analisis wacana teun a. van dijk dalam novel inferno karya dan

advertisement
ISSN : 2355-9357
e-Proceeding of Management : Vol.3, No.2 Agustus 2016 | Page 2609
ANALISIS WACANA TEUN A. VAN DIJK DALAM NOVEL INFERNO KARYA
DAN BROWN
DISCOURSE ANALYSIS OF TEUN A. VAN DIJK ON INFERNO NOVEL BY DAN
BROWN
Monica Ramadhona Wareza1, Lucy Pujasari Supratman2, Syarif Maulana3
1,2,3
1
Program Studi S1 Ilmu Komunikasi, Fakultas Komunikasi dan Bisnis, Universitas Telkom
[email protected], [email protected], [email protected]
Abstrak
Penggunaan topeng tidak jauh dari tujuan estetika, seperti sebagai objek dalam tarian
tradisional atau dalam sebuah pesta dan karnaval. Namun, long beaked mask memberikan
nuansa lain dari penggunaan topeng. Berangkat dari sejarahnya dalam Kematian Hitam (Black
Death), salah satu sejarah kelam abad pertengahan Eropa, topeng ini kerap menjadi objek seni
yang diartikan dengan kematian. Salah satu karya seni yang menggunakan long beaked mask
adalah Inferno karya penulis Dan Brown. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
wacana dari long beaked mask pada level teks dan mengetahui makna simbol komunikasi
dari long beaked mask dalam novel Inferno.Dianalisis menggunakan analisis kontruktivis dan
metodologi penelitian kualitatif dan metode analisis wacana, menggunakan analisis wacana dari
Teun A. Van Dijk. Hasil dari penelitian ini menunjukkan elemen-elemen dari struktur wacana
Teun A. Van Dijk level teks. Struktuk makro dengan elemen tematik. Superstruktur level
skematik. Struktur mikro yakni elemen semantik, sintaksis, stilistik dan retoris.
Kata Kunci: long beaked mask, analisis wacana, Inferno
Abstract
The use of masks is not far from aesthetic purposes, such as the object of the
traditional dance or a party and carnival. However, the long beaked mask provides other
nuances of the use of masks. Departing from its history in the Kematian Hitam (Black Death),
one of the dark history of medieval Europe, these masks often become the object of art which
means death. One of the artworks that use long beaked mask is the work of author Dan
Brown's Inferno. The purpose of this study was to determine the discourse of long beaked
mask at the level of the text and to know the meaning of the symbol of long beaked mask of
novel Inferno. Analyzed using constructivist analysis and qualitative research methodologies
and methods of discourse analysis, using a discourse analysis of Teun A. Van Dijk. The
results of this study indicate the elements of discourse structure Teun A. Van Dijk at the level
of the text. Struktuk macro thematic elements. Superstructures schematic level. The
microstructure of the elements of semantic, syntactic, stylistic and rhetorical.
Keywords: long beaked mask, discourse analysis, Inferno
ISSN : 2355-9357
1.
e-Proceeding of Management : Vol.3, No.2 Agustus 2016 | Page 2610
Pendahuluan
Topeng dan masker digunakan sebagai alat untuk menutupi wajah dari paparan
cuaca atau digunakan sebagai benda seni. Indonesia bahkan memiliki tarian yang
menggunakan topeng sebagai objek dari tarian tersebut. Topeng juga digunakan dalam
pesta-pesta dansa di beberapa negara di barat. Hal ini ditujukan untuk menujukkan
kemisteriusan dari pengguna topeng tersebut. Penggunaan topeng juga bisa untuk
menyembunyikan luka atau bekas luka yang ada di wajah (seperti pemeran Phantom
dalam film Phantom of The Opera). Bahkan di negara tertentu diadakan sebuah perayaan
khusus dengan mengenakan topeng berbagai macam topeng. Salah satunya adalah
Carnivel of Venice di Italia. Karnaval ini sudah terkenal ke seluruh penjuru dunia. Dalam
karnaval, setiap partisipan diharuskan mengenakan topeng satu hari penuh selama acara
masih berlangsung. Topeng-topeng yang digunakan cukup beragam.
Topeng paling aneh yang terlihat selama Carnival of Venice adalah sebuah topeng
dengan paruh panjang, lingkaran mata hitam dan tatapan kosong lengkap dengan topi dan
mantel panjang hingga kaki serta tak lupa sarung tangan dan sepatu boots yang terbuat
dari kulit. Penampilan semacam ini sudah cukup lumrah terlihat di jalan-jalan Venesia.
