BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tanaman yodium

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tanaman
yodium
(Jatropha multifida L.) merupakan tanaman yang
memiliki banyak sekali khasiat sebagai obat tradisional, dan belum banyak
masyarakat Indonesia yang mengetahuinya. Beberapa masyarakat pedesaan
memanfaatkan tanaman yodium (J. multifida L.) sebagai obat untuk luka baru.
Penduduk Nigeria menggunakan tanaman yodium (J. multifida L.) sebagai obat
tradisional untuk mengobati berbagai jenis infeksi. Getah dan daunnya dapat
digunakan untuk menyembuhkan infeksi pada lidah bayi dan juga dapat digunakan
untuk mengobati infeksi luka pada kulit, sedangkan buah, biji, dan minyak dari biji
tanaman J. multifida L. dapat digunakan sebagai obat pencahar, mengobati luka
berdarah, mencegah dan mengobati kerusakan gigi seperti karies gigi (Sari dan Shofi,
2007).
Dalam kegiatan sehari-hari sering kali kita mengalami luka, contohnya yaitu
saat kita memotong sayur, jika kita tidak hati-hati maka tangan kita bisa tersayat
pisau. Luka yang disebabkan oleh pisau tidak terlalu parah akan tetapi jika luka
tersebut dibiarkan kering dengan sendirinya maka akan terjadi kontaminasi oleh
bakteri. Luka sekecil apapun juga harus memerlukan perawatan karena tidak
menutup kemungkinan luka tersebut akan mengalami infeksi. Perawatan yang sering
kita berikan terhadap luka adalah memberikan antibiotik atau obat-obat yang
berbahan dasar kimia padahal obat tersebut sangat memiliki efek negatif
bagi
kesehatan nantinya. Selain pemanfaatan antibiotik tersebut, di lingkungan tempat
tinggal kita banyak sekali tanaman obat yang bermanfaat bagi kita dan dapat
digunakan untuk menyembuhkan luka. Salah satu tanaman obat yang ada di
lingkungan sekitar kita adalah tanaman yodium. Tanaman yodium ini dapat
digunakan sebagai antibiotik yang bersifat alami dan bebas dari bahan kimia
sehingga tidak berdampak negatif bagi kesehatan.
Tanaman yodium (J. multifida L.) ini memiliki rasa yang agak pahit dan
bersifat netral, dikarenakan beberapa kandungan kimia yang terdapat di dalam
tanaman yodium. Menurut Syarfati dkk; (2011) kandungan kimia yang dimiliki
tanaman yodium adalah kampesterol, alpha amirin, stigmaterol, 7 alpha diol, HCN
dan beta-sitosterol, kandungan pada batang yodium adalah alkaloid (yang disebutsebut penggumpal darah), flavonoid, saponin dan tanin. Menurut Aiyelaagbe et
all; (dalam Sari dan Shofi, 2007), dalam setiap bagian tanaman yodium (J.
multifida L.) memiliki kandungan yang berbeda-beda sehingga kandungan zat
tersebutlah yang membuat tanaman yodium (J. multifida L.) mempunyai fungsi
sebagai antimikroba. Ekstrak dari berbagai bagian tanaman yodium memiliki
aktifitas antimikroba terhadap berbagai jenis bakteri patogen.
Ada beberapa jenis bakteri yang dapat menginfeksi luka salah satunya adalah
bakteri Staphylococcus aureus. Luka adalah kerusakan pada struktur anatomi
kulit yang menyebabkan terjadinya gangguan kulit (Sim Romi dalam Hapsari,
2010). Jika jari tangan kita tersayat oleh pisau, maka luka yang timbul akan
menyebabkan terjadinya kerusakan kulit sehingga kulit tidak lagi dapat melindungi
struktur yang ada dibawahnya.
Bakteri Staphylococcus aureus
dapat ditemukan pada permukaan kulit
sebagai kuman flora normal, terutama di sekitar hidung, mulut, alat kelamin, dan
sekitar anus. Bakteri Staphylococcus aureus juga sering terdapat pada pori-pori dan
permukaan kulit, kelenjar keringat dan saluran usus. Staphylococcus aureus dikenal
sebagai mikroorganisme patogen yang dihubungkan dengan berbagai syndrome
klinis. Bakteri ini biasanya diketahui berkolonisasi sementara dalam rongga mulut
dan jarang diketahui
sebagai
spesimen klinis
(Megasari, 2012).
