BAB II KERANGKA TEORI 2.1 Penelitian Terdahulu Salah satu

advertisement
9
BAB II
KERANGKA TEORI
2.1
Penelitian Terdahulu
Salah satu faktor yang mendukung penelitian ini adalah penelitian-
penelitian sebelumnya dengan tema pembahasan yang sama. Diantaranya adalah:
1.
Raymond Wawondos dan Ronny H Mustamu (2014)
Penelitian ini berjudul Analisis Implementasi Prinsip-Prinsip Good
Corporate Governance Pada Perusahaan Bidang Cargo di Surabaya. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa implementasi terhadap prinsip-prinsip
Good Corporate Governance sudah dinilai sangat baik berdasarkan pada
analisis dengan metode AHP dan telah terimplementasi secara keseluruhan
dalam analisis kualitatif.
2.
Annisa Asisiura (2014)
Penelitian ini berjudul Analisis Penerapan Prinsip-Prinsip Good Corporate
Governance Pada PT Len Industri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
prinsip-prinsip GCG secara umum telah diterapkan dengan cukup baik
namun beberapa hal masih perlu diperbaiki.
3.
Vivi Sulvianti (2013)
Penelitian ini berjudul Implementasi Prinsip-Prinsip Good Corporate
Governance (GCG) Pada PT Pelita Jaya Prima di Tarakan. Hasilnya
adalah PT Pelita Jaya Prima belum melaksanakan prinsip-prinsip Good
Good Corporate dengan sempurna pada perusahaannya, karena Direksi
(Direktur Utama) PT Pelita Jaya Prima telah melanggar beberapa prinsip
Universitas Sumatera Utara
10
tersebut, yaitu prinsip transparansi, akuntabilitas dan responsibilitas, yang
juga telah melanggar pasar 97 UU No 40 tentang Perseroan Terbatas.
4.
Thereza Michiko Labesi (2013)
Penelitian ini berjudul Analisis Penerapan Prinsip-Prinsip Good Corporate
Governance di PT Bank Sulut Kantor Pusat Manado. Hasilnya
menunjukkan pelaksanaan GCG dan penerapan prinsip-prinsipnya
karyawan dalam level manajerial di PT Bank Sulut Kantor Pusat Manado
sangat terwujud dengan baik, sehingga pengawasan terhadap kinerja
manajemen terkontrol dengan baik dan tujuan perusahaan untuk
mengarahkan perusahaan pada peningkatan nilai perusahaan di jalankan
dengan baik.
5.
Diana Fajarwati (2011)
Penelitian ini berjudul Analisis Penerapan Prinsip-Prinsip Good Corporate
Governance di Lingkungan Internal Perusahaan Umum Badan Urusan.
Hasil penelitian menunjukkan Perum Bulog Jakarta dalam hal penerapan
prinsip-prinsip Good Corporate Governance sudah baik.
2.2
Definisi Good Corporate Governance
Istilah corporate governance untuk pertama kali diperkenalkan oleh
Cadbury Committee pada tahun 1992. Cadbury mendefinisikan corporate
governance sebagai suatu sistem yang berfungsi untuk mengarahkan dan
mengendalikan organisasi agar tercapai keseimbangan antara kekuatan dan
kewenangan organisasi.
Universitas Sumatera Utara
11
Adapun Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI)
mendefinisikan corporate governance sebagai seperangkat peraturan yang
mengatur hubungan antara pemegang, pengurus (pengelola) perusahaan, pihak
kreditur, pemerintah, karyawan, serta para pemegang kepentingan internal dan
eksternal lainnya yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka atau
dengan kata lain suatu sistem yang mengendalikan perusahaan. Tujuan corporate
governance adalah untuk menciptakan nilai tambah bagi semua pihak yang
berkepentingan (stakeholder).
