Penanggung Jawab Ir. Choirul Akhmad, ME Penulis Ir

advertisement
Penanggung Jawab
Ir. Choirul Akhmad, ME
Penulis
Ir. Sahwalita, S.Hut., MP
Editor
Prof. Dr. Nina Mindawati
Ir. Abdul Hakim Lukman, M.Si
Ir. Agus Sofyan, M.Sc
ISBN: 978 - 602 - 98588 - 1 - 5
Dipublikasikan
Balai Penelitian Kehutanan Palembang
Jl. Kolonel H. Burlian Km. 6,5 Punti Kayu Palembang
Telp. (0711) 414864
E-mail: [email protected]
http: www.bpk-palembang.org
Tahun 2013
KATA PENGANTAR
Penanaman jenis tanaman hutan dapat menjadi pilihan investasi bagi
masyarakat pada Hutan Rakyat (HR) dan pengusaha melalui Hutan Tanaman
Industri (HTI). Sungkai (Peronema canescen Jack.) merupakan jenis kayu
mewah dan mudah dibudidayakan serta telah lama dikenal masyarakat. Saat
ini, produktivitas kayu sungkai masih rendah dan sistem pemasaran kayu yang
tidak transparan menjadi kendala dalam mendapatkan keuntungan.
Pengembangan tanaman sungkai yang dilakukan selama ini tidak
didukung dengan pengetahuan tentang teknik silvikultur yang tepat. Pada
umumnya penanaman masih menggunakan pola sederhana dengan menanam
tanpa pemeliharaan. Teknik silvikultur belum diterapkan, setelah ditanam
tanaman sungkai dibiarkan “mandiri” tanpa sentuhan pemeliharaan singling/
penunggalan batang, prunning/pemangkasan dan thinning/penjarangan
sehingga produktivitas tidak maksimal. Peningkatan produktivitas tanaman
sungkai dapat dilakukan dengan penerapan silvikultur intensif, mulai dari
penyediaan bibit, penanaman sampai dengan pemeliharaan termasuk
pengendalian hama dan penyakit, pemanenan serta pemuliaannya.
Melihat minat untuk menanam tanaman hutan mulai muncul akibat
meningkatnya kesadaran tentang manfaat lingkungan dan tingginya harga
kayu, maka diperlukan suatu panduan pengelolaan tanaman hutan khusunya
jenis sungkai. Panduan ini sengaja disusun dengan bahasa yang sederhana
agar mampu menjawab kebutuhan para petani tanaman hutan di lapangan.
Melalui buku ini, diharapkan riap tanaman akan meningkat dan mampu
menghasilkan kayu berkualitas.
Teknik yang dikemukakan dalam buku ini merupakan hasil kumpulan
berbagai informasi dari studi pustaka, hasil penelitian, komunikasi pribadi
dengan pakar, peneliti, praktisi pengelola hutan tanaman sungkai, petani dan
penyuluh kehutanan. Panduan ini ditujukan bagi petani pengelola hutan
sungkai dan diharapkan juga bermanfaat bagi penyuluh, widyaiswara, peneliti,
pemerhati, pembuat kebijakan, pengusaha, pihak-pihak yang peduli untuk
pengembangan hutan sungkai, pengambil kebijakan dan semua pihak yang
memerlukan. Semoga buku panduan ini dapat berguna dalam meningkatkan
pengetahuan teknik silvikultur pengelola hutan sungkai di manapun berada.
Palembang, Desember 2013
Kepala Balai,
Ir. Choirul Akhmad, ME.
NIP. 196701291994031007
Panduan Praktis untuk Petani
i
DAFTAR ISI
Halaman
Kata Pengantar ...........................................................................
i
Daftar Isi .....................................................................................
iii
Daftar Tabel ................................................................................
v
Daftar Gambar ............................................................................
vii
I.
PENDAHULUAN ...........................................................
1
II.
TEKNIK SILVIKULTUR ...................................................
5
III.
PENYEDIAAN BIBIT ......................................................
7
IV.
PEMBUATAN BIBIT ......................................................
A. Secara Generatif ..........................................................
B. Secara Vegetatif ..........................................................
13
13
14
V.
PENANAMAN ..............................................................
A. Pola Tanam ..................................................................
B. Persiapan Lahan ..........................................................
C. Penanaman ..................................................................
17
17
20
23
VI.
PEMELIHARAAN ..........................................................
A. Penyiangan gulma .......................................................
B. Pemupukan .................................................................
C. Penyulaman .................................................................
D. Penunggalan Batang (singling) ....................................
E. Pemangkasan (Prunning) ............................................
F. Penjarangan (Tinning) .................................................
G. Pengendalian Hama dan Penyakit ...............................
27
27
29
29
30
30
32
33
VII.
PEMANENAN ..............................................................
37
VIII. PEMULIAAN TANAMAN ..............................................
39
Bahan Bacaan .......................................................................
41
Keterangan Istilah ................................................................
45
Ucapan Terima Kasih .............................................................
49
Panduan Praktis untuk Petani
iii
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1. Karakteristik lahan tempat tumbuh sungkai di
Sumatera Selatan .........................................................
22
Tabel 2. Karakteritik lahan tempat tumbuh sungkai di Jambi ...
22
Tabel 3. Karakteritik lahan tempat tumbuh sungkai di Riau .....
23
iv
Panduan Praktis untuk Petani
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1. Tunas epikormik pada tanaman muda (a) dan
tunas epikormik pada tanaman yang terserang
penyakit pada bagian pucuk (b) ...........................
1
Gambar 2. Hutan sungkai memiliki manfaat lingkungan dan
nilai estetika ..........................................................
3
Gambar 3. Kayu sungkai memiliki tekstur yang indah ..............
3
Gambar 4. Trubusan sungkai di tegakan alam (a) dan di kebun
perbanyakan (b) .....................................................
7
Gambar 5. Buah sungkai berwarna hijau (a) dan coklat siap
dipanen (b) .............................................................
9
Gambar 6. Kecambah sungkai di bak tabur .............................
9
Gambar 7. Penyimpanan stek sebelum dibawa ke
persemaian ..............................................................
11
Gambar 8. Bahan stek yang telah disusun rapi ........................
11
Gambar 9. Bibit sungkai secara generatif .................................
14
Gambar 10. Naungan di persemaian sungkai ............................
15
Gambar 11. Sungkup bibit dari plastik bening ...........................
15
Gambar 12. Bibit masih didalam sungkup ................................
16
Gambar 13. Bibit siap tanam .....................................................
16
Gambar 14. Pola tanam monokultur sungkai ............................
19
Gambar 15. Pola tanam campuran sungkai-sawit .....................
20
Gambar 16. Pola tanam campuran sungkai-karet .....................
20
Gambar 17. Persiapan lahan untuk pola tanam monokultur ......
21
Gambar 18. Penanaman bibit sungkai (a) dan kondisi bibit
setelah ditanam (b) ...............................................
25
Panduan Praktis untuk Petani
v
Gambar 19. Sungkai muda dengan pola tanam monokultur.......
25
Gambar 20. Sungkai berumur 9 bulan .......................................
26
Gambar 21. Pemakaian mulsa pada tanam sungkai ..................
28
Gambar 22 Pemakaian cover crop pada tanaman sungkai ........
28
Gambar 23. Teknik pemangkasan pada tanaman sungkai .........
31
Gambar 24. Kondisi tegakan setelah pemangkasan ...................
32
Gambar 25. Serangan pada bagian pucuk tanaman berumur 1
tahun (a) dan serangan pada batang yang
berumur 2,5 tahun (b) ............................................
34
Gambar 26. Penyakit embun hitam menyerang tanaman
sungkai berumur 7 bulan .......................................
35
Gambar 27. Pohon induk (mother trees) sungkai .......................
40
Gambar 28. Kebun perbanyakan sungkai di KHDTK
Kemampo ................................................................
40
Gambar 29. Plot uji klon sungkai di KHDTK Kemampo ..............
40
vi
Panduan Praktis untuk Petani
I.
PENDAHULUAN
Apa yang perlu diketahui tentang tanaman sungkai ?
 Sungkai termasuk tanaman hutan yang tidak memerlukan
persyaratan tumbuh khusus dan mudah dalam pemeliharaan, serta
tahan terhadap serangan hama dan penyakit.
