analisis faktor ibu dan bayi yang berhubungan dengan

advertisement
ANALISIS FAKTOR IBU DAN BAYI YANG
BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN
KEMATIAN PERINATAL
DI KABUPATEN BATANG
TAHUN 2010
SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat
Oleh :
Ummul Mahmudah
NIM. 6450406534
JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
2011
i
Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Ilmu Keolahragaan
Universitas Negeri Semarang
September 2010
ABSTRAK
Ummul Mahmudah.
Analisis Faktor Ibu dan Bayi yang Berhubungan dengan Kejadian Kematian
Perinatal di Kabupaten Batang Tahun 2010,
VI + 74 halaman + 25 tabel + 2 gambar + 10 lampiran
Kematian perinatal adalah kematian janin pada usia kehamilan ≥28
minggu sampai dengan 7 hari pertama setelah bayi lahir dimana kematian
perinatal mempunyai kontribusi terbesar pada angka kematian bayi. Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor ibu dan bayi apa sajakah yang
berhubungan dengan kejadian kematian perinatal di Kabupaten Batang.
Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik dengan metode survei dengan
rancangan penelitian kasus kontrol (case control study). Populasi dalam penelitian
ini adalah semua bayi yang lahir mulai umur kehamilan ≥28 minggu atau lebih
dari tujuh hari yang tinggal di wilayah Kabupaten Batang. Kasus adalah semua
kejadian kematian perinatal yaitu bayi yang meninggal pada umur kehamilan
sudah mencapai 28 minggu sampai bayi berumur 7 hari. Sampel berjumlah 47
kasus dan 47 kontrol yang diperoleh dengan menggunakan teknik simple random
sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan
data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dengan menggunakan
kuesioner dan data sekunder dari puskesmas dan Dinas Kesehatan Kabupaten
Batang. Data yang diperoleh dalam penelitian ini dianalisis menggunakan rumus
statistik uji chi-square (α = 0,05) dengan penentuan Odds Ratio (OR).
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa faktor risiko yang berhubungan
dengan kejadian kematian perinatal di Kabupaten Batang adalah pendidikan ibu
(p= 0,006, OR= 3,878), pengetahuan ibu (p= 0,013, OR= 2,843), paritas (p=
0,016, OR= 2,988), BBLR (p= 0,001, OR= 7,570), asfiksia (p= 0,001, OR=
2,270), dan kelainan kongenital (p= 0,003, OR= 2,205).
Saran yang diajukan adalah supaya ibu hamil aktif memeriksakan
kehamilan kepada pelayanan kesehatan yang tersedia.
Kata Kunci : Kematian Perinatal
Kepustakaan : 27 (1998 – 2009)
ii
Public Health Departement
Sport Science Faculty
Semarang State University
Semptember 2010
ABSTRACT
Ummul Mahmudah.
Analysis of Maternal and Infant Factors Related with Perinatal Mortality
Events in Batang Year 2010,
VI + 74 pages + 25 tables + 2 figures + 10 appendices
Perinatal deaths are fetal deaths at ≥ 28 weeks gestation until the first
seven days after birth in which perinatal mortality has the largest contribution to
infant mortality. The purpose of this study is to determine what factors are the
mother and baby associated with the incidence of perinatal mortality in Batang.
This research is an analytical research with a survey method with casecontrol study. The population in this study is that all babies born alive from age
more than seven days living in the area of Batang regency. Cases of perinatal
death are all occurrences of a baby who died at the age of 28 weeks of pregnancy
has reached up to 7 days old baby. The sample amounted to 47 cases and 47
controls obtained by using simple random sampling technique. The instrument
used in this study are primary data and secondary. Primary data were obtained
from interviews using questionnaires and secondary data from health centers and
the Health Department Batang. Data obtained in this study were analyzed using a
statistical formula chi-square test (α = 0.05) with determination of odds ratio
(OR).
The result showed that significant risk factors that related to perinatal
mortality evens are maternal education (p = 0.006, OR = 3.878), knowledge of
mother (p = 0.013, OR = 2.843), parity (p = 0.016, OR = 2.988), LBW (p= 0.001,
OR = 7.570), asphyxia (p= 0,001, OR= 2,270), and congenital abnormalities (p=
0,003, OR= 2,205).
Based on this research, the proposed suggestions for pregnant mothers to
actively seek prenatal care to available health services.
Keywords : Perinatal mortality
References : 27 (1998 – 2009)
iii
PENGESAHAN
Telah dipertahankan di hadapan panitia sidang ujian skripsi Fakultas Ilmu
Keolahragaan Universitas Negeri Semarang, skripsi atas nama Ummul
Mahmudah, NIM : 6450406534, dengan judul “Analisis Faktor Ibu dan Bayi yang
Berhubungan dengan Kejadian Kematian Perinatal di Kabupaten Batang Tahun
2010”
Pada hari
Tanggal
: Rabu
: 19 Januari 2011
Panitia Ujian
Ketua Panitia,
Sekretaris
Drs. H. Harry Pramono, M. Si
NIP. 19591019 198503 1 001
Irwan Budiono, S. KM, M. Kes
NIP. 19771227 200501 1 001
Dewan Penguji
Tanggal persetujuan
Ketua Penguji
1. dr. Arulita Ika Fibriana, M. Kes
NIP. 19740202 200112 2 001
Anggota Penguji
(Pembimbing Utama)
2. Widya Hary Cahyati, S.KM, M.Kes
NIP. 19771227 200501 2 001
Anggota Penguji
3. dr. Anik Setyo Wahyuningsih
(Pembimbing Pendamping)
NIP. 19740903 200604 2 001
iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
MOTTO
 Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila engkau telah
selesai dari suatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusanmu yang
lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap
(Q. S. Al Insyiroh: 7 - 8).
 Orang yang memiliki banyak ilmu maka ia lebih kaya dari pada banyak harta, dan
orang yang mewariskan ilmu kepada sesamanya maka ia lebih tinggi dari pada
mewariskan emas perhiasannya (penulis).
PERSEMBAHAN
Skripsi ini penulis persembahkan untuk:
1.
Ayahanda (Bp. Tjahjono) dan ibunda
(Ibu Titik Murdiesti) tercinta yang
selalu menyayangi dan mengasihi ananda
2.
Kakak (Arief Mufti. M) dan adikku
tersayang (A. Fahmi Huda),
3.
Almamaterku Universitas Negeri
Semarang, khususnya Jurusan Ilmu
Kesehatan Masyarakat.
v
KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Allah SWT atas segala limpahan dan hidayah-Nya
sehingga skripsi yang berjudul “Analisis Faktor Ibu dan Bayi Yang Berhubungan
Dengan Kejadian Kematian Perinatal di Kabupaten Batang Tahun 2010” dapat
terselesaikan. Penyelesaian skripsi ini dimaksudkan untuk melengkapi persyaratan
memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan
Universitas Negeri Semarang.
Keberhasilan penyelesaian penelitian sampai dengan tersusunnya skripsi
ini atas bantuan dari berbagai pihak, dengan rendah hati disampaikan terima kasih
kepada:
1. Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang, Drs. Harry
Pramono, M. Kes., atas ijin penelitian.
2. Ketua Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan
Universitas Negeri Semarang, dr. H. Mahalul Azam, M. Kes., atas persetujuan
penelitian.
3. Pembimbing I, Widya Hary Cahyati, SKM, M. Kes., atas bimbingannya dalam
penyusunan skripsi ini.
4. Pembimbing II, dr. Anik Setyo Wahyuningsih, atas bimbingannya dalam
penyusunan skripsi ini.
5. Bapak dan ibu dosen Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat atas bekal ilmu
pengetahuan yang diberikan selama di bangku kuliah.
vi
6. Seluruh staff TU FIK UNNES yang telah membantu dalam segala urusan
administrasi dan surat perijinan penelitian.
7. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Batang, Ir.
Johan Rudi Widhianto,M.Si., dalam urusan perijinan penelitian.
8. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Batang, Dr. H. Budi Utomo Raharjo
beserta staf dan jajarannya atas bantuan dalam urusan perijinan penelitian.
9. Kepala Puskesmas Kabupaten Batang beserta staf dan jajarannya atas
kerjasama dalam urusan perijinan dan pelaksanaan penelitian.
10. Masyarakat Kabupaten Batang atas bantuan dan kerjasamanya dalam
pelaksanaan penelitian.
11. Ayah (Bp. Tjahjono), ibunda (Ibu Titik Murdiesti), kakak (Arief Mufti. M),
serta adik (Ahmad Fahmi Huda) tercinta yang telah memberi dorongan dan
bantuan baik materiil maupun spiritual.
12. Mas Huda yang telah tulus ikhlas memberi dorongan lahir dan batin saat
semangat ini sudah mulai hilang.
13. Teman-teman Wisma Mutiara dan teman-teman seperjuangan (Hani, Devi,
Aci, Eva dan Dwi) yang selalu menghibur serta membantu sehingga penulis
dapat menyelesaikan skripsi ini.
Pada skripsi ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu segala kritik
dan saran yang membangun demi kesempurnaan dalam laporan ini sangat
diharapkan. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat.
Semarang, September 2010
Penyusun
vii
DAFTAR ISI
Halaman
JUDUL ............................................................................................................
i
ABSTRAK ......................................................................................................
ii
ABSTRACT ....................................................................................................
iii
PENGESAHAN ..............................................................................................
iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN .................................................................
v
KATA PENGANTAR ....................................................................................
vi
DAFTAR ISI ...................................................................................................
viii
DAFTAR TABEL...........................................................................................
x
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................
xi
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................
xii
BAB I PENDAHULUAN ...............................................................................
1
1.1 Latar Belakang Masalah .............................................................................
1
1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................
5
1.3 Tujuan Penelitian .......................................................................................
6
1.4 Manfaat Penelitian .....................................................................................
7
1.5 Keaslian Penelitian .....................................................................................
8
1.6 Ruang Lingkup Penelitian ..........................................................................
10
BAB II LANDASAN TEORI ........................................................................
11
2.1 Defini Kematian Perinatal ..........................................................................
11
2.2 Penyebab Kematian Perinatal ....................................................................
12
2.3 Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Kematian Bayi. .......................
14
2.4 Kerangka Teori...........................................................................................
32
BAB III METODE PENELITIAN ...............................................................
33
3.1 Kerangka Konsep .......................................................................................
33
3.2 Variabel Penelitian .....................................................................................
34
3.3 Hipotesis Penelitian....................................................................................
35
3.4 Definisi Operasional dan Skala Pengukuran ..............................................
37
viii
3.5 Jenis dan Rancangan Penelitian .................................................................
38
3.6 Populasi dan Sampel ..................................................................................
39
3.7 Instrumen Penelitian...................................................................................
43
3.8 Validitas dan Reliabilitas ...........................................................................
44
3.9 Teknik Pengolahan Data ............................................................................
44
BAB IV HASIL PENELITIAN .....................................................................
47
4.1 Gambaran Umum Wilayah Kabupaten Batang ..........................................
48
4.2 Hasil Penelitian ..........................................................................................
50
BAB V PEMBAHASAN ................................................................................
62
5.1 Pembahasan ................................................................................................
62
5.2 Hambatan dan keterbatasan penelitian .......................................................
71
BAB VI SIMPULAN DAN SARAN .............................................................
73
6.1 Simpulan ....................................................................................................
73
6.2 Saran...........................................................................................................
74
DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................
75
ix
DAFTAR TABEL
Tabel
Halaman
1.1 Keaslian Penelitian .....................................................................................
8
1.2 Matriks Perbedaan Penelitian .....................................................................
9
2.1 Skor APGAR ..............................................................................................
21
3.1 Definisi Operasional dan Skala Pengukuran Variabel ...............................
37
4.1 Data Sarana Kesehatan Puskesmas dan Dinas Kesehatan ........................
48
4.2 Angka Kejadian Kematian Bayi Selama Empat Tahun Terakhir .............
48
4.3 Data Kematian Neonatal, Lahir Mati, dan Lahir Hidup Berdasarkan
Puskesmas Tahun 2009………………...…………………………………
49
4.4 Distribusi Responden menurut Umur Ibu .................................................
50
4.5 Distribusi Responden menurut Pendidikan Ibu..........................................
51
4.6 Distribusi Responden menurut Pengetahuan Ibu .......................................
51
4.7 Distribusi Responden menurut Paritas .......................................................
52
4.8 Distribusi Responden menurut Jarak Antar Kelahiran...............................
52
4.9 Distribusi Responden menurut Penolong Persalinan .................................
53
4.10 Distribusi Responden menurut BBLR .....................................................
53
4.11 Distribusi Responden menurut Asfiksia ..................................................
54
4.12 Distribusi Responden menurut Kelainan Kongenital ...............................
54
4.13 Tabulasi Silang Antara Umur Ibu dengan Kematian Perinatal ................
55
4.14 Tabulasi Silang Antara Pendidikan Ibu dengan Kematian Perinatal .......
56
4.15 Tabulasi Silang Antara Pengetahuan Ibu dengan Kematian Perinatal .....
57
4.16 Tabulasi Silang Antara Paritas dengan Kematian Perinatal .....................
57
4.17 Tabulasi Silang Antara Jarak Antar Kelahiran dengan Kematian Perinatal 58
4.18 Tabulasi Silang Antara Penolong Persalinan dengan Kematian Perinatal
59
4.19 Tabulasi Silang Antara BBLR dengan Kematian Perinatal .....................
59
4.20 Tabulasi Silang Antara Asfiksia dengan Kematian Perinatal ..................
60
4.21 Tabulasi Silang Antara Kelainan Kongenital dengan Kematian Perinatal
61
x
DAFTAR GAMBAR
Gambar
Halaman
2.1 Kerangka Teori...........................................................................................
32
3.1 Kerangka Konsep .......................................................................................
33
xi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran
Halaman
1. Surat Keterangan Pembimbing ....................................................................
2. Surat Ijin Penelitian 1 ...................................................................................
3. Surat Ijin Penelitian 2 ...................................................................................
4. Surat Keterangan Penelitian .........................................................................
5. Kuesioner Penelitian ....................................................................................
6. Uji Validitas dan Reliabilitas .......................................................................
7. Identitas Responden .....................................................................................
8. Hasil Penelitian ............................................................................................
9. Analisis Hasil Penelitian ..............................................................................
10. Dokumentasi Penelitian .............................................................................
xii
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Kemampuan penyelenggaraan pelayanan kesehatan suatu bangsa diukur
dengan menentukan tingggi rendahnya angka kematian ibu dan perinatal dalam
100.000 persalinan hidup, namun pada kenyataannya angka kematian perinatal
masih tinggi. Angka tersebut sesungguhnya dapat dihindari dengan cara
memberikan pelayanan kesehatan terutama pada pertolongan pertama persalinan
(Manuaba, 1998: 15).
Pembangunan di bidang kesehatan diarahkan untuk mencapai kemampuan
hidup sehat bagi setiap penduduk, yaitu dengan meningkatkan derajat kesehatan
yang optimal. Untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal, pemerintah telah
melakukan berbagai upaya pembangunan di bidang kesehatan dengan prioritas
antara lain pada perbaikan tingkat kesehatan ibu dan anak. Angka Kematian Bayi
(AKB) merupakan indikator yang lazim digunakan sebagai indeks pembangunan
ekonomi, indikator kualitas hidup, dan komponen utama penentu angka harapan
hidup suatu masyarakat. Bayi sebagai manusia yang baru lahir merupakan
kelompok umur yang sangat rentan terhadap ketidakseimbangan berbagai faktor
seperti faktor lingkungan dan sistem perawatan (Asnawi, 2005 dalam Ambarwati,
2007).
Kematian perinatal adalah jumlah lahir mati dan kematian bayi dalam 7
hari pertama dalam hidupnya. Sedangkan yang disebut angka kematian perinatal
1
2
adalah jumlah kematian perinatal dikalikan 1.000 kemudian dibagi jumlah bayi
lahir-hidup dan lahir-mati pada tahun yang sama (Wiknjosastro, 2006: 786).
Pada tahun 2000, lebih dari 6.300.000 kematian perintal terjadi di seluruh
dunia, dimana 75% kematian terjadi di negara-negara berkembang (WHO, 2006:
5). Angka kematian di Indonesia secara umum dari tahun ke tahun terjadi
penurunan. Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SKDI) pada tahun
2007 diperoleh estimasi Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia sebesar 34 per
1.000 kelahiran hidup. Hasil pengukuran angka SKDI tahun 2007 tersebut
diperoleh AKB untuk periode tahun 2003-2007. Angka tersebut sedikit lebih
menurun dibandingkan dengan tahun 2006 dari hasil pengukuran tahun 20022003 yaitu sebebsar 35 per 1000 kelahiran hidup. Kecenderungan penurunan
AKB tersebut dapat dipengaruhi oleh pemerataan pelayanan kesehatan berikut
fasilitasnya (Profil Kesehatan Indonesia, 2008: 26).
Angka kematian perinatal di Indonesia tidak diketahui dengan pasti karena
belum ada survey yang menyeluruh. Angka yang ada ialah angka kematian
perinatal di rumah sakit-rumah sakit besar yang pada umumnya berkisar antara
77,3 sampai 137,7 per 1.000 kelahiran hidup. Angka-angka tersebut dapat lebih
tinggi daripada kenyataan sebenarnya karena rumah sakit sebagai referral hospital
untuk daerahnya menampung kasus-kasus dalam keadaan darurat di daerah itu
(Wiknjosastro, 2006: 785).
Namun terdapat pendapat lain yang menyebutkan bahwa angka kematian
perinatal di Indonesia sebesar 460 per 100.000 setiap tahunnya. Banyak faktor
yang mempengaruhi angka tersebut, antara lain penyakit dan perkembangan
kesehatan ibu dan janin serta semua hal yang berkaitan dengan pelayanan
3
kesehatan baik langsung maupun tidak langsung (Manuaba dalam Ambarwati,
2007: 3).
Angka kematian bayi di Propinsi Jawa Tengah tahun 2006 dalam kurun
waktu satu tahun sebesar 11,03 per 1.000 kelahiran hidup. Angka ini meningkat
dibandingkan pada tahun 2007 yaitu 10,48 per 1.000 kelahiran hidup, sedangkan
tahun 2008 kembali mengalami penurunan sebesar 9,17% per 1.000 kelahiran
hidup.
Apabila dibandingkan dengan target yang diharapkan dalam MDG (
Millenium Development Goals) ke-4 tahun 2010 yaitu 17 per seribu kelahiran
hidup, berarti angka kematian bayi di Propinsi Jawa Tengah sudah di bawah
angka tersebut (Profil Kesehatan Jawa Tengah, 2008).
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Ambarwati pada tahun
2007 hasil menunjukkan bahwa ada hubungan antara paritas 95%, riwayat sakit
95%, kelengkapan pemeriksaan antenatal 95%, rujukan 95% dengan kejadian
kematian perinatal. Kesimpulan dari penelitian ini adalah adanya empat faktor
(paritas, riwayat sakit, kelengkapan pemeriksaan antenatal dan rujukan) yang
mempengaruhi kejadian kematian perinatal di wilayah kerja Puskesmas Rembang
Kabupaten Purbalingga (Ambarwati, 2007: 52).
Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Zubaidah pada tahun 2005
menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara komplikasi kehamilan,
komplikasi persalinan, asfiksia, dan BBLR terhadap kejadian kematian perinatal.
Tidak ada hubungan variabel pendidikan ibu, pekerjaan ibu, status keluarga, dan
umur ibu terhadap kejadian kematian perinatal (Zubaidah, 2005).
Di wilayah Jawa Tengah, Kabupaten Batang termasuk salah satu
kabupaten dengan jumlah kematian bayi yang tinngi. Angka kematian bayi di
4
Kabupaten Batang selalu mengalami kenaikan selama empat tahun terakhir..
Gambaran mengenai penyebab secara langsung kematian bayi di Kabupaten
Batang pada tahun 2005 sebesar 12,85 per 1.000 kelahiran hidup, sedangkan pada
tahun 2006 naik menjadi 14,86 per 1.000 kelahiran hidup, dan angka kematian
bayi pada tahun 2007 mengalami kenaikan lagi menjadi 17,38 per 1.000 kelahiran
hidup, sedangkan pada tahun 2008 mengalami kenaikan sebesar 21,30 per 1.000
kelahiran hidup. Berdasarkan data dari Kabupaten Batang pada tahun 2009,
kematian sebesar 198 kasus, dimana 135 kasus kematian perinatal, 15 kasus
kematian neonatal, 48 kasus kematian bayi 1-12 bulan. Kematian bayi tersebut
tersebar di 21 puskesmas yang ada di wilayah Kabupaten Batang. Penyebab
kematian bayi pada tahun 2008 dan 2009 hampir sama, yaitu kurangnya
pengetahuan masyarakat tentang cara pembuatan dan penggunaan metode
kanguru yang sederhana dan tepat guna, serta belum terampilnya petugas
kesehatan dalam manajemen asfiksia dan BBLR. Yang dimaksud dengan metode
kangguru yang sederhana dan tepat guna yaitu malalui skin to skin, dimana kulit
bayi bersentuhan langsung dengan kulit ibu, dan dengan pembuatan boks
menyerupai inkubator. Bagi petugas kesaehatan khusunya bidan hendaknya sudah
mengikuti manajemen asfiksia dan BBLR, yaitu suatu program pemerintah yang
berupa pelatihan tentang penanggulangan bagi bayi asfiksia dan BBLR (DKK
Batang, 2009).
Berdasarkan permasalahan di atas, maka penulis tertarik melakukan
penelitian mengenai “Analisis faktor ibu dan bayi yang berhubungan dengan
kejadian kematian perinatal di Kabupaten Batang tahun 2010”.
5
1.2
Rumusan Masalah
1.2.1
Permasalahan Umum
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka permasalahan yang
dapat diangkat dalam penelitian ini adalah faktor ibu dan bayi apa sajakah yang
berhubungan dengan kejadian kematian perinatal di Kabupaten Batang tahun
2010?.
1.2.2
Permasalahan Khusus
Adapun masalah khusus dalam penelitian ini adalah :
1. Adakah hubungan antara umur ibu dengan kejadian kematian perinatal
di Kabupaten Batang tahun 2010?
2. Adakah hubungan antara pengetahuan ibu dengan kejadian kematian
perinatal di Kabupaten Batang tahun 2010?
3. Adakah hubungan antara pendidikan ibu dengan kejadian kematian
perinatal di Kabupaten Batang tahun 2010?
4. Adakah hubungan antara paritas dengan kejadian kematian perinatal
di Kabupaten Batang tahun 2010?
5. Adakah hubungan antara jarak kehamilan dengan kejadian kematian
perinatal di Kabupaten Batang tahun 2010?
6. Adakah hubungan antara penolong persalinan dengan kejadian
kematian perinatal di Kabupaten Batang tahun 2010?
7. Adakah hubungan antara BBLR dengan kejadian kematian perinatal di
Kabupaten Batang tahun 2010?
6
8. Adakah hubungan antara asfiksia dengan kejadian kematian perinatal
di Kabupaten Batang tahun 2010?
9. Adakah hubungan antara kelainan kongenital dengan kejadian
kematian perinatal di Kabupaten Batang tahun 2010?
