hubungan modal sosial dan partisipasi kepengurusan dengan taraf

advertisement
HUBUNGAN MODAL SOSIAL DAN PARTISIPASI
KEPENGURUSAN DENGAN TARAF HIDUP ANGGOTA
PROGRAM PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS
PERDESAAN
(Kasus Petani Penerima Program Pengembangan Usaha Agribisnis
Perdesaan (PUAP) di Desa Ngetuk, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten
Jepara)
TRI NUGROHO WICAKSONO
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT
FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2016
LEMBAR PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “Hubungan Modal
Sosial dan Partisipasi Kepengurusan dengan Taraf Hidup Anggota Program
Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (Kasus Petani Penerima Program
Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) di Desa Ngetuk, Kecamatan
Nalumsari, Kabupaten Jepara)” benar-benar hasil karya saya sendiri berdasarkan
arahan dari dosen pembimbing skripsi belum pernah diajukan sebagai karya ilmiah
pada perguruan tinggi atau lembaga manapun kecuali kutipan yang ada dalam
tulisan ini. Sumber informasi berasal atau dikutip dari karya yang telah diterbitkan
maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan
dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dan karya tulis ini kepada Institut
Pertanian Bogor. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya.
Bogor, Juli 2016
Tri Nugroho Wicaksono
I34120064
iv
v
ABSTRAK
TRI NUGROHO WICAKSONO Hubungan Modal Sosial dan Partisipasi
Kepengurusan dengan Taraf Hidup Anggota Program Pengembangan Usaha
Agribisnis Perdesaan (Kasus Petani Penerima Program Pengembangan Usaha
Agribisnis Perdesaan (PUAP) di Desa Ngetuk, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten
Jepara). Di bawah bimbingan IVANOVICH AGUSTA
Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) dari Kementerian
Pertanian memiliki tujuan memberi solusi keterbatasan modal khususnya petani
kecil. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan modal sosial dengan
partisipasi petani pada Program PUAP terhadap tingkat taraf hidup masyarakat.
Penelitian dan proses pengambilan data dilakukan pada Program PUAP Desa
Ngetuk Kabupaten Jepara, Jawa Tengah dengan pendekatan kuantitatif yang
didukung oleh pendekatan kualitatif. Hasil penelitian yang diperoleh melalui uji
statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan kuat antara tingkat modal sosial
dan tingkat partisipasi. Hal ini dikarenakan modal sosial antara pengurus, penerima,
dan stakeholder mendorong kemauan dan kesadaran untuk berpartisipasi.
Selanjutnya tidak terdapat hubungan antara tingkat partisipasi dan tingkat
perubahan taraf hidup dikarenakan semua anggota tani dapat melakukan pinjaman
sehingga semua anggota tani berpeluang meningkatkan taraf hidup sesuai
usahanya.
Kata Kunci: Modal sosial, tingkat partisipasi, PUAP, taraf hidup
ABSTRACT
TRI NUGROHO WICAKSONO The Relations Social Capital and Participation of
Management with Living Standard of Rural Agribusiness Development Programs
Member (Case Farmers Beneficiaries of Rural Agribusiness Development Program
(PUAP) in Ngetuk Village, Nalumsari Subdistrict, Jepara Regency). Supervised by
IVANOVICH AGUSTA
Rural Agribusiness Development Program (PUAP) of the Ministry of Agriculture
has the goal to provide solutions lack of capital, especially small farmers. This
study purpose to analyze the relationship between social capital with the
participation of farmers in PUAP program and the standart of living level.
Research and data collection process performed on PUAP Program at Ngetuk
Village, Jepara regency, Center of Java, with a quantitative approach and
supported by qualitative approach. The results obtained through statistical analysis
showed that there is a strong correlation between the levels of social capital and
levels of participation. This is because social capital among administrators,
recipients, and stakeholders can encourage the willingness and awareness to
participate. Then, there is no relationship between the level of participation and
change standards of living level because all the members of farmers can apply for
loans, so all members of the farmer have opportunity to increase the standards of
living appropriate their business work.
Keywords: Social capital, the level of participation, PUAP, the standard of living
vi
vii
HUBUNGAN MODAL SOSIAL DAN PARTISIPASI
KEPENGURUSAN DENGAN TARAF HIDUP ANGGOTA
PROGRAM PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS
PERDESAAN
(Kasus Petani Penerima Program Pengembangan Usaha Agribisnis
Perdesaan (PUAP) di Desa Ngetuk, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten
Jepara)
TRI NUGROHO WICAKSONO
Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat
pada
Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT
FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2016
viii
ix
x
xi
PRAKATA
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, Tuhan Semesta Alam,
yang masih memberikan nikmat jasmani dan rohani serta waktu yang bermanfaat
bagi penulis sehingga Skripsi dengan judul “Hubungan Modal Sosial dan
Partisipasi Kepengurusan dengan Taraf Hidup Anggota Program Pengembangan
Usaha Agribisnis Perdesaan (Kasus Petani Penerima Program Pengembangan
Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) di Desa Ngetuk, Kecamatan Nalumsari,
Kabupaten Jepara)“ dapat diselesaikan tanpa hambatan dan masalah yang berarti.
Pujian dan sholawat senantiasa penulis sampaikan kepada Rasulullah SAW,
keluarga beliau, dan para sahabat hingga tabi’in dan pengikutnya hingga hari akhir.
Skripsi ini ditujukan untuk memenuhi syarat pengambilan data lapangan dan skripsi
pada Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas
Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.
Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada Dr Ivanovich Agusta SP,
MSi sebagai pembimbing yang telah memberikan saran dan masukan selama proses
penulisan hingga penyelesaian laporan skripsi ini, serta Pengurus Gapoktan Desa
Ngetuk yang bersedia untuk berpartisipasi dalam penelitian. Penulis juga
menyampaikan hormat dan terimakasih kepada Bapak Heru Wicaksono dan Ibu
Marni Al-Mesiyem orang tua tercinta, kakak dan adik tersayang serta semua
keluarga yang selalu berdoa dan senantiasa melimpahkan kasih sayangnya untuk
penulis. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada Nabilah Ananda dan
Muhammad Ghifari sebagai teman bimbingan, Keluarga PASMAD Madiun,
keluarga The Kons, UKM MAX!!, Teater Up To Date, Divisi Broadcasting, serta
Kabinet Gercep HIMASIERA 2015 yang selalu memberikan dukungan dan
semangat layaknya keluarga. Dan juga ucapan terimakasih kepada teman-teman
seperjuangan SKPM 49 atas semangat dan kebersamaan selama ini serta semua
pihak yang telah memberikan dukungan sehingga terselesaikannya skripsi ini.
Penulis berharap skripsi ini mampu memberikan manfaat dan sumbangsih terhadap
khazanah ilmu pengetahuan.
Bogor, Juli 2016
Tri Nugroho Wicaksono
xii
xiii
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
xv
DAFTAR GAMBAR
xvii
DAFTAR LAMPIRAN
xvii
PENDAHULUAN
1
Latar Belakang
1
Perumusan Masalah
2
Tujuan Penelitian
3
Kegunaan Penelitian
3
TINJAUAN TEORITIS
5
Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP)
5
Modal Sosial
7
Partisipasi
9
Taraf Hidup
12
Kerangka Pemikiran
13
Hipotesis Penelitian
15
PENDEKATAN LAPANG
17
Metode Penelitian
17
Lokasi dan Waktu Penelitian
17
Penentuan Responden dan Informan
18
Jenis Data dan Teknik Pengumpulan Data
19
Teknik Pengolahan dan Analisis Data
20
Definisi Operasional
20
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
25
Kondisi Geografis dan Keadaan Lingkungan
25
Kondisi Demografi dan Sosial Budaya
26
Kondisi Ekonomi
27
GAMBARAN UMUM RESPONDEN
29
Jenis Kelamin
29
Pendidikan
29
Pekerjaan
30
PROGRAM PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS PERDESAAN
(PUAP) DI DESA NGETUK
31
Gambaran Umum Kepengurusan Program PUAP
31
Kondisi Penerima Program PUAP
32
Status Pinjaman terakhir
35
Penggunaan Dana Terakhir
36
Keterkaitan Kondisi Penerima Program PUAP dengan Usaha Tani
37
ANALISIS MODAL SOSIAL PROGRAM PUAP
41
Modal Sosial Program PUAP
41
HUBUNGAN PERAN MODAL SOSIAL DENGAN TINGKAT
PARTISIPASI PETANI
53
Identifikasi Tingkat Partisipasi Penerima Program PUAP
53
Hubungan Peran Modal Sosial dan Tingkat Partisipasi Pada Program PUAP 62
HUBUNGAN TINGKAT PARTISIPASI TERHADAP PERUBAHAN
TARAF HIDUP PENERIMA PROGRAM PUAP
67
Identifikasi Perubahan Taraf Hidup Penerima Program PUAP
67
xiv
Hubungan Tingkat Partisipasi dengan Tingkat Perubahan Taraf Hidup
Penerima Program PUAP
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Saran
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP
77
83
83
84
85
90
112
xv
DAFTAR TABEL
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Jadwal penelitian tahun 2016
18
Teknik pengumpulan data dan jenis data
19
Definisi operasional tingkat modal sosial
21
Definisi operasional tingkat pasrtisipasi masyarakat
22
Definisi operasional tingkat taraf hidup masyarakat
23
Tataguna lahan Desa Ngetuk, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara
Tahun 2015
25
7. Komposisi usia penduduk Desa Ngetuk, Kecamatan Nalumsari,
Kabupaten Jepara Tahun 2015
26
8. Jenis pekerjaan penduduk Komposisi usia penduduk Desa Ngetuk,
Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara Tahun 2015
28
9. Jumlah dan persentase responden berdasarkan jenis kelamin 2016
29
10. Jumlah dan persentase responden berdasarkan pendididkan terakhir
2016
30
11. Jumlah dan persentase responden berdasarkan pekerjaan utama 2016 30
12. Daftar Kelompok Tani Desa Ngetuk, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten
Jepara Tahun 2015
31
13. Jumlah dan persentase responden berdasarkan status keanggotaan
Program PUAP 2016
33
14. Jumlah dan persentase responden berdasarkan lama bergabung Program
PUAP 2016
33
15. Jumlah dan persentase responden berdasarkan frekuensi pinjaman
Program PUAP 2016
34
16. Jumlah dan persentase responden berdasarkan peminjam per tahun
Program PUAP 2016
34
17. Jumlah dan persentase responden berdasarkan jumlah peminjam
terakhir Program PUAP 2016
35
18. Jumlah dan persentase responden berdasarkan status pinjaman PUAP
2016
35
19. Jumlah dan persentase responden berdasarkan penggunaan dana
Program PUAP 2016
36
20. Tabulasi silang antara status keanggotaan dan status pinjaman terakhir
Program PUAP 2016
37
21. Tabulasi silang antara status keanggotaan dan tingkat mengelola usaha
Program PUAP 2016
38
22. Tabulasi silang antara status pinjaman terakhir dan tingkat mengelola
usaha Program PUAP 2016
38
23. Tabulasi silang antara status pinjaman terakhir dan tingkat pendapatan
Program PUAP 2016
39
24. Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat kepercayaan
Program PUAP 2016
41
25. Jumlah dan persentase responden berdasarkan 2016 tingkat kepercayaan
terhadap pengurus gapoktan, anggota, dan penyuluh pendamping 2016 43
26. Norma aturan dan penerapan simpan pinjam PUAP 2016
44
27. Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat norma 2016
45
xvi
28. Jumlah dan persentase responden berdasarkan kepatuhan Program
PUAP 2016
46
29. Rata-rata penilaian responden terhadap norma aturan dan kejeraan
sangsi Program PUAP 2016
46
30. Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat jaringan Program
PUAP 2016
47
31. Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat modal sosial 2016 50
32. Jumlah dan persentase responden berdasarkan tahap perencanaan
Program PUAP 2016
53
33. Jumlah dan persentase responden berdasarkan undangan rapat
perencanaan Program PUAP 2016
54
34. Jumlah dan persentase responden berdasarkan pengambilan keputusan
perencanaan Program PUAP 2016
55
35. Jumlah dan persentase responden berdasarkan kesesuaian perencanaan
dan implementasi Program PUAP 2016
56
36. Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat partisipasi tahap
implementasi Program PUAP 2016
56
37. Jumlah dan persentase responden berdasarkan implementasi
pengelolaan usaha pribadi 2016
57
38. Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat pemanfaatan
Program PUAP 2016
57
39. Jumlah dan persentase responden berdasarkan perubahan skala usaha
Program PUAP 2016
58
40. Jumlah dan persentase responden berdasarkan perubahan keterampilan
Program PUAP 2016
59
41. Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat evaluasi Program
PUAP 2016
59
42. Jumlah dan persentase responden berdasarkan keberlanjutan Program
PUAP 2016
60
43. Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat partisipasi
Program PUAP 2016
61
44. Koefisien korelasi indikator tingkat modal sosial terhadap tingkat
partisipasi
63
45. Koefisien korelasi tingkat modal sosial terhadap indikator tingkat
partisipasi
64
46. Jumlah dan persentase responden berdasarkan fasilitas rumah tangga
2016
67
47. Skor rata-rata responden berdasarkan kondisi fisik tempat tinggal 2016 68
48. Jumlah dan persentase responden berdasarkan kondisi fisik tempat
tinggal 2016
68
49. Jumlah dan persentase responden berdasarkan barang-barang rumah
tangga 2016
69
50. Rata-rata responden berdasarkan kepemilikan barang-barang rumah
tangga 2016
70
51. Skor rata-rata responden berdasarkan pendapatan per bulan 2016
71
52. Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat pendapatan
sebulan 2016
71
53. Skor rata-rata responden berdasarkan tabungan per bulan 2016
72
xvii
54. Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat tabungan sebulan
2016
55. Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat pengeluaran
sebulan 2016
56. Skor rata-rata responden berdasarkan pengeluaran per bulan 2016
57. Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat pengeluaran
angan sebulan 2016
58. Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat pengeluaran non
pangan sebulan 2016
59. Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat taraf hidup 2016
60. Koefisien korelasi indikator tingkat partisipasi terhadap indikator
tingkat perubahan taraf hidup
61. Koefisien korelasi tingkat partisipasi terhadap indikator tingkat
perubahan taraf hidup
73
74
75
75
75
76
78
80
DAFTAR GAMBAR
1. Kerangka pemikiran
2. Tingkat kedekatan responden dengan jaringan Program PUAP
pengurus gapoktan, penyuluh pendamping, dan anggota lain
3. Tingkat kedekatan responden dengan jaringan usaha tengkulak/pasar
dan pedagang bahan baku
15
48
49
DAFTAR LAMPIRAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Peta Wilayah
Kerangka Sampling
Kuesioner Penelitian
Panduan Pertanyaan
Hasil Uji Korelasi Rank Spearman
Tulisan Tematik
Riwayat Hidup
90
92
94
101
103
107
112
xviii
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sektor pertanian memiliki peranan yang besar dalam penyerapan tenaga
kerja sekaligus sumber pendapatan penting bagi masyarakat Indonesia. Bidang
tersebut mampu menjadi salah satu sektor penyumbang terbesar pendapatan
Negara. Selain itu sektor pertanian menjadi salah satu sektor yang sedang
dikembangkan oleh pemerintah karena sebagian besar masyarakat Indonesia
bekerja di sektor pertanian. Data Badan Pusat Statistik tahun 2016 menyebutkan
jumlah angkatan kerja nasional yang bekerja di bidang pertanian sebesar 32.9
persen lebih besar jika dibanding dengan penyerapan tenaga kerja pada bidang lain.
Sementara jika ditambah dengan jumlah perdagangan, rumah makan dan jasa
akomodasi mampu menyerap 55.2 persen total penyerapan lapangan kerja di
Indonesia (BPS 2016a). Sektor yang menjadi arus utama tenaga kerja nasional ini
tidak terlepas dari berbagai masalah. Masalah tersebut terutama terkait dengan
sektor pertanian primer yang pada umumnya berpusat di perdesaan. Berdasarkan
data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2016 jumlah penduduk miskin tercatat 28.5
juta jiwa. Sementara sekitar 63.4 % dari jumlah penduduk miskin berada di
perdesaan dengan mata pencaharian utama di sektor pertanian dan 80 persen berada
pada skala usaha mikro yang memiliki luas lahan lebih kecil dari 0.3 hektar
(Kementan 2008b). Hal ini menunjukkan bahwa sektor pertanian memiliki peran
pada tingginya tingkat kemiskinan di Indonesia karena masih banyak petani yang
memiliki skala usaha rendah.
Skala usaha yang rendah pada masyarakat desa rata-rata terjadi karena
berbagai persoalan seperti pengetahuan, produktivitas, dan modal. Kementan
(2008b) menjelaskan bahwa keterbatasan modal menjadi salah satu masalah
mendasar dalam usaha masyarakat dibanding pasar, teknologi, dan organisasi tani.
Rata-rata dengan tingkat kemiskinan yang tinggi di perdesaan, masyarakat cukup
sulit untuk memperoleh tambahan modal dikarenakan lembaga simpan pinjam dan
bank yang masih sulit dijangkau. Serupa dengan pendapat Zanzes et al. (2015) yang
mengatakan bahwa umumnya masalah kemiskinan di Indonesia berhubungan erat
dengan permasalahan pertanian meliputi sulit mengadopsi teknologi sederhana
untuk meningkatkan produktivitas hasil pertaniannya, keterbatasan pada akses
informasi pertanian, kendala sumberdaya manusia, dan keterbatasan modal.
Keterbatasan modal menjadi masalah paling dasar yang harus segera diselesaikan
bagi sebagian besar petani Indonesia agar dapat mengembangkan usahanya.
Sesuai pada tujuan mengatasi masalah-masalah tersebut dan meningkatkan
produktivitas pertanian, maka pemerintah mencanangkan Program Pembangunan
Pertanian. Realisasi Program Jangka Menengah Kementerian Pertanian (20052009) yang fokus pada pembangunan pertanian perdesaan salah satunya ditempuh
melalui pendekatan mengembangkan usaha agrbisnis dan memperkuat
kelembagaan pertanian di perdesaan. Berpacu dengan realisiasi rancangan tersebut
pemerintah telah mencanangkan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat
Mandiri (Kementan 2008a). Salah satunya adalah Program Pengembangan Usaha
Agribisnis Perdesaan (PUAP) dibawah koordinasi Program Nasional
Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM-Mandiri) dan berada dalam kelompok
program pemberdayaan masyarakat. Melalui tujuan PUAP, yaitu mengurangi
2
tingkat kemiskinan dan pengangguran. PUAP difokuskan untuk mempercepat
pengembangan usaha ekonomi produktif yang diusahakan para petani di perdesaan.
Guna mencapai tujuan tersebut, maka dirumuskan kembali mekanisme upaya
penanggulangan kemiskinan yang melibatkan unsur partisipasi masyarakat, mulai
tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga pemantauan dan evaluasi (Kementan
2010).
Unit pelaksana dari Program PUAP ini adalah Gapoktan di setiap desa.
Gapoktan merupakan kelembagaan tani yang akan mengelola dan menyalurkan
penyaluran bantuan modal usaha bagi anggota dengan didampingi oleh Tenaga
Pendamping PUAP (Penyuluh dan Penyelia Mitra Tani). Seperti pada tujuan PNPM
Mandiri program ini juga mensyaratkan partisipasi aktif, kesadaran kritis, dan
kemandirian masyarakat. Partisipasi masyarakat dalam lembaga gapoktan
pelaksana program menjadi sangat penting dalam mencapai keberhasilan program
tersebut. Melalui partisipasi masyarakat miskin mampu menumbuhkan kesadaran
kritis untuk meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri. Penumbuhan partisipasi
dan kesadaran kritis masyarakat tersebut akan dapat tercapai melalui penguatan
modal sosial dalam masyarakat. Seperti yang dikutip dari Wibawa (2013) bahwa
modal sosial merupakan hubungan yang aktif di antara manusia, rasa percaya,
saling pengertian dan kesamaan nilai dan perilaku mampu memfasilitasi pencarian
solusi dari permasalahan yang dihadapi serta memungkinkan adanya kerja sama.
Hal tersebut menunjukan bahwa penguatan modal sosial mampu memfasilitasi
pelaksanaan Program PUAP secara partisipastif untuk mencapai tujuan program
tersebut yaitu mengatasi permasalahan modal dan mengembangkan usaha tani
masyarakat. Pengembangan usaha tani tersebut ketika berjalan secara berkelanjutan
akan mampu memberi peningkatan taraf hidup masyarakat.
Hasil Evaluasi pelaksanaan PUAP selama 3 tahun menunjukan bahwa dana
PUAP tahun 2008-2009 yang diterima Gapoktan sebesar Rp 100 juta telah
bertumbuh dan meningkat sebesar 5-30 % (Kementan 2010). Jika dilihat pada
beberapa kasus di berbagai daerah, program PUAP sebagian besar mampu
membawa pengaruh positif terhadap usaha agribisnis yaitu peningkatan pendapatan
dan peningkatan taraf hidup anggota gapoktan. Sedangkan pada beberapa kasus lain
program mengalami kendala seperti kemacetan pembayaran dan dana pinjaman
tidak kembali, serta rendahnya produktivitas gapoktan. Hal ini dikarenakan belum
terwujudnya partisipasi yang tinggi pada Program PUAP sehingga partisipasi dirasa
sangat dibutuhkan di setiap tahap program pembangunan. Mengacu dengan
dibutuhkannya modal sosial dan partisipasi dari masyarakat sesuai dengan syarat
program pembangunan, diharapkan program PUAP ini mampu memberi pengaruh
peningkatan taraf hidup masyarakat melalui perkembangan modal usaha yang
berkelanjutan. Oleh karena itu perlu diketahui hubungan modal sosial dengan
partisipasi dalam mendorong perubahan taraf hidup petani pada Program
Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP).
Perumusan Masalah
Modal sosial mengacu pada apa yang dibawa atau dimiliki masyarakat
dalam membantu menjalani suatu organisasi sosial. Modal sosial merupakan suatu
sistem hasil dari organisasi sosial dan ekonomi seperti pandangan umum (worldview), kepercayaan (trust), pertukaran timbal balik (reciprocity), pertukaran
3
ekonomi dan informasi (informational and economic exchange), kelompokkelompok formal dan informal (formal and informal groups), serta asosiasi-asosiasi
yang melengkapi modal-modal lainnya (fisik, manusiawi, budaya) sehingga
memudahkan terjadinya tindakan kolektif, pertumbuhan ekonomi dan
pembangunan (Colleta dan Cullen 2000 dalam Nasdian 2014). Hasil tindakan
kolektif dari modal sosial dalam pembangunan ini memberi dampak pada
kelancaran dan kemudahan suatu program pembangunan seperti PUAP. Namun
beberapa stakeholder maupun pengelola program masih ada yang lebih
mengutamkan modal fisik dan manusia daripada modal sosial. Padahal modal sosial
ini akan mampu memberi pengaruh langsung dan tidak langsung pada pelaksanaan
program melalui tindakan kolektif dan nantinya akan menumbuhkan partisipasi
masyarakat Oleh karena itu, menjadi penting dalam penelitian ini untuk
menganalisis hubungan modal sosial dengan partisipasi petani pada program
PUAP?
Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) yang
dicanangkan Kementerian Pertanian memiliki tujuan utama untuk mengurangi
tingkat kemiskinan dan pengangguran, PUAP difokuskan untuk mempercepat
pengembangan usaha ekonomi produktif yang diusahakan para petani di perdesaan.
Seperti pada tujuan PNPM Mandiri, PUAP juga mensyaratkan partisipasi aktif,
kesadaran kritis, dan kemandirian masyarakat dalam pelaksanaan program ini di
masyarakat (Kementan 2010). Partisipasi anggota gapoktan dalam mengelola
PUAP jika dilakukan secara terorganisir dan terkoordinir mampu mengantarkan
pada perkembangan program PUAP salah satunya yaitu peningkatan pendapatan
anggota dan jika berkelanjutan akan memberi dampak pada taraf hidup masyarakat.
Sehingga perlu dianalisis hubungan partisipasi dengan perubahan taraf hidup
petani pada program PUAP?
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini secara umum adalah untuk menganalisis hubungan
modal sosial dengan partisipasi dalam mendorong perubahan taraf hidup petani
pada Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP). Tujuan
spesifik pada penelitian ini adalah :
1. Menganalisis hubungan modal sosial dengan partisipasi petani dalam program
PUAP.
2. Menganalisis hubungan partisipasi dengan perubahan taraf hidup petani pada
program PUAP.
Kegunaan Penelitian
Penelitian ini memiliki beberapa mamfaat antara lain :
1. Bagi Akademisi
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan khazanah pengetahuan
mengenai hubungan modal sosial dengan partisipasi pada program
Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan PUAP terhadap taraf hidup
masyarakat, terutama hubungan modal sosial dengan partisipasi dalam
mengembangkan program pembangunan.
2. Bagi Masyarakat
4
Penelitian ini diharapkan dapat membantu masyarakat khususnya anggota
Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) untuk memperoleh pengetahuan akan
pentingnya modal sosial dan partisipasi pada program PUAP sehingga
masyarakat mampu meningkatkan taraf hidup mereka.
3. Bagi Pemerintah
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dan bahan pertimbangan
khususnya bagi tim pengelola PUAP Pusat hingga Daerah dalam menentukan
kebijakan yang berkaitan dengan pelaksanaan PUAP agar mampu memberi
peningkatan taraf hidup masyarakat khususnya anggota gapoktan.
TINJAUAN TEORITIS
Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP)
Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan yang selanjutnya disingkat
PUAP adalah program bantuan langsung masyarakat sebagai impelmentasi dari
program utama Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri. Kegiatan ini
dirancang untuk meningkatkan keberhasilan melalui penyaluran dana BLM PUAP
kepada Gapoktan dalam mengembangkan Usaha Produktif petani untuk
mendukung swasembada pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani. Bantuan
modal tersebut diberikan untuk menumbuh kembangkan usaha agribisnis sesuai
dengan potensi pertanian desa sasaran (Kementan 2015a). Kegiatan PUAP
memiliki bentuk yaitu pemberian fasilitas modal kepada Gapoktan, yang
selanjutnya dikoordinir mereka dan disalurkan kepada petani anggota, baik petani
pemilik, petani penggarap, buruh tani maupun rumah tangga tani sebagai bantuan
modal dalam kegiatan usaha pertanian (Kementan 2010).
Secara umum Program PUAP bertujuan untuk: (1) Mengurangi kemiskinan
dan pengangguran melalui penumbuhan dan pengembangan kegiatan usaha
agribisnis di perdesaan sesuai dengan potensi wilayah; (2) Meningkatkan
kemampuan dan pengetahuan pelaku usaha agribisnis, pengurus Gapoktan,
Penyuluh dan Penyelia Mitra Tani (PMT); (3) Memberdayakan kelembagaan petani
dan ekonomi perdesaan untuk pengembangan kegiatan usaha agribisnis; dan (4)
Meningkatkan fungsi kelembagaan ekonomi petani menjadi jejaring atau mitra
lembaga keuangan dalam rangka akses ke permodalan. Selanjutnya sasaran
program PUAP yang hendak dicapai adalah: (1) Berkembangnya usaha agribisnis
di desa terutama desa miskin sesuai dengan potensi pertanian desa; (2)
Berkembangnya Gapoktan yang dimiliki dan dikelola oleh petani untuk menjadi
kelembagaan ekonomi; (3) Meningkatnya kesejahteraan rumah tangga tani miskin,
petani/peternak (pemilik dan/atau penggarap) skala kecil, buruh tani; dan (4)
Berkembangnya usaha agribisnis petani yang mempunyai siklus usaha (Kementan
2015a).
Program PUAP memiliki Indikator keberhasilan yang terbagi kedalam
keberhasilan output, outcome, serta benefit dan impact yang nantinya menjadi tolak
ukur keberhasilan dan perkembangan program PUAP tersebut. Indikator
keberhasilan output tersebut antara lain: (1) Tersalurkannya dana Bantuan
Langsung Masyarakat (BLM) PUAP 2015 kepada petani, buruh tani dan rumah
tangga tani miskin anggota Gapoktan sebagai modal untuk melakukan usaha
produktif pertanian; dan (2) Terlaksananya fasilitasi penguatan kapasitas dan
kemampuan sumber daya manusia pengelola Gapoktan, Penyuluh dan PMT.
Selanjutnya pada indikator keberhasilan outcome antara lain: (1) Meningkatnya
kemampuan Gapoktan dalam memfasilitasi dan mengelola bantuan modal usaha
untuk petani anggota baik petani pemilik penggarap, petani penggarap, buruh tani
maupun rumah tangga tani; (2) Meningkatnya jumlah petani, buruh tani dan rumah
tangga tani yang mendapatkan bantuan modal usaha; dan (3) Meningkatnya
aktivitas kegiatan usaha agribisnis (hulu, budidaya dan hilir) di perdesaan.
Sementara indikator benefit dan Impact yang ingin dicapai program ini antara lain:
(1) Berkembangnya usaha agribisnis di perdesaan; (2) Berfungsinya Gapoktan
sebagai lembaga ekonomi petani di perdesaan yang dimiliki dan dikelola oleh
6
petani; dan (3) Berkurangnya jumlah petani miskin dan pengangguran di perdesaan
(Kementan 2015a).
Selanjutnya untuk menentukan peserta program atau Gapoktan dari
berbagai desa, Kementerian Pertanian atau Tim PUAP Pusat telah menentukan
terlebih dahulu kriteria Gapoktan yang layak untuk menerima bantuan. Keriteria
tersebut telah diambil dan disepakati secara formal dan tertulis dalam pedoman
umum PUAP dari tahun ke tahun. Kriteria Gapoktan penerima bantuan modal usaha
PUAP yaitu : a) Memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) untuk mengelola usaha
agribisnis; b) Mempunyai kepengurusan yang aktif dan dikelola oleh petani; dan c)
Pengurus Gapoktan adalah petani dan bukan Kepala Desa/Lurah dan Sekretaris
Desa/Lurah atau yang setingkat dengan jabatan tersebut. Pada setiap desa calon
lokasi PUAP, akan ditetapkan 1 (satu) Gapoktan penerima Dana BLM PUAP
Tahun 2015 (Kementan 2015a).
Program pengembangan masyarakat yang diinisiasi pemerintah pada
dasarnya membutuhkan pastisipasi anggota untuk mencapai keberhasilan setiap
program tersebut. Sama halnya seperti pelaksanaan PUAP, program ini juga
melibatkan peran aktif anggota melalui musyawarah/rapat anggota sebagai forum
tertinggi dalam pengambilan keputusan. Hal-hal yang diputuskan pada
musyawarah/ rapat anggota yaitu memilih dan memberhentikan pengurus,
penambahan anggota, pengesahan rencana usaha Gapoktan terkait dengan
penyaluran dana BLM PUAP, penetapan unit usaha otonom, evaluasi
pengembangan pengelolaan unit usaha Gapoktan, penyusunan dan perubahan RUB,
tahapan penyaluran dan pemanfaatan dana BLM-PUAP. (Kementan 2015b). Jika
dilihat dari pedomam umun program PUAP, pelaksanaan kegiatan PUAP ini
memiliki tahapan atau prosedur baik dari perencanaan, menikmasti hasil, hungga
evaluasi. Tahapan pelaksaan program PUAP tersebut meliputi: 1. Identifikasi dan
verifikasi usulan Desa calon lokasi serta Gapoktan calon penerima dana BLM
PUAP 2015; 2. Verifikasi, pemberkasan, dan penetapan Desa/Gapoktan penerima
dana BLM PUAP 2015; 3. Pelatihan bagi fasilitator (Penyuluh dan PMT) serta
pembekalan pengetahuan tentang PUAP bagi pengurus Gapoktan; 4. Rekrutmen
dan pelatihan bagi PMT; 5. Sosialisasi dan koordinasi kegiatan PUAP; 6.
Pendampingan; 7. Penyaluran BLM PUAP 2015; 8. Pembinaan dan Pengendalian;
9. Pengawasan; dan 10. Evaluasi dan pelaporan (Kementan 2015a).
Hasil penelitian dari beberapa daerah yang sudah dapat diketahui
perkembangan PUAP menunjukkan bahwa pelaksanaan Program PUAP mampu
memberi manfaat peningkatan pendapatan petani dan di daerah lain ada yang tidak
memberi peningkatan pendapatan. Pada Penelitian di Desa Kuta Jeumpa,
Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Aceh Barat Daya hasilnya menunjukan Program
PUAP ini sangat memberi pengaruh positif terhadap masyarakat khususnya petani.
Baik itu dalam bidang permodalan, sikap petani terhadap penggunaan teknologi,
dan juga peningkatan pendapatan petani. Peningkatan pendapatan sebesar 16 persen
membuat program ini berhasil dalam meningkatkan total pendapatan masyarakat
penerima program yaitu para petani menjadi lebih berinovasi dalam berusaha tani
dalam hal pemilihan benih yang lebih berkualitas dan perawatan yang lebih baik
dari sebelumnya. Selain itu Penyuluh Pertanian berpengaruh penting dalam hal
menyampaikan informasi tentang Program PUAP, yang diantaranya pemberian
pinjaman bantuan modal, informasi tentang teknologi, pupuk, dan sebagainya.
Perkembangan PUAP di desa Kuta Jeumpa masih dalam bentuk Gapoktan dan
7
belum menjadi LKM (Lembaga Keuangan Mikro) dikarenakan PUAP ini sebagai
program baru dan masih butuh proses untuk menjadi LKM (Siregar et al. 2013)
Modal Sosial
Disadari atau tidak modal sosial sudah ada dan melekat pada setiap
masyarakat melalui hubungan-hubungan sosial. Modal ini sangat berbeda dengan
modal lain karena modal ini tidak berwujud nyata dan tampak namun bisa kita
identifikasi keberadaannya dalam masyarakat. Seperti yang dijelaskan Alfitri
(2011) modal sosial adalah kemampuan membangun jaringan dan kerjasama antar
masyarakat dalam bentuk norma resiprositas dan jaringan keterlibatan antar warga
yang bermanfaat terhadap peningkatan pendapatan masyarakat dan kemandirian
masyarakat lokal. Berbeda dengan modal lain seperti modal ekonomi dan modal
manusia, modal sosial lebih memperlihatkan hubungan dan potensi pada kelompok
dengan perhatian ruang jaringan sosial, norma, nilai, dan kepercayaan antar sesama
yang lahir yang dari kehidupan berkelompok. Sementara modal manusia lebih
menekankan pada sesuatu yang merujuk pada individual seperti daya dan keahlian
yang dimiliki individu. Begitu pula modal fisik yang lebih menekankan pada
keuangan, asset, serta barang-barang terlihat lain yang dapat digunakan sebagai
modal (Alfitri 2011).
Bank Dunia (1999) dalam Alfitri (2011) menjelaskan bahwa modal sosial
merupakan sesuatu yang merujuk pada dimensi institusional, hubungan yang
tercipta dan norma yang membentuk kualitas dan kuantitas hubungan sosial dalam
masyarakat. Pada awalnya memang modal sosial diidentifikasi pada suatu institusi
ataupun dalam kelembagaan formal sebagai sesuatu yang mampu merekatkan dan
menambah kerjasama mereka namun seiring perkembangan menurut Putnam,
Coleman, dan Fukuyama modal sosial dapat dikembangkan dalam bentuk norma
informal yang dimiliki bersama antar anggiota masyarakat dalam melakukan
kerjasama. Berdasarkan kategorinya Cox (1995) dalam Alfitri (2011) menjelaskan
modal sosial sebagai rangka hubungan manusia dibentuk dari komponen yaitu
kepercayaan (trust), norma (norms), dan jaringan (networks) yang memungkinkan
efektivitas dan efisiensi kerjasama didalamnya.
Kepercayaan
Kepercayaan merupakan suatu bentuk keinginan untuk mengambil resiko
dalam hubungan sosial yang didasari perasaan yakin bahwa orang lain kan
melakukan sesuatu sesuai dengan yang kita harapkan dan akan bertindak kedalam
pola yang saling mendukung (Putnam dalam Alfitri 2011). Kepercayaan dapat
membuat masyarakat saling bersatu dan bekerjasama dalam menyelesaikan suatu
masalah. Kepercayaan memiliki beberapa tingkatan berdasarkan ranah dan sumber
hadirnya kepercayaan tersebut. Pada tingkat individual kepercayaan hadir dari nilai
kepercayaan agama yang dianut, kompetensi seeorang, serta norma keterbukaan
dalam masyarakat. Selanjutnya pada tingkat komuntas, kepercayaan hadir
berdasarkan nilai dan norma yang telah melekat dalam hubungan-hubungan
masyarakat. Sementara pada tingkat institusi, kepercayaan akan muncul dari
karakteristik sistem yang memberi nilai tinggi pada tanggung jawab sosial setiap
anggota kelompok. Namun kepercayaan dapat hilang daya optimalnya ketika
8
mengabaikan salah satu spektrum pentiing didalamnya yaitu rentang rasa
mempercayai seperti berkurang pengharapan dan kepercayaan dikarenakan suatu
norma baru ataupun suatu kejadian (Alfitri 2011).
Norma
Norma merupakan sekumpulan aturan yang diharapkan dipatuhi dan diikuti
oleh anggota masyarakat dalam suatu entitas sosial tertentu. Norma ini biasanya
telah terinstitusionalisasi termasuk sanksi sosialnya yang dapat mencegah individu
berbuat sesuatu yang menyimpang dari kebiasaan bermasyarakat (Alfitri 2011).
Norma biasanya memiliki aturan kolektif yang tidak tertulis namun telah dipahami
masyarakat dalam mengatur pola hidup mereka seperti menghormati yang lebih tua,
sopan santun, tidak mengganggu kesibukan orang lain, dan adat istiadat. Norma
yang telah mendalam tersebut dapat menimbulkan kohesivitas masyarakat, namun
norma ini juga dapat membuat masyarakat tertutup dengan ide atau pemikiran baru
karena lebih mengutamakan hubungan atau melihat dari labelnya saja ketimbang
melihat substansi pemikiran tersebut (Alfitri 2011).
Jaringan Sosial
Jaringan merupakan kemampuan seseorang atau sekelompok orang dalam
membangun relasinya. Kunci keberhasilan membangun modal sosial terletak pada
kemampuan sekelompok orang melibatkan diri dalam suatu jaringan hubungan
sosial. Jaringan sosial ini membuat masyarakat mampu memiliki variasi hubungan
saling berdampingan dengan prinsip kesukarelaan, kesamaan, kebebasan, dan
keadaan sehingga kerjasama dan upaya saling menguntungkan akan timbul dalam
jaringan ini untuk mencapai tujuan bersama. Jaringan sosial memiliki tipologi khas
sejalan dengan karakteristik dan orientasi kelompok. Ketika kelompok terbentuk
secara tradisional atas dasar kesamaan garis keturunan dan pengalaman secara turun
temurun cenderung memiliki kohesifitas tinggi, tetapi jaringan dan kepercayaan
terbangun sangat sempit, lain halnya dengan kelompok yang dibangun atas dasar
kesamaan orientasi dan tujuan dengan ciri pengelolaan organisasi yang lebih
terbuka akan memilik jaringan lebih luas dan memfasilitasi pastisipasi masyarakat
dengan baik. Tipologi ini yang membuat dampak positif bagi kelompok sehingga
mampu mendorong kemajuan kelompok dan mendorong pembangunan (Alfitri
2011).
