laporan supervisi cb

advertisement
LAPORAN SUPERVISI CB
2012
LAPORAN SUPERVISI CB
A. Tujuan dan Sasaran
Supervisi CB yang dilaksanakan oleh subteam CB KMP PNPM Mandiri Perkotaan, adalah
bagian tugas dari Tenaga Ahli KMP sebagaimana ditetapkan di dalam TOR, terutama dalam
rangka menjamin kualitas pelaksanaan kegiatan pengembangan kapasitas di lapangan yang
dilakukan melalui kunjungan lapangan. Selain dari data SIM maka penting untuk melihat
langsung hasil-hasil pelaksanaan CB pada periode yang telah lalu dari lapangan untuk
memperoleh informasi yang objektif, aktual dan faktual yang sangat berguna bagi kegiatan
pengembangan kapasitas ke depan.
Dikatakan supervisi karena memang tujuan utamanya bukan untuk monitoring, mencari
kesalahan tetapi untuk menggali informasi dan sekaligus untuk memberikan penguatan
pada saat proses supervisi dilakukan.
Secara umum tujuan utama dari kegiatan supervisi CB ini adalah sebagai berikut:
1.
Untuk memperoleh informasi langsung persoalan-persoalan riil (kesenjangan antara
apa yang seharusnya dan apa yang terjadi) pengembangan kapasitas di tingkat
lapangan
2. Untuk memperoleh masukan kebutuhan pengembangan kapasitas bagi masyarakat dan
khususnya pendamping.
Sedangkan sasaran yang ingin dicapai dari supervisi ini adalah sebagai berikut:
1.
Menggali informasi tentang pola kelembagaan masyarakat yang berkembang di
lapangan
2. Menggali informasi tentang pola pengembangan kegiatan sosial di masyarakat
3. Melakukan review kepada pelaku dan non pelaku PNPM Mandiri Perkotaan terutama
terkait dengan pemahaman mereka terhadap program, berdasarkan data dan informasi
tersebut maka diharapkan diperoleh masukan untuk kebutuhan pengembangan
kapasitas ke depan
Selain daripada sasaran tersebut, supervisi kali ini juga untuk memperoleh metodologi
terbaik untuk menggali informasi langsung ke masyarakat kaitannya dengan
pengembangan kapasitas.
B. Output yang Diharapkan
Hasil yang diharapkan dari supervisi ini antara lain:
1. Diperolehnya data dan informasi tentang kinerja lembaga dan pola kelembagaan
masyarakat yang terbaik di masyarakat
2. Diperolehnya data dan informasi tentang pola-pola pengembangan kegiatan sosial
terbaik di tingkat masyarakat
3. Diperolehnya data dan informasi tentang persoalan pengembangan kapasitas dari aspek
sosialisasi dan pelatihan yang berguna untuk pengembangan strategi pelatihan dan
sosialisasi ke depan
1|Page
2012
LAPORAN SUPERVISI CB
C. Pemilihan Lokasi
Pemilihan lokasi didasarkan atas pertimbangan sebagai berikut :
1. Berdasarkan kewilayahan, yaitu :
a) Mewakili wilayah barat : Jawa Timur (Surabaya).
b) Mewakili wilayah tengah : Sulawesi Selatan (Makasar) dan Nusa Tenggara Barat.
c) Mewakili wilayah timur : Maluku Utara.
2. Penentuan wilayah kelurahan dilakukan berdasarkan indikator perkembangan kinerja
lembaga BKM (awal 1 kelurahan, berdaya 1 kelurahan, mandiri 1 kelurahan dan menuju
madani 1 kelurahan).
D. Metode Pemilihan Sample
Sample dipilih berdasarkan purfosive sampling. Yakni, memilih responden berdasarkan
tujuan tertentu dan sample tidak harus berdistribusi normal. Langkah ini dilakukan untuk
mendapatkan responden yang sesuai dengan tujuan supervisi.
E. Metode dan Langkah Pelaksanaan
Metode yang dipilih secara umum adalah supervisi, selain memiliki arahan untuk menggali
informasi akan tetapi juga untuk memberikan pengembangan kapasitas langsung kepada
masyarakat dan pelaku.
Secara umum metode supervisi ini dapat digambarkan melalui beberapa teknik sebagai
berikut :
1.
FGD; dilakukan kepada pelaku langsung (BKM, UP-UP, Sekretariat, Dewan Pengawas,
Relawan)
FGD dimaksudkan untuk menggali pemahaman program dan informasi
implementasi di lapangan dari peserta, dengan pertanyaan-pertanyaan kunci.
tentang
2. Pengamatan langsung; dilakukan di sekretariat BKM dan KSM
Pengamatan langsung dilakukan dengan maksud untuk memperoleh gambaran secara
langsung mengenai kinerja kelembagaan, kegiatan sosial dan kegiatan sosialisasi.
3. Verifikasi dokumen; dilakukan di sekretariat BKM
Kegiatan tersebut dimaksud untuk melakukan verifikasi terhadap dokumen dokumen
BKM yang berkaitan dengan kelembagaan, kegiatan sosial, sosialisasi dan pelatihan.
4. Wawancara terstruktur; dilakukan kepada masyarakat umum non pelaku diwilayah a,
Kumuh sesuai dengan Pemetaan Swadaya, b. Kelompok perempuan dan rentan, c.
Masyarakat diluar PS-2.
Wawancara terstruktur dilakukan dengan maksud untuk menggali informasi mengenai
pemahaman atau pengetahuan masyarakat terhadap program kepada 6 orang setiap
kelurahan.
5. Penyebaran Quesioner dilakukan oleh Tim Korkot disebarkan kepada masyarakat umum
non pelaku diwilayah a, Kumuh sesuai dengan Pemetaan Swadaya, b. Kelompok
perempuan dan rentan, c. Masyarakat diluar PS-2. Penyebaran qusioner minimal 10
setiap Kelurahan.
2|Page
2012
LAPORAN SUPERVISI CB
Berikut adalah langkah-langkah pelaksanaan kegiatan proses supervisi CB:
WAKTU
KEGIATAN
METODE
Pertemuan awal
dengan KMW &
Korkot
H-1
H-2 (kel
ke-n)
H-3 (kel
ke-n)
INSTRUMEN
Panduan
Supervisi
Seluruh TA (terutama
TA Sos & Pelatihan) &
Korkot
Penggalian
Informasi kepada
Pelaku di masy.
FGD
Panduan FGD
BKM
Sekretariat
Pengawas UPK
UPK
UPL
UPL
Perwakilan KSM
Penggalian
Informasi kepada
Pelaku di masy.
Pengamatan
Panduan
Pengamatan
BKM
KSM
Penggalian
Informasi kepada
Non Pelaku
Wawancara
terstruktur
Panduan
wawancara
Miskin (PS2)
Perempuan dan
rentan
Non miskin
Penguatan di
tingkat masy
Coaching clinic
Penggalian
Informasi kepada
Pelaku di masy.
Penggalian
Informasi kepada
Pelaku di masy.
Penguatan di
tingkat masy
Penggalian
Informasi kepada
Non Pelaku
Penggalian
Informasi kepada
Pelaku di masy.
Penggalian
Informasi kepada
Pelaku di masy.
Penguatan di
tingkat masy
Penggalian
Informasi kepada
Non Pelaku
BKM
Sekretariat
Pengawas UPK
UPK
UPL
UPL
Perwakilan KSM
Wrap up dengan
Korkot dan KMW
OUTPUT
Penyepakatan instrumen
Penyepakatan lokasi
Jadwal Supervisi
Data dan informasi
tentang realitas persoalan
pengembangan kapasitas
Hasil
Pengamatan
Data dan informasi
tentang realitas persoalan
pengembangan kapasitas
Meningkatnya
pemahaman pserta
terhadap isu-isu yang
muncul
Rekomendasi perbaikan
IDEM
IDEM
IDEM
IDEM
IDEM
IDEM
Penyusunan
laporan ringkas
supervisi
H-4
PESERTA
Tim Supervisi
KMW
Laporan ringkas
Berita Acara tindak
lanjut
Seluruh TA (terutama
TA Sos & Pelatihan)
dan korkot
Laporan ringkas Supervisi
Penyepakatan laporan
ringkas
Penyepakatan Rencana
tindak lanjut
3|Page
2012
LAPORAN SUPERVISI CB
F. Hasil Supervisi CB
Supervisi CB periode pertama ini, sebagaimana rencananya dilaksanakan tersebar di 3 (tiga)
provinsi mencakup 4 kota/kabupaten dan 13 desa/kelurahan pada kurun waktu tanggal 26 30 Juni 2012, dilaksanakan oleh 3 personil subteam CB KMP PNPM Mandiri Perkotaan.
Berikut adalah tabel lokasi yang dikunjungi dalam supervisi CB kali ini :
No
Pelaksana
Provinsi
Kota/Kab
Ternate
1.
Dikdik
Herdiana
Maluku Utara
Tidore
Kepulauan
2.
3.
Boyke
Nugraha
Agus
Sudirman
Sulsel
Jatim
Jumlah
Kel/Kecamatan
Tingkat
Perkembangan
LKM
Tanggal
Kunjungan
Kel Ubo-ubo Kec.
Ternate Selatan
Berdaya
27/06/2012
Kel. Kastela Kec.
Ternate
Berdaya
27/06/2012
Kel. Dorari isa Kec.
