hubungan sikap, norma subjektif, persepsi kontrol

advertisement
HUBUNGAN SIKAP, NORMA SUBJEKTIF, PERSEPSI KONTROL
PERILAKU DAN PENGETAHUAN TERHADAP INTENSI PELAPORAN
KECELAKAAN KERJA PERAWAT RAWAT INAP TULIP DAN MELATI
DI RUMAH SAKIT X KOTA BEKASI TAHUN 2016
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan dalam Memperoleh Gelar
Sarjana Kesehatan Masyarakat (S.K.M)
Disusun Oleh :
SEKAR WIGATI SUPRAPTO
1112101000062
PEMINATAN KELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
1438 H / 2017 M
i
ii
iii
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
PEMINATAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
Skripsi, Maret 2017
Sekar Wigati Suprapto, NIM: 1112101000062
Hubungan Sikap, Norma Subjektif, Persepsi kontrol perilaku, dan
Pengetahuan Terhadap Intensi Pelaporan Kecelakaan Kerja Perawat Rawat
Inap Tulip dan Melati Di Rumah Sakit X Kota Bekasi Tahun 2016
(xxi + 120 halaman, 6 tabel, 3 bagan, 4 lampiran)
ABSTRAK
Pelaporan kecelakaan kerja merupakan upaya untuk mengetahui kejadian
kecelakaan kerja beserta penyebabnya sehingga dapat digunakan untuk
melakukan pencegahan kecelakaan berulang. Kecenderungan pekerja dalam
melaporkan kecelakaan kerja masih rendah. Hal ini juga dijumpai di Rumah Sakit
X Kota Bekasi tercatat hanya 2 dari 20 perawat yang melaporkan kecelakaan kerja
yang dialami.
Penelitian ini menggunakan desain cross sectional bertujuan untuk
mengetahui hubungan sikap, norma subjektif, persepsi kontrol perilaku, dan
pengetahuan terhadap intensi pelaporan kecelakaan kerja. Sampel pada penelitian
ini berjumlah 52 perawat di rawat inap tulip dan melati Rumah Sakit X Kota
Bekasi. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober – Desember 2016 dengan
menggunakan instrumen kuesioner. Analisa data dilakukan dengan menggunakan
uji chi-square.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 46,2% perawat memiliki intensi
pelaporan kecelakaan kerja lemah dan diketahui bahwa variabel sikap, norma
subjektif, persepsi kontrol perilaku, dan pengetahuan memiliki hubungan dengan
intensi pelaporan kecelakaan kerja.
Untuk meningkatkan intensi perawat, pihak rumah sakit sebaiknya
melakukan evaluasi dan pengembangan prosedur pelaporan kecelakan kerja yang
berlaku, serta memberikan sosialisasi dan pelatihan prosedur pelaporan
kecelakaan kerja.
Kata Kunci : Intensi Pelaporan Kecelakaan Kerja, Sikap, Norma Subjektif,
Persepsi kontrol perilaku, Pengetahuan
Daftar Bacaan : 78 (1969 – 2015)
iv
FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCES
DEPARTEMENT OF PUBLIC HEALTH
OCCUPATIONAL SAFETY AND HEALTH CONCENTRATION
Undergraduate Thesis, March 2017
Sekar Wigati Suprapto, ID Number: 1112101000062
The Associations of Attitude, Subjective Norm, Perceived Behavioral Control
and Knowledge toward Nurses Work Accident Report Intention in Inpatient
Rooms Tulip and Melati X Hospital Bekasi City Year 2016
(xxi + 120 pages, 6 tables, 3 pictures, 4 attachments)
ABSTRACT
Accident report was an attempt to find out scene of an accident work and
the cause so that could be used as the prevention of the accident repeated. A
tendency workers in reporting accident is still low. It is also found in the hospital
X the city of Bekasi we can see that only 2 of 20 nurses who report accidents that
happened.
This research using cross sectional design the purpose was to determine the
associations of attitude, subjective norms, behavioral control perception and
knowledge toward nurses work accident report intention. The sample of this study
was 52 nurses in inpatient rooms tulip and melati, X Hospital Bekasi City. The
research is done in Oktober – Desember 2016 by using quationnaire. Chi square
test was used as bivariate statistical test.
The study results found that 46,2% nurses had weak work accident report
intention and bivariate analysis results showed there are the associations of work
accident report intention toward attitude, subjective norms, perceived behavioral
control and knowledge.
To increase the intention about reporting the work accident, the hospital
should evaluate and develop the procedure of work accident report, socialize the
and training procedure regarding work accident report.
Keywords: Intention, Attitude, Subjective Norm, Perceived Behavioral Control,
Knowledge
Reading Lists: 78 (1969 - 2015)
v
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Data Diri
Nama
: Sekar Wigati Suprapto
Tempat,Tanggal Lahir
: Jakarta, 14 Desember 1994
Agama
: Islam
Jenis Kelamin
: Perempuan
Status Pernikahan
: Belum Menikah
Tinggi Badan
: 160 cm
Alamat
: Jl. Pinus Raya AG 2 No. 16 RT. 004 RW. 021 Reni
Jaya, Pamulang Barat, Pamulang, Tangerang Selatan
No. Telp / HP
: 021-7415773 / 08561115026
Email
: [email protected]
Pendidikan Formal
2012 - Sekarang
: Mahasiswi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan,
Program Studi Kesehatan Masyarakat, Peminatan
Keselamataan dan Kesehatan Kerja (K3), Universitas
Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
2009 – 2012
: SMA Negeri 6 Tangerang Selatan
2006 – 2009
: SMP Negeri 1 Pamulang
2000 – 2006
: SD Negeri 3 Pamulang
Pengalaman Organisasi
2005
: Anggota Pramuka SD Negeri 3 Pamulang
2006
: Anggota Basket SMP Negeri 1 Pamulang
2006
: Anggota PASKIBRA SMP Negeri 1 Pamulang
2009 – 2010
: Ketua Tari Tradisional SMA Negeri 6 Tangerang
Selatan
2010 – 2011
: Anggota Palang Merah Remaja (PMR) SMA Negeri 6
Tangerang Selatan
vi
2012 – 2014
: Sekretaris Pengembangan Sumber Daya Manusia
(PSDM) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Program
Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Islam Negeri
(UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
2013 – 2014
: Sekretaris Human Resources Development (HRD)
Forum Studi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (FSK3)
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
Jakarta
2014 – 2015
: Sekretaris Umum Himpunan Mahasiswa Program Studi
(HMPS) Kesehatan Masyarakat Universitas Islam
Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
2014 – 2015
: Anggota Information and Technology (IT) Forum Studi
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (FSK3) Universitas
Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
Keanggotaan

Panitia, Rapat Kerja Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Program Studi
Kesehatan
Masyarakat
Universitas
Islam
Negeri
(UIN)
Syarif
Hidayatullah Jakarta Tahun 2012

Panitia, Seminar Nasional RUU Tenaga Kerja Kesehatan Tahun 2013

Panitia, Orientasi Pengenalan Akademik dan Kebangsaan (OPAK)
Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Islam Negeri (UIN)
Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2013, Tahun 2014 dan Tahun 2015

Panitia, Rapat Kerja Forum Studi Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(FSK3) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun
2013

Panitia dan Peserta, Training Awareness OHSAS 18000:1 & PP NO.50
Tahun 2012 Forum Studi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (FSK3)
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2014
vii

Panitia, Entrepreneur Festival 2014 Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM)
Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Islam Negeri (UIN)
Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2014

Panitia, Saman Festival Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS)
Kesehatan
Masyarakat
Universitas
Islam
Negeri
(UIN)
Syarif
Hidayatullah Jakarta Tahun 2015

Panitia, Pekan Seni dan Olahraga (PSO) Himpunan Mahasiswa Program
Studi (HMPS) Kesehatan Masyarakat Universitas Islam Negeri (UIN)
Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2015

Panitia, Kesmas Untuk Negeri (KUN) Himpunan Mahasiswa Program
Studi (HMPS) Kesehatan Masyarakat Universitas Islam Negeri (UIN)
Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2015

Panitia, Seminar Pengembangan Profesi Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Program Studi Kesehatan Masyarakat FKIK UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta Tahun 2015

Volunteer, Gerakan Masyarakat VI Dreamdelion Sehat Tahun 2016

Volunteer, Gerakan Masyarakat VII Dreamdelion Sehat Tahun 2016
Training, Seminars, Certification, and other
2012
 Talkshow Nasional Peringatan Hari AIDS se-Dunia Ciputat
2012 di FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
2012
 Seminar Pengembangan Profesi “Toward Universal Ciputat
Health Coverage and Equity” di FKIK UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta
2013
 Pelatihan Manajemen Data di FKIK UIN Syarif Ciputat
Hidayatullah Jakarta
2013
 Seminar
Pengembangan
Profesi
“Ribuan
Anak Ciputat
Terancam HIV-AIDS, Let’s Prevent Mother to Child
Transmission” di FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
viii
2013
 Seminar
Pengembangan
Profesi
“Kesiapan Ciputat
Implementasi Jaminan Kesehatan Nasional 2014” di
FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
2013
 Seminar Pengembangan Profesi “Be Smart and Healthy Ciputat
with Social Media Networking” di FKIK UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta
2013
 Seminar Pengembangan Profesi “From Trash To Ciputat
Treasure” di FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
2014
 Seminar Nasional Kesehatan Masyarakat “Upaya Ciputat
Menghadapai
Tantangan
Kesehatan
Masyarakat
Indonesia Post MDGs: Healthy People – Healthy
Environment” di FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
2014
 Pelatihan Analisis Data Univariat dan Bivariat di FKIK Ciputat
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
2014
 SKM Jakarta Summit 2014 di Gedung II BPPT
Jakarta
2014
 Training SMK3 Based on OHSAS 18001 & PP No.50 Ciputat
Tahun 2012 di FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
2014
 Workshop “Safety In The Process Industries” di FKIK Ciputat
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
2014
 Workshop “Ergonomics In The Work Place” di FKIK Ciputat
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
2014
 Seminar Kewirausahaan Entrepreneur Festival 2014 di Ciputat
FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
2014
 Seminar
Pengembangan
Profesi
“Optimalisasi Ciputat
Pemenuhan Regulasi Prasarana Perlintasan Kereta Api
Demi Stabilitas Transportasi Nasional” di FKIK UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta
2014
 Seminar Pengembangan Profesi “Have Your Perfect Ciputat
Weight with a Proper Diet” di FKIK UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta
ix
2014
 Seminar Pengembangan Profesi “Let’s be Smart : Ciputat
Sukseskah Peringatan Pesan Bergambar Pada Bungkus
Rokok Diterapkan di Indonesia ?” di FKIK UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta
2014
 Seminar Pengembangan Profesi “Menstrual and Pre- Ciputat
Menstrual Syndrome” di FKIK UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta
2014
 Seminar Pengembangan Profesi “Human Health Impact Ciputat
and What Mosquitoes Responses to Climate Change” di
FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
2015
 Kajian Ilmu Keselamatan Konstruksi (Lifting Crane) di Ciputat
FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
2015
 Workshop “Management Of Fire Safety” di FKIK UIN Ciputat
Syarif Hidayatullah Jakarta
2015
 Workshop “Risk Assessment In The Work Place” di Ciputat
FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
2015
 Seminar
Pengembangan
Profesi
“Combat
The Ciputat
Neglected Tropical Disease Towards a Filariasis-Free
Country by 2020” di FKIK UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta
2015
 Seminar Pengembangan Profesi “Are You Selective Ciputat
Eater ? Be Careful To Obesity !” di FKIK UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta
x
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmannirrahim
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Alhamdulillahi Robbil ‘Aalamiin, Puji dan syukur penulis panjatkan
kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga
penulis dapat menyelesaikan Skripsi yang berjudul “Hubungan Sikap, Norma
Subjektif, Persepsi kontrol perilaku dan Pengetahuan Terhadap Intensi Pelaporan
Kecelakaan Kerja Perawat Rawat Inap Tulip dan Melati di Rumah Sakit X Kota
Bekasi Tahun 2016” dengan baik. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan
kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW.
Skripsi ini merupakan hasil dari penelitian yang dilaksanakan penulis pada
Oktober – Desember 2016 di salah satu rumah sakit di kota Bekasi. Skripsi ini
disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan
Masyarakat.
Dalam penulisan ini banyak pihak yang telah memberikan bantuan dan
dukungan berupa doa, motivasi, dan bimbingan. Penulis ingin mengucapkan
terima kasih kepada :
1. Allah SWT, atas segala kemudahan, berkah, nikmat dan kasih sayang yang
diberikan-Nya.
2. Keluarga tercinta, Ayah Suprapto, Ibu Sri Budiningsih, Mas Banyu Ageng
Wahyu Utomo, Mas Tirto Agung Anugerah Wicaksono, Mbak Oktifiliana
Setyaningrum, Kak Stia Permatasari Rahmawulan, Mbah Uti Warikem yang
selalu mendoakan, memberikan dukungan dan semangat yang tidak pernah
putus serta menjadi motivasi penulis untuk lulus secepatnya.
xi
3. Pembimbing Skripsi, Ibu Fase Badriah, M.Kes, Ph.D dan Ibu Dr. Iting
Shofwati, S.T, M.KKK yang telah membimbing dan memberikan saran serta
dukungan kepada penulis dalam penyusunan skripsi ini.
4. Dekan FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. H. Arief Sumantri,
M.Kes.
5. Kepala Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta Ibu Fajar Arianti, SKM, M.Kes, PhD serta para dosen Kesehatan
Masyarakat yang telah memberikan ilmu yang bermanfaat.
6. Kepala Instalasi K3LRS Rumah Sakit X Kota Bekasi dr. Ratna serta Staff
Instalasi K3LRS Ibu Tria, Ibu Heni, Ibu Hesti dan Ibu Nunung yang telah
membantu penulis selama pengumpulan data di lapangan.
7. Perawat Rawat Inap Tulip dan Melati Rumah Sakit X Kota Bekasi yang telah
bersedia menjadi responden penelitian penulis.
8. Chairmate SMA penulis, Yudha Puspa Yunita yang saling mendoakan,
menyemangati dan berjuang bersama-sama untuk mendapatkan gelar masingmasing.
9. Limaku sayang Nurmarani Rachman, Anisa Apriliyani, Nuni Puspa
Syahidah, dan Putri Dewi Riani yang saling memberikan semangat, saling
membantu, saling mendoakan dan saling menguatkan.
10. Sistah nunggu dijodohin  sistah nunggu jodoh  sistah jombs soon halal
(Aamiin yaa Allah) Nurazizah, Ika Nur Syafitriany, Nova Elyanti, Devina
Koesnatasha Alvionita dan Farras Putri Arianti yang menjadi tempat diskusi
dalam hal apapun mulai dari kuliah, nikah, jodoh, skripsweet, penelitian,
kecantikan dan banyak hal lainnya.
11. Teman-teman katiguys 2012 Ayu Sajida Da’ad Arini, Eka Ari Nuryanti,
Rahfita Ferdinah, Ofin Andina Permata Sari, Elsya Ristia, Anis Rohmana
Malik, Rr.Putri Annisya Affriany Prasetyo, Widyanfri Wira Pratama Saputri,
Atthina Ayu Mustika, Lilis Yuliarti, Alviral Muhamad Dangkua, Richard
Wahyu Pratama, Nova Riski Prakoso, Yaumi Khairi Azhari Lubis, Agin
Darojatul Aghnia, Ahmad Faiz, Tsabit Al Mutawally, dan Nizar Fathul Khoir
xii
yang pastinya selalu memberikan semangat, dukungan, doa dan menjadi
“saingan” positif untuk menyelesaikan skripsi ini.
12. Isyah Indah Sari dan Septia Putri Arofi yang selalu nanya “kapan sidang
kak?”, “kalo sidang bilang aku yaa kak” sehingga membuat penulis jadi
semangat untuk segera menyelesaikan skripsi ini.
13. HMPS Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tantri, Dedek
Lifa, Najma, Aqil, Dinda, Ridho, Aini, Gilang, Bila, Warda, Ayu fhyta, Rifqi,
Ana, Anda, Mitha, Anya, Upi, Dharma, Narita, FM, Icus, Ojan, Piyul, Rina,
Maul, Sanni, Ukhty, Nindy, Mira, Evi, Jule, Esma, Mutia, Upil, Bocil,
Ignace, Megas, Agung, Riska, Zasmi dan Ario (maaf kalo ada yang terlewat)
yang telah memberikan semangat, kenangan manis dan pengalaman seru.
14. Teman-teman seperjuangan Kesehatan Masyarakat Angkatan 2012 yang tidak
bisa disebutkan satu persatu.
15. Serta siapa pun yang turut mendoakan dan memberikan dukungan kepada
penulis dalam penyusunan skripsi ini.
Demikianlah yang dapat penulis sampaikan, dengan doa dan harapan bahwa
segala kebaikan yang mereka berikan dapat bermanfaat bagi penulis. Penulis
menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih terdapat berbagai kekurangan
dan jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran
yang membangun agar kelak dapat menjadi lebih baik. Semoga skripsi ini dapat
memberikan manfaat dalam perkembangan ilmu Keselamatan dan Kesehatan
Kerja dan bermanfaat bagi seluruh pembacanya. Aamiin aamiin ya Rabbal
‘Alamin.
Wassalamualaikum Wr. Wb
Jakarta, Februari 2017
Sekar Wigati Suprapto
xiii
DAFTAR ISI
PERNYATAAN PERSETUJUAN ........................ Error! Bookmark not defined.
PANITIA SIDANG UJIAN SKRIPSI ................... Error! Bookmark not defined.
LEMBAR PERNYATAAN ................................... Error! Bookmark not defined.
ABSTRAK ............................................................................................................. iv
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ............................................................................... vi
KATA PENGANTAR ........................................................................................... xi
DAFTAR ISI ........................................................................................................ xiv
DAFTAR TABEL .............................................................................................. xviii
DAFTAR BAGAN .............................................................................................. xix
DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................................... xx
DAFTAR ISTILAH ............................................................................................. xxi
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang .............................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................... 7
1.3 Pertanyaan Penelitian .................................................................................... 8
1.4 Tujuan Penelitian .......................................................................................... 9
1.4.1 Tujuan Umum ........................................................................................ 9
1.4.2 Tujuan Khusus ....................................................................................... 9
1.5 Manfaat Penelitian ...................................................................................... 10
1.5.1 Manfaat bagi Rumah Sakit X Kota Bekasi .......................................... 10
1.5.2 Manfaat bagi Perawat Rumah Sakit X Kota Bekasi ............................ 11
1.5.3 Manfaat bagi Peneliti Selanjutnya ....................................................... 11
xiv
1.6 Ruang Lingkup Penelitian ........................................................................... 11
BAB II TINJAUAN PUSTAKA........................................................................... 12
2.1 Intensi .......................................................................................................... 12
2.1.1 Teori Intensi ......................................................................................... 12
2.1.2 Aspek-Aspek Intensi ............................................................................ 16
2.1.3 Pengukuran Intensi ............................................................................... 16
2.2 Determinan Intensi ...................................................................................... 17
2.2.1 Sikap..................................................................................................... 17
A. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Sikap ........................................... 20
B. Pengukuran Sikap ................................................................................. 22
2.2.2 Norma Subjektif ................................................................................... 22
A. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Norma Subjektif.......................... 23
B. Pengukuran Norma Subjektif ............................................................... 24
2.2.3 Persepsi kontrol perilaku ...................................................................... 24
A. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persepsi kontrol perilaku (Persepsi
kontrol perilaku) ........................................................................................ 27
B. Pengukuran Persepsi kontrol perilaku (Persepsi kontrol perilaku) ...... 27
2.2.4 Pengetahuan ......................................................................................... 29
A. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan ................................ 30
B. Pengukuran Pengetahuan...................................................................... 31
2.3 Pelaporan Kecelakaan Kerja ....................................................................... 32
2.3.1 Tujuan Pelaporan Kecelakaan Kerja .................................................... 34
2.3.2 Manfaat Pelaporan Kecelakaan Kerja .................................................. 36
xv
2.3.3 Prosedur Pelaporan Kecelakaan Kerja ................................................. 36
2.3.4 Tata Cara Pelaporan Kecelakaan Kerja................................................ 37
2.4 Kerangka Teori............................................................................................ 38
BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL ................. 39
3.1 Kerangka Konsep ........................................................................................ 39
3.2 Definisi Operasional.................................................................................... 40
3.3 Hipotesis Penelitian..................................................................................... 41
BAB IV METODE PENELITIAN ....................................................................... 42
4.1 Desain Penelitian......................................................................................... 42
4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ...................................................................... 42
4.3 Populasi dan Sampel Penelitian .................................................................. 42
4.3.1 Populasi ................................................................................................ 42
4.3.2 Sampel .................................................................................................. 42
4.4 Instrumen Penelitian.................................................................................... 44
4.4.1 Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner .............................................. 47
4.5 Manajemen Data ......................................................................................... 49
4.6 Analisa Data ................................................................................................ 50
4.6.1 Analisis Univariat................................................................................. 50
4.6.2 Analisis Bivariat ................................................................................... 50
BAB V HASIL PENELITIAN ............................................................................ 52
5.1 Gambaran Umum Tempat Penelitian .......................................................... 52
5.2 Gambaran Intensi Pelaporan Kecelakaan Kerja .......................................... 53
5.3 Gambaran Determinan Faktor Intensi Pelaporan Kecelakaan Kerja .......... 54
xvi
5.4 Hubungan Determinan Faktor Terhadap Intensi Pelaporan Kecelakaan kerja
........................................................................................................................... 55
BAB VI PEMBAHASAN .................................................................................... 59
6.1 Keterbatasan Penelitian ............................................................................... 59
6.2 Intensi Pelaporan Kecelakaan Kerja Perawat Rawat Inap Tulip dan Melati
Rumah Sakit X Kota Bekasi ............................................................................. 59
6.3 Hubungan Sikap dengan Intensi Pelaporan Kecelakaan Kerja Perawat
Rawat Inap Tulip dan Melati Rumah Sakit X Kota Bekasi .............................. 66
6.4 Hubungan Norma Subjektif dengan Intensi Pelaporan Kecelakaan Kerja
Perawat Rawat Inap Tulip dan Melati Rumah Sakit X Kota Bekasi ................ 71
6.5 Hubungan Persepsi kontrol perilaku dengan Intensi Pelaporan
Kerja Perawat Rawat Inap Tulip dan Melati Rumah Sakit
Kecelakaan
X Kota Bekasi . 75
6.6 Hubungan Pengetahuan dengan Intensi Pelaporan Kecelakaan Kerja
Perawat Rawat Inap Tulip dan Melati Rumah Sakit X Kota Bekasi ................ 79
BAB VII SIMPULAN DAN SARAN .................................................................. 83
7.1 Simpulan ..................................................................................................... 83
7.2 Saran ............................................................................................................ 83
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 86
LAMPIRAN .......................................................................................................... 94
xvii
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Definisi Operasional ............................................................................. 40
Tabel 4.1 Hasil Perhitungan Besar Sampel ........................................................... 43
Tabel 4.2 Uji Reliabilitas Kuesioner ..................................................................... 48
Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Intensi Pelaporan Kecelakaan Kerja Perawat Rawat
Inap Tulip dan Melati Rumah Sakit X Kota Bekasi Tahun 2016 ......................... 54
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Determinan Faktor Intensi Pelaporan Kecelakaan
Kerja Perawat Rawat Inap Tulip dan Melati Rumah Sakit X Kota Bekasi Tahun
2016 ....................................................................................................................... 54
Tabel 5.3 Hubungan Determinan Faktor dengan Intensi Pelaporan Kecelakaan
Kerja Perawat Rawat Inap Tulip dan Melati Rumah Sakit X Kota Bekasi Tahun
2016 ....................................................................................................................... 56
xviii
DAFTAR BAGAN
Bagan 2.1 Theory Planned Behavior .................................................................... 15
Bagan 2.2 Kerangka Teori .................................................................................... 38
Bagan 3.1 Kerangka Konsep ................................................................................. 39
xix
DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN I ....................................................................................................... 95
LAMPIRAN II .................................................................................................... 104
LAMPIRAN III ................................................................................................... 107
LAMPIRAN IV................................................................................................... 115
xx
DAFTAR ISTILAH
ABC
: Affect, Behavior, and Cognition
AIDS
: Acquired Immuno Deficiency Syndrome
APD
: Alat Pelindung Diri
BPJS
: Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
HBV
: Hepatitis B Virus
HCV
: Hepatitis C Virus
HIV
: Human Immuno Deficiency Virus
ILO
: International Labour Organization
K3
: Keselamatan dan Kesehatan Kerja
K3L
: Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan
K3LRS
: Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan Rumah Sakit
K3RS
: Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit
NSC
: National Safety Council
PAK
: Penyakit Akibat Kerja
P2K3
: Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja
RSUD
: Rumah Sakit Umum Daerah
RSUP
: Rumah Sakit Umum Pusat
RSUPN
: Rumah Sakit Umum Pusat Daerah
SDM
: Sumber Daya Manusia
WHO
: World Health Organization
xxi
1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Rumah sakit adalah organisasi kesehatan yang memberikan pelayanan
kesehatan dalam upaya perbaikan status kesehatan bagi masyarakat. Rumah sakit
tidak hanya sebagai sarana pelayanan kesehatan bagi masyarakat untuk
mendapatkan pengobatan dan pemeliharaan kesehatan, namun rumah sakit juga
merupakan tempat kerja yang unik dan kompleks (Rahayuningsih, 2011). Rumah
sakit memiliki potensi bahaya yang cukup banyak diantaranya bahaya biologi,
bahaya kimia, bahaya ergonomi, bahaya fisik, bahaya psikososial, bahaya
mekanik, bahaya listrik dan bahaya yang ditimbulkan dari limbah rumah sakit
(Ivana dan Jayanti, 2014). Penularan penyakit dapat terjadi di rumah sakit dimana
semua orang berkumpul dengan berbagai macam keadaan dan berbagai macam
penyakit mulai dari pasien, pengantar maupun tenaga kerja rumah sakit itu sendiri
(Ristiono dan Niwardi, 2010).
Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan rumah sakit yang paling
sering berinteraksi dengan pasien dalam berbagai macam keadaan. Perawat
diharapkan dapat memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu serta
diselenggarakan sesuai dengan standar dan etika pelayanan profesi. Di samping
itu, dalam menjalankan tugas atau pekerjaannya melayani pasien, perawat dituntut
untuk dapat melindungi diri dari bahaya-bahaya potensial risiko kecelakaan,
terpajan dan terinfeksi (tertular) dari pasien maupun dari tempat kerja. Pada
1
kondisi seperti ini perawat memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit akibat
kerja (PAK) dan kecelakaan kerja dibanding dengan pekerja lain (Salikuna, 2011).
Kecelakaan kerja merupakan salah satu permasalahan yang melekat dalam
dunia industri tidak terkecuali rumah sakit. Hasil laporan National Safety Council
(NSC) tahun 2008 menunjukkan bahwa kasus kecelakaan yang sering terjadi di
Rumah Sakit adalah tertusuk jarum suntik dan terkilir (20%), tergores/terpotong
(16%), luka bakar (7%) dan penyakit infeksi (5%). Secara global, data WHO
menunjukkan dari 35 juta pekerja kesehatan terdapat 3 juta pekerja terpajan
patogen darah (virus HBV, virus HCV, dan virus HIV/AIDS), terjadi 15.000
kasus HBV, 70.000 kasus HCV dan 100 kasus HIV dan lebih dari 90% kasus ini
terjadi di negara berkembang (Reda dkk, 2010). Rata-rata risiko transmisi virus
melalui blood-borne pada kecelakaan tertusuk jarum suntik yaitu 30% untuk virus
Hepatitis B, 3% untuk virus Hepatitis C, dan 0,3% untuk virus HIV (Weston,
2008). WHO mengestimasikan bahwa sekitar 2,5% petugas kesehatan di seluruh
dunia menghadapi pajanan HIV dan sekitar 40% menghadapi pajanan virus
Hepatitis B dan Hepatitis C (Sadoh dkk, 2006).
Selain itu, di Indonesia angka kecelakaan kerja pada perawat masih cukup
tinggi hal ini dapat terlihat pada berbagai hasil penelitian kecelakaan kerja yang
telah banyak dilakukan. Pada tahun 2000, di RSUPN Ciptomangunkusumo
Jakarta terjadi 9 kasus kecelakaan kerja yang berisiko terpajan HIV dari pasien
pada 7 perawat, 1 dokter dan 1 petugas laboraturium (Panggabean, 2008).
Penelitian yang dilakukan Hermana di RSUD Kabupaten Cianjur pada tahun 2010
menyebutkan bahwa jumlah perawat yang mengalami luka tusuk jarum suntik dan
2
benda tajam lainnya cukup tinggi yaitu 61,34% (Hermana, 2010). Hasil penelitian
yang dilakukan terhadap perawat perintologi di RSUD Tugurejo Semarang dalam
satu tahun terakhir adalah perawat yang mengalami kecelakaan kerja tertusuk
jarum suntik tertinggi sebanyak 14 kali (Kurnia, 2013).
Di RSUP Fatmawati insiden tertusuk jarum suntik pada perawat mencapai
1,75% pada bulan Mei 2014. Hasil survei November 2014, dalam rentang tahun
2009 sampai tahun 2011, terdapat 2 orang perawat di Ruang Interna menderita
penyakit Hepatitis, diduga tertular dari pasien (Tukmana, 2015). Pada penelitian
Maria dkk (2015) tentang kejadian kecelakaan kerja perawat di Rumah Sakit PW
Malang berdasarkan tindakan tidak aman diketahui bahwa sebanyak 45 perawat
mengalami kecelakaan kerja yang mengakibatkan gangguan muskuloskeletal dan
terjadi 2 kasus needle stick injury (tertusuk jarum suntik) selama tahun 2014. Di
RSUD Dr. Moewardi selama periode Januari – Agustus 2015 terjadi 9 kasus
tertusuk jarum suntik.
Perawat menjadi salah satu tenaga kesehatan yang paling rentan tertular
virus HIV dan Hepatitis B dari penggunaan jarum suntik yang tidak aman. Hasil
pencatatan dan laporan oleh pihak penanggung jawab mutu pelayanan dan etik di
bidang keperawatan RSUD Provinsi Kepulauan Riau Tanjung Uban bahwa sejak
November 2007 – 2011 tercatat 1 perawat menderita HIV dan 5 perawat terinfeksi
Hepatitis B akibat tertusuk jarum suntik (Yulita, 2013). Sedangkan penelitian
yang dilakukan Lukman Hakim Tarigan, menemukan pada tahun 2013 terdapat
7000 tenaga kesehatan yang terinfeksi Hepatitis B dan sekitar 4.900 diantara
3
tenaga kesehatan yang terinfeksi tersebut disebabkan karena kecelakaan tertusuk
jarum suntik sedangkan sisanya tertular dari penderita lain (Manafe, 2014).
Dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
menyatakan bahwa setiap tenaga kerja berhak mendapat perlindungan atas
keselamatan dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan dan meningkatkan
produksi serta produktivitas nasional dan pada pasal 3 menyebutkan kewajiban
pengusaha/pengurus dalam persyaratan keselamatan kerja salah satunya yaitu
untuk mencegah dan mengurangi kecelakaan. Pelaporan kecelakaan kerja perlu
dilakukan sebagai salah satu upaya untuk mencegah dan mengurangi kecelakaan
kerja. Pelaporan kecelakaan kerja bertujuan untuk menemukan mengapa
kecelakaan terjadi, penyebabnya, dimana terjadinya, kapan, siapa atau apa yang
menjadi korban dan sebagainya, selanjutnya dapat diupayakan agar tidak terjadi
kecelakaan yang sama atau yang lebih parah (Dewanti, 2012).
Kejadian tertusuk jarum suntik pada perawat harus segera dilaporkan
kepada pimpinan sarana pelayanan kesehatan untuk segera dilakukan pengobatan
dan pencegahan setelah pajanan agar tidak terinfeksi (tertular) dan untuk
mencegah kecelakaan kerja tersebut terulang kembali. Namun kesadaran pekerja
terhadap pelaporan kecelakaan kerja masih cukup rendah, hal ini sesuai dengan
penelitian yang dilakukan Wardhani (2008) di PT. Astra Nissan Diesel Indonesia
menyatakan bahwa tingkat kesadaran pekerja masih perlu diperbaiki karena
pelaksanaan pelaporan tidak didukung dengan pengetahuan dan sikap yang baik.
Hasil penelitian Sulistiani (2015) di Rumah Sakit X dan Y Jakarta menyatakan
persepsi positif pelaporan kesalahan medis pada tenaga kesehatan masih rendah
4
yaitu kurang dari 50%. Semua kategori kecelakaan harus dianggap penting, baik
kategori kecil, sedang, parah, tidak ada satupun kejadian dan kecelakaan yang
boleh diabaikan meskipun kejadian atau kecelakaan tersebut masuk kedalam
kategori nyaris celaka atau kecelakaan ringan.
Intensi yang kuat diperlukan untuk meningkatkan perilaku perawat
melaporkan kecelakaan kerja. Intensi merupakan kecenderungan seseorang untuk
berperilaku atas dasar kepercayaan dan keyakinan akan kemampuan yang dimiliki
untuk berperilaku tersebut. Intensi dapat ditingkatkan dengan harus tahu terlebih
dahulu apa arti dan manfaat dari perilaku tersebut bagi dirinya. Perawat harus
memiliki pengetahuan, sikap, norma subjektif dan persepsi kontrol perilaku yang
positif terhadap pelaporan kecelakaan kerja. Intensi pelaporan kecelakaan kerja
yang rendah akan menghambat tindakan pencegahan infeksi dan pencegahan
kecelakaan kerja sehingga mengakibatkan kecelakaan kerja terjadi berulang,
risiko perawat terinfeksi atau tertular dari pasien lebih besar sehingga dapat
mempengaruhi kinerja perawat.
Rumah Sakit X Kota Bekasi merupakan rumah sakit rujukan pertama
pasien umum maupun pasien BPJS di Kota Bekasi sehingga selalu ramai pasien,
rata-rata sebanyak 13.344 pasien per tahun di rawat inap Rumah Sakit X Kota
Bekasi. Pasien dengan jumlah yang banyak memungkinkan risiko kecelakaan
kerja pada perawat rawat inap lebih sering terjadi. Berdasarkan data kecelakaan
kerja Rumah Sakit X Kota Bekasi diketahui angka kejadian kecelakaan kerja
cukup rendah yaitu pada tahun 2013 tercatat 1 kasus tertusuk jarum suntik, tahun
2014 tercatat 3 kasus tertusuk jarum suntik, tahun 2015 tercatat 2 kasus tertusuk
5
jarum suntik, dan pada Januari – Maret 2016 tercatat 4 perawat mengalami
kecelakaan kerja tertusuk jarum suntik. Namun hasil studi pendahuluan yang
dilakukan pada 26 perawat ruang rawat inap tulip dan melati di Rumah Sakit X
Kota Bekasi diketahui 20 perawat yang pernah mengalami kecelakaan kerja baik
tertusuk jarum suntik, mengampul obat maupun terkena percikan cairan tubuh
pasien, hanya 2 perawat yang melaporkan kejadian kecelakaan kerja tersebut dan
18 perawat tidak melaporkan kejadian kecelakaan kepada manajemen yang
artinya angka kejadian kecelakaan kerja yang tercatat belum menunjukkan angka
kejadian kecelakaan kerja yang sesungguhnya. Rawat inap tulip merupakan rawat
inap untuk pasien bedah berdasarkan data kecelakaan yang tercatat memiliki
angka kecelakaan kerja yang paling banyak dibandingkan dengan rawat inap
lainnya sedangkan rawat inap melati merupakan rawat inap untuk pasien anak
yang memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami kecelakaan kerja karena sering
kali saat melakukan infus, pengambilan darah maupun tindakan keperawatan
lainnya anak-anak tidak bisa diam sehingga memungkinkan risiko perawat
tertusuk jarum suntik lebih tinggi dibandingkan dengan rawat inap lainnya namun
berdasarkan data kecelakaan tidak pernah tercatat satu kecelakaan pun yang
pernah terjadi di rawat inap melati.
Kecelakaan
kerja
yang tidak
dilaporkan
akan berdampak
pada
penghambatan pencegahan infeksi, penghambatan pencegahan kecelakaan
sehingga terjadi kecelakaan kerja berulang, rendahnya keselamatan dan kesehatan
pekerja, penurunan produktivitas kerja dan juga citra rumah sakit. Perawat yang
6
tidak melaporkan kecelakaan kerja berisiko besar tertular infeksi atau penyakit
oleh pasien dan juga dapat menularkan kepada pasien yang lainnya.
1.2 Rumusan Masalah
Kecelakaan kerja merupakan hal yang selalu melekat pada industri rumah
sakit. Kejadian tertusuk jarum suntik, tergores benda tajam, terpeleset/terjatuh,
dan terkena percikan cairan tubuh pasien adalah kejadian kecelakaan yang sering
terjadi pada perawat. Namun, berdasarkan data dari latar belakang diketahui
intensi pelaporan kecelakaan kerja pada perawat di Indonesia masih rendah. Di
ruang rawat inap tulip Rumah Sakit X Kota Bekasi diketahui dari 9 orang yang
pernah mengalami kecelakaan kerja baik tertusuk jarum suntik, terluka saat
mengampul obat maupun terkena percikan cairan tubuh pasien, 8 orang tidak
melaporkan kejadian kecelakaan kepada manajemen dan di ruang rawat inap
melati Rumah Sakit X Kota Bekasi diketahui dari 11 orang yang pernah
mengalami kecelakaan kerja baik tertusuk jarum suntik, terluka saat mengampul
obat maupun terkena percikan cairan tubuh pasien, 10 orang tidak melaporkan
kejadian kecelakaan kepada manajemen.
Masih sedikitnya perawat yang melaporkan kecelakaan kerja yang dialami
karena tidak mengetahui jenis kecelakaan kerja yang harus dilaporkan,
menganggap luka kecil/ringan, menganggap sebagai sesuatu hal yang biasa dan
luka tidak terasa perih/sakit diduga menjadi alasan perawat tidak melaporkan.
Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian terkait hubungan
sikap, norma subjektif, persepsi kontrol perilaku, dan pengetahuan terhadap
7
intensi pelaporan kecelakaan kerja perawat rawat inap tulip dan melati di Rumah
Sakit X Kota Bekasi Tahun 2016.
1.3 Pertanyaan Penelitian
1. Bagaimana gambaran intensi pelaporan kecelakaan kerja perawat rawat inap
tulip dan melati di Rumah Sakit X Kota Bekasi Tahun 2016 ?
2. Bagaimana gambaran sikap pelaporan kecelakaan kerja perawat rawat inap
tulip dan melati di Rumah Sakit X Kota Bekasi Tahun 2016 ?
3. Bagaimana gambaran norma subjektif pelaporan kecelakaan kerja perawat
rawat inap tulip dan melati di Rumah Sakit X Kota Bekasi Tahun 2016 ?
4. Bagaimana gambaran persepsi kontrol perilaku pelaporan kecelakaan kerja
perawat rawat inap tulip dan melati di Rumah Sakit X Kota Bekasi Tahun
2016 ?
5. Bagaimana gambaran pengetahuan pelaporan kecelakaan kerja perawat
rawat inap tulip dan melati di Rumah Sakit X Kota Bekasi Tahun 2016 ?
6. Apakah ada hubungan sikap dengan intensi pelaporan kecelakaan kerja
perawat rawat inap tulip dan melati di Rumah Sakit X Kota Bekasi Tahun
2016 ?
7. Apakah ada hubungan norma subjektif dengan intensi pelaporan kecelakaan
kerja perawat rawat inap tulip dan melati di Rumah Sakit X Kota Bekasi
Tahun 2016 ?
8. Apakah ada hubungan persepsi kontrol perilaku dengan intensi pelaporan
kecelakaan kerja perawat rawat inap tulip dan melati di Rumah Sakit X
Kota Bekasi Tahun 2016 ?
8
9. Apakah ada hubungan pengetahuan dengan intensi pelaporan kecelakaan
kerja perawat rawat inap tulip dan melati di Rumah Sakit X Kota Bekasi
Tahun 2016 ?
1.4 Tujuan Penelitian
1.4.1 Tujuan Umum
Diketahuinya hubungan sikap, norma subjektif, persepsi kontrol perilaku,
dan pengetahuan terhadap intensi pelaporan kecelakaan kerja perawat rawat inap
tulip dan melati di Rumah Sakit X Kota Bekasi Tahun 2016.
1.4.2 Tujuan Khusus
1. Diketahuinya gambaran intensi pelaporan kecelakaan kerja perawat rawat
inap tulip dan melati di Rumah Sakit X Kota Bekasi Tahun 2016.
2. Diketahuinya gambaran sikap pelaporan kecelakaan kerja perawat rawat
inap tulip dan melati di Rumah Sakit X Kota Bekasi Tahun 2016.
3. Diketahuinya gambaran norma subjektif pelaporan kecelakaan kerja
perawat rawat inap tulip dan melati di Rumah Sakit X Kota Bekasi Tahun
2016.
4. Diketahuinya gambaran persepsi kontrol perilaku pelaporan kecelakaan
kerja perawat rawat inap tulip dan melati di Rumah Sakit X Kota Bekasi
Tahun 2016.
5. Diketahuinya gambaran pengetahuan pelaporan kecelakaan kerja perawat
rawat inap tulip dan melati di Rumah Sakit X Kota Bekasi Tahun 2016.
9
6. Diketahuinya hubungan sikap dengan intensi pelaporan kecelakaan kerja
perawat rawat inap tulip dan melati di Rumah Sakit X Kota Bekasi Tahun
2016.
7. Diketahuinya hubungan norma subjektif dengan intensi pelaporan
kecelakaan kerja perawat rawat inap tulip dan melati di Rumah Sakit X
Kota Bekasi Tahun 2016.
8. Diketahuinya hubungan persepsi kontrol perilaku dengan intensi pelaporan
kecelakaan kerja perawat rawat inap tulip dan melati di Rumah Sakit X
Kota Bekasi Tahun 2016.
9. Diketahuinya hubungan pengetahuan dengan intensi pelaporan kecelakaan
kerja perawat rawat inap tulip dan melati di Rumah Sakit X Kota Bekasi
Tahun 2016.
1.5 Manfaat Penelitian
1.5.1 Manfaat bagi Rumah Sakit X Kota Bekasi
1. Dapat dijadikan bahan masukan terkait pelaksanaan pelaporan kecelakaan
kerja.
2. Dapat dijadikan bahan masukan untuk evaluasi pelaksanaan pelaporan
kecelakaan kerja.
3. Dapat dijadikan bahan masukan untuk perencanaan dalam peningkatan
pelaksanaan pelaporan kecelakaan kerja.
10
1.5.2 Manfaat bagi Perawat Rumah Sakit X Kota Bekasi
1. Sebagai masukan dalam pencegahan terjadinya kecelakaan kerja berulang.
2. Sebagai masukan dalam meningkatkan kesadaran pelaporan kecelakaan
kerja.
3. Sebagai masukan dalam meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja.
1.5.3 Manfaat bagi Peneliti Selanjutnya
1. Sebagai data dasar untuk referensi penelitian selanjutnya yang berkaitan
dengan pelaporan kecelakaan kerja.
2. Sebagai bahan perbandingan dalam melakukan penelitian yang terkait
dengan intensi pelaporan kecelakaan kerja.
1.6 Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini dilakukan oleh mahasiswi peminatan Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (K3) program studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta untuk mengetahui determinan intensi pelaporan kecelakaan
kerja perawat rawat inap tulip dan melati Rumah Sakit X Kota Bekasi. Penelitian
ini merupakan penelitian kuantitatif yang bersifat deskriptif analitik cross
sectional yang bertujuan untuk menggambarkan variabel-variabel penelitian dan
melihat hubungan variabel dependen dan variabel independen dalam penelitian.
Penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. Penelitian ini akan
dilaksanakan di Rumah Sakit X Kota Bekasi pada bulan Oktober – Desember
2016.
11
2 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Intensi
Intensi merupakan prediktor utama dalam menentukan perilaku. Intensi
adalah jembatan antara sikap, norma subjektif dan kontrol perilaku terhadap
perilaku sebenarnya. Menurut Ajzen (2005) intensi merupakan indikai seberapa
keras seseorang berusaha atau seberapa banyak usaha yang dilakukan untuk
menampilkan suatu perilaku. Menurut Schiffman dan Kanuk (2007) intensi adalah
hal yang berkaitan dengan kecenderungan seseorang untuk melakukan suatu
tindakan atau berperilaku tertentu. Hal ini diperjelas oleh Warshaw dan Davis
(dalam Landry, 2003) yang menyatakan bahwa intensi adalah tingkatan dimana
seseorang memformulasikan rencana untuk menunjukkan suatu tujuan masa
depan yang spesifik atau tidak, secara sadar. Berdasarkan beberapa pegertian
intensi diatas, dapat disimpulkan bahwa intensi adalah kecenderungan seseorang
untuk melakukan suatu perilaku atas dasar kepercayaan dan keyakinan terhadap
suatu hal maupun kemampuan diri sendiri.
2.1.1 Teori Intensi
A. Teori Reasoned Action
Menurut teori Reasoned Action (Ajzen dan Fishbein, 1969), pembentukan
intensi merupakan fungsi dari dua determinan yang menjadi prediktor penentu
dalam memunculkan intensi berperilaku, yaitu determinan pertama adalah faktor
yang bersifat pribadi dan determinan kedua adalah faktor yang bersifat sosial.
Faktor yang bersifat pribadi yaitu sikap terhadap perilaku tertentu yang
12
merupakan sikap terhadap keyakinan-keyakinan dan evaluasi positif atau negatif
individu terhadap perilaku yang diminati atau yang akan dipilih untuk
ditampilkan. Faktor yang bersifat sosial yaitu norma subjektif yang merupakan
persepsi seseorang terhadap tekanan sosial untuk melakukan atau tidak melakukan
suatu perilaku (Rosdiana, 2011).
Teori Reasoned Action merupakan model yang memfokuskan pada
variabel-variabel
sosial-kognitif
sebagai
determinan-determinan
perilaku
kesehatan. Teori ini menegaskan peran dari “niat” seseorang dalam menentukan
apakah sebuah perilaku akan terjadi. Perilaku mengikuti niat dan tidak akan
terjadi perilaku tanpa adanya niat. Teori Reasoned Action merupakan teori yang
menghubungkan keyakinan (belief), sikap (attitude), kehendak (intension) dan
perilaku (behavior) (Taylor, 1999).
B. Teori Planned Behavior
Teori tindakan yang direncanakam (Theory of Planned Behavior)
mengemukakan bahwa tindakan manusia dipengaruhi oleh tiga macam faktor,
yaitu keyakinan berperilaku, keyakinan tentang harapan normatif dari orang lain,
dan keyakinan persepsi untuk berperilaku dengan yang memfasilitasi atau
menghambat perilaku (Ajzen, 2005). Berdasarkan perspektif tersebut, maka
keyakinan perilaku menimbulkan sikap positif atau negatif terhadap perilaku
tertentu, keyakinan normatif mengakibatkan terbentuknya persepsi adanya
tekanan sosial untuk melakukan tindakan atau norma subjektif dan persepsi atas
persepsi kontrol perilaku. Kombinasi dari sikap terhadap perilaku, norma
subjektif, dan persepsi kontrol perilaku mengakibatkan terbentuknya intensi
13
perilaku. Sebagai suatu kaidah umum bahwa sikap yang positif disertai dengan
norma subjektif yang sesuai dan dengan adanya persepsi kontrol perilaku yang
memadai, maka akan menyebabkan kuatnya intensi untuk berperilaku tertentu.
(Machrus dan Purwono, 2010)
Intensi merupakan penentu terpenting dalam perilaku seseorang. Intensi
merupakan indikasi kecenderungan seseorang untuk melakukan suatu perilaku
dan menjadi anteseden langsung dari perilaku tersebut (Ajzen, 2005). Intensi
merupakan aspek motivasional individu yang mempengaruhi terlaksananya suatu
perilaku. Intensi adalah indikasi mengenai besarnya usaha yang dikeluarkan
individu untuk melakukan suatu perilaku (Ayuningtyas dan Santoso, 2007).
Dalam teori Planned Behavior, ada tiga faktor yang saling berkaitan dalam
membentuk intensi individu untuk bertingkah laku, yaitu sikap (Fishbein & Ajzen,
1980), norma subjektif (Fishbein & Ajzen, 1980), serta perceived behavior
control (Ajzen, 2005). Ketiga faktor ini akan dipengaruhi oleh belief masingmasing individu. Belief merujuk kepada semua informasi yang dimiliki individu
mengenai suatu objek, yang dalam hal ini adalah suatu perilaku (Fishbein &
Ajzen, 1980). Dalam intensi untuk melakukan tingkah laku, belief berperan
sebagai pembentuk sikap, norma subjektif dan persepsi kontrol perilaku. Fishbein
& Ajzen (1980) mengatakan bahwa individu akan melakukan suatu perilaku jika
ia memiliki intensi untuk melakukan perilaku tersebut.
14
Teori Planned Behavior dapat digambarkan sebagai berikut.
Bagan 2.1 Theory Planned Behavior
Intensi dapat berubah karena waktu. Intensi individu untuk menampilkan
suatu perilaku tergantung pada hasil pengukuran sikap dan norma subjektif. Hasil
yang positif mengindikasikan intensi berperilaku. Intensi adalah informasi yang
penting mengenai kecenderungan bahwa menampilkan suatu perilaku tertentu
akan mengarahkan pada suatu hasil yang spesifik. Jika keinginan untuk
bertingkah laku dikatakan sebagai tujuan (goal), maka intensi dianggap sebagai
rencana untuk mencapai tujuan, yaitu melakukan suatu tingkah laku (Ajzen,
2005). Namun memiliki intensi tidak menjamin tujuan akan tercapai (Heckhausen
dan Gollwitzer dalam Gillholm, Erdeus & Garling, 1996).
Neal dan Griffin (2002) berpendapat bahwa hanya ada tiga faktor yang
menentukan
perbedaan
individu
dalam
berperilaku
yaitu
pengetahuan,
kemampuan, dan motivasi. Jika seseorang tidak memiliki cukup motivasi untuk
patuh terhadap peraturan keselamatan atau terlibat dalam aktivitas keselamatan,
15
maka dia tidak akan memilih untuk melakukan tindakan tersebut. Jika seseorang
tidak memiliki pengetahuan dan kemampuan yang cukup untuk patuh dengan
peraturan keselamatan dan terlibat dalam aktivitas keselamatan, maka dia tidak
akan mampu bertindak atau beniat untuk mematuhi prosedur keselamatan.
Menurut Notoatmodjo (2012), pengetahuan merupakan dasar dalam mengerjakan
sesuatu atau bertindak. Jika pekerja memiliki pengetahuan dan sikap terhadap
iklim keselamatan pada lingkungan kerja, maka pekerja tersebut akan berniat
untuk mematuhi kebijakan prosedur keselamatan, kesehatan kerja dan lingkungan.
2.1.2 Aspek-Aspek Intensi
Intensi memiliki 4 aspek yang mendasarinya yaitu target, action, context,
dan time (Surbakti, 2015). Target merupakan sasaran yang ingin dicapai jika
menampilkan suatu perilaku. Misalnya, perilaku melaporkan kecelakaan kerja
untuk tercatatnya kejadian kecelakaan kerja dan pencegahan terjadinya
kecelakaan berulang. Action yang merupakan suatu tindakan yang mengiringi
munculnya perilaku. Misalnya menghubungi bagian K3L untuk melaporkan
kecelakaan kerja yang dialami. Context mengacu pada situasi yang akan
memunculkan perilaku. Misalnya, terdapat prosedur yang mengatur alur
pelaporan kecelakaan kerja. Dan yang terakhir adalah time yaitu waktu munculnya
perilaku. Misalnya, menghubungi bagian K3L saat mengalami kecelakaan kerja.
