pandangan ceo pada nilai gender dan kompetensi komunikasi sdm

advertisement
PANDANGAN CEO PADA NILAI GENDER DAN KOMPETENSI
KOMUNIKASI SDM PUBLIC RELATIONS DI PERUSAHAAN
PT. FREEPORT INDONESIA JAKARTA
Proposal ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat dalam memperoleh
gelar sarjana strata satu ( S1 ) Ilmu Komunikasi
Disusun Oleh :
Nama
: Noorvita Indriani
Nim
: 44205010053
Jurusan
: Public Relations
FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS MERCU BUANA
JAKARTA
2009
FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS MERCU BUANA
BIDANG STUDI PUBLIC RELATIONS
Noorvita Indriani (44205010053)
Pandangan CEO Pada Nilai Gender dan Kompetensi Komunikasi SDM Public
Relations di Perusahaan PT. Freeport Indonesia Jakarta
1x + 143 halaman
Lampiran = 53 halaman
ABSTRAKSI
Citra diri profesi antara PR laki-laki dan perempuan telah memunculkan suatu
implikasi dari nilai gender dalam stereotype yang berkembang di masyarakat. Hal
tersebut juga menimbulkan perspektif terkait dengan penempatan posisi dan
kompetensi mereka di suatu perusahaan / organisasi yang bersangkutan. Sehingga
nampaknya terdapat keterkaitan antara gender, kompetensi komunikasi dan jenis
pekerjaan terhadap proporsi wanita dan laki-laki di dunia kerja.
Gender disini tidak hanya terkait secara biologis tetapi juga secara peran lain
diluar peran dan fungsinya di perusahaan sekaligus mencakup nilai yang dimiliki oleh
masing-masing individunya, seperti yang dikemukakan oleh B.L. Sha dalam teorinya
terkait dengan gender dan nilai antara laki-laki dan wanita.
Sedangkan untuk
kompetensi komunikasi dalam hal ini, menggambarkan karakteristik antara laki-laki
dan perempuan dalam menerapkan pola komunikasinya yang bertolok ukur pada tiga
dimensi communication competence PR, yakni : communication knowledge,
communication skill, & communication motivation. Sehingga ada keterkaitan antara
aspek-aspek tersebut (gender dan kompetensi komunikasi) terhadap proporsi bidang
pekerjaan yang mereka hadapi.
Sudut pandang CEO menjadi dasar pemikiran dalam mengungkap stereotype
yang ada terhadap keterkaitan antara nilai gender dan kompetensi komunikasi SDM
PR yang excellence, dengan menggunakan tipe penelitian deskriptif kualitatif melalui
metode penelitian studi kasus.
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu‟alaikum Wr. Wb.
Struktur budaya, kondisi psikologi perempuan, dan interpretasi keagamaan
merupakan faktor penentu yang membentuk nilai pola gender yang berkembang di
masyarakat. Ketiga faktor tersebut secara dialektik saling tarik-menarik dalam
membentuk pandangan, keyakinan dan kebiasaan dalam memposisikan laki-laki dan
perempuan baik di masyarakat maupun organisasi / perusahaan.
Dan nampaknya stereotype tersebut merupakan salah satu faktor yang juga
mempengaruhi sudut pandang CEO dalam menilai sisi genderisasi dan kompetensi
komunikasi terhadap proporsi antara SDM PR laki-laki dan perempuan di suatu
organisasi / perusahaan. Seperti yang telah dituturkan oleh Payne mengenai dimensi
yang digunakan untuk mengukur kompetensi komunikasi, antara lain :
communication knowledge, communication skill, communication motivation. Serta
beberapa pendapat lain dari para ahli tentang feminist dan masculine value yang
memang saling mempengaruhi unsur yang satu dengan yang lain.
Dalam hal ini, pandangan CEO yang terkait dengan gender, kompetensi dan
jenis pekerjaan di suatu organisasi / perusahaan, berusaha dianalisis serta
dideskripsikan oleh penulis yakni melalui penelitian yang dituangkan dalam
penulisan skripsi mengenai “ Pandangan CEO Pada Nilai Gender dan Kompetensi
Komunikasi SDM PR di Perusahaan PT. Freeport Indonesia Jakarta.”
Pada
kesempatan
ini
penulis
juga
ingin
mengucapkan
Alhamdulillaahirobil‟aalamiin, segala puji bagi Allah SWT Sang Penguasa
segalanya karena atas izin dan kehendaknya-lah penulis dapat menyelesaikan
penulisan skripsi ini untuk mendapatkan gelar sarjana strata satu (SI) dengan banyak
menemui kemudahan selama menjalani penulisan ini.
Tak lupa pula penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak
yang telah banyak membantu penulis dalam memberikan support, bimbingan serta
do‟a dalam penyusunan skripsi ini, terhitung awal Maret hingga Juli 2009.
yang diperuntukkan kepada :
1. Bapak Juwono Tri Atmodjo S.Sos, M.Si selaku Sekretaris Program Studi Public
Relations Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana sekaligus
Pembimbing I skripsi penulis.
2. Pembimbing II
3. Ibu Diah Wardhani, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas
Mercu Buana.
4. Bapak Drs. Hardyanto Jatmiko, M.Si selaku Wakil Dekan Fakultas Ilmu
Komunikasi Universitas Mercu Buana.
5. Ibu Marhaeni S.Sos, M.Si selaku Kepala Ketua Program Studi Public Relations
Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana.
6. Ibu Ida.A.Ananda, SS, M.Si, Ibu Irmulan Sati Tomohardjo, SH. M.Si, Bapak
Farid Hamid Umarella S.Sos, M.Si, serta seluruh staf pengajar di Fakultas Ilmu
Komunikasi Universitas Mercu Buana yang telah banyak memberikan ilmu
pengetahuan kepada penulis selama di bangku kuliah yang tidak dapat
disebutkan satu persatu.
7. Para staf Tata Usaha Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana.
8. Bapak Budiman Moerdijat selaku Manager Corporate Communication PT.
Freeport Indonesia.
9. Bapak Mindo Pangaribuan selaku Gen.Supt.Stakeholder Rel & Visitor Sp PT.
Freeport Indonesia.
10. Ibu Sari Esayanti ( Santi ) selaku SR.Comm Officer Ext Outreach & Inst Rel
PT. Freeport Indonesia.
11. Ibu. Siska, Pak Billy, Pak Lardo, Mba‟ Hesti, Mba‟ Heni, terima kasih atas
masukan dan semangat yang diberikan kepada penulis di dalam menyelesaikan
proposal ini.
12. Seluruh staf PT. Freeport Indonesia terima kasih atas kerjasama, keramah
tamahan, serta kesediaan untuk membantu penulis didalam proses kelancaran
penyusunan proposal ini, yang tidak dapat disebutkan satu-persatu.
13. Ibuku tercinta, abangku Ridwan dan seluruh keluarga terima kasih atas doanya
yang tiada henti “ I‟ll Always Love U “.
14. Seorang yang paling kusayangi Trada Lardiatama terima kasih atas cinta dan
kasih sayang serta motivasi yang telah diberikan “I love you so much”.
15. Sahabat saya Ratna Tri Ardani, Anita Julia, terima kasih atas semangat dan
bantuannya selama ini „we will still be friends forever‟.
Penulis juga menyadari sebagai hamba allah, penulis tidak luput dari
kekurangan oleh karenanya, penulis mohon maaf atas kekhilafan yang terjadi pada
penulisan skripsi ini.
Terakhir penulis berharap semoga tulisan ini dapat bermanfaat untuk
menambah informasi serta pengetahuan baik bagi penulis sendiri maupun pihak lain
yang membacanya, Amin.
Semoga Allah SWT selalu memberikan rahmat, hidayah dan keberkahannya
kepada kita semua, Amin yaa rabbal alamin.
Wassalammu‟alaikum Wr.Wb.
Jakarta, Juli 2009
Noorvita Indriani
DAFTAR ISI
LEMBAR PERSETUJUAN SKRIPSI……………………………………..……..……….i
TANDA LULUS SIDANG SKRIPSI…………………………………...……….………...ii
PENGESAHAN PERBAIKAN SKRIPSI………………………………………………...iii
MOTTO……………………………………………………………………………………..iv
ABSTRAKSI………………………………………………………………………………..v
KATA PENGANTAR……………………………………………………………………..vi
DAFTAR ISI………………………………………………………………………………...x
BAB I.
PENDAHULUAN………………………………………………………1
1.1.
Latar Belakang Masalah………………………………………….1
1.2.
Perumusan Masalah…………………………………………......11
1.3.
Tujuan Penelitian dan Signifikansi Penelitian………………......11
1.3.1. Tujuan Penelitian…………………………………..........11
1.3.2. Signifikansi Penelitian……………………………..........12
BAB II.
1.3.2.1.
Signifikansi Teoritis…………………………….........12
1.3.2.2.
Signifikansi Praktis…………………………………..12
TINJAUAN PUSTAKA……………………………………………...14
2.1.
Komunikasi Organisasi……………………………….………...14
2.1.1. Definisi Interpretif Komunikasi Organisasi……………14
2.2.
Peran, Fungsi, Tugas dan Posisi Public Relations………..........16
BAB III.
2.3.
Communication Competence Public Relations…………………22
2.4.
Gender Public Relations dalam Organisasi……………………..28
METODOLOGI PENELITIAN……………………………………...37
3.1.
Tipe Penelitian…………………………………………………..37
3.2.
Metode Penelitian……………………………………………….38
3.3.
Narasumber………………………………………………..........40
3.4.
Teknik Pengumpulan Data……………………………………...42
3.4.1. Data Primer……………………………………………...42
3.4.2. Data Sekunder…………………………………………..42
3.5.
Definisi Konsep………………………………………………....43
3.5.1. Pandangan……………………………………………....43
3.5.2. Nilai……………………………………….…………….43
3.5.3. Gender…………………………………………………..44
3.5.4. Communication Competence Public Relations………....44
BAB IV.
3.6.
Fokus Penelitian…………………………………………...……45
3.7.
Teknik Analisa Data……………………………………………48
3.8.
Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data………………………….48
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN……………...………51
4.1.
Obyek Gambaran Umum Sejarah PT. Freeport Indonesia….....51
4.1.1. Visi dan Misi PT. Freeport Indonesia…………...……..54
4.1.1.1.
Visi……………………………………..54
4.1.1.2.
Misi…………………………………54
4.1.2. Good Corporate Governance……………………….55
4.1.3. Struktur Organisasi dan Tupoksi Humas PT. Freeport
Indonesia…………………………………………...57
4.1.3.1.
Struktur Organisasi PTFI…………..57
4.1.3.2.
Pokok-pokok Reposisi Peran
Fungsi-fungsi Korporat…………….58
4.2.
Hasil Penelitian……………………………………………..73
4.2.1. Pandangan CEO Pada Nilai Gender
SDM Public Relations……………………………...73
4.2.2. Pandangan CEO Pada Kompetensi Komunikasi
SDM Public Relations…………………………….103
4.2.3. Pandangan CEO Pada Nilai Gender dan
Kompetensi Komunikasi SDM Public Relations…126
4.3.
BAB V.
Pembahasan……………………………………………….129
PENUTUP…………………………………………………………….....149
5.1.
Kesimpulan………………………………………………..149
5.2.
Saran………………………………………………………152
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
1
BAB I
PENDAHULUAN
I.I.
Latar Belakang Masalah
Sejarah konsep pembedaan gender yang muncul di lingkup masyarakat
sosial, pada dasarnya terbentuk melalui proses sosialisasi yang kemudian diperkuat
dan dilembagakan baik secara sosial, kultural, melalui ajaran keagamaan serta
melalui peraturan – peraturan negara. Sehingga sering dianggap bahwa ketentuan
gender tersebut merupakan suatu ketentuan yang tidak dapat dirubah karena
dianggap sebagai ketentuan yang sudah sewajarnya.
Keterbatasan seseorang dalam mempunyai akses dan kontrol terhadap
sumber daya dan hasil – hasilnya merupakan salah satu implikasi dari genderisasi
yang muncul dalam stereotype di masyarakat. Dalam sebagian besar masyarakat
anggapan
laki – laki sebagai pekerja produktif sangat dominan dan penentu segala
keputusan
meskipun kenyataannya kerja produktif perempuan sesungguhnya
memeberikan penghasilan utama. Namun, adanya subordinasi terhadap perempuan
sering menempatkan mereka pada situasi yang kurang menguntungkan, seperti
kurangnya akses mereka dalam proses pengambilan keputusan.
Pembagian tugas secara seksual juga merupakan salah satu implikasi
ketentuan gender dalam masyarakat. Ada pekerjaan – pekerjaan yang dianggap
sebagai pekerjaan perempuan dan ada pekerjaan – pekerjaan yang dianggap sebagai
pekerjaan laki – laki. Umumnya, perempuan sering dikaitkan dengan pekerjaan
yang bersifat domestik, sedangkan laki – laki lebih banyak diakaitkan dengan
2
pekerjaan
yang
bersifat
publik
sehingga
dalam
menjalankan
aktifitas
kemasyarakatanpun berbeda satu dengan yang lainnya1.
Laki – laki lebih memiliki peran memimpin dan menentukan kebijakan
sedangkan peran perempuan dalam komunitas lebih kepada perluasan dari
kehidupan domestik mereka sehingga menjadi sangat tergantung dan ruang
geraknya terbatas, ketentuan – ketentuan tersebut secara turun – temurun
diwariskan dan dihayati serta menyatu dalam struktur kemasyarakatan. Keadaan
tersebut sepertinya semakin diperkuat karena dalam perkembangan selanjutnya
peran serta kedudukan laki – laki dan perempuan tersebut dilembagakan melalui
proses sosialisasi baik melalui pendidikan formal, maupun nonformal.
Struktur budaya, kondisi psikologi perempuan, dan interpretasi keagamaan
merupakan faktor-faktor penentu yang membentuk pembagian kerja antara laki-laki
dan perempuan dalam sebuah organisasi atau perusahaan. Ketiga faktor tersebut
secara dialektik saling tarik-menarik dalam membentuk pandangan, keyakinan dan
kebiasaan dalam memposisiskan laki-laki dan perempuan di dalam masyarakat.
Pada masyarakat yang masih teguh memegang tradisi lokal, posisi laki-laki dan
perempuan selalu tunduk pada norma-norma dan nilai-nilai kultural serta
prinsip-prinsip doktrinal agama yang diwarisi secara turun-temurun. Kondisi
psikologis kaum perempuan juga biasanya akan tertundukkan oleh kekuatan
normatif budaya dan doktrin agama.
Stereotype tentang feminitas dan maskulinitas disosialisasikan pada tataran
yang hierarkis dan fungsional dengan nilai laki-laki berperan sebagai penentu
keputusan baik di sektor domestik maupun di sektor publik. Dalam tataran seperti
1
Fakih Mansour. Merekonstruksi Realitas dengan Perspektif Gender. Yogyakarta : Solidaritas
Bersama Perempuan, p:13 (1997).
3
ini, perempuan biasanya merupakan pihak yang melaksanakan keputusan dari lakilaki.
Struktur kebudayaan, khususnya pendidikan bagi laki-laki maupun
perempuan sejak kecil telah diarahkan pada satu pola dan ide tertentu, yaitu
penonjolan maskulin bagi laki-laki serta feminis bagi perempuan. Konsekuensinya,
laki-laki lebih banyak dididik untuk mampu melakukan pekerjaan yang
membutuhkan tenaga fisik, pemikiran dan yang menantang. Sementara perempuan
diarahkan pada bentuk pekerjaan yang memerlukan kesabaran, ketelatenan dan
yang berhubungan dengan perasaan, yang pada umumnya dianggap tidak
memerlukan kekuatan fisik2.
Di satu sisi kaum laki-laki dipandang sebagai makhluk yang dalam banyak
hal lebih unggul dari kaum perempuan, tetapi dalam pembagian pekerjaan menuntut
lebih bagi kaum perempuan. Konsekuensi logis yang terjadi dari kondisi demikian
adalah perempuan akan mendapat tambahan kerja selain pekerjaan domestik,
sementara laki-laki tetap pada kerja publiknya. Di satu sisi laki-laki merasa
memiliki hak yang lebih banyak dari perempuan, sementara disisi lain kaum
perempuan diberi kewajiban yang melebihi kaum laki-laki3.
Ketidakadilan pada dasarnya lebih mudah terjadi pada pihak yang lemah
dalam struktur sosial dan kekuasaan. Dalam hal ini, berlaku apa yang dinamakan
sebagai dehumanisasi sistematik, artinya pihak yang lebih lemah akan selalu rentan
terhadap kekerasan4.
Sedangkan berdasarkan stereotype terdahulu kebanyakan organisasi
didirikan, dikembangkan, dan diatur oleh pria. Umumnya kaum pria telah terlebih
2
Andreas Ananto Kagawa. ( SWA Magazine, 2 Nov 2006, hal 29 ).
Andreas Ananto Kagawa. Ibid., 2006 hal 29.
4
Putu Oka Sukanta. ( Kompas, 16 April 2001 hal 8).
3
4
dahulu memprakarsai berdirinya organisasi jauh sebelum para pejuang emansipasi
perempuan berniat untuk memulainya. “Sehebat apapun mereka, karena mereka
adalah perempuan”, kondisi seperti inilah yang menyebabkan dapat terjadinya
penghalang yang serius bagi komunikasi antara pria dan perempuan di tempat
kerja5.
Perempuan yang bekerja di dalam organisasi yang didominasi kaum pria,
jarang sekali dapat mencapai atau berharap bisa meraih jabatan yang lebih tinggi
dari posisi manager junior. Mereka merasa senang dengan status quo ini. Kondisi
seperti inilah yang menyebabkan pria memiliki kekuasaan dalam organisasi
sehingga wanita dalam suatu organisasi menjadi termarginalkan dalam struktur
organisasi yang bersifat dinamis dan patriarki6.
Sedangkan untuk persentase penduduk lima belas tahun keatas menurut
lapangan pekerjaan utama terbukti bahwa untuk bidang pertanian, kehutanan,
perburuan, perikanan dan industri pengolahan perempuan lebih mendominasi
dibanding laki-laki, namun perbandingan diantara keduanya tidak terlalu besar.
Lain halnya di sektor jasa masyarakat, perhotelan, rumah makan, pedagang besar &
eceran. Dalam hal ini, peran perempuan lebih berkontribusi dibandingkan peran
laki-laki7.
Sehingga bagaimanakah sebenarnya proporsi wanita dan laki-laki dilihat
dari segi gender dan kompetensinya, apakah citra diri mereka mempengaruhi
penempatan posisi dalam struktur organisasi. Karena sepertinya terdapat keterkaitan
antara gender, kompetensi dan jenis pekerjaan yang distandartkan oleh pihak
perusahaan / organisasi yang bersangkutan.
5
Angela Heylin. Kiat Sukses Komunikasi : langkah-langkah praktis untuk berhasil dalam
melakukan presentasi persuasi, alih bahasa : Sanudi Hendra,Penerbit:Mitr a Utama Jakarta, hal 67.
6
Catherine Miller. Organizational Communication : approaches and processes third edition, hal 121.
7
Keadaan Angkatan Kerja di Indonesia Februari 2006, BPS.
5
Terdapat gambaran bahwa laki-laki cenderung ditempatkan pada posisi
yang bertanggungjawab atas bottom line organisasi. Mereka dominan pada tempat
yang memiliki tanggungjawab yang berimplikasi profit dan revenue seperti finance,
sales pada level corporate vice president, sedangkan wanita dalam level yang sama
tetapi cenderung diberikan kesempatan memegang pekerjaan seperti HRD,
komunikasi atau public affair yang dianggap tidak secara langsung berkaitan
dengan profit atau revenue8.
Lain halnya pada proporsi profesi PR di beberapa Negara, Rea Smith dalam
bukunya “Women in Public Relations” : What they have achieved” pada tahun
1968, hanya satu dari sepuluh adalah anggota PRSA. Rasio ini menjadi satu
banding tujuh pada tahun 1975 ketika Sondra Gorney menyimpulkan bahwa
„dinding dunia laki-laki‟ tradisional belum roboh.‟ Jacobson (1990), “Namun
tampaknya dinding itu sudah roboh pada tahun 1990-an, ketika sebagian besar
anggota PRSA adalah wanita, dan merupakan anggota International Association of
Business Communicators (IABC) adalah wanita”. Bahkan berdasarkan data yang
disajikan bahwa PR adalah bidang diantara dua puluh enam bidang dimana wanita
dengan bachelor‟s degree menerima upah / gaji lebih tinggi dibanding laki-laki. PR
perempuan rata-rata ditawari gaji 31,441$ sedangkan laki-laki 30,682$.
Meningkatkan jumlah wanita di sektor PR justru berpengaruh negatif bagi reputasi
profesi ini karena dianggap adanya feminisasi profesi. Sehingga dimana sebenarnya
sektor PR perempuan dan laki-laki berada serta apakah pada posisi manajerial
ataukah teknis9.
8
9
Cutlip, Scott. M, Center, Allen. H, and Broom, Glen. M, 2006 hal 36-37, Effective Public
Relations. Edisi kesembilan, Jakarta : Prentice Hall, Indeks Kelompok Gramedia, Jakarta.
Cutlip, Scott. M, Center, Allen. H, and Broom, Glen. M., Ibid 2006 hal 36-37.
6
Masalah laki-laki dan perempuan, mengapa ini menjadi penting ? beberapa
orang mungkin mengatakan masalah tersebut tidak perlu dipersoalkan. Namun,
pada kenyataannya masalah ini dipandang menjadi penting. Berdasarkan penelitian
dari beberapa ahli dikatakan bahwa komunikasi yang excellence dianggap ideal
dimana komunikator memiliki kemampuan yang memadai, dilibatkan untuk
membantu seluruh proses manajemen stratejik organisasi, mencari bentuk hubungan
simetris melalui manajemen komunikasi dengan publik kuncinya tepat dimana
organisasi itu tumbuh dan berkembang10.
Jika dikatakan PR adalah pengelola komunikasi yang excellence, dimana
peran PR sendiri dalam hal membina hubungan dengan pihak lain adalah sebagai
“fasilitator” komunikasi yang positif antara organisasi dan publiknya, dan
mengharapkan excellence communication dalam organisasi ingin terbina, maka
diperlukanlah11:
1. PR yang memiliki kemampuan
2. Keselarasan harapan dari PR dan organisasi
3. Kondisi organisasi yang menganut budaya yang partisipatif
Jika ditelusuri dalam berbagai pustaka Public Relations adalah fungsi
manajemen. PR memiliki fungsi menjembatani komunikasi antara organisasi
dengan publiknya baik internal maupun eksternal. Grunig dan Hunt mengatakan
bahwa fungsi untuk mengelola komunikasi dalam organisasi, berarti fungsi ini jauh
lebih luas dari pada sekedar teknisi dan ketrampilan biasa, Public Relations
disamping memerlukan skil ia juga merupakan sebuah ilmu yang harus dipelajari
10
James E. Grunig, David M. Dozier, William P. Ehling, Larissa A. Grunig, Fred C. Repper, and
Jon White (eds), Excellence in Public Relations and Communication Management (Hillsdale, NJ :
Lawrence Erlbaum Associates, 1992), p. 1-30.
11
James E. Grunig, David M. Dozier, William P. Ehling, Larissa A. Grunig, Fred C. Repper, and
Jon White (eds). Ibid., 1992 p:10.
7
dan dipahami. Oleh sebab itu, PR memiliki tugas mulai dari mengelola secara
keseluruhan aktifitas komunikasi dalam organisasi hingga melakukan evaluasinya12.
Namun, tidak jarang PR di beberapa perusahaan masih berada pada posisi
teknis jauh dari peran manajerial khususnya bagi kaum perempuan. Misalnya di
industri manufaktur khususnya pertambangan PR perempuan cenderung dijadikan
sebagai frontliner dalam menghadapi klien atau vendor dari perusahaan terkait
terutama dalam hal negosiasi. Hal ini diakui CEO kalau fisikly dan pembawaan dari
sosok perempuan sendiri yang memang sudah terlihat ramah, sehingga membawa
kepada pola komunikasi yang cozy dan meyenangkan, berbeda dengan PR laki-laki
yang cenderung terlibat dalam pengambilan keputusan13. Padahal feminist value
sejatinya mampu membangun relationship dengan berbagai macam karakter
individu baik didalam maupun diluar organisasi. Sehingga mengapa kemampuan
tersebut masih diragukan antara menempatkan PR perempuan pada peran
manajerial dan teknis
Dalam buku “Invisible Management The Construction of Leadership”, Anna
Wahl menggambarkan tentang hal ini. Ia menyatakan bahwa dalam beberapa kasus,
wanita dianggap tidak mampu untuk memimpin. Wanita digambarkan kurang
kemauan, kurang kompeten, kurang percaya diri dan kurang-kurang lainnyayang
diperlukan pada kualitas seorang pemimpin, bahkan ada stereotype yang
menyatakan bahwa wanita sering menggunakan manipulasi gender-nya sebagai
power untuk memperoleh jabatan tertentu14.
12
James E. Grunig and Todd Hunt, Managing Public Relations (New York : Holt, Rinehart, and
Winston 1984).
13
Hasil wawancara dengan CEO PT. Freeport Indonesia.
14
Ann Laura Janusik, 2004. The Relationship Between Conversational Listening Span and Perceive
Communicative Competence, Dissertation, Faculty of the Graduate School of the University of
Maryland, College Park.
8
Seharusnya eksistensi dari profesi PR ditentukan oleh kompetensi dari peran
dan fungsi yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan hanya karena ia laki-laki atau
perempuan baik dalam arti negatif maupun positif. Karena sejatinya seorang
praktisi PR akan dapat berperan apabila memiliki kompetensi personal dan dapat
menjalin relasi internal-eksternal organisasi serta dapat mencapai hasil optimal dari
manajemen.
Dari hasil riset sebelumnya terdapat beberapa fakta bahwa dalam struktur
Department Corporate Communication PT. Freeport Indonesia, laki-laki cenderung
mendominasi ketimbang perempuan namun, jumlah diantara keduanya masingmasing tidak berbeda jauh dengan perhitungan laki-laki sebanyak tujuh belas orang
dan perempuan dua belas orang, tidak hanya itu peran manajerialnya-pun saat ini
dipegang oleh laki-laki.
Dalam hal ini, perempuan lebih mendominasi pada unit Internal
Communication
sedangkan
laki-laki
lebih
dominan
pada
unit
Exsternal
Communication. Disamping itu, kecenderungan untuk masing-masing background
pendidikannya-pun tidak didasari pada background PR sebagai salah satu syarat
untuk dapat bekerja di departemen tersebut. Melihat kondisi yang seperti ini,
tentunya CEO memiliki pandangan atau nilai-nilai tersendiri mengenai
pola
struktur dan posisi serta kompetensi komunikasi yang ada di masing-masing unit
Department Corporate Communication.
Sehingga seperti apa sebenarnya pandangan CEO mengenai proporsi dari
masing-masing nilai gender dan kompetensi komunikasi SDM PR serta keterkaitan
diantara keduanya terhadap peran dari masing-masing fungsi mereka di perusahaan,
dan tentunya dalam konteks yang bagaimana. Apakah pandangan yang ada pada
satu konteks tertentu lebih condong pada unsur gendernya sehingga mendukung
9
proses
kompetensi
komunikasi,
ataukah
memang
karena
kemampuan
berkomunikasinya yang diperlukan. Apalagi PT. Freeport ini merupakan
perusahaan tambang yang notabennya tergolong perusahaan berat dengan
karakteristik medan operasional yang remote. Tentunya hal ini akan menjadi suatu
tantangan tersendiri yang mereka jalani.
Yang menjadi alasan bagi penulis terhadap konsep gender pada penelitian
kali ini ialah adanya stereotype yang memang muncul dan terbentuk di masyarakat
sosial. Stereotype tersebut berupa unsur sex difference yang merupakan implikasi
dari gender, yang pada dasarnya banyak menimbulkan suatu problem di berbagai
bidang tertentu.
Salah
satu faktor penyebab yang muncul dari implikasi tersebut ialah
adanya pembedaan dalam hal distribusi kekuasaan antara laki – laki dan
perempuan, yang selanjutnya terkait dengan distribusi kekuasaan dalam akses dan
kontrol terhadap sumber daya yang ada.
Hampir di berbagai strata sosial, perempuan mengontrol lebih sedikit aset
produktif dibanding dengan laki – laki, meskipun sebenarnya perempuan
menghasilkan lebih dominan baik dari aset produktif maupun reproduktif.
Stereotype mengenai kurangnya kontrol perempuan terhadap sumber daya
akan berpengaruh pada nilai atau sudut pandang sebagian besar CEO yang memang
sengaja teradopsi baik dari stereotype yang muncul di masyarakat, perusahaan
/ organisasi maupun dari pengetahuan, pola pikir, dan pengalaman CEO itu sendiri.
Oleh karennya penelitian ini ditujukan untuk mengetahui bagaimana
pandangan CEO pada nilai gender dan communication competence PR di
perusahaan PT. Freeport Indonesia Jakarta.
10
I.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan pokok permasalahan yang dijabarkan dalam latar belakang
diatas, maka perumusan masalah penelitian ini adalah :
Bagaimana pandangan CEO pada nilai gender dan kompetensi komunikasi SDM
Public Relations di perusahaan PT. Freeport Indonesia Jakarta ?
I.3.
Tujuan Penelitian dan Signifikansi Penelitian
I.3.1. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah :
Secara lebih spesifik penelitian ini dimaksudkan untuk mendapatkan suatu
pemahaman ( verstehen ) secara deskriptif mengenai pandangan CEO terhadap nilai
gender dan kompetensi komunikasi SDM antara PR laki-laki dan perempuan di
perusahaan tersebut. Faktor-faktor yang seperti apa yang mempengaruhi peran dan
fungsinya mereka baik sebagai laki-laki dan perempuan di lingkungan kerja.
Dan seperti apa karakter pola komunikasi masing-masing dari mereka yang
pada akhirnya nanti ada keterkaitan antara kedua hal itu (gender dan kompetensi
komunikasi) terhadap proporsi dari masing-masing jenis pekerjaan yang ada, dan
siapa saja yang sering terlibat dalam melakukan pekerjaan tersebut. Sekaligus
menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi terciptanya pembagian kerja dari
masing-masing individu terkait.
11
I.3.2.
Signifikansi Penelitian
I.3.2.1. Signifikansi Teoritis
1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khazanah pengetahuan tentang
fenomena sosial empiris yang berkaitan dengan realitas gender terhadap nilainilai communication competence PR di suatu perusahaan.
2. Memberikan signifikansi yang cukup besar bagi pengembangan Ilmu
Komunikasi khususnya dalam memperluas pengetahuan mengenai tema
penelitian.
3. Memberikan batasan yang tegas tentang communication competence PR yang
memungkinkan terjadinya bias gender serta diharapkan dapat memberikan
referensi bagi penelitian selanjutnya.
I.3.2.2. Signifikansi Praktis
1. Dapat dijadikan dasar bagi berbagai pihak ( LSM, pemerintah, individual,
perusahaan, dsb ) dalam merumuskan program aksi dan kebijakan, yang
berkaitan dengan kompetensi SDM PR yang lebih proporsional dan tidak bias
gender serta dapat dipertanggung jawabkan.
2. Dapat memberi masukan kepada PT. Freeport Indonesia khususnya bagian divisi
PR atau corporate communication-nya bagi pengembangan kompetensi SDM PR
ke arah yang lebih baik pada periode berikutnya.
3. Penulis sendiri, karena mempunyai pengalaman dan pengetahuan dalam
melakukan penelitian tentang realitas nilai gender terhadap kompetensi
komunikasi SDM PR berdasarkan sudut pandang CEO di suatu perusahaan dan
organisasi yang bersangkutan.
12
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.
Komunikasi Organisasi
2.1.1. Definisi Interpretif Komunikasi Organisasi
Komunikasi organisasi, dipandang dari suatu perspektif interpretif
( subjektif ) merupakan proses penciptaan makna atas interaksi dalam organisasi
atau merupakan suatu ”perilaku pengorganisasian” yang terjadi, dan bagaimana
mereka yang terlibat dalam proses itu bertransaksi serta memberi makna atas apa
yang sedang terjadi, seperti yang terdapat pada asumsi berikut :
”Manusia Menciptakan Realitas”
Manusia menciptakan realitas mereka dengan cara – cara yang paling
mendasar, dalam usaha untuk membuat dunia mereka dapat dijelaskan kepada
mereka sendiri dan kepada orang – orang lainnya. Mereka tidak sekedar aktor
yang menafsirkan situasi mereka dengan cara – cara yang bermakna, karena
tidak ada situasi – situasi yang diwujudkan oleh mereka lewat aktivitas kreatif
mereka sendiri. Individu – individu dapat bekerja sama untuk menciptakan
realitas bersama, namun realitas tersebut masih merupakan suatu konstruksi
subjektif yang dapat lenyap pada saat anggota – anggotanya tidak menerimanya
lagi sebagai demikian. Realitas tampak sebagai nyata bagi individu – individu
karena tindakan manusia yang secara sengaja atau tanpa disengaja
bersekongkol.
Dalam hal ini realitas ( organisasi ) merupakan suatu konstruksi subjektif
yang mampu lenyap saat anggota – anggotanya tidak lagi menganggapnya
demikian. Lebih jelasnya, komunikasi organisasi dalam perspektif ini mengarah
pada proses penciptaan makna atas interaksi yang menciptakan, memelihara, dan
mengubah organisasi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pandangan ”objektif”
atas organisasi menekankan pada ”struktur”, sementara organisasi berdasarkan
13
pandangan ”subjektif” menekankan pada ”proses”, komunikasi disini lebih daripada
sekedar alat, ia adalah cara berpikir.