Pulau ternate
Mandiri
29/06/2012
Kel. Sirongo
Folahara Kec
Tidore Utara
Mandiri
28/06/2012
Kel. Gubukusuma
Kec Tidore Utara
Berdaya
28/06/2012
Kel. Malimongan
tua Kec. Wajo
Mandiri
26/06/2012
Kel Parang Kec.
Mamajang
Berdaya
27/06/2012
Kel. Barana Kec.
Makasar
Awal
27/06/2012
Kel. Kalukuang
Kec. Tallo
Menuju Madani
28/06/2012
Kel. Nginden
Jangkungan
Menuju Madani
27/06/2012
Kel. Petemon Kec.
Sawahan
Berdaya
28/06/2012
Kel. Jambangan
Kec. Jambangan
Berdaya
28/06/2012
Kel. Margorejo
Kec. Wonocolo
Mandiri
29/06/2012
Makasar
Surabaya
4
13
Awal
: 1
Berdaya
: 6
Mandiri
: 4
Menuju Madani : 2
4|Page
2012
LAPORAN SUPERVISI CB
Pada umumnya proses pelaksanaan kegiatan telah sesuai dengan disain supervisi kali ini
mulai dari penyiapan persiapan, proses supervisi, sampai dengan penyusunan laporannya.
Seluruh proses berjalan dengan lancar tanpa kendala yang cukup berarti, kalaupun ada
kendala hanya soal kelemahan metodologi dan instrumen surveynya sendiri, akan tetapi
tidak mengurangi hasil yang diperoleh selama supervisi tersebut. Hal ini akan menjadi
masukan tersendiri bagi penyempurnaan metodologi supervisi CB ke depan.
Sebagaimana dijelaskan diawal, proses supervisi ini secara umum terbagi ke dalam dua
kegiatan besar, yaitu penggalian informasi kepada pelaku dengan metode FGD dan bagian
yang kedua adalah wawancara tertutup kepada masyarakat non pelaku.
Untuk kegiatan wawancara dengan kuesioner selain dilakukan oleh tim KMP juga dbantu
oleh tim korkot dimana rata-rata 40% dilaksanakan sendiri oleh tim KMP sedangkan 60%
sisanya dilaksanakan oleh tim korkot dan faskel, supervisi berhasil menjaring informasi dari
107 responden dengan sebaran sebagai berikut:
No
Provinsi
Ternate
1.
Maluku
Utara
Tidore
Kepulauan
2.
3.
Sulsel
Jatim
Jml
Respon
den
%
Kel Ubo-ubo Kec. Ternate Selatan
5
4.7
Kel. Kastela Kec. Ternate
6
5.6
Kel. Dorari isa Kec. Pulau ternate
15
14.0
Kel. Sirongo Folahara Kec Tidore Utara
10
9.3
Kel. Gubukusuma Kec Tidore Utara
10
9.3
Kel. Malimongan tua Kec. Wajo
11
10.3
Kel Parang Kec. Mamajang
10
9.3
Kel. Barana Kec. Makasar
10
9.3
Kel. Kalukuang Kec. Tallo
11
10.3
Kel. Nginden Jangkungan
6
5.6
Kel. Petemon Kec. Sawahan
5
4.7
Kel. Jambangan Kec. Jambangan
6
5.6
Kel. Margorejo Kec. Wonocolo
2
1.9
107
100
Kota/Kab
Kel/Kecamatan
Makasar
Surabaya
Jumlah
Dari 107 responden tersebut, komposisi responden laki-laki dan perempuan cukup
berimbang 43 orang (40%) laki-laki dan jumlah yang sama perempuan, sedangkan 21 orang
(19,6%) tidak mencantumkan jenis kelaminnya (hal ini perlu dikoreksi untuk perbaikan
metode ke depan)
5|Page
2012
LAPORAN SUPERVISI CB
No
Jenis Kelamin
Jumlah
%
1
Tidak dicantumkan
21
19.6
2
Laki-laki
43
40.2
3
Perempuan
43
40.2
Total
107
100.0
Sedangkan yang terkait dengan kedudukan/posisi responden, gambarannya adalah sebagai
berikut:
No
Kedudukan
Jumlah
%
1
Tidak mencantumkan
65
60.7
2
Relawan
15
14.0
3
KSM
16
15.0
4
Stakeholder lain
9
8.4
5
Relawan dan
Stakeholder lain
2
1.9
107
100.0
Total
Dari tabel tersebut dapat dideskripsikan, bahwa sebagian besar responden tidak
mencantumkan kedudukan dan posisinya 65 orang (60,7%), sangat disayangkan memang
tidak dapat menggambarkan apakah hasil kuesioner tersebut dapat mewakili pandangan
masyarakat umum atau bukan, atau justru sebenarnya adalah pelaku yang notabene
pernah mendapatkan pelatihan atau dengan kata lain cukup memahami program ini.
Sehingga hal ini menjadi salah satu rekomendasi perbaikan metode dan instrumen survey
ke depan.
G. Analisa hasil supervisi
G.1 Aspek Sosialisasi
1. Pemahaman Masyarakat tentang PNPM Mandiri Perkotaan
Ada dugaan bahwa PNPM Mandiri Perkotaan tidak dikenal oleh masyarakat secara luas,
akan tetapi hasil kuesioner di 107 responden menyebutkan 93 orang (86,9 %) mengetahui
adanya PNPM Mandiri Perkotaan di wilayahnya, walaupun dengan interpretasi yang
berbeda-beda.
6|Page
2012
LAPORAN SUPERVISI CB
No.
Kategori
Jumlah
%
1
0.9
1
Tidak menjawab
2
Tahu
93
86.9
3
Tidak tahu
13
12.1
107
100.0
Total
PNPM Mandiri Perkotaan selalu disosialisasikan sebagai program yang mengusung nilai-nilai
kemanusiaan dan kemasyarakatan dalam penanggulangan kemiskinan dengan pendekatan
pemberdayaan masyarakat. Pemahaman seperti ini setidaknya juga telah dipahami oleh
para pelaku PNPM Mandiri Perkotaan yang melalui FGD pada umumnya menyatakan bahwa
PNPM Mandiri Perkotaan adalah program pemerintah untuk Peningkatan kesejahteraan
melalui kegiatan pemberdayaan masyarakat.
program yang unik dan berani, yaitu menyelesaikan persoalan
kemiskinan dengan melibatkan orang miskin sendiri
Bp Iwan Koordinator LKM Kel Gubukusam Tidore
PNPM Mandiri memuaskan banyak pihak, dahulu tidak pernah
merasakan pembangunan, sekarang bisa, Jarang ada program
pemerintah yang masuk selain PNPM mandiri, musrenbang
terlalu lama
Bp Dahlan, anggota LKM Kel Kastela Ternate
Bantuan dari Pemerintah Kota/Kab sangat jarang, selama
saya menjabat adanya PNPM membuat banyak perubahan
Muhammad Jamilu Lurah Gubukusuma Tidore
Akan tetapi ternyata hal ini berbeda dengan pandangan masyarakat secara umum. Dari 107
responden yang menyatakan pernyataan yang cukup jelas (hanya memilih satu jawaban
untuk satu pertanyaan 89 orang (83,2%) dapat dianalisis. Dari data tersebut dapat dilihat
bahwa menurut 32 (30%) responden PNPM Mandiri Perkotaan identik dengan pinjaman
bergulir dan pembangunan infra, sementara hanya 16 orang yang berpendapat program ini
dilaksanakan dalam rangka membangun kepedulian dan pemberdayaan manusia.
No.
Jawaban
Jumlah
%
1
Tidak mencantumkan jawaban
12
11,2
2
Pembagian bantuan dana
7
6,5
3
Pinjaman bergulir dan pembangunan infrastruktur
32
29,9
4
Membangun kepedulian masyarakat
16
15,0
7|Page
2012
LAPORAN SUPERVISI CB
5
Penyusunan rencana masyarakat utk nangkis
17
15,9
6
Pemberdayaan manusia
5
4,7
89
83,2
Total
2. Media dan Sumber Informasi Warga Tentang PNPM Mandiri Perkotaan
Penting untuk mengetahui sumber dan media informasi apa yang membuat masyarakat
mengetahui dan memahami tentang PNPM Mandiri Perkotaan, hal ini untuk melihat media
mana yang dianggap paling efektif untuk sarana sosialisasi maupun pengembangan
kapasitas secara umum.
Para pelaku PNPM Mandiri Perkotaan pada umumnya mengetahui tentang PNPM Mandiri
Perkotaan dari media yang cukup lengkap (bauran media) yaitu melalui pertemuanpertemuan yang diadakan oleh fasilitator, lokakarya, buku-buku, poster, pedoman, papan
informasi dan lain lain. Hal ini memungkinkan pelaku mendapat informasi yang jauh lebih
lengkap dan tingkat kedalaman informasi yang cukup.
Saya mendapat informasi pertama kali dari pertemuanpertemuan PNPM Mandiri Perkotaan yang
diselenggarakan Kelurahan dan faslitator juga dari
penempelan informasi papan pengumuman
Sekretariat LKM Kel. Kalukuang Makasar
Berdasarkan kuesioner dari 107 responden, responden yang menjawab hanya satu
pertanyaan yang dapat dianalisa berjumlah 83 orang atau sekitar 77,5%. Dari tabel berikut
dapat dilihat bahwa pada umumnya masyarakat memperoleh informasi tentang PNPM
Mandiri Perkotaan melalui media pertemuan warga 29 orang (27,1%), yang lain melalui
penjelasan konsultan 15,9%, melalui penjelasan relawan 16,8%, tidak menjawab 12,1%
sedangkan sisanya hanya 6 orang yang menyatakan memperoleh informasi dari media
cetak.
