aplikasi metode seismik refraksi untuk identifikasi

advertisement
APLIKASI METODE SEISMIK REFRAKSI
UNTUK IDENTIFIKASI PERGERAKAN TANAH
DI PERUMAHAN BUKIT MANYARAN PERMAI
(BMP) SEMARANG
skripsi
disajikan sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar Sarjana Sains
Program Studi Fisika
oleh
Endah Sulystyaningrum
4211410025
JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2014
ii
iii
iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
MOTTO:

Semakin banyak kita memperhatikan apa yang dikerjakan orang lain, semakin
banyak kita belajar sesuatu untuk diri kita sendiri (Isaac Basnevis)
PERSEMBAHAN :
 Terima kasih kepada Allah SWT atas semua
kenikmatan yang telah Engkau berikan kepada
hamba dan keluarga.
 Untuk Ayah, Ibu dan Adikku yang senantiasa
memberi doa, kasih sayang serta pengorbanan
yang begitu besar demi masa depanku.
 Seluruh keluarga besar Fisika 2010 dan temanteman yang selalu memberi doa, semangat,
dan dukungan.
 Almamaterku.
v
PRAKATA
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayah,
inayah dan karunia serta ridhoNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi
yang berjudul “Aplikasi Metode Seismik Refraksi Untuk Identifikasi Pergerakan
Tanah di Perumahan Bukit Manyaran Permai (BMP) Semarang”.
Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari
bantuan dan dukungan berbagai pihak, maka penulis mengucapkan terima kasih
kepada :
1. Rektor Universitas Negeri Semarang atas kesempatan yang diberikan kepada
penulis sehingga dapat menyelesaikan studinya.
2. Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam atas izin yang
diberikan kepada penulis untuk melakukan penelitian.
3. Ketua Jurusan Fisika atas kemudahan administrasi dalam menyelesaikan
skripsi ini.
4. Dr. Khumaedi M.Si sebagai dosen pembimbing I yang telah memberikan
pengarahan dan bimbingan dengan penuh kesabaran.
5. Dr. Supriyadi, M.Si. sebagai dosen pembimbing II yang telah memberikan
pengarahan dan bimbingan dengan penuh kesabaran.
6. Dr. Agus Yulianto, M.Si sebagai dosen penguji yang telah memberikan saran
dan masukan yang sangat berguna untuk penyempurnaan skripsi ini.
7. Bapak dan Ibu dosen yang telah memberikan bekal ilmu yang tak ternilai
harganya selama belajar di FMIPA UNNES.
vi
8. Bapak, Ibu, kakak dan adikku yang selalu memberi doa, bantuan, dan
dukungan serta semangat untuk saya selama ini.
9. Keluarga besarku yang selalu memberi semangat dan doa.
10. Kakak-kakak angkatan Fisika yang telah memberikan bantuan, dukungan dan
semangat untuk saya selama ini.
11. Teman-teman Fisika angkatan 2010 semuanya yang saya sayangi.
12. Teman-teman Fisika Bumi (Elie, Vio, Tamy, Dita, Eris, Farid, Hery, Dana,
Qosim, Syaiful, Ghufron, Tama) yang telah membantu dalam berjalannya
proses penelitian dan menyelesaikan skripsi.
13. Ika, Erma, Memey, Gita, Pipit, Nafi yang selalu memberiku motivasi.
Penulis sadar dengan apa yang telah disusun dan disampaikan masih banyak
kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk itu penulis menerima segala kritik dan
saran yang sifatnya membangun untuk skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat
bermanfaat bagi pembaca.
Semarang, 26 Agustus 2014
Penulis
vii
ABSTRAK
Sulystyaningrum, Endah. 2014. Aplikasi Metode Seismik Refraksi Untuk
Identifikasi Pergerakan Tanah di Perumahan Bukit Manyaran Permai (BMP)
Semarang. Skripsi, Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam Universitas Negeri Semarang. Pembimbing Utama Dr. Khumaedi, M.Si,
dan Pembimbing Pendamping Dr. Supriyadi, M.Si.
Kata kunci : Pergerakan Tanah, Seismik Refraksi, Plus Minus.
Perumahan Bukit Manyaran Permai (BMP) merupakan salah satu perumahan
yang memiliki kondisi tanah labil dan sering mengalami pergerakan tanah. Hal ini
di tandai dengan adanya pergeseran tanah yang menyebabkan bangunan dan jalan
menjadi rusak bahkan menjadi miring. Tujuan dari penelitian ini adalah
mengetahui struktur bawah permukaan dan potensi pergerakan tanah di lokasi
penelitian. Pengambilan data menggunakan metode seismik refraksi dengan
bentang In Line dan sapasi antar geophone 2 meter. Tahapan analisis data
menggunakan metode Plus Minus yang kemudian nilai kecepatan rambat
gelombang seismik diolah menggunakan CorelDRAW X5 dan software surfer.
Berdasarkan hasil interpretasi lintasan pertama mempunyai litologi material tanah
urug, pasir kering, pasir basah dengan kecepatan (416,667 m/s – 769,230 m/s)
pada kedalaman (1 m -5 m), tanah lempung dengan nilai kecepatan (1562,500 m/s
– 2173,319 m/s) pada kedalaman >5 m. Lintasan kedua mempunyai litologi
berupa material tanah urug, pasir kering, pasir basah dengan kecepatan (238,095
m/s – 925,926 m/s) pada kedalaman (0,8 m -5,2 m), sedangkan tanah lempung
dengan kecepatan (1041,670 m/s – 2088,330 m/s) pada kedalaman >5,2 m.
Lintasan ketiga mempunyai litologi berupa material tanah urug, pasir kering, pasir
basah dengan kecepatan (290,689 m/s – 952,381 m/s) pada kedalaman (2,8 m - 6
m), tanah lempung dengan nilai kecepatan (1250 m/s – 1923,080 m/s) pada
kedalaman >6 m. Lokasi penelitian berpotensi mengalami pergerakan tanah ke
arah barat laut. Hal ini dikarenakan lokasi penelitian memiliki struktur geologi
bawah permukaan berupa lapisan pasir dan lapisan lempung. Keberadaan lapisan
pasir di atas lapisan lempung, dimana lapisan lempung merupakan lapisan yang
stabil dan kedap air, sehingga memungkinkan lapisan pasir mudah bergerak
dengan adanya pengaruh gaya endogen maupun eksogen.
viii
DAFTAR ISI
Halaman
PRAKATA... ...................................................................................................... vi
ABSTRAK ......................................................................................................... viii
DAFTAR ISI ...................................................................................................... ix
DAFTAR TABEL ............................................................................................. xii
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... xv
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ........................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................... 4
1.3 Tujuan Penelitian .................................................................................... 5
1.4 Manfaat Penelitian .................................................................................. 5
1.5 Batasan Penelitian ................................................................................... 5
1.6 Sistematika Penulisan Skripsi ................................................................. 6
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Geologi Bukit Manyaran Permai Semarang ........................................... 7
2.2 Gerakan Tanah ........................................................................................ 9
2.2.1
Jenis-Jenis Gerakan Tanah .......................................................... 9
2.2.2
Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah .................. 10
2.3 Gelombang Seismik ................................................................................ 12
2.4 Metode Seismik....................................................................................... 13
ix
2.5 Metode Seismik Refraksi ........................................................................ 14
2.6 Metode Analisis Data .............................................................................. 18
BAB 3 METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ................................................................. 21
3.2 Peralatan yang Digunakan....................................................................... 22
3.3 Variabel Penelitian .................................................................................. 23
3.4 Akuisisi Data ........................................................................................... 24
3.4.1
Persiapan Pra Lapangan .............................................................. 24
3.4.2
Persiapan Lapangan ..................................................................... 24
3.4.3
Pengambilan Data ........................................................................ 25
3.5 Proses Pengolahan Data .......................................................................... 26
3.5.1
Pengolahan 2D menggunakan Software Surfer10 ....................... 26
3.5.2
Pengolahan menggunakan CorelDrawX5 ................................... 29
3.6 Interpretasi Data ...................................................................................... 32
3.7 Diagram Alir Penelitian .......................................................................... 33
BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian ....................................................................................... 34
4.1.1
Hasil Perhitungan Menggunakan Metode Plus Minus ................ 35
4.1.2
Hasil Pengolahan Penampang 2D Menggunakan Software Surfer
10 ................................................................................................. 37
4.1.3
Hasil Pengolahan Berdasarkan Bidang Batas Lapisan................ 39
4.2 Pembahasan ............................................................................................. 41
x
BAB 5 PENUTUP
5.1 Kesimpulan .............................................................................................46
5.2 Saran ........................................................................................................47
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 48
LAMPIRAN ....................................................................................................... 50
xi
DAFTAR TABEL
Tabel
Halaman
Tabel 2.1. Data Kecepatan Gelombang Primer Pada Beberapa Medium .......... 15
Tabel 4.1. Data Kecepatan Rambat Gelombang Seismik Refraksi .................... 35
Tabel 4.2. Litologi Bawah Permukaan Berdasarkan Hasil Interpretasi MasingMasing Lintasan ................................................................................ 38
Tabel 4.3. Litologi Batuan Bawah Permukaan pada Lintasan 1 ........................ 39
Tabel 4.4. Litologi Batuan Bawah Permukaan pada Lintasan 2 ........................ 39
Tabel 4.5. Litologi Batuan Bawah Permukaan pada Lintasan 3 ........................ 41
Tabel 4.6. Litologi Bawah Permukaan Berdasarkan Hasil Interpretasi ............. 45
xii
DAFTAR GAMBAR
Gambar
Halaman
Gambar 2.1. Peta Geologi Kota Semarang Jawa Tengah ................................... 8
Gambar 2.2. Pembiasan dengan Sudut Kritis ..................................................... 17
Gambar 2.3. Ilustrasi Dua Lapisan Metode Plus Minus untuk Analisis Plus Time
........................................................................................................ 19
Gambar 2.4. Analisis Minus Time untuk Mencari Informasi Kecepatan V2 ..... 20
Gambar 3.1. Posisi Lintasan Saat Pengambilan Data di Lapangan .................... 21
Gambar 3.2. Peralatan yang Digunakan.............................................................. 23
Gambar 3.3. Skema Pemasangan Alat Seismograph OYO McSeis-SX 3 channel
........................................................................................................ 25
Gambar 3.4. Jendela Surfer10 ............................................................................... 27
Gambar 3.5 Grid Data ........................................................................................ 27
Gambar 3.6. Plot Lintasan 1 ............................................................................... 28
Gambar 3.7. Property Manager – Map: Contour.................................................... 28
Gambar 3.8. Hasil Pengolahan per-Lintasan........................................................... 29
Gambar 3.9. Jendela CorelDrawX5 .................................................................... 30
Gambar 3.10. Tampilan Untitled-1 ..................................................................... 30
Gambar 3.11. Membuat Tampilan Persegi Empat ................................................... 31
Gambar 3.12. Hasil Pemodelan Bidang Batas Antar Lapisan................................... 31
Gambar 3.13. Hasil Pengolahan Sudut Kemiringan Bidang Gelincir ........................ 32
Gambar 3.14. Diagram Alir Penelitian ............................................................... 33
xiii
Gambar 4.1. Grafik Hubungan Antara Jarak (m) dan Waktu (ms) pada Lintasan 1
........................................................................................................ 36
Gambar 4.2. Grafik Hubungan Antara Jarak (m) dan Waktu (ms) pada Lintasan 2
........................................................................................................ 36
Gambar 4.3. Grafik Hubungan Antara Jarak (m) dan Waktu (ms) pada Lintasan 3
........................................................................................................ 37
Gambar 4.4. Peta Kontur Penampang Bawah Permukaan 2D Nilai Kedalaman dan
Nilai Kecepatan pada Lintasan 1 dengan Surfer 10 ...................... 37
Gambar 4.5. Peta Kontur Penampang Bawah Permukaan 2D Nilai Kedalaman dan
Nilai Kecepatan pada Lintasan 2 dengan Surfer 10 ...................... 38
Gambar 4.6. Peta Kontur Penampang Bawah Permukaan 2D Nilai Kedalaman dan
Nilai Kecepatan pada Lintasan 3 dengan Surfer 10 ...................... 38
Gambar 4.7. Model Penampang Bawah Permukaan Beserta Perbedaan Kecepatan
Gelombang pada Setiap Lapisan pada Lintasan 1.......................... 39
Gambar 4.8. Model Penampang Bawah Permukaan Beserta Perbedaan Kecepatan
Gelombang pada Setiap Lapisan pada Lintasan 2.......................... 40
Gambar 4.9. Model Penampang Bawah Permukaan Beserta Perbedaan Kecepatan
Gelombang pada Setiap Lapisan pada Lintasan 3.......................... 41
Gambar 4.10. Peta Kontur Penampang Bawah Permukaan 2D Kedalaman Dan
Nilai Kecepatan Pada Masing-Masing Lintasan Dengan Software
Surfer 10 ......................................................................................... 43
xiv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran
Halaman
1.