 Tanaman sungkai muda memiliki kemampuan bertunas (tunas
epikormik) yang tinggi. Tunas ini akan lebih banyak muncul jika
terjadi gangguan pada batang seperti: serangan hama/penyakit,
luka atau posisi batang miring.
 Tanaman sungkai sulit melakukan pemangkasan alami (self
prunning).
(a)
(b)
Gambar 1. Tunas epikormik pada tanaman muda (a) dan tunas epikormik
pada tanaman yang terserang penyakit pada bagian pucuk (b)
Mengapa memilih sungkai (Peronema canescen Jack.) ?
 Sungkai (Peronema canescen Jack.) termasuk dalam suku
verbenaceae yang memiliki kayu komersial bermutu tinggi dengan
tekstur indah mirip jati, sehingga dikenal dengan “Jati Sabrang”.
 Kualitas kayu tinggi dengan kelas kuat II-III dan kelas awet III
sehingga dapat digunakan dalam jangka waktu relatif lama.
Panduan Praktis untuk Petani
1
 Kayu sungkai untuk konstruksi dan hasil olahannya berupa furniture
dan veneer indah memiliki wilayah pemasaran yang luas untuk
kebutuhan lokal dan ekspor.
 Sebaran alaminya luas, hampir di seluruh wilayah Indonesia
sehingga dapat dikembangkan secara nasional.
 Tanaman sungkai telah banyak dikembangkan baik oleh petani
berupa Hutan Rakyat (HR) maupun pengusaha, berupa Hutan
Tanaman Industri (HTI).
 Termasuk jenis pioneer yang mampu hidup pada lahan marginal dan
tahan terhadap kebakaran.
 Memiliki masa panen yang panjang sehingga memiliki fungsi
lingkungan dalam pengaturan tata air (hidrologi), iklim lokal dan
keragaman hayati.
 Bahan perbanyakan berlimpah baik generatif maupun vegetatif.
 Tidak memerlukan persyaratan tumbuh khusus, dengan ketinggian
0-600 m dpl, tanah kering sampai sedikit basah tapi tidak tergenang.
 Sudah dikenal masyarakat baik budidaya maupun pemanfaatan
kayunya sehingga tinggal melakukan inovasi.
 Semua bagian tanaman sungkai dapat dimanfaatkan. Selain
kayunya bagian daun dan akar digunakan sebagai obat herbal.
 Dapat ditanam secara monokultur, campuran dan agroforestry yang
berpotensi meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani,
pedagang, pengrajin dan industri pengolahan kayu.
2
Panduan Praktis untuk Petani
Gambar 2. Hutan sungkai memiliki manfaat lingkungan dan nilai estetika
Gambar 3. Kayu sungkai memiliki tekstur yang indah
Perlukah buku panduan ?
 Penanaman sungkai selama ini masih dilakukan secara tradisional,
sehingga riap volume, mutu kayu dan nilai lahan masih rendah.
 Petani sulit memperoleh informasi teknis tentang pengelolaan
hutan sungkai yang benar.
 Belum banyak informasi tentang pengelolaan hutan sungkai,
sehingga kurang dipahami dan kurang menarik bagi petani.
Panduan Praktis untuk Petani
3
 Mengugah kembali para petani mengenai peran hutan sungkai yang
dikelola secara sederhana dan benar.
 Diperlukan buku panduan yang mudah dipahami dengan bahasa
sederhana untuk dilaksanakan pada tingkat lapangan.
Panduan ini untuk siapa ?
 Panduan ini diutamakan bagi pelaksana penanaman sungkai di
lapangan dalam upaya meningkatkan mutu hutan sungkai melalui
bibit unggul dan penerapan praktek silvikultur yang benar.
 Panduan pengelolaan hutan sungkai merupakan teknik budidaya
yang sederhana sehingga mudah dilaksanakan oleh petani.
 Panduan ini diharapkan juga dapat bermanfaat bagi penyuluh,
widyaiswara, peneliti, pemerhati, pembuat kebijakan, pengusaha
dan pihak-pihak yang peduli untuk pengembangan hutan sungkai.
4
Panduan Praktis untuk Petani
II. TEKNIK SILVIKULTUR
Apa praktek silvikultur ?
 Mencakup semua tindakan yang diterapkan dalam pengelolaan
tegakan hutan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas kayu.
 Semua metode perlakuan terhadap tegakan dan tempat tumbuh
yang pelaksanaannya mengacu pada perawatan selama rotasi
dengan pengaturan sinar matahari, nutrisi dan air.
Apa yang termasuk kegiatan silvikultur ?
 Semua tindakan yang dilakukan pada tegakan dan tempat tumbuh
mulai dari persiapan lahan sampai akhir daur (panen).
 Kegiatan yang dilakukan meliputi: pengaturan jarak tanam,
pemupukan, penunggalan batang, pemangkasan dan penjarangan.
Bagaimana pengaruh silvikultur terhadap riap dan kualitas kayu ?
 Riap kayu sangat ditentukan oleh penerapan teknik silvikultur
terhadap tegakan.
 Kualitas kayu ditentukan oleh banyak faktor seperti diameter dan
tinggi batang bebas cabang, kerapatan kayu, arah serat kayu,
perbandingan kayu teras dan kayu gubal dan persentase cacat kayu.
 Teknik silvikultur yang tepat dapat meningkatkan riap dan kualitas
kayu.
 Beberapa teknik silvikultur yang dapat meningkatkan riap dan
kualitas kayu, seperti:
1. Pemupukan pada awal pertumbuhan dapat mempercepat
pertumbuhan pohon sehingga diperoleh batang berukuran
besar.
2. Singling/penunggalan batang dapat mempercepat pertumbuhan
karena unsur hara dipergunakan untuk memacu pertumbuhan
batang pokok.
3. Prunning/pemangkasan dapat menambah tinggi batang bebas
cabang dan mengurangi mata kayu.
Panduan Praktis untuk Petani
5
4. Thinning/penjarangan memberikan ruang yang cukup bagi
tanaman untuk memperoleh sinar matahari dan mengurangi
persaingan dalam memperoleh unsur hara dan air.
6
Panduan Praktis untuk Petani
III. PENYEDIAAN BAHAN BIBIT
Bibit sungkai dapat diperoleh secara generatif dan vegetatif.
Bibit sungkai yang diperoleh secara generatif berasal dari benih,
sedangkan bibit secara vegetatif diperoleh dari trubusan/tunas baik
dari cabang maupun akar. Selama ini bibit sungkai biasanya
dipersiapkan secara vegetatif.
Mengapa bibit sungkai dipersiapkan secara vegetatif ?
 Bibit secara generatif sulit didapat dalam jumlah banyak karena
daya kecambah rendah 10 - 13,24%.
 Bahan perbanyakan vegetatif mudah didapat dalam jumlah banyak
melalui trubusan akar dan batang.
 Kualitas bibit secara vegetatif memiliki sifat yang sama dengan
pohon induk tempat bahan vegetatif diambil.
 Perbanyakan sungkai secara vegetatif mudah dilakukan dengan
persentase hidup tinggi diatas 90%.
 Bahan vegetatif dapat diperoleh sepanjang tahun tanpa tergantung
pada musim berbuah.
(a)
(b)
Gambar 4. Trubusan sungkai di tegakan alam (a) dan di kebun perbanyakan (b)
Panduan Praktis untuk Petani
7
A. Bibit dari benih
Dari mana benih diperoleh ?
 Benih diambil dari pohon induk yang memiliki fenotif baik seperti
batang lurus, batang bebas cabang tinggi dan diameter besar.
 Benih diambil dari pohon-pohon yang tumbuh secara mengelompok
dalam satu hamparan atau dari berbagai tempat.
 Jangan memilih benih dari pohon yang tumbuh sendirian, karena
melakukan penyerbukan sendiri kemungkinan besar kualitasnya
tidak baik.
 Benih sungkai belum memiliki sumber benih berstandar. Sumber
benih masih diambil dari pohon-pohon induk yang ada di alam atau
hutan tanaman yang telah memenuhi kriteria sebagai sumber
benih.
Kapan waktu memanen benih ?
 Benih diambil saat buah sudah berwarna coklat menandakan buah
sudah masak fisiologis.
