Proceeding | COMICOS 2017

advertisement
Developing Knowledge Community: Quintuple Helix and Beyond
Diterbitkan oleh:
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Atma Jaya Yogyakarta
©2017
i
Developing Knowledge Community: Quintuple Helix and Beyond
ISBN: 978-602-50218-0-0
Editor:
Dhyah Ayu Retno Widyastuti, M.Si.
Ina Nur Ratriyana, M.A.
Rebekka Rismayanti, M.A.
Layouter & Desain Cover:
Nicholas Pratama Haryo Sarjono
Kristianus Yosefat Livinus Gunawan
Diterbitkan oleh:
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Atma Jaya Yogyakarta
Alamat:
Gedung Bunda Teresa
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Atma Jaya Yogyakarta
Jl. Babarsari No. 6 Yogyakarta 55281
Telp.: (0274) 487711, Fax.: (0274) 487748
Hak cipta dilindungi undang-undang
Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara
apapun tanpa ijin tertulis dari penerbit
ii
KATA PENGANTAR
Rektor
Universitas Atma Yogyakarta
Dunia makin cepat bergerak memasuki abad Artificial
Intelegence (Kecerdasan Buatan), yang melingkupi aspek
Kesehatan, Autonomous Vehicles (AVs), Pendidikan, 3D
Printing, Agrikultur dan Pekerjaan atau profesi-profesi
lainnya. Dunia menyambut Revolusi Industri ke-4, Era
Eksponensial yang begitu eksplosif.
Masyarakat atau negara-negara demokrasi berjalan melalui
evolusi bersama subsistem masyarakat di mana interaksi pembelajaran terjadi untuk
mengikuti dasar pemikiran pembangunan berkelanjutan. Pengetahuan yang maju, plural
dan inovatif, juga menerapkan dasar pemikiran pembangunan berkelanjutan. Dalam
konteks inilah aspek lingkungan mewakili heliks kelima. Apabila Triple Helix berfokus
pada "hubungan universitas-industri-pemerintah". Helix Quadruple membingkai Triple
Helix dalam konteks "publik berbasis media dan budaya". Quintuple Helix akhirnya
menyematkan Helix Quadruple (dan Helix Triple) dalam konteks lingkungan atau
lingkungan alam. Oleh karena itu, Quintuple Helix memiliki potensi untuk dijadikan
kerangka analisis pembangunan berkelanjutan dan ekologi sosial, dengan konseptualisasi
pengetahuan dan inovasi ke lingkungan. (David F. J. Campbell, 2012).
Dalam kondisi dunia memasuki era new order saat ini, dengan indikasi serba cair
dan tak terprediksi, model Quintuple Helix muncul, untuk memperluas sinergi antara
interaksi sosial, industri, akademis, lingkungan, dan pemerintah guna mencapai
kesejahteraan masyarakat. Universitas Atma Jaya Yogyakarta sebagai Agen Quintuple
Helix merasa terpanggil untuk menjadi pelopor bagi kemunculan perubahan pola pikir
masyarakat yang berkontribusi bagi keberlanjutan inovasi yang bermanfaat bagi
kemanusiaan.
Akhirnya, selaku Rektor UAJY, saya berharap agar konferensi Nasional dengan
tema “Developing Knowledge Community: Quintuple Helix and Beyond” ini menjadi
wahana bagi pemanfaatan ilmu pengetahuan dalam mengabdi dan melayani kepentingan
umat manusia beserta dengan nilai-nilai kemanusiaannya yang dijunjung tinggi,
sebagaimana ditegaskan oleh Albert Einstein bahwa, “The human spirit must prevail over
technology”. Selamat berkonferensi.
Yogyakarta, 7 September 2017
Dr. Gregorius Sri Nurhartanto, SH. LL.M.
iii
KATA PENGANTAR
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Atma Jaya Yogyakarta
Dalam rangka menyambut event akademik Conference on
Media, Communication, and Sociology (COMICOS) 2017 ini,
ada empat kata kunci yang hendak saya sampaikan, yaitu
perguruan tinggi, inovasi, masyarakat berpengetahuan, dan
pembangunan berkelanjutan. Perguruan tinggi menjadi kata
kunci yang pertama karena dari lembaga inilah muncul
pengetahuan-pengetahuan baru melalui aktivitas penelitian
tenaga pendidiknya dalam rangka Tri Dharma Perguruan
Tinggi. Demikian pula dengan inovasi. Temuan baru juga amat bergantung pada hasil
penelitian. Dari sinilah, kita menjadi maklum banyak harapan terkait dengan pengetahuan
dan inovasi dilekatkan pada lembaga perguruan tinggi.
Dewasa ini ketika persoalan pembangunan masyarakat dihadapkan pada isu
lingkungan dan masih berkutat pada pembangunan yang tidak memperhatikan aspek
rekayasa sosial maka diperlukan inovasi dalam pembangunan masyarakat. Aspek
lingkungan dan faktor sosial yang tidak diperhatikan menjadi ancaman bagi sebuah upaya
peningkatan hidup masyarakat yang berkelanjutan. Kottak dalam Cernea (1988)
mengemukakan bahwa rekayasa sosial sesungguhnya sama pentingnya dengan
pertimbangan teknis dan keuangan.
Dengan mengambil tema “Developing Knowledge Community: Quintuple Helix
and Beyond” diharapkan konferensi dapat bermanfaat untuk membangun masyarakat
berpengetahuan dan dalam rangka mewujudkan pembangunan berkelanjutan. COMICOS
dengan demikian merupakan wahana bagi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP),
Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) untuk mewujudkan masyarakat
berpengetahuan dan dalam menghasilkan temuan sosial yang bermanfaat. Tidak hanya
itu, dalam konteks tersebut, melalui kerjasama, FISIP UAJY juga berupaya untuk
menjadi pusat sinergi antara pemerintah; industri; dan perguruan tinggi.
Akhir kata, selamat berkoferensi. Semoga bermanfaat. Salam COMICOS.
Yogyakarta, 7 September 2017
Dr. MC Ninik Sri Rejeki, M.Si.
iv
KATA PENGANTAR
Ketua Panitia Penyelenggara COMICOS 2017
Fakultas ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Atma Jaya Yogyakarta
Knowledge community menunjukkan suatu bentuk transformasi
sosial dalam masyarakat yang dengan menggunakan dorongan
inovasi dan kreativitas mampu mengiringi perkembangan arus
globalisasi. Dalam proses perwujudannya tentu peran serta dan
keterlibatan dari berbagai pilar baik pemerintah, industri,
universitas, dan masyarakat sipil menjadi hal yang sangat penting.
Pemerintah hadir dan memberikan dorongan bagi terciptanya
inovasi baik dalam tataran lokal, nasional, bahkan internasional.
Realitasnya tidak bisa dipungkiri bahwa industri, korporasi dan bisnis terutama terkait
dengan sistem ekonomi untuk menciptakan modal ekonomi serta memberi ruang dalam
perwujudan demokratisasi menjadi salah satu faktor pendukung keberhasilannya. Di sisi
lain, universitas berperan dalam menyediakan dan melakukan pengembangan potensi
sumber daya serta menjadi lahan untuk melakukan inovasi melalui pengembangan riset
dan mengimplementasikannya di dalam lingkungan masyarakat. Oleh karenanya bahwa
pelibatan komunitas masyarakat menjadi satu hal yang tidak terabaikan. Hal ini seiring
dengan partisipasinya sebagai masyarakat sipil dalam pembangunan yakni untuk
menumbuhkembangkan modal sosial guna menciptakan berbagai inovasi baru dengan
memperhatikan sensitivitas terhadap lingkungan.
Seperti halnya sebuah evolusi, ada proses, tantangan dan hambatan, begitu pula
dalam pengembangan knowledge community. Proses penciptaan pemahaman dan
pengetahuan baru yang mengarah pada inovasi dan kreativitas ini memunculkan dinamika
tersendiri dan menjadi suatu kajian menarik dalam ranah akademisi dari berbagai disiplin
ilmu. Atas dasar kondisi ini, Conference on Media , Communications and Sociology
(COMICOS) 2017 mengusung tema “Developing Knowledge Community: Quintuple
Helix and Beyond”.
Konferensi nasional ini menjadi satu ajang untuk berdiskusi, memotret proses dan
peran dari masing-masing pilar pada model quintuple helix terutama dalam perspektif
ilmu sosial dan ilmu komunikasi. Harapannya bahwa COMICOS 2017 mampu
berkontribusi dalam membangun inovasi untuk menciptakan pengetahuan yang menjadi
basis pembangunan yang berkelanjutan.
Salam COMICOS
Yogyakarta, 7 September 2017
Dhyah Ayu Retno Widyastuti, M.Si.
v
Menanggapi Tantangan Penciptaan Pengetahuan
Sebuah pengantar
Yanuar Nugroho
Jika ada satu hal yang menandai kemajuan jaman ini, barang kali itu adalah
‘penciptaan pengetahuan’. Kesadaran manusia hari ini telah mencapai tahap di mana
pengetahuan dipandang sebagai substansi dasar penumpu seluruh dinamika hidupbersama. Sektor pengetahuan (knowledge sector) menjadi penggerak ekonomi
(knowledge-based economy), sosial (knowledge based society), hingga politik dan
pengambilan keputusan (knowledge-based policymaking) serta budaya (knowledge-based
culture).
Namun di sisi lain, debat akademik yang mendalam mengenai bagaimana dan
actor utama apa yang berkontribusi pada pengetahuan diciptakan seolah sudah mencapai
titik nadir. Konsep ‘Triple Helix” dicetuskan pertama kalinya oleh Etzkowitz dan
Leydesdorff tujuh belas tahun yang lalu dalam memahami peran negara, pendidikan
tinggi, dan industri untuk menjelaskan inovasi, perkembangan teknologi, dan transfer
pengetahuan (2000: 118). Sejakitu, helix ke-4, ke-5 dan seterusnya bermunculan – dengan
seluruh reasoning-nya.Namun, secara filosofis, sebenarnya tidak ada yang baru: bahwa
pengetahuan memang tidak tercipta secara monolitik, apalagi terpusat. Pengetahuan
selalu multi dimensional, dan penciptaannya terdistribusi, melibatkan banyak aktor.
Lantas apa yang baru? Selainmunculnya helix ke-n (dan tentu aktor dan
dimensike-n pula), satu faktor penting adalah perkembangan teknologi, khususnya
teknologi informasi dan komunikasi (ICTs) serta media. Sementara kita sudah tahu bahwa
teknologi bukan sekedar alat untuk mencipta pengetahuan, mungkin tak banyak yang
tahu, bahwa corak pengetahuan amat ditentukan teknologi. Bahkan apa yang kini
mendera kita sebagai ‘post-truth’ – di mana fakta tak lagi relevan dibandingkan
keyakinan dan perasaan pribadi dalam membentuk ‘pengetahuan’, meski acap kali berisi
ketidak benaran (hoax)— justru tanpa sengaja teramplifikasi oleh teknologi komunikasi
dan media.
Itu mengapa penting merefleksikan perkembangan penciptaan pengetahuan itu
saat ini, di sini, di COMICOS – Conferenceon Media, Communication and Sociology,
2017 – khususnya dalam konteks Indonesia. Ragam permasalahan dan tantangan di
republik ini akan memperkaya kedalaman refleksi – jika dan hanya jika secara substansi
kita semua membuka diri,
Selamat berkonferensi. Selamat berbagi gagasan, selamat mendalami esensi.
Yanuar Nugroho
Honorary Research Fellow, University of Manchester, Inggris
Anggota Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI)
Deputi II Kepala Staf Kepresidenan RI
Bidang Kajian dan Pengelolaan Isu-isu Sosial, Budaya, dan Ekologi Strategis
vi
Meningkatkan Interaksi antara Produser Pengetahuan dan Pembuat Kebijakan
melalui Knowledge Communities: Pengalaman dari Knowledge Sector Initiative
Hans Antlov, Knowledge Sector Initiative, Jakarta
Program Knowledge Sector Initiative (KSI)1telah memanfaatkan Knowledge
Communitysebagai mekanisme untuk memperbaiki interaksi antara pembuat kebijakan
dengan produsen pengetahuan mengenai isu kebijakan, yang merupakan hambatan kunci
bagi sektor pengetahuan yang sehat. Tujuannya adalah untuk mempertemukan produsen
pengetahuan, pengguna pengetahuan dan organisasi perantara, dengan mendorong
mereka untuk bekerja sama dan berinteraksi dengan pemangku kepentingan lainnya yang
memiliki beragam perspektif dan kepentingan di dalam Knowledge Community.
Peningkatan jangkauan pandangan, perspektif serta bukti-bukti dapatmemperkaya dialog
kebijakan, dan dalam jangka panjang akan menghasilkan kebijakan yang lebih baik.
KSI mendefinisikan Knowledge Communitysebagai ekosistem yang bersifat
adaptif yang terdiri dari individu maupun organisasi yang memiliki kepentingan terhadap
produksi, intermediasi dan pemanfaatan pengetahuan mengenai suatu isu kebijakan.
Knowledge Communitymencakup individu dan organisasi dari sektor publik, swasta dan
masyarakat warga (civil society) yang terlibat secara aktif dalam produksi, transmisi,
permintaan dan pemanfaatan semua jenis pengetahuan dan bukti yang berkontribusi
terhadap proses kebijakan publik. Keanggotaannya bersifat cair, karena prioritas individu
dan organisasi dapat bergeser ke arah atau menjauh dari fokus komunitas pengetahuan
tersebut. Knowledge Communitymemberikan ruang serta kesempatan untuk keragaman
pengetahuan dan pandangan demi berlangsungnya proses bukti-menjadi-kebijakan.
Demi mencapai tujuan tersebut, KSI mendirikan tiga Knowledge Communitypada
tahun 2015, yang bekerja di seputar isu-isu tentang pelaksanaan Undang-Undang Desa
(UU 6/2014), Reformasi Birokrasi dan Undang-Undang tentang Aparatur Sipil Negara
(UU. 5/2014), serta Riset dan Pendidikan Tinggi. Presentasi ini akan membahas
perancangan dan pencapaian Knowledge Communityini serta tantangan-tantangan yang
dihadapi dalam pengelolaannya.
1
Knowledge Sector Initiative adalah program kerjasama antara pemerintah Indonesia dan Australia untuk
mendukung Pemerintah Indonesia dalam mengatasi tantangann kunci dalam pembangunan melalui
kebijakan publik yang lebih baik dengan memanfaatkan penelitian, analisis serta bukti dengan lebih baik.
vii
Posisi dan Peran Korporasi Media dan Masyarakat Sipil dalam Pengembangan
Masyarakat Berpengetahuan
Abdul Rokhim
Korporasi media berperan penting dalam penguatan masyarakat sipil. Apalagi, lanskap
media di Indonesia menunjukkan adanya dominasi kelompok media. Karena itu, potensi
munculnya pemusatan produksi dan pemaknaan informasi sangat besar.
Melejitnya penggunaan social media membuat lanskap media di Indonesia
semakin dinamis. Muncul fenomena divergensi antara news media dan social media.
Bahwa pola konsumsi news yang semakin berbeda antara yang terjadi di media dan social
media, butuh dipahami konsekuensinya. Karena berekses terhadap cara produk, jasa,
bahkan bisnis dikemas promosinya.
Pola konsumsi news di kalangan pengguna social media mengakibatkan audiens tak
merasa perlu membedakan antara pesan percakapan, berita gosip, opini, dan karya
jurnalistik yang serius. Akibatnya, pengaruh news media maupun social media terhadap
persepsi dan preferensi audiens cenderung melemah.
Situasi terakhir itu memaksa konglomerasi media bertransformasi. Melalui sinergi
manajemen dan konten, kelompok media mendorong media-medianya sebagai jelmaan
”idea”. Peran media harus menjadi moderator, tak sekadar mediator. Media kini tak bisa
sekadar asyik menyuarakan pendapatnya sendiri. Sebab, publisher kini adalah
”milik” user and content creator.
Media saat ini tak hanya harus kompeten menyampaikan informasi. Tetapi juga harus
mengedukasi bahkan mempersuasi dan menggulirkan prakarsa publik. Penggerak idea
perubahan. Pendorong spirit perbaikan, kontrol sosial, dan transparansi.
Peran baru itu, selain menguatkan peran dan fungsi, juga faktor trust dan integritas
media, adalah aspek krusial pengoptimasi engagement media dengan audiensnya. Media
yang menulis berita dan mengulas kejadian peristiwa sudah biasa. Namun, media yang
mampu memobilisasi idea serta bisa menggerakan publik secara impresif dan determinan,
itu baru istimewa. Sebab, cuma media yang trusted dan berintegritas di mata publik yang
bisa mewujudkannya. (*)
viii
Daftar Isi
Halaman judul
i
Kata Pengantar Rektor Universitas Atma Jaya Yogyakarta
iii
Kata Pengantar Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
iv
Kata Pengantar Ketua Panitia Penyelenggara COMICOS 2017
v
Kata Pengantar Yanuar Nugroho
vi
Kata Pengantar Hans Antlov
vii
Kata Pengentar Abdul Rokhim
viii
Daftar Isi
ix
SUB TEMA INDUSTRI KREATIF DAN ENTERPRENEURSHIP
1
Distro Betawi: Wujud Eksistensi Orang Betawi Masa Kini
3
Halimatusa'diah, M.Si.
Perubahan Model Bisnis Travel di Era Ekonomi Digital (Conventional,
37
Existing & Future)
Christiany Juditha, S. Sos., MA.,Ressi Dwiana, S.Sos, MA.
Peranan Media Online Terhadap Perkembangan UMKM di Bekas
67
Lokalisasi Dolly Surabaya
Ivan Divya Fauzan, Piola Surya Anggreini, Ade Kusuma, S.Sos.M.Med.Kom
Aktivitas Komunitas Bandung Creatif City Forum (BCCF) dalam
89
Mengembangkan Industri Kreatif Di Kota Bandung
Dr. Iwan Koswara, Kismiyati El Karimah, M.Si
Hardwork Comparisons As Part Of The Work Ethic On The SMMes In
109
Tasikmalaya, Cianjur, Cirebon
Hanny Hafiar, Diana Harding, Yus Dinain, Ahmad Gimmy
Konsep Triple Heliks dan syndrome Ketergantungan Pelaku UMKM
121
Dr. Dra. Mamik Indaryani, MS., Kertati Sumekar, Suparnyo, Budi Gunawan
ix
Optimalisasi Tol Laut sebagai Alternatif Penunjang Kelancaran
143
Pengangkutan Barang dan Jasa Guna Mendukung AEC
Dr. Elfrida Ratnawati Gultom, S.H., M.Hum., M.Kn.
Potret Keluarga Indonesia di Media Sosial
169
Tribuana Tungga Dewi, M.Si.
SUB TEMA INOVASI DALAM TEKNOLOGI INFORMASI DAN
191
KOMUNIKASI
Knowledge Community in Innovation: Borderless Special Interest Group
193
Co-Create Knowledge and Barrier
Nithia Kumar Kasava, M.Sc., MRAeS, Ike Devi Sulistyaningtyas, M.Si.
Innovation of Communication of Activities of Leaders’ Based on ICT in
205
Public Organization (Case Study of the Diffusion of Innovation of
Electronic Agenda in ANRI)
Tiara Kharisma, S.I.Kom.
Analisis Isi Kampanye Kandidat Gubernur Jakarta Periode Desember
235
2016- Februari 2017 pada Facebook dan Instagram
Mungky Diana Sari, M.I.K., Algooth Putranto, M.I.K, Christiani Ajeng
Riyanti, M.I.Kom.
Komodifikasi dalam Fenomena Selebgram dan Bisnis Endorse Instagram
257
Mellysa Widyastuti, S.I.Kom.
Adaptasi Praktik Jurnalisme Naratif di Media Digital: Mengemas Narasi
Panjang dalam Format Digital
Formas Juitan Lase, S.Sos., M.I.Kom.
x
285
SUB TEMA DINAMIKA MEDIA, BUDAYA, DAN MASYARAKAT
317
Dinamika Kelompok dalam Proses Komunikasi Organisasi Perhimpunan
319
Perempuan Pekerja Seks Yogyakarta
Erwin Rasyid, S.I.Kom., M.Sc (Cand)
Analisis Marxist Iklan PT. Freeport Indonesia
342
Wulan Purnama Sari, S.I.Kom., M.Si.
Komunikasi Lingkungan pada Budaya Priangan "Nyacar Lembur"
357
Aat Ruchiat Nugraha, M.Si., Dr. Iriana Bakti
Media Lokal dalam Memberitakan Korupsi (Analisis Framing Berita
377
Korupsi Dana PERSIBA Bantul di Surat Kabar Kedaulatan Rakyat,
Tribun Jogja, Harian Jogja, Bernas Jogja, dan Radar Jogja)
Olivia Lewi Pramesti, M.A., Pupung Arifin, M.Si.
Peran Media Massa dalam Perubahan Budaya dan Perilaku
415
Masyarakat untuk Peduli dengan Konservasi Tumbuhan
Fitria Rizki Wijaya, S.Sos., M.I.Kom.
Radio Komunitas Jawa di Kota Medan: Dari Ekspresi Diri Ke Ajang
431
Silaturahmi
Anggy Denok Sukmawati, M.A.
Media Asing dan Perda Aceh: Pro Kontra Pemberitaan Hukum Cambuk
453
Gay di Aceh
Reni Juliani, S.I.Kom., M.I.Kom.
Kearifan Komunikasi Komunitas Adat Bayan dalam Perayaan Maulid
485
Nabi di Kabupaten Lombok Utara
Dr. Kadri, M.Si.
xi
Strategi Media dalam Era Konvergensi
503
Sandi Jaya Saputra, S.I.Kom., MS.n, Drs. Sahat Sahala Tua Saragih,
M.I.Kom.
Berkota dan Menjalani Narasi Urban: Studi Kasus Revitalisasi Kawasan
511
Malioboro
Gabriela Laras Dewi Swastika, S.I.Kom, M.A.
Budaya Masyarakat Jaton Menjaga Kerukunan dengan Masyarakat
549
Minahasa
Suzy Azeharie, MA., M.Phil.
Analisis Pemberitaan Pemilihan Presiden Amerika Serikat Antara
567
Donald Trump & Hillary Clinton di Surat Kabar. (Studi Analisis
Framing Pemberitaan Pemilihan Presiden Amerika Serikat Antara
Donald Trump dan Hillary Clinton Surat Kabar Kompas, Surta Kabar
Republika dan Surat Kabar Jawa Pos edisi 1 Oktober – 8 November
2016)
Dani Kurniawan, SI.Kom.
Verifikasi Media: Cara Dewan Pers Memerangi Berita Palsu (Hoax)
577
Gumgum Gumilar, S.Sos., M.Si., Nunik Maharani Hartoyo, S.Sos.,
M.Comn&MediaSt(Mon)., Justito Adiprasetio, S.Sos., M.A., M.Z. Al Faqih
Konsepsi Perempuan Indonesia dalam Refleksi Kritis
600
Anastasia Yuni Widyaningrum, S.Sos., M.Med.Kom., Noveina Silviyani Dugis,
S.Sos., M.A.
KAMPANYE POLITIK DI ERA 2.0 (Analisis Resepsi Pemilih Pemula
Terhadap “Meme” sebagai Media Kampanye Politik Pemilihan Bupati
Sumbawa Periode 2016-2021 Melalui Media Sosial)
Miftahul Arzak, S.I.Kom., M.A.
xii
627
Kaum Muda, Identitas, dan Media Baru: Analisis Semiotika Video
667
YouTube Karin Novilda
Lidwina Mutia Sadasri, SIP., M.A.
Implementasi Pengelolaan Website Desa Peraih Destika Award dalam
687
Program Desa Broadband Terpadu Indonesia
Puji Hariyanti, S.Sos., M.I.Kom., Sumekar Tanjung, S.Sos., M.A.
FILM DOKUMENTER "TARIAN CACI", MEDIA PENGETAHUAN
713
BUDAYA TRADISIONAL DALAM INDUSTRI KREATIF DI
INDONESIA (Analisis Perspektif pada Festival Film Dokumenter
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
Ikbal Rachmat, MT., Abdurrahman Jemat, MS.
SUB TEMA MASYARAKAT DAN PERUBAHAN SOSIAL
751
Konflik Sosial dan Gerakan Sosial Masyarakat
753
Aprilyanti Pratiwi, S.S., M.I.Kom.
Rasionalitas Komunikasi dalam Eksistensi Majelis Masyarakat Maiyah
791
Ayu Adriyani, S.Sos., Mochammad Imron Rosyidi, S.I.K.
Pengaruh Inovasi, Sosialisasi dan Sistem Sosial Terhadap Tingkat
812
Pengolahan Informasi Pemuda pada Program PSP3
Dwi Rohma Wulandari, S.I.Kom., M.I.Kom
DILEMA PEMBANGUNAN FLY OVER1 SIMPANG SURABAYA DAN
UNDERPASS2 SIMPANG BEURAWE KOTA BANDA ACEH: ANTARA
PUSAT PENATAAN RUANG KOTA DAN ‘PEMBONGKARAN URBAN’
Nurkhalis
837
Analisis Peran Tradisi Nyaer Terhadap Dinamika Perilaku Sosial di
855
Lombok
Andri Kurniawan, S.SosI., M.Sos.
xiii
Literasi Budaya Sunda pada Individu Tionghoa di Garut, Jawa Barat
887
Dr. Santi Susanti, S.Sos.,M.I.Kom.
Perancangan Model Komunikasi Kesehatan bagi Remaja Disabilitas
911
Tuna Grahita untuk Menunjang Pembangunan Sosial di Pangandaran
Dr. Yanti Setianti, S.Sos.,M.Si., Dr. Hanny Hafiar, S.Sos., M.Si., Trie
Damayanti, S.Sos., M.Si., Aat Ruchiat N, S.Sos., M.Si.
SUB TEMA ETIKA, REGULASI DAN KEBIJAKAN PUBLIK
927
Internal Communication about Delivery of Public Policy of the Openness
929
of Public Information in Government Agencies: Case in National
Archives of the Republic of Indonesia
Tiara Kharisma, S.I.Kom,
Dunia Sensor dan Moral Bangsa
953
Sinta Paramita, SIP., M.A.
Civil Society and Media Policy: Studi Eksploratif Partisipasi Masyarakat
967
Sipil dalam Perubahan Undang-undang Informasi dan Transaksi
Elektronik
Mufti Nurlatifah, S.IP., M.A.
Analisis Peran KPI Dalam Menjalankan Amanat Pasal 5 Ayat (1)
996
Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers Terhadap
Tayangan Berita DI TELEVISI (Studi Kasus Pada Program NET 5 di
NET TV)
Lutfiq Firly, Wenny Maya Arlena, M.Si.
Etika Komunikasi dalam Kajian Cyberbullying
Dr.Feliza Zubair, dra.M.Si., Dr.Yustikasari,S.Sos,M.Si.
xiv
1005
Produksi, Sirkulasi, dan Konsumsi Media Alternatif Berbasis TIK (Kasus
1016
Mojok.Co)
Dr. Nina Widyawati
Regulasi tentang Iklan Rokok di Media Penyiaran Tidak Melindungi
1031
Anak dan Remaja
Dr. Nina Mutmainnah Armando, Hendriyani
SUB TEMA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN NILAI
1055
KEBERLANJUTAN
Transformasi Komunikasi Kebencanaan Menuju Masyarakat Sadar
1057
Bencana
Mochamad Rochim, S.Sos., M.Si., Dede Lilis Ch, S.Sos., M.Si., Nova Yuliati,
S.Sos., M.I.Kom.
Menggagas Pengembangan Pariwisata Budaya Berbasis Partisipasi
1083
Komunitas di Kawasan Lasem Jawa Tengah
Muntadliroh, S.I.Kom.
Dinamika Komunikasi dalam Program Translokasi
1111
Ade Putranto Prasetyo Wijiharto Tunggali, S.I.Kom., M.A.
Pengembangan Ekowisata Berbasis Komunitas dan Perubahan Struktur 1127
Kelembagaan Sosial dan Ekonomi Masyarakat
di Indonesia (Kajian Teoritis Kepustakaan)
Drs. Suharsono, M.Si.
Rancangan Model Komunikasi Resiko dalam Konteks Kesehatan (Studi
1145
Eksploratif Pengomunikasian Resiko Vaksin 5 Dasar Lengkap di
Wilayah Pedesaan)
Yun Fitrahyati Laturrakhmi, S.I.Kom., M.I.Kom, Sinta Swastikawara,
S.I.Kom., M.I.Kom, Nilam Wardasari, S.I.Kom., M.I.Kom.
xv
Difusi Inovasi dan Adopsi IVA Test dan Sadarnis Screening : Pemenuhan
1177
Hak Perempuan Miskin Atas Akses Layanan Pencegahan Kanker
Serviks dan Payudara
Dr. Tri Hastuti Nur Rochimah
Efektifitas Model Komunikasi Berbasis Masyarakat dalam
1197
Mengembangkan Teknologi Informasi dan Komunikasi di Desa
Dr. Dedeh Fardiah, Dr. Rini Rinawati, Dr. Ferry Darmawan
Pengembangan Green Urban Development Kota Surabaya
1219
Yusuf Hariyoko, S.A.P., M.A.P., Anggraeny Puspaningtyas, S.AP., M.A.P.
Kajian Strategi Pengelolaan Sumberdaya Laut pada Masyarakat Adat
1245
dalam Kawasan Kaombo di Wabula Kabupaten Buton
Dewi Anggraini, S.Sos, M.Si., Dr. La Ode Muh Umran, M.Si.
Dampak Kampanye Energi Terbarukan pada Masyarakat Pemulung di
1261
Kampung Mandiri Energi Kota Kendari
Dr. M. Najib Husain, S.Sos., M.Si., Marsia Sumule, S.Sos, M.Si
Peran Media Baru dalam Pemberdayaan Masyarakat
1275
Ilham Gemiharto, S.Sos., M.Si., Drs. Hadi Suprapto Arifin, M.Si.
Dinamika Komunikasi Quintuple Helix Dalam pengelolaan Sampah
1297
Mandiri di Kabupaten Garut
Dr. Herlina Agustin, Dr. Dadang Rahmat Hidayat, M.Si., SH., Gumgum
Gumilar, M.Si.
Jaringan Komunikasi Dalam Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat
di Kabupaten Bantul
xvi
1309
Titi Antin, S.Sos., M.Si., Hermin Indah Wahyuni
Pola Jaringan Komunikasi Pemberdayaan Komunitas Pemulung
1331
"MARDIKO" di TPST Piyungan
Wuri Rahmawati, M.Sc.
xvii
e-Proceeding | COMICOS 2017
SUBTEMA
INDUSTRI KREATIF DAN ENTERPRENEURSHIP
1
e-Proceeding | COMICOS 2017
2
e-Proceeding | COMICOS 2017
DISTRO BETAWI: WUJUD EKSISTENSI ORANG BETAWI MASA
KINI
Halimatusa’diah
Peneliti Kemasyarakatan dan
Kebudayaan LIPI Email:
[email protected]
Abstrak
Berbicara tentang Betawi, maka serangkaian narasi yang muncul dalam imaginasi
tentang Betawi adalah Betawi yang pemalas, tidak berpendidikan, dan stereotype negatif
lainnya. Sebagai kelompok etnik lokal di Jakarta, Betawi memang seakan tenggelam,
kalah bersaing dengan pendatang, dan tidak menjadi tuan rumah di wilayahnya sendiri.
Namun, di tengah-tengah potret buram tentang Betawi tersebut, kini bermunculan
industri-industri kreatif yang mengusung simbol- simbol budaya Betawi. Dengan
argumen bahwa sudah saatnya Betawi bangkit dan berdiri sejajar dengan pendatang,
mereka kemudian melakukan komodifikasi budaya dengan mendirikan distro- distro
Betawi. Di tangan mereka, simbol-simbol budaya Betawi diekspresikan melalui caracara yang kreatif sebagai mode ekspresi identitas budaya di ruang sosial yang multietnik.
Apa yang menyebabkan mereka bangkit untuk meneguhkan identitasnya di tengahtengah heterogenitas masyarakat Jakarta dan dominasi pendatang? Melalui pendekatan
kualitatif, Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap fenomena kemunculan industriindustri kreatif Betawi ini. Wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi
digunakan sebagai metode pengumpulan data untuk mendapatkan deskripsi yang
mendalam mengenai fenomena yang dikaji. Penelitian ini menemukan bahwa hadirnya
industri-industri kreatif Betawi saat ini adalah sebagai bentuk perlawanan terselubung
terhadap stereotype yang dilekatkan pada mereka. Selain itu, hal ini juga merupakan
upaya mereka untuk membangun narasi baru tentang Betawi, yakni Betawi yang kreatif,
tidak malas, dan mampu bersaing dengan pendatang. Simbol-simbol budaya Betawi
dihadirkan melalui cara-cara yang kreatif sebagai upaya menghadirkan kembali identitas
Betawi di tengah-tengah heterogenitas masyarakat Jakarta dan dominasi pendatang.
Kata kunci: Betawi, Stereotip, Komodifikasi Budaya, Eksistensi Identitas Budaya
PENDAHULUAN
Salah satu persoalan yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia yang majemuk
adalah praktik pembedaan dalam masyarakat yang berujung pada diskriminasi,
stereotip, rasisme. Praktik pembedaan tersebut, muncul akibat ketidakjelasan peranan
suatu etnik dalam masyarakat. Adanya perbedaan di tengah keberagaman masyarakat,
memperkuat kebutuhan untuk dapat mengidentifikasi diri dalam lingkungannya.
3
e-Proceeding | COMICOS 2017
Identitas menjadi suatu hal yang penting bagi manusia untuk memberikan kejelasan
siapa diri mereka, apa peran dalam hidup, dan posisi mereka untuk
menjalin relasi dengan manusia lainnya serta dalam lingkungan masyarakatnya
(Woordward, 1997:1). Kendati masyarakat multikultural mendasarkan diri pada
ideologi perbedaan dalam keberagaman, namun tidak bisa dipungkiri bahwa praktikpraktik negatif atas dasar hal tersebut masih dapat ditemui. Untuk itu, diperlukan
perjuangan bagi seorang individu maupun kelompok yang berpotensi sebagai pihak
yang tidak diuntungkan untuk bertahan di tengah masyarakatnya yang beragam. Hal
tersebut menjadi permasalahan dan tantangan yang besar bagi setiap individu dan
kelompok, sehingga mereka termotivasi untuk dapat menemukan dan menunjukkan
identitasnya di tengah keragaman masyarakat yang multicultural.
Jakarta merupakan salah satu kota yang multikultural di Indonesia. Sebagai
kota metropolitan dan menjadi pusat kegiatan politik, ekonomi, sosial dan budaya,
berbagai peluang yang ditawarkan di Jakarta merupakan magnet yang menjadi daya
tarik bagi ribuan pendatang yang setiap tahun mengalir masuk ke ibukota. Data Badan
Pusat Statistik (BPS) tahun 2010 menunjukkan ada lebih dari 30 etnis yang mendiami
Jakarta (BPS 2010).
Arus masuk penduduk dari bermacam-macam etnis secara besar-besaran telah
terjadi sejak tahun 1950-an, dimulai dengan program pembangunan untuk menjadikan
Jakarta sebagai Kota Metropolitan dan untuk membuatnya setara dengan ibu kota
bangsa-bangsa yang besar seperti Bangkok, Singapura, atau Manila. Pembangunan,
dianggap merupakan suatu kebutuhan, untuk memberikan kenyamanan bagi pengusaha
dan wisatawan asing dan mampu bersaing dengan Singapura atau ibu kota lainnya
(Blackburn, 2013: 294). Namun sayangnya, agenda modernisasi Jakarta, tidak
4
e-Proceeding | COMICOS 2017
dibarengi dengan upaya menjaga etnik lokal dan budayanya. Perlahan namun pasti,
etnik lokal di Jakarta semakin tersingkir oleh derasnya pembangunan. Sebagai etnik
local di Jakarta, orang Betawi harus mengikhlaskan tanahnya untuk dijadikan gedunggedung bertingkat dan pusat kegiatan politik dan ekonomi. Padahal, hilangnya tanah
menyebabkan hilangnya
mata pencaharian Betawi yang notabene sebagai petani.
Hilang tanah, juga menyebabkan hilang berbagai ritual budaya Betawi yang semakin
lama dapat menyebabkan terkikisnya identitas budaya Betawi.
Tidak hanya sampai di situ, derasnya arus pembangunan membuka peluang kerja
yang luas. Akibatnya, migrasi penduduk menjadi hal yang tak terelakkan. Para
pendatang kemudian berkembang menjadi lebih dominan, khususnya dalam bidang
ekonomi dan hal ini berimplikasi pada kemunduran orang Betawi sebagai etnik lokal.
Orang Betawi semakin tenggelam dalam gemerlapnya Jakarta dan kalah bersaing
dengan pendatang. Hal ini juga disadari oleh orang Betawi sendiri, seperti ungkapan
berikut:
“kita ini sebagai penduduk aslinya kan selalu mengalah. Lagipula, mereka yang
berada di kota ini kan para penggede. Sedangkan orang-orang Betawi
mayoritas pendidikannya hanya sampai SMA. Ada pula yang sampai tingkat
akademi, tetapi kan tidak sehebat orang- orang luar.” (Benyamin S, dalam
Jakarta milik perantau, dalam Majalah Seribu Wajah Jakarta: edisi khusus 454
tahun Jakarta, h. 39)
Dalam sejarah panjang “tertidur lama’ kini kita melihat munculnya beragam
kegiatan kebetawian dalam ruang-ruang sosial di Jakarta. Gejala yang paling tampak,
antara lain meningkatnya beragam kegiatan-kegiatan ke-Betawi-an. Kita bisa melihat
misalnya, kegiatan- kegiatan seperti Festival Budaya Betawi yang meningkat tajam
dalam 5 tahun belakangan ini. jika tahun 2010 hanya sekitar dua puluh perayaan festival
Betawi, namun tahun 2015, jumlah ini kian meningkat menjadi sekitar enam puluhan
5
e-Proceeding | COMICOS 2017
perayaan festival di berbagai sudut kota Jakarta1. Selain itu, media-media tentang
Betawi
(misal,
majalahbetawi.com,
orangbetawi.com,
kampungbetawi.com,
Betawikita.id) dan gerakan literasi Betawi (missal, Betawi Kita, Gelatik, Baca Betawi)
juga marak bermunculan.
Salah satu yang cukup menarik perhatian masyarakat adalah kehadiran distrodistro Betawi. Distro-distro Betawi hampir sebagian besar dikelola oleh sekelompok
generasi-generasi muda Betawi. Di tangan mereka, Simbol-simbol Betawi yang
dikomodifikasikan dan ditransformasikan secara kreatif melalui bentuk-bentuk
kekinian. Apa yang mereka lakukan adalah upaya untuk membuat sebuah terobosan
dengan menghadirkan Betawi di tengah-tengah masyarakat Jakarta yang telah di
dominasi oleh budaya-budaya modern dan anak-anak muda yang semakin lupa akan
budaya Betawi sebagai budaya lokal di Jakarta2. Salah satu Distro Betawi yang
konsisten dalam upaya untuk menghadirkan simbol-simbol budaya Betawi dalam
setiap produknya adalah Betawi Punye Distro (BPD). Menariknya, pengelola BPD
merupakan sekelompok anak-anak muda yang memiliki profesi masing-masing.
Artinya, mereka bukan menjadikan BPD sebagai sumber mata pencaharian
utamanya. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, untuk kepentingan apa BPD
didirikan?
Berdasarkan fenomena tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengungkap
fenomena kemunculan distro-distro Betawi di Jakarta. Dalam ranah akademis, upaya
yang dilakukan oleh sekelompok anak muda Betawi ini dapat dipandang
1
Pengamatan awal penulis yang didapat dari berbagai media online
sebagai bangkitnya sense of collectivisme dan upaya untuk menegosiasikan
identitas dan merespon ketersingkiran mereka di tengah keragaman masyarakat
6
e-Proceeding | COMICOS 2017
Jakarta.
Kajian tentang kelompok etnik local dalam merespon ketersingkiran
mereka memang bukanlah kasus yang khas, -dalam arti masih ada kelompok etnis lain
di nusantara yang juga mengalami hal yang sama, seperti Ulun Lampung3 dan
Masyarakat di Bali4- (Sinaga, 2016; Atmadja, 2010). Namun, cara-cara masingmasing kelompok etnik ini dalam merespon ketersingkiran yang mereka alami
sudah pasti akan berbeda antara satu dengan yang lainnya sebagai buah dari perbedaan
setting budaya dan sejarahnya. Posisi orang Betawi yang ter-alienasi akibat
pembangunan yang tuna kebudayaan dan dominasi pendatang, serta stereotype inferior
yang dilekatkan pada kelompok etnik ini, menyebabkan fenomena kemunculan Distro
Betawi ini amat menarik untuk dikaji. Meneliti kelompok anak muda Betawi ini dalam
konteks masyarakat multikultural dapat mengungkapkan strategi kelompok etnik yang
terpinggirkan dalam kaitannya dengan identifikasi diri dan negosiasi mereka sebagai
buah pembelajaran dalam menghadapi realitas masyarakat yang semakin global.
Dalam banyak literature, wacana tentang bangkitnya kelompok etnik lokal
di Indonesia umumnya masih dikaji dari sudut pandang politik identitas yang
menempatkan momentum reformasi dan otonomi daerah di Indonesia sebagai
pendorong utama (Atmadja, 2010; Sjaf, 2014; Buchari, 2014; Sinaga, 2014; Kumbara
2008)5.Meski cukup sering dibicarakan, masalah di atas jarang sekali dilihat dari dari
sudut pandang komunikasi. Upaya untuk memahami mengapa tindakan-tindakan
kolektif tersebut terbentuk dan bagaimana cara-cara mereka membangun sense of
Waawancara dengan Davi kemayoran salah satu pengelola BPD, 20 Desember 2016
Ulun lampung berupaya untuk merespon ketersingkiran mereka dengan merevitalisasi tradisi
Piil Pasenggiri
4
Masyarakat di Bali, mengadakan gerakan Ajeg Bali, sebagai upaya untuk merespon
ketersingkiran mereka dan krisis identitas akibat globalisasi
2
3
7
e-Proceeding | COMICOS 2017
collectivisme dalam konteks komunikasi masih belum banyak mendapat perhatian.
Berangkat dari konteks tersebut, penulis menganggap bahwa fenomena tersebut
dengan beragam persoalan yang menghimpitnya, masih penting untuk dieksplorasi
lebih jauh. Dengan menempatkan Betawi sebagai kelompok Ko-Kultural, penelitian ini
bertujuan menganalisis strategi yang digunakan anak-anak muda Betawi dalam
membangun sense of collectivisme, melawan ketersingkiran
dan juga stretotp yang
dilekatkan pada mereka.
5
8
Reformasi sistem politik nasional di bawah rezim Orde Baru yang sentralistik dan diberlakukannya
Undang-Undang No 34 Tahun 2003 tentang otonomi daerah telah menjadi momentum penting bagi
kelompok etnis di Indonesia, termasuk orang Sasak, untuk mengembangkan kesadaran dan solidaritas
kelompok etnis dalam rangka melawan dan merebut dominasi suku bangsa lain, baik di bidang politik,
ekonomi, maupun budaya. Gerakan indeginisasi dan adatisasi yang dilakukan orang Sasak belakangan
ini, misalnya, dapat dipandang sebagai bagian dari proses politik identitas orang Sasak dalam
merespons perubahan dan tantangan yang dihadapi atau tindakan semacam itu dapat dipandang sebagai
salah satu bentuk strategi politik identitas para elite Sasak untuk merevitalisasi, meredefinisi, dan
mereaktualisasi potensi sumber daya budaya, adat dan agama, yang selanjutnya akan dijadikan
instrumen untuk meningkatkan kesadaran identitas “diri” dan solidaritas di antara mereka (Kumbara,
2008). Demikian halnya dengan Ulun Lampung, Melalui isu liberalisasi politik, otonomi daerah, dan
desentralisasi kepegawaian, ulun Lampung meredefenisi dirinya, membangun ulang jati diri,
menghidupkan klaim sebagai etnis lokal, dan memiliki teritori atas Lampung sehingga pada suatu saat
mereka dapat mengatakan “inilah orang Lampung (Sinaga, 2014).
e-Proceeding | COMICOS 2017
METODE PENELITIAN
Penelitian tergolong pada jenis penelitian kualitatif. Pengumpulan data
dilakukan dengan wawancara mendalam dan dokumentasi untuk mengambil data-data
tertulis yang mendukung fokus penelitian. Data yang terkumpul dianalisis melalui data
reduction, data display, dan conclusion drawing/verifying (Denzin dan Lincoln, 1994).
Telaah dokumen dilakukan untuk mendapatkan informasi-informasi terkait dengan
persoalan penelitian yang berasal dari dokumen- dokumen tertulis yang relevan dengan
penelitian ini.
PEMBAHASAN
Etnik Betawi: dari Penyingkiran hingga Stereotip Inferior
Ada beberapa pendekatan untuk melihat siapa orang Betawi. Dalam hal ini,
Chaer (2015:11) secara apik mengidentifikasi beberapa pendekatan dalam melihat
siapa yang dimaksud dengan orang Betawi. Pendekatan sejarah menyatakan bahwa
orang Betawi atau etnis Betawi adalah etnis yang lahir dari pencampuran pernikahan
berbagai etnis yang ada di Batavia pada abad ke-17 dan ke-18. Generasi yang lahir dari
pernikahan campur ini tidak lagi mengenal etnis ayah- ibunya, sehingga mereka disebut
orang Betawi (Chaer, 2015).
Pendekatan lokasi (tempat) berkonsep bahasa Betawi adalah nama tempat atau
lokasi yang identik dengan Batavia pada masa VOC dan Hindia Belanda atau Jakarta
sebelum proklamasi Kemerdekaan. Ada beberapa bukti Betawi sama dengan Batavia,
antara lain dalam halaman kulit buku Lie Kim Hok (1884), yang berjudul Melajoe
Betawi; ada keterangan “Tertjetak pada Toewan W. Bruining & Co., Betawi, 1884”.
Contoh lain dalam rubrik “Omong-omong Hari Senen” pada suratkabar Taman Sari
9
e-Proceeding | COMICOS 2017
edisi 9 Mei 1904 menyebutkan nama Asiten Residen Betawi. Kiranya, para pribumi
menggunakan istilah Betawi, sedangkan orang Belanda menyebutnya Batavia. Jika
pendekatan lokasi yang digunakan untuk menyatakan siapa orang Betawi, maka jelas
orang Betawi adalah Pribumi yang ada di kota Batavia, yang oleh Residen Batavia
disebut Bataviaan (Lohanda, 2004). Jadi, siapapun yang berada di luar Batavia bukan
orang Batawi.
Pendekatan bahasa menyatakan orang Betawi adalah orang yang menggunakan
bahasa Melayu Betawi. Lalu menurut hasil penelitian Muhadjir, dkk (1986),
penggunaan bahasa Betawi bukan hanya di wilayah administrasi pemerintahan DKI
Jakarta saja, tetapi jauh sampai ke wilayah Tangerang di sebelah barat; jauh sampai ke
wilayah Depok/Bogor di sebelah selatan; dan jauh sampai ke wilayah Bekasi disebelah
timur (Multamia, 1986). Jika pendekatan penggunaan bahasa juga dipakai, maka orang
Betawi mempunyai wilayah kedudukan yang sangat luas, termasuk komunitas
Kampung Sawah di Pondok Gede yang beragama Kristen dan Komunitas Masyarakat
Tugu yang beagama Kristen (dalam Chaer, 2015).
Menurut keterangan lisan Uri Tadmor, seorang Jerman peneliti bahasa Melayu
bahwa sebenarnya Komunitas Tugu juga berbahasa Melayu dengan kosakata yang
banyak diambil dari bahasa Portugis (Tadmor, 2007). Grijns (1991) juga melihat
Betawi–ia menyebutnya Jakarta–dari penggunaan bahasa sehingga wilayah penelitian
mulai dari Tangerang di sebelah barat, Cisalak disebelah selatan dan Bekasi di sebelah
timur (Chaer, 2015: 12-13).
Pendekatan agama melihat etnis Betawi dari agama Islam. Jika pendekatan agama
yang digunakan–seperti dinyatakan Koentjaraningrat (1975: 4-5), Telden (1985:35)
10
e-Proceeding | COMICOS 2017
dan Abeyasekere (1985: 21) maka komunitas di Kampung Sawah di Kampung Tugu
bukanlah orang Betawi. Namun, Amsir (2011) dalam Kongres Kebudayaan Betawi
pada penghujung 2011 yang lalu, menyatakan bahwa Betawi identik dengan Islam.
Maka, ia bukanlah Betawi jika bukan beragama Islam. Berikutnya adalah yang
menggabungkan pendekatan agama (Islam) dan lokasi (tempat). Jadi, seorang Betawi
adalah yang tinggal di kota Batavia (Jakarta sekarang) dan beragama Islam. Kiranya
pendekatan inilah yang banyak dianut dan dipahami orang Betawi pada waktu yang
lalu. Oleh karena itu, mereka menyebut dirinya orang Betawi atau orang Selam (Islam)
(Chaer, 2015: 13).
Dalam laju perkembangan kota Jakarta, Orang Betawi, sebagai etnik local di
Jakarta, kerap dipersepsikan sebagai kelompok etnik yang marginal, karena sejarahnya
yang dianggap sebagai masyarakat asli (pribumi) di Jakarta, namun mereka kini hidup
di pinggrian Jakarta akibat pembangunan Jakarta. Karenanya, tidaklah heran jika Chaer
(2015) pengamat yang juga budayawan Betawi mengatakan, bahwa kebudayaan
masyarakat Betawi berada dalam keadaan utuh hanya sampai era 1950-an. Setelah era
1950-an, kebudayaan betawi menjadi tidak utuh lagi karena pendukung kebudayaan
itu, yaitu masyarakat Betawi, sudah mulai tercerai berai sebagai akibat dari
pembongkaran kampung-kampung tempat tinggal orang Betawi untuk keperluan
perluasan kota Jakarta dan penyediaan pemukiman-pemukiman baru seiring penduduk
Jakarta yang semakin melimpah oleh pendatang (Chaer, 2015: V).
Ada sejarah “eksklusi” atas nama pembangunan di mana Betawi hanya menjadi
penonton dalam gerak langkah pembangunan Jakarta6. Pembongkaran kampungkampung Betawi, yang sudah dimulai sejak 1949 untuk dibangun kota satelit
Kebayoran Baru. Pada waktu itu, tidak kurang dari 730 hektar perkampungan Betawi
11
e-Proceeding | COMICOS 2017
dibongkar, beserta 1.688 buah rumah, kandang ternak serta 700.000 buah pohon
produktif milik orang Betawi (Shahab, 2004). Pengbongkaran kedua dilakukan
terhadap kampung Senayan dan Petunduan (nama kampung kedua ini sudah tidak
dikenal lagi) untuk membangun fasilitas olah raga dalam rangka penyelenggaraan
Asian
Games. Setelah itu, pada akhir 1960-an, giliran kampung Kuningan dan
Pondok Pinang dibongkar untuk fasilitas perkantoran dan perumahan mewah. Setelah
itu menyusul pembongkaran di seluruh wilayah Jakarta tanpa terkendali (Chaer, 2015:
VI).
Pembongkaran-pembongkaran ini berarti “memindahkan” orang Betawi ke
tempat lain yang jauh di pinggiran Jakarta seperti Bogor, Depok, Tangerang dan
Bekasi. Meskipun masih banyak orang Betawi yang bertahan dan tinggal di dalam kota,
tetapi budayanya sudah berubah. Jika pada awalnya berkehidupan dari hasil tanah atau
kebunnya, kini mereka harus hidup dari bekerja buruh, pegawai dan pedagang kecil
atau bekerja sebagai apa saja (Chaer, 2015: VI). Inilah yang disebut oleh Yahya Andi
Saputra sebagai “kecelakaan sejarah” atas kebijakan pembangunan yang “ditolerir”
oleh orang Betawi sendiri7. Perubahan dari berkehidupan dikampung dengan tanah
yang luas menjadi berkehidupan dalam kompleks perumahan dengan tanah yang
sempit menyebabkan, misalnya, tidak ada lagi permainan anak-anak seperti main
dampu, main gala asin, atau main ketok kadal karena ketiga permainan tersebut
memerlukan lahan yang luas. Begitu pula, tidak ada lagi permainan yang memerlukan
alat yang didapat dari kebun, seperti main kuda-kudaan atau main bandring karena
tidak ada lagi pohon pisang yang menjadi alat permainan. Selain itu, permainan galeho
yang punah karena tidak ada lagi batang padi yang menjadi bahan baku permainan
tersebut (Chaer, 2015: VI- VII).
12
e-Proceeding | COMICOS 2017
Sebagai ibukota pemerintahan, Jakarta dibayangkan oleh Presiden Soekarno
mempersonifikasikan semangat kekuatan bangsa-bangsa yang baru merdeka dari
penjajahan, sebuah kota besar modern dengan bangunan, fasilitas dan kehidupan
modern. Tidak semua keinginan Presiden Soekarno itu terwujud dimasanya, namun
agaknya menjadi “takdir” bahwa Jakarta akan berkembang ke arah itu. Sejak awal Orde
baru, semasa Ali Sadikin menjadi Gubernur Jakarta dari tahun 1966, ia meneruskan
gagasan Bung Karno membangun Kota Metropolis (Abeyasekere, 1989:113).8
Kebutuhan lahan untuk berbagai jenis fasilitas seperti perkantoran, perumahan, sarana
kesehatan atau sarana olahraga semakin lama semakin meningkat dan telah
menimbulkan persoalan pertanahan dikalangan orang Betawi, termasuk pembelian
tanah penduduk secara murah atau secara murah atau secara paksa (Aziz, 2002: 101102). Namun dibalik itu, orang Betawi juga tidak sadar bahwa Tanah merupakan fungsi
Budaya. Padahal, tanah merupakan salah satu syarat keberlangsungan budaya. Hilang
tanah, hilang pula tradisi dan identitas Betawi. Namun, pada masa itu, tidak ada
perlawanan dari orang Betawi. Betawi yang toleran, merelakan tanahnya untuk dijual
demi pembangunan Jakarta. Penggusuran di Jakarta yang tuna kemanusiaan, tuna
kebudayaan, memperlebar jurang sosial dan meniadakan kelas sosial masyarakat lokal,
sehingga meng-alienasi keberadaan orang Betawi sebagai penduduk lokal.
6
Lebih jauh, penggusuran Betawi mulai abad 20, lihat buku sekitar 200 tahun sejarah Jakarta 1750-1945
7
Wawancara dengan Yahya Andi Saputra, Budayawan Betawi, 20 Oktober 2016
13
e-Proceeding | COMICOS 2017
Hal inilah yang menurut penulis kemudian memunculkan stereotip yang
sangat kuat yaitu “Orang Betawi tukang jual tanah”. Padahal, menurut Palupi (2015)9
Kalau kita berangkat dari titik Human Right, pernyataan bahwa “Orang Betawi tukang
jual tanah“ harus dilihat dalam konteks historisnya, “Betawi tukang jual tanah” -itu
tidak titik (.) namun kalimat itu harus diberi tanda tanya (?)- “Betawi tukang jual
tanah?”, mengapa? Artinya kalimat itu belum selesai. Dalam perspektif human right
seperti dikatakan Palupi sebagai berikut:
“Betawi jual tanah karena hak ekonomi, sosial, budaya orang Betawi tidak
terpenuhi akibat pembangunan Jakarta dan Kapitalisme. Nah itu yang terjadi,
orang Betawi jadi tukang jual tanah karena ada hak yang hilang atau
dihilangkan, atau tidak terpenuhi atau bahkan dirampas. Sebaliknya juga
ketiadaan tanah, atau hilangnya atas tanah membuat hak ekonomi sosial budaya
orang betawi tidak terpenuhi. Jadi ada multiplayer efek atas pelanggaran hak
ekonomi sosial budaya. Jadi yang pertama adalah tidak terpenuhinya hak
ekonomi, sosial, budaya masyarakat betawi membuat masyarakat betawi ini
tukang jual tanah. Ya kan? Sebaliknya ketika tanahnya sudah habis, orang
betawi kehidupan masyarakat betawi atau status atau kondisi hak ekonomi,
sosial, budayanya semakin parah. Jadi ada proses pemiskinan yang semakin
parah dihadapi oleh masyarakat betawi, dan itu sudah terjadi sejak jaman
kolonial, proses itu”.
Susan Abeyasekere (1989), op.cit. hal.167-171 dan 215-220, h. 113)
Disampaikan dalam diskusi Betawi Kita dengan tema “Betawi dan Tanah”, Komunitas Bambu
Depok, 2015.
88
9
14
e-Proceeding | COMICOS 2017
Beberapa pengamat yang konsen terhadap kehidupan sosial masyarakat Betawi,
mengidentifikasi beberapa penyebab ketersingkiran orang Betawi dalam ruang-ruang
sosial di Jakarta. Aziz (2002) dan Blackburn (2011) misalnya, menggambarkan
bagaimana proses peminggiran yang terjadi pada masyarakat Betawi melalui berbagai
peraturan yang dikenakan terhadap kepemilikan tanah mereka, diantaranya yang paling
penting ialah izin mendirikan bangunan (IMB) dan pajak bumi bangunan (PBB).
Karena hal inilah, banyak orang Betawi yang rumahnya dirobohkan -pada dasawarsa
1970-an- karena tidak memiliki IMB. Seperti di masa kolonial dimana perluasan
jaringan jalan raya juga telah mengakibatkan harga tanah di pinggir jalan meningkat,
perluasan jalan sesudah masa kemerdekaan pun memperlihatkan kecenderungan yang
sama. Sebagai akibatnya, selain menghadapi persoalan IMB, orang Betawi juga
menghadapi masalah pembayaran PBB yang semakin besar jumlahnya dan menjadi
gangguan serius bagi kemampuan ekonomi dari kebanyakan orang Betawi. (Aziz,
2002:10 102; Blackburn, 2013).
10
Orang-orang Kuningan, Jakarta Selatan, yang pada dasawarsa 1970-an tergusur dari wilayah mereka.
Sebagian mereka pindah ke daerah Mampang dan sebagian lagi ke Pondok Rangon, Pasar Rebo.
Mereka pindah ke Mampang (yang sekarang sudah menjadi bagian kota), meneruskan pekerjaan
mereka dahulu, baik sebagai peternak sapi perah atau menjadi pembuat tahu-tempe. Tidak ada yang
menyangka bahwa di balik sejumlah rumah tepi jalan ramai di Mampang, terdapat peternakan sapi
yang susunya diperah setiap hari atau pabrik tahu tempe. Demikian pula sebagian mereka yang pindah
ke Pondok Rangon, meneruskan sebagai peternak sapi perah atau sebagai petani buah- buahan dan
sayuran. Penduduk Mampang sendiri dimasa lalu terkenal sebagai petani penghasil belimbing dan
rambutan. Mereka yang bertahan didaerah perkotaan seperti Mampang dan tidak melanjutkan profesi
lama, pada umumnya bekerja sebagai pemilik rumah kontrakan atau membuka warung/toko dengan
memanfaatkan sisa lahan didekat rumah tinggal mereka (Aziz, 2002: 103).
15
e-Proceeding | COMICOS 2017
Akibat lanjutannya ialah semakin banyak orang Betawi yang terpaksa
menyingkir ke daerah pinggiran. Alih pekerjaan mereka yang lambat disektor modern,
menyebabkan mereka tetap setia kepada profesi lama di pemukiman mereka yang baru.
Dalam perspektif sosial kemasyarakatan seperti itulah, orang Betawi kemudian tersisih
dari kehidupan kota metropolitan Jakarta. Orang Betawi sendiri merasa, ada sesuatu
yang salah dengan diri mereka, meskipun tidak didasari secara umum apa bentuk
kesalahan itu. Perasaan bersalah tersebut terbaca dalam tajuk sebuah majalah yang
diterbitkan orang-orang Betawi berikut ini: (Aziz, 2002: 103-104).
“Jakarta, tampaknya tidak terlalu ramah buat sebagian besar kaum Betawi.
Lihatlah berbagai fasilitas yang serba ‘wah’ di ibukota Negara ini, apa boleh
buat menang, belum bisa dinikmati oleh penduduk asli Jakarta. Ironisnya,
banyak diantara mereka-penduduk asli Jakarta itu-harus tergusur ke pinggirpinggir kota. Pindah atau terpaksa pindah demi dan atas nama pembangunan
kota yang kian cepat itu. Betawi makin menepi. Maka tak salah jika ada yang
bertanya, adakah yang salah pada orang Betawi?” (Majalah Jendela Betawi,
1990:4)
Castells (2007:87-88) mengidentifikasi beberapa hal yang menjadi penyebab
ketersingkiran orang Betawi di Jakarta. Pertama, Kemungkinan terbesar penyebab
ketersingkiran mereka dari lingkaran atas kehidupan nasional adalah tingkat
pendidikan mereka yang rendah. Sensus tahun 1930 menunjukkan bahwa wilayah
Jakarta merupakan salah satu wilayah terbelakang dalam bidang pendidikan umum.
Prosentase melek-huruf di Batavia (11,9) merupakan angka yang rendah bagi daerah
perkotaan (sebagai contoh dibandingkan dengan Bandung, yaitu 23,6%). Selain itu,
mereka yang melek-huruf hampir bisa dipastikan bukan merupakan orang Betawi.
Beberapa wilayah dengan tingkat melek-huruf terendah di Jawa terdapat pada distrikdistrik pedesaan yang berbatasan langsung dengan Jakarta. Distrik semacam ini
16
e-Proceeding | COMICOS 2017
mayoritas dihuni orang Betawi. Wilayah tersebut adalah Kebayoran (1,3%), Cikarang
(1,3%), Parung (1,5%)11. Diluar wilayah Jakarta Raya masih menunjukkan tingkat
melek-huruf yang jauh dibawah rata-rata nasional12
Kedua, keterbelakangan orang Betawi mungkin juga berhubungan dengan asal
usul mereka dan karakter pemerintahan belanda di wilayah Jakarta yang berlangsung
lama dan bersifat langsung. Suku bangsa Betawi mulai muncul dalam suatu lingkungan
dimana semua peran elite yang lebih tinggi disediakan untuk ras lainnya. Seperti
dikatakan Castles (2007: 87-88), memang benar bahwa pendahulu mereka memiliki
unsur elite, yaitu para kepala kepala kelompok Melayu, Bugis dan Bali dan Condottieri
pemimpin pasukan, yang memimpin orang-orang suku mereka sendiri dan kadang kala
menerima pemberian tanah yang cukup luas13. Kecenderungan yang terjadi adalah
tanah-tanah partikelir tersebut berpindah tangan pada orang-orang Eropa dan Cina.
Selama abad ke sembilan belas, ommelanden Batavia diperintahkan secara langsung
daripada bagian lain pulau Jawa. Orang Eropa memegang jabattan hingga ke tingkat
schout atau sheriff, dan tidak ada bupati pribumi14. Ketika para bupati diangkat pada
abad ke dua puluh. Jabatan ini diisi oleh orang- orang yang berasal dari bagian lain
pulau Jawa. Sehingga tidak ada unsur elite Betawi diatas level demang atau
wijkmeester (setara dengan lurah penyunting)15.
Volkstelling 1930, Vol I Tabel 24 dan hal 65-66. Rata-rata melek huruf di Jawa Barat adalah 7,1% .
seluruh prosentase ini hanya mengacu kepada penduduk pribumi.
12
Sebagai contoh dari populasi penduduk pribumi berusia 10 tahun keatas 81,9% di Cengkareng tidak
mengikuti sekolah sama sekali. Demikian pula 78,3% di Kebon Jeruk dan 79,1% di Pulo Gadung,
sedangkan rasio nasional 64,8%. Di Cengkareng, pada kelompok usia 7-13 tahun hanya seperempat
11
17
e-Proceeding | COMICOS 2017
yang mengikuti pendidikan formal pada tahun 1961! Sensus 1961 hal 26,28. Bandingkan Peta 8.
Contohnya adalah Atoe Petoedjoe dariBone (asal wilayah Petojo): Abdullah Saban, Kapten orang
Sumbawa yang meninggal dunia sebagai Letnan dalam Angkatan Laut Kerajaan Belanda pada tahun
1813; dan seluruh dinasti Melayu dari Patani di Thailand, yang sering bertindak sebagai penengah
dalam hubungan antara pemerintahan Belanda dengan para pangeran di Indonesia. Lihat De Haan,
Oud Batavia, Vol I, hal. 367-375. Seorang kepala suku Bali yang meninggal tahun 1711
meninggalkan 3.000 rijksdaalders dalam wasiattnya kepada putri Gubernur Jendral; pada tahun 1746
sekelompok orang Bali mendapatkan hadiah kontrak seluar 19.000 rijksdaalders untuk jasanya
memperdalam kanal-kanal kota (lekkerkerker, “De Baliers van Batavia,” hal. 427-428).
14
J.J. Hollander, Handleiding bij de Boefening der Land-en Volkenkunde van Nederlandsch Oost-Indie
(Breda:1895) Vol. I hal. 134. Untuk mengetahui administrasi wilayah Batavia pada pertengahan
abad ke sembilan belas, lihat Van der Aa, Nederlandsch Oost-Indie, Vol II. Hal 267-270.
13
18
e-Proceeding | COMICOS 2017
Ketiga, Kehadiran Islam di Batavia mungkin juga turut berperan penting dalam
masalah ini. Di masa kolonial di Batavia, unsur-unsur Kristen – orang-orang Mardjiker,
Depok atau Indo – berusaha meniru ras yang berkuasa dan berusaha keras untuk
mencapai status Eropa, meskipun para penguasa segan untuk memberikannya. “Belanda
Depok” terkenal dengan gaya Eropa mereka, dan banyak diantara mereka akhirnya
mencapai status hukum Eropa pada tahun 193016. Islam, sebaliknya, memberikan
kenyamanan kepada penduduk mayoritas yang telah pasrah untuk menempati secara
permanen tangga terbawah dalam jenjang sosial. Orang Betawi, yang secara kuat
mengasosiasikan diri sebagai orang selam (Muslim) takut akan pendidikan barat karena
mereka menganggapnya sebagai tahap pertama dalam Kristenisasi dan karena itu tidak
mau mengikutinya (Castles, 2007: 90-91).
Dalam pandangan Aziz (2002:115) sikap penarikan diri orang Betawi dari
dunia modern dan identifikasi yang kuat terhadap Islam di masa penjajahan, telah
menimbulkan ongkos sosial yang amat mahal, yang akibat-akibatnya masih terus terasa
hingga hari ini, akibat langsung ialah absennya kelompok elite yang mampu
mengartikulasikan kepentingan politik, ekonomi, dan kebudayaan dalam kehidupan
Jakarta masa kini yang metropolis. KH. Syafi’i Hadzami
seorang
15 Ketiadaan kelompok elite penguasa itu bukan hanya dalam pos-pos tengahan (middle range) dijajaran Pemda DKI Jakarta.
Menurut pengamatan Amri Marzali,15 didalam Almanak Jakarta tahun 1976 nampak bahwa “hampir semua pegawai tinggi
pada kantor Pemda DKI Jakarta adalah orang yang lahir diluar Jakarta”. Sangat mungkin, setelah hamper dua dasawarsa
berlalu, dewasa imi telah terjadi perubahan pada komposisi para pegawai tinggi itu, meskipun sulit dipantau secara akurat kebetawi-an mereka. (Aziz, 2002:115)
16 Lihat M.Buys “Depok” De Indische Gids, 1890, Vol II hal. 1239 Buys mendiskripsikan orang Depok: “penampilan
pria kurang menarik, mengenakan pakaian menurut gaya yang mirip orang Eropa, banyak diantara mereka yang menghabiskan
waktu mereka untuk tidak melakukan apa-apa. Mereka yakin bahwa para pemilik tanah tidak layak untuk bekerja mengolah
lahan dan secara umum pekerja kasar diberikan kepada orang-orang non-kristen. Kebencian mereka terhadap pekerjaan kasar
ini… kadangkala didasarkan pada kebanggaan terhadap kepercayaan Kristen mereka. Dimana mereka sejauh mungkin
berharap untuk menempatkan diri mereka sejajar dengan orang- orang Eropa di Hindia, yang hanya sesekali melakukan
pekerjaan kasar yang sesungguhnya.
19
e-Proceeding | COMICOS 2017
ulama terkemuka Betawii, merasakan ketidakmampuan orang Betawi utuk menyusun
posisi tawar politik yang kuat, saat Letjen (Pur) M. Sanif, seorang putera Betawi yang
dicalonkan dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta pada tahun 1992, gagal meraih
jabatan “Susah, orang Betawi nggak punya cantolan”.
Absennya orang Betawi dalam pilkada Jakarta, semakin melegitimasi bahwa
“Orang Betawi belum mampu menjadi tuan rumah di wilayahnya sendiri. Dalam ruangruang social, Betawi selalu dilekatkan dengan serangkaian stereotip negatif seperti,
terbelakang, tidak berpendidikan, malas bekerja, dan stereotype negatif lainnya17.
serangkaian narasi tersebut, menjadikan Betawi lekat dengan identitas sebagai
kelompok yang inferior. Bahkan, dalam banyak literatur, Betawi sebagai kelompok
inferior seakan disepakati oleh banyak pengamat yang konsen terhadap kehidupan
social Betawi. Dalam hal ini, beberapa pengamat lMilone (1966), Castels (1967) dan
Abayasekere (1985) mengatakan: (Milone, 1966:262: Castels, 1967:200, Abayasekere,
1985: 21)
“they remained basically provincial, and are (sic) never in position to exploit
what the town had to offer, and therefore could not play a significant role in the
town economy” (Milone, 1966:262)
“Due to historical circumstances, the anak Betawi are for the greater part of
the lower class” (Castles, 1967:200)
17
“the endangered nature of Betawi society has been recognized by urban
authorities who have made recent efforts to preserve it” (Abayasekere,
1985:21)
Dalam pandangan orang Betawi sendiri, gambaran secara umum Sterotype Betawi dilukiskan sebagai berikut: (1) Boros dan
hanya memikirkan hari ini; (2) Suka menjual tanah warisan untuk keperluan yang tidak penting; (3) Ingin hidup senang, tapi tidak
mau berusaha; (4) Cepat puas; (5) Konsumtif; (6) Suka memanjakan anak; (7) Kuat agama;
(8) Patuh pada orangtua; (9) Rajin sembahyang dan mengaji; (10) Orientasi hidup untuk akhirat; (11) Bicara bebas;
(12) Tidak ada stratifi kasi bahasa; (13) Bicara keras; (14) Berkelakuan kasar; (15) Cerewet; (16) Tidak mau kalah bicara; (17)
Suka ngambek; (18) Menjauhkan diri dari golongan non-Islam; (19) Ramah; (20) Suka menolong sesama;
(21) Terbuka dan demokratis; (22) Bersikap optimis; (23) Kurang memiliki kecemburuan untuk maju; (24) Tidak mau berkembang;
(25) Tidak kritis; (26) Apriori terhadap gagasan orang lain; (27) Enggan menerima nilai-nilai budaya modern; (28) Jarang
mengkonsumsi media massa; (29) Pendidikan relatif rendah; (30) Saat ini sudah banyak yang berpendidikan tinggi; (31) Orang
muda lebih baik tingkat pendidikannya; serta (32) Pria lebih terdidik daripada wanita (cf Probonegoro, 1987; Yuniarti, 1996; dan
Zaki Shahab, 1997:138).
20
e-Proceeding | COMICOS 2017
Masyarakat Betawi barangkali bijak jika melakukan renungan ulang faktorfaktor penyebab masih belum optimalnya kemajuan orang-orang Betawi saat ini.
Dewasa sekarang patut disyukuri begitu banyaknya generasi muda Betawi yang studi
dengan tekun di perguruan-perguruan tinggi dalam program S1, S2 bahkan S3. Tetapi
patutlah dicatat bahwa masih ada orang-orang betawi yang perlu memoles sedikit
perilakunya agar makin dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman (Saidi,
2015: 52). Sebab, masih kita jumpai sikap gendong tangan yang cerminkan fatalisme.
Menyerah terhadap keadaan tanpa suatu usaha ubah keadaan tersebut. Gendong tangan
dilakukan dalam posisi berdiri sambil menatap dengan kosong atau sambil berjalan
dengan pandangan menunduk. terkesan tanpa enerji (Saidi, 2015: 52).
Distro Betawi: Mengubah Image, Melawan Stereotype
Tidak selamanya orang Betawi yang terpinggirkan mengalami kondisi buruk
secara ekonomis. Sebagaimana diakui oleh seorang tokoh masyarakat Betawi di
Kemang dan orang-orang Kuningan yang pindah ke Cipete,18 kondisi mereka bahkan
seringkali lebih baik dibanding sebelumnya. Ditempat baru mereka umumnya
memperoleh lahan yang lebih luas dan mereka dapat menemukan mata pencaharian
yang diminati serta dapat mencukupi kebutuhan hidup. Di Kemang misalnya,
perubahan status Kemang sebagai Perkampungan Ekspatriat, mengubah pola
kehidupan sosial orang Betawi. Dulu mereka bertani, kini mereka menyewakan lahan
dan mampu menyekolahkan anak-anak mereka hingga ke perguruan tinggi hingga ke
luar negeri. Dari generasi- generasi inilah kemudian tampil beberapa tokoh muda
Betawi yang berupaya untuk mengubah image tentang Betawi di tengah heterogenitas
21
e-Proceeding | COMICOS 2017
masyarakat Jakarta. Salah satunya adalah kelompok anak muda yang mencoba
membawa Budaya Betawi ke ranah industri kreatif seperti Betawi Punye Distro
(BPD). BPD merupakan distribution outlet (distro) yang didirikan oleh anak-anak
muda Betawi Kemayoran pada tahun 2013. BPD didirikan dengan tujuan untuk
mengubah image tentang Betawi dan melawan stereotip yang dilekatkan pada orang
Betawi. Komodifikasi simbol budaya dilakukan dengan cara-cara yang kreatif dan
unik sebagai ekspresi simbolik untukmenunjukkan eksistensi mereka dengan
menghadirkan simbol- simbol Betawi di tengah masyarakat Jakarta. Menurut mereka,
orang Betawi saat ini bukanlah orang yang pasif menerima keadaan. Orang Betawi
generasi yang sekarang adalah Betawi muda yang terdidik yang tidak lagi berada di
posisi sebagai kaum marginal. Seperti diungkapkan berikut:
“Betawi sekarang ya betawi nya si Doel, bukan betawinya Mandra. Kalau
‘Betawi’nya, ini maksudnya hanya kiasan. Kan ada si Doel, ada Mandra.
Mandra itu masa bodo-an. Dia ga mau open dengan sejarah, dengan apa yang
dia lakuin juga mungkin cuma buat dia-dia aja. Jadi maksudnya gini, kalau
orang dulu itu misalnya gini dia lahir aje ga ada arsipnye, ga punya akte
segala macem. Kalau ditanya lahir lo kapan Waktu depan ada pohon kelapa,
jadi masa bodo aja, masa bodo deh. Jadi hampir di smua aspek di masa
bodoin, jadi dia ga mau open dengan yang lain, berbeda dengan si Doel. Doel
harus intelek nih, harus melek nih, meleknye disemua bidang. Di bidang ITnye, di bidang apanye segala macem tuh. Udah harus, harus apa ye, menjadi
suatu keharusan untuk betawi saat ini biar dia ga dibilang orang marginal.
Selama ini kan dibilangnye kaum marginal. Nah kita ga mau. Kita maunya
mengikuti jaman terus”19
Dengan semangat untuk merawat dan melestarikan Betawi di tengah-tengah
Jakarta, mereka berupaya untuk membawa budaya lokal ke jalur industri kreatif.
Menurut mereka, stereotip negatif yang masih melekat sampai sekarang tidak bisa
diselesaikan hanya dengan cara menyelenggarakan festival (meskipun itu penting),
menerbitkan Perda dan pertemuan-pertemuan antar anak-anak Betawi saja, harus
18Wawancara dengan Abi Umar (60 tahun), salah seorang tokoh masyarakat Cakung yang mantan pegawai kelurahan Cakung, pada
tanggal 12 September 1995 dan H. Syahrullah pada tanggal 6 November 1995.
22
e-Proceeding | COMICOS 2017
ada langkah konkrit untuk menghentikannya paling tidak menghambat lajunya
stereotip negatif pada masyarakat Betawi. Situasi inilah yang kemudian menggugah
semangat mereka untuk berbuat sesuatu. Didasari usaha untuk mengubah citra dan
stereotip Betawi, dan berdiri sejajar dengan pendatang, maka muncullah upaya
menyelaraskan idealisme budaya dengan aktifitas ekonomi. Hadirnya Distro Betawi
bagi orang awam seolah hal yang biasa dan wajar. Namun sebenarnya, Distro Betawi
ini adalah bagian dari perlawanan terselubung terhadap stereotip yang dilekatkan pada
mereka. Seperti dikemukakan informan berikut:
“Salah satu alasan kami mendirikan BPD adalah untuk mengubah image betawi
yang males, rebutan warisan kerjaannya, ya gitu deh. Nah kita semua berempat
yang memang asli Kemayoran, anak Kemayoran dan orang betawi mau merubah
mindset itu, dan merubah itu semua. Dan itu sudah kebuktikan sebenernya
diantara kita punya temen-temen kita berempat. Yang satu ini insinyur dan dia
adalah lulusan terbaik dikampusnya, lulusan terbaik loh anak betawi, insinyur.
Nah yang satu lagi guru silat, ampe sekarang masih aktif guru silat dan aktif di
setiap event atau kegiatan apapun. Jadi makanya kalau dibilang anak betawi
males udah ga lagi”20
Ketersingkiran dan juga tidak menjadi tuan rumah di wilayahnya sendiri juga menjadi
alasan kuat para pendiri BPD untuk mendirikan BPD. Seperti dikemukakan informan
berikut:
Saya sih cita-cita ya tuh, pengennya tuh betawi itu tuan rumah Jakarta,
harapan saya, Bang Davi, Bang Sigit, Bang Riki, juga kita nih masyarakat
Kemayoran terus terang dengan lima tahun belakanganlah kaya orang asing
kita lihat disini china semua, yang aslinya ya terutama itu bisa kita itung jari
orang cinanya berapa kitanya Cuma berapa? Dari mungkin 10 tahun yang
lalu betawinya masih kentel sekarang betawinya ga ada beritanya. chines,
sebenernya kita agak ini juga ya bang ya, agak ngerasa kok kita merasa ini jadi
tuan rumah malah ada yang ngontrak tinggalkan gitu padahal itu asli,
penduduk asli sama, tinggal nunggu waktu abis, karena balik ke keluarga
sendiri ya karena dia ga mau merepotkan.21
Pengelola BPD sadar bahwa idealisme gerakan budaya Betawi tidak harus
23
e-Proceeding | COMICOS 2017
menghadirkan secara fisik gerakan pencak silatnya ketengah-tengah masyarakat. Begitu
juga dengan ondel-ondel, yang tidak harus tampil dengan topeng serta tariannya.
Lenong tidak selalu dengan wujud panggung dan lakon-lakonnya. Sudah seharusnya
esensi idealisme budaya Betawi tidak dipahami dengan artian sempit. Namun bisa
diekspresikan dengan cara-cara yang kreatif. Salah satu cara yang mereka lakukan
adalah dengan menyisipkan simbol-simbol budaya Betawi melalui kaos-kaos yang
mereka produksi, sehingga membuat pemakainya mengenal akan budaya Betawi.
Dalam hal ini salah satu pengelola BPD menegaskan, jika Betawi ingin maju maka
harus berani keluar dari idealisme. Maksud keluar dari idealis disini harus ada
terobosan-terobosan dalam menghadirkan simbol-simbol budaya Betawi di tengah
masyarakat. Sehingga mampu diterima semua golongan dan lapisan masyarakat. Ideide unik perlu diterapkan agar budaya Betawi kembali hadir di tengah- tengah
masyarakat.
