KABUPATEN TANAH DATAR Perbaikan Usaha Mikro

advertisement
KABUPATEN TANAH DATAR
Perbaikan Usaha Mikro
KREDIT TANPA AGUNAN
BAGI PEDAGANG PASAR
DAN KAKI LIMA
Sumber : Inovasi Kabupaten di Indonesia. Seri Pendokumentasian Best Practices, BKKSI, 2008.
• satu
SITUASI SEBELUM INISIATIF
Permasalahan usaha mikro yang terjadi di Tanah Datar, Sumatera Barat, boleh dibilang
adalah permasalahan yang pada umumnya juga banyak terjadi di daerah-daerah lain di
Indonesia. Tengok saja, seperti permasalahan internal usaha mikro yang masih terkendala
dengan rendahnya kualitas sumber daya manusia, baik dalam hal penguasaan teknologi amupun
keterampilan teknis di bidang usaha terkait. Kendala lain juga terdapat pada faktor manajemen
usaha dan keterbatasan pada akses informasi serta akses pasar. Tentu saja, permasalahan itu
akan berdampak pada rendahnya tingkat produktivitas usaha.
Sementara permasalahan eksternal, secara umum yang juga dialami Tanah Datar adalah
adanya kendala sumber daya permodalan dan aspek legalitas atau perijinan. Usaha mikro
acapkali menghadapi kesulitan dalam hal memenuhi persyaratan jaminan dalm pengajuan kredit
perbankan.
Maka tak heran, upaya pemerintah memperkenalkan kredit tanpa agunan, yang pernah
dijalankan pada tahun 1970-an dan diperkenalkan kembali beberapa tahun terakhir ini, dalam
realisasinya di lapangan masih rumit secara administrative. Sehingga, kebutuhan akan modal
kerja seringkali tidak terpenuhi dan menjadi alas an sulit berkembangnya usaha mikro. Padahal,
usaha mikro merupakan salah satu cara untuk mengurangi kemiskinan dan pengangguran
melalui wirausaha.
Dikabupaten Tanah Datar, kendala permodalan menjadi momok tersendiri bagi
pengusaha mikro , seperti halnya pedagang pasar. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa
para pengusaha mikro sangat sulit mengakses kredit bank. Bank cenderung leibh melayani
pengusaha menengah yang sudah mapan dan memiliki jaminan kredit (agunan).
Faktor dominan yang mempengaruhi minat bank melayani pengusaha mikro adalah
rendahnya laba dan tingginya resiko kredit macet, karena lemahnya manajemen pengusaha
mikro dan lemahnya kondisi usaha serta agunan yang digunakan tidak memadai.
Kesulitan mengakses bank itulah yang menjadi alas an para pengusaha mikro di
Kabupaten Tanah Datar lebih memilih meminjam modal kepada rentenir dengan bunga sangat
tinggi. Sekalipun dihadapkan pada bunga yang sangat tinggi, sanksi yang cukup berat, jangka
waktu yang pendek dan sangat mengikat, para pengusaha mikro tetap meminjam modal kepada
rentenir. Hal tersebut dilakukan oleh para pengusaha mikro lantaran para rentenir menerapkan
azas kerpercayaan, syarat yang sangat mudah dan pola “antar jemput” tanpa melalui proses
yang berbelit-belit dan formal. Akibatnya para pengusaha mikro tak mampu mengembangkan
usahanya dengan baik dan terbebani dengan hutang yang diistilahkan dengan gali lubang tutup
lubang.
• dua
INISIATIF DAN STRATEGI PELAKSANAAN PROGRAM
Tentu saja, kondisi ini sangat memperhatinkan. Namun, untungnya kondisi ini justru
dapat sekaligus menjadi trigger (pemicu) Pemerintah Kabupaten Tanah Datar untuk melahirkan
1
program pemberantasan gerakan rentenir yang dikenal dengan nama Program Perbaikan Usaha
Mikro. Caranya dengan Pemberian Kredit Tanpa Agunan pada tahun 2006.
Lahirnya program tersebut berawal dari penelitian yang dilakukan oleh Pemerintah
Kabupaten Tanah Datar yang terfokus pada program pengentasan kemiskinan melalui perbaikan
usaha mikro. Selain itu, Pemerintah Kabupaten melalui Bupati Tanah Datar secara berkala
melakukan diskusi dengan para pedagang pasar yang diwakili oleh para pengurus Pedagang
Pasar.
Dari hasil penelitian dan diskusi berkala tersebut, Pemerintah Kabupaten Tanah Datar
menganggap Program Perbaikan Usaha Mikro melalui Pemberian Kredit Tanpa Agunan
merupakan solusi yang tepat.