 Buah diambil dari tajuk yang mengarah ke dalam atau berdekatan
pohon lain, sehingga diharapkan buah yang diambil berkualitas.
Bagaimana cara memanen benih ?
 Buah diambil dengan memotong tangkai buah, karena ukuran
buahnya yang kecil.
 Buah diletakkan dalam wadah yang tertutup untuk menghindari
buah jatuh atau pecah sehingga bijinya terbuang.
Bagaimana penanganan benih ?
 Buah yang telah diambil dipisahkan atau dilepas dari tangkainya.
 Buang kotoran seperti sisa tangkai, daun dan bahan lainnya.
 Buah dijemur untuk menghindari serangan jamur dan meningkatkan
daya kecambah.
 Benih yang telah kering dimasukan dalam wadah plastik lalu
disimpan ditempat kering dan sejuk.
8
Panduan Praktis untuk Petani
 Benih ditabur dalam bak tabur yang berisi pasir steril.
 Penaburan dilakukan dengan mencampur benih dengan pasir halus
dan kering.
(a)
(b)
Gambar 5. Buah sungkai berwarna hijau (a) dan coklat siap dipanen (b)
Gambar 6. Kecambah sungkai di bak tabur
B. Bibit dari bahan vegetatif
Dari mana bahan vegetatif diperoleh ?
 Bahan vegetatif yang terbaik dapat diperoleh dari kebun pangkas.
 Jika kebun pangkas belum tersedia, bahan vegetatif dapat diperoleh
dari pohon induk yang terdapat di hutan alam atau hutan tanaman
di sekitar lokasi.
Bagaimana cara memilih pohon induk ?
Pilih pohon yang memiliki penampilan unggul dibandingkan dengan
pohon-pohon di sekitarnya, yaitu memiliki ciri:
Panduan Praktis untuk Petani
9
1.
2.
3.
4.
5.
Diameter batang dan tinggi pohon di atas rata-rata
Batang bebas cabang tinggi
Bentuk batang lurus
Tajuk sehat dan seimbang
Telah dewasa (berumur diatas 10 tahun) dan memiliki buah
berkualitas
6. Bebas dari hama dan penyakit.
Kapan dan bagaimana memilih bahan vegetatif ?
 Bahan vegetatif berupa trubusan/tunas tersedia sepanjang tahun.
 Kalau sulit ditemukan trubusan/tunas dapat dilakukan
pemangkasan cabang atau pelukaan akar sehingga muncul
trubusan/tunas baru (sungkai sangat mudah tumbuh
trubusan/tunas).
 Bahan vegetatif (trubusan) dapat diambil jika trubusan telah
memilih bahan berkayu dengan tinggi 150-200 cm dan diameter 1,53 cm.
 Waktu pengambilan trubusan disesuaikan dengan jadwal
penanaman, kira-kira 3 bulan sebelum musim tanam.
 Pengambilan trubusan biasanya dilakukan pada akhir musim panas
(diakhir Agustus sampai awal September), saat kondisi tanaman
mengalami kondisi stagnan.
C. Penanganan stek
Bagaimana cara menangani stek ?
 Pilih stek yang memiliki nodus pendek sampai sedang dengan
panjang ± 10-15 cm.
 Stek dipotong dengan panjang ± 100 cm.
 Stek disusun masing-masing 25 potong lalu diikat rapi.
 Setelah terkumpul rapi dan dikemas, kemudian langsung dibawa ke
lokasi pembuatan bibit.
10
Panduan Praktis untuk Petani
Bagaimana cara penyimpanan stek ?
 Jika bahan perbanyakan jauh dari lokasi pembuatan bibit, maka stek
yang telah di ikat dimasukkan ke dalam kantong plastik bening
besar.
 Untuk mempertahankan kondisi kesegaran stek di dalam plastik
diberi cocopeat sebanyak 2 kg lalu diberi air sampai basah,
kemudian diikat dengan tali rapiah.
 Stek dapat disimpan selama 2 minggu dengan persentase hidup
mencapai 90%.
Gambar 7. Penyimpanan stek sebelum dibawa ke persemaian
Gambar 8. Bahan stek yang telah disusun rapi
Panduan Praktis untuk Petani
11
IV. PEMBUATAN BIBIT
A. Secara generatif
Bagaimana menyapih kecambah ?
 Siapkan media berupa campuran tanah : kompos/pupuk kandang :
arang sekam dengan perbandingan 3:1:1 dimasukkan dalam
polybag.
 Kecambah siap disapih setelah berumur 4-6 minggu dengan ciri
telah memiliki daun 4 pasang.
 Penyapihan dilakukan pagi hari sebelum jam 10.00 WIB atau sore
hari setelah jam 16.00 WIB.
 Sebelum penyapihan media kecambah dibasahi terlebih dahulu.
 Media di sekitar kecambah diangkat dengan menggunakan
papan/bambu pipih.
 Angkat kecambah dengan hati-hati hingga akar-akarnya lalu
masukkan ke dalam wadah berisi air.
Bagaimana cara penanaman semai ?
 Siram media tanam dengan menggunakan noozel yang kecil
sehingga tidak merusak media.
 Buat lubang tanam dengan menggunakan bambu supaya saat
penanaman akar tidak rusak.
 Semai dimasukkan ke dalam polybag dan ditutup dengan media
secara perlahan.
 Siram media tanaman sampai basah supaya tidak kekeringan.
 Persentase hidup bibit sungkai dapat mencapai di atas 90%.
Panduan Praktis untuk Petani
13
Gambar 9. Bibit sungkai secara generatif
B. Secara vegetatif
Bagaimana menyiapkan bahan perbanyakan stek ?
 Stek dipotong masing-masing sebanyak 2 nodus dengan kemiringan
450.
 Pangkal stek direndam dalam hormon pertumbuhan selama 10-15
menit.
Bagaimana cara menanam stek ?
 Siapkan media berupa campuran tanah : kompos/pupuk kandang :
arang sekam/pakis dengan perbandingan (3 : 1 : 1) dimasukkan
dalam polybag.
 Polybag ditata di dalam bedengan dengan permukaan datar.
Bedengan sebaiknya dipasang naungan dari paranet/shading net
dengan intensitas cahaya 55%.
 Buat lubang tanam pada polybag supaya pada saat penanaman
ujung stek tidak rusak.
 Stek yang telah direndam dalam hormon pertumbuhan ditanam
pada polybag.
 Siram media dengan air menggunakan noozel yang kecil supaya
tidak merusak media.
14
Panduan Praktis untuk Petani
 Bedeng stek ditutupi sungkup plastik bening dengan ketinggian ± 75
cm.
 Kondisi lingkungan di dalam sungkup dijaga sampai muncul tunas
dan akar.
 Lakukan penyiraman setiap hari satu kali.
 Jika ada gejala serangan jamur semprot stek dengan dithine
(pembasmi jamur).
Gambar 10. Naungan di persemaian sungkai
Gambar 11. Sungkup bibit dari plastik bening
Panduan Praktis untuk Petani
15
Gambar 12. Bibit masih didalam sungkup
Gambar 13. Bibit siap tanam
16
Panduan Praktis untuk Petani
V. PENANAMAN
Apa saja persiapan penanaman ?
 Sebagai langkah awal penanaman adalah menentukan pola tanam
(monokultur, campuran atau agroforestry).
 Penentuan pola tanam dengan mempertimbangkan kondisi lahan
dan tujuan penggunaan lahan.
 Pada lahan subur dan memiliki tenaga kerja sebaiknya memilih pola
tanam agroforestry.
 Pada lahan kritis dan miring sebaiknya memilih pola tanam
monokultur atau campuran dengan tujuan memperbaiki kondisi
tanah dan mencegah longsor.
 Pemilik lahan sempit atau mengarap sendiri sebaiknya memilih pola
tanam agroforestry atau campuran untuk memperoleh produk
jangka pendek, menengah dan panjang.
 Lahan jauh dari tempat tinggal, pemilik memiliki lahan yang luas
atau pemilik memiliki pekerjaan lain sebaiknya memilih pola tanam
monokultur.
A. Pola tanam
Pola tanam monokultur
Apa yang dimaksud pola tanam monokultur ?
 Hanya menanam satu jenis tanaman (sungkai).