Selanjutnya Nasdian (2014) mengelompokan modal sosial kedalam empat
dimensi untuk melihat hubungan sesama mayarakat dan komunitas serta hubungan
dengan pihak berpengaruh lain. Keempat dimensi tersebut meliputi Integrasi,
Pertalian, Integrasi Organisasional, dan Sinergi. Integrasi (integration) merupakan
ikatan kuat antar anggota keluaga dan keluarga dengan tetangga sekitarnya.
Contohnya ikatan-ikatan berdasarkan etnik, kekerabatan, dan agama. Pertalian
(linkage) adalah ikatan dengan komunitas lain diluar komunitas asal. Seperti
jejaring (network) dan asosiasi-asosiasi bersifat kewargaan (civic associations)
yang menembus perbedaan kekerabatan, etnik, dan agama. Selanjutnya integrasi
organisasional (organizational integrity) merupakan keefektifan dan kemampuan
institusi negara untuk menjalankan fungsinya, termasuk menciptakan kepastian
hukum dan penegakan aturan. Terakhir adalah Sinergi (sinergy) meliputi relasi
9
antara pemimpin dan institusi pemerintahan dengan komunitas (state-community
relations) yang berfokus tentang apakah negara memberikan ruang yang luas atau
tidak untuk partisipasi warganya. Dari keempat dimensi ini pada dimensi pertama
dan kedua berada pada tingkat horizontal sedangkan ketiga dan keempat ditambah
pasar (market) berfokus pada tingkat vertikal (Nasdian 2014). Penciptaan modal
sosial yang efektif dengan memperhatikan setiap komponen-komponen diatas harus
menjadi tujuan dari program pembangunan karena penciptaan setiap komponen dan
dimensi tersebut membuat masyarakat mampu mengembangkan diri,
menumbuhkan rasa memiliki dan pelibatan aktif masyarakat dalam program
sehingga meciptakan kemandirian masyarakat dalam mendukung program
pembangunan.
Konsep modal sosial dan partisipasi sebenarnya merupakan kedua konsep
yang saling berhubungan dalam setiap kegiatan masyarakat. Alfitri (2011)
menjelaskan bahwa modal sosial berbentuk nilai dan norma informal yang dimiliki
bersama kelompok masyarakat mampu menumbuhkan kerjasama. Modal sosial
yang telah diterapkan dalam pola kehidupan masyarakat menbuat tingkat modal
sosial yang semakin tinggi dan membawa dampak pada tingginya partisipasi
masyarakat sipil dalam bentuk apapun. Bahkan kesaling-percayaan antara
masyarakat dan pemerintah disebabkan keterbukaan dan komitmen pemerintah
daerah mampu mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam program
pembangunan maupun sistem pemerintahan daerah yang lebih baik (Inayah 2012).
Selain itu pada penelitian Anggita (2013) partisipasi diikutsertakan dalam konsep
modal sosial dan berkaitan dengan kerjasama dalam melihat kolektivitas usaha tani.
Hasilnya menunjukan modal sosial dan partisipasi saling terkait dilihat dari
keterlibatan aktif masyarakat dalam kegiatan sosial dan ekonomi pertanian, bahkan
partisipasi telah menjadi tradisi budaya turun temurun dalam memenuhi kebutuhan
bersama (Anggita 2013).
Partisipasi
Program pembangunan yang diinisiasi oleh pemerintah maupun secara
swadaya umumnya harus menumbuhkan pemberdayaan masyarakatnya. Menurut
Nasdian (2014) pemberdayaan merupakan konsep bagaimana individu, kelompok,
atau komunitas berusaha mengontrol kehidupan mereka sendiri dan mengusahakan
untuk membentuk masa depan sesuai dengan keinginan mereka. Sementara ketika
kita melihat definisi partisipasi, partisipasi adalah proses aktif, inisiatif diambil oleh
warga komunitas sendiri, dibimbing oleh cara berfikir mereka sendiri, dengan
menggunakan sarana dan proses (lembaga dan mekanisme) dimana mereka dapat
menegaskan kontrol secara efektif (Nasdian 2014). Berdasarkan kedua definisi
diatas bahwa upaya partisipasi masyarakat dapat menumbuhkan inisiatif, cara
berfikir, dan tindakan mereka sendiri untuk mengontrol kehidupan mereka sehingga
dengan adanya partisipasi penting untuk membuat masyarakat merasakan
pemberdayaan yang mereka bentuk.
Partisipasi mampu mendukung masyarakat untuk menyadari akan situasi
dan masalah yang dihadapinya serta berupaya mencari jalan keluar yang dapat
dipakai untuk mengatasi masalah mereka atau memiliki kesadaran kritis. Partisipasi
sendiri memiliki dua kategori yaitu warga komunitas dilibatkan dalam tindakan
yang telah dipikirkan atau dirancang dan dikontrol orang lain, dan partisipasi
10
merupakan proses pembentukan kekuatan untuk keluar dari masalah mereka sendiri
(Nasdian 2014). Dalam hal ini partisipasi mampu mendorong penumbuhan
kesadaran kritis masyarakat dan mencari solusi untuk mengatasinya. Untuk
memahami bagaimana partisipasi tersebut berjalan, perlu diketahui bagaimana
tahapan partisipasi terlebih dahulu menurut pendapat beberapa ahli.
Berdasarkan teori Uphoff et al. (1979) dalam Nasdian (2006), partisipasi
dipandang sebagai keterlibatan aktif masyarakat dalam proses pengambilan
keputusan tentang apa yang akan dilakukan dan bagaimana cara kerjanya.
Keterlibatan masyarakat dalam keterlibatan program dan pengambilan keputusan
yang telah ditetapkan melalui sumbangan sumber daya atau bekerjasama dalam
suatu organisasi. Selanjutnya ditambahkaan oleh Cohen dan Uphoff dalam Nasdian
(2014) bahwa partisipasi memiliki tahapan meliputi tahap perencanaan, ditandai
dengan keterlibatan masyarakat dalam kegiatan-kegiatan yang merencanakan
program pembangunan yang akan dilaksanakan di desa, serta menyusun rencana
kerjanya. Tahap pelaksanaan, yang merupakan tahap terpenting dalam
pembangunan, sebab inti dari pembangunan adalah pelaksanaannya. Selanjutnya
pemanfaatan, yang dapat dijadikan indikator keberhasilan partisipasi masyarakat
pada tahap perencanaan dan pelaksanaan proyek. Serta tahap evaluasi, dianggap
penting sebab partisipasi masyarakat pada tahap ini dianggap sebagai umpan balik
yang dapat memberi masukan demi perbaikan pelaksanaan proyek selanjutnya.
Berbeda dengan dua teori sebelumnya, Arnstein memiliki pendapat bahwa
partisipasi mempunyai tingkatan atau level yang dilihat dari seberapa jauh
masyarakat terlibat dalam program ataupun seberapa sering masyarakat terlibat
dalam setiap bagian program. Menurut Arnstein (1969) dalam Suroso, Hakim, dan
Noor (2014), tingkat partisipasi masyarakat dalam suatu program dapat dilihat dari
sebarapa jauh peran masyarakat terhadap penguasa dalam program. Berdasar pada
Arnsterin dalam Nasdian (2014) terdapat delapan tangga atau tingkatan partisipasi
yang dapat mengukur seberapa jauh masyarakat dilibatkan dalam program. Delapan
tingkat tersebut diuraikan sebagai berikut:
1. Manipulation (Manipulasi)
Masyarakat dianggap sebagai formalitas semata dan untuk dimanfaatkan
dukungannya. Tingkat ini bukanlah tingkat partisipasi masyarakat yang murni,
karena telah diselewengkan dan dipakai sebagai alat publikasi oleh golongan
penguasa.
2. Therapy (Terapi)
Penguasa menganggap ketidakberdaayan masyarakat sebagai penyakit mental.
Dengan berpura-pura mengikutsertakan masyarakat dalam suatu perencanaan,
mereka sebenarnya menganggap masyarakat sebagai sekelompok orang yang
memerlukan pengobatan yang bertujuan untuk menghilangkan lukanya dan
bukannya menemukan penyebab lukanya.
3. Informing (Menginformasikan)
Dengan memberi informasi kepada masyarakat akan hak, tanggung jawab, dan
pilihan mereka merupakan langkah awal yang sangat penting dalam
pelaksanaan partisipasi masyarakat. Namun seringkali pemberian informasi
dari penguasa kepada masyarakat tersebut bersifat satu arah. Masyarakat tidak
memiliki kesempatan untuk memberikan umpan balik dan tidak memiliki
kekuatan untuk negosiasi.
4. Consultation (Konsultasi)
11
Meminta pendapat masyarakat merupakan suatu langkah logis menuju
partisipasi penuh. Namun konsultasi ini masih merupakan partisipasi semu
karena tidak ada jaminan bahwa pendapat mereka akan diperhatikan. Cara yang
sering digunakan dalam tingkat ini adalah jajak pendapat, pertemuan warga dan
dengar pendapat. Partisipasi mereka diukur dari frekuensi kehadiran dalam
pertemuan, seberapa banyak brosur yang dibawa pulang dan juga seberapa
banyak dari kuesioner dijawab.
5. Placation (Menenangkan)
Pada tingkat ini masyarakat sudah memiliki beberapa pengaruh meskipun
dalam beberapa hal pengaruh tersebut tidak memiliki jaminan akan
diperhatikan. Masyarakat memang diperbolehkan untuk memberikan masukan
atau mengusulkan rencana akan tetapi pemegang kekuasaanlah yang berwenang
untuk menentukan.
6. Partnership (Kemitraan)
Pada tingkatan ini kekuasaan disalurkan melalui negosiasi antara pemegang
kekuasaan dan masyarakat. Mereka sepakat untuk sama-sama memikul
tanggung jawab dalam perencanaan dan pengambilan keputusan. Aturan
ditentukan melalui mekanisme take and give, sehingga diharapkan tidak
mengalami perubahan secara sepihak.
7. Delegated Power (Kekuasaan didelegasikan)
Negosiasi antara masyarakat dengan pejabat pemerintah yang kurang memiliki
legitimasi bisa mengakibatkan terjadinya dominasi kewenangan pada
masyarakat terhadap rencana atau program tertentu. Pada tingkat ini masyarakat
menduduki mayoritas kursi, sehingga memiliki kekuasaan dalam menentukan
suatu keputusan. Selain itu masyarakat juga memegang peranan penting dalam
menjamin akuntabilitas program tersebut.
8. Citizen Control (Kontrol warga negara)
Pada tingkat ini masyarakat menginginkan adanya jaminan bahwa kewenangan
untuk mengatur program atau kelembagaan diberikan kepada mereka,
bertanggung jawab penuh terhadap kebijakan dan aspek-aspek manajerial dan
bisa mengadakan negosiasi apabila ada pihak ketiga yang akan mengadakan
perubahan.
Jika mempertimbangkan dari kedua teori sebelumnya yaitu Uphoff dan
Arnstein, Uphoff dinilai lebih cocok digunakan dalam penelitian peran partisipasi
dan taraf hidup ini dikarenakan Uphoff terlihat lebih menggambarkan mengenai
proses partisipasi setiap tahap serta dapat menggambarkan keberhasilan program
dari kontribusi masyarakat dalam program tersebut. Sementara Arnstein lebih
menggambarkan seberapa jauh tingkat kekuasaan dan pengambilan kekuasaan serta
dominasi antara pemerintah atau pengelola program dengan masyarakat sehingga
kurang menggambarkan jembatan pencapaian taraf hidup. Partisipasi sendiri
merupakan salah satu syarat utama dalam setiap program pembangunan baik dari
pemerintah maupun secara swadaya. Lastinawati (2011) menjelaskan bahwa
tahapan partisipasi juga bisa dilihat dari spesifik program yang akan diteliti. Seperti
program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP) dengan tujuan
penanggulangan kemiskinan yang melibatkan unsur masyarakat berdasarkan
tahapan kegiatan program tersebut. Tahapan partisipasi Program PUAP secara
spesifik dilihat dari tahap pelatihan PUAP, tahap sosialisasi program PUAP, tahap
pendampingan pengajuan RUA, tahap penyusunan RUK, penyusunan RUB,
12
penggunaan dana, pengembalian dana, dan tahap penyusunan laporan. Penelitian
Siregar et al. (2013) menyebutkan bahwa Program PUAP sangat memberi pengaruh
positif terhadap masyarakat khususnya petani. Baik itu dalam bidang permodalan,
sikap petani terhadap penggunaan teknologi, dan juga terhadap pendapatan petani.
Program menghasilkan pendapatan sebesar 16 persen membuat program ini
berhasil dalam meningkatkan total pendapatan masyarakat penerima program yaitu
para petani menjadi lebih berinovasi dalam berusaha tani dalam hal pemilihan benih
yang lebih berkualitas dan perawatan yang lebih baik dari sebelumnya. Peningkatan
pendapatan tersebut juga berdampak pada perubahan taraf hidup masyarakat.
Penelitian lain banyak menjelaskan bahwa partisipasi pada program
pembangunan memberi dampak pada perubahan taraf hidup masyarakat. Pada
program pembangunan dengan partisipasi masyarakat yang aktif mampu memberi
dampak pada aspek ekologi, struktur, kultur, dan perubahan taraf hidup masyarakat.
Penilitian tersebut menyebutkan penerima program mampu mengalami
peningkatan taraf hidupnya (Nasdian 2014). Serupa dengan hasil program PUAP di
Desa Sidourip Kecamatan Beringan Kabupaten Deliserdang terkait partisipasi
dengan pendapatan. Hasil menunjukan adanya partisipasi tinggi mampu
menyebabkan dana semakin berkembang hingga 78.55 persen lebih tinggi
dibanding desa lain. Perkembangan dana tersebut berdampak pada semakin
bertambahnya usaha masyarakat dan membuat pendapatan petani bertambah.
(Rajagukguk et al. 2012). Peningkatan pendapatan tersebut juga memberi dampak
pada peningkatan taraf hidup petani penerima program.
Taraf Hidup
Kata taraf dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2016) berarti
tingkatan, mutu atau kualitas. Jika kata tersebut dihubungkan dengan kehidupan
masyarakat berarti taraf hidup merupakan kualitas hidup yang dimiliki seseorang
atau keluarga dalam suatu masyarakat. Kualitas hidup ini juga dapat diartikan
sebagai kemampuan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya secara layak
dan berkecukupan. Kebutuhan-kebutuhan hidup tersebut menurut Manullang dapat
didefinisikan kedalam dua kategori yaitu taraf hidup primer adalah suatu kebutuhan
yang paling utama untuk mempertahankan hidup seperti makanan, minuman,
pakaian dan perumahan. Sedangkan taraf hidup sekunder merupakan kebutuhan
yang diperlukan guna melengkapi kebutuhan primer seperti alat-alat dan perabot
(Manullang dalam Fargomeli 2014). Ketika kebutuhan-kebutuhan primer dan
sekunder tersebut terpenuhi, maka hal ini juga dapat menggambarkan seberapa
tinggi kesejahteraan masyarakat dalam kehidupannya seperti tingkat konsumsi atau
pengeluaran. Karena kondisi sejahtera dapat didefinisikan juga sebagai suatu
kondisi terpenuhinya segala bentuk kebutuhan hidup, khususnya yang bersifat
mendasar seperti makanan, pakaian, perumahan, pendidikan dan perawatan
kesehatan (Fargomeli 2014). Kualitas hidup ini dapat dipengaruhi oleh berbagai
faktor yang mempengaruhi kehidupan masyarakat.
Sesuai dengan pendapat di atas bahwa taraf hidup adalah kualitas kehidupan
seseorang atau kemampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya,
Purnamasari (2015) menambahkan bahwa peningkatan taraf hidup masyarakat,
adalah segala kegiatan dan upaya masyarakat untuk memenuhi segala kebutuhan
hidupnya. Selanjutnya Purnamasari melihat kebutuhan hidup ini dari beberapa
13
indikator yang menggambarkan pemenuhan kebutuhan hidup meliputi tingkat
kecukupan pangan, tingkat kecukupan sandang, kelayakan rumah tempat tinggal,
pendidikan keluarga, dan kesehatan keluarga. Menurut Purnamasari selain sandang,
pangan, dan papan, faktor pendidikan keluarga dan kesehatan juga sangat
mempengaruhi taraf hidup dalam suatu keluarga sehingga kedua faktor tersebut
layak untuk dijadikan parameter taraf hidup (Purnamasari 2015).
Terkait dengan taraf hidup tersebut dari hasil penelitian Rosyida dan
Nasdian (2011) menjelaskan adanya program pemerintah maupun perusahan
seperti Corporate Social Responsibility (CSR) yang pelaksanaannya mampu
melibatkan kontribusi masyarakat dibeberapa proyek dan program tersebut
memeberi pengaruh terhadap dampak sosial ekonomi masyarakat. Pengaruh pada
dampak sosial tersebut dilihat dari modal sosial sedangkan dampak ekonomi dilihat
dari tingkat taraf hidup meliputi tingkat pendapatan, tingkat pengeluaran, tingkat
investasi, dan juga kondisi fisik dan prasarana tempat tinggal seseorang meliputi
luas lantai bangunan tempat tinggal, jenis lantai bangunan tempat tinggal, jenis
dinding bangunan tempat tinggal, fasilitas tempat buang air besar, sumber
penerangan rumah tangga, sumber air minum, bahan bakar untuk memasak,
pemilikan alat transportasi, tingkat pendapatan, tingkat pengeluaran, dan tingkat
investasi yang seluruhnya dapat menggambarkan taraf hidup masyarakat (Rosyida
dan Nasdian 2011). Selanjutnya Suharto (2009) dalam Fargomeli (2014)
menambahkan bahwa upaya untuk meningkatkan taraf hidup tersebut juga dapat
dilihat dari tingkat kesejahteraan. Kesejahteraan yang dimaksud berupa kondisi
terpenuhinya segala bentuk kebutuhan hidup, khususnya yang bersifat mendasar
seperti makanan, pakaian, perumahan, pendidikan dan perawatan kesehatan.
Adanya perubahan taraf hidup masyarakat tentunya disebabkan oleh
beberapa aspek diantaranya seperti adanya modal sosial yang kuat dan partisipasi
aktif masyarakat. Seperti yang dibahas pada pustaka sebelumnya bahwa modal
sosial yang telah diterapkan dalam pola kehidupan masyarakat membuat tingkat
modal sosial yang semakin tinggi dan membawa dampak pada tingginya partisipasi
masyarakat sipil dalam bentuk apapun (Inayah 2012). Program PUAP juga
mensyarakatkan partisipasi aktif setiap anggotanya. Siregar et al. (2013)
menjelaskan hasil Program PUAP mampu memberi pengaruh positif terhadap
masyarakat khususnya petani. Baik itu dalam bidang permodalan, sikap petani
terhadap penggunaan teknologi, dan juga peningkatan pendapatan petani.
Pendapatan merupakan salah satu aspek dari taraf hidup sehingga dengan
berkembangnya pendapatan akan menyebabkan perkembangan taraf hidup
masyarakat.
Kerangka Pemikiran
Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) merupakan
program yang tergabung dalam PNPM-Mandiri yang diinisiasi oleh Kementerian
Pertanian. Progarm ini memiliki bentuk bantuan langsung modal usaha tani kepada
gapoktan di setiap desa yang memiliki ciri kelayakan tertentu yang diajukan
Gapoktan dan dikoordinasikan dengan Tim PUAP Pusat, Provinsi, Kabupaten, dan
Kecamatan. Pelaksanaan Program PUAP ini membutuhkan keterlibatan aktif
anggota Gapoktan dalam merencanakan usaha bersama, usaha anggota,
pengelolaan dana, penyaluran, hingga evaluasi yang murni mereka kerjakan sendiri
14
dengan bantuan dan bimbingan dari penyuluh pendamping dan penyelia mitra tani.
Anggota harus mampu menanamkan rasa kepedulian terhadap program tersebut
serta memiliki rasa bahwa program tersebut akan memberi manfaat terhadap
kelangsungan hidupnya. Kondisi kepedulian terhadap program akan tumbuh pada
masyarakat melalui hubungan-hubungan sosial antar anggota, serta nilai dan aturan
yang dianut komunitas bersama yang lebih akrab disebut modal sosial.
Modal sosial memiliki dimensi-dimensi dalam mengatur hubungan sosial
masyarakat yang mampu menyebabkan rasa kepedulian terhadap Program PUAP
sebagai program bersama meliputi kepercayaan, jaringan sosial, dan norma-norma
sosial. Kepercayaan berhubungan dengan harapan yang tumbuh pada masyarakat
terhadap Program PUAP yang mampu memberi nilai positif terhadap kehidupan
masyarakat. Jaringan sosial merupakan hubungan-hubungan pada masyarakat yang
dapat mempermudah penukaran informasi serta pelaksanaan Program. Kemudian
norma-norma merupakan nilai-nilai yang diyakini dan dijalani suatu masyarakat
terhadap hadirnya Program PUAP. Tentunya dengan adanya modal sosial yang
dimiliki setiap masyarakat dalam suatu komunitas ini mampu meningkatkan
kepedulian masyarakat khususnya anggota Gapoktan sehingga memberi pengaruh
pada keterlibatan aktif atau partisipasi anggota pada pelaksanaan Program PUAP.
Partisipasi merupakan keterlibatan aktif masyarakat untuk sadar akan
masalahnya dan upaya untuk mencapai solusi masalah tersebut. Keterlibatan aktif
anggota pada Program PUAP sangat diperlukan untuk memberi solusi masyarakat
pada masalah permodalan. Partisipasi program yang baik harus mampu melibatkan
kontribusi seluruh anggota pada setiap tahapan pelaksanaan program. Tahapan
tersebut meliputi tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap menikmati hasil, dan
tahap evaluasi program. Melalui kontribusi masyarakat pada setiap program
tersebut masyarakat akan menyampaikan pendapat mereka, melaksanakan
kegiatan, serta mampu menikmati hasil jerih payah mereka dan merasakan
manfaatnya untuk mendorong peningkatan taraf hidup masyarakat.
Pencapaian dari Program PUAP tersebut akan memberi pengaruh terhadap
taraf hidup masyarakat khususnya anggota Gapoktan. Taraf hidup yang
menggambarkan kualitas hidup masyarakat ini dilihat dari empat komponen
meliputi fasilitas rumah tangga, tingkat pendapatan, tingkat pengeluaran, dan
tingkat tabungan. Keempat faktor tersebut digunakan untuk menggambarkan sejauh
mana kualitas hidup anggota Gapoktan setelah mengikuti program PUAP selama
beberapa periode. Selain itu taraf hidup ini juga akan memberikan gambaran
terhadap pencapaian Program PUAP pada Gapoktan tersebut.
Tingkat Modal Sosial
1. Tingkat kepercayaan
2. Tingkat norma
3. Tingkat jaringan
sosial
Tingkat Partisipasi
Petani dalam Program
PUAP
1. Perencanaan
2. Implementasi
3. Pemenfaatan
4. Evaluasi
Tingkat Perubahan
Taraf Hidup
1. Tingkat pendapatan
2. Tingkat
pengeluaran
3. Tingkat tabungan
4. Tingkat fasilitas
rumah tangga
15
Keterangan:
: Hubungan
Gambar 1 Kerangka pemikiran
Hipotesis Penelitian
Hipotesis uji secara dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Terdapat hubungan antara tingkat modal sosial dengan tingkat partisipasi petani
dalam Program PUAP.
2. Terdapat hubungan antara tingkat partisipasi petani pada Program PUAP dengan
tingkat perubahan taraf hidup petani.
PENDEKATAN LAPANG
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif didukung oleh data
kualitatif. Pendekatan kuantitatif dengan menggunakan metode survei
menggunakan sampel yang mana kuesioner digunakan sebagai instrumen untuk
mengumpulkan informasi dari responden. Pengertian survei dibatasi pada
penelitian yang datanya dikumpulkan dari sampel atas populasi untuk mewakili
seluruh populasi. Pendekatan kuantitatif pada penelitain ini bertujuan melihat
bagaimana hubungan yang ditimbulkan pada variabel modal sosial dengan
partisipasi, Serta variabel partisipasi yang memiliki hubungan dengan perubahan
taraf hidup masyarakat. Jenis penelitian merupakan penelitian eksplanatori.
Data kualitatif diambil melalui metode wawancara mendalam kepada
beberapa aktor penting menggunakan panduan pertanyaan untuk memahami secara
mendalam dan rinci mengenai suatu peristiwa, serta dapat menggali berbagai
realitas, proses sosial, dan makna yang berkembang dari individu yang menjadi
subjek penelitian. Informasi yang diperoleh melalui pendekatan kualitatif ini
digunakan sebagai interpretasi terhadap data yang didapatkan serta memperkuat
hasil dari pendekatan kuantitatif. Penelitian ini juga menggunakan data sekunder
berupa dokumen-dokumen untuk menjelaskangambaran desa dan program. Semua
data hasil penelitian akan dikombinasikan dengan menjelaskan data kuantitatif dari
hasil olah data kuesioner serta diperkuat dan dideskripsikan dengan data kualitatif
dari hasil pengamatan dan wawancara mendalam.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian mengenai Peran Modal Sosial dan Partisipasi pada Program
Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) Terhadap Taraf Hidup
Masyarakat ini dilakukan di Desa Ngetuk, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten
Jepara, Jawa Tengah. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja
(purposive) karena Desa Ngetuk merupakan salah satu desa yang memiliki Program
PUAP sejak tahun 2011 sehingga dampaknya sudah dapat dirasakan masyarakat
hingga saat ini. Berdasarkan hasil evaluasi PUAP di Kabupaten tahun 2015, desa
ini masuk pada kategori Perkembangan PUAP yang baik karena mampu mengelola
PUAP dengan kondisi pinjaman dominan lancar sehingga dapat berjalan hingga
sekarang. Peneliti sendiri akan melakukan pengambilan data ke lapang dengan
rentang biaya sekitar satu juta rupiah. Proses penelitian dimulai dari pembuatan
proposal penelitian pada bulan Januari 2016. Selanjutnya setelah proposal dibahas
pada kolokium dan disetujui langkah selanjutnya adalah mengambil data baik
primer maupun sekunder untuk diolah dalam skripsi. Secara rinci kegiatan
penelitian ini terdiri dari kegiatan penyusunan proposal penelitian, kolokium,
pengambilan data lapangan, pengolahan dan analisis data, penulisan draft skripsi,
uji petik, sidang skripsi, dan perbaikan skripsi. Rincian mengenai waktu penelitian
dapat dilihat pada tabel berikut.
18
Tabel 1 Jadwal penelitian tahun 2016
Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Jun
Kegiatan
3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Penyusunan
Proposal Skripsi
Kolokium
Perbaikan
Proposal
Pengambilan Data
Lapangan
Pengolahan dan
Analisis Data
Penulisan Draft
Skripsi
Uji Kelayakan
Sidang Skripsi
Perbaikan
Laporan
Penelitian
Penentuan Responden dan Informan
Terdapat dua subjek dalam penelitian ini yaitu responden dan informan.
Responden adalah seseorang atau individu yang dapat memberikan informasi
mengenai dirinya sendiri terkait kondisi dirinya dengan Program PUAP. Populasi
penelitian ini ialah seluruh petani Desa Ngetuk. Sementara populasi sampelnya
meliputi petani Desa Ngetuk yang menjadi penerima Program PUAP. Selanjutnya,
populasi sampel tersebut akan dibentuk lebih sempit menggunakan kerangka
sampling. Kerangka sampling disini berisi sejumlah responden yang akan diambil
dari populasi sampel yaitu petani Desa Ngetuk yang menjadi penerima Program
PUAP. Adapun sampel ditentukan untuk penelitian ialah sebanyak 50 orang
responden. Pengambilan sampel atau responden dalam penelitian ini menggunakan
teknik simple random sampling karena pertimbangan sampel cenderung memiliki
karakteristik seragam yaitu petani kecil atau anggota gapoktan dan tergabung dalam
Program PUAP hingga saat ini. Unit analisis dalam penelitian ini adalah individu.
Pada awalnya, teknik ini dilakukan dengan cara mendapatkan data jumlah populasi
masyarakat anggota Gapoktan yang menerima Program PUAP kemudian penulis
melakukan pengambilan sampel dengan metode simple random sampling.
Informan merupakan seseorang atau individu yang dapat menjelaskan dan
memberikan keterangan berupa gambaran mengenai dirinya sendiri, keluarga,
pihak lain dan lingkunganya terkait kondisi dan perkembangan Program PUAP.
Informan juga dapat dikatakan sebagai pihak yang mampu mendukung kelancaran
informasi yang diberikan. Adapun informan yang diambil menggunakan metode
purposive adalah instansi terkait dalam penelitian ini meliputi 3 orang pengurus
gapoktan, 4 orang perwakilan dari setiap kelopok tani, dan 1 orang penyuluh
pendamping yang memiliki pengaruh kuat di desa tersebut. Informan tersebut dapat
membantu peneliti dalam menjawab perumusan masalah dalam penelitian ini.
19
Jenis Data dan Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini berjenis data primer dan data sekunder. Data primer
didapatkan melalui pengamatan langsung pada lokasi penelitian. Dalam melakukan
pengamatan langsung, peneliti juga melakukan wawancara mendalam kepada
informan dengan mengacu pada panduan pertanyaan dan dicatat pada catatan
lapangan, serta wawancara kuesioner kepada responden. Pertanyaan-pertanyaan
dalam kuesioner dan panduan pertanyaan wawancara mendalam merupakan data
dan informasi yang dibutuhkan dalam menjawab perumusan masalah dalam
penelitian ini. Setelah panduan pertanyaan ditanyakan kepada informan, hasil dari
wawancara mendalam akan direkam atau ditulis kedalam catatan lapangan berisi
deskripsi dan interpretasinya sesuai format pada lampiran.
Sedangkan data sekunder merupakan data yang diperoleh dari dokumendokumen tertulis baik yang berupa tulisan ilmiah ataupun dokumen resmi dari
instansi terkait. Pengumpulan data dilakukan oleh peneliti untuk mendapatkan data
dan informasi yang relevan dan berguna mengenai penelitian ini. Data sekunder
dapat diperoleh dari instansi terkait, dalam penelitian ini seperti data dari kantor
desa dan kecamatan, Kementerian Pertanian, maupun studi literatur penelitian
sebelumnya.
Tabel 2 Teknik pengumpulan data dan jenis data
Teknik Pengumpulan Data
Kuesioner
Data yang Dikumpulkan
ï‚·
ï‚·
ï‚·
ï‚·
ï‚·
ï‚·
ï‚·
ï‚·
ï‚·
ï‚·
ï‚·
ï‚·
Wawancara mendalam
ï‚·
ï‚·
ï‚·
ï‚·
ï‚·
ï‚·
ï‚·
ï‚·
ï‚·
ï‚·
Observasi lapang dan
dokumentasi data sekunder
ï‚·
ï‚·
Karakteristik penerima program PUAP
Kondisi Kepercayaan
Kondisi Norma
Kondisi Jaringan sosial
Kondisi Partisipasi pada setiap tahap partisipasi
Kondisi fasilitas tempat tinggal sebelum dan sesudah
program
Kondisi pendapatan sebelum dan sesudah program
Kondisi tabungan sebelum dan sesudah program
Kondisi pengeluaran sebelum dan sesudah program
Kondisi Program PUAP di Desa Ngetuk
Kondisi kepercayaan penerima program
Kepatuhan penerima dan sangsi terhadap aturan-aturan
Program PUAP
Kondisi jaringan sosial penerima Program PUAP
Keterlibatan penerima pada setiap tahap partisipasi
Kebermanfaatan program
Kondisi evaluasi program
Perubahan kondisi fisik rumah tangga penerima
program
Perubahan pendapatan penerima program
Perubahan tabungan penerima program
Perubahan pengeluaran penerima program
Perkembangan perubahan taraf hidup penerima
Program PUAP
Gambaran umum desa melalui data monografi dan
data potensi desa
Laporan Pertanggungjawaban gapoktan tahun 2016
Anggaran dasar dan anggaran rumah tangga gapoktan
20
Teknik Pengolahan dan Analisis Data
Penelitian ini mempunyai dua jenis data yang akan diolah dan dianalisis
yaitu data kuantitaif dan data kualitatif. Data kuantitatif menggunakan aplikasi
Microsoft Excel 2013 dan SPSS Version 21. Pembuatan tabel frekuensi, grafik,
diagram, serta tabel tabulasi silang untuk melihat data awal responden untuk
masing-masing variabel secara tunggal menggunakan aplikasi Microsoft Excel
2013. Kemudian SPSS Version 21 digunakan untuk membantu dalam uji statistik
yang akan menggunakan Rank Spearman. Uji korelasi Rank Spearman digunakan
untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan antar dua variabel yang berskala
ordinal dan tidak menentukan prasyarat data terdistribusi normal. Sebelum
melakukan penelitian, kuesioner melalui uji reliabilitas. Uji reliabilitas dilakukan
di Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor dan hasil uji
kuesioner diolah menggunakan uji statisik SPSS dengan hasil nilai cronbach alpha
0.771.
Data kualitatif dianalisis melalui tiga tahap yaitu reduksi data, penyajian data,
dan verifikasi. Pertama ialah proses reduksi data dimulai dari proses pemilihan,
penyederhanaan, abstraksi, hingga transformasi data hasil wawancara mendalam,
observasi, dan studi dokumen. Tujuan dari reduksi data ini ialah untuk
mempertajam, menggolongkan, mengarahkan, dan membuang data yang tidak
perlu. Kedua ialah penyajian data yang berupa menyusun segala informasi dan data
yang diperoleh menjadi serangkaian kata-kata ataupun tabel dan matriks yang
mudah dibaca ke dalam sebuah laporan. Penyajian data berupa narasi, diagram, dan
matriks. Verifikasi adalah langkah terakhir yang merupakan penarikan kesimpulan
dari hasil yang telah diolah pada tahap reduksi. Verifikasi dilakukan dengan
mendiskusikan hasil olahan data kepada responden, informan, dan dosen
pembimbing untuk memperjelas kembali kebenarannya. Data sekunder akan
disortir dan disajikan untuk untuk menjelaskan gambaran dasar lokasi dan
memperkuat penjelasan data primer. Seluruh hasil penelitian ini akan dituliskan
dalam laporan berbentuk skripsi.
Definisi Operasional
Tingkat Modal Sosial
Modal sosial merupakan salah satu pendorong anggota Gapoktan agar
memiliki kepedulian terhadap berjalannya Program PUAP sehingga menimbulkan
keterlibatan aktif pada program tersebut. Adapun bentuk modal sosial yang dibahas
dalam penelitian ini adalah tingkat kepercayaan, tingkat norma, dan tingkat jaringan
sosial. Ketiga aspek tersebut akan dilihat hubungannya dalam mendukung tingkat
partisipasi pada Program PUAP. Setiap aspek akan diukur menggunakan data
ordinal. Pengukuran dilakukan dengan memberi nilai pada setiap pertanyaan lalu
dijumlahkan dan hasilnya merupakan indikator dan dikategorikan tinggi, sedang,
dan rendah. Setelah itu setiap indikator akan dijumlahkan dan dikategorikan dalam
tiga tingkat kembali untuk melihat variabel.
21
Tabel 3 Definisi operasional tingkat modal sosial
Indikator
Tingkat
Keperca
yaan
Tingkat
Norma
Definisi
Tingkat kepercayaan
kepada pengelola Program
PUAP, pengurus
Gapoktan, penyuluh, dan
anggota lain dapat
membantu pengelolaan
PUAP dengan baik dan
sesuai harapan.
Tingkat kepatuhan dan
kejeraan sangsi penerima
program terhadap aturanaturan dari masyarakat,
Gapoktan, maupun dari
Program PUAP.
Definisi Operasional
Kategori
Skor
1. Kepercayaan pada
pengelola : 1-5
2. Kepercayaan pada
penyuluh pendamping
: 2 x (1-5)
3. Kepercayaan pada
pengurus Gapoktan
: 2 x (1-5)
4. Kepercayaan pada
anggota lain
: 2 x (1-5)
Total nilai 7
pertanyaan lalu
dikategorikan
1. Rendah :
7-16
2. Sedang :
17-26
3. Tinggi :
27-35
1. Kepatuhan dan sangsi
aturan desa
: 2 x (1-5)
2. Kepatuhan dan sangsi
aturan program
: 2 x (1-5)
1.
2.
3.
Tingkat
Jaringan
Sosial
Banyaknya hubungan
sosial dari jenjang kenal
hingga akrab pihak-pihak
yang berhubungan dengan
PUAP.
4.
5.
6.
7.
Jaringan dengan
pengelola : 1-5
Jaringan dengan
penyuluh : 1-5
Jaringan dengan
pengurus gapoktan
: 1-5
Jaringan dengan
pemerintah desa
: 1-5
Jaringan dengan
pedagang : 1-5
Jaringan dengan
pasar : 1-5
Jaringan dengan
anggota lain : 1-5
Total nilai 4
pertanyaan lalu
dikategorikan
1. Rendah :
4-9
2. Sedang :
10-14
3. Tinggi :
15-20
Total nilai 7
pertanyaan lalu
dikategorikan
1. Rendah :
7-16
2. Sedang :
17-26
3. Tinggi :
27-35
Skala
Pengu
kuran
Ordinal
Ordinal
Ordinal
Tingkat Partisipasi Masyarakat
Partisipasi dipandang sebagai keterlibatan aktif masyarakat dalam proses
pengambilan keputusan tentang apa yang akan dilakukan dan bagaimana cara
kerjanya. Keterlibatan masyarakat dalam keterlibatan program dan pengambilan
keputusan yang telah ditetapkan melalui sumbangan sumber daya atau bekerjasama
dalam suatu organisasi (Uphoff et al. dalam Nasdian 2006). Selanjutnya
ditambahkaan oleh Cohen dan Uphoff dalam Nasdian (2014) bahwa partisipasi
memiliki tahapan meliputi tahap perencanaan, ditandai dengan keterlibatan
masyarakat dalam kegiatan-kegiatan yang merencanakan program pembangunan
yang akan dilaksanakan di desa, serta menyusun rencana kerjanya. Pengukuran
dilakukan dengan memberi nilai pada setiap pertanyaan lalu dijumlahkan dan
hasilnya merupakan indikator dan dikategorikan tinggi, sedang, dan rendah. Setelah
22
itu setiap indikator akan dijumlahkan dan dikategorikan dalam tiga tingkat kembali
untuk melihat variabel.
Tabel 4 Definisi operasional tingkat pasrtisipasi masyarakat
Indikator
Definisi
Tahap
perencana
an
Keikutsertaan
penerima program
dalam rapat
perencanaan PUAP.
Tahap
implement
asi
Partisipasi terhadap
pelaksanaan program.
