studi komparatif konsep pendidikan islam ahmad dahlan

advertisement
THE 5TH URECOL PROCEEDING
18 February 2017
UAD, Yogyakarta
STUDI KOMPARATIF KONSEP PENDIDIKAN ISLAM
AHMAD DAHLAN DAN FAZLUR RAHMAN
Erni Sari Dwi Devi Lubis1, Ma’arif Jamuin2
Mahasiswa Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Surakarta
[email protected]
2
Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta
[email protected]
1
ABSTRACT
Purpose of this study are 1) to describe the Islamic education concept of Ahmad Dahlan
and Fazlur Rahman; 2) to analyze similarities, to compare the difference, and to find the
superior value of Islamic education concept of Ahmad Dahlan and Fazlur Rahman; 3) this
study also intends to describe the implications of the Islamic education concept of Ahmad
Dahlan and Fazlur Rahman. The research method of this study is using literature research type,
with the the system approach. The source of data used in this document both primary data and
secondary data sources, with the data collection methods of documentations which were
analyzed using descriptive analysis and comparative analysis.
The results obtained from this study are Islamic education concept of Ahmad Dahlan is
a process to provide learners who educated in the discipline of religion, open-minded, and
ready to fight, dedicated to Muhammadiyah. While the Islamic education concept of Fazlur
Rahman is a process to accomplish problem Islamic societies to provide learners who are able
to utilize the technology developed in the West by stay stick to the values of Islam.
Similirity of Islamic education concept of Ahmad Dahlan and Fazlur Rahman are: 1)
Islamic education to acquire knowledge and applied in society; 2) learners are people who need
spirituality and intellectuality; 3) integration between public science and the Islamic science; 4)
deliver a superior generation in spirituality and intellectuality. Differences of Islamic education
concept between Ahmad Dahlan and Fazlur Rahman are: 1) Ahmad Dahlan defines the
educator’s as someone who got directions from Allah, while Fazlur Rahman defines the
educator’s people who have the talent, committed, intelligent, and experienced; 2) Islamic
educational objectives according to Ahmad Dahlan is learners have insight into the spiritual
and intellectual, and able to serve the society through Muhammadiyah, while education aims by
Fazlur Rahman merely end at learners have understanding spirituality and intellectuality; 3)
learning methods used Ahmad Dahlan is a contextual approach, while Fazlur Rahman are used
active methods and research methods; 4) Ahmad Dahlan used practice evaluation, while Fazlur
Rahman has no learning evaluation; 5) Ahmad Dahlan established Islamic educational
institutions, while Fazlur Rahman did not.
Islamic education concept of Ahmad Dahlan and Fazlur Rahman have implications
among others: 1) to the interpretation of operational definition of Islamic education; 2) for the
reconstruction of the educational objectives of Islam; 3) to the description of nowadays’ Islamic
education criteria; 4) the clarity of the position of learners; 5) provide new treasures of
education materials Islam; 6) learning methods help learners determine the correlation between
technology, science, and Islam; 7) learning evaluation has impact on learners, so that learners
apply the acquired science concretely; 8) pioneer of educational institution has been able to
accomplish a productive generation.
key: Concept, Education, Islamic, Ahmad Dahlan, Fazlur Rahman
1378
THE 5TH URECOL PROCEEDING
18 February 2017
UAD, Yogyakarta
memandang
persoalan
pendidikan
cenderung bersifat pragmatis instrumental,
ilmu yang dipandang penting adalah ilmu
yang berkaitan dengan kebutuhan langsung
manusia baik dunia maupun akhirat6.
Pemikiran tokoh tersebut berpengaruh
besar
dalam
khazanah
pemikiran
pendidikan Islam di era modern. Hal ini
dibuktikan dengan kehadiran cendekiawan
muslim dengan gagasan baru dalam
pendidikan Islam. Cendekiwan tersebut
diantaranya adalah Ahmad Dahlan dan
Fazlur Rahman. Kedua-duanya sama-sama
ingin menghasilkan peserta didik yang
memiliki wawasan luas dalam bidang
spiritual dan inteletektual. Ahmad Dahlan
memandang pendidikan Islam adalah
pendidikan yang melahirkan peserta didik
yang memiliki kesempurnaan akal berupa
sikap belas kasih, menghindarkan diri dari
taqlid, senantiasa beri‟tikad baik dan adil7.
Fazlur Rahman memandang pendidikan
Islam adalah pendidikan yang mampu
melahirkan intelektual muslim yang handal,
yaitu seorang Muslim yang mempunyai
integritas moral, dan mampu melaksanakan
ijtihad dalam seluruh lapangan kehidupan
umat Islam8. Output pendidikan yang
dipaparkan Ahmad Dahlan dan Fazlur
Rahman
tersebut
penting
untuk
diwujudkan, mengingat kondisi kualitas
pendidikan Islam masa kini masih jauh
seperti yang diharapkan.9.
Berdasarkan latar belakang tersebut,
pemikiran pendidikan Islam Ahmad Dahlan
dan Fazlur Rahman relevan untuk
dikomparasikan. Harapannya bahwa dengan
1. PENDAHULUAN
Pendidikan Islam bermuara pada tujuan
pencapaian keseimbangan manusia dalam
kehidupannya. Hal ini menjadi salah satu
prinsip penting pendidikan Islam bahwa
manusia harus mampu menyeimbangkan
antara jasmani-rohani, individu-masyarakat,
dunia-akhirat, dan intelektual-emosional1.
Pendidikan Islam memiliki kedudukan
untuk mendekatkan diri kepada Allah
dalam rangka memperoleh kebahagiaan
dunia dan akhirat. Dunia adalah alat yang
menghubungkan seseorang dengan Allah.
Melalui dunia inilah manusia dapat
memperoleh
ilmu
untuk
mencapai
kesempurnaan2.
Untuk mencapai tujuan pendidikan
Islam, para filosof memberikan sumbangan
pemikirannya dalam konsep pendidikan
Islam. Di antaranya yaitu al-Qabisi dan alGhazali3 mereka cenderung bersifat
konservatif,
memandang
persoalan
pendidikan melalui kacamata agama murni.
Ilmu yang dipandang murni hanyalah ilmu
yang berkaitan dengan ilmu akhirat saja.
Sedangkan ibn Sina, al-Farabi dan ibn
Rusyd4 cenderung memandang persoalan
pendidikan dengan kacamata religius
rasional. Mereka memandang bahwa ilmu
yang penting adalah ilmu yang mampu
mengembangkan spiritual dan memuaskan
intelektual. Sedangkan, ibn Khaldun5
1
Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam
dalam Perspektif Filsafat (Jakarta: Kencana
Prenadamedia Group, 2014), hlm. 16.