Pengolahan Data Seismik Refraksi .............................................................. 50
2.
Dokumentasi Penelitian .............................................................................. 59
xv
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Kota Semarang merupakan Ibukota Provinsi Jawa Tengah. Sebagai kota
yang terletak di pesisir utara Pulau Jawa, Semarang mempunyai kondisi topografi
berupa daerah datar dan daerah berbukit-bukit. Kota Semarang juga memiliki
kekayaan alamnya yang masih asri, akan tetapi ada beberapa daerah rawan terjadi
bencana alam seperti banjir maupun kekeringan hingga pergerakan tanah dan
tanah longsor.
Seiring berjalannya waktu, banyak terjadi kerusakan lingkungan yang
salah satunya diakibatkan oleh ulah manusia sendiri. Seperti bencana alam yang
sudah menjadi kehendak Tuhan yang tidak dapat dihindarkan oleh manusia.
Bencana alam merupakan peristiwa alam yang dapat terjadi setiap saat dimana
saja dan kapan saja, yang menimbulkan kerugian material dan imaterial bagi
kehidupan masyarakat (Effendi, 2008). Salah satu bencana alam yang sering
terjadi di daerah pegunungan yaitu pergerakan tanah dan tanah longsor. Bencana
longsor dapat terjadi karena adanya pergerakan tanah yang mungkin diakibatkan
oleh gerakan tanah yang sangat keras sehingga dapat memacu terjadinya tanah
longsor.
Gerakan tanah merupakan bencana alam geologi yang paling sering
menimbulkan kerugian, seperti jalan raya rusak, kerusakan tata lahan, bangunan
1
2
perumahan, bahkan sampai merenggut korban manusia. Tanah longsor umumnya
terjadi di wilayah pegunungan (mountainous area), terutama di saat musim hujan,
yang dapat mengakibatkan kerugian harta benda maupun korban jiwa dan
menimbulkan kerusakan sarana dan prasarana lainnya seperti perumahan, industri,
dan lahan pertanian yang berdampak pada kondisi sosial masyarakatnya dan
menurunnya perekonomian di suatu daerah (Effendi, 2008).
Menurut Fuchu et al, sebagaimana dikutip oleh Pareta (2012) dalam jurnal
internasional “tanah longsor pada daerah pegunungan sering terjadi setelah adanya
hujan deras, yang mengakibatkan hilangnya nyawa dan kerusakan lingkungan
atau bangunan”. Hal tersebut tidak dapat diduga kapan akan terjadi bencana alam,
seperti banjir dan tanah longsor yang mengakibatkan adanya pergerakan tanah
yang terjadi pada daerah dataran tinggi khususnya di daerah Bukit Manyaran
Permai (BMP) Semarang. Gerakan tanah tersebut dapat menimbulkan reaksi yang
mengakibatkan getaran pada dinding bangunan sehingga apabila pondasi dari
bangunan tersebut tidak kuat/kokoh maka bangunan tersebut akan mudah rusak,
dan tanah yang ada pada dasar bangunan tersebut akan mudah untuk longsor.
Bencana tanah longsor di Indonesia umumnya terjadi pada musim penghujan.
Hujan memicu tanah longsor melalui penambahan beban lereng dan penurunan
kuat geser tanah (Soenarmo dkk., 2008).
Tanah longsor biasanya bergerak pada suatu bidang tertentu yang disebut
bidang gelincir. Bidang gelincir berada diantara bidang yang stabil (bedrock) dan
bidang yang bergerak (bidang yang tergelincir) (Priyantari, 2012). Bidang gelincir
sendiri merupakan bidang yang kedap air dan licin yang biasanya berupa lapisan
3
lempung. Bidang gelincir tersebut secara umum berada di bawah permukaan
bumi.
Berdasarkan hasil penelitian Windraswara dan Widowati (2010), Tujuh dari
16 kecamatan di Kota Semarang memiliki titik-titik rawan longsor. Ketujuh
kecamatan tersebut adalah Manyaran, Gunungpati, Gajahmungkur, Tembalang,
Ngaliyan, Mijen, dan Tugu. Kontur tanah di kecamatan-kecamatan tersebut
sebagian adalah perbukitan dan daerah patahan dengan struktur tanah yang labil.
Salah satu perumahan yang memiliki titik rawan longsor yaitu Perumahan
Bukit Manyaran Permai (BMP) Semarang yang terletak di Kelurahan Sadeng,
Kecamatan Gunungpati, Semarang. Hal ini di tandai dengan adanya pergeseran
tanah yang menyebabkan bangunan dan jalan yang menjadi rusak bahkan menjadi
miring. Pergerakan tanah di wilayah ini telah terjadi sejak beberapa tahun lalu.
Antisipasi jangka pendek berupa penanaman pohon keras sudah dilakukan, namun
upaya ini sia-sia karena pergerakan tanah sangat cepat (Wibisono, 2013).
Mengingat dampak yang ditimbulkan oleh bencana pergerakan tanah
tersebut, maka identifikasi pergerakan tanah dilakukan agar dapat diketahui
faktor-faktor yang mempengaruhi pergerakan tanah di lokasi penelitian. Karena
alasan inilah daerah tersebut dipilih sebagai lokasi penelitian untuk mengetahui
struktur bawah permukaan dan potensi pergerakan tanah di daerah perumahan
Bukit Manyaran Permai (BMP) Semarang.
Salah satu metode geofisika yang digunakan yaitu Metode Seismik
Refraksi. Menurut Docherty dan Boschettin et al., sebagaimana dikutip oleh
Enikanselu (2008). Metode seismik biasanya digunakan dalam menentukan
4
struktur lapisan. Hal ini disebabkan Metode Seismik mempunyai ketepatan serta
resolusi yang tinggi di dalam menentukan struktur geologi. Beberapa keunggulan
dari metode seismik bisa digunakan untuk mendeteksi variasi lateral maupun
kedalaman dalam parameter fisis yang relevan yaitu kecepatan seismik,
memungkinkan untuk mendeteksi langsung keberadaan hidrokarbon, dan bisa
menghasilkan citra kenampakan struktur bawah permukaan. Metode seismik
refraksi digunakan untuk mendapatkan informasi mengenai struktur geologi
bawah permukaan. Metode ini didasarkan pada sifat penjalaran gelombang yang
mengalami
refraksi dengan sudut kritis yaitu bila dalam perambatannya,
gelombang tersebut melalui bidang batas yang memisahkan suatu lapisan dengan
lapisan yang di bawahnya, yang mempunyai kecepatan gelombang lebih besar.
Parameter yang diamati adalah karakteristik waktu tiba gelombang pada masingmasing geophone (Wahyuningsih dkk., 2006).
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dirumuskan permasalahan
penelitian sebagai berikut :
1. Bagaimana kondisi struktur bawah permukaan di Perumahan Bukit Manyaran
Permai (BMP) Semarang?
2. Bagaimana cara mengetahui potensi pergerakan tanah di daerah penelitian
menggunakan metode seismik refraksi?
5
1.3
Tujuan Penelitian
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah :
1. Mengetahui kondisi struktur bawah permukaan perumahan Bukit Manyaran
Permai (BMP) Semarang.
2. Mengetahui potensi
pergerakan tanah di lokasi penelitian menggunakan
metode seismik refraksi.
1.4
Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah :
1. Memberikan informasi struktur bawah permukaan perumahan Bukit
Manyaran Permai (BMP) Semarang.
2. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi potensi terjadinya pergerakan
tanah di perumahan Bukit Manyaran Permai (BMP) Semarang.
1.5
Batasan Masalah
Batasan dalam penelitian ini adalah :
1. Lokasi penelitian adalah di Perumahan Bukit Manyaran Permai (BMP)
Semarang.
2. Metode geofisika yang digunakan adalah metode seismik refraksi. Metode ini
dipilih karena digunakan untuk menentukan litologi dan struktur geologi yang
relatif dangkal.
3. Pengambilan data di lapangan menggunakan teknik bentang In Line.
6
1.6
Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan skripsi disusun untuk memudahkan pemahaman
tentang struktur dan isi skripsi. Penulisan skripsi ini terdiri dari tiga bagian yaitu:
bagian awal skripsi, bagian isi skripsi, dan bagian akhir skripsi.
1.