Bentuk partisipasi
seperti keikutsertaan
dalam mengelola
dana PUAP dan
usaha pribadi
Tahap
pemanfaat
an
Manfaat dari program
yang dirasakan
anggota. Semakin
besar manfaat dari
suatu program maka
program tersebut
berhasil mengenai
sasaran.
Tahap
evaluasi
Partisipasi penerima
program dalam
mengevaluasi
berjalannya program
PUAP.
Definisi Operasional
Kategori
1. Jumlah diundang
rapat : 1-3
2. Jumlah kehadiran
rapat : 1-3
3. Penyampaian
pendapat : 1-3
4. Penyanggahan
pendapat : 1-3
5. Pendapat
dipertimbangkan : 1-3
1. Keikutsertaan
pengelolaan dana : 1-3
2. Keikutsertaan dalam
mengelola usaha : 1-3
3. Jumlah keikutsertaan
pelatihan : 1-3
4. Inisiatif dalam
pelaksanaan program
: 1-3
1. Peningkatan
pendapatan usaha : 1-4
2. Peningkatan skala
usaha : 1-4
3. Peningkatan
pengetahuan usaha : 1-4
4. Peningkatan
keterampilan usaha : 1-4
1. Jumlah keikutsertaan
evaluasi : 1-3
2.Penyampaian pendapat
: 1-3
3. Pendapat
dipertimbangkan : 1-3
4. Program Berkembang
: 1-3
5. Pengontrolan program
: 1-3
Skor
Total nilai 5
pertanyaan lalu
dikategorikan
1. Rendah : 5-8
2. Sedang : 9-11
3. Tinggi : 12-15
Skala
Penguku
ran
Ordinal
Total nilai 4
pertanyaan lalu
dikategorikan
1. Rendah : 5-8
2. Sedang : 9-11
3. Tinggi : 12-15
Ordinal
Total nilai 4
pertanyaan lalu
dikategorikan
1. Rendah : 4-7
2. Sedang : 8-12
3. Tinggi : 13-16
Ordinal
Total nilai 5
pertanyaan lalu
dikategorikan
1. Rendah : 6-8
2. Sedang : 9-11
3. Tinggi : 12-15
Ordinal
Tingkat Taraf Hidup
Taraf hidup merupakan kemampuan seseorang atau keluaraga dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya secara layak. Taraf hidup sendiri dapat dilihat dari
beberapa komponen meliputi tingkat pendapatan, tingkat pengeluaran, tingkat
investasi, dan juga fasilitas rumah tangga. Fasilitas rumah tangga tersebut meliputi
luas lantai bangunan tempat tinggal, jenis lantai bangunan tempat tinggal, jenis
dinding bangunan tempat tinggal, fasilitas tempat buang air besar, sumber
penerangan rumah tangga, sumber air minum, bahan bakar untuk memasak,
pemilikan alat transportasi, tingkat pendapatan, tingkat pengeluaran, dan tingkat
23
investasi yang seluruhnya dapat menggambarkan taraf hidup masyarakat (Rosyida
dan Nasdian 2011). Setiap aspek akan diukur menggunakan data ordinal.
Pengukuran dilakukan dengan memberi nilai pada setiap pertanyaan lalu
dijumlahkan dan hasilnya merupakan indikator dan dikategorikan tinggi, sedang,
dan rendah. Setelah itu setiap indikator akan dijumlahkan dan dikategorikan dalam
tiga tingkat kembali untuk melihat variabel.
Tabel 5 Definisi operasional tingkat taraf hidup masyarakat
Indikator
Tingkat
Pendapa
tan
Tingkat
Pengelu
aran
Tingkat
Tabunga
n
Fasilitas
Rumah
Tangga
Definisi
Banyaknya
pendapatan
responden selama
sebulan dengan
satuan rupiah
Banyaknya
pengeluaran
responden selama
sebulan dengan
satuan rupiah (pangan
dan non-pangan)
Banyaknya simpanan,
uang, barang, dan
lahan yang digunakan
responden sebagai
tabungan di hari
mendatang
Keadaan fisik tempat
tinggal dan fasilitas
barang-barang yang
membantu perkerjaan
rumah tangga
Definisi Operasional
Kategori
Skor
Skala
Pengu
kuran
Seluruh pendapatan
responden (rupiah)
1. Rendah : X ≤ -½
SD
2. Sedang : -½ SD <
X < ½ SD
3. Tinggi : X ≥ ½ SD
Ordinal
Seluruh pengeluaran
responden (rupiah)
1. Rendah : X ≤ -½
SD
2. Sedang : -½ SD <
X < ½ SD
3. Tinggi : X ≥ ½ SD
Ordinal
Seluruh tabungan
responden (rupiah)
1. Rendah : X ≤ -½
SD
2. Sedang : -½ SD <
X < ½ SD
3. Tinggi : X ≥ ½ SD
Ordinal
1. Sumber air : 1-5
2. Status kepemilikan :
1-5
3. Luas bangunan (ha) :
1-5
4. Jenis lantai : 1-6
5. Jenis dinding : 1-3
6. Fasilitas BAB : 1-3
7. Sumber penerangan
: 1-4
8. Bahan bakar : 1-6
9. Aset rumah tangga :
0-22
1. Rendah : X ≤ -½
SD
2. Sedang : -½ SD <
X < ½ SD
3. Tinggi : X ≥ ½ SD
Ordinal
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
Kondisi Geografis dan Keadaan Lingkungan
Desa Ngetuk merupaka salah satu desa yang berada di Kecamatan
Nalumsari, Kabupaten Jepara. Letak koordinat Desa Ngetuk ialah berada pada
110.82905 BT / -6.720883 LS. Batas-batas Geografis Desa Tegal Waru ialah
sebagai berikut :
ï‚· Sebelah Utara
: Berbatasan dengan Desa Bategede
ï‚· Sebelah Selatan
: Berbatasan dengan Desa Tritis
ï‚· Sebelah Barat
: Berbatasan dengan Desa Bendanpete
ï‚· Sebelah Timur
: Berbatasan dengan Desa Karang Nongko
Desa ini terdiri dari empat dusun, sembilan Rukun Warga (RW) dan 33
Rukun Tetangga (RT). Desa Ngetuk memiliki luas wilayah 283,66 Ha terdiri dari
luas areal persawahan 116,81 Ha, luas pemukiman 45,15 Ha, Luas Perkebunan
41,52, Pekarangan 35,53 Ha, dan Luas tanah darat lain 44,65 Ha. Adapun perincian
tataguna lahan Desa Ngetuk, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara terdapat
pada Tabel 6 di bawah ini.
Tabel 6 Tataguna lahan Desa Ngetuk, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara
Tahun 2015
Jenis Penggunaan
Luas Lahan (Ha)
Persentase (%)
Hutan
137.00
29.85
Sawah
116.81
25.45
Pemukiman
45.15
9.84
Perkebunan
41.52
9.05
Tegal/Ladang
40.58
8.84
Pekarangan
35.53
7.74
Tanah Kas Desa
27.70
6.04
Fasilitas Umum
14.65
3.19
Jumlah Luas Wilayah
458.94
100.00
Sumber: Data Pokok Desa Ngetuk, Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia
Tahun
2015
(http://prodeskel.binapemdes.kemendagri.go.id/dpokok_grid_t01/)
Secara geografis desa ini memiliki jumlah luas sawah dan hutan yang lebih besar
sekitar 55% dari jumlah luas wilayah sehingga desa memiliki potensi lebih di
bidang pertanian. Pada area persawahan sistem aliran air yang diterapkan berupa
irigasi setengah teknis seluas 38.94 Ha dan tadah hujan sebesar 77.87 Ha. Tanaman
yang dikembangkan di area persawahan tersebut sebagian besar berisi padi, tebu,
dan palawija. Sementara di area perkebunan banyak ditanami buah-buahan, jati, dan
sengon.
Desa Ngetuk memiliki iklim tropis artinya hanya terdapat dua musim di
desa ini yaitu musim hujan dan musim kemarau. Desa ini dialiri satu aliran sungai
dari mata air yang airnya banyak dimanfaatkan masyarakat untuk mengairi sawah
mereka. Kondisi tersebut menyebabkan tanaman padi rata-rata mampu panen
26
sekitar 3-4 kali dalam satu tahun. Pada bidang transportasi, sarana transportasi yang
menghubungkan desa dengan wilayah sekitarnya dapat dikatakan lancar. Hal ini
dapat dibuktikan dengan ketersedian angkutan umum pada pagi hari dan hampir
setiap rumah memiliki kendaraan bermotor. Untuk dapat mengakses ke bagian
dalam wilayah Desa Ngetuk, sarana transportasi lainnya ialah berupa ojeg. Fasilitas
transportasi ini memudahkan akses masyarakat ke luar desa seperti pendidikan,
perdagangan, dan lainnya.
Kondisi Demografi dan Sosial Budaya
Kependudukan
Hasil sensus penduduk desa tahun 2015 menyatakan bahwa penduduk Desa
Ngetuk berjumlah 5.463 jiwa dengan jumlah penduduk laki-laki sebesar 2.655 jiwa
dan jumlah penduduk perempuan ialah sebesar 2.808 jiwa. Adapun komposisi usia
penduduk dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7 Komposisi usia penduduk Desa Ngetuk, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten
Jepara Tahun 2015
Kelompok Umur
Laki-laki
Persentase
Perempuan
Persentase
(Tahun)
(Jiwa)
(%)
(Jiwa)
(%)
0-6
284
10.69
281
10.08
7 – 12
323
12.16
288
10.33
13 - 18
275
10.35
316
11.33
19 - 25
391
14.72
417
14.95
26 - 40
557
20.97
587
21.05
41 – 55
395
14.87
424
15.20
56 - 65
266
10.02
272
9.75
65 - 75
165
6.21
204
7.31
> 75
29
1.09
32
1.15
Jumlah
2656
100.00
2789
100.00
Sumber: Data Pokok Desa Ngetuk, Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia
Tahun
2015
(http://prodeskel.binapemdes.kemendagri.go.id/dpokok_grid_t01/)
Berdasarkan tabel komposisi usia penduduk, Desa Ngetuk memiliki rasio
jenis kelamin sebesar 95,23 persen artinya terdapat 95 orang laki-laki dari 100
orang perempuan di Desa Ngetuk, Kecamatan Nalumsari. Data tersebut
menggambarkan bahwa proporsi antara laki-laki dan perempuan tidak selisih jauh
jumlahnya. Apabila dilihat dari rentang komposisi umur penduduk, Desa Ngetuk
didominasi oleh usia produktif karena jumlah umur angkatan kerja lebih banyak
daripada jumlah umur non-angkatan kerja. Rasio beban tanggungan di desa ini
adalah sekitar 69 yang berarti tiap 100 individu usia produktif, memiliki beban
tanggungan sejumlah 69 orang. Masyarakat Desa Ngetuk pada usia produktif
sebagian melakukan pekerjaan proyek di luar kota seperti di Semarang,
Jabodetabek, hingga ke Malaysia. Para pekerja proyek luar kota berkerja
meninggalkan desa selama 1 bulan dan kembali ke desa sekitar 1-2 kali. Sementara
27
untuk yang berkerja di Malaysia, penduduk bekerja selama 11 bulam dan kembali
ke desa selama 1 bulan. Biasanya ketika bulan puasa hingga lebaran.
Bahasa yang digunakan sehari-hari oleh masyarakat Desa Ngetuk adalah
Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia. Beberapa orang dengan umur diatas 65 tahun
rata-rata kurang mampu untuk berbahasa Indonesia. Adapun agama mayoritas yang
dimiliki oleh masyarakat Desa Ngetuk ialah Islam dilihat dari hampir semua
penduduk di desa Ngetuk beragama Islam dan dilihat dari jumlah bangunan masjid
4 buah serta musholla yang dimiliki hampir di setiap RW.
Ketenagakerjaan
Ketenagakerjaan disini merupakan pekerjaan yang dilakukan oleh
penduduk atau masyarakat Desa Ngetuk sebagai sumber mata pencaharian utama
bagi keluarganya untuk mendapatkan penghasilan. Mata pencaharian penduduk di
Desa Ngetuk cukup beragam dan umumnya berkelompok-kelompok sehingga
mudah untuk dikategorikan. Pada bidang pertanian, jumlah rumah tangga yang
bekerja sebagai petani sebesar 390 keluarga dengan jumlah anggota 1550 orang.
Sementara jumlah rumah tangga yang bekerja sebagai buruh tani sebesar 250
keluarga dengan jumlah 1000 orang. Masyarakat selain petani banyak bekerja pada
bidang industri kecil dan kerajinan rumah tangga sebesar 1171 orang dan sebagai
karyawan perusahaan swasta sebesar 876 orang. Sementara yang memilih bekerja
menjadi pegawai negeri sipil sebanyak 96 orang.
Seperti yang telah dijelaskan pada subbab sebelumnya bahwa sebagian dari
pekerja karyawan perusahaan tersebut bekerja menjadi karyawan proyek di luar
kota seperti Semarang, Jabodetabek, serta menjadi TKI di Malaysia. Mereka
bekerja dengan waktu yang berpola selama beberapa minggu dan beberapa bulan
setelah itu kembali ke desa. Hal tersebut dikarenakan lapangan pekerjaan di luar
kota dan di Malaysia dianggap lebih menjanjikan daripada bekerja di dalam desa
dan kota. Upah dari bekerja di luar kota dan di Malaysia juga dianggap lebih pasti
dan lebih tinggi dibanding melakukan usaha pertanian di desa yang harga jual hasil
panennya sangat berubah-ubah dan cenderung lebih kecil. Sementara masyarakat
yang memilih bekerja di sekitar Desa Ngetuk sebagian besar bekerja sebagai petani
dan usaha tani, berdagang, serta menjadi karyawan pabrik garmen, produk pakaian,
dan rokok.
Kondisi Ekonomi
Seperti yang telah dijelaskan pada sub-bab sebelumnya bahwa masyarakat
Desa Ngetuk Sebagian besar bekerja sebagai petani, buruh tani, pedagang,
karyawan, dan pegawai negeri sipil dengan penghasilan yang berbeda-beda. Karena
penghasilan berbeda-beda tersebut tingkat kesejahteraan keluarga di masyarakat
berbeda-beda pula. Berdasarkan data yang tersaji pada Tabel 8, dapat dilihat bahwa
kesejahteraan keluarga di Desa Ngetuk jauh lebih banyak di tingkat sejahtera 2
dengan persentase 55.03 % dari keseluruhan keluarga. Sementara disusul dengan
tingkat prasejahtera dan sejahtera 1 dengan persentase sebesar 19.04 % dan 14.99
%. Hal tersebut membuktikan bahwa jumlah keluarga di desa ngetuk sebagian besar
pada tingkat kesejahteraan rendah-sedang. Sebagaian besar dari penduduk yang
berada pada tingkat kesejahteraan ini memiliki pekerjaan dengan upah yang
28
dominan rendah seperti petani kecil, buruh tani, pedagang kecil, dan sebagian
karyawan pabrik.
Tabel 8 Jenis pekerjaan penduduk Komposisi usia penduduk Desa Ngetuk,
Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara Tahun 2015
Jumlah
Kesejahteraan Keluarga
Persentase (%)
(Keluarga)
Prasejahtera
329
19.04
Sejahtera 1
259
14.99
Sejahtera 2
951
55.03
Sejahtera 3
139
8.04
Sejahtera 3 plus
50
2.89
Jumlah
1728
100.00
Sumber: Data Potensi Desa Ngetuk Tahun 2015
GAMBARAN UMUM RESPONDEN
Karakteristik responden yang menjadi fokus penelitian ini adalah Anggota
Tani Penerima Program PUAP di Desa Ngetuk, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten
Jepara, Jawa Tengah. Dalam penelitian ini, jumlah responden yang diteliti sebanyak
45 responden. Karakteristik responden yang di lihat dalam penelitian ini ada
beberapa hal yaitu jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, status pinjaman,
dan penggunaan dana. Berikut data penjelasan hasil penelitian.
Jenis Kelamin
Berdasarkan jenis kelamin, mayoritas responden dalam penelitian di Desa
Ngetuk, Kecamatan Nalumsari dapat dilihat pada Tabel 9. Data hasil penelitian
tersebut menunjukkan bahwa jumlah responden di yang mengikuti Program PUAP
memiliki frekuensi laki-laki dan perempuan yang hampir sama yaitu sebesar 22
orang atau 48.9 persen dan 23 orang atau 51.1 persen. Jumlah frekuensi hampir
sama dikarenakan Program PUAP sendiri menerima semua anggota yang mau
meminjam baik laki-laki dan perempuan. Biasanya laki-laki banyak menggunakan
pinjamannya untuk modal mengelola pertanian dan sebagai tambahan menjadi
pegawai, sementara peminjam perempuan banyak menggunakan modal untuk
mengelola usaha perdagangan dan sebagai tambahan menjadi karyawan.
Tabel 9 Jumlah dan persentase responden berdasarkan jenis kelamin 2016
Jenis Kelamin
Jumlah (n)
Persentase (%)
Laki-laki
22
48.9
Perempuan
23
51.1
Total
45
100.0
Pendidikan
Tingkat pendidikan adalah jenjang pendidikan formal terakhir yang dijalani
oleh responden. Tingkat pendidikan responden penerima program berada pada
kategori tidak tamat sekolah, tamat SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi. Hasil
pada Tabel 10 menunjukan bahwa sebagian besar dari responden memiliki
pendidikan tamat SD yaitu sebesar 24 orang atau 53.3 persen. Sementara jumlah
responden yang memiliki pendidikan tamat SMP sebanyak 7 orang atau 15.6 persen
dan tamat SMA sebanyak 9 orang atau 20 persen. Penerima Program PUAP juga
ada yang menduduki perguruan tinggi namun hanya berjumlah 1 orang saja.
Penerima program sebagian besar memiliki pendidikan rendah yaitu sekitar
tamat SD dan SMP dikarenakan untuk pekerjaan seperti petani, karyawan, maupun
usaaha dagang dengan skala penghasilan kecil hingga menengah tidak
membutuhkan ilmu dan keahlian yang terlalu tinggi artinya juga bisa dijalani oleh
orang-orang dengan tamatan SD dan sekitarnya. Selain itu sebagian besar dari
penerima program yang berada pada tingkat SD memiliki penghasilan yang rendah
hingga menengah sehingga memerlukan bantuan modal untuk memulai usaha
ataupun melanjutkan usaha mereka agar dapat berjalan.
30
Tabel 10 Jumlah dan persentase responden berdasarkan pendididkan terakhir 2016
Pendididkan Terakhir
Jumlah (n)
Persentase (%)
Tidak tamat sekolah dasar
4
8.9
Tamat SD
24
53.3
Tamat SMP/Sederajat
7
15.6
Tamat SMA/Sederajat
9
20.0
Tamat Perguruan Tinggi
1
2.2
Total
45
100.0
Pekerjaan
Pekerjaan merupakan mata pencaharian sehari-hari penerima program
untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka dan keluarganya. Hasil penelitian pada
Tabel 11 menunjukan bahwa penerima Program PUAP memiliki pekerjaan yang
tersebar pada setiap bagian pekerjaan. Sementara pekerjaan tertinggi berada pada
sektor non formal lain dengan jumlah 11 orang atau 24.4 persen. Pekerjaan dibawah
sektor non formal lain yang memiliki jumlah terbanyak yaitu pengusaha dan petani
dan buruh dengan jumlah 11 orang atau 24.4 persen dan 8 orang atau 17.8 persen.
Jumlah pekerjaan terendah yaitu TNI atau Polri sebanyak 3 responden.
Tabel 11 Jumlah dan persentase responden berdasarkan pekerjaan utama 2016
Pekerjaan Utama
Jumlah (n)
Persentase (%)
TNI atau Polri
3
6.7
Pegawai Negeri
6
13.3
Karyawan
7
15.6
Petani dan buruh
8
17.8
Pengusaha
10
22.2
Sektor non formal lain
11
24.4
Total
45
100.0
Sektor non formal lain yang memiliki jumlah tertinggi tersebut terdiri dari
tukang isi korek, pekerja serabutan, belum bekerja, dll. Selanjutnya yang terbanyak
adalah petani, buruh, dan pengusaha karena sesuai dengan tujuan Program PUAP
ini peminjam dikhususkan untuk anggota yang bekerja sebagai petani dan
pengusaha tani yang membutuhkan bantuan modal untuk mengembangkan
usahanya. Selain pekerjaan petani dan pengusaha tani tersebut penerima program
yang bekerja di bidang lain kebanyakan menggunakan dana pinjaman untuk
melakukan usaha sampingan untuk menambah penghasilan dan untuk menutupi
kehidupan sehari-hari.
PROGRAM PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS
PERDESAAN (PUAP) DI DESA NGETUK
Gambaran Umum Kepengurusan Program PUAP
Pengadaan Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) di
Desa Ngetuk telah berjalan sejak tahun 2011 yang dikelola oleh Gapoktan Makmur
Jaya Desa Ngetuk. Program dengan tujuan untuk membantu masalah permodalan
usaha tani masyarakat ini sangat didukung oleh Balai Penyuluh Kecamatan dan
Pemerintah Desa Ngetuk sehingga dapat berkembang hingga saat ini. Program ini
dikelola Tim Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A) Gapoktan Makmur
Jaya sebagai lembaga simpan pinjam khusus untuk melayani anggota gapoktan.
Secara luas LKM-A menyalurkan dana simpan pinjam kepada anggota tani yang
melakukan usaha baik produksi pertanian on-farm maupun off-farm.
Gapoktan Makmur Jaya merupakan gabungan dari kelompok tani yang
bekerja sama dengan tujuan untuk meningkatkan skala ekonomi dan efisiensi usaha.
Gapoktan Makmur Jaya diharapkan masyarakat mampu berfungsi dalam fungsifungsi pemenuhan permodalan pertanian, dan termasuk menyediakan informasi
yang dibutuhkan petani. Selain itu gapoktan ini juga dibentuk untuk mengelola
program-program dari pemerintah yang bertujuan untuk membantu usaha pertanian
masyarakat. Kepengurusan Gapoktan Makmur Jaya awal dibentuk pada tanggal 22
Mei 2008 dengan masa periode 5 tahun melalui musyawarah bersama perangkat
desa. Setelah itu jika masa kepengurusan sudah selesai akan dimusyawarahkan
kembali. Kecuali jika ada pengurus yang melanggar aturan maka dapat diganti
sesuai kebijakan dari pengurus gapoktan dan pengurus poktan. Struktur
kepengurusan sendiri dicantumkan pada lampiran.
Tabel 12 Daftar Kelompok Tani Desa Ngetuk, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten
Jepara Tahun 2015
Lokasi
Jumlah Anggota
Nama Poktan
Persentase (%)
(Dusun)
(Orang)
Sido Mulyo 1
Blok 1
18
14.4
Sido Mulyo 2
Blok 2
31
24.8
Sido Mulyo 3
Blok 3
46
36.8
Sido Mulyo 4
Blok 4
30
24
Sumber: Laporan Pertanggungjawaban Rapat Anggota Tahunan Desa Ngetuk
Tahun 2016
Gapoktan Makmur Jaya menaungi 4 kelompok tani (poktan) yang tersebar
di setiap dusun pada Desa Ngetuk. Pembagian lokasi kelompok tani didasarkan
pada lokasi wilayah tempat tinggal dan dusun di Desa Ngetuk. Pemilihan anggota
setiap kelompok tani melalui pendaftaran kepada ketua poktan dan bersedia
mengikuti peraturan dan kegiatan poktan. Berdasarkan data yang tersaji pada Tabel
12, Sebaran anggota kelompok tani yang paling banyak berada pada Poktan Sido
Mulyo 3. Hal ini dikarenakan luas wilayah di Sido Mulyo 3 adalah paling luas dan
banyak dari masyarakat yang bekerja menjadi petani serta bersedia bergabung ke
dalam kelompok tani.
32
Penyelenggaraan rapat dan pertemuan Gapoktan Makmur Jaya selama
setahun terakhir diadakan sebanyak 19 kali dengan rincian 12 kali rapat khusus
untuk pengurus gapoktan, 1 kali rapat pengurus dengan anggota gapoktan, dan 6
pertemuan lain. Pertemuan lain tersebut berupa sosialisasi, pelatihan, dan
kunjungan yang diadakan dari balai penyuluhan maupun dinas terkait dan dihadiri
oleh perwakilan dari pengurus gapoktan.
Proses berjalannya Program PUAP pada awalnya program ini ditempuh
melalui beberapa tahap hingga dana BLM PUAP dapat cair. Langkah pertama yang
dilakukan pada masa pengajuan tahun 2011 adalah setiap poktan melakukan Rapat
Umum Anggota (RUA) terkait macam-macam usaha yang ingin dikembangkan
oleh anggota poktan. Selanjutnya hasil rapat ditampung dan dimusyawarahkan pada
Rapat Umum Kepengurusan (RUK) oleh pengurus dan anggota gapoktan bersama
dengan pemerintah desa dan penyuluh lapang. Rapat tersebut membahas mengenai
kebutuhan utama usaha baik pertanian on-farm dan pertanian off-farm yang
potensial dapat membantu usaha anggota. Setelah disepakati hasil rapat diajukan ke
dalam Rencana Usaha Bersama (RUB) untuk memetakan pembagian dana
pinjaman kepada setiap poktan dan usaha petani secara adil. Selanjutnya pada tahun
2012 dana Simpan Pinjam PUAP baru cair sebesar 100 juta dan dikelola oleh Tim
LKM-A Gapoktan Makmur Jaya.
Calon peminjam dapat meminjam dana PUAP maksimal 2 juta per individu
dengan prosedur membawa foto kopi KTP, KK, surat rekomendasi dari ketua
poktan, serta harus memenuhi simpanan wajib dan pokok terlebih dahulu.
Pengangsuran dilakukan sebanyak 10 kali dengan biaya jasa sebesar 1% per
angsuran dan jangka waktu maksimal hingga 10 bulan. Bagi peminjam yang belum
dapat membayar maka diberi keringanan hingga 3 bulan. Hasil dari jasa tersebut
digunakan gapoktan untuk biaya kegiatan, adminstrasi, dan disimpan kembali untuk
menambah saldo. Hingga RAT pada Maret 2016, dana simpan pinjam telah
berkembang menjadi 125.492.000 dengan rincian dana yang sudah tersalur selama
4 tahun sekitar 235 juta rupiah.
Kondisi Penerima Program PUAP
Kondisi penerima Program PUAP merupakan informasi keadaan penerima
program selama empat tahun ini berjalan. Kondisi ini meliputi status keanggotaan,
lama bergabung, frekuensi pinjaman, frekuensi peminjaman setiap tahun, dan
jumlah pinjaman terakhir. Kondisi penerima program dapat memberi gambaran
berjalannya Program PUAP di Desa Ngetuk serta keefektifan program tersebut.
Secara lebih lengkap akan dijelaskan berikut.
Status Keanggotaan
Status keanggotaan merupakan status kepengurusan program jabatan yang
dibawa penerima program yang berkaitan dengan peran menjalankan program
tersebut. Status keanggotaan penerima pada penelitian ini dibagi menjadi dua status
umum yaitu pengurus dan anggota. Berdasarkan data pada Tabel 13, frekuensi
status keanggotaan penerima program terbesar ada pada status anggota yaitu
sebanyak 38 orang atau 84.4 persen. Sementara hanya 7 orang yang menjadi
pengurus baik pengurus aktif maupun yang kurang aktif. Hal ini menujukan bahwa
33
adanya Program PUAP di Desa Ngetuk telah dimanfaatkan oleh pengurus dan
anggota. Lebih dari 50 persen pengurus juga ikut meminjam dikarenakan
kesempatan untuk meminjam yang lebih dekat dan mereka sendiri yang
mengelolanya sehingga proses peminjaman lebih mudah dan cepat.
Tabel 13 Jumlah dan persentase responden berdasarkan status keanggotaan
Program PUAP 2016
Status Keanggotaan
Jumlah (n)
Persentase (%)
Pengurus
7
15.6
Anggota
38
84.4
Total
45
100.0
Lama Bergabung
Lama bergabung merupakan jumlah lama periode menjadi penerima
program dalam hitungan tahun. Proses bergabungnya penerima program dalam
Program PUAP pada awalnya diambil dari anggota-anggota kelompok tani
sebanyak 100 orang dan telah berkembang 25 persen hingga tahun 2015 akhir.
Berdasarkan data pada Tabel 14 yang menunjukan frekuensi lama bergabung
penerima Program PUAP, terlihat bahwa sebagian besar penerima program telah
bergabung selama 4 tahun dengan frekuensi sebanyak 27 orang atau 60 persen.
Selanjutnya diikuti oleh periode 3 tahun, 2 tahun, dan 1 tahun dengan frekuesi
masing-masing 11 orang, 5 orang, dan 2 orang. Kondisi ini menunjukan baik
pengurus dan anggota sebagian besar telah mengikuti program dari awal dan
bersedia melanjutkan program hingga empat tahun periode dan masih bersedia
melanjutkan kembali. Selain itu banyak masyarakat yang ingin bergabung menjadi
penerima program setiap tahunnya. Hal ini menunjukan masyarakat dan penerima
program masih sangat antusias terhadap program dan antusias penerima tersebut
semakin bertambah setiap tahun.
Tabel 14 Jumlah dan persentase responden berdasarkan lama bergabung Program
PUAP 2016
Lama Bergabung
Jumlah (n)
Persentase (%)
Satu Tahun
2
4.4
Dua Tahun
5
11.1
Tiga Tahun
11
24.4
Empat Tahun
27
60.0
Total
45
100.0
Frekuensi Pinjaman
Frekuensi pinjaman merupakan jumlah berapa kali pinjaman yang
dilakukan penerima program dari awal Program PUAP hingga rentang akhir 2015.
Peminjam dapat melakukan pinjaman kembali jika periode pinjaman sebelumnya
telah lunas. Berdasarkan data pada Tabel 15 yang menunjukan frekuensi pinjaman
penerima program, frekuensi pinjaman tertinggi berada pada pinjaman sebanyak 2
34
kali dan 3 kali dengan jumlah sebanyak 16 orang atau 35.6 persen dan 15 orang
atau 33.3 persen. Sementara sisanya memiliki frekuensi pinjaman 1 kali dan 2 kali
dengan jumlah 5 orang dan 9 orang. Kondisi ini menunjukan frekuensi pinjaman
penerima program pada tingkat sedang artinya penerima masih antusias dan
bersedia melanjutkan pinjaman untuk mengelola usaha mereka. Sebagian penerima
yang baru bergabung beberapa tathun terakhir juga bersedia melanjutkan pinjaman
setiap tahun. Hanya sebagian kecil yang tidak melanjutkan pinjaman dengan alasan
sudah tidak membutuhkan uang pinjaman lagi karena usahanya sudah mandiri atau
malah usahanya tidak berjalan.
Tabel 15 Jumlah dan persentase responden berdasarkan frekuensi pinjaman
Program PUAP 2016
Frekuensi Pinjaman
Jumlah (n)
Persentase (%)
5
11.1
Satu Kali
16
35.6
Dua Kali
15
33.3
Tiga Kali
9
20.0
Empat Kali
Total
45
100.0
Jumlah Peminjam
Jumlah peminjam merupakan banyaknya penerima program yang
meminjam uang kepada simpan pinjam PUAP setiap tahun. Berdasarkan data pada
Tabel 16 yang menunjukan jumlah penerima program yang melakukan pinjaman
per tahun, peminjam tebanyak berada pada tahun 2014 dengan jumlah sebanyak 34
orang atau 75.4 persen. Kondisi tahun 2014 tertinggi ini merupakan perkembangan
dari tahun 2012 dan 2013 yang berkumbang dengan jumlah 21 orang menjadi 31
orang. Sementara pada tahun 2015 peminjam mengalami penurunan sebanyak 4
orang menjadi 30 orang atau 66.6 persen. Secara keseluruhan jumlah peminjam
setiap tahun mengalami peningkatan dikarenakan sebagian besar penerima program
masih membutuhkan pinjaman dana untuk mengelola usaha mereka. Selain itu
pengusaha lain juga masih membutuhkan bantuan modal sehingga setiap tahun
semakin bertambah anggota PUAP dan peminjam semakin bertambah. Namun pada
tahun 2015 mengalami penurunan dikarenakan terjadi masalah kepengurusan yaitu
ada yang melakukan korupsi uang simpan pinjam sehingga dana yang seharusnya
dipinjamkan kepada penerima program namun masih tertahan pada pengurus
tersebut. Namun masalah tersebut sudah diatasi pada rapat akhir tahun 2015.
Tabel 16 Jumlah dan persentase responden berdasarkan peminjam per tahun
Program PUAP 2016
Peminjam Per Tahun
Jumlah (n)
Persentase (%)
Tahun 2012
21
46.6
Tahun 2013
31
68.8
Tahun 2014
34
75.4
Tahun 2015
30
66.6
35
Jumlah Pinjaman Terakhir
Jumlah pinjaman terakhir merupakan jumlah nominal pinjaman terakhir
yang dilakukan penerima program selama bergabung dalam simpan pinjam PUAP.
Jumlah nominal pinjaman terakhir dipilih untuk melihat seberapa banyak dana yang
dapat dipinjamkan pengurus kepada penerima program. Perlu diketahui bahwa pada
tahun 2012 peminjam hanya boleh meminjam 1 juta rupiah karena keterbatasan
modal simpan pinjam. Berdasarkan data pada Tabel 17 yang menunjukan jumlah
nominal pinjaman terakhir penerima program, terlihat bahwa peminjam sebagian
besar melakukan pinjaman sebesar 2 juta dengan jumlah sebanyak 30 orang atau
66.7 persen. Sementara penerima lain melakukan pinjaman 1 juta dan 1.5 juta
sebanyak 13 orang dan 2 orang. Hal ini menunjukan perkembangan dari yang
awalnya hanya boleh meminjam 1 juta menjadi dominan 2 juta. Selain itu penerima
program lebih memilih melakukan pinjaman 2 juta dikarenakan kebutuhan modal
yang sangat besar untuk melakukan usaha sehingga modal 1 juta hingga 2 juta
dinilai sangat kurang untuk menjalankan usaha tani mereka.
Tabel 17 Jumlah dan persentase responden berdasarkan jumlah peminjam terakhir
Program PUAP 2016
Jumlah Pinjaman Terakhir
Jumlah (n)
Persentase (%)
13
28.9
Satu Juta
2
4.4
Satu Setengah Juta
30
66.7
Dua Juta
Total
45
100.0
Status Pinjaman terakhir
Status pinjaman terakhir merupakan status peminjaman PUAP yang sedang
dijalani responden selama masa penelitian sedang berlangsung. Status ini diambil
dari masa pinjaman terakhir responden baik yang masih dalam tahap pelunasan
ataupun yang sudah lunas. Dari keseluruhan responden, dapat dikatakan status yang
paling dominan dilihat dari nilai median adalah masa pengembalian. Hal ini
dikarenakan masa pengembalian memiliki frekuensi tinggi yaitu 20 orang atau 44.4
persen. Selanjutnya diikuti oleh masa tenggang sebanyak 11 orang atau 24.4 persen.
Sementara yang melewati masa tenggang memiliki frekuensi kecil hanya 7 orang
atau 15.6 persen.
Tabel 18 Jumlah dan persentase responden berdasarkan status pinjaman PUAP
2016
Status Pinjaman
Jumlah (n)
Persentase (%)
Lewat masa tenggang
7
15.6
Masa tenggang
11
24.4
Masa pengembalian
20
44.4
Sudah dikembalikan
7
15.6
Total
45
100.0
36
Tabel 18 tersebut menunjukan masa pengembalian memiliki frekuensi
tertinggi. Hal ini sesuai kondisi lapangan bahwa banyak penerima program yang
membayar angsuran dan melunasinya sesuai waktu yang ditentukan. Sementara
kedua tertinggi adalah masa tenggang dengan arti penerima program mengalami
penunggakan tidak lebih dari 3 bulan. Sangsi yang diberikan oleh pengurus seperti
memberi peringatan secara lisan dan melalui surat dari gapoktan. Selanjutnya lewat
masa tenggang tersebut berarti sebanyak 7 orang responden mengalami
penunggakan lebih dari 3 bulan. Frekuensi lewat masa tenggang tersebut cukup
kecil dengan sangsi yang diberikan hanya didatangi ke rumahnya dan diberi surat
oleh pengurus dan kepala desa. Pernyataan tersebut sesuai pendapat responden
dibawah ini.
“Kalau data saya hanya kecil yang nunggak, itupun dampak dari
masalah keluarga. Data saya seperti itu kemaren ada tiga, yang satu
memang tidak ngangsur karena ada masalah keluarga kemudian
pergi sudah dua tahun nggak pulang” (SD, 49 Tahun)
Penggunaan Dana Terakhir
Penggunaan dana terakhir merupakan status penggunaan dana peminjaman
PUAP yang sedang dijalani responden selama masa penelitian sedang berlangsung.
Status penggunaan ini diambil dari masa pinjaman terakhir responden baik yang
masih dalam tahap pelunasan ataupun yang sudah lunas. Berdasarkan Tabel 19
menyatakan bahwa penggunaan dana pertanian off farm memiliki frekuensi
tertinggi yaitu sebesar 18 orang atau 40 persen. Hal tersebut didukung dengan nilai
median pada pertanian off-farm berarti penerima program cenderung menggunakan
pinjaman untuk kebutuhan pertanian off-farm. Selanjutnya diikuti oleh nilai
pertanian on-farm sebesar 16 orang atau 35.6 persen, keperluan sehari-hari 8 orang
atau 17.8 persen, dan penggunaan lainnya hanya 3 responden atau 6.7 persen.
Tabel 19 Jumlah dan persentase responden berdasarkan penggunaan dana Program
PUAP 2016
Penggunaan Dana
Jumlah (n)
Persentase (%)
Pertanian On-farm
16
35.6
Pertanian Off-farm
18
40.0
Keperluan sehari-hari
8
17.8
Lainnya
3
6.7
Total
45
100.0
Kondisi kecenderungan penerima program menggunakan dana untuk
kepentingan pertanian off-farm dan on-farm ini berarti pelaksanaan Program PUAP
di Desa Ngetuk dapat dinyatakan 75.6 persen tepat sasaran. Sementara sisanya
menggunakan dana pinjaman untuk keperluan selain usaha pertanian. Rata-rata
mereka mengaku meminjam kepada pengurus untuk melakukan usaha namun
ketika penggunaan ada yang digunakan untuk keperluan sehari-hari dan keperluan
lainnya. Seperti pada keperluan sehari-hari, penerima program menggunakan dana
untuk makan dan minum, membayar pendidikan, dan memenuhi kebutuhan rumah
37
tangga lainnya. Pada tebel lainnya tersebut penerima program menggunakan dana
untuk tujuan lain seperti merawat orang sakit dan merenovasi rumah. Seperti
pernyataan salah satu responden dibawah ini.