1.3
Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan umum
Untuk mengetahui faktor ibu dan bayi yang berhubungan dengan kejadian
kematian perinatal di Kabupaten Batang tahun 2010.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui hubungan antara umur ibu dengan kejadian
kematian perinatal di Kabupaten Batang tahun 2010.
2. Untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan ibu dengan kejadian
kematian perinatal di Kabupaten Batang tahun 2010.
3. Untuk mengetahui hubungan antara pendidikan ibu dengan kejadian
kematian perinatal di Kabupaten Batang tahun 2010.
4. Untuk mengetahui hubungan antara paritas dengan kejadian kematian
perinatal di Kabupaten Batang tahun 2010.
5. Untuk mengetahui hubungan antara jarak kehamilan dengan kejadian
kematian perinatal di Kabupaten Batang tahun 2010.
6. Untuk mengetahui hubungan antara penolong persalinan dengan
kejadian kematian perinatal di Kabupaten Batang tahun 2010.
7
7. Untuk mengetahui hubungan antara BBLR dengan kejadian kematian
perinatal di Kabupaten Batang tahun 2010.
8. Untuk mengetahui hubungan antara asfiksia dengan kejadian kematian
perinatal di Kabupaten Batang tahun 2010.
9. Untuk mengetahui hubungan antara kelainan kongenital dengan
kejadian kematian perinatal di Kabupaten Batang tahun 2010.
1.4
Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Batang
Memberikan informasi mengenai faktor ibu dan bayi yang berhubungan
dengan kematian perinatal, sehingga dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan
dalam perencanaan dan evaluasi pelaksanaan program Dinas Kesehatan
Kabupaten selanjutnya, khususnya bidang KIA.
1.4.2 Bagi Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat
Memberikan tambahan pustaka tentang penyebab kematian perinatal.
1.4.3 Bagi Peneliti
Menambah wawasan dalam melakukan penelitian yang berhubungan
dengan kesehatan ibu dan anak.
1.5
Keaslian Penelitian
Keaslian penelitian merupakan matriks yang memuat tentang judul
penelitian, nama peneliti, tahun dan tempat penelitian, rancangan penelitian,
variabel yang diteliti, dan hasil penelitian.
8
Tabel 1.1 Keaslian Penelitian
Judul/Peneliti/
Tahun
Lokasi Penelitian
Beberapa
faktor 2003
yang berhubungan
dengan
kejadian
kematian perinatal
di
Kabupaten
Kulon
Progo/
Suparjono/ Kulon
Progo.
Hubungan antara 2006
karakteristik ibu
dan
pelayanan
kesehatan dengan
kejadian kematian
perinatal di
Kecamatan
Rembang
Kabupaten
Purbalingga tahun
2006/ Ambarwati/
Purbalingga.
Desain
Variabel
Hasil
Case
control
Variabel bebas :
umur
ibu,
pendidikan
ibu,
paritas ibu, jarak
antar
kelahiran,
perawatan
antenatal, penolong
persalinan,
keterjangkauan
tempat tinggal ke
pelayanan
kesehatan.
Variabel terikat :
kejadian kematian
perinatal.
Ada
hubunngan
antara umur ibu
(p=0,004:OR=3,97),
pendidikan
ibu
(p=0,013;OR= 3,97),
dan
perawatan
antenatal
(p=0,004:OR=3,046)
dengan
kejadian
kematian perinatal.
Case
control
Variabel
bebas:
umur
ibu,
pendidikan, paritas,
riwayat
sakit,
kelengkapan
pemeriksaan
antenatal, penolong
persalinan, rujukan.
Ada
hubungan
antara
paritas
(p=0,037
OR=4,600), riwayat
sakit
(p=0,049
OR=3,769),
kelengkapan
pemeriksaan
antenatal (p=0,029
Variabel
terikat: OR=4,037,
dan
kematian perinatal
rujukan
(p=0,002
OR=7,480) dengan
kejadian kematian
perinatal
9
1.5.1
Perbedaan Penelitian
Tabel 1.2 Matriks Perbedaan Penelitian
Perbedaan
Judul
penelitian
Suparjono
Ambarwati
Beberapa faktor yang
berhubungan dengan
kejadian
kematian
perinatal
di
Kabupaten
Kulon
Progo.
Hubungan
antara
karakteristik ibu dan
pelayanan
kesehatan
dengan
kejadian
kematian perinatal di
Kecamatan
Rembang
Kabupaten Purbalingga
tahun 2006
Ummul
Mahmudah
Analisis faktor ibu
dan
bayi
yang
berhubungan dengan
kejadian kematian
perinatal
di
Kabupaten Batang
Tahun 2010.
Tahun dan 2003,
Kabupaten 2006,
Kecamatan 2010, Kabupaten
tempat
Kulon Progo
Rembang
Kabupaten Batang
penelitian
Purbalingga
Variabel
penelitian
Variabel bebas :
umur ibu, pendidikan
ibu, paritas ibu, jarak
antar
kelahiran,
perawatan antenatal,
penolong persalinan,
keterjangkauan
tempat tinggal ke
pelayanan kesehatan.
Variabel terikat :
kejadian
kematian
perinatal.
Variabel bebas : umur
ibu, pendidikan, paritas,
riwayat
sakit,
kelengkapan
pemeriksaan
antenatal,
penolong
persalinan, rujukan.
Variabel
terikat:
kematian perinatal.
Variabel
bebas:
umur
ibu,
pengetahuan ibu,
pendidikan
ibu,
paritas, jarak antar
kehamilan,
penolong
persalinan, BBLR,
asfiksia, kelainan
kongenital
Variabel terikat :
kematian perinatal
Dari penelitian yang telah dilakukan sebelumnya terdapat perbedaaan
variabel bebas yang diteliti (pengetahuan ibu, BBLR, dan kelainan kongenital).
10
1.6
Ruang Lingkup Penelitian
1.6.1
Ruang Lingkup Tempat
Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Batang.
1.6.2
Ruang Lingkup Waktu
Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Juni – Juli tahun 2010.
1.6.3
Ruang Lingkup Materi
Penelitian ini meliputi bidang ilmu kesehatan masyarakat,
khususnya dalam kajian epidemiologi tentang kematian perinatal.
11
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Definisi Kematian Perinatal
Menurut Abdul Basri dalam Ambarwati (2006), istilah kematian perinatal
pertama kali didefinisikan oleh seorang dokter ahli kesehatan anak berkebangsaan
Jerman yaitu Pfaundler pada tahun 1936. Menurutnya, periode perinatal
merupakan interval waktu sebelum, selama, dan sesudah saat kelahiran yang
ditandai dengan kematian janin dan bayi baru lahir. Sementara itu seorang dokter
ahli kesehatan anak berkebangsaan Austria Peller pada tahun 1965 menyatakan
bahwa lahir mati dan kematian pada minggu pertama kehidupan dapat dianalisis
secara statistik dan epidemiologis untuk menentukan penyebab kematian yang
diduga sangat komplek dan multifaktor dengan tingkat pola
yang bervariasi
perbedaannya (Ambarwati, 2007: 1).
Kelahiran mati ialah kelahiran hasil konsepsi dalam keadaan mati yang telah
mencapai umur kehamilan 28 minggu (atau berat badan lahir lebih atau sama
dengan 1.000 gram). Kematian perinatal dini adalah (early neonatal death) ialah
kematian bayi dalam 7 hari pertama kehidupannya. Sedangkan yang disebut
kematian perinatal (perinatal mortality) ialah jumlah bayi lahir mati dan kematian
bayi dalam 7 hari pertama sesudah lahir (Wiknjosastro, 2006: 786).
Angka kematian perinatal ialah jumlah kematian perinatal dikalikan 1.000
dan kemudian dibagi dengan jumlah bayi lahir hidup dan lahir mati pada tahun
yang sama. Perlu diperhatikan bahwa dalam definisi tersebut, WHO
11
12
menganjurkan untuk kelahiran hidup dan kelahiran mati berat badan minimum
adalah 1.000 gram (Wiknjosastro, 2006: 786).
2.2
Penyebab Kematian Perinatal
Angka kematian perinatal dapat digunakan sebagai acuan untuk menilai
tingkat keberhasilan pelayanan kesehatan pada masa perinatal. Perbaikan dalam
angka kematian perinatal dapat dicapai dengan pemberian pengawasan antenatal
untuk semua wanita hamil dan dengan menemukan dan memperbaiki faktorfaktor yang mempengaruhi keselamatan janin dan neonatus. Untuk mengetahui
sebab kematian kematian perinatal diperlukan tindakan bedah mayat. Tetapi
bedah mayat sangat susah dilakukan di Indonesia, sehingga kematian janin dan
neonatus hanya didasarkan pada pemeriksaan klinik dan laboratorium
(Wiknjosastro, 2006: 787).
Penyebab kematian perinatal di beberapa rumah sakit di Indonesia
menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kematian perinatal tidak
banyak berbeda, yaitu faktor yang disebabkan oleh ibu dan faktor yang
disebabkan oleh bayi.
2.2.1
Faktor Ibu yang Memperbesar Risiko Kematian Perinatal (High Risk
Mother).
1.
Status sosial ekonomi yang rendah
2.
Tingkat pendidikan ibu yang rendah
3.
Umur ibu lebih dari 30 tahun atau kurang dari 20 tahun
4.
Paritas pertama dan paritas ke lima atau lebih
13
5.
Tinggi badan ibu dan berat badan ibu (pengaruh kedua fator ini pada
angka kematian perinatal di beberapa rumah sakit di Indonesia tidak
jelas).
6.
Kehamilan di luar perkawinan
7.
Gangguan gizi dan anemia dalam kehamilan
8.
Ibu dengan anamnesis kehamilan dan persalinan yang sebelumnya
yang tidak baik, misalnya kehamilan dan persalinan berakhir dengan
kematian janin, kematian bayi dini, atau kelahiran bayi berat lahir
rendah.
2.2.2
Faktor Bayi yang Mempertinggi Kematian Perinatal (High Risk
Infans).
1.
Bayi yang lahir dari kehamilan yang bersifat high risk
2.
Bayi yang berat badan lahir kurang dari 2.500 gram
3.
Bayi yang berat lahir lebih dari 4.000 gram
4.
Bayi yang dilahirkan kurang dari 37 minggu dan lebih dari 42 minggu
5.
Bayi yang berat badan lahir kurang dari berat badan lahir menurut
masa kehamilannya (small for gestational age)
6.
Bayi yang nilai APGARnya kurang dari 7
7.
Bayi yang lahir dengan infeksi intrapartum, trauma kelahiran, atau
kelainan kongenital
8.
Bayi yang lahir dalam keluarga yang mempunyai problema sosial
(perceraian, perkawian dengan lebih dari satu istri, dan perkawinan
tidak sah) (Winkjosastro, 2006: 788).
14
2.3
2.3.1
Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Kematian Bayi
Faktor Ibu
2.3.1.1 Status Ekonomi
Faktor sosial ekonomi tidak berpengaruh langsung terhadap terjadinya
kematian bayi, tetapi sosial ekonomi yang buruk akan mempengaruhi seseorang
dalam memperoleh pelayanan kesehatan dan gizi yang baik selama kehamilan.
Keadaan sosial ekonomi yang rendah sering dihubungkan dengan malnutrisi dan
bermacam-macam penyakit infeksi seperti malaria, cacingan, dan tuberkulosis
(Manuaba, 1998).
2.3.1.2 Tingkat Pendidikan Ibu
Tingkat pendidikan ibu tidak berpengaruh secara langsung terhadap
kematian bayi, akan tetapi akan berpengaruh terhadap kesadaran ibu dalam
memanfaatkan sarana kesehatan, frekuensi pemeriksaan kehamilan, dan
kewaspadaannya dalam menghadapi masalah-masalah kesehatan yang mungkin
dijumpai selama kehamilan. Tingkat pendidikan ibu juga bisa mempengaruhi
kepercayaan dan kebiasaan ibu, serta perhatian dan perawatan terhadap dirinya
dan bayinya (Manuaba, 1998). Hasil penelitian Simbolon (2006) menyatakan
bahwa probabilitas kelangsungan hidup bayi lebih tinggi pada bayi yang lahir dari
ibu yang berpendidikan tinggi yaitu sebesar 98,38%.
2.3.1.3 Umur Ibu
Umur yang dianjurkan Depkes RI (1999) untuk hamil dan persalinan yang
aman adalah pada rentang usia 20 tahun hingga usia 35 tahun. Pada usia kurang
dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun risiko terjadinya prematuritas dan
15
komplikasi kehamilan akan semakin meningkat. Hal ini disebabkan karena pada
usia kurang dari 20 tahun kondisi ibu masih dalam masa pertumbuhan sehingga
mengakibatkan gangguan pertumbuhan janin dalam kandungan, sedangkan pada
usia lebih dari 35 tahun seorang ibu sudah mulai dihinggapi berbagai macam
penyakit ditambah dengan menurunnya kekuatan ibu untuk melakukan proses
persalinan bayi karena faktor usia maupun penyakit yang dideritanya (Manuaba,
1998: 36).
Raymond dkk (1994) menyatakan bahwa usia lanjut (≥35 tahun) akan
meningkatkan risiko untuk melahirkan bayi mati. Cattingius dkk (1993) juga
menyatakan bahwa umur ibu yang semakin lanjut (≥35 tahun) memiliki risiko
untuk melahirkan bayi kecil masa kehamilan (KMK). Hasil penelitian Adimoelja
(2004), pada periode 1 Januari 2002–31 Desember 2003 di Rumah Sakit Umum
Pusat Manado didapatkan angka kematian perinatal yang tinggi pada kelompok
umur < 20 tahun dan ≥ 40 tahun, masing-masing 67,34% dan 64,52%
(Ambarwati, 2006: 22).
2.3.1.4 Pengetahuan Ibu
Pengetahuan ibu memegang peranan penting untuk mewujudkan
kesehatan ibu dan bayi. Pengetahuan ibu diantaranya meliputi pengetahuan ibu
tentang kesehatan kehamilan, penyakit-penyakit yang menyertai kehamilan,
pemeriksaan kehamilan yang harus dilakukan, dan imunisasi yang harus
dilakukan selama masa kehamilan (Manuaba, 1998: 20).
16
2.3.1.5 Paritas
Seorang ibu yang sudah mempunyai empat anak atau lebih dan menjadi
hamil lagi keadaan kesehatannya sudah tampak menurun dan sering mengalami
kurang darah (anemia). Selama hamil sering terjadi perdarahan jalan lahir dan
letak bayi sungsang atau melintang. Akibat keadaan tersebut maka persalinan
menjadi sulit dan lama, bahkan mengalami perdarahan dan infeksi. Paritas di atas
lima merupakan faktor risiko penyebab kematian perinatal (Manuaba, 1998: 333).
Menurut Lubis dalam Ambarwati menyatakan bahwa paritas berkaitan
dengan jumlah kelahiran yang dialami oleh seorang ibu. Jumlah kelahiran yang
berhubungan dengan terjadinya risiko kematian ibu adalah kelahiran lebih dari
empat. Kelahiran pertama pada umumnya mempunyai risiko relatif tinggi karena
dipengaruhi oleh kemungkinan adanya kelemahan atau kelainan-kelainan bawaan
dari ibu. Kelahiran ke dua dan ke tiga adalah yang paling kurang risikonya. Mulai
kelahiran keempat risiko kematian akan meningkat termasuk kelahiran-kelahiran
berikutnya (Lubis dalam Ambarwati, 2006: 22).
2.3.1.6 Jarak Antar Kelahiran
Pembatasan kelahiran dan membuat jarak kelahiran paling sedikit 2 tahun
baik untuk menjaga kesehatan ibu dan anak, mengingat setiap kehamilan
membawa risiko kesehatan yang potensial untuk ibu, walaupun ibu tersebut
terlihat sehat dan berisiko rendah.
2.3.1.7 Hamil dengan Penyakit
Hamil disertai dengan penyakit yang sudah ada sebelum kehamilan dan
menjadi lebih berat karena pengaruh kehamilan itu, atau karena penyakit yang
17
timbul selama kehamilan itu sendiri. Penyakit yang menyertai antara lain penyakit
jantung, hipertensi, diabetes melitus, penyakit paru, infeksi, dan penyakit endokrin
(Wiknjosastro, 1999).
2.3.1.8 Hamil dengan Komplikasi
Beberapa wanita ada kemungkinan mengalami penyimpangan dalam
perjalanan kehamilannya. Komplikasi yang dapat dialami wanita hamil dibagi
sesuai masa kehamilannya yaitu pada kehamilan muda atau kehamilan trimester
ketiga (Manuaba, 1999).
2.3.1.9 Komplikasi Persalinan
Komplikasi dalam persalinan antara lain :
1) Ketuban Pecah Dini
Ketuban pecah dini yaitu pecahnya ketuban sebelum terdapat
tanda persalinan, dan ditunggu satu jam sebelum dimulainya tanda
persalinan. Makin lama periode laten makin besar kemungkinan
infeksi dalam rahim, persalinan prematuritas, dan selanjutnya
meningkatkan kejadian kesakitan dan kematian ibu dan bayi atau janin
dalam rahim (Manuaba, 1998: 228).
2) Pre-eklampsi / Eklampsi
Pre-eklampsi adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi,
edema, dan proteinuria yang timbul karena kehamilan. Penyakit ini
umumnya terjadi dalam triwulan ketiga kehamilan, tetapi dapat terjadi
sebelumnya. Pre-eklampsi dibagi dalam golongan ringan dan berat,
sedangkan eklampsi merupakan kelanjutan dari pre-eklampsi berat
18
ditambah dengan kejang atau koma yang dapat berlangsung mendadak
(Wiknjosastro, 2006: 241).
Pre-eklampsi dikatakan berat jika satu atau lebih tanda atau
gejala di bawah ini ditemukan :
(1) Tekanan sistolik ≥ 160 mm Hg atau lebih atau tekanan diastolik ≥
110 mm Hg atau lebih.
(2) Proteinuria lebih 5 g/ 24 jam 4 + pada pemeriksaan kualitatif.
(3) Oliguria, yaitu produksi urin kurang dari 500cc/ 24 jam.
(4) Kenaikan kadar kreatinin plasma
(5) Keluhan serebral, gangguan penglihatan atau nyeri di daerah
epigastrium.
(6) Edema paru-paru atau sianosis.
(7) Trombositopenia berat, < 100.000 sel/mm3 atau penurunan
trombosit dengan cepat.
(8) Pertumbuhan janin intrauterin yang terhambat (Wiknjosastro,
2008: 545).
3) Kala II Tak Maju
Persalinan dengan syarat yang adekuat tidak menunjukkan
kemajuan pada pembukaan serviks, turunnya kepala dan putar faksi
selama 2 jam terakhir berakhir. Hal ini dapat meningkatkan kejadian
asfiksia dan Intra Uterine Fetal Distress (IUFD) (Muchtar, 1998).
19
4) Persalinan Lama
Persalinan pada primigravida (kehamilan pertama) umumnya
berlangsung dalam waktu 18-20 jam dan pada multigravida
(kehamilan lebih dari satu) selama 12-14 jam, mereka yang lebih lama
dari 24 jam disebut persalinan lama. Kontraksi rahim selama 24 jam
tersebut telah dapat mengganggu aliran darah menuju janin, sehingga
janin dalam rahim menjadi dalam situasi yang berbahaya (Manuaba,
1998: 292).
5) Perlukaan Kelahiran dalam Persalinan
Persalinan selalu memberikan perlukaan pada bayi akibat
kelahiran. Perlukaan ini diantaranya adalah cephalhematoma yang
terjadi akibat persalinan normal dan terutama pada persalinan dengan
cunam (Manuaba,1998: 320).
2.3.2
2.3.2.1
Faktor Bayi
Asfiksia Neonatorum
Asfiksia neonatorum menurut Manuaba (1998) merupakan suatu keadaan
bayi yang tidak dapat bernafas spontan dan teratur, sehingga dapat menurunkan
O2 dan makin meningkatkan CO2 yang menimbulkan akibat buruk dalam
kehidupan lebih lanjut. Keadaan ini disertai dengan hipoksia, hiperkapnia, dan
berakhir dengan asidosis.
Beberapa kondisi tertentu pada ibu hamil dapat menyebabkan gangguan
sirkulasi darah uteroplasenter sehingga pasokan oksigen ke bayi menjadi
20
berkurang. Beberapa faktor tertentu diketahui dapat menjadi penyebab terjadinya
asfiksia pada bayi baru lahir, diantaranya adalah :
1. Faktor Ibu
- Preeklamsia dan eklamsia.
- Perdarahan abnormal.
- Partus lama atau partus macet.
- Demam selama persalinan.
- Infeksi berat (malaria, sifilis, TBC, HIV).
- Kehamilan lewat waktu (sesudah 42 minggu kehamilan ibu).
- Penyakit ibu.
2. Faktor Tali Pusat
- Lilitan tali pusat.
- Tali pusat pendek.
- Simpul tali pusat.
- Prolapsus tali pusat.
3. Faktor Bayi
- Bayi prematur (sebelum 37 minggu umur kehamilan).
- Persalinan dengan tindakan (sungsang, bayi kembar).
- Kelainan bawaan (kongenital).
- Air ketuban bercampur mekonium (berwarna hijau) (JNPK-KR/POGI,
2007: 108).
Keadaan umum bayi dinilai satu menit setelah lahir dengan penggunaan
nilai APGAR. Penilaian ini perlu untuk mengetahui apakah bayi menderita
21
asfiksia atau tidak. Yang dinilai ialah frekuensi jantung (heart rate), usaha napas
(respiratory effort), tonus otot (muscle tone), warna kulit (colour), dan reaksi
terhadap rangsangan (response to stimuli). Skor APGAR biasanya dinilai satu
menit setelah bayi lahir yaitu pada saat bayi telah diberi lingkungan yang baik,
serta telah dilakukan penghisapan lendir dengan sempurna. Skor APGAR satu
menit pertama menunjukkan beratnya asfiksia yang diderita dan sebagai pedoman
untuk menentukan cara resusitasi, sedangkan skor APGAR yang dinilai setelah
lima menit bayi lahir mempunyai korelasi yang erat dengan morbiditas dan
mortalitas neonatal (Wiknjosastro, 1999). Adapun tabel skor APGAR adalah
sebagai berikut :
Tabel 2.1 Skor APGAR
0
1
Apperance
(warna kulit)
Pucat
Pulse Rate
(frekuensi nadi)
Tidak ada
Badan
merah, Seluruh
tubuh
ekstremitas biru
kemerahmerahan
Kurang dari 100
Lebih dari 100
Grimace
(reaksi rangsangan)
Tidak ada
Sedikit
gerakan Batuk/bersin
mimik (grimace)
Activity
(tonus otot)
Respiration
(pernapasan)
Tidak ada
Ekstremitas dalam Gerakan aktif
sedikit fleksi
Lemah/tidak
Baik/menangis
teratur
Tidak ada
2
NA
Jumlah
Sumber : Ilmu Kebidanan Edisi Ketiga Cetakan Keempat, 1999.
Catatan :
NA 1 menit lebih/sama dengan tidak perlu resusitasi
NA 1 menit 4 – 6 bag and mask ventilation
NA 1 menit 0 – 3 lakukan intubasi
22
Atas dasar pengalaman klinis asfiksia neonatorum dapat dibagi :
1) Vigorous baby, skor APGAR 7-10. Dalam hal ini bayi dianggap sehat dan
tidak memerlukan tindakan istimewa.
