Chapter II

advertisement
BAB II
KAJIAN LITERATUR
2.1
Pengertian Pelestarian
Filosofi
pelestarian
didasarkan
pada
kecenderungan
manusia
untuk
melestarikan nilai-nilai budaya pada masa yang telah lewat namun memiliki arti
penting bagi generasi selanjutnya. Namun demikian tindakan pelestarian makin
menjadi kompleks jika dihadapkan pada kenyataan sebenarnya. Tindakan pelestarian
yang dimaksudkan guna menjaga karya seni sebagai kesaksian sejarah, kerap kali
berbenturan dengan kepentingan lain, khususnya dalam kegiatan pembangunan.
2.2
Sejarah Sebuah Kota
Wujud sebuah kota terkait dengan masa lampau, sehingga perencanaan serta
pengarahan kota sekarang dan di masa mendatang harus dengan perspektif sejarah.
Warisan sejarah mencakup bangunan, kawasan, struktur berupa patung, air mancur,
taman, pepohonan dan pertamanan. Daya tarik terhadap warisan sejarah ini dapat
bersumber dari signifikansinya dalam hal arsitektural, estetis, historis, ilmiah, kultural
dan sosial.
Dalam pertumbuhan kota terkait tiga aspek:
a. Aspek sejarah; dalam hal ini yang perlu dianalisa adalah tatanan arsitektural
yang berperan pada masa lampau, masa kini dan masa mendatang.
6
7
b. Faktor pertumbuhan dan perkembangan kota sebagai akibat pertambahan
penduduk alami maupun migrasi-urbanisasi, faktor ekonomi, faktor sosial
budaya termasuk kecenderungan masyarakat, faktor kedudukan kota dalam
lingkup wilayah
c. Aspek legal yang menyangkut peraturan perundang-undangan yang
berkaitan dengan penataan ruang dan fisik kota yang secara umum maupun
berlaku khusus untuk kota yang bersangkutan.
Para perencana kota harus mempertahankan kelayakan inti kota dengan
memastikan bahwa bangunan-bangunan baru dan pembangunan berskala besar tidak
menghilangkan ciri khas kota yang mudah dikenali. Hal ini hanya dapat dilakukan
dengan menyelamatkan dan merehabilitasi sebanyak mungkin bangunan lama,
membangun yang baru hanya jika yang diperlukan dan kemudian dengan
mengintegrasikan yang baru dengan yang lama (Lotmann, 1976).
Eko Budiharjo dan Sidharta (1989) dalam Konservasi Lingkungan dan
Bangunan Kuno Bersejarah menyatakan bahwa suatu kota mempunyai kawasan lama
sebagai lokasi awal pertumbuhannya. Sejarah kota dimulai dari kawasan ini di mana
bangunan-bangunannya mudah dicirikan identitasnya, penuh dengan makna sejarah
dan arsitektural, sehingga secara total memancarkan citra yang kuat. Tanpa adanya
kawasan ini, masyarakat akan merasa terasing tentang asal-usul lingkungannya,
karena tidak mempunyai orientasi pada masa lampau.
8
Faktor lain yang menentukan identitas suatu tempat adalah kombinasi elemen
kultur non material seperti karakteristik masyarakat serta apa yang disebut sebagai
genius loci yang dikemukakan oleh Dubos yang dikutip dalam buku Place and
Placelessness, Relp, E (1976) yang artinya adalah roh suatu tempat, mencakup
keunikan lingkungan binaan, kekayaan kultural dan momen-momen historis.
Tujuan dari pelestarian bangunan terhadap identitas suatu kota yaitu:
a.
Mempengaruhi dan memberi perlindungan, peningkatan dan pelestarian
bangunan, kawasan dan daerah-daerah yang mewakili atau merefleksikan
elemen kultural sosial, ekonomis, politis dan sejarah arsitektural kota.
b.
Melindungi warisan historis, estetis dan kultural kota, sebagaimana
terangkum dan terfleksikan dalam bangunan, kawasan dan daerah tersebut.
c.
Memantapkan dan meningkatkan nilai properti di kawasan tersebut.
d.
Mendorong kebanggaan masyarakat terhadap keindahan dan prestasi agung
di masa lalu.
e.
Melindungi dan meningkatkan daya tarik kota untuk para wisatawan dan
pengunjung sekaligus mendukung serta merangsang iklim usaha dan
industri yang terkait.
f.