Tujuan dari program ini, selain memberantas kemiskinan khususnya untuk usaha mikro
yang belum memiliki legalitas usaha juga memberantas praktik rentenir yang dianggap
meresahkan para pengusaha mikro. Selain itu, program ini bertujuan untuk mengembangkan
skala usaha mikro di Kabupaten Tanah Datar.
Sasaran program ini adalah para pengusaha mikro yang dikategorikan sebagai pedagang
skala kecil yang telah mempunyai tempat permanent di pasar dan para pedagang kaki lima.
Sedangkan kredit yang diberikan digunakan untuk keperluan investasi atau modal kerja usahausaha produktif lainnya.
Guna mengoptimalkan pelaksanaan program ini, pada proses awal Pemerintah
Kabupaten Tanah Datar melibatkan instansi terkait seperti Badan Usaha Investasi Daerah (BUID),
Dinas Koperasi Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal (Koperindagtam), Kantor
Pasar, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Sekretariat Daerah, Kantor Pasar, Bank Nagari
dan Persatuan Pedagang Pasar Batusangkar.
Dalam rangka mengoptimalkan pemberian kredit kepada para pengusaha mikro,
Pemerintah Kabupaten Tanah Datar menjalin kerjasama melalui penandatanganan Memorandum
of Understanding (MoU) dengan Bank Nagari Cabang Batusangkar sebagai pelaksana penyalur
pinjaman. Sedangkan pada awal peluncuran program, Pemerintah Kabupaten Tanah Datar
menerapkan sistem pilot project kepada para pedagang yang berada di Pasar Batusangkar.
Sebagai tahap awal, Pemerintah Kabupaten Tanah Datar menganggarkan dana pada
APBD tahun 2006 sebesar Rp. 1 Milyar yang disetorkan kepada Bank Nagari Cabang
Batusangkar.
Strategi yang diterapkan Pemerintah Kabupaten Tanah Datar pada daerah pilot project
(Pasar Batusangkar) adalah dengan menerapkan bunga pinjaman yang cukup rendah yaitu 10%
per tahun dan tanpa jaminan apapun kecuali menjadi anggota Persatuan Pedagang Pasar
Batusangkar. Dalam hal ini, Persatuan Pedagang Pasar Batusangkar akan memberikan
rekomendasi kredit kepada anggota pedagang pasar yang mengajukan kredit. Selain itu,
pengembalian pinjaman dapat dilakukan setiap hari, mingguan atau bulanan sesuai kemampuan
para pedagang dan dilakukan dengan sistem “jemput bola”. Sedangkan plafon kredit yang
diberikan antara Rp. 500.000,- hingga Rp. 5.000.000,- dengan jangka waktu pengembalian
maksimal 5 tahun.
Bank Nagari sebagai pelaksana program penguatan usaha mikro ini mengkategorikannya
menjadi Dana Penguatan Modal. Dalam melaksanakan program ini, Bank Nagari merekrut dan
menempatkan petugas khusus melalui persetujuan Bupati dan menempatkannya di Kantor Pasar
Batusangkar.
Dalam mencairkan pinjaman kepada para pengusaha mikro, Pemerintah Kabupaten
Batusangkar dan Bank Nagari menetapkan prosedur sebagai berikut:
1. Calon peminjam mengajukan permohonan kredit melalui petugas dengan mengisi
formulir yang telah disediakan dan dilengkapi dengan fotocopy bukti diri (KTP dan
Kartu Keluarga) Pemohon, serta Rekomendasi dari Pengurus Pedagang Pasar
Batusangkar
2. Petugas khusus melakukan kunjungan ke alamat dan lokasi usaha calon peminjam
untuk wawancara, mengumpulkan data dan informasi serta melakukan penilaian
2
terhadap diri, usaha dan sumber pengembalian kredit oleh calon peminjam. Penilaian
yang dilakukan melalui tahap ini adalah berkenaan dengan :
a. Kejelasan alamat usaha dan tempat tinggal nasabah sesuai dengan KTP dan KK
b. Karakter calon nasabah berdasarkan informasi dari para tetangga dan rekanan
tentang tingkah laku dan hubungannya dengan masyarakat terutama dalam hal
keuangan.
3. Petugas khusus merumuskan hasil penilaian dan menyusun rekomendasi dengan
menggunakan formulir yang telah disediakan dan selanjutnya mengajukan kepada
pejabat yang berwenang untuk diberi persetujuan atau ditolak.
Setelah melalui tahapan tersebut, pinjaman yang diajukan dapat diterima dalam jangka
waktu 1 sampai 2 hari/
Selain prosedur peminjaman tersebut, Pemerintah Kabupaten Tanah Datar dan Bank
Nagari menetapkan prosedur pembayaran dan pelunasan kredit yaitu;
1. Petugas khusus secara rutin mengamati jadwal angsuran dari seluruh peminjam
2. Petugas khusus mendatangi seluruh peminjam yang berada di Pasar Batusangkar
sesuai dengan jadwal angsuran, baik harian, mingguan ataupun bulanan.