 Ditanam secara serentak dengan jarak tanam yang sama, untuk
tanaman sungkai biasanya dipilih jarak tanam 3x3 m atau 4x2 m.
Apa saja kelebihan dan kelemahan pola tanam monokultur ?
 Pola tanam ini lebih mudah dalam pengerjaannya, karena
pengolahan lahan dilakukan secara seragam.
 Menghasilkan kayu lebih banyak dengan kualitas lebih baik
dibandingkan dengan pola tanam campuran atau agroforestry.
 Pengelolaannya lebih mudah karena jenis tanamannya sejenis.
Panduan Praktis untuk Petani
17
 Kelemahan pola ini apabila terjadi serangan hama dan penyakit
lebih mudah menular dan menyebar.
 Persaingan antar pohon dalam memperoleh hara, air dan ruang
tumbuh lebih tinggi.
Pola tanam campuran
Apa yang dimaksud pola tanam campuran ?
 Menanam lebih dari satu jenis pohon hutan baik seumur maupun
tidak seumur.
 Pemilihan jenis tanaman diatur sesuai dengan kondisi tanaman,
seperti tipe perakaran, ukuran tajuk sehingga tidak terjadi
persaingan berat antar tanaman dalam mempeoleh unsur hara,
sinar matahari dan air.
Apa saja kelebihan dan kelemahan pola tanam campuran ?
 Lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit serta terpaan
angin.
 Perbedaan daur tebang dan strata tajuk memperbaiki kualitas lahan
dan lingkungan.
 Memiliki diversitas produk tinggi sehingga mampu mengikuti
perubahan permintaan pasar.
 Hati-hati terutama untuk jenis yang cepat tumbuh, karena sungkai
bersifat intoleran sehingga pertumbuhannya dapat terhambat.
 Penebangan yang tidak serentak perlu dilakukan secara berhati-hati
agar tidak merusak tanaman di sekitarnya.
Pola tanam Agroforestry
Apa yang dimaksud pola tanam agroforestry ?
 Pola tanam yang mengkombinasikan tanaman pokok (sungkai)
dengan tanaman semusim.
 Pola ini dapat diterapkan pada awal penanaman dengan tujuan
selanjutnya adalah pengelolaan tanaman sungkai (monokultur) atau
pola campuran.
18
Panduan Praktis untuk Petani
Apa saja kelebihan dan kelemahan pola tanam agroforestry ?
 Pengolahan tanah dan perawatan tanaman semusim sekaligus
memenuhi kebutuhan tanaman pokok (sungkai).
 Pada awal penanaman petani telah memperoleh hasil jangka
pendek berupa panen dari tanaman semusim seperti kacangkacangan, jagung, empon-empon, nilam dan lain-lain.
 Jika terjadi serangan hama dan penyakit pada tanaman semusim
dapat menular pada tanaman pokok.
 Perlu kehati-hatian saat perawatan tanaman semusim agar jangan
sampai merusak tanaman pokok.
Tanaman apa saja yang dapat dikombinasikan dengan sungkai ?
 Belum banyak jenis yang dicoba dikombinasikan dengan sungkai,
tetapi dapat disesuaikan dengan tujuan penanaman, kondisi lahan
dan keuntungan secara finansial.
 Tanaman sungkai biasanya ditanam dengan jenis-jenis tanaman
hutan dan perkebunan, seperti medang, durian, petai, gaharu, sawit
dan lain-lain.
 Untuk tujuan menjaga lahan sungkai juga biasa ditanam sebagai
pembatas lahan, karena sungkai tidak memiliki anakan secara alami.
 Variasi dengan jenis tanaman perkebunan baik untuk menjaga
kondisi lingkungan dan menambah penghasilan petani karena
memiliki berbagai penghasilan termasuk Hasil Hutan Bukan Kayu.
Gambar 14. Pola tanam monokultur sungkai
Panduan Praktis untuk Petani
19
Gambar 15. Pola tanam campuran sungkai-sawit
Gambar 16. Pola tanam campuran sungkai-karet
B. Persiapan lahan
 Kegiatan persiapan lahan disesuaikan dengan pola tanam yang akan
diterapkan sehingga efesien dalam biaya dan efektif dalam
pengerjaannya.
20
Panduan Praktis untuk Petani
 Persiapan lahan untuk pola tanam monokultur mulai dari pemilihan
lokasi, pembersihan lahan (penebasan dan penebangan), perapihan
(pencacahan dan penyusunan sisa tebas/tebang), pembongkaran
akar, pembuatan lorongan dan penyiangan gulma.
Apa saja yang diperlukan untuk persiapan lahan ?
 Peralatan yang digunakan pada persiapan lahan harus lengkap
seperti: kompas, meteran, tali, cat untuk memudahkan pekerjaan.
 Gunakan tenaga kerja yang berpengalaman dalam persiapan lahan
untuk tingkat pengusahaan HTI sehingga diperoleh informasi lahan
lengkap meliputi: kesuburan dan luasan yang tepat.
 Hasil kegiatan persiapan lahan ini menentukan pola tanam dan
kegiatan selanjutnya.
Bagaimana kondisi lahan yang cocok untuk sungkai ?
 Secara alami sungkai tidak memerlukan persyaratan lahan khusus
pada ketinggian 0-600 m dpl.
 Untuk meningkatkan produktivitas kondisi lahan tanaman sungkai
memiliki faktor pembatas sebagai berikut tanah yang masam,
kesuburan yang rendah dan tekstur tanah berpasir sehingga dapat
dikembangkan secara luas.
 Sungkai akan tumbuh lebih baik pada lahan-lahan lembab dengan
solum yang dalam seperti: di pinggir sungai, daerah buluran dan
lembah.
Gambar 17. Persiapan lahan untuk pola tanam monokultur
Panduan Praktis untuk Petani
21
 Karakteristik lahan tempat tumbuh sungkai di beberapa daerah:
Tabel 1. Karakteritik lahan tempat tumbuh sungkai di Sumatera Selatan
No.
Sifat tanah
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
pH H2O
C-Org (%)
N-Total (%)
P-Bray I (ppm)
K-dd (me/100g)
Na (me/100g)
Ca (me/100g)
Mg (me/100g)
KTK (me/100g)
Tekstur
Kedalaman
Harkat*)
0 – 20 cm
3,49 – 4,18
SM
1,39 – 2,95
R–S
0,14 – 0,26
R–S
4,95 – 23,55
SR – ST
0,06 – 0,45
SR – R
0,22 – 0,33
R
0,31 – 1,83
SR
0,07 – 0,60
SR – R
10,88 – 21,23
R-S
LS, SL, L, CL, C**)
Kedalaman
Harkat*)
20 – 40 cm
3,47 – 4,29
SM
0,99 – 3,02
SR – T
0,10 – 0,21
R–S
4,20 – 15,45
SR – ST
0,13 – 0,26
R
0,22 – 0,44
R–S
0,25 – 1,53
SR
0,04 – 0,44
SR – R
11,05 – 20,75
R–S
LS, SCL, CL, C**)
Keterangan : SM = Sangat masam
R = Rendah
SR = Sangat rendah
S = Sedang
LS = Pasir berlempung
L = Lempung
SL = Lempung berpasir SCL = Lempung liat berpasir
*)
Balai Penelitian Tanah (2005)
**)
Balai Penelitian Tanah (2004)
T = Tinggi
ST = Sangat Tinggi
CL = Lempung berliat
C = Liat
Tabel 2. Karakteritik lahan tempat tumbuh sungkai di Jambi
No.
Sifat tanah
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
pH H2O
C-Org (%)
N-Total (%)
P-Bray I (ppm)
K-dd (me/100g)
Na (me/100g)
Ca (me/100g)
Mg (me/100g)
KTK (me/100g)
Tekstur
Kedalaman
Harkat*)
0 – 20 cm
3,66 – 4,17
SM
2,03 – 2,56
S
0,18 – 0,21
R–S
12,90 – 16,20
T – ST
0,16 – 0,24
R
0,22
R
0,60 – 0,73
SR
0,08 – 0,40
SR - R
15,23 – 22,23
R-S
SiL, CL**)
Keterangan: Sama dengan Tabel 1
SiL = Lempung berdebu
SiCL = Lempung berpasir
22
Harkat*)
Kedalaman
20 – 40 cm
3,82 – 3,87
0,98 – 2,72
0,11 – 0,22
6,15 – 9,75
0.06 - 0,13
0,22 – 0,33
0,53 - 0,60
0,07 – 0,20
17,40
SM
SR – S
R–S
R–S
SR – R
R
SR
SR
S
SiCL, C**)
CL = Lempung berliat
C = Liat
Panduan Praktis untuk Petani
Tabel 3. Karakteritik lahan tempat tumbuh sungkai di Riau
No.