Topeng ini memiliki arti khusus bagi sejarah Eropa oleh sebab itu topeng ini masih
digunakan dalam karnaval. Topeng semacam ini justru menjadi ciri khas dari Italia dan
banyak dijual di toko-toko cenderamata hingga di pinggiran jalan
Di era abad pertengahan (sekitar 1300-1440 M) di sebagian besar Eropa terkena
wabah yang belakangan diketahui penyebabnya dibawa oleh tikus. Hampir dua pertiga
dari populasi Eropa tewas saat itu karena wabah ini. Masa itu dikenal dengan Kematian
Hitam (Black Death). Pada masa Kematian Hitam inilah penggunaan topeng dengan paruh
panjang atau dikenal dengan plague mask atau long beaked mask menjadi seragam bagi
para dokter yang akan mengobati pasiennya
Saat ini, long beaked mask hidup dalam imajinasi artist, penulis, dan film-makers
dan banyak digunakan sebagai objek dalam karyanya. Namun penggunaan long beaked
mask dalam karya-karya ini tidak jauh dari gambaran kematian. Simbol kematian sudah
melekat dan menjadi ciri khas dari topeng ini.
Karya sastra pun tidak bisa menghindari paparan penggunaan long beaked mask
sebagai objeknya. Karya sastra yang merupakan aksi dari penulisnya terhadap keadaan
dunia dan merupakan bentuk tulis dari kehidupan manusia. Karya sastra hadir di tengahtengah masyarakat sebagai hasil imajinasi dan perenungan penulisnya terhadap gejala sosial
yang ada di sekitarnya. Maka tak bisa dihindari bahwa karya sastra merupakan bagian dari
kehidupan masyarakat.
Tak terkecuali penulis asing yang juga melakukan hal yang sama dengan penulis
Indonesia. Dan Brown, seorang penulis yang berkebangsaan Amerika Serikat yang
menelurkan novel-novel yang menjadi kontroversi. Novel-novelnya mengangkat isu-isu
yang masih menjadi perdebatan di beberapa kalangan dan menjadi banyak
diperbincangkan di kalangan penyuka konspirasi. Dan Brown menjadi penulis novel
best selling nomor #1 dunia. Salah satu karyanya adalah The Da Vinci Code yang menjadi
novel best selling novel all the time yang terjual sebanyak 200 juta kopi. Novel karya Dan
Brown telah diterjemahkan ke dalam 52 bahasa dan menjadi best selling all the time dan
menjadikan Dan Brown berada dalam daftar 100 Most Influential People in the World oleh
TIME Magazine.
Inferno merupakan karya terbaru Dan Brown yang dirilis pada tahun 2013. Tak
jauh berbeda dari karya Dan Brown sebelumnya, merupakan novel bergenre mystery
thriller. Novel ini mengangkat isu yang saat ini tengah menjadi permasalahan utama
dunia selain global warming, yakni kepadatan penduduk. Inferno akan menjadi novel
ISSN : 2355-9357
e-Proceeding of Management : Vol.3, No.2 Agustus 2016 | Page 2611
selanjutnya yang akan rilis sebagai film setelah dua novel sebelumnya, The Da Vinci
Code dan Angels and Demons, juga telah difilmkan.
Dalam novel ini, juga menggunakan long beaked mask sebagai objek yang
menggambarkan kematian dan menciptakan teror bagi tokoh dalam cerita. Long beaked
mask menjadi objek menakutkan yang menciptakan suasana menjadi menegangkan saat
tokoh melihatnya.
1.1. Fokus Permasalahan
Fokus penelitian digunakan agar penelitian yang dilakukan tidak melenceng dan
tidak terlalu meluas. Untuk itu peneliti juga memfokuskan penelitian yang akan
dilakukan. Fokus penelitian ini pada long beaked mask atau topeng berparuh panjang
dalam novel Inferno karya Dan Brown.
Peneliti telah merumuskan pertanyaan penelitian yang didasarkan pada fokus
penelitian dan menjadi inti dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana wacana mengenai long beaked mask dalam novel Inferno karya Dan
Brown dilihat dari level teks (struktur makro, superstruktur, dan struktir mikro)?
2. Bagaimana pemakanaan simbol komunikasi long beaked mask dalam novel Inferno
karya Dan Brown?
1.2. Tujuan Penelitian
Berdasarkan pertanyaan penelitian yang telah dirumuskan, maka tujuan dari
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui wacana teks long beaked mask dalam novel Inferno karya Dan
Brown.
