BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1. Pajak Perkembangan masyarakat

advertisement
BAB II
BAHAN RUJUKAN
2.1.
Pajak
Perkembangan masyarakat dalam bidang sosial dan ekonomi sedikit demi
sedikit telah mengalami perubahan. Seiring berkembangnya masyarakat maka
kepentingan dan kebutuhan masing-masing individu ataupun kelompok semakin
meningkat. Banyak hal untuk dapat menunjang kemajuan tersebut, salah satunya
ialah dengan menyediakan sarana dan prasarana yang dapat digunakan oleh
kepentingan
umum
agar
dapat
berlangsungnya
perkembangan
yang
berkesinambungan menuju kearah yang lebih maju. Negara adalah masyarakat yang
mempunyai tujuan tertentu. Kelangsungan hidup negara juga berarti hidup
masyarakat dan kepentingan masyarakat. Dalam menunjang semua hal itu diperlukan
biaya yang berasal dari penghasilan. Penghasilan negara yang berasal dari rakyatnya
melalui pungutan pajak, ataupun dari sumber kekayaan alam (natural recources)
yang ada
terdapat di negara tersebut, merupakan sumber terpenting yang
memberikan penghasilan kepada negara untuk membiayai kepentingan umum.
2.1.1. Pengertian Pajak
Pajak
digunakan
untuk
membiayai
pengeluaran
negara
termasuk
pembangunan yang berguna untuk kepentingan umum.
Pengertian pajak menurut Undang-Undang nomor 28 tahun 2007 tentang
Ketentuan Umum dan tata cara perpajakan Pasal 1 ayat 1:
Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang
pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang
dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk
keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat .
Pengertian pajak menurut Undang-Undang Nomor 28 tahun 2007 tentang
Ketentuan Umum dan tata cara perpajakan Pasal 1 ayat 1 yang diterjemahkan
kedalam Bahasa Inggris :
Tax is a compulsory contribution to the state which is owed by an individual or
corporate that is forced by law, with no direct reward, an used for state purposes
for maximum prosperity to the peoples .
Definisi pajak menurut Soemitro, yang dikutip oleh Suandy (2005:11) :
Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undangundang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa imbalan
(kontraprestasi), yang langsung dapat ditunjuk dan digunakan untuk
membayar pengeluaran umum .
Definisi pajak yang dikemukakan oleh Djajadiningrat yang dikutip oleh Resmi
(2009:1) :
Pajak sebagai suatu kewajiban menyerahkan sebagian dari kekayaan
ke kas negara yang disebabkan suatu keadaan, kejadian, dan perbuatan
yang memberikan kedudukan tertentu, tetapi bukan sebagai hukuman,
menurut peraturan yang ditetapkan pemerintah serta dapat dipaksakan,
tetapi tidak ada jasa timbal balik dari negara secara langsung, untuk
memelihara kesejahteraan umum .
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa pajak merupakan iuran
wajib kepada negara yang diatur berdasarkan undang-undang dan dapat dipakasakan
tanpa jasa timbal balik yang digunakan untuk membiayai rumah tangga negara dan
kesejahteraan umum yakni segala pengeluaran yang bermanfaat bagi masyarakat
luas.
2.1.2 Dasar Hukum Pajak
Di negara Indonesia landasan pemungutan pajak telah diatur dalam UndangUndang Dasar 1945 pasal 23 ayat (2) yang berbunyi :
Segala pungutan pajak harus berdasarkan undang-undang
2.1.3. Fungsi Pajak
Menurut Resmi (2009:3), Terdapat dua fungsi pajak, yaitu fungsi budgetair
(sumber keuangan negara) dan fungsi regularend (pengatur).
1. Fungsi Budgetair (Sumber Keuangan Negara)
Pajak merupakan salah satu sumber penerimaan pemerintah untuk
membiayai pengeluaran
rutin
maupun
pembangunan. Sebagai sumber
pengeluaran negara, pemerintah berupaya memasukan uang sebanyakbanyaknya untuk kas negara. Upaya tersebut ditempuh dengan cara pemungutan
pajak melalui penyempurnaan peraturan berbagai jenis pajak seperti pajak
penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Pertambahan
Barang Mewah (PPnBM), Pajak Bumi dan Bangunan dan lain-lain.