2.1.3 Pengukuran Intensi
Intensi dapat diukur secara langsung dengan menanyakan subjek untuk
mengindikasikan apakah ia akan menampilkan perilaku yang positif atau negatif
terhadap objek sikap tertentu, situasi dan waktu dimana perilaku tersebut
16
diwujudkan (Ajzen, 2005). Beberapa cara yang digunakan untuk mengukur
intensi seperti terlihat pada contoh berikut “Saya berniat untuk datang tepat waktu
di kantor, untuk kedisiplinan dalam memenuhi aturan kerja”, “Saya akan mencoba
untuk datang tepat waktu di kantor, untuk kedisiplinan dalam memenuhi aturan
kerja”, atau “Saya merencanakan (plan), untuk datang tepat waktu di kantor,
untuk kedisiplinan dalam memenuhi aturan kerja”. Dari contoh di atas
menunjukkan bahwa pengukuran intensi hendaknya berisikan niat melakukan,
usaha mencoba, dan merencanakan suatu tindakan yang bertujuan (Machrus dan
Purwono, 2010).
Dari hasil berbagai penelitian menunjukkan bahwa intensi, sikap, norma
subjektif, dan persepsi kontrol perilaku memiliki prediksi yang akurat, terkait
dengan perilaku. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dari intensi, sikap,
norma
subjektif,
persepsi
atas
persepsi
kontrol
perilaku
akan
dapat
berpengaruh/ada hubungan dengan perilaku (Ajzen, 2005).
2.2 Determinan Intensi
2.2.1 Sikap
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang
terhadap suatu stimulus atau objek (Notoatmodjo, 2012). Newcomb, salah seorang
ahli psikologis sosial, menyatakan bahwa sikap merupakan kesiapan atau
kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu.
Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di lingkungan tertentu
sebagai suatu penghayatan terhadap objek (Fitriani, 2011).
17
Sikap (attitude) adalah istilah yang mencerminkan rasa senang, tidak
senang atau perasaan biasa-biasa saja (netral) dari seseorang terhadap sesuatu.
“Sesuatu” itu bisa benda, kejadian, situasi, orang-orang atau kelompok. Kalau
yang timbul terhadap sesuatu itu adalah perasaan senang, maka disebut sikap
positif, sedangkan kalau perasaan tidak senang, disebut sikap negatif. Kalau tidak
timbul perasaan apa-apa berarti sikapnya netral (Sarwono, 2012).
Sikap dinyatakan dalam tiga domain ABC yaitu Affect, Behavior, dan
Cognition. Affect adalah perasaan yang timbul (senang, tidak senang), behavior
adalah perilaku yang mengikuti perasaan itu (mendekat, menghindar), dan
cognition adalah penilaian terhadap objek sikap (bagus, tidak bagus) (Sarwono,
2012).
Sikap merupakan organisasi pendapat, keyakinan seseorang mengenai
objek atau situasi yang relatif ajeg, yang disertai adanya perasaan tertentu, dan
memberikan dasar pada orang tersebut untuk membuat respons atau berperilaku
dalam cara tertentu yang dipilihnya (Walgito, 2010). Dengan kata lain bahwa
sikap itu belum merupakan tindakan atau aktivitas, tetapi merupakan suatu
kecenderungan (predisposisi) untuk bertindak terhadap objek di lingkungan
tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek tersebut (Sunaryo, 2014).
Manifestasi sikap tidak dapat langsung dilihat, akan tetapi harus
ditafsirkan terlebih dahulu sebagai tingkah laku yang masih tertutup. Secara
operasional pengertian sikap menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi
terhadap kategori stimulus tertentu dan dalam penggunaan praktis sikap sering
kali dihadapkan dengan rangsangan sosial dan reaksi yang bersifat emosional.
18
Sikap merupakan kesiapan atau kecenderungan seseorang untuk bertindak secara
tertentu, bersifat relatif menetap dan tidak berubah yang menggambarkan rasa
suka atau tidak suka terhadap suatu objek, diperoleh dari hasil belajar atau
pengalaman sendiri maupun orang lain.
Ciri-ciri sikap sebagaimana dikemukakan oleh para ahli, seperti Gerungan
(2009), Ahmadi (2009), Sarwono (2012), Walgito (2010), pada intinya sama,
yaitu :
a. Sikap tidak dibawa sejak lahir, tetapi dipelajari dan dibentuk berdasarkan
pengalaman dan latihan sepanjang perkembangan individu dalam
hubungan dengan objek.
b. Sikap dapat berubah-ubah dalam situasi yang memenuhi syarat untuk itu
sehingga dapat dipelajari.
c. Sikap tidak berdiri sendiri, tetapi selalu berhubungan dengan objek sikap.
d. Sikap dapat tertuju pada satu objek ataupun dapat tertuju pada
sekumpulan/banyak objek.
e. Sikap dapat berlangsung lama atau sebentar.
f. Sikap mengandung faktor perasaan dan motivasi sehingga membedakan
dengan pengetahuan.
Allport dalam Notoatmodjo (2012) menyatakan bahwa sikap mempunyai 3
komponen pokok yaitu :
1. Kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadap suatu objek.
2. Kehidupan emosional atau evaluasi emosional terhadap suatu objek.
3. Kecenderungan untuk bertindak (trend to behave).
19
Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total
attitude). Dalam penentuan sikap yang utuh ini pengetahuan, berpikir, keyakinan,
dan emosi memegang peranan penting.
Sikap merupakan suatu pandangan, tetapi dalam hal itu masih berbeda
dengan suatu pengetahuan yang dimiliki orang. Pengetahuan mengenai suatu
objek tidak sama dengan sikap terhadap objek itu. Pengetahuan mengenai suatu
objek baru menjadi sikap apabila pengetahuan itu disertai kesiapan untuk
bertindak sesuai dengan pengetahuan terhadap objek itu (Mastini, 2013).
Hasil penelitian Arum dkk (2010) menyatakan bahwa variabel sikap secara
signifikan memprediksi niat seseorang. Hasil penelitian Cheng dkk (2011)
menunjukkan bahwa sikap secara positif mempengaruhi niat berperilaku. Hasil
penelitian Hartoni dan Riana (2015) menyatakan bahwa terdapat pengaruh positif
dan signifikan antara sikap pekerja proyek kontruksi terhadap intention to comply
pada kebijakan K3L yang diterapkan oleh pihak manajemen konstruksi HK pada
proyek watermark hotel, berupa patuh pada penggunaan APD.
A. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Sikap
Pembentukan sikap tidak terjadi begitu saja, melainkan melalui proses
tertentu, melalui kontak sosial terus menerus antara individu dengan individuindividu lain di sekitarnya. Dalam hal ini Azwar (2011) menjelaskan bahwa
faktor-faktor yang mempengaruhi sikap adalah:
1. Faktor Internal
Faktor-faktor yang terdapat dalam diri orang yang bersangkutan, seperti
selektifitas rangsangan dari luar yang dapat ditangkap melalui persepsi. Ada
20
proses-proses memilih rangsangan, rangsangan mana yang akan didekati dan
rangsangan mana yang harus dijauhi. Pilihan ini ditentukan oleh motif-motif
dan kecenderungan yang berasal dari diri seseorang. Bila mempunyai
kecenderungan memilih maka akan terbentuk sikap positif atau terbentuk
sikap negatif bila kecenderungan itu menolak.
2. Faktor Eksternal
Faktor-faktor yang menentukan seseorang untuk bersikap, terdiri dari:
a) Sifat objek yang dijadikan sasaran.
b) Kewajiban orang yang mengemukakan suatu sikap.
c) Sifat-sifat orang atau kelompok yang mendukung sikap tersebut.
d) Media komunikasi yang di gunakan dalam menyampaikan situasi pada
saat sikap itu terbentuk.
Menurut Walgito (2010) ada 4 hal penting yang menjadi determinan
(faktor penentu) sikap individu, yaitu:
1. Faktor fisiologis
Faktor yang penting adalah umur dan kesehatan, yang menentukan sikap
individu.
2. Faktor pengalaman langsung terhadap objek sikap
Pengalaman langsung yang dialami individu terhadap objek sikap,
berpengaruh terhadap sikap individu terhadap objek sikap tersebut.
3. Faktor kerangka acuan
Kerangka acuan yang tidak sesuai dengan objek sikap, akan menimbulkan
sikap yang negatif terhadap objek sikap tersebut.
21
4. Faktor komunikasi sosial
Informasi yang diterima individu akan dapat menyebabkan perubahan
sikap pada diri individu tersebut.
B. Pengukuran Sikap
Menurut beberapa ahli, sikap dapat diukur dengan menggunakan suatu alat
yang dinamakan skala sikap. Di antara banyak skala sikap yang dikenal yang
cukup banyak digunakan, yaitu skala sikap dari R. Likert (1932). Skala likert
adalah skala yang dapat digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi
seseorang atau sekelompok orang tentang suatu gejala. Ada dua bentuk
pernyataan yang menggunakan skala likert yaitu bentuk pernyataan positif untuk
mengukur sikap positif, dan bentuk pernyataan negatif untuk mengukur sikap
negatif. Pernyataan positif diberi skor 5,4,3,2, dan 1, sedangkan untuk pernyataan
negatif diberi skor 1,2,3,4, dan 5. Bentuk jawaban skala likert ialah sangat setuju,
setuju, ragu-ragu, tidak setuju, dan sangat tidak setuju.
2.2.2 Norma Subjektif
Norma subjektif diasumsikan sebagai suatu fungsi dari kepercayaan atau
keyakinan yang secara spesifik seseorang setuju atau tidak setuju untuk
menampilkan suatu perilaku. Kepercayaan-kepercayaan yang termasuk dalam
norma-norma subjektif disebut juga kepercayaan normatif. Seorang individu akan
berniat menampilkan suatu perilaku tertentu jika ia mempersepsi bahwa orangorang lain yang penting berpikir bahwa ia seharusnya melalukan hal itu. Orang
lain yang penting tersebut bisa pasangan, sahabat, dokter dsb. Hal ini diketahui
dengan cara menanyai responden untuk menilai apakah orang-orang lain yang
22
penting tadi cenderung akan setuju atau tidak setuju jika ia menampilkan perilaku
yang dimaksud (Achmat, 2010).
Hasil penelitian Arismunandar (2011) menunjukkan bahwa semakin
meningkat norma-norma subjektif, maka akan semakin meningkatkan niat pekerja
untuk berperilaku. Hasil penelitian Cheng dkk (2011) menunjukkan bahwa norma
subjektif adalah pengaruh paling kuat terhadap terbentuknya niat-niat dari seorang
individu. Hasil penelitian Andika dan Madjid (2012) menunjukkan bahwa sikap,
norma subjektif secara simultan berpengaruh secara signifikan terhadap niat
berperilaku. Hasil penelitian Triastity dkk (2013) menunjukkan bahwa niat-niat
dipengaruhi secara signifikan oleh sikap individu dan norma subjektif. Hasil
penelitian Hartoni dan Riana (2015) menyatakan bahwa norma subjektif
berpengaruh positif dan signifikan terhadap niat untuk patuh pada objek kebijakan
K3L, berupa penggunaan APD. Semakin tinggi dorongan pihak manajemen untuk
mengharuskan pekerja menggunakan APD, maka pekerja akan semakin berniat
patuh dalam melaksanakan kebijakan K3L berupa penggunaan APD. Semakin
baik keyakinan pekerja dalam menggunakan APD, agar terhindar dari kecelakaan,
maka pekerja proyek akan semakin berniat patuh pada kebijakan K3L dalam
penggunaan APD, di proyek watermark hotel Jimbaran ini.
A. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Norma Subjektif
Dalam Theory of Planned Behavior Ajzen (2005), norma subjektif
ditentukan oleh adanya keyakinan normatif dan keinginan untuk mengikutinya.
Adapun yang dimaksud dengan keyakinan normatif yaitu keyakinan seseorang
bahwa individu atau kelompok tertentu setuju atau tidak setuju bila dia melakukan
23
tingkah laku tersebut. Individu dan kelompok tertentu ini disebut juga referent.
Referent adalah orang atau kelompok sosial yang berpengaruh bagi individu, baik
itu orangtua, pasangan (suami/istri), teman dekat, rekan kerja atau yang lain,
tergantung pada tingkah laku yang dimaksud. Norma subjektif tidak hanya
ditentukan oleh adanya keyakinan normatif yang dipengaruhi orang yang
dianggap penting tetapi juga kekuatan yang dimiliki orang yang dianggap penting
tersebut terhadap individu dan seberapa jauh individu akan mengikuti pendapat
orang yang dianggap penting tersebut.
B. Pengukuran Norma Subjektif
Norma subjektif dapat diukur secara langsung dengan meminta responden
untuk mengukur bagaimana kebanyakan orang yang penting bagi mereka akan
setuju terhadap perilaku yang dilakukan. Beberapa pertanyaan yang dapat
dirumuskan, untuk mendapatkan pengukuran norma subjektif. Ilustrasinya adalah
sebagai berikut “Kebanyakan orang yang penting bagi saya, berpikir bahwa saya
sebaiknya datang tepat waktu di kantor, untuk kedisiplinan dalam memenuhi
aturan kerja” atau “Saya menyetujui bahwa orang (penting) dalam hidup saya
mempunyai pendapat, bahwa saya lebih bernilai jika datang tepat waktu di kantor,
untuk kedisiplinan dalam memenuhi aturan kerja” (Machrus dan Purwono, 2010).
2.2.3 Persepsi kontrol perilaku
Persepsi merupakan proses mengetahui atau mengenali objek dan kejadian
objektif dengan bantuan indera (Chaplin, 2002). Persepsi kontrol perilaku adalah
persepsi mengenai kemudahan atau kesulitan dalam melakukan perilaku dan
diasumsikan merefleksikan pengalaman di masa lalu dan antisipasi mengenai
24
halangan (Ajzen, 2005). Persepsi kontrol perilaku adalah fungsi dari control
beliefs,
yaitu beliefs
mengenai faktor-faktor
yang mempermudah atau
mempersulit dilaksanakannya suatu perilaku dan persepsi mengenai kekuatan
faktor-faktor tersebut.
Persepsi kontrol perilaku ditentukan oleh dua faktor yaitu control beliefs
(kepercayaan mengenai kemampuan dalam mengendalikan) dan perceived power
(persepsi mengenai kekuatan yang dimiliki untuk melakukan suatu perilaku).
Persepsi kontrol perilaku mengindikasikan bahwa motivasi seseorang dipengaruhi
oleh bagaimana ia mempersepsi tingkat kesulitan atau kemudahan untuk
berperilaku tertentu. Jika seseorang memiliki control beliefs yang kuat mengenai
faktor-faktor yang ada akan memfasilitasi suatu perilaku, maka seseorang tersebut
memiliki persepsi yang tinggi untuk mampu mengendalikan suatu perilaku.
Sebaliknya, seseorang tersebut akan memiliki persepsi yang rendah dalam
mengendalikan suatu perilaku jika ia memiliki control beliefs yang lemah
mengenai faktor-faktor yang menghambat perilaku. Persepsi ini dapat
mencerminkan pengalaman masa lalu, antisipasi terhadap situasi yang akan
datang, dan sikap terhadap norma-norma yang berpengaruh disekitar individu
(Achmat, 2010).
Persepsi kontrol perilaku menunjukkan suatu derajat dimana seorang
individu merasa bahwa tampil atau tidaknya suatu perilaku yang dimaksud adalah
di bawah pengendaliannya. Orang cenderung tidak akan membentuk suatu intensi
yang kuat untuk menampilkan suatu perilaku tertentu jika ia tidak percaya bahwa
ia memiliki sumber atau kesempatan untuk melakukannya meskipun ia memiliki
25
sikap yang positif dan ia percaya bahwa orang-orang lain yang penting baginya
akan menyetujuinya. Persepsi kontrol perilaku dapat mempengaruhi perilaku
secara langsung atau tidak langsung melalui intensi (Achmat, 2010).
Hasil penelitian Ajzen (2002) dan Andreanto (2013) menyatakan bahwa
persepsi kontrol perilaku yang dirasakan memiliki implikasi motivasional pada
niat. Individu yang percaya bahwa dirinya tidak memiliki sumber daya untuk
melaksanakan perilaku tertentu, cenderung tidak membentuk intensi yang kuat
untuk melaksanakannya, walaupun individu tersebut memiliki sikap yang
menyenangkan terhadap perilaku tersebut. Hasil penelitian Arum dkk (2010)
menyatakan bahwa persepsi kontrol perilaku yang dirasakan, secara signifikan
memprediksi intensi. Menurut Huda dkk (2012), persepsi kontrol perilaku
memiliki sebuah pengaruh yang positif dan signifikan terhadap variabel intensi.
Hasil penelitian Abadi dkk (2012) menunjukkan bahwa intensi secara positif
sangat dipengaruhi oleh persepsi kontrol perilaku yang dirasakan oleh individu
tersebut.
Hasil penelitian Hartoni dan Riana (2015) menyatakan bahwa persepsi
kontrol perilaku berpengaruh positif dan signifikan terhadap intention of comply.
Persepsi kontrol perilaku yang mengacu pada persepsi individu pekerja proyek
konstruksi terhadap kemudahan atau kesulitan dalam melaksanakan kebijakan
prosedur K3L, seperti kemampuan pekerja menggunakan APD dan adanya
ketersediaan fasilitas APD bagi pekerja. Semakin pekerja merasa mampu untuk
menggunakan APD, maka pekerja tersebut akan semakin berniat untuk patuh
dalam menggunakan APD di proyek tersebut. Semakin meningkat atau cukup
26
ketersediaan fasilitas APD di proyek tersebut, maka pekerja akan semakin berniat
untuk patuh dalam menggunakan APD.
A. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persepsi kontrol perilaku (Persepsi
kontrol perilaku)
Persepsi kontrol perilaku dibentuk oleh dua aspek, yaitu : keyakinan
individu tentang kehadiran kontrol yang berfungsi sebagai pendukung atau
penghambat individu dalam bertingkah laku dan persepsi individu terhadap
seberapa kuat kontrol tersebut untuk mempengaruhi dirinya dalam bertingkah
laku, apakah kontrol tersebut dapat memfasilitasi atau menghalangi timbulnya
perilaku (Surbakti, 2015). Persepsi kontrol perilaku biasanya juga dipengaruhi
oleh informasi dari orang kedua tentang perilaku, dengan mengobservasi
pengalaman dari rekan-rekan dan teman, serta faktor lainnya yang meningkatkan
atau menurunkan persepsi tentang kesulitan dalam perwujudan perilaku tertentu.
Semakin banyak sumber yang dibutuhkan dan kesempatan yang ia miliki, dan
lebih sedikit penghalang atau penghambat yang mereka antisipasi, semakin baik
perceived behavioral control (Rosdiana, 2011).
B. Pengukuran Persepsi kontrol perilaku (Persepsi kontrol perilaku)
Menurut Ajzen (2005), persepsi kontrol perilaku dapat diukur melalui dua
cara, yaitu dengan mengukur keyakinan-keyakinan individu tentang kemampuan
dan kesempatan yang dimiliki untuk menampilkan tingkah laku tertentu. Cara
kedua adalah dengan mengukur secara langsung kontrol yang dimiliki individu
dalam menampilkan tingkah laku tertentu. Untuk mengetahui pengaruh persepsi
kontrol perilaku terhadap tingkah laku secara tidak langsung, yaitu melalui
27
intensi, maka yang akan digunakan adalah pengukuran dengan cara pertama
melalui keyakinan-keyakinan individu tentang faktor-faktor yang menghambat
dan mendorong untuk melakukan tingkah laku. Pengukuran langsung persepsi
kontrol perilaku dapat dilakukan dengan cara lain, yaitu menanyakan responden
apakah mereka yakin bahwa mereka sanggup untuk mewujudkan perilaku yang
diminatinya.
Pengukuran persepsi kontrol perilaku harus dapat menangkap kepercayaan
orang/subjek penelitian, bahwa ia mampu melakukan suatu tindakan tertentu
disebabkan memiliki faktor internal dan eksternal yang memadai. Beberapa cara
memang disadari dibuat atau dikerjakan dengan cukup sulit, yaitu untuk dapat
mencerminkan bahwa subjek mampu atau dapat melakukan tindakan. Cara
semacam ini diharapkan dapat menangkap persepsi responden tentang
kemampuannya melakukan suatu tindakan (Machrus dan Purwono, 2010). Dalam
hal ini Ajzen menyatakan responden meyakini bahwa ia memiliki kemampuan
untuk melakukan tindak tertentu (Ajzen, 2005). Contoh pernyataan sebagai
berikut “Bagi saya datang tepat waktu di kantor, untuk kedisiplinan dalam
memenuhi aturan kerja, dalam satu bulan, adalah tidak mungkin” atau “Jika saya
mau, saya dapat datang tepat waktu di kantor, untuk kedisiplinan dalam
memenuhi aturan kerja tiap hari dalam satu bulan”.
Sangat mungkin atau tidak mungkin bagi subjek, untuk melakukan
tindakan tertentu (terkait dengan personal resources and environment). Sangat
benar, jika subjek mau, subjek dapat melakukan tindakan tertentu (terkait
personal resources and environment). Cara yang lain berisikan kemampuan
28
kontrol perilaku yaitu kemampuan mengontrol perilaku atau mengendalikan
perilaku untuk mencapai tujuan. Seberapa besar kontrol/pengendalian diri, agar
perilaku terfokus pada perilaku tertentu, seberapa tinggi pengendalian diri, agar
suatu perilaku tertentu tidak terlewatkan, dan subjek dapat melakukan tindakan
(Machrus dan Purwono, 2010).
2.2.4 Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari “tahu” ini terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu terutama melalui mata dan
telinga. Bila seseorang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai suatu
bidang tertentu dengan lancar, baik secara lisan maupun tertulis maka dapat
dikatakan mengetahui bidang tersebut. Sekumpulan jawaban verbal yang
diberikan orang tersebut dinamakan pengetahuan (Notoatmodjo, 2012).
Sebagaimana uraian diatas dapat dikatakan bahwa pengetahuan adalah
informasi yang dimiliki seseorang sebagai hasil proses penginderaan mengenai
suatu objek tertentu dengan cara mengingat atau mengenal informasi yang ada
pada objek tersebut, merupakan bagian tingkah laku yang termasuk domain
kognitif tingkat pertama.
Pengetahuan merupakan penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang
terhadap objek melalui indera yang dimilikinya. Pada waktu penginderaan sampai
menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian
dan persepsi terhadap objek. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang
sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (Fitriani, 2011)
29
A. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
Menurut
Notoatmodjo
(2012)
menjelaskan
bahwa
pengetahuan
dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal.
1. Faktor internal
a. Pendidikan juga dapat diartikan sebagai suatu usaha dasar untuk
menjadi kepribadian dan kemampuan didalam maupun diluar sekolah
dan berlangsung seumur hidup.
b. Minat diartikan sebagai suatu kecenderungan atau keinginan yang
tinggi terhadap sesuatu dengan adanya pengetahuan yang tinggi
didukung minat yang cukup dari seseorang sangatlah mungkin untuk
berperilaku sesuai dengan apa yang diharapkan.
c. Pengalaman adalah suatu peristiwa yang dialami seseorang (Middle
Brook, 1974 dalam Azwar, 2011)
d. Usia individu terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat berulang
tahun. Semakin cukup umur tingkat kematangan dan kekuatan
seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja.
2. Faktor eksternal
a. Ekonomi dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang tentang
berbagai hal. Dalam memenuhi kebutuhan primer ataupun sekunder,
keluarga dengan status ekonomi baik lebih mudah tercukupi dibanding
dengan keluarga dengan status ekonomi rendah, hal ini akan
mempengaruhi kebutuhan akan informasi termasuk kebutuhan
sekunder.
30
b. Informasi adalah keseluruhan makna, dapat diartikan sebagai
pemberitahuan seseorang adanya informasi baru mengenai suatu hal
memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap
hal tersebut.
c. Kebudayaan/lingkungan dimana kita hidup dan dibesarkan mempunyai
pengaruh besar terhadap pengetahuan kita.
B. Pengukuran Pengetahuan
Dari pengertian pengetahuan yang dikemukakan Bloom dan Skinner,
menunjukkan tingkat pengetahuan yaitu dengan cara orang yang bersangkutan
mengungkapkan apa-apa yang diketahuinya dalam bentuk bukti atau jawaban baik
secara lisan atau tertulis. Bukti atau jawaban tersebut merupakan reaksi dari suatu
stimulus yang dapat berupa pernyataan lisan maupun tertulis. Seseorang memiliki
pengetahuan yang tinggi apabila mampu mengungkapkan sebagian besar
informasi dari suatu objek dengan benar. Demikian juga bila seseorang hanya
mampu mengungkapkan sedikit informasi dari suatu objek dengan benar maka
dikategorikan berpengetahuan rendah tentang objek tersebut (Dahlawy, 2008).
Pertanyaan yang dapat digunakan untuk pengukuran pengetahuan secara
umum menurut Wawan dan Dewi (2015) dapat dikelompokkan menjadi dua jenis
yaitu :
1. Pertanyaan subjektif misalnya pertanyaan esai.
Pertanyaan esai disebut pertanyaan subjektif karena penilaian untuk
pertanyaan ini melibatkan faktor subjektif dari penilai sehingga hasilnya akan
berbeda untuk masing-masing penilai dari suatu waktu ke waktu lainnya.
31
2. Pertanyaan pilihan ganda.
Pertanyaan pilihan ganda, betul salah, menjodohkan, disebut pertanyaan
objektif karena pertanyaan-pertanyaan itu dapat dinilai secara pasti oleh
penilai tanpa melibatkan faktor-faktor subjektif dari penilai.
Pengetahuan dapat dilihat dan dinilai dengan menggunakan kuesioner
maupun wawancara. Penilaian berdasarkan kriteria-kriteria yang telah ada.
Menurut Nursalam (2013) menjelaskan tentang penilaian tingkatan pengetahuan
berdasarkan nilai :
a. Tingkat pengetahuan baik bila skor atau nilai 76–100%
b. Tingkat pengetahuan cukup bila skor atau nilai 56-75%
c. Tingkat pengetahuan kurang bila skor atau nilai < 55%
2.3 Pelaporan Kecelakaan Kerja
Laporan kecelakaan merupakan media komunikasi formal tentang faktafakta penting untuk diketahui oleh orang-orang yang berkepentingan terhadap
peristiwa kecelakaan yang terjadi. Laporan merupakan catatan peristiwa
kecelakaan yang akan digunakan didalam program pengendalian kerugian.