Memperkuat ekonomi kota.
g.
Mempromosikan fungsi kawasan bersejarah, simbol kota untuk pendidikan,
rekreasi dan kesejahteraan warga kota.
9
2.3
Bangunan Tua/Bersejarah
Yang dimaksud dengan bangunan tua adalah bangunan yang telah berumur
lebih dari 50 (lima puluh) tahun. Yang dimaksud dengan bangunan bersejarah adalah
bangunan yang telah berumur 50 (lima puluh) tahun dan mempunyai nilai sejarah.
Nilai sejarah adalah tolok ukur yang digunakan untuk menilai bangunan yang
memiliki peranan sejarah berupa:
a.
Bangunan
atau lokasi yang berhubungan dengan masa lalu kota dan
bangsa, merupakan suatu peristiwa sejarah, baik sejarah perkembangan
kota, maupun sejarah nasional.
b.
Bangunan atau lokasi yang berhubungan dengan orang terkenal atau tokoh
penting.
c.
Bangunan hasil pekerjan seorang arsitek tertentu, dalam hal ini adalah
arsitek yang berperan dalam perkembangan arsitektur di Indonesia pada
zaman Kolonial Belanda.
Di dalam Undang-undang nomor 5 tahun 1992 tentang benda cagar budaya Bab
I Ketentuan Umum, Pasal 1 yang dimaksud dengan benda cagar budaya adalah:
a.
Benda buatan manusia, bergerak atau tidak bergerak yang berupa kesatuan
atau kelompok, atau bagian-bagian atau sisanya, yang berumur sekurangkurangnya 50 tahun, atau mewakili masa gaya yang khas dan mewakili
10
masa gaya sekurang-kurangnya 50 tahun, serta dianggap mempunyai nilai
penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
b.
Benda alam yang dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu
pengetahuan dan kebudayaan.
Pekerjaan merawat dan memperbaiki bangunan merupakan suatu hal yang rutin
musti dilakukan untuk menambah atau mempertahankan umur bangunan. Preservasi
dan konservasi merupakan hal yang penting dalam kegiatan ini. Lama kelamaan hal
ini bergeser karena banyak bangunan yang dibongkar, bukan dirawat atau diperbaiki,
malahan menyebabkan warisan arsitekturnya hilang.
Pelestarian bangunan tua /bersejarah dapat dilaksanakan berupa:
a.
Preservasi, yaitu suatu upaya untuk melindungi/menjaga bangunan
tua/bersejarah dari kerusakan serta mencegah proses kerusakan yang akan
terjadi.
b.
Restorasi, yaitu mengembalikan kondisi fisik bangunan seperti sediakala
dengan membuang elemen-elemen tambahan dan memasang kembali
elemen-elemen orisional seperti semula.
c.
Rehabilitasi, yaitu mengembalikan fisik bangunan kepada kondisi semula
kerena rusak atau menurun sehingga kembali berfungsi seperti awalnya.
d.
Rekonstruksi, yaitu suatu upaya membangun kembali bangunan baru
seperti awalnya. Dan mendekati dengan penampilan orisionalnya.
11
e.
Perlindungan wajah bangunan, yaitu tetap mempertahankan ciri utama
dari bangunan lamanya
dan memperbaiki
atau merubah bagian
belakangnya atau dalamnya.
Tindakan yang paling tepat dan mudah adalah merawat (maintenance) dari
bangunan tua tersebut. Kegiatan ini dapat dilakukan pada bangunan tua yang masih
kokoh dan biasanya pada bangunan yang dilindungi. Kegiatan pelestarian biasanya
memberikan manfaat secara ekonomi, sosial dan budaya
kepada kawasan yang
dilestarikan. Pelestarian biasanya cenderung kepada bangunan tua yang sudah lewat
masa kegunaannya dan memiliki arti tertentu bagi generasi tertentu. Namun
sayangnya para ekonom dan pengembang ada yang berpendapat bahwa pelestarian
merupakan suatu usaha yang menghambat perekonomian dan perkembangan kota
menjadi modern. Keadaan ini sering menjadi pertentangan antara Pemerintah yang
menginginkan
pelestarian,
dengan
para
ekonom
dan
pengembang
yang
mengharapkan keuntungan dari perubahan tersebut.
2.4
Kriteria Pelestarian
Dalam menentukan apakah suatu bangunan bersejarah termasuk dalam obyek
yang perlu dilestarikan digunakan kriteria-kriteria pelestarian. Berikut terdapat
kriteria pelestarian diantaranya:
1.