“Aku setiap hari bisa jualan lontong, iso ngobatno mamaku kan, iso
mbayarne ngoperasine anakku tabrakan 3 kali wi lho. Yo emang duit
iki tak puter-puter tak nggo usaha, yo tak nggo nyicil (Aku bisa
membeli obat untuk ibu, bisa membayar biaya operasi 3 kali
kecelakaan anaku. Memang uang ini saya putar untuk usaha dan
mengangsur.)” (RBN, 41 Tahun)
Keterkaitan Kondisi Penerima Program PUAP dengan Usaha Tani
Program PUAP merupakan program yang dirancang untuk membantu
permasalahan usaha tani masyarakat desa. Seperti pada Desa Ngetuk, adanya
Program PUAP dikhususkan untuk membantu permasalahan anggota tani yang
tergabung dalam gapoktan terkait usaha tani mereka masing-masing. Kondisi
penerima program, status, dan peranan mereka menentukan seberapa jauh mereka
berkontribusi dalam mengelola simpan pinjam maupun mengelola usaha tani
masing-masing. Status keanggotaan tersebut juga dapat menentukan kepatuhan
terhadap aturan simpan pinjam PUAP. Berikut merupakan tabulasi silang kaitan
status keanggotaan dengan status pinjaman terakhir.
Tabel 20 Tabulasi silang antara status keanggotaan dan status pinjaman
Program PUAP 2016
Status Pinjaman Terakhir
Lewat
Masa
Masa
Sudah
Status Keanggotaan
masa
teng
Peng
dikem
tenggang
gang
embali
bali
an
kan
Jumlah (n)
1
1
5
0
Pengurus Persentase (%)
14.3%
14.3%
71.4%
0.0%
Anggo
Jumlah (n)
6
10
15
7
ta
Persentase (%)
15.8%
26.3%
39.5%
18.4%
Jumlah (n)
7
11
20
7
Total
Persentase (%)
15.6%
24.4%
44.4%
15.6%
terakhir
Total
7
100.0%
38
100.0%
45
100.0%
Berdasarkan data pada Tabel 20 diatas menunjukan bahwa jumlah status
keanggotaan baik pengurus maupun anggota tertinggi berada pada masa
pengembalian yaitu sebesar 71.4 persen dan 39.5 persen. Sementara jika dilihat dari
yang melanggar aturan pinjaman yaitu yang memiliki status lewat masa tenggang
dan masa tenggang menunjukan pelanggaran pengurus sebesar 28.6 persen dan
anggota 42.1 persen. Hal ini menunjukan pelanggaran anggota lebih tinggi dari
pada pengurus dikarenakan menjadi pengurus membutuhkan tanggung jawab sosial
yang tinggi serta membutuhkan kepercayaan masyarakat agar masyarakat turut
mendukung dan berkontribusi terhadap program tersebut. Pandangan tersebut
membuat pengurus menjadi cerminan program sehingga mereka merasa malu jika
melanggar aturan yang mereka tegakan sendiri. Namun jika dilihat secara
38
keseluruhan kurang ada keterkaitan antara status keanggotaan dengan status
pinjaman terakhir dikarenakan baik pengurus dan anggota ada juga yang tidak
terlalu aktif dan tidak mematuhi aturan.
Tabel 21 Tabulasi silang antara status keanggotaan dan tingkat mengelola usaha
Program PUAP 2016
Tingkat Mengelola Usaha
Status Keanggotaan
Total
Tidak
Jarang
Sering
Pengurus
Jumlah (n)
0
2
5
7
Persentase (%)
0.0%
28.6%
71.4% 100.0%
Jumlah (n)
4
12
22
38
Anggota
Persentase (%)
10.5%
31.6%
57.9% 100.0%
Jumlah (n)
4
14
27
45
Total
Persentase (%)
8.9%
31.1%
60.0% 100.0%
Selanjutnya jika dilihat dari status keanggotaan dan keterkaitannya dengan
tingkat mengelola usaha tani pribadi, Tabel 21 menunjukan bahwa baik pengurus
maupun anggota sama-sama mengelola usaha tani pribadi dengan tingkat tinggi
yaitu sebesar 71.4 persen dan 57.9 persen. Namun jika dibandingkan tidak ada
pengurus yang tidak mengelola usaha tani sedangkan anggota sebesar 10.5 persen
tidak mengelola usaha tani. Hal ini menunjukan pengurus lebih berkontribusi dalam
mengelola usaha tani dikarenakan kemampuan dan status mereka menjadi panutan
anggota tani sehingga pengurus harus memberi contoh pengelolaan usaha yang
baik. Namun jika dilihat secara keseluruhan kurang ada keterkaitan antara status
keanggotaan dengan tingkat mengelola usaha dikarenakan baik pengurus dan
anggota sebagian besar sama-sama meminjam modal dan berkontribusi dalam
mengelola usaha tani masing-masing.
Tabel 22 Tabulasi silang antara status pinjaman terakhir dan tingkat
usaha Program PUAP 2016
Tingkat Mengelola Usaha
Status Pinjaman Terakhir
Rendah
Sedang
Tinggi
Lewat masa
Jumlah (n)
0
3
13
tenggang
Persentase (%)
0.0%
18.8%
81.3%
Masa
Jumlah (n)
1
6
11
tenggang
Persentase (%)
5.6%
33.3%
61.1%
Masa
Jumlah (n)
3
3
2
pengembalian Persentase (%)
37.5%
37.5%
25.0%
Sudah
Jumlah (n)
0
2
1
dikembalikan Persentase (%)
0.0%
66.7%
33.3%
Jumlah (n)
4
14
27
Total
Persentase (%)
8.9%
31.1%
60.0%
mengelola
Total
16
100.0%
18
100.0%
8
100.0%
3
100.0%
45
100.0%
Selanjutnya jika dilihat dari status pinjaman terakhir dan keterkaitannya
dengan tingkat mengelola usaha tani pribadi, Tabel 22 menunjukan bahwa pada
tingkat mengelola usaha rendah, status pinjaman terakhir tertinggi pada masa
pengembalian dengan 37.5 persen. Sedangkan pada tingkat mengelola usaha tinggi,
status pinjaman terakhir berada pada lewat masa tenggang dengan nilai 81.3 persen.
39
Hal ini menunjukan bahwa status pinjaman terakhir yang menggambarkan
kepatuhan penerima terhadap program tidak berhubungan dengan tingkat
mengelola usaha. Hal ini disebabkan masyarakat yang berusaha tani on-farm lebih
dapat membayar ketika hari panen saja sehingga menunggak. Selain itu juga
disebabkan oleh tingginya pengelolaan usaha masyarakat masih belum efektif
sehingga belum mampu memberi peningkatan pendapatan dan belum mampu
membayar angsuran dengan cepat. Penjelasan mengenai status pinjaman terkahir
dan hubungan dengan pendapatan akan dijelaskan berikut.
Tabel 23 Tabulasi silang antara status pinjaman terakhir dan tingkat pendapatan
Program PUAP 2016
Tingkat Pendapatan
Status Pinjaman Terakhir
Total
Rendah
Sedang
Tinggi
Lewat masa
Jumlah (n)
1
4
2
7
tenggang
Persentase (%)
14.3%
57.1%
28.6%
100.0%
Masa
Jumlah (n)
4
5
2
11
tenggang
Persentase (%)
36.4%
45.5%
18.2%
100.0%
Masa
Jumlah (n)
3
14
3
20
pengembalian Persentase (%)
15.0%
70.0%
15.0%
100.0%
Sudah
Jumlah (n)
0
7
0
7
dikembalikan Persentase (%)
0.0%
100.0%
0.0%
100.0%
Jumlah (n)
8
30
7
45
Total
Persentase (%)
8.9%
31.1%
60.0%
100.0%
Jika dilihat dari status pinjaman terakhir dan keterkaitannya dengan tingkat
mengelola usaha tani pribadi, Tabel 23 menunjukan bahwa pada tingkat pendapatan
rendah status pinjaman tertinggi pada kategori masa tenggang dan lewat masa
tenggang sebesar 50.7 persen lebih besar dibandingkan dengan masa pengembalian
hanya 15 persen. Hal ini menunjukan tingkat pendapatan rendah juga
mempengaruhi kepatuhan pengangsuran pinjaman. Namun jika dilihat secara
keseluruhan pada setiap ketegori pinjaman terakhir, tingkat pendapatan tertinggi
berada pada tingkat sedang dari 45.5 persen hingga 100 persen. Hal ini menunjukan
status pinjaman terakhir kurang berhubungan dengan tingkat pendapatan. Tingkat
pendapatan lebih dipengaruhi oleh efektivitas usaha tani dan pekerjaan penerima
program tersebut. Secara lebih jelas akan dijelaskan pada bab selanjutnya.
ANALISIS MODAL SOSIAL PROGRAM PUAP
Modal Sosial Program PUAP
Modal Sosial merupakan kemampuan individu dalam membangun
hubungan-hubungan dalam masyarakat seperti kepercayaan, norma-norma, dan
jaringan sosial yang membantu individu tersebut untuk bersosialisasi dengan
masyarakat dan membantu memenuhi kebutuhan hidupnya. Secara khusus modal
sosial juga membantu masyarakat untuk menjalankan suatu kegiatan maupun
program baik dari pemerintah maupun swadaya. Penelitian ini menjelaskan hasil
identifikasi unsur-unsur modal sosial meliputi jaringan sosial, kepercayaan, dan
norma yang diterapkan oleh masyarakat Desa Ngetuk dalam menjalankan usaha
taninya. Selain itu juga untuk mengetahui peran modal sosial dalam mendukung
berjalannya Program PUAP yang telah dikelola gapoktan sehingga menjadi desa
dan tergolong bagus pengelolaannya dibandingkan desa lain.
Kepercayaan
Kepercayaan atau trust merupakan suatu bentuk keinginan untuk
mengambil resiko dalam hubungan sosial yang didasari perasaan yakin bahwa
orang lain akan melakukan sesuatu sesuai dengan yang kita harapkan dan akan
bertindak kedalam pola yang saling mendukung (Putnam dalam Alfitri 2011).
Kepercayaan terhadap program merupakan perasaan yakin dari anggota terhadap
program maupun orang-orang yang mengurusi program tersebut mampu
menjalankan program dengan benar. Kepercayaan ini dilihat dari beberapa
indikator meliputi kepercayaan penerima program terhadap pengelola PUAP,
penyuluh pendamping, pegurus gapoktan, dan kepercayaan terhadap anggota lain.
Berdasarkan hasil penelitian tingkat kepercayaan terhadap program yang
dilakukan kepada penerima Program Simpan Pinjam PUAP sebanyak 45
responden, hasil menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan penerima program
tergolong tinggi karena sebanyak 75.6% atau 34 orang termasuk pada kategori
tingkat kepercayaan tinggi. Sedangkan 24.4% atau 11 orang sisanya masuk pada
kategori sedang. Sementara tidak ada penerima yang menempati posisi rendah. Hal
ini dapat terlihat pada Tabel 24.
Tabel 24 Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat kepercayaan
Program PUAP 2016
Tingkat Kepercayaan
Jumlah (n)
Persentase (%)
Sedang
15
33.3
Tinggi
30
66.7
Total
45
100.0
Tingkat kepercayaan penerima program PUAP di Desa Ngetuk tergolong
tinggi dapat dikarenakan sifat dari masyarakat sendiri yang saling mempercayai dan
menghargai, selain itu juga didukung oleh kinerja dari pengurus dan anggota yang
baik dipandang masyarakat. Sifat saling mempercayai ini dapat dilihat dari perilaku
penerima program yang selalu mendukung dan mematuhi aturan gapoktan
42
meskipun pengurus gapoktan tersebut telah beberapa kali berganti dan ada yang
kurang kompeten. Sifat tersebut juga tercermin dalam perilaku masyarakat desa
yang selalu menuruti arahan dari perangkat desa, terlepas perangkat tersebut
memiliki pengetahuan tinggi ataupun tidak. Mereka percaya bahwa arahan
perangkat desa untuk membantu masyarakat dan kebaikan desa sendiri.
Kepercayaan tersebut juga tercermin dalam kehidupan penerima program
dan pengurus program sendiri. Sebagian besar warga penerima Program PUAP
telah mengangsur dan melunasi pinjamannya. Hanya sebagian kecil yang
menunggak dan tidak mau melunasi pinjamannya. Adapun sebagian warga yang
telat membayar selama 2-3 bulan meskipun secara administratif harus didenda,
namun pengurus lebih memilih mengingatkan penerima dahulu dari pada
mendenda. Hal ini karena pengurus pun percaya bahwa anggota tani pada dasarnya
orang baik-baik dan pasti berusaha melunasi pinjamannya jika telah memiliki uang.
Pernyataan ini sesuai dengan penuturan yang dikemukakan oleh salah satu
responden berikut.
“Kalau di aturan itu katanya ada tapi sampai selama ini gak
dijalankan, karena apa karena akhirnya juga dia baik sendiri. Dulu
katanya pak kalau ngagsurnya telat saya tu didenda, tapi selama ini
dendanya di administrasi ndak ada. Ya Cuma istilahe kita bikin
aturan tapi ya namanya orang ya mas ya” (SKT, 46 Tahun)
Jika diidentifikasi lebih mendalam kepercayaan tersebut sebenarnya
menunjukkan nilai yang berbeda-beda pada setiap lembaga atau orang. Seperti
kepercayaan terhadap pengurus, anggota, dan penyuluh lapang menunjukan nilai
dan tanggapan yang berbeda-beda pula. Seperti penuturan salah seorang informan
terkait tanggapannya terhadap pengurus gapoktan sebagai berikut.
“Dari rekan-rekan ada yang bilang, pak pengurus itu sregep (rajin)
kok pak nek ono masalah iku (jika ada masalah) langsung ditangani
lah masalahnya, tapi juga tanya ini-ini gitu” (SKT, 46 Tahun)
Pendapat tersebut menunjukkan bentuk kepercayaan penerima terhadap pengurus
gapoktan. Jika ada masalah pada pengurus maka langsung ditangani agar penerima
tidak terkena dampaknya. Secara lebih jelas bentuk kepercayaan penerima pada
lembaga dan orang-orang yang terkait seperti pengurus, anggota, dan penyuluh
lapang dapat dilihat pada Tabel 25. Tabel tersebut menunjukan bahwa tingkat
kepercayaan yang dominan tinggi lebih terlihat pada pengurus gapoktan dengan
jumlah 38 orang atau 84.4 persen, dan anggota gapoktan dengan jumlah 39 orang
atau 86.7 persen. Sementara penyuluh pendamping menunjukan tingkat
kepercayaan antara sedang dan tinggi dengan jumlah tinggi hanya 20 orang atau
44.4 persen.
43
Tabel 25 Jumlah dan persentase responden berdasarkan 2016 tingkat kepercayaan
terhadap pengurus gapoktan, anggota, dan penyuluh pendamping 2016
Anggota
Penyuluh
Pengurus Gapoktan
Gapoktan
Pendamping
Tingkat
Kepercaya
Persen
Persen
Persen
Jumlah
Jumlah
Jumlah
an
tase
tase
tase
(n)
(n)
(n)
(%)
(%)
(%)
Rendah
3
6.7
0
0.0
2
4.4
Sedang
4
8.9
9
20.0
24
53.3
Tinggi
38
84.4
36
80.0
19
42.2
Total
45
100.0
45
100.0
45
100.0
Tingkat kepercayaan tinggi pada pengurus gapoktan dan anggota gapoktan
dapat disebabkan oleh beberapa hal. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya
bahwa kepercayaan penerima terhadap pengurus dapat dikarenakan faktor dari
kinerja pengurus sendiri yang bagus. Seperti yang dikatakan seorang responden
bahwa pengurus rata-rata sudah bagus. Hanya sebagian kecil yang kurang bagus
dan itu juga sudah diatasi. Kepercayaan terhadap anggota gapoktan sangat tinggi
juga dikarenakan selain dari sifat masyarakat juga dilihat dari kinerja penerima
program yang sebagian besar bagus dalam mengangsur Program PUAP dan
menaati peraturan. Tingginya kepercayaan tersebut membuat pengurus gapoktan
menoleransi jaminan pinjaman menjadi ringan agar tidak memberatkan penerima.
“Bantuan hutang terbatas, tidak pakai agunan mas. Sampai 2 juta
itu tidak pakai agunan. Karena saya percaya orang ngetuk itu banyak
yang mengembalikan. Banyak yang mengembalikan daripada yang
menggelapkan. Saya percaya saja” (TM, 64 Tahun)
Sementara pada tingkat kepercayaan penyuluh lapang tidak setinggi
pengurus gapoktan dan anggota gapoktan dikarenakan kinerja dari penyuluh
pendamping yang kurang kelihatan menurut penerima program. Penyuluh
pendamping jarang datang ke rapat pengurus gapoktan dan jarang melakukan
sosialisasi dengan anggota gapoktan sehingga penyuluh pendamping kurang
dipercaya oleh penerima program. Bahkan ada beberapa responden yang salah
menyebut nama penyuluh dan tidak mengetahuinya. Seperti penuturan salah satu
responden berikut.
“Jarang niku kok, kulo nggeh nembe semerep PPL e nggeh. Mas
Anton berarti ketoke. Nggeh ngoten niku lah nek mantau mboten terus
sering ngoten (PPL jarang hadir, saya juga baru tau PPL nya mas
Anton kayanya. Ya kalau memantau tidak sering begitu)” (SHT, 35
Tahun)
Namun terlepas dari kurangnya kinerja penyuluh, masyarakat Desa Ngetuk
khususnya penerima Program PUAP masih percaya bahwa penyuluh pendamping
tetap mengontrol jalannya Program PUAP meskipun tidak rutin tapi tetap
membantu simpan pinjam hingga berjalan terus sampai saat ini.
44
Norma
Norma merupakan sekumpulan aturan yang diharapkan dipatuhi dan diikuti
oleh anggota masyarakat dalam suatu entitas sosial tertentu. Norma biasanya
memiliki aturan kolektif yang tidak tertulis namun telah dipahami masyarakat
dalam mengatur pola hidup mereka seperti menghormati yang lebih tua, sopan
santun, tidak mengganggu kesibukan orang lain, dan adat istiadat. Norma berperan
sebagai pengatur perilaku seseorang dalam masyarakat dan mampu berperan
sebagai kontrol masyarakat agar bertindak patuh sesuai dengan yang masyarakat
harapkan. Khususnya pada program, norma mampu mengatur kepatuhan warga
terhadap aturan-aturan yang ditetapkan program dan mampu sebagai kontrol agar
pelaksana program yang kurang sesuai aturan akan merasa jera dan kurang pantas.
Norma pada Desa Ngetuk sendiri telah diterapkan untuk membantu
mengatur kepatuhan penerima terhadap Program Simpan Pinjam PUAP. Norma
tersebut tercermin dari aturan-aturan yang digunakan sebagai pedoman
menjalankan simpan pinjam PUAP ini. Bentuk aturan dan penerapannya sebagai
berikut.
Tabel 26 Norma aturan dan penerapan simpan pinjam PUAP 2016
No
Aturan
Penerapan
1
Pengangkatan anggota tani hanya Selain petani dan petani penggarap,
untuk masyarakat yang bekerja warga yang memiliki pekerjaan
sebagai petani / petani penggarap
usaha tani dan usaha rumahan boleh
menjadi anggota tani.
2
Seluruh anggota diundang rapat Sebagian anggota yang diundang
bersama
rapat bersama
3
Peminjam PUAP harus membayar Sesuai aturan
iuran wajib, pokok, dan sukarela,
serta dikenai Bunga 1% selama 10
kali angsuran.
4
Ada jaminan BPKB sepeda motor Tidak ada jaminan. Peminjam hanya
atau sertifikat berharga lainnya. membawa surat rekomendasi dari
Namun jika tidak mempunyai harus ketua potan.
ada orang yang menjamin
5
Peminjam yang memiliki tunggakan Tidak ada denda. Hanya diberi surat
2 bulan berturut-turut akan didenda. dan diingatkan oleh pengurus
gapoktan dan ketua poktan.
Pada Tabel 26 tersebut menunjukan sebagian aturan terdapat perbedaan
dalam penerapannya. Hal ini disebabkan bukan sepenuhnya karena pengurus
gapoktan yang kurang menaati peraturan, namun lebih menyesuaikan dengan
norma yang ada di masyarakat. Penerapan-penerapan aturan ini telah disepakati
bersama anggota dalam musyawarah dengan tujuan agar Program Simpan Pinjam
PUAP dapat dimanfaatkan oleh semua anggota tani dan tidak memberi beban bagi
mereka. Hingga kepengurusan tahun 2016 ini terbukti penerapan aturan yang lebih
mudah tersebut sudah mampu mengatur sistem simpan pinjam dengan baik.
Selanjutnya norma dalam masyarakat dapat identifikasi tingkatannya
berdasarkan bentuk kepatuhan warga dan sangsi yang diterapkan. Berdasarkan
45
Tabel 27, tingkat norma pada penerima Program PUAP di Desa Ngetuk
menunjukan bahwa tingkat norma penerima program tergolong tinggi karena
frekuensi tingkat norma tinggi berjumlah 42 orang atau 93.3 persen. Hampir dari
keseluruhan penerima program yang diambil memiliki tingkat norma yang tinggi.
Sementara sisanya sebesar 3 atau 6.7 persen berada pada tingkat sedang. Tidak ada
penerima yang diambil menduduki tingkat norma rendah.
Tabel 27 Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat norma 2016
Tingkat Norma
Jumlah (n)
Persentase (%)
Sedang
8
17.8
Tinggi
37
82.2
Total
45
100.0
Tingkat norma penerima Program PUAP tergolong tinggi terutama
disebabkan karakter dari masyarakat sendiri yang sebagian besar terbiasa menaati
peraturan pemerintah desa dan aturan masyarakat tidak tertulis dalam kehidupan
sehari-hari. Norma-norma yang melekat dalam diri masyarakat tersebut berasal dari
adat-istiadat suku jawa ditambah dengan adat-adat Islam sebagai panutan agama
mayoritas di desa tersebut. Adat-istiadat suku jawa yang tercermin dalam
kehidupan warga Desa Ngetuk meliputi rasa saling membantu dan saling
menghargai yang tinggi. Sifat tersebut terlihat dalam penerapan aturan Simpan
Pinjam PUAP yang tidak memberatkan penerima. Seperti yang sudah dijelaskan
pada aturan program sebelumnya bahwa penerima diperbolehkan untuk menunggak
pinjaman ketika tidak memiliki uang dan tidak akan dikenakan denda. Hanya jika
dianggap terlalu lama menunggak maka akan diingatkan dan diberi surat agar
memenuhi kewajibannya. Pernyataan ini sesuai dengan penuturan yang
dikemukakan oleh salah satu informan berikut.
“Wong wong jowo (orang-orang suku jawa) itu tepo seliro atau
tenggang rasa. Tenggang rasanya gini, kalau telat sitik (sedikit) ya
ndak apa-apa, ndak langsung didenda, ndak terus kaku gitu. Ada
aturannya” (TM, 64 Tahun)
Tingkat norma sosial yang tinggi tersebut sebenarnya didapat dari bentuk
kepatuhan dan sangsi yang membuat warga jera. Khususnya untuk Program PUAP,
secara lebih jelas bentuk kepatuhan penerima terhadap program dapat dilihat pada
Tabel 28. Hasil penelitian menunjukan tingkat kepatuhan penerima terhadap
program dominan pada tingkat bagus. Hal ini dilihat dari frekuensi bagus
menunjukan angka 29 orang atau 64.4 persen dan tingkat sangat bagus berjumlah
12 orang atau 26.7 persen. Frekuensi tingkat biasa saja menunjukan jumlah 4 orang
atau 8.9 persen, sementara tingkat tidak patuh dan sangat tidak patuh tidak ada yang
menempati.
46
Tabel 28 Jumlah dan persentase responden berdasarkan kepatuhan Program PUAP
2016
Kepatuhan Program
Jumlah (n)
Persentase (%)
Biasa saja
4
8.9
Patuh
29
64.4
Sangat Patuh
12
26.7
Total
45
100.0
Kepatuhan warga dominan berada pada tingkat bagus ini selain disebabkan
oleh adat-istiadat masyarakat suku jawa seperti yang telah dijelaskan sebelumnya,
juga dikarenakan sangsi dari peraturan yang mampu mengontrol dan membuat jera
warga jika melanggar. Pada aturan Simpan Pinjam PUAP meski aturan tidak terlalu
mengikat dan penerapannya sangat meringankan penerima program, namun
penerapan aturan ini mampu mengatur dan sangsinya mampu membuat penerima
program merasa jera. Seperti bentuk sangsi berupa peringatan dan surat yang
diberikan kepada penunggak ketika telat mengangsur sudah membuat penunggak
merasa bersalah terhadap pengurus dan merasa malu kepada anggota tani lain. Rasa
malu dan bersalah tersebut membuat penunggak terdorong untuk segera
mengangsur tunggakan dan tidak ingin menunggak kembali. Sesuai dengan
penuturan yang dikemukakan oleh salah satu responden berikut.
“Nggeh ewoh lah nek teng masyarakat kan ewoh ngoten dadose
nggeh termasuk pie ya nggeh termasuk pun sangsi niku. Isinlah ngko
disurati niku trus nggeh diperbaiki ngotenlah. Pomone utang kok
dikandani iki nunggak loro nggeh disurati sesok dibayar nggeh
dibayar (Ya kalau di masyarakat kan tidak enak kalau tidak patuh,
jadi itu sudah termasuk sangsi. Malu kalau diberi surat jadi langsung
diperbaiki. Semisal ninggak angsuran jika ditegur ya besoknya
langsung dibayarkan.)” (SHT, 35 Tahun)
Tabel 29 Rata-rata penilaian responden terhadap norma aturan dan kejeraan sangsi
Program PUAP 2016
Norma Aturan dan Kejeraan Sangsi
Rata-Rata Skor
Warga mematuhi aturan yang ada dalam masyarakat
4.24
Pemberian sangsi membuat warga jera terhadap aturan
4.18
yang ada dalam masyarakat
Warga mematuhi aturan Pemeritah
4.44
Pemberian sangsi membuat warga jera terhadap aturan
4.09
Pemeritah
Anggota mematuhi aturan Program PUAP
4.18
Pemberian sangsi membuat anggota jera terhadap
4.04
aturan Program PUAP
Secara keseluruhan Tabel 29 menunjukan rata-rata penilaian warga
mengenai tingkat kepatuhan mereka terhadap peraturan yang ada di Desa Ngetuk
baik dari segi aturan pemerintah, masyarakat, maupun Program PUAP. Hasil
penelitian menunjukan bahwa tingkat kepatuhan dan tingkat kejeraan sangsi
47
penerima program pada lingkup pemerintah, masyarakat, dan PUAP semuanya
menunjukan nilai rata-rata 4 dengan arti penerima patuh tehadap aturan dan sangsi
membuat jera. Hal ini menunjukan sebagian besar penerima program patuh
terhadap aturan-aturan yang ada di masyarakat baik itu tertulis maupun tidak
tertulis. Bentuk kepatuhan masyarakat tersebut mencerminkan rasa kepatuhan dan
budi pekerti yang tinggi dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini didukung
pendapat salah satu responden berikut.
“Nilaine yo sembilan mas, wonten jogo nggeh jogo, ngeten niki
jimpitan nggeh jimpitan, wonten acara kematian, termasuk pun 9 nek
niku. Nopo, sosialisasi masyarakate pun sae lah (Nilainya 9 mas, ada
rapat ya hadir, ada syukuran dan acara kematian juga hadir.
Sosialisasinya masyarakat sudah bagus)” (SHT, 35 Tahun)
Jaringan Sosial
Jaringan merupakan kemampuan seseorang atau sekelompok orang dalam
membangun relasinya. Kunci keberhasilan membangun modal sosial terletak pada
kemampuan orang melibatkan diri dalam suatu jaringan hubungan sosial.
Tingginya jaringan sosial dapat digambarkan dengan seberapa dekat seseorang
dengan jaringan-jaringan yang membantu aktivitas sehari-harinya. Khususnya
dalam program pembangunan, jaringan sosial dilihat dari kemampuan penerima
program dalam menjalin hubungan dengan stakeholder-stakeholder terkait untuk
membatu menjalankan program pembangunan tersebut.
Khusus pada Program PUAP, jaringan sosial akan memfasilitasi penerima
program dalam memelihara hubungan baik terhadap stakeholder-stakeholder
terkait. Hubungan baik tersebut dapat membantu memperlancar aktivitas simpan
pinjam dan memperlancar aktifitas usaha agribisnis mereka. Jaringan sosial dapat
dilihat tingkatannya berdasarkan seberapa jauh penerima program membina
hubungan dengan stakeholder. Stakeholder Program PUAP sendiri meliputi
pengelola program dari kecamatan/kabupaten, penyuluh pendamping, pengurus
gapoktan, pemerintah desa, anggota gapoktan, pedagang bahan pertanian, dan
tengkulak/pasar. Berdasarkan Tabel 30 menunjukkan bahwa tingkat jaringan sosial
pada penerima Program PUAP di Desa Ngetuk memiliki tingkat sedang,
dikarenakan frekuensi tingkat sedang menunjukan jumlah 29 orang atau 64.4 persen
jauh lebih tinggi dibandingkan tingkat rendah dan tinggi. Sementara pada tingkat
jaringan rendah dan tinggi memiliki jumlah sama yaitu 8 orang atau 17.8 persen.
Tabel 30 Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat jaringan Program
PUAP 2016
Tingkat Jaringan
Jumlah (n)
Persentase (%)
Rendah
8
17.8
Sedang
29
64.4
Tinggi
8
17.8
Total
45
100.0
Tingkat jaringan penerima Program PUAP dominan pada tingkat sedang
disebabkan dari norma yang ada di masyarakat dan perilaku penerima program
48
sendiri. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa norma sosial di
masyarakat tergolong tinggi salah satunya disebabkan oleh adat jawa yang saling
menghormati dan menghargai sesama warga baik yang sudah kenal lama maupun
baru kenal. Rasa saling menghormati dan menghargai tersebut menciptakan
hubungan baik diantara mereka. Bentuk hubungan baik tersebut terus dijaga dan
ditingkatkan melalui aktivitas bertegur sapa ketika bertemu. Selanjutnya tempat
berkumpul atau “cangkruk” selalu ramai ketika jam istirahat siang dan malam hari
hanya untuk sekedar berbincang-bincang melepas lelah ataupun berdiskusi serius.
Banyak orang menyempatkan hadir ketika ada acara perkumpulan dan syukuran
warga dan sering juga diantara mereka yang saling membantu agar acara dapat lebih
mudah dikerjakan.
Selanjutnya jika dilihat dari perilaku penerima program, sebagian besar
penerima mengikuti norma masyarakat seperti menjaga hubungan baik dengan
sering bertemu, bertegur sapa, dan berdiskusi untuk menambah kedekatan jaringan
sosial. Hubungan baik diantara pengurus, anggota, maupun stakeholder lain
biasanya dipertahankan oleh penerima dan bisa meningkat ketika intensitas
pertemuan mereka semakin sering. Terlihat ketika pengurus mengadakan rapat,
para undangan banyak yang hadir dan ikut berdiskusi meskipun diantara mereka
ada yang tidak menyampaikan pendapat. Begitu pula ketika penyuluh dan
pemerintah desa melakukan kegiatan banyak yang hadir kecuali jika ada kegiatan
mendesak atau penting. Bentuk kehadiran ini mempererat jaringan sosial antara
penerima program dengan stakeholder lain. Namun sebagian stakeholder juga ada
yang jarang hadir seperti pengelola PUAP dari kabupaten dan penyuluh
pendamping sehingga jaringan mereka rendah karena intnesitas pertemuan mereka
yang kecil. Secara lebih rinci bentuk jaringan sosial beberapa stakeholder dapat
dilihat pada gambar grafik dibawah ini.
30
25
20
15
10
5
0
Tidak Kenal
Kenal
Bertegur
Sapa
Berdiskusi
Membantu
Kegiatan
Pengurus Gapoktan
0
1
17
14
13
Penyuluh Pendamping
24
9
4
5
3
Anggota Lain
1
4
10
15
15
Pengurus Gapoktan
Penyuluh Pendamping
Anggota Lain
Gambar 2 Tingkat kedekatan responden dengan jaringan Program PUAP pengurus
gapoktan, penyuluh pendamping, dan anggota lain
49
Penerima program memiliki tingkat jaringan rendah dengan penyuluh
pendamping dengan frekuensi tidak kenal 24 orang dan kenal 9 orang dikarenakan
penyuluh pendamping jarang hadir dalam pertemuan dan jarang berkunjung ke
kelompok tani sehingga banyak penerima program yang kurang mengenal penyuluh
pendamping. Sementara jaringan penerima program dengan pengurus gapoktan
cenderung tinggi dengan frekuensi bertegur sapa 10 orang, berdiskusi 15 orang, dan
membantu kegiatan 15 orang dikarenakan pengurus gapoktan sering hadir dalam
rapat dan sering berkunjung ke kelompok tani maupun anggota tani sehingga
banyak anggota tani yang sudah akrab dengan pengurus gapoktan.
Selanjutnya tingkat jaringan dengan anggota lain tergolong tinggi
dikarenakan seringnya mereka bertemu dan berdiskusi dalam perkumpulan maupun
kehidupan sehari-hari. Letak tempat tinggal mereka yang berdekatan dan
jumlahnya banyak membuat mereka lebih dekat satu dengan yang lain dan sering
berbagi informasi. Penerima program juga sering berkumpul dengan anggota lain
dan warga lain untuk membantu kegiatan warga karena rasa kebersamaan
masyarakat yang tinggi. Seperti yang disampaikan oleh salah satu responden
dibawah ini.
“Termasuk patuh, nek nilaine yo sembilan mas, wonten jogo nggeh
jogo, ngeten niki jimpitan nggeh jimpitan, wonten acara kematian,
termasuk pun 9 nek niku. Nopo, sosialisasi masyarakate pun sae lah
(Termasuk patuh dan nilainya 9 mas. Jika ada rapat ya hadir, ada
syukuran dan acara kematian juga hadir. Sosialisasinya masyarakat
sudah bagus)” (SHT, 35 Tahun)
20
18
16
14
12
10
8
6
4
2
0
Tidak Kenal
Kenal
Bertegur
Sapa
Berdiskusi
Membantu
Kegiatan
Tengkulak/pasar
8
7
6
19
5
Pedagang bahan baku
12
6
6
17
4
Tengkulak/pasar
Pedagang bahan baku
Gambar 3 Tingkat kedekatan responden dengan jaringan usaha tengkulak/pasar
dan pedagang bahan baku
Grafik diatas merupakan tingkat jaringan sosial penerima program dengan
tengkulak/pasar hasil usaha dan pedagang bahan baku usaha. Berdasarkan grafik
diatas menunjukan bahwa jaringan sosial cenderung tinggi dikarenakan sebagian
50
besar penerima program sering berdiskusi dengan tengkulak/pasar hasil usaha dan
pedagang bahan baku usaha sebanyak 19 dan 17 orang. Hal ini disebabkan karena
setiap usaha tani membutuhkan hubungan baik dengan penjual dan pembeli untuk
menjalankan aktivitas usaha mereka agar lebih efektif. Selain itu intensitas bertemu
penjual dan pembeli sangat sering sehingga membuat hubungan mereka semakin
dekat hingga membuat mereka menjadi pelanggan. Hal ini seperti penuturan dari
salah satu responden dibawah ini.
“Kulo nek teng peken mayong niku nembe mlebet mawon nggeh pun
biasa, kados panggone sampunan (Setiap saya ke pasar mayong, baru
masuk saja sudah biasa disapa. Sudah tempatnya bertemu.)” (PY, 35
Tahun)
Sementara sejumlah penerima tidak kenal terhadap tengkulak/pasar hasil
usaha dan pedagang bahan baku usaha yaitu sebanyak 8 dan 12 orang dikarenakan
beberapa hal yaitu tidak sepenuhnya mereka terjun dalam usaha tani, usaha tani
mereka yang kurang berjalan, dan ada yang tidak mengalokasikan pinjaman untuk
usaha.
Peran Modal Sosial dalam Program Simpan Pinjam PUAP
Modal sosial adalah kemampuan membangun jaringan dan kerjasama antar
masyarakat dalam bentuk norma resiprositas dan jaringan keterlibatan antar warga
yang bermanfaat terhadap peningkatan pendapatan masyarakat dan kemandirian
masyarakat lokal (Alfitri 2011). Modal sosial memiliki komponen meliputi
kepercayaan, norma, dan jaringan yang membantu masyarakat melakukan
efektivitas dan efisiensi kerjasama. Pada program pembangunan, modal sosial
memiliki peran untuk menjalin hubungan dengan pembantu program dan memberi
pedoman perilaku untuk menyukseskan program.
Modal sosial sangat berperan tinggi khususnya pada Program PUAP di Desa
Ngetuk. Program ini mampu mendukung terlaksananya program hingga dapat
berkembang sampai evaluasi tahunan terakhir. Hasil penelitian pada Tabel 31
menunjukan tingkat modal sosial Program PUAP di desa ini cenderung mengarah
antara sedang dan tinggi. Tabel tersebut menunjukan frekuensi tingkat modal sosial
sedang berjumlah 23 orang atau 51.1 persen dan tingkat modal sosial tinggi
berjumlah 22 orang atau 48.9 persen. Sementara tidak ada penerima yang mengisi
tingkat modal sosial rendah.
Tabel 31 Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat modal sosial 2016
Tingkat Modal Sosial
Jumlah (n)
Persentase (%)
Sedang
23
51.1
Tinggi
22
48.9
Total
45
100.0
Hasil tingkat modal sosial cenderung ke sedang dan tinggi ini menunjukan
modal sosial sangat berperan dalam kegiatan simpan pinjam PUAP tersebut.
Penerima program menerapkan modal sosial sedang ke tinggi terlihat dari pola
perilaku yang saling menghargai dan membantu aktivitas simpan pinjam dan usaha
51
mereka. Penerima program juga sering menghargai dan mengingatkan sesama
anggota agar sama-sama dapat melunasi angsuran dan saling membantu usaha.
Pengurus gapoktan dan ketua poktan juga sering membantu mengingatkan dan
melayani penerima sehingga menjadi dekat dengan pengurus.
Bentuk kedekatan penerima program dengan pengurus ini membuat
pengurus tidak tega untuk memberi hukuman penerima terlalu berat. Penerapan
tenggang rasa pengurus sangat tinggi selama kesalahan dari penerima tidak
mengganggu jalannya program dan dapat ditoleransi. Sebaliknya rasa tenggang ini
juga membuat penerima program semakin simpatik dan memiliki tanggung jawab
terhadap program yang tinggi. Penerima program ketika menyalahi aturan merasa
malu ketika diingatkan oleh pengurus dan pemerintah desa sehingga penerima
berusaha untuk menebus kesalahannya tersebut dan berusaha untuk tidak
mengulangi kembali. Hasilnya norma yang dianggap ringan tersebut ternyata
dipatuhi pengurus dan penerima dan dapat mengontrol sistem simpan pinjam
PUAP.
Rasa timbal balik tersebut membuat penerima, pengurus, dan stakeholder
terkait percaya bahwa Program PUAP di Desa Ngetuk ini merupakan salah satu
yang terbagus dibanding desa lain dan dapat berkembang hingga berkelanjutan.