2. Untuk mengetahui makna simbol komunikasi long beaked mask dalam novel Inferno
karya Dan Brown.
2. Dasar Teori
2.1. Komunikasi
Kata komunikasi atau communication dalam bahasa Inggris berasal dari kata
Latin communis yang berarti “sama”, communico, communicatio, atau communicare
yang berarti “membuat sama” (to make common). Istilah pertama (communis) yang
paling sering disebut sebagai asal kata komunikasi, yang merupakan akar dari katakata Latin lainnya yang mirip. Komunikasi menyarankan bahwa suatu pikiran, suatu
makna, atau suatu pesan dianut secara sama. Akan tetapi definisi-definisi
kontemporer menyarankan bahwa komunikasi merujuk pada cara berbagi hal-hal
tersebut, seperti dalam kalimat “Kita berbagi pikiran,” “Kita mendiskusikan makna,”
dan “Kita mengirimkan pesan.” (Mulyana, 2007: 46)1.
2.2. Makna
Keraf dalam Sobur (2001: 26) menjelaskan pada umumnya, makna dibedakan
menjadi dua jenis, yaitu:
1. Makna denotatif, yakni kata yang tidak mengandung makna atau perasaanperasaan tambahan.
2. Makna konotatif, yakni makna kata yang yang mengandung arti tambahan,
perasaan tertentu, atau nilai rasa tertentu di samping makna dasar yang umum.
Orang kerap berpendapat bahwa makna sudah terkandung dalam bunyi kata,
namun konsep seperti ini salah. Kata memperoleh makna hanya karena digunakan secara
tepat, yaitu dalam penggunaan kata itu sendiri. Manusialah yang memberikan
ISSN : 2355-9357
e-Proceeding of Management : Vol.3, No.2 Agustus 2016 | Page 2612
makna pada kata. Makna yang diberikan kepada kata yang sama bisa berbeda-beda,
bergantung pada konteks ruang dan waktu (Sobur, 2001: 28-29).
2.3. Wacana
Berbagai pendapat banyak menyampaikan tentang arti dari wacana, namun
dapat dirangkum pengertian wacana sebagai “rangkaian ujar atau rangkaian tindak tutur
yang mengungkapkan suatu hal (subjek) yang disajikan secara teratur, sistematis,
dalam satu kesatuan yang koheren, dibentuk oleh unsur segmental maupun
nonsegmental bahasa” (Sobur, 2009:11)2.
2.4. Analisis Wacana
Beberapa ahli menyampaikan penjelasannya mengenai arti dari analisis
wacana, maka dapat dikatakan bahwa analisis wacana adalah telaah mengenai aneka
fungsi (pragmatik bahasa. Berdasarkan pendapat Stubbs dan Cook dalam Badara
(2012: 187)3, maka analisis wacana tidak dimaksudkan untuk mencari keteraturan
dan kaidah seperti tata bahasa, tetapi yang dituntut adalah keteraturan yang berkaitan
dengan keberterimaannya pada khalayak.
2.5. Analisis Wacana Teun A. Van Dijk
Wacana oleh van Dijk digambarkan mempunyai tiga dimensi/bangunan,
yakni teks, kognisi sosial, dan konteks sosial. Inti analisis van Dijk adalah
menggabungkan ketiga dimensi wacana tersebut ke dalam suatu kesatuan analisis.
Model dari analisis van Dijk ini dapat digambar sebagai berikut:
Gambar 1
Model Analisis Wacana Teun A. van Dijk
Konteks
Kognisi Sosial
Teks
Sumber : Eriyanto, 2001: 225
Sumber: Eriyanto, 2001: 2254
Dalam dimensi teks, yang diteliti adalah bagaimana struktur teks dan strategi
wacana yang dipakai untuk menegaskan suatu tema tertentu. Van Dijk memanfaatkan
dan mengambil analisis linguistik tentang kosakata, kalimat, proposisi, dan paragraf
untuk menjelaskan dan memaknai suatu teks. pada level kognisi sosial merupakan
dimensi untuk menjelaskan bagaimana suatu teks diproduksi oleh individu atau
kelompok pembuat teks. Dalam penelitian ini, peneliti meneliti mengenai novel yang
melibatkan penulis. Sedangkan aspek ketiga, konteks sosial melihat bagaimana suatu
teks itu dihubungkan lebih jauh dengan struktur sosial dan pengetahuan yang
berkembang dalam masyarakat atas suatu wacana (Eriyanto, 2001: 224)4.
