Restocking Model Of Kerapu Macan

advertisement
1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sejak tahun 2004 di perairan Semak Daun, Kepulauan Seribu, mulai
digalakkan sea farming.
Sea farming adalah sistem pemanfaatan ekosistem
perairan laut berbasis marikultur dengan tujuan untuk meningkatkan stok
sumberdaya ikan (fish resources enhancement) bagi keberlanjutan perikanan
tangkap dan aktivitas berbasis kelautan lainnya seperti ekowisata bahari (PKSPL
2006).
Kegiatan ini dilakukan dalam rangka mensikapi tangkap lebih
(overfishing) yang terjadi di Kepulauan Seribu. Dalam kondisi overfishing ikan
yang ditangkap melebihi kemampuan reproduksi dan pertumbuhan alamiahnya
sehingga stok menjadi berkurang dan terus berkurang (SPKKAKS 2008). Ikan
yang dibudidayakan di sana adalah ikan kerapu bebek dan kerapu macan.
Di samping untuk meningkatkan budidaya dan peningkatan taraf ekonomi
masyarakat, tujuan utama sea farming adalah untuk restocking.
Sejak awal,
pemerintahan Kepulauan Seribu menetapkan tujuan utama sea farming adalah
restocking atau stock enhancement ke perairan Kepulauan Seribu (SPKKAKS
2006). Sistem tersebut melibatkan aktivitas keramba jaring apung (KJA), pen
culture, dan restocking di alam. KJA dan penculture sudah berjalan, sementara
restocking dalam sistem sea ranching belum dilakukan.
Berdasarkan hal di atas model restocking ikan merupakan hal yang penting.
Oleh karena belum ada kajian tentang restocking dalam rangka sea ranching,
maka penting sekali dilakukan penelitian tentang model restocking di kawasan
tersebut.
Permasalahan
Salah satu persoalan umum perikanan dan kelautan adalah mewujudkan
perikanan yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan produk perikanan
dengan menjaga lingkungan tetap lestari. Produksi ikan perlu ditingkatkan secara
substansial untuk dapat memenuhi permintaan global yang diduga meningkat
pada tahun 2020 (Delgado et al. 2003). Namun, banyak orang percaya bahwa
2
kemandekan produksi dari perikanan tangkap berarti budidaya akan memainkan
peran utama dalam memenuhi peningkatan permintaan ini sekalipun hal ini
dibarengi dengan peningkatan secara signifikan penggunaan sumberdaya
perikanan (Tacon 2003; Muir 2005).
Sementara, potensi pengembangan
pengelolaan perikanan tangkap untuk meningkatkan hasil tangkap yang karenanya
menjadi komplemen bagi budidaya dipandang kontroversial.
Hal ini muncul
setidaknya karena ada dua alasan, (1) biomassa yang memijah telah berkurang
dibawah tingkat optimal, dan (2) habitat yang mendukung produksi perikanan
telah terdegradasi (FAO 2004).
Pada sisi lain, dalam simposium internasional tentang enhancement dan sea
ranching di Norwagia, Bartley (1999) menggarisbawahi bahwa ‘populasi manusia
yang tengah berkembang dan permintaannya akan produk perikanan melahirkan
berbagai tekanan terhadap lingkungan budidaya. Akibatnya, dua belas ranching
pada saat ini mendapatkan perhatian sebagai alat untuk memperbaiki dan
meningkatkan produksi dari perikanan pesisir dan lautan’.
Sementara, Bell et
al. (2006) menegaskan bahwa restocking dan stock enhancement harus diletakkan
dalam kerangka suatu sistem managemen yang mengintegrasikan penebaran benih
dengan kontrol yang cocok terhadap upaya tangkap dan perlindungan habitat.
Ini mengisyaratkan perlunya sistem yang mengkombinasikan antara perikanan
budidaya dengan perikanan tangkap. Di laut, budidaya dilakukan dalam sistem
keramba jaring apung (KJA), pen culture (sistem kandang), dan lain-lain. Adapun
perikanan tangkap dilakukan dengan cara menebar benih di laut hingga suatu
ketika akan ditangkap kembali. Sistem ‘bertanam ikan di laut’ ini dikenal dengan
sistem sea ranching.
Sistem yang memadukan aktivitas budi daya dan sea
ranching tersebut di laut dikenal dengan sea farming.