Estetika Bangunan.
Istilah Estetika dapat digunakan untuk mengganti pengertian indah, bagus,
menarik atau mempesona (Lubis, 1990:96). Penilaian estetika suatu
12
bangunan sangat tergantung dari perasaan, pikiran, pengaruh lingkungan
dan norma yang bekerja pada diri pengamat. Estetika suatu bangunan
sangat terkait erat dengan penampilan bangunan, wajah bangunan dan
tampak bangunan yang kita lihat dengan mata sebelum dirasakan kesan
estetisnya dalam perasaan.
2.
Langgam Arsitektur Tertentu (Kejamakan).
Kejamakan suatu bangunan dinilai dari seberapa jauh karya arsitektur
tersebut mewakili suatu ragam atau jenis yang spesifik, mewakili kurun
waktu sekurang-kurangnya 50 tahun. Dalam hal ini ragam/langgam yang
spesifik yang pada arsitektur bangunan-bangunan bersejarah (Ellisa, 1996):
a
Langgam
arsitektur
Klasik/Kolonial
(Neoklasik/Art
Decco/
Gothic/Renaisan /Romanik).
b
Langgam arsitektur Kolonial tropis (langgam arsitektur Klasik yang
telah diadaptasi dengan iklim tropis di Indonesia.
c
Langgam arsitektur Eklektik/Indisch Style (langgam arsitektur
Klasik/Kolonial tropis yang mengandung unsur tradisional Melayu
atau daerah lainnya di Indonesia).
d
Langgam arsitektur campuran (Klasik/Kolonial dengan Cina, Islam
atau India atau Campuran diantaranya).
13
3.
Kelangkaan.
Kriteria kelangkaan menyangkut jumlah dari jenis bangunan peninggalan
sejarah dari langgam tertentu. Tolak ukur kelangkaan yang digunakan
adalah bangunan dengan langgam arsitektur yang masih asli sesuai dengan
asalnya.
4.
Keistimewaan/Keluarbiasaan.
Tolak ukur yang digunakan untuk menilai keistimewaan/keluarbiasaan
suatu bangunan adalah bangunan yang memiliki sifat keistimewaan tertentu
sehingga memberikan kesan monumental, atau merupakan bangunan yang
pertama didirikan untuk fungsi tertentu.
5.
Peranan Sejarah.
Tolak ukur yang digunakan untuk menilai bangunan yang memiliki
peranan sejarah adalah:
a
Bangunan atau lokasi yang berhubungan dengan masa lalu kota dan
bangsa merupakan suatu peristiwa sejarah.
b
Bangunan atau lokasi yang berhubungan dengan orang terkenal atau
tokoh penting.
c
Bangunan hasil pekerjaan seorang arsitek tertentu, dalam hal ini
arsitek yang berperan dalam perkembangan arsitektur di Indonesia
pada masa Kolonial.
14
6.
Penguat Kawasan disekitarnya.
Tolak ukur yang digunakan adalah bangunan yang menjadi simbol kota
bagi
lingkungannya,
dimana
kehadiran
bangunan
tersebut
dapat
meningkatkan mutu/kualitas dan citra lingkungan sekitarnya. Beberapa
keadaan yang dapat memudahkan pengenalan terhadap suatu bangunan
sehingga dapat menjadi ciri dari suatu simbol kota antara lain adalah:
a.
Bangunan yang terletak disuatu tempat yang strategis dari segi visual,
yaitu dipersimpangan jalan utama atau pada posisi “tusuk sate” dari
suatu pertigaan jalan.
b.
Bentuknya istimewa karena besar, panjang, keindahan, ketinggian,
atau keunikan bentuk.
c.
Jenis penggunaannya, semakin banyak orang yang menggunakannya
maka akan semakin mudah pula pengenalan terhadapnya.
d.
Sejarah perkembangannya yaitu semakin besar peristiwa sejarah yang
terkait
terhadapnya
maka
semakin
mudah
pula
pengenalan
terhadapnya.
