T1_292009314_BAB II

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1
Kajian Teori
2.1.1 Pengertian Ilmu Pengetahuan Alam
Ilmu pengetahuan alam atau sains (science) diambil dari kata latin Scientia
yang arti harfiahnya adalah pengetahuan, tetapi kemudian berkembang menjadi
khusus Ilmu Pengetahuan Alam atau Sains. Sund dan Trowbribge merumuskan
bahwa Sains merupakan kumpulan pengetahuan dan proses.
Sedangkan Kuslan Stone menyebutkan bahwa Sains adalah kumpulan
pengetahuan dan cara-cara untuk mendapatkan dan mempergunakan pengetahuan
itu. Sains merupakan produk dan proses yang tidak dapat dipisahkan. “Real Science
is both product and process, inseparably Joint” Suprijono, 2003: 11
Menurut Trianto (2010:136), Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan
bagian dari Ilmu Pengetahuan atau Sains yang semula berasal dari bahasa inggris
‘science’. Kata ‘science’ itu sendiri berasal dari kata dalam Bahasa Latin ‘scientia’
yang berarti saya tahu. ‘Science’ terdiri dari social science (ilmu pengetahuan
social) dan natural science (ilmu pengetahuan alam).
Menurut Slameto dkk (2009:1), IPA merupakan cabang ilmu pengetahuan
yang mempelajari tentang fenomena-fenomena alam yang disusun melalui tahapantahapan metode ilmiah yang bersifat khas-khusus, penarikan kesimpulan, dan
seterusnya. Fenomena-fenomena alam yang diungkap biasanya dapat dirumuskan
dalam besaran-besaran fisika.
Menurut Hardini dan Puspitasari (2012:151), menuliskan bahwa mata
pelajaran IPA bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:
1) Meningkatkan keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa
berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan alam ciptaan-Nya.
2) Mengembangkan pemahaman tentang berbagai macam gejala alam, konsep
dan prinsip IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari.
3) Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif, dan kesadaran terhadap
adanya hubungan yang saling memengaruhi antara IPA, lingkungan,
teknologi, dan masyarakat.
7
8
4) Melakukan inkuiri ilmiah untuk menumbuhkan kemampuan berpikir,
bersikap dan bertindak ilmiah serta berkomunikasi.
5) Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga,
dan melestarikan lingkungan serta sumber daya alam.
6) Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya
sebagai salah satu ciptaan Tuhan.
7) Meningkatkan pengetahuan, konsep, dan keterampilan IPA sebagai dasar
untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya.
Karakteristik kajian Ilmu Pengetahuan Alam didefinisikan sebagai pengetahuan
yang diperoleh melalui pengumpulan data dengan eksperimen, pengamatan dan
deduksi untuk menghasilkan suatu penjelasan tentang sebuah gejala yang dapat
dipercaya.
Proses pembelajaran IPA selain mengaitkan dengan kehidupan sehari-hari
siswa juga penemuan sesuatu yang bermakna. Pembelajaran IPA lebih menekankan
eksperimen dan pengamatan untuk menemukan hal-hal yang baru bagi siswa.
Kegiatan tersebut akan menunjang siswa untuk aktif dalam pembelajaran, karena
siswa terlibat penuh dalam proses pembelajaran. IPA merupakan Ilmu Pengetahuan
yang sangat memungkinkan untuk melakukan eksperimen dan pengamatan, serta
dalam proses pembelajaran juga mudah dilakukan variasi-variasi yang menarik bagi
siswa supaya perhatian siswa terfokus dalam pembelajaran.
2.1.2 Pembelajaran IPA di SD
Ilmu Pengetahuan Alam di SD hendaknya membuka kesempatan untuk
memupuk rasa ingin tahu anak didik secara alamiah. Hal ini akan membantu
mereka mengembangkan kemampuan bertanya dan mencari jawaban berdasarkan
bukti serta mengembangkan cara berpikir ilmiah. Fokus program pengajaran IPA
di SD bertujuan untuk memupuk minat dan pengembangan anak didik terhadap
dunia mereka dimana mereka hidup.
Setiap guru harus paham akan alasan mengapa IPA diajarkan di sekolah
dasar. Ada berbagai alasan yang menyebabkan satu mata pelajaran itu dimasukkan
kedalam kurikulum suatu sekolah. Alasan mengapa IPA diajarkan di SD menurut
Samatowa (2010:4) adalah:
9
1. Bahwa IPA berfaedah bagi suatu bangsa. Kesejahteraan materiil suatu
bangsa banyak sekali bergantung pada kemampuan bangsa dalam bidang
IPA, sebab IPA merupakan dasar teknologi. Sedangkan teknologi sering
disebut-sebut sebagai tulang punggung pembangunan. Suatu teknologi tidak
akan berkembang pesat bila tidak didasari pengetahuan dasar yang
memadai. Pengetahuan dasar untuk teknologi ialah IPA.
2. Bila diajarkan menurut cara yang tepat, IPA merupakan suatu mata
pelajaran yang memberikan kesempatan untuk berfikir kritis. Misalnya IPA
diajarkan dengan mengikuti metode “menemukan sendiri”. Dengan metode
ini anak dihadapkan pada suatu masalah. Anak diminta untuk menyelidiki
masalah tersebut. Dari berbagai saran dikemukakan anak mereka dituntun
merancang percobaan. Akibatnya anak mengamati percobaan sampai
memperoleh suatu kesimpulan.
