BAB IV KEBIJAKAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL Tujuan

advertisement
BAB IV
KEBIJAKAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL
Kebijakan perdagangan internasional diartikan sebagai berbagai
tindakan dan peraturan yang dijalankan suatu negara, baik secara
langsung maupun tidak langsung, yang akan mempengaruhi struktur,
komposisi, dan arah perdagangan internasional dari /ke negara tersebut.
Tujuan Kebijakan Perdagangan Internasional
Tujuan kebijakan perdagangan internasional yang dijalankan oleh
suatu negara dapat dirumuskan sebagai berikut :
Melindungi kepentingan ekonomi nasional dari pengaruh buruk atau
negatif
dan
dari
situasi/
kondisi
ekonomi
/
perdagangan
internasional yang tidak baik atau tidak menguntungkan.
Melindungi kepentingan industri di dalam negeri.
Malindungi lapangan kerja (employment).
Menjaga
keseimbangan
dan
stabilitas
neraca
perbayaran
internasional.
Menjaga tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan stabil.
Menjaga stabilitis nilai tukar atau kurs valas.
Kebijakan Ekspor
Kebijakan perdagangan internasional di bidang ekspor diartikan
sebagai berbagai tindakan dan peraturan yang dijalankan suatu negara,
baik secara langsung maupun tidak langsung, yang akan mempengaruhi
struktur, komposisi, dan arah transaksi serta kelancaran usaha untuk
peningkatan devisa nagara. Kebijakan perdagangan internasional di
18
bidang ekspor dikelompokkan menjadi dua macam kebijakan sebagai
berikut :
1. Kebijakan Ekspor di dalam Negeri
Kebijakan perpajakan dalam bentuk pembebasan, keringanan,
pengembalian pajak untuk barang-barang tertentu. (pajak crude
palm oil -CPO)
Fasilitas kredit perbankan yang
murah untuk mendorong
peningkatan ekspor barang tertentu.
Penetapan prosedur ekspor yang relatif mudah.
Pemberian subsidi ekspor, seperti pemberian sertifikat ekspor.
Pembentukan asosiasi eksportir.
Larangan/ pembatasan ekspor, misalnya larangan ekspor CPO
oleh Menperindag.
2. Kebijakan Ekspor di luar Negeri
Pembentukan International Trade Cetre (ITPC) di bergagai negara,
Jepang (Tokio), Eropa, Asdam lain-lain.
Pemanfaattan General System of Preferency (GSP), yaitu fasilitas
keringan bea masuk yang diberikan negara-negara industri untuk
barang manufaktur yang berasal dari negara yang sedang
berkembang, seperti Indonesia.
Menjadi anggota Commodity Association of Producer, seperti OPEK
dan lain-lain.
Menjadi anggota Commodity Agreement Between Producer and
Consumer, seperti ICO (International Coffee Organization), MFA
(Multifibre Agreement) dan lain-lain.
Kebijakan Impor
Kebijakan perdagangan internasional di bidang impor diartikan
sebagai berbagai tindakan dan peraturan yang dijalankan suatu negara,
19
baik secara langsung maupun tidak langsung, yang akan mempengaruhi
struktur,
komposisi,
dan
kelancaran
usaha
untuk
melindungi/
mendorong pertumbuhan industri dalam negeri dan penghematan devisa.
Kebijakan perdagangan internasional di bidang impor dapat
dikelompokkan menjadi dua macam kebijakan sebagai berikut :
I . Kebijakan Tariff
Kebijakan Tariff dalam bentuk bea masuk dapat dibedakan
berdasarkan tinggi randahnya pembebanan Tariff, sebagai berikut :
Tariff rendah, yaitu antara 0 % - 5 % dikenakan pada bahan
kebutuhan pokok dan vital seperti beras, mesin vital, alat-alat
militer dan lain-lain.
Tariff sedang, yaitu antara 6 % - 20 % dikenakan untuk barang
setengah jadi dan barang-barang lain yang belum cukup
diproduksi di dalam negeri.
Tariff tinggi, yaitu di atas 20 % dikenakan untuk barangbarang mewah dan barang-barang lain yang sudah cukup
diproduksi di dalam
negeri dan bukan barang kebutuhan
pokok.
Sistem Tariff
Dalam pelaksanaan pembebanan Tariff dilakukan dengan cara
sebagai berikut :
Bea Nilai (Ad valorem Tariff)
Bea masuk (BM) impor ditentukan dengan tingkat prosentase
tertentu dari nilai barang yang di impor.
