PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sebagai negara pemenang

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sebagai negara pemenang Perang Dingin Amerika Serikat menjadi Negara
yang memiliki dominasi tunggal pada sistem internasional saat ini serta menjadi
Negara super power, dikatakan super power karena tidak bisa ditampikkan bahwa
Amerika Serikat memiliki pengaruh yang besar terhadap keamanan dunia saat ini.
Hal itu dapat dilihat dari berbagai konflik antar Negara yang terjadi
khususnya di Timur Tengah dan belahan dunia lainnya banyak melibatkan
Amerika Serikat di dalamnya baik dalam usaha untuk menghentikan konflik yang
terjadi atau bahkan menciptakan konflik. Amerika Serikat juga memiliki andil
besar dalam menciptakan keseimbangan kekuatan kawasan dalam hal kekuatan
militer dimana hal itu di wujudkan dengan tingginya persenjatan yang berasal dari
Amerika Serikat yang menjadi andalan Negara ± Negara di dunia saat ini.
Sebuah Negara dapat di katakan sebagai Negara super power apabila
memiliki kapasitas untuk menciptakan dominasi kekuatan dan mempengaruhi
daerah manapun di dunia, dan terkadang, lebih dari satu area di bumi ini dalam
satu waktu, dan sangat berpeluang untuk meraih status hegemoni global.1 Melihat
fakta yang terjadi setelah Perang Dingin yang di tandai dengan runtuhnya Uni
Soviet yang menjadi tandingan Amerika Serikat dalam perlombaan senjata sudah
tidak ada lagi, hal itu mengukuhkan dominasi Amerika Serikat dalam politik
1
Standford Journal of International Relations: China an Emerging Superpower? By Lyman Miller
http://www.stanford.edu/group/sjir/6.1.03_miller.html Diakses tanggal 11 Desember 2012
1
Internasional saat ini. Super Poweritas sebuah Negara dapat di ukur dari 4 aspek
yaitu kapabilitas militer, ekonomi, politik dan budaya.2
Melihat kapabilitas militer Amerika Serikat sebagai Negara pemenang
Perang Dunia maupun Perang Dingin tidak dapat di ragukan, dengan kapabilitas
militer yang didukung dengan persenjataan yang canggih serta teruji di berbagai
peperangan membuat persenjataan asal Amerika Serikat banyak dilirik oleh
Negara ± Negara di dunia sebagai persenjataan utama untuk mendukung kekuatan
militer mereka. Selama 10 tahun terakhir Amerika Serikat mendominasi
pendapatan Negara ± 1HJDUD³SHQJHNVSRU´Venjata di dunia, dimana nilai ekspor
dan kontrak pengadaan senjata oleh Amerika menjadi yang terbesar di antara
Negara ± Negara produsen senjata lain seperti Rusia, Inggris, China dan lainnya.
Data dari tahun 1994 sampai 2010 memperlihatkan dominasi Amerika
Serikat dalam penjualan senjata dengan nilai terendah pada tahun 1995 yaitu
$5.600.000.000
dan
tertinggi
pada
tahun
2008
dengan
nilai
$36.717.000.000 serta pada tahun 2010 sebesar $ 21.255.000.000
kontrak
3
jauh
melampaui Negara ± Negara lain seperti Rusia yang hanya mendapat
$15.000.000.0004 pada tahun 2009 sebagai nilai kontrak tertingginya dan Inggris
hanya mendapat kontrak senilai $9.651.000.000 5 pada tahun 2007 sebagai nilai
kontrak tertingginya.
2
Ibid.,
Grimmett, R. F., CRS Report for Congress, Conventional Arms Transfers to Developing
Nations, 2003-2010, 22 Sep. 2011 URL http://www.fas.org/asmp/resources/govtdocs.htm#crs
dapat dilihat di
http://www.sipri.org/research/armaments/transfers/measuring/financial_values/gov_exp.xls
Diakses tanggal 11 Desember 2012
4
Nikolskii, A., Rosoboronexport, 'Vietnam helps to record', Vedomosti, 29 Jan dapat dilihat di
http://www.sipri.org/research/armaments/transfers/measuring/financial_values/gov_exp.xls
Diakses tanggal 11 Desember 2012
5
UK Ministry of Defence, Defence Analytical Services Agency, 'UK Defence Statistics 2011'
http://www.dasa.mod.uk dapat dilihat di
3
2
Kemudaian Amerika Serikat kembali mendominasi penjualan persenjataan
pada tahun 2011 sebagai tahun dengan pendapatan tertinggi dalam sejarah kontrak
penualan persenjataan Amerika Serikat yakni menembus angka 66,3 miliar dolar
atau 77% dari nilai penjualan seluruh dunia. Sedangkan Rusia hanya 4,8 miliar
dolar atau 5,6% dari nilai penjualan global.6
Dalam aspek ekonomi Amerika Serikat adalah Negara yang memiliki
sistem ekonomi yang kuat dan menjadi rujukan bagi model ekonomi di dunia saat
ini, Amerika Serikat juga di katakan sebagai Negara dengan perekonomian
terbesar di seluruh dunia juga di tandai dengan mata uang mereka di jadikan acuan
nilai tukar uang lainnya di dunia, nilai tukar mata uang dolar AS yang tinggi
terhadap mata uang lain di seluruh dunia juga menguatkan perekonomian
Amerika Serikat.7
Selain itu kebudayaan Amerika yang menjadi trend globalisasi saat ini
tidak dapat di pandang sebelah mata dan turut menjadi salah satu penyumbang
pendapatan AS baik secara finansial maupun citra yang tidak kalah penting dalam
politik internasional.
Dengan menggabungkan semua aspek itu serta di dukung dengan
kemajuan teknologi yang dimiliki Amerika serikat mampu untuk memenuhi
kebutuhannya akan pertahanan Negara yang kuat dengan menciptakan
http://www.sipri.org/research/armaments/transfers/measuring/financial_values/gov_exp.xls
Diakses tanggal 11 Desember 2012
6
Congressional Research Service, Conventional Arms Transfers to Developing Nations, 20042011 http://www.fas.org/sgp/crs/weapons/R42678.pdf Diunduh 15 Maret 2013
7
Perekonomian Amerika Dan Pengaruhnya Terhadap Dunia
http://financeroll.co.id/uncategorized/52599/perekonomian-amerika Diakses tanggal 11 Desember
2012
3
persenjataan yang canggih, dimana senjata itu menjadi pemasukan bagi
perekonomian Amerika Serikat ketika di jual kepada Negara lainnya.