Center for European Policy Study (CEPS) memformulasikan GCG sebagai
seluruh sistem yang dibentuk mulai dari hak (right), proses dan pengendalian baik
yang ada di dalam maupun di luar manajemen perusahaan. Dengan catatan bahwa
hak disini adalah hak dari seluruh stakeholder dan bukan hanya terbatas kepada
satu stakeholder saja. Noensi, seorang pakar GCG dari Indo Consult,
mendefinisikan GCG adalah menjalankan dan mengembangkan perusahaan denga
bersih, patuh pada hukum yang berlaku dan peduli terhadap lingkungan yang
dilandasi nilai-nilai sosial budaya yang tinggi (Adrian Sutedi, 2012:1).
Menurut the Organization for Economic Cooperation and Development
(OECD) dalam Sutojo dan E. Jhon Aldridge (2005:2) corporate governance
adalah sistem yang digunakan untuk mengarahkan dan mengendalikan kegiatan
bisnis perusahaan. Corporate governance mengatur pembagian tugas, hak, dan
kewajiban mereka yang berkepentingan terhadap kelangsungan perusahaan,
termasuk pemegang saham, dewan pengurus, para manajer, dan semua anggota
stakeholder non-pemegang saham.
Universitas Sumatera Utara
12
Sedangkan Bank Dunia (World Bank) mendefinisikan GCG sebagai
kumpulan hukum, peraturan, dan kaidah-kaidah yang wajib dipenuhi, yang dapat
mendorong kinerja sumber-sumber perusahaan secara efisien, menghasilkan nilai
ekonomi jangka panjang yang berkesinambungan bagi para pemegang saham
maupun masyarakat sekitar secara keseluruhan.
Defini GCG yang dikemukakan diatas berbeda-beda, namun pada
dasarnya memiliki maksud yang sama. Berdasarkan definisi-definisi diatas dapat
disimpulkan bahwa GCG adalah suatu sistem dan aturan yang mengatur hubungan
antara pengelola perusahaan dengan pihak yang berkepentingan dengan
perusahaan (stakeholder), tujuannya adalah untuk meningkatkan nilai tambah
(value added) perusahaan. Pengimplementasian GCG juga diharapkan mampu
mencegah terjadinya kesalahan-kesalahan signifikan dalam strategi korporasi dan
untuk memastikan bahwa kesalahan tersebut dapat diperbaiki dengan segera.
Lebih jauh lagi, penerapan GCG yang didukung dengan integritas tinggi
dapat menciptakan iklim bisnis yang positif bagi suatu negara. GCG menjadi
salah satu daya tarik bagi para investor asing untuk menanamkan modalnya pada
organisasi-organisasi dalam negeri, dan hal ini tentu akan mampu mendongkrak
perekonomian nasional.
2.3
Sejarah Good Corporate Governance
Sejarah lahirnya GCG berawal ketika terkuaknya skandal beberapa
perusahaan raksasa di Inggris maupun Amerika Serikat pada tahun 1980-an.
Enron Corp dan WorldCom merupakan contoh perusahaan Amerika yang
mendorong lahirnya GCG sebagai cara untuk penyehatan perusahaan.
Universitas Sumatera Utara
13
Berkembangnya budaya serakah dan pengambilalihan perusahaan secara agresif
menyadarkan orang akan pentingnya sistem tata kelola perusahaan yang baik,
jelas dan bertanggung jawab.
Dalam perusahaan selalu terdapat berbagai potensi konflik, seperti konflik
antara pemilik saham dan pimpinan perusahaan, antara pemilik saham majoritas
dan minoritas, antara pekerja dan pimpinan perusahaan, potensi mengenai
pelanggaran lindungan lingkungan, potensi kerawanan dalam hubungan antara
perusahaan dan masyarakat setempat, antara perusahaan dan pelanggan ataupun
pemasok, dan sebagainya. Bahkan besarnya gaji para eksekutif dapat merupakan
bahan kritikan. Disinilah objek sentral dari pengaturan GCG, yaitu untuk
mengatur antara kebebasan pribadi dan tanggung jawab kolektif.