Contoh :
Nilai impor = $100, Tariff = 10 %, Kurs = Rp.10.000,00/US $.
20
Jumlah Tariff = $100 x Rp.10.000,00 x 10 % = Rp.100.000,00.
Bea Spesifik (Spesific Tariff)
Bea masuk impor ditentukan berdasarkan jumlah ukuran fisik
dari barang yang di impor.
Contoh :
Semen
= Rp.3.000,00 per ton
Sepatu
= Rp.14.500,00 per pasang
Bea Campuran (Compound Tariff)
Bea masuk impor ditentukan berdasarkan kombinasi kedua
Tariff di atas.
Tujuan dan Fungsi Tariff
1. Menurut tujuannya, kebijakan bea masuk dapat dibedakan sebagai
berikut :
a. Tariff Proteksi, yaitu pengenaan Tariff bea masuk yang tinggi
untuk membatasi impor barang tertentu.
b. Tariff Revenue, yaitu pengenaan Tariff bea masuk yang bertujuan
untuk meningkatkan penerimaan negara.
2. Menurut fungsinya, kebijakan Tariff bea masuk dibedakan sebagai
berikut :
a. Fungsi mengatur (regulerend), yaitu untuk mengatur perlindungan
kepentingan ekonomi/ industri dalam negeri.
b. Fungsi budgeter, sebagai salah satu sumber penerimaan negara.
c. Fungsi demokrasi, penetapan besarnya Tariff bea masuk melalui
persetujuan DPR.
d. Fungsi pemerataan, untuk pemerataan distribusi pendapatan
nasional, contoh bea masuk barang mewah.
21
Efek Tariff
Dampak dikenakan Tariff terhadap seuatu barang tertentu
berakibat terhadap beberapa hal sebagai berikut :
Grafik 1 : Analisis Efek-efek Tariff
S
P0
E0 = Autarki
P2
a
b
E1 = Free Trade
P1
f
e
d
c
D
O
Q1
Q3
Q0
Q4
Q2
Keterangan :
Harga P0 dan titik keseimbangan E0 adalah perekonomian autarki :
• Tidak ada ekspor dan impor.
• Produksi DN = konsumsi DN = OQ0
Harga P1 dan titik keseimbangan E1 adalah perekonomian free trade :
• Produksi DN = OQ1
• Konsumsi = OQ2
• Impor = Q1Q2
Karena produksi turun dari OQ0 menjadi OQ1, maka pemerintah
memberikan proteksi Tariff bea masuk sebesar P1P2 .
Dampak Tariff P1P2 tersebut adalah :
•
Harga akan naik dari P1 ke P2
•
Konsumsi DN akan turun dari Q2 ke Q4
•
Produksi DN akan naik dari Q1 ke Q3
22
•
Pemerintah akan mendapat penerimaaan sebesar segiempat abde
•
Redistribusi income (subsidi dari konsumen ke produsen) sebesar
P1P2 af
•
Cost of protection (kerugian neto konsumen) sebesar aef + bdc
•
Impor turun dari Q1Q2 menjadi Q3Q4
II. Kebijakan Non Tariff
Kebijakan non Tariff adalah berbagai kebijakan perdagangan selain
bea masuk yang dapat menimbulkan distorsi, sehingga mengurangi
potensi manfaat perdagangan internasional. Secara garis besar kebijakan
non Tariff dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1. Pembatasan spesifik
a. Larangan impor secara mutlak
b. Pembatasan impor (quota import)
c. Peraturan teknis impor produk tertentu
d. Peraturan kesehatan (karantina)
e. Perizinan impor
f. Embargo
g. Hambatan pemasaran
h. dll.
2. Peraturan Bea cukai
a. Prosedur impor
b. Penetapan harga pabean
c. Penetapan kurs valas dan pengawasan devisa
d. Consulate formalities
e. Regulasi pengepakan dan labelling
f. Tes standar kualitas
g. Pungutan administrasi
23
h. Klasifikasi Tariff
3. Pengaruh Pemerintah
a. Kebijakan pengadaan pemerintah
b. Subsidi ekspor
c. Kebijakan anti Tariff dan dumping
d. Deversifikasi perdagangan
Quota Impor
Quota adalah suatu kebijakan yang dilakukan dengan cara
membatasi jumlah impor atau dengan kata lain menentukan jumlah
maksimum barang yang boleh di impor.
Menurut ketentuan GATT/ WTO sistem quota ini hanya dapat
digunakan dalam hal sebagai berikut :
Dalam perlindungi hasil pertanian.