2) Mild moderate asfiksia (asfiksia sedang), skor APGAR 4-6. Pada
pemeriksaan fisik terlihat frekuensi jantung >100x/menit, tonus otot
kurang baik atau baik, sianosis, refleks iritabilitas tidak ada.
3) Asfiksia berat, skor APGAR 0-3. Pada pemeriksaan fisik ditemukan
frekuensi jantung <100x/menit, tonus otot buruk, sianosis berat dan
kadang-kadang pucat, refleks iritabilitas tidak ada (Wiknjosastro, 1999).
2.3.2.2 Berat Badan Lahir
Berat badan bayi baru lahir pada saat kelahiran dicatat. Berat badan lahir
rendah (BBLR) ialah kelahiran bayi dengan berat badan kurang dari 2.500 gram
disebabkan umur kelahiran kurang dari 37 mingggu, berat badan lebih rendah dari
semestinya sekalipun umur cukup atau karena kombinasi keduanya.
Pembagian kehamilan menurut WHO 1979 adalah sebagai berikut :
-
Preterm : umur hamil kurang dari 37 minggu (259 hari).
-
Aterm : umur hamil antara 37 sampai 42 minggu (259-293).
-
Post-term : umur hamil di atas 42 minggu (294 hari).
Klasifikasi penggolongan bayi baru lahir menurut Surasmi dalam
Ambarwati (2007), adalah sebagai berikut:
23
1.
Klasifikasi Berdasarkan Berat Badan
Semua bayi yang lahir dengan berat badan yang sama atau kurang
dari 2.500 gram disebut bayi berat badan lahir rendah (BBLR),
dikelompokkan sebagai berikut :
1) Bayi berat badan lahir amat sangat rendah, yaitu bayi yang lahir
dengan berat badan lahir kurang dari 1.000 gram.
2) Bayi berat badan lahir sangat rendah adalah bayi yang lahir dengan
berat badan lahir kurang dari 1.500 gram.
3) Bayi berat badan lahir cukup rendah adalah bayi yang lahir dengan
berat badan 1.500 - 2.500 gram.
2.
Klasifikasi Berdasarkan Umur Kehamilan
1) Bayi premature (preterm), adalah bayi yang lahir dengan umur
kehamilan belum mencapai 37 minggu.
2) Bayi cukup bulan (aterm), adalah bayi yang lahir dengan umur 38-42
minggu.
3) Bayi lebih bulan (posterm), adalah bayi yang lahir dengan umur
kehamilan lebih dari 42 minggu.
3.
Klasifikasi Berdasarkan Umur dan Berat Badan
1) Bayi kecil untuk masa kehamilan (KMK) atau small for gestation age
(SGA), yaitu bayi yang lahir dengan keterlambatan pertumbuhan
intrauterine dengan berat badan terletak di bawah persentil ke-10
dalam grafik pertumbuhan intrauterine.
24
2) Bayi sesuai untuk masa kehamilan (SMK) atau appropriate for
gestation age (AGA), yaitu bayi yang lahir dengan berat badan sesuai
dengan berat badan untuk masa kehamilan, yaitu berat badan terletak
antara persentil ke-10 dan ke-90 dalam grafik pertumbuhan
intrauterine.
3) Bayi besar untuk masa kehamilan atau large for gestation age (LGA),
yaitu bayi yang lahir dengan berat badan lebih besar untuk usia
kehamilan dengan berat badan terletak di atas persentil ke-90 dalam
grafik pertumbuhan intrauterin.
4) Prematuritas murni, adalah bayi yang mempunyai masa gestasi kurang
dari 37 minggu dengan berat badan sesuai dengan masa gestasinya
atau biasa disebut neonatus kurang bulan sesuai untuk masa
kehamilannya (NKB-SMK).
5) Dismaturitas, adalah bayi lahir dengan berat badan lahir kurang dari
berat badan seharusnya untuk masa gestasinya. Bayi mengalami
retardasi intrauterine dan merupakan bayi yang kecil untuk masa
kehamilannya (KMK) (Wiknjosastro, 2006: 781).
2.3.2.3 Kelainan Kongenital/ Bawaan
Kelainan yang tampak sejak lahir dalam bentuk berbagai gangguan
tumbuh kembang bayi baru lahir yang mencakup aspek fisik, intelektual, dan
kepribadian. Sedangkan anomali kongenital atau yang umum disebut kelainan
kongenital merupakan defek morfologis yang dijumpai sejak bayi lahir. Diagnosis
25
kelainan kongenital seringkali didasarkan atas ditemukannya kelainan pada
bentuk tubuh dan struktur organ janin (Wiknjosastro, 2008: 261).
Menurut Manuaba (1998), kelainan kongenital merupakan kelainan
pertumbuhan struktur organ janin sejak saat pembuahan. Kelainan kongenital
merupakan penyebab terjadinya keguguran, lahir mati, atau kematian setelah
persalinan pada minggu pertama, dan dapat mencapai kehidupan yang lebih besar,
karena itu pada setiap kehamilan perlu melakukan pemeriksaan antenatal untuk
mengetahui kelainan kongenital diantaranya dengan pemeriksaan Ultra Sonografi
(USG), pemeriksaan air ketuban, dan pemeriksaan darah janin.
Faktor penyebab langsung kelainan kongenital seringkali sukar diketahui,
sekitar 40% tidak diketahui dengan pasti penyebabnya. Pertumbuhan embrional
dan fetal dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti: faktor genetik, kromosom,
infeksi, faktor ibu, faktor mekanik dan lingkungan, atau gabungan dari berbagai
faktor secara bersama-sama sehingga bersifat multifaktor. Kelainan kongenital
yang sering dijumpai antara lain :
1) Anensefali, tidak terbentuk otak/kepala janin sehingga bentuk janin
seperti kodok.
2) Kelainan fungsi jaringan organ tubuh : spina bifida, labioskizis,
palatoskizis, labiopalatoskizis.
3) Gangguan pembentukan alat tubuh : atresia ani, atresia vagina,
gangguan migrasi alat tubuh seperti migrasi testis.
4) Hipospadia adalah saluran kemih yang tidak terbentuk pada tempatnya,
biasanya di bagian bawah penis.
5) Atresia esophagus, adalah esophagus yang tidak terbentuk.
26
Dilihat dari pertumbuhan organ tubuh, kelainan kongenital dapat
digolongkan dalam beberapa kelompok yaitu :
1) Gangguan pertumbuhan atau pembentukan organ, termasuk dalam
golongan ini adalah tidak terbentuknya organ atau sebagian organ.
2) Gangguan
penyatuan
atau
fungsi
jaringan
tubuh,
misalnya
labiognatopalatoskizis, spina bifida.
3) Gangguan diferensiasi organ, misalnya sindaktili dan ginjal tapal kuda.
4) Gangguan menghilangnya atau berkurangnya jaringan yang seharusnya
hilang pada pertumbuhan normal, misalnya hernia inguinalis persisten.
5) Gangguan invaginasi jaringan, misalnya atresia ani, atresia vagina.
6) Gangguan migrasi suatu alat, contohnya adalah testis tidak turun, mal
rotasi usus.
7) Gangguan pembentukan saluran, misalnya hipospadia, atresia esophagus
(Manuaba, 1998 : 322).
2.3.2.4 Infeksi Neonatorum
Mikroorganisme jarang melewati plasenta atau menembus amnion yang
intak (utuh). Dampak dari infeksi tergantung dari sifat organisme dan masa
kehamilan. Infeksi yang terjadi sangat dini dapat menyebabkan kematian janin,
aborsi, atau malformasi berat. Infeksi pada neonatus merupakan sebab yang
penting terhadap morbiditas dan mortalitas bayi. Lebih kurang 2% janin dapat
terinfeksi in utero dan 10% bayi baru lahir terinfeksi selama persalinan atau dalam
bulan pertama kehidupan (Wiknjosastro, 2002).
27
Infeksi pada neonatus menurut Wiknjosastro (2007) dapat melalui
beberapa cara antara lain :
1.
Infeksi intra uterine
Infeksi intra uterine yang banyak terjadi adalah infeksi
transplasenter melalui saluran darah. Secara teoritis dapat pula melalui
jalan lain, yaitu melalui :
1) Ruang peritoneum menuju tuba dan kemudian uterus
2) Dinding uterus yang mengalami infeksi
3) Naik ke atas dari vagina melalui kulit ketuban yang pecah ataupun
masih utuh dan melalui antara kulit ketuban dan dinding uterus.
Infeksi intra uterine oleh bakteri atau virus dapat berlangsung dengan
gejala atau tidak.
2.
Infeksi selama partus
Sebagian akan berhubungan dengan bakteri atau toksinnya apabila
bayi melalui vagina. Bakteri yang ditemukan adalah stafilokokus, difteri,
bakteri an aerob, dan jarang E.coli. Flora di vagina akan berubah apabila
selama persalinan ibu diberikan antibiotika. Pemberian ampicillin akan
mematikan semua streptokokus, E.coli, dan proteus berkurang, sedangkan
klebsiella dan lain bakteri gram negatif akan masih tetap hidup dalam
jumlah besar.
Listeria monocytogenis dan gonokokus yang melekat pada luka
kronis di servik uteri dapat menumbuhkan infeksi yang berat pada bayi
waktu ia melalui jalan lahir tersebut. Ibu sebagai pembawa bakteri usus
28
yang patogen dapat memberikan infeksi pada bayinya dan ibunya sendiri
mungkin tidak menderita sakit.
3.
Infeksi postnatal (bayi berada di luar kandungan)
Bayi sesudah lahir akan dipengaruhi oleh keadaan yang ada di
sekitarnya yang merupakan sumber infeksi, antara lain :
1) Tangan yang merawat bayi.
2) Alat-alat yang berhubungan dengan cairan : alat resusitasi, alat
pembantu pernafasan, isap lendir.
3) Minum dan obat-obatan yang kurang memperhatikan kebersihan.
4.
Infeksi sebelum dan waktu lahir
Ibu yang sakit waktu hamil, bayi yang dilahirkan akan menderita
sakit pula. Banyak terjadi pada infeksi intra uterine, ibu tidak nampak
menderita sakit, diagnosis ibu baru ditemukan setelah bayi lahir abortus,
preterm atau meninggal waktu lahir. Infeksi yang terjadi baik sebelum
maupun waktu persalinan disebabkan oleh gonokokus, kandida albikan,
herpes virus hominis, bakteri usus, dan cytomegali. Infeksi bakteri yang
terjadi waktu bayi melalui jalan lahir, kadang-kadang dapat berkembang
menjadi sepsis yang berat, dapat menyebabkan kematian bayi dalam waktu
48 jam.
2.3.3
Faktor Pelayanan Kesehatan
2.3.3.1 Perawatan Antenatal
Pelaksanaan antenatal care
sangat penting karena dapat memberikan
gambaran keadaan ibu hamil, janin dalam kandungan, dan kesejahteraan umum.
29
Asuhan antenatal adalah upaya preventif program pelayanan kesehatan obstetrik
untuk optimalisasi luaran maternal dan neonatal melalui serangkaian kegiatan
pemantauan rutin selama kehamilan. Alasan penting untuk mendapatkan asuhan
antenatal, yaitu: membangun rasa percaya antara ibu dan petugas kesehatan,
terwujudnya kondisi terbaik bagi ibu dan bayi, memperoleh informasi dasar
tentang kesehatan ibu dan kehamilannya, mengidentifikasi kehamilan risiko
tinggi, dan memberikan pendidikan kesehatan yang deperlukan dalam menjaga
kualitas kehamilan (Wiknjosastro, 2008: 278).
Pemeriksaan kehamilan yang baik adalah apabila diperiksa pada tenaga
kesehatan yang terlatih sejak dini dan dilakukan secara teratur karena akan
terdeteksi masalah kesehatan dan implikasinya. Sesuai dengan anjuran Depkes RI
(1999), pada triwulan I (konsepsi tiga bulan) minimal 1 kali ibu memeriksakan
diri, triwulan II (4 – 6 bulan) minimal 1 kali, sedangkan triwulan III (7 – 9 bulan)
minimal 2 kali memeriksakan diri ke tenaga kesehatan. Hasil penelitian
Ambarwati (2006) menunjukkan bahwa responden yang tidak lengkap
pemeriksaan antenatal mempunyai risiko 4,037 kali lebih besar untuk terjadinya
kematian perinatal dibandingkan ibu yang lengkap pemeriksaan antenatal
(Ambarwati, 2006).
2.3.3.2 Penolong Persalinan
Ibu yang mendapat pertolongan persalinan oleh dukun berisiko lebih besar
untuk melahirkan bayi mati dibandingkan dengan ibu yang melahirkan oleh
tenaga kesehatan. Tingginya kematian bayi diantaranya disebabkan oleh belum
memadainya cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan dan rendahnya cakupan
30
penanganan kasus obstetri. Hasil penelitian Alisjahbana dalam Ambarwati (2006)
menunjukkan bahwa hampir 90% persalinan berlangsung di rumah dan 80-90%
persalinan ditolong oleh tenaga tidak terlatih. Faktor ini dapat mempengaruhi
produk kehamilan dan kelangsungan hidup bayi. Pertolongan oleh dukun
menimbulkan berbagai masalah dan penyebab utama tingginya angka kematian
dan kesakitan ibu dan perinatal (Manuaba, 1998: 19).
2.3.3.3 Rujukan
Merupakan suatu sisitem pelayanan kesehatan dimana terjadi pelimpahan
tanggung jawab timbal balik atas kasus atau masalah kesehatan yang timbul
secara horisontal maupun vertikal, baik untuk kegiatan pengiriman penderita,
pendidikan, maupun penelitian (Wiknjosatro, 2008: 31).
Indikasi rujukan harus mulai dipikirkan sejak bayi dalam kandungan, oleh
karena tindakan penanganan kehamilan risiko tinggi maupun tindakan dan
penanganan penyulit/ komplikasi persalinan yang kurang memadai akan sangat
berpengaruh terhadap hidup bayi sehingga terhindar dari kematian pada masa
neonatal. Rujukan bukanlah berarti satu kekurangan, tetapi satu tanggung jawab
yang tinggi dan mendahulukan kepentingan masyarakat. Kelancaran rujukan
dapat menjadi faktor yang menentukan untuk menurunkan angka kematian ibu
dan perinatal (Manuaba,1998: 22).
Tanda-tanda/ kondisi bayi baru lahir yang perlu dirujuk (Pelayanan
Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2006), yaitu :
1. Bayi berat lahir rendah ≤ 2.000 gram.
2. Bayi tidak mau minum ASI.
31
3. Tangan dan kaki bayi teraba dingin.
4. Bayi mengalami gangguan kesulitan bernafas (asfiksia).
5. Bayi mengalami perdarahan.
6. Bayi mengalami kejang-kejang.
7. Bayi mengalami gangguan saluran cerna disertai muntah-muntah, diare,
atau tidak buang air besar sama sekali dengan perut membuncit.
8. Bayi menunjukkan tanda infeksi berat seperti meningitis atau sepsis.
9. Bayi menyandang kelainan bawaan.
32
2.4 Kerangka Teori
FAKTOR IBU :
FAKTOR BAYI :
1. Sosial :
- Pendidikan rendah
- Status ekonomi rendah
2. Umur ≤ 20 tahun atau ≥
35 tahun
3. Paritas di atas 4
4. Jarak antar kelahiran
5. Hamil dengan penyakit
- Hipertensi
- Diabetes Melitus
- Jantung
- Penyakit paru
- Infeksi
- Penyakit endokrin
6. Hamil dengan komplikasi
7. Komplikasi persalinan
- Kehamilan ganda
- Perdarahan
- Ketuban Pecah Dini
- Pre-eklamsi/Eklamsi
- Perlukaan kelahiran
dalam persalinan
- Kala II tak maju
- Persalinan lama
1. Bayi dengan
risiko tinggi
- BB ≤ 2.500 gr
- BB ≥ 4.000 gr
2. Hamil umur
kurang dari 37
minggu
3. Kelainan
kongenital
4. Asfiksia
FAKTOR
PELAYANAN
KESEHATAN :
1. Perawatan
antenatal
2. Penolong
persalinan
3. Jarak tempat
tinggal
ke
pelayanan
kesehatan
Kematian
Perinatal
Gambar 2.1 Kerangka Teori Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kematian
Perinatal
Sumber : Modifikasi Manuaba (1998: 333) dan Wiknjosastro (2006).
33
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1
Kerangka Konsep
Variabel Bebas
Variabel Terikat
1. Faktor Ibu:
- Umur ibu
- Pendidikan ibu
- Pengetahuan ibu
- Paritas
- Jarak antar kehamilan
- Penolong persalinan
2. Faktor Bayi:
- Asfiksia
- BBLR
- Kelainan kongenital
Kematian perinatal
Variabel Perancu
- Status ekonomi
- Perawatan antenatal
- Jarak tempat tinggal ke pelayanan kesehatan
Gambar 3.1 Gambar Kerangka Konsep
Variabel pengganggu dalam penelitian ini adalah status ekonomi,
perawatan antenatal, jarak tempat tinggal ke pelayanan kesehatan, dan tempat
persalinan.
33
34
3.2
Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal
tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2008: 38).
Varibel dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas, variabel terikat, dan
variabel perancu.
3.2.1
Variabel Bebas
Variabel bebas atau disebut sebagai variable independent adalah varibel
yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya
variabel terikat (dependent) (Sugiyono, 2008: 39).
Variabel bebas dalam penelitian ini yaitu, umur ibu, pengetahuan ibu,
pendidikan ibu, paritas, jarak antar kelahiran, penolong persalinan, BBLR,
asfiksia, dan kelainan kongenital.
3.2.2
Variabel Tetikat
Variabel terikat juga biasa disebut sebagai dependent variable merupakan
variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas
(Sugiyono, 2008: 39). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kematian
perinatal.
35
3.2.3
Variabel Pengganggu
Variabel
pengganggu
bukan
merupakan
variabel
bebas
tetapi
mempengaruhi timbulnya kejadian pada variabel terikat (Suharsimi Arikunto,
2006: 123).
Yang termasuk variabel pengganggu dalam penelitian ini adalah status
ekonomi ibu, perawatan antenatal, jarak tempat tinggal dengan pelayanan
kesehatan. Variabel pengganggu dalam penelitian ini sudah dikendalikan, yaitu
dengan:
1. Satatus ekonomi ibu dalam penelitian ini dianggap sama atau disetarakan.
2. Cakupan perawatan antenatal yang meliputi K1 dan K4 di Kabupaten
Batang sudah mencapai target. Cakupan K1 tahun 2009 adalah 102,56%
(target 100%), sedangkan K4 92,78% (target 92%).
3. Jarak tempat tinggal dengan pelayanan kesehatan disetarakan karena
hampir seluruh tempat tinggal responden dekat dengan pelayanan
kesehatan seperti puskesmas dan tempat praktek bidan desa setempat.
3.3
3.2.1
Hipotesis Penelitian
Hipotesis Mayor
Ada hubungan antara faktor ibu dan bayi dengan kejadian kematian
perinatal di Kabupaten Batang tahun 2010.
36
3.2.2
Hipotesis Minor
1. Ada hubungan antara umur ibu dengan kejadian kematian perinatal di
Kabupaten Batang tahun 2010.
2. Ada hubungan antara pengetahuan ibu dengan kejadian kematian perinatal
di Kabupaten Batang tahun 2010.
3. Ada hubungan antara pendidikan ibu dengan kejadian kematian perinatal
di Kabupaten Batang tahun 2010.
4. Ada hubungan antara paritas dengan kejadian kematian perinatal di
Kabupaten Batang tahun 2010.
5. Ada hubungan antara jarak antar kehamilan dengan kejadian kematian
perinatal di Kabupaten Batang tahun 2010.
6. Ada hubungan antara penolong persalinan dengan kejadian kematian
perinatal di Kabupaten Batang tahun 2010.
7. Ada hubungan antara BBLR dengan kejadian kematian perinatal di
Kabupaten Batang tahun 2010.
8. Ada hubungan antara asfiksia dengan kejadian kematian perinatal di
Kabupaten Batang tahun 2010.
9. Ada hubungan antara kelainan kongenital dengan kejadian kematian
perinatal di Kabupaten Batang tahun 2010.
37
3.4
Definisi Operasional dan Skala Pengukuran.
3.3.1
Definisi Operasional
Definisi operasional adalah suatu definisi yang diberikan kepada suatu
variabel atau konstrak atau dengan cara memberikan arti atau menspesifikasikan
kegiatan ataupun memberikan suatu operasional yang diperlukan untuk mengukur
konstrak atau variabel tersebut.
Tabel 3.1.1 Definisi Operasional dan Skala Pengukuran Variabel
Variabel
Kategori
Skala
Umur ibu pada saat Wawancara
persalinan yang dihitung dengan
dengan tahun (Manuaba, kuesioner
1998: 36).
1. Risiko tinggi (<20
tahun atau >35
tahun)
2. Risiko rendah (2035
tahun)
(Manuaba,
1998:
333).
Ordinal
Tingkat
pendidikan Wawancara
formal terakhir yang dengan
pernah diselesaikan oleh kuesioner
ibu.
1. Rendah (< SLTP)
2. Tinggi (≥SLTP)
Nominal
Pengetahuan Pemahaman ibu tentang Wawancara
ibu
materi mengenai masalah dengan
kehamilan dan persalinan kuesioner
yang
didapat
dari
sejumlah pertanyaan.
1. Rendah (Skor <17)
2.Tinggi (Skor ≥17)
(Agus Irianto, 2004)
Ordinal
Paritas
1. Berisiko (1 kali atau
≥5 kali)
2. Tidak berisiko (2-4
kali) (Wiknjosastro,
2006:788)
Ordinal
1. < 2 tahun
2. ≥2 tahun
Nominal
Variabel
Bebas :
Umur ibu
Pendidikan
ibu
Definisi
Cara
Pengukuran
Jumlah persalinan yang Wawancara
pernah dialami oleh ibu dengan
termasuk
yang kuesioner
meninggal.
Jarak antar Rentang waktu antara Wawancara
kelahiran
kelahiran
sebelumnya dengan
dengan kelahiran terakhir. kuesioner
38
Penolong
persalinan
Orang yang membantu Wawancara
proses persalinan pada dengan
saat melahirkan (dokter, kuesioner
bidan, atau dukun).
1. Bukan tenaga
kesehatan (dukun)
2. Tenaga kesehatan
Nominal
BBLR
Berat badan lahir rendah Kuesioner
(BBLR) ialah kelahiran dan
data
bayi dengan berat badan sekunder
kurang dari 2.500 gram.
Nominal
Asfiksia
Suatu keadaan bayi yang
tidak dapat bernafas
spontan
dan
teratur,
sehingga
dapat
menurunkan
O2
dan
makin
meningkatkan
CO2.
Kelainan
dalam
pertumbuhan janin yang
terjadi sejak kehidupan
konsepsi selama dalam
kandungan.
1. BBLR (BBL ≤
2.500 gram)
2. Tidak BBLR (BBL
> 2.500 gram)
(Manuaba,1998:
332).