2. Fungsi Regularend (Pengatur)
Pajak merupakan salah satu alat untuk mengatur atau melaksanakan
kebijakan pemerintah dalam bidang sosial dan ekonomi, serta mencapai tujuantujuan tertentu diluar bidang keuangan.
2.1.4. Tata Cara Pemungutan Pajak
Tata cara pemungutan pajak menurut Resmi (2009:9), terdiri atas stelsel
pajak, asas pemungutan pajak dan sistem pemungutan pajak.
1. Stelsel pajak
Pemungutan pajak dapat dilakukan dengan tiga stelsel, yaitu :
a. Stelsel Nyata (Riil)
Stelsel ini menyatakan bahwa pengenaan pajak didasarkan pada objek yang
sesungguhnya terjadi. Oleh karena itu, pemungutan pajaknya baru dilakukan
pada akhir tahun pajak, yaitu setelah semua objek yang sesungguhnya pada
suatu tahun pajak diketahui. Kelebihan stelsel nyata adalah perhitungan pajak
didasarkan pada objek sesungguhnya sehingga lebih akurat dan realistis.
b. Stelsel Anggaran
Stelsel ini menyatakan bahwa pengenaan pajak didasarkan pada suatu
anggapan yang diatur oleh undang-undang. Dengan stelsel ini berarti besarnya
pajak yang terutang pada waktu tahun berjalan sudah dapat ditetapkan atau
diketahui pada tahun awal yang bersangkutan.
c. Stelsel Campuran
Stelsel ini menyatakan bahwa pengenaan pajak didasarkan pada kombinasi
antara stelsel nyata dan stelsel anggaran. Pada awal tahun, besarnya pajak
dihitung berdasarkan suatu anggapan, kemudian pada akhir tahun besarnya
pajak disesuaikan dengan keadaan yang sebenarnya. Bila besarnya pajak
menurut kenyataan lebih besar dari pada pajak menurut anggapan, maka wajib
pajak harus menambah. Sebaliknya, jika lebih kecil kelebihannya dapat
diminta kembali.
2. Asas Pemungutan Pajak
a. Asas domisili
Asas ini menyatakan bahwa negara berhak mengenakan pajak atas seluruh
penghasilan wajib pajak yang bertempat tinggal di wilayahnya, baik
penghasilan yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Setiap wajib pajak
yang berdomisili atau bertempat tinggal di wilayah Indonesia (wajib pajak
dalam negeri) dikenakan pajak atas seluruh penghasilan yang diperolehnya
baik dari Indonesia atau dari luar Negara Indonesia.
b. Asas Sumber
Asas ini menyatakan bahwa negara berhak mengenakan pajak atas
penghasilan yang bersumber di wilayahnya tanpa memerhatikan tempat
tinggal wajib pajak. Setiap orang yang memperoleh penghasilan dari
Indonesia dikenakan pajak atas penghasilan yang diperolehnya.
c. Asas Kebangsaan
Asas ini menyatakan bahwa pengenaan pajak dihubungkan dengan
kebangsaan suatu negara. Misalnya pajak bangsa asing di Indonesia dikenakan
atas setiap orang asing yang bukan berkebangsaan Indonesia, tetapi bertempat
tinggal di Indonesia.
3. Sistem Pemungutan Pajak
Dalam memungut pajak dikenal beberapa sistem pemungutan, yaitu :
a. Official Assessment System
Sistem ini memberikan wewenang kepada aparatur perpajakan dalam
menentukan sendiri jumlah pajak yang terutang setiap tahunnya sesuai
peraturan
perundang-undangan
perpajakan
yang
berlaku.
Kegiatan
memungut dan menghitung pajak, sepenuhnya berada di tangan aparatur
perpajakan.
b. Self Assessment System
Sistem ini memberikan wewenang kepada wajib pajak dalam menentukan
sendiri jumlah pajak yang terutang setiap tahunnya sesuai dengan peraturan
perundang-undangan perpajakan yang berlaku. Kegiatan memungut dan
menghitung pajak, sepenuhnya berada di tangan wajib pajak. Wajib pajak
dianggap mampu menghitung pajak, mampu memahami undang-undang
perpajakan yang sedang berlaku, dan mempunyai kejujuran yang tinggi,
serta menyadari akan arti pentingnya membayar pajak.
c. With Holding System
Sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pihak ketiga
yang ditunjuk untuk menetukan besarnya pajak yang terutang oleh wajib
pajak sesuai dengan peraturan perundang-undangan perpajakan yang
berlaku.
