk Menhan
sebagai mitra pembahas. Pro-kontra RUU ini mengacu pada masalah redaksional seperti
definisi rahasia negara dan pengertian lembaga negara yang berakibat terlalu luas dan
sangat rawan untuk disalahgunakan. Masalah yang mengemuka lainnya adalah mengenai
maksud dari kalimat 'untuk tujuan keamanan nasional, dan klausul yang memasukkan gaji
prajurit TNI sebagai informasi yang harus dirahasiakan. Hal ini dikhawatirkan akan
mengurangi akuntabilitas serta transparansi perencanaan dan penggunaan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Mengamati perkembangan terakhir, kepentingan
untuk mengundangkan RUU ini tidak hanya dari Presiden (pemerintah) tetapi juga datang
dari DPR meski beberapa fraksi berharap pembahasan RUU ini ditunda hingga UU
Keterbukaan Informasi Publik (KIP) diterapkan pada 2010.
RUU terkait RSK yang juga ramai diperbincangkan di akhir masa kerja DPR adalah RUU
tentang Komponen Cadangan Pertahanan Negara (KCPN). Draft RUU ini dibuat oleh Dephan
sejak akhir tahun 2006, sementara materinya dibahas sejak tahun 2003.Kekhawatiran terkait
dengan RUU ini adalah indikasi diberlakukannya Wamil bagi tiap warga negara. Tidak adanya
klausul yang jelas mengenai pihak yang bertanggung jawab atas mobilisasi komponen
cadangan dikhawatirkan akan berpotensi menghadapkan sesama warga negara yang
akhirnya berujung pada konflik horizontal. Terhadap polemik ini pun, Presiden tidak
melakukan intervensi. Proses RUU ini juga diserahkan oleh Presiden kepada proses birokrasi
yang dipimpin oleh Dephan.
Pengambilalihan Bisnis Militer
Sebagai konsekuensi untuk terbentuknya militer yang profesional sebagaimana di maksud
UU 34 Tahun 2004 tentang TNI , Pasal 2 (d), tentara tidak diperkenankan untuk berbisnis. Oleh
karenanya, dalam UU yang disahkan pada 16 Oktober 2004 tersebut juga diamanatkan dalam
Pasal 76 (1) : “Dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sejak berlakunya Undang-undang ini,
Pemerintah harus mengambil alih seluruh aktivitas bisnis yang dimiliki dan dikelola oleh TNI baik
secara langsung maupun tidak langsung.” Aturan tersebut berarti bahwa seluruh aktivitas
bisnis TNI harus diambil alih paling lambat 16 Oktober 2009. SBY sebagai Presiden terpilih
pada Pemilu 2004 wajib menaati amanat tersebut. Namun, demikian proses
pengambilalihan bisnis militer oleh Pemerintah belum terealisasi. Hal ini mendukung
proposisi bahwa selama kepemimpinan SBY, reformasi TNI terkesan lamban dengan berlarutlarutnya penertiban bisnis TNI oleh Pemerintah.
Dalam masalah pengambilalihan bisnis militer ini, ada kecenderungan bahwa pemerintah
didukung petinggi militer dan Departemen Pertahanan mengulur waktu pengalihan semua
bisnis hingga mendekati batas tenggat akhir. Pada awalnya, terlihat upaya serius pemerintah
dengan membentuk Tim Supervisi Transformasi Bisnis (TSTB) TNI yang mulai bekerja tahun
2005. Namun Presiden membutuhkan waktu tiga tahun untuk mengeluarkan landasan
hukum tentang Tim Nasional Pengalihan Aktivitas Bisnis TNI dengan Keppres No.7 Tahun
2008. Meski demikian, isi Keppres tidak sesuai dengan harapan masyarakat sipil. Tim yang
16
Presiden dan Reformasi Sektor Keamanan
terbentuk tidak memiliki wewenang untuk mengambil alih. Timnas hanya bertugas untuk
menginventarisasi, mengidentifikasi, dan mengelompokkan semua aktivitas bisnis TNI yang
dimiliki dan dikelola TNI, baik langsung maupun tidak. Selain itu Timnas ini ditugasi untuk
merumuskan langkah kebijakan untuk kemudian merekomendasikannya kepada Presiden.
Timnas ini menetapkan empat kategorisasi aktivitas bisnis TNI. Pertama, aktivitas bisnis yang
dimiliki, dikuasai, dan dikelola langsung oleh prajurit/institusi TNI. Kedua, aktivitas bisnis TNI
adalah aktivitas yang dimiliki, dikuasai, dan dikelola secara tidak langsung oleh
prajurit/institusi TNI, melalui badan hukum atau bentuk lain. Aktivitas itu juga melibatkan
dan mengikutsertakan prajurit aktif/institusi TNI dalam kegiatannya. Ketiga, aktivitas bisnis
yang berpotensi menyebabkan benturan kepentingan, yang akan mengganggu jati diri TNI.
Terakhir, aktivitas bisnis tersebut juga diketahui menggunakan, mengelola, menguasai, atau
mengambil manfaat dari kekayaan negara. Berdasarkan kategorisasi tersebut, ditemukan
aktivitas bisnis TNI meliputi 23 unit yayasan dengan 53 perseroan terbatas. Tim pelaksana
mencatat, nilai total aset yang dimiliki seluruh yayasan tadi mencapai Rp 1,8 triliun. Selain itu,
tercatat ada 1.098 koperasi dengan dua PT di dalamnya, yang terdapat mulai dari tingkat
Markas Besar TNI dan ketiga matra angkatan, hingga tingkat kesatuan-kesatuan terbawah.
Total nilai aset dari seluruh koperasi tersebut mencapai sekitar Rp 1,3 triliun dan
mempekerjakan 8.493 orang, yang 3.523 orang di antara mereka adalah personel prajurit TNI.
Timnas merumuskan beberapa rekomendasi kepada Presiden mengenai pengambilalihan
bisnis TNI. Satu, pengalihan bisnis TNI dilakukan dengan penataan dan reposisi serta
pelurusan atas semua yayasan dan koperasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku termasuk
koperasi dan barang milik negara (BMN), kecuali koperasi primer. Kedua, peran primer
koperasi (primkop TNI) digantikan oleh satuan kerja (satker) yang dibentuk oleh Dephan
sehingga lebih berperan memberikan layanan kepada prajurit. Ketiga, reposisi dan penataan
dilakukan dengan cara penggabungan yayasan TNI dengan yayasan sejenis di bawah
Dephan dengan koperasi TNI di bawah Dephan. Namun diperlukan finansial audit dan legal
audit yang menyeluruh terhadap yayasan dan koperasi TNI. Namun demikian, rekomendasi
tersebut belum direalisasikan oleh pemerintah. Hal ini dikarenakan penertiban bisnis TNI
terutama yang tengah menjalin kontrak dengan swasta terbentur hukum perdata karena
mengacu pada UU Koperasi dan Yayasan.
Anggaran Pertahanan dan Alutsista
Saat ini Indonesia dihadapkan pada terbatasnya alutsista TNI. Tidak hanya jumlahnya yang
terbatas tetapi juga kondisinya yang sebagian besar seharusnya sudah dinyatakan tidak laik.
Situasi ini ditambah lagi dengan kecelakaan berbagai jenis alutsista TNI yang kian sering
terjadi. Sejak pertengahan 2006 hingga pertengahan 2009 ini, terjadi 17 kecelakaan alutsista
TNI termasuk kecelakaan Hercules C-130 di Magetan 20 Mei 2009, Helikopter Bolkow 105 di
Cianjur, 8 Juni 2009 dan Heli Puma TNI AU di Bogor,12 Juni 2009. Keterbatasan anggaran
pertahanan dianggap sebagai lemahnya kekuatan alutsista Indonesia. Untuk tahun 2009 ini,
alokasi anggaran pertahanan adalah sebesar Rp.33,6 trilyun, urutan ketiga setelah anggaran
pendidikan dan kesehatan. Jumlah anggaran ini sebenarnya tidak sesuai dengan rencana
17
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
anggaran yang diajukan Dephan sebesar Rp.127 trilyun. Anggaran yang disetujui pun lebih
dari 70 persen-nya dialokasikan untuk belanja rutin sedangkan untuk perawatan dan
pemeliharaan alutsista mendapatkan alokasi kurang dari 20 persen.
Hingga saat ini fokus penggunaan anggaran terkait alutsista masih dialokasikan untuk
merawat dan mengoptimalkan kemampuan alutsista. Meski demikian, Dephan sendiri
belum berani menerapkan kebijakan drastis untuk mereduksi persenjataan yang berusia tua
milik TNI seperti yang pernah tiga kali dilakukan sebelumnya pada era 1950-an, 1971-76 dan
di era 1980-an. Alasan yang dikemukakan oleh Menhan adalah bila alutsista yang tua
direduksi, dikhawatirkan ketika TNI tidak dapat menjalankan kewajibannya karena
kekosongan alutsista dan juga terkait dengan masih tersedianya suku cadang alutsista di
pasar dunia, tidak akan mudah meminta produsen untuk melakukan buy back. Presiden SBY
mengakui bahwa anggaran pertahanan saat ini tidak mencukupi untuk membangun tentara
yang bisa mempertahankan negara dan menjalankan tugas pertahanan, bahkan jauh dari
memadai. Presiden juga menyatakan bahwa anggaran pertahanan yang dialokasikan
diarahkan untuk menunda pembelian alutsista baru tetapi bukan berarti anggaran tersebut
tidak cukup untuk pemeliharaan alutsista.
Reformasi Kepolisian
Memasuki tahun 2005, Polri berhasil menyusun rencana strategis (grand strategic) untuk 25
tahun. Jangka pendek (2005-2010) targetnya adalah membangun trust building. Untuk itu
Polri berupaya memperbaiki budaya pelayanan, membangun kekuatan bantuan teknologi
kepolisian, membudayakan tata hukum Indonesia dalam rangka supremasi hukum dan
pembangunan aparat Polri sebagai penegak hukum terdepan. Pada jangka menengah,
(2011-2015), Polri menargetkan untuk membangun partnership/networking, sedangkan
untuk jangka panjang (2016 -2025) targetnya adalah membangun strive of excellence. Namun
demikian yang paling menonjol dari perjalanan reformasi kepolisian adalah reformasi
struktural dan instrumental, tetapi yang paling mengganjal adalah reformasi kultural.
Menurut survey yang dilakukan oleh ProPatria Institute dan Indo Barometer pada tahun
2007, sebanyak 49,8% dari 1200 responden yang tersebar di 33 provinsi di seluruh Indonesia
menyatakan tidak setuju bahwa kinerja Polri saat ini sudah cukup baik. Permasalahan
mendasar di tubuh Polri menurut publik adalah perilaku buruk aparat (anggota Polri) di
lapangan (55,0%) dan sikap anggota kepolisian yang kurang bersahabat dan sewenangwenang kepada masyarakat (47,1%).Untuk mengoptimalkan kerja Polri yang menjadi
prioritas adalah menertibkan anggota kepolisian yang berlaku buruk (45,3%) dan
menghilangkan uang tidak resmi dalam berurusan dengan polisi (39,8%). Sementara itu,
berdasarkan survey indeks suap yang dilakukan oleh Transparency International Indonesia
(TII) di 50 kota di Indonesia, pada awal 2009, indeks suap Polisi mencapai 48 persen dan
menduduki peringkat tertinggi dengan tingkat transaksi mencapai Rp.2,273 juta per
transaksi.
Fakta-fakta pelanggaran tersebut diapresiasi oleh Polri dengan meluncurkan program
18
Presiden dan Reformasi Sektor Keamanan
reformasi birokrasi yang diberi label Quick Wins. Program tersebut diluncurkan oleh Presiden
SBY yang juga menyaksikan penandatanganan kontrak kerja reformasi birokrasi dari seluruh
Kapolda. Program ini mencakup empat perubahan mendasar. Pertama adalah quick
response atau layanan reaksi cepat dalam menanggapi pengaduan dari masyarakat. Untuk
program kedua adalah transparansi rekrutmen personel Polri. Semua proses rekrutmen
anggota Polri dapat dipantau oleh masyarakat. Yang ketiga adalah transparansi penyidikan.
Selain cepat, proses penyidikan juga akan transparan. Dan yang keempat adalah reformasi
pelayanan. Pelayanan nantinya akan berjalan cepat dan tanpa tambahan biaya pungutan
lagi, baik itu dalam penanganan tindak pidana maupun pelayanan administrasi. Namun
demikian, dalam prakteknya program tersebut tidak begitu efektif mengingat di
pelanggaran yang terjadi di lapangan semakin banyak. Salah satu kasus yang mencoreng
institusi kepolisian adalah kasus pembunuhan Direktur PT.Putra Rajawali Banjaran, Nasrudin
Zulkarnaen yang melibatkan perwira menengah Polri, Kombes Williardi Wizard dan seorang
anggota Brimob berinisial HD. Kasus lainnya adalah kasus pemerasan, penipuan dan
penyalahgunaan jabatan dua perwira menengah Polisi anggota reserse.
Kasus-kasus ini menjadi pertanda kerja Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) sebagai
pengawas Polisi tidak maksimal. Tugas dan wewenang Kompolnas terbatas sebagai pemberi
saran terkait dengan kinerja Kepolisian kepada Presiden. Wewenang Kompolnas untuk
menerima saran dan keluhan dari masyarakat untuk kemudian disampaikan kepada Presiden
telah diupayakan untuk langsung disampaikan kepada institusi kepolisian yang
bersangkutan.Wewenang ini didukung dengan penerbitan instruksi Kapolri tentang
koordinasi dan kerja sama Polri dengan Kompolnas yang menginstruksikan agar Polisi segera
menanggapi saran dan keluhan masyarakat yang disampaikan Kompolnas. Namun demikian
faktanya hingga saat ini tanggapan dan penanganannya oleh Polri belum maksimal dan jauh
dari efektif.
Sejauh ini, saran Kompolnas yang diperhatikan oleh Presiden adalah terkait dengan
pengangkatan dan pemberhentian Kapolri. Tugas pertama Kompolnas sejak terbentuknya
terkait dengan rekomendasi tersebut adalah mengenai masa jabatan Jenderal Pol Sutanto
selaku Kapolri yang berakhir 30 September 2008. Melalui mekanisme internal Kompolnas,
rekomendasi yang akhirnya diberikan oleh Kompolnas hanya berupa pertimbanganpertimbangan jika masa jabatan Sutanto diperpanjang atau dihentikan. Kompolnas
membuat rekomendasi tersebut dengan mempertimbangkan pro-kontra di masyarakat.
Mengacu pada Perpres No.17 Tahun 2005, Kompolnas hanya berwenang untuk
merekomendasikan tetapi pada akhirnya keputusan berada di tangan Presiden. Sehingga
ketika Presiden memutuskan untuk tidak memperpanjang jabatan Sutanto dan mengajukan
Bambang Hendarso Danuri sebagai pengganti, saran Kompolnas sebatas pada persetujuan
saja terhadap keputusan Presiden.
Reformasi Intelijen
Seperti halnya pelaksanaan reformasi intelijen di dua pemerintahan sebelumnya, reformasi
intelijen pada masa pemerintahan SBY berjalan lambat. Hal ini disebabkan belum adanya
19
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
dasar hukum yang jelas untuk mengatur lembaga intelijen seperti halnya UU TNI atau UU
Kepolisian. Hingga akhir 2006 telah ada tiga versi rancangan undang-undang intelijen
negara yang dikeluarkan oleh pemerintah dan satu draft alternatif yang dibuat oleh
Kelompok Kerja Indonesia untuk Reformasi Intelijen, tetapi tidak ada tanda-tanda pasti
kapan payung hukum tersebut akan diundangkan.Seharusnya RUU ini segera diundangkan
mengingat UU Keterbukaan Informasi Publik sudah disahkan. Tetapi yang mengemuka
dalam agenda Prolegnas DPR pada masa sidang IV justru RUU Rahasia Negara. Seperti halnya
RUU Rahasia Negara Presiden membiarkan proses birokrasi RUU Intelijen. Presiden tidak
berupaya untuk mengajukan RUU Intelijen sebagai RUU prioritas untuk diselesaikan oleh
DPR . Sejauh ini regulasi hanya menyentuh pada struktur Badan Intelijen Negara melalui
Perpres No.52 /2005. Ketiadaan regulasi ini menyebabkan lemahnya koordinasi antara
lembaga intelijen yang menjadi permasalahan serius dari dahulu hingga sekarang.
Kerja BIN untuk menyediakan informasi-informasi intelijen yang dapat memberikan dasar
bagi kalkulasi kebijakan pertahanan dan keamanan negara sejauh ini dapat dikatakan tidak
akurat dan tidak sesuai dengan kebutuhan. BIN seringkali membuat blunder dalam
menganalisa situasi keamanan di Indonesia. Contoh pertama adalah pada bulan September
2006 ketika Kepala BIN, Syamsir Siregar menyatakan di media massa bahwa dalam pilkada
Aceh, potensi konfliknya akan sangat besar. Namun pernyataan ini tidak terbukti dengan
terselenggaranya Pilkada Aceh yang damai. Contoh berikutnya adalah pada Juni 2008,
Kepala BIN menyatakan bahwa demo anti kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) didalangi oleh
beberapa politisi (menteri dan anggota DPR). Menjelang Pemilu Legislatif 2009, Kepala BIN
menyatakan bahwa ada ancaman hambatan terhadap pelaksanaan pesta demokrasi terkait
dengan beberapa proses legislasi yang mungkin dapat menghambat pelaksanaan pemilu
2009. Hambatan legislasi itu terkait soal penetapan anggota legislatif berdasarkan suara
terbanyak atau nomor urut. Kepala BIN kembali membuat pernyataan tentang situasi
keamanan terkait pemilu 2009 bahwa pihaknya mewaspadai gerakan-gerakan politik di
daerah meski dikatakan situasi keamanan saat itu terkendali.
Pernyataan-pernyataan BIN tersebut menunjukkan lemahnya kontrol Presiden atas BIN.
Seharusnya BIN menyampaikan informasi-informasi tersebut kepada Presiden untuk
kemudian diambil kebijakan yang relevan. Ini juga memperlihatkan buruknya kinerja operasi
intelijen, karena analisis terhadap permasalahan yang diungkapkan sangat lemah.
Pernyataan-pernyataan Kepala BIN di depan publik meski ditujukan untuk transparansi dan
akuntabilitas publik tidak pada tempatnya, terlebih pernyataan dibuat dengan bahasa yang
provokatif. Dengan situasi seperti ini bukan tidak mungkin keberadaan BIN justru
mengancam publik yang seharusnya mendapatkan jaminan keamanan dari negara.
Kelemahan, Kekuatan, Ancaman dan Peluang Peran Presiden [ke Depan] dalam Reformasi
Sektor Keamanan Indonesia
Secara umum dapat disimpulkan bahwa peran Presiden dalam pengelolaan sektor
keamanan Indonesia seiring dengan tuntutan reformasi di sektor tersebut belumlah
komprehensif. Adalah hal yang tidak dapat dipungkiri, bila dikatakan bahwa Presiden belum
20
Presiden dan Reformasi Sektor Keamanan
memainkan peranannya secara maksimal untuk mencapai tujuan dari RSK. Transformasi
instansi-instansi di sektor keamanan belum sepenuhnya efektif. Hambatan-hambatan pada
RSK masih seputar pada permasalahan regulasi yang seharusnya bisa diwujudkan dengan
segera sebelum berakhirnya masa jabatan Presiden SBY pada 2009 ini. Regulasi yang belum
menyeluruh hingga pada petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis mengakibatkan
ragamnya penafsiran terhadap induk regulasi. Ketiadaan turunan dari regulasi induk
menyebabkan berlarut-larutnya permasalahan yang dihadapi di masing-masing instansi
untuk mendukung RSK.
Menganalisis dari lingkungan internal, hambatan tersebut berasal dari kelemahankelemahan yang berasal dari institusi keamanan sendiri dan juga dari Presiden (SBY).
Kelemahan nyata adalah kurangnya komitmen dari institusi keamanan dan Presiden untuk
melaksanakan amanat UU dan berupaya mencari pemecahan masalah yang terbaik yang
dapat diterima semua pihak. Terkait dengan reformasi pertahanan, lambannya
pengambilalihan bisnis militer justru disebabkan dari lambatnya Presiden mengeluarkan
aturan (Keppres) ditambah lagi dalam Keppres tersebut wewenang yang diberikan kepada
Timnas sangat terbatas. Setelah rekomendasi dihasilkan, hambatan justru datang dari
Dephan dan TNI yang beralasan bahwa ambil alih akan memakan proses lama terkait dengan
perkara perdata.
Sementara itu berkenaan dengan masalah alutsista selalu anggaran pertahanan yang
terbatas dijadikan alasan utama. Padahal, bila melihat secara komprehensif, permasalahan
tersebut sebenarnya datang dari tidak adanya grand strategy yang menjadi kerangka desain
besar untuk pemerintah menyusun postur pertahanan yang diharapkan dengan
mempertimbangkan aspek kemampuan ekonomi. Sehingga dalam pengalokasian
anggaran, pemerintah tidak lagi hanya mempertimbangkan dari rencana anggaran yang
diajukan oleh Dephan dan TNI terkait alutsista. Pemerintah dalam memutuskan alokasi
anggaran pertahanan seharusnya dapat merujuk pada cetak biru pertahanan yang
menetapkan prioritas untuk alutsista.
Masih banyaknya kasus pelanggaran oleh Polisi berdasarkan laporan yang diterima oleh
Kompolnas menunjukkan lemahnya sistem pengawasan internal di dalam institusi
Kepolisian. Selain itu tampak bahwa komitmen untuk reformasi birokrasi dan kultural di
Kepolisian hanya sebatas komitmen elit tetapi tidak sampai pada ke pelaksana (aparat) di
lapangan. Permasalahan tersebut menunjukkan pendidikan dan warisan kultur yang belum
ada perubahan. Presiden sebagai penanggung jawab Polri bersama Kompolnas seharusnya
bisa mengintervensi terhadap permasalahan ini sehingga reformasi kultural kepolisian bisa
direalisasikan sesuai dengan amanat UU dan harapan dari masyarakat. Belum
diundangkannya RUU Intelijen hingga saat ini dikhawatirkan akan berdampak pada
lemahnya operasi intelijen. Penolakan BIN terhadap draft RUU Intelijen yang diajukan
kalangan masyarakat sipil menunjukkan keengganan BIN untuk bertransformasi menjadi
lembaga intelijen yang profesional. Sikap dan posisi Presiden yang membiarkan proses
birokrasi terkait RUU tersebut merupakan salah satu kelemahan komitmen pemerintah.
21
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Kendatipun terdapat berbagai kelemahan, sejatinya Presiden memiliki kekuatan terkait
dengan kekuasaannya yang begitu luas terhadap pengelolaan sektor keamanan. Sebagai
pemegang kekuasaan eksekutif yang memiliki hak prerogatif sebagai kepala negara,
seyogyanya Presiden dapat menginventarisir permasalahan yang ada terkait dengan
reformasi sektor keamanan. Untuk membantu tugas tersebut, keberadaan DKN sangatlah
diperlukan sehingga dalam mengambil kebijakan yang terkait dengan pengelolaan sektor
keamanan, Presiden dapat memiliki analisis strategik terhadap kebijakan yang relevan.
Peluang untuk Presiden berperan lebih besar dalam pengelolaan RSK sangat terbuka.
Dengan dukungan dari masyarakat sipil, Presiden dapat mengintervensi proses birokrasi
yang berjalan. Karena meskipun Presiden telah memberikan amanat kepada
Departemen/Lembaga negara menjadi mitra pembahas untuk RUU bukan berarti Presiden
tidak dapat menghentikan proses yang berlangsung. Dengan adanya tuntutan global
transparansi dan akuntabilitas terhadap pengelolaan sektor keamanan, membuka peluang
bagi Presiden untuk dapat mengelola RSK dengan baik sebagai bentuk komitmen Indonesia
terhadap demokrasi.
Hal yang harus diwaspadai oleh Presiden terkait dengan peranannya dalam RSK adalah
ancaman dari pihak-pihak yang tidak menghendaki transformasi sektor keamanan sesuai
dengan amanat demokrasi. Bisa saja pihak-pihak tersebut berasal dari lingkungan Presiden
yang sesungguhnya antipati terhadap tuntutan RSK yang digulirkan oleh kalangan
masyarakat sipil. Ancaman lainnya adalah
Penutup
Setidaknya ada dua area di mana Presiden diharapkan dapat memainkan peranannya secara
optimal dalam upaya RSK yakni area strategi dan area operasional. Di area strategi, Presiden
harus dapat merumuskan grand strategy pertahanan dan keamanan yang berdasarkan
kepentingan dan tujuan negara serta memperhatikan tujuan yang hendak dicapai oleh RSK.
Tujuannya adalah untuk melihat apakah kebijakan-kebijakan keamanan yang telah
dihasilkan selama ini telah sesuai dengan kebutuhan Indonesia berdasarkan analisis
lingkungan strategis. Hal ini kemudian berimplikasi pada perumusan kebijakan-kebijakan
terkait RSK yang dibutuhkan di masa mendatang. Terkait dengan perumusan strategi ini,
Presiden dapat membentuk Dewan Keamanan Nasional (DKN) dan melibatkan masyarakat
sipil untuk melakukan analisis yang komprehensif mengenai kebutuhan tersebut. Selain
analisis terhadap kebutuhan tersebut, Presiden dapat merumuskan contingency plan yang
dibutuhkan berdasarkan skenario-skenario yang mungkin terjadi. Untuk melengkapi strategi
tersebut, Presiden pun dapat merumuskan mekanisme evaluasi yang menerapkan target
keberhasilan dan kontrol atas proses RSK.
Di area operasional, paling tidak ada tiga tindakan yang tepat bagi Presiden untuk berperan
sesuai dengan kekuasaan yang diamanatkan oleh konstitusi. Tiga tindakan ini menjadi
prioritas Presiden ke depan untuk mewujudkan tujuan RSK. Pertama, melakukan review
terhadap kebijakan-kebijakan terkait pengelolaan sektor keamanan yang ada saat ini. UU
22
Presiden dan Reformasi Sektor Keamanan
yang belum dibuatkan petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaannya harus segera diatur
dalam Keppres atau Pepres sehingga tidak timbul beragam penafsiran atau regulasi induk.
Sementara itu bila UU mengamanatkan dibutuhkannya Keppres untuk aturan-aturan
spesifik, Presiden harus merespon lebih cepat. Terkait dengan regulasi yang masih dalam
proses birokrasi, seyogyanya Presiden dapat melakukan review secara komprehensif
sehingga dapat diambil langkah-langkah yang tepat. Misalnya saja RUU Intelijen, bila
hambatan legislasinya justru datang dari lembaga pemerintah, hendaknya Presiden
melakukan intervensi dan menganalisis langkah yang sesuai dengan asas-asas demokrasi.
Kedua, menerapkan konsekuensi-konsekuensi yang logis dan tegas terhadap institusi-instusi
keamanan untuk mengatasi keberatan-keberatan dan lemahnya komitmen dari institusiinstitusi tersebut. Konsekuensi logis dan tegas di sini merupakan hak prerogatif Presiden
untuk menetapkan sanksi yang mengarah pada kemajuan proses RSK. Misalnya terkait
dengan pengambilalihan bisnis militer, setelah ada rekomendasi dari Timnas, Presiden dapat
berkoordinasi dengan Departemen Keuangan Kementerian BUMN dan Bank Indonesia
terkait pengambilalihan aset. Keberatan TNI terkait dengan koperasi dapat diselesaikan
dengan berbagai pilihan misalnya dengan tidak menempatkan prajurit dalam koperasi dan
pengelolaan koperasi yang berdiri sendiri meskipun tujuan utamanya adalah untuk
kesejahteraan anggota TNI. Ketiga, mengkaji ulang sistem dan kurikulum pendidikan baik
formal maupun informal dalam institusi-institusi keamanan. Presiden dengan berpedoman
pada asas-asas demokrasi yang menjunjung tinggi hukum dan HAM dapat melakukan
pemeriksaan terhadap sistem dan kurikulum tersebut dengan tujuan untuk melihat apakah
reformasi institusional dan struktural sudah menyentuh reformasi kultural. Upaya mengubah
kultur institusi sangat terkait dengan rutinitas, kebiasaan, doktrin, ritual yang diperoleh dari
lembaga pendidikan dan budaya korps, sehingga Presiden seyogyanya dapat mengawasi
proses pewarisan kultur yang mendukung RSK.<
Daftar Pustaka
Tim Propatria, (Andi Widjajanto (ed.)), Reformasi Sektor Keamanan Indonesia (Jakarta:
ProPatria, 2004)
Tim ProPatria, Rekam Jejak Proses SSR Indonesia 2000-2005.
David Chuter, “Understanding Security Sector Reform” dalam Journal of Security Sector
Management Volume 4 Number 2 – April 2006
IDSPS, “Reformasi TNI,” Seri 4 Penjelasan Singkat, 5/2008
IDSPS, “Reformasi Kepolisian Republik Indonesia,” Seri 6 Penjelasan Singkat, 06/2008
IDSPS, “Reformasi Intelijen di Indonesia, “ Seri 5 Penjelasan Singkat, 06/2008
Ulf Sundhaussen, Politik Militer Indonesia 1945-1967: Menuju Dwi Fungsi ABRI, (Jakarta:
LP3ES,1986)
23
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Andi Widjajanto (ed.), Reformasi Intelijen Negara,( Jakarta:Pacivis &FES, 2005) h. 24
M. Najib Azca & Moch. Faried Cahyono (ed.), Konflik dan Reformasi TNI di Era SBY,
(Yogyakarta: CSPS Books, 2004) h. 38
NEWSLETTER: Media dan Reformasi Sektor Keamanan, Edisi VIII/11/2008
ProPatria Institute dan Indo Barometer, “Survei Nasional tentang Keamanan Nasional, TNI
dan Polri”, Jakarta, 7 Agustus 2007
Kompas
Antara
Tempointeraktif
The Jakarta Post
Sinar Harapan
Suara Pembaruan
24
Otonomi Relatif, Interdependensi dan Transformasi Orientasi Departemen Pertahanan
Otonomi Relatif, Interdependensi dan Transformasi Orientasi
Departemen Pertahanan
Kusnanto Anggoro1
Pengantar
UU 30/2002 tentang Pertahanan Negara tidak banyak mengatur tentang fungsi dan
peran Departemen Pertahanan, sekalipun memberi beberapa kewenangan kepada menteri
pertahanan sebagai pemimpin departemen itu. Tugas Departemen Pertahanan oleh sebab
itu konsekuensial terhadap tugas menteri.2 Selain mewujudkan mandat seperti tertuang
dalam UU, secara politik menteri pertahanan pada masa pasca-otoriter seperti Indonesia
juga memiliki kewajiban demokratik untuk membangun prinsip, kaidah dan orientasi
demokratik di lingkungan Departemen Pertahanan, baik dinilai dari segi orientasi kebijakan,
proses kebijakan maupun siplilisasi birokrasi. Sesuai dengan semangat reformasi, dua
benchmark penting keberhasilan reformasi TNI dan sekaligus tegaknya otoritas politik atas
militer adalah pengalihan kewenangan peradilan umum atas prajurit yang melanggar
pidana umum dan pengambilalihan seluruh aktifitas bisnis yang dikelola TNI secara langsung
maupun tidak langsung, yang berturut-turut diatur dalam pasal 65 dan pasal 76 UU No.
34/2004 tentang Tentara Nasional Indonesia. Di luar kedua persoalan itu, beberapa
benchmark lain adalah pembentukan institusi, penyusunan perundangan, dan perubahan
postur pertahanan. 3
Peradilan militer dan Yurisdiksi militer
Peradilan militer merupakan salah satu tembok besar untuk melindungi prerogratif tentara.
Selama puluhan tahun, UU Peradilan Militer telah menjadi benteng bagi impunitas militer.
Komandan memiliki kewenangan besar untuk menentukan apakah seorang prajurit harus
dihukum atau tidak dihukum. Bahkan bagi tentara aktif yang menduduki jabatan-jabatan
sipil, peradilan militer menjadi benteng untuk menyelamatkan mereka dari berbagai
tuduhan kejahatan, mulai dari korupsi, pelanggaran hak-hak asasi manusia sampai dengan
pidana administrasi. Karena itu, lahirnya sebuah UU baru mengenai peradian militer yang
lebih demokratik menjadi salah satu wujud dari keberhasilan kontrol sipil atas tentara.
1 Kusnanto Anggoro, adalah staf pengajar Pascasarjana Departemen Hubungan Internasional FISIP Universitas
Indonesia.
Tugas-tugas tersebut adalah, antara lain, menyusun kebijakan penyelenggaraan pertahanan negara,
menyusun rencana pembangunan kekuatan pertahanan baik komponen utama maupun cadangan (pasal 16
ayat 6 dan ayat 7), dan merumuskan kebijakan diplomasi pertahanan (pasal 16 ayat 4) dalam UU No. 3/2002
tentang Pertahanan Negara. Departemen Pertahanan memiliki otoritas mandiri pada kebijakan
penyelenggaraan dan diplomasi pertahanan; sedang dalam pembangunan kekuatan, sebagian otoritas
Departemen Pertahanan bersifat otoritas untuk berkoordinasi dengan, misalnya Panglima TNI dan Departemen
Dalam Negeri maupun departemen teknis lainnya.
3 Namun UU No. 3 tidak menetapkan tenggat kapan, mislanya Dewan Pertahanan Negara harus dibentuk dan
kapan kondisi geografis harus tercermin dalam postur pertahanan.
2
25
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Beberapa ketentuan perundangan yang muncul setelah tumbangya Suharto, misalnya
amandemen konstitusi, UU Peradilan Hak-hak Asasi Manusia, maupun UU TNI sendiri
memberi mandat tentang perlunya pengurangan yurisdiksi peradilan militer yang semula
diatur secara eksklusif dalam UU No. 31/1997 tentang Peradilan Militer. Sejak akhir 2004,
Mahkamah Agung sudah memiliki yurisdiksi atas peradilan militer. Sebuah RUU tentang
peradilan militer sudah juga dibahas hampir 5 tahun. Dapat dipastikan bahwa prajurit yang
melakukan tindak pelanggaran pidana umum akan diadili dalam peradilan non-militer.
Namun kesepakatan itu agaknya tidak menyelesaikan seluruh persoalan. TNI dan Dephan
tetap bersikukuh agar penyidikan dan sebagian proses pra-peradilan tetap menjadi
kewenangan TNI. DPR dan masyarakat sipil pada umumnya menginginkan segenap proses
menjadi bagian dari yurisdiksi peradilan umum. Sampai bulan Agustus 2009 tidak ada
kemajuan yang berarti.4 Kedua kubu masih tetap bersikukuh dengan pendapatnya. RUU
peradilan militer kemungkinan tidak akan berhasil diundangkan sampai berakhirnya masa
kerja parlemen 2004-2009, sebagian diantaranya karena persidangan tidak pernah mencapai
quorum.
Dapat diperdebatkan apakah stagnasi itu merupakan keberhasilan TNI dan Dephan untuk
mempertahankan privilege TNI atau, sebaliknya, kegagalan otoritas peradilan sipil untuk
mengambil alih kewenangan militer. Sejak tiga tahun silam, tidak lagi muncul resistensi yang
kuat dari TNI. Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso mengatakan
tidak betul kalau TNI menolak peradilan umum bagi para prajurit… Semuanya
tergantung pemerintah. TNI siap untuk menerapkan peradilan umum bagi anggotanya
yang melakukan tindak pidana umum. Kami hanya menegaskan tentang perlunya
penyesuaian aturan-aturan prosedural untuk melaksanakan peradilan tersebut. 5
Seperti diketahui, dalam KUHP memang tidak ada ketentuan yang memungkinkan seorang
prajurit TNI dapat dituntut atau menjalani proses peradilan umum. Namun Panglima juga
tidak menegaskan preferensinya pada institusi tertentu yang berhak melakukan proses
penyidikan itu.
Menarik untuk disimak bahwa gagasan tentang penerapan yurisdiksi peradilan umum
terhadap prajurit TNI sudah muncul sejak awal pembahasan UU TNI. Dalam Draft RUU TNI
yang disusun tahun 2002,6 kurang lebih bersamaan dengan pembahasan amandemen
4 Dua isu sentral dibahas sepanjang bulan Agustus 2009. Pertama, berkaitan proses penyidikan anggota Tentara
Nasional Indonesia (TNI) yang melakukan perbuatan pidana. Departemen Pertahanan (Dephan) dan DPR masih
berselisih pendapat apakah cukup Polisi Militer yang menggelar penyidikan atau diserahkan pada Polri. Kedua,
menyangkut anggota TNI yang menjalani masa hukuman pidana, apakah masuk dalam Lembaga
Pemasyarakatan (LP) atau lembaga pembinaan militer. Lihat, Kompas, 26 Agustus 2009.
5 Antara , 14 Agustus 2006
6 Lihat Draft RUU TNI yang dibahsa di sepanjang tahun 2002. Penulis menyimpan hampir semua draft RUU TNI
yang dibahas di lingkungan-lingkungan terbatas sejak tahun 2000 maupun yang pada akhirnya menjadi bahan
pembahasan di DPR sejak pertengahan bulan Agustus 2004.
26
Otonomi Relatif, Interdependensi dan Transformasi Orientasi Departemen Pertahanan
konstitusi, para penyusun draft telah menegaskan bahwa peradilan militer hanya akan
diberlakukan jika peradilan umum tidak berfungsi, rumusan yang amat berbeda dengan
sentimen psikologi dan kepentingan korporatif militer pada waktu itu yang menghendaki
seluruh proses berlangsung di lingkungan militer. Dalam UU TNI yang kemudian
diundangkan, rumusan itu berubah menjadi “tunduk dibawah kekuasaan peradilan yang
diatur dengan undang-undang” (pasal 65 ayat 3). UU TNI tidak menyebut tentang bentuk
peradilan koneksitas atau yang lain. Lebih dari itu, UU TNI tidak menentukan kapan UU itu
harus diselesaikan.
Barangkali isu peradilan militer memang tidak bisa melulu dipandang hanya dalam konteks
supremasi sipil atas militer saja tetapi juga sebagai proses sekuensial yang terdiri dari
praperadilan maupun peradilan. Stagnasi dalam pembahasan RUU Peradilan Militer telah
menunjukkan pergeseran dari persoalan impunitas yang semata-mata disebabkan oleh
independensi TNI menjadi impunitas karena kegagalan institusi politik sipil untuk
mempersiapkan sejumlah peraturan yang diperlukan untuk menegakkan otoritas sipil. Ini
bisa memerlukan waktu yang lebih lama, khususnya karena gugatan kepada Departemen
Pertahanan dan/atau TNI tidak lagi dapat menggunakan politisasi. TNI dapat dengan mudah
mengalihkan persoalan tersebut kepada peradilan umum, termasuk tentang tiadanya
reformasi yang cukup memadai di kalangan para penegak hukum.
Kalaupun pada akhirnya disepakati, bisa jadi kesepakatan itu terbatas pada usulan Presiden
untuk, pertama, menetapkan masa transisi antara 3-5 tahun mendatang untuk
menyesuaikan berbagai perundangan, baik KUHP, KUHM maupun KUHPM; atau, kedua,
membentuk badan khusus yang mengawasi proses penyidikan anggota TNI yang terlibat
pidana umum. 7 Solusi pertama bisa dipastikan memerlukan waktu yang lebih lama. DPR
2004-2009 tidak cukup berhasil memainkan peranannya sebagai lembaga legislasi. Dua
bulan sebelum masa kerjanya berakhir masih terdapat lebih dari 20 RUU yang harus
diselesaikan. Pilihan kedua mungkin saja lebih efisien, namun kurang memiliki legitimasi
demokratik.
Pilihan manapun yang akan diambil, TNI masih akan memiliki yurisdiksi menyeluruh atas
pidana militer. Dengan kata lain, otoritas sipil belum berhasil menegakkan kontrol efektif atas
institusi militer. Kemungkinan besar impunitas masih akan tetap menjadi salah satu ciri
penting dalam penegakan hukum atas prajurit TNI. Beberapa pemangku kebijakan (stake
holders), misalnya Lemhannas,8 agaknya condong pada kemandirian relatif dari TNI untuk
tetap memiliki otoritas penyidikan; begitu pula halnya dengan beberapa ahli hukum yang
merujuk pada jurisprudensi peradilan militer di negara-negara kontinental. Di DPR, kecuali
Andreas Pareira, Ketua Panitia Kerja RUU Peradilan Militer, sebagian besar anggota juga
cenderung konservatif. 9
7 Republika, 26 Agustus 2009)
8 Lihat pernyataan Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) Muladi, Antara, 28 Desember 2008
9 Lihat, Antara, 29 Juli 2008
27
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Menjadi pertanyaan penting apakah impunitas itu akan membawa implikasi hanya pada
perlindungan TNI sebagai institusi militer profesional atau akan juga membawa implikasi ke
bidang-bidang politik dan ekonomi. Potensi penyimpangan akan sangat mungkin terjadi di
daerah, ketika institusi militer tetap merupakan institusi yang relatif independen dari kontrol
sipil.10 Ujian bagi independensi itu akan terlihat, misalnya, dalam berbagai kasus
penyelesaian sengketa agraria yang melibatkan institusi militer. Sebagaimana diketahui,
sengketa tanah antara TNI dengan masyarakat merupakan salah satu masalah yang kerap
mengarah pada tindak kekerasan. Kenyataan bahwa hanya 14% saja dari tanah yang dikuasai
TNI telah memiliki sertifikat; dan lebih dari 3,76 miliar meter persegi yang tersebar di 2.644
lokasi belum memiliki sertifikat memperlihatkan besarnya potensi konflik antara TNI dengan
masyarakat.11
Bisnis Militer dan Independensi TNI
Pengambilalihan bisnis militer merupakan persoalan kontroversial yang lebih menegaskan
semangat politik daripada substansial. Pasal 76 12 UU No. 34/2004 tentang Tentara Nasional
Indonesia tidak pernah tercantum dalam draft-draft resmi RUU TNI sampai pertengahan
bulan Agustus 2008. Pasal 76 UU TNI sesungguhnya bahkan baru muncul dalam draft resmi
pertengahan Agustus 2004, dalam putaran akhir pembahasan, yang kemudian berhasil
disepakati pada bulan Oktober 2004. Tuntutan atas pengambilalihan bisnis TNI, berbeda dari
kasus peradilan militer, lebih mencerminkan keinginan masyarakat sipil dan beberapa
anggota DPR pada waktu itu sebagai desakan politik untuk menghapus kebiasaan tentara
niaga.
Tindakan konkrit untuk mengambilalih aset TNI baru berlangsung dalam dua tahun ini saja,
khususnya dengan terbentuknya Tim Sipervisi dan Tim Nasional Pengambilalihan Bisnis
(PAB) TNI. Hampir dipastikan dalam waktu lima tahun telah terjadi berbagai perubahan, baik
dari segi pemilikan modal, pola kegiatan, ataupun penguasaan aset. YKEP, misalnya, berhasil
menjual 12 perusahaan dari 57 jenis usaha yang semula dimilikinya. Aset YKEP yang
diserahkan kepada negara hanya beberapa ratrus juta saja. 13 Tidak diketahui dengan pasti
besarnya aset yang berhasil dialihkan; dan soal itu mungkin juga tidak terlalu penting
mengingat masalah bisnis militer tampaknya lebih merupakan psikologi ke[tidak]percayaan
sipil kepada militer daripada persoalan seberapa besar dan untuk apa keuntungan dari usaha
itu digunakan untuk kepentingan pertahanan negara pada umumnya atau kepentingan
institusi TNI pada khususnya.
Masih menjadi pertanyaan tentang bagaimana bentuk Keputusan Presiden mengenai
pengambilalihan bisnis TNI itu pada akhirnya akan muncul, paling lambat pada tanggal 16
10
Lihat pembahasan secara lebih menyeluruh dalam Muhajir Effendi, “Pemahaman Profesionalisme Militer di
tingkat Elit TNI-AD”, Disertasi, Universitas Airlangga, Surabaya (2007)
11 Lihat, Antara, 17 Juli 2007
12 Masalah tersebut memperoleh perhatiankhusus di beberapa kalangan, misalnya Kelompok Kerja Propatria
untuk Reformasi KeamananNasional. Draft RUU Alternatif yang disusun oleh Kelompok Kerja tersebut mulai
mencatumkan penghapusan bisnis militer sejak bulan Desember 2001.
13 Jawa Pos, 5 Mei 2008
28
Otonomi Relatif, Interdependensi dan Transformasi Orientasi Departemen Pertahanan
Oktober 2009. Timnas PAB menyarankan tiga alternatif skema pengambilalihan aset TNI,14
yaitu, pertama, pengembalian aset (barang milik negara) yang dikuasai, dikelola, dan
dimanfaatkan oleh TNI kepada Menteri Keuangan; kedua, penggabungan beberapa unit
usaha (yayasan maupun koperasi) menjadi usaha sejenis di lingkungan Departemen
Pertahanan; dan ketiga penekanan tentang prinsip-prinsip akuntabilitas dan transparansi
pengelolaan. Pilihan kedua dan ketiga diterapkan untuk yayasan dan koperasi, meski belum
ada kepastian apakah kemudian pengelolaan itu akan diberikan kepada Departemen
Pertahanan atau pada sebuah Satuan Kerja berbentuk Badan Layanan Umum.
Dalam Pidato Kenegaraan bulan Agustus 2009, Presiden SBY menjanjikan masalahnya akan
tuntas sebelum akhir 2009.15 Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono berpendapat bahwa
hampir bisa dipastikan ada tenggat antara kepastian hukum mengenai pengambilalihan dan
realisasinya. Kemungkinan besar, TNI akan tetap memiliki bentuk-bentuk usaha berbentuk
primer koperasi. Aset-aset TNI dari proses pengambilalihan akan dikelola Departemen
Keuangan atau diaktifkan melalui Departemen Pertahanan. Aset yang sifatnya aset negara
akan kembali ke Departemen Keuangan, sementara aset yang sifatnya masih dalam transisi
akan dititipkan melalui Peraturan Menteri dengan tetap mengutamakan pemeliharaan.
Koperasi dan yayasan di lingkungan TNI masih tetap diperbolehkan.
Tidak mudah menilai seberapa besar capaian tersebut, lebih dari sekedar capaian simbolik.
Terlalu lamanya waktu pembentukan tim nasional oleh presiden yang memiliki tugas dan
fungsi untuk melakukan penataan bisnis menyebabkan adanya gejala sebagian besar
yayasan di bawah TNI melakukan upaya pengubahan aset yayasan, yang justru berpotensi
merugikan negara. Tim yang disusun, baik untuk menindentifikasi bisnis militer maupun
merancang skema pangambilalhan bisnis TNI, merupakan tim independen. Tim tersebut
juga dipimpin oleh pejabat-pejabat di luar Departemen Pertahanan dan/atau TNI. Namun
Departemen Pertahanan memiliki otoritas strategis, baik melalui Sekretaris Jendral
Departemen Petahanan Letnan Jenderal Sjafrie Syamsuddin sebagai Ketua Supervisi dan
Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono sebagai Ketua Tim Pengarah PAB.
Dari segi besaran sulit dinilai dengan pasti karena sejak semula memang hanya berdasarkan
dugaan saja. Banyak yang beranggapan bahwa karena keterbatasan anggaran pertahanan,
maka TNI memenuhi 70% kebutuhannya dengan anggaran di luar anggaran negara,
termasuk sebagian diantaranya dari usaha bisnis TNI. Namun asumsi 30-70% tidak dengan
sendirinya berarti pemenuhhan kebutuhan sendiri oleh tentara. Kemungkinan lain adalah
terjadinya penyesuaian pada pemenuhan kebutuhan TNI. Angka 30-70% adalah angka
arbitrer sekedar untuk menunjukkan bahwa TNI atau Departemen Pertahanan
menyesuaikan sebagian besar programnya dengan ketersediaan anggaran.
Terlepas dari kontroversi itu, besarnya keuntungan TNI dari pemanfaatan aset negara itu tidak
cukup signifikan, baik dari segi proporsi APBN maupun untuk kontribusinya pada
14 Antara , 4 November 2008
15
Pidato Kenegaraan pada Rapat Paripurna DPR, 14 Agustus 2009
29
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
kesejahteraan prajurit TNI. Menurut temuan Tim PAB, total aset bersih yang selama ini
dikuasai TNI, dalam berbagai bentuk kegiatan dan jenis usaha, mencapai Rp 2,23 trilyun.16
Jumlah itu tidak lebih dari hanya sekitar 8% saja dari anggaran pertahanan. Keuntungan yang
bisa dinikmati dari aset tersebut mungkin tidak lebih dari 1% saja dari anggaran pertahanan,
jumlah yang jauh lebih kecil dibanding peningkatan anggaran tahunan yang sejak 10 tahun
terakhir sekitar 8-10%. Jumlah itu lebih kecil dibanding, mislanya dengan pagu anggaran
untuk kontingensi yang besarnya sekitar 2.5% dari APBN. “Bisnis TNI” juga hanya
mempekerjakan 2523 prajurit, sekitar 1.17% saja dari personel TNI.
Sebab itu sesungguhnya tidak terlalu relevan mempersoalkan aset kekayaaan TNI dari sudut
besarnya kontribusi kepada kesejahteraan prajurit; dan sebaliknya tidak terlalu sulit bagi
negara untuk sepenuhnya mengambilalih usaha tersebut. Pengambilalihan bisnis TNI adalah
isu politik yang diselesaikan dengan kalkulasi ekonomi. Kalau menghendaki, tidak terlalu
sulit bagi pemerintah untuk menggambil alih seluruh kegiatan bisnis TNI. Nilai sebesar Rp
2.23 trilyun seperti ditemukan oleh Timnas PAB tersebut tidak lebih dari 30% saja dari bail-out
negara dalam kasus Bank Century yang mencapai hampir Rp 7 trilyun.
Stagnasi dalam Penguatan Kontrol Sipil
Dalam Almanak sebelumnya ditegaskan bahwa supremasi sipil masih merupakan
pertanyaan besar dalam hubungan antara Departemen Pertahanan dan Markas Besar TNI.
Kalaupun ada, supremasi itu agaknya tidak berhasil menampilkan dalam bentuk kontrol
yang efektif. Kelemahan kapasitas sipil, resistensi TNI, maupun jaminan yang tertulis dalam
UU bagi TNI untuk dapat menempatkan jajarannya di lingkungan birokrasi sipil merupakan
sebagian dari sebab-sebab yang mempersulit perluasan jangkauan maupun kedalamam
rentangan sipilisasi di lingkungan Departemen Pertahanan. Pergantian personal, khususnya
di eselon I, yang terjadi dalam dua tahun belakangan ini tidak menampilkan gejala baru.
Markas Besar TNI tetap masih menikmati privilege untuk menggenggam jabatan strategis,
khususnya di posisi penting seperti Direktorat Jenderal Strategi Pertahanan, Kekuatan
Pertahanan dan Perencanaan Pertahanan. Mereka yang memiliki latar belakang sipil hanya
memegang jabatan yang relatif kurang strategis, misalnya Potensi Pertahanan dan Kepala
Badan Penelitian dan Pengembangan.
Namun lebih dari apa yang telah terjadi di masa lalu, agaknnya kesenjangan antara
kebutuhan dengan kebutuhan di masa-masa yang akan datang. Di satu sisi, desakan bagi TNI
untuk menempatkan para perwira menengah dan tinggi di lingkungan departemen sipil,
termasuk Departemen Pertahanan, bisa dipastikan akan menurun. Pada tahun 2014 saja
sudah akan terjadi defisit perwira di Markas Besar TNI. Jabatan struktural yang tersedia jauh
16 Tim Pelaksana PAB TNI memverifikasi 23 unit Yayasan dengan 53 PT didalamnya, 1.098 unit Koperasi dengan 2
PT didalamnya dan pemanfaatan barang milik Negara (BMN) yang dimanfaatkan oleh pihak ketiga : tanah : 1.618
bidang tanah seluas 16.544,54 hektar, tanah danbangunan : 3.470 bidang tanah dan bangunan seluas 8.435,81
hektar, gedung dan bangunan 6.699 unit seluas 37,57 hektar. Pada akhir 2007 yayasan dan koperasi memiliki
aset kotor sebesar berturut-turut Rp 1.872.92 milyar dan Rp 1.320,55.
30
Otonomi Relatif, Interdependensi dan Transformasi Orientasi Departemen Pertahanan
lebih besar dibanding dengan perwira yang tersedia.17 Di lain pihak, peningkatan kapasitas
sipil di lingkungan Departemen Pertahanan masih terbatas. Beberapa lulusan pendidikan
tinggi yang mengkhususkan diri di bidang pertahanan, salah satu diantaranya adalah
Pascasarjana Manajemen Pertahanan ITB, tidak diserap sebagai tenaga profesional oleh
Departemen Pertahanan. Secara teoretis, persoalan ini hanya dapat dijawab dengan secara
serempak menerapkan peningkatan siklus pergantian elit (regenerasi), penyederhanaan
organisasi di lingkungan TNI dan menyusun ketentuan rekrutmen baru yang lebih
menegaskan afirmasi bagi kalangan sipil. Tidak satupun dari ketiga kemungkinan itu terlihat
sampai pertengahan 2009.
Sekalipun tidak terjadi penguatan dalam sipilisasi, reformasi di Departemen Pertahanan
agaknya dipusatkan pada peningkatan kemampuan jajaran birokrasi, baik melalui berbagai
latihan dan sosialisasi gagasan, kebijakan, maupun legislasi baru. Inspektorat Jendral
melakukan berbagai sosialisasi internal, sedangkan Badan Pendidikan dan Latihan (Badiklat)
melaksanakan sosialisasi internal maupun eksternal. Kursus-kursus singkat yang
diselenggarakan Badan Penelitian dan Latihan itu menjangkau bukan hanya jajaran di
lingkungan Departemen Pertahanan dan TNI tetapi juga dari berbagai departemen lain,
pada tingkat pusat maupun daerah. Selain itu, Menteri Pertahanan menerbitkan berbagai
ketentuan internal, khususnya tentang mekanisme pengadaan barang. Transparansi dan
akuntabilitas menjadi titik sentral dalam berbagai ketentuan internal itu.
Berbeda dari masa awal reformasi, isu tentang pergantian pola komando, misalnya
perubahan dari status Panglima TNI menjadi Kepala Staf Gabungan yang dimulai pada awal
2000 juga semakin jarang dibicarakan. Begitu pula halnya dengan upaya untuk
menempatkan Markas Besar TNI di dalam Departemen Pertahanan dan Panglima TNI di
bawah Menteri Pertahanan. Untuk waktu yang dapat diperkirakan ke depan agaknya
hubungan Menteri Pertahanan-Panglima masih akan tetap bersifat koordinatif, khususnya
mengenai “pemenuhan kebutuhan TNI” dan “penyusunan kebijakan dan strategi serta
dukungan administrasi”.18 Markas Besar TNI tetap memiliki kewenangan besar untuk
merencanakan validasi organisasi, menyusun kebutuhan TNI, maupun berbagai ketentuan
internal. Otoritas Menteri Pertahanan tampaknya akan sangat ditentukan oleh kualitas
personal atau hubungan interpersonal dengan Panglima, dan oleh karenanya, stabilitas,
karakter, dan orientasi hubungan itu sangat rawan terhadap perubahan personil.
Dipastikan tidak akan terjadi perubahan fundamental dalam waktu dekat, sekurangkurangnya sebelum ada amandemen UU Pertahanan Negara maupun UU TNI. Dan
amandemen itu tidak mungkin terlepas dari suasana politik yang jauh lebih luas. Persoalan
tidak saja terkait dalam konteks Presiden-Menteri Pertahanan-Panglima TNI tetapi juga
struktur yang lain, misalnya Presiden dengan Kapolri. Akan terasa janggal menempatkan
17 Menurut beberapa sumber yang dapat dipercaya di lingkungan Departemen Pertahanan, TNI hanya memiliki
kurang dari 80 perwira tinggi dari sekitar 140 jabatan struktural yang diperlukan.
18 Lihat berturut-turut pasal 18 ayat 4 UU No. 3/2002 dan pasal 3 ayat 2 UU No. 34/2004 TNI
31
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Panglima di bawah menteri dan tidak memiliki pertautan langsung dengan Presiden,
sebelum ada perubahan fundamental dalam pengelolaan fungsi kepolisian, misalnya
dengan menempatkan POLRI di bawah departemen tertentu.
Sebaliknya tidak terlalu mudah untuk menetapkan departemen mana yang harus memiliki
pertangungjawaban politik untuk pelaksanaan POLRI. Dalam UU No. 2/2002 tentang
Kepolisian Negara, fungsi POLRI lebih dari sekedar aparat penegak hukum, tetapi juga
memberi perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat maupun beberapa
fungsi lain yang pada prinsipnya merupakan kewenangan menteri yang bertanggungjawab
di bidang keamanan di dalam negeri. Fungsi POLRI tersebar ke beberapa departemen,
misalnya Departemen Dalam Negeri, Kejaksaan dan Hukum dan Perundang-undangan.
Seperti halnya dalam kasus peradilan militer maupun pengambilalihan aset bisnis militer,
penegasan supremasi Departemen Pertahanan atas Markas Besar TNI agaknya memang baru
mencapai tataran simbolik. Kecil kemungkinan simbolisme itu akan berhasil menampilkan
dirinya secara signifikan ke dalam isu substansial. Betapapun yurisdiksi peradilan umum,
pengambilalihan aset bisnis militer maupun penempatan Panglima dan Markas Besar TNI ke
dalam Departemen Pertahanan merupakan instrumen-instrumen untuk menegakkan
kontrol sipil terhadap TNI. Prinsip itu nyaris tidak lagi dipertentangkan secara signifikan.
Persoalan utama adalah bagaimana mewujudkan prinsip itu ke dalam tataran operasional.
Diplomasi Pertahanan
Tak diragukan bahwa komitmen Indonesia sangat besar untuk mengutamakan diplomasi
sebagai instrumen kepentingan nasional. Salah satu wujud pertahanan defensif aktif adalah
dengan mengedepankan diplomasi sebagai garis terluar pertahanan negara.” Tak
mengherankan jika diplomasi merupakan salah satu unsur yang memperoleh perhatian
cukup signifikan dalam kebijakan umum penyelenggaraan pertahanan negara. Dalam
Strategi Pertahanan Indonesia, istilah diplomasi muncul sama seringnya dengan istilah
penangkalan (25 kali) – hanya sedikit terpaut dengan istilah perang (31 kali) yang lazimnya
lebih mendominasi dokumen-dokumen yang diterbitkan oleh otoritas pertahanan negara.19
Konon, diplomasi pertahanan juga dirumuskan sebagai upaya untuk, antara lain,
membangun saling percaya antar bangsa dan meningkatkan kemampuan pertahanan
melalui pengadaan alutsista yang strategis, transfer teknologi dan peningkatan
profesionalitas prajurit TNI. 20
Persoalan lain apakah tujuan tersebut telah diperjuangkan secara efektif. Menggunakan jalur
diplomasi untuk tujuan pertahanan negara bisa memiliki beberapa tujuan strategis, misalnya
untuk menciptakan lingkungan strategis yang aman dan untuk meningkatkan kemampuan
pertahanan Indonesia. Namun esensi dari diplomasi adalah tawar menawar (bargaining)
bukan dengan tindakan sepihak untuk merusak diri (self-destruction). Kalaupun tidak
19 Buku Putih Pertahanan Indonesia (Departemen Pertahanan RI, 2008)
20 Strategi Pertahanan Indonesia (Jakarta: Departemen Pertahanan RI, 2008), hal. 120
32
Otonomi Relatif, Interdependensi dan Transformasi Orientasi Departemen Pertahanan
ditopang oleh sumberdaya fisik, misalnya kekuatan militer, diplomasi dapat bersandar pada
sumberdaya lain, misalnya manuver, prakarsa, dan determinasi untuk mewujudkan prakarsa
itu.
Khususnya yang terkait dengan diplomasi pertahanan (defence diplomacy), tercatat delapan
puluh delapan kegiatan dalam lima tahun belakangan ini (2003-2008). Menurut Syawfi,
sebagian besar (80 persen) dari kegiatan itu ditujukan untuk membina rasa saling percaya
dalam kehidupan bernegara (confidence building measures). Hanya sebagian kecil yang
ditujukan untuk meningkatkan kemampuan pertahanan (11.4%) atau industri pertahanan
(9%).21 Kegiatan diplomasi pertahanan Indonesia menitikberatkan kepada tujuan untuk
peningkatan stabilitas regional melalui bina-saling percaya diri, tidak dengan meningkatkan
kemampuan dan kemandirian pertahanan.22 Diplomasi pertahanan belum berhasil untuk
meningkatkan independensi kemampuan pertahanan.
Menjadi persoalan lain apakah substansi itu kemudian dapat ditafsirkan sebagai esensi
diplomasi pertahanan untuk meningkatkan kemampuan nasional. Misalnya, melihat tingkat
elaborasi Buku Putih Pertahanan Indonesia, dan membandingkannya dengan buku-buku
putih Singapura, Thailand, dan Vietnam tidak sulit untuk menyimpulkan bahwa Indonesia
membuka terlalu banyak dari yang seharusnya. Paparan seperti itu mungkin saja berhasil
membangun citra Indonesia sebagai negara yang cinta damai, namun pada saat yang sama
juga mengetengahkan berbagai problema internal. Dilihat dari luar, Indonesia bukan hanya
tidak memiliki kekuatan tempur tetapi juga tidak memiliki kemauan untuk menjadi kekuatan
militer – sesuatu yang menyangkal esensi dari teori penangkalan.
Pendek kata, berbeda dari beberapa negara yang menggunakan diplomasi pertahanan
sebagai instrumen untuk mencapai tujuan nasional dengan cara meningkatkan posisi tawar
menawar maupun efektifitas penetrasi untuk mengubah persepsi pihak lain, diplomasi
pertahanan Indonesia masih terbatas pada masalah pembangunan citra.
Otoritas Politik dan Kebijakan Pertahanan Indonesia
Menteri Pertahanan bukanlah satu-satunya pengelola kebijakan pertahanan negara. Selain
menteri, UU 3/2002 juga menetapkan Presiden, Dewan Pertahanan Nasional dan TNI sebagai
bagian dari institusi-institusi yang memegang peranan penting dalam kebijakan pertahanan
Indonesia. Ruang otoritas Menteri Pertahanan pada prinsipnya terkait dengan
pembangunan kekuatan pertahanan; Presiden dan Panglima bertanggungjawab untuk
pengerahan kekuatan dan penggunaan kekuatan pertahanan. Dewan Pertahanan Negara,
dengan Menteri Pertahanan sendiri sebagai salah satu anggotanya, bertugas untuk memberi
masukan kepada Presiden tentang masalah-masalah krusial yang harus dijawab dengan
pertahanan negara. Departemen Pertahanan, melalui Menteri Pertahanan, juga bertugas
21
Idil Syawfi, “Aktivitas Diplomasi Pertahanan Indonesia”, Thesis Master, Program Pascasarjana Ilmu Hubungan
Internasional, Universitas Indonesia, Jakarta, 2009: hal 28-33.
22 Ibid . hal. 122
33
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
untuk menjalin koordinasi dengan beberapa instansi negara lainnya, seperti Departemen
Dalam Negeri, Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) dan Dewan Ketahanan Nasional.
UU Hanneg juga tidak memberi kepastian tentang kapan pembangunan institusi dan
perundangan di bidang pertahanan negara harus diselesaikan. Pasal 27 UU Pertahanan
Negara hanya menegaskan bahwa “badan dan perundangan yang ada tetap berlaku sampai
terbentuk badan atau perundangan yang baru. Tidak ada tenggat tentang kapan harus
terbentuk badan baru yang diwajibkan oleh UU, misalnya Dewan Pertahanan Nasional.
Perubahan postur pertahanan hanya dirumuskan tanpa tenggat. Pasal 11 UU TNI tidak
memastikan tentang kapan postur pertahanan Indonesia harus mencerminkan kenyataan
geografis. Tanpa ada kepastian tersebut, Menteri Pertahanan atau Departemen Pertahanan
mempunyai ruang yang amat besar untuk menetapkan apa yang dianggap sebagai agenda.
Namun perlu juga digarisbawahi bahwa keberhasilan seorang menteri pertahanan di
Indonesia ditentukan juga oleh instansi lain, khususnya Presiden yang menurut ketentuan
dalam UU Pertahanan Negara harus menyusun tentang Kebijakan Umum Pertahanan
Negara. Pada kenyataannya, Kebijakan Umum Pertahanan Negara pemerintahan Yudhoyono
baru diumumkan akhir Januari 2008, melalui Peraturan Presiden No. 7/2008 -- 38 bulan
setelah pemerintahan Yudhoyono dilantik (Oktober 2004). Menteri Pertahanan seakan-akan
justru lebih memainkan peranan penting sebagai anggota Dewan Pertahanan Negara yang
belum terbentuk daripada sebagai pembantu Presiden seperti dimaksud dalam UUD 1945.
Sebagai pimpinan Departemen, Menteri Pertahanan memiliki kewenangan koordinatif
dengan pimpinan instansi-instansi lainnya, baik pada tingkat ministerial seperti dengan
Departemen Dalam Negeri, Kementerian Riset dan Teknologi dan Bappenas maupun
instansional dengan Lemhannas dan Wantannas. Pola hubungan koordinatif di manapun
juga memerlukan kejelasan pembagian kerja (division of labour) secara sektoral, pembagian
kerja yang menitikberatkan pada bidang tertentu saja dari penyelenggaraan pemerintahan.
Pada prakteknya, beberapa departemen/kementrian menyusun kebijakan yang langsung
atau tidak terkait dengan pertahanan negara. Menteri Negara Urusan Riset danTeknologi,
misalnya, juga menyusun sebuah buku putih tentang pengembangan teknologi pertahanan.
Begitu juga Bappenas yang antara lain melampirkan kebijakan pertahanan dalam pidatopidato Presiden atau Badan Pembangunan Hukum Nasional (BPHN) yang mempersiapkan
beberapa amandemen perundangan, misalnya mengenai mobilisasi dan demobilisasi.
Menurut pengalaman, tidak ada koordinasi, apalagi sinergi, antara rancangan-rancangan
yang disusun oleh instansi tersebut dengan pihak Departemen Pertahanan.
Departemen Pertahanan sendiri tentu melakukan banyak hal dalam periode tiga setengah
tahun pemertintahan Yudhoyono. Pada tahun 2007, Departemen Pertahanan menerbitkan
empat dokumen penting: Buku Putih Pertahanan, Doktrin Pertahanan Negara, Strategi
Pertahanan Negara dan Postur Pertahanan negara. Dokumen-dokumen tersebut menjadi
landasan bagi kebijakan penyelenggaraan pertahanan negara sampai tahun 2029. Konsep
34
Otonomi Relatif, Interdependensi dan Transformasi Orientasi Departemen Pertahanan
pertahanan meliputi pertahanan militer maupun non-militer. Begitu pula halnya dengan
strategi pertahanan yang dibedakan menjadi strategi pertahanan militer dan strategi nonmiliter. Pembangunan postur juga diarahkan untuk meningkatkan kemampuan komponen
utama maupun komponen cadangan dan pendukung.
DPR menilai dokumen-dokumen tersebut layak sebagai bagian dari transparansi
Departemen Pertahanan maupun upaya untuk menegaskan beberapa perubahan dalam
proses perencanaan kebijakan pertahanan. Namun DPR juga menangkap dua hal penting.
Pertama adalah bahwa Departemen Pertahanan gagal merumuskan doktrin dan strategi
pertahanan yang relevan dengan konteks ancaman yang dihadapi Indonesia. UUD 1945 dan
doktrin pertahanan semesta menjiwai rumusan doktrin pertahanan tetapi tidak secara rinci
menjadi ranah kebijakan yang langsung terkait dengan otoritas Departemen Pertahanan;
kedua, sebagai konsekuensi yang pertama, dokumen yang diterbitkan Departemen
Pertahanan membawa kesan kuat bahwa TNI akan memperluas kewenangan atau tugas
utamanya untuk menghadapi ancaman non-militer.23
Penutup
Stagnasi dalam pembahasan RUU Peradilan Militer, pengambilalihan aset bisnis TNI, maupun
sipilisasi birokrasi di lingkungan Departemen Pertahanan merupakan kasus yang
menunjukkan masih terdapatnya decisive independensi atau, jika dilihat dari sudut
hubungan sipil-militer, otoritas relatif politik sipil. Menjadi pertanyaan tersendiri apakah
relatifisasi otoritas politik sipil atas militer ini merupakan fenomena transisi atau akan
menjadi permanen; begitu pula halnya apakah oleh karenanya akan membuka ruang
independensi yang besar bagi militer. Di negara-negara Barat, independensi instansi militer
dari pemegang otoritas politik menjadi isu krusial sebagai benchmark supremasi sipil karena
independensi itu dikhawatirkan menyebabkan militer bisa melakukan banyak hal sesuai
dengan pertimbangannya sendiri, misalnya akumulasi kekuatan koersif yang
membahayakan lingkungan strategis, khususnya hubungan dengan negara lain.
Di Indonesia, independensi itu agaknya terbatas pada masalah transparansi dan
akuntabilitas. Hingga kini Indonesia tidak memiliki kekuatan yang cukup menimbulkan efek
penangkalan terhadap negara-negara di sekitarnya. Agenda utama 2009-2014 oleh
karenanya harus berpijak dari asumsi tentang perlunya ruang yang lebih besar bagi akses
publik untuk melakukan pengawasan terhadap birokrasi pemerintahan. Berhasil atau
tidaknya upaya untuk mengikis impunitas, penyalahgunaan aset negara, maupun akan
sangat tergantung pada kemampuan politik sipil. Mengingat semakin lemahnya desakan
politik yang dapat digunakan untuk mempercepat proses itu, masyarakat sipil harus dapat
menciptakan momentum baru untuk membangun penyelenggaraan tatakelola
pemerintahan yang baik.
23 Sumbangan pemikiran Komisi I DPR atas Draft Kebijakan umum dan Kebijakan Penyelenggaraan Pertahanan
Negara, Jakarta, 14 Februari 2008.
35
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Keterbatasan diplomasi pertahanan maupun berbagai persoalan terkait dengan kebijakan
penyelenggaraan pertahanan negara bisa dipastikan merupakan persoalan transisional.
Keandalan kebijakan di kelak kemudian hari masih ditentukan oleh beberapa hal, mulai dari
penataan institusi yang bertanggungjawab mengenai bidang pertahanan nasional,
reorientasi pemikiran di lingkungan para perencana kebijakan di Departemen Pertahanan,
maupun pada kemampuan sumberdaya nasional untuk menopang kebijakan pertahanan.
Departemen Pertahanan tidak mungkin secara sendirian berada dalam posisi menentukan.
Hampir bisa dipastikan kedudukan Presiden akan sangat sentral bagi reformasi kebijakan
terkait dengan pertahanan negara. Kewenangan Menteri Pertahanan agaknya hanya akan
terbatas pada pembangunan kekuatan pertahanan Indonesia.
Terlepas dari substansi yang tercantum dalam dokumen yang diterbitkan oleh Departemen
Pertahanan seperti telah disebutkan di atas, dokumen-dokumen tersebut dapat menjadi
landasan bagi perencanaan pertahanan Indonesia masa depan. Secara politik, dokumendokumen itu juga bisa menjadi pijakan bagi proses checks and balances dalam politik
kebijakan di Indonesia. Oleh karenanya, DPR maupun masyarakat sipil dapat menyusun
agenda yang lebih terfokus pada beberapa hal yang dikerjakan oleh Departemen
Pertahanan, tidak melulu pada beberapa hal ideal yang diinginkan oleh DPR maupun
masyarakat sipil itu sendiri. Betapapun, terbitnya dokumen-dokumen seperti itu harus
dianggap sebagai kemajuan dalam demokratisasi proses kebijakan, sekalipun tidak secara
signifikan memiliki implikasi politik terhadap peran tentara dalam kehidupan bermasyarakat
maupun bernegara.
Agenda kebijakan 2009-2014 harus dipusatkan pada program-program yang lebih
membuka ruang untuk menempatkan konteks pertahanan Indonesia pada dimensi militer,
dan oleh karenanya menjadikan Departemen Pertahanan sebagai departemen yang khusus
merencanakan kebijakan terkait dengan pengembangan postur komponen utama
pertahanan negara. Masyarakat sipil harus mulai memikirkan tentang transformasi
pertahanan Indonesia, satu diantaranya dengan mengusulkan gagasan alternatif orientasi
kebijakan pertahanan nasional, strategi pertahanan negara, dan operasionalisasinya ke
dalam postur pertahanan militer.<
36
Pengawasan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Dalam Reformasi Sektor Keamanan
PENGAWASAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT (DPR)
DALAM REFORMASI SEKTOR KEAMANAN
Suryama M. Sastra1 dan Yusa Djuyandi 2
Pendahuluan
Perjalanan reformasi sektor keamanan di Indonesia pada saat ini telah memasuki usia
yang ke 10 (sepuluh), selama kurun waktu tersebut perjalanan reformasi sektor keamanan
banyak mengalami pasang surut dan hal ini terlihat dari berbagai fenomena-fenomena yang
terjadi di lapangan, sebagai contohnya masih adanya ego angkatan antara TNI dan Polri,
penanganan dengan tindak kekerasan oleh aparat kepolisian, reformasi bisnis TNI yang
belum selesai, terjadinya tindak kekerasan anggota TNI terhadap rakyat sipil sebagaimana
yang pernah terjadi di Alas Tlogo, dan sebagainya. Reformasi sektor keamanan merupakan
salah satu bagian penting dari pelaksanaan reformasi secara keseluruhan dan tidak dapat
dipungkiri bahwa reformasi sektor keamanan juga memiliki peranan penting dalam
membawa perubahan bagi masyarakat Indonesia menuju masyarakat yang lebih demokratis
dan berkeadilan, dan oleh karenanya reformasi sektor keamanan juga bertujuan untuk
menciptakan terjaminnya perlindungan hak asasi manusia (HAM), menciptakan
pemerintahan sipil yang berdaulat dalam konteks supremasi sipil, serta menciptakan aktor
pertahanan dan keamanan yang handal dan profesional dalam menjalankan tugas dan
fungsinya.
Di dalam setiap negara yang menganut sistem demokrasi, dimana kekuasaan diyakini berada
di tangan rakyat dan dijalankan sepenuhnya oleh dan atas kehendak rakyat, keberadaan
Parlemen sebagai lembaga perwakilan rakyat dalam melindungi kepentingan rakyat sangat
dibutuhkan, dan dalam konteks reformasi sektor keamanan di Indonesia dimana reformasi
sektor keamanan juga merupakan salah satu tuntutan rakyat yang harus dilaksanakan maka
peranan DPR dalam mendukung pelaksanaan reformasi sektor keamanan juga sangat
dibutuhkan. Sebagai lembaga perwakilan rakyat maka DPR mempunyai tanggungjawab
untuk melindungi dan menjaga kepentingan rakyatnya agar terbebas dari rasa khawatir akan
gagalnya cita-cita dan pelaksanaan reformasi sektor keamanan, dimana salah satu caranya
adalah dengan memaksimalkan berbagai fungsi yang dimilikinya seperti fungsi
pengawasan, legislasi dan anggaran, dengan menggunakan beberapa fungsi tersebut
seperti diantaranya fungsi pengawasan maka DPR dapat menghindari kemungkinan
terjadinya penyalahgunaan kekuasaan yang dijalankan oleh pemerintah ataupun unit-unit
dari cabang pemerintahan lainnya,3 misalkan TNI dan Polri.
Keberadaan DPR saat ini tentunya sangat jauh berbeda apabila dibandingkan dengan DPR
pada massa pemerintahan Orde Baru dimana kekuasaan eksekutif sangat begitu kuat dari
1
Suryama M. Sastra, adalah Anggota Komisi I DPR-RI Periode 2004-2009, Fraksi PKS.
2
Yusa Djuyandi, adalah Staf Ahli Anggota Komisi I DPR-RI, dan Lulusan Magister Ilmu Politik, Universitas
Padjadjaran, Bandung.
3 Peter Joyce, Politics, London: Teach Yourself, 2003, hlm. 204.
37
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
parlemen (DPR), sebab pemerintah orde baru pada saat itu banyak memanfaatkan
keberadaan fraksi TNI/Polri (ABRI) dan Golkar di dalam DPR untuk mendukung kebijakan
Presiden Soeharto,4 hal ini tentunya kemudian berdampak pada lemahnya sistem demokrasi
di Indonesia dan juga mengakibatkan banyak terjadi penyalahgunaan kekuasaan oleh
pemerintah. DPR pada massa reformasi merupakan lembaga yang berbeda apabila
dibandingkan dengan DPR pada massa pemerintahan orde baru dimana keberadaan DPR
jauh lebih independen, terlepas dari kontrol dan pengaruh kekuasaan eksekutif, sehingga
mampu menciptakan check and balances sebagai salah satu bentuk pewujudan demokrasi
dan pelaksanaan konsep trias politica. Pada awal bergulirnya reformasi DPR telah berusaha
untuk menjalankan peranannya secara maksimal sebagai lembaga perwakilan rakyat dan
untuk memaksimalkan peranannya tersebut DPR mulai membenahi dirinya dengan salah
satunya menghilangkan fraksi TNI/Polri 5 dan disamping itu DPR juga terlihat banyak
memaksimalkan berbagai fungsi yang dimilikinya termasuk fungsi pengawasan.
Sejalan dengan cita-cita reformasi sektor keamanan maka DPR juga mempunyai hak
sekaligus kewajiban untuk mengawal cita-cita tersebut, diantaranya dengan terus
mengawasi jalannya reformasi Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Negara Republik
Indonesia (Polri), Badan Intelejen Negara (BIN), Departemen Pertahanan (Dephan), dan
beberapa lembaga-lembaga lainnya yang terkait dengan sektor keamanan. Disamping itu
DPR bersama-sama dengan pemerintah juga membuat undang-undang yang bertujuan
untuk mendukung pelaksanaan reformasi di dalam sektor keamanan, serta menetapkan
anggaran di bidang pertahanan dan keamanan dengan berdasarkan pada tingkat
kebutuhannya, karena DPR pun menganggap anggaran juga mempunyai nilai strategis
dalam membangun kekuatan pertahanan dan keamanan negara yang ideal sebagai salah
satu bagian dari reformasi sektor keamanan.
Tanpa bermaksud mengecilkan beberapa fungsi DPR lainnya, namun dalam kesempatan ini
penulis hanya membahas bagaimana pelaksanaan fungsi pengawasan yang telah dilakukan
oleh DPR periode 2004-2009 selama ini, komisi apa yang melakukan pengawasan dalam
kaitannya dengan reformasi sektor keamanan, hal-hal apa saja yang sekiranya selama ini
menjadi prioritas pengawasan DPR, dan beberapa hal lainnya yang sedikit banyak memiliki
keterkaitan dengan efektifitas pengawasan DPR. Aktivitas pengawasan DPR memang
merupakan suatu hal yang memiliki keunikan sebab aktivitas ini memiliki dua tujuan dari dua
sudut pandang yaitu organisasi dan politis, yaitu satu bertujuan agar suatu rencana dapat
berjalan sesuai dengan apa yang telah ditetapkan,6 dan kedua agar tercipta suatu
mekanisme checks and balances antara lembaga-lembaga negara yang berkuasa.7
4 Keberadaan Golongan Karya (Golkar) ketika masa pemerintahan orde baru merupakan bentuk rekayasa ABRI,
keberadaan Golkar diawali dengan munculnya Sekber Golkar yang dilatarbelakangi oleh adanya kebutuhan
terhadap poros Pancasila. Berkat kerja keras Daryatmo, Ali Murtopo dan Soemitro, Jenderal Soeharto memasuki
Pemilu 1971 dengan dukungan Golkar yang bersatu dan ABRI yang kompak. (Said, 2001: 104-105)
5 Hilangnya fraksi TNI/Polri sendiri baru tercapai pada tahun 2004 yaitu pada massa pemerintahan Susilo
Bambang Yudhoyono. Lihat Al Araf, “Tentara Nasional “ dalam Beni Sukadis (Ed.), Almanak Reformasi Sektor
Keamanan Indonesia 2007, Jakarta: Lesperssi dan DCAF, 2008, hlm. 24.
6 Siswanto, H.B., Pengantar Manajemen, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2007, hlm. 139.
7 Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2000, hlm. 153.
38
Pengawasan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Dalam Reformasi Sektor Keamanan
1. Komisi-komisi di DPR yang Terkait dengan Reformasi Sektor Keamanan
Sebagai sebuah lembaga perwakilan rakyat yang mewakili ± 230.000.000 rakyat
Indonesia, DPR mengurus banyak hal atau persoalan yang terkait dengan berbagai
kepentingan rakyat Indonesia, untuk memudahkan tugas-tugasnya dalam hal melaksanakan
fungsi legislasi, pengawasan dan anggaran di berbagai sektor maka dibentuklah komisikomisi yang mempunyai ruang lingkup bidang atau sektor tertentu yang berbeda satu sama
lainnya. Tentang pentingnya keberadaan komisi di dalam lembaga legislatif, Joyce (2003:
208) menjelaskan dan memberikan gambaran tentang peranan komisi. Menurut Joyce
banyak pekerjaan yang dijalankan oleh lembaga legislatif pada saat ini di delegasikan ke
komisi-komisi dan pada gilirannya badan ini dapat pula menyerahkan tanggungjawabnya ke
sub-komisi, keberadaan komisi sangat penting dalam menunjang tugas-tugas parlemen
sebab pada waktu yang bersamaan parlemen (DPR) dapat memikirkan sejumlah
permasalahan-permasalahan yang lain.
Terkait dengan pelaksanaan reformasi sektor keamanan, maka secara organisasional
terdapat dua komisi yang menangani sektor tersebut, yaitu Komisi I (satu) yang diantaranya
menangani bidang pertahanan dan intelejen dengan terdapatnya kelompok kerja (Pokja)
pertahanan dan Pokja intelejen, serta Komisi III (tiga) yang diantaranya menangani bidang
keamanan dalam negeri. Dalam bidang bertahanan dan intelejen Komisi I DPR bermitra
dengan beberapa lembaga pemerintahan dan Negara, seperti Departemen Pertahanan,
Tentara Nasional Indonesia (TNI), Badan Intelejen Negara (BIN), dan lain sebagainya,
sedangkan untuk Komisi III dalam bidang keamanan maka DPR bermitra dengan Menteri
Koordinasi Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukkam) serta dengan Polri. Berbeda
halnya dengan Komisi I yang memiliki kelompok kerja (Pokja) pada Komisi III tidak terdapat
adanya Pokja.
a. Gambar Struktur Kelompok Kerja (Pokja) Komisi I DPR
Komisi I
DPR - RI
Pokja
Pertahanan
Pokja
Hubungan
Luar Negeri
Pokja
Intelejen
Pokja
Informasi dan
Komunikasi
b. Gambar Struktur Bidang Kerja Komisi III DPR
Komisi III
DPR - RI
Hukum dan
Hak Asasi Manusia
Kejaksaan
Keamanan
(Kepolisian)
39
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
2. Reformasi Legislasi dalam Memperkuat Reformasi Sektor Keamanan
Reformasi sektor keamanan secara luas terbagi kedalam dua ranah, yaitu ranah
keamanan (kedalam) dan ranah pertahanan (keluar), guna menjamin pelaksanaan reformasi
sektor keamanan berjalan sesuai dengan cita-cita dan keinginan bangsa maka sebagai
langkah awal pada tahun 2000 diadakan reformasi birokrasi pada Angkatan Bersenjata
Republik Indonesia (ABRI) yang secara resmi memisahkan kedua institusi bersaudara, yaitu
TNI dan Polri, melalui TAP MPR Nomor VI tentang Pemisahan TNI dan Polri yang kemudian
dilanjutkan dengan dikeluarkannya TAP MPR Nomor VII Tahun 2000 tentang Peran TNI dan
Peran Polri. Sebagai upaya untuk memperkuat ketetapan hukum yang telah ada, yaitu TAP
MPR Nomor VI Tahun 2000 dan TAP Nomor VII Tahun 2000, maka UUD 1945 hasil amandemen
juga mulai mempertegas pemisahan antara ranah pertahanan dan keamanan,8 dimana TNI
berfungsi sebagai alat negara yang bertugas menjaga pertahanan sedangkan Polri berfungsi
sebagai alat negara yang mempunyai tugas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.9
Reformasi sektor keamanan tidak dapat berjalan dengan baik kalau tidak didukung oleh
reformasi legislasi sektor keamanan, oleh karena itu DPR bersama-sama dengan pemerintah
berusaha mendorong lahirnya undang-undang sektor keamanan yang reformis seperti UU
No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, UU No. 3 Tahun 2002
tentang Pertahanan Negara, dan UU No. 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia
(TNI). Sayangnya setelah lahir undang-undang TNI, sampai dengan saat ini DPR bersamasama dengan pemerintah belum mengeluarkan dan mengesahkan produk legislasi lainnya
yang memperkuat pelaksanaan reformasi sektor keamanan dimana hal ini terlihat dari
terhambat dan lambatnya pembahasan RUU Keamanan Nasional, RUU Rahasia Negara, dan
RUU Intelejen.
Pentingnya produk legislasi dalam reformasi sektor keamanan juga akan mempermudah
pelaksanaan tugas dan fungsi DPR dalam melakukan pengawasan terhadap jalannya
reformasi sektor keamanan secara menyeluruh, baik terhadap pemerintah maupun terhadap
aktor-aktor pertahanan dan keamanan seperti TNI, Polri, maupun intelejen. Kebalikannya jika
tidak ada produk hukum yang mengaturnya maka akan sulit bagi DPR untuk mengawasi
jalannya kebijakan reformasi keamanan, sebab pada level yang paling penting yaitu pada
tingkatan tertinggi yang diawasi oleh DPR adalah kebijakan yang dijalankan oleh pemerintah
dengan berdasarkan kepada undang-undang yang ada, jika tidak ada undang-undang
praktis maka tidak akan ada banyak hal yang dapat diawasi oleh DPR.
2. Pengawasan DPR dalam Reformasi Sektor Keamanan
Pelaksanaan fungsi pengawasan oleh DPR adalah dijamin dalam UUD 1945, merujuk
pada Bab VII tentang Dewan Perwakilan Rakyat, Pasal 20A ayat (1) disebutkan bahwa Dewan
Perwakilan Rakyat memiliki fungsi legislasi, fungsi anggaran dan fungsi pengawasan.
8 Lihat Bab XII, Pertahanan dan Keamanan Negara, UUD 1945 hasil amandemen ke dua, tahun 2000.
9 Lihat Pasal 30 ayat (3) dan (4) UUD 1945 hasil amandemen ke dua.
40
Pengawasan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Dalam Reformasi Sektor Keamanan
Disamping itu terdapatnya fungsi pengawasan bagi DPR juga dilegalkan melalui Pasal 25 UU
No. 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat,
Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.
Sejauhmanakah pengawasan yang dilakukan oleh DPR periode 2004-2009 ini selama kurun
waktu 2 tahun terakhir? berikut adalah beberapa hal yang masih menjadi fokus perhatian
pengawasan DPR:
a. Pengawasan Terhadap Penggunaan Anggaran Pertahanan dan Keamanan
Perananan anggaran dalam reformasi sektor keamanan sangat besar, sebab dengan
anggaran yang besar maka baik TNI, Polri dan BIN diharapkan mampu memenuhi standar
minimum kebutuhan mereka dalam menjalankan tugas-tugasnya, mulai dari kesejahteraan
para prajuritnya, pembelian peralatan ataupun persenjataan terbaru dan pemenuhan biaya
operasional keseharian. Apabila dibandingkan dengan anggaran-angaran sebelumnya
maka pada era reformasi jumlah anggaran yang dialokasikan untuk kebutuhan di sektor
keamanan banyak mengalami peningkatan,10 namun memang jumlah anggaran yang
tersedia untuk masing-masing lembaga berbeda dan pemerintah pusat juga belum
sepenuhnya bisa memenuhi semua kebutuhan anggaran yang diperlukan oleh masingmasing angkatan.
Seperti halnya pada tahun 2008 dimana anggaran minimum pertahanan yang sebetulnya
dibutuhkan oleh Dephan dan TNI adalah sebesar Rp. 100 triliun 11 sedangkan yang mampu
dipenuhi oleh APBN 2008 hanya sebesar Rp. 33.9 triliun,12 yang berarti ada sekitar Rp. 66.1
triliun kebutuhan anggaran pertahanan yang tidak terpenuhi. Memang minimnya jumlah
anggaran terkadang menjadi kendala bagi peningkatan profesionalisme institusi Polri dan
TNI, misalnya seperti munculnya alasan bahwa TNI melakukan bisnis selama ini dikarenakan
jumlah anggaran dari pemerintah yang minim sedangkan disisi lain para prajurit butuh
mempertahankan standar hidup mereka, maka dari itu Rieffel dan Pramodhawardani
memberikan pandangan tentang pentingnya mengurangi aktivitas bisnis TNI, khususnya
yang illegal dengan cara menambah gaji dan tunjangan militer yang didanai dari anggaran,
serta memberhentikan aktivitas bisnis secara berkala dan bukan tiba-tiba.13
Walaupun jumlah anggaran yang dibutuhkan dalam reformasi sektor keamanan masih
belum memenuhi total kebutuhan Dephan, TNI, Polri dan BIN, namun pelaksanaan
pengawasan terhadap penggunaan anggaran tetap harus dilakukan guna menghindari
adanya penyalahgunaan kewenangan, disamping dana yang digunakan merupakan dana
10 Anggaran pertahanan pada tahun 2007 berada di angka Rp. 31,3 triliun, terbesar kedua setelah pendidikan,
anggaran untuk Polisi sebesar Rp. 18,7 triliun, dimana secara keseluruhan anggaran pertahanan dan keamanan
lebih besar dari anggaran pendidikan yang hanya sebesar Rp. 43,5 triliun. (Rieffel dan Pramodhawardani, 2007:
170)
11 http://www.indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=6561&Itemid=695
12 Lihat jawaban Menteri Pertahanan dalam Rapat Kerja antara Menhan dengan Komisi I DPR-RI, tanggal 23
Februari 2009.
13 Lex Rieffel dan Jaleswari Pramodhawardani, Menggusur Bisnis Militer – Tantangan Pembiayaan Melalui
APBN, Bandung: Mizan, 2007, hlm. 170.
41
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
APBN yang berasal dari rakyat sehingga wajib dipertanggungjawabkan. Pada awal-awal
tahun 2009 dalam rangka melakukan pengawasan di bidang anggaran, maka DPR telah
mengajukan pertanyaan kepada pemerintah tentang realisasi dan target pencapaian
besaran anggaran untuk program kerja Dephan pada Triwulan IV (Oktober-Desember) TA.
2008 dan kendala yang dihadapi.14
a. Pengawasan Terhadap Pelaksanaan Reformasi Kepolisian Negara Republik
Indonesia
Polisi merupakan alat negara yang berfungsi untuk menjaga keamanan dalam negeri,
sebagai alat negara yang berfungsi menjaga kemananan dalam negeri maka polisi lebih
sering berinteraksi dengan masyarakat sebagai objek yang dilindunginya dalam rangka
terciptanya keamanan dan ketertiban di masyarakat. Penggabungan Polri kedalam tubuh
ABRI pada era orde baru telah menyebabkan perubahan karakter instansi dan aparat
kepolisian yang lebih cenderung militeristik dan hal ini bagi sebagian besar masyarakat
dianggap sebagai suatu kemunduran, banyak aparat kepolisian yang melakukan tindakan
represif dalam menangani beberapa kasus seperti dalam menangani aksi demonstrasi.
Pemisahan Polri dari tubuh ABRI/TNI pada 1 April 1999 melalui Inpres No. 2 Tahun 1999 yang
kemudian dipertegas melalui TAP MPR No. VI Tahun 2000 tentang pemisahan TNI dan Polri,
serta TAP MPR No. VII Tahun 2000 tentang peran kedua lembaga tersebut telah membawa
angin segar bagi terciptanya perubahan di tubuh kepolisian, dimana perubahan tersebut
dalam rangka menciptakan polisi Indonesia yang dapat melindungi dan mengayomi
masyarakat melalui konsep community policing. Untuk memperkuat arah reformasi di tubuh
kepolisian maka DPR kemudian merancang dan mengesahkan suatu undang-undang
tentang kepolisian yaitu UU No. 2 Tahun 2002, produk undang-undang ini dengan secara
tegas menjelaskan tugas-tugas kepolisian dalam lingkup sektor keamanan dalam negeri dan
juga mengarahkan Polri menjadi sebuah lembaga yang berorientasi pada konsep community
policing.
Pemisahan Polri dari ABRI/TNI juga bertujuan untuk mereformasi kepolisian secara
menyeluruh dimana hal ini menyangkut pula masalah keterbukaan dan pengembangan
demokrasi di tubuh kepolisian, keterbukaan dan demokrasi pada setiap lembaga negara dan
pemerintahan merupakan suatu keharusan dikala masyarakat menuntut agar aparatur
pemerintah dan negara lebih memperhatikan aspek-aspek yang terkandung dalam tuntutan
reformasi, seperti pemeberantasan KKN, peningkatan kesejahteraan, dan keterbukaan. Maka
dari itu Polri juga dituntut untuk dapat menerapkan prinsip-prinsip good governance seperti
transparan, tanggap, berorientasi pada masyarakat, bertanggungjawab, berdasarkan pada
kaidah hukum, dan lain sebagainya, sehingga Polri pun mau tidak mau harus siap bahwa
setiap tindakannya akan selalu diawasi oleh masyarakat melalui sebuah lembaga perwakilan
rakyat yaitu DPR.
14 Lihat jawaban Pemerintah atas Pertanyaan Tertulis Pada Rapat Kerja antara Menhan RI dengan Komisi I DPRRI, tanggal 23 Februari 2009.
42
Pengawasan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Dalam Reformasi Sektor Keamanan
Berdasarkan pada hasil pengawasan yang dilakukan oleh DPR maka sampai saat ini masih
ditemukan berbagai kasus yang bertentangan dengan arah kebijakan Polri yang reformis
dan berbasiskan pada community policing, seperti diantaranya masih ditemukan adanya
beberapa personel polisi yang melakukan tindakan indisipliner, pelanggaran HAM,
penyalahgunaan wewenang untuk melakukan korupsi atau menerima suap yang dimana
semua tindakan ini tentunya tidak dapat dibenarkan. Tindakan indisipliner anggota Polri
pada umumnya menyangkut penyalahgunaan senjata api; melakukan beking terhadap
tempat-tempat hiburan malam, prostitusi, dan perjudian; melakukan pemungutan liar
kepada masyarakat melalui modus operandi tilang di tempat; pertikaian antara anggota Polri
dan TNI, serta beberapa tindakan indisipliner lainnya.
Sedangkan dalam konteks perlindungan HAM, berdasarkan hasil pengawasan Komisi III DPR
bahwa hingga saat ini masih terdapat adanya beberapa peristiwa pelanggaran HAM yang
dilakukan oleh anggota kepolisian, seperti seperti kasus penembakan aparat kepolisian
terhadap warga masyarakat,15 penggunaan tindak kekerasan dalam pembubaran aksi massa
demonstran. Dalam hal penyalahgunaan jabatan atau wewenang di dalam tubuh kepolisian
maka dalam beberapa kasus, Komisi III DPR melihat masih adanya peristiwa penyalahgunaan
wewenang yang dilakukan oleh oknum aparat kepolisian, seperti halnya praktek tindak KKN
dan penerimaan sogok oleh aparat kepolisian baik pada level bawah maupun level atas,
sebagai contoh: pembobolan Bank BNI yang melibatkan beberapa Perwira Tinggi (Pati) di
tubuh kepolisian, dan juga penerimaan sogok di jalan raya yang hingga saat ini masih terjadi.
c.
Pengawasan Terhadap Reformasi Badan Intelijen Negara (BIN)
BIN selama ini terkesan sebagai lembaga yang bebas bergerak dan memiliki otoritas
penuh serta dapat menembus berbagai instansi dan kepentingan tanpa batas, melihat
kenyataan ini seharusnya BIN tidak boleh dibiarkan sendirian tetapi harus ada mekanisme
kontrol yang baik untuk mengawasi dan meminta pertanggungjawaban kinerja mereka.
Selama ini kontrol dan pengawasan BIN dilakukan melalui komisi di DPR tetapi kenyataannya
pengawasan tersebut tidak berjalan efektif, mekanisme pengawasan baru dilaksanakan oleh
DPR ketika BIN sudah menyentuh kepentingan DPR bahkan dianggap bisa mengancam
lembaga legislatif ini, berdasarkan kenyataan ini sudah sewajarnya jika kemudian
mekanisme pengawasan DPR diefektifkan kembali untuk memantau kinerja BIN, yang salah
satunya dapat dilakukan dengan memanggil dan meminta pertanggungjawaban kinerja BIN
secara periodik.
Sebagai lembaga perwakilan rakyat, DPR juga seharusnya bisa mengawasi netralitas BIN
sebab ketidaknetralan BIN tentunya akan merusak tujuan dari reformasi sektor keamanan,
contoh kasus pernyataan kepala BIN yang menyatakan bahwa: “menteri dan parpol
sontoloyo adalah bentuk penghinaan politik kepada presiden karena menganggap presiden
15 Sebagai contoh: kasus penembakkan terhadap 14 warga Poso oleh Pasukan Detasemen 88 Antiteror Mabes
Polri pada tanggal 22 Januari 2007, lihat http://www.media-indonesia.com/berita.asp?id=123067 dan
http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=281697&kat_id=3
43
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
tidak mampu menilai kerja para menterinya,” 16 adalah suatu hal yang salah karena sudah
masuk ke dalam ranah politik dan membawa BIN seolah-olah condong kepada salah satu
kekuatan politik tertentu. Disamping mengawasi netralitas lembaga intelejen, DPR juga
mempunyai kewajiban untuk mengawasi berbagai tindakan-tindakan BIN dalam kaitannya
dengan perlindungan HAM, dalam kasus pembunuhan Munir yang melibatkan Muchdi PR
maka DPR terus memantau jalannya perkembangan dalam pengusutan peristiwa ini yang
salah satunya dengan cara meminta penjelasan dari BIN, selain itu dalam beberapa
kesempatan DPR juga melakukan pengawasan terhadap perkembangan kasus orang hilang
yang diduga melibatkan intelijen.
Akan tetapi, pengawasan DPR terhadap dunia intelijen memang masih dirasakan belum
maksimal dikarenakan adanya beberapa persoalan, seperti adanya sifat kerahasiaan yang
mengakibatkan tidak semua informasi berhak dan dapat diperoleh oleh seluruh anggota
Komisi I DPR, namun tentunya ada beberapa hal yang sebenarnya dapat dimaksimalkan oleh
DPR dalam rangka melakukan pengawasan terhadap BIN seperti menggunakan mekanisme
kontrol anggaran terhadap intelijen. DPR disisi lain juga dapat menggunakan laporan
masyarakat yang mengadukan adanya indikasi pelanggaran HAM yang dilakukan oleh
badan intelejen, sebagai sebuah contoh adalah adanya pelaporan beberapa kalangan atas
kematian Munir yang diduga turut melibatkan aktor intelijen.
d. Pengawasan Terhadap Jalannya Reformasi TNI
Pengalihan Aktivitas Bisnis TNI
Reformasi bisnis TNI berupa pengalihan aktivitas bisnis TNI oleh pemerintah merupakan
salah satu agenda terpenting dalam reformasi sektor keamanan, khususnya reformasi TNI, hal
ini dikarenakan aktivitas bisnis yang dilakukan oleh TNI dipercaya dapat melemahkan TNI
dalam menjalankan fungsi dan tugas utamanya sebagai garda terdepan bangsa dalam
mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Disamping itu aktivitas bisnis
TNI juga dipercaya dapat melemahkan kekuasaan pemerintahan yang berdaulat, karena dari
aktivitas bisnisnya TNI merasa dapat mandiri dan memenuhi kebutuhannya sendiri
sedangkan pemerintah disisi lain tidak dapat memberikan banyak anggaran bagi kebutuhan
TNI. Aktivitas bisnis TNI juga dapat mengakibatkan terjadinya distorsi dalam sistem
perekonomian Indonesia dan memunculkan ketidakadilan dalam transaksi ekonomi, sebab
disatu sisi pelaku ekonomi dari TNI memegang senjata sedangkan disisi lainya pelaku
ekonomi kalangan sipil tidak bersenjata.
Maka dari itu untuk menjamin bahwa reformasi bisnis TNI berjalan dengan baik maka DPR
telah melakukan beberapa langkah pengawasan terhadap jalannya pengalihan aktivitas
bisnis TNI oleh pemerintah, diantaranya dengan mempertanyakan sejauhmana langkahlangkah yang telah diambil Departemen Pertahanan dalam menjalankan amanah Pasal 76
UU No. 34 Tahun 2004 tentang TNI dan sejauhmana kesiapan TNI untuk menghadapi
tuntutan pengalihan aktivitas bisnis TNI. Pengawasan terhadap pengalihan aktivitas bisnis
16
Lihat http://www.detiknews.com/read/2008/06/28/154252/964024/10/bin-layak-direformasi [28/06/2008]
44
Pengawasan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Dalam Reformasi Sektor Keamanan
TNI juga dilakukan melalui serangkaian mekanisme pengawasan seperti perdebatan dan
pemanfaatan keberadaan komisi serta Pokja pertahanan yang ada di komisi I.
Dalam beberapa hal pengawasan DPR dalam reformasi bisnis TNI masih dirasakan kurang
karena: masih adanya kelemahan-kelemahan DPR dalam memanfaatkan fungsi pengawasan
yang dimilikinya; disamping juga karena masih adanya ketidakkonsistenan sebagian
anggota Komisi I DPR-RI dalam memperjuangkan reformasi bisnis TNI; adanya ambivalensi
DPR dalam beberapa hal, seperti: disatu sisi meminta pengambilalihan bisnis TNI, disisi lain
membicarakan dua hal, yaitu: peningkatan kesejahteraan TNI, dan mengakui bisnis TNI
sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan prajurit; adanya beberapa oknum
anggota yang disinyalir turut terlibat dalam aktivitas bisnis dalam sektor keamanan sebagai
“perantara/calo”;17 serta rendahnya kontinuitas pengawasan yang dilakukan oleh anggota
Komisi I DPR.
Indisipliner Prajurit
Kasus indisipliner parjurit masih menjadi salah satu kendala dalam pelaksanaan
reformasi internal di tubuh TNI, seperti keributan anggota TNI-Polri baru-baru ini di depan
Mapolres Bima, NTB,18 dan juga perkelahian antara seorang anggota TNI dan Polri di salah
satu tempat hiburan malam akibat memperebutkan jatah “jasa keamanan”. Hal semacam ini
merupakan hambatan internal yang dapat mengakibatkan jalannya reformasi TNI dan juga
Polri menjadi rusak, dan karena itu Komisi I DPR juga merasa berkepentingan untuk terus
mengawasi kasus-kasus yang mengarah pada tindakan indisipliner para prajurit TNI,
walaupun memang sudah ada mekanisme internal di dalam tubuh TNI yang mengawasinya.
Untuk beberapa kasus indisipiliner prajurit sebelumnya, DPR juga telah mengawasi jalannya
perkembangan dan pengusutan kasus penembakan beberapa aparat TNI AL di Alas Tlogo
yang mengakibatkan timbulnya korban dari kalangan sipil, selain itu DPR dalam beberapa
kesempatan juga telah meminta kepada pihak TNI agar membenahi mental disiplin para
prajurit TNI dimana salah satunya agar tidak melakukan tindakan sewenang-wenang dan
tidak melakukan tindak kekerasan terhadap rakyat sipil jika terjadi konflik. Sedangkan dalam
kasus pertikaian antara anggota TNI dan Polri maka DPR juga menekankan tentang
pentingnya komunikasi dan saling pengertian antar kedua angkatan, memang semenjak
dipisahkannya Polri dari ABRI kedua angkatan (TNI dan Polri) “kakak beradik” ini seringkali
berkonflik dan beradu kepentingan, hal ini juga terlihat ketika pembahasan RUU Keamanan
Nasional. 19
17 Lihat http://www.detiknews.com/read/2007/10/27/110102/845566/10/soal-calo-menhan-pertimbangkanundangan-komisi-i-dpr, [27/10/2007]
18 Seputar Indonesia Pagi, 16 April 2009.
19 Lihat juga, Indonesia Police Watch (IPW) meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono segera
menghentikan pembahasan RUU Keamanan Nasional (Kamnas) dan membatalkan naskah RUU yang dibuat
Departemen Pertahanan RI itu, karena jika tetap dibiarkan, masalah ini berpotensi memicu konflik TNI-Polri.
http://www.dephan.go.id/modules.php?name=News&file=article&sid=7540,
45
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
TNI dan Netralitas Politik
Hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh salah satu media nasional pada akhir
September 2008, berkenaan dengan peringatan hari ulang tahun TNI ke-63, tujuh dari
sepuluh responden menyatakan bahwa setelah sepuluh tahun reformasi, TNI tidak benarbenar meninggalkan politik praktis, bahkan cenderung kembali berpolitik. Asumsi ini
berdasarkan penyelenggaraan 176 pilkada tahun 2005-2006, sebanyak 3,4 persen kepala
daerah yang terpilih berlatar belakang militer, belum termasuk yang mencalonkan diri pada
pilkada 2007-2008, pencalonan Capres dan legislatif pada Pemilu 2009 mendatang.20
Dalam hal pengawasan terhadap netralitas TNI atau ketidakikutsertaan TNI dalam politik
praktis, dalam beberapa kesempatan rapat dengan Menteri Pertahanan, Panglima TNI
maupun para Kepala Staf Angkatan, DPR juga cukup sering mengingatkan akan pentingnya
netralitas TNI dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, keikutsertaan TNI dalam politik
praktis atau munculnya ketidaknetralan TNI hanya akan berakibat pada lemahnya sistem
pemerintahan dan demokrasi yang sedang dibangun saat ini. Adapun waktu-waktu yang
seringkali digunakan DPR dalam meningatkan TNI agar bersifat netral adalah pada saat
menjelang pemilihan umum maupun pemilihan kepala daerah, namun memang
pengawasan yang dilakukan oleh DPR masih berdasarkan atas kasus atau kejadian-kejadian
yang terungkap oleh media, seperti halnya dalam menanggapi isu ABS “Asal Bukan Capres S”
dimana DPR memanggil perwakilan dari pemerintah saat rapat konsultasi mengenai pemilu,
untuk mendapatkan kejelasan seputar isu ABS yang dilontarkan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono beberapa waktu lalu. 21
4. Efektifitas Fungsi Pengawasan DPR-RI dalam Reformasi Sektor Keamanan
Agar pengawasan reformasi dalam sektor keamanan dapat berjalan dengan efektif maka
mekanisme pengawasan DPR yang sudah ada, seperti adanya hak bertanya; berdebat; hak
angket; hak interpelasi; dan pentingnya keberadaan komisi, harus didukung oleh sejumlah
persyaratan pengawasan parlemen (DPR) yang efektif seperti adanya kekuasaan
konstitusional dan legal yang dengan jelas dibatasi, kebiasan praktek-praktek pengawasan
yang berlaku, adanya ketersediaan sumber-sumber informasi, keahlian serta adanya
kemauan politik. Dalam hal adanya kekuasaan konstitusional dan legal, maka pengawasan
yang dilakukan DPR dijamin oleh Pasal 20A ayat (1) UUD 1945.
Ketersediaan Sumber-sumber Informasi
Faktor ketersediaan informasi sangat penting bagi anggota DPR agar dapat melakukan
pengawasan reformasi sektor keamanan dengan efektif, dengan informasi yang memadai
maka anggota DPR dapat mengetahui sejauhmana perkembangan reformasi sektor
keamanan dan dimana letak hambatan-hambatannya, disamping itu faktor ketersediaan
informasi yang memadai harus pula didukung oleh ketepatan waktu dalam memperoleh
20
http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=20&jd=tni-dan-politik-praktis&dn=20081007133047
[7/10/2008]
21 Lihat juga http://www.sinarharapan.co.id/berita/0902/03/sh02.html [3/02/2009]
46
Pengawasan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Dalam Reformasi Sektor Keamanan
informasi tentang perkembangan pelaksanaan reformasi sektor keamanan sehingga dapat
digunakan dalam menunjang pelaksanaan pengawasan. Dalam hal kecukupan memperoleh
informasi yang memadai dan dalam hal ketepatan waktu memperoleh informasi yang
memadai, maka hingga saat ini masih ada beberapa anggota DPR yang masih memiliki
keterbatasan dalam memperoleh informasi tentang perkembangan reformasi sektor
keamanan, disamping juga terkadang informasi yang dibutuhkan tidak diterima tepat pada
waktunya sehingga menjadi hambatan bagi anggota Komisi I dan III dalam melakukan
pengawasan sektor keamanan secara efektif.
Kendala-kendala yang mengakibatkan anggota DPR memiliki keterbatasan dan
keterlambatan dalam memperoleh informasi tentang sektor keamanan dapat disebababkan
oleh beberapa hal, seperti: tidak adanya informasi yang diberikan oleh pemerintah tentang
bagaimana pelaksanaan reformasi sektor keamanan, dan masih adanya keengganan dari
sebagian anggota DPR untuk secara pro aktif memperoleh informasi yang mereka butuhkan
dengan menggal informasi dari sumber-sumber lain. Permasalahan-permasalahan ini
sebenarnya dapat diatasi apabila sesama anggota Komisi I dan III DPR mau saling bertukar
informasi, mendesak pemerintah agar segera melaporkan perkembangan-perkembangan
reformasi sektor keamanan, memanfaatkan informasi yang ada dari media, LSM dan
lembaga-lembaga lain yang berkompeten dalam sektor keamanan.
Kebiasaan Praktek Pengawasan yang Berlaku di DPR
Kebiasaan praktek-praktek pengawasan yang berlaku di dalam DPR memiliki peranan
dalam menciptakan pengawasan DPR yang efektif dalam reformasi sektor pertahanan
khususnya reformasi bisnis TNI, dalam prasyarat ini tidak semua tingkah laku dan interaksi di
dalam parlemen dapat diatur dengan hukum. Maka dari itu sangat penting bagi setiap
anggota DPR untuk dapat mengembangkan dan mempertahankan kebiasaan-kebiasaan
dan praktek-praktek pengawasan parlemen yang didukung oleh norma-norma sosial, seperti
saling menghormati dan saling percaya, tetapi kebiasaan praktek-praktek pengawasan di
dalam DPR belum sepenuhnya didasarkan pada norma-norma sosial.
Keadaan seperti di atas tentunya mengakibatkan kurangnya komunikasi dan jarangnya
terjadi tukar informasi antar sesama anggota DPR, padahal dengan adanya praktek-praktek
pengawasan yang didukung oleh norma-norma sosial akan memudahkan anggota DPR
dalam melakukan pengawasan. Selama ini komunikasi antar sesama anggota DPR baru
dilakukan disaat ada kesamaan kepentingan politik dan jarang didasarkan atas kepentingan
bersama yang dilandasi dari kepentingan nasional akan tercapainya reformasi sektor
keamanan, contoh kasus adanya perbedaan persepsi diantara sesama anggota Komisi I DPRRI tentang pelaksanaan reformasi bisnis militer. Keadaan ini tentunya bukanlah suatu kondisi
yang ideal dan harus segera dipecahkan permasalahannya diantaranya dengan mencari
benang merah dan kesamaan persepsi antar sesaman anggota DPR.
Keberadaan Staf Ahli DPR dan Kinerjanya
Saat ini salah satu aspek yang dapat membantu anggota Komisi I dan Komisi III DPR-RI
dalam melakukan pengawasan yang efektif adalah tersedianya staf ahli yang mempunyai
47
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
keahlian yang memadai dalam sektor keamanan, dalam praktek dan mekanisme
pengawasan parlemen sumber-sumber dan keahlian yang dimiliki staf ahli DPR sangat
menunjang mekanisme pengawasan yang dilakukan DPR agar berjalan lebih efektif.
Kendalanya adalah bagaimana agar para staf ahli dapat tetap terus memperoleh informasi
dan pengetahuan di bidang pertahanan dan keamanan, kemudian bagaimana agar
pengetahuan yang dimiliki oleh staf ahli dapat ditransfer ke para anggota DPR, serta
bagaimana agar saran, rekomendasi dan informasi yang diberikan dapat diterima oleh para
anggota DPR.
Selama ini berbagai saran, informasi dan hasil penelitian beberapa staf ahli seringkali hanya
menjadi hiasan dalam pembuatan suatu kebijakan baik dalam pembuatan undang-undang
maupun dalam pembuatan kebijakan-kebijakan politik lainnya, terkadang kepentingan
politik lebih banyak mendominasi berbagai kebijakan atau keputusan yang dihasilkan dalam
bidang pertahanan dan keamanan. Dalam kenyataannya hanya beberapa anggota dewan
saja yang masih memanfaatkan keberadaan para staf ahli untuk memberikan berbagai
rekomendasi dalam rangka reformasi sektor keamanan, tentunya kondisi seperti ini harus
segera diminimalisir sebab dapat menjadi penghambat jalannya reformasi sektor keamanan.
Kemauan Politik dari Partai Politik dan Anggota DPR
Kemauan politik dari partai politik dan anggota DPR juga sangat menentukan
bagaimana pengawasan parlemen berlangsung, namun hal ini juga ditentukan oleh faktorfaktor lainnya seperti adanya disiplin partai politik dalam reformasi sektor keamanan yang
dimana hal ini dapat diketahui melalui platform partai politik yang ada di DPR, adanya
perhatian dari masyarakat di daerah pemilihan anggota DPR yang bersangkutan tentang
jalannya reformasi sektor keamanan, serta adanya pertimbangan-pertimbangan keamanan.
Selama ini kemauan partai politik untuk mengurus masalah reformasi sektor keamanan
mengalami kemunduran dan hal ini diakui oleh beberapa anggota Komisi I DPR-RI, bahkan
kondisi ini semakin diperparah dengan lemahnya dukungan masyarakat sebab hanya sedikit
masyarakat yang menyadari tentang pentingnya reformasi TNI.
Kesimpulan
Pengawasan parlemen (DPR) dalam reformasi sektor keamanan sangatlah penting untuk
menjamin agar kepentingan rakyat dalam reformasi sektor keamanan tetap terlindungi,
pengawasan DPR dalam sektor keamanan dilakukan terhadap aktor-aktor keamanan dan
pertahanan seperti TNI, BIN dan Polri disamping juga mengawasi lembaga pemerintah yang
bertanggung jawab atas pekerjaan. Dari pemaparan yang telah dijelaskan di atas maka dapat
diketahui bahwa pengawasan yang dilakukan oleh DPR-RI dalam reformasi sektor keamanan
masih belum efektif, hal ini terlihat masih banyaknya kelemahan-kelamahan atau kendala
yang ditemukan dalam pelaksanaan mekanisme dari fungsi pengawasan yang DPR miliki dan
juga masih adanya beberapa persyaratan pengawasan parlemen yang efektif yang belum
tercapai. Disisi lain juga terlihat bahwa rendahnya kemauan politik dan konsistensi anggota
DPR menjadi hambatan dalam pelaksanaan pengawasan DPR di sektor keamanan.<
48
Pengawasan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Dalam Reformasi Sektor Keamanan
Daftar Pustaka
Rieffel, Lex dan Pramodhawardani. 2007. Menggusur Bisnis Militer – Tantangan Pembiayaan
Melalui APBN, Bandung: Mizan.
Siswanto, H.B. 2007. Pengantar Manajemen, Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Budiardjo, Miriam. 2000. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Joyce, Peter. 2003. Politics. London: Teach Yourself.
Said, Salim. 2006. Militer Indonesia dan Politik (Dulu, Kini, dan Kelak). Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan.
Al Araf. 2008. “Tentara Nasional Indonesia“ dalam Beni Sukadis (ed.). Almanak Reformasi
Sektor Keamanan Indonesia 2007. Jakarta: Lesperssi dan DCAF.
Partai Keadilan Sejahtera. 2008. Memperjuangkan Masyarakat Madani; Falsafah Dasar
Perjuangan dan Platform Kebijakan Pembangunan PK Sejahtera. Jakarta: Majelis
Pertimbangan Pusat Partai Keadilan Sejahtera.
Media (Cetak dan Internet)
http://www.indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=6561&Ite
mid=695
http://www.media-indonesia.com/berita.asp?id=123067
http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=281697&kat_id=3
http://www.detiknews.com/read/2008/06/28/154252/964024/10/bin-layak-direformasi
http://www.detiknews.com/read/2007/10/27/110102/845566/10/soal-calo-menhanpertimbangkan-undangan-komisi-i-dpr
http://www.dephan.go.id/modules.php?name=News&file=article&sid=7540,
http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=20&jd=tni-dan-politikpraktis&dn=20081007133047
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0902/03/sh02.html
Seputar Indonesia Pagi, 16 April 2009
Perundang-undangan
Undang-Undang Dasar 1945
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002
Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004
Dokumentasi Persidangan
Hasil Rapat Kerja antara Menhan dengan Komisi I DPR-RI, tanggal 23 Februari 2009
49
Jalan Panjang Reformasi TNI
JALAN PANJANG REFORMASI TNI
Al Araf 1
Pendahuluan
“Bagi saya mereka adalah pahlawan karena yang terbunuh adalah pemberontak, atau
pimpinan pemberontak”.2 ”Hukum mengatakan mereka bersalah. Okelah dia dihukum,
tetapi bagi saya dia pahlawan,”. 3
Begitulah sikap Jenderal Ryamizard Ryacudu yang pada masa itu menjadi KSAD
(Kepala Staf Angkatan Darat) dalam menyikapi keputusan hakim yang menjatuhkan vonis
bersalah pada empat prajurit Kopassus yang menjadi terdakwa kasus pembunuhan Theys
Hiyo Eluay, ketua dewan presidium Papua. 4
Sikap mantan KSAD itu sangat memprihatinkan dan menjadi sebuah ironi. Sikap itu dapat
diartikan bahwa tindakan pembunuhan oleh para prajurit TNI dapat dibenarkan dengan
alasan untuk menghadapi pemberontak meski itu dalam situasi damai dan bukan pada
situasi konflik bersenjata secara langsung. Ditengah arus deras demokratisasi adalah sangat
menakutkan apabila seorang pimpinan tertinggi angkatan darat memiliki cara pandang
yang eksesif dalam menyikapi perbedaan pandangan dari sekelompok warga negara.
Padahal, sebagai negara hukum, apabila Theys memang dianggap melanggar hukum maka
jawaban untuk penyelesaiannya bukanlah dibunuh tetapi diadili melalui mekanisme hukum
yang ada.
Dengan bercermin dari kasus Theys dan pernyataan mantan KSAD tersebut maka wajar bila
timbul pertanyaan apakah makna dan arti dari reformasi TNI yang telah dilakukan selama ini?
Apa arti paradigma baru TNI yang dicetuskan sejak awal reformasi? Lalu apa guna buku saku
HAM yang telah di terbitkan TNI sejak tahun 2000? Mengapa cara pandang yang eksesif dan
tidak menghormati mekanisme hukum masih terus terjadi? Dengan demikian apakah
perbedaan cara pandang, metode kerja dan perilaku TNI dulu dan kini ketika dalam
menjalankan tugas pokoknya?