ISSN : 2355-9357
e-Proceeding of Management : Vol.3, No.2 Agustus 2016 | Page 2613
Tabel 1
Skema Penelitian dan Metode
Struktur
Metode
Teks
Critical linguistic
Menganalisis bagaimana strategi wacana yang
dipakai untuk menggambarkan seseorang atau
peristiwa tertentu. Bagaimana strategi tektual
yang dipakai untuk menyingkirkan atau
memarjinalkan suatu kelompok, gagasan, atau
peristiwa tertentu.
Kognisi Sosial
Analisis
mendalam
Menganalisis bagaimana kognisi penulis dalam tentang penulis.
memahami suatu peristiwa tertentu.
Konteks Sosial
Studi
pustaka,
Menganalisis
bagaimana
wacana
yang penelusuran sejarah.
berkembang dalam masyarakat, proses produksi
dan reproduksi seseorang atau peristiwa
digambarkan.
Sumber: Eriyanto, 2001: 2754
3. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode analisis wacana yang biasa digunakan untuk
memahami pesan simbolik dari sebuah teks, yang dalam hal ini teks tersebut adalah novel
Inferno karya Dan Brown.
4. Pembahasan
4.1. Analisis Teks Long Beaked Mask dalam Novel Inferno
Struktur
Wacana
Struktur Makro
Super Struktur
Struktur Mikro
Tabel 2
Elemen Wacana van Dijk
Hal yang diamati
Tematik
Tema/topik yang dikedepankan
dalam novel Inferno
Skematik
Bagaimana bagian dan urutan film
dikemas dalam teks novel yang
utuh
Semantik
Makna yang ingin ditekankan oleh
long beaked mask
Sintaksis
Bagaimana
kalimat
(bentuk,
susunan) yang dipilih
Elemen
Topik
Skema
Latar, detail,
maksud
Bentuk
kalimat,
koherensi, kata
ganti
Leksikon
Stilistik
Bagaimana pilihan kata dipakai
dalam novel Inferno
Retoris
Grafis,
ISSN : 2355-9357
e-Proceeding of Management : Vol.3, No.2 Agustus 2016 | Page 2614
Bagaimana dan dengan cara metafora,
ekspresi
penekanan dilakukan
4
Sumber: Eriyanto (2001: 228-229)
4.1.1. Struktur Makro
Tematik
Peneliti menentukan tema keseluruhan dari novel Inferno karya Dan Brown
ini adalah Thriller. Tema ini mengggambarkan keseluruhan isi cerita dari novel
Inferno karya Dan Brown dan bagaimana perjuangan Robert Langdon dan Sienna
rooks dalam mengungkap apa yang ada di balik pengejaran ketakutan yang
ditimbulkan oleh isu adanya Black Death seperti pada abad pertengahan di Eropa.
4.1.2. Superstruktur
Skematik
Novel Inferno karya Dan Brown ini menggunakan alur campuran atau alur
maju mundur, dimana ada beberapa bagian dari cerita yang sengaja dibuat sebagai
flashback untuk mendukung cerita yang telah ada. Cerita secara keseluruhan berjalan
sebagaimana biasa, yakni menggunaka alur maju, namun karena tokoh utama mengalami
hilang ingatan maka alur dibuat mundur hanya pada bagian saat tokoh utama hilang
ingatan dan disengaja agar pembaca dapat mengerti cerita pada bagian yang saat tokoh
utama mengalami hilang ingatan.
4.1.3. Struktur Mikro
Semantik
Latar cerita dari novel Inferno ini adalah sejarah Kematian Hitam (Black
Death) yang terjadi pada abad pertengahan di Eropa yang kemudian dijadikan sebagai
landasan tokoh antagonis untuk melakukan teror terhadap tokoh cerita yang kemudian
membungkus ceritanya menjadi sebuah karangan panjang.
Dalam novel ini, detail yang dijelaskan mengenai long beaked mask adalah
bahwa long beaked mask dalam cerita ini digunakan untuk sekedar menakuti setiap
tokoh yang ada dalam cerita. Khususnya pada cuplikan pertama yang sengaja
dijelaskan secara terang-terangan agar pembaca mengerti mengenai long beaked mask
dan semakin terhanyut ke dalam cerita dan merasakan kengerian yang melanda Robert
Langdon seperti digambarkan oleh penulis.