Fakta tersebut dapat dipahami sebagai cerminan dari masyarakat tidak memperoleh bauran
media sosialisasi yang cukup beragam, sehingga wajar jika kemudian pemahaman tentang
PNPM Mandiri Perkotaan tidak selengkap pelaku. Di sisi lain dengan relatif sedikitnya warga
yang menyatakan memahami PNPM Mandiri Perkotaan melalui media cetak, justru menjadi
pertanyaan mengingat cukup banyak media cetak yang disebar PNPM Mandiri Perkotan
dan bahkan sangat merepotkan seluruh pelaku dalam proses distribusinya.
Pertanyaan ini harus dikaji lebih jauh apakah media cetak tersebut tidak tersebar atau
disebarkan akan tetapi tidak cukup memberikan informasi yangdibutuhkan oleh
masyarakat.
No.
Jawaban
Jumlah
%
1
Tidak menjawab
13
12.1
2
Pertemuan warga
29
27.1
3
Media cetak
6
5.6
8|Page
2012
LAPORAN SUPERVISI CB
5
Penjelasan konsultan
17
15.9
6
Penjelasan relawan
18
16.8
83
77,5
Total
3. Bentuk Partisipasi Masyarakat dalam PNPM Mandiri Perkotaan
Partisipasi adalah hal yang paling penting dalam program yang menggunakan pendekatan
pemberdayaan dalam pelaksanaan kegiatannya. Partisipasi warga bisa diukur dengan
sejauhmana masyarakat berkontribusi dalam kegiatan PNPM Mandiri Perkotaan, dan
bentuk-bentuk partisipasi seperti apa yang membuat masyarakat terlibat dalam PNPM
Mandiri Perkotaan.
Untuk para pelaku, dari hasil FGD pada umumnya pelaku berpartisipasi dengan hadir dan
turut terlibat dalam pertemuan-pertemuan BKM baik hanya sekedar sosialisasi atau juga
pengambilan-pengambilan keputusan penting dalam kegiatan perencanaan partisipatif
misalnya atau pembentukan LKM, mendampingi proposal, mengawasi pelaksanaan
kegiatan dan juga LPJ KSM.
Biasanya terlibat dalam kegiatan rembuk,
memeriksa proposal, mengawasi pelaksanaan
kegiatan, menagih LPJ..
Anggota LKM Kel, Jambangan Surabaya
Dalam aspek ini data dari wawancara kuesioner dari 107 responden, jumlah data yang dapat
dianalisis sebanyak 95 orang atau 88,8% dari total. Berdasarkan data berikut, Keterlibatan
masyarakat (bentuk partisipasi) pada umumnya adalah menjadi anggota KSM 25 orang
(23,4%), terlibat dalam pelaksanaan kegiatan saja 15 orang (14%), menjadi relawan 19,6% dan
sisanya adalah terlibat dalam pertemuan dan tidak menjawab.
Fakta tersebut dapat diartikan bahwa memang pada umumnya partisipasi masyarakat
tertinggi adalah di tingkat KSM, sebagai ujung tombak persemaian kapitasl sosial di
komunitas terkecil, boleh jadi pengambilan-pengambilan keputusan masyarakat tentang
persoalan mereka sendiri juga diperoleh melalui KSM ini. Sedangkan pengambilan
keputusan strategis tentang perencanaan pembangunan/penanggulangan kemiskinan
secara menyeluruh di tingkat kelurahan, masyarakat cenderung mewakilkan kepada pihakpihak yang mereka anggap paling dipercaya untuk menyampaikan aspirasi mereka.
Disisi yang lain banyak pertemuan diantara Pelaku dengan KSM namun yang dibahas hanya
Proposal, pelaksanaan dan LPJ (tujuan antara), kurang mengkaitkan kegiatan dengan
tujuan akhir program secara keseluruhan.
No.
Jawaban
Jumlah
%
1
Tidak menjawab
16
15.0
2
Terlibat dalam pertemuan
12
11.2
3
Menjadi relawan
21
19.6
9|Page
2012
LAPORAN SUPERVISI CB
4
Menjadi anggota KSM
25
23.4
5
Memberikan gagasan & pikiran
6
5.6
6
Terlibat saat pelaksanaan kegiatan saja
15
14.0
95
88,8
Total
4. Motivasi Keterlibatan Masyarakat dalam PNPM Mandiri Perkotaan
Pertanyaan tentang motivasi ini penting disampaikan, mengingat banyak motif-motif orang
terlibat dalam kegiatan atau program-program pembangunan yang diselenggarakan
pemerintah semua melulu tentang bantuannya, masih sangat sedikit orang yang
menyatakan motif utamanya adalah kontribusinya pada pembangunan masyarakat. Apakah
pertanyaan tersebut berlaku juga di dalam PNPM Mandiri Perkotaan?
Dalam proses FGD bersama pelaku, mereka umumnya menyatakan motivasi terbesar
mereka setidaknya yang terucapkan adalah kesempatan untuk berbuat sesuatu untuk
masyarakatnya sendiri, tidak ada motif misalnya untuk memperkaya diri, karena mereka
tahu dari sejak awal bahwa di dalam kepengurusan LKM tidak ada honornya.
Para peserta FGD juga pada umumnya menyatakan bahwa orang-orang yang pada awalnya
memiliki motif untuk mencari keuntungan, lambat laun mengundurkan diri atau tidak
terlibat lagi dalam kegiatan PNPM Mandiri Perkotaan berikutnya, bahasa mereka adalah
"seleksi alam". PNPM Mandiri Perkotaan tempatnya untuk mengabdi bukan mencari
keuntungan, jika mencari keuntungan sebaiknya di tempat lain, dan dengan otomatis
mereka dikenal masyarakat justru mereka mendapat manfaat dari tempat lain tersebut.
Pada awalnya orang yang masuk LKM motivasinya berbeda, mereka fikir
disini akan memperoleh bnyak keuntungan, nyatanya stlah tau tidak ada
apa-apanya mereka hilang dengan sendirinya, terseleksi secara alamiah
Disini bukan tempatnya mencari keuntungan, kalau mau cari keuntungan
di tempat lain saja
Dahlan, anggota LKM Kel Kastela Ternate
Bagaimana halnya dengan masyarakat? melalui wawancara, diperoleh data 93 orang (87%)
yang menjawab hanya satu pertanyaan dan dapat dianalisis.
No.
Jawaban
Jumlah
%
1
Tidak menjawab
21
19.6
2
Mendapatkan bantuan dari program
25
23.4
3
Mengisi waktu luang
9
8.4
4
Panggilan hati membantu warga miskin
31
29.0
5
Bisa dikenal warga kelurahan
2
1.9
10 | P a g e
2012
LAPORAN SUPERVISI CB
6
Pekerjaan utk mendapatkan penghasilan
Total
5
4.7
93
87
Dari data tersebut dapat diinformasikan bahwa pada umumnya motivasi masyarakat
terlibat dalam PNPM Mandiri Perkotaan adalah panggilan hati untuk membantu masyarakat
miskin 31 orang (29%), yang kedua adalah untuk mendapatkan bantuan dari program 25
orang (23,4%), sidanya tidak menjawab, mengisi waktu luang, bisa dikenal warga kelurahan,
dan untuk menambah penghasilan.
Pernyataan ini menarik untuk dikaji, mengingat sekalipun masyarakat memahami bahwa
PNPM Mandiri Perkotaan adalah program atau kegiatan dana bergulir dan pembangunan
infrastruktur, akan tetapi motivasi terbesar mereka bukan untuk meningkatkan pendapatn
tapi turut serta berkontribusi dalam upaya penanggulangan kemiskinan. Hal ini sejalan
dengan motivasi para pelakunya sendiri, artinya pesan yang disampaikan pelaku juga
sampai kepada masyarakat.
5. Pemahaman Pelaku Tentang Kegiatan Tridaya
Menarik juga untuk melihat lebih jauh tentang persepsi masyarakat tentang kegiatan
tridaya, mengingat pelaksanaan kegiatan inilah yang paling dipahami masyarakat tentang
PNPM Mandiri perkotaan.
Melalui FGD pada umumnya pelaku memahami kegiatan tridaya adalah sarana untuk
memberdayakan masyarakat, membangun gotong royong, meningkatkan kepedulian antar
sesama, dll . Akan tetapi masyarakat lebih memahami bahwa pelaksanaan kegiatan tridaya
adalah tujuan akhir dari PNPM Mandiri Perkotaan, bukan pembangunan manusia
sebagaimana di sampaikan dalam poin 1 tentang pemahaman masyarakat terhadap PNPM
Mandiri Perkotaan.
Kegiatan lingkungan yang diketahui: Pembangunan jalan setapak,
drainase,air bersih,MCK, jembatan
Kegiatan ekonomi: kegiatan simpan pinjam, sudah ada 10 KSM
sekarang 11 KSM
Sosial: Pengadaan alat pesta, pengadaan nutrisi
Dahlan, anggota LKM Kel Kastela Ternate
Kegiatan tridaya juga dipahami kegiatan yang itu-itu saja, masih sangat sedikit variasi
kegiatan yang sesuai dengan karaktersitik lokal dan misalnya untuk menunjang
pertumbuhan ekonomi secara signifikan.