“Agar budaya Betawi bangkit, maju dan mampu melawan streotype negative,
Sudah seharusnya generasi muda Betawi berinovasi dan mencoba sesuatu yang
baru”.22
Menurut informan, selama ini generasi muda Betawi belum berani untuk
mencoba sesuatu yang baru di luar lingkungannya. Padahal, banyak peluang yang bisa
diperoleh jika berani mencoba sesuatu yang dianggap tidak mungkin oleh kelompok
sosialnya.
“Terus nyoba belajar yang memang keliatannya sulit dipelajari, memang juga
harus berani juga nyoba masuk diluar lingkungannya yang bukan betawi
banget. Inovasi tersebut salah satunya dengan menghadirkan symbol-simbol
Betawi melalui cara-cara kekinian”.23
Upaya untuk meningkatkan kesadaran generasi muda Betawi akan identitas
budayanya yang semakin lama semakin tergerus zaman, menginspirasi pengelola
24
e-Proceeding | COMICOS 2017
BPD untuk menghadirkan simbol-simbol Betawi dalam bentuk kekinian. Simbolsimbol budaya seperti Ondel-ondel, slogan- slogan Betawi seperti “Ape Kate Ente
Aje”, kuliner khas Betawi Kerak Telor, hingga tokoh Betawi Benyamin Suaeb
dihadirkan dalam kaos-kaos keluaran BPD.
Gambar 1
Kaos dengan tema Ondel-ondel yang merupakan salah satu dari simbol budaya
Betawi.
Sumber: www.betawipunyedistro.com
19
Wawancara Davi Kemayoran, Pengelola BPD, 20 Desember 2016
20
Wawancara dengan Davi kemayoran, Pengelola BPD, 20 Desember 2016.
21
Wawancara dengan Dahlan Boi, Pengelola dan Owner BPD, 6 Januari 2017
22
Wawancara dengan Dahlan Boi, Pengelola dan Owner BPD, 6 Januari 2017
Wawancara dengan Davi Kemayoran, Pengelola BPD, 20 Desember 2016
23
25
e-Proceeding | COMICOS 2017
Gambar 3
Kaos dengan tema tokoh Pitung yang merupakan tokoh yang melegenda bagi
orang Betawi Sumber: www.betawipunyedistro.com
Gambar 4
Kaos dengan tema Bir Pletok yang merupakan minuman
khas Betawi Sumber: www.betawipunyedistro.com
Kaos adalah busana yang dipakai oleh semua kalangan usia, baik muda maupun
tua. Inilah salah satu alasan mengapa kaos menjadi media utama BPD dalam
26
e-Proceeding | COMICOS 2017
melestarikan budaya Betawi. Melalui kaos, yang dapat digunakan sehari-hari, simbol
budaya Betawi menjadi dekat dengan masyarakat. Penampilan desain yang secara serius
dilakukan dengan detail. Dari tampilan, sampai dengan penggunaan Bahasa Betawi
sebagai petunjuk ukuran kaos dan cara penncuciannya. Sebagaimana lazimnya ukuran
yang tertera pada laiknya kaos yang tentu punya ukuran dengan kode S untuk small, M
untuk medium, L untuk large. Namun beda degan kaos yang dijual oleh BPD. “Sempit”
untuk ukuran S, “Muat” untuk ukuran M, “Longgar” untuk ukuran L, “Kelonggaran”
untuk ukuran XL, dan “Longgar Lega Lebar” untuk ukuran XXL. Sementara informasi
cara mencucinya pun tidak bahasa Inggris seperti kaos pada umumnya. Namun memakai
bahasa Betawi sebagai berikut:
“nyucinya jangan pake aer yang kepanasa. Ngucek2nya jangan keras-keras.
Nyetrika janganlangsung digambarnye. Kalo lo kagak ngarti juga kasiin kaos
ke enyak minta tolong dicuciin dah”.
Gambar 5
Tulisan pada bagian leher kaos untuk menunjukkan ukuran dan cara
mencuci kaos Sumber: www.majalahbetawi.com
Dalam hal ini, informan mengemukakan:
Segala sesuatunya memang berbeda dari yang lain. Ininya juga berbeda
kalau ukuran S kita Sempit, M Muat, L Longgar, XL Kelonggaran, gitu kan
27
e-Proceeding | COMICOS 2017
ada lagi XXL Longgar Lega Lebar jadi melestarikan bahasa Betawi. Jadi
orang yang beli pun bukan orang Betawi dia bisa belajar jadinya, oh bahasa
betawinya gini ya, kira-kira begitu”24
Menurut informan, BPD didirikan bukan hanya bertujuan untuk membuat
kebanggaan dan memajukan Betawi, namun juga sebagai bentuk kongrit gerakan keBetawi-an. Menurutnya, Betawi kini bukan hanya sekedar harus ‘sigra mendusin’
tetapi ‘kudu mendusin’25. Marwah kebetawian harus disebar kepada masyarakat seperti
laiknya virus. Hadirnya Betawi Punye Distro yang juga dicita-citakan oleh pemiliknya
sebagai virus yang mampu menularkan anak-anak muda Betawi lainnya untuk
membangun semangat cinta budaya yang mulai ditinggalkan anak-anak Betawi masa
kini. Sebagai bentuk komitmen tersebut, mereka tidak segan-segan membagi ilmu
manajemen distro kepada pemilik distro-distro Betawi lainnya. Mereka menganggap
distro-distro Betawi sejenisnya sebagai mitra bersama untuk berjuang bersama
mengubah stereotip negatif mengenai Betawi. Mereka merangkul pelaku distro Betawi
lainnya untuk saling berbagi.
Komodifikasi: Menyelaraskan Idealisme Budaya ke Jalur Industri
Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk turut serta melestarikan budaya
Betawi. Salah satunya melalui jalur industry. Niat tulus dari pengelola BPD dalam
menhadirkan kembali Betawi di tengah-tengah masyarakat Jakarta ini, mendapatkan
respon yang cukup positif dari para konsumennya, tidak hanya kaum muda, tetapi
semua kalangan, baik di Jakarta, Indonesia, bahkan di mancanegara. Seperti pernyataan
berikut:
“Make kaos BPD bikin saya inget lagi asal usul saya. Meskipun saat ini saya
tinggal jauh dari Jakarta. Namun Betawi seakan menjadi dekat dengan memakai
kaos ini. saya bangga menjadi Betawi”26
28
e-Proceeding | COMICOS 2017
“Dulu saya hanya mengenal Jakarta dengan Monas dan gedung-gedung
bertingkat. Saya mengira bahwa Betawi tidak lagi ada di Jakarta. Tetapi
ternyata anggapan saya salah, melalui Distro Betawi, saya tahu kalau orang
Betawi masih ada dan bertahan di Jakarta. Saya mengenal Bir Pletok dan
Kerak Telor sebagai kuliner khas Betawi, dan juga si Pitung sebagai tokoh
legenda Betawi”. 27
BPD memang sukses membawa Betawi di jalur indutri28. Namun,
menghadirkan simbol Betawi melalui jalur industri ini hanyalah dijadikan media oleh
BPD untuk bisa menghadirkan simbol Budaya Betawi ke area yang lebih luas. Dalam
hal ini, komodifikasi budaya tidak bisa disamakan artinya dengan komersialisasi. Ini
bukanlah fenomena yang muncul hanya untuk menghasilkan uang. Komodifikasi
budaya mengandung makna adanya ideologisasi komoditas dan komodifikasi budaya,
itu tampak seperti menjual ideologi sebagaimana halnya menjual produk (Lukens-Bull
2008). Dalam konteks ini, simbol-simbol budaya Betawi dikemas dan ditawarkan
kepada khalayak yang lebih luas. Distro Betawi bisa dianggap sebagai ruang baru yang
bisa dipilih sebagai sarana berjuang melawan stereotip negatif dan menghadirkan
Betawi di mana saja.
Wawancara dengan Dahlan Boi, Pengelola dan Owner BPD, 6 Januari 2017
Sebuah gerakan memajukan budaya Betawi yang terjadi dikalangan penggiat budaya Betawi.
Gerakan Betawi kudu mendusin dikenal di daerah Kemayoran Jakarta-Pusat. Sementara
gerakan serupa menggunakan slogan ‘Sigra mendusin’. Sebenarnya menurut Dahlan kata kudu
tingkatannya lebih tinggi dari kata sigra.
26
Wawancara dengan salah satu pengguna kaos BPD melalui media social facebook, 22 Februari
2017
24
25
29
e-Proceeding | COMICOS 2017
Dalam kerangka teoritis, apa yang dilakukan oleh pengelola BPD sebagai
kelompok ko- kultural, adalah dengan apa yang disebut Miller sebagai orientasi
asimilasi asertif (Miller, 2005). Dalam hal ini, mereka menyesuaikan diri dengan
kelompok dominan melalui perilaku yang menegaskan hak mereka tanpa melanggar
hak orang lain. Menyesuaikan diri salah satunya ditunjukkan dengan produk-produk
BPD yang dikemas secara kekinian baik dalam desain ataupun proses penjualannya
yang juga bisa dilakukan secara online. Selain itu, mereka juga memanfaatkan geliat
peluang pasar yang ditawarkan melalui internet sebagai bagian dari upaya
mendekatkan diri pada generasi milenial yang tidak pernah ketinggalan teknologi
internet dan selalu memanfaatkan media sosial. Kehadiran internet dan media sosial
memberikan keleluasaan bagi masyarakat untuk ikut dalam berkompetisi meyebarkan
informasi atau peristiwa yang terjadi di sekitar mereka (Nasrullah, 2015).
Dalam melakukan gerakan ke_Betawi-an, mereka juga melakukan persiapan
ekstensif dan persiapan matang (Miller, 2005). Davi selaku salah satu pengelola distro
Betawi rela mengeluarkan uang jutaan untuk ikuti seminar-seminar motivasi dan
workshop tentang bisnis dan internet marketing. Ia dan pendiri serta pengelola distro
Betawi punya distro lainnya pun melakukan riset untuk symbol-simbol Betawi yang
dihadirkan di kaos yang mereka produksi. Mereka juga berkunjung ke tokoh-tokoh
Betawi dan membayar secara profesional untuk pencipta pantun Betawi yang
disematkan di kaos Betawi.
Wawancara dengan salah satu pengguna kaos BPD melalui media social facebook, 22 Februari
2017
28
Salah satu kesuksesan yang mereka raih adalah keberhasilannya menjual 1800 potong kaos pada arena
Pekan Raya Jakarta (PRJ) 2017. Menurut Ahmad Dahlan, salah satu pemilik BPD 28 total nominal
penjualan yang diraih hingga 13 Juli 2017 mencapai Rp. 200 juta.
27
30
e-Proceeding | COMICOS 2017
Pengelola BPD, menjadikan stereotip tentang Betawi sebagai motivasi untuk
mengeksploitasi lebih jauh budaya Betawi (Miller, 2005). Hasil dari proses ini
dijadikan sebagai materi untuk ditransformasikan dalam produk-produk Betawi yang
dijualnya. stereotip yang mereka terima diposisikan bukan sebagai kelemahan. Namun
mereka menggunakannya untuk memperkuat solidaritas di antara mereka yang
menegaskan kekuatan kultural mereka sebagai komunitas etnis di Jakarta. Mereka
secara sadar mengambil-alih dan mentransformasi pemaknaan stereotipe Betawi untuk
memperkuat identitas mereka di tengah-tengah heterogenitas masyarakat Jakarta.
Stereotip negatif tentang Betawi justru memunculkan ungkapan jaga adat Betawi,
tentunya yang dimaksud disini budaya luhur Betawi. Ungkapan inilah yang kemudian
dikomodifikasi oleh BPD dalam bentuk souvenir berupa pin.
Gambar 6
Gambar souvenir berupa pin, hasil
kreasi BPD Sumber: dokumentasi
pribadi penulis
Kehadiran kekuatan-kekuatan luar yang bersifat dominan dan membahayakan
eksistensi sebuah kelompok etnis memang bisa menjadi sumber awal lahirnya
31
e-Proceeding | COMICOS 2017
solidaritas kelompok yang dikembangkan melalui komodifikasi simbol budaya.
Stereotip yang dilekatkan pada mereka memunculkan kesadaran mereka untuk lebih
memahami, memaknai, dan memaksimalkan potensi mereka sebagai kekuatan untuk
melakukan perlawanan terhadap stereotip dan juga menyejajarkan diri dengan
pendatang.
Transformasi mereka lakukan dengan menemukan peluang-peluang baru untuk
menegosiasikan identitas kultural di tengah-tengah peradaban pasar. Dalam semangat
tersebut, mereka mengidentifikasi dan membangkitkan kembali kekayaan kultural
mereka melalui cara-cara yang kreatif dan dapat diterima oleh semua kalangan.
Argumen yang dikemukakan adalah untuk melestarikan dan mempertahankan jati diri
etnis serta mampu memberikan kontribusi ekonomi bagi masyarakat lokal dan juga
untuk menegaskan kekuatan kultural mereka di tengah-tengah negara multikultural
agar eksistensi mereka diakui. Bahkan, dalam perkembangan
kontemporer, mereka
juga berusaha menegosiasikan, mewacanakan, menyebarluaskan, dan memperluas
ikatan identitas mereka melalui media sosial internet.
PENUTUP
Desakan yang dirasakan oleh orang Betawi mendorong kehendak mereka
sebagai tuan rumah di Jakarta untuk menyejajarkan diri dengan pendatang. Upaya
tersebut tidak mudah, karena mereka juga harus berhadapan dengan berbagai stereotip
yang dilekatkan kepada mereka. Hal inilah yang mendorong kesadaran orang Betawi
secara kolektif untuk mengejar ketertinggalan dan keterpinggiran yang berlangsung
selama ini.
Simbol budaya Betawi dikreasikan dengan cara-cara yang kreatif sebagai
32
e-Proceeding | COMICOS 2017
bentuk ekspresi identitas dan eksistensi mereka di tengah-tengah dominasi pendatang.
Di sinilah upaya mereka untuk menunjukkan kemampuannya pada pendatang dan
menegosiasikan posisinya. Perlawanan dilakukan dengan membangkitkan kesadaran
kolektif orang Betawi melalui komodifikasi budaya. Resistensi tidak selalu berupa
perlawanan secara fisik atau kasat mata, tetapi dalam bentuk simbolik yang sering
secara sadar maupun tidak diterima oleh pihak lain, tak terasakan, tak dapat dilihat
bahkan oleh sasarannya sendiri. Komodifikasi budaya menjadi pilihan bagi pengelola
BPD untuk mengubah stereotip tentang Betawi. Mereka mengolah stereotip,
menambahkan di dalamnya hasil serapan pengetahuan dari eksternal, menjadikannya
modal dan strategi, serta membangun sense of collectivisme pada anak-anak muda
Betawi dan upaya untuk berdiri sejajar dengan pendatang.
33
e-Proceeding | COMICOS 2017
Daftar Acuan
Abeyasekere, Susan. 1989. Jakarta; A History, Singapore: Oxford University
Press
Atmadja, Nengah Bawa. 2010. Ajeg Bali: Gerakan, Identitas Kultural, dan
Globalisasi. Jakarta: LKIS
Badan Pusat Statistik. 2011. Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama, dan Bahasa
Sehari-hari: hasil Sensus Penduduk 2010. Jakarta: Badan Pusat Statistik
Blackburn, Susan. 2011. Jakarta Sejarah 400 Tahun. Depok: Masup Jakarta.
Buchari, Sri Astuti. 2014. Kebangkitan Etnis Menuju Politik Identitas. Jakarta:
Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Castles, Lance. 2007. Profil Etnik Jakarta. Depok : Masup Jakarta.
Chaer, Abdul. 2015. Betawi Tempo Doeleoe: Menelusuri Sejarah Kebudayaan Betawi.
Depok: Masup Jakarta.
Kumbara, A. A. Ngr Anom. 2008. Konstruksi Identitas Orang Sasak Di Lombok
Timur, Nusa Tenggara Barat, Jurnal Humaniora, Vol 20 (3) : 315 – 326
Lincoln, Yvonna S dan Egon G. Guba. (2004). Handbook of Qualitative Research
(2nd ed.).
Thousand Oaks: Sage Publications Inc.
Miller,
Katherine.
Processes
(2005). Communication Theories:
and Contexts.Boston: McGraw-Hill
Perspectives,
Saidi, Ridwan. 2015. Golok Wa Item Betawi Versus Pate Hila. Jakarta: Yayasan
Renaissance. Sinaga, Risma Margaretha. 2014.
Revitalisasi Tradisi: Strategi
Mengubah Stigmakajian Piil
Pesenggiri Dalam Budaya Lampung. LIPI: Jurnal Masyarakat Indonesia
Sjaf, Sofyan. 2014. Politik Etnik: Dinamika Politik Lokal di Kendari. Jakarta: Yayasan
Pustaka Obor Indonesia
Shahab, Yasmin Zaki. 2004. Betawi dalam Perspektif Kontemporer. Jakarta: Dinas
Kebudayaan dan Pariwisata
Tjandrasamita, Uka. 1997. Sejarah Jakarta dari Zaman Prasejarah sampai Batavia
Tahun ±1750.
Jakarta: Dinas Museum & Sejarah DKI Jakarta.
34
e-Proceeding | COMICOS 2017
Woodward, Kathryn. 1999. Identity and Difference: Culture Media and Identities.
Sage Publication London: Thousand Oaks New Delhi
35
e-Proceeding | COMICOS 2017
36
e-Proceeding | COMICOS 2017
EVOLUSI MODEL BISNIS TRAVEL di ERA EKONOMI DIGITAL
(CONVENTIONAL, EXISTING & FUTURE)
Christiany Juditha1, Ressi Dwiana2
Puslitbang Aplikasi Informatika dan Informasi Komunikasi Publik
Kementerian Komunikasi dan Informatika RI
Jl. Medan Merdeka Barat No. 9 Telepon: 021-3800418 Jakarta 10110
Email: [email protected]
2.
Program Studi Ilmu Komunikasi Fisipol Universitas Medan Area
Jl. Kolam No 1 Telepon: (061) 7366878 Medan
Email: [email protected]
1
Abstrak
Masifnya penggunaan teknologi komunikasi informasi oleh masyarakat, berjalan
signifikan dengan perubahan model bisnis berbagai sektor di era ekonomi digital
dewasa ini. Salah satu sektor yang berubah drastis adalah biro perjalanan (travel).
Perubahan model bisnis travel dari konvensional ke existing hingga menuju ke
future merupakan keniscayaan namun juga menimbulkan masalah lain, diantaranya
ketidaksiapan pasar lokal, masalah pajak, perlindungan konsumen, minimnya
regulasi pemerintah yang mengatur dan lain sebagainya. Karena itu penelitian ini
bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang perubahan/evolusi model bisnis
travel (convensional, existing dan future) di era ekomoni digital serta peluang dan
tantangannya. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil
penelitian menyimpulkan bahwa terdapat tiga hal dasar pada bisnis travel yang
merubah transaksi dari waktu ke waktu yaitu transaksi informasi, jasa serta
finansial (pembayaran). Ketiga transaksi ini memiliki sisi positif maupun negatif
dalam perubahannya yang perlu disikapi dengan adanya regulasi yang
menguntungkan semua pihak (penyedia jasa, pemerintah maupun konsumen)
diantaranya mengatur mekanisme pajak pada proses transaksi online mempercepat
menyelesaikan peraturan perlindungan transaksi online dan untuk mengantisipasi
persoalan masa mendatang perlu ada regulasi sistem layanan yang terintegrasi
antara transaksi informasi, keuangan maupun jasa.
Kata kunci: model bisnis, travel, ekonomi digital.
THE EVOLUTION OF TRAVEL BUSINESS MODELS IN THE DIGITAL
ECONOMIC ERA (CONVENTIONAL, EXISTING & FUTURE)
Abstract
The massive use of information communications technology by the public,
significantly work with the changing business models of various sectors in today's
digital economy era. One among other sectors that change drastically is the travel
agency. Changes in conventional travel business model from the existing to the future
is a necessity but also cause other problems, including unpreparedness of local
markets, tax problems, consumer protection, lack of government regulations and so
forth. Therefore, this study aims to get a feature of the changes / evolution of travel
business model (conventional, existing, and future) in the era of digital economy and
37
e-Proceeding | COMICOS 2017
its opportunities and challenges. This research using qualitative approach method.
The results proves that there are three basic things in the travel business that change
the transaction from time to time, they are transaction of information, services and
finance (payment). These three transactions have positive or negative impacts in the
changes that need to be addressed by the regulation in order to benefits all parties
(service providers, government and consumers) such as arranging tax mechanisms
online transaction processing, accelerate the completion of online transaction
protection rules, and to anticipate future issues, it is needed to construct an integrated
service system regulation between information, financial and service transactions.
Keywords: business model, travel, digital economy.
PENDAHULUAN
Beberapa waktu lalu, demo ojek konvensional yang menolak keberadaan ojek
online terjadi di beberapa kota besar di Indonesia. Peristiwa ini menunjukkan bahwa
Indonesia telah sampai pada era terpenting dari lanskap ekonomi yaitu ekonomi digital.
Hal ini juga merupakan konsekuensi logis dari sebuah perubahan yang tidak terbendung
dan secara perlahan mulai dirasakan masyarakat. Era ekonomi digital ini ditandai dengan
makin maraknya perkembangan bisnis atau transaksi perdagangan yang memanfaatkan
internet sebagai medium komunikasi. Ekonomi digital juga ditandai dengan banyaknya
perusahaan baru maupun lama yang beralih ke format bisnis elektronik e-business dan
ecommerce. Hartman dan Sifonis (2000) mengatakan ekonomi digital adalah arena
virtual di mana bisnis benar-benar dilakukan, nilai diciptakan dan dipertukarkan,
transaksi terjadi, dan hubungan satu sama lain menggunakan internet sebagai media
pertukaran.
Ekonomi digital lahir dan berkembang seiring penggunaan teknologi informasi dan
komunikasi yang juga semakin mengglobal di dunia. Survey yang dilakukan oleh
perusahaan riset We Are Social Januari 2017 menyebutkan Indonesia sebagai negara
dengan pertumbuhan jumlah pengguna internet terbesar di dunia. Tahun 2016 pengguna
internet masih 88,1 juta jiwa, tetapi awal 2017, jumlahnya meningkat 51 persen menjadi
132,7 juta pengguna. Sebanyak 69 persen diantaranya mengakses internet melalui
38
e-Proceeding | COMICOS 2017
perangkat mobile phone, desktop dan tablet (Pratama, 2017).
Berbagai sektor industri di Indonesia sendiri telah banyak yang berperan dalam
ekonomi digital diantaranya sektor transportasi. Sektor lainnya yang perkembangannya
juga sangat signifikan adalah bisnis travel atau biro perjalanan (agen perjalanan wisata).
Sektor travel merupakan komoditi yang menjanjikan mengingat Indonesia sangat kaya
dengan destinasi pariwisata alam dan budaya yang tersebar dihampir semua pulau di
Indonesia. Indonesia memiliki tujuan wisata yang cukup terkenal di dalam negeri hingga
mancanegara. Ratman (2016) mengatakan bahwa pariwisata merupakan sektor unggulan
(tourism is a leading sector) sebagai kunci pembangunan dan kesejahteraan.
Meningkatnya destinasi dan investasi pariwisata menjadikannya sebagai faktor
kunci dalam pendapatan ekspor, penciptaan lapangan kerja, pengembangan usaha dan
infrastruktur. Pariwisata juga telah mengalami ekspansi dan diversifikasi berkelanjutan
serta menjadi salah satu sektor ekonomi terbesar dan tercepat pertumbuhannya di dunia.
Meski krisis global terjadi beberapa kali namun jumlah perjalanan wisatawan
internasional tetap menunjukkan pertumbuhan yang positif. Data menunjukkan terjadi
peningkatan jumlah wisatawan dari 25 juta orang (1950), 278 juta orang (1980), 528
Juta orang (1995) hingga 1,1 milyar orang pada tahun 2014 (Ratman, 2016). Sementara
data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ada 123 juta wisatawan lokal Indonesia
selama tahun 2011 (Jamaluddin, 2015). Sedangkan jumlah wisatawan asing ke Indonesia
pada tahun 2015 mencapai 11,52 juta orang, sementara sepanjang 2016 naik sekitar
10,69 persen (Kumparan, 2017).
Pariwisata Indonesia juga bersaing lebih baik dari negara-negara tetangga. Data
yang dikeluarkan oleh World Economic Forum tahun 2015 tentang analisa indeks daya
saing pariwisata Indonesia menunjukkan bahwa dibanding Malaysia dan Thailand,
39
e-Proceeding | COMICOS 2017
Indonesia memiliki angka yang jauh diatas keduanya dalam hal ketahanan
lingkungannya (Ratman, 2016). Tidak hanya itu hal yang menonjol dalam ketersediaan
dan kesiapan perangkat Teknologi Komunikasi dan Informatika (TIK) dalam hal
penggunaan internet, handphone, broadband serta kualitas ketersediaan kota elektrik,
Indonesia jauh lebih ungul. Jumlah pengguna internet yang semakin meningkat dari
tahun ke tahun merupakan potensi besar pangsa pasar bagi sektor travel di Indonesia.
Pengguna internet dapat menjadi objek bagi promosi pariwisata melalui media online
dan media sosial.
Pertumbuhan bisnis Online Travel Agent (OTA) Indonesia
kini sedang
berkembang. Data dari Tiket.com menunjukkan sejak tahun 2010, bisnis OTA tumbuh
hingga 20 persen dan diprediksi dua tahun berikutnya juga mengalami peningkatan.
Sedangkan data dari Phocuswright dan Expedia, pasar pemesanan travel online di Asia
Pasifik tahun 2011 mencapai USD 1,6 Miliar, per tahunnya nilai tersebut diprediksi naik
30-40 persen pada periode-periode berikutnya. Nilai reservasi hotel di Indonesia melalui
OTA diperkirakan mencapai USD 200 juta atau berkisar 2 triliun rupiah per tahun dengan
laju pertumbuhan rata-rata sebesar 200-300 persen setiap tahunnya. Indonesia
merupakan pasar potensial untuk mengembangkan market travel online mengungguli
Korea Selatan, India, Jepang dan Australia (Jamaluddin, 2015).
Data-data di atas menunjukkan bahwa jaman telah berubah, model bisnis travel
pun berubah dan beradaptasi pada kemajuan TIK yang tidak terbendung. Perkembangan
dan pemanfaatan TIK makin mempermudah masyarakat untuk mendapatkan layanan
perjalanan, mulai dari pemesanan tiket hingga penginapan, membuat konsumen
memanfaatkan jasa travel online. Bisnis-bisnis travel yang dulu menerapkan model
konvensional secara perlahan mulai menurun. Kemunculan situs-situs penyedia
40
e-Proceeding | COMICOS 2017
informasi hotel dan tempat wisata, sekaligus fitur untuk pemesanannya, membuat peta
bisnis perjalanan wisata perlahan berubah. Kini masyarakat makin jarang berurusan
dengan agen perjalanan dengan sistem konvensional tetapi lebih banyak sudah terlayani
dengan baik oleh situs-situs seperti Traveloka, Trivago, Mister Aladin, Pegi-pegi,
Nusatrip, Tiket.com, dan lain-lain karena praktis, efektif, dan efisien (Hasan, 2017).
Perubahan model bisnis dari tradisional (conventional) ke saat ini (existing) hingga
menuju ke masa depan (future) merupakan keniscayaan namun juga menimbulkan
masalah lain, diantaranya ketidaksiapan bisnis lokal bersaing dengan perusahaan dengan
modal besar, munculnya perusahaan-perusahaan travel anonim yang menipu masyarakat
(konsumen), keamanan informasi (data) pribadi, masalah pembayaran, masalah pajak,
perlindungan konsumen, minimnya regulasi pemerintah yang mengatur dan lain
sebagainya. Berbagai masalah ini mulai timbul saat bisnis mulai baralih dari
konvensional ke digital (eksis) saat ini. Karena itu perlu dikaji secara mendalam dengan
melihat potensi bisnis travel yang sedang berjalan dan antisipasinya dimasa mendatang,
sehingga penelitian ini penting untuk dilakukan.
Berdasarkan latar belakang tersebut maka rumusan masalah penelitian ini adalah
bagaimana evolusi (perubahan) model bisnis travel (convensional, existing dan future)
di era ekomoni digital? Apa saja peluang dan tantangan dalam proses evolusi model
bisnis travel? Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang
evolusi (perubahan) model bisnis travel (convensional, existing dan future) di era
ekomoni digital. Serta untuk mengetahui peluang dan tantangan dalam proses evolusi
model bisnis travel.
Penelitian model bisnis industri travel pernah dilakukan oleh Henne (2014) dengan
41
e-Proceeding | COMICOS 2017
judul “Business Model Dynamics in the Tourism Industry”. Hasil penelitian
menyimpulkan bahwa dari waktu ke waktu ada konvergensi antara agen perjalanan
online dan tradisional, serta dalam jangka panjang dapat menyebabkan model bisnis yang
dominan di masa depan. Adapun aspek sosial (masyarakat) dan teknologi memainkan
peran penting dalam kaitannya dengan evolusi model bisnis. Aspek penting lainnya
adalah penggunaan internet yang telah mengubah dinamika industri. Teknologi baru
memungkinkan pelanggan dengan mudah mendapatkan informasi dan membandingkan
harga, yang membuat persaingat ketat antar perusahaan wisata. Untuk mengatasi
peningkatan kekuatan pembeli, bisnis perjalanan perlu terus berinovasi untuk
mempertahankan posisi pasar mereka.
Yao, Liu dan Zheng (2014) juga melakukan penelitian tentang perubahan model
bisnis dengan judul “The Analysis of Business Model Transformation-Case Study on
Qunar”. Penelitian ini menyebutkan bahwa transformasi model bisnis tidak berarti
meninggalkan format aslinya, namun akan terus melengkapi dan memenuhi kebutuhan
masa kini. Transformasi berdasarkan daya saing dapat memastikan tidak mudah ditiru
dan dilampaui oleh pesaing. Model bisnis Qunar (perusahaan perjalanan wisata terbesar
di Tiongkok) memiliki kelebihan yang merupakan kunci untuk menjaga daya saing di
pasar yang sangat kompleks dan beragam. Qunar menyadari bahwa kompetensi intinya
masih didasarkan pada kemampuan untuk mengintegrasikan sumber daya dan
menyediakan platform pemasaran yang berkualitas bagi pelanggan. Dengan konteks itu,
Qunar dapat mencari peluang untuk pengembangan lebih lanjut, seperti memperluas
bisnis penjualan hotel sebagai suplemen, menciptakan fungsi platform jejaring sosial,
komentar platform serta panduan perjalanan.
Sedangkan Puslitbang Aptika dan IKP Kemkominfo (2016) juga melakukan
42
e-Proceeding | COMICOS 2017
penelitian dengan judul “Studi Ekonomi Digital di Indonesia: Sebagai Pendorong Utama
Pembentukan Industri Digital Masa Depan”. Salah satu hasil kajian dari studi ini adalah
tentang perubahan model bisnis berbagai sektor penting diantaranya transportasi,
pertanian, logistik, keuangan dan perdagangan. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa
teknologi komunikasi dan informasi telah merubah model bisnis menjadi lebih cepat dan
efisien dalam model bisnis online saat ini. Konsumen juga secara langsung dapat
melakukan pemesanan barang atau jasa sesuai kebutuhan karena ketersediaan informasi,
pelayanan jasa serta transaksi pembayaran yang relatif lebih memudahkan.
Beberapa penelitian yang ditinjau diatas menitikberatkan pada perubahan model
bisnis travel dari offline ke online dengan menyertakan beberapa contoh kasus
perusahaan travel. Sedangkan penelitian ini juga membahas perubahan model bisnis
travel secara umum di Indonesia mencakup model bisnis konvensional, eksis dan masa
mendatang dengan menyertakan beberapa kasus yang ada. Hal inilah yang
membedakannya dengan penelitian-penelitian yang ditinjau di atas, karena itulah
penelitian ini penting untuk dilakukan.
Model Bisnis dan Evolusi Model Bisnis Travel
Konsep model bisnis pertama kali muncul dalam sebuah artikel akademis yang
ditulis oleh Bellman dkk (1957). Model bisnis menurut Timmers (1998) sebagai
arsitektur untuk produk atau layanan yang melibatkan pelaku bisnis yang berbeda, peran,
potensi manfaat serta deskripsi sumber daya yang dibutuhkan untuk pendapatan.
Sedangkan Magretta (2002) menjelaskan bahwa melihat model bisnis seperti menulis
cerita tentang perusahaan yang menjawab pertanyaan paling penting yaitu siapakah
43
e-Proceeding | COMICOS 2017
pelanggannya? Dan apa nilai pelanggan? (Drucker,1995).
Selanjutnya, model bisnis yang baik juga perlu mempertimbangkan aspek
keuangan yang menunjukkan bagaimana perusahaan menghasilkan uang dan
menawarkan struktur biaya yang menarik kepada pelanggan. Chesbrough dan
Rosenbloom (2002) menjelaskan bahwa model bisnis yang sukses bergantung pada
komersialisasi potensi teknis yang berharga. Karena itu model bisnis digambarkan
sebagai konstruksi mediasi antara teknologi dan nilai ekonomi. Model bisnis juga harus
mencakup semua elemen yaitu proposisi nilai, segmen pasar, rantai nilai, struktur biaya
dan potensi keuntungan.
Model bisnis mengalami evolusi konstan dalam menanggapi faktor eksternal
maupun internal (Demil & Lecocq, 2010). Salah satu kerangka kerja yang paling umum
digunakan untuk menguraikan faktor eksternal yang mempengaruhi industri adalah
kerangka PESTEL -Political, Economic, Social, Technological, Environmental dan
Legal- yang dinyatakan oleh Johnson dkk (2011). Kerangka ini menunjukkan bahwa
setiap sektor industri harus menghadapi beberapa tantangan dalam hal kekuatan politik,
ekonomi, sosial, teknologi, lingkungan dan hukum yang semuanya berdampak pada
perusahaan untuk melakukan bisnis dan memberikan kesempatan untuk mencapai
keunggulan kompetitif. Situasi politik terutama berkaitan dengan tindakan yang
dilakukan oleh pemerintah, sementara aspek ekonomi memiliki latar belakang finansial
dengan memasukkan isu-isu seperti inflasi atau tingkat suku bunga (Eungblut, 2013).
Sektor sosial, diungkapkan dalam demografi dan perilaku masyarakat termasuk
karakteristik mereka sebagai individu, juga kebutuhan dan keinginan mereka sebagai
konsumen. Sedangkan teknologi memainkan peran penting bagi setiap industri, karena
perkembangan konstan mereka merupakan kemungkinan besar untuk memperbaiki
44
e-Proceeding | COMICOS 2017
penawaran pasar saat ini. Selanjutnya, inovasi bisnis terus berlanjut dalam bentuk produk
dan proses baru. Hal pentinglainnya adalah situasi hukum yang dapat membatasi operasi
perusahaan berdasarkan beberapa undang-undang dan peraturan.
Perubahan dalam model bisnis seringkali
dapat diidentifikasi
melalui
restrukturisasi aliran biaya atau pendapatan atau sumber-sumber baru (Demil & Lecocq,
2010). Selanjutnya, teknologi baru juga menuntut penyesuaian untuk memenuhi
kebutuhan pelanggan yang bervariasi (Teece, 2010). Pandangan ini juga didukung oleh
de’Reuver, Bouwman dan MacInnes (2007) yang menyatakan bahwa model bisnis perlu
direvisi sesuai dengan perubahan teknologi serta kondisi pasar dan peraturan. Namun
penting juga untuk memperhatikan bahwa model bisnis yang tepat tidak seslalu langsung
diadopsi namun dibutuhkan beberapa waktu dan pengalaman belajar untuk
mengidentifikasi kerangka nilai yang paling sesuai untuk setiap perusahaan individual.
Teknologi baru diintegrasikan ke dalam model bisnis yang ada, untuk mempertahankan
rutinitas lama dan tetap mendekati statusquo (Chesbrough & Rosenbloom, 2001).
Industri pariwisata atau bisnis travel (biro perjalanan) telah mengalami berbagai
perubahan dalam dekade terakhir. Salah satu alasan utama pengembangan ini karena
memanfaatan TIK terutama kemunculan internet. Osterwalder (2004) menyebutkan
bahwa menggunaan internet atau dunia online menghasilkan pengembangan berbagai ebisnis dan e-commerce. Hal ini yang menghasilkan perubahan drastis bagi model bisnis.
Penerapan TIK ini juga menunjukkan banyak peluang baru yang berbeda dengan yang
ada pada model bisnis konvensional. Teknologi baru memungkinkan untuk
mengintegrasikan pelanggan dalam proses perusahaan, dan juga memfasilitasi kolaborasi
dengan mitra yang bersama-sama menghasilkan pengembangan organisasi jaringan.
Kemajuan lebih banyak dapat ditemukan dalam jangkauan pelanggan melalui banyak
45
e-Proceeding | COMICOS 2017
saluran baru. Selanjutnya, Verma dan Varma (2003) mengatakan bahwa berbagai
struktur penetapan harga dan arus pendapatan baru juga dapat diidentifikasi berdasarkan
kemunculan internet dan masing-masing website.
Chiou, Lin dan Perng (2011) mengatakan perkembangan model bisnis online lebih
besar juga ditemukan di industri pariwisata, karena sektor perjalanan merupakan salah
satu industri terbesar yang memanfaatkan internet sebagai media inovasi e-bisnis.
Selanjutnya munculnya teknologi baru dalam bentuk sistem reservasi seperti GDS
(Global Distribution System) dan CRS (Customer Reservation System) juga
mengakibatkan banyak perubahan dalam pengoperasian penyedia layanan perjalanan.
Kerangka Konsep
Berbagai konsep dan teori yang telah dipaparkan diatas kemudian diturunkan
dalam kerangka konsep yang akan dikaji dalam penelitian ini.
Evolusi Model Bisnis Travel
Conventional
Existing
Future
Transaksi:
-Informasi
-Jasa
-Finansial (pembayaran)
Peluang & Tantangan
Gambar 1. Kerangka Konsep Evolusi Model Bisnis Travel
Model bisnis travel dari waktu ke watu mengalami perubahan, mulai dari model
tradisional (conventional) ke arah sekarang yang sedang berjalan (existing) dan prediksi
dimasa mendatang (future). Terdapat 3 hal penting pada masing-masing model yang
mengalami perubahan yaitu transaksi informasi, jasa dan finansial (pembayaran). Ketiga
transaksi ini yang akan dikaji pada masing-masing era termasuk peluang dan tantangan
dalam proses evolusi model bisnis travel.
46
e-Proceeding | COMICOS 2017
METODOLOGI
Metode penelitian yang digunakan dengan pendekatan kualitatif. Bogdan dan
Taylor mengemukakan bahwa metode kualitatif sebagai prosedur penelitian yang
menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang orang dan
perilaku yang dapat diamati. (Moleong, 2007:4).
Sumber data dalam penelitian ini adalah terdiri dari data sekunder dan data primer.
Data sekunder yaitu data yang dikumpulkan untuk menyelesaikan masalah yang dapat
ditemukan dengan cepat. Sedangkan data primer yaitu data yang dibuat oleh peneliti
untuk maksud khusus menyelesaikan permasalahan yang sedang ditanganinya. Data
dikumpulkan sendiri oleh peneliti langsung dari sumber pertama (Sugiono, 2009). Data
sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari berbagai literatur yang berhubungan erat
dengan studi model bisnis, evolusi model binis travel, serta hasil-hasil penelitian dan data
pendukung lainnya dari berbagai sumber antara lain media massa, media online jurnal
penelitian dan buku-buku teks lain sebagainya.
Sedangkan data primer diperoleh dari para informan yang telah ditentukan. Teknik
pengumpulan data primer dalam penelitian ini dengan melakukan wawancara kepada
informan-informan kunci yang yang kompeten di bidangnya untuk menjawab rumusan
permasalahan penelitian ini yang terdiri dari kalangan pemerintah (Kementerian
Perdagangan, Kementerian Kominfo, Pengembangan Ekonomi Kreatif-Bekraf, Dirjen
Pajak), swasta atau pelaku bisnis travel (Tiket.com, Sumatera Wonder Trip), asosiasi
pengusaha travel/e-commerce (Asita, IdeA), LSM (YLKI) dan akademisi (Universitas
Indonesia).
Hasil berbagai data primer maupun sekunder yang telah terkumpul kemudian
diolah dengan cara memilah-milah berdasarkan tujuan penelitian yang akan dijawab.
47
e-Proceeding | COMICOS 2017
Beberapa diantaranya dijelaskan dalam bentuk gambar untuk memudahkan analisi. Datadata tersebut kemudian dianalisis secara deskriptif.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Indonesia merupakan negara dengan destinasi pariwisata yang beragam dan
spesifik. Hal ini menjadi modal besar untuk pemasukan devisa dengan mendatangkan
wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Perubahan era dengan adanya penggunaan
Teknologi Informasi Komunikasi (TIK), ikut merubah model bisnis pariwisata atau
travel (biro perjalanan). Suprianto dan Muhsin (2008) mengatakan perubahan teknologi
selama satu dasawarsa terakhir membuat perubahan cepat dengan mempengaruhi
berbagai bidang profesi, perubahan ini juga menjadikan pola kerja yang harus berubah
pula seperti e-government, e-procurement, e-business, e-commerce dan lain-lain.
Model Bisnis Travel Conventional (Transaksi Informasi, Jasa, Finansial)
Sebelum TIK berkembang pesat dengan penggunaan internet yang masif, model
bisnis travel konvensional terbilang sederhana. Transaksi (pertukaran) informasi bisa
terjadi secara langsung, dan juga melalui media konvensional seperti majalah, surat
kabar, pamflet, poster, selebaran, radio, televisi dan media publik lainnya. Komunikasi
pada travel konvensioanl (offline) mayoritas terbentuk secara tatap muka. Dimana ada
penyedia tiket (udara, laut, darat), penginapan/hotel, tempat wisata di kantor masingmasing. Komunikator dalam hal ini penjual menyampaikan pesan yang berisi informasi
tentang tiket, penginapan, tempat wisata, harga, tujuan dan sebagainya. Calon pembeli
juga dapat langsung dapat mengerti dan memastikan memesan apa yang akan dibeli.
Sedangkan proses jual beli antara penjual dan pembeli terjalin komunikasi dua arah.
Travel konvensional juga menggunakan beberapa media massa baik itu cetak
maupun elektronik, sebagai media promosi barang/produk mereka. Iklan melalui media
48
e-Proceeding | COMICOS 2017
massa ini tujuannya untuk memengaruhi khalayak (pembeli) untuk membeli produk
mereka. Efek yang terjadi, banyak masyarakat terpengaruh iklan yang ditonton dari
berbagai media massa dan kemudian mendatangi langsung agen, hotel/penginapan atau
tempat wisata tersebut.
Informasi tentang tempat suatu pariwisata misalnya sangat minim diperoleh pada
era bisnis travel konvensional. Orang-orang bepergian tanpa informasi yang lengkap
mengenai suatu tujuan wisata. Jika ingin memperoleh informasi baik soal tarif, destinasi,
fasilitas dan lain-lain, pelanggan mendatangi langsung tempat atau melalui telepon.
Sistem transaksi jasa juga dilakukan secara langsung yaitu dari pelanggan ke
penjual/maskapai/kapal laut/kereta api/agen travel/tempat wisata/hotel baik secara
langsung (mendatangi langsung) ataupun melalui telepon. Sedangkan sistem transaksi
pembayarannya pun dilakukan secara langsung (tunai) maupun melalui kartu kredit atau
debit (gambar 2).
Model Bisnis Travel Conventional
Transak
si
Informa
Jenis informasi:
Tarif, Destinasi/rute
(travel/pariwisata); Tarif, jenis
room, fasilitas (Hotel/penginapan)
Sumber Informasi:
Kantor travel/agen
(darat,laut,udara),
Hotel/penginapan, Majalah, Surat
Kabar, Pamflet, Poster, Baliho dll
Cara order:
Datang langsung, call centre, Agen
Transak
si
Jasa
 PelangganPenyedia jasa
transportasi/travel/tempat
wisata/hotel
 PelangganAgentravel
/tempat wisata/hotel
Transak
si
Finansi
al/Pemb
ayaran
Tunai, Transfer,
Debit/Kartu kredit
#Jenis: B2B, B2C
#by phone, datang langsung
Gambar 2. Model Bisnis Travel Conventional
Jenis sifat transaksi dalam model bisnis travel konvensional ini adalah Businessto-Business (B2B) yaitu proses transaksinya bertipe B2B melibatkan perusahaan atau
organisasi yang dapat bertindak sebagai pembeli atau penjual. Dan Business-toConsumer (B2C) atau bisnis yang proses transaksinya terjadi dalam skala kecil sehingga
49
e-Proceeding | COMICOS 2017
tidak hanya organisasi tetapi juga individu dapat terlibat pada pelaksanaan transaksi
tersebut (Turban & King, 2002).
Beberapa tahun sebelum travel online marak berkembang, sektor bisnis pariwisata
nasional mutlak menjadi pasar tunggal bagi ribuan biro perjalanan wisata yang
menyediakan jasa penjualan tiket pesawat, kapal laut, kereta api, bus dan sebagainya.
Belakangan, peran biro perjalanan wisata mulai menghadapi tantangan bisnis dengan
hadirnya online travel yang mengedepankan pemasaran tiket online berbasis aplikasi.
Kondisi ini menjadi tantangan bagi para pebisnis travel atau biro perjalanan wisata
tradisional. Apalagi layanan travel online mempermudah konsumen untuk memenuhi
kebutuhan mereka dengan cepat dan langsung disertai berbagai promosi menarik, mulai
dari harga jual tiket yang jauh lebih murah dari rata-rata harga pasar.
“Skema bisnis yang ditawarkan travel online dengan menjual tiket di bawah ratarata harga pasar, bahkan lebih murah dari harga yang ditawarkan maskapai airlines,
telah membuat aroma persaingan bisnis menjadi tidak sehat. Travel online bukan
mencari margin dari harga tiket yang dibeli oleh calon penumpang, malah mereka
mensubsidi harga jual tiket menjadi lebih murah. Akhirnya travel online bukan lagi
menjadi bisnis pariwisata melainkan menjadi bisnis aplikasi yang nantinya
diperjualkan setelah brand-nya sudah terkenal atau mapan. Keberadaan
bisnis travel online ini sangat mengancam keberadaan usaha resmi biro travel yang
berbadan hukum. Sejumlah travel online juga memberikan banyak kemudahan
kepada konsumen tidak hanya menjual tiket penerbangan saja tetapi juga menjual
paket wisata maupun umroh.” (Asnawi Bahar, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan
Perjalanan Wisata Indonesia-ASITA, 2016).
“Berdasarkan data huawei global connectivity index 2015, peluang Indonesia
sangat besar dalam bisnis online baik dari sisi bisnisnya maupun dari sisi
masyarakat pengguna layanannya. Ini karena mobile broadband-nya bagus.
(Yudho Giri Sucahyo, Pakar Kebijakan Publik Universitas Indonesia,2016).
Kondisi yang dihadapi ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi travel
konvensional. Berdasarkan catatan dari Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata
Indonesia (ASITA), terdapat 7.000 perusahaan travel yang telah terdaftar di Indonesia
pada tahun 2016. Jumlah ini meningkat 75% dibandingkan tahun 2013 yang hanya 4.000
50
e-Proceeding | COMICOS 2017
perusahaan. Pesatnya
pertumbuhan ini mendorong perusahaan travel
untuk
meningkatkan efisiensi kegiatan operasional perusahaan agar dapat menjaga tingkat
persaingan usaha, salah satunya dengan mentransformasikan bisnis secara digital
(online) yang mengintegrasikan data dari berbagai vendor biro perjalanan seperti tiket
penerbangan, hotel, sewa mobil, paket tur, dan lain sebagainya (Wijayani, 2016). Sekitar
30 persen dari ribuan anggota Asita telah melengkapi platform bisnis pariwisatanya
dengan sistem online (Hadi, 2016).
Model Bisnis Travel Existing (Transaksi Informasi, Jasa, Finansial)
Kemajuan TIK serta pemanfatannya, merupakan alasan terkuat terjadinya evolusi
model bisnis travel dari konvensional ke existing atau yang sedang berjalan saat ini.
Christensen dkk, (2006) menyebutkan bahwa dunia industri banyak terjadi distruptif
inovasi yang disebabkan oleh kemajuan dan penggunaan teknologi yang mengakibatkan
banyaknya perubahan pola bisnis, industri serta perubahan sosial.
Kemudahan mengakses internet, mampu merubah drastis berbagai sektor industri
termasuk pariwisata/travel. Internet telah menjadi sumber informasi yang utama bagi
para wisatawan dan merupakan sebuah platform bagi transaksi bisnis. Kemunculan situssitus penyedia informasi hotel dan tempat wisata, sekaligus fitur untuk pemesanannya,
membuat peta bisnis perjalanan wisata pelan-pelan berubah. Kini masyarakat makin
jarang berurusan dengan agen perjalanan dengan sistem konvensional tetapi lebih banyak
sudah terlayani oleh situs-situs seperti Traveloka, Trivago, Mister Aladin, Pegi-pegi,
Nusatrip, Tiket.com, dan lain sebagainya karena praktis, efektif, dan efisien (Hasan,
2017).
51
e-Proceeding | COMICOS 2017
Puluhan tahun silam orang bepergian tanpa informasi yang lengkap mengenai
suatu tujuan wisata, kini informasi mengenai apapun bisa diperoleh ketika merencanakan
perjalanan. Proses sebuah perjalanan wisata pun mengalami evolusi seiring dengan
berkembangnya teknologi. Perkembangan dan pemanfaatan teknologi informasi dan
komunikasi Kemudahan layanan mulai dari pemesanan tiket hingga penginapan,
membuat konsumen memanfaatkan travel online. Bank & Bank (2015) mengatakan
internet memiliki peran dalam perencanaan perjalanan seseorang.
Model Bisnis Travel Existing
Transak
si
Informa
si
Jenis informasi:
Tarif, Destinasi/rute
(travel/pariwisata); Tarif, jenis room,
fasilitas, map (Hotel/penginapan)
Sumber Informasi:
Web browser, Mobile app, website,
media sosial dll.
Cara order:
Mobile app
Transak
si Jasa
 PelangganPenyedia
jasa
#Jenis: B2B, B2C
# by web, app startup
Transak
si
Finansi
al/Pemb
ayaran
Tunai, Transfer, Debit,
Kartu kredit, e-money,
payment gateway, mbanking, e-banking.
Gambar 3. Model Bisnis Travel Existing.
Hasil penelitian yang digali dari para informan dan sumber data lainnya dapat
dilihat pada gambar 3 tentang model bisnis travel yang kini sedang berjalan (existing).
Transaksi informasi yang terjadi meliputi jenis informasi yang ditawarkan meliputi tarif,
destinasi/rute untuk jasa biro perjalanan/pariwisata (travel/pariwisata); tarif, jenis kamar
(room), fasilitas, peta (map) lokasi untuk hotel/penginapan. Sumber Informasi ini dapat
diperoleh secara online meliputi web browser, mobile app, website, media sosial dan
lain-lain. Cara melakukan pemesanan/order jasa dapat melalui mobile app. Sementara
transaksi barang/jasa dilakukan antara pelanggan ke penyedia jasa. Adapun jenis bisnis
dalam model ini masih B2B dan juga B2C melalui website dan aplikasi startup (travel
52
e-Proceeding | COMICOS 2017
online). Transaksi finansial/pembayarannya berupa tunai, transfer, debit, kartu kredit, emoney, payment gateway, m-banking, dan e-banking.
“B2C saat ini yang diterapkan tiket.com sudah berjalan baik tapi masih tetap
terapkan B2B, Ini karena perilaku orang Indonesia yang suka dilayani dan hidup
dalam grup. Akhirnya B2B ditambah dalam bentuk travel agent”. (Gaery Undarsa,
Co Founder, Chief Communication Officer Tiket.com, 2016).
Gambaran ini merupakan konsekuensi dari sebuah perubahan dari model bisnis
konvensional ke digital yang memberikan kemudahan dan keefektifan baik bagi
penyedia jasa maupun pelanggan. Orang tidak lagi harus bertemu secara langsung karena
informasi telah tersedia secara online transaksi barang dan jasa dengan jelas dapat
diperoleh di media online serta pembayarannya juga dapat dilakukan secara transfer.
“Dari sisi perubahan informasi, jelas lebih baik. Dulu mungkin orang harus datang
ke travel agency untuk tahu paket wisata dan bayar langsung. Kalau sekarang,
semua via online dan bayar via transfer, sama sekali tidak perah tatap muka dengan
penyedia tour. Sisi positifnya, mempermudah pekerjaan, hemat waktu, sisi tidak
baiknya rentan penipuan. Dari segi transaksi barang/jasanya sebenarnya sama saja
karena jasanya ini kita dapat di perjalanan, jadi calon pelancong harus lebih aktif
bertanya tentang fasilitas yang bakal dia terima saat tour, baik dengan cara
konvensional atau modern via online. (Lina Naibaho, Owner Sumatera Wonder
Trip, 2017).
“Transaksi ekonomi digital secara umum termasuk travel online mengancam
kondisi intermediary business karena konsumen (customer) bisa bertransaksi
langsung dengan produsen, tidak ada barrier dalam melakukan transaksi. (Basuki
Yusuf Iskandar, Kepala Badan Litbang SDM Kominfo, 2016).
“Masih banyak pelaku bisnis konvensional yang belum beralih model bisnis ebusiness. Namun dengan adanya e-commerce dan ebusiness diharapkan dapat
menjadi wahana yang mempercepat pertumbuhan ekonomi kreatif termasuk
sec\ktor biro perjalanan di Indonesia. (Wawan Rusiawan, Direktur Riset dan
Pengembangan Ekonomi Kreatif-Bekraf, 2016).
Jusuf (dalam Wijayani, 2016) menyebutkan bahwa industri travel merupakan
industri kedua tertinggi yang menerapkan teknologi di dalam kegiatan bisnisnya, setelah
industri finansial dan perbankan. Serupa dengan industri perbankan yang kini lebih
mengandalkan mesin ATM dibandingkan teller, maka industri travel juga mulai
53
e-Proceeding | COMICOS 2017
mengurangi ketergantungan proses kerja tenaga ticketing dan menggantinya dengan
sistem online booking tools.
Jumlah wisatawan mancanegara ke Indonesia yang meningkat signifikan setiap
tahun sejak 2015 didorong semakin banyaknya startup atau perusahaan rintisan yang
menawarkan jasa travel, pemesanan kamar hotel, dan penyewaan kendaraan secara
online. Menurut Suhariyanto (dalam Kumparan, 2017), perkembangan industri digital
mendorong turis asing datang ke Indonesia karena bisa dengan mudah mendapatkan
informasi mengenai pariwisata di Indonesia. Berdasarkan data dari Kementerian
Pariwisata, dari seluruh wisawatan asing yang berkunjung ke Indonesia, 70 persen
mengetahui tempat-tempat wisata, hotel dan perjalanan wisata dari internet. Kementerian
Pariwisata tahun 2017 juga menargetkan jumlah wisatawan mancanegara naik menjadi
15 juta orang. Strategi utama yang akan dilakukan untuk mencapai target tersebut adalah
dengan pengembangan pemasaran digital.
Bentuk pemasaran digital yang juga berkembang pesat dalam model bisnis travel
saat ini adalah melalui media sosial. Melalui media sosial berbagai informasi sekaligus
interaksi antar penyedia layanan dan konsumen dapat langsung terjadi. Casalo, dkk
(2009) mengatakan bahwa untuk memberi nilai tambah kepada konsumennya, semakin
banyak perusahaan yang mulai menggunakan perangkat online seperti jejaring sosial
untuk menjalin komunikasi dan interaksi dengan konsumen. Menurut Juliet Carnove,
media sosial telah mengubah lanskap pemasaran dalam industri travel. Sebagian besar
pengelola merek juga menjadikan media sosial sebagai salah satu kanal layanan kepada
pelanggan mereka. Bahkan perusahaan-perusahaan travel yang menanggapi keluhan
secara tulus di media sosial adalah yang berpotensi sukses untuk memperkuat reputasi
mereka seperti American Airlines dan JetBlue (Wulandari, 2017).
54
e-Proceeding | COMICOS 2017
Media sosial juga memiliki dampak besar pada model agen travel atau perjalanan.
Ketersediaan informasi dan kemudahan self-service pesanan membuat agen perjalanan
beradaptasi dari model lama ke model yang lebih digital. Hal itu perlu dilakukan, karena
agen
perjalanan
yang
menyasar
wisatawan
pengguna
internet
yang
harus
memperhitungkan preferensi mereka dimana sangat bergantung pada digital dan media
sosial. Dengan beragam pilihan media informasi yang tersedia, turis atau wisatawan
mulai menggunakan beberapa sumber informasi online untuk mencari informasi guna
merancang perjalanan mereka dan berbagi pengalaman mengenai destinasi wisata (Hock,
2007).
Paparan di atas menunjukkan bahwa model bisnis travel baru mempunyai
karakteristik khusus yang positif antara lain berbasis transaksi informasi, dimana
informasi bisa dipertukarkan antara penyedia jasa (produsen) dengan pembeli
(konsumen), informasi bersifat langsung (direct to market), informasi yang disampaikan
oleh produsen langsung ke sasaran pasar (produsen) tanpa perantara, lintas batas negara
(delocation), siapapun dan dari negara manapun juga dapat memanfaatkan bisnis ini
(baik sebagai produsen maupun konsumen) karena sifatnya yang online. Karakteristik
lain dari model baru ini juga bersifat fast forward atau cepat baik dalam memperoleh
informasi maupun proses transaksi dan real time.
Sedangkan karakteristik khusus dari bisnis travel baru yang bersifat negatif antara
lain dapat saja terjadi anonimitas atau sifatnya yang juga anomim (tanpa nama) atau
informasi identitas pribadi seseorang tidak diketahui. Disamping itu informasi digital
bersifat hyper-realitas dimana informasi digital sifatnya yang terkadang melebihlebihkan realita yang ada. Kondisi ini sekaligus juga menghasilkan peluang dan
tantangan tidak saja bagi penyedia jasa bisnis travel baru, namun juga bagi konsumen
55
e-Proceeding | COMICOS 2017
serta pemerintah sebagai regulator kebijakan. Tantangan yang dihadapi diantaranya
penurunan pajak, persoalan keamaman data pribadi serta masih lemahnya perlindungan
konsumen.
“Potensi pajak dengan mulai berkurangnya intermediary bisa menjadi cukup
banyak karena transaksi dilakukan secara digital yang cukup sulit untuk ditelusuri
(tertutup dan dilindungi undang-undang privacy). Kehadiran negara dalam era
ekonomi digital berkaitan dengan konsumen sangat diperlukan, karena banyak
transaksi yang langsung dari produsen ke konsumen yang tidak diketahui
standarnya. (Basuki Yusuf Iskandar, Kepala Badan Litbang SDM Kominfo, 2016).
Hasil penelitian ini mengungkapkan bisnis travel online yang dijalankan
perseorangan tidak mempunyai perusahaan/perseroan terbatas, sehingga tidak membayar
pajak. Disamping itu pajak hotel yang harus ditanggung oleh hotel yang bersangkutan
sementara startup yang mewadahinya tidak menanggung sama sekali. Selain itu
banyaknya perusahaan bisnis anonimitas, yang berada di luar Indonesia namun
memberikan layanan di dalam negeri.
“Dirjen Pajak tidak bisa men-trace potensi pajak terhadap transaksi digital.
Anonimitas merupakan kendala bagi Dirjen Pajak untuk mendapatkan pajak,
dalam hal ini sangat banyak terjadi di era ekonomi digital. Perusahaan seperti
Booking.com seolah-olah bebas dari pajak karena terbentur dengan anonimitas
yang seolah-olah tidak diketahui keberadaannya (berada di luar Indonesia)
padahal memberikan layanan reservasi dari Indonesia. Tidak ada ketentuan pajak
baru bagi ecommerce. Aturan untuk ecommerce adalah sama dengan aturan pajak
pada sistem bisnis konvensional. Nemun Dirjen Pajak sudah membentuk tim
AdHoc (lintas direktorat) yang menangani ecommerce, tim ini tengah menyusun
database ecommerce secara manual.” (Ahmad Jhauhari, Direktorat Transformasi
Proses Bisnis-Dirjen Pajak, 2016).
Sedangkan persoalan perlindungan konsumen juga diakui masih lemah. Data dari
Yayasan Perindungan Konsumen Indonesia (YLKI) menyebutkan bahwa untuk kasus
bisnis online terus meningkat dari tahun ke tahun. Tahun 2012, hanya 11 kasus namun
tahun 2015 meningkat menjadi 77 kasus pengaduan atau 7,5%. Bahkan hingga semester
pertama tahun 2016, sudah mencapai 49 kasus. Meski tidak banyak dibanding sektor
lainnya, pengaduan jasa travel pariwisata termasuk 1, 46% di dalamnya (YLKI, 2016).
56
e-Proceeding | COMICOS 2017
Gambar 3. Profil Pengaduan Konsumen 2015 (Sumber: YLKI, 2016)
“YLKI menyoroti beberapa hal yang penting antara lain belum adanya regulasi
terhadap kerahasiaan data/proteksi data konsumen. Dan selanjutnya banyaknya
penyedia jasa travel misalnya Agoda tidak memiliki kantor perwakilan penjual
(badan hukum) di Indonesia yang menjadi subjek hukum. Sehingga pada saat
terjadi kasus yang merugikan konsumen di Indonesia, hal tersebut sulit untuk
diproses secara hukum. (Sularsih, Ketua Bidang Pengaduan YLKI, 2016).
Permasalahan yang ada saat ini dalam bisnis transaksi online belum adanya
Undang-Undang yang mengatur secara khusus namun terpencar diberbagai peraturan,
banyak bersinggungan dengan berbagai regulasi. Namun Kementerian Perdagangan,
Kementerian Kominfo dan Kementerian Keuangan sedang menyusun peraturan yang
berkaitan dengan transaksi bisnis elektronik.
“RPP Transaksi Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (RPP TPMSE) sedang
disusun yang berpedoman pada dua aspek, yaitu light touch regulation dan safe
harbor yang bertujuan membangun consumer trust dan consumer confidence.
Adapun pelaku TPMSE meliputi merchant, penyelenggara sarana perantara, dan
penyelenggara TPMSE.” (Iriani Pramudyaningsih, Kasubdit Perdagangan Melalui
Sistem Elektronik-Kementerian Perdagangan, 2016).
“Rancangan regulasi transaksi sistem elektronik yang sedang disusun selain RPP
57
e-Proceeding | COMICOS 2017
TPMSE adalah Draft RPM terkait Safe Harbour Policy dan RPM perihal regulasi
Penyedia Aplikasi dan Layanan Online (OTT) oleh Kementerian Kominfo. Juga
Kajian dan Review Pengaturan Dasar Pengenaan Pajak yang berlaku di industri ecommerce oleh Kementerian Keuangan.” (Bima Laga, Head Division of Taxation,
Infrastructure and Cyber Security –ideA, 2016).
Model Bisnis Travel Future (Transaksi Informasi, Jasa, Finansial)
Melihat tren penggunaan TIK dalam bisnis travel saat ini, dimasa yang akan datang
TIK akan semakin berperan. Penelitian ini juga berusaha melakukan forcasting model
bisnis travel future (masa depan) akan semakin memudahkan konsumen, baik dari sisi
pelayanan informasi, jasa juga transaksi pembayaran. Konsumen di masa mendatang
yang hendak berpergian akan memiliki agen perjalanan (e-agent) pribadi yang akan
mengatur dan mengikuti perjalanannya dengan layanan intermoda yang terintegrasi.
Intermoda adalah pengangkutan barang/penumpang dari tempat asal ke tempat tujuan
dengan menggunakan lebih dari satu moda transportasi tanpa terputus dalam hal biaya,
pengurusan administrasi, dokumentasi, dan adanya satu pihak yang bertanggung jawab
sebagai pengangkut (Salim,1993). Sedangkan sistem pembayaran pada bisnis masa
depan ini nantinya juga sudah tidak lagi menggunakan uang tunai (cashless).
Model Bisnis Travel Future
Transak
si
Informa
Transak
si
Jasa
Jenis informasi:
Penawaran Perjalanan/liburan
Sumber Informasi:
Web browser, Mobile app,
website, media sosial, e-agent
pribadi.
Cara Order:
Website, mobile apps
-intergrated order
#layanan intermoda
 PelangganPenyedia
jasa
#Jenis: gabungan B2B dan
B2C
# by web, app startup
Gambar 5. Model Bisnis Travel Future
58
Transak
si
Finansi
al/Pemb
ayaran
Non tunai (cashless), Transfer,
Debit, Kartu kredit, e-money,
payment gateway, e-banking,
EDC Mobile, NFC, QR code
#layanan intermodal
(pembayaran hanya dilakukan 1
kali untuk berbagai sarana travel
e-Proceeding | COMICOS 2017
Transaksi finansial dalam proses bisnis online di masa depan (future),
memungkinkan pelibatan pemindai biometrik (retina scan dan finger print scan) untuk
menjaga keamanan data konsumen. Sidik jari dan retina adalah unik untuk setiap
makhluk hidup sehingga dapat digunakan sebagai sandi identifikasi yang sangat privat.
Selain itu menggunakan integrasi gadget (jam tangan, kartu, e-wallet yang harus di tap
pada merchant tertentu), yang terintegrasi dengan cloud computing atau big data untuk
pembacaan akun finansial seseorang. Sementara dalam proses transaksi jasa
memungkinkan pembayaran on the spot melalui tracking pembeli bukan di rumah, di
kantor, atau lokasi terdaftar (Puslibang Aptika IKP, 2016).
Peluang dan tantangan bisnis masa depan juga dipastikan jauh lebih besar. Dalam
dunia inovasi teknologi yang pesat dan cepat, bisnis travel masa depan harus
mengantisipasi dan berinovasi juga dengan kecepatan tinggi. Mau tidak mau, pengusaha
bisnis travel harus menyesuaikan diri mengikuti tren yang ada, karena jika tidak akan
terlibas dengan perusahan lainnya. Apalagi untuk bisnis travel lokal, yang tidak memiliki
modal usaha yang besar, perlu mengatur strategi untuk dapat bertahan atau eksis di waktu
sekarang dan masa depan.
“Untuk masa depan, semua akan menggunakan aplikasi yang dapat diinstal
handphone android. Dan melalui aplikasi itu konsumen dapat melihat langsung
paket-paket tour yang ditawarkan dan juga bisa langsung memilihnya sesuai
kekinginan. Tantangan ke depan akan lebih berat karena persaingan antar bisnis
pariwisata/travel, hanya saja agen travel lokal harus kreatif supaya tidak tergilas.
(Lina Naibaho, Owner Sumatera Wonder Trip, 2017).
Ketiga model bisnis travel yang digambarkan di atas dengan transaksi informasi,
jasa dan finansial/pembayaran lambat laun berubah mulai dari model lama ke baru
hingga ke masa depan. Perubahan ini dikarenakan penggunaan TIK yang semakin
59
e-Proceeding | COMICOS 2017
dominan dalam proses transaksi. Ciri perubahan digambarkan bahwa model bisnis baru
bersifat disruptive. Model bisnis baru akan bersifat disrupt terhadap model lama, begitu
pula pada model bisnis future (masa depan) akan disrupt terhadap model sebelumnya
(existing).
Seperti yang disampaikan Christensen dan Bower (1995) bahwa disruptive
merupakan inovasi yang membantu menciptakan pasar baru, mengganggu atau merusak
pasar yang sudah ada, dan pada akhirnya menggantikan teknologi terdahulu. Inovasi
disruptif mengembangkan suatu produk atau layanan dengan cara yang tak diduga pasar,
umumnya dengan menciptakan jenis konsumen berbeda pada pasar yang baru dan
menurunkan yang tak diduga pasar. Juga menciptakan jenis konsumen berbeda pada
pasar yang baru dan menurunkan harga pada pasar yang lama.
PENUTUP
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diatas, maka kesimpulan dari
penelitian ini adalah bahwa perkembangan sektor ekonomi di Indonesia yang memasuki
era ekonomi digital, merubah model bisnis travel/biro perjalanan yang ada. Model bisnis
travel berubah dari model lama (conventional) ke model baru (exsisting) yang kini
sedang berjalan serta prediksi perubahan model bisnis di masa depan (future). Tiga
transaksi mendasar pada industri travel yang merubah model bisnis dari waktu ke waktu
adalah transaksi informasi, jasa dan finansial (pembayaran).
Transaksi informasi (tarif, destinasi/rute untuk jasa biro perjalanan/pariwisata
(travel/pariwisata); tarif, jenis kamar (room), fasilitas, peta (maps) lokasi untuk
hotel/penginapan berubah di setiap waktu. Pertukaran informasi dari model bisnis
terdahulu berbeda dengan yang sedang existing saat ini (secara manual ke online). Tetapi
ada beberapa persamaan dalam model bisnis existing dengan prediksi model masa depan.
60
e-Proceeding | COMICOS 2017
Dan perubahan mendasar ini disebabkan karena penggunaan TIK yang mulai mengglobal
baik dalam bisnis maupun oleh masyarakat pengguna (konsumen).
Sedangkan transaksi jasa, dari ketiga model cenderung sama yaitu dengan jenis
bisnis Business to Business (B2B) dan juga Business to Consumer (B2C). Hanya saja
yang membedakan adalah perangkat TIK yang digunakan dalam proses transaksi jasa
berlangsung (offline ke online). Sementara transaksi finansial (pembayaran) juga
berubah dalam bisnis. Jika pada model terdahulu, transaksinya masih sangat sederhana
yaitu dengan transaksi pembayaran langsung, namun kini dan masa depan memiliki
banyak jenis metode pembayaran secara online. Ciri perubahan model bisnis travel ini
bersifat disruptive terhadap bisnis yang ada sebelumnya. Model baru dan yang akan
datang akan cenderung memudahkan konsumen baik dari sisi pelayanan hingga
pembayaran disamping itu model bisnis future juga yang bersifat integrasi dengan
layanan lain.
Konsekuensi model bisnis travel yang berevolusi ini menimbulkan peluang dan
juga tantangan baik bagi industri travel secara umum, pemerintah dan juga masyarakat
sebagai konsumen. Peluangnya adalah memaksa industri travel konvensional segera
beralih ke sistem online sehingga memudahkan masyarakat (konsumen) karena memiliki
banyak pilihan untuk bertransaksi secara online. Namun tantangan lainnya adalah
industri travel khususnya lokal harus bersaing dengan travel dengan modal besar.
Tantangan lainnya adalah berimplikasi pada penurunan pajak, perlindungan konsumen
yang masih lemah, keamanan data pribadi dan lain sebagainya.
Rekomendasi dari hasil penelitian ini perlu ada regulasi yang menguntungkan
semua pihak (penyedia jasa, konsumen maupun pemerintah). Diantaranya untuk sektor
bisnis setiap pelaku bisnis travel mengupayakan badan usaha perwakilan secara resmi,
61
e-Proceeding | COMICOS 2017
sehingga mudah terdata sebagai wajib pajak. Pemerintah perlu mengatur mekanisme
pajak pada proses transaksi online membuat national payment gateway system,
melakukan safe harbor policy (transaksi online startup, aplikasi dan sebagainya), serta
membuat regulasi investasi asing, kepastian hukum. Rekomendasi untuk perlindungan
konsumen adalah membuat standarisasi penyelesaian masalah transaksi online
mempercepat menyelesaikan peraturan tentang perlindungan transaksi online
mensosialisasikan kebijakan perlindungan data pribadi sehingga pelaku usaha dan
masyarakat tahu tentang hal tersebut. Sedangkan rekomendasi kebijakan untuk
mengantisipasi persoalan masa mendatang dalah pemerintah dapat membuat regulasi
sistem layanan yang terintegrasi (transaksi informasi, jasa, maupun finansial).
DAFTAR PUSTAKA
Bank, P. C. M. Van Der, & Bank, M. Van Der. (2015). The Impact Of Social Media.
African Journal of Hospitality, Tourism and Leisure, 4(2).
Bellman, R., Clark, C. E., Malcolm, D. G., Craft, C. J., & Ricciardi, F. M. (1957). On
the construction of a multi-stage, multi-person business game. Operations
Research, 5(4), 469-503.
Casaló, L., Flavián, C., & Guinalíu, M. (2009). Consumer Behavior In Firm-hosted
Online Travel Communities. Proceedings of Mediterranean Conference on
Information Systems 2009. Diakses dari: http://aisel.aisnet.org/mcis2009/54/, 2
Juli 2017.
Chesbrough, H., & Rosenbloom, R. S. (2002). The role of the business model in
capturing value from innovation: evidence from Xerox Corporation's technology
spin‐off companies. Industrial and corporate change, 11(3), 529-555.
Chiou, W. C., Lin, C. C., & Perng, C. (2011). A strategic website evaluation of online
travel agencies. Tourism Management, 32(6), 1463-1473.
Christensen dan Joseph Bower. (1995). Disruptive Technologies: Catching the
Wave. Harvard Business Review. From the January–February 1995 Issue.
Diakses dari: https://hbr.org/1995/01/disruptive-technologies-catching-the62
e-Proceeding | COMICOS 2017
wave, 8 Juli 2017.
Christensen, C. (2013). The innovator's dilemma: when new technologies cause great
firms to fail. Harvard Business Review Press.
Christensen, C.M. et al. (2006). Disruptive innovation for social change. Harvard
business review, 84(12), p.94.
de Reuver, M., Bouwman, H. & MacInnes, I. (2007). What Drives Business Model
Dynamics? A Case Survey. In 8th World Congress on the Management of
eBusiness (WCMeB). Canada: Toronto, Ontario.
Demil, B., & Lecocq, X. (2010). Business model evolution: in search of dynamic
consistency. Long Range Planning, 43(2), 227-246.
Drucker, P. F. (1995). People and performance: The best of Peter Drucker on
management. Routledge.
Eungblut, S. (2013). PESTLE and Porter’s 5 Forces Analysis: Two Crucial Concepts for
Business
Leaders
&
Sales
People.
Diakses
dari:
http://sterlingchase.com/2011/09/pestle-and-porters-, 2 Juli 2017.
Hadi. (2016). Duel Sengit Biro Tradisional Versus Online Travel (bagian 1).
Diakses dari: http://www.franchiseglobal.com/duel-sengit-biro-tradisionalversus-online-travel-bagian-1.phtml, 20 Mei 2017.
Hartman, Amir, and John Sifonis. (2000). Net Ready-Strategies for Success in the EConomy. United States: McGraw-Hill.
Hasan, Akhmad Muawal. (2016). Para Jawara Bisnis Travel Online Indonesia. Diakses
dari:
https://tirto.id/para-jawara-bisnis-travel-online-indonesia-bA3j, 23 Mei
2017.
Henne, Julia. (2014). Business Model Dynamics In The Tourism Industry. Thesis.
University of Twente Faculty of Management and Governan. Diakses dari:
http://essay.utwente.nl/65327/1/Henne_BA_MB.pdf Permission to make digital
or hard copies of all, 2 Mei 2017.
Hock, R. (2007). The Traveler’s Web: An Extreme Searcher Guide to Travel Resources
on the Internet.
Jamaludin, Fauzan. (2015). Begini Potensi Pasar Online Travel di Indonesia. Diakses
dari:
https://www.merdeka.com/teknologi/begini-potensi-pasar-online-travel-di-
indonesia.html, 5 Juli 2017.
63
e-Proceeding | COMICOS 2017
Johnson, G., Whittington, R., Scholes, K., & Pyle, S. (2011). Exploring strategy: text &
cases. Harlow: Financial Times Prentice Hall.
Kumparan. (2017). Travel Online Dorong Pertumbuhan Kunjungan Turis Asing. Diakses
dari:
https://kumparan.com/angga-sukmawijaya/travel-online-dorong-
pertumbuhan-kunjungan-turis-asing, 5 Juli 2017.
Magretta, J. (2002). Why business models matter. Harvard Business Review.
May;80(5):86-92.
Moleong, Lexy J. (2007). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Penerbit PT
Remaja Rosdakarya Offset.
Osterwalder, A. (2004). The business model ontology: A proposition in a design science
approach. Institut d’Informatique et Organisation. Lausanne, Switzerland,
University of Lausanne, Ecole des Hautes Etudes Commerciales HEC, 173.
Pratama, Aditya Hadi. (2017). Perkembangan Pengguna Internet di Indonesia Tahun
2016 Terbesar di Dunia. Diakses dari https://id.techinasia.com/pertumbuhanpengguna-internet-di-indonesia-tahun-2016, 6 Juni 2017.
Puslitbang Aptika dan IKP. (2016). Study Ekonomi Digital di Indonesia: Sebagai
Pendorong Utama Pembentukan Industri Digital Masa Depan. Laporan Akhir.
Jakarta: Kementerian Kominfo.
Ratman, Dadang Rizki. (2016). Pembangunan Destinasi Pariwisata Prioritas 2016 -2019.
Disampaikan pada rapat koordinasi nasional kementerian pariwisata “Äkselerasi
Pembangunan Kepariwisataan dalam Rangka Pencapaian Target 12 Juta Wisman
dan
260
Juta
Wisnus
2016.”
Dikases
dari:
http://www.kemenpar.go.id/userfiles/Paparan%20-%20Deputi%20BPDIP.pdf, 7
Juli 2017.
Salim, Abbas. (1993). Manajenen Transportasi. Jakarta; PT. Raja Grafindo Persada.
Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Supriyanto, W. & Muhsin, A. (2008). Teknologi Informasi Perpustakaan. Yogyakarta:
Kanisius.
Teece, D. J. (2010). Business Models, Business Strategy And Innovation. Long range
planning, 43(2), 172-194.
Timmers, P. (1998). Business Models For Electronic Markets. Electronic markets, 8(2),
64
e-Proceeding | COMICOS 2017
3-8.
Turban, E., J. Lee, D. King, dan H. M. Chung. (2000). Electronic Commerce A
Managerial Perspective Upper Saddle River. NJ: Prentice Hall.
Verma, D. P. S., & Varma, G. (2003). On-Line Pricing: Concept, Methods And Current
Practices. Journal of Services Research, 3(1).
Wijayani, Septi.(2016).
Komputasi Awan Bantu Agen Travel Konvensional
Transformasi Ke Digital. Diakses dari: http://marketeers.com/komputasi-awanbantu-agen-travel-konvensional-transformasi-ke-digital/, 6 Juli 2017.
Wulandari, Dwi. (2017). Menyikapi Perubahan Lanskap Pemasaran di Industri Travel.
Diakses
dari:http://mix.co.id/marcomm/brand-communication/digital-brand-
communication/menyikapi-perubahan-lanskap-pemasaran-di-industri-travel,
6
Juli 2017.
Yao, Jingshu, Ting Liu, and Hong Zheng. (2014). The Analysis of Business Model
Transformation– Case Study on Qunar. Journal Of Chinese Economics, 2014 Vol.
2.
No.
3,
Pp
38-47.
http://journals.sfu.ca/nwchp/index.php/journal/article/viewFile/40/40,
Diakses:
7
Juli
2017.
YLKI. (2016). Profil Pengaduan Konsumen 2015. Jakarta: Yayasan Perlindungan
Konsumen Indonesia.