3. Petugas khusus mencatat dalam pembukuan dan menyetorkannya ke Bank Nagari
Dalam pencatatan arus kas masuk dan keluar, Bank Nagari Cabang Batusangkar
menerapkan pembukuan Off Balance Sheet atau di luar pembukuan Bank Nagari Cabang
Batusangkar. Hal ini dilakukan untuk memisahkan catatan pembukuan nasabah Bank Nagari
Cabang Batusangkar dan nasabah Program Dana Penguatan Modal.
Keuntungan dari bunga yang diperoleh akan dibagi antara Pemerintah Kabupaten Tanah
Datar sebesar 40% dan Bank Nagari Cabang Batusangkar sebesar 60% setelah dipotong 10%
untuk biaya operasional termasuk honor petugas khusus. Pendapatan dari keuntungan program
ini merupakan bagian dari Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Tanah Datar.
• tiga
HASIL YANG DICAPAI DAN MANFAAT YANG DIPEROLEH
Dalam kurun waktu satu tahun pelaksanaan program ini, para pengusaha mikro di pasar
Batusangkar benar-benar merasakan manfaatnya. Permodalan dan pengembangan usaha
mereka terpenuhi dengan baik (lihat jumlah pengusaha mikro yang telah mendapatkan kredit
pada tabel di bawah).
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
Jumlah
KLASIFIKASI PEDAGANG
Sayuran
Buah-buahan
Beras/jagung
Ikan (basah, kering), Belut
Bumbu masak
Makanan, Minuman, kue
P&D
Sepatu / Kain
Mainan Anak-anak
Telur
Lain-lain
936
JUMLAH (ORANG)
179
73
39
99
84
189
48
64
8
19
134
Manfaat program inipun sangat dirasakan Ermiwati, pedagang ayam di Pasar
Batusangkar ynag menerima kredit. Menurutnya, kredit yang diberikan sangat bermanfaat untuk
3
pengembangan usahanya. Sehingga, ekonomi keluarga dan pendapatannya pun bertambah. Ia
pun mengakui bahwa bunga yang diterapkan melalui kredit ini jauh lebih rendah dari BPR tempat
dimana dia pernah meminjam. Namun demikian, masih menurut Ermiwati, skim kredit yang di
berikan semestinya bisa bertambah, sehingga dapat mengembangkan usahanya menjadi lebih
besar lagi.
Hal senada juga diungkapkan Nazir Kasim, pedagang kelontong di Pasar Batusangkar.
Menurutnya, kredit ini sangat membantu Pedagang bermodal kecil seperti dirinya. Karena bunga
yang diterapkan jauh lebih rendah dari bunga BPR sehingga dia dapat mengatur modal
belanjanya dengan leluasa. Menurut Nazir, seandainya Pemerintah Kabupaten meningkatkan
skim kredit mikro ini, selain dapat mengembangkan usahanya menjadi lebih besar dia juga dapat
menambah jumlah tenaga kerja.
Menurut Bupati Tanah Datar, M Shadiq pasadigoe, jumlah dana yang telah disalurkan
hingga Januari 2007 adalah Rp. 2.490.300.000,-(dua milyar empat ratus sembilan puluh juta tiga
ratus ribu rupiah) dari dana awal Rp. 1.000.000.000 (satu milyar rupiah). Dan hebatnya, jumlah
kredit macetnya 0%.
Masih menurut Bupati, program ini sangat membantu PKL dalam mengatasi
permasalahan modalnya yang selama ini terjerat rentenir dan tidak diminati oleh bank. Bukan
hanya di Batusangkar, Bupati telah memprogramkan untuk memperluas cakupan kredit PKL ini
ke seluruh wilayah di Kabupaten Tanah Datar dan direncanakan akan dikerjasamakan dengan
BPR.
Menurut Pimpinan Cabang Bank Nagari Batusangkar, Antonius, sejak diluncurkannya
program ini jumlah peminjam setiap bulannya semakin bertambah. Tercatat, mulai dari Agustus
2006 hingga Juli 2007 jumlah peminjam yang telah memanfaatkan program ini sebanyak 936
pengusaha mikro.
Antonius menambahkan, bahwa model seperti ini merupakan pertama di Indonesia dan
Bank Nagari Sumatera Barat akan menjadikan model program ini untuk daerah lainnya di
Sumatera Barat. Tak tanggung-tanggung, jumlah dana yang dipersiapkan oleh Bank Nagari
berjumlah 20 milyar.
Yang menariknya lagi, seperti diungkapkan Bupati Tanah Datar ternyata program ini
dapat menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh pengusaha mikro dari jeratan rentenir
dan kesulitan modal kerja.