1
Al Araf, adalah Koordinator Peneliti SSR Imparsial, Jakarta.
Pontianak Post, “Ryamizard: Pembunuh Theys Pahlawan”, Kamis 24 April 2003
www.tempointeraktif.com, “Jenderal Ryamizard: Pembunuh Theys Hiyo Eluay Adalah Pahlawan” Rabu, 23 April
2003.
3 Majelis hakim Mahkamah Militer Tinggi III Surabaya, Senin pada 21/4/2003, memvonis hukuman yang disertai
pemecatan kepada bekas Komandan Satgas Tribuana X Letkol Inf. Hartomo, mantan Komandan Detasemen
4 Markas I Mayor Inf. Doni Hutabarat, mantan Kepala Operasi Letnan Satu Inf Agus Supriyanto dan Prajurit
Kepala Achmad Zulfahmi. Sedang tiga terdakwa lain yang dijatuhi hukuman adalah Kapten Inf. Rinardo dan
Sersan Satu Asrial dihukum tiga tahun penjara, sementara terdakwa Sersan Satu Lourensius diganjar dua tahun
penjara. Ibid
2
50
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Transisi Politik dan Reformasi TNI
Transisi demokrasi di Indonesia merupakan proses yang kompleks dan rapuh. Meskipun
perubahan politik sejak 1998 telah membuka ruang demokrasi, tetapi institusi, praktek dan
kultur yang demokratis belum sepenuhnya terwujud. Kontrol publik terhadap kekuasaan
negara masih belum terjamin keberlangsungannya. Dengan kata lain, meskipun hak-hak
warga mulai diakui, kekuasaan eksesif dan hegemoni negara belum sepenuhnya terkikis.
Proses transisi politik yang dijalani tidak serta merta menempatkan kelompok reformis
sebagai kelompok yang dengan mudahnya dapat merebut dan mempengaruhi kekuasaan
sehingga dapat menentukan arah perubahan politik. Sebab, kendati Soeharto jatuh dari
kekuasannya, kekuatan-kekuatan kelompok lama (status quo) tetap memberi pengaruh
besar dalam proses transisi politik selanjutnya. Proses transisi yang terjadi sangat diwarnai
dengan negoisasi politik antara kelompok Orde Baru dan kelompok reformis. Di sini tak ada
garis tegas yang membedakan antara kelompok Orde Baru dan kelompok reformasi.5 Hal ini
berbeda dengan corak replacement saat peralihan kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru.
Saat itu, Soeharto meletakkan garis pemisah yang tegas antara kelompok Orde Lama dan
Orde Baru. Partai Komunis Indonesia (PKI) bukan hanya tak boleh ikut dalam proses politik,
tetapi dibubarkan dan tak mempunyai hak hidup lagi di bumi Indonesia.6
Dengan jalan transisi yang seperti saat ini, maka penyelesaian agenda reformasi TNI sangat
ditentukan oleh seberapa besar daya kekuatan politik dan energi politik kelompok reformis
untuk dapat menekan kelompok status quo dalam bernegoisasi politik. Di sini kelompok
status quo tidak saja disumbangkan oleh kepentingan politik tentara sendiri, tetapi juga oleh
semua unsur kepentingan yang merasa tergangggu oleh desain baru perubahan politik yang
dapat meliputi para pebisnis yang tergantung secara struktural pada politik tentara maupun
para penyandang doktrin yaitu mereka yang memelihara suatu jenis keyakinan politik yang
melihat perubahan politik sebagai ancaman bagi identitas kelompok. 7
Dalam kenyataannya, di masa awal reformasi, Pemerintahan Abdurahman Wahid dianggap
cukup berhasil di dalam mengontrol militer. Greg Burton dalam biografinya menyimpulkan
meski prematur, Presiden Gus Dur telah mengontrol militer dan ini merupakan salah satu
kesuksesan terbesarnya.8 Keberhasilan Gus Dur dalam mengontrol militer itu di satu sisi tidak
hanya karena pemerintahan Gus Dur memiliki kemauan politik dalam mendorong reformasi;
adanya arus gelombang demokratisasi; serta adanya keharusan pemerintahannya untuk
membangun legitimasi terhadap publik bahwa pemerintahannya berbeda dengan
pemerintahan sebelumnya;9 tetapi juga tidak bisa dilepaskan dari sebuah kondisi dimana
kekuatan reformis sedang mendapatkan dukungan dari publik sementara kekuatan lama
5 Lihat Samuel P huntingthon, The Third Wave: Democratization in the Late Twentieth Century, 1991.
6 Budiman Tanuredjo, Transisi Demokrasi-Indonesia Kini dan Indonesia Esok, Kompas 3 Mei 2006 dan Lihat juga
Samuel P huntingthon, The Third Wave: Democratization in the Late Twentieth Century, 1991
7 Rocky Gerung Indonesia Transisi, Politik dan Perubahan, dalam buku Indonesia di Tengah Transisi, Propatria,
2000, hal 178.
8 Marcus Mietzener, The Politics of Military Reform in Post Suharto Indonesia: Elite Conflict, Nationalism, and
Institutional Resistance, by the East-West Center Washington, 2006 (Paper).
9 Lihat Rocky Gerung , Tentara, Politik dan Perubahan, dalam Buku Indonesia di Tengah Transisi, Propatria, 2000.
51
Jalan Panjang Reformasi TNI
(status quo) sedang menghadapi tekanan dari publik. Alhasil, beberapa regulasi politik
bidang keamanan yang menjadi dasar prosedural dalam mendorong jalannya reformasi
sektor keamanan hadir pada masa awal-awal reformasi.
Sayangnya, langkah-langkah radikal Gus Dur menghalau militer dari panggung politik dan
dalam mendesakkan agenda reformasi selalu mendapatkan tantangan dan reaksi keras, yang
bukan saja berasal dari militer semata, namun juga oleh politisi-politisi sipil pro status quo.
Kepentingan konservatif masih mengisi kelompok-kelompok strategis di parlemen, dimana
sisa-sisa kekuatan lama hadir sebagai agen penghambat signifikan untuk perubahan di era
transisi demokrasi. Drama Buloggate telah menjadi pintu perangkap dalam mengakhiri
kekuasaan Gus Dur. Di sanalah yang menjadi penyebab, mengapa reformasi akhirnya
dianggap mandul, karena tidak berhasil menghancurkan barisan neo-orba yang masih
berkeliaran diberbagai arena. Tidak berlebihan jika proses ini menjadi perangkap terjadinya
involusi politik di era reformasi.10
Lebih lanjut, dengan semakin kuatnya kekuatan pro status quo dalam mengkonsolidasikan
dirinya yang di barengi dengan melemahnya kekuatan reformis bahkan akhirnya kekuatan
reformis justru larut dalam kondisi politik yang transaksional dan penuh dengan kompromi
sehingga garis batas kekuatan lama dan kekuatan baru menjadi semakin kabur, maka
dengan sendirinya arah reformasi sektor keamanan dari hari kehari berjalan dengan lambat.
Sifat politik kompromi dimasa pemerintahan-pemerintahan pasca Gus Dur tersebut tidak
ditujukan sepenuhnya untuk kepentingan publik tetapi sepenuhnya ditujukan untuk
kepentingan elite politik yang menikmati keuntungan ekonomi dan politik dari kekuasaan
yang dimiliki. Kondisi ini membawa konsekuensi tersendat-sendatnya proses reformasi.
Tidak heran kemudian upaya menyeret aktor-aktor lama (status quo) kedalam pengadilan
korupsi maupun pengadilan HAM hampir tidak terjadi dan sulit untuk direalisasikan.
Kalaupun ada proses persidangan hasilnya tidak pernah memenuhi tuntutan rasa keadilan
publik.11 Sedangkan agenda-agenda krusial reformasi TNI seperti restrukturisasi komando
teritorial hingga kini belum terselesaikan.
Dengan corak perubahan politik yang seperti itu, jalannya reformasi TNI tidak bisa hanya
menunggu dari kemauan politik otoritas sipil, tetapi harus di barengi dengan desakan
kelompok civil society kepada pemerintah dan parlemen untuk dapat menyelesaikan
agenda-agenda reformasi TNI yang tersisa.
10 Arie Sujito, Agenda Demiliterisasi menuju Supremasi Sipil, dalam buku Indonesia menapak demokrasi, editor
Noor Hiqmah, Yappika, 2002 hal. 54.
11 Dalam pengadilan HAM untuk kasus Timor-Timur tidak ada satu orangpun perwira TNI yang divonis
bersalah oleh pengadilan dan begitu pula dalam pengadilan HAM untuk kasus Tanjung Priok. Sementara
kasus-kasus pelanggaran HAM berat lainnya hingga kini belum terselesaikan, semisal kasus 27 Juli, kasus
52
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Masalah-masalah dalam reformasi TNI
1. Agenda krusial yang Tersisa
a). Diskoneksi value dan virtue 12
Apabila Anders Uhlin menilai bahwa militer Indonesia telah memandang keterlibatannya
dalam politik sebagai sesuatu yang permanen,13 maka sudah seharunya usaha mendorong
reformasi TNI tidak hanya sebatas melakukan reformasi prosedural melalui pembentukan
regulasi-regulasi politik bidang keamanan tetapi juga harus melakukan transformasi nilainilai demokrasi, HAM dan Konstitusi ke dalam tubuh TNI.
Kebutuhan untuk melakukan transformasi nilai itu menjadi penting mengingat kendati
proses reformasi TNI telah menghasilkan beberapa legislasi bidang pertahanan dan
keamanan namun dalam praktiknya masih terdapat praktek-praktek penyimpangan dan
praktek pelanggaran HAM yang dilakukan oleh anggota TNI, semisal kasus pembunuhan
terhadap Theys, Ketua Dewan Presidium Papua, kasus pelanggaran HAM di Alastlogo,
Pasuruan dan beberapa kasus lainnya.
Di satu sisi, peristiwa pelanggaran HAM itu terjadi karena prajurit TNI seringkali lebih
mengutamakan dan mendahulukan perintah atasan meski perintah itu bertentangan
dengan value yang tertuang dalam Pancasila dan Konstitusi. Di sini, prajurit TNI tidak dapat
membedakan atau mungkin tidak mempedulikan mana yang lebih harus dipegang dan
dihormati apakah value yang tertuang dalam Pancasila dan Konstitusi ataukah virtue
(keutamaan) yang tertuang dalam doktrin TNI, jati diri TNI dan sapta marga serta sumpah
prajurit TNI yang mengharuskan anggota TNI untuk taat kepada atasan dengan tidak
membantah perintah atau putusan dan memegang segala rahasia tentara sekeras-kerasnya.14
Di sini terjadi ketidakselarasan antara nilai (value) negara, yang ada di UUD 1945, Pancasila
dan Demokrasi, dengan tindakan yang dilakukan TNI dalam tugasnya (virtue). 15
Hal ini disebabkan karena adanya klaim berbasis sejarah tentang superioritas TNI di NKRI; ada
diskoneksi antara nilai negara, doktrin TNI, operasional lapangan; dan keutamaan TNI yang
lebih disandarkan pada kepatuhan dan ketundukan pada korps dan pimpinan (atasan)
dibandingkan kepatuhan terhadap value negara. Lebih lanjut, keutamaan (Virtue) TNI kurang
adaptif terhadap perubahan lingkungan strategis baik secara nasional, regional maupun
12 Pada bagian ini saudara Willy Aditya memberikan kontribusi besar bagi penulis dalam berdiskusi dan menulis.
13 Anders Uhlin, oposisi berserak, Jakarta, Mizan, 199
14 Lihat
sumpah prajurit TNI point 3 dan 4 dan Sapta Marga point 5 dan 7. Sumpah Prajurit TNI itu tertuang dalam
UU TNI no 34/2004.
15 Virtue (atau virtu dalam bahasa Italia) di dalam Machiavelli diarahkan pada dua golongan. Yang pertama
adalah virtu keutamaan untuk para pangeran, dan yang kedua virtu yang diarahkan kepada warga. Virtu
digambarkan hampir sepenuhnya mengacu pada cara-cara yang digunakan seseorang untuk mencapai tujuan
yang dipilihnya. Lihat Robertus Robert, Republikanisme dan Keindonesiaan Sebuah Pengantar, Marjin Kirin,
Jakarta 2007, hal 31 dan lihat thesis Wily Aditya, “Nilai (value) dan Keutamaan (Virtue) TNI di Era Reformasi,
Bandung, 2008.
53
Jalan Panjang Reformasi TNI
internasional. Khususnya keutamaan-keutamaan yang berupa citizen right, hak bertanya dan
mengajukan usul dan serta penghormatan terhadap hukum belum teradaptasikan dalam
aktifitas TNI.16
Lebih penting dari itu, diskoneksi antara value dan virtue terjadi karena reformasi TNI belum
secara masif melakukan transfer nilai-nilai konstitusionalisme kedalam tubuh TNI. Sepanjang
sejarah jalannya reformasi, tidak ada agenda yang serius dan diprioritaskan untuk
meluruskan kembali cara pandang diskoneksi dan ketidakselarasan di TNI dalam
memandang value dan virtue. Kendati TNI telah membuat buku saku HAM untuk TNI pada
2000 namun hal itu ternyata tidak cukup kuat untuk menjadi rambu-rambu dasar bagi TNI
dalam menjalankan tugasnya.
Padahal, apabila kita sadar dengan sejarah kelam TNI yang penuh dengan berbagai aksi
kekerasan, maka usaha untuk merubah cara pandang TNI dari yang tadinya militeristik
menuju cara pandang yang menghormati norma-norma hukum dan HAM seharusnya
menjadi suatu agenda yang penting untuk diprioritaskan dalam program-program reformasi
TNI.
Agenda transformasi nilai itu tidak bisa di lakukan secara parsial dan hanya sebatas formalitas
belaka dengan indikator adanya buku saku HAM dan adanya materi HAM di dalam
pendidikan TNI. Transfer nilai Konstitusionalisme (value) itu harus dilakukan secara holistic,
terencana dan massif dengan tujuan untuk memastikan bahwa nilai-nilai konstitualisme
(value) benar-benar menjadi nilai tertinggi yang harus dihormati oleh prajurit di dalam
menjalankan tugasnya. Hasil dari transfer nilai itu adalah adanya kondisi dimana Prajurit TNI
berani untuk menolak sebuah perintah atasan apabila perintah tersebut bertentangan
dengan nilai-nilai konstitusionalisme, semisal bertentangan dengan prinsip negara hukum
dan prinsip HAM (value).
Untuk tujuan itu maka penting kedepan melakukan pendidikan nilai negara
(konstitusionalisme) kepada TNI. Program pendidikan itu haruslah menjadi program khusus
dan terencana yang dilakukan secara sistematis dengan tujuan agar nilai dalam hukum dasar
konstitusional hidup sebagai sebuah realitas yang mungkin dan dapat dialami oleh prajurit
dalam tugasnya sehari-hari.
Namun demikian, sebelum transfer nilai negara (konstitusionalisme) dilakukan maka adalah
penting untuk terlebih dahulu menselaraskan virtue-vrtue (keutamaan) TNI dengan nilai
negara dalam UUD 1945 (value) melalui kaji ulang terhadap seluruh doktrin TNI, Jati diri TNI,
kode etik (sapta marga) dan sumpah prajurit TNI. Di sini penting untuk di ingat bahwa
keutamaan (virtue) TNI tidak boleh bertentangan atau mungkin menimbulkan kerancuan
dengan value negara. Sebab sejatinya virtue itu merupakan derivasi (turunan) dari nilai
(value) negara.
16 Ibid hal 96
54
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Selain itu, guna memaksimalkan output dari transfer nilai negara (value), maka legalisasi
mekanisme komplain anggota TNI yang menolak perintah atasan karena di nilai perintah itu
melanggar norma-norma hukum dan HAM (value) menjadi penting untuk di atur di dalam
perundang-undangan yakni bisa melalui revisi UU TNI. Mekanisme komplain ini harus
bersifat rahasia dan komplain prajurit itu ditujukkan kepada parlemen dengan mengirimkan
surat atau menggunakan sarana komunikasi lainnya kepada parlemen. Setelah itu parlemen
wajib melindungi identitas prajurit tersebut dan wajib untuk menginvestigasi kasus itu dan
memberikan rekomendasi kepada pemerintah untuk menindak atasan yang memberi
perintah kepada prajurit tersebut. Mekanisme komplain yang ditujukan ke parlemen dan
bukan ditujukan ke pemerintah ini bertujuan untuk menghindari terjadinya conflict of
intereset. Sebab bukan tidak mungkin perintah yang menyimpang itu di dasarkan atas
perintah Presiden atau menteri pertahanan ataupun Panglima TNI sendiri. Karenanya, adalah
tepat apabila mekanisme komplain itu ditujukan kepada parlemen selaku lembaga legislatif
yang berada diluar lembaga eksekutif yang memiliki fungsi untuk melakukan pengawasan
terhadap pemerintah.
B). Doktrin TNI
Setelah melewati fase reformasi kurang lebih 9 tahun, tepatnya pada 2007 lalu TNI
menetapkan doktrin baru bernama Tri Dharma Eka Karma berdasarkan Surat Keputusan
Panglima TNI Nomor: Kep/21/I2007, menggantikan doktrin Catur Dharma Eka Karma.
Pertanyaannya adalah apa perubahan substansi mendasar dalam doktrin TNI baru ini, dan
sekaligus juga apa yang membedakannya dari doktrin lama.
Kehadiran doktrin baru ini tentu merupakan mandat reformasi TNI. Jika dilihat substansi
doktrin, memang ada sejumlah perubahan seperti perubahan pada kelembagaan dan peran
TNI. Kendati demikian, doktrin TNI belum dapat memisahkan antara value dan virtue di
dalamnya. Hal itu terlihat dari masih dimasukannya nilai-nilai negara di dalam doktrin TNI
yakni dengan tetap menjadikan upaya “menegakkan kedaulatan negara,mempertahankan
keutuhan wilayah NKRI serta melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah
Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara ” sebagai
bagian doktrin TNI.
Sebagai kesatuan dari seluruh warga negara sudah sepantasnya nilai itu menjadi nilai yang
harus diperjuangkan oleh seluruh elemen bangsa dan bukan hanya TNI. Dengan demikian
nilai-nilai itu tidak perlu menjadi bagian dari doktrin TNI. Pencantuman nilai itu di dalam
doktrin TNI bukan hanya menimbulkan kerancuan antara value dan virtue, tetapi juga akan
membuka tafsir yang luas yang berpotensi menimbulkan persepsi bahwa semua masalah
bangsa merupakan masalah TNI sehingga TNI merasa penting untuk mengatasinya dengan
menggunakan cara-cara TNI yang kadang lebih mengedepankan pendekatan-pendekatan
koersif. Penting untuk diingat bahwa penggunaan kekerasan sudah seharusnya menjadi
alternative terakhir dalam menyelesaikan persoalan bangsa. Sudah sepantasnya doktrin TNI
lebih dapat bersifat operasional dan bukan lagi berbicara pada tataran nilai negara yang
sesungguhnya telah dituangkan dalam Konstitusi maupun telah dipertegas dalam UU TNI
sendiri.
55
Jalan Panjang Reformasi TNI
Lebih dari itu, TNI harus ekstra hati-hati dalam menterjemahkan Doktrin Tridek tersebut,
khususnya yang terkait dengan menyikapi berbagai ancaman “nonmiliter”. Tentu TNI tidak
boleh gegabah dan “gebyah uyah” dalam menindak kalangan kritis sipil yang berwacana
secara kritis atas negara. Kalau sebatas wacana, dan belum merupakan ancaman militer,
maka dalam demokrasi, ia masih bisa dipandang sebagai bagian dari “kebebasan berpikir
dan berpendapat”. 17 Di sini penggunaan kekuatan koersif penting dihindari.
Tabel 1. Perbandingan Doktrin TNI Baru dan Lama
Doktrin Lama
“Catur Dharma Eka Karma”
Doktrin Baru
“Tri Dharma Eka Karma”
TNI - Polri masih bergabung
TNI pisah dari Polri
Peran ABRI sebagai kekuatan pertahanan
Keamanan dan sebagai kekuatan
sosial politik.
Peran TNI sebagai alat negara di bidang
pertahanan yang dalam menjalankan tugasnya
berdasarkan kebijakan dan keputusan politik negara.
A. Fungsi ABRI sebagai kekuatan
Hankam sebagai berikut :
1) Penindak dan penyanggah awal
setiap ancaman musuh dari dalam
maupun dari luar negeri.
2) Pengaman, penertib, dan
penyelamat masyarakat serta
penegak hukum negara.
3) Pelatih dan pembimbing rakyat
bagi penyelenggaraan tugas
Hankamneg dalam mewujudkan
kemampuan dan kekuatan
perlawanan rakyat semesta untuk
menghadapi ancaman.
4). Pembina kemampuan dan kekuatan
Hankamneg dalam pembinaan
Hankamneg dengan memelihara dan
meningkatkan kemampuan dan
kekuatan Hankam di darat, laut dan
udara serta penertiban dan
penyelamatan masyarakat.
Fungsi TNI sebagai kekuatan pertahanan
sebagai berikut :
A. Penangkal, kekuatan TNI harus mampu
mewujudkan daya tangkal terhadap setiap
bentuk ancaman militer dan non militer dari
dalam dan luar negeri terhadap kedaulatan,
keutuhan wilayah dan keselamatan bangsa.
B. Penindak, kekuatan TNI harus mampu
digerakkan untuk menghancurkan kekuatan
musuh yang mengancam terhadap kedaulatan,
keutuhan wilayah dan keselamatan bangsa.
C. Pemulih, kekuatan TNI bersama dengan
instansi pemerintah membantu fungsi
pemerintah untuk mengembalikan
kondisi keamanan negara keamanan
akibat kekacauan perang.
B. Fungsi ABRI sebagai kekuatan
sosial Politik.
Tugas pokok ABRI sebagai kekuatan
Hankam adalah :
17 M. Alfan Alfian, Doktrin Baru TNI, .
56
Tugas pokok TNI adalah menegakkan
kedaulatan negara, mempertahankan
keutuhan wilayah NKRI serta melindungi
segenap bangsa dan seluruh tumpah darah
Indonesia dari ancaman dan gangguan
terhadap keutuhan bangsa dan negara.
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
A. Mengamankan, menyelamatkan,
mempertahankan dan melestarikan
kemerdekaan, kedaulatan serta
integritas bangsa dan negara.
B. Mengamankan, menyelamatkan,
mempertahankan dan melestarikan
idiologi Pancasila dan UUD 1945.
C. Mengamankan, menyelamatkan,
mempertahankan dan melestarikan
penyelenggaraan pembangunan
nasional dan hasil-hasilnya.
Pola operasi ABRI adalah :
a. Operasi pertahanan.
1) Ops Penciptaan kondisi.
2) Ops Konvensional
3) Ops Perlawanan wilayah
4) Ops Serangan balas
5) Ops Pemulihan keamanan dan
penyelamatan masyarakat.
b. Operasi Kamdagri
1) Ops Intelijen.
2) Ops Teritorial
3) Ops Tempur
4) Ops Kamtibnas
Tugas pokok TNI dilaksanakan melalui
operasi sebagai berikut :
a. Operasi militer untuk perang.
1) Ops Gab TNI.
2) Ops Darat.
3) Ops Laut
4) Ops Udara.
5) Kampanye Militer
6) Ops Bantuan.
b. Operasi militer selain perang
1) Mengatasi gerakan separatis bersenjata.
2) Mengatasi pemberontakan bersenjata.
3) Mengatasi aksi terorisme.
4) Mengamankan wilayah perbatasan.
5) Mengamankan obyek vital nasional
yang bersifat strategis.
6) Melaksanakan tugas perdamaian dunia sesuai
dengan kebijakan politik luar negeri.
7) Mengamankan presiden dan wakil presiden RI
beserta keluarganya.
8) Memberdayakan wilayah pertahanan
dan kekuatan pendukungnya secara
dini dalam rangka sistem pertahanan semesta.
9) Membantu tugas pemerintahan di daerah.
10) Membantu Kepolisian Negara Republik
Indonesia dalam rangka tugas keamanan
dan ketertiban masyarakat.
11) Mengamankan tamu negara setingkat
Kepala Negara dan Perwakilan Asing.
12) Membantu menanggulangi akibat bencana
alam, pengungsian dan pemberian bantuan
kemanusiaan.
13) Membantu pencarian dan pertolongan
dalam kecelakaan (SEARCH AND RESCUE).
14) Membantu pemerintah untuk pengamanan
pelayaran dan penerbangan terhadap
pembajakan, perompakan dan penyelundupan.
57
Jalan Panjang Reformasi TNI
C). Restrukturisasi Komando Teritorial
Reformasi politik dan reformasi TNI secara khusus memandatkan pentingnya melakukan
restrukturisasi komando teritorial. Namun demikian, sejak reformasi bergulir nampak tidak
ada upaya serius dari pemerintah untuk menjalankan mandat reformasi ini. Alih-alih
pemerintah melakukan restrukturisasi, yang terjadi justru tetap mempertahankan dan
malah memperkuat struktur komando teritorial. Hal itu misalnya dapat dilihat pada
pendayagunaan fungsi dan struktur Koter untuk kepentingan perang melawan terorisme,
yang dilakukan sejak pemerintahan egawati hingga Susilo Bambang Yudhoyono. Bahkan,
pada 22 Maret 2005, KSAD Letjen Djoko Santoso menyatakan di depan anggota komisi I DPR
RI bahwa TNI AD akan menambah 22 markas komando teritorial (Koter) yang terdiri 3
Makorem dan 19 Makodim. Rencana penambahan tersebut didasarkan atas pertimbangan
bahwa TNI belum memadai dalam menerapkan pola pertahanan sebagai negara kepulauan
yang dipersiapkan untuk menghadapi perang konvensional, sehingga strategi
pertahanannya tetap bertumpu ke darat. 18
Secara organisasional, koter disusun atas asumsi pembagian wilayah birokrasi pemerintahan
daerah dan bukan suatu wilayah pertahanan. Organisasi itu bersifat duplikatif atas struktur
birokrasi pemerintahan daerah dari tingkat pusat sampai ke kelurahan.19 Oleh karena itu,
pimpinan atau komandan koter terlibat secara langsung dengan pemerintahan daerah
untuk membentuk kebijakan-kebijakan pembangunan daerah melalui Muspida yang
hingga kini tetap dipertahankan.
Secara singkat, ada beberapa alasan mengapa Koter perlu direstrukturisasi, yakni Pertama,
dari sisi politik, upaya mempertahankan dan memperluas Koter tersebut sesungguhnya
bertentangan dengan tuntutan agenda reformasi. Hampir seluruh elemen demokrasi pada
masa awal reformasi berpendapat bahwa koter merupakan bagian dari dwi fungsi ABRI/TNI,
yang dalam perjalananya telah menjadi pilar kekuatan bagi TNI untuk berpolitik. Karena itu,
Koter harus diganti dengan konsep lainnya. Keberadaan koter di masa lalu juga seringkali
terlibat dalam penguatan aktifitas bisnis militer, baik itu secara legal maupun ilegal, yang
dalam pelaksanannya berakibat pada terjadinya berbagai bentuk pelanggaran HAM. Kendati
kini TNI sudah tidak lagi berpolitik secara formal dan langsung, namun dengan sifat
strukturnya yang menduplikasi struktur pemerintahan sipil hingga ke level bawah
memungkinkan TNI untuk turut mempengaruhi proses politik dan pemerintahan baik itu
secara langsung maupun tidak langsung. Dengan demikian, jika penambahan 22 Koter
tersebut tetap diteruskan artinya pemerintah tidak serius mendorong proses reformasi TNI
1.20 Kedua, dari sisi keamanan struktur Koter telah menimbulkan tumpang tindih fungsi dan
struktur dengan kepolisian. Ketiga, dilihat dari kepentingan pertahanan, stuktur Koter
sesungguhnya tidak lagi memiliki relevansi dan signifikansi dengan konteks ancaman yang
18
Daerah perluasan Koter itu meliputi, Riau, Bangka Belitung dan Merauke untuk perluasan Makorem dan
Kodam VII/Tanjungpura, Kodam XVI/Pattimura, Kodam XVII/Trikora dan Kodam Iskandar Muda untuk perluasan
Kodim. Media Indonesia, “TNI-AD akan Tambah 22 Komando Teritorial”, 22 Maret 2005.
19 M. Riefqi Muna (Editor), Likuidasi Komando Teritorial, Jakarta, The Ridep Institute, 2002, halaman 8
20 Tempo Interaktif, “Koalisi LSM Minta Pemerintah Tinjau Strategi Pertahanan”, 30 Maret 2005.
58
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
dihadapi dan konteks geografi Indonesia sebagai negara kepulauan. Di sini, struktur Koter
sebagai bagian dari postur pertahanan dan gelar kekuatan harus diganti dengan model yang
kontekstual dan mampu merespon situasi perkembangan ancaman yang bersifat dinamis
dan mampu beradaptasi dengan kondisi geografis sebagai negara kepulauan.
Keempat, agenda restrukturiasi koter secara implisit telah dimandatkan dalam Pasal 11 UU
No. 34 Tahun 2004 tentang TNI, dimana di dalam bagian penjelasan ditegaskan bahwa gelar
kekuatan TNI (postur) mengharuskan ia untuk memperhatikan dan mengutamakan wilayah
rawan keamanan, daerah perbatasan, daerah rawan konflik dan pulau terpencil sesuai
dengan kondisi geografis dan strategi pertahanan. Penjelasan pasal ini juga memandatkan
bahwa setiap gelar kekuatan TNI harus menghindari bentuk-bentuk organsiasi yang dapat
menjadi peluang bagi kepentingan politik praktis dan penggelaran itu tidak harus selalu
mengikuti atau menyerupai struktur administrasi pemerintahan sipil.
Lebih lanjut, komitmen Presiden SBY terkait restrukturisasi Koter ini sesungguhnya juga
dipertanyakan. Hal ini bisa dilihat pada pernyataan SBY sebelum ia menjadi Presiden pada
2004 yang membantah tuduhan bahwa ia akan membubarkan komando teritorial dan
Komando Resor Militer (Korem) jika terpilih menjadi Presiden. Sebagai klarifikasi ia
menghubungi langsung Panglima TNI yang ketika itu masih dijabat Jenderal Endriartono
Sutarto dan KSAD Jenderal Ryamizard Ryacudu. Dalam kasus lain misalnya, juga tercermin
ketika SBY meminta TNI terlibat aktif mengatasi aksi terorisme di Indonesia, yang kemudian
direspon oleh TNI dengan mengaktifkan Koter.
Upaya mengaktifkan Koter atas nama ancaman terorisme itu mengundang kritikan sejumlah
kalangan, semisal sikap tegas dikemukakan oleh mantan Presiden Gus Dur menolak wacana
menghidupkan kembali Koter untuk tujuan pemberantasan terorisme di Indonesia.
Menurutnya, pengaktifan Koter ini dapat menyeret kembali TNI untuk masuk ke dalam politik
praktis dan karena itu harus dicegah. Menurutnya, TNI harus tetap sesuai dengan fungsinya
sebagai aktor pertahanan. Pengaktifan Koter dalam kancah terorisme akan mengaburkan
kembali batasan itu dan membuka peluang TNI masuk ke politik. 21
D). Pengambilalihan bisnis TNI
Profesionalisasi TNI sebagai aktor pertahanan mensyaratkan ia untuk tidak terlibat dalam
kegiatan berbisnis. Untuk mencapai tingkat itu, UU TNI telah menegaskan mengenai
larangan bagi TNI untuk berbisnis dan sekaligus juga memandatkan kepada pemerintah
untuk mengambilalih seluruh bisnis militer.
Mengacu pada UU No. 34 Tahun 2004, proses pengambilalihan seluruh bisnis TNI harus
tuntas pada akhir tahun 2009. Sebagai langkah awal, pada 2005 pemerintah membentuk Tim
Supervisi Transformasi Bisnis (TSTB) TNI yang melibatkan Departemen Pertahanan,
Departemen Keuangan, Departemen Hukum dan HAM, dan Kementrian BUMN. Tim ini yang
21 http://www.bernas.co.id/news/cybernas/nasional/1761.htm , 07 Oktober 2005.
59
Jalan Panjang Reformasi TNI
diketuai Said Didu Sekretaris BUMN, bertugas untuk memverifikasi seluruh bisnis TNI yang
dinyatakan berjumlah sekitar 219 unit bisnis.22 Dalam rencana awalnya, sebagaimana
dinyatakan oleh Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono, proses ini akan berjalan selama tiga
(3) bulan dan perusahaan-perusahan milik TNI itu kemudian akan diambilalih oleh
pemerintah untuk diklasifikasikan menjadi Perusahan Umum (Perum), Perusahaan Terbatas
(PT), atau Holding Company (Perusahaan Gabungan).23
Namun demikian, langkah pemerintah sejak awal ini mengundang banyak kritik sejumlah
kalangan. Selain problem transparansi juga berkaitan dengan langkah pemerintah yang
cenderung lamban sehingga prosesnya hingga kini belum tuntas. Salah satu persoalan yang
muncul dari kondisi demikian adalah kekhawatiran mengenai potensi pengalihan beberapa
aset bisnis TNI untuk menghindari pengambilalihan. Hal ini menjadi penting dipertanyakan
mengingat tahun 2005 Menhan Juwono Sudarsono mengungkapkan bahwa dari 219 unit
bisnis TNI hanya 10 unit bisnis di antaranya yang akan diambilalih dengan nilai aset per-unit
sekitar Rp. 25 Miliar. 24 Pertanyaannya, bagaimana dengan 209 unit lainnya?
Lebih lanjut, langkah pemerintah yang cenderung lambat juga menimbulkan kritik dan
pertanyaan mengenai sejauhmana komitmen pemerintah sesungguhnya dalam
pelaksanaan agenda ini. Kekhawatiran penunda-nundaan ini misalnya diungkapkan oleh
Yuddy Krisnandi anggota Komisi I DPR RI. Kondisi ini menurutnya menunjukkan bahwa
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan juga para petinggi TNI tidak serius atau punya
keinginan politik kuat untuk menjalankan amanat UU TNI tadi. Lebih lanjut ia mengingatkan
jangan sampai ada upaya konspirasi mengambil keuntungan dari masa tenggat seperti
ditetapkan UU TNI dengan menunda-nunda proses pengambil alihan sementara satu per
satu unit bisnis yang ada, khususnya yang menguntungkan, dijual atau dialihkan
kepemilikannya. 25
Sementara itu, dari rekomendasi kerja Tim Nasional Pengambilalihan Aktivitas Bisnis TNI
(Timnas PAB TNI), yang diketuai oleh Erry Riyana, tercatat TNI menguasai 23 unit yayasan yang
menaungi 53 perseroan terbatas, mengoperasikan 1.098 unit koperasi yang juga
menggerakkan 2 perseroan terbatas, serta memanfaatkan Barang Milik Negara (BMN) yang
dikelola oleh pihak ketiga. Timnas PAB TNI juga menemukan adanya penguasaan 1.618
bidang tanah seluas 16.544,54 hektare; 3.470 bidang tanah dan bangunan seluas 8.435,81
hektare; serta 6.699 unit gedung seluas 37,57 hektare. Yayasan milik TNI hingga akhir 2007
memiliki dana Rp 1,8 triliun dan koperasi Rp 1,3 triliun. Secara umum, jumlah total total aset
TNI di yayasan, koperasi, dan perusahaan mencapai Rp 3,2 triliun. Dari jumlah itu masih harus
dikurangi kewajiban membayar administrasi Rp 980 miliar, sehingga total aset bersih
mencapai Rp 2,3 triliun per tahun.26
22 Tempo Interaktif, Empat Kementrian Verifikasi Bisnis TNI, 19 Oktober 2005.
23 Tempo Interaktif, Menhan: Hanya 10 Bisnis TNI yang dialihkan, 20 Oktober 2005.
24 Ibid.
25 Kompas, Presiden Harus Berani Tunjukkan Ketegasan Soal Perpres Bisnis TNI, 18 Januari 2008.
26 VHRmedia.com, Timnas PAB TNI Usulkan Reposisi Bisnis Militer, 04 November 2008.
60
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Dalam kaitan itu, Timnas PAB TNI mengajukan beberapa rekomendasi terkait penataan dan
pengambilalihan bisnis dan aset TNI ini. Di antaranya merekomendasikan pengalihan
aktivitas bisnis TNI dengan cara penataan dan reposisi semua yayasan, termasuk koperasi dan
BMN, kecuali primer koperasi (primkop). Menurut Erry Riyana, alasan mengapa
mempertahankan Primkop adalah karena bidang usaha ini ditujukan untuk meningkatkan
kesejahteraan prajurit. Lebih lanjut, Timnas PAB TNI akan mengembalikan BMN yang tidak
sesuai tugas pokok dan fungsi ke Menteri Keuangan. Terkait BMN yang digunakan oleh pihak
ketiga akan ditertibkan dengan mengacu pada penerimaan negara bukan pajak (PNBP).
Rekomendari lain Timnas PAB TNI adalah terkait reposisi dan penataan bisnis militer, yakni
menggabungkan yayasan dan koperasi milik TNI dengan bidang usaha sejenis di bawah
Departemen Pertahanan. Tahapan selanjutnya adalah pemberlakuan legal audit dan
financial audit secara menyeluruh terhadap yayasan dan koperasi milik TNI. Sementara itu,
berkaitan dengan adalah Primkop TNI akan digantikan dengan satuan kerja yang dibentuk di
bawah Dephan, sehingga lebih berperan memberikan pelayanan pada prajurit. Satuan kerja
ini bahkan melekat ketika pasukan berada di medan tempur. 27
Lebih jauh, lepas dari berbagai kritikan dan perdebatan yang ada, proses penataan dan
pengambilihan seluruh bisnis TNI harus segera dituntaskan sebagaimana dimandatkan oleh
Undang-undang. Hal ini untuk memastikan seluruh agenda reformasi TNI dijalankan secara
baik dalam upaya mendorong terwujudnya prajurit TNI yang profesional. Kian berlarutlarutnya pelaksanaan agenda ini sebaliknya akan menghambat proses reformasi TNI. Di sini,
komitmen dari pemerintah terutama Presiden dan juga TNI sebagai pelaksana kebijakan
pemerintah di bidang pertahanan dituntut dan dipertaruhkan.
E). Reformasi Peradilan Militer
Agenda reformasi lain yang hingga kini belum tuntas adalah perubahan UU No. 31 Tahun
1997 tentang Peradilan Militer, sebagaimana telah dimandatkan di dalam TAP MPR No. VII
Tahun 2000 tentang Peran TNI dan Polri, serta UU No. 34 Tahun 2004 tentang TNI. Hingga kini
proses pembahasan RUU perubahan masih terbengkalai di parlemen kendati periode
parlemen 2004-2009 akan berakhir.
Berlarut-larutnya proses pembahasan ini menjadi pertanyaan mengingat reformasi
peradilan militer menjadi penting dilakukan sebagai upaya mendorong reformasi TNI secara
umum yang mensyaratkan di dalamnya ada ketertundukan militer terhadap supremasi
hukum dan sekaligus otoritas sipil yang dipilih melalui proses pemilihan umum demokratis.
Adanya keharusan proses perubahan ini juga didasarkan atas pengalaman di masa lalu,
dimana peradilan militer seringkali menjadi sarang impunitas kejahatan-kejahatan yang
dilakukan oleh militer.28
27 Ibid.
28 Untuk lebih lengkapnya lihat: Tim Imparsial, Reformasi Peradilan Militer di Indonesia. Jakarta: Imparsial,
Cetakan Pertama, 2008.
61
Jalan Panjang Reformasi TNI
Munculnya RUU Perubahan UU No. 31 Tahun 1997 tentang Peradilan militer merupakan
inisiatif parlemen periode 2004-2009. Kendati demikian, munculnya tuntutan perubahan
atas UU ini sesungguhnya telah ada sejak parlemen periode 1999-2004. Namun, baru pada
parlemen periode 2004-2009 yang masa jabatannya akan segera berakhir ini, RUU ini
dimasukan ke dalam draft Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Tahun 2004-2005.29 Dan
pada Mei 2005, dalam satu rapat paripurna seluruh Fraksi Partai Politik di Parlemen
menyepakati pengajuan hak inisiatif mereka untuk merubah RUU Perubahan UU No. 31
Tahun 2007 ke Badan Legislasi (Baleg) DPR.30
Dalam perjalanannya, proses pembahasan RUU perubahan peradilan militer tidak semulus
yang dibayangkan. Di sini terjadi perdebatan yang cukup alot antara DPR dan mitranya dari
pemerintah khususnya Departemen Pertahanan. Ada dua point krusial yang menjadi
perdebatan: Pertama, berkaitan dengan persoalan yurisdiksi peradilan militer dimana
ketentuan dalam RUU perubahan itu menyatakan bahwa prajurit TNI yang melakukan tindak
pidana umum diadili di pengadilan umum dan jika melakukan kejahatan militer diadili di
pengadilan militer; Kedua, adanya tuntutan dari pemerintah agar DPR harus mendahulukan
revisi peraturan perundangan yang mengatur hukum materiil seperti KUHP Militer
ketimbang membahas lembaga peradilan militer.31 Berlarut-larutnya perdebatan ini
menyebabkan proses pembahasan RUU perubahan itu tidak menemukan kata sepakat atau
tidak ada titik temu di antara keduanya hingga Presiden SBY menengahi dan menyatakan
sepakat dengan usulan perubahan yurisdiski dalam RUU Perubahan itu.32
Lebih lanjut, kendati Presiden telah menyetujui aspek yurisdiksi di dalam RUU Perubahan
namun hingga periode anggota DPR periode 2004-2009 menyisakan tidak kurang dari satu
tahun masa kerja, proses pembahasan RUU ini tidak kunjung selesai dan masih terjadi tarik
ulur. Menurut Andreas Pareira, di tingkat Pansus hingga kini terjadi perdebatan seputar
masalah proses penyidikan dalam peradilan militer, yakni perdebatan seputar siapa yang
memiliki kewenangan untuk menyidik prajurit TNI yang melakukan tindak kejahatan
kriminal. Dalam kaitan itu, pemerintah misalnya mengusulkan agar penyidikan ini tetap
dilakukan oleh Polisi Militer.33 Gubernur Lemhannas Muladi, misalnya menyatakan bahwa
persoalan seperti psikologi aparat di lapangan, terutama kepolisian yang harus berhadapan
dan menangani kasus yang melibatkan prajurit TNI dalam penilaiannya, harus menjadi
pertimbangan. Karena itu, menurutnya penyidikan harus tetap dilakukan oleh Polisi Militer.34
29 Lihat Keputusan DPR RI No. 01/DPR-RI/III/2004-2005.
30 Kompas, RUU Peradilan Militer Jadi Usul Inisiatif DPR, 22 Juni 2005.
31 Lihat: Bhatara Ibu Reza, Reformasi Legislasi Sektor Keamanan, dalam
Almanak Reformasi Sektor Keamanan
2007. Jakarta, DCAF & Lesperssi, 2007.
32 Pernyataan persetujuan Presiden itu disampaikan pada akhir November 2006 ketika ia masih berada di
Tokyo, melalui Menteri Sekretaris Negara Yusril Ihza Mahendra dan Menteri Hukum dan HAM Hamid
Awaludin. Persetujuan Presiden itu mengakhiri silang pendapat point krusial dalam RUU itu. Pada awal 2007,
DPR dan perwakilan dari pemerintah kemudian mencapai titik temu dan berupaya kembali melanjutkan
proses pembahasan RUU tersebut untuk dibawa ke tingkat Panja. Kompas, Dephan dan Pansus Sepakat; RUU
Peradilan Militer ke Panja, 24 Januari 2007.
33 Okezone.com, DPR Didesak Rampungkan RUU Peradilan Militer, 19 Desember 2008.
34 Kompas, Jangan Naif Bahas RUU Peradilan Militer, 17 Desember 2008.
62
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Sikap pemerintah ini bersifat dualistik, di satu sisi menerima yurisdksi peradilan militer
bahwa prajurit TNI yang melakukan kejahatan pidana diadili di pengadilan umum, namun di
sisi lain meminta penyidikan dilakukan oleh Polisi Militer. Sudah seharusnya dengan adanya
perubahan yurisdiksi, maka perangkat yang digunakan adalah seluruh perangkat dalam
sistem peradilan umum yang tersedia. Dengan demikian penyidikan tetap dipegang oleh
aparat kepolisian bukan polisi milter dalam menangani anggota militer yang terlibat dalam
kasus tindak pidana umum. Pelibatan polisi militer di dalam proses peradilan umum akan
merusak mekanisme criminal justice system.
F). Masalah Anggaran Pertahanan
Isu anggaran militer kerap menghiasi pergulatan wacana keamanan di Indonesia. Dalam
konfigurasi wacana ini paling tidak ada tiga pihak yang terlibat. Di antaranya parlemen dan
pemerintah yang memiliki otoritas pengaturan anggaran, militer sebagai institusi penerima
anggaran, serta masyarakat sipil itu sendiri. Topik sentral yang menjadi debat dalam issu ini
nampak seperti tidak bergeser dari sebelumnya, yakni berkenaan persoalan belum
memadaianya alokasi anggaran TNI dan pertahanan. Kini, issu anggaran kembali mencuat di
tengah pergulatan politik Pilpres 2009 dan banyak kecelakaan pesawat tempur dan angkut
militer. Wacana yang kemudian muncul dari kasus ini seperti dapat sudah ditebak, adalah
wacana yang mendesakkan peningkatan anggaran pertahanan yang direspon oleh
parlemen yang menjanjikan kenaikan pada APBN tahun depan.
Bila menengok APBN 2009, TNI memperoleh anggaran sebesar Rp 35 triliun. Jumlah ini
menurun dari tahun sebelumnya Rp 36,39 triliun, seiring adanya pemotongan anggaran
setiap departemen. Komisi I DPR RI akan menaikkan kembali anggaran pertahanan dan TNI
sebesar Rp 10 triliun pada APBN tahun 2010 dalam upaya mendukung kesiapsiagaan alat
utama sistem senjata dan personel TNI. Dari rangkaian wacana dan respon yang muncul ini
melahirkan pertanyaan. Di sini nampak ada aspek persoalan lain yang selalu diekslusi dalam
wacana anggaran, yang mana hal ini merujuk pada problematika anggaran yang
sesungguhnya tidak hanya melulu persoalan jumlah. Dengan kata lain, ada persoalan lain
yang sesungguhnya lebih mendasar namun ia kerap dipinggirkan.
Tak dipungkiri bahwa alokasi yang ada belum mencapai jumlah yang dipandang “ideal”.
Kendati demikian, memperbaiki persoalan-persoalan dasar di sektor pertahanan menjadi
syarat penting untuk terlebih dahulu dilakukan, sebelum membicarakan berapa besar
jumlah yang akan ditingkatkan. Perumusan tata ulang sistem dan strategi pertahanan;
adanya perencanaan pertahanan yang berjenjang; dan penentuan skala prioritas yang
terukur seharusnya menjadi prasyarat utama yang penting untuk terlebih dahulu di bahas.
Sebab, faktanya kendati realitas geografis Indonesia sebagai negara maritim, orientasi
pertahanan masih bertumpu pada kekuatan darat dengan mempertahankan struktur
komando teritorial. Bahkan, pemerintah berencana membentuk komponen cadangan
pertahanan negara yang konsekuensinya akan membebani anggaran pertahanan.
Lebih dari itu, kebutuhan untuk menaikkan anggaran pertahanan harusnya diikuti dengan
63
Jalan Panjang Reformasi TNI
transparansi dan akuntabilitas di sektor pertahanan. Sebab, persoalan transparansi dan
akuntabilitas di sektor pertahanan adalah masalah yang terus terpelihara hingga kini yang
seringkali berujung pada terjadinya praktik korupsi. Bahkan, persoalan itu juga berimplikasi
pada terjadinya penyalahgunaan dana untuk kesejahteraan prajurit dan menimbulkan
konflik internal. Tidak hanya itu, fungsi-fungsi pengawasan yang dilakukan oleh DPR dan BPK
juga belum menunjukkan kinerja yang maksimal dalam pengawasan sektor pertahanan.
Dalam konteks itu, sulitnya pengalokasian anggaran untuk sektor pertahanan bukan hanya
disebabkan terbatasnya anggaran tetapi juga karena disalokasi, inefisiensi, inefektifitas dan
minimnya pengawasan penggunaan anggaran sektor pertahanan. Alhasil, pengalokasian
anggaran pertahanan belum memiliki korelasi yang maksimal dalam meningkatkan
kekuatan pertahanan
Dengan demikian adalah penting bagi otoritas politik untuk menempatkan pembahasan
anggaran pertahanan ke dalam kesatuan yang integral dengan pembahasan masalah lain di
bidang pertahanan khususnya dan masalah di bidang lain umumnya, sehingga tercipta
kondisi yang terukur, teruji dan dapat dipertanggungjawabkan dalam mengalokasikan
anggaran pertahanan.
G). Masalah Struktur dan Kedudukan TNI
Salah satu dari mandat reformasi lainnya adalah perubahan stuktur dan kedudukan TNI, yang
di antara agendanya adalah penempatan TNI di bawah Departemen Pertahanan (Dephan).
Tuntutan ini telah muncul sejak lama, terutama ketika pembahasan UU TNI tahun 2004.
Namun demikian, agenda ini nampak belum dijalankan secara sepenuhnya hingga kini.
Pertanyaannya adalah mengapa agenda ini penting dilakukan? Bahwa penempatan TNI di
bawah Dephan merupakan salah satu bentuk pelembagaan prinsip supremasi sipil sebagai
salah satu prinsip negara demokrasi.
Di dalam negara demokrasi, TNI di haruskan untuk tunduk pada otoritas sipil dalam hal ini
Presiden dan parlemen. Dalam kerangka prinsip ini, fungsi TNI tak lebih hanya sebagai
pelaksana kebijakan pemerintah di bidang pertahanan. Sedangkan departemen pertahanan
(menteri pertahanan) menjadi aktor yang merumuskan kebijakan pertahanan negara.
Karena itu, sudah sepantasnya selaku pelaksana kebijakan, kedudukan TNI berada dibawah
Departemen Pertahanan.
Dengan penempatan TNI dibawah departemen pertahanan, maka sebagai pelaksana
kebijakan TNI tidak perlu lagi turut campur dalam mempengaruhi pembentukan kebijakan
negara melalui rapat-rapat kabinet. Karena pelibatan TNI dalam rapat kabinet membuka
ruang bagi TNI untuk berpolitik. Sudah sepantasnya Presiden lebih melibatkan dan
memaksimalkan menteri pertahanan dalam pembahasan masalah-masalah penting di
kabinet, dan meminimalisasi bahkan meniadakkan pelibatan Panglima TNI dalam rapatrapat di dalam kabinet, kecuali memang dalam hal mendesak diperlukan pelibatan Panglima
TNI.
64
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Penyimpangan dan Masalah dalam reformasi TNI
A. Keterlibatan TNI dalam Pilkada
Pada saat Pilkada langsung pertama kali digelar tahun 2005, sejumlah perwira TNI aktif turut
mencalonkan diri atau maju menjadi salah satu pasangan kandidat dalam pemilihan kepala
daerah. Kemajuan mereka ini sepenuhnya di dasarkan atas surat keputusan panglima TNI
Jenderal Endriartono Sutarto melalui surat telegram Nomor 222 yang mengacu pada tiga
surat keputusan Skep/170/IV/2005, Skep/172/IV/2005 tanggal 29 April dan Skep/175/V/2005
tanggal 3 Mei 2005 yang intinya mengizinkan anggota TNI aktif untuk dapat dipilih dalam
pemilihan kepala daerah langsung dengan syarat harus meninggalkan jabatan struktural di
TNI yang dipegangnya pada saat itu.35
Keputusan panglima TNI itu secara jelas telah menarik TNI kedalam kehidupan dunia politik
praktis. Keputusan itu merupakan langkah mundur dalam proses reformasi TNI dan
berlawanan dengan upaya membentuk TNI yang profesional, yang mensyaratkan prajurit
untuk tidak lagi berpolitik dan hanya menjalankan tugasnya menjaga wilayah pertahanan
negara. Secara hukum, keputusan Panglima TNI tersebut bertentangan dengan UU TNI No
34/2004 khususnya Pasal 39 ayat 2 dan ayat 4 yang menyebutkan bahwa “ Prajurit di larang
terlibat dalam : (2) kegiatan politik praktis (4) kegiatan untuk dipilih menjadi anggota
legislative dalam pemilihan umum dan jabatan politis lainnya.
Kendati prajurit TNI yang mencalonkan diri dalam Pilkada berstatus non-aktif namun hal itu
tidak mengubah status dan keanggotaannya sebagai seorang Prajurit. Status non-aktif
hanya membebaskan dirinya dari tugas kedinasan. Dengan demikian, adanya keputusan
panglima TNI tersebut tetap bertentangan dan melanggar UU TNI.36
Secara prinsip, prajurit TNI tidak bisa, tidak boleh dan tidak memiliki hak untuk dipilih dalam
Pemilu maupun Pilkada. TNI dan prajurit TNI tidak bisa menyamakan dirinya seperti partai
politik atau masyarakat umum yang memiliki hak untuk dipilih. Lebih lanjut, TNI adalah alat
pertahanan negara dan prajurit TNI adalah pelaksananya. Sebagai alat pertahanan negara,
keinginan prajurit untuk berpolitik mengharuskan dirinya untuk pensiun dini dan berstatus
menjadi purnawirawan, dan bukan dinon-aktifkan.
B. Masalah pengadaan kapal KaL 35
Kasus pengadaan kapal ini bermula pada pertengahan 2003 ketika beberapa Pemda
berencana memiliki Kapal Patroli KAL 35 37 yang nantinya akan dipergunakan untuk TNI AL.
35
Sinar Harapan, “Perwira TNI Maju Pilkadan Diyakini Netral”, 12 Mei 2005
Namun demikian ketika Jenderal Djoko Suyanto menjadi Panglima TNI menggantikan Panglima TNI
sebelumnya Jenderal Endriartono Sutarto, Djoko Suyanto mengkoreksi kebijakan Endriartono Sutarto yakni
dengan membuat keputusan Panglima TNI baru yang isinya melarang prajurit TNI aktif untuk dapat dipilih
dalam Pilkada dan apabila anggota TNI aktif mau dipilih dalam Pilkada harus terlebih dahulu mengajukan
pensiun.
37 KAL-35 adalah kapal patroli cepat hasil rancangan Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI AL (Dislitbangal)
dan dibuat pada Fasilitas Pemeliharaan dan Perbaikan (Fasharkan) TNI AL.
36
65
Jalan Panjang Reformasi TNI
Keinginan Pemda ini tidak lepas dari tawaran Kepala Staf TNI AL agar daerah bersedia
membeli kapal patroli.38 Hal ini diakui Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat, Laksda
Mualimin Santoso, yang menyatakan bahwa KSAL menghimbau daerah untuk membeli
kapal patroli yang kemudian disambut baik daerah”.39
Di beberapa daerah himbauan pembelian kapal tersebut dituangkan dalam bentuk surat
keputusan. Misalnya di Banten, melalui SK No. B/468/X/2002 tertanggal 1 Oktober 2002, KSAL
meminta agar propinsi yang mempunyai wilayah perairan diminta bekerjasama dengan TNI
AL untuk menyediakan dana pembelian kapal.40 Di daerah lainnya, seperti Riau, upaya
pengadaan kapal patroli juga dilakukan melalui pembuatan beberapa kesepakatan bersama
Memorandum of Understanding (MoU) antara Pemda dan TNI AL.41
Adanya kerjasama yang dilakukan antara TNI AL melalui KSAL dengan beberapa pemerintah
daerah dalam pengadaan Kapal Kal 35 untuk TNI AL jelas-jelas bertentangan dengan UU
Pertahanan negara dan UU TNI, dimana di dalam kedua undang-undang itu disebutkan
bahwa anggaran untuk bidang pertahanan bersifat terpusat melalui APBN. Dalam UU no
3/2002 Pasal 25 ayat 1 disebutkan bahwa pertahanan negara dibiayai dari APBN, sedangkan
dalam UU TNI no 34/2004 Pasal 66 ditegaskan bahwa TNI di biayai dari anggaran pertahanan
negara yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.
Kendati Pemda berdalih bahwa bantuan tersebut sifatnya berupa hibah, namun tidak
dibenarkan pemberian hibah secara langsung kepada TNI. Sebagai alat pertahanan negara,
segala bentuk hibah yang diperuntukkan kepada TNI hendaknya harus diserahkan terlebih
dahulu kepada pemerintah pusat (Departemen Pertahanan) selaku otoritas yang memiliki
fungsi untuk mengelola bidang pertahanan. Itupun pemerintah pusat harus menghitung
dan menilai terlebih dahulu apakah bantuan hibah tersebut memang sesuai dengan
kebutuhan TNI sebagaimana yang telah direncanakan ataupun memang sesuai dengan
kebutuhan yang sifatnya mendesak. Jika memang dibutuhkan maka pemerintah patut
mempertanggungjawabkan penggunaan anggarannya kepada DPR maupun kepada DPRD.
C. Masalah BAIS (Badan Intelejen Strategis)
Kasus Badan Intelijen Strategis (BAIS) yang mengidentifikasi kelompok kritis sebagai
ancaman membuktikan bahwa perjalanan reformasi belum menyentuh aspek mendasar dari
paradigma TNI. Hal itu dibuktikan pada paparan BAIS atas kajian dan analisis yang berjudul
“Persepsi Ancaman Internal dan Transnasional” dalam sebuah seminar di Departemen
Pertahanan. Dalam kajian tersebut, BAIS menyatakan bahwa ada tiga kelompok radikal di
Indonesia yang mengancam eksistensi keberadaan Pancasila, yaitu antara lain: kelompok
radikal kiri, kelompok radikal kanan, dan terakhir kelompok radikal lain-lain. Dalam kategori
38 Kontroversi Pembelian Kapal Patroli oleh Pemda, Saat Otonomi Menyentuh Keamanan Laut”, 24 Juni 2004.
39 Media Indonesia, “Kapal itu nantinya jadi Milik AL”,7 September 2003.
40 Kompas, “DPRD Banten Anggarkan Rp 13 Miliar Untuk Pengadaan Kapal Patroli TNI AL', 17 Februari 2003.
41 Kompas, “TNI AL Dukung Riau Beli Kapal Perang”, 30 Agustus 2003.
66
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
yang ketiga ini, BAIS memasukan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) seperti Imparsial,
Kontras dan juga Elsham Papua di dalamnya (kelompok radikal lain-lain). Paparan BAIS ini
mencerminkan paradigma lama yang masih bersemayam hingga kini, yang sudah
seharusnya dirubah karena tidak lagi sejalan dengan arus perubahan reformasi dan
demokratisasi.42
Kritisisme individu dan kelompok di masyarakat terhadap pemerintah bukanlah suatu
kejahatan dan ancaman terhadap negara. Hal itu dengan secara otomoatis menjadi bagian
tak terpisahkan dari prinsip negara demokrasi. Landasan Konstitusi sebagai hukum tertinggi
dan juga norma hak asasi manusia telah menegaskan jaminan demikina. Karena itu adalah
keliru bilamana skritisisme ini dipersepsikan sebagai ancaman oleh BAIS. Lebih lanjut, apa
yang dikemukakan oleh BAIS dengan menempatkan organisasi sosial sebagai ancaman
keamanan sesungguhnya bukan merupakan tugasnya sebagai satuan intelijen Mabes TNI
yang diorientasikan untuk membantu fungsi pertahanan . Fungsi, tugas dan kewenangan
BAIS Mabes TNI tentu harus mengikuti fungsi, tugas dan kewenangan institusi induknya
(Mabes TNI), yakni sebagai aktor pertahanan.
Anggota DPR RI dari Partai PKB Effendi Choerie dalam keterangannya sebagai saksi ahli
dalam kasus gugatan perdata Imparsial terhadap KaBais di Pengadilan Negeri Jakarta
Selatan, menyatakan bahwa TNI tidak punya hak untuk memberi cap siapa yang radikal atau
tidak, serta pihak yang bertentangan dengan ideologi Pancasila. Alasannya, TNI merupakan
alat negara di bidang pertahanan. Sehingga tugas TNI hanyalah perang. "BAIS itu instrumen
Mabes TNI. Karena itu tuduhan BAIS kepada Imparsial bertentangan UU 34 Tahun 2004
tentang TNI. Menurutnya, itu sudah di luar tugas dan fungsi. 43
D. Konflik TNI-Polri.
Pelaksanaan agenda reformasi sektor keamanan (TNI dan Polisi) sejak 1998 juga masih
menyisakan masalah terkait seringnya terjadi bentrokan di lapangan yang melibatkan antar
anggota TNI dan polisi di sejumlah daerah. Bahkan, hampir setiap bentrokan yang terjadi
mengakibatkan korban tewas dan luka-luka dari kedua belah pihak, serta dari warga sipil di
lokasi kejadian.
Maraknya bentrokan di antara kedua institusi ini tentu menimbulkan pertanyaan bagaimana
kesungguhan jalannya reformasi. Tidak hanya di TNI namun juga di kepolisian. Sejak awal
reformasi misalnya, sebagaimana dinyatakan oleh Panglima TNI yang ketika itu dijabat oleh
Jenderal TNI Endriartono Sutarto, tercatat telah terjadi bentrok antara anggota TNI dan Polri
sebanyak 15 kali. Mulai dari Ambon, Sampit, Jambi, Aceh Barat, Bogor dan di Yapen Waropen,
hingga Papua. Dalam perjalanannya, kasus bentrok yang melibatkan anggota kedua institusi
tersebut masih terus terjadi hingga sekarang.
42 Hukum Online, Dituduh Kelompok Radikal, Imparsial Gugat BAIS, 22 Maret 2007.
43 Detik.com, 18 September 2007
67
Jalan Panjang Reformasi TNI
Kasus bentrokan anggota TNI dan Polri yang justru semakin marak di masa reformasi ini
menujukkan bahwa reformasi belum sepenuhnya menyentuh persoalan mendasar terkait
perubahan di kedua institusi tersebut. Kasus-kasus itu tentu saja dilatarbelakangi oleh
banyak aspek. Mulai dari masalah ego antar lembaga yang sudah pisah sejak 2000, problem
kecemburuan antar lembaga hingga dilatarbelakangi oleh kontestasi dalam penguasaan
ruang-ruang bisnis di tingkat lokal antara prajurit TNI dan anggota kepolisian. Hal ini tidak
dapat dipungkiri bahwa kendati masalah keterlibatan dalam bisnis ini tidak diakui, baik
anggota TNI maupun Polri, tetapi telah menjadi rahasia umum bahwa tidak sedikit aparat
yang terlibat terutama dalam bisnis jasa keamanan yang memungkinkan keduanya terlibat
kontestasi penguasaan.
Selama ini bentuk-bentuk bisnis pengamanan kurang mendapat perhatian karena yang
ditata dan ditertibkan lebih kepada bisnis-bisnis formal dan non formal berupa yayasan
koperasi, ataupun aset yang dimiliki dan dikelola oleh kedua institusi tersebut. Karena itu,
salah satu agenda bagaimana mengatasi persoalan bentrok antara anggota TNI dan Polisi
adalah juga dengan mencegah keterlibatan TNI dan Polisi dari praktek bisnis jasa keamanan.
Secara lebih lanjut, agenda lainnya yang juga tidak kalah penting proses pendisiplinan
anggota polisi dan TNI dengan mereformasi sistem pendidikan dan mendorong perubahan
mental serta watak para anggota kedua institusi sesuai dengan semangat reformasi.
E. Terus berlangsungnya aksi kekerasan
Sejarah panjang kekerasan TNI nampaknya tidak kunjung selesai. Baik dalam sistem politik
yang otoritarian, sebagaimana pernah di alami pada masa orde baru, maupun dalam sistem
demokrasi-meski baru prosedural- seperti sekarang, praktik-praktek kekerasan oleh anggota
TNI yang menimbulkan terjadinya berbagai bentuk pelanggaran HAM masih menjadi
perilaku yang terus berkembang dan diwarisi hingga sekarang.
Satu tahun yang lalu kasus kekerasan kembali terjadi di Alastlogo pada 30 Mei 2007 yang
melibatkan 13 prajurit Korps Marinir TNI AL sebagai pelakunya. Aksi penembakan marinir di
Alastlogo mengakibatkan 12 warga terluka dan empat (4) diantaranya meninggal dunia.
Kekerasan TNI ini menjadi bukti bahwa perilaku represif dan militeristik merupakan
persoalan yang hingga kini masih melekat di dalam tubuh TNI. Hal ini mencerminkan bahwa
proses reformasi yang dijalankan sejak 1998 nampaknya belum secara penuh menyentuh
dan merubah watak dan karakter prajurit TNI yang militeristik. Kendati demikian, jika
ditelusuri lebih jauh, kekerasan aparat TNI ini tentu saja tidak terjadi dalam ruang kosong.
Setiap kekerasan yang dilakukan memiliki konteksnya, dan dalam kasus penembakan dan
kekerasan di Pasuruan berkaitan dengan praktek bisnis militer (pengamanan) yang
dilakukan TNI AL.
Apa yang terjadi di Pasuruan ini mengingatkan akan terjadi potensi-potensi serupa di
sejumlah daerah lainnya. Persoalan konflik tanah antara warga dengan militer tidak hanya
terjadi di Pasuruan, namun juga terjadi di sejumlah daerah lainnya. Di Jawa saja misalnya
tercatat puluhan kasus konflik perebutan tanah. Belum lagi di wilayah Sumatera dan juga
68
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Kalimantan, serta wilayah-wilayah lainnya. Dengan kata lain, banyaknya kasus-kasus itu dan
watak serta karakter represif dan militeristik yang belum berubah tentu saja membuka
potensi terjadi kasus serupa di daerah lainnya.
Mengapa Reformasi TNI belum terselesaikan dan masih terjadi penyimpangan?
Maju mundurnya arah proses reformasi sektor keamanan utamanya disebabkan oleh
lemahnya kepemimpinan sipil yang itu dikarenakan masalah-masalah yang terjadi di dalam
partai-partai Politik. Kendati TNI sudah tidak terlibat langsung dalam politik, namun Partai
Politik masih memandang bahwa institusi TNI merupakan institusi yang masih memiliki
kekuatan politik. Hal itu semisal terlihat pada 2004 dimana beberapa calon Presiden dari
Partai Politik tertentu berusaha meminang Panglima TNI yakni Jenderal Endriartono Sutarto
untuk menjadi calon wakil Presiden. Selain itu, Partai politik tertentu berusaha menjadikan
Kepala BIN (Badan Inetelejen Negara), AM Hendropriyono, untuk menjadi bagian dari tim
kampanyenya dalam menghadapi Pemilu 2004, meski kemudian akhirnya diprotes dan
gagal.
Cara pandang partai politik yang masih melihat TNI sebagai kekuatan politik yang signifikan
itu, tentunya tidak bisa dilepaskan dari sejarah politik Indonesia yang memberitahukan dan
mengajarkan kepada Partai Politik bahwa TNI merupakan kelompok yang dari sejarahnya
paham dan sadar bagaimana memenangkan politik dalam kekuasaan. Meski TNI sudah tidak
lagi berpolitik secara langsung, namun tidak bisa di pungkiri bahwa dengan potensipotensi44 yang dimiliki TNI, partai politik tetap akan menghitung TNI sebagai kekuatan politik
yang signifikan dalam politik. Karenanya, pilihan untuk tetap merangkul TNI merupakan
pilihan yang dilakukan oleh sebagian partai politik, baik itu dengan merangkul secara
langsung terhadap institusi TNI maupun merangkul secara tidak langsung kepada
purnawirawan TNI dengan menjadikan mereka sebagai fungsionaris partai politik ataupun
menjadikan mereka sebagai menteri di dalam kabinet.
Dengan cara pandang yang demikian, maka sulit untuk dapat dengan cepat mendorong
proses reformasi TNI. Sebab, bila daya tekan reformasi TNI itu terlalu besar maka bukan tidak
mungkin hal itu akan mempengaruhi dan mengganggu negosisasi partai politik dengan TNI.
Konsekuensinya proses reformasi TNI berjalan tersendat-sendat dan tebang pilih.
Tidak hanya itu, adanya kontribusi partai terhadap terhambatnya proses reformasi TNI
disebabkan karena partai politik yang ada tidak menjadikan isu pertahanan dan keamanan
sebagai isu penting atau isu strategis bagi partai politik yang ada. Partai politik yang ada lebih
banyak fokus pada masalah-masalah yang terkait dengan masyarakat langsung seperti
masalah ekonomi, sosial dan politik. Kendati di beberapa partai ada divisi khusus yang
mengkaji tentang pertahanan, namun divisi itu nyaris tidak melakukan peran dan kerjanya
secara maksimal.
44
Salah satu potensi TNI yang dihitung secara politik oleh Partai politik itu adalah masih adanya struktur
komando teritorial yang dimiliki oleh TNI AD.
69
Jalan Panjang Reformasi TNI
Secara umum, tidak berjalannya fungsi partai seperti sebagaimana yang semestinya di
sebabkan oleh beberapa hal :45 pertama: di dalam tubuh partai politik mengalir deras
semangat pragmatisme politik dan oportunisme. Bahkan pragmatisme dan oportunisme ini
telah tereduksi menjadi prevalence atau kelaziman individu elit. Dalam situasi seperti ini,
solidaritas akan dipahami dalam pengertian sempit, yakni semata-mata ikatan kepentingan
partai saja dan bukannya alasan-alasan yang lebih luas. Gejala ini dapat dilihat dari maraknya
koalisi partai yang mempunyai ideologi berbeda, dan bahkan bertentangan pada masa
lampau. Kedua, masih adanya kesadaran yang keliru bahwa partai adalah kesatuan orang
dengan segala kepentingannya dan kepentingan elit yang dominan di mutlakan.
Persoalannya muncul ketika pada akhirnya justru kepentingan elitlah yang di dahulukan
dibandingkan dengan kepentingan public. Ketiga, partai politik kurang mempunyai
ketegasan dalam hal ideologi. Dalam hal ini, partai politik kurang menanamkan ideology
terhadap kader-kadernya sehingga partai menjadi akumulasi kepentingan politik yang tidak
mempunyai platform yang jelas, maupun visi dan misi yang tepat sasaran. Keempat, partai
politik lebih cenderung mempunyai sasaran jangka pendek dalam bentuk perebutan
kekuasaan lima tahunan. Kelima, secara empiric, memang terdapat peremajaan partai politik,
tetapi aktor-aktor yang berada di belakangnya sebenarnya adalah aktor-aktor lama yang
berkecimpung pada masa orde baru.
Dengan problematika partai politik yang ada, wajar kemudian apabila kualitas
kepemimpinan sipil yang dihasilkan lemah. Kepemimpinan sipil belum dapat sepenuhnya
melakukan kontrol sipil yang objektif terhadap militer. Masih terdapat kondisi-kondisi
dimana otoritas sipil lemah dalam mengontrol penyimpangan-penyimpangan yang
dilakukan TNI. Kalaupun ada koreksi oleh otoritas sipil, hal itu datangnya terlambat. Sebagai
misal lemahnya kontrol otoritas sipil terhadap keputusan Panglima TNI Jenderal (pur)
Endriartono Sutarto yang mengizinkan anggota TNI aktif untuk dapat menjadi salah satu
kandidat dalam Pemilihan Kepala daerah. Selain itu, lemahnya kontrol otoritas sipil terhadap
militer juga terlihat dari lemahnya kontrol otoritas sipil terhadap Panglima TNI khususnya
KSAL, Bertnard Kent Sondakh yang menggunakan anggaran daerah untuk pengadaan Kapal
KAL 35 untuk TNI AL.
Selain itu, otoritas sipil khususnya sumber daya manusia di parlemen masih lemah dalam
memahami masalah-masalah dan isu-isu yang terkait dengan bidang pertahanan dan
keamanan. Hanya beberapa orang anggota parlemen di Komisi 1 yang mengerti tentang
masalah pertahanan dan keamanan dan hanya sedikit dari mereka yang memiliki latar
belakang pendidikan yang khusus mempelajari bidang pertahanan dan keamanan. Padahal,
menurut Larry Diamnond dan Marc F. Plattner, supremasi sipil terhadap militer memerlukan
lebih dari sekedar upaya pengendalian pejabat-pejabat sipil terhadap militer guna
meminimalisasi intervensi militer dalam politik. Dalam hal ini juga perlu menciptakan
keunggulan otoritas sipil yang terpilih (baik itu eksekutif maupun legislatif ) di semua bidang
45 Arief Priyadi, “Amnesia Politik partai Politik”, Analisis CSIS, vol 35, no 1, Maret 2006, hal 42-43
70
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
politik, termasuk perumusan dan implementasi dari kebijakan pertahanan nasional. Jadi
kepala pemerintahan, melalui otoritas menteri pertahanan dari kalangan pemimpin sipil,
harus mempunyai kemampuan untuk menentukan anggaran, prioritas dan strategi
pertahanan, penambahan peralatan, dan kurikulum serta doktrin militer; dan anggota
dewan nasional paling tidak harus memiliki kapasitas untuk meninjau ulang kebijakan ini
dan memonitor implementasinya.46
Isyarat Diamond dan Plattner diatas sebenarnya menunjukkan kepada kita bahwa
kemandirian dan keterampilan sipil dalam mengelola suatu sistem pemerintahan atau
kekuasaan akan menjadi faktor penting jika berupaya mendudukkan peran militer dibawah
kendali otoritas sipil.47 Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tersendat-sendatnya
proses reformasi TNI selama ini dan masih terjadinya penyimpangan-penyimpangan yang
terjadi, salah satunya juga disebabkan oleh problematika partai politik yang diikuti dengan
lemahnya kepemimpinan sipil dalam mengontrol militer. Lemahnya kepemimpinan sipil itu
tidak hanya terlihat dari minimnya kemauan politik (political will) otoritas sipil tetapi juga
minimnya kualitas sumber daya manusia yang ada dalam memahami isu-isu dan masalah
pertahanan dan keamanan.
Selain itu, proses transisi politik di Indonesia juga tidak serta merta berhasil menempatkan
militer dalam satu posisi yang dengan mudahnya menerima agenda-agenda reformasi TNI.
Keterlibatan militer dalam rapat-rapat dengan otoritas sipil untuk menyusun regulasiregulasi politik bidang pertahanan dan keamanan telah membawa usaha mendorong
proses reformasi sektor keamanan mengalami tarik ulur.
Kendati militer tidak bisa secara langsung dapat mengesahkan regulasi politik bidang
pertahanan dan keamanan, namun posisi tawar TNI dalam pembahasan draft legislasi
dengan parlemen cukup signifikan untuk bisa mempengaruhi substansi perundangundangan. Di situasi seperti itu, kadangkala otoritas sipil mengakomodasi kehendak militer
dan kadangkala otoritas sipil tidak mengakomodasi kehendak militer, dan alhasil proses
reformasi TNI melalui penyusunan legislasi terlihat tebang pilih. Sebagai misal, negoisasi
militer dengan parlemen dalam pembahasan UU TNI pada 2004 tidak dapat mengatur secara
eksplisit agenda restrukturisasi komando teritorial. Pembahasan komando teritorial di dalam
UU TNI hanya di atur secara implist di dalam Pasal 11. Padahal agenda tersebut merupakan
agenda krusial yang telah menjadi bagian dari agenda reformasi politik yang telah di usung
sejak 1998.
Resistensi milter terhadap penuntasan agenda reformasi TNI itu disebabkan oleh berbagai
faktor, tergantung dari tingkat gradasi ancaman agenda reformasi terhadap eksistensi militer
dalam kekuasaan. Di titik ini wajar kemudian bila agenda untuk melakukan reformasi
46 Larry Diamond dan Marc F Plattmer (ed), Hubungan Sipil-Militer dan Konsolidasi Demokrasi, Rajawali Press,
Jakarta, 2001, halaman 1
47 Arie sujito, op.cit, hal 43
71
Jalan Panjang Reformasi TNI
peradilan militer dan restrukturisasi komando teritorial mengalami tarik ulur dan tak kunjung
terselesaikan hingga kini.
Kesimpulan
Penerapan demokrasi sebagai sebuah sistem politik di masa kini sedikit banyak telah
membawa pengaruh terhadap perubahan peran, fungsi dan kedudukan TNI. Beberapa
tetapan positif reformasi TNI dilakukan melalui pengesahan beberapa regulasi politik bidang
pertahanan dan keamanan. Namun demikian, jalannya proses reformasi TNI tersebut
belumlah cukup apalagi memadai dalam upaya membangun TNI yang profesional, sebab
jalannya reformasi TNI masih parsial dan tebang pilih.
Lambatnya jalannya reformasi TNI itu setidaknya dipengaruhi oleh beberapa faktor, yakni
mulai dari lemahnya kepemimpinan sipil, problematika partai politik, belum maksimalnya
transfer nilai konstitusionalisme di dalam tubuh TNI sampai dengan masih adanya resistensi
militer terhadap agenda reformasi TNI.
Sebagai bagian dari agenda reformasi sektor keamanan, penuntasan agenda reformasi TNI
harus di lakukan secara lebih tertata dan menyeluruh. Dalam konteks itu pemerintah wajib
untuk membuat grand design/blue print tentang arah reformasi sektor keamanan yang
didalamnya juga menjelaskan tentang arah reformasi militer kedepannya serta membuat
national security framework. Tanpa itu, jalannya reformasi militer hanya akan berjalan secara
parsial, reaktif dan sebatas tambal sulam saja.
Lebih lanjut, dengan model transisi yang tidak dapat memisahkan secara tegas antara
kekuatan lama (status quo) dan kekuatan baru (reformis) dalam kekuasaan, jalannya
reformasi TNI tidak bisa hanya menunggu dari kemauan politik dari otoritas sipil, tetapi harus
di barengi dengan desakan kelompok civil society kepada pemerintah dan parlemen untuk
dapat menyelesaikan agenda-agenda reformasi TNI yang tersisa.
Reformasi TNI merupakan tanggungjawab semua komponen bangsa (public goods),
karenanya proses reformasi tersebut harus menempatkan semua warga negara sebagai
subyek politik yang memiliki peranan untuk mensukseskannya. Dalam konteks itu,
eksklusivitas dalam mendorong reformasi TNI harus dihindari dan lebih lagi kritik dan
otokritik terhadap TNI tidak boleh dipandang sebagai ancaman, tetapi harus dipandang
sebagai bentuk partisipasi aktif warga negara dalam upaya mewujudkan TNI yang
profesional.<
72
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Lampiran 1. Dalam bingkai reformasi sektor keamanan, bagan national security framework
ini dapat menjadi salah satu bahan untuk mendorong refomasi TNI.
State/Government
National Security
National Value and National Goals
Democracy
Rule of Law
Social Justice Sovereignty
being Regional Cohesion
UUD
Pancasila
Freedom
Human Rights Security Economic well-
Environmental Assessments
Politic, Economy, Social, Environmental, Technology, Geography
Political
interest
Economic
interest
Social
interest
Cultural
interest
Defence and
Homeland
interest
International and
Regional Security
interest
Alliance
National Security Strategy
Foreign Policy
Economic Policy
Strategic Defence
Review
Social Policy
Defence Policy
Etc
Defence Policy
Role of TNI
TNI Strategy(Policy
Operational
Capacity
Training
Budget
Posture
Procurement and
infrastructure
Recruitment
Reformasi
TNI
Joint Doctrine
Air Force
Air Force Strategy:
Army
Army Strategy:
Navy
Navy Strategy:
· Service Doctrine
· Force Planning
· Training
· Service Doctrine
· Force Planning
· Training
· Manning
· Service Doctrine
· Force Planning
· Training
· Manning
Civil Society
73
Jalan Panjang Reformasi TNI
Daftar Pustaka
Alfred Stephan, Militer dan Demokratisasi, Grafiti, Jakarta, 1996
Anders Uhlin, Oposisi Berserak, Jakarta, Mizan, 1998
Ann M Fitz-Gerald, Security Sector-Streamlining National Military Forces to Respond to the Wider
Security Needs, Journal of Security sector management, published by Global Facilitation Network for
SSR, University of Cranfield, Shrivenham, UK, volume 1 2003.
Ann M Fitz-Geralds dan W.D. MacNamara, “A National Security Framework for Canada”,
(makalah)
2002
Arif Yulianto, Hubungan sipil militer di Indonesia Pasca Orde Baru, Rajawali Press, Jakarta, 2002
Barry Buzan, Ole Waefer, Jaap de Wilde, Security ( A New Framework For Analysis), Lynne Rienner, USA,
1998
Beni Sukadis (ed), Almanak Reformasi Sektor Keamanan 2007. Jakarta, DCAF & Lespersi, 2007.
Larry Diamond dan Marc F Plattmer (ed), Hubungan Sipil-Militer dan Konsolidasi Demokrasi, Rajawali
Press, Jakarta, 2001,
Marcus Mietzner, The Politics of Military Reform in Post-Suharto Indonesia: Elite Conflict, Nationalism,
and Institutional Resistance, the East-West Center Washington, 2006
Nor Hiqmah (ed), Indonesia menapak demokrasi, Yappika, Jakarta, 2002
Riefqi Muna (Ed), Likuidasi Komando Teritorial, Jakarta, The Ridep Institute, 2002,
Riefki Muna, Military Reform in Indonesia :How Far and How Real (makalah), Yogyakarta, 2002
Robertus Robert, Republikanisme dan Keindonesiaan Sebuah Pengantar, Marjin Kirin, Jakarata 2007
Rusdi Marpaung, Al araf dll “Menuju TNI Profesional (dinamika advokasi UU TNI), Imparsial, Jakarta,
2005
Samuel P Huntington, Prajurit dan Negara; teori dan politik hubungan militer-sipil, Grasindo, 2003
Samuel P huntingthon, The Third Wave: Democratization in the Late Twentieth Century, 1991
Tim Propatria, Indonesia di Tengah Transisi, Propatria, Jakarta 2000
Tim Imparsial, Reformasi Peradilan Militer di Indonesia. Jakarta: Imparsial, Cetakan Pertama, 2008.
Wily Aditya, “Nilai (value) dan Keutamaan (Virtue) TNI di Era Reformasi, Bandung, 2008 (thesis).
Undang Undang Pertahanan No 3 Tahun 2003
Undang Undang TNI No 34 Tahun 2004
Media
Kompas, RUU Peradilan Militer Jadi Usul Inisiatif DPR, 22 Juni 2005.
Kompas, Jangan Naif Bahas RUU Peradilan Militer, 17 Desember 2008.
Kompas, Dephan dan Pansus Sepakat; RUU Peradilan Militer ke Panja, 24 Januari 2007
Kompas, “DPRD Banten Anggarkan Rp 13 Miliar Untuk Pengadaan Kapal Patroli TNI AL', 17 Februari 2003.
Kompas, “TNI AL Dukung Riau Beli Kapal Perang”, 30 Agustus 2003.
Media Indonesia, “TNI-AD akan Tambah 22 Komando Teritorial”, 22 Maret 2005
74
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Media Indonesia, “Kapal itu nantinya jadi Milik AL”,0 7 September 2003.
Pontianak Post, “Ryamizard: Pembunuh Theys Pahlawan”, Kamis 24 April 2003
Sinar Harapan, “Perwira TNI Maju Pilkadan Diyakini Netral”, 12 Mei 2005
Tempo Interaktif, “Koalisi LSM Minta Pemerintah Tinjau Strategi Pertahanan”, 30 Maret 2005
Tempo Interaktif, Empat Kementrian Verifikasi Bisnis TNI, 19 Oktober 2005.
Tempo Interaktif, Menhan: Hanya 10 Bisnis TNI yang dialihkan, 20 Oktober 2005.
75
Komando Pasukan Khusus (Kopassus)
KOMANDO PASUKAN KHUSUS (KOPASSUS)
Galih Imaduddin 1
Pendahuluan
Hampir semua negara di dunia, pasti memiliki kesatuan elite (khusus) di dalam tubuh
angkatan bersenjatanya. Tidak terkecuali juga Indonesia. Tentara Nasional Indonesia (TNI),
memiliki satuan pasukan elit/khusus di semua matranya. Semua kesatuan elite (khusus)
memiliki tipikal kisahnya sendiri, bersama dengan segenap kontroversi yang ada, mulai dari
masa kelahirannya hingga ke tahap-tahap selanjutnya. Diantara semuanya itu, sepertinya
Komando Pasukan Khusus (Kopassus) merupakan satuan elite (khusus) yang memiliki
kisah yang paling menarik, baik ditilik dari kacamata yang positif maupun negatif. Salah satu
misi berdirinya Komando Pasukan Khusus, yang saat ini telah berusia 57 tahun dan tidak
berubah sejak tahun 1952, adalah melaksanakan operasi khusus dalam rangka menegakkan
kedaulatan dan keutuhan Negara serta melindungi segenap bangsa dan seluruh rakyat
Indonesia. Artinya, tugas pokok Kopassus adalah memfokuskan latihan dan struktur
kekuatannya pada misi-misi semacam ini. Secara struktural, kedudukan Kopassus adalah di
bawah perintah (B/P) para Panglima Komando Wilayah Strategis, yaitu Kodam 2. Artinya setiap
pergerakan operasional Kopassus akan selalu terikat dengan garis komando kemiliteran.
Dengan demikian, wewenang untuk menggerakkan kekuatan Kopassus berarti harus berasal
dari Presiden sebagai panglima tertinggi angkatan bersenjata yang kemudian diteruskan
kepada Panglima ABRI (sekarang TNI) dan barulah sampai kepada Komandan Jenderal
(Danjen) Kopassus 3.
Catatan perjalanan selama rentang waktu lebih dari setengah abad ini, menunjukkan bahwa
misi-misi yang diemban dan diselesaikan dengan prestasi tinggi oleh Kopassus masih
terfokus pada persoalan penegakan kedaulatan dan keutuhan negara, mengikuti pola
berpikir pertahanan dan keamanan lama tentang deterrence (penangkalan) sebagai prinsip
utama strategi militer.
Validitas deterrence sendiri sering kali sulit untuk dikuantifikasi karena sangat tergantung
kepada persepsi dan doktrin pertahanan dari suatu negara, sehingga dampak dari
kemampuan deterrence Kopassus terhadap penegakan kedaulatan dan keutuhan Negara
jarang atau sama sekali tidak pernah terungkap secara terbuka kepada publik.
Persepsi kedaulatan dan keutuhan Negara selama beberapa dekade ini ditentukan oleh
ancaman pertahanan dan keamanan yang berasal dari pelbagai gerakan separatis dan
pengacau keamanan dalam negeri, yaitu pemberontakan bersenjata serta berbagai gerakan
1
2
3
Galih Imaduddin adalah Alumnus HI Unpad, saat ini sedang menyelesaikan studi pascasarjana di Program
Magister Ilmu Politik, FISIP Unpad.
Hendro Subroto. 2009. Sintong Pandjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando. Jakarta: Kompas
Media Nusantara. Hlm. 305.
Femi Adi Soempeno. 2009. Prabowo: Dari Cijantung Bergerak Menuju Istana. Jakarta: Galang Press. Hlm. 132.
76
Almanak Reformasi Sektor Keamanan di Indonesia 2009
protes yang dianggap dapat menggangu stabilitas dalam negeri. Persepsi pemikiran
keamanan ini terjadi ketika peralihan kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru, dan masih
mencari bentuk yang baru ketika peran sosial-politik tentara dikebiri setelah era reformasi
1998.
Sementara itu, ancaman dan gangguan Keamanan telah bergeser ke format, dimensi, dan
bentuk baru menghadapi ancaman terorisme dengan mengikuti pola perubahan politik
global pascaserangan kelompok teroris ke menara kembar WTC (World Trade Center) di kota
New York, AS tahun 2001 yang dianggap telah meruntuhkan simbol kedigjayaan liberalismekapitalisme global yang mendarahi dengung penyebaran demokrasi di seluruh dunia.
Reformasi di Indonesia, yang terjadi setelah robohnya rezim Orba, menghasilkan pola baru
pemisahan fungsi pertahanan dan keamanan antara Polri dan TNI yang masih terus mencari
bentuk absolutnya. Riak-riak dalam proses pemisahan kedua lembaga ini memang masih
sering terlihat. Hal ini terbukti dengan terjadinya beberapa kali bentrokan antara personil dari
kedua lembaga ini di berbagai daerah. 4
Oleh karena itu, dalam kerangka Reformasi Sektor Keamanan, Kopassus sebagai salah satu
elemen yang berada di bawah naungan institusi TNI AD, sesungguhnya menghadapi suatu
tantangan berat, khususnya menemukan kembali jati dirinya yang sejati. Pengalaman
sejarah yang begitu berwarna-warni di masa lalu, dari mulai yang paling membanggakan
hingga yang paling kelam, seyogyanya telah menjadi modal yang cukup untuk merumuskan
ulang pencitraannya ke depan. Oleh karena itulah, tulisan ini hendak mengulas mengenai
pelbagai macam tantangan nyata yang dihadapi oleh korps baret merah ini, beserta analisis
kesejarahan dan end users dibalik pengerahan kekuatannya beserta problematika yang
mengiringinya. Diharapkan, tulisan ini dapat memberikan suatu gambaran umum kepada
pembacanya untuk bisa lebih mengenal secara lebih dekat Kopassus itu sendiri, sebagai
suatu bentuk upaya pemberdayaan bagi publik agar ”melek” terhadap segala perkembangan
kemiliteran yang terjadi di negaranya.
SEJARAH KELAHIRAN DAN AWAL PERKEMBANGANNYA
Sejarah Kelahiran
Komando Pasukan Khusus (Kopassus), yang dulunya bernama Komando Pasukan
Sandi Yudha (Kopassandha) serta sejumlah nama lamanya dapat dilihat dalam tabel 1
dibawah ini.5 Kopassus merupakan suatu satuan yang terlatih dalam bidang pengumpulan
data intelijen, pelbagai variasi dalam hal kemampuan operasi khusus, sabotase, dan
pendaratan lintas udara dan lintas laut. Didirikan pada 16 April 1952 atas prakarsa Kolonel A.E.
Kawilarang dan Letkol. Ign. Slamet Rijadi dalam rangka menumpas gerakan separatis
Republik Maluku Selatan (RMS), Kopassus kemudian direorganisasi dan mengalami
4
5
6
Renee L. Pattiradjawane, “Menuju Terbentuknya Demokrasi Efektif”. Dari Harian Umum KOMPAS Edisi 15 April
2009 hlm. 2.
Lihat tabel 1 untuk lebih jelasnya.
http://www.globalsecurity.org/military/world/indonesia/kopassus.htm, diakses pada tanggal 3 April 2009
pukul 05.05 WIB.
77
Komando Pasukan Khusus (Kopassus)
Tabel 1. Perubahan Nama Kopassus
Tahun
Nama
Keterangan
1952
1953
1955
Kesko
KKAD
RPKAD
1959
RPKAD
1971
1985
Kopasandha
Kopassus
Kesatuan Komando
Korps Komando Angkatan Darat
Resimen Pasukan Komando Angkatan
Darat
Resimen Para Komando Angkatan
Darat
Komando Pasukan Sandi Yudha
Komando Pasukan Khusus
Dalam perjalanan sejarahnya, Kopassus berhasil mengukuhkan keberadaannya sebagai
pasukan khusus yang mampu menangani tugas-tugas yang berat. Beberapa operasi yang
dilakukan oleh Kopassus diantaranya adalah operasi penumpasan DI/TII, operasi militer
PRRI/Permesta, Operasi Trikora, Operasi Dwikora, penumpasan G30S/PKI, Pepera di Irian
Barat, Operasi Seroja di Timor Timur, operasi pembebasan sandera di Bandara Don MuangThailand (Woyla), Operasi GPK di Aceh, operasi pembebasan sandera di Mapenduma, serta
berbagai operasi militer lainnya. Dikarenakan misi dan tugas operasi yang bersifat rahasia,
mayoritas kegiatan tugas dari satuan Kopassus tidak akan pernah diketahui secara
menyeluruh. Contoh operasi Kopassus yang pernah dilakukan dan tidak diketahui publik
seperti: Penyusupan ke pengungsi Vietnam di pulau Galang untuk membantu pengumpulan
informasi untuk di kordinasikan dengan pihak Amerika Serikat (CIA), penyusupan perbatasan
Malaysia dan Australia dan operasi patroli jarak jauh (long range reconaissance) di perbatasan
Papua Nugini.
Nama besar dan citra yang disandang Kopassus sejak didirikannya menyebabkan banyaknya
pihak yang menarik-narik Kopassus untuk masuk kedalam kegiatan bernuansa politis.
Kopassus sejak dulu telah menjadi tempat persemaian perwira-perwira muda potensial,
yang kelak mengisi pos-pos jabatan pimpinan TNI. Nama-nama seperti Leonardus Benjamin
(Benny) Moerdani, Sintong Panjaitan, Yunus Yosfiah, Agum Gumelar, A.M. Hendropriyono,
Prabowo Subianto, dan lain-lain, adalah perwira-perwira yang sudah dikenal publik, saat
mereka masih berpangkat Kapten atau Mayor, berkat prestasi mereka di lapangan.
Lika-Liku Perjalanan Sejarah Kopassus
Seperti telah diungkapkan sebelumnya, setiap unit pasukan khusus pasti memiliki
kontroversinya tersendiri, termasuk Kopassus. Beberapa episode menarik yang pernah
menghangat seputar perjalanan Kopassus pada masa Orde Baru dan setelahnya, antara lain:
- Fenomena Pengangkatan Prabowo Subianto
Pengangkatan Prabowo Subianto, yang kebetulan saat itu adalah menantu Presiden
Soeharto, sebagai Komandan Kopassus pada 1995, telah menimbulkan banyak gunjingan
publik karena sebelumnya di kalangan wartawan dan media dia dikenal sebagai jenderal
78
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
'salon' alias 'karbitan'.7 Tak pelak lagi, peristiwa ini merupakan salah satu moment paling
fenomenal yang pernah terjadi dalam sejarah Kopassus, yang mungkin bisa disejajarkan
dengan keberhasilan Kopassus dalam menangani pembajakan Pesawat Woyla milik Garuda
di bandara Don Muang, Bangkok, Thailand pada 1981. Namun demikian, fenomena naiknya
”the rising star”, begitu Prabowo biasa dijuluki, telah membawa dampak yang sangat luas
terhadap perjalanan korps baret merah ini ke depannya, khususnya dalam pelbagai
kebijakan yang diambil anak ketiga dari begawan ekonomi Indonesia Prof. Soemitro
Djojohadikusumo itu, dalam hal penambahan jumlah personel Kopassus dan kegiatan usaha
yang dijalankannya.
- Kasus putra Subagyo HS
Nama lain yang ikut tercoreng adalah Subagyo Hadi Siswoyo, yang sempat menjabat
sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad). Nama Subagyo tercoreng oleh ulah
putranya, Agus Isrok, yang kebetulan juga berdinas di Kopassus dan berpangkat letnan.
Agus, yang pada mulanya berusaha menyembunyikan identitasnya, tertangkap dalam pesta
obat-obatan terlarang (shabu-shabu) di sebuah hotel tempat pusat hiburan di Jakarta.
Menurut dugaan, Agus bukan hanya sekadar pemakai melainkan juga pengedar narkoba.
Diperkirakan karena kekuasaan ayahnya, Agus lolos dari jerat hukum. Pada tahun 2007 Agus
Isrok diketahui masih aktif di militer dengan pangkat Kapten. Kasus ini menegaskan apa yang
sudah menjadi rahasia umum bahwa Kopassus pada khususnya dan ABRI pada umumnya
terlibat dalam bisnis-bisnis illegal di Indonesia. Menurut sebuah sumber dari media
terkemuka di Indonesia yang enggan disebut namanya, Kopassus telah lama menggunakan
uang perolehan dari bisnis obat terlarang, minuman, dan hiburan untuk membiayai aksi dan
operasi militernya yang memakan tidak sedikit biaya, yang secara budgetair tidak semuanya
dilaporkan secara internal maupun eksternal di ABRI.
- Kasus penculikan aktivis reformasi
Pada tahun 1998, nama Kopassus sempat tercoreng berkaitan dengan aktivitas ”Tim
Mawar” yang dituding bertanggung jawab terhadap kegiatan penculikan dan penghilangan
nyawa beberapa aktivis pro demokrasi.8 Selama berada dalam penyekapan, mereka
mengalami perlakuan yang tak manusiawi, disiksa saat interogasi dengan cara ditelanjangi,
dipukuli, disetrum, ditidurkan di es balok, disundut rokok, hingga tak sadarkan diri.9 Nama
7
8
9
Atas pengangkatannya itu, Prabowo mencatatkan dirinya sebagai orang pertama di angkatannya (AMN
1974) yang menyandang tanda bintang di pundaknya. Tidak lama setelah itu, prestasi Prabowo semakin
“mentereng” karena ia kembali mendapatkan tambahan satu bintang di pundaknya, sebagai konsekuensi
dari ditingkatkannya Jabatan Komandan Kopassus menjadi Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus. Untuk
lebih jelasnya, lihat buku karangan Femi Adi Soempeno., 2009. “Prabowo: Dari Cijantung Bergerak Ke Istana”.
Yogyakarta: Galang Press. Hlm. 113-118.
Diantara target operasi yang berhasil diciduk saat itu adalah: Andi Arief, Nezar Patria, Pius Lustrilanang,
Desmond J. Mahesa, Haryanto Taslam, Faisol Resha, dan Raharjo Waluyojati. Selain itu, ada 14 orang lainnya
yang hingga saat ini masih hilang. Mereka adalah Yanie Afri, Sony, Herman Hendrawan, Dedi Hamdun, Noval
Alkatiri, Ismail, Suyat, Petrus Bima Anugerah, Wiji Thukul, Ucok Munandar, Hendra Hambali, Yadin Muhidin,
dan Abdun Naser.
Femi Adi Soempeno. 2009. Prabowo: Dari Cijantung Bergerak Ke Istana. Yogyakarta: Galang Press. Hlm 128.
79
Komando Pasukan Khusus (Kopassus)
Kopassus kembali tercoreng setelah Peristiwa Mei 1998, ketika banyak hasil penelitian tim
gabungan pencari fakta (TGPF) independen menemukan adanya organisasi terstruktur rapi
dalam militer yang dengan sengaja dan maksud tertentu menyulut kerusuhan massa di
Jakarta dan Surakarta (kedua kota tersebut secara kebetulan adalah daerah basis/markas
Kopassus, yaitu Cijantung-Jakarta dan Kandang Menjangan-Surakarta). Pada 2007 masalah
Tim Mawar ini kembali mencuat ke permukaan melihat kenyataan bahwa 11 tentara yang
terlibat (6 di antaranya dipecat pada 1999), ternyata tidak jadi dipecat tetapi tetap meniti
karir, naik pangkat dan beberapa diketahui memegang posisi-posisi penting seperti Dandim
dengan pangkat letnan kolonel. Pihak Mabes TNI pun akhirnya mengakui hanya 1 dari 6
perwira tersebut yang benar-benar dipecat, yaitu pimpinan tim tersebut, Mayor Bambang
Kristiono. Saat kasus ini disidangkan pada awal tahun 1999, ada satu hal yang terlihat ganjil,
yaitu alasan pembentukan Tim Mawar yang lebih karena berdasarkan hati nurani. Padahal,
dalam keprajuritan, harusnya segala sesuatu berdasarkan perintah dari atasan. Tanpa
menutup-nutupi, Bambang seolah menjadi tumbal dalam peristiwa penculikan aktivis ini,
dan dengan sendirinya menyingkirkan Prabowo Subianto10 dan Muchdi Pr yang saat itu
menjabat sebagai Pangkostrad dan Danjen Kopassus.
- Pembunuhan Theys Eluay
Pada tanggal 10 November 2001, tokoh masyarakat Papua yang vokal terhadap
pemerintah RI, Theys Hiyo Eluay, diculik dan lalu ditemukan sudah terbunuh di mobilnya di
sekitar Jayapura. Menurut penyidikan Inspektur Jenderal, ternyata pembunuhan ini
dilakukan oleh oknum-oknum Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Beberapa anggotanya,
antara lain Letkol Hartomo, dipecat secara tidak terhormat. Dunia internasional mengecam
pembunuhan ini. Papua pun kembali menjadi perhatian dunia internasional, khususnya dari
kalangan Kongres AS. Selain itu, insiden ini telah memperburuk citra Indonesia dalam hal
penanganan kasus-kasus pelanggaran HAM.
- Membungkuknya Danjen Kopassus di depan Tommy Soeharto
Pada tahun 2007, Kopassus kembali tercoreng dengan kejadian pembungkukan
Danjen Kopassus di depan Tommy Soeharto. Hal ini mengesankan Kopassus masih tunduk
kepada kekuasaan mantan presiden Soeharto. Pada acara hari ulang tahun Kopassus, Tommy
dan Bambang Trihatmodjo Soeharto hadir di Kandang Menjangan Group II Kopassus, Solo
sebagai peserta lomba tembak terbuka yang digelar pada 23 April 2007. Pada saat
bersalaman dengan Tommy, Danjen Kopassus Mayjen TNI Rasyid Qurnuen Aquary terlihat
membungkuk di depan putra mantan presiden Suharto itu, dan kejadian ini terekam kamera
wartawan. Foto membungkuknya Danjen Kopassus ini beredar luas di masyarakat bahkan
sampai ke Amerika Serikat dan Australia. Pemerintah Amerika Serikat melalui Asisten Menlu
AS Urusan Asia Pasifik, Christopher Hill, menanyakan secara resmi mengenai peristiwa ini
kepada Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono di Jakarta.11
10
11
80
Ibid., Hlm, 127.
http://id.wikipedia.org/wiki/Komando_Pasukan_Khusus, Diakses pada Tanggal 3 April 2009 pukul 04.52 WIB.
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
POSTUR DAN GELAR KEKUATAN KOPASSUS
Pada dasarnya, akan selalu menarik untuk membahas quo vadis keberadaan Kopassus
dari sudut pandang efektivitas struktur organisasinya, khususnya menyangkut postur dan
gelar kekuatannya. Saat ini Kopassus terdiri dari 5 (lima) Grup dengan keahliannya masingmasing yang berkekuatan lebih dari 6.000 personil.12 Untuk klasifikasi sebagai ”elite/special
forces”, maka ukuran itu tentunya agak terlalu gemuk. Sebagai perbandingan, Amerika
Serikat memiliki dua unit pasukan khusus terkemuka yaitu Green Berets dan Delta Force, yang
ternyata ”hanya” memiliki kekuatan sebesar 4.500 dan 1.000 personel. 13
Oleh karena itu, perampingan struktur dalam tubuh Kopassus mutlak diperlukan. Selain itu,
untuk menghilangkan kesan buruk yang menempel terhadapnya, maka nampaknya perlu
ada suatu upaya yang sungguh-sungguh dari dalam struktur internal Kopassus itu sendiri
untuk lebih terbuka kepada publik mengenai peran dan fungsi yang dijalankannya, tanpa
harus mencederai aspek kerahasiaan, yang sejatinya memang akan selalu dimiliki oleh setiap
unit pasukan khusus di negara manapun.
Sejarah Kopassus, pada masa orde baru, menunjukkan bahwa ada dua figur utama yang
berperan penting dalam proses reorganisasi korps baret merah ini, yaitu Sintong Pandjaitan
dan Prabowo Subianto. Kedua figur inilah yang dianggap paling memberikan warna
terhadap perkembangan organisasi Kopassus hingga saat ini.
Masa Sintong Pandjaitan
Upaya reorganisasi terhadap kesatuan ini pernah dilakukan pada masa
kepemimpinan Sintong Pandjaitan. Hal ini berawal pada pertengahan tahun 1985 ketika
Panglima ABRI saat itu, Jenderal L.B. Moerdani melakukan kebijakan reorganisasi ABRI untuk
menghemat anggaran belanja. Dalam konteks TNI AD, kekuatan Kopassandha dan komando
daerah militer akan diperkecil. Menurut rencana, banyaknya Kodam diperkecil dari 17
menjadi 10 Kodam saja, yaitu dari Kodam I/Bukit Barisan sampai Kodam IX/ Udayana dan
Kodam Jaya untuk Komando Daerah Militer Ibu Kota. Terkait dengan Kopassandha, Panglima
ABRI berencana memperkecil jumlah anggota pasukan Baret Merah dari 6.644 orang menjadi
sekitar 3.000 orang saja. Menanggapi rencana itu, Sintong sebagai Komandan Kopassandha
berpendapat bahwa memperkecil satuan dengan tujuan menghemat biaya, dapat dilakukan
di seluruh Kodam. Namun, upaya memperkecil jumlah anggota Kopassandha hanya dapat
dilakukan kalau Mabes ABRI mempunyai biaya yang cukup besar.
Sehubungan dengan reorganisasi Kopassandha, Sintong diberi kesempatan meninjau
pasukan khusus di negara-negara Eropa dan Asia. Di Inggris, Sintong mencatat suatu hal yang
menarik pada pasukan khusus Inggris Special Air Service (SAS). Di markas SAS di Hereford,
penjagaan markas bukan dilakukan oleh anggota SAS, tetapi dilakukan oleh Polisi. Salah satu
pertimbangannya adalah SAS yang berkekuatan di bawah seribu orang sebagai pasukan elite
yang sangat terlatih, harus dibebaskan dari tugas jaga. Tidak hanya itu, tugas administrasi di
lingkungan SAS pun dilakukan oleh pihak lain.
12
13
Lihat lampiran 1 untuk lebih melihat struktur organisasi Kopassus.
www.globalsecurity.org/military/agency/army, diakses pada tanggal 3 April 2009 pukul 05.42 WIB.
81
Komando Pasukan Khusus (Kopassus)
Di masa damai tugas anggota SAS adalah latihan terus-menerus untuk mempertinggi
kemampuan tempur, dengan selalu ada satu tim bersiaga untuk tugas antiteror. Gaji mereka
sama seperti anggota tentara lainnya. Namun, mereka mendapat tunjangan berbagai
keahlian, seperti, para komando, demolisi, penjinak bahan peledak, pendakian, dan
sebagainya. Jika fisik sudah tidak memenuhi syarat sebagai anggota SAS, mereka
dipindahkan ke satuan lainnya, atau tetap menjadi anggota SAS dengan tugas non tempur.
Dengan sendirinya tunjangan keahlian khusus mereka dihilangkan. Pola organisasi pasukan
khusus semacam itulah yang diinginkan oleh Sintong. 14
Dalam pelaksanaan reorganisasi Kopassandha, Sintong memerintahkan Letkol. Luhut
Pandjaitan, Komandan Detasemen-81/Antiteror, agar menggarap program perampingan
anggota Kopassandha. Sintong Pandjaitan dan Luhut Pandjaitan memiliki prinsip yang sama
dalam merampingkan jumlah anggota. Keduanya cocok dalam gagasan profesionalisme
militer. Program memperkecil jumlah anggota dilakukan sangat hati-hati dan tegas, karena
Sintong menyadari bahwa pada kenyataannya tidak seorang pun yang bersedia pindah dari
Kopassandha. Banyak masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan seleksi tetapi akhirnya
dapat diatasi. Dari hasil seleksi itu, diperoleh 2.300 orang tamtama dan bintara yang
mencapai nilai terbaik. Setelah anggota Kopassandha berhasil dirampingkan, maka nama
Kopassandha diganti menjadi Komando Pasukan Khusus (Kopassus).
Reorganisasi Kopassandha menjadi satuan kecil yang bermutu tinggi dan profesional
semacam ini sebenarnya telah dinanti sejak lama oleh Sintong. Ciri-ciri pasukan khusus ialah
berjumlah kecil, memiliki kerahasiaan dan kualitas tinggi, untuk menciptakan pendadakan
yang besar terhadap sasaran strategis, bukan sasaran taktis. Pasukan khusus TNI AD yang
telah diperkecil, masih lebih besar jumlahnya dibanding dengan pasukan khusus di negaranegara Eropa. Memang ada pasukan khusus yang berjumlah besar yakni di negara-negara
Arab. Misalnya Angkatan Darat Kerajaan Jordania memiliki tiga batalyon para komando
masing-masing berkekuatan 500 orang yang dibagi dalam tiga kompi terdiri dari tiga
peleton. Mereka dipersenjatai dengan peluru kendali antitank Dragon dan recoilles rifle (STTB:
Senjata Tanpa Tolak Balik) 106 mm. Jumlah pasukan para komando ini cukup besar, jika
dibanding dengan kekuatan Angkatan Darat Kerajaan Jordania secara keseluruhan.
Komandan Kopassus memang ”hanya” berpangkat brigjen, karena di samping jumlah
pasukan hanya di bawah 3.000 orang, Kopassus secara operasional adalah di bawah perintah
(B/P) para Panglima Komando Wilayah Strategis, yaitu Kodam. Sebagai komparasi dalam hal
komandan, Komandan GSG-9 Jerman hanya berpangkat kolonel. Salah seorang Komandan
GSG-9 yang sangat populer ialah Kolonel Ulrich Wagener. Ia menjadi pucuk pimpinan GSG-9
dalam operasi pembebasan sandera penumpang pesawat Boeing B-737 Lufthansa yang
dibajak teroris di Mogadishu, Somalia (1977). Wagener juga disebut-sebut ikut serta dalam
pasukan komando Israel pada Operation Entebbe 1976 untuk pembebasan sandera
penumpang pesawat Air France yang dibajak ke Entebbe, Uganda.
14
Hendro Subroto. 2009. Sintong Pandjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando. Jakarta: Kompas
Media Nusantara. Hlm. 302-307.
82
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Selain itu, komandan SAS Inggris pun berpangkat kolonel, meski di atasnya masih terdapat
seorang perwira tinggi berpangkat brigadir (jenderal), untuk melaksanakan Joint Operation
Forces. Komandan US Army's Special Forces (Green Berets), juga berpangkat kolonel. Dalam
Angkatan Bersenjata AS terdapat seorang jenderal berbintang empat yang memimpin Joint
Operation Command bagi unsur-unsur angkatan yang meliputi ketiga matra.
Menurut Luhut Pandjaitan, Komandan Kopassus cukup dijabat perwira bintang satu atau
brigjen tetapi harus benar-benar seorang komandan yang profesional. ”Bukan komandan
yang untuk berlari saja sudah susah payah,” tambahnya. 15
Masa Prabowo Subianto
Dalam perkembangan kemudian, sosok pasukan khusus yang kecil dan berkualitas
yang dirintis Sintong tidak berumur panjang. Pada akhir tahun 1995 Kolonel Prabowo
Subianto dilantik menjadi Komandan Kopassus dan pangkatnya dinaikkan menjadi brigjen.
Pada bulan Agustus 1996, Prabowo yang merupakan komandan ke-15 Kopassus dinaikkan
lagi pangkatnya menjadi mayor jenderal. Kenaikan pangkat itu disebabkan peningkatan
status jabatan dari Komandan menjadi Komandan Jenderal Kopassus. Dengan demikian
dalam jangka waktu delapan bulan, Prabowo mengalami dua kali kenaikan pangkat dalam
jabatan yang sama.
Peristiwa semacam itu belum pernah terjadi dalam sejarah TNI, sehingga hampir setiap
perwira TNI AD merasa heran bahwa hal itu dapat terjadi. Walaupun demikian tidak ada
reaksi, karena setiap komplain dan rasa tidak puas terhadap atasan harus ditempuh sesuai
prosedur yang berlaku. Sintong mengutarakan kritik atas peristiwa itu setelah ia pensiun,
sebagai masukan agar semua pedoman maupun peraturan yang berlaku tidak dianggar oleh
setiap anggota TNI, termasuk Panglima Tertinggi.
Sintong menjelaskan, kenaikan pangkat reguler dalam Angkatan Bersenjata hanya dilakukan
dua kali setahun, yaitu pada bulan April dan bulan Oktober, kecuali kenaikan pangkat luar
biasa. Seandainya jumlah anggota Kopassus tidak dikembangkan menjadi hampir 6000
orang, maka Prabowo Subianto akan meninggalkan jabatan Komandan Kopassus dengan
pangkat brigjen. Namun, dengan pangkat mayor jenderal, merupakan jabatan perwira tinggi
berbintang tiga.
Sementara 17 Kodam yang telah dirampingkan menjadi hanya 10 (sepuluh) itu sedang
melakukan pemantapan, Prabowo melakukan pengembangan Kopassus. Dengan adanya
bermacam kepentingan politik, Kopassus memperbanyak kembali jumlah personel menjadi
sekitar 6.000 orang. Pengembangan itu jelas tidak sesuai dengan rencana strategis TNI AD. 1 6
15 Hendro Subroto. 2009. Sintong Pandjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando. Jakarta: Kompas
Media Utama. Hlm. 311-313.
16 Ibid., hlm. 314-315.
83
Komando Pasukan Khusus (Kopassus)
Perkembangan Terakhir
Setelah pelbagai macam tragedi di masa lalu yang melibatkannya, Kopassus nampaknya
memang harus berjuang keras untuk memulihkan nama baiknya. Kopassus seolah memiliki
keharusan untuk membuktikan kepada publik bahwa ia memang telah ”berubah” dan tidak
lagi bersedia untuk dijadikan sebagai alat politik bagi kelompok-kelompok tertentu seperti
yang pernah terjadi di masa lalu. Salah satu cara terbaik untuk menunjukkan 'performance'
yang baik di depan publik adalah melalui suatu gelar latihan massive, yang tidak hanya
melibatkan anggota Kopassus saja, namun juga mengundang pasukan-pasukan khusus dari
negara lain. Moment penting dalam konteks itu sebenarnya telah dimulai pada 4 Februari
2006, ketika Kopassus melakukan latihan bersama dengan pasukan khusus Australia. Danjen
Kopassus waktu itu, Mayjen. Syaiful Rizal, menyatakan bahwa latihan itu merupakan pertama
kalinya kedua pasukan khusus itu melakukan latihan bersama, setelah yang terakhir adalah
pada 1996 dan setelahnya hubungan keduanya dilanda kevakuman. Jadi, hampir 10 tahun
keduanya belum mengadakan latihan. Syaiful juga mengatakan bahwa Latihan itu penting,
sebab Australia punya pengalaman perang di level global. Misalnya dalam perang Irak.
Pengalaman pasukan khusus Australia dirasakan perlu untuk diserap. Selain itu, dalam hal
persenjataan, pihak Australia juga cukup lengkap. Dengan bertemu mereka, Kopassus
diharapkan bisa mengukur kemajuan teknologi persenjataan yang mereka miliki. Tidak
seperti sebelumnya, latihan tersebut dikhususkan pada antiteror, seperti aksi pembebasan
sandera. Dengan demikian, dalam pelaksanaannya, pada latihan itu dilakukan pelbagai
simulasi mengenai cara-cara pembebasan sandera di kapal laut, gedung, atau pesawat.
Latihan itu berlangsung selama dua pekan, dimana Kopassus mengirimkan 36 anggotanya
dari Satuan 81 (Sat 81) Penanggulangan Teror. 17
Terkait dengan anggaran, jika memang memungkinkan, waktu itu Syaiful menyatakan
bahwa Kopassus akan mengusulkan pengadaannya kepada Komisi 1 DPR RI. Namun hingga
kini memang belum ada kejelasan mengenai alokasi anggaran untuk Kopassus dari porsi
total APBN yang dialokasikan untuk TNI-AD. Kegiatan latihan bersama terkini yang telah
dilaksanakan oleh prajurit-prajurit Komando Pasukan Khusus (Kopassus) adalah latihan
bersama dengan pasukan khusus Singapura. Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus Mayjen
TNI Pramono Edhie Wibowo secara resmi menutup latihan bersama itu pada 23 Mei 2009 di
lapangan Markas Grup-1 Kopassus di Serang, Banten. Dalam kesempatan itu, Danjen
Kopassus mengharapkan agar kerjasama yang sudah terjalin selama antara Kopassus dan
Pasukan Khusus Singapura dapat lebih ditingkatkan di masa datang. Taktik dan teknik yang
sudah diperoleh selama melaksanakan Latma ini, dapat dikembangkan lagi di satuan negara
masing-masing. Latihan Bersama (Latma) Candrapura XIX/2009 tersebut juga diharapkan
dapat meningkatkan dan memperkokoh kerja sama antara Indonesia dengan Singapura
serta dapat meningkatkan hubungan yang lebih baik lagi selaku sesama negara ASEAN. 18
17
Dari http://www.freelists.org/post/ppi/ppiindia-Wawancara-Danjen-Kopassus, diakses pada tanggal 9 Juni
2009 pukul 16.26 WIB.
18 Dari http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2009/05/24/kopassus-latihan-bersama-singapura, diakses
pada tanggal 9 Juni 2009 pukul 17.39 WIB.
84
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Uraian di atas menunjukkan bahwa pasang-surut perubahan postur dan gelar kekuatan di
dalam tubuh Kopassus ternyata memang sangat bergantung kepada figur pemimpinnya.
Apabila memang ada satu faktor yang ingin segera dibenahi, maka persoalan jumlah
personel inilah yang sepertinya mutlak untuk segera ditangani oleh perwira tinggi yang
memimpin Kopassus. Terkait dengan kegiatan latihan yang telah dilakukan, terlihat sekali
bahwa Kopassus telah berupaya untuk terus berada dalam jajaran terdepan dalam hal
modernisasi persenjataan serta kemampuan teknisnya. Untuk selanjutnya, yang menjadi
pertanyaan besar adalah: mampukah Kopassus mengaplikasikan seluruh kemampuan
mutakhirnya tersebut sesuai dengan motto utamanya, yaitu melindungi segenap rakyat
Indonesia? Yang penting kiranya dalam hal ini adalah, kemampuan Kopassus untuk
melepaskan dirinya dari kooptasi pihak-pihak yang ingin menggunakan “jasa”-nya untuk
kepentingan-kepentingan politik tertentu.
PENUTUP: MASA DEPAN PERAN DAN EKSISTENSI KOPASSUS
Kesempatan Khusus
Sebagai satuan khusus yang matang dalam usianya dan tumbuh di tengah
perjuangan awal terbentuknya Republik Indonesia, Kopassus memiliki kesempatan yang
khusus pula untuk mengukir masa depannya dan lepas dari stigma masa lalunya yang cukup
kelam. Salah satunya adalah dengan memperkokoh misinya dalam rangka “melindungi
segenap bangsa dan seluruh rakyat Indonesia”.
Di tengah ancaman terorisme global serta krisis keuangan global sekarang ini, para pemikir
dan pembuat strategi militer setidaknya memiliki dua pilihan untuk memperkokoh Kopassus
dalam menjalankan misinya melindungi bangsa dan rakyat Indonesia. Pertama, sebagai
elemen kekuatan pemukul utama TNI, dan seperti yang berlaku di berbagai Negara lain, tidak
boleh ada kesatuan pasukan khusus yang saling tumpang tindih dalam tubuh angkatan
bersenjata.
Artinya, dalam menghadapi perang asimetris serta ancaman terorisme terhadap bangsa dan
rakyat Indonesia, diperlukan suatu upaya untuk melakukan analisis dan prioritas sehingga
tidak terjadi duplikasi dan kesenjangan dalam menjalankan misi ini. Melihat penanganan
serangan terorisme seperti yang terjadi di Mumbai, India, akhir Oktober 2008, penggunaan
satuan antiteror pasukan khusus adalah sesuatu yang mutlak untuk meminimalkan korban
rakyat Indonesia.