Dalam menjaga keseimbangan neraca pembayaran.
Dalam melindungi kepentingan ekonomi nasional.
Macam-macam quota impor :
Unilateral Quota, yaitu sistem quota yang ditetapkan secara
sepihak (tanpa negosiasi).
Bilateral Quota, yaitu sistem quota yang ditetapkan atas
kesepakatan ke dua belah fihak.
Tariff Quota, yaitu pembatasan impor yang dilakukan dengan
mengkombinasikan sistem Tariff dan sistem quota.
Mixing Quota, yaitu pembatasan impor bahan baku tertentu
untuk melindungi industri dalam negeri.
Efek-efek Quota
Dampak diberlakukan quota impor sama halnya dengan dampak
diberlakukan Tariff impor, akan tetapi pemerintah tidak mendapatkan
24
penerimaan berupa pajak, namun justru yang menerima adalah pihak
pemegang/ pemilik quota atau supplier (importir yang monopoli), karena
terjadi selisih harga yang relatif tinggi antara harga pembelian dari LN
dengan harga penjualan di DN.
Grafik 2 : Analisis Efek-efek Quota
S
P0
E0 = Autarki
P2
a
b
P1
E1 = Free Trade
f
e
d
c
D
O
Q1
Q3
Q0
Q4
Q2
Keterangan :
Harga P0 dan titik keseimbangan E0 adalah perekonomian autarki :
• Tidak ada ekspor dan impor.
• Produksi DN = konsumsi DN = OQ0
Harga P1 dan titik keseimbangan E1 adalah perekonomian free trade :
• Produksi DN = OQ1
• Konsumsi = OQ2
• Impor = Q1Q2
Karena produksi turun dari OQ0 menjadi OQ1, maka pemerintah
memberikan proteksi quota impor sebesar Q3Q4 .
Dampak Tariff P1P2 tersebut adalah :
•
Harga akan naik dari P1 ke P2
•
Konsumsi DN akan turun dari Q2 ke Q4
25
•
Produksi DN akan naik dari Q1 ke Q3
•
Pemegang quota (importir) akan memperoleh keuntungan sebesar
abde
•
Redistribusi income (subsidi dari konsumen ke produsen) sebesar
P1P2 af
•
Cost of quota protection (kerugian neto konsumen) sebesar aef +
bdc
•
Impor turun dari Q1Q2 menjadi Q3Q4
Kelemahan Sistem Quota Impor
Sifatnya tidak transparan.
Jika quota diberikan kepada perorangan atau perusahaan
swasta, maka yang mendapat keuntungan hanya orang pribadi
atau perusahaan yang mendapat quota tersebut.
Dapat menimbulkan distorsi pasar berupa monopoli yang akan
merugikan masyarakat konsumen.
Subsidi
Kebijakan subsidi adalah merupakan kebijakan pemerintah untuk
memberikan perlindungan atau bantuan kepada industri dalam negeri
dalam bentuk keringanan pajak, pengembalian pajak, fasilitas kredit,
subsidi harga, dan lainnya dengan tujuan sebagai berikut :
Menambah produksi dalam negeri
Mempertahankan jumlah konsumen dalam negeri
Menjual dengan harga yang lebih murah daripada produk
impor.
26
Grafik 3 : Analisis Subsidi Impor
S0
S1
P2
P1
A
B
E
C
F
D
O
Q1
Q3
Q2
Keterangan :
Pada keadaan persaingan (free trade)/ tanpa subsidi :
•
Harga P1, produksi DN sebesar OQ1
•
Konsumsi Dn sebesar OQ2
•
Impor sebesar Q1Q2
Jika pemerintah ingin menaikkan produksi Dn dari Q1 ke Q3, maka :
•
Secara teoritis produsen akan bersedia menaikkan produksinya jika
harga naik dari P1 ke P2.
•
Supaya produksi naik tetapi harga tidak naik, maka pemerintah
memberikan subsidi harga sebesar P1 P2 atau BC.
•
Dengan subsidi P1P2 tersebut maka:
# Produksi DN naik dari OQ1 ke OQ3
# Impor turun dari Q1Q2 menjadi Q2Q3
# Konsumen tetap bayar dengan harga P1
# Produsen menerima pembayaran harga P2
Kelebihan Subsidi :
Subsidi biasanya diberikan untuk barang-barang kebutuhan pokok.
Subsidi biasanya bersifat transparan dan dapat dikontrol oelh
masyarakat.