3. Pelajaran IPA modern lebih mementingkan kemampuan berfikir dari pada
menghafal. Disamping itu dipentingkan juga kemampuan mengadakan
pengamatan secara teliti, menggunakan prinsip memecahkan percobaan
sederhana, menyusun data, mengemukakan dugaan dan lain-lainnya.
4. Mata pelajaran ini memiliki nilai-nilai pendidikan yaitu mempunyau potensi
yang dapat membentuk kepribadian anak secara keseluruhan.
Ilmu Pengetahuan Alam sebagai disiplin ilmu dan penerapannya dalam
masyarakat membuat pendidikan IPA menjadi penting. Samatowa (2010:5), Ilmu
Pengetahuan Alam untuk anak-anak didefinisikan oleh Plato dan Marten yang
terdapat dalam Carin (1993:5) yaitu: (1) mengamati apa yang terjadi, (2) mencoba
memahami apa yang diamati, (3) mempergunakan pengetahuan baru untuk
meramalkan apa yang akan terjadi, (4) Menguji ramalan-ramalan dibawah kondisi
untuk melihat apakah ramalan tersebut benar.
2.1.3 Tujuan Pembelajaran IPA
Tujuan pembelajaran IPA di SD menurut Kurikulum KTSP (Depdiknas,
2006:1) secara terperinci adalah:
1. Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa
berdasarkan keberadaan, keindahan, dan keteraturan alam ciptaann-Nya,
2. mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang
bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,
3. mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang adanya
hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi dan
masyarakat,
4. mengembangkan ketrampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar,
memecahkan masalah dan membuat keputusan,
10
5. meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga
dan melestarikan lingkungan alam dan segala keteraturannya sebagai salah
satu ciptaan Tuhan, dan
6. memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan ketrampilan IPA sebagai dasar
untuk melanjutkan pendidikan ke SMP atau MTs.
2.1.4 Pengertian Belajar
Menurut Slameto (2010:2) belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan
seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara
keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya.
Perubahan tingkah laku dalam pengertian belajar menurut Slameto (2010:3-4)
yaitu:
a. Perubahan terjadi secara sadar
Seseorang yang belajar akan menyadari terjadinya perubahan itu atau
sekurangkurangnya ia merasakan telah terjadi suatu perubahan dalam
dirinya.
b. Perubahan dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional
Sebagai hasil belajar, perubahan yang terjadi dalam diri seseorang
berlangsung secara berkesinambungan, tidak statis.
c. Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif
Dalam perbuatan belajar, perubahan-perubahan itu senantiasa
bertambah dan tertuju untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik dari
sebelumnya. Dengan demikian makin banyak usaha belajar itu
dilakukan, makin banyak dan makin baik perubahan yang diperoleh.
d. Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara
Perubahan yang terjadi karena proses belajar bersifat menetap atau
permanen. Ini berarti tingkah laku yang terjadi setelah belajar akan
bersifat menetap.
e. Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah
Ini berarti bahwa perubahan tingkah laku itu terjadi karena ada tujuan
yang akan dicapai. Perbuatan belajar terarah kepada perubahan tingkah
laku yang benar-benar disadari.
f. Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku
Perubahan yang diperoleh seseorang setelah melalui suatu proses belajar
meliputi perubahan keseluruhan tingkah laku. Jika seorang belajar
sesuatu, sebagai hasilnya ia akan mengalami perubahan tingkah laku
secara menyeluruh dalam sikap, keterampilan, pengetahuan dan
sebagainya.
11
Pengertian belajar menurut Thursan (2001:1) mengemukakan belajar
adalah suatu proses perubahan dalam kepribadian manusia,dan perubahan tersebut
ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku, seperti
peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan,
daya pikir, dan lain-lain. Hal ini berarti peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah
laku seseorang diperlihatkan dalam bentuk bertambahnya kulitas dan kuantitas
kemampuan seseorang dalam berbagi bidang. Apabila tidak mendapatkan
peningkatan kualitas dan kuantitas kemampuan,orang tersebut belum mengalami
proses belajar atau dengan kata lain,ia mengalami kegagalan di dalam proses
belajar.
Menurut Hamalik (2002:2) “ belajar tidak hanya mata pelajaran, tetapi
juga penyusunan, kebiasaan, persepsi, kesenangan atau minat, penyesuaian sosial
bermacam- macam keterampilan lain dan cita-cita. Dengan demikian seorang
dikatakan belajar apabila terjadi perubahan pada diri orang yang belajar akibat
adanya latihan dan pengalaman melalui olah informasi, respon positif yang semula
belum tahu menjadi lebih tahu supaya mendapat suatu kepribadian baru yang lebih
baik.
Dari beberapa definisi diatas dapat disumpulkan belajar adalah suatu
proses interaksi manusia baik secara langsung (dengan contoh) ataupun tidak
langsung
(dengan
kata-kata)
dengan
lingkungan
untuk
memperoleh
suatuperubahan, tingkah laku yang berupa perbuatan, pemahaman, keterampilan
dan sifat yang positif sehingga membawa pada kondisi kehidupan yang lebih baik
dan bermakna.
2.1.5 Motivasi Belajar
Menurut Hamalik (2002:205) motivasi adalah kondisi-kondisi atau keadaan
yang mengaktifkan atau memberi dorongan kepada mahluk untuk bertingkah laku
mencapai tujuan yang ditimbulkan oleh motivasi tersebut.