Sifat tanah
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
pH H2O
C-Org (%)
N-Total (%)
P-Bray I (ppm)
K-dd (me/100g)
Na (me/100g)
Ca (me/100g)
Mg (me/100g)
KTK (me/100g)
Tekstur
Kedalaman
Harkat*)
0 – 20 cm
3,91 – 4,65
SM – M
1,80 – 3,38
R–T
0,18 – 0,76
R–T
5,85 – 28,95
R – ST
0,13 – 0,19
R
0,22 – 0,44
R–S
0,53 – 2,11
SR – R
0,12 – 0,37
SR
8,88 – 19,58
R-S
LS, SCL, C**)
Kedalaman
20 – 40 cm
3,87 – 4, 31
1,05 – 2,25
0,10 – 0,16
7,95 – 12,15
0,06 – 0,19
0,11 – 0,33
0,38 – 0,93
0,07 – 0,25
4,70 – 18,75
Harkat*)
SM
R–S
R
S–T
SR – R
R
SR
SR
SR – S
LS, SCL, CL**)
Keterangan: Sama dengan Tabel 1
M = Masam
C. Penanaman
Apa saja yang perlu disiapkan sebelum penanaman ?
 Pengaturan jarak tanam harus ditentukan terlebih dahulu.
 Pembuatan ajir dapat menggunakan bambu atau batang kayu
dengan tinggi 120 cm
 Pemasangan ajir dilakukan pada lubang tanam yang akan dibuat.
 Pembuatan lubang tanam disesuaikan dengan kondisi lahan dan
tinggi bibit.
Berapa jarak tanam sungkai ?
 Pola tanam monokultur biasa digunakan jarak tanam 3 x 3 m, jarak
tanam yang rapat dilakukan untuk memperoleh bentuk batang yang
lurus dan pertumbuhan meninggi lebih cepat.
 Setelah sungkai tumbuh tinggi untuk memperoleh diameter batang
yang besar dilakukan penjarangan.
 Pola campuran disesuaikan dengan tanaman kombinasinya, untuk
sungkai-sawit 9 x 8 m, sungkai-karet 12 x 6 m dan sungkai-gaharu 6
x 9 m. Sedangkan untuk campuran sungkai dengan medang, durian,
petai pada lahan masyarakat ditanam dengan jarak tanam tidak
teratur.
Panduan Praktis untuk Petani
23
 Pada Hutan Rakyat, sungkai biasanya ditanam sesuai kebutuhan
petani dan kondisi lahan.
 Pada pola tanam agroforestry, sungkai dapat ditanam dalam larikan
dengan jarak yang lebar. Tanaman semusim dapat ditanam antar
larikan.
Mengapa perlu pengaturan jarak tanam ?
 Pengaturan jarak tanam diperlukan untuk memudahkan pengerjaan
penanaman dan pemeliharaan tanaman.
 Pengaturan jarak tanam untuk memberikan ruang tumbuh pada
tanaman secara optimal agar dapat memacu pertumbuhannya.
 Pengaturan jarak tanam untuk mengurangi persaingan antar
tanaman dalam memperoleh hara dan air.
Bagaimana pada kondisi lahan miring ?
 Penentuan jarak tanam dapat menyesuaikan dengan kondisi lahan.
 Penanaman dilakukan lebih rapat untuk mengantisipasi kematian
tanaman dan jika tanaman tumbuh terlalu rapat setelah 5 tahun
dapat dijarangi.
 Jarak tanam dibuat menyesuaikan kemudahan dalam penanaman
dan pemeliharaan.
Berapa ukuran lubang tanam ?
 Ukuran lubang tanam untuk bibit dari vegetatif: 30 x 30 x 40 cm,
sedangkan untuk bibit generatif: 20 x 20 x 30 cm tergantung
besarnya ukuran bibit.
 Setelah penggalian lubang tanam, ajir tetap dipasang untuk
memudahkan pengeceran bibit setiap lubang tanam.
Bagaimana cara penanaman sungkai ?
 Sebelum penanaman bibit harus sudah diaklimitasi 2 minggu
dengan penjarangan polybag dan pembukaan naungan.
 Jika lokasi penanaman jauh dari persemaian bibit diangkut di sekitar
penanaman untuk dikondisikan selama 1 minggu.
 Kemudian bibit diecer setiap lubang tanam.
24
Panduan Praktis untuk Petani
 Gunakan pupuk dasar agar memacu pertumbuhan awal. Pupuk
dasar dapat berupa pupuk organik (1-2 kg/lubang tanam) atau
pupuk an-organik (NPK 100 gr/lubang tanam).
 Masukkan pupuk dasar pada lubang tanam, tambahkan dengan
sebagian tanah dan langsung bibit ditanam, kemudian tutup
kembali dengan tanah.
 Tanah di sekitar tanaman dipadatkan supaya bibit tidak miring.
(a)
(a)
(b)
Gambar 18. Penanaman bibit sungkai (a) dan kondisi bibit setelah ditanam (b)
Gambar 19. Sungkai muda dengan pola tanam monokultur
Panduan Praktis untuk Petani
25
Gambar 20. Sungkai berumur 9 bulan
26
Panduan Praktis untuk Petani
VI. PEMELIHARAAN
Apa saja pemeliharaan yang dilakukan pada tanaman sungkai ?
 Pemeliharaan dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan riap
tanaman dan kualitas kayu.
 Kegiatan yang dilakukan meliputi: penyiangan gulma, pemupukan,
penyulaman, penunggalan batang, pemangkasan, penjarangan dan
pengendalian hama/penyakit.
A. Penyiangan gulma
Apa saja yang termasuk gulma ?
 Semua tumbuhan yang sifatnya merugikan tanaman pokok seperti:
rumput, semak, tunas pohon dan liana.
 Gulma selain merupakan saingan tanaman pokok dalam
memperoleh cahaya, air dan unsur hara juga dapat
membelit/melilit.
 Gulma dibersihkan secara periodik untuk tanaman sungkai muda
sampai umur 2 tahun setiap 3 bulan sekali dan tanaman dewasa
setiap 6 bulan sekali.
 Pembersihan gulma dapat dilakukan secara mekanik (penebasan)
dan kimia (herbisida). Pada pelaksanaan biasanya dilakukan secara
kombinasi antara mekanik dan kimia.
Upaya yang dilakukan untuk mengurangi gulma ?
 Gulma akan tumbuh cepat pada lahan-lahan kosong, biasanya pada
areal tanaman muda.
 Untuk mengurangi pertumbuhan gulma pada tanaman muda dapat
dipasang mulsa, baik yang berbahan plastik maupun seresah yang
ada di sekitar tanaman.
 Cara lain yang dapat digunakan adalah dengan menanam cover crop
menggunakan jenis kacang-kacangan.
 Penanaman cover crop dapat bertahan lama karena tanaman akan
tumbuh, selain itu ramah lingkungan dan meningkatkan biota tanah.
Panduan Praktis untuk Petani
27
Gambar 21. Pemakaian mulsa pada tanam sungkai
Gambar 22. Pemakaian cover crop pada tanaman sungkai
28
Panduan Praktis untuk Petani
B. Pemupukan
Jenis pupuk apa saja yang biasa dipakai ?
 Berdasarkan asalnya pupuk terdiri dari 2 jenis yaitu organik dan anorganik, kedua jenis pupuk ini dapat digunakan sesuai dengan
kondisi lahan, pola tanam dan perhitungan ekonominya.
 Pemupukan dilakukan sampai tanaman berusia 3 tahun.
 Untuk tanaman sungkai dengan pola tanam monokultur pilih pupuk
organik yang bersifat lambat urai karena tanaman sungkai
memerlukan sedikit tambahan unsur hara.