Saat ini sea farming sedang dilaksanakan di perairan Semak Daun.
Kegiatan budidaya ikan dalam KJA di perairan tersebut sudah berjalan. Namun,
restocking yang dilakukan di kawasan sea ranching perairan tersebut belum
berjalan. Oleh karena itu, perlu dikembangkan sistem yang menyeimbangkan
antara budidaya dengan sistem sea ranching sedemikian rupa sehingga optimal,
baik dari segi ekologi maupun ekonomi.
3
Sea ranching ini dilakukan dengan meningkatkan stok ikan di laut. Stok
ikan dapat ditingkatkan melalui kegiatan restocking yang benihnya dihasilkan
oleh kegiatan pembenihan (hatchery). Dalam sea ranching, hatchery sebagai
salah satu kegiatan
marikultur
berperan menggantikan reproduksi dan
pertumbuhan alamiah ikan di laut (alam) sehingga bisa memperbesar tingkat
kelangsungan hidup ikan tersebut. Secara visual, sistem tersebut disajikan dalam
Gambar 1 dan Gambar 2.
Permasalahan yang muncul adalah bagaimana model restocking di perairan
sea ranching yang dapat mengoptimalkan budidaya ikan kerapu macan sekaligus
mengoptimalkan
lingkungannya.
hasil
tangkapan
dengan
tetap
menjaga
kelestarian
Dengan kata lain, permasalahan yang perlu dijawab adalah
berapa ukuran panjang atau bobot benih ikan yang harus ditebar ke dalam sistem
sea ranching, berapa banyak benih ikan yang harus ditebar, dan kapan atau
bagaimana pola tebarnya. Tolok ukur atau indikator dari ketepatan jawaban
tersebut adalah (1) tidak melebihi daya dukung sehingga ekosistem tetap lestari,
(2) dari segi ekonomi menguntungkan, dan (3) dapat membantu memulihkan stok.
Dalam penelitian ini ikan yang akan diteliti adalah kerapu macan
(Epinephelus fuscoguttatus). Hal ini didasarkan kepada beberapa alasan:
1 kerapu macan merupakan salah satu ikan yang dibudidayakan dalam sea
farming selain ikan kerapu bebek.
2 berdasarkan survei pendahuluan, para nelayan lebih banyak menangkap
kerapu macan dari pada kerapu bebek. Ukuran ikan kerapu macan yang
biasa tertangkap berkisar antara 2 ons sampai 1kg, atau sekitar 15cm
sampai 35 cm.
3 kerapu macan merupakan salah satu primadona ikan budidaya di
Indonesia, karena ikan kerapu macan pada saat ini mempunyai potensi
dan peluang pasar yang sangat menjanjikan (http://www. Teknologidkp.go.id; 18/2/2005). Sebelumnya, permintaan ikan kerapu di pasaran
untuk ukuran 5-10 cm sebanyak 30.000-60.000 ekor/bulan dan untuk
ikan kerapu ukuran konsumsi sebanyak 20-30 ton/bulan (Sugama 1999).
4
Sea Ranching
Air
Air
N-Pakan
P-Pakan
SISTEM
BUDIDAYA
N
P
BO-Pakan
BO
O2-Udara
Biomassa
ikan
Gambar 1 Hubungan sea ranching dengan budidaya.
Gambar 2 Hubungan marikultur dengan sea ranching dalam sistem sea farming.
Perumusan Masalah
Perairan dangkal Semak Daun memiliki luas 315.19 ha. Kawasan perairan dangkal
tersebut terdiri atas lima goba seluas 33.3 ha dan reeflat seluas 281.89 ha. Kawasan
perairan potensial seluas 2 ha dapat digunakan untuk sistem sekat (enclosure), 9.99 ha
untuk keramba jaring apung/KJA (cage culture), 40.7 ha untuk sistem kandang (pen
culture), dan 262.31 untuk long line. Sementara, kawasan perairan potensial untuk sea
ranching meliputi semua kawasan, selain kawasan untuk sistem sekat dan sistem
kandang. Dari luas perairan potensial ini perlu terlebih dahulu diketahui daya dukung
5
lingkungannya bagi aktivitas perikanan. Oleh sebab itu, hal pertama yang dilakukan
adalah menghitung daya dukung lingkungan bagi sea ranching kerapu macan yang terkait
dengan daya dukung bagi KJA. Di antara pendekatan untuk menghitung daya dukung
adalah berdasarkan loading P dan produktivitas primer (Beveridge 1987) dan
keseimbangan massa (Tookwinas 1998).