Sebagai Negara major power dalam politik internasional saat ini tentu saja
amerika serikat memiliki kriteria Negara yang dapat mereka sokong baik secara
militer maupun menjual senjata kepada Negara tersebut. Amerika Serikat
merupakan Negara yang konsern dalam penegakkan HAM dan demokrasi.
$PHULND6HULNDWGLMXOXNL³3ROLVL'XQLD´NDUHQDDQJNDWDQEHUVHQMDWDPHUHNDNHUDS
melakukan intervensi maupun peperangan untuk Negara yang mereka anggap
bersalah telah melanggar HAM. Serta memberikan berbagai macam sanksi seperti
embargo militer penuh mulai dari komponen persenjataan utama, suku cadang,
hingga menghentikan pelatihan militer.
Kerjasama Amerika Serikat dan Indonesia telah terjadi sejak lama, sejak
paska kemerdekaan Indonesia kerjasama kedua Negara melewati dinamika pasang
surut. Berbgai macam bentuk kerjasama telah dilakukan meliputi bantuan
ekonomi, pendidikan, hingga kerjasama militer. Pada masa tersebut situasi politik
internasional dan kebijakan luar negeri Amerika Serikat terfokus pada Perang
Dingin,
dimana
tema
masa
itu
ialah
kerjasama
militer
untuk
tetap
mempertahankan pengaruh agar tidak tersaingi Soviet.
Hubungan kedua Negara terjalin erat dalam berbagai bidang khususnya
dalam hal bantuan militer pada masa pemerintahan presiden Carter, meski di liputi
isu tentang pelanggaran HAM yang menjadi tema utama politik luar negeri
Amerika Serikat pada waktu itu namun hubungan kedua Negara tetap berjalan
baik.
4
Paska Perang Dingin Kebijakan Amerika Serikat terhadap Indonesia
secara drastis berubah, dibawah kepemimpinan Presiden Clinton Amerika banyak
melakukan tekanan terhadap Indonesia. Hal itu tidak dapat dilepaskan dari
tuduhan pelanggaran HAM yang banyak dilakukan oleh Tentara Indonesia pada
waktu itu.
Puncaknya
ialah
tahun
1999
ketika
Amerika
Serikat
dibawah
kepemimpinan Clinton memberikan sanksi embargo militer kepada Indonesia.
Sanksi embargo mengakibatkan Amerika Serikat menghentikan segala bentuk
kerja sama militer dengan Indonesia termasuk menghentkan program kerja sama
pembinaan perwira militer Indonesia, tidak sampai disitu penjualan suku cadang
alutsista pun di hentikan.
Dalam masa embargo militer penuh oleh Amerika Serikat, pemenuhan
kebutuhan alutsista TNI mengalami kendala seperti peremajaan alustsista yang
bersifat strategis seperti pesawat ± pesawat temput dan angkut TNI menjadi tidak
maksimal. Hal itu membuat Indonesia harus membeli sparepart dari Negara lain.
Sebagai salah satu solusi Indonesia mengandalkan Rusia sebagai produsen
alternatif dalam melakukan pengadaan persenjataan yang bersifat penting seperti
pesawat tempur dan kendaraan lapis baja. Serta mulai melakukan kerjasama
pertahanan dengan China yang bertujuan untuk meningkatkan kemandirian
Alutsista dalam negeri melalui alih teknologi.
Masa embargo tersebut adalah masa yang cukup menyulitkan bagi militer
Indonesia khususnya TNI AU, dimana Alutsista yang ada banyak berasal dari
Amerika Serikat seperti pesawat angkut Hercules yang menjadi alutsista penting
5
di milter Indonesia menjadi tidak layak terbang karena tidak mendapat pasokan
suku cadang dari Lockheed Martin yang berbasis di Amerika Serikat.
Selain itu banyak Alutsista lain yang juga terkena dampak seperti F-16
A/B yang menjadi tulang punggung fighter TNI AU juga tidak maksimal
penggunaannya dikarenakan kesulitan dalam peremajaan, karena suku cadang F16
Fighting Falcon juga tertahan di AS dan Korea Selatan.8
Selain tidak mendapat pasokan suku cadang, alutsista yang sudah
mengalami proses peremajaan juga tertahan di beberapa Negara seperti satu
pesawat F-5 Tiger di Amerika Serikat dan suku cadangnya ada yang tertinggal di
Malaysia, Singapura, Belgia. 9 Walaupun pesaawat Hawk 109 dan Hawk 209
buatan Inggris namun tetap saja pesawat ini terkena imbas embargo Amerika
Serikat karena ada komponen yang digunakan buatan AS.
Selain itu suku cadang Hawk 109/209 juga sempat tertahan di Inggris dan
mesin serta suku cadang A4 Sky Hawk pernah tertahan di Selandia Baru. Tak
pelak Akibat embargo AS saat itu, tingkat kesiapan pesawat-pesawat tempur TNI
AU hanya mencapai 35 persen dari seluruh kekuatan yang ada.10
Kebijakan embargo penuh Amerika Serikat terhadap Indonesia secara
perlahan dan sedikit demi sediki dihapuskan pada pemerintahan Bush. Kemudaian
puncaknya ialah pada pemerintahan Obama. Pada pemerintahan Obama kebijakan
pemerintah AS berubah drastis dengan memberikan berbagai macam tawaran
Alustsista bagi Tentara Nasional Indonesia baik melalui skema hibah maupun
penjualan komersial.
8
AS Diminta Percepat Pengiriman Suku Cadang Pesawat Tempur TNI AU
http://www.antaranews.com/berita/1136466590/as-diminta-percepat-pengiriman-suku-cadangpesawat-tempur-tni-au diakses 22 April 2013
9
Ibid
10
Ibid
6
Pada akhir tahun 2011 Amerika menawarkan 24 unit pesawat tempur F-16
melalui skema hibah yang di tawarkan Amerika dimana skema hibah ini disertai
dengan upgrade atau peningkatan kemampuan pesawat melalui skema FMS
(Foreign Military Sales)11 dengan mengganti berbagai komponen dalam pesawat
dan akan tiba di Indonesia pada tahun 2014. 12 Tidak sampai disitu pemerintah
Amerika kembali menawarkan tambahan 10 unit pesawat serupa.13
General Dynamic F-16 Fighting Falcon menjadi pilihan pemerintah
Amerika Serikat karena pada tahun 2008 Indonesia pernah berminat untuk
membeli pesawat jenis ini. Sampai saat ini F-16 masih menjadi senjata andalan
berbagai Negara sebagai kekuatan pemukul dalam pertahanan udaranya tak
terkecuali Indonesia. Pesawat ini banyak diminati karena telah terbukti dalam
berbagai pertempuran sehingga mendapat predikat battle proven yang menjadi
acuan Negara ± Negara dalam memilih persenjataan untuk angkatan bersenjatanya.