Bagaimana melakukan pemupukan ?
Pupuk dasar
 Pupuk dasar diberikan sebelum dilakukan penanaman.
 Pemupukan dilakukan dengan memasukkan pupuk ke dalam lubang
tanam, kemudian lubang ditutup kembali dengan tanah.
 Dosis pupuk (pupuk an-organik lambat urai) yang diterapkan adalah
100 gr/lubang tanam, atau pupuk organik/kompos 1-2 kg/lubang
tanam.
Pupuk lanjutan
 Pupuk lanjutan dimulai setelah tanaman berumur 6 bulan.
 Pemupukan dilakukan pada awal dan akhir musim penghujan pada
bulan Mei dan November.
 Dosis pupuk yang diterapkan pada tahun pertama 200 gr/batang,
tahun kedua dan ketiga 400 gr/batang.
C. Penyulaman
Apa yang dimaksud penyulaman ?
 Penyulaman adalah kegiatan penanaman yang dilakukan untuk
menggantikan tanaman yang mati, patah dan kerdil.
 Penyulaman dilakukan untuk mempertahankan jumlah tanaman
atau kerapatan tanaman sesuai dengan rencana semula.
Panduan Praktis untuk Petani
29
 Penyulaman sebaiknya dilakukan sebelum tanaman berumur
setahun untuk memperoleh pertumbuhan yang seragam.
 Penyulaman dilakukan pada musim penghujan untuk menghindari
kematian tanaman.
D. Penunggalan batang (singling)
Apa guna melakukan penunggalan batang ?
 Penunggalan batang dilakukan untuk memperoleh batang yang
berkualitas dan cepat tumbuh.
 Singling merupakan kegiatan penunggalan batang yang tumbuh
lebih dari satu (multistem).
 Singling dilakukan periodik 2 minggu sekali karena tunas epikormik
tumbuh sangat cepat dan dapat menyerap unsur hara lebih banyak
sehingga mengganggu pertumbuhan batang pokok.
 Pemotongan tunas dilakukan dengan memotong bagian pangkal
tunas dengan alat (parang) yang tajam supaya tidak meninggalkan
sisa pada batang pokok.
E. Pemangkasan (Prunning)
Mengapa perlu pemangkasan ?
 Pemangkasan diperlukan untuk menambah tinggi batang bebas
cabang dan mengurangi mata kayu.
 Kegiatan pemangkasan adalah pemotongan cabang dan ranting
bagian bawah pada batang utama.
 Pemangkasan dilakukan supaya nutrisi tanaman terfokus pada
batang utama.
 Hasil pemangkasan dapat dimanfaatkan untuk kayu bakar.
 Pada daerah rawan kebakaran dapat mengurangi resiko terjadinya
kebakaran hutan.
Kapan dilakukan pemangkasan ?
 Pemangkasan dilakukan mulai tahun ke-3.
30
Panduan Praktis untuk Petani
 Perlakuan pemangkasan dilakukan pada tanaman sungkai karena
tidak mampu melakukan pangkasan alami/self prunning.
 Pemangkasan dilakukan awal musim penghujan sekitar akhir bulan
Agustus.
 Pemangkasan cabang dan ranting dilakukan pada waktu masih
berukuran kecil untuk mengurangi mata kayu dan cacat akibat luka.
 Pemangkasan dilakukan dengan total 50% dari tinggi total pohon,
supaya pertumbuhan sungkai tidak terhambat.
Bagaimana cara melakukan pemangkasan ?
 Pemotongan dilakukan dengan menyisakan bagian batang/cabang
pada batang utama, supaya tidak melukai batang utama.
 Sisa batang terlalu panjang dapat merangsang tumbuh tunas atau
sarang hama/penyakit dan menimbulkan cacat pada kayu berupa
mata kayu lepas.
 Luka pada batang utama akibat pemangkasan menyebabkan luka
besar yang sulit tertutup dan menjadi sarang hama/penyakit.
 Pemangkasan dilakukan dengan menggunakan gergaji yang tajam
untuk menghindari kerusakan pada batang atau luka yang terlalu
besar.
 Adanya bagian pemotongan yang tidak rata dapat menimbulkan
serangan hama dan penyakit dan merusak batang jika terkelupas.
Gambar 23. Teknik pemangkasan pada tanaman sungkai
Panduan Praktis untuk Petani
31
Gambar 24. Kondisi tegakan setelah pemangkasan
F. Penjarangan (Thinning)
Apa yang disebut penjarangan ?
 Penjarangan adalah tindakan pengurangan jumlah pohon pada
suatu areal untuk memberikan ruang tumbuh yang cukup pada
pohon terpilih.
 Kegiatan penjarangan untuk menjaga penyebaran tanaman menjadi
merata.
Mengapa perlu dilakukan penjarangan ?
 Penjarangan merangsang perkembangan tajuk dan pembentukan
lingkaran tumbuh, sehingga menambah hasil panen.
 Hasil penjarangan yang berukuran besar dapat digunakan untuk
kayu pertukangan dan souvenir, sedangkan yang berukuran kecil
untuk kayu bakar.
Bagaimana cara melakukan penjarangan ?
 Pada tanaman dengan pola monokultur sistem penjarangan lebih
mudah dilakukan.
32
Panduan Praktis untuk Petani
 Pohon yang dijarangi adalah pohon yang cacat, terserang
hama/penyakit, kerdil/lambat tumbuh, tertekan.
 Penjarangan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan
kondisi lahan dan pohon yang tinggal.
 Jumlah pohon yang tinggal dapat berdasarkan pada tinggi pohon
yang dipengaruhi oleh umur dan kesuburan tanah.
 Pada tanaman campuran, penjarangan lebih sulit dilakukan karena
tajuk yang tumpang tindih dan kondisi tanaman yang berbeda.
G. Pengendalian Hama dan penyakit
 Sungkai termasuk tanaman yang tahan terhadap serangan hama
dan penyakit.
 Informasi tentang adanya potensi serangan hama dan penyakit
pada tanaman sungkai masih sangat terbatas.
 Sampai saat ini, serangan hama dan penyakit pada tanaman sungkai
bersifat temporer terutama pada tanaman muda.
Hama apa yang menyerang tanaman sungkai ?
 Hama penggerek batang Zeuzera coffeae Nietn. dan Xystrocera
globosa Olivier, menyerang tanaman sungkai yang ditanam dengan
sistem campuran/tumpangsari.
 Bentuk serangan: membentuk lubang gerek pada batang, tangkai
daun dan batang muda. Serangan pada batang muda (pucuk)
mengakibatkan pucuk mati dan menimbulkan banyak tunas-tunas
baru.
Panduan Praktis untuk Petani
33
a
b
Gambar 25. Serangan pada bagian pucuk tanaman berumur 1 tahun (a)
dan serangan pada batang yang berumur 2,5 tahun (b)
Bagaimana cara mengendalikan serangan?
 Menghindari penanaman campuran/tumpangsari dengan tanaman
yang berpotensi sebagai inang hama penggerek seperti Acacia
mangium.
 Mengatur jarak tanam, melakukan pemangkasan dan penjarangan
untuk mengurangi kelembaban dan ruang gerak hama sehingga
dapat menghambat perkembangbiakan hama.
 Menyuntik batang dengan methamidophos (69% SL) dengan
konsentrasi 5 cc per 15 cc air. Sebanyak 20 cc larutan tersebut
disuntikkan pada setiap titik injeksi. Banyaknya titik injeksi
tergantung pada ukuran pohon dan jarak antar titik injeksi 20 cm,
yang dibuat secara spiral.
Penyakit apa yang menyerang tanaman sungkai ?
 Penyakit embun hitam jamur Meliola sp.
 Gejala serangan penyakit ini adalah terdapat bercak-bercak
berwarna hitam pekat, kering dan tipis pada permukaan daun
34
Panduan Praktis untuk Petani
bagian atas. Koloni berwarna hitam dengan diameter sebesar 1 cm.
Bercak hitam tersebut merupakan lapisan jamur dengan kumpulan
miselium yang berwarna gelap.
 Embun hitam lama kelamaan meluas dan serangan lebih lanjut
mengakibatkan daun tanaman kering kemudian rontok.