Pengurus, penerima, dan stakeholder juga percaya jika program yang terus
berkembang ini nantinya mampu mengentas kemiskinan pengusaha tani dan
mampu meningkatkan usaha tani meskipun sekarang belum begitu terasa. Bentuk
kepercayaan stakeholder tersebut terlihat dari dukungan kepala desa yang ingin
menyukseskan Program PUAP dengan cara membantu menyeleksi penerima yang
kompeten dan membantu mengigatkan penerima yang melanggar hingga
mengancam melalui pelayanan administrasi desa kepada penerima yang sangat
melanggar sehingga membuat pelanggar tersebut semakin malu dan diajak untuk
patuh. Seperti penuturan salah satu informan dibawah ini.
“Jo angel-angel om, pak inggi kalo manggil saya kan om. Tak
seleksine barang, sing angel-angel ndi tak suratane. (Jangan susahsusah om, kepala desa biasanya memanggil saya om. Nanti saya
seleksi dan yang menunggak akan saya beri surat). Juga nanti kalo
ada apa-apa di desa ya mungkin kalo memang yang nakal banget kan
bantuan-bantuan apa gak dikasih. Lha we ra gelem bantu deso kok
(kamu sendiri juga tidak mau membantu desa kok)” (SKT, 46 Tahun)
Pada modal sosial sendiri adanya jaringan sosial yang terjalin erat mampu
meningkatkan kepercayaan pengurus dan penerima program. Hal ini dikarenakan
penerima yang sering bertemu dengan pengurus ataupun dengan anggota lain akan
membuat mereka menjaga hubungan semakin dekat dan menimbulkan rasa saling
membantu. Kedekatan tersebut membuat stakeholder semakin dipercaya mampu
mendukung perkembangan PUAP dan usaha tani penerima program, serta mampu
membuat pengurus semakin memberi pelayanan terbaik untuk menolong penerima
program dan menyukseskan Program PUAP. Pernyataan ini sesuai dengan
pendapat dari salah satu informan dibawah ini.
“Kalau simpatik ya, masyarakat sangat antusias dan simpatik sekali
dan dia berharap supaya berjalan dengan baik, aslinya gitu. Dia
52
minta pelayanan dengan baik, sehingga kita juga ya mengikuti“(SKT,
46 Tahun)
HUBUNGAN PERAN MODAL SOSIAL DENGAN TINGKAT
PARTISIPASI PETANI
Bagian ini akan mengidentifikasi hubungan antara modal sosial penerima Program
PUAP terhadap tingkat partisipasi petani penerima program dalam Program PUAP
di Desa Ngetuk. Hal ini dimaksudkan untuk mengkaji peran modal sosial dalam
mendukung dan membantu partisipasi petani dalam program tersebut. Namun
sebelum melihat lebih jauh hubungan keduanya, akan dikemukan terlebih dahulu
tingkat partisipasi Program PUAP di Desa Ngetuk yang dilihat dari beberapa
indikator yaitu tahap perencanaan, tahap partisipasi, tahap menikmati hasil, dan
tahap evaluasi.
Identifikasi Tingkat Partisipasi Penerima Program PUAP
Partisipasi adalah proses aktif, inisiatif diambil oleh warga komunitas
sendiri, dibimbing oleh cara berfikir mereka sendiri, dengan menggunakan sarana
dan proses (lembaga dan mekanisme) dimana mereka dapat menegaskan kontrol
secara efektif (Nasdian 2014). Partisipasi pada program pembangunan sendiri
diterapkan untuk membuat program dapat berjalan sesuai tujuan dan keinginan
peserta. Berdasarkan teori diatas, program pembangunan seperti Program PUAP
dapat berjalan dengan baik jika partisipasi tumbuh dari inisiatif dan dibimbing oleh
cara berfikir masyarakat penerima program sendiri. Berikut merupakan hasil
penelitian seberapa jauh penerapan partisipasi penerima Program PUAP di Desa
Ngetuk dari keempat tahap.
Tahap Perencanaan
Tahap perencanaan merupakan keterlibatan pelaksana program dalam
kegiatan-kegiatan terkait perencanaan Program PUAP agar dapat diterapkan di
masyarakat. Bentuk keterlibatan perencanaan tersebut dilihat dari partisipasi
penerima program dalam perkumpulan rapat selama setahun terakhir. Berdasarkan
Tabel 32 menujukan bahwa tingkat partispasi pada tahap perencanaan cenderung
berada pada tingkat rendah dengan frekuensi sebesar 38 orang atau 84.4 persen dan
nilai median pada tingkat rendah. Sementara tingkat sedang sebesar 4 orang atau
8.9 persen dan 3 orang atau 6.7 persen.
Tabel 32 Jumlah dan persentase responden berdasarkan tahap perencanaan Program
PUAP 2016
Tahap Perencanaan
Jumlah (n)
Persentase (%)
Rendah
38
84.4
Sedang
4
8.9
Tinggi
3
6.7
Total
45
100.0
Partisipasi masyarakat pada tahap perencanaan dikategorikan rendah
dikarenakan rapat hanya dihadiri oleh pengurus dan beberapa anggota saja.
Sementara tidak semua dari peserta yang hadir ikut menyampaikan pendapat.
Penyampaian pendapat dan masukan sebagian besar didominasi oleh pengurus dan
54
tokoh saja. Hal tersebut dikarenakan anggota kurang mengerti mengenai ilmu
simpan pinjam dan kurang mendapat informasi masalah yang terjadi sehingga
kebanyakan anggota hanya menyampaikan sedikit komentar dan sisanya hanya
mengikuti jalannya rapat saja. Selanjutnya terkait anggota hanya sedikit yang hadir
dalam rapat dikarenakan pada rapat pengurus hanya pengurus yang dundang rapat
saja dan ketika rapat gapoktan hanya beberapa perwakilan dari anggota poktan saja
yang diundang. Jumlah frekuensi anggota yang dundang rapat dapat dilihat dibawah
ini.
Tabel 33 Jumlah dan persentase responden berdasarkan undangan rapat
perencanaan Program PUAP 2016
Diundang Rapat
Jumlah (n)
Persentase (%)
Tidak
30
66.7
Pernah
11
24.4
Sering
4
8.9
Total
45
100.0
Tabel 33 menunjukan bahwa sebanyak 30 orang atau 66.7 persen
responden penerima program tidak diundang rapat. Sedangkan yang pernah
diundang sebanyak 11 orang atau 24.4 persen dan yang sering diundang rapat hanya
4 orang atau 8.9 persen. Berdasarkan penuturan dari informan, rapat pengurus
dilakukan setiap bulan sekali ketika penerimaan angsuran. Sementara rapat
gapoktan tidak terjadwal pasti hanya ketika ada hal penting yang dibahas saja
seperti RAT dan persiapannya. Sebelumnya perlu diketahui bahwa rapat gapoktan
dan RAT merupakan rapat perencanaan dan evaluasi dikarenakan dalam rapat
tersebut membahas evaluasi program berjalan dan merencanakan kembali
pembenahan dari masalah yang ada.
Pada pelaksanaan rapat gapoktan yang diundang hanya pengurus dan
perwakilan aanggota dari setiap kelompok tani saja dikarenakan efektifitas dan
efisiensi dari rapat tersebut. Efektifitas dan efisiensi dalam arti tidak mengundang
semua anggota karena jumlahnya terlalu banyak mencapai 125 orang sementara
tidak semuanya memahami permasalahan PUAP sehingga lebih efektif jika yang
diundang hanyalah perwakilan kelompok tani yang memimpin dan mengetahui
saja. Selain itu dikarenakan setiap pertemuan di Desa Ngetuk lazimnya seorang
pengundang rapat harus menyediakan konsumsi suguhan peserta untuk menjamu
dan meghormati peserta yang hadir rapat. Sedangkan dana milik gapoktan terbatas
diambil dari biaya jasa pinjaman yang hanya satu persen sehingga kurang
mencukupi jika mengundang semua anggota. Hal tersebut didukung penuturan
informan dibawah ini.
“Belum bisa semua anggota kita hadirkan belum bisa, kedepan ya
maunya sih hadir semua sehingga tahu floor kita, tapi ya itu melihat
dana, kalau dana kurang mampu sehingga hanya perwakilan lah”
(SKT, 46 Tahun)
55
Tabel 34 Jumlah dan persentase responden berdasarkan pengambilan keputusan
perencanaan Program PUAP 2016
Pengambilan Keputusan
Jumlah (n)
Persentase (%)
Tidak Tahu
29
64.4
Pengelola PUAP, Penyuluh,
3
6.7
Pemerintah Desa
Pengurus Gapoktan
3
6.7
Kesepakatan bersama
10
22.2
Total
45
100.0
Minimnya anggota gapoktan yang diundang rapat berdampak pada
persepsi pengambilan keputusan yang cenderung bias. Tabel 34 menunjukan bahwa
sebanyak 29 orang atau 64.4 persen penerima program menyatakan tidak tahu. Hal
ini dikarenakan sebanyak 66.7 persen dari penerima program tidak diundang rapat
sehingga hampir dari keseluruhan penerima yang tidak diundang tersebut
menyatakan tidak tahu siapa yang mengambil keputusan dalam rapat. Sementara
dari 16 orang responden yang hadir rapat, 10 diantaranya menyatakan kesepakatan
bersama dengan persentase 22.2 persen. Hal ini membuktikan bahwa dalam
pelaksanaan rapat gapoktan cenderung berjalan demokratis dengan memberi
kesempatan peserta untuk menyampaikan saran dan mempertimbangkannya secara
bersama-sama. Namun karena didominasi oleh pengurus dan tokoh dalam
berpendapat sehingga ada peserta yang berpendapat bahwa keputusan diambil oleh
pengurus gapoktan ataupun pemerintah desa. Berikut pernyataan responden yang
menyatakan keputusan bersama.
“Nek rapat nggeh bersama, ketoke apik tur sae nggeh bersama
(Jika rapat ya dirembuk bersama, jika bagus ya diputuskan
bersama)” (SHT, 35 Tahun)
Tahap Implementasi
Implementasi merupakan tahap pelaksanaan dari seluruh Program PUAP
yang sudah direncanakan. Implementasi bisa dibilang inti dari program
pembangunan karena seberapa tinggi rencana yang dibuat jika tidak dilaksanakan
maka tidak diketahui hasilnya. Tingkat partisipasi pada tahap implementasi untuk
melihat sejauh mana keterlibatan penerima program dalam membantu
keberlangsungan Program PUAP baik pada pengelolaan dana maupun pada
pengelolaan pinjaman untuk usaha masing-masing. Namun sebelum melihat
seberapa jauh tingkat partisipasi penerima pada tahap implemetasi, perlu dilihat
dahulu kesesuaian perencanaan dengan implementasi sebagai dasar penerapan
implementasi.
Tabel 26 menunjukan bahwa implementasi Program PUAP di Desa Ngetuk
ini sudah sesuai dengan rapat perencanaan dengan median berada pada tingkat
sesuai dan frekuensi sesuai berjumlah 35 orang atau 77.8 persen. Sementara tingkat
sangat sesuai sebayak 6 orang ata 13.3 peren dan tidak sesuai hanya 4 orang atau
8.9 persen. Hal ini menunjukan hasil dari rapat pengurus dan rapat gapoktan telah
diterapkan sehingga simpan pinjam berjalan lancer dan masalah-masalah yang ada
dapat diatasi. Pengurus berusaha memberikan pelayanan terbaik sesuai dengan
56
saran dari penerima program dengan harapan penerima program tidak merasa
kesulitan untuk membayar sehingga tercipta hubungan saling membantu demi
kelancaran program.
Tabel 35 Jumlah dan persentase responden berdasarkan kesesuaian perencanaan
dan implementasi Program PUAP 2016
Kesesuaian Perencanaan Dengan
Jumlah (n)
Persentase (%)
Implementasi
Tidak Sesuai
4
8.9
Sesuai
35
77.8
Sangat Sesuai
6
13.3
Total
45
100.0
Jika dilihat dari tingkat partisipasi penerima program pada tahap
implementasi, Pengelolaan program PUAP kurang memanfaatkan partisipasi dari
penerima program. Tabel 35 menunjukan bahwa partisipasi tahap implementasi
penerima program cenderung pada tingkat rendah dengan nilai median pada tingkat
rendah dan jumlah frekuensi sebanyak 31 orang atau 68.9 persen. Sementara tahap
sedang diisi 14 orang atau 31.1 persen dan tidak ada yang mengisi tingkat partisipasi
tinggi.
Tabel 36 Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat partisipasi tahap
implementasi Program PUAP 2016
Tahap Implementasi
Jumlah (n)
Persentase (%)
Rendah
31
68.9
Sedang
14
31.1
Total
45
100.0
Penerima program dominan pada tingkat partisipasi implementasi rendah
dikarenakan dalam tahap implementasi ini penerima hanya dilibatkan sebagai
nasabah peminjam dana dan lebih difokuskan untuk mengelola usaha tani masingmasing. Sementara pengelolaan dana PUAP hanya di kelola oleh gapoktam karena
menurut salah satu informan, simpan pinjam ini lebih efektif jika dikelola oleh
beberapa orang saja yang kompeten agar mempermudah pengelolaan dana.
Sementara penerima lebih bisa berfokus untuk mengembangkan usaha tani mereka
agar dapat berkembang sesuai dengan harapan petani dan tujuan Program PUAP
juga.
Faktor lain yang membuat tingkat partisipasi tahap implementasi rendah
dikarenakan tidak ada pelatihan untuk penerima selama kepengurusan satu tahun
terakhir. Penyuluh pendamping tidak menerapkan program pelatihan kepada
kelompok tani dalam bentuk apapun, peran penyuluh pendamping selama
kepengurusan terakhir hanya membantu mengontrol dan memberi solusi dalam
rapat ketika ada kendala. Menurut penyuluh pendamping, tidak adanya pelatihan
apapun ini memang dikarenakan dari dinas pertanian kabupaten juga belum ada
program lagi yang ditujukan untuk memberi pelatihan anggota tani. Pelatihan dari
kabupaten dan provinsi yang ada selama setahun kepengurusan terakhir hanya
pelatihan untuk perwakilan pengurus ke luar desa seperti sosialisasi jasa keuangan,
prima tani, peningkatan kapasitas kelembagaan koperasi, dan penilaian software
57
SIGAP sehingga penerima program tidak merasakan pelatihannya. Sesuai dengan
pernyataan salah satu inforan dbawah ini.
“Belum saya belum terima, belum ada pelatihan ya. Dari kecamatan
juga belum ada. Kalau kemaren sosialisasi tentang jasa keuangan
ada bulan maret apa oktober, dari OJK di rembang dan perwakilan
ya ikut hadir.” (SKT, 46 Tahun)
Tabel 37 Jumlah dan persentase responden berdasarkan implementasi pengelolaan
usaha pribadi 2016
Pengelolaan Usaha Pribadi
Jumlah (n)
Persentase (%)
Tidak Pernah
4
8.9
Pernah
14
31.1
Sering
27
60.0
Total
45
100.0
Namun jika dilihat partisipasi penerima program khususnya indikator
partisipasi pengelolaan usaha tani pribadi, Tabel 37 menunjukan bahwa penerima
program sering mengelola usaha tani pribadi dengan median pada tingkat sering
dan frekuensi sebanyak 27 orang atau 60 persen. Sementara tingkat pernah
sebanyak 14 orang atau 31.1 persen dan penerima yang tidak pernah mengelola
usaha sebanyak 4 orang atau 8.9 persen. Hal ini dikarenakan baik penerima program
yang aktif maupun yang kurang aktif kegiatan sama-sama diperbolehkan meminjam
modal untuk mengelola usaha masing-masing sehingga kontribusi mereka dalam
mengembangkan usaha pribadi tergolong tinggi. Hal ini juga menunjukan sebagian
besar penerima program menggunakan pinjaman PUAP untuk mengembangkan
usaha pribadi.
Tahap Pemanfaatan
Tahap pemanfaatan merupakan benefit atau keuntungan baik materi
maupun non-materi yang didapat selama implementasi telah dilaksanakan. Tingkat
pemanfaatan yang baik terjadi ketika benefit dapat benar-benar dirasakan baik oleh
pengurus maupun penerima Program PUAP. Hasil penelitian pada Tabel 38
menunjukan tingkat partisipasi pada tahap pemanfaatan ini dominan sedang dengan
nilai median pada tingkat sedang dan frekuensi penerima sebanyak 42 orang atau
93.3 persen. Nilai ini sangat tinggi jika dibanding tingkat tinggi hanya 3 orang atau
6.7 persen dan tidak ada penerima yang mengisi tingkat rendah.
Tabel 38 Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat pemanfaatan
Program PUAP 2016
Tahap Pemanfaatan
Jumlah (n)
Persentase (%)
Sedang
42
93.3
Tinggi
3
6.7
Total
45
100.0
Tingkat partisipasi pada tahap pemanfaatan dominan tinggi menunjukan
bahwa Program PUAP tersebut mampu memberi manfaat dan dapat dirasakan oleh
58
masyarakat. Meskipun manfaat yang dirasakan tidak terlalu tinggi karena hanyalah
bantuan modal sebesar 1-2 juta rupiah untuk tambahan modal usaha yang
notabenenya hanya mampu untuk usaha skala menengah ke bawah. Bentuk manfaat
yang sudah mulai terasa adalah manfaat dalam bentuk materi. Sebagian penerima
program merasakan peningkatan penghasilan maupun skala usaha mereka
meskipun tidak terlalu besar. Salah satu penerima program mengatakan jika modal
yang mereka punya jumlahnya kecil maka penghasilan mereka juga kecil, namun
jika modal yang mereka miliki semakin besar maka penghasilan mereka juga
semakin besar. Namun manfaat tersebut hanya dirasakan secara materi, sedangkan
bentuk non materi seperti peningkatan pengetahuan dan keterampilan kurang
dirasakan masyarakat penerima program dikarenakan tidak ada pelatihan khusus
untuk anggota tani baik pelatihan pertanian maupun usaha tani. Hal tersebut sesuai
penuturan salah satu responden dan tabel dibawah ini.
“Penghasilan nggeh enten. Halah meningkat, wong makanan ringan
nggeh ngoteniku to mas. Nek modale gede yo gede, nek modale cilik
nggeh saget nggo madang ngoten mawon. Peningkatan ilmu nggeh
mboten (Ada peningkatan penghasilan. Makanan ringan memang
seperti itu, jika modalnya banyak ya hasilnya banyak. Jika modal
sedikit ya hanya cukup untuk makan. Peningkatan ilmu tidak ada.)”
(HWT, 45 Tahun)
Tabel 39 Jumlah dan persentase responden berdasarkan perubahan skala usaha
Program PUAP 2016
Perubahan Skala Usaha
Jumlah (n)
Persentase (%)
Menurun
1
2.2
Tetap
16
35.6
Meningkat
28
62.2
Total
45
100.0
Tabel 39 menunjukan bahwa skala usaha penerima program cenderung
meningkat dengan nilai median berada pada tingkat meningkat dan frekuensi
sebanyak 28 orang atau 62.2 persen. Sementara skala usaha tetap sebesar 1 orang
atau 35.6 persen dan menurun hanya 1 orang atau 2.2 persen. Pendapat responden
diatas menggambarkan bahwa mekanisme skala usaha meningkat tersebut diihat
dari adanya tambahan modal membuat penerima dapat membeli bahan baku dan
perawatan yang lebih banyak lagi. Hal ini berdampak ketika penerima program
mengelola usaha dengan konsisten akan mengahasilkan keuntungan yang lebih
tinggi dari sebelumnya karena stok bahan baku yang dijual juga lebih banyak.
Sementara untuk penerima dengan skala usaha tetap merasa bahwa bentuk
tambahan modal tersebut belum mampu memperbesar usahanya karena
peningkatannya relatif kecil. Ada juga penerima yang tidak menggunakan pinjaman
untuk melakukan usaha sehingga penerima tidak merasakan peningkatan skala
usaha.
59
Tabel 40 Jumlah dan persentase responden berdasarkan perubahan keterampilan
Program PUAP 2016
Perubahan Keterampilan
Jumlah (n)
Persentase (%)
Tetap
19
42.2
Meningkat
24
53.3
Sangat Meningkat
2
4.4
Total
45
100.0
Sementara jika dilihat perubahan keterampilan dengan adnaya program
PUAP, Tabel 40 menunjukan bahwa adanya Program PUAP mampu memberi
peningkatan keterampilan mereka dengan nilai median pada tahap meningkat dan
frekuensi sebesar 24 atau 53.3 persen. Selisih sedikit dengan keterampilan tetap
sebesar 19 orang atau 42.2 persen dan sangat meningkat 2 orang atau 4.4 persen.
Kondisi ini menunjukan bahwa keterampilan penerima program dalam mengelola
usaha mengalami peningkatan setelah menerima tambahan modal. Peningkatan
keterampilan ini dikarenakan dengan adanya tambahan modal menyebabkan skala
usaha penerima meningkat. Adanya peningkatan skala usaha penerima diharuskan
mampu mengelola usahanya agar lebih berkembang lagi sehingga mengalami
peningkatan pengalaman dan peningkatan keterampilan mengelola usaha.
Sementara sebagian penerima yang merasa keterampilannya tetap dikarenakan
peningkatan modal hanya memberi dampak kecil pada usahanya sehingga penerima
tersebut merasa keterampilannya kurang bertambah. Selain itu tidak adanya
pelatihan dan pembinaan dari gapoktan dan penyuluh menyebabkan petani kurang
memperoleh keterampilan baru.
Tahap Evaluasi
Tahap evaluasi merupakan tahap peninjauan kembali Program PUAP yang
sudah berjalan apakah sudah tepat sasaran dan sesuai tujuan yang diharapkan dan
mencari solusi kendala-kendala yang perlu diperbaiki. Rapat tahap evaluasi pada
Program PUAP dilakukan pada setiap tahun dengan nama Rapat Akhir Tahun
(RAT) untuk mengevaluasi jalannya satu tauhun kepengurusan. Partisipasi dari
penerima program, pengurus, dan stakeholder lain dalam tahap evaluasi sangat
diperlukan agar mampu menjadi umpan balik yang dapat memberi masukan demi
perbaikan pelaksanaan Program PUAP selanjutnya. Khususnya pada penerima
program, Tabel 41 menunjukan bahwa tingkat partisipasi penerima program pada
tahap evaluasi Program PUAP dominan berada pada tingkat rendah dengan median
pada tingkat rendah dan frekuensi tingkat rendah sangat banyak sebesar 33 orang
atau 73.3 persen. Sementara tingkat sedang hanya 9 orang atau 20 persen dan
tingkat tinggi hanya 3 orang atau 6.7 persen.
Tabel 41 Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat evaluasi Program
PUAP 2016
Tahap Evaluasi
Jumlah (n)
Persentase (%)
Rendah
33
73.3
Sedang
9
20.0
Tinggi
3
6.7
Total
45
100.0
60
Partisipasi pada Rapat Akhir Tahun (RAT) ini dominan rendah karena
serupa dengan kejadian di rapat perencanaan, hanya sebagaian kecil penerima
program yang diundang rapat yaitu hanya perwakilan poktan saja. Smeentara pada
RAT ini yang banyak diundang adalah pengurus gapoktan dan poktan, pemerintah
desa, penyuluh pendamping, pihak kecamatan, dan Peyelia Mitra Tani (PMT).
Menurut salah satu informan mengatakan bahwa tidak semua anggota tani bisa
diundang rapat dikarenakan dana yang terbatas. Sementara setiap rapat minimal
harus ada konsumsi untuk menghargai undangan yang datang sehingga jalan tengah
yang dipilih hanya mengundang sebagian anggota tani sebagai perwakilan saja.
Selain itu tingkat partisipasi rendah dikarenakan tidak semua penerima
program memberikan pendapat. Pendapat dalam RAT lebih didominasi oleh
pengurus gapoktan, penyuluh pendamping, dan pemerintah desa dikarenakan latar
belakang pendidikan mereka lebih tinggi dan pengurus gapoktan yang lebih banyak
tahu permasalahan kerena terjun langsung ke lapang. Namun dalam pengambilan
keputusan akhir evaluasi tetap mengacu pada persetujuan seluruh peserta rapat
untuk mencapai mufakat.
Berdasarkan hasil evaluasi, salah satu pengurus mengatakan bahwa
Program PUAP ini akan dapat lebih berkembang jika pengelolaan dana dan tenaga
diperbaiki. Kondisi saat ini dana PUAP sebesar 100 juta masih belum cukup
dikarenakan jumlah peminjam sangat banyak dan membutuhkan pinjaman yang
lebih besar sehingga banyak anggota tani yang mengantri untuk mendapatkan
pinjaman modal usaha mereka. Sebagian dari pengantri tersebut ada yang masih
meminjam kepada lintah darat karena sudah terpepet kebutuhan. Jumlah bunga
yang terlalu besar pada lintah darat tersebut akhirnya menyebabkan keuntungan
usaha petani sangat kecil karena harus dibayarkan kepada lintah darat. Selain itu
yang harus diperbaiki kembali dari segi SDM pengurus adalah manajemen
pengelolaan dana PUAP sendiri. Sebagian dari pengurus masih belum paham
manajemen dan akuntansi yang baik sehingga beberapa kali sempat mengalami
kekeliruan perhitungan dan miss komunikasi diantara pengurus. Hal ini sesuai
penuturan salah satu pengurus dibawah ini.
“Setau saya, karena di koperasi itu kurang modal. Kemudian
masyarakat ngetuk membutuhkan dana, sehingga larinya kan ke
lintah darat atau renternir. Kalo rentenir kan ada yang 10 persen 20
persen. Sebenarnya kasian tapi ya mau gimana lagi” (SD, 49 Tahun)
“Ya jelas manajemen, saya sendiri belum tau koperasi. Tapi ya jelas
manajemennya semuanya tidak paham. Kan mereka yang mengatur.
Ya itu yang jelas untuk memperbaiki ya menajemen, sesuatu yang
tidak diatur itu kan tidak teratur” (SD, 49 Tahun)
Tabel 42 Jumlah dan persentase responden berdasarkan keberlanjutan Program
PUAP 2016
Keberlanjutan Program
Jumlah (n)
Persentase (%)
Tidak
2
4.4
Berkelanjutan
32
71.2
Sangat Berkelanjutan
11
24.4
Total
45
100.0
61
Terlepas dari banyaknya evaluasi Program PUAP yang harus dibenahi,
namun anggota tani Desa Ngetuk percaya bahwa progam ini mampu tes
bekelanjutan untuk membantu petani. Terbukti dari Tabel 42 yang menunjukan
tingkat keberlanjutan Program PUAP dengan nilai median pada tingkat
keberlanjutan dan memiliki frekuensi tinggi sebesar 32 orang atau 71.2 persen.
Sementara didukung dengan tingkat sangat berkelanjutan 11 orang atau 24.4
peresen dan tingkat tidak berkelanjutan hanya 2 orang atau 4.4 peresen. Hal tersebut
menggambarkan pengelolaan PUAP selama 4 tahun kepengurusan ini akan terus
berlanjut dan berkembang kedepannya. Hampir semua anggota tani membutuhkan
program ini dan mereka percaya bahwa Program PUAP akan terus dikelola
gapoktan dan terus berkembang agar semakin banyak membantu masalah
permodalan petani kecil. Sesuai dengan pendapat salah satu pengurus dibawah ini
“Ya memang itu harus berkembang, karena itu bukan dana hibah. Itu
kan tugasnya pengelola kan untuk mengembangkan atau untuk modal
petani walaupun toh hanya sedikit tapi dapat memancing modal
biaya” (TM, 64 Tahun)
Tingkat Partisipasi
Tingkat partisipasi pada Program PUAP merupakan tingkatan seberapa
jauh keterlibatan penerima program secara aktif, berdasarkan inisiatif sendiri, dan
dibimbing cara berfikir mereka sendiri untuk keluar dari permasalahan usaha tani
kecil dan kurang berkembang. Terutama tingkat partisipasi penerima program perlu
dilihat seberapa jauh mereka berkontribusi dalam memecahkan masalah mereka
sendiri. Tabel 43 menunjukan bahwa tingkat partisipasi penerima Program PUAP
secara keseluruhan berada pada tingkat rendah dengan nilai median tingkat rendah
dan memiliki frekuensi sebanyak 28 orang atau 62.2 persen. Sedangkan pada
tingkat sedang berjumlah 15 orang atau 33.3 persen dan tingkat tinggi 2 orang atau
4.4 persen.
Tabel 43 Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat partisipasi Program
PUAP 2016
Tingkat Partisipasi
Jumlah (n)
Persentase (%)
Rendah
28
62.2
Sedang
15
33.3
Tinggi
2
4.4
Total
45
100.0
Tingkat partisipasi disini merupakan akumulasi dari keempat tahapan dan
hasilnya menunjukan pada tingkat rendah dikarenakan tingkat partisipasi di
beberapa tahap juga rendah. Pada tahap perencanaan dan evaluasi tingkat partisipasi
rendah dikarenakan hanya sebagian kecil penerima program yang diundang dan
menghadiri rapat. Pada tahap implementasi tingkat partisipasi tinggi hanya pada
pengelolaan usaha tani pribadi, namun pada kegiatan lain juga masih rendah karena
sudah ditangani pengurus. Sementara pada tahap pemanfaatan tergolong tinggi
dikarenakan hampir dari seluruh penerima program merasakan manfaatnya
62
meskipun tidak terlalu tinggi. Bentuk partisipasi yang bisa dilakukan oleh penerima
program adalah rapat RAT, membayar angsuran, mengelola usaha tani pribadi, dan
membantu penerima lain.
Selanjutnya jika dilihat partisipasi dari pihak-pihak lain yang ikut
mengembangkan program, pengurus gapoktan tergolong sangat aktif dalam setiap
tahap dan dalam mengelola dana PUAP. Bentuk partisipasi pengurus awalnya
tumbuh atas inisiatif sendiri untuk bekerja sosial mengelola dana demi
mengembangkan usaha tani anggota. Pemerintah desa cukup aktif dalam membantu
mencari solusi ketika terjadi permasalahan dan hadir dalam rapat RAT. Sedangkan
peran dari penyuluh pendamping dan PMT dinilai kurang aktif dalam program.
Penyuluh pendamping pada tahun ini hanya hadir setiap bulan sekali ke balai desa
untuk mengontrol pinjaman, namun penyuluh tidak terjun ke setiap poktan dan
anggota tani untuk mengawasi ataupun melakukan pelatihan untuk meningkatkan
kapasitas anggota tani. Sedangkan PMT sangat kurang aktif karena hanya datang
setahun sekali ketika RAT dan hanya sebatas membuat laporan saja. Seperti
penuturan salah satu informan dibawah ini.
“PPL yo kurang aktif karena kesibukannya, kesibukannya terus
kemampuannya yo kurang. Dulu itu PPL yang pertama malah paham. Tapi
menurut saya itu PPL juga kurang efektif. Diatas PPL itu ada yang
namanya PMT. PMT yang khusus desa ngetuk itu kan dari jepara kota. Itu
yo jarang, bahkan yo memang fakum. Jadi PMT dan PPL itu menurut saya
yo ada pembiaran. Makanya semua desa yang menerima PUAP itu
semuanya yo terus berantakan karena ga ada pegawasan dan
pendampingan. Di Ngetuk berjalan kan karena kesadaran bukan Karena
pendampingan” (ZNL, 34 Tahun)
Hubungan Peran Modal Sosial dan Tingkat Partisipasi Pada Program PUAP
Modal sosial dan partisipasi sebenarnya merupakan kedua konsep yang
saling berhubungan dalam setiap kegiatan masyarakat. Alfitri (2011) menjelaskan
bahwa modal sosial berbentuk nilai dan norma informal yang dimiliki bersama
kelompok masyarakat mampu menumbuhkan kerjasama. Khusus pada Program
PUAP, modal sosial yang berupa kepercayaan, nilai, dan jaringan yang dimiliki
masyarakat mampu menumbuhkan partisipasi baik upaya kerjasama dan tolong
menolong dalam setiap tahapan partisipasi. Pendugaan bahwa hubungan modal
sosial terhadap tingkat partisipasi penerima program PUAP, dapat diuji
menggunakan perangkat lunak SPSS melalui uji statistik non-parametrik
melakukan uji Rank Spearman dengan cara melihat hubungan antara variabelvariabel. Aturan nilai dalam menentukan nilai uji korelasi Rank Spearman adalah
sebagai berikut: 0.00 (tidak ada hubungan), 0.01-0.09 (hubungan kurang berarti),
0.10-0.29 (hubungan lemah), 0.30-0.49 (hubungan moderat), 0.50-0.69 (hubungan
kuat), 0.70-0.89 (hubungan sangat kuat), > 0.9 (hubungan mendekati sempurna).
Hasil korelasi menunjukan sebagai berikut.
63
Tabel 44 Koefisien korelasi indikator tingkat modal sosial terhadap tingkat
partisipasi
Tingkat Modal Sosial
Tingkat Partisipasi
Kepercayaan
0.361**
Norma
0.087
Jaringan Sosial
0.493**
Jika setiap sub-variabel tingkat modal sosial akan dilihat hubungannya
seperti pada Tabel 44, terlihat bahwa koefisen korelasi antara variabel tingkat
kepercayaan dengan tingkat partisipasi pada Program PUAP menunjukan angka
0,361 dengan arti hubungan moderat. Hal ini dikarenakan penerima program
memiliki rasa percaya, simpati, dan peduli terhadap Prgram PUAP dan pengurus
yang mengelola program tersebut. Bentuk rasa percaya dan simpati bahwa program
PUAP akan dapat membantu mengatasi permasalahan modal petani tersebut
membuat sebagain penerima program tergugah untuk berkontribusi dan ikut
menyukseskan program demi kesejahteraan bersama. Kemudian bentuk simpati
warga terhadap pengurus gapoktan didasarkan oleh penguruslah yang paling
berperan dalam mengelola dana PUAP sehingga penerima memberi dukungan dan
sebagian membantu ketika diberi kesempatan berpasrtisipasi. Dukungan tersebut
membuat pengurus semakin berusaha untuk mengelola program dengan baik sesuai
penuturan pengurus dibawah ini.
“Kalau simpatik ya, masyarakat sangat antusias dan simpatik sekali
dan dia berharap supaya berjalan dengan baik, aslinya gitu. Dia
minta pelayanan dengan baik, sehingga kita juga ya mengikuti“(SKT,
46 Tahun).
Selanjutnya koefisen korelasi antara variabel tingkat norma dengan tingkat
partisipasi pada Program PUAP menunjukan angka 0,087 dengan arti hubungan
kurang berarti. Hal ini dikarenakan hampir seluruh penerima program memiliki
pola perilaku yang patuh terhadap aturan terlepas mereka berpartisipasi atau tidak.
Pola perilaku patuh tersebut telah berpola dalam masyarakat Desa Ngetuk melalui
sosialisasi masyarakat sejak kecil.
Koefisen korelasi antara variabel tingkat jaringan sosial dengan tingkat
partisipasi pada Program PUAP menunjukan angka 0,493 dengan arti hubungan
moderat. Hal ini dikarenakan adanya jaringan sosial lebih menggambarkan
kedekatan penerima program dengan pengurus dan pihak-pihak terkait. Penerima
program yang lebih dekat dengan pengurus karena memiliki jabatan tertentu atau
dipercaya sebagai orang yang kompeten akan diajak oleh pengurus untuk ikut
terlibat didalam pengelolaan PUAP seperti dilibatkan pada RAT ataupun diangkat
menjadi pengurus karena pada dasarnya setiap pemecahan masalah PUAP akan
diputuskan secara bersama. Hal ini didukung oleh komentar penerima program
berikut.
“Nek rapat nggeh bersama, ketoke apik tur sae nggeh bersama (Jika
rapat ya dirembuk bersama, jika bagus ya diputuskan bersama)” (PY,
35 Tahun)
64
Selain penjabaran hubungan dari setiap sub-variabel modal sosial, perlu
dilihat juga penjabaran dari tingkat modal sosial dengan setiap sub-variabel tingkat
partisipasi untuk mengetahui seberapa tinggi hubungan modal sosial pada setiap
tahapan partisipasi tersebut. Selain itu juga perlu diketahui secara keseluruhan
hubungan tingkat modal sosial dengan tingkat partispasi pada Program PUAP dan
alasan yang mendasarinya. Penjabaran dari hubungan pada setiap tahap partisipasi
dan secara keseluruhan sebagai berikut.
Tabel 45 Koefisien korelasi tingkat modal sosial terhadap indikator tingkat
partisipasi
Tingkat Modal Sosial
Tingkat Partisipasi
Perencanaan
0.190
Implementasi
0.495**
Pemanfaatan
0.273*
Evaluasi
0.399**
Partisipasi
0.528**
Berdasarkan data pada Tabel 45. Terlihat bahwa koefisen korelasi antara
variabel tingkat modal sosial dengan tingkat partisipasi perencanaan pada Program
PUAP menunjukan angka 0,190 dengan arti hubungan lemah. Hal ini dikarenakan
partisipasi pada bagian perencanaan yang diundang hanya untuk pengurus dan
tokoh saja. Hal ini menyebabkan partisipasi penerima pada tahap perencanaan
sangat dibatasi baik yang memiliki tingkat modal sosial tinggi maupun rendah
sehingga adanya modal sosial memiliki hubungan lemah di tahap perencanaan.
Seperti pendapat salah satu informan dibawah ini.
“Belum bisa semua anggota kita hadirkan belum bisa, kedepan ya
maunya sih hadir semua sehingga tahu floor kita, tapi ya itu melihat
dana, kalau dana kurang mampu sehingga hanya perwakilan lah”
(SKT, 46 Tahun)
Berbeda dengan hubungan modal sosial dengan tingkat partisipasi
implementasi, terlihat bahwa koefisen korelasi antara variabel tingkat modal sosial
dengan tingkat partisipasi perencanaan pada Program PUAP menunjukan angka
0,495 dengan arti hubungan moderat. Pada tahap ini penerima program diberi
kesempatan berpartisipasi yaitu mengelola usaha tani dan mengingatkan penerima
program lain. Hasil hubungan yang cukup tinggi ini dikarenakan penerima program
yang memiliki kepercayaan tinggi terhadap pengurus dan pihak pendukung akan
lebih termotivasi untuk mengembangkan usaha agar dapat membayar angsuran
tepat waktu dan memberi hasil sesuai harapan Program PUAP. Selain itu jaringan
sosial juga sangat membantu penerima dalam mempermudah dan melancarkan
usaha mereka melalui upaya saling membantu dari pihak-pihak terkait seperti
tangkulak, pasar, maupun konsumen.
Pada hubungan modal sosial dengan tingkat partisipasi pemanfaatan,
terlihat bahwa koefisen korelasi antara variabel tingkat modal sosial dengan tingkat
partisipasi pemanfaatan pada Program PUAP menunjukan angka 0,273 dengan arti
memiliki hubungan lemah. Hal ini dikarenakan hampir semua penerima program
baik yang memiliki modal sosial tinggi maupun rendah mengungkapkan bahwa
65
Program PUAP bermanfaat karena mereka telah merasakan manfaatnya. Sebagian
penerima menyatakan bahwa Program PUAP mampu menambah penghasilan
mereka meskipun sedikit. Namun ada sebagian penerima program yang memiliki
jaringan kedekatan dan lebih kenal kepada pengurus dan pihak terkait akan
terdorong melakukan partisipasi seperti termotivasi mengembangkan usaha. Hasil
berpartisipasi tersebut membuat penerima lebih merasakan manfaat secara
langsung baik peningkatan pendapatan, skala usaha, muaupun pengetahuan mereka.
