TINJAUAN HUKUM ISLAM TENTANG PENYIMPANGAN SEKSUAL

advertisement
TINJAUAN HUKUM ISLAM TENTANG PENYIMPANGAN SEKSUAL
DENGAN BINATANG (BESTIALITY)
SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Syari’ah dan Hukum
Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai
Gelar Sarjana Hukum Islam (S.H.I)
Oleh
Edi Rohaedi
102045125121
Di Bawah Bimbingan
Asmawi, M.Ag
NIP. 150 282 394
KONSENTRASI KEPIDANAAN ISLAM
JURUSAN JINAYAH SIYASAH
FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
1428 H/2007 M
Pengesahan Panitia Ujian
Skripsi
yang
berjudul
TINJAUAN
HUKUM
ISLAM
TENTANG
PENYIMPANGAN SEKSUAL DENGAN BINATANG (BESTIALITY)
telah
diajukan dalam Sidang Munaqosah Fakultas Syari'ah dan Hukum UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta pada tanggal 4 Oktober 2007. Skripsi ini telah diterima sebagai
salah satu syarat untuk memperoleh Gelar Sarjana Hukum Islam (SHI) Pada Program
Studi Jinayah Siyasah Konsentrasi Kepidanaan Islam
Jakarta, 4 Oktober 2007
Disahkan Oleh
Dekan,
Prof. Dr. H. Muhammad Amin Suma, SH., MA.,
MM.
NIP. 150 210 422
Panitia Ujian Munaqosah
Ketua
: Asmawi, M.Ag.
(………………………)
NIP. 150 282 394
Sekretaris
(………………………)
: Sri Hidayati, M.Ag
NIP. 150 282 403
Pembimbing
: Asmawi, M.Ag
(………………………)
NIP. 150 282 394
Penguji I
(………………………)
: Ahmad Tholabi Kharlie, S.Ag, MA
NIP. 150 326 896
Penguji II
(………………………)
: Sri Hidayati, M.Ag
NIP. 150 282 394
KATA PENGANTAR
ِِْ
‫ِِْ اِ ا
َِْ ا‬
Puji dan syukur kehadirat Allah swt yang telah memberikan hidayah, taufiq,
serta nikmatNya sehingga alhamdulillah penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Shalawat dan salam
mudah-mudahan tercurahkan selalu kepada baginda Nabi
Muhammad saw, kepada para keluarganya, sahabatnya, dan seluruh ummatnya yang
senantiasa setia mengikuti ajarannya.
Penulis menyadari bahwa dalam menyelesaikan skripsi ini tidak sedikit
hambatan serta kesulitan yang penulis hadapi. Namun berkat kesungguhan hati dan
kerja keras serta dorongan dan bantuan dari berbagai pihak baik secara langsung
maupun tidak langsung, sehingga kesulitan dan hambatan dapat penulis atasi dengan
sebaik-baiknya. Untuk itu, dengan segala kerendahan hati penulis berterima kasih
kepada:
1. Bapak Prof. Dr. H. Muhammad Amin Suma, SH., MA., MM., selaku Dekan
Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Bapak Asmawi M.Ag, selaku ketua program studi Jinayah Siyasah dan ibu Sri
Hidayati M.Ag, selaku sekretaris program studi Jinayah Siyasah yang tak bosanbosannya membantu penulis.
3. Bapak Asmawi M.Ag selaku pembimbing penulis yang telah mrmberikan
kontribusi pemikiran sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
4. Pimpinan dan staf perpustakaan Syariah yang telah memberikan fasilitas bagi
penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
5. Ayahanda tercinta Jahudin dan Ibunda tercinta Siti Rohimah yang tak hentihentinya memberikan motivasi, cinta dan kasih sayangnya kepada penulis
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
6. Kakak-kakakku tercinta “ceu” Nur dan Aa Dayat, serta Adik-adiku: Oji, Irpan,
Dede, Salsa, yang setia dalam duka, canda dan tawa, dan tak henti-hentinya
mensupport penulis.
7. “Neng” Sen-Sen dan keluarga besar alm. H. Hanafi terima kasih atas kasih
sayang dan semangatnya kepada penulis.(tetap semangat…karena hidup adalah
arah dan tujuan)
8. Rekan-rekan sekaligus sahabat Pidana Islam angkatan 02: Akbar (makasih tuk
amunisinya) Ikwann Ableh (makasih wat mpek2nya), Mamak (Buruuuan) Cecep
(makasih tuk editannya), Oman (punten ti payun) Arie (kapan nyusul), bewok,
Andre, Dian, Eva, ofah, Sari, Cutka, Wafa (makasih wat petuahnya), yang selalu
mewarnai pemikiran penulis dan kisah sejati penulis dalam hidup ini.
9. Rekan-rekan Himata Jakarta Raya dan rekan-rekan Picaso Komputer Rental ( A
Ata, Rendra) Thank’s For All.
Jakarta, 4 Oktober 2007
Penulis
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ..................................................................................................
Daftar Isi ...........................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ................................................................
1
B. Perumusan dan Pembatasan Masalah .............................................
6
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian .......................................................
6
D. Metode Penelitian ..........................................................................
7
E. Sistematika Penulisan ....................................................................
8
BAB II PENYIMPANGAN SEKSUAL DAN BESTIALITY
BAB III
A. Pengertian Penyimpangan Seksual .................................................
10
B. Bentuk-Bentuk Penyimpangan Seksual ..........................................
14
C. Faktor-Faktor Penyimpangan Seksual .............................................
25
D. Pengertian Bestiality ......................................................................
28
E. Bestiality Sebagai Penyimpangan Seksual .....................................
29
TATA KEHIDUPAN SEKSUAL DALAM HUKUM ISLAM
A. Pernikahan Sebagai Upaya Penyaluran Kebutuhan Seksual
BAB IV
Secara Legal ..................................................................................
32
B. Etika Hubungan Seksual Antara Suami dan Istri ............................
39
C. Penyimpangan Seksual Sebagai Jarimah (tindak pidana) ................
48
BESTIALITY DALAM PANDANGAN HUKUM ISLAM
A. Bestiality dan Dampak Negatifnya .................................................
53
B. Bestiality Sebagai Jarimah (Tindak pidana) ...................................
56
C. Sanksi Pidana Bagi Pelaku Bestiality ............................................
62
D. Pandangan Hukum Islam Tentang Bestiality dan
Relevansinya dengan HAM ............................................................
67
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ...................................................................................
75
B. Saran-saran ....................................................................................
78
Daftar Pustaka ...................................................................................................
89
BAB I
TINJAUAN HUKUM ISLAM TENTANG PENYIMPANGAN SEKSUAL
DENGAN BINATANG (BESTIALITY)
A. Latar Belakang Masalah
Hukum Islam merupakan suatu sistem hukum yang sesuai dengan manusia,
karena pembentukannya senantiasa memperhatikan kemaslahatan manusia dalam
menghadapi berbagai masalah dan tantangan kehidupannya. Hal ini disebabkan
Allah mengetahui hakikat jiwa manusia dan kemampuannya dalam membentuk
akhlak. Akhlak yang diajarkan Islam bukan hanya memuat larangan dan
pencegahan, tetapi juga dorongan untuk mewujudkan kepribadian yang bertaqwa
kepada Allah.
Akhlak Islam menganjurkan kebaikan dan memberantas kejahatan. Ini
berdasarkan pandangan Islam bahwa manusia cenderung berbuat baik. Sebab,
manusia diciptakan dari proses alam yang suci, yang substansi jiwanya berasal
dari Yang Maha Suci, Allah. Akan tetapi, di luar itu ada kehendak hawa nafsu
manusia yang ingin melampiaskan seks di luar ketentuan hukum Islam yang
merupakan penyimpangan biologis yang melanggar fitrah manusia. 1
Islam mengakui bahwa manusia mempunyai hasrat yang sangat besar untuk
melangsungkan hubungan seks, terutama terhadap lawan jenisnya. Untuk itu
Islam, melalui hukum yang berdasarkan al-Quran dan al-Hadits, mengatur
1
Masjfuk Zuhdi, Masail Fiqhiah, (Jakarta: CV. Mas Agung, 1998), hal. 53
penyaluran seks melalui perkawinan. Melalui perkawinan inilah fitrah manusia
bisa terpelihara dengan baik. Sebab, perkawinan mengatur hubungan seks antara
pria dan wanita dengan ikatan yang sah dalam bentuk monogami atau poligami.
Perkawinan merupakan lembaga yang
mempertautkan hati, memelihara
kemaslahatan dan memadukan cinta kasih antara kedua belah pihak yang
berteman hidup.
Kendati Islam telah mengatur hubungan biologis yang halal dan sah,
penyimpangan-penyimpangan tetap saja terjadi, baik berupa delik perzinaan,
lesbian, homoseks, maupun bestiality (hubungan seksual dengan binatang). Ini
semua terjadi karena adanya dorongan biologis yang tidak terkontrol dengan baik,
yang disebabkan kurangnya memahami serta menjalankan ajaran agama. Naluri
seks itu sendiri merupakan naluri yang paling kuat, yang menuntut penyaluran,
dan jika penyaluran tidak memuaskan maka orang akan mengalami kegoncangan
dan kehilangan kontrol untuk mengendalikan nafsu birahinya dan timbullah
hubungan seks di luar ketentuan hukum seperti bestiality.
Kebutuhan seksual merupakan kebutuhan dasar pada diri manusia. Namun,
kebutuhan-kebutuhan yang bersifat naluri terkadang menjadikan manusia lepas
kontrol. Manusia berlomba-lomba mereguk kenikmatan dunia, meskipun cara
yang ditempuhnya tidak lagi memperhatikan segi-segi moralitas yang ada di
masyarakat.2
2
Ayip Syafrudin, Islam dan Pendidikan Seks Anak, (Solo: Pustaka Mantiq, 1991), cet. ke 1
Sebagian ulama salaf mengatakan bahwa pandangan mata ibarat anak
panah yang akan menodai hati, karena sebuah pandangan akan menjerat hati
dalam kerusakan. Karena itu perintah Allah untuk menjaga pandangan
disejajarkan dengan perintah Allah untuk menjaga kehormatan (al-faraj).3
Dewasa ini, terjadi berbagai bentuk penyimpangan seksual di tengah
masyarakat. Pola perilaku seksual yang menyimpang ini, baik yang ditinjau dari
sudut penyimpangan etikanya seperti perzinaan dan pelacuran, maupun yang
ditinjau dari sudut kelainan objeknya seperti homoseks, lesbian, dan bestiality,
merupakan hal yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat.
Bestiality adalah tindakan untuk mencari kepuasan seksual dengan jalan
berhubungan dengan binatang.4 Walaupun kasusnya jarang sekali terjadi, namun
gejalanya tetap ada. Pada tahun 1768, di Jerman pernah ada seorang petani yang
diajukan ke pengadilan atas tuduhan melakukan hubungan seksual dengan
binatang peliharaannya. Penyimpangan seksual ini dalam Islam disebut dengan
al-syudzudz bi al-hayawaniyyah, yang mana perbuat ini dilakukan dengan
binatang, baik oleh pria maupun wanita.
Pada zaman dahulu perbuatan ini lebih banyak dilakukan oleh kaum pria
dibandingkan wanita.5 Akan tetapi pada saat ini keadaannya telah berbalik, kaum
wanita justru lebih banyak melakukan perbuatan ini dibandingkan pria, khususnya
3
Imam Abi al-Fida’i Ismail Ibnu Katsir, Ibnu Katsir, (Beirut: Dar al-Filur, 1986), juz. III,
hal. 89
4
Ma’ruf Asrori dan Anang Zamroni, Bimbingan Seks Islami, (Surabaya: Pustaka Anda,
1997), hal. 75
5
Dr. Marwan Ibrahim al-Qaisy, Seksual dalam Islam, (Bandung: Mujahid Press, 2004), hal.
140-141
di negara-negara Barat. Hewan yang banyak digunakan untuk melakukan
hubungan ini adalah anjing, sebab selain pintar, populasi hewan ini justru lebih
banyak dibanding dengan yang lain.
Dari sudut kriminologi dan sosiologi, misalnya menurut teori Edwin H.
Suterland, dengan teori Differential Association, dinyatakan bahwa sesungguhnya
suatu perbuatan yang merupakan penyimpangan yang dilakukan oleh seseorang
merupakan hasil dari proses pembelajaran yang merupakan alih budaya yang
dilakukan oleh seseorang yang berdasarkan pergaulan dalam interaksinya dengan
lingkungan sekitarnya di mana ia bertempat tinggal, sehingga perilaku
menyimpang dan kejahatan yang dilakukan oleh seseorang pada dasarnya berasal
dari interaksi sosial yang ia lakukan dalam kehidupannya.6
Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan seksual pada diri manusia adalah
kebutuhan mendasar dan fitrah manusia itu sendiri, sebagaimana firman Allah
SWT:
َ ِ ِ‫زَُ ِ
سِ ُ ا"
!َ َاتِ َِ اَءِ وَاََِْْ وَاََِِْْ اَََُْْة‬
ِ‫ََ ة‬+ْ‫ُ ا‬5َ4َ َ3ِ‫ ذ‬01 ِ‫َْث‬+ْ‫ِ وَا‬,َ-ْ‫َﻥ‬/ْ‫ِ وَا‬%َ
َُْ‫ِ ا‬#َْ$ْ‫َِ وَا‬%
&ِ'ْ‫ا)
هَِ وَا‬
(14) ِ‫ُ ُُْ اَْ;َب‬:َ6ِْ9 ُ8‫ وَا‬07 َْ‫ﻥ‬6‫ا‬
Artinya:“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa
yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis
emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak [186] dan sawah ladang.
Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik
(surga)”. (QS. Al-Imran: 14)
6
Soejono Soekanto, Pokok-pokok Sosiologi Hukum, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,
2001), hal. 90
Moderenisasi mengakibatkan merosotnya penghargaan terhadap nilai-nilai
Islam yang merupakan pegangan bagi setiap orang, yang mana pada hakikatnya
Islam itu menyangkut pembinaan terhadap moral dan spiritual, sehingga selaras
dengan tujuan yang diinginkan. Sehubungan dengan itu Islam sebagai agama
fitrah sangat erat sekali dengan nilai-nilai, termasuk pengetahuan seks. Karena
pada dasarnya kehidupan manusia senantiasa diwarnai oleh permasalahan seks.
Apa yang menjadi penyebab perkembangan masalah penyimpangan
seksual ini tidak hanya disebabkan oleh satu faktor. Akan tetapi, banyak hal yang
berkaitan erat dengan masalah ini, yakni pergeseran nilai, perubahan sosial,
pengaruh budaya asing dan depresi keagamaan seseorang atau masyarakat itu
sendiri tentang seks. Oleh karena itu, sulit untuk memberantas pola perilaku
seksual yang menyimpang tersebut walaupun banyak pihak yang telah
mengupayakannya.
Namun hal tersebut tidak berarti kita tidak bisa mencegah berkembangnya
masalah seksual ini. Kita dapat memulai dari lembaga yang terkecil yaitu
keluarga. Memberikan pemahaman yang baik sejak dini diharapkan mampu
mencegah terjadinya perbuatan-perbuatan seks yang tidak normal.
Melihat banyaknya bentuk penyimpangan seksual yang terjadi dan
pengaruh negatif yang ditimbulkan terhadap masyarakat, penulis tertarik
membahas salah satu bentuk penyimpangan seksual, yaitu bestiality. Hal tersebut
di atas kiranya mendorong penulis untuk melakukan penelitian dengan
mengambil
judul
“TINJAUAN
HUKUM
ISLAM
TENTANG
PENYIMPANGAN SEKSUAL DENGAN BINATANG (BESTIALITY)”.
B. Perumusan dan Pembatasan Masalah
Masalah bestiality dapat ditinjau dengan sejumlah sudut pandang, misalnya
sudut pandang medis, sudut pandang psikologi, sudut pandang sosiologi, sudut
pandang antropologi, dan sudut pandang hukum. Dalam penelitian ini, masalah
bestiality akan ditinjau dengan sudut pandang hukum, yakni hukum Islam.
Adapun pokok masalah penelitian ini ialah bagaimana tinjauan hukum
Islam tentang bestiality ? Dari pokok masalah ini dibuat rincian pertanyaan
penelitian sebagai berikut :
1. Bagaimanakah gambaran bestiality sebagai penyimpangan seksual itu ?
2. Bagaimanakah gambaran hukum Islam mengenai tata kehidupan seksual ?
3. Bagaimanakah tinjauan hukum Islam tentang bestiality sebagai penyimpangan
seksual ?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Berdasarkan permasalahan umum yang telah dirumuskan, maka kegiatan
penelitian yang penulis lakukan bertujuan:
1. Memberikan
gambaran
penyimpangan seksual.
atau
penjelasan
tentang
bestiality
sebagai
2. Memberikan gambaran atau penjelasan tentang pandangan hukum Islam
mengenai tata kehidupan seksual.
3. Memberikan gambaran atau penjelasan tentang pandangan hukum Islam
mengenai bestiality.
Adapun manfaat penelitian ini adalah:
1. Menyediakan penjelasan dan informasi kepada masyarakat luas tentang
penyimpangan seksual dengan binatang (bestiality) dalam konsep hukum
Islam, serta membangunkan kesadaran masyarakat tentang dampak negatif
yang ditimbulkan oleh perilaku seks menyimpang, khususnya penyimpangan
seksual dengan binatang (bestiality).
2. Memberikan kontribusi pemikiran dalam rangka penyelesaian masalah
penyimpangan seksual yang berkembang di tengah-tengah kehidupan
masyarakat.
3. Memberikan kontribusi pemikiran yang dapat digunakan oleh akademisi
hukum pidana Islam dalam rangka mengembangkan khazanah pemikiran di
bidang hukum pidana Islam.
D. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
a. Dilihat dari segi datanya, penelitian ini merupakan penelitian kualitatif,
karena data-datanya berupa data kualitatif.
b. Dilihat dari segi tujuannya, penelitian ini merupakan penelitian yang
bersifat deskriptif karena bertujuan untuk memberikan gambaran atau
penjelasan tentang suatu pokok masalah yakni tinjauan hukum Islam
tentang penyimpangan seksual dengan binatang (bestiality).
2. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang penulis terapkan ialah teknik
dokumentasi.
3. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang penulis terapkan ialah teknik analisis isi
secara kualitatif (qualitative content analysis).
Adapun teknik penulisan yang diterapkan oleh penulis mengacu kepada
buku Pedoman Penulisan Skripsi, Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta, Tahun 2005.
E. Sistematika Penulisan
Penulisan skripsi ini dibagi menjadi lima bab yang terdiri dari sub-sub
sebagai berikut:
BAB I
Merupakan bab pertama yang terdiri dari latar belakang masalah,
perumusan dan pembatasan masalah, tujuan dan manfaat penelitian,
metode penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II
Bab ini menguraikan tentang penyimpangan seksual dan bestiality,
dengan sub judul yang meliputi: pengertian penyimpangan seksual,
bentuk-bentuk penyimpangan seksual, faktor penyebab terjadinya
penyimpangan seksual, dan bestiality sebagai penyimpangan seksual.