Kedua, analisis dan prioritas pemeliharaan dan penggelaran pasukan husus mutlak
dilakukan untuk menyediakan anggaran yang memadai dalam rangka menjadikan Kopassus
sebagai elemen deterrence yang efektif. Harus dipahami bahwa posisi geo-strategi Indonesia
menjadi sangat rawan dan mudah disusupi serta bisa dijadikan sarang terorisme, ketika
kelompok-kelompok teroris yang secara tradisional beroperasi di Negara-negara Timur
Tengah, Asia Selatan, dan Filipina terdesak dalam menghadapi tekanan dari pemerintahnya.
85
Komando Pasukan Khusus (Kopassus)
Redefinisi Peran
Eksistensi Kopassus dalam lingkungan TNI harus dipahami sebagai bagian dari
kekuatan angkatan bersenjata kontemporer dan menjadi produk budaya nasional dan tradisi
militer Indonesia, fenomena global seperti Perang Dingin dan globalisasi, serta perubahan
agenda keamanan menghadapi ancaman terorisme.
Dengan demikian, perubahan-perubahan yang terjadi pada Kopassus dipahami sebagai
akibat dari perbedaan peran tradisional dan peran barunya yang berpengaruh pada struktur
kekuatannya (termasuk doktrin, latihan, dan peralatan), serta adanya perubahan sosiologis
dalam mindset para prajurit korps baret merah tersebut.
Sebelum melangkah maju ke depan, maka pelbagai macam pembenahan harus segera
diselesaikan terlebih dahulu. Salah satu yang utama adalah mengenai ukuran (postur)
Kopassus yang terlalu besar untuk ukuran pasukan khusus/elite serta struktur kepemimpinan
yang tidak tepat, dimana komandan Kopassus seharusnya tidak sampai berpangkat mayor
jenderal.
Pada masa yang akan datang, bersamaan dengan kemajuan teknologi persenjataan dan
teknologi komunikasi informasi, musuh yang dihadapi kekuatan angkatan bersenjata akan
lebih sulit diprediksi, mulai dari negara-bangsa (nation-state) sampai pelaku kriminal
terorisme. Mengembangkan dan memelihara pasukan khusus, terutama Satuan-81
Kopassus yang mengemban misi menyelamatkan bangsa dan rakyat Indonesia dalam
menghadapi ancaman terorisme, mutlak diperlukan dan mendapatkan prioritas pendanaan
sebagai jaminan rasa aman bagi masyarakat. Teknologi persenjataan dan penerbangan pun
harus diremajakan, agar penggelaran satuan antiteror Kopassus menjadi efisien dan efektif
sebagai upaya membangun terbentuknya sebuah demokrasi yang efektif.
Namun demikian, dalam konteks penanganan tindakan terorisme ini, harus diingat bahwa
dalam hal penanggulangan teror dalam sektor keamanan (baik itu dalam arti luas maupun
sempit), saat ini sudah ada satuan Densus 88 milik POLRI yang dimana spesialisasi
kemampuannya memang ditujukan dalam rangka penanggulangan aksi-aksi teror. Kondisi
ini jelas menyiratkan keharusan adanya koordinasi dan pedoman peraturan yang baku, agar
tidak terjadi tumpang tindih dan kesimpangsiuran dalam standard operating procedure
penanganan tindakan terorisme. Hal ini amat penting karena selain TNI-AD, TNI-AL dan TNIAU pun rupanya juga memiliki satuan anti-terornya masing-masing. Apabila hal ini diabaikan,
maka bisa berakibat fatal seperti yang dapat terlihat dari kesimpangsiuran pihak keamanan
di India dalam menangani serangan kelompok teroris di Mumbai.
Perubahan, dengan kata lain, adalah suatu keharusan bagi Kopassus untuk mengoptimalkan
peran dan fungsinya di masa yang akan datang. Perubahan ini mengharuskan Kopassus
mengembangkan suatu hubungan yang lebih dekat dengan rakyat yang menjadi misi
utamanya untuk dilindungi dengan seluruh jiwa dan raga. Artinya, di mana pun bangsa dan
orang Indonesia berada, seperti penyanderaan para pelaut Indonesia oleh kelompok
86
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
perompak Somalia, maka negara wajib menginstruksikan sebuah misi untuk menyelamatkan
mereka.
Pada era reformasi sekarang ini memang tidak terhindarkan peranan pasukan khusus dalam
menjalankan misi operasi militer selain perang (OMSP), condong menjalankan tugas
institusionalisasinya yang mirip dengan tugas kepolisian, termasuk mengemban tugas
kemanusiaan. Keamanan nasional tradisional yang selama ini dianut dalam pemikiran lama
tentang keamanan perlu berubah mengikuti perkembangan reformasi sebagai upaya kita
untuk mengefektifkan demokrasi yang sedang mencari bentuknya.
Perubahan sosiologis pasukan khusus, temasuk Kopassus, harus mampu memberikan
makna dalam upaya kita bersama mengembangkan demokrasi dan memperluas reformasi.
Pasukan khusus Indonesia memiliki sejarah yang panjang bersamaan dengan sejarah
berdirinya republik ini. Ketika republik ini berubah menjadi lebih demokratis, pasukan khusus
pun harus mampu untuk menyesuaikan dirinya, dalam koridor supremasi sipil. Bila itu telah
tercapai, maka wajarlah jika publik bisa berharap bahwa di masa yang akan datang, peluru
yang dimuntahkan dari setiap moncong senjata prajurit Kopassus akan tetapi lebih banyak
tertuju kepada musuh-musuh dari luar, dan bukan lagi kepada sesama anak bangsa ini.<
Kepustakaan
Conboy, Ken. 2003. KOPASSUS Inside Indonesia's Special Forces. Equinox Publishing.
Soempeno, Femi Adi. 2009. Prabowo: Dari Cijantung Bergerak ke Istana. Yogyakarta: Galang
Press.
Subroto, Hendro. 2009. Sintong Panjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando. Jakarta:
Kompas Media Utama.
KOMPAS – Rabu 15 April 2009. MENUJU TERBENTUKNYA DEMOKRASI EFEKTIF oleh: Rene L
Pattiradjawane.
http://id.wikipedia.org/wiki/Komando_Pasukan_Khusus, Diunduh pada Tanggal 23 April
2009 pukul 04.52 WIB.
http://www.globalsecurity.org/military/world/indonesia/kopassus.htm, diunduh pada
tanggal 23 April 2009 pukul 05.05 WIB.
www.forum.kafegaul.com/showthread, diakses pada tanggal 9 Juni 2009 pukul 14.05 WIB.
http://www.freelists.org/post/ppi/ppiindia-Wawancara-Danjen-Kopassus, diunduh pada
tanggal 9 Juni 2009 pukul 16.26 WIB.
http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2009/05/24/kopassus-latihan-bersama-singapura,
diunduh pada tanggal 9 Juni 2009 pukul 17.39 WIB.
87
Komando Pasukan Khusus (Kopassus)
Lampiran 1: Gambaran Postur dan Gelar Kekuatan Kopassus saat ini
Grup Kopassus
Lokasi
Keterangan
S e t i a p p ra j u r i t K o p a s s u s p a d a d a s a r nya
berkualifikasi PARA KOMANDO, dimana semua
anggotanya harus mengikuti latihan terjun payung
dasar/tempur. Jadi pendidikan awal seorang
Kopassus adalah mengambil kualifikasi KOMANDO
yang harus dijalani sekitar 6 bulan, materi latihan
meliputi Perang Hutan, Buru Senyap, Survival
(dilakukan di daerah Situ Lembang dilanjutkan
dengan long march ke Cilacap untuk latihan rawa
laut, survival laut, pendaratan pantai dll.
Selain itu juga mereka harus mengambil pendidikan
PARA DASAR Tempur dengan materi yang meliputi
terjun malam, terjun tempur bersenjata dan
diterjunkan di Hutan (membawa senjata, ransel,
payung utama dan payung cadangan). Dalam
semua latihannya mereka akan menggunakan
peluru tajam, oleh karenanya tidaklah heran bila
hampir dalam setiap latihan selalu ada siswa yang
meninggal dunia karena berbagai sebab (kelelahan,
kecelakaan dll).
Grup 1/Parakomando
(Para Commando)
Serang,
Jawa Barat
Standar yang dipakai di Kopassus sangat amat ketat,
bagi yang fisiknya kurang mampu atau mentalnya
lemah, jangan harap bisa bertahan didalam latihan
ini, atau di Satuan ini. Kesalahan sekecil apapun tidak
akan ditolerir, karena memang tugas mereka sangat
berbahaya. Setiap anggota Kopassus harus memiliki
keahlian khusus seperti menjadi penerjun payung
handal (Combat Free Fall), penyelam, penembak
mahir (sniper), Daki Serbu (seperti kemampuan yang
dimiliki oleh 10th Mountain Division milik US Army),
Komputer /perang elektronika, perang psikologi,
menguasai sedikitnya 2 bahasa daerah bagi para
tamtama dan bintara dan bahasa asing untuk para
perwiranya.
Mereka diseleksi secara ketat, baik oleh Team Kes AD
(Kesehatan), PSIAD (Dinas Psikologi AD) dan Team
Jas AD (Jasmani/Kesemaptaan). Proses seleksi ini
pada dasarnya berjalan terus menerus sampai
dengan selesainya latihan, seorang Pasis (Perwira
Siswa) yang melakukan kesalahan pada hari terakhir
latihan, akan langsung dipecat, artinya tidak ada
kompromi. Oleh karenanyalah, loyalitas terhadap
perintah atasan sangat penting dalam organisasi ini.
Saat ini, baik Grup 1 maupun Grup 2 sama-sama
berkekuatan 3 batalyon.
88
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Grup 2/Parakomando
(Para Commando)
Kartasura,
Jawa Tengah
Grup 3/Pusat
Pendidikan Pasukan
Khusus (Training)
Batujajar,
Jawa Barat
Berfungsi sebagai Pusat Pelatihan (Center of
Training) untuk menggembleng prajurit-prajurit
pilihan TNI-AD yang terpilih menjadi anggota
Cijantung,
Jakarta Timur
Grup ini merupakan orang-orang pilihan dari 3 grup
pertama yang dilatih kembali menjadi berkualifikasi
Intelejen Tempur, dengan tugas menghancurkan
lawan digaris belakang pertahanan lawan
(penyusupan). (Combat Intelligence)
Grup 4/Sandhi Yudha
(Combat Intelligence)
SAT
81/Penanggulangan
Teror(Counterterrorism)
Cijantung,
Jakarta Timur
-idem-
Yang masuk ke dalam Kesatuan ini adalah orangorang pilihan dari Group 4 dan merupakan yang
terbaik yang dimiliki Kopassus. Mereka memiliki
Ksatrian tersendiri di Cijantung dan terisolir.
Klasifikasinya adalah ANTI TERORIS (counterterrorist) dan akan selalu mengikuti perjalanan
kenegaraan Presiden. Pengetahuan orang bahkan
TNI sendiri tentang Grup ini sangat minim, karena
mereka sangat terisolir dan rahasia. Sebuah sumber
mengatakan bahwa mereka mengikuti pola GSG 9
Jerman (Pasukan elite polisi Jerman yang berhasil
dalam pembebasan sandera di Kedutaan besar
Jerman di Iran) mengingat Prabowo adalah satusatunya Perwira Indonesia yang pernah lulus dalam
pendidikan anti teroris di GSG 9, namun demikian
saat ini mereka sudah mulai mencampurkan pola
latihannya sehubungan dengan banyaknya perwira
yang dilatih oleh US Army's Special Forces alias
Green Berets (misalnya Mayjen Syafrie Syamsudin).
Selain itu, peralatan yang mereka miliki sangat
canggih dan tidak ada bedanya dengan satuan elite
tentara lainnya di dunia.
Sumber: www.forum.kafegaul.com/showthread
89
Komando Pasukan Khusus (Kopassus)
Lampiran 2. Daftar Komandan Kopassus
Daftar Komandan Kopassus dari Waktu ke Waktu
Nama
Mayor Moch. Idjon Djanbi
Periode
1952-1954
(Rokus Bernadus Visser)
Keterangan
Memimpin dari sejak masih bernama
Kesatuan Komando Tentara
Territorium III/Siliwangi (Kesko TT)
hingga berubah menjadi RPKAD
Mayor RE Djailani
195-19??
-
Mayor Kaharuddin Nasution
19??-19??
-
Mayor Mung Parhadimulyo
1958-1964
Kolonel Sarwo Edhie Wibowo
1964-1967
Brigadir Jenderal Widjoyo Suyono
1967-19
Brigadir Jenderal Witarmin
? - ?
Brigadir Jenderal Yogie SM
Mei 1975-April
1983
Memimpin RPKAD hingga
menjadi Puspassus TNI-AD
Pada 1971 Puspassus TNI-AD
berubah menjadi Kopassandha
-
Brigadir Jenderal Wismoyo Arismunandar April 1983-Mei
1985
Reorganisasi
Kopassandha ke
Mei
1985-Agustus
Brigadir Jenderal Sintong Panjaitan
Kopassus
1987
Agustus 1988-Juli
Brigadir Jenderal Kuntara
1992
Brigadir Jenderal Tarub
Juli 1992-Juli 1993
Brigadir Jenderal Agum Gumelar
Brigadir Jenderal Subagyo HS
Mayor Jenderal Prabowo Subianto
Mayor Jenderal Muchdi PR
Mayor Jenderal Syahrir MS
Mayor Jenderal Amirul Isnaini
Mayor Jenderal Sriyanto
Mayor Jenderal Syaiful Rizal
Mayor Jenderal Rasyid Qurnuen Aquary
Juli 1994 September 1995
September 1995Desember 1995
Desember 1995- Agustus 1996 Brigadir Jenderal
ke Mayor Jenderal
Maret 1998
Maret 1998-Mei
1998
1998-2000
1 Juni 2000-2002
2002-15 Februari
2005
15 Februari 2005- 2006
Agustus 2006-
Mayor Jenderal Soenarko
September 2007
4 September 2007
- Juli 2008
Mayor Jenderal Pramono Edhie Wibowo
1 July 2008 sekarang
-
90
KOSTRAD
KOSTRAD
Aris Santoso1
Pendahuluan
Bila membahas Kostrad, satu pertanyaan yang acapkali muncul adalah: masih
tepatkah status cadangan melekat pada Kostrad pada masa kini? Munculnya pertanyaan ini
menjadi wajar, bila kita bandingkan, antara Kostrad saat didirikan dulu yaitu pada 6 Maret
1961, dengan kondisi sekarang. Saat didirikan, memang sesuai kalau status Cadangan
melekat pada Kostrad. Karena pada saat itu satuan tempur yang berada di bawah kendalinya
secara penuh, hanya setingkat satu brigade infanteri. Pada masa itu, jika Kostrad akan
menggelar operasi skala besar (di atas satu brigade infanteri), Kostrad harus “meminjam”
satuan tempur di bawah Kodam yang ada (istilah teknis militernya: BKO ke Kostrad). Karena
pada saat baru berdiri, status Kostrad merupakan satuan rangka (skeleton), yang secara
organik belum banyak membawahi satuan tempur infanteri, maupun satuan bantuan
tempur (banpur) dan bantuan administrasi (banmin).
Di masa awal berdirinya dulu, satuan yang langsung di bawah komando Kostrad, baru satu
brigade, yaitu Brigif 3/Para (bedakan dengan Brigif Linud 3/Tri Budi Mahasakti Kostrad di
Makassar). Brigif 3/Para terdiri dari Yonif 328/Para Kujang II (“dipinjam” dari Kodam Siliwangi),
Yonif 454/Banteng Raider (“dipinjam” dari Kodam Diponegoro, sempat berganti nama Yonif
401/Banteng Raider, kini Yonif 400/Raiders), dan Yonif 530/Para Bajra Yudha (“dipinjam” dari
Kodam Brawijaya, kini berubah nama menjadi Yonif Linud 501/Bajra Yudha). Untuk melihat
dislokasi kesatuan Kostrad secara lengkap lihat tabel 1, 2 dan 3 di halaman berikutnya.
Karena tidak ada satuan yang secara organik berada di bawah komando Kostrad. Kita bisa
paham, bila saat dibentuk dulu Kostrad memang benar-benar berstatus cadangan. Tentu
beda dengan keadaan sekarang (terutama saat Orde Baru), di mana kemudian Kostrad
banyak “mengakuisisi” satuan-satuan terbaik dari Kodam-Kodam di Jawa. Walaupun kini
status Cadangan mungkin kurang relevan bagi Kostrad, namun sebutan “Cadangan” bisa jadi
akan terus dipakai, berdasar pertimbangan nilai historis sebutan tersebut. Di sinilah
menariknya, sebutan “Cadangan” sudah menjadi realitas sejarah, dan memiliki nilai yang
terlampau tinggi, untuk dihapus begitu saja dari akronim Kostrad.
Kalau kita lihat, acapkali terjadi, satuan-satuan di bawah Kostrad adalah yang paling awal
dikirim, ke daerah trouble spot. Terlebih lagi kini Kostrad memiliki wewenang membina dan
menerjunkan satuan-satuan yang setiap saat siap berangkat ke daerah operasi, dalam waktu
relatif singkat, yang biasa dikenal sebagai PPRC (Pasukan Pemukul Reaksi Cepat). Karena pada
banyak kasus, satuan tempur setempat (Yonifter) acapkali kewalahan mengatasi problem
wilayahnya, maka satuan-satuan di bawah Kostrad yang kemudian diterjunkan pada
kesempatan pertama.
1
Aris Santoso, peneliti ISAI.
91
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Kondisi yang hampir sama terjadi pada satuan andalan di bawah Kostrad, yaitu Brigif Linud
17/Kujang I (berdiri 20 Mei 1966), yang bermarkas di Cijantung, Jakarta Timur. Sebutan
Kujang I pada satuan ini, sebenarnya adalah julukan saat satuan tersebut masih organik
Kodam III/Siliwangi. Ketika komando satuan ini dialihkan ke Kostrad tahun 1969, maka satuan
ini memperoleh julukan baru pula: Sakti, Budi, Bakti. Namun karena julukan Kujang I sudah
demikian melegenda dan memiliki nilai sejarah tersendiri, maka dalam sehari-hari, tetap saja
julukan Kujang I yang dipakai. Dan banyak orang yang tidak mengetahui julukan baru
tersebut.
Sebutan divisi pada Kostrad juga hampir sama riwayatnya. Pada awal berdirinya, istilah divisi untuk menyebut satuan di bawah Kostrad - sempat digunakan, meski hanya untuk sementara
waktu. Sebutannya kemudian diganti menjadi Kopur (Komando Tempur), meski dalam
kenyataannya, struktur satuannya tetap merupakan sebuah divisi juga. Oleh karena itu,
dalam waktu yang lama, di bawah Kostrad terdapat dua Kopur: Kopur Linud dan Kopur II.
Baru pada tahun 1985, ketika Panglima TNI Jenderal L.B. Murdani dan KSAD Jenderal TNI
Rudini, mengadakan reorganisasi dan validasi besar-besaran satuan-satuan TNI, tak
terkecuali Kostrad, istilah divisi secara resmi kembali digunakan. Sejak saat itu, Kopur Linud
berubah menjadi Divisi Infanteri 1 Kostrad bermarkas di Cilodong, Bogor dan Kopur II
menjadi Divisi Infanteri 2 Kostrad di Singosari, Malang.
Tabel 1. Divisi Infanteri 1 Kostrad (Mako Cilodong, Bogor)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12
13.
92
Nama Kesatuan
Brigif Linud 17/Kujang I
a. Yonif Linud 305
b. Yonif Linud 328
c. Yon if Linud 330
Brigif 13/Galuh
a. Yonif 303
b. Yonif 321
c. Yonif 323/Raiders
Menarmed 2
a. Yonarmed 10/105
b. Yonarmed 13/76
c. Yonarmed 9/76
Yonarhanudri 1
Yonkav 1/Tank
Yonzipur 9/Para
Kikavtai 1
Ki Hub
Yonkes
Yon Bekang 1
Ki Bengharlap 1
Ki Pom Divif 1
Ajen Divif 1
Lokasi
Cijantung, Jakarta Timur
Teluk Jambe, Karawang
Cilodong, Bogor
Cicalengka, Bandung
Tasikmalaya
Garut
Majalengka
Banjar, Ciamis
Sadang, Purwakarta
Ciluar, Bogor
Cikembang, Sukabumi
Sadang, Purwakarta
Serpong, Tangerang
Cijantung, Jaktim
Ujungberung, Bandung
Cijantung, Jaktim
Ciluar, Bogor
Ciluar
Cibinong
Cilodong
Ciluar
Cilodong
KOSTRAD
Tabel 2. Divisi Infanteri 2 (Mako Singosari, Malang)
Nama Kesatuan
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
Brigif Linud 18/Trisula
a. Yonif Linud 501
b. Yonif Linud 502
c. Yonif Linud 503
Brigif 6
a. Yonif 411
b. Yonif 412/Raiders
c. Yonif 413
Brigif 9
a.Yonif 509
b.Yonif 514
c.Yonif 515
Menarmed 1
a.Yonarmed 8
b.Yonarmed 11
c.Yonarmed 12
Yonarhanudri 2
Yonkav 8/Tank
Yonzipur 10
Kikavtai 2
Kihub Divif 2
Kikeslap 2
Kibekang 2
Ki Bengharlap
Ki Pom Divif 2
Ajen Divif 2
Lokasi
Malang
Madiun
Malang
Mojokerto
Solo
Salatiga
Purworejo
Solo
Jember
Jember
Bondowoso/Situbondo
Tanggul, Jember
Malang
Jember
Magelang
Ngawi
Malang dan Ngawi
Sidoarjo
Pasuruan
Singosari, Malang
Singosari
Singosari
Malang
Singosari
Lawang
Singosari, Malang
Tabel 3. Kesatuan Langsung di bawah Markas Kostrad
Nama Kesatuan
1
2
Brigif Linud 3
a. Yonif Linud 431
b. Yonif Linud 432
c. Yonif Linud 433
Detasemen Intel
Lokasi
Makasar
Makasar
Makasar
Jakarta
93
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Wacana Pembentukan Divisi Infantri 3
Berbicara tentang Kostrad pada hari-hari ini, tidak dapat dilepaskan dari isu mutakhir,
yaitu soal rencana pembentukan Divisi Infanteri 3 (Divif 3). Pada akhir Februari 2009 yang lalu,
Pangkostrad Letjen TNI George Toisutta membuka wacana kembali tentang rencana
pembentukan Divisi Infanteri 3 Kostrad.2 Divisi Infanteri 3 rencananya akan berdiri pada pada
tahun 2025, dengan Kota Sorong, Papua yang diproyeksikan sebagai markas komando. Divisi
ini rencananya berintikan Brigade Infanteri Lintas Udara (Brigif Linud) 3/Tri Budi Mahasakti
Kostrad (Makasar), yang sudah berdiri sejak tahun 1985, hasil reorganisasi dari Grup 3
Kopassandha (sekarang Kopassus). Sedang untuk satuan lintas medan (infanteri biasa),
sedang disiapkan Brigif 22 di Gorontalo, dan tiga bataliyon di bawahnya, termasuk persiapan
fasilitas pendukung, seperti markas dan perumahan bagi anggota.3 Kabar terakhir
menyebutkan, pada bulan Juli ini, telah dimulai pengisian personel untuk tiga yonif di bawah
Brigif 22 (Yonif 221, Yonif 222, Yonif 223), dan Yon Armed 19/105, di mana penempatan
mereka lebih bertujuan untuk pemeliharaan infrastruktur yang telah dibangun sepanjang
tahun 2009 ini.4
Bagi sebagian pengamat, rencana pembentukan Divif merupakan peristiwa penting,
mengingat satuan setingkat divisi adalah satuan tempur skala besar (kisaran 12.000
personel). Dengan kata lain, program tersebut pada gilirannya juga sebuah program skala
besar. Mungkin karena tertutup dengan pemberitaan seputar pemilu, sehingga berita
seputar rencana pembentukan divif, lepas dari perbincangan publik. Coba bandingkan
dengan berita soal bentrok fisik antara anggota TNI dan polisi, misalnya, yang sebetulnya
lebih pada soal perilaku oknum anggota, terkesan lebih menarik perhatian publik dan media.
Ini juga tampak dari sikap media sendiri, bahwa statemen sepenting Pangkostrad tersebut di
atas, tidak dimuat di halaman utama sebuah harian nasional.
Rencana pembentukan Divif 3 menjadi isu menarik, karena di lingkungan TNI AD sendiri,
wacana ini sempat mengalami pasang surut. Dalam catatan yang terhitung baru, gagasan ini
muncul kembali saat Pangkostrad dijabat oleh Letjen TNI Hadi Waluyo (menjabat November
2004 – Mei 2006). Kemudian Letjen TNI Erwin Sujono (menjabat Mei 2006 – November 2007)
sebagai Pangkostrad yang menggantikan Letjen TNI Hadi Waluyo, pada prinsipnya juga
setuju dengan pembentukan Divif 3, hanya saja aspirasinya tidak sempat tersampaikan ke
publik. Tanda persetujuan Erwin tentang pembentukan Divif 3, salah satunya dituangkan
dalam sebuah makalah untuk kalangan terbatas.
Wacana tentang pembentukan Divif 3 pernah menjadi semacam polemik di internal TNI AD,
khususnya saat Pangkostrad masih dijabat Letjen TNI Hadi Waluyo. Pada sebuah kesempatan,
2
3
4
5
6
7
8
Kompas, 23 Februari 2009
www.antara.co.id, 18 Desember 2008, pukul 13.42 WIB
www.tniad.mil.id, 10 Juli 2009, pukul 08.49 WIB
Kompas, 17 Maret 2005
www.tni.mil.id, 19 Desember 2006, pukul 16.08 WIB
www.tempointeraktif.com, 24 November 2005, pukul 01.22 WIB
Koran Tempo, 3 Desember 2005.
94
KOSTRAD
selaku Pangkostrad, Hadi Waluyo melontarkan kembali gagasan tersebut. Dan hanya dalam
hitungan hari, Panglima TNI (saat itu) Jenderal Endriartono Sutarto langsung membatalkan
rencana tersebut. 8 Pada kesempatan itu Jenderal Sutarto menyatakan, masalah Papua lebih
ke soal politik, bukan keamanan. Selanjutnya Jenderal Sutarto mengatakan: “Kalau tidak ada
anggarannya, mau bikin markas pakai batok?....Kostrad kan tidak bisa menentukan dirinya
sendiri.”
Beberapa bulan kemudian, di tengah acara peringatan hari jadi Ke-45 Divif 2/Kostrad (27 April
2006), giliran Letjen Hadi Waluyo sendiri yang membatalkan rencana pembentukan Divif 3. 9
Hadi Waluyo antara lain menyatakan: “Kita tidak usah memaksakan diri membangun
kekuatan itu (Divif 3 – penulis), karena saat ini negara masih memiliki prioritas-prioritas
pembangunan lainnya.” Perubahan sikap Hadi Waluyo ini bisa jadi dilatarbelakangi, selain
tidak adanya dukungan dari Panglima TNI, juga karena telah lengsernya Jenderal Ryamizard
selaku KSAD (2002-2005), yang sebelumnya mendukung pembentukan Divif 3, bahkan sejak
Ryamizard menjabat Pangkostrad (2000-2002).10
Setelah setahun lebih wacana ini tenggelam, dukungan pembentukan Divif 3 kembali
muncul, kali ini datang dari KSAD Jenderal Djoko Santoso (kini Panglima TNI), dalam acara
sertijab Danjen Kopassus (12 September 2007): “Kalau memang ada dukungan dana, sekitar
tahun 2014 mudah-mudahan Divisi Infanteri-3 Kostrad akan terbentuk. Negara yang paling
liberal sekalipun membutuhkan angkatan perang yang kuat," jelasnya.11
Setelah tiga Pangkostrad terakhir (Hadi Waluyo, Erwin Sujono dan George Toisutta) sepakat
tentang pembentukan Divif 3, akankah suatu saat Divif 3 benar-benar akan terwujud, meski
ada dua versi soal proyeksi tahun pembentukan (2014 dan 2025)? Pertanyaan berikutnya,
bagaimana relevansi pembentukan Divif 3 dalam konteks masyarakat dan lingkungan
strategis sekarang?
Antara Korps dan Divisi
Satuan tempur - khususnya pada kecabangan infanteri - mengacu pada jumlah personel,
mulai satuan terkecil, yaitu regu, peleton, kompi, bataliyon, brigade, hingga satuan besar
setingkat divisi infanteri. Pada masa-masa awal kemerdekaan, ketika TNI masih dalam taraf
mencari sistem atau konsep dalam formasi pasukan, yang acapkali dijadikan acuan adalah
model tentara Belanda (KNIL) atau Jepang (PETA). Namun seiring dengan berjalannya waktu,
yang kemudian lebih sering dijadikan acuan, adalah model tentara Amerika (US Army). 12
9 Kompas, 28 April 2006
10 Menurut Letjen (Purn)
Kiki Syahnakri (Akmil 1971, mantan WAKSAD periode 2000-2002), saat Jenderal E
Sutarto menjabat KSAD (2000-2002), dia juga membatalkan program pembentukan Divif 3, lebih karena
ketiadaan anggaran. Namun program ini dihidupkan lagi oleh Jenderal Ryamizard, KSAD pengganti Jenderal E
Sutarto (wawancara dengan Letjen Purn Kiki Syahnakri, 6 Mei 2009). Pada prinsipnya Kiki sendiri setuju
pembentukan Divif 3, lihat Kiki Syahnakri, Aku Hanya Tentara, Jakarta: Kompas, 2009, hal 52-57.
11 www.detik.com, 12 September 2007, pukul 17.45 WIB. Target waktu yang disampaikan Letjen Hadi Waluyo
juga tahun 2014.
12 Contoh mutakhir adalah rencana menjadikan Yonif 201/Jaya Yuda sebagai bataliyon mekanis.
95
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Begitu pula yang terjadi pada Kostrad, dalam konsepnya saat didirikan dulu, Kostrad
dibentuk sebagai satuan setingkat corps (korps), yaitu satuan di atas divisi. Dalam konsep
yang umum (terutama di AS), berlaku konsep gugus kendali segitiga (triangle), artinya satuan
komando di atas membawahi tiga satuan di bawahnya. 13 Seperti korps misalnya, akan
membawahi (setidaknya) tiga divisi, kemudian divisi membawahi tiga brigif, dan brigif
membawahi tiga yonif, begitu seterusnya. Bahkan di AS, masih dikenal satuan di atas korps,
yang disebut army, yang berarti – setidaknya - membawahi tiga korps.
Mengapa banyak mengadopsi konsep dari US Army? Sebagian karena pengaruh Jenderal
Ahmad Yani, figur yang banyak memberikan sumbangsih pemikiran bagi pembentukan
Kostrad, yang kebetulan memang alumnus Seskoad di Amerika (Fort Leavonworth, Kansas).14
Saat mengikuti pendidikan di Amerika pada pertengahan 1950-an itulah, Jenderal Yani
sangat terkesan dengan divisi lintas udara (linud) AS, yang legendaris, masing-masing adalah
Divisi Linud 82 “All Americans” dan Divisi Linud 101 “Screaming Eagle”. Performa dua satuan
inilah yang menginspirasikan Jenderal Ahmad Yani, saat akan membentuk satuan skala besar
dalam rangka merebut Irian Barat. Perlu ditambahkan, dua divisi linud tersebut tergabung
dalam XVIII Airborne Corps, yang bermarkas Fort Bragg, Carolina Utara, sebuah pangkalan
militer (ksatrian atau barak) yang juga sempat dikunjungi Jenderal Yani.15
Pemikiran Yani (saat itu selaku Deops KSAD) tentang pembentukan Kostrad, kemudian
bersinergi dengan pemikiran KSAD Jenderal AH Nasution. Sementara Nasution sendiri
merujuk kembali pada konsep lamanya, yang pernah membentuk satuan “cadangan”
menjelang Agresi Militer II tahun 1948, satuan ini kemudian dikenal sebagai KRU (Kesatuan
Reserve Umum). KRU berintikan batalyon-batalyon yang berasal dari Divisi Siliwangi (Jabar),
yang terpaksa hijrah ke Jateng-Yogya, sebagai konsekuensi Perjanjian Renville.16 Konsep KRU
ini mirip dengan gagasan yang melatarbelakangi pembentukan Kostrad di kemudian hari.
Intinya, KRU diasumsikan sebagai satuan yang lebih terlatih (dibanding satuan infanteri
reguler lainnya), dan langsung di bawah kendali MBAD, karenanya didisain bersifat mobil
dan berstatus cadangan (reserve).
Bila kita telusuri sebutan awal Kostrad saat didirikan pada awal Maret 1961, sebelum
memperoleh nama Kostrad, awalnya bernama Korra I/Tjaduad (Korps Tentara I/Cadangan
Umum AD).17 Dari sebutan Korra I/Tjaduad tersebut, jelas terlihat jejak para konseptornya
13 Wawancara dengan Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zen (Akmil 1971, mantan Pangdiv 2 Kostrad dan Kas Kostrad) , 7
Mei 2009. Informasi tentang istilah triangle juga berasal dari Kivlan. Dalam konsep US Army, satu korps minimal
membawahi tiga divisi, ditambah satuan-satuan pendukung sebagai bantuan tempur (banpur). Konsep divisi
infanteri generik TNI AD bisa dilihat dalam Vademikum Seskoad, penerbit Seskoad, cetakan keempat (Bandung:
1997), hal 379-391.
14 Informasi tentang peran Jenderal Yani, diperoleh dari pembicaraan informal dengan Letjen TNI (Purn)
Himawan Soetanto (mantan Pangkostrad 1974-1975), Brigjen Purn Soehario Padmodiwirjo (Haryo Kecik,
mantan Pangdam Mulawarwan 1960-an), dan Atmaji Sumarkidjo (wartawan senior masalah TNI), jauh hari
sebelum proyek penelitian Divif 3 ini dilakukan.
15 Daftar lengkap satuan di bawah US Army, lihat The New York Times 2004 Almanac, Penguin (2003), chapter
National Defense, hal 148-149
16 Pembahasan tantang KRU ini bisa dilihat dalam
17 Sejarah berdirinya Korra I/Tjaduad dan Kostrad, lihat Tiga Puluh Tahun Divif 2/Kostrad 1961-1991, Malang :
Mako Divif 2/Kostrad, 1991.
96
KOSTRAD
(Yani dan Nasution). Istilah Korra merujuk pada pemikiran Yani, bahwa besaran satuan ini
setingkat korps. Kemudian istilah Tjaduad, merujuk pada pemikiran Nasution, sebagaimana
KRU dulu, bahwa satuan ini berstatus “cadangan” dan bersifat mobil. Kalau kemudian
namanya berganti menjadi Kostrad, secara implisit tidak mengurangi semangat konsep
awalnya, sebagai satuan setingkat korps dan tetap berstatus “cadangan”.
Faktor Ancaman dan Figur Pimpinan
Perlu tidaknya pembentukan divif (baru), tergantung bagaimana rencana strategis
pertahanan, sesuai rumusan Dephan dan Mabes TNI, sebagai institusi yang memiliki otoritas
hal tersebut. Bila diingat keterbatasan kemampuan koter (seperti kodam) dalam
menghadapi serangan dengan intensitas tinggi dari luar, bisa jadi pembentukan divif
merupakan langkah yang rasional. Selain sebagai satuan pemukul reaksi cepat skala besar,
dalam situasi normal (baca: damai), divif memiliki aspek pencegahan (deterrent) tentang
kemungkinan infiltrasi dari luar.
Ini juga sesuai dengan prediksi TNI sendiri. Dalam dokumen Rencana Sasaran Strategis TNI
1999 – 2003, dikatakan bahwa kondisi keamanan dalam negeri sangat ditentukan
kemampuan pemerintah dalam menangani konflik vertikal maupun horisontal, di berbagai
daerah.18 Bagi TNI, berbagai konflik di daerah merupakan ancaman serius bagi integrasi
nasional. Satuan-satuan tempur di bawah Divisi Infanteri, kiranya bisa dikirim ke daerah
konflik dalam waktu cepat, untuk menghindari perluasan daerah konflik.
Dalam “Buku Putih Pertahanan” (2003), disebutkan, kecil kemungkinannya terjadi invasi atau
agresi militer negara lain terhadap Indonesia.19 Upaya diplomasi dan pembentukan opini di
dunia internasional, menjadi faktor yang akan mencegah, atau setidaknya membatasi negara
lain untuk menggelar perang terbuka. Secara kebetulan, saat laporan ini ditulis, kasus blok
Ambalat (Kaltim) muncul kembali, berupa provokasi dari kapal perang Malaysia. Kasus ini
sempat memanas, hingga Panglima TNI sempat melontarkan wacana tentang kesiapan
perang (terbuka), tentu saja itu lebih berupa gertakan, karena tak seorang pun yakin, bahwa
perang dimaksud benar-benar terjadi. Isu Ambalat menjadi semakin kompleks, karena juga
menjadi bahan kampanye para capres-cawapres yang akan berlaga pada pilpres Juli 2009.
Yang ingin kami katakan, provokasi semacam itulah yang paling mungkin terjadi, bila terjadi
konflik antarnegara, khususnya di kawasan Asia Tenggara.
Bila kemudian dihubungkan dengan rencana pembentukan Divif 3 lebih kepada upaya
penangkalan (deterrent effect), program itu sebenarnya telah menemukan pijakannya.
Terlebih bila kita ingat tentang kriteria ancaman, yang dikeluarkan institusi yang berwenang,
dalam hal ini Dephan dan Mabes TNI, yang rumusannya bersifat generik. Maksudnya, dalam
waktu berkala (umumnya tiap lima tahun) kriteria ancaman yang dimunculkan, tidak ada
perubahan yang signifikan. Karena bersifat generik, kriteria itulah yang kemudian diadopsi
oleh institusi atau komando pelaksana di bawahnya.
18
19
Rencana Sasaran Strategis TNI VI Tahun 1999-2003, Jakarta: Mabes TNI, 2001, hal 4-5.
Mempertahankan Tanah Air Memasuki Abad 21, Jakarta: Dephan RI, 2003, hal 39-43
97
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Ancaman yang bersifat generik itu jugalah yang kemudian dijadikan argumentasi Letjen TNI
Erwin Sujono, tentang perlunya pembentukan Divif 3 untuk proyeksi penugasan di kawasan
timur Indonesia. 20 Ancaman yang bersifat generik dimaksud, antara lain adalah:
a. Terorisme internasional yang memiliki jaringan lintas negara dan timbul di dalam negeri.
b. Munculnya Gerakan Separatisme yang berusaha memisahkan diri dari Negara Kesatuan
Republik Indonesia, terutama gerakan separatis bersenjata yang mengancam kedaulatan
dan keutuhan wilayah Indonesia, seperti yang terjadi di wilayah Provinsi NAD, Papua dan
Maluku.
c. Aksi radikalisme yang berlatar belakang primordial etnis, ras dan agama serta ideologi di
luar Pancasila, baik berdiri sendiri maupun memiliki keterkaitan dengan kekuatankekuatan di luar negeri.
d. Konflik komunal, kendati pun bersumber pada masalah sosial ekonomi, namun dapat
berkembang menjadi konflik antar suku, agama maupun ras dalam skala yang luas.
e. Kejahatan lintas negara, seperti penyelundupan barang, senjata, amunisi, dan bahan
peledak, penyelundupan manusia, narkoba, pencucian uang dan bentuk-bentuk
kejahatan terorganisir lainnya.
f. Kegiatan imigrasi gelap yang menjadikan Indonesia sebagai tujuan maupun loncatan ke
luar negeri.
g. Gangguan keamanan laut, seperti pembajakan dan perampokan, penangkapan ikan
secara ilegal, pencemaran dan perusakan ekosistem.
h. Gangguan keamanan udara, seperti pembajakan udara, pelanggaran wilayah udara dan
terorisme melalui sarana transportasi udara.
Dari sekian ancaman generik itu, mungkin hanya poin (b) dan (c) yang berkaitan langsung
dengan lingkup penugasan Kostrad, setidaknya berdasarkan pengalaman selama ini,
sementara selebihnya, kiranya menjadi wewenang institusi lain, seperti Polri, aparat imigrasi,
aparat bea cukai, dan seterusnya. Ini artinya, keterkaitan antara ancaman dengan rencana
pembentukan Divif 3, menjadi sangat longgar. Bahkan bisa dikatakan, ada atau tidak ada
ancaman tersebut, Divif 3 tetap akan didirikan.
Masalah utamanya hanyalah soal anggaran.21 Kalau kita ingat kembali tentang konsep gugus
kendali segitiga (triangle), gagasan pembentukan Divif 3 senantiasa hidup, guna melengkapi
dua divif yang sudah lebih dulu aktif. Kalau boleh memakai metafora dalam perilaku manusia,
pembentukan Divif 3 telah menjadi obsesi (khususnya) di lingkungan AD. Saat menjabat
20
Erwin Sujono, “Sistem Penyelenggaraan Operasi Kostrad”, lihat www.tni.mil.id, 19 Desember 2006, pukul
16.08 WIB
21 Menurut seorang pamen Kostrad, yang menjabat sebagai Pabandya Ren, pada dasarnya Kostrad tidak
memiliki anggaran yang otonom, jadi tergantung alokasi anggaran dari komando atau institusi di atasnya,
dalam hal ini Mabes AD. Termasuk anggaran untuk membangun infrastruktur Divif 3, juga berasal dari alokasi
Mabes AD. Saal berapa jumlah anggaran yang diperlukan untuk membangun infrastruktur dimaksud,
setidaknya dalam kisaran berapa, narasumber kami keberatan untuk mengatakannya (wawancara dengan
seorang Pamen Kostrad, Akmil 1990-an, pangkat letkol, 2 Juni 2009).
98
KOSTRAD
KSAD, Jenderal TNI Djoko Santoso (kini Panglima TNI) pernah menyatakan, gagasan
pembentukan Divif 3 Kostrad, sudah muncul sejak tahun 1980-an.22
Ada faktor lain yang sebenarnya turut andil dalam merealisasikan pembentukan satuan
(baru), namun jarang dibahas secara terbuka, yakni kehendak kuat unsur pimpinannya.
Pengalaman selama ini telah cukup memberi pelajaran, bahwa figur pimpinan turut
menentukan, terbentuk tidaknya embrio sebuah satuan. Fenomena dominannya peran
pimpinan, bisa dirujuk pada model kepemimpinan tradisional, yang memang masih
mengakar dalam masyarakat kita, dan karenanya menjadi sulit mencari alasan logisnya,
mengingat parameternya juga masih samar. Dalam sebagian masyarakat kita, masih
terdapat pandangan, pemimpin adalah panutan, yang segala kehendaknya harus bisa
diwujudkan, termasuk pimpinan di kalangan militer. Begitu pun pimpinannya, bagaimana
determinasi dan sumberdaya pimpinan yang bersangkutan, ikut berbicara dalam upaya
mewujudkan kehendak, termasuk kehendak membentuk sebuah satuan (baru). Soal
determinasi dan sumberdaya inilah, yang menjadi kunci performa seorang pimpinan, dan
pada gilirannya menjadi faktor penanda, antara figur pemimpin yang satu dengan figur
pemimpin lainnya.
Bila kita telusuri sejarah TNI AD, kita menemukan beberapa figur kuat, dalam arti saat menjadi
komandan, banyak karya, baik yang bersifat pemikiran maupun (terutama) fisik, yang telah
dihasilkannya. Dari segi waktu, ada pengalaman yang relatif masih baru, soal bagaimana
peran pimpinan, sekadar contoh kita bisa menyebut dua nama mantan Pangkostrad:
Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu dan Letjen TNI (Purn) Prabowo Subianto. Berdasar
pengamatan pribadi, dua figur ini bila memiliki gagasan, pada umumnya bakal terwujud.
Rentang waktu yang dibutuhkan, sejak gagasan itu dilontarkan, hingga benar-benar
terwujud, relatif cepat secara umum tidak sampai setahun.
Saat menjabat Pangkostrad (2000 – 2002), Ryamizard menelurkan program pembentukan
satuan Tontaipur (peleton intai tempur). Dan kebiasaan Ryamizard dalam mewujudkan
gagasan, berlanjut ketika menjadi KSAD, antara lain dengan membentuk batalyon raiders
“gaya baru” (bedakan dengan raiders era Pangab Jenderal M. Jusuf dulu). Sementara
Prabowo, mengingat masa jabatannya sebagai Pangkostrad tergolong singkat, untuk
sementara belum ada catatan yang bisa diutarakan. Namun track record-nya saat menjadi
Danjen Kopassus (Desember 1995-Maret 1998), bisa menjelaskan itu. Salah satu program
skala besar yang lahir dari tangan Prabowo adalah reorganisasi Kopassus. Ada pula proyek
lain, meski kemudian tidak berlanjut, yaitu rintisan pembentukan batalyon mekanis, yaitu
satuan infanteri yang didukung panser ringan. Kemudian merintis pembentukan skadron
helikopter, untuk keperluan operasi mobud (mobil udara).
Agenda RSK Untuk Kostrad
Sebagaimana diketahui, Kostrad memiliki dua garis komando atas, itu berkenaan dengan
posisi Kostrad, masing-masing sebagai Kotama (Komando Utama) Pembinaan dan Kotama
22
www.detik.com, 12 September 2007, pukul 15.45 WIB
99
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Operasional. Sebagai Kotama Pembinaan, Kostrad berkedudukan di bawah KSAD, sementara
sebagai Kotama Operasional, Kostrad berkedudukan di bawah Panglima TNI. Dalam konteks
posisi Kostrad, dengan dua garis komando seperti itu, bagaimana kira-kira konsep Reformasi
Sektor Keamanan (RSK) mesti dijalankan. Kalau kita kembalikan pada posisi Kostrad, maka
perlu dilihat pula, sudah sejauh mana RSK dijalankan di tingkat Mabes AD, dan Mabes TNI
(tempat Panglima TNI berkedudukan).
Terlepas dari itu, tanpa perlu menunggu tuntasnya proses RSK pada komando atas Kostrad,
ada satu komponen dari RSK, yang langsung bisa diuji atau diterapkan pada satuan
pelaksana, seperti Kostrad ini. Komponen ini bisa menjadi parameter untuk menilai
keberhasilan program RSK, yakni terwujudnya profesionalisme aktor pelaksana, dalam hal ini
TNI, dan lebih khusus lagi adalah Kostrad. Profesionalisme di sini bukan sekadar pada aspek
teknis, namun juga mencakup pengembangan doktrin, patuh pada hukum, dan komitmen
pada prinsip-prinsip demokrasi khususnya tunduk pada otoritas sipil yang dipilih dalam
pemilu demokratis.
Dapat dikatakan tujuan utama dari RSK adalah untuk membangun institusi yang profesional,
dan berada di bawah kontrol sipil secara obyektif dan efektif, sehingga dapat berfungsi
dengan baik dalam menjamin dan menciptakan keamanan bagi masyarakat atau negara,
yang pada gilirannya menciptakan situasi kondusif bagi berlanjutnya proses
pembangunan.23 Untuk pengembangan profesionalisme militer, perlu dilakukan agenda
sebagai berikut :
1. Melaksanakan amanat UU TNI yang telah disahkan oleh DPR.
2. Penegakan disiplin di lingkungan prajurit TNI.
3. Meningkatkan jaminan kesejahteraan bagi para prajurit TNI dan anggota Polri. Ini
merupakan agenda prioritas, mengingat mengharapkan profesionalisme militer dan
polisi tanpa disertai pemenuhan kesejahteraan, adalah hal yang tidak realistis.
Untuk pemangku kepentingan (stakeholder) yang lain, dalam hal ini Dephan (selaku penentu
kebijakan) memiliki agenda tersendiri.24 Pertama, mengenai hubungan Dephan dan Mabes
TNI, yang masih membutuhkan kejelasan dalam tatanan operasional. Kedua, perlu adanya
pembangunan postur pertahanan yang sejalan dengan kebutuhan, tantangan, dan
ancaman yang dihadapi dalam lima tahun mendatang (dan selalu di-up date). Ketiga, untuk
peningkatan kekuatan, program pemerintah perlu diarahkan menuju modernisasi alutsista.
Dalam hal ini peningkatan kemampuan, khususnya mobilitas, pengintaian dan
penginderaan, serta kemampuan menghadapi konflik intensitas rendah (low intensity
conflict). Sementara dalam hal penggelaran kekuatan, sudah saatnya disusun rencana
penggelaran yang mengarah kepada terbentuknya kekuatan pertahanan yang terintegrasi
(integrated forces).
23 Tentang konsep dan agenda RSK, lihat Rizal Sukma, “Reformasi Sektor Keamanan di Indonesia”, dalam
Bantarto Bandoro (editor), Perspektif Baru Keamanan Nasional, Jakarta:CSIS, 2005.
24 Kusnanto Anggoro, “Transformasi Dephan RI”, dalam Beni Sukadis dan Eric Hendra (editor), Perjalanan
Reformasi Sektor Keamanan Indonesia, Jakarta: Lesperssi, IDSPS, HRWG, DCAF, 2008.
100
KOSTRAD
Penerapan Reformasi Sektor Keamanan di Kostrad, dalam hal profesionalisme tetap bisa
dijalankan, tanpa harus menunggu proses RSK di tingkat Mabes TNI dan Mabes AD, dan lagi
etos profesionalisme sudah inheren di antara anggota TNI umumnya. Untuk itu perlu
dukungan anggaran dan infrastruktur yang memadai, dengan catatan pemanfaatannya
harus transparan dan akuntabel. Pada titik ini, komponen RSK lain, yaitu tentang pengawasan
(oversight) dengan sendirinya berlaku, yang bisa dijalankan oleh pemangku kepentingan
lain, seperti CSO dan parlemen.25
Penutup
Ketika sedang melakukan riset dan menulis tulisan ini, beberapa pesawat TNI berjatuhan,
yang juga mengakibatkan tewasnya sejumlah prajurit terlatih, di antaranya seorang pati dan
seorang kolonel. Artinya, TNI (juga bangsa ini) telah kehilangan SDM terlatih, dengan begitu,
biaya yang pernah dikeluarkan untuk melatih personel tersebut menjadi hilang sia-sia.
Kerugian dari tewasnya seorang perwira terlatih seperti Kol. Inf. Ricky Samuel (Komandan
Pusdikpassus, Akmil 1986) menjadi berlipat-lipat, mengingat dia seorang instruktur senior,
yang seharusnya bisa mencetak prajurit-prajurit terlatih lain secara berkelanjutan dan dalam
jangka panjang. Singkatnya, etos profesionalisme saja ternyata tidak mencukupi, dia harus
didukung faktor lain yang berkorelasi langsung, yaitu aspek kesejahteraan dan infrastruktur
(peralatan, kurikulum pendidikan, kesempatan pendidikan, dan seterusnya).
Dalam kasus gugurnya Kolonel Ricky, juga gugurnya perwira yang lain, etos profesionalisme
seolah “dikalahkan” oleh alutsista yang kurang layak. Begitu juga bila aspek kesejahteraan
terabaikan, akibatnya akan merugikan banyak pihak, seperti ditunjukkan oleh peristiwa
“pemberontakan” anggota Yonif 751/BS (Sentani, Jayapura), akhir April 2009 lalu.
Arah pembangunan kekuatan TNI, seperti pembentukan Divif 3 tersebut, adalah
terwujudnya kemampuan pertahanan yang memiliki daya tangkal dari kemungkinan
ancaman, juga untuk meningkatkan posisi tawar, setidaknya di tingkat regional. Luasnya
wilayah yang menjadi tanggung jawab TNI, masih belum diimbangi dengan gelar kekuatan
yang ada, di mana gelar kekuatan masih terpusat di Pulau Jawa, yang menyebabkan
ketimpangan kekuatan di luar Pulau Jawa. Rencana pembentukan Divif 3, yang markas dan
penempatan pasukannya berada di luar Jawa, bisa dibaca sebagai cara TNI AD dalam mencari
jalan, bagaimana agar TNI tetap memiliki daya tangkal dan posisi tawar dimaksud, di tengah
keterbatasan alutsista dan gelar kekuatan, termasuk keterbatasan kesejahteraan prajurit
sekalipun. <
25 Untuk proses
RSK di TNI, lihat Al Araf “Tentara Nasional Indonesia”, dalam Beni Sukadis, Almanak Reformasi
Sektor Keamanan Indonesia 2007, Jakarta: Lesperssi dan DCAF, 2007.
101
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Lampiran 1.
PEJABAT MARKAS KOSTRAD
NO
NAMA
PEJABAT
1
Pangkostrad
Letjen TNI George Toisutta
2
Kaskostrad
Mayjen TNI Markus Kusnowo
3
Ir Kostrad
Kolonel Inf Adi Mulyono
4
Asisten Intelejen
Kolonel Inf Abdurahman Kadir
5
Asisten Operasi
Kolonel Inf B. Zuirman
6
Asisten Personil
Kolonel Inf Hari Mulyono, SE, MM
7
Asisten Logistik
Kolonel Inf Sugiharto
8
Asisten Perencanaan
Kolonel Inf Endro Warsito
9
Asisten Teritorial
Kolonel Inf Toto Endraharto
10
LO TNI AL
Kolonel Laut Agus Subagyo, SE.
11
LO TNI AU
Kolonel Penerbang R.A Rasyid Djauhari
12
Danpom Kostrad
Kolonel Cpm Firman Achmadi
13
Kazi Kostrad
Kolonel Czi Syafrudin
14
Kahub Kostrad
Letkol Chb Rachmanuddin Taufiq
15
Kapal Kostrad
Kolonel Cpl Dwi Atmadja Prabawa
16
Kabekang Kostrad
Kolonel Cba Iman Suroso
17
Kakes Kostrad
Kolonel Ckm dr. Soegiarto S, Sp.KJ
18
Kaajen Kostrad
Kolonel Caj Drs. Sumirat Kriswasana
19
Kaku Kostrad
Kolonel Cku Drs. Sofyan Yusuf Durakhman
20
Kakum Kostrad
Kolonel Chk Drs. Amran Amat, SH
21
Kepuskopad "A"
Kostrad Kolonel Inf Bustanul Arifin
22
Kapen Kostrad
Letkol Inf Husni
23
Kabintal Kostrad
Kolonel Inf Achmad Sholeh
24
Kainfolahta Kostrad
Letkol Chb Djanus Purba Girsang, SM
25
Kajasmil Kostrad
Mayor Inf Soeparjo Andi S.
26
Kasandi Kostrad
Mayor Inf Herry Isnaini
27
Kasetum Kostrad
Mayor Caj Drs. Leo Franciskus, M.S.I.
28
Dandenma Kostrad
Mayor Kav Abdul Rahman Sugianto
29
Panglima Divif-1/Kostrad
Mayjen TNI Hatta Syarifudin
30
Kepala Staf Divif-1
Brigjen TNI Waris
31
Panglima Divif-2/Kostrad
Mayjen TNI Zahari Siregar
32
Kepala Staf Divif-2
Brigjen TNI Gatot Nurmantio
Sumber: www.tniad.mil.id (daftar pejabat Kostrad di atas per Juni – Juli 2009).
102
KOSTRAD
Daftar Pustaka
Al Araf “Tentara Nasional Indonesia”, dalam Beni Sukadis (editor), Almanak Reformasi Sektor
Keamanan Indonesia 2007, Jakarta: Lesperssi dan DCAF, 2007.
Erwin Sujono (Letjen TNI), “Sistem Penyelenggaraan Operasi Satuan Kostrad”, lihat
www.tni.mil.id, 19 Desember 2006.
Himawan Soetanto, Yogyakarta, Jenderal Spoor (Operatie Kraai) versus Jenderal Sudirman
(Perintah Siasat No.1), Jakarta: Gramedia, 2006.
Kiki Syahnakri, Aku Hanya Tentara, Jakarta: Kompas, 2009.
Kusnanto Anggoro, “Transformasi Dephan RI”, dalam Beni Sukadis dan Eric
Hendra (editor), Perjalanan Reformasi Sektor Keamanan Indonesia, Jakarta: Lesperssi, IDSPS,
HRWG, DCAF, 2008.
Rencana Sasaran Strategis TNI VI Tahun 1999-2003, Jakarta: Mabes TNI, 2001
Mempertahankan Tanah Air Memasuki Abad 21, Jakarta: Dephan RI, 2003
Rizal Sukma, “Reformasi Sektor Keamanan di Indonesia”, dalam Bantarto
Bandoro (editor), Perspektif Baru Keamanan Nasional, Jakarta:CSIS, 2005.
The New York Times 2004 Almanac, Penguin Reference, 2003
Tiga Puluh Tahun Bakti Divisi Infanteri 2/Kostrad 1961-1991, Malang: Mako Divif 2 Kostrad,
1991.
Vademikum Seskoad, Bandung: Seskoad, 1997.
103
Armada Republik Indonesia: Kini dan Ke Depan
Armada Republik Indonesia: Kini dan Ke Depan
Alman Helvas Ali 1
Pendahuluan
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dan terletak pada posisi strategis di Asia
Tenggara, Indonesia mempunyai tanggung jawab besar terhadap stabilitas kawasan Asia
Tenggara. Sebab dua pertiga kawasan Asia Tenggara merupakan perairan yurisdiksi
Indonesia, sehingga stabilitas keamanan, khususnya keamanan maritim, sangat ditentukan
pula oleh kinerja TNI Angkatan Laut. Terlebih dalam era globalisasi, Indonesia mempunyai
tanggung jawab internasional untuk menjamin stabilitas kawasan, khususnya pada domain
maritim, sebab laut merupakan tulang punggung perekonomian dunia.
Terkait dengan hal tersebut, dipandang perlu untuk melakukan tinjauan terhadap TNI
Angkatan Laut, khususnya Armada RI yang menjadi tulang punggung utama kekuatan
operasionalnya. Tulisan ini akan mengulas tentang kedudukan Armada RI dalam arsitektur
pertahanan nasional Indonesia, peran dan tantangan tugas yang dihadapi Armada RI dalam
menjamin kepentingan nasional Indonesia sekaligus stabilitas kawasan dan pengembangan
armada ke depan.
Sejarah dan Kedudukan Armada RI Dalam Arsitektur Pertahanan
Walaupun TNI Angkatan Laut telah dibentuk pada 1945 yang cikal bakalnya adalah
Badan Keamanan Rakyat (BKR) Laut pada 10 September 1945 berdasarkan keputusan Komite
Nasional Indonesia Pusat (KNIP), namun penataan organisasi sesuai dengan organisasi
Angkatan Laut modern baru dapat terlaksana pada 1950. Pasca Konferensi Meja Bundar di
Den Haag, Belanda pada 27 Desember 1949 yang mengakui kedaulatan Indonesia atas
seluruh bekas wilayah Hindia Belanda (kecuali Irian Barat), Koninklijke Marine (Angkatan Laut
Belanda) melaksanakan penyerahan kekuatan, tugas dan tanggung jawab kepada Angkatan
Laut Republik Indonesia (ALRI) pada 28 Desember 1949 di Surabaya.
Di antara penyerahan yang dilakukan adalah penyerahan material sejumlah kapal perang
dan berbagai peralatan tempur untuk Korps Marinir, termasuk tank. Khusus untuk kapal
perang, pembinaannya berada di bawah Komando Daerah Maritim Surabaya (KDMS), sebab
kekuatan saat itu belum cukup untuk membentuk suatu Armada. Selanjutnya pada Juli 1953
berdasarkan Keputusan KSAL No.A.5/3/23 dibentuk Eskader ALRI, yang terdiri dari empat
kapal perusak hasil serah terima material dari Koninklijke Marine. 2
Antara periode 1953-1959, ALRI melaksanakan konsolidasi kekuatan dengan melakukan
pengadaan sejumlah besar alutsista, baik kapal perang, pesawat udara maupun material
1
Alman Helvas Ali, adalah peneliti keamanan maritim di FKPM, Jakarta.
Gatot Sudarto (etall), 60 Tahun TNI Angkatan Laut Mengabdi. Jakarta: Dinas Penerangan Angkatan Laut,
2005, hal.50
2
104
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
tempur Korps Marinir. Dengan semakin besarnya kekuatan yang dimiliki oleh ALRI, maka
berdasarkan Surat Keputusan KSAL No.A.4/2/10 tanggal 14 September 1957 ditetapkan
organisasi Komando Armada ALRI. Peresmiannya dilaksanakan pada 5 Desember 1959 di
Pangkalan Angkatan Laut Ujung, Surabaya, yang mana Armada ALRI membawahi satuan
kapal perang berdasarkan jenisnya. 3
Menyusul validasi organisasi Departemen Angkatan Laut pada Februari 1963, Armada ALRI
mengalami reorganisasi menjadi Komando Armada (Koarma) berdasarkan Surat Keputusan
Men/Pangal No.5401.48 tanggal 1 Desember 1963. 4 Selanjutnya pada 5 Desember 1966
Koarma berganti menjadi Komando Armada Samudera (Koarsam/Ocean Fleet Command) dan
Komando Armada Nusantara (Koartara/Archipelagic Fleet Command). 5 Koarsam merupakan
kekuatan strategis ALRI untuk menunjang tugas-tugas pertahanan keamanan terhadap
ancaman musuh dari luar, sedangkan Koartara merupakan kekuatan kewilayahan yang
bertugas untuk mengatasi masalah di dalam negeri.
Selanjutnya berdasarkan Instruksi KSAL No.5401.14 tahun 1970 dilaksanakan konsolidasi dan
reorganisasi ALRI sehingga Koarsam dan Koartara disatukan menjadi Komando Armada RI
(Republic of Indonesia Fleet). 6 Dalam melaksanakan tugasnya, Armada RI membentuk Eskader
Barat (Western Escadre) dan Eskader Timur (Eastern Escadre), yang pada 1979 keduanya
dilebur menjadi Eskader Nusantara (Archipelagic Escadre).
Dengan terjadinya reorganisasi ABRI pada 1984, maka berdasarkan Skep Pangab
No.Kep/09/P/III/1984 tentang Pokok-pokok Organisasi dan Prosedur TNI Angkatan Laut,
maka dibentuk Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar/Republic of Indonesia Western Fleet)
yang bermarkas di Jakarta dan Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim/ Republic of Indonesia
Eastern Fleet) yang bermarkas di Surabaya. Hal itu berlaku hingga sekarang, yang mana
Armada RI terdiri dari dua armada kawasan. Wilayah tanggung jawab (area of responsibility)
Koarmabar meliputi sebagian perairan di sekitar Pulau Jawa, seluruh perairan yang
mengelilingi Pulau Sumatera dan perairan di sekitar Kalimantan Barat hingga Laut Cina
Selatan. Adapun wilayah tanggung jawab Koarmatim mencakup sebagian perairan Pulau
Jawa dan seluruh perairan Indonesia lainnya di wilayah tengah dan timur.
Baik Koarmabar maupun Koarmatim merupakan Komando Utama Pembinaan dan
Operasional (Kotama Binops). Dalam aspek personel dan material, pembinaan Armada RI
merupakan kewenangan Kasal. Sedangkan untuk aspek operasional, deployment and
employment-nya berada di bawah kewenangan Panglima TNI. Hal ini mengacu pada pola
pembinaan dan operasi yang dianut oleh TNI, yang mana Mabesal merupakan pembina
kekuatan operasional, sedangkan Mabes TNI merupakan pengguna kekuatan operasional.
Koarmabar maupun Koarmatim dipimpin oleh seorang Panglima berpangkat Laksamana
Muda (Rear Admiral) dan dibantu oleh seorang Kepala Staf Armada berpangkat Laksamana
3
4
5
6
Ibid, hal.69
Ibid, hal.70
Ibid, hal.75
Ibid
105
Armada Republik Indonesia: Kini dan Ke Depan
Pertama (Commodore), seorang Inspektur Armada dan lima orang Asisten yang semuanya
berpangkat Kolonel (Captain) beserta sejumlah staf lainnya. Kedua Panglima Armada juga
membawahi sejumlah Pangkalan Angkatan Laut, yang klasifikasinya terdiri dari Pangkalan
Utama Angkatan Laut (Lantamal/Naval Main Base) dan Pangkalan Angkatan Laut
(Lanal/Naval Base). Selain itu, terdapat pula Pos Pengamatan Angkatan Laut (Posal/Naval
Surveillance Post) yang belasan di antaranya dilengkapi dengan radar pengamatan maritim
(maritime surveillance radar) bantuan dari Amerika Serikat.
Untuk kepentingan operasional, di dalam Koarmabar maupun Koarmatim terdapat Gugus
Keamanan Laut (Guskamla/Sea Security Task Force) dan Gugus Tempur Laut (Guspurla/Sea
Battle Task Force). Kedua Gugus Tugas dipimpin oleh seorang Laksamana Pertama, yang mana
dalam operasional menerima unsur-unsur siap operasi dari satuan-satuan kapal perang
berdasarkan jenis kapal. Untuk struktur organisasi Armada RI, lihat tabel berikut.
KOARMADA
STAF
SINTEL
SOPS
IT
SPERS
SLOG
SATKOR
DISKOMLEK
DISKUM
DISPROV
SATSEL
SATFIB
SPRI
SRENA
DENMA
MAKO
SETUM
DISPEN
SAHLI
PUSKODAL
DISLAMBAIR
DISMATBEK
SATKAT
DISPOTMAR
DENINTEL
DISHARKAP
SATRAN
SATROL
GUSPURLA
GUSKAMLA
DISMINPERS
DISKU
SATBAN
DISKES
DISINFO
LAHTA
SATPASKA
WINGUD
KOLAT
LANTAMAL
* Struktur ini masih menempatkan Wing Udara di bawah Koarmada
Tugas pokok Koarmabar maupun Koarmatim selaku Kotama Binops adalah membina
kemampuan Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT/Integrated Fleet Weapon System),
membina potensi maritim menjadi kekuatan pertahanan keamanan negara di laut,
melaksanakan operasi laut sehari-hari (regular naval operations) dan operasi tempur laut
(naval battle operations) untuk pengendalian dan proyeksi kekuatan ke darat lewat laut (to
control the sea and power projection from the sea to land) dalam rangka penegakan kedaulatan
dan hukum di laut.
SSAT yang dianut oleh TNI Angkatan Laut terdiri dari kapal perang, pesawat udara, pangkalan
dan Korps Marinir. Dalam perkembangan terakhir, pembinaan pesawat udara beserta semua
106
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Pangkalan Udara Angkatan Laut (Lanudal/Naval Air Station) dialihkan kepada Pusat
Penerbangan Angkatan Laut (Pusnerbal/Naval Aviation Center). Adapun operasional pesawat
udara Angkatan Laut, komando dan kendalinya diserahkan kepada Armada, yang mana
terdapat pesawat-pesawat udara yang di-attach di Armada.
Sedangkan pembinaan Korps Marinir kini sepenuhnya berada pada Korps Marinir itu sendiri,
padahal di masa lalu terdapat Satuan Marinir Armada (Satmararma/Fleet Marine Corps) yang
berada di bawah komando dan kendali Armada. Dengan demikian, Koarmabar/Koarmatim
hanya membina unsur kapal perang beserta pangkalan Angkatan Laut. Selain satuan kapal
perang berdasarkan jenisnya, Koarmabar/Koarmatim juga membawahi Satuan Komando
Pasukan Katak (Kopaska/Frogman) yang tugas pokoknya adalah demolisi bawah air
(underwater demolition) dan reckon. Satuan ini juga mempunyai kemampuan untuk
melakukan counter-terrorism aspek maritim.
Sebagai bagian dari TNI Angkatan Laut, Koarmabar/Koarmatim melaksanakan peran
Angkatan Laut (Naval role). Peran Angkatan Laut yang bersifat universal ada tiga, yaitu militer,
konstabulari dan diplomasi. Peran militer Angkatan Laut terkait dengan penegakan
kedaulatan negara di laut melalui operasi tempur laut. Peran ini akan menonjol apabila ada
konflik militer dengan negara lain.
Peran konstabulari Angkatan Laut merupakan peran penegakan hukum di laut, yang mana
kapal perang berhak menegakkan hukum mulai dari perairan pedalaman hingga laut lepas,
berdasarkan hukum internasional. Penting untuk dipahami bahwa peran konstabulari
merupakan peran yang hanya dimiliki oleh Angkatan Laut di seluruh dunia dan tidak
dipunyai oleh Angkatan Darat dan Angkatan Udara. Peran ini memang unik dan sama sekali
bukan bentuk dari bantuan militer kepada pemerintahan sipil.
Peran diplomasi merupakan peran Angkatan Laut yang terkait dalam hubungan dengan
negara lain. Peran ini di abad silam dikenal sebagai gun boat diplomacy, yang mana kekuatan
Angkatan Laut disebarkan (deploy) ke perairan tertentu dengan tujuan untuk mempengaruhi
sikap politik negara lain yang menjadi sasaran penyebaran. Sebab dalam hubungan antar
negara, sikap politik seringkali harus ditopang oleh penggelaran kekuatan militer yang tidak
selamanya dimaksudkan untuk tujuan perang, tetapi lebih pada kepentingan diplomasi.
Dalam praktek saat ini, Koarmabar/Koarmatim lebih banyak melaksanakan peran
konstabulari, disusul peran militer dan peran diplomasi. Kondisi itu tidak lepas dari kondisi
lingkungan keamanan, seperti ancaman dan tantangan keamanan yang lebih banyak berasal
dari aktor non negara. Walaupun demikian bukan berarti Koarmabar/Koarmatim tidak
melaksanakan peran militer dan peran diplomasi, hanya saja porsinya lebih kecil. Peran
militer yang paling menonjol adalah patroli di wilayah sengketa maritim Indonesia-Malaysia
di Laut Sulawesi (Blok Ambalat). Sedangkan peran diplomasi selain penyebaran beberapa
kapal perang ke beberapa negara di kawasan Asia Tenggara untuk showing the flags, juga
penyebaran kapal korvet KRI Diponegoro-365 ke Lebanon dalam UNIFIL Maritime Task Force.
107
Armada Republik Indonesia: Kini dan Ke Depan
Kesiapan Operasional
Dengan wilayah tanggung jawab (area of responsibility) yang meliputi dua pertiga
kawasan Asia Tenggara, merupakan suatu tantangan tersendiri bagi Armada RI untuk
melaksanakan tugas pokoknya. Di kawasan Asia Tenggara, tidak ada armada Angkatan Laut
yang mempunyai wilayah tanggung jawab yang begitu luas, kecuali Armada RI. Namun di sisi
lain, kemampuan untuk menggelar kehadiran kapal perang di laut (naval presence) akan
sangat terkait pula dengan dukungan logistik yang tersedia.
Penggunaan kekuatan Armada RI dilakukan untuk melaksanakan fungsi militer, diplomasi
dan konstabulari. Dalam operasional sehari-hari, penggunaan kekuatan dilakukan dengan
mengacu pada kebijakan penggunaan kekuatan yang dikeluarkan oleh Panglima TNI.
Bentuknya diwujudkan melalui upaya penghadiran kekuatan Armada RI di perairan rawan
selektif dalam bentuk operasi laut sehari-hari dan operasi tempur laut untuk menciptakan
pengendalian laut dan proyeksi kekuatan.
Penggunaan kekuatan untuk mendukung strategi tersebut berpedoman pada employment
cycle 30%:30%:30%. Dengan memperhitungkan jumlah KRI beserta kondisinya serta
perincian rasio melaut sebesar 2/3, maka didapatkan proyeksi jam layar total per bulannya.
Namun dalam prakteknya, employment cycle seringkali tidak tercapai karena tingginya
kebutuhan operasi yang mempengaruhi jadwal pemeliharaan dan perbaikan kapal perang.
Kebutuhan operasional yang tinggi menuntut penggelaran kekuatan di berbagai wilayah
perairan. Dengan keterbatasan alutsista, penggelaran kekuatan di laut sebagian
dititikberatkan pada daerah rawan selektif, seperti Selat Malaka, Laut Sulawesi (termasuk Blok
Ambalat), Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI/Archipelagic Sea Lanes), Laut Natuna, Laut
Timor, Laut Arafuru dan wilayah perbatasan lainnya. Wilayah-wilayah perairan itu mendapat
perhatian khusus karena kerawanannya, baik adanya sengketa batas maritim (maritime
border disputes), pembajakan dan perompakan di laut (piracy and armed robbery),
pencurian sumber daya alam dan lain sebagainya.
Tingkat kehadiran unsur-unsur kapal perang di laut (naval presence) yang selalu mendekati
atau bahkan melampaui jam layar yang ditetapkan, hal itu berpengaruh pula pada kegiatan
pelanggaran kedaulatan dan hukum di laut. Kecuali kasus perompakan, kasus lainnya seperti
pencurian sumber daya alam masih terus terjadi. Begitu pula dengan kapal perang asing
yang melintas perairan yurisdiksi yang seringkali melakukan kegiatan-kegiatan yang
seharusnya terlarang dilakukan ketika melaksanakan lintas damai (innocent passage).
Hal itu tidak dapat dilepaskan dengan kebijakan pertahanan pemerintah, khususnya
ketersediaan anggaran. Terlebih lagi dalam Tahun Anggaran 2008 dan 2009, pemerintah
melakukan pengurangan anggaran pertahanan dengan alasan krisis ekonomi. Dengan
diberlakukannya pengurangan anggaran, secara tidak langsung mempengaruhi pula
kehadiran unsur kapal perang di laut. Tingkat kesiapan operasional kapal perang sangat
terpengaruh dengan kebijakan tersebut, padahal di sisi lain pelanggaran kedaulatan dan
hukum di laut masih terus terjadi.
108
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Secara garis besar, anggaran yang disediakan oleh pemerintah untuk Armada RI merupakan
anggaran rutin bagi kepentingan pembinaan dan operasi, sesuai dengan status Armada RI
sebagai Kotama Binops. Dengan berstatus sebagai Kotama Binops, anggaran yang diterima
oleh Armada RI berasal dari dua sumber, yaitu Mabes TNI Angkatan Laut dan Mabes TNI.
Anggaran dari Mabes TNI Angkatan Laut diperuntukkan bagi kegiatan rutin di Armada,
khususnya pemeliharaan kapal perang dan operasi laut rutin di laut. Sedangkan anggaran
dari Mabes TNI khusus diperuntukkan bagi kegiatan operasi laut yang dibiayai oleh Mabes
TNI.
Penting untuk diketahui bahwa dalam operasi laut yang dilaksanakan oleh Armada RI, secara
garis besar terbagi dalam dua jenis. Pertama adalah operasi laut yang rutin dilaksanakan oleh
TNI Angkatan Laut, seperti operasi keamanan laut yang rutin digelar di semua perairan
yurisdiksi Indonesia. Kedua yaitu operasi laut khusus yang digelar oleh Mabes TNI, misalnya
Operasi Balat Sakti yang digelar di Laut Sulawesi (Ambalat) dan Operasi Pengamanan Selat
Malaka. Jenis operasi pertama sepenuhnya dibiayai oleh anggaran dari Mabes TNI Angkatan
Laut, sedangkan jenis operasi kedua dibiayai oleh anggaran khusus dari Mabes TNI.
Pada tahun 2009, anggaran yang diperuntukkan bagi Koarmatim sebesar Rp. 283 milyar,
adapun Koarmabar mendapat dana sebesar Rp. 230 milyar. Jumlah tersebut tidak jauh
berbeda dengan anggaran tahun-tahun sebelumnya. Dengan besaran anggaran demikian
yang disediakan oleh pemerintah, Armada RI diserahi tanggung jawab untuk memelihara
145 kapal perang (KRI/Kapal Perang RI) dari berbagai jenis dan ratusan Kapal Angkatan Laut
(KAL/Naval Ship), selain menggelar operasi laut rutin.
Sedangkan untuk kepentingan modernisasi kekuatan, sumber anggarannya berasal dari
anggaran pertahanan di Departemen Pertahanan, tidak berasal dari anggaran Armada RI.
Dengan demikian, anggaran bagi Armada RI sebagian besar hanya diperuntukkan bagi
kepentingan pemeliharaan kapal perang dan operasi laut. Kalau dihitung dari nilai ideal,
tentu saja anggaran yang selama ini dikucurkan oleh pemerintah bagi Armada RI masih jauh
dari cukup.
Menyangkut susunan tempur (order of battle), Koarmabar/Koarmatim masih didominasi oleh
kapal perang dengan usia di atas 30 tahun, baik kapal selam, kapal fregat, kapal korvet, kapal
amfibi, kapal bantu maupun pesawat udara. Upaya modernisasi kekuatan Armada RI berjalan
kurang lancar karena komitmen pemerintah yang kurang berpihak kepada pengembangan
Angkatan Laut. Sebagai contoh, rencana pengadaan kapal selam yang masuk dalam
Perencanaan Strategis (Renstra/Naval Strategic Planning) TNI Angkatan Laut 2005-2009
sampai saat ini belum menemukan titik terang karena berbelitnya proses di Departemen
Pertahanan dan Departemen Keuangan.
Apabila mengacu pada Postur Pertahanan Negara 2010-2029 yang diterbitkan oleh
Departemen Pertahanan, hingga 2029 penambahan kekuatan pemukul Armada RI tidak
terlalu signifikan. Pada sisi lain, setiap tahun jumlah kapal perang yang usianya menua
109
Armada Republik Indonesia: Kini dan Ke Depan
semakin bertambah. Kondisi ini diprediksi akan menimbulkan masalah serius pada sekitar
2015-2020 apabila pemerintah tidak menempuh crash program untuk modernisasi kekuatan
Armada RI.
Masalah serius tersebut bukan saja menyangkut kemampuan untuk mengamankan perairan
yurisdiksi Indonesia, tetapi juga untuk mengimbangi pembangunan kekuatan laut negaranegara lain di sekitar Indonesia. Meskipun pembangunan kekuatan laut negara-negara itu
tidak ditujukan untuk mengancam Indonesia, akan tetapi secara langsung maupun tidak
langsung akan memunculkan implikasi operasional di laut. Sebab Indonesia berkepentingan
untuk mengamankan kepentingan nasionalnya pada domain maritim terhadap segala
macam ancaman dan tantangan.
Kerjasama Internasional
Sebagai bentuk tanggung jawab Indonesia terhadap stabilitas kawasan, TNI
Angkatan Laut sejak tahun 1970-an menjalin beragam kerjasama dengan Angkatan Laut
negara-negara di sekitar Samudera India dan Samudera Pasifik. Bentuk kerjasama itu
meliputi patroli terkoordinasi (coordinated patrol), latihan bersama (combined naval exercise),
pertukaran perwira (naval officer exchange), information sharing dan lain sebagainya.
Kerjasama Angkatan Laut yang sudah terjalin selama ini antara TNI Angkatan Laut dengan
Angkatan Laut di kawasan meliputi dengan Tentera Laut Diraja Brunei (Royal Brunei Navy),
Tentera Laut Diraja Malaysia (Royal Malaysian Navy), dan Indian Navy. Selain itu, tengah
dirintis kerjasama baru antara TNI Angkatan Laut dengan Japan Maritime Self Defense Force
dan People's Liberation Army-Navy (PLA N).
Kerjasama internasional yang dijalin dengan TNI Angkatan Laut dengan Angkatan Laut
negara-negara Asia Pasifik tidak lepas dari lingkungan keamanan (security environment)
kawasan yang penuh tantangan. Tantangan itu sebagian terkait dengan domain maritim,
seperti isu keamanan maritim, proliferasi senjata pemusnah massal (proliferation of weapons
of mass destruction), keamanan energi dan lain sebagainya. Dalam era globalisasi saat ini,
ketidakamanan terhadap satu di negara akan berdampak pula terhadap negara-negara lain
di kawasan yang sama, bahkan bisa pula di kawasan yang jauh. Di situlah pentingnya
kerjasama antar Angkatan Laut di kawasan Asia Pasifik untuk merespon dinamika yang
berkembang dengan cepat.
Dalam hal kerjasama, Koarmabar/Koarmatim merupakan unsur pelaksana mengikuti
kebijakan yang digariskan oleh Departemen Pertahanan, Mabes TNI dan Mabes Angkatan
Laut. Sebagai unsur pelaksana, Koarmabar/Koarmatim menyiapkan kekuatan yang akan
disebarkan untuk melakukan kerjasama. Kekuatan itu meliputi kapal perang dan pesawat
udara, di samping tentu saja para pengawaknya.
Salah satu kerjasama internasional yang dijalin oleh TNI Angkatan Laut yang berkontribusi
signifikan terhadap stabilitas keamanan kawasan adalah Malacca Strait Security Patrol
(MSSP). Kerjasama ini berbentuk patroli terkoordinasi yang melibatkan tiga Angkatan Laut,
110
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
yaitu TNI Angkatan Laut, Tentera Laut Diraja Malaysia dan Republic of Singapore Navy untuk
menjamin keamanan maritim di Selat Malaka dari ancaman pembajakan dan perompakan di
laut. Kegiatan patroli yang berlangsung 24 jam x 365 hari itu, terhitung sejak dimulai 20 Juli
2004 mampu menekan ancaman pembajakan dan perompakan di salah satu choke point
terpadat di dunia itu dan pencapaiannya telah diakui oleh dunia internasional. Misalnya
pencabutan status war zone terhadap Selat Malaka oleh Lloyd Insurance, London pada Mei
2006.
Pulihnya kerjasama pertahanan Indonesia-Amerika Serikat turut berkontribusi pada
kerjasama antar kedua Angkatan Laut. Sejak beberapa tahun silam, TNI Angkatan Laut telah
rutin melaksanakan latihan rutin tahunan dengan U.S. Pacific Command, khususnya U.S.
Pacific Fleet, masing-masing bertajuk CARAT, SEACAT, Flash Iron dan Latern Iron. Latihanlatihan tersebut ditujukan untuk saling tukar pengalaman dan juga peningkatan kapasitas
(capacity building) guna menghadapi ancaman dan tantangan terhadap domain maritim,
khususnya isu terorisme maritim dan pembajakan dan perompakan di laut.
Pengembangan Organisasi Dan Kekuatan Ke Depan
Sejak terjadinya Reformasi TNI pada 1998, muncul beberapa pemikiran dari internal
TNI Angkatan Laut untuk melakukan validasi organisasi Koarmabar dan Koarmatim.
Pemikiran pertama muncul di era Kasal Laksamana TNI Achmad Sutjipto (1999-2000), yaitu
pembentukan armada bernomor (numbered fleet) yang pembagiannya berdasarkan tiga
ALKI. Waktu itu direncanakan pembentukan tiga armada bernomor yang berada di bawah
Armada RI yang bertindak sebagai armada induk/armada besar. Dalam gagasan tersebut,
Koarmabar dan Koarmatim akan diubah menjadi armada bernomor, selanjutnya akan
dibentuk lagi satu armada bernomor.
Terjadi pergantian tampuk kepemimpinan TNI Angkatan Laut pada 2000 membuat gagasan
armada bernomor tidak dapat direalisasikan. Kemudian pada 2004 ketika Kasal dijabat oleh
Laksamana TNI Bernard K. Sondakh (2002-2005), gagasan serupa dimunculkan lagi dengan
sejumlah modifikasi. 7 Substansinya adalah penyatuan Koarmabar dengan Koarmatim
menjadi Armada RI, yang mana armada tersebut membawahi beberapa armada kawasan.
Namun upaya itu belum berhasil karena tidak mendapat persetujuan dari Mabes TNI.
Laksamana TNI Slamet Soebijanto (2005-2007) sebagai Kasal berikutnya kembali berupaya
keras menggolkan validasi Koarmabar dan Koarmatim menjadi Armada RI. 8 Armada RI
dirancang mempunyai tiga armada kawasan, yaitu Komando Armada RI Kawasan Barat,
Komando Armada RI Kawasan Tengah dan Komando Armada RI Kawasan Timur. Ketiga
markas Armada Kawasan direncanakan berada di luar Pulau Jawa, sedangkan Markas
Komando Armada RI berada di Surabaya. Akan tetapi lagi-lagi rencana itu tidak disetujui oleh
Mabes TNI dengan beragam alasan.
7 Markas Besar Angkatan Laut, Blue Print TNI Angkatan Laut 2013. Jakarta, 2004
8
Markas Besar Angkatan Laut, Rancangan Postur TNI Angkatan Laut 2005-2024. Jakarta, 2005
111
Armada Republik Indonesia: Kini dan Ke Depan
Sejauh ini, validasi organisasi yang berhasil terkait dengan Koarmabar dan Koarmatim adalah
pengembangan Lantamal, yang digagas sejak kepemimpinan Laksamana TNI Bernard K.
Sondakh dan dilanjutkan oleh para penerusnya. Apabila pada 2004 hanya terdapat lima
Lantamal yang berada di bawah kedua armada, kini jumlahnya telah menjadi 11 Lantamal
sesuai dengan yang direncanakan oleh Mabes Angkatan Laut. Pengembangan Lantamal
baru antara lain Lantamal II Padang, Lantamal IV Tanjung Pinang, Lantamal VII Kupang,
Lantamal VIII Manado, Lantamal IX Ambon dan Lantamal XI Merauke. Pengembangan
Lantamal dalam beberapa tahun terakhir lebih diarahkan ke kawasan Indonesia Timur yang
rawan akan ancaman konflik internal dan maupun konflik dengan negara lain menyangkut
isu penggunaan laut.
Untuk validasi armada ke depan, nampaknya masih menunggu lampu hijau dari
Departemen Pertahanan dan Mabes TNI. Sebab Departemen Pertahanan sebagai otoritas
kebijakan pertahanan telah mencanangkan Kebijakan Tri Matra Terpadu (Integrated Tri
Services Policy) dalam pembangunan kekuatan pertahanan Indonesia ke depan. Akan tetapi
bagaimana cetak biru kebijakan itu hingga kini belum jelas.
Menyangkut pengembangan kekuatan Koarmabar/Koarmatim di masa depan, senantiasa
mengacu pada Renstra TNI Angkatan Laut. Seperti telah disinggung sebelumnya, beberapa
program dalam Renstra TNI Angkatan Laut 2005-2009 hingga saat ini belum terealisasi,
khususnya yang berkaitan dengan pengadaan kapal perang untuk modernisasi susunan
tempur armada. Mengingat bahwa kondisi alutsista TNI Angkatan Laut yang mengisi
susunan tempur Koarmabar/Koarmatim sebagian besar sudah di atas usia 30 tahun sehingga
efektivitas operasionalnya menurun, baik dalam Renstra TNI Angkatan Laut 2005-2009
maupun nantinya 2010-2014, modernisasi kapal perang merupakan salah satu prioritas
utama. Akan tetapi bagaimana realisasi hal tersebut, semuanya terpulang kepada Presiden
selaku pemegang kekuasaan tertinggi atas TNI Angkatan Laut.
Dengan semakin banyaknya tantangan pada domain maritim, maka maritime domain
awareness (MDA) merupakan kemampuan mutlak yang harus dipunyai. Peningkatan
kemampuan maritime domain awareness kini juga menjadi salah satu prioritas dalam
pengembangan kekuatan Koarmabar/Koarmatim, sebab penguasaan kemampuan itu akan
berkontribusi besar pada pola gelar operasi maupun keberhasilannya. Pembangunan
sejumlah radar pengamatan maritim seperti telah dijelaskan sebelumnya merupakan salah
satu upaya untuk meningkatkan maritime domain awareness.
Keterkaitan Dengan Security Sector Reform
Dikaitkan dengan Security Sector Reform, sebagai Kotama Operasional maka
penekanannya lebih pada peningkatan profesionalisme satuan. Peningkatan
profesionalisme Armada RI tidak dapat berdiri sendiri, melainkan terkait dengan anggaran
yang disediakan oleh pemerintah dan kualitas sumber daya manusia. Anggaran yang
disediakan oleh pemerintah akan mempengaruhi kesiapan operasional dan profesionalisme
Armada RI.
112
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Menggunakan pendekatan ideal, profesionalisme Armada RI sebagai satuan tempur akan
meningkat apabila anggaran bagi pemeliharaan sistem senjata memadai. Dengan sistem
senjata yang siap, maka kesiapan operasi dan latihan dengan sendirinya meningkat.
Profesionalisme Armada RI akan lebih ditentukan oleh tingkat kesiapan mereka untuk
melaksanakan operasi dan latihan.
Terkait dengan HAM yang merupakan salah satu fokus utama dalam isu security sector
reform di Indonesia, penanganan pelanggaran hukum di laut oleh Armada RI selama ini selalu
mengikuti prosedur yang ditetapkan. Sejak lama telah ditetapkan Prosedur Penghentian dan
Pemeriksaan kapal di laut, yang mana dalam prosedur itu ada proses-proses bagaimana
menangani kapal yang dicurigai melanggar hukum. Mulai dari peringatan lewat radio dan
atau sinyal agar kapal yang dicurigai berhenti hingga ke arah mana tembakan diarahkan
kepada kapal tersebut apabila tidak mematuhi perintah yang diberikan sebelumnya.
Sampai saat ini, belum pernah ada kasus penghentian dan pemeriksaan kapal di laut yang
diindikasikan melanggar HAM, apalagi berubah menjadi isu politik seperti halnya di daratan.
Hal itu sangat mungkin karena ada perbedaan antara hukum yang berlaku di darat dan di
laut, misalnya menyangkut subyek hukum. Sesuai dengan hukum internasional, subyek
hukum di laut adalah bendera negara kapal dan orang. Kalau pun terjadi pelanggaran hukum
yang dilakukan oleh awak kapal perang, hal itu lebih menyangkut pada hukum pidana biasa
dan tidak menyangkut HAM.
Penutup
Armada RI merupakan salah satu aktor penting dalam menjaga stabilitas keamanan
wilayah perairan yurisdiksi Indonesia dan juga kawasan Asia Tenggara. Berbagai
keterbatasan masih dihadapi oleh Armada RI yang tidak lepas dari kebijakan pemerintah di
bidang pertahanan. Namun demikian, keterbatasan tersebut tidak mengurangi
kontribusinya terhadap stabilitas keamanan kawasan melalui gelar kekuatan di sejumlah
perairan yang dinilai rawan.
Sesuai dengan Renstra TNI Angkatan Laut, pengembangan Armada RI ke depan akan terus
dilakukan melalui modernisasi alutsista. Pelaksanaan rencana tersebut pada akhirnya
terpulang pada komitmen pemerintah untuk mewujudkannya, sehingga peran Armada
dalam stabilitas kawasan dapat ditingkatkan. Terciptanya stabilitas keamanan maritim di Asia
Tenggara, khususnya di perairan yurisdiksi Indonesia, akan memberikan kontribusi terhadap
politik, ekonomi dan keamanan kawasan Asia Pasifik. <
Referensi
1. Dinas Penerangan Angkatan Laut, 60 Tahun TNI Angkatan Laut Mengabdi. Jakarta, Dinas
Penerangan Angkatan Laut, 2005.
2. Markas Besar Angkatan Laut, Blue Print TNI Angkatan Laut 2013. Jakarta, 2004
3. Markas Besar Angkatan Laut, Rancangan Postur TNI Angkatan Laut 2005-2024. Jakarta,
2005.
113
KORPS MARINIR
KORPS MARINIR
Fauzan 1
Riak gelombang memecah pantai
Peluru jatuh berderai
Dengan semangat maju memantai
Bergerak serang dan menerjang
Marinir pasukan kita
Mendarat pasti kita menang...
(Syair lagu prajurit Korps Marinir TNI AL) 2
Pendahuluan
Penggalan syair lagu di atas seringkali dikumandangkan dengan penuh semangat oleh
para prajurit Korps Marinir dalam berbagai sesi latihan. Dalam syair tersebut setidaknya
menunjukkan tidak saja resiko besar yang siap dihadapi oleh pasukan Korps Marinir dalam
setiap operasi pendaratan amfibi, namun juga semangat pantang menyerah yang sudah
tertanam secara kuat dalam diri setiap individu prajurit Korps Marinir.
Pada dasarnya, pendaratan amfibi merupakan bentuk operasi penyerangan suatu pasukan
yang berkedudukan di laut terhadap pasukan musuh yang ada di pantai (darat). Tujuannya
adalah merebut dan menguasai tumpuan pantai (beach head) sebagai titik pangkal bagi
gerakan operasi militer selanjutnya guna menusuk jantung pertahanan musuh. 3
Sebagai ujung tombak pendaratan amfibi, pasukan Marinir mengemban tugas tersebut
dengan didukung kekuatan-kekuatan dari kesatuan lainnya seperti bantuan tembakan dari
satuan tugas udara maupun armada kapal tempur serta pembersihan aneka ranjau laut.
Dalam menjalankan tugas dan fungsinya profesionalitas prajurit Korps Marinir harus
dijunjung tinggi.
Sejarah Korps Marinir
Hingga saat ini kurang lebih ada 40 negara yang mempunyai kesatuan Marinir. Pada
umumnya, kesatuan-kesatuan tersebut merupakan bagian integral di bawah organisasi
Angkatan Laut masing-masing negara, kecuali di Amerika Serikat, Prancis, dan Yunani. Di
Amerika, Korps Marinir AS (United States Marine Corps/USMC) tidak berada di bawah US Navy,
tetapi merupakan kekuatan Angkatan Laut AS (US Naval Forces) yang berada di bawah
Departemen Angkatan Laut. Di Prancis, terdapat dua kesatuan Marinir Prancis yang pertama
di bawah, Angkatan Darat dengan nama Troupes de Marine dan berikutnya di bawah
Angkatan Laut dengan nama Fusiliers Marins. Di Yunani, kesatuan ini merupakan bagian
integral di bawah Angkatan Darat. Semua kesatuan Marinir ini mempunyai tugas yang
beragam seperti pendaratan amfibi, pertahanan pantai, pertahanan pangkalan, tugas di atas
1
2
3
Fauzan adalah staf pengajar dan Ketua Laboratorium Pertahanan dan Keamanan (KaLab), di Jurusan Ilmu
Hubungan Internasional FISIP UPN “Veteran” Jogjakarta.
Santoso Purwoadi, “Yon Taifib Marinir TNI AL,” dalam Majalah Commando, Volume I, No. 3 NovemberDesember 2004, hal. 6
Ibid.
114
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
kapal perang, raid amfibi, operasi bawah air, tugas komando, antiteroris, dan perlindungan
objek vital. Tetapi ciri utamanya tetap sebagai pasukan pendaratan amfibi yang merupakan
hakikat keberadaannya.
Seperti di kebanyakan negara, di Indonesia Korps Marinir merupakan bagian kesatuan
integral di bawah Angkatan Laut (TNI AL). Korps Marinir merupakan salah satu Kotama
(Komando Utama TNI Angkatan Laut). Dalam struktur organisasi TNI AL, Korps Marinir adalah
sebuah Kotama sejajar dengan Kotama lain seperti Koarmabar (Komando Armada Barat),
Koarmatim (Komando Armada Timur), Kolinlamil (Komando Lintas Laut Militer), Kobangdikal
(Komando Pengembangan dan Pendidikan Angkatan Laut), Seskoal (Sekolah Staf dan
Komando Angkatan Laut) dan AAL (Akademi Angkatan Laut).
Cikal bakal Korps Marinir bermula dari tanggal 15 November 1945, dimana nama Corps
Mariniers tercantum dalam Pangkalan IV ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia) Tegal
sehingga tanggal ini dijadikan sebagai hari lahir Korps Marinir. Selanjutnya berdasarkan Surat
Keputusan Menteri Pertahanan No. A/565/1948 pada tanggal 9 Oktober 1948 ditetapkan
adanya Korps Komando di dalam jajaran Angkatan Laut. Korps Komando Angkatan Laut (KKO
AL) kembali menggunakan nama Korps Marinir sesuai dengan Surat Keputusan Kepala Staf
Angkatan Laut (SK KASAL) No. Skep/1831/XI/1975 tanggal 15 November 1975.
Dengan mengusung visi “Mewujudkan Prajurit Korps Marinir Sebagai Pasukan Pendarat yang
Bermoral, Profesional dan Dicintai Rakyat”, Marinir telah menjadi sebuah pasukan yang handal
dan patut dibanggakan. Untuk mendukung dan mewujudkan visi tersebut Korps Marinir
menetapkan beberapa misi sebagai berikut:
1. Terwujudnya organisasi Korps Marinir yang kokoh dan dinamis sebagai wadah
kegiatan pembinaan dan pengembangan kesatuan untuk senantiasa siap
melaksanakan tugas operasi terhadap setiap bentuk ancaman militer dan ancaman
bersenjata dari luar dan dari dalam negeri terhadap kedaulatan, keutuhan wilayah
dan keselamatan NKRI.
2. Mewujudkan kualitas sumber daya manusia prajurit Korps Marinir yang disiplin,
bermoral dan bermartabat melalui program pendidikan yang sistematis, terukur,
berkualitas dan dapat dipertanggungjawabkan.
3. Meningkatkan jiwa korsa dan moril prajurit Marinir melalui pembinaan perilaku dan
tradisi korps, agar dapat menjadi contoh dan tauladan dimanapun berada.
4. Terwujudnya prajurit Marinir yang bermoral, profesional dan dicintai rakyat baik
perorangan maupun satuan melalui sistem pembinaan latihan secara bertingkat dan
berlanjut serta latihan gabungan TNI AL/TNI maupun latihan bersama dengan negara
lain.
5. Meningkatkan kepemimpinan militer dalam tubuh organisasi Korps Marinir yang
berwawasan ke depan melalui sistem penilaian yang selektif.
4
“Mimpi Korps Marinir,” dalam Sinar Harapan, 14 November 2005.
“Korps Marinir”, http://www.marinir.mil.id, diakses 10 April 2009.
5
115
KORPS MARINIR
6. Meningkatkan kesejahteraan prajurit beserta keluarganya, berupa pemenuhan hakhak prajurit, sehingga dapat memberikan dampak positif bagi kinerja prajurit.
7. Terpenuhinya perlengkapan dan material tempur yang modern, sesuai dengan
standar Korps Marinir guna melengkapi kebutuhan serta mengganti material
tempur/alutsista yang sudah melampaui batas usia pakai.
8. Peningkatan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sesuai dengan
perkembangan tuntutan Korps Marinir melalui kerjasama pendidikan pengkajian dan
penilaian internal maupun eksternal. 5
Organisasi Korps Marinir
Saat ini anggota Korps Marinir TNI AL mencapai hampir 21.000 orang yang tersebar di dua
Pasmar (Pasukan Marinir) dan tiga Brigadir Infanteri (Brigif ) Marinir. Setiap Pasmar
membawahi satu Brigade Infanteri, satu Resimen Bantuan Tempur (Menbapur), satu Resimen
Kavaleri (Menkav), satu Resimen Artileri (Menart) dan satu Batalyon Intai Amfibi (Yon Taifib).
Pasmar I diresmikan pada 12 Maret 2001, berkedudukan di Surabaya, membawahi lima
satuan induk tempur, yakni: Brigif-1 Mar, Menkav-1 Mar, Menart-1 Mar, Menbanpur-1 Mar, dan
YonTaifib-1 Mar. Sedangkan Pasmar II diresmikan pada 2004, berkedudukan di Jakarta,
membawahi lima satuan induk tempur, yakni: Brigif-2 Mar, Menkav-2 Mar, Menart-2 Mar,
Menbanpur-2 Mar, dan YonTaifib-2 Mar.
Sementara itu, untuk Pasmar III baru pada tahap persiapan. Saat ini Brigadir Infanteri-3
dipersiapkan sebagai embrio pembentukan Pasmar III yang direncanakan berkedudukan di
Lampung. Oleh karena itu keberadaan Brigif-3 saat ini belum di bawah Pasmar III, melainkan
berada langsung di bawah Dankomar. Markas Komando (Mako) Brigif-3 Marinir saat ini masih
berada di Jakarta untuk kemudian hari akan dipindahkan ke Lampung dan membawahi
Yonif-7 Mar, Yonif-8 Mar, dan Yonif-9 Mar. Setiap Batalyon Infanteri Marinir 6 saat ini
berkomposisi antara 500-700 personil dari jumlah 712 personil menurut juklaknya (petunjuk
pelaksana). 7
Setiap Batalyon Infanteri Marinir dipimpin oleh perwira Marinir berpangkat Letkol. Brigade
Infanteri Marinir dipimpin oleh perwira berpangkat Kolonel. Pasmar dipimpin perwira
berpangkat bintang satu, sedangkan pucuk pimpinan (Komandan Korps Marinir) dipimpin
oleh perwira Marinir berpangkat bintang dua.
Pasukan Infanteri Marinir TNI AL dilengkapi dengan tank jenis LT sebanyak 55 unit dengan
tipe PT-76, Recce sebesar 21 unit BRDM, juga dilengkapi dengan AIFV sebanyak 24 unit
dengan tipe AMX-10, sebanyak 100 unit APC BTR-50, artileri T sebanyak 50 unit, dimana
artileri dengan kaliber 105 mm sebanyak 22 unit dan artileri dengan kaliber 122 mm sebesar
28 unit. Resimen Air Defense dilengkapi dengan MRL (Multiple Rocket Launcer) sebanyak 12
unit berkaliber 40 mm sampai dengan 57 mm. 8
116
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Tabel 1. Batalyon Infanteri Korps Marinir TNI AL
Brigade Infanteri
1. Brigade Infanteri 1/Marinir
· Batalyon Infanteri 1/Marinir
· Batalyon Infanteri 3/Marinir
· Batalyon Infanteri 5/Marinir
2. Brigade Infanteri 2/Marinir
· Batalyon Infanteri 2/Marinir
· Batalyon Infanteri 4/Marinir
· Batalyon Infanteri 6/Marinir
Kedudukan
Surabaya (Pasmar I)
3. Brigade Infanteri 3/Marinir
· Batalyon Infanteri 7/Marinir
· Batalyon Infanteri 8/Marinir
· Batalyon Infanteri 9/Marinir
Jakarta
(embrio Pasmar III
Lampung
Jakarta (Pasmar II)
Sumber: “Batalyon Infanteri Marinir TNI AL,” dalam Majalah Angkasa
Edisi Koleksi, No. XXXVIII, 2007, hal. 45.
Batalyon Intai Amfibi (Yon Taifib)
Salah satu unsur penting dalam Korps Marinir adalah adanya pasukan elit yang sering
disebut sebagai Batalyon Intai Amfibi (Yon Taifib). Batalyon ini merupakan satuan elit dalam
Korps Marinir seperti halnya Kopassus dalam jajaran TNI Angkatan Darat. Dengan
mengusung semboyan Maya Netra Yamadipati (yang berarti “datang senyap, beraksi dengan
senyap, dan bahkan saat pergipun tetap dalam kondisi senyap”), satuan Taifib dipersiapkan di
tiga media yakni darat, laut dan udara. Pada awalnya satuan ini dikenal dengan nama KIPAM
(Komando Intai Para Amfibi). Untuk menjadi anggota Yon Taifib, calon diseleksi dari prajurit
Marinir yang memenuhi persyaratan mental, fisik, kesehatan, dan telah berdinas aktif
minimal dua tahun. Salah satu program latihan bagi siswa pendidikan intai amfibi, adalah
berenang dalam kondisi tangan dan kaki terikat sejauh 3 km. Dari satuan ini kemudian
direkrut lagi prajurit terbaik untuk masuk kedalam Detasemen Jala Mangkara (Denjaka),9
pasukan elitnya TNI Angkatan Laut.
Sejak berdirinya KKO AL setiap penugasan dirasakan perlunya data-data intelijen, serta
pasukan khusus yang terlatih dan mampu melaksanakan kegiatan khusus yang tidak dapat
dikerjakan oleh satuan biasa dalam rangka keberhasilan tugas. Menjawab kebutuhan
tersebut, pada tanggal 13 Maret 1961 berdasarkan Surat Keputusan (SK) Komandan KKO AL
No.47/KP/KKO/1961 tanggal 13 Maret 1961, tentang pembentukan KIPAM. Pada tanggal 13
Maret 1961, KIPAM berdiri dibawah Yon Markas Posko Armatim – I. Pada tanggal 25 Juli 1970
9
Istilah Jala Mangkara berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti 'Pengawal Samudera”. Detasemen Jala
Mangkara (Denjaka) merupakan sebuah detasemen pasukan khusus TNI Angkatan Laut. Denjaka adalah satuan
gabungan antara personil Yon Taifib Korps Marinir dan Kopaska (Korps Pasukan Katak). Denjaka memiliki tugas
pokok membina kemampuan anti-teror dan anti-sabotase di laut dan di daerah pantai serta kemampuan
klandestin aspek laut. Lihat dalam Majalah Defender, Maret 2008, hal. 22-29.
117
KORPS MARINIR
KIPAM berubah menjadi Yon Intai Para Amfibi. Tanggal 17 November 1971 Yon Intai Para
Amfibi berubah menjadi Satuan lntai Amfibi, pada akhirnya berubah menjadi Batalyon Intai
Amfibi atau disingkat Yon Taifib Mar dibawah Resimen Bantuan Tempur Korps Marinir
(Menbanpurmar). Seiring dengan perkembangan Korps Marinir dengan peresmian Pasmar I
SK KASAL No. Skep/08/111/2001 tanggal 12 Maret 2001 tentang Yon Taifib Marinir tidak lagi di
bawah Menbanpurmar, akan tetapi langsung berada di bawah Pasmar. Melihat lingkup
penugasan serta kemampuannya, akhirnya Yon Taifib secara resmi disahkan menjadi
Pasukan Khusus TNI AL. Hal ini sesuai dengan SK KASAL No. Skep/1857/XI/2003 tanggal 18
November 2003 tentang Pemberian Status Pasukan Khusus kepada Batalyon Intai Amfibi
(Yon Taifib) Korps Marinir.
Seiring dengan pemekaran postur TNI AL, dibentuk Pasukan Marinir (Pasmar) II menyusul
keberadaan Pasmar I. Maka secara otomatis terdapat 2 Batalyon Intai Amfibi (Yon Taifib) yakni
Yon Taifib 1 Pasmar I di Kesatrian Karang Pilang, Surabaya, dan Yon Taifib 2 Pasmar II di
Kesatrian Brigade Infanteri 2 Marinir, Cilandak, Jakarta.10
Yon Taifib mempunyai tugas pokok membina dan menyediakan kekuatan serta membina
kemampuan unsur-unsur amfibi maupun pengintaian darat serta tugas-tugas operasi
khusus dalam rangka pelaksanaan operasi pendaratan amfibi, operasi oleh satuan tugas TNI
AL atau tugas-tugas operasi lainnya. Adapun karakteristik yang menonjol dari prajurit Yon
Taifib adalah sebagai berikut: pertama, dihasilkan melalui seleksi yang ketat, berasal dari
prajurit Marinir pilihan yang mempunyai kemampuan fisik prima, serta mempunyai tingkat
psikologi standar Pasukan Khusus sesuai tuntutan. Kedua, rasio pasukan Yon Taifib selalu jauh
lebih kecil dari pasukan biasa/reguler, karena dalam tugas-tugas khusus dituntut kecepatan,
kerahasiaan yang tinggi, keakuratan, keuletan, disiplin lapangan serta keberhasilan tugas.
Ketiga, dididik dengan ketat dan keras melalui beberapa tahap, dimana setiap tahapan yang
dibuat untuk mengukur tingkat kesiapan siswa dan melanjutkan proses penggemblengan
untuk menjadi calon prajurit Taifib. Keempat, dilatih secara khusus mengikuti program yang
ketat dengan tingkat resiko yang tinggi. Hal tersebut tergambar dalam program berupa
pembinaan yang keras, pembinaan mental dengan tingkat stressing yang tinggi, pembinaan
berbagai keterampilan khusus yang dikondisikan seperti dalam tugas sebenarnya. Latihanlatihan tersebut meliputi kemampuan dalam aspek yang harus dilaksanakan, yaitu dilaut,
darat dan udara. Kelima, mempunyai kemampuan melaksanakan tugas secara berdiri sendiri,
dari induk pasukan dalam artian mampu melaksanakan survival secara tim maupun
perorangan, mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya dan mampu mengatasi
tekanan mental di daerah penugasan, kemampuan infiltrasi dan eksfiltrasi ke atau dari
daerah musuh melalui media, antara lain free fall dengan sistem HALO (High Altitude Low
Opening) dan HAHO (High Altitude High Opening), STABO (Stabilized Tactical Airbone
10
Beberapa bagian paparan tentang Yon Taifib diolah dari Wikipedia Bahasa Indonesia dan tulisan Santoso
Purwoadi, “Yon Taifib Marinir TNI AL,” dalam Majalah Commando, Volume I, No. 3 November-Desember 2004, hal.
5-14.
118
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Operation)/SPIE, berenang, menyelam, serta salah satu kemampuan bawah air atau combat
swimmer melalui peluncur torpedo kapal selam.
a.
Kemampuan
Pada hakikatnya prajurit Yon Taifib melaksanakan tugas berbagai misi intelijen dan
rahasia baik sebelum, sesaat, hingga sesudah pelaksanaan operasi pendaratan amfibi.
Sebelum melakukan pendaratan, pasukan Taifib melakukan pengintaian agar informasi
mutakhir keberadaan musuh, cuaca, kondisi alam, serta data hidrografis terkait bakal lokasi
pendaratan (dalam cakupan wilayah radius 15 km dari garis batas air surut) dapat diketahui
secara pasti.
Di awal operasi amfibi, pasukan ini harus memantau gerakan dan formasi pihak musuh yang
ada di dalam dan di luar beach head (tumpuan pantai). Jika saatnya tepat, formasi dan
konsentrasi musuh akan dihancurkan dengan bantuan tembakan dari kapal perang atau
pesawat tempur. Selama penembakan berlangsung, pasukan Taifib harus berada di kawasan
aman. Namun jika diperlukan, pasukan Taifib dapat pula menggantikan peran sebagai
peninjau depan (pengarah tembakan) pada unit pelaksana bantuan tembakan. Oleh karena
itu posisinya setiap saat harus dilaporkan kepada pimpinan Komando Tugas Amfibi
(Kogasfib).
Pada saat pasukan pendarat berhasil menjangkau di wilayah tumpuan pantai, bukan berarti
tugas pasukan Taifib selesai. Karena pasukan ini selanjutnya bertugas untuk mengamati
situasi dan kondisi pedalaman selepas wilayah tumpuan pantai. Sasarannya adalah meliputi
rute pelintasan darat, jembatan, dan tempat penyeberangan sungai yang memungkinkan
dapat dipakai, serta daerah aman yang dapat digunakan sebagai titik pendaratan darurat
pasukan para dan helikopter.
Dalam situasi khusus, satuan Taifib juga dilibatkan dalam berbagai operasi penggalangan
terbatas (bekerjasama dengan satuan teritorial setempat), sabotase, dan bahkan penculikan
terhadap para pejabat tinggi pihak musuh. Selain itu, satuan Taifib juga harus mampu
melaksanakan tugas pengamanan terhadap berbagai obyek vital maupun tokoh/pejabat
berstatus VVIP (very very important person). Bahkan satuan ini dapat pula dilibatkan dalam
operasi SAR (Search and Rescue) biasa maupun SAR tempur.
Jika terjadi insiden penyanderaan, satuan ini dapat bertindak sebagai negosiator.
Dikarenakan personil Taifib sudah terbiasa dalam menangani tindak terorisme, maka tidak
mengherankan apabila satuan ini menjadi pemasok utama bagi satuan anti-teror Detasemen
Jala Mangkara (Denjaka).
a.
Seleksi dan Pendidikan
Agar dapat melaksanakan semua tugasnya dengan baik, dari setiap personil Yon Taifib
dituntut memiliki kemampuan yang tinggi. Selain berdaya fisik yang prima dan bermental
tangguh, mereka juga harus menguasai prosedur, teknik, dan taktik dasar kemiliteran, baik di
119
KORPS MARINIR
tingkat perorangan/individu maupun kompi. Selain itu personil Taifib juga harus mampu
merencanakan sekaligus melaksanakan misi pengintaian pada tingkat batalyon atau brigade
Infanteri.
Calon personil Yon Taifib berasal dari prajurit Korps Marinir yang telah berdinas minimal satu
tahun dengan batasan usia antara 20-35 tahun. Ia harus lebih dahulu lulus berbagai tes yang
dilangsungkan selama tiga minggu, mulai dari pemeriksaan kesehatan lengkap, psikotes, tes
chamber (uji ketahanan dalam ruang tertutup bertekanan udara setara dengan kondisi di
laut pada kedalaman 20 meter) selama 45 menit, hingga tes kemampuan jasmani. Tahap
psikotes merupakan tahap terberat karena pada tahap ini kepribadian dan kondisi psikis
seorang calon dapat terlihat agar dihasilkan individu yang setia, berani, mandiri, dan bisa
mengambil keputusan secara cepat, serta tidak panik meski dalam kondisi kritis.
Setelah lolos dari berbagai tes, kemudian mereka mengikuti pendidikan di Sekolah
Peperangan Khusus Marinir, di Surabaya, selama 10 bulan. Selama pendidikan ini mereka
mendapatkan materi latihan intai amfibi secara menyeluruh dan ketat. Materi inti latihan intai
amfibi berorientasi pada tiga aspek medan operasinya yakni darat, udara dan laut. Silabusnya
disusun mirip program pendidikan satuan US Navy Seal. Materi latihan aspek laut sangat
banyak. Medan latihan aspek laut meliputi selam kedalaman, selam tempur, infiltrasi bawah
air, demolisi bawah air, sabotase bawah air, selam SAR, renang jarak sedang sampai dengan
jarak jauh dan pengintaian hidrografi menggunakan daerah latihan pantai Pasir Putih, pantai
Gatel dan pantai Banongan, adapun untuk materi menembus gelombang menggunakan
daerah latihan pantai selatan yang tinggi gelombangnya mencapai rata-rata sampai dengan
sepuluh meter yaitu pantai Lampon, pantai Rajeg Wesi dan sekitarnya. Kemampuan
berenang di laut dengan jarak jauh yang merupakan persyaratan siswa Taifib adalah
menyeberangi teluk Poncomoyo sejauh ± 12 km/7 mil. Disini para siswa Taifib dihadapkan
pada kondisi laut yang mempunyai arus kuat dan gelombang yang tinggi serta jarak yang
jauh dengan batas waktu yang ditentukan.
Medan latihan SAR dilaksanakan di daerah Karangtekok, Pasir Putih, G. Ringgit dan sekitarnya
dengan materi latihan pencarian korban di laut, hutan, jurang, teknik evakuasi korban di
darat dan laut, penyiapan HLZ, penyelamatan korban yang masih hidup, P3K atau kesehatan
lapangan terbatas. Dalam melaksanakan kegiatan ini para siswa Taifib harus mempunyai
kemampuan rappeling, helly water jump, IMMP (Ilmu Medan dan Membaca Peta) dan P3K
serta kesiapan fisik yang prima.
Aspek Udara menggunakan Lanudal Juanda, Pasuruan, dan Ujung, Surabaya serta sekitarnya.
Materi latihan yang dilaksanakan meliputi: rapeling, air mobile, mobud, STABO/SPIE, helly
water jump, pandu para, air supply, para dasar, free fall, terjun static/free fall laut, terjun diatas
simulator kapal, terjun tempur static malam hari, terjun tempur free fall malam hari dan
rubber duck operation. Dengan ini diharapkan seorang personil Yon Taifib Marinir mahir dalam
aneka operasi lintas udara. Khusus bagi personil yang telah 3 kali ikut kegiatan terjun payung,
pada brevet (tanda kecakapan) tri-medianya ditambahkan lambang bintang.
120
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Pada pendidikan tahap lanjutan, materi latihan operasi gerilya dan anti gerilya (GAG) dengan
metode satu pihak dikendalikan dan dipraktekkan bagaimana peran para siswa Taifib dalam
melaksanakan operasi GAG yang dikondisikan seperti penugasan TNI yang berada di daerah
konflik, diharapkan para siswa ada kesiapan yang baik pada saat dihadapkan pada operasi
gerilya yang banyak diterapkan di daerah konflik/daerah operasi. Kemampuan sabotase
terhadap sasaran-sasaran vital musuh serta kemampuan penculikan dan pembebasan VVIP,
dimana tingkat stressing siswa diberikan pada setiap kesempatan, dan disini para siswa teruji
saat praktek operasi gerilya dan anti gerilya. Tak ketinggalan juga teknik dan taktik
pertempuran dalam ruangan (close quarter battle) dalam rangka operasi pembebesan
sandera.
Untuk eksfitrasi lintas darat, para siswa Taifib harus melaksanakan materi latihan lintas medan
(Limed) selama tujuh hari yang harus ditempuh rata-rata 50 sampai dengan 60 km perhari,
dihadapkan dengan berbagai medan yang sulit baik melintasi hutan, jurang, sungai, padang
pasir, perkampungan penduduk dengan batas kemampuan dan keterampilan
melaksanakan tugas dalam waktu yang ditentukan, diharapkan para siswa dapat memupuk
rasa kerjasama, setiakawan dan kebersamaan.
Materi latihan pengintaian dilaksanakan untuk mendapatkan informasi musuh dan mencari
sasaran strategis musuh. Para siswa Taifib melaksanakan patroli jarak jauh dan masuk
menusuk daerah musuh dengan resiko yang tinggi. Para siswa dihadapkan pada kesiapan
fisik, taktik dan kondisi yang berbahaya serta kejenuhan, untuk mendapatkan data intelijen
dalam rangka mendukung satuan atas yang harus dilaporkan sebelum satuan yang lebih
besar melaksanakan serangan secara umum.
Pada materi khusus, yaitu tawanan perang (POW) siswa Taifib dikondisikan dalam kekuasaan
musuh untuk diinterogasi dimana musuh ingin mengetahui kekuatan dan disposisi pasukan
yang lebih besar, para siswa mendapatkan tekanan baik fisik maupun mental yang sangat
berat, diharapkan kesiapan para siswa Taifib mempunyai bekal mental yang cukup apabila
harus ditawan oleh musuh dengan berbagai tekanan pasukan lawan untuk tetap dapat
memegang rahasia dengan baik dan tidak merugikan pasukan yang lebih besar sekalipun
harus mati ditangan musuh. Dalam upaya meloloskan diri dari tawanan musuh, para siswa
diajarkan bagaimana teknik meloloskan diri apabila melintas di perairan (sungai), yaitu
berenang dengan kaki dan tangan terikat yang dalam istilah materi pelajaran drown
proofing. Untuk latihan infiltrasi ke daerah lawan, dilaksanakan cast dengan kapal cepat
dengan kecepatan diatas 20 knot dan recovery dengan batas waktu yang sudah
direncanakan secara akurat.