Konsep ”makna” adalah relevan dan penting untuk membedakan antara
perspektif fungsionalis ( objektif ) dan perspektif interpretif ( subjektif ) mengenai
komunikasi organisasi. Suatu citra komunikasi yang menempatkan ”makna” dalam
pesan akan menimbulkan perilaku yang mengabaikan ”orang”. Hal ini ditunjukkan
bahwa makna suatu pesan ada pada penerima dan dinegosiasikan antara para
peserta.
Makna muncul dan berkembang dalam interaksi yang berlangsung,
hubungan antara para peserta juga konteksnya, akan menentukan apa makna kata –
kata yang bersangkutan. Fokus perhatiannya adalah pada transaksi verbal dan
nonverbal yang sedang terjadi, proses tersebut layaknya seperti ”memahat makna
bersama”. Perspektif interpretif ( subjektif ) menekankan peranan ”orang – orang”
dan ”proses” dalam menciptakan makna. Makna tersebut tidak hanya pada orang,
namun juga dalam ”transaksi” itu sendiri15.
2.2.
Peran, Fungsi, Tugas dan Posisi Public Relations
International Public Relations Association ( IPRA ) menyatakan bahwa
hubungan
masyarakat
merupakan
suatu
fungsi
management
( management function ). Hal ini menunjukkan bahwa hubungan masyarakat bukan
alat management yang dapat diadakan, dipindahkan, dan ditiadakan, melainkan
fungsi yang melekat menjadi satu dengan management. Dimana ada management,
15
Putnam Linda. “The Interpretive Perspective: An Alternative to Functionalism, “Communication
And Organizations: An Interpretive Approach, Linda L. Putnam dan Michael Pacanowsky, ed.
Beverly Hills, Calif.: Sage, 1983, dalam Komunikasi Organisasi: Strategi Meningkatkan Kinerja
Perusahaa, R. Wayne Pace and Don F. Faules, Editor : Deddy Mulyana.
14
di situ ada hubungan masyarakat dan gaya yang menggerakkan serta menjalankan
hubungan masyarakat tersebut ialah komunikasi. PR adalah fungsi management,
karena PR dalam melaksanakan kegiatannya
yang terencana tersebut, tentu
berhubungan dengan tujuan atau goal suatu organisasi. Intinya ialah untuk
menciptakan dan memelihara saling pengertian, sehingga eksistensi perusahaan
akan selalu didukung di tengah masyarakat16.
Sedangkan pendapat lain Frank Jefkins mendefinisikan Public Relations
adalah semua bentuk komunikasi yang terencana baik kedalam maupun keluar
antara sebuah organisasi dengan semua khalayaknya atau publiknya dalam rangka
mencapai tujuan-tujuan spesifik yang berlandaskan saling pengertian17.
Sedangkan menurut Cutlip, Center, and Broom Public Relations adalah
fungsi manajemen yang membangun dan mempertahankan hubungan yang baik dan
bermanfaat antara organisasi dengan publik yang mempengaruhi kesuksesan atau
kegagalan organisasi tersebut18.
Beberapa ahli menyebutkan bahwa Public Relations merupakan suatu
profesi yang dimana syarat akan keahlian dalam menjalankan peran dan
tanggungjawabnya. Peran tersebut terbagi kedalam empat klasifikasi khusus antara
lain : expert preciber, communication facilitator, problem solver, and
communication technician. Dan dapat disimpulkan bahwa peran expert presciber,
communication facilitator, dan problem solver merupakan keseluruhan peran yang
dapat mewakili peran-peran stratejik dari kemampuan manajerial yang ada.
Konsekuensinya, keempat peran tersebut akan tidak efektif jika dua kategori dari
16
Onong Uchjana Effendy. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, (Bandung : Remaja Rosdakarya,
1992), hal 135.
17
Frank Jefkins. Public Relations edisi kelima, 2003 hal 9 PT. Erlangga, Jakarta.
18
Cutlip, Scott. M, Center, Allen. H, and Broom, Glen. M, 2006 hal 6 Effective Public Relations.
Edisi kesembilan, Jakarta : Prentice Hall, Indeks Kelompok Gramedia, Jakarta.
15
aktivitas kerja seorang manajer dan tekhnisinya tidak berjalan dengan baik. Namun,
penyelidikan sementara dari beberapa ahli menyarankan bahwa peran ketiga yaitu
the agency role. Dimensi peran ketiga ini termasuk kedalam banyak jenis pekerjaan
yang mengandalkan peran expert presciber, tetapi tidak untuk aktivitas pekerjaan
yang ada dalam peran tekhnisi19.
Menurut Edward L. Bernay, terdapat beberapa fungsi utama PR, yakni 20 :
1.
Memberikan penerangan kepada masyarakat.
2.
Melakukan persuasi untuk mengubah sikap dan perbuatan masyarakat
secara langsung.
3.
Berupaya untuk mengintegrasikan sikap dan perbuatan suatu badan atau
Lembaga sesuai dengan sikap dan perbuatan masyarakat atau sebaliknya.
4.
Menunjang kegiatan manajemen dan mencapai tujuan organisasi.
5.
Menciptakan
komunikasi
dua
arah
secara
timbale
balik
dengan
menyebarkan informasi dari perusahaan kepada publik dan menyalurkan
opini publik pada perusahaan.
6.
Melayani publik dan memberikan nasihat kepada pimpinan perusahaan
untuk kepentingan umum.
7.
Membina hubungan secara harmonis antara organisasi dan publik baik
internal maupun eksternal.
19
Eichhorn C.K. 2007, Cognitive Communication Competence Within Public Relations
Practitioners : Examining Gender Differences BetweenTechnicians and Managers, Public
Relations Review 33. P. 77-83.
20
Rosady Ruslan. Management Public Relations & Media Komunikasi Konsepsi dan Aplikasi Edisi
Revisi.
16
Toth mengemukakan fungsi PR profesional bagi manajemen yaitu sebagai
seorang manajer yang bertanggungjawab, berpengalaman, dan memiliki wawasan
yang luas dalam keterampilannya berkomunikasi. Ketegasan dalam berkomunikasi,
memiliki design program manajemen yang jelas, melakukan berbagai meeting baik
dengan pers, eksekutif maupun dengan berbagai klien perusahaan. Memiliki
keterampilan dalam bernegosiasi serta interpersonal relationship yang efektif.
Karena keterampilan berkomunikasi yang baik amat sangat penting dan diperlukan
sekalipun pada peran PR tekhnisi, baik dari mulai menyebarkan atau
menyampaikan pesan, menulis, meng-edit, sampai pada memproduksi suatu pesan,
menjalin hubungan dengan media serta mengimplementasikan beberapa keputusan
stratejik yang dibuat bersama dengan tim. Akan tetapi yang tidak kalah pentingnya
ialah PR disini harus bertindak sebagai seorang manajer, karena manajer dan
tekhnisi merupakan bagian dari kategori praktisi PR yang seutuhnya.
Perkembangan profesionalisme Public Relations yang berkaitan dengan
pengembangan peranan PR, baik sebagai praktisi maupun profesional dalam suatu
organisasi atau perusahaan menurut Dozier D.M merupakan salah satu kunci untuk
memahami fungsi Public Relations dan komunikasi organisasi. Oleh karena itu, PR
dituntut untuk dapat melaksanakan peran sebaik mungkin.
Peranan Public Relations dalam suatu organisasi dapat dibagi dalam empat
kategori yaitu21:
1.
Penasehat Ahli ( Expert Prsciber )
Praktisi PR dalam hal ini, harus memiliki kemampuan untuk mencari,
memecahkan, dan mengatasi solusi atau persoalan dalam penyelesaian
21
Cutlip, Center, and Broom op cit., 2006 hal 46-47.
17
masalah yang tengah dihadapi oleh organisasi, khususnya yang berhubungan
dengan publik ( Public Relationship ).
2.
Fasilitator Komunikasi ( Communication Fasilitator )
Dalam hal ini, praktisi PR bertindak sebagai komunikator atau mediator
untuk membantu pihak management dalam hal mendengarkan apa yang
diinginkan dan diharapkan oleh publiknya.
3.
Fasilitator Proses Pemecahan Masalah ( Problem Solving Process
Facilitator )
Proses pemecahan persoalan Public Relations ini merupakan bagian dari tim
management. Maksudnya, PR diharapkan dapat membantu pimpinan
organisasi baik sebagai penasihat ( adviser ), hingga mengambil tindakan
eksekusi ( keputusan ) dalam mengatasi persoalan atau krisis yang tengah
dihadapi secara rasional.
4.
Teknis Komunikasi ( Communication Technician )
Peranan Communication Technician ini, menjadikan praktisi PR sebagai
Journalist in Resident yang hanya menyediakan layanan teknis komunikasi
atau dikenal dengan Methode of Communication in Organization.
Untuk mendukung keprofesionalan PR dalam melaksanakan fungsi serta
perananya sebagai pencipta image positif perusahaan, hendaklah didukung dengan
pelaksanaan tugas yang profesional juga. Tugas yang dilaksanakan oleh PR
18
berhubungan erat dengan peran, serta fungsi PR. Adapun tugas-tugas tersebut
meliputi22 :
1.
Menginterpretasikan, menganalisis & mengevaluasi kecenderungan perilaku
Publik.
2.
Membina sikap mental karyawan, agar dalam diri mereka tumbuh ketaatan,
kepatuhan dan dedikasi terhadap lembaga atau perusahaan dimana mereka
bekerja.
3.
Menumbuhkan semangat corp atau kelompok yang sehat dan dinamis.
4.
Mendorong tumbuhnya kesadaran lembaga atau perusahaan.
5.
Mengusahakan tumbuhnya sikap dan citra ( image ) publik yang positif
terhadap segala kebijakan dan langkah-langkah organisasi atau perusahaan.
Toth et al. identified the following as work activities in the managerial
based roles of manager and agency : planning and managing public relations
programs, implementing new programs, planning and managing budgets,
evaluating program results, counseling management, and supervising the work of
others. Technician activities included disseminating messages, writing, editing, and
producing messages, making media contacts and implementing the decisions made
by others23.
Setelah melihat peran, fungsi dan tugas PR dapat disimpulkan bahwa PR
yang ideal ialah PR yang memiliki fungsi sebagai fungsi komunikasi, memiliki
peran manajerial, dalam hal ini PR harus ditempatkan di leher organisasi agar ia
dapat diikutsertakan dalam proses pengambilan keputusan. Selain itu, PR juga harus
22
23
Rhenald, Kasali. Management Public Relations. Penerbit Grafiti, Jakarta, 1999.
James E. Grunig and Todd Hunt. op cit., 1984.
19
mampu memberikan advice dan mampu menjembatani komunikasi baik antar top
management, low management, sesama level, maupun antar departemen. Dari hasil
penelitian terlihat bahwa CEO sangat mengharapkan PR untuk dapat : (1) Menjadi
mediator organisasi untuk membantu manajemen dan publik dalam menegosiasikan
konflik. (2) Mengubah attitude dan behavior manajemen dan publik. (3)
Membangun hubungan yang mutual antara organisasi dan publiknya. Sehingga
kompetensi PR harus benar-benar mengacu pada semua hal diatas24.
2.3.
Kompetensi Komunikasi (Communication Competence) Public Relations
Dalam menyusun atau merekonstruksi sebuah departement PR di suatu
perusahaan. Biasanya para CEO memulainya dengan menilai ukuran tim yang
dibutuhkan, jumlah anggotanya, dan pada tingkatan apa. Hal tersebut guna
mencapai
keseimbangan
antara
perencanaan
strategis,
implementasi,
dan
keterampilan pendukungnya. Tidak hanya itu, jenis pengalaman dan spesialisasi
yang diinginkan juga masuk dalam pertimbangan ini. Selain itu, perusahaan juga
mempertimbangkan profil usia yang ideal untuk memberi keseimbangan yang
memuaskan di dalam tim yang memperhitungkan kemungkinan pengembangan
karir dan sukses di kemudian hari.
Ada beberapa faktor yang menjadi pertimbangan perusahaan, dalam
penyusunan tim departement PR antara lain :
1. Ukuran dan cakupan tugas
2. Spesialisasi dan pengalaman
24
David M. Dozier, “The Organizational Roles of Communications and Public Relations
Practitioners,” in James E. Grunig, David M. Dozier, William P. Ehling, Larissa A. Grunig, Fred
C. Repper, and Jon White (eds), Excellence in Public Relations and Communication Management
(Hillsdale, NJ : Lawrence Erlbaum Associates, 1992), pp. 327-355.
20
3. Keseimbangan sumber daya internal / eksternal
4. Tingkat input strategik lawan implementasi
Semua faktor itu akan dipengaruhi oleh kondisi alamiah organisasi
/ perusahaan, dan digerakkan oleh tanggungjawab dan sasaran dari departement.
Biasanya beberapa CEO di suatu perusahaan, lebih memperhitungkan pengalaman
sektoral dan kontak dasar yang ada dalam merekrut staff, karena hal ini dapat
memberikan sejumlah keuntungan. Namun demikian, biasanya perusahaan jauh
lebih penting untuk memilih individu berkualitas paling tinggi dengan
keseimbangan keahlian yang tepat. Biasanya CEO dalam suatu perusahaan
cenderung merekrut dan membentuk tim departement PR berdasarkan kategorisasi
tingkat keahlian dan pengalaman yang bersifat umum dan khusus, seperti : PR
bagian investor relations, PR bagian government relations, PR bagian media
relations dsb25.
Spitzberg and Cupach‟s mengemukakan tentang kompetensi komunikasi
yang merupakan gabungan dari tiga komponen penting yang terdiri dari
pengetahuan, motivasi, keterampilan dan konteks komponen lain seperti pola
interaksi, norma, beserta aktivitas dari jenis-jenis pola hubungan komunikasi yang
ada. Komponen-komponen tersebut sangat penting untuk dipahami dan dimengerti
dalam penerapan kompetensi PR disuatu organisasi dan perusahaan26.
25
26
Frank Jefkins. Kualifikasi Profesi PR, 1988 : 36-39.
Ann Laura Janusik. op cit., 2004.
21
Lebih lanjut Ann Laura Janusik mengungkapkan mengenai hal tersebut,
antara lain27 :
a. Communication Knowledge
The
next
major
component
of
the
competence
model
is
knowledge…….Questions were generated addressing the three major dimensions
of competence pinpointed in this research : emphaty, adaptability, and interaction
management. Bentuk kualifikasi ini, menggambarkan bahwa PR memiliki
pengetahuan untuk berkomunikasi, beradaptasi serta pengetahuan tentang
bagaimana mengatur komunikasi dalam berinteraksi ( Management Interaction ).
Dalam hal ini, PR dapat memahami bagaimana metode yang efektif pada saat ia
melakukan proses komunikasi dengan pihak lain baik di suatu organisasi maupun
dalam interaksi sosialnya sehari-hari. Mulai dari two way communication, one way
communication, komunikasi organisasi dsb.
Metode tersebut tentunya, disertai oleh kemampuan beradaptasi dan
management interaction yang baik. Karena hal tersebut juga merupakan suatu
jembatan bagi PR untuk dapat mewujudkan suatu kerangka pemikiran ( Frame of
Reference & Field of Experience ) yang selaras dalam proses komunikasi yang
berlangsung.
b. Communication Skill
Empirically grounded, a priori skills can serve as the building blocks for
assessing employee competence. The skill scale has three dimensions: empathy,
adaptability, and interaction management. The scale measures an employee‟s
27
Ann Laura Janusik. Ibid., 2004.
22
sactual communication skill level as judged by a supervisor because supervisors
exert the most influence on evaluations of job performance.
Dalam aspek keilmuan komunikasi merupakan induk ilmu dari bidang PR,
sedangkan dalam dunia PR komunikasi merupakan tulang punggung ( backbone )
dalam melakukan berbagai programnya.
Keterampilan berkomunikasi mencakup keterampilan untuk berempati
( Skill of Empathizing ), keterampilan untuk beradaptasi ( Knowledge to
adaptability ), dan keterampilan untuk mengelola interaksi. Kesemua hal itu dapat
dikatakan sebagai Communication is Practise or Communication is Art
( komunikasi praktis atau seni berkomunikasi ) yang mutlak dimiliki oleh seorang
PRO. Sehingga mereka mampu berpikir jernnih dan bersikap positif dalam
mengantisipasi masalah serta menciptakan networking ( jaringan ) dengan berbagai
pihak yang berkaitan dengan penyusunan dan pelaksanaan rencana kegiatan
organisasi / perusahaan yang bersangkutan.
c. Communication motivation
The motivation component is conceptualized as one‟s willingness to
approach or avoid communicative interactions. The most salient skills to
competence were narrowed to empathy, adaptability, and interaction management,
so a motivation scale was designed to measure employees‟ willingness to extend
empathy, manage interactions, and adapt communication within the organization.
Motivasi berkomunikasi pada dasarnya mencakup motivasi untuk berempati
( Skill of Emphatizing ), motivasi untuk dapat beradaptasi ( Knowledge to
Adaptability ), dan motivasi untuk membangun interaksi ( Interaction
23
Management ). Dalam hal ini, motivasi merupakan dorongan psikologis yang
mengarahkan PR ke arah suatu tujuan yaitu efektifitas komunikasi.
Motivasi inilah yang membuat keadaan dalam diri PR itu sendiri muncul
secara terarah dan mempertahankan perilaku untuk tetap memiki dorongan
( driving force ) untuk melaksanakan sesuatu. Sehingga PR disini tidak hanya
memiliki keterampilan dan pengetahuan saja, tetapi juga memiliki kemampuan
teknik untuk menciptakan situasi yang berupa motivasi / dorongan untuk berbuat
dan berperilaku sesuai dengan communication competence PR dalam menciptakan
suatu pemahaman proses komunikasi yang efektif.
Sedangkan
dimensi
yang
digunakan
untuk
mengukur
kompetensi
komunikasi, antara lain : pengetahuan berkomunikasi, keterampilan berkomunikasi
serta sikap atau perilaku berkomunikasi. Pengetahuan itu sendiri mencakup
pengetahuan bagaimana dan apa yang harus ia lakukan dalam menghadapi satu
kondisi dan situasi tertentu, bagaimana cara ia memulai suatu proses komunikasi
yang efektif dalam apapun situasi dan kondisi yang ia hadapi.
Sedangkan keterampilan mencakup bagaimana ia menerapkan atau
mengimplementasikan pengetahuan yang ia miliki dalam berkomunikasi dengan
teknik dan cara yang terampil. Sehingga dalam hal ini tidak hanya tercipta
hubungan komunikasi yang efektif tetapi juga mengandung keunikan tersendiri.
Untuk sikap dan perilaku berkomunikasi hal ini mencakup bagaimana sikap
seseorang dalam berkomunikasi baik verbal terutama nonverbalnya. Namun,
beberapa dari para ahli berpendapat bahwa memang aspek kognitif (pengetahuan)
dan behavior merupakan kedua unsur yang penting dalam penerapan kompetensi
seseorang.
24
Disisi lain Wolvin dan Cookley juga menambahkan bahwa terdapat
komponen sikap yang terpenting dalam penerapan kompetensi komunikasi. Sikap
yang dimaksud ialah sikap perilaku verbal dan nonverbal dalam menghadapi situasi
komunikasi. Bagaimana perilaku verbal dan nonverbal dapat diterapkan dengan
baik dalam melakukan serta menjalin komuniksi dengan partner yang kita hadapi28.
Menurut Ann Laura terdapat lima dimensi kompetensi interpersonal yang
sesungguhnya dari sosok PR, antara lain : kompetensi umum (pengetahuan,
keterampilan & motivasi), empati, dukungan affiliasi, memiliki fleksibilitas dalam
bersikap dan berperilaku serta memiliki jiwa sosialisasi yang tinggi29.
Pada umumnya, setiap perusahaan mempunyai prinsip bahwa siapa pun
yang bekerja dalam dunia PR, membutuhkan adaptasi yang cepat dengan
organisasi. Karena keterlibatan mereka dalam penanganan permintaan. Banyak
kecakapan utama dalam pekerjaan PR yang juga berlaku bagi staff pendukung
lainnya.
Akurasi hasil kerja merupakan hal yang terpenting, karena hasil-hasil
tersebut seringkali menjadi sorotan publik. Kehandalan fleksibilitas dan minat nyata
dalam organisasi serta peran mereka sendiri di dalamnya merupakan atribut lain
yang vital.
Secara umum dapat disimpulkan bahwa lingkup behavior seorang PR
mencakup kemampuan untuk berperilaku secara etis, yaitu memiliki perilaku, sikap,
etika moral dan tata krarma ( etiket ) yang baik ( Good Moral and Good Manner )
dalam bergaul atau berhubungan dengan pihak lain ( Social Contact ).
28
29
Ann Laura Janusik. Ibid., 2004.
Ann Laura Janusik. Ibid., 2004.
25
Termasuk memperhatikan hak-hak pihak lain dan dengan menghormati
pendapat atau menghargai martabat orang lain. Sebagai contoh : sikap kejujuran
yang mutlak menjadi landasan profesi Public Relations, karena aspek ini dapat
membentuk kredibilitas ( kepercayaan ) orang lain terhadap PRO maupun
perusahaan tempat PRO itu bekerja. Sedangkan untuk aspek kognitif biasanya
mencakup kemampuan PR untuk berpikir secara etis dan mempertimbangkan
tindakan profesi atau dalam mengambil keputusan harus berdasarkan pertimbangan
rasional, objektif, dan penuh dengan integritas pribadi serta tanggung jawab yang
tinggi30.
Sebagai contoh : profesi PR haruslah seseorang yang penuh dengan gagasan
atau ide-ide, mampu memecahkan problem yang dihadapi, mampu menyusun
rencana yang orisinil dan dapat mengembangkan imajinasi untuk melahirkan
kreativitas kerjanya. Kreativitas ini, bisa mencakup berbagai kegiatan seperti
mengelola berbagai special event PR ( pameran, workshop, seminar, press
conference dan lainnya ), pembuatan House Jurnal ( media penerbitan PR ), krisis
management dan lain sebagainya. Semua itu diperlukan pengamatan yang tajam,
persepsi yang baik serta pemikiran yang orisinal dan perhatian yang penuh dalam
mencari peluang, dimana kesemua hal tersebut harus dalam kaitan pola
komunikasi31.
2.4.
Gender Public Relations dalam Organisasi
Gender dalam stereotype yang muncul pada umumnya merupakan
sekumpulan nilai atau ketentuan yang membedakan identitas sosial laki-laki dan
30
31
Onong, Uchjana Effendy. op cit., 1992 hal 177.
Frank Jefkins. op cit., 1988 hal 36-39.
26
perempuan, serta apa yang harus dilakukan oleh perempuan dan apa yang harus
dilakukan oleh laki-laki baik dalam hal ekonomi, politik, sosial, dan budaya dalam
lingkup kehidupan keluarga, masyarakat, dan bangsa32.
Gender merupakan suatu cirri yang melekat pada kaum laki-laki maupun
perempuan yang dikonstruksikan secara sosial maupun kultural. Nilai-nilai atau
ketentuan gender tersebut dapat berbeda-beda pada konteks tertentu. Selain itu,
ketentuan gender juga bisa berubah dari waktu ke waktu, tergantung pada
perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat, oleh karenanya gender bersifat
relatif33.
Sedangkan gender berdasarkan jenis kelamin merupakan kategori biologis
perempuan atau laki-laki, dan ini menyangkut sejumlah kromosom, pola genetik
dan struktur genital yang unik di masing-masing jenis. Jenis kelamin merupakan
sesuatu yang dibawa sejak lahir, sering dikatakan sebagai ketentuan dari tuhan atau
kodrat, sehingga hal ini tidak bisa dirubah atau dipertukarkan satu dengan yang
lainnya34. Pada dasarnya gender sebagai implikasi dari sex difference memiliki
beberapa kandungan nilai-nilai yang memang secara alamiah telah melekat pada
diri seorang perempuan dan laki-laki, oleh karenanya pemahaman nilai secara
umum dapat dikatakan sebagai :
32
Brett, A., 1991, Why Gender is a Development ?, dalam buku Changing Perceptions:Writing on
Gender and Development, Tina Wallace ( ed ), London.
33
Faqih, M., 1996, Menggeser Konsepsi Gender dan Transformasi Sosial, Pustaka Peljar,
Yogyakarta.
34
Ihromi, T., 1997, Wanita dan Perubahan Kebudayaan, Isu-isu Wanita dalam Pengkajian
Antropologi Budaya ( Makalah dalam Widyakarya Nasional Antropologi dan Pembangunan ),
Jakarta.
27
“Value is an enduring belief that a specific mode of conduct or end-state of
existence is personally or socially preferable to an opposite or converse mode
of conduct or end-state of existence.35”
“Value is a general beliefs about desirable or undesireable ways of behaving
and about desirable or undesireable goals or end-states.36”
“Value as desireable transsituatioanal goal, varying in importance, that serve
as guiding principles in the life of a person or other social entity.37”
Dari ketiga definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa nilai merupakan
(1) suatu keyakinan, (2) berkaitan dengan cara bertingkah laku atau tujuan akhir
tertentu, (3) melampaui situasi spesifik, (4) mengarahkan seleksi atau evaluasi
terhadap tingkah laku, individu, dan kejadian-kejadian, serta (5) tersusun
berdasarkan derajat kepentingannya. Sehingga bisa disimpulkan bahwa nilai ialah
suatu keyakinan mengenai cara bertingkah laku dan tujuan akhir yang diinginkan
individu, serta digunakan sebagai prinsip atau standar dalam hidupnya. Pemahaman
tentang nilai tidak terlepas dari pemahaman tentang bagaimana nilai itu terbentuk,
nilai disini merupakan representasi kognitif dari tiga tipe persyaratan hidup manusia
yang universal, yaitu38 :
1.
Kebutuhan individu sebagai organisme biologis.
2.
Persyaratan interaksi sosial yang membutuhkan koordinasi
interpersonal.
35
Rokeach, M. 1973. The Nature of Human Values. New York : The Free Press.
Feather, N. T. 1994. Values and Culture. Dalam Lonner, Walter J.;Malpass, Roy S. ( ed ),
Psychology and Culture ( hal : 183-189 ). Massachusetts : Allyn & Bacon.
37
Schwartz, S. H. 1994. Are There Universal Aspects in the Structure and Contents of Human
Values ? Journal of Social Issues, 50, 19-46.
38
Schwartz & Bilsky Ibid., 1987, 1992, 1994 hal 19-46.
36
28
3.
Tuntutan institusi sosial untuk mencapai kesejahteraan kelompok dan
Kelangsungan hidup kelompok.
Nilai berasal dari tuntutan manusia yang universal sifatnya yang
direfleksikan juga dalam kebutuhan organisme, motif sosial ( interaksi ), dan
tuntutan institusi sosial. Ketiga hal tersebut membawa implikasi terhadap nilai
sebagai sesuatu yang diinginkan, dan sesuatu yang diinginkan itu dapat timbul dari
minat kolektif atau berdasarkan prioritas pribadi atau individual bahkan mungkin
kedua-duanya. Nilai individu biasanya mengacu pada kelompok sosial tertentu atau
disosialisasikan oleh suatu kelompok dominan yang memiliki nilai tertentu atau
melalui pengalaman pribadi yang unik39.
Sebagaimana terbentuknya, nilai juga mempunyai karakteristik tertentu
untuk berubah, hal itu disebabkan karena nilai diperoleh dengan cara terpisah yaitu
dihasilkan oleh pengalaman budaya, masyarakat dan pribadi yang tertuang dalam
struktur psikologis individu.
Dalam
kehidupan
manusia,
nilai
berperan
sebagai
standar
yang
mengarahkan tingkah laku. Nilai membimbing individu untuk memasuki suatu
situasi dan bagaimana individu bertingkah laku dalam situasi tersebut. Nilai
menjadi kriteria yang dipegang oleh individu dalam memilih dan memutuskan
sesuatu.
Nilai memberi arah pada sikap, keyakinan dan tingkah laku seseorang serta
memberi pedoman untuk memilih tingkah laku yang diinginkan pada setiap
individu. Oleh karenanya nilai sangat berpengaruh pada tingkah laku sebagai
dampak dari pembentukan sikap dan keyakinan, sehingga dapat dikatakan bahwa
39
Feather. op cit., 1994 hal 183-189.
29
nilai merupakan faktor penentu dalam berbagai tingkah laku sosial dan telah
terbukti secara signifikan bahwa perubahan nilai menyebabkan perubahan pula
pada sikap dan tingkah laku individu dalam memilih serta memutuskan suatu hal40.
Makna nilai (value) lebih menyangkut pada aspek objektifitas ilmiah.
Sedangkan nilai-nilai atau Cultural Value lebih banyak menyangkut kepada
kepemilikan bersama anggota masyarakat pada baik buruknya tindakan sosial dan
perilaku dalam melakukan relasi dan interaksi seseorang dengan orang lain41.
Terdapat dua macam nilai dalam kaitannya dengan gender antara lain nilai
yang dilekatkan pada perempuan atau yang disebut dengan feminist value dan
nilai yang dilekatkan pada laki-laki atau yang disebut dengan maskulin value. Sha
argued that feminization would make Public Relations more ethical in appearance
and practice. Larissa Grunig, Dozier, and Rakow have suggested the prevalence of
women would introduce characteristics such as collaboration, sensitivity towards
audiences, and better two way communication. Grunig et al. argue that Public
Relations is an industry founded on feminist values, such as honesty, justice, and
sensitivity, which enhance the symmetrical communication patterns of Public
Relations. Furthermore, the two way symmetrical model of Public Relations
requires resolving conflict and building relationships, which they indicate are
intrinsically „feminine‟ values. Aldoory argued that only four specialist industry
areas were significantly more male than female-oriented, and those specialties
entailed areas of expertise that were traditionally male-dominated: technology,
finance, sports, and industry42.
40
Rokeach. op cit., 1973.
Garna, K. Yudhistyra, 1999, Sosiologi, Teori & Konsep, PPS, UNPAD : Bandung.
42
B.L. Sha, (1999). Cultural Public Relations : identity, activism, globalization, and gender in the
Democratic Progressive party on Taiwan. Unpublished doctoral dissertation, University of
Maryland, College Park.
41
30
Berdasarkan stereotype yang ada dikatakan bahwa pemimpin perempuan
bersifat multiperan serta mampu memperjuangkan nasib karyawan. Perempuan
lebih memiliki passionate serta mampu memimpin dengan hati. Wanita biasanya
mempunyai emosi yang lebih kuat daripada logika. Sehingga menyebabkan
kesulitan dalam pengambilan keputusan, kalaupun mengambil keputusan kerap kali
memakan waktu yang relatif lama.
Biasanya perempuan kerap kali mencampurkan persoalan pekerjaan menjadi
persoalan pribadi, perempuan juga lebih menggunakan manipulasi kewanitaan
untuk mencapai sasaran Selain itu, mereka juga sangat identik dengan kehati-hatian,
kerapian, mampu bersimpati terhadap orang lain, lebih detail terhadap suatu hal,
bersedia mendengarkan, lebih sensitive (peka) terhadap lingkungan, serta lebih
intensif dalam menjalin hubungan dengan relasinya.
Sedangkan laki-laki lebih identik dengan logika yang lebih kuat daripada
emosi sehingga lebih cepat dalam mengambil keputusan, laki-laki cenderung lebih
tegas, agak tertutup, kurang mendetail terhadap hal-hal kecil. Tidak hanya itu,
mereka juga cenderung memiliki sifat berani, recognition, advancement, challenge,
& employment security.
Masalah laki-laki dan perempuan menjadi penting disini karena berdasarkan
penelitian dari para ahli, dapat dikatakan bahwa dimensi budaya diantara keduanya
akan mempengaruhi proses komunikasi dan fungsi komunikator dalam organisasi /
perusahaan.
Berdasarkan
hal
diatas,
Smith
mengemukakan
tentang
partisipasi
perempuan di perusahaan : One of the central issues Grunig (and others) raise in
respect of industry feminization is what effect women‟s increased participation has
or will have on the industry as a whole : If women become the majority in public
31
relations, the practice will be typecast as “women‟s work”. It will lose what clout it
now has as a management function and become a second-class occupation. In the
process, gains made over 50 years to build and sustain the value of public relations
will disappear (Bates, 1983, cited in Grunig et al., 2001)43.
Berdasarkan nilai-nilai yang ada, pasalnya perempuan lebih condong pada
industri nonmanufaktur sedangkan laki-laki lebih kepada industri manufaktur.
Padahal sudah tidak ada lagi batasan bagi perempuan dan laki-laki untuk dapat
bekerja baik pada industri manufaktur maupun nonmanufaktur. Karena pada saat
ini, masalah gender tidak lagi menjadi isu penting dalam kepemimpinan baik itu
laki-laki maupun perempuan. Yang kini lebih mengemuka ialah bagaimana cara
mereka dalam memimpin dan multiperannya.
Namun tetap saja struktur budaya, kondisi psikologi perempuan, dan
interpretasi keagamaan masih merupakan faktor-faktor penentu yang secara
dialektik saling tarik-menarik dalam membentuk pandangan, keyakinan, dan
kebiasaan dalam memposisikan laki-laki dan perempuan baik didalam organisasi
maupun masyarakat.