Melihat dinamika yang terjadi dalam hubungan kerjasama militer
Indonesia dengan Amerika Serikat terjadi perubahan kebijakan yang signifikan
yang di berlakukan Amerika Serikat terhadap Indonesia, dimana kebijakan
embargo yang di tetapkan secara drastis berubah. Kemitraan komprehensif yang
diterapkan presiden Obama terhadap Indonesia memberi andil dalam membaiknya
hubungan bilateral kedua negara. Ketika pada November 2010 kedua Negara
11
DPR Setujui Indonesia Terima Hibah 24 Pesawat F-16 dari AS
http://news.detik.com/read/2011/10/25/190933/1752481/10/dpr-setujui-indonesia-terima-hibah24-pesawat-f-16-dari-as Diakses tanggal 11 Desember 2012
12
Indonesia ± Regeneration and Upgrade of F-16C/D Block 25 Aircraft
http://www.dsca.mil/PressReleases/36-b/2011/Indonesia_11-48.pdf Diunduh tanggal 11
Desember 2012
13
AS Kembali Tawarkan Hibah 10 Pesawat Tempur F16 kepada Indonesia
http://news.detik.com/read/2012/08/23/111039/1996836/10/as-kembali-tawarkan-hibah-10pesawat-tempur-f16-kepada-indonesia Diakses tanggal 11 Desember 2012
7
menyepakati kemitraan komperhensif yang merupakan kesepakatan kerja sama
jangka panjang secara menyeluruh antara Amerika Serikat dan Indonesia.14
Kebijakan Pemerintah AS dalam pemberian hibah pesawat tempur F-16
yang diumumkan di Bali pada bulan November tahun 2011 tersebut tidak terlepas
dari makin baiknya hubungan bilateral kedua negera melalui kemitraan
komperhensif tersebut.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah yang telah di uraikan di atas maka, dapat
dirumuskan sebuah permasalahan yang akan menjadi pembahasan dalam skripsi
ini, yaitu: Mengapa Amerika Serikat memberikan hibah alutsista berupa pesawat
tempur F-16 kepada Indonesia pada tahun 2011?
C. Kerangka Teori
Kerangka Teori bertujuan untuk membantu penulis untuk menentukan
tujuan dan arah penulisan serta memilih teori dan konsep untuk menyusun
hipotesa. Untuk dapat menjawab permasalahan yang ada akan digunakan Teori
Pengambilan Kebijakan Politik Luar Negeri William D. Coplin dan konsep
Kepentingan nasional yang akan berfungsi untuk membantu menjabarkan
penjelasan tentang konsepsi kepentingan nasional .
1. Politik Luar Negeri
Untuk mencapai kepentingan nasional sebuah negara harus melakukan
interaksi dengan Negara lain melalui berbagai kebijakan yang di tuangkan dalam
14
United States-Indonesia Comprehensive Partnership
http://www.state.gov/r/pa/prs/ps/2011/07/169001.htm Diakses tanggal 11 Desember 2012
8
politik luar negerinya, menurut Jack C. Plano dan Roy Olton Politik luar negeri
merupakan strategi atau rencana tindakan yang dibuat oleh para pembuat
keputusan Negara dalam menghadapi Negara lain atau unit politik internasional
lainnya, dan dikendalikan untuk mencapai tujuan nasional yang spesifik yang
dituangkan dalam terminologi kepentingan nasional.15
Konsep mengenai Politik Luar Negeri yang di berikan pakar lainnya antara
lain, Miriam Budiarjo yang mendefinisikan Politik Luar Negeri sebagai
³.HELMDNDQSROLF\DGDODKVXDWXNXPSXODQ\DQJGLDPELOLOHKVHRUDQJSHODNXDWDu
kelompok dalam usaha memiliki tujuan, kebijaksanaan itu mempunyai kekuasaan
XQWXNPHODNVDQDNDQQ\D´16
Sedangkan Mappa Nasrun memberikan konsep Politik Luar negeri sebagai
berikut:
³.HELMDNVDQDDQ OXDU QHJHUL VXDWX QHJDUD SDGD
hakekatnya merupakan refleksi dari keadaan dan
perkembangan dalam negerinya, juga keadaan dan
perkembangan
menjadi
faktor
sistem
yang
politik
turut
internasional
menentukan
dapat
perilaku
kebijaksanaan luar negeri. Jadi, kebijaksanaan luar
negeri pada pokoknya dipengaruhi oleh faktor-faktor
LQWHUQDOGDQHNVWHUQDO´17
Melihat pendapat para pakar di atas dapat disimpulkan bahwa politik luar
negeri merupakan kebijakan yang dilakukan suatu negera terhadap Negara lain,
15
Jack C. Plano dan Roy Olton. 1999. Kamus Hubungan Internasional. Bandung: Abardin.
Miriam Budiarjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, 1995, hal 12.
17
Mappa Nasrun, Indonesian Relations With The South Pacific Countries: Problem and Prospect,
Desertasi, Unhas: 1990, hal. 98. Dalam Soft Power dalam Politik luar Negeri Indonesia, F.X.
Wawolangi, FISIP UI,2010 http://www.lontar.ui.ac.id/file?file=digital/132946-T%2027791Politik%20luar-Tinjauan%20literatur.pdf Diunduh tanggal 21 November 2012
16
9
dimana kebijakan tersebut memiliki tujuan yaitu kepentingan dari Negara tersebut
dengan melihat situasi internal (dalam negeri) dan atau eksterrnal (luar negeri).