Infeksi
Staphylococcus aureus dapat menular selama ada nanah yang keluar dari lesi
atau hidung. Selain itu jari jemari juga dapat membawa infeksi Staphylococcus
aureus dari satu bagian tubuh yang luka atau robek (Dowshen, et all; dalam
Hapsari, 2010).
Infeksi yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus dapat terjadi secara
langsung maupun tak langsung. Bakteri ini menghasilkan nanah oleh sebab itu
bakteri ini
disebut
bakteri piogenik (WHO dalam Hapsari, 2010). Untuk
mengurangi resiko infeksi oleh kuman Staphylococcus aureus adalah dengan
mengembalikan fungsi dari bagian tubuh yang terluka, mengurangi resiko
terjadinya infeksi dan meminimalkan terbentuknya bekas luka dengan cara
melakukan beberapa tindakan dasar seperti mencuci tangan, membersihkan luka,
membersihkan kulit di sekitar luka, menutup luka, mengganti perban sesering
mungkin dan pemakaian gel yang mengandung antibiotik (Depkes Minnosota
dalam Hapsari, 2010).
Aiyelaagbe et all; (dalam Sari dan Shofi, 2007), telah melakukan penelitian
tentang uji aktifitas antimikroba tanaman Jatropha multifida L. terhadap beberapa
jenis bakteri dan jamur penyebab penyakit kelamin. Dari uji phytokimia penelitian
tersebut diketahui bahwa dalam tanaman Jatropha multifida L. mengandung saponin,
steroids, glycoside, dan tanin yang berbeda dari setiap bagian tanamannya dan
kandungan zat-zat tersebutlah yang membuat Jatropha multifida L. mempunyai
fungsi sebagai antimikroba.
Penelitian lain yang sejenis juga dilakukan oleh Adesola dan Adetunji (dalam
Sari dan Shofi, 2007), tetapi hanya meneliti sebatas efektifitas tanaman Jatropha
multifida L. terhadap penderita infeksi akibat dari bakteri Candida albicans dan
komparasi efektifitasnya dengan antibiotik yang sering digunakan dalam kasus ini
hasilnya didapat bahwa tanaman ini lebih efektif dibandingkan antibiotik yang biasa
digunakan. Darmawi dkk; (2013) telah melakukan penelitian terhadap daya hambat
getah jarak cina terhadap Staphylococcus aureus secara in vitro, hasil penelitian
yang dilakukannya pada konsentrasi 25, 50, 75, 100% v/v dengan kontrol positif
antibiotik vankomisin yaitu zona hambat yang terbentuk bersifat kuat dalam
menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus. Penelitian ini sangat penting
dilakukan untuk memperkaya obat-obat tradisional dalam mengobati berbagai
penyakit infeksi. Selain itu, masyarakat bisa melestarikan tanaman yodium ini dan
memanfaatkannya untuk mengobati luka baru.
Berdasarkan uraian di atas penulis ingin melihat apakah ekstrak dari daun
tanaman yodium (Jatropha multifida L.) dapat menghambat pertumbuhan bakteri
Staphylococcus aureus. Dengan formulasi judul “Pengaruh Ekstrak Daun Tanaman
Yodium (Jatropha multifida L.) terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus
aureus.”
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang maka dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1.2.1 Apakah
terdapat
pengaruh
ekstrak
daun tanaman
yodium (Jatropha
multifida L.) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus ?
1.2.2 Berapa konsentrasi terbaik dari ekstrak daun tanaman yodium untuk
menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus ?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah:
1.3.1 Untuk mengetahui pengaruh ekstrak daun tanaman yodium (Jatropha
multifida L.) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus.
1.3.2 Untuk mengetahui konsentrasi terbaik dari ekstrak daun tanaman yodium
untuk menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah :
1.4.1 Bagi Masyarakat
Memberikan informasi dan wawasan pengetahuan bagi masyarakat tentang
manfaat tanaman obat dalam menyembuhkan luka
1.4.2 Bagi Peneliti
Menambah wawasan bagi peneliti tentang manfaat tanaman obat yang ada di
lingkungan sekitar
1.4.3 Bagi Siswa
Sebagai wahana dan pengetahuan bagi siswa dalam mengembangkan
pengetahuannya tentang tanaman obat-obatan
1.4.4 Bagi Guru
Sebagai pedoman dan bahan acuan dalam memberikan pengetahuan yang tepat
tentang pemanfaatan tanaman obat sebagai obat alami dalam penyembuhan
luka
Download