Sehingga kondisi tersebut menyebabkan timbulnya berbagai bentuk
manifestasi dalam stereotype nilai genderisasi perempuan itu sendiri, antara lain :
1.
Marjinalisasi
Marjinalisasi merupakan proses pemiskinan bagi kaum perempuan yang
disebabkan karena perbedaan gender. Proses marjinalisasi adalah proses pemiskinan
bagi kaum perempuan, yang sesungguhnya terdapat dalam masyarakat dan Negara
yang membuahkan kemiskinan yang pada akhirnya juga menimpa kaum laki-laki,
43
Greg Smith, 2005 p:5, Comentary : A Few Good Men : Gender Balance in The Western
Australian Public Relations Industry. Prism 3, at http: // praxis.massey.ac.nz.
32
seperti proses eksploitasi. Ada beberapa macam perbedaan bentuk, tempat, dan
waktu serta mekanisme proses marjinalisasi kaum perempuan akibat dari perbedaan
gender tersebut. Marjinalisasi kaum perempuan tidak saja terjadi di tempat
pekerjaan, namun pengaruhnya sampai di rumah tangga, di masyarakat dan bahkan
negara.
Fakta dalam masyarakat, pada sebuah rumah tangga perempuan sebagai
pengelola keuangan, sementara laki-laki pencari nafkah. Di masyarakat, laki-laki
tidak pantas membelanjakan kebutuhan domestik, karena laki-laki adalah sebagai
penghasil44.
2.
Subordinasi
Subordinasi perempuan merupakan kondisi dimana perempuan menjadi
bawahan dari kekuasaan laki-laki. Setiap keputusan yang dibuat senantiasa menjadi
hak laki-laki. Pandangan gender ternyata bisa menimbulkan subordinasi terhadap
perempuan. Adanya anggapan bahwa perempuan itu irasional, emosional, sehingga
ia tidak bisa memimpin dan oleh karena itu, harus ditempatkan pada posisi yang
tidak penting.
Fakta dalam masyarakat, perempuan hanya sebagai pencari nafkah
sampingan, pengambilan keputusan perempuan selalu dikalahkan. Penempatan
perempuan dalam kehidupan sosial lebih rendah, dalam pendidikan-pun perempuan
tidak begitu diperhatikan.
44
Sri Lestari Yuwono. “Konsep Gender”, dalam Sosialisasi Gender Bagi Praktisi Muda Film dan
TV”, Hotel Menara Peninsula, 17 Oktober 2001.
33
3.
Kekerasan ( Violence )
Kekerasan merupakan serangan atau invasi ( Assault ) terhadap fisik
maupun integritas mental psikologis seseorang terhadap semua manusia. Salah satu
kekerasan terhadap satu jenis kelamin tertentu disebabkan oleh anggapan gender.
Kekerasan yang disebabkan oleh karena bias gender ini disebut “ Gender-Related
Violence”. Kekerasan gender pada dasarnya disebabkan oleh ketidakselarasan
kekuasaan yang ada di dalam masyarakat.
4.
Beban Kerja ( Double Burden )
Ada anggapan bahwa kaum perempuan bersifat mengasuh, memelihara, dan
rajin, sehingga hal tersebut membawa akibat kesemua pekerjaan domestik rumah
tangga yang menjadi tanggungjawab kaum perempuan, belum lagi tanggungjawab
pada lingkup pekerjaan dimana ia bekerja45.
45
Fakih Mansour. op cit., 1997 hal 13.
34
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1.
Tipe Penelitian
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan tipe penelitian deskriptif dengan
pendekatan
kualitatif.
Yang
merupakan
suatu
bentuk
penelitian
untuk
mendeskripsikan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena alamiah maupun
fenomena buatan manusia. Fenomena itu bisa berupa bentuk, aktivitas,
karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan, dan perbedaan antara fenomena
yang satu dengan fenomena lainnya46.
Penelitian ini, pada dasarnya dirancang untuk memperoleh informasi atau
gambaran tentang status suatu gejala atau fenomena apa adanya dengan cara
menelaah secara teratur, ketat dan dilakukan secara cermat
saat penelitian
dilakukan, sehingga tidak ada perlakuan yang diberikan atau dikendalikan terhadap
objek penelitian yang bersangkutan47. Dari tipe penelitian deskriptif inilah maka,
penulis akan mengeksplorasi dan mengklarifikasi mengenai suatu fenomena atau
kenyataan sosial dengan mendeskripsikan sesuatu yang berkenaan dengan masalah
dan unit yang akan diteliti khususnya mengenai pandangan CEO pada nilai gender
dan kompetensi komunikasi SDM PR di perusahaan PT. Freeport Indonesia Jakarta.
Ada beberapa alasan utama mengapa pendekatan kualitatif dianggap lebih
tepat digunakan untuk mencapai tujuan penelitian ini. Pertama, penelitian ini
dimaksudkan untuk memahami permasalahan distribusi kerja dalam setting
46
47
Sukmadinata. (2006:72). Metode Penelitian dalam Pendidikan. Bandung : Rosdakarya.
Furchan, A. (2004:447). Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
35
alamiahnya, dan menginterpretasikan fenomena tersebut berdasarkan pemaknaan
yang diberikan informan. Kedua, realita bersifat multidimensi dan merupakan
akibat dari kompleksitas situasi yang beragam. Oleh karena itu, kajian terhadap
sebuah fenomena harus dilakukan dengan menganalisa konteks yang mengitarinya,
dan ini hanya mungkin dilakukan dengan pendekatan kualitatif48.
Penelitian ini dilaksanakan di kantor cabang PT.Freeport Indonesia yang
berlokasi di Jakarta, dengan mengikutsertakan para CEO-nya sebagai narasumber
atas penelitian yang akan diteliti. Subyek pada penelitian ini terdiri dari para CEO
dan karyawan yang berada pada divisi PR ( Corporate Communication ) di
perusahaan yang bersangkutan.
3.2.
Metode Penelitian
Penelitian ini pada dasarnya berangkat dari suatu peristiwa atau fenomena
dengan analisis berspektif gender, serta mencoba melakukan pengujian terhadap
suatu latar atau suatu peristiwa tertentu. Sehingga terfokus pada metode penelitian
studi kasus yang didasarkan pada batasan-batasan tertentu seperti : sasaran
penelitian yang berupa manusia / peristiwa / latar dll, sasaran-sasaran tersebut
ditelaah secara mendalam sebagai suatu totalitas sesuai dengan latar atau
konteksnya masing-masing49.
Studi kasus merupakan suatu metode penelitian yang senantiasa dilekatkan
pada pendekatan kualitatif yang bertujuan untuk mempertahankan keutuhan
( wholeness ) dari obyek, artinya data yang dikumpulkan dalam rangka studi kasus
48
Husein Umar. Metode Riset Perilaku Organisasi, Konsep & Etika Riset, Design, Metode dan
Tahapan Riset, Teknik Sampling dan Instrumen, Aspek Analisa Data dan Statistika, Contoh
Proposal Riset, Design dan Contoh Laporan Riset. ( Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama,
2003 ), hal 43.
49
Syamsuddin. 2006. Metode Penelitian Pendidikan Bahasa, Bandung : Remaja Rosdakarya.
36
dipelajari sebagai suatu keseluruhan yang terintegrasi, dimana tujuannya ialah
untuk memperkembangkan pengetahuan yang mendalam mengenai obyek yang
bersangkutan, yang berarti bahwa studi kasus harus disifatkan sebagai penelitian
yang eksploratif dan deskriptif.
Bagi penulis studi kasus merupakan strategi yang cocok, karena penelitian
terhadap fenomena ini berkenaan dengan “how” atau “why”, dan memiliki sedikit
peluang untuk mengontrol peristiwa-peristiwa yang akan diselidiki serta
memfokuskan penelitian pada fenomena kontemporer ( masa kini ) di dalam
konteks kehidupan nyata. Sebagai suatu upaya penelitian, studi kasus dapat
memberi nilai tambah tentang fenomena individual dan organisasi. Studi kasus
memungkinkan peneliti untuk mempertahankan karakteristik holistik dan makna
dari peristiwa-peristiwa kehidupan nyata seperti proses-proses organisasional,
managerial, perubahan lingkungan sosial dsb50.
Studi kasus juga menghendaki suatu kajian yang rinci serta mendalam dan
menyeluruh atas suatu objek tertentu yang biasanya relative kecil selama kurun
waktu dan lingkungan tertentu. Dalam penelitian studi kasus ini, suatu lembaga atau
sejumlah lembaga menjadi subyek penelitian untuk dianalisis secara mendalam,
dengan melakukan studi pengamatan. Dimana, setiap kelompok akan diteliti dan
dilaporkan, serta adanya permainan peran, yang mana para responden diminta
memainkan peran yang berbeda satu sama lain51.
Penelitian ini merupakan sebuah studi kasus untuk melihat bagaimana
pandangan CEO pada nilai gender dan kompetensi komunikasi SDM PR di
perusahaan PT. Freeport Indonesia Jakarta.
50
51
Robert K, Yin. Studi Kasus ( Design dan Metode ) Edisi Revisi, p:52.
Nurhada Adinur dkk. Perhumas Dalam Warna : Menyusun Strategi Membangun Korporasi
& Menjaga Reputasi. Jakarta : BPP Perhumas Bidang Komunikasi, 2004, hal 113.
37
3.3.
Narasumber
Adapun yang akan dijadikan penulis sebagai narasumber, antara lain :
1). Senior Communication External Outreach Institutional Relations
PT. Freeport Indonesia
Untuk posisi Senior Communication External Outreach Institutional
Relations ditempati oleh Ibu. Santi Sariesayanti. Dalam hal ini, beliau setidaknya
merasakan berbagai tantangan dan dilema yang beliau hadapi sebagai seorang
karyawan wanita yang bekerja dibidang pertambangan. Sehingga penulis dapat
melihat dan mengetahui bagaimana peran gender itu sendiri mempengaruhi
perannya sebagai sosok wanita. Selain itu, beliau juga mempunyai wewenang dan
tanggung jawab terkait dengan penempatan posisi dan pendelegasian yang ada
dalam struktur organisasi / perusahaan yang bersangkutan sehingga sudut pandang
dan interpretasinya dapat dijadikan sebagai suatu landasan yang valid untuk
menjawab fenomena yang akan diteliti.
2). Manager Corporate Communication PT. Freeport Indonesia
Untuk
posisi
Manager
Corporate
Communication
ditempati
oleh
Bpk. Budiman Moerdijat. Dalam hal ini, pandangan beliau dapat dijadikan sebagai
landasan mengenai bagaimana kompetensi komunikasi PR terkait dengan proporsi
dari pengaruh genderisasi terhadap lingkup bidang pekerjaan yang didelegasikan.
Hal ini dikarenakan beliau memiliki wewenang yang besar terhadap pendelegasian
para karyawannya, beliau juga dapat menggambarkan mengenai bagaimana dan
seperti apa pengaruh yang muncul dari kondisi seseorang terhadap konteks
pekerjaan yang dihadapi. Sehingga dianggap bisa mewakili sudut pandang terhadap
38
nilai gender dan kompetensi komunikasi SDM PR di perusahaan yang
bersangkutan.
3). Gen.Supt.Stakeholder Rel & Visitor Sp Corporate Communication
PT. Freeport Indonesia
Untuk posisi Gen.Supt.Stakeholder Rel & Visitor
Sp Corporate
Communication ditempati oleh Bpk. Mindo Pangaribuan. Dalam hal ini, sudut
pandang beliau juga dapat dijadikan landasan terhadap nilai gender dan kompetensi
SDM PR di perusahaan yang bersangkutan. Dikarenakan posisi dan kewenangan
yang dimiliki masih terkait dengan lingkup external relation, sehingga sebagai
seorang laki-laki dalam hal ini beliau bisa memberikan pernyataan mengenai
bagaimana peran dan pengaruh gendernya terhadap proporsi laki-laki dalam
menjalani fungsinya di perusahaan.
3.4.
Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, penulis akan menggunakan dua teknik pengumpulan
data yaitu melalui :
3.4.1. Data Primer
1). Wawancara Mendalam
Dalam penelitian ini, penulis akan mendapatkan data primer melalui
wawancara secara mendalam ( in depth interview ) kepada narasumber ( key
informan ) yang berkompeten dan paham terhadap fenomena nilai gender tentang
kompetensi SDM PR yakni dengan Bapak Armando Mahler selaku Direktur
39
PT. Freeport Indonesia untuk mendukung agar hasil penelitian ini menjadi
lebih valid.
3.4.2. Data Sekunder
1). Studi Kepustakaan
Dalam penelitian ini, penulis mendapatkan data sekunder melalui referensi
buku- buku wajib, studi dokumentasi, artikel – artikel, internet dan sumber lainnya,
yang berkaitan dengan penulisan skripsi.
3.5.
Definisi Konsep
3.5.1. Pandangan
Pandangan merupakan bagian dari pendapat yang didasarkan pada asumsi
atau cara pikir seseorang terhadap suatu objek atau peristiwa tertentu. Dalam hal ini
pandangan yang dimaksud ialah keseluruhan pendapat dari CEO tentang realisasi
gender antara PR laki-laki dan perempuan.
3.5.2. Nilai
Pada dasarnya terdapat kandungan nilai-nilai dalam pola genderisasi sebagai
stereotype yang berkembang di masyarakat. Nilai disini lebih mengarah kepada
sejumlah konseptual yang terbentuk dari tingkah laku manusia, disepakati dan
dipahami bersama dalam mengatur pola interaksi dan perilaku masyarakatnya.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai merupakan suatu keyakinan mengenai cara
bertingkah laku dan tujuan akhir yang diinginkan individu. Biasanya nilai
digunakan sebagai prinsip atau standar dalam hidup sosial di masyarakat.
40
Nilai dalam pola genderisasi terbagi menjadi dua macam, antara lain :
feminist value (nilai-nilai keperempuanan) dan masculine value (nilai-nilai kelakilakian). Feminist value merupakan keseluruhan citra, identitas, karakteristik, dan
sifat-sifat diri perempuan seperti : kejujuran, keadilan, sensitif (peka) terhadap
lingkungan, meredakan konflik, better two way communication, dan lebih mampu
membangun hubungan dengan orang lain.
Kesemuanya merupakan unsur-unsur yang dimiliki oleh PR perempuan di
suatu perusahaan. Sedangkan masculine value merupakan keseluruhan citra,
identitas, karakteristik, dan sifat-sifat diri laki-laki seperti : berani, recognition,
advancement, challenge, & employment security.
3.5.3. Gender
Gender sebagai implikasi dari sex difference memiliki beberapa makna,
berdasarkan stereotype yang berkembang gender merupakan sekumpulan nilai atau
ketentuan yang membedakan identitas sosial laki-laki dan perempuan, serta apa
yang harus dilakukan oleh perempuan dan apa yang harus dilakukan oleh laki-laki
baik dalam hal ekonomi, politik, sosial, dan budaya dalam lingkup kehidupan
keluarga, masyarakat, dan bangsa. Ketentuan tersebut pada dasarnya terbentuk dan
dikonstruksikan secara sosial maupun kultural sehingga bersifat dinamis sesuai
dengan konteks tertentu tergantung pada perubahan sosial yang terjadi dalam
masyarakat.
Sedangkan gender berdasarkan jenis kelamin merupakan kategori biologis
perempuan dan laki-laki, hal ini menyangkut sejumlah kromosom, pola genetik dan
struktur genital yang unik di masing-masing jenis. Dan merupakan sesuatu yang
dibawa sejak lahir sebagai ketentuan dari tuhan atau kodrat. Sehingga hal ini tidak
bisa dirubah dan dipertukarkan satu dengan yang lainnya.
41
3.5.4. Communication Competence Public Relations
Dalam hal ini kompetensi komunikasi PR yang dimaksud ialah peran yang
dimainkan oleh PR dalam rumusan kemampuan kerja yang mencakup aspek
pengetahuan, keterampilan (perilaku komunikasi), motivasi untuk berkomunikasi,
beradaptasi, serta membangun interaksi dengan orang lain. Termasuk jabatan dan
aktifitas kerja pada kegiatan managerial atau technical (aktifitas kerja teknis),
disamping keahlian serta sikap kerja yang relevan dengan pelaksanaan tugas dan
syarat jabatan yang ditetapkan sesuai dengan peraturan yang berlaku.
3.6.
Fokus Penelitian
Adapun fokus dari penelitian ini adalah mengenai bagaimana pandangan
CEO pada nilai gender dan kompetensi komunikasi SDM PR di perusahaan
PT. Freeport Indonesia Jakarta yang terdiri dari :
1.
Pandangan CEO pada nilai gender SDM PR
Gender disini tidak hanya dilihat secara biologis saja (secara lakilaki dan perempuan), melainkan juga dilihat dari peran lain (peran yang
membedakan identitas sosial antara laki-laki dan perempuan) yang mereka
miliki diluar peran dan fungsinya diperusahaan beserta sekumpulan nilai
atau value baik feminis maupun maskulin yang melekat baik dikubu lakilaki dan wanita, yang tanpa disadari mempengaruhi kondisi dari lingkup
bidang pekerjaan yang mereka hadapi.
Misalnya secara biologis, seperti apa proporsi laki-laki dan
perempaun khususnya di departemen PR yang bekerja di industri
42
pertambangan Freeport. Apa saja kendala atau dilema yang mereka hadapi
dalam bekerja di industri ini, seperti apa konteks laki-laki dan perempuan itu
sendiri mempengaruhi cara mereka dalam menghadapi suatu cakupan tugas
tertentu yang harus mereka jalani sebagai PR di perusahaan tersebut.
Sedangkan gender secara peran yaitu bagaimana peran-peran lain
yang individu miliki dapat mempengaruhi peran dan fungsinya di
perusahaan. Misalnya peran sebagai wanita bekerja dan berumah tangga
disamping ia memiliki tanggungjawab sebagai karyawan, ia juga memiliki
tanggungjawab yang sama besarnya yaitu sebagai seorang ibu dari anakanak dan juga sebagai seorang isteri atau bagi yang laki-laki sebagai seorang
kepala rumah tangga atau sebagai seorang yang masih single. Sehingga
bagaimana peran-peran tersebut mewarnai peran dan fungsinya mereka
sebagai karyawan perusahaan.
Lalu bagaimana maskulin dan feminis value yang dimiliki masingmasing individu. Karena sejatinya masculine value tidak harus identik
dengan laki-laki begitupun feminist value tidak harus identik dengan
perempuan. Kedua hal tersebut dapat saling bertukar tempat dalam arti
gender perempuan ada yang identik dengan masculine value, begitupun
dengan gender laki-laki ada yang identik dengan feminist value tergantung
dari pembawaan sifat dan konteks yang dihadapi. Sehingga seperti apa nilainilai tersebut dapat saling terkait dengan kondisi dari jenis pekerjaan yang
ada. Dalam arti pada konteks yang seperti apa feminist value dan masculine
value itu dibutuhkan serta siapa individu yang dominan memiliki nilai-nilai
tersebut apakah dari pihak laki-laki atau perempuan.
43
2.
Pandangan CEO pada kompetensi komunikasi SDM PR
Dalam hal kompetensi komunikasi tentunya baik dari pihak laki-laki
maupun perempuan mempunyai karakteristik tertentu dalam menerapkan
pola komunikasinya. Sehingga bagaimana pandangan CEO terhadap
kompetensi komunikasi dari masing-masing, baik dari pihak laki-laki
maupun perempuan dalam menghadapi situasi-situasi kerja. Karena
bagaimanapun juga ada saat-saat dimana kompetensi berkomunikasi lakilakilah yang diperlukan atau kompetensi berkomunikasi perempuanlah yang
diperlukan dalam konteks tertentu.
Walaupun standardnya adalah communication competence PR,
tentunya terdapat faktor-faktor lain baik dari internal maupun eksternal yang
berpengaruh terhadap pola komunikasinya mereka terhadap situasi dan
kondisi tertentu, sehingga bagaimana CEO dalam memandang faktor-faktor
tersebut.
3.
Pandangan CEO pada nilai gender dan kompetensi komunikasi SDM PR
Mengenai pandangan CEO pada nilai gender dan kompetensi
komunikasi, terdapat perpaduan antara kedua unsur tersebut. Dalam hal ini
bagaimana antara gender dan kompetensi komunikasi saling terkait sehingga
menghasilkan satu konsep pola tertentu yang mencoba menggambarkan
bagaimana proporsi laki-laki dan perempuan dalam konteks jenis pekerjaan
yang ada, apa kelebihan perempuan dalam konteks tertentu, apa kelebihan
laki-laki dalam konteks tertentu, dalam situasi dan kondisi yang seperti apa
yang kira-kira lebih kepada gendernya perempuan atau sebaliknya lebih
kepada gendernya laki-laki serta mana yang unik diantara keduanya dalam
hal ini.
44
3.7.
Teknik Analisa Data
Dalam penelitian ini proses teknik analisa data dilakukan secara induktif
yaitu dari khusus ke umum kemudian data dikategorikan, dideskripsikan, dianalisis
hubungan-hubungannya, dan dibandingkan. Sehingga dapat disusun konsep dan
teori tentatifnya dengan menggunakan proposisi teoritis. sedangkan teknik
pengambilan datanya dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari
berbagai sumber, yaitu dari hasil wawancara, pengamatan yang sudah dituliskan
dalam catatan lapangan, dokumen pribadi, dokumen resmi, gambar, foto, dsb
dengan menggunakan teknik triangulasi yaitu teknik pemeriksaan keabsahan data
yang memanfaatkan sesuatu dari sumber yang lain.
Analisa data ini pada dasarnya membantu dalam penyederhanaan data ke
dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan. Analisa data kualitatif
dapat diartikan sebagai upaya yang dilakukan dengan cara bekerja dengan data,
mengorganisasikan data, memilah – milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola,
mensintesiskannya, mencari dan menentukan pola, menemukan apa yang penting
dan apa yang dipelajari, serta memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang
lain.
3.8.
Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data
Sehubungan dengan konsep permasalahan yang ingin diteliti, penulis dalam
hal ini melakukan teknik metodologis melalui strategi penelitian yang sering
disebut
dengan
”Trianggulasi”.
Spesifiknya
melalui
trianggulasi
teknik
pengumpulan data dan trianggulasi sumber data dengan menggunakan standar
45
kredibilitas atau tingkat kepercayaan yang tinggi yang diperoleh dari narasumber /
subyek yang kompeten52.
Trianggulasi lebih menggunakan metode dalam level mikro, seperti
bagaimana menggunakan beberapa metode pengumpulan data dan analisis data
sekaligus dalam sebuah penelitian, termasuk menggunakan informan sebagai alat
uji keabsahan dan analisis hasil penelitian53.
Selain itu, teknik trianggulasi juga lebih mengutamakan efektivitas proses
dan hasil yang diinginkan. Oleh karenanya, penulis mencoba untuk menguji apakah
proses dan hasil metode yang digunakan sudah berjalan dengan baik misalnya
melalui pengujian terhadap hasil konfirmasi dengan informasi yang sebelumnya
karena bisa jadi hasil konfirmasi itu bertentangan dengan informasi-informasi yang
telah dihimpun sebelumnya dari infoman atau dari sumber-sumber lainnya54.
Apabila terdapat suatu perbedaan, maka harus dilakukan penelusuran
terhadap perbedaan-perbedaan tersebut sampai ditemukannya sumber perbedaan
dan materi perbedaannya, kemudian dilakukan konfirmasi ulang dengan informan
dan sumber-sumber lainnya.
Trianggulasi juga dapat dilakukan dengan menguji pemahaman informan
tentang hal-hal yang diinformasikan informan kepada peneliti. Hal ini perlu
dilakukan mengingat dalam penelitian kualitatif, persoalan pemahaman makna
52
Brannen, Julia., Memadu Metode Penelitian Kualitatif & Kuantitatif, ( Yogyakarta: Pustaka
Pelajar 1997 ) hlm. 20. Dalam Burhan, Bungin: Analisis Data Penelitian Kualitatatif: Pemahaman
Filosofis dan Metodologis ke Arah Penguasaan Model Aplikasi.
53
Burhan, Bungin. Metodologi Penelitian Sosial, Format-format Kualitatif dan Kuantitatif,
Surabaya : Universitas Airlangga Press, 2001.
54
Bodgan, Robert dan Taylor Steven J., Introduction to Qualitative Research Methods, Ohio, 1975.
Dalam Burhan, Bungin. Analisis Data Penelitian Kualitataif: Pemahaman Filosofis dan
Metodologis kea rah Penguasaan Model Aplikasi.
46
suatu hal bisa jadi berbeda antara orang yang satu dengan yang lainnya, termasuk
juga kemungkinan perbedaan pemahaman makna antara informan dan peneliti55.
Proses trianggulasi tersebut diatas dilakukan terus-menerus sepanjang proses
pengumpulan data dan analisis data, sampai suatu saat penulis / peneliti yakin
bahwa sudah tidak ada lagi perbedaan-perbedaan serta tidak ada lagi yang perlu
dikonfirmasikan kepada informan.
55
Mason, Jennifer., Qualitative Researching, London : Sage Publication, 2002. Dalam Burhan,
Bungin. Analisis Data Penelitian Kualitataif: Pemahaman Filosofis dan Metodologis kea rah
Penguasaan Model Aplikasi.
47
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1.
Obyek Gambaran Umum Sejarah PT. Freeport Indonesia
PT. Freeport Indonesia merupakan suatu perusahaan di Indonesia yang
dimiliki oleh Freeport McMoRan Copper & Gold dan pemerintah Indonesia,
dengan kantor pusat berkedudukan di Jakarta dan lokasi tambang di propinsi Papua.
Papua merupakan salah satu penghasil tembaga dan emas terbesar di dunia dan
mengandung cadangan yang juga terbesar di dunia. Cadangan terbukti dan terduga
di Grasberg dan cadangan bijih di sekitarnya berjumlah kira-kira 39,4 milyar pon
tembaga, 48,5 juta ons emas dan 110,9 juta ons perak.
Pada tahun 1936, seorang ahli geologi muda asal Belanda bernama Jean
Jacques Dozy bergabung dalam ekspedisi yang tujuan utamanya mendaki bantaran
salju yang ketika itu disebut Gunung Carstenz ( kini Puncak Jaya ), puncak tertinggi
di Papua ( New Guinea ). Dalam petualangan ini, Dozy menjadi orang barat
pertama yang melihat sebuah singkapan mineral yang sangat besar yang menonjol
keluar dari dasar lembah Carstenz. Dozy mengambil beberapa contoh batuan, yang
kemudian hari terbukti kaya dengan mineral yang megandung tembaga, yaitu
kalkopirit. Akan tetapi karena terpencilnya lokasi cadangan, bermulanya Perang
Dunia Kedua, serta kendala keterbatasan teknologi saat itu, Ertsberg dibiarkan
begitu saja selama hamper 25 tahun.
Pada tahun 1960, Forbes Wilson seorang ahli geologi asal Amerika Serikat
yang mengepalai kegiatan eksplorasi bagi perusahaan Freeport Sulphur Company,
menemukan catatan Dozy. Yang pada akhirnya Wilson bertindak atas dasar laporan
48
Dozy yang telah lama diabaikan tersebut, dan memimpin sendiri sebuah ekspedisi
menuju dataran tinggi Papua.
Alhasil, Ertsberg yang kemungkinan merupakan permukaan cadangan bijih
terbesar di dunia, menjadi magnet yang menarik Freeport menuju Papua
( dahulu Irian Jaya ). Namun demikian, pada saat itu temuan Freeport yang kini
merupakan temuan terpenting masih terpendam di dalam sebuah gunung lain, yaitu
Grasberg yang ketika itu tak lebih merupakan bagian dari pemandangan alam
sekitar, sampai akhirnya ditemukan pada tahun 1988.
Akibat gejolak politik yang terjadi di Indonesia, penandatanganan Kontrak
Karya ( KK ) antara Freeport dan Pemerintah Indonesia tertunda, hingga enam
tahun kemudian ditandatangani pada tanggal 7 April 1967. Freeport Indonesia Inc.
segera mulai bekerja. Hingga pertengahan tahun 1968, pengeboran eksplorasi
berhasil memastikan adanya paling tidak 33 juta ton tembaga, dengan kadar
tembaga rata-rata 2,5 persen yang terkandung pada cadangan bijih Ertsberg.
Di masa antara kegiatan awal pada tahun 1972 dan penemuan daerah induk
sumber bijih Grasberg di tahun 1988, kegiatan operasi dipusatkan pada tambang
terbuka Ertsberg dan cadangan bawah tanah bernama Ertsberg East ( Gunung Bijih
Timur ). Hingga tahun 1984, tiga kawasan bijih yang cukup berarti telah ditemukan
di luar cadangan Ertsberg. Ketiga kawasan tersebut adalah Intermediate Ore Zone
( IOZ ), yang mengandung 26,4 juta ton cadangan yang dapat digali, Deep Ore
Zone ( DOZ ) dengan 23 juta ton bijih, serta Dom ( katedral dalam bahasa Belanda )
dengan cadangan total sebesar 31 juta ton. Pada akhir masa tambangnya di tahun
1988, produksi tambang pada Ertsberg telah mencapai kapasitas sebesar 20.000 ton
per hari.
49
Pada tahun 1986 dibawah pimpinan seorang Chief Executive baru yaitu
James Robert Moffet, perusahaan induk di AS Freeport McMoRan Inc mulai
mengkhawatirkan semakin menipisnya cadangan bijih dari berbagai anak
perusahaannya, terutama Freeport Indonesia Inc. Ditambah dengan kian
meningkatnya minat para investor terhadap potensi emas, serta tekad sebuah tim
ahli geologi pimpinan David Potter, maka ditemukanlah Grasberg.
Menjelang akhir 1991, KK kedua ditandatangani dan PT. Freeport Indonesia
Company ( PTFI ) yang baru terbentuk memperoleh izin dari Pemerintah Indonesia
untuk meneruskan kegiatan operasinya dalam jangka waktu tambahan selama 30
tahun. Hingga akhir tahun 2003, seluruh cadangan Grasberg berikut cadangan bijih
bawah tanah telah mencapai lebih dari 2,6 milyar ton bijih, yang mengandung lebih
dari 39,7 milyar pon tembaga dan 46,6 juta ons emas. Dengan ditemukannya
Grasberg, Freeport memiliki cadangan tembaga dan emas terbesar disbanding
tambang manapun di dunia.
Kini, PTFI mengolah rata-rata lebih dari 240.000 ton metrik bijih per hari,
serta memindahkan lebih dari 750.000 ton volume total materi berupa bijih dan
batuan limbah per hari. Saat ini, dalam kegiatan operasinya PTFI menghasilkan
konsentrat dengan cara-cara yang kian efisien dan efektif. Dengan jumlah produksi
sebesar ini, kegiatan operasi PTFI menghasilkan sekitar 5-8 % dari jumlah tembaga
yang ditambang setiap tahunnya. PTFI merupakan penghasil konsentrat terbesar di
dunia, selain itu produknya sangat diminati di kalangan pabrik peleburan dan
pemurnian di seluruh dunia56.
56
Profil Perusahaan PT. Freeport Indonesia.
50
4.1.1.
Visi & Misi PT. Freeport Indonesia
4.1.1.1. Visi
Sebagai perusahaan tambang yang beroperasi di salah satu daerah paling terpencil
di dunia, berlokasi di suatu lingkungan sosial yang unik, dan mempekerjakan ribuan
orang dengan latar belakang yang berbeda, PTFI harus memastikan bahwa setiap
individu memiliki kesadaran yang tinggi terhadap keselamatan kerja, lingkungan,
dan perbedaan budaya.
PTFI telah menetapkan visinya untuk menjadi perusahaan produsen tembaga kelas
dunia, yang terbesar dan dengan biaya yang terendah di dunia. Dengan demikian
sangatlah penting bagi PTFI untuk mempekerjakan perorangan yang memiliki
motivasi untuk mencapai hasil yang terbaik bagi perusahaan dan mereka yang
berkepentingan dengan perusahaan.
4.1.1.2. Misi
Kami adalah perusahaan pertambangan pertama di Indonesia, yang menambang
tembaga dan emas kelas dunia dan berupaya keras untuk menjadi penghasil
tambang yang terbesar dengan biaya terendah dalam industri ini. Sebagai tim yang
tergabung dari berbagai budaya dan bertumpu pada sasaran serta tujuan usaha, kami
bangga pada perusahaan kami dengan keagresifan, kecepatan pekerjaan, dan
kebaikan dari pelaksanaan dalam pendekatan pada perkembangan dan pencarian
kumpulan bijih yang baru.
Kami memaksimalkan keuntungan dan nilai pemegang saham tanpa melupakan
pandangan pada perjanjian kami dalam penerusan peningkatan keselamatan kerja,
lingkungan, dan hubungan kami dengan pemerintah dan masyarakat sekitar,
51
perorangan, tim bekerja, komunikasi yang terbuka, dan yang paling penting
karyawan kami.
“Bagi kami tidak ada yang mustahil”
4.1.2. Good Corporate Governance
Prinsip Dasar
a. Fairness
Menjamin hak-hak pemilik modal dan terlaksananya komitmen
dengan investor.
b. Transparansi
Menjamin adanya informasi yang terbuka, tepat waktu, jelas dan
diperbandingkan berupa keadaan keuangan, pengelolaan perusahaan
dan kepemilikan perusahaan kepada semua stakeholder.
c. Akuntabilitas
Peran dan tanggung jawab yang mendukung usaha untuk
kepentingan manajemen dan pemilik modal dengan pengawasan
melekat.
d. Bertanggung Jawab
Memastikan dipatuhinya peraturan, ketentuan dan nilai-nilai sosial
yang berlaku.