Sedangkan pelajaran yang dapat dipetik dari program ini adalah bahwa karakteristik
pengusaha mikro, baik itu pedagang pasar maupun pedagang kaki lima yang membutuhkan
modal tidak menginginkan adanya prosedur dan persyaratan yang rumit dalam mendapatkan
modal usaha. Dan, ketika mereka diberi kepercayaan tentunya diimbangi dengan manajemen
kredit yang baik, maka pinjaman modal bank dapat berjalan lancar.
• empat
KEBERLANJUTAN
Setelah melihat hasilnya, sudah barang tentu program ini sangat patut untuk dilanjutkan
secara berkesinambungan. Hal inipun diamini Afnedi, Ketua Pengurus Pedagang Pasar
Batusangkar. Bahkan, ia pun mengungkapkan, bahwea lembaga yang dipimpinnya akan
membentuk Lembaga Mikro Keuangan sebagai reaksi terhadap keberhasilan program yang
diluncurkan Pemerintah Kabupaten Tanah Datar. Selain itu, Pengurus akan melakukan
pembenahan organisasi pedagang pasar.
Pemerintah Kabupaten Tanah Datar pun menyadari bahwa program ini patut untuk terus
dilanjutkan. Karena itu, Bupati Tanah Datar akan menyalurkan kredit dengan pola yang sama
kepada 14 pasar yang ada di Kabupaten Tanah Datar. Di samping itu, selain sisi permodalan,
Pemerintah Kabupaten Tanah Datar dalam usahanya meningkatkan sektor usaha mikro juga
akan meningkatkan kualitas SDM melalui pelatihan. Bupati pun optimis program pemberdayaan
usaha mikro di Kabupaten Tanah Datar akan terus berlanjut.
4
• lima
KEMAMPUAN UNTUK DITRANSFER
Melihat kondisi usaha mikro di daerah lainnya di Indonesia yang memiliki sifat dan
karakteristik yang sama dalam hal permodalan, Program Perbaikan Usaha Mikro melalui
Pemberian Kredit Tanpa Agunan yang telah dilakukan Pemerintah Kabupaten Tanah Datar
seyogyanya dapat ditransfer atau ditiru oleh daerah lain.
Seperti kata Bupati Tanah Datar bahwa pada dasarnya konsep program ini secara umum
sangat bisa diadopsi oleh daerah lain. Namun, tentu saja, bagi daerah tertentu secara teknis
program ini mungkin perlu disesuaikan dengan kemampuan daerah bersangkutan.
Gambaran Umum
LOKASI
LUAS WILAYAH
BATAS WILAYAH
KECAMATAN
NAGARI
(SETINGKAT
DESA)
JUMLAH
PENDUDUK
KONDISI
PENDUDUK
KONDISI ALAM
Di Propinsi Sumatera Barat (sekitar 1103 km dari kota Padang, ibukota
Propinsi Sumatera Barat.
133.600 ha yang terbagi atas 126.200 ha daratan dan 7.400 ha perairan
Utara : Kabupaten Agam dan 50 kota
Selatan: Kabupaten Solok
Barat: Kabupaten Padang Pariaman
Timur : Kota Padang Panjang
14
75
Kurang lebih 329.962 Jiwa. Tingkat kepadatan mencapai 246 jiwa per Km2
dengan pertambahan penduduk sekirtar 0.06% per tahun
Sebagian besar penduduk bekerja di sektor pertanian yaitu lebih dari 70%
selain itu di bidang perindustrian, perdagangan, pariwisata dan jasa yang
berbasis pertanian. Sektor pertanian, industri, perdagangan dan jasa menjadi
penopang perputaran ekonomi daerah.
Dari toatal jumlah penduduk kabupaten Tanah Datar berdasarkan datan
tahun 2006, jumlah penduduk miskin mencapai 18.229 Kepala Keluarga.
Wilayah agraris dengan suhu udara berkisar 12-25 derajat Celsius. Daerah ini
termasuk yang diuntungkan oleh alam dan kondisi perekonomian daerah di
sekitarnya. Curah hujan di wilayah Kabupaten Tanah Datar lebih kurang
2200mm/tahun.
Pola penggunaan tanah di Kabupaten Tanah Datar dipengaruhi dan
ditentukan oleh ekologi daerah dengan komposisi:
Sawah: 28.910 ha (21,64%)
Perkampungan: 8.492 ha (6.35 %)
Perkebunan: 18.429 ha (12.60%)
Pertanian Sawah Kering : 16.245 ha (13,66%(
Perkebunan Campuran : 5, 190 ha (3,88%)
Tanah Tandus : 1.208 ha (0,90%)
Rawa dan Danau : 6.420 ha (4,81%)
Kolam Ikan : 863 ha (0.85%)
Hutan : 47.442 ha (35,51%)
5
Download