BAB III
Bab ini membahas tata kehidupan seksual dalam hukum Islam yang
meliputi: pernikahan sebagai upaya penyaluran kebutuhan seksual
secara legal, etika hubungan seksual antara suami dan isteri, dan
penyimpangan sebagai jarimah (tindak pidana).
BAB IV
Bab ini menguraikan bestiality dalam pandangan hukum Islam yang
meliputi: bestiality dan dampak negatifnya, bestiality sebagai jarimah
(tindak pidana), sanksi pidana dalam bestiality, dan pandangan hukum
Islam tentang bestiality dan relevansinya dengan HAM.
BAB V
Bab ini merupakan penutup dan kesimpulan dari pembahasan bab-bab
sebelumnya.
BAB II
PENYIMPANGAN SEKSUAL DAN BESTIALITY
A. Pengertian Penyimpangan Seksual
Penyimpangan seksual terdiri atas dua suku kata yaitu penyimpangan dan
seksual. Penyimpangan berasal dari kata dasar “simpang“ yang memiliki empat
pengertian. Pertama, berarti proses, cara perbuatan yang menyimpang atau
menyimpangkan. Kedua, membelok menempuh jalan yang lain. Ketiga, tidak
menurut apa yang sudah ditentukan, tidak sesuai dengan rencana. Keempat,
menyalahi kebiasaan, menyeleweng dari hukum, kebenaran, dan agama.7
Kata
“seksual”
mempunyai
dua
pengertian.
Pertama,
berarti
menyinggung hal reproduksi atau perkembangan lewat penyatuan dua individu
yang berbeda yang masing-masing menghasilkan sebutir telur dan sperma.
Kedua, secara umum berarti menyinggung tingkah laku, perasaan, atau emosi
yang berasosiasi dengan perangsangan alat kelamin, daerah-daerah erogenous,
atau dengan proses perkembangbiakan. 8
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan
Penyimpangan Seksual adalah perilaku seksual seseorang yang dianggap
menyimpang atau menyalahi aturan yang sudah ditetapkan.
7
Tim Penyusun Kamus, Pusat Pembinaan Bahasa, kamus besar Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Balai Pustaka, 1995), hal. 488
8
J.P. Chaplin, Kamus Lengkap Biologi, terjemahan. Kartini Kartono, (Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada, 2004), Cet.ke-9, hal. 460
Dalam kehidupan sehari-hari istilah seks lebih populer diucapkan, bahkan
sering digunakan untuk menggantikan istilah seksual. Seks sebenarnya
mempunyai arti jenis kelamin (laki-laki atau perempuan), hubungan kelamin
antara laki-laki (jenis jantan) dan wanita (jenis betina), dan juga bisa diartikan
benih jantan (sperma) dan benih betina (sel telur).9 Sedangkan seksualitas
(kehidupan seks, atau dorongan seks) diartikan pengetahuan tentang cara yang
normal maupun yang abnormal, serta tentang aspek-aspek mental yang membuat
individu mudah tertarik dengan lawan jenisnya.10
Karena itu untuk mengetahui arti istilah seks yang sebenarnya dalam suatu
kalimat, harus dilihat dalam konteks apa istilah tersebut digunakan, bisa jadi yang
dimaksud dengan istilah seks adalah alat kelamin secara biologis atau mungkin
seksualitas, atau mungkin pula hubungan seksual.
James Drever dalam bukunya Dictionary of Psychology, berpendapat
bahwa seks adalah suatu perbedaan mendasar yang berhubungan dengan
reproduksi dalam satu jenis yang membagi jenis ini menjadi dua bagian, yaitu
jantan dan betina sesuai dengan sperma (jantan) dan sel telur (betina) yang di
produksi.11 Dalam bahasa Arab seks diartikan dengan (AB) yang berarti jenisjenis kelamin atau setiap yang berkaitan dengan bentuk tubuh. Sedangkan seks
dalam Islam adalah kekuatan naluri yang disebut nafsu atau syahwat. Menurut
9
Save M. Dugan, Kamus Besar Ilmu Pengetahuan (IPKN), (Jakarta: Lembaga Pengkajian
Nusantara, t.th) hal. 1011
10
Ibid. hal. 1011
11
James Drever, Dictionary of Psychology, terjemahan Nanay Simanjuntak (Jakarta: PT.
Bina Aksara. 1988), Cet. Ke-2. hal. 439
Kartini Kartono seks adalah suatu mekanisme, yang mana manusia mampu
mengadakan evolusi sepanjang sejarah kehidupan manusia.12
Dalam kehidupan manusia, penyimpangan seksual semakin marak dan
meresahkan masyarakat. Aktivitas seksual yang tinggi itu akan menjadi lahan
subur bagi terjadinya konflik yang berkaitan dengan masalah seksual.
Islam memandang seksualitas sebagai suatu aspek kehidupan yang amat
penting karena banyak mempengaruhi keseluruhan aspek kehidupan manusia. Di
dalam Al-qur’an ditegaskan bahwa Allah swt menciptakan manusia dilengkapi
dengan nafsu seksual. Hal ini sesuai dengan firman Allah swt:
(2:14 : ‫ان‬9 ‫زَُ ِ
سِ ُ ا"
!َ َاتِ َِ اَءِ )ال‬
Artinya:
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa
yang diingini, yaitu: wanita-wanita (Q.S. Ali Imran / 3 : 14)
Akan tetapi nafsu seksual tersebut haruslah diarahkan kepada sesuatu hal
yang positif, yaitu untuk mengatur, menjelaskan, dan mempertahankan kehidupan
dunia.
Menurut H.C. Witherington mengemukakan adanya tiga motivasi dasar
pada diri manusia, yaitu; lapar, proteksi diri, dan seks.13 Sebagaimana kita ketahui
bahwa motivasi adalah sebab-sebab yang menjadi dasar seseorang terdorong
melakukan sesuatu.
12
Kartini Kartono, Psikologi Wanita: Wanita Sebagai Ibu dan Nenek (Bandung: Alumni.
1997) jilid II. h. 344
13
Ma’ruf Asrori dan Anang Zamroni, Bimbingan Seks Islami, (Surabaya: Pustaka Anda.
1997) Cet. Ke-1. hal. 3
Motivasi lapar misalnya, berlangsung untuk menjaga diri dari segala yang
membahayakannya. Adapun motivasi seks secara umum bisa disimak dalam
firman Allah swt:
‫ً إِن‬%ََْ‫ْ َ َد
ةً وَر‬,ُKََْ‫َ ﺏ‬#َ-َBَ‫ُُ ا إَِْ!َ و‬Kَْ4ِ ًB‫ْ أَزْوَا‬,ُKُِ'ْ‫ْ ِْ أَﻥ‬,ُKَ َIََ‫ِ أَنْ ﺥ‬Fِ‫وَِْ ءَاَﺕ‬
.‫
ُون‬Kَ'َ4َ ٍ‫َتٍ َِ ْم‬Tَ َ3َِ‫ ذ‬QِR
Artinya:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan
untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan
merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan
sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tandatanda bagi kaum yang berfikir. (Q.S.Ar-Ruum:21)
Dari ayat di atas, ditegaskan bahwa Allah swt menciptakan makhluk
berpasang-pasangan, dalam hal ini adalah manusia, agar mereka memperoleh
kesenangan dan ketentraman.14 Dengan demikian, motivasi dasar seks bersifat
alami dan jika hal ini di kembalikan kepada pendapat H.C. Witherington, motivasi
dasar seks tersebut menempati sepertiga dari seluruh motivasi dasar yang ada
pada diri manusia. Bahkan Sigmound Freud berpendapat lebih ekstrim, bahwa
nafsu seks merupakan penggerak satu-satunya dalam tingkah laku dan perbuatan
manusia.15 Menurutnya, semua kesenangan atau kegembiraan bersumber kepada
dorongan seks yang berfungsi sejak lahir dalam bentuk tertentu.
Terlepas dari perbedaan tersebut, yang jelas dorongan seks itu bersifat
biologis, naluriah, dan berlaku bagi semua orang. Apabila pengendalian diri,
dalam hal ini iman dan intelegensinya lemah, maka dorongan seks tersebut bisa
14
15
Ibid, hal. 6
Ibid, hal. 198
menguasai dirinya untuk melakukan tindakan-tindakan yang tidak wajar,
termasuk penyimpangan seksual.
B. Bentuk-bentuk Penyimpangan Seksual
Agama Islam adalah agama fitrah, universal, dan yang paling kaffah
sepanjang zaman. Islam adalah agama yang mampu menjawab tantangan zaman,
mengatasi setiap permasalahan dalam hidup kehidupan umat manusia, agama
yang memiliki ketentuan-ketentuan yang tepat dan bijaksana yang berakar pada
dasar pondasi yang kokoh. Diantara permasalahan yang sedang dihadapi oleh
umat sekarang ini adalah permasalahan seksual. Seks merupakan kebutuhan
biologis yang ada pada setiap makhluk hidup. Tetapi, dalam memenuhi atau
menyalurkan kebutuhan seksual ini tentulah tidak terlepas dari aturan-aturan dan
norma-norma agama yang berlaku.
Allah swt telah menciptakan manusia dengan segala nafsunya. Akan tetapi
nafsu tersebut haruslah disalurkan sesuai dengan syari’at agama yaitu kepada
isteri-isteri yang sah, yaitu melalui tali pernikahan. Pernikahan adalah satusatunya jalan untuk menyalurkan libido seksualnya, karena pernikahan
merupakan sesuatu yang diperintahkan oleh Islam. Dalam hal ini Allah swt
berfirman:
. َِ6َ4ْ-ُْ‫ِ ا‬+ُ َ َF
‫ُوا إِن
ا‬6َ4ْ-َ‫ْ وََ ﺕ‬,ُKَ ُF
‫
ا‬#ََ‫ََتِ َ أ‬V ‫َُ ا‬+ُ‫أَ!َ ا
)َِ ءَاَُ ا َ ﺕ‬
(87 : ‫ة‬6‫)اﺉ‬
Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang
baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
(Q.S.Al-Maidah:87)
Dari uraian di atas tampak, bahwa di satu sisi Allah tidak menghendaki
manusia mengingkari atau membunuh hasrat seksual yang ada pada dirinya
dengan memilih hidup berpantang kawin (membujang), sementara di sisi lain
Allah juga tidak menghendaki manusia bertingkah laku seperti makhluk lainnya
yang bebas menyalurkan naluri seksnya. Khusus bagi manusia, Allah swt
mengamanatkan agar libido seksual itu disalurkan untuk tujuan suci dan dengan
cara yang suci pula.
Namun, ternyata masih ada saja manusia yang berbuat hanya berdasarkan
kepada nafsu dan atau mengesampingkan pertimbangan akal sehatnya sehingga
melahirkan penyimpangan-penyimpangan seksual. Ada banyak penyimpangan
seksual yang terjadi di masyarakat, diantaranya adalah:
1. Incest, yaitu keinginan untuk melakukan hubungan seksual dengan muhrim,
seperti dengan ibunya, bapaknya, anaknya, atau dengan saudara kandungnya
sendiri. Seringkali kita dengar seorang bapak menghamili anaknya, anak
memperkosa ibunya, dan lain sebagainya. Menurut para psikolog incest
adalah perilaku penyimpangan seksual dan menurut hukum Islam incest
adalah berhubungan dengan wanita-wanita yang diharamkan untuk dinikahi
dan melakukannya termasuk penyimpangan seksual serta merupakan
pelanggaran ketentuan hukum. Menurut Ernaldi Bahar berpendapat bahwa
incest adalah perilaku penyimpangan seksual yang menjadikan keluarga
sebagai
objek
seksual. 16Sedangkan
menurut
Boyke
Dian
Nugraha
mengemukakan, incest ialah jenis perlakuan atau penyakit secara seksual yang
melibatkan dua orang keluarga.17 Anton Indra Caya berpendapat bahwa Incest
ialah hubungan seksual antara dua orang yang bertalian darah secara sadar
maupun secara paksa.18 Dalam kamus Psikologi dikemukakan bahwa Incest
ialah hubungan terlarang antara orang yang bertalian darah dekat dan tingkat
kekeluargaanya ditentukan oleh hukum masyarakat.19 Dalam hukum Islam
melarang hubungan incest dan menganggap hubungan tersebut sebagai zina.
Dikarenakan zina merupakan pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan
pernikahan. Incest pun merupakan perilaku yang dipandang sebagai
kemaksiatan.
Dalam hukum perkawinan Islam, pelarangan terhadap wanita-wanita yang
diharamkan disebut (mawani’ al-nikah) dan pelarangan ini mempunyai dua
sifat: sifat yang muabbad (abadi) dan muaqqat (sementara). Larangan
pernikahan yang bersifat muabbad (abadi) adalah pelarangan menikah
terhadap wanita yang diharamkan untuk selamanya tanpa batas waktu.
16
Ernaldi Bahar, Makalah prilaku sosial dan Aids: Tinjauan sosial-psikologis, (palembang, 5
september 1999. hal.75
17
Boyke Dian Nugraha. Apa Yang Ingin Diketahui Remaja Tentang Seks, (Jakarta: Bumi
Aksara, November 1997), Cet. I,hal. 152
18
Anton Indra Caya, Menyingkap Tirai Psikologi,Psiseksual, dan Seksologi, (Jakarta: Galang
Press, 2000), hal. 44
19
James Draver, Kamus Psikologi, terjemahan Nanay Simanjuntak, (Jakarta: PT. Bina
Aksara, 1986), Cet.ke-2, hal.213
Sedangkan muaqqat adalah pelarangan menikah dengan wanita yang sifatnya
sementara dikarenakan ada hal yang menutup kemungkinan untuk menikah.
Larangan pernikahan yang bersifat muabbad itulah yang dikatakan incest.
Menurut hukum Islam pelarangan pada wanita-wanita tersebut dikarenakan
terdapat unsur kenasaban dan ikatan darah. 20 Para ulama sepakat bahwa yang
termasuk kategori wanita-wanita yang haram untuk dinikahi ada tiga sebab
yaitu: sebab nasab, perkawinan dan sebab persusuan. Dalam hukum Islam
Incest dipandang sebagai tindakan yang hina dan sangat tidak bermoral, oleh
karena itu, Islam mengatur tentang haramnya hubungan tersebut. Selain
dipandang sebagai perbuatan amoral, hubungan incest juga mengakibatkan
rusaknya hubungan nasab dan akan menghasilkan keturunan yang cacat.
2. Necropilia, yaitu seseorang yang mencari kepuasan seksualnya dengan
menyetubuhi mayat bahkan terkadang ia bersikap kanibal, yakni dengan
melahapnya sekaligus. Korban biasanya orang yang ia senangi. Untuk
memenuhi hasrat seksualnya, orang yang ia senangi tersebut ia bunuh,
kemudian mayatnya ia setubuhi. Dalam kasus tindak pidana menyetubuhi
mayat ini para ulama berbeda pendapat. Menurut Imam Abu Hanifah dan
salah satu pendapat dari mazhab Syafi’i dan Hambali, bahwa perbuatan
tersebut tidak dianggap sebagai zina yang dikenakan hukuman had. Dengan
demikian pelaku hanya dikenakan hukuman ta’zir. Alasanya adalah bahwa
persetubuhan dengan mayat dapat dianggap seperti tidak terjadi persetubuhan,
20
Lihat al-Qur’an surat An-Nisa, ayat 23.
karena organ tubuh mayat sudah tidak berfungsi dan menurut kebiasaannya
hal itu tidak menimbulkan syahwat.21
Menurut pendapat yang kedua dari madzhab Syafi’i dan Hambali, perbuatan
tersebut dianggap sebagai zina yang dikenai hukuman had apabila pelakunya
bukan suami isteri. Sebabnya adalah karena perbuatan tersebut merupakan
perbuatan yang diharamkan bahkan lebih berat daripada zina dan lebih besar
dosanya, karena di dalamnya terdapat dua kejahatan, yaitu zina dan
pelanggaran kehormatan.22
Imam Malik berpendapat apabila seseorang menyetubuhi mayat, baik pada
qubulnya maupun pada duburnya, dan bukan pula isterinya maka perbuatan
itu dianggap sebagai zina dan pelakunya dikenai hukuman had. Akan tetapi,
apabila yang disetubuhinya itu adalah isterinya sendiri yang telah meninggal,
ia tidak dikenai hukuman had. Demikian pula apabila yang melakukannya itu
seorang wanita maka ia hanya dikenai hukuman ta’zir 23
3. Homoseks, istilah homoseks terambil dari kata Sadum, nama sebuah kota
kuno dekat Laut Mati, sebuah daerah di Jordan. 24Dalam arti lain homoseks
yaitu hubungan seks yang dilakukan dengan sesama jenis dimana si pelaku
merasa tertarik dan mencintai sesama jenis. Sedangkan dalam KBBI (Kamus
Besar Bahasa Indonesia) homoseks adalah keadaan tertarik terhadap orang
21
Abdul Qadir Audah, At-Tasyri Al-Jinaiy Al-Islamiy, (Beirut:Dar Alk-Kitab,t.th), juz II,
hal.353
22
Ibid, hal.354
Ibid.
24
Fathi Yakan, Islam dan Seks, (Jakarta: CV. Firdaus, 1997), hal.28
23
dari jenis kelamin yang sama.25 Biasanya kaum gay ini melakukan hubungan
seksualnya dengan memasukkan penis (zakar) kedalam anus laki-laki. 26
Dari literatur-literatur yang telah ditemukan, homoseks atau liwath (dalam
bahasa arab) merupakan abnormalitas hubungan seks dari segi cara
pemuasannya, yakni menggunakan anus sebagai alat coitus, baik dengan
manusia maupun dengan hewan. Menurut Dr. Boyke, pantat terbentuk oleh
syaraf perasa. Otot yang berada di bagian bawah berperan penting dalam
proses mekanik selama hubungan seks normal. Namun dari semua bagian
hanya anus dan rektum (bagian usus besar dekat anus) termasuk daerah yang
amat sensitif terhadap rangsangan seksual. Dikatakan olehnya juga, bahwa
anus memang mirip dengan vagina, kedua-duanya sama-sama dipenuhi
dengan syaraf. Begitu pula dengan rektum, hampir sama dengan lubang
vagina.
Menurut hukum Islam, liwath atau homoseks merupakan perbuatan yang
dilarang oleh syara.’dan merupakan jarimah yang lebih keji daripada zina.
Liwath merupakan perbuatan yang bertentangan dengan akhlak dan fitrah
manusia dan
sebenarnya
berbahaya
bagi kehidupan
manusia
yang
melakukannya.27 Liwath atau Homoseksual semula merupakan perbuatan
kaum Nabi Luth yang sudah mendarah daging. Nabi Luth sudah sering
25
Departemen pendidikan dan kebudayaan, KBBI(Jakarta: Balai Pustaka,1998),Cet.ke-1, hal.