52
4.1.3.
Struktur Organisasi PTFI dan Tupoksi Humas PT. Freeport Indonesia
4.1.3.1. Struktur Organisasi PTFI
PTFI Corporate Organization Chart by Function
President Director & CEO
Operations
OFO
CAO
Gov Rel
Coord Exctv
Relations
Surface
Mine
Corp
Plann &
Cost
Study
UG
Mine
HRM
Concertrat
Contract &
Municipal
Admin
Geo &
Technical
Services
Supply
Chain
Mngmnt
Central
Services
Corp
Plann &
Integration
Enviro
Safety &
Industrial
Health
HR Servce
& IR
Domestic
Purchase
Jkta,
Logistic &
Export
Import
Finance &
Accounting
QMS
Papuan
Affairs
Central Shop
&
Transportatio
n
GovRel
Jobsite
jta
GovRel
Jayapura
Relations
jta
PHMC
C
Relations
Corpcomm
Relations
Business
Develpmnt
& Spcial
Project
Legal, Tax
& External
Affairs
Legal
Tax
Mngmnt
Information
System
GovRel-Jkta
External
Relations
Human
Rights
jta
Social &
Local
Develpmnt
Community
Relations
jta
Corporate
Relations
Social
jta
Responsibility
Relations
jta
Relations
SRM
53
4.1.3.2. Pokok-pokok Reposisi Peran Fungsi-fungsi Korporat
Struktur Organisasi
Bidang Humas PT. Freeport Indonesia
Jakarta Corpcomm
Department Head
Jakarta
Corporate Comm
External
Internal
Communication
Communication
Support Services
News Services
Guest Relations
Internal Outreach
Production &
Publication Services
Media Relations
Mining Industry
Relations
Mining Industry
Relations
Contribution
& Promotion
Other Publics
Media
Management
54
Jobsite Corpcomm
Department Head
Jobsite
Corporate Comm
External
Internal
Communication
Communication
Guest Relations
Internal Outreach
Media Relations
Media
Management
Support Services
Production &
Publication Services
Guest House Services
Department‟s
Administration &
Secretarial Support
Contribution
& Promotion
Jayapura Corpcomm
Department Head
Jayapura
Corporate Comm
External
Communication
55
A.
Susunan Pejabat Bidang Humas PT. Freeport Indonesia
Dalam menjalankan tugas-tugasnya, Bidang Humas PT. Freeport Indonesia
memiliki berbagai tingkatan jabatan yang terdiri dari :
1. Gen.Supt.Internal Communication & Projects
: Scott Hanna
2. Manager Corporate Communication
: Budiman Moerdijat
3. Gen.Supt.Stakeholder Rel & Visitor Sp
: Mindo Pangaribuan
4. Comm.Officer.Stakeholder Relations Sp
: Menuel John Magal
5. Gen.Supt.Media Rel.Freeport Peduli
: Ramdani Sirait
6. Comm.Officer Event & Log – JKTA
: Maliki Ibrahim Arif
7. SR.Comm Officer Ext Outreach & Inst Rel
: Sari Esayanti
8. Comm.Supp Production & Project
: Sri Morisonya Mauludiana
9. Comm.Officer Production & Publication
: Hilman Anshori
10. Secretary Corporate Communication
: Emi Kusmilia
11. Officer Contribution & Sponsorship
: Faradilla Hanim
12. Support Admin Officer Database
: Trian Purnamasari
13. Comm.Officer Web Design Support
: Erwin Hilmy
14. Freeport Peduli Coord Comm Officer
: Andre Sebastian
15. Comm.Officer Inst Relations Sp
: Andy Muhammad Saladin
16. Comm.Officer Graphic Design
: Susilowati Suryadarma
17. SR.Comm Video Production
: Zul Adhan
56
B.
Fungsi dan Tugas Bidang Humas PT. Freeport Indonesia
Humas pada umumnya merupakan fungsi manajeman ( management
function ) yang menunjukan bahwa Humas bukan saja merupakan alat manajemen
yang dapat diadakan, dipindahkan, dan ditiadakan, melainkan sebagai fungsi yang
melekat menjadi satu dengan manajemen. Dimana ada manajemen, disitu ada
hubungan masyarakat dan gaya yang menggerakan serta menjalankan hubungan
tersebut, yang biasa disebut dengan komunikasi. PR ialah fungsi manajemen,
karena PR dalam melaksanakan kegiatannya, tentu berhubungan dengan tujuan
organisasi / perusahaan yang diwakilinya dalam menciptakan dan memelihara
saling pengertian, sehingga eksistensi perusahaan akan selalu didukung di tengah
masyarakat. Adapun fungsi Humas dalam hal ini diantaranya :
1. Memberikan penerangan kepada masyarakat mengenai arti penting keberadaan
perusahaan dalam menyampaikan visi - Misinya.
2. Melakukan persuasi dalam mengubah sikap dan perbuatan masyarakat baik
secara langsung maupun tidak langsung.
3. Berupaya untuk mengintegrasikan sikap dan perbuatan suatu organisasi atau
perusahaan sesuai dengan sikap dan perbuatan masyarakat atau sebaliknya.
Untuk mendukung keprofesionalan PR dalam melaksanakan fungsi serta
perannya dalam pencipta image positif perusahaan, hendaklah didukung dengan
pelaksanaan tugas yang juga profesional. Tugas tersebut tentunya berhubungan erat
dengan tujuan, Visi dan Misi perusahaan :
1. Menginterpretasikan, menganalisis, & mengevaluasi kecenderungan perilaku
target publik.
57
2. Membina sikap mental karyawan agar dalam diri mereka tumbuh ketaatan,
kepatuhan dan dedikasi yang tinggi terhadap perusahaan.
3. Menumbuhkan semangat corp atau kelompok yang sehat dan dinamis.
4. Mendorong tumbuhnya kesadaran perusahaan terhadap pentingnya tanggung
jawab dan komitmen dalam menumbuhkan good corporate image yang unggul.
5. Menumbuhkan sikap dan citra positif terhadap segala kebijakan dan langkahlangkah perusahaan.
C.
Deskripsi Pekerjaan Bidang Humas PT. Freeport Indonesia
• Komunikasi Eksternal
Dalam hal ini, Humas berperan untuk me-manage dan menjalin hubungan
komunikasi dengan khalayak eksternal terutama media massa dalam menyampaikan
fakta-fakta ( visi & misi ) perusahaan, serta mengantisipasi dampak dan issue, baik
yang bersifat positif maupun negatif. Hal ini dimaksudkan untuk menumbuhkan
niat baik perusahaan di mata masyarakat serta melindunginya dari berbagai macam
serangan issue baik dari eksternal maupun internal.
Komunikasi eksternal terdiri dari :
1. Guest Relations
Humas bertugas menjalin hubungan komunikasi dengan para visitor /
pengunjung yang berasal dari berbagai macam khalayak eksternal perusahaan.
Misalnya melalui pertimbangan penerimaan proposal yang diajukan oleh para
vendor, memberikan kesempatan pihak luar terutama media atau kelompok lain
dalam memperoleh data perusahaan bisa melalui wawancara, magang dsb.
58
2. Media Relations
Humas menjalin hubungan baik dengan media melalui penyelenggaraan
berbagai program dalam rangka membangun mutual trust dan rasa saling
menghormati antara perusahaan dengan para professional PR serta komunitas
media lainnya.
Beberapa program tersebut antara lain bisa melalui :
- Proactive Journalist Outreach Program
Menjalin hubungan baik dengan para wartawan baik yang berada di Jakarta,
Jayapura, dan Timika melalui face-to-face informal meeting.
- International Journalist Briefings
Mengadakan informal meeting dengan beberapa jurnalis internasional baik
yang berada di Indonesia maupun di negara lain yang setidaknya
bertanggung jawab dan mengetahui issue-issue terkait dengan industri
pertambangan.
- Communications with Media re-Coverage
Dalam hal ini, departemen CorpComm bertanggungjawab untuk merespon
atau menjawab berbagai pertanyaan dari media. Perusahaan juga wajib
berpartisipasi dalam media interviews. Hal ini dilakukan sebagai wujud
tanggungjawab perusahaan kepda media yang telah ikut serta dalam
mempublikasikan perusahaan kepada publik baik internal maupun eksternal.
59
- Letters-to-Editor
Memfasilitasi komunikasi dua arah ( feedback ) antara perusahaan dengan
khalayak eksternal melalui opini dari surat pembaca.
- Journalist / Media Organization Site Visits
Menyelenggarakan gathering visits dengan mengundang para jurnalis atau
media sebagai bagian dari program pembinaan relationship yang ditujukan
untuk memperkenalkan background perusahaan.
- Journalist Sponsorships & Events
Mensponsori berbagai event baik nasional, regional, dan lokal yang dihadiri
oleh para jurnalis profesional. Tidak hanya itu, program ini juga
dimaksudkan untuk memberikan dukungan bagi persatuan organisasi
jurnalis Indonesia. Misalnya melalui workshop, seminar dan kegiatan
pelatihan lainnya yang ditujukan untuk memperbaiki keterampilan dan
pengetahuan mereka.
- Timika Post & Radar Timika Support
Berpartisipasi dalam penerbitan surat kabar Timika sebagai salah satu media
pendukung perusahaan.
- Press Conference
Menyelenggarakan konferensi pers untuk kebutuhan klarifikasi beberapa
issue, apabila terjadi risis yang hendak melanda perusahaan.
60
- Media Database Development
Membuat database dari beberapa profil media terkait dengan background
dari masing-masing jurnalis atau bisa melalui analisis isi berita yang pernah
mereka tulis.
3. Mining Industry Relations
Humas menjalin hubungan komunikasi dengan institusi / asosiasi yang bergerak
di bidang industri pertambangan untuk memonitor informasi atau issue-issue
yang sedang berkembang serta menjalin perjanjian kerjasama diantara mereka.
4. Contribution & Promotion
Humas melakukan identifikasi dalam memanfaatkan peluang-peluang yang ada,
dimana peluang tersebut nantinya dapat memberikan manfaat berupa citra
positif serta dukungan atau partisipasi besar dari khalayak bagi keberlangsungan
program sesuai dengan visi, misi, & tujuan perusahaan. Bisa melalui
sponsorship, donation, exhibition, special events, dsb.
5. Other Public
Humas menjalin hubungan baik dengan para pressure group (LSM, parpol, dll).
Dalam rangka menumbuhkan semangat korporasi bagi pertumbuhan organisasi
yang sehat.
• Komunikasi Internal
Dalam hal ini, Humas berperan untuk memastikan bahwa pesan yang
disampaikan dapat berlangsung secara efektif dan konsisten, artinya pesan tersebut
dapat sampai pada khalayak yang dituju sesuai dengan tujuan perusahaan. Yang
diwujudkan melalui pemeliharaan hubungan komunikasi yang konstan antar
61
departemen CorpComm baik yang berada di Papua, Jakarta, maupun dengan
departemen lainnya.
Komunikasi internal terdiri dari :
1. Internal Outreach
• Intra Departemen :
1. Weekly Communication Team Conference Calls
Mendiskusikan issue dan program setiap minggunya serta membuat
forum komunikasi melalui conference call, untuk disebarluaskan ke
seluruh anggota dalam management CorpComm. Biasanya untuk cabang
kantor yang terletak di luar kota Jakarta, mereka akan memberikan
media komunikasi berupa agenda yang berisi informasi atau issue yang
sedang terjadi untuk segera di up date oleh para tim anggota
management.
2. Communication Forum
Membuat bulletin board yang dicantumkan melalui website internal
perusahaan mengenai issue dan program yang dijalankan oleh
perusahaan dan mendiskusikannya melalui e-mail.
3. Tracking Charts
Memuat database mengenai advertorial placement yang dalam hal ini
aktifitas media relations-nya dibina oleh kantor pusat New Orleans
untuk memperoleh informasi yang nantinya disebarluaskan pada forumforum komunikasi yang ada di setiap cabang perusahaan.
62
• Inter Departemen, terdiri dari :
1. Regular Meeting
Melakukan
pertemuan
harian
oleh
departemen
lain
untuk
mendiskusikan berbagai rencana kegiatan yang akan dijalankan oleh
perusahaan.
2. Inter-Departmental Coordination & Cooperation
- Internal Forum
Menjalin kordinasi dengan departemen lain untuk mewujudkan
komunikasi dua arah dalam penyediaan strategi-strategi pesan dan
program komunikasi sebagai alat atau media penyampaian pesan ke
seluruh kelompok stakeholder internal perusahaan.
2. Media Management
• Electronic Media
- PTFI News : diterbitkan dalam jangka waktu satu kali dalam sebulan,
produksinya dilakukan di Jobsite ( kantor pusat yang berada di Papua
Nugini ) didistribusikan melalui cable television dan videotape copies.
- GNN Message Board : pesan yang berisi announcements, community
calendars dan informasi umum yang dicantumkan melalui internal
television network atau News Network Channel, yang memang
didedikasikan bagi penggunaan komunikasi antar departemen.
-
Internal Web Page : berisi informasi internal perusahaan yang di
produksi di Jobsite dan Jakarta hanya untuk kepentingan karyawan
internal perusahaan ( PTFI dan kontraktor ).
63
- GNN Announcement Page : pengumuman-pengumuman penting yang
dikirimkan oleh departemen CorpComm melalui news programming.
- Management Announcements : management yang membantu dalam
memperkembangkan
pengumuman
dan
informasi
penting
untuk
dikirimkan kepada karyawan atau internal stakeholders lain melalui
communication platforms.
- Online External Events and Presentation Calendar : menyediakan secara
online informasi mengenai events-events eksternal perusahaan kepada
para karyawan.
• Presentation Support
- Speeches & Presentation
Menyiapkan informasi dalam bentuk teks, grafik, photographic, dan
video support untuk keperluan karyawan yang ingin melakukan
presentasi mengenai perusahaan seperti aktifitas pengoperasian dan issue
perusahaan kepada para kelompok stakeholder internal perusahaan.
• Support Services
Dalam hal ini, Humas bertugas mengidentifikasi dan memanfaatkan peluang
yang dapat mendatangkan manfaat bagi citra perusahaan melalui berbagai macam
pelayanan berupa dukungan atau partisipasi terhadap beberapa kegiatan sosial
kemasyarakatan seperti :
1. General Contribution & Sponsorship
- Sponsorship : Papua Related ( Sport, Education / Academics, Art & Culture,
Communities ), committed sponsorship for Kejurda Atletik in Jayapura,
Environmental Related, Mining Related, Government Related and others.
64
2. Donation
- Bencana Alam
- Forum Peduli Pendidikan ( PTFI Timika )
- Peduli Kasih
- Pelestarian Lingkungan
3. Exhibition
4. Special Events
- Kamoro Festival
- Asmat Festival
Support Services terdiri dari :
1. News Services
Dalam hal ini, Humas bertugas untuk memberikan pelayanan terhadap penyajian
berbagai informasi / berita baik yang menyangkut keperluan internal dan eksternal
perusahaan, misalnya melalui :
- Media Monitoring & Clipping Services
a. Jakarta Office Daily News Review
Dalam hal ini, Departemen CorpComm menyiapakan beberapa berita harian yang
didistribusikan untuk departemen eksekutif di Jakarta Office.
65
b. New Orleans Daily News Update
Dalam hal ini, Departemen CorpComm yang berkantor di New Orleans
menyiapkan berita harian untuk didistribusikan / di-up date ke beberapa
departemen lain.
c. Kuala Kencana Clippings of Local Papers
Departemen CorpComm yang berada di Kuala Kencana ( Papua Nugini )
mendistribusikan beberapa artikel dari Timika Pos dan Radar Timika yang biasa
digunakan untuk berita keseharian mereka.
- Info & Documentation
Semacam perpustakaan yang mencakup beberapa info atau dokumen perusahaan
untuk dijadikan sebagai referensi baik bagi perusahaan sendiri ataupun pihak
lainnya.
2. Production & Publications Services
Dalam hal ini, Humas bertanggungjawab untuk menangani berbagai macam
produksi serta melakukan publikasi terhadap beberapa news program perusahaan
baik berupa dokumen-dokumen penting yang mencakup peristiwa penting
perusahaan, maupun laporan-laporan tahunan baik yang ditujukan untuk khalayak
internal dan eksternal perusahaan.
Hal ini dapat mencakup :
1. Communication Support
- Audio Visual Services : Kuala Kencana Studio, Jakarta Office, & New Orleans
Office.
66
- Eksternal Website : PTFI Website, FCX Website
- Internal Website
- External Publications : Annual Report, Working Toward Sustainable
Development
( WTSD ) Report ( mencakup penjelasan mengenai komitmen
perusahaan terhadap lingkungan dan tanggungjawab sosial ). Biasanya
CorpComm-lah yang bertanggungjawab dalam hal pengumpulan data baik
dalam bentuk tertulis, grafik, design, foto, sampai pada proses publikasi dan
pendistribusian.
- Internal Publications : Berita Kita
- Corporate Promotion Materials : Annual Corporate Promotion Materials
( kalender, kartu ucapan, & diary ).
- Corporate Image Survey : melakukan survei menyangkut citra perusahaan
untuk mengukur seberapa besar tingkat awareness masyarakat terhadap
keberadaan perusahaan.
67
4.2.
Hasil Penelitian
4.2.1. Pandangan CEO Pada Nilai Gender SDM Public Relations
A. Narasumber 1 (Santi Sariesayanti : Senior Communication Exsternal
Outreach Institutional Relations)
Sebagai sosok wanita di bagian external communication, kira-kira seperti apa
situasi yang mewarnai posisi ibu tersebut ?
“Memang ada satu faktor yang terpenting yaitu fisik…..karena menjadi PR di
sebuah perusahaan tambang tidak hanya membutuhkan keterampilan dan
kemampuan saja tetapi juga fisik yang kuat…..karena apa ? daerah operasional
perusahaannya sangat luas meliputi dataran tinggi dan dataran rendah serta
menuntut kita untuk bekerja secara mobile atau traveling….terutama di site
yah….apalagi pada saat kita sedang membawa tamu dalam jumlah besar,
menjelaskan dalam perjalanan….ketika sampai diatas oksigen semakin tipis
disitulah fisik kita sebagai wanita sangat diuji. Ditambah disana merupakan daerah
remote area atau daerah terpencil yang juga didominasi oleh pekerja lakilaki…yang menuntut kita sebagai wanita untuk bisa lebih menjaga diri karena
segala kemungkinan bisa terjadi…. tapi memang yang terpenting itu tadi……fisik
harus kuat”.
Kondisi operasional perusahaan di site, selain sangat beresiko buat wanita
juga mengharuskan wanita untuk bisa bertahan dalam kondisi fisik yang lemah. Hal
ini secara tidak langsung menjadi suatu kendala yang dialami sebagai PR untuk
exsternal communication, terutama disaat menjalani fungsinya sebagai reasoners
untuk para visitor yang berasal dari khalayak eksternal perusahaan.
68
Melihat kondisi disana kira-kira seperti apa yang biasanya terjadi ?
“Yang kita tahu disana itu sexual harensment sering terjadi antar karyawan pria di
Freeport
dalam
komunitas
yang
laki-lakinya
lebih
dominan
daripada
perempuan……jadi sebagai wanita di posisi PR….apalagi pekerjaannya cenderung
ke eksternal…..saya harus lebih menjaga penampilan, berpakaiannya lebih sopan,
agar nanti tidak menimbulkan tindakan yang aneh-aneh”.
Pada
dasarnya
Performance
dan
penampilannya
wanita
sangat
mempengaruhi kenyamanan mereka dalam berkomunikasi. Visualisasi yang
ditimbulkan merefleksikan keefektifan praktek komunikasi yang mereka terapkan
pada keberlangsungan proses komunikasi.
Selain fisik, adakah peran lain dari sosok perempuan terhadap profesi PR
khususnya untuk posisi ibu saat ini ?
“Bagaimanapun kita harus menyadari juga kodrat wanita apalagi bagi wanita yang
bekerja dan punya anak seperti saya…..kalau yang masih single saya rasa
tantangannya tidak terlalu berat, konsentrasinya-pun tidak terlalu terpecahpecah…..dibanding dengan yang sudah berkeluarga apalagi yang anaknya masih
kecil…..tapi mau tidak mau kita harus professional…..namun disini kita punya
tantangan yang lebih berat aja untuk membagi waktu dan konsentrasi yang bisa
dibilang tidak ringan……apalagi dengan perusahaan yang issue-nya besar seperti
Freeport ini. Ditambah dengan lokasi dan medan yang berat juga, sehingga buat kita
ibu-ibu yang sudah berkeluarga khususnya dalam membagi waktu, tenaga dan
pikiran harus benar-benar ekstra…….karena pada saat kita sudah memutuskan
untuk bekerja disini berarti kita sudah mempunyai komitmen terhadap perusahaan.
Namun, alhamdullillah pihak perusahaan juga memberikan pengertian khususnya
bagi pekerja wanita yang sudah berkeluarga terutama dari para supervisor kita,
69
seperti hak cuti……cuma biasanya hak cuti itu kan kita pakai buat senangsenang…….ini sebaliknya malah kalau nggak penting-penting banget yah terpaksa
kita tidak boleh ambil cuti dulu , apalagi kalau kondisi perusahaan sedang sibuksibuknya”.
Hal penting seperti apa yang membuat ibu harus ambil cuti ?
“Misalnya kalau anak lagi ada ulangan atau ujian atau lagi ada piknik di
sekolahnya”.
Bagaimana pihak perusahaan dalam menyikapi hal ini ?
“Bagaimanapun pengertian untuk hal-hal semacam ini tetap diberikan oleh
mereka…karena cuti itu kan haknya karyawan….apalagi sudah menyangkut
keluarga…..memang hal kecil sihh……tapi kita sebagai seorang ibu kadang
kepikiran juga…..tidak bisa dipungkiri…sehingga mau tidak mau kita harus punya
asisten yang bisa mengimbangi peran kita di rumah……jadi bagaimana kita memanage waktu yang terbatas itu buat mereka dan mereka juga bisa mengerti
keadaan kita”.
Tapi keluarga pernah complain nggak bu ?
“Terkadang suka protes juga terutama anak saya….. ketika saya harus traveling
banyak ke sana dan mengantar tamu dalam jumlah besar……tapi sekarang tinggal
bagaimana mereka bisa memberikan pengertian itu……..jadi kalau dibilang harus
ada professional dan kompetensi…..iya….semua bisa dilakukan….tapi tantangan
yang paling berat buat wanita ialah bagi mereka yang sudah berkeluarga dan yang
sudah punya anak……..mungkin itu yang terasa sekali…….jadi kalau dibilang ada
keterbatasan perempuan disini…semua tergantung kembali ke komitmen masingmasing, pilihannya dikembalikan kepada kita……dimana ketika kita sudah
70
putuskan untuk bekerja disini, maka kita harus menerima segala konsekuensinya !
apalagi PR itu kerjanya…..kadang krisis nggak bisa kita tebak….., mungkin dalam
hal ini laki-laki lebih cocok….cocok dalam arti kata dengan situasi dan kondisi
pertambangan…..pertambangan sendiri dari setiap perusahaan memiliki karakter
yang berbeda-beda……ada yang lokasinya tidak terlalu remote sehingga
memudahkan akses dengan keluarga, ada yang lokasinya menuntut kita untuk
traveling sehingga akses dengan keluarga sangat kurang….dan fisikpun kadang
menghambat kita dalam berkomunikasi…..berbeda dengan laki-laki mungkin
mereka tidak masalah dengan kondisi pertambangan yang seperti ini, fisiknya-pun
juga tidak terlalu menjadi hambatan…..sehingga pada saat ia membawa tamu
menjelaskan dalam perjalanan dengan medan yang tinggi…..komunikasinya akan
lebih lancar……..seperti itulah kendalanya…..bukan tidak bisa dilakukan oleh
wanita tapi tergantung dari komitmen masing-masing, ini adalah tantangan yang
paling berat dan dilemma yang wanita hadapi…….yang paling utama harus ada
pengertian dari keluarga….kalau dari keluarga sudah complain, suami keberatan
untuk ditinggal…..kalau seperti itu berarti tergantung kita mau pilih mana” !
Secara fisik proporsi laki-laki di industri pertambangan seperti Freeport,
cenderung lebih bisa menyesuaikan diri baik dari segi medan operasionalnya
maupun dari sisi gendernya sebagai sosok laki-laki. Kendala yang dialami tidak
terlalu riskan dan masih bisa tercover dengan baik, hal ini nampak dari kemampuan
dalam menjalani fungsinya sebagai komunikator untuk eksternal perusahaan dalam
kondisi medan yang rumit dan dalam situasi-situasi yang bisa dibilang urgent atau
krisis.
71
Kalau melihat adanya peran lain yang ibu rasakan terhadap posisi ibu saat ini,
kira-kira kecenderungan apa yang biasanya terjadi ?
“Kecenderungan yang kemungkinan terjadi biasanya tidak fokus yah……misalnya
anak ulangan atau anak tiba-tiba sakit, sedangkan kondisi disini lagi hebohhebohnya…..bisa terjadi….ya nggak bisa dihindari juga….pada saat kita harus
memilih, itu merupakan suatu pilihan yang sulit ! tentunya berat di anak….dan
biasanya titik temu yang paling baik ialah dengan tim….bagaimana caranya dalam
kondisi yang seperti ini diharapkan tim dapat membantu atau memback-up kita !
kalaupun hal itu terjadi pada saya….yaa saya akan panik….terutama pada saat
krisis yah……mungkin kalau kita sudah mengetahui sebelumnya kalau anak kita
sakit, kita bisa ambil cuti ! tapi kalau dalam situasi yang serba mendadak membuat
kita susah juga………malah kadang kalau lagi nganter anak sekolah saya suka
ngaret masuk kantor……mau nggak mau harus izin…..dan syukur dari mereka bisa
mengerti untuk hal ini…..apalagi kalau sudah sore, saya sudah harus pulang, anak
saya kan kadang suka main ke kantor…..suka ditungguin……pengennya cepetcepet pulang…..kalau kaya gitu kerjaan di cancel besok…….belum lagi….kalau dia
sekolah atau lagi makan, sampai dia berantem sama temennya pasti telpon
saya…….kadang bisa menghibur…..ngilangin stress, kadang kalau lagi banyak
deadline, lagi banyak meeting…..repot juga……sibuknya bertambah.……kalau
lagi repot trus anak telpon……waaahhh bawaannya bingung…….nggak mungkin
kalau tiba-tiba kitanya jadi marah-marah….…makannya penting mengontrol mood,
mengontrol perasaan”.
Kepanikan wanita dalam menghadapi dua situasi secara tak diduga dan
dalam waktu yang bersamaan, membuat kecenderungan arah fokus mereka kurang
maksimal. Hal ini tentunya dapat menyulitkan aktifitas mereka untuk menjalankan
72
fungsinya baik sebagai problem solver maupun sebagai fungsi komunikator dalam
organisasi.
Selain peran, kira-kira seperti apa nilai tambah yang juga menghiasi self
personal dari laki-laki dan perempuan ?
“Nilai tambah yah…..nilai tambah perempuan dan laki-laki…..kalau laki-laki dia
lebih…secara fisik oke ya…biasanya mereka lebih kuat secara fisik….secara tadi
hhhmmm….laki-laki yang sudah berkeluarga biasanya kan urusan rumah tangga
diserahkan oleh perempuan jadi dia lebih tenang selama ada ibu di rumah…jadi dia
lebih bisa konsentrasi….kalau perempuan tadi…ada kecenderungan kurang tenang
dan kurang konsentrasi…….hal itu tidak bisa dipungkiri…walaupun saya nggak
bicara bahwa perempuan nggak bisa mengerjakan pekerjaan laki….bisa…..tapi itu
tadi kalau ada perempuan yang menghadapi satu masalah keluarga yang cukup
serius dia akan berat menjalaninya…tantangannya berat…jadi ya itu kadangkadang dilemma seorang wanita bekerja….wanita bekerja dan berkeluarga….jadi
Opie sudah harus ambil ancang-ancang nih kalau mau pilih PR…..PR itu bukan
pekerjaan yang gampang……pokoknya jangan pernah berharap….maksudnya
jangan pernah bermimpi…bahwa pekerjaan PR itu yang….”ya sudah lah senang
dan
menyenangkan”…..misalnya
di
hotel
ketemu
orang…..seneng
yah
memang…..bagaimanapun juga kita harus enjoy, tetapi….tanggungjawabnya berat
karena apa yang kita ucapkan itu mewakili perusahaan, merefleksikan
perusahaan….kadang-kadang lingkungan sekitar kita aja menilai kita loh…”
Kembali ditegaskan oleh narasumber terkait nilai tambah dari masingmasing individu yang dalam hal ini kembali disinggung mengenai physicly dan
tingkat konsentrasi laki-laki yang menjadi salah satu aspek kelancaran mereka
dalam menjalankan fungsinya dengan baik.
73
Misalnya bu ?
“Jadi misalkan….”itu orang PR ko‟ begitu ngomongnya”…..iya kan….”orang PR
penampilannya kaya begitu”…kadang-kadang kita suka digituin kan…jadi
ekspektasi orang sama kita itu tinggi sekali….jadi kita….waahhh orang kalau kita
ngomongnya salah sedikit ngomongnya “iihh nih orang PR ko‟ ngomongnya kaya
begitu sih…trus gimana dia nanti di perusahaan”…..selain itu orang PR biasanya
dianggap tahu segalanya…tahu informasi….kalau kita nggak baca dan nggak
ngikutin issu dan nggak baca koran….dalam arti bisa aja sih kitanya cuma biasabiasa aja sebagai PR tapi pada akhirnya nanti kita cuma disuruh-suruh aja gitu
kerjaannya…..tapi berbeda pada saat kita punya pengetahuan lebih…kita lebih tahu
sesuatu hal…paling tidak kita bisa satu langkah di depan mereka….misalnya :
biasanya orang akan tanya ke kita informasi…kaya pusat informasi lahh…misalkan
ada orang tanya “eh tahu nggak sih kita berapa ton produksi sehari”…kadangkadang kalau kita nggak tahu orang bisa aja ngomong “ah loe kan orang PR harus
tahu”…gitu kan…atau “eh sekarang lagi ada issu apa sih” ?…..kalau sampai kita
nggak tahu kan gawat sekali…..karena ekspektasi orang banyak nggak gampang
jadi PR, tantangannya banyak apalagi ibu-ibu….pokoknya harus siap-siap….trus
kalau kita bikin press release atau kita bikin artikel lah untuk majalah internal,
paling tidak bahasa kita kan harus baik karena nantinya akan dibaca
orang…….dalam hal ini kita harus diatas terus gitu…..lalu bagaimana kita
berkomunikasi….yang empati itu….kalau kita main perintah-perintah, orang mana
mau respect sama kita…iya kan….kita juga harus kordinasi dengan departemen
lain…..intinya kita harus kerja sama juga…..kalau kitanya cuma bisa perintahperintah aja….orang juga pastinya sebel….sekarang bagaimana kita ngomongnya
yang baik-baik dengan mereka….bagaimana kita membangun komunikasi dan
hubungan baik gitu yah…..belum lagi kerja PR itu kan selalu penuh dengan
74
deadline…..makannya kadang-kadang jangan kaget Opie mohon maaf saya kalau
sudah dikasih deadline kadang-kadang…beteee…….suka nggak sadar……karena
pada saat seperti itu kan kadang emosi kita diuji…..makannya kita harus sabar dan
dewasa kalau menghadapi suatu masalah….kadang-kadang kalau sudah nggak
sanggup bawaannya pengen marah-marah aja, tapi kan kita nggak bisa dan nggak
boleh melakukan itu gitu kan…..tapi terkadang namanya manusia penuh dengan
keterbatasan……kaya tadi misalnya saya lagi banyaknya deadline sampai Opie
juga
lama
nunggunya….belum
lagi
banyaknya
permintaan
yang
muncul….terkadang sayanya juga suka emosi sendiri…..tapi kan orang lain juga
nggak mau tahu kondisi kita kaya gimana…..itulah makannya kenapa diawal saya
katakan bahwa kita harus mampu belajar menjaga emosi….itu semua kan
pengalaman kita…..kita banyak belajar dari orang lain, banyak berempati juga sama
orang, mau mendengarkan orang lain, apa yang menurut kita benar belum tentu
orang lain juga meng-iyakan, jangan suka menyela kalau orang lain berbicara
sehingga membuat kita menjadi lebih dewasa…..karena bagaimanapun kita
membutuhkan mereka kan…..membutuhkan feedback baik yang positif dari
mereka…..jadi kalau kita membuat orang lain menjadi antipati sama kita, kita
nggak akan pernah bisa masuk ke mereka….jadi inti komunikasi itu nantinya
bagaimana membangun hubungan baik yang kemudian memudahkan kita untuk
berkomunikasi dan mendapatkan pengertian dan pemahaman dari para stakeholder
kita…..sehingga
ketika kita
mendapatkan masalah….dan
pada
saat
kita
mengkomunikasikan masalah itu….mereka bisa dengan mudah memahami kondisi
kita secara tulus…..nah membangun hubungan yang tulus itulah yang
susah…..makannya kenapa komunikasi dan membangun hubungan yang baik itu
penting…..karena komunikasi bukan sekedar basa-basi….ketika kamu berhubungan
dengan seseorang bukan hanya berkomunikasi saja, tetapi harus terus di maintain”.