Pencatatan kecelakaan dan cidera penting untuk program pencegahan kecelakaan
yang berhasil dan efisien. Data ini sangat penting guna pencegahan kecelakaan
dengan pendekatan sains (Widhiyastuti, 2009).
Pelaporan kecelakaan kerja harus dicatat dan dilaporkan karena
merupakan persyaratan peraturan perundang-undangan, bukti keabsahan data,
mengukur kinerja, mengenal bahaya di tempat kerja, tindakan koreksi, mengelola
32
pelaksanaan K3 di tempat kerja, penghargaan K3, penentuan tingkat premi
asuransi, dan bukti otentik dalam pengajuan proses verbal.
Dalam manajemen kerugian menyeluruh, sistem laporan memainkan
peranan penting. Tidak ada suatu kejadian atau kecelakaan yang dapat diabaikan
begitu saja, betapa pun kecilnya. Laporan kecelakaan menyeluruh adalah kegiatan
manajemen yang peka terhadap kerugian. Mungkin akibat sesuatu kecelakaan
dapat di kategorikan “kecil”, “sedang”, atau “parah”. Namun kecelakaan dari
kategori apapun harus dianggap penting oleh manajemen. Kejadian atau
kecelakaan yang tidak dilaporkan akan berkembang seperti kanker dalam tubuh
manusia (Wardhani, 2008).
Menurut Kode Praktis ILO, pelaporan adalah suatu prosedur yang
diterapkan didalam hukum dan peraturan nasional dan praktik di perusahaan, agar
para pekerja melaporkan kepada penyelia mereka, orang yang berkompeten, atau
badan lain yang ditetapkan tentang informasi mengenai setiap kecelakaan kerja
atau gangguan kesehatan yang muncul selama melakukan atau dalam hubungan
dengan pekerjaan, kasus yang diduga penyakit akibat kerja, kecelakaan selama
perjalanan pulang-pergi dan peristiwa atau kejadian berbahaya. Para pekerja dan
wakil mereka harus diberi informasi yang tepat oleh pengusaha mengenai
peraturan untuk pencatatan, pelaporan, dan pemberitahuan informasi tentang
kecelakaan dan penyakit akibat kerja (Wardhani, 2008).
Peraturan perundang-undangan yang terkait pelaporan kecelakaan kerja
dan penyakit akibat kerja sebagai berikut :
1. Undang-Undang No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
33
2. Undang-Undang No 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial
3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 44 Tahun 2015 tentang
Penyelenggaraan Program Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan
Kematian
4. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor : PER.03/MEN/1998 tentang Tata
Cara Pelaporan dan Pemeriksaan Kecelakaan
5. Peraturan Menteri Nomor : PER.01/MEN/1981 tentang Kewajiban
Melapor Penyakit Akibat Kerja
6. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 2016
tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit
7. Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 1993 tentang Penyakit Yang Timbul
Karena Hubungan Kerja
8. Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No.25/MEN/XII/2008
tentang Pedoman Diagnosis dan Penilaian Cacat Karena Kecelakaan dan
Penyakit Akibat Kerja
9. Keputusan
Menteri
Kesehatan
Republik
Indonesia
No.432/MENKES/SK/IV/2007 tentang Pedoman Manajemen Kesehatan
dan Keselamatan Kerja (K3) di Rumah Sakit
2.3.1 Tujuan Pelaporan Kecelakaan Kerja
Menurut kode praktis ILO (dalam Dewanti, 2012) pelaporan adalah suatu
prosedur yang ditetapkan didalam hukum dan peraturan nasional dan praktik di
34
perusahaan agar para pekerja melaporkan kepada penyelia mereka, orang yang
berkompeten, atau badan lain yang ditetapkan tentang informasi mengenai :
1. Setiap kecelakaan kerja atau gangguan kesehatan yang muncul selama
melakukan atau ada hubungan dengan pekerjaan.
2. Kasus yang diduga penyakit akibat kerja.
3. Kecelakaan selama perjalanan pulang-pergi.
4. Peristiwa dan kejadian berbahaya.
Para pekerja dan wakil dari mereka harus diberi informasi yang tepat oleh
pengusaha mengenai peraturan untuk pelaporan, pencatatan, dan pemberitahuan
informasi tentang kecelakaan dan penyakit akibat kerja (Wardhani, 2008). Catatan
wajib atas kejadian yang dipersyaratkan undang-undang dan laporan kecelakaan
harus setiap saat diperiksa dan disimpan untuk jangka waktu sedikitnya selama 3
tahun (Ridley, 2009). Pelaporan kecelakaan kerja bertujuan untuk mengevaluasi
secara objektif kasus kecelakaan kerja, mengevaluasi efektivitas program K3,
menentukan tingkat permasalahan K3 pada unit kerja, analisis kecelakaan kerja
dan PAK (Penyakit Akibat Kerja) terhadap kasus yang spesifik, mendorong
supervisor agar lebih tertarik terhadap K3, menyediakan data dan fakta tentang
masalah K3 kepada P2K3, dan mengukur efektivitas penggunaan alat-alat K3.
Tujuan utama dilakukan pencatatan dan pelaporan kecelakaan kerja adalah
untuk menemukan mengapa kecelakaan terjadi, penyebabnya, dimana terjadinya,
kapan, siapa atau apa yang menjadi korban dan sebagainya, selanjutnya dapat
diupayakan agar tidak terjadi kecelakaan yang sama atau yang lebih parah
(Dewanti, 2012).
35
2.3.2 Manfaat Pelaporan Kecelakaan Kerja
Sistem pelaporan kecelakaan memiliki peranan penting. Manfaat laporan
kecelakaan adalah meningkatkan kesadaran akan pentingnya keselamatan dengan
lengkapnya data kecelakaan, menjelaskan sumber kecelakaan dan memberikan
informasi pada safety committee baik unsafe action maupun unsafe condition,
menilai keefektifan program keselamatan, memperbaiki prosedur operasi,
memperbaiki kerugian yang lebih besar, mengetahui kesalahan manajemen, dan
mencegah terulang lagi (Dewanti, 2012).
2.3.3 Prosedur Pelaporan Kecelakaan Kerja
Menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Per.03/MEN/1998
tentang Tata Cara Pelaporan dan Pemeriksaan Kesehatan pasal 2 menyebutkan
bahwa pengurus atau pengusaha wajib melaporkan tiap kecelakaan yang terjadi di
tempat kerja dipimpinnya dan wajib melaporkan tertulis kepada Kepala Kantor
Departemen Tenaga Kerja setempat dalam waktu tidak lebih dari 2 x 24 jam
(Pasal 3). Disamping itu pengurus diwajibkan memberitahukan kecelakaan.
Pekerja mempunyai tanggung jawab atas perbuatan-perbuatan ke arah pencegahan
kecelakaan, harus melaporkan kepada supervisor dan meminta pertolongan
pertama dari supervisor untuk setiap luka betapa pun kecilnya, melaporkan
kondisi/peralatan/perbuatan yang kurang selamat dan menganggap rapat-rapat K3
sebagai bagian dari tugasnya.
Setiap perusahaan memiliki alur dan prosedur masing-masing terkait
pelaporan kecelakaan kerja namun secara umum alur dan prosedur pelaporan
kecelakaan kerja sebagai berikut jika terjadi kecelakaan kerja segera melapor ke
36
unit kerja, departemen SDM dan departemen K3, selanjutnya membuat laporan
kecelakaan kerja secara menyeluruh lalu disampaikan ke manajemen perusahaan,
dinas tenaga kerja, dan perusahaan asuransi.
2.3.4 Tata Cara Pelaporan Kecelakaan Kerja
Pengurus atau pengusaha wajib melaporkan setiap kasus kecelakaan yang
terjadi di tempat kerja. Jenis kecelakaan yang dilaporkan antara lain kecelakaan
kerja yang menimbulkan kematian, sakit akibat kerja, cidera (memerlukan
perawatan
dan
pengobatan,
hilang
kesadaran,
mengalami
hambatan
kerja/gerakan), kebakaran, peledakan, keracunan, pencemaran lingkungan, dan
kejadian bahaya lainnya. Semua kecelakaan dan kejadian-kejadian yang
berbahaya perlu dilaporkan kepada pihak supervisor dan supervisor harus
mengambil langkah-langkah antara lain: memberikan bantuan pengobatan bagi
yang terluka atau cedera, memperbaiki kondisi yang berbahaya, dan mengisi
laporan kecelakaan. Selanjutnya pihak supervisor memberikan laporan singkat
kepada pihak manager secepat mungkin, laporan disampaikan kepada dinas
tenaga kerja setempat dalam waktu 2 x 24 jam, dan laporan dapat disampaikan
secara lisan sebelum dilaporkan secara tertulis. Setelah kejadian kecelakaan
serius, kondisi dibiarkan untuk tidak disentuh (bila memungkinkan), sambil
menunggu penyelidikan selanjutnya.
37
2.4 Kerangka Teori
Berdasarakan teori yang telah dijelaskan pada bab tinjuan pustaka, maka
kerangka teori yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada teori Ajzen
(2005) yaitu Theory of Planned Behavior dapat digambarkan seperti pada Bagan
2.2
Bagan 2.2 Kerangka Teori
Sumber : Ajzen, 2005
38
3 BAB III
KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL
3.1 Kerangka Konsep
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan sikap, norma
subjektif, persepsi kontrol perilaku, dan pengetahuan terhadap intensi pelaporan
kecelakaan kerja perawat rawat inap tulip dan melati di Rumah Sakit X Kota
Bekasi Tahun 2016, sehingga variabel yang diteliti dalam penelitian adalah
intensi, sikap, norma subjektif, persepsi kontrol perilaku dan pengetahuan.
Penelitian ini menggunakan teori Planned Behavior, hal ini dikarenakan teori
Planned Behavior sudah mengalami pengembangan dari teori sebelumnya yaitu
teori Reasoned Action dengan ditambahkan persepsi kontrol perilaku sehingga
dapat menggambarkan proses pembentukan niat. Niat dibentuk oleh sikap, norma
subjektif, persepsi kontrol perilaku dan pengetahuan. Persepsi kontrol perilaku
mengindikasikan keyakinan seseorang tentang kesulitan atau kemudahan untuk
berperilaku. Niat tidak akan terbentuk jika tidak ada keyakinan tentang kesulitan
atau kemudahan untuk melakukannya meskipun mempunyai sikap positif dan
dukungan positif norma subjektif.
Sikap
Norma Subjektif
Persepsi kontrol
perilaku
Intensi Pelaporan
Kecelakaan Kerja
Pengetahuan
Bagan 3.1 Kerangka Konsep
39
3.2 Definisi Operasional
Tabel 3.1 Definisi Operasional
No.
Variabel
Definisi
Variabel Dependen
Niat atau kecenderungan perawat untuk melaporkan
1.
Intensi
jika mengalami kecelakaan kerja
Pelaporan
Kecelakaan
Kerja
Variabel Independen
1.
Sikap
Tanggapan atau respon perawat terhadap pelaporan
kecelakaan kerja
2.
Norma
Keyakinan dukungan dari orang lain yang dianggap
Subjektif
penting yaitu kepala ruangan, pj shift, teman, dan
petugas instalasi K3L untuk melaporkan kecelakaan
kerja
3.
Persepsi kontrol Keyakinan perawat mengenai kemudahan atau
perilaku
kesulitan dalam melaporkan kecelakaan kerja
4.
Pengetahuan
Segala sesuatu yang diketahui perawat terkait
pelaporan kecelakaan kerja meliputi pengertian
kecelakaan kerja, jenis kecelakaan kerja, bagaimana
cara melaporkan kecelakaan kerja, waktu pelaporan
kecelakaan kerja, siapa yang melaporkan
kecelakaan kerja, tujuan pelaporan kecelakaan
kerja, manfaat pelaporan kecelakaan kerja, dan
dampak tidak melaporkan kecelakaan kerja
Cara
Ukur
Alat
Ukur
Hasil Ukur
Skala
Penyebaran Kuesioner 1. Lemah : total skor < 30 (median)
kuesioner
2. Kuat : total skor > 30 (median)
Ordinal
Penyebaran Kuesioner 1. Negatif : total skor < 79 (median)
kuesioner
2. Positif : total skor > 79 (median)
Penyebaran Kuesioner 1. Negatif : total skor < 44 (median)
kuesioner
2. Positif : total skor > 44 (median)
Ordinal
Penyebaran Kuesioner 1. Negatif : total skor < 64 (median)
kuesioner
2. Positif : total skor > 64 (median)
Penyebaran Kuesioner 1. Kurang : total skor < 54,5 (median)
kuesioner
2. Baik : total skor > 54,5 (median)
Ordinal
40
Ordinal
Ordinal
3.3 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kerangka konsep penelitian, maka rumusan hipotesis dalam
penelitian ini sebagai berikut :
1. Ada hubungan antara sikap dengan intensi pelaporan kecelakaan kerja
perawat rawat inap tulip dan melati di Rumah Sakit X Kota Bekasi Tahun
2016.
2. Ada hubungan antara norma subjektif dengan intensi pelaporan kecelakaan
kerja perawat rawat inap tulip dan melati di Rumah Sakit X Kota Bekasi
Tahun 2016.
3. Ada hubungan antara persepsi kontrol perilaku dengan intensi pelaporan
kecelakaan kerja perawat rawat inap tulip dan melati di Rumah Sakit X
Kota Bekasi Tahun 2016.
4. Ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan intensi pelaporan
kecelakaan kerja perawat rawat inap tulip dan melati di Rumah Sakit X
Kota Bekasi Tahun 2016.
41
4 BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1 Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang bersifat deskriftif
analitik cross sectional karena pengumpulan data dan pengukuran variabel
penelitian dilakukan dalam satu waktu tertentu dan mengambarkan variabel
dependen dan variabel independen dalam waktu yang bersamaan. Variabel
dependen dalam penelitian ini adalah intensi pelaporan kecelakaan kerja dan
varibel independen dalam penelitian ini adalah sikap, norma subjektif, persepsi
kontrol perilaku dan pengetahuan. Desain ini cukup sederhana sehingga sesuai
dengan waktu, dana dan kemampuan peneliti.
4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di rawat inap tulip dan melati Rumah Sakit X
Kota Bekasi pada bulan Oktober – Desember Tahun 2016.
4.3 Populasi dan Sampel Penelitian
4.3.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perawat di rawat inap tulip
dan melati Rumah Sakit X Kota Bekasi berjumlah 52 perawat yang terdiri dari 29
perawat rawat inap tulip dan 23 perawat rawat inap melati.
4.3.2 Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah semua anggota populasi dijadikan
objek penelitian. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah sampling
jenuh yaitu total populasi perawat di rawat inap tulip dan melati.
42
Perhitungan besar sampel dilakukan dengan menggunakan rumus
sampling uji beda dua proporsi sebagai berikut.
Keterangan :
n
: Besar sampel minimal
P
: (P1 + P2) : 2
P1
: Proporsi kejadian kesadaran pelaporan kecelakaan kerja rendah dengan
pengetahuan dan sikap kurang baik
P2
: Proporsi kejadian kesadaran pelaporan kecelakaan kerja rendah dengan
pengetahuan dan sikap baik
Z1-α/2 : CI 95% dengan α = 5% (1,96)
Z1-β
: 1-β 80% (0,84)
Tabel 4.1 Hasil Perhitungan Besar Sampel
Variabel
Sumber
P1
P2
Sikap
Utari, 2009
0,54
0,14
Norma Subjektif
Nurvita, 2015
0,32
0,71
Persepsi kontrol perilaku
Utari, 2009
0,09
0,53
Pengetahuan
Yuliana, 2012
0,56
0,17
n
21
25
17
23
nx2
42
50
34
46
Berdasarkan perhitungan besar sampel diperoleh sampel minimal dalam
penelitian ini adalah 50 responden. Sampel dalam penelitian ini yaitu sampel
jenuh, perawat rawat inap tulip yang berjumlah 29 orang dan perawat rawat inap
melati yang berjumlah 23 orang, sehingga total sampel dalam penelitian ini
berjumlah 52 orang.
43
4.4 Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk membantu peneliti
dalam melakukan pengumpulan data yaitu lembar kuesioner. Kuesioner
mencakup pertanyaan mengenai identitas responden, pernyataan mengenai intensi,
sikap, norma subjektif, persepsi kontrol perilaku dan pengetahuan terhadap
pelaporan kecelakaan kerja. Intrumen penelitian ini mengacu pada teori Ajzen
namun penyusunan kuesioner disesuaikan berdasarkan kuesioner-kuesioner pada
penelitian sebelumnya dan penelitian sejenis maupun contoh pernyataan didalam
jurnal Ajzen yang disesuaikan dengan sampel dan tempat penelitian. Adapun
penjelasan mengenai kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini :
a. Identitas Responden
Identitas responden bertujuan untuk mengetahui bagaimana karakteristik
perawat di rawat inap tulip dan melati Rumah Sakit X Kota Bekasi yang
menjadi responden.
b. Intensi Pelaporan Kecelakaan Kerja
Intensi kecelakaan kerja bertujuan untuk mengetahui niat atau kecenderungan
perawat di rawat inap tulip dan melati Rumah Sakit X Kota Bekasi untuk
melaporkan kecelakaan kerja. Intensi pelaporan kecelakaan kerja diukur
dengan menggunakan 18 pernyataan dengan pilihan jawaban ya atau tidak.
Skor pada setiap pernyataan diperoleh langsung dari jawaban yang dipilih
responden. Skor seluruh pernyataan kemudian dijumlahkan. Data yang
didapatkan berdistribusi tidak normal sehingga menggunakan nilai median
untuk pengkategorian. Hasil dapat dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu :
44
1. Lemah : total skor < nilai median
2. Kuat : total skor > nilai median
c. Sikap terhadap Pelaporan Kecelakaan Kerja
Sikap terhadap pelaporan kecelakaan kerja bertujuan untuk mengetahui
respon perawat di rawat inap tulip dan melati Rumah Sakit X Kota Bekasi
terhadap pelaporan kecelakaan kerja. Sikap terhadap pelaporan kecelakaan
kerja diukur dengan menggunakan 30 pernyataan dengan pilihan jawaban
sangat tidak setuju, tidak setuju, setuju, dan sangat setuju. Masing-masing
pernyataan dikalkulasikan menggunakan skala Likert dengan skor 1 - 4 (1 =
sangat tidak setuju, 2 = tidak setuju, 3 = setuju, 4 = sangat setuju). Skor pada
setiap pernyataan diperoleh langsung dari jawaban yang dipilih responden.
Skor seluruh pernyataan kemudian dijumlahkan. Data yang didapatkan
berdistribusi tidak normal sehingga menggunakan nilai median untuk
pengkategorian. Hasil dapat dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu :
1. Negatif : total skor < nilai median
2. Positif : total skor > nilai median
d. Norma Subjektif
Norma subjektif bertujuan untuk mengetahui adakah dukungan dari orang
lain yang dianggap penting oleh perawat rawat inap tulip dan melati Rumah
Sakit X Kota Bekasi untuk melaporkan kejadian kecelakaan kerja. Norma
subjektif diukur dengan menggunakan 16 pernyataan dengan pilihan jawaban
sangat tidak setuju, tidak setuju, setuju, dan sangat setuju. Masing-masing
pernyataan dikalkulasikan menggunakan skala Likert dengan skor 1 - 4 (1 =
45
sangat tidak setuju, 2 = tidak setuju, 3 = setuju, 4 = sangat setuju). Skor pada
setiap pernyataan diperoleh langsung dari jawaban yang dipilih responden.
Skor seluruh pernyataan kemudian dijumlahkan. Data yang didapatkan
berdistribusi tidak normal sehingga menggunakan nilai median untuk
pengkategorian. Hasil dapat dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu :
1. Negatif : total skor < nilai median
2. Positif : total skor > nilai median
e. Persepsi kontrol perilaku (Perceived Bahavioral Control)
Persepsi kontrol perilaku bertujuan untuk mengetahui keyakinan kemampuan
perawat rawat inap tulip dan melati Rumah Sakit X Kota Bekasi untuk
melaporkan kejadian kecelakaan kerja. Persepsi kontrol perilaku diukur
dengan menggunakan 24 pernyataan dengan pilihan jawaban sangat tidak
setuju, tidak setuju, setuju, dan sangat setuju. Masing-masing pernyataan
dikalkulasikan menggunakan skala Likert dengan skor 1 - 4 (1 = sangat tidak
setuju, 2 = tidak setuju, 3 = setuju, 4 = sangat setuju). Skor pada setiap
pernyataan diperoleh langsung dari jawaban yang dipilih responden. Skor
seluruh
pernyataan
kemudian
dijumlahkan.
Data
yang
didapatkan
berdistribusi tidak normal sehingga menggunakan nilai median untuk
pengkategorian. Hasil dapat dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu :
1. Negatif : total skor < nilai median
2. Positif : total skor > nilai median
46
f. Pengetahuan terhadap Pelaporan Kecelakaan Kerja
Pengetahuan
terhadap
pelaporan
kecelakaan
kerja
bertujuan
untuk
mengetahui tingkat pengetahuan perawat di rawat inap tulip dan melati
Rumah Sakit X Kota Bekasi terhadap pelaporan kecelakaan kerja.
Pengetahuan
terhadap
pelaporan
kecelakaan
kerja
diukur
dengan
menggunakan 20 pernyataan dengan pilihan jawaban benar atau salah.
Masing-masing pernyataan dikalkulasikan dengan menjumlahkan skor
jawaban yang benar. Skor pada setiap pernyataan diperoleh langsung dari
yang jawaban yang dipilih responden. Data yang didapatkan berdistribusi
tidak normal sehingga menggunakan nilai median untuk pengkategorian.
Hasil dapat dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu :
1. Kurang : total skor < nilai median
2. Baik : total skor > nilai median
4.4.1 Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner
A. Uji Validitas
Uji validitas adalah derajat ketepatan antara data yang terdapat di lapangan
(tempat penelitian) dan data yang dilaporkan oleh peneliti (Lapau, 2013).
Validitas menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat mengukur apa
yang ingin diukur, kuesioner yang disusun harus mengukur apa yang ingin diukur.
Uji validitas dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada 30 perawat di
salah satu rumah sakit di daerah Jakarta yang memiliki karakteristik yang sama
dengan tempat penelitian.
47
Pada variabel dengan pilihan jawaban skala likert dinyatakan valid jika
nilai r hitung > nilai r tabel (0,361) dan pada variabel dengan 2 pilihan jawaban
menggunakan skala guttman dinyatakan valid jika perawat dapat mengerjakan
kuesioner dengan waktu yang tidak terlalu lama dan memahami seluruh
pertanyaan dalam kuesioner (Wiley&Sons, 2005). Dari hasil uji validitas
diketahui bahwa dari 138 pernyataan terdapat 47 pernyataan yang dinyatakan
tidak valid (tabel uji validitas dapat dilihat pada lampiran II). Untuk beberapa
pernyataan yang tidak valid akan dihapus dari kuesioner karena masih dapat
terwakili oleh pernyataan yang lain dan untuk beberapa pernyataan yang tidak
valid lainnya hanya dilakukan perubahan redaksi pernyataan pada kuesioner.
B. Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas adalah ketepatan atau tingkat presisi suatu ukuran atau alat
pengukuran (Lapau, 2013). Uji reliabilitas dilakukan dengan membandingkan
nilai r hasil. R hasil yaitu nilai Cronbach’s Alpha pada tabel Realiability Statistics.
Kuesioner dinyatakan reliabel jika nilai Cronbach’s Alpha > 0,6. Nilai reliabilitas
dari masing-masing variabel dapat dilihat pada Tabel 4.2. Berdasarkan hasil uji
reliabilitas, diketahui bahwa semua variabel cukup reliabel karena memiliki nilai
Cronbach’s Alpha > 0,6.
Tabel 4.2 Uji Reliabilitas Kuesioner
No
Variabel
1.
2.
3.
4.
5.
Intensi
Sikap
Norma Subjektif
Persepsi Kontrol Perilaku
Pengetahuan
Nomor
Pertanyaan
B1 – B18
C1 – C30
D1 – D16
E1 – E24
F1 – F20
Alpha
Coefficient
0.771
0.796
0.880
0.771
0.700
Keterangan
Reliabel
Reliabel
Reliabel
Reliabel
Reliabel
48
4.5 Manajemen Data
Manajemen data adalah pengolahan data agar memenuhi syarat untuk
dianalisis sehingga menghasilkan suatu informasi dengan melalui proses coding,
editing, entry dan cleaning.
a. Data Coding
Data Coding adalah proses pemberian kode pada setiap jawaban dalam
kuesioner untuk memudahkan dalam memasukan data (data entry).
Pengkodean dilakukan pada semua variabel baik variabel dependen (intensi
pelaporan kecelakaan kerja) maupun variabel independen (sikap, norma
subjektif, persepsi kontrol perilaku dan pengetahuan). Proses ini dilakukan
sejak awal pembuatan kuesioner, yaitu :
No.
A1 – A9
Variabel
Identitas Responden
B1 – B18
Intensi
C1 – C30
Sikap
D1 – D16
Norma Subjektif
E1 – E24
Persepsi kontrol perilaku
F1 – F20
Pengetahuan
Kode
Lemah = 1
Kuat = 2
Negatif = 1
Positif = 2
Negatif = 1
Positif = 2
Negatif = 1
Positif = 2
Kurang = 1
Baik = 2
b. Data Editing
Data Editing adalah proses pengecekan kuesioner untuk melihat kelengkapan
data apakah semua pertanyaan sudah terisi atau masih terdapat pertanyaan
yang belum diisi atau missing. Data editing dilakukan langsung sesaat setelah
kuesioner dikembalikan oleh responden. Hal ini bertujuan jika ditemukan
49
missing didalam jawaban kuesioner maka peneliti dapat langsung
mengklarifikasi kepada responden.
c. Data entry
Data entry adalah proses memasukkan data ke dalam software komputer
untuk memudahkan proses pengolahan data secara statistik.
d. Data Cleaning
Data Cleaning adalah proses pemeriksaan data kembali setelah di-entry untuk
memastikan kelengkapan data dan tidak ada kesalahan saat memasukkan data
ke dalam software komputer. Setelah data lengkap dan tidak ada kesalahan
maka data dapat diolah dan dianalisis lebih lanjut.