Krisis ekonomi yang menghantam kawasan Asia dan Amerika Latin di
tahun 1990-an juga dianggap sebagai akibat dari kegagalan pengimplementasian
GCG. Hal inilah yang kemudian mendorong munculnya tuntutan agar GCG
diimplementasikan secara konsisten dan komprehensif. Tuntutan ini juga
disuarakan oleh berbagai lembaga seperti IMF, World Bank, OECD, dan APEC.
Prinsip-prinsip GCG dianggap mampu menolong perusahaan dan
membantu perekonomian negara yang sedang di hantam krisis agar dapat bangkit,
mampu
bersaing
secara
sehat,
dan
dikelola
secara
professional.
Pengimplementasian prinsip-prinsip GCG dinilai merupakan kunci sukses bagi
perusahaan untuk dapat mengembalikan kepercayaan investor, sehingga mampu
bertumbuh, berkembang, dan memberi keuntungan dalam jangka panjang.
Di Indonesia sendiri, corporate governance mulai diperkenalkan pada
seluruh perusahaan publik pada tahun 1998. Bermula dari usulan penyempurnaan
Universitas Sumatera Utara
14
peraturan pencatatan pada Bursa Efek Jakarta (sekarang Bursa Efek Indonesia)
yang mengatur mengenai peraturan bagi emiten yang tercatat di BEJ yang
mewajibkan untuk mengangkat komisaris independen dan membentuk komite
audit.
Kemudian Indonesia menandatangi Nota Kesepakatan (Letter of Intent)
dengan IMF yang mendorong terciptanya iklim yang lebih kondusif bagi
penerapan corporate governance. Pemerintah Indonesia mendirikan satu lembaga
khusus yang bernama Komite Nasional mengenai Kebijakan Corporate
Governance (KNKCG) melalui Keputusan Menteri Negara Koordinator Bidang
Ekonomi, Keuangan dan Industri Nomor: KEP-31/M.EKUIN/06/2000. Tugas
pokok KNKCG merumuskan dan menyusun rekomendasi kebijakan nasional
mengenai GCG, serta memprakarsai dan memantau perbaikan di bidang corporate
governance di Indonesia.
Pada tahun 2006, KNKCG melakukan penyempurnaan pedoman
corporate governance yang sebelumnya telah di terbitkan pada tahun 2001. Halhal yang disempurnakan pada Pedoman Umum GCG tahun 2006 adalah:
1. Memperjelas peran tiga pilar pendukung (negara, dunia usaha, dan
masyarakat) dalam rangka penciptaan situasi kondusif untuk
melaksanakan GCG;
2. Pedoman pokok pelaksanaan etika bisnis dan pedoman perilaku;
3. Kelengkapan organ Perusahaan seperti komite penunjang dewan
komisaris (komite audit, komite kebijakan risiko, komite nominasi dan
remunerasi, komite kebijakan corporate governance);
Universitas Sumatera Utara
15
4. Fungsi pengelolaan perusahaan oleh Direksi yang mencakup lima hal
dalam kerangka penerapan GCG yaitu kepengurusan, manajemen
risiko, pengendalian internal, komunikasi, dan tanggung jawab sosial;
5. Kewajiban perusahaan terhadap pemangku kepentingan lain selain
pemegang saham seperti karyawan, mitra bisnis, dan masyarakat serta
pengguna produk dan jasa;
6. Pernyataan tentang penerapan GCG;
7. Pedoman praktis penerapan Pedoman GCG;
Sementara itu, inisiatif dari sektor swasta melalui asosiasi-asosiasi bisnis
dan profesi telah melahirkan Forum for Corporate Governance in Indonesia
(FCGI) yang didirikan oleh 5 (lima) asosiasi bisnis dan profesi yang hingga kini
keanggotaanya terus bertambah, sehingga terdapat 10 (sepuluh) asosiasi bisnis
dan profesi tergabung ke dalam forum ini. Selain itu, terbentuk pula institutinstitut yang berkecimpung di bidang corporate governance, misalnya Institute
for Corporate Governance dan Institute for Corporate Directorship (Adrian
Sutedi, 2012).