Ada ahli psikologi pendidikan yang menyebutkan kekuatan mental yang
mendorong terjadinya belajar tersebut sebagai motivasi belajar. Motivasi di
12
pandang sebagai dorongan mental yang menggerakan dan mengarahkan perilaku
manusia,termasuk perilaku belajar.
Menurut Suprijono (2009:162) motivasi
adalah dorongan internal dan
eksternal pada peserta didik yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan
perilaku. Motivasi belajar adalah proses yang memberi semangat belajar, arah, dan
kegigihan perilaku.
Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi
memiliki pengertian yang sama yaitu menunjukkan suatu dorongan yang timbul
dari dalam diri seseorang yang menyebabkan orang tersebut mau bertindak
melakukan sesuatu guna tujuan yang diinginkan.
2.1.5.1 Pengertian Motivasi Belajar
Dalam proses belajar, motivasi sangat diperlukan oleh seseorang yang tidak
mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas
belajar. Hal ini merupakan suatu pertanda yang akan dikerjakan itu tidak
menyentuh kebutuhannya. Segala sesuatu yang menarik minat orang lain belum
tentu dapat membangkitkan minatnya sejauh apa yang ia lihat itu mempunyai
hubungan dengan kepentingannya sendiri.
Seseorang yang melakukan aktivitas secara terus menerus tanpa motivasi dari
dirinya merupakan motivasi intrinsik yang sangat penting dalam aktivitas belajar.
Namun seseorang yang tidak mempunyai keinginan belajar, dorongan dari luar
merupakan motivasi ekstrinsik yang diharapkan. Oleh motivasi intrinsik dperlukan
bila motivasi intrinsik tidak ada dalam diri seseorang sebagai subjek belajar.
Menurut Sardiman (2003:80) mengatakan motivasi mengatakan motivasi
belajar adalah keseluruhan daya penggerak didalam diri siswa yang menimbulkan
kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dan kegiatan belajar siswa dan
memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh
subjek belajar tercapai.
Dari pengertian motivasi belajar, dapat disimpulkan 3 fungsi motivasi sebagi
berikut:
13
a. Mendorong manusia untuk berbuat (motivasi sebagai motor penggerak dari
setiap kegiatan yang akan dilakukan).
b. Menyeleksi sesuatu perbuatan (menentukan perbuatan-perbuatan) yang harus
dilakukan untuk mencapai tujuan).
c. Menentukan arah perbuatan (kearah tujuan yang hendak dicapai) .
Berdasarkan kutipan, maka dapat penulis simpulkan bahwa yang dimaksud
dengan motivasi belajar adalah dorongan yang timbul dalam diri individu untuk
melakukan sesuatu tindakan, sehingga mencapai hasil yang lebih baik dari pada
hasil sebelumnya, menyeleksi dan menentukan arah suatu perbuatan serta
memelihara semangat kerja yang tinggi.
2.1.5.2 Teori Tentang Motivasi
Terdapat 3 teori motivasi yang terkenal menurut para pakar motivasi,
yaitu: Teori Kebutuhan/Keperluan, Teori Humanistik, Teori Behavioristik.
1) Teori Kebutuhan/Keperluan
Menurut teori ini, manusia termotivasi untuk bertindak kalau dia ingin
memenuhi kebutuhannya. Terdapat tiga jenis kebutuhan yang umum, yaitu : 1).
Kebutuhan fisik, yaitu makan, kesehatan, keselamatan. 2). Kebutuhan emosional,
yaitu prestasi dan harga diri. 3). Kebutuhan kognitif, yaitu berhasil untuk
mencipta, memecahkan suasana konflik,untuk mendapat rangsangan.
2) Teori Humanistik
Para pakar teori Humanistik percaya bahwa hanya ada satu motivasi,yaitu
motivasi yang berasal dari dalam diri masing-masing individu dan motivasi ini
dimiliki oleh individu sepanjang waktu dan dimanapun ia berada. Motivasi tampil
dalam bentuk prilaku. Motivasi dalam diri ini merupakan keinginan dasar yang
mendorong individu mencapai berbagai pemenuhan segala keperluan/kebutuhan
dirinya sendiri. Keinginan dasr yang dimiliki oleh masing masing siswa dibawa
oleh siswa tersebut kesekolah. Guru hanya tinggal ingin memanfaatkan dorongan
ingin tahu siswa yang bersifat sudah ada dari dalam diri siswa dengan cara
menyajikan bahan pelajaran yang sesuai dan berguna bagi siswa.
Untuk meningkatkan gambaran siswa tentang dirinya sendiri, maka guru
memberikan berbagai kesempatan agar siswa berprestasi secara maksimum. Yang
14
paling penting untuk meningkatkan motivasi siswa menurut kaum Humanis ini
adalah member kesempatan siswa untuk melakukan eksplorasi/penjelajahan
secara pribadi dan memungkinkan mereka menemukan sesuatu yang berarti
melalui bekerja.
3) Teori Behavioristik
Para pakar Behavioristik bahwa motivasi dikontrol/dikendalikan oleh
lingkungan sekitar. Suatu perilaku yang bermotivasi terjadi apabila akibat dari
perilaku itu dapat menggetarkan emosi individu, yaitu menjadi suka atau tidak
suka. Kaum Behavioristik berpandangan bahwa manusia berperilaku jika ada
rangsangan dari luar. Perilaku menjadi kuat atau lemah dipengaruhi oleh peristiwa
sebagai akibat dari perilaku tersebut yang dapat menguggah emosi orang yang
berperilaku. Apabila akibat perilaku itu menimbulkan rasa suka,maka perilaku
menjadi kuat; tetapi jika perilaku itu menimbulkan rasa tidak suka, maka perilaku
itu akan ditinggalkan. Guru hendaknya dapat mengenalikan emosi siswa untuk
menjadi suksa dan ingin belajar.