Bentuk kedekatan tersebut terlihat dari pendapat salah satu informan dibawah ini.
“Tapi kalau saya nilai masalah PUAP ini saya yakin pasti lancar
terus, karena yang memegang emang orangnya adil, seperti Pak Hari
tu adil” (TM, 64 Tahun)
Selanjutnya pada hubungan modal sosial dengan tingkat partisipasi
evaluasi, koefisen korelasi antara variabel tingkat modal sosial dengan tingkat
partisipasi evaluasi pada Program PUAP menunjukan angka 0,399 dengan arti
memiliki hubungan moderat. Pada tahap ini partisipasi tergolong rendah karena
penerima program diberi kesempatan kecil untuk berpartisipasi. Pada rapat RAT
yang diundang hanya 5 orang dari perwakilan setiap kelompok tani dikarenakan
keterbatasan anggaran untuk melakukan RAT. Sementara 5 orang penerima
program tersebut sebagian besar memiliki modal sosial tinggi seperti kepatuhan
terhadap aturan PUAP, kepercayaan pada pengurus, serta memiliki jarngan
kedekatan dengan pengurus sehingga mereka yang dipilih untuk mewakili suara
kelompok taninya. Penerima program tersebut juga telah dipercaya oleh kelompok
taninya sehingga mereka termotivasi untuk datang RAT dan menyampaikan semua
keluhan dari petani agar pengelolaan PUAP dapat semakin berkembang.
Keseluruhan hubungan diatas menunjukan adanya hubungan antara tingkat
modal sosial dan tingkat partisipasi. Hal ini didukung dengan data pada Tabel 26
yang menunjukan bahwa koefisen korelasi antara variabel tingkat modal sosial
dengan tingkat partisipasi pada Program PUAP menunjukan angka 0,528 dengan
arti memiliki hubungan kuat. Hal ini membuktikan bahwa terdapat hubungan yang
kuat antara tingkat modal sosial dan tingkat partisipasi pada Program PUAP
sehingga membuktikan hipotesis H0 ditolak dan H1 diterima. Hubungan kuat ini
dibuktikan dengan adanya keterhubungan antar modal sosial seperti kepercayaan
dan jaringan sosial terhadap partisipasi pada tahap perencanaan, implementasi, dan
evaluasi seperti yang sudah dibahas sebelumnya. Pernyataan ini juga didukung oleh
pendapat salah satu informan yang percaya bahwa Program PUAP yang sudah
dikelola dengan partisipasi aktif dari pengurus, akan mampu meningkatkan
pendapatan petani meskipun tidak terlalu banyak.
“Ya memang itu harus berkembang, karena itu bukan dana hibah. Itu
kan tugasnya pengelola kan untuk mengembangkan atau untuk modal
petani walaupun toh hanya sedikit tapi dapat memancing modal
biaya” (TM, 64 Tahun)
HUBUNGAN TINGKAT PARTISIPASI TERHADAP
PERUBAHAN TARAF HIDUP PENERIMA PROGRAM PUAP
Identifikasi Perubahan Taraf Hidup Penerima Program PUAP
Taraf hidup dapat diartikan kualitas kehidupan seseorang atau kemampuan
seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sedangkan peningkatan taraf
hidup masyarakat, adalah segala kegiatan dan upaya masyarakat untuk memenuhi
segala kebutuhan hidupnya (Purnamasari 2015). Taraf hidup sendiri dapat
diidentifikasi tingkatannya melalui tingkat pendapatan, tingkat pengeluaran, tingkat
investasi, dan juga kondisi fisik dan prasarana tempat tinggal seseorang (Rosyida
dan Nasdian 2011).
Perubahan taraf hidup juga dapat digunakan untuk menentukan perubahan
kualitas hidup akibat adanya program pembangunan seperti Program PUAP di Desa
Ngetuk. Perubahan ini diidentifikasi dengan cara membandingkan setiap indikator
taraf hidup dari sebelum program ada yaitu tahun 2011 hingga program sudah
berjalan saat ini yaitu tahun 2016. Melalui perubahan taraf hidup ini dapat diukur
seberapa jauh ketercapaian tujuan dari Program PUAP di Desa Ngetuk tersebut
yaitu untuk meningkatkan taraf ekonomi petani sehingga dapat mencapai
perubahan taraf hidup petani Desa Ngetuk.
Fasilitas Rumah Tangga
Fasilitas rumah tangga merupakan keadaan secara fisik tempat tinggal
yang ditempati oleh penerima program, serta barang-barang yang dimiliki penerima
dalam yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan data pada Tabel
46 fasilitas rumah tangga penerima program PUAP dapat dikategorikan sedang baik
sebelum maupun sesudah dengan nilai median keduanya pada tingkat sedang.
Sebelum PUAP fasilitas rumah tangga pada tingkat sedang memiliki frekuensi
sebanyak 16 penerima atau 35.6 persen, sedangkan setelah program berjalan 5
tahun bertambah menjadi 21 penerima atau 46.7 persen. Penambahan tersebut
didapat dari kategori tinggi yang mengalami penurunan dari 15 penerima menjadi
11 penerima dan dari tingkat rendah sebanyak satu penerima mengalami kenaikan
ke tingkat sedang.
Tabel 46 Jumlah dan persentase responden berdasarkan fasilitas rumah tangga 2016
Sebelum
Sesudah
Fasilitas Rumah
Persentase
Persentase
Tangga
Jumlah (n)
Jumlah (n)
(%)
(%)
Rendah
14
31.1
13
28.9
Sedang
16
35.6
21
46.7
Tinggi
15
33.3
11
24.4
Total
45
100.0
45
100.0
Fasilitas rumah tangga dengan tingkat sedang ini dapat diartikan 69 persen
keadaan tempat tinggal dan fasilitas rumah tangga yang dimiliki penerima sebagian
besar sudah dianggap layak huni dan cukup untuk membantu mempermudah
aktivitas sehari-hari. Sementara pada tingkat ini cenderung setiap tingkat memiliki
68
proporsi hampir sama sehingga dapat disimpulkan fasilitas rumah tangga tidak
menentukan perilaku meminjam PUAP. Selanjutnya jika dibandingkan dengan 5
tahun setelah program berjalan, kondisi fisik tempat tinggal hampir tidak
memberikan perubahan karena hanya terjadi kenaikan tingkat pada satu responden.
Sementara pada fasilitas rumah tangga terjadi penurunan tingkat dengan frekuensi
yang kecil. Secara lebih lengkap akan dijelaskan berikut.
Tabel 47 Skor rata-rata responden berdasarkan kondisi fisik tempat tinggal 2016
Skor Rata-Rata
Kondisi Fisik Tempat Tinggal
1 Tahun
Sesudah
Sebelum
(Sekarang)
Sumber air
2.24
2.24
Status kepemilikan bangunan tempat tinggal
4.60
4.67
Luas bangunan tempat tinggal
2.29
2.33
Jenis lantai bangunan tempat tinggal
4.47
4.71
Jenis dinding bangunan tempat tinggal
3.00
3.00
Jenis fasilitas tempat buang air besa/WC
2.96
2.96
Sumber penerangan tempat tinggal
4.00
4.00
Bahan bakar utama memasak
4.47
4.47
Tabel 47 menenai skor rata-rata responden berdasarkan kondisi fisik tempat
tinggal menunjukan bahwa secara keseluruhan kondisi fisik tempat tinggal
penerima program memiliki skor sekitar 3 dengan arti memiliki rata-rata kondisi
fisik sedang. Jika dilihat dari per kategori sebelumdan sesudah program, kategori
status kepemilikan, luas, dan jenis lantai ketika dibandingkan antara sebelum dan
sesudah menunjukan peningkatan kecil. Sedangkan selain kategori tersebut tidak
memberikan perubahan rata-rata. Namun jika dilihat secara keseluruhan kondisi
fisik tempat tinggal antara sebelum dan sesudah program kurang memberi
perubahan. Hal ini membuktikan bahwa adanya Program PUAP kurang memberi
perubahan kondisi fisik tempat tinggal. Pernyataan ini didukung dengan tingkat
kondisi fisik dan tempat tinggal pada tabel berikut.
Tabel 48 Jumlah dan persentase responden berdasarkan kondisi fisik tempat tinggal
2016
Sebelum
Sesudah
Kondisi Fisik
Persentase
Persentase
Tempat Tinggal
Jumlah (n)
Jumlah (n)
(%)
(%)
Rendah
12
26.7
11
24.4
Sedang
17
37.8
17
37.8
Tinggi
16
35.6
17
37.8
Total
45
100.0
45
100.0
Berdasarkan data pada Tabel 48, kondisi fisik tempat tinggal penerima
program cenderung pada tingkat sedang dengan median pada tingkat sedang dan
frekuensi sebesar 17 orang atau 37.8 persen. Pada tingkat tinggi tidak jauh berbeda
yaitu 16 orang atau 35.6 persen dan tingkat rendah 12 orang atau 26.7 persen. Jika
dibandingkan dengan 5 tahun setelah program, kondisi ini kurang terjadi perubahan
karena hanya ada peningkatan 1 orang dari tingkat rendah ke tingkat tinggi.
69
Perubahan pada penerima tersebut dikarenakan uang pinjaman PUAP digunakan
untuk merenovasi rumah sehingga terjadi peningkatan kondisi fisik tempat
tinggalnya.
Kurang adanya perubahan kondisi fisik tempat tinggal tersebut dikarenakan
pinjaman PUAP yang digunakan untuk tambahan modal usaha rata-rata hanya
memberikan sedikit tambahan penghasilan. Sehingga penghasilan kurang
mencukupi jika digunakan untuk renovasi tempat tinggal. Selain itu, penerima
program merasa renovasi rumah belum menjadi prioritas pengeluaran mereka
dikarenakan kondisi fisik rumah yang masih layak huni dan masih nyaman untuk
melakukan aktivitas sehari-hari sehingga pengeluaran tersebut lebih diprioritaskan
untuk keperluan sehari-hari dan keperluan mendesak.
Selanjutnya pada tingkat barang-barang rumah tangga, Tabel 39
menunjukan kondisi barang-barang rumah tangga cenderung pada tingkat sedang
dengan median pada tingkat sedang dan frekuensi 10 orang atau 22.2 persen. Pada
tingkat rendah dan tinggi memiliki frekuensi yang lebih tinggi dari pada tingkat
sedang dan berimbang yaitu 17 orang atau 37.8 persen dan 18 orang atau 40 persen.
Sementara jika dibandingkan dengan setelah program berjalan, terjadi penurunan
pada tingkat rendah dan tinggi sebesar 2.2 persen dan 8.8 persen. Sementara pada
tingkat sedang terjadi peningkatan sebesar 11.1 persen. Barang-barang rumah
tangga setelah program berjalan masih cenderung pada tingkat sedang dengan nilai
median pada tingkat sedang.
Tabel 49 Jumlah dan persentase responden berdasarkan barang-barang rumah
tangga 2016
Sebelum
Sesudah
Barang-barang
Persentase
Persentase
Rumah Tangga
Jumlah (n)
Jumlah (n)
(%)
(%)
Rendah
17
37.8
16
35.6
Sedang
10
22.2
15
33.3
Tinggi
18
40.0
14
31.1
Total
45
100.0
45
100.0
Terjadi penurunan barang-barang rumah tangga sebesar 8.8 persen pada tingkat
tinggi ini dikarenakan ada beberapa anggota rumah tangga penerima program yang
meninggalkan desa selama 3 sampai 12 bulan untuk bekerja sehingga anggota
rumah tangga tersebut berkurang. Beberapa reponden mengatakan bahwa memang
sebagian warga laki-laki banyak yang bekerja ke luar desa sebagai kuli proyek dan
karyawan dalam waktu yang cukup lama sehingga anggota rumah tangganya
berkurang. Selanjutnya jika dilihat besar rata-rata perubahan dalam barang-barang
rumah tangga untuk mengetahui rata-rata kepemilikan sebelum dan sesudah
program PUAP serta untuk melihat perubahannya, Tabel 49 menunjukan bahwa
sebagian besar barang-barang rumah tangga yang dimiliki responden baik sebelum
dan sesudah rata-rata berjumlah 1 unit, kecuali handphone rata-rata berjumlah 2
unit. Sementara telepon rumah tidak ada yang menggunakan. Jika dibandingkan,
rata-rata kepemilikan barang-barang rumah tangga penerima program mengalami
kenaikan kecil. Hal ini menunjukan kebutuhan masyarakat mengalami peningkatan
70
selama 5 tahun setelah program berjalan. Namun peningkatan tersebut sangat kecil
sehingga tidak terlalu mempengaruhi tarah hidup.
Tabel 50 Rata-rata responden berdasarkan kepemilikan barang-barang rumah
tangga 2016
Rata-Rata Kepemilikan
Barang-barang Rumah Tangga
1 Tahun
Sesudah
Sebelum
(Sekarang)
Rumah Kontrakan/Kos
0.07
0.11
Mobil
0.04
0.11
Sepeda Motor
1.58
1.78
Sepeda
0.64
0.64
Mesin Industri
0.04
0.07
Televisi
1.29
1.33
Radio
0.18
0.20
Laptop
0.18
0.20
Komputer
0.04
0.07
Lemari Es
0.58
0.60
Mesin Cuci
0.27
0.31
Telepon Rumah
0
0
Handphone
2.16
2.24
Berdasarkan selruh penjelasan sebelumnya mengenai barang-barang rumah
tangga, adanya Program PUAP ini tidak memberikan perubahan yang signifikan
sehingga hanya terjadi perubahan kecil saja. Hal ini dikarenakan keuntungan usaha
juga masih rata-rata masih tetap atau mengalami sedikit peningkatan sehingga tidak
begitu merubah fasilitas yang dimiliki. Adapun jika terjadi perubahan tidak
semuanya disebabkan oleh bantuan modal usaha PUAP dikarenakan bantuan
tersebut hanya bersifat menambah sedikit modal sehingga dampaknya dalam usaha
juga kecil. Seperti penuturan salah satu responden berikut.
“Kalau dianggap perubahan yo bukan berarti melulu dari modal itu, lha
sekarang kalau 2 juta itu cuma kemana to mas? Cuma 2 juta trus
dianggap ada penambahan itu sama sekali tidak menurut saya” (SNY, 48
Tahun)
Tingkat Pendapatan
Tingkat pendapatan dapat disebut juga tingkat penghasilan atau ukuran
tinggi rendahnya penghasilan yang dimiliki baik dari pekerjaan utama, sambilan,
maupun pemberian dari orang lain. Pada Program PUAP, pendapatan dilihat dari
pemasukan yang didapat penerima program baik dari hasil melakukan usaha tani,
pekerjaaan lain, maupun pemberian orang lain. Tabel 51 mengenai skor rata-rata
responden berdasarkan pendapatan menunjukan bahwa secara keseluruhan rata-rata
pendapatan penerima program jika dibandingkan sebelum dan sesudah program
mengalami sedikit peningkatan. Hal ini membuktikan bahwa adanya Program
PUAP memberi sedikit peningkatan pendapatan penerima program. Pernyataan ini
didukung dengan kondisi tingkat pendapatan penerima program berikut.
71
Tabel 51 Skor rata-rata responden berdasarkan pendapatan per bulan 2016
Rata-Rata (Ribu Rupiah)
Pendapatan
1 Tahun
Sesudah
Sebelum
(Sekarang)
Pendapatan bersih (uang, barang) sebulan dari
1235.69
1329.24
pekerjaan utama
Pendapatan bersih (uang, barang) sebulan dari
855.93
961.16
pekerjaan tambahan
Pendapatan (uang, barang) sebulan diluar
298.89
318.89
pekerjaan
Berdasarkan data pada Tabel 52 menunjukan tingkat pendapatan penerima
program sebelum adanya program PUAP cenderung pada tingkat sedang dengan
median pada tingkat sedang dan frekuensi sebesar 32 orang atau 71.1 persen.
Sementara pada tingkat rendah hanya 8 orang atau 17.8 persen dan tingkat tinggi
hanya 5 orang atau 11.1 persen. Sementara jika dibandingkan dengan 5 tahun
setelah PUAP berjalan menunjukan sedikit perubahan yaitu peningkatan tingkat
pendapatan pada tingkat tinggi sebesar 4.4 persen dan penurunan tingkat sedang
sebesar 4.4 persen. Median sesudah PUAP berjalan juga masih berada pada tingkat
sedang.
Tabel 52 Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat pendapatan sebulan
2016
Sebelum
Sesudah
Tingkat
Persentase
Persentase
Pendapatan
Jumlah (n)
Jumlah (n)
(%)
(%)
Rendah
8
17.8
8
17.8
Sedang
32
71.1
30
66.7
Tinggi
5
11.1
7
15.6
Total
45
100.0
45
100.0
Besar tingkat pendapatan tersebut menunjukan bahwa penerima program
PUAP memiliki usaha dengan pendapatan yang cenderung sedang artinya
pendapatan penerima rata-rata mencukupi untuk kehidupan sehari-hari dan usaha
penerima program tersebut masih belum banyak berkembang. Dapat dikatakan
bahwa usaha tersebut cenderung usaha dengan skala menengah ke bawah dengan
penghasilan sesuai skala tersebut. Adapun perubahan tingkat pendapat sangat kecil
yaitu 4.4 persen peningkatan dari sedang ke tinggi. Peningkatan pendapatan ini
dapat dikarenakan sebagian kecil penerima program merasakan keuntungan sedikit
lebih besar dikarenakan sebelum adanya Program PUAP ketika kekurangan modal
mereka harus meminjam kepada rentenir dengan bunga yang tinggi, sedangkan
setelah ada Program PUAP mereka dapat meminjam dengan bunga yang rendah.
Hal ini juga disampaikan oleh salah satu pengurus gapoktan dibawah ini.
“Yo keliatan perubahannya, memang tujuannya agar masyarakat
ngetuk tidak terjerat dengan bang titil itu rentenir itu, karena rentenir
72
itu kan ya bunganya memang tinggi jadi ya agak menjerat gitu.”
(ZNL, 34 Tahun)
Sementara penerima program lain yang melakukan usaha masih kurang
terjadi perubahan pendapatan atau masih tetap. Ataupun jika terjadi perubahan,
kuantitasnya sangat kecil sehingga kurang terlihat. Pendapatan penerima yang
kurang berubah ini dikarenakan bantuan modal tersebut hanya memberi tambahan
kecil pada modal sedangkan usaha penerima rata-rata membutuhkan modal yang
lebih banyak lagi jika ingin berkembang. Penerima program lain juga merasa upaya
bantuan modal tersebut bagi sebagian pelaku usaha hanya menjadi dana talangan
agar usaha masih dapat berjalan. Selain itu beberapa penerima program juga belum
merasakan perubahan pendapatan dikarenakan pinjaman modal yang diberikan
tidak dimanfaatkan untuk keperluan usaha melainkan untuk keperluan lain sehingga
usaha atau pekerjaan mereka tidak berubah. Seperti penuturan responden dan
informan berikut.
“Perubahannya dimana ya mas, wong pinjaman juga 2 juta dianggap
menaikan yo ra begitu lah mas, kecuali pinjamannya banyak nah itu
yo bisa dianggep signifikan” (SNY, 48 Tahun)
“Nggeh niku koyo ga tepat sasaran mas, soale gak semuane kanggo
usaha, kadang kanggo keperluan pribadi juga sih. Kadang ono sing
ngono tapi yo kebanyakan yo kanggo usaha (Itu seperti tidak tepat
sasaran mas, soalnya tidak semua dibuat usaha. Kadang dibuat
keperluan pribadi juga. Kadang ada seperti itu namun kebanyakan
digunakan untuk usaha. )” (VT, 23 Tahun)
Tingkat Tabungan
Tingkat Tabungan dapat dikatakan sebagai ukuran tinggi rendahnya
penerima program menyimpan uang dan barang dari sisa pendapatan yang belum
digunakan. Tabel 53 mengenai skor rata-rata responden berdasarkan tabungan
dilihat dari per kategori sebelum dan sesudah program menunjukan jumlah
tabungan uang perbulan mengalami peningkatan sedikit peningkatan rata-rata.
Sedangkan jumlah asset yang dimiliki tidak memberikan perubahan rata-rata.
Namun jika dilihat secara keseluruhan tabungan antara sebelum dan sesudah
program kurang memberi perubahan. Hal ini membuktikan bahwa adanya Program
PUAP kurang memberi perubahan pada tabungan. Pernyataan ini didukung dengan
pembahasan tingkat tabungan berikut.
Tabel 53 Skor rata-rata responden berdasarkan tabungan per bulan 2016
Rata-Rata (Ribu Rupiah)
Tabungan
1 Tahun
Sesudah
Sebelum
(Sekarang)
Jumlah tabungan (uang) setiap bulan
371.11
402.22
Jumah asset dengan satuan rupiah (barang, lahan,
5597.78
5597.78
investasi)
73
Berdasarkan data pada Tabel 54 menunjukan bahwa tingkat tabungan pada
penerima program PUAP sebelum mengikuti program cenderung pada tingkat
rendah dengan nilai median pada tingkat rendah dan frekuensi sebanyak 28 orang
atau 62.2 persen. Sedangkan pada tingkat sedang hanya sedikit yaitu 6 orang atau
13.3 persen dan tingkat tinggi hanya 11 orang atau 24.4 persen. Jika dibandingkan
dengan setelah mengikuti program PUAP, hasil menunjukan tidak ada perubahan
pada setiap tingkat frekuensi tersebut.
Tabel 54 Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat tabungan sebulan
2016
Sebelum
Sesudah
Tingkat
Persentase
Persentase
Tabungan
Jumlah (n)
Jumlah (n)
(%)
(%)
Rendah
28
62.2
28
62.2
Sedang
6
13.3
6
13.3
Tinggi
11
24.4
11
24.4
Total
45
100.0
45
100.0
Tingkat tabungan penerima program cenderung sedang dan tidak terjadi
perubahan ini dikarenakan pendapatan rata-rata penerima program hanya cukup
untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Beberapa responden mengatakan bahwa
mereka tidak menabung karena penghasilan habis untuk keperluan sehari hari saja.
Jikapun ada uang sisa, uang tersebut digunakan untuk keperluan bersama seperti
acara syukuran, nikahan, dan acara perkumpulan lain. Beberapa penerima juga
mengalami penunggakan angsuran dikarenakan pendapatannya telah habis untuk
keperluan sehari-hari. Faktor lain yang menyebabkan tingkat tabungan penerima
rendah adalah kurangnya niat masyarakat untuk menabung karena pola perilaku
masyarakat dari kecil yang tidak terbiasa menabung sehingga ketika ada kelebihan
uang selalu dialokasikan untuk kebutuhan lain. Sesuai dengan pernyataan salah satu
informan berikut.
“Saya sendiri belum bisa, ndak ada niate dari masyarakat oh saya
tak nabung, ndak ada niate itu, makane ndak berkembang” (SD, 49
Tahun)
Sebagian penerima menambahkan jika ada kelebihan pendapatan maka
dana tersebut lebih digunakan untuk investasi seperti tanah ataupun untuk bertanam
pohon. Ketika ada keperluan mendadak maka mereka akan memanen pohon
tersebut untuk menutupi pengeluaran. Selain itu jika terjadi pengeluaran mendadak
mereka juga akan melakukan peminjaman baik ke saudara, gapoktan, maupun ke
rentenir sekalipun. Meskipun sudah ada pinjaman PUAP, rentenir masih tetap
berjalan di Desa Ngetuk dikarenakan adanya dana PUAP belum bisa mencukupi
semua pinjaman petani dikarenakan tingginya permintaan pinjaman dari
masyarakat.
74
Tingkat Pengeluaran
Tingkat pengeluaran dapat dikatakan sebagai ukuran tinggi rendahnya
penerima program mengeluarkan uang dan barang baik pangan maupun non pangan
untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Berdasarkan data pada Tabel 55
menujukan bahwa tingkat pengeluaran penerima program PUAP rata-rata pada
tingkat sedang dilihat dari nilai mediannya. Sementara dari segi jumlah frekuensi
tertinggi pada tingkat rendah sebanyak 28 orang atau 62.2 persen. Sementara pada
tingkat sedang sebanyak 6 orang atau 13.3 persen dan tinggi sebanyak 11 orang
atau 24.4 persen. Sementara jika dibandingkan dengan setelah adanya Program
PUAP, data menunjukan frekuensi sama sehingga tidak terjadi perubahan
frekuensi.
Tabel 55 Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat pengeluaran
sebulan 2016
Sebelum
Sesudah
Tingkat
Persentase
Persentase
Pengeluaran
Jumlah (n)
Jumlah (n)
(%)
(%)
Rendah
28
62.2
28
62.2
Sedang
6
13.3
6
13.3
Tinggi
11
24.4
11
24.4
Total
45
100.0
45
100.0
Tingkat pengeluaran penerima program PUAP terbanyak pada tingkat
rendah memiliki arti penerima program memiliki pola pengeluaran yang sesuai
kebutuhan sehari-hari mereka saja. Penerima program umumnya melakukan
aktivitas belanja menyesuaikan dengan pendapatanya. Selain itu ada juga beberapa
penerima program yang memiliki pengeluaran tinggi disebabkan dari mengalami
peningkatan pendapatan dari usaha sendiri ataupun peningkatan pendapatan dari
kerluarga seperti suami, anak, dan orang tuanya.
Jika dibandingkan dengan 5 tahun setelah program berjalan, data
menunjukan tidak terjadi perubahan dikarenakan adanya perubahan pendapatan
penerima cenderung sangat kecil sehingga tidak begitu berpengaruh terhadap pola
pengeluaran. Seperti penuturan salah satu penerima program dibawah ini.
“Ho’oh yo pancen sakmono, pancen ra ono perubahan kok mas ket
ndisek. (Iya memang segitu. Memang tidak ada perubahan mas dari
dulu.)” (SR, 42 Tahun)
Secara lebih jelas jenis pengeluaran penerima program baik pangan maupun non
pangan akan dijelaskan dibawah ini.
Tabel ... mengenai skor rata-rata responden berdasarkan pengeluaran jika
dilihat dari per kategori sebelum dan sesudah program menunjukan bahwa kategori
pengeluaran pangan selama satu bulan mengalami penurunan kecil. Sedangkan
kategori pengeluaran pangan dan pengeluaran secara keseluruhan mengalami
sedikit peningkatan rata-rata pengeluran. Namun secara keseluruhan karena
perubahan pengeluaran menunjukan rata-rata kecil yaitu hanya sekitar 68.000 per
bulan maka dapat disimpulkan kurang memberi perubahan. Hal ini membuktikan
75
bahwa selama 4 tahun Program PUAP kurang memberi perubahan pengeluaran.
Pernyataan ini didukung dengan bahasan tingkat pengeluaran pada tabel berikut.
Tabel 56 Skor rata-rata responden berdasarkan pengeluaran per bulan 2016
Rata-Rata Kepemilikan
Pengeluaran
1 Tahun
Sesudah
Sebelum
(Sekarang)
Pengeluaran pangan selama sebulan
902.49
889.33
Pengeluaran non-pangan selama sebulan
602.67
683.91
Pengeluaran total selama sebulan
1505.16
1573.24
Tabel 57 Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat pengeluaran angan
sebulan 2016
Sebelum
Sesudah
Tingkat
Pengeluaran
Persentase
Persentase
Jumlah (n)
Jumlah (n)
Pangan
(%)
(%)
Rendah
17
37.8
17
37.8
Sedang
16
35.6
16
35.6
Tinggi
12
26.7
12
26.7
Total
45
100.0
45
100.0
Tabel 44 menunjukan bahwa tingkat pengeluaran pangan penerima program
rata-rata berada pada tingkat sedang dengan nilai median pada tingkat sedang dan
frekuensi sebanyak 16 orang atau 35.8 persen. Sementara pada tingkat rendah lebih
tinggi sedikit yaitu 17 orang atau 37.8 peresen dan tingkat tinggi 12 orang atau 26.7
persen. Jika dibandingkan dengan setelah program berjalan tidak terjadi perbahan.
Tingkat pangan penerima program terbesar pada tingkat rendah dan sedang
memiliki arti bahwa pola konsumtif penerima program cenderung tidak melebihi
pendapatan dan sesuai dengan kebutuhan sehari-hari. Jika dilihat kondisi Desa
Ngetuk terlihat bahwa masyarakat lebih sering mengonsumsi makanan dari
warung-warung sederhana di sekitar desa. Letak minimarket juga berjarak sekitar 3
kilo meter dari desa sehingga hanya sedikit warga yang berbelanja ke minimarket.
Sementara adanya Program PUAP tidak merubah pola pangan penerima
dikarenakan hanya terjadi perubahan kecil saja pada tingkat pendapatan sehingga
dampaknya kurang dapat dirasakan.
Tabel 58 Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat pengeluaran non
pangan sebulan 2016
Sebelum
Sesudah
Tingkat
Pengeluaran
Persentase
Persentase
Jumlah (n)
Jumlah (n)
Non Pangan
(%)
(%)
Rendah
14
31.1
14
31.1
Sedang
23
51.1
25
55.6
Tinggi
8
17.8
6
13.3
Total
45
100.0
45
100.0
Selanjutnya jika dilihat pola pengeluaran non pangan data pada Tabel 58
menunjukan tingkat pengeluaran non pangan cenderung pada tingkat sedang
76
dengan nilai median pada tingkat sedang dan frekuensi sebanyak 23 orang atau 51.1
persen. Sementara pada tingkat rendah sebesar 14 orang atau 31.1 persen dan
tingkat tinggi 8 orang atau 17.8 persen. Kondisi pengeluaran non pangan penerima
program cenderung sedang ini memiliki arti pengeluaran kebutuhan rumah tangga
penerima program pada tingkat sedang sudah mencukupi kebutuhan aktivitas
sehari-hari
Sementara jika dibandingkan dengan 5 tahun setelah program berjalan
menunjukan bahwa hanya terjadi penurunan dari tingkat tinggi ke sedang sebesar
4.4 persen. Penurunan yang kecil ini dikarenakan ada beberapa anggota keluarga
dari penerima program yang tidak tinggal bersama lagi karena mencari kerja ke luar
desa dengan waktu yang lama sehingga pengeluaran keluarga lebih rendah. Selain
itu penurunan yang sangat kecil ini juga dikarenakan kebutuhan non pangan rumah
tangga dapat bertahan lama sehingga tidak harus membeli baru setiap tahunnya.
Kedua alasan diatas sesuai dengan pernyataan penerima program di bawah ini.
“Nggeh niki bapake wonten teng Kalimantan nok bapake kaleh mase,
nggeh kerjo teng bangunan, nggeh proyek. Wangsule nggeh lebaran
(Iya sekarang bapak sama kakak ada di Kalimantan. Kerja di
bangunan proyek. Pulangnya ya waktu lebaran.)” (SLK, 64 Tahun)
“Gak tau tuku, wong anu kok mas awet og nek tumbas mas (Tidak
pernah beli. Itu sudah tahan lama kok kalau beli.)” (SR, 42 Tahun)
Tingkat Taraf Hidup
Tingkat taraf hidup dapat dikatakan sebagai ukuran tinggi rendahnya
kualitas hidup penerima program dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Berdasarkan data pada Tabel 59 menujukan bahwa tingkat taraf hidup penerima
rogram sebelum adanya Program PUAP dominan pada tingkat sedang dengan nilai
median pada tingkat sedang dan frekuensi sebanyak 19 orang atau 42.2 persen.
Tingkat rendah hanya selisih satu dengan tingkat sedang yaitu 18 orang atau 40
persen dan tingkat tinggi sejumlah 8 orang atau 17.8 persen. Jika dibandingkan
dengan setelah program berjalan menunjukan penurunan dari tingkat tinggi ke
tingkat sedang sebesar 4.4 persen.
Tabel 59 Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat taraf hidup 2016
Sebelum
Sesudah
Tingkat Taraf
Persentase
Persentase
Hidup
Jumlah (n)
Jumlah (n)
(%)
(%)
Rendah
18
40.0
18
40.0
Sedang
19
42.2
21
46.7
Tinggi
8
17.8
6
13.3
Total
45
100.0
45
100.0
Tingkat taraf hidup penerima program tertinggi pada tingkat sedang dan
tinggi ini membuktikan bahwa pemilihan penerima program PUAP sudah tepat
sasaran dikarenakan penerima program sebagian besar pada taraf hidup rendah dan
sedang. Kemudian jika dibandingkan dengan setelah program berjalan terjadi
77
sedikit penurunan disebabkan adanya penurunan juga di tingkat pengeluaran non
pangan dan fasilitas rumah tangga sehingga menyebabkan taraf hidup sedikit
menurun. Secara keseluruhan taraf hidup ini kurang memberikan perubahan
dikarenakan Program PUAP tersebut hanya berbentuk sedikit tambahan modal
sehingga dampaknya kurang dapat dirasakan dari keuntungan usaha penerimanya.
Selain itu banyak penerima program yang tidak menggunakan bantuan PUAP untuk
melakukan usaha melainkan kebutuhan sehari-hari sehingga tidak menimbulkan
perubahan taraf hidup. Sesuai pendapat salah satu informan dibawah ini.
“Kalo taraf ekonomi yo paling cuma berapa persen sedikit tok mas,
masalahe juga mereka pinjam itu kalo realistis itu kebanyakan juga
nggak untuk menunjang usaha pertaniannya tapi ya untuk kebutuhan
lain” (ED, 42 Tahun)
Namun bagi sebagian penerima program yang menggunakan pinjaman
tersebut untuk melakukan usaha karena kekurangan modal. Mereka mengaku
bahwa dampak yang mereka rasakan setelah mengikuti program ini dari segi
ekonomi mereka bertambah karena sudah tidak meminjam kepada rentenir lagi
karena bunga dari rentenir sangat tinggi yaitu 10 persen sampai 20 persen per bulan.
Sementara pinjaman PUAP hanya 1 persen per bulan. Seperti penuturan informan
dibawah ini.
“Setau saya, karena di koperasi itu kurang modal. Kemudian
masyarakat ngetuk membutuhkan dana, sehingga larinya kan ke
lintah darat atau renternir. Kalo rentenir kan ada yang 10 persen 20
persen. Sebenarnya kasihan tapi ya mau gimana lagi” (SD, 49 Tahun)
Hubungan Tingkat Partisipasi dengan Tingkat Perubahan Taraf Hidup
Penerima Program PUAP
Partisipasi merupakan proses aktif, inisiatif diambil oleh warga komunitas
sendiri, dibimbing oleh cara berfikir mereka sendiri, dengan menggunakan sarana
dan proses (lembaga dan mekanisme) dimana mereka dapat menegaskan kontrol
secara efektif (Nasdian 2014). Adanya inisiatif untuk berkontribusi dalam suatu
kegiatan dan berfikir untuk memecahkan masalah sendiri membuat masyarakat
mampu mengontrol suatu kegiatan agar dapat memberi manfaat bagi kehidupan
mereka. Seperti pada tujuan Program PUAP ini, adanya partisipasi masyarakat
untuk mengelola simpan pinjam dan usaha tani mereka sendiri, serta mencari solusi
atas masalahnya mampu mengarahkan Program PUAP untuk mendorong
kesejahteraan dan menaikan taraf hidup masyarakat.
Pendugaan bahwa adanya hubungan tingkat partisipasi terhadap
perubahan taraf hidup penerima program PUAP, dapat diuji menggunakan
perangkat lunak SPSS melalui uji statistik non-parametrik melakukan uji Rank
Spearman dengan cara melihat hubungan antara variabel-variabel. Aturan nilai
dalam menentukan nilai uji korelasi Rank Spearman adalah sebagai berikut: 0.00
(tidak ada hubungan), 0.01-0.09 (hubungan kurang berarti), 0.10-0.29 (hubungan
lemah), 0.30-0.49 (hubungan moderat), 0.50-0.69 (hubungan kuat), 0.70-0.89
78
(hubungan sangat kuat), > 0.9 (hubungan mendekati sempurna). Hasil korelasi
menunjukan sebagai berikut.
Tabel 60 Koefisien korelasi indikator tingkat partisipasi terhadap indikator tingkat
perubahan taraf hidup
Tingkat Perubahan
Tingkat Partisipasi
Taraf Hidup
Perencanaan
0.428**
Implementasi
-0.094
Pemanfaatan
0.101
Evaluasi
0.226
Jika setiap sub-variabel tingkat partisipasi akan dilihat hubungannya dengan
perubahan taraf hidup seperti pada Tabel 60, terlihat bahwa koefisen korelasi antara
variabel tingkat perencanaan dengan tingkat perubahan taraf hidup pada Program
PUAP menunjukan angka 0,428 dengan arti hubungan moderat. Perlu diketahui
bahwa yang diundang yang terlibat dalam perencanaan adalah pengurus gapoktan,
penyuluh, dan kepala desa, sehingga hasil menunjukan bahwa pengurus yang aktif
dalam perencanaan mengalami kenaikan taraf hidup. Kenaikan taraf hidup ini lebih
disebabkan dari kenaikan fasilias rumah tangga dan pengeluaran.
Hal ini dikarenakan seiring berkembangnya Program PUAP ini pengurus
membutuhkan fasilitas-fasilitas untuk menunjang pengelolaan PUAP yaitu laptop,
smartphone, internet, dan juga aplikasi pengelola simpan pinjam gapoktan agar
simpan pinjam mudah dikelola. Pembelian tersebut sebagian harus menggunakan
dana pribadi atau dipotong dari upah dikarenakan hasil dari simpan pinjam PUAP
belum mencukupi untuk memperbarui fasilitas tesebut. Seperti pada aplikasi
pengelola simpan pinjam PUAP gapoktan harus membeli sebesar 10 juta agar
mempermudah pengelolaan simpan pinjam dengan pertimbangan kemudahan dan
tenaga dari pengurus yang terbatas. Seperti penjelasan salah satu informan dibawah
ini.
“Dulu tu garapnya (mengolah) pake excel tapi sekarang sudah pake
aplikasi, laporan dari aplikasi. Sudah beli software kemaren dari Solo
harga 10 juta. Namanya itu SIGAP, Sistem Gapoktan.” (ZNL, 34
Tahun)
Adanya tambahan pengeluaran tersebut dari pengurus gapoktan
menyebabkan bertambahnya pengeluaran dari pengurus sendiri. Sementara upah
yang mereka dapat dari pengelolaan PUAP ini sangat kecil sehingga dengan
kesadaran dan pengertian dari pengurus gapoktan, mereka rela mengorbankan
tenaga dan waktunya. Hal ini sesuai dengan pernyataan informan berikut.