6. Pemahaman Pelaku Tentang Siklus PNPM Mandiri Perkotaan
Pemahaman Pelaku terhadap siklus PNPM Mandiri Perkotaan sangatlah penting,
mengingat sikluslah alat belajar masyarakat yang dilakukan terus menerus untuk upaya
penanggulangan kemiskinan yang berkelanjutan. Pemahaman pelaku yang sempit terhadap
siklus akan dapat berakibat tidak terjadinya proses belajar masyarakat, dan upaya
pembangunan dan penanggulangan kemiskinan hanya akan berhenti begit program selesai.
Dari hasil FGD secara umum pemahaman pelaku terhdap siklus Masyarakat atau siklus
tahunan masyarakat masih minim, kecuali memahaminya sebagai tahapan kegiatan
11 | P a g e
2012
LAPORAN SUPERVISI CB
pemanfaatan BLM, yaitu tahapan kegiatan pencairan BLM mulai dari penyusunan
proposal,pelaksanaan kegiatan dan pelaporannya. Memahami sebagian Review PS,
Kelembagaan, review keuangan dan RWT.
Pernah melakukan pendataan, penyusunan program, pemilihan BKM.
Pelaksanaan pembangunan fisik, sosial ekonomi mulai penyusunan
proposal, pengajuan, pencairan dana, pelaksanaan kegiatan dan LPJ
Mujianto Anggota LKM Petemon Surabaya
Pada umumnya kesulitan menyebutkan tahapan yang ada dalam siklus PNPM Mandiri
Perkotaan apalagi bicara soal Siklus tahunan 1, 2, 3 dan 4, untuk mana perlu disosialisasikan
lagi lebih instens kepada masyarakat.
7. Pertemuan Khusus Perempuan dalam PNPM Mandiri Perkotaan
Pertemuan khusus perempuan dalam PNPM Mandiri perkotaan sangat dianjurkan agar
program-program pembangunan yang terkait erat dengan hak-hak dan juga perlindungan
terhadap perempuan dapat terakomodir dan tidak ada "bias laki-laki".
Dari hasil FGD diketahui bahwa pada umumnya tidak ada secara eksplisit pertemuan khusus
perempuan, kecuali sosialisasi kegiatan di pengajian ibu-ibu dan arisan, pada umumnya
keterlibatan perempuan hanya di pemanfaat kegiatan untuk dana bergulir seperti KSM
kerajinan, KSM budidaya jamur yang dilatih instansi terkait
Kalau pertemuan khusus untuk perempuan dalam penyusunan PJM
Pronangkis tidak ada
Yanto Koordinator LKM Margorejo Surabaya
Anggota KSM saya perempuan semua, terlibat dari sejak awal
Sutini, anggota KSM sosial juga KSM Jamur.
8. Pemahaman Masyarakat tentang PLPBK
Mengingat hanya satu lokasi Supervisi CB yang mendapatkan PLPBK di Kelurahan
Kalukuang Kota Makasar, maka pada umumnya masyarakat belum mengetahui apa itu
PLPBK. Dari 107 Responden 44 orang (41,1%) tidak menjawab pertanyaan tersebut, sebagian
besar masyarakat 35 responden (32,7%) menyatakan tidak tahu menahu tentang program
PLPBK. Yang mengetahui program PLPBK 28 orang (26,2%) dari seluruh responden.
No.
Jawaban
Jumlah
%
1
Tidak menjawab
44
41.1
2
Ya
28
26.2
3
Tidak
35
32.7
107
100.0
Total
12 | P a g e
2012
LAPORAN SUPERVISI CB
Bagaiamana pemahaman masyarakat secara umum tentang PLPBK? berikut adalah
gambarannya:
No.
Jawaban
Jumlah
%
1
Tidak menjawab
68
63.6
2
Pembangunan infra
17
15.9
3
Peningkatan kualitas lingkungan
1
0.9
4
Perencanaan kawasan masyarakat
2
1.9
5
Penataan permukiman oleh masyarakat
17
15.9
6
Pembangunan kawasan prioritas
1
0.9
7
Perbaikan kualitas lingkungan tempat tinggal dan
penataan lingkungan permukiman oleh masyarakat
dalam meningkatkan kesejahteraan warga (B & D)
1
0.9
107
100.0
Total
Dari tabel tersebut diketahui bahwa 68 orang (63,6%) menyatakan tidak menjawab, karena
memang seperti dijelaskan di awal hanya satu lokasi PLPBK dalam supervisi CB kali ini, dan
yang mengetahui program PLPBK, menjawab bahwa PLPBK identik dengam Program
Pembangunan Infrastruktur (17 orang/15,9%) dan Penataan Permukiman oleh masyarakat 17
responden (15,9%), Sangat sedikit responden yang menyatakan bahwa program ini adalah
program perencanaan kawasan masyarakat dan peningkatan kualitas lingkungan yang
notabene merupakan pesan penting dalam PLPBK.
Dari keseluruhan penggalian informasi melalui FGD tentang sosialisasi, jika disandingkan
maka persepsi pelaku dengan persepsi masyarakat tentang PNPM Mandiri Perkotaan
secara keseluruhan adalah sebagai berikut :
Isu
FGD (Pelaku)
PNPM
Identik
dengan?
Peningkatan
kesejahteraan
melalui
pemberdayaan
Informasi
PNPM MP
dari?
pertemuanpertemuan yang
diadakan oleh
Fasilitator,
lokakarya dan
buku2, poster,
Quesioner
(masyarakat)
Analisa
Kesimpulan
Rekom
Pinjaman bergulir
dan
pembangunan
infra
Masih ada
kesenjangan
informasi pesan
Kekuatan
penyampaian
Pesan dilevel
pelaku lebih
kuat
dibanding
rembuk warga
basis
Penyamaan
pesan utama
disetiap level
dari pertemuanpertemuan
warga
Kuantitas dan
kualitas pelaku
lebih banyak
mendapat
informasi
dibanding
Pelaku lebih
memahami
pesan –pesan
PNPM
dibanding
masyarakat
Intensitas
pertemuan dan
bauran media
dilevel
masyarakat lebih
diperkuat tidak
13 | P a g e
2012
LAPORAN SUPERVISI CB
Isu
FGD (Pelaku)
Quesioner
(masyarakat)
pedoman
Analisa
Kesimpulan
Rekom
masyarakat
(hanya lewat
pertemuan)
Bentuk
Partisipasi
anda di
PNPM ?
hadir dan turut
terlibat dalam
pertemuanpertemuan BKM,
mendampingi
profosal dan LPJ
KSM
Responden di
PNPM terlibat
sebagai KSM
Adakah
Pertemuan
Khusus
Perempuan?
Tidak ada
pertemuan
khusus
perempuan
kecuali di KSM
sebagai penerima
manfaat
Ada pertemuan
khusus
Perempuan
Pemahaman
Kegiatan
Ekonomi,
sosial, fisik
Sebagai
pengawas,
pemeriksa,
pendamping
projek
(dilaksanakan
sesuai aturan)
bergabung di
PNPM karena
panggilan hati
membantu warga
miskin
hanya dipelaku
Banyak
pertemuan
diantara Pelaku
dengan KSM
namun yang
dibahas hanya
Profosal,
pelaksanaan
dan LPJ (tujuan
antara), kurang
mengkaitkan
kegiatan
dengan tujuan
akhir
Pelaku dan
masyarakat
sama-sama
punya aktifitas
yang cukup
intens dalam
kegiatan
PNPM
Mengoptimalkan
kegaitan
pertemuan
Pelaku dengan
warga/KSM
untuk
membahas
pesan tujuan
akhir tidak hanya
hal teknis
(tujuan antara)
Pertemuan
perempuan
hanya terjadi
dilevel KSM,
belum ada yang
di inisiasi
khusus oleh
pelaku
Perempuan
masih
diposisikan
sebagai
penerima
manfaat
bukan
pengambil
keputusan
Penguatan
peran
perempuan
dalam
pengambil
keputusan
menjadi penting
dalam setiap
rembuk dan
media sosialisasi
Program yang
syarat makna
begitu sampai
di kegiatan
bentuknya
seperti
menjalankan
projek
Kegiatan
tridaya
diartikan
sebagai ujung
kegiatan
(tujuan akhir
projek)
seharusnya
tridaya
dijadikan
tujuan antara
Semua aktifitas
tridaya harus
menjadi ajang
sosialisasi
makna program
“Narsis”
G.2 Aspek Pelatihan
1. Pemahaman Pelaku tentang Jenis-jenis Pelatihan dan biayanya
Berdasarkan dari hasil diskusi bersama, Rata – rata pelaku memahami jenis – jenis pelatihan
yang diberikan dan tempat pelaksanaanya ada yang dilaksanakan di tingkat kelurahan dan
di tingkat Kecamatan dan pelaku juga memahami jumlah biaya yang dimanfaatkan. Hal ini
berarti fasilitator mensosialisasikan paket kegiatan pelatihan dan besaran biayanya kepada
14 | P a g e
2012
LAPORAN SUPERVISI CB
BKM dan UP, dan panitia pelaksana diajak untuk terlibat dalam proses persiapan,
pelaksanaan, dan pelaporan.