2
Menurut
al-Ghazali
dalam
Abu
Muhammad Iqbal Pemikiran Pendidikan Islam
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015), hlm. 91.
3
Lihat al-Qabisi dalam Rachman Assegaf,
Aliran Pemikiran Pendidikan Islam, Hadlarah
Keilmuan Tokoh Klasik Sampai Modern
(Jakarta: PT Grafindo Persada, 2013), hlm. 61.
4
Lihat ibn Sina dalam Abu Muhammad
Iqbal, Pemikiran, hlm. 6-7; lihat al-Farabi dalam
Heri Gunawan, Pendidikan Islam: Kajian
Teoretis dan Pemikiran Tokoh (Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2014), hlm. 307; lihat Ibnu
Rusyd dalam Abu Muhammad Iqbal,
Pemikiran, hlm. 510.
5
Fathiyyah Hasan Sulaiman, Pandangan
Ibnu Khaldun tentang Ilmu dan Pendidikan
(Bandung: Diponegoro, 1987), hlm. 32-36.
6
Rachman Assegaf, Aliran, hlm. 56-58.
K.H. Ahmad Dahlan: “Tali Pengikat
Hidup Manusia” yang dipublikasikan oleh
Hoofbestuur Muhammadiyah Majelis Taman
Pustaka tahun 1923 dengan judul “Kesatuan
Hidup Manusia” termuat dalam karya Abdul
Munir Mulkhan, Pemikiran K.H Ahmad Dahlan
dan
Muhammadiyah
dalam
Perspektif
Perubahan Sosial (Jakarta: Bumi Aksara, 1990).
Hlm. 228.
8
Fazlur Rahman, Islam dan Modernitas
tentang Transformasi Intelektual (Bandung:
Pustaka, 1985), hlm. 1.
9
Mujamil Qomar, Strategi Pendidikan
Islam (Jakarta: Erlangga, 2013), hlm. 125.
7
1379
THE 5TH URECOL PROCEEDING
18 February 2017
komparasi tersebut dapat merumuskan
kerangka konseptual pendidikan Islam yang
ideal untuk masa kini. Oleh karena itu,
penulis bermaksud mengkajinya dalam
bentuk skripsi berjudul “Studi Komparatif
Konsep Pendidikan Islam Ahmad
Dahlan dan Fazlur Rahman.
Berdasarkan latar belakang tersebut
maka peneliti merumuskan masalah yang
akan dikaji sebagai berikut: 1) apa konsep
pendidikan Islam Ahmad Dahlan dan
Fazlur Rahman?; 2) bagaimana komparasi
konsep pendidikan Islam Ahmad Dahlan
dan Fazlur Rahman?; 3) apa implikasi
konsep pendidikan Islam Ahmad Dahlan
dan Fazlur Rahman terhadap pendidikan
saat ini?
Tujuan penelitian ini yaitu: 1)
untuk mendeskripsikan konsep pendidikan
Islam Ahmad Dahlan dan Fazlur Rahman;
2) untuk mendeskripsikan persamaan,
perbedaan dan nilai unggul konsep
pendidikan Islam Ahmad Dahlan dan
Fazlur Rahman; 3) untuk mendeskripsikan
implikasi konsep pendidikan Islam Ahmad
Dahlan dan Fazlur Rahman terhadap
pendidikan Islam saat ini.
UAD, Yogyakarta
Sumber data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah dokumen baik primer
maupun sekunder. Metode pengumpulan
data yang digunakan peneliti adalah
dokumentasi. Metode analisis data yang
digunakan yaitu diskriptif analisis dan
komparatif. Diskriptif analisis digunakan
penulis untuk menganalisis dengan cara
mendeskripsikan konsep pendidikan Islam
Ahmad Dahlan dan Fazlur Rahman dan
menemukan
implikasi
pengajaran
pendidikan Islam. Metode komparatif
digunakan penulis untuk menganalisis
dengan
cara
mencari
persamaan,
membandingkan
perbedaan,
dan
menemukan
nilai
unggul
konsep
pendidikan Islam Ahmad Dahlan dan
Fazlur Rahman.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Nama lengkapnya Kyai Haji
Ahmad Dahlan bin K.H. Abubakar, Imam
Ratib Masjid Besar Kota Yogyakarta. Ia
dilahirkan di kampung Kauman Kota
Yogyakarta pada tahun 1869 Miladiah
dengan nama Muhammad Darwisy. Ia anak
ke 4 dari lima bersaudara, keempat
saudaranya perempuan11. Ahmad Dahlan
meninggal pada hari Jum‟at malam Sabtu,
tanggal 7 Rajab tahun 1334 Hijriah/
Tanggal 23 Februari 192312.
Kyai Haji Ahmad Dahlan tidak
pernah memperoleh pendidikan formal.
Pengetahuannya sebagian diperoleh secara
otodidak. Sementara kemampuan dasar
baca-tulis ia peroleh dari ayahnya sendiri,
sahabat, dan saudara-saudara iparnya.
Menjelang dewasa Dahlan belajar ilmu fiqh,
ilmu nahwu, ilmu falaq, ilmu hadist, ilmu
qira’atul qur’an, Ilmu pengobatan dan
racun binatang kepada para kyai dan guru
terkenal di masanya13.
2. METODE
Metode penelitian merupakan uraian
singkat
mengenai
jenis
penelitian,
pendekatan yang digunakan, sumber data,
metode pengumpulan data, dan metode
analisis data10. Jenis penelitian ini adalah
penelitian kepustakaan. Penelitian ini
bertujuan untuk mengumpulkan data dan
informasi untuk mengkaji secara sistematis
mengenai konsep pendidikan Islam Ahmad
Dahlan dan Fazlur Rahman melalui
berbagai literature diantaranya yaitu buku,
ensiklopedi, biografi, dokumen, jurnal,
skripsi, tesis, disertasi, artikel, artikel
publikasi, dan website. Pendekatan
penelitian ini menggunakan pendekatan
system yaitu pendekatan untuk mengkaji
konsep pendidikan Islam Ahmad Dahlan
dan Fazlur Rahman.
11
Kyai Syuja‟, Islam Berkemajuan Kisah
Perjuangan K.H Ahmad Dahlan dan
Muhammadiyah
Masa
Awal
(Banten:
al_Wasath, 2009), hlm. 1.
12
Ibid, hlm. 190.
13
Abdul Munir Mulkhan, Pemikiran K.H
Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah dalam
Perspektif Perubahan Sosial (Jakarta: Bumi
Aksara, 1990), hlm. 6.