75
Terdapat suatu statement yang menggambarkan dimana wanita pada saat
dihadapkan dengan pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya deadline dan memiliki
intensitas kesibukan yang tinggi, emosionalnya mereka cenderung akan terbawa
pada situasi dan kondisi yang saat itu ia alami. Sehingga secara otomatis akan
tercermin dari sikap baik verbal maupun nonverbalnya mereka. Dan kalau
diperhatikan memang terlihat agak sedikit kurang professional khususnya dalam
menghadapi konteks-konteks yang seperti ini.
Tidak hanya itu, dari pernyataan narasumber dapat disimpulkan juga bahwa
seorang PR sejatinya dituntut untuk memiliki kompetensi komunikasi yang tidak
hanya terpusat pada pengetahuan, skill dan motivasi. Tetapi juga attitude dan
penguasaan serta pemilihan bahasa yang baik, wawasan yang luas, team work, dan
yang paling terpenting ialah seorang PR harus memiliki dasar berupa fakta yang
bisa dipertanggungjawabkan terhadap segala informasi yang ia sampaikan,
mengapa ? karena ekspektasi masyarakat terhadap PR sangat besar sekali sehingga
ia harus benar-benar menyampaikan informasi yang akurat serta jujur dan apa
adanya.
Lalu untuk perempuan sendiri seperti apa bu nilai tambahnya ?
“Oh iya nilai tambah yang untuk perempuan yah….maaf nih saya lupa….karena
tadi kita ngomong baru nilai tambahnya laki-laki ya……..kalau dari perempuan
saya rasa tadi yaitu keluwesannya….kalau dalam menghadapi suatu masalah
perempuan lebih emosional sedangkan kalau laki-laki sepertinya lebih cool yah !
selain itu kelebihannya saya pikir perempuan dalam hal ini lebih teliti, lebih fair
biasanya kan kalau perempuan suka nggak tegaan tuh……sehingga dia pasti
mencoba memposisikan dirinya netral…jadi dalam posisi netral itu dia bisa
membuat judgement yang lebih baik….kalau menurut saya yah seperti itu !
76
perempuan lebih detail…makannya kenapa perempuan lebih suka cerewet
ketimbang laki-laki, mereka lebih cerewet dalam hal-hal kecil misalnya saja kalau
di kantor kan ada yang namanya departemen OS (Office Service) jadi mereka itu
yang biasanya ngurusin snack box yang setiap pagi dibagikan ke karyawan…yang
intinya job-descnya mereka itu menyangkut masalah kenyamanan kantor….jadi
kadang kalau ada comment….yang paling banyak permintaannya yaa perempuan
yang ibu-ibu ini…entah itu coment masalah snack box-nya, masalah fasilitas dan
kenyamanan kantor….sampai masalah kalau ada tikus atau kecoa di cubical
itu
langsung dilaporin……….perempuan juga dalam hal tertentu segala sesuatunya
lebih diantisipasi terlebih dahulu……karena yaaa dia terbiasa melakukan itu di
rumah gitu yah…” !
keluwesan wanita tanpa disadari memudahkan mereka untuk bisa lebih
friendly dan lebih akrab dalam berkomunikasi dengan orang-orang yang terbilang
baru dikenal, sehingga secara tidak langsung hal ini menjadi point plus yang wanita
miliki. Tetapi cenderung emosional dalam menghadapi suatu permasalahan tertentu,
berbeda dengan laki-laki yang cenderung maskulin dalam menyikapi segala
sesuatunya. Ketelitian dan sikap detailnya wanita membuat apa yang ingin ia
sampaikan dapat terprediksikan dan teridentifikasi dengan baik. Serta menjadikan ia
better two way communication khususnya dalam hal-hal yang feedbacknya dominan
mengomentari sehingga apa yang diinginkan mudah tersampaikan dengan baik.
Sikap antisipatif yang wanita miliki menjadikan dirinya lebih siap dalam
menghadapi situasi yang tak direncanakan. Sedangkan sikap adil-nya wanita dapat
memposisikan dirinya untuk bertindak netral, sehingga membawa kepada suatu
penyampaian atau judgement yang lebih baik.
77
Kalau menurut ibu ada nggak batasan dari gender itu sendiri terhadap
kondisi dan bidang pekerjaan tertentu ?
“Oh ada….kaya disini kita ada yang namanya visitor group….kenapa dalam hal ini
banyaknya laki-laki…karena dia naik-turun, bolak-balik kesana-kesini…fisik yang
diperlukan…makannya banyak yang dipilih laki-laki…walaupun terkadang
perempuan juga diperlukan disana….tapi intensitasnya nggak sekuat laki-laki…..”
Untuk posisi visitor group perusahaan dominan menempatkan karyawan
laki-laki sebagai seorang yang bertugas menjelaskan profil perusahaan secara
mobile untuk wilayah operasional yang berada di Papua (Grasberg). Seperti yang
telah dijelaskan diawal bahwa untuk posisi yang sifatnya menuntut fisik memang
intensitasnya lebih cenderung ke laki-laki. Apalagi orientasinya juga menentukan
kemampuan mereka untuk bisa menyampaikan atau mengkomunikasikan pesan
dengan baik. Sehingga secara tidak langsung faktor fisik khususnya bagi laki-laki
memberikan kemudahan mereka untuk bisa berinteraksi dengan lancar.
Bagaimana dengan ibu sendiri yang juga menangani lingkup eksternal
perusahaan ?
“Yaaa….saya juga memang hubungannya keluar…tapi masih bisa ter-cover
lahh…dalam artian nggak terlalu berat-berat amat….makannya kenapa disini staf
PR-nya banyak…karena areal pekerjaannya cukup luas yah…nggak bisa dalam satu
fungsi kita sendiri yang meng-handle…kaya saya misalkan external outreach untuk
hubungan university lalu digabung dengan visitor, sementara saya harus konsentrasi
dengan yang external outreach…karena kan stakeholder-nya banyak….tentunya
pasti ada prioritas gitu kan….ekspektasinya juga macem-macem kan….nah itu
harus kita samakan dulu pemikirannya, persepsi kita…kita samakan dulu….maunya
management seperti apa….yang ada di kepala kita sama nggak dengan yang ada di
78
kepala management agar mempunyai tujuan yang sama……dan nggak mungkin
bagi kita untuk mengerjakan dua fungsi secara bersamaan, misalnya eksternal dan
internal digabung jadi satu….yahh nggak bisa karena Freeport sudah terlalu luas,
karyawannya lebih dari dua puluh ribu…..kalau untuk internal communication
harus ditangani saya juga yaa nggak bisa….sementara antara komunikasi keluar dan
kedalam kan beda, fokusnya juga beda….nah makannya ini harus dibagibagi….dalam arti ketika kita bicara internal maka ada alat komunikasinya sendiri
yaitu media internal entah itu newsletter kah atau apa….itu kan harus
dimanage….mereka juga harus konsentrasi nyari berita….trus belum lagi ada tamu
yang datang….yah kalau sudah seperti itu nggak bisa ditangani oleh satu
orang…..oleh karenanya harus dibagi-bagi….makannya kenapa kita orangnya /
pasukannya banyak hampir tiga puluh orang…yaa biar lebih konsentrasi
aja…..apalagi seperti saya perempuan yang sudah ibu-ibu”.
Tapi keliatannya ibu tenang-tenang saja ?
“Kalau lagi nggak banyak deadline sihh tenang-tenang aja keliatannya, tapi kalau
kaya tadi….begitu ada acara yang beruntun misalnya pagi-pagi saya harus ke
depnaker
untuk
meeting,
lalu
conference
call…..ini
semua
kan
harus
dikomunikasikan….ketika kita ingin berpartisipasi dengan pihak luar…kita juga
harus mengkomunikasikannya kedalam juga untuk persiapan didalam….disamping
itu juga harus ada yang memback-up saya nih…saya bagian ngomong diluar yang
dalem yang follow up nih…makannya kenapa ada bagian communication
support…..ada pa‟ Maliki, ada mba Lulu yang membantu saya dalam hubungannya
dengan eksternal….kalau saya semua yang ngerjain dari A-Z yaa nggak
mungkin…lalu bagaimana saya mengkomunikasikan keluar…..nahh itu ada lagi
bagian yang bertanggungjawab”.
79
Lalu kenapa di eksternal cenderung didominasi oleh laki-laki dan internal oleh
perempuan ?
“Yaa itu tadi yang telah saya katakan sebelumnya….dipengaruhi oleh fisik
tadi….karena dia harus mobile kemana-mana apalagi pada saat menghadapi
management conflict….tapi bukan berarti wanita nggak ada….saya juga termasuk
di eksternal…..Namun, memang dibutuhkan orang yang punya komitmen kuat”.
Kembali dijelaskan mengenai komitmen dan kondisi fisik laki-laki yang
sangat menentukan peran dan fungsinya di perusahaan. Oleh karena itu untuk posisi
eksternal communication perannya laki-laki dominan dibanding perannya wanita.
Hal ini kembali diungkapkan karena fisiknya laki-laki yang prima, sehingga
kemampuan dalam berkomunikasi bisa lebih maksimal untuk menjalani posisi
tersebut.
Berarti kalau untuk penugasan jobsite memang dominan laki-laki ya bu ?
karena itu kan sebagian besar lingkup pekerjaannya menuntut fisik…..
“Nggak juga sih menurut saya….karena nggak terlalu dilihat dari gendernya
juga….walaupun memang ada pengaruhnya….tapi secara umum dilihat dari
kepentingan pekerjaan dan kesiapan dari si tenaga kerjanya itu……untuk Opie
ketahui yah di Papua itu sekarang supir-supir truk yang besar-besar itu yang bannya
segede rumah….itu udah ada perempuannya loh…udah ada sekitar enam puluh
orangan lah….memang sih itu pekerjaan yang nggak mungkin dilakukan oleh
perempuan….dikatakan demikian……tapi akhirnya diambil keputusan untuk
dilakukan oleh perempuan….karena itu tadi kemampuannya….tapi uniknya
perempuan
itu
handle
mesinnya
seperti
mesin
itu
bernyawa….diajak
ngomong….seperti “mau ya di starter yah” atau nggak “aduh sorry ya jalannya agak
nanjak sedikit” seperti itulah kira-kira…..jadi kalau orang laki bilang emosionalnya
80
perempuan itu yang menghalangi dia maju….mungkin…..tapi justru itu yang
membuat kita tuh balance”.
Hal-hal kecil seperti apa yang kadang menjadi unsur penting dalam kordinasi
yang ibu jalani dengan tim kerja ?
“Ya memang komunikasi itu kan sangat mempengaruhi pada bagaimana saya
berkomunikasi….baik itu dengan relasi……terutama dengan tim ya…atau anak
buah….itu sangat mempengaruhi sekali….karena ini kan dilihatnya memang gender
yah…jadi mau nggak mau saya bilangnya harus laki atau perempuan…..kalau lakilaki kan melibatkan logika terhadap suatu permasalahan……kalau kita sebagai
perempuan bisa melibatkan emosi dulu…..nah perempuan itu kadang sebenarnya
hambatannya itu adalah dalam emosi…nah emosinya ini kita pecahkan dulu supaya
kita bisa tahu apa yang sesungguhnya harus dilakukan selanjutnya…..contohnya
begini kita sama-sama tahu kan bahwa kalau buat perempuan tuh rambut adalah
masalah….yang namanya bad hair day itu sudah menjadi salah satu faktor
hambatan yang penting bagi wanita…..dari pada saya melihat anak buah saya atau
tim atau member saya nggak nyaman dalam bekerja….karena kalau udah nggak
nyaman pasti kan ganggu pekerjaan…….lebih baik saya berikan waktu ke mereka
sekitar satu jam atau setengah jam untuk bisa dandan atau merapihkan
penampilannya terlebih dahulu setelah itu mereka bisa kembali dalam keadaan
fresh….dan saya rasa hal ini tidak selalu bisa dilakukan oleh supervisor yang lakilaki……tapi itulah keluwesannya perempuan….mereka lebih fleksibel lah….ada
toleransinya disitu…..maksudnya kalau ada satu masalah tuh nggak cuma dilihat
dari sudut logika saja tapi dia begitu memikirkan hal-hal apa yang mempengaruhi
sampe orang tersebut melakukan hal itu….jadi istilahnya tuh kalau perempuan itu
mau want to see the story behind sesuatu, reason atau alasan itu masih ada space
81
buat wanita tapi kalau laki enggak gitu loh…………jadi kembali kalau ibu yang
bekerja itu….saya bilangnya ibu yah karena saya sendiri nggak tahu kalau yang
sudah pada nikah itu bagaimana nanti handlenya…..tapi buat saya pribadi kalau ibu
yang bekerja itu dia akan cenderung untuk memperlakukan….bagaimana dia
memperlakukan lingkungan keluarga sama seperti di lingkungan kantor itu akan
saling mempengaruhi”.
Apa sih yang ibu rasakan sebagai pimpinan sekaligus sebagai ibu rumah
tangga…..kira-kira keterkaitan antara kedua konteks ini seperti apa ?
“Saya kebetulan seseorang yang bisa membagi…..dalam artian begini….itu
semuanya ditunjang dengan sikap profesionalisme yang baik dan yang terutama
adalah komunikasi….buat saya dua hal itu yang paling utama….karena sikap
profesionalisme itu kan kita harus tahu diri…..maksudnya saya sebagai pegawai
yang digaji oleh suatu perusahaan….atau saya menjadi owner di perusahaan
tersebut berarti saya harus memberikan atau memiliki etos kerja yang
baik…..bagaimana saya bisa menuntut orang lain untuk bisa memiliki etos kerja
yang baik kalau sayanya sendiri tidak memiliki…..yang kedua adalah bagaimana
saya mengkomunikasikan itu dengan lingkaran posisi saya dirumah dengan
lingkaran posisi saya dikantor….bahwa betul ada saat-saat kondisi tertentu dimana
saya harus memilih nah saya lihat prioritasnya….katakanlah pada saat saya ngambil
rapot anak saya….saya tidak akan izin tetapi saya akan ambil cuti apapun
kondisinya….karena saya nggak mau diganggu pada waktu saya ambil cuti untuk
datang ke sekolah anak saya buat ngambil rapot….karena disitu saya berperan
sebagai seorang ibu bukan sebagai pegawai….berarti secara professional saya tidak
akan merugikan kantor dan secara diri saya pribadi saya juga tidak akan merugikan
anak saya….jadi kalau nanti tiba-tiba dia mau langsung pergi jalan-jalan kemana
82
atau gurunya mau discuss sesuatu yang penting sama saya…jadinya kan saya nggak
harus setengah-setengah menjalaninya……nah itu kalau urusan yang izinizin….tapi kalau untuk urusan yang emergency….of course kita harus melihat
seberapa dalam emergencynya…..kalau ada kecelakaan atau ada apalah….itu jelas
disitu
gunanya
komunikasi….dan
bagaimana
saya
bisa
mendapatkan
dispensasi….tentunya saya harus punya hubungan baik dengan tim saya baik atasan
maupun bawahan, rekan sekerja maupun anak buah…..lalu yang berikutnya adalah
saya harus selalu memenuhi target yang diberikan dengan sebaik-baiknya sehingga
saya menjadi asset buat perusahaan….dan saya harus punya etos kerja yang
baik…..kembali ke etos kerja….karena kita nggak akan pernah tahu kapan kita
perlu minta izin iya kan….jadi bekerjalah dengan baik sesuai aturannya, sehingga
pada waktu kita minta izin kita nggak akan dibilang aji mumpung…….itu yang
saya lakukan seperti itu”.
Bu’ untuk beradaptasi dengan baik dalam pergaulan disana apa yang harus
diperhatikan baik dari pihak wanita maupun laki-laki ?
“Pada prinsipnya kalau saya melihatnya kita dalam pergaulan itu harus positive
thinking itu yang paling utama dan kita tetap menjaga sikap kita…..karena temen di
kantor itu pasti nanti jadi temen dirumah….kita nggak punya pilihan…..kalau di
Jakarta katakanlah kalau punya teman kantor…..ya udah temennya dikantor aja dan
dirumah lain lagi kan biasanya……jadi nggak bosen lah….tapi ini beda bisa-bisa
dikantor dan dirumah ketemu orang yang sama….bisa dalam satu kost-kostan atau
boarding yang sama atau mungkin juga bisa berada di dalam satu apartemen dalam
building yang sama……jadi kembali itu…..yang bahaya adalah itu kalau kemudian
terjadi misconception terhadap diri kita…..jadi orang itu menyalahartikan persepsi
terhadap diri kita…..nah kalau udah kaya gitu pasti susah untuk ngerubahnya
83
lagi…..karena kamu tahu kan kalau udah cerita dari si A ke B trus ditambahin
bumbunya
apa…nanti
ditambahin
lagi
bumbunya
apa…..dibalikin
ke
kita….tentunya ceritanya udah berkembang sampe nggak tahu kemana berapa
kuadrat gitu lohh….demikian juga dengan laki-laki……mungkin dalam hal ini
mereka akan lebih bisa terlihat survive….karena mereka kesana kemari sendiri
nggak masalah…..tapi kalau perempuan kan orang lebih menyorot….karena
apa….karena disana jarang perempuan….seperti itu lah………..jadi kalau kamu
menjaga sikap profesionalisme kamu dengan baik…..dalam arti tidak membuka
personal kamu menjadi bahan untuk pembicaraan umum…..pasti aman ko”.
B. Narasumber 2 (Budiman Moerdijat : Manager Corporate Communication)
Bagaimana pandangan bapak dalam menyikapi eksistensi dari nilai gender
terhadap profesi PR di perusahaan ini ?
“Yaaa…kalau menyangkut masalah gender secara umum saya pribadi, saya bukan
tipe seorang yang memilih laki-laki atau perempuan karena sebenarnya kurang
relevan juga. Perlu digaris bawahi juga memang profesi-profesi seperti tambang
secara tradisional memang laki-laki tapi bukan berarti perempuan nggak
ada….perempuan banyak sekarang Opie di Freeport…mungkin memang kalau
referensinya tahun 70-an dan 80-an di Freeport mungkin masih…perempuan masih
jarang….tapi sekarang lima sampai enam tahun belakangan ini saya yakin
perempuan sudah banyak di industri ini ….tapi sekarang secara tradisional Apalagi
di zaman modern sekarang pemimpin perempuan, menteri perempuan, CEO
perempuan juga sudah banyak. Bahkan CEO di disini-pun ialah perempuan,
mungkin memang secara tradisional dulu Freeport kebanyakan laki-laki tapi itu kan
dulu ya, sekarang perempuan juga sudah lumayan banyak ko‟. Dan dalam hal ini
saya lebih mengutamakan keterampilan serta kemampuan yang dimiliki oleh setiap
84
masing-masing individunya….sebagai contoh yah bu Sinta Sirait sebagai Site
Administrasi Officer dan Executive Vice President Freeport itu mengepalai
CorpComm, HRD, AER, QMS, Public Health, dan Areal Control. Beliau banyak
sekali melaksanakan fungsi eksternal….banyak sekali….beliau kompetensinya
memang bagus….karena beliau dulu sebagai pemimpin jabatan juga…apalagi
beliau sekarang juga sebagai Vice President Government Relations yang fungsinya
seratus persen eksternal…namanya aja Government Relations iya kan…Jadi sekali
lagi karena kompetensinya”.
Tapi bukankah beliau (sinta sirait) masih dalam status single untuk posisi
tersebut, sehingga jika kondisi itu terjadi pada PR apakah berpengaruh
terhadap peran dan fungsi yang dia pegang di perusahaan ?
“Memang
untuk
seorang
yang
masih
single
mungkin
ada
sedikit
perbedaan……..dalam arti tidak terlalu banyak problem yang ia alami baik itu
wanita apalagi laki-laki……mau bolak-balik Papua-Jakarta maupun Jakarta-Papua
nggak masalah juga…..yaa bisa leluasa…..jadi kalau pengaruh mungkin memang
ada”.
Misalnya pa’ dalam konteks yang seperti apa ?
“Biasanya mereka itu kan bisa lembur kapan saja ya……bisa lima kali seminggu
bahkan kadang sabtu minggu juga bisa masuk….sehingga intensitas waktunya bisa
lebih banyak di pekerjaan. Kalau yang berkeluarga….mungkin ada…cuma paling
selambat-lambatnya sore lah sekitar jam setengah enaman atau jam enam….kalau
yang lemburnya sampe malem mungkin intensitasnya agak berkurang….jarang saya
lihat apalagi yang ibu-ibunya…..makannya kenapa mereka kesibukannya lebih
dominan karena keterbatasan tadi…..dalam hal intensitas waktu yang mereka
miliki”.
85
pernah nggak pa’ mereka memiliki masalah keterlambatan penyerahan
deadline ?
“Bagaimanapun mereka harus professional dan konsekuen terhadap apa yang telah
mereka putuskan, sehingga sampai saat ini saya belum pernah mengalami kasus
tersebut”.
Kalau misalkan terjadi, apa yang bapak lakukan ?
“Saya lebih melihat latar belakangnya, penyebabnya apa……kalau hanya masalah
teknis, saya pikir tidak bisa dijadikan alasan”.
Kasus yang bagaimana yang dalam hal ini bapak memberikan kompensasi
atau pengertian ?
“Misalnya ada masalah keluarga…..kalau wanita itu kan sangat rentan yah terhadap
hal-hal tersebut….mereka berat untuk menjalani satu masalah tertentu, apalagi
kalau menyangkut keluarga…..sulit mungkin bagi mereka untuk bisa concern
antara dua problem dalam satu waktu secara bersamaan…….sehingga bisa saja
terjadi hal-hal diluar perkiraan dia…..yah nggak masalah….hal yang wajar menurut
saya….asalkan ada alternative lain yang dapat mengcover masalah ini”.
Dari yang telah saya ketahui di Freeport ini ada suatu penugasan kerja yang
biasa disebut dengan job site (penugasan kerja ke daerah Papua), kira-kira
seperti apa kendala yang dialami baik dari pihak PR perempuan maupun lakilaki ?
“Kalau saya pribadi……pernah…..pada saat membawa tamu
dalam rangka
company visit ke daerah operasional tambang Freeport di Grasberg. Saya
mengalami kesulitan untuk bernafas mungkin karena puncaknya yang tinggi.
86
Sehingga oksigen semakin menipis dan tubuh-pun rasanya linu. Kebetulan saya
termasuk orang yang kadang fisiknya tidak bisa bertahan dalam kondisi yang
seperti itu. Terpaksa harus ada pihak yang menghandle untuk sementara……kalau
dari pihak perempuan saya juga kurang mengetahui sepenuhnya yah kendalanya
apa…..tapi setahu saya bahayanya lebih dominan”.
Dari pernyataan narasumber, ternyata kondisi fisik yang kurang maksimal
tidak hanya dirasakan oleh pekerja wanita tetapi juga oleh pekerja laki-laki yang
juga berperan sebagai external communication perusahaan. Sehingga secara tidak
langsung memberikan keterbatasan juga bagi laki-laki dalam kemampuannya untuk
berkomunikasi.
Bahaya yang seperti apa pa’ ?
“Bahayanya….betis gede….karena turun naik gunung terus (sambil tertawa)…..tapi
sekarang ini sih baru saja terjadi wanita hampir diperkosa karyawan laki-laki yang
lagi mabok……karena memang kalau jam sembilan keatas disana sudah sepi
sekali…..terus
kan
gelap
banget…..tapi
kayanya
bahaya
lainnya
belum
kedengeran……….disana laki-laki jadi pada birahi tinggi, nggak bisa ngapangapain….karena peraturan perusahaan kan juga ketat sekali……..makannya di
Timika ada satu tempat prostitusi yang memang sudah terkenal banget…….dan
kamu tahu kan kalau jumlah penderita HIV itu tinggi banget di Papua………jadi
yaa untuk PR perempuan yang bekerja dalam industri ini dan dengan medan yang
rumit seperti Freeport, mereka bisa dikatakan lebih rentan terhadap bahaya-bahaya
yang muncul…..dan yang pasti lebih ribet lah”.
Kalau diperhatikan banyak sekali dinamika yang terjadi di Timika yang harus
dihadapi oleh perusahaan, misalnya demo atau ada perundingan mengenai
karyawan minta kenaikan gaji, sehingga memunculkan aksi protes bagi warga
87
atau karyawan, yang berujung kerusuhan dan bentrokan dengan pihak
perusahaan. Kalau melihat situasi yang seperti ini, biasanya cenderung
ditangani oleh PR laki-laki atau perempuan ?
“Tergantung situasi……..kalau misalkan aksi demonstrasinya ekstrim misalnya
dengan pelemparan batu, menggunakan senjata, atau pemukulan, terpaksa harus
ditangani oleh laki-laki. Tapi kalau hanya aksi protes saja…..dalam arti tidak ada
tindak kekerasan, tidak masalah jika ditangani oleh perempuan…......namun,
kadang-kadang dalam situasi-situasi tertentu kalau perempuan yang maju bisa lebih
tenang….itu betul…kalau itu ada…..jadi misalnya begini ada situasi demonstrasi,
kalau yang maju laki-laki demonstrannya cenderung lebih keras kan….tapi kalau
dalam situasi yang sedang emosi, sedang tegang, perempuan bisa lebih
menenangkan para demonstran yang kebanyakan laki-laki”.
Pada saat demonstrasi kehadiran wanita dirasa bisa lebih berperan
khususnya ditengah-tengah para demonstran yang dominan laki-laki. Hal ini tidak
hanya karena nilai-nilai dari perempuan itu sendiri yang dikatakan lebih dihormati
dan lebih disegani secara tradisional. Tidak hanya itu, emosionalnya wanita dalam
hal ini dapat terkontrol dengan baik ditambah kemampuan berkomunikasinya dalam
menyesuaikan diri untuk bisa masuk dan berinteraksi dengan mudah.
Kenapa pa’ bisa seperti itu ?
“Mungkin secara tradisional karena adanya faktor ketidakenakan dari laki-laki
apabila kasar terhadap perempuan selain itu, yaa mungkin secara kultur tidak sopan
aja ya kalau laki-laki kurang ajar atau terlalu berani dengan wanita, dalam hal ini
sosok perempuan juga lebih dihormati…..dan perempuan secara emosional bisa
lebih mengena dalam merasakan dan memahami situasi serta kondisi yang seperti
ini”.
88
Kalau begitu kenapa tidak perempuan saja pa’ yang menangani situasi yang
ekstrim itu agar bisa lebih tenang ?
“Kalau dalam situasi yang kronis seperti itu ya kami juga tidak berani untuk
mendelegasikan perempuan menjadi jubir disana…..karena khawatir kalau nantinya
terjadi tindak kekerasan yang dapat membahayakan dirinya……..yaa mungkin
perempuan dalam hal ini hanya mendampingi saja…..tapi yang maju sebagai
perwakilan biasanya laki-laki”.
Lalu, seperti apa kira-kira nilai tambah dari laki-laki dan perempuan dalam
hal ini ?
“Pada dasarnya saya tidak ingin menjadi sexis, dalam arti tidak ingin memilah dan
membandingkan keunggulan masing-masing. Bagi seorang manager seperti saya
sebenarnya sensitive sekali jika membicarakan hal ini. Sehingga saya pribadi
menilai pada dasarnya masing-masing memiliki nilai tambah, namun dengan
intensitas dan konteks tertentu yang tentunya berbeda satu sama lain”.
Misalnya seperti apa pa’ ?
“Misalnya kalau di perusahaan tambang yang sifatnya berat seperti Freeport lakilaki tentunya lebih kuat dalam hal fisik dan mental……biasanya kan perempuan
lemah yah fisik dan mentalnya, dia mudah lelah, mudah capek, cenderung
perasaan……..namun, ia memiliki daya tarik tersendiri…….misalnya kalau saya
disuruh memilih lebih senang ngobrol dengan PR laki-laki atau perempuan…..saya
akan memilih PR perempuan apalagi dia cantik……ketimbang PR laki-laki yang
ganteng……ngerti kan maksud saya (sambil tersenyum)….seperti itu lah kira-kira”.
89
Nuansa daya tarik dalam self personal wanita membuka akses mereka untuk
bisa dengan mudah memulai suatu hubungan interaksi dengan berbagai relasi dalam
konteks komunikasi khususnya yang bersifat interpersonal relationship.
Kira-kira ada pertimbangan-pertimbangan khusus nggak sih pa’ bagi
seseorang untuk penugasan ke jobsite ?
“Ya….memang kita harus ada koridor-koridornya yah…..ada dasarnya…..dasarnya
apa…..yaa itu tadi keselamatan kerja….itu harus dinomor satukan……jadi apabila
seorang wanita hamil dengan usia kandungan yang sebenarnya ok…..yaa dia bisa
untuk terbang…..tapi kalau misalkan usia kandungannya lemah yaa nggak bisa dia
terbang….tapi memang walaupun demikian yang namanya orang hamil pastinya
ada lah ya kelemahan-kelemahan tertentu seperti tidak akan lagi bisa terlalu cepat
berjalan…cuma semuanya itu bukannya berubah total itu hanya ada penyesuaianpenyesuaian sedikit……nah itu kembali patokannya adalah kesehatan….jadi mau
laki mau perempuan harus ada dasar sehatnya……sama seperti misalnya seseorang
dengan mata yang sinus….dia nggak akan bisa naik dan nggak akan diterima kerja
disana…takut ketinggian, phobia atau ketakutan didalam lift..….ya nggak bisa
juga….karena liftnya itu kan masuk kedalam lorong diantara belahan dua
gunung…itu jalannya sempit sekali lho….dan dinding-dindingnya itu air
ngalir….trus lagi pas ada mobil jalan….yaa itu liftnya berhenti…..diem ditempat
dia…..dan itu super gelap nggak keliatan apa-apa….nah kalau kaya gitu kan nggak
cuma untuk laki-laki atau perempuan aja….tapi kalau dia punya ketakutanketakutan seperti itu…dia tidak eligible….dia tidak layak untuk melakukan tugas
itu…makannya kita sebagai CEO…sebagai owner perusahaan….kita harus punya
koridor-koridor yang baku yang bisa diterapkan oleh laki dan perempuan”.
90
C. Narasumber 3 (Mindo Pangaribuan : Stakeholder External Relations
Manager)
Lalu kalau untuk shift malam bagaimana pa’ ?
“Oke……kalau kondisinya seperti itu memang mungkin bisa terlihat laki-laki yang
lebih kuat….dan bahayanya juga lebih kecil….tapi apakah kamu bisa bilang seperti
itu mengenai perawat-perawat di rumah sakit….enggak kan……padahal perawatperawat di rumah sakit perempuan rata-rata…..karena kembali ke tuntutan
pekerjaannya apa”.
Bahayanya kalau untuk perempuan seperti apa pa’ ?
“Yaa kalau nggak kuat mental….mental…..yaa karena kan itu dunianya lakilaki….waktu pertama kali saya kesana aja….itu sekitar tahun 1996…itu banyak
teman-teman saya yang pulang nangis…terutama yang wanitanya…..karena
sebenarnya orang-orang disana itu nggak bermaksud sexual harensment….tapi
memang dari enam ribu karyawan itu perempuannya itu cuma ratusan…dan itu
terbagi kedalam lahan yang sedemikian luasnya……mereka jarang sekali liat
perempuan….jadi kalau melihat wanita sesekalinya mereka pasti akan berteriak
“susu…susu….susu” gitu….dan itu sebenarnya nggak bisa dianggap sexual
harensment…..karena apa….mereka itu kan hanya dimulut aja…..hanya diucapan
aja….mereka nggak akan nyerang….karena kan ada standardnya yang K3
itu…..sehingga memang yang nggak kuat mental yaa mental jadinya…..jadi
maksudnya begini pekerjaan itu sebenarnya lebih dilihat dari sikap, etos kerja, dan
mental bekerja….kalau kamu sudah masuk ke dunia kerjanya laki-laki…..bukannya
kamu harus menjadi laki-laki…..tapi yaa kamu harus seperti mereka….tidak ada
yang namanya sakit perut disaat menstruasi….contohnya seperti itu…..sehingga
kalau kita enter suatu field yaa itu kita nggak bisa menuntut supaya field itu
91
memahami kita…kalau kita ketemu dengan orang-orang yang bisa diajak
komunikasi dengan baik dan kita mempunyai sikap profesionalisme yang baik….itu
a good bland……tapi paling tidak kamu harus siap mental…….berhubung disana
dominan laki-laki…..mereka harus lebih berhati-hati dalam menyesuaikan diri,
harus bisa menjaga nama baik dan kehormatannya, kalau misalkan si perempuannya
centil…..nggak bisa diem……tentunya banyak menjadi buah bibir sama banyak
orang, dan itu sangat mengganggu sekali….ditambah corpcomm juga kerjanya lebih
sering di masyarakat…….sehingga jangankan yang masih single……yang sudah
ibu-ibu juga banyak yang mau disana…….dan terkadang kalau wanita apalagi
masih dengan seumuran kamu…..terus posisinya masih sebagai orang baru yang
ditugaskan di site…..perannya itu agak kurang diperhatikan…..maksudnya
begini…….secara nggak sadar seperti di-anak bawangkan istilahnya……karena
menurut saya peran karyawan laki-laki disana lebih dominan daripada peran
karyawan
yang
perempuan…...intinya
untuk
yang
perempuan……secara
psikologis, bekerja di area site yang terpencil bisa membuat mereka mudah
tertekan…..mungkin karena situasi dan kondisi disana yang dimana tempat hiburan
seperti mall, café…..itu sangat minim…..ditambah jumlah relationship atau teman
sebaya dan seumuran mereka yang terbatas…..sehingga bisa menjadi salah satu
faktor yang monoton dalam aktifitas mereka sehari-hari”.