Adapun beberapa ahli memberikan kriteria-kriteria identifikasi penilaian
terhadap bangunan tua antara lain:
1. Menurut Catanesse (dalam Pontoh, 1992) kriteria yang perlu diperhatikan
dalam menentukan obyek pelestarian mencakup:
15
a. Kriteria estetika adalah berkaitan dengan nilai arsitektural, meliputi
bentuk, gaya, struktur, tata kota, mewakili prestasi khusus atau gaya
sejarah tertentu.
b. Kriteria Kejamakan/Kekhasan (tipe) adalah objek yang akan dilestarikan
mewakili kelas dan jenis khusus. Tolak ukur kejamakan ditentukan oleh
bentuk suatu ragam atau jenis khusus yang spesifik.
c. Kriteria kelangkaan (jumlah) adalah kelangkaan suatu jenis karya yang
merupakan sisa warisan peninggalan terahir dari gaya tertentu yang
mewakili jamannya dan tidak dimiliki daerah lain.
d. Kriteria keluarbiasaan (keistimewaan) adalah suatu objek konservasi yang
memiliki bentuk menonjol, tinggi dan besar. Keistimewaan memberi tanda
atau ciri kawasan tertentu.
e. Kriteria peran sejarah (masa lalu) adalah lingkungan kota atau bangunan
yang memiliki nilai sejarah, suatu peristiwa yang mencatat peran ikatan
simbolis suatu rangkaian sejarah, dan babak perkembangan suatu kota.
f. Kriteria Memperkuat Kawasan (simbol kota) adalah kehadiran suatu objek
atau karya akan mempengaruhi kawasan-kawasan sekitarnya dan
bermakna untuk meningkatkan mutu dan citra lingkungannya.
2. Snyder dan Catanese (1979), sebagai pengkajian sutau kawasan/bangunan
dari kuno/bersejarah guna dikonservasi memiliki 6 (enam) tolak ukur yaitu
dari segi:
16
a.
Kelangkaan (karya sangat langka, tidak memiliki oleh daerah lain).
b.
Kesejarahan (lokasi Peristiwa bersejarah yang penting).
c.
Estetika (memiliki keindahan bentuk, struktur atau ukiran).
d.
Superlativitas (tertua, tertinggi, terpanjang).
e.
Kejamakan (karya yang tipikal, memiliki suatu jenis atau ragam
bangunan tertentu).
f.
Kualitas pengaruh (keberadaannya akan meningkatkan citra lingkungan
sekitarnya).
3. Pontoh (1992:37), Kriteria dalam mempertimbangkan obyek yang akan
dikonservasi dapat pula dikategorikan sebagai berikut:
a.
Nilai (value) dari objek, mencakup nilai estetik yang didasarkan pada
kualitas bentuk maupun detailnya.
b.
Fungsi obyek dalam lingkungan kota,berkaitan dengan kualitas
lingkungan secara menyeluruh, objek merupakan bagian dari kawasan
bersejarah dan sangat berharga bagi kota.
c.
Fungsi Lingkungan dan budaya penetapan kriteria konservasi tidak
terlepas dari keunikan pola hidup suatu lingkungan sosial tertentu yang
memiliki tradisi kuat.
Mengidentifikasi bangunan tua/bersejarah terkait erat dengan makna kultural
dari bangunan tua/bersejarah tersebut. Bangunan tua/bersejarah dan monumental
17
yang dilindungi undang-undang harus memenuhi satu atau lebih kriteria sebagai
berikut:
a.
Memiliki sumbangan terhadap inovasi atau temuan kreatif atau prestasi
pengetahuan, teknik rancangan dan konstruksi.
b.
Menjadi bangunan terpadu secara kolektif tempat masyarakatnya berada.
c.
Usia yang lebih dari 50 tahun yang menurut ilmiah memiliki indikasi yang
kuat terhadap suatu peradaban tertentu dari satu zaman tertentu.
d.
Kelangkaan dalam kuantitas dan kualitas pada produk tertentu dan jenis
tertentu yang tidak diproduksi lagi
e.
Menjadi rujukan masyarakat dalam kegiatan tertentu misalnya ziarah atau
kepentingan lain.
Langkah
awal
untuk
mengidentifikasi
bangunan
tua/bersejarah
erat
hubungannya dengan konservasi terhadap nilai sejarah, budaya, tradisi, keindahan,
sosial, ekonomi, fungsional, iklim maupun fisik dari bangunan tua/bersejarah tersebut
(Danisworo 1992). Konservasi terhadap bangunan tua/bersejarah merupakan
pemahaman terhadap nilai aspek budaya suatu bangunan dengan tolok ukur penilaian
terhadap estetika, kesejarahan, keilmuan, kapasitas demonstratif serta hubungan
asosional.
Download