10
Tim Penyusun, Pedoman Penulisan
Proposal dan Skripsi (Surakarta: Fakultas
Agama Islam, 2013), hlm. 7.
1380
THE 5TH URECOL PROCEEDING
18 February 2017
Ahmad Dahlan berangkat ke
Mekkah untuk berhaji pada usia 22 tahun.
Di Mekkah Ahmad Dahlan bersama dengan
teman-temannya menuntut ilmu kepada
alim ulama bangsa Indonesia yang sudah
muqim di sana dan ulama Arab yang sudah
dikenalkan sejak dari Tanah Jawa oleh
orang tuanya. Ia memperdalam ilmu hadits,
ilmu fiqh, ilmu falaq dan qiro’ah14. Setelah
melaksanakan ibadah haji, namanya yang
semula Muh. Darwisy diganti menjadi Haji
Ahmad Dahlan15.
Sejak pulang dari Mekkah, ia
mengajar murid-murid ayahnya. Selepas
ayahnya wafat, KH. Ahmad Dahlan
menggantikan ayahnya menjadi khatib16.
Pada Tahun 1903 Dahlan berangkat ke
Mekkah untuk haji yang kedua kali. Pada
haji yang kedua inilah Dahlan memutuskan
untuk bermukim di Mekkah selama 18
bulan17. Ia memperdalam ilmu fiqh dan
hadits, ia bertukar pikiran dengan ulama
Indonesia. Di samping berguru, Ahmad
Dahlan
juga
tekun
memperkaya
pengetahuan melalui membaca. Salah satu
karya yang mempengaruhi pemikiran
Dahlan terutama terkait konsep pendidikan
Islam adalah majalah al-Mannar yang
dikarang oleh Muhammad Rasyid Ridha18.
Selanjutnya,
Dahlan
diangkat
sebagai pengajar agama Islam di
Kweekschool, Jetis, Yogyakarta, dan di
Osvia, Magelang, tahun 1910. Pelajaran itu
masih termasuk ekstrakurikuler, yang
diberikan setiap Sabtu sore dan Minggu
pagi. Ini merupakan peristiwa pertama
kalinya pelajaran agama dimasukkan ke
sekolah,
meskipun
masih
bersifat
ekstrakurikuler19. Oleh sebab itulah Dahlan
mendirikan sekolah dengan organisasi yang
teratur yaitu Muhammadiyah .
Kiai Haji Ahmad Dahlan adalah
tokoh
yang
yang
tidak
banyak
UAD, Yogyakarta
meninggalkan
tulisan. Beliau lebih
menampilkan sosok sebagai manusia amal
atau praktisi daripada filosuf yang banyak
melahirkan pemikiran dan gagasan tetapi
sedikit amal. Sekalipun demikian tidak
berarti Ahmad Dahlan tidak memiliki
gagasan. Amal usaha Muhammadiyah
merupakan refleksi dan manifestasi
pemikirannyanya dalam bidang pendidikan
dan keagamaan. Dari perhatian Ahmad
Dahlan terhadap pendidikan Islam tersebut
pendidikan Islam menurut Ahmad Dahlan
adalah suatu proses untuk mendapatkan
pengetahuan serta aplikasinya dalam
kehidupan.
Kiai Haji Ahmad Dahlan tidak
secara
khusus
menyebutkan
tujuan
pendidikan. Tetapi dari pernyataan yang
disampaikan dalam berbagai kesempatan,
tujuan pendidikan Ahmad Dahlan adalah
untuk membentuk manusia yang, pertama
alim
dalam
ilmu
agama;
kedua,
berpandangan luas, dengan memiliki
pengetahuan umum; ketiga, siap berjuang,
mengabdi untuk Muhammadiyah dalam
menyantuni nilai-nilai keutamaan pada
masyarakat20.
Menurut Ahmad Dahlan guru
adalah orang yang mendapat petunjuk dari
Tuhan yang Maha Mengetahui dan
Bijaksana untuk mengajarkan ilmunya
kepada orang-orang yang tidak mengetahui,
dan orang-orang yang tidak mengetahui
tersebut
memiliki
kewajiban
menyampaikan kepada orang lain yang juga
belum mengetahui. Sedangkan peserta didik
adalah siapa saja yang membutuhkan ilmu,
mau bertukar ilmu atau berdiskusi dengan
orang untuk memperoleh pengetahuan pada
umumnya, dan untuk memperbaiki umat
Islam pada khususnya.
Metode mengajar yang digunakan
Ahmad
Dahlan
adalah
pendekatan
penafsiran kontekstual. Di samping
menggunakan
penafsiran
kontekstual,
Ahmad Dahan menggunakan metode
pembelajaran bertahap dan praktik. Mata
pelajaran yang dimaksud Ahmad Dahlan
dan telah diterapkan di sekolah-sekolah
14
Ibid, hlm. 7.
Kyai Syuja‟, Islam, hlm. 13.
16
Ibid, hlm. 27.
17
Ibid, hlm. 52.
18
Adi Nugroho, Biografi, hlm. 24.
19
MT Arifin, Gagasan Pembaharuan
Muhammadiyah, (Jakarta: Pustaka Jaya, 1987),
hlm. 113.
15
20
Ibid, hlm. 213.
1381
THE 5TH URECOL PROCEEDING
18 February 2017
Muhammadiyah adalah sebagai berikut,
Bahasa Arab, Adab, Tarikh Anbiya‟ dan
Islam, Khusnul Khat, Fiqh, Tauhid, Imla’,
al-Qur’an al-Karim, Tafsir al-Qur‟an, Ilmu
Asyya’, Hadits dan Musthalahul hadits,
Tarikh Tanah Jawa dan Hindia, Berhitung,
Ilmu Bumi, Natuurkennis (Ilmu Thabi‟i),
Bahasa
Jawa,
Bahasa
Melayu,
21
Menggambar, dan menulis .
Evaluasi yang digunakan Ahmad
Dahlan adalah metode pengamalan. Dahlan
berpendapat bahwa pelajaran agama tidak
cukup hanya dihafalkan atau dipahami
secara kognitif, tetapi harus diamalkan
sesuai situasi dan kondisi. Cita-cita
pendidikan yang digagas Ahmad Dahlan
tersebut ingin menghasilkan lulusan yang
mampu tampil sebagai “ulama-intelek” atau
“intelek-ulama” yaitu seorang Muslim yang
memiliki keteguhan iman dan ilmu yang
luas,
kuat
jasmani
dan
ruhani22.