4.6 Analisa Data
4.6.1 Analisis Univariat
Analisis univariat bertujuan untuk mendeskripsikan distribusi frekuensi
dalam bentuk proporsi dan persentase dari masing-masing variabel penelitian baik
variabel dependen yaitu intensi pelaporan kecelakaan kerja dan variabel
independen yaitu sikap, norma subjektif, persepsi kontrol perilaku dan
pengetahuan.
4.6.2 Analisis Bivariat
Analisis bivariat bertujuan untuk melihat hubungan antara variabel
dependen dengan variabel independen. Analisis bivariat yang dilakukan terhadap
dua variabel yang diduga memiliki hubungan. Dalam penelitian ini analisis
bivariat dilakukan untuk mengetahui adakah hubungan antara sikap, norma
subjektif, persepsi kontrol perilaku dan pengetahuan terhadap intensi pelaporan
50
kecelakaan kerja. Analisis pada penelitian ini yaitu variabel sikap, norma
subjektif, persepsi kontrol perilaku dan pengetahuan pelaporan kecelakaan kerja
dengan intensi pelaporan kecelakaan kerja, maka uji statistik yang digunakan uji
chi-square (X2). Uji chi-square dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel
kategorik dengan variabel kategorik yaitu sikap, norma subjektif, persepsi kontrol
perilaku dan pengetahuan dengan intensi pelaporan kecelakaan kerja. Dengan
menggunakan aplikasi software komputer. Dalam penelitian ini derajat
kemaknaan yang digunakan sebesar 5% sehingga variabel dependen dan variabel
independen dinyatakan ada hubungan yang bermakna jika nilai p < 0,05 dan
variabel dependen dan variabel independen dinyatakan tidak ada hubungan yang
bermakna jika nilai p > 0,05.
51
5 BAB V
HASIL PENELITIAN
5.1 Gambaran Umum Tempat Penelitian
Rumah Sakit X adalah rumah sakit negeri kelas B dengan Badan Layanan
Umum Daerah penuh. Rumah Sakit X mampu memberikan pelayanan kedokteran
spesialis dan subspesialis terbatas. Rumah Sakit X juga merupakan rumah sakit
rujukan dari kabupaten dan pasien BPJS di Kota Bekasi. Rumah Sakit X ini
memiliki visi menjadi rumah sakit yang unggul dengan pelayanan bermartabat
dan misi meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pelayanan kesehatan
rujukan dan terjangkau oleh masyarakat, melindungi kesehatan masyarakat
dengan menjamin tersedianya pelayanan bermutu, dan menciptakan tata kelola
rumah sakit yang baik. Untuk mewujudkan visi dan misi, rumah sakit memiliki
pelayanan penunjang non medis salah satunya yaitu instalasi K3LRS untuk
keselamatan dan kesehatan kerja sehingga tenaga kerja dapat memberikan
pelayanan yang bermutu dan aman untuk pasien dan keluarga.
Rumah Sakit ini memiliki pelayanan rawat jalan yang terdiri dari 23
poliklinik dan 4 instalasi, rawat inap dengan 312 tempat tidur, penunjang medis
dan penunjang non medis serta memiliki 934 tenaga kerja yang terdiri dari 95
dokter, 303 perawat, 43 bidan, 34 farmasi, 40 keteknisian medis, 36 tenaga
kesehatan lainnya, dan 383 tenaga non kesehatan. Rata-rata setiap tahunnya
terdapat 235.675 pasien yang berobat rawat jalan, 13.344 pasien yang berobat
rawat inap, dan 26.194 pasien ke IGD.
52
Rawat inap tulip dan melati merupakan pelayanan rawat inap di Rumah
Sakit X. Rawat inap tulip adalah kamar rawat inap untuk pasien bedah dan rawat
inap melati adalah kamar rawat inap untuk pasien anak-anak. Total perawat dari
kedua rawat inap tersebut berjumlah 52 orang dengan perawat pada rawat inap
tulip berjumlah 29 perawat dan pada rawat inap melati berjumlah 23 perawat,
sebagian besar perawat berjenis kelamin perempuan yaitu 42 orang perawat dan
sisanya sebanyak 10 orang berjenis kelamin laki-laki. Rata-rata usia perawat 31
tahun dengan lama kerja yang paling baru selama 1 tahun dan yang paling lama
30 tahun sebagai perawat. Kebanyakan dari perawat merupakan lulusan dari D3
sebanyak 43 perawat dan S1 sebanyak 9 perawat. Dari 52 perawat yang bertugas
di rawat inap tulip dan melati hanya sebagian kecil yang sudah pernah mengikuti
pelatihan terkait K3RS yaitu sebanyak 3 perawat dan 49 perawat lainnya belum
pernah mengikuti pelatihan terkait K3RS.
5.2 Gambaran Intensi Pelaporan Kecelakaan Kerja
Intensi pelaporan kecelakaan kerja diukur melalui pernyataan-pernyataan
terkait tanda-tanda kecenderungan untuk melaporkan atau tidak melaporkan
kecelakaan kerja. Uji statistik univariat berskala ordinal dilakukan untuk
mengetahui distribusi frekuensi intensi pelaporan kecelakaan kerja. Hasil
distribusi frekuensi intensi pelaporan kecelakaan kerja dikelompokkan ke dalam
dua kategori, yaitu intensi pelaporan kecelakaan kerja lemah dan intensi pelaporan
kecelakaan kerja kuat.
53
Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Intensi Pelaporan Kecelakaan Kerja Perawat
Rawat Inap Tulip dan Melati Rumah Sakit X Kota Bekasi Tahun 2016
Variabel
Kategori
Lemah
Kuat
Intensi
Total
Frekuensi
24
28
52
Persentase
46,2 %
53,8 %
100 %
Berdasarkan Tabel 5.1 diketahui bahwa dari 52 responden penelitian
sebanyak 24 perawat (46,2%) memiliki intensi pelaporan kecelakaan kerja yang
lemah dan sebanyak 28 perawat (53,8%) memiliki intensi pelaporan kecelakaan
kerja yang kuat.
5.3 Gambaran Determinan Faktor Intensi Pelaporan Kecelakaan Kerja
Determinan faktor yang diteliti dalam penelitian ini yaitu sikap, norma
subjektif, persepsi kontrol perilaku, dan pengetahuan. Uji statistik dilakukan untuk
mengetahui distribusi frekuensi. Hasil distribusi frekuensi dikelompokkan dalam
dua kategori yaitu negatif dan positif untuk variabel sikap, norma subjektif, dan
persepsi kontrol perilaku, kurang dan baik untuk variabel pengetahuan.
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Determinan Faktor Intensi Pelaporan
Kecelakaan Kerja Perawat Rawat Inap Tulip dan Melati Rumah Sakit X
Kota Bekasi Tahun 2016
No.
Variabel
1.
Sikap
2.
Norma Subjektif
3.
Persepsi kontrol
perilaku
4.
Pengetahuan
Kategori
Negatif
Positif
Negatif
Positif
Negatif
Positif
Kurang
Baik
Frekuensi
(n = 52)
24
28
24
28
21
31
21
31
Persentase
46,2 %
53,8 %
46,2 %
53,8 %
40,4 %
59,6 %
40,4 %
59,6 %
54
1. Gambaran Distribusi Frekuensi Sikap
Berdasarkan Tabel 5.2 diketahui bahwa dari 52 responden penelitian
sebanyak 24 perawat (46,2%) memiliki sikap negatif dan sebanyak 28 perawat
(53,8%) memilki sikap positif.
2. Gambaran Distribusi Frekuensi Norma Subjektif
Berdasarkan Tabel 5.2 diketahui bahwa dari 52 responden penelitian
sebanyak 24 perawat (46,2%) memiliki norma subjektif negatif dan sebanyak 28
perawat (53,8%) memiliki norma subjektif positif.
3. Gambaran Distribusi Frekuensi Persepsi Kontrol Perilaku
Berdasarkan Tabel 5.2 diketahui bahwa dari 52 responden penelitian
sebanyak 21 perawat (40,4%) memiliki persepsi kontrol perilaku negatif dan
sebanyak 31 perawat (59,6%) memiliki persepsi kontrol perilaku positif.
4. Gambaran Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan
Berrdasarkan Tabel 5.2 diketahui bahwa dari 52 responden penelitian
sebanyak 21 perawat (40,4%) memiliki tingkat pengetahuan kurang dan sebanyak
31 perawat (59,6%) memilki tingkat pengetahuan baik.
5.4 Hubungan Determinan Faktor Terhadap Intensi Pelaporan Kecelakaan
kerja
Analisis bivariat adalah analisis yang menunjukkan hubungan antara satu
variabel dependen dengan satu variabel independen yang dianalisis dengan uji
chi-square (X2). Hasil analisis bivariat pada penelitian ini diketahui bahwa semua
variabel independen yaitu sikap, norma subjektif, persepsi kontrol perilaku dan
55
pengetahuan memiliki hubungan dengan intensi pelaporan kecelakaan kerja
(Pvalue < 0,05).
Tabel 5.3 Hubungan Determinan Faktor dengan Intensi Pelaporan
Kecelakaan Kerja Perawat Rawat Inap Tulip dan Melati Rumah Sakit X
Kota Bekasi Tahun 2016
No.
Variabel
1.
Sikap
2.
Norma Subjektif
3.
Persepsi kontrol
perilaku
4.
Pengetahuan
Kategori
Negatif
Positif
Negatif
Positif
Negatif
Positif
Kurang
Baik
Intensi
Lemah
Kuat
n
%
n
%
20 83,3% 4 16,7%
4 14,3% 24 85,7%
19 79,2% 5 20,8%
5 17,9% 23 82,1%
15 71,4% 6 28,6%
9
29% 22 71%
15 71,4% 6 28,6%
9
29% 22 71%
Total
(n = 52)
n
%
24 100%
28 100%
24 100%
28 100%
21 100%
31 100%
21 100%
31 100%
OR
(95% CI)
30,000
(6,643 – 135,477)
17,480
(4,395 – 69,516)
6,111
(1,797 – 20,779)
6,111
(1,797 – 20,779)
1. Hubungan antara Sikap dengan Intensi Pelaporan Kecelakaan Kerja
Berdasarkan Tabel 5.3 diketahui bahwa dari 52 responden penelitian,
perawat dengan sikap negatif dan memiliki intensi pelaporan kecelakaan kerja
lemah sebanyak 20 dari 24 perawat (83,3%) dan perawat dengan sikap positif dan
memiliki intensi pelaporan kecelakaan kerja lemah sebanyak 4 dari 28 perawat
(14,3%). Dari hasil uji statistik, diperoleh nilai probabilitas (Pvalue) sebesar 0,000
pada alpha 5% terdapat hubungan yang signifikan antara sikap dengan intensi
pelaporan kecelakaan kerja dan nilai OR sebesar 30,000 (95% CI ; 6,643 –
135,477), artinya perawat yang memiliki sikap negatif dapat meningkatkan risiko
intensi lemah 30 kali dibandingkan dengan perawat yang memiliki sikap positif.
56
P
value
0,000
0,000
0,006
0,006
2. Hubungan antara Norma Subjekif dengan Intensi Pelaporan Kecelakaan
Kerja
Berdasarkan Tabel 5.3 diketahui bahwa dari 52 responden penelitian,
perawat dengan norma subjektif negatif dan memiliki intensi pelaporan
kecelakaan kerja lemah sebanyak 19 dari 24 perawat (79,2%) dan perawat dengan
norma subjektif positif dan memiliki intensi pelaporan kecelakaan kerja lemah
sebanyak 5 dari 28 perawat (17,9%). Dari hasil uji statistik, diperoleh nilai
probabilitas (P value) sebesar 0,000 pada alpha 5% terdapat hubungan yang
signifikan antara norma subjektif dengan intensi pelaporan kecelakaan kerja dan
nilai OR sebesar 17,480 (95% CI ; 4,395 – 69,516), artinya perawat yang
memiliki norma subjektif negatif dapat meningkatkan risiko intensi lemah 17,4
kali dibandingkan dengan perawat yang memiliki norma subjektif positif.
3. Hubungan antara Persepsi kontrol perilaku dengan Intensi Pelaporan
Kecelakaan Kerja
Berdasarkan Tabel 5.3 diketahui bahwa dari 52 responden penelitian
perawat dengan persepsi kontrol perilaku negatif dan memiliki intensi pelaporan
kecelakaan kerja lemah sebanyak 15 dari 21 perawat (71,4%) dan perawat dengan
persepsi kontrol perilaku positif dan memiliki intensi pelaporan kecelakaan kerja
lemah sebanyak 9 dari 31 perawat (29%). Dari hasil uji statistik, diperoleh nilai
probabilitas (P value) sebesar 0,006 pada alpha 5% terdapat hubungan yang
signifikan antara persepsi kontrol perilaku dengan intensi pelaporan kecelakaan
kerja dan nilai OR sebesar 6,111 (95% CI ; 1,797 – 20,779), artinya perawat yang
memiliki persepsi kontrol perilaku negatif dapat meningkatkan risiko intensi
57
lemah 6,1 kali dibandingkan dengan perawat yang memiliki persepsi kontrol
perilaku positif.
4. Hubungan antara Tingkat Pengetahuan dengan Intensi Pelaporan
Kecelakaan Kerja
Berdasarkan Tabel 5.3 diketahui bahwa dari 52 responden penelitian
perawat dengan tingkat pengetahuan kurang dan memiliki intensi pelaporan
kecelakaan kerja lemah sebanyak 15 dari 21 perawat (71,4%) dan perawat dengan
tingkat pengetahuan baik dan memiliki intensi pelaporan kecelakaan kerja lemah
sebanyak 9 dari 31 perawat (29%). Dari hasil uji statistik, diperoleh nilai
probabilitas (P value) sebesar 0,006 pada alpha 5% terdapat hubungan yang
signifikan antara tingkat pengetahuan dengan intensi pelaporan kecelakaan kerja
dan nilai OR sebesar 6,111 (95% CI ; 1,797 – 20,779), artinya perawat yang
memiliki pengetahuan kurang dapat meningkatkan risiko intensi lemah 6,1 kali
dibandingkan dengan perawat yang memiliki pengetahuan baik.
58
6 BAB VI
PEMBAHASAN
6.1 Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang dapat mempengaruhi
hasil penelitian. Adapun keterbatasan penelitian yaitu :
1.
Pertanyaan pada kuesioner belum mencakup seluruh kejadian kecelakaan
kerja yang harus dilaporkan karena berdasarkan hasil studi pendahuluan
kecelakaan kerja yang pernah terjadi hanya tertusuk jarum suntik, terluka saat
mengampul obat, dan terkena cairan tubuh pasien sehingga pertanyaan pada
kuesioner hanya terkait kecelakaan kerja yang pernah terjadi di tempat
penelitian, pada variabel intensi belum mencakup sistem pelaporan
kecelakaan
kerja,
sebaiknya
pernyataan
pada
kuesioner
mencakup
keseluruhan kejadian kecelakaan kerja termasuk juga sistem pelaporan
kecelakaan kerja.
2.
Penyebaran kuesioner tidak dapat dilakukan langsung oleh peneliti kepada
seluruh responden karena terkendala izin yang diberikan rumah sakit
sehingga ada potensi bias informasi pada saat pengisian kuesioner dan
kualitas jawaban kuesioner tergantung kejujuran dari responden karena
bentuknya bersifat pengakuan, subjektif dan tidak dapat dilakukan observasi.
6.2 Intensi Pelaporan Kecelakaan Kerja Perawat Rawat Inap Tulip dan
Melati Rumah Sakit X Kota Bekasi
Pelaporan kecelakaan kerja adalah prosedur yang diterapkan agar pekerja
melaporkan setiap kejadian kecelakaan kerja yang terjadi ataupun gangguan
59
kesehatan yang dialami selama melakukan atau dalam hubungan pekerjaan (ILO,
2008). Pelaporan kecelakaan kerja bertujuan untuk mengetahui kronologi, sumber
kecelakaan, siapa yang mengalami kecelakaan, pajanan atau penyebab terjadinya
kecelakaan, dan kondisi tempat kerja saat terjadi kecelakaan sehingga dapat
diupayakan agar kecelakaan kerja tidak terjadi berulang (Dewanti, 2012). Data
kecelakaan kerja yang tercatat belum sepenuhnya menggambarkan kecelakaan
kerja yang terjadi sebenarnya. Kejadian kecelakaan kerja digambarkan seperti
fenomena gunung es dimana kejadian kecelakaan kerja yang tercatat hanya
terlihat sedikit dari kecelakaan kerja yang sesungguhnya terjadi. Hal ini
menunjukkan bahwa masih banyak pekerja yang tidak melaporkan kejadian
kecelakaan kerja.
Dalam buku Practical Loss Control Leadership mengemukakan alasan
tidak melaporkan kecelakaan kerja dikarenakan takut dihukum, takut pelayanan
medis, hal yang wajar dan bukan merupakan hal yang serius (Bird dkk, 1990).
Ada juga beberapa alasan pekerja tidak melaporkan kecelakaan kerja karena tidak
mau proses kerja berhenti atau berubah, takut mendapat reputasi yang buruk, takut
dianggap tidak disiplin dan tidak mengerti pentingnya laporan. Selain itu, intensi
seseorang juga berpengaruh terhadap pelaporan kecelakaan kerja yang rendah
(Wardhani, 2008).
Intensi diasumsikan menggambarkan faktor internal yang mempengaruhi
perilaku, intensi mengindikasikan seberapa kuat seseorang untuk mau mencoba
berperilaku dan seberapa banyak usaha yang dilakukan untuk berperilaku (Ajzen,
1991). Semakin kuat intensi untuk berperilaku maka akan semakin kuat perilaku
60
tersebut akan terwujud. Intensi untuk berperilaku tertentu dapat terwujud perilaku
yang direncanakan hanya jika perilaku tersebut di bawah kontrol kehendaknya
(Ajzen, 1991). Misalnya ketika mengalami kecelakaan kerja maka seseorang itu
dapat memutuskan apakah mau melaporkan atau tidak melaporkan kejadian
kecelakaan kerja tersebut.
Sebelum terjadinya suatu perilaku, ada hal yang menjadi prediktor utama
dalam menentukan perilaku, yaitu intensi. Perilaku yang nampak dari seseorang
ditentukan oleh intensi yang mendasari perilaku tersebut. Intensi menunjukkan
seberapa besar seseorang memiliki keinginan untuk melakukan suatu hal atau
memunculkan perilaku. Menurut Schiffman dan Kanuk (2007) intensi adalah hal
yang berkaitan dengan kecenderungan seseorang untuk melakukan suatu tindakan
atau berperilaku tertentu. Dapat disimpulkan, intensi adalah kecenderungan
seseorang untuk melakukan suatu perilaku atas dasar kepercayaan dan keyakinan
terhadap suatu hal maupun kemampuan diri sendiri.
Intensi seseorang dipengaruhi oleh beberapa komponen, yaitu kepentingan
sebuah perilaku, waktu kapan harus dilakukan, dan situasi saat terjadi. Intensi
dipengaruhi oleh sikap, norma subjektif, persepsi kontrol perilaku dan
pengetahuan (Yogatama, 2013). Secara umum, apabila sikap dan norma subjektif
menunjukkan ke arah positif serta semakin kuat kontrol yang dimiliki, akan lebih
besar kemungkinan seseorang untuk melakukan perilaku tersebut (Ajzen, 1991).
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di rawat inap tulip dan melati
Rumah Sakit X Kota Bekasi diketahui bahwa dari 52 perawat yang menjadi
responden penelitian sebanyak 28 perawat (53,8%) memiliki intensi pelaporan
61
kecelakaan kerja yang kuat. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa 28
perawat dari 52 perawat yang menjadi responden penelitian ingin melaporkan
kecelakaan kerja yang dialami atau dilihatnya. Sebagian besar perawat ingin
melaporkan kecelakaan kerja karena merasa suatu kewajiban yang harus
dilakukan dan merupakan salah satu upaya untuk pencegahan agar kecelakaan
kerja tidak terjadi berulang. Namun tidak sedikit juga perawat yang tidak ingin
melaporkan kecelakaan kerja karena merasa bukan suatu kewajiban yang harus
dilakukan, merasa hanya luka kecil tidak sampai harus ditangani dokter, dan
merupakan hal yang wajar terjadi dialami perawat.
Hal ini akan berdampak negatif kepada kinerja dan pelayanan yang
diberikan. Kecelakaan kerja yang tidak dilaporkan akan menghambat pencegahan
infeksi dan pengobatan sehingga dapat menurunkan kinerja perawat dan tidak
dapat memberikan pelayanan secara optimal. Selain itu, pihak manajemen atau
dalam hal ini instalasi K3LRS tidak mengetahui jika terjadi kecelakaan kerja
sehingga tidak dapat mengetahui bagaimana kronologis kecelakaan, apa yang
menjadi penyebab kecelakaan, dimana terjadi kecelakaan, dan siapa saja yang
menjadi korban. Hal ini akan menghambat pencegahan terjadinya kecelakaan
kerja yang pada akhirnya membuat kecelakaan kerja terjadi berulang.
Kecelakaan kerja seperti tertusuk jarum suntik, terluka saat mengampul
obat, terkena darah pasien dan terkena urine pasien dianggap hal yang wajar
dialami perawat. Kecelakaan kerja tersebut tidak menimbulkan kesakitan maupun
luka serius sehingga tidak perlu dilaporkan, hanya jika kejadian tertusuk jarum
suntik yang sudah digunakan kepada pasien baru akan dilaporkan. Hal ini
62
menunjukkan pengetahuan perawat kurang terkait pelaporan kecelakaan kerja
membuat sikap perawat menjadi negatif terhadap pelaporan kecelakaan kerja.
Selain itu, dukungan dari orang yang dianggap penting dan orang-orang
yang berada di lingkungan perawat juga berpengaruh terhadap intensi pelaporan
kecelakaan kerja. Dimana dukungan dari staff instalasi K3LRS, penanggung
jawab shift, kepala ruangan dan teman sesama perawat dibutuhkan untuk
mendorong intensi pelaporan kecelakaan kerja. Kebanyakan persepsi dari perawat
bahwa prosedur pelaporan kecelakaan kerja cukup sulit dan menghambat
pekerjaan yang sedang dilakukan, sehingga membuat perawat lebih memilih
untuk tidak melaporkan kecelakaan kerja.
Setiap jenis kecelakaan kerja yang terjadi harus dilaporkan baik yang
mengakibatkan luka parah maupun tidak. Jenis kecelakaan kerja di rumah sakit
yang harus dilaporkan adalah tertusuk jarum suntik, terjatuh, terpeleset, terluka
saat mengampul obat, terkena cairan tubuh pasien, dan lain sebagainya.
Kecelakaan adalah kejadian yang tak diduga dan tidak dikehendaki yang
mengacaukan proses suatu aktivitas yang telah diatur (Sulaksono dan Santoso,
2004).
Jenis kecelakaan kerja yaitu terjatuh, tertimpa benda jatuh, tertumbuk atau
terkena benda terkecuali benda jatuh, terjepit, gerakan yang melebihi kemampuan,
pengaruh suhu tinggi, terkena arus listrik, kontak dengan bahan berbahaya atau
radiasi dan kecelakaan yang menimbulkan kesakitan maupun bahaya lainnya
(ILO, 1980). Itu artinya kejadian tertusuk jarum suntik, terluka saat mengampul
63
obat, dan terkena cairan tubuh pasien juga merupakan kecelakaan kerja yang
harus dilaporkan.
Terluka saat mengampul obat memang tidak menimbulkan luka yang
parah namun jika tidak dilakukan pengobatan atau pencegahan infeksi maka akan
berisiko perawat tertular infeksi dari pasien atau bahkan menularkan infeksi dari
pasien satu ke pasien yang lainnya. Sama halnya ketika perawat terkena cairan
tubuh pasien seperti urine maupun darah, terkena cairan tubuh pasien bagi
perawat merupakan hal yang wajar dan tidak menimbulkan kesakitan sama sekali.
Namun salah satu cara penularan infeksi dapat melalui cairan tubuh pasien.
Penularan infeksi dapat secara langsung maupun tidak langsung.
Penularan infeksi secara langsung dapat melalui droplet, urine, darah maupun
cairan tubuh pasien yang lainnya. Penularan infeksi secara tidak langsung dapat
melalui perantara vektor, benda mati maupun udara (Kozier, 2010). Hal ini
menunjukkan bahwa perawat yang terkena cairan tubuh pasien akan berisiko
tertular infeksi yang diderita pasien dan bahkan dapat menularkan infeksi tersebut
ke pasien lainnya.
Pelaporan kecelakaan kerja memiliki peranan yang penting dalam
manajemen kerugian keseluruhan. Suatu kecelakaan kerja mengakibatkan
kerugian dapat dikategorikan kecil, sedang atau parah. Namun, kejadian
kecelakaan kerja yang mengakibatkan kerugian dalam kategori apapun tetap harus
dianggap penting dan dilaporkan (Wardhani, 2008).
Dalam hasil penelitian ini, perawat yang memiliki intensi pelaporan
kecelakaan kerja lemah dengan sikap negatif (83,3%), perawat yang memiliki
64
intensi pelaporan kecelakaan kerja lemah dengan norma subjektif negatif (79,2%),
perawat yang memiliki intensi pelaporan kecelakaan kerja lemah dengan persepsi
kontrol perilaku negatif (71,4%) dan perawat yang memiliki intensi pelaporan
kecelakaan kerja lemah dengan pengetahuan kurang (71,4%), artinya perawat
yang memiliki sikap, norma subjektif, persepsi kontrol perilaku yang negatif serta
pengetahuan yang kurang cenderung tidak akan melaporkan kejadian kecelakaan
kerja yang dialami.