2.4
Teori Good Corporate Governance
2.4.1
Agency Theory
Agency Theory memusatkan pentingnya pemegang saham sebagai pemilik
perusahaan memberi kekuasaan kepada tenaga-tenaga profesional (disebut agents)
untuk mengelola dan menjalankan perusahaan. Adapun maksud dari pemisahaan
antara pemilik dengan pengelola perusahaan adalah agar pemilik perusahaan dapat
Universitas Sumatera Utara
16
memperoleh keuntungan yang semaksimal dengan biaya yang seefisien mungkin
dengan dikelolanya perusahaan oleh tenaga-tenaga profesional.
Para pengelola perusahaan memiliki keluluasaan dalam menjalankan
manajemen perusahaan, sehingga dalam hal ini mereka berperan sebagai agent
dari pemegang saham. Sementara tugas dari pemilik perusahaan (pemegang
saham) hanya mengawasi dan memonitor jalannya perusahaan yang dikelola oleh
manajemen serta mengembangkan sistem insentif bagi pengelola manajemen
untuk memastikan bahwa mereka bekerja demi kepentingan perusahaan.
Namun pemisahan seperti ini memiliki dampak negatif, yaitu adanya
kemungkinan bagi pengelola manajemen perusahaan untuk memaksimalkan
kepentingan pengelolanya sendiri dengan beban dan biaya yang harus ditanggung
pemilik perusahaan. Pemisahaan ini dapat juga menimbulkan kurangnya
trnsparansi dalam penggunaan dana perusahaan.
2.4.2
Stakeholder Theory
Berdasarkan sudut pandang luas (broadview), GCG tidak hanya mengatur
hubungan antara perusahaan dengan pemilik atau pemegang saham saja, tetapi
juga antara perusahaan dengan pihak petaruh (stakeholder) lain, yaitu karyawan,
pelanggan, pemasok, dan komunitas lainnya seperti masyarakat. Definisi ini
ditunjukkan dalam Teori Stakeholder.
Model Stakeholder memperhatikan kepentingan seluruh stakeholder.
Pernyataan ini sejalan dengan konsep tata kelola perusahaan yang menunjukkan
bahwa
perusahaan
menciptakan
nilai
bagi
pemegang
saham
dengan
Universitas Sumatera Utara
17
menyeimbangkan kepentingan seluruh stakeholder. Perspektif
ini memberikan
penekanan kepada perlunya:
a. Partisipasi stakeholder di dalam pengambilan keputusan perusahaan.
b. Hubungan kontraktual jangka panjang antara perusahaan dengan
stakeholder.
c. Hubungan berbasis kepercayaan (trust relationship).
d. Berjalannya etika bisnis menyangkut hubungan perusahaan dengan
pihak lainnya.
Menurut Lukviarman (2005) perspektif stakeholder memberikan implikasi
bahwa manajemen harus mempertimbangkan stakeholder di dalam berbagai
keputusan organisasi.
2.4.3. Shareholder Value Theory
Menurut teori ini, tanggung jawab yang paling mendasar dari direksi
adalah bertindak untuk kepentingan meningkatkan nilai (value) dari pemegang
saham. Argumentasinya adalah jika perusahaan memperhatikan kepentingan
pemasok, pelanggan, karyawan, dan lingkungannya, maka nilai (value) yang
didapatkan oleh pemegang saham akan semakin sedikit, sehingga berjalannya
pengurusan oleh direksi harus mempertimbangkan kepentingan pemegang
sahamnya untuk memastikan kesehatan perusahaan dalam jangka panjang
termasuk peningkatan nilai pemegang sahamnya (Adrian Sutedi, 2012:31).