Karakteristik ini menekankan peserta didik
harus belajar secara utuh, belajar ilmu
agama dan belajar ilmu umum23.
Sekolah pertama yang didirikan
Ahmad Dahlan pada tahun 1911 di Kauman
Yogyakarta adalah Madrasah Ibtidaiyah
Islamiyah24. Selain sekolah, pada masa
hidupnya Ahmad Dahlan membentuk
organisasi pengajian, diantaranya yaitu
Fathul Asrar Wa Miftahus Sa‟adah
(FAMS), Sapa Tresna (kemudian diubah
menjadi Aisyiyah), dan Wal „Ashri. Selain
itu, ia juga mendirikan gerakan kepanduan
Hisbul Wathan25. Hingga saat ini amal
nyata Ahmad Dahlan melalui lembaga
UAD, Yogyakarta
pendidikan Muhammadiyah tercatat sebagai
berikut26.
21
Mu‟arif, Modernisasi Pendidikan Islam
Sejarah dan Pengembangan Kweekschool dan
Moehammadiyah
1923-1932
(Yogyakarta:Gramasurya, 2012), hlm. 109.
22
Adi Nugroho, Biografi, hlm. 122.
23
Zamroni,
Percikan
Pemikiran
Pendidikan
Muhammadiyah
(Jogyakarta:
Ombak, 2014), hlm. 63.
24
MT Arifin, Gagasan, hlm. 217.
25
Nasruddin
Anshoriy,
Matahari
Pembaharuan Rekam Jejak K.H Ahmad Dahlan
(Yogyakarta: Jogja Bangkit Publisher, 2010),
hlm. 122.
26
M.
Reihan
Febriansyah,
Muhammadiyah 100 Tahun Menyinari Negeri
(Yogyakarta: Majelis Pustaka dan Informasi
Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 2013) hlm.
24-25.
1382
THE 5TH URECOL PROCEEDING
18 February 2017
Tabel. 1. Amal Usaha Muhammadiyah di Bidang Pendidikan
No.
Lembaga Pendidikan
1.
Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisiyah
2.
Taman Kanak-Kanak (Bustanul Athfal)
3.
Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah
4.
Sekolah Menengah Pertama/ Madrasah Tsanawiyah
5.
Sekolah Menengah Atas/Kejuruan/Madrasah Aliyah
6.
pondok pesantren
7.
Ittihadul Ma‟had Muhammadiyah
8.
Sekolah Luar Biasa
Fazlur Rahman lahir pada tanggal
21 September 1919 di Malak, Hazara
(sebelum India terpecah), kini bagian dari
Pakistan. Ia wafat pada tanggal 26 Juli
1988, di Chicago, Ilinois. Ayahnya,
Maulana Shihabuddin, alumni Sekolah
Menengah terkemuka di India, Darul Ulum
Deoband. Melalui ayahnya Rahman
menguasai kurikulum Darse-Nizami yang
ditawarkan di Darul Ulum. Ini melengkapi
pemahamannya terhadap Islam Tradisional
seperti Fikh, Ilmu Kalam, Hadits, Tafsir,
Mantiq, dan Filsafat. Setelah mempelajari
ilmu-ilmu dasar tersebut, ia melanjutkan ke
Punjab University di Lahore, ia lulus
dengan penghargaan untuk Bahasa Arabnya
dengan mendapat gelar MA27.
UAD, Yogyakarta
Jumlah
161
4623
2.604
1772
1143
67
104
71
Islam bertugas melakukan riset terkait
problem yang dihadapi masyarakat muslim,
salah satunya dalam bidang pendidikan,
sedangkan Dewan Penasehat bertugas
memberi rekomendasi kebijakan-kebijakan
untuk diimplementasikan pemerintah30.
Rahman mengundurkan diri dari jabatan
Direktur Lembaga Riset Islam pada 5
September 196831.
Setelah mengundurkan diri dari
Lembaga Riset Islam dan Dewan Penasehat
Ideologi Islam Pakistan, ia hijrah ke
Chicago. Tahun 1970 ia menjabat sebagai
Guru Besar pemikiran Islam di University
of Chicago. Di Chicago selain memberi
kuliah dan kajian keislaman, Rahman aktif
dalam berbagai kegiatan intelektual, seperti
memimpin proyek penelitian universitas
tersebut, mengikuti berbagai seminar
internasional, serta memberikan ceramah di
berbagai pusat studi terkemuka. Ia juga
aktif menulis buku-buku keislaman dan
menyumbangkan
artikel-artikelnya
ke
berbagai jurnal internasional32. Dari riset
itulah Rahman mengetahui problematika
pendidikan Islam di dunia, terutama di
Negara-negara Islam, oleh sebab itu
Rahman memberi solusi melaui konsep
pendidikan Islamnya. Tahun 1986 ia
dianugerahi Harold H. Swift Distinguished
Service Professor di Chicago, penghargaan
Tahun 1946 ia melanjutkan studi
doktoralnya di Oxford, Inggris. Setelah di
Oxford, ia mengajar Bahasa Persi dan
Filsafat Islam di Durham University dari
tahun 1950-1958. Kemudian menjadi
Associate Professor pada Kajian Islam di
Institute of Islamic Studies Mc. Gill
University Kanada di Monutreal28. Setelah
tiga tahun Rahman di Kanada, ia kembali
ke Pakistan menjadi direktur selama satu
periode, dari tahun 1961-196829. Tahun
1962 ia dipilih menjadi anggota Dewan
Penasehat Ideologi Islam. Kedua lembaga
tersebut, yakni Lembaga Riset Islam dan
Dewan Penasehat Ideologi Islam, memiliki
tugas yang saling berkaitan. Lembaga Riset
27
Fazlur Rahman, Gelombang Perubahan
dalam Islam Studi tentang Fundamentalisme
Islam, terj: Ibrahim Mosa (Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada, 2001), hlm. 1-2.
28
Ibid.
29
Ibid.
30
Fazlur Rahman, Metode Alternatif
Neomodernisme Islam, terj. Taufik Adnan Amal
(Bandung: Mizan, 1987) hlm. 13-14.
31
Ibid, hlm. 15.
32
Ibid, hlm. 17.
1383
THE 5TH URECOL PROCEEDING
18 February 2017
ini disandangnya sampai wafat tahun
198833.
UAD, Yogyakarta
memandang peserta didik tidak memiliki
komitmen spiritual dan intelektual yang
mendalam. Yang harus dilakukan pendidik
untuk mengatasi permasalahan tersebut
adalah pertama, peserta didik diberikan
pelajaran al Qur‟an melalui metode-metode
yang memungkinkan al Qur‟an bukan
hanya dijadikan sumber inspirasi moral
tetapi juga rujukan tertinggi untuk
memecahkan masalah kehidupan yang
semakin kompleks41; kedua, memberikan
materi disipin ilmu-ilmu Islam secara
historis, kritis, dan holistic42.