Hal ini sesuai dengan hasil penelitian sejenis sebelumnya, hasil penelitian
Triastity dkk (2013) menunjukkan bahwa niat-niat dipengaruhi secara signifikan
oleh sikap individu dan norma subjektif. Hasil penelitian Andika dan Madjid
(2012) menunjukkan bahwa sikap, norma subjektif secara simultan berpengaruh
secara signifikan terhadap niat untuk berperilaku.
Intensi pelaporan kecelakaan kerja dipengaruhi oleh sikap seseorang
terhadap suatu objek, norma subjektif yang diterima dari orang-orang yang
dianggap penting, persepsi akan kemampuan untuk melakukan suatu perilaku dan
pengetahuan yang dimiliki. Oleh karena itu, peningkatan intensi perawat dalam
pelaporan kecelakaan kerja dapat dilakukan dengan merubah sikap negatif
seseorang menjadi sikap positif, dukungan dari orang yang dianggap penting,
meyakinkan akan kemampuan yang dimiliki dan meningkatkan pengetahuan.
Karena intensi dipengaruhi oleh 4 hal tersebut maka perlu dilakukan sosialisasi
terkait prosedur pelaporan kecelakaan kerja yang berlaku dan pelatihan tentang
pelaporan kecelakaan kerja seperti ;pentingnya pelaporan kecelakaan kerja,
bagaimana dampak jika kecelakaan kerja tidak dilaporkan dan bagaimana
65
prosedur melaporkan kecelakaan kerja. Sosialisasi itu bertujuan untuk
meningkatkan pengetahuan sehingga dapat mempengaruhi sikap dan persepsi
kontrol perilaku perawat terhadap pelaporan kecelakaan kerja.
Penyebaran kuesioner dalam penelitian ini tidak dilakukan secara langsung
oleh peneliti hal ini dikhawatirkan dapat menimbulkan bias karena kualitas
jawaban sangat bergantung dengan kejujuran responden sehingga dapat
berdampak pada hasil penelitian. Selain itu, pernyataan yang terdapat dalam
kuesioner belum mencakup keseluruhan kejadian kecelakaan kerja dan sistem
pelaporan kecelakaan kerja. Oleh karena itu, untuk mengatasi kelemahan dalam
penelitian ini peneliti menanyakan nomor telepon yang dapat dihubungi, sehingga
peneliti dapat menguhubungi responden untuk memastikan jawaban responden
bila masih terdapat jawaban yang kosong atau jawaban ganda dan sebaiknya
penyebaran kuesioner dilakukan secara langsung oleh peneliti dan pernyataan
kuesioner lebih lengkap mencakup keseluruhan kejadian kecelakaan kerja dan
sistem pelaporan kecelakaan kerja.
6.3 Hubungan Sikap dengan Intensi Pelaporan Kecelakaan Kerja Perawat
Rawat Inap Tulip dan Melati Rumah Sakit X Kota Bekasi
Sikap adalah evaluasi terhadap kepercayaan mengenai objek perilaku
secara spesifik, evaluasi dan kecenderungan seseorang yang relatif konsisten
untuk bereaksi atau merespon suatu objek sikap. Sikap menentukan penilaian
seseorang untuk menyukai atau tidak menyukai terhadap objek sikap tersebut
(Yogatama, 2013). Sikap terhadap perilaku adalah derajat penilaian atau
kepercayaan positif atau negatif seseorang terhadap suatu perilaku. Sikap ini
66
ditentukan oleh kepercayaan seseorang mengenai konsekuensi positif atau negatif
dari melakukan suatu perilaku, ditimbang berdasarkan hasil evaluasi dari
konsekuensi berperilaku tersebut.
Menurut Fishbein & Ajzen (1996) salah satu faktor penentu sikap adalah
keyakinan. Begitu individu membentuk keyakinan terhadap suatu tingkah laku,
secara otomatis individu membentuk sikap terhadap tingkah laku tersebut,
keyakinan individu dikaitkan dengan beberapa ciri atau atribut tertentu dan
dievaluasi. Jika individu yakin bahwa dengan menampilkan suatu tingkah laku
tertentu akan membawa hasil yang positif bagi dirinya, maka dengan
menampilkan tingkah laku itu akan dianggap sebagai suatu yang menyenangkan.
Di dalam teori Planned Behavior (Ajzen, 2005), sikap secara langsung
mempengaruhi
intensi.
Keinginan
seseorang
untuk
melakukan
sesuatu
dipengaruhi apakah seseorang memiliki penilaian positif (bermanfaat, penting,
menyenangkan, mudah, dan sebagainya) atau memiliki penilaian negatif
(mengganggu, tidak penting, buruk, dan sebagainya).
Pengaruh sikap terhadap intensi perawat dalam melaporkan kecelakaan
kerja dapat dilihat dari pandangan perawat mengenai manfaat, keuntungan dan
kepercayaan terkait pelaporan kecelakaan kerja. Perawat meyakini dan menilai
secara positif bahwa dengan melaporkan kecelakaan kerja yang terjadi akan
mencegah terjadinya kecelakaan kerja berulang dan dapat memberikan pelayanan
yang optimal.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di rawat inap tulip dan melati
Rumah Sakit X Kota Bekasi diketahui bahwa dari 52 perawat yang menjadi
67
responden penelitian sebanyak 24 perawat (85,7%) memiliki intensi kuat dan
sikap positif dengan nilai probabilitas sebesar 0,000. Dengan demikian, dapat
disimpulkan bahwa sikap berpengaruh signifikan terhadap intensi pelaporan
kecelakaan kerja perawat. Kemudian, hasil uji keeratan hubungan menunjukkan
bahwa perawat yang memiliki sikap positif 30 kali memungkinkan memiliki
intensi lemah dibandingkan dengan perawat yang memiliki sikap negatif (dapat
dilihat pada Tabel 5.3).
Sebagian besar perawat yang memiliki sikap positif terhadap pelaporan
kecelakaan kerja yaitu ingin atau berniat untuk melaporkan jika mengalami atau
melihat kecelakaan kerja. Rata-rata perawat menganggap bahwa kecelakaan kerja
harus dilaporkan baik tertusuk jarum suntik, terluka saat mengampul obat, terkena
darah pasien maupun terkena urine pasien. Pelaporan kecelakaan kerja merupakan
langkah untuk mencegah kejadian kecelakaan terjadi berulang dan kewajiban
seluruh perawat. Oleh karena itu, sebagian besar perawat ingin melaporkan
kejadian kecelakaan kerja yang dialami atau dilihatnya.
Sikap perawat berupa evaluasi atau penilaian terhadap suatu objek tertentu
menunjukkan penilaian positif pada pelaporan kecelakaan kerja, dilihat dari sisi
kebiasaan, kemudahan dan anggapan cenderung baik dan berdampak positif pada
intensi pelaporan kecelakaan kerja. Semakin baik dan positif pandangan sikap
perawat terhadap pelaporan kecelakaan kerja, maka perawat semakin berniat
untuk melaporkan kecelakaan kerja.
Jika dilihat berdasarkan data kecelakaan kerja dan wawancara saat studi
pendahuluan menunjukkan hasil
yang berbeda. Data kecelakaan
kerja
68
menunjukkan kecelakaan kerja yang tercatat tidak tergolong banyak dan saat
dilakukan wawancara tidak sedikit perawat yang tidak ingin atau tidak berniat
untuk melaporkan jika mengalami atau melihat kecelakaan kerja. Rata-rata
perawat menganggap bahwa kecelakaan kerja yang harus dilaporkan hanya ketika
jarum suntik sudah digunakan atau terinfeksi pasien. Kecelakaan kerja seperti
terluka saat mengampul obat, terkena darah pasien maupun terkena urine pasien
yang tidak menimbulkan kesakitan, luka parah atau membutuhkan penanganan
dokter tidak perlu dilaporkan karena dianggap hal yang wajar dialami seorang
perawat. Oleh karena itu, tidak sedikit perawat tidak ingin melaporkan kejadian
kecelakaan kerja yang dialami atau dilihatnya.
Penilaian atau pandangn perawat terhadap kejadian terkena cairan tubuh
pasien baik urine maupun darah bukan merupakan kejadian kecelakaan kerja yang
harus dilaporkan. Terkena cairan tubuh pasien baik urine maupun darah
merupakan hal yang wajar dialami dan tidak menimbulkan kesakitan ataupun
kerugian sehingga tidak perlu dilaporkan. Selain itu, menurut perawat bahwa
melaporkan kecelakaan kerja hanya menambah beban pekerjaannya saja karena
harus mengisi format pelaporan dan melakukan pemeriksaan berkala. Hal ini yang
menyebabkan sebagian besar perawat memilih untuk tidak melaporkan
kecelakaan kerja selama tidak menimbulkan kesakitan atau luka yang parah. Jika
perawat menganggap kecelakaan kerja adalah suatu hal yang wajar dan pelaporan
kecelakaan kerja hanya menambah beban pekerjaannya, maka perawat tersebut
tidak berniat untuk melaporkan kecelakaan kerja.
69
Pembentukan sikap dipengaruhi oleh informasi yang dimiliki atau
diterima, pandangan atau penilaian terhadap suatu objek, dan pengalaman
seseorang (Walgito, 2010). Informasi yang diterima merupakan hasil dari “tahu”
setelah penginderaan seseorang terhadap suatu objek yang disebut pengetahuan
(Notoatmodjo, 2012). Informasi yang dimiliki atau diterima yang tidak sesuai
akan mempengaruhi pengetahuan seseorang yang dapat menimbulkan sikap
negatif (Walgito, 2010).
Perubahan sikap negatif perawat dalam pelaporan kecelakaan kerja dapat
dilakukan dengan sosialisasi terkait prosedur pelaporan kecelakaan kerja,
pelatihan terkait pentingnya pelaporan kecelakaan kerja, tujuan dan manfaat
pelaporan
kecelakaan
kerja.
Pelatihan
bertujuan
untuk
meningkatkan
pengetahuan, sikap dan keterampilan, sehingga mampu meningkatkan kompetensi
individu (Soebiyono, 2013). Pelatihan yang dilakukan untuk memberikan
informasi terkait keseluruhan pelaporan kecelakaan kerja yang sesuai dengan apa
yang seharusnya, sehingga dapat mempengaruhi pengetahuan perawat terkait
pentingnya pelaporan kecelakaan kerja.
Pengetahuan yang baik dapat mempengaruhi sikap perawat. Jika perawat
tahu akan pentingnya pelaporan kecelakaan kerja dan dampak yang ditimbulkan
jika tidak melaporkan kecelakaan kerja maka akan merubah pandangan atau
penilaian perawat terhadap pelaporan kecelakaan kerja itu sendiri yang pada
akhirnya juga merubah sikap perawat menjadi positif terhadap pelaporan
kecelakaan kerja. Selain itu, untuk membentuk dan mengubah sikap dapat
70
dilakukan dengan perubahan sikap melalui suatu kejadian yang dilakukan
berulang sehingga menjadi kebiasaan (Sarwono, 2012).
6.4 Hubungan Norma Subjektif dengan Intensi Pelaporan Kecelakaan Kerja
Perawat Rawat Inap Tulip dan Melati Rumah Sakit X Kota Bekasi
Norma Subjektif adalah evaluasi terhadap kepercayaan mengenai harapan
dan pengaruh orang-orang di sekitar (Yogatama, 2013). Norma subjektif
ditentukan oleh hubungan antara kepercayaan seseorang tentang setuju atau tidak
setujunya orang lain maupun kelompok yang penting bagi seseorang tersebut
(Fausiah dkk, 2013). Norma subjektif adalah persepsi individu bahwa kebanyakan
orang-orang
yang
penting
bagi
dirinya
mengharapkan
individu
untuk
menampilkan atau tidak menampilkan tingkah laku tertentu. Orang-orang ini
dijadikan sebagai acuan untuk mengarahkan tingkah laku seseorang lainnya.
Norma subjektif ditentukan oleh persepsi mengenai harapan individu atau
kelompok yang berarti bagi dirinya dan motivasi individu untuk memenuhi
harapan orang yang sangat penting bagi dirinya.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di rawat inap tulip dan melati
Rumah Sakit X Kota Bekasi diketahui bahwa dari 52 perawat yang menjadi
responden penelitian sebanyak 23 perawat (82,1%) memiliki intensi kuat dan
norma subjektif positif dengan nilai probabilitas sebesar 0,000. Dengan demikian,
dapat disimpulkan bahwa norma subjektif berpengaruh signifikan dengan intensi
pelaporan kecelakaan kerja perawat. Kemudian, hasil uji keeratan hubungan
menunjukkan bahwa perawat yang memiliki norma subjektif positif 17,4 kali
71
memungkinkan memiliki intensi kuat dibandingkan dengan perawat yang
memiliki norma subjektif negatif (dapat dilihat pada Tabel 5.3).
Norma subjektif yang cenderung baik dan semakin tinggi berupa
keyakinan perawat mengenai harapan staff instalasi K3LRS, penanggung jawab
shift, kepala ruangan dan teman sesama perawat, maka akan dapat menampilkan
perilaku untuk melaporkan kecelakaan kerja. Perilaku terwujud atas intensi kuat
yang mendasarinya. Semakin tinggi dorongan dari penanggung jawab shift,
kepala ruangan dan teman sesama perawat dalam mengingatkan perawat untuk
melaporkan kecelakaan kerja, maka perawat semakin berniat untuk melaporkan
kecelakaan kerja. Semakin baik keyakinan perawat akan pentingnya pelaporan
kecelakaan kerja, maka perawat akan semakin berniat untuk melaporkan
kecelakaan kerja.
Pada kecelakaan kerja terluka saat mengampul obat, terkena urine pasien
dan terkena darah pasien, sebagian besar perawat yang menjadi responden
termasuk didalamnya kepala ruangan, penanggung jawab shift dan teman sesama
perawat memiliki pandangan yang sama, penilaian yang sama, dan sikap yang
sama bahwa kejadian kecelakaan tersebut perlu dilaporkan karena merupakan
kewajiban. Hal itu yang membuat staff instalasi K3LRS, kepala ruangan,
penanggung jawab shift dan teman sesama perawat seringkali mengingatkan
untuk segera melaporkan kecelakaan kerja yang terjadi atau yang dialami.
Sehingga membuat kecenderungan perawat ingin melaporkan kejadian kecelakaan
kerja tersebut.
72
Terdapat perbedaan antara hasil penelitian dengan hasil awal penelitian.
Saat dilakukan wawancara pada awal penelitian diketahui kurang lebih setengah
dati total perawat yang menjadi responden memiliki pandangan yang sama,
penilaian yang sama, dan sikap yang sama bahwa kejadian kecelakaan tertusuk
jarum suntik, terluka saat mengampul obat, terkena urine pasien dan terkena darah
pasien tidak perlu dilaporkan karena merupakan hal yang wajar dialami oleh
perawat. Sehingga kepala ruangan, penanggung jawab shift dan teman sesama
perawat seringkali tidak mengingatkan untuk segera melaporkan kecelakaan kerja
yang terjadi atau yang dialami. Hal ini membuat kecenderungan perawat tidak
ingin melaporkan kejadian kecelakaan kerja tersebut dan hanya ingin melaporkan
kejadian kecelakaan kerja tertusuk jarum suntik yang sudah digunakan kepada
pasien.
Norma subjektif sebagai penentu intensi yang berada di posisi kedua
dalam teori planned behavior diasumsikan sebagai fungsi dari kepercayaan
seseorang bahwa individu atau kelompok tertentu menyetujui atau menolak
melakukan sebuah perilaku atau bahwa kelompok sosial yang menjadi rujukan
terlibat atau tidak terlibat didalam perilaku tertentu tersebut. Untuk banyak
perilaku, acuan penting yang biasanya ada ialah orang tua, pasangan, teman dekat,
rekan kerja atau dalam penelitian ini adalah kepala ruangan, penanggung jawab
shift, staff instalasi K3LRS dan teman sesama perawat.
Umumnya, seseorang yang percaya bahwa kebanyakan dari orang yang
mereka harus patuhi berpikir ia seharusnya melakukan sebuah perilaku akan
memandang bahwa hal tersebut menjadi tekanan sosial dan sebagai keharusan
73
bagi dirinya untuk melakukan perilaku tersebut. Sebaliknya, orang yang percaya
bahwa kebanyakan orang yang menjadi acuannya dan ia patuhi akan tidak setuju
dengan perwujudan perilaku dirinya, akan memiliki norma subjektif yang
menekan mereka untuk menghindari perwujudan dari perilaku tersebut (Priaji,
2011).
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian sejenis sebelumnya bahwa
semakin meningkat norma-norma subjektif, maka akan semakin meningkatkan
niat pekerja untuk berperilaku (Arismunandar, 2001). Hasil penelitian Cheng dkk
(2011) menunjukkan bahwa norma subjektif adalah pengaruh paling kuat terhadap
terbentuknya niat-niat dari seorang individu.
Norma subjektif merupakan persepsi atau kepercayaan seseorang bahwa
orang lain yang dianggap penting berpikir bahwa ia seharusnya melakukan hal itu
(Achmat, 2010). Oleh karena itu, orang yang dianggap penting harus memiliki
sikap positif dan pengetahuan yang baik terhadap pelaporan kecelakaan kerja
sehingga dapat menunjukkan dukungan untuk melaporkan kecelakaan kerja
tersebut.
Perubahan norma subjektif dapat dilakukan dengan merubah sikap atau
pandangan orang-orang yang dianggap penting terhadap pelaporan kecelakaan
kerja. Sikap dapat dibentuk dan dipengaruhi jika memiliki pengetahuan yang baik
terhadap pelaporan kecelakaan kerja. Pengetahuan bisa didapatkan dengan
sosialisasi, pelatihan maupun media sebagai bentuk persuasif. Sikap positif
terhadap pelaporan kecelakaan kerja yang dimiliki orang-orang yang dianggap
penting akan mengingatkan perawat untuk melaporkan kejadian kecelakaan kerja
74
sebagai bentuk salah satu dukungan pada perawat sehingga mempengaruhi
pandangan perawat bahwa orang-orang yang dianggap penting ini mengharapkan
perawat untuk melaporkan kecelakaan kerja.
6.5 Hubungan Persepsi kontrol perilaku dengan Intensi Pelaporan
Kecelakaan Kerja Perawat Rawat Inap Tulip dan Melati Rumah Sakit
X Kota Bekasi
Persepsi kontrol perilaku merupakan bagian penting dalam teori planned
behavior dan mempengaruhi intensi atau perilaku. Persepsi kontrol perilaku
mengacu pada persepsi seseorang tentang kemudahan atau kesulitan untuk
melakukan perilaku tertentu (Ajzen, 1991). Persepsi kontrol perilaku yaitu
evaluasi mengenai kemampuan diri seseorang untuk memunculkan perilaku
(Yogatama, 2013).
Persepsi terhadap pengendalian perilaku merupakan
keyakinan individu mengenai seberapa besar kontrolnya untuk memunculkan
perilaku
yang
akan
dimunculkannya.
Persepsi
kontrol
perilaku
dapat
mempengaruhi perilaku secara langsung dan tidak langsung.
Persepsi kontrol perilaku dalam pelaporan kecelakaan kerja terkait
kemampuan perawat dalam melaporkan kecelakaan kerja ketika ada hambatan
ataupun dukungan dari lingkungan sekitar, prosedur pelaporan maupun alur
pelaporan itu sendiri. Persepsi terhadap kontrol perilaku didefinisikan sebagai
persepsi atau fungsi dari kepercayaan seseorang tentang faktor pendukung dan
atau penghambat untuk melakukan suatu perilaku (Fausiah dkk, 2013). Persepsi
kontrol perilaku adalah persepsi individu yang lebih menekankan atau
mempertimbangkan beberapa hambatan realistis yang ada dalam menampilkan
75
tingkah laku tertentu (Perwitasari, 2015). Semakin banyak kondisi yang
memfasilitasi (sumber dan kesempatan) yang membuat individu berpikir dan
semakin sedikit hambatan dan rintangan yang diantisipasi, maka semakin besar
persepsi mengenai kontrol terhadap perilaku.
Persepsi kontrol perilaku diasumsikan mempunyai implikasi motivasional
terhadap intensi. Individu meyakini dirinya tidak memiliki kesempatan untuk
menampilkan tingkah laku cenderung memiliki intensi yang rendah meskipun
mereka memiliki sikap yang positif terhadap tingkah laku dan meyakini bahwa
orang-orang yang penting bagi dirinya menyetujui tingkah laku tersebut untuk
ditampilkan.
Kontrol perilaku ditentukan oleh pengalaman masa lalu dan perkiraan
individu mengenai seberapa sulit atau mudahnya untuk melakukan perilaku yang
bersangkutan (Perwitasari, 2015). Persepsi kontrol perilaku menunjukkan suatu
derajat dimana seorang individu merasa bahwa tampil atau tidaknya suatu
perilaku yang dimaksud adalah dibawah pengendaliannya. Orang cenderung tidak
akan membentuk suatu intensi yang kuat untuk menampilkan suatu perilaku
tertentu jika ia percaya bahwa ia tidak memiliki sumber atau kesempatan untuk
melakukannya meskipun ia memiliki sikap yang positif dan ia percaya bahwa
orang lain yang penting baginya akan menyetujuinya.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di rawat inap tulip dan melati
Rumah Sakit X Kota Bekasi diketahui bahwa dari 52 perawat yang menjadi
responden penelitian sebanyak 22 perawat (71%) memiliki intensi kuat dan
persepsi kontrol perilaku positif dengan nilai probabilitas sebesar 0,006. Dengan
76
demikian, dapat disimpulkan bahwa persepsi kontrol perilaku berpengaruh
signifikan dengan intensi pelaporan kecelakaan kerja perawat. Kemudian, hasil uji
keeratan hubungan menunjukkan bahwa perawat yang memiliki persepsi kontrol
perilaku positif 6,1 kali memungkinkan memiliki intensi lemah dibandingkan
dengan perawat yang memiliki persepsi kontrol perilaku negatif (dapat dilihat
pada Tabel 5.3).
Kontrol perilaku yang mengacu pada persepsi individu perawat terhadap
kemudahan dalam melaporkan kecelakaan kerja, seperti mudahnya prosedur
pelaporan, mudahnya format pelaporan, mudahnya alur pelaporan, pentingnya
pelaporan kecelakaan kerja, manfaat dan tujuan pelaporan kecelakaan kerja. Hal
ini berarti bahwa semakin baik atau tinggi kontrol perilaku yang dirasakan
perawat, maka akan semakin meningkatkan niat untuk melaporkan kecelakaan
kerja. Semakin perawat merasa mudah untuk melaporkan, maka perawat tersebut
akan semakin ingin melaporkan kejadian kecelakaan kerja.
Persepsi kontrol perilaku perawat cenderung positif terhadap format
pelaporan, namun cenderung negatif terhadap alur pelaporan. Alur pelaporan
kecelakaan kerja dimulai dari segera bilas dengan air mengalir kemudian lapor ke
wakil K3 ruangan ataupun kepala ruangan selanjutnya melakukan pemeriksaan di
IGD
(bila
memerlukan
tindakan
medis),
lalu
melakukan
pemeriksaan
laboraturium. Perawat yang mengalami kecelakaan kerja akan menjalani
pemeriksaan laboraturium sebanyak 3 kali yaitu pada saat kejadian kecelakaan
kerja, 3 bulan pasca kejadian kecelakaan kerja, dan 6 bulan pasca kejadian
kecelakaan kerja. Alur pelaporan yang panjang ini menjadi salah satu hambatan
77
yang membuat perawat tidak ingin melaporkan kejadian kecelakaan kerja karena
sebagian besar perawat menganggap jika melaporkan akan menganggu dan
menghambat pekerjaannya.
Andreanto (2013) menyatakan bahwa kontrol perilaku yang dirasakan
(percieved behavioral control) memiliki implikasi motivasional pada niat.
Individu yang percaya bahwa dirinya tidak memiliki sumber daya untuk
melaksanakan perilaku tertentu, cenderung tidak membentuk intensi yang kuat
untuk melaksanakannya, walaupun individu tersebut memilki sikap yang
menyenangkan terhadap perilaku tersebut. Kontrol perilaku merupakan suatu
acuan adanya kesulitan atau kemudahan yang ditemui seseorang dalam
berperilaku
tertentu.
Kontrol
perilaku
berperan
secara
tidak
langsung
mempengaruhi perilaku yaitu melalui intensi terhadap perilaku (Ajzen, 2005).
Hasil penelitian Arum dkk (2010) menyatakan bahwa kontrol perilaku
yang dirasakan, secara signifikan memprediksi intensi. Menurut Huda dkk (2012),
kontrol perilaku memilki sebuah pengaruh yang positif dan signifikan terhadap
variabel intensi. Hasil penelitian Abadi dkk (2012) menunjukkan bahwa intensi
secara positif sangat dipengaruhi oleh kontrol perilaku yang dirasakan oleh
individu tersebut.
Persepsi kontrol perilaku mengindikasikan bahwa motivasi seseorang
dipengaruhi oleh bagaimana ia mempersepsi tingkat kesulitan atau kemudahan
untuk berperilaku tertentu. Orang cenderung tidak membentuk suatu intensi yang
kuat jika ia tidak percaya bahwa ia memiliki sumber daya dan kesempatan untuk
melakukannya. Perubahan persepsi kontrol perilaku terkait pelaporan kecelakaan
78
kerja pada perawat dapat dilakukan dengan meyakinkan perawat bahwa dengan
melaporkan kecelakaan kerja tidak menghambat pekerjaannya dan tidak akan
mengganggu pekerjaannya yaitu menunjukkan bahwa alur pelaporan tidak akan
dipersulit dan tidak membutuhkan waktu yang lama. Alur pelaporan kecelakaan
seharusnya lebih sederhana seperti perawat yang mengalami kecelakaan kerja
hanya cukup dengan menelepon instalasi K3LRS untuk melaporkan kecelakaan
kerja yang terjadi untuk tahap selanjutnya yang melakukan petugas instalasi
K3LRS seperti mengisi format pelaporan kecelakaan kerja dan membuat laporan
secara tertulis.