Pada maksud, penulis jelas-jelas memaksudkan agar pembaca dapat memahami
dengan jelas maksud dari penulis. Terbukti dengan deskripsi dari penulis yang detail
mengenai lelaki yang berparuh panjang dan apa yang dilakukannya, serta tentang
pemimpin pasukan khusus yang menurut Langdon memiliki tatapan sama dengan
topeng wabah/long beaked mask.
Sintaksis
Kata sambung dan sangat berpengaruh dalam kalimat pada novel ini. Karena
jika saja tidak dibarengi dengan konjungsi ini maka kalimat satu dengan lainnyayang
tidak memiliki pertalian tidak akan memiliki hubungan dengan kalimat sebelumnya
dan cerita tidak akan jadi menegangkan. Kalimat lainnya menggunakan konjungsi
namun. Konjungsi ini memberikan makna yang menjelaskan apa yang dirasakan
Langdon terhadap long beaked mask saat itu. Penulis bermaksud untuk menjelaskan
bahwa pada saat itu long beaked mask menjadi benda yang paling menakutkan bagi
Robert Langdon dan ingin pembaca juga ikut mengerti dan merasakan perasaan
Langdon.
ISSN : 2355-9357
e-Proceeding of Management : Vol.3, No.2 Agustus 2016 | Page 2615
Kalimat dalam Inferno ini menggunakan kalimat induktif dalam menyampaikan
cerita. Kalimat induktif ialah kalimat yang menunjukkan inti kalimat terletak pada awal
kalimat.
Kata ganti dalam novel Inferno yang ditemukan oleh peneliti adalah
penggunaan kata dia untuk menggantikan tokoh Langdon. Penggunaan kata ini adalah
karena penulis menempatkan dirinya sebegai orang pertama sebagai pencerita dan tokoh
utama, Robert Langdon adalah orang ketiga yang menjadi objek cerita. Penggantian kata
Langdon dengan kata dia dimaksudkan agar pembaca tidak jenuh dengan penulisan kata
yang berulang-ulang. Namun penggantian kata ini tidak merubah maksud dari kata
utamanya.
Stilistik
Gaya bahasa yang digunakan pada novel ini adah gaya bahasa sehari-hari
yang tidak berbelit-belit dan dapat dengan mudah dimengerti oleh semua kalangan
pembacanya. Hanya saja ada beberapa istilah yang mungkin baru dikenali oleh pembaca
melalui melalui novel ini yang tentu saja membutuhkan penalaran dan pemahaman yang
lebih dalam memahaminya. Namun tetap saja, secara keseluruhan gaya bahasa yang
digunakan adalah gaya bahasa yang tidak membutuhkan konsentrasi lebih untuk
memahaminya.
Retoris
Pada elemen grafis, penulisan topeng wabah setelahnya menggunakan huruf
yang dimiringkan yang berarti memiliki penekanan dan membutuhkan perhatian lebih
pada bagian itu. Bisa juga bermaksud untuk menimbulkan kesan dramatis dan
membuat pembaca terkejut dengan penulisan topeng wabah tersebut. Penulisan pada
bagian plakat dibuat menggunakan ukuran besar ditujukan agar mendapatkan
perhatian lebih dari pembacanya. Kemudian pada bagian kata-kata yang disampaikan
oleh sosol berparuh juga menggunakan jenis dan ukuran font yang berbeda dengan
kalimat lainnya. Jelas bahwa penulis bermaksud untuk membuat pembaca memberikan
perhatian khusus pada bagian itu namun tidak bermaksud agar pembaca mengartikannya
sendiri karena pada bagian setelahnya, penulis memberikan penjelasannya sendiri
mengenai bagian itu melalui alur ceritanya.
Kalimat-kalimat metafora dalam novel ini hanya berarti perumpamaan karena
saat itu tokoh dalam cerita sedang merasakan ketegangan sehingga benda-benda di
sekitarnya terasa mengancam dan menakutinya.
4.2. Wacana Long Beaked Mask dalam Novel Inferno Sebagai Proses Komunikasi
Dari segi makna konotatif, long beaked mask memiliki makna mendalam bagi
tokoh yang ada di dalam novel Inferno ini. Dalam novel ini dijelaskan bahwa setiap kali
Langdon melihat atau membayangkan long beaked mask maka yang muncul pertama kali
di pikirannya adalah ketakutan dan jumlah kematian yang sangat banyak. Maka bisa
disimpulkan bahwa, penulis dalam novel ini memaksudkan makna long beaked mask dalam
Inferno adalah sebagai benda yang menakutkan yang berarti kematian.