Di tingkat kelurahan yaitu pelatihan untuk LKM dan KSM dan
relawan yaitu 5.400.000
Mahani Jumat secretariat LKM Kel. Sirongo Folahara
Pelatihan di cluster kecamatan untuk UPK, sekretariat, UPL dan UPS
dengan biaya total tiap kelurahan sekitar 9 juta rupiah
(anggota LKM Dahlan Haji Safie) Kel. Kastela Ternate
Pelatihan khusus UP dan sekretariat dan beberapa anggota bkm
diikutsertakan (wilayah Makassar), pelatihan enterprenership utk BKM ?
Koordinator BKM Kel. Kalokuang Wil. PLPBK
2. Pemahaman Pelaku terhadap Tujuan Pelatihan
Pelaku yang terlibat dalam pelatihan seperti UPK, UPL, UPS dan Sekretaris, BKM, Relawan,
dan KSM rata – rata sudah tidak ingat / lupa terhadap tujuan pelatihan hal ini terlihat dari 13
Kelurahan, hanya 3 kelurahan yang dapat menjelaskan tujuan antara lain (Kel. Kastela Kec.
Ternate Kota Ternate, Kel. Sirongo Folahara Kec Tidore Utara dan Kel. Gubukusuma Kec
Tidore Utara):
a) Tujuan pelatihan untuk meningkatkan pemahaman LKM antara lain soal siklus
masyarakat
b) Tujuannya antara lain untuk penguatan lembaga, antara lain tupoksi dan review siklus,
sedangkan untuk yang spesifik misalnya untuk meningkatkan pemahaman tentang
tahapan kegiatan dan juga pengelolaan keuangan”
Dan di 10 kelurahan lainnya hanya dapat menjelaskan tujuan umum khususnya kegiatan
pelatihan yang sifatnya teknis UPK, UPL, dan UPS.
“Yang tadinya tidak tahu menjadi tahu, tadinya tidak
bisa menjadi bisa tempat untuk berbagi dengan yang
lain dan untuk pengalaman baru”
UPK Kelurahan Parang Kota Makasar
3. Kesesuaian Materi dengan Kebutuhan Belajar
Dari proses FGD diketahui bahwa Pelaku rata – rata menjelaskan bahwa Materi yang
diberikan sudah sesuai dengan kebutuhan belajar masyarakat, Pelatihan yang
selenggarakan memberikan motivasi, meningkatkan pemahaman dan memberikan
keterampilan kepada pelaku untuk menjalankan lembaga BKM.
“Sesuai dengan Kebutuhan Lembaga”
Koordinator LKM Kel. Parang Makasar
Memang dibutuhkan, misalnya UPK bisa
menyusun pembukuan, ……”,
(Hasmi Aki) “ Manajer UPK Kel. Kastela
Ternate
15 | P a g e
2012
LAPORAN SUPERVISI CB
“harapan pengembangan UP, motivasi
kerelawanan”
“Sesuai peningkatan pemahaman wawasan
BKM”,
Anggota LKM Kel. Jambangan
Anggota LKM Kel. Margorejo,
Dari proses FGD juga sempat ada masukan pelatihan yang dibutuhkan antara lain dari
Usulan dari anggota BKM Kel. Kalukuang : “KSM harus diberikan materi
enterpreuneurship”.
4. Peran Pemandu Pelatihan Masyarakat
Kemudian “Bagaimana peran Pemandu?” hasil diskusi menjelaskan rata – rata pemandu
pelatihan dirasa dan bisa dikatakan sudah baik dan optimal . Pemandu rata – rata sudah
memberikan kemampuan terbaiknya baik secara substansi maupun teknis, tetapi masih ada
di beberapa tempat yang masih perlu untuk ditingkatkan lagi kemampuan fasilitasi
kepemanduannya khususnya materi yang berkaitan dengan teknis (wilayah Makassar).
5. Sosialisasi Pemanfaatan Dana Fixed Cost Pelatihan Masyarakat
Dari hasil penjelasan BKM dan Sekretariat tentang “Dana Fixed Cost disosialiasikan kepada
masyarakat (min di 5 titik strategis) : pada intinya semua laporan keuangan tercatat di
pembukuan khusus fixed cost dan dilaporkan tetapi ada yang lewat papan informasi dan
ada yang lewat pertemuan di tataran pelaku (BKM, Sekretariat tetapi untuk ke tingkat
masyarakat rata – rata belum diinformasikan)
6. Keterlibatan Masyarakat dalam Pelatihan
Rata – rata dibentuk panitia baik di tingkat kelurahan maupun di tk. Kecamatan (panitia
bersama), panitia diajak berembuk oleh Fasilitator untuk membahas persiapan, berbagi
peran, dan pengendalian melaksanakan ketentuan dan mekanisme pengajuan proposal
melalui BKM, kemudian dicairkan oleh BKM kepada panitia; dan selanjutnya Panitia
menyampaikan laporan pertanggung jawaban kepada BKm dan juga fasilitator.
7. Dampak Pelatihan terhadap Peningkatan Pemahaman
Dampak terhadap peningkatan pemahaman dan kemampuan pasca pelatihan, menurut
penjelasan dari pelaku : “Pemahaman, wawasan BKM, UP, Relawan Meningkat,
“Merasakan manfaat, Meningkat pemahamannya terutama untuk hal-hal yang bersifat
teknis” “Kemampuan up2 terlihat dan dapat melaksanakan pencatatan di pembukuan”
(UPK Kel. Barana dan Kel. Kalokuang) dan “ada tambahan ilmu koordinasi dengan pemda”
(Anggota BKM Kel. Jambangan, Prov. Jatim)
G.3 Aspek Kelembagaan dan Kegiatan Sosial
G.3.1 Aspek Kelembagaan
Untuk Aspek kelembagaan, penggalian informasi terutama diperoleh melalui FGD kepada
pelaku sedangkan Aspek kegiatan sosial diperoleh melalui interview atau wawancara
kepada masyarakat non pelaku.
Dari aspek kelembagaan setidaknya ada 10 pertanyaan yang di diskusikan dalam FGD,
berikut adalah analisa hasilnya:
1. Keberadaan dan pemahaman AD & ART
Seluruh LKM telah memiliki AD dan ART sebagai landasan bagi organisasi tersebut dalam
menjalankan roda organisasinya, dan secara umum dapat dikatakan pengelolaan kegiatan
dalam LKM telah menggunakan aturan main yang tertuang di dalam AD dan ART tersebut.
16 | P a g e
2012
LAPORAN SUPERVISI CB
Dokumen AD dan ART tersebut secara fisik dapat ditunjukan pada saat proses FGD
berlangsung, hanya ada satu LKM yang agak kesulitan mencari Dokumen AD dan ART yaitu
di Kelurahan Ubo-ubo Kota Ternate, untuk hal ini telah direkomendasikan agar menyimpan
dokumen/arsip AD ART di tempat yang mudah dijangkau dan tersimpan dengan rapi.
Akan halnya pemahaman mengenai AD & ART secara umum hanya beberapa orang saja
(Terutama koordinator LKM) yang dapat menyampaikan stuktur AD & ART dan sangat
sedikit orang yang mampu menggambarkan aturan main yang terkandung di dalamnya.
Unsur-unsur di dalam AD dan ART antara lain: 1. Hak suara, 2. Tata cara
pemilihan BKM, 3. Keuangan 4. Jangka waktu/masa bakti pengurus, 5.
Keberadaan lembaga-lembaga seperti UP-UP.
Bapak Thamrin (anggota LKM) Kelurahan Ubo-Ubo Kota ternate
Yang ada dalam AD dan ART adalah periode LKM 3 tahun, harus
dipilih secara langsung, untuk pelaksanaan program dilaksanakan
oleh Unit Pelaksana yang diangkat oleh BKM, BKM sebagai
pengendali
Koordinator LKM Kelurahan Parang
2. Kesesuaian Proses Pemilu dengan AD dan ART
Pada umumnya proses pemilu dilakukan sesuai dengan aturan main tentang pemilu, yaitu
dilakukan secara langsung, tanpa pencalonan dan tanpa kampanye yang dilakukan secara
berjenjang dari mulai tingkat RT sampai dengan tingkat kelurahan, dan telah sesuai dengan
AD dan ART masing-masing.
pemilu sudah sesuai dengan AD & ART, prosesnya dilakukan dari masingmasing RT diwakili oleh 30 orang rangking tertinggi dengan menulis nama,
dan 180 di tingkat kelurahan untuk memilih 9 orang anggota LKM
Mansur Hasan anggota LKM Kelurahan sirongo FolaharaTernate
Hanya satu kelurahan yaitu di kelurahan Petemon Kota Surabaya yang menyatakan bahwa
di beberapa RT dilakukan dengan cara bervariasi yaitu dengan pemilu langsung, penunjukan
dan aklamasi.
3. Tatacara pengambilan keputusan di LKM
Pengambilan keputusan terutama yang menyangkut internal organisasi dilaksanakan secara
musyawarah dengan melibatkan seluruh pengurus mulai dari anggotan LKM, Sekretariat
dan juga UP-UP.