Bagian awal skripsi berisi tentang lembar judul, persetujuan pembimbing,
lembar pengesahan, lembar pernyataan, motto dan persembahan, kata
pengantar, abstrak, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, dan lampiran.
2.
Bagian isi skripsi terdiri dari :
Bab I
: Pendahuluan yang berisi tentang latar belakang masalah, rumusan
masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, pembatasan
masalah, dan sistematika skripsi.
Bab II
: Tinjauan Pustaka terdiri dari kajian mengenai landasan teori yang
mendasari penelitian.
Bab III
: Metode Penelitian berisi waktu dan tempat pelaksanaan
penelitian, desain penelitian, peralatan yang digunakan, variabel
penelitian, pengolahan data, interpretasi data dan diagram alir
penelitian.
Bab IV
: Hasil dan Pembahasan berisi tentang hasil-hasil penelitian dan
pembahasannya.
Bab V
3.
: Penutup berisi tentang kesimpulan dan saran.
Bagian akhir skripsi terdiri atas daftar pustaka dan lampiran.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Geologi Bukit Manyaran Permai Semarang
Perumahan Bukit Manyaran Permai (BMP) dibangun di atas lahan seluas
. Perumahan ini terletak di kawasan Manyaran Kelurahan Sadeng,
Kecamatan Gunungpati, Semarang. Kecamatan Gunungpati memiliki luas wilayah
. Kecamatan tersebut terletak di bagian selatan kota Semarang yang
merupakan wilayah perbukitan, sebagian besar wilayahnya masih memiliki
potensi pertanian dan perkebunan.
Berdasarkan Peta Geologi Kota Semarang (Gambar 2.1), struktur bawah
permukaan Perumahan Bukit Manyaran Permai yang berada di Kelurahan Sadeng
Kecamatan Gunungpati Semarang ini terdiri atas batuan sedimen Qtdk (satuan
konglomerat polomik Formasi Damar) dan Tmk (satuan batu lempung biru
Formasi Kalibiuk). Formasi Damar terdiri dari batu pasir tufan, konglomerat,
breksi vulkanik. Batu pasir mengandung mineral mafik, felspar dan kuarsa. Breksi
vulkanik mungkin diendapkan sebagai lahar. Formasi Kalibiuk/Kerek terdiri dari
batu lempung, napal, batu pasir tufan, konglomerat, breksi vulkanik dan batu
gamping. Batu lempung, kelabu muda tua, gampingan, sebagian bersisipan
dengan batu lanau atau batu pasir.
7
8
9
2.2
Gerakan Tanah
Gerakan tanah adalah suatu proses gangguan keseimbangan lereng yang
menyebabkan bergeraknya massa tanah dan batuan ke tempat yang lebih rendah.
Gaya yang menahan massa tanah di sepanjang lereng tersebut dipengaruhi oleh
sifat fisik tanah dan sudut dalam tahanan geser tanah yang bekerja di sepanjang
lereng. Perubahan gaya-gaya tersebut ditimbulkan oleh pengaruh perubahan alam
maupun tindakan manusia.
Proses terjadinya pergerakan tanah/tanah longsor dapat diterangkan
sebagai berikut : air yang meresap ke dalam tanah akan menambah bobot tanah.
Jika air tersebut menembus sampai tanah kedap air yang berperan sebagai bidang
gelincir, maka tanah menjadi licin dan tanah pelapukan di atasnya akan bergerak
mengikuti lereng dan luar lereng (Nandi, 2007).
2.2.1 Jenis-Jenis Gerakan Tanah
Menurut Cruden dan Varnes, sebagaimana dikutip Hardiyatmo (2006),
jenis-jenis gerakan tanah dapat dibagi menjadi lima macam, yaitu sebagai berikut:
(a) Jatuhan (falls)
Jatuhan (falls) adalah bergeraknya massa tanah dan batuan pada bidang
gelincir berbentuk rata atau menggelombang landai.
(b) Robohan (topples)
Robohan (topples) adalah bergeraknya massa tanah dan batuan pada
bidang gelincir berbentuk cekung.
10
(c) Longsoran (slides)
Longsoran (slides) adalah perpidahan batuan yang bergerak pada bidang
gelincir berbentuk rata.
(d) Sebaran (spreads)
Sebaran (spreads) adalah kombinasi dari meluasnya massa tanah dan
turunnya massa batuan terpecah-pecah ke dalam material lunak di dalamnya.
(e) Aliran (flows)
Aliran (flows) adalah gerakan hancuran material kebawah lereng dan
mengalir seperti cairan kental. Aliran sering terjadi dalam bidang geser relatif
sempit.
2.2.2 Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah
Salah satu faktor penyebab terjadinya pergerakan tanah yang sangat
berpengaruh adalah adanya bidang gelincir (slip surface) atau bidang geser
(shear surface) (Sy, 2013). Bidang gelincir sendiri merupakan bidang yang kedap
air dan licin yang biasanya berupa lapisan lempung. Menurut Nandi (2013),
beberapa faktor lain penyebab terjadinya gerakan tanah yaitu:
(a) Hujan
Intensitas hujan yang tinggi biasanya sering terjadi, sehingga kandungan
air pada tanah menjadi jenuh dalam waktu yang singkat. Hujan lebat dapat
menimbulkan longsor karena melalui tanah yang merekah, air akan masuk dan
terakumulasi dibagian dasar lereng, sehingga menimbulkan gerakan lateral.
11
(b) Tanah yang kurang padat dan tebal
Tanah yang kurang padat adalah tanah lempung atau tanah liat. Tanah
jenis ini memiliki butiran tanah yang terpecah-pecah secara halus dalam keadaan
kering atau hawa terlalu panas dan menjadi lembek ketika terkena air karena
tekstur tanahnya cenderung lengket dalam keadaan basah. Sehingga sangat rentan
terhadap pergerakan tanah.
(c) Batuan yang kurang kuat
Batuan endapan gunung api dan sedimen berukuran pasir dan campuran
antara kerikil, pasir, dan lempung umumnya kurang kuat. Batuan tersebut akan
mudah menjadi tanah apabila mengalami proses pelapukan dan umumnnya rentan
terhadap tanah longsor bila terdapat pada lereng yang terjal.
(d) Getaran
Getaran biasanya diakibatkan oleh gempa bumi, ledakan, getaran mesin,
dan getaran lalu lintas kendaraan. Akibat yang ditimbulkan adalah tanah, badan
jalan, lantai, dan dinding rumah menjadi retak.
(e) Adanya beban tambahan
Adanya beban tambahan seperti beban bangunan pada lereng, dan
kendaraan akan memperbesar gaya pendorong terjadinya longsor. Akibatnya
adalah sering terjadi penurunan tanah dan retakan.
(f) Pengikisan/erosi
Pengkisan banyak dilakukan oleh air sungai ke arah tebing. Selain itu akibat
penggundulan hutan di sekitar tikungan sungai, tebing akan menjadi terjal.
12
1.3
Gelombang Seismik
Gelombang seismik merupakan gelombang yang merambat melalui bumi.
Perambatan gelombang ini bergantung pada sifat elastisitas batuan. Gelombang
seismik ada yang merambat melalui interior bumi yang disebut sebagai body
wave, dan ada juga yang merambat melalui permukaan bumi yang disebut surface
wave. Body wave dibedakan menjadi dua berdasarkan pada arah getarnya.
Gelombang P (Longitudinal) merupakan gelombang yang arah getarnya searah
dengan arah perambatan gelombang, sedangkan gelombang yang arah getarnya
tegak lurus dengan arah rambatannya disebut gelombang S (Transversal). Surface
wave terdiri atas Rayleigh wave (ground roll) dan Love wave (Telford et al.,
1976).
Gelombang seismik mempunyai sifat yang sama dengan sifat gelombang
cahaya, sehingga hukum-hukum yang berlaku untuk gelombang cahaya berlaku
juga untuk gelombang seismik. Hukum-hukum tersebut antara lain :
a.
Prinsip Huygens
Menurut Susilawati (2004), prinsip Huygens dalam metode seismik refraksi
diasumsikan bahwa Titik-titik yang dilewati gelombang akan menjadi gelombang
baru. Muka gelombang (wavefront) yang menjalar menjauhi sumber adalah
superposisi dari beberapa muka gelombang yang dihasilkan oleh sumber
gelombang baru tersebut.
b.
Asas Fermat
Prinsip Fermat yang lebih lengkap dan lebih umum dinyatakan pertama kali
oleh ahli matematika Prancis Pierre de Fermat pada abad ke-17 yang menyatakan
13
bahwa lintasan yang dilalui oleh cahaya untuk merambat dari satu titik ke titik lain
adalah sedemikian rupa sehingga waktu perjalanan itu tidak berubah sehubungan
dengan variasi-variasi dalam lintasan tersebut (Tipler, 2001).
c.
Hukum Snellius
Bunyi hukum Snellius yaitu Gelombang akan dipantulkan atau dibiaskan
pada bidang batas antara dua medium (Susilawati, 2004). Hal ini menyatakan
bahwa gelombang yang jatuh diatas bidang batas dua medium yang mempunyai
perbedaan densitas, maka gelombang tersebut akan dibiaskan jika sudut datang
gelombang lebih kecil atau sama dengan sudut kritisnya. Gelombang akan
dipantulkan jika sudut datangnya lebih besar dari sudut kritisnya. Dengan
persamaan hukum Snellius sebagai berikut :
(2.1)
Dimana :
i = sudut datang
r = sudut bias
V1= kecepatan gelombang pada medium 1
V2= kecepatan gelombang pada medium 2
1.4
Metode Seismik
Metode seismik merupakan metode geofisika yang memanfaatkan
perambatan gelombang seismik ke dalam bumi (Setiawan, 2008). Metode seismik
merupakan salah satu bagian dari seismologi eksplorasi yang dikelompokkan
dalam
metode
geofisika
aktif,
dimana
pengukuran
dilakukan
dengan
14
menggunakan getaran seismik (palu/ledakan). Setelah usikan diberikan, terjadi
gerakan gelombang di dalam medium (tanah/batuan) yang memenuhi hukumhukum elastisitas ke segala arah dan mengalami pemantulan ataupun pembiasan
akibat munculnya perbedaan kecepatan.
Pada metode seismik, komponen gelombang seismik yang direkam oleh
alat perekam berupa waktu datang gelombang seismik. Setelah waktu datang
diukur, sehingga dapat digunakan untuk mendapatkan waktu tempuh gelombang
seismik yang berguna memberi informasi mengenai kecepatan seismik dalam
suatu lapisan.
Gelombang seismik merambat dari sumber ke penerima melalui lapisan
bumi dan mentransfer energi sehingga dapat menggerakkan partikel batuan.