312
26
27
Masjfuk Zuhdi, Masail Fiqhiyah, (Jakarta: Haji Masagung, 1994), hal. 42
Sayid Sabiq, Fiqh As-Sunah, juz 11, Dar Al-Fikr, Beirut, 1980, hlm.361
memperingatkan mereka tetapi mereka tidak mengindahkanya, sehingga
akhirnya mereka dihukum oleh Allah swt dan mereka mati kecuali Nabi Luth
dan para pengikutnya yang beriman kepada Allah. Kisah tentang peristiwa ini
diungkapkan oleh Allah swt dalam Surah al-A’raaf ayat 80 sampai dengan 84:
⌧!
./0 $,- *+ ') "#$%&
"9:;<
5678
12☺-4%!
%>[email protected]!
=
EFH
+0
BC'%D
QS< NO M IJK0L!
56W8 .F?AKV TU
\] Z[!%> .FXY
+0
"`>?AZ
^!_
ef<g "d;< ^ "9:=cA
CLk%l< 56j8 Ahdi=c
mZop! n] m!`
1st7! ./ *q<⌧r
"dH-4u
<Ai
56?8
.F⌧r %!kXY Aw9< ^ !vAif
568 .x2?A*l☺! $7
Artinya:
“Dan (Kami juga Telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah)
tatkala dia Berkata kepada mereka: "Mengapa kamu mengerjakan perbuatan
faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini)
sebelummu?". Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan
nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu Ini adalah
kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain Hanya mengatakan:
"Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini;
Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan
diri." Kemudian kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali
isterinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Dan kami
turunkan kepada mereka hujan (batu); Maka perhatikanlah bagaimana
kesudahan orang-orang yang berdosa itu”.(Q.S.Al-A’raaf: 80-82)
Di samping itu, larangan dan ancaman hukuman bagi orang yang melakukan
homoseksual ini terdapat dalam hadis Nabi Muhammad saw yang
diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, Imam Ahmad, Ibn Majah, dan Imam
Turmudzi (Imam yang lima kecuali Nasa’i):
َ,
َ‫ِ وَﺱ‬Fََْ9 ُ8‫ ا‬0
َ7 ِ8‫َلَ رَﺱُ ْلُ ا‬1 :َ‫َل‬1 ٍ‫َ
س‬9 ِْ‫َِ اﺏ‬9 َ%َِْKِ9 َْ9َ‫و‬
:‫ِ )روا‬Fِ‫ُ ْلَ ﺏ‬-ْ'َْ‫َ وَا‬#ِ9َ'ْ‫ُُ ْا ا‬4ْ1َR ٍ‫َ ْمِ ُ ْط‬1 َ#ََ9 ُ#َْ-َ ُ:ْ ُُ‫ْﺕ‬6َBَ‫ َْ و‬:
(0‫ اﺉ‬Z‫ إ‬%$‫ا‬
Artinya:
“Dari Ikrimah dari Ibn Abbas ia berkata: telah bersabda Rasulullah
SAW: ‘Barang siapa yang kamu dapati melakukan perbuatan kaum Nabi Luth
(homoseksual) maka bunuhlah si pelaku dan yang dikerjainya (objeknya).
(HR. Lima ahli hadis kecuali Nasa’i)28
Meskipun para ulama sepakat dilarangnya homoseksual ini, namun dalam
menetapkan hukumnya mereka berbeda pendapat. Menurut Imam Malik,
Syafi’i dan Ahmad, serta Syi’ah Zaidiyah dan Imammiyah, homoseksual itu
hukumnya sama dengan zina. Pendapat ini juga diikuti oleh Muhammad bin
Hasan dan Abu Yusuf murid Imam Abu Hanifah. Alasan disamakannya kedua
jenis tindak pidana ini adalah bahwa, baik wathi di dubur (homoseksual)
maupun wathi di qubul (zina), kedua-duanya dalam al-Qur’an disebut dengan
fahisyah. Dalam surat al-Ankabut ayat 28 disebutkan:
=
"9:;<
"9::%&
⌧!
28
hal.128
Imam Abi Husain Muslim bin Hajaj, Shahih Muslim, (Beirut: Daar al-Fikr,1993), juz II,
./0
$,%
*+
')
5j68 .x2☺-4%!
Artinya:
“Dan (Ingatlah) ketika Luth Berkata pada kaumnya: "Sesungguhnya
kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah
dikerjakan oleh seorangpun dari umat-umat sebelum kamu".(Q.S.AlAnkabut:28)
4. Lesbian, yaitu perbuatan menggesekkan atau menyentuhkan alat vital yang
berupa ejakulasi.29 Cara mereka melakukan hubungan seks ini mirip dengan
saktitis atau sebagai pasif feminim. Islam memandang bahwa lesbian
merupakan perbuatan haram, dan Para ulama telah sepakat mengharamkan
perilaku ini. Sebagaimana Imam Nawawi berkata:”wanita diharamkan
berhubungan seksual dengan wanita, jika hal itu terjadi maka wanita tersebut
harus dicela dan diperingatkan.30
Sebagaimana Rosulullah saw bersabda:
#B‫ [ ا‬Z :‫ل‬1 F‫ اﻥ‬,‫ وﺱ‬F9 8‫ ا‬#7 0‫ ا‬9 6-‫ ﺱ‬0‫ اﺏ‬9
\'‫ ﺕ‬Z‫ رة اأة و‬9 0‫ ﺕ[ اأة ا‬Z‫ و‬#B‫ رة ا‬9 09
‫ ا] ب‬01 ‫ اأة‬0‫اأة ا‬Z‫ وا‬6‫ ا] ب ا ا‬0R #B‫ ا‬0‫ ا‬#‫ا‬
31
(‫)ى‬4‫ راﺏ داود وا‬6B‫ ا‬:‫ )روا‬6‫ا ا‬
Artinya
“Dari abi said dari Rasulullah Saw bersabda laki-laki tidak boleh melihat
aurat laki-laki lain dan perempuan tidak boleh melihat aurat perempuan lain.
Dan seorang laki-laki tidak boleh tidur bersama laki-laki dalam satu kain dan
29
Sayyid Sabiq, Terjemahan Fiqh Sunah, (Bandung: al-Maarif, 1996), hal.139
Drs. H. Ahmad Muslich, Hukum Pidana Islam, (Jakarta:Sinar Grafika,2004), hal.140
31
Imam Abu Husain Muslim bin Hajaj, Sohih Muslim (Beirut dar el Fikr, 1993), Juz II Hal
30
398
seorang perempuan tidak boleh tidur bersama perempuan lain dalam satu
kain. (HR. Ahmad, Muslim, Abu Daud dan Turmudzi)
5. Onani (masturbasi), yaitu menyalurkan hasrat seksual dengan cara
merangsang alat kelamin, baik dengan menggunakan tangan dan sebagainya.
Beberapa pakar kedokteran dan pendidikan menganggap masturbasi tidak
menimbulkan efek samping yang serius bagi kesehatan, sedangkan sebagian
yang lain menganggap perbuatan tersebut sangat merusak kesehatan. Para
ulama berbeda pendapat dalam menentukan hukum onani tersebut. Ulama
mazhab Syafi’i, Maliki dan Zaidiyah, mengharamkan perbuatan onani
tersebut.32 Berdasarkan Firman Allah swt:
"d>A9 "` 1syI!
!z-
n]
58
w9%
*q#-4  "d>|
tA⌧ "'f€ "'~%☺c
Me⌧=O! 5+%☺ 58 .x24
%$ƒ;g %$
I!‚
5„8 H%! "`
Artinya:
“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, Kecuali terhadap isteri-isteri
mereka atau budak yang mereka miliki, Maka Sesungguhnya mereka dalam
hal Ini tiada terceIa.Barangsiapa mencari yang di balik itu, Maka mereka
Itulah orang-orang yang melampaui batas.(Q.S.al-Mu’Minuun:5-7)
Sedangkan ulama Hanafi mengharamkanya dalam keadaan tertentu, dan
membolehkannya dalam keadaan tertentu pula. Bahkan mewajibkannya dalam
keadaan lain, apabila merasa khawatir akan berbuat zina apabila tidak melakukan
32
Anang Zamroni, Ma’ruf Asrori, Bimbingan Seks Islami, (Surabaya: Pustaka Anda,1997),
cet.1, hal.177-178
onani. Adapun ulama Hambali mengharamkannya, kecuali dilakukan atas dasar
kekhawatiran akan berbuat zina.
6. Pedophilia, yaitu seseorang yang baru mendapatkan kepuasan seksual jika
melakukan hubungan dengan anak-anak. Perilaku menyimpang ini jelas
menghancurkan masa depan anak-anak, sehingga dikutuk oleh agama. Imam
Syafi’i dan Imam Hambali berpendapat bahwa perbuatan ini dikategorikan
sebagai perbuatan zina, yang dapat dikenai hukuman had terhadap pelakunya,
baik pelakunya laki-laki atau perempuan. 33
7. Voyeurisme, yaitu suka mengintip lawan jenisnya yang telanjang atau
mengintip hubungan seksual. Perbuatan ini bisa jadi tidak sekedar untuk
memenuhi rasa ingin tahunnya saja, akan tetapi lebih ia utamakan dan lebih
mendatangkan kepuasan daripada hubungan seksual yang normal.
8. Masochisme, yaitu penderita akan merasakan kenikmatan seksual jika ia
disakiti oleh pasangannya, misalnya dipukul dengan tangan, cambuk, dan lain
sebagainya atau seolah-olah ia diperkosa. Rasa sakit yang ia terima itu akan
mendatangkan kenikmatan yang luar biasa baginya, bahkan lebih nikmat
daripada hubungan kelamin.
9. Bestiality, yaitu tindakan mencari kepuasan seksual dengan jalan berhubungan
seksual dengan binatang. Para ulama sepakat tentang haramnya perbuatan ini,
akan tetapi berbeda pendapat dalam memberikan sanksi pidana bagi pelaku
33
hal.294
Abdul Qadir Audah, At-Tasyri Al-Jinaiy Al-Islamiy, (Beirut:Dar Alk-Kitab,t.th), juz II,
bestiality. Imam Malik dan Imam Hambali berpendapat bahwa bestiality
bukan merupakan perbuatan zina, tetapi merupakan perbuatan maksiat yang
dikenai sanksi ta’zir. Sedangkan di kalangan mazhab Syafi’i dan Hambali
terdapat dua pendapat. Pendapat yang paling rajih (kuat) dari pendapat Imam
Syafi’i sama dengan pendapat Abu Hanifah dan Imam Malik. Sedangkan
menurut pendapat Imam Syafi’I yang kedua, perbuatan tersebut dianggap zina
dan hukumanya adalah hukuman mati.
Demikianlah, beberapa prilaku seks menyimpang yang ada di masyarakat,
yang gejalanya akan sangat merusak terhadap masyarakat. Perilaku-prilaku
tersebut timbul dan berkembang karena terompet-terompet iblis terus-menerus
memanggilnya dalam pemuasan brutal dan lepas kontrol.
C. Faktor-faktor Penyebab Penyimpangan Seksual
Kebutuhan seksual merupakan kebutuhan dasar pada diri manusia.
Namun, kebutuhan-kebutuhan yang bersifat naluri terkadang menjadikan manusia
lepas kontrol. Manusia berlomba-lomba mereguk kenikmatan dunia, meskipun
cara yang ditempuhnya tidak lagi memperhatikan segi-segi moralitas yang ada di
masyarakat.34 Menurut pendapat H.C. Witherington, motivasi dasar seks tersebut
menempati sepertiga dari seluruh motivasi dasar yang ada pada diri manusia.
Bahkan Sigmound Freud berpendapat lebih ekstrim, menurutnya bahwa nafsu
34
1, hal. 28
Ayip Syarifuddin, Islam Dan Pendidikan Seks Anak, (Solo: Pustaka Mantiq, 1991), Cet, ke-
seks merupakan penggerak satu-satunya dalam tingkah laku dan perbuatan
manusia.35 Menurut Sigmound Freud bahwa faktor penyebab penyimpangan
seksual ialah lemahnya pengendalian diri, dalam hal ini iman dan
intelegensi.
Apabila kedua faktor tersebut tidaklah menjadi senjata ampuh bagi seseorang
untuk mengontrol dan menguasai dirinya dari dorongan seks yang tidak
terkontrol, maka dorongan seks tersebut dapat menguasai dirinya untuk
melakukan penyimpangan seksual.
Perilaku seks menyimpang ini dapat saja terjadi akibat hasrat seksual yang
sangat tinggi dan tak bisa dikontrol dengan baik. Akan tetapi, tidak dapat
dipungkiri bahwasanya penyimpangan seksual yang terjadi di masyarakat dapat
terjadi karena multifaktoral, mencakup gejala-gejala di dalam dan di luar pribadi
(kelompok gejala yang intrinsik dan ekstrintik) yang saling berhubungan.
Kartini Kartono menyebutkan ada dua faktor yang menyebabkan
penyimpangan seks :
1. Faktor intrinsik ialah faktor-faktor herediter atau keturunan, berupa
predisposisi dan konstitusi jasmaniah dan mentalnya.
2. Faktor ekstrinsik ialah mencakup adanya kerusakan-kerusakan psikis dan fisik
disebabkan oleh pengaruh-pengaruh luar, atau oleh adanya interaksi
pengalaman dengan lingkungan yang traumatis sifatnya. 36
35
Ma’ruf Asrori dan Anang Zamroni, Bimbingan Seks Islami, (Surabaya: Pustaka Anda,
1997), Cet. Ke-1, hal. 198
36
Kartini Kartono, Psikologi Abnormal dan Abnormalitas Seksual, (Bandung: Mandar Maju,
1989), hal. 252
Sedangkan menurut Ma’ruf Asrori dalam bukunya Bimbingan Seks Islami,
dorongan seks yang tidak terkendali disebabkan oleh dua faktor :
1. Faktor Endogin (dari dalam), yakni lemahnya iman dan intelegensinya tidak
dapat mengendalikan hawa nafsu.
2. Faktor eksogin, yakni datangnya dari hampir setiap aspek kehidupan modern
yang tumbuh dan berkembang tidak atas dasar konsep agama. Misalnya, trend
mode, make up, pergaulan bebas, film dan bacaan porno, panti pijat, klub
malam, bar dan lain-lain.37
Dari beberapa faktor yang disebutkan di atas dapat disimpulkan bahwa
ada tiga faktor utama yang dapat menyebabkan penyimpangan seksual, yaitu
pengaruh genetik, ketidakdisiplinan diri dan lingkungan yang tidak baik.
Walaupun terdapat hubungan yang jelas antara masalah penyimpangan
seksual dan ketiga faktor tersebut, tetapi lingkungan menempati posisi yang
signifikan. Hal ini dikarenakan lingkungan menghimpun banyak faktor yang
saling mengikat yang dapat membentuk suatu iklim kondisi bagi tumbuhnya
berbagai penyimpangan.
Seks memang salah satu alternatif untuk menghancurkan generasi bangsa,
umat Islam saat ini sedang ditimang-timang dan diberikan permainan seks
sehingga melupakan mereka kepada tugas utama yaitu ibadah kepada Allah swt.
Hal ini dapat terlihat dari semakin suburnya tempat-tempat prostitusi yang legal
37
Ma’ruf Asrori dan Anang Zamroni, Bimbingan Seks Islam, (Surabaya: Pustaka Anda,
1997), Cet. Ke-1, hal. 213
maupun illegal, iklan-iklan yang selalu menampilkan wanita-wanita pesolek dan
lain sebagainya, dan ini harus segera disadari oleh umat Islam itu sendiri dan
ulama serta pemerintah khususnya.
D. Pengertian Bestiality
Bestiality berasal dari kata bestialis atau bestia yang artinya ialah binatang
liar. Akan tetapi Bestiality yang penulis maksud di sini ialah tindakan mencari
kepuasan seksual dengan jalan berhubungan seksual dengan binatang.
Penyimpangan seks dengan binatang (Bestiality) dianggap menyimpang karena
menjadikan binatang sebagai objek pemuasan seksualnya dan perilaku ini
dipandang menyimpang baik dari norma hukum, kaidah agama dan tata susila
yang berlaku di masyarakat.
Pada zaman dahulu perbuatan ini lebih banyak dilakukan oleh kaum pria
dibandingkan wanita. Akan tetapi pada saat ini keadaannya telah terbalik, kaum
wanita justru lebih banyak melakukan perbuatan ini dibandingkan pria, khususnya
di negara-negara barat. Hewan yang banyak digunakan untuk melakukan
hubungan ini adalah anjing dan kera, sebab selain pintar, populasi hewan ini
justru lebih banyak dibanding dengan yang lain.
Walaupun kasusnya jarang sekali terjadi, namun gejalanya tetap ada. Pada
tahun 1768, di Jerman pernah ada seorang petani yang diajukan ke pengadilan
atas tuduhan melakukan hubungan seksual dengan binatang peliharaannya.
Penyimpangan seksual ini dalam Islam disebut dengan al-Syudzudz al-
Hayawaniyyah,. dimana perbuatan ini dilakukan dengan binatang, baik oleh pria
maupun wanita.
E. Bestiality Sebagai Penyimpangan Seksual
Seks adalah suatu mekanisme yang mana manusia mampu mengadakan
keturunan, oleh karena itu, seks merupakan suatu mekanisme vital, yang mana
manusia mengadakan evolusi sepanjang sejarah kehidupan manusia. Naluri seks
merupakan naluri yang paling kuat dan keras yang selamanya menuntut adanya
jalan keluar. Bilamana jalan keluar tidak dapat memuaskan, maka banyaklah
manusia yang mengalami kegoncangan serta melakukan penyimpangan seksual.
Bestiality sebagai solusi pemuasan hasrat seksual yang menjadikan binatang
sebagai objek pemuas hasrat seksual yang gejalanya semakin dirasakan di
masyarakat dan pelakunya semakin bertambah. Pada awalnya bestiality banyak
dilakukan oleh pria, akan tetapi seiring berjalanya waktu perbuatan ini banyak
dilakukan oleh wanita.
Menurut pakar kesehatan bestiality dapat terjadi akibat tingginya hasrat
seksual yang tidak terkontrol, dimana para pelaku bestiality merasa tidak puas
ketika hanya bersenggama dengan isterinya. Bisa juga perilaku tersebut muncul
akibat
pengaruh
pergaulan
seseorang
dengan
para
pelaku
bestiality
lainnya.38Bahkan ada pula (meski tidak banyak) yang dilatarbelakangi tujuan
38
Ma’ruf Asrori dan Anang Zamroni, Bimbingan Seks Islami, (Surabaya: Pustaka
Anda,1997),Cet. Ke-1.hal.42
mengamalkan ilmu hitam atau ilmu kebatinan tertentu yang mengisyaratkan
“pengelmu” untuk menyetubuhi binatang.39
Sawitri Supardi Sadarjun mengemukakan bahwa bestiality merupakan
deviasi
seksual
(gangguan
perkembangan
psikoseksual)
yang
sangat
membahayakan kejiwaan seseorang. Menurutnya perilaku seks menyimpang ini
terjadi karena banyak orang yang terangsang secara seksual bila melihat binatang
berhubungan seksual, sehingga membayangkan dirinya berperan sebagai binatang
dan terobsesi oleh imajinasi tersebut, dan akhirnya membuka peluang bagi
perkembangan ke arah bestiality. Menurut beliau bestiality dapat disebabkan oleh
beberapa faktor:
1. Penderita didominasi oleh pikiran pola relasi seksual pada binatang
2. Refleksi ketakutan dan tidak ada kekuatan dalam melakukan pendekatan
terhadap jenis kelamin lain.