6.6 Hubungan Pengetahuan dengan Intensi Pelaporan Kecelakaan Kerja
Perawat Rawat Inap Tulip dan Melati Rumah Sakit X Kota Bekasi
Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan terjadi setelah orang melakukan
penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Dari pengalaman dan penelitian
terbukti bahwa perilaku yang disadari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari
pada perilaku yang tidak disadari oleh pengetahuan (Dewanti, 2012). Pengetahuan
merupakan faktor yang sangat penting dalam membentuk tindakan atau perilaku
seseorang. Intensi secara akurat dapat memprediksi kesesuaian perilaku. Intensi
juga merupakan anteseden pada perilaku yang tampak. Ajzen (2005) juga
mengatakan bahwa korelasi antara intensi dengan perilaku lebih kuat
dibandingkan dengan faktor-faktor anteseden lainnya.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di rawat inap tulip dan melati
Rumah Sakit X Kota Bekasi diketahui bahwa dari 52 perawat yang menjadi
responden penelitian sebanyak 22 perawat (71%) memiliki intensi kuat dan
79
pengetahuan yang baik dengan nilai probabilitas sebesar 0,006. Dengan demikian,
dapat disimpulkan bahwa pengetahuan berpengaruh signifikan dengan intensi
pelaporan kecelakaan kerja perawat. Kemudian, hasil uji keeratan hubungan
menunjukkan bahwa perawat yang memiliki pengetahuan yang baik 6,1 kali
memngkinkan memiliki intensi lemah dibandingkan dengan perawat yang
memiliki pengetahuan yang baik (dapat dilihat pada Tabel 5.3).
Perawat menganggap bahwa pelaporan kecelakaan kerja harus dilakukan
jika tertusuk jarum suntik, terluka saat mengampul obat, terkena cairan tubuh
pasien, kecelakaan kerja yang mengakibatkan cedera parah maupun ringan,
kecelakaan kerja yang membutuhkan penanganan dokter maupun tidak, dan
kecelakaan kerja yang mengakibatkan luka kecil atau luka besar. Kejadiankejadian tersebut merupakan kecelakaan kerja yang harus dilaporkan. Meskipun
terkena cairan tubuh pasien merupakan hal yang wajar dialami oleh perawat,
tetapi mereka mengetahui bahwa hal itu juga merupakan kecelakaan kerja yang
haru dilaporkan. Oleh karena itu, perawat cenderung ingin melakukan pelaporan
kecelakaan kerja.
Namun tidak sedikit juga perawat yang menjadi responden memiliki
anggapan bahwa pelaporan kecelakaan kerja dilakukan hanya jika tertusuk jarum
suntik yang sudah terinfeksi atau yang sudah digunakan kepada pasien dan
kecelakaan kerja yang mengakibatkan cedera parah, jika kejadian kecelakaan
kerja yang terjadi masih dapat ditangani sendiri tanpa harus ke dokter maka
perawat tidak akan melaporkan kejadian kecelakaan kerja tersebut. Sama halnya
seperti terluka saat mengampul obat, terkena darah pasien, maupun terkena urine
80
pasien tidak dilaporkan karena sebagian besar perawat memang tidak mengetahui
jenis kecelakaan kerja apa saja yang harus dilaporkan dan menganggap
kecelakaan kerja tersebut hal yang wajar. Oleh karena itu, tidak sedikit perawat
cenderung tidak melakukan pelaporan kecelakaan kerja.
Neal dan Griffin (2002) berpendapat bahwa hanya ada tiga faktor yang
menentukan
perbedaan
individu
dalam
berperilaku
yaitu
pengetahuan,
kemampuan, dan motivasi. Jika seseorang tidak memiliki pengetahuan dan
kemampuan yang cukup untuk melaporkan kejadian kecelakaan kerja, maka dia
tidak akan mampu bertindak atau berniat untuk melaporkan kecelakaan kerja.
Menurut Notoatmodjo (2012), pengetahuan merupakan dasar dalam mengerjakan
sesuatu atau bertindak. Jika perawat memiliki pengetahuan dan sikap positif
terhadap keselamatan dan kesehatan kerja, maka perawat tersebut akan berniat
untuk mematuhi kebijakan prosedur keselamatan, kesehatan kerja dan lingkungan
salah satu contohnya melaporkan kejadian kecelakaan kerja.
Pengetahuan dipengaruhi oleh minat, pengalaman, kebudayaan dan
informasi (Notoatmodjo, 2012). Peningkatan pengetahuan dapat dilakukan dengan
pelatihan terkait pelaporan kecelakaan kerja. Pelatihan merupakan suatu proses
belajar mengajar terhadap pengetahuan dan keterampilan tertentu serta sikap agar
peserta semakin terampil dan mampu mealaksanakan tanggung jawabnya dengan
semakin baik dan sesuai dengan standar (Tanjung, 2003). Pelatihan memberikan
informasi secara keseluruhan terkait pentingnya pelaporan kecelakaan kerja,
tujuan pelaporan kecelakaan kerja, manfaat pelaporan kecelakaan kerja, prosedur
pelaporan kecelakaan kerja, dan dampak yang ditimbulkan jika tidak melaporkan
81
kecelakaan kerja. Pelatihan yang dilakukan akan mempengaruhi dan menambah
pengetahuan perawat sehingga dapat merubah niat perawat. Seorang perawat yang
sudah mengetahui akan pentingnya pelaporan kecelakaan kerja dan dampak yang
ditimbulkan jika tidak melaporkan kecelakaan kerja akan cenderung berniat untuk
melaporkan kecelakaan kerja.
82
7 BAB VII
SIMPULAN DAN SARAN
7.1 Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap 52 perawat rawat
inap tulip dan melati di Rumah Sakit X Kota Bekasi dapat disimpulkan bahwa :
1. Perawat yang memiliki intensi pelaporan kecelakaan kerja yang kuat
berjumlah 28 perawat (53,8%).
2. Perawat yang memiliki sikap positif terhadap pelaporan kecelakaan kerja
berjumlah 28 perawat (53,8%).
3. Perawat yang memiliki norma subjektif positif terhadap pelaporan
kecelakaan kerja berjumlah 28 perawat (53,8%).
4. Perawat yang memiliki persepsi kontrol perilaku positif terhadap
pelaporan kecelakaan kerja berjumlah 31 perawat (59,6%).
5. Perawat yang memiliki pengetahuan yang baik terhadap pelaporan
kecelakaan kerja berjumlah 31 perawat (59,6%).
6. Ada hubungan signifikan antara sikap, norma subjektif, persepsi kontrol
perilaku, dan pengetahuan terhadap intensi pelaporan kecelakaan kerja
perawat.
7.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan dari penelitian ini maka peneliti mengajukan
saran untuk dipertimbangkan sebagai berikut :
83
1. Bagi Rumah Sakit
a. Sebaiknya melakukan evaluasi dan pengembangan prosedur yang
sudah ada dan berlaku di rumah sakit karena prosedur yang berlaku
belum mencakup seluruh kejadian kecelakaan kerja yang pernah
terjadi.
b. Sebaiknya memberikan sosialisasi kepada seluruh perawat terkait
prosedur pelaporan kecelakaan kerja yang berlaku di rumah sakit
dalam bentuk Focus Group Discussion (FGD).
c. Sebaiknya memberikan pelatihan seluruh perawat terkait pelaporan
kecelakaan kerja.
d. Sebaiknya memberikan sanksi kepada perawat yang tidak melaporkan
kejadian kecelakaan kerja.
2. Bagi Instalasi K3LRS
Sebaiknya staff instalasi K3LRS lebih aktif untuk mengingatkan
dan melakukan persuasif agar perawat ingin melaporkan kejadian
kecelakaan kerja.
3. Bagi Perawat
Jika mengalami kecelakaan kerja baik tertusuk jarum suntik yang
sudah dipakai maupun yang akan dipakai, terluka saat mengampul obat,
terkena urine pasien, dan terkena darah pasien harus segera melaporkan ke
penanggung jawab shift atau bagian instalasi K3LRS.
84
4. Bagi Peneliti Selanjutnya
a. Melakukan penelitian dengan memperluas populasi dan tempat
sehingga mendapatkan hasil penelitian yang bisa representatif.
b. Melakukan penelitian dengan menggunakan intrumen penelitian yang
lebih komprehensif yaitu mencakup seluruh jenis kecelakaan kerja
yang harus dilaporkan.
85
DAFTAR PUSTAKA
Abadi., dkk. (2012). Investigate The Customers’ Behavioral Intention to Use
moble BankingBased on TPB, TAM and Perceived Risk (A Case Study in
Meli Bank). International Journal of Academic Research in Bussiness and
Social Sciences. Vol. II No. 10 hal 312 – 322
Achmadi, Umar Fahmi. (2013). Kesehatan Masyarakat Teori dan Aplikasi.
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Achmat, Zakarija. (2010). Theory Of Planned Behavioral Control, Masihkah
relevan
?.
(Online)
Tersedia:
http://Achmat.staff.umm.ac.id/files/2010/12/Theory-of-Planned-Behaviormasihkah-relevan.pdf diakses pada tanggal 13 Oktober 2016 Pukul 12.41
Ahmadi, Abu. (2009). Psikologi Umum. Jakarta: Rineka Cipta
Ajzen, Icek. (1991). The Theory of Planned Behavior. Organizational Behavior
and Human Decision Processes 50. hal 179-211
Ajzen, Icek. (2005). Attitudes, Personality and Behavior (Second Edition). New
York: Open University Press
Ajzen, Icek., dan Martin Fishbein. (1969). The Prediction of Behavioral Intentions
in a Choice Situation. Journal of Experimental Social Psychology. Vol. 5
hal 185-400
Ajzen, Icek., dan Martin Fishbein. (1980). Understanding Attitudes and
Predicting Social Behavior. Engelwood Cliffs, NJ: Prentince Hall, Inc
Ajzen, Icek., dan Martin Fishbein. (1996). The Prediction of Behavioral Intentions
in a Choice Situation. Journal of Experimental Social Psychology. Vol.5
hal 400 – 416
Andika, Manda., dan Iskandarsyah Madjid. (2012). Analisis Pengaruh Sikap,
Norma Subjektif dan Efikasi Diri terhadap Intensi Berwirausaha pada
Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala. Skripsi. Fakultas
Ekonomi Universitas Negeri Semarang: Tidak diterbitkan
Andreanto, Anas. (2013). Aplikasi Teori Perilaku Terencana : Niat Melakukan
Physical Exercise (Latihan Fisik) Pada Remaja Di Surabaya. Jurnal Ilmiah
Mahasiswa Universitas Surabaya. Vol. II No. 2 hal 1 – 12
86
Arismunandar, Budi Susetyo. (2011). Analisis Variabel yang Berpengaruh
trhadap Niat Beli Konsumen Audio Mobil. Tesis. Program Magister
Manajemen Universitas Diponegoro Semarang: Tidak diterbitkan
Arum, Meilisha Djati., dan Anwar Prabu Mangkunegara. (2010). Peran Sikap,
Norma Subjektif, dan Persepsi Kendali Perilaku dalam Memprediksi
Intensi Wanita Melakukan Pemeriksaan Payudara Sendiri. Jurnal
Psikobuana. Vol. I No. 3 hal 162 – 172
Ayuningtyas, Diah Setyowati., dan Guritnaningsih A. Santoso. (2007). Hubungan
Antara Intensi Untuk Mematuhi Rambu-Rambu Lalu Lintas Dengan
Perilaku Melanggar Lalu Lintas Pada Supir Bus Di Jakarta. JPS Vol. 13
No. 01
Azwar S. (2011). Sikap Manusia: Teori dan Pengukurannya (Edisi 2). Jakarta:
Pustaka Belajar
Barizqi, Inna Nesyi. (2015). Hubungan Antara Kepatuhan Penggunaan APD
Dengan Kejadian Kecelakaan Kerja Pada Pekerja Bangunan PT. Adhi
Karya tbk Proyek Rumah Sakit Telogorejo Semarang. Skripsi. Jurusan
Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas
Negeri Semarang: Tidak terbitkan
Bird, Frank E., dkk. (1990). Practical Loss Control Leadership. Georgia: Institute
Publishing (A Division of International Loss Control Institute)
Cheng, Shih-I., dkk. (2011). Examining Customer Purchase Intentions for
Counterfeit Products Based on a Modified Theory of Planned Behavior.
International Journal of Humanities and Social Science. Vol. I No. 10 hal
278 – 284
Dahlawy, Ahmad Dharief. (2008). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Area Pengolahan PT. ANTAM
Tbk, Unit Bisnis Pertabangan Emas Pongkor Kabupaten Bogor Tahun
2008. Skripsi. Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran
dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta:
Tidak diterbitkan
87
Dewanti, Anindyah Prima. (2012). Deskripsi Sistem Pelaporan dan Pencatatan
Kecelakaan Kerja di PT Mekar Armada Jaya Magelang. Laporan Tugas
Akhir. Program Diploma III Hiperkes dan Keselamatan Kerja Fakultas
Kedokteran Universitas Sebelas Maret: Tidak diterbitkan
Dewi, Nurvita Puspa. (2010). Faktor-faktor yang Berhubungan dengan
Kepatuhan Pekerja Dalam Melaksanakan Standar Prosedur Kerja
(Standard Operasional Procedure/SOP Di PT Suzuki Indomobil Motor
Roda 4 Plant Tambun II Bekasi Tahun 2010. Skripsi. Program Studi
Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta: Tidak diterbitkan
Fausiah dkk, (2013). Pengaruh Sikap, Norma Subjektif, dan Persepsi kontrol
perilaku Terhadap Intensi Karyawan Untuk Berperilaku K3 Di Unit PLTD
PT PLN (Persero) Sektor Tello Wilayah SULSELBAR (Aplikasi TPB).
Jurnal UNHAS Makassar
Fitriani, Sinta. (2011). Promosi Kesehatan. Yogyakarta: Graha Ilmu
Gerungan, W.A. (2009). Psikologi Sosial. Bandung: Refika Aditama
Gillholm, Robert., Johan Erdeus., dan Tommty Garling. (1996). The Effect of
Choice
on
Intention-Behavior
Consistency.
(Online)
Tersedia:
http://www.psy.gu.se/download/gpr969.pdf diakses pada 14 Oktober 2016
pukul 08.48
Hartoni, I Gusti Putu Oka., dan I Gede Riana. (2015). Sikap, Norma Subjektif dan
Persepsi kontrol perilaku Pada Implementasi Keselamatan Kerja :
Dampaknya Terhadap Intention To Comply. E-Jurnal Ekonomi dan Bisnis
Universitas Udayana. Vol.4 Hal.243-264
Hartono, P S., dan Sabri. (2011). Statistik Kesehatan. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada
Hastono, Sotanto Priyo., dan Luknis Sabri. (2011). Statistik Kesehatan. Jakarta:
Rajawali Pers
Hermana. (2010). Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Terjadinya Luka
Tusuk Jarum suntik atau Benda Tajam Lainnya Pada Perawat di RSUD
88
Kebupaten Cianjur. Tesis. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Indonesia: Tidak diterbitkan
Huda, Nurul., dkk. (2012). The Analysis of Attitudes,Subjectives Norms, and
Behavioral Control on Muzakki’s Intention to Pay Zakkah. International
Journal of Bussiness and Social Science. Vol. III No. 22 hal 271 – 279
Ivana, Azza., dan Siswi Jayanti. (2014). Analisas Komitmen Manajemen Rumah
Sakit Terhadap Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Pada RS Prima
Medika Pemalang. e-Jurnal Kesehatan Masyarakat FKM UNDIP. Vol.2.
Kozier, B dkk. (2010). Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses,
dan Praktik Edisi 7 Volume 2. Penerjemah Pamilih Eko Karyuni dan Dwi
Widiarti. Jakarta: EGC
Machrus, Hawa’im., dan Urip Purwono. (2010). Pengukuran
Perilaku
Berdasarkan Theory of Planned Behavior. Insan Vol. 12 No.01
Manafe, Dina. (2014). Jarum suntik Suntik Tak Aman, 7000 Tenaga Kesehatan
Terinfeksi
Hepatitis
B.
(Online),
http://www.beritasatu.com/kesehatan/210399-jarum
diakses
dari
suntik-suntik-tak-
aman-7000-tenaga-kesehatan-terinfeksi-hepatitis-b.html pada tanggal 19
Juli 2016 pukul 10.50
Maria, Silvia., dkk. (2015). Kejadian Kecelakaan Kerja Perawat Berdasarkan
Tindakan Tidak Aman. Jurnal Care. Vol. 3 No. 2
Mastini, I Gst A A Putri. (2013). Hubungan Pengetahuan, Sikap dan Beban Kerja
dengan Kelengkapan Pendokumentasian Asuhan Keperawatan Irna di
RSUP Sanglah Denpasar. Tesis. Program Studi Ilmu Kesehatan
Masyarakat Program Pascasarjana Universitas Udayana: Tidak diterbitkan
National Safety Council. 2008. Reports On Injuries in America. Di akses
http://www.nsc.org/lrs/injuriesinamerica08.aspx
Notoatmodjo, Soekidjo. (2012). Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan
(Edisi Revisi 2012). Jakarta: Rineka Cipta
Nursalam. (2013). Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pendekatan Praktis
(Edisi 3). Jakarta: Salemba Medika
89
Nurvita, Dwi. (2015). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan
Pelaporan Bahaya Pada Pekerja Teknisi Unit Maintenance Di PT Pelita
Air Service Area Kerja Pondok Cabe, Tangerang Selatan Tahun 2015.
Skripsi. Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan
Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta:
Tidak diterbitkan
Panggabean, Rohani. (2008). Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Petugas
Laboraturium Terhadap Kepatuhan Menerapkan Standar Operasional
Prosedur (SOP) Di Puskesmas Kota Pekanbaru Tahun 2008. Tesis.
Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara Medan: Tidak
diterbitkan
Perwitasari, Inggar Shabirina. (2015). Faktor Intensi Dalam Melakukan Perilaku
Donor
Darah
Padjadjaran.
Pada
Skripsi.
Mahasiswa
Fakultas
Fakultas
Psikologi
Psikologi
Universitas
Universitas
Padjadjaran
Jatinangor : Tidak diterbikan
Priaji, Vita Widyani. (2011). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Intensi
Menabung Di Bank Syariah. Skripsi. Fakultas Psikologi Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta: Tidak diterbitkan
Putriana, Nila., Sofiana Nurchayati dan Sri Utami. (2015). Hubungan Motivasi
Perawat Dengan Kepatuhan Pelaksanaan Pemberian Obat Oral. JOM Vol.
2 No.1
Rahayuningsih, Puji Winarni. (2011). Penerapan Manajemen Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (MK3) di Instalasi Gawat Darurat RSU PKU
Muhammadiyah Yogyakarta. Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol.5
Reda, Ayalu A., dkk. (2010). Standard Precautions: Occupational Exposure and
Behavior of Healthcare Workers in Ethiopia. PloS ONE, 5 (12)
Republik Indonesia. (1970). Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 Tentang
Keselamatan Kerja. Jakarta
Republik Indonesia. (1996). Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor:
Per.05/MEN/1996
Tentang
Sistem
Manajemen
Keselamatan
dan
Kesehatan Kerja. Jakarta
90
Republik Indonesia. (1998). Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor:
Per.03/MEN/1998 Tentang Tata Cara Pelaporan dan Pemeriksaan
Kecelakaan. Jakarta
Ridley, John. (2009). Kesehatan dan Keselamatan Kerja: Ikhtisar (Edisi 3).
Jakarta: Erlangga
Ristiono, Bambang., dan Niwardi Azkha. (2010). Regulasi dan Penerapan
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Rumah Sakit di Provinsi Sumatera
Barat. Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 4 No.1
Rosdiana, Sheli. (2011). Faktor-Faktor Psikologis yang Mempengaruhi Intensi
Merokok Pada Remaja. Skripsi. Fakultas Psikologi Universitas Islam
Negari Syarif Hidayatullah Jakarta: Tidak diterbitkan
Sadoh, Wilson E., dkk. (2006). Practice of Universal Precautions among
Healthcare Worker. Journal of The National Medical Association, 98 (5):
727 -726
Salikuna, Nur Asmar. (2011). Penerapan Sistem Manajemen Kesehatan dan
Keselaatan Kerja Di Rumah Sakit Bersalin Pertiwi Makassar. Biocelebes
Vol.5
Sarwono, Sarlito Wirawan. (2012). Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: Rajawali
Pers
Silalahi, Bennet dan Rumondang B. Silalahi. (1985). Manajemen Keselamatan
dan Kesehatan Kerja. Jakarta: Institusi Pendidikan dan Pembinaan
Manajemen (IIPM) dan PT. Pustaka Binaman Pressindo
Soekanto, Soerjono. (2006). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada
Sulistiani, Lany Aprili. (2015). Korelasi Budaya Keselamatan Pasien Dengan
Persepsi Pelaporan Kesalahan Medis Oleh Tenaga Kesehatan Sebagai
Upaya Peningkatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Rumah Sakit X
Kota Bekasi dan Rumah Sakit Y Tahun 2015. Skripsi. Program Studi
Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta: Tidak diterbitkan
91
Sunaryo. (2014). Psikologi Untuk Keperawatan (Edisi 2). Jakarta: Buku
Kedokteran EGC
Surbakti, Ratri Pramuwidyandari. (2015). Peran Sikap, Norma Subjektif, dan
Persepsi kontrol perilaku (PBC) Terhadap Intensi Menggunakan
Homeschooling Sebagai Jalur Pendidikan. Skripsi. Fakultas Psikologi
Universitas Sumatera Utara: Tidak diterbitkan
Trisastity., dkk. (2013). Pengaruh Sikap dan Norma Subjektif terhadap Niat Beli
Mahasiswa sebagai Konsumen Potensial Produk Pasta Gigi Pepsoden.
GEMA Vol. XXV
Tukmana, dkk. (2015). Analisis Keselamatan dan Kesehatan Kerja Perawat dalam
Penanganan Pasien di Rumah Sakit Benyamin Guluh Kabupaten Kolaka.
Jurnal Ners. Vol. 10 No. 2 Hal. 343-347
Utari, Gineung Cynthia. (2009). Hubungan Pengetahuan, Sikap, Persepsi dan
Keterampilan Mengendara Mahasiswa Terhadap Perilaku Keselamatan
Berkendara (Safety Riding) Di Universitas Gunadarma Bekasi Tahun
2019. Skripsi. Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran
dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta:
Tidak diterbitkan
Walgito, Bimo. (2010). Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi Offset
Wardhani, RR Ambar Sih. (2008). Studi Tentang Kesadaran Pekerja Terhadap
Pelaporan Kecelakaan Kerja di PT Astra Nissan Diesel Indonesia Periode
Juni-Juli Tahun 2008. Skripsi. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Indonesia: Tidak diterbitkan
Wawan, A., dan Dewi M. (2015). Teori & Pengukuran, Sikap, dan Perilaku
Manusia. Yogyakarta: Nuha Medika (Numed)
Widhiyastuti, Aryani. (2009). Investigasi dan Pelaporan Kecelakaan Kerja
Sebagai Upaya Untuk Meminimalisir Angka Kecelakaan Kerja di PT
Cola-Cola Bottling Indonesia Central Java Semarang. Laporan Khusus.
Program Diploma III Hiperkes dan Keselamatan Kerja Fakultas
Kedokteran Universitas Sebelas Maret: Tidak diterbitkan
92
Yogatama, Leo Agung Manggala. (2013). Analisis Pengaruh Attitude, Subjective
Norm, dan Persepsi kontrol perilaku Terhadap Intensi Penggunaan Helm
Saat Mengendarai Motor Pada Remaja Dan Dewasa Muda Di Jakarta
Selatan. Proceeding PESAT (Psikologi, Ekonomi, Sastra, Arsitektur &
Teknik Sipil) Vol.5
Yuliana, Citra. (2012). Kepatuhan Perawat Terhadap Kewaspadaan Standar Di
RSKO Jakarta Tahun 2012. Skripsi. Departemen Keselamatan dan
Kesehatan Kerja Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia:
Tidak diterbitkan
Yulita, Yenni. (2013). Pengaruh Supervisi Model Reflektif Interaktif Terhadap
Perilaku Keselamatan Perawat Pada Bahaya Agen Biologik Di RSUD
Provinsi Kepulauan Riau Tanjung Uban. Tesis. Program Studi Magister
Ilmu
Keperawatan
Kekhususan
Kepemimpinan
Dan
Manajemen
Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia: Tidak
diterbitkan
93
LAMPIRAN
94
LAMPIRAN I
HUBUNGAN SIKAP, NORMA SUBJEKTIF, PERSEPSI KONTROL
PERILAKU DAN PENGETAHUAN TERHADAP INTENSI PELAPORAN
KECELAKAAN KERJA PERAWAT RAWAT INAP TULIP DAN MELATI
DI RUMAH SAKIT X KOTA BEKASI TAHUN 2016
Bekasi,
Desember 2016
Kepada Yth.
Bapak/Ibu/Saudara/i
Responden penelitian di Rumah Sakit X Kota Bekasi
Dengan Hormat
Saya yang bertanda tangan dibawah ini adalah mahasiswi Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta Program Studi Kesehatahan Masyarakat
Nama : Sekar Wigati Suprapto
NIM : 1112101000062
Yang mengadakan penelitian dengan judul “Hubungan Sikap, Norma
Subjektif, Persepsi kontrol perilaku dan Pengetahuan terhadap Intensi
Pelaporan Kecelakaan Kerja Perawat Rawat Inap Tulip dan Melati di Rumah
Sakit X Kota Bekasi Tahun 2016”. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan
sikap, norma subjektif, persepsi kontrol perilaku, dan pengetahuan terhadap
intensi pelaporan kecelakaan kerja perawat rawat inap tulip dan melati di Rumah
Sakit X Kota Bekasi Tahun 2016. Penelitian ini dilakukan sebagai salah satu
syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat.
Penelitian ini dilakukan tidak menimbulkan akibat yang merugikan
bapak/ibu/saudara/i sebagai responden, segala informasi yang diberikan akan
dijamin kerahasiaannya dan hanya digunakan untuk kepentingan penelitian
dan tidak akan mempengaruhi penilaian kinerja responden. Dengan segala
kerendahan hati peneliti memohon kesediaan Bapak/Ibu/Saudara/i untuk
berpartisipasi dalam penelitian ini dengan memberikan informasi terkait variabelvariabel penelitian yang terdapat dalam kuesioner ini.