Kemampuan besar partikel batuan untuk bergerak jika dilewati gelombang
seismik menentukan kecepatan gelombang seismik pada lapisan batuan tersebut
(Aissa, 2008).
Dalam menentukan litologi batuan dan struktur geologi, metode seismik
dikategorikan menjadi dua bagian yaitu metode seismik refleksi dan metode
seismik refraksi. Metode seismik refleksi biasanya digunakan untuk menentukan
litologi batuan dan struktur geologi pada kedalaman yang dalam, sedangkan
metode seismik refraksi digunakan untuk menentukan litologi dan struktur
geologi yang relatif dangkal.
1.5
Metode Seismik Refraksi
Metode seismik refraksi yang di ukur adalah waktu tempuh gelombang
dari sumber menuju geophone. Berdasarkan bentuk kurva waktu tempuh terhadap
15
jarak, dapat ditafsirkan kondisi batuan di daerah penelitian. Pada (Tabel 2.1)
menunjukkan data kecepatan gelombang primer pada beberapa medium.
Tabel 2.1 Data Kecepatan Gelombang Primer Pada Beberapa Medium (Burger
dalam Setiawan, 2008)
Material
P velocity (m/s)
Air
331,5
Water
1400-1600
Weathered Layered
300-900
Soil
250-600
Alluvium
500-2000
Clay
1000-2500
Sand (Unsaturated)
200-1000
Sand (Saturated)
800-2200
Sand and Gravel Unsaturated
400-500
Sand and Gravel Saturated
500-1500
Glacial Till Unsaturated
400-1000
Glacial Till Saturated
1500-2500
Granite
5000-6000
Basalt
5400-6400
Metamorphic Rock
3500-7000
Sandstone and Shale
2000-4500
Limestone
2000-6000
Pada metode ini,
gelombang yang terjadi
setelah
sinyal pertama
(firstbreak) diabaikan, karena gelombang seismik refraksi merambat paling cepat
dibandingkan dengan gelombang lainnya kecuali pada jarak offset yang relatif
dekat sehingga yang dibutuhkan adalah waktu pertama kali gelombang diterima
oleh setiap geophone.
Parameter jarak dan waktu penjalaran gelombang dihubungkan dengan
cepat rambat gelombang dalam medium. Besarnya kecepatan rambat gelombang
tersebut dikontrol oleh sekelompok konstanta fisis yang ada dalam material yang
16
dikenal sebagai parameter elastisitas (Nurdiyanto, 2011). Elastisitas batuan yang
berbeda-beda menyebabkan gelombang merambat melalui lapisan batuan dengan
kecepatan yang berbeda-beda.
Untuk memahami penjalaran gelombang seismik pada batuan bawah
permukaan digunakan beberapa asumsi. Beberapa asumsi yang digunakan yaitu
(Setiawan, 2008) :
1.
Panjang gelombang seismik yang digunakan jauh lebih kecil dibandingkan
ketebalan lapisan batuan. Dengan kondisi seperti ini memungkinkan setiap
lapisan batuan akan terdeteksi.
2.
Gelombang seismik dipandang sebagai sinar yang memenuhi hukum
Snellius dan prinsip Huygens. Menurut Snellius, gelombang akan
dipantulkan atau dibiaskan pada bidang batas antara dua medium yang
berbeda sedangkan dalam prinsip Huygens, titik yang dilewati gelombang
akan menjadi gelombang baru. Muka gelombang (wavefront) yang menjalar
menjauhi sumber adalah superposisi dari beberapa muka gelombang yang
dihasilkan oleh sumber gelombang baru tersebut.
3.
Medium bumi dianggap berlapis-lapis dan tiap lapisan menjalarkan
gelombang seismik dengan kecepatan yang berbeda.
4.
Pada bidang batas antar lapisan (interface), gelombang seismik menjalar
dengan kecepatan gelombang pada lapisan dibawahnya.
5.
Makin bertambahnya kedalaman lapisan batuan maka semakin kompak
batuannya
sehingga
kecepatan
bertambahnya kedalaman.
gelombang
pun
bertambah
seiring
17
Metode seismik refraksi menerapkan waktu tiba pertama gelombang dalam
perhitungannya. Gelombang P memiliki kecepatan lebih besar dibandingkan
dengan kecepatan gelombang S sehingga waktu datang gelombang P yang
digunakan dalam perhitungan. Gelombang seismik refraksi yang dapat terekam
oleh receiver pada permukaan bumi hanyalah gelombang seismik refraksi yang
merambat pada batas antar lapisan batuan. Hal ini hanya dapat terjadi jika sudut
datang merupakan sudut kritis atau ketika sudut bias tegak lurus dengan garis
normal (r = 90o sehingga sin r =1). Hal ini sesuai dengan asumsi awal bahwa
kecepatan lapisan dibawah interface lebih besar dibandingkan dengan kecepatan
diatas interface (Nurdiyanto, 2011).
Gelombang seismik berasal dari sumber seismik merambat dengan
kecepatan v1 menuju bidang batas (A), kemudian gelombang dibiaskan dengan
sudut datang kritis sepanjang interface dengan kecepatan v2 (Gambar 2.2).
Dengan menggunakan prinsip Huygens pada interface, gelombang ini kembali ke
permukaan sehingga dapat diterima oleh penerima yang ada di permukaan.
Penerima
Sumber Seismik
1
Lapisan 1
Lapisan 2
i
A
3
i
v1
v2
2
B
Gambar 2.2 Pembiasan dengan Sudut Kritis (Telford et al., 1976)
18
Gelombang yang dapat ditangkap oleh receiver dapat berupa gelombang langsung
(direct wave), gelombang refleksi (reflection wave), ataupun gelombang refraksi
(refraction wave). Untuk jarak offset (jarak geophone dengan sumber seismik)
yang relatif dekat, gelombang yang paling cepat diterima oleh receiver adalah
gelombang langsung dan gelombang yang paling lama diterima adalah gelombang
refleksi (Setiawan, 2008).
Tahapan akhir dalam metode seismik refraksi adalah membuat atau
melakukan interpretasi hasil dari survei menjadi data bawah permukaan yang
akurat. Data-data waktu dan jarak dari kurva travel time diterjemahkan menjadi
suatu penampang seismik, dan akhirnya dijadikan menjadi penampang geologi
(Nurdiyanto, 2011).
1.6
Metode Analisis Data
Pada proses analisis data, metode yang digunakan yaitu metode Plus-
Minus. Metode Plus-Minus merupakan turunan dari metode delay time. Metode
ini menggunakan dua jenis analisis, yaitu : analisis Plus Time (untuk analisis
kedalaman) bisa dilihat pada (Gambar 2.3), analisis Minus Time (untuk analisis
kecepatan).
1) Analisis Plus Time (T+)
Plus Time adalah jumlah waktu rambat gelombang dari sumber forward
dan sumber reverse dikurangi waktu total. Tujuannya yaitu untuk analisis
kedalaman (depth).
19
Plus Minus Time analysis window
Traveltime
THA
TAH
THD
TAD
Sf
Xf
D
Xr
Sr
Coordinat
Depth
A
V1
𝜃𝐶
V2
𝜃𝐶
B
C
𝜃𝐶 D
Z1D
H
𝜃𝐶
E
F
𝜃𝐶
G
Gambar 2.3 Ilustrasi Dua Lapisan Metode Plus Minus untuk Analisis Plus Time
Plus Time dapat dirumuskan dengan,
T+D = TAD + THD -TAH
Sehingga disederhanakan menjadi,
T+D = TCD – TCE + TFD - TEF
Kemudian disederhanakan lagi menjadi,
T+D = 2[
(
)]
Maka diperoleh kedalaman di titik D,
[(
) ( )]
(
(
))
Sedangkan untuk mencari kecepatan V1 di dapat dari inverse slope
gelombang arrival lapisan pertama (Sf ke Xf atau Sr ke Xr).
20
2) Analisis Minus Time (T-)
Minus Time adalah pengurangan waktu rambatan gelombang dari sumber
forward di jumlahkan dengan pengurangan waktu rambat gelombang dari sumber
reverse. Analisis ini digunakan untuk mendeterminasi kecepatan refraktor (V2).
Untuk analisis Minus Time bisa ditunjukkan seperti pada Gambar 2.4.
depth
A
D
𝑥
D’
H
V1
V2
B C C’
F F’ G
Gambar 2.4 Analisis Minus Time untuk Mencari Informasi Kecepatan V2
Berdasarkan gambar diatas didapat persamaan Minus Time yaitu :
T-D = TAD – THD - TAH
V2 dapat dicari dengan analisis geophone D dan D’ dipisahkan oleh jarak
, maka :
T-D’ = TAD’ – THD’ - TAH
Kemudian kurangkan T-D dengan T-D’ , maka :
T-D’ - T-D = TAD’ – TAD + THD – THD’
Dimana,
TAD’ – TAD dan THD – THD’ sama dengan X/V2
Artinya kecepatan V2 sama dengan dua kali inverse slope-nya di dalam
window analisis Plus Minus. Sehingga :
T-D’ - T-D = T-D = 2( X)/V2
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1
Waktu dan Tempat Penelitian
Proses pengambilan data di lapangan dilaksanakan pada tanggal 10
November 2013 di Perumahan Bukit Manyaran Permai (BMP) Kelurahan Sadeng,
Kecamatan Gunungpati, Semarang. Pada Gambar 3.1 menunjukkan posisi lintasan
pada pengambilan data seismik refraksi. Jarak spasi antar lintasan yaitu 10 meter.
Tiap lintasan mempunyai panjang 43 meter, dengan spasi antar geophone yaitu 2
meter.
Line 3
Line 2
Line 1
Gambar 3.1 Posisi Lintasan Saat Pengambilan Data di Lapangan
21
22
3.2
Peralatan yang Digunakan
Adapun peralatan yang digunakan dalam proses akuisisi data dilapangan
dengan menggunakan metode seismik refraksi dalam penelitian ini antara lain
(Gambar 3.2) adalah : (1) Seismograph OYO McSeis-SX 3 channel, (2) geophone,
(3) palu, (4) lempeng besi, (5) kabel trigger, (6) GPS (Global Positioning System),
(7) meteran, (8) kompas.
Keterangan dan fungsi alat :
a.
Seismograph OYO McSeis-SX 3 channel, digunakan untuk menampilkan
gelombang seismik dari hasil data seismik refraksi.
b.
Geophone, digunakan untuk menerima gelombang seismik dari tanah.
c.
Palu, digunakan sebagai source atau sumber gelombang seismik.
d.
Lempeng besi, digunakan sebagai landasan sumber gelombang seismik.
e.