Sedangkan keputusan yang mengikat keluar (masyarakat), terutama tentang pemanfaatan
BLM selalu melibatkan unsur-unsur masyarakat lain seperti relawan dan terutama pengurs
RT/RW serta aparat Desa/Kelurahan di beberapa tempat. Hasil dari keputusan tersebut
biasanya disosialisasikan melalui media-media yang ada apakah pertemuan RT, papan
informasi, dan juga mesjid.
Dalam setiap pengambilan Keputusan terutama kegiatan Melibatkan
masyarakat, yang mengundang anggota LKM, dan diinformasikan
berulang-ulang melalui papan informasi dan juga mesjid
Bp Iwan koordinator LKM Kel gubukusuma Tidore
17 | P a g e
2012
LAPORAN SUPERVISI CB
hal ini juga sejalan dengan hasil penyebaran kuesioner, yang menyatakan bahwa LKM pada
umumnya (48 orang/44,9%) melibatkan masyarakat dalam pengambilang keputusan yang
menyangkut kepentingan mereka setidaknya dalam pelaksanaan kegiatan.
No.
Jawaban
Jumlah
%
1
Tidak menjawab
22
20.6
2
Selalu mengajak masyarakat
48
44.9
3
Rapat jarang diketahui
5
4.7
4
Hanya pengurus & tokoh penting yg diajak
13
12.1
5
Mengumumkan hasilnya di papan
pengumuman
8
7.5
6
Pilih A dan D
9
8.4
7
Pilih B, C, dan D
1
0.9
8
Pilih B dan C
1
0.9
107
100.0
Total
4. Rencana Kerja LKM dan pertemuan Rutin
Seluruh LKM desa/kelurahan yang dikunjungi dalam diskusi maupun melalui pengamatan
tidak dapat menunjukan Rencana Kerja Tahunan LKM setidaknya yang terpampang di
dalam sekretariat LKM. Pada umumnya rencana kerja lebih kepada pemanfaatan BLM.
rencana kerja tahunan tidak ada, (agenda dilaksanakan
selalu dilaksanakan mendadak), pertemuan rutin ada
terutama untuk pelaksanaan kegiatan /pemanfaatan BLM
Anggota LKM Kelurahan Parang Kota Makasar
Rencana kerja tidak tertulis spesifik, rencana tahunan juga
tidak ada, hanya dilaksanakan sesuai kebutuhan
terutama pada saat akan dilaksanakan pemanfaatan BLM
Dahlan HJ Safi Angg LKM Kel Kastela Ternate
Sedangkan pertemuan rutin pada umumnya dilakukan 1 (satu) bulan sekali dan semakin
intens pada saat akan pemanfaatan BLM.
Pertemuan BKM dilaksanakan sebulan sekali, UP 20 setiap
hari, di BKM selalu ada piket
Koordinator LKM Kel Margorejo Surabaya
18 | P a g e
2012
LAPORAN SUPERVISI CB
5. Mekanisme Penilaian usulan Kegiatan
Yang dimaksud dalam hal ini adalah penilaian usulan kegiatan tridaya untuk pemanfaatan
BLM. Secara umum seluruh LKM sudah memiliki prosedur standar yang bersumber dari
Pedoman/SOP yang disusun KMP dan disosialisasikan kepada seluruh pelaku, berdasarkan
prosedur tersebut itulah kemudian kegiatan dilaksanakan. Variasi aturan main disesuaikan
dengan kebutuhan lokal.
KSM dibentuk di tiap RT pada umumnya PS-2, mengusulkan kepada UP
terkait dan dilaksanakan sendiri oleh KSM bersangkutan dengan
fasilitasi LKM, dan dipertanggungjawakan ulang di masing-masing RT
Juwita Dahlan Sekretariat LKM Gubukusuma Tidore
6. Soal Sengketa dan Pengaduan Masyarakat
Pengaduan masyarakat masih dipahami sebagai hal yang bersifat negatif, pada umumnya
tidak ada konflik/sengketa yang signifikan yang mengganggu upaya penanggulangan
kemiskinan di masing-masing desa/kelurahan, mengingat seluruh proses dilaksanakan
cukup transparan dan melibatkan masyarakat. Kalaupun ada pengaduan lebih banyak
bersifat pertanyaan dan klarifikasi kepada pengurus LKM dan biasanya langsung
diselesaikan dalam musyawarah di masyarakat sendiri dan tidak dicatatkan. Kotak
pengaduan pada umumnya belum berfungsi secara optimal
Penyelesaian persoalan dilaksanakan secara spontan,
tidak tersistem, kotak pengaduan ada tapi hampir
tidak pernah terisi
Anggota LKM Kel Jambangan Surabaya
7. Pengelolaan Keuangan LKM
Pengelolaan keuangan sudah sesuai dengan SOP, untuk pengelolaan keuangan
operasional, kegiatan sosial dan Infrastruktur dikelola oleh Sekretariat, sedangkan
Pengelolaan keuangan dana bergulir dikelola oleh UPK. Buku pencatatan keuangan dapat
ditunjukan dan dilaporkan kepada LKM secara rutin minimal sebulan sekali
Pengelolaan keuangan untuk Kegiatan infrastruktur
dan kegiatan sosial dilakukan oleh Sekretariat ada
bukunya, dan kegiatan simpan pinjam oleh pengurus
UPK, dokumennya dan juga meja terpisah, setiap
tutup buku perbulan dilaporkan ke LKM
Rani Bakar Manaj er UPK Kel Gubukusuma Tidore
Hanya satu kelurahan yaitu di Kelurahan Ubo-ubo ternate yang berpotensi terjadinya bias
pengelolaan keuangan, mengingat pengurus UP-UP pada umumnya adalah istri dari
pengurus LKM dengan alasan untuk meperlancar proses pekerjaan, dalam hal ini sudah
direkomendasikan kepada KMW untuk mengatur ulang aturan main kepengurusan dan
menghidari konflik kepentingan akibat keterlibatan keluarga dalam pengurus UP-UP
19 | P a g e
2012
LAPORAN SUPERVISI CB
Disini salah satu rahasia RR bisa diatas 90% adalah
dengan melibatkan istri dari para pengurus LKM ,
misalnya untuk pengurus UPK adalah istri dari salah
satu anggtota LKM, demikian juga untuk UP lain
Bp Thamrin Anggota LKM Kel Ubo-Ubo Ternate
8. Kegiatan Kemitraan LKM
Hanya 5 LKM dari 13 Kelurahan yang dikunjungi dalam proses FGD menyatakan pernah
melakukan kegiatan kemitraan dengan instansi atau lembaga lain, sisanya pada umumnya
menyatakan belum pernah melaksanakan kegiatan kemitraan dan masih mengandalkan
BLM untuk pelaksanaan kegiatan penanggulangan kemiskinan. Kelima LKM itu antara lain:
1. LKM Kelurahan Parang Kota Makasar: bermitra dengan dinas pariwisata, sosial ttg :
penyediaan sovenir hand made oleh KSM (sudah sampai lintas provinsi)
2. LKM Kelurahan Ubo-Ubo dan Kastela Kota Ternate: Pernah bermitra dengan jamsostek
untuk bantuan modal kepada keluarga miskin yang sekaligus mendapatkan asuransi
kesehatan hanya sayangnya kegiatan ini tidak berlanjut, juga kerjasama dengan BI untuk
pelatihan UPK
3. LKM Kelurahan Petemon Kota Surabaya: Kerjasama dengan Bapermas untuk pelatihan
KSM
4. LKM Kelurahan Jambangan Kota Surabaya: Kerjasama dengan PLN Jawa-Bali untuk
kegiatan Lingkugan
9. Keputusan LKM Yang Mengikat Keluar
Pada umumnya LKM yang disupervisi dalam proses diskusi menyatakan tidak pernah ada
Surat Keputusan LKM yang mengikat keluar selain Keputusan yang bersifat internal yaitu
satu-satunya SK LKM tentang pengangkatan UP-UP, sangat bertolak belakang dengan
salahsatu Tugas dan fungsi LKM sebagai pengambil kebijakan penanggulangan kemiskinan
di tingkat masyarakat. Keputusan LKM biasanya hanya dituangkan ke dalam Berita Acara
yang terkadang sulit ditemukan dokumennya.
SK LKM hanya untukpengangkatan UP-UP, setelah itu
keputusan biasanya hanya dicatatkan dalam berita acara saja
Dahlan Hj. Safi Anggota LKM Kel Kastela Ternater
10. Pembagian Peran LKM mengorganisir Relawan
Dalam hal pembagian peran LKM untuk mengorganisir Relawan, semua Kelurahan yang
disupervisi dalam proses FGd menyataan tidak ada pembagian peran khususnya untuk
mengorganisir Relawan, dan memang tideak pernah ada forum untuk mengakomodir
relawan yang tidak terpilih dalam kepengurusan LKM melalui proses pemilu. Kalaupun ada
pembagian peran itu hanya sebatas untuk pengawasan kegiatan tridaya untuk
pemanfaatan BLM.
BKM terbagi menjadi beberapa divisi sesuai kegiatan tridaya
dan tidak ada spesifik untuk mengorganisir relawan
Anggota LKM Kel Petemon Surabaya
20 | P a g e
2012
LAPORAN SUPERVISI CB
G.3.2 Aspek Kegiatan Sosial
Untuk kegiatan sosial, penggalian informasi terutama dilaksanakan melalui penyebaran
kuesioner kepada masyarakat. Antara lain mencakup:
1.
2.
3.
4.
5.