Atas perhatian dan kerja sama yang baik saya sebagai peneliti
mengucapkan terima kasih.
Dengan ini, Saya BERSEDIA ikut serta dalam penelitian ini.
Peneliti
Sekar Wigati Suprapto
NIM. 1112101000062
Responden
(
)
95
A. IDENTITAS RESPONDEN
No. Responden
Nama
Jenis Kelamin
Usia
Lama Kerja sebagai Perawat
No. Telepon / HP
Unit Kerja
Pendidikan Terakhir
Pernah mengikuti pelatihan K3RS
: ......... (diisi oleh peneliti)
:
: Laki-laki / Perempuan
:
Tahun
:
Tahun
:
: 1. Rawat Inap Tulip
2. Rawat Inap Melati
: 1. SMA
2. D3
3. S1
4. S2
: 1. Tidak Pernah
2. Pernah
B. INTENSI PELAPORAN KECELAKAAN KERJA
Petunjuk pengisian :
Berilah tanda silang (X) pada setiap pernyataan yang anda anggap paling
sesuai dengan anda !
No.
Pernyataan
Tidak
(1)
1
B1. Saya ingin melaporkan kejadian tertusuk jarum suntik
sebagai bentuk partisipasi dalam mencegah kejadian berulang
1
B2. Saya ingin melaporkan kejadian terluka saat mengampul
obat sebagai bentuk partisipasi dalam mencegah kejadian
berulang
1
B3. Saya ingin melaporkan kejadian terkena urine pasien sebagai
bentuk partisipasi dalam mencegah kejadian berulang
1
B4. Saya ingin melaporkan kejadian terkena darah pasien sebagai
bentuk partisipasi dalam mencegah kejadian berulang
1
B5. Saya tidak ingin melaporkan kejadian tertusuk jarum suntik
karena bukan kewajiban
1
B6. Saya tidak ingin melaporkan kejadian terluka saat
mengampul obat karena bukan kewajiban
1
B7. Saya tidak ingin melaporkan kejadian terkena urine pasien
karena bukan kewajiban
1
B8. Saya tidak ingin melaporkan kejadian terkena darah pasien
karena bukan kewajiban
1
B9. Saya tidak ingin melaporkan kejadian tertusuk jarum suntik
karena hanya mengakibatkan luka ringan
1
B10. Saya tidak ingin melaporkan kejadian terluka saat
mengampul obat karena hanya mengakibatkan luka ringan
1
B11. Saya hanya ingin melaporkan ketika kejadian tertusuk jarum
suntik sampai harus ditangani dokter
Ya
(2)
2
Diisi oleh
peneliti
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
96
No.
B12.
B13.
B14.
B15.
B16.
B17.
B18.
Pernyataan
Tidak
(1)
Saya hanya ingin melaporkan ketika kejadian terluka saat
1
mengampul obat sampai harus ditangani dokter
Saya ingin melaporkan kejadian tertusuk jarum suntik sekecil
1
apapun
Saya ingin melaporkan kejadian terluka saat mengampul
1
obat sekecil apapun
Saya ingin melaporkan kejadian tertusuk jarum suntik karena
1
hal tersebut tidak wajar
Saya ingin melaporkan kejadian terluka saat mengampul
1
obat karena hal tersebut tidak wajar
Saya tidak ingin melaporkan kejadian terkena urine pasien
1
karena hal tersebut wajar
1
Saya ingin melaporkan kejadian terkena darah pasien karena
hal tersebut tidak wajar
Ya
(2)
2
Diisi oleh
peneliti
2
2
2
2
2
2
C. SIKAP
Petunjuk pengisian :
Berilah tanda silang (X) pada setiap pernyataan yang anda anggap paling
sesuai dengan anda !
- Sangat Tidak Setuju (1)
- Tidak Setuju (2)
- Setuju (3)
- Sangat Setuju (4)
No.
Pernyataan
C1.
Kejadian tertusuk jarum suntik harus
selalu dilaporkan
Kejadian terluka saat mengampul obat
harus selalu dilaporkan
Kejadian terkena urine pasien tidak perlu
dilaporkan
Kejadian terkena darah pasien tidak perlu
dilaporkan
Pelaporan kejadian tertusuk jarum suntik
dapat dilakukan secara lisan
Pelaporan kejadian terluka saat
mengampul obat tidak dapat dilakukan
secara lisan
Pelaporan kejadian terkena urine pasien
tidak dapat dilakukan secara lisan
C2.
C3.
C4.
C5.
C6.
C7.
Sangat
Tidak
Setuju
(1)
Tidak
Setuju
(2)
Setuju
(3)
Sangat
Setuju
(4)
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
97
Diisi
oleh
peneliti
No.
Pernyataan
C8.
Pelaporan kejadian terkena darah pasien
tidak dapat dilakukan secara lisan
Pelaporan kejadian tertusuk jarum suntik
dapat dilakukan secara tertulis
Pelaporan kejadian terluka saat
mengampul obat dapat dilakukan secara
tertulis
Pelaporan kejadian terkena urine pasien
dapat dilakukan secara tertulis
Pelaporan kejadian terkena darah pasien
dapat dilakukan secara tertulis
Pelaporan tidak dilakukan pada kejadian
yang mengakibatkan luka ringan
Pelaporan hanya dilakukan pada kejadian
yang mengakibatkan luka parah
Melaporkan kejadian tertusuk jarum
suntik kewajiban seluruh pekerja
Melaporkan kejadian terluka saat
mengampul obat kewajiban seluruh pekerja
Melaporkan kejadian terkena urine pasien
bukan kewajiban seluruh pekerja
Melaporkan kejadian terkena darah pasien
bukan kewajiban seluruh pekerja
Melaporkan kejadian tertusuk jarum
suntik dapat mencegah hal tersebut terjadi
kembali
Melaporkan kejadian terluka saat
mengampul obat dapat mencegah hal
tersebut terjadi kembali
Melaporkan kejadian terkena urine pasien
dapat mencegah hal tersebut terjadi kembali
Melaporkan kejadian terkena darah pasien
dapat mencegah hal tersebut terjadi kembali
Melaporkan kejadian tertusuk jarum
suntik menambah beban kerja
Melaporkan kejadian terluka saat
mengampul obat menambah beban kerja
Melaporkan kejadian terkena urine pasien
menambah beban kerja
Melaporkan kejadian terkena darah pasien
menambah beban kerja
C9.
C10.
C11.
C12.
C13.
C14.
C15.
C16.
C17.
C18.
C19.
C20.
C21.
C22.
C23.
C24.
C25.
C26.
Sangat
Tidak
Setuju
(1)
Tidak
Setuju
(2)
Setuju
(3)
Sangat
Setuju
(4)
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
98
Diisi
oleh
peneliti
No.
Pernyataan
C27. Alur pelaporan mudah dilakukan
C28. Alur pelaporan hanya membutuhkan waktu
yang singkat
C29. Alur pelaporan mengganggu pekerjaan
C30. Alur pelaporan menghambat pekerjaan
Sangat
Tidak
Setuju
(1)
1
Tidak
Setuju
(2)
Setuju
(3)
Sangat
Setuju
(4)
2
3
4
1
2
3
4
1
1
2
2
3
3
4
4
Diisi
oleh
peneliti
D. NORMA SUBJEKTIF
Petunjuk pengisian :
Berilah tanda silang (X) pada setiap pernyataan yang anda anggap paling
sesuai dengan anda !
- Sangat Tidak Setuju (1)
- Tidak Setuju (2)
- Setuju (3)
- Sangat Setuju (4)
No.
Pernyataan
D1.
Kepala ruangan mengingatkan saya untuk
melaporkan ketika saya tertusuk jarum
suntik
Kepala ruangan mengingatkan saya untuk
melaporkan ketika saya terluka saat
mengampul obat
Kepala ruangan mengingatkan saya untuk
melaporkan ketika saya terkena urine pasien
Kepala ruangan mengingatkan saya untuk
melaporkan ketika saya terkena darah
pasien
Penanggung jawab shift tidak mengingatkan
saya untuk melaporkan kejadian tertusuk
jarum suntik yang saya alami
Penanggung jawab shift tidak mengingatkan
saya untuk melaporkan ketika saya terluka
saat mengampul obat
Penanggung jawab shift tidak mengingatkan
saya untuk melaporkan ketika saya terkena
urine pasien
Penanggung jawab shift tidak mengingatkan
saya untuk melaporkan ketika saya terkena
darah pasien
D2.
D3.
D4.
D5.
D6.
D7.
D8.
Sangat
Tidak
Setuju
(1)
Tidak
Setuju
(2)
Setuju
(3)
Sangat
Setuju
(4)
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
99
Diisi
oleh
peneliti
No.
Pernyataan
D9.
Teman-teman saya mengingatkan saya untuk
melaporkan kejadian tertusuk jarum suntik
yang saya alami
Teman-teman saya tidak mengingatkan saya
untuk melaporkan ketika saya terluka saat
mengampul obat
Teman-teman saya mengingatkan saya untuk
melaporkan ketika saya terkena urine pasien
Teman-teman saya tidak mengingatkan saya
untuk melaporkan ketika saya terkena darah
pasien
Petugas instalasi K3LRS merespon laporan
kejadian tertusuk jarum suntik yang saya
laporkan
Petugas instalasi K3LRS merespon laporan
kejadian terluka saat mengampul obat yang
saya laporkan
Petugas instalasi K3LRS tidak merespon
laporan kejadian terkena urine pasien yang
saya laporkan
Petugas instalasi K3LRS tidak merespon
laporan kejadian terkena darah pasien yang
saya laporkan
D10.
D11.
D12.
D13.
D14.
D15.
D16.
Sangat
Tidak
Setuju
(1)
Tidak
Setuju
(2)
Setuju
(3)
Sangat
Setuju
(4)
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
Diisi
oleh
peneliti
E. PERSEPSI KONTROL PERILAKU
Petunjuk pengisian :
Berilah tanda silang (X) pada setiap pernyataan yang anda anggap paling
sesuai dengan anda !
- Sangat Tidak Setuju (1)
- Tidak Setuju (2)
- Setuju (3)
- Sangat Setuju (4)
No.
Pernyataan
E1.
Menurut saya, alur pelaporan yang panjang
menghambat saya dalam melaporkan
kejadian tertusuk jarum suntik
Menurut saya, alur pelaporan yang panjang
menghambat saya dalam melaporkan
E2.
Sangat
Tidak
Sangat
Diisi
Tidak
Setuju
Setuju
Setuju
oleh
Setuju
(3)
(4)
peneliti
(2)
(1)
1
2
3
4
1
2
3
4
100
No.
E3.
E4.
E5.
E6.
E7.
E8.
E9.
E10.
E11.
E12.
E13.
E14.
E15.
E16.
E17.
E18.
Pernyataan
kejadian terluka saat mengampul obat
Menurut saya, alur pelaporan yang panjang
menghambat saya dalam melaporkan
kejadian terkena urine pasien
Menurut saya, alur pelaporan yang panjang
menghambat saya dalam melaporkan
kejadian terkena darah pasien
Menurut saya, melaporkan kejadian
tertusuk jarum suntik tidak mengganggu
pekerjaan saya
Menurut saya, melaporkan kejadian
terluka saat mengampul obat tidak
mengganggu pekerjaan saya
Menurut saya, melaporkan kejadian
terkena urine pasien tidak mengganggu
pekerjaan saya
Menurut saya, melaporkan kejadian
terkena darah pasien tidak mengganggu
pekerjaan saya
Menurut saya, pengisian format pelaporan
kejadian tertusuk jarum suntik mudah
Menurut saya, pengisian format pelaporan
kejadian terluka saat mengampul obat
mudah
Menurut saya, pengisian format pelaporan
kejadian terkena urine pasien mudah
Menurut saya, pengisian format pelaporan
kejadian terkena darah pasien mudah
Menurut saya, prosedur pelaporan kejadian
tertusuk jarum suntik mudah dilakukan
Menurut saya, prosedur pelaporan kejadian
terluka saat mengampul obat mudah
dilakukan
Menurut saya, prosedur pelaporan kejadian
terkena urine pasien mudah dilakukan
Menurut saya, prosedur pelaporan kejadian
terkena darah pasien mudah dilakukan
Menurut saya, melaporkan kejadian
tertusuk jarum suntik membutuhkan
waktu yang lama
Menurut saya, melaporkan kejadian
Sangat
Sangat
Tidak
Diisi
Tidak
Setuju
Setuju
Setuju
oleh
(3)
Setuju
(4)
peneliti
(2)
(1)
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
101
No.
E19.
E20.
E21.
E22.
E23.
E24.
Pernyataan
terluka saat mengampul obat
membutuhkan waktu yang lama
Menurut saya, melaporkan kejadian
terkena urine pasien membutuhkan waktu
yang lama
Menurut saya, melaporkan kejadian
terkena darah pasien membutuhkan
waktu yang lama
Menurut saya, melaporkan kejadian
tertusuk jarum suntik menghambat
pekerjaan saya
Menurut saya, melaporkan kejadian
terluka saat mengampul obat
menghambat pekerjaan saya
Menurut saya, melaporkan kejadian
terkena urine pasien menghambat
pekerjaan saya
Menurut saya, melaporkan kejadian
terkena darah pasien menghambat
pekerjaan saya
Sangat
Sangat
Tidak
Diisi
Tidak
Setuju
Setuju
Setuju
oleh
(3)
Setuju
(4)
peneliti
(2)
(1)
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
F. PENGETAHUAN
Petunjuk pengisian :
Isilah pernyataan berikut ini dengan memberi tanda silang (X) dan lengkap !
- Salah (1) : jika pernyataan tersebut anda anggap salah
- Benar (2) : jika pernyataan tersebut anda anggap benar
No.
Pernyataan
F1.
Kecelakaan kerja adalah kecelakaan yang terjadi
berhubungan dengan kerja
Tertusuk jarum suntik merupakan kecelakaan kerja
Terluka saat mengampul obat merupakan kecelakaan
kerja
Terkena urine pasien bukan merupakan kecelakaan
kerja
Terkena darah pasien bukan merupakan kecelakaan
kerja
Tertusuk jarum suntik merupakan kejadian yang
harus dilaporkan
Terluka saat mengampul obat merupakan kejadian
yang tidak perlu dilaporkan
F2.
F3.
F4.
F5.
F6.
F7.
Salah
(1)
1
Benar
(2)
2
1
1
2
2
1
2
1
2
1
2
1
2
Diisi oleh
peneliti
102
No.
Pernyataan
F8.
Terkena urine pasien merupakan kejadian yang tidak
perlu dilaporkan
Terkena darah pasien merupakan kejadian yang tidak
perlu dilaporkan
Pelaporan kecelakaan kerja adalah media komunikasi
tentang fakta penting dalam kejadian kecelakaan yang
terjadi
Pelaporan kecelakaan kerja bertujuan untuk
mencegah kecelakaan terulang lagi
Pelaporan kecelakaan kerja bermanfaat untuk
meningkatkan kesadaran keselamatan kerja
Pelaporan kecelakaan kerja hanya dilakukan oleh
pekerja yang mengalami kecelakaan
Pelaporan kecelakaan kerja tidak dapat dilakukan
oleh pekerja lain yang melihat kejadian kecelakaan
Pelaporan kecelakaan kerja hanya dapat dilakukan
secara tertulis
Pelaporan kecelakaan kerja harus segera dilakukan
paling lambat 1 x 24 jam
Semua jenis kecelakaan kerja harus dilaporkan
Kecelakaan kerja yang mengakibatkan luka ringan
tidak perlu dilaporkan
Hanya kecelakaan kerja yang mengakibatkan cedera
parah yang harus dilaporkan
Pelaporan kecelakaan kerja adalah hal yang penting
dalam keselamatan kerja
F9.
F10.
F11.
F12.
F13.
F14.
F15.
F16.
F17.
F18.
F19.
F20.
Salah
(1)
1
Benar
(2)
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
1
2
2
1
2
1
2
Diisi oleh
peneliti
103
LAMPIRAN II
Tabel Uji Validitas Kuesioner
Pernyataan
C1.
C2.
C3.
C4.
C5.
C6.
C7.
C8.
C9.
C10.
C11.
C12.
C13.
C14.
C15.
C16.
C17.
C18.
C19.
C20.
C21.
C22.
C23.
C24.
C25.
C26.
C27.
C28.
C29.
C30.
C31.
C32.
C33.
C34.
C35.
C36.
C37.
C38.
C39.
C40.
r tabel
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
r hitung
0.219
0.293
0.073
0.352
0.144
0.280
0.129
0.145
0.242
0.097
0.692
0.557
0.472
0.677
0.493
0.539
0.583
0.468
0.587
0.467
0.589
0.502
0.467
0.494
0.245
0.077
0.184
0.074
0.229
0.180
0.258
0.282
0.643
0.452
0.696
0.781
0.666
0.642
0.482
0.685
Keterangan
Tidak Valid
Tidak Valid
Tidak Valid
Tidak Valid
Tidak Valid
Tidak Valid
Tidak Valid
Tidak Valid
Tidak Valid
Tidak Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Tidak Valid
Tidak Valid
Tidak Valid
Tidak Valid
Tidak Valid
Tidak Valid
Tidak Valid
Tidak Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
104
D1.
D2.
D3.
D4.
D5.
D6.
D7.
D8.
D9.
D10.
D11.
D12.
D13.
D14.
D15.
D16.
E1.
E2.
E3.
E4.
E5.
E6.
E7.
E8.
E9.
E10.
E11.
E12.
E13.
E14.
E15.
E16.
E17.
E18.
E19.
E20.
E21.
E22.
E23.
E24.
E25.
E26.
E27.
E28.
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.629
0.445
0.503
0.588
0.482
0.693
0.637
0.683
0.580
0.650
0.528
0.636
0.626
0.445
0.590
0.598
0.603
0.527
0.482
0.653
0.004
0.114
0.163
0.011
0.522
0.671
0.546
0.455
0.070
0.243
0.012
0.186
0.095
0.059
0.048
0.086
0.513
0.453
0.496
0.568
0.469
0.634
0.629
0.546
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Tidak Valid
Tidak Valid
Tidak Valid
Tidak Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Tidak Valid
Tidak Valid
Tidak Valid
Tidak Valid
Tidak Valid
Tidak Valid
Tidak Valid
Tidak Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
105
E29.
E30.
E31.
E32.
E33.
E34.
E35.
E36.
E37.
E38.
E39.
E40.
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.552
0.571
0.639
0.464
0.071
0.173
0.176
0.144
0.237
0.172
0.119
0.084
Valid
Valid
Valid
Valid
Tidak Valid
Tidak Valid
Tidak Valid
Tidak Valid
Tidak Valid
Tidak Valid
Tidak Valid
Tidak Valid
106
LAMPIRAN III
1.
Intensi
Statistics
Total_Intensi
N
Valid
52
Missing
0
29.37
30.00
32
3.731
20
34
Mean
Median
Mode
Std. Deviation
Minimum
Maximum
Kat_Intensi
Frequency Percent
Valid Lemah
2.
Valid
Percent
Cumulative
Percent
24
46.2
46.2
46.2
Kuat
28
53.8
53.8
100.0
Total
52
100.0
100.0
Sikap
Statistics
Total_Sikap
N
Valid
Missing
Mean
Median
Mode
Std. Deviation
Minimum
Maximum
52
0
80.21
79.00
74
6.875
70
99
107
Kat_Sikap
Valid
Percent
Frequency Percent
Valid Negatif
Cumulative
Percent
24
46.2
46.2
46.2
Positif
28
53.8
53.8
100.0
Total
52
100.0
100.0
Kat_Sikap * Kat_Intensi Crosstabulation
Kat_Intensi
Lemah
Kat_Sikap Negatif Count
% within
Kat_Sikap
Positif Count
Total
% within
Kat_Sikap
Count
% within
Kat_Sikap
Kuat
Total
20
4
24
83.3%
16.7%
100.0%
4
24
28
14.3%
85.7%
100.0%
24
28
52
46.2%
53.8%
100.0%
Chi-Square Tests
Value
df
Asymp. Sig. Exact Sig. (2- Exact Sig. (1(2-sided)
sided)
sided)
Pearson Chi-Square
24.791a
1
.000
b
Continuity Correction
22.091
1
.000
Likelihood Ratio
27.186
1
.000
Fisher's Exact Test
.000
.000
Linear-by-Linear
24.315
1
.000
Association
N of Valid Casesb
52
a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 11,08.
b. Computed only for a 2x2 table
108
Risk Estimate
95% Confidence
Interval
Value
Odds Ratio for
Kat_Sikap (Negatif /
Positif)
For cohort Kat_Intensi
= Lemah
For cohort Kat_Intensi
= Kuat
N of Valid Cases
Lower
Upper
30.000
6.643
135.477
5.833
2.314
14.707
.194
.078
.482
Valid
Percent
Cumulative
Percent
52
3.
Norma Subjektif
Statistics
Total_Norma
N
Valid
Missing
Mean
Median
Mode
Std. Deviation
Minimum
Maximum
52
0
45.02
44.00
40
5.710
38
57
Kat_Norma
Frequency Percent
Valid Negatif
24
46.2
46.2
46.2
Positif
28
53.8
53.8
100.0
Total
52
100.0
100.0
109
Kat_Norma * Kat_Intensi Crosstabulation
Kat_Intensi
Lemah
Kat_Norma Negatif Count
% within
Kat_Norma
Total
Total
19
5
24
79.2%
20.8%
100.0%
5
23
28
17.9%
82.1%
100.0%
24
28
52
46.2%
53.8%
100.0%
Positif Count
% within
Kat_Norma
Count
% within
Kat_Norma
Kuat
Chi-Square Tests
Value
Asymp. Sig. Exact Sig. (2- Exact Sig. (1(2-sided)
sided)
sided)
df
a
Pearson Chi-Square
19.546
1
.000
b
Continuity Correction
17.157
1
.000
Likelihood Ratio
20.939
1
.000
Fisher's Exact Test
.000
.000
Linear-by-Linear
19.170
1
.000
Association
N of Valid Casesb
52
a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 11,08.
b. Computed only for a 2x2 table
Risk Estimate
95% Confidence
Interval
Value
Odds Ratio for
Kat_Norma (Negatif /
Positif)
For cohort Kat_Intensi
= Lemah
For cohort Kat_Intensi
= Kuat
N of Valid Cases
Lower
Upper
17.480
4.395
69.516
4.433
1.952
10.071
.254
.114
.564
52
110
4.
Persepsi Kontrol Perilaku
Statistics
Total_Perceived
N
Valid
52
Missing
0
62.94
64.00
64
5.599
54
77
Mean
Median
Mode
Std. Deviation
Minimum
Maximum
Kat_Perceived
Frequency Percent
Valid Negatif
Valid
Percent
Cumulative
Percent
21
40.4
40.4
40.4
Positif
31
59.6
59.6
100.0
Total
52
100.0
100.0
Kat_Perceived * Kat_Intensi Crosstabulation
Kat_Intensi
Lemah
Kat_Perceived Negatif Count
Total
Total
15
6
21
71.4%
28.6%
100.0%
9
22
31
% within Kat_Perceived
Count
29.0%
71.0%
100.0%
24
28
52
% within Kat_Perceived
46.2%
53.8%
100.0%
% within Kat_Perceived
Positif
Kuat
Count
111
Chi-Square Tests
Value
Asymp. Sig. Exact Sig. (2- Exact Sig. (1(2-sided)
sided)
sided)
df
Pearson Chi-Square
9.055a
1
.003
b
Continuity Correction
7.429
1
.006
Likelihood Ratio
9.301
1
.002
Fisher's Exact Test
.004
.003
Linear-by-Linear
8.881
1
.003
Association
N of Valid Casesb
52
a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 9,69.
b. Computed only for a 2x2 table
Risk Estimate
95% Confidence
Interval
Value
Odds Ratio for
Kat_Perceived (Negatif
/ Positif)
For cohort Kat_Intensi
= Lemah
For cohort Kat_Intensi
= Kuat
N of Valid Cases
Lower
Upper
6.111
1.797
20.779
2.460
1.332
4.543
.403
.197
.821
52
5.
Pengetahuan
Statistics
Total_Pengetahuan
N
Valid
Missing
Mean
Median
Mode
Std. Deviation
Minimum
Maximum
52
0
53.83
54.50
50a
3.021
47
59
112
Kat_Pengetahuan
Valid
Percent
Frequency Percent
Valid Negatif
Cumulative
Percent
21
40.4
40.4
40.4
Positif
31
59.6
59.6
100.0
Total
52
100.0
100.0
Kat_Pengetahuan * Kat_Intensi Crosstabulation
Kat_Intensi
Lemah
Kat_Pengetahuan Negatif Count
% within
Kat_Pengetahuan
Positif Count
Total
% within
Kat_Pengetahuan
Count
% within
Kat_Pengetahuan
Kuat
Total
15
6
21
71.4%
28.6%
100.0%
9
22
31
29.0%
71.0%
100.0%
24
28
52
46.2%
53.8%
100.0%
Chi-Square Tests
Value
df
Asymp. Sig. Exact Sig. (2- Exact Sig. (1(2-sided)
sided)
sided)
Pearson Chi-Square
9.055a
1
.003
b
Continuity Correction
7.429
1
.006
Likelihood Ratio
9.301
1
.002
Fisher's Exact Test
.004
.003
Linear-by-Linear
8.881
1
.003
Association
N of Valid Casesb
52
a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 9,69.
b. Computed only for a 2x2 table
113
Risk Estimate
95% Confidence
Interval
Value
Odds Ratio for
Kat_Pengetahuan
(Negatif / Positif)
For cohort Kat_Intensi
= Lemah
For cohort Kat_Intensi
= Kuat
N of Valid Cases
Lower
Upper
6.111
1.797
20.779
2.460
1.332
4.543
.403
.197
.821
52
114
LAMPIRAN IV
1.
Alur Pelaporan Kecelakaan Kerja
115
2.
Prosedur Pelaporan Kecelakaan Kerja
116
117
118
3.
Formulir Pelaporan Kecelakaan Kerja
119
120
Download