Konsep diatas diperkuat oleh Willian D. Coplin, dimana menurut Willian
D. Coplin dalam membuat kebijakan politik luar negeri para pengambil keputusan
tidak bertindak tanpa pertimbangan. Tetapi sebaliknya, kebijakan politik luar
negeri tersebut dipandang sebagai akibat dari tiga hal yang mempengaruhi para
pengambil kebijakan dalam mengambil kebijakan politik dalam negeri, yaitu
kondisi politik dalam negeri, kemampuan ekonomi dan militer dan yang terakhir
adalah konteks internasional.18 Jika digambarkan maka hasilnya adalah sebagai
berikut :
Gambar 1.1
Proses Pengambilan Kebijakan Politik Luar Negeri
Sumber : William D. Coplin dan Marsedes MarEXQ³Pengantar
3ROLWLN,QWHUQDVLRQDO´Bandung, 2003, hal. 30
18
Willian D Coplin dan Marsedes Marbun.2003.Pengantar Politik Internasional. Bandung: Sinar
Baru.
10
Coplin menekankan bahwa yang menjadi pusat perhatian adalah orangorang yang memegang peran dalam pengambilan kebijakan politik luar negeri,
yaitu orang-orang yang memiliki tanggungjawab resmi dan pengaruh dalam
mengambil kebijakan-kebijakan yang menyangkut keterlibatan negaranya dalam
hubungan dengan aktor lain. Pengambil kebijakan luar negeri sebenarnya lebih
merupakan sebuah proses yang melibatkan banyak pertimbangan dan sangat
kompleks. Selain itu politik luar negeri kebanyakan hanya menyangkut
pernyataan ± pernyataan umum serta rencana ± rencana yang bersifat contingency
(menjaga kemungkinan).19
Setelah menjabarkan tentang politik luar negeri, penting untuk dijabarkan
pula mengenai Security Cooperation yang menjadi payung kerja sama pertahanan
Amerika Serikat dengan Negara lain dan merupakan produk kebijakan luar negeri
pemerintah Amerika Serikat.
Kebijakan pemberian hibah peralatan militer melalui skema Excess
Defense Article (EDA) atau penjualan persenjataan lain melalui skema Foreign
Military Sales (FMS) kepada Negara lain merupakan kebijakan luar negeri
Amerika Serikat. Karena EDA dan FMS pada prinsipnya termasuk dalam Security
Assistance Programs yang berada dalam payung besar Security Cooperation (SC)
yang merupakan bagian dari portofolio kerjasama global yang dijalin oleh
Amerka Serikat dengan berbagai negara di dunia, khususnya pasca era Perang
Dingin dan berada dalam kendali sekaligus pengawasan Departemen Luar Negeri
Amerika Serkat (US Department of State/DOS) sebagai bagian dari hubungan
19
William D. Coplin, Op. Cit. hal. 33
11
internasional Amerika Serikat. 20 Selanjutnya EDA dan FMS diberikan kepada
Negara lain melalui Departemen Pertahanan Amerika Serika atau US
Departement of Defense (DoD) sebagai Security Cooperation Programs yang
merupakan bagian dari Security Cooperation (SC). Security Cooperation (SC)
dalam
DOD
Policy
and
Responsibilities
Relating
to
Security
Cooperation memiliki definisi sebagai berikut:
³Activities undertaken by Department of Defense to
encourage and enable international partners to work with
the United States to achieve strategic objectives. It includes
all DOD interactions with foreign defense and security
establishments, including all DOD-administered security
assistance programs, that: build defense and security
relationships that promote specific US security interests,
including all international armaments cooperation activities
and security cooperation activities; develop allied and
friendly military capabilities for self-defense and
multinational operations; and provide US forces with
peacetime and contingency access to a host nation´21
Deifinisi diatas menjelaskan bahwa EDA dan FMS juga merupakan salah
satu bentuk kebijakan luar negeri Amerika Serikat karena diadakan untuk
menjalin kerjasama dengan Negara lain yang bertujuan untuk mendukung
tercapainya kepentingan Amerika Serikat.
Apabila berkaca pada teori dan konsep di atas dalam menganalisa kasus
pemberian hibah F-16 kepada Indonesia ini, dapat disimpulkan kebijakan hibah
tersebut diberikan karena adanya pengaruh faktor berikut ini:
20
Mayor Tek Jon Keneddy Ginting, MMgtStud, qtc. Lebih jauh tentang Foreign Military Sales
(FMS): Cukup baikkah untuk Indonesia? (Bagian 1) http://lembagakeris.net/2012/08/lebih-jauhtentang-foreign-military-sales-fms-cukup-baikkah-untuk-indonesia-bagian-1-2/ Diakses 19 Maret
2013
21
Defense Security Cooperation Agency, Security Cooperation Overview and Relationships
http://www.dsca.osd.mil/samm/ESAMM/C01/1.htm Diakses 24 April 2013
12
a. Kondisi Politik Dalam Negeri
Menurut Coplin, kondisi politik dalam negeri suatu negara merupakan
salah satu variabel penentu dalam pembuatan kebijakan politik luar negeri, karena
terdapat aktor-aktor politik dalam negeri yang mempengaruhi pengambil
keputusan dalam merumuskan kebijakan politik luar negeri. Menurut Coplin
salah satu aktor tersebut adalah birokrasi atau yang di sebut sebagai bureaucratic
influencers. Kelompok birokrasi sangat berpengaruh dalam pembuatan kebijakan
politik karena mereka mempunyai akses langsung kepada pengambil keputusan.
Para pengambil keputusan sangat bergantung kepada birokrasi dalam hal
informasi-informasi yang penting bagi pembuatan kebijakan serta dalam hal
bantuan untuk melaksanakan kebijakan tersebut. Dengan kata lain kelompok
birokrasi sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan politik luar negeri
karena kelompok ini menyalurkan informasi kepada pengambil keputusan dan
kemudian melaksanakan kebijakan yang dikeluarkan oleh pengambil keputusan
itu.
Coplin menerangkan bahwa kelompok berpengaruh seperti birokrasi pada
sebuah sistem pemerintahan di pengaruhi oleh konteks internasional yang ada,
dimana isu yang terjadi pada konteks internasional memperngaruhi usulan yang
akan di berikan kepada pembuat kebijakan luar negeri dalam hal ini pemerintah.
Beberapa isu dalam konteks internasional yang dimaksud seperti keamanan
nasional, kepentingan ekonomi, bidang isu khusus yang berkaitan dengan
kepentingan ideologis dan historis, dan masalah ± masalah prosedural ±
bagaimana mengupayakan tujuan politik luar negeri. 22 Selain birokrasi seperti
22
Ibid, hal. 95
13
departemen pertahanan dan luar negeri, Coplin juga menyebut unsur lain sebagai
aktor yang mempengaruhi kebijakan luar negeri suatu negaara yakni partisan
influence atau partisan yang mempengaruhi.