2.1.5.3 Jenis-Jenis Motivasi Belajar
Dalam membicarakan macam-macam motivasi belajar, hanya dibahas dari
dua sudut pandang yaitu motivasi yang berasal dari dalam diri seseorang yang
disebut “motivasi intrinsik” dan motivasi yang berasal dari luar diri seseorang
disebut “motivasi ekstrinsik” .
a.
Motivasi Intrinsik
Motivasi Intrinsik adalah motiv-motiv yang menjadi aktif dan berfungsi
tidak perlu dirangsang dari luar, karena setiap individu sudah ada dorongan untuk
melakukan sesuatu.
Bila seseorang memiliki motif intrinsik dalam dirinya, maka ia sadar akan
melakukan sesuatu kegiatan yang tidak menimbulkan motivasi dari luar dirinya.
Dalam
aktivitas
belajar,
motivasi
intrinsik
diperlukan
terutama
belajar
sendiri.Seseorang yang memiliki motivasi intrinsik selalu ingin maju sulit sekali
melakukan aktifitas belajar terus menerus. Sedangkan seseorang yang memiliki
motivasi intrinsik selalu ingin maju dalam belajar.Keinginan ini dilatarbelakangi
15
oleh pemikiran yang positif, bahwa semua mata pelajarans yang dipelajari sangat
dibutuhkan dan sangat berguna kini dan mendatang. Motivasi memang
berhubungan dengan kebutuhan seseorang yang memunculkan kesadaran untuk
melakukan aktifitas atau kegiatan.
Siswa yang memiliki motivasi intrinsik cenderung akan menjadi seseorang
yang terdidik, berpengetahuan yang mempunyai keahlian dalam bidang tertentu.
Untuk mendapatkan semuanya itu perlu belajar. Belajar adalah suatu cara untuk
mendapatkan suatu ilmu pengetahuan dan ketrampilan.
Dorongan untuk belajar bersumber pada kebutuhan yang berisikan keharusan
untuk menjadi orang terdidik dan berpengetahuan.Jadi motivasi intrinsik muncul
berdasarkan kesadaran dengan tujuan esensial, bukan kesadaran atribut dan
seremonial.
b.
Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yag aktif dan berfungsi karena
adanya perangsang dari luar. Motivasi ekstrinsik diperlukan agar siswa
mau
belajar. Guru harus dapat membangkitkan minat siswa dengan motivasi ekstrinsik
dalam berbagai bentuknya. Kesalahan dalam menggunakan motif-motif ekstrinsik
bukan menjadi pendorong, tetapi menjadikan siswa malas belajar. Untuk itu guru
harus tepat dan benar dalam memotovasi siswa dalam rangka proses interaksi
belajar mengajar.
Dalam pendidikan dan pengajaran, guru bukan hanya berperan menjadi
administator, demonstrator, pengolola kelas, mediator, fasilitator, supervisor dan
evaluator, tetapi juga sebagai motivator dan pembimbing.
Sebagai motivator guru berperan untuk mendorong siswa agar giat belajar.
Usaha ini dapat diusahakan guru dengan memanfaatkan bentuk–bentuk motivasi
sekolah agar dapat membangkitkan gairah belajar siswa.Menurut Djamarah
(Syamsuddin 2003) ada enam hal yang dapat diusahakan guru yaitu:
1) Membangkitkan dorongan kepada siswa agar belajar.
2) Menjelaskan secara konkrit kepada siswa apa yang dapat di lakukan pada
akhir pengajaran.
3) Memberikan ganjaran kepada terhadap prestasi yang dicapai siswa sehingga
dapat merangsang untuk mendapat prestasi yang lebih baik di kemudian
hari.
16
4) Membentuk kebiasaan belajar siswa secara individual maupun kelompok.
5) Membantu kesulitan belajar siswa secara individual maupun kelompok.
6) Menggunakan metode yang bervariasi.
Berdasarkan uraian, dapat dipahami bahwa guru dalam membangkitkan
gairah belajar siswa dengan motivasi ekstrinsik dalam proses interaksi belajar
mengajar. Motivasi ekstrinsik adalah suatu alat yang cukup ampuh yang senantiasa
gunakan guru untuk membangkitkan gairah belajar siswa.Kadangkala ada guru
yang keliru dalam menggunakan motivasi ekstrinsik, sehingga siswa tidak berminat
untuk belajar, dan bahkan guru tersebut dibenci oleh siswa. Guru yang memaksa
siswa dengan kekerasan, tidak akan berhasil dalam memotivasi siswa, malah guru
yang merusak jati dirinya itu akan kehilangan wibawanya di depan siswanya. Oleh
sebab itu penggunaan motivasi ekstrinsik terkadang menjadi momok bagi setiap
siswa.Untuk itulah seluruh aspek dari kehidupan guru merupakan cermin dari
kepribadian guru sebagai idola anak didik, yang secara keseluruhan dari
kepribadian guru adalah suri tauladan bagi setiap siswa baik di sekolah maupun di
masyarakat.
Terkait dengan proses interaksi belajar mengajar, baik motivasi intrinsik
maupun motivasi ekstrinsik diperlukan untuk mendorong siswa agar tekun
melakukan aktivitas belajar. Motif ekstrinsik sangat diperlukan bila ada siswa yang
kurang berminat mengikuti pelajaran dalam jangka waktu tertentu.