Pengembangan Korps Marinir
Pokok persoalan yang menjadi pedoman TNI dalam pembangunan postur TNI adalah
sebagai berikut: Pertama, melakukan reposisi, redefinisi dan reaktualisasi peran TNI sebagai
alat negara. Kedua, pembangunan TNI dengan meningkatkan rasio kekuatan sebagai
komponen utama dalam sishankamrata. Ketiga, mengembangkan kekuatan pertahanan
121
KORPS MARINIR
negara kewilayahan yang didukung dengan sarana dan prasarana serta anggaran yang
memadai. Keempat, meningkatkan kualitas profesionalisme TNI. Dan Kelima, membangun
kerjasama pertahanan dan penyiapan satuan dalam rangka pertahanan dunia.11
Untuk mengembangkan Korps Marinir, kita dapat berpedoman pada visi Korps Marinir
bahwa pembinaan Korps Marinir ditujukan, antara lain untuk: (1) Mewujudkan kualitas
sumber daya manusia prajurit Korps Marinir yang disiplin, bermoral dan bermartabat melalui
p r o g r a m p e n d i d i k a n y a n g s i s t e m a t i s , t e r u k u r, b e r k u a l i t a s d a n d a p a t
dipertanggungjawabkan. (2) Meningkatkan jiwa korsa dan moril prajurit Marinir melalui
pembinaan perilaku dan tradisi korps, agar dapat menjadi contoh dan tauladan dimanapun
berada. Dan (3) Terwujudnya prajurit Marinir yang bermoral, profesional dan dicintai rakyat
baik perorangan maupun satuan melalui sistem pembinaan latihan secara bertingkat dan
berlanjut serta latihan gabungan TNI AL/TNI maupun latihan bersama dengan negara lain.
Setidaknya terdapat dua persoalan utama yang perlu dilakukan dalam rangka
pengembangan Korps Marinir untuk menjadi kekuatan militer yang profesional, yaitu
masalah pembinaan alutsista dan pembinaan sumber daya manusia (SDM). Saat ini personil
Marinir masih jauh dari kondisi ideal baik dalam persoalan jumlah personil maupun
dukungan alutsistanya.
a.
Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista)
Persoalan yang dihadapi oleh Korps Marinir tidak jauh beda dengan yang dialami oleh
satuan lain dalam tubuh TNI, terutama keterbatasan anggaran dalam upaya meningkatkan
kualitas alutsista (alat utama sistem persenjataan). Hal ini tidak terlepas dari persoalan yang
dihadapi oleh negara Indonesia sejak krisis moneter tahun 1997 yang lalu.
Belum lama ini masyarakat dikejutkan dengan musibah tenggelamnya Panser Amfibi BTR
50P milik Marinir TNI AL dalam sesi latihan perang di Situbondo, Jawa Timur yang
mengakibatkan enam prajurit Marinir tewas. Musibah ini hanya salah satu dari sekian banyak
kasus musibah yang telah menimpa peralatan maupun personil prajurit TNI saat
menjalankan tugasnya. Memang harus diakui bahwa sekitar 70% alutsista TNI tidak bisa
dioperasionalkan secara optimal karena faktor usia. Pada saat yang bersamaan alokasi
anggaran pertahanan negara dalam APBN sangat terbatas. Anggaran pertahanan negara
tidak lebih dari 1% dari total anggaran dalam APBN 2008, yakni hanya Rp. 36 trilyun yang
setara dengan 0,7% dari total APBN.12
Anggaran tersebut lebih banyak digunakan untuk membiayai anggaran rutin, seperti gaji
pegawai, belanja barang, belanja pemeliharaan, dan perjalanan dinas daripada pengeluaran
untuk pembangunan sistem, personil, fasilitas, dan materiil. Artinya, jumlah anggaran yang
tersedia tidak mencukupi untuk membiayai pengembangan kekuatan pertahanan negara.
11
12
Connie Rahakundini Bakrie, op. cit., hal. 95.
Majalah Defender, Maret 2008, hal. 4
122
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Pola alokasi anggaran seperti ini dapat dikatakan masih berbasis pada kekuatan personil,
padahal pola demikian tidak tepat bagi unit organisasi yang titik berat kekuatannya terletak
pada alutsista berteknologi tinggi dalam menjaga kedaulatan negara kepulauan, seperti
Indonesia.13 Menurut Snyder, diantara negara-negara di Asia Tenggara, Indonesia bersama
Vietnam dan Filipina, dikategorikan sebagai negara yang tidak memiliki kemampuan
finansial untuk melakukan modernisasi alutsista.14
Tabel 2. Daftar Alutsista Marinir
Alutsista Marinir
Light and Small Arms
1. SS1-R5 Rider, senapan serbu buatan PT. Pindad Indonesia
2. SS2, senapan serbu buatan PT. Pindad Indonesia
3. AK-47, senapan serbu Kalashnikov buatan Rusia
4. AK-101, senapan serbu Kalashnikov buatan Rusia
5. M4
6. MP5, senapan serbu anti teror, buatan Jerman
Light Tank
1. PT-76 B, buatan Rusia tahun 1960-an
Ranpur dukung Infanteri
1. AMX-10 PAC 90 dan AMX -10 Marines, buatan Perancis
2. BMP-2, buatan Rusia
3. BMP-3, buatan Rusia
Ranpur Angkut Personel Dipersenjatai (APC)
1. BTR-50, buatan Rusia
2. BTR-80, buatan Rusia
Kendaraan Peluncur Roket Masif (MRL)
1. RM-70 Grad, buatan Republik Ceko
Artileri
1. Howitzer 120mm
Dengan kondisi seperti di atas, maka kiranya pemerintah perlu mencari jalan keluar
bagaimana agar kebutuhan alutsista TNI dapat terpenuhi dengan baik. Modernisasi alutsista
dapat dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan kemampuan ekonomi negara,
dukungan anggaran, dan prioritas pembangunan agar terwujud kekuatan dan kemampuan
TNI (Marinir) yang memiliki mobilitas dan daya tempur tinggi.
b.
Pembinaan SDM
Salah satu aspek yang cukup penting selain masalah terbatasnya anggaran dalam
pengadaan alusista TNI adalah berkaitan pembinaan sumber daya manusia dari personil
Korps Marinir. Masalah yang dihadapi saat ini adalah belum terpenuhinya komposisi jumlah
prajurit Marinir yang ideal dan kualitas prajurit yang masih perlu ditingkatkan. Selain itu,
13
14
Connie Rahakundini Bakrie, op. cit., hal. 6.
Craig Snyder, “Maritime Security in Southeast Asia,” dalam Damien Kingsbury (ed.), Violence in Between: Conflict
and Security in Archepelagic Southeast Asia, Monash University Press, Singapore, 2005, hal. 105-125, dalam ibid.
123
KORPS MARINIR
rotasi pasukan Marinir yang ada tampaknya masih belum memuaskan, dan dalam banyak
kasus sangat berhubungan dengan adanya intensitas penugasan Marinir ke daerah-daerah
konflik cukup tinggi. Tercatat rata-rata 52% dari kekuatan yang ada banyak terlibat dalam
penugasan tersebut, apalagi jika dikaitkan dengan peralatan Marinir yang masih terbatas.15
Pembinaan SDM prajurit Marinir merupakan hal yang mendesak dilakukan sejalan dengan
upaya modernisasi alutsista TNI, untuk mewujudkan postur pertahanan yang kuat dan
profesional. Pertama, Pembinaan SDM dapat dilakukan sejak awal rekrutmen dan pendidikan
bagi prajurit Marinir. Kedua, untuk meningkatkan kualitas personil Marinir maka pengiriman
personil Marinir untuk pendidikan di luar negeri (misalnya dalam skema IMET – International
Military Education and Training) menjadi hal yang sangat penting.
Ketiga, peningkatan profesionalisme prajurit Marinir dapat dilakukan dengan meningkatkan
intensitas latihan perang baik yang melibatkan 3 matra dalam TNI (latihan gabungan)
maupun latihan bersama yang melibatkan militer negara lain. Misalnya, latihan perang
bersama Korps Marinir dengan pihak US Marines Corps Marinir (USMC) di Karangtekok dan
Pantai Banongan Situbondo pada 21-25 Juli 2008 lalu, dalam rangka meningkatkan
kemampuan profesional prajurit Korps Marinir.
Keempat, untuk meningkatkan pembinaan SDM prajurit Marinir dapat juga dilakukan
dengan melibatkan personil Marinir dalam misi perdamaian PBB, seperti pengiriman personil
Marinir menjadi bagian dari kontingen Garuda XXIII untuk bergabung dalam misi
perdamaian (PKO, peakeeping operations) PBB (UNIFIL, United Nations Interim Force in
Lebanon). Pelibatan personil Marinir tersebut tentunya akan lebih meningkatkan
kemampuan prajurit, terutama dalam kemampuan bahasa, pengalaman, manajemen,
operasi maupun profesionalisme militer yang lain.
Terakhir, pembangunan dan pembinaan sumber daya manusia (SDM) personil Korps Marinir
harus dilakukan secara berkelanjutan untuk menghasilkan prajurit Marinir yang disiplin,
profesional dan tangguh, dengan semangat juang tinggi dan berjiwa sapta marga.
Penutup
Seiring dengan perkembangan zaman terutama untuk menuju terbentuknya organisasi
militer yang modern dan profesional, Korps Marinir baik secara organisator maupun
pembinaan kekuatannya dituntut mengalami perubahan. Perubahan yang dimaksud antara
lain reorganisasi pasukan Korps Marinir dengan melihat komposisi ataupun jumlah
personilnya serta pengembangan kesatuan-kesatuan yang ada dalam strukur organisasi TNI.
Selain itu, modernisasi alutsista TNI (khususnya Marinir) menjadi hal yang mendesak untuk
dilakukan, mengingat semakin lemahnya kekuatan militer Indonesia. Padahal dalam
perkembangannya, potensi ancaman ke depan terhadap keamanan teritorial dan
kedaulatan negara ini semakin nyata.
15
“Kondisi Komponen Utama,” Sub Lampiran 'B' Peraturan Menhan, Departemen Pertahanan, 7 Oktober 2005,
hal. 7, dalam ibid.hal. 109.
124
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Oleh karena itu, pemerintah harus mampu menyediakan dan mencukupi kebutuhan
anggaran pertahanan baik untuk modernisasi alusista maupun pengembangan sumber
daya manusia prajurit TNI. Hal ini membutuhkan persamaan persepsi dari semua elemen
bangsa untuk mendukung visi pertahanan negara berdasarkan grand strategy yang telah
dirumuskan dan konsepsi strategis mengenai gelar pasukan TNI. Tanpa adanya dukungan
penuh dari pemerintah dan rakyat Indonesia, maka TNI (Korps Marinir) tidak dapat berbuat
banyak dalam mengemban tugas yang disandangnya sebagai militer yang profesional.<
Referensi
Connie Rahakundini Bakrie, Pertahanan Negara dan Postur TNI Ideal, Yayasan Obor Indonesia,
Jakarta, 2007.
Majalah Angkasa Edisi Koleksi, No. XXXVIII, 2007.
Majalah Commando, Volume I, No. 3 November-Desember 2004.
Majalah Commando, Volume IV, Edisi. 3 Tahun 2008.
“Mimpi Korps Marinir,” dalam Sinar Harapan, 14 November 2005.
“Korps Marinir”, http://www.marinir.mil.id, diakses 10 April 2009.
http://www.tni.mil.id
http://www.tnial.mil.id
Wikipedia Bahasa Indonesia, tentang Marinir dan TNI AL.
125
KORPS MARINIR
Lampiran 1. Struktur Organisasi Korps Marinir
KORMAR
STAF KORMAR
IT KORMAR
SPRI
SRENA SINTEL SOPS SPERS SLOG
SETUM
DISPEN
DIS
KOMPLEK
PUSKODAL
DIS
MINPERS
DENMA MAKO
DISKUM
DISKES
PASMAR I
KOLATMAR
BRIGIF-3 MAR
DISPROV
DISMAT
PASMAR II
RUMKIT CLD
LANMAR
DENJAKA
Dasar :
=
Keputusan KASAL No KEP/13/VI/2001 Tanggal 26 Juni 2001
=
Keputusan KASAL No KEP/03/II/2004 Tanggal 13 Februari 2004
Sumber: “Korps Marinir”, http://www.marinir.mil.id, diakses 10 April 2009.
126
DISKU
INFOLAHTA
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Lampiran 2. Daftar Komandan Korps Marinir
No
Pangkat
Nama
Masa Jabatan
1
Laksamana Muda
Agoes Soebekti
1945 – 1950
2
Mayjen KKO
R. Soehadi
1950 – 1961
3
Letjen KKO
Hartono
1961 – 1968
4
Letjen TNI KKO
Moekijat
1968 – 1971
5
Mayjen TNI (Mar)
H. Moh. Anwar
1971 – 1977
6
Letjen TNI (Mar)
Kahpi Suriadiredja
Juli 1977 – Mei 1983
7
Brigjen TNI (Mar)
Muntaram
Mei 1983 – Januari 1987
8
Brigjen TNI (Mar)
Aminullah Ibrahim
Januari 1987 – Agustus 1990
9
Mayjen TNI (Mar)
Baroto Sardadi
Agustus 1990 – November 1992
10
Brigjen TNI (Mar)
Gafur Chaliq
Desember 1992 – April 1994
11
Mayjen TNI (Mar)
Djoko Pramono
April 1994 – Februari 1996
12
Brigjen TNI (Mar)
Suharto
Februari 1996 – 1999
13
Mayjen TNI (Mar)
Harry Triono
1999 – November 2002
14
Mayjen TNI (Mar)
Achmad Rifai
November 2002 – November 2004
15
Mayjen TNI (Mar)
Safzen Noerdin
9 November 2004 – 6 Juni 2007
16
Mayjen TNI (Mar)
Nono Sampono
6 Juni 2007 – 18 Oktober 2008
17
Mayjen TNI (Mar)
Djunaidi Djahri
18 Oktober 2008 – sekarang
127
Badan Intelijen Strategis (BAIS)
BADAN INTELIJEN STRATEGIS (BAIS)
Rizal Darma Putra 1
Latar Belakang
Dinas intelijen resmi pemerintah Indonesia saat ini yang cakupan tugasnya meliputi berbagai
aspek dan lintas sektoral serta bertanggungjawab langsung secara hierarkis kepada Presiden
sebagai pengguna adalah Badan Intelijen Negara (BIN). BIN belum memiliki undang-undang
sendiri, namun masih berdasarkan pada Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 30
Tahun 2003 tentang Perubahan Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang
Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga
Pemerintahan Non Departemen Sebagaimana telah beberapa kali diubah dengan
Keputusan Presiden No.46 Tahun 2002, Badan Koordinasi Intelijen Negara berubah menjadi
Badan Intelijen Negara (BIN). Tugas pokok dan fungsi BIN adalah pengemban tugas intelijen
nasional dan berperan menyelenggarakan intelijen community.2 Sehingga hubungan BIN
dengan lembaga intelijen lainnya merupakan hubungan antar dinas intelijen dalam suatu
intelijen community. Artinya tidak ada hierarki komando antara BIN dengan dinas-dinas
intelijen non- BIN.
Selain BIN terdapat institusi negara yang juga menjalankan tugas-tugas intelijen seperti unit
intelijen Kejaksaan Agung, Imigrasi, Bea Cukai, Badan Intelijen Keamanan Kepolisian
Republik Indonesia, dan tentunya dinas intelijen yang menonjol pada masa pemerintahan
mantan presiden Soeharto adalah dinas intelijen militer atau Tentara Nasional Indonesia
(TNI), yang saat ini dikenal dengan nama Badan Intelijen Strategis (BAIS).
Dapat dikatakan bahwa dari sejumlah lembaga intelijen yang disebutkan diatas, secara
hierarki hanya BIN sebagai dinas intelijen yang usernya secara langsung adalah presiden.
Sementara itu dinas intelijen militer seperti BAIS dan intelijen kepolisian – Baintelkam,
masing-masing dalam hierarkinya (Kepala BAIS dan Kepala Baintelkam) bertanggungjawab
terhadap pimpinan puncak masing-masing institusi sebagai user, yakni dimana Panglima TNI
sebagai user langsung dari BAIS yang dipimpin oleh seorang Kepala BAIS berpangkat Mayor
Jenderal, lantas untuk Baintelkam dipimpin oleh seorang Inspektur Jenderal Polisi yang
setara dengan Mayor Jenderal dalam kepangkatan militer, dengan user pada level puncaknya
adalah Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri). Kemudian pimpinan kedua lembaga
tersebut (Panglima TNI dan Kapolri) menyajikan laporan intelijen dari institusinya masingmasing kepada Presiden.
Walaupun dalam hal ini BIN merupakan dinas intelijen yang bertanggungjawab langsung
terhadap Presiden, namun BIN tidak memiliki kewenangan operasional terhadap dinas
1 Rizal Darma Putra adalah Direktur Eksekutif Lesperssi, Jakarta
2 Y. Wahyu Saronto, Intelijen – Teori, Aplikasi, dan Modernisasi, PT Ekalaya Saputra, Jakarta 2004, hal.21-22.
128
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
intelijen militer dan kepolisian, yang nota bene memiliki sumber daya dan dukungan struktur
sampai ke tatanan masyarakat paling bawah yakni pedesaan. BAIS justru memiliki jangkauan
akses sumber daya yang memberikan kontribusi informasi dari luar negeri, yakni melalui
Atase Pertahanan dan perangkatnya di tiap-tiap Kedutaan Besar Republik Indonesia. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa BAIS merupakan organisasi intelijen militer yang
jangkauan operasinya cukup luas (khususnya di lingkup domestik) dengan didukung oleh
struktur intelijen yang relatif tidak mengalami perubahan, baik pada masa sebelum dan
sesudah reformasi.
Isu dan Persepsi Ancaman
Dinas intelijen seyogyanya dalam melakukan ''penilaian'' terhadap ancaman nasional (threat
assessment) hendaknya berlandaskan pada suatu konsensus dari otoritas politik, yakni
dimana partai politik yang duduk di parlemen (dapat melalui komisi intelijen) membuat
suatu rumusan umum mengenai suatu isu yang dikategorikan sebagai ''ancaman nasional''.
Atau dinas intelijen memaparkan kepada parlemen tentang sejumlah isu yang dikategorikan
sebagai ancaman nasional, sehingga parlemen dapat menyepakatinya sebagai suatu
persepsi bersama atas ancaman nasional, lantas dinas intelijen merumuskan kerangka
teknisnya dari sisi langkah operasional dan tindakan apa saja yang kiranya dapat dilakukan.
Dengan demikian kebijakan di bidang intelijen sedikit banyak akan memperoleh ”payung”
hukum dan politik, karena dinas intelijen dalam memulai roda perputaran intelijen
(intelligence cycle) yang biasanya dimulai dari perencanaan atau pengarahan, telah
mendapatkan legitimasinya dari parlemen. Jadi, diharapkan pada saat ”persepsi ancaman”
telah disepakati oleh parlemen, maka dinas intelijen menjalankan kegiatannya dengan tidak
menyimpang dari garis kebijakan yang disepakati bersama. Maka hal ini diharapkan dapat
meminimalkan penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power) berupa digunakannya dinas
intelijen untuk kepentingan politik rezim berkuasa, atau kelompok kepentingan tertentu,
atau bahkan dengan ditunggangi oleh kepentingan negara atau dinas intelijen asing.
Selama tidak ada penetapan persepsi ancaman nasional dari parlemen dan otoritas politik
sipil, maka dinas intelijen akan cenderung membuat penafsiran sendiri atas kriteria ancaman
nasional sebagaimana yang mereka persepsikan. Seperti halnya dengan yang ditafsirkan
oleh Badan Intelijen Strategis (BAIS) yang nota bene merupakan intelijen militer, salah
satunya menafsirkan faktor ancaman internal (domestik) antara lain adalah dengan masih
menempatkan kelompok yang kritis di masyarakat, misalnya dengan menyebutkan sebagai
kelompok radikal kiri, radikal kanan, dan kelompok radikal lain. Penafsiran ancaman seperti
ini mengingatkan kembali kepada sebutan atau stigma yang dilakukan oleh aparat intelijen
pada masa rezim Soeharto dalam memberangus dan memberikan legitimasi untuk
”menindak” kelompok-kelompok kritis yang dianggap membangkang terhadap pemerintah
pada waktu itu.
Penafsiran ancaman nasional - seperti yang pernah dikemukakan Ka BAIS tahun 2006 - yang
berasal dari lingkungan domestik, dengan menempatkan sejumlah anggota masyarakat
yang bersikap kritis terhadap pemerintah sebagai suatu ancaman nasional, sehingga
129
Badan Intelijen Strategis (BAIS)
dikategorikan sebagai kelompok-kelompok radikal. Dimana dalam hal ini ”kelompokkelompok radikal” tersebut dianggap membahayakan ideologi negara Pancasila. Bahkan
dalam peryataannya tersebut, Ka BAIS juga mengindikasikan adanya sejumlah anggota
legislatif, eksekutif, dan yudikatif yang dikategorikannya sebagai kelompok radikal yang
”menyerang” pemerintah. Persepsi ancaman yang demikian merupakan suatu bentuk
penafsiran ancaman yang biasanya dimiliki oleh rezim otoriter, karena memandang pihak
yang berada diluar pemerintah sebagai potensi ancaman yang dapat mengganggu
kelangsungan pemerintah. Sehingga sikap kritis terhadap pemerintah ditafsirkan sebagai,
dapat mengganggu jalannya suatu pemerintahan yang dianggapnya identik dengan
ancaman atas keberlangsungan keamanan nasional.
Hal seperti ini masih saja terjadi karena selain tidak terlibatnya otoritas politik di lembaga
perwakilan rakyat dalam penetapan ”threat assessment”, juga dikarenakan belum
berubahnya pola operasi dan ruang lingkup dari dinas intelijen seperti BAIS yang seharusnya
lebih fokus pada aspek intelijen militer. Ternyata sejak digunakannya intelijen militer di
Indonesia bagi keperluan operasi politik domestik terutama pada masa rezim Soeharto,
sampai saat ini masih melakukan kegiatan intelijen yang tetap memantau dinamika politik
domestik, dan menafsirkan kelompok-kelompok non-kombatan di dalam masyarakat
sebagai suatu ancaman. Hal ini terjadi karena ruang lingkup tugas dan struktur organisasinya
hampir tidak berubah sejak lembaga ini dibentuk.
Sejarah Badan Intelijen Strategis (BAIS)
Walaupun BAIS bukan merupakan satu-satunya organisasi intelijen di dalam organisasi TNI,
namun BAIS adalah organisasi intelijen TNI yang paling diandalkan dan diberi
tanggungjawab utama oleh Mabes TNI dalam menjalankan fungsi intelijen yang tidak hanya
melakukan kegiatan intelijen militer, namun struktur organisasi BAIS juga
menyelenggarakan kegiatan intelijen yang cakupannya kepada permasalahan domestik
non-militer.
Evolusi BAIS
BAIS berasal dari Pusat Psikologi Angkatan Darat (disingkat PsiAD) milik Markas Besar TNI
Angkatan Darat (MBAD) untuk mengimbangi Biro Pusat Intelijen (BPI) di bawah pimpinan
Subandrio yang pada saat itu banyak menyerap anggota Partai Komunis Indonesia (PKI).
Di awal Orde Baru, Departemen Pertahanan dan Keamanan (Dephankam) mendirikan Pusat
Intelijen Strategis (disingkat Pusintelstrat) dengan anggota-anggota PsiAD sebagian besar
dilikuidasi ke dalamnya. Pusintelstrat dipimpin oleh Ketua G-I Hankam Brigjen L.B. Moerdani.
Jabatan tersebut terus dipegang sampai L.B. Moerdani menjadi Panglima Angkatan
Bersenjata Republik Indonesia. Pada era ini, intelijen militer memiliki badan intelijen
operasional yang bernama Satgas Intelijen Kopkamtib. Badan inilah yang di era Kopkamtib
berperan penuh sebagai Satuan Intelijen Operasional yang kewenangannya sangat superior.
Pada tahun 1980, Pusintelstrat dan Satgas Intel Kopkamtib dilebur menjadi Badan Intelijen
130
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
ABRI (disingkat BIA). Jabatan Kepala BIA dipegang oleh Panglima ABRI, sedangkan kegiatan
operasional BIA dipimpin oleh Wakil Kepala. Tahun 1986 untuk menjawab tantangan
keadaan BIA diubah menjadi BAIS. Perubahan ini berdampak kepada restrukturisasi
organisasi yang harus mencakup dan menganalisis semua aspek Strategis Pertahanan
Keamanan dan Pembangunan Nasional.
Belum lagi restrukturisasi dilaksanakan, terjadi lagi perubahan dimana BAIS dikembalikan
menjadi BIA, yang artinya secara formal lembaga ini hanya melakukan operasi intelijen
militer. Jabatan Kepala BIA kemudian tidak lagi dirangkap oleh Panglima ABRI. Lantas pada
tahun 1999, BIA kembali menjadi BAIS TNI.3 Bahkan hingga era-reformasi badan intelijen
militer ini masih menggunakan nama BAIS.
Dalam struktur organisasinya BAIS dipimpin oleh seorang Kepala yang berpangkat Mayor
Jenderal (senior) dan Wakil Kepala berpangkat Mayor Jenderal, yang membawahi para
Direktur yang masing-masing memimpin 7 direktorat yang menggerakkan organisasi
intelijen militer tersebut yakni;
Kepala
_____________
Wakil Kepala
DIR A
DIR B
DIR C
DIR D
DIR E
DANSAT
INTEL
DANSAT
INTEL TEK
DANSAT
INDUK
KADIS
SANDI
DIR F
DIR G
KASET
Berikut Penjelasannya :
- Direktorat A : direkturnya dijabat Pati bintang satu yang bertanggungjawab di bidang
lingkungan strategis dalam negeri
- Direktorat B: direkturnya dijabat Pati bintang satu yang bertanggungjawab di bidang
lingkungan strategis luar negeri
- Direktorat C: direkturnya dijabat Pati bintang satu yang bertanggungjawab di bidang
militer dan pertahanan
- Direktorat D: direkturnya dijabat Pati bintang satu yang bertanggungjawab di bidang
pengamanan
3 http://www.wikipediaIndonesia..Bais
131
Badan Intelijen Strategis (BAIS)
-
Direktorat E : direkturnya dijabat Pati bintang satu yang bertanggungjawab di bidang
penggalangan
Direktorat F : direkturnya Pati bintang satu bertanggungjawab di bidang administrasi
dan personel
Direktorat G: direkturnya Pati bintang satu bertanggungjawab menyajikan produkproduk intelijen kepada kepala BAIS dan Panglima TNI. 4
Komandan Satuan Intelijen dijabat Pati bintang satu yang bertanggung jawab
tentang perencanaan dan kegiatan intelijen
Komandan Satuan Intelijen Teknik dijabat Pati bintang satu bertanggung jawab
perencanaan dan pelaksanaan kegiatan intelijen teknik
Komandan Satuan Induk dijabat seorang Pati bintang satu bertanggungjawab
tentang perencanaan dan pelaksanaan pendidikan dan latihan
Kepala dinas sandi dijabat Pamen berpangkat kolonel bertanggung jawab masalah
persandian
Kepala sekretariat dijabat Pamen berpangkat kolonel bertanggung jawab masalah
administrasi dan surat menyurat.
Pelaksana Tugas di Lapangan
BAIS dalam mengumpulkan informasi serta melakukan berbagai kegiatan intelijen dapat
dikatakan efektif secara operasional, antara lain karena didukung oleh ruang lingkup kerja
dari BAIS yang cukup luas baik dari luar negeri maupun dalam negeri, seperti misalnya dalam
memperoleh pasokan informasi dari luar negeri, biasanya suplai informasi dilakukan melalui
jaringan para atase pertahanan atau militer, yang penempatannya atas dasar penunjukkan
dari BAIS. Kemudian untuk pasokan informasi dalam negeri, pengumpulan informasi selain
melalui jalur struktur Komando teritorial dari berbagai Komando Daerah Militer (Kodam).
BAIS juga memiliki satuan intel atau yang disebut dengan satintel yang bekerja secara rutin,
terutama di berbagai daerah yang dikategorikan sebagai daerah ”rawan konflik”. Adapun
komando pengendaliannya secara hierarkis berada dibawah tanggungjawab organisasi
BAIS. Lantas sebagai pelaksana operasi, terutama untuk melakukan tugas-tugas ”khusus”
operasi intelijen, selain dari aparat BAIS yang ditugaskan dari Markas Satuan Intel BAIS,
biasanya tugas di lapangan juga dilakukan oleh personel Komando Pasukan Khusus
(Kopassus), yakni dari Detasemen 81 Penanggulangan Teror (Gultor).
Pada era 1995-2001 Detasemen 81 sempat dimekarkan jadi Grup5 Anti Teror. Lantas tahun
2001, satuan ini mengalami reorganisasi menjadi Sat-81 Gultor. Sat-81 terdiri dari dua
batalion, Batalion pertama dikenal sebagai Batalion Aksi Khusus (Yon Aksus) 811 dan yang
kedua adalah Batalion Bantuan (Ban) 812. Setiap batalion terdiri dari dua detasemen sebagai
pelaksana.
4 Angel Rabasa – John Haseman, The Military and Democracy in Indonesia – Challenges, Politics, and Power, RAND,
Santa Monica, 2002, hal.32. dan sumber-sumber lainnya.
5 Angkasa Edisi Koleksi, Indonesia Special Forces, Jakarta, 2003, hal. 15-16.
132
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Dalam penugasan, Sat-81 bergerak dalam unit kecil Seksi berkekuatan 10 orang atau Unit 4-5
orang. Diperkirakan Sat-81 saat ini berkekuatan 800-an personel. Unit kecil Seksi yang
berkekuatan 10 orang seperti ini yang biasanya digunakan oleh BAIS dalam operasi tugastugas rutin satuan intel di daerah-daerah yang dikategorikan sebagai ”rawan” konflik,
misalnya seperti di Papua.
BAIS dan Unsur Pendukung Intelijen Militer
Dilain pihak intelijen militer juga melakukan kegiatannya melalui struktur komando teritorial,
yakni dimana tiap-tiap Komando Daerah Militer (Kodam) terdapat Detasemen Intel (DenIntel) yang melakukan tugas-tugas pokok intelijen (penyelidikan, pengamanan dan
penggalangan) di tiap-tiap wilayah yang menjadi tanggungjawab dari Kodam tersebut.
Namun demikian aparat intelijen yang ditempatkan oleh BAIS dalam Sat-Intel di suatu
wilayah Komando Daerah Militer (Kodam), juga dapat mengakses dan bekerjasama dengan
unsur intelijen Kodam yang tergabung di dalam Detasemen Intel. Dimana dalam hal ini DenIntel sebagai kesatuan intelijen yang permanen di dalam struktur Komando Teritorial
memberikan perencanaan atau pengarahan tugas intelijen, serta mendapatkan
feedbacknya melalui perwira seksi intelijen baik yang berada di dalam struktur Komando
Resor Militer (Korem) dan struktur Koter yang hierarkinya berada dibawah Korem, yakni
Komando Distrik Militer (Kodim). Lantas Den-intel yang menerima suplai informasi intelijen
dari perwira seksi tersebut, meneruskan atau melaporkannya kepada Asisten Intelijen di
Kodam tersebut.
Adapun hierarki komando tertinggi di tiap-tiap Kodam dalam kegiatan intelijen adalah para
Panglima Daerah Militernya masing-masing yang berperan sebagai ”user” tertinggi di
wilayah daerah militernya tersebut. Lantas para Pangdam tersebut secara hierarki menyuplai
informasi intelijennya ke Markas Besar TNI melalui Asisten Intelijen Panglima TNI , kemudian
dari Asisten TNI informasi intelijen disajikan kepada ”user” utama di TNI yakni Panglima TNI.
Jadi, walaupun ”muara” dari alur intelijen militer adalah sama yakni Panglima TNI, dan secara
organisatoris terdapat garis kerjasama antara unsur petugas intelijen dari BAIS dengan
personel intelijen dari Kodam dalam operasi intelijen di lapangan. Namun Markas Besar TNI
dapat dikatakan mengoperasikan dua mekanisme kegiatan intelijen yang relatif berbeda
dalam hierarki kegiatan intelijen militer, yakni BAIS beserta perangkat intelijennya dan dilain
pihak perangkat intelijen yang diorganisasikan oleh Asintel TNI melalui struktur Komando
Teritorial. Dalam mekanisme seperti ini informasi intelijen bisa saling melengkapi dan
memverifikasi satu sama lain sebelum penyajian informasi terakhir di lingkungan Mabes TNI
sampai kepada Panglima TNI.
Dengan struktur dan pola operasi dari BAIS seperti ini, maka dapat dikatakan titik berat
perhatiannya lebih kepada kegiatan intelijen di dalam negeri, karena selain mengerahkan
satuan intelijennya ke berbagai daerah yang dikategorikan ”rawan” konflik, juga dapat
menggunakan dukungan aparat intelijen teritorial yang strukturnya dari level provinsi
sampai ke pedesaan melalui aparat Bintara Pembina Desa (Babinsa). Struktur dan pola
133
Badan Intelijen Strategis (BAIS)
operasi seperti ini bukannya tidak baik, namun yang terpenting adalah bagaimana BAIS
menempatkan paradigma ancaman nasional dalam membuat perencanaan operasi dan
pengerahan aparat intelijennya yang dalam hal ini adalah kesatuan militer. Tentunya sejauh
ancaman domestik bersifat kombatan, maka keberadaan dari BAIS baik dalam kegiatan
intelijen di wilayah domestik maupun luar negeri masih dapat dikatakan relevan.
Struktur Komunitas Intelijen Indonesia 6
Presiden
Panglima TNI
-------------------------Mabes TNI
BIN
BAIS
Struktur
Komando Teritorial
Penutup
Keberadaan intelijen militer di Indonesia beserta segenap kegiatannya merupakan bagian
dari ruang lingkup kerja dan kegiatan dari organisasi Tentara Nasional Indonesia. Sehingga
diharapkan intelijen militer dapat mendukung performa dari Tentara Nasional Indonesia.
Dalam hal ini organisasi TNI tidak hanya ”menggerakan” Badan Intelijen Strategis (BAIS)
sebagai satu-satunya organisasi intelijen militer di dalam tubuh TNI dalam melakukan
pekerjaan intelijen, namun juga terdapat mekanisme pekerjaan intelijen lainnya yang
mengandalkan struktur komando teritorial. Bahkan pasukan khusus seperti Kopassus juga
memiliki kesatuan yang memiliki spesifikasi kemampuan intelijen tempur yang kerapkali
membantu tugas-tugas intelijen dari BAIS. Artinya disini bahwa terdapat sejumlah
”perangkat” intelijen di dalam organisasi TNI yang pada umumnya beroperasi di dalam ruang
lingkup domestik. Hanya yang diketahui secara awam adalah muara dari sejumlah
”perangkat” intelijen tersebut, baik yang beroperasi melalui BAIS, struktur Koter, maupun
personel Kopassus yang berasal dari Grup Sandi Yudha atau Detasemen 81 Gultor, adalah
Panglima TNI sebagai ”user” puncak di TNI.
6 Sumber: Angel Rabasa – Johan Haseman, The Military and Democracy In Indonesia – Chalenges, Politics, and
Power, RAND, Santa Monica, 2002, hal. 33
134
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Agar kegiatan intelijen militer dapat dipertanggungjawabkan akuntabilitasnya, terutama
untuk menghindari penyalahgunaan wewenang. Perlu adanya payung hukum berupa
undang-undang intelijen yang antara lain juga menjelaskan; ruang lingkup kegiatan intelijen
militer, prosedur kerjasama internal antara sesama ”perangkat” intelijen di TNI, maupun
dengan instansi intelijen non-TNI seperti BIN, serta dinas intelijen asing. Demikian juga dalam
menjabarkan definisi obyek operasi intelijen perlu diuraikan secara jelas, karena jangan
sampai intelijen militer ”melangkah” terlalu jauh dalam menetapkan obyek/sasaran dari
intelijen militer terhadap sejumlah isu atau pihak yang sifatnya non-militer atau nonkombatan. Sehingga intelijen militer tidak lagi menafsirkan suatu perbedaan pandangan
atau sikap kritis dari masyarakat sipil sebagai suatu ancaman nasional yang harus direspon
oleh dinas intelijen militer beserta perangkat militer yang melekat didalamnya. Artinya
bahwa perlu adanya mekanisme yang jelas serta berkekuatan hukum dalam bentuk undangundang.
Perkembangan terakhir tentang draft RUU Intelijen Negara tahun 2006 belum dapat
dikonfirmasikan, karena pemerintah belum menyerahkan ke DPR RI. RUU Intelijen Negara
yang didalamnya memasukkan BIN sebagai koordinator komunitas intelijen indonesia yang
membawahi BAIS TNI, BIK Polri dan dinas intelijen kejaksaan dan lain-lain Dari sisi substansi
cukup baik, tetapi landasan hukum ini juga lebih menguatkan peran dan fungsi BAIS dalam
melakukan tugasnya. Hanya persoalannya RUU ini belum dibahas lebih dalam ke publik.
Tanpa UU itu pun, secara faktual BAIS sudah menjalankan fungsi intelijen militer baik dalam
ruang lingkup tugas maupun dalam pengerahan dan penggunaan personel militer, baik
yang tergabung di dalam BAIS maupun yang berasal dari kesatuan militer lainnya. Tapi di satu
sisi banyak dikhawatirkan bahwa tanpa landasan hukum tersebut, akibatnya sangat terbuka
celah adanya penyalahgunaan wewenang oleh BAIS dalam melaksanakan fungsinya.
Apabila di masa mendatang landasan hukum dan aturan mekanisme yang jelas (yaitu UU)
telah disahkan oleh parlemen dan pemerintah, maka diharapkan dapat meminimalkan
penyalahgunaan wewenang. Terlebih lagi apabila BIN ”diletakkan” secara proporsional
sebagai koordinator utama atas dinas-dinas intelijen lainnya termasuk BAIS, diharapkan
dapat relatif mempermudah pengawasan Legislatif terhadap berbagai dinas intelijen.<
135
Reformasi Kepolisian Republik Indonesia
Reformasi Kepolisian Republik Indonesia 1
S. Yunanto 2
Pendahuluan
Reformasi Kepolisian Republik Indonesia (Polri) merupakan salah satu komponen
terpenting dalam reformasi birokrasi sektor keamanan, karena reformasi ini memberikan
jaminan penegakan hukum dan keamanan dan ketertiban dalam masyarakat, suatu fungsi
yang melekat pada institusi Polri. Dalam fungsi penegakan hukum, Polri menjadi ujung
tombak bersama dengan birokrasi peradilan yang lain seperti kejaksaan, peradilan, penyidik
pegawai negeri lainnya (PPNS), dan lembaga-lembaga non departemen seperti KPK. Dalam
fungsi mewujudkan keamanan dan ketertiban dalam masyarakat (kamtibmas), maka polisi
menjadi komponen inti, sekalipun mendapat bantuan dari masyarakat, aparat-aparat
pemolisian lainnya seperti Satuan Polisi Pamong Praja dan Polisi Kehutanan.
Salah satu komponen terpenting dalam reformasi sektor keamanan adalah reformasi
kepolisian, karena reformasi dalam sektor ini mempunyai jalinan interdependesi yang sangat
erat dengan reformasi pada sektor lain. Beberapa alasan mengapa sebuah reformasi di tubuh
kepolisian harus dilakukan adalah karena sejak rejim Suharto digulingkan, muncul
kecenderungan di masyarakat untuk menindak sendiri kejahatan yang terjadi di
lingkungannya. Jika reformasi Polri tidak dilakukan, masyarakat akan mengambil tindakan
sendiri. Secara lebih rinci kemungkinan itu akan terjadi karena empat hal: 1). Postur dan
organisasi POLRI yang paramiliter tidak fleksibel terhadap kemauan masyarakat yang
menjadi konsumennya, 2). Kultur polisi yang elitis dan cenderung mementingkan
kelompoknya menutup akses bagi publik dalam proses pembuatan kebijakan serta
pengontrolan hasil atau implementasi kebijakan, 3). Kendala struktural POLRI berupa
anggaran dan fasilitas yang tidak memadai, jumlah dan klasifikasi personel yang tidak
mendukung, dan ruang gerak yang terbatas karena dipagari oleh dimensi politik telah
menjadikan jasa POLRI berkisar pada minimum policing, 4). Munculnya sikap dan kemauan
untuk mempolisi diri sendiri di masyarakat, meskipun hal itu tidak efisien secara ekonomi. 3
Sejarah Polri
Birokrasi Polri telah ada sejak jaman kolonial Belanda. Pada masa itu, birokrasi kepolisian
ditujukan untuk melayani penjajah Belanda, yaitu memberikan perlindungan manusia, harta
benda dan kekayaan lainnya dari ancaman pencurian, penjarahan dari pihak-pihak yang
1 Penulis mengucapkan terima kasih kepada Sidratahta Mukhtar dan Rahmad Syarief yang telah membantu
dalam pengumpulan data untuk kepentingan penulisan ini.
2 S. Yunanto, mahasiswa doktoral di Western Michigan University, pendiri IDSPS.
3 Adrianus Meliala, Mengkritisi Polisi (Jakarta: Kanisius, 2001), seperti dikutip dalam Agung Suprananto,
Reformasi Manajemen Keuangan POLRI (Jakarta: Kemitraan, 2005), hal. 9
136
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
merugikan pihak Belanda. Sepanjang pendudukan Belanda, orientasi birokrasi kepolisian
adalah untuk membela kepentingan penguasa dan elite pribumi. Fungsi dan kedudukan
birokrasi kepolisian pada masa pendudukan Jepang hampir sama, meskipun sebagian besar
anggota kepolisian berasal dari penduduk pribumi.
Setelah kemerdekaan, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengintegrasikan
birokrasi kepolisian kedalam birokrasi Kementerian Dalam Negeri. Sejalan dengan situasi
politik pada masa itu, kepolisian masih mengalami tekanan sebagaimana yang dialami
penduduk Indonesia yang sedang mengalami perjuangan kemerdekaan. Pada masa akhir
Orde Lama, tepatnya ketika dikeluarkan UU No 13 tahun 1961 dan dilanjutkan dengan
Keppres No 290/1964, 12 November 1964, Polri diintegrasikan kedalam Angkatan Bersenjata
Republik Indonesia (ABRI, kini TNI ). Polri menjadi ujung tombak penjaga stabilitas politik.
Pengintegrasian ini kemudian disadari mengakibatkan fungsi dan tugas Polri tidak maksimal.
Berbagai kasus keamanan yang berhubungan dengan persoalan sosial-politik ditangani
lebih lanjut oleh ABRI sebagai institusi induknya. Antara peran dan tugas Polri dengan ABRI
menjadi rancu. Misalnya kebijakan institusi militer pasca pemberontakan adalah
menegakkan hukum, suatu tugas yang menjadi domain kepolisian. Pengintegrasian Polri
kedalam ABRI juga telah menyebabkan ideologi militer sangat kuat dalam sistem pendidikan
dan manajemen, pengorganisasian yang sentralistik dan komunitas polisi lebih lekat kepada
militer daripada komunitas kepolisian.4
Pada masa Orde Baru posisi Polri lebih lemah, karena struktur organisasi Polri masih berada
dibawah ABRI. Karena sistem anggaran yang masih disatukan dibawah ABRI, pengadaan
peralatan sering juga dikalahkan oleh ABRI. Ketidakjelasan posisi Polri dalam ABRI juga
mengakibatkan Polri tidak profesional. Sikap dan tindakan Polri selama Orde Baru lebih
nampak seperti “militer” dan jauh dari sikap polisi sebagai pembina keamanan dan ketertiban
masyarakat (kamtibmas). Segala ketentuan angkatan bersenjata juga diberlakukan bagi
kepolisian, seperti pendidikan, sistem anggaran dan keuangan serta kebutuhan lainnya.5
Jatuhnya Orde Baru dan mulainya era reformasi memberi pengaruh yang sangat penting
dalam reformasi kepolisian. TAP MPR No VI dan VII tahun 2000 memisahkan Polri dari TNI dan
meletakkan fungsi Polri yang terpisah dari TNI. Organisasi Kepolisian RI (Polri) selanjutnya
langsung berada dibawah presiden. Tentang fungsi Polri ini TAP MPR No. VI dan VII tahun
2000 bab 2 pasal 6 menjelaskan :
1. Kepolisian Negara merupakan alat Negara yang berperan dalam memelihara
keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, memberikan
pengayoman dan perlindungan masyarakat.
2. Dalam menjalankan perannya, Polri wajib memiliki keahlian dan ketrampilan
profesional.6
4 Bambang W Umar, Penafsiran Kembali Simbol-Simbol Polisi, Jurnal Polisi Indonesia, 4/2002 hal 19-20
5 Salim Said, Polisi Republik Indonesia Dalam Pusaran Arus Politik, Naskah Dies Natalis ke 54, PTIK, Jakarta, 17
Juni 2000.
6 Lihat Ketetapan MPR Nomor VII tahun 2000, tentang peran TNI dan Polri
137
Reformasi Kepolisian Republik Indonesia
Kedudukan Polri yang langsung berada dibawah presiden ini hingga masa reformasi yang
telah memasuki sepuluh tahun menjadi kontroversi yang menghangat. Dari perspektif Polisi,
lepasnya Polri dari struktur TNI telah mendorong tingkat independensi dan otonomi Polri,
yang menjamin terciptanya profesionalisme.
Sementara itu kalangan luar Polri khususnya kelompok masyarakat sipil melihat bahwa
kedudukan ini pada akhirnya menempatkan POLRI sebagai aktor politik aktif dalam
percaturan politik nasional. Kedudukannya yang sejajar dengan menteri-menteri dalam
kabinet membuat KaPolri (dan Panglima TNI) akan selalu terlibat dalam rapat-rapat kabinet
dan mengambil keputusan politik. Selain itu, posisi POLRI di bawah Presiden pada akhirnya
menyebabkan POLRI berpotensi menjadi alat kekuasaan Presiden. Tiga kali pergantian
presiden pada masa reformasi menunjukkan institusi Polri dipolitisasi, atau digunakan oleh
presiden untuk mempertahankan kekuasaannya. Politisasi pertama terjadi pada akhir
pemerintahan Abdurrahman Wahid sebagaimana yang dicatat penulis dalam kutipan di
bawah ini :
”... Pasal 7 ayat 3 ketetapan MPR VII/ 2000 menyebutkan pergantian KaPolri harus dengan
persetujuan DPR-RI. Pada masa kepemimpinan Polri ditangan Rusdiharjo terjadilah skandal
Buloggate dan penyimpangan dana bantuan Sultan Brunei yang kemudian menyeret krisis politik
yang mengancam kekuasaan Gus Dur. Sikap Rusdihardjo yang terkenal disiplin dan menjunjung
tinggi norma-norma tidak bisa membantu Gus Dur untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Karena sikapnya yang tidak mau kompromi, Rusdihardjo kemudian dicopot dan digantikan
Soerojo Bimantoro. Argumen yang dibuat Gus Dur pada saat itu adalah karena Rusdihardjo
menolak menangkap Tommy Suharto. Pada waktu Gus Dur mengeluarkan dekrit, Gus Dur berniat
memasukkan orangnya ke dalam jajaran tinggi POLRI, maka ditunjuklah Irjen. Pol Drs. Chaeruddin
Ismail sebagai Waka Polri dengan maksud menggantikan Soerojo Bimantoro yang juga tidak
mendukung dikeluarkannya dekrit. Padahal jabatan Wakapolri sudah tidak diatur dalam struktur
organisasi POLRI. Pengajuan calon tidak lagi melalui Wanjakti atau forum resmi untuk mengkaji
integritas, kapabilitas, dan kredibilitas calon karena dipilih berdasarkan ”selera”. Bimantoro
kemudian menolak penonaktifan dirinya dengan alasan bahwa pergantian KaPolri sudah ada
prosedurnya. Sikap Bimantoro yang tidak mau mundur dari jabatannya memicu dualisme
kepemimpinan di Mabes POLRI. Selain Bimantoro, pucuk pimpinan POLRI juga dijabat oleh
Chaerudin Ismail yang telah mengantongi keppres. Sedangkan Bimantoro sendiri mendapat
dukungan dari DPR. Pada HUT POLRI ke 55, 1 Juli 2001, Gus Dur sebagai inspektur upacara secara
mengejutkan membacakan pemberhentian Bimantoro sebagai Kapolri melalui Keppres No.
49/POLRI/2001....” 7
Pada masa Pemerintahan Megawati yang menggantikan Gus Dur, politisasi Polri yang
seharusnya netral dalam pemilihan presiden langsung 2004 pertama kali dalam sejarah
Bangsa ini juga terjadi. Politisasi ini terjadi pada saat salah satu pimpinan kepolisian daerah
menunjukkan keberpihakannya kepada Megawati, yang saat itu masih menjabat sebagai
presiden dan akan maju dalam pemilihan presiden langsung. Kasus yang kemudian dikenal
sebagai ”VCD Banyumas” ini mencuat di bulan Juli tahun 2004 ketika beredar VCD berdurasi
25 menit yang berisikan rekaman pengarahan Kepala Kepolisian Wilayah Banyumas
7 S. Yunanto, Muchammad Nurhasim, dan Ishak Fathonie, Reformasi Sektor Keamanan di Indonesia: TNI dan
POLRI (Jakarta: The Ridep Institute dan FES, 2005), hal. 60
138
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Komisaris Besar A.A. Maparessa yang dinilai beraroma arahan mendukung calon Presiden
Megawati Sukarnoputri (calon Presiden incumbent saat itu). Kasus VCD itu merupakan
rekaman pengarahan pada acara silaturahmi dengan purnawirawan POLRI, wara kawuri, dan
anggota Bhayangkara Polres Banjarnegara.8 Disebutkan dalam VCD tersebut bahwa POLRI
berhasil mendapat statusnya saat ini karena capaian yang diberikan pemerintahan Presiden
Megawati, yaitu menempatkan POLRI di bawah presiden langsung. POLRI menjadi lebih
mandiri dan mendapat berbagai macam fasilitas. Disebutkan pula bahwa Megawati
menjanjikan lebih banyak fasilitas dan gaji ke 13 bagi anggota POLRI. Di sisi lain, beberapa
pernyataan dalam VCD itu terkesan mendiskreditkan calon lain, seperti calon Presiden Amien
Rais yang dikatakan akan menempatkan POLRI di bawah Gubernur, Susilo Bambang
Yudhoyono yang dikatakan akan menempatkan POLRI di bawah Departemen Dalam Negeri,
dan Hamzah Haz yang melakukan poligami.9
Kasus Ketiga terjadi pada masa akhir pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono tepatnya
pada 3 April 2009, pada masa kampanye untuk pemilihan anggota legislatif. Dalam kasus ini
terlihat pejabat Polri yang seharusnya netral masih menunjukkan keberpihakannya kepada
kepentingan keluarga presiden SBY. Kasus keberpihakan itu terjadi ketika Muhammad
Nazirin (calon legislator dari Partai Gerindra) dan Bambang Krisminarso (Aktivis LSM Pijar
Keadilan, Ponorogo) melaporkan telah terjadi praktek politik uang yang dilakukan tim sukses
Edhie Baskoro.10 Hal ini terjadi karena tim sukses tersebut dilaporkan telah mengedarkan
amplop berisi uang Rp 10 ribu dan foto Edhie Baskoro di Desa Blembem, Kecamatan Jambon,
Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.
Tiga hari setelahnya, yaitu tanggal 6 April 2009 pihak Kepolisian, Kejaksaan, dan Panitia
Pengawas Pemilu (Panwaslu) menyatakan kasus tersebut tidak akan dilanjutkan. Alasannya
adalah bukti yang diajukan pelapor dianggap tidak cukup karena tidak memenuhi kriteria
pelanggaran dalam UU Pemilu. Yang terjadi bahkan sebaliknya, Polri berkonsentrasi pada
kasus tuduhan pencemaran nama baik yang dilaporkan balik oleh Edhie Baskoro terhadap
Nazirin dan Krisminarso, selain juga sejumlah media seperti Okezone, Jakarta Globe, dan
Harian Bangsa.11 Kasus ini dipandang berbagai pihak mengandung kecurigaan. Koran Tempo
menyatakan kasus ini aneh karena tidak ada penjelasan yang cukup yang diberikan POLRI,
misalnya mengenai pernyataan POLRI bahwa tidak ada bukti yang cukup, masyarakat tidak
ditunjukkan kenyataannya. Sementara itu, kejanggalan juga terjadi karena pihak Panwaslu
dan POLRI terkesan saling lempar tanggung jawab. Ketua Panitia Pengawas Pemilu Ponorogo
8
“Mabes POLRI Turunkan Tim Usut VCD Polisi Megawati”, diakses dari http://www2.kompas.com/kompascetak/0407/28/Politikhukum/1176067.htm 25 Juni 2009 8:43
9 ”Politik Tersembunyi VCD POLRI”, diakses dari http://www.gatra.com/2004-08-08/artikel.php?id=42775 pada
tanggal 25 Juni 2009 pukul 8:49
10 Edhie Baskoro sering disingkat menjadi Ibas adalah putra kedua pasangan Susilo Bambang Yudhoyono
(SBY ) dan Kristiani Herawati (Ani Yudhoyono) yang mencalonkan diri sebagai anggota DPR Partai Demokrat
untuk daerah pemilihan Jawa Timur.
11 “Penyelidikan Kasus Edhie Baskoro Dihentikan”, diakses dari
http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/04/18/Nusa/krn.20090418.162844.id.html pada
tanggal 25 Juni 2009 pukul 9:07
139
Reformasi Kepolisian Republik Indonesia
Arif Supriadi mengatakan sudah tidak bertanggung jawab lagi. Sebaliknya Ajun Komisaris
Suhono, Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Ponorogo dan Koordinator Sentra Penegakan
Hukum Terpadu, justru menunjuk Panwas sebagai pihak yang mengetahui persoalan ini.12
Mantan Anggota KPU, Mulyana W Kusumah, sementara itu, menganggap POLRI bertindak
terlalu cepat, sementara Panwaslu bertindak terlalu lambat.13
Ketiga kasus diatas dapat di sebut sebagai contoh rentannya institusi Polri terhadap
pengaruh kepentingan politik individual presiden dalam mempertahankan kekuasaannya.
Polri seakan –akan menjadi institusi yang membela kepentingan kekuasaan yang tidak adil.
Polri tidak berpihak kepada masyarakat dan prinsip-prinsip keadilan. Dengan berkaca pada
hal tersebut, maka direkomendasikan untuk menempatkan POLRI di bawah suatu
departemen misalnya Kementerian Hukum dan HAM, Kejaksaan Agung, Kementerian Dalam
Negeri, ataupun Kementerian Keamanan Dalam Negeri (homeland security).14 Hal ini
dilakukan di sejumlah negara seperti Thailand dan Filipina. Tujuannya adalah untuk
membatasi ruang gerak POLRI yang berfungsi sebagai alat profesional, dan bukannya
pemain politik. Dengan struktur ini, POLRI tidak perlu mengambil keputusan politik, dimana
keputusan ini diambil oleh politisi sipil yang menjadi naungan POLRI.15 Dengan demikian,
POLRI akan fokus hanya pada isu operasional penegakan keamanan, ketertiban, dan
penegakan hukum dan semakin menjauhkan diri dari kepentingan politik sesaat.
Struktur Organisasi.
Saat ini anggota Polri berjumlah sekitar 250 ribu. Jika dilihat dari dimensi rasio dengan
penduduk, jumlah polisi belum mencapai pada tataran ideal, karena rasio yang ideal
menurut ketentuan PBB adalah 1:500. Pada tahun 2005 rasio jumlah Polri dengan Penduduk
ditargetkan 1:675. Apabila rencana rekrutmen personil tahun 2009 tercapai maka rasio polisi
dengan penduduk menjadi 1: 537, rasio ini sudah mendekati ketentuan PBB 1: 500. Pimpinan
Polri masih menganggap belum idealnya rasio jumlah personil ini sebagai salah satu sebab
belum efektifnya kinerja polri. Walaupun demikian anggapan itu perlu diuji apakah memang
benar demikian. Ataukah karena faktor lain misalnya profesionalisme, efektivitas
kepemimpinan dan rendahnya motivasi kerja.
Setelah Polri terpisah dari struktur organisasi TNI, maka Polri menjadi lembaga non
pemerintahan yang langsung berada dibawah Presiden. Dengan pemisahan ini Polri
diharapkan akan menjadi betul-betul otonom, independen, tanpa intervensi lembagalembaga lain, terutama partai politik. Penyusunan organisasi Polri harus didasarkan pada
kepentingan tugas, tuntutan masyarakat yang bersifat nasional dan memperhatikan
karakteristik daerah dan disusun secara situasional, namun tetap mengacu kepada wawasan
nusantara, persatuan dan kesatuan. Pengangkatan personil-personil organisasi dibedakan
13 “Polisi Terlalu Cepat, Panwaslu Terlalu Lambat”, diakses dari
http://pemilu.detiknews.com/read/2009/04/08/122004/1112272/700/polisi-terlalu-cepat-panwaslu-terlalulambat pada tanggal 25 Juni 2009 pukul 9:14
13 Yunanto, Nurhasim, dan Fathonie, Op. Cit., hal. 59
14 Ibid.
140
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
antara daerah padat penduduk dan daerah jarang penduduk, perbedaan karakteristik,
geografi dan adat istiadat seperti komunikasi, alat mobilisasi, teknologi, pembuktian dan
lainnya. Selain itu, penyusunan jabatan organisasi tidak bersifat top heavy, melainkan
dititikberatkan pada tingkat polres dan polsek sebagai ujung tombak operasional.16
Kebijakan ini diikuti dengan kebijakan rekrutmen di daerah yang menekankan kepada
sumberdaya lokal (local boy for local job).
Dengan sistem yang terintegrasi, pola kerja kepolisian nasional dilaksanakan secara bottom
up dengan pendelegasian wewenang dan tanggungjawab yang lebih luas kepada
kewilayahan terutama polres sebagai Kesatuan Operasional Dasar (KOD). Penyusunan
organisasi Polri disesuaikan dengan struktur pemerintahan daerah dan sistem peradilan
pidana. Organisasi Polri disusun tanpa birokrasi yang panjang agar dapat menjamin
pengambilan keputusan yang lebih cepat dan tepat sehingga masyarakat merasakan
pelayanan polri.17
Sistem Pendidikan
Pada saat Polri masih menjadi bagian dari ABRI (kini TNI), materi pendidikan di Polri terdiri dari
40 % komponen militer dan sebanyak 60 % profesionalisme kepolisian. Akibatnya budaya
militer melekat pada perilaku dan sikap sehari-hari personel Polri yang masih bekerja
berdasarkan perintah atasan, selalu mengatakan siap perintah dan berbagai jargon
militeristik lainnya. Padahal kepolisian harus tunduk pada undang-undang yang berlaku
(KUHAP).18
Setelah Polri berpisah dari TNI, persoalan utama pendidikan adalah bagaimana mendesain
kurikulum pendidikan yang mampu mengubah kultur militeristik menjadi kultur polisi sipil.
Sebagai upaya mewujudkan pegawai Polri yang profesional dan berbudaya serta mampu
mengimbangi tingkat pendidikan masyarakat, maka sistem pendidikan polri di susun
berdasarkan sistem pendidikan nasional, yaitu dengan pengembangan ilmu kepolisian yang
dilakukan melalui konsorsium ilmu kepolisian dibawah Departemen Pendidikan Nasional
(DEPDIKNAS). Berbagai substansi dan latihan Polri termasuk kurikulum pada setiap jenis
pendidikannya diorientasikan dengan berbagai materi yang berkait erat dengan profesi
kepolisian, antara lain penguasaan masalah-masalah HAM, demokratisasi, lingkungan hidup
dan kemampuan dialog interaktif maupun muatan lokal/budaya setempat. Sebelum
diangkat menjadi pegawai polri, para pelamar terlebih dahulu diberikan kesempatan
magang (probationary period) sebagai upaya pembentukan mental kepribadian calon
pegawai Polri yang baik. Bagi yang memenuhi syarat akan dilantik menjadi pegawai Polri
yang ditandai dengan pengucapan sumpah dan pernyataan penerimaan kode etik Polri.
16 Bibit R Rianto,
Reformasi Polri, Pemikiran Kearah Kemandirian Polri, Jakarta, hal. 40-41
17 Kebijakan kapolri, 1 juli 1999, jenderal Polisi Roesmanhadi, Jakarta. Hal. 20-21
18 Periksa hasil penelitian PTIK, tentang kemandirian polri pasca mandiri, PPITK, 1999.
141
Reformasi Kepolisian Republik Indonesia
Untuk menjadi pegawai polri, saat ini diselenggarakan melalui berbagai jenjang lembaga
pendidikan yang terdiri dari jenjang pendidikan sekolahan dan jenjang pendidikan keahlian,
pendidikan sain, teknologi dan spesialisasi seperti Pusdik Lantas, reserse, intel, Sabhara,
Brimob serta Pusdik Administrasi. Jenjang pendidikan sekolah Polri dapat dilihat dalam
gambar dibawah ini.
Pend. PengemBangan
Selapa, PTIK, Sespim/
Sespati
Pendidikan Pembentukan
Sekolah Bintara Reguler (Seba Reg),
Sekolah Calon Perwira/ Sekolah Pembentukan
Perwira (Secapa/ Setukpa)
Pendidikan Pertama (Diktama)
Tamtama (Seta), Sekolah Bintara (Seba), Sekolah Calon Perwira (Secapa),
Pendidikan Perwira Sumber Sarjana (PDSS), dan Akademi Kepolisian (Akpol)
Jenjang pendidikan polri disusun untuk memperoleh kemampuan/kualifikasi keahlian
melalui pola pendidikan Strata 1, 2 dan 3 serta kerja sama pendidikan baik dalam maupun
luar negeri. Kualifikasi keterampilan melalui pola pendidikan D1 untuk setingkat petugas
lapangan Polri (police worker), D3 untuk setingkat penyelia lapangan Polri (first line supervisor)
serta melalui kejuruan. Kualifikasi manajerial melalui pola pendidikan manajerial tingkat
menengah dan atas. Akpol dan PTIK adalah perguruan tinggi kedinasan karena sistem
pendidikannya diarahkan untuk mengisi kebutuhan kedinasan dilingkungan Polri. SELAPA,
SESPIM dan SESPATI adalah lembaga pendidikan di atas SMA yang beridentitas kedinasan,
tetapi bukan perguruan tinggi. Lembaga ini merupakan lembaga pendidikan non-gelar, atau
berdasarkan undang-undang disebut sebagai lembaga pendidikan profesi. Sekolah tinggi
atau universitas merupakan lembaga pendidikan akademis. Khusus berkaitan dengan
AKPOL yang erat kaitannya dengan PTIK, Departemen Pendidikan Nasional (DEPDIKNAS)
menetapkan Universitas Diponegoro sebagai pembina akademis AKPOL. Untuk memasuki
PTIK, mahasiswa yang berasal dari tamatan AKPOL harus melakukan praktek kerja beberapa
tahun sebelum menempuh ujian masuk PTIK. Untuk pendidikan setelah PTIK, Polri juga
bekerjasama dengan Universitas Indonesia menyelenggarakan pendidikan tingkat master
(S2) dengan nama Kajian Ilmu Kepolisian (KIK). Berbagai macam pendidikan tersebut
diharapkan dapat memberikan kemampuan yang dibutuhkan dalam
142
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
mengoperasionalisasikan organisasi Polri. Kemampuan itu terdiri dari kemampuan teknis
profesional kepolisian, kemampuan manajerial kepolisian tingkat dasar, menengah dan
tinggi dan kemampuan keahlian.
Anggaran dan Bisnis Polri
Pada masa Orde Baru, anggaran Polri sulit dideteksi, karena diintegrasikan kedalam anggaran
ABRI (baca TNI). Pasca Reformasi, anggaran Polri mengalami kenaikan dari tahun ketahun
berkisar antara 4% hingga 10%. Grafik dibawah ini menunjukkan kenaikan anggaran Polri
sangat pesat dari tahun ke tahun. Bahkan jika dibandingkan antara anggaran pada tahun
2004 sebesar Rp. 10,645 trilyun dan tahun 2009 sebesar Rp 25,7 trilyun, kenaikan anggaran
Polri dalam 6 tahun terakhir sudah mencapai 150 %.
Grafik Anggaran Polri 2004-2009
Dalam trilyun (000,000,000,000)
Selain sumber APBN, untuk membiayai kebutuhan operasional Polisi daerah juga menerima
kontribusi dari APBD dan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari SIM, STNK dan BPKB
dan penerimaan-penerimaan dari luar negara yang biasanya disebut partisipasi masyarakat
(Parmas), partisipasi teman (Parman) dan pendapatan-pendapatan dari sumber-sumber
yang secara hukum meragukan, sering disebut partisipasi dari sektor kriminal (Parmin).
Penerimaan selain dari APBN tidak sesuai dengan UU Keuangan Negara dan menimbulkan
persoalan akuntabilitas dan transparansi dan rawan terhadap praktek korupsi. Menurut
Lembaga Pengembangan Ekonomi Masyarakat (LPEM) UI, walaupun mengalami kenaikan
dari tahun ketahun, anggaran Polri masih menyisakan berbagai persoalan. Pertama, visi dan
misi organisasi tidak tercermin dalam rencana dan anggaran. Kedua, dana yang terbatas
dengan alokasi yang sub-optimal. Ketiga, praktek akuntabilitas semu di bidang keuangan.
Persoalan lain, pelaksanaan anggaran Polri juga tidak mempunyai landasan hukum
ketatanegaraan yang jelas, yang ini berbeda dengan anggaran pertahanan. Dalam UU No. 2
143
Reformasi Kepolisian Republik Indonesia
Tahun 2002 tentang Polri, tidak ditemukan dalam suatu pasal yang menjelaskan dari mana
diperolehnya sumber anggaran polisi. Persoalan ini seakan-akan memberikan peluang bagi
praktek-praktek pengumpulan dan yang tidak tidak akuntabel, transparan dan bahkan
cenderung bertentangan dengan hukum. Padahal Polri merupakan salah satu institusi
penegak hukum yang penting. Seharusnya sumber anggaran Polri dicantumkan secara jelas
dalam UU Polri. Oleh karena itu reformasi anggaran di kepolisian sangat diperlukan. Pertama,
keinginan agar Polri ke depan adalah polisi sipil yang efisien, efektif, akuntabel, dan
profesional. Kedua, menghindari adanya peluang bagi adanya dana siluman, serta mengikis
budaya setoran yang lekat dengan korupsi bagi aparat keamanan. Polisi sebagai lembaga
yang vital mengurusi masalah- masalah keamanan masyarakat harus bersih dan dipenuhi
kebutuhannya oleh negara sehingga fungsinya bisa benar-benar optimal.19
Mulai saat ini Mabes Polri telah berketetapan untuk merubah sistem anggaran Polri dari
sistem anggaran yang berorientasi program (up to down) di mana besar anggarannya
ditentukan oleh pemerintah, menjadi berorientasi anggaran (bottom up) atau anggaran Polri
sesuai dengan kebutuhan kerja lapangan. Dengan berubahnya status Polri sebagai institusi
sipil, kini dalam proses perencanaan dan penganggaran mengacu pada UU No. 17 tahun
2003 tentang Keuangan Negara dan UU No. 1 tahun 2004 tentang perbendaharaan Negara,
serta UU No. 15 tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolahan dan Tanggungjawab
Keuangan Negara.
Perubahan sistem otorisasi anggaran Polri dianggap sebagai suatu kemajuan dalam rangka
mendukung pelaksanaan tugasnya. Namun demikian reformasi anggaran Polri masih
menyisakan berbagai persoalan: Pertama, kinerja POLRI tidak dapat diukur, misalnya
Petunjuk Perencanaan POLRI (Jukcan) yang belum memiliki indikator yang terukur dalam
rangka pencapaian kerja, kecuali yang berhubungan dengan personel dan fasilitas. Dalam
dokumen Program Pembangunan Nasional (Propenas) dan Rencana Pembangunan Tahunan
(Repeta) tidak dicantumkan indikator kinerja awal dibandingkan dengan indikator kinerja
akhir. Problem ketidakterukuran juga tampak dalam kebijakan penganggaran. Model
perencanaan anggaran POLRI menganut line item budgeting, yaitu berupa target kenaikan,
dalam presentase tertentu, dibandingkan anggaran tahun lalu. Hal ini menimbulkan masalah
karena tidak disertai dengan indikator peningkatan kinerja, sehingga dana yang diberikan
tidak selalu efektif dan tepat sasaran. Selain itu, setiap mata anggaran dianggap sebagai
sesuatu yang deterministik "akan tetap ada" karena berpatokan pada pagu yang diterapkan
Departemen Keuangan dan Bappenas, sehingga klasifikasi mata anggaran tidak sanggup
mengakomodasi pencapaian sasaran strategis. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa
kebijakan anggaran POLRI hanya sebatas "memenuhi kewajiban" keharusan memiliki
program kerja, dan tidak berdasar kebutuhan riil ataupun Rencana Strategis POLRI. 20
19 S. Yunanto, “Perlunya Reformasi Manajemen Anggaran POLRI”, dalam jurnal Indonesian Police
20 Suprananto, Op. Cit., hal. 22-32
144
Review, …….
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Kedua, anggaran yang dialokasikan untuk POLRI hampir selalu lebih kecil dari kebutuhan
sebenarnya. Sebagai gambaran, pada tahun 2004 anggaran POLRI yang berasal dari APBN
hanya mencapai Rp 7,9 triliun, dimana angka ini hanya mencukupi 40% kebutuhan POLRI.
Sekitar 75% dana tersebut digunakan untuk pembayaran gaji personel, sementara hanya
15% dari dana yang ada dialokasikan untuk kebutuhan operasional.21 Situasi ini memaksa
POLRI untuk mencari sumber pendanaan lain di luar APBN sebagaimana yang telah
disebutkan diatas. Masalah yang muncul adalah karena praktek kontinjensi sulit sekali diukur
besarannya, sehingga biasanya angka-angkanya merupakan perkiraan saja. Tentunya hal ini
bermuara pada problem akuntabilitas dan transparansi anggaran POLRI. Ketiga, alur
birokrasi penyaluran anggaran sangat panjang sehingga dana yang dibutuhkan hampir
selalu datang terlambat. Hal ini diperparah dengan masalah penyerapan anggaran yang
rendah di unit-unit kepolisian sehingga biasanya dana-dana tersebut akan menumpuk di
akhir tahun dan terburu-terburu untuk dihabiskan sehingga hasilnya tidak pernah optimal.
Sebagai gambaran pada bulan November 2002, realisasi penyerapan anggaran baru
mencapai 51%-74%, padahal waktu penggunaan tinggal 1 bulan lagi.
Problem pendanaan ini pada akhirnya mengarah pada masalah keempat, yaitu pelaporan
anggaran yang hanya sebatas formalitas, mengingat keterlambatan turunnya dana sudah
diantisipasi dengan penggunaan anggaran dari pihak lain. Akibatnya, saat dana dari APBN
turun, dana tersebut hanya menjadi diskresi pimpinan. Masalah kelima yang muncul adalah
dalam hal pengawasan penggunaan anggaran. Beberapa pos pemasukan, seperti
pemotongan gaji pegawai, tidak pernah diketahui berapa besarnya dan digunakan untuk
apa, sehingga melanggar prinsip-prinsip akuntabilitas dan transparansi.22 Masalah yang lain
adalah dalam perumusan anggaran satuan kerja. Hal ini berakibat penerimaan dana oleh
Kepala Kesatuan Kerja (terutama di tingkat Polwitabes, Polwil dan Polres) dikhawatirkan tidak
tersalurkan secara maksimal ke unit-unit polisi terendah. Akibatnya tingkat kesejahteraan
anggota Polisi dengan pangkat rendah yang setiap hari bertanggung jawab dalam kegiatan
operasi kepolisian kurang mendapatkan perhatian yang cukup. Kondisi ini sebaliknya
menguntungkan pimpinan yang mempunyai kontrol terhadap anggaran.
Dengan melihat beberapa persoalan tersebut diatas, reformasi di bidang manajemen
anggaran sebagai hal yang mutlak untuk dilakukan. POLRI sendiri sudah memiliki payung
hukum spesifik untuk melakukan hal ini, yaitu lewat Instruksi Presiden (Inpres) No. 7 tahun
1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dan UU No. 17 tahun 2003 tentang
Keuangan Negara. Kedua produk hukum ini pada intinya mengharuskan instansi pemerintah
untuk mengadopsi pendekatan berbasis kinerja pada manajemen anggarannya. Beberapa
poin penting dari UU No. 17/2003 tersebut diantaranya 1). Ka Polri merupakan kuasa Presiden
dalam hal penggunaan anggaran; 2). Setiap instansi pemerintah wajib membuat rencana
kerja yang disusun berdasarkan prestasi yang akan dicapai; 3). Anggaran disusun
21
“Dana POLRI Minim Dicari Terobosan Atasi Kekurangan”, diakses dari
http://antikorupsi.org/indo/content/view/5538/6/ pada tanggal 15 Juni 2009 pukul 05:20
22 Suprananto, Op. Cit., hal. 32-37
145
Reformasi Kepolisian Republik Indonesia
berdasarkan tujuan yang hendak diraih dan realisasinya dilaporkan dengan basis prestasi
kerja (kinerja) yang dicapai; 4). Belanja Negara dirinci menurut organisasi, fungsi, dan jenis
belanja; 5). Laporan pertanggungjawaban meliputi laporan keuangan yang lengkap, yakni
laporan realisasi anggaran, neraca, dan laporan arus kas yang diselenggarakan berdasarkan
standar akuntasi pemerintahan. 23
POLRI sendiri saat ini tengah mengimplementasi hasil kerjasamanya dengan LPEM FEUI
terkait reformasi anggaran ini. Rekomendasi yang diberikan LPEM menyangkut pendekatan
Program Beralur Logika (PBL) dalam menyusun anggaran. Model PBL ini pada intinya
menggabungkan visi misi sebuah institusi dengan sumber daya yang dimiliki serta memiliki
tujuan yang spesifik, terukur, dapat dicapai, berorientasi hasil, dan berjangka waktu tertentu.
Selain itu, integrasi kerja merupakan fokus utama sehingga perencanaan tidak dilakukan
secara parsial menurut unit kerja (selama ini perencanaan dilakukan secara parsial). PBL juga
melihat kinerja institusi dari empat perspektif, yaitu finansial, pelanggan, proses bisnis
internal, dan pembelajaran serta pertumbuhan.24
Sementara itu, dalam rangka menyiasati minimnya anggaran, Polri sendiri telah menerapkan
sejumlah langkah. Yang pertama adalah efisiensi. Hal ini dilakukan dengan menerapkan skala
prioritas kasus, dimana prioritas utama diberikan untuk kasus yang memiliki dampak
psikologis besar bagi masyarakat, misalnya kasus kapak merah. Yang kedua, strategi dimana
polisi berupaya meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengamanan lingkungan. Hal
ini dilakukan Polri misalnya melalui program community policing atau pemolisian masyarakat.
Yang ketiga, sinergi dengan sejumlah instansi pemerintah terkait. Polri telah membuat nota
kesepakatan dengan Pertamina, sehubungan dengan insentif yang akan diterima Polri
dalam mendukung operasi terhadap penimbunan bahan bakar minyak. Contoh lainnya,
sinergi yang dilakukan POLRI dengan pemerintah Kabupaten Bulungan, Kalimantan Timur
berbuah insentif dalam wujud bantuan rutin Rp 300.000/ bulan kepada seluruh polisi di
daerah itu yang secara resmi dianggarkan dalam APBD.25 Brigjen Alantin Simanjuntak,
Kepala Biro Kebijakan dan Strategi Deputi Perencanaan dan Pengembangan POLRI,
mengatakan POLRI akan menggenjot pendapatan bukan pajak untuk menambal
kekurangan anggaran. Hal ini dilakukan misalnya lewat biaya pembuatan SIM, STNK, dan
BPKB dimana sejak Februari 2005 POLRI berhasil mendapat 74% penerimaan dari sektor ini.26
Pertanyaan yang perlu diajukan dalam kaitan penggunaan dana departemen lain dan
Pemerintah Daerah adalah apakah sudah mempunyai landasan UU yang jelas. Selain itu
tentunya jika memang terjadi apakah dana-dana tersebut dikelola dengan prinsip-prinsip
transparansi dan akuntabilitas untuk mendukung operasionalisasi Polri, bukan
disalahgunakan untuk kepentingan pejabat Polri.
23 Suprananto, Op. Cit., hal. 8
24
Ibid., hal. 49-59
25 Budi Gunawan, “Quo Vadis Anggaran POLRI?”, diakses dari http://www2.kompas.com/kompas-
cetak/0308/04/opini/466573.htm pada tanggal 15 Juni 2009 pukul 4:40
26 “Dana POLRI Minim Dicari Terobosan Atasi Kekurangan”, diakses dari
http://antikorupsi.org/indo/content/view/5538/6/ pada tanggal 15 Juni 2009 pukul 5:20
146
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Beberapa pengamat mengusulkan sejumlah cara untuk menangani problem kekurangan
dana. Irjen. (Purn) Bibit Rianto mengusulkan POLRI untuk mendapat dana tambahan dari
APBD, mengingat di era otonomi daerah ini Pemda mendapat keleluasaan lebih besar untuk
menggunakan anggarannya. Adrianus Meliala, sementara itu, mengusulkan POLRI untuk
menghimpun dana dari sumbangan masyarakat, selama terdapat aturan penertiban yang
menjamin transparansi dan akuntabilitas dari sumbangan tersebut. Pengamat yang lain,
mantan Ketua KPK Taufiequrrachman Ruki memandang bahwa peningkatan pendanaan
tidak akan berdampak efektif jika tidak dirasakan oleh polisi di tingkat paling rendah, yaitu
polisi sektor (polsek). Karena itu, menurutnya, yang juga penting adalah bagaimana
menjamin alur birokrasi yang efisien sehingga dana yang dibutuhkan tepat waktu dan tepat
guna bagi petugas di lapangan.27
Bisnis Polri
Terdapat tiga Jenis Bisnis yang berjalan di lingkungan kepolisian; koperasi, yayasan dan
perorangan yang dilakukan oleh mantan polisi dan biasanya mempunyai kaitan dengan
institusi kepolisian. Usaha itu sudah berlangsung sejak Orde Baru berkuasa, yaitu pada saat
Polri masih bergabung dengan ABRI. Di lingkungan Polri, bisnis itu ada yang sejalan dengan
wewenang yang dimiliki, seperti bisnis di bidang pengadaan sarana administrasi SIM, STNK,
BPKB (SSB), plat nomor kendaraan dan asuransi kecelakaan lalu-lintas.
Bisnis yang berkaitan dengan pengadaan administrasi SIM, STNK, BPKB, Plat Nomor
Kendaraan dan Asuransi Kecelakaan lalu-lintas telah dilakukan secara merata di seluruh
wilayah Indonesia melalui satuan lalu-lintas di Polda-Polda, Polwil-Polwil dan Polres-polres
tanpa ada saingan. Karena bisnis itu sudah melekat pada diri organisasi Polri maka bisnisbisnis yang lain bukan tujuan utama.
Bisnis di lingkungan Polri sangat berpengaruh terhadap sikap independensi polisi dalam
menjalankan tugas, karena bisnis Polri membuka kemungkinan terjadinya KKN antara polisi
yang mempunyai otoritas penegakan hukum dan teknik-teknik hukum dengan pihak yang
kuat yang sedang berperkara. Bagi pihak yang sedang berperkara, praktek KKN membuka
peluang untuk melepaskan diri dari proses pengadilan. Dalam situasi seperti ini, bisnis Polri
dapat mendorong polisi menjadi alat kejahatan. Usaha bisnis di lingkungan polri juga dapat
mempengaruhi perilaku polisi yang seharusnya berorientasi pada “prestise” (reputasi nama
baik) dalam menjalankan tugas berubah kearah orientasi pada “material” (uang),dimana
kepentingan pribadi polisi akan lebih menonjol dan sangat mungkin mengalahkan misi
kelembagaan.
Penanganan bisnis Polri berbeda dengan penanganan bisnis militer. Saat ini persoalan yang
berkaitan dengan bisnis militer sudah mendapatkan perhatian kalangan CSO yang luas dan
kerangka hukum yang jelas, walaupun implementasinya masih meragukan. Berbagai kajian
dan penelitian tentang bisnis militer sudah sangat banyak. Hingga saat ini kajian tentang
27 Ibid.
147
Reformasi Kepolisian Republik Indonesia
bisnis Polri masih sangat minim. Kerangka hukumnya pun belum jelas. UU tentang Polri tidak
menyebutkan arah yang jelas tentang bisnis Polri ini. Keterlibatan Polri dalam bisnis akan
mempengaruhi profesionalitas, independensi dan azas keadilan dalam memberikan
pelayanan. Selain itu, belum adanya kerangka penanganan bisnis Polri juga menimbulkan
kecemburuan di kalangan militer yang keterlibatannya dalam bisnis juga telah diusik melalui
beberapa kajian dan bahkan UU.
Korupsi dalam Polri
Persoalan perilaku juga menjadi kritik terhadap POLRI dimana organisasi ini dipandang
belum hadir sebagai organisasi yang profesional dan bebas korupsi. Budaya korupsi di
tingkat kepolisian terjadi mulai dari tingkat yang paling rendah seperti dalam pengurusan
SIM, STNK, dan lain-lain hingga ke tingkat paling tinggi seperti penanganan kasus
kejahatan.28 Penelitian yang dilakukan oleh Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK)
menunjukkan bahwa perilaku korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) dalam tubuh POLRI
terjadi di hampir semua lini/satuan organisasi kepolisian. Perilaku KKN dalam institusi Polri
terjadi dalam berbagai bentuk di enam satuan organisasi, yaitu reserse kriminal, intelijen
keamanan, samapta, lalu lintas, personil, dan logistik. Uraian area dan deskripsi korupsi dalam
Polri diuraikan dalam tabel dibawah ini :
Tabel korupsi dalam kepolisian
No Area
Korupsi
Deskripsi
1
Reserse
Kriminal
2
Intelijen
KKN terjadi dalam 5 bentuk: penerbitan surat izin keramaian dan usaha
Keamanan hiburan, pungli dalam penerbitan Surat Keterangan Catatan
Kepolisian/ SKCK, praktik intimidasi dan kolusi dalam menangani
tenaga kerja asing, kolusi antara pengelola perjudian dan aparat satuan
intelijen keamanan, dan penyalahgunaan wewenang dalam
penanganan tindak pidana umum.
11 jenis KKN: penyimpangan prosedur penangguhan penahanan,
rekayasa penanganan/penindakan kasus illegal logging, kolusi dalam
penyelenggaraan perjudian (toto gelap), penyimpangan prosedur
pinjam pakai barang bukti, penyimpangan penerbitan surat
keterangan kehilangan kendaraan bermotor untuk persyaratan klaim
asuransi, penyimpangan dalam penanganan kasus narkoba,
penyimpangan dalam penanganan kasus depo BBM ilegal,
penyimpangan proses penyelidikan kasus pidana, kolusi pengelolaan
kegiatan prostitusi, sindikasi tindak pidana bidang pertanahan, dan
penyimpangan dalam penyelidikan dan penyidikan peredaran VCD
bajakan.
28 www.suarakarya.com, 11 Juni 2009
148
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
No Area
Korupsi
Deskripsi
3
Samapta
penyimpangan pelaksanaan patroli polisi, penanganan illegal
logging, perlakuan diskriminatif petugas terhadap tahanan dan
keluarganya, praktik penerimaan laporan dan pengaduan
masyarakat, pungli dalam penyeberangan angkutan truk, dan
penyimpangan dalam pengamanan proses ekspor dan impor.
4
Lalu lintas
Penyimpangan terhadap penyidikan kecelakaan lalu lintas,
penyimpangan pada proses pinjam pakai barang-barang bukti
dengan jaminan uang, penyimpangan pada proses tindak lanjut
perkara kecelakaan lalu lintas dengan korban meninggal dunia,
dalam prosedur pembuatan SIM dan STNK, dan dalam proses
penegakan hukum.
5
Personil
Penyimpangan dalam penempatan personel POLRI pada tingkat
polres, pengusulan pendidikan, pelaksanaan seleksi bintara polisi,
pengeluaran tambahan siswa Secapa POLRI, penegakan hukum
oleh pengemban tugas provos, penangguhan penahanan, hingga
pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Polri Sukanto.
6
Logistik
Penyimpangan dalam hal pendistribusian BBM, proses sewamenyewa tanah-tanah milik POLRI, sistem distribusi anggaran, dan
proses penggunaan serta penghunian rumah dinas. 29
Meluasnya praktek korupsi di hampir semua lini kepolisian telah berimplikasi buruk pada
persepsi masyarakat terhadap polisi. Beberapa polling dan survei yang dilakukan beberapa
institusi menunjukkan bahwa kepolisian adalah salah satu lembaga terkorup di Indonesia,
sehingga dengan sendirinya menimbulkan citra buruk di masyarakat. Yang menyedihkan
adalah sejak kejatuhan rezim Suharto, hingga saat ini tampaknya belum ada perubahan
signifikan dalam persepsi negatif masyarakat terhadap kepolisian. Polling yang dilakukan
oleh harian Kompas yang dimuat pada hari Senin, 30 Juni 2003 menunjukkan bahwa citra
buruk polisi mencapai angka 62,9% sementara citra baiknya hanya mencatat angka 26,6%.30
Angka ini kemudian berubah di tahun 2003 dengan penurunan citra buruk polisi menjadi
47,4% dan peningkatan citra baik menjadi 41,2%.
29 ___, POLRI dan KKN (Jakarta: Kemitraan, 2004), hal. 21-52. Buku tersebut merupakan rangkuman hasil
skripsi yang dilakukan oleh 132 peserta didik PTIK.
30 ___,”Partisipasi Publik pada Tugas Pengayoman dan Pelayanan POLRI”, diakses dari
http://unisosdem.org/article_detail.php?aid=2079&coid=3&caid=22&gid=1 pada tanggal 12 Juni 2009 pukul
22:30
149
Reformasi Kepolisian Republik Indonesia
2002
2003
Citra Buruk
Citra Baik
Sementara itu, Transparency International (TI) yang melakukan survey terhadap Indeks
Persepsi Korupsi di Indonesia setiap tahun juga menunjukkan buruknya pandangan
masyarakat terhadap praktek korupsi yang salah satunya terjadi dalam institusi kepolisian.
Survei itu dilakukan kepada kelompok pengusaha dan unsur-unsur masyarakat lainnya yang
sering berhubungan dengan institusi publik, sehingga dengan demikian persepsi mereka
menunjukkan seberapa baik kinerja institusi publik yang bersangkutan. Survei yang
dilakukan dua tahun terakhir menunjukkan kepolisian hampir selalu menempati peringkat
atas sebagai lembaga publik terkorup. Di tahun 2006, kepolisian menempati posisi kelima
lembaga terkorup dengan tingkat inisiatif suap sebesar 78%. Angka ini lebih baik
dibandingkan sejumlah institusi lain seperti lembaga peradilan yang mencapai 100%, bea
dan cukai 95%, imigrasi 90%, dan BPN 84%.31 Di tahun 2007, lembaga kepolisian melejit ke
urutan pertama sebagai institusi publik terkorup dengan nilai indeks 4,2, disusul lembaga
peradilan dan DPR di urutan kedua dengan nilai indeks 4,1. Sedangkan partai politik nilainya
4,0, disusul pelayanan perijinan dan perpajakan yang masing-masing indeksnya 3,8 dan 3,6.
Semakin tinggi indeks, semakin dipersepsikan terkorup.32 Sementara itu, survei terakhir yang
dilakukan pada tahun 2008 menunjukkan indeks suap polisi mencapai 48%, yang berarti
hampir setengah dari interaksi antara masyarakat dengan kepolisian terjadi kasus
penyuapan (n=1218). Angka ini diikuti oleh bea cukai sebesar 41%, imigrasi 34%, DLLAJ 33%,
dan pemerintah daerah sebesar 33%.33
Indeks Persepsi Suap Transparency International Indonesia
Tahun 2006 dan 2008
2006
100
100%
2008
95%
90
90%
84%
80
78%
70
60
50
40
30
20
10
0
Lembaga
Peradilan
Bea Cukai
Imigrasi
BPN
POLRI
50
45
40
35
30
25
20
15
10
5
0
48%
41%
POLRI
Bea Cukai
34%
33%
33%
Imigrasi
DLLAJ
Pemda
31 “Komitmen Kepala Daerah dalam Pemberantasan Korupsi Meningkat, Indeks Persepsi Korupsi 32 kota di
Indonesia Berjalan di Tempat”, diakses dari
http://www.ti.or.id/researchsurvey/90/tahun/2007/bulan/02/tanggal/28/id/2820/ pada tanggal 12 Juni 2009
pukul 22:45
32 “Polisi, Parpol, Parlemen, dan Peradilan Dianggap Paling Terpengaruh dari Korupsi”, diakses dari
http://www.ti.or.id/researchsurvey/90/tahun/2007/bulan/12/tanggal/06/id/3473/ pada tanggal 12 Juni 2009
pukul 22:40
150
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Pengawasan Kepolisian
Salah satu isu yang paling urgen untuk dibahas adalah fungsi pengawasan. Fungsi ini
menjadi begitu penting karena institusi Polri memegang dua fungsi pokok yaitu: fungsi
diskresi (discretion) dan kerahasian (secrecy). Fungsi diskresi secara sederhana diartikan
sebagai wewenang dalam menginterpretasikan sebuah norma peraturan sebagai dasar
pengambilan tindakan dalam menjalankan tugas. Sedang fungsi kerahasiaan (secrecy)
adalah wewenang. Polisi dalam menjaga kerahasiaan. Kedua fungsi ini seperti pisau bermata
dua. Di tangan anggota yang mempunyai moralitas yang tinggi, kedua fungsi ini bisa menjadi
basis tindakan yang memberikan manfaat kepada masyarakat. Di tangan anggota yang
mempunyai moralitas yang rendah, kedua fungsi ini bisa menjadi peluang yang
membenarkan segala macam pelanggaran. Terlebih-lebih polisi mempunyai monopoli
dalam penegakan hukum.
Agar fungsi ini dapat digunakan sesuai dengan tugas pokok Polri, maka perlu disertai dengan
sistem pengawasan. Secara internal, implementasi organisasi Polri diawasi oleh sebuah
Inspektorat yang disebut sebagai Irwasum. Inspektorat pengawasan umum (Irwasum)
memiliki tugas menyelenggarakan fungsi: pembinaan, pengawasan dan pemeriksaan
umum bagi seluruh jajaran Polri, menyelenggarakan kegiatan rutin pengawasan umum dan
pemeriksaan baik yang terprogram maupun yang tak terprogram terhadap aspek manajerial
semua unit organisasi Polri dan menyusun laporan hasil pemeriksaan termasuk
penyimpangan pelaksanaan tugasnya.34 Pengawasan dalam forum formal dan birokratis
dilakukan ketika POLRI mengadakan rapat inter-departemen terkait dengan bakal
diluncurkannya produk-produk berupa peraturan pemerintah atau keputusan presiden.
Pengawasan eksternal pada level kebijakan dan politik dilakukan oleh Presiden sebagai
atasan langsung dan Komisi III DPR yang secara garis besar mempunyai fungsi pengawasan
khusunya dalam penegakan hukum. Presiden dibantu oleh sebuah Komis Kepolisian
Nasional (KOMPOLNAS) dan Ombudsman.35 Skema pengawasan Polri dapat dilihat dalam
bagan dibawah ini.
Skema Pola
Pengawasan Polri
Irwasum
Komisi III DPR
Presiden
Kompolnas
Propam
Ombudsman
33 “Indeks Persepsi Korupsi Indonesia tahun 2008 dan INdeks Suap 15 Institusi Publik di Indonesia”, diakses dari
http://www.ti.or.id/press/91/tahun/2009/bulan/01/tanggal/21/id/3817/
pada tanggal 12 Juni 2009 pukul
22:32
34 Lihat Keputusan Kapolri : Nomor Kep/53/X/2002, tanggal 17 Oktober 2002
35 Tugas dan Fungsi Kompolnas, sebenarnya memang tidak didisain sebagai lembaga pengawas, melainkan
sebagai penasehat presiden sebagai atasan langsung kepolisian.
151
Reformasi Kepolisian Republik Indonesia
Sistem pengawasan Internal yang dilakukan oleh Irwasum diragukan efektifitasnya. Hampir
sulit dibayangkan kalau anggota Irwasum yang juga anggota polisi akan menindak kawankawan sendiri, yang juga dari kepolisian. Bukti dari ketidakefektifan ini adalah sejak masa
reformasi reputasi Polri di mata masyarakat masih buruk. Polri masih dianggap sebagai
institusi yang korup, melanggar HAM, dan menunjukan karakter yang militeristik. Sedangkan
pengawasan dari presiden tentunya terbatas kepada tingkat kebijakan makro. Presiden tidak
punya staf khusus yang bertugas mengawasi Kepolisian. Sedangkan Komisi III DPR terbatas
kepada pengawasan politik. Mekanisme pengawasan ekternal dari DPR ini tidak rutin,
misalnya hanya dilakukan dalam rapat dengar pendapat. Dalam pandangan Arief Mudatsir
Mandan, DPR RI memiliki sejumlah kelemahan. DPR dipandang tidak memiliki kejelasan visi,
misi, konsep, dan strategi reformasi sehingga produk UU (terutama yang menyangkut
reformasi sektor keamanan) menjadi tidak jelas dan terkesan tumpang tindih. DPR juga
memiliki kelemahan dalam hal pengetahuan dan pemahaman anggota parlemen tentang
seluk beluk pertahanan, intelijen, maupun keamanan nasional, sehingga regulasi politik
yang ada masih banyak diwarnai oleh kompromi-kompromi politik dengan Departemen
Pertahanan, TNI, BIN, dan POLRI. 36
Kompolnas dan Ombudsman
Di berbagai negara, fungsi pengawasan selain dijalankan oleh fungsi-fungsi internal dan
pengawasan politik, juga dijalankan oleh sebuah komisi kepolisian. Komisi ini mempunyai
wewenang dalam melakukan penyidikan dan penyelidikan. Bahkan di beberapa negara
seperti Filipina dan Sri Langka, komisi ini juga mempunyai wewenang melakukan
penangkapan terhadap polisi yang melakukan pelanggaran. Di Indonesia, UU No. 2 tahun
2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia Pasal 37 dan 38 juga mengamanatkan
pembentukan Lembaga Kepolisian Nasional yang disebut sebagai Komisi Kepolisian
Nasional (KOMPOLNAS). Tetapi berbeda dengan Komisi Kepolisian di negara lain yang
mempunyai fungsi pengawasan, Kompolnas mempunyai tugas yang sangat terbatas dan
tidak mempunyai tugas pengawasan. Komisi ini hanya mempunyai tugas membantu
Presiden dalam menetapkan arah kebijakan Kepolisian Negara dan memberikan
pertimbangan kepada Presiden dalam pengangkatan dan pemberhentian Kapolri. Dalam
menjalankan tugasnya, Kompolnas juga mempunyai kewenangan yang sangat terbatas,
yaitu mengumpulkan dan menganalisis data sebagai bahan pertimbangan kepada Presiden
dalam mengembangkan institusi Kepolisian, memberikan saran dalam mewujudkan Polri
yang profesional dan mandiri. Dalam hubungannya dengan masyarakat, Kompolnas
menerima saran dan keluhan mengenai kinerja kepolisian.
Jadi dengan kerangka UU dan peraturan yang ada, Kompolnas memang tidak didisain untuk
menjadi lembaga pengawasan (watchdog), melainkan hanya sebagai lembaga konsultasi
dan lembaga Think Tank. Dengan melihat luasnya tugas dan wewenang Polri dan struktur
36
Arief Mudatsir Mandan, “Kerangka Pengawasan Parlemen dalam Reformasi Sektor Keamanan”, dalam Beni
Sukadis dan Eric Hendra (eds.), Perjalanan Reformasi Sektor Keamanan Indonesia (Jakarta; Lesperssi dan DCAF,
2008), hal. 145-147.
152
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
pengawasan yang ada, memang sulit dibayangkan adanya prinsip checks and balances dalam
kinerja Polri yang menjamin transparansi dan akuntabilitas. Bisa jadi karena faktor inilah
kinerja Polri selama ini masih menuai berbagai kritikan dan ketidak puasan. Padahal pada
masa reformasi ini, polisi mempunyai wewenang yang lebih luas, lebih otonom dan lebih
mandiri. Anggaran Polri mempunyai kecenderungan naik dari tahun ketahun. Kritik yang lain
disampaikan oleh Adrianus Meliala, seorang kriminolog dan ahli kepolisian. Menurutnya
Kompolnas, sebagai institusi tidak memiliki grip yang cukup hingga ke daerah-daerah,
sehingga Kompolnas hanya menjadi komisi elit dengan peran terbatas yakni sebagai
pemberi input umum dan level nasional. Dalam konteks ini, Meliala merekomendasikan agar
dibentuk semacam Komisi Kepolisian Daerah yang bekerja sama dengan DPRD mengingat
semakin besar bantuan pendanaan dari daerah terhadap kepolisian.37
Berbagai kelemahan dan kekuarangan dari institusi pengawasan yang saya sebutkan
diharapkan dapat ditutup oleh lembaga Ombudsman RI yang Undang-Undangnya sudah
disahkan oleh DPR pada tanggal 9 September 2008. UU Ombudsman RI ini menegaskan
perubahan lembaga Komisi Ombudsman Nasional menjadi Ombudsman Republik Indonesia
(Ombudsman RI). Ombudsman RI ini memiliki kewenangan mengawasi pemberian
pelayanan umum oleh penyelenggara negara dan pemerintah kepada masyarakat.
Penyelenggara negara dimaksud meliputi lembaga peradilan, kejaksaan, kepolisian, Badan
Pertanahan Nasional, Pemerintah Daerah, instansi departemen dan nondepartemen, BUMN,
BHMN, serta badan swasta dan perorangan yang seluruh/ sebagian anggarannya
menggunakan APBN/APBD (pasal 1 ayat 1). Ombudsman ini merupakan lembaga negara
yang sifatnya mandiri dan bebas dari campur tangan kekuasaan lain (pasal 2). Menurut pasal
7, Ombudsman bertugas menerima laporan atas dugaan maladministrasi dalam
penyelenggaraan pelayanan publik, melakukan pemeriksaan substansi atas laporan,
menindaklanjuti laporan, melakukan investigasi atas prakarsa sendiri terhadap dugaan
maladministrasi, melakukan koordinasi dan kerja sama dengan lembaga lain, dan melakukan
upaya preventif maladministrasi. Ombudsman juga memiliki kewenangan yang cukup besar
seperti meminta keterangan; memeriksa keputusan, surat, atau dokumen lain, melakukan
pemanggilan, menyelesaikan laporan melalui mediasi dan konsiliasi atas permintaan para
pihak; serta membuat rekomendasi mengenai penyelesaian laporan.38
Pada saat ini mungkin masih terlalu dini untuk mengukur keberhasilan kinerja Ombudsman
RI ini mengingat umurnya yang masih sangat muda. Winarso, Asisten Senior Ombudsman,
menyatakan bahwa saat ini Ombudsman RI tengah berada dalam masa transisi selama 1
tahun sebagai hasil dari disahkannya UU No. 37/2008. Dengan demikian, institusi ini memang
belum bekerja secara efektif.39 Sebelumnya, Komisi Ombudsman Nasional (KON) yang
merupakan cikal bakal pendirian Ombudsman RI hanya memiliki tugas yang terbatas pada
37
Meliala, “Pengaw asan Kepolisian: Ide Reformis”, Op. Cit., hal. 134
“Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 37 tahun 2008 tentang Ombudsman Republik Indonesia”,
dalam www.ombudsman.go.id pada tanggal 15 Juni 2009 pukul 00:20
39 Winarso, “Transisi Menuju Ombudsman Republik Indonesia”, dalam bulletin Suara Ombudsman, Nomor 3
tahun 2008, hal. 3
38
153
Reformasi Kepolisian Republik Indonesia
sosialisasi mengenai KON, koordinasi dengan lembaga negara terkait, dan mempersiapkan
RUU Ombudsman RI.40 Dengan demikian, KON sendiri belum diberi tugas seperti yang
diharapkan banyak orang, sehingga keluarnya UU No 37/ 2008 ini bisa dikatakan merupakan
jawaban atas kritik yang telah ada selama ini.
Ada dua masalah yang muncul terkait keluarnya UU tersebut. Pertama, UU itu masih
mencantumkan pasal karet yang mungkin bisa menjadi ganjalan penegakan hukum ke
depan. Pasal 8 ayat 1e menyebutkan salah satu wewenang Ombudsman RI, ”menyelesaikan
laporan melalui mediasi dan konsiliasi atas permintaan para pihak”. Barangkali dibuatnya
pasal ini mungkin dimaksudkan untuk mengatasi perkara-perkara kecil yang memang tidak
perlu diselesaikan melalui jalur hukum, seperti keluhan konsumen atas sikap pegawai
pemerintah, dan sebagainya. Meski demikian, ketidakjelasan batasan membuat pasal
tersebut juga bisa diinterpretasi dalam kasus-kasus besar seperti korupsi. Pasal ini bisa
menjadi ganjalan karena institusi ini memiliki kewenangan menyelesaikan sebuah isu di luar
jalur hukum dan diselesaikan lewat ”jalan belakang”. Masalah kedua, terkait dengan
kemungkinan tugas Ombudsman RI yang kemungkinan tumpang tindih dengan komisikomisi lain. Pertanyaan ini penting mengingat ia mencakup bagaimana jalur koordinasi
ataupun pembagian tugas antara komisi-komisi terkait, misalnya dengan KOMNAS HAM. 41
Reformasi Kepolisian
Sebagaimana yang dilakukan oleh TNI dalam melakukan reformasi internal. Polri juga
merumuskan konsep reformasi yang disebut Paradigma Baru Polri. Paradigma ini
dikonseptualisasikan dalam tiga perubahan: perubahan aspek struktural, perubahan aspek
Instrumental dan perubahan aspek kultural. Perubahan aspek struktural dan instrumental
merupakan sarana (means) dan prakondisi menuju perubahan Kultural. Perubahan aspek
struktural meliputi perubahan aspek kelembagaan (institusi) kepolisian dalam
ketatanegaraan, organisasi, susunan dan kedudukan. Inti perubahan struktural pasca
berpisahnya organisasi Polri dari TNI adalah diberlakukannya suatu konsep yang terintegrasi
sebagai polisi nasional dengan pendekatan dari bawah "bottom up" dengan pendelegasian
wewenang kepada satuan satuan perasional (KOD) sehingga mekanisme pengambilan
keputusan lebih cepat. Struktur organisasi dibuat dalam bentuk jaringan bukan pyramidal
yang menekankan kepada kerjasama. Organisasi Polri diharapkan akan mempunyai prinsip
yang hemat struktur tetapi kaya fungsi. Tujuannya adalah mengakselerasikan pelayanan
kepada masayarakat. Dalam semangat ini pula Polri juga telah melakukan upaya kemitraan
dengan masyarakat melalui program Community Policy (COP), yang saat ini sudah
ditingkatkan menjadi program Pemolisian Masyarakat (Polmas). Melalui bantuan lembaga
swadaya masyarakat nasional maupun internasional, program ini telah diujicobakan di
berbagai wilayah di Indonesia. 42
40 “Laporan Tahunan
Komisi Ombudsman Nasional tahun 2007”, diakses dari www.ombudsman.go.id pada
tanggal 15 Juni 2009 pukul 00:10
41 “Yang Tersisa dari Diskusi Publik: ORI tidak Tumpang Tindih dengan Lembaga Pengawas Lain”, dalam bulletin
Suara Ombudsman, Loc. Cit., hal. 12
42 Untuk uraian lebih jauh tentang COP (Community Policing ) dan / atau Pemolisian Masyarakat lihat : Eko
Prasetyo, “Polisi dan Masyarakat: Refleksi Pengalaman Program COP di Daerah Istimewa Yogyakarta”, dalam
Budiono, dkk., Ibid.,
154
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Perubahan aspek instrumental mencakup filosofi yang terdiri dari visi, misi dan tujuan,
doktrin, kewenangan, kompetensi, kemampuan fungsi dan iptek. Doktrin polri, merupakan
pandangan yang diyakini kebenarannya dan mempengaruhi perilaku pegawai atau
kelompok organisasi dalam menjalankan misi untuk mencapai tujuan organisasi. Perubahan
aspek Kultural merupakan tujuan atau hasil dari perubahan aspek struktural dan
instrumental. Secara garis besar perubahan kulural adalah perubahan budaya Polri yang
terdiri dari cara pandang, cara pikir, perilaku dan sikap yang mencerminkan jatidiri sebagai
polisi sipil. Secara konseptual Polisi Sipil adalah polisi menghargai hak-hak sipil dan
mempunyai sifat ke-sipilan-an atau keadaban misalnya sopan santun, bersahabat, tidak
menunjukkan sifat yang keras, membela kepentingan rakyat bukan kepentingan penguasa,
tunduk kepada prinsip-prinsip demokrasi good governance seperti akuntabilitas, transparasi,
checks and ballances. Secara diametral visi perubahan kultural tersebut berbeda dengan sifat
lama polisi yang mencerminkan karakter militeristik, berwajah kekerasan, membela
kepentingan penguasa, layaknya polisi rahasia, tidak transparan, tidak akuntabel, korup.
Dampak dari belum berhasilnya perubahan kultural tersebut Polisi masih mempunyai citra
buruk dimata masyarakat, karenanya tidak dipercaya oleh masyarakat.
Sementara perubahan struktural dan instrumental dianggap telah memantapkan posisi Polri
dalam sistem ketata negaraan RI dan semakin mengutakan paradigma kearah polisi sipil.
Perubahan aspek kultural disebut-sebut masih dalam proses antara lain dalam pembenahan
kurikulum pendidikan, sosialisasi nilai-nilai Tri Brata, Catur Prasetya dan Kode etik Profesi
untuk mewujudkan jati diri Polri sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat. Para
pimipinan Polri masih mengakui bahwa perilaku polri masih terlihat arogan, menggunakan
kekerasan, diskriminatif, kurang responsif dan belum profesional.
Pengakuan pimpinan Polri tersebut sejalan dengan pandangan para pengamat kepolisian,
misalnya sebagaimana yang disampaikan oleh Dr. Bambang W. Umar memberikan
penjelasan bagaimana reformasi POLRI mengalami sejumlah hambatan yang datang dari
kerangka legal formal. UU POLRI No. 2/ 2002, bersama-sama dengan Rencana Strategis POLRI
25 tahun, memang memberikan sejumlah arahan mengenai bagaimana reformasi itu
berjalan, selain juga memberikan desain besar reformasi POLRI. Umar mencatat ada sejumlah
masalah yang muncul. Pertama, jikapun seluruh agenda reformasi dilaksanakan, polisi masih
menyisakan sejumlah agenda reformasi. Agenda tersebut dalam wujud desain besar
reformasi seperti dalam kaitan kemandirian dan jati diri Polri, pardigma Polri dalam sistem
keamanan dalam negeri, status anggota Polri yang duduk dalam jabatan departemen,
netralitas Polri dalam Pemilu prosedur bantuan TNI kepada Polri, Persoalan bisnis Polri,
lembaga kontrol eksternal Polri.43
Selain itu kelemahan juga disebabkan oleh karena ketiadaan landasan sinergis diantara
produk-produk hukum terkait, sehingga masalah koordinasi dan kemungkinan clash sangat
43 Bambang W.
Umar, “Dampak dari Aturan Legal dan Kebijakan Domestik terhadap Reformasi POLRI”, dalam
Beni Sukadis dan Eric Hendra (Eds.), Perjalanan Reformasi Sektor Keamanan Indonesia, Edisi Pertama (Jakarta:
Lesperssi dan DCAF, 2008), hal. 69-70.
155
Reformasi Kepolisian Republik Indonesia
terbuka. Persinggungan itu tampak misalnya antara UU POLRI dengan UUD 1945 pada pasal
30 yang mengatur hubungan tugas antara POLRI dan TNI, UU No. 34 tahun 2004 tentang TNI,
UU No. 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah, UU No.3 tahun 2002 tentang
pertahanan negara, UU No. 15 tahun 2003 tentang tindak pidana terorisme, dan UU No. 23
tahun 1959 tentang keadaan darurat. Masing-masing produk hukum itu seolah berjalan
sendiri-sendiri tanpa ada landasan sinergis yang menjamin koordinasi diantara produkproduk hukum tersebut. Tidak adanya UU sinergis ini muncul karena dalam UUD 1945 sendiri
tidak memberi landasan sinergis. Sebagai contoh dalam fungsi pertahanan (yang dipegang
oleh TNI) dan fungsi keamanan (yang dipegang oleh POLRI) baru dijelaskan sebatas
pembagian wilayah kerja saja, sementara koordinasi diantara keduanya sama sekali tidak
dijabarkan.44
Kritik lain berkaitan dengan struktur organisasi polisi yang saat ini bersifat sentralistis. Para
pengkritik ini menginginkan struktur organisasi Polri yang terdesentralisasi sesuai dengan
semangat reformasi politik di Indonesia yang kemudian melahirkan otonomi daerah dan
pemilihan kepala daerah secara langsung. Organisasi POLRI yang saat ini sangat sentralistik
terlalu memusatkan kebijakan pada markas besar (Mabes) di Jakarta, sehingga dikatakan
POLRI berorientasi pada pimpinan dan bukan bawahan. Situasi ini juga menyebabkan kinerja
POLRI tidak sesuai kondisi di lapangan sehingga efektivitasnya dipertanyakan. Bagi
kelompok yang setuju dengan sentralisasi memiliki pandangan lain. Mereka berargumen
bahwa negara yang sangat luas teritorinya seperti Indonesia diperlukan kepolisian nasional
dan tidak mengenal kepolisian federal (yang berciri desentralis). Di beberapa negara Eropa
digunakan kepolisian federal karena luas wilayahnya yang hanya satu provinsi di Indonesia.
Mereka juga mencontohkan Jepang yang ketika kalah perang dipaksa AS untuk membentuk
polisi federal, tapi kemudian tidak efektif dan kemudian diganti lagi menjadi kepolisian
nasional. Beberapa pengamat memandang alasan ini sebagai mengada-ada karena justru
dengan negara seluas Indonesia diperlukan kecepatan dan akurasi pengambilan keputusan
terhadap kasus keamanan yang sifatnya sangat spesifik.45
Organisasi yang sentralistik tersebut masih berjalan bersamaan dengan masih adanya
perilaku aparat kepolisian yang masih sering menggunakan kekerasan. Praktek semacam ini
masih sulit untuk dihilangkan sama sekali mengingat POLRI yang sebelumnya menginduk
pada ABRI membuat organisasi ini mengadopsi sejumlah pendekatan militer dalam
kegiatannya. Situasi ini terus berlangsung bahkan setelah POLRI dilepaskan dari TNI lewat
TAP MPR No. VI/MPR/2000. Hal tersebut terlihat misalnya dalam pendekatan kekerasan yang
diambil POLRI. KontraS mencatat dalam kurun waktu Januari-Juni 2000 saja POLRI
melakukan 149 kasus pelanggaran HAM, belum termasuk penyerbuan aparat kepolisian ke
Universitas Muslim Indonesia, Makasar dan penembakan warga di tempat pengolahan
sampah terpadu (TPST) Bojong.46
44 Ibid., hal. 71-72
45 Ibid., hal. 61-62
46 Ibid., hal. 63-64
156
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Masyarakat juga belum sepenuhnya percaya kepada Polri, karena institusi ini dipandang
masih diskriminatif, kurang profesional, kurang tanggap dan kurang santun dalam
memberikan pelayanan. Salah seorang anggota DPR dari Komisi III menunjukkan salah satu
bukti rendahnya kepercayaan masyarakat adalah munculnya berbagai tim ad-hoc yang
tugasnya dapat dikatakan sama dengan tugas kepolisian seperti: Timtastipikor, KPK, Tim
Pencari Fakta. Tim-tim tersebut menunjukkan bahwa tugas Polri dalam bidang penyelidikan
belum mampu menuntaskan kasus yang menjadi perhatian publik.
Beberapa pengamat sepakat bahwa reformasi baru terjadi secara simbolis dan hanya di
permukaan, sehingga belum banyak terjadi perubahan. Setidaknya ada dua hal yang
menyebabkan lambannya laju reformasi tersebut. Yang pertama, reformasi berjalan secara
konvensional. Ini ditandai oleh sejumlah hal seperti, (1) terlalu banyak kebijakan yang
ditetapkan dan tingginya harapan, sehingga kurang sinkron dengan program implementasi;
(2) dilakukan secara top down, dimana Mabes POLRI merumuskan konseptual secara sepihak,
sedangkan polisi di wilayah sekedar melaksanakan saja; (3) tumpang-tindih kendali dalam
pelaksanaan tugas rutin dengan pelaksanaan reformasi, sehingga POLRI lebih terseret untuk
memenuhi tugas rutin daripada tuntutan reformasi; (4) tidak jelas teknik implementasi
program dihadapkan pada sasaran yang akan dicapai dalam reformasi; (5). tidak disertai
reward and punishment bagi pelaksana yang berhasil dan yang tidak berhasil; (6). tidak
disertai ruang dan landasan bagi pelaksana untuk mengubah program yang tidak sesuai
dengan tuntutan masyarakat di pedesaan; (7) tidak disertai ketentuan bahwa setiap
pergantian pimpinan tidak harus ganti kebijakan yang sudah mapan; dan (8). tidak
melibatkan kontrol dari masyarakat.47
Kedua, organisasi POLRI telah terpola dengan modus “berpikir ideologis” atau normatif. Hal
ini merupakan warisan dari pola pikir di kalangan TNI, dimana para petinggi POLRI cenderung
sangat cemerlang dalam ide-ide tapi sangat lemah dalam tataran implementasi, ”POLRI
terjebak dalam dunia seolah-olah, merasa telah merumuskan kebijakan namun
perwujudannya tak kunjung tampak”.48
Kesimpulan dan Rekomendasi
Reformasi telah mendorong perubahan dalam Polri khususnya dalam hal–hal yang simbolik,
formal dan permukaan atau dalam bahasa mereka sudah terjadi perubahan instrumental dan
struktural: Struktur organisasi, nama kepangkatan, undang-undang telah berubah.
Anggaran juga telah naik dari tahun ke tahun. Akan tetapi perubahan tersebut belum
menghasilkan perubahan kultural, dalam bentuk perilaku sesuai dengan harapan
masyarakat. Polisi masih menyisakan perilaku militeristik, pendekatan kekerasan dan
merebaknya budaya korupsi dan persoalan-persoalan yang berkaitan dengan praktekpraktek pengelolaan tata pemerintahan yang baik (good governance). Polisi masih
dipersepsikan secara negatif oleh masyarakat. Perubahan baru terjadi pada tataran cara
47 Ibid., hal. 70-71
48 Ibid
157
Reformasi Kepolisian Republik Indonesia
(means) belum terjadi pada hasil (result). Dengan kata lain reformasi kepolisian baru
memberikan janji belum bukti. Dalam jangka panjang perlu diuji dengan seksama apakah
memang problema kemandegan perubahan ini secara substantif disebabkan oleh
persoalan-persoalan yang lebih makro misalnya pada level legislasi yang menyangkut aspekaspek krusial seperti struktur organisasi, transparansi anggaran, kerangka pengawasan.
Kalau itu menjadi penyebabnya, memang perlu dilakukan reformasi yang lebih radikal dalam
kepolisian yang menyangkut aspek-aspek strategis misalnya amandemen UU Polri yang
merubah persoalan struktur organisasi, kerangka pengawasan, sumber pendanaan,
termasuk peninjauan jurisdiksi Polri yang saat ini dinilai terlalu luas, tetapi dengan
pengawasan yang lemah. Tetapi upaya ini secara politik memang melelahkan, karena belum
adanya kesamaan visi para pengambil kebijakan dalam kepolisian. Langkah–langkah praktis
jangka pendek adalah menggunakan kerangka legislasi yang ada, untuk mendorong kinerja
Polri dengan berbagai program penguatan, konsultansi dan tentunya pengawasan agar Polri
dapat meningkatkan fungsinya dalam memberikan perlindungan, pengayoman dan
pelayanan kepada masyarakat. Upaya incremental itu bisa dilakukan sesegara mungkin,
dalam kerangka hukum yang belum memuaskan. Dalam jangka pendek, lembaga-lembaga
politik seperti, Presiden dan DPR dan masyarakat seharusnya meningkatkan pengawasan
akan kinerja Polri. Selebihnya, masyarakat juga bisa melakukan kerja sama dengan Polri
dalam melakukan pencegahan, penyidikan dan penyelidikan terhadap kejahatan/kriminal
melalui peran sertanya dalam community policing (COP).<
158
Brigade Mobil Polri
BRIGADE MOBIL POLRI
Muradi 1
Pendahuluan
Sebagai salah satu bagian terintegral dalam Keluarga Besar Polri, Brigade Mobil
(Brimob) mengalami apa yang dirasakan oleh organisasi induknya selama sepuluh tahun
terakhir. Bahkan dalam berbagai kasus penanganan dan penegakan hukum (Gakum) unjuk
rasa, kerusuhan, dan berbagai kasus di daerah konflik, Brimob dianggap sebagai unit yang
bertanggung jawab terhadap berbagai tindak kekerasan yang terjadi. Masyarakat umumnya
tidak banyak tahu esensi tugas dan fungsi Brimob, sehingga disamakan dengan personil
kepolisian lainnya. Pendekatan dan penanganan yang khas dan berbeda dengan personil
atau unit kepolisian lainnya,2 inilah yang menjadi esensi ketidaktahuan masyarakat terkait
dengan tugas dan fungsi Brimob ketika diterjunkan di daerah rawan konflik, kerusuhan,
ataupun unjuk rasa dengan intensitas rendah hingga yang mengarah kepada tindakan
anarkisme.3
Sejatinya sebagai bagian dari unit Polri, kurun waktu antara tahun 1999-2007, telah banyak
melakukan perubahan secara organisasional, menyesuaikan 'watak sipil' yang diterapkan
dalam perpolisian membuat Brimob mengikuti kebijakan tersebut dengan berbagai
penyesuaian dan perubahan.4 Bisa dikatakan kurun waktu delapan tahun merupakan saatsaat yang berat bagi internal Brimob karena berbagai tuntutan yang menyudutkan unit
tertua dalam kepolisian Indonesia tersebut, mulai pertanggungjawaban terhadap tindak
kekerasan dan pelanggaran HAM hingga tuntutan pembubaran unit tersebut. Semua
tuntutan tersebut dijawab dengan perbaikan dan pembenahan internal yang pada akhirnya
makin mendorong Brimob lebih efektif dan fokus dalam menjalankan tugas dan fungsinya.
Apalagi secara organisatoris, Brimob juga tidak sendiri sebagai unit yang menangani
kriminalitas dengan kadar tinggi, sejak tahun 2003, Detasemen Khusus 88 Anti Terror (Densus
88 AT), yang secara spesifik memiliki tugas khusus menangani berbagai kasus terror bom,5
meski pada praktik selanjutnya Densus 88 AT juga difungsikan pada berbagai penanganan
1 Muradi, adalah dosen Ilmu Pemerintahan FISIP UNPAD, Bandung.
2 Lihat “Anggota Brimob-TNI Bentrok”
http://www.sumeks.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=5616&Itemid=3 (diakses 6 Mei
2009)
3 Lihat “OPM Hadang Brimob” http://papuapost.com/2009/04/1093/ (diakses 6 Mei 2009)
4 Lebih lanjut tentang berbagai perubahan dan penyesuaian yang dilakukan di internal Brimob, lihat Muradi,
”Reformasi Brimob Polri: Antara Tradisi Militer dan Kultur Sipil” dalam Sukadis, Beni (eds). 2007. Almanak
Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2007. Jakarta: Lesperssi-DCAF. Lihat juga, Muradi. 2008. The Reform of
Mobile Brigade of Indonesian National Police and Democratization. Master Thesis, Singapore: Rajaratnam School
of International Studies, Nanyang Technological University. Lebih lanjut lihat juga Wenas, S.Y. 2006. Korp Brimob
Polri dalam Aktualisasi. PTIK Press.