27
Dumping
Kebijakan suatu diskriminasi harga secara internasional (international price
discrimination) yang dilakukan dengan menjual suatu komoditi di pasar
internasional dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan
dibayar konsumen di dalam negeri
Ada tiga tipe dumping :
Persistant dumping, yaitu kecenderungan monopoli yang berkelanjutan
dari suatu perusahaan dipasar domestik untuk memperoleh profit
maksimum dengan menetapkan
harga yang lebih tinggi di dalam
negeri daripada di luar negeri
Predatory dumping, yaitu tindakan perusahaan untuk menjual barang di
luar negeri lebih murah untuk sementara (temporary) bsehingga
menggusur atau mengalahkan perusahaan lain dari persaingan bisnis,
setelah dapat memonopoli pasar, barulah harga kembali dinaikkan
untuk mendapat profit maksimum.
Sporadic dumping, yaitu tindakan perusahaan dalam menjual produkya
di luar negeri dengan harga yang lebih murah secara pecara poradis
dibandingkan dengan harga di dalam negeri karena adanya surplus
produksi di dalam negeri
Dumping di Pasar USA
S
Po
P1
P2
D
O
R
M
N
S
28
Dumping Besi Baja Korea selatan di pasar USA :
Keadaan semula pada harga Po produksi baja USA sebesar OM,
konsumsi ON sehingga impor MN
Korea melakukan politik dumping dengan menurunkan harga menjadi
P1, sehingga produksi USA turun menjadi OR konsumsi OS sehingga
impor menjadi naik menjadi RS
Dumping sampai harga P2, dimana sudah lebih rendah dengan harga
pokok produksi baja USA sehingga produksi baja USA bangkrut dan
produksi baja korea memonopoli di pasar USA
Dalam kasus di atas tentu USA dirugikan dengan tindakan dumping
(unfair trade practice) yang dilakukan Korea, sesuai dengan ketentuan WTO
maka USA berhak melakukan tindakan anti-dumping (anti dumping duties)
29
BAB V
KERJASAMA EKONOMI INTERNASIONAL
Kerjasama
ekonomi
internasional
sampai
saat
sekarang
berkembang pesat baik itu bersifat bilateral, yaitu kerjasama ekonomi dua
negara maupun bersifat multilateral, yang melibatkan banyak negara di
dunia. Berikut akan dibahas organisasi dan kerjasama internasional
mapun regional di kawasan tertentu.
a. Organisasi Multilateral Regional
Organisasi Multilateral Regional adalah organisasi kerjasama
ekonomi perdagangan yang anggotanya terdiri dari beberapa negara di
kawasan tertentu. Contohnya BENELUX (Belgia, Nederland, Luxemburg),
ASEAN (Association of South East Asian Nation), AFTA (Asean Free Trade
Area), APEC (Asian Pasific Economic Coorporatioan), EFTA ( European Free
Trade Area), NAFTA (Nort American Free Tade Area), EEC (European
Economic Community) dan lainnya.
1). BENELUX
Merupakan gabungan negara-negara Belgia, Nederland,
Luxemburg yang meliputi kerjasama meningkatkan perdagangan
antar anggota dan mengurangi atau menghilangkan hambatanhambatan seperti tarif atau bea pabean dan lainnya. Tujuan
dibentuknya Benelux adalah :
Tariff community, yaitu kesepakatan mengurangi bea impor
atau tarif bagi anggotanya dan sepakat untuk menggunakan
tarif tertentu bagi negara lain di luar anggota.
30
Customs Union, Antara negara anggota tidak ada tarif dan
terhadap negara lain ada kesepakatan tarif.
Full Economic Union, yaitu antara negara anggota tidak ada
lagi hambatan-hambatan perdagangan dan akhirnya bebas
perdagangan
2). PBE (Pasar Bersama Eropa)
BPE adalah suatu organisasi yang didirikan oleh enam
negara Eropa yang mempunyai maksud merealisasikan cita-cita
terbentuknya apa yang disebut European Economic Community
(EEC) atau Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE). Dorongan utama
terbentuknya
MEE
adalah
kebulatan
tekat
yang
disertai
kepercayaan yang kokoh terhadap terbentuknya suatu kesatuan
Eropa dalam bentuk Federasi yang diyakini golongan-golongan
Eropa.
Alasan-alasan membentuk PBE :
Secara geografis dan ekonomis, negara Belanda, Jerman, Belgia,
Italia, dan Luxemburg merupakan satu kesatuan dan memiliki
sumber daya yang melimpah di Eropa barat.