Kabel trigger, digunakan sebagai pemicu gelombang seismik. Kabel ini
dipasang pada salah satu sisi landasan (lempeng besi) kemudian
dihubungkan menuju alat.
f.
GPS (Global Positioning System), digunakan untuk mengetahui koordinat
dan posisi titik ukur.
g.
Meteran, digunakan untuk menentukan panjang lintasan, spasi antar
geophone, dan jarak antar lintasan.
h.
Kompas, digunakan untuk mengukur nilai azimut dan strike/dip.
23
1
2
3
4
6
5
7
Gambar 3.2 Peralatan yang Digunakan
3.3
Variabel Penelitian
Variabel penelitian yang digunakan yaitu :
a.
Jarak antar geophone (m)
b.
Spasi lintasan (m)
c.
Maximal offset (m)
d.
Mininal offset (m)
e.
Waktu rambat gelombang (s)
8
24
3.4
Akuisisi Data
3.4.1 Persiapan Pra Lapangan
Pada persiapan pra lapangan ini yaitu melakukan studi literatur dan
pengecekan alat. Studi literatur sangat penting untuk menentukan dimana lokasi
yang bagus untuk lokasi pengukuran, pembuatan lintasan, penentuan panjang
lintasan dan penentuan spasi antar lintasan. Selain itu, pengecekan alat juga sangat
penting dalam persiapan pra lapangan. Karena ketidaklayakan alat dapat
berpengaruh terhadap data yang diperoleh dari lokasi penelitian.
3.4.2 Persiapan Lapangan
Kegiatan ini dilakukan sebelum pengukuran dimulai. Pada penelitian ini,
teknik bentangan yang digunakan adalah
segaris).
metode bentang In Line (bentang
Metode bentang In Line (bentang segaris) merupakan metode
penembakan (baik satu arah, dua arah, maupun bolak balik) dengan arah lurus
atau segaris antara source terhadap geophone.
Selanjutnya memasang lempeng besi dan geophone beserta kabelnya
secara garis lurus dengan lintasan. Kemudian meletakkan sumber gelombang
(source) pada titik 0 atau near offset pengukuran supaya gelombang biasnya
muncul. Menyambungkan kabel trigger yang kemudian dihubungkan ke alat dan
alat menuju kabel geophone. Untuk skema pemasangan alat dapat diamati pada
(Gambar 3.3).
25
Seismograph OYO McSeis-SX 3
channel
trigger
Palu
geophone
Lempeng
besi
2 meter
Near Offset
Far Offset
Gambar 3.3 Skema Pemasangan Alat Seismograph OYO McSeis-SX 3 channel
Gambar di atas merupakan skema pemasangan alat saat di lapangan.
Dalam setiap pengukuran menggunakan 3 buah geophone yang sudah
dihubungkan oleh masing-masing kabel. Dengan panjang lintasan 43 m dan jarak
spasi antar geophone yaitu 2 m.
3.4.3 Pengambilan Data
Pengambilan data bisa dimulai ketika kabel trigger dan geophone selesai
di bentang dan di sambungkan ke alat Seismograph OYO McSeis-SX 3 channel.
Langkah-langkah dalam melakukan pengukuran yaitu :
a.
Menghidupkan alat Seismograph OYO McSeis-SX 3 channel.
b.
Mengatur gain pada alat.
c.
Memberikan sumber gelombang secara bersamaan dengan menekan tombol
enter atau mulai merekam dari alat.
26
d.
Setelah diberikan sumber gelombang yang kemudian dicatat/direkam oleh
alat yang berupa tampilan gelombang.
e.
Membaca tampilan gelombang tersebut kemudian mencatatnya.
f.
Melakukan langkah c-e secara berulang dengan memindahkan geophone pada
titik lintasan berikutnya.
3.5
Proses pengolahan data
Pada tahap pengolahan data seismik refraksi, menggunakan metode Plus
Minus pada microsoft excel. Setelah mendapatkan data dari lapangan yang berupa
waktu tempuh gelombang (time forward dan time reverse), kemudian mencari
nilai kecepatan dan kedalaman dengan menggunakan analisis T+ (untuk analisis
kedalaman) dan analisis T- (untuk analisis kecepatan). Kemudian memasukkan
nilai kecepatan, kedalaman, dan offset ke dalam software surfer untuk
mendapatkan hasil penampang 2D.
3.5.1
Pengolahan 2D menggunakan Software Surfer10
Setelah melakukan perhitungan menggunakan metode Plus-Minus pada
Microsoft Excel untuk mendapatkan nilai kecepatan dan kedalaman, kemudian
membuat tampilan 2D penampang bawah permukaan dengan langkah-langkah
pemodelan sebagai berikut:
1.
Buka Software Surfer10 (Gambar 3.4).
27
Gambar 3.4 Jendela Surfer10
2.
Pilih Grid – data – buka file excel yang telah tersimpan.
3.
Atur letak X, Y, dan Z pada Data Columns serta Gridding Method pilih yang
Natural Neighbor (Gambar 3.5) kemudian ok. Secara otomatis akan
menyimpan file dalam format Gridding Common File.
Gambar 3.5 Grid Data
4.
Pilih New Contour Map, maka akan muncul perintah membuka file Grid yang
telah tersimpan, kemudian Open sehingga akan muncul tampilan gambar
seperti berikut (Gambar 3.6).
28
Gambar 3.6 Plot Lintasan 1
5.
Atur gambar sesuai yang diinginkan menggunakan menu Property Manager –
Map: Contour (Gambar 3.7).
Gambar 3.7 Property Manager – Map: Contour
6.
Kemudian akan muncul tampilan 2D penampang bawah permukaan (Gambar
3.8).
29
Gambar 3.8 Hasil Pengolahan per-Lintasan
7.
Ulangi langkah 2-6 untuk pengolahan pada masing-masing Lintasan.
3.5.2
Pengolahan menggunakan CorelDrawX5
Pengolahan menggunakan CorelDrawX5 bertujuan untuk mengetahui
litologi daerah penelitian berdasarkan bidang batas antar lapisan dan nilai cepat
rambar gelombang seismik serta untuk mengetahui kemiringan bidang gelincir
dilokasi penelitian.
Langkah-langkah
pemodelan
menggunakan
CorelDrawX5
menentukan bidang batas antar lapisan adalah sebagai berikut:
1.
Buka CorelDrawX5 (Gambar 3.9)
dalam
30
Gambar 3.9 Jendela CorelDrawX5
2.
Pilih File – New – OK. Akan muncul tampilan Untitled-1 (Gambar 3.10)
Gambar 3.10 Tampilan Untitled-1
3.
Pilih Smart Fill Tool – Smart Drawing pada samping kiri untuk membuat
garis lurus sehingga berbentuk persegi empat (Gambar 3.11).
31
Gambar 3.11 Membuat Tampilan Persegi Empat
4.
Atur gambar sesuai yang diinginkan menggunakan menu yang ada di
samping kiri pada jendela CorelDrawX5. Sehingga hasil pemodelan bidang
batas antar lapisan akan jadi seperti (Gambar 3.12)
Gambar 3.12 Hasil Pemodelan Bidang Batas Antar Lapisan
Langkah-langkah
menentukan sudut
pemodelan
menggunakan
CorelDrawX5
kemiringan bidang gelincir adalah sebagai
dalam
berikut:
32
1.
Buka CorelDrawX5 seperti pada Gambar 3.9 dan Gambar 3.10.
2.
Pilih File – Import – buka file surfer yang telah tersimpan dalam format
(*.bmp). Semua lintasan dijadikan 1 dan di atur sehingga tampak seperti
(Gambar 3.13).
Gambar 3.13 Hasil Pengolahan Sudut Kemiringan Bidang Gelincir
3.
Untuk menarik sudut kemiringan bidang gelincir pilih Parallel Dimension
Tool – Angular Dimension pada samping kiri.
3.6
Interpretasi data
Pada tahap interpretasi ini dilakukan setelah mendapatkan penampang 2D
dari software Surfer yang kemudian membandingkan dengan data geologi daerah
tersebut. Dari interpretasi ini sehingga dapat dianalisis struktur bawah permukaan
daerah penelitian serta potensi pergerakan tanah di daerah penelitian.
33
3.7
Diagram Alir Penelitian
Prosedur pelaksanaan pengambilan data di daerah penelitian dapat diamati
pada diagram berikut (Gambar 3.14).
Mulai
Kajian pustaka
Persiapan alat penelitian
Uji coba alat di lokasi penelitian
Tidak
Alat dapat
bekerja
Ya
Pengambilan data
Pengolahan Data dengan Software Surfer
Analisis dan Interpretasi Data Hasil
Pengolahan
Kesimpulan
Selesai
Gambar 3.14 Diagram Alir Penelitian
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1
Hasil Penelitian
Tahap akuisisi data seismik refraksi dilakukan dengan menggunakan
metode bentang In Line (bentang segaris) yang merupakan metode penembakan
(baik satu arah maupun dua arah atau bolak-balik) dengan arah lurus antara
sumber seismik terhadap geophone. Data yang diperoleh berupa waktu penjalaran
(travel time) gelombang seismik dan jarak geophone. Data ini kemudian di plot
ke dalam kurva T-X
dan dianalisis menggunakan metode Plus Minus pada
microsoft excel. Perhitungan tersebut memperoleh nilai kecepatan (V) dan nilai
kedalaman (H). Metode analisis T- untuk analisis kecepatan dan analisis T+ untuk
analisis kedalaman.
Pengambilan data dilakukan di sekitar perumahan warga yang terdiri dari
tiga lintasan. Titik 0 m pertama terletak pada koordinat S 07o02’32.3’’ dan E
110o36’85.2’’ sedangkan titik 43 m pada koordinat S 07o02’36.2’’ dan E
110o36’89.2’’. Titik 0 m kedua terletak pada koordinat S 07o02’30.4’’ dan E
110o36’85.9’’ sampai dengan titik koordinat S 07o02’34.6’’ dan E 110o36’89.8’’.
Lintasan ketiga terdapat pada koordinat S 07o02’31.0’’ dan E 110o36’85.2’’
sampai dengan titik koordinat S 07o02’34.9’’ dan E 110o36’89.2’’. Panjang
masing-masing lintasan 43 meter, dengan spasi antar geophone 2 meter, dan jarak
offset 1 meter. Spasi antar lintasan yaitu 10 meter.