5 Lebih lanjut tentang pembentukan Densus 88 AT, lihat Eko Maryadi, “Detasemen Khusus 88 Polri” dalam
Sukadis, Beni (eds).op.cit.
159
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
kasus yang melibatkan Unit Reserse Kriminal,baik tingkat Mabes maupun tingkat Satuan
Induk Penuh/Polda (SIP) dan Kesatuan Operasional Dasar/Polres (KOD) . 6
Keberadaan Densus 88 AT, di satu sisi merupakan kebijakan yang melengkapi berbagai unit
yang ada di tubuh Polri, namun di sisi lain menjadi kompetitor yang positif bagi Brimob untuk
berbenah dan menata internalnya agar lebih aseptabel, dan mendapatkan respon yang
positif dari masyarakat terkait dengan berbagai operasi yang melibatkan Brimob. Meski
belum maksimal efek pembenahan internalnya , namun Brimob telah berupaya membangun
lanskap Unit Polisi Paramiliter (UPP) yang secara kelembagaan telah mengarah kepada
identifikasi UPP yang profesional dan demokratik. Dengan mendasarkan kepada respons
positif terhadap setiap tuntutan, harapan, serta keinginan public untuk memiliki UPP yang
tidak sekedar nampak watak militeristiknya, tapi juga telah mengidentikkan diri sebagai
bagian yang tidak terpisahkan dari Keluarga Besar Polri; sipil dan dalam lingkup perpolisian
demokratik,yang dikontrol oleh adanya mekanisme pengawasan publik.
Dalam tulisan ini akan dibahas sejumlah kemajuan yang telah dilakukan oleh Brimob dalam
kurun waktu 2007 hingga pertengahan tahun 2009 dengan mendasarkan pada tiga
pendekatan; organisasi, prilaku, dan budaya yang berkembang dalam Brimob dan efeknya
bagi kinerja Brimob dan Polri, serta efeknya bagi masyarakat secara luas. Ketiga pendekatan
ini diasumsikan dapat mewakili penggambaran secara komprehensif perwajahan Brimob
secara organisasi, dengan membandingkan permasalahan yang ada dalam organisasi,
prilaku,dan budaya yang ada dengan pencapaian yang telah dilakukan oleh Brimob selama
kurun waktu 2007 hingga pertengahan 2009. Dalam tulisan ini juga akan dikupas berbagai
permasalahan serta ditawarkan beberapa solusi agar Brimob secara organisasi dapat
menuntaskan berbagai permasalahan yang ada dan siap menuju Unit Polisi Paramiliter (UPP)
yang profesional dan demokratik, sebagaimana harapan masyarakat.
Permasalahan versus Pencapaian
Mengacu kepada Almanak 2007, ada sejumlah permasalahan yang mengganjal Brimob
menjadi UPP yang professional dan demokratik. Permasalahan yang membelit Brimob yang
paling krusial adalah transisi dari tradisi militeristik menuju kultur polisi sipil, di mana pola dan
pendekatan militer tetap dipertahankan sebagai ciri khas UPP. Transisi tersebut mengandung
konsekuensi yang harus dituntaskan oleh Brimob. Adapun permasalahan tersebut antara
lain: sentralisme komando dalam organisasi Brimob; metode pendekatan pada
penyelesaikan kasus masih dengan pendekatan lama; sebaran personil Brimob yang tidak
merata; keterbatasan keahlian dan keterampilan di lapangan yang berimplikasi kepada pola
pendekatan,yang menyebabkan prilaku personil belum sebagaimana yang diharapkan oleh
masyarakat; implementasi sejumlah kebijakan yang mengetengahkan pendekatan
perpolisian demokratik masih terkendala; penyempurnaan struktur kelembagaan masih
terkendala secara tekhnis; perubahan internal yang terjadi belum membuahkan efek jera dan
6 Lihat Muradi, “Peranan Densus 88AT Dalam Pengamanan Pilkada dan Pemilu” Jurnal Sanyata Sumanasa Wira,
No. 35, September-November 2008, Lembang: SESPIM POLRI hal. 38-40
160
Brigade Mobil Polri
prestasi bagi personil Brimob yang mencerminkan institusionalisasi UPP yang professional
dan demokratik; eksklusivitas personil Brimob di antara unit lainnya; pola rekruitmen yang
berstandar lama.7 Kesembilan permasalahan tersebut terbagi kedalam tiga pendekatan
sebagaimana uraian di bawah ini:
Organisasi Brimob
Pertama, permasalahan sentralisme komando Brimob yang menyulitkan mobilisasi
dan pengerahan personil pada berbagai kasus. Karakteristik yang sedikit berbeda dengan
unit polisi lainnya membuat personil Brimob kesulitan dalam mengimplementasikan tali
komandonya. Ada psikologis yang berbeda ketika komando tidak dipegang atau
dioperasionalisasikan oleh atasan Brimob langsung. Kondisi ini bukan tanpa sepengetahuan
pimpinan Polri, sehingga ketika ada kesempatan melakukan revisi terhadap Rencana
Strategis Polri Tahun 2005-2009, maka langkah untuk melakukan pembenahan terhadap
struktur komando Brimob agar lebih mudah dan dapat dioperasionalisasikan hingga level
KOD.8 Mengacu pada Renstra Polri Perubahan yang ditetapkan pada tanggal 26 April 2007
No.Pol.9/IV/2007 Tentang Rencana Strategi Polri 2005-2009 perubahan, yang merubah
Renstra Polri No. Pol. 20/IX/2005, maka keberadaan Brimob secara bertahap akan berbasis
pada KOD, dengan Polda sebagai Satuan Induk Penuh (SIP) yang akan banyak berfungsi
sebagai penyelia dan pengimplementasi kebijakan Mabes Polri sebelum diterjemahkan
secara operasional di lapangan oleh kesatuan Brimob yang ada di KOD.
Kebijakan ini sesungguhnya bagian dari proses selama sepuluh tahun terakhir Brimob dalam
melihat kecenderungan arah dan pola kelembagaan Brimob. Sebagaimana diketahui bahwa
acuan Unit Polisi Paramiliter secara garis besar mengacu kepada tiga model, yakni: Anglo
Saxon model, yang cenderung diadopsi oleh Negara-negara bekas jajahan Inggris, kecuali
Amerika Serikat yang menempatkan UPP-nya setara dengan militer, dengan mengadopsi
berbagai pendekatan kemiliteran dalam operasionalisasinya. Bahkan dalam banyak kasus,
UPP difungsikan sebagai satuan pemukul cepat bagi ancaman terhadap integritas Negara.
Inggris menempatkan UPP-nya bersama militer untuk mematikan gerak separatisme di
Irlandia Utara. Hanya saja Anglo Saxon Model ini menempatkan control komandonya pada
masing-masing kepolisian daerah.9 Kedua, model Anglo Francais, model ini banyak diadopsi
oleh Negara-negara seperti Perancis, Spanyol, dan Italia serta bekas jajahan. Hanya nama saja
yang berbeda seperti Gendarmarie, atau Carabinieri, dan lain sebagainya. UPP model ini
menempatkan struktur komandonya berada di bawah Departemen Pertahanan dan atau
masuk struktur Angkatan Darat, dengan penugasan pada Departemen Dalam Negeri, dan
atau kementerian kepolisian.10 Sementara model yang ketiga adalah model UPP di Amerika
7 Lihat Muradi, ”Reformasi Brimob Polri: Antara Tradisi Militer dan Kultur Sipil” dalam Sukadis, Beni (eds). Op.cit
Lihat juga, Muradi. Op.cit.
8 Lihat “Jangka Panjang Brimob Akan Dimekarkan”
http://arsip.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Utama&id=113591 (Diakses 6 Mei 2009)
9 Cynthia H. Enloe, “Police and Military in Ulster: Peacekeeping or Peace-Subverting Forces?, Journal of Peace
Research,Vol. 15, No. 3 (1978), hal. 243-245. Lebih lanjut juga lihat Tobias, J. J.,1975.”Police and Policing in the
United Kingdom,” in Moose,George L. (ed.), 1975. Police Forces in History. Beverly Hills, California: Sage.
10 Lihat misalnya “French Police: We Saves Millions of Euros by Adopting Ubuntu”
http://arstechnica.com/open-source/news/2009/03/french-police-saves-millions-of-euros-by-adopting-
161
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Serikat yang menegaskan UPP adalah bagian dari kepolisian yang sepenuhnya dikontrol oleh
otoritas sipil. UPP di Amerika Serikat meski di beberapa Negara bagian memiliki karakteristik
masing-masing namun tetap merupakan bagian dari kepolisian, yang kinerjanya diawasi
oleh publik. Meski mengadopsi berbagai atribut dan taktik serta pendekatan militeristik, UPP
di Amerika Serikat tetap memperhatikan struktur komando dari induk organisasinya sebagai
bagian dari kepolisian yang diawasi oleh masyarakat. Karakteristik UPP di Amerika Serikat ini
relative unik mengikuti struktur yang ada di kepolisian di Negara tersebut yang tidak seragam
antar Negara bagian. 11
Secara kelembagaan, Brimob cenderung dekat dengan model yang ada di Amerika Serikat.
Selain merupakan bagian dari struktur kepolisian, Brimob juga cenderung berperan dan
berfungsi sebagai unit yang menanggulangi gangguan Kamtibmas berkadar tinggi. Dengan
sedikit modifikasi karena konsep kepolisian Indonesia adalah kepolisian nasional, maka
struktur komando Brimob akan berada hingga tingkat Polres/Polresta (KOD) pada tahun
2009 ini.12 Sekedar gambaran, sebelumnya selain Brimob Daerah di tingkat Polda, Brimob
juga ditempatkan di tiap Polwil sebanyak satu kompi, akan tetapi penempatan satu kompi
Brimob di Polwil ternyata tidak cukup efektif. Mengacu pada Renstra Polri versi perubahan
tahun 2007, maka efektifitas tali komando juga dapat dilakukan dengan baik. Setidaknya
pimpinan tertinggi di KOD dapat secara efektif melakukan pergerakan personil dengan baik.
selain itu memupus permasalahan psikologis antar personil Brimob dengan pimpinan KOD
yang mem-BKO-kan atau di-BKO-kan.
Kedua, metode pendekatan pada penyelesaikan kasus masih dengan pendekatan
lama. Secara kelembagaan respons Mabes Polri terkait dengan pola penanganan dan
pendekatan yang dilakukan oleh personil Brimob di lapangan dirasakan masih belum ideal.
Sehingga pada Renstra Polri versi Perubahan tahun 2007, secara khusus mempertegas
beberapa hal yakni:
Mabes Polri berkedudukan sebagai perumus kebijakan politik strategis keamanan
mengikat seluruh jajaran Polri termasuk kehandalan kesatuan pelaksana utama;
evaluasi dan pengembangan spesialisasi utama sepertiReskrim, Intelkam, Babinkam,
dan Brimob...,13
Memperbaiki dan mereposisi Brimob sebagai korps khusus professional dengan daya
tangkal yang tinggi dengan fungsi yang berbeda dengan fungsi militer untuk
terwujudnya; 1) Kemampuan menetralisir ancaman kekerasan terhadap masyarakat; 2)
Memantapkan fungsi Brimob dalam melawan insurgensi dan bekerjasama dengan
TNI..., 14
162
Brigade Mobil Polri
Selama dua tahun berjalan, langkah-langkah tersebut memang belum nampak efeknya bagi
masyarakat secara luas, karena masih terjadi tindak kekerasan dan bentrok fisik antara
Brimob dengan masyarakat atau dengan apparatus lainnya, seperti TNI.15 Namun secara
internal, kebijakan tersebut dilakukan dengan berbagai pola pendekatan yang massif dan
terkendali. Akan tetapi memang harus diakui bahwa menerapkan kebijakan dengan pola top
down membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Dibutuhkan penyesuaian-penyesuaian
dengan jeda antara pengiriman personil ke daerah rawan konflik dengan masa istirahat di
kesatuan.16 Sebab, secara psikologis tingkat stress yang tinggi pasca bertugas hanya akan
memberikan efek negative terhadap para personil apabila dipaksakan dengan berbagai
materi yang secara teoretik sangat ideal, sementara realitas di lapangan justru berbeda.17
Meski demikian, efek positif yang dapat dirasakan langsung terkait dengan kebijakan
tersebut adalah menurunnya tingkat kekerasan dan bentrok fisik antara Brimob dengan
masyarakat dan atau TNI antara tahun 2007 hingga pertengahan tahun 2009 (lihat Tabel 1). 18
Bisa jadi turunnya tingkat kekerasan yang dilakukan oleh personil Brimob dalam
penanganan kasus dalam kurun waktu tersebut disebabkan menurunnya tingkat konflik
yang terjadi di beberapa titik konflik seperti NAD yang berakhir damai dengan
ditandatanganinya perjanjian antara pemerintah dengan GAM.19 Di Poso20 serta Maluku 21
juga relative kondusif, kecuali di Papua yang masih menyisakan konflik antara pemerintah
dengan OPM. 22 Sementara konflik-konflik yang muncul di masyarakat cenderung bersifat
parsial dan karena efek dari produk kebijakan politik, seperti otonomi daerah, pemekaran
daerah, dan Pilkada dan Pemilu , serta unjuk rasa yang merupakan bagian dari proses
15 Lihat
“Warga dan Brimob Bentrok, seorang Tewas”
http://mahakammedia.wordpress.com/2008/08/20/warga-dan-brimob-bentrok-seorang-tewas/ (Diakses 6
Mei 2009)
16 Lihat misalnya “Menyambut HUT Polri ke-62: Kekerasan Masih Warnai Wajah Polri”
http://jurnalnasional.com/?media=KR&cari=muradi&rbrk=&id=55866&detail=Politik%20-%20Hukum%20%20Keamanan (Diakses 8 Mei 2009)
17 Lihat misalnya “Anggota Brimob Bunuh Diri, Tembak Keninh Hingga Tembus”
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0203/16/jab02.html (Diakses 6 Mei 2009)
18 Bandingkan hasil kompilasi yang dilakukan oleh Pusat Studi Keamanan Nasional (PSKN) Universitas
Padjadjaran, Bandung dengan yang dilakukan oleh Imparsial terkait dengan tingkat kekerasan yang dilakukan
oleh Brimob. Hasil temuan PSKN Unpad,justru tindakan kekerasan yang dilakukan oleh personil Polri tidak lagi
dimonopoli oleh Brimob, tapi menyebar ke unit-unit yang ada di Polri. Sehingga meski dalam laporan Imparsial
terkait tindak kekerasan yang dilakukan oleh personil Polri masih relatif tinggi, namun tidak lagi dimonopoli
oleh personil Brimob, tapi juga unit lain seperti Densus 88 AT, Reskrim, dan lain sebagainya. Lebih lanjut lihat
Rusdi Marpaung (ed). 2008. Praktik Brutalisasi Polisi Di masa Transisi. Jakarta: Imparsial. Lihat juga Kompilasi
Kinerja Polri 2007-2008. PSKN UNPAD.
19 Lihat misalnya “RI-GAM Sepakat Damai” http://www.suaramerdeka.com/harian/0507/18/nas01.htm
(Diakses 6 Mei 2009)
20 Lihat misalnya “Konflik di Poso Karena Rebutan Jabatan” http://www.mediaindonesia.com/berita.asp?id=123211 (Diakses 6 Mei 2009)
21 Lihat misalnya “Masalah RMS dan Perkelahian Antar Komunitas Masih rawan”
http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/2008/02/29/brk,20080229-118342,id.html
22 Lihat misalnya “OPM Baku Tembak Dengan Brimob di Wamena”
http://www.detiknews.com/read/2009/04/09/202525/1113429/10/opm-baku-tembak-dengan-brimob-diwamena (Diakses 6 Mei 2009)
163
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
demokrasi yang positif. 23 Akan tetapi secara bertahap pola pendekatan yang dilakukan
mengacu kepada idealitas perpolisian demokratik, yang memiliki rambu-rambu yang
membatasi penggunaan kekerasan dalam setiap aktivitas institusi keamanan, di mana
termasuk di dalamnya unit polisi paramiliter.24
Tabel 1
Penanganan Keamanan dan Konflik oleh Personil Brimob
dengan Tindak Kekerasan
Tahun
2007
2008
2009 25
Jumlah
Jenis Penanganan Keamanan dan Instansi Konflik
TNI
Daerah
Demo
Konflik
Lain -lain
Konflik
Ra kyat
7
4
12
11
5
2
9
8
2
1
3
2
14
7
24
21
-
Sumber: PSKN UNPAD
Ketiga, sebaran personil Brimob yang tidak merata. Sebagaimana diketahui bahwa
jumlah personil Brimob sekitar 32 ribu, dengan konsentrasi di Markas Besar Brimob, Kelapa
Dua, Depok Jawa Barat sebanyak enam ribu, serta tiga Sentral Komando Brimob; Brimob
Polda Sumatera Utara untuk Indonesia bagian Barat, Brimob Polda Jawa Timur untuk
Indonesia bagian Tengah, serta Brimob Polda Sulawesi Selatan untuk Indonesia bagian Timur.
Masing-masing sentral komando tersebut memiliki kurang dari dua ribu personil. Sedangkan
polda-polda/SIP lainnya memiliki personil berkisar antara 1000-800 personil. Kondisi
tersebut secara operasional menjadi bagian kendala dalam berbagai penanganan kasus dan
konflik yang berkembang di masyarakat. Selain masalah komando dalam konteks personil
yang di-BKO-kan sebagaimana uraian tersebut diatas, juga terkait dengan titik rawan konflik
yang secara operasional penanganan menjadi titik lemah Brimob selama ini. Tak heran,
beberapa penanganan kasus di Poso, NAD, Maluku, serta Papua pada saat bersamaan
meledak membuat Brimob mengalami kesulitan dalam pengiriman personil.26 Belum lagi
penanganan konflik politik seperti konflik pasca Pilkada, Pemilu, bahkan Pilkades, menjadi
bagian yang tidak terpisahkan dari kasus yang ditangani oleh Brimob secara simultan dan
terencana. 27
23
Lihat misalnya “Polri Petakan Daerah Rawan Konflik Saat Pilkadal”
http://www.tempo.co.id/hg/nusa/jawamadura/2005/02/16/brk,20050216-47,id.html (diakses 6 Mei 2009)
24 Lihat Adam Jones,”Review: Parainstitutional Violence in Latin America”,Latin American Politics and Society,Vol.
46, No. 4 (Winter, 2004). Hal. 129-130.
25 Data hingga April 2009.
26 Lihat misalnya “Brimob Kupang di Kirim ke Ambon”
http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2005/05/21/brk,20050521-61324,id.html (Diakses 6 Mei 2009)
27 Lihat misalnya “105 Personel Brimob Dikirim ke Papua”
http://regional.kompas.com/read/xml/2009/04/17/22503676/105.personel.brimob.menuju.papua (Diakses 6
Mei 2009)
164
Brigade Mobil Polri
Respon yang dilakukan oleh Mabes Polri dan kemudian Mabes Brimob adalah perencanaan
penambahan personil pada tahun 2009 berjalan ini dari 32 ribu menjadi 50 ribu dengan
menitikberatkan pada sebaran personil Brimob dengan basis di KOD.28 Asumsi penambahan
sebanyak kurang lebih 13 ribu personil dalam kurun waktu dua tahun berjalan adalah guna
memperkuat dan menyeimbangkan sebaran personil antar daerah dengan menperhatikan
tipe Polda yang ada.29 Selama ini ada tiga tipe Polda yakni; Polda Tipe A yang dipimpin oleh
jenderal polisi bintang dua, atau Inspektur Jenderal (Irjen) , Tipe B, yang dipimpin oleh jendral
bintang satu senior, atau Brigadir Jendral (Brigjen) dan Polda Persiapan, yang biasanya
merupakan provinsi/daerah hasil pemekaran, dan Polda Persiapan ini untuk sementara
sampai infrastrukturnya mapan dicangkokkan ke Polda induk.30 Biasanya Polda Persiapan ini
dipimpin oleh Komisaris Besar Polisi (KBP) senior dan atau Brigadir Jendral yunior, yang
mengacu pada pola pengembangan wilayah kepolisian pada strata dan tingkatan pimpinan.
Sehingga Polda Persiapan biasanya disatukan dengan polda provinsi induk.
Perlu juga digarisbawahi bahwa penambahan jumlah personil juga merupakan kebijakan
umum Mabes Polri. Dalam pengertian bahwa rasio polisi dengan masyarakat yang selama ini
juga belum merata menjadi catatan tersendiri, selama ini rasio antara jumlah personil Polri
dengan masyarakat berkisar antara 1:400 hingga 1:1200,31 ketidakmerataan ini membuat
Polri secara kelembagaan juga mengalami kesulitan dalam penanganan berbagai kasus.
Idealnya jumlah personil mengikuti meningkatkanya jumlah populasi, sehingga secara
khusus beberapa Presiden pasca Soeharto; B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati
hingga Susilo Bambang Yudhoyono mendorong peningkatan jumlah personil Polri.32
Sehingga sebenarnya jumlah personil Brimob saat ini belum ideal, karena bila mengacu pada
komposisi jumlah personil UPP di banyak Negara adalah sekitar sepersepuluh dari jumlah
keseluruhan anggota kepolisian.33 Jika anggota Polri pada tahun 2009 sekitar 400 ribu,34
maka jumlah idealnya personil Brimob adalah berkisar di angka 40 ribua-an. Bisa jadi asumsi
angka 50 ribuan personil Brimob ditahun 2009 ini didasari dengan masih besarnya ancaman
keamanan berkadar tinggi khususnya terkait dengan konflik komunal, separatisme, dan
ancaman keamanan terkait dengan efek dari demokratisasi dan globalisasi, dengan
membandingkan sebaran personil Brimob yang belum merata.35
28 Mabes Polri. Op. cit. lihat juga Lihat “Jaga Daerah Konflik, Brimob Butuh Alat Proteksi”
http://news.okezone.com/read/2007/11/16/1/61368/1/jaga-daerah-konflik-brimob-butuh-alat-proteksi (Diakses 6 Mei
2009)
29 Lebih lanjut tentang tipe Polda, lihat Kep. Kapolri: No. Pol. KP/05/X/2000
30 Lihat Polda hasil provinsi pemekaran seperti Polda Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, dan atau Polda Papua dan Irian
Jaya Barat. Lebih lanjut lihat Muradi.2008. op.cit. hal. 37-39
31 Lihat misalnya “rasio Polisi-masyarakat 1:700” http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2005/03/29/brk,2005032930,id.html (Diakses 6 Mei 2009), lihat juga “Rasio Polisi di Pulau Jawa jauh dari Standar”
http://www.tempo.co.id/hg/nasional/2007/07/02/brk,20070702-102929,id.html (Diakses 6 Mei 2009)
32 Kompas, ”Presiden: Anggota Polri Seharusnya 600 Ribu”
www.kompas.com/kompas-cetak/0003/03/metro/pres17.htm - 16k - (diakses 5 Mei 2009)
33 Standarisasi jumlah tersebut mengacu pada model kepolisian nasional, lebih lanjut lihat misalnya, Jefferson, Tony.1990.
The Case Against Paramilitary Policin.g Buckingham: Open University Press. Lihat juga “Policing Antiquities in Italy: the
Carabinieri Art Squad”, Etienne Ignatovich “The French Gendarmarie: An Example of a Military Force Involved in The
Homeland Security” Presentation PMSC Workshop on Defence Policy and Strategy, Geneva, 29-30 September 2003.
34 Mabes Polri. 2007. Op.Cit.
35 Lihat misalnya “Mabes Polri Rotasi Personel Brimob BKO” http://www.sinarharapan.co.id/berita/0707/07/nus04.html
(Diakses 6 Mei 2009). Lihat juga Mabes Polri.2008. op.cit.
165
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Keempat, keterbatasan keahlian dan keterampilan di lapangan yang berimplikasi
kepada pola pendekatan. Kekurangan tersebut disadari benar oleh Mabes Polri dan
pimpinan Brimob. Apalagi dalam berbagai penanganan kasus terbentur juga permasalahan
yang terkait dengan pola pendekatan yang mengakibatkan terjadinya tindak kekerasan oleh
personil Brimob di lapangan. Kebijakan yang dibuat oleh pimpinan Polri serta dilaksanakan
oleh pimpinan Brimob adalah meningkatkan dan lebih memperdalam keahlian dan
keterampilan personil Brimob, khususnya yang terkait dengan interaksi dengan masyarakat
secara langsung.
...Memberikan pengalaman magang dan pelatihan khusus berorientasi sipil yang
berbeda dengan militer; Memberikan perhatian khusus kepada Korp. Brimob yang
dikirimkan ke daerah konflik agar berfungsi sebagai penegak hukum sipil yang
berwibawa berbasis persuasive atau komplementer dengan militer..., Membuat
perencanaan organisasi yang utuh (termasuk kesejahteraan personilnya) untuk
penyesuaian dan penyeimbangan kualitas serta kuantitas personil Brimob..., 36
Harus diakui bahwa program tersebut masih dalam proses internalisasi, dalam pengertian
implementasi di lapangannya belum dapat secara nyata dirasakan oleh masyarakat. Bahkan
jauh sebelum Renstra Polri versi perubahan dibuat, Kepala Brimob Polri mengeluarkan
Keputusan No. Pol: Skep/94/X/2005 Tentang Panduan Implementasi Perpolisian Masyarakat
bagi personil Brimob. Dalam empat tahun sejak Skep Kepala Brimob tersebut implementasi
Perpolisian Masyarakat oleh personil Brimob hanya membuat bingung personil di lapangan.
Ada semacam kontradiksi yang dialami oleh personil terkait dengan implementasi
Perpolisian Masyarakat, di satu sisi, personil Brimob dibekali dengan briefing oleh
komandannya terkait dengan penegakan hukum dan pengkodisian daerah pasca konflik
dengan pendekatan yang digunakan adalah penegakan hukum (Gakum). Sebagaimana
diketahui pendekatan dengan penegakan hukum diterjemahkan di lapangan sebagai
penangkapan bagi yang melanggar, dan penggunaan kekerasan dalam implementasinya
bila diperlukan. Di sisi lain, pengamanan wilayah pasca konflik yang dilakukan oleh personil
Brimob seringkali merupakan daerah dengan status Darurat Sipil atau setidaknya Tertib Sipil,
di mana langkah-langkah sebagaimana diuraikan di atas dilakukan secara sistematis. Kondisi
tersebut secara aktif tidak kondusif dilakukan oleh personil Brimob di lapangan, bisa jadi
implementasi Skep Ka Brimob hanya dapat dilakukan oleh personil Brimob di Markas Brimob
atau Kesatrian-kesatrian dengan jalan berinteraksi dengan masyarakat. 37
Dengan kata lain peningkatan keterampilan yang dimiliki oleh Brimob meski secara
operasional dapat diimplementasikan, namun secara praktis belum mampu mengubah pola
pendekatan, sebagaimana harapan masyarakat luas. Sebagaimana diketahui bersama, unitunit dalam Brimob telah mampu membuktikan diri sebagai unit yang handal dan mampu
36 Mabes Polri. 2007. Op.cit
37 Lihat misalnya “Masih Butuh Dua Detasemen Brimob Lagi”
http://www.cenderawasihpos.com/detail.php?id=7613&ses= (Diakses 6 Mei 2009)
166
Brigade Mobil Polri
menyelesaikan tugas dengan sejumlah prestasi.38 Baik sebagai bagian dari Tim dalam
penanganan separatisme dan terror bersama TNI, Densus 88 AT, dan Intelkam Polri, maupun
sebagai aktor utama dalam penanganan berbagai konflik dan unjuk rasa yang berakhir
dengan kekerasan. 39
Namun demikian, proses evolutif perubahan pola pendekatan akan terjadi dengan sinergis
apabila proses pelembagaan Brimob dapat terjadi dengan baik sebagai Unit Polisi Paramiliter
yang professional dan demokratik. Dengan sejumlah kebijakan Mabes Polri yang
mengarahkan semua unit yang ada dalam Keluarga Besar Polri untuk bermetamorfosis
menjadi perpolisian yang masuk dalam lingkup demokratik, maka proses perubahan pola
tersebut cepat atau lambat akan terjadi. 40
Perilaku Personil Brimob
Kelima, implementasi sejumlah kebijakan yang mengetengahkan pendekatan
perpolisian demokratik masih terkendala. Kendala tersebut terletak pada proses transformasi
yang tengah berjalan di internal Brimob. Beberapa kebijakan terkait dengan hal tersebut
antara lain: Surat Keputusan Kapolri No. Pol.:Skep/1320/VIII/1998, tertanggal 31 Agustus1998
Tentang Panduan Lapangan untuk Meningkatkan Pelayanan Polri di Era Reformasi,
Keputusan Kapolri No.Pol.: Kep. 53/X/2002, tertanggal 17 Oktober 2002 Tentang Administrasi
dan Organisasi Brimob dan Keputusan Kapolri No.Pol.: Kep/54/X2002 yang terkait dengan
perubahan unit Brimob di tingkat Polda, Keputusan Kapolri No. Pol. Skep/27/IX/2002,Tentang
Reformsi Brimob, di mana termasuk perubahan motto Brimob, Keputusan Kapolri No. Pol.:
Skep/360/VI/2005 tertanggal 10 Juni 2005 Tentang Grand Strategi Polri 2005-2025 di mana
termasuk di dalamnya tentang reposisi pelembagaan Brimob, Keputusan Kapolri No.Pol.:
Kep/20/IX/2005, tertanggal 7 September 2005 Tentang Rencana Strategis Polri 2005-2009
serta perubahannya No. Pol.: Skep/9/IV/2007 Tentang Rencana Strategis Polri 2005-2009
(Perubahan), Keputusan Kapolri No. Pol.: Kep/15/VI/2007 tertanggal 12 Juni 2007 Tentang
Rencana Kerja Polri Tahun 2008, Keputusan Kapolri No. Pol.: Kep/27/VI/2008 tertanggal 10
Juni 2008 Tentang Rencana Kerja Polri Tahun 2009, Kep Kapolri No. Pol.: Kep/37/X/2008
Tentang Program Kerja Akselerasi Transformasi Polri Menuju Polri yang Mandiri, profesional,
dan Dipercaya Masyarakat,41 Keputusan Kepala Brimob Polri No.Pol.: Skep/94/X2005 Tentang
Panduan Pelaksanaan Perpolisian Masyarakat bagi personil Brimob, Keputusan Kepala
38 Lihat misalnya “Sutanto Minta Brimob Jangan Terlena Dengan Prestasi Sekarang”
http://news.okezone.com/read/2007/11/14/1/60744/1/sutanto-minta-brimob-jangan-terlena-denganprestasi-sekarang (Diakses 6 Mei 2009)
39 Lihat Muradi. Op. cit. hal. 23, lihat juga Wenas, Op. Cit.
40 Lihat misalnya “Fokus Membangun Kepercayaan Masyarakat”
http://jurnalnasional.com/?media=KR&cari=muradi&rbrk=&id=6489&detail=TNI%20-%20Polri (Diakses 8 Mei
2009)
41 Dalam Skep yang ditandatangani oleh Jenderal Pol. Bambang Hendarso Danuri sebagai Kapolri tidak secara
eksplisit upaya untuk mengembangkan Brimob. Titik tekan Skep Kapolri No.Pol.: Kep/37/X/2008 adalah
penguatan pada Densus 88 AT, Polisi Air, dan pengamanan dan pelayanan Polri di daerah perbatasan antar
negara seperti Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan NTT. Lebih lanjut lihat Mabes Polri. 2008. Skep Kapolri.
No.Pol.: Kep/37/X/2008. Jakarta: Mabes Polri. Khususnya uraian tentang organisasi.
167
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Brimob Polri No. Pol.: Skep/115/XI/2006 Tentang Panduan bagi Pelaksanaan Operasional
Brimob, serta berbagai surat edaran dan kebijakan operasional di internal Brimob yang
mempertegas komitmen Brimob dalam lingkup perpolisian demokratik, yang sipil,
professional, mandiri, dan dipercaya masyarakat. 42
Sejumlah kebijakan tersebut di atas merupakan bagian yang tidak terpisahkan untuk
menarik 'gerbong' Brimob dalam rangkaian Keluarga Besar Polri menuju Perpolisian
demokratik dengan karakteristik sipil,professional, mandiri, dan dipercaya masyarakat. Meski
secara realitas kebijakan-kebijakan tersebut belum sepenuhnya dijalankan pada tingkat
operasional sesuai dengan harapan publik. Akan tetapi internalisasi nilai-nilai terkait dengan
perpolisian demokratik dalam konteks UPP secara massif berjalan. Namun demikian,
dibutuhkan waktu yang lebih lama mengubah pola pikir yang telah terpatri sebagai kesatuan
paramiliter, dengan merasa lebih militer daripada sebagai personil kepolisian.43 Dengan kata
lain, selama dua tahun berjalan, implementasi sejumlah kebijakan terkait dengan Brimob
dalam lingkup perpolisian demokratik masih belum berjalan optimal. Ada tiga hal yang
membuat kebijakan tersebut belum optimal, yakni: satu, intensitas pengiriman personil
Brimob ke daerah konflik dan rawan keamanan membuat para personil tersebut tidak
memiliki waktu untuk menyerap secara optimal setiap kebijakan yang dibuat terkait dengan
institusi dan personil Brimob. Rotasi personil yang menjadi kebijakan internal Brimob juga
tidak cukup membantu proses penyerapan tersebut.44 Dua, ada sikap semacam defensive
dan kebanggaan semu terhadap korps dari internal Brimob terkait dengan implementasi
setiap kebijakan tersebut, sehingga membuat setiap kebijakan yang melibatkan institusi dan
personil tidak terserap maksimal. Tiga, minimnya interaksi personil Brimob dengan unit-unit
yang ada di lingkungan Polri menyebabkan penyerapan dari implementasi setiap kebijakan
menjadi tidak maksimal. Sebagaimana diketahui secara psikologis bahwa interaksi personil
akan mempercepat penyerapan setiap kebijakan yang telah dibuat.
Keenam, penyempurnaan struktur kelembagaan masih terkendala secara tekhnis.
Selama dua tahun berjalan permasalahan ini sesungguhnya hampir sudah tidak lagi ada.
Fokus penyempurnaan kelembagaan Brimob dalam dua tahun berjalan adalah bagaimana
struktur Brimob bisa hingga KOD, dengan kualitas dan kuantitas personil Brimob yang sesuai
dengan kebutuhan. Sementara penyempurnaan struktur kelembagaan Brimob selama
42
Lebih lanjut tentang berbagai kebijakan operasional di internal Brimob, Lihat Wenas,S.Y. Op. Cit.
Dalam pandangan Adam Jones, A. Douglas Kincaid, dan Palacio Casteda, serta German Alfonso, perasaan
para personil UPP dibanyak negara dengan tradisi demokrasi yang minim memang cenderung merasa menjadi
personil militer dari pada anggota kepolisian yang menjalankan peran dan fungsinya dalam penegakan hukum.
Lihat Adam Jones, “Review: Parainstitusional Violence in Latin America” Latin American Politics and Society, Vol. 46.
No. 4 (Winter, 2004) . Palacio Castaneda, German Alfonso. 1991. Parainstitutionality, and Regime Flexibility in
Colombia: The Place of Narcotraffic, and Counterinsurgency. In Higgins, Martha. K. 1991. Vigilantism and the State
in Modern Latin America: Essays on Extralegal Violence. New York: Praeger. Hal.105-123. A. Douglas
Kincaid,”Demilitarization and Security in El Salvador and Guatemala: Convergence of Succes and Crisis”Journal
of Interamerican Studies and World Affairs, Vol.42, No.4. Special Issue: Globalization and Democratization in
Guatemala(Winter, 2000)
44 Lihat misalnya, “Mabes Polri Rotasi Personel Brimob BKO”
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0707/07/nus04.html (Diakses 6 Mei 2009)
43
168
Brigade Mobil Polri
kurun waktu dua tahun berjalan hanya penyempurnaan tugas dan fungsi pada perubahan
penamaan Gegana, menjadi Sat 1 Gegana, yang merupakan salah satu respon dan
pembagian tugas antara Brimob dengan Densus 88 AT.45 Gugus tugas dan Komando
kewilayahan yang tengah berjalan, meski belum optimal dalam mendukung sebaran
personil dan tugas serta fungsi Brimob khususnya dalam berbagai penugasan yang terkait
dengan ancaman keamanan berkadar tinggi, namun relative berjalan. Hal lain yang jadi
konsern dalam penyempurnaan struktur Brimob adalah bagaimana irisan tugas antara
Brimob dengan Densus 88 AT tidak sering terjadi. Selama ini memang terjadi penumpukkan
tugas dan fungsi antara keduanya. Selain masalah koordinasi, juga ada pembangunan opini
yang kurang baik apabila hal tersebut dibiarkan. 46
Secara bertahap fokus tugas dan fungsi Brimob diarahkan lebih kepada penanganan
berbagai ancaman keamanan berkadar tinggi non-teror seperti konflik komunal,
separatisme, unjuk rasa dengan kekerasan, dan ancaman bom.47 Sementara ancaman
keamanan dengan menggunakan metode terror, banyak diantisipasi oleh Densus 88 AT. Di
samping itu juga pengamanan perbatasan menjadi bagian yang terus dibenahi hingga pada
saatnya Brimob dapat secara penuh melakukan tugas pengamanan perbatasan,
sebagaimana yang dilakukan oleh UPP di Eropa dan sebagian besar Negara di Amerika
Selatan dan Tengah. Sebagaimana diketahui selama ini perbatasan antar Negara dijaga oleh
kesatuan dari TNI, seiring dengan waktu dan pembacaan analisis ancaman keamanan, bukan
tidak mungkin Brimob akan secara penuh menjaga perbatasan antar Negara, tidak lagi
sekedar membantu dan mem-back up TNI, sebagaimana yang dilakukan selama ini.
Ketujuh, perubahan internal yang terjadi belum membuahkan efek jera dan prestasi
bagi personil Brimob yang mencerminkan institusionalisasi UPP yang professional dan
demokratik. Dalam dua tahun berjalan langkah untuk membuat efek jera dan prestasi
(punishment and reward) bagi personil Brimob relative berjalan dengan baik. Selain prestasi
dan penghargaan yang diberikan kepada personil, juga hukuman bagi personil yang
menyimpang dari esensi kepolisian sebagaimana yang termakhtub dalam Tri Brata dan Catur
Prasetya, yang diimplementasikan dalam Kode Etik Profesi Polri. Meski tingkat pelanggaran
meningkat, seperti melakukan tindak pidana kriminalitas, penganiayaan dengan
pemberatan, hingga lari dari tanggung jawab sebagai Personil Brimob (desersi),48 tapi
tingkatan hukuman yang dilakukan juga bervariasi. Variasi hukuman atas pelanggaran
tersebut mulai sanksi administrative seperti penundaan kenaikan pangkat dan mutasi,
hingga pemecatan dan hukuman kurungan. 49
45 lihat misalnya “Satu Unit Gegana Terus Kejar OPM”
http://www.dephan.go.id/modules.php?name=News&file=article&sid=5120 (Diakses 6 Mei 2009)
46 Lihat Muradi “Memahami Tugas Densus 88” Pikiran Rakyat, 7 Mei 2008.
47 Lihat Muradi “Terorisme dan Obama” http://www.pikiran-
rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=42071 (diakses 8 Mei 2009)
48 Lihat misalnya “Menyamakan 'Frekuensi' Polisi dan Masyarakat”
http://jurnalnasional.com/?media=KR&cari=muradi&rbrk=&id=30708&detail=Utama (Diakses 8 Mei 2009)
49 Lihat “Satu Kompi Brimob Jaga obyek Vital” http://www.lodaya.web.id/?p=2108 (Diakses 8 Mei 2009)
169
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Hal yang perlu digarisbawahi selain masalah pemberian penghargaan dan hukuman adalah
bahwa tingkat kesejahteraan personil Brimob "masih jauh panggang dari api".50 Kebijakan
peningkatan kesejahteraan personil Brimob khususnya dan personil Polri umumnya terbatas
pada wacana dan terbentur minimnya anggaran bagi Polri.51 Berbagai keputusan dan
kebijakan Kapolri terkait dengan peningkatan kesejahteraan anggota Polri, umumnya dan
personil Brimob khususnya telah banyak diterbitkan. Bahkan pada Keputusan Kapolri No.
Pol.: Kep/37/X/2008, ditegaskan tentang program kesejahteraan dan remunerasi bagi
anggota Polri secara kesuluruhan, dengan sejumlah catatan, yang bila diimplementasikan
membutuhkan waktu dan respon yang serius dari pemerintah dan Mabes Polri secara
simultan dan terarah, khususnya pada anggaran peningkatan kesejahteraan dan program
remunerasi. Sebab, secara teoretik bila kesejahteraan telah terpenuhi, maka upaya
peningkatan kinerja akan lebih mudah dilakukan.52 Akan tetapi sejumlah kebijakan yang
terkait dengan pendisiplinan dan pola punishment and reward secara sistematis mampu
mengurangi tingkat penyimpangan yang dilakukan oleh personil Brimob selama kurun
waktu 2007 hingga pertengahan 2009. Meski demikian, harus digarisbawahi pula bahwa
penyimpangan yang dilakukan oleh sejumlah personil Brimob tidak berdiri sendiri. Dalam
pengertian, kesejahteraan personil Brimob menjadi salah satu kunci utama selain
memberikan penghargaan dan hukuman terkait dengan kinerja dan prilaku personil
Brimob.53
Tabel 2.
Pemberian Penghargaan/Hukuman Terhadap Personil Brimob
Tahun 2007-200954
No
I
1
Nama atau
Inisial/Kepangkatan
2007
Bripda Yosep Nur
Bertus, Brigadir Tulus
Sambodo, Bripda
Sundoro Mukti
Wibowo, Bripda
Munadirin, dan Bripda
Ferry Prasetyawan.
Kesatuan/SIP
Prestasi/Pelanggaran
Penghargaan/Hukuman
Brimob Polda
Jateng
Desersi dan
Kriminalitas
Dipecat
Ketera
ngan
50 Lihat Muradi “Demo Brimob, Problematika Kesejahteraan?”
http://pr.qiandra.net.id/prprint.php?mib=beritadetail&id=38725 (Diakses 8 Mei 2009)
51 Lihat Muradi “Demo Brimob, Problematika Kesejahteraan?”
http://pr.qiandra.net.id/prprint.php?mib=beritadetail&id=38725 (Diakses 8 Mei 2009), lihat juga “Nggak Ada
Biaya Psikotes, Polisi Harus Berdayakan KOD”
http://www.rakyatmerdeka.co.id/indexframe.php?url=situsberita/index.php?pilih=lihat_edisi_website&id=3
0489 (Diakses 8 Mei 2009)
52 Lihat misalnya Muradi “Indonesia's Police Force: Decentralisation for Better Welfare”
http://www.rsis.edu.sg/publications/commentaries.asp?selYear=2008&selTheme=6 (Diakses 8 Mei 2009)
53 Lihat Muradi “Demo Brimob, Problematika Kesejahteraan?”
http://pr.qiandra.net.id/prprint.php?mib=beritadetail&id=38725 (Diakses 8 Mei 2009), lihat juga “Nggak Ada
Biaya Psikotes, Polisi Harus Berdayakan KOD”.
http://www.rakyatmerdeka.co.id/indexframe.php?url=situsberita/index.php?pilih=lihat_edisi_website&id=3
0489 (Diakses 8 Mei 2009). Sebagai rujukan, lihat Mabes Polri. 2007. Op.cit. hal. 31.
170
Brigade Mobil Polri
2
3
Bripda Budi
Darmawan
2008
Bharatu Rommy
Kalena
AKP Roy Huwae
Brigadir Audy A
Tambing
F
III
1
2009 55
Brigadir FK
2
DL
3
Bripda HYL
II
1
2
Brimob Polda
NTB
Desersi
Dipecat
Brimob Polda
Maluku Utara
Brimob Polda
Sulawesi Utara
Desersi
Dipecat
Penanganan kerusuhan
dan penangkapan DPO
Kenaikan Pangkat
Brimob Polda
Bali
Kriminalitas
Dipecat
Brimob Polda
Maluku Utara
Brimob Polda
Metro
Brimob Polda
Bengkulu
Poligami
Dipecat
Kriminalias
Proses Pengadilan dan
pemecatan
Dipecat dan proses
Pengadilan
Desersi dan
Pembunuhan
Sumber: Disarikan dari berbagai sumber
Budaya yang Berkembang di Brimob
Delapan, eksklusifitas personil Brimob di antara Unit Polri lainnya. Permasalahan ini
terus berkembang mengingat secara organisatoris, Brimob terpisah dari unit-unit lainnya,
baik perumahan, pola pelatihan, hingga interaksi personal. Satu-satunya interaksi intensif
antar anggota Polri, termasuk personil Brimob adalah bila ada penugasan dan atau perayaan
HUT Polri. Selebihnya, personil Polri jauh terpisah kompleks dan markas komandonya
dengan unit di lingkungan Polri lainnya. Harus diakui permasalahan ini belum dapat
dipecahkan secara organisasi oleh Polri, mengingat karakteristik paramiliter yang melekat
pada Brimob membuat interaksi tersebut berjalan lamban. Apalagi biasanya markas
komando Brimob menyatu dengan barak dan atau kompleks perumahan anggota Brimob.56
Beberapa agenda internal misalnya pernah dicoba dengan menyelenggarakan kompetisi
antar unit dalam olah raga atau kesenian menyambut HUT Polri ataupun HUT RI, akan
tetapi,karena sifatnya tidak intensif, maka interaksi tersebut tidak terjaga dengan baik.57
Ada semacam dilema yang terus melekat dalam permasalahan ini yakni:di satu sisi, interaksi
antar unit di dalam lingkungan Polri memberikan efek positif dalam berbagai penugasan dan
perasaan yang sama sebagai anggota Polri. Di sisi lain, interaksi tersebut juga membuat
personil Brimob "kurang steril" sebagai bagian dari anggota UPP, maupun unit yang bersifat
54 Tabel ini berisi sebagian dari proses pemberian penghargaan dan hukuman terkait dengan kinerja personil
Brimob. Ada sebagian dari pemberian penghargaan/hukuman tersebut tengah dalam proses dan atau tidak
dipublikasikan ke media. Sehingga Tabel 2 ini merupakan ilustrasi saja bagaimana proses internal Brimob
terhadap berbagai bentuk pelanggaran dan prestasi.
55 Data hingga April 2009
56 Lihat misalnya “Situ Terletak Di Belakang Kompleks”
http://www.tempointeraktif.com/hg/kriminal/2008/09/14/brk,20080914-135374,id.html (Diakses 10 Mei 2009)
57 Lihat misalnya “Markas Brimob dan Pos Polairud Diserahkan”
http://www.nusatenggaranews.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=2&artid=1373 (Diakses
10 Mei 2009)
171
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
khas dan cenderung menggunakan pola pendekatan yang berbeda dengan unit
dilingkungan Polri lainnya. Dalam banyak kasus interaksi yang intensif justru menumpulkan
kekhasan yang dimiliki oleh setiap personil Brimob.58 Apalagi mengingat unit-unit lainnya
relative memiliki akses ekonomi non-formal, diluar gaji dan tunjangan yang menjadikan
opini menjadi anggota kepolisian non UPP lebih memiliki akses ekonomi daripada menjadi
anggota militer dan atau paramiliter.59
Harus diakui permasalahan ini belum terpecahkan hingga sekarang, langkah-langkah yang
dilakukan oleh internal Polri maupun Brimob sepanjang dua tahun berjalan lebih pada
interaksi program dan penugasan.60 Hampir tidak ada langkah kongkret yang mempertegas
interaksi antara personil Brimob dengan anggota unit Polri lainnya. Bisa jadi hal tersebut
dikarenakan agar Brimob dapat tetap steril sebagai unit khas yang memiliki tugas dan fungsi
yang khusus pula dari berbagai hal yang menyimpang,61 yang cenderung meredupkan
esensi kekhasan dan tugas utamanya sebagai polisi paramiliter.62
Kesembilan, pola rekruitmen yang berstandar lama. Respon dari masalah ini adalah dengan
memperbaiki pola rekruitmen yang ada agar sesuai dengan kebutuhan serta mampu
menangkal setiap ancaman terhadap kondusifitas Kamdagri.
Mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang mampu mengemban tugas Polri dan
mencukupi baik dari segi kualitas maupun kuantitas dalam rangka menciptakan lembaga
kepolisian yang professional..., Pengembangan kekuatan SDM Polri dilaksanakan melalui
penambahan anggota baru Polri, dengan mengutamakan putra daerah (prinsip local boy for
local job) dengan mengutamakan kebutuhan organisasi mencapai rasio polisi dengan
penduduk1:500 pada akhir tahun 2009 ..., Menerapkan proses rekruitmen dan seleksi Brimob
yang lebih ketat dari polisi reguler...,63
Kebijakan tersebut juga ditekankan untuk tidak lagi melakukan seleksi pada level tamtama
pada akhir tahun 2009, dan berlaku juga bagi Brimob. Sehingga seleksi penerimaan anggota
Brimob mengikuti kebijakan Mabes Polri dengan titik tekan pada ketatnya seleksi untuk
Brimob. Mengacu pada hal tersebut saat ini penerimaan anggota baru Polri terdiri dari tiga
58 Lihat Muradi.2008. op. Cit. Lihat juga Muradi “Demo Brimob, Problematika Kesejahteraan?”
http://pr.qiandra.net.id/prprint.php?mib=beritadetail&id=38725 (Diakses 8 Mei 2009)
59 Lihat misalnya Jefferson,Tony.1990. The Case Against Paramilitary Policing. Buckingham: Open University
Press. Hal. 2-15.
60 Lihat misalnya “Markas Brimob Kerahkan 200 Personel ke Ternate”
http://www.antara.co.id/arc/2008/4/4/markas-brimob-kerahkan-200-personel-ke-ternate/ (Diakses 10 Mei
2009)
61 Lihat misalnya “Berjaga Dari Bom, Polisi Sterilisasi 3 Gereja di Palembang”
http://news.okezone.com/read/2007/12/25/1/70295/1/berjaga-dari-bom-polisi-sterilisasi-3-gereja-dipalembang (Diakses 10 Mei 2009)
62 Lihat misalnya David L. Carter, ”Police Disciplinary Procedures: A Review of Selected Police Departments.
Dalam Barker,Thomas. David L. Carter. 1994. Police Deviance. Ohio: Anderson Publishing.
63 Mabes Polri. 2007. Op.cit.
172
Brigade Mobil Polri
jalur, yakni: Jalur bintara, Akademi Kepolisian (Akpol) di mana statusnya juga ditingkatkan
dengan bersumber pada sarjana/sederajat, serta Penerimaan Perwira Polri Sumber Sarjana
(PPSS). Akan tetapi perlu juga digarisbawahi bahwa seleksi internal pasca lulus dari Akpol,
seleksi spesialisasi bagi perwira pertama Polri untuk menjadi personil Brimob hingga saat ini
masih belum jelas.64 Sekedar gambaran, banyak perwira di Brimob banyak tidak mengetahui
mengapa diarahkan menjadi personil Brimob. Awalnya mungkin sebagai bagian dari 'tour of
duty', namun pada perjalanannya terpaksa menyukai, walau pada akhirnya jatuh cinta dan
bangga menjadi bagian dari Korp Baret Biru, Brimob. Proses ini patut dipahami mengingat
menjadi perwira di Korp Brimob berarti "kontrak mati" untuk tidak bisa semakmur dan
sesejahtera rekan-rekan seangkatan yang berada di unit lain di lingkungan Polri. 65
Sementara untuk jalur bintara dan PPSS, pada prosesnya relative tidak serumit proses lulusan
Akpol yang ingin masuk Brimob. Kedua jalur ini memang telah sejak awal diplot untuk
kebutuhan yang ada di Brimob dan unit-unit lainnya. Dalam pengertian, keberadaan dua
jalur rekrutmen tersebut sesungguhnya tergantung dari seberapa cermat dan telitinya
internal Brimob dalam melakukan seleksi dan penerimaan personil baru. Dengan
memperhatikan kompetensi, proposionalitas, transparan, dan obyektif.
Penutup
Terlepas masih adanya permasalahan yang mengganggu proses transformasi Brimob
menjadi UPP yang tidak sekedar menampakkan wajah militeristiknya tapi juga mencitrakan
Brimob sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Keluarga Besar Polri yang telah
menegaskan sebagai kepolisian nasional yang sipil dan demokratik Brimob telah melakukan
sejumlah respon positif terhadap tuntutan publik. Ini berarti langkah yang telah dicapai
dalam dua tahun berjalan relative positif bagi masa depan Brimob sebagai UPP yang
professional dan demokratik.
Namun demikian, perlu ditegaskan bahwa titik tekan yang harus dijadikan pijakan bagi
pimpinan Polri dan Brimob dalam merumuskan kebijakan terkait Brimob adalah bagaimana
menselaraskan antara tuntutan tugas dan fungsi sebagai Unit Polisi Paramiliter yang menjadi
bagian integral Polri dengan kualitas dan kuantitas personil yang kompeten dan proposional
dengan memperhatikan kemampuan dan keterampilan serta kesejahteraan personilnya. Bila
hal tersebut lalai diperhatikan, bukan tidak mungkin kemampuan dan keahlian yang dimiliki
akan dipergunakan untuk melakukan tindak kejahatan yang efeknya lebih besar dari sekedar
penyimpangan yang dilakukan oleh anggota polisi biasa. Membiarkan personil Brimob
dalam situasi yang mendilema bukan saja akan merusak pencitraan Polri dan Brimob, tapi
juga cita-cita mengembangkan UPP yang professional dan demokratik hanya akan sekedar
harapan.<
173
Quo Vadis Densus 88 Anti Teror Polri ?
QUO VADIS DENSUS 88 ANTI TEROR POLRI?
Eko Maryadi 1
Jika ada unit kepolisian yang membanggakan, barangkali itu Detasemen Khusus 88 Anti Teror atau
Densus 88. Nama kesatuan anti-teror elit Polri ini berkibar –terkadang- mengalahkan nama besar
induknya : Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri. Namun di tengah menurunnya serangan teror
bom dua tahun terakhir, kiprah Densus 88 mulai meredup. Beberapa kasus malah menyeret Densus 88 ke
arah yang tidak jelas bahkan cenderung negatif. Kemana sebenarnya orientasi Densus 88?
Hari itu, Rabu, 8 April 2009 menjelang jam 11 siang, ada yang tidak biasa di kompleks
Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia, Jakarta.
Suasana tenang di kawasan itu terlihat sibuk dan sedikit tegang. Belasan petugas Polri
berbaju hitam, memakai rompi, menenteng senjata laras panjang, berlarian dari berbagai
sudut menuju gedung Bareskrim. Pada saat yang sama, Kepala Bareskrim, Komjen Polisi
Susno Duadji mondar-mandir di kantornya sambil melihat jam tangan. Ada ancaman bom
atau penyerbuan ke kantor Mabes Polri Jakarta?
Ternyata tidak. Hari itu, Kepala Bareskrim Mabes Polri Komjen Susno Duadji dan Komandan
Detasemen Khusus 88 Anti Teror yang baru Brigjen Pol. Saud Usman Nasution melakukan
apel mendadak untuk mengecek kesigapan anggota Densus 88 menghadapi ancaman teror.
"Saya mau mereka kumpul disini dalam satu jam, bisa atau nggak. Pokoknya seberapa cepat,
komplit dia bisa sampai TKP," kata Kabareskrim Komjen Polisi Susno Duadji.
Tepat satu jam, atau pukul 11 siang, sekitar 40 anggota Detasemen Khusus 88 Anti Teror Polri
dengan seragam, rompi anti peluru, helm, penutup muka, dan senjata di tangan telah
berjejer rapi di halaman kantor Bareskrim Mabes Polri.
Selama hampir satu jam Kabareskrim Polri didampingi Kepala Densus memeriksa para
personil, mengecek senjata dan perlengkapan operasi mereka, lalu memberi pengarahan.
Tak ada perintah operasi, tak ada tembak-menembak, ataupun usaha menjinakkan bom. Ini
hanyalah latihan kesigapan anggota Densus 88 dalam merespon perintah dan mengecek
kesiapan mereka menghadapi setiap ancaman yang muncul.
"Ini anggota Bareskrim yang nggak pernah kelihatan (di depan publik). Jadi kita harus latihan
kumpul secara mendadak. Kalau latihan diberitahu dulu namanya bukan latihan," ujar
Kabareskrim. Susno mengelak latihan anggota Densus ini terkait pengamanan Pemilu
Legislatif 9 April. "Ini bukan untuk pemilu, ini terkait anti teror.”
1
Eko Maryadi, jurnalis freelance untuk media internasional, pengurus Divisi Advokasi Aliansi Jurnalis
Independen (AJI) Indonesia.
174
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Begitulah. Sebagai satuan anti-teror khusus yang diandalkan, anggota Detasemen Khusus 88
Polri harus selalu siap dipanggil atau menghadapi berbagai situasi.
Dari waktu ke waktu, satuan elit Polri ini terus meningkatkan kapasitasnya sebagai unit
pelaksana terdepan tugas penanggulangan teror dan bom di dalam negeri, menjalankan
mandat UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang Anti Terorisme dan UU Nomor 2 Tahun 2002
tentang Kepolisian.
Menurunnya Ancaman Terorisme
Berbeda dengan tahun-tahun awal pembentukannya yang gegap-gempita, kiprah
Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Mabes Polri akhir-akhir ini agak menurun.
Meskipun media massa tetap memberitakan keberhasilan operasi Densus 88, namun
pengungkapan kasus terorisme berprofil tinggi semakin berkurang.
Dalam hal ini ada dua kemungkinan. Pertama, operasi Densus 88 selama ini telah berhasil
membongkar jaringan teroris di tanah air dan melemahkannya secara signifikan. Kedua,
terjadi penurunan kemampuan operasional Densus 88 sehingga hanya mampu
membongkar kasus-kasus ”kelas dua”. Harap dicatat, salah satu tersangka pelaku teror utama
Noordin Mohamad Top (NMT) sampai tulisan ini dibuat --Juni 2009-- belum berhasil
ditangkap.
Sepanjang 2008, media massa beberapa kali melaporkan keberhasilan operasi Densus 88
Polri dalam mengungkap kasus terorisme. Dua kasus besar yang tercatat misalnya :
5 Mei 2008 : Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Polisi Abubakar Nataprawira
mengumumkan keberhasilan Densus 88 menangkap anggota Jamaah Islamiyah (JI) dari
kelompok Noordin M Top (NMT) di desa Wingkosanggrahan Kecamatan Ngombol,
Purworejo, Jawa Tengah. Parmin alias Yaser Abdul Basar alias Sastro alias Faiz diciduk anggota
Densus 88 pada 22 April 2008 terkait keterlibatannya dalam kejahatan terorisme. Polisi
memastikan Faiz mengetahui keberadaan Noordin M Top yang masih buron.
Menurut Abubakar, Faiz termasuk kelompok Jamaah Islamiyah (JI) yang dibaiat pada 1999
dan bergabung dengan kelompok NMT pada 2004. Faiz mengaku pernah bertemu Noordin
M Top sekitar April sampai Oktober 2005.
Faiz didakwa terlibat dalam perencanaan Bom Bali II. Dia pernah bertemu Salik Firdaus
(almarhum, pelaku Bom bunuh diri Bom Bali II), dan bertemu Doktor Azhari sebelum
gembong teroris asal Malaysia itu tewas ditembak polisi pada November 2005. Faiz juga
diduga melakukan kejahatan pembuat buku lewat internet (cyber crime) tentang Jihad
bersama kelompok NMT dalam website www.anshar.net. Pemuda berumur 28 tahun ini juga
menerjemahkan pidato ancaman dan provokasi NMT melalui jaringan TV Al-Jazeera.
Penangkapan Faiz merupakan lanjutan operasi Densus 88 Polri yang bersifat preventif
menyusul ditangkapnya pimpinan Jamaah Islamiyah (JI) Jawa Tengah pada pertengahan
tahun 2007 yakni Abu Dujana dan Zarkasih alias si Mbah.
175
Quo Vadis Densus 88 Anti Teror Polri ?
1 Juli 2008 : aparat Densus 88 Mabes Polri yang diback-up Satuan Brimob Polda Sumsel
bersenjata lengkap, berhasil mengungkap rencana kejahatan terorisme besar di Palembang,
Sumatera Selatan. Dalam operasi penggeledahan selama 3 hari, anggota Densus berhasil
menemukan puluhan bom rakitan aktif siap pakai yang ditanam dalam tupperware plastik
dari rumah seorang tersangka anggota Jamaah Islamiyah (JI) di Palembang. Total bahan
peledak yang berhasil dijinakkan polisi beratnya mencapai 50 kilogram. ”Bom-bom dalam
kontainer ini apabila diledakkan, akan lebih dahsyat dari Bom Bali,” ujar seorang anggota
Densus yang tidak mau disebut namanya.
Selain bahan-bahan peledak aktif, polisi juga mencokok 9 tersangka pelaku teror yang
beberapa diantaranya berhubungan langsung dengan buronan teroris asal Singapura Mas
Slamet Kastari dan buronan teroris utama Noordin M Top. Polisi juga menahan seorang warga
Singapura berinisial MH, yang sudah beberapa bulan ngumpet di Palembang sambil
mengajar bahasa Inggris dan ikut merakit bom bagi kelompok Palembang.
Beberapa jam setelah penggerebekan tersangka pelaku teror di Palembang 1 Juli 2008,
Presiden RI Susilo Bambang Yudoyono memberikan arahan kepada anggota Densus 88 di
lapangan. ”Atas perintah Kapolri (Jenderal Sutanto), kami langsung menghadap presiden,”
ungkap Brigjen Polisi Surya Dharma, Kepala Densus 88 Anti Teror Mabes Polri saat itu.
Presiden mengatakan, pengungkapan jaringan teror Palembang ini lebih tinggi nilainya
karena menangkap pelaku teror sebelum mereka mewujudkan kejahatannya.
”Presiden minta organisasi teror ini diusut tuntas,” imbuh Surya Dharma. Saat ini –Juni 2009para tersangka pembuat, penyimpan, dan pemilik bahan peledak bom Palembang itu masih
diadili di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Sesuai UU Anti Terorisme tahun 2002, para
tersangka bisa dijerat hukuman penjara puluhan tahun sampai seumur hidup.
Indonesia Dan Kawasan Yang Bergolak
Operasi non-stop anti terorisme yang dilancarkan Detasemen Khusus (Densus) 88 Polri sejak
2002 hingga 2006, yang dibarengi tindakan hukum tegas terhadap pelakunya, harus diakui
mulai menunjukkan hasil. Sepanjang 2007 sampai 2009 misalnya, tidak ada serangan bom
berskala besar –seperti bom Bali I atau bom Kedubes Australia-- terjadi di wilayah Indonesia.
Berbagai gangguan politik dan kriminalitas memang ada dengan modus dan skala yang
berbeda. Namun secara umum ancaman serangan bom teroris cenderung menurun, untuk
tidak mengatakan nol.
Dalam tiga tahun terakhir Indonesia bisa dikatakan aman, jika dibandingkan dengan kondisi
negara-negara lain di kawasan Asia yang masih bergolak. Berbagai aksi teror mematikan
seperti serangan bom di Mumbai, India (November 2008), serangan bom di Afganistan,
Pakistan, Irak, Filipina (sepanjang Mei 2009), menunjukkan bahwa kondisi keamanan di
dalam negeri dewasa ini merupakan prestasi yang wajib dijaga. Sejak September 2006,
Pengadilan Indonesia telah menjatuhkan hukuman kepada lebih dari 43 tersangka teroris,
termasuk 26 anggota Jamaah Islamiyah (JI).
176
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Dalam sebuah wawancara khusus, Kepala Desk Anti Teror Menteri Koordinator Bidang Politik
Hukum dan Keamanan (Polhukam), Brigjen Polisi Ansyad Mbai mengatakan, seluruh aparat
penegak hukum terus bekerja dan meningkatkan kemampuan operasional menghadapi
ancaman terorisme.
”Tidak adanya serangan bom di Indonesia dalam tiga tahun terakhir bukan berarti tidak ada
ancaman terorisme. Hal itu lebih disebabkan keberhasilan aparat anti teror dan segenap
intelijen kita mencium, meredam, dan menghentikan rencana tindakan teror mereka secara
preventif.” jelas Ansyad Mbai. Dengan terbongkarnya jaringan teror berikut bahan-bahan
peledak aktif dari berbagai kelompok –seperti Abu Dujana, Zarkasih, kelompok Palembang –
justru menunjukkan organisasi pembuat teror di tanah air masih aktif dan berbahaya.
Lebih jauh Ansyad Mbai menjelaskan, posisi Indonesia sebagai negara yang menganut
paham demokrasi berpenduduk muslim terbesar di dunia bisa menjadi tempat persemaian
berbagai aliran dan ideologi dari yang paling liberal sampai yang radikal.
”Negara kita ini dikenal bebas –di Singapura dan Malaysia saja internet masih dikontrol
pemerintah-- tapi dikelilingi negara-negara yang bergolak seperti Afghanistan, Pakistan, Irak,
bahkan Filipina dan Thailand. Jika tak cermat, apa yang terjadi di negara tetangga bisa
menjadi ancaman di dalam negeri kita,” terang Ansyad Mbai.
Untuk merespon situasi tersebut negara berusaha menjamin rasa aman warga dengan
memperkuat satuan anti teror seperti Densus 88 Polri. Saat ini sejumlah perwira Densus 88
menempuh berbagai studi dan jenjang pendidikan spesialis. Ada yang mengambil studi
terorisme, master bidang Teknologi Informasi (TI), master bahan peledak, studi sosiologi, dan
banyak lagi. Sedangkan anggota Densus di berbagai Polda dilatih meningkatkan
kemampuan intelijen, penguasaan senjata, penyadapan musuh, negosiasi, menjinakkan
bom, dan kemampuan teknis lainnya.
Senada dengan Ansyad Mbai, pengamat intelijen Wawan H Purwanto mengakui kebebasan
sipil di Indonesia dewasa ini bisa dimanfaatkan oleh berbagai kelompok kepentingan untuk
mengembangkan ideologi gerakan tertentu. Dalam website Center for Moderate Muslim
(CMM), Wawan H Purwanto menyitir salah kaprah sebagian masyarakat (muslim) yang
menjadikan Indonesia sebagai basis perjuangan atau jihad bersenjata.
”Jangan membuat Indonesia menjadi darul harb atau rumah pertempuran (melawan
ideologi atau musuh apapun). Bertempur di medan tempur itu sah-sah saja. Tapi kalau mau
berjihad di medan pertempuran sesungguhnya pergilah ke Afghanistan, Irak atau Palestina.
Saya kira itu lebih gentle dan nyata sebagai medan tempur (darul harb),” jelas Wawan.
Lebih jauh Wawan menjelaskan, ”Indonesia ini daerah damai. Jangan dipukul rata untuk
menumbuhkan konflik. Seperti yang pernah diucapkan Noordin M Top, bahwa saya akan
menyerang Italia, Amerika, Inggris, ya seranglah disana. Kenapa menyerang Indonesia?
177
Quo Vadis Densus 88 Anti Teror Polri ?
Korbannya orang Indonesia, investor asing tidak masuk, ekonomi dan perdagangan turun,
pariwisata berantakan. Ini musuhnya dimana, tapi meledakkan bom di sini. Apakah ini jihad?
Saya kira ini sudah salah sasaran dan salah kaprah. Jadi, sudah tidak cocok lagi.”
Karena itu penting bagi aparat pemerintah, termasuk anggota Densus 88 Polri sebagai
satuan keamanan anti teror dalam negeri untuk memahami akar masalah terorisme, bukan
hanya melakukan penindakan, kendati secara hukum itu dibenarkan.
Para Jenderal Di Balik Densus 88
Salah satu pengakuan publik terhadap Densus 88 ialah kapasitas anggotanya sebagai polisi
sipil yang mempunyai kualifikasi pasukan komando. Inilah yang membedakan anggota
Densus 88 Anti Teror dengan anggota Sabhara atau Reserse di kantor Polsek atau Polres.
Kemampuan anggota Densus dimiliki berkat ketekunan, disiplin, pelatihan dan pendidikan
yang ditempuh di dalam maupun di luar negeri.
Di balik nama besar Densus terdapat sejumlah perwira polisi dari berbagai level dari yang
tertinggi sampai level menengah. Mereka adalah guru, pelatih, mentor, komandan, bahkan
rekan sejawat yang memberikan kontribusi terbaik dalam tugas penanggulangan terorisme.
Mereka antara lain :
• Jenderal Polisi Da'i Bachtiar – KAPOLRI (29 November 2001 - 7 Juli 2005)
Jenderal Polisi Da'i Bachtiar tercatat sebagai Kepala Polri yang menorehkan prestasi cukup
membanggakan, menyusul keberhasilan Polri membongkar kasus bom Bali I (12 Oktober
2002) dan kasus bom di Hotel JW Marriott, Jakarta, (5 Agustus 2003), dan bom Kedubes
Australia (9 September 2004). Kasus-kasus bom itu turut melambungkan sejumlah nama
perwira Polri seperti Brigjen Polisi Made Mangku Pastika, Brigjen Polisi Gorries Mere, dan
Brigjen Polisi Pranowo Dahlan.
Dipilih oleh Presiden Megawati Soekarnoputri, Jenderal Da'i Bachtiar merupakan ”ayah
kandung” Densus 88. Yakni sebagai pejabat Polri yang menandatangani Surat Keputusan
(Skep) Kapolri Nomor 30/VI/2003 tanggal 30 Juni 2003 tentang pembentukan Detasemen
Khusus 88 Anti Teror Mabes Polri. Satuan anti teror elit Polri yang dibentuk sebagai respon
meningkatnya kejahatan terorisme di Indonesia melalui modus peledakan bom.
Da'i adalah alumni Akademi Kepolisian 1972, menempuh Pendidikan CID di Jerman (1982),
Sespim (1987), dan Sesko ABRI (1996). Sederet jabatan yang pernah diemban antara lain
Kapolres Blora (1987), Kapolres Boyolali (1989), dan Kapolres Klaten (1990), Sesdit Serse Polda
Jatim (1992), Kapoltabes Ujungpandang (1993), Kadispen Polri (1998), Dankorserse Mabes
Polri (1998-2000), Kapolda Jawa Timur (2000), Gubernur Akpol (2001), Kalakhar BNN (2001),
hingga menduduki jabatan Kapolri pada Oktober 2002.
Sebagai Kapolri Da'i menerima sejumlah penghargaan internasional antara lain gelar
Kehormatan dari pemerintah Australia (2003) dan gelar kehormatan dari Kepolisian Diraja
Malaysia berkat kerja sama antar kepolisian negara dalam memerangi terorisme.
178
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
• Jenderal Polisi Sutanto – KAPOLRI (8 Juli 2005 - 30 September 2008)
Jenderal Polisi Sutanto merupakan alumni terbaik Akpol 1973, dikenal sebagai polisi yang
bersih dan diharapkan membawa reformasi internal dalam tubuh Polri. Dipilih menduduki
kursi Tri Brata-1 (Kapolri) oleh Presiden SBY yang juga lulusan terbaik Akabri 1973 dan
disetujui oleh seluruh Fraksi DPR-RI. Jabatan Sutanto sebelum Kapolri ialah Kepala Pelaksana
Harian (Kalakhar) Badan Narkotika Nasional (BNN).
Dilahirkan di Pemalang, Jawa Tengah, 30 September 1950 Sutanto dikenal sebagai polisi yang
jujur dan berani memberantas kejahatan. Setelah lulus dari Akabri Kepolisian (1973) bersama
SBY (AKMIL 1973), Sutanto menempuh pendidikan di PTIK (1983), Sespimpol, Lembang,
Bandung (1990), dan Lemhannas (2000).
Sebelum naik pangkat menjadi Brigjen Polisi, Sutanto pernah menjadi Kepala Detasemen
Provoost Polda Jatim (1990-1991), Kapolres Sumenep, Jawa Timur (1991-1992), Kapolres
Sidoarjo, Jawa Timur (1992-1994), Paban Asrena Polri (1994-1995), Ajudan Presiden Soeharto
(1995-1998), dan Waka Polda Metro Jaya (1998-2000).
Saat menjadi Kapolda Sumut (2000) dan Kapolda Jawa Timur (2000-2002), Sutanto adalah
perwira yang gigih melawan perjudian, narkoba dan premanisme, sampai harus berhadapan
dengan bandar judi besar dan internal Polri. Usai menjabat Kapolda Jatim, Sutanto dimutasi
menjadi Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri (2002-2005), dimana Sutanto ikut
mendidik anggota Polri termasuk anggota Densus 88 Mabes Polri.
Pada masa Kapolri dijabat Sutanto, Detasemen Khusus (Densus) Anti Teror Mabes Polri
dengan Kepala Densus Brigjen Polisi Bekto Suprapto berhasil mengungkap sejumlah kasus
teror berskala besar. Misalnya Bom Bali II (Oktober 2005), meringkus dan menembak mati
tersangka teroris Doktor Azahari (November 2005), mengungkap kasus teror bom di Palu
(Desember 2005), menangkap pimpinan Jamaah Islamiyah (JI) Jawa Tengah Abu Dujana dan
Zarkasih (Juni 2007), dan membongkar teror bom Palembang (Juli 2008). Di bawah Sutanto
pula, Kepala Detasemen Khusus (Densus) 88 sempat berganti yakni dari Brigjen Polisi Bekto
Suprapto (2004-2008) ke Brigjen Pol. Surya Dharma (2008).
• Komjen Polisi I Made Mangku Pastika – Kepala Tim Investigasi Bom Bali
Komisaris Jenderal Polisi (Purn) I Made Mangku Pastika, lahir di Kabupaten Buleleng, Bali, 22
Juni 1951. Pastika menempuh pendidikan di Akpol (1972), lulusan terbaik Akabri Kepolisian
(1974), lulus PTIK (1984), dan pensiun pada 2008 dengan pangkat Komjen Polisi saat terpilih
menjadi Gubernur Bali..
Pelatihan dan penugasan yang pernah diterima : Latihan Brimob/Pelopor Bogor, Komandan
Peleton 1 Kompi I, Batalyon B, Brimob Polda Metro Jaya, dan ditugaskan ke Timor Timur
(semuanya sepanjang 1975-1976). Pastika dikenal sebagai perwira polisi yang doyan ”makan
sekolahan” serta berwawasan internasional.
Sederet jabatan pernah disandang Pastika antara lain ajudan Menhankam/Panglima ABRI
179
Quo Vadis Densus 88 Anti Teror Polri ?
(1977-1981), Kanit Kejahatan Harda Ditserse Polda Metro Jaya (1985), Kapolsek Tambora
Jakarta Barat (1987), anggota Kontingen Garuda IX pasukan PBB di Namibia (1988), Kepala
Satuan Penyidik Perbankan di Mabes Polri, mengikuti pelatihan bidang penanganan krisis di
Inggris (1992), pelatihan bidang penanganan kejahatan berat di Australia (1993), Kapolres
Jakarta Barat (1994-1995), lulus SESKO ABRI (1997), Kepala Departemen Kerjasama
Internasional di NCB/Interpol (1997-1999), Pendidikan Ilmu Investigasi Kriminal Internasional
di Jepang.(1998), Direktur Reserse Ekonomi Mabes Polri (1999), Direktur Tipiter Mabes Polri
(1999) dan Kapolda Timor Timur (1999), Kapolda NTT (2000), Kapolda Papua (2000-2003),
Kapolda Bali (2005), Kalakhar BNN (2003-2005).
Dalam bidang anti teror dan kejahatan bom, Made Mangku Pastika berperan sebagai Ketua
Tim Investigasi Bom Bali (2002), Ketua Tim Gabungan Investigasi Bom Bali I dan II (2003-2005).
Namanya Pastika sempat melambung ”melewati” Kapolri Da'i Bachtiar gara-gara sering
dikutip oleh media massa dalam dan luar negeri.
• Komjen Polisi Gorries Mere - Komandan Satgas Anti Bom (2003)
Gregorius Mere alias Gorries Mere. Nama ini begitu dikenal, bukan hanya di kalangan reserse
di tanah air, juga di luar negeri. Jenderal kelahiran Flores ini adalah lulusan Akpol 1976, mulai
dikenal sejak terlibat perburuan Ratu Ekstasi Zarima di Texas, Amerika Serikat pada 1996 saat
masih berpangkat Letkol Polisi alias Ajun Komisaris Besar (AKB).
Gorries Mere selalu terlibat dalam sejumlah kasus besar, diantaranya menjadi tim penyidik
kasus kerusuhan Mei 1998, kasus Raja Ekstasi Ang Kiem Soei (2002), sampai serangkaian
perburuan tersangka teror bom : mulai Bom Natal (2000), Bom Bali I (2002), Bom Hotel Marriot
(2003), Bom Kedubes Australia (2004), Bom Bali II (2005), perburuan Doktor Azhari dan
Noordin M Top (2006), perburuan Abu Dujana dan Zarkasih (2007).
Pada 2003, Gorries ditunjuk menjadi Komandan Satgas Anti Bom Mabes Polri, unit anti bom
yang menjadi cikal bakal Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Mabes Polri yang
kemudian dipimpin oleh Brigjen Polisi Bekto Suprapto.
Meskipun reputasinya menjulang tinggi, Gorries Mere sangat jarang tampil di depan publik.
Beberapa pihak menilai Gorries adalah detektif polisi tulen. Salah satu puncak reputasinya
ketika mendapat penghargaan dari pemerintah Australia, Honorary Award in Order of
Australia (HAOA) tahun 2003, bersama Kapolri Jenderal Polisi Da'i Bachtiar dan Irjen Polisi
Made Mangku Pastika karena keberhasilannya mengungkap pelaku bom Bali I. Tapi Australia
juga yang paling kecewa kepada Gorries karena kepergok sedang “nongkrong” dengan
terpidana mati bom Bali Ali Imron di kedai kopi Starbuck's, Jakarta dengan alasan sedang
melakukan “penyelidikan dan pendalaman” terhadap tersangka.
Setahun kemudian, Brigjen Gorries Mere naik pangkat menjadi Irjen, dan menjabat Wakil
Kepala Bareskrim. Bulan Juni 2007 saat Mabes Polri membeber video pengakuan tersangka
Abu Dujana dan Zarkasih, di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Gorries Mere tidak kelihatan.
Selama ini ia memang selalu menghindari kamera wartawan.
180
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Sudah menjadi rahasia umum, peran Gorries Mere tidak terlalu ditonjolkan khususnya dalam
isu pemberantasan terorisme. Salah satunya karena latar agamanya yang dipandang rawan
dari serangan kelompok Islam garis keras. Yang lebih sering tampil di depan publik terkait isu
terorisme justru para perwira yuniornya yang beragama Islam seperti Brigjen Suryadharma
(mantan Kadensus 88), Brigjen Wahyu Indra Pramugari (mantan Kapolresta Surabaya
Selatan), Brigjen Untung (mantan Kapolwil Besuki), dan mantan anggota JI yang selama ini
membantu Polri, Nasir Abbas.
Gorries dikenal sebagai perwira Polri moderen selalu membawa laptop dan alat komunikasi
canggih kemanapun pergi. Situs berita ABC Australia melaporkan, Gorries Mere mampu
menyadap percakapan antar tersangka teroris melalui e-mail, praktek yang dilakukan FBI di
Amerika Serikat.
Pada 2008 Kapolri Sutanto menaikkan pangkat Gorries Mere menjadi Komjen Polisi dan
menunjuknya sebagai Kalakhar BNN menggantikan Komjen Pastika. Jabatan baru Gorries
seolah melengkapi karir yang sebelumnya menjabat Direktur Narkoba Bareskrim Polri.
• Brigjen Polisi Pranowo - Komandan Satgas Anti Bom (2003)
Dilahirkan di Wonosobo 22 Januari 1953, Pranowo menyelesaikan pendidikan Akabri Polisi
(1975), PTIK (1990), Seskoal (1993), Sespati I (2001), Lemhanas (2007).
Sederet jabatan Pranowo di Kepolisian RI antara lain sebagai Pa Staf Polres Magetan (1976),
Dansek Polres Magetan Polda Jatim (1979), Kabag Ops Polres Ermera Polda Timor Timur
(1980), Dansat Lantas Polres Ponorogo (1982), Kasi Intel Polwil Madiun (1984), Dansat lantas
Polresta Madiun (1985), Kabag Lantas Polwil Madiun (1987), Anggota DPRD TK II Madiun
(1988), Wakasat Poa Dit Ipp Polda Metro Jaya (1990), Waka Polres Metro Jaktim (1992), kabag
Poa Dit Ipp Polda Kaltim (1995), Kapolres Pasir Polda Kaltim (1994), Kapolresta Balik Papan
(1995), Paban Madya Pamgiat Baket Paban II/Pamsan Sintel Polri (1997), Wakapolwil Bogor
Polda Jabar (1997), Guru Utama Akpol (1998), Kasubdit Pid Sendak Dit Serse Pid Umum
Korserse Polri (2001), Penyidik Utama Dit I/Kamtranas Bareskrim Polri (2003), Kadensus
88/Anti Terror Bareskrim Polri (2003), Kamtranas Bareskrim Polri (2004), Waka Polda jabar
(2005), Ses Lakhar BNN (2006), Inspektur BNN (2007), Asdep 2/V Kamnas
Kemenkopolhukkam (2008).
Pranowo adalah salah guru bidang intelijen dan reserse. Pengalaman dan jam terbangnya
bertugas di berbagai wilayah, membuatnya Brigjen Pranowo terlibat dalam investigasi
berbagai kasus terorisme dan peledakan bom. Pada 2003 Pranowo ditunjuk menjadi Kepala
Densus Anti Teror Bareskrim Polri pertama sebelum namanya berubah menjadi Densus 88
Anti Teror Mabes Polri.
Penghargaan yang diterima SL Seroja, SL Kesetiaan 8 Tahun, SL Kesetiaan 16 Tahun dan 24
Tahun, SL Karya Bhakti, SL Didya Sistha, BT Bhayangkara Nararya, SL Yana Utama. Saat ini,
berdasarkan Surat Perintah Menkopolhukkam, Pranowo diangkat sebagai LO dari
181
Quo Vadis Densus 88 Anti Teror Polri ?
Kementrian Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan mewakili Ketua Komisi
Kepolisian Nasional ( Kompolnas).
• Brigjen Polisi Bekto Suprapto - Kepala Densus 88 Anti Teror (2004-2008)
Kiprah Brigjen Polisi Bekto Suprapto dalam Densus 88 Anti Teror Mabes Polri tak perlu
diragukan. Dialah perwira utama pelapis seniornya dalam Densus 88 yang bertugas
menangani berbagai kasus teror bom sejak 2004 sampai 2008. Perwira Polri kelahiran 1955 ini
lulusan Akpol 1977 dikenal sebagai perwira Polri yang sederhana dan pekerja keras.
Sejak pengungkapan kasus Bom Kedubes Australia (2004) sampai penangkapan sejumlah
tersangka teroris kakap di tanah air sepanjang 2005 sampai 2008, Kepala Densus 88 Anti Teror
ini tidak pernah absen memberikan waktunya untuk institusi Polri. Pembawaannya yang
tenang, tidak suka publikasi, sederhana, membuatnya disukai anggota Densus 88.
Selepas jabatan Kadensus 88, Bekto ditugasi Kapolri baru Jenderal Polisi Bambang Hendarso
Dahuri menjabat Kapolda Sulawesi Utara. Pada 7 Maret 2009, mantan Kadensus 88 Anti Teror
ini merayakan ulang tahunnya ke 54 dengan sederhana di rumah dinasnya, bersama anak
yatim, sahabat, dan sejumlah perwira di Polda Sulut.
Itulah sejumlah perwira tinggi polri yang dinilai mempunyai peran khusus dan memberikan
kontribusi khusus dalam membesarkan Densus 88. Tentu masih banyak nama perwira polri
lain yang tidak mungkin disebutkan, termasuk dua mantan Kepala Densus 88 Anti Teror
Mabes Polri yakni : Brigjen Polisi Surya Dharma, Kepala Densus 88 Anti Teror (2008-2009), dan
Brigjen Polisi Saud Usman Nasution - Kepala Densus 88 (2009-sekarang) yang dipilih Kapolri
BHD menggantikan Kadensus 88 sebelumnya.
Musim Bom Telah Berlalu
Berkurangnya serangan bom dan ancaman terorisme menyebabkan peran Detasemen
Khusus 88 Anti Teror mengalami pergeseran. Pada saat-saat tertentu anggota Densus 88
beralih fungsi dari anggota pasukan komando menjadi anggota polri berkualifikasi reserse
kriminal umum. Dikatakan ”umum” karena tugas pengungkapan kejahatan itu bukan jenis
kejahatan berskala gawat atau membahayakan negara seperti terorisme atau serangan bom
yang bersifat langsung dan massif.
Berikut beberapa cuplikan berita tentang bagaimana anggota Densus di-BKO-kan ke fungsifungsi reserse umum yang bersifat non-teror (fisik).
Dari Teror SMS hingga OPM di Papua
Warga Banjarmasin, HJ (25) tidak terima trio pelaku bom Bali I, Ali Gufron, Imam Samudra,
Amrozi, dieksekusi, dia mengancam akan membom empat tempat penting di Jakarta.
Ancaman teror itu dikirimkan HJ melalui pesan singkat (SMS) ke layanan Polri 1717 Polda
Metro Jaya malam hari menjelang Amrozi dkk dieksekusi di Lembah Nirbaya, Pulau
182
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Nusakambangan, Minggu (10/11/08). Hanya dalam hitungan jam, keberadaan HJ langsung
diketahui. Warga Tanah Grogot, Kalimantan Timur itu dibekuk anggota Cyber Crime Densus
88 Mabes Polri berikut handphone dan nomor yang dipakai mengirim SMS teror bom.
Sedangkan di Papua, anggota Densus 88 diterjunkan untuk mengejar anggota OPM.
Kapolda Papua Irjen Pol Bagus Eko Danto memerintahkankan Detasemen Khusus 88 Polda
Papua untuk mengejar dan mencari Buryam Tabuni yang menyatakan sebagai Komandan
Kompi (Danki) III Tentara Pembebasan Nasional/Organisasi Papua Merdeka (TPN/OPM) Kali
Kabur dan merupakan anak buah dari Kelly Kwalik.
"Saya sudah perintahkan anggota densus 88 di Timika untuk mengejarnya sehingga dapat
diketahui kebenaran keterangan bahwa insiden yang terjadi di kawasan PT.Freeport adalah
perintah Kelly Kwalik," tegas Kapolda Papua Irjen Pol Eko Danto menjawab pertanyaan
wartawan di Jayapura, Kamis (18/9/08).
Dikatakan Kapolda, pihaknya tidak yakin pengeboman di mile 34, mile 50 dan gardu listrik
itu dilakukan oleh orang profesional karena bila tidak, pasti kerusakan yang ditimbulkan
parah. Polisi memperkirakan aksi pengeboman itu dilakukan hanya untuk meneror.
Sumber:berbagai media.
Meningkatnya situasi keamanan di dalam negeri pada gilirannya memunculkan pertanyaan :
apakah ancaman bom di tanah air sudah lenyap? Juga apakah peran Densus 88 Anti Teror
Polri sudah tidak diperlukan lagi? Mantan Kepala Densus 88 Brigjen Polisi Surya Dharma
dengan tegas menolaknya --- mengutip wawancara khusus Surya Dharma dalam Harian Fajar
edisi 6 Juli 2008.
”Kita tidak boleh lengah. Sangat mungkin ada perakitan bom yang lebih banyak dan lebih
besar dari yang ditemukan sekarang”, ujar Surya Dharma. Mantan Kepala Densus 88 ini
mengatakan, perakit bom yang mendampingi Noordin M Top sudah teridentifikasi yakni
Upik Lawanga (buron kasus Poso) --dan dua nama lainnya Mr.X dan Mr.Y disamarkan untuk
keperluan perburuan.
”Mr X ini sudah bisa menurunkan ilmunya kepada SG yang sudah kita tangkap,” tambah Surya
Dharma. Berbagai catatan kecil yang ditemukan polisi dan VCD cara merakit bom yang
mereka buat sudah tersebar. Ini harus diwaspadai karena bahan-bahan pembuatan bom di
Indonesia dapat dibeli dengan cukup mudah.
”Ini bukan seperti kita menonton film, ketika pelakunya sudah ditangkap polisi, lalu habis.
Mereka ini bukan organisasi taman kanak-kanak,” ingat Surya Dharma yang lima tahun
belakangan ini menggeluti penangkapan pelaku teror.
183
Quo Vadis Densus 88 Anti Teror Polri ?
Lalu mengapa mereka tidak juga beraksi pasca Bom Bali?
”Sebenarnya mereka mau ngebom lagi, tapi bisa kita cegah. Contohnya, penemuan 33 bom
tupperware di Batu (Malang) serta satu bom yang diperuntukkan Noordin dan dibawa Cholili
ke Semarang,” jawab Surya Dharma. Juga penemuan puluhan kilogram bom dari jaringan
Abu Dujana di Yogya dan Jawa Tengah (2007), serta penemuan 22 paket bom di Palembang
(2008). Khusus untuk jaringan teror Palembang, mereka tidak mau menyebut dirinya bagian
kelompok Jemaah Islamiyah (JI).
Surya menjelaskan, selain hendak mengebom Kafe Bedudal di kawasan Kampuang Cino,
Bukittinggi, kelompok Palembang sempat mengagendakan dua serangan ke tempat latihan
tentara Singapura di Provinsi Kepulauan Riau –kesepakatan kerja sama pertahanan (DCA)
Indonesia-Singapura. ”Tapi karena latihan militer itu batal, mereka memutuskan akan
menyerang warga Amerika dan sekutunya di manapun," jelas Surya Dharma.
Mantan Kadensus 88 ini menambahkan, Indonesia menjadi ladang subur bagi gerakan
teroris karena di negeri ini ada sekelompok orang yang bercita-cita mendirikan Negara Islam
Indonesia (NII) atau kekhalifahan Islam yang membolehkan cara-cara kekerasan.
"Tak heran hampir tak ada wilayah yang steril dari gerakan ini. Mulai Jawa, Sumatera,
Sulawesi, Maluku, NTB, hingga Kalimantan," ujar Surya Dharma. Kendati jumlahnya kecil,
Surya Dharma mengingatkan, gerakan kelompok teroris sangat solid.
”Saat menyembunyikan MH (tersangka kunci teroris Palembang, warga Singapura), mereka
mengurung Hasan selama tiga bulan di sebuah rumah dan memintanya menonton TV setiap
hari untuk mempelajari Indonesia dari berita," tutur Kadensus..
Surya Dharma menegaskan, polisi tak mungkin bekerja sendiri dan tentu saja membutuhkan
bantuan masyarakat dan institusi lain. Pasalnya, jaringan JI yang diburu pascabom Bali I
diyakini telah menjadi organisasi tanpa bentuk yang tak terstruktur, fleksibel, tapi tetap siap
melakukan aksi bunuh diri. Mereka juga tambah berbahaya dalam merakit bom dan senjata
api. Untuk bom, mereka telah mengganti unsur gotri (bola besi) dengan peluru tajam. Selain
memberikan efek mematikan lebih dahsyat, bom itu lebih simpel dan handy. Mereka juga
mampu membuat pistol rakitan yang anak pelurunya diganti gotri. Pistol sejenis softgun itu
mematikan jika ditembakkan kurang dari 10 meter.
”Ini perang kecerdasan intelijen. Berbagai kasus teror bisa terungkap 90 persen karena
informasi intelijen yang dipayungi hukum. Kita akui Noordin M. Top memang licin,” tegas
Surya Dharma. Noordin M. Top diyakini bergerak nonstruktural di luar komando ”resmi” JI.
Organisasi yang dinyatakan pengadilan sebagai organisasi terlarang itu juga diyakini tak
mampu mencegah ambisi Noordin. Bukti bahwa Noordin bergerak di luar struktur adalah
tidak adanya hubungan antara jaringan Palembang dan jaringan Abu Dujana yang diungkap
Satgas Anti Teror pada Juni 2007 lalu.
184
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Begitupun dalam kasus bom di Kedubes Australia 9 September 2004, Noordin dipercaya
bermain sendiri. Dia diduga melibatkan semua unsur yang seide dengannya, seperti sisa-sisa
aktivis NII dan aktivis Kompakk. Saat ini buron asal Malaysia yang kepalanya dihargai Rp1
miliar itu berada dalam kondisi kepercayaan diri yang tinggi.
Aneka Kisah Miring Densus 88
Selain menorehkan kisah heroisme institusi Polri, eksistensi Densus 88 juga menyimpan
masalah, secara institusional maupun personal.
Sejak awal misalnya, Densus 88 Polri telah mengundang antipati dan kecurigaan sebagian
kalangan muslim. Para penganut garis keras percaya pembentukan Densus 88 Anti Teror
adalah untuk ”menyerang umat Islam”. Hal itu disebabkan banyak pelaku teror yang
ditangkap aparat Densus 88 beragama Islam, seperti trio pelaku bom Bali Imam SamudraAmrozi-Mukhlas. Amir Majelis Mujahidin Abubakar Baasyir bahkan menuduh Densus 88
lembaga anti teror pesanan Amerika untuk menganiaya umat Islam.
Sejauh ini tuduhan kalangan Islam garis keras bisa ditepis dengan menyodorkan fakta lebih
banyak umat Islam Indonesia yang menolak aksi kekerasan oleh ”umat Islam” pelaku teror,
dan menerima kehadiran Densus 88 sebagai institusi Polri yang melindungi publik dari
bahaya terorisme dan serangan bom.
Namun kritikan terhadap Densus 88 akhir-akhir ini lebih dialamatkan terhadap operasinya
yang cenderung eksesif bahkan keluar dari ”jalur terorisme” atau ancaman bom. Beberapa
kasus berikut ini adalah contohnya.
Kasus 1 : Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Mabes Polri kini punya pekerjaan baru.
Selain menangkap hidup atau mati teroris, Densus 88 diam-diam terlibat dalam pengawasan
pelaksanaan Ujian Nasional di tanah air. Tindakan itu mengundang kecaman kalangan guru
dan penggiat pendidikan –terutama ketika aparat Densus melakukan operasi
penggerebekan dan penangkapan terhadap para guru yang tertangkap tangan
membocorkan jawaban ujian nasional SMA di Lubuk Pakam, Sumatera Utara.
Mantan Menteri Pendidikan Wardiman Djojonegoro menilai keterlibatan Detasemen Khusus
88 Antiteror Mabes Polri dalam pengawasan Ujian Nasional sebagai tidak wajar dan
berlebihan. Alasannya, guru adalah pendidik bukan teroris.
"Kami tidak menolak upaya penegakan hukum oleh aparat kepolisian. Tapi pelibatan Densus
88 yang diberi mandat untuk memberantas teroris terhadap kejahatan oleh guru itu saya nilai
berlebihan. Jangan anti sedikit, terus ditangkap Densus 88," kata Wardiman saat berdiskusi di
Warung Daun, Jakarta, Sabtu (3/5/2008). Wardiman menuntut keterlibatan aparat Densus 88
dalam pengawasan Ujian Nasional ditiadakan. Polisi cukup menggunakan prosedur biasa.
"Yang wajar-wajar saja," ujarnya.
Kasus 2 : Dilaporkan ke Propam dan Denpom, Oknum Personil Densus 88 dan Anggota TNI
Bebas Berkeliaran (Ditulis oleh: Poltak Simanjuntak./07/05/2009).
185
Quo Vadis Densus 88 Anti Teror Polri ?
Pagabe Hasoloan Simanjuntak (35) korban pemukulan oknum anggota Densus 88 berinisial
FB dan anggota TNI berinisial Sl, memprotes Polda Sumut dan Denpom yang membiarkan
dua pelaku kekerasan terhadap dirinya bebas berkeliaran di Deli Tua. Padahal dia dan
keluarga telah melaporkan keduanya ke Propam Polda Sumut dan Denpom I/Bukit Barisan.
“Saya terpaksa pulang ke Sumbul (Kabupaten Dairi) karena dua pelaku pemukulan itu masih
bebas walau sudah kami laporkan ke atasannya,” ujar Hasoloan yang berharap kedua oknum
aparat itu ditindak sesuai hukum yang berlaku. Kepada Juntak News, Kamis (07/05), Pagabe
kembali menceritakan tindakan penyiksaan oleh dua aparat keamanan itu setelah dirinya
dituduh mencuri keyboard.
“Selain dipukuli dan ditendang, saya digelandang tanpa baju dan celana, saya juga ditodong
pistol dari jarak 2 meter serta menembak ke tanah hampir mengenai kaki saya. Tidak hanya
itu, celana saya berikut dompet berisi STNK, SIM, KTP dan uang sejumlah sepuluh juta rupiah
ikut raib,” kata Pagabe yang juga ayah dari dua anak. “Dompet saya sudah dikembalikan oleh
Polsek Delitua tapi saya menolak karena isinya tidak lengkap.
Kasus 3 : Anggota Densus 88 Sulsebar terseret Kasus Hilangnya Ribuan Ton Gula Sitaan
Makassar. Dugaan keterlibatan sejumlah perwira dan anggota Detasemen Khusus (Densus)
88 Anti Teror (AT) Polda Sulselbar dalam kasus hilangnya ribuan gula bernilai sekitar Rp 5
Miliar pertengahan Oktober 2007 di Gudang Bea Cukai, Makassar, kian menguat.
Dalam sidang lanjutan kasus pencurian gula milik keluarga Nurdin Halid yang disita Kanwil
Bea Cukai Makassar di Pengadilan Negeri (PN) Makassar, Senin (24/3), saksi membenarkan
keterlibatan beberapa perwira dan anggota Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror dalam
kasus pencurian tersebut.
Sidang yang dipimpin Majelis Hakim Yulman, menghadirkan dua saksi Nano dan Bakri,
dengan terdakwa Heru Purwanto dan Mustafa Nano menjadi saksi karena perannya menagih
uang ke Mustafa. Sedangkan Bakri berperan mencari truk dan sopir yang akan mengangkut
gula tersebut. Hakim sempat mempertanyakan mengapa keduanya hanya berstatus sebagai
saksi, bukannya terdakwa. Pasalnya keduanya mengaku dan turut terlibat atas raibnya gula
sitaan dari gudang Bea Cukai Makassar tersebut.
Dalam keterangannya, saksi membenarkan bahwa gula itu dikeluarkan dari gudang menuju
lokasi pembeli, di Jl Mesjid Raya dengan memakai truk. Kendaraan pengangkut gula itu
dikawal AKBP Ade Rusmandar yang diketahui perwira Densus 88 Polda Sulselbar dengan
mengendarai mobil Feroza. Banyaknya gula pasir yang diturunkan di Jl Mesjid Raya ketika itu
sebanyak 100 sak atau lima ton.
Dalam sidang sebelumnya, selain Ade Rusmandar, terdakwa juga menyebut keterlibatkan
sejumlah perwira dan anggota Densus 88 Sulselbar seperti Kompol Jayadi, AKP Sumardi, Iptu
Asri, Brigadir Faisal, dan Brigadir Silas. Namun terdakwa menyayangkan, tidak satu pun dari
anggota Densus 88 yang disidik atau menjadi tersangka.
186
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Kesimpulan
1. Di tengah menurunnya kasus peledakan bom, anggota Densus 88 Anti Teror di tingkat
pusat dan daerah, wajib menjaga kewaspadaan, memelihara hubungan baik dengan
berbagai lapisan masyarakat agar mendapatkan dukungan–sekurangnya
informasi—jika ada hal-hal yang mencurigakan terjadi di lingkungan warga. Situasi
”aman” dan tiadanya teror bom bukan berarti bahaya terorisme telah lenyap.
2. Menyadari jati dirinya sebagai anggota polri yang memiliki kualifikasi pasukan komando,
aparat Densus 88 wajib menjaga perilaku profesionalnya, tidak memanfaatkan
wewenang dan kemampuannya –misal memakai alat penyadap, alat komunikasi
canggih, atau memakai senjata-- untuk melakukan tindakan-tindakan di luar tugas,
apalagi terseret dalam berbagai tindakan yang melanggar hukum atau mencoreng citra
kepolisian.
3. Meskipun mandat pokoknya adalah menangani kejahatan terorisme dan ancaman bom,
Detasemen Khususu 88 Anti Teror Polri berada di bawah Bareskrim Polri atau Ditserse
Polda. Oleh karena itu anggota Densus 88 memiliki peran dan fungsi reserse umum yang
melekat sehingga dibolehkan –atas perintah atasan- untuk melakukan berbagai
tindakan penegakan hukum non-teror. Ini yang menjelaskan kenapa aparat Densus bisa
diperbantukan dalam operasi penegakan hukum terkait kejahatan khusus seperti
narkoba, perjudian, illegal logging, pencurian dengan senjata, separatisme, sampai kasus
kecurangan ujian nasional. Dalam kasus penanganan kasus illegal logging di propinsi
Riau yang diduga melibatkan perwira polisi, Densus 88 Polri dan Brimob Polda ikut
membantu operasi yang dilakukan Ditserse Polda Riau dan Bareskrim Mabes Polri.
4. Terkait pergeseran/perluasan tugas dan wewenang Detasemen Khusus 88 Anti Teror
dalam penanganan kasus non-teror, pimpinan Bareskrim Polri perlu mengatur batasan
dan koridor yang jelas, tegas, mudah dipahami seluruh anggota Densus agar fungsi
pokok dan nilai kekhususan detasemen ini tetap terjaga dan tidak hilang. <
Referensi :
1. Wawancara khusus penulis dengan Kepala Desk Anti Teror Menteri Koordinator Politik
Hukum Keamanan (Polhukam), Brigjen Pol (purn) Ansyad Mbai di Jakarta
2. South Asia Analys Group, Terrorism in Indonesia : Role of Religious Organization, paper
no.1596
3. Country Reports on Terrorism in 2008 – Indonesia, UNHCR/Refworld
4. Riset dan cuplikan berita berbagai media massa meliputi : Antara News, Sriwijaya Post,
Surya, Persda Network, Vivanews, Detikcom, Okezone, Tempo Interaktif, KCM,
Jawapos Online, Fajar Online, Juntak News, Indopos, Tokoh Indonesia Dotcom,
website Humas Polri, sejumlah blog dan forum pembaca media di internet.
187
Baintelkam: Beban Politik Intelijen Keamanan
BAINTELKAM: BEBAN POLITIK INTELIJEN KEAMANAN
Edwin Partogi 1
Pendahuluan
Polisi di negara-negara yang bangunan demokrasinya belum kokoh biasanya dalam
posisi yang paradoks, yaitu, dibenci sekaligus dibutuhkan oleh warga. Situasi itu tidak
terlepas dari pengalaman keseharian publik yang sepenuhnya tidak merasa nyaman
berhubungan dengan polisi. Namun di sisi lain membutuhkan jaminan atas rasa aman yang
menjadi tanggungjawab dari polisi. Tentu banyak sebab yang dapat dijelaskan kenapa hal itu
terjadi. Terutama persoalan terbesarnya yaitu, kultur korup dan rendahnya penghormatan
hak asasi manusia di tubuh institusi polisi.
Situasi tersebut selalu mendorong harapan dan tuntutan masyarakat akan hadirnya polisi
yang profesional dan menghormati hak asasi manusia. Tuntutan ini tentu tidaklah berlebihan
bahkan menjadi kewajiban institusi polisi/Polri untuk dapat memenuhi harapan tersebut.
Kenapa? Karena harapan itu terkait erat dengan kepentingan masyarakat rasa aman dan
keselamatan yang akan menunjang upaya pemenuhan hak lainnya seperti hak atas
pendidikan, upaya meningkatkan kesejahteraan, hak atas kebebasan beragama, berekspresi
dan menyatakan pendapat, dan lain-lain. Ini artinya institusi polisi berperan penting bagi
warga/manusia untuk bisa menikmati secara penuh hak-hak ekonomi, sosial, budaya, sipil
dan politik mereka.
Pada umumnya di banyak negara polisi memiliki memiliki tugas dalam rangka penegakan
hukum, memelihara ketertiban dan pencegahan serta pendektesian tindak kejahatan.
Sekalipun bukan semata-mata tanggungjawab tunggal institusi polisi untuk melaksanakan
tugas itu.
Dalam upaya menjalankan tugas tersebut di atas, polisi tentu harus bekerja berdasarkan
pada supremasi hukum. Mentaati asas negara hukum berarti pemerintah termasuk institusi
polisi didalamnya terikat oleh hukum. Artinya ada kesetaraan dihadapan hukum dan ada
keputusan peradilan dari pengadilan yang jujur serta nilai atau instrumen HAM merupakan
hal integral.
Situasi dan sistem negara yang telah berubah di Indonesia dalam satu dekade ini juga
menuntut Polri melakukan penyesuaian. Polisi tidak boleh menempakan masyarakat sebagai
musuh, karena sesungguhnya tidak dikenal konsep musuh dalam tugas kepolisian. Bahwa
diantara masyarakat ada orang-orang dengan perilaku menyimpang/krimanal merupakan
suatu keniscayaan yang menjadi tugas polisi untuk menertibkannya. Namun pada
hakekatnya masyarakat adalah mitra kepolisian dalam upaya pencapaian tujuan ketertiban,
keselamatan dan keamanan.
1
Edwin Partogi, adalah anggota Divisi Politik, Hukum dan HAM, Badan Pekerja KontraS, Jakarta
188
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Pada soal ini, harus juga terjadi perubahan pada intelijen polisi dalam mendeteksi, mencegah
terjadinya kejahatan, dan menjamin ketertiban. Intelijen polisi saat ini dituntut untuk
membangun komunikasi yang baik dan efektif dengan unsur masyarakat. Penggunaan
teknologi informasi untuk memonitoring dan mendeteksi kejahatan, sekaligus memberi
jaminan agar pelaksanaan hak asasi manusia dapat berlangsung aman dan tertib, bukan
malah membatasinya.
Karena itu cerita kelam traumatik warga terhadap kerja intelijen polisi yang melanggar hak
privasi, melakukan tindakan represif yang tidak berdasarkan hukum dan menghambat hak
atas berekpresi dan berpendapat warga misalnya haruslah menjadi komitmen Polri untuk
diakhiri.
Wajah intel polisi kita yang biasa disebut 'intel melayu' oleh masyarakat. Intel melayu ini
memiliki ciri-ciri fisik dan perilaku tertentu yang terindentifikasi. Intel itu biasanya tampil
dengan rambut panjang yang agak mekar bagian bawahnya, layaknya grup band dangdut.
Berpura-pura menjadi wartawan dan bila bertanya pertanyaannya terasa aneh bagi kalangan
jurnalis atau narasumber karena tidak memahami kontens, dan mencari tahu lebih dalam
tentang profile narasumber. Bila hadir dalam unjuk rasa atau pada suatu pertemuan, intel ini
mengambil gambar atau audio visual orang hingga membuat risih. Kadang mereka berusaha
melakukan penitrasi pada rapat-rapat yang diselenggarakan oleh kelompok gerakan.
Bahkan tidak sungkan kerap memamerkan pistol yang menonjol dipinggangnya, membawa
handy talky, atau mengaku sebagai intel dari institusi tertentu. Atau menggunakan orangorang dari kalangan masyarakat menjadi informan.
Lalu bagaimanakah sebenarnya intel bekerja, apa yang mereka cari dan untuk apa? Tulisan
dibawah ini akan coba menjelaskan hal ikhwal itu. Fokus dari paparan dibawah ini pada
intelijen polisi yang berada di bawah Badan Intelijen Keamanan (Baintelkam) Polri.
Setidaknya tulisan ini akan memperhatikan tiga aspek yaitu, intelijen sebagai suatu institusi,
intelijen sebagai sebuah kegiatan dan intelijen sebagai produk. Bagian kedua dari tulisan ini
akan membahas tentang struktur, tugas, dan segala kelengkapan dalam institusi Baintelkam,
termasuk penempatan dan tugas intelejen polisi dalam pelaksaan operasi. Baik operasi rutin
maupun operasi khusus kepolisian. Dan hubungannya dengan institusi lainnya. Pada bagian
ketiga, akan mengulas kerj intelijen berdasarkan teori dan melihat sejauhmana kerja-kerja
intelijen polisi dalam praktek. Sedangkan bagian terakhir, penutup, penulis akan
memberikan tawaran solusi bagi upaya perbaikan kinerja intelijen polisi ke depan.
I. Baintelkam Polri
Agar dapat menilai akuntabilitas polisi dalam menjalankan tugasnya, penting bagi kita untuk
memahami serta menilai keseluruhan sistem, baik yang tertuang dalam undang-undang,
regulasi dan kebijakan, maupun diimplementasikan dalam praktiknya. Kebijakan yang
mengatur organisasi Baintelkam dapat kita temukan dalam UU Polri No2/2002, Keppres No.
70/2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Polri, dan secara khusus tertuang dalam
Keputusan Kapolri No. 53/X/2002, tertanggal 17 Oktober 2002. Serta pada sejumlah
189
Baintelkam: Beban Politik Intelijen Keamanan
peraturan lainnya yang menjelaskan tentang tugas intelijen Polri dalam satuan-satuan tugas.
Tugas dan Fungsi
Dalam Keppres dan Keputusan Kapolri tersebut diatas, dijelaskan Baintelkam adalah unsur
pelaksana utama pusat bidang intelijen keamanan yang berada dibawah Kapolri. Baintelkam
bertugas membina dan menyelenggarakan fungsi intelijen dalam bidang keamanan baik
kepentingan pelaksanaan tugas operasional dan manajemjen Polri maupun guna
mendukung pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan dalam rangka mewujudkan keamanan
dalam negeri.
Pembinaan fungsi intelijen yang dilakukan Baintelkam bagi seluruh jajaran Polri meliputi,
pertama, perumusan/pengembangan sistem dan metode termasuk petunjuk-petunjuk
pelaksanaan kegiatan intelijen. Kedua, pemantauan dan supervisi staf termasuk pemberian
arahan guna menjamin terlaksanannya kegiatan intelejen sebagaimana dimaksud di atas.
Ketiga, pemberian dukungan (back-up) dalam bentuk bimbingan teknis maupun bantuan
kekuatan dalam pelaksanaan kegiatan intelijen. Keempat, perencanaan kebutuhan personel,
peralatan khusus dan anggaran termasuk pengajuan penempatan/pembinaan karier
personel pengemban fungsi intelijen keamanan dan distribusi peralatan khusus intelijen
keamanan. Kelima, pengumpulan, pengolahan dan penyajian data/statistik, baik yang
berkenaan dengan sumber daya maupun hasil pelaksanaan tugas satuan-satuan organisasi
Intelkam.
Fungsi lain Baintelkam antara lain:
1. Penyelenggaraan kegiatan operasional intelijen keamanan guna terselenggaranya
deteksi dini (early detection) dan peringatan dini (early warning).
2. Penyelenggaraan dan pembinaan fungsi pelayanan administrasi, persandian dan
intelijen tehnologi termasuk pelaksanaannya dalam mendukung fungsi-fungsi
operasional intelijen lainnya.
3. Penyelengaraan dokumentasi dan penganalisaaan terhadap perkembangan
lingkungan strategik serta penyusunan produk intelijen baik untuk kepentingan
pimpinan maupun untuk mendukung kegiatan operasional intelijen.
4. Penyelenggaraan kegiatan intelijen terhadap masalah-masalah yang memiliki
dampak politis dan strategis melalui satuan tugas khusus.
Langkah operasional yang dilakukan oleh intelijen polri dalam menjalankan fungsi yang
ketiga diatas yaitu menghimpun dan memelihara berkas-berkas dokumen intelijen baik yang
berasal dari produk intelijen maupun literatur yang berkembang di masyarakat. Selain itu
juga menganalisa perkembangan lingkungan strategik yang berkembang di masyarakat
baik di dalam maupun di luar negeri meliputi bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya
dan keamanan yang dapat mempengaruhi hakekat ancaman serta upaya
penanggulangannya. Hasil analisa intelejen diatas disusun sebagai laporan produk intelijen
yang bersifat periodik maupun insidentil kepada pimpinan atau pejabat yang berwenang.
Dalam melakukan analisis, intelijen juga menggunakan tenaga ahli/pakar yang diangkat
190
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
secara paruh waktu sebagai tenaga tidak tetap.
Sebagaimana intelijen pada umumnya, intelijen polri juga menyelenggarakan fungsi
persandian. Fungsi persandian ini dilakukan guna mendukung pelaksanaan pengamanan
informasi rahasia melalui sarana persandian baik di lingkungan Polri maupun dengan
instansi terkait lainnya.
Selain itu Baintelkam juga menyelenggarakan fungsi Intelijen Teknologi di lingkungan
Intelkam Polri. Kegiatannya yaitu mengikuti perkembangan, pengkajian teknologi yang
dimanfaatkan untuk mendukung system informasi dan kegiatan/operasi intelijen,
memberikan batuan teknik dan taktis sebagai back-up operasional intelijen.
Dalam bidang keamanan, intelijen polri melaksanakan kegiatan deteksi, indentifikasi dan
assesment terhadap perkembangan lingkungan strategik yang dapat mempengaruhi
hakekat ancaman dan upaya penanggulangannya.
Operasional intelijen dalam kegiatan tersebut diatas meliputi kegiatan penyelidikan,
pengamanan dan penggalangan bentuk-bentuk penyimpangan di bidang ideologi, politik,
ekonomi, sosial budaya dan keamanan (Ipoleksosbudkam) yang dapat meresahkan
masyarakat.
Kegiatan deteksi, identifikasi dan assessment perkembangan terhadap perkembangan
lingkungan strategis dalam lingkup internasional, regional dan nasional yang
mempengaruhi Ipoleksosbudkam, dalam upaya menemukan hakekat ancaman dan
antisipasinya.
Intelijen polisi juga melakukan kegiatan pengumpulan, pengolahan dan penyajian biodata
tokoh formal/informal, organisasi/lembaga pemerintah/non pemerintah serta objek lain
yang dipandang perlu.
Hal lain yang biasa dilakukan intelijen yang juga dilakukan intelijen polri yaitu pembentukan
jaringan intelijen sesuai dengan wilayah-wilayah yang telah ditentukan.
Dalam upaya mempertajam Target Operasi (TO), Baintelkam memberikan pengarahan dan
perumusan unsur-unsur utama keterangan (UUK) kepada anggota unit operasional.
Selain kerja yang bersifat tertutup, Baintelkam juga melakukan kerja pelayanan masyarakat.
Kerja pelayanan masyarakat ini meliputi penerimaan pemberitahuan dan pemberian ijin
kegiatan masyarakat. Surat Keterangan Rekaman Kejahatan (SKRK/Criminal Record)
administrasi pengawasan orang asing serta administrasi senjata api dan bahan peledak pada
tingkat pusat.
191
Baintelkam: Beban Politik Intelijen Keamanan
Struktur Organisasi
Dalam upaya menjalankan fungsi tersebut diatas, Baintelkam memiliki susunan organisasi
yang dipimpin Kepala Baintelkam dengan pangkat Irjen Polisi, didampingi seorang Wakil
Kepala Baintelkam dengan pangkat Brigjen Polisi. Pada unsur pembantu pimpinan dan
pelaksana staf terdapat Biro Perencanaan dan Administrasi, disingkat Rorenmin dan Biro
Analisis, disingkat Roanalisis. Dibawah dua biro tersebut terdapat Unsur Staf Khusus/Teknis
yang meliputi Bidang Pelayanan Administrasi, disingkat Bidyanmin. Bidang Persandian,
disingkat Bidsandi dan Bidang Intelijen Teknologi, disingkat Bidinteltek. Dibawah unsur ini
terdapat Unsur Pelaksana Utama yaitu, Direktorat Baintelkam, disingkat Dit Baintelkam.
Pada pelaksaanan tugasnya Kabaintelkam bertanggungjawab kepada Kapolri dan namun
dalam pelaksanaan tugasnya sehari-hari berada dibawah kendali Wakapolri. Kabaintelkam
bertugas memimpin, membina dan mengawasi/mengendalikan satuan-satuan organisasi
dalam lingkungan Baintelkam serta memberikan pertimbangan dan saran dan
melaksanakan tugas lain sesuai perintah Kapolri.
Dalam susunan organisasi Baintelkam terdapat pula Direktorat Baintelkam yang dapat
disebut Direktorat “A”, Direktorat “B”, Direktorat “C” dan Direktorat “D”.
Pembagian sasaran tugas masing-masing Direktorat ditetapkan lebih lanjut oleh
Kabaintelkam sesuai arahan Kapolri. Umumnya dengan memberi penekanan pada tugas
salah satu Direktorat untuk menangani masalah gangguan keamanan yang bersifat
nasional/transnasional, baik yang faktual maupun fenomenal termasuk terorisme.
Dit. Baintelkam yang dipimpin oleh Direktur, disingkat Dir, bertanggungjawab kepada
Kabaintelkam dan dalam pelaksanaan tugasnya sehari-hari berada dibawah kendali
Wakabaintelkam.
Struktur Organisasi Baintelkam
KABAINTELKAM
Unsur Pimpinan
WAKA
ROANALIS
RORENMIN
Unsur Pembantu Pimpinan dan Pelaksana Staf
BID YANMIN
BID SANDI
BID INTELTEKK
Unsur Pelaksana Staf Khusus/Tehnis
DIT
SATGASUS
Unsur Pelaksana Utama
Sumber: Sub Lampiran: I; Lamp: “U” Keputusan Kapolri, No. POL: KEP/53/X/2002; tanggal 17 Oktober 2002.
192
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Ditbaintelkam ini merupakan unsur pelaksana utama dalam kerja-kerja harian Baitelkam.
Ditbaintelkam bertugas menyelenggarakan kegiatan intelijen dalam bidang keamanan
sebagaimana telah diuraikan oleh penulis diatas.
Sehingga dalam kerja operasional intelijen harian sebenarnya didominasi oleh kerja-keja dari
Ditbaintelkam ini. Hal ini juga dapat kita lihat dari penempatan personal dan perlengkapan
kerja yang menjadi bagian dari Baintelkam paling besar ditempat dalam direktorat ini. (lihat
tabulasi)
PERSONEL BAINTELKAM
No
Unit
Polri
PNS
Jml
. Organisasi Komje Irje Brigje KB AKB
AK IP BA/T JM IV III II/I Jml
n Pol n
n Pol P
P
A
L
K P
Pol
P
1. Pimpinan
1
1
2
2
Biro Renmin
2.
1
4
7
2 14
9 16
26
40
Biro Analisis
3.
1 10
4
15 1 4 8
12
27
4. Bid Yanmin
1
3
4
3 6
9
13
5. Bid Sandi
1
3
10
14
3 6
9
23
6. Bid Inteltek
1
8 1
5
15
3 6
9
24
Ditbaintelka
10
7. m
4 16
36
8
164 4 8 28
40 204
Jumlah
333
Sumber: Sub Lampiran: IIb; Lamp: “U” Keputusan Kapolri, No. POL: KEP/53/X/2002; tanggal 17 Oktober 2002.