 Serangan penyakit ini terdapat pada daun-daun tua, pada tangkai 1
atau 2 dari bawah.
 Penyakit embun hitam cepat menular ke tanaman yang lain karena
miselium patogen penyebab penyakit mudah terbawa oleh angin
dan air hujan.
Gambar 26. Penyakit embun hitam menyerang tanaman sungkai
berumur 7 bulan
Bagaimana cara pengendalian penyakit ?
 Pemangkasan pada daun-daun yang terserang berat sehingga
diharapkan akan mengurangi tingkat serangan penyakit dan
mencegah menyebarnya sumber inokulum ke tanaman lainnya.
 Pengendalian intensitas serangan penyakit embun hitam yaitu
dengan pestisida nabati yang terdiri dari ekstrak daun mimba, temu
hitam, jahe, onje, teh, kencur dan lengkuas.
Panduan Praktis untuk Petani
35
VII. PEMANENAN
Kapan sebaiknya sungkai dipanen ?
 Pemanenan bertujuan untuk mendapatkan hasil kayu dalam upaya
memperoleh keuntungan.
 Pemanenan dilakukan dengan berbagai pertimbangan mulai dari
kondisi pohon, lingkungan sampai ekonomi.
 Pada pola tanam monokultur, pemanenan dilakukan secara tebang
habis serentak sesuai dengan permintaan atau peruntukannya
seperti bahan veneer, furniture atau konstruksi.
 Pada pola tanam campuran biasa dilakukan secara bertahap sesuai
dengan kondisi lahan atau kebutuhan pemilik lahan (tebang butuh).
 Pemanenan dilakukan pada umur berkisar 20-25 tahun.
Pola tebang apa saja yang diterapkan pada tanaman sungkai ?
 Pola tebang yang diterapkan tergantung pada kondisi tanaman,
yaitu:
1. Monokultur dengan kondisi tanaman satu jenis dan seumur,
diterapkan pola tebang habis. Tanaman sungkai pada satu areal
ditebang serentak, selanjutnya dilakukan peremajaan.
2. Tegakan campuran dengan umur berbeda dilakukan pola tebang
pilih. Pada lahan masyarakat dikenal istilah tebang butuh.
Penebangan dilakukan sangat hati-hati untuk menjaga kualitas
tegakan tinggal.
Bagaimana cara memanen tanaman sungkai ?
 Pemanenan dilakukan secara mekanis dengan menggunakan chainsaw.
 Pemanenan dilakukan dengan menyisakan tunggak serendah
mungkin dengan tinggi sekitar 5-10 cm dari permukaan tanah.
 Setelah pohon rebah, dilakukan pemangkasan cabang dan
pembagian batang sesuai kebutuhan, biasanya dipotong dengan
ukuran 2,5 m dan 4 m.
Panduan Praktis untuk Petani
37
 Potongan batang disarad ke pinggir jalan secara manual dengan
dipukul atau ditarik.
 Selanjutnya diangkut ke tempat pengumpulan kayu (TPK)
untuk didistribusikan ke pengguna.
38
Panduan Praktis untuk Petani
VIII. PEMULIAAN TANAMAN
Apa yang dimaksud program pemulian pohon ?
 Untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas kayu diperlukan
dukungan bibit unggul, upaya yang dilakukan adalah melalui
pemuliaan pohon.
 Pemuliaan pohon adalah kegiatan penyeleksian untuk memperoleh
sifat genetik pohon yang terbaik sesuai dengan keinginan pengguna,
misalnya memiliki pertumbuhan yang tinggi, tahan terhadap hama
dan penyakit dan lain-lain.
Apa saja yang telah dilakukan oleh BPK Palembang dalam upaya
memperoleh bibit unggul ?
 Konservasi sumberdaya genetik, meliputi:
1. Eksplorasi materi genetik meliputi 3 (tiga) provinsi yaitu
Sumatera Selatan, Jambi dan Riau.
2. Materi genetik diambil dari hutan alam dan hutan tanaman,
dengan menentukan pohon induk di setiap areal.
 Pembangunan kebun perbanyakan (multiplication garden)
1. Kebun perbanyakan sebagai tempat pengumpulan materi
genetik yang akan digunakan sebagai populasi dasar (Base
population) pada program pemuliaan pohon.
2. Kebun perbanyakan dibangun di KHDTK Kemampo pada tahun
2010 dan 2011.
 Pembangunan plot uji klon (Clonal test)
1. Diharapkan dapat memilih klon-klon unggul yang dapat
digunakan untuk mendukung penanaman sungkai skala luas.
2. Plot dibangun di KHDTK Kemampo pada tahun 2012.
Panduan Praktis untuk Petani
39
Gambar 27. Pohon induk (mother trees) sungkai
Gambar 28. Kebun perbanyakan sungkai di KHDTK Kemampo
Gambar 29. Plot uji klon sungkai di KHDTK Kemampo
40
Panduan Praktis untuk Petani
BAHAN BACAAN
Balai Litbang Hutan Tanaman dan Fakultas Pertanian Universitas
Sriwijaya. 2002. Design Engineering Wanariset Kemampo.
Palembang. Tidak dipublikasikan.
Daniel Theodore W., John A. Helms and Frederick S. Baker. 1987.
Prinsip-Prinsip Silvikultur. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta. (Terjemahaan-Edisi kedua).
Hardiyanto, E.B. 2010. Pemuliaan Pohon Lanjutan (KTB 620). Modul
bahan ajar. Program Studi Ilmu Kehutanan. Sekolah Pasca
Sarjana. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Tidak
dipublikasikan.
Hardjowigeno, S. 2005. Ilmu Tanah. Edisi Revisi. Penerbit Akademika
Pressindo. Jakarta.
Hutacharern C, 1993. Insect pests. dalam Awang K dan Taylor D (eds).
Acacia mangium, growing and utilization. Winrock
International and FAO, Bangkok, Thailand.
Lakitan, Benyamin. 1993.
Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. PT.
Grafindo Persada. Jakarta.
Marsono dan Sigit, P. 2005. Pupuk Akar, Jenis dan Aplikasi. Penebar
Swadaya. Jakarta.
Martawijaya. A, Kartasujana.I, Mandang. Y.I, Kadir K dan Prawira.S.A.
2005. Atlas Kayu Indonesia Jilid I. Badan Penelitian dan
Pengembangan Kehutanan. Departemen Kehutanan. Bogor.
Indonesia. (Cetakan III).
Muslimin I dan Sahwalita. 2012. Aplikasi pupuk majemuk terkendali
pada bibit sungkai (Peronema canescen Jack.) di persemaian.
Prosiding seminar hasil Balai Penelitian Kehutanan Palembang:
Peluang dan tantangan pengembangan usaha kayu rakyat,
Palembang, 23 Oktober 2012. Pusat Penelitian dan
Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan. Bogor
Panduan Praktis untuk Petani
41
Rahardjo, I.B. dan Suhardi. 2003. Pengaruh Beberapa Ekstrak Tanaman
terhadap Bercak Hitam dan Embun Tepung pada Tanaman
Mawar Varietas Pertiwi. Balai Penelitian Tanaman Hias. Pusat
Penelitian dn Pengembangan Hortikultura. Departemen
Pertanian. Jakarta.
Sahwalita dan Bambang Tejo Premono. 2012. Strategi pengembangan
jenis sungkai sebagai usaha kayu rakyat. Prosiding seminar hasil
Balai Penelitian Kehutanan Palembang: Peluang dan tantangan
pengembangan usaha kayu rakyat, Palembang, 23 Oktober
2012. Pusat Litbang Peningkatan Produktivitas Hutan. Bogor.
Sahwalita dan I. Muslimin. 2010. Komposisi media stek pada sungkai
(Peronema canescens Jack.) di persemaian. Laporan hasil
penelitian Balai Penelitian Kehutanan Palembang. Tidak
dipublikasikan.
Sahwalita dan I. Muslimin. 2012. Aplikasi pupuk daun pada bibit
sungkai (Peronema canescen Jack.) di persemaian. Prosiding
seminar hasil Balai Penelitian Kehutanan Palembang: Peluang
dan tantangan pengembangan usaha kayu rakyat, Palembang,
23 Oktober 2012. Pusat Penelitian dan Pengembangan
Peningkatan Produktivitas Hutan. Bogor.