“Yo karena sejak awal yang mengelola saya mau gak mau saya harus
mempertahankan lagi bagaimana asset yang sudah saya kelola
jangan sampai hancur. Jadi saya yo kesadaran diri untuk
membenahi.” (ZNL, 34 Tahun)
79
Pada hubungan tahap implementasi dengan tingkat perubahan taraf hidup,
Tabel 61 menunjukan bahwa koefisen korelasi antara variabel tingkat implementasi
dengan tingkat perubahan taraf hidup pada Program PUAP menunjukan angka 0,094 dengan arti hubungan kurang berarti. Tahap implementasi tidak memberikan
perubahan taraf hidup dikarenakan kegiatan implementasi Program PUAP ini
dinilai kurang efektif dan kurang melibatkan penerima program. Tingkat
implementasi penerima program menunjukan nilai rendah karena kurang dilibatkan
dalam pelaksanaan program. Peran penerima program hanya dipinjamkan uang dan
diminta untuk mengelola usaha tani masing-masing tanpa ada pengarahan dan
pelatihan. Sementara pengurus yang mengelola semua kegiatan pinjaman.
Pengurus, Penyuluh, dan PMT tidak pernah melakukan pelatihan, pengarahan, dan
pengawasan terhadap usaha tani penerima sehingga banyak usaha yang tidak
berkembang dan beberapa juga tidak menggunakan dana tersebut untuk usaha
sehingga tidak menimbulkan perubahan taraf hidup penerima program. Tidak
adanya pelatihan ini didukung dengan pernyataan berikut.
“Belum saya belum terima, belum ada pelatihan ya. Dari kecamatan
juga belum ada pelatihan.” (SKT, 46 Tahun)
Kemudian hubungan tahap pemanfaatan dengan tingkat perubahan taraf
hidup menunjukan bahwa koefisen korelasi antara variabel tingkat pemanfaatan
dengan tingkat perubahan taraf hidup pada Program PUAP menunjukan angka
0,101 dengan arti hubungan lemah. Tingkat pemanfaatan kurang memberikan
perubahan taraf hidup dikarenakan tingkat pemanfaatan lebih dipengaruhi oleh
kepercayaan penerima program terlepas orang tersebut mengalami perubahan taraf
hidup atau tidak. Pada Tabel 38 bab sebelumnya menunjukan tingkat pemanfaatan
penerima cenderung sedang dan tinggi. Sedangkan hanya sebagian kecil dari
mereka yang mengalami kenaikan taraf hidup. Hal ini menunjukan bahwa
meskipun mereka mengalami peningkatan taraf hidup atau tidak mereka tetap
memiliki kepercayaan bahwa Program PUAP selalu dapat memberikan manfaat dan
pertolongan kepada petani sehingga mereka sangat membutuhkan.
Pada hubungan tahap evaluasi dengan tingkat perubahan taraf hidup, Tabel
56 menunjukan bahwa koefisen korelasi antara variabel tingkat evaluasi dengan
tingkat perubahan taraf hidup pada Program PUAP menunjukan angka 0.226
dengan arti hubungan lemah. Kurangnya hubungan tingkat evaluasi dengan tingkat
perubahan taraf hidup ini dikarenakan pelaksanaan evaluasi dinilai kurang efektif
dan kurang melibatkan partisipasi penerima program. Pada bab tingkat partisipasi
evaluasi sebelumnya menunjukan kecenderungan ke tingkat partisipasi rendah.
Evaluasi kurang efektif dikarenakan dalam rapat evaluasi bahan laporan sudah
disiapkan pengurus sebelum disebutkan ke dalam rapat sehingga pendapat peserta
sudah dibatasi oleh bahan laporan tersebut. Selain itu dalam rapat pendapat hanya
didominasi oleh pengurus, penyuluh, dan pemerintah desa sehingga penerima
kurang berpartisipasi atas dasar kurang pengetahuan dan kurang dilibatkan. Selain
itu evaluasi kurang melibatkan partisipasi penerima program juga dikarenakan yang
diundang untuk rapat hanya 5 orang perwakilan dari setiap poktan yang dianggap
mengerti dan berpengalaman. Sehingga adanya partisipasi tahap evaluasi tersebut
kurang dirasakan penerima dan kurang memberi dampak perubahan taraf hidup.
80
Selain penjabaran hubungan dari setiap sub-variabel partisipasi, perlu
dilihat juga penjabaran dari hubungan tingkat partisipasi dengan setiap sub-variabel
tingkat perubahan taraf hidup untuk mengetahui seberapa tinggi hubungan
partisipasi pada setiap tingkatan perubahan taraf hidup tersebut. Selain itu juga
perlu diketahui secara keseluruhan hubungan tingkat partisipasi dengan tingkat
perubahan taraf hidup pada Program PUAP dan alasan yang mendasarinya.
Penjabaran dari hubungan pada setiap tahap partisipasi dan secara keseluruhan
sebagai berikut.
Tabel 61 Koefisien korelasi tingkat partisipasi terhadap indikator tingkat perubahan
taraf hidup
Tingkat Perubahan
Tingkat Partisipasi
Taraf Hidup
Fasilitas rumah tangga
0.079
Pendapatan
-0.206
Tabungan
0.044
Pengeluaran
0.063
Taraf Hidup
-0.045
Berdasarkan data pada Tabel 61. Terlihat bahwa koefisen korelasi antara
variabel tingkat partisipasi dengan perubahan taraf hidup pada tingkat fasilitas
rumah tangga menunjukan angka 0,079 dengan arti hubungan kurang berarti. Hal
ini dikarenakan perubahan fasilitas rumah tangga secara garis besar tidak
dipengaruhi oleh tingkat partisipasi melainkan dipengaruhi oleh kondisi keuangan,
kenyamanan rumah, dan kebutuhan penerima program yang semakin bertambah.
Penerima program akan melakukan renovasi rumah jika keuangan mereka
memungkinan dan jika mereka merasa rumahnya kurang nyaman untuk melakukan
aktivitas sehari-hari. Bahkan ada juga penerima program yang meminjam uang
kepada simpan pinjam PUAP maupun unit simpan pinjam lain ketika mereka
membutuhkan dana untuk merenovasi rumah tersebut. Jika dilihat dari barangbarang rumah tangga yang digunakan, penambahan barang-barang seperti
handphone, sepeda motor, laptop, dan barang lain juga dikarenakan kebutuhan
hidup yang semakin bertambah dan keperluan pekerjaan yang semakin bertambah.
Seperti keadaan pengurus harus membeli smartphone dan paket internet agar
mereka mudah untuk berkoordinasi dengan pihak lain yang sulit ditemui langsung.
Hal ini membuktikan bahwa perubahan fasilitas rumah tangga tidak dipengaruhi
oleh partisipasi penerima program.
Selanjutanya koefisen korelasi antara variabel tingkat partisipasi dengan
perubahan taraf hidup pada tingkat pendapatan menunjukan angka -0,206 dengan
arti terdapat hubungan lemah dan dengan arah negatif. Hubungan lemah tersebut
disebabkan hanya sebagian kecil penerima program yang partisipasinya tinggi
mengalami penurunan taraf hidup dan begitu pula sebaliknya. Beberapa orang yang
memiliki partisipasi tinggi seperti pengurus gapoktan yang aktif mengelola dana
PUAP mengalami penurunan pendapatan karena harus membagi waktu pekerjaan
dengan pengelolaan dana PUAP sehingga menyebabkan penurunan karena
berkurangnya waktu bekerja semnetara upah PUAP sangat kecil. Begitu pula
sebaliknya penerima yang tidak ikut mengelola dan kegiatan lebih mencurahkan
waktunya untuk mengembangkan usaha tani sehingga beberapa ada yang
81
mengalami peningkatan pendapatan. Hal ini didukung salah satu pendapat pengurus
gapoktan berikut.
“Ini karena kegiatan sosial yo tu memang gak ada apa-apanya.
Artinya yo sekedar tiap bulan cuma sekedar ganti bensin 50.000
setiap pengelola, yo sing penting sistemnya itu yang penting jalan.”
(ZNL, 34 Tahun)
Namun secara keseluruhan perubahan tingkat pendapatan tidak terlalu
dipengaruhi oleh tingkat partisipasi. Tingkat pendapatan lebih dipengaruhi oleh
status pekerjaan dan usaha tani pribadi. Rata-rata penerima yang usahanya
berkembang maupun mengalami kenaikan jabatan akan mengalami peningkatan
pendapatan. Selain itu juga dikarenakan anggota keluarga lain yang mengalami
penghasilan karena jabatan pekerjaan meningkat atau usaha taninya berkembang
sehingga penerima program ikut mendapat sumbangan upah penghasilan tersebut.
Sementara koefisen korelasi antara variabel tingkat partisipasi dengan
perubahan taraf hidup pada tingkat tabungan menunjukan angka 0,044 dengan arti
hubungan kurang berarti. Hal ini dikarenakan baik partisipasi masyarakat tinggi
maupun rendah tidak mempengaruhi kemauan penerima untuk menabung.
Tabungan ini lebih dipengaruhi oleh kondisi keuangan dan keinginan penerima
program untuk menabung. Kondisi keuangan dapat menentukan tabungan dilihat
dari adanya kelebihan pendapatan dibanding pengeluaran. Selain itu juga
dikarenakan ada kiriman dari keluarga ataupun memiliki warisan baik berbentuk
uang ataupun barang. Hasil kelebihan tersebut dapat digunakan penerima untuk
menyimpannya jika ada keperluan mendadak di masa depan.
Selain itu, kemauan menabung penerima juga ikut menentukan tingkat
tabungan. Hasil penelitian menggambarkan pola perilaku kemauan menabung
masyarakat cenderung rendah. Masyarakat enggan menabung uang dikarenakan
sebagian besar masyarakat terbiasa dari kecil menghabiskan uang jika ada sisa. Hal
ini ditunjukan dengan program simpanan koperasi gapoktan yang tidak berjalan
dikarenakan tidak ada yang mau menyimpan uang. Alternatifnya agar uang
masyarakat tudak habis adalah uang tersebut diinvestasikan dalam bentuk
perhiasan, barang, hasil hutan, ataupun lahan agar simpanan tersebut tetap utuh
untuk masa depan. Hal ini didukung pernyataan salah satu informan berikut.
“Saya sendiri belum bisa, ndak ada niate dari masayarakat kok saya
tak nabung, ndak ada niate itu, makane ndak berkembang” (SD, 49
Tahun)
Selanjutnya koefisen korelasi antara variabel tingkat partisipasi dengan
perubahan taraf hidup pada tingkat pengeluaran menunjukan angka 0,063 dengan
arti hubungan kurang berarti. Hal ini menunjukan tinggi rendahnya partisipasi
penerima program tidak memberi dampak terhadap perubahan pengeluaran.
Pengeluaran sendiri lebih dipengaruhi oleh kondisi pendapatan dan kebutuhan
hidup penerima. Kondisi pendapatan dapat mempengaruhi pengeluaran melalui
besarnya pendapatan yang diterima membuat penerima program ingin membeli
barang-barang yang lebih modern untuk mempermudah aktivitas sehari-hari,
namun jika kondisi pendapatan kurang tinggi maka penerima program hanya
82
menggunakan barang-barang rumah tangga yang mampu mereka beli. Keinginan
untuk membeli barang-barang yang lebih modern ini dikarenakan kebutuhan hidup
masyarakat yang semakin lama semakin berkembang ke arah modern. Masyarakat
akan merasa ketinggalan zaman jika belum memiliki barang-barang modern yang
telah menyebar cepat di masyarakat desa Ngetuk. Hal ini menyebabkan penerima
program berusaha mengumpulkan uang untuk membeli barang-barang modern
tersebut agar aktivitas sehari-hari mereka menjadi lebih mudah dan mereka mampu
mengikuti perkembangan zaman di wilayah Desa Ngetuk. Hal ini didukung
pernyataan salah satu informan berikut.
“Pola masyarakat sekarang dengan jaman saya itu berubah.
Masyarakat sekarang kan pola hidupnya mewah. Sebenarnya saya
kasian kemampuannya itu ibaratnya gini, roda dua saja yang second
sudah sesuai penghasilannya, tapi ambil yang baru. Itu kan ga sesuai
kemampuannya” (SD, 49 Tahun)
Secara keseluruhan koefisen korelasi antara variabel tingkat partisipasi
dengan tingkat perubahan taraf hidup menunjukan angka -0,045 dengan arti
hubungan kurang berarti. Hasil ini membuktikan bahwa kurang terdapat hubungan
antara tingkat partisipasi dan tingkat perubahan taraf hidup pada Program PUAP
sehingga membuktikan hipotesis H0 diterima dan H1 ditolak. Hal ini dikarenakan
semua penerima program baik yang memiliki tingkat partisipasi tinggi maupun
rendah dapat melakukan pinjaman kepada Program PUAP sehingga semua
penerima program berpeluang mengembangkan usaha masing-masing untuk
memenuhi kebutuhan hidup mereka. Perubahan taraf hidup sendiri lebih
dipengaruhi oleh besarnya pendapatan dan kebutuhan hidup penenerima program.
Karena kebutuhan hidup masyarakat semakin hari semakin bertambah mengikuti
perkembangan teknologi, masyarakat terdorong untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya memanfaatkan teknologi untuk mempermudah aktivitas sehari-hari dan
mengikuti perkembangan taraf hidup masyarakat Desa Ngetuk. Kebutuhan hidup
tersebut dicapai melalui usaha masyarakat untuk meningkatkan pendapatan mereka
agar mampu memenuhi taraf hidup yang sesuai dengan harapan masyarakat.
Selain kondisi masyarakat tersebut, dari segi Program PUAP sendiri kurang
mampu memberi peningkatan taraf hidup ini juga dikarenakan Program PUAP di
Desa Ngetuk baru dirintis selama 5 tahun. Hingga saat ini program masih
membutuhkan kontribusi dan perjuangan dari petani baik pengurus dan anggota
gapoktan untuk lebih giat lagi mengembangkan program agar mampu mengatasi
semua masalah usaha tani dan membantu meningkatkan taraf hidup masyarakat
Desa Ngetuk. Kondisi tersebut sesuai pendapat salah satu pengurus berikut.
“Mengingat programnya itu baru berkembang, ya yang jadi pengurus
yo menyadari demi kelancaran koperasi ya kadang gajian kadang
nggak. Yang penting program bisa berjalan dan nantinya dapat
berkembang.” (TM, 64 Tahun)
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Hasil penelitian dalam penelitian mengenai hubungan peran modal sosial
dengan partisipasi petani pada Program Pengembangan Usaha Agribisnis
Perdesaan (PUAP) terhadap tingkat perubahan taraf hidup masyarakat di Desa
Ngetuk tersebut menunjukan tingkat modal sosial cenderung ke sedang dan tinggi
sehingga modal sosial sangat berperan dalam kegiatan simpan pinjam PUAP.
Tingginya modal sosial dilihat dari tingginya kepercayan dari masyarakat sendiri
yang saling mempercayai dan menghargai pengurus dan anggota. Tingginya norma
masyarakat dalam menaati peraturan pemerintah desa dan aturan masyarakat tidak
tertulis dalam kehidupan sehari-hari. Jaringan di tingkat sedang disebabkan rasa
saling menghormati dan menghargai menciptakan hubungan baik dan saling
membantu. Sementara tingkat partisipasi rendah dikarenakan tingkat partisipasi
pada keempat tahap. Pada tahap perencanaan dan evaluasi rendah dikarenakan
hanya sebagian kecil penerima program yang diundang dan menghadiri rapat.
Tahap implementasi rendah karena penerima hanya dilibatkan pada pengelolaan
usaha tani pribadi. Tahap pemanfaatan tergolong tinggi dikarenakan hampir dari
seluruh penerima program merasakan manfaatnya meskipun tidak terlalu tinggi.
Pada tingkat taraf hidup, penerima program tertinggi pada tingkat sedang
dan tinggi ini membuktikan bahwa pemilihan penerima program PUAP sudah tepat
sasaran dikarenakan awal program penerima sebagian besar memiliki taraf hidup
rendah dan sedang. Jika dilihat perubahannya, tingkat fasilitas kurang berubah
dikarenakan fasilitas rumah tangga masih memadai, tingkat pendapatan kurang
berubah dikarenakan tambahan modal dinilai kecil, tingkat tabungan tetap
dikarenakan penghasilan hanya cukup untuk keperluan sehari-hari dan minimnya
kemauan menabung penerima. Tingkat pengeluaran kurang berubah dikarenakan
pendapatan juga tidak berubah jauh sehingga membatasi pengeluaran. Namun
secara keseluruhan taraf hidup ini kurang memberikan perubahan karena hanya
berbentuk sedikit tambahan modal sehingga dampak keuntungan usaha kurang
dapat dirasakan penerimanya.
Penelitian ini juga menganalisis hubungan dari tingkat modal sosial dengan
tingkat partisipasi, serta hubungan tingkat partisipasi dengan tingkat perubahan
taraf hidup masyarakat yang diuji statistik non-parametrik menggunakan uji Rank
Spearman. Hasil penelitian menunjukan terdapat hubungan kuat antara tingkat
modal sosial dan tingkat partisipasi pada Program PUAP. Hubungan kuat ini
dibuktikan dengan adanya keterhubungan antar modal sosial seperti kepercayaan
dan jaringan sosial antara pengurus, penerima, dan stakeholder mendorong
kemauan dan kesadaran untuk berpartisipasi pada tahap perencanaan,
implementasi, dan evaluasi. Penerima program percaya bahwa Program PUAP
yang sudah dikelola dengan aktif oleh pengurus mampu meningkatkan pendapatan
petani meskipun tidak terlalu banyak. Selanjutnya pada hubungan antara tingkat
partisipasi dan tingkat perubahan taraf hidup pada Program PUAP membuktikan
bahwa kurang terdapat hubungan. Hal ini dikarenakan semua anggota tani baik
yang memiliki tingkat partisipasi tinggi maupun rendah sama-sama dapat
melakukan pinjaman Program PUAP sehingga semua anggota tani sama-sama
berpeluang meningkatkan taraf hidup sesuai usahanya. Perubahan taraf hidup
84
sendiri lebih dipengaruhi oleh besarnya pendapatan dan tingginya kebutuhan hidup
penerima program.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat ditarik beberapa hal yang dapat
dijadikan masukan atau saran diantaranya sebagai berikut:
1. Untuk civitas akademika, penelitian tidak menemukan hubungan yang
signifikan antara adanya partisipasi mampu mendorong peningkatan taraf
hidup penerima program PUAP. Perlu untuk mengkaji lebih dalam
mengenai faktor-faktor apa saja yang mampu meningkatkan efektivitas
Program PUAP agar mendorong peningkatan taraf hidup penerima
program. Selain itu juga perlu mengkaji lebih dalam mengenai partisipasi
perencanaan yang khusus dilakukan anggota dalam mengelola usaha tani.
2. Untuk masyarakat, terutama penerima Program PUAP diharapkan dapat
dijadikan pertimbangan bahwa modal sosial yang tinggi dapat membantu
mereka meningkatkan partisipasi dalam mengelola dana PUAP dan
mengembangkan usaha tani pribadi.
3. Untuk pemerintah dan pembuat kebijakan diharapkan dapat memperbaiki
pelaksanaan Program PUAP agar lebih partisipatif dan mampu
mengembangkan kapasitas penerima program seperti mengadakan pelatihan
dan pembimbingan usaha. Selain itu juga program harus dikontrol oleh
pemerintah pusat agar tidak terjadi penyalahgunaan dana PUAP.
DAFTAR PUSTAKA
Alfitri. 2011. Community Development Teori dan Aplikasi. Yogyakarta : Pustaka
Pelajar.
Anggita. 2013. Dukungan Modal Sosial dalam Kolektivitas Usaha Tani untuk
Mendukung Kinerja Produksi Pertanian Studi Kasus : Kabupaten Karawang
dan Subang. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota. [Internet]. [diunduh
tanggal 23 September 2015, pukul 12.34 WIB]. Volume 24 No. 3 Tahun
2013. Dapat diunduh pada : http://sappk.itb.ac.id/jpwk1/wpcontent/uploads/2014/04/V1N2481-487.pdf
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2015. Keadaan Angkatan Kerja di Indonesia 2016.
[berita resmi statistik] [internet]. [diunduh 13 Januari 2016]. Tersedia pada:
http://www.bps.go.id
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2016a. Profil Sektor Pekerjaan di Indonesia. [berita
resmi statistik] [internet]. [diunduh 13 Januari 2016]. Tersedia pada:
https://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/970
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2016b. Profil kemiskinan di Indonesia. [berita
resmi statistik] [internet]. [diunduh 13 Januari 2016]; 45(07) 1-7. Tersedia
pada: https://www.bps.go.id/linkTableDinamis/view/id/1119
Fargomeli. 2014. Interaksi Kelompok Nelayan dalam Meningkatkan Taraf Hidup
di Desa Tewil Kecamatan Sangaji Kabupaten Maba Halmahera Timur.
Journal “Acta Diurna”. [Internet]. [diunduh tanggal 20 Januari 2016, pukul
23.30 WIB]. Volume III. No.3. Tahun 2014. Dapat diunduh pada :
http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/actadiurna/article/view/5728
Ginting YB. Maryunianta Y. Kesuma SI. Dampak Program Pengembangan Usaha
Agribisnis Perdesaan Terhadap Kinerja dan Pendapatan Usaha Tani
Anggota Kelompok Tani (Kasus : Desa Paluh Manan Kecamatan Hamparan
Perak Kabupaten Deli Serdang). [Internet]. [diunduh tanggal 19 September
2015,
pukul
23.07
WIB].
Dapat
diunduh
pada
:
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=184455&val=4143&t
itle=DAMPAK%20PROGRAM%20PENGEMBANGAN%20USAHA%2
0AGRIBISNIS%20PERDESAAN%20TERHADAP%20KINERJA%20D
AN%20PENDAPATAN%20USAHA%20TANI%20ANGGOTA%20KEL
OMPOK%20TANI%20%20(Kasus%20:%20Desa%20Paluh%20Manan%
20Kecamatan%20Hamparan%20Perak%20Kabupaten%20Deli%20Serdan
g)
Inayah. 2012. Peranan Modal Sosial dalam Pembangunan. Jurnal Pengembangan
Humaniora. [Internet]. [diunduh tanggal 23 September 2015, pukul 12.34
WIB]. Vol. 12 No. 1, April 2012. Dapat diunduh pada :
http://www.polines.ac.id/ragam/index_files/.../paper_6%20apr%202012.pd
f
Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2016. [internet]. Tersedia pada :
http://kbbi.web.id/taraf
[Kementan] Kementerian Pertanian. 2008a. Peraturan Menteri Pertanian. Jakarta :
Kementerian Pertanian.
[Kementan] Kementerian Pertanian. 2008b. Pedoman Umum Pengembangan
Usaha Agribisnis Perdesaan. Jakarta : Kementerian Pertanian.
86
[Kementan] Kementerian Pertanian. 2010. Evaluasi dan Penyusunan Desa Calon
Lokasi Umum Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP). Jakarta
: Kementerian Pertanian.
[Kementan] Kementerian Pertanian. 2015a. Pedoman Umum Pengembangan
Usaha Agribisnis Perdesaan. Jakarta : Kementerian Pertanian.
[Kementan] Kementerian Pertanian. 2015b. Petunjuk Teknis Verifikasi Dokumen
Administrasi Penyaluran BLM-PUAP. Jakarta : Kementerian Pertanian.
Lastinawati E. 2011. Partisipasi Petani dalam Pelaksanaan Program Pengembangan
Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP) di Kab. OKU. AgronobiS. [Internet].
[diunduh tanggal 19 September 2015, pukul 23.07 WIB]. Vol. 3, No. 5,
Maret 2011 ISSN: 1979 – 8245X, Hal; 47- 57. Dapat diunduh pada :
https://agronobisunbara.files.wordpress.com/2012/11/12-endang-petanihal-47-57-oke.pdf
Nasdian FT. 2006. Modul Kuliah Pengembangan Masyarakat. Tidak Diterbitkan.
Institut Pertanian Bogor.
Nasdian FT. 2014. Pengembangan Masyarakat. Jakarta : Yayasan Pustaka Obor
Indonesia.
Primadona. 2012. Penguatan Modal Sosial Untuk Pemberdayaan Masyarakat dalam
Pembangunan Pedesaan (Kelompok Tani Kecamatan Rambutan).
Polibisnis. [Internet]. [diunduh tanggal 19 September 2015, pukul 23.07
WIB]. Volume 4 No. 1 April 2012 ISSN 1858-3717. Dapat diunduh pada :
http://ojs.polinpdg.ac.id/index.php/JEB/article/download/645/610
Purnamasari NI. 2015. Pengaruh Program Pemerintah PNPM Mandiri (Program
Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri) terhadap Peningkatan Taraf
Hidup Masyarakat di Desa Sangatta Utara Kabupaten Kutai Timur.
eJournal Ilmu Pemerintahan. [Internet]. [diunduh tanggal 23 September
2015, pukul 12.34 WIB]. Dapat diunduh pada : http://ejournal.ip.fisipunmul.ac.id/site/?p=1222
Rachmawati AN. Marwanti S. Wijianto A. Pengaruh Program Pengembangan
Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) Terhadap Produktivitas dan
Pendapatan Usahatani Padi di Kabupaten Sukoharjo. Humaniora. [Internet].
[diunduh tanggal 19 September 2015, pukul 23.07 WIB]. Dapat diunduh
pada
:
http://onlinejournal.unja.ac.id/index.php/humaniora/article/view/833
Rivai et al. 2010. Evaluasi dan Penyusunan Desa Calon Lokasi Pengembangan
Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP). [Internet]. [diunduh tanggal 9 Januari
2016,
pukul
23.11
WIB].
Dapat
diunduh
pada
:
http://pse.litbang.pertanian.go.id/ind/pdffiles/MAKPROP_RSR.pdf
Rajagukguk SI. Ginting M. Emalisa. Partisipasi Petani dalam Program
Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) (Kasus: Desa Sidourip
dan Desa Pasar V Kebun Kelapa Kecamatan Beringin Kabupaten Deli
Serdang). [Internet]. [diunduh tanggal 19 September 2015, Pukul 23:07
WIB].
Dapat
diunduh
pada
:
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/34496/7/Cover.pdf
Rosyida I. Nasdian FT. 2011. Partisipasi Masyarakat dan Stakeholder dalam
Penyelenggaran Program Corporate Social Responsibility (CSR) dan
Dampaknya terhadap Komunitas Perdesaan. Sodality: Jurnal Transdisiplin
Sosiologi, Komunikasi, dan Ekologi Manusia. [Internet]. [diunduh tanggal
87
20 Januari 2016, pukul 23.30 WIB]. Vol. 05, No. 01 hlm. 51-70 ISSN :
1978-4333.
Dapat
diunduh
pada
:
http://journal.ipb.ac.id/index.php/sodality/article/view/5832
Siregar S et al. 2013. Peranan Program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan
(PUAP) terhadap Peningkatan Pendapatan Petani. Agrium. [Internet].
[diunduh tanggal 23 September 2015, pukul 12.04 WIB]. April 2013
Volume
18
No
1.
Dapat
diunduh
pada
:
http://jurnal.umsu.ac.id/index.php/agrium/article/download/342/309
Suandi. Damayanti Y. Yulismi. 2012. Model Pengembangan Usaha Agribisnis
Perdesaan Pada Usahatani Padi Sawah Di Kecamatan Sekernan Kabupaten
Muaro Jambi Provinsi Jambi. Jurnal Penelitian Universitas Jambi Seri
Humaniora. [Internet]. [diunduh tanggal 19 September 2015, pukul 23.07
WIB]. Volume 14, Nomor 2, Hal. 25-34 ISSN 0852-8349. Dapat diunduh
pada
:
http://onlinejournal.unja.ac.id/index.php/humaniora/article/view/833
Suroso H. Hakim A. Noor I. 2014. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Partisipasi
Masyarakat Dalam Perencanaan Pembangunan Di Desa Banjaran
Kecamatan Driyorejo Kabupaten Gresik. Wacana. [Internet]. [diunduh
tanggal 19 September 2015, pukul 23.07 WIB]. Vol. 17, No. 1(2014) ISSN
:
1411-0199.
Dapat
diunduh
pada
:
http://wacana.ub.ac.id/index.php/wacana/article/view/290
Wibawa L. 2013. Pemberdayaan Pemuda Melalui Social Capital. Prosiding
Seminar Nasional dan Jurnal. [Internet]. [diunduh tanggal 19 September
2015, Pukul 23:07 WIB]. ISBN : 978-602-99286-2-4. Dapat diunduh pada
:
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/penelitian/Lutfi%20Wibawa,%20S.
%20Pd.,%20M.%20Pd/Pemberdayaan%20Pemuda%20Melalui%20Social
%20Capital-%20LUTFI.pdf
Zanzes FZ. Suwendra IW. Susila GP. 2015. Analisis Efektivitas Program Usaha
Agribisnis Perdesaan (PUAP) Serta Dampaknya Terhadap Tingkat
Pendapatan (Studi Kasus Pada Gabungan Kelompok Tani Wahana Sari). eJournal Bisma Universitas Pendidikan Ganesha. [Internet]. [diunduh
tanggal 19 Juni 2016, pukul 12.04 WIB]. Volume 3 Tahun 2015. Dapat
diunduh
pada
:
http://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/JJM/article/view/4836
LAMPIRAN
90
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Peta Wilayah
Gambar 3 Lokasi Penelitian
91
Keterangan :
Nama Wilayah : Desa Ngetuk, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara
Batas-batas Geografis :
a. Sebelah utara berbatasan dengan Desa Bategede
b. Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Tritis
c. Sebelah barat berbatasan dengan Desa Bendanpete
d. Sebelah timur berbatasan dengan Desa Karangnongko
92
Lampiran 2 Kerangka Sampling
No
Nama
Kelompok Tani
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
SUMIATI
HENI YULIANTI
ALPINI
PUJI LESTARI
NASMIN
H. SUTARMIN
ZAENAL ANWARI
WATINAH
SRI MULYANI
SARJONO
WISNU SAMUDRA
RUBINEM
SENIJAN
SUPENO
IDA K DEWI
SUNTONO
BASUKI
SENIMAN
SITI QOIDAH
MUSLIKAH
YUDI
PARISIH
HARTINI
SRI RAHAYU
WARTIN
MUNTANI
MUSLIH. S
ZULIYANTI
SRI MURWATI. A
SUNARYO
SUHARTI
SITI KHOTIJAH
SRI MURWATI. B
SUKIJAH
SUTOWO
M ROMADHON
SUGIYATIMI
NASIRAH
SUHARI
MISRI
SUWATI
KAELANI
ARYUNI. L
UST. ALFIYAH
LASIYEM
HARIYATI
ALI MUHTADI
M. ZAINI
SUYONO
EKOWATI
SIDO MULYO 1
SIDO MULYO 1
SIDO MULYO 1
SIDO MULYO 1
SIDO MULYO 1
SIDO MULYO 1
SIDO MULYO 1
SIDO MULYO 1
SIDO MULYO 1
SIDO MULYO 1
SIDO MULYO 1
SIDO MULYO 1
SIDO MULYO 1
SIDO MULYO 1
SIDO MULYO 1
SIDO MULYO 1
SIDO MULYO 1
SIDO MULYO 1
SIDO MULYO 2
SIDO MULYO 2
SIDO MULYO 2
SIDO MULYO 2
SIDO MULYO 2
SIDO MULYO 2
SIDO MULYO 2
SIDO MULYO 2
SIDO MULYO 2
SIDO MULYO 2
SIDO MULYO 2
SIDO MULYO 2
SIDO MULYO 2
SIDO MULYO 2
SIDO MULYO 2
SIDO MULYO 2
SIDO MULYO 2
SIDO MULYO 2
SIDO MULYO 2
SIDO MULYO 2
SIDO MULYO 2
SIDO MULYO 2
SIDO MULYO 2
SIDO MULYO 2
SIDO MULYO 2
SIDO MULYO 2
SIDO MULYO 2
SIDO MULYO 2
SIDO MULYO 3
SIDO MULYO 3
SIDO MULYO 3
SIDO MULYO 3
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100
Nama
KUSLAN
SILAH
KUSNADI
SULIKHAH
SUHARTO
ARBAINAH
SUKARMAN
ROKHAYATI
SANAJI
NANI SUKARNI
SITI AMINAH
SUNARYO
ERNI SUSANTI
KASMIYATI
JOKO NOOR. K
KHOIRIYAH
MASROPAH
ROFIATUN
SURIAH. L
HARTUTIK
MASHAR
EVIKA
UNTUNG
HARIYANTO
UMIYATI
JUMIATUN
RATISIH
ZUMROH
HARTONO
YHONI
AMAD SAFII
SUNARTI
SODHIK
KARYONO/DAR
WARTONO
MUASAROH
SULIYONO
HARTATIK
ITA HANDAYANI
SUTRIMO
MURIPAH
SUTAR
SAMPIR
SABAR RIYONO
BATIARTI
HARWATI
SUWARNO
NGATMINI
MARIYONO
MARTININGSIH
Kelompok Tani
SIDO MULYO 3
SIDO MULYO 3
SIDO MULYO 3
SIDO MULYO 3
SIDO MULYO 3
SIDO MULYO 3
SIDO MULYO 3
SIDO MULYO 3
SIDO MULYO 3
SIDO MULYO 3
SIDO MULYO 3
SIDO MULYO 3
SIDO MULYO 3
SIDO MULYO 3
SIDO MULYO 3
SIDO MULYO 3
SIDO MULYO 3
SIDO MULYO 3
SIDO MULYO 3
SIDO MULYO 3
SIDO MULYO 3
SIDO MULYO 3
SIDO MULYO 3
SIDO MULYO 3
SIDO MULYO 3
SIDO MULYO 3
SIDO MULYO 3
SIDO MULYO 3
SIDO MULYO 3
SIDO MULYO 3
SIDO MULYO 3
SIDO MULYO 3
SIDO MULYO 3
SIDO MULYO 3
SIDO MULYO 3
SIDO MULYO 3
SIDO MULYO 3
SIDO MULYO 3
SIDO MULYO 4
SIDO MULYO 4
SIDO MULYO 4
SIDO MULYO 4
SIDO MULYO 4
SIDO MULYO 4
SIDO MULYO 4
SIDO MULYO 4
SIDO MULYO 4
SIDO MULYO 4
SIDO MULYO 4
SIDO MULYO 4
93
No
101
102
103
104
105
106
107
108
109
110
111
112
113
Nama
MASDI
WAJIRAN
RUSMAN
ARIS ANANTO
RIFAI
SUGIRI
NOR CHOLIS
TEMU SURAJI
WARSO
SUTAMAN
YAYUK
M. SAFARI
SUMIRAH
Kelompok Tani
No
Nama
SIDO MULYO 4
SIDO MULYO 4
SIDO MULYO 4
SIDO MULYO 4
SIDO MULYO 4
SIDO MULYO 4
SIDO MULYO 4
SIDO MULYO 4
SIDO MULYO 4
SIDO MULYO 4
SIDO MULYO 4
SIDO MULYO 4
SIDO MULYO 4
114
115
116
117
118
119
120
121
122
123
124
125
ADI WITONO
SUMAJI
SUNARYO b
SRI NINGSIH
ANDY WAHYUDI
LOSO
TARATUN
SUMINTRAH
ABDUL KHOLIQ
ABDUR ROKHIM
RINI WIDYAWATI
SUHARTANI/PIYUT
Kelompok Tani
SIDO MULYO 4
SIDO MULYO 4
SIDO MULYO 4
SIDO MULYO 4
SIDO MULYO 4
SIDO MULYO II
SIDO MULYO II
SIDO MULYO II
SIDO MULYO III
SIDO MULYO III
SIDO MULYO III
SIDO MULYO III
94
Lampiran 3 Kuesioner Penelitian
Nomor Kuesioner
Tanggal Wawancara
Tanggal Entri Data
KUESIONER
HUBUNGAN MODAL SOSIAL DAN PARTISIPASI KEPENGURUSAN DENGAN
TARAF HIDUP ANGGOTA PROGRAM PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS
PERDESAAN
(Kasus Petani Penerima Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) di
Desa Ngetuk, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara)
I.
DATA PRIBADI RESPONDEN
I.1 Data Pribadi dan Karakteristik Responden
1. Nama
2. No. HP
3. Alamat
4. Umur
5. Jenis Kelamin
6. Pendidikan terakhir
7. Status dalam rumah tangga
8. Status Perkawinan
9. Pekerjaan
RT:
RW:
Desa Ngetuk
Kec. Nalumsari
Kab. Jepara
Prov. Jawa Tengah
... tahun
No.:
1. Laki-laki
2. Perempuan
1. Tidak Tamat Sekolah Dasar
2. Tamat Sekolah Dasar
3. Tamat SMP / Sederajat
4. Tamat SMA / Sederajat
5. Tamat Perguruan Tinggi
1. Kepala Rumah Tangga
2. Ibu Rumah Tangga
3. Anggota Rumah Tangga
1. Belum Menikah
2. Menikah
3. Janda/Duda
1. Petani dengan tanah sendiri digarap sendiri
2. Petani dengan tanah sendiri dibantu buruh
3. Buruh tani
4. Pegawai Negeri
5. TNI/Polri
6. Pengusaha dengan pengelola sendiri
7. Pengusaha dibantu pekerja
8. Mengelola usaha orang lain
9. Lainnya………………
95
Status
Keanggotaan
1. Pengurus
2. Anggota
No
I.2 Karakteristik Pinjaman Program PUAP
Lama
Periode Pinjaman Tahun
Keanggotaan 1. Pertama
Pinjaman
(… bulan)
2. Kedua
Tahun…
3. Ketiga
(Seterusnya)
Jumlah
Pinjaman
Rp……..
Status Pinjaman
1. Lewat masa tenggang
2. Masa tenggang
3. Masa pengembalian
4. Sudah dikembalikan
I.3 Anggota Keluarga yang Tinggal Bersama Responden
Pendi
JK
Hubungan
Nama Anggota Keluarga
dikan
(L/
B
Keluarga
A
P)
Usia
(tahun)
Penggunaan dana
1. Pertanian On-farm
2. Pertanian Off-farm
3. Keperluan sehari-hari
4. Lainnya…
Pekerjaan
Utama
Tambahan
1
2
3
4
5
6
Keterangan :
A:
1.
2.
3.
4.
5.
Tidak Tamat Sekolah Dasar
Tamat Sekolah Dasar
Tamat SMP / Sederajat
Tamat SMA / Sederajat
Tamat Perguruan Tinggi
1.
2.
3.
4.
Suami
Isteri
Anak
Anggota keluarga lain
B:
II.
TINGKAT MODAL SOSIAL
II.1 KEPERCAYAAN
No
Pernyataan
1.
Pengelola PUAP mampu mengelola sistem PUAP dengan baik.
2.
4.
Penyuluh pendamping mampu memberikan pelatihan dengan
baik.
Penyuluh pendamping mampu memberikan pendampingan
dengan baik.
Pengurus Gapoktan mampu mengelola kegiatan dengan baik.
5.
Pengurus Gapoktan mampu mengelola dana dengan baik.
6.
Anggota Gapoktan bersedia mengikuti kegiatan PUAP
7.
Anggota Gapoktan bersedia menaati aturan peminjaman
3.
Nilai (1-5)
Nilai berurut dari terkecil
(1) hingga terbesar (5)
96
II.2 TINGKAT NORMA
Nilai (1-5)
Nilai berurut dari terkecil
(1) hingga terbesar (5)
No
Pernyataan
8.