Dalam penelitian ini daya dukung diduga
dengan pendekatan pengenceran limbah dipadukan dengan produktivitas primer.
Setelah diketahui daya dukungnya, dilakukan kajian tentang jumlah tangkapan
optimal yang dapat dilakukan sehingga biomassa di perairan tidak melebihi daya dukung
tersebut. Untuk itu perlu diketahui parameter dinamika populasi ikan kerapu macan dari
alam di perairan dangkal Semak Daun. Hal ini meniscayakan adanya kajian tentang
pertumbuhan, hubungan panjang berat, serta mortalitas alami dan tangkapan. Sementara,
kajian migrasi diasumsikan tidak ada sebab karakter ikan kerapu macan hidup di sekitar
karang, tidak berpindah, apalagi perairan Semak Daun berbentuk mangkuk sehingga
migrasi sulit terjadi.
Berikutnya, dengan mengetahui pola dinamika populasi ikan kerapu macan di alam
akan dapat ditentukan berapa ukuran panjang atau bobot benih ikan kerapu macan
yang harus ditebar ke dalam sistem sea ranching, berapa banyak benih ikan yang
harus ditebar, dan kapan atau bagaimana pola tebarnya sehingga secara ekonomi
hasilnya optimum, secara ekologis tidak melebihi daya dukung lingkungannya,
dan secara dinamika populasi ada perbaikan stok.
Untuk menjawab permasalahan di atas perlu dirumuskan beberapa
permasalahan berikut:
1.
berapa daya dukung perairan sea ranching Semak Daun bagi ikan kerapu
macan. Hal ini diduga berdasarkan pada buangan limbah P yang berasal dari
KJA dan limbah yang masuk dari lingkungan, serta kandungan klorofil-a
(Chl-a) yang turut menentukan produktivitas primer. Untuk itu diperlukan
pengetahuan tentang besarnya limbah dari pakan, lingkungan, volume air
yang tersedia, dan pasang surut. Juga, diperlukan pengetahuan tentang Chl-a,
produktivitas primer, serta hubungan produktivitas primer dengan biomassa.
2.
bagaimana dinamika populasi ikan kerapu macan dalam sistem sea ranching.
3.
bagaimana model restocking yang cocok dalam sistem sea ranching di
perairan Semak Daun agar secara ekologis tidak melampaui daya dukung
6
lingkungannya yang ada, secara ekonomi optimal, dan turut memulihkan
kondisi stok. Berdasarkan hal ini ada tiga kriteria yang dijadikan acuan, yaitu
hasil tangkapan lestari, nilai tangkapan, dan spawning stock biomass (SSB).
Tujuan dan Manfaat
Penelitian ini bertujuan:
(1) mengembangkan metode penghitungan daya dukung kawasan perairan
dangkal sea ranching Semak Daun
(2) mengimplementasikan metode Bayesian pada pola pertumbuhan ikan kerapu
macan yang berasal dari alam (perairan sea ranching)
(3) menyusun model restocking dalam sistem sea ranching di perairan Semak
Daun
Penelitian ini akan bermanfaat sebagai dasar pengambilan keputusan
dalam pengelolaan dan pengembangan sistem sea ranching dalam mengokohkan
kegiatan sea farming di perairan Semak Daun, Kepulauan Seribu.
Kebaruan/Novelty
Kebaruan/novelty dalam penelitian ini adalah:
1
metode participatory stock assessment untuk menentukan overfishing
2
metode penentuan daya dukung
3
menduga bagi parameter pertumbuhan panjang serta hubungan panjang berat
ikan kerapu macan yang berasal dari alam
4
penerapan metode Bayesian dalam menduga parameter dinamika populasi.
5
penentuan ukuran panjang benih, banyaknya benih yang ditebar, serta
waktu/pola tebar dalam sistem sea ranching yang dapat menghasilkan
tangkapan optimum dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan, secara
ekonomi menguntungkan, dan turut memulihkan keadaan stok ikan kerapu
macan
6
model restocking dalam sistem sea ranching
Download