2.1.5. Pembagian Jenis Pajak
Dalam buku perpajakan Mardiasmo (2009:5), pembagian jenis pajak dapat
digolongkan menjadi tiga, yaitu pengelompokan menurut golongan, menurut sifat dan
menurut lembaga pemungutnya.
1. Menurut golongan
Menurut golongannya pajak dikelompokan menjadi dua, yaitu :
a. Pajak Langsung
Merupakan pajak yang harus ditanggung sendiri oleh wajib pajak dan tidak
dapat dilimpahkan atau dibebankan kepada orang lain atau pihak lain. Pajak
harus menjadi beban wajib pajak yang bersangkutan.
b. Pajak Tidak Langsung
Merupakan pajak yang pada akhirnya dapat dibebankan pada orang lain atau
pada pihak ketiga. Contoh : Pajak Pertambahan Nilai.
2. Menurut Sifat
Menurut sifatnya pajak dikelompokan menjadi dua, yaitu :
a. Pajak Subjektif,
Merupakan pajak yang pengenaannya memerhatikan keadaan wajib pajak
atau pengenaan pajak yang memerhatikan keadaan subyeknya.
Contoh : pajak penghasilan (PPh)
b. Pajak Objektif
Merupakan pajak yang pengenaannya memperhatikan objeknya baik berupa
benda, keadaan, perbuatan atau peristiwa yang mengakibatkan timbulnya
kewajiban membayar pajak, tanpa memerhatikan keadaan pribadi subjek
pajak (wajib pajak) maupun tempat tinggal.
Contoh : Pajak pertambahan nilai (PPN) dan PPnBM
3. Menurut Lembaga Pemungut
Berdasarkan wewenang pemungutnya, pajak dikelompokan menjadi dua,
yaitu:
a. Pajak Negara (Pajak Pusat)
Merupakan pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat yang pelaksanaannya
dilakukan oleh Kementrian Keuangan melalui Direktorat Jendral Pajak.
Pajak pusat diatur dalam undang-undang dan hasilnya akan digunakan untuk
membiayai rumah tangga negara pada umumnya.
b. Pajak Daerah
Merupakan pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah baik daerah tingkat
I (pajak provinsi) maupun daerah tingkat II (pajak kabupaten/kota) yang
pelaksanaannya dilakukan oleh Dinas Pendapatan Daerah. Pajak daerah
diatur dalam undang-undang dan hasilnya akan digunakan untuk membiayai
rumah tangga masing-masing sesuai APBD.
2.2. Pajak Daerah
Pajak daerah merupakan salah satu sumber penerimaan daerah yang masuk ke
dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Pajak daerah sebagai salah satu
kegiatan yang mendukung pembangunan nasional yang diwujudkan dengan
pembangunan daerah secara adil dan merata guna meningkatkan kesejahteraan
masyarakat. Daerah otonom, yang selanjutnya disebut daerah adalah kesatuan
masyarakat hukum yang mempunyai batas daerah tertentu berwenang mengatur dan
mengurus kepentingan masyarakat setempat merupakan prakarsa sendiri berdasarkan
aspirasi masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Untuk
mengurus dan mengatur kepentingan masyarakat daerah maka dibutuhkan pemerintah
daerah. Pemerintah daerah adalah kepala daerah beserta perangkat daerah otonom
yang lain sebagai badan eksekutif daerah.
2.2.1. Pengertian Pajak Daerah
Pajak daerah telah diatur dalam undang-undang Nomor 34 tahun 2000
sebagaimana telah diubah dengan undang-undang Nomor 28 tahun 2009 tentang
pajak daerah dan retribusi daerah, yang terdiri dari pajak daerah tingkat I (provinsi)
dan pajak daerah tingkat II (kabupaten/kota).
pengertian pajak daerah menurut Undang-undang Nomor 28 tahun 2009 :
Pajak daerah, yang selanjutnya disebut pajak, adalah kontribusi wajib
kepada daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang
bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak
mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan
daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat .
Menurut Suandy (2005:236) menerangkan bahwa:
Pajak Daerah adalah iuran yang wajib dilakukan oleh orang pribadi
atau badan kepada daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang, yang
dapat dipaksakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang
berlaku, yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintah
daerah dan pembangunan daerah .