65
e-Proceeding | COMICOS 2017
66
e-Proceeding | COMICOS 2017
Peranan Media Online Terhadap Perkembangan UMKM di Bekas
Lokalisasi Dolly Surabaya
Ivan Divya Fauzan,1 Piola Surya Anggreini,2 dan Ade Kusuma3
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UPN “Veteran” Jawa Timur
[email protected] / +6282245469948
Abstraksi
Globalisasi menuntut para pelaku UMKM untuk memiliki strategi yang tepat
guna menghadapi persaingan pasar bebas yang semakin terbuka. Salah satunya adalah
mereka harus mampu memanfaatkan kemajuan teknologi dan internet, seperti halnya
penggunaan media online guna menunjang kegiatan promosi dan pemasaran, serta
meningkatkan kualitas usaha. Bekas lokalisasi Dolly merupakan salah satu wilayah di
Surabaya yang kini berubah menjadi sentra UMKM baru. Perkembangan ekonomi di
wilayah ini pun terus meningkat paska penutupan lokalisasi tersebut pada tahun 2014.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peranan media online bagi
perkembangan UMKM di bekas lokalisasi Dolly Surabaya, yaitu di kelurahan Putat Jaya,
Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Metode yang akan
digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif eksploratif. Teknik
pengumpulan data yang digunakan adalah dengan menggunakan indepth interview,
observasi, dokumentasi, dan studi kepustakaan. Narasumber dipilih dengan
menggunakan metode non probability sampling/ purpossive sampling.
Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa peranan media online dapat
mendorong perkembangan UMKM di bekas lokalisasi Dolly Surabaya, berupa 1.)
Memperluas jangkauan wilayah promosi dan pemasaran; 2.) Membuka akses kemitraan
dengan berbagai pihak; 3.) Menunjukan eksistensi sentra UMKM di bekas lokalisasi
Dolly; 4.) Merubah image Dolly yang semula dikenal sebagai wilayah prostitusi menjadi
salah satu sentral UMKM berkembang di Surabaya. Meskipun demikian, beberapa
kendala terhadap optimalisasi pemanfaatan teknologi dan internet di era persaingan
global masih ditemui, diantaranya adalah rendahnya tingkat pendidikan, keterampilan,
dan pengetahuan para pelaku UMKM yang berusia millenials. Disisi lain, peneliti juga
melihat adanya potensi terhadap kehadiran technopreneur dalam menjalankan industri
berbasis digital sehingga mengembangkan produktifitas dari generasi millennials di
bekas Lokalisasi Dolly, serta memperkuat dan meningkatkan perekonomian masyarakat
setempat.
Kata kunci : Entrepreneur, Global, Media Online, UMKM
Key word : Entrepreneur, Global, Online Media, UMKM
Mahasiswa program studi Ilmu Komunikasi, FISIP UPN “Veteran” Jawa Timur
Mahasiswa program studi Hubungan Internasional, FISIP UPN “Veteran” Jawa Timur
3
Dosen program studi Ilmu Komunikasi FISIP UPN “Veteran” Jawa Timur
1
2
67
e-Proceeding | COMICOS 2017
I.
PENDAHULUAN
1.1.Latar belakang
Era globalisasi ditandai dengan adanya perkembangan teknologi, telekomunikasi,
dan transportasi yang dimulai sejak akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20. Globalisasi
menyebabkan adanya keterkaitan dan saling mempengaruhi antar manusia dalam segala
aspek kehidupan karena terbukanya batasan ruang dan waktu antar bangsa. Gannon
menjelaskan bahwa globalisasi merujuk pada meningkatkan ketergantungan antara
pemerintah, perusahaan bisnis, organisasi nirlaba, dan penduduk secara individu.
(Samovar, et al., 2010 : 3). Globalisasi mempermudah manusia berpindah tempat,
mempermudah pemenuhan kebutuhan manusia, serta mempermudah manusia bertukar
informasi, budaya dan gaya hidup.
Di sisi lain, globalisasi turun pula menghadirkan tantangan bagi bangsa, salah
satunya adalah adanya liberalisasi di era global. Terciptanya pasar bebas yang
berpengaruh besar terhadap perekonomian global. Istilah pasar bebas adalah sebuah
konsep ekonomi yang mengacu pada penjualan produk antar negara tanpa dikenakan
pajak ekspor-impor atau hambatan perdagangan lainnya (Manurung & Marinus R., 2008
: 1). Hal ini sudah menjadi agenda internasional bagi mayoritas negara di dunia.
Perdagangan bebas (free trade) kini telah diberlakukan di beberapa kawasan tertentu di
dunia.
Negara-negara di kawasan Asia Tenggara memiliki hubungan kerja sama
ekonomi yang diberi nama Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Kerja sama ini adalah
bentuk integrasi ekonomi regional yang diterapkan sejak tahun 2015. Tujuan utama dari
MEA adalah menjadikan ASEAN sebagai pasar tunggal dan basis produksi, arus
barang, jasa, investasi, tenaga kerja terampil, serta aliran modal yang lebih bebas. MEA
akan menjadi kesempatan bagi Indonesia karena hambatan perdagangan akan berkurang,
bahkan menjadi tidak ada. Kerjasama ini akan meningkatkan kegiatan eskpor yang akan
berdampak peningkatan PDB (Produk
Domestik
Bruto) Indonesia. Pasar bebas
menuntut pelaku usaha untuk memiliki daya saing dan kompetensi guna menghadapi
persaingan dengan negara-negara di wilayah tersebut. MEA dapat menjadi ancaman jika
para pelaku usaha di Indonesia tidak siap untuk menghadapinya. Perlu cara khusus untuk
menghadapi persaingan ekonomi di pasar bebas.
68
e-Proceeding | COMICOS 2017
UMKM merupakan salah satu sektor strategis dalam perekonomian nasional. Hal
ini terlihat dari besarnya pencapaian di sektor UMKM. Data Badan Pusat Statistik (BPS)
tahun 2012 menyebutkan jumlah tenaga kerja di sektor UMKM sebesar 107,6 juta
pekerja atau sekitar 97 persen dari jumlah pekerja di Indonesia. UMKM mampu
menghasilkan PDB sebesar 59,08% (Rp4.869,57 Triliun), dengan laju pertumbuhan
sebesar 6,4% pertahun pada tahun 2012. Pengembangan UMKM di tengah arus
globalisasi dan tingginya persaingan membuat UMKM harus mampu menghadapi
tantangan global dengan berbagai cara, seperti meningkatkan inovasi produk dan jasa,
pengembangan sumber daya manusia dan teknologi, serta perluasan area pemasaran. Hal
ini perlu dilakukan untuk menambah nilai jual UMKM itu sendiri, utamanya agar dapat
bersaing dengan produk-produk asing. (Sudaryanto, 2011 : 2).
1.2. Konteks Penelitian
Di Indonesia, pertumbuhan UMKM tentunya tidak lepas dari peranan
pemerintah, salah satunya di Kota Surabaya, yang merupakan kota terbesar kedua di
Indonesia memiliki jumlah penduduk yang besar pula. Bekas lokalisasi Dolly merupakan
salah satu wilayah di Surabaya yang kini berubah menjadi sentra UMKM baru. Geliat
perkembangan ekonomi di wilayah ini pun terus meningkat pasca penutupan lokalisasi
tersebut. Hal ini didukung dari jumlah usia produktif yang lebih mendominasi, sehingga
menjadi modal besar bagi UMKM di bekas lokalisasi Dolly untuk semakin berkembang.
Sebastian dan Amran (2016) dalam bukunya Generasi Langgas Millennials
Indonesia, menjelaskan bahwa usia produktif di Indonesia saat ini didominasi oleh usia
millenials (17 s.d. 37 tahun). Ciri yang paling menonjol dari generasi millennials adalah
penguasaan pada bidang teknologi dan informasi. Generasi ini merupakan generasi yang
melibatkan teknologi dalam segala aspek kehidupan. Bukti nyata yang dapat diamati
adalah hampir seluruh individu dalam generasi tersebut memilih menggunakan ponsel
pintar. Dengan menggunakan perangkat tersebut para millennials dapat menjadi individu
yang lebih produktif dan efisien. Dari perangkat tersebut mereka mampu melakukan
apapun dari sekadar berkirim pesan singkat, mengakses situs pendidikan, bertransaksi
bisnis online, hingga memesan jasa transportasi online.
69
e-Proceeding | COMICOS 2017
1.3. Hasil Kajian Pustaka
Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan kelompok pelaku
ekonomi yang mampu memberikan kontribusi terhadap perekonomian nasional. Usaha
Mikro, Kecil, dan Menengah menurut pasal 1 UU No 20 Tahun 2008 adalah :
1. Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan
usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur
dalam Undang-Undang ini
2. Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan
oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan
atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik
langsung maupun tidak langsung dari Usaha Menengah atau Usaha Besar yang
memenuhi kriteria Usaha Kecil se-bagaimana dimaksud dalam Undang-Undang
ini
3. Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang
dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak
perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian
baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil atau Usaha Besar
dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur
dalam Undang-Undang ini.
Berdasarkan definisi di atas maka pada intinya Usaha Mikro, Kecil, dan
Menengah adalah suatu bentuk usaha ekonomi produktif yang dilakukan oleh orang
perseorangan atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro, Kecil,
dan Menengah.
Menurut Sudaryato, Ragimun, dan Wijayanti dalam artikel berjudul ‘Strategi
Pemberdayaan UMKM Menghadapi Pasar Bebas ASEAN’ menjelaskan bagaimana
pasar bebas ASEAN menuntut pelaku UMKM untuk memiliki strategi guna
mengantisipasi mekanisme pasar yang makin terbuka dan kompetitif. Aplikasi teknologi
informasi pada usaha mikro, kecil dan menengah akan mempermudah UMKM dalam
memperluas pasar baik di dalam negeri maupun pasar luar negeri dengan efisien.
Pembentukan Pusat Pengembangan UMKM berbasis IT dianggap mampu mendorong
70
e-Proceeding | COMICOS 2017
pertumbuhan dan perkembangan usaha mikro, kecil, dan menengah di era teknologi
informasi saat ini.
Kemampuan pelaku UMKM terhadap IT memberikan keuntungan dalam aspek
promosi dan pemasaran, serta meningkatkan kemampuan mereka dalam berkoordinasi
dengan pihak luar, seperti halnya calon konsumen. Teknologi Informasi seperti media
online dapat membantu UMKM dalam mengembangkan usaha mereka. UMKM
dikatakan memiliki daya saing global apabila mampu menjalankan operasi bisnisnya
secara, seimbang dan berstandar tinggi. Maka media online adalah alat promosi yang
tepat, murah dan berdampak signifikan terhadap bisnis karena banyak diminati oleh
masyarakat. Media online memiliki jangkauan pemasaran yang lebih luas, hal inilah yang
melatarbelakangi perubahan komunikasi konvensional menjadi modern dan serba digital.
Menurut Setiadi (2003 : 250), pada tingkat dasar, komunikasi dapat menginformasikan
dan membuat konsumen potensial menyadari atas keberadaan produk yang ditawarkan.
Kemudahan masyarakat mengakses media online melalui telepon cerdas
(smartphone). Smartphone memberikan fasilitas yang beragam mulai Browsing,
Chatting, Email, serta fasilitas media sosial. Di seluruh dunia, hasil statistik UMKM
pengguna media sosial seperti jejaring sosial Facebook mencapai angka 75% dan
UMKM yang menggunakan jejaring sosial Twitter mencapai angka 78% (Ryan, 2011).
Saat ini, pelaku UMKM sudah tidak asing lagi memanfaatkan media online karena selain
dapat dijadikan sebagai sarana pemasaran produk, media online juga bisa dijadikan
sebagai sarana interaksi dengan konsumen (Mershon, 2011). Melalui frekuensi iklan
yang sering dan terus menerus, setidaknya akan membuat promosi produk terbaca oleh
konsumen dan meningkatkan omset pembelian.
Berbagai manfaat yang media online tawarkan memberikan alternatif bagi
UMKM di Indonesia untuk turut mengembangkan usahanya dengan memanfaatkan
media online sebagai sarana promosi dan pemasaran produk mereka. Hal ini dapat
dibuktikan oleh beberapa data yang disampaikan oleh perusahaan penyedia situs jual beli
online, dimana situs internet Kaskus mengklaim bahwa jumlah transaksi mencapai Rp.
575 Miliar per bulan dan Tokobagus Rp. 300 Miliar per bulan, namun transaksi jual beli
online di Indonesia saat ini masih didominasi oleh media sosial. UprightDecision
menyatakan bahwa rata-rata transaksi online di Indonesia oleh media sosial Facebook
71
e-Proceeding | COMICOS 2017
sekitar (50%), Twitter (12%), Wordpress (5%), Linkedin (2%), dan sisanya (31%)
menggunakan media sosial lain (Siswanto, 2013 : 81). Hal ini menunjukkan bahwa
pemanfaatan media online bagi UMKM di Indonesia memiliki potensi yang cukup besar.
Hal serupa disampaikan oleh Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin)
Indonesia, Rosan P Roeslani; yang menjelaskan bahwa para pelaku UMKM dapat
memperluas jangkauan pemasaran melalui media internet yang bisa dimanfaatkan para
pelaku UMKM untuk mempromosikan produknya seperti pemanfaatan berbagai media
sosial seperti facebook, twitter, instagram, maupun menggunakan website. (Andika,
2017). Pesan yang disampaikan dengan menggunakan media sosial dapat ditampilkan
dengan kombinasi audio-visual sehingga lebih menarik. Media sosial tidak hanya
sekadar berfungsi untuk menyampaikan pesan melainkan sudah menjelma sebagai
sumber dari hiburan, pendidikan, sosial, gaya hidup, hingga bisnis yang menguntungkan.
(Nasrullah, 2012 : 24). Dalam hal bisnis, keberadaan media sosial juga sering kali
menguntungkan karena perusahaan dapat menawarkan produk atau jasa dengan biaya
yang jauh lebih kecil daripada beriklan di media tradisional, seperti halnya media cetak,
radio dan televisi.
1.4.Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menjelaskan tentang
bagaimana peranan media online bagi perkembangan UMKM di bekas Lokalisasi Dolly
di Surabaya?
II.
METODOLOGI
Metodologi yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif
eksploratif. Metode ini digunakan untuk mendapatkan keluasan dan kedalaman data serta
untuk mendapatkan tema spesifik yang akan muncul mengenai peranan media online
terhadap perkembangan UMKM di bekas lokalisasi Dolly Surabaya.
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan menggunakan indepth
interview (wawancara mendalam), observasi, dokumentasi, dan studi kepustakaan.
Teknik ini dipilih karena memungkinkan peneliti untuk mendapatkan persepsi
narasumber berdasarkan sudut pandang narasumber sendiri serta mampu untuk
72
e-Proceeding | COMICOS 2017
menangkap pengalamannya dengan berbagai macam latar belakang (Gill, Treasure, dan
Chadwick, 2008 : 291. Narasumber dipilih dengan menggunakan metode non probability
sampling/ purpossive sampling. Narasumber adalah pelaku usaha UMKM di bekaslokalisasi Dolly Surabaya.
Taylor dalam Pujileksono menyatakan bahwa teknik analisis data secara
kualitatif merupakan sebuah proses dalam merinci, menemukan tema dan merumuskan
hipotesis atau ide (Pujileksono, 2014). Sementara Bogdan dan Biklen dalam Moleong
(2007) menyatakan bahwa analisis data adalah upaya yang dilakukan dengan cara
mengorganisasikan data, memilah-milah, mensintesiskan, mencari dan menemukan pola,
menemukan apa yang penting dan dipelajari, dan memutuskan apa yang diceritakan
kepada orang lain. Oleh karena itu dalam penelitian ini, data yang terkumpul kemudian
diorganisasikan dipilah, diberi kode dan dikategorikan berdasarkan jawaban yang
muncul untuk kemudian dimaknai dan disimpulkan.
Tabel 3. 1. Kerangka Berpikir
Pelaku Usaha
UMKM di Bekas
Lokalisasi Dolly
Indepth
Interview
Temuan Data
& Analisis 1:
Pengetahuan
narasumber
terhadap
teknonogi &
internet
Bagaimana
narasumber
memanfaatka
n teknologi
dan internet
terhadap
kegiatan
UMKM
Analisis2 :
Bagaimana
peranan
media online
terhadap
perkembanga
n UMKM di
Bekas
Lokalisasi
Dolly
Surabaya
Kesimpulan
Sosialisasi dan
pendampingan
pemanfaatan
media online
terhadap pelaku
UMKM di bekas
lokalisasi Dolly
(sumber : olahan data peneliti)
73
e-Proceeding | COMICOS 2017
III.
PEMBAHASAN
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu wawancara mendalam
(indepth interview) terhadap para pelaku UMKM di bekas Lokalisasi Dolly Surabaya.
Terdapat 20 narasumber yang peneliti temui, 12 diantara narasumber tersebut memiliki
latar belakang usia 17 s.d. 37, yang disebut sebagai generasi millennilas. 3 dari
narasumber berlatar belakang pendidikan SMP, 2 narasumber memiliki pendidikan akhir
sarjana, sedangkan sebagian besar narasumber, yaitu berjumlah 15 orang memiliki
pendidikan akhir SMA/SMK.
Narasumber yang peneliti temui merupakan pemilik atau pekerja dari UMKM
yang bergerak di bidang usaha produksi barang, seperti halnya makanan (kripik olahan
singkong, olahan ikan, olahan tempe, minuman rumput laut), ragam souvenir, pakaian,
batik, sepatu dan sandal. Dua dari dua puluh narasumber tersebut tidak dapat
menggunakan media online untuk mengembangkan promosi dan pemasaran UMKM,
sementara 18 narasumber lain mengaku sering menggunakan media online seperti halnya
facebook, instagram, bbm, whatsapp, bukalapak.com, olx dan lain-lain.
Tabel 4.1 : Data Narasumber pelaku UMKM di Bekas Lokalisasi Dolly
No
74
Nama
Jenis
kelamin
(L/P)
Usia
Profil Responden
Pendidikan
Jenis Usaha
1
Slamet Sugiono
L
53
SMA
2
Wahyu Ningsih
P
47
SMA
SAMIJALI
(Kripik
Olahan
Singkong)
SAMIJALI
3
P
44
SMK
SAMIJALI
4
R.R Dwi Prihatin
Yukastuli S
Nunik Mariani
P
49
SMP
SAMIJALI
5
Wahyu Aji Prakoso
L
23
S1
6
Mega Medua Latif
P
21
SMA
SIGQUEL
(Olahan
Ikan)
SIGQUEL
7
Ari Bumi Aji
L
37
SMA
8
Agus Wiyono
L
35
SMK
Art
Generation
and Digital
Print (Jasa
dan Produk
Souvenir)
Art
Generation
Pemanfaatan Media
Online
Instagram, Whatsapp,
bukalapak.com
Instagram, Whatsapp,
Bukalapak.com
Instagram, Whatsapp,
Bukalapak.com
Instagram, Whatsapp,
bukalapak.com
Instagram, Whatsapp,BBM
Bukalapak.com
Instagram, Whatsapp,BBM
Bukalapak.com
Instagram, Whatsapp, BBM,
Instagram, Whatsapp, BBM,
e-Proceeding | COMICOS 2017
9
Fitria Anggraini L
P
38
SMA
10
Febriani Vita W
P
17
SMP
11
Hariani
P
44
SMA
12
13
14
Gilang
Dedik Gimas
Trisapta Nugroho
L
L
L
22
31
22
SMA
SMA
S1
15
Kartono
L
54
SMA
16
Jarwo Susanto
L
37
SMK
17
Munasifa
P
30
SMP
18
Atik Triningsih
P
34
SMA
19
Yanu Triwijaya
P
40
SMA
20
Yani Fitria
P
26
SMA
and Digital
Print
Jarak Arum
(Batik Tulis)
Jarak Arum
ORUMI
(Minum
olahan
rumput laut)
ORUMI
ORUMI
Sentral
UMKM
KSM Kawan
Kami
Tempe Bang
Jarwo
(Olahan
tempe)
Tempe Bang
Jarwo
PJ
Collections
(Sepatu dan
sandal)
PJ
Collections
(Sepatu dan
sandal)
Dolly is
Dead
(pakaian)
Instagram, Whatsapp,
Facebook Bukalapak.com
Instagram, Whatsapp,
Facebook Bukalapak.com
OLX, Instagram, Whatsapp,
OLX, Instagram, Whatsapp,
OLX, Instagram, Whatsapp
OLX, Instagram, Whatsapp,
Bukalapak.com
Tidak menggunakan
Instagram, Facebook, Line
Instagram, Facebook, Line
BBM, WA, Bukalapak.com
BBM, WA, Bukalapak.com
Tidak menggunakan
4.1. Pertumbuhan UMKM di bekas Lokalisasi Dolly
Kawasan Dolly sebelumnya merupakan kawasan yang memiliki stigma buruk di
masyarakat luas. Hal tersebut bukan tanpa sebab, kegiatan prostitusi yang beroperasi
sejak puluhan tahun telah menimbulkan dampak yang negatif bagi masyarakat sekitar.
Degradasi sosial dan kultural merupakan permasalahan utama yang menjadi keprihatinan
bagi banyak pihak. Pada 20 Juni 2014, Pemerintah Kota Surabaya memutuskan untuk
menutup lokalisasi Dolly secara total.
Pascapenutupan lokalisasi Dolly, Pemerintah menjadikan kawasan ini sebagai
sentra UMKM untuk menanggulangi dampak ekonomi yang ditimbulkan. UMKM
terbukti memiliki peran penting dalam mengembangkan perekonomian nasional. Kondisi
tersebut dapat dilihat dari berbagai data yang menunjukan bahwa eksistensi UMKM
cukup dominan dalam perekonomian Indonesia, yaitu: pertama, Jumlah UMKM yang
besar dan terdapat dalam setiap sektor ekonomi. Menurut data BPS dan Kementrian
75
e-Proceeding | COMICOS 2017
Koperasi dan UMK, pada tahun 2005 tercatat jumlah UMKM adalah 44,69% atau 99,9%
dari jumlah total unit usaha (Sri Nastiti Andharini, 2012 : 122). Kedua, Potensinya yang
besar bagi penyerapan tenaga kerja. Pada tahun 2005, Sektor UMKM berhasil menyerap
83.233.793 orang atau 96,28% dari total penyerapan tenaga kerja. Pada tahun 2006,
jumlahnya meningkat sebesar 2,62% atau 2.182.700 orang (Tim CFISL, 2009 : 11).
Ketiga, Kontribusi UMKM bagi PDB (Produk domestik bruto). UMKM mampu
Menghasilkan PDB sebesar 59,08% (Rp4.869,57 Triliun), dengan laju pertumbuhan
sebesar 6,4% per tahun pada tahun 2012.
Peningkatan produktivitas UMKM di bekas Lokalisasi Dolly terus diupayakan
karena akan berdampak signifikan pada perbaikan kesejahteraan masyarakat di
kelurahan Putat Jaya. Saat ini, banyak UMKM bermunculan di wilayah tersebut, antara
lain SIGQueL, Art Generation & Digital Print, Jarak Arum, Orumy, Tempe Bang Jarwo,
PJ Collections, Dolly is Dead, KSM Kawan Kami dan Samijali. Beberapa UMKM ini
telah mampu menggerakan perekonomian di wilayah tersebut.
Peneliti menemukan bahwa UMKM di Kelurahan Putat Jaya dapat dikatakan
masih dalam tahap berkembang. Hal tersebut dikarenakan usia dari UMKM yang relatif
masih muda yaitu rata-rata sekitar 1 sampai dengan 4 tahun, sehingga dalam kegiatan
pemasaran produk maupun jasa masih terkendala oleh beberapa masalah, diantaranya :
1. Tidak adanya pembagian tugas yang jelas antar divisi pada beberapa UMKM di
bekas Lokalisasi Dolly. Dari 7 UMKM di kelurahan Putat Jaya yang peneliti
temui, terdapat 6 UMKM yang tidak memiliki pembagian tugas yang tertata
dengan baik sehingga beberapa job description dari pekerja mengalami tumpang
tindih. Hal tersebut disampaikan oleh salah satu narasumber yang merupakan
pengelola UMKM PJ Collections yaitu Atik.
“...Jadi peranan saya rangkap-rangkap, mulai dari belanja bahan baku, proses produksi,
sampai pemasaran. Selain itu, saya juga sebagai ketua paguyuban UMKM bekas
lokalisasi dolly ini.”
Sehari-hari Atik melakukan beberapa pekerjaan sekaligus, seperti membeli bahan
baku, melakukan proses produksi, hingga melakukan kegiatan pemasaran. Ia
merasa tidak adanya pembagian divisi yang jelas berdampak pada kinerja dan
76
e-Proceeding | COMICOS 2017
produktivitas dari UMKM miliknya.
2. Beberapa UMKM belum mempunyai status badan hukum. Selain itu, beberapa
UMKM mengakui belum sertifikasi kesehatan produk yang jelas. Hal tersebut
diperkuat dengan penjelasan dari Bani sebagai pemilik UMKM ORUMY.
Menurut Bani, usahanya mengalami kesulitan dalam pengurusan P-IRT
(Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga) yang dikeluarkan oleh
Dinas Kesehatan.
“ ... Usaha kami terkendala pada kepengurusan P-IRT yang dikeluarkan oleh Dinas
Kesehatan. Sehingga produk kami belum bisa menjangkau pemasaran yang lebih luas.”
Bani beranggapan bahwa jika mereka sudah memiliki P-IRT tentunya akan dapat
mempermudah pemasaran produknya. Lebih dari itu, sertifikasi P-IRT juga
penting guna mempengaruhi kepercayaan konsumen terhadap produk UMKM
miliknya.
3. Dalam bidang pemasaran, beberapa pelaku UMKM mengakui bahwa mereka
kurang menguasai kemampuan bahasa asing. Hal ini dapat berakibat
terkendalanya kegiatan komunikasi saat transaksi (jual beli) yang mereka lakukan
dengan konsumen dari luar negeri, seperti halnya wisatawan asing. Hal ini
dikeluhkan oleh Hariani salah satu pelaku UMKM, kesulitan komunikasi
seringkali terjadi pada saat melakukan transaksi dengan konsumen dari luar
negeri.
“... Dalam hal pemasaran, jika ada konsumen dari luar negeri kami mengalami kesulitan
dalam berkomunikasi, seperti pada saat pameran di Jatim Expo tahun lalu.”
Dari hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan Hariani, ia menyatakan
setuju bahwa penguasaan bahasa asing sangat diperlukan guna menunjang
pemasaran produk agar dapat menjangkau konsumen yang lebih luas .
4. Di sisi lain, keberadaan UMKM di bekas Lokalisasi Dolly dapat lebih
dikembangkan melalui pemanfaatan teknologi dan internet guna melakukan
aktivitas pemasaran. Seperti halnya memunculkan usaha berbasis startup digital.
Istilah Startup digital dapat diartikan sebagai suatu tindakan yang dilakukan
dalam membangun sebuah usaha baru yang berbasis teknologi dan internet. Dari
hasil wawancara yang dilakukan peneliti kepada beberapa narasumber,
ditemukan bahwa UMKM di bekas Lokalisasi Dolly belum menggunakan startup
digital. Namun semua UMKM yang ditemui peneliti di wilayah itu sudah
77
e-Proceeding | COMICOS 2017
memanfaatkan platform media sosial yang ada sebagai sarana pemasaran,
sehingga kegiatan pemasaran dan promosi kurang dapat dilakukan dengan
maksimal.
4.2. Pemanfaatan Teknologi dan Internet Pada Pemasaran Produk UMKM di
bekas Lokalisasi Dolly
Pelaku UMKM perlu memiliki strategi yang tepat guna untuk meningkatkan daya
saing dalam menghadapi persaingan pasar bebas yang semakin terbuka dan kompetitif.
Salah satunya adalah pemanfaatan teknologi dan internet, seperti media online. Pelaku
UMKM bisa mendapat informasi pasar dengan mudah dan cepat. Informasi pasar yang
lengkap dan akurat dapat dimanfaatkan UMKM untuk memperluas jangkauan wilayah
promosi dan pemasaran. Penggunaan media online dalam pemasaran dan promosi
memberikan kemudahan dan kecepatan dalam mengomunikasikan atau mempromosikan
usaha UMKM kepada konsumen secara luas baik dalam negeri maupun di luar negeri.
Dewasa ini kehadiran media siber dipandang sebagai bentuk cara berkomunikasi
baru. Gillmor (2004) menyatakan bahwa jika selama ini pola komunikasi terdiri dari oneto many atau dari satu sumber ke banyak audience (seperti buku, radio dan TV), dan pola
dari satu sumber ke satu audiences atau one-to-one (seperti telepon dan surat), maka pola
komunikasi yang ada di media siber bisa menjadi many-to-many dan few-to-few
(Nasrullah, 2014 : 23). Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo)
mengungkapkan bahwa 95 persen pengguna internet di Indonesia menggunakan internet
untuk mengakses jejaring sosial. Beberapa jejaring sosial yang populer di Indonesia
antara lain Facebook, Twitter, Path, dan Instagram.
Dari hasil indepth interview yang dilakukan oleh peneliti, ditemukan bahwa para
pelaku UMKM di bekas Lokalisasi Dolly telah memanfaatkan media online guna
memperluas jangkauan wilayah promosi dan pemasaran serta membuka akses kemitraan
dengan berbagai pihak. Salah satu faktor penting dalam pemanfaatan media online
dengan baik adalah penyampaian pesan yang informatif dan tepat sasaran. Pesan
merupakan hal penting yang harus diperhatikan dalam penggunaan media sosial. Fruh
(1980) mencatat beberapa point penting yang berkaitan dengan (pembentukan) pesan,
78
e-Proceeding | COMICOS 2017
antara lain 1.) Pesan harus berisi informasi; 2.) Informasi dikemas semenarik mungkin;
3.) Mengetahui audience (penerima pesan); 4.) efektifitas dan efisien pesan berkaitan
dengan audience dan receiver. (Nasrullah, 2014 : 42)
Dari delapan UMKM yang terdapat di bekas Lokalisasi Dolly, tujuh diantaranya
menggunakan media online dalam kegiatan promosi dan pemasarannya. UMKM tersebut
adalah SIGQUEL (Olahan Ikan), Art Generation and Digital Print (jasa dan produk
souvenir), Jarak Arum (batik tulis), ORUMI (minum olahan rumput laut), Tempe Bang
Jarwo (olahan tempe), dan PJ Collections (sepatu dan sandal).
Gambar 4.1. Fanspage Facebook pada UMKM Tempe Bang Jarwo
Pemanfaatan teknologi dan internet sebagai media promosi dan pemasaran serta
membuka akses kemitraan dengan berbagai pihak dilakukan oleh UMKM Tempe Bang
Jarwo, yang membuat akun usaha dalam bentuk fanspage di facebook. Dalam info
fanspage facebook tersebut, admin menyajikan informasi tentang harga produk tempe
dan varian rasa (e.g. extra pedas, balado dan original).
Munasifa, salah satu pelaku UMKM di Tempe Bang Jarwo yang peneliti temui
menjelaskan bahwa peran dari media sosial sangat membantu dalam pemasaran produk.
Media online sebagai bentuk dari kemajuan teknologi untuk memudahkan interaksi atau
memberikan wadah bagi individu tanpa ada batasan waktu dan tempat. Dengan
demikian, memanfaatkan media sosial dalam pemasaran produk dapat meningkatkan
jangkauan masyarakat.
“...kami menambah cara pemasaran dengan menggunakan media online (Instagram, Line,
79
e-Proceeding | COMICOS 2017
Facebook). Kami merasa pemasaran produk ini harus lebih luas lagi, oleh karena itu kami
menggunakan media-media tersebut guna meningkatkan jangkauan produk.”
Munasifa juga menambahkan dari penjelasannya bahwa pengaruh yang
ditimbulkan dari media online berdampak pada peningkatan omset yang diperoleh dari
UMKM Tempe Bang Jarwo. Sehingga nantinya diharapkan UMKM tersebut dapat
berkembang dan lebih dikenal.
“...dahulu omset perbulan kami hanya 3 jutaan, namun setelah produk kami lebih dikenal, dalam
satu bulan kami dapat meraup omset 8 s.d. 10 juta rupiah. Salah satu penyebabnya mungkin
karena media-media yang kami gunakan. Sehingga produk kami lebih dikenal.”
Gambar 4.2. UMKM Samijali menggunakan pemasaran Endorsment di Instagram
Serupa dengan yang dilakukan oleh UMKM Samijali yang menggunakan cara
endorsment dalam pemasaranya. Hal ini dilakukan dengan cara melibatkan akun lain
untuk memberikan testimoni, ajakan persuasif, dan informasi produk. Cara ini dipilih
karena, akun tersebut memiliki pengikut (followers) yang berbeda dengan yang dimiliki
oleh akun UMKM Samijali. Dengan adanya perbedaan pengikut, dapat dipastikan
informasi tentang produk bisa dijangkau oleh pengguna instagram yang lebih luas.
Gambar 4.3. SIGQuEL menggunakan teknik pemotretan kreatif dalam konten foto yang diposting di
media Facebook.
80
e-Proceeding | COMICOS 2017
Di sisi lain, untuk menambah daya tarik calon konsumen UMKM SIGQuEL
menggunakan jasa foto studio untuk menambah daya tarik foto produk yang ditampilkan
di akun facebooknya. SIGQuEL merupakan UMKM jenis usaha olahan ikan di bekas
Lokalisasi Dolly yang sudah memanfaatkan jejaring sosial guna promosi dan
pemasarannya, seperti halnya Instagram, Whatsapp, BBM Bukalapak.com
Dari hasil indepth inteview yang dilakukan oleh peneliti terhadap pelaku UMKM
lainnya di bekas lokalisasi Dolly, terdapat pula memiliki keinginan untuk melakukan
pemasaran produk melalui startup digital. Seperti yang disampaikan oleh Wahyu Aji
selaku divisi public relation dari UMKM SIGQueL. Beliau mengungkapkan bahwa
jangkauan pemasaran produk bisa lebih ditingkatkan melalui website (startup digital)
dibanding pemasaran secara offline.
“...Semoga SIGQueL semakin menghasilkan banyak varian produk, laris, dan semakin
berkembang. Kami juga berharap untuk memiliki website company sendiri.”
Startup digital merupakan salah satu wadah yang dapat memberikan keuntungan
seperti mempermudah aspek promosi, dan meningkatkan kemampuan UMKM dalam
melakukan koordinasi dengan pihak luar seperti calon konsumen. Istilah startup
seringkali dikaitkan dengan entreprenuer, teknologi dan internet. Startup merupakan
serapan dari bahasa Inggris yang diartikan sebagai proses atau aksi awal yang dilakukan
dalam membangun sebuah usaha baru. Pada era teknologi saat ini, kegiatan startup
cenderung dilakukan dengan menggunakan akses internet atau online. Di dunia, google
dan facebook merupakan salah satu bentuk startup digital global yang mampu menarik
perhatian publik sejak awal kemunculannya. Google Inc. merupakan sebuah perusahaan
multinasional Amerika Serikat yang menjual layanan jasa dan produk internet. Facebook
sendiri merupakan sebuah perusahaan yang menyediakan layanan jejaring sosial dan
sebagian besar pendapatannya berasal dari periklanan.
Di Indonesia, beberapa perusahaan berbasis startup digital mendapatkan
perhatian tersendiri di masyarakat Indonesia. Perusahaan startup digital seringkali
dikembangkan oleh technopreneur yang masih usia muda. Diantaranya adalah Kaskus,
Nulisbuku.com, layanan transportasi online seperti halnya GoJek, Grab Taxi, Uber dan
lain-lain, bahkan ragam platform aplikasi pemesanan jasa makanan secara online.
Brilliant Yotenega, founder NulisBuku.com – The Biggest Online Self-Publishing,
menuliskan bahwa alangkah indahnya jika setiap startup dibangun dengan sebuah alasan
81
e-Proceeding | COMICOS 2017
yang kuat dan bermakna bagi seluruh tim yang membangunnya, serta layanannya
berguna bagi setiap penggunanya. Startup tersebut akan menjadi a meaningful startup.
(Yotenega, 2016 : 3)
Tahun lalu, Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia
meluncurkan Gerakan Nasional 1.000 Startup Digital. Menurut Putra dalam tulisannya
berjudul “Gerakan 1000 Startup Digital Akan Ciptakan 1000 Startup di Indonesia Dalam 5
Tahun” (2016), latar belakang diselenggarakannya gerakan ini karena potensi industri
digital di Indonesia yang saat ini ada di sekitar 93.4 juta pengguna internet dan 71 juta
pengguna perangkat telepon pintar di Indonesia. Gerakan ini menjadi rintisan bagi
perusahaan berbasis digital yang dapat berkembang dan mempengaruhi pertumbuhan
perekonomian Indonesia di masa yang akan datang. Gerakan 1000 startup digital
merupakan salah satu strategi yang dijalankan guna memberikan pembekalan dan
pembinaan terhadap para technopreneur. Gerakan nasional ini akan dilaksanakan di 10
kota pertama; Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Semarang, Malang, Medan,
Bali, Makassar dan Pontianak.
Kehadiran technopreneur dalam menjalankan industri berbasis digital diharapkan
akan mampu mengembangkan UMKM yang berada di bekas Lokalisasi Dolly Surabaya.
Adanya startup digital UMKM tersebut berpotensi memperkuat dan meningkatkan
perekonomian masyarakat setempat.
4.3. Perubahan Citra Wilayah Dolly Menjadi Sentra UMKM di Kelurahan Putat
Jaya
Pada perkembangannya, pelaku UMKM di Bekas Lokalisasi Dolly Surabaya
telah memanfaatkan media online sebagai salah satu sarana promosi dan pemasaran.
Promosi dan pemasaran tidak hanya dapat membuka akses kemitraan dengan berbagai
pihak juga dapat menginformasikan kondisi Dolly saat ini. Sebelumnya, kawasan Dolly
dikenal sebagai suatu wilayah yang memiliki citra sebagai tempat prostitusi, sebelum
akhirnya sekarang ditutup oleh Pemerintah Kota Surabaya.
Dari hasil indepth interview yang dilakukan oleh peneliti, ditemukan bahwa para
pelaku UMKM di bekas Lokalisasi Dolly tetap menggunakan identitas “Dolly” dalam
kegiatan promosi dan pemasaran, antara lain
Gambar 4.4. Akun Instagram pada UMKM Tempe Bang Jarwo
82
e-Proceeding | COMICOS 2017
Pada akun Instagram Tempe Bang Jarwo, ditampilkan informasi bahwa tempe
buatan mereka merupakan 100% hasil produksi warga Dolly. Peneliti memaknai bahwa
kata tersebut merujuk pada salah satu upaya yang dilakukan oleh UMKM Tempe Bang
Jarwo untuk meyakinkan calon konsumen bahwa produk tempe buatan mereka
sepenuhnya buatan warga Dolly.
“Tempe Sehat Surabaya 100% Produksi warga dolly 100% Kedelai murni Bertahan 2-4 hari”
Selain memberi kesan ingin memperkenalkan wajah “Dolly” yang baru kepada
masyarakat luas, akun Instagram Tempe Bang Jarwo juga menampilkan kreativitas foto
produk yang sehingga dapat menarik perhatian bagi calon konsumen yang berkunjung di
akun Instagram mereka.
Gambar 4.5. UMKM Samijali pada platform berbagi foto dan video Instagram.
Samijali atau Samiler Jarak Dolly merupakan salah satu UMKM yang
memanfaatkan media sosial pada kegiatan promosi dan pemasarannya. Pada akun
Instagramnya, UMKM Samijali menampilkan informasi kontak melalui bio pada akun
Instagramnya. Informasi tersebut berisikan tentang nomor telefon narahubung, alamat
dan Id LINE sehingga memudahkan calon konsumen dalam melakukan pemesanan
terhadap produknya.
Dari hasil indepth interview yang dilakukan oleh peneliti, pemakaian nama
“Samiler Jarak Dolly” sebagai nama produk bukan hanya sebuah kebetulan, melainkan
memiliki tujuan tertentu. Hal ini disampaikan oleh Slamet selaku pemilik UMKM
Samijali. Beliau mengungkapkan bahwa penggunaan nama “Samiler Jarak Dolly”
83
e-Proceeding | COMICOS 2017
merupakan salah satu cara menginformasikan kepada masyarakat akan perubahan citra
Dolly yang sekarang menjadi Sentra UMKM.
“...Ya alasannya agar pelanggan bisa mudah mengingat nama produk kami kan kata
Dolly sudah banyak yang tahu dan masyarakat bisa tau kalau Samiler itu dari Dolly yang sekarang
jadi Sentra UMKM.”
IV.
PENUTUP
Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa para pelaku UMKM di bekas
Lokalisasi Dolly telah memanfaatkan media online guna mengembangkan usahanya.
Peneliti menemukan peranan media online terhadap UMKM di bekas lokalisasi Dolly
Surabaya, berupa 1.) Memperluas jangkauan wilayah promosi dan pemasaran; 2.)
Membuka akses kemitraan dengan berbagai pihak; 3.) Menunjukan eksistensi sentra
UMKM di bekas lokalisasi Dolly; 4.) Mengubah image Dolly yang semula dikenal
sebagai wilayah prostitusi menjadi salah satu sentral UMKM berkembang di Surabaya.
Dari delapan UMKM yang terdapat di bekas Lokalisasi Dolly, tujuh diantaranya
yang menggunakan media online dalam kegiatan promosi dan pemasarannya. UMKM
tersebut adalah SIGQUEL (Olahan Ikan), Art Generation and Digital Print (jasa dan
produk souvenir), Jarak Arum (batik tulis), ORUMI (minum olahan rumput laut), Tempe
Bang Jarwo (olahan tempe), dan PJ Collections (sepatu dan sandal). Media online yang
UMKM gunakan antara lain Facebook, Instagram, OLX, dan Bukalapak.com sebagai
media promosi dan pemasaran. Namun, di dalam kegiatan pemasaran produk maupun
jasa masih terkendala oleh beberapa masalah, diantaranya : 1) Beberapa UMKM tidak
memiliki pembagian tugas yang jelas antar divisi; 2) UMKM belum mempunyai status
badan hukum dan sertifikasi kesehatan produk yang jelas; 3) Pelaku UMKM kurang
menguasai kemampuan bahasa asing dan terhambat dalam proses negosiasi dengan
konsumen luar negeri.
Peneliti juga menemukan keterlibatan pelaku UMKM yang berusia 17-37 tahun
(disebut sebagai generasi millennials) di bekas Lokalisasi Dolly tinggi karena semua
UMKM di wilayah Putat Jaya telah memberdayakan usia millennials yang berperan
sebagai pemilik maupun pekerja. Rendahnya tingkat pendidikan, keterampilan, dan
pengetahuan para pelaku UMKM yang berusia millenials sering kali menjadi kendala
terhadap optimalisasi pemanfaatan teknologi dan internet di era persaingan global.
Meskipun demikian peneliti meyakini adanya potensi terhadap kehadiran technopreneur
84
e-Proceeding | COMICOS 2017
dalam menjalankan industri berbasis digital. Di sisi lain, peranan media online dan
UMKM berpeluang untuk mengembangkan produktifitas dari generasi millennials yang
merupakan usia produktif di bekas Lokalisasi Dolly sehingga dapat memperkuat dan
meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. Hal tersebut juga dapat berguna bagi
generasi millennials dalam menghadapi globalisasi dan pasar bebas.
Sehubungan dengan hasil penelitian diatas, peneliti menyampaikan sejumlah
saran sebagai berikut :
1. Mengadakan sosialisasi kepada pelaku UMKM khususnya usia millennials
tentang pentingnya media online sebagai media pemasaran dari UMKM di
bekas Lokalisasi Dolly.
2. Mengadakan pelatihan tentang penggunaan media online sebagai media
pemasaran dari UMKM di bekas Lokalisasi Dolly. Pelatihan tersebut harus
dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan.
3. Pembentukan kader digital di bekas Lokalisasi Dolly dengan tujuan dapat
memantau kegiatan UMKM yang berbasis digital.
4. Ikut berpartisipasi dalam program 1.000 UMKM Go-Digital dari Pemerintah
guna memperluas jangkauan pemasaran.
85
e-Proceeding | COMICOS 2017
DAFTAR RUJUKAN
Buku
Moertiningsih, Sri. 2005, Bonus Demografi : Hubungan Antara Pertumbuhan Penduduk
dengan Pertumbuhan Ekonomi, Jakarta : BKKBN.
Moleong, Lexy J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Rosda
Nasrullah, Rulli. 2014. Teori dan Riset Media Siber. Jakarta : Kencana Prenadamedia
Group
Pujileksono, Sugeng. 2014. Modul Penelitian Komunikasi, Surabaya : Progdi Ikom
FISIP UPN Veteran Jawa Timur.
Samovar, Larry A., Richard e. Porter, Edwin R. McDaniel, 2010, Komunikasi Bisnis
Lintas Budaya : Communication Between Cultures, Jakarta, Salemba
Humanika
Setiadi, 2003, Perilaku Konsumen : Konsep dan Implikasi Untuk Strategi dan Penelitian
Pemasaran, Jakarta, Kencana Prenada Media Group
Sebastian, Yoris. 2016, Generasi Langgas, Millennials Indonesia. Jakarta : Gagas
Media.
Siswanto, Tito, 2013. Optimalisasi Sosial Media sebagai Media Pemasaran Usaha Kecil
Menengah, Jurnal Liquidity, vol 2, no 1
Stewart K, Gill.P., Treasure, E. & Chadwick B. 2008, Methods of data collection in
qualitative research : interview and focus group, British Dental Journal,
204 (6).
Yotenega , Brilliant. 2016. Building a Meaningful Startup. Solo : Metagraf.
Non-Buku
Jati, Warsito Raharjo. 2015. Bonus Demografi Sebagai Mesin Pertumbuhan Ekonomi :
Jendela Peluang atau Jendela Bencana di Indonesia, Jurnal Populasi,
Volume
23
Nomor
1.
https://jurnal.ugm.ac.id/populasi/article/download/8559/6591
2015,
(diakses tanggal 13 Juli 2017)
P. Mershon, 2011. Small Businesses Moving Toward Social Media. Retrieved March
2012, 7 from Social Media http://www.socialmediaexaminer.com/2686
e-Proceeding | COMICOS 2017
promising- social-media-statsfor-small-businesses/ (diakses tanggal 10
Juli 2017)
Putra, Adhitya Wibawa. 2017. Gerakan 1000 Startup Digital Akan Ciptakan 1000
Startup di Indonesia Dalam 5 Tahun, https://teknojurnal.com/gerakan1000-startup-digital-akan-ciptakan-1000-startup-di-indonesia-dalam-5tahun/ (diakses tanggal 5 Juli 2017)
Rendhik Andika, Kadin. 2017. UMKM Perluas Pemasaran Melalui Internet,
http://www.antaranews.com/berita/624610/kadin-umkm-perluaspemasaran-melalui-internet (diakses tanggal 2 Juli 2017)
Ryan,
E,
2012. How Effective Social Media Is For Small Business,
http://soshable.com/how-effective-social-media-is-for- smallbusinessesinfograph (diakses tanggal 4 Juli 2017)
Sudaryanto, Ragimun, dan Waijayanti, Rahma Rina. 2016. Strategi Pembedayaan
UMKM
Menghadapi
PasarBebas
Asean.
http://www.kemenkeu.go.id/sites/default/files/Strategi%20Pemberdayaa
n%20UMKM.pdf (diakses tanggal 10 Juli 2017)
87
e-Proceeding | COMICOS 2017
88
e-Proceeding | COMICOS 2017
AKTIVITAS KOMUNITAS BANDUNG CREATIF CITY FORUM (BCCF)
DALAM
MENGEMBANGANKAN INDUSTRI KREATIF DI KOTA BANDUNG
Iwan Koswara, Kismiyati El karimah
Universitas Padjadjaran
[email protected]
Abstrak
Bandung Creative City Forum (BCCF) atau Perkumpulan Komunitas Kreatif
Kota Bandung adalah sebuah forum dan organisasi lintas komunitas kreatif yang di
deklarasikan dan didirikan oleh berbagai komunitas kreatif di kota Bandung pada
tanggal 21 Desember 2008. Sebagai organisasi resmi, BCCF telah menjelma menjadi
sebuah organisasi mandiri yang memiliki tujuan untuk dapat memberikan manfaat bagi
masyarakat pada umumnya dan komunitas kreatif di kota Bandung khususnya. Dalam
setiap aktivitasnya, BCCF menggunakan pendekatan pendidikan berbasis kreativitas,
perencanaan dan perbaikan infrastruktur kota sebagai sarana pendukung pengembangan
ekonomi kreatif dan menciptakan wirausaha-wirausaha kreatif baik perorangan atau
komunitas. Dalam menunjang pengembangan sektor kreatif, BCCF membentuk suatu
media networking yang bernama CEN (Creative Entrepreneur Network) yang
merupakan salah satu strategi branding dalam memasarkan produk-produk kreatif yang
dihasilkan oleh para wirausahawan kreatif Kota Bandung. Berdasarkan hal tersebut
penulis melakukan suatu kajian melalui pendekatan deskriptif kualitatif ;yaitu proses
penyelidikan untuk memahami masalah sosial/manusia, berdasarkan penggambaran
holistik atas permasalahan yang dihadapi. Hasil kajian menunjukkan bahwaforum ini
turut serta menginisiasi pengembangan strategi branding dan membangun network yang
seluas-luasnya sebagai upaya kolektif demi mentahbiskan kota Bandung sebagai kota
kreatif yang siap berkolaborasi sekaligus berkompetisi secara global.
Kata Kunci : BCCF, Industri Kreatif. Kota Bandung
PENDAHULUAN
Kota Bandung sebagai salah satu kota dan Ibu kota Provinsi Jawa Barat, yang
banyak melahirkan insan-insan inovatif dan kreatif, telah membangun suatu komunitas
yang bergiat dalam sektor industri kreatif, yakni Bandung Creatif City Forum (BCCF)
atau perkumpulan komunitas kreatif kota Bandung adalah sebuah forum dan organisasi
lintas komunitas kreatif yang dideklarasikan dan didirikan oleh berbagai komunitas
kreatif kota Bandung pada tanggal 21 Desember 2008. Sebagai organisasi resmi, BCCF
telah menjelma menjadi sebuah organisasi mandiri yang memiliki tujuan untuk dapat
memberikan manfaat bagi masyarakat pada umumnya dan komunitas kreatif di kota
89
e-Proceeding | COMICOS 2017
Bandung Khususnya. Lahirnya BCCF ini tidak lepas dari campur tangan Wali kota
Bandung sebagai penggagas dan sekaligus ketua pertama yang memimpin komunitas
tersebut sebelum terpilih menjadi wali kota Bandung periode 2013-2018. Dimana
aksesisbilitas BCCF ini memiliki peran penting dalam menunjang dan mengembangkan
industri kreatif kota Bandung. (BCCF, 2015).
Dalam situasi kompetitip yang semakin tinggi, Kota Bandung
dituntut untuk
meningkatkan daya saing dari semua aspek, karena dengan meningkatkan daya saing ini,
kota Bandung diharapkan dapat menarik minat wisatawan baik domestik maupun manca
negara untuk berkunjung ke Kota Bandung, dan dengan demikian tentunya gerak langkah
atau aktivitas BCCF, sangat diharapkan sekali dalam mendongkrak sektor industri
kreatif ini, sebagai salah satu sektor pendapatan anggaran daerah (PAD) kota Bandung.
Oleh karena itu, penulis memandang penting tentang keberadaan BCCF, dalam
kiprahnya bersama pemerintah kota Bandung untuk mengembangkan program Bandung
sebagai kota industri kreatif.
Dalam setiap aktivitasnya, BCCF menggunakan pendekatan pendidikan
berbasis kreativitas, perencanaan dan perbaikan infrastruktur kota sebagai sarana
pendukung pengembangan ekonomi kreatif dan menciptakan wirausaha-wirausaha
kreatif baik perorangan atau komunitas. Pada akhirnya forum ini turut serta
menginisiasi pengembangan strategi branding dan membangun network yang seluasluasnya sebagai upaya kolektif demi mentahbiskan kota Bandung sebagai kota kreatif
yang siap berkolaborasi sekaligus berkompetisi secara global (Bandung Creative City
Forum, 2015).
Apa yang dilakukan oleh komunitas BCCF ini sejalan dengan apa yang menjadi
program kegiatan dari Pemerintahan Kota Bandung dalam Pengembangan Kota Bandung
90
e-Proceeding | COMICOS 2017
sebagai “kota kreatif”. Secara formal, Pemerintah Kota Bandung menuangkan kebijakan
Kota Bandung sebagai kota kreatif mulai dalam Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Daerah (RJPMD) KotaBandung 2008-2013.Upaya pengembangan potensi
ekonomi kreatif bukanlahkebijakan tanpa dasar. Dalam kajian Kementerian
Pariwisatadan Ekonomi Kreatif, sumbangan ekonomi kreatifsebesar 4,75% pada 2006
dengan pertumbuhan ekonominasional sebesar 5.6%. Sektor ekonomi kreatif
jugamampu menyerap sekitar 3,7 juta tenaga kerja, setaradengan 4,7% total penyerapan
tenaga kerja baru. Pada2008 perkembangannya memberi kontribusi PDB sebesar7,28%
dan mencipta lapangan kerja sebesar 7.686.410.Dalam kurun 2009 s/d 2014,
Kemenparekraf memproyeksikankontribusi sebesar 6 – 10% (Komite Kreatif Bandung,
2014).
Berdasarkan paparan tersebut, penulis tertarik untuk mengkaji lebih dalam
mengenai
Aktivitas komunitas Bandung Creative City Forum
(BCCF) dalam
mengembangkan industri kreatif di Kota Bandung.
TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan pemaparan latar belakang di atas, maka terdapat tujuan penulisan yaitu
sebagai berikut:
1.
Strategi apa yang diterapkan BCCF dalam mengembangkan Industri Kreatif
2. Bagaimana implementasi kegiatan BCCF, melalui pendekatan CEN dalam
pengembangan Industri Kreatif Kota Bandung.
KAJIAN PUSTAKA
1 Konsep Ekonomi dan Industri Kreatif.
Ekonomi kreatif merupakan era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan
91
e-Proceeding | COMICOS 2017
kreativitas dengan mengandalkan ide dan stock of knowledge dari sumber daya
manusia sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonomi. Ekonomi kreatif
merupakan wujud dari upaya mencari pembangunan yang berkelanjutan melalui
kreativitas. Berkelanjutan diartikan sebagai suatu iklim perekonomian yang berdaya
saing dan memiliki cadangan sumberdaya yang terbarukan. Pesan besar yang
ditawarkan ekonomi kreatif adalah pemanfaatan cadangan sumberdaya yang bukan
hanya terbarukan, bahkan tak terbatas, yaitu ide, talenta dan kreativitas. Dalam
ekonomi kreatif itu sendiri terdapat bagian yang tidak terpisahkan dari ekonomi
kreatif, yaitu industri kreatif. (Departemen Perdagangan RI, 2008).
Menurut Howkins (Warta Ekonomi, No.12/Tahun XX/9 Juni (2008) ekonomi
kreatif merupakan segala kegiatan ekonomi yang menjadikan kreativitas (kekayaan
intelektual), budaya dan warisan budaya maupun lingkungan sebagai tumpuan masa
depan. Simatupang (2007) menjelaskan bahwa ekonomi kreatif merupakan sistem
kegiatan lembaga dan manusia yang terlibat dalam produksi, distribusi, pertukaran dan
konsumsi barang dan jasa yang bernilai kultural, artistik, dan hiburan. Pelanggan
mempunyai ikatan estetika, intelektual, dan emosional yang memberikan nilai terhadap
produk kreatif di pasar (Bappeda Kota Salatiga, 2010). Jerusalem (2009), menjelaskan
bahwa industri kreatif adalah industri yang mempunyai keaslian dalam kreatifitas
individual, ketrampilan dan bakat yang mempunyai potensi untuk mendatangkan
pendapatan dan penciptaan lapangan kerja melalui eksploitasi kekayaan intelektual
(Bappeda Kota Salatiga, 2010). Hardjowisastro (2009) mengemukakan bahwa Industri
Kreatif dapat diartikan sebagai sebuah industri yang mempunyai ide-ide baru, SDM
yang kreatif dan juga mempunyai kemampuan dan bakat yang terus dikembangkan
dalam menyelesaikan setiap pekerjaan. Demikian pula Dewi (2009) menjelaskan
92
e-Proceeding | COMICOS 2017
bahwa industri kreatif berasal dari ide yang merupakan sumber daya yang selalu
terbaharukan. Berbeda dengan industri yang bermodalkan bahan baku fisikal, industri
kreatif bermodalkan ide-ide kreatif, talenta dan keterampilan (Bappeda Kota Salatiga,
2010).
Menurut United Nations Conference on Trade and Development/ UNCTAD
(2008) dalam Mohammad Adam Jerusalem (2009), industri kreatif adalah : (1) siklus
kreasi, produksi, dan distribusi dari barang dan jasa yang menggunakan
modal
kreatifitas dan intelektual sebagai input utamanya; (2) bagian dari serangkaian aktivitas
berbasis pengetahuan, berfokus pada seni, yang berpotensi mendatangkan pendapatan
dari perdagangan dan hak atas kekayaan intelektual; (3) terdiri dari produk-produk yang
dapat disentuh dan intelektual yang tidak dapat disentuh atau jasa-jasa artistik dengan
muatan kreatif, nilai ekonomis, dan tujuan pasar; (4) bersifat lintas sektor antara seni,
jasa, dan industri; dan (5) bagian dari suatu sektor dinamis baru dalam dunia
perdagangan.(Bappeda Kota Salatiga, 2010).
Beberapa penelitian terkait dengan ekonomi kreatif dapat dikemukakan sebagai
berikut. Kathrin Muller, Christian Rammer, dan Johannes Truby (2008)
mengemukakan tiga peran industri kreatif terhadap inovasi ekonomi dalam
penelitiannya di Eropa. Yang pertama, industri kreatif adalah sumber utama dari ideide inovatif potensial yang berkontribusi terhadap pembangunan/inovasi
produk
barang dan jasa. Kedua, industri kreatif menawarkan jasa yang dapat digunakan
sebagai input dari aktivitas inovatif perusahaan dan organisasi baik yang berada di
dalam lingkungan industri kreatif maupun yang berada diluar industri kreatif. Terakhir,
industri kreatif menggunakan teknologi secara intensif sehingga dapat mendorong
inovasi dalam bidang teknologi tersebut. Industri kreatif digambarkan sebagai kegiatan
93
e-Proceeding | COMICOS 2017
ekonomi yang berkeyakinan penuh pada kreativitas individu.
Pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia dibagi menjadi 2 tahap, yaitu tahap
penguatan pondasi dan pilar ekonomi kreatif (tahun 2009-2014), dan tahap akselerasi
ekonomi kreatif (2015-2025). Sasaran ekonomi kreatif nasional yang hendak dicapai
hingga tahun 2025 adalah sebagai berikut: (1) Kontribusi PDB industri kreatif
mencapai 9-11% PDB nasional dengan syarat pertumbuhan rata-rata 9-11%; (2)
Kontribusi ekspor industri kreatif mencapai 12-13% ekspor nasional, dengan syarat
pertumbuhan rata-rata 10-12% ; (3) kontribusi tenaga kerja industri kreatif mencapai 911% tenaga kerja nasional; (4) Jumlah perusahaan industri kreatif meningkat 3-4 kali
jumlah perusahaan industri kreatif tahun 2006; (5) Melanjutkan mendukung laju
deforestasi berdasarkan kesepakatan baru pasca Kyoto 2012; (6) Mempertahankan
pertumbuhan paten domestik terdaftar sebesar 4%; (7) Mempertahankan pertumbuhan
hak cipta domestik terdaftar sebesar 38,94%; (8) Mempertahankan pertumbuhan merk
domestik terdaftar sebesar 6%; (9) Mempertahankan pertumbuhan desain industri
domestik terdaftar sebesar 39,7%; (10) Menumbuh kembangkan 7 kawasan kreatif
potensial di wilayah indonesia (1 kawasan per tahun); (11) Menciptakan 325 merk lokal
baru yang sudah ada, yang terpercaya dan telah secara legal terdaftar di dirjen HKI di
Indonesia dan juga di kantor paten negara tujuan ekspor.
Sasaran jangka panjang pengembangan ekonomi kreatif nasional sampai dengan
tahun 2025 adalah sebagai berikut: (1) Insan kreatif dengan pola pikir dan moodset
kreatif; (2) Industri yang unggul di pasar dalam dan luar negeri, dengan peran dominan
wirausahawan lokal; (3) Teknologi yang mendukung penciptaan kreasi dan terjangkau
oleh masyarakat Indonesia; (4) Pemanfaatan bahan baku dalam negeri secara efektif
bagi industri di bidang
94
ekonomi kreatif; (5) Masyarakat yang menghargai Hak
e-Proceeding | COMICOS 2017
Kekayaan Intelektual (HKI) dan mengkonsumsi produk kreatif lokal; (6) Tercapainya
tingkat kepercayaan yang tinggi oleh lembaga pembiayaan terhadap industri di bidang
ekonomi kreatif sebagai industri yang menarik.
2. Komunikasi Pemasaran
Dalam upaya pengembangan ekonomi dan industri kreatif, salah satu aspek yang
harus ada dan berfungsi dengan baik adalah komunikasi pemasaran. Komunikasi
pemasaran pada prinsipnya merupakan “Ujung Tombak” bagi organisasi untuk
memperkenalkan, mempengaruhi, mendorong,
dan mengarahkan
pengambilan
keputusan audiens (konsumen) tentang produk, merek dan nama organisasi, sehingga
audiens bertindak sesuai dengan tujuan organisasi. Terence A. Shimp (2003) mengatakan
bahwa “ komunikasi pemasaran adalah aspek penting dalam keseluruhan misi pemasaran
serta penentu suksesnya pemasaran. Marketing communications is a management
process through which an organisation engages with its various audiences. Through an
understanding of an audience’s preferred communication environments, organisations
seek to develop and present messages for its identified stakeholder groups, before
evaluating and acting upon any responses. By conveying messages that are of significant
value, audiences are encouraged to offer attitudinal, emotional and behavioural
responses. (Fill, 2009:16).
Shimp (2003) menjelaskan bahwa setiap organisasi
pemasaran bertujuan untuk meraih konsumen, agar mereka memilih produknya. Oleh
karena itu, pesan harus dirancang untuk membangkitkan keinginan terhadap suatu
kategori produk, atau usaha menciptakan permintaan.Dengan demikian, pesan harus
dirancang untuk menciptakan kesadaran terhadap merek serta dapat mempengaruhi sikap
dan niat positif terhadap merek.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif.
Menurut
Cresswell (2002 : 1), Penelitian kualitatif merupakan proses penyelidikan untuk
memahami masalah sosial atau masalah manusia, berdasarkan penggambaran holistik
atas masalah tersebut yang dibentuk dengan kata-kata, melaporkan dengan terperinci
sesuai sudut pandang informan, dan disusun dalam latar ilmiah. Istilah deskriptif
95
e-Proceeding | COMICOS 2017
ditujukan untuk mendeskripsikan fenomena-fenomena yang ada dapat berupa bentuk,
aktivitas, karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan, dan perbedaan antara fenomena
yang satu dengan fenomena lainnya. Paramita (2015)
Penelitian kualitatif merupakan proses penyelidikan untuk memahami masalah
sosial atau masalah manusia, berdasarkan penggambaran holistik atas masalah tersebut
yang dibentuk dengan kata-kata, melaporkan dengan terperinci sesuai sudut pandang
informan, dan disusun dalam latar ilmiah. Istilah deskriptif ditujukan untuk
mendeskripsikan fenomena-fenomena yang ada dapat berupa bentuk, aktivitas,
karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan, dan perbedaan antara fenomena yang
satu dengan fenomena lainnya. Penelitian deskriptif kualitatif memerlukan kualifikasikualifikasi yang memadai. Pertama, peneliti harus memiliki sifat reseptif. Ia harus selalu
mencari, bukan menguji, Kedua, ia harus memiliki kekuatan integratif, kekuatan untuk
memadukan berbagai macam informasi yang diterimanya menjadi satu kesatuan
penafsiran yang tepat. Jadi penelitian deskriptif kualitatif ini bukan saja menjabarkan,
tetapi juga memadukan. Bukan saja klasifikasi, tetapi juga organisasi, maksudnya data
tersebut tidak hanya dipaparkan secara gamblang namun dipadukan disangkutpautkan
dengan data lain yang berhubungan sehingga menjadi suatu temuan lapangan yang dapat
menggambarkan secara jelas fenomena yang diteliti. (Nugraha dan Romli, 2012 :
12).Adapun teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur mengumpulkan
data dengan membaca dan mempelajari teori-teori serta kajian literatur–literatur yang
berkaitan dengan tema yang diangkat, adapun teori-teori dan literatur-literatur tersebut
bersumber dari buku, jurnal, maupun internet.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1.Strategi BCCF Dalam Pengembangan Industri Kreatif
96
e-Proceeding | COMICOS 2017
salah satu daya tarik Kota Bandung adalah adanya Industri kreatif. Keberadaan
industri kreatif di kota bandung tidak bisa lepas dengan hadirnya sebuah komunitas
yang bergiat dalam sektor industri kreatif yaitu; Bandung Creative City Forum (BCCF),
adalah sebuah forum dan organisasi lintas komunitas kreatif yang di deklarasikan dan
didirikan oleh berbagai komunitas kreatif di kota Bandung pada tanggal 21 Desember
2008. Sebagai organisasi resmi, BCCF telah menjelma menjadi sebuah organisasi
mandiri yang memiliki tujuan untuk dapat memberikan manfaat bagi masyarakat pada
umumnya dan komunitas kreatif di kota Bandung khususnya. Dalam setiap
aktivitasnya, BCCF menggunakan pendekatan pendidikan berbasis kreativitas,
perencanaan dan perbaikan infrastruktur kota sebagai sarana pendukung pengembangan
ekonomi kreatif dan menciptakan wirausaha-wirausaha kreatif baik perorangan atau
komunitas. Pada akhirnya forum ini turut serta menginisiasi pengembangan strategi
branding dan membangun network yang seluas-luasnya sebagai upaya kolektif demi
mentahbiskan kota Bandung sebagai kota industri kreatif yang
sekaligus siap
berkompetisi secara global (BCCF, 2015). Seiring dengan kiprahnya dalam industri
kreatif, keberaadaan komunitas BCCF, telah memberikan kontribusi penting terhadap
pengembangan industri kreatif
Kota Bandung. Pertanyaannya adalah bagaimana
strategi yang dibangun oleh BCCF dalam mengembangkan industri kreatif Kota
Bandung?
Berdasarkan aspek itulah maka sangat penting untuk mengkomunikasikan pesan-pesan
mengenai aktivitas BCCF dalam mengembangkan industri kreatifnya. Penggunaan
visual dan pesan yang tepat merupakan syarat utama keberhasilan dari sebuah program
promosi (komunikasi pemasaran). Tahapan-tahapan komunikasi dan strategi pesan
disusun berdasarkan pencapaian kesadaran atas keberadaan sebuah produk atau jasa
97
e-Proceeding | COMICOS 2017
(awareness), menumbuhkan sebuah keinginan untuk memiliki atau mendapatkan
produk (interest), sampai dengan mempertahankan loyalitas pelanggan (loyalty). Dalam
kajian komunikasi tahapan tersebut dikenal dengan rumusan AIDDA (Attention,
Interest, Desire, Decision, Action). Sedang dalam kajian disiplin perilaku konsumen
(consumer behaviour) dikenal istilah Three Component of Attitude Model CAC, yaitu:
Cognitive (pengetahuan), Affection (perasaan) dan Conative (kecenderungan untuk
berperilaku). Tujuan komunikasi secara umum adalah untuk mencapai sejumlah
perubahan, seperti: perubahan pengetahuan (knowledge), perubahan sikap (attitude
change), perubahan perilaku (behaviour change), dan perubahan masyarakat (social
change). Penjualan produk baru dapat terjadi apabila telah terjadi minimal adanya
perubahan sikap pada tataran conative, atau munculnya suatu kecenderungan untuk
melakukan sesuatu. Kecenderungan melakukan sesuatu itu adalah kecenderungan untuk
membeli produk atau memanfaatkan jasa yang ditawarkan. Perencanaan strategi
komunikasi pemasaranmeliputi sejumlah strategi pesan dan visual, yang secara
bertahap mengikuti alur perubahan, dan perubahan tersebut harus diukur secara tepat
melalui riset komunikasi pemasaran (Soemanagara, 2012 : 5).
Berkaitan dengan hal tersebut di atasmaka, langkah strategipengembangan
industri kreatif yang dibangun oleh BCCF yakni dengan melakukan strategi branding
(Brand Campaign). Branding adalah istiah lain dari sebuah aktivitas manajemen
kampanye produk/jasa. Kesuksesan yang diraih oleh usaha kampanye ini didasarkan atas
kemampuan tim marketing dalam menentukan strategi promosi dan distribusi produk
secara simultan. Bagi BCCF menempatkan produknya sebagai salah satu national brand
harus memiliki perencanaan yang matang. Dengan demikan distribusi menjadi patokan
penting bagi tim promosi dalam menentukan langkah strategis yang tepat. Terdapat
98
e-Proceeding | COMICOS 2017
jenjang atau tahapan penting dalam promosi atau kampanye sebuah brand yang
dilakukan oleh BCCF ini,yaitu:
1.
Brand Recognition Pada tahapan ini, sebuah brand yang diusung oleh BCCF
memasuki tahapan pengenalan produk baru menjadi produk yang familiar di mata
publik, setiap saat brand mucul dengan tema sama dan dilakukan berulang-ulang
sehingga brand mudah diingat oleh konsumen. Sebagai satu produk yang menarik
untuk dicoba disini produk menghadapi kemungkinan kegagalan apabila produk
yang dipromosikan tidak tersedia dalam pasar. Berapa investasi yang dibutuhkan
dan kemampuan produk dalam memenangkan pasar bersumber kepada kemampuan
pemain atau distributor itu sendiri yang dapat mempengaruhi kebijakan para petinggi
BCCF dalam proses intervensi terhadap kegiatan promosi lokal. BCCF mampu
melihat kebutuhan publik terhadap produk-produk kreatif yang diciptakan oleh para
wirausahawan di Kota Bandung sebagai aset yang layak untuk diperdagangkan
dalam skala nasional maupun global, sehingga peluang tersebut menjadi hal yang
sangat strategis untuk menangkap situasi pasar yang sangat menggiurkan.
2.
Brand Preference Sebuah brand yang diusung oleh BCCF dalam tahapan ini adalah
di mana konsumen telah melewati sejumlah pengalaman terhadap produk yang ia
pilih dari berbagai pengalaman produk yang ada di sekitarnya. Produk yang
dirasanya cukup memenuhi kebutuhan menjadi preference dari berbagai alternatif
produk, konsumen cenderung melakukan uji coba terhadap produk lain dan produk
yang bersifat alternatif, di sini produk-produk baru memiliki peluang untuk
mendapat kesempatan memasuki pasar, pengalaman yang baik terhadap sebuah
produk baru membantu mereka untuk mencapai kepuasan dari alat pemuas yang
telah ada. Di sinilah mengapa BCCF selalu melakukan inovasi-inovasi baru terhadap
99
e-Proceeding | COMICOS 2017
produk, menambah kualitas produk dan penampilan produk sebagai upaya menjaga
mitra konsumen dan pelanggan terhadap produk mereka dan agar para pelanggan
tidak beralih ke produk lainnya. Preference yang ingin dicapai BCCF dalam benak
konsumen menjadi bagian yang terpenting. Para brand manager BCCF ketika
mereka menemukan fakta ini dalam pasar melalui studi yang mereka lakukan,
berusaha mempertahankan keberadaan produk mereka di pasar dan meningkatkan
promosi produk dalam berbagai event dan campaign yang dilakukan.
3.
Brand Insistance. Pada tahapan ini konsumen melakukan pengambilan keputusan
secara bulat untuk mengonsumsi produk BCCF kesekian kalinya. Konsumen lebih
banyak mengenal kelebihan produk ini dengan beragam inovasi yang ditawarkan
Pengalaman mereka pada penggunaan produk lain dengan brand yang sama juga
berakhir dengan pengalaman yang menyenangkan sehingga muncul kekuatan
keyakinan dalam diri mereka untuk selalu menggunakan dan mencoba produk lain
dalam kelompok brand yang sama. Pada akhirnya, kepuasan-kepuasan yang mereka
dapatkan dari penggunaaan beberapa produk dalam satu brand yang disuguhkan
oleh BCCF menyebabkan tumbuhnya kepercayaan konsumen kepada BCCF sendiri
sebagai forum yang menghasilkan produk berkualitas dan memiliki jaminan yang
tinggi.
4.
Lovely Brand/Brand Satisfy. Tahapan terakhir dari proses strategi branding ialah
lovely brand atau brand satisfy, konsumen benar-benar merasa puas terhadap
pengalaman yang dialami berulang-ulang dari penggunaan satu atau beberapa
produk dalam brand yang diusung BCCF. Kebulatan tekad dan konsistensi yang
telah mereka miliki pada tahapan brand insistence teruji secara berkali-kali
menyebabkan mereka yakin bahwa produk dari sebuah brand memberikan mereka
100
e-Proceeding | COMICOS 2017
kepercayaan yang kuat bahwa mereka selalu terpuaskan oleh produk-produk
tersebut. Produk BCCF yang telah menempatkan dirinya pada lovely brand
mendapat keuntungan yang sangat besar, karena mereka telah menciptakan bibitbibit wirausahawan kreatif yang berjumlah besar. Konsumen akan memberikan
pendapat untuk penyelesaian masalah yang dihadapi oleh rekan mereka dan
memberikan saran penggunaan produk yang menurutnya paling baik.
2. Implementasi Kegiatan BCCF, melalui Pendekatan CEN Dalam Pengembangan
Industri Kreatif Kota Bandung.
Wujud konkrit aktivitas BCCF dalam mengembangkan Industri Kreatif adalah
dengan membuat berbagai kegiatan (event) untuk mengenalkan kota Bandung melalui
serangkaian penawaran dan promosi produk-produk industri kreatif. Seperti beberapa
event yang telah dilaksanakan, yaitu pada tahun 2010, BCCF membuat program
Semarak Bandung yaitu rangkaian kegiatan kreatif dengan tujuan untuk mengintervensi
ruang publik kota Bandung berupa Reka Kota, Nyala Bdg Gedung Merdeka &
Bragakeun Bragaku. Setelah itu pada tahun 2011, BCCF bekerjasama dengan United
Nations Environment Programme (UNEP) & Kementrian Lingkungan Hidup (KLH)
Indonesia turut mensukseskan program TUNZA International Children and Youth
Conference on Environment yang digelar di Gedung Sasana Budaya Ganesha Bandung.
Sebagai catatan penting bahwa dari program TUNZA tersebut lahirlah sebuah deklarasi
yang bernama Babakan Siliwangi World City Forest yang menetapkan bahwa kawasan
babakan siliwangi Bandung adalah Hutan Kota Dunia yang wajib untuk dijaga secara
bersama-sama. Deklarasi ini telah disepakati & ditandatangani bersama oleh Walikota
Bandung, Menteri Lingkungan Hidup Indonesia dan UNEP. Pada saat yang bersamaan
diresmikan pula sebuah jembatan hutan (forest walk) di kawasan babakan siliwangi
101
e-Proceeding | COMICOS 2017
sebagai simbol bahwa sejatinya masyarakat kota Bandung dapat mengakses hutan
dengan mudah sekaligus menegaskan harapan warga Bandung untuk selalu
mempertahankan hutan babakan siliwangi sebagai ruang hijau kota tanpa bangunan
(BCCF, 2015).
Ruang-ruang publik bagi komunitas pun menjadi salah satu upaya yang
diinisiasi oleh BCCF untuk mengkampanyekan industri kreatif di kota Bandung. Pada
tahun 2011, BCCF menyediakan sebuah ruang kreatif yang bernama Bandung Creative
Hub (BCH) atau yang lebih dikenal dengan nama Simpul Space I, yang bertempat di
Jalan Ir.H.Juanda No 329 Bandung. Tahun 2012, BCCF meresmikan sebuah ruang
publik lain yaitu Simpul Space II yang beralamat di Jalan Purnawarman No 70
Bandung. Ruang kreatif ini tentunya akan memfasilitasi segala macam program yang
diusung oleh komunitas seperti Pameran, Diskusi, Workshop, Ekskursi, Presentasi,
Pertemuan Komunitas dan lain sebagainya.
Dimana semua program yang hadir diharapkan mampu memiliki nilai & pesan
kreativitas dalam balutan kebersamaan. Pada akhirnya BCCF memiliki harapan ke
depan agar suatu saat ruang-ruang tersebut dapat menjadi pengikat simpul-simpul
kreativitas dan kolaborasi individu, komunitas, maupun organisasi yang memiliki
semangat kreatif yang tak pernah lekang oleh masa. Demi nama Bandung, sebuah kota
kreatif, kota wisata yang selalu haus akan perubahan (BCCF, 2015).
Dalam menunjang pengembangan sektor industri kreatif ini, BCCF membentuk
suatu media networking yang bernama CEN (Creative Entrepreneur Network) yang
merupakan salah satu strategi
dalam memasarkan produk-produk kreatif yang
dihasilkan oleh para wirausahawan kreatif Kota Bandung. Keberadaan CEN tersebut
adalah untuk mewadahi berbagai jenis wirausaha kreatif komunitas yang terdapat di
102
e-Proceeding | COMICOS 2017
kota Bandung. Dimana nantinya CEN dapat menjadi sebuah pusat berjejaring antar
pelaku ekonomi kreatif, menyediakan acara-acara untuk berjejaring, membangun
keterampilan dan pengetahuan bagi wirausahawan lokal melalui workshop, seminar,
klinik bisnis, dan sebagainya, yang mana hal ini sangat membantu para wirausahawan
Kota Bandung untuk terus mengasah kreativitasnya dalam menciptakan beragam
produk-produk yang mampu bersaing di pasaran global. serta menjadikan Kota
Bandung sebagai kota Industri kreatif. (BCCF, 2015).
Program dalam CEN terbagi menjadi jangka pendek, jangka menengah dan
jangka panjang, antara lain adalah membuat inventarisasi wirausaha kreatif di Bandung
dan sekitarnya, membuat acara-acara di mana para wirausahawan dapat bertemu dengan
konsumen maupun klien, memberikan penghargaan dan membuat jejaring berbasis
internet. Berikut beberapa gambar mengenai aktivitas kewirausahaan
dibawah
koordinasi BCCF.
Gambar 1. Enterpreneurs in BCCF
Disamping membuat program kegiatannya, CEN juga memiliki tugas untuk
membuat kolaborasi dengan organisasi sejenis di kota-kota di negara-negara lain yang
juga memiliki jejaring komunitas dan industri kreatif. Berikut adalah beberapa gambar
program Creative Entrepreneur Network (CEN):
103
e-Proceeding | COMICOS 2017
Berdasarkan
Gambar 2. CEN Programs
pemaparan di atas dapat dikatakan bahwa proses strategi
komunikasi pemasaran merupakan
mengembangkan
Industri
kreatif,
langkah yang ditempuh oleh BCCF dalam
dimana
melalui
strategi
ini,
BCCF
mengkomunikasikan pesan mengenai berbagai hasil produksi industri kreatif. Dan
hal ini didukung secara praktis, dimana BCCF telah mengaplikasikan berbagai
aktivitas dalam mengembangkan industri kreatif ini, dengan membangun sebuah
program berjejaring melalui programnya yaitu CEN (Creative Entrepreneur
Network), CEN ini untuk mewadahi para pelaku industri kreatif untuk saling
berkolaborasi, dalam pengembangkan industri kreatif, dengan berbagai aktivitas
didalamnya.
Dilain pihak kebijakan yang diambil Pemerintah Kota Bandung, tentunya
sangat mendukung terhadap pengembangan industri kreatif, hal tersebut dilakukan
melalui penetapan 6 indikator kreativitas Kota Bandung : 1). Kebijakan Kreatif, 2).
Infrastruktur Kreatif, 3). Hukum, Etika dan HKI, 4). Sistem Pendukung Kreatif, 5).