2.1.6 Hasil Belajar
2.1.6.1 Pengertian Hasil Belajar
Menurut Sudjana (2004:14) hasil belajar adalah suatu akibat dari proses
belajar dengan menggunakan alat pengukuran yaitu berupa tes yang disusun secara
terencana, baik tes tertulis, tes lisan maupun tes perbuatan.
Hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindakan mengajar atau
belajar” Dimyati dan Moedjiono (1992:40). Hasil belajar dapat berupa pengetahuan
(kognitif), tingkah laku atau sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotor), yang
diperoleh siswa dalam proses pembelajaran. Dapat pula dikatakan bahwa hasil
belajar merupakan perolehan seseorang dari suatu perbuatan belajar, atau hasil
17
belajar merupakan kecakapan nyata yang dicapai siswa dalam waktu tertentu. Hasil
belajar yang utama adalah pola tingkah laku yang bulat yang diperoleh oleh setiap
siswa setelah proses belajar.
Sanjaya (2005:90) juga menjelaskan bahwa, belajar bukan hanya sebagai
hasil, akan tetapi juga sebagai proses. Belajar mengembangkan dua sisi yang sama
pentingnya yaitu sisi hasil dan proses. Oleh karena itu, keberhasilan belajar tidak
hanya diukur dari sejauh mana siswa dapat menguasai pelajaran, akan tetapi
bagaimana proses penguasaan itu terjadi. Hal ini terutama diajukan untuk
menentukan perubahan perilaku yang non kognitif.
Menurut Bloom (Suprijono,2012:6-7) ada tiga ranah (domain) hasil belajar,
yaitu: kognitif, afektif, dan psikomotor. Perinciannya adalah sebagai berikut:
a. Ranah Kognitif
Berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari 6 aspek yaitu
pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehension), penerapan
(application), menguraikan (analisys), mengorganisasikan (sintesis), dan
penilaian (evaluation).
b. Ranah afektif
Berkenaan dengan sikap (receiving), memberikan respon (responding) dan
nilai (valuing). Ranah afektif meliputi lima jenjang kemampuanya itu
menerima, menjawab atau reaksi, menilai, organisasi dan karakterisasi
dengan suatu nilai atau kompleks nilai.
c. Ranah Psikomotor
Meliputi keterampilan motorik, manipulasi benda-benda, koordinasi
neuromuscular (menghubungkan dan mengamati). Tipe hasil belajar
kognitif lebih dominan daripada afektif dan psikomotor karena lebih
menonjol, namun hasil belajar psikomotor dan afektif juga harus menjadi
bagian dari hasil penilaian dalam proses pembelajaran di sekolah.
Cara mengetahui hasil belajar siswa, guru dapat melakukan dengan berbagai
cara salah satunya adalah dengan melakukan evaluasi dan tes. Evaluasi pendidikan
adalah kegiatan pengendalian, penjamin dan penetapan mutu pendidikan terhadap
berbagai komponen pendidikan pada setiap jalur, jenjang dan jenis pendidikan
sebagai bentuk pertanggungjawaban penyelenggaraan pendidikan (UU No 20
Tahun 2003 SISDIKNAS ).
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah
suatu kemampuan atau keterampilan yang dimiliki oleh siswa setelah siswa tersebut
mengalami aktivitas belajar.
18
2.1.7 Metode Pembelajaran Picure and Picture
Menurut Fathurrahman (Trianto:2010) metode secara harfiah berarti cara.
Dalam pemakaian yang umum, metode diartikan sebagai suatu cara atau prosedur
yang dipakai untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam kaitannya dengan
pembelajaran, metode di definisikan sebagai cara-cara menyajikan bahan pelajaran
pada peserta didik untuk tercapainya tujuan yang telah ditetapkan .Dengan
demikian salah satu keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang guru dalam
pembelajaran adalah keterampilan memilih metode. Pemilihan
metode terkait
langsung dengan usaha-usaha guru dalam menampilkan pengajaran yang sesuai
dengan situasi dan kondisi, sehingga pencapaian pengajaran diperoleh secara
optimal.
Menurut Ahmadi ( 2011:58) metode pembelajaran picture and picture
adalah
suatu
metode
belajar
yang
menggunakan
gambar
dan
di
pasangkan/diurutkan menjadi urutan logis. Dengan penerapan metode pembelajaran
picture and picture siswa dapat memperdalam konsep secara leluasa, terkondisi
untuk mengembangkan daya nalarnya, dan memperkaya penglamannya di sekolah.
Dengan picture atau gambar kita akan menghemat energy kita dan siswa akan
lebih mudah memahami materi yang diajarkan (Sahrudin dan Iriani, 2010 : 2).
Metode pembelajaran picture and picture mengupayakan siswa belajar secara
aktif, berangkat dari pengalaman siswa, mengajak siswa berpikir kritis, dan
merupakan pembelajaran kontekstual.
Metode ini dapat melatih siswa untuk berani menerima tugas yang diberikan
guru dengan maju kedepan untuk memasangkan gambar melatih siswa untuk
mendengarkan tugas yang diberikan oleh guru secara lisan.Dalam pembelajaran
Ilmu Pengetahuan Sosial khususnya konsep perkembangan teknologi transportasi
dapat membantu siswa meningkatkan sikap positif serta menciptakan kepercayaan
diri dalam
menyelesaikan
masalah.Metode ini
juga
merupakan
metode
pembelajaran yang mengetumakan keberanian siswa untuk mencapai tujuan
pembelajaran.