Pemikiran utama dari teori ini adalah bahwa pemegang saham harus dapat
bertindak sebagai pemilik dan secara aktif dapat mengambil keuntungan dalam
peningkatan nilai yang dimilikinya.
Universitas Sumatera Utara
18
2.5
Prinsip-Prinsip Good Corporate Governance
Gambar 2.1 Lima Prinsip Dasar Good Corporate Governance
Transparansi
(Transparency)
Kewajaran dan
Kesetaraan
(Fairness)
Indenpedensi
(Independency)
Akuntabilitas
(Accountability)
Responsibilitas
(Responsibility)
Sumber: Komite Nasional Kebijakan Governance 2006, diolah oleh peneliti
Terdapat lima prinsip dasar GCG yang dapat dijadikan pedoman bagi
suatu korporat atau para pelaku bisnis. Berikut ini adalah kelima prinsip dasar
GCG menurut Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) dalam Pedoman
Umum Good Corporate Governance Indonesia (2006):
2.5.1
Transparansi (Transparency)
Prinsip Dasar
Untuk menjaga obyektivitas dalam menjalankan bisnis, perusahaan harus
menyediakan informasi yang material dan relevan dengan cara yang mudah
diakses dan dipahami oleh pemangku kepentingan. Perusahaan harus mengambil
inisiatif untuk mengungkapkan tidak hanya masalah yang disyaratkan oleh
Universitas Sumatera Utara
19
peraturan perundang-undangan, tetapi juga hal yang penting untuk pengambilan
keputusan oleh pemegang saham, kreditur dan pemangku kepentingan lainnya.
Pedoman Pokok Pelaksanaan
1.
Perusahaan harus menyediakan informasi secara tepat waktu, memadai,
jelas, akurat dan dapat diperbandingkan serta mudah diakses oleh
pemangku kepentingan sesuai dengan haknya.
2.
Informasi yang harus diungkapkan meliputi, tetapi tidak terbatas pada,
visi, misi, sasaran usaha dan strategi perusahaan, kondisi keuangan,
susunan dan kompensasi pengurus, pemegang saham pengendali,
kepemilikan saham oleh anggota Direksi dan anggota Dewan Komisaris
beserta anggota keluarganya dalam perusahaan dan perusahaan lainnya,
sistem manajemen risiko, sistem pengawasan dan pengendalian internal,
sistem dan pelaksanaan GCG serta tingkat kepatuhannya, dan kejadian
penting yang dapat mempengaruhi kondisi perusahaan.
3.
Prinsip keterbukaan yang dianut oleh perusahaan tidak mengurangi
kewajiban untuk memenuhi ketentuan kerahasiaan perusahaan sesuai
dengan
peraturan perundang-undangan, rahasia jabatan, dan hak-hak
pribadi.
4.
Kebijakan
perusahaan
harus
tertulis
dan
secara
proporsional
dikomunikasikan kepada pemangku kepentingan.
Universitas Sumatera Utara
20
2.5.2
Akuntabilitas (Accountability)
Prinsip Dasar
Perusahaan harus dapat mempertanggungjawabkan kinerjanya secara
transparan dan wajar. Untuk itu perusahaan harus dikelola secara benar, terukur
dan sesuai dengan kepentingan perusahaan dengan tetap memperhitungkan
kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lain. Akuntabilitas
merupakan
prasyarat
yang
diperlukan
untuk
mencapai
kinerja
yang
berkesinambungan.
Pedoman Pokok Pelaksanaan
1.
Perusahaan harus menetapkan rincian tugas dan tanggung jawab masingmasing organ perusahaan dan semua karyawan secara jelas dan selaras
dengan visi, misi, nilai-nilai perusahaan (corporate values), dan strategi
perusahaan.