Menurut
Fazlur
Rahman
Pendidikan Islam adalah proses pendekatan
untuk menyelesaikan problema-problema
yang dialami masyarakat Islam saat ini
dengan didasarkan pada nilai-nilai Islam
yang sebenarnya, sebagai suatu langkah
pengislaman seluruh segi kehidupan34.
Tujuan pendidikan Islam menurut Rahman
adalah umat Islam mampu memanfaatkan
teknologi yang berkembang di Barat
dengan tetap berpegang teguh pada nilainilai Islam, dalam artian tidak mengikuti
moralitas masyarakat Barat yang terpedaya
dengan hawa nafsu.
Rahman
menolak
metode
menghafal
digunakan
dalam
dunia
pendidikan, karena hal tersebut dapat
mengakibatkan
merusak
pemahaman
peserta didik tentang suatu materi dan
peserta didik bukannya belajar mengenai
mata pelajaran atau disiplin ilmu tetapi
malah mendalami buku. Oleh sebab itu
Fazlur Rahman memberikan solusi kepada
pendidik untuk menggunakan metode aktif
yaitu metode memahami, mengkritik, dan
menganalisa. Selain itu Rahman juga
menggunakan metode riset atau metode
penelitian yang berfungsi untuk mengatasi
problem masyarakat.
Menurut Fazlur Rahman problem
utama yang dihadapi sistem pendidikan
Islam adalah tenaga pengajar. Kebanyakan
ulama dari generasi tua telah meninggal
dunia35. Dalam mengatasi kelangkaan
tenaga
pendidik
tersebut,
Rahman
menawarkan gagasan bahwa seorang guru
harus bakat terbaik dan komitmen tinggi36,
cerdas37, terlatih dalam teknik riset
modern38
melahirkan
karya-karya
keislaman secara kreatif dan memiliki
tujuan39. Di samping itu para pendidik juga
harus bersungguh-sungguh mengadakan
penelitian dan berusaha untuk menerbitkan
karyanya tersebut. Bagi mereka yang
memiliki karya yang bagus harus diberikan
penghargaan
antara
lain
dengan
40
meningkatkan gajinya .
Fazlur Rahman menawarkan materi
pembelajaran yang terdiri dari ilmu umum
dan ilmu agama, yaitu ilmu-ilmu sosial,
ilmu-ilmu alam, sejarah dunia, fiqh, kalam,
tafsir, hadits, theology43, hukum Islam, alQur‟an, tasawuf, pemikiran politik Islam,
modernism Islam, filsafat Islam, dan kajiankajian tentang tokoh-tokoh klasik44.
Lulusan yang diinginkan Fazlur Rahman
Di samping memberikan solusi
dalam memilih pendidik, Rahman juga
menawarkan
gagasan
mengatasi
permasalahan peserta didik. Rahman
41
621.
33
42
Fazlur Rahman, Recommendation, hlm.
Sudirman
Tebba,
“Pandangan
Kemasyarakatan Fazlur Rahman” dalam Islam
Orde Baru: Perubahan Politik dan Keagamaan
dalam Abu Muhammad Iqbal, Pemikiran, hlm.
621.
43
Helva Zuraya, “Konsep Pendidikan Fazlur
Rahman”, Jurnal Khatuistiwa-Journal of
Islamic Studies, volume 3 nomer 2 tahun 2013,
hlm. 195.
44
Taufik Adnan Amal, Islam dan Tantangan
Modernitas Studi atas Pemikiran Hukum Fazlur
Rahman (Bandung: MIZAN, 1993), hlm. 105.
Fazlur Rahman, Gelombang, hlm. 1-4.
Ibid.
35
Fazlur Rahman, Islam dan Modernitas
hlm. 111.
36
Fazlur Rahman, Islam dan Modernitas
hlm. 622.
37
Ibid, hlm. 623.
38
Fazlur Rahman, Islam dan Modernitas,
hlm. 623.
39
Ibid.
40
Fazlur Rahman, Recommendation, hlm.
624.
34
1384
THE 5TH URECOL PROCEEDING
18 February 2017
adalah melahirkan intelektual muslim yang
handal, yaitu seorang Muslim yang
mempunyai integritas moral, dan mampu
melaksanakan ijtihad dalam seluruh
lapangan kehidupan umat Islam45.
Merujuk pada teori konsep
pendidikan Islam dan data konsep
pendidikan Islam Ahmad Dahlan dan
Fazlur Rahman, penulis menemukan titik
persamaan konsep pendidikan Islam
diantara kedua tokoh tersebut.
45
Fazlur Rahman, Islam dan Modernitas,
hlm. 1.
1385
UAD, Yogyakarta
THE 5TH URECOL PROCEEDING
18 February 2017
UAD, Yogyakarta
Matriks 1. Persamaan konsep pendidikan Islam Ahmad Dahlan dan Fazlur Rahman
No.
1.
2.
Aspek persamaan
Pengertian
pendidikan Islam
Peserta didik
Ahmad Dahlan
Pengetahuan diaplikasikan di
dalam kehidupan
Membutuhkan
spiritualitas
dan intelektualitas
Fazlur Rahman
Pengetahuan diaplikasikan di
dalam kehidupan
Orang
yang
membutuhkan
spiritualitas dan intelektualitas
3.
Materi
4.
Lulusan
Mengintegrasikan
ilmu
umum dan ilmu agama
Ingin melahirkan peserta
didik yang unggul dalam
spiritualitas dan
intelektualitas
Mengintegrasikan ilmu umum
dan ilmu agama
Ingin melahirkan peserta didik
yang unggul dalam spiritualitas
dan intelektualitas
Merujuk pada teori konsep pendidikan Islam dan data konsep pendidikan Islam Ahmad
Dahlan dan Fazlur Rahman, penulis menemukan perbedaan konsep pendidikan Islam diantara
kedua tokoh tersebut.
Matriks 2. Perbedaan konsep pendidikan Islam Ahmad Dahlan dan Fazlur Rahman
No.
1.
Aspek pembeda
Pendidik
2.
Tujuan pendidikan
Islam
3.
Metode
pembelajaran
4.
Evaluasi
pembelajaran
Lembaga
pendidikan
5.