2.2.2. Dasar Hukum Pajak Daerah
Dasar hukum terdapat dalam undang-undang Nomor 34 tahun 2000
sebagaimana yang telah diubah dengan undang-undang Nomor 28 tahun 2009 tentang
pajak daerah dan retribusi daerah, Peraturan Pemerintah Nomor 65 tahun 2001, dan
undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah .
2.2.3. Jenis Pajak Daerah
Jenis pajak daerah dalam undang-undang Nomor 28 tahun 2009 tentang pajak
daerah dan retribusi daerah terdiri dari 5 jenis pajak provinsi dan 11 jenis pajak
kabupaten/kota yaitu:
1. Jenis Pajak Provinsi terdiri atas :
a. Pajak kendaraan bermotor
b. Bea balik nama kendaraan bermotor
c. Pajak bahan bakar kendaraan bermotor
d. Pajak air permukaan
e. Pajak rokok
2. Jenis Pajak Kabupaten/Kota terdiri atas :
a. Pajak Hotel
b. Pajak Restoran
c. Pajak Hiburan
d. Pajak Reklame
e. Pajak Penerangan Jalan
f. Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan
g. Pajak Parkir
h. Pajak Air Tanah
i. Pajak Sarang Burung Walet
j. Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan; dan
k. Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan.
2.3. Pajak Hotel
2.3.1. Pengertian Pajak hotel
Dalam buku Peraturan Daerah Nomor 02 Tahun 2003 pasal 1 Tentang Pajak
Hotel menerangkan bahwa, Pajak hotel adalah pajak atas pelayanan di hotel dan
Hotel adalah bangunan yang khusus disediakan bagi orang untuk dapat menginap/
istirahat, memperoleh pelayanan, dan/atau fasilitas lainnya dengan dipungut bayaran,
termasuk bangunan lainnya yang menyatu, dikelola dan dimiliki oleh pihak yang
sama, kecuali untuk pertokoan dan perkantoran.
2.3.2. Dasar Hukum Pajak Hotel
Undang-undang Nomor 28 tahun 2009 tentang pajak daerah dan retribusi
daerah, Peraturan Daerah Nomor 02 Tahun 2003 tentang pajak hotel.
2.3.3. Objek Pajak Hotel
Dalam buku Peraturan Daerah Nomor 02 Tahun 2003 pasal 2, yang dimaksud
dengan objek pajak hotel yaitu;
1. Objek pajak hotel adalah pelayanan yang disediakan hotel dengan
pembayaran.
2. Objek pajak yang dimaksud meliputi :
a. Hotel, penginapan atau jenis lainnya seperti gubuk pariwisata (cottage),
motel, wisma pariwisata, pesanggrahan (hostel), losmen, guest house;
b. Pelayanan penunjang sebagai kelengkapan penunjang fasilitas penginapan
atau fasilitas tinggal yang sifatnya memberi kemudahan dan kenyamanan
antara lain: telepon, faksimil, telex, foto copy, pelayanan cuci, seterika,
taksi dan pengangkutan lainnya yang dikelola hotel;
c. Fasilitas olah raga dan hiburan yang dikelola oleh manejemen hotel antara
lain: pusat kebugaran (fitness center), kolam renang, tennis, golf, karaoke,
pub, diskotik, yang disediakan atau dikelola oleh hotel;
d. Jasa persewaan ruangan untuk kegiatan acara atau pertemuan d hotel.
3. Objek yang dikecualikan antara lain meliputi:
a. Penyewaan rumah atau kamar, apartemen dan/atau fasilitas tempat tinggal
lainnya yang tidak menyatu dengan hotel;
b. Pelayanan tempat tinggal di asrama, dan pondok pesantren;
c. Fasilitas olah raga dan hiburan yang disediakan di hotel yang
dipergunakan oleh bukan tamu hotel dengan pembayaran;
d. Pertokoan, perkantoran, perbankan, salon, yang dikelola oleh umum di
hotel;
e. Pelayanan perjalanan wisata yang diselenggarakan oleh hotel dan dapat
dimanfaatkan oleh umum.
2.3.4. Subjek Pajak Hotel
Dalam buku Peraturan Daerah Nomor 02 Tahun 2003 Pasal 3 tentang pajak
hotel, yang dimaksud dengan Subjek pajak hotel adalah orang pribadi atau badan
yang melakukan pembayaran kepada orang pribadi atau badan yang mengusahakan
hotel.