Definsi Kegiatan Sosial
Pihak yang terlibat dalam kegiatan sosial
Penerima manfaat kegiatan sosial sesuai KK Miskin Ps-2
Kemampuan kegiatan sosial untuk menarik swadaya masyarakat
Kebutuhan akan kegiatan sosial
1. Definisi Kegiatan sosial
Dari 107 responden di masyarakat, data yang secara jelas dapat menunjukan definis
kegiatan sosial (tidak memilih banyak pilhan), 86 responden pada umumnyamenyatakan
bahwa kegiatan sosial adalah Bantuan uang tunai, sembako dan alat usaha (24
responden/22,4%), sekalipun diakui 21 orang/19,6% tidak menjawab, tidak jelas apakah tidak
menjawab tersebut karena tidak tahu atau memang benar2 tidak menjawab. Sebagian
menyatakan bahwa kegiatan sosial adalah asntuan bagi janda miskin dan orang jompo serta
perbaikan pelayanan pendidikan dan kesehatan.
No.
Jawaban
Jumlah
%
1
Tidak menjawab
21
19.6
2
Pembagunan fasilitas sosial & olahraga
6
5.6
3
Pembangunan prasarana sekolah, PAUD, dan Posyandu
7
6.5
4
Santunan bagi janda miskin & orang jompo
14
13.1
5
Perbaikan layanan pendidikan & kesehatan
11
10.3
6
Bantuan uang tunai, sembako, dan alat utk usaha
24
22.4
7
Bantuan uang tunai, sembako, dan alat-alat
3
2.8
86
77,5
Total
2. Pihak yang terlibat dalam kegiatan sosial
Dari 107 Responden, 98 orang atau 91,6 % infromasinya telah jelas menyatakan keterlibatan
unsur yang terlibat dalam kegiatan sosial (tidak memilih banyak pilihan jawaban),
sayangnya masih 34 orang (31,8%) tidak menjawab pertanyaan tersebut.
Pada umumnya responden menyatakan bahwa pihak yang terlibat dalam kegiatan sosial
adalah orang-orang yang selama ini aktif dalam kegiatan sosial yaitu terutama pengurus
RT/Rw dan Karang Taruna (26 orang/24%).
No.
Jawaban
Jumlah
%
1
Tidak menjawab
34
31.8
2
Kader Posyandu
11
10.3
21 | P a g e
2012
LAPORAN SUPERVISI CB
3
Kader PKK
10
9.3
4
Guru bantu PAUD
2
1.9
5
Pengurus RT/RW dan Karang Taruna
26
24.3
6
Lainnya
12
11.2
98
91,6
Total
3. Kesesuaian Penerima Manfaat KK Miskin Dengan PS-2
Pada umumnya responden menyatakan bahwa 72% (77 orang) penerima manfaaat kegiatan
sosial adalah KK miskin yang ada dalam daftar PS-2, hanya 5 orang yang menyatakan tidak
sedangkan 25 orang tidak menjawab pertanyaan tersebut.
No.
Jawaban
Jumlah
%
1
Tidak menjawab
25
23.4
2
Ya
77
72.0
3
Tidak
5
4.7
107
100.0
Total
4. Kemampuan Kegiatan Sosial Untuk Menarik Swadaya Masyarakat
Pada umumnya responden menyatakan bahwa kegiatan sosial mampu mendorong
swadaya di tingkat masyarakat, 66 orang (61,7%) telah menyatakan itu, 17 orang
menyatakan tidak dan sisanya 24 orang tidak menjawab pertanyaan tersebut.
No.
Jawaban
Jumlah
%
1
Tidak menjawab
24
22.4
2
Ya
66
61.7
3
Tidak
17
15.9
107
100.0
Total
5. Kebutuhan akan kegiatan sosial
Dari 107 Responden Menyatakan bahwa Kegiatan sosial masih benar-benar dibutuhkan oleh
masyarakat (82 orang/76,6%) sedangkan sisanya tidak menjawab.
No.
1
Jawaban
Tidak menjawab
Jumlah
%
25
23.4
22 | P a g e
2012
LAPORAN SUPERVISI CB
2
Ya
Total
82
76.6
107
100.0
H. Kesimpulan
Proses Supervisi CB sesuai dengan sasarannya diharapakn dapat memberikan gambaran
dan fakta lapangan terutama tentang persoalan-persoalan pengembangan kapasitas.
Sekalipun disana sini masih terdapat kelemahan dalam hal metodologi, akan tetapi sasaran
mendapatkan informasi tersebut setidak sudah dapat tercapai, Walaupun sangat
direkomendasikan untuk menindaklanjuti dan Supervisi ini di kesempatan lain untuk
memperbaiki kualitas hasil Supervisi. Hal ini berguna untuk mempertajam strategi CB yang
akan dipilih.
Supervisi CB, tidak hanya diarahkan untuk memperoleh informasi yang bersifat negatif,
akan tetapi juga data dan informasi yang positif sebagai hasil CB yang dikembangkan oleh
semua pihak yang ke depan harus tetap dipertahankan dan dipelihara.
H.1. Aspek Sosialisasi
a. Positif
1.
PNPM Mandiri Perkotaan secara umum telah dikenal masyarakat dan sudah
dipahami sebagai program pemberdayaan masyarakat
2.
Media-media sosialisasi dipergunakan sebagai sarana untuk sosialisasi tentang
program, telah menjadi salah satu sumber informasi tentang program
3.
Partisipasi masyarakat secara umum cukup baik setidaknya dalam pelaksanaan
kegiatan
4.
Siklus masyarakat juga telah berjalan dengan cukup baik, ditandai dengan
kegiatan Review partisipatif dan RWT
5.
Kegiatan tridaya juga berlangsung baik, dengan kegiatan yang terencana sesuai
dengan kaidah-kaidah kegiatan fisik,ekonomi dan sosial tanpa ada indikasi
penyimpangan yang berarti
b. Perlu Penguatan/Perbaikan
1.
Pada umumnya pemahaman masyarakat tentang PNPM Mandiri Perkotaan
adalah soal pelaksanaan kegiatan tridaya dengan pemberdayaan, belum
menyeluruh tentang membangun kepedulian masyarakat hal ini disebabkan
penyampaian Pesan dilevel pelaku lebih kuat dibanding rembuk warga basis,
sehingga Pelaku lebih memahami pesan –pesan PNPM dibanding masyarakat
2.
Belum cukup adanya inisiatif mengembangkan media warga yang sesuai
karakteristik lokal, yang dapat membantu pemahaman warga secara utuh
terhadap PNPM Mandiri Perkotaan dengan bahasa yang lebih familiar untuk
masyarakat setempat.
3.
Pemahaman tentang siklus, secara umum masih dipahami sebagai tahapan
kegiatan, tidak cukup dikenal istilah siklus tahunan masyarakat
4.
Kegiatan tridaya secara umum memiliki jenis dan pola yang seragam, msh sangat
sedikit variasi kegiatan sesuai dengan karakteristik local
23 | P a g e
LAPORAN SUPERVISI CB
2012
5.
Pelaku dan masyarakat sama-sama punya aktifitas yang cukup intens dalam
kegiatan PNPM dan Partisipasi tertinggi masyarakat masih sebatas terlibat dalam
pelaksanaan kegiatan, bukan pada pengambilan keputusan
6.
Masih jarang pelaksanaan pertemuan khusus perempuan, kecuali memanfaatkan
komunitas-komunitas perempuan yang sudah ada seperti arisan PKK dan
pengajian, itupun sebatas sosialisasi bukan pengelolaan kegiatan dan
pengambilan keputusan, Perempuan masih diposisikan sebagai penerima
manfaat belum menjadi pengambil keputusan
7.
Kegiatan tridaya diartikan sebagai ujung kegiatan (tujuan akhir projek)
seharusnya tridaya dijadikan tujuan antara
H.2. Aspek Pelatihan
a. Positif
1.
Proses pencairan dan pemanfaatan dana fixed cost untuk pelatihan masyarakat
sudah sesuai dengan Ketentuan yang tertuang dalam POK dan Surat Direktur
tentang Pemanfaatan Dana Fixed Cost;
2.
Pelaksanaan Kegiatan Pelatihan masyarakat cukup transparan, walaupun tidak
seluruhnya diumumkan di 5 titik papan informasi (sebagian telah rusak)
melibatkan masyarakat dalam kepanitiaan dan disertai pencatatan dalam buku
Kegiatan Pelatihan Masyarakat yang dikelola oleh Sekretariat serta Pertanggung
jawaban yang jelas
3.
Pada umumnya materi khususnya materi spesifik telah sesuai dengan kebutuhan
pelaku untuk melaksanakan tugasnya
4.
Pemahaman masyarakat relatif meningkat, diindikasikan dengan terlaksananya
siklus tahunan masyarakat seperti tinjauan partisipatif dan RWT, serta
pengelolaan kegiatan tridaya
5.
Materi pelatihan sesuai dengan kebutuhan dan menunjang terhadap kegiatan
program terutama mengenai teknis pelaksanaan program PNPM Mandiri
Perkotaan di lapangan;
b. Perlu Penguatan/Perbaikan
1. Publikasi tentang Pemanfaatan dana fixed cost di 5 titik papan infromasi belum
cukup merata, harus disertai juga dengan perbaikan papan informasi yang ada
harus memiliki daya tahan yang cukup.
2.