Kapasitas Kreatif, dan 6). Kontribusi Ekonomi. Mengacu kepada Keppres Nomor 6
tahun 2009. Tentang pengembangan ekonomi kreatif, mengenai 15 sub sektor
industri kreatif yakni : 1).Periklanan, 2).Arsitektur, 3).Pasar seni dan barang antik,
4). Kerajinan, 5). Desain, 6).Fashion, 7). Film,Video dan Fotografi, 8) Permainan
104
e-Proceeding | COMICOS 2017
interaktif, 9). Musik, 10). Seni pertunjukkan, 11). Penerbitan dan percetakan, 12).
Layanan komputer dan piranti lunak, 13). Radio dan televisi, 14). Kuliner, 15). Riset
dan pengembangan, Sehingga dengan kebijakan ini diharapkan tercapainya Kota
bandung yang aktual, adaptif, informatif dan representatif. (Bidang Perekonomian
Sekertariat Daerah Kota Bandung 2016). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa
aktivitas komunitas BCCF, sangat sejalan dengan apa yang dicanangkan pemerintah,
khususnya Kota Bandung
untuk
senantiasa
melakukan pengolahan dan
pengembangan sumber daya ekonomi kreatif, sehingga diharapkan Kota Bandung
sebagai Kota Industri Kreatif.
KESIMPULAN
Bandung Creative City Forum (BCCF) atau Perkumpulan Komunitas Kreatif
Kota Bandung adalah sebuah forum dan organisasi lintas komunitas kreatif, merupakan
pelopor dalam pengembangan Kota Bandung sebagai Kota Industri Kreatif. Dalam
kiprahnya untuk mengenalkan dan mengajak warga masyarakat Kota Bandung untuk
turut serta dalam membangun kota Bandung sebagai kota industri kreatif, tentunya
peran penting komunikasi pemasaran dalam upaya pengembangan ekonomi dan
industri kreatif tidak bisa diabaikan, hal ini terlihat bagaimana BCCF mencoba
menerapkan strategi branding untuk mengenalkan berbagai produk/jasa industri kreatif.
Disamping itu sebagai wadah kreativitas masyarakat Bandung BCCF melalui program
CEN (Community Entrepreneur Network) -nya mampu menstimulasi perkembangan
Industri kreatif di Kota Bandung dengan membangun jejaring komunitas enterpreneur
yang berfokus pada hasil karya warga Bandung yang layak bersaing dengan produkproduk lokal, regional, nasional, maupun internasional. Sehingga dengan tercapainya
105
e-Proceeding | COMICOS 2017
hal tersebut, Bandung mendapat sebutan sebagai Kota Industri.
106
e-Proceeding | COMICOS 2017
DAFTAR PUSTAKA
Creswell. John W. 2003. Research Desain Qualitative and Quantitative Approaches.
Sage Publication
Fill, Chris. 1999. Marketing Communication, Frameworks, Theories and Applications.
London: Prentice Hall.
Kotler, Philip., dan Kevin Lane Keller, 2009. Marketing Management, 13 th ed London.
Pearson, Prentice Hall.
Kriyantono. Rachmat. 2009. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Kencana Prenada Jakarta:
Media Group.
Litlejohn, Stephen W. Dan Karen A.Foss. 2009. Teori Komunikasi. Edisi ke 9 Jakarta:
Salemba Humanika
Moesheriono. 2009. Pengukuran Kinerja Berbasis Kompetensi. Jakarta. Ghalia
Indonesia.
Mulyana. Deddy. 2003. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nugraha, dan Romli. 2012. Strategi Komunikasi Pembanguan Pada Program Desa
Peradaban Sebagai Bentuk Peningkatan Citra Pemerintah Daerah.
Kajian Komunikasi 1 Desember. Hal (9-19).
Paramita, Sinta. (2015). “Makalah Komunikasi Pembangunan Berbasis Teknologi Di
Desa Wisata Sri Gethuk Yogyakarta.” ISKI. 1 (Oktober). Hal.235-252.
Robbins, Stephen P. 2000. Organizational Behaviour. Concepts, Controversies,
Applications. (terjemahan). Seventh edition. Jakarta: Prenhallindo.
Shimp, Terence A. 2004. Periklanan dan Promosi, Aspek Tambahan Komunikasi
PemasaranTerpadu. Edisi ke 5. Jilid I dan II. Jakarta. Erlangga
Soemanagara, Raden. 2012. Strategic Marketing Communication (Konsep Strategis dan
Terapan). Bandung: Alfabeta
West, Richard, dan Lynn H. Turner. 2008. Pengantar Teori Komunikasi. Analisis dan
Aplikasi. Buku 1dan 2 Edisi 3 Jakarta: Salemba Humanika.
Warta Ekonomi, No.12/Tahun XX/9 Juni Tahun 2008
Sumber Lain :
Bidang Perekonomian Sekretariat Daerah Pemerintah Kota Bandung 2016
Bandung Creative City Forum (BCCF) 2015
https://bandungcreativecityforum.wordpress.com/ diaksespada15Oktober 2016
pukul 12:17 WIB
http://infobandung.co.id/ diakses pada 14 Oktober 2016 pukul 21: 30 WIB
http://www.republika.co.id/ diakses pada 20 Juli 2017 pukul 13 : 14 WIB
https://bandungcreativecityforum.wordpress.com/ diakses pada 25 Juli 2017 pukul 12:
17 WIB
http://infobandung.co.id/diakses pada 25 Juli 2017 pukul 14: 22 WIB
107
e-Proceeding | COMICOS 2017
https://bandungcreativecityforum.wordpress.com/ diakses pada 23 Juli 2017 pukul 11:
35 WIB
108
e-Proceeding | COMICOS 2017
HARDWORK COMPARISONS AS PART OF THE WORK ETHIC ON THE
SMMEs IN TASIKMALAYA, CIANJUR, CIREBON
Hanny Hafiar, Diana Harding, Yus Nugraha, Ahmad Gimmy
Padjadjaran University, Bandung
[email protected]
INTRODUCTION
Indonesia is one of the developing countries the opportunity to obtain the
demographic bonus. As quoted from http://www.antaranews.com, Acting Deputy of
Training and Development BKKBN Ida Bagus Permana, states that: Indonesia will get a
demographic bonus, the amount of the workforce (15-64 years) reached around 70
percent, while 30 percent of the population that is not productive (age 14 years and under
and ages above 65 years) that will occur in 2020-2030. However, This was stated by
Chairman of the Chamber of Commerce and Industry (Kadin), West Java General
Suryamal who said: "In the hands of the youth it is advanced or not this nation is very
dependent. However, the quality of human resources should also be accompanied by a
sense of sensitivity to what is happening in society," (http: //www. republika. co.id)
A large number of people in productive age is indeed a potential human capital,
but it certainly gives more demands on the government to provide jobs. This is due to:
Most of the development of large cities in the third world, especially in Southeast Asia
are often not matched by the availability of adequate employment opportunities, although
clearly demonstrates a fairly rapid economic growth (McGee, 1977).
If the government is unable to provide jobs equitable will emerge problems
related to urbanization, for the overflowing labor force in rural areas due to the level of
a high population growth while employment opportunities are very limited has prompted
the massive migration from rural to urban areas in search of livelihood better. It can be
seen with the emergence of pockets of slums, with informal odd jobs in sectors with low
productivity and subsistence, simply just to sustain life (Dieter Ever, 1991). According
to (Rachbini, 1994), the process of in formalization occur due to the nature of subsistence,
low productivity, capital accumulation, and investment is weak, and the strong pressure
from the macro formal system from the outside (Wauran, 2012). Therefore we need
strong efforts from various parties in order to improve the readiness of the Indonesian
nation to welcome the opportunity to earn this demographic bonus.
109
e-Proceeding | COMICOS 2017
Most of the Indonesian people are still hoping to get a job as an employee of a
company that is bona fide and high salary. So they raced to pursue higher education in
order to obtain a diploma as a condition of applying for a job. Whereas the diploma
course will not be enough to ensure the employment and earnings in line with
expectations, it refers to:
On the one hand, the informal sector still plays an important role to accommodate
the workforce, especially youth labor force is still inexperienced or work forces
first entered the job market. This situation may have a positive impact on reducing
the open unemployment rate. But on the other hand showed symptoms of low
productivity because they still use traditional tools with education and skill levels
are relatively low. Given the role of the informal sector are quite positive in the
development process, naturally thought the fate of the workers. Some policies,
either directly or indirectly, to help the development of society through the
development of business activities in the informal sector workers that have been
performed. However, there is a trend of economic activity in the informal sector
and informal sector workers fate has not changed much. Without the intention to
diminish the importance of existing policies, policies which are commonly
prescribed to large employers may be reduced, then the priority is given to the
activities of the informal sector and to support the interests of society (Firnandy,
2002).
Therefore, the desire and the ability to create entrepreneurial activity must be
nurtured through formal and non-formal education, so that the labour force can be
channelled into work units in various fields of business, so that Indonesian people do not
depend on existing employment, the ownership of capital these large companies on
average are owned by foreigners. It refers to:
Indonesia's competitiveness is now increasing in the global sphere. In a report in
The Global Competitiveness Index 2014-2015, Indonesia ranks 34th out of 144
countries in the world with a score of 4.57, up 4 levels of last year which was in
position 38. In relation to the ASEAN Economic Community (AEC) in early
2015, making the challenge of entrepreneurs in Indonesia to be higher because it
competes with countries in Southeast Asia. An entrepreneur has an important role
in a country. An advanced and prosperous country will progress and prosper if it
has a self-employment of at least 2 percent of the population. Therefore, the
emergence of entrepreneurs is expected to reduce the level of unemployment.
According to Wijaya (2007: 117) "Entrepreneurship is one of the rational choice
given the nature of self-contained, so it does not depend on the availability of
existing employment" (Janah & Winarno, 2015).
Entrepreneurship is not easy. The dream of the graduates of vocational schools
or colleges on average work at companies that are already established. This is due to lack
of interest in starting a business that started on a small scale or a small business because
they have the risk of loss that would engulf the capital that has been collected with
110
e-Proceeding | COMICOS 2017
difficulty. Referring to the Presidential Decree no. 99 year 1998 Small Business is
understanding people's economic activities are the small-scale business sector in the
majority of the business activities of small and need to be protected in order to prevent
unfair competition.
In addition to risk factors, entrepreneurship also requires a strong individual
character as the business entrepreneur. The performance of SMMEs supported by the
characteristics of entrepreneurship and entrepreneurial attitudes held by business
entrepreneurs. All of that is the essence of entrepreneurship which should exist in
SMMEs. Furthermore, Kao et al. (In Saiman, 2009) says that entrepreneurship is an
attempt to create value through business opportunities management, risk taking the right
and through the communication skills and management to mobilize human, money and
raw materials or other resources needed to produce the project in order to implemented
properly. To implement the project with both the necessary characteristics and
entrepreneurial attitudes that support that effort running smoothly. (Setyawati, Nugraha,
& Ainuddin, 2013)
In fact, entrepreneurship has an important potential for the progress of a country,
it is stated by Heidjarachman (in Alma, 2002: 5), one supporting the success of economic
development in a country is entrepreneurial (Hafiar & Sani, 2015). In addition, it was
stated that:
"Entrepreneurship is one of the pillars of economic growth in Indonesia. His role
is so central to the welfare of Indonesian society. One of the government's efforts
to foster the number of entrepreneurs conducted since from school. Completion
of the curriculum with the issuance of Curriculum 2013, with their craft and
Entrepreneurship Education required as the application of the new curriculum at
the high school level bringing the mission that the younger generation of
Indonesia should have the skills and ability to be independent with
entrepreneurial spirit "(Kadiyono, 2014)
Indeed, the business value of small businesses has an important contribution to
economic growth in Indonesia. This refers to the data of the Ministry of Cooperatives
and SMMEs in 2009, where SMMEs have accounted for 58.17 per cent to total GDP. the
growth of the SMMEs sector from 2005 to 2009 amounted to 24.01 percent, while large
businesses only 13.26 percent growth. These data show the large role of SMMEs in the
growth and economic development of Indonesia. SMMEs have the largest ability to
absorb labor (http://www.depkop.go.id, January 26, 2012). Therefore, the government
encourages small micro enterprises (SMMEs) to continue to grow so that the bias is more
111
e-Proceeding | COMICOS 2017
labor-intensive. SMMEs are expected to increasingly play a role in reducing
unemployment (Sumantri, 2015).
However, entrepreneurship skills must be nurtured from an early age, starting at
secondary level to be able to create a generation of independent nation because, as quoted
from Supriyatna (2008) that "the ultimate goal of education is the creation of
productivity, work ethic, self-reliance, and identity of human excel to meet the demands
of development. (Grace & Bakti, 2016). In addition to self-reliance, self-employment
also requires hard work as part of a work ethic. Because in principle, entrepreneurship
without the hard work will not produce success. Therefore, most small and medium
busines have understood the vital position of hard work for the continuity of their
business.
Based on this, then this study aims to conduct comparisons of the attitude of hard
work that owned by small and medium businesses in several cities in West Java. This
research uses a descriptive quantitative method, in order to get a picture of hard working
attitude micro, small and medium enterprises in Cianjur, Tasikmalaya and Cirebon,
through the collection of data obtained from questionnaires.
HARD WORK AS AN IMPORTANT FACTOR IN PRODUCTIVITY
In the context of this study, hard work is the belief that one can be a better person
and achieve its objectives through a commitment to the value and importance of working
for them. An individual is committed to hard work can overcome almost any obstacle,
can achieve personal goals, and become a better person (Miller, et al., 2002).
Furthermore, the hard work is also supported by indicators such as: have the primary
responsibility for fulfilling personal goals such as the desire for success and the
accumulation of material wealth (Buchholz, 1978).
Based on these images, it is known that the optimism that is owned by the micro,
small and medium derived from Cianjur has a higher value than any other comparable
businesses, as can be seen from the following figure:
112
e-Proceeding | COMICOS 2017
Nothing is impossible when we work hard
12
10
8
6
4
2
0
Cianjur
Tasikmalaya
not consistent
likely not consistent
tend to be consistent
Cirebon
consistent
(Source: Research data)
Figure 1 Confidence concerning realization of the results of hard work
In these graphs, it is known that SMMEs in the three cities have the attitude of
hard work, with the city of Cianjur that have slightly higher points difference, compared
to other cities. However, this figure can still be considered fairly evenly. This means that
business people SMMEs respondents, on average, have to have confidence that with hard
work will produce something in accordance with the purpose, as long as they work
optimally. It shows one of the characteristics of entrepreneurial spirit that is confident.
This is consistent with the statement that:
"From the 8 characteristics of entrepreneurial spirit into the study variables, only
the characteristics of long-term oriented course that owned by many respondents
in the higher stages, namely 70%. While all 7 characteristics of entrepreneurial
spirit such as encouragement of achievement, a sense of responsibility, attitude
to risk, self-confidence, using feedback, managerial ability and attitude toward
money are already owned by the respondents even though at the stage of being
"(Dwi & Nugroho, 2012 ).
The hard work did not only physically, but also in thought. Think hard about the
business strategy, manage finances, calculate carefully regarding the amount of
production is also included in the hard work can make a success of the venture. This is
in line with the results of research that says that:
"The model of empowerment into the research findings indicate that some groups
of women SMMEs aware of the importance of work ethic, community culture
that supports women's efforts, and mindset about; Absorptive Capacity,
113
e-Proceeding | COMICOS 2017
Capability Innovation, and Knowledge Sharing. Some of it can be used to develop
marketing strategies, financial management and production management can
improve the productivity of Women SMMEs in the informal sector "(Kancana,
Lestari, & Nurficahyanti, 2016).
However, it is also necessary assistance to SMMEs that can be done by the
government or related parties, to anticipate the level of productivity tends to be low,
especially in rural areas. It is advised to consider the opinions from Poerwanto (2000:
197), which argued that:
"Most of the villagers in Indonesia overwhelmed by poverty syndrome and
syndrome enersia. Poverty syndrome has a very complex dimension to each other
and interconnected, for example in the form of low productivity, unemployment,
malnutrition and poor health status, morbidity and high illiteracy. Meanwhile,
enersia syndrome manifested in the attitude of fatalism, passivism, mutual
dependency is high, mystical paced life and so forth "(Agustini, Boediono,
Saepudin, and Silvana, 2015).
The key to success is the willingness to work hard
14
12
10
8
6
4
2
0
Cianjur
Tasikmalaya
not consistent
likely not consistent
tend to be consistent
Cirebon
consistent
(Source: Research data)
Figure 2 The belief that hard work produces success
Referring to the above image data, it is known that the attitudes of respondents to
the success generated through hard work shows an awareness that hard work is an
important factor in achieving success. As almost all respondents believe that value,
especially respondents from Tasikmalaya and Cirebon. Attitude believes that hard work
will result in the success of an important capital for the development of enterprises,
although efforts are undertaken they are micro and small, they are optimistic that with
114
e-Proceeding | COMICOS 2017
hard work, will be able to develop into medium-sized enterprises and large scale. This is
consistent with the statement:
The presence of the urban informal sector is considered as one of the economic
sectors that emerged as a result of the labor situation of high growth in the city.
Those who enter these small-scale enterprises, initially intended to seek
employment and generate income. Most of those involved are those of migrants
from poor, less educated and less skilled. Their background is not a businessman
and not a capitalist who hold substantial capital investment. However, it must be
recognized that many of them have managed to expand its business and slowly
entering the world of medium-sized enterprises and even large-scale (Lamba,
2001).
Based on the awareness of the need of hard work also turned out to be connected
with the awareness of the importance of productivity to develop the business, because of
the increased productivity is the dream of every company, both individuals, and large
companies. Over time, anyone would not be there that want your business or business is
merely stagnant (Yasundari, 2016). Furthermore, the characteristics of entrepreneurship
have a role on the progress of the business. Therefore, it is important for an entrepreneur
to have an entrepreneurial spirit, because:
In general, the SMMEs entrepreneurs in Kediri argued that they have the
characteristics of entrepreneurship, entrepreneurship prominent characteristic
indicator was pointed out by nature industrious and productive than the ability to
get along, the nature of self-confidence and calculations of risk while the nature
of innovation fundamental to the concept of entrepreneurship is precisely the
score is in third position, this indicates that the ability to innovate is still low so
that in general they are focused on the business activities conducted routine. The
ability to innovate is a key issue for an entrepreneur, especially in finding and
creating new markets. Indicators of entrepreneurial characteristics of the lowest
score were independent nature, nature loves a challenge and nature responsive to
opportunities (Fauji & Ernestivita, 2015).
115
e-Proceeding | COMICOS 2017
If we are willing to work harder, then we can feed ourselves
12
10
8
6
4
2
0
Cianjur
Tasikmalaya
not consistent
likely not consistent
tend to be consistent
Cirebon
consistent
(Source: Research data)
Figure 3 Confidence about hard work and self-reliance
The workers are engaged in the informal sector has a high vulnerability due to
not having adequate protection both in terms of economic, social and political (Rolis,
2013). However, the vulnerability is not only caused by macro economic factors but also
in micro management. Therefore world-class business micro, small and medium
enterprises need an attitude of independence in business and not rely on the existing
conditions but to optimize the conditions. It refers to:
expectations of high economic growth coupled with increasingly extensive trade
opportunities will not be enough without the efforts to increase the capacity and
capability of adequate worker liking labor market. Thus, the problem of
employment remains a serious issue that needs to be the best solution found when
development and job creation do not offset their efforts to increase the
competence of workers, it is certain that not a lot of results for the effort to
improve the welfare of society. The duty and responsibility along with how to
provide solutions to economic problems, especially the problem of employment
are directly related to the absorption of workers in various sectors of the economy.
To be able to encourage the creation of employment opportunities to absorb the
widest workers as much as possible it is necessary to formulate appropriate
economic development policies in the field of work. The needs of workers in
various business fields require specific requirements both in terms of knowledge
and formal education and skills (skills) and attitude/commitment. Better known
with a certain capacity. The capacity of the worker or prospective worker can be
traced through various ways such as: evaluating worker productivity, a growing
problem and hamper labor productivity, the expectations of the owner or manager
116
e-Proceeding | COMICOS 2017
of a business, and other employers included on services in government agencies
(Triputrajaya, 2013).
Therefore, through the data contained in the image, it seemed, the entire business
travelers who become the respondents, believed that working with enterprising will be
able to support themselves indicate the nature and the characteristics of the entrepreneur
accordingly. It is in accordance with the statement (Faisal, 2002), which states that:
Characteristics of entrepreneurship is a quality or trait that remains continuous
and eternal which can be used to identify characteristics of a person, an object,
an event, an integrate or a synthesis of individual properties in the form of a
unitary and personality or someone, considered from the point of view of ethical
and moral. While the attitude of entrepreneurship is an attitude of someone who
has a high intention of everyday life or the characteristics of an entrepreneurial
attitude (Setyawati, Nugraha, & Ainuddin, 2013)
117
e-Proceeding | COMICOS 2017
CONCLUSIONS AND SUGGESTIONS
Referring to the data field findings, it is known that the conviction of the
embodiment of hard work, a belief that hard work produces success, and conviction of
hard work and self-reliance that is owned by the micro, small and medium enterprises
which are located in three cities, Cianjur, Tasikmalaya and Cirebon is in a condition in
accordance with the demands that must be owned by SMMEs busines or entrepreneurs.
The results are expected to provide an overview of the awareness of entrepreneurs,
especially in West Java, and in Indonesia in general.
Therefore, it remains the Government's role and required relevant agencies, to
continue to foster the attitudes and competencies of small and medium entrepreneurs for
business this good new start businesses, as well as the business and its business is already
well underway. This is necessary so that enterprises and business from the perpetrators
of these efforts can take place in stable and does not meet the constraints that may have
an impact on the bankruptcy.
Because, in principle, businesses run by entrepreneurs is the one who actually can
maintain and support the nation's economy, and expand employment opportunities for
human resources in Indonesia which now will soon be in bonuses demographic, such as
the abundant quantity of people who are in the productive age. So expect this
demographic bonus can fix the nation's economy significantly, not merely a bonus is on
top of the sheer paper.
REFFERENCES
Agustini, N., Budiono, A., Saepudin, E., & Silvana, T. (2015). Literasi Informasi
Masyarakat Pedesaan Dalam Program Pemberdayaan Masyarakat Di Kecamatan
Cikancung Kabupaten Bandung. Jurnal Kajian Informasi & Perpustakaan, 3(2),
221–234.
Dwi, T. R., & Nugroho, A. (2012). Karakteristik Jiwa Kewirausahaan Mahasiswa
Universitas Trunojoyo Madura. Jurnal Pamator, 5/1.
Fauji, D.A.S. & Ernestivita, G. (2015). Analisis Karakteristik Pelaku UMKM ( Usaha
Mikro Kecil Menengah) di Kota Kediri. In Prosiding Pendidikan Karakter dalam
Pembelajaran Bisnis dan Manajemen. Seminar Nasional dan Call Papers
Universitas Negeri Malang.
Firnandy. (2002). Studi Profil Pekerja di Sektor Informal dan Arah Kebijakan ke Depan.
Direktorat Ketenagakerjaan Dan Analisis Ekonomi, 1–18.
Hafiar, H., & Sani, A. (2015). Pembentukan Sikap Wirausaha Remaja Melalui
Komunikasi Keluarga Dan Pelatihan Keterampilan. Jurnal Actadiurna, 11/1, 49–
66.
118
e-Proceeding | COMICOS 2017
Janah, W. O., & Winarno, A. (2015). Intensi berwirausaha Siswa SMK. In Prosiding
Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Bisnis dan Manajemen (pp. 19–20).
Seminar Nasional dan Call Papers Universitas Negeri Malang.
Kadiyono, A. L. (2014). Efektivitas pengembangan potensi diri dan orientasi wirausaha
dalam meningkatkan sikap wirausaha effectiveness of self development and
entrepreneurial orientation in improving entrepreneurial attitude. Jurnal Intervensi
Psikologi, 6(1), 25–38.
Kancana, S., Lestari, P., & Nurficahyanti, F. (2016). Model komunikasi pemasaran untuk
pemberdayaan perempuan pada sektor informal di yogyakarta. Jurnal ASPIKOM,
2/6, 444–458.
Lamba, A. (2001). Kondisi Sektor Informal Perkotaan dalam Perekonomian JayapuraPapua. Jurnal Ekonomi Bisnis, 16(2), 155–161.
Rahmat, A., & Bakti, I. (2016). Kinerja Hubungan Masyarakat (Humas) Pemerintah
daerah Kabupaten dan Kota di Jawa Barat. Jurnal Kajian Komunikasi, 4/2, 133–
141.
Rolis, M. I. (2013). Sektor Informal Perkotaan Dan Ikhtiar Pemberdayaannya. Jurnal
Sosiologi Islam, 3/2, 93–111.
Setyawati, E. C. N., Nugraha, H. S., & Ainuddin, I. (2013). Karakteristik Kewirausahaan
Dan Lingkungan Bisnis Sebagai Faktor Penentu Pertumbuhan Usaha. Jurnal
Administrasi Bisnis, 2/1, 41–50.
Sumantri, B.A. (2015). Konsep sistem awal bagaimana penerapan konten tipologi (jenis
keterampilan dan bidang subjek penelitian “entrepreneurship”) pada sistem
pelatihan dan pendidikan “entrepreneurship”. In Prosiding Pendidikan Karakter
dalam Pembelajaran Bisnis dan Manajemen. Seminar Nasional dan Call Papers
Universitas Negeri Malang.
Triputrajaya, A. (2013). Preferensi pekerja dalam memilih pekerjaan sektor formal.
ILTEK
[Internet].
November,
6/12,
877–881.
Retrieved
from
http://iltekuim.org/jurnal/fileku/8. Ihsan .pdf
Wauran, P. C. (2012). Strategi Pemberdayaan Sektor Informal Perkotaan Di Kota
Manado. Jurnal Pembangunan Ekonomi Dan Keuangan Daerah, 7(3).
Yasundari. (2016). Hubungan penggunaan instagram dengan motivasi wirausaha
pebisnis daring ( online ) dalam meningkatkan produktivitas. Jurnal kajian
komunikasi, 4/2, 208–218.
119
e-Proceeding | COMICOS 2017
120
e-Proceeding | COMICOS 2017
TRIPLE HELIX’s DAN SINDROM KETERGANTUNGAN PELAKU
UMKM
Mamik indaryani, Suparnyo, Kertati Sumekar, Budi Gunawan
Mamik Indaryani¹, Kertati Sumekar², Suparnyo³, Budi Gunawan4.
¹Mamik Indaryani;
FE UMK; Email : [email protected]; HP : 08122812899
²Kertati Sumekar
FE UMK; [email protected]; HP. 08157605946
³ Suparnyo,
FH UMK; email: [email protected]; HP No 08157741986
4
Budi Gunawan ;
FT UMK; [email protected]; HP No 085740961734
Abstrak
Komitmen pemerintah untuk memberdayakan masyarakat sebagai pelaku usaha/
bisnis ditunjukkan dengan digunakannya konsep triple heliks dan ABG’s. Hal ini
didorong dengan adanya tuntutan yang mendesak untuk meningkatkan daya saing
dengan disepakatinya era pasar tunggal ASEAN, yang memandang Indonesia sebagai
negara yang potensial sebagai pasar. Permasalahan utama yang timbul dalam konsep ini
disebabkan cara pandang, gaya kerja yang berbeda, sehingga kegiatan yang dirancang
bersama seringkali justru berdampak negatif terhadap mitra. Sinergi dan koordinasi
yang lemah turut memperparah kondisi karena tidak dilakukan dalam perspektif yang
sama diantara para pendamping. Dampaknya adalah adanya kecenderungan sikap mitra
dalam hal ini pelaku usaha/bisnis bordir dan Tenun Troso, yang tergantung, dan kontra
produktif karena dengan ketergantungannya tersebut justru mengurangi daya saing
alamiah yang dimiliki dan ketika belum diintervensi oleh program baik yang dilakukan
oleh perguruan tinggi atau pemerintah. Hasil temuan lapangan menunjukkan adanya
perlakuan yang tidak tepat terhadap mitra, bukan sebagai subyek tetapi sebagai obyek
suatu program. Oleh karenanya permasalahan dipetakan bukan menurut mitra. Penelitian
ini menggunakan pendekatan kombinasi antara kuantitatif dan kualitatif. Alat statistik
sederhana digunakan untuk menguji pengaruh antar variabel yang ditentukan dan
kualitatif dicapai dengan cara indepth interview untuk melihat kedalaman fenomena
yang terjadi dilapangan terkait dengan apa yang dirasakan mitra. Terimakasih kepada
Kemenristek dan Dikti atas hibah MP3EI th ke tiga.
Kata kunci : triple Helix’s- ABG’s, syndrom ketergantungan, kontra produktif, daya
saing.
1. Pendahuluan.
Latar belakang
Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Indonesia menjadi ujung tombak bagi
upaya memasarkan produk dan jasa yang dimiliki Indonesia ke Pasar global atau paling
tidak fokus dalam jangka pendek pasar tunggal ASEAN. Permasalahan yang dihadapi
121
e-Proceeding | COMICOS 2017
adalah rendahnya daya saing barang dan jasa Indonesia yang lebih disebabkan oleh
tingginya biaya produksi dan non produksi sehingga harga belum dapat bersaing
sedemikian rupa. Jenis dan variasi produk sebenarnya diminati oleh masyarakat anggota
negara-negara ASEAN. Biaya non produksi seperti transportasi, lemahnya jejaring pasar
dan pemasaran menjadi kendala besar sehingga produk Indonesia belum dapat
mendominasi pasar domestik masing-masing negara anggota negara-negara ASEAN,
justru sebaliknya pasar domestik Indonesia telah didominasi oleh produk negara lain
mulai dari barang kebutuhan pokok sampai pada kebutuhan yang bersifat pelengkap atau
pengganti.
Pembinaan untuk meningkatkan daya saing bagi pelaku usaha skala mikro, kecil dan
menengah (UMKM) yang dirancang kurang tepat berdampak terhadap munculnya sikap
ketergantungan para pelaku usaha skala UMKM terhadap pendamping atau fasilitator,
baik dari unsur pemerintah, perguruan tinggi dan stakeholder lainnya.Sampai hari ini
mayoritas pelaku UMKM belum dapat beranjak keluar dari permasalahan yang dihadapi.
Permasalahan UMKM secara umum meliputi permasalahan internal, kapasitas usaha
mulai dari manajemen, kualitas produk, SDM dan kemampuan finansial. Permasalahan
yang terkait dengan jejaring distribusi/pasar masih, iklim usaha yang kurang kondusif
dan regulasi yang dirasakan sering tumpang tindih serta daya saing secara umum dengan
barang global yang masuk kepasar domestik.
(Lestari ( 2005) ; Lestari,( 2010),
Indaryani, dkk (2014) .
Budaya kerja dan lingkungan bisnis, memberi warna kepada model manajemen usaha
berbasis UMKM dan industri yang dikelola masyarakat pada umumnya. Sejarah usaha
hampir selalu dimulai dari usaha keluarga dan bersifat rumahan. Dampaknya adalah
manajemen usaha dilakukan sesuai dengan karakter masyarakat dan kebiasaannya.
122
e-Proceeding | COMICOS 2017
Sehingga polanya dapat dikenali berdasarkan kedaerahan, geografis maupun budaya.
Sedikit banyak mewarnai dan menentukan spirit para pelaku nya. Akhirnya secara
komprehensif berpengaruh terhadap cara pandang ( paradigma ) usaha yang
dilakukannya.
Paradigma usaha terhadap bisnis dan perubahannya menjadi permasalahan
yang
penyelesaiannya tidak dapat dilakukan secara parsial dan harus dalam jangka panjang
dan berkelanjutan. Perubahan paradigma usaha konvensional menjadi usaha modern
yang fleksibel, mobile dan ramping mau tidak mau harus di intervensikan jika tidak terus
tertinggal dalam persaingan global. Pelaku usaha skala mikro, kecil dan menengah
kebanyakan masih bertahan pada model uaha konvensional, yang tidak efisien dan tidak
fleksibel karena beroperasi hanya berdasarkan filling bisnis, yang mengandalkan
pengalaman masa lalu. Hal ini disebabkan karena pelaku usaha tidak merasa terdampak
perubahan makro yang terjadi. Alasan yang lain karena merasa bahwa fokus pasar tidak
terkait langsung dengan jejaring pada pasar global. Hal ini disebabkan para pelaku tidak
memiliki informasi tentang perubahan bisnis yang tidak lagi dapat dipisahkan secara
tegas antara bisnis pada skala domestik dan global. Domestik dan global bukan lagi
sesuatu yang terpisah, baik dalam jaringan produksi, pemasaran maupun penyedia bahan
baku/bahan mentah produksi, tetapi sebaliknya mendorong saling terhubung dan
ketergantungan diantara para pelaku usaha dan atau bisnis.
Daya juang para pelaku usaha atau bisnis pada umumnya rendah dan cenderung
menjalankan usaha atau bisnis dengan prinsip seadanya atau sewajarnya tanpa target
artinya
untuk bertahan dan memenangkan persaingan dalam pasar global tidak
terintegrasi dalam strategi bisnisnya.Kelemahan mendasar yang lain adalah pelaku usaha
skala mikro/rumahan, kecil dan menengah (UMKM) tidak memili rencana bisnis, dan
123
e-Proceeding | COMICOS 2017
target yang terukur baik jangka pendek maupun jangka panjang. Mayoritas hanya
mengejar keuntungan yang bersifat jangka pendek dengan model perhitungan yang tidak
mengakomodasi seluruh biaya produksi karena manajemen dan operasi usaha bergabung
dengan rumah tangga, misalnya penggunaan listrik, air, dan barang modal yang
digunakan operasional usaha/bisnis sulit dibedakan antara milik usaha dengan milik
rumah tangga.
Salah satu komponen daya saing yang belum sepenuhnya berhasil diintervensikan pada
mitra adalah inovasi dengan pemanfaatan teknologi dalam proses produksi, manajemen
dan networking distribusi dan pasar. Dalam program yang diintervensikan kepada
perguruan tinggi telah memfasilitasi soft program untuk manajemen dan jejaring produk.
Manajemen Koperasi, yang dilengkapi dengan petugas yang terlatih.
Tujuan, memformulasikan permasalahan dan solusi serta rekomendasi hasil penelitian
dan mempublikasikannya agar dapat dipahami oleh masyarakat pengusaha, pemerintah
dan stakeholder lainnya terkait dengan dampak dari kebijakan dan implementasi program
pendampingan terhadap UMKM, baik konsep triple helix maupun ABG,s yang memiliki
sisi negatif yaitu adanya suatu sindrom ketergantungan dari para pelaku usaha/industri
skala mikro, kecil dan menengah dan justru berakibat pada penurunan daya saing jika
tidak dilakukan dengan koordinasi yang baik dan sinergis diantara berbagai pihak terkait.
2.
Metode yang digunakan
MP3EI merupakan salah satu skim penelitian kompetitif nasional yang bersifat terapan.
Sebagai penelitian terapan, maka pendekatan yang digunakan tidak hanya kuantitatif
tetapi juga kualitatif. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk mengkaji dampak
kebijakan dan proporsinya pada komunitas mitra. Selanjutnya harus dikaji lebih dalam
124
e-Proceeding | COMICOS 2017
kualitas setiap jawaban yang diberikan. Karakteristik pelaku UMKM sebagai mitra tidak
mudah karena pengalaman masa lampau yang tidak menyenangkan dan hanya dijadikan
“obyek” berdampak pada peneliti untuk kembali membangun “trust” sedemikian rupa
dengan pelaku usaha sebagai mitra yang harus diposisikan dengan benar. Hal ini penting
karena industri skala UMKM pada umumnya dan khususnya pada pelaku industri
kerajinan tenun Troso, memiliki respon yang variatif terhadap berbagai program yang
menyertakan mereka, walaupun ada
beberapa pelaku usaha yang memiliki sikap
berbeda terhadap program. Mereka bersikap pasif dan cenderung tergantung pada
fasilitator atau pendamping. Hal ini disebabkan karena mereka merasa hanya menjadi
penyerta dan seringkali karena pemahaman bahwa yang harus mencari solusi terhadap
permasalahan yang dihadai dan berproses adalah pendamping/ fasilitator ( pemerintah,
perguruan tinggi atau stakeholder lainnya).
Kajian harus menyentuh pada akar masalah yang terkait dengan karakteristik pelaku
yang tidak hanya dapat diukur dengan menggunakan angka. Bagi pelaku usaha yang
sudah mandiri, program dapat menjadi nilai tambah dan masukan untuk mengelola usaha
dengan lebih baik. Pendekatan kualitatif digunakan untuk menggali data yang terkait
dengan perspektif mitra, pelaku dan kepentingan steakholder lainya. Mengurai
permasalahan dari hulu dan hilir usaha sebagai suatu rangkaian akan dapat diperoleh peta
masalah dengan lebih jelas sehingga dapat didesain solusi sesuai dengan kebutuhan
penyelesaian permasalahnnya. Hulu dan hilir industri meliputi pemasok bahan baku,
proses produksi dan distribusi. Pada kerajinan tenun Troso, pemasok bahan baku benang
memiliki problematikannya tersendiri untuk setiap pengusaha. Skala industri juga
memiliki kekhasan masalah, baik karena kapasitas dan konsekwensinya juga karena
prioritas permasalahan yang dihadapi berbeda-beda. Sehingga dalam setiap tahapan
125
e-Proceeding | COMICOS 2017
proses industri memerlukan solusi yang berbeda. Upaya mengurai hulu-hilir industri
dikenal dengan pendekatan rantai nilai, atau value chain. Hal ini disebabkan karena pada
setiap simpul rantai tahapan kegiatan memiliki makna dan nilai nya tersendiri. Bukan
hanya karena melibatkan bayak pihak tetapi karena sifat dan permasalahannya berbeda.
Pendekatan rantai nilai, diharapkan dapat mengidentifikasi kekuatan kompetitif
dari industri dalam kaitan langsung maupun tidak langsung dengan industri dalam
klaster.Dengan memetakan faktor kompetitif dalam klaster maka peneliti memberikan
rekomendasi terhadap keberadaan pelaku usaha anggota Koperasi secara keseluruhan
dan upaya-upaya spesifik menggerakkan anggota koperasi melalui trigger yang dapat
diidentifikasi melalui proses komunikasi intensif, berjejaring dan saling menghormati.
Alat statistik yang digunakan meliputi rata-rata dan prosentase. Penggalian data
menggunakan fokus group discussion ( FGD), indepth interview dan kuesioner
terstruktur. Pengolahan data dilakukan sejak menyeleksi jawaban atas pertanyaan
pendahuluan, menyusun tabel jawaban responden. Responden, anggota Koperasi
Paguyuban Pengusaha Tenun Troso yang berjumlah 34 orang, pengusaha lainnya yang
ditemukan dalam kegiatan Troso Festival ( 15-16 Juli 2017), perangkat desa Troso, Dinas
Terkait di Kabupaten Jepara, Fedep, Kadin, dan Bupati. Mengingat bahwa salah satu
luaran ditujukan untuk merekomendasikan adanya pelembagaan Festival Troso yang
telah diadakan sebagai media promosi baik nasional dan global dalam bentuk naskah
akademi.
Konfirmasi secara komprehensif menyangkut potensi produk dan daya saing
global peneliti melakukan kegiatan temu bisnis yang menyertakan pelaku usaha/ mitra,
dengan beberapa kadin dan atase perdagangan/ fungsi ekonomi yang ada di KBRI Brunei
Darussalam, Dan Konjen di Thailand Selatan ( Hathyai) dalam suatu rangkaian ekspo
126
e-Proceeding | COMICOS 2017
produk Indonesia. Pelaku usaha dapat mendengar dan memahami langsung bagaimana
selera konsumen di pasar Tunggal ASEAN. Kegiatan ini menghasilkan jejaring pasar
dan pemasaran yang berkelanjutan baik dari masyarakat Thailand maupun penguasa
Brunei secara intensif dan berkelanjutan yang ditunjukkan dengan adanya repeat order
ketiga kalinya dan akan berlanjut dengan order produk lain, seperti sarung tenun
handmade sebagai national costum di Brunei Darrussalam. Secara individu pelaku usaha
juga mendapatkan kesempatan untuk ekspo di Eropa, khususnya pasar Belanda.
3.
Landasan Teoritis
Teori ketergantungan (dependency theory) adalah teori yang digunakan unt
uk
menganalisis permasalahan pembangunan dari perspektif negara berkembang atau
negara dunia ketiga. Teori yang lahir karena kekawatiran Raul Presibich (1950 an),
dalam kapasitasnya sebagai Direktur Economic Commision for Latin America (ECLA)
melihat pesatnya pertumbuhan ekonomi negara-negara maju tetapi tidak secara otomatis
memberikan dampak terhadap perkembangan ekonomi di negara berkembang. Hal ini
tidak sejalan dengan
konsep teori ketergantungan yang menjelaskan bagaimana
ketergantungan suatu negara dengan negara lain dalam arti saling mempengaruhi,
khususnya dalam hal perkembangan sebagai dampak pembangunan ekonomi. Tetapi
dalam realitasnya, justru aktivitas ekonomi negara maju sering menimbulkan masalah
ekonomi di negara berkembang.
Teori ketergantungan secara sosiologis menunjukkan adanya saling ketergantungan
antara anggota masyarakat yang satu dengan masyarakat lainnya. Teori ketergantungan
biasanya dikaitkan dengan banyaknya kepentingan dan berbeda diantara kelompok, kelas
dan negara. Disisi lain teori ketergantungan bicara dalam pandangan yang negatif karena
127
e-Proceeding | COMICOS 2017
pengaruh kapitalisme dalam menciptakan banyak ketimpangan, tetapi juga dapat
menimbulkan dampak positif dalam konteks utang luar negeri, modal asing untuk
pertumbuhan ekonomi misalnya.
Meminjam konsep teori ketergantungan dalam tulisan ini coba diaplikasikan dalam
kerangka memahami sikap ketergantungan suatu komunitas pengusaha / pengrajin skala
mikro, kecil dan rumahan yang secara sosial tumbuh karena interaksi sosial baik kedalam
(bounding) maupun dengan komunitas lainnya ( bridging) sehingga menimbulkan
kecenderungan bahwa pertumbuhan usaha / industri dan bisnisnya dalam skala mikro,
kecil dan menengah dalam suatu lokasi geografis tertentu atau komunitas yang memiliki
hubungan kekeluargaan.
UMKM sebagai usaha dan atau bisnis dalam bidang industri melekat karakteristik sosial
dan budaya masyarakatnya. Oleh karenanya corak sosial dan budaya yang terintegrasi
dalam gaya usaha termasuk kreatifitas yang tampak dari hasil produknya menjadikan
UMKM masuk dalam kriteria industri kreatif. Dalam perkembangannya UMKM
memiliki keterikatan dengan sesama pelaku usaha dan terbangun menjadi suatu rantai
produksi dan juga pasar. Secara individu masing-masing pelaku usaha/industri skala
UMKM juga memiliki ketergantungan yang tinggi dan sekaligus persaingan, khususnya
pada industri sejenis. Ketergantungan menunjukkan rendahnya tingkat kemandirian
sebagai usaha. Dalam kaitannya dengan program pembinaan yang diintervensikan dalam
manajemen usaha dapat juga terjadi ketergantungan terhadap pembina atau fasilitator.
Mengacu pada Undang-Undang Republik Indonesia No 20 Tahun 2008 tentang UMKM
maka skala usaha akan berkorelasi dengan kondisi yang terkait dengan kepemilikan
asset, dan omzet (hasil penjualan). Dalam Undang-undang tersebut dibedakan antara
usaha mikro, kecil dan menengah yang diberi batasan berdasarkan kepemilikan asset dan
128
e-Proceeding | COMICOS 2017
hasil penjualan. Berdasarkan kriteria asset dan hasil penjualan tersebut, usaha mikro,
yaitu memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 50.000.000,-( limapuluh juta tidak
termasuk tanah dan bangunantempat usaha; atau memiliki hasil penjualan sebesar Rp.
300.000.000,- ( tiga ratus juta rupiah). Usaha kecil, memiliki kekayaan bersih sebesar
Rp. 50.000.000,-( limapuluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp.500.000.000,( lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha atau memiliki
hasil penjualan sebesar Rp. 300.000.000,- ( tigaratus juta) sampai Rp. 2.500.000.000,- (
dua milyar limaratus juta ). Usaha menengah, memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp.
500.000.000,- ( limaratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp.
10.000.000.000,- ( sepuluh milyar ) tidak termasuk bangunan tempat usaha atau hasil
penjualan tahunan lebih dari Rp. 2500.000.000.000,- (dua milya limaratus juta rupiah)
sampai paling banyak Rp. 50.000.000.000,- ( limapuluh milyar).
Daya saing, secara umum didefinisikan sebagai kemampuan suatu unit produksi/bisnis
untuk bersaing dalam pasar yang menjadi fokusnya. Dalam era pasar bebas ASEAN, tiga
hal yang perlu dibenahi untuk meningkatkan kemampuan usaha/industri skala umkm
yaitu bagaimana menyikapi/merespon pasar yang dinamis, kelembagaan ekonomi yang
fleksibel dan kinerja yang efisien. Ketiga hal tersebut menjadi tuntutan yang harus
dipenuhi dan bukan merupakan pilihan.Pasar yang dinamis bukan hanya secara
kuantitatif tetapi juga kualitasnya. Kualitas harus berdasarkan pada standar yang telah
ditetapkan dan disepakati oleh negara anggota ASEAN, dan global pada umumnya.
Marespon kondisi yang dinamis diperlukan lembaga bisnsi yang fleksibel, agar mudah
bergerak, efisien dan mobile untuk mewujudkan biaya yang efisien. Dalam hal ini dapat
diartikan mobile secara fisik yaitu sangat mungkin melakukan ekspansi horizontal
maupun vertikal. Dukungan informasi dan teknologi internet sudah mutlak sifatnya.
129
e-Proceeding | COMICOS 2017
Mengutup pengertian Triple Helix’s, “The Triple Helix concept relies thus on three main
ideas: (1) a more prominent role for the University in innovation, on a par with Industry and
Government in the Knowledge Society; (2) a movement toward collaborative relationships
among the three major institutional spheres, in which innovation policy is increasingly
...”(.............). Dari pengertian tersebut maka Triple Helix’s diharapkan akan menjadi model
penyelesaian masalah dengan melibatkan swasta dan atau bisnis dan perguruan tinggi
sesuai kompetensi masing-masing . Kompetensi pemerintah dan Perguruan Tinggi serta
Industri dalam suatu sinergi akan menghasilkan efektifitas
dan efisiensi program
pembinaan bagi UMKM . Hal ini diperlukan mengingat permasalahan yang dihadapi
UMKM sangat kompleks, dan saling terkait , dan diperlukan pendekatan sinergis dan
pendekatan yang menyelesaikan masalah secara simultan. Ddisisi lain pembinaan yang
hanya dilakukan salah satu pihak hanya menyelesaikan persoalan secara parsial dan
berdampak tidak tuntas, kontra produktif dan hanya berorientasi pada pelaksanaan
program sesuai kepentingan
pemilik program yang pada akhirnya memposisikan
UMKM bukan sebagai mitra tetapi sebagai obyek.
Triple Helix’s sebagai istilah yang digunakan untuk menyebutkan peran masing-masing
pihak, perguruan tinggi, yang memiliki sumberdaya manusia intelektual dan teknologi;
industri melalui Corporate Social Responsibility (CSR), dan pemerintah yang memiliki
kewenangan wajib dan penyelenggara pelayanan publik yang bersifat motivator,
fasilitator dan mediator serta regulator sedemikian rupa dilengkapi dengan pendanaan
yang memadai. Sebagai konsep, gagasan utama Triple Helix adalah sinergi kekuatan
yang komprehensif antara akademisi, bisnis, dan pemerintah. Kalangan akademisi
dengan sumber daya, ilmu pengetahuan, dan teknologinya memfokuskan diri untuk
menghasilkan berbagai temuan dan inovasi yang aplikatif dan mendorong perlindungan
hak kekayaan intelektualnya ( HAKi).. Kalangan industr/bisnis dibagi menjadi dua,
130
e-Proceeding | COMICOS 2017
industri/bisnis skala besar memberikan
fasilitator melakukan kapitalisasi yang
memberikan keuntungan ekonomi dan kemanfaatan bagi masyarakat dan lainnya
menjadi mitra, subyek perubahan. Sedang pemerintah menjamin dan menjaga stabilitas
hubungan keduanya dengan regulasi kondusif serta peran lain yang menjadi tugas pokok
dan fungsi yang telah ditetapkan.
Secara umum triple helix’s sebagai konsep dan pendekatan digambarkan sebagai berikut
:
Gambar 1 : Triple Helix’s.
Dari gambar trsebut dapat dilihat bagaimana bekerjanya masing-masing pihak, baik
secara individu sesuai dengan kompetensinya , tetapi juga ada program kegiatan yang
dilakukan bersama karena bentuk, dan tujuan nya sama sehingga dapat dilaksanakan
secara sinergis. Baik antara perguruan tinggi dengan industri, industri/bisnis dengan
pemerintah, maupun pemerintah dengan perguruan tinggi. Bahkan dalam hal yang
spesifik maka perguruan tinggi, industri/bisnis serta pemerintah memiliki peluang
melakukan kegiatan yang sama secara bersama.
131
e-Proceeding | COMICOS 2017
Triple Helix’s dalam perkembangannya karena kebutuhan riil lapangan yang tidak dapat
dipisahkan dengan lingkungannya, maka lahirlah pendekatan lain dengan menyertakan
secara aktif masyarakat umum dilingkungan industri menjadi konsep ABG’s atau C,
yaitu Academisi, Bussisnes, Government dan Community atau Society. Selajan dengan
hal tersebut pemerintah menetapkan kebijakan satu produk unggulan sebagai trigger pada
setiap daerah yang dikenal dengan One Village One Product atau OVOP. Secara umum
OVOP dilaksanakan sebagai usaha terobosan pemerintah melalui fokus pembinaan pada
satu produk untuk mempercepat peningkatan daya saing.
Penentuan produk unggulan daerah melalui penetapan pemerintah yang didasarkan oleh
sejumlah indikator, yaitu : Produk unggulan daerah dan/atau produk kompetensi inti
daerah; unik khas budaya dan keaslian lokal; berpotensi pasar domestik dan ekspor ;
memiliki kualitas/mutu tinggi dan berpenampilan baik; diproduksi secara kontinyu dan
konsisten ( Kementrian Koperasi dan UMKM,
).
Pada akhirnya konsep pendekatan Triple Helix’s harus digunakan secara sinergis untuk
mengembangkan UMKM dengan konsep OVOP di setiap daerah. Sehingga konsep
pembinaan UMKM akan semakin cepat dapat dilihat hasilnya, tentu dengan
memposisikan UMKM sebagai pusat/ sentralnya. Jika dalam realitas di Indonesia,
lahirnya UMKM dari rakyat maka kemudian UMKM adalah usaha rakyat
dan
dikembangkan bagi kesejahteraan masyarakat menggunakan konsep ekonomi
kerakyatan. Semakin banyak pihak yang terlibat semakin dapat menyelesaikan
permasalahan UMKM dengan cepat, efisien dan efektif. Prtanyaannya mengapa UMKM
tidak juga beranjak dari tempat dan masalahnya. Jika ada yang berhasil keluar dari
permasalahannya bukan disebabkan oleh intervensi program semata tetapi juga peran
132
e-Proceeding | COMICOS 2017
penting pelaku usaha yang memiliki paradigma dan respon benar dalam bisnis yang
sedang berubah.
Secara khusus Kementrian Koperasi dan UMKM menegaskan tentang tujuan OVOP,
antara lain : untuk menggali dan mempromosikan produk inovatif dan kreativitas lokal
dari sumber daya yang bersifat unik khas daerah bernilai tambah tinggi dengan tetap
menjaga kelestarian lingkungan khususnya lembaga skala UMKM diharapkan akan
menjadi ujung tombak perekonomian dan pengembangan inovasi berbasis teknologi
untuk meningkatkan daya saing.
Lingkungan masyarakat sebagai tempat UMKM
berakar juga harus mendapat perhatian karena tidak dapat dipisahkan dalam upaya
pembinaan yang komprehensif.
Contoh berbagai produk binaan program OVOP Oita, di Jepang yang menggunakan
pendekatan serupa dengan Triple Helix’s di Indonesia, antara lain :
a)
Jeruk KABOSU OITA, inovasi kemasan yang dilakukan menghasilkan
peningkatan daya jual. Petani jeruk mendapatkan manfaat dengan meningkatknya
pendapatan dan kesejahteraan.
b)
Potensi Pariwisata di Nagaoka, dimana SDA terbatas, yang digarap adalah seni
pertunjukkkan musik klasik. Masyarakat setempat berkontribusi menyediakan tempat
pertunjukkan untuk melengkapi infrastruktur yang belum tersedia. Selanjutnya potensi
wisata seni dilengkapi dengan homstay untuk menginap pengunjung yang merupakan
rumah –rumah penduduk yang telah ditinggalkan kaum muda anggota keluarga untuk
bersekolah dikota lain, dipinjamkan sebagai fasilitas wisata.
Dampak positif dari
program ini adalah meningkatnya pendapatan masyarakat pelaku usaha langsung
maupun tidak langsung yang mengusahakan barang pelengkap kebutuhan masyarakat
wisata sesuai kemampuan yang masing-masing miliki. Sesuai dengan kondisi wilayah (
133
e-Proceeding | COMICOS 2017
agraris) yang dikembangkan, maka ditanamkan kesadaran masyarakat bahwa daerah
agraris dikembangkan optimal dan sinergis dengan kekhasan wisatanya daripada
membuat ide2 yang kurang dipahami secara luas oleh masyarakatnya.
4.
Diskusi
Daya saing UMKM memiliki dimensi yang sangat banyak. Pada usaha skala
mikro, kebanyakan memiliki naluri bisnis yang cukup untuk bertahan. Strategi mengikuti
langkah pengusaha dalam skala lebih besar adalah kemampuan mereka agar tetap dapat
hidup. Hal ini didukung dengan kondisi pada usaha bisnis skala mikro biasanya bersifat
rumahan. Rumah juga menjadi tempat usaha. Tetangga menjadi pendukung utama
sebagai tenaga kerja, dengan sistem manajemen “kekeluargaan”, jarang yang memiliki
ijin atau kelengkapan usaha dari sisi administrasi atau dasar hukum. Biasanya usaha
bisnis skala mikro disebut juga sebagai usaha rumahan dan sangat jarang yang meningkat
menjadi usaha skala kecil atau sedang, menurut Undang-undang No 20 Tahun 2008
Tentang Usaha mikro, kecil dan menengah di Indonesia.
Lembaga bisnis modern tidak lagi diukur dari besarnya fisik bangunan dan
volume produksi saja tetapi pada luasnya koneksi baik dengan pasar dometik dan pasar
global. Koneksi tersebut digerakkan oleh penguasaan informasi dan teknologi, serta
beroperasi secara efisien dan fleksibel. Pelaku usaha sudah seharusnya memperbaharui
informasi dan pengetahuan tentang usaha/industri atau bisnis yang dilakukannya. Itulah
mengapa era bisnis modern saat ini juga disebut era ekonomi berbasis pengetahuan.
Di Indonesia banyak usaha/bisnis dalam skala kecil. Karakeristik selain yang
ditetapkan dalam UU No 20 Tahun 2008 Tentang UMKM tersebut juga hampir sama.
Permasalahannya juga sama secara umum. Hanya jika sudah masuk dalam jenis produk
yang dihasilkan maka prioritas masalah menjadi berbeda, khas pada setiap individu. Oleh
134
e-Proceeding | COMICOS 2017
karenanya harus diberikan solusi yang spesifik sesuai dengan permasalahannya sehingga
dapat menyamakan posisi kondisi minimal sebagai usaha/ bisnis yang sehat dan dapat
bersaing secara terbuka, fair play dan mandiri.
Penyebab ketergantungan
dapat berasal dari pelaku UMKM, pemerintah,
perguruan tinggi dan stakeholder lainnya dalam konteks pembinaan
UMKM.
Permasalahan dari sisi pelaku usaha : mentalitas, paradigma usaha, dan daya juang.
Mentalitas pelaku usaha dipengaruhi oleh karakter sumberdaya manusia sebagai modal
manusia yang memiliki peran utama dalam memerankan diri dalam industri dan bisnis,
memiliki kualitas rendah. Mengingat bahwa, sekalipun usaha/industri berskala mikro,
kecil dan menengah yang berpengalaman dan secara alami memiliki keunggulan tetapi
lebih banyak diantara mereka jika dilihat dari sejarah usaha merupakan usaha yang
dirancang karena kondisi terpaksa, untuk bertahan hidup atau merupakan usaha turun
menurun yang telah dimulai oleh para pendahulunya sehingga tidak memiliki
pengalaman sebagai generasi yang memulai usaha. Biasanya mereka tinggal melanjutkan
usaha atau mempertahankannya.
Fair play merupakan salah satu persyaratan yang harus dipenuhi dalam
pemasaran produk dan atau bisnis global, selain standarisasi produk menyangkut
komponen produk (40 % komponen lokal), kesehatan dan keamanan produk bagi
konsumen yang memiki latar belakang ekonomi, sosial dan budaya beragam. Dalam hal
tersebut perlu bagi UMKM yang menjadi andalan Indonesia untuk menjadi pemain
(produsen) barang dan jasa di pasar ASEAN untuk secara terus menerus melakukan
perbaikan. Implementasi ekonomi berbasis pengetahuan penting disadari agar UMKM
dapat segera mengubah cara pandang usaha/ bisnisnya, dari bisnis konvensional menjadi
bisnis modern. Dalam proses, sebaiknya tidak bersifat proyek karena perubahan
135
e-Proceeding | COMICOS 2017
paradigma menyangkut sumberdaya manusia, latar belakang ekonomi, sosial dan budaya
yang memerlukan strategi terus-menerus atau berkelanjutan. Diperlukan pendamping
yang memahami permasalahan dalam perspektif pelaku usaha.
Peran pendamping sangat penting tetapi harus dapat memposisikan diri dengan
benar. Seringkali pendamping lebih dominan dalam pengambilan keputusan yang terkait
upaya mendorong pelaku usaha dengan perubahan, dan harus dilakukan oleh pelaku
usaha/bisnis sebagai mitra. Seringkalai mitra tidak dalam posisi sejajar dan justru
menjadi obyek.
Posisi UMKM sebagai mitra (subyek) harus dijelaskan sejak awal karena hal
tersebut menjadi kunci apakah target akan tercapai atau tidak. Target program adalah
meningkatnya daya saing sesuai dengan prioritas dan daftar masalah yang disepakati
antara pendamping dan mitra, dan akan diatasi bersama. Dalam hal ini pendamping atau
fasilitator tidak boleh menjadi penentu dan apalagi mendominasi proses dan pengambilan
keputusan.
Anggota Koperasi Paguyuban Pengusaha Pengrajin Tenun Troso terdiri dari 34
orang, 70 % diantaranya merupakan pengrajin dan sekaligus pengusaha dengan katagori
mandiri, dan memiliki daya saing produk untuk pasar domestik dan global. Inovasi motif
terus dilakukan dan mengadaptasi kebutuhan pasar dengan lebih cepat dibanding 30%
pengusaha lainnya karena faktor modal uang dan informasi yang diperoleh dengan sistem
jejaring yang lebih luas. Mereka memiliki kinerja yang terstruktur dan terprogram
walaupun masih memiliki masalah dalam hal pencatatan keuangan dan rencana bisnis
yang tidak terdokumentasi dengan baik. Tidak adanya pembagian kerja yang jelas.
Sebagai usahaindustri atau bisnis berbasis usaha keluarga maka keterlibatan anggota
keluarga masih tinggi khususnya dalam hal menjadi pelaksana, sedangkan eksekutor
136
e-Proceeding | COMICOS 2017
masih ditangan pemilik usaha atau sekaligus sebagai kepala keluarga. Misalnya
keputusan untuk bahan, berapa dari mana dan bagaimana sampai di rumah. Untuk pasar,
dimana akan dibuka pasar baru, bagaimana caranya dan siapa yang akan menangani.
Diantara pengrajin yang telah mandiri, 50 % dibantu secara aktif oleh istri mereka
sebagai tangan kanan yang justru menjadi ujung tombak pemasaran. Dalam berbagai
even pameran justru para isterilah yang memegang peran penting sebagai sales
promotion atau seller yang lebih luwes dan kreatif. Selebihnya para pengrajin
menggunakan tenaga bukan keluarga sebagai pegawai yang digaji.
Pengrajin yang masih tergantung kepada program pemerintah ataupun
steakholder lainnya jika dilihat latar belakangnya dalam operasional usaha/bisnis mereka
juga hanya sebagai pekerjaan utama yang dilakukan kurang fokus dan kurang memiliki
daya juang. Sehingga ketika ada fasilitator atau pendamping, seolah ingin melimpahkan
permasalahannya kepada pendamping atau steakholder. Yang jelas untuk mengambil
resiko kelompok ini tidak seberani para pengrajin yang sudah mandiri. Bagi pengrajin
yang sudah mendiri maka resiko sudah dianggp sebagai biaya. Sebaliknya bagi para
pengrajin yang belum mandiri mengambil resiko memerlukan pertimbangan yang lama
dan banyak aspek, dan pada ujungnya adalah keraguan atau ketakutan terhadap dampak
resiko yang belum tentu terjadi.
Menurut Hiramatsu Morihiko dalam seminar OVOP di Bali, 2009 menegaskan
pentingnya memperhatikan aspek yang mendasar dari pelaku usaha dan masyarakatnya
karena pelaku UMKM khususnya tidak dapat terlepas dari lingkungannya dalam hal
kerakteristik, kebiasaan dan akan berpengaruh dalam budaya organisasi dan budaya
kerja. Aspek tersebut adalah : produk lokal yang mampu memenuhi pasar global. Bukan
hanya dalam jumlah dan kualitasnya tetapi juga harus memenuhi komponen lokal
137
e-Proceeding | COMICOS 2017
minimal 40 % seperti yang dipersyaratkan untuk pasar tunggal ASEAN. Masyarakatnya
mampu bekerja secara mandiri, sehingga akan meminimalisir ketergantungan untuk
keberlanjutan baik didampingi oleh stake holder ataupun tidak. Kemandirian juga akan
mendorong inovasi dan kreativitas lebih cepat di serap. Mental sumberdaya manusia
sebagai pelaku, atau supporting system dalam klaster harus siap menghadapi tantangan
sebagai konsekwensi perubahan. Dalam hal ini umberdaya manusia (SDM) harus
dipersiapkan melalui pendidikan formal maupun non formal oleh dinas/lembaga yang
berkompeten.
Dalam kasus pengusaha tenun Troso sebagai mitra program, muncul
ketergantungan dalam sikap yang tidak mau mengemukakan gagasan dan hanya ikut
dengan teman lain dan atau failitator, pasif dan menunggu, tidak menjalankan program
yang telah disepakati bersama dengan berbagai alasan. Kekawatiran yang berlebih akan
resiko terhadap keputusan yang akan diambil terhadap kemajuan atau peningkatan hasil
dengan cara merubah strategi juga terjadi pada pengusaha/pengrajin perempuan.
Maksudnya perempuan sebagai pemilik. Tetapi latar belakang ketakutan mereka adalah
karena mereka bukan sebagai pencari nafkah utama, tidak perlu mengejar sesuai dengan
keras dan atau memaksakan diri. Mereka lebih kepada tidak berani mengambil resiko
untuk berubah karena membatasi diri sendiri bahwa sebagai pekerjaan “sampingan” dan
berfungsi “membantu suami” mencari nafkah sudah dianggap cukup. Mereka lebih suka
berusaha atau berbisnis dalam zona aman.
Hasil kajian menunjukkan, mereka yang menjadi mitra memproduksi barang
kerajinan yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai produk global hanya 20%
diantara pengrajin wanita yang memiliki cara pandang melakukan bisnis yang tidak
dibatasi oleh fungsi dan perannya sebagai isteri dalam keluarga dan sebagai pembantu
138
e-Proceeding | COMICOS 2017
pencari nafkah membantu suami. Dalam hal ini budaya patriarkhi belum sepenuhnya bisa
merubah mindsetting pengusaha perempuan dalam memposisikan usaha dan bisnisnya
dalam kendali suami.
Pengusaha perempuan yang sudah memiliki pandangan yang berbeda terhadap
peran dan fungsinya dalam bisnis, memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi yaitu
sudah pada jenjang sarjana strata 1 dan atau suami yang memiliki tugas pokok bukan
sebagai pengusaha. Pekerjaan suami mereka adalah guru sekolah negeri atau pegawai
negri. Kelompok pengusaha ini dapat bebas melakukan pekerjaan mereka, dalam hal
waktu kerja jangkauan pasar dan atau pengambilan keputusan terhadap mamanejen usaha
yang lebih baik dibanding pengrajin laki-laki. Lebih baik dalam arti tertib administrasi,
pengetahuan tentang aturan-aturan ketenaga kerjaan, jam kerja dan kebijakan lain
tentang produksi, bahan dan pasar termasuk sistem pembayaran yang harus disepakati
dengan pembeli. Penentan margin keuntungan, juga terlihat lebih besar dibanding
margin keuntungan yang ditetapkan oleh pengusaha laki-laki. Pengrajin perempuan
dapat mencapai 25 % sampai 50%. Sedangkan pengusaha laki-laki berkisar pada angka
20 % sampai 30% .
Bagi pengusaha atau pengrajin perempuan tingkat ketergantungan terhadap
fasilitator lebih rendah. Tetapi tidak semua pengusaha perempuan melakukan advis
bisnis yang disepakati dengan para pembina atau fasilitator. Tidak menolak tetapi juga
tidak mengikuti. Mereka lebih baik bersikap “diam” untuk hal-hal baru yang harus
diintegrasikan dalam bisnis atau usaha nya sekalipun sudah menyepakati. Tetapi karena
lebih mengandalkan “filling bisnis” maka mereka tidak jarang tidak menggunakan saran
yang diberikan. Ha ini tampak pada saat pertemuan berikutnya, kondisi kemajuan dari
proses yang disepakati tidak terjadi. Bagi pengusaha perempuan yang sudah mandiri,
139
e-Proceeding | COMICOS 2017
seringkali justru memiliki pengetahuan dan pengalaman yang lebih luas dari para
pendamping sehingga mereka hanya butuh penegasan dari para pendamping dan
komunikasi bersifat “ sharing” pengalaman. Tidak jarang sebagai pendamping justru
lebih banyak mendengar dan atau belajar dari mereka.
Kondisi diatas jika dibandingkan dengan pengalaman dua negara yaitu
Taiwan, Perancis, Thailand dan Korea yang berhasil memberdayakan sumberdaya pada
UMKM menjadi trigger gerakan perubahan yang diintegrasikan untuk meningkatkan
pengaruh perkembangan dari negara-negaera tersebut pastilah menghadapi perjuangan
tersendiri yang dipengaruhi oleh karakter, budaya dan sikap masyarakatnya.
Penutup
Kesimpulan
Triple Helix,s sebagai konsep dan pendekatan telah dirancang dengan
mempertimbangkan kompetensi dan sumberdaya yang dimiliki oleh masing-masing
pihak sebagai stakeholder dan mitra. Pembinaan yang dapat mencapai tujuan yang
ditetapkan bersama antara pendamping (fasilitator) dan mitra secara efisien dan efektif
akan sangat berguna bagi percepatan peningkatan daya saing UMKM. Sebaliknya jika
mitra , dalam hal ini UMKM diposisi yang tidak benar, hanya sebagai obyek maka akan
berdampak kontra produktif, target tidak tercapai dan justru menimbulkan
ketergantungan bagi para mitra.
Bentuk ketergantungan bisa mewujud dalam sikap masa bodoh, tidak partisipatif,
tidak mau mengungkapkan perasaan dan pendapatnya dan tidak mau berubah atau
menjalankan kesepakatan bersama. Pada akhirnya tidak ada hasil yang dapat dirasakan
oleh mitra hanya mungkin bagi stakeholder yang telah melaksanakan program kerja
140
e-Proceeding | COMICOS 2017
secara sepihak. Hal ini sangat merugikan dari segala segi, waktu, tenaga dan biaya
sehingga efektivitas dan efisiensi program tidak terwujud. Daya saing yang diharapkan
tidak akan terjadi sehingga pelaku UMKM tetap berada dalam kubangan masalah yang
secara langsung akan berpengaruh terhadap keberlangsungan usahanya.
Posisi mitra menjadi kunci dalam pembinaan UMKM menggunakan konsep
Triple Helix’s maupun ABGC ( s) karena lingkungan dimana bisnis berada akan
mempengaruhi paradigma, gaya, kebiasaan dan bahkan budaya mengelola bisnis dan
respon terhadap perubahannya. Masalah utama UMKM dan lingkungannya dalam
mengubah comparative menjadi orientasi competitive , bisnis konvensional menjadi
modern yang efisien dan fleksibel dan inovatif adalah sumberdaya manusia sedangkan
aplikasi konsep triple helix’s dan ABGC adalah pada kesetaraan, posisi mitra,
kompetensi dan integritas. Kepentingan menempatkan UMKM sebagai mitra dan centre
diatas kepentingan, program sektoral menjadi kunci penting tercapainya tujuan
pendekatan yang menyertakan tiga pilar perguruan tinggi, pemerintah dan bisnis serta
UMKM sebagai mitra.
a.
Rekomendasi
Rekomendasi dari hasil penelitian ini antara lain :
a.
Pemahaman konsep triple helix’s sebagai konsep dan pendekatan oleh pihak yang
terlibat dengan perspektif yang sama.
b.
Harus memperhatikan posisi UMKM sebagai mitra dalam posisi sentral
c.
Masing-masing
pihak
menshare
kemampuan
dan
kompetensinya
untuk
diintegrasikan dalam program yang sinergi sebagai solusi atas permasalahan yang
telah disusun bersama yang menempatkan UMKM sebagai mitra dalam posisi yang
benar ( sentral).
141
e-Proceeding | COMICOS 2017
DAFTAR PUSTAKA
Hiramatsu Morihiko, 2009, Kertas Kerja, Seminar OVOP di Bali.
H. Etzkowitsz, L Leydesdorff, 2000, The Dynamics of Innovation : From National
System and Mode 2 to Triple Helix of University –Industry – Government
relations, vol 29, Issue 2, February 2000, Pages 109-123.
L Leydesdorff, Y Sun , 2009, National and International dimensions of the triple helix
in Japan : university –Industry – Gouvernment versus International coauthoship
relations.
Mamik Indaryani, 2015- 2016, Laporan kegiatan penelitian MP3EI, tahun ke dua,
Universitas Muria Kudus.
Susilo, Y Sri, 2004. Masalah dan Dinamika Industri Kecil Pasca Krisis Ekonomi. “Jurnal
Ekonomi Pembangunan, hal 79–90”. Terbit bulan Juni.
--------------, 1998, The Triple Helix as a Model For Innovation Studies, Sciense and
public policy,1998,academic. Oup.com.
------------,
Kementrian
Koperasi
dan
UMKM,
Pedoman
OVOP.
http://www.depkop.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=759:
program-ovop-pacu-produktivitas&catid=50:bind-berita&Itemid=97
142
e-Proceeding | COMICOS 2017
OPTIMALISASI TOL LAUT SEBAGAI ALTERNATIF PENUNJANG
KELANCARAN PENGANGKUTAN BARANG DAN JASA GUNA
MENDUKUNG AEC
Elfrida R Gultom
Fakultas Hukum Universitas Trisakti Jakarta
[email protected]
Abstrak
Tol Laut adalah konsep pengangkutan logistik kelautan yang bertujuan untuk
menghubungkan pelabuhan-pelabuhan besar, membangun transportasi laut dengan kapal
atau sistem logistik kelautan yang melayani tanpa henti dari Sabang hingga Merauke
sebingga roda perekonomian bergerak secara efisien dan merata. ASEAN membentuk
Asean Economic Community (AEC) untuk menciptakan ASEAN sebagai kawasan
ekonomi yang stabil, sejahtera dan berdaya saing merupakan peluang sekaligus
tantangan bagi perekonomian Indonesia. Ketahanan perekonomian yang kuat dibutuhkan
agar Indonesia mampu bersaing dengan negara ASEAN yang lain. Disinilah peran dari
Tol Laut yang memiliki manfaat yang besar dalam menunjang perekonomian Indonesia
mengingat Indonesia merupakan wilayah maritim yang luas. Bagaimana peran dari tol
laut sebagai alternatif penunjang kelancaran pengangkutan barang dan jasa dan
Bagaimana manfaat dari tol laut sebagai penggerak perekonomian Indonesia sekaligus
dalam mendukung program AEC, adalah permasalahan dalam penulisan ini. Penelitian
ini bertujuan menggambarkan peran dari tol laut sebagai alternatif penunjang kelancaran
pengangkutan barang dan jasa di Indonesia dan manfaat dari tol laut sebagai penggerak
perekonomian Indonesia sekaligus dalam mendukung program AEC. Penelitian yang
digunakan Normatif ,dengan data sekunder yang dianalisis secara Deskriftif, dan
pendekatan metode kualitatif yaitu pemahaman dalam suatu permasalahan menggunakan
kuisioner dan responden. Peran tol laut sebagai alternatif penunjang kelancaran
pengangkutan barang dan jasa untuk menggerakkan ekonomi Indonesia, oleh karenanya
perlu didukung regulasi yang baik dengan dibentuknya lembaga pengawas tol laut,
sehingga dengan optimalisasi Tol Laut ini dapat menunjang kekuatan perekonomian
Indonesia secara merata dan sebagai kekuatan hubungan perekonomian Indonesia antar
negara di ASEAN.
Kata kunci : Optimalisasi, Tol Laut, Kelancaran, Barang dan Jasa, AEC
Abstract
Sea Toll is a marine logistics concept that aims to connect large ports, build marine
transportation by boat or maritime logistics system that serves non-stop from Sabang to
Merauke so that the wheels of the economy move efficiently and evenly. ASEAN
establishes Asean Economic Community (AEC) to create ASEAN as a stable, prosperous
and competitive economic region is an opportunity as well as a challenge for the
Indonesian economy. Strong economic resilience is required for Indonesia to compete
with other ASEAN countries. This is where the role of the Sea Tol that has great benefits
in supporting the Indonesian economy considering Indonesia is a vast maritime territory.
How does the role of the sea toll as an alternative to the smooth transportation of goods
and services and how the benefits of sea tolls as a driver of the Indonesian economy as
well as in supporting the AEC program, is a problem in this writing. This study aims to
describe the role of sea tolls as an alternative to the smooth transportation of goods and
services in Indonesia and the benefits of sea tolls as a driver of the Indonesian economy
143
e-Proceeding | COMICOS 2017
as well as in supporting the AEC program. Research used Normatif, with secondary data
analyzed by deskriptif, and approach of qualitative method that is comprehension in a
problem using questioner and respondent. The role of sea toll roads as an alternative to
the smooth transportation of goods and services to drive the economy of Indonesia,
therefore needs to be supported by good regulation with the establishment of sea toll
supervisory institutions, so that optimization of the Tol Sea can support the strength of
the Indonesian economy evenly and as the strength of Indonesia's inter- Countries in
ASEAN.
Keywords: Optimization, Sea Toll, Smoothness, Goods and Services, AEC
A. Pendahuluan
1.
Latar Belakang
Indonesia adalah negara berkembang, pembangunan infrastruktur di
Indonesia menjadi salah satu hal yang penting dan fundamental karena infrastruktur
yang baik pasti akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat serta perekonomian
nasional. Infrastruktur yang harus dikelola dengan baik oleh negara dan wajib
mendapat perhatian penuh salah satunya adalah Pelabuhan.
Di dalam suatu
pelabuhan banyak terjadi kegiatan yang mendorong pertumbuhan perekonomian
suatu negara apabila dikelola dengan baik dan benar. Banyak kegiatan penting
didalamnya seperti pengangkutan barang, ekspor –impor dan proses bongkar dan
muat barang, yang kesemuanya itu membutuhkan kinerja yang baik dan benar agar
lancar dan cepat dalam pendistribusiannya.
Jika suatu pelabuhan tidak baik pengelolaannya baik dari segi pelaksana
kegiatan di lapangan, sarana dan prasarana yang baik dan lengkap, sumber daya
manusia sebagai pelaku dan pelaksana dari peraturan, maka akan berdampak pada
perkenomian negara. Dikatakan bahwa pertumbuhan ekonomi suatu negara
dipengaruhi terhadap tiga hal yaitu konstruksi, ekspor-impor, dan investasi. Jadi
sangat jelas, kegiatan suatu pelabuhan memacu pemasukan investasi negara melalui
devisa negara, oleh karenanya perlu dikelola dengan baik oleh negara, bagaimana
144
e-Proceeding | COMICOS 2017
memaksimalkan seluruh kegiatan yang ada di pelabuhan Indonesia.
Pada Bulan Desembar Tahun 2015 yang lalu telah diberlakukan suatu
kebijakan ekonomi oleh negara-negara di ASEAN yaitu AEC (Asean Economic
Community). Tujuan dari ASEAN Economic Community adalah meningkatkan
daya saing ekonomi Negara-negara ASEAN dengan menjadikan ASEAN sebagai
basis produksi bukan hanya menjadi pasar dari Negara-negara maju, seperti
Amerika, Negara-negara Eropa dan Negara-negara dari Asia Timur, serta menarik
investasi dan meningkatkan perdagangan antar anggota-anggotanya agar bisa
bersaing dalam menghadapi tantangan global dan lebih lanjutnya adalah untuk
mengurangi kemiskinan serta kesenjangan sosial antara Negara anggota melalui
sejumlah kerjasama ekonomi yang saling menguntungkan.4
Hal inilah yang nantinya menjadi peluang sekaligus tantangan pada
perekonomian Indonesia. Tak bisa dipungkiri Indonesia memiliki potensi
sumberdaya alam terbesar sehingga berpeluang menjadi basis Industri pengolahan
bagi Asean. Basis industri yang dimaksud adalah Industri manufaktur,pertanian
pangan, dan perikanan. Namun untuk mewujudkan potensi-potensi itu sangat
bergantung pada kemampuan Indonesia untuk mempersiapkan antara lain sumber
daya manusianya, sarana dan prsasarana yang dibutuhkan serta penunjangpenunjang lainnya.
Salah satu hal yang harus dipersiapkan adalah sarana pengangkutan untuk
pendistribusian barang agar lancar dan cepat sampai pada daerah tujuan. Mengapa?
Fitri- Kompasiana , 25 April 2014, 21.49, Asean Economic Community (AEC) 2015…. Peluang
dan Tantangan Indonesia !!! Are you Ready?? http://www.kompasiana.com/fitri-kompasiana/aseaneconomic-community-aec-2015-peluang-dan-tantangan-indonesia-are-youready_54f7833ca3331141758b4596
4
145
e-Proceeding | COMICOS 2017
karena pendistribusian barang dari satu tempat ke tempat lain apabila tidak lancar
maka akan mempengaruhi kegiatan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Jadi
jaminan tentang kelancaran pengangkutan barang dan jasa sangat penting dalam
pendisribusian barang dari suatu wilayah ke wilayah lain, dan memerlukan
pemikiran dan jalan keluar yang tepat. Wilayah Indonesia adalah wilayah kepulauan
dengan jumlah wilayah perairan dua per tiga dari wilayah keseluruhan, apabila
dianalisis Indonesia adalah salah satu media pendistribusian yang tepat dan efektif
yaitu dengan menggunakan kapal dan otomatis pengangkutan barang dan jasa dalam
rangka pendistribusian barang dan jasa dalam kapasitas besar adalah dengan
menggunakan kapal. Namun banyak masalah yang dihadapi oleh Indonesia dalam
pengangkutan barang dan jasa dalam rangka pendistribusiannya adalah mental
pekerja, sumber daya manusia, sarana dan prasarana pendukung kegiatan tersebut,
yang sebagian besar dilaksanakan di Pelabuhan.