Dalam kaitannya dengan hibah yang diberikan Amerika Serikat oleh
Indonesia ialah Departemen Pertahanan AS yang merupakan sebuah unsur yang
penting dalam pembuatan kebijakan dalam sistem politik Amerika Serikat sudah
mewanti ± wanti melalui menteri pertahanan Leon Panetta bahwa AS menghadapi
ancaman dari meningkatnya pengaruh China, seperti yang dikutip oleh Daily
News & Analysis sebagai berikut:
"AS menghadapi ancaman dari meningkatnya pengaruh
China dan India. AS menyadari hal ini dan mencoba
untuk memastikan bahwa AS memiliki perlindungan yang
cukup kuat untuk menanggapi ancaman ini,"23
Kategori ancaman yang dimaksud dapat disimpulkan sebagai ancaman
perebutan pengaruh, ekonomi dan keaman wilayah. Sehingga Amerika Serikat
memfokuskan kerja sama kemitraan komperhensif dan memusatkan perhatiannya
pada Negara ± Negara di Asia seperti Australia dan Indonesia.24
b. Kondisi Ekonomi dan Militer
Tidak hanya pada berdampaknya beralihnya penggunaan tenaga manusia
ke mesin revolusi industri juga membuat perubahan pada kemampuan Negara
untuk menciptakan peralatan militer yang kuat untuk mendukung angaktan
bersenjatanya melalui alat ± alat industri yang canggih. Negara yang secara militer
23
AS Waspadai Meningkatnya Pengaruh China & India
http://international.okezone.com/read/2012/01/06/414/552940/as-waspadai-meningkatnyapengaruh-china-india diakses tanggal 11 Desember 2012
24
China & India Dianggap sebagai Ancaman Utama AS
http://international.okezone.com/read/2011/11/18/413/531082/china-india-dianggap-sebagaiancaman-utama-as Diakses tanggal 11 Desember 2012
14
mapan adalah Negara yang indusrtinya maju dan apabila kita berbicara tentang
militer tentu saja kita harus berbicara tentang perekonomian Negara karena ada
kaitannya dengan anggaran pertahanan.
Kondisi ekonomi dan militer merupakan hal yang mempengaruhi
pembuatan kebijakan luar negeri. Kondisi ekonomi dan kemampuan militer
adalah hal yang tidak dapat di pisahkan berdasarkan yang di jelaskan Coplin
bahwasanya pada umumnya, makin tinggi GNP-nya (pendaptan nasional suatu
Negara) makin tinggi pula kemampuannya untuk menciptakan kekuatan militer,
terutama untuk jangka panjang.25
Kemampuan ekonomi yang besar yang diwujudkan dengan besarnya
anggaran militer suatu negara sangat berpengaruh terhadap kekuatannya. Dan
apabila hal sebaliknya terjadi dimana sebuah Negara pemasok utama persenjataan
mengalami kesulitan ekonomi tentu akan berdampak pada melemahnya daya beli
Negara kepada industri pertahanan oleh karena itu harus ada kebijakan
memaksimalkan penjualan ke luar Negara yang perekonomiannya stabil.
Amerika Serikat merupakan salah satu negara pemasok perlengkapan
militer. negara pemasok persenjataan biasanya menjual bahkan kadang ± kadang
memberikan perlengkapan militer dan senjata kepada negara ± negara yang tidak
memiliki fondasi industri untuk memproduksi sendiri. Pemasok itu memperoleh
kontrol tertentu atas Negara pembeli.26
Kondisi ekonomi Amerika Serikat pada pemerintahan Presiden Obama
tidak dapat dilepaskan dari pemerintahan sebelumnya dan krisis global yang
terjadi, sebelum menjabat sebagai presiden Amerika Serikat Obama telah di warisi
25
26
Willian D. Coplin, Op. Cit. hal. 126
Ibid, hal. 127
15
kondisi perekonomian yang tidak baik dari masa kepemimpinan presiden Bush
yang pada tahun 2008 sempat mengatakan bahwa perekonomian Amerika Serkat
dalam bahaya apabila kongres tidak menyetujui kebijkan bailout kepada
perusahaan ± perusahaan besar Amerika yang mempengaruhi perekonomian di
Amerika Serikat.
Kebijakan Amerika Serikat yang sangat militeristis pada pemerintahan
presiden Bush juga menambah kesulitan dimana pembiayaan yang dikeluarakan
oleh Amerika Serikat untuk membiayai tentaranya berperang di Afghanistan dan
Irak. Peperangan yang melibatkan pasukan Amerika Serikat teresbut turut menjadi
penyebab anjloknya perekonomian Amerika Serikat dimana pembiayaan perang
tersebut dibiayai dari hutang.27
Ditengah perampingan angkatan bersenjata dengan memotong anggaran
pertahanan yang dilakukan oleh presiden Obama memberi dampak yang negatif
pada perusahaan kontraktor persenjataan seperti Lockheed martin yang berencana
melakukan PHK besar ± besaran.28 Hal itu menuntut pemerintah Amerika Serikat
harus mampu menjalin kerjasama yang baik Negara lain untuk memaksimalkan
pasar industri pertahanannya.
27
Riset ini juga mengungkapkan bahwa hampir seluruh biaya perang yang dikeluarkan Amerika
berasal dari utang. Hingga kini, Amerika telah membayar bunga hutang sebesar 185 miliar Dolar
untuk biaya perang, dan 1 triliun Dolar lainnya harus dibayar hingga tahun 2020. Penelitian dan
riset ini dilakukan oleh Catherine Lutz yang merupakan profesor antropologi dari Brown
University bersama bersama Timnya.
http://www.seputarforex.com/analisa/fundamental/forex.php?id=102131&title=menimbang_dolar
_pasca_stimulus_moneter_the_fed Diakses tanggal 11 Desember 2012
28
At White House Request, Lockheed Martin Drops Plan to Issue Layoff Notices
http://abcnews.go.com/blogs/politics/2012/10/at-white-house-request-lockheed-martin-drops-planto-issue-layoff-notices/ Diakses tanggal 11 Desember 2012
16
Walaupun dalam keadaan gangguan ekonomi, kapabilitas militer Amerika
Serikat masih menjadi kekuatan yang dominan didunia,29 perampingan angkatan
bersenjata yang di berlakukan presiden Obama tidak memperngaruhi kapabilitas
kekuatan Amerika secara signifikan.
c. Konteks Internasional
Konteks internasional yang dimaksud Coplin disini ialah produk tindakan
politik luar negeri seluruh Negara pada masa lampau, sekarang, dan masa
mendatang yang mungkin atau yang akan di antisipasi. 30 Karena politik luar
negeri kebanyakan hanya menyangkut pernyataan ± pernyataan umum serta
rencana ± rencana yang bersifat contingency (menjaga kemungkinan).