2.
Perusahaan harus meyakini bahwa semua organ perusahaan dan semua
karyawan mempunyai kemampuan sesuai dengan tugas, tanggung jawab,
dan perannya dalam pelaksanaan GCG.
3.
Perusahaan harus memastikan adanya sistem pengendalian internal yang
efektif dalam pengelolaan perusahaan.
4.
Perusahaan harus memiliki ukuran kinerja untuk semua jajaran perusahaan
yang konsisten dengan sasaran usaha perusahaan, serta memiliki sistem
penghargaan dan sanksi (reward and punishment system).
5.
Dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, setiap organ
perusahaan dan semua karyawan harus berpegang pada etika bisnis dan
pedoman perilaku (code of conduct) yang telah disepakati.
Universitas Sumatera Utara
21
2.5.3
Responsibilitas (Responsibility)
Prinsip Dasar
Perusahaan harus mematuhi peraturan perundang-undangan serta
melaksanakan tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan sehingga
dapat terpelihara kesinambungan usaha dalam jangka panjang dan mendapat
pengakuan sebagai good corporate citizen.
Pedoman Pokok Pelaksanaan
1.
Organ perusahaan harus berpegang pada prinsip kehati-hatian dan
memastikan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, anggaran
dasar dan peraturan perusahaan (by-laws).
2.
Perusahaan harus melaksanakan tanggung jawab sosial dengan antara lain
peduli terhadap masyarakat dan kelestarian lingkungan terutama di sekitar
perusahaan dengan membuat perencanaan dan pelaksanaan yang memadai.
2.5.4
Independensi (Independency)
Prinsip Dasar
Untuk melancarkan pelaksanaan asas GCG, perusahaan harus dikelola
secara independen sehingga masing-masing organ perusahaan tidak saling
mendominasi dan tidak dapat diintervensi oleh pihak lain.
Pedoman Pokok Pelaksanaan
1.
Masing-masing organ perusahaan harus menghindari terjadinya dominasi
oleh pihak manapun, tidak terpengaruh oleh kepentingan tertentu, bebas dari
benturan kepentingan (conflict of interest) dan dari segala pengaruh atau
tekanan, sehingga pengambilan keputusan dapat dilakukan secara obyektif.
Universitas Sumatera Utara
22
2.
Masing-masing organ perusahaan harus melaksanakan fungsi
dan
tugasnya sesuai dengan anggaran dasar dan peraturan perundangundangan, tidak saling mendominasi dan atau melempar tanggung jawab
antara satu dengan yang lain.
2.5.5
Kewajaran dan Kesetaraan (Fairness)
Prinsip Dasar
Dalam
melaksanakan
kegiatannya,
perusahaan
harus
senantiasa
memperhatikan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan
lainnya berdasarkan asas kewajaran dan kesetaraan.
Pedoman Pokok Pelaksanaan
1.
Perusahaan
harus
memberikan
kesempatan
kepada
pemangku
kepentingan untuk memberikan masukan dan menyampaikan pendapat
bagi kepentingan perusahaan serta membuka akses terhadap informasi
sesuai dengan prinsip transparansi dalam lingkup kedudukan masingmasing.
2.
Perusahaan harus memberikan perlakuan yang setara dan wajar
kepada pemangku kepentingan sesuai dengan manfaat dan kontribusi yang
diberikan kepada perusahaan.
3.
Perusahaan
harus
memberikan
kesempatan
yang
sama
dalam
penerimaan karyawan, berkarir dan melaksanakan tugasnya secara
profesional tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, gender, dan
kondisi fisik.