Perekonomian Indonesia banyak didukung dari kegiatan kepelabuhanan ini
antara lain pengangkutan barang dan jasa untuk didistribusikan ke wilayah-wilayah
Indonesia yang diharapkan dapat seimbang dan merata, yaitu harus dijamin dengan
kelancaran arus barang dan jasa tersebut berjalan. Berdasarkan hal tersebut, Presiden
Jokowi mengagendakan tentang program tol laut, karena diharapkan dapat
mendukung kelancaran pendistribusian pengangkutan barang dan jasa bukan saja di
wilayah Indonesia, namun juga di ASEAN yang mencanangkan program AEC. Atas
dasar permasalahan diatas penulis akan akan mengkolaborasikan keduanya menjadi
sebuah makalah dengan judul Optimalisasi Tol Laut sebagai Alternatif Penunjang
Kelancaran Pengangkutan Barang dan Jasa Guna Mendukung AEC
146
e-Proceeding | COMICOS 2017
2.
Pokok Permasalahan
Yang menjadi pokok permasalahan dalam penulisan makalah ini adalah:
a.
Bagaimana peran dari tol laut sebagai alternatif penunjang kelancaran
pengangkutan barang dan jasa;
b. Bagaimana manfaat dari tol laut
sebagai penggerak perekonomian
Indonesia sekaligus dalam mendukung program AEC
3.
Konteks Penelitian
Presiden menjelaskan lima agenda pembangunan agar dapat mewujudkan
Poros Maritim Dunia tersebut, yaitu :
a. Pertama
adalah
dengan
membangun
kembali
budaya
maritim
Indonesia.Sebagai negara yang terdiri dari jumlah pulaunya lebih dari
13.500 buah dan mencakup wilayah sepanjang 3.000 mil laut, bangsa
Indonesia harus menyadari dan melihat dirinya sebagai bangsa yang
identitasnya, kemakmurannya, dan masa depannya, sangat ditentukan
oleh bagaimana kita mengelola samudera.
b. Kedua adalah dengan menjaga dan mengelola sumber daya laut, berfokus
pada kedaulatan pangan laut, melalui pengembangan industri perikanan,
dengan menempatkan nelayan sebagai pilar utama. Kekayaan maritim
akan digunakan sebesar-sebesarnya untuk kepentingan rakyat.
c. Ketiga adalah dengan memprioritaskan pengembangan infrastruktur dan
konektivitas maritim, melalui pembangunan tol laut, deep seaport,
logistik, dan industri perkapalan, dan pariwisata maritim. Paradigma
pembangunan pun harus digeser menjadi
berorientasi pada wilayah
maritim yang terintegrasi dengan pembangunan wilayah darat. Paradigma
147
e-Proceeding | COMICOS 2017
ini menegaskan jaminan bahwa pembangunan maritim pada akhirnya
akan membantu peningkatan efisiensi dan efektivitas pada aktivitas
perekonomian yang berkembang di wilayah darat.
d. Keempat dari strategi Poros Maritime adalah melalui diplomasi maritim.
Pemerintah mengajak semua mitra-mitra Indonesia untuk bekerjasama di
bidang kelautan ini baik dalam maupun luar negeri. Bekerja sama untuk
menghilangkan sumber konflik di laut, seperti pencurian ikan,
pelanggaran kedaulatan, sengketa wilayah, perompakan, dan pencemaran
laut.
e. Kelima, Indonesia memiliki kewajiban untuk membangun kekuatan
pertahanan maritim. Hal tersebut diperlukan bukan saja untuk menjaga
kedaulatan dan kekayaan maritim kami, tetapi juga sebagai bentuk
tanggungjawab dalam menjaga keselamatan pelayaran dan keamanan
maritime. Posisi sebagai Poros Maritim
f. Dunia membuka peluang bagi Indonesia untuk membangun kerjasama
regional dan internasional bagi kemakmuran rakyat. Oleh karena itu, citacita dan agenda tersebut akan menjadi fokus Indonesia di abad ini.5
Point angka 3 (tiga) inilah yang menjadi pembahasan dalam paper yang akan
disajikan dalam konferensi di Universitas Katholik Atmajaya Yogyakarta, bahwa
5 Presiden Joko Widodo saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-9 Asia Timur, di
Nay Pyi Taw, Myanmar, pada akhir tahun 2014.KTT tersebut diikuti oleh seluruh Kepala
Negara/Pemerintahan negara anggota ASEAN, Perdana Menteri Australia serta Sekretaris Jenderal
ASEAN (www.kemenkeu.go.id). Presiden menjelaskan lima agenda pembangunan agar dapat
mewujudkan Poros Maritim Dunia tersebut. Pertama adalah dengan membangun kembali budaya maritim
Indonesia. Sebagai negara yang terdiri dari jumlah pulaunya lebih dari 13.500 buah dan mencakup wilayah
sepanjang 3.000 mil laut, bangsa Indonesia harus menyadari dan melihat dirinya sebagai bangsa yang
identitasnya, kemakmurannya, dan masa depannya, sangat ditentukan oleh bagaimana kita mengelola
samudera.
148
e-Proceeding | COMICOS 2017
Tol laut adalah sebuah sistem distribusi logistik nasional berbasis kelautan dengan
menghubungkan pelabuhan-pelabuhan besar yang ada di Indonesia. Dengan tol laut,
diharapkan tercipta trayek yang menjamin kelancaran dan efisiensi pada arus
pergerakan kapal antar pelabuhan.
4. Hasil Kajian Pustaka
a.
Indonesia, Maritim dan Pelabuhan
Indonesia merupakan negara maritim terbesar di dunia. Sektor kelautan bisa
menghasilkan seperempat APBN setara lima ratus triliun. Namun belum dikelola
dengan baik dan optimal. Harus dibangun armada dan keterampilan serta sentra
industri pengolahan dan perdagangan berbasis komunitas kelautan di sedikitnya
sepuluh wilayah (zona) maritim. Dalam usaha mewujudkan perekonomian
Indonesia yang lebih baik dalam bidang bahari, diera pemerintahan Presiden Jokowi
mengusulkan ide tentang Tol Laut Indonesia.
Tol laut ini merupakan bagian untuk mewujudkan Indonesia sebagai poros
maritim dunia yaitu merupakan sebuah gagasan strategis yang diwujudkan untuk
menjamin konektivitas antar pulau, pengembangan industri perkapalan dan
perikanan, perbaikan transportasi laut serta fokus pada keamanan maritim.6 Tol
(Tax On Location) diterapkan pada jalur laut kita yang akan menjadi penghubung
(hub) pelayaran, perdagangan, arus keluar masuk barang dan manusia di kawasan
asia khususnya ASEAN.
Ada sejumlah pelabuhan deep sea port dikembangkan sebagai pintu export
dan import - antara lain yang sekarang sedang dibangun melalui konsep pendulum
6
https://www.google.co.id/search?q=arti+poros+maritim&oq=arti+poros+ma&aqs=chrome.1.69
i57j0l5.7398440j0j4&sourceid=chrome&ie=UTF-8
149
e-Proceeding | COMICOS 2017
nusantara di Medan, Batam, Jakarta, Surabaya, Makassar, Sorong - dilengkapi
dengan kawasan pergudangan, bongkar muat serta pusat distribusi domestik modern
berbasis IT management - single gateway - untuk kepabeanan dan keimigrasian.
Setiap port didukung oleh sepuluh pelabuhan lain disekitarnya dan sentra industri
kelautan. Sistem ini direncanakan dalam pelaksanaannya akan mengganti sistem
distribusi logistik nasional yang selama ini mengacu kepada rancangan Masterplan
Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) pada era
kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudoyono.
Tol laut dapat menjadi sebuah solusi yang efektif dikarenakan dengan
menggunakan sistem ini perdagangan yang menggunakan jalur laut baik itu eksport
maupun import dapat lebih efisien dan lancar, sebab sebelum adanya konsep ini
banyak kapal – kapal laut yang ketika telah sampai di pelabuhan masih
membutuhkan waktu yang lama untuk melakukan bongkar muat maupun
pendistribusiannya dikarenakan jalur birokrasi nya yang membuatnya menjadi lama.
Oleh karenanya Tol Laut merupakan suatu daya tarik yang luar biasa untuk
menjadikan Indonesia sebagai simpul utama distribusi Asia Pasifik. Sebagaimana
Singapura yang menjadi hubungan perdagangan, transportasi dan telekomunikasi.
Negara Indonesia memiliki kesempatan untuk mengambil alih peran itu dengan
mengubah dominasi supply chain yang diciptakan dari dalam negeri dengan
komoditas dan kekuatan pasar sendiri yang saling mencukupi, dan di era globalisasi
Indonesia harus jadi tuan di negeri sendiri.
b. Dasar Hukum Tol Laut
1. PERPRES NO. 106 Tahun 2015 Tentang Penyelenggaraan
Kewajiban Pelayanan Publik untuk Angkutan Barang di Laut (saat
150
e-Proceeding | COMICOS 2017
ini sedang dalam tahap penyempurnaan lagi dan segera akan disahkan
PERPRES yang baru untuk melengkapi);
2. PERATURAN PEMERINTAH NO. 78/2014 Tentang Percepatan
Pembangunan Daerah Tertinggal (Sandang, Pangan dan Papan;
3. PERATURAN PEMERINTAH NO. 17/2015 Tentang Ketahanan
Pangan dan Gizi
c. AEC (Asean Economic Community) dan Tantangannya bagi
Indonesia
Ketahanan ekonomi merupakan suatu kondisi dinamis kehidupan
perekonomian bangsa yang berisi keuletan dan ketangguhan, kekuatan nasional
dalam menghadapi serta mengatasi segala tantangan dan dinamika perekonomian
baik yang datang dari dalam maupun dari luar Negara dan secara langsung maupun
tidak
langsung
menjamin
kelangsungan
dan
peningkatan
perekonomian bangsa dan Negara.
Wujud
ketahanan
ekonomi
tercermin
dalam
kondisi
kehidupan
perekonomian bangsa yang mampu memillihara stabilitas ekonomi yang sehat dan
dinamis, menciptakan kemandirian ekonomi nasional yang berdaya saing tinggi, dan
mewujudkan kemakmuran rakyat yang secara adil dan merata, dengan demikian,
pembangunan ekonomi diarahkan kepada mantapnya ketahanan ekonomi melalui
suatu ikli usaha yang sehat serta pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi,
tersedianya barang dan jasa, terpeliharanya fungsi lingkungan hidup serta
meningkatnya daya saing dalam lingkup perekonomian global.7
7
Rus
Ramdhani,
16
April
2015,
http://id.shvoong.com/law-and-politics/political-
151
e-Proceeding | COMICOS 2017
Demikian pula dengan Indonesia yang saat ini terus berpacu dengan
pertumbuhan ekonominya, harus membenahi segala sektor agar dapat memberikan
kontribusi besar bagi stabilnya ekonomi Indonesia dan dapat bersaing di antara
negara-negara di ASEAN, yang terus melesat maju membenahi segala aspek
pendukung kemajuan perekonomian negara masing-masing Khususnya Indonesia,
harus dapat melayani segala kebutuhan antar negara dengan cepat, lancar dan
ekonomi rendah, sehingga mengundang negara lain untuk memakai jasa Indonesia
dalam hal pengangkutan barang dan jasa yang memakai fasilitas pelabuhan sebagai
pendukungnya, karena saat ini Indonesia yang merupakan bagian dari negara
ASEAN sudah berpartisipasi menandatangani suatu kesepakatan tentang kerjasama
di bidang ekonomi, yaitu ASEAN Economic Community.
ASEAN Economic Community merupakan kesepakatan yang dibuat oleh
negara – negara Asia Tenggara yang memiliki tujuan untuk kerjasama yang lebih
solid dan kuat. Dengan adanya kerjasama yang solit dan kuat, diharapkan dapat
meningkatkan stabilitas perekonomian dikawasan ASEAN. Sehingga dapat
mensejahterakan masyarakat yang ada diseluruh Asia Tenggara. ASEAN Economic
Community tersebut merupakan salah satu bentuk Free Trade Area ( FTA) dimana
AEC akan berintegrasi lewat kerja sama ekonomi regional yang diharapkan mampu
memberikan akses yang lebih mudah, tidak terkecuali perdagangan. dengan melihat
kenyataan bahwa Indonesia itu merupakan pasar yang cukup besar bagi produsenprodusen suatu produk menawarkan barangnya. Banyak produsen luar negeri
beranggapan Indonesia menjadi salah satu sasaran pemasaran yang paling
economy/2117290-pengertian-ketahanan-ekonomi/#ixzz21bbnD5Lt
152
e-Proceeding | COMICOS 2017
menguntungkan dibandingkan negara- negara berkembang lainnya.
Jika dilihat dari segi peluang Indonesia memiliki kesempatan yang besar
untuk turut serta dalam memanfaatkan integrasi ekonomi dalam membuka pasar
yang lebih luas bagi kawasan ASEAN. Kedua, karena Indonesia memiliki sumber
daya manusia dan sumber daya alam yang banyak menjadi negara tujuan bagi
investor sehingga pemerintah disini mempunyai peranan penting dalam mengatur
kebijakan terhadap para investor nantinya agar tidak saja mencari keuntungan, tetapi
mampu meningkatkan tingkat perekonomian Indonesia. Indonesia memiliki peluang
sekaligus tantangan dalam hal perdagangan internasional. Tarif yang ditetapkan
jumlahnya hampir 80% menggunakan zero percent tentunya akan mempermudah
Indonesia memasuki pangsa pasar bahan baku dari negara tetangga, mengingat tidak
semua bahan baku ada di Indonesia. Keadaan ini akan memicu persaingan yang lebih
kompetitif baik dalam lingkup domestik maupun internasional.
Kemudian tantangannya Negara-negara di ASEAN yang dikenal sebagai
komoditi ekspor berbasis sumber daya alam terbesar di Asia juga menjadikan
tantangan persaingan pasar produksi dengan surplus pada neraca transaksi. Dan
ketika tariff nanti sudah tidak akan diberlakukan lagi, akan menjadi tantangan
sekaligus peluang bagi masyarakat Indonesia, dimana nanti Indonesia akan bersaing
dengan produk produk import.8
d. Konsep Tol Laut
Tol Laut adalah “Konektivitas laut yang efektif berupa adanya kapal yang
melayari secara rutin dan terjadwal dari Barat sampai ke Timur Indonesia 9, dengan
8
9
Fitri Kompasiana, Op. Cit
Ditjen – Hubla, Tol Laut, Power Point, Update 13 Juni 2017
153
e-Proceeding | COMICOS 2017
Tol Laut diharapkan penekanan harga angkut antar pulau di Indonesia yang tinggi
(bahkan pada beberapa kasus lebih tinggi dibanding dengan mengirimkan barang ke
luar negeri) dan reliability atau keandalan/ketersediaan yang masih sangat terbatas
menjadi rendah. Sebuah ironi apabila para eksportir di pulau Jawa dapat setiap hari
mengirimkan barangnya ke Singapura, sementara harus menunggu dalam waktu
yang cukup lama untuk mengirimkan sesuatu ke Papua, dan Tol Laut diharapkan
dapat menjawabannya. Maksud dan tujuan dari Tol Laut adalah10
1. Dalam rangka menjamin ketersediaan barang dan untuk mengurangi
disparitas harga bagi masyarakat;
2. Menjamin kelangsungan pelayanan penyelenggaraan angkutan
barang ke daerah tertinggal, terpencil, terluar dan perbatasan
Tol Laut merupakan konsep pengangkutan logistik kelautan yang dicetuskan
oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo. Program ini bertujuan untuk
menghubungkan pelabuhan-pelabuhan besar yang ada di nusantara. Dengan adanya
hubungan antara pelabuhan-pelabuhan laut ini, maka dapat diciptakan kelancaran
distribusi barang hingga ke pelosok. Istilah Tol Laut memang mulai terkenal
semenjak Ir. Joko Widodo menjadi calon presiden Republik Indonesia.
“Tol Laut” berbeda arti dan tidak dapat dikaitkan dengan jalan tol yang pada
saat ini mendapatkan citra tidak terlalu baik di dalam masyarakat. Yang menyatakan
sudah bayar, jalannya jelek dan macet pula. Jadi sudah tentu tidak bisa diasosiasikan
dengan “Tol Laut” yang sedang dikerjakan. Istilah “tol” yang diambil dari bahasa
Inggris “toll” yang berarti charge/fee/levy/tariff dan segala jenis pembayaran lainnya
hanya mengartikan untuk menggunakan fasilitas ini anda harus membayar. Namun
10
154
Ibid
e-Proceeding | COMICOS 2017
yang dimaksud dan ditekankan oleh Pemerintah bukanlah masalah pembayaran oleh
pengguna, tetapi suatu “jalan” atau koridor laut yang “bebas hambatan”, yang bisa
membuat angkutan antar pulau menjadi jauh lebih murah dan bisa diakses dengan
mudah. Istilah “Jembatan Laut Bebas Hambatan” mungkin lebih cocok digunakan
dibandingkan dengan “Tol laut” yang sudah terlanjur memasyarakat.
Terdapat banyak perbedaan arti antara Tol Laut dan Tol Jalan, apabila
diasosiasikan. Ada perbedaan mendasar, antara lain membuat infrastruktur angkutan
laut menjadi jauh lebih sulit dan kompleks untuk dikerjakan dibandingkan dengan
membangun infrastruktur jalan darat yang hanya tergantung dengan lebar, kekuatan
dan struktur geometris jalan, pada prinsipnya setelah jalan itu selesai, jalan itu bisa
digunakan oleh segala jenis kendaraan baik motor, mobil maupun truk besar, tetapi
bandingkan dengan transportasi laut memerlukan 2 (dua) infrastruktur dasar yaitu
pelabuhan dan kapal, tidak bisa disederhanakan sebagaimana moda transportasi
darat.
Membangun pelabuhan, terutama pelabuhan modern dengan segala fasilitas
pendukungnya, harus disesuaikan dengan peruntukan atau penggunaan dari
pelabuhan tersebut. Pelabuhan untuk mengangkut manusia jauh berbeda dengan
pelabuhan untuk mengangkut batu bara. Pelabuhan untuk mengangkut batu bara
memiliki spesifikasi teknis yang sangat berbeda dengan pelabuhan untuk
mengangkut kontainer.
Fasilitas pendukung yang ada di pelabuhan kontainer hampir dipastikan tidak
bisa digunakan untuk operasional kapal tanker untuk mengangkut barang-barang
cair. Begitu pula dengan kapal. Batu bara, bijih besi, nickel dan sejenisnya harus
diangkut dengan menggunakan kapal curah kering yang tidak mungkin digunakan
155
e-Proceeding | COMICOS 2017
untuk mengangkut bahan bakar minyak. Kapal tanker yang dimiliki oleh Pertamina,
tidak bisa dan tidak boleh digunakan untuk mengangkut kontainer. Kapal
penumpang milik Pelni, secara teknis tidak memiliki fasilitas pendukung untuk
mengangkut ternak dari Nusa Tenggara ke Jakarta.
Pemerintah sudah lama melakukan persiapan untuk menunjang program
ekonomi nasional, salah satunya yaitu pengembangan pelabuhan, misalnya saja
pelabuhan Tanjung Priok yang mulai dilakukan sejak tahun 2012. Pengembangan
Tanjung Priok menjadi prioritas dalam mendukung program Tol Laut mengingat
pelabuhan tanjung priok merupakan pusat distribusi barang, baik domestik ataupun
internasional di Indonesia. Berkaca pada negara tetangga kita Singapura, mereka
memiliki salah satu pelabuhan terbaik dunia. Pelabuhan di Singapura lebih dipilih
oleh kapal-kapal internasional karena memiliki kedalaman yang cukup serta
dermaga yang luas jika dibanding dengan pelabuhan tanjung priok di Jakarta.
Rencan anya pengembangan pelabuhan Tanjung Priok ini akan memiliki dermaga
peti kemas baru dengan kedalaman mencapai 19 meter yang mampu menampung
kapal-kapal lebih besar. Kapasitas pelabuhan baru ini setara dengan Pelabuhan
Singapura.11
Pelabuhan-pelabuhan yang telah diresmikan oleh,Pemerintah memiliki
fasilitas yang cukup memadai diantaranya dilengkapi dengan tempat pengumpul
yang cukup besar. Para nelayan pun dapat lebih meningkatkan hasil laut, karena
memiliki tempat penampungan untuk hasil tangkapannya. Selain itu luas pelabuhan
11 Dhirta Parera Arsa, Narasumber:
http://www.clapeyronmedia.com/tol-laut-solusikah/
156
Prof.
Dr.
Ir,
Bambang
Triatmojo
DEA
e-Proceeding | COMICOS 2017
juga memadai, membuat para pelaku usaha antusias menggunakan pelabuhanpelabuhan tersebut dalam aktivitas bongkar muat barang. Pembangunan
infrastruktur yang memadai membuat masyarakat di daerah akan lebih tertarik
membangun usaha sehingga dapat menyerap banyak tenaga kerja daerah. Hasil-hasil
produksi pun tidak hanya menjadi komoditas antar daerah di Indonesia, diharapkan
juga bisa menjadi komoditas ekspor.
Tol laut dapat menimbulkan daya saing ekonomi yang mampu mengurangi
ketimpangan
ekonomi
antara
kawasan
Barat
dan
Timur
Indonesia.
Arti Tol Laut adalah jaringan dan rute kapal laut yang bergerak secara rutin dari
Aceh hingga Papua. Jalur utama Tol Laut akan melewati kota-kota pelabuhan utama
di Indonesia. Kemudian, dari pelabuhan hub tersebut dihubungkan dengan pulaupulau atau kota-kota lain dengan kapal berukuran lebih kecil dan Tol Laut juga
mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkualitas asal didukung
dengan jaringan logistik Indonesia, karena buruknya jaringan transportasi akan
menyebabkan biaya logistik tinggi, dan Indonesia merupakan salah satu negara yang
tertinggi biaya logistiknya.
Oleh karenanya untuk mengurangi biaya logistik tersebut, perlu juga
dikembangkanjaringan transportasi terpadu, di mana transportasi laut terkoneksi
secara efisien dengan jaringan jalan dan rel kereta api.12 Banyak rencana yang akan
segera direalisasikan dalam mendukung tol laut ini, antara lain perlunya akselerasi
konektivitas antar pulau, karena keterhubungan itu merupakan cermin dari program
Tol Laut. Contohnya, saat ini, dari 5 kapal yang direncanakan menghubungkan
Wijayanto, 2014, http://politik.rmol.co/read/2014/06/17/159948/Inilah-Penjelasan-TimJokowiMengenai-Tol-Laut- (diakses pada tanggal 19 Juli 2017)
12
157
e-Proceeding | COMICOS 2017
Jabodetabek-NTT, telah beroperasi satu armada kapal khusus pengangkut hewan
ternak sapi bernama KM Camara Nusantara I. Kapal ini dapat mengangkut 500 ekor
sapi sekali perjalanan dari peternak NTT dan NTB untuk didistribusikan ke beberapa
daerah seperti Surabaya, Cirebon dan Jakarta. Selain mengurangi pendistribusian
sapi-sapi impor, konektivitas yang tercipta dari program Tol Laut akan dapat
menekan harga daging sapi di pasaran. Di sisi lain juga meningkatkan keinginan
masyarakat daerah untuk lebih produktif dalam usaha ternak sapi sehingga
meningkatkan perputaran roda perekonomian daerah.
Selain kapal pengangkut ternak, ada pula dua armada kapal perintis untuk
menunjang Tol Laut yang mengangkut barang dan manusia, yaitu KM Sabuk
Nusantara 55 dan KM Sabuk Nusantara 56. KM Sabuk Nusantara 55 beroperasi di
daerah Kota Baru, Kalimantan Selatan, dan KM Sabuk Nusantara 56 ditempatkan
di Tanjung Perak, Surabaya. Kedua kapal penumpang dan barang itu, masingmasing dapat menampung 265 penumpang dengan muatan barang sejumlah 400 ton.
Berjalannya aktivitas armada Tol Laut pengangkut barang dapat menciptakan
banyak dampak positif. Salah satu dampak itu adalah mengurangi kesenjangan harga
komoditas antar daerah dan mendorong perkembangan berbagai sektor penunjang
kemandirian masyarakat karena adanya akselerasi konektivitas antar pulau.
Konektivitas antar pulau sangat penting dalam mempermudah aktivitas
manusia di daerah atau provinsi yang harus mempergunakan moda transportasi laut
sebagai penunjangnya. Sebelumnya, moda transportasi hanya menggunakan perahuperahu motor kecil yang tingkat keselamatannya tidak memadai dan harganya cukup
tinggi. Aktivitas pedagang kecil pun menjadi lebih mudah dengan adanya kapalkapal perintis yang telah beroperasi. Selain lebih cepat dalam penyeberangan, harga
158
e-Proceeding | COMICOS 2017
tiket juga lebih murah, sehingga para pedagang dapat lebih meningkatkan laba
penjualan dari dampak tersebut.
Tol laut akan dibangun mulai dari Belawan, Surabaya, Makassar, sampai
Sorong untuk memperkuat konektivitas dan sistem logistik dengan nilai investasi
mencapai 6,8 miliar dollar AS hingga 7 miliar dollar AS. Pembangunan tol laut
membutuhkan dukungan infrastruktur pelabuhan baru dan perluasan 20 lebih
pelabuhan. Dari pelabuhan tersebut akan disiapkan 5 pelabuhan besar/utama
(raksasa) sebagai bagian dari jaringan tol laut, yakni Medan, Surabaya, Jakarta,
Makassar, dan Sorong. Untuk memperkuat 5 pelabuhan tersebut, maka kapal-kapal
besar akan mudah dimobilisasi, sehingga akan mempelancar konektivitas dan
memperkuat jaringan logistik antar negara dan antar pulau. Selain memperbesar 5
pelabuhan utama, Indroyono juga mengatakan, bahwa Pemerintah berencana
membangun 23 pelabuhan penghubung (feeder) di Indonesia, dan menargetkan 50
juta pelayaran yang melintasi Indonesia pada tahun 2017 yang dimaksudkan untuk
mengefisienkan pergerakan barang dari pulau satu ke pulau lainnya menuju
pelabuhan utama.
Untuk mendukung Tol Laut Pemerintah akan mempersiapkan segala
infrastruktur untuk menunjang pembangunan tol laut, seperti listrik dan alat
pengangkut kontainer, namun hingga saat ini proses tersebut masih dalam tahap
nogosiasi dengan investor. Pencapaian visi dan misi Presiden Jokowi dengan
mewujudkan pembangunan tol laut sebagai upaya, antara lain memperlancat
konektivitas dan memperkuat jaringan logistik, merupakan langkah nyata yang
sejalan dengan salah satu strategi utama Masterplan Percepatan dan Perluasan
Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025. Dalam Peraturan Presiden
159
e-Proceeding | COMICOS 2017
Nomor 48 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun
2011 tentang MP3EI dimuat ketentuan bahwa salah satu syarat keberhasilan
pembangunan berkelanjutan adalah dengan percepatan konektivitas antar wilayah di
Indonesia (Keasdepan Bidang Industri, UKM, Perdagangan, dan Ketenagakerjaan,
Deputi Bidang perekonomian). 13
Pemetaan adalah satu-satunya langkah pertama yang harus dilakukan.
Pengambil kebijakan harus mengetahui dengan jelas trading pattern atau alur
perdagangan atau alur transportasi laut yang pada saat ini terjadi dan apa yang akan
diharapkan terjadi pada jangka pendek, menengah dan panjang ke depan. Peta ini
harus memuat data yang lengkap, meliputi (tetapi tidak terbatas pada) jenis barang,
volume, frekuensi berikut dengan infrastruktur yang selama ini ada baik pelabuhan
maupun kapal yang digunakan. Dengan peta yang ada mulailah dibuat rencana kerja
pengembangan “Jembatan Laut Bebas Hambatan” yang tepat guna.
Membangun pelabuhan besar akan menjadi investasi boros yang sia-sia
apabila jenis dan volume barang yang dimuat dan dibongkar di pelabuhan tersebut
tidak sesuai. Mengoperasikan kapal besar semacam ultra large container carrier akan
membuat para ahli bisnis perkapalan bertanya-tanya kemana kapal itu akan
disandarkan dan muatan apa yang tiba-tiba harus diangkut dalam jumlah 18,000
kontainer sekali angkut? Implementasi terbaik dari “Jembatan Laut Bebas
Hambatan” adalah membangun pelabuhan yang tepat dan mengoperasikan kapal
yang sesuai dengan pola perdangan yang ada.
http://setkab.go.id/optimalisasi-pembangunan-tol-laut-untuk-memperkuat-sistem-logistikkelautan-nasional/
13
160
e-Proceeding | COMICOS 2017
Sambil menunggu pembangunan dan perbaikan infrastruktur selesai, secara
simultan pemerintah harus juga membenahi hal-hal yang menyebabkan tingginya
biaya investasi dan biaya operasional dalam bidang angkutan laut. Sampai saat ini,
dalam pendanaan investasi pelaku usaha di Indonesia masih dibebani biaya bunga 2
kali lebih tinggi dari negara-negara tetangga. Harga Marine Fuel Oil (MFO) dan
Marine Diesel Oil (MDO) yang dijual oleh Pertamina masih jauh lebih mahal
dibandingkan dengan produk sejenis yang dijual di Singapura. Banyak masalah yang
harus dibenahi, selamat bekerja kabinet yang baru, semoga sukes mengembalikan
kejayaan maritim Indonesia. Bobby Andhika /bobby-andhika TERVERIFIKASI
Profesional bisnis perkapalan, pecinta sejarah dan pemerhati masalah sosial. Pernah
menduduki jabatan CEO di beberapa perusahaan perkapalan nasional dan
internasional. Sekarang tinggal di Singapura.14
5. Tujuan penelitian
Tujuan dari penelitian tentang tol laut ini adalah untuk
menggambarkan :
a. peran dari tol laut sebagai alternatif penunjang kelancaran pengangkutan
barang dan jasa;
b. manfaat dari tol laut
sebagai penggerak perekonomian Indonesia
sekaligus dalam mendukung program AEC
B. Metodologi
Penelitian ini adalah normatif, menggunakan data sekunder sebagai
pendukung dan data primer dengan menggunakan teknik wawancara pada
14 Bobby Andika, 25 Oktober 2014 : http://www.kompasiana.com/bobby-andhika/tol-lautjokowi-bagaimana-cara-meng-implementasikannya_54f95406a33311b6078b4b86
161
e-Proceeding | COMICOS 2017
Kementrian Perhubungan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut , dalam hal ini
yang diwakili oleh Ibu Magdalena Laily sebagai pelaksana di bagian Tol Laut.
lalu dianalisis secara Deskriptif. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan
peran dari Tol Laut yaitu untuk menstabilkan perekonomian dalam rangka
optimalisasi pendistribusian barang dan jasa yang merata dan seimbang di
wilayah Indonesia dan manfaat dari Tol Laut adalah sebagai penunjang
perekonomian Indonesia sekaligus dalam mendukung program AEC.
C. Bagian inti/ Pembahasan
1. Peran
dari
tol
laut
sebagai
alternatif
penunjang
kelancaran
pengangkutan barang dan jasa
Indonesia
sebagai
negara
maritim
semakin
maksimal
menyumbangkan pertumbuhan dan pembangunan ekonomi dan
dalam
hal ini
dipertegas melalui keberadaan Tol Laut, didukung oleh usaha-usaha Pemerintah
yang terus meningkatkan pembangunan segala bentuk kebutuhan transportasi
laut seperti akselerasi pembangunan setiap pelabuhan dan fasilitasnya serta
pengadaan kapal-kapal perintis dengan tiket yang disubsidi Pemerintah.
Diharapkan dalam waktu cepat dapat memenuhi kebutuhan pokok masyarakat
dengan harga yang stabil dan terjangkau oleh masyarakat setempat secara merata
dan seimbang.
Tol Laut berperan untuk membantu distribusi barang di seluruh penjuru
Indonesia. Contohnya kawasan di Timur Indonesia, seperti Papua, Maluku,
Ambon, dan lainnya, sejauh ini tingkat kesejahteraan masyarakatnya rendah,
diidentifikasi karena sulitnya pendistribusian barang menuju kawasan Timur
Indonesia tersebut. Adanya Tol Laut dimaksudkan untuk mengusahakan kapal
162
e-Proceeding | COMICOS 2017
kapal besar yang mampu mengangkut sekisar 100 ribu DWT (muatan maksimum
yang bisa diangkut adalah 100 ribu ton) yang akan berlayar dari Belawan hingga
ke Sorong sehingga diharapkan distribusi barang menuju Indonesia bagian timur
dapat lebih lancar.
Cara menjalankan perannya adalah, Tol Laut menjadi penghubung atau
konektivitas antar pulau-pulau yang ada di Indonesia. Sasaran dari Tol Laut
adalah menyeimbangkan dan memeratakan daerah-daerah yang sulit dijangkau,
sehingga menyebabkan biaya tinggi yang berdampak pada harga barang yang
tinggi pula. Disinilah peran dari Tol Laut, dapat menjangkau daerah-daerah
tersebut sehingga dapat menekan biaya-biaya yang tidak perlu.15
Peran tol laut sebagai alternatif penunjang kelancaran pengangkutan
barang dan jasa untuk menggerakkan ekonomi Indonesia, oleh karenanya perlu
didukung regulasi yang baik yaitu dengan dibentuknya lembaga pengawas tol
laut, sehingga dengan optimalisasi Tol Laut ini dapat menunjang kekuatan
perekonomian Indonesia secara merata dan sebagai kekuatan hubungan
perekonomian Indonesia antar negara di ASEAN.
2. Manfaat dari tol laut
sebagai penggerak perekonomian Indonesia
sekaligus dalam mendukung program AEC
Dengan adanya Tol Laut, besar harapan Indonesia dapat bersaing dengan
negara sesame ASEAN yang saat ini sedang menggalakkan Free Trade Area,
yang bertujuan untuk menggerakkan roda perekonomian secara efisien dan
merata di ASEAN, oleh karenanya dibentuklah Asean Economic Community
15
Hasil Wawancara dengan Ibu Magdalena Lailiy, DitJen HubLa, Medan Merdeka Barat,
Jakarta, 20 Juli 2017
163
e-Proceeding | COMICOS 2017
(AEC) yang bertujuan untuk menciptakan ASEAN sebagai kawasan ekonomi
yang stabil, sejahtera dan berdaya saing,.
Program AEC ini merupakan peluang sekaligus tantangan bagi
perekonomian Indonesia. Ketahanan perekonomian yang kuat sangat dibutuhkan
agar Indonesia mampu bersaing dengan negara ASEAN yang lain. Disinilah
peran dari Tol Laut yang memiliki manfaat yang besar dalam menunjang
perekonomian Indonesia mengingat Indonesia merupakan wilayah maritim yang
luas yang bertujuan memperlancar arus pendistribusian barang dan jasa melalui
kegiatan pengangkutan laut yang difasilitasi oleh Pelabuhan-pelabuhan Indonesia
yang handal dan didukung oleh sumber daya manusia, sarana dan prasarana yang
memadai.
Adanya tol laut menunjang perekonomian karena dengan adanya program
ini maka distribusi barang antar daerah dapat terdistribusi secara merata, sehingga
pembangunan perekonomian antar daerah akan merata dan tidak terpusat pada
suatu daerah, pada saat ini basis perekonomian masih terpusat di Pulau Jawa.
Dengan mudahnya barang atau jasa terdistribusi maka para pelaku ekonomi
diseluruh wilayah Indonesia pasti lebih mudah mengembangkan potensinya.
Misalnya seorang produsen di wilayah Indonesia Timur membutuhkan bahan
baku yang ada di pulau Sumatra maka dengan adanya tol laut ini produsen
tersebut akan lebih mudah memperoleh bahan baku pastinya juga dengan harga
yang murah sehingga dengan hal tersebut para produsen akan lebih semangat dan
bisa berinovasi tanpa ada lagi alasan yang mengatakan bahwa untuk mendapatkan
bahan baku sulit karena bahan baku berada di luar wilayah.
164
e-Proceeding | COMICOS 2017
Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Magdalena Laily, bahwa
manfaat dari Tol Laut menyumbangkan hasil yang sangat besar bagi
pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal ini tercermin dari semakin merata dan
seimbangnya perekonomian di wilayah Indonesia yang terlihat dari kondisi
kawasan timur Indonesia yang selama ini mengeluh akan mahalnya harga barang
baik itu sandang, pangan dan papan. Namun, sejak adanya tol laut, walaupun
pelaksanaanya belumlah sangat optimal, tetapi sudah dapat dirasakan adnya
perubahan besar di wilayah-wilayah biaya tinggi tersebut, yang disebabkan oleh
sarana, prasarana dan sumber daya manusia yang tidak optimal16
Selain itu tol laut ini merupakan media yang efektif dan relevan dalam
pendistribusian barang mengingat bahwa Indonesia merupakan wilayah
kepulauan dengan dua per tiga daerahnya berupa perairan sehingga alat
transportasi yang tepat adalah dengan kapal. Jika pendistribusiannya dengan
pesawat terbang itu sangat kurang efektif karena butuh biaya besar Indonesia
belum bisa membuat pesawat terbang sehingga Indonesia harus membeli dari
negara lain. Sementara untuk kapal Indonesia sudah bisa membuat sendiri yang
kualitasnya juga sudah diakui oleh dunia.
Oleh sebab itulah tol laut bisa digunakan sebagai media yang efektif jika
dilihat dari biaya dan bentuk wilayah dari Indonesia sendiri, karena tol laut ini
memiliki pengaruh yang besar dalam pemerataan perekonomian maka hal ini
dapat mendongkrak perekonomian Indonesia sehingga bisa meningkatkan
ketahanan perekonomian, jika perekonomian dalam negeri telah maju maka hal
ini akan mempengaruhi terhadap pembangunan suatu daerah mulai dari
16
Ibid
165
e-Proceeding | COMICOS 2017
kesejahteraan rakyat meningkat, kualitas sumberdaya manusia yang kompeten
lebih banyak karena kualiats pendidikan telah merata di seluruh Indonesia,
perolehan bahan baku mudah dan harga terjangkau, kualiatas sarana dan
prasarana juga berkembang maka tak diragukan lagi Indonesia akan siap
menghadapi AEC (Asean Economic Community) dan juga tol laut ini dapat
dijadikan salah satu penunjang perekonomian Indonesia.
D. Penutup
1. Kesimpulan
a. Peran
dari
Tol
Laut
adalah
meminimalisasikan
biaya
tinggi
pengoperasian pengangkutan barang dan jasa, sehinga Tol laut berfungsi
sebagai hub atau penghubung atau konektivitas antar pulau dalam
mendistribusikan barang dan jasa di seluruh wilayah Indonesia secara
internal dan ASEAN secara eksternal. Jika peran Tol Laut optimal maka
dapat menunjang dan memperkuat perekonomian Indonesia sehingga
Indonesia akan siap menghadapi AEC (Asean Economic Community.
Optimalisasi peran dari Tol Laut harus diseimbangkan dengan regulasi
yang menunjang kegiatan dari Tol Laut tersebut, dan diperlukan untuk
segera dibentuknya lembaga pengawas Tol Laut ini, sehingga dengan
optimalisasi Tol Laut ini dapat menunjang kekuatan perekonomian
Indonesia secara merata dan sebagai kekuatan hubungan perekonomian
Indonesia antar negara di ASEAN.
b. Manfaat dari tol laut adalah dapat digunakan sebagai media yang efektif
jika dilihat dari biaya dan bentuk wilayah dari Indonesia sendiri, karena
tol laut ini memiliki pengaruh yang besar dalam pemerataan
166
e-Proceeding | COMICOS 2017
perekonomian maka hal ini dapat mendongkrak perekonomian Indonesia
sehingga bisa meningkatkan ketahanan perekonomian, jika perekonomian
dalam negeri telah maju maka hal ini akan mempengaruhi terhadap
pembangunan suatu daerah mulai dari kesejahteraan rakyat meningkat,
kualitas sumberdaya manusia yang kompeten lebih banyak karena
kualiats pendidikan telah merata di seluruh Indonesia, perolehan bahan
baku mudah dan harga terjangkau, kualiatas sarana dan prasarana juga
berkembang
maka
tak
diragukan
lagi
Indonesia
akan
siap
menghadapi AEC (Asean Economic Community) dan juga tol laut ini
dapat dijadikan salah satu penunjang perekonomian Indonesia.
2. Saran
a. Hendaknya pemerintah dapat mewujudkan pembangunan tol laut ini
karena manfaatnya begitu besar bagi Indonesia, jangan biarkan tol laut ini
hanya menjadi wacana belaka tanpa adanya tindakan yang nyata dari
pemerintah.
b. Hendaknya pemerintah mendukung opimalisasi tol laut ini dengan
payung hukum yang memperhatikan cakupan luas untuk menangani
permasalahan-permasalahan yang mungkin saja terjadi, baik masalah
internal yaitu Indonesia dan eksternal yaitu ASEAN
167
e-Proceeding | COMICOS 2017
DAFTAR PUSTAKA
Bobby Andika, 25 Oktober 2014 : http://www.kompasiana.com/bobbyandhika/tol-laut-jokowi-bagaimana-cara-mengimplementasikannya_54f95406a33311b6078b4b86
DitJen HubLa, Tol Laut, Update 13 Juni 2017
Dhirta Parera Arsa, Narasumber: Prof. Dr. Ir, Bambang Triatmojo DEA
http://www.clapeyronmedia.com/tol-laut-solusikah/ ,( Diakses pada Tanggal 15 Juli
2017)
Fitri,2015http://edukasi.kompasiana.com/2014/04/25/asean-economiccommunity-aec-2015-peluang-dan-tantangan-indonesia-are-u-ready649427.html (diakses pada tanggal 16 Juli 2017)
http://setkab.go.id/optimalisasi-pembangunan-tol-laut-untuk-memperkuatsistem-logistik-kelautan-nasional/
https://www.google.co.id/search?q=arti+poros+maritim&oq=arti+poros+ma&a
qs=chrome.1.69i57j0l5.7398440j0j4&sourceid=chrome&ie=UTF-8
Kemenperin,2015 www.kemenperin.go.id/artikel/6371/Kadin-RagukanKesiapan-RI-Sambut-AEC-2015 (diakses pada tanggal 16 Juli 2017)
nugasdulubosku di 15.12
http://habibahsalma.blogspot.co.id/2015/11/optimalisasi-tol-laut-dalam.html, (Diakses
pada tanggal 15 Juli 2017)
Ramdhani,Rus http://id.shvoong.com/law-and-politics/politicaleconomy/2117290-pengertian-ketahanan-ekonomi/#ixzz21bbnD5Lt (diakses
pada
tanggal 16 Juli 2017)
Wijayanto,
2014,
http://politik.rmol.co/read/2014/06/17/159948/InilahPenjelasan-Tim-JokowiMengenai-Tol-Laut- (diakses pada tanggal 19 Juli 2017)
168
e-Proceeding | COMICOS 2017
Potret Keluarga Indonesia di Media Sosial
Tribuana Tungga Dewi, M.Si.
Abstrak
Bercerita mungkin bisa dinyatakan sebagai bentuk komunikasi yang terjadi
secara alamiah. Manusia yang sehat secara instingtif nampaknya pasti mampu bercerita
sesuai tahap perkembangan, keterampilan dan minatnya dalam berkomunikasi. Mengutip
Littlejohn dan Foss (2009) dalam Encyclopedia of Communication, bercerita
(storytelling) didefinisikan sebagai praktek berbagi narasi dengan diri sendiri, orang lain,
atau dengan peneliti. Sedangkan secara teoritis bercerita seringkali dijelaskan sebagai
sesuatu yang digunakan individu untuk menciptakan makna dalam hidupnya (Littlehohn
& Foss, 2009).
Seorang pencerita (storyteller) sebagai komunikator akan memaparkan rangkaian
kejadian personal ataupun kejadian yang dialami orang lain melalui sebuah struktur
tertentu sehingga komunikan memahami cerita yang disampaikan sang pencerita. Oleh
sebab itu keterampilan menarasikan rangkaian kejadian menjadi hal yang penting.
Sebuah rangkaian cerita atau narasi biasanya terdiri dari pembukaan, isi, dan penutup.
Walau kebanyakan pencerita akan menyusun struktur ceritanya dengan urutan yang
sama, tetapi sebuah narasi dipengaruhi oleh pengalaman individual si pencerita. Para ahli
yang mendalami mengenai cerita (stories) dan bercerita (storytelling) berpendapat cerita
(narasi) merupakan sebuah situasi yang dikondisikan secara lokal (Littlejohn & Foss,
2009). Artinya, ketika bercerita, maka komunikator akan menempatkan berbagai
pengalaman pribadi, kepentingan, dan bisa saja termasuk identitas yang ia ingin
tanamkan dalam narasi tersebut. Dalam konteks penelitian, bercerita (storytelling)
memungkinkan peneliti memahami realitas yang dihadapi pihak-pihak yang terlibat
169
e-Proceeding | COMICOS 2017
dalam sebuah narasi serta memungkinkan peneliti dan yang diteliti (interviewee) berada
dalam sebuah posisi yang demokratis, karena sebuah narasi merupakan milik sang
pencerita.
Keampuhan bercerita bahkan digunakan dalam beberapa teknik psikoterapi untuk
membantu klien menyelesaikan ketidaknyamanan psikologi, emosi, dan sosialnya.
Misalnya, salah satu perangkat (tools) dalam model non directive play therapy dari Play
Therapy International adalah therapeutic story dan creative visualization. Perangkatperangkat ini menuntut kemampuan terapis menggunakan sejumlah metafora dari
kelemahan serta kekuatan klien, yang lalu dinarasikan terapis ke dalam bentuk cerita.
Perangkat ini diyakini bisa membantu klien untuk membentuk pengalaman baru dalam
sistem syarafnya dan menjadi lebih kuat kondisi psikologis, emosional, dan sosialnya.
Sedangkan dalam ilmu komunikasi cerita (story) dan bercerita (storytelling) telah lama
diterapkan sebagai bentuk penyampaian pesan dalam berbagai jenis dan teknik
komunikasi, antara lain dalam praktek periklanan, media penyiaran, dan public speaking.
Komunikator yang handal dalam ketiga praktek komunikasi ini adalah yang memiliki
kemampuan bertutur yang baik sehingga mampu mempersuasi khalayaknya. Dalam
media penyiaran radio dikenal konsep theater of mind, yaitu keterampilan komunikator
menciptakan gambar-gambar di kepala khalayak melalui kalimat yang diucapkannya
secara audio sehingga khalayak terpersuasi. Dalam praktek periklanan, biasanya iklan
yang diingat khalayak (yang mungkin saja akan menarik minat khalayak membeli atau
lebih sadar merek yang diiklankan), biasanya adalah iklan yang mampu menuturkan
kekuatan produk atau jasa yang dipromosikan iklan tersebut ke dalam benak khalayak.
Sedangkan keterampilan berbicara di depan publik sejak lama menerapkan teori dasar
retorika dari Aristoteles yang menekankan pentingnya kemampuan bertutur dengan
170
e-Proceeding | COMICOS 2017
merangkaikan kredibilitas (ethos), logika (logos), dan emosi (pathos) dari komunikator
untuk dapat mempersuasi khalayak (West & Turner, 2010).
Salah satu setting kegiatan bercerita yang tidak terlalu populer dijadikan kajian
dalam ilmu komunikasi adalah setting keluarga. Mungkin salah satu penyebabnya adalah
karena keluarga kerap dianggap sebagai sebuah institusi sosial privat yang tak layak
dibeberkan ke hadapan publik. Walau demikian, kegiatan bercerita dalam keluarga
merupakan sebuah kegiatan yang setiap hari kita lakukan. Orangtua membacakan cerita
kepada anak balitanya, anak usia sekolah memaparkan kegiatannya di sekolah ketika
pulang sekolah kepada pengasuhnya, suami dan istri saling menceritakan kekesalannya
pada atasan di kantor, adalah beberapa dari sekian banyak kisah yang kita narasikan
setiap hari dalam keluarga. Kisah sehari-hari ini juga memuat narasi-narasi personal yang
dikaitkan dengan pengalaman personal individu pencerita.
Sulit untuk menemukan satu definisi mengenai keluarga. Wamboldt and Reiss
(1989) dalam Segrin dan Flora (2011) menyatakan bahwa kebanyakan definisi mengenai
keluarga terbagi atas beberapa kriteria: (1) Struktur/bentuk keluarga, (2) task
orientation/fungsi keluarga, dan (3) transactional/interaksi keluarga. Definisi keluarga
berdasarkan bentuk keluarga melihat keluarga berdasarkan struktur dan mendefinisikan
keluarga berbasis pada siapa saja yang ada dalam keluarga dan bagaimana hubungan
anggota keluarga tersebut (Misalnya: Hubungan pernikahan, hubungan darah, hubungan
adopsi). Dalam definisi keluarga berdasarkan struktur, keluarga adalah orang-orang yang
tinggal bersama, memiliki hubungan darah dan diikat secara hukum. Definisi keluarga
yang pertama ini dengan jelas menentukan siapa saja yang termasuk dan tidak termasuk
dalam keluarga tersebut. Definisi keluarga berdasarkan fungsi memahami keluarga
berdasarkan orientasi kerja (task orientation) dan bagaimana fungsi masing-masing
171
e-Proceeding | COMICOS 2017
anggota keluarga. Umumnya definisi keluarga berdasarkan orientasi kerja ini
memandang keluarga setidaknya terdiri dari satu orang dewasa dan satu orang lainnya
yang bersama-sama melakukan tugas keluarga tertentu dengan pembagian kerja yang
jelas, seperti melakukan sosialisasi, perawatan, tumbuh kembang, penyediaan keuangan,
dan emosional. Dalam definisi berdasarkan orientasi kerja, keluarga bisa saja terdiri dari
satu orang ibu atau ayah dengan seorang atau beberapa anak. Bisa juga keluarga terdiri
dari seorang nenek dan beberapa cucunya, atau seorang pengasuh yang merawat seorang
anak tanpa ikatan hukum atau hubungan darah. Definisi keluarga berdasarkan pembagian
kerja tidak menekankan pentingnya mendefinisikan keluarga berdasarkan struktur,
melainkan memfokuskan batasannya pada hubungan sosial antar anggota keluarga dan
pembagian kerja yang ada di dalamnya. Sedangkan definisi keluarga berdasarkan
hubungan transaksional/interaksi didasarkan atas hubungan transaksional dalam
keluarga, yang melihat keluarga berdasarkan proses komunikasi yang menghubungkan
individu sebagai anggota keluarga. Definisi keluarga berdasarkan transaksional ini
menekankan pada unsur komunikasi dan perasaan subyektif yang muncul sebagai hasil
dari interaksi antar anggota keluarga. Wamboldt dan Reiss (1989) dalam Segrin dan
Flora (2011) mendefinisikan keluarga sebagai berikut: “A group of intimates [whose
interaction generates] a sense of home and group identity; complete with strong ties of
loyalty and emotion, and an experi- ence of a history and a future”. Dengan demikian
definisi transaksional menganggap keluarga terdiri dari sekumpulan individu yang satu
sama lain merasa akrab dan memiliki identitas kelompok sebagai hasil dari interaksi
anggota-anggotanya satu sama lain. Hal lain yang juga dianggap penting dalam definisi
keluarga berdasarkan transaksional adalah adanya ikatan emosional dan loyalitas yang
tinggi, serta pengalaman bersama mengenai sejarah dan masa depan kelompoknya.
172
e-Proceeding | COMICOS 2017
Dalam definisi transaksional, makna dan batasan keluarga dibentuk melalui cerita, ritual,
dan bentuk komunikasi simbolik lainnya.
Berdasarkan tiga batasan mengenai keluarga di atas, tulisan ini mengacu pada
definisi transaksional mengenai keluarga, di mana keluarga dianggap tak bisa hanya
dibatasi berdasarkan garis keturunan dan atau hukum maupun berdasarkan pembagian
kerja di dalamnya. Dalam pengertian keluarga ini, ikatan psikososial dianggap lebih kuat
ketimbang kekuatan garis keturunan maupun jalur hukum. Sehingga definisi keluarga
menjadi meluas dan tidak menutup kemungkinan ikatan keluarga yang muncul antara
individu dengan pengasuhnya, individu dengan sahabatnya ataupun dengan orangtua
sahabatnya. Menurut definisi transaksional, ikatan keluarga bisa muncul dan diperkuat
hubungannya melalui kegiatan bercerita. Cerita dalam keluarga memungkinkan
munculnya transmisi nilai-nilai keluarga tertentu antar generasi. Melalui cerita
kebiasaan-kebiasaan keluarga yang bersifat ritual bisa ditularkan dan hidup serta semakin
kuat dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Blum-Kulka (1993), Norrick (1997), Stone (2004) sebagaimana dikutip dalam
Thorson, Rittenour , Kellas dan Trees (2013) , menjelaskan bercerita dalam keluarga
(family storytelling) sebagai salah satu cara utama keluarga dan anggota keluarga
menciptakan makna mengenai identitas individual dan kelompok. Sumber yang sama
mengutip Koenig Kellas & Trees (2013) yang menegaskan bahwa bercerita dalam
keluarga (family storytelling) mampu menciptakan panduan perilaku dan menjalin
hubungan antar generasi. Intinya, bercerita dalam keluarga (family storytelling) dapat
membangun konteks yang kuat untuk memahami komunikasi dan budaya keluarga.
Pada saat ini ikatan psikososial dimungkinkan juga muncul melalui penggunaan
media baru (new media). Laporan Kaiser Family tahun 2010 sebagaimana yang dikutip
173
e-Proceeding | COMICOS 2017
Steiner-Adair dan Barker dalam bukunya The Big Disconnect; Protecting Childhood and
Family Relationship in Digital Age, anak usia delapan sampai 18 tahun menghabiskan
sekitar tujuh setengah jam sehari untuk menggunakan perangkat elektronik. Ini jumlah
waktu yang lebih panjang dibanding aktivitas lainnya yang mereka lakukan. Laporan
yang sama juga mencatat kebiasaan menggunakan perangkat elektronik lazim dilakukan
secara multitasking. Kegiatan ini menurut Steiner-Adair dan Barker merupakan sebuah
kegiatan yang oleh anak-anak dan remaja tersebut sebagai kegiatan bersantai, tetapi
sesungguhnya menurut pemahaman neuroscience merupakan kegiatan yang padat secara
psikologis dan kadang juga secara emosional. Panjangnya durasi anak dan remaja dalam
menggunakan perangkat elektronik ini tidak menutup kemungkinan bisa memperluas
lagi definisi keluarga secara transaksional. Jika sebelumnya iklatan psikososial mungkin
terbentuk antar individu-individu yang sama sekali tidak berhubungan darah dan atau
hukum, munculnya teknologi baru mungkin saja bisa memunculkan ikatan emosional
dan sosial dengan keluarga lain yang menampilkan narasi sehari-harinya melalui media
sosial.
Media sosial, sebagai salah satu platform media baru (new media)
memungkinkan kita semua terkoneksi 24 jam sehari dengan siapapun yang menggunakan
platform yang sama. Batasan platform yang sama, saat ini pun menjadi seakan nyaris
kehilangan makna. Misalnya, jika pada tahun 2010, Safko memisahkan kategori media
sosial berplatform video (youtube), photo sharing (instagram), dan microblogging
(twitter), saat ini pada dasarnya ketiga platform media sosial tersebut fungsinya saling
tumpang tindih dan bisa dikoneksikan satu sama lain. Dengan demikian, pola produksi,
reproduksi, dan konsumsi antar platform menjadi sangat mudah dilakukan. Bahkan
batasan computer mediated communication (CMC) sebagaimana yang dikemukakan
174
e-Proceeding | COMICOS 2017
dalam Griffin (2012), sebagai komunikasi berbasis teks yang hampir tidak menggunakan
komunikasi non verbal, juga rasanya menjadi tidak kontekstual lagi. Saat ini
berkomunikasi menggunakan komputer tidak serta-merta meniadakan simbol-simbol
non verbal. Koneksi internet memungkinkan kita berinteraksi secara tatap muka tanpa
kehadiran fisik melalui berbagai platform media sosial. Misalnya fitur live dalam
instagram, video singkat instan melalui snapchat, dan livestream video melalui facebook,
adalah beberapa diantara aplikasi yang memungkinkan terjadinya komunikasi “tatap
muka” di dunia maya. Perkembangan fitur ini memungkinkan pihak-pihak yang
berkomunikasi dalam CMC justru menjadi merasa akrab walau bisa saja tak pernah
bertatap muka. Hubungan ini yang oleh Joseph Walter dalam teori Social Information
Processing disebut sebagai perspektif hiperpersonal, yang menjelaskan bahwa tanpa
bertatap muka aktivitas CMC memungkinkan komunikator dan komunikan menjalin
hubungan yang akrab, bahkan lebih akrab ketimbang ketika hubungan dijalin melalui
komunikasi tatap muka (Griffin, 2012).
Metodologi
Makalah ini bertujuan mengeksplorasi bagaimana Keluarga Indonesia
menarasikan kesehariannya di media sosial. Dari sekian banyak platform media sosial
yang ada, penulis memfokuskan pada observasi akun youtube yang cukup banyak
digunakan saat ini dalam menceritakan aktivitas sehari-hari sejumlah keluarga, bukan
saja di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia. Observasi dilakukan terhadap dua akun
youtube keluarga, yaitu: akun youtube Gen Halilintar dan Keluarga Kece. Dari puluhan
dan ratusan unggahan video, penulis memilih beberapa unggahan video dari masingmasing akun yang dinilai dapat memberikan paparan terutama mengenai: (1) bentuk
175
e-Proceeding | COMICOS 2017
keluarga dan (2) nilai dan simbol dalam keluarga tersebut.
Akun youtube yang diobservasi tidak dibatasi secara khusus berdasarkan tujuan
pembuatannya dan siapa yang membuat. Sehingga akun-akun yang diobservasi
merupakan akun-akun bertopik keluarga yang kerap muncul dalam perbincangan
pengguna media sosial sehari-hari di sekitar penulis dan juga sering muncul di timeline
akun media sosial penulis. Batasan topik keluarga yang dimaksud adalah ketika sebuah
akun sering mengunggah kegiatan keluarga yang melibatkan pemilik akun, pasangan
(suami, istri, mantan istri, mantan suami), anak-anak, dan keluarga luasnya (nenek,
kakek, paman, bibi, bahkan pengasuh ataupun asisten rumah tangga). Dalam obyek
amatan terdapat akun yang dimiliki oleh pesohor (celebrity) maupun orang biasa yang
justru menjadi terkenal karena kegiatannya di media sosial (online celebrity). Perlu
dipahami bahwa makalah ini tidak membahas mengenai kemungkinan komersialisasi
unggahan media sosial yang kerap dilakukan banyak pengguna media sosial. Walau tidak
dipungkiri,
beberapa
pemilik
akun
yang
diobservasi
diketahui
merupakan
endorser/influencer yang sering melakukan unggahan berbayar atau dengan sengaja
menjadikan akun media sosialnya sebagai media promosi diri dan juga keluarganya.
Berdasarkan pengamatan pada 26 Juli 2017, memasukan kata kunci vlogger
keluarga di situs jejaring sosial youtube menghasilkan 10,700 hasil. Sedangkan dengan
kata kunci family vlogger menghasilkan 1.840.000 hasil. Sementara dengan
menggunakan kata kunci Family vlog menghasilkan 21.700.000 laman dan kata kunci
vlog keluarga menghasilkan 58.300 laman.
Beberapa akun youtube yang dianggap cukup sering menampilkan aktivitas
keseharian keluarganya diantaranya adalah: thesasonos family dengan pelanggan
sejumlah 4033, The Untung’s dengan pelanggan sebanyak 11.143, Keluarga Kece
176
e-Proceeding | COMICOS 2017
dengan 22.645 pelanggan, NRab Family 61.151 pelanggan, Keluarga Marten dengan
total pelanggan 87.910, Keluarga A5 dengan 120.938, #temantapimenikah dengan
pelanggan berjumlah 182.644, keluarga el 384.725 pelanggan, Gen Halilintar 1.031.223.
Dari sembilan akun ini terdapat dua akun (Gen Halilintar dan keluarga el) yang bukan
merupakan artis secara offline. Walau demikian yang menarik adalah kedua akun ini
memiliki pelanggan dalam jumlah lebih besar daripada beberapa akun para artis
Indonesia yang telah dikenal masyarakat sebelum mereka membuat akun youtube-nya.
Bahkan Gen Halilintar memiliki pelanggan dengan jumlah tertinggi dibanding semua
akun yang penulis amati untuk makalah ini.
Pembahasan
Dari Sembilan akun di atas, penulis lebih memfokuskan pengamatan pada dua
akun youtube: Gen Halilintar dan Keluarga Kece. Alasan pemilihan tidak didasarkan
pada jumlah pelanggan, jumlah unggahan, ataupun jumlah pengunduh, melainkan
didasari oleh keunikan narasi yang ditampilkan oleh masing-masing akun. Gen Halilintar
dan Keluarga Kece adalah dua keluarga yang menampilkan narasi dengan nilai yang agak
berbeda berdasarkan pertimbangan peneliti.
Akun Gen Halilintar
Gen Halilintar adalah keluarga pebisnis dengan 11 orang anak. Keluarga yang
menyebut keluarganya sebagai kesebelasan GenHalilintar ini, mengaku sebagai keluarga
homeschooler yang tinggal di Jakarta tetapi kerap berkeliling dunia bersama untuk
melakukan perjalanan bisnis. Pasangan Lenggogeni Faruk dan Halilintar Asmid,
dibesarkan di area kompleks Caltex Indonesia di daerah Duri dan Rumbai di dekat
Pekanbaru. Mereka memutuskan menikah di kala kuliah di Universitas Indonesia dan
177
e-Proceeding | COMICOS 2017
sampai sekarang menjalankan bisnis bersama-sama sambil membesarkan kesebelas anak
mereka (Faruk, 2015). Membaca buku “Kesebelasan Gen Halilintar; My Family My
Team”, karya Faruk membuat penulis menyimpulkan bahwa keluarga ini merupakan
keluarga muslim yang menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-harinya
dengan cukup kuat. Sejumlah sunnah Nabi dijalankan dalam keseharian keluarga Gen
Halilintar dan dengan jelas dideskripsikan dalam buku karya Faruk (2015).
Berdasarkan strukturnya, keluarga Gen Halilintar adalah “keluarga normal” ala
Indonesia. Keluarga lengkap dengan sepasang orangtua kandung, 11 orang anak (5
perempuan, 6 laki-laki), dan kerap melakukan ritual keagamaan bersama. Dalam
beberapa unggahan akun Gen Halilintar juga menampilkan keluarga luasnya seperti
nenek dan kakek yang datang berkunjung ke rumah mereka. Pencerita yang lebih sering
muncul dalam unggahan vlog di youtube adalah Lenggogeni Halilintar (Ibu) dan Atta
Halilintar (Putra sulung), walau pun demikian kanal Gen Halilintar memiliki sejumlah
sub-sub kanal yang menampilkan 11 anak dalam keluarga ini. Secara jelas, keluarga ini
membuka
dirinya
untuk
menjadi
endorser
dalam
akun
youtube
mereka
(https://www.youtube.com/channel/UCfRNJiafEm1LBBGFTTq4cXw/about)
dengan
memposisikan keluarganya sebagai key opinion leader, influencer, businessman,
motivator, traveller, singer, dengan target sasaran khalayak all segment target: man,
woman, baby, child, teen, adult, parent.
Keunikan dalam unggahan akun Gen Halilintar adalah bagaimana “kesebelasan”
ini beserta kedua orangtuanya terlihat sangat menikmati tampil dalam vlog yang secara
rutin mereka unggah. Narasi yang ditampilkan dalam unggahan-unggahan vlog akun ini
terutama menampilkan bagaimana seluruh anggota keluarga merupakan satu kesatuan
yang
178
solid.
Dalam
unggahan
berjudul
Video
Our
Life-
Gen
Halilintar
e-Proceeding | COMICOS 2017
(https://www.youtube.com/channel/UCfRNJiafEm1LBBGFTTq4cXw),
misalnya
diceritakan bagaimana keluarga ini mengatur rumahnya sebagai sebuah tim. Metafora
yang digunakan adalah: Mengatur rumah seperti hotel. Dalam video tersebut dijelaskan
bagaimana sistem pembagian kerja dalam keluarga Gen Halilintar dilakukan: Ada anak
yang bertugas menjadi bagian house keeping, chef, laundry, dan teknisi. Selain bekerja
di dalam rumah, anggota keluarga juga melakukan pekerjaan di luar rumah. Keluarga ini
mengklaim melakukan berbagai bisnis mulai dari berjualan makanan, pakaian, agen
perjalanan, dan lain-lain. Dalam video yang sama juga dijelaskan bahwa moto keluarga
mereka adalah: We sell what we use, what we eat, what we utilize. Terlihat dalam
unggahan ini bahwa pemimpin dalam keluarga Gen Halilintar adalah sang ayah, walau
secara fisik figur Ayah lebih jarang muncul dalam unggahan-unggahan vlog keluarga ini.
Ini terdeskripsikan dalam pernyataan salah satu anak yang menyatakan: “Ayah kami
selalu mengajari jangan hanya jadi konsumen, jadilah produsen.” Berdasarkan unggahan
berjudul Video Our Life- Gen Halilintar, terpaparkan dengan jelas nilai-nilai dan simbolsimbol keluarga dengan jelas. Bahkan keluarga ini secara jelas menciptakan tagline
keluarga: “My Family, My Team.”
Salah satu topik yang sering diunggah oleh keluarga ini adalah topik “tipe-tipe.”
Topik ini berisi semacam deskripsi kegiatan tertentu yang boleh dan tidak boleh
dilakukan. Misalnya salah satu video dengan topik “tipe-tipe” berjudul: “Tipe-Tipe
Tarawih yang Tidak Boleh,” atau “Tipe-Tipe Rusuh di Pesawat! Anak Banyak.” Narasi
yang ditampilkan dalam video “tipe-tipe” walau bisa dikategorikan sebagai cerita parodi,
tapi tetap jelas mentransmisikan nilai keluarga Gen Halilintar: “My Family, My Team.”
Misalnya, dalam unggahan “Tipe-Tipe Rusuh di Pesawat! Anak Banyak,” walau
sepertinya merupakan cerita yang dibuat strukturnya dengan sengaja (scripted) tapi tetap
179
e-Proceeding | COMICOS 2017
konsisten dalam memaparkan nilai keluarga Gen Halilintar sebagai sebuah keluarga yang
kompak. Dalam unggahan ini ditampilkan bagaimana keriuhan perjalanan keluarga Gen
Halilintar naik pesawat dan kelucuan-kelucuan di dalam penerbangan tersebut.
Sementara dalam “Tipe-Tipe Tarawih yang Tidak Boleh,” ditampilkan apa saja yang
tidak boleh atau tidak tepat dilakukan saat shalat tarawih. Walau hanya sekedar
menampilkan kelucuan yang sepertinya tak akan terjadi dalam kehidupan nyata, tapi
unggahan
yang
bisa
diakses
melalui
tautan
https://www.youtube.com/watch?v=nZkpGYbnC3M ini tetap sejalan dengan nilai
keluarga Gen Halilintar sebagai keluarga yang taat beribadah.
Unggahan Gen Halilintar yang hampir selalu masuk dalam kategori popular
uploads adalah unggahan berupa video klip cover version dari artis-artis terkenal. Salah
satu unggahan yang terbanyak diakses adalah unggahan
cover version dari lagu
Despacito yang dalam 2 minggu diunggah sudah diakses lebih dari 5 juta pengakses
(https://www.youtube.com/watch?v=yySlBphiwGI). Dalam keterangan unggahan ini,
dijelaskan bahwa lirik lagu sudah disesuaikan agar sesuai dengan semua umur,
mengingat Despacito mengangkat topik dewasa yang tidak ditujukan untuk anak-anak.
Kembali lagi, keterangan mengenai penyesuaian lirik lagu seakan menunjukan bahwa
keluarga ini adalah keluarga yang mengutamakan nilai-nilai ramah keluarga.
Dari teknik produksi, unggahan Gen Halilintar menggunakan teknik produksi
yang sangat memadai dengan editing bertaraf professional. Penggunaan musik latar, efek
suara, dan kualitas produksi yang maksimal membuat tampilan video Gen Halilintar
menarik diakses karena terlihat sangat menghibur. Selain itu factor kesiapan cerita juga
membuat unggahan-unggahan Gen Halilintar menjadi berkualitas setara dengan program
televisi di stasiun televisi swasta Indonesia.
180
e-Proceeding | COMICOS 2017
Akun Keluarga Kece
Akun ini adalah akun dari keluarga Anji Manji musisi yang juga memiliki akun
youtube Dunia Manji. Dalam keterangan di akun Keluarga Kece dijelaskan bahwa isi
akun ini adalah potongan-potongan video yang akan diunggah kea kun youtube Dunia
Manji dan juga video-video pendek yang tidak akan diunggah ke akun Dunia Manji
(https://www.youtube.com/channel/UCDei1SiMsi7Ie9dm0vv0vWQ/about).
Walau
secara jumlah unggahan maupun pelanggan tidak besar tetapi akun ini menarik
diobservasi karena menampilkan bentuk keluarga yang “tidak biasa” di Indonesia. Anji
atau Manji adalah seorang musisi pop Indonesia yang pernah tergabung dalam kelompok
Band Drive. Saat ini Manji menikah dan memiliki dua anak kandung dari istrinya, Wina
Natalia. Wina Natalia sendiri memiliki dua anak dari pernikahan sebelumnya. Selain itu
Manji juga memiliki anak dari hubungan masa lalunya dengan artis Sheila Marcia.
Unggahan-unggahan akun youtube Keluarga Kece berisi cerita keseharian
keluarga besar Manji dan Minda (Panggilan anak-anak Anji dan Wina untuk Ayah dan
Ibunya). Sebagian besar unggahan menampilan Manji sebagai pencerita utama. Dalam
unggahan berjudul “Lebaran Menurut Salva & Minda | Keluarga Kece Mudik DAY 3”
(https://www.youtube.com/watch?v=csbT3PvXnr8),
narasi
yang
dibangun
oleh
unggahan ini adalah bagaimana kompaknya keluarga yang secara struktur sebenarnya
tidak berasal dari satu garis keturunan. Dalam unggahan ini ditampilkan perjalanan
mudik Keluarga Kece dengan 5 orang anaknya. Walau berasal dari orangtua yang
berbeda tetapi interaksi yang ditampilkan dalam video seakan menggambarkan bahwa
keluarga ini adalah keluarga yang hangat dan akrab.
Representasi nilai keluarga dalam unggahan Keluarga Kece, tak sejelas nilai yang
ditampilkan dalam video-video akun youtube Gen Halilintar. Jika akun Gen Halilintar
181
e-Proceeding | COMICOS 2017
dengan jelas menampilkan nilai keluarganya dengan menggunakan tagline, dan
menampilkan moto keluarga, Keluarga Kece lebih banyak menampilkan perilaku
tertentu secara konsisten untuk menampilkan nilai keluarganya. Misalnya perilaku
berdiskusi dan beradu pendapat mengenai sesuatu sering muncul dalam video yang
diunggah akun youtube Keluarga Kece. Perilaku ini salah satunya muncul dalam video
“Alasan Minda Berhenti Bekerja,” unggahan dengan 35.000 pengakses ini menceritakan
alasan
Minda
(Wina,
sang
Ibu)
berhenti
bekerja
(https://www.youtube.com/watch?v=_gOqy4xBb_c&t=186s). Dalam unggahan tersebut
terlihat jelas bagaimana hubungan antara Manji dan Minda (Ayah dan Ibu) di
keluarganya. Pasangan ini terlihat saling mengisi dan tak ragu dalam mengemukakan
pendapat masing-masing. Keterbukaan berpendapat nampaknya adalah salah satu nilai
dalam keluarga ini. Nilai keterbukaan juga terpapar dalam pernyataan Manji saat
menjelaskan mengenai rutinitas keluarganya. Manji tak segan memaparkan rutinitas
kedua anak Minda (dari mantan suaminya) setiap hari Sabtu dan Minggu yang akan
menghabiskan waktu bersama “Ayah” (Menit ke 04.22). Penyebutan kata “Ayah” juga
seakan menggambarkan betapa akrabnya keluarga luas ini.
Nilai keluarga yang akrab dan terbuka dalam berpendapat, juga muncul dalam
paparan di video berjudul “Lebaran Menurut Salva & Minda | Keluarga Kece Mudik
DAY 3”. Kedua pencerita menceritakan mengenai lebaran saat mereka kecil. Walau tidak
sepakat, tetapi narasi yang ditampilkan adalah bahwa kedua pencerita bisa tetap saling
menghormati sudut pandang pasangannya. Menghormati pendapat dan keterbukaan
adalah dua nilai yang kerap muncul dalam unggahan-unggahan Keluarga Kece. Nilai
inilah yang menjadi salah satu daya tarik dari video yang diunggah akun Keluarga Kece.
Nilai yang menegaskan hubungan keluarga masa kini Indonesia. Berbeda-beda tetapi
182
e-Proceeding | COMICOS 2017
tetap satu.
Dalam cerita yang diunggah hampir selalu Manji sebagai ayah adalah yang
menjadi pencerita. Anggota keluarga lain yang paling sering muncul adalah kedua anak
kandung laki-laki Manji, Minda (Ibu), dan Laeticia (putri Manji dari hubungannya yang
sebelumnya). Walau sosok ayah merupakan pencerita utama dalam unggahan-unggahan
Keluarga Kece, tetapi posisi Ayah bukanlah sebagai pemimpin atau pihak yang dominan.
Justru dalam unggahan-unggahan di akun ini sosok Manji tidak seperti kebanyakan peran
Ayah sebagai pemimpin keluarga yang dominan dan kaku. Manji sebagai seorang ayah
ditampilkan sebagai figur yang hangat, penuh kasih sayang, dan menghormati istri dan
anak-anak, serta keluarga luasnya (termasuk mantan suami sang istri dan keluarga luas
lainnya). Simbol yang digunakan dalam unggahan-unggahan video di akun Keluarga
Kece juga tidak terlalu jelas terlihat, sebagaimana yang jelas terlihat dalam akun Gen
Halilintar.
Dari segi produksi, berbeda dengan unggahan video-video Gen Halilintar, video
yang diunggah akun Keluarga Kece tidak banyak menggunakan elemen produksi
tambahan seperti efek suara, latar belakang lagu, dan editing dengan perangkat khusus.
Tampilan video yang diunggah akun Keluarga Kece terlihat seperti layaknya video-video
keseharian orang biasa (common people) yang ingin menuturkan cerita keluarganya.
Pembahasan
Kedua akun youtube keluarga dalam makalah ini tentunya tidak dapat menjadi
gambaran narasi besar keluarga Indonesia di media sosial. Tetapi kedua akun keluarga
ini setidaknya bisa mewakili dua profil keluarga di Indonesia. Secara umum, akun Gen
Halilintar melalui aktivitas family digital storytelling-nya menunjukan nilai keluarga
183
e-Proceeding | COMICOS 2017
berdasarkan definisi keluarga secara struktural. Sementara akun Keluarga Kece
menampilkan nilai keluarga sebagaimana yang dijelaskan dalam definisi keluarga secara
transaksional.
Akun Gen Halilintar merupakan akun yang memaparkan keluarga Indonesia yang
lengkap secara struktur. Sesuai definisi berrdasarkan struktur paparan dalam video-video
Gen Halilintar menunjukan betapa struktur keluarga menjadi sangat penting dalam
keluarga Halilintar. Hampir seluruh video yang diunggah menceritakan mengenai
hubungan begitu erat dalam keluarga inti Halilintar. Selain itu juga pembagian kerja
(task oriented) dalam keluarga ini terlihat sangat jelas. Sedangkan akun Keluarga Kece,
menampilkan narasi keluarga Indonesia yang agak berbeda. Batasan keluarga secara
struktur keturunan dan hukum menjadi tidak jelas. Pembagian kerja pun menjadi tidak
biasa mengingat keluarga ini memiliki keluarga luas yang melibatkan para mantan
pasangan kedua orangtua dalam akun Keluarga Kece. Belum lagi adanya seorang anak
yang muncul dari hubungan di luar nikah dan kerap tampil dalam unggahan-unggahan
Keluarga Kece. Walaupun dalam unggahan tidak pernah dijelaskan status anak di luar
nikah ini, tetapi mengingat begitu banyaknya pemberitaan di media lain, status anak
tersebut menjadi jelas walau pencerita utama dalam akun Keluarga Kece tidak pernah
menyebutkan status anak tersebut.
Definisi keluarga secara transaksional menjelaskan bahwa ikatan keluarga bisa
muncul dan diperkuat hubungannya melalui kegiatan bercerita. Hal ini menjadi semakin
menarik di era computer mediated communication saat ini. Baik akun youtube Gen
Halilintar maupun Keluarga Kece dapat berfungsi sebagai media bercerita dalam
keluarga tersebut. Sehingga bukan hanya generasi sekarang dari keluarga tersebut yang
akan menikmati narasinya, tetapi terus ke generasi-generasi selanjutnya. Lebih menarik
184
e-Proceeding | COMICOS 2017
lagi, karena narasi yang diunggah ke media sosial dan dapat diakses publik, pada
akhirnya bukan saja mentransmisikan nilai keluarga di dalam keluarga tersebut saja.
Transmisi nilai keluarga yang diungkapkan melalui aktivitas digital storytelling
memungkinkan orang dari keluarga pencerita untuk mempelajari, memahami, dan
mungkin juga menerapkan nilai-nilai keluarga yang disaksikannya di media sosial.
Dengan satu juta lebih pelanggan, akun Gen Halilintar sangat besar kemungkinannya
secara sengaja maupun tidak sengaja telah mentransmisikan nilai-nilai keluarganya ke
khalayak umum.
Dari kedua akun youtube keluarga yang penulis amati, akun youtube Gen
Halilintar terkesan jauh lebih mempersiapkan produksinya. Mulai dari plot, naskah, dan
teknik produksi seakan sudah direncanakan dengan matang. Terlepas dari kemungkinan
adanya kepentingan untuk memperluas relasi bisnis dengan dibuatnya akun Gen
Halilintar, tetapi persiapan yang matang dalam memproduksi family digital storytelling
membuat transmisi nilai keluarga Gen Halilintar menjadi sangat menarik untuk diikuti.
Perencanaan plot dan naskah secara matang yang linier dengan nilai keluarga, membuat
pengakses tidak menyadari adanya transmisi nilai tertentu karena mereka mengakses
akun Gen Halilintar sebenarnya adalah bukan untuk alasan mempelajari nilai keluarga,
tetapi untuk mendapatkan hiburan. Hiburan selayaknya menyaksikan tayangan program
televisi di stasiun televisi swasta atau berlangganan.
Walau demikian, bukan berarti akun Keluarga Kece tidak bisa menanamkan
nilai-nilai keluarganya ke dalam benak pengakses. Dengan tampilan unggahan yang
terlihat apa adanya dan mengakomodir perdebatan dalam keluarga dalam suasana yang
demokratis membuat akun ini menjadi menarik disaksikan oleh pasangan muda dengan
anak usia balita sampai pra remaja. Figur suami dan ayah yang hangat dan selalu ada
185
e-Proceeding | COMICOS 2017
menjadi salah satu kekuatan dalam unggahan-unggahan Keluarga Kece. Jika melihat
lebih jauh dalam unggahan-unggahan komentar pengguna media sosial seperti LINE
yang diasumsikan banyak digunakan orang muda, seringkali hubungan yang demokratis
dalam keluarga inilah yang dalam bahasa sehari-hari (slang language) dikenal dengan
istilah relationships goal.