3. Hambatan dalam kemampuan bergaul dengan lingkungan sosial pada
umumnya dan jenis kelamin lain pada khususnya.40
Boyke
Dian
Nugraha
mengemukakan
bahwa
perilaku
seksual
menyimpang dengan binatang (bestiality) termasuk kedalam kategori paraphilias
(diluar batas normal). Menurut Boyke “di Indonesia kasus penyimpangan seksual
dengan binatang mungkin masih bisa dihitung oleh jari (yang teridentifikasi).
Akan tetapi di luar negeri, misalnya Amerika Serikat kasusnya sudah mencapai
39
Marzuki Umar Sa’abah, Seks dan Kita, (Jakarta: Gema Insani Press,1997), Cet.Ke-
1,hal.157
40
Http:www.Kompas .com/Kesehatan /News/21/7/2007
ratusan bahkan ribuan. Missouri yang merupakan negara bagian Amerika Serikat,
bahkan telah melegalisasi hubungan seksual menyimpang tersebut.41
BAB III
TATA KEHIDUPAN SEKSUAL DALAM HUKUM ISLAM
A. Pernikahan Sebagai Upaya Penyaluran Kebutuhan Seksual Secara Legal
Manusia menurut fitrahnya tidak akan sanggup menahan nafsu seksualnya,
kecuali manusia yang tidak normal yang dapat meninggalkan perkawinan. Islam
adalah agama fitrah yang menyalurkan sesuatu menurut semestinya, karena
kerusakan di atas dunia berpangkal kepada keserakahan hawa nafsu, dan nafsu
41
http:/www.Cerita Remaja.com/14/02/2007
kebirahian kepada wanita menjadi dorongan untuk mencapai tujuan bagi yang
tidak dapat mengendalikan dirinya.42
Sesungguhnya naluri seks merupakan naluri yang paling kuat dan keras
yang selamanya menuntut adanya jalan keluar. Bilamana jalan keluar tidak dapat
memuaskannya, maka banyak manusia yang mengalami kegoncangan dan kacau
serta menerobos jalan yang jahat. Seks merupakan kebutuhan biologis yang ada
pada setiap makhluk hidup. Tetapi, dalam memenuhi atau menyalurkan
kebutuhan seksual ini tentulah tidak terlepas dari aturan-aturan dan norma-norma
agama yang berlaku. Allah swt telah menciptakan manusia dengan segala nafsu
seksualnya, akan tetapi nafsu tersebut haruslah disalurkan sesuai dengan syari’at
agama yaitu kepada isteri-isteri yang sah, yaitu melalui pernikahan. Islam bahkan
telah melarang manusia untuk mengibiri nafsu syahwatnya dengan tidak menikah
sebagai satu-satunya jalan untuk menyalurkan libido seksualnya, karena
pernikahan merupakan sesuatu yang diajarkan oleh Islam. Rasulullah saw
mencela orang-orang yang berjanji akan berpuasa setiap hari, akan beribadah
setiap malam, dan berjanji tidak akan menikah. Sebagaimana Rasulullah saw
bersabda:
6َ َِ َ,
َ‫ِ وَﺱ‬Fََْ9 ُ8‫
ا‬0َ7 ِّQِ
‫ُ أَن
ا‬Fَْ9 ُ8‫َ ا‬Qِ‫ٍ رَﺽ‬3َِ ِْ‫ٍ اﺏ‬Aَ‫َْ أَﻥ‬9َ‫و‬
َ‫َو
جُ اَِء‬bَ‫ُِْ وَأَﺕ‬Rُ‫ُ ْمُ وَأ‬7َ‫ وَأَﻥَمُ وَأ‬0َِّ7ُ‫ أَﻥَ أ‬0ِِّKَ َ‫َل‬1َ‫ِ و‬Fََْ9 0َْ‫َ وَاﺙ‬8‫ا‬
(,‫رى و‬$‫ ا‬:‫)روا‬. ْQِِّ َAََْR ْQِ4
ُ‫َْ ﺱ‬9 َِdَ‫ََْ ر‬R
Artinya:
42
Ibrahim Hosen, Fiqih Perbandingan dalam Masalah Nikah, Talak, Rujuk, dan Hukum
Kewarisan, (Jakarta: Yayasan Ihya Ulumudin, 1971), cet. ke-1, jilid 1, hal. 78
“Dari Anas bin Malik r.a. Sesungguhnya Nabi memuji Allah dan memuji
kepadanya. Dan ia bersabda: Tetapi saya shalat, saya tidur, saya berpuasa,
saya berbuka, dan saya mengawini wanita, maka barang siapa yang benci
kepada sunahku bukanlah ia termasuk ummatku.” (Bukhari dan Muslim). 43
Menikah adalah jalan alami dan biologis yang paling baik dan sesuai untuk
menyalurkan dan memuaskan naluri seks. hukum Islam menerangkan, wajib
hukumnya untuk menikah bagi yang sudah mampu menikah, yang nafsunya telah
mendesak dan takut terjerumus dalam perzinahan.44
Sunnah hukumnya menikah, bagi orang yang nafsunya telah mendesak,
tetapi masih dapat menahan dirinya dari perbuatan zina, menikah baginya lebih
utama dari bertekun diri dalam ibadah.
Haram hukumnya menikah, bagi seseorang yang tidak mampu membiayai
isterinya serta nafsunya pun tidak mendesak.
Makruh hukumnya menikah, bagi seseorang yang lemah syahwat dan tidak
mampu memberi nafkah isterinya. Walaupun tidak merugikan isteri, karena ia
kaya dan tidak mempunyai keinginan syahwat yang kuat. Juga bertambah makruh
hukumnya jika karena lemah syahwat itu ia berhenti dari melakukan ibadah atau
menuntut ilmu sesuatu.
Mubah hukumnya menikah, bagi laki-laki yang tidak terdesak oleh alasanalasan yang mewajibkan atau alasan-alasan yang mengharamkan untuk menikah..
Jadi Islam menganjurkan pernikahan sebagaimana tersebut, karena ia mempunyai
43
Imam Abi Husain Muslim bin Hajaj, Shahih Muslim,(Beirut: Daar al-Fikr:1993), juz I,
hal.234
44
Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, terjemahan Muhammad Thalib,(Bandung: al-Ma’arif,tth), cet.
Ke-15, hal.22-26
pengaruh yang baik bagi pelakunya sendiri, masyarakat dan seluruh umat
manusia.
Rasulullah saw selaku mengingatkan
bahwa perkawinan dan hidup
berpasang-pasangan merupakan salah satu sunnahnabi, untuk manusia, hewan,
dan tumbuh-tumbuhan dalam kehidupannya masing-masing.
Sebagaimana firman Allah:
CL-4%Z
[e⌧†
8…N9Y
+
Ayr⌧k O#‡4% 812%+%|
5ˆ8
Artinya:
Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu
mengingat kebesaran Allah (Q.S. Adzariyyat:49)
Dan firman Allah swt:
‰ffB!
'.,;c
‹yI!
"#DO‚
^!9Š!
C%,- Ž;< +0 O#-4Œ
%d%>%|
'~
-4%Z
B]%+‚
‘'~
h~O
M
☯IJK”
!BtA’⌧r
‹yI!
yI!
^!9f!
O
IJK
⌧r yI! f M U-‚SŒ!
5W8 L:H‚ "#k-4u
Artinya:
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang Telah
menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanyaAllah menciptakan
isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki
dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan
(mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain dan
(peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga
dan Mengawasi kamu. (Q. S. an-Nisaa: 1)
Islam memandang bahwa pernikahan merupakan cara alami untuk
memenuhi kebutuhan seks secara manusiawi, maka islam memerintahkan untuk
menikah, serta memerintahkan kepada para pemuda yang sudah sanggup dan
mempunyai
kesempatan
untuk
melaksanakan
pernikahan
secepatnya.
Sebagaimana Rasulullah saw bersabda:
ِ َgَِْ \َdَ‫ُ أ‬F
‫ِﻥ‬fَR ْ‫َو
ج‬bَ4ََْR َ‫ُ اَْءَة‬,ُKِْ َ‫ََع‬4ْ‫ْ"ََ ا"
َبِ َِ اﺱ‬-َ َ
(F9 I'4) .ٌ‫َء‬Bِ‫ُ و‬Fَ ُF
‫ِﻥ‬fَR ِ‫
ْم‬gِ‫ِ ﺏ‬Fََْ-َR ْ5َِ4َْ ْ,
ََْ‫َُ ِْ'َْجِ و‬gَْ‫وَأ‬
Artinya:
“Wahai para pemuda barangsiapa yang sanggup di antaramu memberi
nafkah, maka hendaklah menikah, karena menikah membatasi pandangan
dan memelihara kemaluan, barangsiapa yang belum mampu (memberi
nafkah) maka hendaklah berpuasa, karena puasa itu melemahkan nafsu”.
(HR. Bukhari dan Muslim)45
Fredick Kahn mengemukakan bahwa pernikahan adalah satu-satunya cara
yang benar untuk menyalurkan naluri seks dan untuk memecahkan problema
seksual secara mendasar di lingkungan masyarakat. Dia mengungkapkan bahwa:
“Di zaman dahulu banyak orang menikah dalam usia muda, hal itu merupakan
suatu pemecahan yang benar terhadap problema seksual. Sekarang usia menikah
sudah mulai ditambah seperti halnya banyak orang yang tidak senang bila
pernikahan sering terjadi. Suatu pemerintahan akan sukses apabila ia
membolehkan perkawinan secara dini. Pemerintahan seperti ini pantas dihargai
karena ia telah menyelesaikan persoalan seks”.46
45
Imam Abi Husain Muslim bin Hajjaj, Shahih Muslim,(Beirut:Daar al-Fikr,1993), juz I,
hal.638
46
Sebagaimana dikutip oleh Fathi Yakan, Islam dan Seks, terjemahan Sayril Halim, (Jakarta:
CV. Firdaus, 1990), cet. ke-2, hal. 32
Pernikahan sangat diperintahkan oleh syari’at Islam, karena ia merupakan
jalan yang paling sehat dan tepat untuk menyalurkan kebutuhan biologis.
Pernikahan juga merupakan sarana yang ideal untuk memperoleh keturunan, agar
suami isteri dapat mendidik serta membesarkannya dengan penuh kasih sayang
dan kemuliaan, perlindungan serta kebesaran jiwa. Tujuannya adalah agar
keturunan itu mampu mengemban tanggung jawab untuk selanjutnya berjuang
untuk memajukan dan meningkatkan kehidupan.47
Selain merupakan sarana penyaluran kebutuhan biologis, pernikahan juga
merupakan pencegahan penyaluran kebutuhan seks pada jalan yang tidak
dikehendaki oleh syari’at Islam (penyimpangan seks). Pernikahan mengandung
arti larangan untuk menyalurkan potensi seks dengan cara-cara di luar ajaran
agama Islam atau penyimpangan seks. Itulah sebabnya Islam melarang pergaulan
bebas, gambar-gambar porno, serta cara-cara lain yang dapat menenggelamkan
nafsu birahi atau menjerumuskan orang kepada penyimpangan seks yang tidak
dibenarkan oleh agama. Dengan larangan ini dimaksudkan agar terhindar dari
pergaulan bebas dan penyimpangan seksual.
Pada umumnya orang beranggapan, bahwa tujuan perkawinan ialah untuk
menghalalkan hubungan biologis antara seorang laki-laki dan perempuan. Tetapi
tujuan itu bukanlah yang paling utama menurut Islam, sebab ada tujuan-tujuan
lain yang dipandang lebih utama yang terkandung dalam perkawinan, yaitu:
47
Ibnu Hajar al-Asqalani, Buluq al-Maram, (Surabaya: Nabhan, tt), hal.149
1. Untuk melanjutkan keturunan yang merupakan sambungan hidup dan
penyambung cita-cita di masa mendatang.
Firman Allah SWT:
"%☺KK!
i4k⌧
•I
A
I
M
5–‚SŒ!
j⌧*☺-4⌧r
n]
KK!
M i[A `  ?AJ—:!
e⌧† 8…N9Y Mz- yI! nF
5„„8 ⌦Ac,
Artinya:
Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan
menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan
memberimu rezki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman
kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah (Q.S. An- Nahl:77)
2. Untuk menjaga diri dari perbuatan –perbuatan yang dilarang oleh Allah swt.
Sesungguhnya hubungan yang terjadi diantara seorang laki-laki dan wanita
yang bukan muhrim yang lebih dikenal dengan masa berpacaran lebih
mendekatkan diri pada perbuatan-perbuatan maksiat, karena setiap manusia
memiliki rasa ingin disayang dan menyayangi sehingga bisa saja rasa itu
berkembang menjadi perbuatan yang dilarang oleh Allah swt. Karena tergoda
gairah yang dituntun oleh setan.
3. Untuk menimbulkan ketentraman jiwa karena adanya rasa kasih sayang
diantara Suami Isteri.
Allah swt telah menanamkan pada umat manusia rasa saling
menyayangi dan rasa ingin disayangi, rasa kasih dan ingin dikasihi. Sehingga
dengan ikatan perkawinan akan tersalur rasa saling mengasihi dan
menyayangi sesuai dengan yang diinginkan oleh Agama. Dari perasaan inilah
maka akan timbul ketenangan dan ketentraman jiwa di hati Suami Isteri,
bahkan akhirnya ketentraman di lingkungan keluarga dan juga masyarakat
luas. sebagaimana firman Allah swt:
-4%Œ  =c! *+
"#K9<
*+0
O#
^!_B#KS™
☯+|
"9:BšO XN%%> %dH
z1 f M %☺*‚ BCfHf
)Ϫ
qc›%
%$
5jW8 Ay#⌧=c
Artinya:
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan
untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan
merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan
sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tandatanda bagi kaum yang berfikir.(Q.S.Ar-Ruum:21)
4. Untuk mengikuti sunnah Rasulullah saw
Rasulullah saw mencela orang-orang yang berjanji akan berpuasa
setiap hari, akan beribadah setiap malam dan tidak akan menikah.
Secara singkat Abdul Muhaimin As’ad berpendapat bahwa tujuan perkawinan
adalah menuruti perintah Allah swt. Dan mengharap ridhoNya dan mengikuti
sunnah Rasulullah saw. Serta memperoleh keturunan yang sah dan terpuji
dalam masyarakat, dalam membina rumah tangga yang bahagia dan sejahtera,
serta penuh cinta kasih diantara suami isteri.
Pernikahan juga dimaksudkan untuk menahan pandangan mata dari hal-hal
yang dilarang, menjaga kemaluan dan menjauhkan manusia dari bentukbentuk hubungan yang tercela.
Nafsu seksual adalah anugerah Allah swt. Keberadaan nafsu penting untuk
kelangsungan manusia, untuk mewujudkan kekhalifahan yang di berikan
Allah kepada manusia di atas permukaan bumi dan untuk beribadah
kepadaNya. Jika demikian halnya, maka seks bukanlah sesuatu yang kotor
apabila diletakkan pada tempatnya yang telah disyari’atkan Allah swt, yaitu
melalui pernikahan.
B. Etika hubungan seksual antara Suami dan Isteri
Pernikahan ialah sebuah institusi manusia yang alamiah. Al-Qur’an
menggambarkan pernikahan sebagai hubungan yang kuat dan mendalam karena
perkawinan merupakan perlindungan dari kebutuhan biologis merupakan bagian
dari beberapa hak yang harus dipenuhi oleh pasangan suami – isteri. Hubungan
seksual dalam Islam, tidak hanya dalam persoalan pleasure (nafsu) semata. Akan
tetapi erat dengan etika dan nilai-nilai agama. Sangat wajar apabila hubungan
seksual dalam Islam sangat berorientasi pada seks halal. Dengan demikian Islam
sebenarnya telah melakukan sakralisasi. Yang dimaksud sakralisasi di sini adalah
hubungan seks dapat menghasilkan nilai pahala ketika dilakukan oleh pasangan
Suami - Isteri. Karena itu menolak seks halal yang dikehendaki oleh salah satu
pasangan berarti telah berbuat dosa selama memang tidak ada unsur yang
menyebabkan hal itu bisa ditinggalkan. Hal ini tercermin dari sabda Rasulullah
Saw:
ُ ُB
‫َ ا‬9َ‫َ إِذَا د‬,
َ‫ِ وَﺱ‬Fََْ9 ُ8‫ ا‬0
َ7 ِ8‫َلَ رَﺱُ ْلُ ا‬1: َ‫َل‬1 َ‫ْ هََُْة‬Qِ‫َْ أَﺏ‬9
#
0
4َ ُ%َKِ‫َﺉ‬lَْ‫ْ!َ ا‬4ََ-َ َ!ََْ9 َ‫َ&َْن‬d َ‫ََت‬R ِFِ‫ْﺕ‬kَ‫ْ ﺕ‬,ََR ِFِ‫َِاﺵ‬R 0َِ‫ُ إ‬Fَ‫اَْأَﺕ‬
(‫ وأﺏ داود‬,‫ر و‬$‫ ا‬:‫ )روا‬.َmِْgُ‫ﺕ‬
Artinya:
“Dari Abu Hurairah r.a berkata Rasulullah SAW bersabda: “apabila
seseorang suami memanggil istrinya datang ke tempat tidurnya
(berhubungan seks). Lalu istrinya menolak dan ia marah sepanjang malam,
maka istri tersebut akan dilaknat oleh malaikat semalam suntuk” (H.R
Bukhari, Muslim, dan Abu Daud)”.48
Seks halal yang penulis maksud
berdasarkan ketentuan-ketentuan agama,
di sini adalah seks yang dilakukan
seperti harus
melalui lembaga
perkawinan dan bersifat heteroseksual (hubungan seksual yang terjadi antara lakilaki dan perempuan), karena itu, segala bentuk tindakan dan orientasi seksual
yang berada di luar definisi kehalalan menurut Islam dianggap sebagai tindakan
dan orientasi seks yang haram dan menyimpang. Islam merupakan jalan hidup
total. Masing-masing bagiannya perlu dipahami secara penuh. Ibn al- Qayyim
dalam bukunya. al- Thib al- Nabawiy (pengobatan nabi) , menyajikan satu bab
khusus yang membahas sikap Islam terhadap persoalan seksual antara suami dan
isteri, diantaranya yaitu:
1. Dalam Islam, seks selalu dipandang secara serius dan seharusnya tetap
demikian. Seks bukanlah sarana untuk bersenang-senang belaka. Dalam Islam
48
hal.157
Imam Abi Husain Muslim bin Hajaj, Shahih Muslim, (Beirut: Daar al-Fikr,1993),cet. Ke-4,
hubungan seksual antara suami dan isteri merupakan ibadah dan dapat
menciptakan hubungan yang harmonis diantara keduanya.