19
2.1.8 Kelebihan dan Kekurangan Metode Picture and Picture
2.1.8.1 Kelebihan Metode Picture and Picture
Menurut Ahmadi (2011:58) metode pembelajaran ini juga memiliki
kelebihan dan kekurangan dalam penerapannya. Adapun kelebihan dari metode
pembelajaran picture and picture ini adalah :
a. Guru dengan metode inovatif ini akan dapat dengan mudah mengetahui
kemampuan masing-masing siswa.
b. Melatih berfikir logis dan sistematis siswa
c. Dengan model ini dapat mendorong siswa untuk aktif dalam pembelajaran.
d. Guru hanya sebagai pendamping dalam proses belajar.
e. Proses belajar akan dapat diikuti seragam oleh siswa
2.1.8.2 Kekurangan Metode Picture and Picture
Sedangkan kekurangannya menurut Ahmadi (2011:58) dari metode
pembelajaran ini adalah :
a. Memakan banyak waktu
b. Harus memersiapkan banyak alat dan bahan yang berhubungan
dengan
materi yang diajarkan dengan model tersebut.
c. Membutuhkan biaya yang tidak sedikit
d. Guru dituntut untuk lebih terampil dalam menyajikan gambar sehingga
mendorong motivasi siswa untuk lebih aktif
2.1.8.3 Langkah-langkah Metode Picture and Picture
Menurut Ahmadi (2011:58) adapun langkah-langkah dari pelaksanaan
picture and picture ini adalah sebagai berikut :
a. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
atau kompetensi yang ingin
dicapai
b.
Memberikan materi pengantar sebelum kegiatan
c. Guru menyediakan gambar-gambar yang akan digunakan (berkaitan dengan
materi)
d.
Guru menunjuk siswa secara bergilir untuk mengurutkan atau memasangkan
gambar-gambar yang ada
20
e. Guru member pertanyaan mengenai alasan siswa dalam menentukan urutan
gambar
f.
Dari alasan tersebut guru akan mengembangkan materi dan menanamkan
konsep materi yang sesuai dengan kompetensi yang di capai
g.
Guru menyampaikan kesimpulan
2.1.8.4 Penerapan Pembelajaran Picture And Picture dalam
PBM IPA
Berdasarkan Standar Proses Standar proses pendidikan
dapat diartikan sebagai suatu bentuk teknis yang merupakan acuan atau
kriteria yang dibuat secara terencana atau didesain dalam pelaksanaan pembelajaran
(UU No 41 Tahun 2007 Tentang Standar Proses Untuk Satuan Pendidikan Dasar
dan Menengah). Masih mengacu pada UU tersebut (UU No 41 Tahun 2007
Tentang Standar Proses Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah), hal-hal
yang diatur dalam standar proses terdiri dari perencanaan proses pembelajaran yang
meliputi menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang memuat
identitas mata pelajaran, standar kompentensi (SK), kompetensi dasar (KD),
indikator pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran materi pembelajaran, alokasi
waktu, metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian hasil belajar dan
sumber belajar; pelaksanaan proses pembelajaran dimana hal-hal yang harus
diperhatikan antara lain rombongan (peserta) belajar maksimal, beban kerja
minimal guru, buku pelajaran, dan pengelolaan kelas; penilaian hasil pembelajaran
tujuannya digunakan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik,
digunakan untuk menyusun laporan kemajuan hasil belajar, dan memperbaiki
proses pembelajaran. Penilaian dilakukan secara konsisten, sistematik dan
terprogram dengan menggunakan tes dalam bentuk tes tertulis maupun tes lisan,
dan nontes dalam bentuk pengamatan kerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya
berupa tugas, proyek dan/atau produk, portofolio dan penilaian diri. Penilaian hasil
pembelajaran menggunakan Standar Penilaian Pendidikan dan Panduan Penilaian
Kelompok Mata Pelajaran; serta pengawasan proses pembelajaran yang dilakukan
dengan cara pemantauan, supervisi, evaluasi dan pelaporan.
Berdasarkan
pada
hal
yang
telah
dipaparkan,
maka
dalam
pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran Picture And
21
Picture pada mata pelajaran IPA pada siswa SD kelas 4, standar kompentensi
dan kompentensi dasar (SK/KD), adalah SK/KD mata pelajaran IPA kelas 4
pada semester II pada materi Perubahan lingkungan fisik terhadap daratan ,
indikator pencapaian, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan penilaian
yang dilakukan, serta bentuk penilaian yang dilakukan antara lain dijabarkan
dalam RPP berkarakter berdasarkan sintaks metode pembelajaran Picture And
Picture berikut ini:
22
Tabel 2.1
Sintaks Metode Pembelajaran Picture And Picture
No
1.
2
Kegiatan pembelajaran
Kegiatan Awal
Guru mengawali pembelajaran dengan
Salam
Doa
Pengkondisian kelas
Absensi
Apersepsi dan Motivasi
Guru bertanya kepada siswa
1. Guru bertanya kepada siswa siapa diantara kalian yang suka bermain hujan?
2. Guru : hari ini materi yang kita pelajari tentang tentang perubahan lingkungan fisik
terhadap daratan.
3. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Dan hasil/KKM belajar yang
dicapai setiap siswa dalam evaluasi.
4. Guru memotivasi siswa dan menginformasikan cara belajar yang akan ditempuh dalam
proses pembelajaran (dengan metode pembelajaran Picture And Picture).