Universitas Sumatera Utara
23
2.6
Tujuan Penerapan Good Corporate Governance
Ada lima macam tujuan utama GCG (Tjager, 2003:), yaitu:
1. Melindungi hak dan kepentingan pemegang saham
2. Melindungi hak dan kepentingan para anggota stakeholder nonpemegang saham
3. Meningkatkan nilai perusahaan dan para pemegang saham
4. Meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja dewan pengurus dan
manajemen perusahaan
5. Meningkatkan mutu hubungan dewan pengurus dengan manajemen
senior perusahaan
Sedangkan Iman Sjahputera dalam Hessel Nogi (2003:112) dalam
bukunya menjelaskan penerapan GCG memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Perbaikan dalam komunikasi
2. Minimisasi potensial benturan
3. Fokus pada strategi-strategi utama
4. Peningkatan dalam produktivitas dan efisiensi
5. Kesinambungan manfaat
6. Promosi citra korporat
7. Peningkatan kepuasan pelanggan
8. Perolehan kepercayaan investor
Menurut The Forum for Corporate in Indonesia dalam Hessel Nogi
(2003:112), kegunaan dari GCG adalah:
1. Lebih mudah memperoleh modal
2. Biaya modal (cost of capital) yang lebih rendah
Universitas Sumatera Utara
24
3. Mempengaruhi harga saham
4. Memperbaiki kinerja ekonomi
Menurut Hessel Nogi (2003:112), GCG merupakan langkah yang penting
dalam membangun kepercayaan pasar (market confidence) dan mendorong arus
investasi internasional yang lebih stabil dan bersifat jangka panjang. Bagaimana
suatu korporat dijalankan juga akan mempengaruhi kesejahteraan masyarakat
secara keseluruhan.
2.7
Tahap-Tahap Penerapan Good Corporate Governance
Dalam menerapkan GCG, ada beberapa tahap yang harus dipahami oleh
korporat. Berikut ini adalah pentahapan yang umumnya digunakan oleh
perusahaan-perusahaan yang telah berhasil dalam menerapkan GCG (Chinn, 2000
dan Shaw, 2003 dalam Kaihatu, 2006):
2.7.1
Tahap Persiapan
Tahap ini terdiri dari 3 (tiga) langkah utama, yaitu:
1. Awareness building merupakan langkah awal untuk membangun
kesadaran
mengenai
GCG
dan
komitmen
bersama
dalam
penerapannya. Upaya ini dapat dilakukan dengan meminta bantuan
tenaga ahli independen dari luar perusahaan. Bentuk kegiatan dapat
dilakukan melalui seminar, lokakarya, dan diskusi kelompok.
2. GCG Assessment merupakan upaya untuk mengukur atau lebih
tepatnya memetakan kondisi perusahaan dalam penetapan GCG saat
ini. Langkah ini perlu guna memastikan titik awal level penerapan
GCG dan untuk mengidentifikasi langkah-langkah yang tepat guna
Universitas Sumatera Utara
25
mempersiapkan infrastruktur dan stuktur perusahaan yang kondusif
bagi penerapan GCG secara efektif. Dengan kata lain, GCG
assessment dibutuhkan untuk mengidentifikasi aspek-aspek apa yang
perlu mendapatkan perhatian terlebih dahulu, dan langkah-langkah apa
yang dapat diambil untuk mewujudkannya.
3. GCG Manual Building adalah langkah selanjutnya setelah GCG
Assessment dilakukan. Berdasarkan hasil pemetaan tingkat kesiapan
perusahaan dan upaya identifikasi prioritas penerapannya, penyusunan
manual atau pedoman implementasi GCG dapat disusun. Penyusunan
manual dapat dilakukan dengan bantuan tenaga ahli independen dari
luar perusahaan. Manual ini dapat dibedakan antara manual untuk
organ-organ perusahaan dan manual untuk keseluruhan anggota
perusahaan, mencakup berbagai aspek seperti berikut ini:
a. Kebijakan GCG perusahan
b. Pedoman GCG bagi organ-organ perusahaan
c. Pedoman perilaku
d. Audit committtee charter
e. Kebijakan disclosure dan transparansi
f. Kebijakan dan kerangka manajemen resiko
g. Roadmap implementasi
Universitas Sumatera Utara
26
2.7.2
Tahap Implementasi
Setelah perusahaan memiliki GCG manual, langkah selanjutnya adalah
memulai implementasi di perusahaan. Tahap ini terdiri atas 3 langkah utama
sebagai berikut:
1.