1. Asfiksia
2. Tidak asfiksia
Kelainan
kongenital
Variabel
Terikat
Kematian
perinatal
3.5
Kuesioner
dan
data
sekunder
Nominal
Kuesioner
1. Mengalami kelainan Nominal
dan
data
kongenital
sekunder
2. Tidak
mengalami
kelainan kongenital
Jumlah kematian janin Kuesioner
pada usia kehamilan ≥28 dan
data
minggu sampai dengan 7 sekunder
hari pertama setelah bayi
lahir (Wiknjosastro, 2006:
786).
1. Mengalami
Nominal
kematian perinatal
2. Tidak
mengalami
kematian perinatal.
Jenis Dan Rancangan Peneliti
Jenis penelitian ini adalah explanatory research, yaitu penelitian yang
menjelaskan hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat melalui
pengujian hipotesis (Sudigdo Sastroasmoro dan Sofyan Ismail : 2002). Dalam
penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah umur ibu, pengetahuan ibu,
39
pendidikan ibu, paritas, jarak antar kehamilan, penolong persalinan, BBLR,
asfiksia, kelainan kongenital, dan yang menjadi variabel terikat adalah kematian
perinatal.
Metode yang digunakan adalah metode survei dengan pendekatan kasus
kontrol yaitu penelitian epidemiologis analitik observasional yang menelaah
hubungan antara bayi yang mengalami kematian perinatal yaitu kematian bayi
pada umur kehamilan 28 bulan sampai 7 hari setelah lahir (kelompok kasus) dan
bayi yang lahir hidup (kelompok kontrol), kemudian secara retrospektif diteliti
faktor risiko yang dapat menerangkan mengapa kasus mengalami kematian
perinatal, sedang kontrol tidak mengalami kematian perinatal (Sudigdo
Sostroasmoro dan Sofyan Ismael, 2002:111).
3.6
3.5.1
Populasi Dan Sampel
Populasi
Populasi penelitian terdiri dari populasi kasus dan populasi kontrol yang
selanjutnya akan diambil sebagai sampel penelitian.
3.5.1.1 Populasi Kasus
Populasi kasus dalam penelitian ini adalah semua bayi yang mengalami
kematian perinatal yang terjadi di wilayah Kabupaten Batang antara periode bulan
Januari s.d Desember tahun 2009 yaitu sejumlah 259 kasus, dengan responden
adalah ibu.
40
3.5.1.2 Populasi Kontrol
Populasi kontrol pada penelitian ini adalah semua ibu yang melahirkan
bayi hidup yang tidak mengalami kematian perinatal selama periode bulan Januari
s.d Desember tahun 2009.
3.5.2
Sampel
Sampel penelitian dalam peneliti ini adalah simple random sampling, yaitu
setiap anggota atau unit dari populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk
diseleksi sebagai sampel (Soekidjo Notoatmodjo, 2002: 85). Pemilihan anggota
atau unit dilakukan dengan sistem undian (Suharsimi Arikunto, 2006: 136).
Sampel dalam penelitian ini terdiri dari sampel kasus dan sampel kontrol.
3.5.2.1 Sampel Kasus
Sampel kasus pada penelitian ini yaitu kasus kematian perinatal yang
memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi kasus, sebagai berikut:
3.5.2.1.1
Kriteria Inklusi
1. Responden yang bersedia melakukan perawatan antenatal pada
pelayanan kesehatan yang tersedia.
2. Responden yang jarak tempat tinggalnya tidak terlalu jauh pelayanan
kesehatan.
3. Tercatat dalam data kematian perinatal.
4. Bersedia untuk diteliti.
3.5.2.1.2
Kriteria Eksklusi
1. Telah pindah dari Kabupaten Batang.
2. Tidak bersedia mengikuti penelitian.
41
3.5.2.2 Sampel Kontrol
Sampel kontrol dalam penelitian ini adalah sebagian dari populasi kontrol
yang terpilih dalam seleksi dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi kontrol,
sebagai berikut:
3.5.2.2.1
Kriteria Inklusi
1. Responden yang bayinya tidak mengalami kematian perinatal di
Kabupaten Batang selama periode bulan Januari s.d Desember tahun
2009.
2. Bertempat tinggal dan berada di Kabupaten Batang pada saat
penelitian.
3. Berada dalam satu wilayah Puskesmas dengan kelompok kasus.
3.5.2.2.2
Kriteria Eksklusi
1. Telah pindah dari Kabupaten Batang.
2. Tidak bersedia mengikuti penelitian.
3.5.3
Besar Sampel
Besar sampel minimal dalam penelitian ini adalah dihitung dengan rumus
Sudigdo Sostroasmoro dan Sofyan Ismael, 2002: 277).
n1 n2
P1
Z
2 PQ
Z
P1
P1Q1
P2
OR P2
1 P2
OR P2
2
P2 Q2
2
42
nilai OR yaitu 3,769 nilai Q1
0,223 nilai Q2
0,519 nilai P =
0,629 nilai Q = 0,371 dan nilai P2 = 0,481 sehingga nilai P1 adalah :
(3,769)(0,481)
0,777
(1 0,481) (3,769)0,481
P1
Keterangan :
n1 n2 Perluasan besar sampel minimal
P1
Proporsi paparan pada kelompok kasus
P2
Proporsi paparan pada kelompok kontrol
Z
Nilai pada distribusi normal standar yang sama dengan
tingkat kemaknaan ( α = 0,05 yaitu 1,960)
Z
Nilai pada distribusi normal standar yang sama dengan kuasa
sebesar yang diinginkan ( sebesar 80% yaitu 0,842)
OR = Odd Ratio
Odd ratio dipertimbangkan menurut data rujukan dari penelitian terdahulu
yang hampir sama, namun jika tidak diperoleh maka odd ratio dapat
dipertimbangkan menurut perkiraan yang sesuai untuk penelitian yang akan
dilaksanakan (Sudigdo, 2002: 87).
Penentuan besar sampel minimal untuk kelompok kasus dan kelompok
kontrol, dengan berdasarkan pada penelitian terdahulu yaitu OR= 3,769 dengan
tingkat kepercayaan (Zα) 95% yaitu 1,960.
43
Perhitungan :
n1 n 2
1,960 2(0,629 0,371)
0,842 (0,777 0,519) (0,481 0,519)
0,777 0,481
2
2
= 46,542
= 47
Dengan demikian diperlukan sebanyak 47 kasus dan 47 kontrol. Diambil
perbandingan 1 : 1 sehingga sampel yang diamati sebanyak 94.
3.7
Instrumen Penelitian
Instrumen adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam
mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik,
dalam arti lebih cermat, lengkap, dan sistematis (Suharsimi Arikunto, 2002:136).
Instrumen dalam penelitian ini adalah:
1.
Kuesioner
Kuesioner adalah sejumlah pernyataan tertulis yang digunakan untuk
memperoleh informasi dari reponden dalam arti laporan tentang pribadinya atau
hal-hal yang diketahui (Suharsimi Arikunto, 2002:128). Kuesioner bertujuan
untuk mengetahui informasi mengenai kematian perinatal di Kabupaten Batang
tahun 2010.
Kuesioner dapat digunakan sebagai alat ukur penelitian perlu uji validitas
dan reliabilitas, untuk itu kuesioner tersebut harus dilakukan uji coba di lapangan.
2.
Data kohort tentang kematian perinatal dan data audit maternal perinatal.
44
3.8
3.7.1
Validitas dan Reliabilitas
Validitas
Validitas adalah suatu indeks yang menunjukkan alat ukur itu benar-benar
mengukur apa yang diukur (Soekidjo, 2005: 129).
3.7.2
Reliabilitas
Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat
pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan (Soekidjo, 2005: 133).
Reliabilitas menunjukkan bahwa pada suatu pengertian bahwa instrumen
cukup dapat dipercaya untuk dapat digunakan sebagai alat pengumpul data karena
instrumen tersebut cukup baik (Suharsimi, 2002:154). Metode pengujiannya
menggunakan rumus alpha memakai program SPSS versi 16 for Windows.
3.9
Teknik Pengolahan dan Analisis Data
Adapun langkah-langkah dalam pengolahan dan analisis data pada
penelitian ini adalah sebagai berikut:
3.8.1
Editing
Sebelum data diolah, data tersebut perlu diedit terlebih dahulu. Data atau
keterangan yang telah dikumpulkan, dicatat dalam record book. Daftar pertanyaan
ataupun pada lembar jawaban perlu dibaca sekali lagi dan diperbaiki jika
dirasakan masih ada kesalahan dan keraguan data.
45
3.8.2
Koding
Data yang dikumpulkan dapat berupa angka, kalimat pendek atau panjang.
Sehingga dengan demikian untuk memudahkan analisis, maka jawaban-jawaban
tersebut perlu diberi kode.
3.8.3
Entri
Data yang telah diberi kode tersebut kemudian dimasukkan dalam
program komputer (SPSS versi 16) untuk selanjutnya akan diolah.
3.8.4
Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan teknik
sebagai berikut:
3.8.4.1 Analisis Univariat
Analisis ini dilakukan pada masing-masing variabel, yaitu variabel bebas
dan variabel terikat. Hasil analisis ini berupa distribusi dan prosentase pada setiap
variabel.
3.8.4.2 Analisis Bivariat
Analisis bivariat digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel
bebas dengan variabel terikat. Uji statistik yang digunakan yaitu chi-square (x2)
dengan tingkat kemaknaan (α) 0,05 dan Convidence Interval (CI) 95%. Analisis
bivariat yang dilakukan untuk mengetahui analisis faktor ibu dan bayi yang
berhubungan dengan kejadian kematian perinatal di Kabupaten Batang tahun
2010.
46
Untuk mengetahui estimasi risiko relatif, digunakan Ood Ratio (OR)
dengan tabel 2x2 dan rumus sebagai berikut:
(OR) = {α /(α + b) : b /(α + b)}/{c/(c + d) : d /(c + d)}
= a/b:c/d = ad/bc
Keterangan:
a. Kasus yang mengalami paparan
b. Kasus yang tidak terpapar
c. Kontrol yang terpapar
d. Kontrol yang tidak terpapar
47
BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1
Gambaran Umum Wilayah Kabupaten Batang
4.1.1
Keadaan Geografi Kabupaten Batang
Kabupaten Batang merupakan salah satu Kabupaten di Jawa Tengah yang
berada di jalur pantura Pulau Jawa, terletak pada antara 60 51”46’’ dan 7011’47’’
Lintang Selatan dan antara 1090 40’’19” dan 1100 03”06’’ Bujur Timur. Batasbatas wilayah Kabupaten Batang adalah sebagai berikut :
Sebelah Utara
: Laut Jawa
Sebelah Timur
: Kabupaten Kendal
Sebelah Selatan
: Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo
Sebelah Barat
: Kabupaten Pekalongan dan Kota Pekalongan
Luas wilayah Kabupaten Batang sebesar 788,64 km 2 terdiri dari 15
kecamatan dan 248 desa/ kelurahan. Daerah terluas adalah Kecamatan Subah
dengan luas 83,52 km2, atau sekitar 10,59% dari luas total Kabupaten Batang,
sedangkan Kecamatan Warungasem merupakan daerah yang luasnya paling kecil
di Kabupaten Batang, yaitu seluas 23,55 km2 atau sekitar 2,99%.
4.1.2
Sarana Pelayanan Kesehatan
Sarana kesehatan di Kabupaten Batang yang terbanyak adalah posyandu,
polindes, dan puskesmas pembantu. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel
4.1 sebagai berikut:
47
48
Tabel 4.1 Data Sarana Kesehatan Puskesmas dan Dinas kesehatan
No.
Jenis Sarana
Jumlah
1.
Rumah Sakit
1
2.
3.
4.
Puskesmas Rawat Jalan
Puskesmas Rawat Inap
Puskesmas Pembantu
16
5
44
5.
Posyandu
a. Pratama
b. Madya
c. Purnama
443
152
540
18
d. Mandiri
6.
Gedung Farmasi
7.
Polindes
8.
Rumah Bersalin
9.
Balai Pengobatan
10. Apotik
11. Toko Obat
12. Puskesling
Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Batang Tahun 2008
4.1.3
1
143
2
1
10
7
24
Angka Kejadian Kematian Bayi Selama Empat Tahun Terakhir
Jumlah kematian perinatal Kabupaten Batang dari tahun 2005 sampai
tahun 2008 selalu mengalami kenaikan. Jumlah tersebut dapat dilihat pada tabel
4.2 berikut:
Tabel 4.2 Angka Kejadian Kematian Bayi Selama Empat Tahun Terakhir
No.
Tahun
Angka Kematian Bayi
1.
2005
12,85 per 1000 kelahiran hidup
2.
2006
14,86 per 1000 kelahiran hidup
3.
2007
17, 38 per 1000 kelahiran hidup
4.
2008
21,30 per 1000 kelahiran hidup
Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Batang Tahun 2008
49
4.1.4
Data Kematian Neonatal Berdasarkan Wilayah Puskesmas
Kematian neonatal tersebar di 21 puskesmas yang ada di wilayah
Kabupaten Batang. Adapun data kematian neonatal, lahir mati, dan lahir hidup
tahun 2009 dapat dilihat pada tabel 4.3 sebagai berikut:
Tabel 4.3 Data Kematian Neonatal, Lahir Mati dan Lahir Hidup
Berdasarkan Puskesmas Tahun 2009
No.
Puskesmas
Lahir
Mati
Lahir
Hidup
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
Wonotunggal
11
557
Bandar I
10
697
Bandar II
2
288
Blado I
7
491
Blado II
4
201
Reban
2
627
Bawang
5
826
Tersono
1
630
Gringsing I
9
803
Gringsing II
1
253
Limpung
8
583
Banyuputih
6
472
Subah
6
722
Pecalungan
5
483
Tulis
2
632
Kandeman
7
824
Batang I
9
528
Batang II
11
543
Batang III
5
469
Batang IV
6
443
Warungasem
7
770
Total
124
11842
Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Btang Tahun 2009
4.1.5
Mati
Umur < 1
Minggu
10
9
5
3
4
9
16
5
3
3
4
5
9
2
11
6
7
11
6
3
4
135
Mati
Umur 1
Minggu –
1 Bulan
0
2
2
0
1
0
0
0
0
0
1
1
1
1
0
3
0
1
1
0
1
15
Karakteristik Penyebab Kematian Bayi di Kabupaten Batang
Penyebab kematian bayi di Kabupaten Batang tahun 2009 diantaranya
disebabkan oleh BBLR 53 (10,52%), asfiksia 73 (0,61%), cacat bawaan 19
(0,16%), dan lain-lain 60 (0,050%) dengan tempat kejadian di rumah sakit dan di
puskesmas atau di rumah, dan 124 mengalami lahir mati.
50
4.2
Hasil Penelitian
4.2.1
Analisis Univariat
Analisis univariat dilakukan terhadap variabel-variabel penelitian. Pada
analisis ini akan menghasilkan distribusi frekuensi dan prosentase dari tiap-tiap
variabel yang berhubungan dengan kejadian kematian perinatal di Kabupaten
Batang tahun 2010.
4.2.1.1 Distribusi Responden menurut Umur Ibu
Umur ibu waktu terjadi kematian perinatal dibagi menjadi dua kategori
yaitu umur yang berisiko tinggi (< 20 dan > 35) dan umur yang tidak berisiko
rendah (20 - 35 tahun) terhadap kematian perinatal. Distribusi umur ibu dengan
kematian perinatal dapat dilihat pada tabel 4.4 berikut:
Tabel 4.4 Distribusi Responden menurut Umur Ibu
No.
1.
2.
Umur Ibu
Risiko tinggi (<20 th atau >35 th)
Risiko rendah (20 – 35 tahun)
Total
Frekuensi
29
65
94
Prosentase (%)
31%
69%
100%
Berdasarkan tabel 4.4 menunjukkan bahwa prosentase pada kelompok
kasus yang melahirkan pada umur risiko tinggi sebanyak 29 responden (31 %),
sedangkan yang melahirkan dengan umur yang memiliki risiko rendah sebanyak
65 responden (69%). Dari hasil penelitian umur ibu yang paling muda adalah 17
tahun dan yang paling tua adalah 42 tahun.
4.2.1.2 Distribusi Responden menurut Pendidikan Ibu
Pendidikan ibu dengan kematian perinatal dibagi menjadi dua kategori
yaitu berpendidikan rendah (<SLTP) dan berpendidikan tinggi (≥SLTP).
51
Distribusi pendidikan ibu dengan kematian perinatal dapat dilihat pada tabel
4.5 berikut:
Tabel 4.5 Distribusi Responden menurut Pendidikan Ibu
No.
1.
2.
Pendidikan Ibu
Rendah
Tinggi
Total
Frekuensi
26
68
94
Prosentase (%)
28%
72%
100%
Berdasarkan tabel 4.5 menunjukkan bahwa responden yang berpendidikan
rendah sebanyak 26 responden (28%), sedangkan responden yang berpendidikan
tinggi sebanyak 68 responden (72%). Responden yang berpendidikan paling
rendah adalah tidak tamat SD, sedangkan yang paling tinggi adalah tingkat
perguruan tinggi.
4.2.1.3 Distribusi Responden menurut Pengetahuan Ibu
Pengetahuan ibu pada kematian perinatal dibagi menjadi dua yaitu
pengetahuan tinggi (skor ≥17) dan pengetahuan rendah (skor <17). Distribusi
pengetahuan ibu dapat dilihat pada tabel 4.6 berikut:
Tabel 4.6 Distribusi Responden menurut Pengetahuan Ibu
No.
1.
2.
Pengetahuan Ibu
Rendah
Tinggi
Total
Berdasarkan
penelitian
Frekuensi
48
46
94
menunjukkan
Prosentase (%)
51%
49%
100%
bahwa
responden
yang
berpengetahuan rendah sebanyak 48 responden (51%), sedangkan responden yang
berpengetahuan tinggi sebanyak 46 responden (49%).
52
4.2.1.4 Distribusi Responden menurut Paritas
Paritas responden terhadap kejadian kematian perinatal dibagi menjadi
dua kategori yaitu paritas yang berisiko terhadap kematian perinatal (1 atau ≥5)
dan paritas yang tidak berisiko terhadap kematian perinatal (2 - 4). Distribusi
paritas terhadap kematian perinatal dapat dilihat pada tabel 4.7 berikut :
Tabel 4.7 Distribusi Responden menurut Paritas
No.
1.
2.
Paritas
Berisiko (1 atau ≥5)
Tidak berisiko (2 – 4)
Total
Frekuensi
31
63
94
Prosentase (%)
33%
67%
100%
Tabel 4.7 menunjukkan responden dengan paritas yang berisiko terhadap
kematian perinatal sebanyak 31 responden (33%), sedangkan responden dengan
paritas yang tidak berisiko sebanyak 63 responden (67%).
4.2.1.5 Distribusi Responden menurut Jarak Antar Kelahiran
Jarak antar kelahiran anak terakhir dengan anak sebelumnya dibagi
menjadi dua yaitu jarak kelahiran yang berisiko (<2 tahun) dan kelahiran yang
tidak berisiko (≥2 tahun). Distribusi jarak antar kelahiran dengan kejadian
kematian perinatal dapat dilihat pada tabel 4.8 berikut:
Tabel 4.8 Distribusi Responden menurut Jarak Antar Kelahiran
No.
1.
2.
Jarak Antar Kelahiran
Berisiko
Tidak berisiko
Total
Frekuensi
12
82
94
Prosentase (%)
13%
87%
100%
Tabel 4.8 menunjukkan bahwa responden yang melahirkan dengan jarak
antar kelahiran yang berisiko sebanyak 12 responden (13%), sedangkan responden
53
yang melahirkan dengan jarak antar kelahiran yang tidak berisiko sebanyak 82
responden (87%).
4.2.1.6 Distribusi Responden menurut Penolong Persalinan
Penolong persalinan pada kematian perinatal dibagi menjadi dua kategori
yaitu
bukan tenaga kesehatan dan tenaga kesehatan. Distribusi
penolong
persalinan pada kematian perinatal dapat dilihat pada tabel 4.9 berikut :
Tabel 4.9 Distribusi Responden menurut Penolong Persalinan
No.
1.
2.
Penolong Persalinan
Bukan tenaga kesehatan
Tenaga kesehatan
Total
Frekuensi
8
86
94
Prosentase (%)
9%
91%
100%
Tabel 4.9 menunjukkan bahwa responden yang penolong persalinannya
bukan tenaga kesehatan sebanyak 8 responden (9%), sedangkan responden yang
persalinannya ditolong oleh tenaga kesehatan sebanyak 86 responden (91%).
Penolong persalinan bukan tenaga kesehatan terdiri dari dukun bayi dan bersalin
sendiri. Sedangkan yang berasal dari tenaga kesehatan terdiri dari bidan dan
dokter spesialis obstetri.
4.2.1.7 Distribusi Responden menurut BBLR
Berat badan lahir pada kematian perinatal dibagi menjadi dua kategori,
yaitu BBLR (BBL ≤2.500 gram) dan tidak BBLR (BBL >2.500 gram). Distribusi
BBLR pada kematian perinatal dapat dilihat pada tabel 4.10 berikut:
Tabel 4.10 Distribusi Responden menurut BBLR
No.
1.
2.
BBLR
BBLR
Tidak BBLR
Total
Frekuensi
23
71
94
Prosentase (%)
24%
76%
100%
54
Tabel 4.10 menunjukkan bayi yang lahir dengan BBLR sebanyak 23
responden (24%), sedangkan bayi yang lahir tidak dengan BBLR sebanyak 71
responden (76%).
4.2.1.8 Distribusi Responden menurut Asfiksia
Asfiksia pada kematian perinatal dibagi menjadi dua kategori, yaitu bayi
yang mengalami asfiksia dan bayi yang tidak mengalami asfiksia. Distribusi
BBLR pada kematian perinatal dapat dilihat pada tabel 4.11 berikut:
Tabel 4.11 Distribusi Responden menurut Asfiksia
No.
1.
2.
Asfiksia
Asfiksia
Tidak asfiksia
Total
Frekuensi
10
84
94
Prosentase (%)
11%
89%
100%
Tabel 4.11 menunjukkan bayi yang mangalami asfiksia sebanyak 10
responden (11%), sedangkan bayi yang tidak asfiksia sebanyak 84 responden
(84%).
4.2.1.9 Distribusi Responden menurut Kelainan Kongenital
Kelaian kongenital pada kematian perinatal dibagi menjadi dua kategori,
yaitu bayi yang mengalami kelainan kongenital dan bayi yang tidak mengalami
kelainan kongenital. Distribusi kelainan pada kematian perinatal dapat dilihat
pada tabel 4.12 berikut:
Tabel 4.12 Distribusi Responden menurut Kelainan Kongenital
No.
1.
2.
Kelainan Kongenital
Mengalami kelainan kongenital
Tidak mengalami kelainan kongenital
Total
Frekuensi
8
86
94
Prosentase (%)
9%
91%
100%
55
Tabel 4.12 menunjukkan bayi yang mengalami kelainan kongenital
sebanyak 8 responden (9%), sedangkan bayi yang tidak mengalami kelainan
kongenital sebanyak 86 responden (91%).