2. Dalam Islam, seks tidak pernah dipandang untuk kesenangan belaka. Seks
selalu berkaitan dengan kehidupan keluarga. Seks dipandang sebagai
hubungan manusia yang luar biasa yang tunduk kepada aturan-aturan yang
ketat. Dengan demikian, seks di luar hubungan perkawinan merupakan dosa
yang dikenai hukuman.
3. Seks merupakan khusus diantara suami-isteri. Apa yang terjadi dalam
hubungan itu merupakan rahasia dan tidak seharusnya diberitakan kepada
pihak-pihak lain.
4. Islam menjelaskan bahwa seks tidak tunduk pada perubahan (yang dibuat)
oleh kelompok-kelompok berpengaruh atau oleh perubahan dalam kehidupan
seksual.
5. Pengetahuan seputar ayat-ayat dan hadis-hadis tentang permasalahan seks
tidak ada spesifikasinya yang menyangkut usia untuk seseorang memulai
mempelajarinya pada usia tertentu. Akan tetapi ketika seorang mukmin
mempelajari Al-Qur’an dan Sunnah, ia akan menemukan ajaran-ajaran atau
permasalahan ini.49
Rasulullah saw selalu mengajarkan ummatnya agar selalu memerhatikan
isteri dengan baik, penuh kasih sayang dan saling menghargai. Banyak sekali
49
Abdul Wahab Bouhdiba, Sexuality In Islam terjemahan Fauzi Abbas
Penerbit Alinea, 2004) , cet. Ke-1 hal. 207-208
(Yogyakarta :
petunjuk dari Al-Qur’an dan hadits tentang tata cara atau etika hubungan seksual
antara suami dan isteri. Firman Allah Swt:
َF
‫ْ وَاﺕ
ُ ا ا‬,ُKُِ'ْ‫َﻥ‬kِ ‫ُ ا‬6َ1َ‫ْ و‬,ُ4ْ;ِ‫ ﺵ‬0
‫ْ أَﻥ‬,ُKَ‫ْﺕُ ا َْﺙ‬kَR ْ,ُKَ ٌ‫ْ َْث‬,ُ‫ﻥَِؤُآ‬
. َِِْpُْ‫ُ وَﺏَ"ِ ا‬: ُ1َُ ْ,ُK
‫َُْ ا أَﻥ‬9‫وَا‬
Artinya:
Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka
datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu
kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah
kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan
berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.(Q.S al-Baqarah:222)
Dari ayat di atas dijelaskan, bahwa Allah swt memberikan kebebasan
kepada suami isteri dalam hubungan seks dengan cara apapun, asalkan tidak
bertentangan dengan norma-norma hukum yang berlaku.
Rasulullah mengajarkan etika hubungan seksual antara suami dan isteri,
diantaranya:
a. Tidak telanjang bulat ( membuka aurat seluruhnya) ketika bersenggama
Rasulullah bersabda:
‫ إِذَا‬: َ,
َ‫ِ وَﺱ‬Fََْ9 8‫
ا‬0َ7 ِ8‫َلَ رَﺱُ ْلُ ا‬1 0َِْ‫ِ ا‬6َْ9 ِْ‫َ ﺏ‬%َْ4ُ9 َْ9
(FB ‫ اﺏ‬:‫ )روا‬.ََِْْ-ْ‫َدَ ا‬qَ‫َ
دَ ﺕ‬qَ4َ َZَ‫ِْ و‬4َ4ََْْR ُFَْ‫ْ أَه‬,ُ‫ُآ‬6ََ‫ أ‬0َ‫أَﺕ‬
Artinya :
“Dari Utbah bin Abdus Salami, Rasulullah saw bersabda: jika seorang
diantara kamu mendatangi istri kamu hendaklah memakai tutup dan jangan
sama-sama telanjang sama telanjangnya dua ekor keledai.” (H.R Ibnu
majjah) 50
b. Membaca doa ketika hendak berjimak (bersenggama).
50
Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, (Bandung PT. Al-Maa’rif) Jilid 4, cet ke-I, h.115
Disunahkan
membaca
basmalah
dan
taawuz
ketika
hendak
bersenggama. Rasulullah saw bersabda:
َ َ‫َ ْ آ‬: َ‫َل‬1 َ,
َ‫ِ وَﺱ‬Fََْ9 ُ8‫ ا‬0
َ7 ِ8‫َ
سٍ أَن
رَﺱُ ْلَ ا‬9 ِْ‫َِ اﺏ‬9
‫ن‬
َ‫ََِّْ ا"
َْن‬B ,ُ!
َ‫ِ ا‬,ِْ
‫ِ ا
َِْ ا‬8‫ِ ا‬,ِْ: َ‫َل‬1 ُFَْ‫ أَه‬0َ‫ْ إِذَا أَﺕ‬,ُ‫ُآ‬6ََ‫أ‬
َ6ََ ْ‫َ ا‬3َِ‫َ َْ َ&ُ
ذ‬3َِ‫ِ ذ‬QR َُ!ََْ‫رَ ﺏ‬6ُ1 ْ‫ِن‬fَR ََ4ْ1َ‫َِِّ ا"
َْنَ َ رَز‬Bَ‫و‬
(,‫رى و‬$‫ ا‬:‫ )روا‬.‫ًا‬6َ‫ا"
َْنُ أَﺏ‬
Artinya :
“Dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah saw bersabda : jika seseorang
diantara kamu hendak mendatangi istrinya maka bacalah basmalah:
Allahumma Jannibna asyyai thana wa jannibni as-syaithana maa rajaqtana.
Jika diwaktu itu antara keduanya ditakdirkan terjadi anak, maka setan tidak
akan membahayakan anak itu selamanya.” (H.R Bukhari dan Muslim)51
c. Tidak menyenggamai perempuan pada duburnya
Bersetubuh dengan isteri pada dubur merupakan perbuatan yang ditolak oleh
fitrah dan tabiat sehat serta diharamkan oleh agama. Allah SWT berfirman:
َF
‫ْ وَاﺕ
ُ ا ا‬,ُKُِ'ْ‫َﻥ‬kِ ‫ُ ا‬6َ1َ‫ْ و‬,ُ4ْ;ِ‫ ﺵ‬0
‫ْ أَﻥ‬,ُKَ‫ْﺕُ ا َْﺙ‬kَR ْ,ُKَ ٌ‫ْ َْث‬,ُ‫ﻥَِؤُآ‬
. َِِْpُْ‫ُ وَﺏَ"ِ ا‬: ُ1َُ ْ,ُK
‫َُْ ا أَﻥ‬9‫وَا‬
Artinya:
“Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam,
maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu
kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah
kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan
berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.”(Q.S.al-Baqarah:222)
Dianalogikan sebagai tempat bercocok tanam karena menjadi tempat
menaburkan benih anak, jadi perintah untuk mendatangi tempat bercocok
51
hal.155
Imam Abi Husain Muslim bin Hajaj, Shahih Muslim, (Beirut: Daar al-Fikr,1993), juz 4,
tanam berarti perintah untuk mendatangi pada alat kelamin yang khusus.
Allah hanya memerintahkan bersenggama di tempat bercocok tanam (faraj),
dan tempat bercocok tanam itu adalah tumbuhnya tanaman. Demikian juga
halnya dengan kaum wanita (isteri), bahwa tujuan menyetubuhi mereka itu
adalah untuk mencari keturunan, bukan untuk sekedar pemenuhan kebutuhan
nafsu syahwat. Dan untuk mendapat keturunan itu hanyalah persetubuhan
melalui qubulnya. Oleh karena itu, Allah mengharamkan persetubuhan pada
selain qubulnya. Tidak boleh dikiaskan selainnya kepada itu karena memang
tidak ada persamaan dalam keadaannya sebagai tempat bercocok tanaman. 52
Di antara dalil yang mengharamkan bersetubuh pada dubur ialah :
Fِ ََْ9 ُ8‫ ا‬0
َ7 ِ8‫َلَ رَﺱُ ْلُ ا‬1: َ‫َل‬1 َُ!َْ9 ُ8‫َ ا‬Qِ‫َ
سٍ رَﺽ‬9 ِْ‫َِ اﺏ‬9
:‫ )روا‬.َ‫ِ دُﺏُِه‬QR ً‫ً أَوِ اَْأَة‬lُBَ‫ ر‬0َ‫ٍ أَﺕ‬#ُBَ‫ ر‬0َِ‫ُ إ‬8‫َ َْ[ُُ ا‬Z َ,
َ‫وَﺱ‬
(‫)ى وائ واﺏ ن‬4‫ا‬
Artinya :
“Dari Ibnu Abbas R.A. beliau berkata : Allah tidak akan memandang
kepada lelaki yang menyetubuhi lelaki atau wanita pada duburnya. (H.R alTirmidzi, al-Nasai’ dan Ibnu Hibban)53
d. Tidak bersetubuh (bersenggama) dengan isteri yang sedang haid
Allah sangat menyukai orang-orang yang mensucikan diri. Haid
adalah kotoran, karena itu hendaknya para suami menahan diri mereka untuk
tidak melakukan hubungan badan dengan isterinya hingga ia suci.
52
Drs. Abubakar Muhammad, Terjemahan Subulussalam, ( Surabaya : Al-Ikhlas, 1995) cet
ke. 1. h 496
53
Imam Abi Husain Muslim bin Hajaj, Shahih Muslim, (Beirut: Daar al-Fikr,1993), juz IV,
hal.148
Firman Allah SWT :
ِ ِ+َْ‫ ا‬QِR َ‫ُِ ا اَء‬bَ4ْ9َR ‫ْ هُ َ أَذًى‬#ُ1 ِ\ِ+َْ‫َِ ا‬9 َ3َ‫َُ ﻥ‬kََْ‫و‬
\
ُF
‫ُ ا‬,ُ‫ُ أَََآ‬sَْ ِْ ُ‫ْﺕُ ه‬kَR َ‫ِذَا ﺕََ!
ْن‬fَR َ‫ َْ!ُْن‬0
4َ ُ‫وََ ﺕََْﺏُ ه‬
. َِ!ََ4ُْ‫ِ ا‬+َُ‫
اﺏَِ و‬4‫ِ ا‬+ُ َF
‫ن ا‬
ِ‫إ‬
Artinya:
“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu
adalah kotoran". Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari
wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum
mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di
tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan
diri.”(Q.S.al-Baqarah:221)
e. Larangan membuka rahasia bersenggama
Suami dan isteri berkewajiban menjaga rahasia kehidupan rumah
tangga mereka. Menjaga rahasia ini dimaksud untuk menjaga ketentraman
keluarga, keharmonisan suami isteri dan kehormatan rumah tangga. Membuka
rahasia kehidupan rumah tangga yang tidak patut diketahui orang lain
berakibat menanam benih kecurigaan dan prasangka yang merugikan. Kalau
masing-masing suami dan isteri bisa memegang rahasia, maka sulitlah orang
lain untuk masuk ke celah-celah kelemahan kehidupan rumah tangganya,
sehingga selamat dari fitnah dari luar rumah tangganya. 54 Sebagaimana yang
diungkapkan Rasulullah saw:
ُ ‫ ا‬0
َ7 ِ8‫َلَ رَﺱُ ْلُ ا‬1: َ‫َل‬1 ُFَْ9 ُ8‫َ ا‬Qِ‫ْرِيِّ رَﺽ‬6ُ$ْ‫ٍ ا‬6ِْ-َ‫ ﺱ‬Qِ‫َْ أَﺏ‬9
8
ُ#ُB
‫ِ ا‬%ََِْ‫ً َ ْمَ ا‬%َِbَْ ِ8‫َ ا‬6ِْ9 ِ‫َ ِإن
ِْ أَﺵَ ا
س‬,
َ‫ِ وَﺱ‬Fََْ9
(, :‫ )روا‬.َ‫
َْ"ُُ ﺱِ
ه‬,ُ‫ِ ﺙ‬Fَِْ‫ إ‬0ِ&ْ'ُ‫ اَْْأَةِ وَﺕ‬0َِ‫ إ‬0ِ&ْ'ُ
54
1 hal. 57.
Drs. M. Thalib, 60 pedoman rumah tangga islami, (PT. Tiara wacana Yogya, 1993) cet Ke.
Artinya:
“Dari Abu Sa’id Al-Khudri, Rasulullah SAW Bersabda, “orang yang
paling jahat kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah seorang
suami yang melepaskan hajatnya kepada isterinya dan isterinya melepaskan
hajatnya pada suaminya, kemudian ia siarkan rahasia itu.”55
f.
Isteri tidak boleh menceritakan wanita lain kepada suaminya secara detail
Seorang isteri yang baik akan berusaha mencurahkan perhatiannya
kepada suaminya, dan tidak akan
membicarakan wanita lain di hadapan
suaminya. Ini adalah normal dan bisa diterima, karena berarti ia masih
mempunyai rasa cinta terhadap suaminya. Sebagaimana yang diungkapkan
Rasulullah saw:
,َ َ‫ِ وَﺱ‬Fََْ9 ُ8‫ ا‬0
َ7 ِ8‫َلَ رَﺱُ ْلُ ا‬1 ُFَْ9 ُ8‫َ ا‬Qِ‫ُ ْدٍ رَﺽ‬-َْ ِْ‫َِ اﺏ‬9
(F9 I'4) .َ!َِْ‫ُ َْ[ُُ إ‬F
‫َﻥ‬kَ‫ِ!َ آ‬Bْ‫َو‬bِ َ!َ'ِgَ4َR َ‫َﺕَُﺵُِ اَْأَةُ اَْْأَة‬Z
Artinya :
“Dari Ibnu Mas’ud Rasulullah SAW bersabda, “janganlah seorang
wanita bergaul dengan wanita lain, Lalu ia ceritakan kepada suaminya ciriciri wanita tersebut, sehingga suaminya seolah-olah ia melihat wanita itu.”
(H.R. Bukkhari dan Muslim). 56
Hadits ini memberikan isyarat kepada kita bahwa banyak sekali faktorfaktor yang menyebabkan retaknya kehidupan suami isteri, salah satunya ialah
seorang isteri menceritakan fisik wanita secara detail kepada suaminya. 57
55
Imam Abi Husain Muslim bin Hajaj, Shahih Muslim, (Beirut:Daar al-Fikr,1993), juz 4,
56
Imam Abi Husain Muslim bin Hajaj, Shahih Muslim, (Beirut:Daar al-Fikr,1993), juz IV,
57
Drs. Abu Bakar Muhammad, Terjemahan Subulussalam Op. cit. hal. 58
hal.157
hal.149
C. Penyimpangan Seksual Sebagai Jarimah (Tindak Pidana)
Kebutuhan seksual merupakan kebutuhan dasar pada manusia, namun
kebutuhan-kebutuhan yang bersifat naluri yang terkadang menjadikan manusia
lepas kontrol. Manusia berlomba-lomba mereguk semua kenikmatan dunia,
meskipun cara yang ditempuhnya salah dan tidak lagi memperhatikan segi-segi
moralitas yang ada di masyarakat.
Seks adalah hal yang sangat fital bagi kehidupan manusia, tanpa adanya
hubungan seks akan sulit untuk menjaga kelestarian umat manusia. Secanggih
apapun alat pembiakan manusia melalui teknologi tidak akan bisa mengalahkan
proses reproduksi manusia secara alamiah melalui hubungan seks yang normal
antara laki-laki dan wanita. Tapi, perilaku seks yang dari sisi ajaran agama
dilarang, kini semakin banyak dilakukan tanpa adanya perasaan bersalah sedikit
pun. Begitu juga untuk mencari cara yang lebih mengasyikan dalam melakukan
seks semakin marak walaupun terasa sangat tidak wajar, tetapi demi sebuah
kepuasan seks perbuatan semacam itu terus dilakukan. 58
Penyimpangan seksual yang terjadi di masyarakat semakin mewabah dan
meresahkan, serta dapat menghancurkan generasi Islam secara perlahan-lahan. Ini
disebabkan terompet Iblis terus menerus ditiupkan untuk melupakan manusia
kepada Allah.
58
8
Asmawi Fokpal (ed), Lika Liku Seks Menyimpang, (Yogyakarta: Darussalam, 2005), hal.7-
Imam al-Mawardi mendefinisikan jarimah (Tindak pidana) sebagai
berikut: “segala larangan syara (melakukan hal-hal yang dilarang dan atau
meninggalkan hal-hal yang diwajibkan) diancam oleh Allah swt dengan hukuman
had atau ta’zir.59 Sedangkan menurut ‘Abdul Qadir ‘Audah menjelaskan jarimah
itu sama dengan Imam al-Mawardi, yaitu:
ٍّ6َ+ِ‫َْ!َ ﺏ‬9 ُ8‫ََا‬Bَ‫ٌ ز‬%
ِ9َْ‫ْ[ُ ْرَاتٌ ﺵ‬+َ ُF
‫َﻥ‬kِ‫ُ ﺏ‬%
َِlْ‫ِﺱ‬u‫ِ ا‬%
ِ9ْ
"‫ ا‬0ِR ُ,ِ‫ََاﺉ‬qَْ‫ا‬
ٍِْbْ-َ‫أَوْ ﺕ‬
Artinya:
“Jarimah menurut syari’at Islam adalah larangan syara yang diancam
oleh Allah dengan hukuman had atau syara”60
M.Ali Hasan Umar berpendapat bahwa, “penyimpangan seksual selain
sebagai perbuatan yang melanggar syari’at Islam juga dapat merusak jiwa,
akhlak, dan agama serta tidak sesuai dengan nilai-nilai moral Pancasila, dan tidak
sesuai dengan budaya bangsa.
61
Dia juga berpendapat naluri seks merupakan
instink biologis bagi setiap manusia normal yang telah sampai usianya. Akan
tetapi apabila masalah seks itu dilakukan di luar pernikahan, maka benar-benar
akan mendapat kutukan Allah. Menurut Ali Akbar “penyimpangan yang terjadi
di Indonesia selama ini disebabkan karena tidak seiringnya bentuk hukuman yang
ditetapkan dengan realisasi hukum yang dilaksanakan di lapangan. Menurutnya
dalam menanggulangi penyimpangan seksual syari’at Islam telah menetapkan
59
Al-Mawardi, al-Ahkam al-Sulthaniyyah. 1997, hal. 219, Cf dikutip dari bukunya
Prof.Drs..H. A. Djazuli, Fiqih Jinayah Upaya Untuk Menanggulangi Kejahatan dalam Islam, (Jakarta:
Raja Grafindo Persada, 2000), Cet.Ke-3, hal.11
60
Abdul Qadir Audah, At-Tasyri’ Al-Jinaiy Al-Islamiy, (Beirut:Daar al-Kitab Al-Arabi,t.th),
hal.67
61
M. Ali Hasan Umar, Kejahatan Seks dan Kehamilan di luar Nikah dalam Pandangan
Islam, (Semarang: Panca Agung,1990) cet. Ke-1, hal.107
sanksi hukum yang berat sebagai efek jera agar masyarakat tidak melakukan
penyimpangan seksual.62 Dia menambahkan bahwa Islam telah menetapkan
hukuman yang bersifat mendidik dan preventif yang dapat menjamin ketentraman
masyarakat dan individu dari segala bentuk kejahatan atau penyimpangan.