Warga mematuhi aturan yang ada dalam masyarakat
9.
Pemberian sangsi membuat warga jera terhadap aturan yang ada
dalam masyarakat
Warga mematuhi aturan Pemeritah
10.
11.
12.
13.
Pemberian sangsi membuat warga jera terhadap aturan
Pemeritah
Anggota mematuhi aturan Program PUAP
Pemberian sangsi membuat anggota jera terhadap aturan
Program PUAP
III.3 TINGKAT JARINGAN SOSIAL
No.
Pertanyaan
Seberapa jauh hubungan anda dengan
orang-orang berikut?
1. tidak kenal
2. kenal
14.
3. bertegur sapa
4. berdiskusi
5. membantu kegiatan
Stakeholder
Pengelola Program PUAP
Penyuluh pendamping
Pengurus Gapoktan
Pemerintah Desa
Anggota Gapoktan lain (minimal 5)
Pedagang bahan dan alat pertanian
Tengkulak atau pasar
III.
TINGKAT PARTISIPASI MASYARAKAT
II.1 TAHAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM PERENCANAAN
No.
Indikator
Pilihan
Apakah Anda diundang untuk mengikuti rapat 1. Tidak
15. * perencanaan?
2. Pernah
3. Sering
1. Pihak pengelola
2. Penyuluh
Jika Ya, siapa yang mengundang Anda dalam rapat
16. *
3. Pengurus Gapoktan
tersebut?
4. Pemerintah Desa
5. Anggota lain
1. Tidak
2. Pernah
Apakah Anda mengikuti rapat perencanaan?
17.
3. Sering
......................kali
1. Tidak
Apakah Anda diberikan kesempatan dalam 2. Pernah
18.
3. Sering
mengemukakan pendapat?
......................kali
1. Tidak
2. Pernah
19.
Apakah Anda pernah mengemukakan pendapat?
3. Sering
......................kali
Apakah pendapat Anda dipertimbangkan?
1. Tidak
2. Pernah
20.
3. Sering
......................kali
Jawaban
Jawaban
97
21. * Dalam rapat, keputusan akhir diambil oleh siapa?
I.2 TAHAP IMPLEMENTASI
No.
Indikator
22.
Apakah pelaksanaan program sudah sesuai dengan
perencanaan?
23.
Apakah Anda ikut serta dalam mengelola dana
PUAP di Gapoktan ?
24.
Apakah anda ikut serta dalam mengelola usaha tani
pribadi?
25.
Apakah anda mengikuti
diselenggarakan PUAP?
26.
Apa menjadi penggerak dalam pelatihan program
PUAP
pelatihan
yang
II.3 TAHAP PEMANFAATAN
No.
Indikator
27.
Apakah terjadi perubahan pendapatan anda setelah
adanya program?
28.
Apakah terjadi perubahan skala usaha anda setelah
adanya program?
29.
Apakah terjadi perubahan pengetahuan anda
setelah mengikuti program?
30.
Apakah terjadi perubahan keterampilan usaha anda
setelah mengikuti pelaksanaan program?
II.4 TAHAP EVALUASI PROGRAM
No.
Indikator
Apakah Anda ikut serta dalam proses evaluasi
program?
31.
32. *
Apakah Anda diberikan kesempatan dalam
mengemukakan pendapat?
1. Pihak pengelola
2. Penyuluh
3. Pengurus Gapoktan
4. Pemerintah Desa
5. Kesepakatan Bersama
Pilihan
1. Tidak
2. Sesuai
3. Sangat Sesuai
1. Tidak
2. Pernah
3. Sering
……………Kali
1. Tidak
2. Pernah
3. Sering
……………Kali
1. Tidak
2. Pernah
3. Sering
……………Kali
1. Tidak
2. Pernah
3. Sering
……………Kali
Jawaban
Pilihan
1. Menurun
2. Tetap
3. Meningkat
4. Sangat Meningkat
1. Menurun
2. Tetap
3. Meningkat
4. Sangat Meningkat
1. Menurun
2. Tetap
3. Meningkat
4. Sangat Meningkat
1. Menurun
2. Tetap
3. Meningkat
4. Sangat Meningkat
Jawaban
Pilihan
1. Tidak
2. Jarang
3. Sering
…………kali
1. Tidak
2. Jarang
3. Sering
…………kali
Jawaban
98
33.
Apakah Anda pernah mengemukakan pendapat?
Apakah pendapat Anda dipertimbangkan?
34.
35.
Apakah Anda merasa program tersebut akan
berkembang?
36.
Apakah program telah dikontrol secara rutin?
37. *
Menurut Anda, siapa yang mengontrol program
ketika program terus berjalan?
1. Tidak
2. Jarang
3. Sering
…………kali
1. Tidak
2. Jarang
3. Sering
…………kali
1. Tidak
2. Berkelanjutan
3. Sangat Berkelanjutan
1. Tidak
2. Jarang
3. Sering
…………kali
1. Pengurus Gapoktan
2. Penyuluh
3. Ketua program
4. Kepala Desa
5. Semua Anggota
6. Lainnya...
IV.
TARAF HIDUP MASAYARAKAT
IV.1 FASILITAS RUMAH TANGGA
No.
Indikator
38.
Darimana Anda memperoleh
sumber air?
39.
Apakah status kepemilikan
bangunan tempat tinggal Anda?
40.
Berapa luas bangunan tempat
tinggal Anda?
41.
Apakah jenis lantai bangunan
tempat tinggal Anda?
42.
Apakah jenis dinding bangunan
tempat tinggal Anda?
Pilihan
Jawaban
1 Tahun
Sesudah
Sebelum
(Sekarang)
1. Sungai
2. Mata air sumur
3. Sumur
bor/pompa
terlindung
4. Ledeng meteran (PAM)
5. Air minum dalam
kemasan/isi ulang
6. Lainnya...
1. Milik orang lain
2. Milik saudara
3. Kontrak/Sewa
4. Dinas
5. Milik sendiri
6. Lainnya……..
... m2
1. Tanah
2. Kayu
3. Semen/plester
4. Ubin
5. Keramik
6. Marmer
7. Lainnya………
1. Bambu
2. Kayu
3. Tembok
4. Lainnya………
... m2
99
43.
44.
45.
No.
46.
1. Sungai
2. WC umum
3. WC pribadi
4. Lainnya............
1. Obor
Apahkah sumber penerangan 2. Petromak
yang Anda gunakan untuk 3. Listrik non-PLN
tempat tinggal?
4. Listrik PLN
5. Lainnya.............
1. Kayu
2. Arang
3. Minyak tanah
Apakah bahan bakar utama yang
4. Gas kota
digunakan untuk memasak
5. Gas/elpiji
6. Listrik
7. Lainnnya…….
Apakah jenis fasilitas yang Anda
miliki sebagai tempat untuk
buang air besa/WC?
Jumlah (unit)
1 Tahun
Sesudah
Sebelum
(Sekarang)
Apakah rumah tangga memiliki sendiri asset sebagai berikut?
1. Rumah Kontrakan/kos
2. Mobil
3. Sepeda Motor
4. Sepeda
5. Mesin Industri
6. Televisi
7. Radio
8. Laptop
9. Komputer
10. Lemari Es
11. Mesin Cuci
12. Telepon Rumah (bukan HP)
13. Handphone
Indikator
IV.2 TINGKAT PENDAPATAN
No.
47.
48.
49.
Indikator
Berapa pendapatan bersih (uang, barang) yang biasanya
diterima selama sebulan dari pekerjaan utama
Berapa pendapatan bersih (uang, barang) yang biasanya
diterima selama sebulan dari pekerjaan tambahan
Berapa pendapatan (uang, barang) diluar pekerjaan yang
biasanya diterima selama sebulan
1 Tahun
Sebelum
Jawaban
Sesudah
(Sekarang)
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
IV.3 TINGKAT PENGELUARAN
Pengeluaran
50. Pengeluaran pangan Sebulan Terakhir (Padi-padian,
Umbi-umbian, Ikan, Daging, Telur dan susu, Sayursayuran, Kacang-kacangan, Buah-buahan, Minyak dan
Lemak, Bahan minuman, Bumbu-bumbuan, Tembakau,
Makanan dan minuman jadi)
Diisi oleh Responden
1 Tahun
Sesudah
Sebelum
(Sekarang)
Rp.
Rp.
100
51. Pengeluaran Non- pangan Sebulan Terakhir (Perumahan
dan fasilitas rumah tangga, barang dan jasa sehari-hari,
Pakaian, alas kaki, tutup kepala, pajak, pungutan, dan
asuransi)
Rp.
Rp.
IV.4 TINGKAT TABUNGAN
Jawaban
No.
52.
53.
Indikator
Berapa jumlah tabungan (uang) rumah tangga setiap
bulannya
Berapa jumah aset yang dimiliki dengan satuan rupiah
(barang,lahan,investasi)
1 Tahun
Sebelum
Sesudah
(Sekarang)
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
101
Lampiran 4 Panduan Pertanyaan
PANDUAN PERTANYAAN WAWANCARA MENDALAM
HUBUNGAN MODAL SOSIAL DAN PARTISIPASI KEPENGURUSAN
DENGAN TARAF HIDUP ANGGOTA PROGRAM PENGEMBANGAN
USAHA AGRIBISNIS PERDESAAN
(Kasus Petani Penerima Program Pengembangan Usaha Agribisnis
Perdesaan (PUAP) di Desa Ngetuk, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten
Jepara)
Topik
Tujuan
: Partisipasi, PUAP
: Memahami informasi modal sosial, partisipasi, dan taraf hidup
pada Program PUAP
Pertanyaan Penelitian:
I. KONDISI PROGRAM PUAP
1. Bagaimana kinerja Pengurus dan Anggota Gapoktan dalam mengelola
PUAP?
2. Bagaimana kinerja penyuluh pendamping selama kegiatan berjalan?
3. Bagaimana perkembangan program hingga saat ini?
4. Apa saja yang perlu diperbaiki dalam pengelolaan Program PUAP selama
ini?
II. MODAL SOSIAL
5. Bagaimana sikap masyarakat terhadap aturan-aturan yang diterapkan
Gapoktan pada Program PUAP?
6. Apa saja sangsi yang diterapkan ketika melanggar aturan tersebut?
7. Bagaimana pandangan masyarakat terkait adanya program PUAP?
8. Sejauh mana kepercayaan masyarakat terkait program PUAP dapat
meningkatkan taraf hidup mereka?
9. Bagaimana peran pihak-pihak yang dibutuhkan dalam mendukung
kelancaran program selama ini?
10. Bagaimana sebaiknya peran-peran setiap pihak agar program PUAP dapat
berkembang?
III. PARTISIPASI
11. Apakah penerapan program PUAP melibatkan partisipasi anggota pada
tahap perencanaan, pelaksanaan, manfaat program, dan evaluasi?
12. Bagaimana bentuk keterlibatan anggota tersebut?
13. Apa saja kegiatan yang telah dilakukan dan bagaimana hasilnya?
14. Menurut anda apakah program tersebut berkembang dan dapat
berkelanjutan?
15. Bagaimana manfaat yang dirasakan setelah mengikuti program?
16. Bagaimana proses evaluasi dan pengontrolan program tersebut?
102
IV. TARAF HIDUP
17. Bagaimana perkembangan usaha tani anggota hingga saat ini?
18. Apakah terjadi peningkatan pendapatan pada sebagian besar usaha anggota?
19. Apakah terjadi peningkatan pengeluaran pada sebagian besar usaha
anggota?
20. Apakah terjadi peningkatan investasi dan tabungan pada anggota?
21. Seberapa besar perubahan taraf hidup masyarakat setelah mengikuti
program PUAP?
103
Lampiran 5 Hasil Uji Korelasi Rank Spearman
Korelasi Tingkat Norma Sosial dan Tingkat Partisipasi
Tingkat
Tingkat
Tingkat
Tingkat
kepercayaan
norma
jaringan
partisipasi
Correlation
Tingkat
Coefficient
kepercayaan
Sig. (1-tailed)
N
Correlation
1.000
.041
.395**
.361**
.
.394
.004
.007
45
45
45
45
.041
1.000
-.097
.087
.394
.
.262
.285
45
45
45
45
.395**
-.097
1.000
.493**
.004
.262
.
.000
45
Coefficient
Tingkat norma
Sig. (1-tailed)
Spearman's
N
rho
Correlation
Tingkat jaringan
Coefficient
Sig. (1-tailed)
N
Correlation
Tingkat
Coefficient
partisipasi
Sig. (1-tailed)
N
45
45
45
.361**
.087
.493**
1.000
.007
.285
.000
.
45
45
45
45
**. Correlation is significant at the 0.01 level (1-tailed).
Korelasi Tingkat Norma Sosial dan Tingkat Partisipasi
Correlation Coefficient
Tingkat modal sosial
Sig. (1-tailed)
N
Spearman's rho
Correlation Coefficient
Tingkat partisipasi
Sig. (1-tailed)
N
**. Correlation is significant at the 0.01 level (1-tailed).
Tingkat modal
Tingkat
sosial
partisipasi
1.000
.528**
.
.000
45
45
.528**
1.000
.000
.
45
45
104
Korelasi Tingkat Norma Sosial dan Tingkat Partisipasi
Tingkat
Tingkat
Tingkat
Tingkat
Tingkat
perencanaan implementasi pemanfaatan evaluasi
modal
sosial
Correlation
Tingkat
perencanaan
1.000
.370**
.381**
.719**
.190
.
.006
.005
.000
.105
45
45
45
45
45
.370**
1.000
.205
.459**
.495**
.006
.
.088
.001
.000
45
45
45
45
45
.273*
Coefficient
Sig.
(1-
tailed)
N
Correlation
Coefficient
Tingkat
implementasi
Sig.
(1-
tailed)
N
Correlation
Spearman's Tingkat
rho
pemanfaatan
Sig.
(1-
1.000
.005
.088
.
.039
.035
45
45
45
45
45
.719**
.459**
.266*
1.000
.399**
.000
.001
.039
.
.003
45
45
45
45
45
.190
.495**
.273*
.399**
1.000
.105
.000
.035
.003
.
45
45
45
45
45
tailed)
Correlation
evaluasi
.205
.266*
Coefficient
N
Tingkat
.381**
Coefficient
Sig.
(1-
tailed)
N
Correlation
Coefficient
Tingkat
modal sosial
Sig.
(1-
tailed)
N
**. Correlation is significant at the 0.01 level (1-tailed).
*. Correlation is significant at the 0.05 level (1-tailed).
105
Korelasi Tingkat Partisipasi dan Tingkat Perubahan Taraf Hidup
Tingkat
Tingkat
Tingkat
Tingkat
Tingkat
perencan
impleme
pemanf
evaluasi
Perubaha
aan
ntasi
aatan
n Taraf
Hidup
Correlation
Tingkat perencanaan
1.000
.370**
.381**
.719**
.428**
.
.006
.005
.000
.002
45
45
45
45
45
.370**
1.000
.205
.459**
-.094
.006
.
.088
.001
.269
45
45
45
45
45
.101
Coefficient
Sig. (1-tailed)
N
Correlation
Coefficient
Tingkat implementasi
Sig. (1-tailed)
N
Correlation
Spearm
an's rho
Tingkat pemanfaatan
.205
1.000
.266*
.005
.088
.
.039
.255
45
45
45
45
45
.719**
.459**
.266*
1.000
.226
.000
.001
.039
.
.068
45
45
45
45
45
.428**
-.094
.101
.226
1.000
.002
.269
.255
.068
.
45
45
45
45
45
Coefficient
Sig. (1-tailed)
N
Correlation
Tingkat evaluasi
.381**
Coefficient
Sig. (1-tailed)
N
Correlation
Perubahan Coefficient
Tingkat
Taraf Hidup
Sig. (1-tailed)
N
**. Correlation is significant at the 0.01 level (1-tailed).
*. Correlation is significant at the 0.05 level (1-tailed).
Korelasi Tingkat Partisipasi dan Tingkat Perubahan Taraf Hidup
Tingkat
Tingkat
partisipasi
Perubahan
Taraf Hidup
Correlation Coefficient
Tingkat partisipasi
Sig. (1-tailed)
N
Spearman's rho
Tingkat Perubahan Taraf
Hidup
Correlation Coefficient
Sig. (1-tailed)
N
1.000
-.045
.
.385
45
45
-.045
1.000
.385
.
45
45
106
Korelasi Tingkat Partisipasi dan Tingkat Perubahan Taraf Hidup
Tingkat
Tingkat
Tingkat
Perubahan Perubahan Perubahan
Fasilitas
Tingkat
Tingkat
Perubahan
partisipasi
Pendapatan Tabungan Pengeluaran
RT
Correlation
Tingkat
Coefficient
Perubahan
Sig.
Fasilitas RT
tailed)
Correlation
Tingkat
Coefficient
Perubahan
Sig.
Pendapatan
tailed)
(1-
N
Correlation
rho
Tingkat
Coefficient
Perubahan
Sig.
Tabungan
tailed)
(1-
N
Correlation
Tingkat
Coefficient
Perubahan
Sig.
Pengeluaran
tailed)
(1-
N
Correlation
Tingkat
partisipasi
.405**
.076
.179
.079
.
.003
.309
.119
.303
45
(1-
N
Spearman's
1.000
45
45
45
45
.405**
1.000
.299*
.283*
-.206
.003
.
.023
.030
.087
45
45
45
45
45
.076
.299*
1.000
-.078
.044
.309
.023
.
.306
.387
45
45
45
45
45
.179
.283*
-.078
1.000
.063
.119
.030
.306
.
.340
45
45
45
45
45
.079
-.206
.044
.063
1.000
.303
.087
.387
.340
.
45
45
45
45
45
Coefficient
Sig.
(1-
tailed)
N
**. Correlation is significant at the 0.01 level (1-tailed).
*. Correlation is significant at the 0.05 level (1-tailed).
107
Lampiran 6 Tulisan Tematik
Kondisi Program PUAP di Desa Ngetuk
Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) mulai
berjalan di Desa Ngetuk sejak tahun 2011. Langkah pertama pembuatan program
PUAP ini diawali dengan penyusunan RUK, RUA, dan RAB yang dilaksanakan
pengurus gapoktan dan dibantu penyuluh, penyelia mitra tani, dan pemerintah desa.
RUA merupakan rapat kebutuhan usaha pada tingkat anggota, selanjutnya diangkat
ke RUK oleh pengurus untuk dipertimbangkan dan dikategorikan kembali sesuai
kebutuhan pertanian peternakan dan usaha. Setelah itu dirumuskan RUB sebagai
rancangan anggaran besama yang diajukan ke kementerian agar dana dapat cair.
Setelah dana cair gapoktan memilih anggota penerima program dengan asal ambil
yaitu semua masyarakat yang mau menjadi anggota poktan dan mau
mengembangkan usaha tani. Seiring perkembangan dan evaluasi setiap tahun
program ini semakin berkembang, jumlah penerima meningkat, dan semakin bagus
pengelolaannya. Status pengelolaan dana PUAP gapoktan saat ini adalah LKMA
(Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis), namun nanti seiring perkembangan akan
dirubah menjadi KSP (Koperasi Simpan Pinjam) yang nantinya juga akan dibina
oleh Koperasi unit provinsi selain dibina juga dinas pertanian. Program PUAP
sendiri memiliki penyuluh pendamping dan penyelia mitra tani untuk membantu
manajerial.
Penerima Program PUAP saat ini adalah 125 orang yang terbagi kedalam 4
poktan meliputi Sido mulyo 1, sido mulyo 2, sido mulyo 3, sido mulyo 4
berdasarkan wilayah tempat tinggal. Diantara anggota poktan tersebut sampai saat
ini ada yang sudah tidak meminjam dan ada yang masih meminjam. Proses
peminjaman PUAP sudah tertulis lengkap di AD ART dan aturan peminjaman.
Pinjaman pertama hanya diijinkan 1 juta, setelah semua dikembalikan baru boleh
meminjam lagi antara 1-2 juta. Pemasukan simpan pinjam PUAP didapat dari
simpanan wajib dan pokok anggota, serta biaya jasa peminjaman. Biaya
administrasi sebesar 1% perbulan dan simpanan wajib sebesar 10rb sekali di awal
peminjaman. Modal awal dana PUAP sebesar 100 juta. Hingga RAT pada bulan
maret 2016, total pencairan dana kepada penerima program sudah sebesar 200 juta
dan total asset yang dimiliki mencapai 125 juta atau naik 25 persen dari modal awal.
Proses pengelolaan PUAP selama 5 tahun sudah mengalami kemajuan.
Sistem pengelolaan semakin mudah dengan menggunakan software SIGAP untuk
pembukuan. Hasil Evaluasi dari Kabupaten Jepara menyebutkan pengelolaan
PUAP Desa Ngetuk masuk dalam kategori baik dan berkembang serta teraik sekecamatan. Namun perkembangan simpan pinjam ini juga menghadapi banyak
kendala. Salah satunya yaitu ada kasus kesalahan dari manager PUAP yang
menyelewengkan dana untuk kebutuhan pribadi sehingga beliau diturunkan
jabatannya dan diganti oleh pengurus lain. Selain itu pada tahun 2016 ini ada
petugas kasir simpan pinjam yang mengundurkan diri. Kondisi PUAP saat ini
sebenarnya masih kurang modal dikarenakan modal terbatas sedangkan banyak
anggota yang ingin meminjam sehingga petani yang belum kebagian pinjaman
beralih meminjam ke lintah darat yang bunganya lumayan besar sampai 10%.
Namun adanya simpan pinjam PUAP ini telah menolong 125 orang penerima dari
masalah kekurangan modal usaha.
108
Modal Sosial Program PUAP di Desa Ngetuk
Pengelolaan PUAP di Desa Ngetuk dapat berkembang salah satu faktornya
dikarenakan masyarakatnya memiliki modal sosial yang tinggi baik diantara
pengurus gapoktan, penerima program, penyuluh, dan pihak-pihak lain yang
membantu perkembangan PUAP. Jika dilihat dari segi setiap indikator
kepercayaan, norma, dan jaringan sosial penerima program tergolong tinggi.
Kepercayaan pengelolaan PUAP di Desa Ngetuk yang tergolong tinggi ini dilihat
dari bentuk kepercayaan penerima program terhadap pengurus bahwa pengurus
mampu mengelola program dengan baik dan mampu mengatasi masalah dengan
sampai selesai. Contohnya seperti ketika hilangnya dana yang disebabkan
seseorang manager korupsi dan bendahara yang pencatatannya buruk serta tidak
mau mengelola uang tersebut dapat segera diatasi bersama dan diganti dengan
pengurus baru yang lebih kompeten sehingga dapat berjalan kembali. Selain itu dari
pengurus sendiri juga percaya bahwa perilaku anggota tani Desa Ngetuk ini
cenderung baik sehingga pengurus bersedia melonggarkan peraturan menjadi lebih
mudah dan tidak ribet atas dasar rasa saling percaya.
Bentuk kepercayaan tersebut berdampak pada penerapan norma dalam
mengelola simpan pinjam PUAP. Proses peminjaman PUAP sebenarnya sudah
tertulis lengkap di AD ART dan bersifat lebih ketat. Namun dalam pelaksanaan
lebih longgar atas dasar rasa saling percaya dan saling menghormati sesama
masyarakat. Hal tersebut ditunjukan dengan proses peminjaman anggota yang
seharusnya menggunakan barang jaminan, namun karena banyak yang megeluh
terlalu sulit dan ketat akhirnya diputuskan untuk barang jaminan diganti surat
persetujuan dari ketua poktan seperti yang dijelaskan TM (64 Tahun) yang
mengatakan bahwa bantuan hutang terbatas, tidak pakai agunan mas. Sampai 2
juta tu ndak pakai agunan. Karena saya percaya orang ngetuk tu banyak yang
mengembalikan. Banyak yang mengembalikan daripada yang menggelapkan. Saya
percaya saja. Selain itu sistem denda tidak diberlakukan atau tidak dijalankan
karena kepercaan dan kepatuhan penerima, seperti penuturan SKT (46 Tahun) yang
mengatakan bahwa di aturan PUAP itu ada denda tapi sampai selama ini gak
dijalankan, karena apa karena akhirnya juga dia baik sendiri. Dulu katanya pak
kalau ngagsurnya telat saya tu didenda, tapi selama ini dendanya di administrasi
ndak ada. Ya Cuma istilahe kita bikin aturan tapi ya namanya orang ya mas ya.
Kemudian ketika anggota ingin mengangsur tetapi tidak bisa tanggal 14 di
balai desa sesuai jadwal yang ditetapkan, maka penerima diberi keringanan boleh
mengangsur di rumah pengurus gapoktan kapan pun. Ini dikarenakan agar penerima
dapat menjaga uang tersebut agar tidak terpakai keperluan lain dan tidak jadi
mengangsur. Perlakuan tersebut membuat masyarakat sangat antusias terhadap
program karena pinjaman sangat mudah dan jasanya ringan sehingga banyak yang
mengantri pinjaman. Masyarakat juga mau mengikuti aturan simpan pinjam agar
dipercaya terus oleh gapoktan dan pinjaman selajutnya lancar. Dari segi pengurus
gapoktan, mereka rela terus memperbaiki kinerjanya dan memberi pelayanan
terbaik meskipun mereka hanya mendapat upah uang makan sebesar 25000
perbulan. Hal ini didasari norma tolong menolong dan saling menghargai yang
tinggi di masyarakat desa Ngetuk. Pak TM (64 Tahun) menjelaskan contoh
tenggang rasa masyarakat yaitu, orang-orang jawa itu tepo seliro atau tenggang
rasa. Tenggang rasanya contohnya seperti ini, kalau telat sitik ya ndak apa-apa,
109
ndak langsung didenda ndak terus kaku ndak gitu. Ada aturannya bermasyarakat
jadi saling mengerti saja.
Jaringan sosial anatara pengurus, penerima, dan pihak terkait juga tinggi
dibuktikan dengan kedekatan antar individu yang cenderung sangat kenal hingga
tingkat keakraban. Atas dasar rasa saling kenal ini penerima program menjadi
hormat terhadap pengurus dan sebalikanya sehingga tercipta ketaatan aturan PUAP
dari penerima program meskipun sangsinya tidak mengikat. Contohnya seperti
sebagian besar masyarakat yang mengembaikan uang tepat waktu, dan ketika ada
yang menunggak pengurus cukup datang ke rumah penunggak untuk mengingatkan
dan memberi surat makan penunggak sudah merasa malu dan berusaha untuk
melunasi tunggakan seperti penuturan responden SHT (35 Tahun) bahwa
masyarakat tidak enak kalau tidak patuh, jadi itu sudah termasuk sangsi. Malu
kalau diberi surat jadi langsung diperbaiki. Semisal nunggak angsuran jika ditegur
ya besoknya langsung dibayarkan.
Partisipasi Program PUAP di Desa Ngetuk
Partisipasi pada Program PUAP di Desa Ngetuk antara pengurus, penerima
program, penyuluh pendamping, dan penyelia mitra tani mengalami banyak
perbedaan. Pada awalnya program PUAP ini dibentuk dengan diawali RUK, RUA,
dan RUB baru dana dari Kementerian dapat dicairkan, sebagian besar partisipasi
tersebut didominasi oleh pengurus gapoktan yang ingin menjalankan program
PUAP di desa mereka. Penyuluh dan penyelia mitra tani bersifa membantu
penyusunan laporan agar sesuai dengan syarat-syarat pencairan. Peran anggota
dlam proses penyusunan ini berada pada RUA di setiap poktan untuk
mengumpulkan macam-macam usaha yang ingin dikembangkan anggota tani.
Setelah dana dicairkan peran setiap pihak mengalami perbedaan.
Pada tahap perencanaan partisipasi pengurus dalam program ini menempati
posisi paling aktif dibanding yang lain. Penguruslah yang mengadakan rapat dan
hadir dalam rapat perencanaan tersebut selain penyuluh dan pemerintah desa.
Pertemuan perencanaan setiap tanggal 14 di sekretariat gapoktan bersamaan dengan
waktu bagi penerima program untuk mengangsur. Dalam rapat tersebut mereka
membahas keberlanjutan pengelolaan dana serta mengatasi masalah-masalah
seperti mendata penunggak dan memberi surat. Penerima program kurang
dilibatkan dalam rapat perencanaan ini. Penyuluh lapang dan pemerintah desa
beberapa kali hadir, penyuluh membimbing berjalannya program dan ketika ada
masalah bisa membantu, sementara peran perangkat desa dalam program ini yaitu
memfasilitas memberi surat kepada penunggak dan memberi ancaman berupa
pemberhentian pelayanan desa kepada penunggak ketika penunggak tersebut sudah
sangat tidak patuh.
Selanjutnya pada tahap implementasi, pelaksanaan tersebut sudah sesuai
dengan rapat perencanaan yang dilakukan. Peran pengurus adalah mengelola dana
PUAP dan mengatasi jika ada kendala. Sementara peran penerima program lebih
kepada meminjam modal untuk mengelola usaha tani pribadi agar dapat
berkembang. Pada tahap ini peran penyuluh lapang kecil karena penyuluh lapang
dan PMT selama setahun terakhir tidak pernah melakukan pelatihan kepada
penerima maupun pengurus. Sementara pelatihan yang ada hanya pada tingkat luar
desa seperti prima tani hanya mengundang beberapa anggota aktif poktan dan
110
gapoktan. Penyuluh dan PMT dari kabupaten sekarang kurang aktif Jepara menurut
pendapat informan ZNL (34 Tahun) hal ini dikarenakan PPL kurang aktif karena
kesibukannya terus kemampuannya yo kurang. Dulu itu PPL yang pertama malah
paham. Tapi menurut saya itu PPL juga kurang efektif. Sementara PMT yang
khusus desa ngetuk itu kan dari jepara kota itu yo jarang, bahkan yo memang
fakum. Jadi PMT dan PPL itu menurut saya yo ada pembiaran. Makanya semua
desa yang menerima PUAP itu semuanya yo terus berantakan karena ga ada
pegawasan dan pendampingan. Sementara Program PUAP di Ngetuk ini dapat
berjalan karena inisiasi beberapa pengurus.
Pada tahap pemanfaatan baik pengurus maupun penerima program dapat
merasakan manfaatnya walaupun tidak memberi perubahan besar. Dana PUAP
sangat membantu petani dikarenakan mampu membebaskan petani kecil dari
rentenir yang memiliki bunga tinggi sehingga dengan adanya PUAP ini masyarakat
merasa terbantu karena pinjaman relatif kecil. Bantuan dana PUAP ini memang
sifatnya tidak terlalu besar dan memang tidak bisa mencukupi modal Seperti
penuturan TM (64 Tahun) bahwa PUAP itu harus berkembang, karena itu bukan
dana hibah. Itu tugasnya pengelola untuk mengembangkan atau untuk modal petani
walaupun toh hanya sedikit tapi dapat memancing modal biaya. Sementara bantuan
modal ini sifatnya sebatas membantu modal saja karena pinjaman yang terbatas 12 juta saja.
Selanjutnya pada tahap Evaluasi yaitu ditandai dengan terselenggarakanya
RAT tepat waktu setiap tahunnya. Partisipasi pada tahap RAT ini didominasi oleh
pengurus gapoktan, pemerintah desa, penyuluh, PMT, dan beberapa perwakilan
anggota aktif saja. Hal ini menyebabkan partisipasi sebagian besar pengurus kecil
dikarenakan dana yang dimiliki gapoktan terbatas untuk menyusun laporan dan
hanya cukup untuk konsumsi beberapa saja sehingga tidak semua anggota poktan
dapat diundang dalam RAT ini. Adapun isi evalusai RAT tersebut menurut
beberapa informan adalah pengelolaan pengurusnya lebih bagus lagi seperti
tenaganya paham pengelolaan, lebih peduli dan anggota lebih fokus untuk
mengelola. Kemampuan manajemen pengurus ditingkatkan karena sebagian besar
dari pengurus belum mengetahui pengelolaan PUAP yang baik sesuai dengan
pengelolaan koperasi. Selain itu kesejahteraan pengurus juga diperhatikan berupa
sedikit dana insentif agar pengurus merasa kerjanya dihargai sehingga semua
pengurus bisa serius menjalankan program ini. Hal ini sesuai penuturan SD (49
Tahun) yang mengatakan bahwa koperasi itu kurang modal. Kemudian masyarakat
ngetuk membutuhkan dana, sehingga larinya kan ke lintah darat atau renternir.
Kalo rentenir kan ada yang 10 persen 20 persen. Sebenarnya kasian tapi ya mau
gimana lagi. Kalau yang perlu diperbaiki dari pengurus itu manajemen, saya
sendiri belum tau koperasi. Tapi ya jelas manajemennya semuanya tidak paham.
Kan mereka yang mengatur. Ya itu yang jelas untuk memperbaiki ya menajemen,
sesuatu yang tidak diatur itu kan tidak teratur.
Perubahan Taraf Hidup Penerima Program PUAP di Desa Ngetuk
Program PUAP sejak awal diinisiasi di Desa Ngetuk ini sebenarnya sudah
tepat sasaran. Hal ini dikarenakan sebagian besar anggota tani di Desa Ngetuk ini
memiliki tingkat taraf hidup rendah. Anggota tani sebelum adanya PUAP ini masih
meminjam uang kepada rentenir ketika kekurangan modal dan hasilnya taraf hidup
111
masyarakat tidak akan berkembang karena banyak terpotong angsuran ke rentenir.
Semenjak adanya Program PUAP pinjaman kepada rentenir mulai berkurang.
Menurut salah satu informan banuan ini jika dilogika sudah mulai kelihatan melalui
pertolongan dari jeratan rentenir yang bunganya sangat tinggi sampai 10 persen.
Kerena tidak terjera rentenir, alokasi keuntungan tersebut bisa digunakan untuk
kemajuan usaha masing-masing. Seperti pernyataan ZNL (34 Tahun) bahwa
program PUAP terlihat perubahannya dari pinjaman tidak ke rentenir, memang
tujuannya agar masyarakat ngetuk tidak terjerat dengan bank titil atau rentenir itu,
karena rentenir itu kan ya bunganya memang tinggi jadi ya agak menjerat gitu.
Secara nyata lintah darat tidak bisa dibuktikan dikarenakan tidak teridentifikasi,
namun didapat dari pendapat beberapa warga ada yang meminjam meskipun
kasihan masyarakat tersebut. Menurut informan SD (49 Tahun) yang mengatakan
bahwa pola masyarakat sekarang telah berubah. Masyarakat sekarang pola
hidupnya mewah. Sebenarnya beliau kasian pada kemampuannya ibarat roda dua
saja yang second sudah sesuai penghasilannya, tapi ambil yang baru. Itu kan ga
sesuai kemampuannya. Selain itu masyarakat meminjam ada dikarenkan mengikuti
perkembangan jaman melalui pola konsumtif masyarakat yang tinggi dan mengejar
gengsi dengan warga lain sehingga penghasilan mereka ketika kurang akan
melakukan peminjaman ke PUAP ke lintah darat.
Taraf hidup jika dilihat dari fasilitas rumah tangga penerima program PUAP
di Desa Ngetuk ini cenderung sudah layak huni dan sudah mencukupi terlihat dari
kondisi rumah dan barang-barang yang dipakai sudah memenuhi standar dalam
kehidupan ruamh tangga. Selanjutnya pendapatan penerima program cenderung
sedang hingga rendah dikarenkaan mayoritas pekerjaan mereka adalah petani,
berdagang, karyawan, dan kuli bangunan yang mayoritasnya masih skala kecil.
Pada segi tabungan, masyarakat sendiri kurang ada niatan untuk menabung dan
cenderung pendapatan habis sehingga tabungan sedikit terjadi peningkatan. Namun
beberapa penerima program menyimpan tabuangan dalam bentuk lahan atau hasil
hutan agar dapat berkembang demi kebutuhan mendatang. Sementara dari segi
pengeluaran penerima program cenderung sesuai standar artinya tidak terlalu
msikin dan tidak terlalu mewah gaya hidup dan pola kosumsinya. Masyarakat lebih
terbiasa berbelanja pada pasar tradisional dan warung kecil dibanding berbelanja ke
minimarket atau supermarket.
Menurut pendapat dari beberapa penerima program, program PUAP ini
sangat memberi manfaat karena melalui pinjaman modal ini dapat membantu usaha
masyarakat agar berkembang dan pendapatan bertambah. Namun perkembangan
taraf hidup tersebut secara kesluruhan cenderung kecil dan kurang terlihat. Hal ini
dikarenakan tidak semua usaha warga berhasil atau mengalami kemajuan sehingga
adanya pinjaman tidak terlalu memberi peningkatan taraf hidup. Selain itu menurut
SNY (48 Tahun) yang mengatakan perubahan kuran ada kalau pinjaman hanya 2
juta dianggap menaikan itu tidak juga, kecuali pinjamannya banyak nah itu yo bisa
dianggap menaikan secara signifikan. Perkembangan dari simpan pinjam ini juga
relatif lambat dikarenakan program ini hanya berjalan bagian pinjaman saja dan
simpanan tidak dijalankan sehingga modal terbatas dan sedikit pinjaman yang
diberikan. Selain itu kecilnya perubahan taraf hidup ini dikarenakan ada beberapa
anggota yang tidak menggunakan pinjaman untuk melakukan usaha melainkan
hanya untuk kehidupan sehari-hari saja sehingga mereka tidak merasakan dampak
perkembangan taraf hidup dari simpan pinjam PUAP tersebut.
112
Lampiran 7 Riwayat Hidup
RIWAYAT HIDUP
Penulis bernama lengkap Tri Nugroho Wicaksono dilahirkan di Kota
Madiun Provinsi Jawa Timur, 10 Maret 1994 dari pasangan Heru Wicaksono dan
Marni Al-Mesiyem. Penulis merupakan anak keempat dari lima bersaudara.
Pendidikan formal dijalani penulis mulai dari TK. YWKA (1999-2000), SD Negeri
01 Madiun Lor (2000-2006), SMP Negeri 03 madiun (2006-2009), SMA Negeri
05 Madiun (2009-2012). Pada tahun 2012, penulis diterima menjadi mahasiswa
Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi
Manusia, Institut Pertanian Bogor melalui jalur SNMPTN Undangan. Penulis
merupakan mahasiswa penerima Beasiswa Pendidikan Mahasiswa Berprestasi
(Bidik Misi) Dikti
Selain aktif dalam kegiatan perkuliahan, sejak pertama kali masuk dunia
perkulian, penulis sudah aktif mengikuti berbagai organisasi, yaitu bergabung
dalam Paguyuban Sedulur Madiun (PASMAD), UKM MAX!! IPB, Ketua
Komunitas Teater Up To Date periode 2014, dan menjadi Direktur Broadcasting
pada Organisasi HIMASIERA (Himpunan mahasiswa peminat ilmu-ilmu
komunikasi dan pengembangan masyarakat) periode 2015, serta beberapa kali
tergabung dalam kepanitian ACRA, MPF, MPKMB, dan Connection. Bersama
dengan skripsi ini penulis dinyatakan lulus dari IPB dan belum menikah.
Download