2.3.5. Wajib Pajak Hotel
Dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang pajak daerah dan
retribusi daerah pasal 33, yang dimaksud dengan Wajib pajak hotel adalah
pengusaha hotel. Pengusaha hotel adalah orang pribadi atau badan yang
menyelenggarakan usaha hotel, penginapan atau jenis lainnya seperti gubuk
pariwisata (cottage), motel, wisma pariwisata, pesanggarahan (hostel), losmen,
guest house untuk dan atas namanya sendiri atau untuk dan atas nama pihak lain
yang menjadi tanggungannya.
2.3.6. Dasar Pengenaan dan Tarif Pajak Hotel
Dalam buku Peraturan Daerah Nomor 02 Tahun 2003 tentang pajak hotel
pada pasal 4, dasar pengenaan dan tarif pajak hotel adalah sebagai berikut :
a. Dasar pengenaan pajak adalah jumlah pembayaran kepada hotel.
b. Tarif pajak ditetapkan sebesar 10% (sepuluh persen).
c. Besarnya pajak terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif pajak yang
ditetapkan dengan Dasar Pengenaan Pajak.
2.3.7. Cara Penghitungan Pajak Hotel
Dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang pajak daerah dan
retribusi daerah pasal 36, cara menghitung besaran pokok pajak hotel yang terutang
adalah sebagai berikut :
Pajak terutang = Tarif x Dasar Pengenaan Pajak
Dasar pengenaan pajak hotel adalah jumlah pembayaran atau yang seharusnya
dibayar kepada hotel.
Contoh perhitungan pajak hotel ;
Tuan abu menginap selama 3 hari di hotel DS Bandung. Hotel tersebut termasuk
kedalam hotel kelas bintang 3 dengan tarif Rp. 400.000,00 per hari.
Catatan pembayaran sebagai berikut :
Jasa sewa kamar
Rp. 1.200.000,00
Makanan dan minuman
Rp.
300.000,00
Jasa laundry
Rp.
75.000,00
Jumlah
Rp. 1.575.000,00
Service charge 10%
Rp.
Jumlah pembayaran
Rp. 1.732.500,00
Pajak hotel 10%
Rp.
Total yang harus dibayar
Rp. 1.905.750,00
157.500,00
173.250,00
2.3.8. Tata Cara Pendaftaran Wajib pajak
Tata cara pendaftaran wajib pajak hotel tertuang dalam Peraturan Walikota
Nomor 330 tentang Tata cara pemungutan pajak daerah pasal 7 bagian kedua.
Menerangkan bahwa setiap wajib pajak yang baru membuka usaha wajib
mendaftarkan diri dan melaporkan usaha atau objek pajak dengan menggunakan
formulir pendaftaran wajib pajak ke Dinas Pendapatan. Formulir pendaftaran wajib
pajak dapat diperoleh Wajib Pajak atau Penanggung pajak dengan cara mengambil
sendiri, dikirim oleh petugas Dinas Pendapatan atau mengakses situs Dinas
pendapatan. Formulir tersebut harus diisi dengan benar, jelas dan lengkap serta
ditandatangani oleh Wajib Pajak atau Penanggung pajak dengan melampirkan
fotokopi identitas diri (KTP, SIM, Paspor), fotokopi akta pendirian (untuk badan
usaha) dan surat keterangan tempat kegiatan usaha dari instansi berwenang minimal
kelurahan. Formulir pendaftaran Wajib Pajak harus disampaikan ke Dinas
Pendapatan, paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum usahanya berlangsung. Terhadap
Wajib Pajak yang telah mendaftarkan diri dan melaporkan usahanya akan diberikan
Nomor Pokok Wajib Pajak Daerah (NPWPD).
Setelah Wajib Pajak memperoleh NPWPD, maka wajib pajak harus mengisi
Surat Pemberitahuan Pajak Daerah (SPTPD) dengan jelas, benar dan lengkap serta
ditandatangani oleh Wajib Pajak serta menyampaikan ke Dinas Pendapatan paling
lambat 5 (lima) hari setelah berakhirnya masa pajak bagi pajak yang dipungut
berdasarkan penetapan jabatan atau 10 (sepuluh) hari setelah berakhirnya masa pajak
bagi pajak yang dibayarkan sendiri. Apabila batas waktu penyerahan SPTPD jatuh
pada hari libur, maka batas waktu penyampaian SPTPD jatuh pada hari kerja
berikutnya. Setelah melewati batas waktu yang ditentukan, SPTPD belum juga
disampaikan maka dapat diberi surat teguran.