Hukuman adalah penghalang sebelum terjadinya kejahatan, dan pencegahan
setelah itu. Maksudnya ialah mengetahui hukuman atau ancaman hukuman dapat
menghalangi pelakunya untuk berbuat sesuatu, dan terlaksananya hukuman bagi
mereka yang melakukan kejahatan dapat mencegahnya mengulangi kejahatan
tersebut.63
Sedangkan menurut Neng Jubaedah, penyimpangan seksual yang terjadi
di masyarakat selain sebagai tindak pidana (jarimah) juga dapat merusak sendisendi kehidupan di masyarakat. Penyimpangan seksual juga dapat membentuk
individu
yang gemar melakukan kejahatan di lingkungan masyarakat,
penyimpangan seksual ini terjadi karena maraknya tayangan pornografi dan
pornoaksi yang ditayangkan oleh media cetak dan elektronik yang semakin
memprihatinkan keberadaannya.64
Murthadha Muthahari mengemukakan bahwa penyimpangan seksual
merupakan penyimpangan biologis yang melangg0ar fitrah manusia. Dia
menambahkan bahwa penyimpangan seksual adalah pelanggaran terhadap nilai62
Ali Akbar, Seksualitas Ditinjau dari Hukum Islam, (Jakarta:Bulan Bintang, 1982), cet. Ke-
1, hal 35
63
Fathi Yakan, Islam dan Seks, (Jakarta: CV. Firdaus,1990), cet.ke-1, hal.59
Neng Jubaedah, Pornografi dan Pornoaksi Ditinjau Dari Hukum Islam, (Bogor: Kencana,
2003), cet.ke-1, hal.154
64
nilai yang telah ditentukan oleh Allah swt dalam al-Quran., sehingga
dikategorikan sebagai jarimah (tindak pidana). Menurut dia bahwa orang-orang
yang melakukan penyimpangan seksual, dan menenggelamkan dirinya dalam
kelezatan syahwat, maka akan pudar perasaan agamanya. 65
Sedangkan Sayyid Sabiq berpendapat bahwa penyimpangan seksual selain
sebagai
perbuatan
jarimah (tindak pidana) juga dapat merusak serta
menghancurkan masyarakat. Jika individu enggan untuk menikah, dan
melampiaskan nafsu seksnya secara tidak legal, dengan sendirinya akan merusak
sistem dan merapuhkan landasan kemasyarakatan. Selanjutnya menimbulkan
kehancuran akhlak, dan merenggangkan ikatan nilai-nilai dan norma agama yang
akhirnya membawa kebebasan tanpa batas.66
Mahmud Salthut mengemukakan bahwa Islam telah mengatur segala bentuk
seks halal yang telah dijelaskan Allah dalam al-Quran dan al-Sunah. Dan apabila
tidak terdapat dalam kedua sumber tersebut maka boleh memakai ar-Ra’yu yang
dilihat dari al-Mashali al-Khamsa, yaitu lima pokok dalam kehidupan manusia
itu sendiri, yaitu: hifzh al-mal, hifzh al-nafs, hifzh al-din, hifzh al-aql, dan hifzh
al-nasl. Sehingga apabila seseorang melanggar salah satu pokok dalam kehidupan
manusia, maka perbuatan tersebut termasuk kedalam perbuatan yang dilarang
oleh Syara atau disebut jarimah. Menurut dia bila naluri seks tidak disalurkan
melalui perkawinan,
65
66
maka manusia akan mengalami kekacauan. Zina
Murthadha Muthahari, Manusia dan Agama, (Bandung: Mizan 1984), hal. 58
Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunah, (Libanon: Darul Fikr,1981), hal.361-365
umpamanya, akan membawa kekacauan nasab, sebab anak yang dilahirkan tidak
mempunyai garis keturunan yang jelas dari silsilah bapaknya. Maka segala
bentuk penyimpangan seksual
yang dilakukan oleh seseorang haruslah
mendapatkan sangsi hukum yang sesuai dengan perbuatannya. 67
67
Mahmud Salthut, Al-islam ‘Aqidatun wa Syari’atun, (Mesir: Darul-Qalam,1968) hal.303
BAB IV
BESTIALITY DALAM PANDANGAN HUKUM ISLAM
A. Bestiality dan Dampak Negatifnya
Sebagai konsekuensi logis dari perilaku seks menyimpang
adalah
munculnya berbagai penyakit kelamin (veneral diseases, atau VD), atau disebut
juga ‘penyakit hubungan seksual’ (sexually transmitted diseases, atau STD).
Berbagai penyakit kelamin yang kini terkenal dalam dunia kedokteran adalah:
sifilis, gonore, herpes simplex, limprogranuloma venerium, granula Inguinale,
trikomonas, kondiloma akuminata, dan Aids (Acquired Immune Difeciency
Syndrome). Dari berbagai penyakit itu yang paling terkenal, paling berbahaya,
dan paling banyak diderita oleh pelaku seks bebas dan pelaku seks menyimpang
(termasuk pelaku seks menyimpang dengan binatang) adalah : sifilis, gonore,
herpes progenitalis, dan aids.
Sifilis adalah jenis penyakit kelamin yang banyak diderita oleh para pelaku
seks menyimpang, sifatnya sulit hilang dan apabila sembuh pada bulan ini akan
muncul pada bulan berikutnya dengan rasa sakit dan luka yang hebat. Sifilis
sering juga disebut “penyakit raja singa” penyakit ini disebabkan oleh kuman
Treponema Pallidium yang jumlahnya lebih banyak terdapat dalam binatang
daripada manusia. Penyakit ini dapat ditularkan melalui persenggamaan dengan
manusia atau dengan binatang.
Sedangkan gonore adalah penyakit kelamin yang disebabkan oleh kuman
neisseria gonorrhoeae, Yang mana kuman ini menyerang selaput lendir pada
beberapa organ tubuh. Selaput yang paling sering diserang adalah selaput lendir
rektum, mata, mulut, dan anus. Kejangkitan Gonore yang paling tinggi terdapat
pada saluran kantung kemih( uretra). Gejala penyakit ini selain keluarnya nanah
berwarna kuning pada alat kelamin, juga terasa nyeri dan panas. Pada dasarnya
penyakit ini ditularkan melalui hubungan seksual, sama seperti Sifilis, penyakit ini
pun dapat menyebabkan cacat bawaan.
Herpes progenitalis adalah penyakit yang disebabkan oleh virus harpes
simpleks yang secara bertahap berkembang dan menyebabkan luka lecet yang
sangat menyakitkan di sekitar kemaluan, baik laki-laki maupun perempuan.
Karena letaknya di permukaan alat kelamin, maka penyakit ini sangat mudah
sekali menular. Gejala yang timbul berupa rasa kelenjar (rasa digigit-gigit) dan
gatal. Setelah 2-15 hari muncul bisul kecil, dan pada serangan berikutnya akan
timbul infeksi, dan timbul demam dan sakit kepala.
Sedangkan penyakit aids (acquired immune difeciency syndrome) adalah
suatu momok yang menakutkan sejak kemunculannya tahun 1980—an sampai
saat ini. Menurut hemat penulis, penyakit ini muncul akibat perilaku manusia
yang sudah melewati batas normal, maka kehadiran penyakit ini merupakan
sebuah laknat dari Allah swt yang telah murka melihat hambanya yang sudah
melampaui batas. Kemunculan penyakit ini mulai dirasakan sekitar tahun 1981.
Dan pada tahun 1983, Luc Montagnier dari lembaga Pasteur Paris mengumumkan
tentang adanya suatu virus maut. Setahun kemudian, Galo membuktikan tentang
keberadaan virus ini dengan gejala kehilangan kekebalan tubuh manusia. Adapun
cara penularan virus Hiv ( human immodefeciency syndrome) ini adalah melalui
berbagai jalan: berhubungan seks, tranfusi darah, alat-alat medis, ibu hamil dan
cairan tubuh. Saat ini penularan aids menurut who sekitar 3 orang permenit, Dan
sampai akhir 2000, sekitar 21,8 juta orang dewasa dan anak-anak telah meninggal
karena hiv/aids.
Selain berbagai penyakit di atas, dampak negatif yang dapat ditimbulkan
oleh penyimpangan seksual dengan binatang (bestiality) ialah:
1. Dari segi psikologis, bestiality dapat mengakibatkan gangguan pada
perkembangan psikoseksual seseorang. Sehingga naluri kejiwaan untuk
bersetubuh dengan normal menjadi suatu yang tabu karena memandang
bestiality sebagai fantasi seks yang dapat memenuhi libido seksualnya.
2. Dari aspek sosial-psikologis, penyimpangan seks dengan binatang (bestiality)
akan menyebabkan pelakunya memiliki perasaan dan kecemasan tertentu,
sehingga bisa mempengaruhi kondisi kualitas sumber daya manusia dimasa
yang akan datang.68 Kualitas sumber daya manusia ini diantaranya adalah:
a) Kualitas mentalitas. Kualitas mentalitas pelaku yang terlibat penyimpangan
seksual dengan binatang (bestiality) akan rendah, bahkan cenderung
memburuk. pelaku bestiality tidak memiliki etos kerja dan disiplin yang
tinggi, karena dibayangi masa lalunya. Pelaku bestiality juga cepat menyerah
68
www. Kompas, Jurnal Kesehatan. Com, 28/09/2007
kepada nasib (subnitif), tidak sanggup menghadapi tantangan dan ancaman
hidup, rendah diri, dan tidak sanggup berkompetisi.
b) Kualitas keberfungsian keluarga. Seandainya pelaku bestiality menikah
dengan cara terpaksa, maka akan mengakibatkan kurang difahaminya peranperan baru yang disandangnya dalam membentuk keluarga sakinah.
c) Kualitas pendidikan. Pelaku bestiality akan memiliki keterbatasan akses
terhadap pendidikan formal.
d) Kualitas ekonomi keluarga. Seandainya pelaku bestiality menikah, maka
kualitas ekonomi yang dibangun olehnya tidak akan memiliki kesiapan dalam
pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga.
e) Kualitas partisipasi dalam pembangunan. Karena kondisi fisik, mental dan
sosial yang kurang baik, maka pelaku bestiality tidak dapat berpartisipasi
dalam pembangunan.
3. Dari aspek medis, menurut Budi Martino Limonon, pelaku penyimpangan
seksual dengan binatang (bestiality) memiliki banyak konsekuensi, diantaranya:
dapat tertular penyakit menular seksual (PMS), dapat menyebakan infeksi pada
alat vital, dan selain itu, dapat menyebabkan kanker.69
B. Bestiality Sebagai Jarimah (Tindak Pidana)
Manusia adalah makhluk Allah swt yang diberi beban sebagai khalifah di
dunia untuk memimpin dan memelihara alam sekitar dengan diberi bekal hidup
69
Pikiran Rakyat, Bahaya Penyimpangan Seksual, edisi: tanggal 10-Mei-2005, hal.5
berupa aturan-aturan untuk dijadikan tolak ukur antara baik dan buruk, benar dan
salah, agar tidak menyimpang dari garis-garis yang telah ditetapkan oleh Allah
swt. Dalam hukum pidana Islam sesuatu perbuatan dapat dikategorikan sebagai
jarimah apabila memenuhi tiga unsur, diantaranya ialah:
1) Adanya nash, yang melarang perbuatan-perbuatan tertentu disertai
ancaman hukuman atas perbuatannya. Unsur ini dikenal dengan
istilah “unsur formal”(al-Rukn al-Syar’i).
2) Adanya unsur perbuatan yang membentuk jinayah, baik berupa
melakukan perbuatan yang dilarang atau meninggalkan perbuatan
yang diharuskan. Unsur ini dikenal dengan istilah “unsur
material”(al-Rukn al-Madi).
3) Pelaku kejahatan ialah orang yang dapat menerima khitab atau
dapat memahami taklif, artinya pelaku kejahatan adalah mukallaf.
Sehingga mereka dapat dituntut atas kejahatan yang mereka
lakukan. Unsur ini lebih dikenal dengan istilah “unsur moral”(alRukn al-Adabi).
Islam memandang seksualitas tidak hanya persoalan pleasure (nafsu)
semata, akan tetapi terkait erat dengan nilai etika dan nilai-nilai agama. Sangat
wajar apabila seksualitas dalam Islam sangat berorientasi pada seks halal, seks
halal adalah seks yang dilakukan berdasarkan ketentuan-ketentuan agama, seperti
harus melalui lembaga perkawinan, dan bersifat heteroseksual (hubungan seksual
yang terjadi antara laki-laki dan perempuan). Oleh karena itu, segala bentuk
tindakan dan orientasi seksual yang berada di luar kehalalan menurut Islam
dianggap sebagai tindakan dan orientasi seks yang haram dan menyimpang.
Di dalam hukum Islam bestiality merupakan perbuatan yang dilarang,
karena tidak sesuai dengan fitrah Islam. Karena dalam Islam telah diatur tatacara
hubungan seks yang baik, sehingga manusia dapat menahan diri untuk tidak
melakukan perbuatan yang diharamkan oleh Allah swt. Dengan demikian
bestiality dalam pidana Islam digolongkan sebagai perbuatan jarimah (melanggar
ketentuan agama), apabila seseorang melakukannya maka akan dikenakan
hukuman atau sanksi berupa had atau ta’zir. Hubungan seksual adalah kebutuhan
yang mutlak hanya bagi suami dan isteri melalui lembaga perkawinan, sedangkan
bestiality ialah hubungan yang tidak melalui lembaga perkawinan, dan hubungan
yang telah berganti obyek yang tidak sah. Dalam hukum islam segala perbuatan
yang tidak sesuai dengan aturan-aturan hukum disebut maksiat yang dapat
dijatuhkan hukuman ta’zir. Karena hukuman ta’zir adalah suatu istilah untuk
hukuman atas jarimah-jarimah yang hukumanya belum ditetapkan oleh syara’.
Dikalangan fuqaha, jarimah-jarimah yang hukumanya belum ditetapkan oleh
syara’ dinamakan dengan jarimah ta’zir.
Dari definisi tersebut, juga dapat dipahami bahwa jarimah ta’zir terdiri atas
perbuatan-perbuatan maksiat yang tidak dikenakan hukuman had dan kifarat.
Adapun yang dimaksud dengan maksiat adalah meninggalkan perbuatan yang
diwajibkan
dan melakukan perbuatan yang dilarang.70 Bestiality merupakan
perbuatan yang dilarang oleh syariat islam, dan oleh karenanya disebut maksiat.
Seks yang sesuai dengan syariat agama ialah: pertama, kegiatan seks dilakukan
dalam suatu wadah perkawinan. Kedua, kegiatan seks tersebut dilakukan secara
heteroseksual. Ketiga. Kegiatan seks tersebut memiliki tujuan reproduksi (untuk
mendapatkan anak) agar terjadi kaderisasi dan regenerasi umat.71 Dalam
melakukan hubungan seksual yang sehat dan sesuai dengan syari’at islam
hendaknya mempunyai empat dimensi, yaitu dimensi prokreasi, dimensi rekreasi,
dimensi relasi, dan dimensi institusi.72
Dimensi prokreasi menilai seks sebagai upaya memperoleh keturunan
melalui hubungan seksual. Dimensi rekreasi ditunjukan untuk memperoleh
kenikmatan dan kesenangan. Dimensi ini sering kali disalah artikan sehingga seks
dipandang sebagai kegiatan bersenang-senang belaka, tanpa ada unsur tanggung
jawab dari pasangan yang melakukanya. Dimensi relasi dilakukan dengan tujuan
membina hubungan pribadi yang lebih intim dan akrab. Pada usia lanjut, dimensi
inilah yang tepat diterapkan
dalam berhubungan dengan pasangan masing-
masing. Sedangkan dimensi institusi ditunjukan untuk membentuk dan
memperkokoh lembaga perkawinanya, sekaligus pelindung kehidupan suami dan
isteri. Apabila kegiatan seksual memenuhi unsur di atas, maka kegiatan seks
70
Abdul Azis Amir, al-ta’zir fi Asy-Syari’ah Al-Islamiyah,(Dar Al- Fikr alArabi,1969),hal.83
71
Badiatul Muchlisin Asti, Seks Indah Penuh Berkah , (Semarang: Pustaka Adnan,2006), Cet.
Ke-1, hal.130
72
Klinik Pria.com
tersebut bukan merupakan seks menyimpang, dan bukan merupakan perbuatan
jarimah. Pernikahan sebagai hubungan yang sah dan benar yang menghargai
harkat dan martabat serta aspek kehidupan manusia. Perkawinan adalah akad
yang kuat untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya adalah ibadah.73
Allah swt menciptakan manusia dan menghiasinya dengan akal dan hawa nafsu
sebagai anugerah tertinggi yang tidak dimiliki oleh makhluk lain, akal berfungsi
sebagai penimbang segala keputusan yang akan diambil dan dengan akal pula
manusia dapat berpikir dan mencari hakikat suatu kebenaran, sedangkan hawa
nafsu merupakan objek penalaran akal yang mendorong akal untuk berpikir dan
memutuskan. Dengan akal yang sehat dan iman yang kuat, maka manusia dapat
mengendalikan hawa nafsunya untuk tidak melakukan penyimpangan seksual
seperti bestiality.
Allah swt telah memerintahkan hambanya agar senantiasa
memelihara kemaluanya (faraj), karena kehormatan manusia merupakan suatu
hal yang prinsip dan mahkota yang harus dilindungi dan dipelihara dari berbagai
bentuk penyimpangan seksual dengan binatang. Kecuali hubungan seksual yang
dianjurkan oleh ajaran agama, yaitu melalui perkawinan. Sebagaimana Firman
Allah swt:
5W8 B☺! %⌧-4 *,
"'X⌧Jž
z1
"`
1syI!
"` 1syI! 5j8 %Z
5?8 .F9W?A 8;4! 5+
CM⌧rf‹4
"`
1syI!
"` 1syI! 58 4
73
Departemen Agama RI, KHI, Pasal 2
n] 58 w9% "d>A9
 "d>| !z-
"'f€ "'~%☺c *q#-4
58 .x24 tA⌧
Artinya :
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orangorang yang khusyu' dalam sembahyangnya,Dan orang-orang yang
menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada bergunaDan
orang-orang yang menunaikan zakat Dan orang-orang yang menjaga
kemaluannya Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka
miliki Maka Sesungguhnya mereka dalam hal Ini tiada terceIa.” (Q.S. AlMu’minuun:1-6)
Islam memandang bahwa perbuatan bestiality ialah perbuatan jarimah,
karena
dalam
melakukan
hubungan
seksualnya
dilakukan
dengan
menyetubuhi binatang, dan ini sangat jelas telah keluar dari koridor Islam
yang telah memerintahkan umatnya dalam memenuhi libido seksual hanya
dilakukan oleh suami dan isterinya yang sah.