Dalam Littlejohn dan Foss (2009), dijelaskan bahwa para ahli yang mendalami
mengenai cerita (stories) dan bercerita (storytelling) menganggap narasi merupakan
sebuah situasi yang dikondisikan secara lokal. Mengacu pada pernyataan ini, maka kedua
narasi dari akun youtube Gen Halilintar dan Keluarga Kece, pasti akan berbeda. Ini
terjadi karena pencerita utama memiliki pengalaman pribadi, kepentingan, dan mungkin
saja termasuk identitas yang ia ingin tanamkan dalam narasi family digital storytellingnya. Inilah yang membuat narasi antara kedua akun yang diobservasi menjadi berbeda.
Latar belakang dan pengalama pencerita utama di akun Gen Halilintar (Lenggogeni, Ibu.
Berasal dari luar Jawa, menikah muda saat masih kuliah, berkeliling dunia membantu
suami berbisnis, mengurus keluarga dengan sebelas anak tanpa asisten rumah tangga)
dan di akun Keluarga Kece (Manji, Ayah. Lahir di Jakarta, bekerja sebagai musisi,
memiliki anak di luar nikah, menikah dengan janda yang memiliki dua) membentuk
narasi yang berbeda.
Penutup
Narasi-narasi yang berbeda semestinya akan muncul dalam setiap aktivitas family
digital storytelling. Ini menjadi menarik diamati lebih lanjut seiring bertambah
banyaknya keluarga yang mulai melakukan aktivitas tersebut. Melakukan penelitian
mengenai family digital storytelling menjadi penting dan menarik dilakukan saat ini,
186
e-Proceeding | COMICOS 2017
mengingat semakin beragamnya bentuk keluarga di Indonesia. Melalui telaah dengan
menggunakan pendekatan naratif peneliti dimungkinkan mengenal dan memahami
secara mendalam bentuk-bentuk keluarga yang ada di Indonesia tanpa memberikan
judgement tertentu. Ini dimungkinkan mengingat cerita dan bercerita merupakan sebuah
aktivitas personal yang tidak memungkinkan peneliti untuk menyimpulkan aktivitas
family digital storytelling keluarga manapun secara judgemental.
Makalah ini adalah makalah eksploratif yang akan menjadi paparan awal dari
serangkaian penelitian mengenai digital storytelling, literasi media dan komunikasi
keluarga. Oleh sebab itu penting untuk digali lebih dalam mengenai beberapa temuan
dalam makalah awal ini. Di antaranya adalah mengenai: (1) Manfaat digital storytelling
dalam komunikasi keluarga, (2) Dampak digitalisasi terhadap interaksi dalam keluarga,
(3) Literasi digital pada orangtua dengan anak yang menggunakan media sosial, (4)
Konsumsi media digital dalam keluarga.
Dari sudut pandang komunikasi keluarga, family digital storytelling bisa menjadi
sebuah solusi di tengah kesibukan keluarga terutama di kota besar di Indonesia.
Sempitnya waktu berinteraksi secara langsung dengan sesama anggota keluarga karena
tuntutan pekerjaan dan sekolah, membuat keluarga butuh sebuah wadah dalam
menyatukan seluruh anggota keluarganya untuk berinteraksi satu sama lain. Pemahaman
mengenai family digital storytelling juga tidak sesempit kegiatan membuat video yang
lantas diunggah ke media sosial. Bisa juga aktivitas ini dilakukan untuk
mendokumentasikan tumbuh kembang anak dan keluarga secara individual (misalnya
melalui pembuatan video portfolio anak dan keluarga) yang disimpan dan hanya bisa
diakses terbatas oleh anggota keluarga saja. Bahkan aktivitas mengunggah secara
terbatas hasil family digital storytelling juga dilakukan oleh akun Gen Halilintar yang
187
e-Proceeding | COMICOS 2017
memiliki sejumlah video dengan status private video di youtube.
Walau kegiatan family digital storytelling banyak memiliki manfaat, tetapi
penting untuk kembali mengutip mengutip laporan Kaiser Family tahun 2010 dalam
Steiner-Adair dan Barker di buku The Big Disconnect; Protecting Childhood and Family
Relationship in Digital Age. Laporan tersebut menyatakan anak usia delapan sampai 18
tahun menghabiskan sekitar tujuh setengah jam sehari menggunakan perangkat
elektronik. Panjangnya durasi menggunakan perangkat elektronik pada anak dan remaja
saat ini, mungkin bisa menyebabkan aktivitas family digital storytelling yang dilakukan
keluarga lain, membuat anak dan remaja menjadi lebih mengenal keluarga lain dibanding
keluarganya sendiri. Dugaan ini semakin diperkuat dengan perspektif hiperpersonal oleh
Walther yang menjelaskan kemungkinan hubungan melalui computer mediated
communication untuk menjadi lebih intim daripada hubungan tatap muka. Tentunya
untuk menyimpulkan hal ini dibutuhkan penelitian lebih lanjut secara kuantitatif
mengenai dampak digitalisasi terhadap interaksi dalam keluarga dan juga bagaimana
pola konsumsi media digital dalam keluarga di Indonesia.
Salah satu isu yang tidak bisa dilepaskan dari penggunaan media, termasuk media
digital, adalah mengenai literasi media. Percepatan perkembangan teknologi dan
semakin cepatnya penyebaran dan proses produksi informasi menyebabkan literasi
media menjadi satu-satunya kunci dalam keamanan dan kenyamanan konsumen (dan
produsen) media. Oleh sebab itu terkait dengan kegiatan family digital storytelling juga
perlu ditelaah lebih lanjut mengenai bagaimana tingkat pemahaman dan kesadaran
anggota keluarga (orangtua, anak, pengasuh selain orangtua) mengenai penggunaan
media digital. Semakin tinggi pemahaman dan kesadaran anggota keluarga mengenai
media digital, seharunya manfaat yang diperoleh dari kegiatan family digital storytelling
188
e-Proceeding | COMICOS 2017
juga akan semakin meningkat.
189
e-Proceeding | COMICOS 2017
DAFTAR RUJUKAN
Faruk, Lenggogeni. (2015). Kesebelasan Gen Halilintar; My Family My team. Penerbit Genh
Media
Griffin, EM. A First Look at Communication Theory, 8th edition, 2012, McGraw-Hill, New York
Littlejohn, Stephen., Foss, Karen A. (editor). (2009). Encyclopedia of Communication. Sage
Publication. California
Safko, Lon. (2010). Social Media Bible; Tactics, Tools, and Strategies for Business Success. 2nd
edition. John Wiley & Sons, New Jersey
Steiner-Adair, Catherine., Barker, Teresa H. “The Big Disconnect; Protecting Childhood and
Family Relationship in Digital Age.” www.harpercollins.com
Segrin, Chris., Flora, Jeanne. (2011). Family Communication. 2nd edition. Routledge, New York.
Thorson, Allison R. , Rittenour, Christine E. , Kellas, Jody Koenig., & Trees, April R. (2013)
Quality Interactions and Family Storytelling, Communication Reports, 26:2, 88-100, DOI:
10.1080/08934215.2013.797482
West, Richard., Turner, Lynd H., (2010). Introducing Communication Theory; Analysis and
Application. McGraw-Hill, New York
190
e-Proceeding | COMICOS 2017
SUBTEMA
INOVASI DALAM TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI
191
e-Proceeding | COMICOS 2017
192
e-Proceeding | COMICOS 2017
KOMUNITAS PENGETAHUAN DALAM INOVASI : KELOMPOK
KEPENTINGAN KHUSUS TANPA BATAS MENCIPTAKAN PENGETAHUAN
DAN HAMBATAN
Nithia Kumar Kasava
Direktur pada Perusahaan Bina Tech Services,Consulting dan Training, Malaysia
[email protected]
Ike Devi Sulistyaningtyas
Program Studi Ilmu Komunikasi
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Yogyakarta 55281
[email protected]
Abstrak
Kelangsungan hidup organisasi bergantung pada pengembangan pengetahuan yang
efektif dan sharing pengetahuan di antara para pemangku kepentingan. Kelangsungan
hidup manusia berbasis pada inovasi pengetahuan dan komunikasi antara orang-orang
yang memiliki kepentingan yang sama dalam kelompok. Makalah ini berangkat dari
studi kasus pada sebuah organisasi yang menggunakan kelompok kepentingan khusus
untuk menciptakan nilai dalam produk eLearning mereka. Penulis menggunakan
pendekatan metode penelitian studi kasus dan berbagai literatur untuk memfalidasi studi
kasus. Organisasi menggunakan banyak SDM lintas fungsi untuk mengembangkan
inovasi dan menerapkan manajemen pengetahuan untuk mempertahankan nilai
organisasi. Makalah ini membahas bagaimana pengetahuan diciptakan dengan
spesialisasi keterampilan tertentu. Organisasi mempertahankan kualitas konten sebelum
berbagi dengan pelanggan dan pengguna. Pemanfaatan inovasi pengetahuan membawa
organisasi mengarah pada ekonomi pengetahuan. Jaringan penciptaan pengetahuan
dan pemanfaatakan pengetahuan dimungkinkan karena adanya komunikasi digital
antara penyedia (provider) dan pelanggan. Studi kasus ini mengidentifikasi hambatan
yang menjadi tantangan. Kualitas konten, keamanan cyber dan perlindungan data
merupakan hambatan umum. Komunitas pengetahuan (knowledge community) perlu
mengatasi hambatan dan tindakan inovatif berkelanjutan diperlukan dalam kelompok
untuk mewujudkan organisasi yang efektif dan diferensiasi produk.
Kata kunci: Komunitas pengetahuan, kelompok minat khusus, inovasi.
Pendahuluan
Komunitas atau masyarakat berpengetahuan sudah ada sejak lama. Orang dengan minat
yang sama berkumpul sebagai komunitas sosial untuk berbagi pengetahuan untuk
kepentingan bersama. Ini dikenal sebagai kelompok yang memiliki minat khusus yang
193
e-Proceeding | COMICOS 2017
dibentuk untuk membuat, belajar, mengajar dan berbagi pengetahuan yang diperoleh.
Makalah ini membahas tentang komunitas berpengetahuan secara khusus masyarakat
yang memiliki kepentingan yang sama serta kendala yang dihadapi. Ada banyak
kelompok masyarakat yang memiliki kepentingan sama dalam masyarakat digital
sekarang ini. Intinya adalah komunikasi dengan anggota kelompok yang memiliki
kepentingan sama pada satu platform. Dalam konteks ini yang digunakan adalah platform
virtual tanpa batas. Pengenalan world wide web mempercepat platform komunikasi ini.
Kelompok dengan minat khusus diciptakan untuk berbagi pengetahuan dan
pengembangan jejaring antaranggota. Platform seperti Web 2.0 dan Web 3.0 menjadi
katalisator dalam pertumbuhan komunitas berpengetahuan.
Pendekatan Penelitian
Tinjauan pustaka dilakukan peneliti dengan mereview jurnal-jurnal berasal dari Elsevier,
Emerald dan ProQuest periode 2007-2007 menggunakan kata kunci yaitu, pengetahuan
masyarakat, ekonomi pengetahuan, hambatan pengetahuan dan inovasi dalam
masyarakat pengetahuan. Dengan demikian, makalah ini merupakan review tentang
literatur terkini mengenai masyarakat berpengetahuan (knowledge community).
Komunitas pengetahuan
Komunitas pengetahuan terbesar di dunia adalah Wikipedia yang memiliki 365 juta
pembaca (Spinellis dan Louridas 2008). Wikipedia adalah komunitas pengetahuan yang
bersifat open source dan komunitas pembelajaran elektronik (e-society) terbesar dan
berkontribusi di web. Komunitas pengetahuan melibatkan kegiatan berbagi,
menciptakan, mengajar dan belajar tentang pengetahuan (Jankowski et al., 2016). Oleh
194
e-Proceeding | COMICOS 2017
karena itu, komunitas pengetahuan ini akan mengembangkan modal kecerdasan kolektif
dan dicapai di web untuk mendapatkan pengetahuan lainnya (Levi 1997). Komunitas
pengetahuan berbasis web ini adalah penemuan yang inovatif. Dengan demikian inovasi
web telah menjadi alat yang populer bagi masyarakat pengetahuan. Alat bantu
pembelajaran dan kontributor yang popular saat ini adalah platform jejaring sosial (Li et
al., 2015). Perilaku komunitas pengetahuan bisa dibagi menjadi empat dimensi yaitu
diskusi, co-edit, revert dan topics. Keempat dimensi ini dimodelkan dalam jaringan sosial
perilaku multilayer (Kazienko et al., 2011).
Layanan online web 2.0 seperti blog dan interface interaktif digunakan untuk pembuatan
konten, penilaian dan evaluasi (Jui dan Sabyasachi, 2016). Layanan web 3.0 pada
dasarnya mengandung kecerdasan buatan (AI) yang dapat meningkatkan pengajaran dan
pembelajaran (Jui dan Sabayasachi, 2016). Alat yang popular untuk komunitas
pengetahuan organisasi adalah eLearning, di mana ELearning bisa disebut pendidikan
bagi individu atau karyawan yang tepat waktu. ELearning bisa dalam bentuk arsip atau
pembelajaran dinamis yang bersifat real time. ELearning menghubungkan para penulis,
pakar dan pembelajar dalam satu komunitas pengetahuan (Drucker 2005) .E-Learning
secara bertahap mengganti pembelajaran tradisional dimana pembelajaran, waktu dan
konten yang bersifat kaku. Web 2.0 memungkinkan eLearning dan memungkinkan
pembelajar untuk memiliki lingkungan belajar yang bersifat pribadi (Ebner and Mauser,
2008). ELearning ada dalam dua bentuk, yaitu pembelajaran sinkron (real time) dan
pembelajaran asinkron (disesuaikan oleh individu). Inovasi pengetahuan ini memberikan
pembelajaran tanpa mempedulikan waktu dan tanpa batas (Jui dan Sabyasachi, 2016).
Selain itu, eLearning lebih dipilih oleh organisasi karena berbiaya murah karena
195
e-Proceeding | COMICOS 2017
pengurangan biaya perjalanan, ruang kelas, bantuan mengajar, jam kerja pengajar dan
karyawan yang jauh dari jam kerja produktif di tempat kerja.
Hawkings 1994 mendefinisikan pengetahuan sebagai proses belajar antara individu,
organisasi dan masyarakat. Pengetahuan juga menyebabkan transformasi dari
masyarakat berbasis industri ke masyarakat pengetahuan (Kline, 2006). Pengetahuan dan
manajemen pengetahuan sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi (Bryan dan Zanini,
2005). Ada korelasi positif antara manajemen pengetahuan dan inovasi layanan bisnis
(Shieh dan Pei, 2003). Proses manajemen pengetahuan dasar meliputi penciptaan
pengetahuan, penangkapan pengetahuan, transformasi pengetahuan, penyimpanan
pengetahuan, berbagi pengetahuan, aplikasi pengetahuan dan proses pengambilan
keputusan pengetahuan (Miklosik et al., 2012). Komunitas pengetahuan dan modal
intelektual adalah sumber daya tak terbatas untuk pertumbuhan ekonomi dan keunggulan
kompetitif. Salah satu indikator ekonomi nasional adalah modal intelektual (Petty and
Guthrie, 2000). Dasar ekonomi pengetahuan adalah penciptaan, distribusi dan penerapan
pengetahuan (Hogan, 2011).
Disebutkan bahwa platform jejaring sosial merupakan yang paling popular saat ini.
Jejaring sosial memiliki beberapa kelebihan, terutama pada kemampuannya dalam
komunikasi dua arah yang interaktif, dan memudahkan penggunanya untuk mengakses
berbagai macam informasi. Kondisi ini akan sangat mendukung komunikasi interaktif
tanpa hambatan dan jarak. Didalamnya sangat dimungkinkan terjadi interaksi sosial baik
antar individu, individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok, bahkan individu
dan kelompok dengan massal.
196
e-Proceeding | COMICOS 2017
Pengalaman Inovasi Pada Komunitas Pengetahuan
Transformasi pengetahuan dan interaksi antar pengguna atau peserta dalam
komunitas berpengetahuan sangat mungkin dilakukan melalui platform jejaring sosial,
atau lebih dikenal denan media sosial. Platform tersebut memungkinkan diskusi terjadi
dalam ruang global village. Media sosial merupakan bentuk nyata dari media baru (new
media) berbasis kemajuan teknologi komunikasi yang didukung oleh teknologi informasi
dan komunikasi (Information and Communication Technology). Media sosial dipahami
sebagai bentuk baru komunikasi di internet yang ditopang oleh berbagai aplikasi
software, yang memungkinkan terjadinya interaksi diantara para pengguna.
Bagi perkembangan komunikasi, media sosial bahkan memungkinkan peningkatan
nilai (value) dari para pelakunya. Dalam teknologi komunikasi berbasis media sosial,
perlu dikembangkan pendekatan komunikasi yang mensyaratkan beberapa hal
(Hendroyono, 2012) seperti tertuang berikut ini :
a. Transparant, dimana semua orang dapat mengakses dan semuanya
terdokumentasi secara digital,
b. Authentic, dimana didalamnya mengandung keunikan, karena ide
yang dituangkan belum pernah ada sebelumnya,
c. Genuine, tidak dibuat-buat,
d. Sincere, dimaknai sebagai kejujuran yang terkandung dari pesan yang
disebarluaskan.
Pengalaman menarik yang akan disajikan disini memberikan gambaran bahwa dunia
maya mampu dikembangkan menjadi sebuah komunitas berbasis peningkatan
pengetahuan. Komunitas ini tercermin pada sebuah akun bernama ”akademi berbagi”
yang awalnya muncul di media sosial twitter.
197
e-Proceeding | COMICOS 2017
Kehadiran akun ”akademi berbagi” berawal ketika seseorang menyampaikan hasratnya
untuk mempelajari mengenai advertising dalam kicauan di twitter. Kicauan tersebut
mendapat sambutan dari seorang tokoh advertising ternama, yang bersedia menjadi
fasilitator untuk pengembangan pengetahuan di bidang advertising. Selanjutnya hasrat
belajar ini diikuti oleh banyak orang dan akhirnya terbangun sebuah komunitas belajar
advertising yang terdiri dari kelas-kelas diskusi pada waktu yang telah ditetapkan, atau
dikenal dengan istilah live tweet. Kondisi ini diberlakukan menjadi kelas pembelajaran
dengan peserta dan instruktur yang berinteraksi melalui dunia maya, Sebagaimana dalam
(Hendroyono, 2012) .
Pemilik akun tidak pernah berpikir bahwa kelas yang dikembangkannya pada akun
”akademi berbagi” akan berkembang ke beberapa daerah, namun kenyataannya kegiatan
”akademi berbagi” dapat berkembang di 21 kota seperti Jakarta, Tangerang, Depok,
Bandung, Semarang, Solo, Jogja, Madiun, Surabaya, Malang, Madura, Jambi,
Palembang, Medan, Balikpapan, Samarinda, Makassar, Gorontalo, Ambon, Bali, Ende,
dan selanjutnya Singapura khusus untuk para TKI.
Kekuatan dari kuasa media sosial ini adalah menyebarkan hasrat belajar, sehingga setiap
orang dapat menduplikasi gerakan ini dengan senang hati, dan tidak ada satupun yang
meminta hasil jerih payah berupa honorarium. Kuasa media sosial semacam ini akan
mendapat dampak meluas ketika digunakan pada masyarakat pembelajar.
Hambatan Berbagi Pengetahuan
Ada dua jenis berbagi pengetahuan dalam sebuah komunitas pengetahuan. Tipe pertama
adalah pengetahuan yang dibagikan semata-mata untuk tujuan keuntungan finansial
198
e-Proceeding | COMICOS 2017
(Kong, 2007; Sillanpa et al., 2010; Lyndsay dan Simon, 2016). Tipe kedua bukan untuk
keuntungan dan dimaksudkan untuk kepentingan sosial, mendorong praktik baik dan
kemajuan masyarakat (Guldberg et al., 2013; Lyndsay dan Simon 2016). Contoh
pengetahuan yang dibagikan bukan untuk mencari keuntungan bisa dilihat pada promosi
perawatan kesehatan dan kelompok dengan minat khusus.
Riege (2005) mendefinisikan knowledge sharing sebagai, "berbagi pengetahuan pribadi
dengan mengarahkan seseorang melalui pemikiran atau penggunaan wawasan untuk
membantu pemahaman kontekstual". Dalam makalah ini penulis mengumpulkan
hambatan berbagi pengetahuan dari berbagai literatur.
Hambatan dalam berbagi pengetahuan terjadi karena (1) buruknya interaksi sosial dan
kurangnya jejaring sosial di masyarakat (Riege, 2005; Cabrera dan Cabrera 2002); (2)
buruknya budaya berbagi pengetahuan dan struktur organisasi (McDermott dan O'Deli,
2001; Sharratt dan Usoro, 2003); (3) ketakutan untuk menggunakan teknologi (Lettieri
et al., 2004); (4) kurangnya komitmen diri untuk berbagi dan belajar (Jo dan Joo, 2011);
(4) orang-orang tertentu tidak percaya untuk berbagi pengetahuan dengan orang lain
karena takut akan status mereka di masyarakat atau karena alasan keamanan (Tohidina
dan Mosakhani, 2010)(5) tingkat kematangan masyarakat (Lin et al., 2012; Olivia, 2014).
Hambatan juga dirasakan, saat memasuki ranah komunikasi, selain bersinggungan
dengan komunikator (pengirim pesan) dan komunikan (penerima pesan), juga merambah
pada pesan yang digunakan. Hal ini menekankan bahwa pesan dapat mengubah konsepsi
dan penghayatan seseorang dalam berbagai cara. Perubahan yang paling dasar terjadi
199
e-Proceeding | COMICOS 2017
apabila pesan itu mneyentuh inti struktur dari konsep yang dimiliki oleh seseorang.
Dengan demikian akan berakibat terjadinya penataan kembali terhadap keseluruhan isi
struktur pesan tersebut.
Peristiwa-peristiwa lain pada komunitas pengetahuan yang bukan merupakan pesan juga
dapat mengubah secara radikal skema konsepsi seseorang. Komunikasi memerlukan
proses semantik terhadap isi pesan untuk dapat mempengaruhi konsepsi seseorang. Pesan
harus dibuat, diterima, dan diproses secara semantik untuk dapat menghasilkan
perubahan.
Pesan dapat diterima oleh komunitas pengetahuan dalam sebuah perubahan apabila di
dalamnya mengandung pengertian-pengertian, analogi-analogi dan metafor-metafor.
Kandungan tersebut merupakan sistem lambang yang akan menggerakkan padangan
masyarakat dan pada akhirnya mengubah tindakannya. Pada dasarnya pesan hanya bisa
bekerja melalui dampaknya terhadap sistem simbol komunikan. Hal ini menegaskan
kembali bahwa pesan terdiri dari sederet simbol-simbol. Oleh karena itu pemilihan serta
penyusunan simbol-simbol tersebut akan menentukan keberhasilan pesan. Kondisi
tersebut dilandasi asumsi bahwa pesan itu ditujukan kepada komunikan yang tepat.
Pesan ditujukan bukan hanya membuat komunikan mengerti, namun lebih dalam lagi
agar terjadi asosiasi dan konotasi terhadap simbol yang diproduksi oleh pesan tersebut.
Dengan demikian komunikan tidak hanya berelasi dengan komunikator sebagai
penggagas dan pencipta pesan, tetapi asosiasi komunikan terhadap pesan akan
mengakibatkan tingkat kedekatan terhadap pesan menjadi lebih dalam.
200
e-Proceeding | COMICOS 2017
Hal yang menjadi keterbatasan kemampuan pesan untuk berasosiasi dengan komunikan
adalah ketika pesan berbenturan dengan pandangan hidup komunikan, dan ditentang oleh
kelompok-kelompok acuan. Kondisi ini memaksa disusunnya sebuah strategi
komunikasi yang mampu mengubah keyakinan komunikan dan mengurangi keterikatan
pada pandangan kelompok. Hal ini menghindarkan pada kondisi kerancuan kognitif pada
komunikan, sehingga dibutuhkan kearifan dan kebenaran relatif yang mampu mengubah
keyakinan komunikan.
Rogers (1981) menunjukkan adanya pengelompokan komunikan berdasarkan
penerimaaan pesan – pesan yang mengandung kebaruan (inovasi) sebagai berikut :
1. Komunikan inovator yang merupakan kelompok komunikan dengan kesukannya
tehadap hal-hal baru.
2. Komunikan penerima dini yang merupakan kelompok komunikan yang
berpengaruh dan lebih maju dibandingkan msayarakat disekelilingnya.
3. Komunikan mayoritas dini, merupakan kelompok komunikan yang terlebih
dahulu menerima inovasi dibandingkan masayarakat di sekitarnya
4. Komunikan mayoritas belakang adalah kelompok komunikan yang bersedia
menerima inovasi ketika masayarakat disekelilingnya telah menerima terlebih
dahulu.
5. komunikan laggard merupakan kelompok komunikan paling akhir yang
menerima informasi
Melihat beragamnya komunikan dan kompleksitas pesan yang dihasilkan dalam proses
201
e-Proceeding | COMICOS 2017
komunikasi pada komunitas berpengetahuan, maka menyusun strategi komunikasi
menjadi langkah bijak dalam melakukan tindakan komunikasi yang berkelanjutan.
Kesimpulan
Penulis menyimpulkan bahwa masyarakat pengetahuan merupakan keunggulan
kompetitif bagi pertumbuhan ekonomi suatu melalui ekonomi pengetahuan. Web 2.0 dan
web 3.0 adalah katalisator masyarakat pengetahuan. Kelompok kepentingan khusus
dibentuk dengan niat untuk berbagi pengetahuan. Pengetahuan dapat dibagikan dengan
tujuan profit atau non-profit. Hambatan berbagi pengetahuan disebabkan kurangnya
interaksi, kurangnya jejaring sosial, budaya berbagi yang buruk, struktur organisasi, takut
untuk menggunakan teknologi baru, kurangnya komitmen, kurangnya kepercayaan
untuk berbagi pengetahuan, takut kehilangan pekerjaan, ketakutan kehilangan
kompetensi, kurangnya kedewasaan mental, kurangnya kemampuan memiliki dan
mengembangkan pengetahuan, kemampuan komunikasi interpersonal yang buruk dan
kurangnya motivasi untuk belajar dan berbagi. Inovasi web memungkinkan berbagi
pengetahuan tanpa batas dan membangun komunitas pengetahuan.
Tanpa disadari, sebenarnya inovasi telah sedikit banyak mengubah perilaku manusia
dalam berinteraksi. Perubahan yang cukup besar terjadi pada ruang maya. Komunikasi
yang dihadirkan pada ranah maya memaksa komunikan untuk turut aktif mengikuti
perkembangan informasi yang disajikan dalam jaringan media baru. Dengan demikian
inovasi pada masayarakat berpengahuan, sudah semestinya mampu melahirkan,
mengembangkan dan mendeseminasi pesan yang bermanfaat bagi masa depan yang
lebih baik.
202
e-Proceeding | COMICOS 2017
DAFTAR PUSTAKA
Bryan, L. L., Zanini, M., 2005. Strategy in an era of global giants. The McKinsey
Quartely [online]. (November 2005).
Cabrera, A. and Cabrera, E.F. (2002), “Knowledge-sharing dilemmas”, Organization
Studies, Vol. 23 No. 5, pp. 687-710.
Drucker, P. (2005): “Need to Know: Integrating e-Learning with High Velocity Value
Chains”, A Delphi Group White Paper, Ebner, M. &Mauser, H. (2008): “Can microblogs and weblogs change traditional
scientific writing?” In Proceedings of e-learn 2008, pp. 768-776, Las Vegas, NV,
2008 Guldberg, K.R., Mackness, J., Makriyannis, E. and Tait, C. (2013), “Knowledge
management and value creation in a third sector organisation”, Knowledge &
Process Management, Vol. 20 No. 3, pp. 113-122.
Hawkins, J.A. (1994). A Performance Theory of Order and Constituency. Cambridge:
Cambridge University Press
.
Hendroyono,Handoko. 2012. Semua Orang Adalah Brand Gardener, Jakarta: Literati, p.
171 -186
Hogan T., (2011). An Overview of the Knowledge Economy with a Focus on Arizona,
Arizona State University, School of Business, Productivity and Prosperity Project,
p.1.
Jo, S.J. and Joo, B.K. (2011), “Knowledge sharing: the influences of learning
organization culture, organizational commitment, and organizational citizenship
behaviours”, Journal of Leadership and Organizational Studies, Vol. 18 No. 3, pp.
353-364.
JuiPattnayaka and SabyasachiPattnaikb, (2016), Integration of Web Services with ELearning for Knowledge Society, Procedia Computer Science Vol. 92, pp. 155 –
160.
Kazienko, K. Musial, E. Kukla, T. Kajdanowicz, P. Brdka, Multidimensional social
network: model and analysis, in: ICCCI’11 Proceedings of the Third International
Conference on Computational Collective Intelligence: Technologies and
Applications - Volume Part I, ICCI, 2011, pp. 378–387.
Kline, R.R.(2006). Cybernetics, management science, and technology policy: the
emergence of information technology as a keyword, 1948-1985, Technology and
Culture, (47):3, 513-535.
Kong, E. (2007), “The strategic importance of intellectual capital in the non-profit
sector”, Journal of Intellectual Capital, Vol. 8 No. 4, pp. 721-731.
Lettieri, E., Borga, F. and Savoldelli, A. (2004), “Knowledge management in non-profit
organisations”, Journal of Knowledge Management, Vol. 8 No. 6, pp. 16-30.
Levy. P, Collective Intelligence, Perseus Books, 1997.
Li. X, J. Tang, T. Wang, Z. Luo, M. de Rijke, Automatically assessing wikipedia article
quality by exploiting article editor networks, in: A. Hanbury, G. Kazai, A. Rauber,
N. Fuhr(Eds.), Advances in Information Retrieval, Lecture Notes in Computer
Science, vol. 9022, Springer International Publishing, 2015, pp. 574–580.
203
e-Proceeding | COMICOS 2017
LyndsayBloice, Simon Burnett, (2016) "Barriers to knowledge sharing in third sector
social care: a case study", Journal of Knowledge Management, Vol. 20 Issue: 1,
pp.125-145.
McDermott, R. and O’Dell, C. (2001), “Overcoming culture barriers to sharing
knowledge”, Journal of Knowledge Management, Vol. 5 No. 1, pp. 76-85.
Michał Jankowski-Loreka, SzymonJaroszewiczb,c, ŁukaszOstrowskid, Adam
Wierzbicki (2016) , Verifying social network models of Wikipedia knowledge
community, Information Sciences Vol. 339, pp158–174.
Miklosik, A., Hvizdova, E., Zak, S., 2012. Knowledge management as a significant
determinant of competitive advantage sustainability.Ekonomický časopis 60 (10),
1041-1058.
Petty, R. and Guthrie, J. (2000). Intellectual Capital Literature Review: Measurement,
Reporting and Management, Journal of Intellectual Capital, 1(2): 155-176.
Riege, A. (2005), “Three-dozen knowledge-sharing barriers managers must consider”,
Journal of Knowledge Management, Vol. 9 No. 3, pp. 18-35.
Rogers, Everett M, dan F Floyd Shoemaker, ”Memasyarakatkan Ide-Ide Baru”, Surabaya : Usaha
Nasional, 1981, p.82
Sharratt, M. and Usoro, A. (2003), “Understanding knowledge-sharing in online
communities of practice”, Electronic Journal on Knowledge Management, Vol. 1
No. 2, pp. 187-196.
Shieh, C. J., Pei, Y., 2013. Correlations between core capability, service innovation, and
knowledge management in catering industry.Actual Problems of Economics 2 (3),
172-179.
Sillanpaa, V., Lonnqvist, A., Koskela, N., Koivula, U.M., Koivuaho, M. and Laihonen,
H. (2010), “The role of intellectual capital in non-profit elderly care organizations”,
Journal of Intellectual Capital, Vol. 11 No. 2, pp. 107-122.
Spinellis. D, P. Louridas, The collaborative organization of knowledge, in: Proceedings
of the Communications of the ACM - Designing Games with a Purpose, vol. 51
(8), 2008.
Tohidinia, Z. and Mosakhani, M. (2010), “Knowledge sharing behaviour and its
predictors”, Industrial Management & Data Systems, Vol. 110 No. 4, pp. 611-631.
204
e-Proceeding | COMICOS 2017
INOVASI PEMANFAATAN TIK DALAM KOMUNIKASI AGENDA
PIMPINAN DI ORGANISASI PUBLIK (STUDI KASUS ANALISIS DIFUSI
INOVASI ELEKTRONIK AGENDA DI ANRI)
Tiara Kharisma
Mahasiswa Universitas Indonesia/Pranata Humas ANRI
Telp: +628562395120 email: [email protected]
Abstrak
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) menuntut instansi pemerintah
mengadopsi berbagai perangkat pekerjaan yang berbasis teknologi, informasi dan
komunikasi. Pemanfaatan TIK dalam berbagai bidang mampu menghadirkan inovasi
dalam bentuk perangkat dan proses kerja ataupun layanan publik. Sebagai usaha dalam
mencapai kecepatan dalam komunikasi, koordinasi, sinkronisasi, monitoring dan kontrol
agenda pimpinan, Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) pada tahun 2016
melakukan inovasi dengan meluncuran elektronic agenda (e-agenda). Keberadaan eagenda diharapkan mampu memberikan kemudahan bagi pimpinan sesuai dengan
kewenangannya untuk melakukan koordinasi, sinkronisasi, monitoring dan kontrol
aktivitas pimpinan. Tetapi, tidak dipungkiri, beragamnya usia, kemampuan serta
pengetahuan pimpinan dan sekretarisnya dalam menggunakan perangkat TIK dapat
menjadi salah satu tantangan dalam melakukan difusi inovasi penggunaan e-agenda.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis difusi inovasi implementasi e-agenda
di ANRI dengan mengacu pada tahapan difusi inovasi yang dikemukakan Rogers.
Penelitian ini juga menjadi penting dilakukan karena dapat memberikan sumbangsih
ilmiah mengenai proses difusi inovasi dalam konteks komunikasi agenda pimpinan
berbasis TIK di instansi pemerintah pusat. Peneliti menggunakan metode penelitian
kualitatif dengan strategi penelitian studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui
wawancara mendalam.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa e-agenda dipandang sebagai sebuah inovasi
bagi pimpinan dan sekretarisnya dalam mengomunikasikan setiap kegiatan. E-agenda
dianggap memberikan kemudahan dan kecepatan dalam melakukan komunikasi agenda
pimpinan dan sebagai sebuah ruang terbuka penyampaian informasi tentang agenda
pimpinan kepada seluruh pegawai. Dalam melakukan difusi inovasi e-Agenda, Bagian
Humas dan Tata Usaha Pimpinan sebagai unit kerja yang berperan sebagai inovator
menggunakan berbagai saluran dan media komunikasi untuk menyebarkan inovasi.
Proses inovasi penggunaan e-agenda membutuhkan waktu bagi pimpinan karena
pengetahuan dan kemampuan penggunaan TIK yang berbeda-beda serta adanya kendala
teknis yang masih membutuhkan penyesuaian. Eselon I dan II ANRI berperan sebagai
early adopter dan para sekretarisnya berperan sebagai agen perubahan. Early adopter
dan agen perubahan menjadi kunci dalam proses difusi inovasi e-agenda. Ketertarikan
early adopter dan agen perubahan terhadap penggunaan TIK menjadi faktor penting
dalam menentukan kecepatan difusi inovasi e-agenda. Berdasarkan penelitian ini, penulis
menyampaikan rekomendasi bahwa dalam melakukan difusi inovasi di instansi
pemerintah diperlukan komitmen dan konsistensi dari pimpinan dan agen perubahan agar
suatu inovasi berhasil dilakukan.
205
e-Proceeding | COMICOS 2017
Kata kunci: difusi inovasi, komunikasi, pimpinan, elektronik agenda
INNOVATION OF COMMUNICATION OF ACTIVITIES OF LEADERS’ BASED
ON ICT IN PUBLIC ORGANIZATION (CASE STUDY OF THE DIFFUSION OF
INNOVATION OF ELECTRONIC AGENDA IN ANRI)
Abstract
The development of information and communications technology (ICT) requires
government agencies to adopt various tools based on ICT. Utilization of ICT in various
fields can bring many innovations, like work processes or public services in government
agencies. In an effort to achieve speed in communication, coordination, synchronization,
monitoring and control of the leaders’ agenda, National Archives of the Republic of
Indonesia (ANRI) in 2016 innovated by launching of electronic agenda (e-agenda). The
existence of e-agenda is expected to provide convenience for the leaders in accordance
with its authority to coordinate, synchronize, monitor and control the activities of the
leaders, especially echelon I and II. However, the diversity of age, ability, and interest
of the leaders and their secretaries in using the tools based on ICT can be one of the
challenges of the diffusion of innovation of e-agenda.
The objective of this research analyzes the diffusion of innovation of e-agenda in
ANRI with reference to stages of the diffusion of innovation by Rogers. This research is
also important because it can provide scientific significance about a process of the
diffusion of innovation in the context of communication of leaders’ agenda in central
government agencies. This research uses qualitative research methods with research
strategies is a case study. Data collection is conducted through depth interview.
The result of this research show that e-agenda is seen as an innovation for the
leaders’ and their secretaries to communicate their activities. E-agenda is considered to
provide ease and speed in communicating the leaders’ agenda and as an open space to
deliver information about the agenda of leaders’ to all employees in ANRI. Public
Relations and Administration Division as a unit that acts as an innovator using various
channels and media communication to diffusion about innovation of e-agenda. The
process of innovation of e-agenda takes time for leaders’ because of the different
knowledge and ability to use the tools based on ICT and technical constraints that still
require adjustment. Echelon I and II of ANRI serve as early adopters and their secretary
act as agents of change in the process of diffusion of innovation of e-agenda. The interest
of early adopter and agent of change to use tools based on ICT becomes an important
factor in determining the speed of diffusion of innovation of e-agenda. The
recommendations based on this research are the diffusion of innovation in government
agencies required commitment and consistency of the leaders’ and agents of change for
a success innovation.
Keywords: diffusion of innovation, communication, leaders’, electronic agenda
1. Pendahuluan
1.1 Latar belakang
Pada era digital saat ini, aktivitas manusia tidak dapat terisolasi dari pemanfaatan
teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang terhubung internet. Berbagai aktivitas
mulai dari penyelesaian pekerjaan kantor sampai pekerjaan ibu rumah tangga dapat
206
e-Proceeding | COMICOS 2017
diselesaikan dengan bantuan pemanfaatan TIK. Dengan pemanfaatan TIK ini, tidak
menutup kemungkinan dapat mengubah cara atau kebiasaan manusia dalam
menyelesaikan pekerjaan atau suatu masalah, termasuk terjadi perubahan pola hidup
manusia menjadi lebih pragmatis, hedonis, sekuler, dan melahirkan generasi instan
namun juga mengedepankan efektifitas dan efisiensi dalam tingkah laku dan tindakannya
(Ngafifi, 2014:33).
Di Indonesia, berdasarkan data yang dirilis Asosiasi Pengguna Jasa Internet
Indonesia (APJII), pada tahun 2016 jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai
jumlah 132,7 juta orang dari total jumlah penduduk 256,2 juta orang. Ini menunjukkan
bahwa 51,79 % penduduk Indonesia telah menggunakan internet. Jika dibandingkan
pada survey tahun 2014, jumlah penduduk Indonesia yang menggunakan internet hanya
34,9%. Hal tersebut berarti selama dua tahun terakhir telah terjadi peningkatan sebesar
16,89 % penduduk Indonesia yang menggunakan internet.
Perkembangan yang terus terjadi dalam penggunaan TIK di masyarakat Indonesia,
memberikan tuntutan dan dorongan bagi berbagai organisasi baik nirlaba, privat maupun
publik untuk melakukan transformasi diri dalam penyelesaian aktivitas pekerjaan dengan
menggunakan TIK. Organisasi-organisasi tersebut tidak dapat mengelak untuk
menggunakan TIK demi menjaga eksistensinya di mata publik. Berbagai kegiatan
transformasi yang dilakukan organisasi untuk memanfaatkan TIK dalam melaksanakan
tugas dan pekerjaan dapat dikatakan menjadi salah satu wujud adaptasi organisasi
terhadap era digital. Banyak cara dan upaya berbasis TIK yang digunakan oleh organisasi
dalam menyelesaikan tugas dan berinteraksi dengan para pemangku kepentingan.
Bagi organisasi publik, termasuk instansi pemerintah, pemanfaatan TIK dalam
penyelesaian tugas dan pekerjaan sebenarnya telah mulai digaungkan pada tahun 2003.
207
e-Proceeding | COMICOS 2017
Tepat pada 9 Juni 2003, telah dikeluarkan kebijakan pemerintah berupa Instruksi
Presiden Nomor 3 Tahun 2003 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan
E-government. Kebijakan tersebut lahir dengan salah satu latar belakang karena
kemajuan TIK yang pesat serta potensi pemanfaatannya secara luas. Melalui kebijakan
pengembangan dan penggunaan e-government diharapkan instansi pemerintah baik
tingkat pusat maupun daerah dapat meningkatkan efisiensi, efektifitas, transparansi dan
akuntabilitas penyelenggaraan pemerintahan; menyelenggarakan pemerintahan yang
baik (good governance) dan meningkatkan layanan publik yang efektif dan efisien
(Inpres No 3, 2003).
E-government yang tak lepas dari pemanfaatan TIK, mengharuskan pemerintah
mampu memanfaatkan kemajuan teknologi informasi untuk meningkatkan kemampuan
mengolah, mengelola, menyalurkan, dan mendistribusikan informasi dan pelayanan
publik. Dalam prosesnya, akan terjadi berbagai transformasi dan inovasi dalam berbagai
bidang baik dalam bentuk perangkat dan proses kerja ataupun layanan publik. Jika
dikaitkan dengan kebijakan presiden, transformasi dan inovasi berbasis TIK yang
dilakukan instansi pemerintah diharapkan dapat mengeliminasi sekat-sekat organisasi
birokrasi, membentuk jaringan sistem manajemen dan proses kerja yang memungkinkan
instansi-instansi pemerintah bersinergi dan terpadu untuk menyederhanakan akses ke
semua informasi dan layanan publik. Dalam berbagai kesempatan, presiden ke-7 RI
berkali-kali mengingatkan dan menginstruksikan kepada pemerintah untuk serius dalam
mengimplementasikan e-government (presidenri.go.id, 2015).
Sampai tahun 2017, telah banyak inovasi yang dilakukan oleh instansi pemerintah
dengan memanfaatkan TIK dalam menyelesaikan tugas dan pekerjaan. Di bidang inovasi
pelayanan publik, pemerintah melalui Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan
208
e-Proceeding | COMICOS 2017
Reformasi Birokrasi sejak tahun 2014 telah rutin memberikan penghargaan kepada
instansi pemerintah ataupun Badan Usaha Milik Negara/Daerah yang memiliki inovasi
pelayanan publik yang baik. Kendati demikian, sebenarnya inovasi berbasis TIK yang
dilakukan instansi pemerintah tidak hanya terpusat pada pelayanan publik. Ada beberapa
inovasi pekerjaan yang berbasis TIK yang tidak secara langsung bersentuhan dengan
pelayanan publik, tetapi dapat berperan dalam mengeliminasi sekat-sekat organisasi
birokrasi, menyederhanakan akses ke semua informasi, serta menyederhanakan sistem
hirarki kewenangan dan komando sektoral yang mengerucut dan panjang dalam suatu
birokrasi di organisasi publik. Beberapa inovasi yang dilakukan instansi pemerintah
dengan memanfaatkan TIK, di antaranya implementasi e-budgeting, e-filling, eprocurement, e-audit, e-catalog, dan lain-lain.
Pelaksanakan inovasi di instansi pemerintah bukan suatu hal yang mudah. Apalagi
birokrasi pemerintah Indonesia tak jarang masih memiliki penilaian yang kurang baik di
mata publik. Rogers juga menyatakan bahwa banyak inovasi yang berhasil diadopsi
dalam waktu yang lama. Ini tak lain karena adanya pengaruh bagaimana kecepatan
sebuah inovasi tersebut diadopsi oleh individu dan orgaisasi (Rogers, 1995:1).
1.2 Konteks penelitian
Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) merupakan organisasi publik yang
tergolong Lembaga Pemerintah Nonkementerian dan mengemban tugas khusus negara
dalam bidang kearsipan. Dalam rangka mengimplemetasikan e-government dan
menyikapi perkembangan TIK yang amat pesat, ANRI juga diharuskan responsif
terhadap proses transformasi pekerjaan berbasis TIK. Banyak hal yang telah diupayakan
ANRI untuk menerapkan e-government, seperti halnya di bidang keuangan, pendataan
aset, pengadaan barang/jasa, pengarsipan, layanan informasi publik, surat-menyurat
209
e-Proceeding | COMICOS 2017
kedinasan di lingkungan internal, dan lain-lain. Selain membantu mempercepat
penyelesaian pekerjaan, melalui penggunaan TIK seluruh pegawai di ANRI juga
berpotensi untuk berkomunikasi dengan siapa, kapan dan di mana saja. Hal ini
berpeluang untuk menciptakan komunikasi berbasis TIK yang dapat melampaui
hierarki tradisional dalam birokrasi di ANRI sehingga sekat dan kekakuan organisasi
dapat berkurang.
Sebagai usaha dalam mencapai kecepatan dalam komunikasi, koordinasi,
sinkronisasi, monitoring dan kontrol agenda para pimpinan/pejabat publik di
lingkungan ANRI, Bagian Humas dan Tata Usaha (TU) Pimpinan pada tahun 2016
menginisiasi untuk mentransformasi komunikasi, koordinasi, sinkronisasi, monitoring
dan kontrol agenda para pimpinan/pejabat dengan cara melakukan inovasi melalui
penyusunan sistem dan peluncuran electronic agenda (e-agenda). Keberadaan e-agenda
diharapkan mampu memberikan kemudahan bagi pimpinan sesuai dengan
kewenangannya untuk melakukan koordinasi, sinkronisasi, monitoring dan kontrol
aktivitas pimpinan.
E-agenda merupakan sebuah aplikasi yang memuat tentang informasi agenda
pimpinan eselon I dan II di ANRI. Aplikasi tersebut tersedia dalam bentuk mobile
application maupun akses intranet di personal computer. E-agenda telah mulai
diinisiasi Bagian Humas dan TU Pimpinan pada tahun 2015, selanjutnya dianggarkan
tahun 2016, mulai disusun pada pertengahan tahun 2016 dan diimplementasikan pada
awal tahun 2017.
Pimpinan eselon I dan II dapat mengakses e-agenda sesuai dengan kewenangan
dan jabatannya, sehingga dengan melakukan akses tersebut para pimpinan dapat
melakukan koordinasi, sinkronisasi, monitoring dan kontrol terhadap pejabat lain.
210
e-Proceeding | COMICOS 2017
Fungsi monitoring dan kontrol biasanya diemban oleh pejabat dengan satu level
tertinggi di antara pejabat lain.
Jika merujuk pada pemikiran Rogers, keberadaan e-agenda dapat dipandang
sebagai sebuah inovasi dalam kegiatan komunikasi tentang agenda pimpinan pejabat
eselon I dan II di ANRI. Rogers menyatakan bahwa inovasi merupakan sebuah ide,
praktek, objek yang dianggap baru oleh individu satu unit adopsi lainnya (Rogers,
1995:11). Sebelum e-agenda diimplementasikan, kegiatan komunikasi tentang agenda
antarpimpinan baik antara pejabat eselon I dengan eselon I lain, eselon I dengan eselon
II atau pejabat eselon II dengan eselon II lainnya masih digunakan cara lama, antara
lain dengan melakukan pengecekan manual kepada tiap sekretaris pimpinan. Setelah eagenda diimplementasikan, pejabat eselon I dan II dapat melakukan koordinasi,
sinkronisasi, monitoring dan kontrol agenda pejabat eselon I dan lain kapan pun dan di
mana pun sejauh mereka terhubung dengan internet. Bahkan seluruh pegawai ANRI
juga dapat melihat ringkasan agenda pejabat eselon I dan II.
Dalam mengadopsi sebuah ide baru mengenai penggunaan e-agenda, maka para
pegawai yang bersentuhan langsung dengan layanan pimpinan serta layanan informasi
tentang ANRI penting untuk melalui suatu difusi. Menurut Rogers, difusi merupakan
sebuah proses di mana sebuah inovasi dikomunikasikan melalui saluran dan rentang
waktu tertentu di antara para anggota dalam sebuah sistem sosial (Rogers, 1995:5).
Difusi ini akan memberikan pengaruh kecepatan suatu inovasi dilakukan.
Dalam melaksanakan suatu inovasi di instansi pemerintah tak jarang menemui
banyak kendala. Dalam proses difusi inovasi e-agenda di ANRI, tidak dipungkiri bahwa
beragamnya usia, kemampuan serta pengetahuan pimpinan dan sekretarisnya dalam
menggunakan perangkat TIK dapat menjadi salah satu tantangan dalam melakukan
211
e-Proceeding | COMICOS 2017
difusi inovasi penggunaan e-agenda. Selain itu, perilaku dan komitmen pimpinan
menjadi hal yang penting bagi pegawai di instansi pemerintah dalam mengadopsi,
merubah pola pikir dan perilaku (Rusmiarti, 2015).
Analisis mengenai suatu proses difusi inovasi dapat menjadi hal menarik dalam
sebuah penelitian. Dalam konteks ini, difusi inovasi implementasi e-agenda dapat
memberikan kontribusi bagaimana sebuah organisasi publik melakukan difusi inovasi
dalam pelaksanaan kecepatan dalam komunikasi, koordinasi, sinkronisasi, monitoring
dan kontrol agenda pimpinan. Oleh karenanya rumusan permasalan dalam penelitian ini
adalah “Bagaimanakah difusi inovasi implementasi e-agenda di ANRI?”
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan konteks penelitian yang telah dipaparkan sebelumnya, maka penelitian ini
bertujuan untuk menganalisis difusi inovasi implementasi e-agenda di ANRI dengan
mengacu pada konsep difusi inovasi yang dikemukakan Rogers. Penelitian ini juga
menjadi penting dilakukan karena dapat memberikan sumbangsih ilmiah mengenai
proses difusi inovasi dalam proses komunikasi agenda pimpinan berbasis yang berbasis
TIK di instansi pemerintah tingkat pusat.
1.4 Kajian Pustaka
TIK dalam Organisasi
Komunikasi digunakan untuk koordinasi aktivitas dalam organisasi dan menjadi proses
sentral dalam organisasi. Oleh karena itu, dengan perubahan dalam proses komunikasi
antarmanusia dalam organisasi, memungkinkan organisasi untuk berubah. Komunikasi
efektif adalah mendorong implementasi teknologi informasi dalam organisasi. Teknologi
komunikasi baru dapat meningkatkan kemampuan organisasi dan berkomunikasi secara
efektif (Fulk dan Steinfiel, 1990; Pace & Faules, 1998:230).
212
e-Proceeding | COMICOS 2017
Komunikasi bermedia komputer memegang peranan sentral dalam transformasi
organisasi serta dapat memperlancar penanggulangan hambatan-hambatan karena batas
ruang dan waktu. Komunikasi bermedia komputer juga dapat menerobos hierarki
tradisional dalam sebuah organisasi, mengganti proses-proses sebelumnya/lama dengan
pola-pola baru dan membuat organisasi menjadi lebih fleksibel. Oleh karenanya, dalam
organisasi,baik nirlaba, privat, maupun publik masa kini berbeda dengan yang ada
sebelumnya (Pace & Faules, 1998:228-229).
Teknologi komunikasi merupakan peralatan perangkat keras (hardware), struktur
organisasi dan nilai sosial di mana individu mengumpulkan, memproses, dan bertukar
informasi dengan orang lain. Kunci yang paling mendasar dari semua teknologi
komununikasi saat ini adalah elektronik (Rogers, 1986:2). Teknologi elektronik saat ini
memungkinkan kita untuk membuat hampir semua jenis perangkat komunikasi yang
diinginkan dengan harga tertentu (Pool, 1983:6; Rogers, 1986:2). Dengan demikian,
maka teknologi komunikasi berbasis elektronik memungkinkan organisasi untuk
merubah suatu proses penyampaian informasi dari cara yang manual ke cara elektronik.
Bagi instansi pemerintah, penggunaan teknologi komunikasi berbasis elektronik juga
sejalan dengan kebijakan e-government sebagaimana yang tertuang dalam Inpres Nomor
3 Tahun 2003.
Ada beberapa perbedaan dalam sebuah proses komunikasi karena hadirnya
teknologi (Rogers, 1986: 4-6), yaitu interaksivitas, de-massified, dan asinkron
(asynchronous). Interaksivitas merupakan kemampuan sistem komunikasi baru untuk
berbicara kembali kepada pengguna, hampir seperti individu yang berpartisipasi dalam
percakapan.
Dalam transformasi organisasi dengan menggunakan media baru dalam
213
e-Proceeding | COMICOS 2017
penyelesaian tugas dan berkomunikasi, anggota organisasi mungkin memandang media
baru hanya cocok untuk orang tertentu, terlalu banyak menyita waktu untuk mempelajari
menggunakannya, terlalu formal, impersonal dan sulit digunakan. Tetapi mungkin juga
mereka memandang bahwa teknologi media baru merupakan suatu cara untuk
menghemat waktu, meningkatkan efisiensi atau menyediakan kesempatan untuk
hubungan-hubungan dan informasi baru. Oleh karenanya, jelas diperlukan penerimaan
sosial pegawai atas penggunaan media baru ini (Pace & Faules, 1998:233). Sebagai
sebuah upaya dalam menciptakan penerimaan sosial terhadap sebuah teknologi media
baru dalam organisasi, maka proses difusi inovasi dapat dilakukan terhadap teknologi
media baru yang akan digunakan organisasi.
Difusi Inovasi
Teori difusi inovasi yang paling luas dan berorientasi pada komunikasi adalah teori difusi
inovasi yang dikemukakan Everett M. Rogers dan koleganya. Tetapi teori ini bermula
dari suatu penelitian yang dilakukan Paul Lazarsfeld dan koleganya di New York.
Penelitian Lazarsfeld menjadi awal bagaimana informasi dan pengaruh disebarkan di
masyarakat. Selanjutnya pengaruh ini dikenal sebagai hipotesis arus dua langkah (two
step flow model) (Littlejohn & Foss, 2009: 454-455).
Menurut Rogers (Rogers, 1995,:5-6), difusi merupakan proses di mana sebuah
inovasi dikomunikasikan melalui saluran dan rentang waktu tertentu di antara para
anggota dalam sebuah sistem sosial. Difusi menjadi salah satu jenis komunikasi khusus
yang berkaitan dengan penyebaran pesan-pesan yang merupakan gagasan baru.
Komunikasi menjadi sebuah proses yang mana anggota sistem sosial membentuk dan
membagikan informasi dengan anggota lain untuk mencapai saling pengertian.
Kebaruan dari gagasan-gagasan baru yang terdapat dalam isi pesan, menjadikan
214
e-Proceeding | COMICOS 2017
difusi memiliki karakter khusus. Kebaruan berarti bahwa sejauhmana ketidaktentuan
(uncertainty) terjadi dalam difusi. Ketidaktentuan menyiratkan kekurangan prediksi,
struktur dan informasi. Faktanya, informasi dapat mengurangi ketidaktentuan (Rogers,
1995:6). Ada empat elemen utama dalam difusi inovasi, yaitu (i) sebuah inovasi; (ii) yang
dikomunikasikan melalui saluran tertentu; (iii) dalam jangka waktu tertentu; (iv) di
antara anggota-anggota sebuah sistem sosial (Rogers, 1995:11).
Inovasi merupakan sebuah gagasan, tindakan atau objek yang dilihat sebagai hal
yang baru oleh individu. Penilaian kebaruan terhadap ide baru ditentukan reaksi tiap
individu. Kebaruan dalam inovasi tidak hanya berupa pengetahuan baru, mungkin
inovasi telah lama diketahui, tetapi individu belum menentukan sikap suka atau tidak,
mengadopsi atau menolak terhadap inovasi (Rogers, 1995:11). Ada lima karakteristik
dalam inovasi yaitu (i) keuntungan relatif, yaitu sejauhmana inovasi dinilai lebih baik
dibandingkan ide yang digantinya. Tingkat keuntungan relatif dapat dilihat dari bentuk
ekonomi, prestise sosial, kemudahan/kenyamanan, dan kepuasan; (ii) kompatibilitas,
yaitu sejauhmana inovasi dinilai sesuai dengan nilai yang ada, pengalaman masa lalu dan
kebutuhan potential adopter; (iii) kerumitan, yaitu sejaumana inovasi dinilai sulit untuk
dipahami dan digunakan; (iv) kemampuan diujicobakan, jika inovasi dapat diujicoba,
biasanya lebih mudah diterima; (v) Kemampuan diamati, yaitu sejauhmana hasil dari
sebuah inovasi dapat diamati oleh yang lain. Dengan mudah dilihat hasilnya oleh
pengguna, maka pengguna akan lebih mudah menerima inovasi (Rogers, 1995: 15-16).
Saluran komunikasi, yaitu alat yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari
satu individu ke yang lain. Diperlukan ketepatan dalam memilih saluran komunikasi
untuk menyampaikan pesan mengenai ide baru. Ada dua saluran komunikasi yang dapat
digunakan dalam proses difusi inovasi, untuk mencapai target khalayak tertentu dengan
215
e-Proceeding | COMICOS 2017
jumlah yang banyak. Tetapi saluran komunikasi interpersonal lebih efektif untuk
mempersuasi individu menerima kebaruan ide. Apalagi jika komunikasi interpersonal
tersebut dilakukan di antara individu yang memiliki kesamaan status sosial ekonomi,
pendidikan, kepercayaan dan lain-lain. Jika terjadi kesamaan maka mengarah pada
homofili dan terdapat perbedaan mengarah pada heterofili (Rogers, 1995:17-19).
Waktu menjadi elemen ketiga dalam proses difusi inovasi. Ada tiga dimensi
dalam waktu pelaksanaan difusi yaitu, (i) proses pengambilan keputusan inovasi, yaitu
proses yang dilalui individu sampai memutuskan menolak atau mengadopsi inovasi; (ii)
Kelambatan atau kecepatan individu dalam mengadopsi sebuah inovasi yang
dibandingkan dengan individu lain dalam suatu sistem sosial; (iii) kecepatan
pengadopsian inovasi oleh suatu sistem sosial, biasanya diukur dari jumlah anggota
dalam suatu sistem sosial yang mengadopsi inovasi dalam jangka waktu tertentu. Dalam
proses pengambilan keputusan inovasi ada lima tahapan yang dilalui yaitu, pengetahuan,
persuasi, keputusan, implementasi dan konfirmasi. Pengetahuan terjadi ketika individu
belajar inovasi yang ada dan memahami bagaimana inovasi digunakan. Persuasi terjadi
ketika membentuk sikap baik atau tidak baik terhadap inovasi. Keputusan terjadi ketika
individu terlibat dalam aktivitas yang mengarah pada sebuah pilihan untuk menerima
atau menolak inovasi. Implementasi terjadi ketika individu menetapkan untuk
menggunakan inovasi. Konfirmasi terjadi ketika individu mencari penguatan keputusan
inovasi yang telah dibuat, namun individu dapat membalikkan keputusan sebelumnya
jika terpapar pesan yang bertentangan tentang inovasi. (Rogers, 1995:20).
Rogers juga menjelaskan bahwa tingkat penerima (adopter) diklasifikasikan
menjadi beberapa jenis (Rogers, 1995:21-23), yaitu inovator, yaitu pengadopsi awal
(early adopter), early majority, late majority dan terlambat (laggards). Inovator adalah
216
e-Proceeding | COMICOS 2017
individu yang aktif mencari informasi tentang ide baru. Inovator juga harus dapat
mengatasi ketidaktentuan terhadap inovasi. Early adopter ialah individu yang memiliki
peran sebagai pemuka pendapat (opinion leader) dalam sistemnya. Adopter kategori ini
membantu agar suatu inovasi cepat diadopsi. Early majority, kelompok ini mengadopsi
ide baru sebelum rata-rata anggota kelompok lain mengadopsinya, tetapi jarang berperan
sebagai opinion leader. Late majority, yaitu kelompok yang mengadopsi ide baru
sesudah rata-rata anggota kelompok lain mengadopsinya. Laggards, kelompok yang
paling akhir mengadopsi sebuah inovasi.
Sistem sosial, merupakan kumpulan unit yang saling terkait dan bekerja sama
untuk memecahkan masalah dalam rangka mencapai tujuan bersama. Anggota atau unit
dari suatu sistem sosial dapat terdiri dari individu, kelompok informal, organisasi
dan/atau subsistem. Difusi terjadi dalam suatu sistem sosial.
Struktur sosial
mempengaruhi mempengaruhi difusi, efek norma pada difusi, peran pemuka pendapat
dan agen perubahan, jenis keputusan inovasi dan konsekuensi inovasi (Rogers, 1995: 2324).
Pemuka pendapat merupakan individu yang memiliki kemampuan untuk
mempengaruhi sikap dan perilaku individu yang lain. Pemuka pendapat ini jika
dibandingkan individu lain dalam suatu sistem sosial biasanya lebih terekspos dalam
berbagai bentuk dalam komunikasi ekternal dan lebih terpandang, memiliki status sosial
yang lebih tinggi, dan lebih inovatif. Pemuka pendapat juga dapat dinilai sebagai rujukan
bagi individu lain dalam sistem sosial (Rogers, 1995:22). Selanjutnya, agen perubahan
ialah individu yang mempengaruhi keputusan inovasi partisipan sesuai dengan arah yang
diinginkan. Agen perubahan memainkan tujuh peranan, yaitu mengembangkan
kebutuhan untuk perubahan klien, membangun hubungan untuk pertukaran informasi,
217
e-Proceeding | COMICOS 2017
mendiagnosa masalah, menumbuhkan niat klien untuk berubah, menerjemahkan niat ke
dalam tindakan, menstabilisasi adopsi dan mencegah diskontinuitas, dan mencapai
hubungan yang telah ditetapkan dengan klien (Rogers, 1995:369).
Suatu inovasi juga memiliki konsekuensi. Konsekuensi merupakan suatu
perubahan yang terjadi pada individu atau sistem sosial sebagai hasil penerimaan atau
penolakan suatu inovasi. Ada tiga jenis dari konsekuensi, yaitu (i) konsekuensi yang
diinginkan atau tidak diinginkan, yang bergantung apakah efek inovasi berfungsi atau
tidak; (ii) konsekuensi langsung atau tidak langsung, bergantung apakah perubahan
individu terhadap inovasi direspon langsung atau sebagai hasil urutan kedua akibat
langsung dari sebuah inovasi; (iii) konsekuensi yang terantisipasi atau tidak terantisipasi,
bergantung pada apakah perubahan diakui dan diharapkan atau tidak oleh anggota sistem
sosial (Rogers, 1995:30-31).
Asumsi teoretis
Perkembangan TIK dan kebijakan penyelenggaraan e-government menjadi pemicu bagi
organisasi publik untuk melakukan inovasi dengan cara mengadopsi TIK dalam berbagai
kegiatan penyelesaian tugas dan perintah serta kegiatan komunikasi dalam organisasi.
Komunikasi berbasis TIK berpotensi untuk melampaui hierarki tradisional dalam
birokrasi di ANRI sehingga sekat dan kekakuan organisasi dapat berkurang dan
menjadikan penyampaian informasi lebih mudah dan cepat, serta dapat dilakukan kapan
dan di mana pun.
Dalam perspektif komunikasi, proses difusi inovasi menjadi hal yang penting
dalam melakukan dan mengimplementasikan sebuah inovasi dalam organisasi.
Organisasi publik merupakan suatu sistem sosial di mana para anggotanya akan bertukar,
membagikan dan menerima informasi. Oleh karenanya difusi inovasi juga terjadi dalam
218
e-Proceeding | COMICOS 2017
organisasi publik, ketika suatu ide baru disampaikan ke dalam sistem sosial di organisasi
publik. Selain itu, dalam sebuah difusi inovasi di organisasi publik terdapat pula
individu/suatu unit adopsi yang memiliki peranan penting terhadap keberhasilan inovasi,
yang meliputi inovator, early adopter dan agen perubahan. Sebuah inovasi yang
dilakukan dalam organisasi publik juga akan memiliki konsekuensi inovasi tersendiri.
2. Metodologi
Dalam melakukan penelitian ini, penulis bermaksud untuk mengidentifikasi isu
mengenai Inovasi Pemanfaatan TIK dalam Komunikasi Agenda Pimpinan di Organisasi
Publik dari perspektif anggota organisasi publik sebagai partisipan, memahami makna
dan interpretasi yang mereka berikan terhadap perilaku atau kegiatan (Henink, Hutter &
Bailey, 2011:9) inovasi pemanfaatan TIK dalam Komunikasi Agenda Pimpinan di
Organisasi publik, oleh karenanya, metode penelitian yang akan digunakan adalah
metode penelitian kualitatif. Adapun paradigma penelitian yang digunakan adalah
paradigma post positivistik, karena peneliti menggunakan istilah dan konsep dari
paradigma positivistik (Patton, 2002:92), dengan teori difusi inovasi yang dikemukakan
Rogers dalam membuat desain penelitian.
Strategi penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan unit kasus tunggal
yang diamati kegiatan difusi inovasi e-agenda di ANRI. Studi kasus digunakan untuk
memperdalam sebuah realitas mengenai difusi inovasi e-agenda di ANRI. Melalui studi
kasus, peneliti dapat memperoleh pemahaman utuh dan terintegrasi mengenai interrelasi
berbagai fakta dan dimensi dari kasus yang diawati (Poerwandari, 2007:125). Dalam
penelitian ini, peneliti mengumpulkan data melalui wawancara, dengan hanya satu
informan yang diwawancarai. Peneliti hanya mewawancarai satu informan karena
peneliti memandang bahwa informan tersebut kaya informasi dan dapat memaparkan
219
e-Proceeding | COMICOS 2017
pemahaman utuh mengenai rancangan sampai proses difusi inovasi e-agenda di ANRI.
Adapun waktu penelitian dilaksanakan dalam rentang waktu Maret-Juni 2017.
3. Pembahasan
E-agenda dan Komunikasi Agenda Pimpinan
Pendokumentasian dan penyampaian informasi agenda pimpinan eselon I dan II menjadi
salah satu tugas yang diemban sekretaris yang berada di bawah tanggung jawab Biro
Perencanaan dan Hubungan Masyarakat (Humas). Untuk mempermudah kegiatan
tersebut, Subbagian Tata Usaha Pimpinan sebagai salah satu unit kerja setingkat eselon
IV yang berada di bawah Bagian Humas dan TU Pimipinan mencoba memanfaatkan TIK
untuk melakukan pendokumentasian dan penyampaian informasi tentang agenda
pimpinan.
E-agenda yang diimplementasikan di ANRI merupakan merupakan suatu aplikasi
yang berfungsi untuk pendokumentasian agenda pimpinan secara elektronik yang dapat
diakses kapan dan di mana saja, baik melalui personal computer maupun ponsel pintar
android. Selain berfungsi sebagai pendokumentasian, melalui e-agenda juga terjadi
kegiatan komunikasi berupa penyampaian informasi tentang agenda pimpinan eselon I
dan II di lingkungan ANRI. Dengan adanya e-agenda, seluruh pegawai dapat melihat
gambaran umum tentang kegiatan/agenda eselon I dan II. Sedangkan bagi pejabat dengan
kewenangan yang lebih tinggi dapat melihat lebih detail agenda pimpinan lainnnya.
Hal di atas sebagaimana diungkapkan informan: “iya e-agenda pimpinan
merupakan pencatatan agenda pimpinan secara elektronik yang bisa diakses kapan saja
dan di mana saja, mmm baik melalui komputer maupun HP Android....tapi dengan
adanya e-agenda, semua pegawai jadinya juga bisa dapet informasi tentang kegiatan
pimpinan, hanya aksesnya terbatas ya, unit kerja juga jadi mudah lihat agenda pimpinan
220
e-Proceeding | COMICOS 2017
jadi nggak usah nanya langsung..... ya kalo pimpinan misal ya, Kepala gitu, beliau
memang bisa lihat semuanya sampe detail, saya juga, terus kabag...kalo eselon I lain
bisa lihat detail tapi vertikal ke bawah ya ke eselon II nya...iya pak Karo gak bisa, cuma
sekarang juga mau disempurnain, biar pak karo bisa lihat detail semua juga...”
E-agenda dapat diakses dan dioperasikan oleh pegawai melalui link intranet di
personal computer dan ponsel pintar android. Untuk aplikasi di ponsel pintar, pengguna
harus memasang aplikasi, dengan terlebih dahulu mengunduh link aplikasi yang telah
disediakan pihak ketiga.
Data dan informasi yang terdapat dalam e-agenda, hanya dapat diinput oleh
Kasubbag Tata Usaha serta sekretaris pimpinan eselon I dan II. Data dan informasi detail
yang termuat dalam e-agenda melingkupi: nama pimpinan, tempat kegiatan, tanggal dan
waktu pelaksanaan, kebutuhan untuk sdm protokol, pembawa acara, publikasi dan
dokumentasi, jika di luar kota maka akan termuat pula nomor penerbangan/nomor
kendaraan yang akan digunakan, jam keberangkatan dan hotel yang akan ditempati.
Akan tetapi, untuk informasi/gambaran umum hanya memuat nama pimpinan, tempat
kegiatan, tanggal dan waktu pelaksanaan. Informan juga menyatakan latar belakang
penyusunan e-agenda ini karena kebutuhan penyampaian informasi agenda pimpinan
yang cepat serta tidak mengenal ruang dan waktu. Hal tersebut sebagaimana
diungkapkan “.....iya karena kebutuhan akan akses yang cepat terhadap informasi
agenda pimpinan, dimana saja dan kapan saja”.
Berdasarkan penjelasan yang diungkapkan informan, peneliti memaknai bahwa
dengan adanya e-agenda pencatatan dan penyampaian informasi agenda pimpinan eselon
I dan II menjadi lebih mudah. Sejauh pengguna dan penginput data memiliki akses
dengan internet, maka pencatatan dan penyampaian informasi agenda pimpinan eselon I
221
e-Proceeding | COMICOS 2017
dan II dapat dilakukan kapan dan di mana pun.
Keberadaan e-agenda tidak hanya berfungsi pada tujuan pokok untuk melakukan
pendokumentasian
agenda
pimpinan,
tetapi
juga
dapat
berfungsi
untuk
mengomunikasikan kegiatan/agenda pimpinan eselon I dan II. Kegiatan komunikasi
tersebut di antaranya berupa: penyampaian gambaran umum agenda pimpinan kepada
seluruh pegawai, penyampaian informasi secara mendetail agenda seorang pimpinan dari
sekretaris kepada pimpinannya mulai dari pimpinan eselon II ke eselon I secara vertikal
serta dari seluruh pimpinan eselon I dan II ke Kepala ANRI, Kepala Bagian (Kabag)
Humas dan TU Pimpinan serta Kasubbag TU Pimpinan, koordinasi dan kontrol bagi
pimpinan (khusus untuk eselon I) terhadap kegiatan bawahannya.
E-agenda, Sebuah Inovasi Pemanfaatan TIK dalam Organisasi Publik
Dengan diimplementasikannya e-agenda, telah terjadi perubahan proses penyampaian
informasi mengenai agenda pimpinan. Perubahan tersebut baik berupa pemberitahuan
dari sekretaris kepada pimpinan atau dari pimpinan kepada seluruh pegawai dan unit
kerja. Selain itu, pimpinan eselon I juga dapat melakukan kontrol terhadap agenda eselon
II vertikal di bawahnya. Hal ini sebagaimana yang dinyatakan informan “iya para
pimpinan bisa langsung lihat agendanya melalui hp pribadi kapan saja dan di mana saja
tanpa harus berinteraksi dengan sekretarisnya..... iya semua pegawai jadinya juga bisa
dapet informasi tentang agenda pimpinan hanya aksesnya terbatas ya, unit kerja juga
jadi mudah lihat agenda pimpinan jadi nggak usah nanya langsung”.
Berdasarkan data tersebut, peneliti memaknai bahwa dengan adanya e-agenda,
aktivitas komunikasi dan koordinasi mengenai agenda pimpinan eselon I dan II di
lingkungan ANRI telah mengalami perubahan. Penyampaian informasi tentang agenda
pimpinan menjadi lebih fleksibel dan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Pola seperti
222
e-Proceeding | COMICOS 2017
ini jika mengacu pada pemikiran Pace & Faules (1998) terlihat bahwa ANRI sebagai
salah satu organisasi publik telah mencoba menerobos hierarki tradisional dalam
mengomunikasikan agenda pimpinan. Pegawai/unit kerja tidak perlu melalui jenjang
hierarki dan sekat birokrasi untuk mengetahui agenda pimpinan eselon I dan II. Cukup
dengan mengakses melalui intranet personal computer di kantor, para pegawai dapat
dengan mudah memperoleh informasi tersebut.
Keberadaan e-agenda juga dapat memperlancar penanggulangan hambatanhambatan penyampaian informasi tentang agenda pimpinan karena batas ruang dan
waktu. E-agenda pun menjadi salah satu alternatif untuk menghemat waktu bagi berbagai
pihak untuk mengetahui agenda pimpinan serta menyediakan kesempatan bagi seluruh
pegawai untuk mengetahui agenda pimpinan seluruh eselon I dan II di ANRI.
Kendati demikian e-agenda yang dibentuk atas dasar aktivitas pendokumentasian
dan penyampaian informasi agenda pimpinan ini telah lama dilakukan oleh pegawai di
lingkungan Bagian Humas dan TU Pimpinan, akan tetapi keberadaan e-agenda ini masih
dianggap sebagai sesuatu yang baru. Oleh karenanya, keberadaan e-agenda dapat disebut
sebagai sebuah inovasi di lingkungan ANRI. Hal ini sebagaimana diungkapkan
informaan “Ya baru karena agendanya dapat diakses secara online di mana saja dan
kapan saja bahkan pake HP Android sekalipun..... iya e-agenda pimpinan merupakan
suatu inovasi pencatatan agenda pimpinan secara elektronik”. Ini sejalan dengan
pemikiran Rogers, di mana sebuah objek yang dilihat sebagai hal yang baru oleh individu
disebut sebagai inovasi (Rogers, 1995). Informan menganggap bahwa e-agenda
merupakan hal baru khususnya dalam pendokumentasian dan penyampaian serta
penerimaan informasi agenda pimpinan.
Difusi Inovasi E-Agenda
223
e-Proceeding | COMICOS 2017
Sebuah inovasi e-agenda perlu untuk dikomunikasikan melalui saluran dan rentang
waktu tertentu kepada para pengguna/targetnya. Hal ini lah yang disebut Rogers (1995)
sebagai proses difusi. Pada pembahasan selanjutnya akan dibahas mengenai proses difusi
inovasi e-agenda yang mencakup empat elemen utama, yaitu (i) sebuah inovasi; (ii) yang
dikomunikasikan melalui saluran tertentu; (iii) dalam jangka waktu tertentu; (iv) di
antara anggota-anggota sebuah sistem sosial (Rogers, 1995:11).
Berdasarkan data di lapangan informan menyatakan bahwa e-agenda memiliki
keuntungan “Ya tentunya ya punya, tentunya akan mempercepat penyampaian informasi
dari sekretaris kepada para pejabatnya, dan para pejabatnya juga dapat mengakses dan
mengecek jadwal kegiatannya masing-masing secara online, selain itu aplikasi ini punya
fitur notifikasi sebagai pengingat agenda yang akan dilaksanakan, seperti fb ya dan
seluruh pegawai pun juga bisa tahu agenda-agenda para pimpinan di lingkungan
ANRI”.
Hal tersebut menjadikan inovasi e-agenda memiliki keuntungan relatif
sebagaimana salah satu karakteristik inovasi yang dikemukakan Rogers (1995).
E-agenda juga sejalan dengan salah satu nilai-nilai organisasi ANRI, yaitu visioner
di mana e-agenda telah mampu menjawab jauh ke depan kebutuhan para penggunanya
yang menginginkan akses cepat dan mudah mengenai informasi agenda pimpinan. Hal
ini sebagaimana diungkapkan informan “....ya tentunya, di antaranya nilai visioner..
dengan kebutuhan yang teridentifikasi... iya memudahkan para pimpinan untuk
memperoleh jadwal agendanya masing-masing, tanpa harus berinteraksi langsung
dengan sekretarisnya...iya pak Karo juga punya pengalaman kalau pake online itu info
apapun bisa cepat”. Kesesuaian dengan salah satu nilai organisasi ANRI, pengalaman
dan kebutuhan dari pengguna menjadikan inovasi e-agenda memiliki nilai kompabilitas
sendiri. Dalam e-agenda terdapat beberapa kerumitan yang akan dihadapi oleh para
224
e-Proceeding | COMICOS 2017
pengadopsi. Akan tetapi, informan menyatakan kerumitan itu dapat diatasi melalui
bimbingan dan sosialisasi kepada sekretaris.
Sebelum diimplementasikan, e-agenda terlebih dahulu melalui masa uji coba.
Informan menyatakan “Ya diujicobakan dulu selama 3 bulan, kepada para sekretaris
supaya lebih mengenal dan terbiasa menggunakan aplikasi tersebut”. Selain itu, para
sekretaris juga dapat melihat hasil pekerjaan yang dilakukan dengan menggunakan eagenda. Informan menyatakan bahwa rekapitulasi hasil pekerjaan dapat langsung
diperoleh dengan melakukan print out, tanpa harus melakukan pengetikan manual seperti
sebelumnya.
Jika kita kaji lebih lanjut secara konseptual, maka penjelasan-penjalan informan di
atas memenuhi pemikiran yang dikemukakan Rogers bahwa sebagai sebuah inovasi ada
lima karakteristik inovasi, yaitu (i) keuntungan relatif (ii) kompatibilitas (iii) kerumitan
(iv) kemampuan diujicobakan (v) Kemampuan diamati (Rogers, 1995: 15-16).
Saluran Komunikasi E-Agenda
Sebagai sebuah objek baru, maka keberadaan e-agenda harus disampaikan melalui
saluran komunikasi tertentu di ANRI. Informan menyatakan penyampaian informasi
tentang e-agenda sebagai berikut: “Kita sudah memprogramkan sosialisasi dan
pelatihan kepada para sekretaris...di rapat-rapat juga sering dibahas dan kita evaluasi..
untuk pimpinan memang baru sebatas komunikasi melalui nota dinas pak Karo aja
sebagai penanggung jawab program ya... iya untuk pimpinan seperti dalam forum
khusus kayak sekretaris memang belum dianggarkan, tapi nanti akan dilakukan sambil
penyempurnaan.. jadi kalau ada yang ditanyakan melalui sekretarisnya dulu...iya
karena pelatihan langsung dirasakan lebih efektif.”.
Berdasarkan penjelasan informan di atas, saluran komunikasi yang digunakan
225
e-Proceeding | COMICOS 2017
termasuk kategori saluran komunikasi interpersonal yang dilakukan dengan berbagai
teknik tertentu sesuai dengan target khalayak yang dijangkau. Bagi para sekretaris
sebagai anggota organisasi yang secara rutin menggunakan e-agenda, komunikasi
disampaikan melalui suatu forum sosialisasi, di mana di dalamnya terdapat pula pelatihan
penggunaan e-agenda. Pelatihan tersebut dilaksanakan pada 24-25 Maret 2017. Kegiatan
pelatihan dipilih karena dinilai lebih efektif, di mana peserta dapat langsung berinteraksi
satu sama lain dan mendiskusikan mengenai penggunaan e-agenda. Dalam pelatihan ini,
Bagian Humas dan TU Pimpinan juga melibatkan pihak ketiga sebagai perancang teknis
dalam penyusunan aplikasi e-agenda, perwakilan pegawai di unit kerja yang memiliki
tangung jawab dalam peliputan kelembagaan dan protokoler serta pranata komputer yang
memiliki tanggung jawab dalam pengelolaan data dan informasi di lingkungan
Sekretariat Utama.