31
Pengkajian tentang perilaku suatu negara juga difokuskan pada konteks
internasional yang mempengaruhinya.
Sifat sistem internasional dalam hubungan antar negara dan kondisikondisi dalam sistem itu menentukan bagaimana suatu negara akan membuat
sebuah kebijakan. Kaitannya dengan kebijakan hibah yang diberikan Amerika
Serikat terhadap Indonesia pada bagian ini ialah Amerika menghawatirkan
tumbuhnya pengaruh China di Asia melalui kerjasama pertahanan.
Amerika yang telah lama menancapkan pengaruhnya di Indonesia merasa
tumbuhnya pengaruh China di Asia dan Indonesia merupakan hal yang perlu
diantisipasi. Hal itu merupakan salah satu cara untuk mempertegas kehadiran
Amerika Serikat di Asia pasifik khususnya Asia Tenggara. Hal tersebut dilakukan
melalui strategi pivot to Asia dengan menyeimbangkan kembali perhatian
29
The Ten Largest Military Powers In The World http://247wallst.com/2011/04/14/the-tenlargest-military-powers-in-the-world/3/ Diakses tanggal 11 Desember 2012
30
Willian D Coplin, Op, Cit. hal. 30
31
Ibid. hal. 33
17
Amerika ke Asia pasifik yang di terapkan pemerintahan Obama. Mengingat
Amerika Serikat telah lama menaruh fokus mereka di Timur Tengah. Selain itu
Indonesia merupakan wilayah yang bertahan dari krisis global yang terjadi dan
posisi Indonesia yang sangat strategis secara geostrategis, geoekonomi, dan
geopolitik di Asia Pasifik menjadikan Indonesia Negara yang penting bagi
Amerika Serikat untuk mewujudkan berbagai kepentingannya di kawasan ini.
Kebangkitan China di kawasan Asia Pasifik dalam hal Industri dan
kapabilitas militer membuat pihak Amerika Serikat menilainya sebagai sebuah
ancaman yang harus diantisipasi pemerintah Amerika Serikat. Kekhawatiran
terhadap tumbuhnya pengaruh China melalui industri dan militer juga di
sampaikan oleh pejabat militer senior Amerika Serikat seperti Wakil Laksamana
Jack Dorset yang mengatakan bahwa
³'2' FHUWDLQO\ ZRXOG QRW KDYH H[SHFWHG >WKH
Chinese] to be as far along as they are today in
WHFKQRORJ\´
Dan dia mengatakan bahwa Pentagon harus memperbaiki intelijennya
tentang militer China. 32 Selain Wakil Laksamana Jack Dorset, Komandan
Komando Pasifik Angkatan Laut Amerika Serikat Laksamana Robert F. Willard
mengatakan
³,Q WKH SDVW GHFDGH RU VR &KLQD KDV H[FHHGHG
most of our intelligence estimates of their military
FDSDELOLW\ DQG FDSDFLW\ HYHU\ \HDU 7KH\¶YH
grown at an unprecedented rate in those
FDSDELOLWLHV $QG WKH\¶YH GHYHORSHG VRPH
asymmetric capabilities that are concerning to the
region, some anti-DFFHVVFDSDELOLWLHVDQGVRRQ´33
32
Thomas G. Mahnken, With Dan Blumenthal, Thomas Donnelly, Michael Mazza, Gary J.
Schmitt, And Andrew Shearer, Asia In The Balance Transforming Us Military Strategy In Asia,
American Enterprise Institute 2012 http://www.aei.org/files/2012/05/31/-asia-in-the-balancetransforming-us-military-strategy-in-asia_134736206767.pdf Diunduh 1 Januari 2013
33
Ibid
18
Kerjasama China dengan Indonesia sebenarnya sudah terbangun dan
sekaligus menjadi puncaknya pada tahun 2005 dimana kedua Negara menyepakati
kemitraan strategis yang salah satu poitnya adalah adaya kerjasama pertahanan
antar kedua negara. Pada waktu yang sama Amerika Serikat dibawah presiden
Bush melakukan normalisasi hubungan kerjasama militer dengan Indonesia yang
telah di embargo oleh pemerintahan sebelumnya.34
Hal itu tentunya dapat mengganggu dominasi Alutsista buatan Amerika
Serikat yang masih menjadi kekuatan penting bagi Tentara Nasional Indonesia.
Kerja sama China dan Indonesia diwujudkan dalam pengembangan Rudal C705.35 Wujud kerja sama dibidang rudal tersebut ialah adanya produksi bersama
dan alih teknologi rudal C-705 setelah Indonesia membeli rudal tersebut agar
Indonesia dapat secara mandiri memenuhi kebutuhan alutsistanya tanpa
tergantung dengan Negara lain.36
Tidak sampai disitu, pesawat tempur buatan China pernah ditawarkan
kepada Indonesia sehingga hal ini dinilai dapat mengganggu pasar alutsista
Amerika Serikat yang sudah terbagi dengan Rusia. Indonesia sebagai Negara
bebas aktif yang pasar Alutsistanya terbuka untuk Negara mana saja beberapa kali
membeli persenjataan yang bersifat lethal weapons dari China dan Rusia, serta
mendapat tawaran dari Negara lain di luar Amerika Serikat dalam pengadaan
pesawat tempur, seperti Inggris yang dikabarkan menawarkan pesawat
34
U.S., China Court Indonesia with Arms and Military Ties
http://www.worldpoliticsreview.com/articles/6282/u-s-china-court-indonesia-with-arms-andmilitary-ties Diakses 6 Januari 2013
35
ToT Missile C-705 vs Konflik Laut Cina Selatan : Indonesian Perfective
http://analisismiliter.com/artikel/part/37/ToT_Missile_C705_vs_Konflik_Laut_Cina_Selatan_Indonesian_Perfective Diakses tanggal 11 Desember 2012
36
RI-China mantapkan mekanisme alih teknologi rudal
http://www.antaranews.com/berita/305465/ri-china-mantapkan-mekanisme-alih-teknologi-rudal
Diakses tanggal 11 Desember 2012
19
EurofighterThypoon melalui departemen pertahanannya ke Indonesia pada tahun
2011.37
Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa tujuan dari politik luar negeri
adalah untuk mencapai tujuan nasional yang dituangkan dala terminologi
kepentingan nasional. Konsep ini dipergunakan untuk membantu penulis dalam
menjelaskan kepentingan yang ingin di gapai oleh Amerika Serikat melalui
kebijakan luar negerinya dalam kasus hibah alutsista berupa pesawat tempur F-16
ini.