Secara psikologis, mereka adalah negara-negara yang kalah
perang dan saat kritis negara-negara tersebut tidak berdaya
terhadap konsentrasi kekuatan dunia.
3). EEC (European Economic Community)
Merupakan perhimpunan yang didirikan tahun 1958
berdasarkan perjanjian Roma, Italia yang bersama dalam PBE.
Negara anggota EEC terdiri dari :
31
(1). Belanda
(7). Ingris
(2). Belgia
(8). Irlandia
(3). Luxemburg
(9). Denmark
(4). Perancis
(10). Norwegia
(5). Jerman
(11). Yunani
(6). Italia
(12). Spanyol
Tujuan EEC adalah untuk menyusun polotik perdagangan bersama
dan mendirikan daerah perdagangan bebas antar negara-negara
Eropa barat. Di dalam EEC tersebut terdapat perlakukan
diskriminatif terhadap negara luar anggota terutama di bidang
produk pertanian.
4). ASEAN (Association of South East Asian Nation)
Asean didirikan pada tanggal 8 Agustus 1967 berdasarkan
Bangkok Declaration atas prakarsa lima nagara, yaitu Indonesia
(Adam Malik), Filipina (Narsisco Ramos), Malaysia (Tun Abdul
Razak), Thailand (Thanat Khoman) dan Singapura (S. Rajaratnam).
Kemudian menyusul negara lain yang hendak menjadi anggota
Asean
adalah
Myanmar.Tujuan
Brunei,
Vietnam,
dibentuknya
Asean
Laos,
adalah
Komboja
dan
meningkatkan
kerjasama ekonomi, perdagangan, dan sosial budaya, antar negaranegara Asia Tenggara.
Dalam perjalanannya dalam bidang perdagangan di nagaranegara Asean kurang menggembirakan dan lambat, maka dalam
KTT Asean ke IV di Singapura tanggal 27-28 Januari 1992, telah
ditandatangani Skema CEPT (Agreement on Common Effective
Preferenctial Tariff) yaitu merupakan skema CEPT untuk AFTA
32
5). AFTA (Asean Free Trade Area)
Organisasi kerjasama ekonomi regional yang anggotanya
terdiri dari sepuluh negara Asean, yaitu : Indonesia, Malaysia,
Brunei Darussalam, Singapura, Philipina, Thailand, Kamboja, Laos,
Vietnam, Myanmar.
Latar belakang pembetukan AFTA :
Adanya perubahan eksternal, yaitu masa transisi terbentuknya
tatanan dunia baru (blok-blok perdagangan, perkembangan
negara-nagara komunis, pasca perang dingin, semakin ketat
persaingan pasar internasional)
Perubahan internal, yaitu adanya kemajuan ekonomi negaranegara anggota selama 10 tahun terakhir (pertumbuhan
ekonomi yang tinggi).
Menggalang persatuan regional untuk menigkatkan posisi dan
daya saing.
Dalam pertemuan puncak tanggal 14-15 Desember 1995 di
Bankok,
para
pimpinan
ASEAN
menegaskan
kembali
komitmennya, bahwa AFTA akan dilaksanakan secara penuh
selambat-lambatnya pada tahun 2003. Pada tahun 2003 nanti
seluruh negara ASEAN melakukan perdagangan bebas, arus
perdagangan, uang pembayaran dan faktor penunjang lainya bebas
keluar masuk dalam wilayah ASEAN, hanya dengan hambatan 0 %
- 5 % dan tidak ada lagi hambatan non tarif. Sebagai langkah awal
dari pelaksanaan AFTA tersebut maka disepakati 15 produk
industri yang dipercepat penurunan tarifnya menjadi 0% - 5%,
yaitu semen, pupuk, pulp, tekstil, perhiasan dan permata, perabot
dari kaya dan rotan, barang kulit, plastik, obat-obatan, elektronika,
33
kimia, produk karet, minyak nabati, gelas keramik, dan katoda
tembaga.
6). APEC (Asian Pasific Economic Coorporatioan)
APEC adalah organisasi kerjasama ekonomi regional di
kawasan Asia Pasific yang anggotanya berjumlah 18 negara, yaitu :
(1).
Australia
(10).
Kanada
(2).
Amerika Serikat
(11).
Korea Selatan
(3).
Brunei
(12).
Malaysia
(4).
Cile
(13).
Meksiko
(5).
Cina
(14).
Selandia Baru
(6).
Filipina
(15).
Papua Nugini
(7).
Hongkong
(16).
Singapura
(8).
Indonesia
(17).