PERLENGKAPAN BAINTELKAM
No. Unit/Unsur
Organisasi
Jenis Perlengkapan
SENPI SEDAN JEEP BUS POOL
GENGGAM
SPD TIK TIK
MS MS
PC TELEPON
MTR 13 19/20 HITUNG COPY
AC/DC
KECIL SEDANG
1. Pimpinan
2. Biro Renmin
3. Biro Analisis
4. Bid Yanmin
5. Bid Sandi
6. Bid Inteltek
7. Ditbaitelkam
JUMLAH
2
14
15
4
14
15
164
228
2
4
11
1
1
1
16
36
7
4
3
3
8
36
61
2
2
2
3
3
3
2 9
4 24
1
1
1
1
4
2
1
1
1
4
13
4
2
1
1
1
4
13
2
1
1
1
1
4
10
1 9
1 4
3
3
3
1 8
3 30
2
12
15
4
4
4
56
97
Sumber: Sub Lampiran: III; Lamp: “U” Keputusan Kapolri, No. POL: KEP/53/X/2002; tanggal 17 Oktober 2002.
193
Baintelkam: Beban Politik Intelijen Keamanan
Selain itu dalam organisasi Baintelkam ini juga dikenal adanya Satuan Tugas Khusus yang
disingkat Satgassus. Satgassus ini adalah organisasi kerangka gabungan fungsi yang berada
di bawah Kabaintelkam. Pembentukan dan penugasannya ditetapkan oleh Kabaintelkam
sesuai perintah Kapolri.
Satgassus bertugas menyelenggarakan/melaksanakan kegiatan intelijen dalam bidang
keamanan yang mendapat perhatian khusus pimpinan. Satgasus dipimpin oleh Kepala
Satgassus, yang disingkat Kasatgassus, yang bertanggung jawab kepada Kapolri, melalui
Kabaintelkam atau Perwira Tinggi yang ditunjuk Kapolri. Hal ini menunjukkan posisi istimewa
dari Satgassus yang mendapat kendali langsung oleh Kapolri melalui Perwira Tinggi yang
ditunjuknya.
Hal lain yang menarik yaitu, biaya operasional Baintelkam ini selain yang diadakan melalui
program APBN juga membuka ruang bantuan keuangan baik dari Pemda maupun
masyarakat (Keputusan Kapolri No. 53/X/2002, lampiran U). Penggunaan keuangan yang
berasal diluar APBN ini tentu dapat menimbulkan persoalan terkait dengan transparansi
maupun persoalan konflik kepentingan yang muncul dari pihak penyumbang.
Intelijen Polri Dalam Operasi
Seperti halnya militer, polisi juga mengenal istilah operasi. Operasi dalam konteks kepolisian
dipahami sebagai segala upaya, kegiatan dan tindakan terencana dengan menggunakan
kekuatan fisik Polri beserta komponen-komponen pendukungnya yang tersedia dalam
rangka mengemban tugas-tugasnya.
Sejauh ini, referensi yang digunakan penulis menjelaskan tentang operasi di tubuh. Polri
merujuk pada Keputusan Kapolri tentang Manajemen Operasional Polri (MOP) No.Pol:
SKEP/187/IV/1989 serta lampirannya. Petunjuk MOP ini sebenarnya mengacu pada sistem
operasional militer yang kemudian diadopsi di lingkungan kepolisian. Dalam lampiran dalam
putusan itu dijelaskan Polri mengenal dua bentuk operasi, yaitu Operasi Rutin Kewilayahan
dan Operasi Khusus Kepolisiaan.
Ulasan dibawah ini hanya akan berkonsentrasi pada posisi kerja intelijen polisi pada operasi
khusus. Karena operasi rutin kepolisian sesuatu kegiatan yang bersifat rutin sehari-hari.
Sedangkan operasi khusus digelar guna dihadapkan pada sasaran tertentu, dalam waktu
tertentu dengan dukungan administrasi dan logistik serta anggaran tertentu pula.
Operasi khusus kepolisian yang diatur dalam MOP didasarkan pada, pertama, ancaman
faktual tertentu:
a) Dikaitkan dengan bobot ancamannya :
(1) Sasaran selektif yang diprioritaskan.
(2) Sasaran Selektif lainya.
b) Perwujudannya, berupa :
(1) Kriminalitas tertentu yang menunjukan kecenderungan terus
meningkat melampaui batas toleransi.
194
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
(2) Kriminalitas tertentu yang menimbulkan keresahan masyarakat
(3) Kriminalitas tertentu yang merugikan dan merongrong kewibawaan
pemerintah.
(4) Kriminalitas tertentu yang mempunyai dampak merugikan,
mengancam dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat,
berbangsa dan bernegara.
Kedua, Police Hazard, yang menunjukan gelagat dan memberikan peluang besar terhadap
kemungkinan timbulnya gangguan Kamtibmas, sebagai contoh: Pemilihan Umum; Sidang
Umum MPR atau keramaian pada malam tahun baru dan Idul Fitri
Ketiga, Faktor Korelatif Kriminogen, yang membuka peluang yang besar terhadap sikap
fanatisme yang berlebihan, sikap individualistis dan egoisme yang berlebihan. Dan apatisme
yang meluas, terutama terhadap masalah hukum yang berlaku, terhadap Kamtibmas dan
lain-lain.
Sebelum dilaksanakannya suatu operasi dalam mekanisme/kebijakan yang berlaku di Polri
harus terlebih dahulu menyiapkan produk-produk perencanaan. Produk itu antara lain
Petunjuk Perencanaan Operasi (Jukrenops). Jukrenops ini berisikan: Dasar, Tugas Pokok,
Sasaran Operasi, Set-up Operasi, Waktu Operasi, Wilayah Operasi, Pejabat Penanggungjawab
dan Anggaran Operasi. Jukrenops ini disusun berdasarkan kebijaksanaan dan penilaian
Pimpinan serta Perkiraan Keadaan Intel (khusus untuk operasi dimaksud).
Selain itu dikenal produk rencana dan perencanaan untuk melaksanakan operasi khusus
yang disebut dengan Rencana Operasi (Renops). Renops ini berisikan: Situasi, tugas pokok,
pelaksanaan, administrasi dan logistik, komando dan pengendalian, yang dilampiri dengan
susunan organisasi, tugas dan rencana fungsi serta Perkiraan Keadaan Intel.
Ada juga produk rencana dan perencanaan yang dibuat oleh Pimpinan satuan fungsi, yang
berisikan rumusan kegiatan-kegiatan satuan fungsi pendukung dalam rangka mendukung
operasi kepolisian yang disebut dengan Rencana Fungsi.
Dalam Rencana Fungsi itu ditegaskan mengenai sasaran/Target Operasi (TO) dari masingmasing satuan fungsi pendukung dalam rangka mendukung keberhasilan operasi khusus
kepolisian.
Jenis-jenis rencana fungsi tersebut meliputi, Rencana Fungsi Intelijen, Samapta, Reserse,
Binmas, Administrasi dan Logistik. Pada tingkat Polda, ditambah dengan Rencana Lalu Lintas.
Metode penginderaan dini/deteksi terhadap setiap ancaman Kamtibnas dilakukan oleh
fungsi Intelpam.
195
Baintelkam: Beban Politik Intelijen Keamanan
PERUMUSAN TARGET OPERASI BERDASAR FUNGSI
FUNGSI
INTEL
RESERSE
SAMAPTA/LANTAS
KRIMINALITAS
AF
PH
FKK
X
X
X
X
X
BIMMAS
AF
X
X
X
LANTAS
PH
X
FKK
X
X
X
X
Ket: AF= ancaman faktual; PH=police hazard; FKK=faktor korektif kriminogen
Sumber: Lampiran Surat Keputusan Kapolri, No.Pol: SKEP/187/IV/1989, 27 April 1989
Proses penajaman TO dilaksanakan oleh Intelkam. Yang dimaksud dengan TO ialah suatu
sasaran tertentu yang ditetapkan untuk ditangani, dan dicapai dalam pelaksanaan operasi
kepolisian berdasarkan prioritas.
Wujud TO ialah pertama, pelaku (orang, sindikat, badan hukum) dengan uraiannya
meliputi:a. Indentitas secara lengkap dan jelas;b. Ciri-ciri pelaku (sinyalemen);c. Bio data; d.
Modus operandi; e. Kebiasaan-kebiasaan (hobi). Kedua, benda (barang bukti) yang dapat
berupa: a. Alat untuk melakukan kejahatan; b. Hasil kejahatan. Ketiga, Kasus. Mensinkronkan
wujud TO dengan kasus, barang bukti, dan pelaku. Keempat, menggambarkan situasi,
dengan unsur-unsurnya: a. Lokasi (tempat); b. Waktu; c. Penyebab; d. Kebiasaan-kebiasaan.
Data awal yang digunakan dalam proses penentuan TO berasal dari berbagai sumber.
Diantaranya: 1. Laporan polisi; 2. Laporan informan; 3. Tunggakan perkara, meliputi:a. kasus;
b. DPO (daftar pencarian orang); c. DPB (daftar pencarian barang); d. modus operandi; 4.
Daftar residivist; 5. Daftar orang dan barang yang dicurigai; 6. Daftar jaringan pelaku; 7.
Anatomi kejahatan/pelanggaran (termasuk lantas); 8. Daftar hitam; 9. Daftar PH/Police
Hazard; 10. Daftar FKK/Faktor Korektif Kriminogen; 11. Crime total; 12. Crime clearance; 13.
Crime patern (pola kejahatan); 14. Penyimpangan dan pelanggaran anggota Polri; 15. Dll.
Target operasi dalam pelaksanaan operasi khusus kepolisian dapat mengalami perubahan
yang didasarkan kepada perkembangan situasi atau perkembangan dari target operasi yang
sedang ditangani oleh UKL/Unit Kecil Lengkap. Perkembangan-perkembangan ini perlu
secepatnya diantisipasi oleh fungsi intel dengan membuat Perkiraan Keadaan Cepat (Kirpat).
Dalam rangka penyelenggaraan operasi khusus kepolisian beberapa produk tertulis
diterbitkan pada saat sebelum maupun paska operasi dilaksanakan. Produk tertulis yang
diterbitkan oleh intelijen polisi dalam konteks ini ialah Perkiraan keadaan Intel. Perkiraan
keadaan oleh intelijen ini dibagi dalam tiga kebutuhan. Pertama, Kir Intel tahunan yang
dijadikan dasar dalam pembuatan program kerja. Kedua, Kir Intel Khusus (Kirsus); ketiga, Kir
Intel Cepat (Kirpat) yang disesuaikan dengan kebutuhan.
196
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Cara bertindak berdasarkan fungsi intelijen dalam rangka menangani sasaran yang
ditentukan dibatasi pada tindak pengamanan, penyelidikan, pengalangan dan lain-lain.
Sementara cara bertindak taktis ketika dilapangan yang dilakukan oleh satuan tugas
operasional atau gerakan-gerakan taktis baik perorangan maupun unit (kesatuan) dalam
menghadapi sasaran, biasanya disesuaikan dengan situasi dan kondisi saat itu.
I.
Intelijen Polri: Teori dan Praktek
Kerja-kerja intelijen di dominasi dalam kerja yang tertutup dan rahasia telah membuat
lembaga ini kerap ditakuti. Tindakan-tindakan intelijen hitam seperti yang kerap ditampilkan
di layar lebar dan novel spy memberi gambaran bahwa bagian dari tugas intelijen itu ialah
tindakan penyadapan, sabotase, pembunuhan politik bahkan penggulingan kekuasaan.
Benarkah itu kerja intelijen?
Intelijen merupakan instrumen penting untuk kelangsungan hidup Negara. Karena
bertujuan menyampaikan kebenaran kepada pelaksana kekuasaan Negara. Termasuk di
dalamnya menghindari kejutan-kejutan strategis dan membantu proses kebijakan.
Kerja Intelijen
Intelijen dipahami sebagai kegiatan mencari data dan informasi, sekaligus memprediksi atau
membuat prakiraan mengenai kejadian dan kegiatan yang mungkin terjadi di masa
mendatang. Guna menjalankan tugas di atas Intelijen dituntut untuk bekerja aktif. Bekerja
aktif ini adalah segala aktivitas yang umumnya dilakukan baik secara tertutup maupun
terbuka meliputi penyelidikan, pengamanan dan penggalangan.
Penyelidikan atau investigasi merupakan bahan dasar bagi penyusunan laporan intelijen.
Laporan ini dijadikan bahan bagi penyusunan perencanaan operasi bagi kepentingan
keamanan maupun penegakan hukum dengan pendekatan preventif, pre-emptif bahkan
represif.
Dalam melakukan investigasi, intelijen dapat menggunakan cara terbuka dan sumbersumber terbuka. Kegiatan itu bisa berupa riset dengan cara mengumpulkan dan
menganalisis pemberitaan media masa (cetak, online, dan elektronik), sumber-sumber
informasi dari internet, kepustakaan, dan terbitan-terbitan pemerintah atau swasta, dan lainlain. Pada intelijen kepolisian data-data ini termasuk laporan polisi, laporan informan,
tunggakan perkara, daftar residivis dan lain-lain sebagaimana yang telah diuraikan dalam
operasi khusus kepolisian pada bab sebelumnya di atas.
Cara lain yang digunakan yaitu elisitasi (pemancingan) yaitu melakukan pembicaraan
dengan seseorang guna menghimpun informasi tanpa disadari orang tersebut. Atau
melakukan wawancara dengan melakukan tanya jawab dengan sasaran. Pilihan lain dengan
melakukan interogasi dengan sasaran, dimana tanya jawab berlangsung dikontrol oleh
penanya.
197
Baintelkam: Beban Politik Intelijen Keamanan
Investigasi yang dilakukan tertutup dilakukan bila informasi atau data yang dibutuhkan sulit
untuk didapatkan dengan cara terbuka. Cara yang dapat ditempuh dalam investigasi
tertutup ini melalui: observasi; pengambilan gambar; pengamatan kebiasaan dan lokasilokasi yang biasa dikunjungi oleh sasaran dan pihak-pihak yang bertemu dengan sasaran;
pembuntutan dengan memperhatikan apa yang sedang dilakukan sasaran; monitoring
dengan cara mendengarkan langsung apa yang dibicarakan sasaran atau tidak langsung
dengan menggunakan alat bantu atau orang lain. Maksud diketahui oleh sasaran;
penyusupan ke dalam target sasaran atau melakukan penyadapan.
Selain bentuk penyelidikan atau investigasi, intelijen juga melakukan tindakan pengamanan.
Pengamanan ini dilakukan terhadap personel, materi, baket (bahan keterangan), dan
operasi. Tindakan pengaman ini dilakukan baik yang bersifat preventif maupun represif.
Pengamanan yang dilakukan dengan preventif dengan cara melakukan sabotase, spionase,
atau penggalangan, atau segala usaha pencegahan menggagalkan rencana dari pihak
sasaran atau memaksa sasaran meninggalkan bekas bila berhasil lolos. Dapat juga dilakukan
penyesatan terhadap pihak lawan. Atau membuat halangan, pemagaran dan membuat
sistem tanda bahaya bagi pengamanan baket yang bersifat rahasia.
Tindakan lain yang dilakukan oleh intelijen yaitu melakukan penggalangan. Penggalangan
ini adalah aktifitas untuk mempengaruhi sasaran agar merubah tingkah lakunya sesuai
dengan kehendak penggalang.
Beberapa tehnik yang biasa digunakan pada operasi penggalangan yaitu:
a. Propaganda yaitu, komunikasi yang sengaja dibentuk untuk mempengaruhi tingkah
laku. Sistem Propaganda bisa dilakukan dengan, pertama, interaksi simbolik
(symbolic interaction propaganda) dengan menggunakan lisan, tulisan, gambar
maupun isyarat. Dengan cara menyebarkan rumor dari orang-perorangan dan isu
tersebut tidak dapat ditelusuri sumbernya. Tujuan dari propaganda simbolik ini guna
mengacaukan pikiran sasaran/target, mempengaruhi dan merubah kehendak dari
sasaran. Kedua, propaganda dengan perbuatan (propaganda of the deed). Dalam
propaganda sistem ini, sasaran dipaksa tunduk dan menerima pesan sebagaimana
dikehendaki propagandis. Yang diwujudkan dalam tindakan seperti, pembunuhan,
terror atau pembajakan. Hal lain yang termasuk tindakan propaganda ialah black
propaganda. Yaitu penyebaran informasi yang tidak benar, asal usul infomasinya tidak
jelas. Tujuannya menciptakan disinformasi atau menyesatkan.
b. Subversi: kegiatan yang dilakukan mempengaruhi sasaran untuk agar menentang,
melawan atau menggulingkan pemerintahannya.
c. Gerakan Perlawanan: menggunakan orang lain untuk menggulingkan pemerintahan
yang sah.
d. Terror : tindakan yang menciptakan ketakutan, kegelisahan atau kekacauan di
masyarakat. Sasaran terror ditujukan pada individu atau kelompok tertentu yang
berpengaruh di masyakarat.
e. Sabotase: kegiatan secara sembunyi-sembunyi dengan tujuan merusak atau
menghancurkan instalasi vital yang menimbulkan kerugian bagi pihak lawan/Negara.
198
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Berdasarkan dari kerja-kerja intelijen diatas, tampak bahwa intelijen dalam usaha
mencapai tujuannya bergerak diruang abu-abu. Segala tindakan hitam yang dilakukan
oleh intelijen itu dilakukan dalam suatu operasi rahasia/clandestine karena tidak mungkin
dilakukan secara terbuka. Pertanyaan apakah intelijen kepolisian juga melakukan
tindakan serupa?
Intelijen Polisi
Intelijen kepolisian (police intelligence) adalah intelijen yang berfokus pada law enforcement.
Intelijen kepolisian ini melaksanakan tugas sebagai intel yustisial, fungsi yang melekat pada
badan-badan yustisial seperti kejaksaan, polisi, imigrasi, dan bea cukai. Intelijen kepolisian
didesain untuk mendektesi kejahatan. Karena intelijen di desain untuk mendektesi
kriminalitas dan penegakan hukum. Intelijen kriminal ini merupakan bagian yang integral
dari fungsi utama Polri, yaitu represif, preventif, dan preemptif.
Intelijen Kriminal (criminal intelligence) dan Intelijen Kepolisian ini melakukan deteksi
terhadap kejahatan konvensional seperti pencurian, perampokan, pembunuhan, penipuan,
pemalsuan dan lain sebagainya. Sampai dengan kejahatan yang canggih, seperti cyber crime,
weapon trafficking, terrorisme, corrupution, drug trafficking, money laundering, human
traffiking, dan lain-lain.
Sejak dulu pada tingkat Polres sebagai Kesatuan Operasional Dasar (KOD) Polri, diharuskan
mengumpulkan data mengenai keadaan wilayah dan masyarakatnya. Data tersebut meliput
aspek politik, ekonomi dan sosial budaya. Data tersebut dianalisa sehingga menjadi produk
informasi yang dapat memperkirakan gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat, dan
bentuk kriminalitas yang mungkin terjadi. Produk informasi tersebut berupa Analisa Daerah
Operasi (ADO), yang kemudian digunakan sebagai rujukan membuat rencana kegiatan (Prof.
DR. Awaloedin Djamin, MPA, 2006).
Intelijen Polisi sesungguhnya lebih luas dari sekedar Intelijen Kriminal. Karena intelijen polisi
dituntut untuk mampu mendeteksi kerawanan konflik vertikal dan horizontal (SARA). Disini
Polri dituntut untuk memiliki kemampuan lebih dalam menangani resolusi konflik dan
bernegosiasi agar konflik tidak berujung pada tindak kekerasan.
Soal luas lingkup dari kerja intelijen kepolisian ini dapat kita lihat dari bahasan bab
sebelumnya tentang Baintelkam. Intelijen keamanan yang dilaksanakan oleh Baintelkam
tidak hanya berfokus pada tindak criminal semata, namun juga memberi perhatian pada
perkembangan stategis di dalam dan luar negeri meliputi bidang ideologi, politik, ekonomi,
sosial budaya dan keamanan.
Lingkup yang luas dari kajian intelijen kepolisian ini dapat berdampak tidak fokusnya kerja
intelijen kepolisian sekaligus persinggungan yurisdiksi dengan intelijen Negara dan intelejen
luar negeri serta intelijen sektor lainnya.
199
Baintelkam: Beban Politik Intelijen Keamanan
Dalam prakteknya, paradigma lama yang masih menolak sikap korektif masyarakat terhadap
Negara, menganggap kebebasan bependapat, bereksperesi dan kebebasan menjalankan
agama serta kepercayaan sebagai ancaman terhadap Negara, keamanan dan ketertiban
masih hidup dilingkungan kepolisian. Dengan kata lain, rendahnya pemahaman tentang hak
asasi manusia ditingkat institusi maupun personal kerap menimbulkan masalah yang
sebenarnya tidak perlu terjadi.
Misal, pada soal kebebasan berekspresi dan menyampaikan pendapat. Sekalipun dalam UU
No. 9/1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum jelas
menyatakan bahwa warga Negara yang hendak melakukan demonstrasi atau rapat umum
dan lainnya hanya wajib menyampaikan pemberitahuan kepada pihak kepolisiaan. Dan
pihak kepolisian wajib memberikan surat tanda terima dari pemberitahuan kegiatan
tersebut. Namun pada prakteknya surat tanda terima pemberitahuan tersebut kerap tidak
diberikan oleh polri dengan berbagai alasan atau pun tanpa alasan sama sekali.
Contoh soal ini dapat kita lihat pada pembubaran unjuk rasa Forum Keadilan, Kelautan dan
Perikanan (FKPP) yang diikuti dengan penangkapan aktivis Walhi Berry Furqon dan Erwin
Usman, ketika berlangsungnya World Ocean Conference (WOC) di Manado pada 11 Mei 2009.
Polisi beralasan kegiatan tersebut tanpa pemberitahuan. Jauh hari, pada tanggal 18 dan 28
April 2009 aktifis Walhi telah menyampaikan pemberitahuan rencana kegiatan mereka
kepada Mabes Polri. Namun pemberitahuan itu tidak kunjung mendapat surat tanda terima
sebagaimana semestinya. Padahal sebelumnya terkait dengan kegiatan tersebut pada 7 Mei
2009, Kesbang Linmas Manado telah mengeluarkan izin, dan pada 8 Mei Polwiltabes juga
telah mengeluarkan izin yang sama. Namun tanpa alasan yang jelas, Polwiltabes Manado dan
Kesbang mencabut surat izin tersebut tanpa memberikan salinannya kepada FKPP.
Pada soal kebebasan berekspresi dan menyatakan pendapat ditingkat operasional
kepolisian memang masih menggantung masalah. Sekalipun UU No.9/1998 dinyatakan
polisi wajib memberikan surat tanda terima pemberitahuan. Namun, aturan di tubuh Polri
juga kerap merujuk pada Petunjuk Lapangan (Juklap) No.2/1995 yang mensyaratkan adanya
perijinan kepolisian bagi kegiatan yang melibatkan 10 orang atau lebih. Juklap ini biasanya
jadikan dasar oleh polisi untuk membubarkan unjuk rasa, rapat, atau kegiatan diskusi. (lihat
tabel: Kerja Intelijen Polisi Dalam Sorotan).
Diluar soal tanda terima pemberitahuan seperti pada kasus diatas. Upaya menghindari
demonstrasi pada rombongan Presiden misalnya. Polisi kadang-kadang sengaja membuat
macet lalu lintas dengan maksud menghambat gerak dari para pemrotes.
Pola lain yang kerap juga dicurigai oleh masyarakat bagian dari operasi intelijen ialah
tindakan menggagalkan suatu kegiatan yaitu dengan menggerakkan kelompok
perlawanan. Beberapa kegiatan diskusi, rapat dan pemutaran film yang diselenggarakan
oleh masyarakat sipil terkait tentang Marxisme, ataupun peristiwa '65 dihentikan oleh polisi,
setelah sebelumnya terjadi penolakan oleh sekelompok orang atas kegiatan tersebut.
200
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Peristiwa ini terjadi pada diskusi tentang Gerakan Marxist Internasional Kontempor yang
diselenggarakan oleh toko buku Ultimus Bandung, 14 Desember 2006. Acara ini dibubarkan
oleh sejumlah orang yang memakai seragam Pemuda Panca Marga dan mengatasnamakan
Persatuan Masyarakat Anti Komunis meminta acara tersebut dihentikan. Ketua panitia dan
pembicara acara tersebut dipukuli oleh massa dan kemudian dibawa ke Satuan Intelijen
Polwiltabes Bandung. Gelagat penolakan acara ini oleh pihak kepolisian telah terlihat.
Beberapa hari sebelumnya intel Polwiltabes Bandung mendatangi Ultimus dan memanggil
Ketua Panitia untuk menghadap Wakaintekam Polwiltabes Bandung. Bahkan
mempertanyakan kewarganegaraan dari pembicara.
Hal serupa juga dialami oleh Pusat Studi HAM Universitas Airlangga, Surabaya dan Jaringan
HAM di Surabaya yang pada peringatan hari HAM, 12 Desember 2006. Acara yang
berlangsung dalam peringatan itu lomba majalah dinding dan poster, dan pemutaran film
dokumenter (Marsinah, Shadow Play, Batas Panggung, Garuda Deadly Upgrade, Mimpi yang
Terkoyak). Kegiatan tersebut nyaris gagal karena massa dari Front Anti Komunis meminta
acara itu dibubarkan dan tidak memutar film yang mereka nilai mendiskreditkan TNI dan
umat Islam. Dari negosiasi yang difasilitasi oleh Kapolsek setempat disepakati hanya film
Shadow Play yang dilarang diputar. Shadow Play adalah film yang bercerita tentang peristiwa
'65.
Pada kasus lain, netralitas dan paradigma politik dari kepolisian juga menjadi suatu
pertanyaan. Misal, ketika FPDIP dan FPKS di DPR pada awal tahun 2006, berencana
melakukan investigasi atas kasus impor beras yang sebelumnya gagal diusung sebagai hak
angket. Intel Polda Metro Jaya bekerja mencari tahu tentang kegiatan investigasi yang akan
dilakukan oleh 2 fraksi tersebut. Tindakan ini tentu terasa ganjil, karena yang dilakukan oleh 2
fraksi tersebut bukan merupakan tindak kejahatan dan merupakan bagian dari fungsi kontrol
yang dijalankan oleh legislatif.
Dibeberapa peristiwa efektivitas dari deteksi dini intelijen polisi dalam mengantisipasi situasi
rawan yang menimbulkan masalah keamanan juga menimbulkan pertanyaan. Misal, pada
kasus serangan yang dialami oleh AKKBB/Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama
dan Berkeyakinan ketika tengah berkumpul di Monas memperingati Hari Pancasila. Potensi
terjadinya kekerasan terhadap massa AKKBB ini sepertinya sudah diprediksi oleh polisi.
Karena pada waktu sebelumnya di hari yang sama, Kabaintelkam Saleh Saaf tengah
mengingatkan kepada petingggi partai PDIP yang tengah peringatan Hari Pancasila, untuk
segera mengakhiri berkumpul di Monas dengan alasan situasi tidak kondusif. Informasi yang
berkembang ada rencana kelompok lain yang akan melakukan aksi (lihat, www.detik.com, 4
Juni 2008).
Sayangnya deteksi intelijen polisi itu seperti tidak berkolerasi dengan upaya pencegahan
yang dilakukan oleh polri dilapangan. Ketika terjadi aksi kekerasan terhadap massa AKKBB,
kehadiran polisi dirasa minim.
201
Baintelkam: Beban Politik Intelijen Keamanan
Peristiwa insiden Monas ini membentuk spekulasi dikalangan masyarakat, bahwa ini
merupakan operasi intelijen untuk mengalihkan isu kenaikan BBM yang tengah mendapat
sorotan. Setelah sebelumnya polisi dan pemerintah mendapat sorotan pada penanganan
demonstrasi kenaikan BBM di kampus Unas yang berakhir dengan tindak represif polisi.
Hal yang tidak jauh berbeda kita saksikan pada tragedi zakat di Pasuruan, 15 September 2008,
yang mengakibatkan 21 orang tewas. Potensi terjadi situasi rawan dari kegiatan zakat yang
menjadi magnet orang berkumpul seharusnya sudah dapat diprediksi oleh intel kepolisian.
Apalagi kegiatan ini sudah berlangsung rutin dalam beberapa tahun belakangan. Seperti
tidak menjadi bahan pertimbangan kepolisian di tingkat wilayah untuk mengerahkan
personil bagi pengamanan acara tersebut. Terlepas dari lemahnya koordinasi antara pemilik
hajat dan pihak kepolisian setempat, namun polisi tidak dapat lepas tangan dari situasi
tersebut. Minimnya kehadiran polisi pada peristiwa ini dapat menimbulkan pertanyaan
dikalangan masyarakat apakah hal ini disebabkan tidak difasilitasinya keperluan logistik
polisi oleh pemilik hajat? Kelalaian itu berupa kegagalan intel polisi mengantisipasi
terjadinya kerumunan massa ini diakui oleh Kepala Bidang Profesi dan Pengamanan Polda
Jatim Kombes Pol. Wanto Sumardi (www.kompas.com, 18/9/08).
Pada peristiwa demo kenaikan BBM di DPR 24 Juni tahun 2008 lalu. Kepala BIN mengatakan
sudah mendapat informasi tentang kemungkinan terjadi brutalitas pada aksi menolak
kenaikan BBM. Kalangan yang menggerakkan demo itu juga dalam beberapa hari
sebelumnya telah membuat aktifitas konsolidasi terbuka di Tugu Proklamasi. Terjadinya
brutalitas pada demo di DPR itu yang berlanjut pada aksi pembakaran mobil di Atmajaya,
seolah menunjukkan bahwa deteksi intelijen tidak berlangsung secara optimal atau data
intelijen tidak secara maksimal menjadi acuan Polri dalam mengambil kebijakan di lapangan.
Peristiwa tragis dari buruk kinerja intelijen kepolisian dapat kita rujuk pada Tragedi Berdarah
di Medan. Peristiwa pada 3 Februari 2009, yang mengakibatkan kematian Ketua DPRD Sumut
Abdul Azis Angkat. Polda Sumut dinilai lalai karena meremehkan demontrasi yang
berlangsung saat itu. Akibat dari peristiwa ini Kapolda Sumut Irjen Nanan Sukarna,
Kapoltabes Medan Kombes Anton Suhartono, Direktur Intel Polda Sumut dan Kapolsek
Medan Baru serta Kasat Intel Poltabes dicopot dari jabatannya.
Dari berbagai kasus dan peristiwa diatas, mungkin peristiwa yang paling mencoreng muka
institusi intelijen ialah tarian Cakalele dihadapan Presiden ketika Pembukaan Hari Keluarga
Nasional ke XIV di Ambon, Maluku, 29 Juni 2007. Masuknya 28 orang penari cakalele yang
hampir saja membentangkan bendera RMS dihadapan presiden memang suatu peristiwa
luar biasa. Lebih-lebih mereka tidak masuk dalam daftar acara. Sekalipun tidak ada ancaman
serius dari para penari yang dilengkapi dengan senjata kayu peraga, namun hal ini
menunjukkan lalainya intelijen mendeteksi peristiwa tersebut atau spekulasi yang lain yang
berkembang bahwa “ada yang memberi jalan” pada para penari cakelele untuk tampil.
Buruknya koordinasi bagian acara dan bagian pengamanan diakui oleh Letjen. Agustadi
Sasongko selaku sekretaris kementerian yang juga anggota tim investigasi peristiwa itu
202
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
(www.detik.com, 4 Juli 2007)
Peristiwa tari Cakalee diatas menimbulkan berapa pertanyaan:
Apakah komunitas intelijen telah melakukan pengumpulan informasi, analisis, kontra
intelejen dan operasi rahasia yang profesional?; Apakah telah ada produk intelijen
sebelumnya yang bersifat koheren, tidak ambigu dan telah melalui uji validitas dan
reliabilitas antar dinas intelijen?; Apakah telah terbentuk saluran komunikasi yang sehat
diantara komunitas intelijen maupun dengan satuan keamanan lainnya?
Sepertinya problem atas tiga pertanyaan itu yang tidak terjawab sempurna hingga terjadi
peristiwa itu.
Dibawah ini penulis sertakan sejumlah kasus dan peristiwa yang mengindentifikasikan kerjakerja intelijen yang mendapat sorotan dari masyarakat:
Kerja Intelijen Polri Dalam Sorotan
No.
Peristiwa
Isue
Dimensi HAM
Keterangan
1.
Tari Cakalele
dihadapan
Presiden di
Ambon.
(29/06/07)
Politik
Hak politik dan Hak
kebebasan berekspresi
2.
Heru dan Harun
ditangkap
di
Tangerang
karena pasang
poster yang
berisikan rekam
jejak capres
cawapres.
7/7/09
Penyerangan
terhadap
AKKBB di
Monas.
(1/06/08)
Politik
kebebasan berpendapat
dan berekspresi
Kapolda Maluku Brigjen Pol
Gatot Guntur Setyawan dan
Panglima Kodam XVI Pattimura
Mayor Jendral Sudarmaidy
Subandi dicopot dari jabatannya
karena insiden ini.
Polisi menganggap Poster itu
berisikan hasutan. Namun karena
kurangnya bukti kedua orang
tersebut dilepas.
Ideologi
Hak atas rasa aman, hak
kebebasan berpendapat,
dan hak kebebasan
beragama/berkeyakinan
Demo
Protap/propinsi
Tapanuli, di
Medan. 3/2/09
politik
Hak atas rasa aman, hak
politik
3.
4.
Ketua Front Pembela Islam
(FPI) Habib Rizieq dan Panglima
Komando Laskar Islam
Munarman akhirnya divonis
masing-masing 1 tahun 6 bulan
penjara untuk kasus kekerasan di
Monas.
Pada saat terjadi Ketua DPRD
Sumut Abdul Azis Angkat
meninggal karena serangan
jantung. Polda Sumut dinilai lalai
karena meremehkan demontrasi
yang berlangsung saat itu. Akibat
dari peristiwa ini Kapolda Sumut
Irjen Nanan Sukarna, Kapoltabes
Medan Kombes Anton Suhartono,
Direktur Intel Polda Sumut dan
Kapolsek Medan Baru serta Kasat
Intel Poltabes.
203
Baintelkam: Beban Politik Intelijen Keamanan
204
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
205
Baintelkam: Beban Politik Intelijen Keamanan
206
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Sumber: dokumentasi KontraS dan Walhi
207
Baintelkam: Beban Politik Intelijen Keamanan
Pengawasan peredaran senjata yang juga menjadi konsenstrasi dari kerja intelejen
kepolisian masih terlihat banyak masalah. Menurut data yang dihimpun Indonesia Police
Watch (IPW), saat ini ada sekitar 2.000 senjata api (senpi) ilegal yang masih beredar di Medan.
Data kepemilikan senpi ilegal itu nomor dua terbesar di Indonesia. Di seluruh Indonesia
jumlahnya ada 10.000, dengan yang terbanyak di Jakarta sejumlah 3000-an senpi ilegal.
Pihak Mabes Polri menyatakan sudah melakukan penarikan senjata api yang dimiliki
kalangan sipil. Hanya saja, Mabes Polri tidak membantah adanya dugaan ribuan senjata api
ilegal masih beredar di masyarakat sipil. Para petinggi kepolisian akan segera merumuskan
cara yang efektif untuk menertibkan kepemilikan barang yang mestinya hanya dimiliki
aparat yang berwenang. Hal itu disampaikan Wakil Kepala Divisi (Wakadiv) Humas Mabes
Polri, Brigjen Pol. Sulistyo Ishak (lihat, www.jpnn.com, 7 April 2009).
Pada setiap peredaran senjata api illegal ini sangat terbuka keterlibatan aparat TNI/Polri,
dealer yang membeli dan menjual senjata, broker yang memfasilitasi kontak penjual dan
pembeli potensial serta orang-orang yang terkait dengan transportasi. Pada kasus
pembunuhan Nasruddin Zulkarnain, juga menunjukkan bahwa asal muasal peredaran
senjata api tersebut dari kalangan aparat sendiri, yaitu, anggota Brimob Polri dengan
perantara anggota TNI AL.
Data Kontras pada tahun 2000 s/d Juli 2006 menunjukkan peredaran senjata api ilegal ini
melibatkan saudara tua polisi, yaitu aparat TNI. Senjata illegal yang berhasil disita selama
periode itu sebanyak 308 pucuk dari beragam jenis dan 10 granat.
Tidak adanya kejelasan atas proses hukum pada kasus-kasus peredaran senjata ilegal ini,
membuat efek jera terhadap pelaku terasa minim. Sementara rasa aman masyarakat atas
tindak kekerasan dan kriminalitas yang menggunakan senjata api juga menjadi tidak
mendapat jaminan maksimal. Tentu soal ini tidak dapat dibebankan pada Polri semata, tetapi
TNI juga harus menunjukkan komitmen yang sama bagi menghentikan peredaran senjata
ilegal ini. Peredaran senjata illegal ini merupakan cermin rendahnya kontrol produksi,
penggunaan, dan peredaran senjata oleh instansi pertahanan dan keamanan negara.
Penutup
Kebutuhan informasi yang dihasilkan intelijen pada kerja kepolisian tentu bukanlah suatu
basa basi. Karena dalam kondisi masyarakat yang terus berkembang diperlukan bahan baku
pengambilan keputusan. Kecepatan, ketepatan dan manfaat informasi yang disajikan
intelijen harus menjadi dasar dari pimpinan Polri dalam mengambil keputusan.
Intelijen polri selalu dituntut untuk dapat mendeteksi dini setiap bahaya yang mengancam
keamanan dan ketertiban masyarakat. Namun, kerja polisi dalam negara demokratis
haruslah didasarkan pada hukum dan penghormatan hak asasi manusia.
Dalam situasi ini polisi diharapkan dapat menyimbangkan fungsi keadilan dan penjaga
keamanan. Dengan kata lain segala tindakan polisi termasuk intelijen harus dapat dipastikan
208
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
terselenggara bagi terciptanya rasa aman warga sekaligus negara, disisi lain memastikan
bahwa setiap warga negara mendapat perlakuan yang adil.
Saat ini penting bagi Polri untuk memastikan Peraturan Kapolri No. 8/2009 tentang
Implementasi Prinsip dan Standar Hak Asasi Manusia dalam Penyelenggaraan Tugas
Kepolisian Negara Republik Indonesia dipahami dan dijalankan secara konsisten oleh seluruh
jajaran kepolisian. Adanya Perkap ini berarti Polri mengakui bahwa norma-norma HAM
bukan merupakan hambatan bagi efektivitas kerja kepolisian dalam pemeliharaan
keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum, perlindungan, pengayoman, dan
pelayanan kepada masyarakat.Ini merupakan salah satu bentuk wujud komitmen internal
Polri terhadap reformasi sektor kepolisian.
Perkap ini bisa menjadi penutup episode gelap Polri lama yang menurut persepsi publik dan
didukung oleh hasil survei, identik dengan penyiksaan, korupsi, dan penyalahgunaan
kekuasaan yang lain.
Pada perkembangan demokratisasi yang berlangsung Polri termasuk intelijen didalamnya,
diharap tidak lagi alergi dengan segala pandangan berbeda yang muncul dalam dinamika
masyarakat. Polisi tidak boleh memberi tafsir sepihak atas dasar ancaman keamanan dan
ketertiban dengan mengebiri hak-hak politik, menyampaikan pendapat dan
beragama/berkeyakinan. Justru fungsi polri dan intelijen didalamnya haruslah memastikan
bahwa semua orang khususnya warga negara dapat mengekspresikan hak asasi dengan rasa
aman.
Perkap Kapolri diatas haruslah berkontribusi bagi perubahan paradigma polisi yang
meninggalkan sepenuhnya gaya kepolisian pada masa orde baru yang penuh kecurigaan
pada masyarakatnya.
Polri dan Baintelkam di era demokrasi saat ini harulah berperan sebagai pengawal dari nilainilai masyarakat sipil yang di telah dirumuskan dalam hak asasi manusia. Termasuk merubah
pendekatan dalam aktifitas penyelidikan, pengamanan dan penggalangan dengan
pendekatan kemanusiaan. Hal ini diharapkan akan memperkuat ikatan antara masyarakat
dan polisi sebagai mitra dalam menjaga kepentingan bersama yaitu, keamanan dan
ketertiban. Dalam konteks ini Polri harus selalu mendorong personilnya menjadi polisi yang
beradab yang meninggalkan pola-pola yang biadab. Guna menunjang kehadiran polisi yang
beradab itu antara lain, polisi harus benar-benar menjauhkan diri dari perilaku militeristik
yang mengedepankan kekerasan dengan terus melakukan pendekatan terhadap
masyarakat. Pendekatan terhadap masyarakat ini haruslah menjauhi pola polisi rahasia yang
mengabdi bagi kepentingan politik kekuasaan semata yang kerap berbeda dengan
kepentingan masyarakat. Polisi harus mengabdi kepada kepentingan masyarakat yang
demokratis sebagai pemilik kedaulatan.
Karena itu intelijen kepolisian haruslah fokus hanya pada kegiatan masyarakat yang diduga
melakukan kejahatan semata. Intelijen tidak boleh menginteli seseorang atas dasar SARA,
209
Baintelkam: Beban Politik Intelijen Keamanan
stigma sosial atas penampilan fisik atau gaya hidup seorang atau atas dasar perbedaan
pandangan politik.
Hal lain yang penting diperhatikan, bahwa semua kegiatan polri termasuk intelijen di
dalamnya harus didukung angggaran yang tersedia oleh negara. Bila terdapat sumbangan
dana masyarakat bagi kerja kepolisian, maka sumbangan itu haruslah dapat
dipertanggungjawaban dan secara transparan disampaikan kepada publik. Sebab bila Polri
membuka ruang bagi dana yang berasal dari masyarakat tanpa akuntabilitas dan
transparansi maka hal ini membuka ruang terjadinya korupsi, kolusi dan penyalahgunaan
jabatan/wewenang untuk kepentingan diluar hukum. <
Daftar Pustaka:
1. Mangatas Sitorus, Kinerja Intelijen Kepolisian, Koran Tempo, 5 Juli 2005
2. T. Hari Prihatono (penyunting) dkk, Keamanan Nasional: Kebutuhan Perspektif
Integratif versus Pembiaran Politik dan Kebijakan, Propatria, Juni 2007
3. Prof. DR. Awaloedin Djamin, MPA, Polri dan Intelijen, www.lcki.org, 2006
4. Aleksus Jemadu, dkk, Reformasi Intelijen, Pacivis, November 2005.
5. Jerome H. Skolnick & Jarnes J Fyfe, Above the Law, Cipta Manunggal, 2001.
6. Andi Widjajanto (ed), Menguak Tabir Intelijen Hitam Indonesia, Pacivis, Agustus
2006.
7. ABRI Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia, Manajemen Operasional Polri,
Keputusan Kapolri No. Pol. SKEP/187/IV/1989 tanggal 27 April 1989.
8. Kepolisian Republik Indonesia, Organisasi dan Tata Kerja Satuan-Satuan Organisasi
Polri Pada Tingkat Mabes, No. Pol: Kep/53/X/2002.
9. KontraS, Siaran Pers dan Data, www.kontras.org
10. Catatan-catatan intelijen yang belum dipublikasi hingga tulisan dibuat.
11. Walhi, Tabulisi Data Pelanggaran Hak Kebebasan Berpendapat dan Berkumpul,
2009.
12. Anneke Osse, Memahami Pemolisian, Amnesti Internasional, November 2008.
210
Merajut Perdamaian Dan Keadilan
MERAJUT PERDAMAIAN DAN KEADILAN
Aktor Keamanan Dalam Menjaga Perdamaian di Daerah Konflik:
Aceh dan Poso
Oslan Purba1
Pengantar
Selama lima tahun terakhir sejak SBY – JK memimpin pemerintahan, reformasi di sektor
keamanan terkesan mengalami stagnasi, tidak mengalami banyak kemajuan lagi. Sejak
tahun 2004 hingga akan berakhirnya masa pemerintahan SBY –JK 2 belum ada kebijakan
strategis yang berkaitan dengan pertahanan dan keamanan yang dilahirkan bahkan
kewajiban untuk menghapus bisnis TNI sampai batas waktu tahun 2009 ini sesuai dengan
amanat UU No.34 Tahun 2004 Tentang TNI masih belum terlihat jelas ”ujung” nya.
Reformasi di sektor keamanan merupakan salah satu indikator penting bagi perwujudan
demokrasi di Indonesia. Berbagai usaha yang dilakukan oleh beragam pihak terkesan
bagaikan ”menggarami air laut” dan kurang berarti apa-apa. Keberadaan UU No. 3 Tahun
2002 Tentang Pertahanan Negara dianggap tidak lagi dapat menaungi berbagai bentuk
ancaman, baik dari dalam maupun luar negeri, serta koordinasi antar kelembagaan. Dalam
UU No. 34 Tahun 2004 Tentang TNI lebih banyak mengatur esensi dari tugas TNI, dengan
memasukkan juga tugas perbantuan TNI kepada pengamanan dalam negeri, yang diemban
Polri. Sementara keberadaan Polri dengan UU No. 2 Tahun 2002 merasa sudah cukup dengan
kemandirian dan profesionalisme selepas pemisahan dengan TNI, menjadikan lembaga
pengelola Keamanan Dalam Negeri (Kamdagri) tersebut tidak tersentuh pengawasan.
Dengan kedudukan langsung di bawah presiden, Polri memposisikan diri sebagai lembaga
yang memproduksi kebijakan, dan operasional sekaligus, suatu kondisi yang tidak tepat bagi
tata pemerintahan yang baik (good governance).3
Reformasi sektor keamanan yang terus didorong oleh masyarakat sipil berhadapan dengan
konstalasi politik yang seringkali berubah-ubah, berbagai kritik, masukan dan dorongan
(preasure) dari kalangan masyarakat sipil yang disampaikan kepada DPR dan Pemerintahan
tidak membuat negara mengambil langkah-langkah yang serius dan berkelanjutan bahkan
mengklaim bahwa reformasi di sektor keamanan terutama yang berkaitan dengan TNI dan
Polri telah berjalan baik.4 Sikap-sikap yang resisten serta upaya menolak ”perubahan” dari
1
Oslan Purba, adalah Sekretaris Jenderal Federasi Kontras.
2 Akan berakhir pada Oktober 2009, walaupun ada kemungkinan SBY atau JK terpilih kembali sebagai Presiden
RI dalam Pemilu Presiden pada tanggal 8 Juli 2009.
3 Muradi Clacrk; TNI & POLRI: Analisis Tentang Penataan Kelembagaan Politik dalam SSR di Indonesia; Police &
Military Studies - International & National Issues, http://www.muradi.wordpress.com/
SBY menyampaikan pujiannya atas keberhasilan reformasi TNI pada perayaan HUT TNI 5 Oktober 2008 di Lanal
TNI AL Tanjung Perak di Surabaya. Pada kesempatan yang berbeda Presiden meminta TNI agar tetap bersikap
netral dalam Pemilu 2009 setelah SBY mendengar adanya isu ABS (asal bukan presiden yang berawalan S)
4
211
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
kalangan TNI dan Polri masih terlihat dengan jelas misalnya; dengan penolakan pengambil
alihan koperasi-koperasi yang dikelola oleh TNI dalam konteks penghapusan bisnis TNI,5 tarik
ulur dalam persoalan penyusunan Undang-undang terkait penataan TNI dan Polri, bahkan
yang terakhir adalah usaha yang serius dari Dephan untuk ”menggolkan” RUU Rahasia Negara
yang mengesankan keinginan yang kuat untuk menjadikan TNI sebagai institusi yang
tertutup dan tidak dapat disentuh.6 Sementara pada institusi Polri kita melihat bagaimana
sikap Polri yang resisten terhadap desakan agar Kepolisian RI berada di bawah Departemen
Dalam Negeri atau Departemen Hukum dan HAM.7 Bahkan seringkali antara TNI dan Polri
berkompetisi untuk mempertahankan posisi politik dan previlage terutama terkait dengan
“perebutan” anggaran dan peran dalam pengelolaan keamanan dalam negeri.
Sekalipun oleh berbagai pihak 8 reformasi sektor keamanan dianggap telah berhasil dengan
melihat beberapa regulasi yang terkait dengan pengaturan institusi keamanan,9 namun
proses pembangunan Postur TNI dan Polri yang kuat, masih menyisakan berbagai persoalan.
Terdapat dua persoalan utama yaitu; pertama, tata hukum yang tidak lengkap dan tumpang
tindih, akibatnya berbagai penanganan keamanan dalam negeri tak pernah tuntas karena
adanya grey area pembagian tugas antara pertahanan dan keamanan. Kedua, keberhasilan
pembangunan landasan hukum ini sangat terkait dengan visi politik dan transformasi militer
yang dimiliki sipil, bagaimana pemimpin sipil mampu membangun militer yang profesional
dalam tatanan demokratis. Faktanya, sampai hari ini, ketidak-sepakatan di kalangan
pemimpin sipil tentang konsep keamanan negara menjadi sebab dari inkonsistensinya
regulasi yang ada. 10
5 Padahal primer-primer koperasi TNI maupun Polri inilah yang selama ini seringkali menjadi ”tameng”, becking
dan banyak melakukan bisnis-bisnis ilegal. Lihat Laporan Penelitian Bisnis Militer di Poso-Sulawesi Tengah dan
Bojonegoro, oleh KontraS, Januari – Maret 2004.
6 Menhan mendesak DPR agar dapat menyelesaikan pembahasan RUU Rahasia Negara sebelum berakhirnya
masa jabatan DPR periode 2004 – 2009 pada Oktober 2009 yang akan datang. Lihat Detik News, Menhan: RUU
B e b a s I n fo r m a s i & R a h a s i a N e g a r a Ta k B e r t a b r a k a n , J u m a t , 2 2 / 1 2 / 2 0 0 6 1 1 : 3 1 W I B,
http://www.detik.com/detiknews/indeks/ menhan-ruu-bebas-informasi-rahasia-negara-tak-bertabrakan.htm
7 Jendral Sutanto pada saat menjabat sebagai Kapolri menyatakan bahwa tuntutan reformasi salah satunya
adalah memisahkan Polri dengan TNI dan tuntutan reformasi itu telah dipenuhi, itu menandakan bahwa
reformasi telah berhasil. Pernyataan ini berusaha menepis tuntutan berbagai kalangan agar TNI berada di
bawah Departemen Dalam Negeri. Lihat Athar; Kubur Reformasi Bila Polisi Berada di Bawah Departemen;
http://www.politikindonesia.com ,
8 Kalangan DPR, Pemerintah, Akademisi, LSM baik nasional maupun internasional
9 Padahal menurut penulis dan Jaringan Masyarakat Sipil Untuk Reformasi Sektor Keamanan masih terdapat
kekurangan-kekurangan dalam hal regulasi yang telah dilahirkan oleh negara terkait dengan RSK. Semisal
dalam undang-undang TNI No.34/2004 yang belum meletakkan Panglima TNI di bawah Departemen
Pertahanan, Belum diatur juga secara baik tentang kesejahteraan prajurit, demikian juga halnya dengan UU
Kepolisian No.2/2002 yang masih meletakkan Polisi langsung berada di bawah Presiden.
10 Ketidak sepakatan itu juga dapat dipandang sebagai tarik menarik kepentingan politik dari kelompokkelompok politik yang tentu saja berkolaborasi dengan kalangan militer untuk mempertahankan keuntungan
ekonomi politik yang selama orde baru diperoleh utamanya oleh kelompok lama sementara kelompokkelompok yang memperjuangakan reformasi di sektor keamanan belum mampu mendapatkan dukungan
politik yang signifikan dengan kemampuan politik yang juga masih belum mumpuni.
11 Oslan Purba dan Mufti Maakarim A; Critical Review; Peraturan Presiden No. 7/2008 Tentang Kebijakan Umum
Pertahanan Negara; IDSPS, Jakarta 2008.
212
Merajut Perdamaian Dan Keadilan
Penataan ulang sistem pertahanan dan keamanan yang sedang dilakukan saat ini menuntut
adanya suatu pemahaman komprehensif, yang bukan saja pada tataran instrumen payung
hukum, tetapi juga pada berbagai instrumen struktur, kultur dan sistem yang akan
menopang implementasi. Mekanisme semacam ini mensyaratkan adanya pembedaan
antara institusi-institusi yang memegang tanggung jawab politik dengan institusi-institusi
yang memegang tanggungjawab operasional. Oleh karena itu, implementasi sistem
pertahanan dan keamanan memerlukan dukungan organisasi dan birokrasi pemerintahan
yang demokratis, efektif dan efisien agar dapat memberikan batasan secara tepat mengenai
kewenangan dan tanggungjawab setiap institusi atau aktor yang terlibat. 11
Selain itu, pada tataran implementasi yaitu pelaksanaan penyelenggaraan pertahanan dan
keamanan perlu dilakukan pengawasan yang tepat, namun dalam pelaksanaannya belum
terlihat perubahan yang signifikan. Reformasi sama sekali belum menyentuh ke dalam tubuh
TNI dan Polri sehingga kultur kekerasan masih dominan ketimbang profesionalisme dan
good governance, sehingga aksi-aksi kekerasan masih dirasakan oleh rakyat. Belum terlihat
korelasi yang positif antara perubahan legislasi, kebijakan institusional di lingkungan TNI dan
Polri dengan penurunan angka kekerasan dan pelanggaran HAM.12 Bagaimana korelasi
antara perubahan regulasi di level makro dengan implementasi penyelenggaraan keamanan
yang terjadi di tengah-tengah masyarakat?. Kasus-kasus kekerasan dan penyalahgunaan
kekuasaan (abuse of power) yang dilakukan secara langsung maupun tidak langsung oleh
institusi keamanan masih menjadi trend hampir di seluruh daerah yang ditandai dengan
berulangnya kekerasan tersebut sebagai efek dari tidak berlangsungnya proses hukum yang
memadai.
Konflik Aceh; Memadamkan Bara Dalam Sekam
Gelombang kekerasan yang terjadi di Aceh disebabkan karena Indonesia memiliki struktur
negara yang lemah (weak state), kebijakan politik yang diambil terkondisikan oleh instabilitas
politik dan dominasi kelompok lama, krisis legitimasi, lemahnya identitas nasional, tidak
berfungsinya institusi sosial politik, kemiskinan ekonomi, dan sangat rentan terhadap
tekanan-tekanan eksternal.13 Praktek penyelenggaraan negara yang korup dan represif
selama pemerintahan Orde Baru memberikan sumbangan terbesar melemahkan “nation
building” selain kepentingan global yang terus-menerus mengeruk keuntungan ekonomi
melalui dukungan pemerintahan yang fasis dan militeristik.
Akomodasi politik untuk mengelola konflik yang terjadi di Aceh menjadi langkah yang
12 Tumbuhnya profesionalisme
institusi-institusi keamanan merupakan klaim sepihak yang tidak berbanding
lurus dengan fakta-fakta kekerasan dan prilaku yang menyimpang dari institusi keamanan terutama di daerah
konflik. Lihat Mufti Makaarim A dan S Yunanto; “Efektifitas Strategi Organisasi Masyarakat Sipil; Dalam Advokasi
Reformasi Sektor Keamanan di Indonesia 1998 – 2006”, IDSPS, 2008; Hal:83
13 Hal ini membuat elit politik terus menerus berada dalam process of crisis atau yang lebih di kenal dengan the
politics of survival.
213
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
penting, hal ini tercermin dari perjanjian damai antara RI dan GAM.14 Perjanjian-perjanjian
damai ini telah dirintis sejak lama, sebelumnya berbagai inisiatif perdamaian gagal mencapai
kata sepakat, sampai pada perjanjian Helsinki belum ada perjanjian yang memuaskan ke dua
belah pihak. Pasca bencana tsunami, tepatnya pada tanggal 15 Agustus 2005 kedua belah
pihak yaitu GAM dan RI ”dipaksa” berunding oleh dunia internasional sehingga
menghasilkan kesepakatan damai yang menjadi cikal bakal perdamaian yang lebih
langgeng di Aceh yang menghantarkan rakyat Aceh menjauh dari kekerasan dengan lahirnya
MoU Helsinki.15
Perjanjian Damai di Aceh
No
1.
2.
3.
Tahun
1999
2003
2005
Perjanjian
JU (Joint Understanding)
CoHa (Cessation of Hostilities)
MoU (Memorandum of Understanding) Helsinki
Sumber: KontraS Aceh 2007
Pemerintah RI dan GAM menegaskan komitmen mereka untuk penyelesaian konflik Aceh
secara damai, menyeluruh, berkelanjutan dan bermartabat bagi semua pihak. Para pihak
bertekad untuk menciptakan kondisi sehingga pemerintahan rakyat Aceh dapat diwujudkan
melalui suatu proses yang demokratis dan adil dalam bangunan negara Republik Indonesia.
Para pihak sangat yakin bahwa hanya penyelesaian damai yang bisa memungkinkan
pembangunan kembali Aceh pasca bencana Tsunami (26 Desember 2004) dapat mencapai
kemajuan dan keberhasilan16 setelah didera konflik yang berkepanjangan yang melahirkan
korban jiwa yang jumlahnya mencapai ribuan orang. Salah satu indikator keefektifan
perjanjian damai adalah penghentian kekerasan dan menurunnya insiden pelanggaran HAM
secara drastis, baik dari sisi jumlah maupun kualitasnya dan terjadinya perubahan yang
signifikan terhadap kondisi sosial dan politik di Aceh.17
14
Bahkan pemerintah sempat menerapkan darurat militer di Aceh pada tahun 2003 melalui Keppres No.
28/2003 tentang pemberlakuan status daerah militer di propinsi NAD. Dasar-dasar yang menjadi pertimbangan
penerapan Keppres tersebut adalah: pertama kegagalan dialog damai antara Pemerintah dengan GAM; dan
kedua meningkatnya tindakan kekerasan bersenjata oleh GAM yang dinilai mengarah kepada bahaya terorisme
(Lihat Keppres No.28/2003).
15 Sebagaimana yang tertuang dalam nota kesepahaman RI-GAM bahwa hanya dengan penyelesaian damai
atas konflik yang memungkinkan pembangunan kembali Aceh pasca tsunami tanggal 26 Desember 2004. Dari
sisi ini, tsunami dipandang menjadi salah satu pemicu perjanjian Helsinki digelar. Lihat Laporan HAM 2005
KontraS; Penegakkan Hukum dan HAM Masih Gelap, KontraS, Jakarta, 2006.
16 Nota Kesepahaman Pemerintah RI-GAM di Helsinki/MoU Helsinki.
17 Tim Koalisi Pengungkapan Kebenaran (KPK) Aceh; Tawaran Model Penyelesaian Pelanggaran HAM berat di
Aceh; 2007
214
Merajut Perdamaian Dan Keadilan
Setelah penandatangan MoU, serta lahirnya UU No. 11/2006 tentang Pemerintahan Aceh,
kondisi di Aceh semestinya kondusif serta adanya efektifitas penegakkan hukum dan HAM.
Namun empat tahun pasca perjanjian Helsinki, masih terjadi berbagai tindak kekerasan dan
masih ditemukan beberapa permasalahan yang dapat merusak perdamaian. Kondisi di Aceh
secara politik penuh gairah tetapi mudah bergejolak. Ada beberapa hal yang menjadi
penyebab kekhawatiran tersebut seiring dengan berjalannya Pemilu 2009.18
1. Kecurigaan Yang Belum Berakhir
Eskalasi kekerasan di Aceh akhir-akhir ini terus meningkat tajam di Aceh. Selama enam bulan
terakhir saja terdapat 36 kejadian yang dilaporkan.19 Dalam tiga bulan terakhir ini tercatat 16
orang meninggal, 47 cedera dan 17 gedung atau kendaraan mengalami kerusakan. Sebagian
korban yang tercatat merupakan korban tindakan kriminalitas yang terus meningkat di Aceh
dan sebagian lagi merupakan korban-korban kekerasan yang di sinyalir sebagai akibat
meningkatnya eskalasi konflik menjelang Pemilu 2009. Terjadi gelombang baru insiden
peledakan granat, pembakaran serta serangan lainnya terhadap partai-partai politik (13
kasus), dan tiga atau empat anggota Partai Aceh (PA) dan Komite Peralihan Aceh (KPA)
dieksekusi di awal bulan Februari 2009.
Peristiwa ini meningkatkan ketegangan di antara kedua organisasi tersebut dengan pihak
aparat keamanan sehingga mencapai tingkat yang mengkhawatirkan dan menimbulkan
keprihatinan akan terjadinya eskalasi dalam masa menjelang pemilihan umum. Di tengahtengah persoalan ini, Tentara Nasional Indonesia (TNI) secara umum bersikap profesional,
meskipun rasa saling tidak percaya antara TNI dengan GAM masih tetap dalam. Walaupun
beberapa LSM HAM di Aceh seperti KontraS Aceh, LBH Banda Aceh dan Koalisi NGO HAM
Aceh telah mencatat dan melaporkan beberapa kasus mengenai berbagai kasus kekerasan
dan aksi kriminalitas yang dilakukan oleh aparat keamanan, namun proses hukum masih
terkesan lamban. Walaupun begitu, ada kekhawatiran yang meluas mengenai operasi
intelijen oleh Indonesia termasuk dukungan terhadap mantan “front anti-separatis” dan
kelompok lain yang dianggap mendukung agenda nasionalis. Sejumlah pejabat intel, yang
yakin bahwa GAM belum menanggalkan agenda mereka untuk pisah dari Indonesia, ingin
mencegah GAM memenangkan kontrol dalam DPRD tahun 2009.20
Tekanan semakin kuat dari aktifis HAM dan masyarakat korban di Aceh untuk merealisasikan
amanat UU PA yang didukung oleh gubernur untuk membentuk sebuah komisi kebenaran
dan rekonsiliasi serta mengusut kejahatan di masa lalu. Masalahnya sendiri sangat sensitif
karena TNI meyakini bahwa komisi tersebut akan berat sebelah, bertekad untuk mengadili
TNI sementara para mantan GAM akan menikmati amnesti paska MoU Helsinki. Tetapi GAM
18
yang diikuti 44 partai (enam lokal, 38 nasional) yang bersaing, TNI khawatir Partai Aceh (yaitu partai milik
GAM) akan menang dan menguasai DPR Aceh (DPRA) kemudian menentang otoritas Jakarta. Partai Aceh
khawatir Jakarta akan melakukan intervensi secara terbuka maupun diam-diam, dan pada saat yang sama
partai-partai kecil khawatir Partai Aceh akan melakukan intimidasi. Lihat Update Briefing ICG; Indonesia;
Kekhawatiran Pra Pemilu di Aceh; Asia Briefing N°81, Jakarta/Brussels, 9 September 2008
19 Laporan Bank Dunia; Laporan Pemantauan Konflik di Aceh, Desember 1, 2008 – 28 Februari, 2009
20 International Crisis Group; Asian Report 139; Aceh: Komplikasi Pasca Konflik; 4 Oktober 2007
215
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
mungkin juga akan enggan perbuatannya diungkap, dan memastikan adanya sikap netral
akan menjadi sebuah tantangan. Meskipun tekanan paling banyak datang dari LSM dan
masyarakat korban, namun tuntutan terhadap keadilan juga cukup tinggi di daerah-daerah
dan jika tuntutan ini tidak ditanggapi, ia bisa menjadi benih konflik dimasa mendatang.21
Namun dukungan Gubernur Irwandi Yusuf cenderung berpandangan bahwa KKR hanya
ditujukan sebagai mekanisme rekonsiliasi saja.22 Selain persoalan perbedaan pandangan
mengenai tujuan KKR, perkembangan terakhir, pemerintah pusat dan pemerintah Aceh
masih saling “lempar bola” tentang siapa yang paling berwenang atau berkewajiban untuk
mewujudkan amanah Undang-undang tersebut. Semua persoalan ini dianggap oleh
beberapa orang tidak lebih sebagai akibat sampingan yang timbul dari sebuah transisi politik
dan dari proses transformasi yang berjalan dengan luar biasa cepat dan cukup damai dari
kelompok gerilyawan menjadi pemerintah.
Konflik bersenjata antara TNI dan GAM sudah berakhir untuk saat ini, dan bentrokan senjata
yang dikhawatirkan akan terjadi antara GAM dan milisi yang disokong oleh TNI belum sampai
terwujud. Tidak ada yang tewas dalam bentrokan, dan tidak ada yang hilang akibat
pandangan politiknya. Ini merupakan prestasi yang sangat besar. Tapi perdamaian bukannya
tidak bisa berubah lagi, apakah perdamaian akan terus bertahan, sebagian akan tergantung
pada bagaimana GAM menggunakan kekuasaan dan kekayaannya yang baru, bagaimana
MoU dan Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA) diterapkan dan apa yang terjadi di
pemilihan DPRA. Sementara itu, pejabat GAM perlu memusatkan perhatian pada strategi
jangka panjang untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat Aceh, dan institusi-institusi
keamanan di Jakarta perlu menahan diri dari kecenderungan mereka untuk turut campur.
Kotak 1.
Kronologi penyerangan terhadap partai politik (pembakaran, granat, senjata):
g
9 Sept 2008, Lamreung, di luar Banda Aceh. Sebuah granat meledak di depan
rumah Muzzakir Manaf, Ketua KPA dan Partai Aceh (PA).
g
15 Sept 2008, Lhokseumawe. Pembakaran sebuah kantor PA.
g
16 Sept 2008. Langsa. Pembakaran sebuah kantor PA.
g
17 Sept 2008, Bireuen. Sebuah granat dilempar ke dalam sebuah kantor PA.
g
19 Sept 2008, Aceh Utara. Sebuah granat lengkap dengan alat detonatornya
ditemukan di depan sebuah kantor PA.
g
20 Sept 2008, Aceh Tenggara. Pembakaran sebuah kantor PA..
g
21 Sept 2008, Bireuen. Pembakaran sebuah kantor Partai SIRA .
g
11 Okt 2008, Langsa. Pembakaran sebuah kantor PA.
g
23 Okt 2008, Banda Aceh. Ledakan granat di kantor pusat propinsi KPA.
21 Maimun Saleh, Belum Ada Jaminan Keadilan; Laporan Situasi Politik dan HAM Aceh 2007; KontraS Aceh; Maret
2008.
22 Serambi Indonesia, 8 September 2007.
216
Merajut Perdamaian Dan Keadilan
5 Januari 2009, Aceh Tenggara. Pembakaran kantor daerah tingkat sagoe PA di
Lawe Sumur dan Badar.
g
13 Jan 2009, Banda Aceh. Ledakan sebuah granat di kantor pusat propinsi
Partai Aceh.
g
16 Jan 2009, Banda Aceh. Ledakan sebuah granat di bawah sebuah mobil
yang mengenakan warna PA di depan hotel UKM di Peunayong (mobil milik
Ayah Barita, seorang kader PA dari Aceh Utara).
g
21 Jan 2009, Bukit, Bener Meriah. Pembakaran sebuah mobil operasional KPA
di sebelah kantor KPA.
g
22 Jan 2009, Bireuen. Ledakan sebuah granat di kantor Golkar Kabupaten.
g
6 Jan 2009, Aceh Utara. Penyerang yang tak dikenal bersenjatakan senapan
berlaras panjang menembakkan peluru ke kantor PA kabupaten.
g
26 Januari 2009, Lhokseumawe. Pembakaran sebuah peti besi dan sebuah
kantor PAAS.
g
1 Feb 2009, Sabang. Sebuah alat peledak ditemukan di bawah mobil Walikota
Sabang (seorang anggota PA?)
g
4 Feb 2009, Langsa. Ledakan sebuah granat di kantor PA kabupaten.
g
20 Feb 2009, Aceh Tengah. Ledakan sebuah granat di salah satu pos
kampanye PA.
g
25 Feb 2009, Sabang. Pembakaran kantor sebuah koperasi yang dikelola oleh
KPA.
g
27 Februari 2009, Aceh Barat. Pembakaran kantor PA.
g
Sumber: Program Konflik dan Pembangunan (Conflict and Development Program)
Bank Dunia Indonesia
2. TNI dan Polri di Aceh; Alat Kontrol Negara Terhadap Aceh.
Kekhawatiran utama yang dirasakan di Aceh adalah memburuknya hubungan antara PA dan
KPA dengan pihak keamanan, yang terlihat makin berseberangan sejak awal masa pemilihan
umum.23 KPA dan PA menuduh polisi lemah dan kurang berani dalam menginvestigasi kasuskasus kekerasan politik yang dialami PA. Mereka juga telah berulang kali menyiratkan
kemungkinan keterlibatan militer (TNI) dalam berbagai aksi kekerasan atau mendukung para
pelakunya, mengadu-domba sesama anggota partai dan menimbulkan ketidakstabilan.24 Di
sisi lain, pihak militer meningkatkan kehadirannya di lapangan, dan semakin gencar
mengingatkan masyarakat akan ancaman disintegrasi yang dilakukan oleh dominasi sebuah
23
Kampanye tertutup berawal pada tanggal 12 Juli 2008, bersamaan dengan penggantian Mayor Jendral
Supiadin oleh Mayor Jendral Soenarko sebagai Pangdam Iskandar Muda pada tanggal 14 Juli. Pandangan
Soenarko, dengan berlatarbelakang Kopassus, terhadap PA/KPA terlihat lebih konservatif
24 Pihak militer dengan tegas membantah tuduhan, meskipun terkadang dengan cara yang agak aneh: pada
hari setelah terjadi peledakan granat di Kantor Pusat PA di Banda Aceh pada tanggal 13 Januari, juru bicara TNI,
dalam upaya mencegah tuduhan, mengeluarkan pernyataan bahwa angkatan bersenjata tidak pernah
menerima laporan bahwa personilnya turut terlibat.
217
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
partai lokal tertentu di pesisir timur melalui cara-cara kekerasan dan intimidasi.25 Dengan
dukungan sejumlah partai nasional, TNI juga secara agresif meminta peran yang lebih besar
bagi angkatan bersenjata dalam memantau pemilihan umum. Di bulan Januari, Letkol TNI
Yusep Sudrajat, Dandim Aceh Utara, mengumumkan bahwa pasukan akan berjaga di Tempat
Pemungutan Suara (TPS) “atas permintaan masyarakat”, dan menyarankan agar TPS
dikelompokkan dalam sejumlah lokasi yang terbatas agar lebih mudah dipantau.26 Pada
tanggal 3 Februari 2009, Danrem Lilawangsa mengumumkan bahwa 5.000 pasukan akan
ditugaskan ke seluruh propinsi untuk membantu pihak polisi dalam memantau pemilihan
umum.
Ketegangan antara GAM dan pihak militer sering mengakibatkan bentrokan-bentrokan di
lapangan27 dan perang pernyataan di tingkat elit. Pada sore hari pada tanggal 12 Februari
2009 pada saat kabar terbunuhnya kader PA Benu mulai menyebar, Gubernur Irwandi Yusuf
menginterupsi rapat dengan delegasi dari Menkopolhukan untuk melaporkan bahwa
sekelompok anggota milisi anti-separatis sedang melakukan sweeping dan menahan
pendukung PA di Timang Gajah, Bener Meriah.28 PA juga melaporkan dua kasus pemukulan
oleh TNI di kecamatan yang sama sehari sebelumnya. Dalam sebuah insiden, seorang
anggota KPA diduga telah dianiaya dengan sepucuk senjata dan dipaksa mengaku bahwa
seorang calon legislatif PA memiliki senjata api. Laporan adanya mobilisasi pihak milisi dan
tuduhan. terhadap TNI menimbulkan reaksi yang sangat keras dari elit militer baik di tingkat
daerah maupun di tingkat nasional. Kemungkinan adanya insiden lanjutan antara GAM dan
unsur milisi sangat mengkhawatirkan. Pada tanggal 1 Maret 2008, pembantaian lima
anggota KPA oleh massa setempat yang dimobilisasi oleh beberapa tokoh milisi di Atu
Lintang, Aceh Tengah,29 hingga saat ini masih menjadi ujian yang paling berat terhadap daya
tahan proses perdamaian. Pengendalian diri serta profesionalisme yang ditunjukkan saat itu
oleh KPA dan aparat keamanan dapat mencegah terjadinya eskalasi.
Sampai menjelang Pemilu Legislatif 2009 ketegangan antara kedua pihak mencapai titik
paling panas, tumpahannya akan lebih sulit untuk ditahan apabila insiden serupa kembali
terjadi pada saat Pilpres pada bulan Juli 2009. Untuk menghindari terjadinya insiden,
perubahan yang drastis diperlukan dalam perilaku baik dari GAM maupun dari aparat
25 Sebagai contoh, lihat pernyataan dari Letnan Kolonel Yusep Sudrajat, Analisa tanggal 12 Feburari 2009.
26 Beliau menambahkan bahwa “kalau ada partai yang keberatan TNI berada di Ring I, partai itu patut dicurigai
akan berlaku curang dalam pemilu nanti”, Serambi, 12 Januari 2009. Peraturan hanya mengizinkan TNI untuk
berjaga di Ring III (satu jarak dari TPS), bukan di Ring I (di depan TPS)
27 Enam insiden yang melibatkan kekerasan antara PA/KPA dan TNI telah dilaporkan dalam bulan Januari dan
Februari, termasuk bentrokan mengenai masalah spanduk dan kasus pengeroyokan anggota KPA/PA oleh
anggota TNI. Pada tanggal 22 Februari, juru bicara PA, Adnan Beuransah mengeluh bahwa sejumlah kader PA
telah dipanggil oleh Koramil di Blangpidie, dan ditanyakan mengenai kegiatan politiknya.
28 Sebuah kantor TPA telah diserang sebelumnya di kecamatan tersebut pada tanggal 21 Januari 2009.
29 TNI senantiasa menolak penggunaan kata “milisi” dan menyatakan bahwa kelompok sipil bersenjata yang
melawan GAM selama konflik terbentuk secara spontan oleh masyarakat tanpa dukungan apapun dari
angkatan bersenjata. Kepala Staf TNI AD, Jendral Agustadi Sasongko Purnama, menyarankan agar Gubernur
Irwandi “membaca lebih banyak buku lagi”, Rakyat Aceh, 18 Februari 2009
218
Merajut Perdamaian Dan Keadilan
keamanan. KPA dan PA harus memperlihatkan kesiapan untuk meningkatkan disiplin dan
akuntabilitas. Pihak militer harus menunjukkan lebih banyak lagi pengendalian diri dan tidak
melampaui mandatnya sebagaimana digariskan oleh Undang-Undang dan MoU. 30
Pada akhirnya, peran polisi dalam penegakan hukum dan ketertiban perlu dipertegas
kembali. Di satu sisi, polisi diremehkan oleh tuduhan bahwa polisi memiliki kapasitas yang
rendah dan kurang berani menginvestigasi kasus, sedangkan di sisi lain perannya juga
diremehkan oleh upaya pihak militer untuk mendapatkan peran yang lebih besar dalam
mengamankan pemilihan umum. Pengungkapan hasil-hasil penyelidikan kasus-kasus
kekerasan politik dan pembunuhan dan, serta tindak lanjut yang efisien dalam penanganan
kasus-kasus intimidasi yang dilaporkan oleh Panwaslu dalam pelaksaanaan Pemilu 2009 di
Aceh bisa membantu membangun kembali kepercayaan terhadap polisi.
Namun demikian, sejumlah perkembangan positif telah meningkatkan harapan bahwa
keadaan akan membaik. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, selama kunjungannya ke
Aceh pada tanggal 23 dan 24 Februari 2009 yang lalu, menegaskan kembali bahwa “damai di
Aceh sudah final”, sebuah pesan yang kuat kepada semua pihak bahwa tidak akan ada
toleransi terhadap upaya yang dapat membahayakan perdamaian, termasuk propaganda
mengenai referendum kemerdekaan atau intervensi dari pihak militer. Muzzakir Manaf, ketua
KPA dan PA, dan Malik Mahmud, mantan Perdana Menteri GAM, telah menyatakan komitmen
mereka terhadap keutuhan Republik Indonesia dan menolak kemungkinan adanya
referendum.31 Pengangkatan Irjen. (Pol.) Adityawarman sebagai Kapolda Aceh yang baru
pada tanggal 21 Februari 2009 juga cukup menjanjikan.32 Terakhir, pihak militer
menunjukkan keinginannya untuk menegakkan prinsip netralitas. Pada tanggal 6 Maret,
Danramil Kecamatan Simpang Keramat, Aceh Utara, dicopot dari jabatannya karena telah
memerintahkan pasukannya untuk menurunkan spanduk PA.
30 TNI terikat oleh Undang-Undang Dasar 1945 Indonesia untuk bersikap netral secara politis. Ketentuan 4.11
MoU membatasi peran TNI di Aceh dalam hal pertahanan eksternal. TNI menyatakan bahwa intervensinya
dibenarkan oleh potensi dinamika pemilihan umum lokal yang membahayakan integritas nasional. “Tugas
pokok TNI tidak hanya sebatas alat pertahanan nasional, namun di dalam penjabarannya juga mencakup
banyak hal, terutama mengawal setiap kebijakan pemerintah yang berpotensi menimbulkan rong-rongan
kepada Negara”, kata Letkol TNI Sudrajat, Serambi Indonesia, 25 Januari 2009.
31
Oleh beberapa pihak, ungkapan ini disampaikan oleh SBY setelah mendapatkan Partai Demokrat menjadi
pemenang pemilu di Aceh untuk tingkat nasional pada saat Pemilu Legislatif yang lalu. Deal politik antara KPA
dan PA dengan Partai demokrat diharapkan dapat mempererat relasi politik antara partai pemenang pemilu
yang memungkinkan terpeliharanya perdamaian. Namun sayangnya, kompromi politik ini sempat dilandasi
oleh serangan-serangan terhadap PA dan KPA terlebih dahulu.
32
Meskipun ada kemungkinan bahwa beliau akan menduduki jabatan tersebut untuk sementara, sambil
menunggu pengangkatan Kapolda yang tetap, Adityawarman memiliki latar belakang yang bagus dalam
mempertahankan stabilitas keamanan di Maluku, salah satu provinsi konflik lainnya di Indonesia
219
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Konflik Poso; Kekerasan Yang Terpelihara.
Sejak meletusnya peristiwa konflik kemanusiaan di Kabupaten Poso pada Desember 1998,
Provinsi Sulawesi Tengah memang kerap dilanda aksi-aksi kekerasan yang ironisnya
menunjukkan eskalasi yang meningkat tiap tahunnya, namun tidak sebanding dengan
penanganan oleh aparat keamanan yang ada, sekalipun dengan berbagai operasi yang
pernah digelar di daerah ini. Lebih jauh lagi, berbagai aksi-aksi kekerasan yang terjadi selama
ini, selalu dijawab dengan pola dan pendekatan keamanan yang salah bahkan cenderung
tidak menjawab persoalan yang terjadi.
Operasi Pemulihan Keamanan di Poso
Sejak 1998 – 2006
220
Merajut Perdamaian Dan Keadilan
Dibentuknya satuan-satuan tugas yang baru, seperti Komando Operasi dan Keamanan
(Koopskam) yang dibentuk pasca bom Maesa, Satuan Tugas (Satgas) Palu, Satgas Poso
terkesan berjalan di tempat. Pembentukan Polisi Resor (Polres) Poso menjadi Polres Khusus
juga belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Sementara itu, perpanjangan operasioperasi pemulihan keamanan di Poso tanpa diikuti dengan evaluasi menyeluruh atas operasi
sebelumnya. Aparat penegak hukum juga dinilai gagal membangun kepercayaan dari dua
komunitas masyarakat di Poso dalam hal penegakan hukum. Kritik terhadap kebijakan
perpanjangan operasi itu juga karena beberapa kasus justru aparat TNI/Polri menjadi pelaku
kekerasan berupa pemukulan, penembakan, pencurian/penjarahan dan kasus kekerasan
33 Haris Azhar dan Syamsul Alam Agus, Poso: Wilayah yang Dikonflikan (Jakarta/Palu, 2005)
221
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
terhadap perempuan, penangkapan sewenang-wenang disertai penyiksaan dan
stigmatisasi terorisme kepada warga.34
Eskalasi konflik di Poso pasca eksekusi Fabianus Tibo c.s semakin meluas merambah ke
Atambua, NTT, dan Sulawesi Barat. Pembakaran kantor DPRD dan Pengadilan Negeri di
Atambua dan Sulawesi Barat menjadi genderang perang baru bagi masing-masing
kelompok yang terlibat dalam konflik selama ini. Peningkatan konflik ini makin kentara saat
terjadi penembakan terhadap Pendeta Irianto Kongkoli Sekretaris Umum Majelis Sinode
Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) oleh orang yang tidak dikenal di Palu.35 Menariknya,
peristiwa tragis itu terjadi beberapa hari setelah para petinggi intelijen dari pusat yang
bertugas ke Sulawesi Tengah kembali ke Jakarta. 36
Kondisi tersebut mengisyaratkan bahwa konflik Poso memiliki beragam kepentingan, yang
menyulitkan pemerintah untuk menuntaskan permasalahan tersebut, penyelesaian konflik
Poso tidak tuntas meski ada Kesepakatan Damai Malino I dan Malino II dan berhenti begitu
penangkapan terhadap Tibo c.s. Padahal bila kita mengurai lebih dalam anatomi konflik di
Poso, aktornya tidak hanya Tibo c.s. Beberapa aktor di Poso yang bersembunyi pada institusi
keagamaan dan kemasyarakatan, masih bebas berkeliaran.37
Sejumlah deklarasi telah ditandatangani, juga sejumlah forum dialog dengan para elit,
pemuka masyarakat dan tokoh-tokoh agama juga telah digelar, namun hasilnya belum
menenteramkan warga Poso dari ancaman kekerasan yang sumbernya terkadang tak
terduga datangnya. Mengapa pertemuan itu menjadi tidak efektif untuk meredam konflik di
Poso? Jawabannya lagi-lagi karena tokoh-tokoh yang dilibatkan bukanlah aktor lapangan
yang terlibat langsung dalam persentuhan konflik antar warga di Poso. Dialog penting dan
juga menangkap DPO yang dipandang sebagai pemicu kekerasan, namun tanpa upaya
mencari akar masalah, sama artinya membiarkan masalah tak pernah selesai. Belum lagi soal
dampak ekonomi warga akibat konflik warga itu membuat ribuan warga Poso tiba-tiba
menjadi miskin, sementara perbaikan ekonomi tak jelas formulasi penyelesaiannya.38
34
Pada 2002 - Juni 2005, dari 166 kasus kriminal di kabupaten Poso, termasuk yang berkaitan dengan
kerusuhan, hanya 9 kasus yang ditingkatkan proses hukumnya ke kejaksaan dan pengadilan. Dari sisi keamanan
terlihat bahwa sepanjang tahun itu terjadi berbagai kasus kekerasan, diantaranya 36 kasus penembakan
misterius dan 32 kasus pengeboman. Sementara, akibat tindak kekerasan berupa penyiksaan dan perlakuan
kejam lainnya yang tidak manusiawi sepanjang 2002-2005, tercatat 79 orang menjadi korban hingga meninggal
dunia dan 207 orang luka-luka. Lihat Siaran Pers Bersama, KontraS, PBHI, LPSHAM Sulteng “Sesat piker
Perpanjangan Operasi Sintuwu Maroso”, 21 Juli 2005.
35 serta penembakan terhadap Mahdi yang dituduh sebagai penyebar aliran sesat di wilayah kelurahan Buluri
tepatnya di dusun Salena Kelurahan Buluri Kecamatan Palu Barat pada tanggal 5 April 2008.
36 Serta penembakan oleh aparat Brimob yang menewaskan simpatisan FPI. Lihat Thamrin Ely; Solusi Untuk
Poso; Pertemuan Malino 2002, Alumnus Program VSPD University of California Berkeley
37 Aji Kota Palu; Jalan Berliku Merajut Damai di Poso; 14 April 2007
38 idem
222
Merajut Perdamaian Dan Keadilan
Perjanjian Damai di Poso
223
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Padahal, tugas terbesar yang mestinya dikerjakan oleh Pemerintah Pusat dan Sulawesi
Tengah, khususnya pemerintah kabupaten Poso adalah merekatkan kembali rasa saling
percaya (trust building) akibat gesekan sosial yang berdampak pada terjadinya disharmoni
antar warga. Kalau ini belum tergarap secara serius, warga Poso yang multi etnik tak akan
pernah mendapatkan kedamaian dan hidup dengan trauma kekerasan. Yang tidak kalah
seriusnya adalah beragamnya kepentingan aparat keamanan, baik TNI maupun Polri yang
turut memperkeruh konflik, mulai dari sentimen antara angkatan darat dan Polri, hingga
keterlibatan oknum dari ketiga matra TNI dan Polri dalam mengambil keuntungan dari
konflik yang ada. Dan yang paling kentara adalah jasa pengamanan berbagai bisnis yang
dikelola, baik oleh swasta, maupun unit bisnis TNI maupun Polri sendiri. Disinyalir ada
simbiosis mutualisme antara kelompok yang bertikai dan aparat keamanan, menyangkut
soal ragam kepentingan tersebut.39
Konflik Poso yang tidak kunjung selesai menyebabkan publik mempertanyakan efektifitas
penegakkan hukum yang dilakukan oleh Polri, apalagi pengiriman pasukan Brimob dan
Densus 88 ke Sulawesi Tengah khususnya di Poso semakin banyak. Berbagai kasus yang
dilaporkan oleh aktifis HAM menyebutkan banyaknya aparat kepolisian yang terlibat
melakukan kekerasan dan menyebabkan tewasnya warga sipil semakin membenamkan citra
Polri di Poso. Bukan isu baru jika opini masyarakat Poso terhadap Polri tidak cukup baik. 40
Tugas pengamanan Polri di Poso merupakan bagian dari tugas Polri dalam rangka
terpeliharanya keamanan dalam negeri. Mengacu pada Keputusan Presiden (Kepres) No. 13
Tahun 2005 tentang Penyelesaian dan Pengamanan di Poso, yang terlibat melaksanakan
pengamanan memang tidak hanya Polri, melainkan juga TNI. Hal tersebut justru menjadikan
39 Poso Center; Eskalasi Konflik Poso; 2007
40 Sejak operasi penangkapan DPO dimulai sejak Oktober 2006, terhitung 28 orang meninggal dan luka-luka.
Namun di sisi lain, karena alasan situasi keamanan Poso sudah semakin kondusif pasca penangkapan, pada 31
Juli 2007 terjadi penarikan 2 Kompi Brimob Sat Pelopor III Kelapa Dua, 2 Kompi Brimob Makassar, 1 Kompi
Gegana Mabes Polri, dan saat ini hanya terdapat 6 SSK (Satuan Setingkat Kompi) yang di-BKO-kan di Poso. Lihat
Laporan Imparsial;“Indonesia: Demokrasi Etalase” -- Catatan Kondisi HAM Indonesia 2007 –
224
Merajut Perdamaian Dan Keadilan
proses penyelesaian kasus Poso semakin berlarut-larut karena berkali-kali terjadi saling
provokasi baik yang melibatkan warga sipil maupun tidak sehingga keberadaan Keppres
tersebut dapat dikatakan tidak efektif, bahkan semakin memperkeruh suasana. Upaya Polri
untuk membangun suasana aman pasca-Perjanjian Malino merupakan bagian dari
implementasi Pasal 4 UU No. 2 Tahun 2002 Tentang Polri sehingga upaya mewujudkan
keamanan dalam negeri merupakan bagian dari komitmen Polri sebagai penyelenggara
fungsi Keamanan Dalam Negeri (Kamdagri) pasca pemisahan Polri dari TNI.
Kompleksitas kepentingan yang memperkeruh penyelesaian konflik di Poso menyebabkan
Polri mengalami hambatan dan tantangan yang cukup berat dalam penanganan dan
pelaksanaan tugas-tugas keamanan di Poso. Ragam dan kompleksnya kepentingan yang
”bermain” di Poso menyebabkan daerah tersebut relatif tertinggal dalam penyelesaian
berbagai konflik dibandingkan dengan daerah konflik lainnya seperti Aceh. Selain itu,
dinamika politik lokal cenderung menyimpan ”api dalam sekam”, yang sewaktu-waktu dapat
meledak yang dipicu oleh momentum. Demografi yang cenderung membangun garis
demarkasi, antara penduduk pantai yang didominasi oleh penduduk yang beragama Islam
dan penduduk pegunungan yang kebanyakan merupakan pemeluk agama Kristen
membuat peta politik di Poso terbelah pada kepentingan-kepentingan yang berakar pada
peta politik dan demografi.41
Ketidakterbukaan masyarakat Poso dalam memberikan informasi yang akurat dan benar
kepada aparat hukum membuat upaya damai dan penyelesaian konflik jalan di tempat.
Keengganan memberikan informasi menyulitkan penyelesaian kasus, bahkan kasus
pemenggalan kepala warga sipil beberapa tahun lalu, hingga kasus penembakan Kapolres
Poso tetap menjadi misteri hingga kini. Bisa jadi bungkamnya masyarakat karena takut
menjadi korban dari pertikaian tersebut. Namun apabila hal tersebut tetap dilakukan
masyarakat Poso maka dapat dipastikan Poso akan terus menjadi ladang konflik.
Koordinasi antar aparat yang terlibat dalam pengamanan dan penegakan hukum, baik yang
organik maupun yang di-BKO-kan di bawah kendali operasi Polri relatif mengalami kesulitan
terutama ketika harus membangun koordinasi dengan TNI, selain masalah esprit de corps,
juga terkait dengan kesungkanan dan kepatuhan, serta kebersamaan yang tidak terbangun.
Hal yang membuat makin tidak jelas adalah tugas perbantuan TNI kepada Polri, dan
perbanyakan pasukan BKO, yang sebenarnya merupakan celah terjadinya berbagai problem
turunan. Hal ini perlu ditegaskan karena pasukan BKO cenderung kurang memahami
karakteristik masyarakat setempat. Sementara koordinasi yang rapuh antar aparat juga
dipertegas dengan belum ada undang-undang yang mengatur Tugas Perbantuan, baik dari
TNI ke Polri maupun sebaliknya.42
41 Muradi Clarck; Konflik Poso, Kamdagri dan Citra Polri; http://www.muradiclark.wordpress.com
42 Belum adanya Undang-undang Kamnas yang sejak tahun 2004 telah masuk dalam Prolegnas, namun
sampai sekarang belum menjadi undang-undang.
225
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Pola pendekatan yang dilakukan oleh Polri, khususnya Brimob cenderung kurang
menampakkan watak polisi sipil. Bahkan cenderung mengarah kepada pendekatan
militeristik, yang sesungguhnya telah ditinggalkan oleh tentara yang di-BKO-kan di Poso
sehingga tak heran lahir ketidakpuasan di masyarakat Poso terhadap kinerja Polri, khususnya
Brimob. Melihat realitas tersebut, kemampuan Polri untuk menciptakan rasa aman dan
tenteram, serta melakukan upaya preventif untuk meminimalisasi terjadinya konflik di Poso
sebagai syarat terpeliharanya rasa aman diragukan efektivitasnya.
Bagaimanapun, dengan meningkatnya eskalasi kekerasan di Poso, pemerintahan
Yudhoyono-Kalla adalah contoh paling nyata dari pemerintahan yang lemah. Pemerintah tak
mampu mengendalikan dan menggunakan institusi keamanan dan ketertiban untuk
menciptakan rasa aman. Biasanya, sebuah rezim yang lemah ditandai fragmentasi dan
rivalitas yang keras antaraktor dan institusi-institusi negara, termasuk antar institusi represi
negara. Menghadapi kekerasan Poso yang karut-marut, selayaknya pemerintah menempuh
beberapa jalan keluar. Pertama, membenahi institusi penegak hukum di Poso.
Bagaimanapun, salah satu masalah mendasar wajah teror dan kekerasan di Sulawesi Tengah
adalah buramnya penegakan hukum. Aparat penegak hukum sering tidak berkutik
mengungkap motif dan aktor di balik teror dan kekerasan, baik karena lemahnya sumber
daya maupun karena campur aduknya dengan kepentingan di luar hukum. Sejumlah orang
ditahan, sebagian diajukan ke pengadilan dengan tuduhan terlibat kekerasan dan teror,
tetapi kerap bukti-bukti yang menunjukkan keterlibatan mereka amat lemah dan berakhir
tanpa berlanjut ke pengadilan; Kedua, aparat keamanan yang dikerahkan ke Poso hendaknya
lebih menonjolkan pendekatan penegakan hukum dan secara proaktif menciptakan
keamanan dan ketertiban melalui dialog, dibanding reaksi penggunaan kekerasan. Konsep
pemolisian komunitas/community police yang diperkenalkan mantan Kepala Polda Sulawesi
Tengah Brigjen (Pol) Oegroeseno sebaiknya dipertahankan dan dikembangkan, dibanding
mobilisasi pasukan bersenjata. Ketiga, pemerintah perlu membuka diri guna mencari
penyelesaian kekerasan Poso, melibatkan pihak lebih luas. Artinya, pemerintah perlu
menempuh solusi penyelesaian Poso dengan tidak bertumpu pada pendekatan keamanan
saja. Melakukan evaluasi menyeluruh atas kinerja aparat keamanan, dan pemulihan sosial
ekonomi, termasuk reintegrasi aneka kelompok bekas kombatan.43
Reformasi TNI dan Polri Setengah Hati, Berkaca Dari Konflik Aceh dan Poso
Kecenderungan penggunaan hak self determination dan self governing di Indonesia dapat
dilihat sebagai adanya tarik menarik antara gerakan demokrasi dengan kekuasaan otoriter
yang sentralistik. Proses demokratisasi yang sedang berlangsung di Indonesia kurang
mendapatkan legitimasi bahkan diikuti; (1). Pelebaran spektrum politik, (2). Kemunculan
kepentingan sesaat yang dapat dinegosiasikan di kalangan elit, (3). Kompetisi untuk
mendapatkan dukungan massa seluas-luasnya; dan (4). Melemahnya otoritas politik pusat.
Keempat dampak proses demokratisasi ini cenderung akan membawa masyarakat ke arah
konflik horizontal terutama karena institusi politik yang ada tidak dapat mengantisipasi
ledakan politik yang begitu besar.44
43
44
Arianto Sangaji; Karut-marut Kekerasan Poso; Kompas, 3 Nopember 2006
Tim Propatria; Reformasi Sektor Keamanan Indonesia; Propatria, Jakarta 2004
226
Merajut Perdamaian Dan Keadilan
Instabilitas politik dan sosial di Indonesia pasca orde baru disebabkan karena pengelolaan
negara dengan ideologi pembangunanisme yang militeristik dan otoriter menimbulkan
krisis yang berkepanjangan. Mengakibatkan krisis multidimensional yang ditandai dengan
rusaknya ikatan sosial masyarakat yang multikultur serta maraknya tuntutan otonomi
bahkan tuntutan untuk melepaskan diri dari NKRI. Konflik itu terjadi ketika tuntutan self
determination atau self governing dari beberapa komunitas lokal bersentuhan dengan
masalah legalitas kedaulatan teritorial Indonesia seperti pertikaian bersenjata antara
Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan TNI – Polri. Kohesi sosial di antara kelompok
masyarakat di Indonesia juga melemah ditandai dengan merebaknya konflik yang
melibatkan identitas agama seperti konflik bersenjata antara kelompok Islam dan Kristen di
Poso dan Maluku.45 Konflik yang bernuansa agama ini menjadi masalah keamanan besar
terutama karena kelompok tersebut melibatkan milisi-milisi yang mengusung radikalisme
agama.
Konflik internal yang terjadi di Indonesia merupakan konflik yang memiliki akar
permasalahan yang dalam yang melibatkan beragam aktor. Upaya resolusi konflik harus
didasari pada pemahaman bahwa tidak ada penyebab tunggal atas berbagai konflik yang
terjadi. Faktor agama, etnisitas, kepentingan ekonomi, pertarungan politik atau luka sejarah
dan lain sebagainya. Faktor-faktor tersebut tidak berjalan sendiri-sendiri melainkan
berinteraksi satu sama lain dalam jangka waktu yang lama dan menjadi sangat kompleks.
Karena itu, upaya merancang strategi militer akan menjadi suatu masalah yang kompleks
yang seharusnya menyadarkan aktor militer bahwa tidak ada solusi militer untuk suatu
konflik internal.46 Intervensi militer cenderung berasosiasi dengan mekanisme kekerasan
dan pilihan-pilihan strategi militer akan sangat ditentukan oleh bagaimana TNI digunakan
untuk mematahkan lingkaran kekerasan bersenjata yang terjadi yang seringkali disertai
dengan tindakan-tindakan teror sistematis yang ditujukan untuk mempengaruhi kondisi
psikologis masyarakat yang mengakibatkan terjadinya pelanggaran HAM. Kekerasan dan
pelanggaran HAM yang berlangsung dengan pola-pola yang sama sehingga dapat
dikatakan bahwa kebijakan-kebijakan negara dilihat memiliki tujuan politik yang secara
tekhnis dijalankan lewat operasi-operasi keamanan dan penggunaan sumber daya resmi
negara lainnya termasuk melalui pendirian berbagai pos-pos militer yang tersebar di
berbagai wilayah,47 akan tetapi situasinya malah berkebalikan dimana seiring dengan
pembangunan pos-pos militer tersebut terjadi berbagai bentuk kekerasan; pemukulan
kepada warga masyarakat, perampasan, penangkapan dan semakin marak seranganserangan kepada kelompok-kelompok yang dianggap berpotensi membangkitkan
perlawanan terhadap negara. Keikutsertaan TNI dalam menjaga keamanan di Aceh dan Poso
45
Kasus-kasus lainnya seperti kekerasan komunal antara masyarakat suku Dayak dengan suku Madura di
Sambas dan Sampit Kalimantan Barat dan Tengah, Kerusuhan Mei, serta bumi hangus di Timor Leste pasca jajak
pendapat.
46 Tim Propatria; Reformasi Sektor Keamanan Indonesia; Propatria, Jakarta 2004; Hal: 32
47 Menjelang Pemilu 2009, Kodam Iskandar Muda semakin marak mendirikan pos-pos militer di berbagai
daerah di Aceh dengan alasan pokok yang dikemukakan oleh TNI adalah untuk pengamanan Pemilu 2009.
227
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
dapat dipandang sebagai; a). Bagian dari tugas TNI selain perang yaitu melawan separatisme
sebagaimana tercantum dalam UU 34/2004 tentang TNI pasal 7 Ayat 248, 2). Sebagai
keinginan untuk mempengaruhi sikap politik masyarakat untuk kepentingan politik sipil
yang kooperatif dengan kepentingan TNI, 3). Sebagai bentuk persaingan antara institusi TNI
dan Polri.
Tindakan aparat kepolisian yang represif juga dilakukan untuk memaksa ketertiban dan
pengontrolan kekerasan. Kehadiran polisi di wilayah konflik sering kali bertujuan untuk
mengkontrol penduduk dan bukan mencari kemitraan. Struktur organisasi Polri yang hirarki
seperti militer di bawah Presiden49 biasanya membatasi diskresi jajaran di bawahnya dan
organ-organ polisi lokal biasanya memiliki sedikit hak bicara dan penggunaan sumber daya
yang ada bergantung pada keputusan di atasnya. Akibatnya, Kepolisian RI rentan di
intervensi oleh kepentingan politik sipil juga masuknya pengaruh TNI dalam langkahlangkah pengamanan dalam negeri (kamdagri) selain juga kepentingan para elit di internal
kepolisian.50
Keterlibatan polisi dalam kancah politik menjadi pusat kontroversi ketika hal itu dikaitkan
dengan konsensus yang didasarkan kepada sikap “centralitas” dalam pelaksanaan tugas
institusi. Bertolak dari pengertian politik yang diartikan dalam hubungannya dengan
kekuasaan, Robert Reiner (2000:67) menjelaskan bahwa di dalam kenyataan politik
merupakan aspek yang tidak terlepas dari kepolisian. Hal ini didasarkan pada keberadaan
kepolisian sebagai organisasi yang diciptakan dan dijalankan melalui proses politik dalam
rangka menegakkan wewenangnya. Secara struktural, dalam lembaga kepolisian itu melekat
dua kekuasaan, yaitu (1) kekuasaan di bidang hukum, dan (2) kekuasaan di bidang
pemerintahan. Kedua kekuasaan tersebut melahirkan tiga fungsi utama polisi, yaitu (a)
sebagai penegak hukum diperoleh dari kekuasaan bidang hukum; (b) sebagai penegak
keamanan dan ketertiban umum; dan (c) sebagai pelayan dan pengayom masyarakat. Dua
fungsi terakhir diperoleh dari kekuasaan di bidang pemerintahan.
Kekuasaan polisi tersebut diwujudkan dalam bentuk kekuatan paksa fisik secara terorganisir
untuk mengontrol perilaku masyarakat dalam mencapai moral kolektif. Kekuasaan di sini
tentu mengacu pada suatu dasar dari bentuk kesepakatan bersama. Artinya, kekuasaan polisi
tidaklah berdiri sendiri untuk mencapai moral kolektif, banyak lembaga lain yang terlibat di
dalamnya. Dengan kata lain polisi bukan satu-satunya lembaga yang memiliki kekuasaan
absolut untuk membangun moral kolektif. Sampai di sini sebenarnya polisi tidak memiliki
masalah yang serius, namun persoalannya muncul ketika masyarakat menuntut agar polisi
menjadi wasit yang adil dalam pelaksanaan tugasnya, sedangkan strategi kekuasaan
merangkak ke arah pemanfaatan fungsi kepolisian. Dalam kondisi demikian apabila polisi
48
yang sebenarnya sudah tidak relevan lagi di terapkan di Aceh pasca MoU Helsinki,
lihat UU No. 2/2002 tentang Polri
50 Sistem pemolisian yang sentralistis biasanya sejalan dengan pemolisian yang otoriter. Lihat Anneke Osse;
Memahami Pemolisian; Buku Pegangan Bagi Penggiat HAM, Amnesty International, Belanda 2007.
49
228
Merajut Perdamaian Dan Keadilan
tidak diimbangi oleh kemampuan dan sistem pengawasan yang memadai sangat mungkin
mereka akan mudah mengabaikan tujuan mencapai moral kolektif.
Di samping itu sifat kepolisian dalam konteks politik secara de facto berkaitan dengan
ideologi negara yang dapat menjadi dilema dalam hal organisasi, teknik, taktik dan model
operasi kepolisian. Hal itu sering dijadikan alasan diperlakukannya polisi yang seharusnya
sebagai pengelola keamanan dan ketertiban umum menjadi penjaga ”stabilitas
pemerintahan”. Pada hal, perlakuan demikian itu menunjukkan kurangnya kemampuan
negara (pemerintah) dalam mengelola keamanan. Memang, pembangunan dapat berakses
terhadap buruknya keamanan yang menyebabkan jiwa dan harta benda rakyat menjadi
tidak terjamin, akan tetapi hal itu juga dapat disebabkan oleh kebijakan-kebijakan
pemerintah yang tidak tepat dalam mengelola pembangunan.
Dari keberadaan polisi di tengah-tengah arus kekuatan yang saling tarik menarik, yaitu arus
penguasa dan arus yang dikuasai, dimungkinkan lewat kontradiksi logis polisi lebih baik
berfihak kepada yang berkuasa secara politis. Berdiri di tengah-tengah arus kontradiksi
demikian sesungguhnya tidak banyak yang dapat dilakukan polisi. Dilema yang merantai
dirinya adalah manakala praktisi politik menyusupkan kepentingan yang sesuai dengan
tujuan organisasi. Yang terjadi selanjutnya ialah, fungsi polisi sebagai penegak hukum
menjadi kabur dan menjadi tidak lebih sebagai alat golongan politik tertentu yang akan
mewujudkan kebijakan-kebijakannya dalam perilaku keseharian polisi.
Penutup
Dalam konteks kerawanan inilah Polri perlu introspeksi. Dari UU Nomor 2 Tahun 2002 tentang
Kepolisian Negara Republik Indonesia, titik rawan kekuasaan polisi terletak pada fungsi
utamanya, yaitu apabila fungsi pemelihara keamanan dan ketertiban umum lebih menonjol
daripada fungsi penegakan hukum dan pelayan masyarakat. Kekhawatiran yang muncul
ialah jika terjadi penggiringan Polri menjadi agent of political stabilisation sebagaimana
dialami pada masa Orde Baru berkuasa, di mana bersama TNI diperlakukan sebagai alat
kekuasaan politik ketimbang sebagai penegakan hukum yang ujung-ujungnya hanya
menguntungkan elit penguasa.51 Hal ini berimplikasi kepada pencitraan Polri di masyarakat.
Brimob menjadi salah satu faktor determinan dalam metamorfosis Polri dari polisi
berkarakter militer menjadi polisi sipil. Namun terlepas dari itu, Polri harus mampu
melakukan berbagai upaya agar konflik yang mendera Poso dan Aceh dapat segera
dipadamkan, dengan begitu Keamanan dalam negeri dapat diwujudkan. Dibutuhkan
dukungan kebijakan dan prasyarat untuk mewujudkan perdamaian, yang terkait dengan
tugas Polri, yakni: 52
Pertama, pemerintah harus terus mengupayakan agar penyelesaian konflik menjadi agenda
utama. Salah satu indikasi keseriusan tersebut adanya kebijakan yang simultan dan sinergis,
51 Lihat lebih lanjut dalam Bambang Widodo Umar; Polisi vs Politik dalam Konteks Keamanan Pemilu; Makasar,
27 Agustus 2008.
52 Muradi Clarck; Konflik Poso, Kamdagri dan Citra Polri; http://www.wordpress.com/
229
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
bukan parsial bagi upaya mewujudkan Keamanan Dalam Negeri. Artinya, perlu kearifan
pemerintah untuk tidak lagi menampilkan kebijakan populis dan tidak lagi menjadikan Aceh
dan Poso sebagai komoditas politik semata.
Kedua, meninjau ulang penempatan pasukan BKO, baik dari TNI, maupun Polri, khususnya
Brimob. Sebab dalam dua tahun terakhir, eskalasi konflik meningkat yang meningkat di Aceh
dan Poso, salah satunya disebabkan oleh perilaku pasukan BKO. Jika pun perlu penempatan
pasukan BKO, perlu ada satu pendekatan yang dibangun bersama berkaitan dengan upaya
menjaga perdamaian dalam kondisi kondusif.
Ketiga, perlu segera merumuskan Undang-Undang Tugas Perbantuan agar memperjelas
tugas dan fungsi Polri dan TNI. Hal ini agar dapat menertibkan definisi yang meluas tentang
Operasi Militer Selain Perang yang terumus dalam UU No. 34 Tahun 2004 tentang TNI. Selain
itu juga Polri sebagai institusi pasif dalam pertahanan negara, yang menjadi wewenang TNI
dapat memosisikan diri lebih efektif. Kasus di Aceh dan Poso sebenarnya menjadi cerminan
bahwa tumpang tindih tugas antara Polri dan TNI merupakan contoh dari ketiadaan
perangkat perundang-undangan yang mengikat.
Keempat, Polri sebagai institusi yang bertanggung jawab dalam mewujudkan Keamanan
dalam negeri harus segera menata dan memperbaiki diri, khususnya terkait dengan pola
pendekatan ke masyarakat di daerah konflik. Agaknya Polri relatif lamban dalam melakukan
pendekatan ke masyarakat di daerah konflik. Pembelajaran di Papua, yang menewaskan
anggotanya pada bentrok massa di Abepura beberapa waktu lalu belum cukup memberikan
pencerahan bagi Polri. Keinginan kuat untuk membangun kultur Polisi Sipil hingga saat ini
baru sebatas wacana, sebab dalam praktik di lapangan masih menggunakan pola dan
pendekatan militeristik. Peningkatan citra Polri di mata masyarakat dapat diukur dengan
sejauhmana Polri mempraktikkan nilai-nilai polisi sipil dalam setiap tugasnya.<
DAFTAR PUSTAKA
1.
2.
3.
4.
5.
6.
230
Anneke Osse; Memahami Pemolisian, Buku Pegangan Bagi Penggiat HAM; Amnesty
International, Belanda: 2007
T. Hari Prihartono; Peran Masyarakat Sipil Dalam Reformasi Sektor Keamanan, Pergulatan
Pemikiran Berbagai Aktor Di Balik Kebijakan Politik Kemanan di Indonesia, Rekam Jejak
Proses 'SSR' Indonesia 2000 – 2005; Propatria Institute: 2006.
J. Kristiadi; Mewujudkan Profesionalisme TNI; dalam Anas S. Machfudz dan Jaleswari
Pramodawardani; Military Without Militarism: Suara Dari Daerah; Puslitbang
Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI, Jakarta: 2001
T. Hari Prihatono; Penataan Kerangka Regulasi Keamanan Nasional; Propatria Institute,
Jakarta:2006
Rusdi Marpaung, Al-Araf, Junaidi dan Gufron Mabruri; Dinamika Reformasi Sektor
Keamanan; Imparsial, Jakarta: 2005
Tim Propatria; Reformasi Sektor Keamanan Indonesia; Propatria, Jakarta: 2004
Merajut Perdamaian Dan Keadilan
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
Andi Widjajanto dan Makmur Keliat; Laporan Penelitian, Reformasi Ekonomi Pertahanan
di Indonesia; INFID, Jakarta: 2006.
Bambang Widodo Umar; Polisi vs Politik dalam Konteks Keamanan Pemilu; Makasar, 27
Agustus 2008.
Mufti Makaarim A dan S Yunanto; “Efektifitas Strategi Organisasi Masyarakat Sipil; Dalam
Advokasi Reformasi Sektor Keamanan di Indonesia 1998 – 2006”, IDSPS, Jakarta: 2008
Beni Sukadis dan Eric Hendra; Total Defense and Military Conscript; Indonesia's
Experiences and Other Democracies; Lesperssi dan DCAF, Jakarta, July 2008.
Oslan Purba dan Mufti Maakarim A; Critical Review; Peraturan Presiden No. 7/2008
Tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara; IDSPS, Jakarta 2008.
__________; Aceh, Damai Dengan Keadilan?, Mengungkap Kekerasan Masa Lalu;
KontraS, Jakarta: 2006
__________; Laporan HAM 2005 KontraS; Penegakkan Hukum dan HAM Masih Gelap;
KontraS, Jakarta, 2006.
__________; Belum Ada Jaminan Keadilan; Laporan Situasi Politik dan HAM Aceh Tahun
2007; KontraS Aceh, 2008.
__________, Laporan Penelitian Bisnis Militer di Poso-Sulawesi Tengah dan Bojonegoro,
oleh KontraS, Januari – Maret 2004.
Tim Koalisi Pengungkapan Kebenaran (KPK) Aceh; Tawaran Model Penyelesaian
Pelanggaran HAM berat di Aceh; 2007
__________; Laporan Pemantauan Konflik di Aceh, Desember 1, 2008 – Laporan Bank
Dunia 28 Februari, 2009
__________; Aceh: Komplikasi Pasca Konflik; International Crisis Group, Asian Report
1394; Oktober 2007
Haris Azhar dan Syamsul Alam Agus; Poso: Wilayah yang Dikonflikan (Jakarta/Palu, 2005)
Siaran Pers Bersama, KontraS, PBHI, LPSHAM Sulteng “Sesat piker Perpanjangan Operasi
Sintuwu Maroso”, 21 Juli 2005.
Meliala, Adrianus. 2002. Problema Reformasi Polri. Jakarta: Trio Repro
Muradi ; TNI & POLRI: Analisis Tentang Penataan Kelembagaan Politik dalam SSR di
Indonesia; Police & Militar y Studies - International & National Issues,
http://www.muradiclark.wordpress.com/dailyblog-.htm
Muradi; Konflik Poso, Kamdagri dan Citra Polri; http://www. muradiclark.wordpress.com,
Thamrin Ely; Solusi Untuk Poso; Pertemuan Malino 2002; Alumnus Program VSPD
University of California Berkeley
Aji Kota Palu; Jalan Berliku Merajut Damai di Poso; 14 April 2007
Detik News, Menhan: RUU Bebas Informasi & Rahasia Negara Tak Bertabrakan, Jumat,
22/12/2006, 11:31WIB, http://www.detik.com/detiknews/indeks/menhan-ruu-bebasinformasi-rahasia-negara-tak-bertabrakan.htm
Athar; Kubur Reformasi Bila Polisi Berada di Bawah Depar temen;
http://www.politikindonesia.com,
Poso Center; Eskalasi Konflik Poso; 2007
Serambi Indonesia, 8 September 2007.
Serambi Indonesia, 12 Januari 2009
Serambi Indonesia, 25 Januari 2009
Rakyat Aceh, 18 Februari 2009
Analisa, tanggal 12 Feburari 2009
231
Diplomasi Bertetangga Baik dan Penegakan Hukum Dalam Manajemen Perbatasan Indonesia
Diplomasi Bertetangga Baik dan Penegakan Hukum
Dalam Manajemen Perbatasan Indonesia
Shiskha Prabawaningtyas1
Pendahuluan
Permasalahan perbatasan antar negara (inter-state boundaries) di Indonesia
bertumpu pada dua hal pokok yaitu manajemen dan kedaulatan. Yang pertama berkaitan
dengan kegiatan lintas batas, dan yang kedua berhubungan dengan kedaulatan teritorial
Indonesia. Pada Almanak edisi pertama, Banyu Agung Perwita menekankan tentang nilai
penting perbatasan sebagai identitas nasional dan integritas teritorial sebagai wujud
kedaulatan sebuah negara.2 Kemampuan negara dalam menangani ancaman keamanan
pada wilayah perbatasan akan menentukan posisi tawar dan citra baik sebuah negara dalam
konstelasi politik internasional. Perubahan karakteristik bentuk ancaman keamanan di
perbatasan yang semakin bersifat non-militer / non-konvensional membutuhkan
pendekatan yang lebih komprehensif, tidak sekedar pendekatan militer, dalam upaya
penanganannya. Penanganan masalah kejahatan lintas batas seperti penyelundupan
manusia, terorisme, obat terlarang, senjata atau terorisme: pelanggaran kedaulatan dan hak
berdaulat seperti illegal logging dan illegal fishing di dalam teritorial; dan aktifitas tradisional
komunitas di perbatasan secara bebas jelas terkait dengan penegakan hukum dan tidak
tepat ditangani melalui pendekatan militer. Intinya, keamanan di wilayah perbatasan harus
mampu menjamin keamanan nasional sebuah negara dengan menekankan pada perspektif
keamanan manusia.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Lesperssi pada tahun 2007, Aditya Batara,
merumuskan bahwa permasalahan perbatasan Indonesia tidak hanya bersumber pada
upaya lemahnya pengelolaan kawasan perbatasan, namun lebih mendasar lagi adalah
masalah delimitasi dan demarkasi yang masih dalam proses negosiasi.3 Ketegangan yang
terjadi di blok Ambalat antara Indonesia dengan Malaysia akhir Mei 2009 sebenarnya
bersumber pada belum disepakatinya batas maritim kedua negara pasca keputusan
Mahkamah Internasional tentang status Pulau Sipadan dan Ligitan. Kekerasan yang terjadi di
perbatasan Indonesia dengan Timor Leste juga bersumber pada perundingan demarkasi
antara kedua negara yang masih berjalan. Persoalan jalur penyelundupan senjata kecil dan
ringan dari Filipina dan Malaysia di Laut Sulawesi menuju daerah konflik di Poso atau
maraknya aksi illegal fishing di wilayah perairan Indonesia merupakan cermin buruk
1 Shiskha Prabawaningtyas, adalah dosen di Universitas Paramadina Jakarta
2 Anak Agung Banyu Perwita (2007) ”Manajemen Perbatasan Negara: Keamanan Nasional” dalam Beni Sukadis
(ed.) Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2007. Jakarta: DCAF-LESPERSSI
3 Aditya Batara (2007) “Manajemen Perbatasan Indonesia: Upaya Menjamin Keamanan Manusia”, dalam Aditya
Batara & Beni Sukadis (eds) Reformasi Manajemen Perbatasan: Dalam Transisi Demokrasi. Jakarta: DCAFLESPERSSI
232
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
manajemen perbatasan Indonesia akibat lemahnya penegakan hukum. Persoalan
penegakan hukum, seperti dipaparkan oleh Beni Sukadis, merupakan titik lemah dari
manajemen perbatasan Indonesia. 4 Dalam kesimpulan penelitiannya, Lesperssi
mengarisbawahi persoalan inkonsistensi dan ketidaklengkapan landasan hukum serta
ketidakjelasan pembagian kewenangan dalam implementasi kebijakan di wilayah
perbatasan sebagai dua inti yang masalah yang harus segera diperhatikan.
Tulisan ini memfokuskan pembahasan pada beberapa alternatif pemikiran yang dapat
dikembangkan untuk memecahkan permasalahan dan memperbaiki manajemen
perbatasan Indonesia. Bagian pertama tulisan akan merangkum beberapa perspektif dalam
mengembangkan sistem manajemen perbatasan Indonesia. Bagian kedua mencoba untuk
memetakan persoalan di wilayah perbatasan Indonesia baik dari perspektif ancaman
maupun tantangan kondisi di lapangan. Bagian ketiga memfokuskan pada pembahasan
beberapa alternatif solusi untuk mengatasi peta persoalan perbatasan di Indonesia. Tulisan
akan ditutup oleh kesimpulan dan rekomendasi dalam persoalan perbatasan di Indonesia
1.
Perspektif dalam Manajemen Perbatasan
Perbatasan negara merupakan penanda teritorial sebuah negara yang memisahkannya
dengan negara lain. Wilayah atau territory memberikan legitimasi bagi sebuah negara untuk
memperoleh hak kedaulatannya atas sebuah komunitas atau warga negara. Perbatasan
negara dapat diibaratkan sebagai gerbang dan pendeteksi dini atas berbagai bentuk
ancaman terhadap kedaulatan negara dan warga negara. Zacher5 menekankan tentang
keberadaan norma internasional atas integritas teritorial yang dianut oleh negara.
Pengalaman sejarah membuktikan bahwa perang antar negara banyak bersumber dari
persoalan integritas teritorial. Data dari Uppsala Conflict Data Program, misalnya,
menunjukkan pada periode 1648 – 1945 terjadi 93 perang antar negara akibat persoalan
teritorial dan pada periode 1946-2000 terdapat 40 perang teritorial antar negara.
Perbatasan antarnegara ditentukan melalui penetapan garis batas negara (state boundary),
sebuah garis imaginer yang dihasilkan oleh kesepakatan politik. Boundary menjadi penting
karena menghindari kondisi chaos pada sistem internasional ketika terdapat kepastian
tentang dimana sebuah kedaulatan negara berawal dan berakhir. Boundary merupakan
bentuk penegasan atas ruang lingkup teritorial sebuah negara. Menurut Stephen D. Jones,
ruang lingkup teritorial sebuah negara terdiri dari proses alokasi, delimitasi, demarkasi dan
administrasi.6 Alokasi terkait erat dengan pengakuan dasar atas keberadaan sebuah negara
yang dipresentasikan dalam bentuk keberadaan wilayah, populasi dan pemerintahan.