Lebih jelasnya merupakan apa yang ingin dituju suatu Negara dalam
hubungan internasional, Menurut Morgenthau tujuan negara dalam politik
LQWHUQDVLRQDO DGDODK PHQFDSDL ³NHSHQWLQJDQ QDVLRQDO´ yang berbeda dengan
NHSHQWLQJDQ\DQJ³VXE-QDVLRQDO´GDQ³VXSUD-QDVLRQDO´38
Morgenthau beranggapan bahwa negarawan ± negarawan yang paling
EHUKDVLO GDODP VHMDUDK DGDODK PHUHND \DQJ EHUXVDKD PHPHOLKDUD ³NHSHQWLQJDQ
QDVLRQDO´ \DQJ GLGHILQLVLNDQ VHEDJDL ³SHnggunaan kekuasaan secara bijaksana
untuk menjaga berbagai kepentingan yang dianggap paling vital bagi kelestarian
negara-EDQJVD´39
Lebih jauh menurut Morgenthau kepentingan nasional dari setiap negara
adalah mengejar kekuasaan. Kekuasaan yang dimaksud adalah apa saja yang
dapat membentuk dan mempertahankan pengendalian suatu negara atas negara
37
Inggris Tawarkan Typhoon ke Indonesia
http://nasional.kompas.com/read/2011/08/18/2316054/Inggris.Tawarkan.Typhoon.ke.Indonesia
Diakses tanggal 11 Desember 2012
38
Hans J. Morgenthau, Politic Among Nations, GDODP0RFKWDU0DV¶RHGIlmu Hubungan
Internasional: Disiplin dan Metodologi, Jakarta: LP3ES, 1990, hal. 18
39
Ibid.
20
lain. Hubungan kekuasaan atau pengendalian ini dapat diciptakan melalui teknikteknik paksaan ataupun kerjasama.40
Kepentingan nasional suatu negara adalah merupakan dasar untuk
mengukur keberhasilan politik luar negerinya dan tujuan politik luar negeri untuk
mewujudkan cita ± cita nasional serta memenuhi kebutuhan utama suatu negara.
Mengacu pada roy olton dan jack plano menjelaskan bahwa tujuan politik luar
negeri setiap negara pasti berbeda satu sama lain, tetapi pada umumnya berkisar
pada beberapa hal, seperti ;41
1. Pertahanan diri (self-preservation), adalah kepentingan nasional yang
tujuannya untuk mempertahankan diri agar negara yang memiliki power
besar tidak melakukan atau merebut hegemoni kekuasaan yang nantinya
dapat menimbulkan perpecahan, untuk mempertahankan diri tersebut
negara yang bersangkutan melakukan kerjasama bilateral ataupun dalam
wadah organisasi internasional. Konsep pertahanan diri (self-preservation)
ini mengalami perkembangan, sebab pertahanan diri bukan hanya
didasarkan pada landasan pertahanan terhadap geografis negara tetapi
berkiatan dengan kekuasaan hegemoni suatu negara kepada negara lain,
sehingga
menggunakan
kekuatan-kekuatan
dalam
negeri
untuk
mempertahankan hegemoni kekuasaannya tersebut.
2. Kemerdekaan (independence), adalah kepentingan nasional yang
tujuannya untuk mendapatkan kekuatan dengan melakukan kerjasama
40
41
Ibid, hal. 140
Jack C. Plano dan Roy Olton. 1999. Kamus Hubungan Internasional. Bandung: Abardin.
21
dengan negara lain dengan tujuan agar negara tersebut tidak dijajah atau
tunduk kepada negara lainnnya.
3.
Integritas territorial (territorial integrity), adalah kepentingan nasional
yang tujuannya mendapatkan kebutuhan terhadap suatu wilayah yang
dinilai strategis dan menguntungkan.
4. Keamanan militer (military security), adalah kepentingan nasional yang
tujuannya untuk menjaga negaranya dari kekuatan militer negara lain atau
sebagai antisipasi dari gangguan militer negara lainnya; dan
5. Kemakmuran ekonomi (economic wellbeing), adalah kepentingan
nasional yang tujuannya untuk memperoleh cadangan devisa negara lain,
misalnya minyak dan gas. Kepentingan nasional tersebut bertujuan untuk
kesejahteraan ekonomi dalam negeri.
Setelah melihat paparan pada pembuatan kebijakan luar negeri William D.
Coplin dan kebijakan luar negeri yang di terapkan Amerika Serikat dapat
disimpulkan dari kelima konsepsi tentang kepentingan nasional di atas ada dua
kepentingan nasional Amerika Serikat yang ingin dipertahankan dalam hibah F-16
kepada Indonesia ini, yaitu:
a. Pertahanan diri (self-preservation)
Mengaitkan hibah pesawat tempur F-16 oleh Amerika kepada Indonesia
dengan konsepsi kepentingan nasional yang telah di jabarkan oleh Roy Olton dan
Jack
Plano
diatas
maka
kepentingan
nasional
Amerika
ialah
ingin
mempertahankan pengaruh yang telah di bangunnya. Amerika telah puluhan tahun
menancapkan
pengaruhnya
kepada
Indonesia
dengan
menjadi
pemasok
22
persenjataan utama yang canggih dan menjadi pilihan utama negara ± Negara
didunia termasuk Indonesia dalam pertahanan negaranya agar tidak di rebut
Negara lain seperti China.
Tindakan hibah yang dilakukan dapat diartikan sebagai sebuah upaya
untuk mempertahanakan dominasi Amerika Serikat dalam politik internasional
diwilayah Asia Tenggara dimana Amerika Serikat memiliki banyak sekali
kepentingan diwilayah ini mulai dari, ekonomi, perang terhadap terorisme sampai
keterlibatannya di konflik laut China Selatan. Kedekatan China dengan Indonesia
dikhwawatirkan dapat mengurangi mitra strategisnya dikawasan ini serta ASEAN.