Taiwan
(9).
Jepang
(18).
Thailand
Gagasan pertama terbentuknya APEC diusulkan oleh PM
Australia dan PM Jepang dalam forum kerjasama ekonomi Asia
Pasific di Australia tahun 1989. Jepang adalah raksasa ekonomi
dunia yang kali ini baru mengikuti menjadi anggota APEC.
Semenjak gagasan perhimpunan APEC muncul, maka berturutturut setiap tahun diadakan pertemuan konsultasi kepala negara
anggota APEC.
Pertemuan I di Canberra Australia, 1989
Pertemuan II di Singapura, 1990
Pertemuan III di Seoul Korea Selatan, 1991
Pertemuan IV di Bankok Thailand, 1992
Pertemuan V di Seatle USA, 1993
34
Pertemuan VI do Bogor Indonesia, 1994
Pertemuan VII di Osaka Jepang, 1995
Pertemuan VIII, di Manila Philipina, 1996
Pertemuan IX di Vancouver Kanada, 1997
Pertemuan terakhir di Shanghai Cina, 2001
Pertemuan-pertemuan tersebut membahas masalah-masalah
yang berhubungan dengan liberalisasi perdagangan dan investasi
di kawasan tersebut. Pertemuan terakhir dilaksanakan pada bulan
Oktober 2001 yang lalu di Shanghai Cina. Pokok-pokok Shanghai
yang dihasilkan antara lain mengenai memperluas visi APEC,
agenda APEC harus lebih menekankan kerjasama antara para
menteri keuangan guna memperbaiki pengaturan ekonomi.
Mengintruksikan para pejabat untuk mengidentifikasikan tindakan
konkrit untuk mempermudah perdagangan, Setuju untuk lebih
memajukan kebijakan perdagangan guna memacu pertumbuhan
ekonomi baru. Tahun ini, (2001) para pejabat akan saling tukarmenukar informasi dan pertimbangan terhadap target dan strategi
APEC untuk pertemuan 2002 di Meksiko, dan setuju untuk
memperkuat hubungan bilateral dan multilateral negara-negara
anggota.
Tujuan
pokok
APEC
adalah
melakukan
liberalisasi
perdagangan dan investasi, serta meningkatkan pemanfaatan SDA
dan kualitas SDM untuk meningkatkan pembangunan dan
pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Pasifik. Untuk mencapai
tujuan tersebut APEC telah menyusun agenda leberalisasi secara
bertahap, yaitu :
Tahun 2010 : Liberalisasi perdagangan dan investasi di antara
negara industri maju di kawasan Asia Pasifik. Tahun 2020 :
35
Liberalisasi perdagangan dan investasi di antara seluruh negara di
kawasan Asia Pasifik.
7). EFTA ( European Free Trade Area)
EFTA adalah organisasi kerjasama ekonomi regional di
kawasan Eropa yang anggotanya adalah ; Belanda, Belgia,
Luxemburg,
Prancis, Jerman, Italia, Inggris, Swedia, Norwegia, Denmark,
Austria, Iceland, Irlandia, Portugal, Turki, dan Yunani. Dalam
kerjasamanya dimungkinkan melakukan penghapusan internal
tariff, tetapi negara-negara anggota bebas mengadakan kebijakan
perdagangan masing-masing negara terhadap negara ketiga.
Komoditi yang diekspor Indonesia ke negara kawasan Eropa antara
lain : Tembakau ke Bremen, Teh ke Anwerpen, Kopra ke Jerman,
Kina ke Belanda, Karet ke Jerman Italia Prancis, tapioka ke Jerman,
Minyak kelapa Sawit ke Belanda, Italia, Belgia, dan Jerman.
8). NAFTA (Nort American Free Tade Area)
Merupakan blok perdagangan yang bersifat eksklusif di
kawasan Amerika Utara (USA, Kanada, Meksiko). NAFTA akan
melakukan perdagangan bebas di kawasannya pada tahun 2010.
Jadi arus lalu lintas barang dagangan dan faktor penunjang yang
berasal dari negara anggota bebas masuk dalam wilayah NAFTA,
tanpa hambatan non tarif.
Latar Belakang Pembentukan NAFTA
Adanya perubahan global baik ekonomi, perdagangan dan
informasi.
36
Perubahan internal, yaitu kemajuan ekonomi negara-negara
anggota.
Hasil kerjasama blok lainnya yang kurang menggembirakan.
Menggalang persatuan regional untuk meningkatkan posisi
dan daya saing dan memperkecil defisit perdagangan negara
anggota.