Ahmad Dahlan
a. Pendidik adalah orang
yang mendapat petunjuk
dari Tuhan
b. mampu mengajarkan ilmu
kepada orang lain dan
mendorong orang yang
dididik mau mengajarkan
ilmunya kepada orang lain.
Tidak hanya berhenti pada
tataran peserta didik unggul
dalam ilmu agama dan ilmu
umum tetapi juga diharapkan
peserta didik mampu mengabdi
untuk masyarakat melalui
Muhammadiyah
Pendekatan kontekstual
dengan
cara
bertahap,
dipraktikkan, dan diulangulang
Pengamalan
BA/TK,
MI/SD,
SMP,
SMA/SMK, Pondok, Ma‟had,
SLB, PTM
Konsep
Pendidikan
Islam
Ahmad Dahlan lebih unggul dibanding
Fazlur Rahman, keunggulan konsep
pendidikan Islam Ahmad Dahlan dapat
dijelaskan sebgai berikut: a) unsurunsur konsep pendidikan Islam yang
dirumuskan Ahmad Dahlan yaitu
Fazlur Rahman
orang yang memiliki bakat
mengajar,
berkomitmen
tinggi
terhadap
Islam,
cerdas, dan berpengalaman.
berhenti pada tataran peserta
didik unggul dalam ilmu
agama dan ilmu umum
a. Metode aktif dengan
cara
memahami,
mengkritik,
dan
menganalisa.
b. Metode riset
-
pendidik, peserta didik, materi, metode,
evaluasi,
lulusan,
dan
lembaga
pendidikan Islam, sedangkan Fazlur
Rahman hanya pendidik, peserta didik,
materi, metode, dan lulusan; b) tujuan
pendidikan Islam Ahmad Dahlan tidak
hanya membentuk manusia yang
1386
THE 5TH URECOL PROCEEDING
18 February 2017
berwawasan ilmu agama dan ilmu
umum saja tetapi juga membentuk
manusia muslim yang sebenar-benarnya
dengan berjuang mengabdi untuk
Muhammadiyah;
c)
metode
pembelajaran
Ahmad
Dahlan
menggunakan pendekatan kontekstual
lebih sesuai diterapkan untuk peserta
didik dari tingkat rendah hingga
perguruan tinggi, dan metode bertahap
(setapak demi setapak), dipraktekkan
dan diulang-ulang lebih memiliki nilai
guna yaitu agar peserta didik terbiasa
dan mudah mengingat materi yang
dipelajari; d) evaluasi digunakan agar
dapat mengetahui tingkat kepemahaman
peserta didik. Evaluasi yang diterapkan
Ahmad
Dahlan
adalah
evaluasi
pengamalan. Evaluasi ini lebih konkrit
dan mudah dinilai; e) Ahmad Dahlan
memandang lembaga pendidikan itu
penting. Ia merupakan bentuk nyata dari
ilmu yang diamalkan. Lembaga yang
dikelola dan terorganisir lebih mudah
mengaturnya dan memperbaikinya
dibanding lembaga pendidikan bukan
milik sendiri.
Konsep pendidikan Islam yang
digagas oleh Ahmad Dahlan dan Fazlur
Rahman
berimplikasi
pada
pengembangan
pendidikan
Islam.
Adapun
implikasinya
memiliki
keterkaitan
dengan
unsur-unsur
pendidikan Islam saat ini.
a. Pengertian Pendidikan Islam
Ahmad Dahlan dan Fazlur
Rahman
memberikan
sumbangan dalam membuat
definisi operasional tentang
pendidikan Islam. Berdasarkan
definisi yang disusun oleh
keduanya, pendidikan Islam
tidak hanya dimaknai sebagai
sebatas
proses
pengajaran.
Tetapi juga membentuk karakter
berdasarkan nilai-nilai Islam dan
memperoleh bekal keterampilan
UAD, Yogyakarta
untuk menghadapi problema
masyarakat.
Dengan
keterampilan tersebut, peserta
didik dapat berpartisipasi sesuai
dengan bidang keahliannya yang
tidak lepas dari nilai-nilai Islam.
b. Tujuan pendidikan Islam
Tujuan pendidikan Islam
yang digagas Ahmad Dahlan dan
Fazlur Rahman berimplikasi
terhadap tujuan pendidikan
Islam
saat
ini.
Dimana
pemikiran keduanya mampu
merekonstruksi focus dan ranah
tujuan pendidikan Islam. Tujuan
pendidikan Ahmad Dahlan dan
Fazlur
Rahman
memiliki
relevansi
dengan
tujuan
pendidikan saat ini. Tujuan
pendidikan yang diharapkan
Ahmad Dahlan dan Fazlur
Rahman
mengembangkan
potensi dunia dan akhirat,
Ahmad
Dahlan
telah
memberikan
wadah
untuk
mengembangkan potensi peserta
didik melalui amal usaha
Muhammadiyah.
c. Pendidik
Pemikiran
Ahmad
Dahlan dan Fazlur Rahman
memberikan gambaran tentang
kriteria pendidik yang baik
dalam proses penyelenggaraan
pendidikan Islam. yang digagas
Ahmad Dahlan dan Fazlur
Rahman berimplikasi terhadap
kriteria pendidik saat ini.
Pendidik saat ini sebelum
menjadi guru harus memiliki
kualifikasi
akademik
yang
diperoleh melalui tingkat sarjana
atau diploma empat sesuai
dengan bidang yang digeluti46.
46
Undang-undang nomer 14 tahun 2005
tentang guru dan dosen bab IV pasal 8 dan 9.
1387
THE 5TH URECOL PROCEEDING
18 February 2017
Guru dikatakan professional
apabila ia memiliki empat
kompetensi yaitu kompetensi
kepribadian, sosial, professional,
dan pedagogik47.
d. Peserta Didik
Dalam proses pendidikan
Islam Ahmad Dahlan dan Fazlur
Rahman menempatkan peserta
didik sebagai subjek dan objek
pendidikan. Pandangan tentang
peserta
didik
tersebut
memperjelas kedudukan peserta
didik. Sehingga para guru dapat
mengambil
sikap
dan
menerapkan metode yang tepat
dalam pendidikan Islam. Lebih
lanjutnya
pendidik
dapat
memahami kebutuhan peserta
didik dalam suatu proses
pembelajaran.
e. Materi Pembelajaran
Gagasan Ahmad Dahlan
dan Fazlur Rahman memberikan
khazanah baru dalam materi
pendidikan Islam, yaitu integrasi
ilmu
agama
dan
ilmu
pengetahuan (sains). Dengan
diintegrasikannya ilmu umum
dan ilmu agama maka wawasan
peserta didik tidak hanya
terbatas pada ibadah saja
ataupun pada masalah dunia
saja, tetapi peserta didik mampu
menyelesaikan
masalahnya
dengan melihat dari sisi akhirat
dan dunia. Sehingga ilmu yang
didapat benar-benar bermanfaat
untuk kehidupannya.
f. Metode Pembelajaran
Saat ini pendidikan di
Indonesia telah menggabungkan
antara teknologi, sains, dan
Islam,
metode
dengan
UAD, Yogyakarta
pendekatan kontekstual yang
digagas Ahmad Dahlan sangat
berguna
untuk
membantu
peserta
didik
mengetahui
korelasi antara teknologi, sains,
dan Islam. Metode bertahap,
praktik, dan berulang-ulang juga
membantu
peserta
didik
memahami teori suatu ilmu dan
mau mengaplikasikan dalam
kehidupan sehari-hari sehinggu
ilmunya
dapat
diamalkan.