34
35
4.1.1
Hasil Perhitungan Menggunakan Metode Plus Minus
Data hasil penelitian yang berupa jarak dan waktu rambat gelombang,
kemudian dianalisis menggunakan metode Plus Minus sehingga diperoleh nilai
kecepatan rambat gelombang seismik di bawah permukaan perumahan Bukit
Manyaran Permai (BMP) yang ditunjukkan pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1. Data Kecepatan Rambat Gelombang Seismik Refraksi
Lintasan
V1 rata-rata (m/s)
V2 rata-rata (m/s)
1
503,5643
945,2757
2
427,8846
679,6172
3
479,5396
783,5344
Dari Tabel 4.1 diatas menunjukkan bahwa nilai kecepatan rambat
gelombang seismik untuk lintasan 1 sebesar 503,5643 m/s pada lapisan pertama
dan 945,2757 m/s pada lapisan kedua. Untuk lintasan 2 sebesar 427,8846 m/s
pada lapisan pertama dan 679,6172 m/s pada lapisan kedua. Dan untuk lintasan 3
sebesar 479,5396 m/s pada lapisan pertama dan 783,5344 m/s pada lapisan kedua.
Perubahan nilai kecepatan yang terdapat di setiap lintasan menunjukkan adanya
perbedaan litologi bawah permukaan pada setiap lapisan.
Gambar 4.1, Gambar 4.2 dan Gambar 4.3 di bawah ini merupakan grafik
hubungan jarak dan waktu penjalaran gelombang yang berupa kurva T-X. Kurva
T-X digunakan untuk mempermudah dalam membedakan antara gelombang
langsung dan gelombang refraksi. Selain itu kurva T-X menunjukkan terjadinya
36
titik refraktor pada masing-masing lintasan dan mengetahui lapisan tanah yang
diperoleh dari lokasi penelitian.
Time Forward & Reverse (ms)
Kurva T-X
70
60
50
40
Gel. Langsung Forward
30
Gel. Langsung Reverse
20
Gel. Refraksi Forward
10
Gel. Refraksi Reverse
0
0
10
20
30
40
50
Offset (m)
Gambar 4.1 Grafik Hubungan Antara Jarak (m) dan Waktu (ms) pada Lintasan 1
Time forward & reverse (ms)
Kurva T-X
100
80
60
Gel. Langsung Forward
40
Gel. Langsung Reverse
Gel. Refraksi Forward
20
Gel. Refraksi Reverse
0
0
10
20
30
40
50
Offset (m)
Gambar 4.2 Grafik Hubungan Antara Jarak (m) dan Waktu (ms) pada Lintasan 2
37
Kurva T-X
Time forwadr & reverse (ms)
120
100
80
Gel. Langsung Forward
60
Gel. Langsung Reverse
40
Gel. Refraksi Forward
20
Gel. Refraksi Reverse
0
0
10
20
30
40
50
Offset (m)
Gambar 4.3 Grafik Hubungan Antara Jarak (m) dan Waktu (ms) pada Lintasan 3
4.1.2
Hasil Pengolahan Penampang 2D Menggunakan Software Surfer10
Hasil pengolahan menggunakan Surfer10 menunjukkan penampang
kecepatan m/s. Penampang kecepatan bawah permukaan pada masing-masing
lintasan tersebut bisa dilihat pada gambar dibawah ini (Gambar 4.4, Gambar 4.5,
dan Gambar 4.6).
m/s
Gambar 4.4 Peta Kontur Penampang Bawah Permukaan 2D Nilai Kedalaman dan
Nilai Kecepatan pada Lintasan 1 dengan Surfer10
38
m/s
Gambar 4.5 Peta Kontur Penampang Bawah Permukaan 2D Nilai Kedalaman dan
Nilai Kecepatan pada Lintasan 2 dengan Surfer10
m/s
Gambar 4.6 Peta Kontur Penampang Bawah Permukaan 2D Nilai Kedalaman dan
Nilai Kecepatan pada Lintasan 3 dengan Surfer10
Berdasarkan referensi nilai kecepatan penjalaran gelombang pada suatu
medium dan hasil pengolahan data seismik refraksi menggunakan Surfer10 seperti
pada tampilan peta kontur penampang bawah permukaan 2D di atas diperoleh
keadaan litologi daerah penelitian pada masing-masing lintasan yaitu seperti pada
Tabel 4.2.
39
Tabel 4.2 Litologi Bawah Permukaan Berdasarkan Hasil Interpretasi Masingmasing Lintasan
Rentang
Interpretasi
Warna
Kecepatan (m/s)
0-200
Tanah berongga
Ungu
4.1.3
200-400
Material tanah urug
Biru
400-600
Pasir kering
Biru tua, hijau tua
600-1000
Pasir basah
Hijau tua, Hijau muda
1000-2000
Lempung
Hijau muda, Kuning, merah
Hasil Pengolahan Berdasarkan Bidang Batas Lapisan
Untuk bisa melihat bidang batas antar lapisan dengan jelas maka dilakukan
pengolahan menggunakan CorelDrawX5. Hasil pengolahan dapat dilihat pada
gambar di bawah ini (Gambar 4.7, Gambar 4.8 dan Gambar 4.9) yang
menunjukkan penampang bawah permukaan beserta perbedaan kecepatan
gelombang setiap lapisan.
Gambar 4.7 Model Penampang Bawah Permukaan Beserta Perbedaan Kecepatan
Gelombang pada Setiap Lapisan pada Lintasan 1
40
Tabel 4.3 Litologi Batuan Bawah Permukaan pada Lintasan 1
Lapisan
Rentang nilai
Jenis material
Kedalaman
1
V1 = 416,667 m/s –
769,230 m/s
Material urug,
Pasir kering, Pasir
basah
1m–5m
2
V2 = 1562,500 m/s –
2173,319 m/s
Lempung
>5 m
Gambar 4.8 Model Penampang Bawah Permukaan Beserta Perbedaan Kecepatan
Gelombang pada Setiap Lapisan pada Lintasan 2
Tabel 4.4 Litologi Batuan Bawah Permukaan pada Lintasan 2
Lapisan
Rentang nilai
Jenis material
Kedalaman
1
V1 = 238,095 m/s –
925,926 m/s
Material urug,
Pasir kering, Pasir
basah
0,8 m – 5,2 m
2
V2 = 1041,670 m/s
– 2088,330 m/s
Lempung
>5,2 m
41
Gambar 4.9 Model Penampang Bawah Permukaan Beserta Perbedaan Kecepatan
Gelombang pada Setiap Lapisan pada Lintasan 3
Tabel 4.5 Litologi Batuan Bawah Permukaan pada Lintasan 3
Lapisan
Rentang nilai
Jenis material
Kedalaman
4.2
1
V1 = 290,689 m/s –
952,381 m/s
Material urug,
Pasir kering, Pasir
basah
2,8 m – 6 m
2
V2 = 1250 m/s –
1923,080 m/s
Lempung
>6 m
Pembahasan
Penelitian ini dilakukan di daerah Perumahan Bukit Manyaran Permai
(BMP), Kelurahan Sadeng, Kecepatan Gunungpati, Semarang. Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur bawah permukaan lokasi
penelitian, dan mengetahui potensi pergerakan tanah di daerah tersebut.
42
Berdasarkan Peta Geologi daerah penelitian, perumahan Bukit Manyaran
Permai (BMP) Semarang terdiri dari dua formasi yaitu Formasi Damar dan
Formasi Kalibiuk. Formasi Damar tersusun dari batu pasir tufan, konglomerat,
breksi vulkanik. Batu pasir mengandung mineral mafik, felspar dan kuarsa. Breksi
vulkanik mungkin diendapkan sebagai lahar. Sedangkan Formasi Kalibiuk / Kerek
terdiri dari batu lempung, napal, batu pasir tufan, konglomerat, breksi vulkanik
dan batu gamping. Batu lempung, kelabu muda tua, gampingan, sebagian
bersisipan dengan batu lanau atau batu pasir.
Berdasarkan hasil penelitian di sekitar perumahan Bukit Manyaran Permai
(BMP) diperoleh dugaan jenis material bawah permukaan pada lintasan pertama
yaitu untuk lapisan pertama mempunyai litologi berupa material tanah urug, pasir
kering, pasir basah dengan nilai kecepatan (416,667 m/s – 769,230 m/s) pada
kedalaman (1 m -5 m), sedangkan untuk lapisan kedua mempunyai litologi berupa
tanah lempung dengan nilai kecepatan (1562,500 m/s – 2173,319 m/s) pada
kedalaman >5 m. Pada lintasan kedua lapisan pertama mempunyai litologi berupa
material tanah urug, pasir kering, pasir basah dengan nilai kecepatan (238,095 m/s
– 925,926 m/s) pada kedalaman (0,8 m -5,2 m), sedangkan untuk lapisan kedua
mempunyai litologi berupa tanah lempung dengan nilai kecepatan (1041,670 m/s
– 2088,330 m/s) pada kedalaman >5,2 m. Pada lintasan ketiga lapisan pertama
mempunyai litologi berupa material tanah urug, pasir kering, pasir basah dengan
nilai kecepatan (290,689 m/s – 952,381 m/s) pada kedalaman (2,8 m - 6 m),
sedangkan untuk lapisan kedua mempunyai litologi berupa tanah lempung dengan
nilai kecepatan (1250 m/s – 1923,080 m/s) pada kedalaman >6 m. Hal ini sesuai
43
dengan peta geologi Kota Semarang yang menunjukkan adanya batu lempung
mengandung moluska dan batu pasir tufan.
Dari hasil pengolahan Surfer10 seperti pada Gambar 4.10. Terdapat bidang
gelincir masing-masing lintasan yang ditunjukkan dengan garis hitam. Bidang
gelincir yaitu bertemunya bidang batas antar lapisan yang berbeda dan kedap air.
Kedalaman bidang gelincir untuk masing-masing lintasan berbeda, tetapi untuk
nilai kecepatan rambat gelombang seismik mempunyai interval yang hampir
sama. Disini untuk lapisan pertama terdiri atas satuan tanah berongga, material
tanah urug, dan pasir. Sedangkan untuk lapisan kedua terdiri atas tanah lempung.
Hal ini sesuai dengan hasil pengolahan menggunakan Corel DrawX5 yang telah
diperlihatkan di hasil penelitian. Perbedaan material tersebut yang menyebabkan
terjadinya pergerakan tanah di lokasi penelitian.
Gambar 4.10 Peta Kontur Penampang Bawah Permukaan 2D Kedalaman dan
Nilai Kecepatan pada Masing-masing Lintasan dengan Surfer10
44
Kemiringan lereng dilokasi penelitian 6,4o yang mengarah dari selatan ke
utara. Kemiringan bidang gelincir yang terdapat dilokasi penelitian pada lintasan
pertama yaitu 12,02o, dan pada lintasan ketiga memiliki sudut kemiringan 8,74o.