4 Beni
Sukadis, “Isu Perbatasan sebagai Bagian Penegakan Hukum”, dalam Aditya Batara & Beni Sukadis (eds)
(2007) Reformasi Manajemen Perbatasan: Dalam Transisi Demokrasi. Jakarta: DCAF-LESPERSSI
5 Lihat Zacher, Mark W (2001) The Territorial Integrity Norm: International Boundaries and the Use of Force,
International Organization 55 (2): 215-250
6 Stephen B. Jones (1945) A Handbook for Statesmen, Treaty Editors and Boundary Commissioner. Washington:
Carnegie Endowment of International Peace dalam Sobar Sutisna, Sora Lokita, Sumaryo Boundary Making
Theory dan Pengelolaan Perbatasan di Indonesia, Proceeding Workshop “ Pengelolaan Wilayah Perbatasan
dalam Rangka Menjaga Keutuhan Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Yogyakarta” Jurusan Ilmu
233
Diplomasi Bertetangga Baik dan Penegakan Hukum Dalam Manajemen Perbatasan Indonesia
Hukum kebiasaan internasional atas klaim alokasi teritorial sebuah negara, menurut
Mahkamah Internasional, didasarkan atas traktat, geografi, ekonomi, budaya, kontrol efektif,
justifikasi sejarah, utis possidetis, elitisme dan ideologi. 7
Klaim atas wilayah teritorial Indonesia didasarkan atas asas utis possidetis yang berarti
mewarisi wilayah negara kolonial Hindia Belanda. Praktek utis possidetis diakui sebagai norma
internasional menyusul pengakuan hak self-determination atas gerakan nasionalisme
sebagai proses dekolonialisasi yang berkembang sekitar tahun 1940an. Karakter klaim
teritorial yang berdasarkan warisan negara kolonial meninggalkan kebutuhan untuk
menentukan proses lanjutan, yaitu delimitasi, demarkasi dan administrasi. Kebutuhan proses
lanjutan ini terkait dengan penegasan ruang lingkup kedaulatan sebuah negara dan
tanggung jawabnya terhadap keamanan warna negaranya. Penegasan ini diperlukan untuk
menentukan kemampuan Indonesia dalam menangani ancaman keamanan.
Untuk keperluan tulisan ini, kerangka pemahaman terhadap persoalan perbatasan Indonesia
secara singkat dan sistematis terpetakan dalam bagan 1 di bawah ini.
Sumber Masalah:
1. Penegasan boundary
- Landasan geo-spasial (delimitasi &
demarkasi)
2. Pengelolan wilayah perbatasan
- Kelemahan sistem manajemen perbatasan
- Kesenjangan kondisi socio-ekonomi
- Praktek tradisi dan legitimasi sejarah
Jenis Ancaman:
- Klaim territorial
- Manuver militer
- Kejahatan Lintas Batas
- Pelanggaran atas kedaulatan dan hak
berdaulat
- Pergerakan manusia lintas batas secara
tradisional atau illegal
Tantangan Kondisi Ril:
- Konsolidasi demokrasi
- Kondisi wilayah perbatasan
- Dukungan anggaran
- Pemahaman perspektif “maritim”
Solusi
1. Penyusunan kebijakan manajemen
perbatasan nasional
2. Pembentukan Badan dan Pengawas
Pengelola Perbatasan
Bagan 1: Pemahaman Masalah Perbatasan
7 Summer, Brian Taylor. Territorial Dispute at International Court of Justice, Duke Law Journal, hal. 1 dalam Aditya
Batara & Beni Sukadis (eds) (2007) Reformasi Manajemen Perbatasan: Dalam Transisi Demokrasi. Jakarta: DCAFLESPERSSI Hubungan Internacional, UPN “Veteran” 18-19 November 2008, hal. 2 – 1
234
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Sumber masalah pokok pertama pada wilayah perbatasan Indonesia berasal dari belum
selesainya perundingan delimitasi dan demarkasi dengan beberapa negara tetangga.
Indonesia belum mencapai kesepakatan batas maritim dengan empat negara tetangga,
yaitu Malaysia, Kepulauan Palau, Filipina, Timor Leste dan Australia. Beberapa faktor
penghambat dalam proses perundingan ini antara lain permasalahan perubahan teknologi
yang dipakai; berlakunya rezim internasional tentang hukum laut terutama pasca
pengesahan United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) / Hukum Laut
Internasional pada tahun 1982, revisi teriorial pasca kemerdekaan Timor Leste dan keputusan
Mahkamah Internasional atas kedaulatan Pulau Sipadan dan Ligitan, keberadaan komunitas
di wilayah perbatasan, potensi sumber daya alam di wilayah perbatasan, sulitnya kondisi
alam, serta sejarah hubungan antara Indonesia dan negara tetangga yang terkait. Perbatasan
darat antara Indonesia dan Papua New Guinea di Papua yang didasarkan pada traktat negara
kolonial antara Belanda dan Inggris tahun 1895 menyisakan sulitnya proses delimitasi karena
perbedaan metode ukur yang digunakan dalam menarik garis batas negara serta kondisi riil
di lapangan. Salah satu implikasinya adalah kondisi desa Warasmal di Papua yang terpaksa
terbagi oleh garis batas kedua negara. Perbatasan darat Indonesia dan Malaysia di
Kalimantan juga masih menyisakan sembilan Outstanding Boundary Problems dalam
perundingan proses demarkasi. Perubahan status kedaulatan Pulau Ligitan dan Pulau
Sipadan pasca keputusan Mahkamah Internasional tahun 2002 melegitimasi perubahan
batas maritim atas kedua negara. Besarnya potensi sumber minyak di blok Ambalat telah
mendorong ekskalasi konflik kedua negara sejak tahun 2005, menyusul langkah Malaysia
memberikan izin eksplorasi minyak di blok ND6 dan ND7 pada landasan kontinental blok
Ambalat kepada perusahaan minyak Shell, Belanda.
Fakta bahwa masih belum selesainya perundingan batas negara Indonesia dengan beberapa
negara tetangga tentu memiliki potensi konflik yang cukup besar. Potensi konflik perbatasan
ini tidak hanya akan merusak hubungan baik antara kedua negara yang bersengketa, namun
lebih luas akan menganggu stabilitas keamanan regional khususnya kawasan Asia Pasifik.
Kondisi ini tentu akan mempengaruhi proses pembangunan negara di kawasan ini termasuk
Indonesia. Oleh karena, pendekatan diplomasi bon viosinage atau bertetangga baik tentu
menjadi lebih tepat untuk dilakukan. Pemahaman dan kesadaran bersama bahwa kondisi
konflik hanya akan merugikan kedua belah pihak yang bertikai dan sebaiknya dihindari,
tentu akan menimbulkan kepentingan bersama untuk memilih sebuah kerjasama. Alan K.
Henrikson menunjukkan bahwa diplomasi bon viosinage merupakan sebuah proses
internasionalisasi isu teritorial sebuah negara melalui mekanisme diplomasi secara
internasional atau malah menjadi proses mekanisme kerjasama supra-nasional. 8 Keputusan
untuk menghindari konflik perbatasan, pada akhirnya, muncul dari kesadaran pentingnya
melakukan diplomasi bon voisinage. Sengketa perbatasan antara China dan India, misalnya,
dapat diredam melalui proses confidence building dengan mekanisme kerjasama
monitoring terhadap kesepakatan yang telah dicapai kedua negara. 9
8
Henrikson, Alan K (2000) Facing Across Border: The Diplomacy of Bon Voisinage, International Political Science
Review 21 (2): 121-147
9
Sidhu Waheguru Pal Singh & Jing Don Yuan (2001) Resolving the Sino-Indian Border Dispute: Building
Confidence through Cooperative Monitoring, Asia Survey 41 (2): 351-376
235
Diplomasi Bertetangga Baik dan Penegakan Hukum Dalam Manajemen Perbatasan Indonesia
Faktor manajemen merupakan sumber masalah kedua di wilayah perbatasan Indonesia.
Masalah ini terkait dengan kemampuan negara dalam mengatur arus kegiatan lintas batas,
baik manusia maupun barang dan jasa. Sistem pengelolaan harus mampu menjawab
tantangan bagaimana membuka wilayah perbatasan bagi arus kegiatan lintas batas yang
bersifat resmi atau legal sekaligus mencegah arus kegiatan yang bersifat tidak resmi atau
ilegal. Angela Mackay, misalnya, menyatakan bahwa manajemen perbatasan terkait dengan
masalah administrasi pada kawasan perbatasan dengan asumsi bahwa batas negara atau
state boundary telah jelas. 10 Dengan demikian, pengelolaan perbatasan harus difokuskan
pada pengembangan sistem manajemen perbatasan melalui serangkaian peraturan, teknis
dan prosedur pengaturan pada arus kegiatan lintas batas bermuara pada kekuatan
penegakan hukum.
Selanjutnya Angela menambahkan bahwa karena perbatasan merupakan entry point bagi
arus keluar masuk kegiatan lintar batas, maka pengelolaan perbatasan memerlukan aktor
operasional, yaitu pengawas perbatasan (border guard) serta petugas imigrasi dan bea cukai.
Lemahnya sistem manajemen perbatasan, kesenjangan kondisi sosial ekonomi di wilayah
perbatasan dengan negara tetangga serta praktik tradisional dan legitimasi sejarah dinilai
sebagai penghambat pengelolaan di wilayah perbatasan. Maraknya praktek penyelundupan
manusia atau illegal logging di wilayah perbatasan darat Indonesia dengan Malaysia di
Kalimantan bersumber pada buruknya sistem pengawasan dan penindakan di lapangan.
Rendahnya kualitas hidup dan tingkat perekonomian di desa-desa Indonesia dibandingkan
dengan desa-desa di Malaysia di wilayah perbatasan turut berkontribusi pada tingginya
minat motivasi warga Indonesia mencari pekerjaan di Malaysia walaupun harus melalui
prosedur tidak resmi.
Dari dua sumber permasalahan di atas dapat urai lebih jauh dalam lima bentuk ancaman
keamanan pada wilayah perbatasan darat, laut dan udara Indonesia, yaitu 1) Klaim teritorial
seperti penentuan batas maritim antara Indonesia dan Australia pasca kemerdekaan Timor
Timur tahun 2002 terkait dengan Zone Ekonomi Ekslusif, 2) Manuver militer seperti aksi kapal
laut Malaysia yang tidak merespon kontak komunikasi TNI AL Indonesia di sekitar blok
Ambalat yang masih dalam status sengketa, 3). Kejahatan lintas batas seperti jalur
penyelundupan senjata kecil dan ringan yang disinyalir dari Malaysia dan Filipina ke Poso di
sekitar utara laut Sulawesi, 4) Pelanggaran atas kedaulatan dan hak berdaulat seperti
maraknya illegal fishing oleh kapal China, Filipina dan Thailand dalam wilayah perairan
Indonesia di sekitar Laut China Selatan, Laut Arafura dan Laut Sulawesi Utara, 11 dan 5).
Pergerakan manusia lintas batas, baik bersifat tradisional maunpun illegal di wilayah
perbatasan seperti aktifitas perdagangan tradisional, berkebun atau upacara adat karena
kesamaan dan sejarah hubungan etnisitas di perbatasan darat Indonesia - Papua Nugini di
wilayah Papua, Indonesia - Malaysia di wilayah Kalimatan serta Indonesia - Timor Leste di
10
Mackay, Angela. (2008). “Border Management & Gender”. In Megan Bastick & Kristin Valasek, Gender and
Security Sector Reform Toolkit. Geneva: DCAF,OSCE/ODIHR, UN-INSTRAW, hal. 1
11
Institute for Defense, Security, and Peace Studies. (2009). Pengelolaan & Pengamanan Wilayah Perbatasan
Negara, Policy Paper. hal. 8
236
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
wilayah Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Pencari suaka politik akibat kondisi
konflik di negara asal, misalnya pengungsi dari Afghanistan, beberapa kali diketahui
memasuki wilayah Indonesia sebagai wilayah transit sebelum menuju Malaysia.
Berdasarkan identifikasi sumber masalah dan bentuk ancaman keamanan di wilayah
perbatasan Indonesia, maka perspektif pengelolaan wilayah perbatasan harus didasarkan
pada pendekatan diplomasi bon voisinage (bertetangga baik) dan upaya penegakan hukum
dalam rangka mengembangkan sebuah sistem manajemen perbatasan. Kedua pendekatan
ini diyakini mampu menjawab tantangan dinamika kondisi domestik Indonesia terutama
pasca gerakan reformasi tahun 1998. Permasalahan perbatasan Indonesia dengan negara
tetangga terbukti memiliki potensi untuk meningkatkan eskalasi konflik yang akan
menggangu hubungan bilateral dengan dengan yang bersangkutan atau bahkan keamanan
regional di kawasan Asia Tenggara dan Asia Pasifik. Karakteristik konflik perbatasan
Indonesia dengan negara tetangga memenuhi semua tipologi konflik yang dikembangkan
oleh JVR. Prescott, yaitu positional dispute terkait perbedaan intepretasi dalam proses
delimitasi dan demarkasi; teritorial dispute terkait dengan klaim teritorial; functional dispute
terkait dengan pengaturan pada arus lintas batas orang, barang dan jasa; serta
transboundary resouces dispute terkait dengan eksplorasi sumber daya lama di wilayah
perbatasan.
Terkait dengan reformasi sektor keamanan Indonesia terutama upaya menempatkan
supermasi otoritas sipil dalam masalah keamanan melalui peningkatan profesionalisme
aktor keamanan negara, maka permasalahan perbatasan Indonesia dapat dijadikan salah
satu indikator untuk menilai pencapaian proses reformasi yang dilakukan. Mengapa
demikian? Hal ini karena wilayah perbatasan tidak hanya berperan tameng atau pelindung
utama dalam menghadapi ancaman keamanan dan pertahanan dari luar, namun juga
ancaman terhadap keamanan manusia Indonesia. Kemampuan negara menangani konflik
pada sekitar 15 desa di Kabupaten Kupang 12 yang berbatasan darat langsung dengan Timor
Timur, misalnya, ditentukan tidak saja oleh keberhasilan diplomasi Indonesia namun juga
kemampuan aparat pemerintah dalam merespon aksi warga setempat.
2.
Karakteristik Permasalahan di Wilayah Perbatasan
Pengesahan UU Wilayah Negara No.43 tahun 2008 pada 14 November 2008 dapat
diterjemahkan sebagai sinyal positif atas keseriusan pemerintah untuk mengkoordinasikan
sistem pengamanan di wilayah perbatasan terlepas dari beberapa kelemahan dari produk
UU tersebut. Setidaknya UU Wilayah Negara tersebut memiliki semangat, visi dan orientasi
untuk mengembangkan sebuah sistem manajemen perbatasan Indonesia yang lebih
komprehensif dan terpadu. Pemahaman tentang arti penting wilayah perbatasan dalam
mengantisipasi berbagai ancaman keamanan, misalnya, telah diterjemahkan dalam
12
Proses delimitasi di perbatasan darat Indonesia – Timor Leste menimbulkan protes warga di sekitar wilayah
perbatasan karena garis batas kedua negara di 97 titik koordinasi telah memotong areal tanah mereka dan
dinyatakan sebagai bagian territorial Timor Leste, lihat Iva Rachmawati ”Diplomasi Perbatasan Dalam Rangka
Mempertahankan Kedaulata NKRI
237
Diplomasi Bertetangga Baik dan Penegakan Hukum Dalam Manajemen Perbatasan Indonesia
beberapa produk perundangan sebelumnya, seperti UU No.6 tahun 1996 tentang Perairan,
UU No. 3 tahun 2002 tentang Pertahanan Nasional, UU No.34 tahun 2004 tentang TNI, UU
No.31 tahun 2004 tentang Perikanan, UU No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, UU No
27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau Kecil UU No. 17 tahun 2007
tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025, dan Perpres 81 tahun
2005 tentang Badan Koordinasi Keamanan Laut. Akan tetapi, landasan hukum tersebut justru
menimbulkan overlapping kewenangan dalam tataran operasional pengamanan wilayah
perbatasan. Kepentingan sektoral dari instansi yang diberikan kewenangan dinilai lebih
mendominasi daripada kualitas koordinasi dalam menginterpertasikan fungsi kewenangan.
Misalnya, ketidakjelasan tentang kewenangan dalam mengumumkan jumlah pulau, apakah
kewenangan TNI, Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional, atau Departemen Dalam
Negeri. Keberadaan pengawas perikanan, misalnya, yang diberikan kewenangan untuk
memiliki senjata sesuai pasal 69 UU No.31 tahun 2004 menjadi tumpang tindih dengan
kewenangan petugas imigrasi dan bea cukai serta TNI AL di wilayah perairan Indonesia dalam
menangani kasus illegal fishing atau arus lalu lintas produksi ikan. Bukan tidak mungkin kasus
penjualan pulau di Nusa Tenggara Timur di tahun 2007 muncul sebagai ekses multiinterpretasi pada pelaksanaan UU No.27 tahun 2007 dan melegitimasi bentuk konsensi Hak
Penguasaan Perairan Pesisir (HP-3) yang terasa mirip dengan konsep Hak Pengelolaan Hutan
(HPH).
Overlapping kewenangan juga dapat dilihat dari struktur koordinasi Indonesia dengan
negara tetangga dalam menangani masalah perbatasan. Jika General Border Committee
antara Indonesia dan Malaysia dikepalai oleh Menteri Pertahanan sejak tahun 2004
(sebelumnya oleh Panglima TNI), maka Joint Committee Border antara Indonesia -- Papua
Nugini dan Indonesia – Timor Leste dipimpin oleh Menteri Dalam Negeri. Pertemuan
Tahunan antara Indonesia dan Singapura dipimpin oleh Panglima TNI dan Joint Committee
Border antara Indonesia dan Filipina bersifat lebih sektoral, yaitu dipimpin oleh Panglima
Kodam Wirabuana. Di satu sisi, diplomasi perbatasan dengan negara tetangga yang memiliki
wilayah perbatasan dengan Indonesia dibangun dengan kelembagaan ad hoc yang seakan
mengabaikan peran Departmen Luar Negeri sebagai lead sector pelaksana politik luar negeri
Indonesia dan bukan kelembagaan permanen yang bersifat multi-layer dengan fungsi tugas
yang berbeda. Misalkan, Departemen Luar Negara menjadi aktor utama dalam memfasilitasi
pertemuan tingkat tinggi antara antara Indonesia dengan salah satu negara tetangga. Pada
tingkat kedua, terdapat lembaga koordinasi tingkat menteri antara kedua negara.
Pemerintahan daerah tingkat provinsi atau kabupaten/kota kedua negara saling
berkoordinasi dalam sebuah forum di tingkatkan ketiga.
Di sisi lain, operasionalisasi pengelolaan wilayah perbatasan yang terkait dengan
kemampuan dalam antisipasi ancaman keamanan menjadi sangat sektoral dan bahkan
melemahkan sisi penegakan hukum itu sendiri. Salah satu faktor penghambatnya adalah jika
tidak jelasnya pembagian tugas atau kewenangan. Lemahnya sistem manajemen perbatasan
Indonesia memberikan indikasi kuat tentang tidak adanya sebuah strategi kebijakan
nasional yang tertuang dalam sebuah desain besar seperti cetak biru strategi kebijakan
238
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
perbatasan. Selain itu, pendekatan militer dalam pengamanan di wilayah perbatasan terlihat
masih mendominasi. Akibatnya, pengamanan di wilayah perbatasan lebih bertumpu pada
perspektif pertahanan dan melemahkan sisi penegakan hukum atau policing. Padahal
karakteristik utama dari bentuk ancaman keamanan di wilayah perbatasan lebih bersifat arus
lalu lintas orang serta barang dan jasa yang ilegal, bukan musuh “militer” yang harus
dibinasakan.
Setidaknya terdapat 4 (empat) tantangan kondisi riil yang dinilai menghambat, pada
tingkatan tertentu, dalam pengembangan sistem manajemen perbatasan Indonesia, yaitu
1). Konsolidasi demokrasi yang menitikberatkan pada proses desentralisasi dan otonomi
daerah, 2). Kondisi wilayah perbatasan yang menyulitkan fungsi monitoring, pengawasan
dan penegakan hukum, 3). Minimnya dukungan anggaran dalam mengembangkan
kapasitas pengawas perbatasan dan pembangunan di wilayah perbatasan, serta 4) Masih
rendahnya pemahaman perspektif maritim yang mempengaruhi pengembangan struktur
dan postur pertahanan dan keamanan Indonesia. UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintah
Daerah seringkali dipahami sebagai kebebasan daerah yang kadang berlebihan. Tak
mengherankan jika terdapat Peraturan Daerah yang dianggap tidak konsisten dengan
Peraturan Pusat, misal praktek peng”kavling”an wilayah perairan dalam kepentingan
eksplorasi alamnya, bahkan dalam fungsi penegakan hukum seperti Pemerintah Daerah
Provinsi Kepulauan Riau yang membeli sendiri kapal patroli laut.
Sulitnya kondisi alam yang terpencil tanpa akses transportasi dan komunikasi yang memadai
merupakan kendala utama dalam melakukan fungsi monitoring, pengawasan dan
penegakan hukum di wilayah perbatasan. Bahkan beberapa pulau terluar Indonesia, seperti
Pulau Rondo atau Pulau Fanildo tidak berpenghuni. Akibatnya penempatan dan pengerahan
petugas ke wilayah bersangkutan memerlukan biaya tinggi. Bahkan, pendirian Pos Lintas
Batas yang cenderung mengikuti keberadaan perusahaan, seperti terjadi di Kabupaten
Mindiptana berpotensi melegitimasi praktek “bisnis” yang dilakukan oleh aparat keamanan
atau TNI. 13
Salah satu penyebab rendahnya tingkat profesionalitas pengawas perbatasan atau aparat
keamanan di wilayah perbatasan adalah minimnya dukungan anggaran. Implikasi logis dari
kondisi ini adalah kemampuan alat utama sistem pertahanan tidak sesuai dengan kebutuhan
operasi di lapangan. Anggaran pertahanan Indonesia hanya sekitar 0,8 % dari nilai Produk
Domestik Bruto (PDB), bandingkan dengan Singapura yang mencapai 7,6 % dari PDB,
Malaysia sekitar 2,2% dari PDB dan Filipina senilai 1,1% dari nilai total PDB. 14 Sebagai negara
kepulauan dengan luas perairan sekitar 5,8 juta kilometer beserta 3 buah Alur Lintas Kapal
Internasional (ALKI) serta jajaran 17,499 pulau dengan panjang garis pantai sekitar 81,900 km,
pengelolaan wilayah perbatasan tentu memerlukan dukungan aparat keamanan terutama
13
Lihat Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Laporan Penelitian Bisnis Militer di
Boven Digoel, Papua, Februari-Maret 2004.
14
Buku Putih Pertahanan Negara RI 2008, Departemen Pertahanan Republik Indonesia hal.9
239
Diplomasi Bertetangga Baik dan Penegakan Hukum Dalam Manajemen Perbatasan Indonesia
TNI dan POLRI beserta alat operasi yang besar dalam melakukan operasionalisasi patroli dan
tindakan penegakan hukum. Patroli di wilayah ALKI dan udara Indonesia, misalnya, hanya
dilakukan 2 kali dalam sebulan dengan jadwal yang cenderung baku oleh TNI AU melalui
Operasi Rute Nusantara. 15 Rendahnya kemampuan patroli ini menjadi salah satu
penghambat sulitnya mendeteksi dan menindak jalur penyelundupan senjata di wilayah
perairan Indonesia dan maraknya praktek illegal fishing.
Gambar 1. Peta
Gambar 1. Pola Gelar Radar 16
Pemahaman terhadap perspektif maritim yang masih kurang menjadi tantangan keempat
dalam mengembangkan manajemen perbatasan. 17 Beberapa konsekuensi logis dari kondisi
ini adalah pengembangan postur dan strategi pertahanan negara yang masih berbasis darat;
masih bertumpunya pengamanan wilayah perbatasan pada fungsi militer bukan penegakan
hukum; masih kurangya perhatian dan prioritas pemerintah dalam pengembangan wilayah
perbatasan terutama pulau terluar dan pesisir pantai; dan masih minimnya pengetahuan
masyarakat tentang batas maritim Indonesia. Dalam sejarah Indonesia, perspektif maritim
baru berkembang paskca Deklarasi Djuanda tahun 1957 ketika Indonesia memperkenalkan
wawasan nusantara dan mengklaim secara sepihak wilayah laut territorial sepanjang 12 mil,
15
Perwira Siswa Angkatan LXXIII (2003) Optimalisasi Kemampuan Pengamanan dan Pengintaian TNI AU di
Wilayah ALKI dalam Rangka Meningkatkan Pertahanan Nasional pada Masa Lima Tahun mendatang. Naskah
Angkatan: Komando Pendidikan TNI Angkatan Udara, Sekolah Komando Kesatuan
16
Ibid, hal. 20
17
Lihat Alman, Diskusi dengan perwira TNI AL pada tanggal 10 Juni 2009.
240
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
bukan sepanjang 3 mil dari tepi pantai ketika keadaan surut seperti yang tertuang dalam
Territoriale Zee en Maritime Kringen Ordonantie (TZMKO-Ordonansi Laut dan Lingkungan
Maritim). Konsep warisan Belanda tentang wilayah kedaulatan Indonesia seakan
memisahkan jajaran ribuan pulau dan bukan dianggap sebagai wilayah kesatuan yang utuh.
Keberhasilan Diplomasi Djuanda sejak tahun 1957 untuk memperoleh pengakuan
kedaulatan dan hak berdaulat di laut (terutama kewenangan untuk eksplorasi sumber daya
alam) berwujud pada pengakuan dunia atas status negara kepulauan Indonesia dan dijamin
dalam hukum internasional melalui UNCLOS pada tahun 1982. UNCLOS mengakui
pengukuran wilayah negara kepulauan melalui penarikan garis pangkal lurus yang
merupakan rangkaian dari titik dasar. Melalui UU No.17 tahun 1985, Indonesia meratifikasi
UNCLOS yang memberikan landasan hukum internasional untuk mengklaim kedaulatan
perairan kepulauan (dalam), laut teritorial sepanjang 12 mil laut dan laut zona tambahan
sepanjang 24 mil dari garis pangkal lurus, serta hak berdaulat pada zonea ekonomi eksklusif
sepanjang 200 mil laut dan landasan kontinen sedalam 200 mil laut.
Gambar 2. Peta Indonesia 18
Gambar 2 di atas memberikan ilustrasi visual tentang bentang teritorial Indonesia. UNCLOS
1982 juga meletakan dasar bagi pengakuan kedaulatan udara di atas wilayah darat dan laut
sebuah negara sehingga Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki kesatuan wilayah
dengan unsur darat, laut dan udara. Lemahnya perspektif maritim, misalnya, menyebabkan
lemahnya tindakan pengawasan di wilayah perairan yang menyebabkan aksi illegal fishing
menjadi sulit untuk diantisipasi. Departemen Perikanan dan Kelautan memperkirakan
bahwa potensi kerugian negara akibat aksi illegal fishing mencapai Rp 40 trilyun per tahun. 19
Kurangnya perhatian dan prioritas pemerintah terhadap pulau terluar, terutama yang
18
http://www.bakosurtanal.go.id/upl_document/pucil/files/PKTNKRI_1500px.jpg, diakses Selasa, 16 Juni
2009
19
Kerugian Akibat Illegal Fishing Mencapai Puluhan Trilyun, Kontan Online,
http://www.kontan.co.id/index.php/bisnis/news/13575/Kerugian_Akibat_Illegal_Fishing_Mencapai_Puluhan
Triliun, diakses Selasa, 12 Juni 2009, pukul 15.28 WIB
241
Diplomasi Bertetangga Baik dan Penegakan Hukum Dalam Manajemen Perbatasan Indonesia
berbatasan laut dengan negara tetangga seperti Pulau Miangas, seringkali memunculkan
klaim kelunturan rasa nasionalisme yang diukur dengan penggunaan uang Peso milik
Filipina dan lebih seringnya penduduk Miangas melakukan aktifitas ekonomi ke wilayah
Filipina daripada ke pulau terdekat di wilayah Indonesia. Padahal persoalan utama di Pulau
Miangas adalah bagaimana mengoptimalkan pengembangan daerah dan fungsi
pengawasan di perbatasan, sehingga tidak tepat jika justifikasi fungsi pembinaan teriorial
oleh TNI melalui program peningkatan kesadaran bela negara dikembangkan untuk
menumbuhkan identitas ke-Indonesia-an di pulau tersebut.
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa karakteristik utama permasalahan di
wilayah perbatasan Indonesia adalah potensi konflik dengan negara tetangga yang
berbatasan karena perbedaan klaim teritorial dan lemahnya pemahaman dasar atas
konsekuensi kondisi bentang teritorial dengan kemampuan mengantisipasi berbagai
ancaman keamanan yang bersifat non-militer. Bahkan Buku Pertahanan Indonesia tahun
2008 menyimpulkan tentang rendahnya kemungkinan bentuk ancaman dalam bentuk
agresi militer dari negara lain. Walaupun terdapat elemen ancaman militer, tingkatannya
lebih pada bentuk manuver militer, bukan agresi okupasi, seperti manuver kapal laut
Malaysia di sekitar blok Ambalat akhir bulan Mei 2009 lalu. Bentuk ancaman keamanan yang
bersifat non-militer harus diantisipasi dengan peningkatan dan pelibatan otoritas sipil.
Sehingga, strategi yang dikembangkan harus menitikberatkan pada fungsi penegakan
hukum dan bukan pengembangan doktrin militer tentang bagaimana melumpuhkan
“ancaman sebagai musuh”. Kekhawatiran penggunaan wilayah perbatasan sebagai tempat
berlindung kelompok separatis Organisasi Papua Merdeka di perbatasan Indonesia dan
Papua New Guinea, misalnya, harus disikapi dengan kerangka penyelesaian konflik melalui
dialog dan memaksimalkan pengembangan wilayah perbatasan. Angela Mackay
mendefinisikan pengawas perbatasan sebagai institusi di bawah otoritas sipil dengan fungsi
untuk melakukan tindakan preventif bagi kegiatan lintas batas yang bersifat ilegal, dan
melakukan deteksi terhadap keamanan nasional melalui pengintaian perbatasan darat dan
laut. 20 Kondisi ini jelas menunjukkan relevansi kuat antara pengembangan strategi
manajemen perbatasan dengan proses reformasi sektor keamanan. Bagaimana
mengembangkan fungsi aparat keamanan yang sesuai dengan kemampuan antisipasif
dalam mengatasi ancaman keamanan di wilayah perbatasan.
3.
Alternatif Strategi Manajemen Perbatasan Indonesia
Efektifitas dan efisiensi manajemen perbatasan akan terpenuhi jika pertanyaan dasar
tentang batasan territorial Indonesia telah jelas dan dijamin hukum. Peraturan Pemerintah
No. 37 tahun 2008 tentang Perubahan Peraturan Pemerintah No.38 tahun 2002 tentang
Daftar Koordinat Geografis Titik-Titik Pangkal Kepulauan harus dijadikan landasan hukum
dasar dalam pembuatan peta nasional Indonesia yang memenuhi standar Internasional, baik
peta darat dan laut. Penggunaan rujukan peta yang sama dan tepat dalam kesepakatan
delimitasi dan demarkasi menjadi vital dalam tindakan penegakan hukum. 21 Tidak adanya
20
Mackay, Angela, Loc. Cit.
21
Merrils, J.G (2003) Soverighty over Pulau Ligitan dan Pulau Sipadan (Indonesia V Malaysia), Merits, Judgement
0f 17 Desember 2002, The International and Comparative Law Quarterly 52 (3): 797-802
242
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
bukti peta dalam Konvensi 1891 antara Belanda dan Inggris, misalnya, menjadi dasar yang
turut menggugurkan argumen Indonesia untuk memperoleh kedaulatan atas Pulau Sipadan
dan Ligitan. 22 Bahkan peta rujukan harus dipastikan applicable dengan peranti elektronik
yang digunakan oleh instansi yang berwenang dalam penentuan posisi kordinasi. 23 Selain
itu, pembuatan teknis sebuah peta juga harus memperhatikan konstruksi sosial, ekonomi
dan politik komunitas di wilayah perbatasan. Oleh karena itu, manajemen perbatasan harus
melingkupi proses pembaruan peta secara berkala dan sebaiknya disepakati dalam proses
delimitasi dan demarkasi. Keterlibatan para ahli teknis geo-spasial, sejarahwan, antropolog
dan sosiolog dalam proses delimitasi dan demarkasi menjadi penting dan urgent.
Di satu sisi, delimitasi dan demarkasi di wilayah perbatasan memang vital untuk menentukan
domain kewenangan sebuah otoritas negara terutama hak eksplorasi sumber daya alam.
Konflik perbatasan lebih banyak dipicu oleh motif ekonomi atas penguasaan sumber daya
alam, seperti konflik di blok Ambalat, celah Timor, atau illegal fishing di sekitar perairan Pulau
Miangas. Namun di sisi lain, spektrum ancaman keamanan semakin mengabaikan identitas
teritorial dan cenderung bersifat borderless karena aktor pelaku bukan lagi negara. Modus
penyelundupan senjata, narkotika atau manusia, misalnya, bertumpu pada pembentukan
sindikat dan memanfaatkan kelemahan penegakan hukum akibat praktek korupsi, kondisi
alam, dan lemahnya infrastruktur. Ancaman perompakan di Selat Malaka juga tidak
melibatkan indentitas negara, tapi lebih pada motif kepentingan pribadi atau kelompok.
Sehingga, kemungkinan kerjasama keamanan dengan negara yang berbatasan harus terus
didorong dalam mengatasi bentuk ancaman kejahatan lintas batas.
Penyusunan panduan kebijakan manajemen perbatasan nasional atau semacam cetak biru
mendesak untuk dilakukan sebagai landasan mengatasi overlapping kewenangan, terutama
dalam tataran operasionalisasi. Secara bertahap, terencana, terukur dan akuntabel, panduan
ini harus mampu mentransformasi sistem manajemen perbatasan yang masih bersifat
sektoral dan ad hoc menjadi sebuah sistem manajemen yang permanen. Format sistem
manajemen perbatasan sebaiknya dibangun berdasarkan pendekatan fungsional agar
mampu bersifat fleksibel dan akomodatif terhadap keberadaan instnasi yang telah ada.
Konsep manajemen perbatasan satu atap atau one roof management 24 merupakan orientasi
yang sangat strategis untuk mengatasi permasalahan overlapping kewenangan.
Kelembagaan manajemen perbatasan permanen harus mampu mengakomodasi dinamika
kondisi internal dan eksternal yang dihadapi oleh Indonesia. Oleh karena itu, penyusunan
22
23
ibid
I Made Andi Arsana (2007) Batas Maritim Antarnegara: Sebuah Tinjauan Teknis dan Yuridis. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press dan I Made Arsana dan Sumaryo Suryosumarto. Aspek Geo-spasial Batas Maritim
Internasional Indonesia dalam Pengelolaan Wilayah Perbatasan, Proceseding Workshop Pengelolaan Wilayah
Perbatasan dalam Rangka Menjaga Keutuhan Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Yogyakarta:
Jurusan Ilmu Hubungan Internacional, UPN “Veteran
24
Lihat Bonggas Adhi Chandra 2008) “Mencari Format Manajemen Perbatasan yang Komprehensif”
Proceseding Workshop Pengelolaan Wilayah Perbatasan dalam Rangka Menjaga Keutuhan Wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia. Yogyakarta: Jurusan Ilmu Hubungan Internacional, UPN “Veteran” 18-19
November 2008.
243
Diplomasi Bertetangga Baik dan Penegakan Hukum Dalam Manajemen Perbatasan Indonesia
panduan ini harus berlandaskan hasil penelitian lapangan yang komprehensif dan mampu
mengakomodasi karakteristik khusus dari setiap permasalahan di wilayah perbatasan.
Sebuah kebijakan yang didasarkan atas data empirik dan analisa peta permasalahan yang
tepat tentu akan lebih aplikatif dan diterima dengan baik oleh semua kalangan.
Langkah kongkret yang dapat segera dilakukan dalam memulai transformasi manajemen
perbatasan adalah realisasi mandat Pasal 14 tentang pembentukan badan pengelola
perbatasan terlepas dari kekurangan yang ada. Konsep Badan Pengelola Perbatasan (BPP) ini
sebenarnya telah mengakomodasi perspektif keterlibatan pemerintah daerah dan semangat
desentralisasi 25 dengan fungsi koordinatif. Namun, kewenangan badan ini terbatas pada
fungsi koordinatif program pembangunan dan tidak mencakup fungsi koordinatif pada
tindakan penegakan hukum. Sehingga, badan ini cenderung bersifat ad hoc dan seakan
melupakan fungsi vital wilayah perbatasan dalam mengantisipasi ancaman keamanan.
Pembangunan di wilayah perbatasan seharusnya memiliki konsistensi dengan
pembangunan nasional serta struktur dan postur aparat keamanan terutama TNI dan Polri.
Secara sederhana, gambaran format manajemen perbatasan satu atap dapat dibangun
dengan bentuk struktur kelembagaan di bawah ini:
Koordinasi Diplomasi
Perbatasan
(Deplu)
Komite Perbatasan
Bilateral
Pengawas Perbatasan:
Darat, Laut, Udara
TNI
Polri
Intelijen
Bea cukai
Imigrasi
Badan Pengelola
Perbatasan Pusat
Sekretariat
(Depdagri)
Badan Pengelola
Perbatasan Pusat
Instansi fungsional terkait
Sektor Privat (Bisnis & Industri)
Lembaga Non Pemerintah
Bagan 2: Alternatif Struktur Manajemen Perbatasan
25
Aryanta Nugraha. “Institusionalisasi Pengelolaan Wilayah Perbatasan Indonesia” dan Suyatno, “Globalisasi,
Perbatasan Indonesia – Malaysia, dan Local Governance”, Proceseding Workshop Pengelolaan Wilayah
Perbatasan dalam Rangka Menjaga Keutuhan Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Yogyakarta: Jurusan
Ilmu Hubungan Internacional, UPN “Veteran” 18-19 November 2008
244
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Format ini dibangun dengan pendekatan diplomasi perbatasan dengan tiga tingkatan, yaitu
1). koordinasi diplomasi perbatasan dengan leading sektor Departemen Luar Negeri melalui
pertemuan tingkat tinggi antar pemerintah negara, 2) koordinasi kebijakan teknis tingkat
melalui pertemuan tingkat menteri atau pejabat senior, dan 3) koordinasi tingkat teknis
operasional melalui pertemuan tingkat pejabat lokal, instansi terkait atau kerjasama
keamanan bersama di wilayah perbatasan. Pada tingkat pertama, secara khusus difokuskan
pada negara tetangga yang memiliki perbatasan langsung dengan Indonesia, yaitu Australia,
India, Singapura, Kepulauan Palau, Malaysia, Vietnam, Filipina, Timor Leste, Thailand dan
Papua New Guinea melalui semangat diplomasi bon voisinage. Beberapa di antaranya telah
terlembagakan dalam bentuk komite perbatasan bilateral seperti dengan Malaysia, Filipina,
Timor Leste, Papua Nugini dan Singapura. Bentuk diplomasi ini sebenarnya bagian dari upaya
preventive diplomacy dalam mengantisipasi eskalasi konflik perbatasan. Kunci utamanya
terletak pada peningkatan confidence building dalam mematangkan hubungan kedua
negara. Pada tingkat kedua, komite perbatasan bertanggung jawab untuk
mengkoordinasikan kebijakan teknis, terutama proses delimitasi dan demarkasi kepada
negara yang berbatasan, termasuk kemungkinan melakukan kerjasama di wilayah
perbatasan. Khusus untuk tingkatan pertama dan kedua, hubungan sejarah bilateral antara
kedua negara yang berbatasan seringkali mempengaruhi bentuk kebijakan yang diambil.
Manajemen perbatasan antara Amerika Serikat dengan Kanada dan Meksiko dalam kerangka
North American Free Trade (NAFTA), misalnya, memperlihatkan praktek ini. Bagaimana image
dan nasionalisme mempengaruhi para pengambil kebijakan Amerika Serikat dalam
melakukan diplomasi perbatasan 26 dengan kedua negara. Eskalasi konflik antara Indonesia Malaysia juga dipengaruhi oleh sejarah hubungan kedua negara. Sedangkan, tingkat ketiga
bersifat lebih koodinasi operasionalisasi kebijakan baik antar instansi tingkat domestik
maupun dengan co-partner di sebuah negara.
Mempertimbangkan empat tantangan kondisi riil yang perlukan dikembangkan adalah
kebijakan afirmatif untuk mempercepat pembangunan dan penguatan fungsi penegakan
hukum di wilayah perbatasan. Salah satu kebijakan afirmatif yang dalam pengembangan
pembangunan wilayah perbatasan adalah mengakomodasi peran sektor bisnis dan industri
(private sector) serta lembaga non-pemerintah dalam pengembangan wilayah perbatasan.
Peran sektor privat terutama difokuskan untuk pembangunan infrastruktur yang akan
menstimulasi aktifitas ekonomi di wilayah perbatasan. Pemberian izin usaha harus
mempertimbangkan konstruksi sistem sosial, ekonomi dan politik komunitas perbatasan.
Pemberian Hak Pengelolaan Hutan di Kalimantan, misalnya, dinilai mengabaikan kontruksi
sistem sosial, ekonomi, dan politik komunitas di perbatasan karena tidak mampu
meningkatan kesejahteraan komunitas setempat dan sebaliknya menimbulkan kompetensi
yang mendorong meluasnya praktek illegal logging. Peran lembaga non-pemerintah dapat
menjadi bagian sistem transparansi dan akuntalitas dalam implementasi program
26
Cottam, Martha L & Otwin Marenin (2005) The Management Border Security in NAFTA: Imagery, Nationalism &
the War on Drugs, International Criminal Justice Review 15(1): 5-37
245
Diplomasi Bertetangga Baik dan Penegakan Hukum Dalam Manajemen Perbatasan Indonesia
pembangunan di wilayah perbatasan. Salah satu kegagalan dari program pembangunan di
Papua, khususnya, di wilayah perbatasan karena lemahnya proses pengawasan atas
implementasi program pembangunan.
Penguatan fungsi penegakan hukum dilakukan dengan penguatan otoritas sipil dan
profesionalitas aparat keamanan, yaitu TNI-Polri-Intelijen. Hal ini terkait dengan upaya
penguatan otoritas sipil dalam mengantisipasi karakteristik ancaman keamanan. Lemahnya
fungsi penegakan hukum di perbatasan darat Indonesia-Malaysia di Kalimantan atau
Indonesia-Papua Nugini di Papua, misalnya, tidak hanya disebabkan oleh minimnya
penempatan petugas pengawas perbatasan, namun lebih pada legitimasi pengerahan
aparat keamanan sebagai operasi ”pemberantasan” aksi separatisme 27 sehingga muncul
ekses tindakan kekerasan terhadap masyarakat setempat. Pemerintah harus memulai
perubahan pendekatan militer dalam mengantisipasi ancaman keamanan di perbatasan
dengan memperkuat kapasitas otoritas sipil. Rencana Malaysia untuk membangun kabel
listrik bawah laut dari Serawak ke Pulau Malaysia sepanjang 725 km yang akan melewati
perairan Indonesia Kepulauan Natuna dan Anabas atau Natuna 28 jelas bukan merupakan
ancaman militer namun melewati wilayah sekitar perbatasan Indonesia.
Peningkatan profesionalitas TNI - Polri - intelijen harus dilakukan paralel dengan peningkatan
koordinasi dengan instasi terkait dalam pengamanan perbatasan, seperti bea cukai, imigrasi,
Departemen Kelautan dan Perikanan sebagai bagian upaya penguatan otoritas sipil. Secara
khusus, peningkatan profesionalitas TNI - Polri – Badan intelijen harus difokuskan pada
kejelasan mandat kewenangan, kompetensi serta dukungan peralatan dalam menjamin
keamanan perbatasan. Manuver kapal laut Malaysia di blok Ambalat merupakan wujud unjuk
kekuatan atas kelemahan kekuatan TNI terutama terkait dengan dukungan kapabilitas
persenjataan. Perintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk mengevaluasi kondisi
alutsista pertahanan harus dinilai sebagai good will pemerintah dalam upaya peningkatan
kapasitas TNI. Salah satu kebijakan afirmatif yang harus dilakukan pembentukan badan
pengawas perbatasan. Badan pengawas perbatasan seharusnya tidak memisahkan wilayah
perbatasan secara sektoral berbasis domain darat, laut dan udara, namun harus sebagai
integrated forces yang pengerahannya disesuaikan dengan tingkat prioritas ancaman.
Keberadaan Bakorkamla merupakan wujud nyata dari perspektif dan kepentingan sektoral.
Tidak mengherankan jika Bakorkamla cenderung berkembang menjadi aktor operasional
daripada fungsi koordinatif bukan aktor operasional. Kewenangan DKP sebagai salah satu
aktor pengawas perairan termasuk di wilayah perbatasan harus ditinjau ulang karena
bertendensi untuk mengaburkan fungsi Departemen sebagai lembaga koordinasi kebijakan
perikanan dan kelautan menjadi lembaga penegak hukum.
27
Kontras, Loc.Cit
Malaysia Bangun Kabel Laut Melintasi Indonesia,
http://www.tempointeraktif.com/hg/ekbis/2008/08/18/brk,20080818-131246,id.html, diakses 15 Juni 2009
pukul 21.47 W
28
246
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Kesimpulan
Permasalahan perbatasan antar negara di Indonesia bersumber pada dua hal pokok, yaitu
kedaulatan dan manajemen dan berpengaruh pada kemampuan negara dalam
mengantisapsi ancaman keamanan yang lebih bersifat non-militer seperti kejahatan lintas
batas, pelanggaran atas kedaulatan dan hak berdaulat serta pergerakan manusia lintas batas
secara tradisional atau illegal. Oleh karena itu, solusi penanganan terhadap bentuk ancaman
tersebut harus difokuskan pada upaya penyusunan kebijakan nasional tentang manajemen
perbatasan serta penguatan badan pengawas dan pengelola perbatasan. Kebijakan nasional
tentang manajemen perbatasan menjadi vital untuk mengatasi overlapping kewenangan,
selain sebagai salah indikator keberhasilan dari reformasi sektor keamanan. Keberadaan
badan pengawas dan pengelola perbatasan merupakan salah upaya implementasi kebijakan
satu atap dalam membangun sistem manajemen perbatasan. Alternatif solusi ini didasarkan
pada pertimbangan sejumlah tantangan dari dinamika kondisi domestik Indonesia, yaitu
proses konsolidasi demokrasi, kondisi wilayah perbatasan, dukung anggaran dan
pemahaman terhadap perspektif maritim. Penekanan pada dua solusi ini dilandaskan pada
pendekatan antisipatif dan preventif terhadap potensi konflik di wilayah perbatasan.
Pendekatan diplomasi bon voisinage sebagai bagian dari diplomasi perbatasan sebenarnya
bertujuan untuk menciptakan kondisi kondusif bagi peningkatan kualitas sistem
manajemen perbatasan, khususnya lingkup domestik. Pecahnya konflik perbatasan dengan
negara tetangga tentu hanya akan menghambat dan mengurangi kemampuan sumber daya
negara dalam melakukan reformasi sistem manajemen perbatasan.
Perlu ditekankan bahwa penyusunan kebijakan nasional tentang manajemen perbatasan
tersebut harus didahului oleh sebuah penelitian mendalam atas pemetaan permasalahan di
wilayah perbatasan. Kebijakan merupakan instrumen yang akan melegitimasi pilihan
langkah pemerintah dalam mengatasi masalah yang muncul. Sehingga, kebijakan harus
benar-benar berasal dari data empirik dan hasil evaluasi atas permasalahan yang terjadi.
Selain ini, proses penyusunan kebijakan yang melibatkan dan mengakomadasi kepentingan
sepihak pihak yang terkait, stakeholder, cenderung akan lebih mudah diimplementasikan
karena mendapat dukungan. ¦
Referensi
Buku:
Arsana, I Made Andi. (2007). Batas Maritim Antarnegara: Sebuah Tinjauan Teknis dan Yuridis.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Buku Putih Pertahanan Negara RI 2008, Departemen Pertahanan Republik Indonesia
Perwita, Anak Agung Banyu. (2007). ”Manajemen Perbatasan Negara: Keamanan Nasional”,
dalam Beni Sukadis (ed.), Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2007. Jakarta: DCAFLESPERSSI
Hadiwijoyo, Suryo Sakti. (2009). Batas Wilayah Negara Indonesia: Dimensi, Permasalahan
dan Strategi Penanganan (Sebuah Tinjauan Empiris dan Yuridis). Yogyakarta: Penerbit Gava
Media.
247
Diplomasi Bertetangga Baik dan Penegakan Hukum Dalam Manajemen Perbatasan Indonesia
Mackay, Angela. (2008). “Border Management & Gender”, dalam Megan Bastick & Kristin
Valasek, Gender and Security Sector Reform Toolkit. Geneva: DCAF,OSCE/ODIHR, UN-INSTRAW.
Rudito. (2007). “Isu-Isu Seputar Keamanan Perbatasan”, dalam Aditya Batara & Beni Sukadis
(eds), Reformasi Manajemen Perbatasan: Dalam Transisi Demokrasi. Jakarta: DCAF-LESPERSSI.
Laporan/Policy Paper/Jurnal:
Arsana, I Made dan Sumaryo Suryosumarto. (2008). “Aspek Geo-spasial Batas Maritim
Internasional Indonesia dalam Pengelolaan Wilayah Perbatasan”, dalam Proceeding
Workshop Pengelolaan Wilayah Perbatasan dalam Rangka Menjaga Keutuhan Wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia. Yogyakarta: Jurusan Ilmu Hubungan Internacional, UPN
“Veteran” 18-19 November 2008.
Cottam, Martha L & Otwin Marenin. (2005). “The Management Border Security in NAFTA:
Imagery, Nationalism & the War on Drugs”, International Criminal Justice Review 15(1).
Henrikson, Alan K. (2000). “Facing Across Border: The Diplomacy of Bon Voisinage”,
International Political Science Review 21 (2).
Institute for Defense, Security, and Peace Studies. (2009). Pengelolaan & Pengamanan Wilayah
Perbatasan Negara, Policy Paper.
Jaelani, Lalu Muhammad. (2004). Pengaruh Pulau-Pulau Terluar Terhadap Batas Laut
Indonesia, makalah dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan I, Teknik Geodesi. Surabaya: Institut
Teknologi Surabaya.
Merrils, J.G (2003). “Soverighty over Pulau Ligitan and Pulau Sipadan” (Indonesia V Malaysia),
Merits, Judgement 0f 17 Desember 2002, The International and Comparative Law Quarterly 52
(3)
Nugraha, Aryanta. (2008). ”Institusionalisasi Pengelolaan Wilayah Perbatasan Indonesia”,
dalam Proceeding Workshop Pengelolaan Wilayah Perbatasan dalam Rangka Menjaga
Keutuhan Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Yogyakarta: Jurusan Ilmu Hubungan
Internacional, UPN “Veteran” 18-19 November 2008.
Perwira Siswa Angkatan LXXIII. (2003). Optimalisasi Kemampuan Pengamanan dan
Pengintaian TNI AU di Wilayah ALKI dalam Rangka Meningkatkan Pertahanan Nasional pada
Masa Lima Tahun mendatang. Naskah Angkatan: Komando Pendidikan TNI Angkatan Udara,
Sekolah Komando Kesatuan.
Setiawan, Aria Aditya. (2008). ”Mengelola Perbatasan Indonesia Indonesia-Papua New
Guinea dengan Pendekatan Non-Tradisional”, dalam Proceeding Workshop Pengelolaan
Wilayah Perbatasan dalam Rangka Menjaga Keutuhan Wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Yogyakarta: Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, UPN “Veteran” 18-19 November
2008.
Singh, Sidhu Waheguru Pal & Jing Don Yuan. (2001). “Resolving the Sino-Indian Border
Dispute: Building Confidence through Cooperative Monitoring”, Asia Survey 41 (2).
Sutisna, Sobar, Sora Lokita dan Sumaryo Suryosumarto. (2008). “Boundary Making
Theory and Pengelolaan Perbatasan di Indonesia”, dalam Proceeding Workshop Pengelolaan
Wilayah Perbatasan dalam Rangka Menjaga Keutuhan Wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Yogyakarta: Jurusan Ilmu Hubungan Internacional, UPN “Veteran” 18-19 November
2008
248
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Suyatno. (2008). “Globalisasi, Perbatasan Indonesia – Malaysia, dan Local Governance”, dalam
Proceeeding Workshop Pengelolaan Wilayah Perbatasan dalam Rangka Menjaga Keutuhan
Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Yogyakarta: Jurusan Ilmu Hubungan
Internasional, UPN “Veteran” 18-19 November 2008
Zacher, Mark W. (2001). “The Teritorial Integrity Norm: International boundaries and the Use
of Force”, International Organization 55 (2).
Situs Internet:
http://www.bakosurtanal.go.id/upl_document/pucil/files/PKTNKRI_1500px.jpg, diakses
Selasa, 16 Juni 2009
Kerugian Akibat Illegal Fishing Mencapai Puluhan Trilyun, Kontan Online,
http://www.kontan.co.id/index.php/bisnis/news/13575/Kerugian_Akibat_Illegal_Fishing_
Mencapai_Puluhan_Triliun, diakses Selasa, 12 Juni 2009, pukul 15.28 WIB
249
Organisasi Masyarakat Sipil dan Reformasi Sektor Keamanan
Organisasi Masyarakat Sipil dan Reformasi Sektor Keamanan
Mufti Makaarim A 1
Abstraksi
Reformasi Sektor Keamanan (RSK) di Indonesia merupakan satu contoh menarik, dimana
proses penting perubahan bermula dan terjadi hampir sepenuhnya oleh dan dengan
intervensi para pihak yang merupakan stake-holder dalam negeri, yaitu pemerintah,
parlemen, sektor keamanan dan organisasi masyarakat sipil (OMS). 2 Para stake-holder sektor
keamanan tersebut awalnya memberikan respon atas tuntutan pencabutan dwifungsi
Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) 3 –sebagai gabungan militer-polisi—pada
1997-1998, sebagai institusi yang dianggap bertanggungjawab terhadap 32 tahun
otoritarianisme Orde Baru. Dalam perkembangannya, mereka bergerak lebih jauh pada
advokasi perubahan kebijakan dan tata kelola (governance) serta struktur dan kultur institusi
keamanan (militer-polisi-intelijen) dari sistem lama yang otoritarian menuju sistem baru
yang demokratis.
Lahirnya sejumlah kebijakan di sektor keamanan yang lebih demokratis, perubahan relasi
pemerintahan sipil-aktor keamanan, tumbuhnya concern pemerintah mendorong
ketundukan aktor keamanan pada nilai-nilai universal negara demokrasi dan hukum-hukum
internasional, serta berkembangnya mekanisme check and balance antara parlemenpemerintah-aktor keamanan, diakui tidak lepas dari peran-peran OMS. Mereka berperan
dalam mendorong, mempengaruhi, menekan dan memastikan terjadinya demokratisasi di
level legislasi dan kebijakan maupun di level operasional terkait perubahan struktur, postur,
prilaku dan budaya aktor-aktor keamanan. Dalam perkembangan terakhir, sejumlah
tantangan dan hambatan terhadap upaya-upaya advokasi OMS muncul, seiring dengan
berlalunya momentum reformasi dan menguatnya kembali resistensi negara –termasuk
aktor keamanan— atas tuntutan kontinuitas dan konsistensi reformasi dan demokratisasi.
Dengan kendala-kendala tersebut, praktis capaian RSK tidak maksimal, ditambah dengan
sejumlah tantangan internal komunitas OMS.
1
Mufti Makaarim, adalah Direktur Eksekutif Institute for Defense Security and Peace Studies (IDSPS), Jakarta,
Indonesia, terlibat dalam Jaringan Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan yang merupakan koaliasi
nasional untuk advokasi RSK yang melibatkan sejumlah lembaga seperti Elsam, HRWG, IDSPS, INFID, Kontras,
Lesperssi, Perkumpulan Praksis, Propatria Institute, dll.
2
Pandangan ini berdasarkan pengamatan terhadap dinamika politik dalam proses-proses formulasi legislasi
dan kebijakan di sektor keamanan yang terpublikasi media.
3
Dwifungsi ABRI diyakini sebagai doktrin militer Indonesia yang memberi legitimasi atas peran mereka di
bidang keamanan dan ketertiban serta kekuasaan dan hak terlibat dalam pengaturan negara. Secara implisit,
doktrin ini memberi peluang militer memegang posisi di dalam pemerintahan. Di tangan Soeharto, doktrin ini
mengesahkan pelibatan militer di bidang-bidang strategis pemerintahan seperti menteri, gubernur, bupati,
serta lembaga-lembaga legislatif dalam wadah Fraksi ABRI/TNI-POLRI. Lihat Daniel Dhakidae, Politik Militer
Indonesia dan Kolonialisme Internal, dalam Anas S. Machfudz & Jaleswari Pramodhawardani, Military Without
Militerism; Suara dari Daerah (Jakarta: Puslitbang Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI, 2001) h. 139-142
250
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Tulisan ini berupaya mengurai secara singkat dinamika advokasi OMS setidaknya dalam 5
tahun terakhir, satu masa di bawah pemerintahan duet Susilo Bambang Yudhoyono–Jusuf
Kalla (SBY-JK). Dinamika tersebut meliputi aktivitas, kekuatan, kelemahan, tantangan dan
peluang OMS untuk advokasi RSK. Termasuk menggambarkan reaksi, apresiasi, tindak lanjut
ataupun resistensi parlemen-pemerintah-aktor keamanan terhadap advokasi OMS. Secara
umum dalam tulisan ini akan diuraikan refleksi terhadap dinamika advokasi OMS, merujuk
pada hasil penelitian Institute for Defense, Security and Peace Studies (IDSPS) tentang
efektivitas peranan OMS dalam advokasi RSK yang telah dipublikasikan pada Maret 2008.
Pengantar
RSK merupakan suatu upaya berkelanjutan dari para stake-holder sektor keamanan
(parlemen, pemerintah dan aktor keamanan) bersama OMS mendorong perubahan
kebijakan dan tata kelola (governance) serta institusi keamanan dari satu sistem lama yang
otoritarian menuju sistem baru yang lebih demokratis. Konsep ini menunjukkan bahwa
agenda RSK tidak dapat dipisahkan dari proses politik dan dukungan pelbagai kalangan,
termasuk dari internal aktor keamanan dan masyarakat. Selain faktor dukungan momentum
1997-1998 –dimana pemerintah atau aktor keamanan dihadapkan pada situasi tidak ada
pilihan selain mendorong reformasi, upaya yang telah dirintis lama dari kalangan masyarakat
sipil terbukti juga berpengaruh terhadap perubahan di sektor keamanan –termasuk menjadi
input yang berguna bagi percepatan proses dan keunggulan kualitas perubahan yang
dihasilkan.
Patut diakui, jauh sebelum tumbangnya rezim Soeharto, inisiatif kalangan OMS mendorong
demokratisasi dan perubahan politik sudah berjalan, meskipun tidak sekuat gerakan 19971998. Pemerintah Orde Baru yang ditopang oleh kekuatan militer dengan kebijakan
membangun dan mempertahankan stabilitas politik dan ekonominya dengan segala cara,
tidak pernah lepas dari kritik dan tekanan dari kalangan NGO, terutama yang berbasis pada
advokasi isu-isu hak asasi manusia (HAM) dan pembangunan. Mereka bersama-sama dengan
kalangan akademisi kritis dan komunitas jurnalis menjadi inisitator gerakan mahasiswa di
kampus, aksi kelompok-kelompok sektoral (buruh, petani, nelayan), perlawanan komunitas
korban (terutama mereka yang menjadi korban kebijakan pembangunan seperti korban
penggusuran) dan sejumlah organisasi mantan tahanan politik Orde Baru. Menjelang akhir
masa pemerintahan Orde Baru, investasi segelintir NGO ini membuahkan hasil; yaitu adanya
pergerakan yang hampir serentak seluruh elemen masyarakat sipil untuk mendelegitimasi
pemerintahan Soeharto. 4
Transisi demokrasi di Indonesia paska 1998 mendorong terjadinya pelibatan OMS lebih jauh
dalam peran-peran strategis RSK dan advokasinya, walaupun tidak serta merta disertai
dengan pelibatan dan keterbukaan akses terhadap mereka dalam RSK. Jauh sebelumnya,
wacana RSK tidak populer di kalangan OMS, mengingat isu sentral pada masa tersebut
4
Mufti Makaarim A., Peran Organisasi Masyarakat Sipil Dalam Reformasi Sektor Keamanan, dalam Beni Sukadis
(Ed.), Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2007 (Jakarta: Lesperssi-DCAF), h. 146-147
251
Organisasi Masyarakat Sipil dan Reformasi Sektor Keamanan
adalah kritik terhadap otoritarianisme rezim militer Orde Baru dan ekses negatif atas
dominasi mereka di setiap bidang pemerintahan, politik, ekonomi, bahkan sosial budaya.
Tema-tema kritis yang terkait sektor keamanan pada kurun waktu tersebut antara lain:
1. Resistensi terhadap kebijakan politik Orde Baru yang didominasi keputusankeputusan Soeharto dan kalangan militer. Dwifungsi ABRI dan manifestasinya
melalui Struktur Komando Teriorial mulai dari tingkat pusat hingga desa dituding
sebagai celah legitimisasi dan pintu masuk bagi aktivitas-aktivitas politik petinggi militer
di level yudikatif, legislatif dan eksekutif. 5 Diskursus perihal hubungan sipil-militer,
Dwifungsi ABRI, peran militer dalam negara demokrasi, serta kepemimpinan militer-sipil
mengemuka, karena jelas-jelas terjadi tarik menarik pengaruh dan dominasi antara elit
sipil-militer. 6
2. Kritisi terhadap peran-peran represi ABRI (dimana kepolisian termasuk
didalamnya) yang dituding berlebihan dan melanggar hak asasi, baik dalam
menghadapi masalah-masalah “sparatisme” di wilayah-wilayah panas seperti Aceh,
Papua dan Timor Timur, maupun dalam menghadapi perlawanan masyarakat terhadap
kebijakan pembangunan pemerintah. Nilai-nilai universal HAM dimunculkan sebagai
parameter penilaian dan kritik terhadap pelbagai tindak kekerasan ABRI yang
menyebabkan jatuhnya korban di masyarakat. Beberapa organisasi HAM menerbitkan
laporan-laporan kasus, melakukan advokasi hukum dan bahkan menembus
mekanisme-mekanisme HAM internasional, seperti treaty-bodies di Komisi HAM PBB
–sekarang berubah menjadi Dewan HAM PBB.
3. Resistensi terhadap figur Soeharto yang semakin lama berkuasa cenderung tiranik
dan korup. Efektivitas pengelolaan kekuatan-kekuatan sosial, politik dan ekonomi di
bawah kaki tangan militernya bukan saja memunculkan perlawanan-perlawanan politik,
namun juga membuka mata publik yang melihat praktek-praktek kroniisme, nepotisme
dan korupsi yang kian telanjang dan berujung pada krisis ekonomi. Wacana turunkan
Soeharto, Cabut Dwifungsi ABRI, berantas KKN (Kolusi, Korupsi, Nepotisme) yang pada
akhirnya menjadi kunci pamungkas untuk memaksa Soeharto turun dari panggung
kekuasaan, tidak semata-mata didasari pada watak militeristik rezim, tetapi juga
dipengaruhi kekecewaan publik atas memburuknya situasi ekonomi pada 1997-1998. 7
A. 1998-2004 : Periode Keemasan Advokasi RSK
Dalam catatan IDSPS, pada periode 1998-2004 terjadi satu kontinuitas advokasi OMS
untuk mendorong, mempengaruhi dan mengawasi proses-proses RSK, walaupun pada
tingkat tertentu gradasi penurunan terjadi, seiring dengan dilengserkannya Presiden
5
Untuk pembahasan lebih dalam tentang Dwifungsi ABRI lihat Sukardi Rinakit, The Indonesian Military After
the New Order (Singapura: Institute of Southeast Asian Studies, 2005), h. 13-60
6
Untuk mendapat gambaran dinamika politik dan relasi pemerintahan sipil-militer paska kemerdekaan dan di
masa Orde Baru lihat Salim Said, Soeharto's Armed Forces; Problems of Civil Military Relation in Indonesia
(Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2006).
7
Mufti Makaarim A., Masyarakat Sipil dan Reformasi Sektor Keamanan, dalam Beni Sukadis & Eric Hendra (ed.),
Perjalanan Reformasi Sektor Keamanan (Jakarta: Lesperssi, IDSPS, HRWG, DCAF, 2008) h. 156-157
252
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Abdurrahaman Wahid pada 2001. 8 Setidaknya ada tiga agenda besar komunitas
masyarakat sipil yang menonjol dalam 3 tahun pertama 'pemerintahan transisi' paska
Mei 1998 (1998-2001), 9 yaitu:
1. Agenda-agenda transitional justice; terutama bagaimana menghentikan praktekpraktek kekerasan dan brutalitas ABRI di masa Orde Baru, membangun mekanisme
penegakan hukum yang adil dan akuntabel terhadap mereka, terutama dalam hal
pelanggaran berat HAM 10 serta pengembangan formula rekonsiliasi nasional yang
sejalan dengan agenda transisi dan reformasi;
2. Agenda-agenda political transition: Amandemen Undang-undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945, keluarnya beberapa TAP MPR –seperti yang terkait
Pembentukan pemerintahan yang bersih dan bebas KKN (Kolusi, Korupsi, Nepotisme),
HAM, Pemisahan TNI dan POLRI, dan penyelesaian masalah Aceh dan Papua Secara
bermartabat— serta perubahan dan penyusunan UU dan kebijakan-kebijakan baru
seperti UU Pertahanan, UU Polri dan UU TNI. 11
3. Agenda-agenda Penguatan Pemerintahan Transisi: Pembubaran beberapa
instansi/institusi yang dibentuk oleh Orde Baru, pembentukan dan penguatan badanbadan ekstra-judisial, penataan hubungan pemerintah pusat-daerah, penyelenggaraan
pemilu demokratis, pengembangan kebebasan berekspresi dan akses publik terhadap
pemerintahan, serta dorongan formulasi reformasi di internal institusi-institusi
keamanan terkait dengan doktrin, sistem, struktur, dan kultur, termasuk penataan ulang
regulasi-regulasi yang ada. 12
Satu hal menarik pada masa ini adalah peranan Presiden Abdurrahman Wahid mendobrak
mitos keistimewaan (politik dan ekonomi) dan kekebalan militer dari jerat hukum dengan
8
Nancy Slamet, Civil Society and Security Sector Reform in Indonesia: 1998-2006 (Jakarta & Montreal; IDSPS
(Indonesia) & Rights & Democracy (Canada), 2008), h. 11-12
9
Mufti Makaarim A., The Role of Indonesian Civil Society Organization in Security Sector Reform After 1998,
makalah Konferensi “Indonesian Security Sector Reform Post Soeharto's Regime: Achievement and Prospects”,
yang diselenggarakan Indonesian Solidarity, Sydney Mechanics School of Arts (SMSA), 12-13 Juni 2009, di
Sydney, Australia, h. 3-4
10
Beberapa kasus yang menjadi isu advokasi antara lain adalah kekerasan dan pelanggaran HAM di wilayah
konflik struktural (Aceh, Timor Timur pra-jajak pendapat, Papua), wilayah konflik horizontal (Sambas, Sampit,
Maluku, Maluku Utara, Poso), pembungkaman kelompok (kasus 65, kasus Tanjung Priok, Kasus Talangsari),
penindasan komunitas (kasus Marsinah, kasus perampasan-perampasan tanah) serta pelemahan gerakan
oposisi (Peristiwa 27 Juli, Penculikan Aktivis, Tragedi Mei, Tragedi Semanggi, Kasus Trisakti, dll). Salah satu
investigasi mendalam dan menjadi preseden bagi upaya pengungkapan kejahatan masa lalu militer adalah
dalam kasus kejahatan HAM di Timor Timur. Pemerintah Indonesia membentuk Komisi Penyidik Pelanggaran
HAM (KPP HAM) Timor Timur untuk mengungkap fakta-fakta kekekerasan menjelang, saat dan setelah jajak
pendapat di Timor Timur yang memenangkan opsi kemerdekaan. Rekaman dokumen ini dapat dilihat dalam
Richard Tanter, Desmond Ball & Gerry Van Klinken (ed.), Master of Terror; Indonesia's Military and Violence in East
Timor (USA: Rowman & Littlefield Publishers, Inc., 2006). Lihat juga Nugroho Kacasungkana & Titi Irawati,
Kebenaran Bukan Pembenaran; Kumpulan Laporan Penyelidikan Pelanggaran Berat Hak Asasi Manusia di Timor
Leste 1999 (Timorleste: Perkumpulan HAK, 2005)
11
Lebih jelasnya lihat Kusnanto Anggoro & Anak Agung Banyu Perwita (ed.), Rekam Jejak Proses 'SSR' Indonesia
2000-2005 (Jakarta: Propatria Institute, 2006)
12
Untuk lebih jelas lihat T Hari Prihatono, Jessica Evangeline & Iis Gindarsah, Keamanan Nasional: Kebutuhan
Membangun Perspektif Integratif Versus Pembiaran Politik dan Kebijakan (Jakarta: Propatria Institute, 2007)
253
Organisasi Masyarakat Sipil dan Reformasi Sektor Keamanan
memberikan tekanan bertubi-tubi pada militer. Beberapa keberanian Presiden Wahid –yang
kemudian ditebus dengan pencopotan paksa dirinya dari kursi kepresidenan—adalah
dorongan pengadilan HAM atas pelanggaran berat HAM di Timor Timur paska Jajak
Pendapat, pengusutan sejumlah kasus-kasus pelanggaran HAM di masa Soeharto dan upaya
pengadilan terhadap mantan Presiden Soeharto. Kontras dengan masa kepemimpinan
Presiden BJ Habibie yang dianggap mewarisi sejumlah pendekatan Soeharto terhadap
militer dengan mempertahankan sejumlah figur kunci militer, Wahid cenderung memilih
menyingkirkan mereka dan menempatkan sejumlah perwira yang dianggap lebih minim
resiko destruksinya bagi transisi. Di satu sisi pendekatan ini mampu memunculkan wajahwajah baru di struktur tertinggi elit militer, namun berdampak pada ketidakmampuan Wahid
melakukan kontrol terhadap struktur menengah ke bawah, baik di lingkungan militer,
kepolisian intelijen bahkan departemen sipil lainnya. 13
Prestasi mencolok dari upaya-upaya RSK pada masa ini antara lain adalah munculnya
perubahan di tingkat legislasi nasional, perubahan kebijakan internal sektor keamanan
(minus Badan Intelijen Negara, BIN), penegakan hukum terhadap kasus-kasus pelanggaran
HAM oleh aktor keamanan, serta akses partisipasi – meskipun cenderung terbatas—OMS
dalam proses formulasi kebijakan-kebijakan tersebut. 14 Memang, seiring perjalanan waktu
dan adanya beberapa hambatan politik paska 2001 –terutama dalam hal tendensi dan
dukungan politik terhadap kontinuitas reformasi dan percepatan demokratisasi, efektivitas
capaian advokasi masyarakat sipil terlihat menurun. Faktor utama yang mendasarinya jelas
adalah resistensi banyak pihak seiring hilangnya momentum dan melemahnya dukungan
yang bersifat massif. Ini ditandai dengan menurunnya kualitas legislasi dan kebijakankebijakan pemerintah dari yang cukup idealis menjadi lebih pragmatis, mandegnya
reformasi di tingkatan instansi pemerintah dan institusi negara, serta lemahnya keadilan dan
13
Penelitian IDSPS menunjukkan bahwa tetap eksisnya paradigma lama di mayoritas kalangan militer saat ini
dikarenakan kelompok reformis di dalam militer sendiri sangat kecil jumlahnya mempunyai posisi yang
marjinal. Kelompok-kelompok reformis yang marjinal ini, paska jatuhnya Presiden Gus Dur terlempar dari posisiposisi strategis militer. Sebagai akibatnya, gagasan-gagasan reformasi di dalam militer tergantikan dengan
gagasan konservatif sebagaimana di masa lalu. Penyebab lainnya adalah keengganan militer melepas hak-hak
istimewa yang sudah dinikmati selama beberapa dekade, termasuk keengganan menerima supremasi politik
pemerintahan sipil seperti ketika mereka masuk dalam kontroversi politik pada masa pemerintahan Presiden
Wahid, merespons secara negatif hasil investigasi pelanggaran berat HAM di Timor Timur yang mengungkap
keterlibatan sejumlah petinggi militer serta keengganan menerima promosi (Alm) Agus Wirahadikusuma
sebagai wakil Kepala Staf Angkatan Darat (WAKASAD). Di mata OMS, TNI masih beranggapan bahwa hanya TNI
sendiri yang memahami kepentingan-kepentingan TNI.
14
Selain amandemen konstitusi (Undang-Undang Dasar 1945), beberapa legislasi dan kebijakan berhasil
didorong atau disahkan, seperti Ketetapan (Tap) MPR-RI No VI/MPR/2000 tentang Pemisahan Tentara Nasional
Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI) dan Tap MPR-RI No VII/MPR/2000 tentang
Peran TNI dan Peran POLRI, Undang-undang (UU) No 2 Tahun 2002 tentang POLRI, UU No 34 Tahun 2004 tentang
TNI, serta kebijakan penguatan Gender di Kepolisian dan Program Perpolisian Masyarakat (Polmas). Sementara
beberapa legislasi atau kebijakan yang diwacanakan atau dibahas pada masa ini adalah Rancangan Undangundang (RUU) Intelijen, RUU Keamanan Nasional (Kamnas), RUU Kebebasan Memperoleh Informasi Publik
(KMIP) –sekarang sudah disahkan menjadi UU, serta Peraturan Pesiden (Perpres) Tentang Pengambilalihan
Aktivitas Bisnis TNI.
254
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
B. 2004-2009: “The Test of Our History”
Di luar dari upaya-upaya signifikan kalangan masyarakat sipil di atas, fakta menunjukkan
bahwa dinamika SSR yang telah berjalan dalam beberapa periode kekuasaan paska Soeharto
di mata OMS belumlah menunjukkan hasil signifikan. Sejumlah agenda reformasi pada 1998
kian terabaikan dari tahun ke tahun, dan arus besar tekanan publik dan akomodasi negara
bergerak ke arah reformasi simbolik ketimbang substantif. Situasi ini kian mencolok dalam 5
tahun terakhir (2004-2009). Sinyal dukungan politik dan ketegasan pemerintahan SBY-JK
sangat lemah terhadap RSK, sehingga sejumlah kebijakan di sektor keamanan tidak berjalan
maksimal –bahkan kalaupun berjalan, pengawasan atas implementasinya parsial dan
internal, tergantung pada tafsir dan kemauan institusi-institusi keamanan tersebut. 15
Terkait peranan OMS, tidak hilangnya stigma negatif negara terhadap gerakan OMS serta
peran sosial politik TNI yang bersalin rupa dengan menanamkan pengaruh di lingkungan
birokrasi sipil dan elit partai politik manjadi satu ganjalan besar. Sebagai akibatnya,
pewacanaan transformasi TNI menjadi kekuatan pertahanan murni, akuntabilitas dan
transparansi kebijakan-kebijakan di sektor keamanan, serta kritisi terhadap tarik menarik
kepentingan antara elit sipil dan aktor-aktor keamanan, cenderung dicurigai. Termasuk
dalam hal kritik dan saran terkait belum tuntasnya perubahan di tubuh Polri paska pemisahan
dari TNI dan menguatnya operasi-operasi lembaga intelejen negara pada ranah kehidupan
publik sebagaimana terjadi di masa lalu. 16
Masa pemerintahan SBY-JK diawaili dengan tuntutan pertanggungjawaban atas
terbunuhnya aktivis HAM Munir Said Thalib dalam penerbangan Jakarta-Amsterdam, 7
September 2004. Meskipun Presiden SBY kemudian membentuk Tim Pencari Fakta (TPF),
namun ia sendiri memilih tidak mengumumkannya hasilnya kepada publik, atau
menggunakannya sebagai dasar dorongan politik dan moril bagi penegakan hukum kasus
ini. Bagi kalangan OMS, kasus ini penting untuk menjadi pintu masuk reformasi intelijen,
mengingat adanya indikasi kejahatan konspirasi yang melibatkan sejumlah anggota BIN dan
adanya penyalahgunaan kewenangan dan fungsi intelijen oleh individu atau kelompok yang
'memusuhi' atau merasa terancam dengan kerja-kerja almarhum Munir, atau dengan motif
lain. Presiden SBY sendiri menyebut upaya pengungkapan kasus ini sebagai “Ujian bagi
sejarah kita (the test of our history), apakah negara ini benar-benar telah menjadi lebih
demokratis, menjunjung tinggi hukum dan HAM, atau sebaliknya. 17
15
Reformasi TNI Masih Parsial dan Internal, Kompas, 14 November 2006
16
Namun kalangan Organisasi Masyarakat Sipil (CSO) mengakui bahwa ruang dan saluran politik yang tersedia
saat ini jauh lebih memadai, terbuka dan baik bila dibandingan dengan masa Orde Baru. Pada masa Orde Baru,
sulit untuk membayangkan pemerintah dan pengambil kebijakan menempatkan aspirasi publik dalam dasar
pemikiran perumusan kebijakan serta pada saat-saat tertentu 'bersedia' melibatkan kalangan CSO dalam
proses-prosesnya.
17
Di mata keluarga almarhum Munir Said Thalib dan sejumlah aktivis HAM, proses hukum yang telah berjalan
sejauh ini gagal memberikan keadilan yang sesungguhnya dan masih jauh dari harapan. Lihat Kontras & Kasum,
Risalah Kasus Munir; Kumpulan Catatan dan Dokumen Hukum (Jakarta: Kontras & Kasum, 2007)
255
Organisasi Masyarakat Sipil dan Reformasi Sektor Keamanan
Kritik yang muncul terkait RSK pada masa SBY-JK adalah sikap ambigu dari rezim reformasi
yang dipimpinnya, antara keinginan untuk mendorong konsolidasi reformasi dan
mempertahankan kepentingan status quo. Sebagai akibatnya, pemerintahan SBY menjadi
terlihat tidak percaya diri dan ragu-ragu untuk meneruskan agenda transisional terkait
penegakan hukum, memutus hubungan dengan problem-problem masa lalu, dan menata
sistem politik yang lebih demokratis. Apa yang berjalan dalam 5 tahun terakhir merupakan
kelanjutan dari agenda-agenda rezim sebelumnya. Capaian-capaian yang ditonjolkan
cenderung berupa kerja-kerja simbolis dan formalistik ketimbang substantif, hanya pada
lingkup kerja yang memiliki efek politis minimum dan tidak mengganggu kelanggengan
kekuasaan rezim. Akibatnya, fenomena impunitas, tebang pilih kasus dan kompromi politik
menjadi trend pemerintahan SBY-JK. 18
Terkait dengan agenda-agenda RSK, Presiden SBY yang notabene merupakan purnawirawan
TNI yang terlibat dalam proses-proses awal reformasi TNI, terlihat tidak lagi bersemangat
untuk melanjutkannya ketika menjabat sebagi Presiden. Sejak masa kampanye Pemilihan
Presiden (Pilpres) 2004, SBY tidak menjadikan isu-isu RSK sebagai tema kampanyenya,
sehingga kemungkinan agenda RSK tidak menjadi salah satu fokus utama pemerintahannya
sudah dapat diduga sejak awal. Perkembangan yang justru terjadi adalah tumbuhnya
loyalitas TNI, POLRI dan BIN yang terpusat pada diri SBY ketimbang ketaatan pada struktur
politik dan pemerintahan demokratis.19 Stabilitas pemerintahan SBY terjadi karena
tumbuhnya pengaruh dan sentral legitimasi kepentingan seluruh institusi di sektor
keamanan pada diri SBY, munculnya fragmentasi ketundukan elit aktor keamanan hanya
kepada individu yang tidak memberikan tekanan kepada mereka, serta terfasilitasinya
konsolidasi aktor-aktor keamanan yang mendorong mereka menjadi lebih berani
menentang dan memberikan respons keras atas gagasan-gagasan pro-reformasi.20
C.
Dinamika Advokasi OMS
Penelitian IDSPS pada tahun 2007-2008 tentang efektifitas peran OMS dalam advokasi
RSK menemukan fakta-fakta pengakuan bahwa advokasi RSK oleh kalangan OMS dengan
pilihan strategi seperti melakukan loby, kampanye, aksi dan lainnya sudah sudah berjalan,
baik secara sendiri-sendiri maupun melalui koalisi. Pilihan untuk 'mendekat' ke pemerintah
18
Mufti Makaarim A. & S. Yunanto (ed.), Efektivitas Strategi Organisasi Masyarakat Sipil Dalam Advokasi
Reformasi Sektor Keamanan di Indonesia 1999-2006 (Jakarta: IDSPS, 2008) h. xxi
19 Seperti yang terjadi pada masa pemerintahan Presiden Habibie dan Presiden Wahid, dimana ketaatan
umumnya petinggi militer dan kepolisian disertai dengan proses “tawar-menawar”, untuk mencari titik temu
atas apa yang ingin direformasi dan perhitungan imbasnya bagi institusi dan individu. Bedanya, dalam banyak
hal Habibie dan Wahid memilih mengambil resiko untuk berpihak pada desakan reformasi ketimbang
menwarnya untuk mendapatkan loyalitas penuh TNI dan POLRI. Lihat Salim Said, Soeharto's Armed Forces…
Op.Cit.
20 Ibid, h. xxiv. Ini terlihat dalam polemik RUU Pertahanan Keamanan Negara, RUU Intelijen, RUU Peradilan
Militer, RUU Komponen Cadangan, RUU Rahasia Negara, serta proses transformasi bisnis-bisnis militer.
Ini merupakan ringkasan dari Bab IV Laporan Hasil Penelitian IDSPS tentang peranan OMS dalam RSK dalam
Mufti Makaarim A. & S. Yunanto (ed.), Efektivitas Strategi Organisasi Masyarakat Sipil Dalam Advokasi
Reformasi Sektor Keamanan di Indonesia 1999-2006 (Jakarta: IDSPS, 2008)
256
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
(ke Departemen Pertahanan misalnya) dan DPR atau bahkan masuk ke institusi-institusi di
sektor keamanan dilihat sebagai bentuk strategi baru kalangan OMS. Strategi koalisi yang
melibatkan media, Organisasi Non-Pemerintah (Ornop) dan akademisi sudah berjalan baik,
dimana ketiganya memiliki dan menjalankan peran masing-masing dan mungkin untuk
saling melengkapi. Jejaring yang terbangun dalam aktivitas advokasi ketiga kelompok ini
berperan dalam memberi masukan, memunculkan sebuah isu legislasi atau kebijakan dan
pewacanaan isu-isu RSK.
Pilihan peran menjadi watch dog atau beroposisi dengan pemerintah, dipandang lebih
efektif untuk menaikkan isu, tanpa dikaitkan dengan diterima tidaknya masukan atau protes
yang dilakukannya. Yang menjadi kekhawatiran kedepan adalah melemahnya peran
lembaga pressure semacam ini, sehingga upaya-upaya kelompok think tank atau mereka
yang mendorong perubahan langsung dari dalam institusi negara menjadi lebih sulit. Di sisi
lain, terlihat bahwa bahwa OMS yang melakukan advokasi RSK cenderung berkoalisi dengan
jaringan yang terbatas. Bisa jadi hal ini terjadi sebagai akibat terbatasnya sumber daya yang
memahami dan memiliki perhatian terhadap isu-isu RSK di kalangan OMS. Pada beberapa
advokasi yang dilakukan, pilihan OMS berjaringan dengan parpol dan kelompok politik
didasarkan pada pertimbangan potensi mereka mendukung atau menghambat gagasangagasan advokasi OMS, meskipun dengan pemahaman konseptual yang berbeda dalam
mempersepsikan suatu kebijakan.
Beberapa OMS dalam melakukan advokasi juga melibatkan komunitas mitra dan
dampingannya, terutama OMS di daerah-daerah. Namun pilihan advokasi seperti ini sangat
dipengaruhi pilihan isu RSK yang bersifat lokal dan berhubungan langsung dengan
kepentingan masyarakat setempat. Sebagian masyarakat melihat bahwa OMS cukup
konsisten dalam menjalankan advokasi RSK, walau sebagian orang juga melihat bahwa apa
yang dilakukan OMS masih belum maksimal dan tidak konsisten dengan tuntutan
perubahan yang diagendakan pada 1998. Terhadap catatan dan tantangan atas efektifitas
strategi yang digunakan, kalangan OMS juga memiliki respon yang berbeda-beda. Sebagian
ada yang merubah strateginya, ada yang cooling down, dan ada juga yang berkompromi.
Terkait dengan relevansi dan efektivitas strategi, repons terhadap advokasi OMS –termasuk
tekanan media diyakini terjadi karena adanya dua faktor, yaitu faktor 'tekanan' Internasional,
dimana arus globalisasi dan demokratisasi masuk ke Indonesia, bersamaan dengan desakan
reformasi, 22 dan faktor perubahan di tingkat domestik, dimana kesadaran dan persepsi akan
pentingnya demokratisasi dan reformasi muncul di banyak kalangan –termasuk di kalangan
militer. Walaupun umumnya mereka juga menolak sejumlah gagasan reformasi yang
berimbas pada berkurangnya previlege mereka. Pandangan bahwa demokrasi merupakan
salah satu syarat untuk menjadi bagian dari peradaban baru bernama demokrasi dan
globalisasi, mendorong mereka juga mendesakkan reformasi menyeluruh di semua bidang,
termasuk di sektor keamanan.
22
'Keberhasilan' mendorong RSK sendiri pada satu sisi merupakan keuntungan dari kondisi sosial politik pada 1998-1999,
dimana ketika itu militer berada di titik nadir dan turunnya Soeharto menyebabkan tentara seakan-akan kehilangan
kekuatan dan pengangan politik. Di sisi lain, 'tekanan' internasional baik secara langsung kepada pemerintah maupun
dengan memberikan dukungan terhadap gagasan reformasi yang didorong publik nasional juga terjadi.
257
Di luar faktor-faktor di atas, tantangan terbesar di internal OMS terkait dengan keseimbangan
antara kredibilitas dan kekuatan. Tanpa adanya keseimbangan tersebut, maka aktivitas
advokasi seolah-olah menjadi semacam ritual OMS, tanpa ada jaminan dan kapasitas untuk
memastikan tingkat keberhasilan advokasinya. Berikut model matrik perimbangan
kredibilitas dan kekuatan OMS dalam advokasi RSK, yang disusun penulis berdasarkan
penilaian dari hasil penelitian IDSPS. 23
Secara umum, penelitian IDSPS juga melihat bahwa OMS menghadapi empat tantangan
internal dalam melakukan kerja-kerja advokasi RSK. Tantangan-tantangan tersebut berkaitan
dengan profesionalisme, kapasitas melakukan konsolidasi internal (dalam organisasi atau
koalisi advokasi), mekanisme berjaringan, serta prasangka dan kecurigaan aktor keamanan
akan keberadaan 'agenda tersembunyi' atau kepentingan yang mendompleng advokasi
yang mereka lakukan.
1. OMS dan Profesionalisme
Ada anggapan –terutama dari kalangan anggota DPR— bahwa OMS yang selama ini
aktif melakukan advokasi RSK hanya mengajukan persoalan-persoalan mikro (kasus dan
problem sekunder) dan kurang memahami aspek-aspek makronya. Dalam beberapa
pertemuan OMS dengan DPR, wacana yang dimunculkan adalah beberapa isu dan kasus,
tanpa dijabarkan relasinya dengan policy makro yang ingin dievaluasi atau disarankan dibuat
oleh DPR. Kemampuan OMS dalam berargumentasi ketika mendukung atau mengkritisi satu
23
Model matrik ini terinspirasi dari Erwin Van Veen, Reverse Stakholder Mapping: on the Need for Actor-Based
SSR Strategizing in Post-Conflict Environments, dalam Journal of Security Sector Management Volume 2 Juli
2008 (Shrivenham UK: Cranfield University, 2008), h. 8
258
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
kebijakan terkadang lemah, sehingga sering dijumpai adanya pernyataan yang cenderung
tidak berbobot.
Keberatan pemerintah dan DPR terhadap kritik dan saran yang disampaikan OMS juga
didasarkan pada anggapan bahwa kalangan OMS juga bukan merupakan ahli dan mampu
memberikan pandangan yang konseptual, tidak bekerja secara sistematis dan konsisten,
serta mereka tidak lebih merupakan orang-orang yang merasa ahli di semua bidang. Dengan
keterbatasan-keterbatasan di atas kalangan OMS dianggap terlalu mudah dalam mengkritik
dan menyalahkan kinerja aktor keamanan, pemerintah dan DPR, padahal kapasitas dan
pengetahuannya atas dinamika di dalam pemerintahan dan substansi persoalan tidak ada. 24
Dalam melakukan advokasi legislasi misalnya, OMS dipandang bersikap terlalu optimis
dengan rancangan legislasi yang mereka ajukan ke parlemen sebagai rancangan ideal dan
harus diakomodir seluruhnya oleh parlemen dan pemerintah. Padahal diperlukan satu
proses-proses politik untuk memastikan terakomodir-tidaknya legislasi yang diajukan.
Menghadapi tantangan ini, OMS cenderung menghindar pendekatan yang lebih personal
dan langsung kepada individu-individu yang memiliki pengaruh atas baik buruknya legislasi
tersebut.
OMS yang bergerak di RSK sejauh ini juga dianggap publik belum mampu membuat koalisi
besar yang melibatkan NGO, Organisasi Kemasyarakatan, Media dan Universitas,
menghimpun dan mengelola dana dari sumber-sumber dalam negeri yang independen,
serta mengembangkan koalisi politik yang melibatkan kalangan penting di wilayah politik
dan ekonomi sebagai supporting groups dan para pihak yang juga berkepentingan dan akan
diuntungkan dengan adanya RSK.
2. OMS dan Konsolidasi Internal
IDSPS mendapatkan pernyataan sejumlah pimpinan OMS yang menyebutkan bahwa
gerakan masyarakat sipil di Indonesia umumnya belum melakukan konsolidasi internal
secara memadai, serta belum menata dan menjalankan prinsip-prinsip demokrasi dan
kesepakatan aturan main (rules of engagement) dengan ketat di antara mereka –terutama
terkait pembagian peran dan perumusan visi bersama. Ketidakjelasan ini bisa jadi
disebabkan ketiadaan visi praktis maupun visi ideal masing-masing organisasi yang
memperkuat visi bersama (shared vision), sehingga tidak aneh jika dalam beberapa diskusi
muncul kesan bahwa aliansi dan diskusi yang muncul terlalu cair, berkompetisi, melebar
isunya, bahkan tidak jelas fokusnya.
Dalam mengelola isu advokasi, kepentingan dan paradigma masing-masing organisasi
menyebabkan tidak terjalinnya kerjasama permanen dan konsisten –termasuk antara
kelompok think tank dan penekan, sehingga advokasi RSK yang dilakukan tidak sinergis dan
24
Di sisi lain OMS juga mengkritisi problem serupa di lingkungan DPR, Pemerintah dan institusi keamanan,
sehingga menyulitkan mereka untuk berdiskusi pada level isu-isu strategis RSK. Fakta menunjukkan bahwa di
kalangan OMS keahlian dan perhatian terhadap isu-isu RSK yang spesifik juga sudah tumbuh, sehingga yang
diperlukan selanjutnya adalah akses terhadap proses-proses penyusunan kebijakan di pemerintah dan DPR.
259
Organisasi Masyarakat Sipil dan Reformasi Sektor Keamanan
bahkan terkadang kontra produktif. Konsolidasi OMS diperlukan agar mereka dapat
menemukan dan berbagi atas kerumitan persoalan yang sedang dihadapi, memahami
konteks persoalan dan dinamikanya serta merumuskan strategi advokasinya.
Kemampuan bernegosiasi, kelengkapan manajerial, perencanaan strategis (strategic
planning), program dan rencana aktivitas merupakan bagian dari pendukung kemampuan
konsolidasi antar OMS. Berdasarkan temuan IDSPS, OMS belum memiliki mekanisme yang
mengatur hubungan antar lembaga, mekanisme kerja antar lembaga dan mekanisme
penyelesaian konflik antar lembaga. Padahal mekanisme ini bisa mengatasi persoalan dan
hambatan untuk melakukan konsolidasi. Ini terlihat dengan tidak adanya koordinasi kerja
seperti dalam riset dan advokasi, sehingga terjadi duplikasi aktivitas, overlapping program
yang menyebabkan terjadinya pemborosan waktu dan biaya.
3. OMS dan Jaringan
Ada anggapan bahwa persoalan-persoalan yang berkembang dan diadvokasi di tingkat
nasional belum terintegrasi, tersosialisasi, diketahui atau menjadi bagian dari wacana OMS di
level daerah. Fenomena ini mengesankan adanya gap antara wacana RSK di tingkat nasional
(yang dianggap tidak bersentuhan langsung dengan masyarakat) dan wacana RSK di daerah
(yang langsung bersentuhan dengan masyarakat). Dalam advokasi RUU misalnya, seringkali
upaya yang dilakukan di tingkat pusat tidak bersambut dengan dukungan atau aksi serupa di
daerah.
Sebagaimana institusi keamanan yang bersifat struktural, demikian pula wacana RSK secara
umum dipandang sebagai isu organisasi yang berada di pusat (ibukota) negara. Kalaupun
ada yang dilakukan di daerah, biasanya berkaitan dengan program atau agenda OMS yang
bekerja di level nasional, bukan merupakan inisiatif setempat. Dalam kasus RUU Rahasia
Negara misalnya, ketika beberapa OMS di Jakarta memberikan reaksi yang begitu keras,
kalangan OMS di daerah terkesan biasa-biasa saja. Padahal pembelakuan RUU yang sarat
masalah tersebut dipastikan juga akan memberikan dampak bagi kerja-kerja advokasi OMS
kedepan, terutama mereka yang melakukan riset dan advokasi berbasis data-data yang
bersumber dari institusi keamanan.
4. OMS dan Pencitraan (Image)
Di tengah kerjasama dan hubungan yang terbangun antara OMS, Pemerintah, DPR dan
aktor-aktor keamanan, kecurigaan terhadap OMS masih terjadi. Kecurigaan ini dikaitkan
dengan adanya dana-dana asing (lembaga internasional atau pemerintah negara lain) yang
diterima sejumlah OMS dalam menjalankan program-programnya. Mereka beranggapan,
bahwa OMS yang telah menerima dukungan lembaga-lembaga funding akan bergerak dan
bekerja dengan satu kepentingan dan ideologi tertentu. Dukungan finansial dari lembaga
asing, secara psikologis dipersepsikan diberikan dalam rangka memperjuangkan
kepentingan asing. 25
25
Trend bantuan terhadap suatu negara yang sedang melalui masa transisi demokrasi (baik terhadap
pemerintah maupun OMS) dipengaruhi oleh dua faktor; yaitu 1). Adanya kesadaran bahwa demokrasi
merupakan satu pilihan sistem politik terbaik. Hampir seluruh negara percaya bahwa pilihan meenjadi negara
260
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Sebagai contoh, kalangan intelijen menyebutkan adanya sekitar 62 OMS di Indonesia yang
berada dibawah kendali lembaga dan pemerintah Norwegia, Prancis, Belanda, Jerman,
Australia dan Kanada. OMS-OMS ini memiliki peran besar dalam perubahan-perubahan
sistem politik yang terjadi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, termasuk
amandemen Undang-undang Dasar 1945. Kalangan kepolisian OMS cenderung lebih banyak
melakukan provokasi ketimbang menyelesaikan masalah-masalah di masyarakat. Beberapa
individu di lingkungan pemerintah memandang bahwa beberapa OMS yang menerima dana
asing hanya bekerja untuk mencari popularitas dan menghabiskan dana untuk berbagai
kemewahan, sementara mereka menganjurkan akuntabilitas negara. Karenanya mendorong
akuntabilitas OMS juga merupakan langkah penting, sehingga kecurigaan-kecurigaan
semacam ini bisa ditepis.
Image di atas telah menghalangi penerimaan pemerintah, DPR dan aktor keamanan atas
pandangan-pandangan RSK yang disampaikan OMS. Sebagai contoh, pemisahan TNI dan
Polri awalnya merupakan masukan dan gagasan OMS. Namun karena adanya image negatif
seperti di atas proses pembahasannya dilakukan secara internal di MPR, sehingga lahirlah Tap
MPR tentang pemisahan dan pembagian peran TNI dan Polri yang menyisakan persoalan
terkait perbedaan dan pembagian peran riil - termasuk koordinasinya - di lapangan.
Tantangan Advokasi OMS
Selain problem internal yang dijelaskan di atas, kalangan OMS juga berhadapan dengan
problem eksternal berupa sejumlah tantangan yang berasal dari pemerintah, DPR dan aktor
keamanan, yaitu:
1. Paradigma dan kerangka berpikir (mindset)
Seringkali terjadi perbedaan pemahaman dan tujuan atas apa yang dimaksud dengan
demokratisasi (beserta nilai-nilai yang integral didalamnya) dan kerangka RSK antara OMS,
pemerintah, DPR dan aktor keamanan. Perdebatan soal ancaman keamanan nasional di
lingkungan pemerintah misalnya, selalu berujung pada soal pertahanan dan militer. Padahal
upaya untuk mengatasi ancaman nasional membutuhkan satu kerja terintegrasi dan multi
aktor atau kelompok kerja (task force). Demikian pula persoalan operasi militer selain perang,
selalu dianggap OMS merupakan ancaman terhadap demokrasi. Padahal hal tersebut
dimungkinkan dalam sebuah negara demokratis asalkan diatur dengan Undang-undang
dan kebijakan yang jelas seperti peran perbantuan militer terhadap polisi dan penanganan
bencana alam.
demokratis akan berpengaruh pada stabilitas politik dan ekonomi; dan 2). Berakhirnya perang dingin. Pada
masa perang dingin, bantuan-bantuan yang diberikan merupakan paket dari kepentingan keamanan. Paska
perang dingin, kepentingan mendorong demokratisasi menjadi salah satu isu utama, dimana otoritarianisme
satu rezim akan berpengaruh pada situasi keamanan kawasan. Lihat Andi Widjajanto dkk., Transnasionalisasi
Masyarakat Sipil (Yogyakarta: LKIS, 2007), h. 90-91
26
Sejauh ini tidak ditemukan fakta yang menunjukan kebenaran dugaan tersebut, terutama dikalangan OMS
yang melakukan advokasi RSK –yang menjadi subjek penelitian IDSPS. Bentuk dukungan yang diberikan donor
dipahami sebagai bentuk perhatian mereka dengan mendukung RSK sebagaimana dikehendaki dan
diperjuangkan oleh OMS.
261
Organisasi Masyarakat Sipil dan Reformasi Sektor Keamanan
Di sisi lain, konsep RSK yang ingin ditawarkan pemerintah dan aktor keamanan masih
bernuansa keamanan negara (state security) ketimbangan berorientasi pada keamanan
warga negara (human security). Ini merupakan kelanjutan dari pemahaman dan tafsir lama
atas konsep Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata) yang
diadopsi UUD 1945. Sementara masalah-masalah keamanan yang berkembang saat saat ini
sudah demikian kompleks masuk dalam dimensi yang jauh lebih luas dan beragam.
2. Koordinasi Kerja RSK di Level Negara
Kalangan OMS memandang bahwa kerja-kerja RSK di tingkat DPR, Pemerintah dan aktor
keamanan banyak yang berjalan sendiri-sendiri, tidak terkoordinasi dengan baik. Bagi OMS,
keberhasilan RSK sebagai sektor hilir sangat tergantung dengan upaya-upaya reformasi pada
sektor hulu, misalnya dalam bidang kebijakan politik dan ekonomi, termasuk kemauan dan
dukungan politik.
Kalangan militer sendiri menganggap RSK sudah berjalan meski belum sempurna.
Komunitas jurnalis melihat bahwa ketidaksempurnaan hasil dari proses-proses RSK
dipengaruhi oleh model pendekatan dalam perumusan UU di sektor keamanan yang belum
terkoordinir dan masih tumpang tindih. Tiga UU yang sudah ada misalnya, yaitu UU
Pertahanan, UU Polri dan UU TNI meninggalkan masalah overlapping peran TNI dan Polri
dalam penegakan keamanan di dalam negeri. Sementara RUU Kamnas yang dimunculkan
Departemen Pertahanan masih menjadi perdebatan dan tidak jelas kelanjutannya saat ini.
3. Hambatan Psikologis Aktor Keamanan, DPR dan Pemerintah
Diakui atau tidak, kalangan militer masih belum sepenuhnya menerima prinsip
supremasi otoritas politik sipil, terutama yang berdampak pada pembatasan keistimewaan
dan penghilangan secara radikal peran-peran masa lalu mereka. Sementara di sisi lain
otoritas sipil seperti partai politik, eksekutif dan DPR memiliki sejumlah kelemahan kapasitas,
terutama dalam hal komitmen politik dan kompetensi teknis. Keengganan TNI menerima
supremasi ini terlihat pada pembiaran perumusan konsep reformasi militer oleh kalangan
militer sendiri serta upaya untuk mempertahankan posisi-posisi strategis di Departemen
Pertahanan –termasuk di BIN. Kondisi serupa juga ditemukan di tubuh Polri dan BIN, dimana
rumusan dan tafsir reformasi Polri dan BIN dikembangkan sendiri oleh mereka.
Di lingkungan Komisi I DPR, kepedulian terhadap isu-isu pertahanan misalnya, sangat
dipengaruhi oleh faktor sejauhmana isu tersebut menjadi diskursus publik. Ketiadaan
komitmen serta perhatian khusus terhadap reformasi militer dan pertahanan diperburuk
dengan keterbatasan pengetahuan terhadap masalah-masalah strategis pertahanan dan
keamanan. Sebagai contoh, sejauh ini belum ada satu RUU di bidang keamanan yang muncul
atas inisitif DPR, terkesan bahwa DPR sekadar menjadi alat legitimasi atas usulan-usulan
pemerintah dan aktor keamanan.
Problem serius pada level partai politik dalah fenomena perlombaan rekrutmen
purnawirawan TNI dan Polri untuk ditempatkan dalam struktur elit partai. Kondisi ini
262
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
menunjukkan bahwa partai-partai cenderung tidak percaya diri untuk maju tanpa
melibatkan unsur-unsur mantan pejabat militer, kepolisian dan intelijen. Disinilah ruang
kompromi politik antara elit sipil dengan elit militer, terutama terkait dengan agenda RSK.
OMS menengarai banyaknya negosiasi diam-diam antara partai politik dengan aktor-aktor
kemanan melalui mereka.
Kemacetan RSK di mata kalangan anggota DPR tidak lepas dari persoalan lemahnya political
will pemerintah (Presiden dan Menteri Pertahanan), padahal mereka memiliki posisi dan
legitimasi kuat untuk mendesakkan agenda-agenda RSK tersebut. Dalam posisi demikian,
beberapa konsep yang disusun OMS cenderung tidak mendapat tanggapan cepat dari
pemerintah. Di sisi lain, umumnya DPR hanya menunggu seberapa kuat tekanan dan respon
OMS, dan pada tingkat tertentu mekanisme penyampaian kritik, saran dan argumentasi oleh
OMS tidak disukai.
Di dalam lembaga intelijen yang masih terikat cara pandang lama, pemahaman tentang
hakekat musuh negara dalam sebuah negara demokratis masih lemah. Mereka masih
menafsirkan kelompok-kelompok atau individu-individu yang beroposisi dengan
pemerintah sebagai musuh negara. Padahal tindakan masyarakat tersebut merupakan
bagian dari kebebasan-kebebasan yang dilindungi konstitusi.
D. Peluang Kontinuitas Advokasi OMS
Peluang OMS untuk melanjutkan advokasi RSK masih terus terbuka. Peluang-peluang
ditandai dengan adanya keterbukaan politik, banyaknya isu-isu RSK yang belum diadvokasi,
diaspora kepentingan elit politik dan aktor keamanan – yang bisa dimanfaatkan OMS,
luasnya wilayah negara dan pentingnya peningkatan kapasitas untuk menanganinya,
adanya dukungan dari sejumlah anggota DPR di tingkat pusat dan daerah, serta dukungan
masyarakat internasional.
Keragaman partai politik yang lahir paska 1998 menjadi peluang advokasi OMS, dimana
kemampuan OMS menghimpun isu-isu populis yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat
mendorong partai politik bersekutu dengan OMS. Disinilah wacana-wacana RSK dari OMS
dapat ditawarkan. OMS juga dapat mengisi ruang-ruang politik yang dibutuhkan rakyat
namun ditinggalkan oleh partai politik, seperti pendidikan-pendidikan politik – terutama
OMS dengan corak lembaga yang pluralis dan tidak eksklusif.
Umumnya DPR, Departemen Pertahanan dan Polri menyambut baik keterlibatan OMS dalam
proses pembuatan kebijakan-kebijakan. Dari sisi penguatan kapasitas misalnya, beberapa
anggota DPR menganggap bahwa masukan-masukan OMS sangat membantu mereka yang
sejauh ini masih lemah dalam konsep dan pemikiran RSK. Perangkat keras yang dicoba
diperkuat dengan keberadaan staf ahli (Fraksi dan Komisi) belum dapat menunjang
efektifitas kerja DPR, karena para staf ahli tersebut sesungguhnya juga bukan orang yang
memiliki keahlian di semua bidang yang menjadi tanggung jawab DPR.
263
Organisasi Masyarakat Sipil dan Reformasi Sektor Keamanan
Dalam ruang lingkup tugas Departemen Pertahanan, OMS bisa memberikan jalan keluar dan
pengkayaan wacana atas isu-isu dan masalah-masalah di sektor pertahanan, melakukan
pengawasan dan mengingatkan mereka, walaupun OMS tidak bisa memiliki kewenangan
untuk memutuskan. Peluang lain tentunya adalah adanya dukungan internasional, baik
terhadap pemerintah maupun OMS berupa dukungan finansial. Dukungan finansial yang
diberikan pada satu sisi merupakan kewajaran, mengingat bahwa dinamika yang terjadi di
Indonesia tidak lepas dan akan mempengaruhi dinamika global, sehingga banyak pihak yang
juga berkepentingan dengan perubahan-perubahan yang terjadi di Indonesia. Yang patut
diingat bahwa kerjasama dengan pemerintah dan OMS hendaknya tidak mengabaikan
kepentingan dan agenda nasional. Sebagaimana diketahui, bahwa dukungan internasional
terhadap RSK saat ini justru bergeser pada penguatan peran dan fungsi-fungsi aktor
keamanan dalam memerangi aksi-aksi terorisme yang terjadi dan memiliki jaringan lintas
negara, yang pada tingkat tertentu dapat mengganggu isu-isu reformasi yang sudah
didorong kalangan OMS dan membuka ruang bagi para aktor keamanan untuk
berkonsolidasi dan menjalankan peran-peran sebagaimana di masa lalu.
E. Penutup; Langkah Strategis Dalam Penguatan OMS
Tidak bisa dihindari, bahwa perhatian dan upaya untuk memastikan terselesaikannya
faktor-faktor penghambat RSK adalah kemutlakan. Beberapa langkah strategis yang perlu
dipikirkan oleh OMS kedepan adalah:
1. Mendorong efektifitas koordinasi berbagai instansi dan sektor yang terkait dengan
isu dan penanganan ancaman pertahanan dan keamanan, termasuk mendesak
mereka untuk merumuskan ulang dasar kebijakan operasional, arah dan tujuan
pengembangan sistem pertahanan keamanan dengan postur dan strategi
pertahanan keamanan nasional.
2. Mendorong efektivitas fungsi kontrol lembaga legislatif terhadap pemerintah, fungsi
pengawasan terhadap pelaksanaan legislasi dan kebijakan di sektor pertahanan,
serta fungsi evaluasi terhadap penyimpangan dan penyalahgunaannya.
3. Mendorong komitmen politik eksekutif dan keamanan terhadap transisi demokrasi
melalui, upaya kongkrit dalam bentuk tindakan dan kebijakan yang reformis,
konsisten pada nilai-nilai demokrasi dan dapat diminta tanggung-gugatnya secara
politik.
4. Memberi dukungan bagi profesionalisasi aparat keamanan dan pengembangan
mekanisme kontrol, serta penguatan otoritas politik sipil yang mengelolanya.
Termasuk dengan melibatkan ahli-ahli dari kalangan OMS.
5. Mendorong pertanggungjawaban serius negara terhadap kasus-kasus kejahatan
sebagai implikasi dari penyalahgunaan kewenangan. Keadilan dan akuntabilitas atas
peristiwa-peristiwa masa lalu bukan sekadar pelajaran bagi perubahan bangsa
kedepan, namun juga untuk menghindari preseden kekebalan hukum dan
keberlanjutan kekerasan dan penyalahgunaan kewenangan oleh aparat keamanan.
264
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
6. Mendorong konsistensi pemerintah untuk menghilangkan ruang-ruang politik aktor
keamanan di tingkat nasional (melalui kabinet, lembaga negara dan departemen
strategis) dan daerah (Muspida).
7. Memajukan kapasitas masyarakat sipil sehingga peran aktif mereka dalam
pengambilan kebijakan dan pengawasan terhadap kinerja pemerintah berjalan.
Paling tidak, dibutuhkan kalangan sipil yang memahami isu-isu keamanan dan
pertahanan serta dapat bekerja profesional mendorong perubahan-perubahannya.
8. Melibatkan stakeholder internasional untuk mendukung dan bertukar pengetahuan
dengan pemerintah dan OMS.<
Referensi Buku:
Anggoro, Kusnanto & Anak Agung Banyu Perwita (ed.). (2006). Rekam Jejak Proses
'SSR' Indonesia 2000-2005. Jakarta: Propatria Institute.
Machfudz, Anas S. & Jaleswari Pramodhawardani. (2001) Military Without Militerism;
Suara dari Daerah. Jakarta: Puslitbang Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI.
Makaarim, Mufti & S. Yunanto (ed.). (2008). Advokasi Reformasi Sektor Keamanan di
Indonesia 1999-2006. Jakarta: IDSPS.
Prihatono, T Hari, Jessica Evangeline & Iis Gindarsah. (2007). Keamanan Nasional:
Kebutuhan Membangun Perspektif Integratif Versus Pembiaran Politik dan
Kebijakan. Jakarta: Propatria Institute.
Rinakit, Sukardi. (2005). The Indonesian Military After the New Order. Singapura:
Institute of Southeast Asian Studies
Said, Salim. (2006). Soeharto's Armed Forces; Problems of Civil Military Relation in
Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Slamet, Nancy. (2008). Civil Society and Security Sector Reform in Indonesia: 19982006. Jakarta & Montreal: IDSPS (Indonesia) & Rights & Democracy (Canada).
Sukadis, Beni (Ed.). (2007). Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2007
Jakarta: Lesperssi-DCAF.
Sukadis, Beni & Eric Hendra (ed.). (2008) Perjalanan Reformasi Sektor Keamanan.
Jakarta: Lesperssi, IDSPS, HRWG, DCAF.
Tanter, Richard, Desmond Ball & Gerry Van Klinken (ed.). (2006). Master of Terror;
Indonesia's Military and Violence in East Timor. USA: Rowman & Littlefield
Publishers, Inc.
Widjajanto, Andi, dkk. (2007). Transnasionalisasi Masyarakat Sipil. Yogyakarta: LKIS
Laporan/Makalah
Mufti Makaarim A., The Role of Indonesian Civil Society Organization in Security Sector
Reform After 1998, makalah Konferensi “Indonesian Security Sector Reform Post Soeharto's
Regime: Achievement and Prospects”, yang diselenggarakan Indonesian Solidarity, Sydney
Mechanics School of Arts (SMSA), 12-13 Juni 2009, di Sydney, Australia.
Nugroho Kacasungkana & Titi Irawati, Kebenaran Bukan Pembenaran; Kumpulan Laporan
Penyelidikan Pelanggaran Berat Hak Asasi Manusia di Timor Leste 1999 (Timorleste:
Perkumpulan HAK, 2005)
Kontras & Kasum, Risalah Kasus Munir; Kumpulan Catatan dan Dokumen Hukum (Jakarta:
Kontras & Kasum, 2007)
265
Organisasi Masyarakat Sipil dan Reformasi Sektor Keamanan
Jurnal:
Journal of Security Sector Management Volume 2 Juli 2008. Shrivenham UK: Cranfield
University, 2008.
Harian:
Kompas, 14 November 2006, “Reformasi TNI Masih Parsial dan Internal”.
266
Reformasi Legislasi Sektor Keamanan Indonesia 2008-2009: Reformasi Tanpa Arah
Reformasi Legislasi Sektor Keamanan Indonesia 2008-2009:
Reformasi Tanpa Arah
Bhatara Ibnu Reza 1
1. Pendahuluan
Reformasi legislasi sektor keamanan Indonesia masih jauh dari harapan serta tetap
menghadapi persoalan yang sama berkait dengan kerangka besar (grand design) sektor
keamanan yang mengakibatkan sulitnya menentukan prioritas legislasi. Hal ini ditunjukan
dengan masih munculnya rancangan legislasi yang tidak masuk dalam Program Legislasi
Nasional (Prolegnas) namun masuk dalam pembahasan oleh Dewan Perwakilan Rakyat
(DPR). Tentunya ini akan menimbulkan preseden yang tidak baik tidak hanya bagi
pembuat undang-undang namun lebih mengesankan kepada mengakomodasi
kepentingan-kepentingan sesaat dari pihak pemerintah.
Sedikit mengingatkan, Prolegnas merupakan pemetaan atau potret rencana tentang
hukum-hukum apa yang hendak dibuat dalam periode tertentu.2 Prolegnas disusun oleh
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bersama Pemerintah yang dalam penyusunannya
dikoordinasikan oleh DPR yang merupakan konsekuensi logis dari hasil Amandemen
Pertama UUD 1945 yang menggeser titik berat pembentukan undang-undang dari
Pemerintah ke DPR.3
Kedudukan Prolegnas diatur dalam UU No. 10 Tahun 2004 tentang Tata Cara Pembentukan
Peraturan Perundang-Undangan yang didalamnya tidak saja terkait dengan materi atau
rencana pembentukan peraturan perundang-undangan melainkan juga merupakan
instrumen yang mencakup mekanisme perencanaan hukum agar selalu konsisten dengan
tujuan, penuntun dan cita hukum yang mendasarinya. 4
Adalah hal yang wajar jika terdapat rancangan legislasi yang tidak masuk dalam Prolegnas
tetapi memiliki semangat mengedepankan kepentingan publik dan perlindungan
terhadap HAM. Misalnya adalah rancangan legislasi untuk meratifikasi instrument
internasional yang pernah dilakukan oleh Indonesia ketika meratifikasi International
Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) dan International Covenant on Economic, Social
and Cultural Rights (ICESCR).5 Saat itu, Indonesia selain memenuhi komitmennya untuk
1
Bhatara I. Reza, adalah Human Rights Research Coordinator IMPARSIAL The Indonesian Human Rights
Monitor
2
Ibid. hal. 33.
3
Ibid. hal. 33.
4
Ibid. hal. 33.
5
Kedua instrument HAM internasional tersebut diratifikasi dalam UU No. 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan
International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights dan UU No. 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan
International Covenant on Civil and Political Rights.
267
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
meratifikasi kedua kovenan induk tersebut juga membutuhkannya dalam kerangka
perdamaian Helsinki Agreement yang menandai era permusuhan antara Pemerintah
Republik Indonesia (RI) dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada 15 Agustus 2005.
Persoalan ini tidaklah dapat kemudian dipandang sebagai cara yang baik dalam
melakukan reformasi sektor keamanan (security sector reform) di Indonesia mengingat
reformasi kemudian bergantung pada keinginan pihak pemerintah yang tanpa disadari
peran DPR juga cukup signifikan khususnya dalam rangka pengawasan (parliament
oversights) terhadap pelaksanaan legislasi oleh pemerintah.
Selain itu yang pernah disinggung berkait dengan reformasi legislasi sektor keamanan
adalah lambannya pemerintah untuk menentukan sebuah kebijakan umum pertahanan
negara sebagai grand design yang kemudian memunculkan rencana legislasi sektor
keamanan serta beberapa produk strategis lain misalnya Buku Putih Pertahanan (defense
white paper) dan Kajian Strategis Pertahanan (strategic defense review). Cerminan ini
diperlihatkan dengan terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) No. 7 Tahun 2009 tentang
Kebijakan Umum Pertahanan Negara. Kelambanan pemerintah untuk mengeluarkan
sebuah kebijakan umum menjadikan proses pembuatan legislasi sektor keamanan
menjadi tidak runtun.
Beberapa rancangan legislasi yang sempat mendapatkan perhatian masyarakat seperti
RUU Intelijen Negara dan RUU Keamanan Nasional tidak masuk dalam Prolegnas dan
pembahasan oleh DPR.6 Sedangkan satu rancangan legislasi telah pula mendapatkan
pengesahan UU No. 14 Tahun 2008 tentang Kebebasan Informasi Publik yang
diundangkan pada 30 April 2008.
Hingga saat ini sejumlah rancangan legislasi masih diperdebatkan oleh DPR dan
Pemerintah dan masih belum ada tanda-tanda akan diselesaikan. RUU Rahasia Negara,
RUU Amandemen Peradilan Militer masih belum selesai pembahasannya hingga hari ini.
Padahal DPR tidak lagi melakukan pemindah-alihan (carry over) dimana semua rancangan
legislasi yang telah masuk dalam pembahasan haruslah diselesaikan oleh DPR periode
saat ini dan bukan oleh periode berikutnya. Saat tulisan ini dibuat, DPR masih menyisakan
sejumlah rancangan legislasi yang harus disahkan pada akhir September 2009.
Permasalahan lain yang muncul adalah, reformasi legislasi sektor keamanan Indonesia
tidak berusaha melepaskan diri dari politik militerisasi terhadap legislasi yang hendak
dibahas. Militerisasi dalam peraturan perundang-undangan bagi militer adalah langkah
yang baik dan benar akan tetapi militerisasi dalam legislasi tersebut juga mempengaruhi
kehidupan warga sipil yang tentunya memiliki karakter yang berbeda.
6
Lihat Bhatara Ibnu Reza,”Reformasi Legislasi Sektor Keamanan”, dalam Beni Sukadis, Almanak
Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2007, (Jakarta: Lesperssi-DCAF, 2007), hal. 200-234.
268
Reformasi Legislasi Sektor Keamanan Indonesia 2008-2009: Reformasi Tanpa Arah
Di Indonesia, militerisasi terhadap semua aspek kehidupan telah dimulai jauh sebelumnya
hingga Soeharto berkuasa pada 1966 posisi militer semakin kuat.7 Salah satu aspek
penting adalah melakukannya dengan peraturan perundang-undangan sehingga
memberikan legitimasi bagi militer secara sah terlibat dalam kehidupan politik negara.