4.2.2
Analisis Bivariat
Analisis bivariat dalam penelitian ini menggunakan rumus chi-square,
dimana uji tersebut digunakan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara
variabel bebas dan variabel terikat.
4.2.2.1 Hubungan Antara Umur Ibu dengan Kejadian Kematian Perinatal di
Kabupaten Batang
Tabel 4.13 Tabulasi Silang Hubungan Antara Umur Ibu dengan Kejadian
Kematian Perinatal di Kabupaten Batang
Kasus
Kontrol
Total
P
OR
Umur Ibu
N
%
N
%
N
%
<20 th atau
16
34,0%
13 27,7% 29
30,9%
0,503 1,350
>35 th
20 – 35 tahun 31
66,0%
34 72,3% 65
69,1%
Total
47 100,0% 47 100,0% 94 100,0%
Berdasarkan tabel di atas, prosentase pada kelompok kasus yang
melahirkan pada umur risiko tinggi sebesar 34,0%, sedangkan kelompok kontrol
yaitu 27,7%. Prosentase pada kelompok kasus yang melahirkan pada umur risiko
rendah sebesar 66,0%, sedangkan prosentase pada kelompok kontrol 72,3%. Hasil
uji statistik dengan menggunakan uji chi-square menunjukkan p value= 0,503
(>0,05), yang artinya tidak ada hubungan antara umur ibu dengan kejadian
kematian perinatal di Kabupaten Batang tahun 2010.
56
4.2.2.2 Hubungan Antara Pendidikan Ibu dengan Kejadian Kematian
Perinatal di Kabupaten Batang
Tabel 4.14 Tabulasi Silang Hubungan Antara Pendidikan Ibu dengan
Kejadian Kematian Perinatal di Kabupaten Batang
Kasus
Kontrol
Total
P
OR
Pendidikan
Ibu
Rendah
Tinggi
Total
N
19
28
47
%
40,4%
59,6%
100,0%
N
7
40
47
%
14,9%
85,1%
100,0%
N
26
68
94
%
27,7%
72,3%
100,0%
0,006
3,878
Berdasarkan tabel di atas, prosentase pada kelompok kasus yang
berpendidikan rendah sebesar 40,4%, nilai tersebut lebih tinggi dibandingkan
dengan kelompok kontrol yaitu 14,9%. Dan prosentase pada kelompok kasus yang
berpendidikan tinggi sebesar 59,6%, nilai tersebut lebih rendah dibandingkan
dengan prosentase pada kelompok kontrol yaitu 85,1%. Hasil uji statistik dengan
chi-square menunjukkan p value= 0,006 (<0,05), sehingga dengan demikian ada
hubungan yang bermakna antara pendidikan ibu dengan kejadian kematian
perinatal di Kabupaten Batang tahun 2010. Nilai odd ratio (OR) yang diperoleh
dalam penelitian ini adalah 3,878, yang berarti bahwa responden yang
berpendidikan rendah mempunyai risiko 3,878 kali lebih besar untuk terjadinya
kematian perinatal dibandingkan ibu yang berpendidikan tinggi.
57
4.2.2.3 Hubungan Antara Pengetahuan Ibu dengan Kejadian Kematian
Perinatal di Kabupaten Batang
Tabel 4.15 Tabulasi Silang Hubungan Antara Pengetahuan Ibu dengan
Kejadian Kematian Perinatal di Kabupaten Batang
Kasus
Kontrol
Total
P
OR
Pengetahuan
Ibu
Rendah
Tinggi
Total
N
30
17
47
%
63,8%
36,2%
100,0%
N
18
29
47
%
38,3%
61,7%
100,0%
N
48
46
94
%
51,1%
48,9%
100,0%
0,013
2,843
Berdasarkan tabel di atas, prosentase pada kelompok kasus untuk ibu yang
berpengetahuan rendah sebesar 63,8%, nilai tersebut lebih tinggi dibandingkan
dengan prosentase kelompok kontrol (38,3%). Prosentase kasus untuk ibu yang
berpengetahuan tinggi sebesar 36,2%, nilai tersebut lebih rendah dibandingkan
dengan kelompok kontrol (61,7%). Hasil uji statistik dengan chi-square diperoleh
nilai p= 0,013 (<0,05), yang artinya ada hubungan antara pendidikan dengan
kejadian kematian perinatal. Nilai OR= 2,843, yang berarti bahwa responden yang
berpengetahuan rendah mempunyai risiko 2,843 kali lebih besar untuk terjadinya
kematian perinatal dibandingkan ibu yang berpengetahuan tinggi.
4.2.2.4 Hubungan Antara Paritas dengan Kejadian Kematian Perinatal di
Kabupaten Batang
Tabel 4.16 Tabulasi Silang Hubungan Antara Paritas dengan Kejadian
Kematian Perinatal di Kabupaten Batang
Kasus
Kontrol
Total
P
OR
Paritas
N
%
N
%
N
%
Berisiko
21
44,7%
10
21,3%
31
33,0%
0,016 2,988
Tidak
26
55,3%
37
78,7%
63
67,0%
berisisko
Total
47 100,0% 47 100,0%
94
100,0%
58
Berdasarkan tabel di atas, prosentase pada kelompok kasus untuk ibu
dengan paritas yang berisiko sebesar 44,7%, nilai tersebut lebih tinggi
dibandingkan dengan prosentase kelompok kontrol (21,3%). Sedangkan
prosentase kasus untuk ibu dengan paritas yang tidak berisiko sebesar 55,3%, nilai
tersebut lebih rendah dibandingkan dengan kelompok kontrol yaitu ibu dengan
paritas yang tidak berisiko (78,7%). Hasil statistik dengan uji chi-square diperoleh
nilai p= 0,016 (<0,05), yang artinya ada hubungan yang bermakna antara paritas
berisiko dengan kejadian kematian perinatal. Nilai OR= 2,988, berarti responden
dengan paritas berisiko (1 atau ≥5) mempunyai risiko 2,988 kali lebih besar untuk
terjadinya kematian perinatal dibandingkan ibu yang berparitas 2-4.
4.2.2.5 Hubungan Antara Jarak Antar Kelahiran dengan Kejadian Kematian
Perinatal di Kabupaten Batang
Tabel 4.17 Tabulasi Silang Hubungan Antara Jarak Antar Kelahiran dengan
Kejadian Kematian Perinatal di Kabupaten Batang
Jarak Antar
Kelahiran
Berisiko
Tidak berisiko
Total
Kasus
N
9
38
47
%
19,1%
80,9%
100,0%
Kontrol
N
3
44
47
%
6,4%
93,6%
100,0%
Total
N
12
82
94
%
12,8%
87,2%
100,0%
P
OR
0,064
3,474
Berdasarkan tabel di atas, prosentase pada kelompok kasus yang berisiko
(>2 tahun) sebesar 19,1%, nilai tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan
kelompok kontrol (6,4%). Prosentase kelompok kasus dengan jarak kelahiran
tidak berisisko (≥2 tahun) sebesar 80,9%, nilai tersebut lebih sedikit dibandingkan
dengan kelompok kontrol (93,6%). Hasil statistik dengan uji chi-square diperoleh
nilai p= 0,064 (>0,05), yang artinya tidak ada hubungan yang bermakna antara
jarak antar kelahiran dengan kejadian kematian perinatal.
59
4.2.2.6 Hubungan Antara Penolong Persalinan dengan Kejadian Kematian
Perinatal di Kabupaten Batang
Tabel 4.18 Tabulasi Silang Hubungan Antara Penolong Persalinan dengan
Kejadian Kematian Perinatal di Kabupaten Batang
Penolong
Persalinan
Bukan Tenaga
Kesehatan
Tenaga
Kesehatan
Total
Kasus
Kontrol
Total
N
7
%
14,9%
N
1
%
2,1%
N
8
%
8,5%
40
85,1%
46
97,9%
86
91,5%
47
100,0%
47
100,0%
94
100,0%
P
OR
0,065
8,050
Berdasarkan tabel di atas, prosentase pada kelompok kasus pada ibu yang
penolong persalinannya bukan tenaga kesehatan sebesar 14,9%, nilai tersebut
lebih tinggi dibandingkan dengan prosentase kelompok kontrol (2,1%). Prosentase
kasus pada ibu yang persalinannya ditolong oleh tenaga kesehatan sebesar 85,1%,
nilai tersebut lebih rendah dibandingkan dengan kelompok kontrol (97,9%). Hasil
statistik dengan uji chi-square diperoleh nilai p= 0,065 (>0,05), yang artinya tidak
ada hubungan antara penolong persalinan dengan kejadian kematian perinatal.
4.2.2.7 Hubungan Antara BBLR dengan Kejadian Kematian Perinatal di
Kabupaten Batang
Tabel 4.19 Tabulasi Silang Hubungan Antara BBLR dengan Kejadian
Kematian Perinatal di Kabupaten Batang
Kasus
BBLR
BBLR
Tidak BBLR
Total
N
16
31
47
%
42,6%
57,4%
100,0%
Kontrol
N
3
44
47
%
6,4%
93,6%
100,0%
Total
N
19
75
94
%
24,5%
75,5%
100,0%
P
OR
0,001 10,864
60
Berdasarkan tebel di atas, prosentase kasus bayi dengan BBLR sebesar
42,6%, nilai tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol (6,4%). Prosentase
kasus yang tidak BBLR sebesar 57,4%, nilai tersebut lebih rendah dibandingkan
dengan kontrol (93,6%). Hasil statistik dapat diketahui bahwa nilai p= 0,001
(<0,05), yang artinya ada hubungan yang bermakna antara BBLR dengan kejadian
kematian perinatal. Nilai OR= 10,864, berarti BBLR mempunyai risiko 10,864
kali lebih besar untuk terjadinya kematian perinatal dibandingkan dengan yang
tidak BBLR.
4.2.2.8 Hubungan Antara Asfiksia dengan Kejadian Kematian Perinatal di
Kabupaten Batang
Tabel 4.20 Tabulasi Silang Hubungan Antara Asfiksia dengan Kejadian
Kematian Perinatal di Kabupaten Batang
Kasus
Kontrol
Total
P
OR
Asfiksia
N
%
N
%
N
%
Asfiksia
10 21,3%
0
0,0%
10 10,6% 0,001 2,270
Tidak Asfiksia 37 78,7% 47 100,0% 84 89,4%
Total
47 100,0% 47 100,0% 94 100,0%
Berdasarkan tabel di atas, prosentase kasus bayi dengan asfiksia sebesar
21,3%, nilai tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol (0,0%). Sedangkan
prosentase kasus bayi yang tidak dengan asfiksia sebesar 78,7%, nilai tersebut
lebih rendah dibandingkan dengan kontrol bayi yang tidak asfiksia (100,0%). Dari
hasil uji chi-square diperoleh nilai p= 0,001 (<0,05) maka dapat dikatakan ada
hubungan yang bermakna antara asfiksia dengan kejadian kematian perinatal.
Nilai OR= 2,270, berarti bayi dengan asfiksia 2,270 kali lebih berisiko
dibandingkan dengan bayi tidak dengan asfiksia.
61
4.2.2.9 Hubungan Antara Kelainan Kongenital dengan Kejadian Kematian
Perinatal di Kabupaten Batang
Tabel 4.21 Tabulasi Silang Hubungan Antara Kelainan Kongenital dengan
Kejadian Kematian Perinatal di Kabupaten Batang
Kasus
Kontrol
Total
P
OR
Kelainan
Kongenital
Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Total
N
8
%
17,0%
N
0
%
0,0%
N
8
%
8,5%
39
83,0%
47
100,0%
86
91,5%
47
100,0%
47
100,0%
94
100,0%
0,006 2,205
Berdasarkan tabel di atas, prosentase kasus bayi dengan
kelainan
kongenital sebesar 17,0%, nilai tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol
(0,0%). Prosentase kasus yang tidak mengalami kelainan kongenital sebesar
83,0%, nilai tersebut lebih rendah dibandingkan dengan kontrol yang tidak
kelainan kongenital (100,0%). Dari uji chi-square dapat diketahui bahwa nilai p=
0,006 (<0,05), yang artinya ada hubungan yang bermakna antara kelainan
kongenital dengan kematian perinatal. Hasil nilai OR= 2,205, berarti bayi yang
mengalami kelainan kongenital mempunyai risiko 2,205 kali lebih besar untuk
terjadinya kematian perinatal dibandingkan dengan bayi yang tidak mengalami
kelainan kongenital.
62
BAB V
PEMBAHASAN
5.1
Pembahasan
5.1.1
Hubungan antara Umur Ibu dengan Kejadian Kematian Perinatal
Berdasarkan hasil penelitian dari 47 kasus diketahui bahwa responden
dengan umur <20 tahun dan >35 tahun sebanyak 16 responden (34,0%),
sedangkan pada kontrol terdapat 13 responden (27,7%) yang melahirkan pada
umur 20 – 35 tahun. Dari analisis bivariat menunjukkan nilai p value= 0,503
(>0,005), yang artinya tidak ada hubungan antara umur ibu dengan kejadian
kematian perinatal di Kabupaten Batang tahun 2010.
Walaupun hasil penelitian ini tidak ditemukan adanya hubungan yang
bermakna antara umur ibu dengan kematian perinatal, tetapi umur ibu harus tetap
diperhatikan, karena berdasarkan teori dari Herbert Hutabarat dalam Manuaba
(1998), faktor kehamilan risiko tinggi ibu berdasarkan aplikasi obstetri adalah
umur ibu yang kurang 19 tahun atau di atas 35 tahun.
Umur ibu yang tidak berhubungan dengan kematian perinatal mungkin
disebabkan karena ibu yang hamil pada umur <20 tahun atau >35 tahun rutin
memeriksakan kehamilannya di sarana kesehatan dan rajin mencari informasi,
baik berkonsultasi kepada bidan desa maupun membaca buku tentang kehamilan,
sehingga risiko yang berhubungan dengan kejadian kematian perinatal antara
umur <20 tahun atau >35 tahun dengan kelompok umur 20 – 35 tahun sama.
62
63
Wanita yang melahirkan anak pada usia <20 tahun dan >35 tahun rentan
terhadap perdarahan paska persalinan dan menimbulkan bahaya bagi ibu dan bayi
yang dapat menyebabkan kematian perinatal. Hasil penelitian ini juga tidak sesuai
dengan hasil penelitian dr. Henri L, dalam kenyataan masih banyak terjadi
perkawinan, kehamilan, dan persalinan di luar kurun waktu reproduksi sehat,
terutama pada usia muda. Risiko kematian perinatal pada kelompok umur di
bawah 20 tahun dan pada kelopok umur di atas 35 tahun adalah 3 kali lebih tinggi
dari kelompok umur reproduksi sehat (20-34 tahun) (Rustam Muchtar, 1998:192).
5.1.2
Hubungan Antara Pendidikan Ibu dengan Kejadian Kematian
Perinatal
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa dari 47 responden,
proporsi ibu yang berpendidikan rendah pada kelompok kasus sebanyak 19 orang
(73,1%), sedangkan pada kelompok kontrol terdapat 7 orang (26,9%) yang
berpendidikan tinggi. Hasil analisis bivariat dapat diketahui bahwa nilai p= 0,006
(<0,05). Hal ini berarti ada hubungan antara pendidikan dengan kejadian kematian
perinatal. Nilai OR= 3,878, yang berarti responden yang berpendidikan rendah
mempunyai risiko 3,878 kali lebih besar untuk terjadinya kematian perinatal
dibandingkan ibu yang berpendidikan tinggi.
Berbagai
hasil
penelitian menunjukkan adanya
hubungan antara
pendidikan ibu dengan kematian bayi. Ibu dengan pendidikan tinggi mempunyai
tingkat kematian bayi rendah dan sebaliknya ibu yang berpendidikan rendah
mempunyai tingkat kematian bayi tinggi. Upaya deteksi yang rendah disebabkan
karena tingkat pendidikan rendah (Notoadmodjo, 2003).
64
Tingkat pendidikan ibu akan banyak berpengaruh pada pemahaman dan
kesadaran ibu hamil akan pentingnya arti kesehatan secara umum ataupun pada
saat kehamilan dan persalinan. Penelitian serupa yang menyatakan terdapat
hubungan antara pendidikan dengan kematian perinatal dilaksanakan oleh
Ambarwati (2006), bahwa hampir seluruh responden sebagian besar kasus
berpendidikan rendah sebanyak 25 (92%) dan kontrol sebesar 22 (81,4%)
(Ambarwati, 2006: 53).
Banyaknya responden dengan tingkat pendidikan dasar disebabkan karena
dulu di daerah penelitian ini tidak semaju sekarang. Orang cenderung tidak
memperdulikan pendidikan. Bila ibu dengan pendidikan rendah dan kemauan
belajar juga sangat kurang, maka proses pengubahan sikap dan perilaku sesorang
atau sekelompok orang untuk berusaha mencari informasi tentang bahaya-bahaya
yang mungkin timbul pada bayi yang berada dikandungannya dan dirinya akan
sulit. Sehingga pada ibu yang berpendidikan rendah lebih cenderung untuk terjadi
kematian, terutama ibu hamil yang mengalami komplikasi, walaupun ibu dengan
pendidikan lanjut juga berkemungkinan akan terjadi kematian.
5.1.3
Hubungan Antara Pengetahuan Ibu dengan Kejadian Kematian
Perinatal
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa dari 47 responden
proporsi ibu yang berpengetahuan rendah pada kelompok kasus sebanyak 30
orang (62,5%), sedangkan pada kelompok kontrol sebanyak 18 orang (37,5%)
yang berpengetahuan tinggi. Hasil analisis bivariat dapat diketahui bahwa nilai
p= 0,013 (<0,005), yang artinya ada hubungan antara pengetahuan ibu dengan
65
kejadian kematian perinatal. Nilai OR= 2,843, ini berarti responden yang
berpengetahuan rendah mempunyai risiko 2,843 lebih besar untuk terjadinya
kematian perinatal dibandingkan ibu yang berpengetahuan tinggi.
Hasil penelitian di atas sesuai dengan pernyataan Gastelazo Ayala dan J.S
Lasinsky dalam Manuaba (1998), bahwa pendidikan dan sosial ekonomi
merupakan faktor risiko tinggi, kedua faktor ini menimbulkan gangguan
pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim dan mempengaruhi cara
pemilihan tempat dan penolong persalinan sehingga dapat menimbulkan risiko
saat persalinan atau saat hamil (Manuaba, 1998: 34).
5.1.4
Hubungan Antara Paritas dengan Kejadian Kematian Perinatal
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa proporsi responden
berparitas 1 atau ≥5 pada kelompok kasus sebanyak 21 orang (67,7%). Dan
responden yang berparitas 2 - 4
pada kelompok kontrol sebanyak 10 orang
(32,3%). Hasil statistik bivariat dapat diketahui bahwa nilai p= 0,016 (<0,05),
maka secara statistik dapat dikatakan ada hubungan yang bermakna antara paritas
1 atau ≥5 dengan kejadian kematian perinatal. Hasil nilai OR= 2,988, berarti
responden yang berparitas 1 atau ≥5 mempunyai risiko 2,988 kali lebih besar
untuk terjadinya kematian perinatal dibandingkan ibu yang berparitas 2 - 4. Hal
ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa seorang ibu yang baru pertama
kali melahirkan ataupun sering melahirkan mempunyai risiko mengalami
kematian perinatal pada kehamilan berikutnya apabila tidak memperhatikan
kebutuhan nutrisi. Jumlah paritas 1 atau ≥ 5 sangat berisiko terhadap kematian
66
perinatal karena selama hamil zat-zat gizi akan terbagi untuk ibu dan bayi yang
dikandungnya (Ridwan Amiruddin, 2004).
Teori serupa juga dinyatakan oleh Herbert Hutabarat yang membagi faktor
kehamilan risiko tinggi berdasarkan paritas yaitu dengan primigravida tua primer
atau sekunder dan grandemultipara (Manuaba.1998: 34).
Paritas 1 dan umur muda berisiko karena ibu belum siap secara medis
(organ reproduksi) maupun secara mental, sedangkan paritas di atas 4 dan umur
tua, secara fisik ibu mengalami kemunduran untuk menjalani kehamilan
(Soemantri dkk, 2004: 43).
5.1.5
Hubungan Antara Jarak Antar Kelahiran dengan Kejadian Kematian
Perinatal
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa jarak antar kelahiran
<2 tahun pada kelompok kasus sebanyak 9 orang (19,1%), sedangkan jarak antar
kelahiran ≥2 tahun pada kelompok kontrol sebanyak 3 orang (6,4%). Hasil
statistik bivariat dapat diketahui bahwa nilai p= 0,064 (>0,05), maka secara
statistik dapat dikatakan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara jarak
antar kelahiran dengan kejadian kematian perinatal.
Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan faktor risiko yang tercantum dalam
Kartu Menuju Sehat (KMS) yaitu salah satu penyebab terjadinya kematian
perinatal adalah jarak antar kehamilan terakhir kurang dari 2 tahun (Manuaba,
1998: 40).
67
Jarak antar kelaihiran tidak berhubungan dengan kejadian kematian
perinatal kemungkinan disebabkan karena ibu hamil dengan jarak antar kelahiran
kurang dari 2 tahun rajin memeriksakan kehamilan ke sarana kesehatan dan
senantiasa menjaga kesehatan diri dan bayi yang dikandungnya, karena setiap
kehamilan membawa risiko kesehatan yang potensial bagi ibu walaupun ibu
tersebut terlihat sehat.
5.1.6
Hubungan Antara Penolong Persalinan dengan Kejadian Kematian
Perinatal
Dalam meningkatkan cakupan persalinan bersih dan aman, maka
persalinan oleh tenaga kesehatan perlu ditingkatkan. Dengan demikian persalinan
3 bersih” dapat lebih terjamin dan bila terjadi komplikasi persalinan dapat segera
dilakukan penanganan atau pertolongan pertama oleh bidan sebelum dirujuk ke
rumah sakit (Depkes RI, 1997: 2).
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa proporsi responden
pada kasus yang persalinannya tidak ditolong oleh tenaga kesehatan sebanyak 7
responden (14,9%), sedangkan yang ditolong oleh tenaga kesehatan pada
kelompok kontrol sebanyak 1 responden (2,1%). Hasil statistik bivariat dapat
diketahui bahwa nilai p= 0,065 (>0,05), yang berarti tidak ada hubungan yang
antara penolong persalinan dengan kejadian kematian perinatal. Hal ini sesuai
dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Luluul Badriyah tahun 2008 dengan
nilai p sebesar 0,756 (p= >0,05) yang berarti bahwa tidak ada hubungan antara
jarak antar kelahiran dengan kematian perinatal.
68
Hasil penelitian ini tidak sesuai oleh teori yang dinyatakan oleh Manuaba
(1998), yang menyatakan bahwa pertolongan oleh dukun menimbulkan berbagai
masalah dan penyebab utama tingginya angka kematian dan kesakitan ibu dan
perinatal (Manuaba, 1998: 19).