Merujuk pada data tersebut, penulis memaknai bahwa pemanfaatan saluran
komunikasi melalui komunikasi internal masih kurang optimal dilakukan, khususnya
penyampaian inovasi kepada pimpinan. Jika sekretaris diberikan pelatihan, maka
pimpinan eselon I dan II sebagai individu yang juga akan menggunakan e-agenda ini
diberikan sosialisasi dalam bentuk lain, misalnya pemaparan program dalam suatu rapat.
Memang telah dilakukan komunikasi interpersonal melalui surat dinas, akan tetapi akan
lebih efektif jika dilaksanakan sebuah forum khusus yang membahas penyebaran pesan
mengenai e-agenda ini.
Jangka Waktu Difusi Inovasi E-Agenda
Perancangan sampai dengan implementasi e-agenda membutuhkan waktu 1 tahun.
Informan menyatakan bahwa waktu tersebut mencakup rapat perancangan dan
penyusunan konsep, perancangan flow chart, pembahasan prosedur dan bisnis kerja,
226
e-Proceeding | COMICOS 2017
pembangunan teknis aplikasi dan uji coba. Sebelum diimplementasikan, e-agenda
diujicoba dalam rentang waktu Desember 2016 s.d Februari 2017. Uji coba ini
dimaksudkan agar sekretaris dalam hal ini pengguna dapat lebih memahami dan terbiasa
menggunakan e-agenda.
Dalam proses difusi inovasi ini, ada jangka waktu tertentu yang telah dilalui untuk
mengadopsi e-agenda. Informan menjelaskan bahwa pada umumnya bagi target utama
para sekretaris sudah tergolong cepat untuk mengadopsi e-agenda, hanya masih
ditemukan beberapa kendala. Kendati demikian pada bulan Juni seluruh sekretaris sudah
menerima inovasi e-agenda. Hal ini sebagaimana diungkapkan informan: “ya karena
pembangunan dan pengembagan itu kita melibatkan semua jadi sekretaris ini antusias
terhadap inovasi, mereka juga cepat untuk menerimanya....iya, tapi masih juga
ditemukan kelambatan untuk mengadopsi, yakni pada sekretaris eselon II...... Ini
mungkin diakibatkan karena sekretaris eselon II tidak lagi di bawah tanggung jawab
Subbagian TU Pimpinan. Jadi agak sulit dikontrolnya...tapi sih sekitar bulan Juni-an ini
yah sudah pakai semua ya..kalau pimpinan juga paling cepet di eselon I kalau eselon II
agak mundur, karena sosialisasinya belum terakomodir dan beliau juga sibuk, dan sulit
juga mengontrol sekretarisnya karena tidak di bawah TU Pimpinan lagi”.
Tingkat Penerima (Adopter) E-Agenda
Dalam proses penerimaan e-agenda ada beberapa kategori target utama khalayak dalam
menerima inovasi e-agenda. Menurut informan menyatakan: “iya, Bagian Humas dan
TU Pimpinan, khususnya Subbag TU Pimpinan yang menginisiasinya, karena
merupakan tugas dan fungsinya dalam rangka memberikan layanan ketatausahaan
terhadap pimpinan serta menyampaikan informasi tentang agenda pimpinan.......kalau
yang pakai pertama dan punya pengaruh ke yang lain eselon I ya, lalu pak karo sebagai
227
e-Proceeding | COMICOS 2017
penanggung jawab program dan anggaran juga...ya baru eselon II lainnya...kalau yang
paling sering dan selalu pakai ya Kasubbag TU Pimpinan, lalu Kabag dan Karo karena
tugas dan fungsinya dalam rangka memberikan layanan ketatausahaan terhadap
pimpinan dan agar memberi contoh yang lain juga...iya informasi sudah siap pegawai
juga bisa akses e-agenda jadinya ”.
Berdasarkan penjelasan informan di atas, jika merujuk pada konsep yang
dikemukakan Rogers (1995), maka yang berperan sebagai inovator adalah Bagian
Humas dan TU Pimpinan. Early adopter dalam proses ini adalah eselon I diikuti oleh
eselon II. Pejabat tersebut masuk kategori pengadopsi ini karena individu pada klasifikasi
ini memiliki peran sebagai pemuka pendapat dalam organisasi, lebih terekspos dalam
berbagai bentuk dalam komunikasi ekternal dan lebih terpandang serta memiliki status
sosial yang lebih tinggi.
Selain kategori tersebut, ada juga individu yang memiliki peran mempengaruhi
keputusan inovasi partisipan sesuai dengan arah yang diinginkan atau yang disebut
sebagai agen perubahan, yaitu para sekretaris eselon I dan II. Informan menyatakan:
“....Sekretaris juga, karena data dan informasi yang ada di e-agenda itu karena
pekerjaan mereka yang terus menginput dan menyampaikan agenda pimpinan di eagenda........ Begini, kalau semua pencatatan dan penyampaian informasi sudah ada di
e-agenda, maka pimpinan dan pegawai lain tinggal melihat itu di e-agenda. Jadi
pimpinan dan pegawai juga terus akhirnya lihat e-agenda”. Kekonsistenan para
sekretaris termasuk Kasubbag Tata Usaha menggunakan e-agenda menjadi salah satu
faktor penting yang dapat memicu para pegawai dan pimpinan untuk akhirnya
menggunakan e-agenda.
Selain peran sekretaris dan Kasubbah TU sebagai agen perubahan yang mampu
228
e-Proceeding | COMICOS 2017
memberikan implikasi bagi individu lain untuk menggunakan e-agenda, berdasarkan
pernyataan informan juga penulis memaknai bahwa komitmen dari pimpinan yang
bertanggung jawab atas inovasi penggunaan e-agenda penting untuk dimiliki agar
menjadi rujukan dan inovasi tetap konsisten dijalankan. Hal tersebut sebagaimana
dinyatakan dalam: “....Iya dari awal memang mendukung ya, terutama Pak Karo juga
sebagai pimpinan terus mendukung pekerjaan yang online, karena info apapun bisa
cepat. Penyempurnaan dan perbaikan juga pak Karo selalu intens menyampaikan
kepada kami.... Iya beliau selalu pakai dan monitoring jadi yang lainnya juga
mengikuti....iya dari awal ada komitmen dan dukungan pimpinan”.
Konsekuensi Inovasi E-Agenda
Setelah digunakannya e-agenda, ada beberapa hal yang mengalami perubahan.
Perubahan tersebut sebagaimana diungkapkan informan: “.....agendanya dapat diakses
secara online di mana saja dan kapan saja bahkan melalui HP Android sekalipun.....
semua pegawai bisa memperoleh informasi tentang agenda pimpinan dengan pakai eagenda.... pengingat agenda yang akan dilaksanakan, ya kaya fb..... Tidak ada lagi
pencatatan secara manual dan meminimalisasi interaksi langsung dengan sekretaris
terkait informasi jadwal pimpinan”.
Berdasarkan penjelasan informan tersebut, peneliti memaknai bahwa keberadaan
inovasi e-agenda memberikan konsekuensi tersendiri, baik bagi pimpinan eselon I dan
II, sekretaris pimpinan dan seluruh pegawai di ANRI. Jika kita mengacu pada konsep
yang dikemukakan Rogers (1995) yang membahas mengenai konsekuensi sebuah
inovasi, jika dilihat dari efek fungsi inovasi, maka konsekuensi e-agenda ini tergolong
229
e-Proceeding | COMICOS 2017
pada konsekuensi yang diinginkan. Jika dilihat berdasarkan perubahan individu terhadap
inovasi maka tergolong pada konsekuensi langsung dan jika dilihat berdasarkan apakah
perubahan diakui atau diharapkan maka tergolong konsekuensi yang terantisipasi.
E-agenda tergolong pada konsekuensi langsung, karena dengan diadopsinya
inovasi e-agenda, maka menghadirkan fungsi baru, di mana tidak lagi diperlukan
pencatatan manual, pegawai dan pimpinan pun dapat memperoleh informasi agenda
pimpinan tanpa dibatasi ruang dan waktu. E-agenda juga menimbulkan konsekuensi
yang diinginkan, hal ini terlihat karena para individu baik pada tingkatan sekretaris dan
pimpinan bergerak melakukan perubahan dengan menggunakan e-agenda. Kebiasaankebiasaan lama seperti pencatatan maunal maupun komunikasi/interaksi langsung antara
pimpinan dengan sekretaris ataupun antara sekretaris dengan pegawai yang membahas
informasi agenda pimpinan sudah diminimalisir, bahkan untuk pencatatan sudah tidak
lagi dilakukan. Selain itu, e-agenda juga membawa konsekuensi yang terantisipasi, di
mana terlihat bahwa individu di ANRI mengakui keberadaan dan mengharapkan adanya
e-agenda.
Konsekuensi-konsekuensi tersebut dapat terjadi karena adanya perasaan anggota
organisasi menjadi bagian dalam membangun sebuah inovasi. Hal tersebut terlihat
karena ketika di awal penyusunan e-agenda, telah melibatkan berbagai pihak untuk
memperoleh masukan. Ini sebagaimana diungkapkan informan: “ya karena
pembangunan dan pengembagan itu kita melibatkan semua jadi sekretaris ini antusias
terhadap inovasi, mereka juga cepat untuk menerimanya”. Informan juga menuturkan
bahwa para sekretaris dan pimpinan yang memiliki pengetahuan dan kemampuan
menggunakan teknologi dan internet dapat lebih mempercepat diterimanya penggunaan
e-agenda, sebagaimana disebutkan informan: “.....Mereka terlibat dan memang sudah
230
e-Proceeding | COMICOS 2017
pada senang menggunakan komputer ya, jadi tidak harus manual lagi........ Yah
semuanya sih bisa mengikuti, hanya yang jarang atau kurang pakai gadget harus
dibimbing lebih intens, tapi bisa sih mengikuti...... Iya pimpinan juga kami terus
koordinasi dan menyampaikan informasi mengenai penggunaannya”. Dari berbagai
konsekuensi yang muncul, dalam implementasi aplikasi e-agenda juga masih perlu
penyempurnaan. Selain itu faktor teknis, seperti ketersediaan server khusus yang belum
mempengaruhi kecepatan akses penggunaan e-agenda.
4. Penutup
4.1 Simpulan
E-agenda dipandang sebagai sebuah inovasi bagi pimpinan dan sekretarisnya dalam
mengomunikasikan setiap kegiatan serta bagi seluruh pegawai ANRI dalam hal
mengomunikasikan dan menyampaiakan informasi tentang pimpinan eselon I dan II. Eagenda dianggap memberikan kemudahan dan kecepatan dalam melakukan komunikasi
agenda pimpinan dan sebagai sebuah ruang terbuka penyampaian informasi tentang
agenda pimpinan kepada seluruh pegawai. Dalam melakukan difusi inovasi e-Agenda,
Bagian Humas dan Tata Usaha Pimpinan merupakan unit kerja yang berperan sebagai
inovator menggunakan berbagai saluran komunikasi untuk menyebarkan inovasi.
Saluran komunikasi yang digunakan adalah saluran komunikasi interpersonal, seperti
melalui sosialisasi, pelatihan dan penyampaian surat dinas kepada tiap pimpinan. Proses
inovasi penggunaan e-agenda membutuhkan waktu bagi pimpinan karena pengetahuan
dan kemampuan penggunaan TIK yang berbeda-beda serta adanya kendala teknis yang
masih membutuhkan penyesuaian dan penyempurnaan. Ada beberapa kategori adopter
dalam difusi inovasi ini, yaitu Eselon I dan II ANRI berperan sebagai early adopter dan
para sekretarisnya berperan sebagai agen perubahan. Early adopter dan agen perubahan
231
e-Proceeding | COMICOS 2017
menjadi kunci dalam proses difusi inovasi e-agenda. Ketertarikan early adopter dan agen
perubahan terhadap penggunaan TIK menjadi faktor penting dalam menentukan
kecepatan difusi inovasi e-agenda. Apalagi early adopter dalam konteks ini termasuk
kategori pejabat publik yang memiliki kewenangan lebih tinggi, lebih terekspos dalam
berbagai bentuk dalam komunikasi ekternal dan lebih terpandang serta memiliki status
sosial yang lebih tinggi.
4.2 Saran
Berdasarkan penelitian ini, saran yang dapat disampaikan penulis yaitu dalam melakukan
difusi inovasi di instansi pemerintah diperlukan komitmen dan konsistensi dari pimpinan
dan agen perubahan agar suatu inovasi berhasil dilakukan. Komitmen bagi pimpinan ini
penting dilaksanakan dalam hal penyusunan konsep inovasi, penganggaran kegiatan,
kebijakan penyediaan sarana dan prasarana, monitoring pelaksanaan inovasi, dan
evaluasi inovasi untuk menyusun kembali penyempurnaan suatu inovasi. Selain itu,
pimpinan juga perlu untuk konsisten menggunakan inovasi, sehingga dapat menjadi
rujukan anggota organisasi lainnya. Sedangkan bagi agen perubahan, komitmen dan
konsistensi dibutuhkan dalam menggunakan dan menginternalisasi suatu inovasi
sehingga menjadi kebiasaan atau kegiatan rutin dalam organisasi. Dengan demikian
diharapkan anggota organisasi lain tergerak untuk menggunakan produk inovasi
sebagaimana yang telah diadopsi oleh agen perubahan dan early adopter.
Daftar Pustaka
Henink, Monuiue. Hutter, Inge &Bailey, Ajay. (2011). Qualitative Research
Methods. Chennai: Sage Publication.
Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2003 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional
Pengembangan E-government.
232
e-Proceeding | COMICOS 2017
Littlejohn, Stephen W & Foss, Karen A.. (2009). Teori Komunikasi, Edisi 9. Alih
bahasa: Mohammad Yusuf Hamdan. Jakarta: Salemba Humanika.
Ngafifi, Muhamad. (2014). Kemajuan Teknologi dan Pola Hidup Manusia dalam
Perspektif Sosial Budaya. Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi
Volume
2,
Nomor
1.
Diakses
di
http://journal.uny.ac.id/index.php/jppfa/article/view/2616/2171 pada 15 Mei 2017.
Pace, R. Wayne dan Faules, Don F. (1998). Komunikasi Organisasi Strategi
Meningkatkan Kinerja Perusahaan. Alih bahasa: Deddy Mulyana, Engkus Kuswarna
dan Gembirasari. Bandung: Rosda.
Patton, Michael Quinn (2002). Qualitative Research & Evaluation Methods. 3rd
edition. USA: Sage Publication.
Poerwandari, E. Kristi. (2007) Pendekatan Kualitatif, Penelitian Perilaku
Manusia. Depok: Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan
Psikologi UI.
Presiden.ri.go.id. (2015). Presiden Jokowi : Penggunaan Sistem E-Government
Syarat Pemerintah Terbuka. Diakses di http://presidenri.go.id/berita-aktual/presidenjokowi-penggunaan-sistem-e-government-syarat-pemerintah-terbuka.html pada 15 Mei
2017.
Rogers, Everett M.. (1986). Communication Technology , The New Media in
Society. New York: The Free Press.
Rogers, Everett M.. (1995). Diffusion of Innovation Fourth Edition. New York:
The Free Press.
Rusmiarti, Dewi Ariningrum. (2015). Analisis Difusi Inovasi Budaya Kerja dan
Pengembangan Budaya Kerja pada Organisasi Birokrasi (Proses Difusi Budaya Kerja
233
e-Proceeding | COMICOS 2017
dan Aplikasi Web MRF di BKKBN Pusat). Tesis. FISIP UI.
234
e-Proceeding | COMICOS 2017
ANALISIS ISI KAMPANYE KANDIDAT GUBERNUR JAKARTA
PERIODE DESEMBER 2016 – FEBRUARY 2017 DI MEDIA SOSIAL
(STUDI KASUS : FACEBOOK DAN INSTAGRAM)
Mungky Diana Sari, M.I.K. (Binus University), Algooth Putranto, M.I.Kom
(Paramadina University), Christiani Ajeng Riyanti, M.I.Kom (Atmajaya University of
Jakarta).
Jl. K.H Syahdan No. 9, Kemanggisan, Palmerah, Jakarta Barat – 11480
([email protected], [email protected], [email protected])
Abstract
KPU Regulation No.7/2015 and No.123/2016 on Campaign had change the games in
promoting candidacy to their voters. The law regulated four aspects of campaign among
others are campaign material, distribution of campaign material, advertisement on print
and electronic media and public debate. This research aim to analyze the content of the
campaign materials from Jakarta governor candidates social media from December
2016 to February 2017 uses content analysis method. The analysis shows that
AhokDjarot campaign is more serious prepared. Social media activism has to embrace
the principles of popular culture of consumption that are light package, headline appetite
and trailer vision.
Abstrak
UU KPU No.7/2015 dan No 123/2016 telah mengubah peta strategi para kandidat dalam
berkomunikasi pada pemilih mereka. UU tersebut mengatur empat aspek yaitu materi
kampanye, penyebaran materi kampanye, iklan di media cetak dan elektronik dan debat
publik. Sosial media sebagai media kampanye belum diatur oleh undang-undang ini.
Penelitian ini menganalisa materi kampanye kandidat Gubernur Jakarta di sosial media
periode Desember 2016 sampai Februari 2017 menggunakan metode analisis isi dengan
pendekatan kualitatif. Hasil analisa kandidat AhokDjarot lebih terkonsep. Aktivitas di
sosial media harus memperhatikan prinsip konsumsi budaya popular yaitu light
package, headline appetite dan trailer vision.
Kata kunci : Analisa Isi Media Sosial, Pilkada DKI Jakarta, Light Package, Headline Appetite,
Trailer Version
1. Pendahuluan
Pemilihan umum selalu menjadi ajang kompetisi banyak kelompok untuk
memperlihatkan kepiawaian mereka dalam berpolitik melalui berbagai hal, termasuk
memanfaatkan media sosial sebagai salah satu sarana penunjang kampanye. Selain low
cost, media sosial juga dinilai dapat menjangkau pemilih yang lebih luas dan lebih
efektif. Strategi ini pun tidak luput dari incaran para kandidat calon Gubernur DKI
Jakarta untuk menggunakan media sosial ini, terutama untuk menjangkau para pemilih
235
e-Proceeding | COMICOS 2017
muda dan pemula yang merupakan pengguna terbesar media sosial. Penelitian ini fokus
pada dua kandidat yang terpilih pada putaran dua dalam Pilkada DKI Jakarta 2017.
Alasannya, dua dari tiga kandidat yang maju berkompetisi dalam bursa pemilihan
Gubernur DKI Jakarta untuk periode 2017 – 2020 lebih serius menggarap media sosial
mereka dari satu pasang kandidat yang lain pada putaran pertama.
Sejak direvisinya UU Pilkada menjadi Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015,
menyebutkan bahwa pemilu daerah untuk Gubernur, Bupati dan Walikota dilakukan
serentak di seluruh Indonesia. Salah satu yang tidak luput tentunya daerah ibukota DKI
Jakarta. DKI Jakarta sebagai ibukota negara Republik Indonesia menjadi sorotan
nasional. Pasalnya, Jakarta bukan saja sekadar ibukota negara, namun juga sebuah kota
metropolitan, tempat berbaurnya berbagai suku, ras dan agama. Jakarta sebagai sebuah
wilayah di Indonesia yang multikultur menjadi penting untuk di sorot karena
penduduknya yang juga terdiri dari berbagai kelas ekonomi dan sosial. Serta, Jakarta
adalah sebuah Indonesia mini, kemenangan pada pilkada DKI Jakarta merupakan
indikator kemenangan pada pemilihan presiden 2019 nanti.
Namun yang menarik dari Jakarta adalah penggunaan internet yang besar. Data
dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2016, Jawa
menempati peringkat teratas penggunaan internet se-Indonesia sebesar 65%. Dari angka
itu dapat dilihat bahwa dengan jumlah penduduk tertinggi di Indonesia yang berada di
Pulau Jawa, memberikan dampak juga bagi penggunaan internet di Indonesia.
Dengan penggunaan internet sebesar itu mayoritas penggunanya adalah
mahasiswa sebesar 89%. Data itu menunjukkan bahwa dengan pengguna internet
terbesar adalah usia remaja dan produktif. Namun dari keseluruhan konten yang diakses
oleh para pengguna internet adalah media sosial, sebesar 97%. Dengan demikian, media
236
e-Proceeding | COMICOS 2017
sosial menjadi platform penting dalam penyebaran informasi kepada masyarakat.
Media sosial menjadi sangat penting hari ini sebagai akses penyebaran informasi
yang sangat efektif dan low cost (atau bahkan tidak mengeluarkan biaya sama sekali).
Dengan biaya yang sangat murah dan pengguna internet yang besar, memungkinkan
penyebaran informasi lebih tepat sasaran. Menurut data APJII jenis media sosial yang
sering banyak digunakan adalah Facebook sebesar 54% dan Instagram sebesar 15%.
Dengan angka sebesar itu, maka penelitian ini memilih menggunakan Facebook dan
Instagram.
Alasan lain kami memilih Facebook dan Instagram dalam penelitian ini adalah
mayoritas pengguna dua media sosial itu adalah remaja dan dewasa yang usia produktif
(21 – 40 tahun). Dari data Facebook pada tahun 2014 (Kompas.com) usia pengguna
Facebook antara 18 hingga 34 tahun. Indonesia sendiri merupakan pengguna Facebook
dengan peringkat nomor empat di dunia setelah Amerika Serikat, India dan Brazil. Hal
yang sama juga terjadi pada Instagram, dimana usia penggunanya antara 18 hingga 34
tahun (Okezone).
Angka usia itu menunjukkan bahwa remaja dan usia dewasa awal lebih banyak
menggunakan Facebook dan Instagram. Artinya, penyebaran pesan akan lebih efektif
melalui dua media sosial tersebut, terutama pada kelompok usia 18-34 tahun.
Menurut data Cyrus 2016, usia pemilih DKI Jakarta terbanyak berada antara usia
17 – 40 tahun. Dengan angka itu, maka penyampaian pesan melalui media sosial kepada
kelompok tertentu akan lebih efektif.
Dalam Pilkada DKI Jakarta saat ini ada tiga pasang calon Gubernur dan Wakil
Gubernur yang akan berkompetisi. Pasangan nomor 1 adalah Agus Harimurti
Yudhoyono dan Sylviana Murni (AHYSylvi). Pasangan nomor 2 adalah Basuki Tjahaja
237
e-Proceeding | COMICOS 2017
Purnama dan Djarot Syaiful Hidayat (AhokDjarot). Sedangkan pasangan nomor 3 adalah
Anies Baswedan dan Sandiaga Uno (AnisSandi). Dari ketiga pasangan calon Gubernur
dan Wakil Gubernur itu, Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Syaiful Hidayat adalah
kubu petahana. Basuki atau yang akrab dipanggil Ahok lebih familiar di masyarakat. Hal
itu dikarenakan, selain karena petahana juga karena beberapa isu yang menarik dirinya,
seperti kasus penistaan agama yang sedang berjalan saat ini. Akan tetapi Ahok juga
dikenal masyarakat karena kebijakan-kebijakannya yang sangat progresif dalam
mereformasi birokrasi di Pemda DKI Jakarta. Ahok sendiri naik menjadi Gubernur DKI
Jakarta karena menggantikan Joko Widodo yang saat itu menjabat sebagai Gubernur naik
menjadi Presiden Republik Indonesia. Setelah Ahok naik menggantikan Joko Widodo,
partai pengusung Joko Widodo dan Ahok, yaitu PDI Perjuangan kemudian memilih
Djarot Syaiful Hidayat menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta. Dalam sejarah
kepemimpinan DKI Jakarta, dimana mayoritas masyarakatnya adalah muslim dan Jawa,
baru kali ini di pimpin oleh seorang pemimpin dari kelompok minoritas dan dari etnis
yang juga minoritas. Sehingga Ahok seringkali diserang oleh lawan-lawan politiknya dan
juga haters-nya dengan isu SARA.
Pasangan lain yaitu Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni. Mereka
berdua di usung oleh Partai Demokrat, dimana Agus sendiri adalah putra pertama dari
Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono yang merupakan Ketua Dewan Pembina
partai yang didirikannya itu. Latar belakang Agus sendiri adalah militer, dan belum
pernah terpilih menjadi pemimpin di daerah manapun, bahkan masuk dalam struktur
kepartaian yang dipimpin oleh ayahnya. Sedangkan pasangannya, Sylviana Murni adalah
pegawai Pemerintah Daerah DKI Jakarta yang telah berkarir sekitar 31 tahun dengan
posisi terakhir sebagai Deputi Gubernur DKI Jakarta dalam bidang budaya dan
238
e-Proceeding | COMICOS 2017
pariwisata periode 2015-2016.
Pasangan terakhir, Anies Baswedan, adalah seorang akademisi. Setelah lulus dari
program doktoralnya dari University of Illinois, Amerika Serikat, Anies Baswedan
terpilih menjadi Rektor Universitas Paramadina Jakarta kelima sejak didirikannya
universitas itu oleh salah satu cendekiawan muslim terkenal era Orde Baru, Nurcholish
Madjid. Setelah menjadi rektor, Anies Baswedan mulai dikenal oleh publik, terutama
sejak ia mendirikan program Indonesia Mengajar. Program itu dinilai oleh banyak orang
sebagai suatu terobosan yang baik, untuk mendukung perbaikan mutu pendidikan di
Indonesia, dengan mengirimkan anak-anak muda terpilih menjadi guru sekolah dasar
selama satu tahun di pelosok dan daerah tertinggal di Indonesia. Program itu kemudian
meroketkan nama Anies Baswedan. Kemudian pada tahun 2013 ia mendaftar dalam
Konvensi Calon Presiden dari Partai Demokrat. Namun setelah setahun tidak ada satupun
dari calon-calon dalam Konvensi itu yang memiliki kepopuleran cukup untuk maju
menjadi RI 1. Gagal menjadi RI 1 melalui Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat,
Anies Baswedan kemudian memilih untuk menjadi tim sukses dari Presiden Joko
Widodo pada Pemilu Presiden dan Wakil Presiden tahun 2014. Setelah Jokowi terpilih
menjadi Presiden, Anies kemudian mendapat jabatan sebagai Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan. Namun belum genap dua tahun menjadi Mendikbud, Anies Baswedan di
reshuffle pada tahun 2016 lalu, dan akhirnya maju dalam bursa Pilkada DKI Jakarta saat
ini. Anies maju di usung justru oleh partai-partai oposisi pemerintah.
Meski ada tiga pasang calon yang maju dalam bursa Pilkada Gubernur dan Wakil
Gubernur DKI Jakarta tahun 2017, penelitian ini hanya memilih dua pasang calon. Hal
itu disebabkan satu pasang lainnya tidak serius menggarap media sosialnya dan tidak
lolos dalam putaran kedua Pilkada DKI Jakarta.
239
e-Proceeding | COMICOS 2017
Dalam penelitian ini, ada beberapa isu yang akan diangkat untuk di kelompokkan
dalam melihat akun-akun resmi dari kedua pasangan calon Gubernur dan Wakil
Gubernur itu. Pertama adalah isu light package, headline appetite, dan trailer version.
Light package adalah isi pesan yang ringan dan mudah dicerna tanpa perlu mengeryitkan
dahi. Headline appetite adalah karakter pesan yang padat seperti berita utama di televisi,
yang hanya perlu memperhatikan sekilas saja untuk tahu isinya. Sedangkan trailer
version berkaitan dengan pesan yang sudah disederhanakan dan sensasional (Lim, 2013).
Hal lain yang menjadi perhatian peneliti adalah diterbitkannya peraturan Komisi
Pemilihan Umum (KPU) No. 7 Tahun 2015 dan No. 123 Tahun 2016 tentang Kampanye
mengalami perubahan mengenai aturan kampanye bagi para peserta pemilu. Di dalam
aturan tersebut mengatur empat aspek kampanye yaitu materi kampanye, distribusi
materi kampanye, iklan kampanye pada media cetak dan elektronik serta debat publik.
Tidak ada aturan mengenai kampanye di media sosial oleh KPU.
Dalam perkembangannya, walaupun media sosial dipandang sebagai low cost
media akan tetapi media sosial telah bergerak menjadi media iklan yang semakin dilirik
oleh para pemilik brand dan kandidat partai politik. Seperti dilansir oleh Antara News,
iklan di media sosial diperkirakan meroket pada 2019. Hal ini seiring dengan kecepatan
internet
dan
ekspansi
media
sosial
di
perangkat
seluler
(http://www.antaranews.com/berita/599820/iklan-di-media-sosial-meroket-pada-2019).
Berdasarkan catatan marketeers.com, InstagramAd banyak menjadi pilihan para pemilik
brand, kemudian Youtube dan Facebook. (http://marketeers.com/ini-tren-media-sosialdari-kacamata-agensi-periklanan/). Prediksi kedepan Youtube akan tersalib oleh
Facebook. Hal ini disebabkan karena Facebook memiliki fitur video yang memiliki
kelebihan tidak dipotong oleh iklan.
240
e-Proceeding | COMICOS 2017
Fenomena media sosial sebagai media iklan luput dari perhatian KPU. KPU
kurang awas dengan perkembangan era digital ketika setiap berita dan iklan masuk ke
setiap pribadi melalui aplikasi media sosial dan berita di perangkat seluler, tablet dan
laptop mereka. Bahwa telah terjadi pergeseran perilaku konsumsi media, yang semula
dari media cetak dan elektronik ke media digital. Para kandidat dan tim mereka
menyadari fenomena ini dan menjadikan strategi kampanye digital sebagai poin penting
untuk digarap.
2. Kajian Teoritis
Merlyna Lim (2013) menyebutkan media sosial adalah tentang hubungan sosial
dan jaringan sosial. Dalam penelitiannya, Lim menyebutkan Indonesia sebagai sebuah
“Twitter Nation”. Hal itu merujuk pada aktivitas orang-orang Indonesia yang sangat
besar dalam menggunakan media sosial. Tidak hanya itu, analisa Lim berdasarkan
laporan CNN sebelumnya yang menyebutkan bahwa, tidak seperti kebanyakan pengguna
media sosial di banyak negara yang menggunakan media sosial sebagai sarana hiburan,
orang-orang Indonesia sudah mulai menggunakan media sosial sebagai sarana perubahan
(baca: menjadi alat untuk gerakan sebuah perubahan). Menurut Lim, media sosial di
Indonesia bahkan disebutkan sebagai pilar kelima dalam negara Indonesia. Lantaran
penggunaannya bukan hanya sebagai alat berkomunikasi ataupun mencari hiburan,
namun menjadi alat untuk memobilisasi massa, seperti dalam kasus Prita Mulyasari dan
kasus KPK vs Polri beberapa waktu lalu.
“With such expansion, some might expect social media to be utilized
greatly for political and social evets. Previous studies, indeed,
demonstrate that the internet has had some major political roles in
Indonesian society.” (Merlyna Lim, 2013).
Media sosial dewasa ini, bahkan memainkan peran penting dalam aktivitas politik
di sebuah wilayah. Gainous dan Wagner (2014) menyebutkan media sosial dalam bidang
241
e-Proceeding | COMICOS 2017
politik sudah bergeser perannya menjadi sebuah keterwakilan dari aspirasi masyarakat.
Hal itu dikarenakan, fungsi media sosial yang berperan sebagai penyebar pesan, bukan
saja menjadi alat penyebaran, namun juga menjadi sebuah alat kontrol bagaimana pesan
di sebarkan oleh pembuat atau penyebar pesan.
“Social media alters the political calculus in the United States by shifting
who controls information, who consumes information, and how that
information is distributed.” (Gainous and Wagner, 2014).
Bukan saja sebagai penyebar pesan dan alat kontrol, media sosial kini juga
menjadi alat untuk membuat sebuah opini publik. Jika dulu peran tersebut dijalankan
oleh media massa, kini kegunaannya bergeser pada media sosial sebagai wadah warganet
untuk saling bertukar informasi.
Media sosial sangat mungkin juga berpengaruh besar dalam pergerakan politik,
seperti yang terjadi pada Arab Spring. Bukan saja menjadi alat pergerakan, namun juga
media sosial digunakan oleh para politikus untuk meraih suara menjelang pemilihan
umum. Kemenangan Barack Obama menjadi Presiden Amerika Serikat pun tidak luput
dari peran media sosial (Katz, Barris dan Jain, 2013). Kekuatan media sosial tidak dapat
diremehkan hanya sekadar sebagai sebuah media hiburan bagi masyarakat. Namun
media sosial juga menjadi tempat aspirasi masyarakat untuk menyampaikan pendapat
dan pandangannya tentang sebuah isu atau hal.
Media Sosial Dalam Politik
Ada strategi-strategi yang digunakan jika berbicara mengenai hubungan media
sosial dan kampanye politik. Silih Agung Wasesa (2011) para aktor politik menggunakan
para buzzer untuk meraih suara melalui berbagai platform, termasuk media sosial.
Menurut Wasesa, buzzing adalah bagaimana pesan politik diolah sebagai bahan
pembicaraan positif di masyarakat dan menggerakkan target dengan membangun
242
e-Proceeding | COMICOS 2017
kesadaran sendiri melalui pesan yang disebarkan. Tujuan dari buzzing sendiri yaitu untuk
membentuk dan menaikkan citra dari politisi tersebut. Buzzer adalah orang yang
melakukan kegiatan buzzing. Biasanya mereka adalah public figure atau seseorang yang
mempunyai banyak follower di media sosial.
Dalam kampanye politik, buzzer bisa juga seorang selebriti. Saat ini sudah jamak
selebriti digunakan sebagai buzzer dalam kampanye politik, terutama dalam meraih suara
di media sosial. Meskipun demikian, memakai jasa selebriti dalam kampanye politik
bukanlah hal yang baru. Hal ini sudah terjadi dalam pemilu Amerika Serikat sejak tahun
1920 yang membawa Franklin D. Roosevelt menjadi Presiden Amerika. Namun jasa
selebriti pada masa dahulu lebih fokus pada penggalangan dana dan meet-and-greets,
sekarang peran itu merambah pada terlibat langsung dalam kampanye politik dan secara
terang-terangan menyatakan pandangan mereka terhadap orang yang membayar mereka.
(Harvey, 2014). Selain itu, media sosial merupakan cara yang efektif antara politikus
dengan masyarakat. (Pǎtruţ dan Pǎtruţ, 2014)
Menurut Keric Harvey (2014), penggunaan media sosial saat ini sangat terikat
dalam kegiatan sehari-hari masyarakat. Dimana, hal pertama yang mereka lakukan
pertama kali adalah mengecek akun media sosial mereka, dan menjadi hal terakhir yang
dilihat sebelum memejamkan mata. Hal ini menunjukkan bahwa keterikatan antara
media sosial dan penggunanya sangat erat. Harvey bahkan menyebutkan jika media
sosial sudah menjadi candu bagi para penggunanya. Dengan terus meningkatnya para
pengguna media sosial, menjadikan media sosial sebagai platform baru untuk berbagai
hal termasuk promosi dan ruang diskusi.
Facebook adalah the most popular social network in the world (Harvey, 2014).
Menurut data Alexa.com, Facebook menduduki peringkat teratas dalam
243
e-Proceeding | COMICOS 2017
Konten-konten yang ada di media sosial bukan saja sekadar kata biasa, namun
lebih dari itu merupakan representasi pikiran dan ataupun pesan yang sengaja ingin di
sampaikan pada target tertentu. Menurut Meikle dalam Wittkower (2010) cara
berkomunikasi di Facebook (dan termasuk Instagram) memiliki kelebihan dalam aplikasi
berkomunikasi dua arah daripada media sosial lainnya. Meikle berpendapat, jika media
sosial lain cara berkomunikasi dua arah, tidak menyediakan tempat berkomunikasi dalam
ruang waktu yang sama (baca: chatting ataupun melalui comments dan share serta
reaksi), Facebook menyediakan itu dalam satu aplikasi. Sedangkan menurut Kumpel,
Karnowski dan Keyling (2015) tindakan seseorang melakukan sharing ataupun
membagikan postingan orang lain, dilandasi karena adanya motif. Selain itu, dalam
membagikan konten atau link, para warga Facebook cenderung lebih menyukai video
dari jenis konten lainnya. Hal itu disebabkan, dibandingkan dengan media seperti
Youtube, fitur video di Facebook lebih di sukai dari media lain. Menurut Koetsier
(Forbes, 2017) fitur video Facebook ter-setting dapat dimainkan secara otomatis ketika
kita men-scroll kebawah atau ke atas, kecuali bila kita me-setting berbeda, sedangkan
Youtube harus di sentuh terlebih dahulu. Selain itu, video Facebook tidak terganggu oleh
iklan, seperti di Youtube.
3. Metodologi
Menurut Drisko dan Maschi (2011) penelitian analisis isi tidak terbatas pada
metode kuantitatif saja, seperti yang dipahami oleh para peneliti selama ini. Penelitian
analisis isi, dimana bertujuan untuk mengetahui makna dari sebuah teks dan dapat di tiru
dan disimpulkan secara valid dalam penggunaannya. Menurut Weber (1984) dalam
Drisko dan Maschi, kesimpulan ini dapat dilihat melalui pengirim pesan, penerima pesan,
pesan itu sendiri dan bagaimana dampaknya. Metode analisis isi selain dapat digunakan
244
e-Proceeding | COMICOS 2017
untuk mengidentifikasi sebuah pesan, pandangan dan kepentingan dari seseorang atau
kelompok, juga dapat digunakan dalam mengevaluasi pekerjaan untuk membandingkan
isi komunikasi terhadap dokumen sebelumnya.
Bila dengan metode kuantitatif, penggunaan analisis isi biasanya dengan
menghitung kata yang sering muncul, namun dengan metode kualitatif, analisis isi lebih
kepada pendekatan interpretasi. Akan tetapi beberapa penelitian sosial, para peneliti juga
menggunakan analisis isi dengan pendekatan semiotika untuk membedakan makna
denotatif dan konotatif. Makna denotatif dapat diartikan sebagai tanda awal yang
berkaitan dengan literasi, akal sehat, atau arti tertentu. Sedangkan konotatif diartikan
sebagai penggabungan elemen-elemen individu dalam teks untuk memahami
keseluruhan makna.
Dalam analisis isi dengan pendekatan kualitatif, fokus penelitian lebih di
utamakan pada kesimpulan makna pada sebuah narasi melalui interpretasi. Analisa isi
interpretasi merupakan pendekatan dimana peneliti membuat kesimpulan umum dan
menginterpretasikan daripada menghitung kata atau metode kuantitatif lainnya. Analisa
isi interpretasi biasanya melihat teks secara umum. Meski demikian metode ini juga
dapat menggunakan data. Penelitian ini juga untuk mencari makna secara sistematis dan
transparan namun tidak menjamin keobjektivitasan dari makna tersebut.
Penelitian ini akan fokus pada analisa akun resmi para kandidat calon Gubernur
dan Wakil Gubernur DKI Jakarta 2017. Pasangan Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot
Saiful Hidayat dengan alamat resmi akun Facebooknya yaitu AhokDjarot. Sedangkan
akun Instagramnya beralamat di @AhokDjarot. Sementara Anies Baswedan dan
Sandiaga Uno mempunyai alamat Facebook JakartaMajuBersama, dan Instagram
@JakartaMajuBersama. Akun-akun resmi dari para kandidat di buat secara resmi ketika
245
e-Proceeding | COMICOS 2017
masa kampanye dimulai, yaitu pada bulan Desember 2016 dan di tutup pada detik-detik
sebelum hari pemungutan suara pada 14 Februari 2017. Namun karena Pilkada DKI
Jakarta berlangsung dua putaran, maka pada kampanye putaran kedua akun-akun
tersebut kembali aktif, dan ditutup permanen menjelang hari pemungutan suara akhir 18
April 2017.
Data primer dari penelitian ini terdiri dari postingan-postingan akun-akun resmi
para pasangan kandidat. Sedangkan data sekunder berupa buku dan jurnal. Validasi
penelitian ini menggunakan triangulasi sumber. Dimana data akan disandingkan dengan
teori-teori terkait. Postingan-postingan yang dianalisa akan dikelompokkan menjadi tiga
bagian, yaitu light package, headline appetite dan trailer version. Dan dikelompokkan
lagi menjadi beberapa isu, termasuk isu pengenai penistaan agama. Selain itu juga
postingan dengan label “sponsored”. Label “sponsored” kami masukkan dalam analisa
ini karena label ini adalah postingan berbayar, sehingga para pengiklan dapat meminta
siapa saja yang menjadi target, demografi, usia, wilayah tinggal dan jenis kelamin.
4. Temuan
Kami akan membagi penelitian ini menjadi tiga kelompok. Yang pertama yaitu
postingan berdasarkan light package. Dimana analisa akan di fokuskan pada postingan
yang ringan, dan tidak berat atau tidak memerlukan waktu untuk berpikir memahami
postingan tersebut. Kedua, postingan berdasarkan headline appetite, yaitu pesan singkat
seperti dalam headline berita. Sedangkan yang ketiga adalah trailer version. Dimana,
pesan yang sederhana namun sensasional.
246
e-Proceeding | COMICOS 2017
Facebook
#AhokDjarot
Dari pengamatan kami pada akun resmi dua pasangan kandidat Gubernur DKI
Jakarta 2017, terlihat perbedaan postingan yang berbeda dalam tiap pasangan. Pasangan
pertama atau nomor urut 2, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat
memasang gambar dalam home cover mereka foto bersama orang-orang dengan berbagai
latar belakang sosial, suku, ekonomi dan agama yang berbeda. Dalam foto itu juga
terdapat gambar pasangan itu tetap dengan kostum kampanye mereka, yaitu kotak-kotak.
Selain itu terdapat hastag di atas foto itu #kampanyerakyat. Foto profil akun
Instagram pasangan nomor 2 menggambarkan foto pasangan itu dengan baju kotak-kotak
merah, terdapat tanda tangan dengan 2 jari, dan hastag #perjuanganbelumselesai.
Pengikut dari akun ini mencapai total 294.781 pengikut, hingga satu hari menjelang hari
pencoblosan
putaran
pertama
berlangsung.
Dengan
hastag
terbanyak:
#perjuanganbelumselesai #AyokeTPS #Pilkadadamai.
247
e-Proceeding | COMICOS 2017
Jenis Postingan
69
104
Video
Picture
(Jumlah Postingan Akun Facebook Resmi AhokDjarot Per 14 Februari 2017)
Dari data diatas terlihat bahwa dari 173 postingan yang di posting oleh akun ini,
jenis postingan video lebih banyak daripada postingan gambar. Tren banyaknya yang
menyukai postingan akun ini cenderung meningkat.
(Top Post Facebook AhokDjarot)
Tgl
20-Des16
10-Feb17
14-Feb17
05-Des16
10-Feb17
24-Des16
06-Feb17
20-Des17
09-Des17
11-Feb17
Post
Video Ulama terhadap kasus
penistaan agama Ahok
Repost Video teman Ahok : Ahok
Pasti Kalah
Video Teman Ahok : Keep on
Fighting
Viewers
Video
Reaction
Commen
t
Share
1.353.229
1.300
147
0
929.455
1.300
147
0
754.935
2.600
299
1
Penataan Kalijodo
Repost Flashmob WNI di Toronto
utk Ahok
311.750
2.800
214
1
302.686
3.400
156
1
Testimoni Selebriti
Testimoni Veronika Tan Istri
Basuki Tjahaya
248.009
641
53
0
Siaran Langsung Ahok
Video Teman Ahok : tentang Ahok
anti korupsi
147.000
10.000
3.206
527
105.595
1.400
116
1
58.000
4.600
278
1.536
Datang Ke TPS/Slank
212.000
9.700
472
4.533
#AniesSandi
Sementara akun facebook pada pasangan nomor 3, Anies Baswedan dan
248
e-Proceeding | COMICOS 2017
Sandiaga Uno memasang foto dengan background merah dan biru, dimana Anies dengan
background foto merah berbayang fotonya bersama dengan masyarakat pendukungnya.
Sedangkan Sandiaga, dengan background biru, pun dengan pose yang sama. Dan diatas
foto mereka terdapat tagline “Salam Bersama” dengan ada cap tangan di sebelahnya.
Sementara foto profile akun pasangan nomor urut 3 ini bertuliskan “Maju
Bersama Anies Sandi, Maju Kotanya Bahagia Warganya”. Pengikut dari akun ini
sebanyak
110.559.
Sedangkan
hastag
terbanyak
akun
ini
diantaranya
#CoblosAniesSandi #CoblosPecinya #AniesSandiM3nang.
(Jumlah Postingan Akun Facebook Resmi AniesSandi Per 14 Februari 2017)
Total postingan fanpage “JakartaMajuBersama” berisi tentang 51 pos dengan
link, 141 gambar, 153 video. Perbandingan postingan antara gambar dan video hamper
249
e-Proceeding | COMICOS 2017
sebanding, dan hanya berbeda tipis. Sedangkan akun ini juga sering me-link dari
postingan akun-akun lain.
(Top Post Facebook AniesSandi)
Instagram
Akun resmi Instagram dari pasangan nomor urut 2, memiliki nama
@AhokDjarot. Foto profilenya sama dengan foto profile di akun media sosial yang lain.
Pengikut akun resmi ini berjumlah 121 ribu followers. Dan akun ini hanya mengikuti 4
akun lain.
Postingan akun ini hingga non-aktif menjelang pemilihan sebanyak 315
250
e-Proceeding | COMICOS 2017
postingan. Berbeda dengan akun Facebook, akun AhokDjarot untuk media Instagram
lebih banyak dengan postingan gambar atau foto daripada video.
Dalam profile singkat di home akun ini terdapat kalimat “Ahok Djarot telah
terbukti membawa perubahan bagi kota Jakarta, mari kita lanjutkan perjuangan ini
dengan semangat persatuan”. Akun ini pun sudah tercentang biru, yang berarti bahwa
akun ini sudah terverifikasi oleh Instagram.
#AniesSandi
Sedangkan dalam akun Instagram resmi milik pasangan Anies Baswedan dan
Sandiaga Uno foto profile juga masih sama dengan foto Facebook. Akun resmi ini juga
sudah tercentang biru, yang berarti sudah terverifikasi memiliki banyak followers.
Jumlah pengikut akun ini mencapai lebih dari 20 ribu pengikut. Akan tetapi yang menarik
dari akun ini adalah bahwa akun ini mengkuti 36 akun lain.
Postingan akun ini selama tiga bulan masa kampanye periode pertama sebanyak
663 postingan. Jenis postingan lebih banyak pada tipe berupa gambar.
5. Diskusi dan Kesimpulan
Dalam temuan kami mengenai Facebook terhadap akun resmi dua pasang
kandidat Gubernur DKI Jakarta terdapat perbedaan yang sangat besar. Viewers tertinggi
251
e-Proceeding | COMICOS 2017
akun ini berada pada tanggal 20 Desember 2016 mengenai video Ulama terhadap kasus
penistaan agama Ahok. Itu merupakan hari sebelum terjadinya demo besar massa
menuntut Basuki Tjahaja Purnama untuk segera di adili atas dugaan Penistaan Agama,
yaitu tanggal 21 Desember 2016 (212). Dalam postingan itu terlihat bahwa akun ini coba
menampilkan para ulama yang merupakan opinion leader untuk kasus penistaan agama
ini, daripada tokoh lainnya. namun dengan jumlah viewers yang cukup besar, jumlah
komentar dan reaksi terhadap postingan ini sangat sedikit. Untuk komentar jumlahnya
hanya 147, dan reaksi sebanyak 1.300 akun. Artinya video itu cukup memiliki kemasan
yang baik dalam kategori headline appetite, dengan kalimat sederhana dan padat namun
mudah di cerna oleh penonton.
postingan-postingan terbanyak lainnya terbanyak berasal para relawan
AhokDjarot dan keberhasilan pasangan ini saat membuat kebijakan mengenai Penataan
Kalijodo. Dimana terdapat postingan video mengenai keberhasilan salah satu kebijakan
Pemerintah Daerah DKI Jakarta dibawah kepemimpinan Basuki Tjahaja Purnama dalam
membangun dan menata Jakarta. Postingan ini mendapat viewers lebih dari 300 ribu
penonton, dengan reaksi sebanyak 2.800, dan komentar sebanyak 214. Video ini pun di
share meski hanya 1 akun. Akan tetapi yang paling menarik adalah postingan dari
selebriti yang mengklaim menjadi relawan AhokDjarot justru tidak terlalu mendapat
viewers yang tinggi. Pada data diatas, terlihat bahwa ternyata kemunculan artis di
postingan akun media sosial tidak berhasil mendongkrak atau meng-counter isu
penistaan agama. Lebih jauh lagi, grup musik Slank yang mempunyai masa banyak, juga
tidak cukup kuat mengurangi atau menghilangkan isu penistaan agama. Karena untuk
kasus tertentu, seperti penistaan agama, artis tidak dapat mendongkrak untuk meredam
kegaduhan. Warganet lebih memilih opinion leader seperti ulama. Sedangkan pada akun
252
e-Proceeding | COMICOS 2017
Instagram, akun pasangan ini lebih banyak pada rencana program dan video dari istri
Basuki, yaitu Veronika Tan mengenai pandangannya tentang Jakarta. Sementara
postingan dari relawan kalangan artis pasangan ini di akun Instagram tidak terlalu
mendapat perhatian yang tinggi.
Facebook pada akun resmi pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno
viewersnya tertinggi pada video light package dan trailer version dari artis-artis
pendukung pasangan ini. Bahkan likes tertinggi berasal dari video Dini Aminarti dan
Dimas Seto. Namun komen dan reaksi dari postingan ini tidak banyak. Komen dan reaksi
tertinggi justru pada tanggal 29 Januari 2017 saat Rhoma Irama mendeklarasikan diri
mendukung pasangan ini. Postingan ini masuk dalam kategori trailer version, karena
dukungan Rhoma Irama itu bukanlah dukungan pribadi namun membawa partainya
untuk merapat dalam kubu tersebut.
Secara garis besar dapat dikatakan bahwa akun Facebook pasangan AhokDjarot
lebih banyak mengenai postingan yang mengandung headline appetite dan light package
daripada trailer version. Artinya, pasangan ini menyadari betul peran dan fungsi dari
Facebook dan Instagram. Mereka sangat menyadari bahwa banyak pengguna media
sosial adalah usia muda. Khusus untuk target yang berdomisili di Jakarta, kalangan muda
dengan tingkat pendidikan yang baik, pihak AhokDjarot sangat detail sekali dalam
memposting status-status media sosialnya. Muatan dari postingan pun lebih pada pesanpesan mendidik ketimbang hiburan semata.
Sementara itu, pihak AniesSandi postingannya lebih banyak berisi pesan yang
berkategori trailer version. Dimana kategori ini selain ada pesan yang disampaikan,
muatan postingannya pun bernuansa sensasional. Seperti postingan tanggal 26 Januari
2017, dimana Anies Baswedan sedang berbincang dengan Raffi Ahmad. Dimana konten
253
e-Proceeding | COMICOS 2017
itu lebih banyak mengandung postingan hiburan. Kategori trailer version dalam akun
Facebook dan Instagram milik Anies Baswedan dan Sandiaga Uno lebih banyak, dan
mendapat banyak reaksi daripada di pihak AhokDjarot.
Temuan lain yang menarik dalam penelitian kami adalah munculnya perempuan
dalam strategi komunikasi dalam kampanye politik. Pasangan Basuki Tjahaja Purnama
dan Djarot Saiful Hidayat banyak memposting video dari istri Basuki, yaitu Veronika
Tan. Selain dalam sisi pemberdayaan perempuan, dan untuk meraih suara perempuan,
kemunculan istri Basuki itu justru menjadi symbol baru dalam menyampaikan pesan
kepada para pemilihnya. Lebih lanjut bahwa video-video yang menampilkan Veronika
Tan berisi pesan mengenai pandangan pribadinya mengenai Jakarta. Veronika Tan, yang
selama ini mungkin kurang dikenal masyarakat Jakarta secara luas, justru
memperlihatkan kemampuannya dalam berkomunikasi. Selain itu tim kampanye
pasangan AhokDjarot juga terlihat lebih siap dari tim kampanye kompetitornya.
Pada putaran pertama ini, sangat terlihat bahwa kubu pasangan calon nomor 2
terlihat lebih siap dan matang mempersiapkan pesta demokrasi lokal itu. Yang lebih
menarik, penggunaan media sosial sudah sangat massif digunakan oleh seluruh pasangan
kandidat Gubernur DKI Jakarta. Yang lebih menarik lagi bahwa kubu pasangan calon
nomor 3 sering menggunakan layanan iklan dalam Facebook untuk memposting pesan.
Label “beriklan” dalam Facebook memiliki keunggulan bahwa kita dapat memesan pada
siapa postingan itu akan muncul. Siapa saja dan berada di mana saja. Sementara pasangan
yang satu tidak ditemukan banyak postingan dengan label iklan. Akan tetapi sangat
disayangkan bahwa konten postingan beriklan adalah muatan video atau gambar yang
tidak lepas dari sensasional.
Dari penelitian ini terlihat bahwa peran media sosial menjadi instrument penting
254
e-Proceeding | COMICOS 2017
dalam kampanye politik dalam menyebarkan pesan kepada calon pemilih. Meski
lingkupnya adalah dunia maya, namun tidak dapat di pungkiri bahwa media sosial
membuktikan menjadi wadah untuk para warganet menyampaikan aspirasi mereka.
Lebih jauh dari itu, dalam bidang politik ternyata media sosial berperan untuk meraih
simpati suara publik dan membentuk opini publik. Sayangnya, aturan beriklan di media
sosial dalam kampanye politik belum diatur dalam UU KPU. Hal ini justru menjadi celah
bagi para aktor politik untuk menggunakan media sosial dalam menyampaikan pesan
kepada para calon pemilih dengan tidak memperhatikan isi pesan. Sehingga postingan
tidak lebih hanya sebatas hiburan, dan kuran memberikan pendidikan, terutama kepada
para pemilih muda dan baru sebagai pengguna media sosial terbesar.
Hasil temuan ini menjadi penting bagi kami sebagai sebuah masukan kepada
KPU dan Bawaslu agar lebih memperhatikan aturan media sosial jelang Pemilu Raya
untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden pada tahun 2019 mendatang. Jika KPU
tidak serius menambah aturan mengenai media sosial, maka dampak yang lebih luas
bukan tidak mungkin dapat terjadi lebih besar dibandingkan demo yang terjadi di Jakarta
beberapa waktu lalu.
255
e-Proceeding | COMICOS 2017
DAFTAR PUSTAKA
Drisko, J.W., & Maschi, T. (2016). Content Analysis. New York: Oxford University
Press.
Freischlad, N. (2016). BBM Dethroned, Facebook Takes Reign As King of Social Media
in Indonesia. TechInAsia. Retrieved from https://www.techinasia.com/indonesiaweb-mobile-data-series-2016
Gainous, J. & Wagner, K.M. (2014). Tweeting to Power; The Social Media Revolution
In American Politics. New York: Oxford University Press.
Katz, J.E., Barris, M., & Jain, A. (2013). The Social Media President Barack Obama and
The Politics of Digital Engagement. New York: Palgrave Macmillan.
Koetsier, J. (2017). Facebook: Native Video Gets 10X More Shares Than YouTube.
from
Forbes.com.
Retrieved
https://www.forbes.com/sites/johnkoetsier/2017/03/13/facebook-native-videogets-10x-more-shares-than-youtube/2/#2d7ae0c96365
Kȕmpel, A.S., Karnowski, V., & Keyling, T. (2015). News Sharing in Social Media: A
Review of Current Research on News Sharing Users, Content, and Networks.
SAGE
Journal,
1.
Retrieved
from
http://journals.sagepub.com/doi/full/10.1177/2056305115610141
Harvey, K. (2014). Encyclopedia of Social Media and Politics. Singapore: SAGE.
Lim, M. (2013). Social Media Activism in Indonesia. Journal of Contemporary Asia.
43:4, 636-657, DOI: 10.1080/00472336.2013.769386
Mailanto, A. (2016). Pengguna Instagram di Indonesia Terbanyak, Mencapai 89%.
Okezone.com.
Retrieved
from
http://techno.okezone.com/read/2016/01/14/207/1288332/pengguna-instagramdi-indonesia-terbanyak-mencapai-89
Pǎtruţ B., & Pǎtruţ, M. (2014). Social Media in Politics Case Studies on The Political
Power of Social Media. London: Springer.
Wasesa, S.A. (2011). Political Branding & Public Relations. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.
Wittkower, D.E. (2010). Facebook and Phylosophy; What’s On Your Mind?. Illinois:
Carus Publishing Company.
256
e-Proceeding | COMICOS 2017
KOMODIFIKASI DALAM FENOMENA SELEBGRAM DAN BISNIS
ENDORSE INSTAGRAM
Mellysa Widyastuti17
Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Gadjah Mada
08986111344 | [email protected]
ABSTRAK
Instagram merupakan platform berbagi foto paling populer di Indonesia saat ini.
Banyaknya jumlah pengguna instagram, diikuti dengan munculnya fenomena
microcelebrity yang disebut dengan istilah selebgram. Pengguna instagram yang
terkategori sebagai selebgram mengkonstruksi dirinya di dunia maya agar memperoleh
kepopuleran yang ditandai dengan jumlah followers. Berbagai akun instagram tidak lagi
merepresentasikan ekspresi penggunanya melalui gambaran visual berupa foto,
melainkan berubah menjadi arena pajangan dari berbagai macam produk dagangan baik
yang melekat maupun terpisah dari selebgram itu sendiri. Audiens yang mengganggap
bahwa platform instagram merupakan salah satu media baginya untuk bereskpresi, dan
mencari role model atau sekedar seseorang yang memiliki minat yang sama nyatanya
secara tidak sadar telah berubah menjadi barang dagangan yang diperjualbelikan dalam
bentuk followers. Pemilik akun yang terkategori sebagai selebgram secara sengaja
memproduksi audiens yang telah tersegmentasi dan kemudian menjual audiens tersebut
kepada para pengiklan dalam hal ini onlineshop sebagai pengguna jasa endorser.
Sehingga instagram dan bisnis selebgram endorse saat ini tidak lagi berada di ruang
hampa, melainkan telah terjadi proses komodifikasi dengan mengikuti logika ekonomi
politik media mainstream dengan mata uang baru yaitu jumlah engagement berupa
followers, like, comment. Telah terjadi ketimpangan relasi kuasa antar pengguna dan
proses komodifikasi audiens untuk dijual kepada pengiklan. Selain itu telah terjadi pula
proses komodifikasi konten, dimana akun instagram tidak lagi merepresentasikan
ekspresi penggunanya melainkan terjadi perubahan nilai menjadi nilai jual produk
dagang yang terpampang dalam akun instagram selebgram.
Kata kunci: komodifikasi, selebgram, instagram, endorse
ABSTRACT
Instagram is the most popular photo sharing in Indonesia today. The large number of
instagram users, followed by the emergence of microcelebrity phenomena called
selebgram. Instagram users that categorized as a selebgram, construct themselves in
cyberspace in order to gain popularity which marked by the number of followers.
Instagram accounts no longer represent user’s expression through visual representation
of the photo, but transforms into a display arena of various product both inherent and
separate from selebgram itself. Audience who assumes that Instagram is one of the media
Mellysa Widyastuti merupakan Mahasiswa Pascasarjana Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah
Mada. Meraih gelar sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Padjadjaran. Saat ini sedang menulis tesis.
Tertarik pada eksplorasi Ilmu Komunikasi dan Teknologi terutama yang berkaitan dengan media dan
budaya di masyarakat
17
257
e-Proceeding | COMICOS 2017
for them to express, and look for role models or just someone who has the same interest.
In fact has been subconsiously turned into commodity in the form of followers. Selebgram
now produce a segmeted audience and then sell the audience to advertisers, which called
online shop as a endoser users. In selebgram and endorsement business no longer in
neutral area, but has changed into commodification process. By following politicaleconomy logic, they used new currency that is engagement, followers, like and comment.
There has been imbalance of power relations between users and the commodification
process of an audience for sale to advertisers. In addition, there has commodification of
content, where Instagram account no longer represent the expression of users, but
transforming things valued for their use into marketable products that are valued for
what they can bring in exchange.
Keyword : commodification, selebgram, instagram, endorse
Pendahuluan
Perkembangan teknologi komunikasi, yang dimulai sejak tahun 1990 secara
signifikan telah mempengaruhi proses produksi, konsumsi, dan distribusi media.
Diperkirakan, saat ini ada lebih dari 132 juta pengguna internet di Indonesia (Kompas,
2016). Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi memunculkan platform untuk
saling berbagi yang disebut dengan media sosial. Selama lima belas tahun terakhir ini,
Indonesia telah menjadi salah satu negara yang sering dibahas berkaitan dengan
penggunaan internet dan media sosial: mulai dari hal-hal yang bersifat hiburan,
perkembangan ekonomi, sampai masalah kemanusiaan. Jika ada istilah yang dapat
menggambarkan masyarakat Indonesia dalam menggunakan internet dan media baru
saat ini, bisa jadi istilah itu adalah generasi yang ‘selalu on-line’ (Nugroho, 2012:30).
Kemajuan teknologi, memunculkan web 2.0 yang menjadikan media web sebagai
media interaktif karena memunculkan fasilitas feedback kepada pengguna. Dengan ciri
share, collaborate, dan exploit. Sebagian orang melihat perkembangan ini secara positif
karena berpotensi untuk membuka pintu-pintu baru bagi demokrasi dan kreatifitas
masyarakat. Hal ini didukung oleh fitur khusus media digital yang memungkinkan
fleksibilitas konvergen media, distribusi muatan, partisipasi pengguna dan kendali
258
e-Proceeding | COMICOS 2017
pengguna atas muatan media tersebut (Nugroho, 2012: 2). Di lain pihak, kritik
beranggapan bahwa opini yang menyatakan kehadiran media digital seperti saat ini akan
mampu memberikan kebebasan berekspresi, kemudahan mendapatkan informasi bagi
semua orang merupakan mimpi belaka. Hal ini disebabkan, meskipun dianggap memiliki
kebebasan dalam berekspresi, muatan media digital dianggap tetap dipengaruhi oleh
kekuatan-kekuatan sosial tertentu. .
Tidak dapat dipungkiri, meskipun memiliki konteks dan cara kerja baru sebagai
sebuah platform media sosial tetaplah dipengaruhi oleh berbagai macam hal. Terutama
berkaitan dengan posisinya di sistem sosial. Media secara umum dipengauhi oleh tiga
faktor utama, yakni ekonomi, politik, dan teknologi. Dalam hal ekonomi, tentunya
pemilik media mengharapkan dirinya dapat memeroleh keuntungan sebesar-besarnya
dalam menjalankan bisnisnya. Politik, kekuatan media dapat digunakan pemilik media
untuk pula menguasai politik sosial. Teknologi berkaitan dengan berkembangnya produk
media dengan menghasilkan produk media yang praktis. (McQuail, 1994:63)
Penggunaan jejaring sosial seperti facebook, twitter, instagram, youtube, dan
path sebagai media untuk melancarkan berbagai kebutuhan seperti kepentingan politik
secara umum, bahkan untuk kepentingan pemenuhan kebutuhan ekonomi seperti
berjualan telah lama terjadi melalui berbagai macam kreativitas yang dikembangkan.
Penggunaan jejaring sosial untuk kepentingan politik seperti kampanye sendiri justru
telah lebih dahulu populer.
Media massa dan perusahaan pun kini merambah media sosial dengan membuat
akun-akun resmi di media sosial sebagai upaya merambah jaringan. Di masa lalu,
perusahaan banyak menggantungkan proses komunikasi melalui media yang harus
259
e-Proceeding | COMICOS 2017
mereka bayar. Tidak mengherankan bila proses pembentukan citra perusahaan relatif
lambat dan sangat tergantung pada besarnya anggaran komunikasi. Dengan
adanya media sosial, perusahaan mulai melangkah dari proses komunikasi yang
menggunakan paid media menjadi owned media. Perusahaan secara individu memiliki
media sendiri. Mereka memiliki alamat situs maupun akun media sosial mereka sendiri.
(MediaWave, 2014)
Sehingga di masa kini, media sosial tidak lagi mrupakan lapangan luas yang
terbuka dan hanya berisi kebebasan untuk bereskpresi. Namun media sosial kini telah
bertransformasi menjadi lahan baru dunia periklanan dan pembentukan citra. Media
sosial kini mau tidak mau diperhitungkan sebagai lanskap industri dengan
memperhitungkan keterwakilan individu yang dianggap secara nyata berada dibalik
setiap akun yang ada di dunia maya.
Ruang kreatif yang disediakan oleh media sosial kemudian memunculkan suatu
fenomena baru, yakni munculnya selebriti baru di media sosial. Diawali dengan
munculnya selebriti di ranah twitter seperti @pocoooong, dan @radityadika, dan
fenomena selebriti dadakan yang berasal dari youtube seperti Briptu Norman Kamaru
dan Sinta dan Jojo. Fenomena selebriti dadakan kini merambah dunia instagram.
Selebgram, begitulah selebriti dunia instagram disebut. Berbagai akun instagram tidak
lagi merepresentasikan ekspresi penggunanya melalui gambaran visual berupa foto,
melainkan berubah menjadi arena pajangan atau display dari berbagai macam produk
dagangan. Akun-akun yang memiliki pengikut cukup banyak di instagram atau biasa
disebut selebgram kini tak ubahnya menjadi alat baru dalam beriklan. Muncul kemudian
istilah endorse. Akun-akun seperti @d_kadoor, @rachelvenya, @dorippu, @gitasav,
260
e-Proceeding | COMICOS 2017
@cindercella, @awkarin yang pada dasarnya bukanlah seorang yang terkenal di jagat
hiburan media massa, mendadak menjadi selebritas di dunia instagram. Dengan
demikian pula banyak penjual barang memilih untuk menjadikan akun mereka sebagai
pilihan untuk beriklan.
Media baru menghasilkan angka-angka berupa jumlah pengunjung halaman
website, jumlah friends, likes dalam facebook, dan followers dalam twitter, instagram.
Angka-angka tersebut yang disebut dengan engagement kemudian menarik pengiklan
untuk memanfaatkannya, yang dalam kasus ini merupakan pengiklan dengan skala
mikro. Audiens yang tadinya mengganggap bahwa platform instagram merupakan salah
satu media baginya untuk bereskpresi, dan mencari role model atau sekedar seseorang
yang memiliki minat yang sama nyatanya secara tidak sadar telah berubah menjadi
barang dagangan yang diperjualbelikan. Seperti diungkapkan Vincent Mosco bahwa
komodifikasi berkaitan dengan proses sebuah proses untuk mengubah nilai sebuah
barang atau jasa kedalam produk yang bisa dijual serta dapat dinilai sehingga dapat
ditukarkan dengan barang atau jasa lainnya (Mosco, 2009:127). Menjadi menarik untuk
melihat bagaimana fenomena kemunculan selebgram, dan endorse, dalam kacamata
ekonomi politik media terutama kaitannya dengan perubahan nilai pesan dan audiens
dalam bisnis ini.
Kerangka Konsep
Media sosial
Kemajuan teknologi, memunculkan web 2.0 yang menjadikan media web sebagai
media interaktif karena memunculkan fasilitas feedback kepada pengguna. Dengan ciri
share, collaborate, dan exploit. Web 2.0 inilah yang kemudian melahirkan media sosial.
261
e-Proceeding | COMICOS 2017
Media sosial didefinisikan sebagai serangkaian kegiatan yang mengintergrasikan
penggunaan teknologi dan interaksi sosial untuk berbagi pembicaraan, gambar, video
dan suara. (Hollenhorst & Michael dalam (Wijayanto, 2014:143). Media sosial
memberikan ruang bagi masyarakat untuk “bertemu” dan bertukar informasi dengan
orang yang bahkan tidak ia kenal sebelumnya. Media sosial dapat membantu orang-orang
membentuk sebuah forum sebagai wadah berkumpul dan bertukar informasi,
menyatukan orang-orang dari berbagai belahan dunia yang memiliki interest yang sama
serta membantu membangun relasi dengan berbagai orang dari berbagai kalangan.
Media sosial adalah dimensi baru berkomunikasi media. Media sosial merupakan
turunan dari perkembangan komunikasi bermedia komputer atau Computer Mediated
Communication (CMC). John December dalam (Wijayanto, 2014:143) mendefinisikan
CMC sebagai proses komunikasi manusia dengan menggunakan komputer yang
melibatkan sejumlah orang, dalam situasi dengan beragam konteks, yang terjadi dalam
proses untuk membentuk media dengan berbagai tujuan. Dengan perkembangan jumlah
pengguna yang cukup besar, akun-akun sosial media berkembang menjadi dua platform
dengan fungsi berbeda. Secara umum ada yang berfungsi sebagai jejaring sosial, tempat
membagikan status dan foto seperti facebook, twitter, instagram, youtube, dan path. Dan
media sosial tempat berkomunikasi satu sama lain seperti line, we chat, kakao talk,
whatsapp, telegram. Dalam artikel ini media sosial yang menjadi fokus adalah Instagram
yang dari fiturnya dapat merangkum jenis microblogging dan jejaring sosial.
Instagram adalah sebuah aplikasi berbagi foto yang memungkinkan pengguna
mengambil foto, menerapkan filter digital, dan membagikannya ke berbagai layanan
jejaring sosial, termasuk milik Instagram sendiri. Satu fitur yang unik di Instagram adalah
262
e-Proceeding | COMICOS 2017
memotong foto menjadi bentuk persegi, sehingga terlihat seperti hasil kamera Kodak
Instamatic dan polaroid. Perusahaan Burbn, Inc. Sang pengembang Instagram berdiri
pada tahun 2010, perusahaan teknologi startup yang hanya berfokus kepada
pengembangan aplikasi untuk telepon genggam. Pada awalnya Burbn, Inc. sendiri
memiliki fokus yang terlalu banyak di dalam HTML5 peranti bergerak, namun kedua
CEO, Kevin Systrom dan Mike Krieger memutuskan untuk lebih fokus pada satu hal saja
(Instagram, 2016). Instagram merupakan situs berbagi foto (media sharing site) yang
resmi diluncurkan pada Oktober tahun 2010 dan telah terdata memiliki 500 juta
pengguna aktif dengan 40 juta foto yang diunggah setiap harinya. Di Indonesia sendiri
pengguna Instagram telah mencapai 22 juta. (Karimuddin, 2016).
Dalam Instagram sendiri terdapat sebuah sistem sosial dengan menjadi mengikuti
akun pengguna lainnya, atau memiliki pengikut Instagram yang disebut followers. Selain
foto, pengguna juga dapat mengunggah video. Like, pengguna Instagram bisa memberi
apresiasi terhadap foto yang diunggah dengan tombol “like” berbentuk hati. Comment,
penggguna Instagram bisa mengomentari foto yang diunggah dan mendapatkan feedback
dari pemilik akun. Dengan demikian komunikasi antara sesama pengguna Instagram
sendiri dapat terjalin dengan memberikan tanda suka dan juga mengomentari foto-foto
yang telah diunggah oleh pengguna lainnya. Pengikut juga menjadi salah satu unsur yang
penting, dan jumlah tanda suka dari para pengikut sangat mempengaruhi apakah foto
tersebut dapat menjadi sebuah foto yang populer atau tidak. Untuk menemukan temanteman yang ada di dalam Instagram, dapat menggunakan teman-teman mereka yang juga
menggunakan Instagram melalui jejaring sosial seperti Twitter dan juga Facebook.
Selebriti
263
e-Proceeding | COMICOS 2017
Menurut Turner ada tiga jenis selebriti pertama, komentator diberbagai media
populer, termasuk kolumnis yang disebut sebagai selebriti di dunia modern. Kedua,
orang-orang yang memiliki kualitas alami, biasanya hal tersebut dimiliki oleh orangorang tertentu dan biasanya bakatnya ditemukan oleh industri pencari bakat. Ketiga,
menjadi selebriti berarti melibatkan sejumlah proses budaya dan ekonomi (Turner,
2004:4). Hal tersebut melibatkan sejumlah komodifikasi dari individu melalui berbagai
program promosi, publikasi dan periklanan, implikasinya adalah selebriti adalah sebuah
proses dimana identitas kultural di negosiasikan dan dibentuk. Contohnya model
selebritin yang terkenal karena gosip panas bernada miring, atau terlebih skandal.
Dalam dunia serba digital saat ini munculah selebriti dengan cakupan yang lebih
sempit dibandingkan ketiga definisi diatas yakni microcelebrity. Terri Senft dalam
(Marwick, 2015), mendefinisikan microcelebrity sebagai “a new style of online
performance in which people employ webcams, video, audio, blogs, and social
networking sites to ‘amp up’ their popularity among readers, viewers, and those to whom
they are linked online”. Microcelebrity juga dapat didefinisikan sebagai serangkaian
kegiatan yang dimana khalayak dikonstruksi sebagai sebuah basis penggemar,
popularitas menjadi hal yang dikontruksi melalui manajemen tertentu dan selfpresentation menjadi barang konsumsi umum.
Ada dua jenis microcelebrity menurut Marwick, kategori pertama adalah selebriti
mainstream yang kemudian mengakses media sosial untuk menciptakan interaksi dengan
penggemarnya di dunia maya. Biasanya akun media sosialnya dikelola oleh manajer
khusus yang akan membagikan berbagai kehidupan selebriti tersebut di dunia nyata,
sekaligus membangun hubungan dengan penggemarnya melalui serangkaian interaksi.
264
e-Proceeding | COMICOS 2017
Kedua, microselebrity yang memang secara teknis adalah orang biasa yang membuka
sisi kehidupannya untuk dikonsumsi orang lain, menggunakan serangkaian strategi untuk
menjangkau followers yang lebih banyak dan menjadikannya khalayak media sosialnya.
Mereka biasanya memberikan serangkaian kontruksi personal guna menarik
khalayaknya. Misalnya saja melalui ketertarikan terhadap olahraga, fashion, makanan.
Untuk istilah sendiri, biasanya tergantung pada jenis media sosial dimana mereka
menjadi populer. Selebtwit untuk twitter, Blogger, untuk blog, Vlogger untuk video blog,
Youtuber untuk youtube, Selebgram untuk instagram. Untuk instagram sendiri, sebuah
akun dapat dikategorikan selebgram jika telah memiliki followers minimal 1000.
Endorser
Menurut Sonwalkar, et al (2011) endorser merupakan strategi promosi yang
sudah lama digunakan oleh perusahaan-perusahaan untuk meningkatkan penjualan
produk. Mereka menyebutkan bahwa endorsement adalah sebuah bentuk komunikasi
dimana seorang selebriti bertindak sebagai juru bicara dari sebuah produk atau merek
tertentu. Nilai tambahan dari penggunaan endorser adalah selebriti dapat dengan jelas
memposisikan merek yang diwakilinya sesuai dengan kepribadian dan popularitas yang
mereka miliki.
Sonwalkar, et al (2011) menyebutkan bahwa selebriti pendukung biasanya
digunakan untuk produk yang memiliki biaya produksi tinggi dan memiliki sasaran
konsumen yang sangat luas. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa penggunaan selebriti
pendukung lebih efektif digunakan pada merek global daripada merek yang memiliki
pasar niche. Merujuk pada penggunaan selebriti yang menciptakan nilai tambahan bagi
perusahaan, maka semakin banyak perusahaan yang menggunakan celebrity pada
265
e-Proceeding | COMICOS 2017
iklannya.
Ekonomi Politik
Mosco mendefinisikan komunikasi sebagai “a social process of exchange, whose
product is the mark or embodiment of a social process of a social relationship.” (Mosco,
2009:67). Pendekatan ekonomi politik komunikasi memusatkan perhatian pada
bagaimana komunikasi dikonstruksi secara sosial, bagaimana kekuatan sosial
memberikan kontribusi pada pembentukan saluran komunikasi, dan pada bagaimana
rangkaian pesan disampaikan melalui saluran tersebut
Ekonomi politik menurut Mosco (2009:3) adalah ”study of control and survival
in social life”. Sedangkan secara sempit, ekonomi politik bisa diartikan sebagai:
The study of the social relations, particularly the power relations, that mutually
constitute the production, distribution, and consumption of resource, including
communication resources. (Mosco,2009:2)
Pandangan ekonomi politik berdasar pada pandangan bahwa institusi media atau institusi
komunikasi tidak berada di ruang hampa. Pada kenyataannya keberadaan institusi media
harus dilihat secara reflektif dan kritis terutama dalam hubungannya dengan aspek sosial,
budaya, dan tentu saja ekonomi, politik. Selain itu kepemlikan media oleh sekelompok
elit penguasa mengakibatkan munculnya dominasi wacana publik sesuai kepentingan
pemilik media. Keberadaan institusi media harus dipandang sebagai institusi yang
berpusat pada bisnis yang mau tidak mau harus menguntungkan. Sehingga pada akhirnya
terjalin hubungan antara siapa yang memiliki institusi media. Siapa yang memiliki
institusi media akan menentukan pesan dan isi media seperti apa yang akan diproduksi.
Studi mengenai institusi media dalam kacamata ekonomi politik menjadi penting karena
studi ini memusatkan perhatian pada struktur kekuasaan yang mempengaruhi proses
266
e-Proceeding | COMICOS 2017
produksi media, ketimbang pada muatan atau ideologi media seperti seharusnya.
Komodifikasi
Komodifikasi dalam pandangan Mosco sebagai salah satu pintu masuk
memahami Ekonomi Politik Media didefinisikan sebagai sebuah proses untuk mengubah
nilai sebuah barang atau jasa kedalam produk yang bisa dijual serta dapat dinilai sehingga
dapat ditukarkan dengan barang atau jasa lainnya (Mosco, 2009:127). Ada dua dimensi
umum signifikansi hubungan komodifikasi dengan komunikasi. Pertama proses
komunikasi dan teknologi berkontribusi pada proses umum komodifikasi dalam ekonomi
sebagai sebuah kesatuan yang menyeluruh. Kedua proses komunikasi yang terjadi dalam
masyarakat sebagai proses komunikasi dan lembaga menembus keseluruhan proses,
sehingga perbaikan dan kontradiksi dalam komodifikasi masyarakat mempengaruhi
proses komunikasi sebagai praktek sosial (Mosco, 2009:130). Mosco menyatakan bahwa
studi ekonomi politik hanya memfokuskan pada proses komodikasi yang dianggap
sebagai: “a specific form of this process whereby the “thing” that acquires phantom
objectivity is a commodity, that is, an object whose value is established in the
marketplace.”
Ada tiga bentuk komodifikasi, yakni komodifikasi pesan, komodifikasi khalayak,
komodifikasi pekerja. Menurut Mosco (2009:133) proses komodifikasi pesan dalam
komunikasi melibatkan proses transformasi pesan yang bervariasi dari sistem data dan
sistem pemikiran ke dalam produk pesan yang bisa dijual. Kecenderungan umum dalam
penelitian komunikasi memfokuskan komodifikasi konten sebagai bagian dari perluasan
komoditas, dengan mengidentifikasi hubungan antara status komoditas dari konten dan
maknanya. Sejumlah penelitian telah mendokumentasikan bahwa media massa saat ini
267
e-Proceeding | COMICOS 2017
telah memperluas proses komodifikasi dengan memproduksi pesan yang sesuai dengan
kepentingan pemilik modal. Kehadiran media baru sendiri dipandang memperluas
peluang untuk mengkomersialkan konten karena mereka secara fundamental didasarkan
pada proses digitalisasi, yang mengacu pada transformasi komunikasi, termasuk data,
kata, gambar, film, dan suara, menjadi bahasa umum. Sementara Graham, Dallas
Smythe pada tahun 1977 (dalam Mosco 2009:135) mengatakan bahwa komodifikasi
audiens adalah komodifikasi media yang paling primer. Baginya, proses ini melibatkan
tiga pihak sekaligus dalam sebuah hubungan timbal balik, yakni perusahaan media,
penonton, dan pengiklan. Smythe (dalam Mosco, 2009:137) menggungkapkan bahwa
media massa dibangun melalui sebuah proses yang membuat perusahaan media
memproduksi audiens dan kemudian ’menjual’ audiens kepada para pengiklan. Proses
komodifikasi menyeluruh mengintegrasikan industri media ke dalam ekonomi kapitalis
keseluruhan yang fokus utamanya justru bukan dengan menciptakan ideologis jenuh
produk tetapi dengan memproduksi penonton, secara massal dan spesifik secara
demografis sesuai yang diinginkan, untuk pengiklan. Produksi khalayak untuk ekonomi
kapitalis umum yang merupakan komodifikasi yang berfokus pada proses daripada
produksi ideologi.