Sosialisasi, diperlukan untuk memperkenalkan kepada seluruh perusahaan
berbagai aspek yang terkait dengan implementasi GCG khususnya
mengenai pedoman penerapan GCG. Upaya sosialisasi perlu dilakukan
dengan suatu tim khusus yang dibentuk untuk itu, langsung berada
dibawah pengawasan direktur utama atau salah satu direktur yang ditunjuk
sebagai GCG champion di perusahaan.
2.
Implementasi, yaitu kegiatan yang dilakukan sejalan dengan pedoman
GCG yang ada, berdasarkan roadmap yang telah disusun. Implementasi
harus bersifat top down approach yang melibatkan dewan komisaris dan
direksi perusahaan. Implemetasi hendaknya mencakup pula upaya
manajemen perusahaan (change management) guna mengawal proses
perubahan yang ditimbulkan oleh implementasi GCG.
3.
Internalisasi, yaitu tahap jangka panjang dalam implementasi. Internalisasi
mencakup upaya-upaya untuk memperkenalkan GCG di dalam seluruh
proses bisnis perusahaan kerja, dan berbagai peraturan perusahaan.
Dengan upaya ini dapat dipastikan bahwa penerapan GCG bukan sekedar
dipermukaan atau sekedar suatu kepatuhan yang bersifat superficial, tetapi
benar-benar tercermin dalam seluruh aktivitas perusahaan.
Universitas Sumatera Utara
27
2.7.3
Tahap Evaluasi
Tahap evaluasi adalah tahap yang perlu dilakukan secara teratur dari
waktu ke waktu untuk mengatur sejauh mana efektivitas penerapan GCG telah
dilakukan dengan meminta pihak independen melakukan audit implementasi dan
scoring atas praktek GCG yang ada. Evaluasi dapat membantu perusahaan dalam
implementasi GCG, sehingga dapat mengupayakan perbaikan-perbaikan yang
perlu berdasarkan rekomendasi yang diberikan.
2.8 Implementasi Prinsip-Prinsip Good Corporate Governance
Saat ini Good Corporate Governance menjadi suatu keharusan bagi
perusahaan, karena pengimplementasian GCG merupakan salah satu bahan
pertimbangan utama bagi investor untuk menanamkan modalnya. Begitu pula
dengan kreditor, GCG menjadi bahan dalam mengevaluasi potensi suatu
perusahaan untuk menerima pinjaman kredit. Setiap perusahaan harus memastikan
bahwa prinsip-prinsip GCG diterapkan pada setiap aspek bisnis dan di semua
jajaran perusahaan.
Pengimplementasian prinsip-prinsip GCG secara konsisten pada negaranegara berkembang banyak memberi kontribusi positif, khususnya dalam
membangkitkan kepercayaan investor dan kreditor terhadap suatu kinerja
perusahaan. Prinsip-prinsip dasar GCG yaitu transparansi, akuntabilitas,
responsibilitas, independensi serta kesetaraan dan kewajaran diperlukan untuk
mencapai kesinambungan usaha perusahaan dengan memperhatikan pemangku
kepentingan.
Universitas Sumatera Utara
28
Bahkan untuk mendorong pengimplementasian GCG pada setiap korporat,
Pemerintah Indonesia melalui lembaga Komite Nasional Kebijakan Governance
(KNKG) telah mengeluarkan Pedoman Umum Good Corporate Governance
(GCG) pada tahun 2006 yang menjadi dasar bagi perusahaan yang menerapkan
Good Corporate Governance (GCG).
Universitas Sumatera Utara
Download