Tidak ada hubungan antara penolong persalinan dengan kejadian kematian
perinatal mungkin dikarenakan hampir semua ibu hamil di wilayah Kabupaten
Batang sudah mendapatkan program dari Dinas Kesehatan Kabupaten yang
berupa poster P4K (Poster Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi)
yang diantaranya berisi tentang siapa yang akan menolong persalinan pada saat
ibu melahirkan dan anjuran persalinan yang aman, sehingga ibu hamil terdorong
untuk ditolong tenaga kesehatan pada proses peralinannaya. Masih terdapat ibu
yang persalinannya ditolong bukan tenaga kesehatan disebabkan karena adanya
kelahiran yang tidak sesuai dengan perkiraan (mengalami keguguran), sehingga
mengalami keterlambatan untuk mendatangi atau memanggil tenaga kesehatan.
Penolong persalinan membutuhkan keterampilan khusus dalam pelayanan
obstetri. Persalinan akan berlangsung aman dan lancar bila dilakukan oleh tenaga
kesehatan yang profesional. Persalian yang ditolong atau didampingi oleh tenaga
kesehatan dianggap memenuhi persyaratan sterilisasi dan aman, karena bila ibu
mengalami komplikasi persalinan, maka penanganan atau pertolongan pertama
pada rujukan dapat segera dilakukan (Depkes RI,1997:12).
5.1.7
Hubungan Antara BBLR dengan Kejadian Kematian Perinatal
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa BBLR kelompok
kasus sebesar 16 responden (34,0%). Dan pada kontrol yang tidak BBLR
69
sebanyak 3 responden (6,4%). Hasil statistik bivariat dapat diketahui bahwa nilai
p= 0,001 (<0,05), maka secara statistik dapat dikatakan ada hubungan yang
bermakna antara BBLR dengan kejadian kematian perinatal. Hasil nilai OR=
7,570, berarti bayi dengan BBLR mempunyai risiko 7,570 kali lebih besar untuk
terjadinya kematian perinatal dibandingkkan bayi yang tidak BBLR. Hal ini
sesuai dengan teori yang dinyatakan oleh Ida Bagus Gde Manuaba dan J.S.
Lesinski bahwa faktor yang berisiko terjadinya kematian perinatal pada riwayat
persalinan salah satunya adalah persalinan dengan berat bayi lahir rendah
(Manuaba, 1998: 35).
Perawatan BBLR sangat perlu dan memerlukan kecermatan karena bayi
yang baru lahir masih sangat rentan sekali akan timbulnnya suatu penyakit yang
dapat menyebabkan pertumbuhannya terganggu bahkan hingga fatal (meninggal).
Bayi dengan BBLR juga sering terjadi hipotermi, karena penyesuaian suhu tubuh
dengan lingkungan belum stabil. Dari hasil penelitian di beberapa negara sudah
ditemukan jalan untuk keselamatan BBLR untuk kasus hipotermi yaitu dengan
metode kangguru. Metode ini sangat bermanfaat sekali untuk kehidupan dan
keselamatan bayi dengan berat lahir rendah.
Faktor-faktor yang meyebabkan terjadinya berat badan lahir rendah
menurut Manuaba (1998), adalah gizi saat hamil yang kurang, umur kurang dari
20 tahun atau di atas 35 tahun, jarak hamil dan persalinan terlalu dekat, penyakit
menahun ibu seperti hipertensi, jantung, gangguan pembuluh darah (perokok),
faktor pekerja yang terlalu berat, hamil ganda, komplikasi hamil, cacat bawaan,
dan infeksi dalam rahim (Manuaba,1998: 308).
70
5.1.8
Hubungan Antara Asfiksia dengan Kejadian Kematian Perinatal
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa asfiksia pada
kelompok kasus 10 responden (21,3%), sedangkan bayi yang tidak asfiksia pada
kelompok kontrol yaitu 0 responden (0%). Hasil statistik bivariat dapat diketahui
bahwa nilai p= 0,001 (<0,05), maka dapat dikatakan ada hubungan antara
asfiksaia dengan kejadian kematian perinatal. Hasil nilai OR= 2,270, berarti bayi
dengan asfiksia mempunyai risiko 2,270 kali lebih besar dibandingkan dengan
bayi yang tidak asfiksia.
Penelitian tersebut sesuai dengan yang dikemukakan oleh Abdul Bari
Saifuddin, bahwa dari 7,7 juta kematian bayi setiap tahun lebih dari separuh
terjadi pada waktu perinatal atau usia di bawah satu bulan. Tiga perempat dari
kematian ini terjadi pada minggu pertama kehidupan. Lebih jauh untuk setiap bayi
baru lahir meninggal, terjadi pula satu lahir mati. Salah satu penyebab kematian
adalah asfiksia (Abdul Bari Saifuddin, 2008: 58).
5.1.9
Hubungan Antara Kelainan Kongenital dengan Kejadian Kematian
Perinatal
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa proporsi bayi yang
mengalami kelainan kongenital pada kelompok kasus sebesar 8 responden
(17,0%), sedangkan proporsi bayi yang tidak mengalami kelainan kongenital pada
kelompok kontrol yaitu sebesar 0 (0%). Hasil statistik bivariat dapat diketahui
bahwa nilai p= 0,006 (<0,05), maka dapat dikatakan ada hubungan antara bayi
yang mengalami kelainan kongenital dengan kejadian kematian perinatal. Hasil
nilai OR= 2,205, berarti bayi yang mengalami kelainan kongenital mempunyai
71
risiko 2,205 kali lebih tinggi untuk terjadi kematian perinatal dibandingkan
dengan bayi yang tidak mengalami kematian perinatal. Hal ini sesuai dengan
pendapat yang dikemukakan oleh Abdul Bari Saifuddin yang menyebutkan bahwa
salah satu penyebab kematian perinatal adalah kelainan kongenital atau kelainan
bawaan (Abdul Bari Saifuddin, 2008: 58).
5.2
Hambatan dalam Penelitian
Penelitian yang telah dilaksanakan tentunya tidak terlepas dari hambatan
dan kelemahan penelitian. Adapun hambatan dalam penelitian ini adalah:
1.
Peneliti kesulitan dalam menjangkau daerah yang lingkungan fisiknya
menanjak dan berbatu, namun kesulitan tersebut dapat teratasi karena
peneliti menggunakan sepeda motor dalam menjangkau daerah-daerah
tersebut.
2.
Peneliti kesulitan dalam mencari alamat responden karena alamat yang
didapat kurang lengkap, namun kesulitan tersebut dapat teratasi karena
dalam pencarian alamat peneliti dibantu oleh perangkat desa setempat.
Adapun kelemahan dalam penelitian ini adalah:
1.
Metode penelitian menggunakan kasus kontrol, yaitu merupakan penelitian
yang mengumpulkan data retrospektif (penelusuran kebelakang), dimana
responden harus mengingat-ingat jawaban yang akan diberikan, contohnya
data tentang berapa kali ibu memeriksakan kandungan pada saat hamil,
apakah pada saat dilahirkan bayi mengalami gangguan pernafasan, dan lain-
72
lain. Cara mengatasinya yaitu dengan metode kuesioner untuk memperoleh
informasi yang lebih lengkap dan dengan cara membantu responden untuk
sedikit-demi sedikit mengingat kejadian tersebut dengan memberikan
pertanyaan pendukung yang mudah dipahami responden.
2.
Pertanyaan tentang pengetahuan seharusnya diukur pada saat responden
hamil atau setelah melahirkan, sedangkan pada penelitian ini pengetahuan
diukur pada saat penelitian, padahal rentang waktu antara hamil atau
melahirkan dengan waktu penelitian cukup lama. Hal ini menyebabkan bias
akibat pengukuran yang kurang sensitif (Sudigdo, 1995: 261).
73
BAB VI
SIMPULAN DAN SARAN
6.1
Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian analisis faktor ibu dan bayi yang
berhubungan dengan kejadian kematian perinatal di Kabupaten Batang tahun
2010 dapat disimpulkan bahwa:
1. Ada hubungan antara pendidikan ibu dengan kejadian kematian perinatal
di Kabupaten Batang tahun 2010 (p value= 0,006; OR= 3,878).
2. Ada hubungan antara pengetahuan ibu dengan kejadian kematian perinatal
di Kabupaten Batang tahun 2010 (p value= 0,013; OR= 2,843).
3. Ada hubungan antara paritas dengan kejadian kematian perinatal di
Kabupaten Batang tahun 2010 (p value= 0,016; OR= 2,988).
4. Ada hubungan antara BBLR dengan kejadian kematian perinatal di
Kabupaten Batang tahun 2010 (p value= 0,001; OR= 10,864).
5. Ada hubungan antara asfiksia dengan kejadian kematian perinatal di
Kabupaten Batang tahun 2010 (p value= 0,001; OR= 2,270 ).
6. Ada hubungan antara kelainan kongenital dengan kejadian kematian
perinatal di Kabupaten Batang tahun 2010 (p value= 0,006; OR= 2,205).
7. Tidak ada hubungan antara umur ibu, jarak antar kelahiran, dan penolong
persalinan dengan kejadian kematian perinatal di Kabupaten Batang tahun
2010.
73
74
6.2
Saran
Berdasarkan simpulan dari hasil penelitian ini, beberapa saran yang dapat
diberikan antara lain:
1.
Kepada Dinas Kesehatan
Petugas
kesehatan
diharapkan
melakukan
pemantauan
dan
pengawasan terhadap ibu-ibu hamil, khususnya ibu hamil dengan risiko
tinggi dan penanganan komplikasi kehamilan sesegera mungkin.
2.
Kepada Masyarakat
Ibu hamil diharapkan aktif memeriksakan kehamilan pada pelayanan
kesehatan yang tersedia, sehingga faktor risiko kematian perinatal dapat
deketahui secara dini.
3.
Bagi Peneliti Selanjutnya
Melakukan penelitian faktor-faktor selain faktor ibu dan faktor bayi
yang dapat mempengaruhi kematian perinatal.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Bari Saifuddin, dkk. 2007. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal Edisi Pertama Cetakan Ketiga. Jakarta: Yayasan
Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Agus Irianto. 2004. Statistik Konsep Dasar dan Aplikasinya. Jakarta: Prenada Media.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik Edisi
Revisi VI. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Ambarwati. 2006. Hubungan Antara Karakteristik Ibu dan Pelayanan Kesehatan
dengan Kejadian Kematian Perinatal di Wilayah Kerja Puskesmas
Rembang Kabupaten Purbalingga Tahun 2006. Purwokerto: UNSUD.
Depkes RI. 2009. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2008. Jakarta: Departemen
Kesehatan Indonesia.
Dinas Kesehatan Dan Kesejahteraan Sosial Kabupaten Batang-Propinsi Jawa Tengah.
Profil Puskesmas Bawang Tahun 2009. Batang: DINKES.
Dinas Kesehatan Pemerintah Povinsi Jawa Tengah. 2007. Profil Kesehatan Jawa
Tengah Tahun 2008. Semarang: DINKES.
Eko Budiarto. 2001. Biostatistika Untuk Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat.
Jakarta: EGC.
FKM UNDIP. 2010. Pusat Data Jurnal Dan Skripsi. http://www.fkmundip.ac.id/ (18
Maret 2010).
Hanifa Wiknjosastro. 1999. Ilmu Kebidanan Edisi Ketiga Cetakan Kelima. Jakarta:
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
--------------------------. 2006. Ilmu Kebidanan Edisi Ketiga Cetakan Kedelapan.
Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
--------------------------. 2007. Ilmu Kebidanan Edisi Ketiga Cetakan Kesembilan.
Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
--------------------------. 2008. Ilmu Kebidanan Edisi Keempat Cetakan Pertama.
Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjdo.
76
77
Ida Bagus Gde Manuaba. 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan Keluarga
Berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC.
IKM UNNES. 2007. Pedoman Penyusunan Skripsi Mahasiswa Program Strata 1.
Semarang: Universitas Negeri Semarang.
Luluul Badriyah. 2008. Beberapa Faktor yang Berhubungan dengan Kematian Bayi
(0-1 tahun) di Kabupaten Banyumas. Skripsi: Universitas Jenderal
Soederman.
Perkumpulan Obstetri Ginekologi Indonesia (JNPK-KR/POGI) dan JHPIEGO
Corporation. 2007. Asuhan Persalinan Normal Asuhan Esensial
Persalinan. Jakarta: JNPK-KR/POGI dan JHPIEGO Corporation.
Notoatmodjo, S . 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
--------------------. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan Edisi Revisi. Jakarta:
Rineka Cipta.
PGI, IDAI, PERINASIA, dkk. 2006. Buku Acuan Nasional Pelayanan Maternal Dan
Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Rustam Mochtar. 1998. Sinopsis Obstetri: Obstetri Fisiologi Obstetri Patologi Jilid
1. Jakarta: EGC.
-----------------------. 1998. Sinopsis Obstetri: Obstetri Operatif Obstetri Sosial Jilid 2.
Jakarta: EGC.
Sastroasmoro, Sudigdo dan Ismail, S. 1995. Dasar-dasar Metodologi Penelitian
Klinis. Jakarta: Binarupa Aksara.
Suparjono. 2003. Beberapa Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kematian
Perinatal Di Kabupaten Kulon Progo. Semarang: Universitas
Diponegoro.
Sopiyudin Dahlan. 2004. Statistika Untuk Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta: PT.
ARKANS.
Widya, HC dan Dina, N. 2008. Biostatistika Inferensial. Semarang: Universitas
Negeri Semarang.
Zubaidah. 2005. Hubungan Karakteristik Ibu dan Bayi terhadap Kejadian Kematian
Perinatal di Puskesmas Karangwelas Kabupaten Banyumas Maret 2005.
Skripsi: Universitas Diponegoro.
76
Lampiran 5
86
DAFTAR KUESIONER PENELITIAN ANALISIS FAKTOR IBU DAN BAYI
YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN KEMATIAN PERINATAL
DI KABUPATEN BATANG TAHUN 2010
Tanggal Pengisian:
No. kuesioner :
STATUS RESPONDEN
: KASUS/ KONTROL * (coret salah satu)
Petunjuk :
a. Isi jawaban responden pada kolom-kolom yang tersedia dengan kodekode yang sesuai.
b. Isi garis titik-titik sesuai jawaban responden.
c. Selamat mengisi dan terimakasih.
A. DATA KELUARGA
1. Nama Ibu
:……………….
2. Alamat
:……………….
B. UMUR IBU
1. Berapakah umur ibu pada waktu melahirkan pada tahun 2009?
.......tahun
2. Kriteria
1) < 20 tahun dan >35 tahun
2) Antara 20 s.d 35 tahun
C. PENDIDIKAN IBU
1. Pendidikan yang ditamatkan ibu :
1) Akademi / PT
2) Tamat SLTA
3) Tamat SLTP
Lanjutan lampiran 5
87
4) Tamat SD
5) Tidak Sekolah
2. Kriteria
1) Pendidikan rendah (<SLTP)
2) Pendidikan tinggi (≥SLTP)
D. PENGETAHUAN IBU
(Pertanyaan) 5 T merupakan pemeriksaan Antenatal Care (ANC) atau
pemeriksaan kehamilan yang terdiri dari:
No.
Jenis Pemeriksaan
Pilihan
1.
Penimbangan berat badan
a. Tidak b. Tidak
2.
Imunisasi TT
a. Tidak b. Tidak
3.
Pemberian tablet Fe
a. Tidak b. Tidak
4.
Tekanan darah
a. Tidak b. Tidak
5.
Tinggi fundus
a. Tidak b. Tidak
Jawaban
6. Menurut Departemen Kesehatan RI, setiap ibu hamil sedikitnya harus
memeriksakan kehamilan minimal:
a. 2 – 3 kali
b. 4 kali
7. Usia ibu hamil yang baik untuk masa kehamilan dan persalinan yaitu:
a. 15 – 30 tahun
b. 20 – 35 tahun
8. Jarak antar kelahiran anak pertama dengan selanjutnya yang baik sesuai
kesehatan yaitu:
a. ≤ 1 tahun
b. ≥2 tahun
Lanjutan lampiran 5
88
9. Berat badan lahir bayi yang tidak termasuk risiko tinggi adalah:
a. BBL ≤ 2.500 gram
b. BBL > 2.500 - ≤ 4.000 gram
10. Zat gizi apakah yang penting untuk ibu hamil untuk mencegah anemia pada
kehamilannya?
a. Vitamin
b. Besi
E. PARITAS
1. Berapa jumlah persalinan ibu sebelum tahun 2009?.....
2. Apakah ibu pernah mengalami keguguran?
1) Ya
2) Tidak
3. Kesimpulan paritas setelah ditambah persalinan terakhir:
1) Paritas 1 atau ≥ 5
2) Paritas 2 – 4
F. JARAK KELAHIRAN
1. Berapa bulan jarak antara kelahiran tahun 2009 dengan kelahiran sebelumnya?
1) < 24 bulan
2) ≥ 24 bulan
G. PENOLONG PERSALINAN
1. Pada saat ibu bersalin, siapa yang melakukan pertolongan persalinan :
1) Petugas kesehatan (dokter, bidan atau perawat *)
salah satu
2) Dukun bayi
3) Lainnya…………….
.
*lingkari
Lanjutan lampiran 5
89
2. Kesimpulan Penolong Persalinan :
1) Bukan tenaga kesehatan
2) Tenaga kesehatan
H. ASFIKSIA
1. Apakah pada saat lahir bayi ibu mengalami gangguan pernafasan?
1) Ya
2) Tidak
2. Kesimpulan asfiksia:
1) Asfiksia
2) Tidak asfiksia
I. BBLR
1. Berapakah berat badan bayi ibu saat dilahirkan?.........
2. Kesimpulan BBLR:
1) BBLR
2) Tidak BBLR
J. KELAINAN KONGENITAL
1. Apakah pada saat lahir bayi ibu mengalami kelainan fisik?
1) Ya
2) Tidak
2. Kesimpulan kelainan kongenital:
1) Kelainan kongenital
2) Tidak mengalami kelainan kongenital
3)
K. KEJADIAN KEMATIAN PERINATAL
1. Apakah bayi yang ibu lahirkan pada tahun 2009 dapat melewati umur 7 hari
setelah lahir?
1) Ya (pertanyaan selesai)
2) Tidak
2. Berapa umur bayi pada saat meninggal?..........hari.
3. Apakah penyebab bayi meninggal?.........................
Lampiran 7
DAFTAR RESPONDEN PENELITIAN
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
Nama Responden
Nuraeni
Fatonah
Casmonah
Sartinah
Tarwiyah
Pariyah
Nur Khotin
Suanah
Mupeni Rahayu
Sulastri
Sri Eriyanti
Wastiah
Khodrujah
Turyatinah
Nuryanti
Senirah
Tjarumi
Nadhiroh
Sriyati
Kusniawati
Nur Halimah
Sa'diyah
Pardinah
Julaetin
Casmiati
Mayaeroh
Nuraeni
Sri Adwiningrum
Ririn Hartono
Putri Eka Widiawati
Yuliana
Lisiana
Nur Khasanah
Musiam
Alamat
Dk. Sukomangli, Kec. Reban
Dk. Adiloyo, Ds. Tambakboyo
Dk. Wonosari Kidul, Ds. Wonosobo
Pringombo Rt 01/ Rw 05 Ngadirjo
Dk. Adinuso, Desa Adinuso
Dk. Sidomulyo, Desa Adinuso
Desa Brayo, Wonotunggal
Desa Sodong, Wonotunggal
Desa Brayo, Wonotunggal
Reban Rt 15 / Rw 01
Reban Rt 15 / Rw 01
Desa Kreyo, Kec. Wonotunggal
Wonobodro, Blado
Dk. Cokro, Kec. Blado
Banaran, Selopajang Barat
Desa Bawang, Kec. Blado
Kepokoh, Kec. Blado
Dk. Wales, Wonobodro
Dk. Sidomulyo Ds. Deles, Bawang
Dk. Sigemplong Ds. Pranten
Desa Bawang
Bawang Rt 26
Dracik Rt 03 / Rw III
Ketandan Rt 04/ Rw I
Katibayan Rt 01 Rw II
Pecarikan Rt 03/ Rw III
Dracik Rt 03/ Rw II
Katibayan Rt 02/ Rw II
Dk. Pejangkaran Rt 03/ Rw IV, Batang
Klidang Lor Rt 04/ Rw 01
Ngaraan Rt 03/ Rw II Karangasem Utara
Bangun Sari Timur Rt 02/ Rw VI
Klidang Lor, Batang
Karangasem Selatan
35.
36.
37.
38.
39.
40.
41.
42.
43.
44.
45.
46.
47.
48.
49.
50.
51.
52.
53.
54.
55.
56.
57.
58.
59.
60.
61.
62.
63.
64.
65.
66.
67
68.
69.
70.
71.
72.
73.
74.
75.
Sri Andiyati
Tuyaemah
Maria Ulfa
Sri Munah
Jumanah
Munasri
Musyarofah
Simtiyah
Winaningsih
Musdalifah
Maemunah
Juariyah
Mupintiyah
Lesmiati
Suemi
Kartini
Solekha
Indah. R
Rini Pujianti
Waryuti
RiskiYuniarsih
Nurul Lanah
Suanah
Eka Noviantini
Sumiati
Ria Susanto
Yuliana
Hervina
Nur Atiyah
Rohayatun
Dami'sri
Siti Khotijah
Uswatun
Rohanah
Imronah
Saripah
Sunu Wahyuningsih
Rianah
Mawarti
Nasiroh
Tuminah
Karangasem Utara
Desa Pejambon
Ds. Timbang Banyuputih
Klidang Wetan Rt02/ Rw 02
Lokojoyo, Banyuputih
Petamanan, Banyuputih
Banyuputih Rt 01/ Rw 01
Desa Sukorejo
Desa Tembok Rt 03/ Rw 01
Desa Donorejo Rt 03/ Rw 03
Desa Sukorejo Rt 02/ Rw 01, Bandungan
Ds. Pungangan Rt 01/ Rw 04, Mojo
Desa Sukorejo Rt 03/ Rw I, Bandungan
Desa Wates, Kec. Wonotunggal
Desa Wates, Kec. Wonotunggal
Reban Rt 15 / Rw 01
Reban Tr 15 / Rw 01
Semampir Rt 05 Rw 02
Ds. Plolok Padomasan, Reban
Semampir Rt 05/ Rw 02 Reban
Wirosari II Rt 01/ Rw 08 Sambong
Wirosari II Rt 01/ Rw 08 Sambong
Wonosari Kidul Rt 4/ Rw 4
Ds. Luwung Banyuputih
Dukuh Sikebo
Ds. Dlimas
Klidang Lor Rt 04/ Rw 01
Klidang Lor Rt 04 / Rw 01
Klidang Lor Rt 04 / Rw 01
Dk. Brajan, Kalisalak
Klidang Lor Rt 04/ Rw 01
Klidang Lor Rt 04/ Rw 01
Desa Sempu, Kec. Limpung
Limpung Rt 03/ Rw 02
Dk. Brajan, Kalisalak
Desa Sempu, Kec. Limpung
Gepor Rt 03/ Rw 03
Dk. Karanganyar, Donorejo
Dk. Karanganyar, Donorejo
Desa Rowosari, Pungangan
Desa Rowosari, Pungangan
76.
77.
78.
79.
80.
81.
82.
83.
84.
85.
86.
87.
88.
89.
90.
91.
92.
93.
94.