Kendala dari bapak pribadi sebagai laki-laki dalam posisi ini seperti apa ?
“Kalau fisik masih bisa ditangani……Namun, berhubung saya jarang di
Jakarta….jadi agak mempengaruhi beberapa tugas yang ada disini……kadang saya
kan
juga
punya
kerjasama
dengan
institusi
atau
lembaga
lain
diluar
perusahaan……sehingga kalau ada beberapa keperluan terkait dengan hal itu tak
jarang sulit untuk me-managenya”.
92
Hal-hal lainnya kira-kira ada nggak pa’….yang kadang mempengaruhi peran
dan fungsinya bapak sebagai karyawan ?
“Pernah pada waktu itu saya izin setengah hari untuk nganter calaon istri ke jobsite
tapi ya itu tadi untungnya dia itu di bagian yang sama….jadi pengertian dari
perusahaan bisa lebih mudah…..tapi memang yang sulit pada saat-saat sekarang
ini..….terutama pada
saat merencanakan pernikahan….apalagi kita harus
menyesuaikan dengan jam kerjanya Freeport….berhubung posisi disini menuntut
saya untuk stay lama sampai malem…kira-kira sampai jam enam sorelah…sehingga waktu yang digunakan untuk persiapan pernikahan sedikit…giliran
udah selesai kantor trus mau liat-liat souvenir atau mau hunting liat-liat
undangan…..itu
udah
nggak
ada
waktu
lagi….mengganggu
pekerjaan
juga….karena untuk membutuhkan waktu pernikahan itu yaa mau nggak mau harus
pulang cepat….sehingga ada beberapa pekerjaan yang harus di cancel dan
dikerjakan besok”.
Lalu pengertian dari pihak perusahaan bagaimana pa’ ?
“Dari kantor sih ada pengertiannya tapi kan nggak bisa terus-terusan…karena ada
tanggungjawabnya juga disini yang harus dipenuhi……..trus ditambah sebagai anak
pertama juga yang sejak lulus kuliah sudah nggak mempuyai bapak…….secara
otomatis saya ditunjuk….jadi udah nggak bisa milih kan…..jadi ditunjuk sebagai
kepala keluarga….hal itu biasanya mempengaruhi pekerjaan dari beberapa
hal….pertama yaa selain saya harus fokus dipekerjaan….saya juga harus
memperhatikan kondisi keluarga saya dalam arti ibu dan adik-adik saya….karena
kan disini posisinya saya sebagai kepala keluarga juga…..dimana sebagai kepala
keluarga dan tulang punggung keluarga….artinya apa yang saya hasilkan disini yaa
buat keluarga saya dirumah juga…karena di rumah juga nggak ada lagi yang
93
bekerja…otomatis saya harus berbuat yang sebaik mungkin supaya saya bisa
memberikan yang lebih buat keluarga….baik dari gaji, bonus….dan lain-lain…tapi
tetap aja dengan posisi saya yang sebagai kepala keluarga pastinya saya harus tahu
masalah yang ada dalam keluarga…sekecil apapun itu…dan harus bisa mengambil
keputusan untuk menyelesaikannya…dan masalah-masalah di rumah itu terkadang
juga mengganggu ke pekerjaan di kantor”.
Misalnya pa’?
“Misalnya di rumah ada dua AC yang tiba-tiba rusak….dulu waktu ayah saya masih
ada biasanya yang di telepon ibu saya itu beliau…tapi sekarang saya yang harus
tahu…mungkin kalau untuk seseorang yang sudah menikah itu hal biasa yah….tapi
kan sekarang kondisinya….saya baru lulus kuliah…baru mulai kerja….dan harus
menjadi kepala keluarga pula…itu hal yang baru sekaligus hal yang mengagetkan
buat saya pribadi….”ko‟ kaya begini aja ribet sih…ya udah telepon aja
tukangnya”….nah kenapa dalam hal ini ia memberitahu ke saya terlebih
dahulu…karena kalau tukangnya datang kan yang bayar harus saya…itu
dia….kadang hal-hal yang seperti itu yang bikin nggak fokus juga….entah itu saya
lagi meeting, lagi kedatangan tamu atau mungkin sedang presentasi atau sedang
menghadapi media….banyak hal lah…….sebenarnya kalau dipikir-pikir kan
dengan umur saya yang masih muda saya juga perlu bersenang-senang kan”.
Kalau kendala dari pihak laki-laki yang ditugaskan ke jobsite kira-kira
resikonya seperti apa sih pa’ ?
“Berhubung disana kebanyakan laki-laki dibanding perempuan….jadi yaa
resikonya gampang stress….karena tidak ada pelampiasan….kalau kaya gitu kan
lebih mudah stress…memang secara psikologis seperti itu…sehingga sangat
mempengaruhi pekerjaan…..karena dimana-mana orang bekerja itu perlu cuti, perlu
94
hiburan, perlu relaksasi….makannya kenapa orang yang kena penyakit lever itu
rata-rata para pekerja kantoran…..orang yang kerjanya sampe malem….jarang kan
kamu dengar kuli kena lever…..padahal mereka kerjanya lama trus mengorbankan
fisik yang luar biasa…..tapi berbeda dengan kerja didepan komputer terus-terusan
sampe malem lalu nggak ada perempuan, hiburan lain juga nggak ada….seperti
bioskop, club-club juga nggak ada….nah itu yang bikin stress dan yang bikin
penyakit”.
Apa yang bapak rasakan sebagai seorang anak dari mantan karyawan
perusahaan yang kadang memberikan dampak pada kondisi lingkungan
kerjanya bapak ?
“Pertama yang bisa saya katakan adalah karena berhubung almarhum ayah saya itu
adalah orang yang baik sekaligus pekerja dan karyawan yang baik….saya disini
selalu merasa dibayang-bayangi oleh predikatnya beliau….seperti misalnya
“bapaknya ketua majelis ta‟lim anaknya jarang banget masuk musholah”…gitu
loh….atau begini “ini ko‟ kerjanya nggak sebagus bapaknya”….selalu seperti
itu….selalu jadinya itu dibanding-bandingkan….kalau misalkan perusahaan selalu
ingin mendapatkan kualitas hasil kerja yang seperti almarhum ayah saya……ya
udah panggil aja kembali ayah saya buat kerja….cari nomor teleponnya yang di
surga kalau ada….saya juga mau ko‟…seneng malah….(sambil tersenyum)…..tapi
kan saat ini kondisinya beda…..dimana mereka mau nggak mau harus menerima
saya dengan hasil kerja yang versinya saya…..itu sudah konsekuensi…..namun
dalam arti bukan berarti saya tenang-tenang aja….saya tetap melakukan yang
terbaik…tapi yang terbaiknya saya…bukan yang terbaiknya ayah saya”.
95
Lalu dengan adanya relationship bapak dengan calon istri yang notabennya
sesama karyawan Freeport, seperti apa hal-hal yang kadang mewarnai kondisi
tersebut khususnya di lingkungan kerja ?
“Pertama…teleponnya gratis (sambil tertawa)….karena teleponnya gratis kadang
jadi omongan juga sama temen-temen kantor….sekarang saya tanya sama kamu
kalau kamu punya kesempatan untuk telpon-telponan gratis apalagi sama
pacar….apa yang kamu lakuin”?
Nelpon setiap hari pa’….
“Nah kalau kamu di tempat kerja nelpon terus….kira-kira gimana”?
Diomelin pa’…
“Nggak pernah diomelin sihh…..tapi kadang orang suka salah sangka sama
saya….kalau saya lagi online misalkan…..padahal itu klien saya bukan pacar
saya…tapi tetep aja orang ngomongnya “lagi online ya” dalam tanda
kutip….sehingga terkesan agak menyindir…..selalu seperti itu….padahal kalaupun
saya emang benar-benar lagi online sama dia….tetep topiknya nggak akan jauh dari
pekerjaan juga…..yaa memang mereka-mereka juga nggak mau mengganggu saya
pacaran….tapi ya tetep aja saya punya pekerjaan dalam hal ini”.
4.2.2. Pandangan CEO Pada Kompetensi Komunikasi SDM Public Relations
A. Narasumber 1 (Santi Sariesayanti : Senior Communication Exsternal
Outreach Institutional Relations)
Kalau menyangkut masalah kompetensi komunikasi, bagaimana pandangan
ibu terhadap hal tersebut….karena dari yang saya ketahui kompetensi
komunikasi
itu
kan
ada
tiga
macam
:
communication
knowledge,
96
communication skill & communication motivation, kira-kira seperti apa
implementasinya ?
“Iya…..motivation juga termasuk….memang kalau kita nggak punya motivasi
rasanya kerja tanpa arah yah dan nggak jelas gitu….kita kerjain aja apa yang
disuruh….ibaratnya seperti mesin lah…..kalau kita mempunyai motivasi, misalnya :
motivasi saya untuk menjalin dan membangun komunikasi dengan para stakeholder
perusahaan ialah agar dapat menumbuhkan sikap positif mereka terhadap
perusahaan dan agar perusahaan juga dalam hal ini merasa satisfy dengan fungsi
saya disini….sehingga kita mempunyai dorongan untuk mencapai sesuatu yang
baik, ingin mencapai yang lebih…..semua yang kita lakukan pasti ada
alasannya….pasti ada atau mempunyai latar belakang yang membuat kita menjadi
terdorong untuk melakukan sesuatu hal….itu tadi karena adanya motivasi….itu
sangat penting yah……..lalu untuk communication skill hal ini juga termasuk
penting……dalam arti bukan nggak bisa dipelajari…..tetapi begini loh ada orang
yang
punya
karakter-karakter
tertentu
dalam
komunikasi….seperti
saya
contohnya…ketika saya disuruh presentasi….saya punya satu kelemahan yaitu pada
suara….nggak tahu bagaimana orang lain menilai karena saya sendiri ngerasanya
seperti itu……setiap orang punya keinginan untuk berkomunikasi tapi dia mungkin
ada kelebihan dan kekurangan……tetapi yang terpenting ialah dia mempunyai out
going personality artinya dia mudah bergaul….kalau orang yang susah bergaul yah
sulit….karena kita pekerjaannya intinya satu yaitu pergaulan……karena dengan
membina hubungan baik itu…..yah tentunya melalui pergaulan tadi yang
diharuskan dengan skill yang dia punya…..selain itu, juga bahasa….dimana pada
saat kita bekerja di sebuah perusahaan asing seperti Freeport stakeholder kita bukan
cuma orang Indonesia tapi kita juga punya klien company kita yang orang asing
sehingga kalau kita nggak menguasai bahasa, pada saat kita punya masalah pasti itu
97
akan menjadi kendala tersendiri….apalagi pada saat kita melakukan presentasi
dengan mereka…..saya sendiri belum sampai kesitu juga maksudnya kita harus
mengasah dari awal apa modal yang harus kita miliki….lalu kita juga harus
memiliki keberanian untuk mengungkapkan sesuatu dengan cara yang baik, trus
wawasan yang luas maksudnya ia mempunyai suatu kemauan untuk mencari ilmu,
untuk terus belajar dan bertanya apapun itu…..misalnya kalau kita sebagai PR di
pertambangan kan berarti kita nggak hanya belajar tentang komunikasi
aja….maksudnya ilmunya nggak hanya di komunikasi aja, tetapi kita juga harus
mengetahui dan memahami paling tidak dasar dari seluk beluk pertambangan itu
sendiri….begitupun juga sebaliknya ketika kita masuknya di advertising yaa kita
harus tahu advertising itu seperti apa dunianya atau ketika kita masuknya di
perbankan juga begitu……jadi benar-benar harus membuka wawasan yang
luas…..sehingga kalau ada orang lain yang bertanya mengenai lingkungan misalnya
“itu Freeport beracun yah limbahnya….emang pake apa sih ???”….seperti itu
misalkan….berarti mau nggak mau kan kita harus mengetahui dan harus bisa
dengan baik menjelaskan ke mereka…….yahh nggak harus secara mendalam lah
yaa….paling tidak yang inti-intinya saja yang harus kita pelajari”.
Dalam hal ini narasumber mengungkapkan bahwa communication skill
seseorang bukan hanya sesuatu yang bisa dipelajari, tetapi kadang hal ini dapat
menjadi satu keterbatasan tertentu yang dipengaruhi oleh karakter dari masingmasing individu. Terlihat dari pernyataan narasumber yang menjelaskan bahwa
karakter suara yang ia miliki dirasa sangat efektif pada proses komunikasi yang
sifatnya interpersonal.
98
Untuk yang di site daerahnya kan terpencil sekali bu……lalu bagaimana
pihak perempuan dalam melakukan adaptasi terhadap kondisi tersebut agar
hubungan komunikasi yang terjalin berjalan lancar ?
“Sekarang sih sudah terbuka tapi maksudnya masih dalam kategori sudah nggak
seperti dulu di awal-awal, tapi sekarang kotanya sudah terbuka…perempuan juga
sudah lumayan banyak tidak seperti di awal-awal pada saat kita baru beroperasi.
Mereka kerja professional dalam arti mereka harus tahu batas-batasnya karena yang
bisa menjaga diri mereka adalah mereka sendiri…yaa dengan cara misalnya kalau
untuk disana kadang-kadang kan sex sesama jenis sering terjadi diantara karyawan
pria khususnya dalam komunitas yang laki-lakinya lebih dominan dibanding
perempuan…berarti cara mereka untuk adaptasi ya harus menjaga diri misalnya
dengan berpakaian dan berpenampilan yang sopan yang memang tidak mengundang
orang untuk berbuat yang aneh-aneh…dan mereka juga harus tegas….mereka harus
tahu kondisi daerah-daerah tertentu bagaimana….dalam arti mereka harus membaca
situasinya….dan harus siap dengan itu…kalau misalkan masuk ke areal yang bisa
dibilang itu rawan buat perempuan yaaa jangan pergi kesitu sendirian
gitu…sehingga kalau tahu batasan-batasan dalam beradaptasi…..tentunya kegiatan
komunikasi dapat berjalan lancar……kalau misalkan lawan bicaranya laki-laki, trus
penampilannya nggak sopan dan mengundang……kan bahaya….selain dapat
menghambat untuk berkomunikasi juga dapat membahayakan diri mereka sendiri”.
Batasan-batasan dalam beradaptasi dari pengetahuan yang seseorang miliki
menentukan keberlangsungan dari kelancaran proses komunikasi yang terjalin.
Dalam hal ini pengetahuan beradaptasinya wanita khususnya untuk daerah site
diimplementasikan melalui penampilan yang ia pancarkan dalam berkomunikasi.
99
Hal ini menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan khususnya bagi wanita
dalam kenyamanan suatu hubungan komunikasi dengan orang lain.
Bagaimana cara ibu untuk berempati dalam situasi dan kondisi tertentu ?
“Artinya empati ini kan rasa sepenanggungan….bagaimana kita berempati dengan
para stakeholder yang kita ajak berkomunikasi…ya kita harus tahu situasinya
terlebih dahulu….kita harus bisa mempelajari target stakeholder kita seperti
apa…karakter mereka seperti apa…lalu kondisinya…ketika kita menghadapi suatu
masalah dengan stakeholder yang kita ajak komunikasi ini kita harus tahu awal
permasalahannya atau awal perkaranya seperti apa dan posisi perusahaan ada
dimana…e‟eee…untuk bisa masuk kedalam satu suasana yang mungkin agak sulit
buat perusahaan….yaaa tentunya kita harus menunjukkan rasa empati dulu ke
mereka jadi bahwa iya kita bisa mengerti perasaan mereka…misalnya dalam
keadaan demo yang menuntut Freeport untuk bisa menyelesaikan masalah HAM di
Papua terutama di daerah operasi Freeport karena terkait dengan masalah perang
suku…nahh kalau situasinya seperti ini kita harus tahu yang dipermasalahkan
mereka sebenarnya apa…misalkan masalah perang suku bahwa mereka nggak mau
ada korban lagi dan mereka merasa bahwa ketika diambil tindakan tegas oleh
petugas bahwa itu melanggar HAM, dan melanggar HAM-nya itu ada keterlibatan
Freeport karena itu ada di daerah Freeport….nah kita harus tahu dulu nih
masalahnya masalah apa sebenarnya ketika ada warga yang terbunuh pada waktu
insiden itu….itu karena apa dan ini masalahnya siapa…kalau sudah masalah
kriminal kan tentunya sudah menjadi masalah antar oknum keamanan
disana…bukannya kita ingin melepas tanggungjawab tapi kita ingin menudukkan
inti permasalahan itu pada porsinya masing-masing. Dalam arti perang suku itu
apakah yang menyebabkan Freeport…ini perang suku sebenarnya masalah
100
siapa…ternyata masalah ketidaksepahaman antara warga yang berseteru…nah
tentunya ada masalah pemicunya yahh…….nah ini masalahnya masalah
kekeluargaan….lalu ada orang terbunuh….orang terbunuh tersebut apakah karena
Freeport atau karena perusahaan……setelah diselidiki ternyata bukan…..dan
masalah itu dalam investigasi dan tentunya aparat keamanan kan sedang melakukan
investigasi dan Freeport nggak bisa juga untuk interupsi…nah ini masalahnya
sebenarnya ada dimana….nah itulah yang kita ungkapkan sebenarnya kepada
mereka bahwa kita mengerti perasaan mereka bahwa mereka ini sebagai warga
masyarakat Papua yang korbannya menyangkut saudara-saudara mereka terkait
masalah safety, masalah mereka khawatir dengan keluarga mereka….itu bayangkan
kalau kita dalam posisinya mereka juga, jadi kita bisa memberikan empati kalau
kita menudukkan terlebih dahulu permasalahan ini…sehingga diharapkan kita bisa
mengerti
dan
memahami
kekhawatiran
mereka….tetapi
kita
juga
harus
memberitahu dalam masalah ini kita juga ingin mencari solusi yang terbaik sebagai
perusahaan dan tetangga yang terdekat tentunya kita ingin masalah ini dapat
diselesaikan dengan damai, tentunya kita nggak ingin ada keributan….namun dalam
hal ini Freeport juga nggak bisa ikut campur karena kewenangannya sudah ada di
pihak yang berwajib dan sekarang masih di investigasi, kita mendorong sama-sama
agar investigasi ini dapat menemukan inti permasalahan dan memberikan solusi
terhadap penyelesaian masalah perang suku disana…..intinya empati itu kita
mencoba memahami-lah kondisi mereka tapi kita juga tidak begitu berempati terus
kita sepakat dengan mereka….tetapi kita mencoba memahami dahulu…apa
sebenarnya masalah yang terjadi…kalau mereka salah ya kita sampaikan tetapi
tidak begitu ceritanya….kita harus mengklarifikasi terlebih dahulu dengan cara-cara
yang baik”.
101
Lalu, seperti apa kompetensi yang seharusnya ibu miliki sebagai seorang PR
dalam menjalin komunikasi di lingkungan perusahaan yang sebagaian besar
terdiri dari orang Papua dengan karakter dan budaya yang ada ?
“Prinsipnya sama yah…dimana prinsipnya dalam berkomunikasi itu harus saling
menghargai dulu…..membiasakan untuk mempunyai pikiran yang positif dalam
mencari sesuatu yang baik….jadi ketika ingin memulai sesuatu yang baik tentu
masuknya akan lebih mudah dalam berkomunikasi….lalu apa tujuan dan apa yang
saya harapkan saya sampaikan atau saya komunikasikan, tetapi artinya saya
mencoba menyesuaikan komunikasi saya dengan karakter stakeholder yang ada
karena masing-masing stakeholder kan punya karakter sendiri. Misalnya ketika
saya bicara dengan para stakeholder masyarakat Papua mungkin akan berbeda
dengan ketika saya menghadapi mahasiswa disini atau dengan masyarakat yang ada
di kota Jawa gitu yah ….dimana saya harus berbicara dengan cara mereka, dengan
budaya mereka, dengan bahasa mereka…misalnya kalau orang Papua mungkin
dengan bahasa Papua, orang jawa dengan bahasa jawanya begitupun dengan
mahasiswa….berbicara dengan bahasanya mereka, gayanya mereka……hal-hal itu
harus benar-benar kita pelajari dan sesuaikan…..walaupun kita nggak terlalu bisa
bahasa Papua, tapi sedikit-sedikit kita tahu logatnya mereka atau bahasa-bahasa
sederhananya mereka-lah….otomatis komunikasinya jadi lebih enak…….coba
kamu perhatikan, kalau ada orang jawa bertemu dengan orang jawa lalu berbicara
dengan bahasanya mereka…tentunya komunikasinya jadi lebih akrab…….nah ini
yang kita coba sesuaikan….jadi mencoba memahami karakter mereka, budaya
mereka…..itu tadi belajar menyampaikan bahwa apa yang kita sampaikan ini untuk
maksud yang baik terutama ketika kita mengkomunikasikan sesuatu issue ya atau
sesuatu masalah yang harus kita selesaikan atau konflik gitu yah……tentunya kita
harus berangkat dari sesuatu yang baik”.
102
Sebagai seorang PR bagaimana cara ibu melakukan pendekatan komunikasi
terhadap lingkungan perusahaan baik internal maupun eksternal ?
“Kita mencoba bukan hanya untuk bisa kita masuk saja dalam suatu lingkungan
tertentu…….tentunya kita nggak bisa hanya formal-formalan aja ya…bergaul
seperti biasa, melakukan pertemanan, ngobrol, interpersonal relationship ya…..e‟ee
hal itu kita harus bangun dan kita bina. Ketika kita sedang mengenal seseorang, kita
mengenal mereka….itu yah kita bangun…..bagaimana kita membangun hubungan
yang tadi saya katakan”.
Apa yang ibu lakukan untuk membina suatu hubungan relasi yang efektif ?
“Building relationship artinya kita memulai komunikasi untuk membangun satu
hubungan komunikasi…..misalnya untuk saya bisa berhubungan dengan Opie kan
tentunya harus ada komunikasi dulu iya kan…..saya pikir prinsipnya membangun
hubungan itu berarti tidak jauh dari menjalin komunikasi terlebih dahulu dengan
seseorang……kalau kita membangun hubungan hanya cukup dengan komunikasi
saja, tetapi kalau membangun hubungan relationship artinya ada kelanjutan dari
komunikasi itu sendiri, ada kontinuitas…..sehingga kontinuitas inilah yang harus
saya maintain”.
Berikutnya, bagaimana dengan interaction management yang ibu terapkan
untuk posisi saat ini ?
“Management disini kan bagaimana mengatur hubungan saya dengan pihak
eksternal….yaa memang dalam hal ini kita harus punya target….kembali keawal
bahwa ini sebenarnya kita mau kemana yang diarahkan ketika kita ingin
berinteraksi….kita harus punya prioritas target dulu, nggak bisa semuanya harus
kita raih atau harus kita capai….misalnya dengan maping atau pemetaan…..dari
sekian banyak target yang sudah kita petakan, kira-kira mana yang paling
103
penting….mana yang paling menjadi prioritas…itu yang kita dahulukan untuk
dikomunikasikan ke mereka….tapi bukan berarti yang lainnya diabaikan dalam arti
apa yang bisa kita lakukan dengan hal ini, sehingga hal ini sama sekali nggak boleh
dilupakan………lalu menyangkut hubungan komunikasi dengan asosiasi atau
institusi terkait kita bagaimana dan ada dimana…..dalam arti disini kita harus
mengikuti kegiatan mereka dan harus mempunyai up date atau database issue dari
setiap stakeholder kita…..misalnya kalau stakeholdernya media tentunya kan kita
memonitor berita-berita yang ada di media terkait dengan issue perusahaan atau
terkait dengan tema yang sedang diangkat oleh media itu apa, media lagi membahas
apa atau lagi ngomongin apa sih……..kira-kira keterkaitannya yang harus kita
antisipasi dari perusahaan apa…..kan harus seperti itu yah….nah kalau kita sudah
bisa mengantisipasi bagaimana kita mengkomunikasikan ini ke mereka dengan cara
yang baik…kalau misalkan akan menjadi boomerang bagi Freeport berarti kita
harus bersiap-siap untuk itu…..jadi kalau ada krisis kita harus tahu dengan siapa
kita harus kordinasi…..itulah kenapa perlunya dibentuk management crisis di setiap
perusahaan….melalui planning atau perencanaan….karena planning itu paling
penting dalam management komunikasi…….apa itu sebutannya” ???
POAC……
“Nah itu POAC…..itu sudah jadi standar yang mutlak deh bagi perusahaan….sudah
harus dikuasai oleh PR…..dimana kita harus rencanakan terlebih dahulu,
mengorganize
dalam
arti
bagaimana
cara
kita
mengkomunikasikan,
implementasinya bagaimana dan seperti apa, setelah itu cara mengukurnya
bagaimana untuk mendapatkan feedback yang diharapkan……sebenarnya menjadi
PR itu dibilang gampang…yahh gampang-gampang susah….biasanya ketika kita
kembali ke reporting….kita harus bicara diluar, melakukan meeting….meeting
104
seperti itu kan bukan berarti kita nggak ada kerjaan…..yang namanya meeting kan
harus ada feedback-nya juga….nah itu harus dikordinasikan kedalam…..bentuknya
apa ??? yaa bentuknya report itu tadi…untuk bisa orang-orang terkait tahu semua
kan report harus dikirim ke mereka….jadi yang idealnya PR bukan hanya
ngomong-ngomong aja, tetapi selalu membiasakan juga segala sesuatunya secara
tertulis sehingga komunikasi yang kita lakukan itu terecord……karena apa ???...hal
ini penting…..kita orang PR kalau kita berbicara tidak punya dasar , nggak punya
basis, ketika kita mendapat masalah misalnya dikerjain orang atau gimana….karena
posisi PR itu sensitive ketika kita salah ngomong dan kita nggak punya bukti…..ya
udah akan buruk reputasinya….berbeda kalau kita punya bukti…kita akan
aman……makannya kenapa saya selalu membiasakan kepada stakeholder saya
untuk mengirimkan email terkait dengan urusan pekerjaan baik itu dengan
wartawan, mahasiswa atau lainnya….agar kita bisa mengantisipasi pertanyaanpertanyaannya, bahasa dan cara penyampaiannya juga harus baik serta konsistensi
dari komunikasilah yang sangat penting…..makannya mengontrol emosi itu
penting…ketika kita lagi sedih, susah, kecewa dengan perusahaan cara berbicaranya
juga harus dijaga”.
Lalu
bagaimana
mengkomunikasikan
sikap
suatu
dan
tindakan
permasalahan
ibu
sebagai
PR
dengan
baik
kepada
dalam
para
stakeholder perusahaan ?
“Terlebih dahulu saya harus melakukan pemetaan masalah…..masalahnya ada
dimana dan posisi perusahaan bagaimana….ketika ada masalah terjadi….masalah
itu coba dipetakan terlebih dahulu….sebenarnya ini masalahnya apa dan
masalahnya siapa….kalau memang masalahnya perusahaan, apa yang menjadi
masalah iya kan…..lalu apa tindakan perusahaan untuk menyelesaikan masalah ini,
105
apa upaya-upaya yang dilakukan oleh perusahaan…..itu kita harus tahu
dulu……selain itu harus adanya juga kordinasi dengan departemen terkait terhadap
issue dari masalah tersebut. Karena kordinasi itu penting….kita sebagai humas
nggak bisa kerja sendiri kita harus kordinasi dengan departemen-departemen terkait
yang ada hubungannya dengan issue yang sedang terjadi….setelah itu agar kita
dapat menyampaikan masalahnya dengan baik kita harus mengetahui kondisi
audience kita seperti apa……sehingga diharapkan kita bisa memberikan pengertian
terlebih dahulu kepada mereka, kita harus belajar untuk bisa menyesuaikan diri
dengan mereka, apa yang mereka harapkan atau inginkan dari kita……..barulah kita
dapat menyampaikan maksudnya kita kepada mereka, menyampaikan apa yang
sebenarnya terjadi dan memberikan conflict resolution yang baik bagi mereka”.
Kalau menurut ibu bagaimana kompetensi komunikasinya wanita itu sendiri ?
“Saya rasa perempuan selalu punya pengaruh yang lebih besar yah untuk
berkomunikasi baik kepada sesama perempuan apalagi sama laki-laki….jadi
seandainya kita ada tamu perusahaan laki-laki……ya serahkan sama yang
perempuan
aja….karena
dari
sosok
perempuannya
sendiri
juga
sudah
menjual….kalau laki-laki kan tidak terlalu…..makannya kenapa SPG kebanyakan
wanita”.
Dalam hal ini wujud sosok wanita itu sendiri sangat berpengaruh besar
dalam proses komunikasi. Baik dilihat dari segi nilai-nilainya, keterampilannya
maupun dari sikap dan tindakannya dalam berinteraksi. Sehingga secara tidak
langsung dapat dijadikan sebagai salah satu faktor atau syarat dari keberlangsungan
interpersonal communication yang menguntungkan.
106
Kelebihan dari masing-masingnya seperti apa sih bu ?
“Secara gambaran global….perbedaannya adalah laki-laki bisa lebih berani ya
biasanya…..maksudnya dia itu lebih berani dalam memulai suatu percakapan….tapi
sekarang-sekarang ini saya lihat banyak orang perempuan juga berani memulai
suatu komunikasi…..cuma saya rasa mungkin masyarakat lebih akan menerima
bahwa laki-laki tuh lebih siap mental untuk memulai suatu komunikasi atau
percakapan….secara kalau perempuan itu lebih banyak nahan untuk dia
bicara….makannya kadang-kadang dalam bidang pekerjaan itu biasanya yang
dipromosiin laki-laki terus….yaa karena menurut saya dia berani datang jika ada
posisi kosong dan bilang ke bosnya “itu posisi kosong ya ??? kalau saya mau
kesana gimana caranya” seperti itulah contohnya kira-kira….sementara mungkin
diposisi itu maksudnya dibawahnya posisi itu udah ada perempuan yang udah lama
meniti karir cuma dia nggak berani ngomong sehingga bosnya merasa dia cukup
puas untuk posisi itu”.
B. Narasumber 2 (Budiman Moerdijat : Manager Corporate Communication)
Secara umum seperti apa pa’ kualifikasi kompetensi yang menjadi aturan dari
perusahaan ?
“Secara umum memang perusahaan membutuhkan beberapa tenaga kerja dari
berbagai disiplin ilmu yang ada….karena untuk di corpcomm ini mencakup banyak
bagian….mulai dari external communication, internal communication, support
services dll. Yang dimana kesemuanya itu terbagi lagi menjadi beberapa sub,
sehingga dengan adanya keberagaman bidang tersebut tentunya perusahaan banyak
membutuhkan para spesialis dengan latar belakang ilmu, kemampuan dan
pengalaman kerja yang relevan dengan bidang yang ditangani sehingga diharapkan
dapat menghasilkan kinerja yang baik. Namun, memang yang paling utama ialah
107
keterampilan dalam berkomunikasi yang harus benar-benar dijadikan modal
awal…..karena departemennya saja departemen komunikasi yang syarat akan
dinamika komunikasi”.
Menurut bapak pribadi kompetensi komunikasi seperti apa yang harus bapak
miliki untuk posisi saat ini ?
“Saya harus mampu mengerti dan memahami setiap karakter dari audience lawan
bicara saya serta menghargai setiap kekurangan dan kelebihannya”.
Seberapa penting-kah kita harus mengerti, memahami dan menghargai setiap
karakter audience yang kita hadapi ?
“Sangat penting…..karena dengan kita mengerti dan memahami kita dapat tahu apa
yang mereka inginkan dan apa yang mereka tidak inginkan sehingga kita dapat
menentukan pembicaraan kearah yang kita tuju”.
Lalu fungsi menghargai itu sendiri untuk apa ?
“Yaa….agar
tidak
terjadi
ketersinggungan
dan
kesalahpahaman
dalam
berkomunikasi”.
Misalnya pa’ ?
“Misalnya…….mohon maaf sebelumnya……kalau Opie pernah berjumpa dengan
orang
Papua…..karakter
yang
dirasakan
biasanya
mereka
kan
agak
sedikit.....e‟ee….maksudnya logatnya agak kurang sopan kalau menurut versi kita
yah…..lalu mohon maaf…..biasanya mereka itu kan smell-nya agak kurang
enak….maaf sebelumnya kalau saya berbicara seperti ini…..Opie sendiri merasakan
nggak” ?
Yaa seperti itu pa’ !
108
“Nah….itu berarti karakter mereka kan….nggak mungkin kita bisa langsung protes
begitu saja….karena mereka memang seperti itu dan nggak mungkin kita
merubahnya…..itu
tadi
fungsinya
mengapa
harus
adanya
rasa
saling
menghargai….untuk bisa komunikasi kita lancar, untuk bisa mereka paham dengan
apa yang kita maksud…..paling tidak kita harus menerima dan menghargai baik
kekurangan maupun kelebihan mereka…..kita harus tahu itu…..kita harus tahu
siapa lawan bicara kita…..sehingga kita bisa beradaptasi dan berinteraksi dengan
baik…..kalau misalkan kita langsung protes……nggak mau kalah…..yah
susah……kalau misalkan dia memang logatnya seperti itu….trus kitanya juga
marah-marah…..bicaranya sambil tutup hidung……..waahhhh kita nggak pantes
untuk jadi PR kalau begitu caranya, karena sikap yang seperti itu akan membuat
kita nggak pernah bisa masuk ke mereka apalagi berinteraksi……..sehingga bisa
menyebabkan bukan hanya penolakan terhadap diri kita, tetapi juga terhadap
perusahaan”.