Perkawinan merupakan cara yang manusiawi dan terpuji untuk
menyalurkan nafsu seks bagi setiap orang, dan tidak menimbulkan kerusakan bagi
masyarakat. Perkawinan merupakan oasis alami, tempat bertemunya pria dan
wanita dalam usaha mencari ketenangan rohani dan jasmani. 74
Persepsi terhadap fitrah manusia senantiasa menghubungkannya dengan
naluri seks,
memandang bahwa seks merupakan suatu kekuatan alami yang
terdapat dalam diri manusia. Naluri seks memerlukan penyaluran biologis dalam
bentuk perkawinan, Islam
74
tidak menganggap bahwa naluri seks merupakan
Ibnu Arabi, Ahkam Al-Qur’an (‘isya AL-Babi Al-Jalabi wa Syirkahu,t.th), hal 1313,
sesuatu yang jahat,dan tabu bagi manusia. Tetapi mengaturnya sesuai dengan
fitrahnya. Oleh karena itu Islam sangat menentang segala bentuk penyimpangan
seksual, termasuk bestiality (penyimpangan seksual dengan binatang)
C. Sanksi Pidana Bagi Pelaku Bestiality
Para ulama telah sepakat tentang keharaman bersetubuh dengan binatang.
Akan tetapi masih berbeda pendapat dalam menentukan hukuman bagi orang
yang melakukan hal tersebut. Imam Malik dan Abu Hanifah berpendapat bahwa
menyetubuhi binatang tidak dianggap sebagai zina, tetapi merupakan perbuatan
maksiat yang dikenakan hukuman ta’zir. Demikian pula apabila hal tersebut
dilakukan oleh seorang wanita terhadap binatang jantan. Seperti kera, atau
anjing.75
Di kalangan Mazhab Syafi’iyah dan Hambali terdapat dua pendapat.
Pendapat yang rajih (kuat) dari pendapat Imam Syafi’i sama dengan pendapat
Abu Hanifah dan Imam Malik, sedangkan menurut pendapat Imam Syafi’i yang
kedua, perbuatan tersebut dianggap sebagai zina dan hukumanya adalah hukuman
mati.76 Pendapat ini didasarkan kepada hadits Nabi yang diriwayatkan oleh
Ahmad, Abu Dawud, dan Turmudzi:
75
Abdul Qadir Audah, At-Tasyri’ Al-Jinaiy al-Islamiy, Juz II, Beirut: Daar Al-Kitab AlArabi,t.th., hal 347
76
Sayyid Sabiq,Fiqih Sunnah, (Bandung: Asysyamil,1997), cet. Ke-1, hal.128
َْ: َ‫َل‬1 َ,
َ‫ِ وَﺱ‬Fِvَ‫ِ و‬Fََْ9 ُ8‫ ا‬0
َ7 Qِ
‫َ
سٍ أَن
ا‬9 ِْ‫َِ اﺏ‬9 َ%َِْKِ9 َْ9
‫ وأﺏ داود‬6‫ أ‬:‫ )روا‬.َ%َِْ!َْ‫ُُ ْا ا‬4ْ1‫ُ وَا‬:ْ ُُ4ْ1َR ٍ%َِْ!َ‫ ﺏ‬0ََ9 َ5َ1َ‫و‬
(‫)ى‬4‫وا‬
Artinya:
“Dari Ikrimah dari Ibnu Abbas Bahwa Nabi Muhammad saw bersabda:
Barang siapa yang menyetubuhi binatang maka bunuhlah ia dan bunuhlah
pula binatang itu.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Turmudzi)77
Tetapi sebagian ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa hukumanya sama
dengan zina. Apabila muhshan maka hukumanya rajam, dan apabila ia ghair
muhsan maka hukumanya didera seratus kali ditambah dengan pengasingan
selama satu tahun. Hal ini didasarkan kepada hadits Rasulullah saw yang
diriwayatkan oleh Abdullah Ibnu Ash-Samit bahwa Rasulullah saw bersabda:
%ٍ َ‫ُ ِﺉ‬6َْB ِْKِِْ‫ُْ ﺏ‬Kَِْ‫ ا‬،ًlَِْ‫ُ َ!ُ
ﺱ‬8‫ ا‬#
َ َ-َB ْ6َ1 0َ9 ‫ ﺥُ)ُوْا‬0َ9 ‫ﺥُ)ُوْا‬
‫ وأﺏ داود‬, :‫ )روا‬.ُ,ْB
‫ٍ وَا‬%َ‫ُ ِﺉ‬6َْB ِِّ
]ِ‫ٍ وَا]
ُِّ ﺏ‬%ََ‫ ﺱ‬Q
ُ ْ'ْ‫وَﻥ‬
(‫)ى‬4‫وا‬
Artinya:
“Ambillah dari diriku, ambilah dari diriku, sesungguhnya Allah swt
telah memberikan jalan keluar bagi mereka (pezina). Jejaka dengan gadis
hukumanya dera seratus kali dan pengasingan selama satu tahun. Sedangkan
duda dengan janda, hukumanya dera seratus kali dan rajam. (Hadits
diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, a dan Turmudzi).78
Sedangkan pendapat yang rajih (kuat) dalam mazhab Syi’ah
Zaidiyah,sama dengan pendapat Imam Syafi’i. Sementara pendapat yang marjuh
(lemah) sama dengan pendapat Imam Malik dan Abu Hanifah. Selanjutnya
77
Imam Abi Husain Muslim bin Hajaj, Shahih Muslim, (Beirut: Daar al-Fikr,1993), juz IV,
hal.179
78 78
hal.235
Imam Abi Husain Muslim bin Hajaj, Shahih Muslim, (Beirut: Daar al-Fikr,1993), juz III,
apabila yang melakukan persetubuhan dengan binatang itu seorang wanita maka
menurut mazhab Syafi’i dan Hambali hukumanya sama dengan pelaku laki-laki.
Adapun menurut sebagian Syafi’iyah, pelaku wanita hanya dikenai hukuman
ta’zir. Ali Daud menjelaskan bahwa, bestiality melewati qubul maupun dubur
tidak dijatuhi hukuman had menurut mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan
Dzhahiri.79 Kemudian dijelaskan pula bahwa para ulama empat telah sepakat
bahwa pelaku bestiality itu harus di ta’zir oleh hakim dengan sesuatu yang dapat
mencegahnya, karena akal yang sehat tidak akan melakukan hal tersebut,
sehingga tidak harus diberi pidana had, tetapi cukup diberi ta’zir saja.80 Para
ulama dalam menetapkan bestiality bersandar pada hadits yang diriwayatkan oleh
Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Majah yaitu:
: َ‫َل‬1 َ,
َ‫ِ وَﺱ‬Fِvَ‫ِ و‬Fََْ9 8
ُ ‫ ا‬0
َ7 Qِ
‫َْ!َ أَن
ا‬9 ُ8‫َ ا‬Qِ‫َ
سٍ رَﺽ‬9 ِْ‫َِ اﺏ‬9
ََْ‫ِ و‬Fِ‫ُ ْلَ ﺏ‬-ْ'َْ‫َ وَا‬#ِ9َ'ْ‫ُُ ْا ا‬4ْ1َR ٍ‫َ ْمِ ُ ْط‬1 َ#ََ9 ُ#َْ-َ ُ:ْ ُُ‫ْﺕ‬6َBَ‫َْ و‬
6‫ أ‬:‫ )روا‬.َ%َِْ!َْ‫ُُ ْا ا‬4ْ1‫ُ وَا‬:ْ ُُ4ْ1َR ٍ%َِْ!َ‫ ﺏ‬0ََ9 َ5َ1َ‫ُ و‬:ْ ُُ‫ْﺕ‬6َBَ‫و‬
(%-‫رﺏ‬/‫وا‬
Artinya:
“Dari Ibnu Abbas R.A. Bahwasanya Rasulullah saw bersabda: Barang
siapa yang mengetahui seseorang melakukan pekerjaan kaum Nabi Luth,
maka bunuhlah yang mengerjainya dan yang dikerjainya. Dan barang siapa
yang melihat seseorang melakukan Bestiality, maka bunuhlah ia dan bunuh
pula binatangnya.(Hadist diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, At-Tirmidzi,
An-Nasai, Ibnu Majah)81
79
Ali Daud Muhammad Jufal, Al-Taubah wa Asaraha Fi Istiqali al-Hudud fi al-Fiqh alIslami,(Beirut: Dar al Nahdati al Arabiyah,1989) hal.98
80
Wahbah al-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islami wa Adilatuhu,(Beirut: Dar Al Fikri,1989) juz 6,
hal.66
81
Imam Abi Husain Muslim bin Hajaj, Shahih Muslim, (Beirut: Daar al-Fikr,1993), juz IV,
hal.181
Menurut Imam Syafi’i bahwa dalam hadits ini menunjukan pengharaman
bestiality, dan menunjukan bahwa orang yang menyetubuhi binatang itu adalah
hukuman mati. Sedangkan menurut pendapat Imam Ahmad dan Imam Hambali
pelakunya cukup dihukum dengan hukuman ta’zir, karena perbuatan itu bukan
merupakan perzinaan. Hadits di atas pun menerangkan tentang bagaimanakah
hukum binatang itu baik yang halal dikonsumsi dan yang haram dikonsumsi.
Ibnu Abbas pernah ditanya “ bagaimanakah hukum binatang itu? Beliau
menjawab : Saya tidak mendengar sesuatu hal itu dari Rasulullah saw, akan tetapi
menurutnya binatang itu makruh untuk di konsumsi dagingnya setelah di
setubuhi. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Rasulullah saw :
‫ٍَْو‬9 َْ9 ٍ6
َ+ُ ُْ‫ِ ﺏ‬bِْbَ-ْ‫ُ ا‬6َْ9 ََ‫
ﺙ‬6َ ِ‫ََُ وَا َاق‬9 ُْ‫ُ ﺏ‬6
َ+ُ ََ‫ﺙ‬6
َ
ُ8‫ ا‬0
َ7 ِ8‫َلَ رَﺱُ ْلُ ا‬1 ٍ‫َ
س‬9 ْQِ‫َْ أَﺏ‬9 َ%َِْKِ9 َ9َ‫ََُ و‬9 Qِ‫ﺏِْ أَﺏ‬
َ#َِْR َ%َِْ!َْ‫ُُ ْا ا‬4ْ1‫ُ وَا‬:ْ ُُ4ْ1َR ٍ%َِْ!َ‫ ﺏ‬0ََ9 َ5َ1َ‫ُ و‬:ْ ُُ‫ْﺕ‬6َBَ‫َ َْ و‬,
َ‫ِ وَﺱ‬Fََْ9
ُ8‫ ا‬0
َ7 ِ8‫ُ ِْ رَﺱُ ْلِ ا‬zْ-َِ‫ََلَ َ ﺱ‬R ‫ِ؟‬%َِْ!َْ‫ْنُ ا‬kَ‫َ
سٍ َ ﺵ‬9 ِْ‫ﺏ‬Zِ
َ:ََ‫َ آ‬,
َ‫ِ وَﺱ‬Fََْ9 ُ8‫ ا‬0
َ7 ِ8‫ِْ أَرَى رَﺱُ ْلُ ا‬Kََ‫َ ﺵَْ;ً و‬3َِ‫ ذ‬QِR َ,
َ‫ِ وَﺱ‬Fََْ9
. َ#ََ-ْ‫َ ﺏِ!َ ذَاكَ ا‬#َِ9 ْ6َ1َ‫ُ ﺏِ!َ و‬5ِ'َ4َْ ْ‫ِْ!َ أَو‬+َ ِْ َ#ُ‫ْآ‬kَ ْ‫أَن‬
Artinya:
“Barang siapa mengetahui seseorang yang melakukan bestiality, maka
bunuhlah dia dan bunuh pula binatangnya. Ditanyakan kepada sahabat Ibnu
Abbas, bagaimanakhah hal binatang yang disetubuhi itu? Sahabat Ibnu
Abbas menjawab: saya tidak sedikitpun mendapat penjelasan dari
Rasulullah saw dari masalah tersebut. Tetapi saya menduga Rasulullah saw
memakruhkan untuk memakan dagingnya dan memenfaatkanya. Amalanamalan seperti itu betul-betul dilaksanakan. Hadits ini saya tidak ketahui
kecuali dari hadits Umar bin Abi Bakar dari Ikrimah dari Ibnu Abbas dari
Nabi Muhammad saw. Kemudian Sofian As-Sauri meriwayatkan dari ‘Ashim
dari Abi Ruzaini dari Ibnu Abbas, Ia berkata: “ Siapa yang melakukan
bestiality maka tidak ada had baginya.82(Hadist diriwayatkan oleh Imam
Ahmad)
Para ulama Al-Hadawiyah (Syi’ah) dan ulama Hanafiah berpendapat
bahwa binatang itu makruh dimakan, dan tidak diwajibkan membunuh binatang
yang sudah disetubuhi. Menurut Al-Khatabi, hadits ini bertentangan dengan
larangan Nabi membunuh binatang, kecuali untuk dimakan.
Sedangkan menurut Sayyid Muhammad Syatha Dimyati tidak diwajibkan
had terhadap orang yang melakukan hubungan seksual dengan binatang, tetapi
diwajibkan atasnya hukuman ta’zir. Sedangkan mengenai binatang yang
disetubuhi, tidak diwajibkan membunuhnya apabila binatang tersebut termasuk
binatang yang biasa dikonsumsi, karena adanya perbedaan pendapat tentang
binatang apa yang dimaksud dengan hadits di atas.83
Menurut
Sayyid Muhammad Syatha Dimyati bahwa binatang yang
dimaksud dalam hadits ini adalah binatang yang tidak biasa dikonsumsi oleh
manusia, maka binatang tersebut boleh dibunuh. Sedangkan binatang yang biasa
dikonsumsi tidak wajib atasnya, tetapi apabila binatang tersebut disembelih, maka
boleh memakannya.
Dari uraian di atas penulis dapat menarik kesimpulan bahwa kebanyakan
para ulama berpendapat bahwa hukuman bagi pelaku penyimpangan seksual
dengan binatang ialah hukuman ta’zir.
82
Abdul al- Rahman, Majmu’ al-Fatawa Syikh al- Islam Ahmad Ibnu Taimiyyah, (Riyad: Dar
al- ‘Alam al- Kutub,1991), jld.34, hal.182
83
Sayyid Muhammad Syatha Dimyati, I’anatu al-Thalibin, (Semarang: Toha Putra), juz 4,
hal.143
D. Pandangan Hukum Islam tentang Bestiality dan Relevansinya dengan
HAM
Islam adalah agama yang universal, yang di dalamnya mengatur hidup dan
kehidupan dalam rangka mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Islam
mengatur hubungan seks antara laki-laki dan wanita sebagai hubungan yang sah
dan benar yang menghargai harkat, martabat dan aspek manusia, yaitu melalui
pernikahan. Karena satu-satunya jalan yang dihalalkan oleh Islam untuk
memenuhi kebutuhan biologis hanya dengan jalan pernikahan yang sah. Begitu
juga Islam tidak melarang seseorang laki-laki untuk menikahi wanita dan
menggaulinya darimana pun ia suka. Sebagaimana firman Allah swt:
"#y
eŸA%
"rIJK”
Mz; "#QA%
^!
^!`,
^
¡¢£y
yI! ^!9f! M O#K9<¡Œ
"9:;<
^!_☺-4*!
?A…C¤
#
-9-4V
5jj?8 .x2B☺!
Artinya:
“Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam,
Maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu
kehendaki. dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah
kepada Allah dan Ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. dan
berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.’ (Q.S. Al-Baqarah:223)
Dalam hukum Islam tindakan penyimpangan seksual seperti bestiality
tidak dibahas secara khusus dan terperinci, akan tetapi walaupun tindakan
penyimpangan tersebut tidak dibahas secara terperinci, namun bukanlah berarti
pelakunya tidak dikenai hukuman atas perbuatannya. Karena bestiality tetap
merupakan bentuk penyimpangan seksual yang tidak sesuai dengan ketentuan
yang telah ditetapkan oleh Allah swt dalam Al-Quran. Sebagaimana firman Allah
swt:
;<
‰ffB!
'.,;c
A⌧r
+0
O#CL-4%Z
"#CL4%%>
Mev<g
XN•I$
vOy
f
M
^!_‚%=
†I!
%,L
O#A¥Y
¡¦4 yI! f M "#
5W?8 TtA$%Z
Artinya:
“Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang lakilaki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan
bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang
paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa
diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha
Mengenal.”
Dalam hukum Islam, hubungan seksual adalah kebutuhan yang mutlak
bagi suami-isteri yang normal. Namun demikian dalam hukum Islam banyak halhal yang harus diperhatikan baik dari segi etika maupun hukum agama.
Perjalanan manusia memang selalu dirongrong oleh godaan hawa nafsu yang
membawa manusia pada perbuatan menyimpang dari jalan yang benar.
Firman Allah swt:
M 1e§< |[email protected] I €
©C‚fªŒ
¨ŽfB!
f
ZQ‚
n]
_šKO
⌦‚9⌧
z-«‚
f
M _z-«‚
5 T¡¦Ž‚
Artinya:
Dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), Karena
Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu
yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun
lagi Maha penyanyang. (Q.S. Yusuf:53)
Bestiality dalam pandangan hukum Islam merupakan perbuatan maksiat
yang dapat dikenakan sanksi pidana ta’zir bagi pelakunya. Islam selalu
memerintahkan umatnya agar menjauhi perbuatan yang menjijikan, dan perbuatan
yang tidak dapat diterima oleh akal sehat. Hubungan seksual yang diperintahkan
oleh islam ialah hubungan seksual yang memiliki nilai ibadah yang berpahala
(melalui lembaga pernikahan), halal, dan sebagai upaya pengembangbiakan
(reproduksi) manusia agar terjadi kesinambungan generasi.
Firman Allah swt:
*+0
"#
XN%%>X
‡I!
BC%,⌧% 12BO "9:>|
O#K9<
*+0
"#
Z+0
"#%|‚
☯+|
M
q:@kyi!