Metode tersebut tidak hanya
untuk satu materi tapi bisa
diterapkan pada mata pelajaran
apa saja baik teoritis maupun
aplikatif.
Metode
aktif
Fazlur
Rahman
yaitu
memahami,
mengkritik, dan menganalisa
juga
berimplikasi
terhadap
pengajaran saat ini yaitu supaya
peserta didik tumbuh dengan
sikap kritis dan berani. Metode
riset juga berimplikasi terhadap
pengajaran, hal ini karena
berkembangnya problem dalam
bidang pendidikan maupun
bidang-bidang lain sehingga
calon sarjana, magister, dan
doctor diwajibkan untuk gencar
melakukan penelitian.
g. Evaluasi
Evaluasi
dengan
menggunakan
metode
pengamalan
yang
digagas
Ahmad Dahlan berimplikasi
terhadap pendidikan saat ini.
Dengan evaluasi pengamalan
pendidik lebih mudah mengukur
tingkat keberhasilan peserta
didik.
Evaluasi
ini
juga
berdampak kepada peserta didik,
agar peserta didik mengamalkan
ilmu
pengetahuan
yang
diperoleh. Sehingga dengan
evaluasi ini tujuan pendidikan
47
Peraturan Pemerintah no. 74 tahun 2008
tentang guru bab II bagian kesatu pasal 3 ayat 4,
5, 6, 7.
1388
THE 5TH URECOL PROCEEDING
18 February 2017
UAD, Yogyakarta
dan Fazlur Rahman: 1) Ahmad Dahlan
mendefinisikan pendidik yaitu orang yang
mendapat petunjuk dari Tuhan untuk
mengajarkan ilmunya kepada orang lain
dan mendorong orang yang dididik mau
mengajarkan ilmunya kepada orang lain,
sedangkan Fazlur Rahman mendefinisikan
pendidik yaitu orang yang memiliki bakat
mengajar, berkomitmen tinggi terhadap
Islam, cerdas, dan berpengalaman; 2) tujuan
pendidikan Islam menurut Ahmad Dahlan
peserta didik tidak hanya memiliki
wawasan spiritualitas dan intelektualitas
tetapi juga mau mengabdi untuk masyarakat
melalui Muhammadiyah, sedangkan tujuan
pendidikan Islam Fazlur Rahman hanya
berhenti pada peserta didik memiliki
wawasan spiritualitas dan intelektualitas;
3) metode pembelajaran yang digunakan
Ahmad
Dahlan
yaitu
pendekatan
kontekstual sedangkan Fazlur Rahman
menggunakan metode aktif dan metode
riset; 4) Ahmad Dahlan menggunakan
evaluasi pengamalan sedangkan Fazlur
Rahman tidak ada evaluasi pembelajaran;
5) Ahmad Dahlan mendirikan lembaga
pendidikan Islam sedangkan Fazlur
Rahman tidak mendirikan lembaga
pendidikan Islam.
Ahmad Dahlan lebih unggul
daripada Fazlur Rahman, keunggulan
tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: 1)
sistematika konsep pendidikan Islam
Ahmad Dahlan lebih lengkap yaitu
pendidik, peserta didik, materi, metode,
evaluasi, dan lulusan; 2) tujuan pendidikan
Islam Ahmad Dahlan tidak hanya berhenti
pada peserta didik memiliki wawasan ilmu
agama dan umum tetapi juga mau mengabdi
kepada
masyarakat
melalui
Muhammadiyah; 3), metode pembelajaran
dengan pendekatan kontekstual lebih sesuai
diterapkan untuk peserta didik baik dari
tingkat rendah hingga perguruan tinggi; 4)
evaluasi pembelajaran dengan metode
pengamalan lebih konkrit diterapkan untuk
menilai kemampuan peserta didik; 5)
lembaga pendidikan Islam yang didirikan
Ahmad Dahlan memiliki kontribusi besar
terhadap pendidikan di Indonesia.
dan lulusan yang diharapkan
lebih konkrit dilihat.
h. Lembaga Pendidikan
Salah
satu
ukuran
keberhasilan pendidikan Islam
adalah
hadirnya
lembaga
pendidikan
Islam
sebagai
institute pelaksanaan pendidikan
Islam. Dalam hal ini Ahmad
Dahlan
telah
memberikan
kontribusi
besar
dalam
pendidikan
Islam.
Rintisan
lembaga
pendidikannya
setidaknya saat ini telah mampu
mewujudkan generasi yang
produktif. Hal ini dibuktikan
dengan
massifnya
perkembangan
lembaga
pendidikan di bawah naungan
Muhammadiyah yang senantiasa
berbenah dan meningkatkan
kualitasnya.
4. PENUTUP
Berdasarkan analisis data terhadap
teori maka dapat disimpulkan sebagai
berikut: Konsep pendidikan Islam Ahmad
Dahlan adalah suatu proses untuk
melahirkan peserta didik yang alim dalam
ilmu agama, berpandangan luas, dan siap
berjuang, mengabdi untuk Muhammadiyah.
Sedangkan konsep pendidikan Islam Fazlur
Rahman yaitu suatu proses menyelesaikan
problema
masyarakat
Islam
untuk
melahirkan peserta didik yang mampu
memanfaatkan teknologi yang berkembang
di Barat dengan tetap berpegang teguh pada
nilai-nilai Islam.