Jika bapak dihadapkan dengan seseorang atau beberapa audience yang sama
sekali belum bapak kenal, apa yang bapak lakukan sebagai seorang PR untuk
bisa berkomunikasi dengan baik ?
“Pertama, untuk bisa berkomunikasi saya harus tahu terlebih dahulu siapa
mereka…..untuk bisa beradaptasi…..saya harus mengenal mereka, mengetahui
karakter
dan
latar
belakangnya,
memahami
budaya
atau
kebiasaan
mereka…..budaya yang seperti apa dan topik yang bagaimana yang dapat saya
sesuaikan agar saya bisa masuk ke mereka……sehingga jika kita sudah identifikasi
semua hal tersebut…kita dapat memulai komunikasi atau membuka percakapan
dengan mereka…..apa yang ingin kita sampaikan dan apa tujuan kita, prioritaskan
apa yang ingin kita tuju…….kalau misalkan kita berhadapan dengan audience yang
109
belum kita kenal….kan nggak mungkin kita menyapa mereka semua…..paling tidak
kita harus memprioritaskan siapa-siapa saja yang harus kita ajak untuk
berinteraksi……tidak hanya cukup disitu…..bahasa yang kita utarakan, sikap verbal
dan nonverbal kita, attitude kita dalam berkomunikasi…..semuanya harus termanage dengan baik….sehingga nantinya yang kita harapkan bukan hanya
penerimaan kita di tengah-tengah mereka tetapi juga image posistif yang kita
peroleh serta pemahaman terhadap apa yang kita sampaikan. Misalnya pada saat
saya sedang melakukan sosialisasi kesehatan untuk mencegah penyakit malaria di
tengah-tengah masyarakat Papua……..mereka ini masyarakat Papua yang
budayanya masih sangat kental, budaya yang seperti apa yang bisa kita sesuaikan.
Baik-buruknya
budaya
ataupun
karakter
mereka
harus
benar-benar
kita
terima……karena syarat untuk bisa kita diterima, kita harus menerima orang lain
terlebih dahulu…..lalu mereka ini kan masih sangat tradisional, kualitas
pendidikannya-pun masih sangat rendah…..nggak mungkin kita menyampaikan
sesuatu dengan cara-cara yang nggak mereka ngerti…..apa yang bisa membuat
mereka bisa dengan mudah mengerti dan memahami maksud komunikasi
kita….misalkan dengan langsung memberikan praktek melalui pemberian vitamin
atau obat-obatan atau menyediakan puskesmas untuk pertolongan pertama bagi
mereka……..bahasa
yang
kita
utarakan….biasanya
orang-orang
Papua
penerimaannya bisa lebih mudah kalau kitanya bisa berbahasa Papua juga”.
Oh gitu pa’ (sambil tersenyum)…
“Yah kadang diperlukan juga keterampilan untuk hal-hal seperti itu……apalagi
kalau sekarang Opie perhatikan…..karyawan disini logat bicaranya juga mengikuti
budaya disana…..”toh…” atau “Pace…” seperti itulah kira-kira”.
110
Seperti apa motivasi yang seharusnya dimiliki PR dalam berkomunikasi ?
“Motivasinya adalah satu…..audience bisa memahami dan mengerti maksud
komunikasi yang disampaikan….selain itu, ia juga harus mempunyai motivasi
untuk dapat memperoleh first impression yang baik, image yang baik dari
audiencenya….sehingga kalau ia punya motivasi itu….paling tidak ia akan
terdorong untuk terus melakukan dan membangun hubungan atau jalinan
komunikasi seefektif mungkin”.
Kalau dari bapak pribadi, selain untuk memperoleh pemahaman dan
pengertian dari pihak audience, ada nggak bentuk motivasi lainnya yang juga
menjadi landasan bapak dalam berkomunikasi ?
“Pada dasarnya setiap individu yang berkomunikasi itu kan tidak hanya memiliki
motivasi agar lawan bicaranya bisa paham dan mengerti saja…..tetapi ada faktorfaktor lain yang juga ikut mendukung…..misalnya ingin adanya pujian dari orang
lain baik dari penampilannya, cara berpakaian, atau mungkin kalau dari pihak
wanita aksesoris yang ia pakai….dan berbagai macam….sehingga biasanya dengan
adanya motivasi-motivasi yang seperti itu kan secara tidak langsung juga dapat
mendukung berjalannya proses komunikasi dengan baik”.
Kalau dalam organisasi kira-kira seperti apa pa’ pola komunikasinya ?
“Saya selalu mengusahakan untuk membiasakan melalui tahapan-tahapan
komunikasi dengan baik terutama dalam organisasi…..seperti biasa kalau ada anak
buah saya yang salah…yaa saya akan lebih menegur kepada siapa orang yang
bertanggungjawab atasnya…jadi nggak bisa langsung ke individunya….nanti yang
ada kita akan dianggap sebagai seorang yang tidak paham akan arti sebuah
organisasi itu seperti apa…dia itu kan merupakan suatu sistem kerjasama melalui
111
suatu pola hubungan yang terstruktur….jadi nggak bisa saya main ngomelin
orang….saya omelin dulu supervisornya baru nanti urusannya sama dia”.
C. Narasumber 3 (Mindo Pangaribuan : Stakeholder External Relations
Manager)
Kalau menyangkut masalah kompetensi komunikasi, apa yang harus bapak
terapkan untuk perusahaan ?
“Sebagai seorang komunikator yang baik yang mewakili perusahaan…saya harus
punya yang namanya good interpersonal relationship, communication skill,
kemampuan membina dengan baik hubungan komunikasi yang sifatnya horizontal
maupun juga vertikal, kemudian juga pemahaman tentang perusahaan….dimana
kemampuan untuk pemahaman itu sendiri bukan hanya untuk satu atau dua issue
saja tapi semua issue…..karena kita sebagai representasi perusahaan….jadi kita
harus memahami betul perusahaan ini apa dan masalahnya seperti apa….bukan juga
berarti kita harus bisa menjawab semua yah….kita tahu masalahnya…kalaupun kita
nggak bisa jawab…..itu ada teknik-tekniknya….bagaimana kita menyampaikan hal
itu dengan baik….sehingga kita harus memahami teknik-teknik didalam
berinteraksi…..kalau memang kita tidak tahu…yaa katakan dengan cara yang baik,
jangan
nantinya
kita
menyampaikan
sesuatu
yang
belum
jelas
kebenarannya….misalnya masalah mengenai program efisiensi yang dilakukan oleh
perusahaan dalam arti ada pengurangan pegawai termasuk posisinya…..saya telah
mengetahui masalah itu sebelumnya dan kita harus siap dengan beberapa
pertanyaan yang akan muncul…kalau misalkan ada pertanyaan lain yang mungkin
saya tidak tahu saya tidak akan mengatakan bahwa saya tahu dan memberikan
jawaban saat itu juga…saya akan mengatakan “maaf mungkin hanya itu yang saya
tahu nanti pertanyaan ini akan saya cari tahu lebih lanjut lagi” walaupun dalam hal
112
ini saya mengetahui, tetap saja saya tidak bisa menyampaikan ke mereka karena
dalam hal ini saya harus mengerti kondisi mereka sebagai karyawan yang khawatir
akan adanya PHK…..sehingga dengan begitu diharapkan saya dapat memiliki
kemampuan dalam mengkomunikasikan segala sesuatu tentang perusahaan dengan
cara yang baik dan benar. Disamping itu, juga harus adanya kemampuan untuk bisa
memposisikan bagaimana supaya para stakeholder dapat memahami saya, bisa
menerima saya di tengah-tengah mereka….karena prosesnya nanti adalah proses
komunikasi dimana saya harus mengerti audience dan sebaliknya audience mau
mengerti saya. Untuk itu, apa yang disebut adaptasi, berempati, honest, kemudian
juga apa adanya…..itu semua harus saya terapkan dan communication skill-nya pun
harus juga benar-benar saya pahami”.
Misalnya melalui apa pa’ ?
“Melalui……….ada banyak hal yang kita bisa lakukan….misalnya kalau
mahasiswa yah saya harus berbicara dengan cara mahasiswa, dengan bahasanya
mahasiswa atau istilah-istilah mereka, saya harus merasakan hidup dengan cara
mahasiswa…..persepsi mahasiswa itu bagaimana….tergantung dari karakter
masing-masing
stakeholder
yang
saya
hadapi……kalau
misalkan
mahasiswa….mahasiswa itu interest-nya apa dan selama ini bagaimana sudut
pandang mereka terhadap perusahaan, dan itu harus saya pahami dulu……apakah
itu dari keinginan ownership-nya atau kepemilikan dan apakah itu dari
nasionalismenya…..hal ini harus dipahami….berbeda ketika saya berhadapan
dengan para pejabat-pejabat tinggi Negara….bahasa yang saya gunakan harus
formil dan tidak ada istilah joke atau candaan gitu yah…….tapi pada akhirnya nanti
apapun itu yang mereka pahami saya harus bertanggungjawab, role saya itu harus
memberikan kepada mereka informasi mengenai apa ini perusahaan dan bagaimana
113
role perusahaan terhadap kelompok-kelompok atau stakeholder yang terlibat
dengan perusahaan ini”.
Kalau untuk membangun relasi bagaimana pa’ ?
“Pertama yang kita harus tahu adalah siapa kita, siapa perusahaan atau siapa
Freeport, apa itu Freeport….hal ini harus dijelaskan ke mereka….itu kita harus
tahu, berikutnya adalah kita harus pelajari siapa calon relasi kita…apakah dia
mahasiswa….dan selalu berharap bahwa tidak semuanya akan bisa menerima, tidak
akan bisa memuaskan semua orang hal itu harus kita sadari, sehingga dengan
adanya pemahaman seperti itu yaa kita bisa berbicara apa adanya kepada mereka
dengan tidak kehilangan konteks jadi upayanya itu adalah memahami siapa itu
relasi”.
Misalnya Ketika bapak dituntut untuk bisa menghadapi beberapa mahasiswa,
dimana bapak harus melakukan presentasi atau pengenalan perusahaan
kepada mereka….apa yang harus bapak lakukan agar mereka tidak jenuh,
agar mereka semangat mendengarkan sehingga mereka memahami dan
mengerti apa yang bapak sampaikan ?
“Yang telah saya katakan diawal….pertama saya harus tahu karakter dari
mahasiswa itu sendiri……mahasiswa ini dari fakultas apa…karena dari situ kita
bisa tahu karakter mereka dan kita bisa sesuaikan…misalnya dari Fakultas Ilmu
Komunikasi…biasanya kalau mahasiswa fikom itu kan well informed…gaul
istilahnya
gitu
(sambil
tertawa)….bagaimana
agar
kita
bisa
menyesuaikan…..misalnya kita menjelaskan dengan gaya bahasanya mahasiswa,
penampilan kita….jangan terlalu dibuat formal-formal banget lah…..kita harus
mengetahui kondisinya mereka seperti apa….kalau misalkan mereka baru aja
selesai ujian…trus kita datang, langsung dengan penjelasan perusahaan……wahhh
114
nggak bisa seperti itu, nantinya mereka sulit untuk menerima dan memahami….kita
refresh dulu, greetings dengan mereka agar mereka bisa siap ketika menghadapi
materi yang saya berikan….kita kasih mereka merchandise bagi yang aktif
bertanya….agar mereka semangat….dalam hal ini kita juga harus lihat kira-kira
merchandise yang sesuai apa….jangan nanti kita kasihnya kalender, mug, atau
notebook yang buat orang kantoran misalnya……..itu salah…..kita harus tahu apa
sih yang identik dari mahasiswa…misalnya kaos….berarti merchandisenya bisa
polo shirt, topi, payung dsb…materi yang kita sampaikan juga harus menarik baik
itu dari designnya, topiknya, cara penyampaiannya…..intonasinya juga harus
jelas…..sikap verbal dan nonverbalnya juga harus kita terapkan dengan
baik….biasanya mereka interest dengan apa yang nyata didepan mereka, yang bisa
langsung mereka lihat, bisa langsung mereka mengetahui……kalau dari Freeport
kan yang utamanya tembaga, emas, trus ada perak juga, atau konsentrat yang
merupakan campuran antara tembaga dan emas tadi…….nahh itu semua kita bawa
kita kasih lihat ke mereka bahwa ini loh produksinya Freeport…..sehingga mereka
bisa langsung melihat dan mengetahui seperti apa wujudnya serta kandungan zat
yang ada didalamnya….sehingga jika itu semua terlaksana dengan baik diharapkan
akan muncul feedback yang baik pula dari mereka berupa pengertian dan
pemahaman”.
Lalu seperti apa cara pandang bapak terhadap kompetensi komunikasi baik
dari pihak laki-laki maupun perempuan ?
“Kalau saya perhatikan dari pihak perempuannya itu dia memiliki gaya berbicara
yang lebih kepada seorang instruktur…..mungkin karena secara pengalamannya dia
sebelumnya sebagai seorang instruktur….jadi kalau buat memberikan penjelasan
bagus…..cuma kalau untuk beberapa orang mungkin dia akan dianggap menggurui
115
karena dia cenderung menggunakan kata-kata yang selalu bersayap dan
melebar…..tapi dia ini terstruktur dengan baik dan penjabarannya sangat mendetail
tapi kalau untuk memberikan satu solusi jangka pendek mungkin informasi yang dia
berikan menjadi terlalu banyak sehingga waktunya yang diperlukan lebih
banyak….misalnya dalam keadaan darurat…..biasanya kan kalau dalam keadaan
seperti itu orang nggak mau menjawab terlalu banyak dan dengan waktu yang lama
juga gitu…..sekarang casenya kalau lagi ada peristiwa kebakaran atau bom yang
beberapa tahun lalu terjadi di kedubes Australia….itu kan gedung Freeport kena
sampe karyawan-karyawannya juga…..nah kalau dalam kondisi yang seperti
itu….orang-orang yang panik kan otomatis membutuhkan penjelasan yang praktis,
sistematis dan cepat….nah kalau penjelasannya dia terlalu panjang kan yang ada
keburu meledak duluan”.
Kalau dari pihak laki-lakinya seperti apa pa’ ?
“Yang saya lihat laki-lakinya kalau di corpcomm itu….terutama dari tim saya
yah…..secara professional dia memiliki modal komunikasi yang bagus, skill yang
bagus dan bahasa inggris yang bagus….yang hanya perlu dia tingkatkan adalah
penggunaan dan juga pemilihan bahasa indonesianya….membiasakan diri untuk
berbahasa Indonesia aja lah….mungkin ini dipengaruhi karena dia dulu sekolahnya
diluar
negeri ya…jadinya
kadang-kadang lebih
mudah
buat dia untuk
berkomunikasi dengan bahasa inggris…..tapi kadang kala kan kita nggak bisa cuma
dapetin tamu yang asing aja….kita harus siap dengan apa yang ada disitu baik tamu
local maupun tamu asing…..tapi memang kalau menurut saya diantara laki-laki
yang lain dia memiliki kemampuan yang baik diatas rata-rata…kemampuan dia
untuk berkomunikasi lumayan baik….dia tipe-tipe orang yang marketing, dia tidak
kaku dan dia bisa lebih luwes lah ya untuk mengkomunikasikan ide-idenya dia
116
maupun kemauan-kemauannya dia serta menjawab atau menjabarkan suatu masalah
kepada lawan bicaranya”.
Misalnya pa’ ?
“Contohnya kaya kalau ada request baik dari email, tulisan maupun verbal itu dia
bisa menjawab dengan baik, terstruktur dengan baik sehingga tidak menimbulkan
kesalahpahaman dari pihak lawan bicaranya”.
Ada nggak sih pa’ keterbatasan-keterbatasan lainnya yang kadang
menghambat PR itu sendiri dalam berkomunikasi….dan dalam konteks yang
seperti apa ?
Memang setiap orang punya kekurangan dan kelebihan yah dalam berkomunikasi,
kalau saya perhatikan khususnya bagi karyawan PR yang perempuan itu agak minus
dalam hal suara…makannya kenapa untuk konteks-konteks yang berhadapan
dengan audience yang jumlahnya besar dia agak kurang maksimal dan harus
didampingi sama yang laki……karena karakter suaranya memang nggak bisa
keras…..tetapi kalau untuk interpersonal dia bisa lebih baik lah…..apalagi saat
berjumpa dengan orang-orang yang baru…entah itu tamu dari luar perusahaan atau
klien…..biasanya luwesnya wanita itu kan memudahkan ia untuk bisa masuk
kedalam situasi yang seperti itu….situasi dimana lingkungan dan audiencenya nih
baru dia kenal………sehingga bisa dengan mudah berinteraksi…..bisa gampang
memulai komunikasinya…….makannya kenapa kalau kita lagi kedatangan tamu
biasanya yang menyambut wanita…..yah mungkin karena faktor itu tadi….bisa
lebih akrab lah”.
117
4.2.3. Pandangan CEO Pada Nilai Gender dan Kompetensi Komunikasi SDM
Public Relations
A. Narasumber 1 (Santi Sariesayanti : Senior Communication Exsternal
Outreach Institutional Relations)
Untuk konteks-konteks tertentu kira-kira seperti apa bu proporsi kompetensi
komunikasi baik dari pihak laki maupun perempuan ?
“Kalau untuk pekerjaan-pekerjaan yang berhadapan dengan orang banyak sebagai
frontliner….saya akan taruh perempuan tapi akan didampingi dengan lakilaki…..kenapa…..supaya kalau si perempuannya ini lagi dalam keadaan emosi yang
tinggi dan audiencenya itu lagi perlu menerima jawaban yang berlogika
tinggi….dan kalau perempuannya itu lagi nggak siap untuk menjadi orang yang
lebih berlogika….saya akan majukan orang yang lebih berlogika yaa si laki
ini….dan memang biasanya sebagai frontliner orang akan lebih friendly atau akan
lebih gampang berinteraksi dengan pribadi yang ramah……dan wanita secara
fisicly aja udah keliatan lebih ramah daripada laki-laki….sedangkan laki-laki nggak
mungkin pakai eyeshadow kan….nggak mungkin pakai dandanan untuk menambah
dia lebih bagaimana…walaupun yang dilihat adalah skill, tapi perempuan masih
gampang lah dibikin cantik daripada laki-laki yang dibikin ganteng”.
B. Narasumber 2 (Budiman Moerdijat : Manager Corporate Communication)
Dalam situasi-situasi yang bagaimana perbedaan kompetensi komunikasi
perempuan dan laki-laki itu sangat terlihat jelas ?
“Seperti diawal yang telah saya katakan bahwa perempuan itu bisa lebih mudah
masuk dalam komunitas yang dominan laki-laki…tapi tidak bagi laki-laki....dimana
pada saat terjadi demonstrasi yang audiencenya dominan perempuan bisa saja
118
jadinya malah tambah beramarah gitu…..malah tambah pengen maki-maki lah
istilahnya…..tapi memang kadang dalam kondisi-kondisi yang seperti ini,
komunikasinya wanita cenderung pada teknik persuasifnya…..tapi kalau untuk
penjelasan-penjelasan yang konstruktif misalnya pada saat melaporkan perubahan
planning atau progress tertentu….mereka agak sedikit kurang tegas yah….yaa
setegas-tegasnya wanita masih tegas laki-laki….tapi dia bisa dengan baik
memaintain interaksinya dia dengan relasi….dengan partner….biasanya kan pola
komunikasi yang ada bentuknya tuh kaya gunung…kalau dia nggak….dia bisa
seperti
bentuk
angka
delapan…sampe
tanggal
ulang
tahunnya
para
klien…vendor…dia tuh punya….kalau saya biasanya nggak bisa seperti
itu…maksudnya kalau ada klien atau apa….ya udah hanya sekedar kenal
aja….udahan itu saya tinggal….itu mungkin satu kekurangan saya yah…tapi saya
juga sedang mencoba untuk itu”.
C. Narasumber 3 (Mindo Pangaribuan : Stakeholder External Relations
Manager)
Menurut bapak ada tidak pengaruh peran laki-laki dan perempuan dalam
kondisi-kondisi tertentu ?
“Tergantung medannya dan tuntutan pekerjaannya sih….karena saya nggak bisa
bilang bahwa laki-laki lebih leluasa yahh….misalnya begini untuk handle ibu-ibu
itu belum tentu harus perempuan lohh….karena kalau perempuan berantem mulu
nanti yang ada….jadi disana kan ada dua belas ribu karyawan…taruhlah enam
puluh persen, berarti enam ribu karyawan punya enam ribu istri kan disana……dan
disana nggak ada mall, paling shopping mall cuma satu….itu juga paling isinya
cuma toko, hero, bank, kantor pos, sama coffee shop…..itu kalau nggak di manage
dengan baik maka bisa berantakan….sehingga yang harus menangani bukannya
119
perempuan tapi laki-laki…kenapa ? karena perempuan biasanya kalau ngadepin
perempuan itu akan lebih nyinyir….tapi kalau yang ngadepin laki….yaa ibu-ibu itu
akan lebih senang….jadi saya nggak bisa bilang bahwa ternyata pekerjaan yang di
handle perempuan audiencenya harus perempuan juga bahkan opposite attract itu
yang menjadikan suatu kinerja yang bagus…….jadi kalau lebih leluasa kalau
menurut saya pribadi dilihat dari tuntutan pekerjaannya apa…..kalau mau dibilang
bahaya atau apa segala macam….itu tergantung lagi pie….kenapa ? karena kita kan
punya standard K3….keselamatan kerja karyawan…..jadi K3 itu adalah standard
safety yang dipakai di Freeport…nah kalau perusahaan memenuhi itu….yaa kita
nggak perduli dibalik helm itu laki-laki atau perempuan…..of course kalau dibilang
tenaganya ya akan dibilang…..katakan umurnya sama yah….akan lebih kuat lakilaki….tapi belum tentu lebih cerdik laki-laki kan….jadi kembali dimana fieldnya itu
sama ada standard kerja dan keselamatan kerja yang sama serta tujuannya
jelas….itu kita bisa taruh siapa saja”.
4.3.
Pembahasan
Dari ketiga fokus penelitian yang telah penulis jabarkan sebelumnya, dapat
ditarik suatu pernyataan bahwa terdapat nilai gender dari peran lain yang mewarnai
peran PR di perusahaan, yang juga berkaitan dengan proporsi dari masing-masing
kompetensi komunikasi yang mereka miliki, khususnya dalam konteks-konteks
tertentu. Misalnya Untuk fokus Pandangan CEO Pada Nilai Gender SDM PR,
terlihat bahwa adanya suatu kecenderungan yang muncul akan hal tersebut. Seperti
pada narasumber pertama (perempuan), beliau mengungkapkan suatu dilemma yang
harus ia jalani sebagai PR untuk External Communication.
120
Dimana, seperti yang telah diketahui untuk posisi eksternal khususnya pada
background perusahaan seperti Freeport sangat menuntut fisik yang stabil. Karena
jobdesc yang dijalani berhadapan langsung dengan lingkup daerah operasional
perusahaan yang sangat luas baik itu meliputi dataran tinggi dan dataran rendah
dalam kondisi wilayah yang remote, sehingga menuntut sistem kerja yang bersifat
mobile. Selain itu, juga memunculkan resiko dan batasan-batasan gender terhadap
lingkup bidang pekerjaan yang dijalani.
Selain fisik, peran wanita diluar lingkup perusahaan juga memberikan
gambaran tersendiri terhadap peran dan fungsinya sebagai PR, khususnya bagi
mereka yang berkeluarga. Kecenderungannya dominan terjadi pada menurunnya
pola tingkat konsentrasi atau arah fokus mereka dalam menghadapi dua situasi
dalam waktu yang bersamaan. Hal ini juga bisa berdampak pada ketidakefektifan
mereka dalam menghadapi dan menangani issue atau crisis yang sifatnya spontan,
apalagi intensitas issue yang muncul cenderung besar. Belum lagi kemungkinan
yang muncul dari peran ganda wanita sebagai PR yang terpaksa harus bekerja paruh
waktu (under employment), sehingga membuat beban waktu, tenaga dan pikiran
yang dialami wanita berkeluarga memunculkan dinamika emosional dan aturanaturan tersendiri diluar role perusahaan.
Berbeda dengan laki-laki, peran tunggal yang mereka miliki secara tidak
langsung memberikan akses atau kemudahan bagi mereka dalam memfokuskan satu
masalah tertentu. Mereka juga lebih leluasa dalam menghadapi dinamika problem
di lingkup perusahaan. Sehingga ketika dihadapkan pada issue perusahaan yang
sifatnya spontan (issue yang tidak bisa ditebak kapan terjadinya), mereka bisa lebih
efektif dalam menangani masalah tersebut.
121
Narasumber menyatakan pada dasarnya karakter dari industri pertambangan
seperti Freeport, lebih sesuai dengan gender laki-laki yang bekerja didalamnya.
Karakter disini dalam arti, bisa dilihat dari sisi kondisi dan situasi daerah
operasional serta komitmen yang dimiliki oleh laki-laki itu sendiri. Tetapi tidak
bagi wanita, background perusahaan yang ada secara tidak langsung dapat
memunculkan keterbatasan wanita di industri pertambangan. Namun, dalam hal ini
masing-masing dari mereka memiliki value yang tanpa disadari memberikan warna
tersendiri dalam kondisi dan situasi tertentu. Misalnya : karakter keluwesan wanita
yang secara tidak langsung memudahkan dirinya dalam berinteraksi baik keluar
maupun kedalam, cirikhas perempuan dengan sebutan „talk active‟ menjadikan
perempuan better two way communication, tingkatan emosional atau perasaan yang
cenderung menghiasi jiwa perempuan dalam menghadapi suatu permasalahan
membuat perempuan lebih fair atau tidak tega-an, berbeda dengan laki-laki yang
lebih cool dalam menghadapi permasalahan, wanita cenderung memposisikan
dirinya untuk bersifat netral sehingga mereka mampu menghasilkan judgement
yang lebih baik, dan segala yang dilakukan penuh dengan ketelitian serta lebih
diantisipasi terlebih dahulu.
Beliau juga sedikit membahas mengenai keluh kesah menjadi seorang PR
terutama bagi wanita bekerja dan berkeluarga. Disamping PR itu sendiri
tanggungjawabnya berat mencakup ekspektasi orang lain terhadap mereka serta
merefleksikan perusahaan, PR juga harus banyak memiliki keterampilan baik dalam
hal lisan maupun tertulis. Serta kordinasi kerjasama yang cukup baik dan cakupan
wawasan yang luas yang tidak hanya terpusat pada satu bidang tertentu saja,
melainkan beberapa bidang lain yang ada kaitannya dengan seluk-beluk atau latar
belakang perusahaan yang diwakilinya.
122
Lalu pengetahuan empati dalam berkomunikasi yang sifatnya semata-mata
karena ketulusan, hal ini sangatlah penting mengingat kebutuhan akan dampak
positif dari respect atau respons seseorang terhadap PR untuk bisa masuk dan
menyampaikan komunikasi dengan baik. Sehingga diharapkan muncul pengertian
dan pemahaman dari stakeholder terhadap apapun kondisi yang dialami perusahaan.
Tidak hanya itu, beliau juga mengungkapkan bahwa adanya keterkaitan antara
kondisi perusahaan dengan struktur management organisasi. Dalam arti, berhubung
areal pekerjaan dari department corpcomm itu cukup luas maka dibutuhkan
berbagai macam spesifikasi atau pembagian tugas kerja kedalam beberapa bagian
atau sub yang lebih kecil lagi sehingga pekerjaan dapat tercover dengan mudah dan
fokus pada arah tujuan yang ingin dicapai.
Untuk narasumber kedua (laki-laki), secara umum ia mendasari semua unsur
yang ada (baik laki-laki maupun perempuan) berdasarkan tingkatan kompetensi
yang dimiliki oleh masing-masing individu. Namun, disisi lain terlihat adanya
kecenderungan peran dari nilai-nilai perempuan terhadap posisi PR dalam variasi
situasi, kondisi dan konteks komunikasi terkait dengan kompetensi yang dimiliki.
Hal ini digambarkan dari kemampuan berkomunikasi wanita saat menghadapi
demonstran yang audience-nya dominan laki-laki, dalam hal ini sosok wanita juga
membawa kemudahan untuk bisa masuk dan berinteraksi didalamnya.
Tidak hanya itu, peran wanita dalam hal ini juga merefleksikan keterbatasan
ruang gerak mereka dalam menjalani tugas dan fungsinya sebagai karyawan
perusahaan, sehingga terkadang dapat membentuk batasan genderisasi tersendiri
terhadap aturan-aturan yang muncul khususnya untuk konteks-konteks tertentu.
Nuansa daya tarik personal wanita juga memunculkan suatu efek pola komunikasi
yang cozy, tetapi narasumber tetap mengangkat kondisi fisik dan mental yang
123
kadang menjadi kendala utama dari masing-masing individu dalam melatar
belakangi nilai gender di industri ini.
Untuk narasumber ketiga (laki-laki), terdapat suatu gambaran mengenai
aspek dari faktor ketidakleluasaan wanita dalam kaitannya terhadap ragam situasi
dan kondisi perusahaan. Kembali beliau membahas mengenai peran lain serta self
personal sosok wanita yang dalam hal ini menjadi salah satu penyebab dari faktor
tersebut. Tidak dapat dipungkiri bahwa pada kenyataannya peran laki-laki sangat
dominan dibandingkan peran wanita khususnya untuk daerah site. Seperti yang
telah dijelaskan diawal, hal ini terjadi mungkin karena adanya faktor situasi dari
medan daerah operasional perusahaan. Dalam hal ini, feedback dari genderisasi itu
sendiri memberikan beragam dimensi dari kondisi yang terjadi.
Sedangkan mengenai Pandangan CEO Pada Kompetensi Komunikasi SDM
PR, banyak versi yang memang menuntut PR untuk bisa memiliki kemampuan dan
keterampilan yang bertolok ukur pada communication competence dalam penerapan
bidang pekerjaan tertentu sesuai dengan peran dan fungsinya masing-masing.
Misalnya untuk pandangan narasumber pertama, beliau mengawali pada pentingnya
motivasi dalam memulai suatu jalinan hubungan komunikasi yang efektif dengan
para stakeholder, motivasi tersebut bisa berupa feedback positif serta wujud
kepuasan perusahaan terhadap kontribusi yang telah diberikan tentunya melalui
keterampilan berkomunikasi dalam proses penerapannya.
Keterampilan itu sendiri mempunyai batasan-batasan tertentu tergantung
dari karakter masing-masing individu. Dalam hal ini, beliau mengakui memiliki
batasan tersebut terkait dengan karakter kapasitas suara yang ia miliki. Ia juga
menyadari kalau hal itu secara tidak langsung menghambat prakteknya dalam
proses komunikasi, sehingga keberlangsungan proses tersebut dirasa kurang
124
maksimal untuk situasi tertentu. Disisi lain narasumber juga mengutarakan
beberapa pondasi khusus yang mampu menopang lingkup communication skill,
antara lain ; adanya out going personality yang baik (kemudahan dalam bergaul)
karena hubungan baik hanya dapat dibina melalui pergaulan, penguasaan bahasa,
keberanian untuk mampu mengungkapkan dan mengutarakan sesuatu dengan cara
yang baik, memiliki wawasan yang luas, serta kemauan untuk mendalami beberapa
bidang lain sesuai dengan latar belakang perusahaan tempat ia bekerja.
Untuk pengetahuan beradaptasi dalam menjalin komunikasi terutama di
daerah site, narasumber dituntut untuk bisa memahami batasan-batasan tersebut.
Sebagai sosok perempuan ia cenderung memperhatikan penampilan sebagai salah
satu faktor utama dalam keberlangsungan jalinan komunikasi yang efektif, baik dari
caranya berpakaian maupun dalam bersikap dan bertingkah laku. Hal ini sangat
menjadi prioritas sehubungan dengan dominasi pekerja laki-laki yang bekerja di
daerah tersebut. Tidak hanya itu, ia juga mengungkapkan prinsip utama yang perlu
diperhatikan dalam memulai komunikasi, yaitu dengan rasa saling menghargai, berpositive thinking, dan mencoba menyesuaikan dengan karakter budaya audience.
Sehingga tujuan dan harapan yang ingin disampaikan dapat dengan mudah
dikomunikasikan melalui maksud dan cara yang sebaik-baiknya.
Sedangkan untuk pengetahuan berempati khususnya di saat posisi
perusahaan sedang bermasalah, hal pertama yang narasumber terapkan ialah
mengetahui dan memahami situasi serta masalah yang terjadi. Langkah kedua yaitu
mempelajari target stakeholder yang terlibat baik dari segi karakter maupun kondisi
yang dialami, memahami perasaan dan kekhawatiran yang mereka rasakan,
mencoba memisahkan inti permasalahan yang muncul, lalu bagaimana posisi
perusahaan dalam hal ini. Untuk bisa masuk kedalam satu suasana yang mungkin
125
agak sulit buat perusahaan, narasumber menjadikan beberapa aspek tersebut sebagai
pedoman bagi dirinya dalam memulai proses empati sebelum masuk kepada
tahapan komunikasi yang lebih lanjut.
Dalam melakukan pendekatan komunikasi, narasumber tidak hanya
mencoba untuk bisa masuk ke dalam satu lingkungan tertentu saja. Melainkan,
berusaha untuk dapat masuk ke dalam perspektif dan pergaulan mereka sehari-hari
melalui pembinaan hubungan interpersonal relationship yang maksimal. Seperti
yang telah dijelaskan di awal, hubungan tersebut cenderung diimplementasikan
dengan penyesuaian karakter dan budaya komunikan, memberikan rasa pengertian,
serta berusaha untuk menyambungkan frame of reference antara kedua belah pihak.