Kegiatan Inti
Eksplorasi
Dalam kegiatan eksplorasi, guru:
1. Guru melakukan tanya jawab dengan siswa untuk melihat kemampuan siswa, dan melihat
siswa yang aktif.
2. Guru menyampaikan materi/pelajaran yang akan dipelajari.
3. Guru menunjukan dan menjelaskan gambar-gambar kegiatan yang berkaitan dengan materi
pembelajaran
4. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok
5. Guru membagi LKS yang telah disiapkan kepada siswa
Elaborasi
Dalam kegiatan elaborasi, guru :
1.
Guru meminta siswa untuk mengamati perubahan lingkungan fisik terhadap daratan.
2.
Siswa mengurutkan gambar perubahan lingkungan fisik terhadap daratan sesuai
dengan alat peraga yang sudah dibagikan guru disetiap kelompok.
3.
Perwakilan kelompok secara bergantian maju kedepan untuk memasangkan gambar
dengan pertanyaan yang ada.
4.
Guru dan siswa membahas hasil kerja kelompok menggunakan alat peraga yang sudah
disiapkan guru sambil guru dan siswa tanya jawab.
3
Konfirmasi
Dalam kegiatan konfirmasi, guru
1. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya mengenai hal-hal yang belum jelas
dari materi yang disampaikan.
2. Guru memberi motivasi berupa pujian kepada siswa yang belum berhasil dalam proses
pembelajaran.
Kegiatan Akhir
1. Guru membimbing siswa menyimpulkan pembelajaran.
2. Guru memberikan siswa evaluasi
3. Siswa mengerjakan evaluasi
4. Guru menutup pembelajaran dengan mengucapkan salam.
23
2.2
Kajian Hasil Penelitian Yang Relevan
PTK karya Sulastri yang berjudul: meningkatkan hasil belajar IPA melalui
metode pembelajaran picture and picture siswa kelas IV semester I SD N Slungkep
02 Kecamatan Keyen Kabupaten Pati Tahun 2011/2012. Hasil penelitian
menunjukan: penerapan metode picture and picture dengan KKM 6,5 dapat
meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran IPA siswa kelas IV semester I SD
Negeri Slungkep 02 Kecamatan Kayen Kabupaten Pati Tahun 2011/2012 . Hal ini
dilihat dari kenaikan nilai hasil belajar setiap siklus dimana pada pra siklus
ketuntasan belajar siswa pada pra siklus ada 6 siswa atau 27,3% naik menjadi 16
siswa atau72,7% pada siklus I, meningkat lagi pada siklus II menjadi 19 siswaatau
86,4%. Demikian peningkatan juga terjadi pada keaktifan siswa dimana pada pra
siklus keaktifan pada kategori baik sekali ada 7 siswa atau 31,8 naik menjadi 14
siswa atau 6,37% pada siklus I dan terakhir pada siklus II menjadi 20 siswa atau
90,9% . Dari hasil ini ketuntasan
hasil belajar dan keaktifan
belajar sudah
mencapai indikator yaitu 80% keatas. Dengan kata lain hasil belajar siswa dengan
menggunakan metode picture and picture telah tuntas atau mencapai KKM yang di
harapkan.
PTK karya Deden M.Laode yang berjudul:“Meningkatkan Hasil Belajar IPA
Siswa Kelas IV SDN 237 Atue Kabupaten Luwu Timur Melalui Metode
Pembelajaran Picture And Picture” menunjukan bahwa adanya peningkatan hasil
belajar IPA setelah penerapan metode pembelajaran picture and picture dengan
niali ketuntasan belajar siswa secara klasikal pada siklus I 52% (13 dari siswa yang
dapat mencapai KKM (≥ 63 ) dan pada siklus II 84% (21 dari 25 siswa yang dapat
mencapai nilai KKM (≥63) Hal ini berarti bahwa terjadi peningkatan hasil belajar
siswa siklus I ke siklus II setelah penerapan metode penerapan picture and picture
sebesar 32%. Berdasarkan analisis data dan pembahasan disimpulkan bahwa
metode pembeljaran picture and picture sangat efektif digunakan untuk
meningkatkan hasil belajar IPA Siswa Kelas IV SDN 237 Atue Kabupaten Luwu
Timur.
24
PTK karya Yusup Hanafi Nasution yang berjudul: “Meningkatkan motivasi
belajar siswa dengan menggunakan metode picture and picture pada mata pelajaran
IPA pokok bahasan sumber daya alam di kelas V SD Negeri 101777 Saentis T.A
2011/2012” menunjukan bahwa adanya peningkatan motivasi belajar, Pada kondisi
awal motivasi siswa tergolong rendah, dimana ada 14 orang dari 23 orang siswa
atau (60,8% ) yang motivasinya tergolong rendah, 6 orang siswa dari 23 orang
siswa atau ( 26,1% ) yang motivasinya tergolong sedang, dan hanya 3 orang siswa
dari 23 orang atau ( 13,1% ) siswa yang motivasinya tergolong tinggi. Pada siklus I
5 orang dari 23 orang siswa atau (21,7%) yang motivasinya tergolong rendah, 11
orang siswa dari 23 orang siswa atau ( 47,8% ) yang motivasinya tergolong sedang,
dan 7 orang siswa atau ( 30,4% ) yang motivasinya tergolong tinggi. Selanjutnya
pada siklus II yang motivasinya tergolong rendah turun menjadi hanya 1 orang dari
23 orang siswa atau ( 4,4% ), 2 orang siswa yang motivasinya tergolong sedang
atau ( 8,7%), dan siswa yang motivasinya tinggi meningkat signifikan menjadi 20
orang siswa dari 23 orang siswa atau ( 86,9% ). Melihat peningkatan yang terjadi
pada motivasi siswa dalam pokok bahasan sumber daya alam pada siklus II, maka
proses belajar mengajar tidak lagi dilanjutkan pada siklus berikutnya.