Sudut kemiringan pada masing-masing lintasan berbeda. Semakin besar sudut
kemiringannya maka semakin besar pula potensi pergerakan tanah di daerah
tersebut. Untuk lintasan kedua dari hasil pengolahan Surfer10 masih belum
terlihat lapisan lempung sehingga belum bisa diketahui sudut kemiringan bidang
gelincir, namun dari hasil pengolahan CorelDrawX5 sudah terdeteksi adanya
lapisan lempung. Diduga pada lintasan kedua terdapat lapisan lempung pada
kedalaman yang lebih dalam, sehingga lapisan lempung yang terdapat dilokasi
penelitian berbentuk cekung kebawah dari lintasan pertama ke lintasan ketiga. Hal
ini dikarenakan antara masing-masing lintasan masih di satu tempat dengan jarak
antar lintasan tidak terlalu jauh.
Dapat dilihat juga bidang gelincir pada masing-masing lintasan mengarah
dari timur ke barat, namun terletak pada kedalaman yang berbeda-beda. Semakin
ke utara bidang gelincirnya semakin dalam, dengan kata lain bidang gelincirnya
mengarah ke barat laut.
Faktor utama penyebab terjadinya pergerakan tanah dilokasi penelitian
yaitu dipengaruhi oleh kondisi topografi dan struktur geologi. Kondisi topografi
daerah penelitian tersebut mempunyai kontur tanah yang miring, dengan struktur
geologi bawah permukaan tanah yang tersusun dari lapisan pasir dan lapisan
lempung. Dalam hal ini lapisan pasir berada di atas lapisan lempung, dimana
45
lapisan lempung merupakan lapisan yang stabil dan kedap air, sehingga
memungkinkan lapisan pasir mudah bergerak dengan adanya pengaruh gaya
endogen maupun eksogen.
Berdasarkan nilai kecepatan tanah di bawah permukaan ditunjukkan oleh
warna pada hasil pengolahan data. Untuk mengetahui jenis-jenis lapisan tanah
atau batuan yang terdapat di bawah permukaan pada lokasi penelitian, digunakan
Tabel 4.6.
Tabel 4.6 Litologi Bawah Permukaan Berdasarkan Hasil Interpretasi
No
Warna
Kecepatan (m/s)
Interpretasi
1
(0-100)
Tanah berongga
2
(100-200)
Tanah berongga
3
(200-300)
Material Tanah Urug
4
(300-400)
Material Tanah Urug
5
(400-500)
Pasir Kering
6
(500-600)
Pasir Kering
7
(600-700)
Pasir Basah
8
(700-800)
Pasir Basah
9
(800-900)
Pasir Basah
10
(900-1000)
Pasir Basah
11
(1000-1100)
Lempung
12
(1100-1200)
Lempung
13
(1200-1300)
Lempung
14
(1300-1400)
Lempung
15
(1400-1500)
Lempung
16
(1500-1600)
Lempung
17
(1600-1700)
Lempung
18
(1700-1800)
Lempung
19
(1800-1900)
Lempung
20
(1900-2000)
Lempung
BAB 5
PENUTUP
5.1
Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat diambil beberapa
kesimpulan sebagai berikut:
1.
Kondisi geologi yang diperoleh dari hasil penelitian yaitu: lintasan pertama
mempunyai litologi material tanah urug, pasir kering, pasir basah dengan
kecepatan (416,667 m/s – 769,230 m/s) pada kedalaman (1 m -5 m), tanah lempung
dengan nilai kecepatan (1562,500 m/s – 2173,319 m/s) pada kedalaman >5 m.
Lintasan kedua mempunyai litologi berupa material tanah urug, pasir kering, pasir
basah dengan kecepatan (238,095 m/s – 925,926 m/s) pada kedalaman (0,8 m -5,2
m), sedangkan tanah lempung dengan kecepatan (1041,670 m/s – 2088,330 m/s)
pada kedalaman >5,2 m. Lintasan ketiga mempunyai litologi berupa material tanah
urug, pasir kering, pasir basah dengan kecepatan (290,689 m/s – 952,381 m/s) pada
kedalaman (2,8 m - 6 m), tanah lempung dengan nilai kecepatan (1250 m/s –
1923,080 m/s) pada kedalaman >6 m.
2.
Lokasi penelitian berpotensi mengalami pergerakan tanah ke arah barat laut.
Hal ini dikarenakan lokasi penelitian memiliki struktur geologi bawah
permukaan berupa lapisan pasir dan lapisan lempung. Keberadaan lapisan
pasir di atas lapisan lempung, dimana lapisan lempung merupakan lapisan
yang stabil dan kedap air, sehingga memungkinkan lapisan pasir mudah
bergerak dengan adanya pengaruh gaya endogen maupun eksogen.
46
47
5.2
Saran
Adapun saran dari hasil penelitian dan pembahasan di atas untuk
penelitian selanjutnya yaitu untuk menambah panjang lintasan agar mendapat
kedalaman yang lebih dalam dan lebih disarankan untuk posisi lintasannya tegak
lurus atau memotong supaya bisa mendapatkan kondisi bawah permukaan yang
lebih lengkap.
DAFTAR PUSTAKA
Aissa, A. 2008. Prediksi Penyebaran Batu Pasir pada Lapangan Boonsville
dengan Menggunakan Metode Inversi Geostatistik Bayesian. Skripsi.
Depok : Universitas Indonesia.
Effendi, A. D. 2008. Identifikasi Kejadian Longsor dan Penentuan Faktor-Faktor
Utama Penyebabnya di Kecamatan Babakan Madang Kabupaten Bogor.
Skripsi. Bandung : Institut Pertanian Bogor.
Enikanselu, P. A. 2008. Geophysical Seismic Refraction and UpholeSurvey
Analysis of Weathered Layer Characteristics in the “Mono” Field, North
Western Niger Delta, Nigeria. The Pacific Journal of Science and
Technology, Volume 9. Nomor 2 Hal : 537-545.
Hardiyatmo, H. C. 2006. Penanganan Tanah Longsor dan Erosi. Yogyakarta :
Gajah Mada University Press.
Nandi. 2007. Longsor. Bandung : UPI.
Nurdiyanto, B., E. Hartanto, D. Ngadmanto, B. Sunardi, & P. Susilanto. 2011.
Penentuan Tingkat Kekerasan Batuan Menggunakan Metode Seismik
Refraksi. Jurnal Meteorologi dan Geofisika Volume. 12 Nomor. 3. Hal :
211-220.
Pareta, K., & U. Pareta. 2012. Landslide Modeling and Susceptibility Mapping of
Giri River Watershed, Himachal Pradesh (India). International Journal
of Science and Technology, Volume 1, Nomor. 2, Hal. 91-104.
Priyantari, N., & A. Suprianto. 2009. Penentuan Kedalaman Bedrock
Menggunakan Metode Seismik Refraksi di Desa Kemuning Lor
Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember. Jurnal ILMU DASAR Vol. 10 No.
1.
Setiawan, B. 2008. Pemetaan Tingkat Kekerasan Batuan Menggunakan Metode
Seismik Refraksi. Skripsi. Depok : Universitas Indonesia.
Soenarmo, S. H., I. A. Sadisun, & E. Saptohartono. 2008. Kajian Awal Pengaruh
Intensitas Curah Hujan Terhadap Pendugaan Potensi Tanah Longsor
Berbasis Spasial di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Jurnal Geoaplika
Volume 3, Nomor 3, Hal. 133 – 141.
48
49
Susilawati. 2004. Seismik Refraksi (Dasar Teori & Akuisisi Data). USU Digital
Library.
Sy, M. I., & A. Budiman. 2013. Investigasi Bidang Gelincir Pada Lereng
Menggunakan Metode Geolistrik Tahanan Jenis Dua Dimensi (Studi
Kasus: Kelurahan Lumbung Bukit Kecamatan Pauh Padang). Jurnal
Fisika Unand Volume. 2, Nomor. 2. Hal : 88-93.
Telford, M.W., L.P. Geldart, R.E. Sheriff, & D.A. Keys. 1976. Applied
Geophysics. New York : Cambridge University Press.
Tipler, P. A. 2001. Fisika Untuk Sains dan Teknik (3th ed.). Jakarta : Erlangga.
Wahyuningsih, S., G. Yuliyanto., & M. I. Nurwidyanto. 2006. Interpretasi Data
Seismik Refraksi Menggunakan Metode Reciprocal Hawkins dan
Software SRIM (Studi kasus daerah Sioux Park, Rapid City, South
Dakota, USA). Berkala Fisika Volume. 9, Nomor. 4, hal 177-184
Wibisono, L. 2013. Longsor Ancam Warga Bukit Manyaran Permai. Tersedia di
http://www.suaramerdeka.com [diakses 21-01-2013].
Windraswara, R. & E. Widowati. 2010. Penerapan Cbdp (Community Based
Disaster Preparadness) Dalam Mengantisipasi Bencana TanahLongsor Di
Kecamatan Gunungpati Kota Semarang. Rekayasa Volume. 8, Nomor. 2,
Hal : 1 - 6
50
Lampiran 1
Pengolahan Data Seismik Refraksi di BMP
Line 1
Jenis bentangan
: In Line
Panjang lintasan
: 43 meter
Near offset
: 1 meter
Far offset
: 43 meter
Tabel data lapangan
Offset
(m)
0
1
3
5
7
9
11
13
15
17
19
21
23
25
27
29
31
33
35
37
39
41
43
Time Forward (ms)
0
6.4
20.8
25.6
46.4
49
71.4
66.4
102.4
102.4
104.2
108.8
109.3
107.5
111.6
119.2
120
121
139.6
142
142.6
146
156
21.6
32.6
35.6
60
60.8
84.8
84.8
86
98.2
102.6
110
110
109
109.2
112.2
131.2
138
141.2
143.6
145
35.2
48
48.8
64.8
63.2
80.2
90.4
92
91.2
100
103.6
102.6
102.6
105.7
120.6
128.4
129
130
Time Reverse (ms)
0
5.6
16
23.2
47.2
48
70.4
67.2
111.2
111.2
111.2
108.8
109.6
108.8
109.6
115.2
116.2
116
138.4
138.4
139.2
142.4
144
20.8
35.2
35.2
56.8
59.2
83.2
83.2
84
95.2
104.8
107.2
107.2
108
107.2
107.2
128.8
136
137.6
135.2
136
23.2
43.3
48.8
67.2
68
80
82.4
100
100.8
100
101.6
101.6
102.4
125.6
125.6
126.4
126.4
125.6
51
Tabel pengolahan data metode Plus-Minus
Offset
(m)
Forward
(ms)
0
1
3
5
7
9
11
13
15
17
19
21
23
25
27
29
31
33
35
37
39
41
43
2. ∆x
4
0
2,56
8,32
13,04
14,24
19,52
24,32
26,56
33,92
36,16
41,68
43,52
43,72
44
44,64
47,68
48,24
52,48
55,2
56,48
57,44
58,4
62,4
Tt
60
Reverse
(ms)
57,6
56,96
55,68
55,04
54,4
51,52
50,24
46,08
43,84
43,52
42,88
40,32
38,08
33,6
32
27,2
23,68
22,72
17,32
9,28
8,32
2,24
0
T+
8,08
8,64
11,04
14,56
12,64
17,76
19,68
24,56
23,84
21,8
17,6
16,64
14,88
11,92
15,2
12,52
5,76
5,76
T-
1,84
8,16
6,08
6,4
9,6
2,56
6,16
4,4
2,44
4,76
2,24
7,84
4,08
5,2
8,12
9,32
1,92
7,04
V1
forward
V1 reverse v1 avg
360,5769
646,5517 503,5643
V2 (m/s)
H(m)
2173,913
490,1961
657,8947
625
416,6667
1562,5
649,3506
909,0909
1639,344
840,3361
1785,714
510,2041
980,3922
769,2308
492,6108
429,1845
2083,333
568,1818
-2,40389
-2,5705
-3,28453
-4,33177
-3,76055
-5,28381
-5,85503
-7,30689
-7,09268
-6,48575
-5,2362
-4,95059
-4,42697
-3,54634
-4,52218
-3,72485
-1,71367
-1,71367
v2 avg
ic
cos ic
945,2757 32,18921 0,846294
52
Pengolahan data di Software Surfer 10.