Dan tentunya ada keberlanjutan dari kesemua unsur tersebut, sehingga tidak hanya
jalinan komunikasi yang sifatnya sementara tetapi ada suatu continuitas dari
building relationship yang terbina.
Keseluruhan aktifitas komunikasi tersebut tentunya harus bisa terukur
dengan baik dalam suatu cara yang efektif melalui suatu pola yang disebut dengan
interaction management. Dalam hal ini, bagaimana narasumber mengatur hubungan
komunikasi secara berkesinambungan dengan pihak-pihak yang memiliki
keterkaitan terhadap kepentingan perusahaan. Adapun tahapannya antara lain :
perincian prioritas atau target yang diarahkan pada saat memulai suatu interaksi,
membuat suatu maping atau pemetaan terhadap inti pesan yang ingin disampaikan.
Sekiranya pesan-pesan mana saja yang harus didahulukan serta yang harus
dijadikan daftar untuk prioritas selanjutnya. Kemudian membina hubungan
komunikasi dengan asosiasi dan institusi terkait dengan perkembangan issue
perusahaan, serta meng-up date informasi-informasi penting yang terjadi di sekitar
lingkup institusi tersebut sehingga langkah antisipasi dapat ditempuh dengan mudah
126
pada saat perusahaan mengalami masa-masa krisis. Sama halnya dalam
mengkomunikasikan suatu masalah, dimana dasarnya ialah pemetaan atau maping.
Kalau diawal pemetaan ini menyangkut prioritas atau target pesan dalam
memanage interaksi dengan stakeholder perusahaan, kali ini menyangkut pemetaan
terhadap sumber masalah yang muncul melalui identifikasi masalah terhadap posisi
perusahaan serta tindakan atau upaya-upaya yang harus dilakukan dari mulai
kordinasi, empati dan adaptasi. Metode inilah yang juga menjadi tolak ukur bagi
narasumber untuk penerapan conflict resolution dalam proses komunikasi.
Secara umum kualifikasi kompetensi yang perusahaan butuhkan mencakup
dari berbagai macam latar belakang disiplin ilmu yang ada, hal ini sehubungan
dengan kondisi perusahaan yang terbagi kedalam berbagai sub atau bagian bidang
tugas dan fungsi yang beragam. Gambaran inilah yang diungkapkan narasumber
kedua dalam pandangannya terhadap kompetensi komunikasi SDM PR. Selain itu,
beliau juga menyatakan bahwa pentingnya rasa saling menghargai, mengerti dan
memahami dalam penerapan kompetensi komunikasi PR terhadap kelebihan dan
kekurangan dari audience atau lawan bicara yang terlibat dalam proses komunikasi,
sehingga dapat dengan mudah menentukan arah komunikasi yang ingin dituju.
Untuk bisa masuk kedalam satu kondisi komunikasi yang belum
terprediksikan, narasumber mencoba untuk mengawali proses adaptasinya melalui
pengenalan dan penyesuaian terhadap apapun situasi yang mencerminkan baik itu
budaya maupun konteks yang saat itu ia hadapi. Memprioritaskan tujuan
komunikasi serta target komunikan yang ingin dicapai dan didukung dengan
keterampilan komunikasi dalam proses implementasinya. Dalam hal ini, beliau
cenderung menyesuaikan pada pola kultur bahasa yang diterapkan bagi
keberlangsungan proses komunikasi yang bersahabat. Disamping itu, motivasi
127
untuk memperoleh pemahaman dan pengertian dari target khalayak juga menjadi
salah satu unsur yang dijadikan pedoman oleh narasumber dalam membina proses
keberlangsungan komunikasi yang baik. Seperti adanya motivasi untuk memperoleh
first impression atau image yang positif di mata khalayak, motivasi untuk bisa
dihargai, sampai kepada motivasi untuk mendapatkan pujian atau sanjungan dari
pihak lain. Hal ini ternyata juga menjadi salah satu faktor penting yang narasumber
jadikan sebagai motivasi dalam melancarkan proses hubungan komunikasi yang
excellence.
Sebagai komunikator yang baik narasumber ketiga menyatakan bahwa
sudah seharusnya seorang PR mempunyai good interpersonal relationship,
communication skill, kemampuan membina dengan baik hubungan komunikasi
yang sifatnya vertikal maupun horizontal, kemampuan memahami dan mengerti
posisi lawan bicara, pemahaman terhadap keseluruhan latar belakang perusahaan
yang diwakili, serta pemahaman pada teknik-teknik dalam berinteraksi baik melalui
proses adaptasi, empati, honest, dan apa adanya.
Sedangkan untuk Pandangan CEO Pada Nilai Gender dan Kompetensi
Komunikasi SDM PR, narasumber pertama mengungkapkan bahwa terdapat situasi
dan kondisi-kondisi tertentu yang dimana terdapat perbedaan peran antara laki-laki
dan
perempuan.
Seperti
untuk
front
liner,
biasanya
perusahaan
akan
mendelegasikan wanita untuk posisi ini. Hal ini dikarenakan secara fisicly wanita
lebih ramah, lebih bersahabat, dan lebih mudah berinteraksi terhadap lawan
bicaranya.
Namun, narasumber juga mengatakan bahwa dalam hal ini wanita akan
didampingi laki-laki apabila dalam casenya wanita sedang dalam keadaan
emosional yang tinggi, sedangkan kliennya memerlukan penerimaan jawaban yang
128
berlogika tinggi dan jika si perempuan ini sedang tidak siap untuk menjadi orang
yang lebih berlogika, maka narasumber akan memajukan yang laki-laki sebagai
sosok yang lebih berlogika sehingga diharapkan menghasilkan suatu proses
komunikasi yang efektif dan balance.
Berbeda dengan narasumber kedua, beliau mengatakan bahwa pola
komunikasi wanita yang bersifat persuasif sangat cocok dalam menangani situasi
demonstrasi yang demonstrannya cenderung laki-laki, dalam hal ini wanita bisa
lebih menenangkan. Namun, untuk penjelasan-penjelasan yang sifatnya konstruktif
seperti pada saat melaporkan perubahan planning atau progress tertentu wanita
kurang memiliki ketegasan. Oleh karenanya untuk kondisi yang seperti ini
penjelasan yang sifatnya konstruktif itu lebih kepada laki-laki, dalam arti laki-laki
bisa lebih tegas.
Tidak hanya itu, narasumber juga mengungkapkan bahwa sikap wanita yang
sangat care dan perhatian terhadap segala sesuatu hal membuat ia bisa dengan
efektif membina dan memelihara hubungan interaksinya dengan pihak-pihak
stakeholder perusahaan. Pola komunikasi yang terjalin tidak hanya bersifat
sementara tetapi ada kelanjutan dari hubungan komunikasi yang terjalin sehingga
membuat ia lebih dikenal di masyarakat.
Sedangkan narasumber ketiga, mengakui kalau pengaruh peran laki-laki dan
perempuan terhadap situasi dan kondisi tertentu lebih tergantung kepada bagaimana
medan dan tuntutan pekerjaan seseorang. Jadi misalkan untuk audience yang
dominan wanita terutama ibu-ibu, komunikasi akan sangat efektif jika ditangani
oleh laki-laki sebagai komunikatornya. Sehingga opposite attrack inilah yang
memudahkan proses adaptasi serta menjadikan suatu konteks hubungan komunikasi
yang sangat baik.
129
Secara umum terdapat berbagai macam kondisi dan situasi yang mewarnai
pandangan CEO pada nilai gender dan kompetensi komunikasi SDM PR.
Keberagaman tersebut pada dasarnya muncul dari pengalaman serta kognisi
narasumber terhadap ideologi gender yang mencakup segala aturan, nilai dan
stereotype
mengenai
hubungan
antara
perempuan
dan
laki-laki
melalui
pembentukan identitas feminin dan maskulin. Tidak bisa dipungkiri bahwa memang
terdapat keterkaitan baik antara faktor genderisasinya maupun kompetensi
komunikasi seseorang terhadap latar belakang perusahaan serta lingkup bidang
pekerjaan yang dijalani. Seperti pada gambaran di fokus pertama (Pandangan CEO
Pada Nilai Gender SDM PR) ; dalam hal ini wanita memiliki fisik yang kurang
maksimal sehingga kurang efektif dalam menjalani fungsinya terutama didaerah
operasional tambang perusahaan (Papua), berbeda dengan laki-laki yang fisiknya
lebih kuat sehingga bisa lebih maksimal dalam menjalani peran dan fungsinya
dengan baik. Pertama, secara biologis faktor fisik menjadi kendala yang dominan
baik dari pihak laki-laki terutama wanita. Daerah operasional perusahaan dan segala
unsur-unsur yang mencakup didalamnya menuntut mereka untuk bisa bekerja
mobile dan travelling. Hal ini secara tidak langsung menjadi tantangan tersendiri
bagi peran dan fungsi yang mereka jalani di perusahaan. Tantangan itulah yang
kadang menimbulkan batasan-batasan gender tersendiri dan bahkan memunculkan
opposite attract yang efektif antara laki-laki dan perempuan terhadap lingkup
bidang pekerjaan tertentu.
Dari opposite attract inilah kita dapat melihat bahwa ternyata ada suatu
nilai-nilai tertentu yang dimiliki masing-masing kubu. Nilai-nilai tersebut salah
satunya bisa dilihat dari keluwesan perempuan dalam menghadapi suatu
permasalahan. Keluwesan ini pada dasarnya muncul dari tingkat emosionalnya
wanita yang tanpa disadari membuat ia menjadi balance. Maksudnya ialah dalam
130
melihat suatu masalah ia cenderung melibatkan emosi terlebih dahulu sehingga mau
tidak mau emosi itu harus dipecahkan sebelum melibatkan logika dengan begitu ia
bisa tahu apa yang selanjutnya harus dilakukan. Keluwesannya perempuan diakui
dapat menimbulkan suatu pengertian dan bisa fleksibel dalam memahami situasi
dan kondisi tertentu.
Kedua, adanya peran lain diluar peran dan fungsi mereka di perusahaan
khususnya bagi para wanita yang bekerja dan berumah tangga. Dalam hal ini peran
mereka sebagai seorang ibu memberikan suatu dilema yang mewarnai kondisi
pekerjaan mereka di kantor, apalagi industri yang mereka masuki ini tergolong
industri manufaktur yang sifatnya berat sehingga mempengaruhi aspek waktu,
tenaga dan pikiran mereka di lingkungan kerja. Yang pada akhirnya muncul aturan
gender tersendiri dari pihak perusahaan misalnya untuk wanita hamil mereka
terpaksa untuk tidak ditugaskan keluar daerah operasional sehingga ada beberapa
peran dan fungsi yang sedikit terhambat akibat peran tersebut. Sedangkan peran lain
dari laki-laki lebih kepada adanya jalinan kerjasama dengan institusi lain diluar
perusahaan sehingga mempengaruhi kinerja peran dan fungsi mereka di perusahaan
tempat ia bekerja.
Ketiga, Adanya nilai yang melekat dari sosok laki-laki dan perempuan itu
sendiri. Dimana salah satu dari beberapa nilai tersebut menggambarkan kalau
perempuan identik dengan keluwesan, ramah dan emosional sedangkan laki-laki
lebih kepada logika dan ketegasan. Sehingga nilai tersebut tanpa disadari juga
memberikan efek terhadap jenis pekerjaan yang dihadapi.
Sha argued that feminization would make Public Relations more ethical in
appearance and practice. Larissa Grunig, Dozier, and rakow have suggested the
prevalence of women would introduce characteristic : such as collaboration,
131
sensitivity towards audiences, and better two way communication. Grunig et al.
argue that Public Relations is an industry founded on feminist values, such as
honesty, justice, and sensitivity, which enhance the symmetrical communication
patterns of Public Relations furthermore, the two way symmetrical model of Public
Relations requires resolving conflict and building relationships, which they indicate
are intrinsically „feminine‟ values.
Dalam teori ini dikatakan bahwa feminis value dapat membuat PR menjadi
lebih efektif dalam prakteknya. Beberapa peneliti lain menyatakan bahwa ada
empat karakteristik nilai dari sosok wanita antara lain kepekaan terhadap lawan
bicara dan two way communication yang baik. Mereka juga menambahkan bahwa
PR dibeberapa industri sering ditemukan dengan karakter feminis valuenya seperti
kejujuran, keadilan, dan kepekaan dimana itu semua didukung dengan pola
komunikasi simetrik dan two way symmetrical model dalam pemecahan konflik dan
pembangunan relasi yang efektif.
Dari pernyataan diatas dapat dianalisis bahwa memang ada suatu bentuk
kepekaan yang sangat kuat yang dimiliki wanita khususnya dalam konteks
komunikasi yang sifatnya interpersonal. Tanpa disadari kepekaan tersebut
memunculkan keluwesan dalam diri wanita yang tidak hanya terlihat dari cara dia
berkomunikasi tetapi juga terlihat dari cara mereka dalam memahami suatu kondisi
yang terjadi. Sedangkan untuk two way communication yang ada dalam feminis
value sebenarnya tidak hanya melekat pada diri wanita saja, tetapi juga ada pada
sosok laki-laki namun dalam satu konteks yang berbeda. Kalau dalam hal justice
perempuan lebih dilihat dari sudut pandang emosionalnya sehingga ia dapat
memposisikan dirinya netral dalam membuat suatu judgement yang lebih baik.
132
Keempat, kondisi lingkungan daerah operasional perusahaan di Papua yang
sangat riskan khususnya bagi PR wanita sehingga membatasi gerak ruang mereka
dalam bekerja, mereka kurang memiliki keleluasaan dan fleksibilitas dalam
menjalankan fungsinya dalam arti mereka dituntut untuk lebih berhati-hati dan
menjaga dirinya serta keprofesionalannya dengan baik.
Kelima, pengaruh dari status individu seperti : biasanya untuk penugasan
kerja didaerah jobsite khusus untuk karyawan yang baru ditugaskan disana apalagi
wanita yang masih muda dan single, peran dan fungsinya agak kurang diperhatikan
karena pada dasarnya peran laki-lakilah yang lebih dominan ketimbang wanita.
Tidak hanya itu, untuk penugasan daerah biasanya cenderung ke pihak laki-laki
baik single maupun yang sudah berkeluarga. Kalau wanita mungkin ada beberapa
yang ditugaskan, namun jenjang waktunya tidak lama seperti laki-laki apalagi bagi
mereka yang sudah berumah tangga karena memang ada dispensasi dan pengertian
dari pihak perusahaan khususnya bagi wanita bekerja dan berumah tangga.
Keenam, pemilihan jam kerja (shift) secara tidak langsung juga
mempengaruhi, dimana untuk shift malam biasanya cenderung ke laki-laki. Hal ini
terjadi karena kondisi dan lingkungan di site yang sangat riskan bagi wanita
khususnya dimalam hari. Dan Ketujuh, kondisi mental dan psikologi wanita yang
lemah menyebabkan ia mudah tertekan dan stres dalam menghadapi kondisi kerja di
daerah site (Papua), sehingga sangat berdampak pada keefektifan cara mereka
dalam bekerja.
Aldoory argued that only four specialist industry areas were significantly
more male than female-oriented, and those specialties entailed areas of expertise
that were traditionally male-dominated : technology, finance, sports, and industry.
Tidak dipungkiri bahwa memang untuk industi-industri tertentu peran laki-laki bisa
133
lebih dominan dari pada wanita. Khususnya untuk industri-industri manufaktur
yang sifatnya berat seperti pertambangan.
Pertambangan itu sendiri secara garis besar memiliki karakteristik yang
berbeda-beda, dalam hal ini jika ditelaah dari situasi dan kondisi medan operasional
perusahaan, Freeport termasuk kedalam karakter industri pertambangan yang sangat
menuntut maskulinitas. Sehingga menjadi suatu dilemma tersendiri yang menghiasi
peran wanita dalam menjalani fungsinya, mengapa ? karena pada saat ia masuk
kedalam satu field yang notabennya field itu merupakan dunia kerjanya laki-laki
maka secara otomatis mereka dituntut untuk bisa seperti laki-laki, dalam artian
dituntut untuk mampu memahami fieldnya.
Sedangkan Self personal wanita baik dari segi fisik maupun mental terhadap
situasi kerja perusahaan khususnya didaerah site membawa berbagai macam resiko
yang lebih besar. Terutama pada masalah sexual harensment yang sering sekali
terjadi didaerah tersebut. Hal ini dikarenakan dominasi pekerja laki-laki, sehingga
menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi keleluasaan wanita dalam menjalani
tugasnya dengan baik. Keadaan tersebut kadang membawa efek psikologis bagi
laki-laki, mereka mudah “stress” hal ini bukan hanya karena faktor pekerjaan tetapi
juga karena adanya carnal of sexual desire yang tidak tersalurkan dalam diri lakilaki sehingga dapat berdampak juga pada pekerjaan mereka. Pada dasarnya wanita
juga turut mengalami hal itu, namun penyebabnya bukan karena carnal of sexual
desire tetapi lebih kepada karakter daerah operasional perusahaan yang sangat
remote. Biasanya gejala tersebut sering sekali muncul pada wanita dengan usia
muda yang terbilang baru mendapatkan penugasan di wilayah site. Tanpa disadari
peran mereka juga kurang begitu diperhatikan sebagai seorang karyawan,
sebaliknya peran laki-lakilah yang sangat dominan. Hal ini mungkin dikarenakan
134
baik fisik maupun mental laki-laki bisa lebih menyesuaikan dengan karakteristik
pertambangan Freeport yang sifatnya berat.
Bagi wanita bekerja dan berkeluarga hal tersebut akan menjadi suatu
dilemma tersendiri yang harus dilalui khususnya dalam hal waktu, tenaga dan
pikiran. Hal ini dikarenakan adanya peran ganda wanita yang justru
menempatkannya pada posisi yang semakin membelenggu. Kebelengguan tersebut
sangat terlihat jelas dari tingkat konsentrasi dan arah fokus yang kadang menjadi
satu masalah bagi wanita dalam menghadapi dua konteks (keluarga dan lingkungan
kerja) yang saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Berbeda dengan lakilaki, peran tunggal yang mereka miliki membawa kedalam sebuah posisi yang tidak
terlalu rumit seperti apa yang dialami wanita.
Tidak hanya itu, intensitas waktu bekerja bagi wanita berkeluarga tidak
terlalu banyak mempunyai space seperti pada jam-jam lembur kerja. Kalau untuk
laki-laki hal ini mungkin masih bisa dilakukan apalagi bagi mereka yang single.
Sehingga pekerjaan yang sebelumnya belum sempat dikerjakan masih bisa
terhandle dengan baik melalui kefleksibelan waktu yang mereka miliki. Tetapi hal
ini tidak berlaku bagi wanita, bekerja paruh waktu membuat mereka sulit untuk
menghandle pekerjaan mereka dikantor ditambah perannya sebagai seorang ibu,
sehingga intensitas kesibukan yang mereka miliki lebih besar sedangkan waktu
yang dimiliki sangat terbatas.
Pada dasarnya terdapat Peran-peran lain yang juga muncul dan tidak hanya
dirasakan dari kubu wanita saja, secara tak langsung faktor tersebut memberikan
pengaruh yang cukup kuat terhadap kondisi kerja, namun konteksnya mungkin agak
sedikit berbeda. Dampaknya-pun tidak terlalu riskan seperti apa yang dialami
135
wanita. Dan kadang peran-peran tersebut bisa memunculkan beberapa aturan-aturan
gender tersendiri diluar rule perusahaan.
Lain halnya pada fokus kedua dan ketiga : pada dasarnya pihak perusahaan
mempunyai kualifikasi khusus terkait perekrutan tenaga kerja yang diperlukan.
Biasanya terdiri dari berbagai disiplin ilmu sesuai dengan luasnya karakter bidang
lingkup departemen PR yang perusahaan butuhkan dan mencakup beberapa faktor
seperti : ukuran dan cakupan tugas, spesialisasi dan pengalaman, keseimbangan
sumber daya internal / eksternal, serta tingkat input strategik lawan implementasi.
Dan tentunya bertolok ukur pada beberapa dimensi khusus terkait
communication competence PR yang antara lain terdiri dari : communication
knowledge, communication skill & communication motivation. Dimensi pertama
intinya diawali dengan pemahaman terhadap situasi dan kondisi yang dihadapi
melalui suatu proses pemetaan target atau prioritas yang ingin dicapai, sehingga
tahapan adaptasi, empati, dan manajemen interaksi dapat dengan sendirinya
berjalan mengikuti proses tersebut secara efektif. Dimensi kedua “communication
skill”, ada banyak cara yang diterapkan oleh masing-masing PR. Namun, landasan
utamanya tetap pada positive thinking, saling menghargai dalam melakukan
pendekatan komunikasi yang tidak hanya melalui proses formal saja tetapi juga
melalui pembinaan interpersonal relationship seperti : bergaul, melakukan
pertemanan, melakukan perbincangan layaknya seperti seorang yang memiliki
kedekatan dengan lawan bicara serta adanya keberlanjutan dari pemeliharaan suatu
hubungan komunikasi tersebut. Sedangkan “communication motivation” dalam arti
ada satu dorongan yang membuat PR untuk melakukan sesuatu sehingga dalam hal
ini ia punya target tujuan yang ingin diraih.
136
Ketiga aspek itulah yang dijadikan PR sebagai pedoman dalam praktek
kesehariannya, namun bagi setiap individu mungkin beberapa hal tersebut dapat
menjadi hambatan personal terkait keterbatasan yang mereka miliki. Misalnya saja
dalam hal kapasitas suara yang dirasakan wanita sebagai satu kendala tersendiri saat
menerapkan pola komunikasi yang sifatnya public speaking, tetapi tidak untuk
interpersonal communication. Dalam hal ini, mereka bisa masuk dan membawa diri
mereka dengan mudah untuk terlibat dalam proses komunikasi. Khusus di daerah
site pengetahuan adaptasinya wanita dalam berkomunikasi lebih kepada
penyesuaian terhadap sikap dan penampilannya mereka serta bahasa yang mereka
sesuaikan dengan budaya disana.
Dalam kancah komunikasi diakui kalau wanita pada dasarnya selalu
mempunyai
pengaruh
yang
lebih
besar
dibandingkan
laki-laki
dalam
berkomunikasi. Namun, mentalnya laki-laki dikatakan bisa lebih siap dibandingkan
wanita dalam memulai suatu komunikasi yang bersifat struktural. Contohnya pada
saat kenaikan posisi atau jabatan dalam struktur organisasi perusahaan, narasumber
mengakui bahwa dalam hal ini laki-laki lebih cenderung dipromosikan ketimbang
wanita hal ini ia katakan karena keberanian dari mentalnya laki-laki sendiri untuk
berbicara kepada atasan terkait hal tersebut. Berbeda dengan wanita yang cenderung
untuk diam sehingga pihak atasan akan berpersepsi kalau dia telah merasa puas
dengan posisi yang dia jalani saat ini, padahal dia memiliki loyalitas bekerja yang
lebih lama dibandingkan laki-laki. Karena ketidaksiapan mental inilah yang
mungkin
membuat
perempuan
tersubordinat
dalam
organisasi.
Sikap
komunikasinya wanita cenderung persuasif dengan gaya bicara yang lebih bersifat
instruktif, namun disisi lain dia bisa dengan baik memaintain pola komunikasinya
baik dalam organisasi maupun dengan pihak eksternal organisasi. Berbeda dengan
laki-laki yang lebih konstruktif sehingga dirasa lebih tegas dalam memberikan suatu
137
penjelasan yang sifatnya formal. Tidak hanya itu, jika dilihat lebih mendalam
ternyata laki-laki juga dalam hal ini memiliki satu keluwesan tersendiri misalnya
dalam hal mengkomunikasikan ide-ide serta menjawab dan menjabarkan satu
masalah tertentu kepada lawan bicaranya.
Kecenderungan emosional yang wanita miliki membuat dia dalam
mengkomunikasikan sesuatu atau dalam menyampaikan maksud dan tujuannya
menjadi lebih menyenangkan, cara berkomunikasinya yang bersifat persuasive
membuat dia selalu memiliki pengaruh yang cukup besar dalam berkomunikasi baik
sebagai frontliner maupun sebagai penengah, karena secara fisicly saja wanita lebih
dihormati, lebih disegani, ramah, dan lebih bersahabat. Sehingga kalau dikatakan
yang terpenting adalah kompetensi komunikasi, memang diperlukan tetapi tanpa
disadari faktor-faktor tersebut juga memberikan sumbangan yang besar terhadap
efek dari lancarnya keberlangsungan komunikasinya wanita.
138
BAB V
PENUTUP
5.1.
Kesimpulan
Proporsi nilai gender antara laki-laki dan perempuan sebenarnya memiliki
perbedaan karakteristik tertentu. Dan tanpa disadari nilai-nilai tersebut dapat
memberikan pengaruh terhadap situasi dan kondisi bahkan suatu profesi yang
dijalani. Disisi lain terlihat adanya suatu gambaran dari masing-masing kubu baik
dari pihak laki-laki maupun wanita terkait kompetensi komunikasi yang dimiliki.
Cara pandang CEO terhadap hal tersebut pada dasarnya muncul dari
berbagai karakteristik dan nilai-nilai individu sebagai objek gambaran peneliti serta
diadopsi dari sudut pandang kognisi dan pengalaman CEO sendiri terhadap
stereotype yang berkembang dilingkungan sosial. Sehingga menimbulkan suatu
keterkaitan antara kedua unsur gender dan kompetensi komunikasi pada proporsi
dari masing-masing peran dan fungsi mereka di perusahaan.
Sehingga kesimpulan yang dapat diambil penulis dalam riset mengenai
Pandangan CEO Pada Nilai Gender dan Kompetensi Komunikasi SDM Public
Relations di Perusahaan PT. Freeport Indonesia Jakarta, adalah :
1.
Secara garis besar, Pandangan CEO Pada Nilai Gender SDM PR antara lain
mencakup faktor fisik, peran, rule dan value yang menghiasi masing-masing
individu baik laki-laki maupun perempuan. Beberapa faktor tersebut secara tidak
langsung memberikan suatu nuansa yang berpengaruh terhadap peran dan fungsinya
di perusahaan.
139
2.
Untuk kompetensi komunikasi dalam hal ini, terdapat gambaran dari
masing-masing kompetensi komunikasi baik yang dimiliki wanita maupun laki-laki.
Secara garis besar dalam berkomunikasi wanita selalu mempunyai pengaruh atau
tingkat persuasif yang lebih dominan terhadap lawan bicaranya dibanding laki-laki.
Physicly, emosional serta nilai yang wanita miliki membuat kemampuan adaptasi,
dan empatinya wanita lebih efektif. Tidak hanya itu, ketiga unsur tersebut juga
membuat interpersonal communication dan hubungan relasi yang terjalin menjadi
lebih mudah. Namun, terkadang kondisi emosionalnya wanita bisa membuat ia
menjadi terhambat khususnya dalam pola komunikasi yang sifatnya logika.
Sehingga sering memunculkan kebimbangan tersendiri dalam proses pengambilan
keputusan.
Selain itu, dalam menjelaskan sesuatu hal khususnya yang bersifat formal,
penjabarannya wanita kurang konstruktif. Dalam menjelaskan dan menyampaikan
pesan ia cenderung menggunakan kalimat atau kata-kata yang bersayap dan
maknanya luas sehingga membutuhkan waktu yang panjang dalam menjelaskan
sesuatu, gaya bicaranya lebih seperti seorang instruktur sehingga akan dianggap
orang lain seperti menggurui.
Sedangkan laki-laki lebih bersifat konstruktif atau lebih tegas dalam
menjelaskan sesuatu hal yang sifatnya formal, laki-laki memiliki strong mental
endurance yang menjadi kelebihan dalam memulai suatu proses komunikasi keatas
dan dalam menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan sehingga membuat ia tidak
tersubordinasi dalam organisasi. Berbeda dengan wanita yang mentalnya cenderung
kurang memiliki keberanian dalam memulai suatu komunikasi keatas sehingga
membuat mereka tersubordinasi dalam organisasi.
140
Secara profesional laki-laki memiliki modal komunikasi yang baik dalam
arti penggunaan dan pemilihan bahasa yang digunakan tepat dalam menyampaikan
apa yang ingin ia sampaikan. Walaupun ia seorang laki-laki tetapi ia bisa luwes dan
tidak kaku khususnya dalam menyampaikan ide, keinginan, serta dalam menjawab
dan menjabarkan suatu masalah kepada lawan bicaranya, skill yang ia miliki lebih
cenderung kepada tipe-tipe seorang marketing.
3.
Berdasarkan Pandangan CEO Pada Nilai Gender dan Kompetensi
Komunikasi SDM PR dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa untuk posisi visitor
group (exsternal relation) perusahaan cenderung menempatkan peran laki-laki
dibanding wanita. Cara berkomunikasinya wanita yang bersifat persuasif cocok
untuk situasi demonstrasi khususnya dalam menangani demonstran yang dominan
laki-laki. Untuk di wilayah site (Papua), opposite attract dalam arti lakilaki><wanita menjadikan kinerja pola komunikasi yang baik dan efektif.
Sedangkan keluwesan yang laki-laki miliki lebih kepada kemudahan dalam
menyampaikan ide dan keinginan yang ingin ia sampaikan. Terutama dalam hal
menjawab dan menjabarkan suatu masalah kepada lawan bicaranya sehingga tidak
menimbulkan kesalahpahaman. Misalnya dalam hal membalas dan menjawab email, memberikan penjelasan kepada klien atau dari antar sesama karyawan dsb.
Bahasa dan penggunaan kata-kata yang ia terapkan bisa diplomatis sehingga
dianggap efektif dalam hal ini.
Gaya bicaranya wanita yang cenderung menggunakan kata-kata yang
bersayap dan melebar layaknya seperti instruktur, dianggap kurang efektif dalam
memberikan satu solusi jangka pendek dalam konteks atau keadaan yang sifatnya
darurat dan urgent. Ketelitian, kedetailan serta keramahan wanita cenderung
diposisikan sebagai front liner khususnya untuk hubungan keluar (external
141
relations). Namun, dalam hal ini akan didampingi laki-laki khususnya untuk
penjelasan yang sifatnya membutuhkan logika tinggi.
Wanita lebih fair terhadap apa yang ia hadapi, dan hal ini membuat mereka
selalu mencoba untuk memposisikan diri mereka netral dan dalam posisi netral
inilah mereka dapat membuat judgement yang lebih baik. Untuk penjelasanpenjelasan yang sifatnya tegas dan upward communication, dibutuhkan sosok lakilaki yang dalam hal ini pola komunikasi mereka lebih konstruktif dibanding wanita.
5.2.
Saran
Adapun saran yang dapat penulis berikan terkait dengan permasalahan
penelitian ini, yang nantinya diharapkan dapat bermanfaat pada waktu berikutnya,
antara lain :
1. Untuk konsep genderisasi penulis menyarankan agar CEO khususnya laki-laki
memiliki pandangan yang tidak hanya didasarkan pada fungsi management ,
tetapi juga pada fungsi terhadap gender itu sendiri (peran lain diluar peran dan
fungsi mereka di perusahaan) baik laki-laki maupun perempuan. Karena biar
bagaimanapun juga tentunya terdapat keterkaitan yang dapat digali untuk
dianalisis secara mendalam antara peran mereka sebagai karyawan dengan
peran mereka diluar perusahaan dengan nilai-nilai yang muncul baik itu
masculine maupun feminist value serta kompetensi komunikasi yang mereka
miliki terhadap konteks bidang pekerjaan tertentu.
2. Untuk kompetensi komunikasi penulis menyarankan agar CEO dapat
memberikan kualifikasi kompetensi komunikasi yang lebih spesifik lagi.
Sehingga dapat diketahui dan dipahami dengan jelas seperti apa penerapan
142
communication competence PR dalam kaitannya dengan nilai gender dari
masing-masing individu dalam menjalankan peran dan fungsinya di
perusahaan.
3. Dapat menciptakan suatu keluwesan tersendiri khususnya untuk para CEO lakilaki agar kemudahan adaptasi dalam proses komunikasi dapat berjalan dengan
baik.
4.
Saran akademis penulis, diharapkan penelitian ini dapat menjadi bahan
masukkan bagi penelitian selanjutnya yakni mengenai nilai gender dan
kompetensi komunikasi untuk dapat digali lebih dalam lagi dengan
menggunakan metode penelitian yang berbeda. Seperti pada bagaimana
sesungguhnya citra diri perempuan dan laki-laki terhadap profesi PR di
Indonesia serta bagaimana proporsi dari perbandingan diantara keduanya di
dunia kerja terkait dengan penempatan posisi mereka pada organisasi.
Sehingga diharapkan dapat mengungkap suatu pemahaman secara mendalam
lagi mengenai warna gender terhadap lingkup organisasi. Walaupun isu gender
mungkin bagi sebagian orang bukan menjadi suatu hal yang patut
diperbincangkan lagi, tetapi apabila kita teliti secara seksama masih ada hal-hal
kecil yang memang berpengaruh terhadap keberadaan dan eksistensi gender itu
sendiri di dunia kerja. Dan penulis meyakini bahwa sebenarnya konsep gender
PR ini dapat menjadi suatu fenomena penelitian yang unik dan menarik untuk
kita pahami bersama.
Download