2.3.9. Masa Pajak
Dalam buku Peraturan Daerah Nomor 02 Tahun 2003 tentang pajak hotel
pasal 8 yang dimaksu masa pajak adalah sebagai berikut :
a. Masa pajak adalah 1 (satu) bulan takwim atau 1 (satu) bulan penuh dan/atau
jangka waktu lain yang ditetapkan oleh kepala daerah yaitu walikota.
b. Pajak terutang dalam masa pajak terjadi pada saat pelayanan di hotel.
c. Setiap wajib pajak dalam memungut pembayaran pajak hotel harus
mempergunakan nota pesanan/bill.
d. Nota pesanan/bill harus dicetak, diberi nomor seri, dan dipergunakan sesuai
dengan nomor urut.
e. Nota pesanan/bill baru dapat dipergunakan setelah dilegalisasi oleh walikota
atau pejabat yang ditunjuk.
f. Salinan nota pesanan/bill yang sudah dipergunakan harus disimpan oleh wajib
pajak dalam waktu setahun sebagai bukti dalam pembuatan Surat
Pemberitahuan Pajak Daerah (SPTPD).
2.3.10. Pembayaran dan Penagihan Pajak Hotel
Dalam Peraturan Walikota Nomor 330 Tahun 2008 tentang tata cara
pemungutan pajak daerah pasal 14 bagian satu menjelaskan tentang taa cara
pembayaran pajak hotel sebagai berikut :
Berdasarkan Surat Pemberitahuan Pajak Daerah (SPTPD), walikota atau
pejabat yang ditunjuk menetapkan pajak terutang dengan menerbitkan Surat
Ketetapan Pajak Daerah (SKPD). Pembayaran pajak harus dilakukan sekaligus atau
lunas dengan menggunakan Surat Setoran Pajak Daerah (SSPD). Pembayaran pajak
dilakukan pada bendahara penerima atau tempat lain yang ditunjuk walikota sesuai
waktu yang ditentukan dalam SPTPD dan SKPD.
Apabila pembayaran dilakukan di tempat lain yang ditunjuk, hasil penerimaan
pajak harus disetor ke kas daerah selambat-lambatnya 1 x 24 jam atau jangka waktu
lain yang ditentukan oleh Walikota. Dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sesudah
saat terutangnya pajak, Kepala Dinas Pendapatan atau pejabat yang ditunjuk dapat
menerbitkan SKPDKB, SKPKBT, SKPDN. Pajak yang terutang dilunasi selambatlambatnya 1 (satu) bulan sejak SKPD, SKPDKB, SKPDKBT, STPD, Surat
keputusan keberatan dan putusan banding yang menyebabkan jumlah pajak yang
harus dibayar bertambah.
Atas permohonan wajib pajak yang telah memenuhi persyaratan, Walikota
atau pejabat yang ditunjuk yang ditentukan dapat memberikan persetujuan kepada
wajib pajak untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak dengan dikenakan
bunga sebesar 2% (dua persen) setiap bulan. Tata cara pembayaran, penyetoran,
tempat pembayaran, angsuran dan penundaan pembayaran pajak diatur lebih lanjut
oleh walikota.
Sebagai awal tindakan pelaksanaan penagihan pajak walikota atau pejabat
yang ditunjuk mengeluarkan surat peringatan atau surat teguran atau surat lain yang
sejenis pada 7 (tujuh) hari kerja sejak saat jatuh tempo pembayaran. Dalam jangka
waktu 7 (tujuh) hari kerja setelah tanggal surat peringatan atau surat lain yang
sejenis, wajib pajak harus melunasi pajak yang terutang.
Apabila jumlah pajak yang belum dibayar tidak dilunasi dalam jangka waktu
yang telah ditentukan dalam surat peringatan atau surat sejenis, kepala Dinas
Pendapatan menerbitkan surat paksa setelah lewat 21 (dua puluh satu) hari kerja
sejak surat peringatan atau surat teguran dikeluarkan.
Download