Heni Setyowati
Puji Laksmono
Werdiningsih
Sri Hartati
Deni Agustina
Jariyati
Yuli Rahayu
Rasminten
Surati
Sutarni
Fitrisani
Eviyanti
Nurhayati
Damariyah
Wasmundita
Dwi Lestari
Atik Karmila
Dariyah
Kunzainati
Klidang Lor Rt 03 / Rw II
Klidang Lor Rt 03/ Rw II
Dk. Sojomerto, Kec. Limpung
Dk. Sojomerto, Kec. Limpung
Tamanan, Kec. Banyuputih
Desa Dlimas
Desa Dlimas
Karangasem Utara
Ds. Bawang, Kec. Blado
Kedungmalang, Wonotunggal
Gepor Rt 02/ Rw III
Gepor Rt 02/ Rw III
Gringsingsari Rt 08, Wonotunggal
Gringsingsari Rt 08, Wonotunggal
Klidang Lor Rt 01/ Rw III
Wirosari Rt 03/ Rw 02
Banaran Rt 01/ Rw III, Selopajang
Sd. Wales Rt 01/ Rw 05
Pekuncen Rt 04/ Rw III
Lampiran 8
DATA MENTAH HASIL PENELITIAN
No.
(1)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Rspn
(2)
R-01
R-02
R-03
R-04
R-05
R-06
R-07
R-08
Umur Pendidikan Pngthn
Ibu
Ibu
Ibu
(3)
(4)
(5)
Paritas
(6)
Jrk.Antr.
Klhrn
(7)
Penolong
Persalinan
(8)
Asfiksia
(9)
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
37 th
< SLTP
Rendah
1 atau ≥5
< 2 tahun
Tenaga Kesehatan
18 th
< SLTP
Rendah
1 atau ≥5
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
30 th
< SLTP
Rendah 2 sampai 4
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
19 th
< SLTP
Rendah
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
26 th
≥ SLTP
Rendah 2 sampai 4
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
29 th
< SLTP
Rendah 2 sampai 4
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
40 th
24 th
≥ SLTP
≥ SLTP
Tinggi
Tinggi
1 atau ≥5
2 sampai 4
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Asfiksia
Tidak
1 atau ≥5
BBLR
(10)
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
BBLR
Kelainan
Kongntl
(11)
Kelainan
Kongenital
Kelainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Kelainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
R-09
R-10
R-11
R-12
R-13
R-14
R-15
R-16
R-17
R-18
R-19
R-20
1 atau ≥5
23 th
< SLTP
Rendah
42 th
≥ SLTP
Rendah 2 sampai 4
38 th
< SLTP
Rendah
31 th
< SLTP
Rendah 2 sampai 4
24 th
≥ SLTP
Tinggi
37 th
< SLTP
Rendah 2 sampai 4
17 th
< SLTP
Rendah
32 th
< SLTP
40 th
1 atau ≥5
≥ 2 tahun
< 2 tahun
≥ 2 tahun
Bukan Tenaga
Kesehatan
Bukan Tenaga
Kesehatan
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
Bukan Tenaga
Kesehatan
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
Rendah 2 sampai 4
< 2 tahun
Tenaga Kesehatan
< SLTP
Rendah 2 sampai 4
< 2 tahun
Tenaga Kesehatan
20 th
< SLTP
Tinggi
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
29 th
≥ SLTP
Rendah 2 sampai 4
≥ 2 tahun
26 th
≥ SLTP
Tinggi
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
Bukan Tenaga
Kesehatan
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
1 atau ≥5
1 atau ≥5
1 atau ≥5
2 sampai 4
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
BBLR
BBLR
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
BBLR
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Kelainan
Kongenital
Kelainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
R-21
R-22
R-23
R-24
R-25
R-26
R-27
R28.
R-29
R-30
R-31
R-32
R-33
27 th
36
tahun
≥ SLTP
Tinggi
2 sampai 4
≥ 2 tahun
Bukan Tenaga
Kesehatan
< SLTP
Rendah
1 atau ≥5
< 2 tahun
Tenaga Kesehatan
35 th
< SLTP
Rendah 2 sampai 4
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
29 th
≥ SLTP
Rendah 2 sampai 4
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
30 th
≥ SLTP
Rendah 2 sampai 4
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
24 th
≥ SLTP
Tinggi
1 atau ≥5
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
38 th
≥ SLTP
Tinggi
2 sampai 4
< 2 tahun
Tenaga Kesehatan
31 th
≥ SLTP
Rendah
1 atau ≥5
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
19 th
≥ SLTP
Rendah
1 atau ≥5
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
19 th
≥ SLTP
Tinggi
1 atau ≥5
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
28 th
≥ SLTP
Tinggi
2 sampai 4
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
27 th
≥ SLTP
Tinggi
2 sampai 4
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
24 th
≥ SLTP
Tinggi
1 atau ≥5
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
BBLR
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
BBLR
Kelainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Kelainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
41.
42.
43.
44.
45.
46.
R-34
R-35
R-36
R-37
R-38
R-39
R-40
R-41
R-42
R-43
R-44
R-45
R-46
30 th
≥ SLTP
Rendah 2 sampai 4
33 th
≥ SLTP
Rendah
32 th
29
tahun
≥ SLTP
Rendah 2 sampai 4
≥ SLTP
Tinggi
21 th
< SLTP
Rendah
36 th
< SLTP
Rendah 2 sampai 4
< 2 tahun
20 th
≥ SLTP
Rendah 2 sampai 4
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
Bukan Tenaga
Kesehatan
25 th
≥ SLTP
Rendah 2 sampai 4
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
35 th
≥ SLTP
Tinggi
2 sampai 4
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
40 th
≥ SLTP
Tinggi
1 atau ≥5
< 2 tahun
Tenaga Kesehatan
25 th
≥ SLTP
Tinggi
2 sampai 4
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
20 th
< SLTP
Rendah
1 atau ≥5
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
33 th
≥ SLTP
Tinggi
2 sampai 4
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
< 2 tahun
Tenaga Kesehatan
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
1 atau ≥5
≥ 2 tahun
1 atau ≥5
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
Bukan Tenaga
Kesehatan
1 atau ≥5
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
BBLR
Tidak
BBLR
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
BBLR
BBLR
Tidak
BBLR
BBLR
BBLR
Tidak Kalainan
Kongenital
Kelainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
47.
48.
49.
50.
51.
52.
53.
54.
55.
56.
57.
58.
59.
R-47
R-48
R-49
R-50
R-51
R-52
R-53
R-54
R-55
R-56
R-57
R-58
R-59
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
Rendah 2 sampai 4
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
≥ SLTP
Tinggi
2 sampai 4
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
29 th
≥ SLTP
Tinggi
2 sampai 4
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
37 th
≥ SLTP
Tinggi
1 atau ≥5
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
32 th
≥ SLTP
Tinggi
2 sampai 4
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
27 th
≥ SLTP
Tinggi
2 sampai 4
< 2 tahun
Tenaga Kesehatan
31 th
≥ SLTP
Tinggi
1 atau ≥5
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
38 th
≥ SLTP
Rendah
1 atau ≥5
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
23 th
≥ SLTP
Rendah 2 sampai 4
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
29 th
< SLTP
Rendah 2 sampai 4
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
37 th
≥ SLTP
Tinggi
1 atau ≥5
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
40 th
< SLTP
Rendah
1 atau ≥5
< 2 tahun
Tenaga Kesehatan
19 th
< SLTP
Rendah
36 th
≥ SLTP
29 th
1 atau ≥5
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
60.
61.
62.
63.
64.
65.
66.
67.
68.
69.
70.
71.
72.
R-60
R-61
R-62
R-63
R-64
R-65
R-66
R-67
R-68
R-69
R-70
R-71
R-72
36 th
≥ SLTP
Rendah 2 sampai 4
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
32 th
≥ SLTP
Tinggi
2 sampai 4
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
18 th
≥ SLTP
Tinggi
2 sampai 4
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
34 th
≥ SLTP
Tinggi
2 sampai 4
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
31 th
≥ SLTP
Tinggi
2 sampai 4
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
37 th
≥ SLTP
Rendah 2 sampai 4
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
26 th
≥ SLTP
Tinggi
2 sampai 4
≥ 2 tahun
20 th
≥ SLTP
Tinggi
2 sampai 4
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
Bukan Tenaga
Kesehatan
36 th
≥ SLTP
Tinggi
2 sampai 4
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
22 th
≥ SLTP
Tinggi
2 sampai 4
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
18 th
< SLTP
Rendah
1 atau ≥5
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
33 th
≥ SLTP
Tinggi
2 sampai 4
< 2 tahun
Tenaga Kesehatan
24 th
≥ SLTP
Rendah 2 sampai 4
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
73.
74.
75.
76.
77.
78.
79.
80.
81.
82.
83.
84.
85.
R-73
R-74
R-75
R-76
R-77
R-78
R-79
R-80
R-81
R-82
R-83
R-84
R-85
30 th
≥ SLTP
Tinggi
2 sampai 4
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
20 th
≥ SLTP
Tinggi
2 sampai 4
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
28 th
< SLTP
Tinggi
2 sampai 4
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
31 th
≥ SLTP
Tinggi
2 sampai 4
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
24 th
≥ SLTP
Rendah 2 sampai 4
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
24 th
≥ SLTP
Rendah 2 sampai 4
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
35 th
≥ SLTP
Rendah 2 sampai 4
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
24 th
≥ SLTP
Tinggi
2 sampai 4
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
31 th
≥ SLTP
Tinggi
2 sampai 4
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
29 th
≥ SLTP
Tinggi
2 sampai 4
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
17 th
≥ SLTP
Rendah
1 atau ≥5
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
32 th
≥ SLTP
Rendah 2 sampai 4
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
38 th
< SLTP
Rendah
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
1 atau ≥5
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
86.
87.
88.
89.
90.
91.
92.
93.
94.
R-86
R-87
R-88
R-89
R-90
R-91
R-92
R-93
R-94
30 th
≥ SLTP
Tinggi
1 atau ≥5
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
32 th
≥ SLTP
Tinggi
2 sampai 4
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
25 th
≥ SLTP
Tinggi
2 sampai 4
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
26 th
≥ SLTP
Tinggi
2 sampai 4
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
36 th
≥ SLTP
Rendah
1 atau ≥5
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
23 th
≥ SLTP
Tinggi
2 sampai 4
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
30 th
< SLTP
Rendah 2 sampai 4
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
34 th
< SLTP
Rendah 2 sampai 4
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
26 th
≥ SLTP
Tinggi
≥ 2 tahun
Tenaga Kesehatan
2 sampai 4
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak
BBLR
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
Tidak Kalainan
Kongenital
HASIL PENELITIAN VARIABEL UMUR IBU
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
Respn.
R-01
R-02
R-03
R-04
R-05
R-06
R-07
R-08
R-09
R-10
R-11
R-12
R-13
R-14
R-15
R-16
R-17
R-18
R-19
R-20
R-21
R-22
R-23
R-24
R-25
R-26
R-27
R-28.
R-29
R-30
R-31
Umur Ibu
37 tahun
18 tahun
30 tahun
19 tahun
26 tahun
29 tahun
40 tahun
24 tahun
23 tahun
42 tahun
38 tahun
31 tahun
24 tahun
37 tahun
17 tahun
32 tahun
40 tahun
20 tahun
29 tahun
26 tahun
27 tahun
36 tahun
35 tahun
29 tahun
30 tahun
24 tahun
38 tahun
31 tahun
19 tahun
19 tahun
28 tahun
Kriteria
Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
41.
42.
43.
44.
45.
46.
47.
48.
49.
50.
51.
52.
53.
54.
55.
56.
57.
58.
59.
60.
61.
62.
63.
64.
65.
66.
67.
R-32
R-33
R-34
R-35
R-36
R--37
R-38
R-39
R-40
R-41
R-42
R-43
R-44
R-45
R-46
R-47
R-48
R-49
R-50
R-51
R-52
R-53
R-54
R-55
R-56
R-57
R-58
R-59
R-60
R-61
R-62
R-63
R-64
R-65
R-66
R-67
27 tahun
24 tahun
30 tahun
33 tahun
32 tahun
29 tahun
21 tahun
36 tahun
20 tahun
25 tahun
35 tahun
40 tahun
25 tahun
20 tahun
33 tahun
19 tahun
36 tahun
29 tahun
29 tahun
37 tahun
32 tahun
27 tahun
31 tahun
38 tahun
23 tahun
29 tahun
37 tahun
40 tahun
36 tahun
32 tahun
18 tahun
34 tahun
31 tahun
37 tahun
26 tahun
20 tahun
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
68.
69.
70.
71.
72.
73.
74.
75.
76.
77.
78.
79.
80.
81.
82.
83.
84.
85.
86.
87.
88.
89.
90.
91.
92.
93.
94.
R-68
R-69
R-70
R-71
R-72
R-73
R-74
R-75
R-76
R-77
R-78
R-79
R-80
R-81
R-82
R-83
R-84
R-85
R-86
R-87
R-88
R-89
R-90
R-91
R-92
R-93
R-94
36 tahun
22 tahun
18 tahun
33 tahun
24 tahun
30 tahun
20 tahun
28 tahun
31 tahun
24 tahun
24 tahun
35 tahun
24 tahun
31 tahun
29 tahun
17 tahun
32 tahun
38 tahun
30 tahun
32 tahun
25 tahun
26 tahun
36 tahun
23 tahun
30 tahun
34 tahun
26 tahun
Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
HASIL PENELITIAN VARIABEL PENDIDIKAN IBU
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
Respn.
R-01
R-02
R-03
R-04
R-05
R-06
R-07
R-08
R-09
R-10
R-11
R-12
R-13
R-14
R-15
R-16
R-17
R-18
R-19
R-20
R-21
R-22
R-23
R-24
R-25
R-26
R-27
R-28.
R-29
R-30
Pendidikan Ibu
< SLTP
< SLTP
< SLTP
< SLTP
≥ SLTP
< SLTP
≥ SLTP
≥ SLTP
< SLTP
≥ SLTP
< SLTP
< SLTP
≥ SLTP
< SLTP
< SLTP
< SLTP
< SLTP
< SLTP
≥ SLTP
≥ SLTP
≥ SLTP
< SLTP
< SLTP
≥ SLTP
≥ SLTP
≥ SLTP
≥ SLTP
≥ SLTP
≥ SLTP
≥ SLTP
Kriteria
Berisiko
Berisiko
Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Berisiko
Berisiko
Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
41.
42.
43.
44.
45.
46.
47.
48.
49.
50.
51.
52.
53.
54.
55.
56.
57.
58.
59.
60.
61.
62.
63.
64.
65.
66.
R-31
R-32
R-33
R-34
R-35
R-36
R--37
R-38
R-39
R-40
R-41
R-42
R-43
R-44
R-45
R-46
R-47
R-48
R-49
R-50
R-51
R-52
R-53
R-54
R-55
R-56
R-57
R-58
R-59
R-60
R-61
R-62
R-63
R-64
R-65
R-66
≥ SLTP
≥ SLTP
≥ SLTP
≥ SLTP
≥ SLTP
≥ SLTP
≥ SLTP
< SLTP
< SLTP
≥ SLTP
≥ SLTP
≥ SLTP
≥ SLTP
≥ SLTP
< SLTP
≥ SLTP
< SLTP
≥ SLTP
≥ SLTP
≥ SLTP
≥ SLTP
≥ SLTP
≥ SLTP
≥ SLTP
≥ SLTP
≥ SLTP
< SLTP
≥ SLTP
< SLTP
≥ SLTP
≥ SLTP
≥ SLTP
≥ SLTP
≥ SLTP
≥ SLTP
≥ SLTP
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
67.
68.
69.
70.
71.
72.
73.
74.
75.
76.
77.
78.
79.
80.
81.
82.
83.
84.
85.
86.
87.
88.
89.
90.
91.
92.
93.
94.
R-67
R-68
R-69
R-70
R-71
R-72
R-73
R-74
R-75
R-76
R-77
R-78
R-79
R-80
R-81
R-82
R-83
R-84
R-85
R-86
R-87
R-88
R-89
R-90
R-91
R-92
R-93
R-94
≥ SLTP
≥ SLTP
≥ SLTP
< SLTP
≥ SLTP
≥ SLTP
≥ SLTP
≥ SLTP
< SLTP
≥ SLTP
≥ SLTP
≥ SLTP
≥ SLTP
≥ SLTP
≥ SLTP
≥ SLTP
≥ SLTP
≥ SLTP
< SLTP
≥ SLTP
≥ SLTP
≥ SLTP
≥ SLTP
≥ SLTP
≥ SLTP
< SLTP
< SLTP
≥ SLTP
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
HASIL PENELITIAN VARIABEL PENGETAHUAN IBU
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
Rspnd P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 P8 P9 P10 Skor Kriteria
R-01
2
1
1
2
1
2
2
1
1
2
15
Rendah
R-02
2
2
1
1
2
2
1
1
1
1
14
Rendah
R-03
1
2
2
1
1
2
1
2
1
2
15
Rendah
R-04
2
2
2
1
1
1
1
1
1
1
13
Rendah
R-05
2
1
1
1
1
2
2
1
1
2
14
Rendah
R-06
2
2
2
1
1
2
1
1
2
1
15
Rendah
R-07
2
2
2
2
2
2
1
2
2
1
18
Tinggi
R-08
2
1
2
2
2
2
2
2
2
2
19
Tinggi
R-09
2
2
2
2
1
2
1
1
1
2
16
Rendah
R-10
2
2
1
1
1
1
1
2
1
1
13
Rendah
R-11
2
1
1
2
1
1
2
2
2
1
15
Rendah
R-12
2
2
1
1
1
2
1
2
2
2
16
Rendah
R-13
2
2
2
2
1
2
1
2
2
2
18
Tinggi
R-14
2
2
2
1
1
2
2
1
2
1
16
Rendah
R-15
2
1
2
1
1
2
2
1
2
1
15
Rendah
R-16
2
2
2
1
1
1
1
1
2
1
14
Rendah
R-17
2
2
1
1
1
2
2
1
2
1
15
Rendah
R-18
2
1
2
2
1
2
1
2
2
2
17
Tinggi
R-19
2
2
2
2
1
2
1
1
2
1
16
Rendah
R-20
2
2
2
2
1
2
2
1
2
2
18
Tinggi
R-21
2
2
2
2
1
2
2
2
1
2
18
Tinggi
R-22
2
2
1
1
2
2
1
1
1
1
14
Rendah
R-23
1
2
2
1
1
2
1
2
1
2
15
Rendah
R-24
2
2
2
1
1
1
1
1
1
1
13
Rendah
R-25
2
1
1
1
1
2
2
1
1
2
14
Rendah
R-26
2
2
2
1
1
2
2
2
2
2
18
Tinggi
R-27
2
2
2
2
2
2
1
2
2
1
18
Tinggi
R-28.
2
1
1
1
1
2
2
2
2
2
16
Rendah
R-29
2
2
2
2
1
2
1
1
1
2
16
Rendah
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
41.
42.
43.
44.
45.
46.
47.
48.
49.
50.
51.
52.
53.
54.
55.
56.
57.
58.
59.
60.
61.
62.
63.
64.
65.
R-30
R-31
R-32
R-33
R-34
R-35
R-36
R--37
R-38
R-39
R-40
R-41
R-42
R-43
R-44
R-45
R-46
R-47
R-48
R-49
R-50
R-51
R-52
R-53
R-54
R-55
R-56
R-57
R-58
R-59
R-60
R-61
R-62
R-63
R-64
R-65
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
2
2
2
2
1
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
2
2
2
1
2
2
2
1
2
2
1
2
2
1
2
2
2
1
2
2
1
2
2
1
2
2
2
1
2
2
1
2
2
2
2
2
2
1
2
2
2
2
2
2
2
1
2
2
1
1
2
2
2
1
2
2
2
2
2
2
1
2
2
2
2
1
2
2
1
1
2
2
2
1
2
2
2
2
1
1
1
1
2
2
1
2
1
2
2
1
1
1
1
2
2
2
1
2
2
1
1
1
2
2
1
2
2
1
2
1
2
1
2
1
1
1
1
1
1
1
1
1
2
1
1
1
2
1
1
1
2
2
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
2
2
2
1
2
2
2
2
2
2
1
2
1
2
1
2
2
2
2
2
2
1
1
2
1
1
2
2
2
2
1
2
2
2
1
2
2
2
1
2
2
2
1
1
2
2
1
2
1
1
2
2
1
1
1
2
2
1
2
2
1
2
2
1
2
2
1
2
1
1
2
2
2
1
2
2
2
2
2
2
1
1
1
2
2
1
1
1
2
2
2
1
1
2
2
1
2
2
2
2
2
1
1
1
2
1
1
2
2
2
1
1
1
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
2
2
1
1
2
2
2
1
1
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
2
1
1
1
1
2
2
1
1
1
2
2
1
2
2
2
2
2
2
2
1
2
2
2
1
2
2
2
1
1
1
2
1
1
2
1
2
2
2
18
17
19
18
16
15
14
17
16
16
15
15
18
17
17
14
18
15
15
17
17
17
17
18
19
15
14
15
17
16
14
18
18
17
17
14
Tinggi
Tinggi
Tinggi
Tinggi
Rendah
Rendah
Rendah
Tinggi
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Tinggi
Tinggi
Tinggi
Rendah
Tinggi
Rendah
Rendah
Tinggi
Tinggi
Tinggi
Tinggi
Tinggi
Tinggi
Rendah
Rendah
Rendah
Tinggi
Rendah
Rendah
Tinggi
Tinggi
Tinggi
Tinggi
Rendah
66.
67.
68.
69.
70.
71.
72.
73.
74.
75.
76.
77.
78.
79.
80.
81.
82.
83.
84.
85.
86.
87.
88.
89.
90.
91.
92.
93.
94.
R-66
R-67
R-68
R-69
R-70
R-71
R-72
R-73
R-74
R-75
R-76
R-77
R-78
R-79
R-80
R-81
R-82
R-83
R-84
R-85
R-86
R-87
R-88
R-89
R-90
R-91
R-92
R-93
R-94
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
2
2
2
1
2
2
2
2
2
2
1
2
2
1
2
2
2
2
2
2
1
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
1
1
2
2
2
2
1
2
2
2
1
2
2
2
1
2
2
2
2
1
2
1
2
2
1
2
2
2
1
2
1
2
2
1
2
1
2
2
2
2
2
1
1
1
2
2
2
2
1
2
1
2
1
1
2
2
1
1
2
1
1
2
2
2
1
1
1
1
2
2
1
1
1
2
2
2
1
1
2
1
1
1
2
2
2
2
1
1
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
2
2
2
2
2
1
2
2
1
2
2
1
2
1
1
2
1
1
2
2
2
2
1
1
2
2
1
1
1
2
1
1
2
1
1
2
1
1
2
1
2
2
2
2
2
2
2
1
2
1
1
1
1
1
1
2
2
1
1
1
2
2
1
2
2
2
2
1
2
2
2
2
1
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
1
1
1
1
2
2
2
2
1
2
2
2
2
2
1
2
2
1
1
2
2
2
2
2
1
2
1
2
2
2
2
1
2
2
1
2
2
1
2
2
2
2
17
18
19
18
13
17
16
18
19
18
19
15
16
16
18
17
18
15
13
14
18
18
20
17
13
20
16
16
17
Tinggi
Tinggi
Tinggi
Tinggi
Rendah
Tinggi
Rendah
Tinggi
Tinggi
Tinggi
Tinggi
Rendah
Rendah
Rendah
Tinggi
Tinggi
Tinggi
Rendah
Rendah
Rendah
Tinggi
Tinggi
Tinggi
Tinggi
Rendah
Tinggi
Rendah
Rendah
Tinggi
HASIL PENELETIAN VARIABEL PARITAS
No.