Pada umumnya tujuan dan materi pelatihan sulit masih sulit dijelaskan oleh
peserta,kecuali hal yang spesifik Misalnya tentang materi siklus tahunan
masyarakat sebagai bagian dari kelembagaan masyarakat tidak dipahami secara
utuh
3.
Belum cukup adanya pengembangan materi-materi baru sesuai kebutuhan lokal,
kecuali yang telah diatur oleh KMP, kalaupun ada itu termasuk dalam kegiatan
social
24 | P a g e
LAPORAN SUPERVISI CB
2012
H.3. Aspek Kelembagaan dan Kegiatan Sosial
a. Positif
1. Semua sudah memiliki aturan dasar lembaga (AD & ART) yang mengatur hal-hal
pokok kelembagaan
2.
Proses pemilu pada umumnya sudah berjalan sesuai SOP dan juga AD & ART
secara demokratis, jujur, adil dan transparan
3.
Mekanisme pengambilan keputusan juga telah melibatkan unsur-unsur
masyarakat yang ada minimal yang berkepentingan sesuai levelnya
4.
Mekanisme usulan dan pertanggung jawaban kegiatan sudah cukup melembaga
setidaknya dengan pedoman yang telah ditetapkan oleh program
5.
Pengelolaan keuangan secara umum sudah ditangani oleh UPK dan sekretariat
6.
Telah ada kegiatan kemitraan dengan pola yang menarik antara lain dengan
Jamsostek, BI, dinas Pariwisata, PLN Jawa Bali, Bapermas
7.
Kegiatan sosial dengan penyertaan modal telah ada aturan mainnya
b. Perlu Penguatan/Perbaikan
1. AD & ART belum terinternalisasi dengan baik yang beresiko terhadap
penyimpangan pelaksanaan kegiatan, masih terhitung orang yang memahami
AD & ART
2.
Pengambilan keputusan yang penting, secara umum masih didominasi oleh BKM
dan UP-UP, masih sedikit keterlibatan masyarakat miskin dan perempuan
khususnya dalam pengambilan keputusan pembangunan di level kelurahan
3.
Belum ada rencana kerja tahunan LKM, dan tidak terpampang di sekretariat LKM
sebagai kontrol kegiatan (matrik kinerja lembaga BKM belum menjadi dasar)
4.
Pada umumnya pertemuan dilaksanakan hanya pada saat dibutuhkan (terutama
untuk pemanfaatan BLM) belum menjadi rutinitas
5.
Pengelolaan PPM masih sebagatas kotak pengaduan, masih dipahami sebagai
hal yang negatif, dan belum membudaya untuk mencatatkannya.
6.
Pengelolaan keuangan di beberapa tempat sudah dilakukan oleh UPK dan
Sekretariat walaupun masih ada bias LKM (misalnya di Ubo-ubo Ternate)
7.
Belum ada Keputusan legal LKM selain pengangkatan UP-UP, apalagi keputusan
bersama yang mengikat keluar terutama terkait aturan-aturan main tentang
penanggulangan kemiskinan
8.
Belum ada pengembangan wadah relawan untuk aktualisasi sesuai minatnya
9.
Pada umumnya struktur ARSIP di LKM masih tidak tertata dengan baik, padahal
untuk mempermudah kegiatan dan juga untuk pengelolaan produk pengetahuan
masyarakat
10. Kemitraan (“ Gaul”) masyarakat masih di internal, belum banyak yang mulai
berhubungan dengan pihak luar untuk meningkatkan kapasitas LKM ybs
11. Pemahaman Masyarakat untuk kegiatan sosial masih relatif bicara kegiatan
santunan sosial
12. Ada kecenderungan kegiatan sosial menjadi bantuan modal yang tidak langsung
menyentuh masyarakat miskin, dan overlap dengan kegiatan dana bergulir
25 | P a g e
LAPORAN SUPERVISI CB
2012
I. Rekomendasi
I.1 Substansi
1. Aspek Sosialisasi
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Mensosialisaikan kembali pesan-pesan program yang sama yang bernuansa nilai-nilai
kemanusiaan dan kemasyarakatan merata kepada semua pelaku di berbagai level
baik di pelaku maupun di masyarakat
Intensitas pertemuan dan bauran media dilevel masyarakat lebih diperkuat tidak
hanya dipelaku tapi juga di masyarakat, sangat diutamakan upaya yang lebih serius
untuk pengembangan media warga berbasis lokal.
Memperkenalkan kembali soal siklus tahunan masyarakat dengan bahasa yang
mudah dipahami baik melalui media cetak maupun media lainnya
Mengoptimalkan kegiatan pertemuan Pelaku dengan warga/KSM untuk membahas
pesan tujuan akhir tidak hanya hal teknis (tujuan antara)
Penguatan peran perempuan dan mngembangkan pertemuan-pertemuan
perempuan baik yang sudah ada atau baru terutama untuk pengambil keputusan
dalam setiap rembuk dan media sosialisasi
Semua aktifitas tridaya harus menjadi ajang sosialisasi makna program (“Narsis”)
Mulai melibatkan stakeholders kota/kab untuk terlibat dalam kegiatan sosialisasi
kepada masyarakat secara menyeluruh, dengan mengajak potensi-potensi lokal.
2. Aspek Pelatihan
1.
Kepemanduan perlu terus diasah / dibahas di KBIK khusus membahas tentang
metodologi dan substansi materi oleh pemandu, tim fasilitator, Korkot, dan KMW;
2. BKM yang baru terpilih dan UP yang baru diangkat dan belum dilatih segera untuk
diidentifikasi dan dilakukan coaching oleh Tim Fasilitator dibawah pengendalian
KMW;
3. Pasca pelatihan tim fasilitator perlu ada pengembangan kapasitas secara berkala
kepada BKM, UP sesuai dengan kebutuhan;
4. Pelaku konsultan di daerah di dorong untuk mengmbangkan materi-materi sesuai
kebutuhan lokal dengan melibatkan stakholders terkait untuk alih kelola
pengembangan kapasitas
3. Aspek Kelembagaan dan Kegiatan sosial
1. Segera disepakati Petunjuk Teknis Penguatan Kelembagaan dan Kegiatan Sosial
2. Perlu Penguatan Kelembagaan kepada kepengurusan LKM tentang:
a. Kedudukan, tugas dan fungsi LKM sebagai Board Of trustee dan Pengambil
Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan di wilayahnya
b. Aturan apa yang harus ada dalam AD dan ART serta internalisasi AD & ART
tersebut setidaknya di kalangan pengurus sendiri, minimal aturan-aturan
strategisnya
c. Pengambilan keputusan strategis harus lebih melibatkan masyarakat khususnya
kaum miskin dan perempuan, dan sebaiknya di atur secara khusus di dalam
Keputusan LKM
d. Penyusunan Rencana Kegiatan Tahunan LKM berdasarkan Tingkat
Perkembangan LKM dan harus terpampang di sekretariat LKM
e. Sosialisasi ulang tentang pentingnya PPM bukan hanya hal yang negatif dan
pentingnya pencatatan PPM baik berbasis komputer ataupun tidak.
f. Peningkatan Kapasitas LKM dalam hal legislasi (Penyusunan Keputusan baik
yang mengikat ke dalam maupun keluar)
26 | P a g e
LAPORAN SUPERVISI CB
2012
3. Pengembangan Forum Relawan dan Relawan Sektor sebagai sarana untuk
menampung utusan warga yang tidak terpilih di LKM sekaligus sebagai mitra LKM
dalam penanggulangan Kemiskinan dan pengganti fasilitator di masa yang akan
datang
4. Membuat aturan main tentang kegiatan sosial dan mensosialisasikannya kepada
seluruh pelaku
I.2 Metodologi Supervisi CB
Sebagaimana diketahui bahwa Supervisi CB kali ini juga dilaksanakan untuk juga
memperoleh masukan terhadap efektifitas Metodologi Supervisi yang akan datang. Berikut
adalah beberapa Rekomendasi:
1.
2.
3.
4.
5.
Menyempurnakan metode FGD dengan pertanyaan yang lebih fokus, tidak perlu banyak
akan tetapi bisa menggali informasi yang cukup detil untuk menghindari terlalu
banyaknya informasi yang harus digali sehingga ketajamannya berkurang
Untuk Pertanyaan-pertanyaan kuesioner:
a. Sebaiknya tidak diberi peluang untuk memilih lebih dari satu jawaban,
b. Jawaban satu dengan yang lain sebaiknya tidak memiliki kedudukan yang setara
(dapat menimbulkan mis persepsi)
c. Agar Status dan kedudukan responden dalam Kuesioner harus terisi secara jelas,
dan status tersebut tidak boleh bias satu dengan yang lain
d. Diberikan peluang jawaban tidak tahu dan lain-lain untuk mengantisipasi
interpretasi yang tidak menjawab sebagai yang tidak tahu.
Memperdalam kajian dengan cakupan yang lebih luas untuk meningkatkan kualitas
Supervisi yang dilakukan
Sebaiknya Kegiatan Supervisi CB dilakukan setidaknya 3 (tiga) bulan sekali untuk
melihat perkembangan kapasitas masyarakat.
Sebaiknya kegiatan Supervisi CB tidak dicampur adukan dengan kegiatan Monitoring
atau pengembangan kapasitas lain, pure hanya untuk menggali informasi masyarakat
dan belajar dari lapangan.
27 | P a g e
Download