Persamaan konsep pendidikan
Islam Ahmad Dahlan dan Fazlur Rahman:
1) pendidikan Islam untuk memperoleh
pengetahuan
dan
diaplikasikan
di
masyarakat; 2) peserta didik adalah
seseorang yang membutuhkan spiritualitas
dan intelektualitas; 3) mengintegrasikan
ilmu umum dan ilmu agama; 4) ingin
melahirkan generasi yang unggul dalam
spiritualitas dan inteletualitas. Perbedaan
konsep pendidikan Islam Ahmad Dahlan
1389
THE 5TH URECOL PROCEEDING
18 February 2017
Konsep pendidikan Islam Ahmad
Dahlan dan Fazlur Rahman memiliki
implikasi terhadap pendidikan yang
berkembang saat ini di Indonesia. 1)
Definisi pendidikan Islam Ahmad Dahlan
dan Fazlur Rahman berimplikasi terhadap
perumusan definisi operasional pendidikan
Islam; 2) tujuan pendidikan Islam Ahmad
Dahlan dan Fazlur Rahman berimplikasi
terhadap rekonstruksi tujuan pendidikan
Islam; 3) pendidik menurut Ahmad Dahlan
dan Fazlur Rahman berimplikasi terhadap
gambaran kriteria pendidikan Islam saat ini;
4) peserta didik menurut Ahmad Dahlan
dan Fazlur Rahman berimplikasi terhadap
kejelasan kedudukan peserta didik; 5)
gagasan Ahmad Dahlan dan Fazlur Rahman
mengenai
materi
pendidikan
Islam
memberikan khazanah baru; 6) gagasan
Ahmad Dahlan dan Fazlur Rahman
mengenai metode pembelajaran Islam
membantu peserta didik mengetahui
korelasi antara teknologi, sains, dan Islam;
7) gagasan Ahmad Dahlan mengenai
evaluasi berdampak kepada peserta didik,
agar peserta didik mengamalkan ilmu
pengetahuan yang diperoleh secara konkrit;
8) lembaga pendidikan Islam yang didirikan
Ahmad Dahlan memberikan kontribusi
besar dalam pendidikan Islam. Rintisan
lembaga pendidikannya setidaknya saat ini
telah mampu mewujudkan generasi yang
produktif.
Berdasarkan
kesimpulan
dari
penelitian
penulis
mengenai
Studi
Komparatif Konsep Pendidikan Islam
Ahmad Dahlan dan Fazlur Rahman, peneliti
berusaha memberikan masukan dan
pertimbangan terhadap konsep pendidikan
Islam, di antaranya: (1) kepada Lembaga
Pendidikan hendaknya mengoptimalkan
aspek-aspek pendidikan Islam yang sudah
berjalan dengan menerapkannya sesuai
dengan ajaran Islam; (2) kepada para
pendidik,
hendaknya
memaksimalkan
pengajaran kepada peserta didik dan
mengemas pembelajaran secara menarik,
dengan
memadukan
unsur-unsur
pendidikan Islam agar output yang dimiliki
sesuai dengan yang diharapkan; (3) kepada
para peneliti selanjutnya, agar lebih teliti
UAD, Yogyakarta
dan cermat dalam menelaah pernyataan
Ahmad Dahlan dan Fazlur Rahman
berkaitan dengan konsep pendidikan Islam.
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Amal, Taufik Adnan. (1993). Islam dan
Tantangan Modernitas Studi atas
Pemikiran
Hukum
Fazlur
Rahman. Bandung: Mizan.
Anshoriy, Nasruddin. (2010). Matahari
Pembaharuan Rekam Jejak K.H
Ahmad Dahlan. Yogyakarta:
Jogja Bangkit Publisher.
Arifin, MT. (1987). Gagasan Pembaharuan
Muhammadiyah. Jakarta: Pustaka Jaya.
Assegaf,
Rachman.
(2013).
Aliran
Pemikiran Pendidikan Islam,
Hadlarah Keilmuan Tokoh Klasik
Sampai Modern. Jakarta: PT
Grafindo Persada.
Daulay, Haidar Putra. (2014). Pendidikan
Islam dalam Perspektif Filsafat.
Jakarta: Kencana Prenadamedia
Group.
Febriansyah,
M.
Reihan.
(2013).
Muhammadiyah
100
tahun
Menyinari Negeri. Yogyakarta:
Majelis Pustaka dan Informasi
Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Gunawan, Heri. (2014). Pendidikan Islam:
Kajian Teoretis dan Pemikiran
Tokoh.
Bandung:
Remaja
Rosdakarya.
Iqbal, Abu Muhammad. (2015). Pemikiran
Pendidikan Islam. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Mu‟arif. (2012). Modernisasi Pendidikan
Islam Sejarah dan Pengembangan
Kweekschool
dan
Moehammadiyah
1923-1932.
Yogyakarta:Gramasurya.
Mulkhan, Abdul Munir. (1990). Pemikiran
K.H
Ahmad
Dahlan
dan
Muhammadiyah dalam Perspektif
Perubahan Sosial. Jakarta: Bumi
Aksara.
1390
THE 5TH URECOL PROCEEDING
18 February 2017
Nugroho, Adi. (2010). Biografi Singkat
1869-1923 KH. Ahmad Dahlan.
Jogyakarta: Garasi.
Qomar,
Mujamil.
(2013).
Strategi
Pendidikan Islam. Jakarta: Erlangga.
Rahman, Fazlur. (1985). Islam dan
Modernitas tentang Transformasi
Intelektual. Bandung: Pustaka.
(1987).
Metode
Alternatif Neomodernisme Islam,
terj. Taufik Adnan Amal.
Bandung: Mizan.
(2001).
Gelombang
Perubahan dalam Islam Studi
tentang Fundamentalisme Islam.
terj: Ibrahim Mosa. Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada.
Sulaiman, Fathiyyah Hasan. (1987).
Pandangan Ibnu Khaldun tentang
Ilmu dan Pendidikan. Bandung:
Diponegoro.
Syuja‟, Kyai. (2009). Islam Berkemajuan
Kisah Perjuangan K.H Ahmad
Dahlan dan Muhammadiyah
Masa Awal. Banten: al_Wasath.
Tim Penyusun. (2013). Pedoman Penulisan
Proposal dan Skripsi. Surakarta:
Fakultas Agama Islam.
Zamroni. (2014).
Percikan Pemikiran
Pendidikan
Muhammadiyah.
Yogyakarta: Ombak.
Jurnal
Zuraya, Helva. (2013). “Konsep Pendidikan
Fazlur
Rahman”,
Jurnal
Khatuistiwa-Journal of Islamic
Studies, volume 3, 2.(September).
195.
Peraturan Pemerintah dan UndangUndang
Peraturan Pemerintah No. 74 tahun 2008
tentang Guru.
Undang-Undang No. 14 tahun 2005 tentang
Guru dan Dosen.
1391
UAD, Yogyakarta
Download