Dari data di atas, maka dapat disimpulkan bahwa motivasi siswa dapat
meningkat pada mata pelajaran IPA pokok bahasan sumber daya alam dengan
menggunakan metode picture and picture di kelas V SD Negeri 101777 Saentis
T.A 2011/2012.
PTK karya Agung rimba kurniawan yang berjudul Meningkatkan Motivasi
Dan Hasil Belajar Sains Materi Rantai Makanan Dengan Menggunakan Model
Pembelajaran Picture And Picture Siswa Kelas IV SDN No.76/I Sungai Buluh”
,hasil penelitian menunjukkan ada peningkatan motivasi belajar siswa dengan nilai
rata-rata 56,31 dalam kategori cukup tinggi pada siklus I, dan meningkat pada
siklus II dengan skor rata-rata menjadi 71,05. Dari siswa yang tuntas belajar 13
siswa pada siklus I menjadi 18 siswa pada siklus kedua. Hal ini menunjukkan
kelengkapan klasik 68,42% pada siklus I dan 94,73% pada siklus kedua. Terjadi
peningkatan dari siklus I ke siklus II karena peningkatan perencanaan, pelaksanaan,
observasi, dan refleksi serta anggota kelompok mengubah setiap siklus. Ini
25
menunjukkan hasil dari upaya pemulihan proses pembelajaran untuk meningkatkan
motivasi siswa dan hasil belajar dengan menggunkan model pembelajaran picture
and picture. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dengan
menggunakan model pembelajaran picture and picture untuk meningkatkan
motivasi dan pembelajaran ilmu Sains dari rantai makanan pada siswa kelas IV
SDN 76 / I Sungai Buluh.
Berdasarkan kajian penelitian diatas, penggunaan metode pembelajaran
picture and picture dapat meningkatkan motivasi dan
hasil belajar. Dengan
mengacu pada penelitian diatas maka dilakukan penelitian dengan judul Upaya
Meningkatkan Motivasi Belajar dan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Dengan
Menggunakan Metode Pembelajaran Picture And Picture Pada Siswa Kelas IV SD
Mangunsari 02 Semester II Tahun Pelajaran 2012/2013.
2.3
Kerangka Berfikir
Dalam mengajarkan pelajaran IPA terutama materi Perubahan lingkungan
fisik daratan. Dibutuhkan konsep dasar teori yang tepat dalam menyampaikan
pelajaran tersebut. Konsep dasar teori yang dipilih harus sesuai dan cocok serta
harus disesuaikan dengan kebutuhan siswa, terutama dalam penyampaian materi
IPA. Sebab dalam pelajaran IPA siswa diberi kesempatan untuk diberfikir kritis
serta menemukan sendiri, mengadakan pengamatan secara teliti, menggunakan
prinsip memecahkan percobaan sederhana, menyusun data, mengemukakan dugaan
dan menjelaskan gagasan dan pernyataan IPA serta memiliki sikap menghargai
kegunaan IPA dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan
minat dalam mempelajari IPA, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan
masalah. Dalam penerapan metode pembelajaran Picture And Picture
proses
pembelajaran mempunyai keungulan dan dipastikan dapat meningkatkan motivasi
belajar dan hasil belajar, keungulannya; guru dengan metode inovatif ini akan dapat
dengan mudah mengetahui kemampuan masing-masing siswa,melatih siswa
berfikir logis dan sistematis, dapat mendorong siswa lebih aktif dalam
pembelajaran, guru hanya sebagai pendamping dalam proses belajar, proses belajar
akan diikuti dengan seragam oleh siswa. Untuk meningkatkan keberhasilan siswa,
26
interaksi antar siswa seiring dengan peningkatan kemampuan mereka dalam
berpendapat.
Dalam metode pembelajaran Picture And Picture siswa sangat dilibatkan
dalam proses pembelajaran, siswa lebih mudah menemukan dan memahami materimateri yang diangap sulit karena setiap pembahasan ada gambar-gambarnya dan
dalam
kelompok
mereka
saling
bekerjasama
dengan
temannya
untuk
menyelesaikan masalah. Melalui kerjasama akan terjalin rasa kebersamaan,
komunikasi, mereka saling berbagi pengetahuan yang dimiliki mereka masingmasing sehingga terjadi pemahaman yang sama dalam persoalan-persoalan yang
mereka diskusikan. Ini akan membawa dampak pada peningkatkan motivasi belajar
dan hasil belajar.
2.4
Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian-kajian teori dan kerangka berpikir, maka hipotesis
tindakan pada penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: penerapan metode
pembelajaran picture and picture dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar
pada mata pelajaran IPA siswa kelas 4 SD Negeri Mangunsari 02 Kecamatan
Sidomukti Kota Salatiga semester II tahun pelajaran 2012/2013.
Diduga melalui penerapan picture and picture dapat meningkatkan motivasi
dan hasil belajar pada mata pelajaran IPA siswa kelas 4 SD Negeri Mangunsari 02
Kecamatan Sidomukti Kota Salatiga semester II tahun pelajaran 2012/2013.
Download