Bc
8Ni::
"`
†I!
q%☺BO
5„j8 A9#c
Artinya:
Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan
menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan
memberimu rezki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman
kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah ?"(Q.S. An-Nahl:72)
Tuntunan Islam dalam mencegah penyimpangan seksual dengan binatang
yang tentunya dapat merusak kesehatan manusia, ialah memberikan sanksi yang
cukup berat terhadap pelaku penyimpangan seksual dengan binatang. Karena
bestiality merupakan perbuatan maksiat, maka perbuatan tersebut dikategorikan
sebagai jarimah. Yang dapat diberi sanksi pidana ta’zir. Mayoritas ulama sepakat
bahwa hukuman bagi pelaku bestiality ialah hukuman ta’zir
Pernikahan adalah ketetapan hukum yang telah diperintahkan Allah
kepada hambaNya, Karena hanya dengan pernikahanlah segala bentuk
permasalahan penyimpangan seksual dapat dikendalikan. Dalam ajaran Islam
selain untuk memenuhi kebutuhan biologis maka perkawinan dimaksudkan
sebagai cara yang utama untuk mendapatkan keturunan dan menciptakan tali
silaturahmi antar manusia. Itulah alasanya mengapa agama menetapkan
ketentuan-ketentuan pernikahan yang sah agar kesakralan hubungan seks terjamin
tanpa seenaknya melakukan penyimpangan seks dengan berbagai cara untuk
memenuhi kenikmatan sesaat. Oleh karena itu, menurut hemat penulis perbuatan
bestiality lebih berat hukumanya daripada perzinaan berdasarkan dua sisi, yaitu
dari sisi tindak pidana dan dari sisi pengaruh dampak negatif yang ditimbulkan.
Dari sisi tindak pidana, perbuatan bestiality merupakan penyimpangan seksual
dan merusak ekosistem binatang serta menghilangkan keturunan bagi manusia.
Sedangkan dari segi dampak negatifnya sangat berbahaya bagi kesehatan dan
psikologis seseorang.
Demikianlah Islam memandang perbuatan bestiality adalah perbuatan
penyimpangan seksual yang dilakukan terhadap binatang yang berdampak buruk
bagi perkembangan hidup di masyarakat. Oleh karena itu hukum Islam sudah
menjelaskan secara tegas bahwa kehormatan manusia merupakan suatu hal yang
prinsip dan mahkota yang harus dilindungi dan dipelihara dari bentuk
penyimpangan seksual, ancaman maupun gangguan. Allah swt akan memberikan
kebahagiaan di dunia dan akhirat bagi setiap umat Islam yang menjaga
pandangnya, dan menjaga kemaluannya ( Faraj). Sebagaimana firman Allah swt:
5W8 B☺! %⌧-4 *,
"'X⌧Jž
z1
"`
1syI!
"` 1syI! 5j8 %Z
5?8 .F9W?A 8;4! 5+
CM⌧rf‹4
"`
1syI!
"` 1syI! 58 4
n] 58 w9% "d>A9
 "d>| !z-
"'f€ "'~%☺c *q#-4
58 .x24 tA⌧
Artinya:
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,(yaitu) orangorang yang khusyu' dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang
menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan
orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga
kemaluannya, Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka
miliki; Maka Sesungguhnya mereka dalam hal Ini tiada tercela. (QS. AlMu’minun: 1-6)
Perkawinan merupakan solusi efektif untuk menghindarkan diri agar tidak
melakukan penyimpangan seksual, karena dalam perkawinan hubungan seksual
diatur sebagai hubungan yang sah dan benar yang menghargai harkat dan
martabat serta aspek kehidupan manusia.84 Perkawinan merupakan satu-satunya
jalan yang halal untuk memenuhi kebutuhan biologis, serta sesuai dengan lima
pokok tujuan syari’at (al-Maqasidu as-Syari’ah al-Khamsa):
1. Memelihara Agama (hifzh al-din),
2. Memelihara Jiwa (hifzh al-nafs)
3. Memelihara Akal (hifzh al-‘aql)
4. Memelihara Keturunan/Kehormatan (hifzh al-nasl)
5. Memelihara Harta (hifzh al-mal)
Ide hak asasi manusia muncul pada abad ketujuh belas dan kedelapan
belas masehi, pada awalnya ide ini muncul sebagai reaksi terhadap keabsolutan
raja-raja dan kaum feodal di zaman itu terhadap rakyat yang mereka perintah atau
manusia yang mereka pekerjakan. Masyarakat di zaman silam terdiri dari dua
lapis besar: lapisan atas, minoritas yang mempunyai hak-hak, dan lapisan bawah ,
mayoritas yang mempunyai kewajiban. Dalam lapisan bawah mereka tidak
mempunyai hak-hak, mereka diperlakukan dengan sewenang-wenang oleh pihak
yang berkuasa atas diri mereka. Sebagai reaksi terhadap keadaan yang pincang
ini, timbulah gagasan adanya persamaan derajat antara lapisan bawah dengan
lapisan atas. Maka muncullah ide persamaan , persaudaraan, dan kebebasan, yang
ditonjolkan oleh Revolusi Perancis. Pada akhir abad kedelapan belas. Semua
manusia adalah sama, tidak ada budak yang dimiliki, tetapi semua merdeka dan
bersaudara.
84
Ayip Syafruddin, Islam dan Pendidikan Seks Anak, ( Solo: Pustaka Mantik, 1991), hal.79
HAM sebagai hak dasar manusia yang dalam perjalanan peranannya
mengisyaratkan kebebasan yang didalamnya terdiri 3 kelompok hak, yaitu:
1. Hak kebebasan
2. Hak persamaan
3. Hak hidup
Seks adalah salah satu fitrah manusia yang diberikan Allah kepada
manusia, yang tidak seorang pun berhak menahan, bahkan melarang seseorang
untuk melakukan hubungan seks.
Begitu pula dengan kebebasan melakukan seksual dengan siapa atau
dengan apapun melakukannya itu adalah merupakan hak asasi manusia. Akan
tetapi kebebasan melakukan seksual yang diberikan Allah kepada makhluknya
hanyalah kebebasan yang bersandar pada ketentuan Allah. Sebagaimana yang
telah Nabi Muhammad saw sampaikan dalam khutbahnya dihadapan masyarakat
pada peristiwa haji wada, beliau bersabda:”Darah dan hak milikmu merupakan
hal yang amat suci sehingga kamu bertemu dengan Allah swt. Sebagaimana hari
ini dan bulan ini adalah suci, ketahuilah bahwa setiap muslim adalah saudara,
yang boleh diambil adalah apa yang diberikannya kepada kamu dengan
sukarela.85
Pada dasarnya kebebasan melakukan bestiality ialah merupakan
kebebasan individu yang tidak dapat dilarang oleh siapapun. Tetapi kehidupan
85
Harun Nasution dan Bachtiar Efendi, Hak Asasi Manusia dalam Islam,(Jakarta:Pustaka
Firdaus,1987), cet. Ke-1,hal.65
adalah pemberian Allah swt, yang dalam perjalanan hidup manusia Allah swt
selalu memberikan peringatan kepada manusia agar menjauhi perbuatan yang keji
dan menjijikan seperti bestiality.
Firman Allah swt.
N ^!% N €
n] ^ "9:H-4u "9:.O‚ UŽA%
^ v†k⌧y O ^!rt*­N
81sIO
^!_4S X] ^ LBJK*
^ -4 s/0 "9Y%,
^ "`Dc "9:|A< +;<
J⌧! ^!OA X]
^ ./iO %dL A%d .☯fB!
^!4=
X]
n]
‡I!
UŽA%
e7¡y!
"#©¯ž O#
M 8`%O
47
O#‡4%
O
5WW8
Artinya: Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas
kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan
Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu
membunuh anak-anak kamu Karena takut kemiskinan, kami akan memberi rezki
kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatanperbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi,
dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya)
melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. demikian itu yang diperintahkan
kepadamu supaya kamu memahami(nya). (Al-An’am: 151)
Bestiality sebagai penyaluran seks secara illegal sebagai bentuk
kebebasan HAM yang tidak diimbangi dengan KAM (kewajiban asasi manusia)
tentu sangat tidak relevan dengan hukum Islam, ajaran Islam sendiri menjadikan
kebebasan sebagai fitrah, yang diberikan Allah kepada manusia. Kebebasan
dalam Islam, artinya kebebasan yang sesuai dengan koridor agama, bukan
kebebasan yang menuju pada sikap radikal. Kebebasan yang seperti inilah yang
dijunjung tinggi karena justru pada kebebasan itulah terletak perbedaan asasi
antara manusia dengan makhluk yang lain. Islam menganjurkan manusia untuk
mengatur dan mengontrol nafsunya dan mencari kepuasanya itu dalam
perkawinan. Hak asasi manusia dalam Islam bersumber dari suatu kepercayaan
bahwa Allah, dan hanya Allah, adalah pemberi hukum dan sumber dari seluruh
hak asasi manusia.86
86
Harun Nasution, Hak Asasi Manusia dalam Islam, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia,
1987), cet. Ke-1, hal.156
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penyimpangan seksual
adalah perilaku seksual seseorang yang dianggap menyimpang atau menyalahi
aturan yang sudah ditentukan.
Bestiality sebagai salah satu bentuk penyimpangan seksual, dimana para
pelaku bestiality mencari kepuasan seksual dengan menjadikan binatang sebagai
objek pemuasan seksualnya, dan perilaku ini dianggap menyimpang baik dari
norma hukum, kaidah agama dan tata susila yang berlaku di masyarakat.
Faktor penyebab penyimpangan seksual dengan binatang (bestiality)
adalah lemahnya pengendalian diri, dalam hal ini iman dan intelegensi. Apabila
keduanya tidaklah menjadi senjata ampuh bagi seseorang untuk mengontrol dan
menguasai dirinya dari dorongan seks yang tidak terkontrol, maka dorongan seks
tersebut dapat menguasai dirinya untuk melakukan penyimpangan seksual.
Kondisi tersebut dapat juga disebabkan oleh:
1. Penderita didominasi oleh pikiran pola relasi seksual pada binatang
2. Refleksi ketakutan dan tidak ada kekuatan dalam melakukan pendekatan
terhadap jenis kelamin lain
3. Hambatan dalam kemampuan bergaul dengan lingkungan sosial pada
umumnya dan jenis kelamin lain pada khususnya
Menikah adalah jalan alami dan biologis yang paling baik dan sesuai
untuk menyalurkan dan memuaskan naluri seks, bahkan Islam menganjurkan
seseorang untuk menikah, bagi yang sudah mampu menikah, dan nafsunya telah
mendesak.
Pernikahan sangat dianjurkan oleh syariat Islam, karena pernikahan
merupakan pencegahan kebutuhan seks pada jalan yang tidak di kehendaki oleh
syariat Islam.
Bestiality sebagai penyimpangan seks secara tidak sehat, mengakibatkan
berbagai penyakit yang dapat menjangkiti para pelakunya. Boyke Dian Nugraha
mengatakan bahwa hewan sangatlah rentan dengan kotoran, maka ketika
seseorang melakukan hubungan seksual dengan binatang maka akan mudah
terkena virus dan penyakit. Boyke menambahkan pelaku bestiality rentan
terhadap penyakit kuning dan Hiv Aids.
Para ulama telah sepakat tentang keharaman bersetubuh dengan binatang.
Akan tetapi masih berbeda pendapat dalam menentukan hukuman bagi orang
yang melakukannya.
Imam Malik dan Abu Hanifah berpendapat bahwa menyetubuhi binatang
tidak di anggap sebagai zina, tetapi tetap merupakan maksiat yang dikenakan
hukuman ta’zir.
Sedangkan Imam Syafi’i dan Imam Hambali berpendapat:
1. Pendapat yang rajih (kuat) sama dengan pendapat Abu Hanifah dan Imam
Malik.
2. Pendapat yang kedua, perbuatan tersebut di anggap sebagai zina dan
hukumanya adalah hukuman mati.
Hukum Islam memandang bahwa bestiality merupakan penyaluran
seksual yang abnormal, menjijikan, dan keluar dari koridor syariat Islam. Maka
pelakunya dikenakan hukuman yang sesuai dengan syariat Islam, baik had
maupun tazir karena bestiality merupakan jarimah (tindak pidana).
HAM sebagai hak dasar manusia yang dalam perjalanan peranannya
mengisyaratkan kebebasan (yang di dalamnya terdiri 3 kelompok hak, yaitu:
4. Hak Kebebasan
5. Hak Persamaan
6. Hak Hidup
Bestiality sebagai penyaluran seks illegal sebagai bentuk kebebasan
HAM(hak asasi manusia) yang tidak diimbangi dengan KAM (kewajiban asasi
manusia) tentu sangatlah tidak relevan dengan hukum Islam, ajaran Islam sendiri
menjadikan kebebasan sebagai fitrah, yang diberikan Allah kepada manusia.
Kebebasan dalam Islam, artinya kebebasan yang sesuai dengan koridor agama,
bukan kebebasan yang menuju pada sikap radikal. Kebebasan yang seperti inilah
yang dijunjung tinggi karena justru pada kebebasan itulah terletak perbedaan asasi
antara manusia dengan makhluk yang lain
B. Saran
Problematika seks memang tak henti-hentinya menjadi wacana publik.
Karena seks bersifat biologis, naluriah, dan berlaku bagi semua orang. Frekuensi
seks yang tinggi menyebabkan manusia melakukan penyimpangan seksual untuk
memenuhi libido seksualnya. Jika diteliti dan ditelaah, banyak sekali
permasalahan yang timbul dari dorongan seks yang tidak terkendali ini,
diantaranya adalah perilaku homoseks, lesbian, bestiality, onani dan lain
sebagainya. Hal ini merupakan fenomena yang timbul dan berkembang karena
terompet-terompet iblis terus memanggilnya dalam pemuasan brutal dan lepas
kontrol.
Menurut penulis hanya keimanan dan intelegensi yang kuat yang dapat
menyelamatkan kita, karena keduanya berfungsi sebagai pengendalian diri.
Namun apabila iman dan intelegensi lemah maka dorongan seks bisa menguasai
seseorang untuk melakukan tindakan-tindakan yang tidak wajar, termasuk
penyimpangan seksual dengan binatang (bestiality). Menurut penulis tindak
pidana penyimpangan seksual apapun bentuknya tidak akan dapat dimusnahkan
kecuali dengan kesadaran masyarakat tentang bahaya dan pengaruh negatif yang
ditimbulkan oleh penyimpangan seksual tersebut. Pernikahan adalah solusi efektif
untuk mencegah penyimpangan yang semakin merajalela di masyarakat. Dan
penulis berharap adanya peraturan hukum yang dapat menimalisir segala cara
yang dapat menjerumuskan masyarakat melakukan tindak pidana penyimpangan
seksual.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an Al-Karim
Abu Abdullah Muhammad bin Idris, Ringkasan Kitab al-Umm, Beirut Libanon: Dar
al-Qalam, Jilid 3-6.t.th.
Abu Bakar, Sayyid, I’anatu Al-Thalibin, Semarang: Toha Putra, juz 4, t.th.
Akbar, Ali, Seksualitas Ditinjau dari Hukum Islam, Jakarta: Bulan Bintang, cet. Ke2,1982
Al-Asqolani,Ibnu Hajar, Buluq al-Maram, Surabaya: Nabhan, t.th.
Al-Qaisy, Ibrahim Marwan, Dr., Seksual Dalam Islam, Bandung: Mujahid Press,
2004.
As’ad, Kalali, Kamus Indonesia-Arab, Jakarta: Bulan Bintang, cet. ke-7,1997
Asrori, Ma’ruf, dan Zamroni, Anang, Bimbingan Seks Islami, Surabaya: Pustaka
Anda, cet. ke-1,1997
Asy-Syaukani, Luthfi, Politik, HAM, Dan Isu-isu Teknologi Dalam Fikih
Kontemporer, Bandung: Pustaka Hidayah, cet. Ke-1, 1989
----------------, Ali, Ibnu, Muhammad, Nail al-Authar, Damasakus: Daar al-Fikr, juz
7,t.th.
Audah, Abdul Qodir, At-Tasyri Al-Jinaiy Al-Islami, Beirut: Daar Al-Fikr, t.th.
Az-Zuhaili, Wahbah, al-Fiqhu al-Islam wa Adillatuhu, Damaskus: Daar Al-Fikr, juz
4,1984
Bukhori, Muhammad, Hubungan Seks Menurut Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1994
------------------------- , Islam dan Adab Seksual, Jakarta: Bumi Aksara, 1994
Chaplin, J.P., Kamus Lengkap Psikologi, Terjemahan Kartini Kartono, Jakarta:
Grafindo Persada, cet. Ke-9,2004
Fokpal, Asmawi, Lika-Liku Seks Menyimpang, Yogyakarta: Darussalam, 2005
Ghozali, Abdul Muqsit, dkk, Tubuh, Seksualitas dan Kedaulatan Perempuan,
Yogyakarta: LKIS, cet. Ke-1, 2002
Hanafi, Ahmad, Azas-Azas Hukum Pidana Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, cet.
Ke-3, 2003
Ibnu Rusyd, Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid, Beirut: Dar al-Fikr, t.th.
Imam Abi al-Fida’i Ismail Ibnu Katsir, Ibnu Katsir, Beirut: Dar al-Filur, Juz III,1986
Kartono, Kartini, Psikologi Abnormal dan Abnormalitas Seksual, Bandung: Mandar
Maju, 1989
-------------------, Psikologi Wanita: Wanita Sebagai Ibu dan Nenek, Bandung:
Alumni, Jilid II,1997
Madan, Yusuf, Sex Education For Children : Panduan Islam Bagi Orang Tua Dalam
Pendididkan Seks Pada Anak, tert. Ija Suntana, Jakarta: Hikmah, cet. Ke-1,
2004
Muhammad, Abu Bakar, Terjemahan Subul al-Salam, Surabaya: Al-Ikhlas, cet. Ke-1,
1995
Muslih, Wardi, Ahmad, H, Drs, Hukum Pidana Islam, Jakarta: Sinar Grafika, 2004
Nasution, Harun, Hak Azasi Manusia, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, cet. Ke-1,
1987
Rafiq, Ahmad, Hukum Islam di Indonesia, Jakarta: Raja Grafindo Persada, cet. Ke-1,
1995
Sa’bah, Umar, Marzuki, Seks dan Kita, Jakarta: Gema Insani, cet. Ke-1, 1997
Sabiq, Sayyid, Fiqih Sunnah, Bandung: Al-Maarif, cet. Ke-1, t.th.
Santoso, Topo, Menggagas Hukum Pidana Islam, Bandung: Asysymiel, cet. Ke-1,
2002
Sayid, Abu Bakar, I’anah at-Thalibin, Semarang: Toha Putra, Juz 4,t.th.
Soekanto, Soejono, Pokok-Pokok Sosiologi Hukum, Jakarta: Raja Grafindo Persada,
2001.
Syafrudin Ayip, Islam Dan Pendidikan Seks Anak, Solo: Pustaka Mantiq, cet. ke1,1991
Tebba, Sudirman, Tafsir Al-Quran: Ayat-Ayat Seks, Jakarta: Pustaka Irvan, 2006
Umar, Hasan, Muhammad Ali, Kejahatan Seks dan Kehamilan diluar Nikah dalam
Pandangan Hukum Islam, Semarang: Panca Agung, cet. Ke-1, 1990
Yanggo, T, Chuzaimah, H, DR., Problematika Hukum Islam Kontemporer, Jakarta:
Pustaka Firdaus, cet. Ke-3, 2002
Zuhdi, Masjfuk, Masail Fiqhiah, Jakarta: Haji Mas Agung, 1998
Download