5. Kesimpulan
Novel Infermo karya Dan Brown merupakan novel bergenre misteri thriller yang
mengangkat isu kepadatan penduduk di dalamnya. Sesuai dengan fokus penelitian yang
hanya memfokuskan pada long beaked mask saja maka menurut penulis novel ini
mengangkat tema tentang teror. Setelah menjelaskan dan menganalisis hasil temuan
ISSN : 2355-9357
e-Proceeding of Management : Vol.3, No.2 Agustus 2016 | Page 2616
peneliti terhadap objek penelitian, maka selanjutnya pada bab ini peneliti akan
memberikan kesimpulan.
Dari segi struktur makro, tema yang menggambarkan keseluiruhan cerita dari
novel Inferno karya Dan Brown adalah thriller. Sementara itu, jika dilihat dari sisi long
beaked mask, subtopik yang turut mendukung cerita ini adalah teror. Dalam Novel Inferno
ini tokoh dalam cerita terus-menerus ditakuti oleh sebuah topeng yang menurut tokoh utama
dalam novel ini adalah sebuah topeng yang berasal dari abad pertengahan, yang menjadi
simbol kematian
Pada superstruktur, skema atau alur cerita yang digunakan dalam novel Inferno
adalah alur campuran atau alur maju mundur. Alur mundur ini digunakan penulis untuk
mendukung tokoh yang pada awal cerita mengalami hilang ingatan. Alur ini ditujukan
agar pembaca bisa memahami kisah yang tidak diingat oleh tokoh.
Struktur mikro teks membahas tentang semantik dalam novel Inferno membahas
tentang elemen-elemen yang ada dalam novel. Untuk elemen latar, novel ini
menggunakan latar tempat yakni Florence dan Venice di Italia dan Istanbul, Turki.
Dimensi waktu yang digunakan adalah 24 jam. Latar belakang cerita yang digunakan adalah
peristiwa Kematian Hitam (Black Death) di abad pertengahan. Elemen detail yang menjadi
sorotan utama dalam novel ini adalah long beaked mask yang menimbulkan ketakutan pada
tokoh yang ada dalam cerita. Pada elemen maksud keseluruhan cerita dalam novel ini
dijelaskan secara eksplisit oleh penulis.
Pada bagian sintaksis, koherensi yang digunakan dalam novel ini adalah ‘dan’ dan
‘namun’. Kedua konjungsi ini digunakan untuk menggabungkan dua kalimat yang
berbeda namun menjadikan kedua kalimat ini saling berhubungan satu sama lain. Bentuk
kalimat yang digunakan adalah kalimat induktif, yakni inti kalimat berada pada awal
kalimat. Kata ganti yang terdapat pada novel ini adalah kata ganti orang ke tiga ‘dia’
untuk tokoh Robert Langdon yang dimaksudkan agar pembaca tidak jenuh dengan penulisan
nama Langdon yang berulang-ulang.
Elemen stilistik dalam novel menjelaskan bahwa dalam novel ini penulis
menggunakan bahasa sehari-hari yang mudah dimengerti oleh pembacanya. Meskipun
terdapat beberapa istilah yang mungkin tidak biasa bagi orang awam namun penulis dapat
memberikan pejelasan dengan baik.
Elemen retoris pada grafis teks penulis bermain pada jenis dan ukuran font dan
menggunakan huruf yang dimiringkan untuk membuat tulisan menjadi lebih eye catching
dan membantu pembaca untuk mengingat dan memberikan perhatian lebih pada bagian yang
mendapatkan tulisan berbeda dengan tulisan lainnya. Metafora yang digunakan dalam
novel Inferno adalah ungkapan yang digunakan untuk penulis seperti seolah-olah long
beaked mask selalu menatap Robert Langdon dengan tatapannya yang dingin.
Secara makna konotasi, long beaked mask dalam novel Inferno karya Dan
Brown ini semaknai sebagai benda yang menakutkan yang berarti kematian yang selalu
menampilkan teror bagi tokoh di dalam novel.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Mulyana, Deddy. (2005). Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: Remaja
Rosdakarya
[2] Sobur, Alex. (2009). Analisis Teks Media: Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana,
Analisis Semiotik, dan Analisis Framing. Bandung: Remaja Rosdakarya
[3] Badara, Aris. (2012). Analisis Wacana: Teori, Metode, dan Penerapannya pada Wacana
Media. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
[4] Eriyanto. (2001). Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LkiS
Download