9). COLOMBO PLAN
Colombo Plan juga disebut Plan for Cooperative Economic
Development of South and South East Asia, yaitu adalah rencana
kerjasama untuk pengembangan ekonomi di Asia Selatan dan Asia
Tenggara. Colombo Plan didirikan di Srilangka tanggal 9-14 Januari
1950 dan dihadiri oleh negara-negara persekmamuran Inggris
(Common
Wealth).
Tujuan
Colompo
Plan
adalah
untuk
meningkatkan taraf hidup masyarakat di Asia Selatan dan Asia
Tenggara melalui penyusunan dan pelaksanaan rencana kerjasama
internasional. Bentuk bentuk bantuan Colombo Plan adalah sebagai
berikut :
Pinjaman dan sumbangan untuk proyek-proyek nasional.
Bahan
makanan,
pupuk
tanaman,
dan
barang-barang
konsumsi.
Alat-alat perlengkapan (mesin, angkutan, laboratorium)
Jasa tenaga ahli.
Pendidikan dan latihan ketrampilan dalam berbagai bidang.
b. Organisasi Multilateral Internasional
Organisasi multilateral internasional adalah organisasi kerjasama
perdagangan internasional yang anggotanya terdiri dari hampir
37
seluruh negara di dunia. Contohnya GATT/WTO, UNCTAD, dan
lainya.
1). GATT ( General Agreement on Trade and Tariff)
Merupakan organisasi internasional mengenai persetujuan
umum tentang tarif dan perdagangan yang didirikan berdasarkan
Havana Charter pada tahun 1948. Tujuan dari organisasi ini adalah
meningkatkan arus perdagangan internasional dengan prinsipprinsip pokok dalam GATT Clause, yaitu sebagai berikut :
a). Prinsip pasar dunia yang terbuka (liberalisme perdagangan)
b). Prinsip Free Trade, yaitu prinsip perdagangan bebas dan adil
dengan
menghilangkan
/mengurangi
berbagai
hambatan
perdagangan internasional, baik yang berssifat tariff barrier (TB)
maupun Nontariff Barrier (NTB).
c). Prinsip Reprositas (timbal balik) dan non diskriminasi yang
dikenal sebagai Most Favorised Nation Clause (MFNC), yaitu
prinsip multilateral dalam perlakuan hubungan ekonomi/
keuangan/ perdagangan internasional.
d). Prinsip non-diskriminasi (nation treatment clause), yaitu prinsip
memberi perlakuan yang sama terhadap produk luar negeri
maupun produk dalam negeri. Misalnya PPN yang sama.
e). Anti proteksionisme dalam segala bentuk, anti dumping dan
anti subsidi.
Dalam prekteknya penyimpangan, proteksionisme terjadi dan
umumnya dilakukan oleh negara industri maju, dan sangat
merugikan negara-negara yang sedang berkembang. Bentuk
proteksionisme antara lain :
Pembatasan quota hasil produksi negara sedang berkembang.
Dumping oleh negara maju terutama Jepang.
38
Pemberian subsidi produk pertanian dan subsidi ekspor hasil
pertanian oleh MEE.
Perlakuan terhadap negara sedang berkembang dengan tarif
yang tinggi.
Perlakuan diskriminatif dalam pelayanan pelabuhan dan
sistem pembayaran.
Perundingan GATT : untuk mengurangi /menghilangkan
berbagai hambatan perdagangan baik TB maupun NTB telah
dilakukan :
Jenewa Swiss tahun 1947
Annecy, Prancis tahun 1949.
Torquay, Inggris tahun 1950.
Jenewa, tahun 1956.
Putaran Dillon, Jenewa tauhn 1960-1961.
Putaran Kenendy, Jenewa tahun 1962-1967.
Putaran Tokyo, Jepang tahun 1973-1979.
Putaran Uruguay, tahun 1986-1993.
Marakesh, Maroko tahun 1994
Putaran
Uruguay
diselenggarakan
dengan
tujuan
memperlancar arus perdagangan dan investasi internasional
dengan menghilangkan / mengurangi hambatan TB dan NTB.
Hasil subtansi putaran Uruguay adalah sebagai berikut :
Masalah akses pasar (market access).
Masalah penyempurnaan aturan main GATT.
Penyempurnaan kelembagaan GATT dengan membentuk
WTO (Word Trade Organization), yang berlaku 1 Januari 1995.