Data yang dimasukkan d worksheet.
X ( Offset (m) )
0
1
3
5
7
9
11
13
15
17
19
21
23
25
27
29
31
33
35
37
39
41
43
Y (Kedalaman (m))
0
0
0
-2,40389
-2,5705
-3,28453
-4,33177
-3,76055
-5,28381
-5,85503
-7,30689
-7,09268
-6,48575
-5,2362
-4,95059
-4,42697
-3,54634
-4,52218
-3,72485
-1,71367
-1,71367
0
0
Z (Kecepatan (m/s))
0
0
0
2173,913
490,1961
657,8947
625
416,6667
1562,5
649,3506
909,0909
1639,344
840,3361
1785,714
510,2041
980,3922
769,2308
492,6108
429,1845
2083,333
568,1818
0
0
53
Line 2
Jenis bentangan
: In Line
Panjang lintasan
: 43 meter
Near offset
: 1 meter
Far offset
: 43 meter
Tabel data lapangan
Offset
(m)
0
1
3
5
7
9
11
13
15
17
19
21
23
25
27
29
31
33
35
37
39
41
43
Time Forward (ms)
0
6.4
21.6
26.4
48
58.4
95.2
96
95.2
95.2
96
96
96.8
96.8
96.8
139.2
150
170
174
182
184
198
212
20
36.8
44.8
72.8
73.6
71.2
72
72.8
72.8
73.6
74.4
87.2
122.4
132
162
164
164
180
182
198
23.2
24
28
36.8
55.2
59.2
66.4
67.2
71.2
72
100.8
126
128
130
144
146
148
178
Time Reverse (ms)
0
6.4
20
25.6
58.4
69.6
70.4
71.2
70.4
72
72.8
120
112
120
120
134.4
134.4
172
246
226
222
210
225.5
20.8
39.2
40
41.6
41.6
47.4
52
41.6
93.6
92.8
94.4
124
124
126.4
158
236
176
214
218
215
33.6
30.2
36
36
36.8
35.2
67.2
69.6
82.3
96.8
107.6
118.8
141.9
166
166
196
180
206
54
Tabel pengolahan data metode Plus-Minus
Offset
(m)
Forward (ms)
0
0
1
2,56
3
8
5
9,28
7
9,6
9
11,2
11
14,72
13
22,08
15
23,68
17
26,56
19
29,12
21
29,44
23
38,72
25
40,32
27
48,96
29
55,68
31
60
33
65,6
35
69,6
37
72
39
73,6
41
79,2
43
84,8
2. ∆x
4
Tt
87,5
Reverse
(ms)
90,2
84
79,2
72
70,4
68,8
63,2
56,76
49,6
43,04
38,72
32,92
29,12
26,88
20,8
18,96
16,64
14,4
12,08
10,24
8,32
2,56
0
V1
V1
forward
reverse
375 480,7692
T+
T-
-0,3
6,22
7,5
7,5
9,58
8,66
14,22
17,9
19,66
25,14
19,66
20,3
17,74
12,86
10,86
7,5
5,82
5,26
5,58
8,48
1,92
3,2
9,12
13,8
8,76
9,44
6,88
6,12
13,08
3,84
14,72
8,56
6,64
7,84
6,32
4,24
3,52
11,36
v1 avg
427,8846
V2 (m/s)
471,6981
2083,333
1250
438,5965
289,8551
456,621
423,7288
581,3953
653,5948
305,8104
1041,667
271,7391
467,2897
602,4096
510,2041
632,9114
943,3962
1136,364
352,1127
H(m)
-0,082611
-1,71281
-2,06529
-2,06529
-2,63806
-2,38472
-3,91578
-4,92915
-5,41381
-6,92284
-5,41381
-5,59004
-4,88509
-3,54128
-2,99054
-2,06529
-1,60266
-1,44845
-1,53657
v2 avg
ic
679,6172 39,02036087
cos ic
0,776922
55
Pengolahan data di Software Surfer 10.
Data yang dimasukkan d worksheet.
X ( Offset (m) )
0
1
3
5
7
9
11
13
15
17
19
21
23
25
27
29
31
33
35
37
39
41
43
Y (Kedalaman (m))
0
0
-0,082611
-1,71281
-2,06529
-2,06529
-2,63806
-2,38472
-3,91578
-4,92915
-5,41381
-6,92284
-5,41381
-5,59004
-4,88509
-3,54128
-2,99054
-2,06529
-1,60266
-1,44845
-1,53657
0
0
Z (Kecepatan (m/s))
0
0
471,6981
2083,333
1250
438,5965
289,8551
456,621
423,7288
581,3953
653,5948
305,8104
1041,667
271,7391
467,2897
602,4096
510,2041
632,9114
943,3962
1136,364
352,1127
0
0
56
Line 3
Jenis bentangan
: In Line
Panjang lintasan
: 43 meter
Near offset
: 1 meter
Far offset
: 43 meter
Tabel data lapangan
Offset
(m)
0
1
3
5
7
9
11
13
15
17
19
21
23
25
27
29
31
33
35
37
39
41
43
Time Forward (ms)
0
4.8
18.4
27.2
44.8
45.6
47.2
64
65.6
70.8
103.2
112
109.6
111.2
109.6
139.2
137.6
137.6
156.8
158.4
180
195.2
248
18.4
31.2
32
32.8
54.4
52.8
79.2
76.8
102.4
104.8
100.8
102.4
130.4
132.8
132
152.8
153.6
168
184.8
216
21.6
23.2
44.8
39.2
68.8
71.2
98.4
98.4
100.8
100
123.2
126.4
127.2
146.4
148
158
183
192
Time Reverse (ms)
0
22.4
36.8
38.4
38.4
37.6
36.8
53.6
60
73.6
72
73.6
98
98
94
97.6
131.2
131.2
132
140
188
190
188
25.6
37.6
37.6
36.8
36
36.8
68.8
68.8
69.6
96
96
90
92.8
110
110.4
109.6
136.8
180
180
182
27.2
26.4
27.2
32.8
60
61.6
61.6
84
82
84
86.4
99.2
99.2
100
128
160
160
162
57
Tabel pengolahan data metode Plus-Minus
Offset
(m)
Forward
(ms)
0
1
3
5
7
9
11
13
15
17
19
21
23
25
27
29
31
33
35
37
39
41
43
2. ∆x
4
0
1,92
7,36
10,88
12,8
18,24
21,76
27,52
28,48
30,72
39,36
40,32
43,48
44,48
50,56
53,12
58,56
61,12
63,2
67,2
73,92
86,4
99,2
Tt
87,2
V1
forward
407,6087
Reverse
(ms)
75,2
72,8
64,8
56
54,72
51,2
44,16
39,04
37,12
34,56
33,6
29,44
27,84
24,64
24
21,44
14,72
15,04
15,04
10,88
10,24
8,96
0
V1
reverse
551,4706
T+
T-
V2 (m/s)
H(m)
20,32
19,68
17,76
21,28
20,64
21,6
21,92
14,24
17,44
15,88
18,08
12,64
12,64
13,92
11,04
8,96
9,12
3,04
3,2
8,96
10,56
10,88
2,88
4,8
9,6
5,12
4,76
4,2
6,72
5,12
12,16
2,24
2,08
8,16
7,36
13,76
1250
446,4286
378,7879
367,6471
1388,889
833,3333
416,6667
781,25
840,3361
952,381
595,2381
781,25
328,9474
1785,714
1923,077
490,1961
543,4783
290,6977
-6,16068
-5,96665
-5,38453
-6,45174
-6,2577
-6,54876
-6,64578
-4,31733
-5,28751
-4,81455
-5,48155
-3,83224
-3,83224
-4,22031
-3,34714
-2,71652
-2,76503
-0,92168
v1 avg
v2 avg
479,5396 783,5345
ic
37,73579
cos ic
0,790841
58
Pengolahan data di Software Surfer 10.
Data yang dimasukkan di worksheet.
X ( Offset (m) )
0
1
3
5
7
9
11
13
15
17
19
21
23
25
27
29
31
33
35
37
39
41
43
Y (Kedalaman (m))
0
0
0
-6,16068
-5,96665
-5,38453
-6,45174
-6,2577
-6,54876
-6,64578
-4,31733
-5,28751
-4,81455
-5,48155
-3,83224
-3,83224
-4,22031
-3,34714
-2,71652
-2,76503
-0,92168
0
0
Z (Kecepatan (m/s))
0
0
0
1250
446,4286
378,7879
367,6471
1388,889
833,3333
416,6667
781,25
840,3361
952,381
595,2381
781,25
328,9474
1785,714
1923,077
490,1961
543,4783
290,6977
0
0
59
Lampiran 2
Foto Penelitian
Foto 1 Memulai pengambilan data
Foto 2 Memberikan sumber getaran
60
Foto 3 Pembacaan dan pencatatan waktu tempuh rambat gelombang seismik dari
alat
Foto 3 Pencatatan koordinat pada masing-masing lintasan
61
Foto 4 Tembok rumah warga yang retak
Foto 5 Jalan yang mengalami kemiringan
Download