Terdapat enam karakter masyarakat yang telah termiliterisasi, pertama, secara nyata
kehadiran militer dalam pemerintahan baik diwujudkan sebagai rejim militer atau sebuah
kekuatan yang dipaksa (force established) kedalam ruang politik langsung dibawah
kekuatan eksekutif (executive power)8. Kedua, kehadiran militer dalam kehidupan ekonomi
masyarakat dari pusat hingga ke daerah hinga tingkat desa sehingga mendekati negara
korporasi yang mendukung perekonomian militer.9 Ketiga, terjadi proses pembelokan
nilai-nilai tradisional dan norma-norma atau sedang dalam proses pembelokan dengan
nilai-nilai dan norma-norma militer dengan militerisasi terhadap institusi-insitusi sosial.10
Keempat, administrasi dengan cara melakukan pelanggaran HAM merupakan bagian yang
tidak terpisahkan dari kehidupan negara. Kelima, operasi terhadap pemberontak
(counterinsurgency operation) yang tidak lain sebagai sebuah ekspresi militer dengan sikap
represifnya.11 Dan terakhir adalah negara memiliki kebijakan perluasan program transfer
persenjataan militer serta produksi senjata domestik yang menjadi bagian dari sumber
budget militer. 12
Sejumlah karakteristik masih dapat terlihat terutama karakter pertama yaitu insitusi
Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) masih
berada dibawah Presiden.13 Alhasil, militerisasi mengakibatkan intervensi kehidupan
warga sipil dan tentunya mengancam HAM dan kekebasan-kebebasan dasar
7
Literatur-literatur sejarah dan politik militer Indonesia yang diangkat dengan berbagai tema oleh penulispenulis dalam dan luar negeri seperti Ulf Sundhaussen, Politik Militer Indonesia 1945 -1967: Menuju Dwi Fungsi
ABRI, [The Road to Power: Indonesian Military Politics 1945-1967], [Dirterjemahkan oleh Hasan Basari], (Jakarta:
LP3ES, 1986); Nugroho Notosusanto, Ed., Pejuang dan Prajurit: konsepsi dan Implementasi Dwifungsi ABRI,
(Jakarta: Sinar Harapan, 1991); Iswandi, Bisnis Militer Orde Baru: Keterlibatan ABRI dalam Bidang Ekonomi dan
Pengaruhnya Terhadap Pembentukan Rezim Otoriter, (Bandung: Rosda Karya, 1998); Yahya A. Muhaimin,
Perkembangan Militer dalam Politik di Indonesia 1945-1966, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, Cet.
Kedua, 2002); Dwi Pratomo Yulianto, Militer dan Kekuasaan: Puncak-puncak Krisis Hubungan Sipil-Militer di
Indonesia, (Yogyakarta: Narasi, 2005); Salim Said, Legitimizing Military Rule: Indonesian Armed Forces Ideology
1958-2000, (Jakarta: Sinar Harapan, 2006); Leonard C. Sebastian, Realpolitik Ideology: Indonesia's Use of Military
Forces, (Singapore: Institute of Southeast Asian Studies-ISEAS, 2006).
8
Mathews George Chunakara, The Militarisation of Politics and Society: Southeast Asian Experiences, (Hongkong:
DagaPress, 1994), hal. 21.
9
Ibid. hal. 21.
10
Ibid. hal. 21.
11
Ibid. hal. 21.
12
Ibid. hal. 21.
13
Untuk penjelasan terhadap kedua institusi ini dapat ditemukan dalam Bhatara Ibnu Reza,”Reformasi Legislasi
Sektor Keamanan”, dalam Beni Sukadis, Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2007, (Jakarta:
Lesperssi-DCAF, 2007), hal. 200-234.
269
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
(fundamental freedoms) yang telah dijamin oleh konstitusi. Perlu kiranya juga untuk
mengingat kembali tolok ukur suksesnya reformasi sektor keamanan yaitu tertatanya
ketentuan peraturan perundang-undangan berdasarkan rule of law dan terwujudnya
profesionalisme aktor pelaksana. 14
Maksud dari rule of law adalah semangat hukum yang mengadopsi prinsip-prinsip
demokrasi, HAM dan keadilan sehingga legislasi yang dihasilkan tidak sekedar dasar dari
kekuasaan belaka. Prinsip demokrasi dalam legislasi sektor keamanan haruslah diiringi
dengan semangat ketertundukan militer atas kontrol otoritas sipil yang sah. Sedangkan
dalam kaitannya dengan profesionalisme, tentunya legislasi yang dihasilkan menjadikan
serta mendukung terwujudnya kemampuan aktor pelaksana untuk menjadi profesional
dan tidak menjadikan mereka terlibat dalam politik.
Tulisan ini hendak menjawab pertanyaan apakah reformasi legislasi sektor keamanan
telah dibangun dalam sebuah grand design yang paralel dengan kebutuhan sektor
keamanan Indonesia serta mendukung profesionalitas aktor keamanan.
2. Peraturan Presiden No. 7 Tahun 2008 tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara:
Sebuah Kebijakan yang Terlambat
Sebagaimana telah disinggung diatas, Perpres No. 7 Tahun 2008 tentang Kebijakan Umum
Pertahanan Negara baru diterbitkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 26
Januari 2008. Kebijakan ini merupakan cerminan dari program yang telah dicanangkan
oleh kandidat presiden dan wakil presiden yakni Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf
Kalla pada kampanye Pemilihan Presiden 2004. Dalam program mereka dibidang
pertahanan, keamanan, politik dan sosial diantaranya adalah pencegahan dan
penganggulangan separatisme; pencegahan dan penanggulangan terorisme serta
peningkatan kemampuan pertahanan negara.15
14
Lihat Nicolle Ball, Tsjeard Bouta dan Luc van de Goor, Enhancing Democratic Governance of the Security
Sector, An Institutional Assessment Framework, (Clingendael: The Netherlands Ministry of Foreign Affairs/The
Netherlands Institute of International Relations, 2003). Terdapat tujuh komponen tolok ukur suksesnya
reformasi sektor keamanan yaitu:
1. Tertatanya ketentuan perundang-undangan berdasarkan the rule of law.
2. Terbangunnya kemampuan pengembangan kebijakan, menyusun perencanaan pertahanan dan
keamanan (defense and security planning).
3. Terlaksanannya pelaksanaan dari kebijakan (Implementasi kebijakan).
4. Terwujudnya profesionalisme aktor pelaksana.
5. Kemampuan dan efektifitas pengawasan.
6. Penggelolaan anggaran yang logis dan proporsional.
Terselesaikannya penyelesaian kasus pelanggaran HAM.
15
Makmur Keliat dan S. Yunanto, Ed., Menatap Masa depan Indonesia: Analisis, (Jakarta: The Ridep Institute,
2004), hal. 152.
270
Reformasi Legislasi Sektor Keamanan Indonesia 2008-2009: Reformasi Tanpa Arah
Program tersebut kemudian haruslah dituangkan dalam sebuah kebijakan sebagaimana
diamanatkan oleh Pasal 13(1) dan (2) UU No. 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara
yaitu:
(1)Presiden berwenang dan bertanggung jawab dalam pengelolaan sistem pertahanan
negara
(2)Dalam pengelolaan sistem pertahanan negara, sebagaimana dimaksud dalam ayat (1),
Presiden menetapkan kebijakan umum pertahanan negara yang menjadi acuan bagi
perencanaan, penyelenggaraan, dan pengawasan sistem pertahanan negara.
Hal ini terasa aneh bila kemudian peraturan yang seharusnya dikeluarkan pada hari-hari
pertama pemerintahan namun baru diterbitkan empat tahun kemudian memperlihatkan
ketidakseriusan pemerintah dalam menjalankan reformasi sektor keamanan. Padahal
sebuah kebijakan umum merupakan hal penting dalam melakukan penataan kembali
regulasi sektror keamanan dari masa otoritarian Soeharto ke masa reformasi. Sedangkan
untuk melakukan reformasi sektor keamanan dalam Prolegnas 2004-2009 diperlukan 21
rancangan legislasi sektor keamanan sebagai pendukung operasionalisasi UU No. 3 Tahun
Tabel 1
Program Legislasi Nasional Sektor Keamanan
2004-2009
No
RUU
1. RUU tentang Rahasia Negara
2. RUU tentang Kebebasan Memperoleh
Informasi Publik
3. RUU tentang Perubahan Atas UndangUndang No. 31 Tahun 1997 tentang
Peradilan Militer
4. RUU tentang Perubahan Atas UndangUndang No. 15. Tahun 2002 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme
5. RUU tentang Pengesahan Konvensi
Internasional tentang
Pemberantasan Pengeboman oleh Teroris
(International Convention for the
Suppression of Terrorist Bombing
6.
RUU tentang Pengesahan Konvensi
Internasional tentang
Pemberantasan Pendanaan Terorisme
(International Convention for the
Suppression of the Financing of
Terrorism)
Keterangan
Sedang dalam pembahasan DPR
Telah diundangkan dalam UU No. 14 Tahun
2008 tentang Kebebasan Informasi Publik
Sedang dalam pembahasan DPR
Tidak masuk pembahasan DPR
Telah diundangkan dalam UU No. 6 Tahun
2006 tentang Pengesahan Konvensi
Internasional tentang
Pemberantasan Pengeboman oleh Teroris
(International Convention for the
Suppression of Terrorist Bombing )
Telah diundangkan dalam UU No. 6 Tahun
2006 tentang Pengesahan Konvensi
Internasional tentang Pemberantasan
Pendanaan Terorisme (International
Convention for the Suppression of the
Financing of Terrorism )
271
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
RUU tentang Perubahan Atas Undang-Undang tentang Hukum Pidana Militer
RUU tentang Hukum Disiplin Prajurit TNI
RUU tentang Bela Negara
RUU tentang Penggunaan Wilayah Negara
Indonesia
RUU tentang Perubahan Atas UndangUndang No. 23/Prp/1959 tentang Keadaan
Bahaya
RUU tentang Batas Wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia
RUU tentang Komponen Cadangan
RUU tentang Komponen Pendukung
RUU tentang Keamanan Nasional
RUU tentang Pelatihan Dasar Kemiliteran
Secara Wajib
RUU tentang Pengabdian di Bidang
Pertahanan Sesuai dengan Profesi
RUU tentang Perbantuan TNI Kepada
POLRI ( Dalam Rangka Tugas Keamanan)
RUU tentang Intelijen Negara
RUU tentang Pengesahan Perjanjian
Pelarangan Ujicoba Nuklir Secara
Menyeluruh
RUU tentang Pengesahan Konvensi
Pelarangan Penggunaan, Penimbunan,
Produksi dan Transfer Ranjau Darat Anti
Personil dan Pemusnahannnya.
(Convention on the prohibition of the Use,
Stockpiling, Production and Transfer of
Anti-personnel and on their Destruction)
Tidak masuk pembahasan DPR
Tidak masuk pembahasan DPR
Tidak masuk pembahasan DPR
Tidak masuk pembahasan DPR
Tidak masuk pembahasan DPR
Tidak masuk pembahasan DPR
Sedang dalam pembahasan DPR
Tidak masuk pembahasan DPR
Tidak masuk pembahasan DPR
Tidak masuk pembahasan DPR
Tidak masuk pembahasan DPR
Tidak masuk pembahasan DPR
Tidak masuk pembahasan DPR
Tidak masuk pembahasan DPR
Telah diundangkan dalam UU No. 20 Tahun
2006 tentang Pengesahan Konvensi
Pelarangan Penggunaan, Penimbunan,
Produksi dan Transfer Ranjau Darat Anti
Personil dan Pemusnahannnya. (Convention
on the prohibition of the Use, Stockpiling,
Production and Transfer of Anti -personnel
and on their Destruction)
Kebijakan Umum Pertahanan Negara sebagaimana diamanatkan oleh UU No. 3 Tahun
2002 tentang Pertahanan Negara seharusnya menjadi pedoman bagi Menteri
Pertahanan dalam rangka membantu Presiden dalam merumuskan kebijakan umum
pertahanan negara.17 Menteri Pertahanan juga menetapkan kebijakan tentang
penyelenggaraan pertahanan negara berdasarkan kebijakan umum yang ditetapkan
oleh Presiden.18 Menteri Pertahanan merumuskan kebijakan umum penggunaan TNI dan
komponen pertahanan lainnya.19
17
18
19
Lihat Pasal 16(2) UU No. 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara.
Lihat Pasal 16(3) UU No. 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara
Lihat Pasal 16(5) UU No. 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara.
272
Reformasi Legislasi Sektor Keamanan Indonesia 2008-2009: Reformasi Tanpa Arah
Hal inilah kemudian menjadi janggal ketika kebijakan penyelenggaraan pertahanan
negara yang menjadi acuan dari Menteri Pertahanan untuk membuat strategi, doktrin,
postur termasuk dalam penyusunan Buku Putih Pertahanan serta menetapkan kebijakan
kerjasama bilateral, regional dan kerja dibidangnya.20 Kenyataaanya pada 2008,
Departemen Pertahanan menerbitkan Produk Strategis Pertahanan Negara yang terdiri
dari Doktrin Pertahanan Negara (2007); Strategi Pertahanan Negara (2007) dan Postur
Pertahanan Negara (2007) yang kesemuannya diterbitkan pada 28 Desember 2007 serta
Buku Putih Pertahanan Indonesia 2008 yang diterbitkan 18 Februari 2008.
Sangat sulit mengatakan bahwa Produk Strategis Pertahanan Negara tak terkecuali Buku
Putih meski dibuat dalam tahun yang sama, merujuk pada Perpres No. 7 Tahun 2008
tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara termasuk derivasinya dalam sejumlah
rancangan legislasi sektor keamanan. Sebuah kebijakan yang seharusnya menjadi
kerangka dari seluruh reformasi sektor keamanan kenyataanya hanya sekedar memenuhi
persyaratan dalam undang-undang.
Dengan kata lain Perpres No. 7 Tahun 2008 terkesan justeru mengacu pada Produk
Strategis Pertahanan Negara serta rencana legislasi yang telah dibuat sebelumnya dan
bukan sebaliknya. Salah satu contohnya ketika Perpres No. 7 Tahun 2008 dalam Bagian
C(2) tentang Kebijakan Pembangunan Kekuatan Pertahanan menyinggung
pembangunan Komponen Pertahanan yang diprioritaskan pada pembangunan
Komponen Utama yaitu TNI dan penyiapan Komponen Cadangan dan Komponen
Pendukung. 21 Secara nyata hal ini telah ada didalam Postur Pertahanan Negara yang
terbit pada 2007 serta Rancangan Undang-Undang (RUU) Komponern Cadangan
Pertahanan Negara yang saat ini dibahas DPR saat ini merupakan draft tertanggal 9
Oktober 2006 yang kemudian dalam perjalanannya direvisi dengan dikeluarkannya draft
Desember 2008. Adalah benar pada 2003 pernah ada draft RUU Komponen Cadangan
namun meski UU No. 3 tahun 2002 tentang Pertahanan Negara telah berlaku namun
pemerintahan saat itu dibawah Presiden Megawati Soekarnoputri sama sekali tidak
mengeluarkan Kebijakan Umum Pertahanan Negara. Sehingga pertanyaan yang timbul
adalah atas kepentingan apa dan siapa kemudian RUU Komponen Pertahanan tersebut
disusun, jikalau tidak ada satupun landasan kebijakan dari pemerintah yang berkuasa.
Ini adalah salah satu contoh konkrit ketidakjelasan proses reformasi sektor keamanan di
Indonesia. Departemen Pertahanan yang seharusnya berperan untuk membantu
Presiden terkesan mengambil kesempatan untuk melakukan penafsiran sendiri terhadap
proses reformasi sektor keamanan. Dengan kata lain, Departemen Pertahanan kemudian
menjadi sebuah lembaga otonom yang terlepas dari pengawasan eksekutif dalam
menyusun kebijakan pertahanan meski dipimpin oleh seorang menteri yang berstatus
sipil.
20
Lihat Pasal 15(3) UU No. 3Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara. Pada 18 Februari 2008, Departemen
Pertahanan kembali menerbitkan Buku Putih Pertahanan Indonesia 2008 menggantikan, Buku Putih
Pertahanan 2003 yang diterbitkan pada 31 Maret 2003.
21
Perpres No. 7 Tahun 2008 tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara.
273
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Ketidakjelasan ini diperparah lagi dengan kelemahan DPR selaku legislator yang
seharusnya tidak hanya sekedar membuat undang-undang tetapi juga mengerti
landasan kebijakan yang digunakan oleh pemerintah dalam mengajukan RUU berkait
dengan reformasi sektor keamanan.
3. Pembahasan Rancangan Legislasi Sektor Keamanan 2008-2009
a. RUU Perubahan atas UU No. 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer
Sebagaimana telah dibahas dalam Almanak Reformasi Sektor Keamanan 200722
pembahasan RUU Perubahan atas UU No. 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer telah
memakan waktu cukup lama yaitu berkisar hampir empat tahun. RUU ini adalah salah
satu yang harus segera diselesaikan pembahasannya melalui pengesahan oleh DPR pada
akhir September 2009. Adapun persoalan-persoalan masih pada lingkup yurisdiksi
peradilan militer dalam kaitannya dengan kedudukan peradilan umum. Sehingga
pembahasan dalam rancangan legislasi ini tidaklah beranjak pada hal-hal lain yang lebih
penting namun selain upaya tarik ulur yang dilakukan oleh pemerintah.
Hal lainnya dalam pembahasan rancangan legislasi ini adalah munculnya upaya
pembelokan nilai-nilai supremasi sipil yang menjadi dasar dari keseluruhan reformasi
sektor keamanan di Indonesia dengan kepentingan militer terhadap sipil yang coba
dipertahankan dalam dunia peradilan. Upaya ini militerisasi mencoba menjadikan
peradilan militer sebagai benteng terakhir untuk tidak tunduk dalam nilai-nilai peradilan
independen, fair dan imparsial bahkan justeru menjadikannya sebagai sentral bagi
kepentingan militer dalam hubungannya dengan lingkup peradilan lain. Sehingga
peradilan militer akan memiliki kedudukan yang superior di dalam sistem kekuasaan
kehakiman di Indonesia.
Terdapat tiga hal penting yang menjadi fokus utama dalam pembahasan RUU ini yaitu
soal yurisdiksi; pengadilan dengan acara koneksitas, keterlibatan perangkat penegak
hukum militer seperti Polisi Militer (PM) dalam penyelidikan kasus di peradilan umum
serta pelaksanaan putusan. Ketiga hal ini tidak hanya menempatkan kedudukan
peradilan militer menjadi superior tetapi juga merupakan contoh konkrit penggambaran
dari upaya menempatkan militer sebagai kelas superior dalam masyarakat Indonesia.
Perihal yurisdiksi dimana RUU tersebut menyatakan prajurit TNI yang melakukan tindak
pidana umum diadili di Peradilan Umum dan jika melakukan kejahatan militer akan diadili
di Peradilan Militer sebagaimana amanat TAP MPR No. VII/MPR/2000 tentang Peran TNI
dan Peran Polri dan UU No. 34 Tahun tentang TNI.23 Namun dalam hal ini akhirnya
Persoalan yurisdiksi ini sempat menjadikan pembahasan RUU ini menjadi berlarut-larut
karena Departemen Pertahanan bersikukuh untuk tidak menerima yurisdiksi peradilan
umum terhadap prajurit TNI.
22
Lihat Bhatara Ibnu Reza,”Reformasi Legislasi Sektor Keamanan”, dalam Beni Sukadis, Almanak Reformasi Sektor
Keamanan Indonesia 2007, (Jakarta: Lesperssi-DCAF, 2007), hal. 200-234. Untuk pembahasan RUU ini bisa dilihat
di Bhatara Ibnu Reza, et,al, Reformasi Peradilan Militer di Indonesia, (Jakarta: Imparsial, 2007).
23
Ibid. hal. 229.
274
Reformasi Legislasi Sektor Keamanan Indonesia 2008-2009: Reformasi Tanpa Arah
Akan tetapi pada akhir November 2006, ketika masih berada di Tokyo Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono menyampaikan melalui Menteri Sekretaris Negara Yusril Ihza
Mahendra dan Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaludin bahwa Pemerintah setuju
prajurit TNI yang melakukan tindak pidana umum diadili di peradilan umum. Dengan
pernyataan tersebut, maka kebuntuan yang selama ini terjadi antara DPR dengan
Pemerintah sudah menemui jalan keluar dan sepakat untuk melanjutkan pembahasan.24
Kedua, tentang pengadilan dengan acara koneksitas yaitu jika suatu tindak pidana
dilakukan secara bersama-sama antara anggota militer dengan warga sipil dan untuk
tidak menimbulkan konflik yurisdiksi maka penentuannya dilakukan dengan melihat
apakah tindak pidana yang dilakukan mereka merugikan kepentingan militer atau
kepentingan publik secara umum. Dalam pembahasannya, Panitia Kerja RUU Perubahan
UU No. 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer akhirnya menerima pendapat
pemerintah mengenai perlunya mempertahankan peradilan koneksitas dalam peradilan
militer yang kali ini mencoba menjaring warga sipil yang melakukan tindak pidana militer
yang pada praktik sebelumnya apakah sebuah tindak pidana merugikan kepentingan
pada salah satu pihak apakah militer atau sipil. Argumen pemerintah yang terdengar
absurd ini mengandaikan keterlibatan warga sipil bersama-sama dengan militer dalam
tindak pidana militer.
Dalam praktiknya koneksitas merupakan cara yang dilakukan militer untuk melindungi
anggotannya mengingat sesuai ketentuan UU No. 31 Tahun 1997 tentang Peradilan
Militer menitikberatkan pada status pelaku kejahatan dan bukan jenis kejahatan. Walhasil
tindak kejahatan yang tidak memiliki sangkut paut dengan kejahatan yang memang khas
militer menjadi yurisdiksi peradilan militer. Bahkan acara koneksitas telah terbukti
sebagai bagian dari superioritas militer terhadap berbagai kasus yang tidak ada
hubungannya dengan tindak pidana militer.
24
Ibid. hal. 229.
275
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Tabel 3
Kasus Pengadilan Koneksitas dan Kasus Perkara Koneksitas yang Menjadi
Sarang Impunitas
276
Reformasi Legislasi Sektor Keamanan Indonesia 2008-2009: Reformasi Tanpa Arah
277
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Sumber: Reformasi Peradilan Militer di Indonesia (Imparsial, 2007)
Aturan tentang kejahatan yang dilakukan secara bersama-sama oleh anggota militer dengan
warga sipil pertama kali diatur dalam UU No. 5 Tahun 1950 tentang Susunan dan Kekuasaan
Pengadilan/Kejaksaan dalam Lingkungan Peradilan Ketentaraan. Akan tetapi penggunaan
istilah koneksitas baru diperkenalkan di masa Orde Baru ketika ditabalkan dalam UU No. 14
Tahun 1970 tentang Pokok-Pokok Kekuasan Kehakiman dan kemudian diatur juga oleh Pasal
8 UU No. 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).
Untuk pelaksanaan penanganan perkara koneksitas itu kemudian dikeluarkan sebuah
Keputusan Bersama antara Menteri Kehakiman, Menhankam/Pangab, Ketua Mahkamah
Agung dan Jaksa Agung (MA) RI yang dituangkan dalam No. KEP/B/61/XII/1971 tentang
Kebijaksanaan dalam Pemeriksaan yang Dilakukan Bersama-sama oleh Orang yang
Termasuk dalam Yurisdiksi Pengadilan di Lingkungan Peradilan Militer/Angkatan Bersenjata
dan Orang yang Termasuk dalam Yurisdiksi di Lingkungan Peradilan Umum yang diterbitkan
pada 7 Desember 1971.
Dari segi hukum, surat ini jelas bermasalah mengingat tidak terdapat batas antara MA
sebagai pemegang kekuasaan yudikatif dengan sebagian pihak yang merupakan lembaga
yang berada di bawah kekuasaan legislatif. Hal ini terjadi karena pengaruh luar biasa ABRI
saat itu dalam sistem peradilan Indonesia di mana lembaga peradilan dan penuntutan telah
mengalami kooptasi dan militerisasi. Selain itu keputusan ini lebih mencerminkan politik
hukum Pemerintahan Soeharto daripada sebuah peraturan perundang-undangan.
Terbitnya KUHAP bagi ABRI saat itu dianggap tidak cukup memadai sehingga kemudian
dikeluarkan Keputusan Bersama Menteri Pertahanan dan Keamanan dan Menteri
278
Reformasi Legislasi Sektor Keamanan Indonesia 2008-2009: Reformasi Tanpa Arah
Kehakiman KEP.10/M/XII/1983 dan KEP.57.PR.09.03 Tahun 1983 tanggal 29 Desember 1983
tentang Pembentukan Tim Tetap untuk Penyidikan Perkara Tindak Pidana Koneksitas.
Setelah diterbitkannya Keputusan Bersama tersebut di atas, selanjutnya Mabes ABRI
menerbitkan sebuah surat keputusan yaitu Skep Pangab No. 809/IX/1988 tangggal 2
November 1988 tentang Pengendalian dan Pengawasan Atas Kegiatan Tim Tetap untuk
Penyidikan Tindak
Surat Keputusan itu kemudian direspon oleh Oditur Jendral (Orjen) ABRI dengan
menerbitkan Surat Edaran Orjen ABRI No. SE/B/95/VII/1991 tanggal 29 Agustus 1991 tentang
Penunjuk Sementara Pelaksanaan Penyidikan Perkara Pidana Koneksitas dan Petunjuk
Pelaksana Orjen ABRI No. Juklak/01/IV/1993 tanggal 7 Juni 1993 tentang Penyidikan Perkara
Pidana Koneksitas.
Adalah fakta sejarah yang tak dapat dipungkiri dimana terdapat warga sipil yang diadili oleh
peradilan militer khususnya oleh Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub). Mahmilub yang
memiliki kekuasaan untuk memeriksa dan mengadili dalam tingkat pertama dan terakhir
perkara-perkara khusus yang ditentukan oleh Presiden dalam bentuk keputusan presiden
sebagaimana diatur dalam UU No. 16 Pnps Tahun 1963 tentang PembentukanMahkamah
Militer Luar Biasa.
Sederetan kasus yang telah diadili melalui mekanisme melalui Mahmilub berdasarkan
keputusan presiden tersebut diantaranya pengadilan terhadap tokoh RMS, Dr. Soumokil
dengan Keppres No. 6 Tahun 1964, perkara H. Bachrum Effendi auctor intellectualis peristiwa
Idhul Adha dengan Keppres No. 156 Tahun 1964, perkara Ibnu Hajar dalam kasus
pemberontakan DI/TII di Kalimantan Selatan dengan Keppres No. 157/1964 serta pengadilan
terhadap sejumlah perwira dan tokoh PKI di tahun 1965 dengan Keppres No. 370 Tahun 1965.
Namun bila kita ditelisik lebih dalam, pengadilan dengan menggunakan mekanisme
Mahmilub merupakan pelaksanaan politik hukum Demokrasi Terpimpin yang memberikan
ruang kekuasaan intervensi terhadap independensi peradilan kepada Presiden Soekarno.
Saat itu kekuasaan kehakiman dalam hal ini pengadilan merupakan alat revolusi sesuai
dengan UU No. 19 Tahun 1964 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman.
Undang-undang ini kemudian memberikan kewenangan penuih bagi Presiden/Pemimpin
Besar Revolusi untuk campur tangan dalam pengadilan demi kepentingan revolusi,
kehormatan bangsa dan negara atau kepentingan masyarakat.
Hakikatnya setiap peristiwa yang melibatkan warga sipil dan kelompok militer bersenjata
dalam tindak pidana menggulingkan pemerintah atau makar adalah merupakan yurisdiksi
peradilan umum. Di berbagai belahan dunia praktik peradilan terhadap kejahatan makar
atau yang disebut sebagai pengkhianatan (high treason) ini merupakan wilayah
kewenangan peradilan umum meski terdapat keterlibatan militer didalamnya. Selain itu
pengertian high treason tidak hanya menyangkut upaya untuk menggulingkan pemerintah
yang sah tetapi juga termasuk tindak pengkhianatan terhadap kedaulatan negara.
279
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Untuk yang terakhir ini kembali sejarah peradilan Indonesia pada masa keemasannya pernah
melakukannya sekali dan belum pernah terulang kembali adalah kasus Sultan Hamid II.
Dalam kasus ini, Sultan Hamid II terlibat berkolaborasi dengan Kapten Raymond Westerling
dalam usaha percobaan pembunuhan terhadap sejumlah menteri diantaranya Menteri
Pertahanan Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang kemudian memunculkan Peristiwa APRA
di Bandung yang menewaskan sejumlah perwira APRIS. Persidangan kasus yang
mendapatkan perhatian masyarakat saat itu digelar MA dan dipimpin langsung ketuanya
yaitu Prof. Mr. Wirjono Projodikoro selaku ketua majelis hakim serta Jaksa Agung Soeprapto
selaku penuntut umum. 25
Dengan melihat berbagai kasus tersebut dapat dikatakan peradilan koneksitas tidak dapat
lagi menjadi jawaban dalam menangani kasus-kasus pidana militer. Jika praktik mekanisme
Mahmilub yang menjadi dasar argumen bagi pemerintah sebagai dasar pembenar untuk
menyeret warga sipil masuk ke dalam yurisdiksi peradilan militer adalah kesalahan besar.
Preseden yang digunakan justru menafikan independensi dan imparsialitas peradilan yang
telah menjadi prinsip yang diakui oleh seluruh bangsa di dunia. Ditambah lagi, praktik
tersebut muncul dari sejarah kelam hukum Indonesia yang imbasnya masih kita rasakan
sehingga tidak tepat juga untuk dijadikan contoh ditengah-tengah upaya mereformasi
dunia peradilan Indonesia.
Ketiga, persoalan keterlibatan Polisi Militer dalam penyelidikan dalam kasus-kasus tindak
pidana umum. Usulan ini datang dari pemerintah dengan alasan bahwa meski anggota
militer yang melakukan tindak pidana umum tunduk pada yurisdiksi peradilan umum akan
tetapi prosesnya tetap dilakukan dalam yurisdiksi peradilan militer dan kasusnya akan
dilimpahkan oleh Oditur Militer. Konsep ini jelas memosisikan superioritas peradilan militer
terhadap peradilan umum. Upaya ini dilakukan persoalan kedudukan polisi militer dijadikan
pemerintah untuk mengganjal yurisdiksi peradilan umum berkait dengan tindak pidana
umum. Selain itu, upaya pemerintah untuk memasukan hal ini dalam pembahasan
merupakan upaya menarik ulur pembahasan rancangan legislasi ini.26
DPR sebagai pembuat undang-undang harus secara tegas melihat bahwa persoalan kendala
psikologis tidak dapat dijadikan alasan dalam upaya penegakan hukum. Bagaimanapun juga
Kepolisian Negara RI merupakan aktor utama sistem peradilan pidana (integrated criminal
justice system) dalam penyelidikan tindak pidana umum dan bukan polisi militer. Sehingga
menempatkan polisi militer kedalam sistem peradilan pidana umum menjadikan mereka
seakan-akan memiliki yurisdiksi dalam peradilan umum dan berujung pada kekacauan
penerapan hukum acara pidana.
25
Lihat Iip D. Yahya, Mengadili Menteri Memeriksa Perwira: Jaksa Agung Suprapto dan Penegakan Hukum di
Indonesesia Periode 1950-1959, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2004).
26
Lihat Pernyataan Bersama, “Pansus Peradilan Militer jangan Terjebak Permainan Pemerintah” (Konferensi Persi
Ruang Wartawan Nusantara III DPR, 19 Desember 2008). Lihat www. vivanews.com, “Pemerintah Dinilai Sengaja
Tarik Ulur”, http://politik.vivanews.com/news/read/16763-pemerintah_dinilai_sengaja_tarik_ulu, (Diakses
pada 17April 2009).
280
Reformasi Legislasi Sektor Keamanan Indonesia 2008-2009: Reformasi Tanpa Arah
Tidak hanya itu, superioritas peradilan militer kedepan akan berpengaruh pada proses
penyelidikan yang akan dilakukan oleh lembaga lain seperti Komnas HAM selaku penyelidik
dalam kasus pelanggaran HAM berat yang diatur dalam UU No. 26 Tahun 2000 tentang
Pengadilan HAM, serta penyelidikan kasus korupsi yang dilakukan oleh Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK) sesuai dengan UU No. 30 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana
Korupsi. Dengan keterlibatan PM serta Oditur selaku jaksa penuntut umum dilingkup
peradilan militer artinya sama saja bahwa prinsip yurisdiksi peradilan umum terhadap pelaku
militer sama sekali diabaikan dan malah yang terjadi adalah penguatan kedudukan
peradilan militer terhadap peradilan umum.
Superioritas peradilan militer juga semakin nampak jika kewenangan Atasan yang Berhak
Menghukum (Ankum) serta mekanisme Perwira Penyerah Perkara (Papera) tidak mengalami
perubahan dalam rancangan legislasi ini dan turut serta berperan dalam menangani tindak
pidana umum yang dilakukan oleh prajurit TNI. Ankum memiliki kewenangan sebagai
penyelidik sekaligus penyidik perkara dalam lingkup peradilan militer, sehingga jikalau
mekanisme ini dipakai maka jalannya perkara akan ditentukan oleh tiga aktor yaitu PM,
Oditur Milter serta Ankum. Sedangkan Papera adalah perwira yang memiliki kewenangan
khusus untuk menentukan suatu perkara pidana yang dilakukan prajurit TNI yang berada
dibawah komandonya diserahkan kepada atau diselesaikan diluar pengadilan militer. Jikalau
peran Papera juga masuk dalam penanganan tindak pidana umum kemungkinan akan
terjadi impunitas mengingat Papera untuk tidak menyerahkan anak buahnya terutama
dengan alasan-alasan bahwa prajurit tersebut memiliki keahlian yang dibutuhkan dalam
operasi militer. Dengan kata lain, Papera memiliki kewenangan yang cukup kuat untuk
menutup sebuah perkara tidak hanya di peradilan militer tetapi juga dilingkup peradilan
umum.
Hingga tulisan ini dibuat, pemerintah masih tetap bersikukuh atas pendapatnya yang
menjadikan pembahasan melalui Panitia Sinkronisasi antara DPR dengan Pemerintah
mengalami deadlock. Hal ini seharusnya dapat dihindari apabila DPR tetap pada
pendiriannya untuk melakukan reformasi total terhadap peradilan militer. Adalah benar
dalam proses pembuatan undang-undang, DPR melakukannya bersama-sama dengan
pemerintah. Namun dalam hal ini DPR lebih memiliki peranan mengingat kedudukan dan
kewenangannya selaku pembuat undang-undang yang telah dikuatkan dalam konstitusi.
Dengan kata lain, DPR seharusnya dapat mengambil langkah-langkah tegas untuk tidak
berkompromi dikarenakan DPR telah membaca gelagat niat tidak baik pemerintah selama
proses pembahasan berlangsung.
Padahal jikalau menilik lebih jauh terhadap substansi RUU ini, yang tak kalah penting juga
adalah perihal jaminan hak terhadap prajurit. Meski prajurit adalah bagian dari negara akan
tetapi mereka masih memiliki Hak Asasi Manusia (HAM) yang terbatas termasuk dimana hakhak tersangka, terdakwa dan terpidana yang termasuk dalam rumpun hak-hak yang tidak
dapat dkurangi dalam keadaan apapun (non-derogable rights). Dalam kaitan itu terdapat
perbedaan yang cukup signifikan antara penerapan hak-hak tersebut antara UU No. 8 Tahun
1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Pidana dengan RUU Perubahan atas UU No. 31
Tahun 1997 tentang Peradilan Militer.
281
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Tabel 4.
Perbandingan Hak-Hak Tersangka dalam KUHAP dan UU Peradilan Militer
Sumber: Reformasi Peradilan Militer di Indonesia (Imparsial, 2007)
282
Reformasi Legislasi Sektor Keamanan Indonesia 2008-2009: Reformasi Tanpa Arah
Pembatasan-pembatasan ini jelas menjadikan peradilan militer secara tidak langsung
melakukan pelanggaran HAM terhadap hak-hak non-derogable rights para prajurit.
Bagaimanapun hak-hak ini dapat menimbulkan efek ketidakadilan terutama bagi prajurit
sendiri serta keluarganya jika hendak melakukan keluhan atau langkah hukum jika
dikemudian hari peradilan militer melakukan kesalahan dalam penerapan hukum.
Seharusnya dalam pembahasan rancangan legislasi ini, DPR hendaknya dapat mendasarkan
diri pada sejumlah prinsip-prinsip guna mewujudkan TNI yang profesional, dalam konteks
Peradilan Militer berdasarkan pengalaman sejarah, amanat reformasi serta perkembangan
dan perbandingan internasional, ada beberapa prinsip yang harus dipenuhi dan mendasari
UU Peradilan Militer yang baru, yaitu,27 prinsip pertama, peradilan militer harus menjunjung
tinggi demokrasi dan hak asasi manusia, sesuai dengan amanat konstitusi. Prinsip kedua,
Indonesia adalah negara hukum (rechstaat). Oleh karena itu di dalam peradilan militer juga
harus dijamin asas persamaan di muka hukum (equality before the law). Prinsip ketiga,
reformasi peradilan militer harus mengarah pada penguatan wibawa peradilan militer untuk
memperkuat disiplin anggota militer, dengan tetap mengacu kepada nilai-nilai demokrasi
dan hak asasi manusia. Prinsip keempat, posisi dan komposisi peradilan militer harus diatur
sedemikian rupa sehingga meskipun merupakan bagian dari TNI, namun peradilan militer
dapat bekerja independen tanpa terpengaruh oleh rantai komando yang berlaku di TNI.
Prinsip kelima, peradilan militer harus menjamin keadilan bagi semua prajurit TNI dan
melindungi hak asasi prajurit TNI. Tidak boleh ada diskriminasi dalam sistem peradilan militer,
artinya baik prajurit maupun perwira harus diposisikan sama di muka hukum. Dalam hal
prajurit TNI yang melakukan tindak pidana, maka hak untuk didampingi pengacara, hak
untuk menghubungi keluarga, hak untuk tidak disiksa, hak untuk segera diadili, dan lain-lain
harus dijamin dengan Undang-Undang.
Prinsip keenam, peradilan militer harus memiliki yurisdiksi yang jelas. Dalam hal ini yurisdiksi
peradilan militer harus didasarkan terutama oleh tindak pidana yang disangkakan, dan
bukan semata-mata pada subyek pelaku, waktu, atau lokasi terjadinya kejahatan. Dengan
demikian, yurisdiksi peradilan militer terbatas pada tindak pidana yang diatur dalam KUHP
Militer. Yurisdiksi berdasarkan tindak pidana yang disangkakan tersebut (ratione materiae)
dapat diperluas jika dan hanya jika Indonesia sedang mengalami situasi perang. Dari aspek
subyek pelaku tindak pidana (ratione personae), yurisdiksi peradilan militer terbatas pada
mereka yang menjadi anggota militer serta yang dipersamakan.
Sedangkan dari segi lokasi kejadian perkara (ratione loci), yurisdiksi peradilan militer hanya
terbatas pada medan pertempuran ketika Indonesia sedang dalam situasi perang. Dalam
situasi perang, aspek-aspek ratione materiae, personae dan loci di atas dapat diperluas
dengan berdasarkan keputusan/persetujuan DPR. Maka dari itu, dengan prinsip ini praktek
peradilan koneksitas menjadi tidak relevan dan harus dihapuskan dari sistem peradilan
militer.
27 Lihat Bhatara Ibnu Reza, et,al, Reformasi Peradilan Militer di Indonesia, (Jakarta: Imparsial, 2007). hal. 65-66.
283
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Prinsip ketujuh, peradilan militer harus bersifat terbuka sehingga bisa dikontrol dan dapat
dipertanggungjawabkan. Segala bentuk pelanggaran serta tindakan terhadap pelanggaran
hukum pidana dan disiplin militer, harus dilaporkan dan dapat di-review oleh eksekutif
melalui Menteri Pertahanan. Dengan demikian diharapkan dapat dicegah terjadinya
pemidanaan militer dan mekanisme disiplin militer terhadap tindakan yang semestinya
masuk yurisdiksi peradilan umum.
Prinsip kedelapan, menyangkut akuntabilitas peradilan militer, harus ada aturan yang jelas
dan terukur mengenai mekanisme hukum dan disiplin militer yang berlaku di lingkungan
internal militer. Oleh karena itu mekanisme-mekanisme ekstra-yudisial seperti Dewan
Kehormatan Militer atau Dewan Kehormatan Perwira harus dihapus. Kalaupun diperlukan
mekanisme ekstra-yudisial semacam itu, tidak boleh bersifat substitutif terhadap sistem
hukum yang berlaku. Mekanisme-mekanisme ekstra-yudisial tersebut harus ditempatkan
sebagai komplemen/ suplemen dari sistem hukum yang berlaku.
Prinsip kesembilan, sebagai bagian dari unifikasi hukum dan menghindari dualisme rezim
hukum tata usaha di Indonesia, maka Undang-Undang Peradilan Militer tidak semestinya
mengatur tata usaha militer.
a.
RUU Komponen Cadangan Pertahanan Negara
Pemerintah akhirnya memasukan RUU Komponen Cadangan Pertahanan Negara (KCPN)
kepada DPR setelah sebelumnya telah dimasukan dalam Prolegnas 2008.28 Untuk keperluan
tersebut DPR telah pula mengesahkan pembentukan Panitia Khusus (Pansus) RUU KCPN
yang diketuai oleh Happy Bone Zulkarnain pada 21 April 2009.29 Adapun draft yang dibahas
adalah draft Desember 2008 yang merupakan revisi dari draft 9 Oktober 2006 yang
sebelumnya telah mengalami kritik tajam dari masyarakat sipil.30 Pada RUU ini Departemen
Pertahanan menjadi wakil dari pemerintah sebagai mitra dari Pansus RUU KCPN DPR.
Dalam Naskah Akademik Komponen Cadangan Pertahanan Negara 2008 yang
dipublikasikan oleh Direktorat Jenderal Potensi Pertahanan Departemen Pertahanan
menyatakan bahwa: 31
28 Lihat Pusat Informasi dan Komunikasi Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia RI, “RUU Usulan Prioritas
Prolegnas 2008,
http://hukumham.info/index.php?option=com_content&task=view&id=103&Itemid=99999999, (Diakses 21
April 2009).
2 9 L i h a t w w w . h u k u m o n l i n e . c o m ,“ R a p a t P a r i p u r n a S a h k a n D u a P a n s u s R U U ”,
http://cms.sip.co.id/hukumonline/detail.asp?id=21781&cl=Aktual, (Diakses 21 April 2009).
30 Lihat Bhatara Ibnu Reza, et. al, Reformasi di Persimpangan: Rancangan Kompenen Cadangan Pertahanan
Negara, (Jakarta: Imparsial, 2008). Lihat juga www.kompas.com, ”Imparsial: Hentikan Penyusunan RUU
Komponen Cadangan”, (Diakses pada 21 April 2009).
31 Lihat Direktorat Jenderal Potensi Pertahanan, “Naskah Akademik Komponen Cadangan Pertahanan Negara”,
(Jakarta: Departemen Pertahanan RI, 2008), hal. 28.
284
Reformasi Legislasi Sektor Keamanan Indonesia 2008-2009: Reformasi Tanpa Arah
“…pembentukan adalah sesuatu yang strategis. Jika hal ini bisa dipahami maka
sebetulnya pembentukan Komponen Cadangan bukan hanya karena nilai
urgensinya, tapi lebih kepada nilai strategisnya. Bahwa ia perlu ada demi kepentingan
pertahanan dan bela negara di masa mendatang yang harus dipersiapkan dari masa
kini.”
Peryataan ini tentunya haruslah melihat akan beberapa hal terutama sekali adalah strategic
defense review dan postur pertahanan yang hendak dibangun oleh Indonesia. Pasalnya
sebagaimana telah disinggung diawal, kepentingan pembentukan KCPN ini tidak memiliki
dasar yang cukup kuat jika mengacu pada dua Produk Strategis Pertahanan yaitu Strategi
Pertahanan Negara dan Postur Pertahanan Negara yang diterbitkan pada 2007. Sungguhpun
draft RUU KCPN telah direvisi pada Desember 2008 tidak menjadikannya sebagai bentuk
pengejawantahan Perpres No. 7 Tahun 2008 tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara
yang diterbitkan pada bulan dan tahun yang sama.
Dalam draft RUU KCPN versi Desember 2008 memang terdapat banyak perubahan akan
tetapi esensi dari RUU yaitu filosofis, hukum dan politik serta kedudukan warga sipil tidak
mengalami perubahan. Terdapat tiga permasalahan dalam RUU KCPN yaitu persoalan HAM
warga negara; kaitannya dengan postur pertahanan negara; nuansa kepentingan politik
militer terutama Angkatan Darat. Dengan kata lain draft Desember 2008 belum menjawab
persoalan-persoalan pertahahan negara apalagi perlindungan terhadap hak konstitusi
warga negara serta kepentingan atas pembentukan KCPN.
Naskah Akademik dari Direktorat Jenderal Potensi Pertahanan menyatakan RUU KCPN
mengakomodasi HAM akan tetapi draft RUU KCPN Desember 2008 masih belum menjamin
hak-hak warga negara dengan masih adanya penerapan pidana bagi warga negara yang
menolak untuk mengambil bagian dari KCPN.32 Padahal persoalan persepektif HAM adalah
hal yang sangat penting dalam keikutsertaan warga sipil dalam pertahanan negara.33 Hakhak yang dilanggar pada proses perekrutan adalah hak untuk hidup (right to life), hak untuk
kebebasan dan keamanan seseorang (right to liberty and security), serta kekebasan untuk
berpikir, hati nurani dan beragama (freedom of thought, conscience and religion) serta hak
untuk diperlakukan sama dihadapan hukum tanpa diskriminasi dalam kesamaan
perlindungan hukum (right to be treated equal before the law). Kesemua hak tersebut
termasuk dalam rumpun hak tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun.
Berkait dengan praktik wajib militer di berbagai negara, Komisi Tinggi HAM Perserikatan
Bangsa-Bangsa (UN High Commission for Human Rights) kemudian mengeluarkan resolusi
mengenai penolakan terhadap wajib militer oleh seseorang melalui Resolusi 1998/77.34
Conscientious Objection yang secara harafiah diartikan sebagai penolakan bersungguhsungguh sebenarnya merupakan penolakan seseorang terhadap wajib militer berdasarkan
32 Ibid. hal. 48.
33 Lihat Bhatara Ibnu Reza,” Wajib Militer: Perspektif HAM”, dalam Beni Sukadis, Pertahanan Semesta dan Wajib
Militer: Pengalaman Indonesia dan Negara Lain, (Jakarta: Lesperssi-DCAF, 2008). Hal. 90-103.
34 United Nations High Commission for Human Rights, Conscientious Objection to Military Service, (Commission
on Human Rights Resolution 1998/77).
285
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
kepercayaannya (believe). Sedangkan individu yang menggunakannya disebut sebagai
Conscientious Objector (CO).
Penolakan tersebut merupakan hasil dari penafsiran Komisi HAM PBB dimana hal itu
merupakan bagian dari HAM dalam Pasal 18 ICCPR35 mengenai kekebasan untuk berpikir,
hati nurani dan beragama (freedom of thought, conscience and religion). Dalam Komentar
Umum (General Comment) Nomor 24 Paragraf berkait dengan Pasal 18 ICCPR oleh Komite
HAM (Human Rights Committee)36 dinyatakan bahwa:37
“The Covenant does not explicitly refer to a right to conscientious objection, but the
Committee believes that such a right can be derived from article 18, inasmuch as the
obligation to use lethal force may seriously conflict with the freedom of conscience and the
right to manifest one's religion or belief.“ 38
Meski terkesan bahwa conscientious objection didasarkan oleh kepercayaan dan agama
namun hak ini juga melindungi hak individu dalam kebebasan nurani dan non-believers.
Resolusi 1998/77 Komisi HAM PBB menekankan agar negara harus mengambil setiap
tindakan yang perlu untuk menahan diri (to refrain) dari pengecaman terhadap para CO serta
menghukum kembali (repeated punishment) karena pengabaian melakukan wajib militer
(failure to perform military service) serta mengingat tidak seorangpun dapat dihukum kembali
terhadap suatu kejahatan dimana ia telah menerima hukuman atau dibebaskan berdasarkan
hukum dan hukum acara pidana dari masing-masing negara.39 Negara baik dalam hukum
nasional maupun praktiknya tidak diperbolehkan memperlakukan para CO berkaitan
dengan persyaratan dan ketentuan wajib militer atau berkait dengan hak-hak ekonomi,
sosial, budaya, sipil dan politik.40
Sedangkan bagi negara-negara yang belum mengatur perihal conscientious objection,
namun memiliki peraturan perundang-undangan mengenai sistem wajib militer (system of
35 Peter Rowe, The Impact of Human Rights…” Op.Cit, hal. 18 dalam footnote 61. Ketentuan dalam Pasal 18 ICCPR
juga telah diadopsi oleh sejumlah instrumen HAM regional seperti dalam Pasal 8 African Charter on Human
Rights and People's Rights; Pasal 12 American Convention of Human Rights serta Pasal 9 European Convention on
Human Rights.
36 Harus diperhatikan bahwa Komite HAM (Human Rights Committee) merupakan badan yang dibentuk dalam
rangka mengawasi kewajiban negara peserta ICCPR atau sering dikenal sebagai treaty body. Sedangkan Komisi
HAM PBB UN Commission for Human Rights adalah organ PBB yang dibentuk dibawah Economic, Social and
Cultural Council (ECOSOC) yang merupakan principal organ dari PBB. Dalam perjalanannnya Komisi HAM PBB
menjadi Dewan HAM PBB (UN Human Rights Council) Lihat Scott Davidson, Hak Asasi Manusia [Human Rights].
[Diterjemahkan oleh A. Hadyana Pudjaatmaka], (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1994).
37 General Comment No. 22: 30/07/93(48th Session): The Right to Freedom of Thought, Conscience and Religion
(Art. 18) CCPR/ C/21/Rev.1/Add.4. para. 11.
38 Commission on Human Rights, “Civil and Political Rights, including the Question of Conscientious Objection
to Military Service”, Report of the High Commissioner submitted pursuant to Commission Resolution 2000/34,
E/CN. 4/2002/WP. 2 of March 14,2002, hal. 3, para. 9.
39 Nations High Commission for Human Rights, Conscientious Objection…, Op.Cit., para. 5.
40
Ibid. para. 6.
286
Reformasi Legislasi Sektor Keamanan Indonesia 2008-2009: Reformasi Tanpa Arah
compulsory military service, Resolusi 1998/77 Komisi HAM PBB merekomendasikan untuk
memberikan CO dengan berbagai dinas pengganti (alternative service) wajib militer yang
sesuai bagi pengguna conscientious objection, non-kombatan atau penduduk sipil dalam
kepentingan publik (public interest) dan bukan sebagai dasar penghukuman (punitive
nature).41
Dalam hal situasi-situasi tertentu terdapat kesesuaian dengan persyaratan dari definisi
pengungsi sebagaimana diatur dalam Konvensi 1951 tentang Status Pengungsi, resolusi ini
mendorong negara-negara untuk memberikan suaka (granting asylum) bagi CO yang
terpaksa meninggalkan negara asalnya disebabkan ketakutannya dari tindak persekusi yang
timbul dari penolakannya dalam melakukan wajib militer dimana tidak terdapat pengaturan
(provision) atau pengaturan yang memadai mengenai conscientious objection terhadap wajib
militer.42
Laporan Komisi HAM PBB No. E/CN.4/2002/WP pada 14 Maret 2002 berkait dengan persoalan
conscientious objection dalam wajib militer menampilkan sejumlah yurisprudensi dari
berbagai organisasi internasional maupun regional.43 Salah satunya yang paling maju
dilakukan oleh Pengadilan HAM Eropa (European Court of Human Rights).
Indonesia sendiri pernah memiliki mekanisme CO ketika pemberlakukan UU No. 66 Tahun
1958 tentang Wajib Militer merupakan salah satu peraturan perundang-undangan yang lahir
dari amanat UU No. 29 Tahun 1954 tentang Pertahanan Negara. UU itu merupakan peraturan
yang pertama mengatur segala soal wajib militer diantaranya hak dan kewajiban, kedudukan
hingga berbagai sanksi pidana dalam berbagai situasi. Warga negara yang berusia 18 tahun
hingga 40 tahun wajib mendaftar untuk wajib militer.
Meski dalam kerangka ”wajib” terdapat hal yang menarik dimana UU ini membebaskan
seseorang untuk ikut serta dalam wajib militer berdasarkan kepercayaannya. Penjelasan
Pasal 11 UU No. 66 Tahun 1958 tentang Wajib Militer menyatakan:
“Pasal 10 Undang-undang Pertahanan di mana di dapat juga syarat-syarat
pembebasan (Lembaran Negara tahun 1954 No.84) berbunyi sebagai berikut :
"Wajib-militer tidak dikenakan terhadap:
a. Mereka yang dalam, keadaan sedemikian, sehingga apabila mereka dipanggil
untuk wajib militer akan mengakibatkan kesukaran hidup bagi orang lain yang
menjadi tanggungannya.
b. Mereka yang menjabat suatu jabatan agama atau perikemanusiaan yang
ajarannya tidak membolehkan,
c. Mereka yang melakukan tugas penting untuk Negara"
Pasal ini belum di muat ketentuan mengenai kemungkinan pembebasan dari golongan
tertentu yang juga terdapat dalam masyarakat Indonesia, yaitu golongan yang tidak bersedia
41
Ibid. para. 4.
Ibid. para.7.
43 Commission on Human Rights, Op.Cit. hal. 6-9.
42
287
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
menjadi prajurit (secara sukarela maupun wajib) karena hal itu adalah bertentangan dengan
kepercayaan yang dianutnya, (dalam bahasa Belanda "principiele dienst weigeraars");
Ketentuan-ketentuan tentang hal ini perlu diatur dalam undang-undang tersendiri.”
UU No. 66 Tahun 1958 tentang Wajib Militer juga memberikan penegasan secara jelas perihal
komponen pertahanan negara yang telah diatur dalam Pasal 5 UU No. 29 Tahun 1954 tentang
Pertahanan Negara. Penjelasan ini terlihat dalam butir 2 tentang Wajib Militer dalam Rangka
Pertahanan Negara dimana terdapat Komponen Pertahanan Negara yaitu:
“Pertama: Angkatan Perang yang terdiri dari :
a. Angkatan Perang tetap yang terdiri dari militer-sukarela yang merupakan tenaga
inti dari Angkatan Perang semasa damai maupun perang.
b. Cadangan Angkatan Perang yang terdiri dari militer-wajib yang semasa damai
dididik dan dilatih secara periodik.
Kedua: Rakyat terlatih, terdiri dari mereka yang tidak dimasukkan dalam Angkatan
Perang (secara sukarela maupun wajib) untuk melakukan tugas-tugas pembelaan
yang bersifat tidak khusus militer dan membantu Angkatan Perang dalam
pelaksanaan tugas-tugas secara langsung maupun tidak.”
Bila ditelisik lebih jauh terhadap peraturan perundang-undangan berkait dengan wajib
militer terdapat hal penting khususnya dalam penghormatan terhadap HAM sebagai hak
konstitusi warga negara. UU No. 66 Tahun 1958 tentang Wajib Militer menggunakan landasan
hukum dari UUDS 1950 dan UU No. 29 Tahun 1954 tentang Pertahanan Negara. Dengan kata
lain UU Wajib Militer merupakan pengejawantahan konstitusi Indonesia khususnya Pasal 24
UUDS 1950 berkait dengan hak dan kewajiban warga negara dalam pertahanan negara.
Meski UU Wajib Militer tidak secara spesifik menyebutkan dasar-dasar HAM lainnya yang
termaktub dalam UUDS 1950 secara lengkap namun semangat UU Wajib Militer tidak
bertentangan dengan ketentuan-ketentuan hak konstitusi warga negara.
Bandingkan dengan Pasal 12(1) draft RUU KCPN versi Desember 2008 menyatakan:
“Penangguhan menjadi anggota Komponen Cadangan dapat dilakukan terhadap
calon Anggota Komponen Cadangan karena:
a. sakit yang dibuktikan dengan surat keterangan dokter;
b. keberadaannya diperlukan masyarakat;
c. sedang menjalani tahap ujian akhir atau tugas akhir pendidikan yang tidak
dapat ditinggalkan;
d. sedang menunaikan ibadah haji atau ibadah lain sesuai dengan agamanya;
atau
e. sedang melaksanakan tugas penting yang tidak dapat digantikan oleh orang
lain.”
Terkesan bahwa RUU ini mengakomodasi CO didalamnya serta sangat jauh dari maknanya.
Dalam pasal ini terlihat kata “penangguhan” mencerminkan bahwa pertimbangan diberikan
kepada negara dan bukan kepada warga negara. Artinya kuasa untuk melakukan
penangguhan dengan berbagai pertimbangan dan alasan tidak didasarkan pada hak warga
288
Reformasi Legislasi Sektor Keamanan Indonesia 2008-2009: Reformasi Tanpa Arah
negara. Pasal ini membuktikan bahwa RUU ini tidak mngakomodasi standar internasional
berkait dengan hak warga negara dalam pelibatannya dalam pertahanan negara.
Kedua, perihal postur pertahanan negara. Hal yang seringkali diungkapkan ketika RUU KCPN
ini menjadi perhatian masyarakat adalah mengapa kemudian KCPN menjadi jawaban dari
permasalahan postur pertahanan Indonesia mengingat seharusnya terlebih dahulu
pengaturan postur pertahanan lebih diutamakan pada komponen utama pertahanan yaitu
TNI. Sedangkan reformasi terhadap TNI belumlah selesai. Pertanyaan lainnya adalah,
seberapa besar KCPN dibutuhkan untuk memperkuat komponen utama? Serta bagaimana
kemudian pembiayaan KCPN ini jika dilaksanakan? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang harus
segera dijawab.
Departemen Pertahanan merancang bahwa pembangunan KCPN menjadi bagian dari
pengembangan postur pertahanan nirmiliter44 yang dipersiapkan sesuai dengan kebutuhan
setiap matra.45 Tahap awal pembangunan KCPN difokuskan pada penuntasan RUU KCPN
serta sosialisasi peraturan perundangannya setelah pengesahannya.46 Pengadaan KCPN
dilakukan secara bertahap dengan pengadaan sebesar 10.000 personel yang diprioritaskan
pada matra darat serta pembangunan sarana dan prasarana seperti markas untuk
Komponen Cadangan sehingga dalam 5 tahun terdapat 50.000 personel KCPN.47 Untuk itu
dalam merealisasikannya dimana setiap Komando Distrik Militer (Kodim) memiliki satu
kompi Komponen Cadangan.48
Pemaparan pembangunan KCPN dalam Buku Postur Pertahanan Negara 2007 tidak
memberikan gambaran yang jelas seberapa besar kebutuhan Komponen Utama dalam hal
ini TNI Angkatan Darat sehingga diperlukan Komponen Cadangan sedemikian besar. Ini
membuktikan bahwa konsep pembangunan Komponen Cadangan tidak terlalu signifikan
karena kalau hanya ingin memperbesar jumlah personel akan lebih baik jika penambahan
personel difokuskan pada komponen utama.
Pasal 7(2) UU No. 3 Tahun 2003 tentang Pertahanan Negara menyatakan bahwa sistem
pertahanan negara dalam menghadapi ancaman militer menempatkan Tentara Nasional
Indonesia (TNI) sebagai komponen utama dengan didukung oleh Komponen Cadangan dan
komponen pendukung. Sementara pada Pasal 7(3) disebutkan bahwa sistem pertahanan
negara dalam menghadapi ancaman non-militer menempatkan lembaga pemerintah di luar
bidang pertahanan sebagai unsur utama, sesuai dengan bentuk dan sifat ancaman yang
dihadapi dengan didukung oleh unsur-unsur lainnya dan kekuatan bangsa. Ketentuan pasal
ini secara jelas menegaskan bahwa pembentukan Komponen Cadangan hanya ditujukan
untuk membantu TNI selaku komponen utama pertahanan dalam menghadapi ancaman
militer.
44
Isitilah ini absurd karena nirmiliter secara harafiah adalah tanpa militer dan akan rancu jikia melihat
kedudukan KCPN sebagai kombatan dalam Hukum Humaniter Internasional. Lihat Direktorat Jenderal Potensi
Pertahanan, Op.Cit, hal. 48.
45 Departemen Pertahanan, Postur Pertahanan Negara, (Jakarta: Departemen Pertahanan, 2007). hal. 110.
46 Ibid. hal. 124
47 Ibid. hal. 124
48 Ibid. hal. 124
289
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Persoalan lain yang tak kalah penting adalah penggunaan KCPN. Pasal 27 draft RUU KCPN
versi Desember 2008 menyatakan bahwa KCPN digunakan berdasarkan strategi pertahanan
melalui mobilisasi yang ditetapkan oleh Presiden. Dalam penjelasan pasal ini tidak dijelaskan
maksud strategi pertahanan dalam kaitannya dengan apakah digunakan untuk menghadapi
musuh dari luar atau musuh dari dalam.49 Selain itu dalam Pasal 29 draft RUU KCPN versi
Desember 2008 menegaskan bahwa dalam keadaan perang anggota Komponen Cadangan
setelah dimobilisasi berstatus kombatan.
Berbeda pada draft versi 9 Oktober 2006 yang secara tegas menyatakan KCPN digunakan
dalam keadaan darurat militer dan atau keadaan perang.50 Perubahan ini tentunya sekali lagi
harus mengacu pada Pasal 7(2) UU No. 34 Tahun 2004 tentang TNI menyatakan bahwa tugas
pokok TNI terbagi dua, yaitu:
a. Operasi militer untuk perang;
b. Operasi militer selain perang, yaitu:
1) mengatasi gerakan separatisme bersenjata;
2) mengatasi pemberontakan bersenjata;
3) mengatasi aksi terorisme;
4) mengamankan wilayah perbatasan;
5) mengamankan objek vital nasional yang bersifat strategis;
6) melaksanakan tugas perdamaian dunia sesuai dengan kebijakan politik luar
negeri;
7) mengamankan Presiden dan Wakil Presiden beserta keluarganya;
8) memberdayakan wilayah pertahanan dan kekuatan pendukungnya secara
dini sesuai dengan sistem pertahanan semesta;
9) membantu tugas pemerintahan daerah;
10) membantu kepolisian Negara Republik Indonesia dalam rangka tugas
keamanan dan ketertiban masyarakat yang diatur dalam Undang-undang;
11) membantu mengamankan tamu negara setingkat kepala dan perwakilan
pemerintah asing yang sedang berada di Indonesia;
12) membantu menanggulangi akibat bencana alam, pengungsian, dan
pemberian bantuan kemanusiaan;
13) membantu pencarian dan pertolongan dalam kecelakaan (search dan rescue);
14) membantu pemerintah dalam pengamanan pelayaran dan penerbangan
terhadap pembajakan, perompakan, dan penyelundupan.
Secara prinsip, penggunaan Komponen Cadangan untuk membantu TNI selaku komponen
utama pertahanan dalam melaksanakan tugas operasi militer selain perang (military
49
Penjelasan Pasal 27 Draft RUU KCPN versi Desember 2008: Yang dimaksud dengan “strategi pertahanan”
adalah perpaduan antara seni dan ilmu dalam menentukan pilihan-pilihan guna mencapai tujuan pertahanan
negara. Strategi pertahanan negara disusun berdasarkan 3 (tiga) kaidah penuntun yakni, yang menyangkut
sasaran (ends), alat (means), dan cara dan/atau pendekatan (ways); yang menjawab 3 (tiga) pertanyaan
penuntun yang mendasar, yaitu apa yang dipertahankan, dengan apa mempertahankan dan bagaimana
mempertahankan kedaulatan negara, keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan menjamin
keselamatan segenap bangsa dari segala bentuk ancaman.
50 Pasal 32 berbunyi: Dalam keadaan darurat militer atau keadaan perang Komponen Cadangan setelah
dimobilisasi berstatus sebagai kombatan
290
Reformasi Legislasi Sektor Keamanan Indonesia 2008-2009: Reformasi Tanpa Arah
operation other than war) tidak dapat dibenarkan. Misalnya adalah penggunaan Komponen
Cadangan dalam mengahadapi ancaman internal seperti pemberontakan bersenjata,
separatisme bersenjata, ancaman terorisme, atau menghadapi aksi demonstrasi warga
terhadap objek-objek vital atau perusahaan-perusahaan yang melakukan pencemaran
terhadap lingkungan dan merugikan warga. Keberadaan Komponen Cadangan hanya
ditujukan penggunaannya untuk membantu tugas TNI dalam menghadapi ancaman militer
dari negara asing (ancaman eksternal). Selain bertentangan dengan ketentuan UU
Pertahanan, penggunaan Komponen Cadangan untuk membantu tugas operasi militer
selain perang justru akan menimbulkan potensi menghadapkan antar warga negara yang
pada akhirnya akan berujung pada terjadinya konflik horisontal.
Pengembangan KCPN pada pemaparan Buku Postur Pertahanan Negara dilakukan terhadap
matra darat. Ini adalah satu bukti bahwa pengembangan KCPN mengandalkan perekretan
secara masif melalui mobilisasi hanya efektif digunakan dalam pertempuran jarak dekat
(close combat) yang itu hanya ada pada matra darat. Namun penerapan wamil akan menemui
kendala bagi matra udara dan matra laut yang lebih banyak mengandalkan kemampuan dan
kecakapan invidu dalam penguasaan teknologi pada alat utama sistem persenjataan
(alustsista) modern mengingat mereka hanya mendapatkan pelatihan dan pendidikan
militer alakadarnya.51
Berkaitan dengan anggaran bagi KCPN, Pasal 37 draft RUU KCPN versi Desember 2008
menyatakan pendanaan penyelenggaraan KCPN didanai oleh Anggaran Pendapatan dan
Belanja. Negara. Namun dalam penjelasannya dinyatakan
“...namun mengingat penyelenggaraan Komponen Cadangan Pertahanan Negara
berkaitan pula dengan kepentingan daerah, tidak menutup kemungkinan adanya
sumber pendanaan yang sah seperti bantuan/hibah pemerintah daerah, swasta, dan
masyarakat.”
Hal yang sama juga diungkapkan dalam Naskah Akademik Komponen Cadangan
Pertahanan Negara 2008.52
Terkait dengan pembiayaan komponen cadangan melalui Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah (APBD) sebagai salah satu sumbernya, di samping Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara (APBN), secara jelas menyalahi ketentuan dalam pengadaan anggaran
pertahanan. Lebih daripada itu, ketentuan tersebut juga secara jelas dapat menimbulkan
masalah serius dalam kerangka penggunaan komponen cadangan di setiap wilayah, yang
menjadikannya sulit untuk dikontrol karena keberadaanya yang tidak bergantung pada
alokasi anggaran di APBN. Selain itu, pembiayaan komponen cadangan oleh APBD akan
memperumit proses pertanggungjawaban anggarannya sehingga membuka peluang
terjadinya penyalahgunaan dan penyimpangan.
51 Untuk mengetahui tuntutan penguasaan teknologi oleh tentara profesional lihat Morris Janowitz,
The Professional Soldier: A Social and Political Portrait, (New York,Free Press Co: New York, 1971).
52 Direktorat Jenderal Potensi Pertahanan, Op.Cit, hal. 48
291
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Secara prinsip, pemenuhan kebutuhan anggaran pertahanan negara harus dilakukan secara
terpusat, yakni dialokasikan melalui APBN. Daerah, tentu saja tidak bisa dan tidak boleh
disertakan atau dikenakan kewajiban dalam pembiayaan tersebut. Ketentuan ini sudah
dinyatakan secara jelas dan tegas dalam Pasal 25 UU No. 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan
Negara.53 Alasan yang menempatkan bahwa pasal ini sebagai pengecualian terhadap
ketentuan pada UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sehingga masalah
pertahanan merupakan tanggungjawab bersama termasuk gubernur sebagai wakil
pemerintah pusat di daerah, merupakan alasan yang tidak tepat dan tidak dibenarkan.
Berkait dengan keterlibatan Pemerintah Daerah membiayai anggaran pertahanan, Mendagri
telah menerbitkan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) No. 32 Tahun 2008
tentang Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun
Anggaran 2009. Dalam peraturan tersebut mengatur secara jelas mengenai mekanisme
pemberian hibah kepada instansi vertikal termasuk TNI dan Polri. Walhasil, dengan peraturan
ini dimana anggaran pertahanan yang seharusnya terpusat dijadikan legitimasi untuk
mendapatkan dana APBD yang akan berujung pada menurunnya alokasi sejumlah dana
untuk anggaran yang menjadi prioritas dari daerah tersebut seperti sektor pendidikan dan
kesejahteraan.
Penyimpangan-penyimpangan ini jelas merupakan pelanggaran nyata terhadap peraturan
perundang-undangan yang berhubungan dengan pertahanan negara serta Asas-asas
Umum Pemerintahan yang Baik (algemene beginselen van behoorlijk bestuur) atau good
governance principle terutama asas kepastian hukum dan asas kepentingan umum. Selain itu
persoalan ini akan menyulitkan pengawasan yang dilaksanakan oleh DPR dimana
pengawasan anggaran merupakan pengendalian demokrasi yang hasilnya mencakup tiga
hal yaitu,(1) Disiplin jumlah fiskal; (2) Alokasi sumber daya dan penggunaan bersarkan
prioritas strategis; (3) Performa operasional yang efektif dan efisien.54 Terkesan bahwa yang
kemudian diuntungkan dari pembangunan KCPN adalah Angkatan Darat selain
mendapatkan anggaran dari APBN berkait dengan pengembangan personel akan tetapi
juga mendapatkan anggaran dari APBD.
Tinimbang menghabiskan anggaran negara ada baiknya pemerintah memfokuskan pada
pembaruan alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang telah tua dan pemakaiannya
menimbulkan resiko besar termasuk kematian terhadap prajurit-prajurit terbaik Indonesia.
Sejumlah peristiwa selama tahun 2009 membuktikan bagaimana sejumlah alutsista milik TNI
yang telah out of date telah memakan korban dan sekali lagi Departemen Pertahanan masih
berkelit bahwa faktor usia alutsista bukan menjadi penyebab utama kecelakaan. 55
53 Pasal 25 (1) UU No. 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara menyatakan: Pertahanan negara dibiayai dari
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. (2) Pembiayaan pertahanan negara ditujukan untuk membangun,
memelihara, mengembangkan, dan menggunakan Tentara Nasional Indonesia serta komponen pertahanan
lainnya.
54 Todor Tagarev, ” Kendali Demokrasi Selama Perencanan Anggaran dan Perode Pemberlakuan (Adoption)”,
dalam Plamen Pantev, Ed., Hubungan Sipil-Militer dan Kendali Demokrasi Sektor Keamanan, (Jakarta: Friedrich
Ebert Stiftung, 2005), hal. 126.
www. Detik.com, “Menhan Bantah Usia Alutsista Faktor Utama Kecelakaan”,
55 http://www.detiknews.com/read/2009/06/10/141615/1145475/10/menhan-bantah-usia-alutsista-faktorutama-kecelakaan, (diakses pada 15 Juni 2009).
292
Reformasi Legislasi Sektor Keamanan Indonesia 2008-2009: Reformasi Tanpa Arah
c. RUU Rahasia Negara
RUU Rahasia Negara merupakan salah satu rancangan legislasi yang kontroversial mengingat
Komisi I DPR yang membidangi Pertahanan dan Luar Negeri pada Mei 2008
mengembalikannya kepada pemerintah dalam hal ini Departemen Pertahanan karena
dianggap substansinya yang masih luas, rentan penyalahgunaan, multi interpretasi serta
belum mengacu pada UU No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP) yang
disahkan pada 30 April 2008 serta akan berlaku 2010.56 RUU Rahasia Negara sendiri menjadi
salah satu prioritas Prolegnas berdasarkan Keputusan DPR RI No. 01/DPR-RI/III/2004-2005
yang seharusnya disahkan pada 2007. Komisi I kemudian memberikan waktu tiga bulan bagi
Departemen Pertahanan untuk memperbaiki substansi didasarkan pada UU KIP.
Akan tetapi pemerintah kemudian memasukan kembali RUU Rahasia Negara kepada Komisi I
DPR yang kali ini dengan substansi yang lebih draconian sert vis a vis dengan UU KIP meskipun
memasukkannya dalam bagan konsideran. Sejak pertama kali muncul semangat yang
diusung oleh RUU ini adalah limited access maximum exemption yang berarti memandang
setiap informasi terlebih berasal dari negara adalah bersifat rahasia. Adalah benar negara
dapat memiliki rahasia negara yang dilindungi oleh hukum akan tetapi haruslah dalam
rangka penghormatan terhadap konstitusi serta pelindungan hak-hak konstitusi warga
negara. Alih-alih memberikan perlindungan, RUU Rahasia Negara kali ini justeru
menempatkan negara menjadikan semua urusan negara menjadikan rahasia negara
termasuk hal-hal yang bersifat publik.
Bila kita bandingkan dengan ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam UU KIP, RUU Rahasia
Negara justru memberi peluang bagi Badan Publik untuk menjalankan kewajibannya dalam
memberikan informasi sesuai dengan UU KIP pada Bab IV tentang Informasi yang Wajib
Disediakan dan Diumumkan. Dalam kaitannya dengan kerahasiaan, Pasal 17 UU KIP telah
pula memberikan secara jelas-jelas informasi yang tidak dapat diakses mengingat
pertimbangan-pertimbangan yang tidak melawan hukum. Semangat yang diusung oleh UU
KIP merupakan kebalikan dari RUU Rahasia Negara yaitu maximum access limited exemption.
Persoalan-persoalan krusial yang berhubungan dengan pertahanan yang kemudian masuk
dalam rezim rahasia negara diantaranya adalah pada Pasal 6(a)(1)(a) RUU Rahasia Negara
yaitu struktur, organisasi, fungsi Pemerintah Republik Indonesia dan Panglima TNI selama
negara dalam keadaan perang, keadaan bahaya perang atau keadaan darurat lainnya.
Hal ini sangatlah aneh mengingat struktur, organisasi dan fungsi pemerintah dalam keadaan
perang atau keadaan darurat haruslah diumumkan secara jelas kepada publik. Belajar dari
pernyataan darurat militer oleh Presiden Megawati terhadap Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam melalui Keppres No.28 Tahun 2003 tentang Pernyataan Seluruh Wilayah Provinsi
56 Lihat www.kompas.com, “ DPR Kembalikan RUU Rahasia Negara”
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/05/29/00340270/dpr.kembalikan.ruu.rahasia.negara, (diakses pada
25 Juni 2009)
293
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Nanggroe Aceh Darussalam dalam Keadaan Bahaya. Keputusan presiden tersebut juga
memiliki dasar hukum yaitu UU No. 23/ Prp Tahun 1959 tentang Keadaan Bahaya.
Secara inheren pemberlakuan Keputusan Presiden tersebut menjadikannya sebagai
Penguasa Darurat Militer Pusat (PDMP) dibantu seluruh Menteri dan pejabat setingkat
menteri dalam kabinet serta saat itu menunjuk Pangdam Iskandar Muda, Mayjen Endang
Suwarya, sebagai Penguasa Darurat Militer Daerah (PDMD) yang bertanggungjawab kepada
PDMP.57 PDMD adalah pelaksana dari operasi militer yang terdiri dari. operasi militer yang
terdiri dari 4 (empat) elemen yaitu operasi penegakan hukum, operasi kemanusiaan, operasi
pemantapan pemerintahan dan operasi pemulihan keamanan.58
Selain itu UU Keadaan Bahaya memberikan jaminan kepastian hukum dengan diakuinya
proses legal dalam penangkapan maupun penahanan.59 Selain itu dalam kerangka
penjaminan hak-hak sipil dan politik dalam Pasal 4(3) International Covenant on Civil and
Political Rights (ICCPR) adalah memenuhi dua ketentuan prosedural (two procedurals) yaitu :60
1. Persyaratan bahwa keadaan darurat harus dideklarasikan secara resmi oleh
pemerintah yang memberlakukannya;
2. Persyaratan lebih lanjut adalah bahwa rincian pengaturan mengenai keadaan
darurat, demikian pula hal-hal yang dikesampingkannya haruslah diberitahukan
kepada Sekretaris Jenderal PBB
Masih berkaitan, Pasal 6(2)(d) RUU Rahasia Negara juga memasukan informasi tentang
pejabat tinggi negara dan pemerintah yang bertanggungjawab atas kesiagaan pertahanan.
Pasal ini jelas-jelas akan menimbulkan permasalahan jika terjadi kasus-kasus kejahatan serius
dalam hukum internasional (serious violations in international law) terutama kejahatan
perang (war crimes) yang menuntut adanya pertanggungjawaban komando dan perintah
atasan (command responsibility and superior orders).61 Hal ini tentunya akan menjadi preseden
buruk mengingat ketentuan perihal pertanggungjawaban komando telah menjadi bagian
dari hukum kebiasaan internasional (customary international law) yang telah diakui oleh
masyarakat internasional.
Impunitas pun juga tidak dapat dielakkan mengingat masa retensi rahasia negara.
Sebagaimana Pasal 20 RUU Rahasia Negara menyatakan saat berakhirnya masa retensi
rahasia negara setiap orang yang terlibat di dalamnya tidak dapat dituntut dan dipidana atas
segala perbuatan yang berkaitan dengan rahasia negara kecuali berkaitan dengan tindak
pidana pelanggaran berat HAM dan tindak pidana korupsi. Pasal ini jelas mencoba
57 Lihat Bhatara Ibnu Reza, The Indonesian Doctrine of Territorial Warfare: Problems in Civil-Military Relations and
Their Implications for Human Rights and Humanitarian Law, Thesis for Master of Laws in International Human
Rights Law, Northwestern University School of Law, Chicago, 2006, hal.77.
58 Ibid. Hal. 77.
59 Lihat Pasal 32(4) UU Nomor 23 tahun 1959 tentang Keadaan Bahaya.
60 Lihat Prof. Dr. Jimly Asshidiqie, S.H., Hukum Tata Negara Darurat, (Jakarta: Rajawali Press, 2007), hal. 158.
61 Lihat Leslie Green , “Command Responsibility in International Humanitarian Law, 5 Transnat'l L. .& Contemp.
Probs. 319,323 (1995) juga lihat Ilias Bantekas,” The Contemporary Law of Superior Responsibility”, 93 AJIL
573(1999).
294
Reformasi Legislasi Sektor Keamanan Indonesia 2008-2009: Reformasi Tanpa Arah
melindungi pelaku kejahatan dengan atas nama rahasia negara yang tentunya menutup
seluruh pintu investigasi bila ternyata kejahatan yang dilakukan merupakan pembunuhan
terhadap aktivis politik, oposisi atau pembela HAM seperti dalam kasus pembununan Munir
yang hingga saat ini masih merupakan misteri.62
Pelanggaran ketentuan internasional juga dijumpai pada Pasal 6(2)(k) RUU Rahasia Negara
dimana informasi yang berkaitan dengan impor dan ekspor persenjataan, teknologi perang
dan amunisi untuk penggunaan (perbekalan) TNI menghadapi perang. Ketentuan ini
tentunya bertentangan dengan transparasi persenjataan yang telah menjadi bagian dari
regulasi internasional tentang transfer senjata yang dikeluarkan oleh lembaga-lembaga
multilateral seperti Wassenar Arrangement berupa dokumen Arrangement on Export
Controls for Conventional Arms and Dual-Use Goods and Technologies dimana Negaranegara anggota PBB juga telah menyepakati “Guidelines for International Arms Transfer” yang
dikeluarkan oleh Disarmament Commission pada 3 Mei 1996. 63
Patut diingat bahwa Pedoman PBB tersebut mengatur kesepakatan dasar transfer
persenjataan dengan kewajiban utama, (1) kerjasama untuk mencegah pengalihan; (2)
penerbitan sertifikat penggunaan akhir dan pemakai akhir yang dapat diverifikasi; (3)
kerjasama kepabeanan dan intelijen untuk mendeteksi perdagangan gelap senjata; (4)
kerjasama hukum untuk mengembangkan prosedur baku ekspor dan impor senjata; (5)
pengaturan terhadap agen perantara pemasok senjata; (6) ketaatan terhadap sanksi dan
embargo senjata yang dikeluarkan oleh Dewan Keamanan PBB; dan (7) pelaporan transaksi
transfer senjata.64
Pelaporan senjata dilakukan berdasarkan UN Register of Conventional Arm dan UN Standarized
System of Reporting on Military Expenditure dimana keduanya mengatur transparansi di
bidang pertahanan negara yang berkaitan dengan data tentang transfer senjata
konvensional yang meliputi:65
(1) kebijakan pertahanan negara yang melakukan transfer senjata;
(2) perusahaan pengadaan alutsista;
(3) produksi nasional persenjataan.
Pelaksanaan fungsi pengawasan oleh DPR berkaitan dengan hubungan luar negeri pada
Pasal 6(5)(e) RUU Rahasia Negara juga akan mengalami kendala dimana materi, dokumen,
memorandum yang berkaitan dengan negosiasi internasional atau perjanjian internasional
62 Munir
adalah Ketua Badan Pekerja Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) dari
1998 hingga 2002. Setelah itu menjadi Direktur Eksekutif IMPARSIAL, the Indonesian Human Rights Monitor. Dia
juga adalah Presiden dari the Asia Federation Against Involuntary Disappearances (AFAD). Munir dikenal sebagai
pembela HAM dan terkenal dengan pandangan kritisnya terhadap jalannya reformasi TNI. Dia juga terlibat
dalam beberapa pembahasan peraturan perundangan berkait dengan HAM dan refromasi sektor keamanan.
Pada 7 September 2004, Munir tewas di pesawat Garuda—maskapai penerbangan milik negara – dalam
perjalanannya ke Belanda guna melanjutkan studinya di Universitas Uthrecht. Belakangan, hasil otopsi
menunjukan Munir telah diracun. Lihat, Tim KontraS, Bunuh Munir!: Sebuah Buku Putih, (Jakarta: KontraS, 2006)
dan Tim Imparsial, Test of Our History: Tembok Tebal Pembunuhan Munir, (Jakarta: Imparsial, 2007).
63 Tim Imparsial,.RUU Rahasia Negara: Ancaman Bagi Demokrasi, (Jakarta: Imparsial, 2006), hal 46.
64 Ibid. hal. 46.
65 Ibid. hal. 47.
295
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
atau bagiannya jika diklasifikasikan sebagai rahasia negara. Pasal ini jelas bertentangan
dengan UU No. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional dimana dalam konsiderannya
yaitu:66
“Bahwa pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional antara Pemerintah
Republik Indonesia dan pemerintah negara-negara lain, organisasi internasional, dan
subjek hukum internasional lain adalah suatu perbuatan hukum yang sangat penting
karena mengikat negara pada bidang-bidang tertentu, dan oleh sebab itu pembuatan
dan pengesahan suatu perjanjian internasional harus dilakukan dengan dasar-dasar
yang jelas dan kuat, dengan menggunakan instrumen peraturan perundang-undangan
yang jelas pula”
Tentunya sangat sulit bagi DPR untuk mengetahui apa saja pokok permasalahan yang
hendak dinegosiasikan, apakah hal itu merugikan kepentingan nasional atau seberapa jauh
keuntungan yang didapat oleh negara. Dari segi hukum pidana, Pasal 121 Kitab Undangundang Hukum Pidana (KUHP) memberikan ancaman kepada negosiator jika perundingan
mengakibatkan kerugian kepada negara dan akan diancam hukuman penjara selama 12
tahun. Pasal dalam RUU Rahasia Negara akan menjadi celah bagi mereka untuk meloloskan
diri mengingat orang, kegiatan, dokumen-dokumen serta substansinya telah masuk dalam
kategori rahasia.
Tidak hanya itu, perjanjian-perjanjian yang berkaitan dengan masalah ekonomi seperti
hutang, eksplorasi pertambangan yang seharusnya diketahui oleh publik juga akan masuk
dalam kategori rahasia. Padahal publik memiliki hak untuk mengetahui disebabkan
perundingan perjanjian tersebut menyentuh ranah publik dalam kebiasaannya kepentingan
publik lebih dikedepankan.
RUU Rahasia Negara juga akan membentuk Badan Pertimbangan Kebijakan Rahasia Negara
yang diketua Menteri Pertahanan67 dengan anggota tetap Menteri Luar Negeri, Menteri
Dalam Negeri, Kepala Kepolisin Negara RI (Kapolri), Panglima TNI, Kepala Badan Intelijen
Negara (BIN) dan Kepala Lembaga Sandi Negara (LSN)68 serta satu anggota tidak tetap yang
merupakan ahli dan ditunjuk oleh badan ini.69 Badan ini memilki tugas untuk merumuskan
kebijakan dan melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan penyelenggaraan rahasia
negara70 serta memiliki sejumlah kewenangan yaitu: 71
a. Memberikan pertimbangan dan rekomendasi terkait dengan masalah kebijakan
penyelenggaraan rahasia negara kepada presiden, dan
b. Meminta keterangan kepada Lembaga Negara dalam hal penyelenggaraan
rahasia negara tidak sesuai dengan kebijakan.
c. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan perlindungan dan pengelolaan
rahasia negara.
66 Konsiderans Bagian Menimbang
67 Pasal 21(3) RUU Rahasia Negara.
68
Pasal 22(2) RUU Rahasia Negara.
69 Pasal 22(3) RUU Rahasia Negara.
70 Pasal 23 RUU Rahasia Negara.
71 Pasal 24 RUU Rahasia Negara.
296
poin (d), UU No. 24 Tahun 2004 tentang Perjanjian Internasional
Reformasi Legislasi Sektor Keamanan Indonesia 2008-2009: Reformasi Tanpa Arah
Keberadaan institusi sangat kontraproduktif dengan kewenangan Komisi Informasi dalam
UU KIP mengingat jika terjadi Sengketa Informasi Publik, sedangkan Badan Publik cenderung
menyatakan informasi tersebut sebagai bagian dari rahasia negara. Bagaimanapun juga
Komisi Informasi jelas memiliki kewenangan karena dalam UU KIP secara jelas dijabarkan
tugas serta kewenangan Komisi Informasi.72 Sehingga jika terjadi sengketa UU KIP menjadi
lex specialis tinimbang undang-undang rahasia negara jikalau nanti telah disahkan. Kritik
lainnya adalah, sebagaimana hubungannya dengan Komisi Informasi, Badan Pertimbangan
Kebijakan Rahasia Negara akan terjadi sengkarut dan tumpang tindih dengan kewenangan
lembaga lain mengingat begitu luasnya kategori rahasia yang harus diberikan pengawasan.
Sengkarut hukum acara pidana juga akan terjadi mengingat pada RUU Rahasia Negara draft
Februari 2009 mengatur hukum acaranya sendiri.73 Dengan demikian mekanisme UU No. 8
Tahun 1981 tentang KUHAP tidak menjadi acuan karena kekhususan pada tindak pidananya.
Akan tetapi, belajar dari pengaturan hukum acara pidana dalam kasus tindak pidana
terorisme pada UU No. 15 Tahun 2003 Penetapan Peraturan Pengganti Undang-Undang No. 1
Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme Pemberantasan menjadi
Undang-Undang, ketentuan-ketentuan hukum acara yang diatur sarat akan pelanggaran
hak-hak dasar tersangka dan/atau terdakwa.
Pasal 38(1) RUU Rahasia Negara menyatakan rahasia negara yang diperlukan penyidik, jaksa
dan/atau hakim untuk kepentingan proses peradilan selain perkara tindak pidana rahasia
negara tidak dihadirkan secara fisik. Pasal ini tidak memberikan hak kepada tersangka dan
penasihat hukumnya untuk mengetahui hal yang sama perihal pembocoran rahasia negara
yang dituduhkan kepadanya sehingga dapat dipastkan proses persidangan tidak akan
berjalan dengan fair. Ketentuan ini paralel dengan semangat RUU Rahasia Negara melakukan
kriminalisasi terhadap warga negara yang mengakses rahasia negara dan bukan kepada
pejabat yang berwenang untuk menjaga rahasia tersebut yang tercermin pada Pasal 42
hingga 49 draft RUU Rahasia Negara. Pasal ini memberikan kedudukan negara berada dalam
posisi tidak pernah bersalah (state can do no wrong) yang dalam hukum merupakan
pelanggaran terhadap rumpun non-derogable rights yaitu hak diperlakukan sama dalam
hukum.
4. Kesimpulan
Pelaksanaan reformasi legislasi sektor keamanan Indonesia secara umum terutama pada
periode 2008-2009 merupakan reformasi tanpa arah. Keterlambatan pemerintah dalam
menentukan kebijakan umum pertahanan negara merupakan salah satu bukti bahwa
pemerintah tidak secara serius memandang reformasi sektor keamanan sebagai bagian dari
proses demokratisasi di Indonesia. Bahkan terkesan kuat bahwa reformasi sektor keamanan
dilaksanakan atas kepentingan militer dan bukan cerminan dari kebijakan pemerintah yang
berkuasa.
72 Lihat Bab VII UU No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik
73 Bab VII Penyidikan, Penuntutan dan Pemeriksaan di Sidang Pengadilan, RUU Rahasia Negara
297
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Dengan demikian simpulan dari reformasi legislasi sektor keamanan adalah, pertama,
reformasi legislasi sektor keamanan selama 2008-2009 lebih banyak mengakomodasi
kepentingan-kepentingan militer yang sebenarnya tidak beranjak dari persoalan-persoalan
yang seharusnya direformasi. Bila membandingkan proses pembahasan RUU Perubahan atas
UU No. 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer dengan pembahasan RUU KCPN dan RUU
Rahasia Negara, terdapat nuansa yang kental dengan kepentingan militer. Kita dapat melihat
bagaimana peran Departemen Pertahanan untuk menjalankan strategi mengulur waktu
selama hampir empat tahun pada pembahasan reformasi peradilan militer dengan DPR,
namun dengan sejumlah persoalan yang menyebabkan beberapa kali deadlock. Sedangkan
pada RUU KCPN dan RUU Rahasia Negara, Departemen Pertahanan melakukan gerak cepat
untuk segera menggolkannya menjadi undang-undang. Tentunya dengan memberikan
waktu pembahasan yang relatif singkat kepada DPR sehingga meminimalisasi terjadinya
perdebatan, masukan serta usulan khususnya dari masyarakat sipil terhadap substansi dari
rancangan legislasi tersebut.
Kedua, meskipun DPR telah mengadopsi prinsip non-carry over akan tetapi dalam kasus RUU
KCPN waktu pembahasan sangat singkat mengingat Pansus RUU KCPN baru terbentuk 21
April 2009 yang berarti hanya ada waktu kurang dari 5 bulan hingga berakhirnya DPR periode
2004-2009 pada 30 September 2009. Sempitnya masa pembahasan sebuah rancangan
legislasi yang bersifat krusial apalagi menyangkut keterlibatan warga negara memerlukan
waktu yang cukup panjang. Jikalau hendak dipaksakan maka yang terjadi adalah peraturan
perundang-undangan ini menjadi sangat tidak sempurna dan terkesan sarat akan nuansa
kepentingan politik militer dan bukan didasarkan pada kebutuhan akan pembangunan
pertahanan yang profesional. Belajar dari pembahasan UU No 34 Tahun 2004 tentang
Tentara Nasional Indonesia dimana pembahasannya hanya memakan waktu 3 bulan.74
Untuk itu alangkah lebih bijak untuk menunda pembahasan RUU KCPN karena prinsip noncarry over dapat dikesampingkan berdasarkan etika dan kepatutan dalam penyusunan
peraturan perundangan.
Ketiga, kembali pada persoalan ketidakruntunan reformasi sektor keamanan Indonesia yang
karena tidak adanya penataan yang baik terhadap kebijakan perencanaan pertahanan dan
keamanan yang dijabarkan dalam sebuah kerangka besar (grand design) sektor keamanan.
Pembahasan rancangan legislasi sektor keamanan tidak mencerminkan prioritas sektor
keamanan yang hendak direformasi. Munculnya RUU KCPN meski telah masuk dalam
Prolegnas meski seharusnya prioritas reformasi dilakukan terhadap komponen utama yang
hingga saat ini belum selesai dilaksanakan. Walhasil, kebijakan yang dibangun tidak
mendukung profesionalitas aktor keamanan.
Keempat, reformasi legislasi sektor keamanan seharusnya menjamin praktik good governance
ternyata digunakan sebagai dasar hukum untuk melakukan pelanggaran terhadap peraturan
perundang-undangan sektor keamanan terdahulu. Penyimpangan asas sentralitas pada
anggaran pertahanan oleh RUU KCPN memperlihatkan penataan ulang kembali fungsi,
struktur, kultur dan institusi penanggungjawab keamanan yang sesuai dengan tata nilai
74
Lihat Tim Imparsial, Menuju TNI Profesional: Tidak Berbisnis dan Tidak Berpolitik, (Jakarta: Imparsial, 2005).
298
Reformasi Legislasi Sektor Keamanan Indonesia 2008-2009: Reformasi Tanpa Arah
demokrasi dan hak asasi manusia (HAM) menjadi mundur ke belakang. Dengan
penyimpangan ini yang kemudian terjadi adalah hilangnya salah satu bentuk kontrol sipil
terhadap militer yang berujung pada pelanggengan kemandirian militer dari supremasi sipil.
Ketidaktertiban anggaran juga berakibat pada hilangnya prioritas pembangunan khususnya
bagi pemerintah daerah dalam mengembangkan kesejahteraan rakyatnya karena beban
yang harus dipikul untuk turut serta membiayai pertahanan negara yang seharusnya dibiayai
oleh APBN. <
299
Kontributor
Kontributor
Al Araf, adalah Koordinator Peneliti Indonesia Human Right Monitors atau Imparsial, Jakarta.
Menyelesaikan pendidikan sarjananya (S1) di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang
dan saat ini sedang menempuh studi magister Manajemen Pertahanan dan Keamanan di ITB
Bandung. Beberapa buku yang diterbitkan: Perebutan Kuasa Tanah diterbitkan oleh Lappera
Yogyakarta, 2002; Bersama Poengky Indarti dan Ali Syafaat menulis buku Perlindungan
terhadap pembela HAM, Imparsial, 2005; Bersama Rusdi Marpaung, Gufron Mabruri dan
Ahmad Junaidi menulis buku Menuju TNI Profesional (tidak berbisnis dan tidak berpolitik),
Imparsial 2005; Salah satu penulis dan editor buku dinamika reformasi sektor keamanan,
Imparsial, 2005. Selain menulis buku, beberapa kali penulis juga menulis beberapa artikel di
media massa seperti Kompas, The Jakarta Post, Jawa Pos dll.
Alman Helvas Ali, spesialisasinya adalah mengenai Kekuatan Laut dan Keamanan Maritim
(Sea Power and Maritime Security). Ia lulusan S-1, Fak. Teknologi Kedirgantaraan, Univ.
Suryadarma. Pernah bekerja di Center for Defense and Maritime Studies (CDMS) (2003-2004),
Kemenko Polhukam/Staf Sesmenko Polhukam (2005-2006), dan saat ini bergabung di Forum
Kajian Pertahanan dan Maritim (FKPM). Publikasinya tersebar diberbagai media, diantaranya
di Majalah Dharma Wiratama Seskoal, Majalah Jalakaca Wing Udara Koarmatim, Majalah
Satria Badiklat Dephan, Harian Umum Sinar Harapan, dan Buletin Quarterdeck.
Aris Santoso, lahir di Blitar (Jatim), pada 13 Januari 1962, adalah alumnus Jurusan Sejarah
FSUI (1988). Selain menjadi pengamat TNI yang tekun, Aris juga bekerja sebagai editor di ISAI
(Institut Studi Arus Informasi). Sebelumnya sempat bekerja di Bina Desa (1990 - 1997), dan
sebagai copy writer pada sebuah biro iklan di Jakarta (1997 - 1999). Sejak remaja sudah
berminat pada isu militer, mungkin karena pengaruh faktor keluarga, yang memang berasal
dari lingkungan militer (TNI AD).
Beni Sukadis, saat ini adalah Koordinator Program LESPERSSI. Ia pernah mengikuti sejumlah
kursus singkat seperti hubungan sipil-militer di The Clingendael Institute, Belanda dan juga
kursus singkat tentang Defense Resources Management yang diselenggarakan oleh Naval
Postgraduate School (USA) di Jakarta. Ia tertarik pada bidang kajian reformasi sektor
keamanan, keamanan internasional, resolusi konflik dan kajian strategis lainnya. Ia menjadi
salah satu editor dalam terbitan dua buku yaitu tentang bisnis TNI dan tentang keamanan
perbatasan. Ia sering menulis artikel di sejumlah surat kabar nasional.
Bhatara Ibnu Reza, Ia peneliti di IMPARSIAL, Indonesia Human Rights Monitors. Jakarta, sejak
2002. Pada tahun 2007 ia menjabat sebagai Koordinator Peneliti HAM di lembaga yang sama.
Ia juga menjadi staf pengajar Jurusan Hubungan Internasional, FISIP Universitas Al Azhar
Indonesia, Jakarta dan Universitas Pelita Harapan. Pada tahun 2005, Ia mendapatkan
beasiswa Fullbright untuk melanjutkan pascasarjana Hukum (LL.M) di Northwestern
University, Chicago, AS serta lulus setahun kemudian dengan Terpuji. Sebelumnya tahun
2002, Ia mendapat gelar S2 bidang HI dari Pascasarjana FISIP UI, Jakarta.
300
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Edwin Partogi Pasaribu,
Badan Pekerja KontraS Jakarta. Anggota tim Penyelidik Komnas HAM Penyelidikan
Pelanggaran HAM Kasus Penembakan Misterius 1983-1985. Mantan Anggota tim asistensi
Komnas HAM Penyelidikan Pelanggaran HAM Kasus Trisakti, Semanggi I dan II.
Menyelesaikan studi S1 di Fakultas Hukum Universitas Indonesia Jurusan Hukum Tata Negara
tahun 2000. Mantan eksponen 1998. Aktif melakukan investigasi dan advokasi berbagai
kasus yang diduga pelanggaran berat HAM maupun tindak kekerasan lainnya. Aktif
melakukan monitoring terhadap reformasi sektor keamanan. Terlibat dalam penulisan
sejumlah buku di KontraS: Tanjung Priok Sebuah Laporan Investigasi: Sakralisasi Ideologi
Memakan Korban (2001); Stagnasi Hak Asasi Manusia: Laporan Tahunan Kondisi HAM
Indonesia Tahun 2001 (2002); Penegakan Hukum dan HAM Masih Gelap: Laporan HAM 2005
(2006); Aceh Damai Dengan Keadilan? Mengungkap Kekerasan Masa Lalu (2006); Bunuh
Munir! Sebuah Buku Putih (2006); HAM Belum Jadi Etika: Laporan HAM 2006 (2007). Di luar
KontraS terlibat dalam penulisan buku Negara, Intel, dan Ketakutan (Pacivis, 2006),
kontributor dalam buku Islam Tanpa Toa (Khatulistiwa Press, 2008).
Eko Maryadi (Item), lahir Ajibarang, 8 Maret 1968. Menempuh pendidikan di Fakultas Sastra
Universitas Padjadjaran (UNPAD), Bandung. Saat ini bekerja sebagai Jurnalis Freelance untuk
Media Internasional. Sebelumnya pernah bekerja sebagai asisten reporter untuk The
Washington Post (AS) dan televisi ABC (Australia). Eko saat ini bergabung dalam Aliansi
Jurnalis Independen (AJI) dan dalam organisasi ini ia menjabat sebagai Koordinator Divisi
Advokasi, AJI Indonesia.
Fauzan, Pengajar, peneliti, sekaligus ketua Laboratorium Pertahanan dan Keamanan
(LabHankam) Jurusan Hubungan Internasional FISIP UPN “Veteran” Yogyakarta. Gelar
Masternya didapat dari FISIP UI, jurusan HI dengan konsentrasi: Diplomasi dan Kajian
Strategis. Ia tertarik pada bidang kajian Studi Asia Timur (Khususnya Jepang), Studi Strategi
dan Keamanan, Manajemen Pertahanan, Manajemen Perbatasan, dan Manajemen Konflik
(Resolusi Konflik). Banyak menulis di beberapa media dan jurnal, diantaranya tentang:
“Pengembangan Kawasan Perbatasan Kalimantan Barat: Pendekatan 3D (Development,
Defense dan Diplomacy)”, Strategi dan Model Pengembangan Kawasan Perbatasan
Kalimantan (Bappenas, 2003), Partisipasi SDF (Self Defense Force) Jepang Dalam Operasi
Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (Jurnal Paradigma, 2005), Isu Kemanusiaan dan
Intervensi PBB Dalam Menyelesaikan Konflik Etnik di Bekas Yugoslavia (LPPM UPN, 2006),
Pergeseran Politik Jepang Dalam United Nations Peacekeeping Operations (Jurnal Mundus,
2004).
Galih Imaduddin, mendapat gelar S1 di jurusan Hubungan Internasional UNPAD dan
sedang menyelesaikan pendidikan Masternya di bidang Ilmu Politik di universitas yang sama.
Adapun publikasinya berupa tulisan-tulisan mengenai Isu Internasional, diantaranya
“Peranan Bank Dunia Dalam Proses Rekonstruksi dan Rehabilitasi Aceh Pasca Gempa dan
Tsunami”; dan ”Naiknya Obama: Harapan Atau Kekhawatiran?” di Harian Umum Pikiran
Rakyat.
301
Kontributor
Kusnanto Anggoro, adalah pengajar pada Program Pasca Sarjana Ilmu Hubungan
Internasional, FISIP UI, dan sering menjadi pengajar tamu pada berbagai pendidikan militer
seperti SESKO-TNI (Bandung), SESKOAU (Lembang), dan SESKOAL (Jakarta). Beliau aktif
memberi prasaran dalam berbagai seminar dan memberi masukan kepada Departemen
Pertahanan RI maupun Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengenai reformasi pertahanan,
termasuk sebagai anggota Kelompok Kerja RUU TNI (2002), RUU TNI (2003), dan Buku Putih
Pertahanan Indonesia (2003). Dengan latarbelakang elektroteknik (Institut Teknologi
Bandung), dan Ilmu Politik (FISIP, Universitas Indonesia). Beliau menyelesaikan penelitian
doktoral (S3) di bidang Kremlinologi dan Politik Rusia pada Institute of Russian and East
European Studies, University of Glasgow, Scotland, United Kingdom. Dengan minat utama di
bidang keamanan, pengkajian strategi, dan reformasi pertahanan, Beliau menulis di berbagai
media dalam dan luar negeri.
Mufti Makarim A, lahir di Pasuruan pada 4 Oktober 1976. Pendidikan terakhir S1 Hukum
Islam. Bergabung dengan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS)
sejak tahun 2000, dan pernah menjadi Sekjen KontraS hingga pertengahan tahun 2007. Saat
ini menjabat sebagai Direktur Eksekutif IDSPS, Jakarta. Mufti pernah terlibat dalam studistudi khusus berkaitan dengan SSR dan HAM, diantaranya melakukan penelitian Pelibatan
Militer dalam Bisnis di Bojonegoro, Poso dan Boven Digoel (2004), Analisis Implementasi UU
Anti Terorisme (2005), Reformasi TNI Paska Pencabutan Embargo AS (2006), dll.
Muradi, Dosen Tetap Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP UNPAD, dan Jurusan Hubungan
Internasional FISIP Universitas Pasundan (UNPAS), Bandung. Di samping itu aktif pula
mengajar pada Departemen Hubungan Internasional, Universitas Paramadina, dan Jurusan
Hubungan Internasional FISIP Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) Jakarta. Memperoleh
gelar S1 dari Jurusan Ilmu Sejarah UNPAD tahun 2000, dan S2 dari Program Pasca Sarjana
Ilmu Politik Universitas Indonesia tahun 2003. Bukunya yang berkaitan dengan Reformasi
Sektor Keamanan antara lain diterbitkan oleh UNPAD Press (2005), berjudul: Berpijak Diatas
Bara: Kegamangan Politik TNI Pada Masa Transisi, dan “Pemerintah Daerah, Bisnis Militer, dan
Profesionalisme TNI” dalam Jaleswari Pramodhawardani dan Andi Widjajanto (ed). Bisnis
Serdadu: Ekonomi Bayangan (TII, 2007). Aktif menulis mengenai kajian militer dan kepolisian
di berbagai jurnal, majalah dan surat kabar.
Oslan Purba, menyelesaikan pendidikan S-1 Antropologi di FISIP Universitas Sumatera
Utara. Ia pernah menjadi Koordinator KontraS Sumatera Utara (2000 – 2007), Ketua Yayasan
Pembela Rakyat Pinggiran (1999 – 2007), dan saat ini ia menjabat sebagai Sekretaris Jenderal
Federasi KontraS. Telah mengikuti banyak pelatihan baik di dalam maupun luar negeri, di
antaranya: Training “International Human Rights Law and the UN System” di Jakarta (2001);
Pelatihan ”Security Sector Reform” di Jakarta oleh INFID, Kontras dan Imparsial (2005);
Training “11th Asian Training and Study Session on Human Rights (ATSS)” di Bangkok oleh
Forum Asia (2007); Training “6th Annual Global Linking & Learning Programme on Human
Rights in Development” di Malaysia, oleh Dignity International (2007).
Rizal Darmaputra, mendapatkan gelar S1 di Hubungan Internasional FISIP UNPAR dan
mendapat gelar master dari Hubungan Internasional FlSIP UI pada 2003. Sekarang menjabat
302
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
sebagai Direktur Eksekutif Lesperssi, Jakarta. Ia sering menjadi narasumber di berbagai
seminar dalam negeri maupun di luar negeri.
S. Yunanto, saat ini menjadi mahasiswa doktoral di Jurusan Ilmu Politik, Western Michigan
University, AS. Ia mendapat gelar master (S2) Ilmu Politik dari FISIP UI. Ia pernah mengikuti
beberapa kursus singkat soal resolusi konflik dan diplomasi di the Eastern Mennonite
University USA (2001), Khon Kaen University Thailand (2001), Upsalla University, Sweden
(2005). Dia adalah pendiri dari Institute for Defense, Security and Peace Studies (IDSPS), di
Jakarta. Sebelumnya pernah menjabat sebagai Direktur Eksekutif RIDEP Institute. Ia berminat
pada kajian-kajian tentang politik Islam, gerakan Islam dan Reformasi Sektor Keamanan.
Shiskha Prabawaningtyas, menyelesaikan studi Sarjana Ilmu Politik (S.IP) dari jurusan
Hubungan Internasional, FISIP UNPAR 2000. Tahun 2001, dia bekerja di Lembaga Studi
Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia (LESPERSSI) sebagai asisten program dan
koordinator proyek dalam pengembangan dan pengimplementasian beberapa program
tentang hubungan sipil militer dan konflik manajemen. Pernah bergabung dengan Lembaga
Donor Belanda, Cordaid, The Hague, di Belanda dalam program internship pada bulan Mei –
Agustus 2006 sebagai project assessment bagi mitra project pada Departemen Peace &
Conflict untuk Asia. Kemudian dia memperoleh gelar Mater of Arts (MA) dari Faculteit der
Sociale Wetenschappen, Universiteit Leiden, Belanda pada tahun 2007 setelah menyelesaikan
tesis yang berjudul “Peace Building in Mindanao: Spoiler Problem and Inter Communal Conflict”.
Di tahun 2008, dia bergabung dengan Program Studi Hubungan Internasional, Universitas
Paramadina dan kemudian menjadi dosen tetap di Prodi yang sama pada tahun 2009. Saat ini,
dia juga tercatat sebagai fellow researcher pada Divisi Hubungan Internasional pada
LESPERSSI.
Yuliah Qotimah, telah menyelesaikan pendidikan S2-nya di Program Magister Manajemen
Pertahanan, Program Studi Pembangunan, SAPPK ITB, dengan predikat Cum Laude.
Pendidikan S1 nya di dapat dari Program Sarjana Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI. Ia
pernah menjadi asisten penelitian dialog State-Civil Society dalam Isu Terorisme (PACIVIS UI
2003), dan asisten penelitian Akuisisi Alutsista dengan Fasilitas Kredit Ekspor (PACIVIS UIINFID 2005). Saat ini ia menjadi salah satu peneliti di ProPatria Institute.
Yusa Djuyandi, mendapat pendidikan S1-nya di jurusan Ilmu Pemerintahan UNPAD, dan
telah menyelesaikan program Masternya di bidang Ilmu Politik di universitas yang sama. Saat
ini menjabat sebagai Staf Ahli Bidang Riset Anggota Komisi I, DPR – RI, dan Asisten Dosen
Jurusan Ilmu Pemerintahan UNPAD.
303
Lampiran
LAMPIRAN :
Singkatan yang digunakan Sektor Keamanan Indonesia
ABRI = Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
ALKI = Alur Laut Kepulauan Indonesia
AD = Angkatan Darat
AL = Angkatan Laut
AU = Angkatan Udara
AMN = Akademi Militer Nasional
Akabri = Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
AAU = Akademi Angkatan Udara
AAL = Akademi Angkatan Laut
AKPOL = Akademi Kepolisian
Alutsista = Alat Utama Sistem Persenjataan
Asops = Asisten Operasi
Asintel = Asisten Intelijen
Asrena = Asisten Perencanaan
Aster = Asisten Teritorial
Aslog = Asisten Logistik
Aspers = Asisten Personalia
Armabar = Armada Kawasan Barat
Armatim = Armada Kawasan Timur
Armed = Artileri Medan
AT = Anti Teror
Art = Artileri
Arhanud = Artileri Pertahanan Udara
Arhanudse = Artileri Pertahanan Udara Sedang
Arhanudri = Artileri Pertahanan Udara Ringan
BIN = Badan Intelijen Negara
BIA = Badan Intelijen ABRI
BAIS = Badan Intelijen Strategis
Babinsa = Bintara Pembina Desa
Bareskrim = Badan Reserse dan Kriminal
Babinkam = Badan Pembinaan Keamanan
BIK = Badan Intelijen dan Keamanan (Polri)
Brimob = Brigade Mobil
Balahanpus = Bala Pertahanan Pusat
Balahanwil = Bala Pertahanan Wilayah
Bin = Pembinaan
BS = berdiri sendiri (istilah satuan militer yang terpisah)
Bekang = perbekalan dan angkutan
Datin = Data dan infromasi
Dephan = Departemen Pertahanan
DPR RI = Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia
Dan = Komandan
304
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Danrem = Komandan Korem
Dandim = Komandan Kodim
Danramil = Komandan Koramil
Darmil = Darurat Militer
Dirops = Direktur Operasi
Dirbin= Direktur Pembinaan
Densus = Detasemen Khusus 88 (Polri)
Denma = Detasemen Markas
Den 81 = Detasemen 81 Anti Teror (AD)
Denjaka = Detasemen Jalamangkara (AL)
Denbravo = Detasemen Bravo (AU)
Dirjen = Direktur Jenderal
Gultor = Penanggulangan teror
GARSTAP = Garnisun Tetap
Han = Pertahanan
Hanneg = Pertahanan Negara
HAM = hak asasi manusia
Hansip = pertahanan sipil
INF = Infanteri
Jakum = Kebijakan Umum
JCLEC = Jakarta Center for Law Enforcement Cooperation
Jianstra = kajian strategis
Jihandak = Penjinakan Bahan Peledak
Jibom = Penjinakan Bom
KSAD = Kepala Staf Angkatan Darat
KSAL = Kepala Staf Angkatan Laut
KSAU = Kepala Staf Angkatan Udara
Kastaf = Kepala Staf
Kasum = Kepala Staf Umum
Kapolsek = Kepala Kepolisian Sektor
Kapolres = Kepala Kepolisian Resor
Kopassus = Komando Pasukan Khusus
Kostrad = Komando Cadangan Strategis (AD)
Kopaskhas = Komando Pasukan Khas (AU)
Kopaska = Komando Pasukan Katak (AL)
Kodam = Komando Daerah Militer
Korem = Komando Resor Militer
Kodim = Komando Distrik Militer
Koramil = Komando Rayon Militer
Koter = komando territorial
Kohanudnas = Komando Pertahanan Udara Nasional
Kormar = Korps Marinir
Kapolri = Kepala kepolisian RI
Koops = Komando Operasi
Kodiklat = Komando Pembinaan Doktrin Pendidikan dan Latihan
Kuathan = Kekuatan Pertahanan
305
Lampiran
Kamnas = Keamanan Nasional
KMIP = Kebebasan Memperoleh Informasi Publik
Kotama = Komando Utama
Komcad = Komponen cadangan
Kamdagri = keamanan dalam negeri
Kamtibmas = keamanan dan ketertiban masyarakat
Kominda = komunitas intelijen daerah
Kowil = komando kewilayahan
Kodahan = komando daerah pertahanan
Kowilhan = komando wilayah pertahanan
Kum = Hukum
Kasubdit = kepala sub direktorat
Komlek = komunikasi dan elektronik
KRI = Kapal Republik Indonesia
Kal = perbekalan
Kes = kesehatan
Kaur = kepala urusan
Kadis = kepala dinas
Kamra = keamanan rakyat
Lanud = Pangkalan Udara
Lanal = Pangkalan AL
Lemdik = Lembaga Pendidikan
LSM = lembaga swadaya masyarakat
Linmas = perlindungan masyarakat
Lemhannas = Lembaga Ketahanan Nasional
Log = logistik
Mabes TNI = Markas Besar TNI
Mabes Polri = Markas Besar Polri
NKRI = Negara Kesatuan Republik Indonesia
NCB Interpol = National Central Bureau International Police
Otda = Otonomi daerah
OMS = organisasi masyarakat sipil
Otmil = Oditur Militer
Opslihkam = operasi pemulihan keamanan
Ops = Operasi
Pangti = Panglima Tertinggi
Pangdam = Panglima Kodam
Paldam = Peralatan Kodam
PARAKO = Para Komando
Polda = Kepolisian Daerah
Polwil = Kepolisian Wilayah
Polres = Kepolisian Resor
Polresta = Kepolisian Resor Kota
Polsek = Kepolisian Sektor
Pospol = Pos Polisi
Pothan = Potensi Pertahanan
306
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
Polkam = Politik Keamanan
Propam = profesi dan pengamanan
Pomdam = Polisi Militer Kodam
PTIK = Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian
Platina = Pelatihan Anti teror Nasional
Pusdik = Pusat Pendidikan
Pusinfolahta = Pusat Informasi dan Pengolahan Data
Pusku = Pusat Keuangan
Pers = personalia
PM = Polisi Militer
Polri = Kepolisian Negara Republik Indonesia
Polmas = Perpolisian Masyarakat
Puspen = Pusat Penerangan
Permil = Peradilan Militer
Pussenif = Pusat Kesenjataan Infanteri
Ranahan = Sarana Pertahanan
Renhan = Perencanaan Pertahanan
Renstra = Perencanaan Strategis
RSK = Reformasi Sektor Keamanan
RN = Rahasia Negara
RI = Republik Indonesia
Rindam = Resimen Induk Kodam
RUU = Rancangan Undang-Undang
Rengar = Perencanaan dan Anggaran
Renstra = Perencanaan Strategis
RAIARMED = Baterai Artileri Medan
SANDA = Sandi Yudha (satuan Kopassus)
Setum = Sekretariat Umum
SESKO TNI = Sekolah Staf dan Komando TNI
SESKO AD = Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat
SESKO AL = Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut
SESKO AU = Sekolah Staf dan Komando Angkatan Udara
Sespim Polri = Sekolah Staf dan Pimpinan Polri
Sespati = Sekolah Staf dan Pimpinan Administrasi Tingkat Tinggi (Polri)
SPN = Sekolah Polisi Negara
Secapa = Sekolah calon perwira
Secaba = Sekolah calon bintara
Satker = satuan kerja
Sus = Khusus
Sekjen = Sekretaris Jenderal
SDR = Strategic Defense Review
Strahan = Strategi Pertahanan
SOPS = Staf Operasi
SINTEL = Staf Intelijen
SPERS = Staf Personalia
TNI = Tentara Nasional Indonesia
307
Lampiran
Tontaipur = Peleton Intai Tempur
UU = Undang-undang
Vet = veteran
Wanjakti = Dewan Jabatan dan Kepangkatan Tinggi
YONIF = Batalyon Infanteri
YONKAV = Batalyon Kavaleri
YONART = Batlayon Artileri
YONARMED = Batalyon Artileri Medan
YONARHANUD = Batalyon Artileri Pertahanan Udara
Yonkes = Batalyon Kesehatan
Wamil = wajib militer
Wanra = perlawanan rakyat
ZIPUR = Zeni Tempur
ZIDAM = Zeni Kodam
308
AH
K SIKAP
PIJA
BI
J
A
K
AR
Profil Institusi
LESPERSSI
Lembaga Studi Pertahanan dan
Studi Strategis Indonesia
Indonesia Institute for Defense and Strategic Studies (LESPERSSI) was established in
1996 as a discussion forum that analyze several issues at that time, such as, horizontal and
vertical conflicts, democratization, civil-military relations, and other strategic issues on
regional or international level.
For years, LESPERSSI has positioned as a non-governmental organization (NGO) in
Indonesia that focused on activities regarding the defense, security, and other strategic
issues. There are a few activities that conducted by LESPERSSI such as research, training,
conference, workshop and also producing publications to support and to enhance public
accountability, good governance, and democratic oversight.
LESPERSSI
Jl. Petogogan I, No.30, Blok A, Gandaria Utara
South Jakarta 12140
Indonesia
Tel
: +62-21 7252725
Fax
: +62-21 7262305
E mail : [email protected]
Web site : www.lesperssi.org
309
Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2009
DCAF
The Geneva Centre for the
Democratic Control of Armed Forces
The Geneva Centre for the Democratic Control of Armed Forces (DCAF) was
established by the Swiss government in October 2000. The Centre's mission is to promote
good governance and reform of the security sector in accordance with democratic standards.
The Centre conducts research on good practices, encourages the development of
appropriate norms at the national and international levels, makes policy recommendations
and provides in-country advice and assistance programmes. DCAF's partners include
governments, parliaments, civil society, international organisations and the range of security
sector actors such as police, judiciary, intelligence agencies, border security services and the
military. The Centre works with governments and civil society to foster and strengthen the
democratic and civilian control of security sector organisations.
DCAF is an international foundation with 48 Member States (including the canton of
Geneva). Their representatives compose the Foundation Council. The Centre's primary
consultative body, the International Advisory Board, is composed of experts from the various
fields in which the Centre is active. The staff numbers over 70 employees from more than 30
countries. DCAF's main divisions are Research and Operations which work together to
develop and implement DCAF's programmes as follows:
?
By conducting research to identify the central challenges in democratic governance of
the security sector, and to collect those practices best suited to meet these challenges
·
By providing support through advisory programmes and practical work assistance to
all interested parties, most commonly to governments, parliaments, military
authorities, and international organisations
The Centre is directed by Ambassador Dr. Theodor H. Winkler. DCAF's head office is located in
Geneva, Switzerland and the Centre also has a subsidiary office in Brussels.
The Geneva Centre for the Democratic Control of Armed Forces (DCAF)
Rue de Chantepoulet 11, P.O.Box 1360, CH-1211 Geneva I, Switzerland.
Tel
: +41 (22) 741 77 00
Fax
: +41 (22) 741 77 05
E mail : [email protected]
Web site : www.dcaf.ch
310
Download