Sahwalita, I. Muslimin dan J. Muara. 2011. Pengaruh media dan waktu
simpan setek terhadap penyediaan bibit sungkai. Prosiding
workshop sintesa hasil Penelitian Hutan Tanaman, 1 Desember
2010. Pusat Litbang Peningkatan Produktivitas Hutan. Badan
Litbang Kehutanan. Bogor
Sahwalita, I. Muslimin dan J. Muara. 2011. Peran pupuk dasar dalam
peningkatan pertumbuhan awal tanaman sungkai. Prosiding
Seminar Nasional MAPEKI XIV, Penguatan pendidikan berbasis
penelitian dalam pengolahan secara tepat pada kayu.
Yogyakarta.
Sahwalita, I. Muslimin dan R. Effendi. 2010. Perkecambahan benih
sungkai (Peronema canescen Jack.) asal KHDTK Benakat, Muara
Enim. Laporan hasil penelitian Balai Penelitian Kehutanan
Palembang. Tidak dipublikasikan
42
Panduan Praktis untuk Petani
Sahwalita dan T.A.A. Syabana. 2011. Pemakaian pupuk dasar untuk
meningkatkan pertumbuhan awal tanaman sungkai (Peronema
canescen Jack.). Laporan hasil penelitian Balai Penelitian
Kehutanan Palembang. Tidak dipublikasikan
Sahwalita dan T.A.A. Syabana. 2012. Pengaruh pemakaian mulsa
terhadap pertumbuhan sungkai (Peronema canescen Jack.).
Laporan hasil penelitian Balai Penelitian Kehutanan Palembang.
Tidak dipublikasikan
Sarief, E. S. 1986. Kesuburan dan Pemupukan Tanah. Pustaka Buana.
Bandung.
Soetopo, L. 2002. Teknologi Benih. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Syabana, T.A.A. dan Sahwalita. 2012. Pengaruh tinggi pemangkasan
terhadap kemampuan bertunas tanaman sungkai (Peronema
canescen Jack.) pada kebun perbanyakan. Laporan hasil
penelitian Balai Penelitian Kehutanan Palembang. Tidak
dipublikasikan.
Syabana, T.A.A. dan Sahwalita. 2013. Informasi karakteristik tanah
tempat tumbuh sungkai (peronema canescen jack.) di
Sumatera. Laporan hasil penelitian Balai Penelitian Kehutanan
Palembang. Tidak dipublikasikan.
Umboh, A. H. 1997. Petunjuk Penggunaan Mulsa. PT. Penebar
Swadaya. Jakarta.
Utami, S, Sahwalita dan, I. Anggraeni. 2013. Identifikasi dan tingkat
serangan penyakit embun hitam pada tanaman sungkai
(Peronema canescen Jack.) Laporan hasil penelitian Balai
Penelitian Kehutanan Palembang. Tidak dipublikasikan
Utami, S., Sahwalita dan I. Anggraeni. 2008. Serangan Penyakit Daun
pada Jelutung Darat (Dyera costulata Hook.) dan Jelutung Rawa
(Dyera lowii Hook.) di Sumatera Selatan. Tekno Hutan Tanaman
Volume 1 Nomor 1, November 2008 :45-52.
Panduan Praktis untuk Petani
43
KETERANGAN ISTILAH
Batang bebas cabang : Bagian batang utama pada tanaman pokok
yang tidak terdapat cabag dihitung dari
permukaan tanah.
Benih bersertifikat
: Benih yang dikumpulkan dari sumber benih
bersertifikat yang ditetapkan oleh badan
sertifikasi.
Benih unggul
: Benih dengan penampilan fisik yang baik
dan tidak tercampur kotoran (unggul secara
fisik), memiliki daya simpan dan daya
tumbuh tinggi (unggul secara fisiologis),
mampu berkecambah seragam dan lebih
cepat (unggul secara genetik).
Diameter
: Garis tengah dari benda yang berbentuk
tabung, dapat dikonversi dari keliling
batang.
Ekologis
: Bersifat hubungan timbal balik antar
makhluk hidup, atau antara makhluk hidup
dengan lingkungannya.
Fenotip
: Suatu
karakteristik
(baik
struktural,
biokimiawi, fisiologis, dan perilaku) yang
dapat diamati dari suatu organisme yang
diatur oleh genotipe dan lingkungan serta
interaksi keduanya.
Generatif
: Bagian tanaman yang merupakan alat
perkembangbiakan seperti bunga, buah
atau benih.
Genetik
: Bersifat turunan dari induknya.
Gulma
: Segala jenis tumbuhan bawah yang dapat
merusak atau mengganggu pertumbuhan
tanaman pokok.
Hama
: Segala jenis hewan yang menimbulkan
kerugian pada tanaman pokok.
Panduan Praktis untuk Petani
45
Jenis eksotik
: Jenis-jenis tanaman yang didatangkan dari
luar untuk dikembangkan disuatu daerah
baru
Kadar air
: Persentase kandungan air di dalam suatu
materi.
Kelas awet
: Nilai yang diambil dari ketahanan kayu
terhadap pengujian baik dilaboratorium
maupun lapangan dengan lima klasifikasi.
Kelas kuat
: Nilai yang dirangkum berdasarkan berat
jenis kayu dibagi kedalam lima kelas,
semakin tinggi nilai berat jenis maka kayu
semakin kuat.
Klon
: Sekumpulan pohon atau bibit yang memiliki
kualitas genetik yang sama merupakan hasil
perbanyakan vegetatif.
Lahan marginal
: Lahan-lahan yang miskin hara dan ionionnya mudah tercuci.
Paranet
: Alat pelindung dari cahaya matahari dan
terpaan hujan yang berbentuk anyaman
terbuat dari plastik (dapat dibeli di toko
plastik atau toko pertanian).
Penjarangan
: Salah satu tindakan silvikultur untuk
memberi ruang tumbuh pada pohon-pohon
terpilih dan menghilangkan individu pohon
yang tidak terpilih/cacat.
Penyakit
: Kerusakan tanaman yang disebabkan oleh
bakteri, virus, jamur atau cacing.
Penyerbukan sendiri
: Penyerbukan bunga oleh serbuk sari dari
pohon atau klon yang sama.
Perlakuan pendahuluan: Segala perlakuan yang diterapkan pada
benih sebelum ditabur sebagai upaya
mempercepat berkecambah.
46
Panduan Praktis untuk Petani
Pioneer
: Jenis-jenis tumbuhan yang muncul diawal
pada lahan yang terbuka.
Seresah
: Sisa-sisa bagian tanaman yang tidak terpakai
seperti daun, ranting, tangkai buah, kelopak
dan biji yang berada disekitar tanaman.
Setek
: Teknik pembiakan tanaman dengan cara
mengambil potongan dari vegetatif (pucuk,
batang, daun atau akar).
Tajuk
: Bagian teratas pohon yang terdiri cabang,
ranting dan daun.
Terubusan
: Tunas yang tumbuh dari pemangkasan
batang atau pelukaan akar.
Vegetatif
: Bagian tumbuhan yang dapat digunakan
sebagai alat perkembangbiakan seperti akar,
batang dan daun.
Veneer
: Lembaran kayu yang diperoleh dari irisan
atau rautan yang biasanya disusun menjadi
kayu lapis (plywood).
Panduan Praktis untuk Petani
47
UCAPAN TERIMAKASIH
Segala puji bagi Allah swt yang melimpah segala Berkah dan RahmatNya, sehingga penyusunan panduan ini dapat diselesaikan.
Tak lupa diucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua
pihak yang telah berpartisipasi dalam penyusunan panduan ini,
terutama untuk seluruh staf Balai Penelitian Kehutanan Palembang, tim
peneliti sungkai, Prof. Dr. Nina Mindawati, Dinas Kehutanan Provinsi
Sumatera Selatan, Dinas Kehutanan Provinsi Riau, Dinas Perkebunan
dan Kehutanan Kabupaten Sarolangun, Dinas Perkebunan dan
Kehutanan Kabupaten Bungo dan PT. Sentosa Bahagia Bersama serta
khusus keluarga besarku, terimakasih atas motivasi dan telah
membantu menjaga anak-anakku.
Panduan Praktis untuk Petani
49
Download