Hibah pesawat tempur yang merupakan implementasi dari kemitraan
komprehensif Amerika Serikat dan Indonesia ini merupakan Sphere of Influence
yang dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap Indonesia. Indonesia telah lama
didominasi Amerika Serikat dalam bidang pertahanan dan keamanan sehingga
Amerika Serikat harXV PHQHJDVNDQ NHPEDOL EDKZD ,QGRQHVLD DGDODK ³PLWUDQ\D´
sejak dulu agar tidak dapat ditumbuhi oleh pengaruh China yang memiliki
persaingan dengan Amerika Serikat.
b. Kemakmuran ekonomi (economic wellbeing)
Paska krisis global yang melanda dunia tak terkecuali Amerika yang
menyiasatinya dengan memotong anggaran pertahanan yang memberikan dampak
pada perusahaan ± perusahaan persenjataannya seperti Loockheed Martin yang
mendapatkan pendapatan terbanyak dari belanja keamanan pemerintah Amerika
Serikat.
23
Oleh karena itu mereka harus tetap melakukan kegiatan produksi agar
tetap menjadi perusahaan yang sehat dengan mendapatkan proyek. Skema hibah
yang di tawarkan pemerintah Amerika Serikat ini secara tidak langsung dapat
memberikan pemasukan kepada perusahaan Alutsista karena dengan adanya biaya
upgrade melalui skema FMS dapat menyerap keuntungan bagi perusahaan ±
perusahaan yang terlibat dalam proyek tersebut.
Kerja sama yang dalam bidang pertahanan ini dapat dilihat sebagai usaha
Amerika Serikat untuk mempertahankan dominasinya dalam pasar persenjataan di
kawasan Asia Pasifik, khususnya Indonesia. Dengan memberikan hibah yang
dalam pelaksanaannya memiliki konsekuensi terhadap Negara penerima dan dapat
menciptakan ketergantungan bagi Negara penerimanya.
Pesawat tempur F-16 dinilai tepat untuk dihibahkan untuk Indonesia
karena sebelumnya pada tahun 2008 Indonesia telah berminat untuk membeli
pesawat ini namun batal karena Indonesia tidak mampu secara finansial untuk
membelinya. 42 Pesawat ini sendiri masih menjadi senjata andalan Negara ±
Negara dengan persenjataan canggih seperti Amerika Serikat dan NATO serta
pernah terlibat dalam berbagai misi pertempuran sehingga pesawat ini mendapat
predikat battle proven yang menjadi salah satu kriteria Negara ± Negara di dunia
dalam memilih persenjataan untuk angakatan bersenjatanya.
Adanya perampingan anggaran pertahanan membuat pemerintah Amerika
Serikat harus mampu untuk melakukan kerjasama dengan Negara lain dengan
tujuan untuk memberikan pasar alternatif untuk perusahaan persenjataannya
ditengah turunnya daya beli dari Amerika Serikat sendiri.
42
RI Batal Beli F-16 AS
http://www.radarbanten.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=23331 Diakses
tanggal 11 Desember 2012
24
D. Hipotesa
Setelah melihat uraian latar belakang dan rumusan masalah serta kerangka
konseptual di atas maka dapat di ambil hipotesa:
Amerika Serikat memberikan hibah alutsista berupa pesawat tempur F-16
kepada Indonesia pada tahun 2011karena:
1. Mengantisipasi tumbuhnya pengaruh China melalui Kerjasama Pertahanan
dengan Indonesia.
2. Membantu industri pertahanan yang terkena dampak pemotongan
anggaran pertahanan.
E. Jangkauan Penelitian
Untuk mempermudah penulisan, penulis akan membatasi ruang lingkup
kajian agar penulis tidak menyimpang dari tema atau tujuan yang diinginkan.
Fokus utama dari penulisan ini adalah membahas Apa Kepentingan Amerika
Serikat dalam hibah pesawat temput F-16 terhadap Indonesia tahun 2011. Namun
demikian tidak menutup kemungkinan apabila penulis akan menjelaskan diluar
batasan tersebut. Menengok kembali peristiwa ± peristiwa sebelumnya untuk
memperkuat dan dapat dijadikan data pendukung penulisan, dengan catatan
diperhatikan relevansinya.
F. Metode Penelitian
Penulisan ini akan menggunakan tekhnik pengumpulan data melalui study
kepustakaan (library research), berdasarkan data-data sekunder baik dari buku,
majalah, jurnal, artikel, surat kabar, internet, maupum bentuk-bentuk tulisan
lainnya yang relevan dengan objek penulisan.
25
G. Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan pembahasan, tulisan ini akan dibagi menjadi 5 bab.
Adapun sistematika penulisan dari skripsi yang penulis angkat adalah:
BAB I : Pendahuluan, yang berisi alasan pemilihan judul, tujuan penelitian,
latar belakang masalah, pokok permasalahan, landasan teori, hipotesa,
jangkauan penelitian, metode penelitian, serta sistematika penulisan.
BAB II : Hubungan Bilateral Antara Amerika Serikat dan Indonesia
Sebelum pemerintahan Presiden Barack Obama.
Dalam
bab
ini
penulis
akan
menjelaskan
mengenai
dinamika
perkembangan hubungan bilateral Amerika Serikat dan Indonesia dari
Pemerintahan Jimmy Carter sampai George W. Bush mencakup kebijakan
kebijakan luar negeri Amerika Serikat terhadap Indonesia.
BAB III : Hubungan Bilateral Amerika Serikat dan Indonesia di era
kepemimpinan Barack Obama.
Dalam bab ini penulis akan menjelaskan mengenai kerja sama pertahanan
Amerika Serika dan Indonesia pada pemerintahan Presiden Obama dimana
pada masa inilah terjadinya kebijakan hibah pesawat F-16 yang diberikan
Amerika Serikat kepada Indonesia.
BAB IV : Kepentingan Amerika Serikat dalam hibah pesawat tempur F16 kepada Indonesia tahun 2012.
26
Bab ini akan menjelaskan tentang kepentingan Amerika Serikat dalam
pemberian hibah pesawat tempur F-16 kepada Indonesia.
BAB V : Kesimpulan.
27
Download