(1)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
Responden
(2)
R-01
R-02
R-03
R-04
R-05
R-06
R-07
R-08
R-09
R-10
R-11
R-12
R-13
R-14
R-15
R-16
R-17
R-18
R-19
R-20
R-21
R-22
R-23
R-24
R-25
R-26
R-27
R-28.
Paritas
(3)
1
1
2
1
2
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
2
2
1
2
2
2
1
2
2
2
1
2
1
Kriteria
(4)
Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
29.
30.
31.
(1)
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
41.
42.
43.
44.
45.
46.
47.
48.
49.
50.
51.
52.
53.
54.
55.
56.
57.
58.
59.
60.
61.
62.
63.
R-29
R-30
R-31
(2)
R-32
R-33
R-34
R-35
R-36
R—37
R-38
R-39
R-40
R-41
R-42
R-43
R-44
R-45
R-46
R-47
R-48
R-49
R-50
R-51
R-52
R-53
R-54
R-55
R-56
R-57
R-58
R-59
R-60
R-61
R-62
R-63
1
1
2
(3)
2
1
2
1
2
1
1
2
2
2
2
1
2
1
2
1
2
2
2
1
2
2
1
1
2
2
1
1
2
2
2
2
Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
(4)
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
64.
65.
66.
(1)
67.
68.
69.
70.
71.
72.
73.
74.
75.
76.
77.
78.
79.
80.
81.
82.
83.
84.
85.
86.
87.
88.
89.
90.
91.
92.
93.
94.
R-64
R-65
R-66
(2)
R-67
R-68
R-69
R-70
R-71
R-72
R-73
R-74
R-75
R-76
R-77
R-78
R-79
R-80
R-81
R-82
R-83
R-84
R-85
R-86
R-87
R-88
R-89
R-90
R-91
R-92
R-93
R-94
2
2
2
(3)
2
2
2
1
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
2
1
1
2
2
2
1
2
2
2
2
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
(4)
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
HASIL PENELITIAN VARIABEL JARAK ANTAR KELAHIRAN
No.
(1)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
Responden
(2)
R-01
R-02
R-03
R-04
R-05
R-06
R-07
R-08
R-09
R-10
R-11
R-12
R-13
R-14
R-15
R-16
R-17
R-18
R-19
R-20
R-21
R-22
R-23
R-24
R-25
R-26
R-27
R-28.
Jarak Antar Kelahiran
(3)
< 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
< 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
< 2 tahun
< 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
< 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
< 2 tahun
≥ 2 tahun
Keterangan
(4)
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
29.
30.
31.
(1)
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
41.
42.
43.
44.
45.
46.
47.
48.
49.
50.
51.
52.
53.
54.
55.
56.
57.
58.
59.
60.
61.
62.
63.
R-29
R-30
R-31
(2)
R-32
R-33
R-34
R-35
R-36
R—37
R-38
R-39
R-40
R-41
R-42
R-43
R-44
R-45
R-46
R-47
R-48
R-49
R-50
R-51
R-52
R-53
R-54
R-55
R-56
R-57
R-58
R-59
R-60
R-61
R-62
R-63
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
(3)
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
< 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
< 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
< 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
< 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
< 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
(4)
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
64.
65.
66.
(1)
67.
68.
69.
70.
71.
72.
73.
74.
75.
76.
77.
78.
79.
80.
81.
82.
83.
84.
85.
86.
87.
88.
89.
90.
91.
92.
93.
94.
R-64
R-65
R-66
(2)
R-67
R-68
R-69
R-70
R-71
R-72
R-73
R-74
R-75
R-76
R-77
R-78
R-79
R-80
R-81
R-82
R-83
R-84
R-85
R-86
R-87
R-88
R-89
R-90
R-91
R-92
R-93
R-94
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
(3)
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
< 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
≥ 2 tahun
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
(4)
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
HASIL PENELITIAN VARIABEL PENOLONG PERSALINAN
No.
(1)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
Responden
(2)
R-01
R-02
R-03
R-04
R-05
R-06
R-07
R-08
R-09
R-10
R-11
R-12
R-13
R-14
R-15
R-16
R-17
R-18
R-19
R-20
R-21
R-22
R-23
R-24
R-25
R-26
R-27
R-28.
Penolong Persalinan
(3)
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Bukan Tenaga Kesehatan
Bukan Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Bukan Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Bukan Tenaga Kesehatan
Bukan Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Kriteria
(4)
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
29.
30.
31.
(1)
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
41.
42.
43.
44.
45.
46.
47.
48.
49.
50.
51.
52.
53.
54.
55.
56.
57.
58.
59.
60.
61.
62.
63.
R-29
R-30
R-31
(2)
R-32
R-33
R-34
R-35
R-36
R--37
R-38
R-39
R-40
R-41
R-42
R-43
R-44
R-45
R-46
R-47
R-48
R-49
R-50
R-51
R-52
R-53
R-54
R-55
R-56
R-57
R-58
R-59
R-60
R-61
R-62
R-63
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
(3)
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Bukan Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Bukan Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
(4)
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
64.
65.
66.
(1)
67.
68.
69.
70.
71.
72.
73.
74.
75.
76.
77.
78.
79.
80.
81.
82.
83.
84.
85.
86.
87.
88.
89.
90.
91.
92.
93.
94.
R-64
R-65
R-66
(2)
R-67
R-68
R-69
R-70
R-71
R-72
R-73
R-74
R-75
R-76
R-77
R-78
R-79
R-80
R-81
R-82
R-83
R-84
R-85
R-86
R-87
R-88
R-89
R-90
R-91
R-92
R-93
R-94
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
(3)
Bukan Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
(4)
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
HASIL PENELITIAN VARIABEL BBLR, ASFIKSIA, DAN KELAINAN KONGENITAL
No. Rspndn
(1)
(2)
Asfiksia
(3)
Kriteria
(4)
BBLR
(5)
Kriteria
(6)
1.
R-01
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
2.
R-02
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
3.
R-03
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
4.
R-04
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
5.
R-05
Asfiksia
6.
R-06
Tidak Asfiksia
7.
R-07
Asfiksia
Berisiko
Tidak BBLR
Tidak Berisiko
8.
R-08
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko
BBLR
Berisiko
9.
R-09
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko
BBLR
Berisiko
10.
R-10
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko
BBLR
Berisiko
11.
R-11
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko
BBLR
Berisiko
12.
R-12
Asfiksia
Berisiko
Tidak BBLR
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak BBLR
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
Kelainan Kongntl
(7)
Kelaianan
Kongenital
Kelaianan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Kelaianan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Kriteria
(8)
Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
(1)
(2)
(3)
(4)
13.
R-13
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
14.
R-14
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
15.
R-15
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
16.
R-16
Asfiksia
Berisiko
Tidak BBLR
Tidak Berisiko
17.
R-17
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko
BBLR
Berisiko
18.
R-18
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko
BBLR
Berisiko
19.
R-19
Asfiksia
Berisiko
Tidak BBLR
Tidak Berisiko
20.
R-20
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
21.
R-21
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
22.
R-22
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko
23.
R-23
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
24.
R-24
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
25.
R-25
Asfiksia
Berisiko
(5)
BBLR
Tidak BBLR
(6)
Berisiko
Tidak Berisiko
(7)
Tidak Kelainan
Kongenital
Kelaianan
Kongenital
Kelaianan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Kelaianan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
(8)
Tidak Berisiko
Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
(1)
(2)
(3)
26.
R-26
Tidak Asfiksia
27.
R-27
Asfiksia
28.
R-28.
29.
(4)
(5)
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Berisiko
(6)
(7)
(8)
Tidak Berisiko
Kelaianan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Kelaianan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Berisiko
Tidak BBLR
Tidak Berisiko
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
R-29
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko
30.
R-30
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
31.
R-31
Asfiksia
32.
R-32
33.
Berisiko
BBLR
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak BBLR
Tidak Berisiko
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
R-33
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko
BBLR
Berisiko
34.
R-34
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko
BBLR
Berisiko
35.
R-35
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
36.
R-36
Asfiksia
Berisiko
Tidak BBLR
Tidak Berisiko
37.
R--37
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko
BBLR
Berisiko
38.
R-38
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
39.
R-39
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko
BBLR
Berisiko
Tidak Berisiko
40.
R-40
Asfiksia
Berisiko
Tidak BBLR
Tidak Berisiko
41.
R-41
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
42.
R-42
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko
BBLR
Berisiko
43.
R-43
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko
BBLR
Berisiko
44.
R-44
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
45.
R-45
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko
BBLR
Berisiko
46.
R-46
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko
BBLR
Berisiko
47.
R-47
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
48.
R-48
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
49.
R-49
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
50.
R-50
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
51.
R-51
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
52.
R-52
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
53.
R-53
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
54.
R-54
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
55.
R-55
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
56.
R-56
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
57.
R-57
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
58.
R-58
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
59.
R-59
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
60.
R-60
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
61.
R-61
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
62.
R-62
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko
63.
R-63
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
64.
R-64
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
BBLR
(6)
Berisiko
(7)
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
(8)
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
65.
R-65
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko
BBLR
Berisiko
Tidak Berisiko
66.
R-66
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
67.
R-67
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
68.
R-68
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
69.
R-69
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
70.
R-70
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
71.
R-71
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
72.
R-72
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
73.
R-73
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
74.
R-74
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
75.
R-75
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
76.
R-76
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
77.
R-77
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
78.
R-78
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
79.
R-79
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
80.
R-80
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
81.
R-81
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
82.
R-82
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
83.
R-83
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko
84.
R-84
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
85.
R-85
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
86.
R-86
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
87.
R-87
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
88.
R-88
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
89.
R-89
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
90.
R-90
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
BBLR
(6)
Berisiko
(7)
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
(8)
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Berisiko
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
91.
R-91
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
92.
R-92
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
93.
R-93
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
94.
R-94
Tidak Asfiksia
Tidak Berisiko Tidak BBLR
Tidak Berisiko
(7)
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
Tidak Kelainan
Kongenital
(8)
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Tidak Berisiko
Lampiran 10
Hubungan Umur Ibu dengan Kejadian Kematian Perinatal
Crosstabs
umur_ibu * Status_kematian Crosstabulation
Status_kematian
Kematian
umur_ibu <20 tahun atau
>=35 tahun
Count
13
29
14.5
14.5
29.0
34.0%
27.7%
30.9%
31
34
65
32.5
32.5
65.0
66.0%
72.3%
69.1%
47
47
94
47.0
47.0
94.0
100.0%
100.0%
100.0%
Expected Count
Count
Expected Count
% within Status_kematian
Total
Count
Expected Count
% within Status_kematian
Total
16
% within Status_kematian
20 - 35 tahun
hidup
Chi-Square Tests
Value
Pearson Chi-Square
Continuity Correctionb
Likelihood Ratio
Fisher's Exact Test
Linear-by-Linear
Association
N of Valid Casesb
Asymp. Sig. Exact Sig. (2- Exact Sig.
(2-sided)
sided)
(1-sided)
df
a
.449
.199
.449
1
1
1
.503
.655
.503
.656
.444
1
.505
94
a. Computed only for a 2x2 table
b. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is
14.50.
Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value
Odds Ratio for umur_ibu
(<20 tahun atau >=35
tahun / 20 - 35 tahun)
For cohort
Status_kematian =
kematian
For cohort
Status_kematian = hidup
N of Valid Cases
Lower
Upper
1.350
.561
3.251
1.157
.764
1.752
.857
.538
1.365
94
.328
Hubungan Pendidikan Ibu dengan Kejadian Kematian Perinatal
Crosstabs
pendidikan_ibu * Status_kematian Crosstabulation
Status_kematian
kematian
pendidikan_ibu <SLTP
Count
Expected Count
% within Status_kematian
>=SLTP
% within Status_kematian
Total
7
26
13.0
13.0
26.0
40.4%
14.9%
27.7%
28
40
68
34.0
34.0
68.0
59.6%
85.1%
72.3%
47
47
94
Count
Expected Count
% within Status_kematian
Total
19
Count
Expected Count
hidup
47.0
47.0
94.0
100.0%
100.0%
100.0%
Chi-Square Tests
Value
df
Asymp. Sig.
(2-sided)
Exact Sig.
(2-sided)
Exact Sig.
(1-sided)
Pearson Chi-Square
7.656a
1
.006
Continuity Correctionb
6.433
1
.011
Likelihood Ratio
7.883
1
.005
Fisher's Exact Test
.010
.005
Linear-by-Linear
7.575
1
.006
Association
N of Valid Casesb
94
a. Computed only for a 2x2 table
b. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is
13.00.
Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value
Odds Ratio for
pendidikan_ibu (<SLTP /
>=SLTP)
For cohort
Status_kematian =
kematian
For cohort
Status_kematian = hidup
N of Valid Cases
Lower
Upper
3.878
1.438
10.457
1.775
1.229
2.563
.458
.236
.889
94
Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Kejadian Kematian Perinatal
Crosstabs
Pengetahuan_Ibu * Status_kematian Crosstabulation
Status_kematian
kematian
Pengetahuan_Ibu
Rendah Count
Tinggi
48
24.0
24.0
48.0
63.8%
38.3%
51.1%
17
29
46
23.0
23.0
46.0
36.2%
61.7%
48.9%
47
47
94
Count
Expected Count
% within Status_kematian
Total
Count
Expected Count
% within Status_kematian
Total
18
Expected Count
% within Status_kematian
hidup
30
47.0
47.0
94.0
100.0%
100.0%
100.0%
Chi-Square Tests
Value
Pearson Chi-Square
Continuity Correction
Likelihood Ratio
Exact Sig. (2- Exact Sig. (1sided)
sided)
a
1
.013
5.151
1
.023
6.199
1
.013
6.130
b
Asymp. Sig.
(2-sided)
df
Fisher's Exact Test
.023
Linear-by-Linear Association
N of Valid Cases
6.065
b
1
.014
94
a. Computed only for a 2x2 table
b. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 23.00.
Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value
Odds Ratio for
Pengetahuan_Ibu (Rendah /
Tinggi)
For cohort Status_kematian =
kematian
For cohort Status_kematian =
hidup
N of Valid Cases
Lower
Upper
2.843
1.232
6.563
1.691
1.093
2.617
.595
.388
.912
94
.011
Hubungan Paritas dengan Kejadian Kematian Perinatal
Crosstabs
paritas * Status_kematian Crosstabulation
Status_kematian
kematian
paritas
1 kali atau
>=5 kali
Count
2 - 4 kali
10
31
15.5
15.5
31.0
44.7%
21.3%
33.0%
26
37
63
31.5
31.5
63.0
55.3%
78.7%
67.0%
Count
Expected Count
% within Status_kematian
Total
Count
47
47
94
47.0
47.0
94.0
100.0%
100.0%
100.0%
Expected Count
% within Status_kematian
Total
21
Expected Count
% within Status_kematian
hidup
Chi-Square Tests
Value
Pearson Chi-Square
Continuity Correctionb
Likelihood Ratio
Fisher's Exact Test
Linear-by-Linear
Association
N of Valid Casesb
Asymp. Sig.
(2-sided)
df
5.824a
4.813
5.920
1
1
1
Exact Sig.
(2-sided)
.016
.028
.015
.027
5.762
1
Exact Sig.
(1-sided)
.014
.016
94
a. Computed only for a 2x2 table
b. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 15.50.
Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value
Odds Ratio for paritas
(1 kali atau >=5 kali /
2 - 4 kali)
For cohort
Status_kematian =
kematian
For cohort
Status_kematian =
hidup
N of Valid Cases
Lower
Upper
2.988
1.209
7.386
1.641
1.120
2.405
.549
.317
.953
94
Hubungan Jarak Antar Kelahiran dengan Kejadian Kematian
Perinatal
Crosstabs
Jarak_antar_kelahiran * Status_kematian Crosstabulation
Status_kematian
kematian
Jarak_antar_kelahiran < 2 tahun
Count
3
12
6.0
6.0
12.0
19.1%
6.4%
12.8%
38
44
82
41.0
41.0
82.0
80.9%
93.6%
87.2%
47
47
94
47.0
94.0
>= 2 tahun Count
Expected Count
% within Status_kematian
Total
Count
Expected Count
47.0
% within Status_kematian
Total
9
Expected Count
% within Status_kematian
hidup
100.0%
100.0% 100.0%
Chi-Square Tests
Value
df
Asymp. Sig.
(2-sided)
Exact Sig.
(2-sided)
Exact Sig. (1sided)
Pearson Chi-Square
3.439a
1
.064
Continuity Correctionb
2.388
1
.122
Likelihood Ratio
3.579
1
.059
Fisher's Exact Test
.120
.060
Linear-by-Linear
3.402
1
.065
Association
b
N of Valid Cases
94
a. Computed only for a 2x2 table
b. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 6.00.
Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value
Odds Ratio for
Jarak_antar_kelahiran (< 2
tahun / >= 2 tahun)
For cohort
Status_kematian =
kematian
For cohort
Status_kematian = hidup
N of Valid Cases
Lower
Upper
3.474
.877
13.764
1.618
1.084
2.417
.466
.171
1.267
94
Hubungan Penolong Persalinan dengan Kejadian Kematian Perinatal
Crosstabs
penolong_persalinan * Status_kematian Crosstabulation
Status_kematian
kematian
penolong_persalinan Bukan
Count
Tenaga
Expected Count
Kesehatan
% within Status_kematian
Tenaga
Count
Kesehatan Expected Count
% within Status_kematian
Total
1
8
4.0
4.0
8.0
14.9%
2.1%
8.5%
40
46
86
43.0
43.0
86.0
97.9% 91.5%
47
47
94
47.0
47.0
94.0
100.0% 100.0%
100.0
%
Expected Count
% within Status_kematian
Total
7
85.1%
Count
hidup
Chi-Square Tests
Value
df
Asymp. Sig.
(2-sided)
Exact Sig.
(2-sided)
Exact Sig.
(1-sided)
Pearson Chi-Square
4.919a
1
.027
Continuity Correctionb
3.416
1
.065
Likelihood Ratio
5.481
1
.019
Fisher's Exact Test
.059
.029
Linear-by-Linear
4.866
1
.027
Association
b
N of Valid Cases
94
a. Computed only for a 2x2 table
b. 2 cells (50.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count
is 4.00.
Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value
Odds Ratio for
penolong_persalinan
(Bukan Tenaga Kesehatan
/ Tenaga Kesehatan)
For cohort
Status_kematian =
kematian
For cohort
Status_kematian = hidup
N of Valid Cases
Lower
Upper
8.050
.949
68.264
1.881
1.331
2.660
.234
.037
1.477
94
Hubungan BBLR dengan Kejadian Kematian Perinatal
Crosstabs
BBLR * Status_kematian Crosstabulation
Status_kematian
kematian
BBLR
BBLR (BBL <= 2.500
gram)
Count
Expected Count
% within Status_kematian
Tidak BBLR ( (BBL >
2.500 gram)
% within Status_kematian
Total
3
23
11.5
11.5
23.0
42.6%
6.4%
24.5%
27
44
71
35.5
35.5
71.0
57.4%
93.6%
75.5%
47
47
94
47.0
47.0
94.0
Count
Expected Count
% within Status_kematian
Total
20
Count
Expected Count
hidup
100.0%
100.0% 100.0%
Chi-Square Tests
Value
df
Asymp. Sig. Exact Sig. (2- Exact Sig. (1(2-sided)
sided)
sided)
Pearson Chi-Square
16.636a
1
.000
Continuity Correctionb
14.736
1
.000
Likelihood Ratio
18.183
1
.000
Fisher's Exact Test
.000
.000
Linear-by-Linear
16.459
1
.000
Association
b
N of Valid Cases
94
a. Computed only for a 2x2 table
b. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is
11.50.
Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value
Odds Ratio for BBLR
(BBLR (BBL <= 2.500
gram) / Tidak BBLR ( (BBL
> 2.500 gram))
For cohort
Status_kematian =
kematian
For cohort
Status_kematian = hidup
N of Valid Cases
Lower
Upper
10.864
2.947
40.050
2.287
1.633
3.201
.210
.072
.614
94
Hubungan Asfiksia dengan Kejadian Kematian Perinatal
Crosstabs
Asfiksia * Status_kematian Crosstabulation
Status_kematian
kematian
Asfiksia
Asfiksia
Total
Count
10
0
10
Expected Count
5.0
5.0
10.0
21.3%
.0%
10.6%
37
47
84
42.0
42.0
84.0
78.7%
100.0%
89.4%
47
47
94
47.0
47.0
94.0
100.0%
100.0%
100.0%
% within Status_kematian
Tidak Asfiksia Count
Expected Count
% within Status_kematian
Total
hidup
Count
Expected Count
% within Status_kematian
Chi-Square Tests
Value
Pearson Chi-Square
Continuity Correction
Likelihood Ratio
b
Asymp. Sig.
(2-sided)
df
11.190a
1
.001
9.064
1
.003
15.056
1
.000
Exact Sig.
(2-sided)
Fisher's Exact Test
Linear-by-Linear
Association
N of Valid Casesb
.001
11.071
1
Exact Sig. (1sided)
.001
.001
94
a. Computed only for a 2x2 table
b. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 5.00.
Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value
For cohort
Status_kematian =
kematian
N of Valid Cases
Lower
2.270
94
1.784
Upper
2.889
Hubungan Kelainan Kongenital dengan Kematian Perinatal
Crosstabs
Kelainan_Kongenital * Status_kematian Crosstabulation
Status_kematian
kematian
Kelainan_
Kongenital
Mengalami
kelainan
congenital
Count
Tidak
Kelaian
Kongenital
0
8
4.0
4.0
8.0
17.0%
.0%
8.5%
39
47
86
43.0
43.0
86.0
83.0% 100.0%
91.5%
Count
Expected Count
% within Status_kematian
Total
Count
Expected Count
% within Status_kematian
Total
8
Expected Count
% within Status_kematian
hidup
47
47
94
47.0
47.0
94.0
100.0% 100.0% 100.0%
Chi-Square Tests
Value
Pearson Chi-Square
Continuity Correction
Likelihood Ratio
b
Asymp. Sig. Exact Sig. (2(2-sided)
sided)
df
8.744a
1
.003
6.695
1
.010
11.836
1
.001
Fisher's Exact Test
Linear-by-Linear
Association
N of Valid Casesb
.006
8.651
1
Exact Sig. (1sided)
.003
.003
94
a. Computed only for a 2x2 table
b. 2 cells (50.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is
4.00.
Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value
For cohort
Status_kematian =
kematian
N of Valid Cases
Lower
2.205
94
1.749
Upper
2.781
DOKUMENTASI
Gambar 1. Wawancara Dengan Responden (Kasus)
Gambar 2. Wawancara Dengan Responden (Kontrol)
Download