Masalah-masalah baru seperti, TRIM’s (Trade Related Investment
Measures) atau HAKI (hak atas kekayaan intelektual), GATS
39
(General
Agreement
on
Trade
atau
Service)
ketentuan
perdagangan produk jasa.
Pada pertemuan di Marakesh, Maroko 15 April 1994 yang
dihadiri oleh 115 negara, nama GATT diubah menjadi Word Trade
Organization (WTO) dan mulai berlaku tanggal 1 Januari 1995.
Dalam pelaksanaannya, perdagangan bebas (free trade) dilakukan
secara bertahap sesuai dengan kesepakatan, dan perdagangan
bebas secara penuh direncanakan berlaku tahun 2020 yang akan
datang.
2). UNCTAD (United Nation Conference on Trade and Development)
Merupakan suatu organisasi yang didirikan PBB tahun 1964,
dengan
tujuan
menigkatkan
kerjasama
perdagangan
dan
pembangunan diantara kelompok negara industri maju (NIM) dan
negara-negara yang sedang berkembang (NSB). Hasil penting
dalam sidang UNCTAD adalah sebagai berikut :
General System of Preferency (GSP), yaitu suatu fasilitas
preferenci dalam bentuk keringanan bea masuk yang diberikan
NIM terhadap produk-produk industri manufaktur dari negara
yang sedang berkembang (NSB).
Common fund, yaitu dana bersama yang diusahakan UNCTAD
untuk menjaga stabilitas harga internasional, sehingga dapat
diperoleh stabilitas penerimaan ekspor NSB atas produk
primer yang harganya sensitif.
c. Organisasi di Bawah PBB
Perserikatan bangsa-bangsa (PBB) mempunyai lembaga-lembaga
ekonomi internasional untuk menjebatani hubungan antar negara-negara
di dunia. Lembaga-lembaga tersebut antara lain :
40
1). IBRD (International Bank for Recontruction and Development).
IBRD atau Bank Dunia, yaitu lembaga ini didirikan pada tanggal 27
Desember 1945 dan berkedudukan di Washington, USA. Indonesia
menjadi anggota IBRD tahun 1954. Tujuan dibentuk IBRD adalah
memberikan pinjaman dengan bunga relatif murah kepada
berbagai negara untuk mendorong pembangunan ekonomi, namun
tetap berdasarkan profit oriented.
2). IMF (International Monetary Fund)
IMF atau Dana Moneter Internasional didirikan tanggal 27
September 1945. Tujuan pokok IMF adalah ingin meningkatkan
bisnis
internasional
guna
meningkatkan
pertumbuhan
dan
pembangunan ekonomi serta kesejahteraan masyarakat di negara
anggota.
3). UNDP (United Nations Development Program)
UNDP atau organisasi pembangunan PBB adalah badan PBB yang
memberikan sumbangan untuk membiayai program-program
pembangunan
terutama
bagi
negara-negara
yang
sedang
berkembang.
4). UNINDO (United Nations Industrial Development Organization).
UNINDO atau Organisasi Pembangunan Internasional PBB
didirikan pada tanggal 24 Juli 1967 dan berkedudukan di Wina,
Austria.
Tujuan
utama
dari
lembaga
ini
adalah
untuk
meningkatkan pembangunan di bidang industri bagi negaranegara yang sedang berkembang.
5). IDA (International Development Association).
IDA dikenal dengan Organisasi Pembangunan Internasional PBB
yang didirikan untuk tujuan memberikan pinjaman kepada negara-
41
negara yang sedang berkembang, dengan bunga yang relatif
murah jika dibanding dengan IBRD.
6). FAO (Food and Agriculture Organization).
Merupakan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB yang didirikan
pada tanggal 16 Oktober 1945dan berkedudukan di Roma, Italia.
Organisasi tersebut bertujuan untuk meningkatkan jumlah dan
mutu persediaan pangan, dan membantu negara-negara yang
kekurangan pangan.
7). ILO (International Labor Organization).
Merupakan
Organisasi
Perburuhan
Internasional
PBB
yang
didirikan pada tanggal 11 April 1949 dan berkedudukan di Jenewa,
Swis. Tujuan dari organisasi ini adalah untuk memperjuangkan
nasib dan hak-hak kaum buruh
8). IFC (International Finance Coorperation).
IFC atau Kerja sama Keuangan Internasional yang didirikan di
Washington tanggal 24 Juli 1956, dengan tujuan memberikan
penjaman kepada pengusaha-pengusaha swasta dan membantu
pengalihan investasi luar negeri ke negara-negara yang sedang
berkembang.
42
Download