Metode
Paradigma yang digunakan dalam penelitian ini adalah pardigma kritis. Penulis
menggunakan paradigm ini untuk mencari makna tersembunyi pada objek yakni
selebritis Instagram dan bisnis endorse. Metode yang digunakan adalah deskriptif
kualitatif. Proses pengumpulan data primer dilakukan dengan penelusuran langsung di
268
e-Proceeding | COMICOS 2017
Instagram terhadap akun-akun selebgram, online shop, dan Instagram secara umum serta
wawancara yang dilakukan kepada pemilik akun Instagram yang berperan sebagai
selebgram, online shop pengguna jasa selebgram, dan followers akun selebgram.
Sementara data sekunder dikumpulkan dari studi pustaka terhadap paper, artikel, jurnal
kajian yang sesuai dengan rumusan masalah.
Pembahasan
Instagram, Selebgram dan Bisnis Endorse
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi ini kemudian memunculkan
platform untuk saling berbagi yang disebut dengan media sosial. Salah satu jenis media
sosial itu adalah Instagram. Instagram adalah sebuah aplikasi berbagi foto yang
memungkinkan
pengguna
mengambil
foto,
menerapkan
filter
digital,
dan
membagikannya ke berbagai layanan jejaring sosial, termasuk milik Instagram sendiri.
Instagram di Indonesia saat ini telah mencapai 22 juta pengguna di tahun 2016.
Banyaknya jumlah pengguna Instagram, dibarengi dengan munculnya fenomena
microcelebrity. Microcelebrity adalah serangkaian kegiatan yang dimana khalayak
dikonstruksi sebagai sebuah basis penggemar, popularitas menjadi hal yang dikontruksi
melalui manajemen tertentu dan self-presentation menjadi barang konsumsi umum
(Marwick, 2015). Dalam kasus ini para pengguna Instagram mengkonstruksi dirinya di
dunia maya agar memperoleh kepopuleran yang ditandai dengan jumlah followers. Di
Instagram microselebrity itu sendiri disesbut dengan istilah Selebgram
Berbagai akun instagram tidak lagi merepresentasikan ekspresi penggunanya
melalui gambaran visual berupa foto, melainkan berubah menjadi arena pajangan atau
display dari berbagai macam produk dagangan. Akun-akun yang memiliki pengikut
269
e-Proceeding | COMICOS 2017
cukup banyak di instagram atau biasa disebut selebgram kini tak ubahnya menjadi alat
baru dalam beriklan. Muncul kemudian istilah endorse. Akun-akun seperti @d_kadoor,
@rachelvenya, @dorippu, @gitasav, @cindercella, @awkarin yang pada dasarnya
bukanlah seorang yang terkenal di jagat hiburan media massa, mendadak menjadi
selebritas di dunia instagram. Para selebgram ini menjual cerita, keunikan, kelucuan,
kecantikan, fashion, dan berbagai hal untuk menarik followers dan menjadikan mereka
sebagai selebgram (Widyaningrum, 2016)
Gambar 1. Akun d_kadoor ketika mengendorse tas
Fenomena selebgram ini banyak diminati oleh para online shop yang bergerak
melalui Instagram sebagai media pemasarannya. Melalui sistem endorse selebgram, para
online shop ini berusaha mencapai dengan tujuan utama supaya produknya laku
dipasaran, menambah followers atau sekedar menciptakan brand awareness. Menurut
pengakuan Nadia pemilik akun @_namosh baginya endorse seorang selebgram yang
biasanya langsung menambah drastis jumlah followers. Dari berbagai pengakuan
pebisnis online, jika menggunakan selebgram jumlah followersnya dapat meningkat
1000-2000 followers perh hari. Bagi pebisnis online, jumlah followers itu dianggap akan
berbanding lurus dengan minat pembelian terhadap barang mereka. Foto-foto yang
270
e-Proceeding | COMICOS 2017
dibuat oleh selebgram bisa menjadi testimonial menjanjikan sebuah online shop sehingga
banyak menarik calon konsumen.
Gambar 2. Testimoni dari pengguna jasa artis BFF Management
Dalam kasus instagram dan selebgram sendiri, ada berbagai macam jenis endorse.
Seperti free endorse, dimana satu posting hanya diganjar dengan barang yang diperoleh
secara gratis. Ada pula yang menggunakan sistem berbayar, yang terbagi atas paid
promoted dan paid endorse, dan jenis-jenis lain tergantung kesepakatan antara pengiklan
dan selebgram itu sendiri. Paid promoted adalah jenis endorse dimana selebgram hanya
perlu merepost foto barang yang dijual pengiklan tanpa melakukan sesi foto khusus,
berbeda dengan paid endorse yang mengharuskan selebgram menggunakan barang
tersbeut dalam sebuah post khusus. Beberapa selebgram menangani sendiri jika ada
online shop yang ingin mempromosikan produknya. Adapula selebgram yang
mempunyai manajemen tersendiri, misalnya sfspretty.management yang menaungi
@joyagh,
@iymel,
@nissacookie,
@ellendmuzakky,
dan
@helminursifah
mengungkapkan bahwa tarif untuk satu kali promosi berkisar antara 500-650ribu rupiah.
271
e-Proceeding | COMICOS 2017
Dengan syarat dan ketentuan tertentu. Alur untuk endorse berbayar sendiri biasanya
diawali dari pengiklan mengontak selebgram atau manajemen yang mewakilinya, lalu
selebgram memilih barang yang bersedia dia kenakan dan terjadilah transaksi
pembayaran. Baru kemudian selebgram akan memposting barang tersebut sesuai
perjanjian yang disepakati.
Komodifikasi Selebgram
Media sosial yang pada masa kemunculannya dianggap sebagai platform
alternatif untuk mendapatkan banyak hal dengan yang masih bersifat ‘netral’, dan tidak
memiliki tendensi kepentingan tertentu seperti halnya media massa mainstream,
nyatanya telah berubah seiring dengan berjalannya waktu. Logika pasar yang bermain
akhirnya sama seperti logika media massa, memeroleh pengikut sebanyak-banyaknya
untuk kemudian dijual kepada pengiklan. Angka pengikut tersebut kemudian dilakukan
dengan banyak cara, melalui aksi lucu, original, baru, bahkan mengandung kontroversi
(Widyaningrum, 2016). Semuanya berujung pada memeroleh keuntungan tertentu.
Saat itulah terjadi relasi kuasa antar pengguna dan proses komodifikasi audiens
untuk dijual kepada pengiklan. Audiens secara awam memandang bahwa media sosial
berada di ruang hampa, dimana tidak ada kepentingan apapun yang menaunginya. Studi
politik ekonomi sendiri telah mengungkapkan bahwa terdapat hubungan-hubungan
sosial terutama hubungan kekuasaan yang biasanya terjadi dalam proses produksi,
distribusi dan konsumsi sebagai bagian dari sebuah proses komunikasi (Mosco, 2009:2).
Audies tidak menyadari hubungan tersebut, semua itu dikarenakan adanya ilusi kontrol
penuh terhadap media yang dimiliki. Para pengguna media sosial merasa bahwa dirinya
memiliki kebebasan penuh di dunia maya. Tidak ada aturan yang mengikat. Tidak ada
272
e-Proceeding | COMICOS 2017
lembaga khusus yang mengatur media sosial. Demikian pula tidak ada pihak yang lebih
berkuasa seperti media mainstream berkuasa pada apa yang akan dinikmati audiensnya.
Netizen, sebutan bagi masyarakat dunia maya, menganggap bahwa apa yang dilihatnya
di media sosial merupakan hasil dari kontrolnya dengan memfollow mereka yang
memiliki minat sama. Padahal Fusch menyatakan bahwa pengguna media sosial
(facebook) yang berfungsi baik sebagai konsumen maupun produsen informasi di media
sosial cenderung dieksploitasi oleh pengelola media sosial tersebut (Fusch, 2012:139).
Pada fenomena selebgram dan endorse, telah terjadi proses komodifikasi.
Perusahaan media dalam kasus ini adalah pemilik akun yang terkategori sebagai
selebgram secara sengaja memproduksi audiens yang telah tersegmentasi dan kemudian
’menjual’ audiens tersebut kepada para pengiklan dalam hal ini online shop sebagai
pengguna
jasa
endorser.
Proses
komodifikasi
sendiri
secara
menyeluruh
mengintegrasikan industri media ke dalam ekonomi kapitalis keseluruhan yang fokus
utamanya justru bukan dengan menciptakan ideologis jenuh produk tetapi dengan
memproduksi penonton, secara massal dan spesifik secara demografis sesuai yang
diinginkan, untuk pengiklan (Smythe (dalam Mosco, 2009:137)).
Dalam fenomena ini telah terjadi tiga jenis komodifikasi seperti yang
diungkapkan oleh Mosco. Yakni komodifikasi konten dan komodifikasi audiens.
Komodifikasi konten terjadi saat akun instagram selebgram tidak lagi merepresentasikan
ekspresi penggunanya melalui gambaran visual berupa foto, melainkan berubah menjadi
arena pajangan atau display dari berbagai macam produk dagangan. Meskipun pada
kasus paid endorse barang dagangan dari pengiklan digunakan oleh objek dalam hal ini
selebgram itu sendiri, namun pada akhirnya tetap merubah nilai dari posting tersebut.
273
e-Proceeding | COMICOS 2017
Posting tersebut tidak lagi bebas nilai, melainkan memiliki tujuan khusus sesuai pesanan
dari pengiklan. Seperti diungkapkan oleh pengguna Instagram yang memfollow
@joyagh, Adanti bahwa sebenarnya akan terlihat mana posting yang merupakan pesanan
mana yang tidak. Senada, Desy mengungkapkan sebenarnya tidak apa-apa jika
selebgram memposting gambar yang merupakan bagian dari endorse asalkan tidak
terlalu banyak dan sesuai dengan kepribadian yang dicitrakan oleh selebgram tersebut.
Jika tidak, keduanya mengaku akan meninggalkan akun tersebut karena sudah tidak
sesuai dengan motif awal mereka mengikuti akun tersebut, yakni untuk mendapatkan
referensi dalam hal fashion. Berbeda dengan Eki yang merupakan salah satu selebgram
jogja, menurutnya posting pesanan bukanlah satu hal yang salah karena telah terjadi
simbiosis mutulisme antara pengiklan dan pemilik akun instagram. Sayangnya ada
audiens yang terlupakan dalam pendapat simbiosis ini. Audiens mau tidak mau harus
mengkonsumsi gambar yang terdapat muatan iklan di dalamnya, padahal sebelumnya hal
tersebut bukanlah bagian dari tujuan mereka memfollow akun tersebut. Sayangnya masih
banyak dari audiens yang tidak menyadari bahwa konten-konten tersebut telah
dikomodifikasi demi kepentingan pihak tertentu, dalam hal ini adalah pengiklan dan
selebgram itu sendiri. Konten yang tadinya berisi ekspresi dari para pengguna instagram
yang berkaitan dengan minat, hobi, ekspresi, bagian hidupnya yang kemudian menarik
followers untuk mengikuti ‘cerita’ yang ditawarkan tersebut kini berubah menjadi
layaknya etalase pajangan dagangan. Pada proses inilah telah terjadi komodifikasi yakni
perubahan nilai dari konten yang tadinya merupakan konten murni yang
mengekspresikan diri pengguna menjadi konten yang memiliki kepentingan untuk
meraih keuntungan tertentu. Sementara sebagai followers, para pengikut akun ini tidak
memiliki kuasa untuk menolak konten ini kecuali dengan melakukan tindakan unfollow.
274
e-Proceeding | COMICOS 2017
Komodifikasi yang kedua adalah komodifikasi audiens. Audiens yang tercermin
dalam jumlah followers menjadi modal khusus yang dimiliki oleh para Selebgram. Para
selebgram
berlomba
untuk
memperoleh
followers
sebanyak
mungkin
yang
menjadikannya selebgram. Followers dalam kasus ini mendekati konsep modal sosial,
menurut teori Social Capital dari Putnam (1995), seseorang dengan modal sosial yang
tinggi akan mudah memberikan pengaruh bagi kondisi sosial. Demikian pula dengan
perbincangan yang terjadi di media sosial. Seseorang dengan modal sosial yang tinggi
dalam hal ini followers memberikan kemungkinan untuk menggerakan mobilitas sosial
secara virtual. Dengan demikian, dalam bisnis media sosial saat ini, jumlah followers
yang banyak sering dikaitkan dengan kemungkinan pergerakan yang sama banyaknya
pula. Seperti halnya logika pada media mainstream bahwa yang dijual adalah oplah,
rating, dan pendengar, pada media baru yang dijual adalah jumlah pengunjung halaman
website, jumlah friends, likes dalam facebook, dan followers dalam twitter, instagram
(Widyaningrum, 2016). Angka-angka tersebut yang disebut dengan engagement
kemudian dijual kepada pengiklan, yang dalam kasus ini merupakan pengiklan dengan
skala mikro. Namun tetap saja ada proses perubahan nilai audiens. Audiens yang tadinya
mengganggap bahwa platform instagram merupakan salah satu media baginya untuk
bereskpresi, dan mencari role model atau sekedar seseorang yang memiliki minat yang
sama nyatanya secara tidak sadar telah berubah menjadi barang dagangan yang
diperjualbelikan. Pada akhirnya, para pengiklan ini mengiklankan produknya pada akun
selebgram dengan tujuan untuk menarik followers yang dimiliki oleh akun selebgram
untuk juga mengikuti akunnya.
Ketiga, komodifikasi pekerja. Selebgram yang tergabung dalam sebuah
manajemen endorse secara tidak langsung telah dimanfaatkan oleh pengiklan dan
275
e-Proceeding | COMICOS 2017
manajemen endorse untuk membuat posting yang bisa saja jauh sekali dari
kepribadiannya. Belum lagi berbagai macam kasus yang terjadi di luar negeri, dimana
banyak selebgram yang mengaku stress karena harus memenuhi ekspektasi followersnya
agar tidak kehilangan mereka dan kehilangan pengiklan.
“Seorang selebgram usia 19 tahun yang terkenal di Australia, Essena O’Neill,
mengejutkan para penggemar dengan tindakannya keluar dari Instagram. Ia
menyatakan bahwa kehidupan yang selama ini ia tampilkan di media sosial
bukanlah real life. Ia kemudian banyak mengeluarkan pernyataan tentang betapa
‘menderitanya’ ia dalam upayanya menjadi sosok yang sempurna di media
sosial.” (Oemar, 2016)
Memang belum pernah terjadi kasus selebgram di Indonesia, terutama yang berkaitan
dengan bagaimana selebgram tersebut mengambarkan dirinya di instagram. Namun patut
menjadi catatan khusus, mengingat jumlah pengiklan yang berminat untuk melakukan
kerjasama iklan sangatlah banyak. Bahkan untuk memperoleh satu buah posting saja
harus menunggu antrian tertentu. Para selebgram ini tidak lagi memiliki kebebasan untuk
mengekspresikan dirinya sesuai dengan apa yang dia inginkan, melainkan harus sesuai
dengan pesanan dari pihak pengiklan. Secara tidak langsung para selebgram ini telah
dikomodifikasi sebagai bagian dari bahan jualan manajemen endorse itu sendiri. Dengan
demikian para selebgram ini juga telah menjadi bagian dari komodifikasi personal diri
mereka yang bahkan tidak menyatakan dirinya secara gamblang bahwa dirinya adalah
seorang pekerja, meskipun memang mendapatkan penghasilan yang tidak sedikit dari
bisnis instagram ini.
Fenomena endorse sendiri bukan merupakan barang baru. Endorser merupakan
strategi promosi yang sudah lama digunakan oleh perusahaan-perusahaan untuk
meningkatkan penjualan produk mereka. Sonwalkar, et al (2011) menyebutkan bahwa
endorsement adalah sebuah bentuk komunikasi dimana seorang selebriti bertindak
276
e-Proceeding | COMICOS 2017
sebagai juru bicara dari sebuah produk atau merek tertentu. Nilai tambahan dari
penggunaan endorser adalah selebriti dapat dengan jelas memposisikan merek yang
diwakilinya sesuai dengan kepribadian dan popularitas yang mereka miliki. Bedanya
dalam bisnis selebgram ini selebgram lebih diuntungkan, karena tidak terikat kontrak
khusus dengan merk tertentu. Sehingga dapat menjadi endorser untuk berbagai macam
produk dari jenis apapun.
Diskusi
Fenomena microcelebrity di instagram atau yang populer disebut selebgram yang
kini muncul sebenarnya merupakan duplikasi konsep microcelebrity di media sosial
lainnya seperti yang terjadi di twitter, youtube, dan blog. Pembentukan selebritis sendiri
berdasarkan karakteristiknya dimulai dari hubungan saling mempengaruhi antara
kehidupan pribadi dan publik. Seorang individu dijadikan selebriti pada titik dimana
terdapat liputan mengenai dirinya pada ranah pribadi di muka umum (Turner, 2014).
Kebutuhan akan informasi mengenai kehidupan pribadi tokoh idola maupun tokoh yang
dianggap mewakili dirinya membuat bisnis selebriti ini terus berkembang.
Sebuah konsep penting juga disampaikan Dan Brockington, bahwa selebriti eksis
karena mereka juga membantu orang lain untuk menghasilkan uang. Didukung oleh
Turner bahwa selebriti membangun persona publik mereka untuk kepentingan komersial
(Turner, 2014). Namun bedanya, selebgram ini memiliki nilai ekonomi yang berbeda
dibanding pendahulunya. Bisnis iklan dan endorse selebgram justru didukung oleh
sistem dasar aplikasi Instagram yang menjadi penyedia layanan. Selain itu, banyak
selebritis juga menggunakan Instagram sebagai alat untuk personal branding begitu pula
beberapa pengguna yang menjadi terkenal karena persona Instagramnya yang kini
disebut selebgram. Pada kondisi inilah iklan berbayar mulai masuk pada kultur unik
277
e-Proceeding | COMICOS 2017
Instagram. Iklan berbayar sendiri baru muncul di Instagram baru-baru ini setelah mereka
memiliki basis pengguna yang kuat. Iklan ini mulai muncul pada newsfeed, dan menyatu
dengan user interface Instagram yang bentuknya mirip dengan posting pengguna biasa
(Hubbard, 2017).
Sebuah studi mengenai social media engagement yang dirilis oleh Sprout Social
bahkan menemukan bahwa media sosial yang sangat populer seperti Facebook hanya
memiliki poin engagement kurang dari 0,01%. Sementara dilain pihak, Instagram
memiliki poin sebesar 4,21% yang mana 58 kali lebih besar dibanding Facebook
(Jackson, 2015). Hal inilah yang membuat Instagram menjadi incaran para pebisnis
untuk memasang iklannya di Instagram.
Selebgram sendiri sebenarnya menawarkan potensi dari segi bisnis atau
komunikasi pemasaran secara umum, terutama berkaitan dengan pembentukan citra
suatu produk. Selebgram dan bisnis endorse sendiri telah membuka ruang dan
memfasilitasi masyarakat muda yang menjadi selebgram dan secara tidak langsung
menjadi penggerak ekonomi melalui jalur kreativitas anak muda (Widyaningrum, 2016).
Namun ruang yang tersedia untuk kreatifitas ini juga membuka ruang untuk hubungan
timbal balik dari segi keuangan. Hubungan inilah yang kemudian memunculkan bisnisbisnis dari ranah pemanfaaatan kehidupan pribadi seseorang untuk diubah nilainya
menjadi komoditas ekonomi.
Dalam segi bisnis sendiri, sebenarnya konsep khalayak dan nilai yang diperoleh
merupakan dua konsentrasi pokok. Semua model bisnis mencari cara bagaimana
menyampaikan nilai tertentu pada khalayak atau konsumen. Sayangnya di era digital ini
justru konsumen seringkali tidak menyadari bahwa dirinya melakukan apa yang disebut
self commodification. Para pengguna ini dengan sukarela menggunakan produk yang
278
e-Proceeding | COMICOS 2017
merupakan hasil dari sebuah bisnis model tertentu dan menjual perhatian mereka dalam
rangka memperoleh nilai yang mereka inginkan dan terhubung dengan akun tertentu.
Meskipun dilakukan dengan sukarela, nyatanya proses self commodification ini tetap
termasuk kedalam komodifikasi khalayak (Khajeheian, 2016)
Komodifikasi khalayak pada platform Instagram dimulai pada tahun 2013. Hal
ini dikarenakan informasi yang berkaitan dengan aktivitas pengguna dikomodifikasi dan
dijual pada pengiklan yang membutuhkan khalayak yang lebih spesifik. Tidak hanya
sebatas itu, Instagram bahkan menyediakan data breakdown per jam kapan pengguna
menggunakan platform, dan kapan konsumen berinteraksi dengan konten. Kondisi ini
membawa pengiklan mengetahui kapan waktu terbaik mempromosikan produknya
(Swant, 2015). Inilah yang juga sudah disebutkan diatas, bahwa komodifikasi selebgram
berkembang diberbagai negara melebihi komodifikasi pada platform media sosial
lainnya karena komodifikasi yang terjadi di Instagram didukung oleh Instagram sendiri
sebagai penyedia layanan.
Untuk kasus di Indonesia sendiri, kasus selebgram dan endorse selain yang
ditemukan pada hasil penelitian, peneliti lain juga menemukan fenomena Babystagram.
Babystagram sendiri hampir sama dengan selebgram namun menggunakan bayi dari
seorang selebritis maupun bayi yang mendadak menjadi selebritis. Sama seperti temuan
penulis, Turnip dkk menemukan bahwa makna denotasi dari foto babystagram bertujuan
untuk memperoleh kesenangan, hiburan, rasa terharu dan kebanggan. Sementara makna
konotasinya lebih kepada pamer, popularitas, kepuasan, obsesi pribadi, kepentingan
ekonomi untuk memperoleh lebih banyak endorsement, penawaran iklan, film sehingga
menuju tujuan utama yakni kepentingan ekonomi atau uang (Turnip, Wulan, & Malau,
2016).
279
e-Proceeding | COMICOS 2017
Kesimpulan
Dalam fenomena selebgram dan endorse, telah terjadi sebuah proses
komodifikasi baik komodifikasi konten dalam posting instagram, komodifikasi audiens
melalu mekanisme daya tarik followers, dan komodifikasi selebgram sebagai pekerja
yang memproduksi konten itu sendiri. Media sosial kini telah mengikuti logika bisnis
media mainstream dimana selebgram secara sengaja memproduksi audiens yang telah
tersegmentasi dan kemudian ’menjual’ audiens tersebut kepada para pengiklan, dengan
mata uang baru yaitu engagement (followers, like, comment), dan personal data.
Relasi kuasa dalam kasus ini telah menguntungkan sebagian pihak. Pertama,
tentu saja pemilik akun Instagram yang terkategori sebagai Selebgram yang berfungsi
sebagai prosumer. Selebgram dalam bisnis ini dapat memperoleh keuntungan produk
yang didapatkannya dari pengiklan, dan tentunya penghasilan langsung yang didapat dari
iklan berbayar. Pihak lain yang diuntungkan adalah tentu saja pengiklan (online shop).
Melalui kehadiran selebgram dan fenomena endorse mereka akhirnya mampu
menjangkau pasar audiens dengan segmentasi tertentu yang sudah terbentuk. Tarif yang
ditarik untuk beriklan di selebgram ini pun relatif lebih murah dibandingkan jika harus
beriklan di media mainstream.
Jika ada pihak yang diuntungkan, tentu saja ada pihak lain yang dirugikan.
Pertama, tentu saja followers. Followers dalam bisnis ini ditempatkan sebagai barang
jualan. Media sosial yang tadinya dianggap sebagai wahana untuk mereka berekspresi
dan menemukan role model yang mereka ikuti, kini justru menjebak mereka sebagai
pihak yang dirugikan. Kedua, tanpa disadari Selebgram itu sendiri telah menjadi pihak
yang merugi. Secara tidak langsung dia dimanfaatkan oleh pengiklan, akun yang tadinya
280
e-Proceeding | COMICOS 2017
merupakan akun pribadi kini berubah menjadi akun yang harus mengikuti kepentingan
pihak tertentu. Belum lagi isu privasi dan eksploitasi tubuh yang mungkin dialami oleh
para selebgram dalam proses mengiklankan produk yang di endorsenya.
Proses komodifikasi ini sendiri dan hubungannya dengan komunikasi telah
dijelaskan dalam studi ekonomi politik media. Dalam kasus ini sendiri, dapat dilihat
bagaimana logika ekonomi telah berperan sangat besar sehingga mempengaruhi proses
produksi, dan konsumsi pesan-pesan komunikasi yang tercermin dalam posting
instagram. Perubahan struktur sosial pun terjadi dalam kasus selebgram ini, anak muda
saat ini berlomba-lomba untuk menampilkan berbagai macam hal untuk menarik jumlah
followers yang menurutnya akan menjadikannya selebgram dan membuka peluang
keuntungan baginya.
Melihat fenomena selebgram dan endorse ini, menjadi penting untuk
menggencarkan literasi penggunaan media sosial terutama mengenai dampak buruk yang
mungkin ditimbulkan. Menyebarkan pengetahuan bahwa media sosial bukanlah ruang
hampa yang bebas kepentingan, karena nyatanya telah terjadi komodifikasi baik dari segi
audiens, konten, dan pekerja sebagai pihak yang memproduksi konten. Selain itu perlu
adanya pengawasan terhadap penggunaan media sosial, baik oleh regulator resmi
maupun oleh lembaga swadaya masyarakat terutama berkaitan dengan perlindungan
pengguna.
Daftar Pustaka
Alan Mislove, M. M. (2007). Measurement and Analysis of Online Social Networks.
Bakker, T. P., & Vreese, C. H. (2011). Good News for the Future? Young People,
Internet Use, and Political Participation. New York: SAGE Publication.
Fusch, C. (2012). The Political Economy of Privacy on Facebook. Television & New
Media 13 (2), 139-159.
281
e-Proceeding | COMICOS 2017
Hubbard, C. (2017, April 25). Artificiality, Authenticity, and Imitation: An Exploration
of Branding Practices on Instagram.
Instagram. (2016, Desember 16). Instagram. Retrieved from
http;//www.instagram.com/faq/
Jackson, D. (2015). Instagram vs Facebook: Which Is Best for Your Brand. Chicago:
Sprout Social.
Karimuddin, A. (2016, Maret 16). dailycocial.id. Retrieved from
https://dailysocial.id/post/pengguna-aktif-instagram-di-indonesia-capai-22-juta
Khajeheian, D. (2016). Audience Commodification: A Source of Innovation in
Business Models. Technology Innovation Management Review (Volume 6, Issue
8), 40-47.
Kominfo. (2013, November 7). Kominfo : Pengguna Internet di Indonesia 63 Juta
Orang. Retrieved August 14, 2014, from KEMENTRIAN KOMUNIKASI
DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA:
http://kominfo.go.id/index.php/content/detail/3415/Kominfo+%3A+Pengguna+
Internet+di+Indonesia+63+Juta+Orang/0/berita_satker#.U0qFf_mSxoE
Kompas. (2016, Oktober 24). Kompas.com. Retrieved from
http://tekno.kompas.com/read/2016/10/24/15064727/2016.pengguna.internet.di.
indonesia.capai.132.juta
Larasati, A. A. (2016, November 10). Selebgram dan Endorse. (M. Widyastuti,
Interviewer)
Maharani, D. (2016, November 10). Selebgram dan Endorse. (M. Widyastuti,
Interviewer)
Management, B. (2016, November 23). Selebgram dan Endorse. (M. Widyastuti,
Interviewer)
Management, S. P. (2016, November 21). Selebgram dan Endorse. (M. Widyastuti,
Interviewer)
Marwick, A. (2015). You May Know Me From YouTube: (Micro)-Celebrity in Social
Media.” . John Wiley & Sons Inc.
McQuail, D. (1994). Teori Komunikasi Massa: Suatu Pengantar. Jakarta: Erlangga.
MediaWave. (2014). MediaWave. Retrieved 6 30, 2014, from http://mediawave.biz/
Mosco, V. (2009). The Political Economy of Communication. London: SAGE.
Nugroho, Y. (2012). Mapping the landscape of the media industry in contemporary
Indonesia
(Engaging Media, Empowering Society: Assessing media policy and governanc
282
e-Proceeding | COMICOS 2017
e in Indonesia through the lens of citizens’ rights). Manchester: CIPG &
HIVOS.
Nugroho, Y. (2012). Melampaui Activisme Click. Jakarta: Friedrich-Ebert-Stiftung.
Oemar, R. O. (2016, Juli 26). Qureta.com. Retrieved from
http://www.qureta.com/post/selebgram-dan-komodifikasi
Putnam, R. (1995). Bowling Alone: America's Declining Social Capital. New York:
Simon & Schuster.
Saputro, E. S. (2016, November 10). Selebgram dan Endorse. (M. Widyastuti,
Interviewer)
Sonwalkar, Kapse, & Pathak. (2011). Celebrity Impact-AModel of Celebrity. Journal
of Marketing & Communication.
Swant, M. (2015). How Instagram is changing the way brands look at photography,
online and beyond: Embracing the 'perfectly imperfect. Retrieved from
http://www.adweek.com/news/advertising-branding/how-instagram-changingway-brandslook-look-online-and-beyond
Turner, G. (2014). Understanding celebrity. 2nd ed. . London: Sage.
Turnip, L. N., Wulan, R. R., & Malau, R. M. (2016). Babystagram Phenomenon
Among Indonesia Celebrities Instagram Accounts: Semiotic Analysis on
Photographs at Babystagram Account. The 3rd Conference on Communication,
Culture and Media Studies (pp. 167-171). Yogyakarta: CCCMS 2016.
Utami, N. (2016, Oktober 10). Selebgram dan Endorse. (M. Widyastuti, Interviewer)
Vallyandra. (2016, November 10). Selebgram dan Endorse. (M. Widyasuti,
Interviewer)
West, R., & Turner, L. H. (2008). Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi.
Jakarta: Salemba Humanika.
Widyaningrum, A. Y. (2016). Ekonomi Kreatif ala Selebgram. Komunikasi Digital:
Kreativitas dan Interkonektivitas (pp. 491-504). Jakarta: Mercubuana.
Wijayanto, K. (2014). Perencanaan Komunikasi untuk Media Sosial. In Perencanaan
Komunikasi (pp. 141-165). Bandung: Rosda.
283
e-Proceeding | COMICOS 2017
284
e-Proceeding | COMICOS 2017
ADAPTASI PRAKTIK JURNALISME NARATIF DI MEDIA DIGITAL:
SEBUAH OBSERVASI TERHADAP PENGGUNAAN MULTIMEDIA,
INTERAKTIVITAS DAN HIPERTEKSTUALITAS
Formas Juitan Lase
Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Kristen Indonesia
Jalan Mayjen Sutoyo No.2 Cawang, Jakarta Timur 13630 | Telp/Fax: (021) 80886884.
Hp: 085714879841 | E-mail: [email protected]
ABSTRAK
Media digital di Indonesia saat ini telah berkembang memanfaatkan keniscayaan
teknologi multimedia dalam mengemas narasi yang panjang, mendalam dan enak dibaca.
Sejumlah media digital yang telah mulai bergerak ke sana adalah tempo.co, detik.com,
thejakartapost.com, kompas.com. Kemasan berita mendalam ini dikenal dengan
beberapa istilah, antara lain jurnalisme longform, jurnalisme naratif digital, jurnalisme
multimedia naratif, jurnalisme multimedia longform, jurnalisme bercerita dan beberapa
istilah lain yang dikemukakan sejumlah peneliti dan jurnalis. Secara sederhana istilah ini
merujuk pada penggunaan jenis jurnalisme naratif yang pernah populer di media cetak,
dan kini diadopsi ke dalam format digital. Fokus artikel ini mencoba menggambarkan
proses adaptasi praktik jurnalisme naratif tersebut di tempo.co dengan
mempertimbangkan karakteristik bawaan dari jurnalisme naratif dan karakteristik media
digital. Metode observasi langsung digunakan untuk mengumpulkan data, sedangkan
metode analisis datanya menggunakan metode deskriptif. Temuan menunjukkan adaptasi
jurnalisme naratif di tempo.co dilakukan secara bertahap. Tidak semua artikel yang
diterbitkan memenuhi kriteria naratif. Hanya 15 dari 21 artikel yang telah memenuhi
kriteria. Adaptasi terhadap karakteristik multimedia, dan hipertekstual telah
dimanfaatkan sejak tahun 2014. Elemen multimedia yang digunakan masih berupa foto,
video, audio, infografik, dan hanya berfungsi untuk menambah informasi terkait isu yang
dibahas, dan bukan untuk memperdalam narasi cerita. Di sisi lain, elemen
hipertekstualitas lebih banyak memanfaatkan link dari domain internal daripada domain
eksternal. Elemen interaktivitas dimanfaatkan dalam format navigasi seperti menggulir
laman artikel, memilih menu artikel, dan format fungsional digunakan untuk
menyebarkan pesan melalui sosial media Facebook, Twitter, Google Plus, dan Pinterest.
Tetapi untuk mengomentari narasi artikel, baru dimulai pada artikel terbitan 2017, yang
terhubung dengan akun Facebook pengguna.
KATA KUNCI: Jurnalisme Naratif, Media Digital, Multimedia, Interaktivitas,
Hipertekstual, Adaptasi
ABSTRACT
Digital media in contemporary Indonesia has grown to grasp the growth of multimedia
technology in packing a lengthy, deeply reported and readable narrative. A number of
mainstream print media that have started to move to digital were tempo.co, detik.com,
thejakartapost.com, kompas.com. This in-depth news coverage is known by several
terms, including longform journalism, digital narrative journalism, narrative multimedia
journalism, multimedia longform journalism, storytelling journalism and several other
terms put forward by researchers and journalists. Simply put, this term refers to the use
285
e-Proceeding | COMICOS 2017
of narrative journalism ever popular in print format and is now adopted in digital. The
focus of this article is to illustrate the adaptation of the narrative journalism practice at
tempo.co which taking into account the innate characteristics of narrative journalism and
the characteristics of digital media. This research used direct observation method as data
collection method in order to explain the process of adaptation, while qualitative
description method used as a method of data analysis. The findings indicated that the
practice of narrative journalism at tempo.co adapted to the characteristics of digital media
gradually. Not all published articles meet the narrative principles. Only 15 of 21 total
articles that published have met this standard. On the other hand, adaptation to the
characteristics of multimedia, and hypertextuility has been utilized since 2014.
Multimedia elements such as photos, videos, audio, maps, infographics, were useful to
complete and not to deepen narratives. In addition, the element of hypertextuality
considered more utilizing the hyperlink with internal domain rather than external domain.
In case of utilizing the interactivity elements, the media have utilized navigation formats
such as page scrolling, selecting article menu and functional formats such as spreading
messages through social media. But to comment on messages, starting in the 2017 article,
it is only for users who have a Facebook account.
Key Words: Narrative Journalism, Digital Media, multimedia, hypertextuility,
interactivity
PENDAHULUAN
Praktik digitalisasi di Indonesia sekarang ini telah berlangsung masif setidaknya dalam
tiga tahun terakhir. Dari data yang tersedia, ada beberapa media yang telah menghentikan
versi cetaknya antara lain The Jakarta Globe yang hijrah ke media digital
thejakartaglobe.com pada awal Oktober 2015. Demikian juga dengan Koran Tempo edisi
Minggu, Harian Jurnal Nasional, Tabloid Soccer, Harian Bola, dan yang belum lama
ini adalah majalah anak muda Trax pindah ke versi digital tanpa mempertahankan versi
cetaknya pada Maret 2016. Sedangkan salah satu koran nasional Sinar Harapan sama
sekali mengakhiri versi cetaknya pada 1 Januari 2016 tanpa ikut gelombang digitalisasi.
Kendati begitu, digitalisasi ini masih menyisihkan setidaknya beberapa versi
cetak surat kabar: kompas.com dengan Kompas, tempo.co dengan Koran Tempo,
mediaindonesia.com dengan Media Indonesia, thejakartapost.com dengan The Jakarta
286
e-Proceeding | COMICOS 2017
Post,
republika.co.id
dengan
Republika,
jawapos.com
dengan
Jawa
Pos,
poskotanews.com dengan Pos Kota, koran-sindo.com dengan Koran Sindo, dan
seterusnya. Namun demikian, proses digitalisasi media-media ini tidak serta merta
mengadopsi praktik jurnalisme yang berlaku di media cetak ke media digital.
Berdasarkan produk jurnalistiknya, tampak bahwa apa yang disajikan di media cetak jauh
lebih mendalam, imparsial dan verifikatif dibandingkan dengan produk jurnalistik yang
ditampilkan di media digitalnya.
Faktanya, media digital lebih mengandalkan kecepatan dibandingkan kedalaman
isi, sehingga berita yang diterbitkan kebanyakan pendek-pendek dan sepotong-sepotong
dengan komposisi narasumber tunggal, judul yang sensasional, dan data yang banal.
Data-data yang disampaikan terkadang belum sempat diverifikasi oleh jurnalis,
sementara redaksi telah menerbitkannya. Ketergesaan mengejar kecepatan ini dalam
banyak kasus mengakibatkan berita-berita tersebut kembali direvisi setelah diprotes
akibat tidak akurat, dan bahkan dihapus tanpa ada pemberitahuan apapun dari redaksi.
Redaksi berkemauan untuk selalu menjadi yang pertama menerbitkan berita. Kecepatan
yang ditawarkan oleh internet telah dimanfatkan untuk tujuan ekonomi yang
mengakibatkan tergerusnya kualitas jurnalisme saat ini (Rosenberg dan Feldman, 2008).
Kecenderungan ini menurut Barnhurst (2010) adalah konsekuensi digitalisasi
media massa yang harus menyesuaikan dengan format berita digital. Kecepatan internet
juga punya sisi positif. Kecepatan meniscayakan media digital lebih sering meng-update
isu-isu yang diangkatnya tanpa dibebani ruang yang terbatas. Berita-berita dalam format
digital juga mampu menciptakan ruang interaktif bagi pengguna dengan berita yang
dikonsumsinya. Interaktifitas yang dihadirkan di sini diperoleh pengguna dengan cara
287
e-Proceeding | COMICOS 2017
merespon berita lewat kolom komentar yang tersedia. Pengguna dapat memilih
mengonsumsi berita dalam format yang diinginkan (multimedia) dan dari jaringan berita
yang beragam dan saling terhubung (hipertekstual).
Lewat karakteristik hipertekstual, interaktif, dan multimedia (Bardoel & Deuze
2001; Deuze 2003), media digital di Amerika dan Eropa seperti The New York Times,
The Washington Post, The Atavist, The Guardian, The Rolling Stone, Byliner, The Big
Roundtable, Epic, Longreads, dan seterusnya (Barnhurst, 2013; Jiang, 2014; Jakobson,
Marino dan Gutsche, 2015; Hiippala, 2016) telah lebih awal memanfaatkannya untuk
praktik-praktik jurnalisme “baru” yang dikenal dengan sebutan longform. Beberapa
peneliti menyebutnya dengan istilah jurnalisme naratif digital, jurnalisme sastra digital,
jurnalisme multimedia naratif, jurnalisme multimedia longform, jurnalisme bercerita
(Alejandro 2010; Jakobson, Marino dan Gutsche, 2015; Hippalla, 2016; Lase, 2016).
Praktik jurnalisme ini secara sederhana menawarkan peluang bagi praktik jurnalisme di
media digital yang selama ini masih fokus dengan berita-berita yang pendek-pendek dan
cenderung kaku kepada jenis jurnalisme naratif yang lebih mendalam, panjang, tapi
santai dan enak dibaca.
Jika mengamati perkembangan media digital di Indonesia sejak tahun 1990-an
(Nugroho, Putri dan Laksmi, 2012, h. 104), maka dapat disebutkan bahwa media digital
kita baru mulai memanfaatkan teknologi yang ditawarkan dalam format digital untuk
praktik jurnalisme naratif beberapa tahun terakhir ini. Antara lain, melaui rubrik
“investigasi” di tempo.co, rubrik “visual interaktif kompas” di kompas.com, rubrik
“longform” di thejakartapost.com, dan rubrik “detix” di detik.com. Pengelola media
digital mulai meyakini bahwa ada kebutuhan mendesak bagi pengguna untuk
288
e-Proceeding | COMICOS 2017
mendapatkan format berita yang lebih dinamis, santai tapi mendalam (Lase, 2016, h.
173).
Praktik jurnalisme naratif yang diadopsi oleh media digital dalam rubriknya ini
menarik untuk dibahas. Bukan hanya karena memberikan informasi secara mendalam
dan utuh, tetapi juga penting untuk melihat bagaimana praktik jurnalisme naratif yang
pada mulanya berkembang di media cetak kini diadaptasi ke media dalam format digital.
Seperti yang disimpulkan oleh Formas Juitan Lase (2016) dalam hasil penelitiannya,
bahwa praktik jurnalisme naratif di media digital ini dapat menjadi harapan baru dalam
memperbaiki praktik jurnalisme digital di Indonesia yang cenderung mengandalkan
kecepatan, sensasional, tapi banal secara konten.
Artikel ini hanya fokus pada proses adaptasi jurnalisme naratif di media digital
yakni tempo.co dengan mempertimbangkan karakteristik digital dan karakteristik
bawaan dari jurnalisme naratif. Karena itu, data-data yang dihasilkan masih berupa data
awal yang menguraikan perkembangan jurnalisme digital naratif, dan bagaimana proses
adaptasi berlangsung ke dalam format digital yang bersifat multimedia, hipertekstual,
dan interaktif.
TINJAUAN PUSTAKA
Penelitian tentang praktik jurnalisme naratif di media digital ini mulai berkembang di
Amerika dan Eropa sekitar 10 tahun terakhir. Beberapa peneliti yang bisa disebutkan di
sini adalah Berning (2011), M Lassila (2014), Jakobson, Marino dan Gutsche (2015),
Hipalla (2016). Salah satu artikel yang menganalisis praktik jurnalisme naratif di media
digital yang menarik dibahas adalah penelitian yang dilakukan oleh Jakobson, Marino
dan Gutsche (2015) yang berjudul “The Digital Animation of Literary Journalism”.
289
e-Proceeding | COMICOS 2017
Artikel ini menganalisis penggunaan teknik penulisan naratif di media digital dan
bagaimana
elemen-elemen
multimedia
termasuk
interaktivitas
dan
hiperteks
merepresentasikan praktik jurnalisme naratif tersebut. Mereka berpendapat bahwa teknik
penulisan naratif tidak hanya digunakan untuk menarasikan teks, tetapi juga dalam
mengemas konten multimedia yang dipakai (Jakobson, Marino dan Gutsche, 2015, h. 2).
Argumen ini digunakan dalam artikel ini untuk menelusuri penggunaan format digital
sebagai sarana untuk memperdalam narasi.
Di Indonesia, penelitian terkait praktik jurnalisme naratif telah dikerjakan oleh
Formas Juitan Lase (2016) yang diterbikan dengan judul “Jurnalisme Multimedia
Longform di Media Digital: Analisis Naratif Artikel tempo.com 2014-2016”. Penelitian
ini hanya fokus pada penggunaan elemen multimedia yang digunakan dalam enam artikel
yang dianalisis. Elemen multimedia tersebut terdiri dari foto, video, infografik dan audio.
Penggunaan elemen multimedia memang cukup membantu pengguna mengonsumsi
konten dalam berbagai format medium. Beberapa artikel menawarkan jenis tulisan yang
bukan hanya panjang dan mendalam tetapi juga semakin mudah dipahami dan kaya
informasi berkat elemen-elemen multimedia yang digunakan dalam masing-masing
tulisan (Lase, 2016, h. 183).
Dari pembahasan Lase tersebut, dapat dikatakan bahwa masih cenderung
berfokus pada penggunaan elemen multimedia. Di sisi lain, terdapat tiga karakteristik
media digital yang memungkinkan dimanfaatkan dalam praktik jurnalisme naratif yakni
multimedia, interaktifitas dan hipertekstual. Multimedia merupakan kombinasi dari dua
atau lebih media yang diwakili dalam bentuk digital yang terintegrasi, tersajikan dan
termanipulasi oleh dan dalam program komputer (Chapman & Chapman 2000; Blattner
290
e-Proceeding | COMICOS 2017
& Danneberg 1992). Elemen multimedia bisa berupa teks, foto, video, audio, infografik,
peta, animasi dengan bermacam bentuk dan sistem operasi yang beragam.
Sedangkan interaktivitas adalah karakteristik internet yang memfasilitasi
pengguna untuk berinteraksi antara satu dengan yang lain baik yang tidak hanya terbatas
pada peran sebagai pengirim pesan dan penerima pesan, tetapi juga sebagai penyebar
pesan (Kopper dkk. 2000, h. 509). Berdasarkan pemikiran Massey dan Levy (1999), ada
tiga bentuk kerja interaktivitas di media digital menurut Deuze (2003, h. 214) yakni, (1)
Navigation Interativity yakni
bentuk interaksi yang memungkinkan pengguna
mengendalikan konten media digital dengan cara menggulung layar, maju ke halaman
selanjutnya atau kembali ke halaman sebelumnya; (2) Functional Interactivity yaitu
bentuk interaksi yang memungkinkan pengguna berpartisipasi dalam proses produksi
konten melalui ruang diskusi, kolom komentar, email baik kepada pengguna lain maupun
kepada redaksi media digital; dan (3) Adaptive Interactivity yaitu bentuk interaksi yang
memungkinkan pengguna mengunggah, memberi keterangan dan mendiskusikan konten
mereka sendiri, menawarkan ruang diskusi, dan penyesuaian pengguna terhadap desain
situs media digital yang digunakan.
Yang terakhir adalah karakteristik hipertekstualitas yakni keterhubungan dan
saling berkaitan antara teks yang satu dengan teks yang lain baik yang bersifat teks
internal (domain yang sama) maupun yang eksternal (di luar dari domain atau medium
yang sama) (Deuze 2003, h. 212). Secara sederhana hipertekstualitas memfasilitas
pengguna untuk memperoleh informasi lebih banyak dari satu halaman konten dengan
mengklik link yang disediakan dalam laman yang ada di laman situs. Link dalam sebuah
laman tidak melulu dalam bentuk teks, tetapi juga bisa dalam bentuk gambar, video,
291
e-Proceeding | COMICOS 2017
infografik maupun simbol-simbol tertentu.
Artikel ini menindaklanjuti pembahasan Formas Juitan Lase tersebut dengan
mengobservasi
penggunaan
ketiga
format
digital
(multimedia,
interaktivitas,
hipertekstualitas) untuk memahami adaptasi jurnalisme naratif di tempo.co. Secara
singkat sejarah jurnalisme naratif memang belum mengakar kuat dan masif dalam tradisi
jurnalisme Indonesia. Jika melihat praktiknya di media massa, bisa dikatakan hanya ada
dua majalah cetak yang mempraktikkannya: pertama adalah Majalah Tempo, dan kedua,
Majalah Pantau. Keduanya berumur terpaut jauh. Jika Tempo mulai terbit pada 1971 dan
berumur panjang meskipun pernah dibredel pada tahun 1994, dan kembali didirikan pada
1998, sementara Pantau baru terbit pada 2001, dan produksinya langsung terhenti pada
2003, karena persoalan keuangan.
Yang membedakan kedua majalah ini adalah klaimnya terhadap jurnalisme
naratif. Sejak awal penerbitannya, Pantau mengklaim sebagai majalah yang
memperkenalkan dan mempraktikkan jurnalisme naratif (Pantau menyebutnya
“Jurnalisme Sastrawi”). Berbeda dengan Tempo yang lebih berani mengklaim genre
jurnalismenya sebagai jurnalisme investigasi dibandingkan klaim terhadap jurnalisme
naratif. Meski begitu, kedua majalah ini menggunakan adegan per adegan dalam
menyusun artikelnya menjadi sebuah cerita yang menarik, menyuguhkan dialog para
tokoh, menggunakan berbagai sudut pandang, dan melimpahi artikel dengan detail
suasana dan kondisi sosial yang melatarbelakangi peristiwa sebagaimana yang
dianjurkan oleh Tom Wolfe dan E. W. Johnson (1973) sebagai empat prinsip utama
jurnalisme naratif.
Jurnalisme naratif sebenarnya bukan hanya persoalan teknik penulisan yang
292
e-Proceeding | COMICOS 2017
mengandung kata-kata sastra. Mark Kreamer mengatakan bahwa jurnalisme ini masih
menggunakan beberapa elemen yang sama seperti berita pada umumnya 5W + 1H (Sims,
1995). Hanya saja jurnalisme naratif melaporkan sebuah peristiwa secara detail.
Beberapa elemen tersebut terdiri dari pelaporan menyeluruh, akurasi, representasi
simbolik, dan pembangunan narasi berdasarkan struktur yang rinci (Sims, 1995). Selain
itu, penulis disyaratkan patuh pada data dan fakta yang dilihat dan dirasakan langsung.
Fakta dan data itu harus dapat diverifikasi sumber dan kebenarannya. Fakta dan data
inilah yang membawa penulis untuk menyajikan narasi yang mendalam. Dari fakta dan
data pula, penulis bisa menelusuri, aktor-aktor terkait dalam peristiwa yang ditulis.
Aktor-aktor inilah yang mengikat cerita dalam bentuk karakter. Karena karakter dapat
menyatakan emosi melalui dialog-dialog yang dibangun di dalam narasi, dan bukan
hanya sekadar kutipan penulis.
Ketika The New York Times menerbitkan “Snow Fall: The Avalanche at Tunnel
Creek” karya John Branch di media digitalnya nytime.com pada 2012, karya tersebut
memenangkan Pullitzer dalam ketegori feature terbaik pada tahun 2013 (McAthy, 2013)
dan menjadi pelopor jurnalisme naratif di media digital (longform) (Bennet, 2013).
Media digital di Indonesia membutuhkan hampir 4 tahun untuk mempopulerkan genre
yang sama melalui tulisan berjudul “Jejak Korupsi Global Dari Panama” yang
dipublikasikan oleh tempo.co pada 2016. Artikel tersebut mendapat tanggapan dari
masyarakat, bukan hanya karena isu yang diangkatnya menjadi pembicaraan masyarakat
internasional, dan menyeret sejumlah nama-nama tokoh Indonesia tetapi juga pada
penulisan narasi artikel dan pengemasannya dalam elemen foto dan infografis yang
menarik serta terhubung dengan sejumlah link dari hasil kerja International Consortium
of Investigative Journalist (ICIJ) yang di dalamnya wartawan Tempo tergabung.
293
e-Proceeding | COMICOS 2017
Keterlibatan Tempo inilah yang memberinya hak untuk mengakses secara bebas
11, 5 juta data dalam dokumen firma hukum Mossack Fonseca. Data dalam dokumen
yang bocor tersebut berisi informasi sejak 1977 sampai awal 2015, atau selama 40 tahun.
Berangkat dari data-data tersebut, empat wartawan Tempo memverifikasi data yang
diperoleh dengan sumber data lain. Mereka juga melakukan wawancara dengan berbagai
narasumber, pihak-pihak terkait dan pejabat pemerintahan (tempo.co, 06 April 2016).
Apa yang dikerjakan oleh Tempo ini adalah bagian dari jurnalisme naratif. Dalam
penulisan naratif, fakta-fakta yang dapat diakses menuntun wartawan menggali lebih
dalam persoalan yang terjadi. Fakta pula yang memberikan pemahaman bagi wartawan
dalam melihat persoalan lebih obyektif. Jurnalisme naratif sekali lagi bukan hanya
mengangkat isu-isu human interest, sebagaimana beberapa media memasukkannya
dalam tema tersebut, tetapi juga isu politik, hukum, ekonomi, kriminalitas yang dianggap
sebagai tema “serius” juga isu yang disentuh oleh jurnalisme naratif. Jurnalisme naratif
bukan hanya persoalan penulisannya tetapi juga metode pengumpulan datanya.
TUJUAN PENELITIAN
Artikel ini berangkat dari pengamatan bahwa, pertama, digitalisasi media telah
membawa dampak pada rendahnya kualitas berita yang disajikan di mana lebih banyak
mengandalkan kecepatan, sehingga menghasilkan berita yang banal. Kedua, teknologi
digital pada dasarnya meniscayakan media digital untuk menyajikan berita-berita yang
lebih panjang, mendalam tetapi tetap enak dibaca yang dikenal dengan istilah jurnalisme
naratif di media digital atau longform. Ketiga, dengan karakteristik media digital yang
interaktif, hipertekstual dan multimedia, praktik jurnalisme naratif yang disajikan oleh
media digital jauh lebih dinamis, kaya akan sumber dan semakin banyak pilihan medium
294
e-Proceeding | COMICOS 2017
untuk dikonsumsi pengguna.
Dari uraian tersebut, maka penelitian ini akan berfokus pada kenyataan ketiga
tersebut dengan menganalisis struktur jurnalisme naratif yang menarasikan teks ke dalam
format digital pada media digital di Indonesia. Tujuannya adalah untuk memahami
bagaimana perkembangan media digital dalam mengadopsi praktik jurnalisme naratif di
Indonesia yang sebelumnya berkembang di media cetak. Kedua adalah untuk mengetahui
bagaimana perangkat atau karakteristik yang dimiliki oleh media digital berupa
multimedialitas, hipertekstualitas dan interaktifitas dapat diadaptasi dalam narasi yang
panjang, mendalam dan tetap santai.
METODOLOGI
Penelitian ini secara umum menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode observasi
langsung (direct observation), dan wawancara mendalam sebagai metode pengumpulan
data, dan metode deskriptif sebagai metode analisis datanya. Namun, untuk artikel ini,
data-data yang dihasilkan dari metode observasi yang akan dipaparkan lebih jauh.
Metode observasi langsung lazim digunakan dalam studi-studi seperti Antropologi,
Sosiologi, Psikologi, Biologi, dan seterusnya terutama untuk mengamati perilaku
manusia maupun binatang. Metode ini memungkinkan peneliti mengamati dan mencatat
setiap perilaku atau tindakan yang dilakukan oleh obyek penelitian (Creswell, 2009;
Given, 2008, h. 573; Corbetta, 2003, h. 235). Metode yang sama juga digunakan dalam
studi ini yakni pengamatan langsung pada masing-masing rubrik di media digital yang
diteliti. Metode ini dipilih karena memungkinkan peneliti untuk mengamati secara detail
adaptasi praktik jurnalisme naratif dengan mempertimbangkan karakteristik bawaannya
295
e-Proceeding | COMICOS 2017
ke dalam format media digital yang memiliki karakteristik multimedia, interaktivitas dan
hipertekstualitas dan perkembangannya dari waktu ke waktu.
Kelebihan dari metode ini dalam studi internet yakni, ketersediaan jejak digital
yang diamati. Jika dalam penelitian Antropologi, selain mengamati, peneliti juga
dimungkinkan untuk merekam subyek amatannya menggunakan tape recorder atau
video cameras (Bernard, 2011). Tujuannya untuk mendapatkan data seakurat dan sedetail
mungkin. Namun, hanya untuk perilaku yang sedang berlangsung. Di media digital,
peneliti terbantu dengan karakteristik internet yang meninggalkan jejak digital, sehingga
peneliti dimungkinkan untuk memperoleh data yang lampau. Aktivitas yang hendak
diamati dapat diperoleh dengan menelusuri setiap laman artikel.
Pengamatan dimulai dari artikel pertama hingga artikel terakhir (saat penelitian
berlangsung) yang diterbitkan di tempo.co sebagai media “pelopor” jurnalisme naratif di
media digital. Rubrik “investigasi” tempo.co terbagi dalam dua kategori yakni (1)
investigasi dan (2) intermezzo. Pengamatan dimulai dari tahun 2014 hingga Juli 2017.
Berdasarkan pengamatan awal ada 21 artikel yang telah diterbitkan di rubrik investigasi
tempo.co. Penelusuran dimulai dari karakteristik jurnalisme naratif yang digunakan
dalam masing-masing artikel. Berdasarkan pengertian Wolfe dan Johnson (1973),
jurnalisme naratif setidaknya memiliki empat karakteristik utama: pertama,
menggunakan dan menyusun adegan per adegan dalam narasi; kedua, pelaporan secara
menyeluruh; ketiga, menggunakan sudut pandang ketiga; dan keempat, penempatan
detail. Karakteristik ini dipraktikkan di media cetak setidaknya dalam format narasi,
gambar dan infografik. Artikel di Majalah Tempo misalnya, dalam menggunakan teknik
penulisan naratif, biasanya melibatkan infografik yang berupa kronologi peristiwa, foto-
296
e-Proceeding | COMICOS 2017
foto tokoh cerita, dan foto-foto peristiwa dalam ukuran besar. Agak berbeda dengan
Majalah Pantau yang juga menggunakan teknik penulisan naratif dalam artikelnya.
Mereka lebih banyak memanfaatkan gambar-gambar kartun atau gambar lukisan
dibandingkan foto atau infografik (Harsono dan Setiyono, 2008).
Pengamatan dilakukan dengan cara membaca keseluruhan narasi, mengamati
foto, menonton video, membaca infografik, mengamati peta, mendengar audio,
menelusuri setiap hiperlink dan medium interaksi yang disediakan. Data-data yang
diperoleh dari hasil observasi dan penelusuran dicatat dalam lembar obervasi. Selain itu,
semua bentuk perubahan dan perbedaan dalam praktik jurnalisme naratif dan
penggunaan format digital di masing-masing artikel juga dicatat. Data-data dalam lembar
observasi kemudian ditabulasi dan disajikan dalam dua jenis tabel yang telah didesain
menyesuaikan karakteristik naratif, dan karakterisitik digital. Karakterisitik Naratif,
terdiri dari kolom judul artikel, tahun terbit, alamat url, karakteristik adegan per adegan,
karakteristik keterlibatan penulis, karakterisitik sudut pandang, dan karakteristik detail
narasi.
Sedangkan format digital terdiri dari kolom judul artikel, tahun terbit, url, bentuk
interaktivitas yang disedikan kepada pengguna, jenis elemen multimedia yang
digunakan, dan jenis hipertekstual yang dipakai. Menurut Deuze (2003, h. 214),
interaktivitas terdiri dari tiga bentuk: navigasi, fungsional dan adaptif. Sedangkan
multimedia bisa berupa foto, video, infografik, animasi, audio atau penggunaan peta.
Untuk jenis hipertekstual bisa bersifat internal yakni link yang berasal dari domain yang
sama atau bersifat eksternal yakni link yang berasal di luar dari domain yang digunakan
(Deuze 2003, h. 212).
Selanjutnya, data-data tersebut dianalisis menggunakan metode deskriptif
297
e-Proceeding | COMICOS 2017
kualitatif guna menggambarkan struktur jurnalisme naratif ke dalam format digital.
Analisis deskriptif, mendukung analisis terhadap data-data yang telah ditabulasi. Dengan
cara ini gambaran tentang perkembangan media digital dalam mengadopsi praktik
jurnalisme naratif dapat diperoleh. Selain itu, juga bisa menggambarkan perangkat atau
format yang dimiliki oleh media digital berupa elemen-elemen multimedia apa saja yang
digunakan. Apakah penggunaan elemen multimedia, hipertekstual, dan interaktifitas
mendukung adaptasi naratif selain dalam format narasi atau hanya berlaku sebagai
medium pelengkap informasi.
PEMBAHASAN
Hasil temuan dibagi dalam dua jenis pembahasan yakni: pertama, adaptasi jurnalisme
naratif di tempo.co berdasarkan amatan pada narasi artikel, dan kedua, adaptasi
jurnalisme naratif berdasarkan amatan pada penggunaan format digital. Pembahasan
menggunakan data-data yang diperoleh dari hasil amatan. Tidak semua artikel yang
diamati akan dibahas dalam artikel ini. Penulis akan memilih beberapa artikel yang
merepresentasikan hasil secara umum dalam memberikan gambaran penggunaan
prinsip-prinsip jurnalisme naratif, dan adaptasinya dalam format multimedia,
interaktivitas, dan hipertekstual.
JURNALISME NARATIF DI MEDIA DIGITAL
Dari hasil amatan ditemukan bahwa tidak semua artikel yang diterbitkan dikategorikan
sebagai naratif. Dari 21 artikel yang diterbitkan oleh tempo.co sepanjang 2014-2017,
298
e-Proceeding | COMICOS 2017
hanya ada 15 artikel yang dianggap memenuhi prinsip-prinsip jurnalisme naratif. Salah
satu kriterianya adalah artikelnya panjang dengan jumlah kata lebih dari 2.000 kata
(Sharp, 2013; Jakobson, Marino, dan Gutsche, 2015). Narasi panjang dalam penulisan
naratif adalah sebuah keharusan, karena jumlah kata berhubungan erat dengan
kedalaman informasi, penggalian karakter, penyusunan adegan dan penempatan detail
sebuah peristiwa. Satu dari enam artikel yang tidak memenuhi “kriteria” tersebut bahkan
tidak memuat narasi panjang yakni artikel berjudul “Jaringan Mafia Penjual Manusia”.
Artikel ini hanya menggunakan elemen multimedia seperti foto, video dan peta untuk
menjelaskan inti ceritanya.
Selain itu, ada satu artikel berjudul “Sang Khalifah dan Bendera Hitamnya” yang
ditulis hanya berdasarkan informasi dari beberapa buku. Jika merujuk pada pemikiran
Kramer yang mengatakan bahwa penulis jurnalisme naratif wajib berhubungan langsung
dengan narasumber peristiwa (Sims, 1995). Penulis harus membangun relasi yang intim
dengan tokoh peristiwa dengan cara membenamkan diri dalam dunia tokoh cerita, dan
menggali latar belakangnya. Berdasarkan amatan pada artikel ini, semua fakta berupa
data dan peristiwa yang ditulis dalam artikel diperoleh dari buku dan media. Tak ada
wawancara langsung kepada narasumber. Banyak kutipan langsung diambil dari hasil
wawancara wartawan lain yang diterbitkan di media luar negeri seperti The Guardian,
Newsweek, dan Telegraph.
Artikel berjudul “Melacak Jejak Si Molly” adalah salah satu artikel yang
menggunakan narasi panjang. Artikel ini merupakan artikel pertama yang diterbitkan
dalam rubrik “investigasi” di tempo.co. Diperkirakan diterbitkan pada 2014, namun
tanggal dan bulannya tidak diketahui. Hal ini pula yang menjadi salah satu kelemahan
299
e-Proceeding | COMICOS 2017
dari tempo.co terkait ketiadaan identitas waktu penerbitan masing-masing artikel dalam
laman (Lase, 2016, h. 176). Semua artikel dalam rubrik ini tidak diketahui tanggal
penerbitannya. Kendati begitu, tidak keliru jika dikatakan bahwa rubrik “investigasi”
tempo.co sebagai rubrik pertama yang mempraktikkan jurnalisme naratif digital di
Indonesia dibandingkan dengan rubrik “detix” di detik.com yang mulai diterbitkan pada
21 Januari 2016, dan rubrik “visual interaktif kompas” di kompas.com mulai diterbitkan
pada akhir Februari 2016.
Berdasarkan prinsip-prinsip naratif, ke-15 artikel tersebut mengadopsi prinsip
yang pertama yakni menggambarkan kejadian dengan adegan per adegan. Artikel
berjudul “Melacak Jejak Si Molly” misalnya menarasikan adegan saat Deputi
Pemberantasan BNN Benny Jozua Mamoto menerima kabar terkait bebasnya Raffi
Ahmad yang ditangkap BNN terkait kasus narkoba. Namun, Raffi dinyatakan bebas
karena zat yang ditemukan di rumahnya adalah narkoba jenis baru, dan belum masuk
dalam daftar zat terlarang.
RUANG rapat di lantai enam gedung Badan Narkotika Nasional, Jalan M.T.
Haryono, Jakarta Timur, itu mendadak senyap. Deputi Pemberantasan BNN
Benny Jozua Mamoto tampak berkali-kali menghela napas panjang, sementara
tiga penyidik di hadapannya menunduk dalam-dalam.
Tom Wolfe menceritakan bahwa adegan adalah salah satu kekuatan untuk menyusun
narasi. Wolfe mencontohkan Jimmy Breslin yang mengumpulkan bahan dari apa yang
tidak ditangkap oleh kamera atau hal-hal yang terjadi di belakang layar, hal-hal yang
sering diabaikan jika menulis berita biasa (Wolfe, 2006, h. 273-275). Data-data dan
amatannya itu yang digunakan oleh Breslin untuk menyusun adegan, dan karakter
ceritanya. Jika mengamati paragraf di atas, ada dua jenis adegan yang digambarkan.
Dimulai dari penggambaran suasana ruangan yang menurut penulisnya, mendadak
300
e-Proceeding | COMICOS 2017
senyap saat Benny Josua Mamoto mendengar pernyataan bawahannya. Kemudian,
penggambaran ekspresi menghela nafas yang dilakukan Benny, dan sikap menunduknunduk dari anak buahnya. Penggambaran adegan suasana dan ekspresi tersebut akan
berbeda jika penulis artikelnya hanya mengutip pernyataan anak buahnya dan jawaban
dari Benny. Penggambaran adegan semacam ini menarik dihadirkan, karena bisa
mengikat imajinasi pembaca dengan peristiwa yang sedang terjadi.
Mark Kramer mengatakan, untuk membangun adegan maka diperlukan struktur
narasi guna memperkuat dan membingkai ulang peristiwa (Sims, 1995). Struktur dapat
membantu penulis menelusuri penggalan-penggalan peristiwa atau kehidupan tokohnya
seperti kebiasaannya, interaksinya dengan keluarganya, kerabatnya, tetangganya, dan
peristiwa lainnya. Tujuannya membawa pembaca ke dalam alur peristiwa, di mana
pembaca seolah-oleh hadir pada kejadian tersebut. Ada tiga jenis struktur narasi yang
biasa digunakan, yakni (1) struktur kilas balik (flashback), (2) struktur maju mundur, dan
(3) struktur kronologis. Berdasarkan pengamatan, ada 5 artikel yang ditemukan
menggunakan struktur kilas balik, 1 artikel dengan struktur maju mundur, dan 9 artikel
yang berstruktur kronologis.
Secara konsep dan teknis, ketiga jenis struktur sama-sama memiliki kesulitannya
sendiri. Struktur kronologis meski sering dipandang paling mudah dibandingkan dua
jenis lainnya, namun struktur ini juga tetap mengolah adegan-adegan peristiwa secara
lihai seperti yang dilakukan jika menggunakan struktur kilas balik dan maju mundur.
Salah satu contoh artikel yang menggunakan struktur kronologis adalah “Ada Apa
Dengan Pizza”. Artikel ini menceritakan kasus penggunaan bahan pangan kadaluwarsa
di restoran cepat saji Pizza Hut, Pizza Hut Delivery, dan Marugame Udon yang
301
e-Proceeding | COMICOS 2017
lisensinya dipegang oleh PT Sriboga Raturaya pada September 2016. Artikel itu dibuka
dengan pengantar dari tempo.co yang menceritakan proses investigasi kasus tersebut
bersama BBC Indonesia. Narasi artikel dimulai dengan adegan per adegan yang disusun
sejak kasus itu terbongkar seperti yang dikutip berikut.
RESTORAN Marugame Udon di Gandaria City, Kebayoran Lama, Jakarta
Selatan, belum terlalu ramai pada Senin sore, 18 April lalu. Hanya belasan orang
menikmati makanan Jepang di gerai yang terletak di lantai upper ground tersebut.
Menjelang magrib, lima polisi berpakaian sipil memasuki kawasan Marugame.
Para penyidik dari Direktorat Tindak Pidana Tertentu Badan Reserse Kriminal
Markas Besar Kepolisian tersebut lalu menggeledah ruang penyimpanan bahan
pangan. “Beberapa jam sebelumnya, polisi mendapat informasi bahwa
Marugame Udon menggunakan bahan pangan kedaluwarsa,” kata sumber Tempo
yang mengetahui penggeledahan tersebut.
Dalam praktik jurnalisme naratif, struktur punya fungsi penting. Namun penggunaan satu
atau lebih jenis struktur tidak menentukan kualitas narasi. Semua jenis struktur
memfasilitasi penulis untuk menggali lebih dalam kejadian atau peristiwa yang sedang
ditulis. Bagaimana data-data dan informasi itu dinarasikan lebih ditentukan oleh
kemampuan si penulis. Hanya saja penggunaan struktur kronologis seperti pada artikel
“Ada Apa Dengan Pizza” kurang memberikan ruang bagi penulis untuk mengontrol
konflik dan klimaks peristiwa sesuai irama narasi yang ingin dibangun dibandingkan
penggunaan struktur kilas balik atau maju mundur. Struktur kilas balik disusun
menjelang klimaks cerita ke awal cerita, sedangkan struktur maju mundur
memungkinkan penulis untuk memilih adegan mana yang digunakan terlebih dahulu dan
mana yang kemudian. Salah satu artikel yang menggunakan struktur kilas balik adalah
artikel berjudul “Jadi Seorang Martir, Bernama Dokter Mochtar”.
Bergetar bibir RA Kantjana Kusumasudjana, 93 tahun, saat menceritakan
pengalamannya ditangkap oleh polisi militer Jepang 70 tahun silam. Beberapa
kali ia terdiam dengan tatapan mata ke depan. Ia seperti menahan tangis. Nanny,
302
e-Proceeding | COMICOS 2017
begitu ia disapa, ketika itu masih gadis dan bekerja sebagai analis di
Laboratorium Eijkman di Batavia. Pada tengah hari awal Oktober 1944, saat
makan siang di kafe kecil dekat kantor, Nanny dikejutkan oleh datangnya tamu
berpakaian putih-putih. Tanpa penjelasan, si tamu menyuruhnya masuk ke mobil.
***
Rasa terkejut Nanny bertambah karena ia dibawa memasuki bangunan bekas
sekolahnya, Rechthogeschool--kini gedung Kementerian Pertahanan di Jalan
Medan Merdeka Barat, Jakarta. Ternyata sekolah Nanny telah berubah menjadi
markas Kenpeitai. Di dalam bangunan itu terdapat sel-sel tahanan. Nanny
mengingat sel itu cukup luas. Bagian depan sel ditutup terali kayu, sedangkan di
bagian belakang terdapat selokan air.
Prinsip kedua adalah membangun dialog-dialog para tokoh atau karakter cerita. Dari
hasil amatan, tidak ada satupun artikel yang memuat dialog antar tokoh peristiwa. Semua
pernyataan narasumber dikutip dan dinarasikan. Misalnya dalam artikel berjudul “Kapal
Siluman di Laut Nusantara” ini:
Awak kapal ini lalu bercerita bagaimana Kapal Tamina 1 lolos dari patroli TNI
Angkatan Laut pada akhir 2011. “Waktu itu kami ada di Laut Arafura. Kami baru
saja menurunkan jaring ketika bel kapal berbunyi tiga kali," katanya.
Tekong kemudian muncul di anjungan dan berteriak dalam bahasa Thailand.
Nadanya panik. “Dia minta jaring segera diangkat dan dilipat," kata pelaut ini.
Setelah itu, Tamina 1 melaju cepat ke arah perairan Timor Leste.
Sambil kabur, bendera Indonesia di geladak diturunkan, berganti jadi bendera
Thailand. Meski resminya kapal itu milik PT Tanggul Mina Nusantara, rupanya
pemilik kapal mengantongi dua dokumen kepemilikan. “Di anjungan, ada dua
koper dokumen. Satu Indonesia, satunya Thailand."
Dialog dalam jurnalisme naratif juga sangat penting. Meskipun hal ini tidak dilakukan
oleh wartawan-wartawan tempo.co, tidak bisa dikatakan juga bahwa artikel-artikel
tersebut bukan naratif. Fungsi dialog atau percakapan para tokoh atau karakter cerita
membantu wartawan menghadirkan peristiwa dengan cara mementaskannya di hadapan
pembaca atau pengguna.
Meski demikian, kutipan pernyataan tokoh tetap bisa
dipentaskan dalam paragraf walau tidak sebaik jika menggunakan dialog. Selain hasil
wawancara yang dinarasikan ada pula kronologi wawancara dengan narasumber yang
303
e-Proceeding | COMICOS 2017
dimuat dalam artikel. Bentuk wawancara ini adalah salah satu karakter artikel yang biasa
digunakan di Majalah Tempo. Ada lima artikel yang menggunakan kronologi wawancara
yakni: “Ada Apa dengan Pizza”, “Jejak Korupsi Global dari Panama”, “Obral Izin
Sekolah Kedokteran”, “Jadi Seorang Martir, Bernama Dokter Mochtar”, “Prahara pajak
raja Otomotif”. Format wawancara ini juga tidak mampu membangun reaksi dan emosi
pembaca secara berurutan sebagaimana yang bisa diperoleh jika mengembangkan dialog
para tokoh.
Prinsip ketiga adalah menggunakan berbagai sudut pandang penulisan. Beberapa
literatur menyebutkan bahwa dalam penulisan naratif sudut pandang yang digunakan
adalah sudut pandang ketiga. Berdasarkan pemahaman penulis, pernyataan tersebut
semestinya bukan sebuah keharusan. Karena dalam tulisan Wolfe (2006) sendiri, ia
menggunakan tiga sudut pandang dalam satu cerita secara bergantian yakni sudut
pandang tokoh utama, sudut pandang orang yang menyaksikan kejadian, dan sudut
pandang Wolfe sendiri. Dalam artikel ini, penggunaan berbagai sudut pandang sangat
dimungkinkan, salah satunya artikel yang artikel berjudul “Miniatur Nusantara di
Tenggara Indonesia” yang bisa dicermati dari penggalan paragrafi berikut:
Pagi hari di awal Oktober 2015, perairan Laut Banda di wilayah Kepulauan Kai
(sering juga disebut Kei), Maluku Tenggara, memamerkan keperkasaannya.
Ombak setinggi tiga-lima meter menyambut saya, Eko, Oman, dan sembilan
warga Tual yang hendak berkunjung ke Tanimbar Kei, pulau paling selatan di
Kepulauan Kai.
***
SEBELUM kami menemui Bapak Raja, Ali menyarankan menyiapkan
perlengkapan untuk upacara sirih pinang. Sepasang daun pinang dan buah sirih
yang diambil dari kebun disimpan di dua piring. "Masing-masing diberikan ke
Bapak Raja," ujarnya.
***
Untuk menuju Ohoratan yang didiami kedua Bapak Raja, kami harus menaiki
seratus anak tangga pada tebing karang setinggi 25 meter yang sudut
kemiringannya hampir 45 derajat.
304
e-Proceeding | COMICOS 2017
Dari 15 artikel hanya artikel “Miniatur Nusantara di Tenggara Indonesia” yang
menggunakan sudut pandang penulisnya dan sudut pandang orang ketiga secara
bergantian. Selebihnya, menggunakan sudut pandang ketiga. Penggunaan sudut pandang
ini, ditandai dengan penggunaan kata “saya” atau “kami” atau “kita” dalam narasinya,
juga kutipan-kutipan pernyataan dari orang ketiga yang menyaksikan kejadian.
Prinsip terakhir adalah penempatan detail ke dalam keseluruhan narasi. Detaildetail yang digunakan pada umumnya dalam artikel yang diamati adalah detail suasana
peristiwa, latar belakang sosial dan budaya tokoh atau karakter cerita, dan beberapa
artikel yang mendalami adegan peristiwa dengan detail ekspresi wajah tokoh, dan gestur
tubuh. Hal-hal terperinci tersebutlah yang membuat narasi menjadi panjang dan
mendalam karena bisa menggambarkan kejadian. Artikel berjudul “Jejak Korupsi Global
dari Panama” adalah satu-satunya artikel yang berjumlah lebih dari 10.000 kata. Ada
detail adegan peristiwa yang diuraikan dalam artikel tersebut, salah satunya paragraf
berikut:
Sebelum fajar menyingsing pada 26 November 1983, enam perampok
menyelinap masuk ke gudang milik Brink’s-Mat di Bandara Heathrow, London,
Inggris. Mereka mengikat penjaga keamanan, menyiram mereka dengan bensin
dan menyalakan korek api lalu mengancam akan membakar mereka semua
kecuali mereka membukakan pintu almari besi di sana. Di sana, para perampok
menemukan hampir 7 ribu batang emas, berlian dan uang tunai. "Terimakasih
banyak atas bantuannya. Selamat Natal," kata salah satu perampok ketika mereka
pergi.
Kendati begitu, artikel itu dikerjakan oleh dua tim yang berbeda: tim pertama dari
International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ). Dan, tim dari Tempo yang
beranggotakan empat orang: Wahyu Dhyatmika, Philipus Parera, Agoeng Widjaya,
Mustafa Silalahi dengan dibantu oleh dua orang lainnya yakni Inge Klara dan Angelina
Anjar. Hampir 5.000 kata pertama dalam artikel tersebut ditulis oleh tim Tempo atas hasil
305
e-Proceeding | COMICOS 2017
investigasi dan analisis tim ICIJ. Sedangkan narasi berikutnya ditulis oleh tim Tempo
sendiri.
Selain terkait prinsip-prinsip naratif, hal lain yang juga menarik dibahas terkait
detail artikel adalah publikasi nama-nama kontributor masing-masing artikel. Ada 10
dari 15 artikel yang tidak diketahui siapa penulis, fotografer, videografer maupun
desainer grafisnya. Lima artikel yang memuat nama kontributornya juga terbatas pada
penulis dan fotografer. Videografer dan desainer grafisnya juga tidak dicantumkan.
Identitas kontributor masing-masing artikel sangat penting dituliskan. Hal ini berkaitan
dengan hak cipta dan penghargaan atas karya yang telah dihasilkan. Di sisi lain,
pengguna juga bisa menjalin komunikasi dengan penulisnya serta karya tersebut dapat
dipertanggungjawabkan.
KARAKTERISTIK DIGITAL
Multimedia
Identifikasi penggunaan elemen-elemen multimedia dalam masing-masing artikel masih
dominan menggunakan foto. Semua artikel yang diamati menggunakan foto dengan dua
jenis ukuran: ukuran layar penuh dan ukuran sedang dengan total sebanyak 140 foto.
Sedangkan penggunaan video terbatas pada empat artikel berjudul “Melacak Jejak Si
Molly”, “Selektif Serampangan Punggawa Penyiaran”, “Prahara pajak raja Otomotif”,
dan “Miniatur Nusantara di Tenggara Indonesia”. Selebihnya menggunakan audio
rekaman seperti dalam artikel “Tipu Muslihat Calon Abdi Negara”, dan penggunaan
infografik pada empat artikel. Tujuan penggunaan elemen multimedia dalam masingmasing artikel berbeda-beda. Dan tidak semua elemen multimedia yang digunakan dapat
saling berinteraksi satu sama lain untuk menciptakan narasi yang menyeluruh (Huxford,
306
e-Proceeding | COMICOS 2017
2001; Coonfield dan Huxford, 2009).
Dalam artikel berjudul “Tipu Muslihat Calon Abdi Negara” misalnya,
penggunaan elemen foto sangat dominan. Tetapi tidak memiliki fungsi selain
memberikan informasi wajah tokoh yang terkait peristiwa. Praktik ini tidak berbeda
dengan penggunaan foto-foto narasumber di media cetak yang berfungsi hanya untuk
melengkapi informasi. Foto-foto yang cukup berinteraksi dengan elemen multimedia
lain, ditemukan pada artikel “Miniatur Nusantara di Tenggara Indonesia”. Misalnya, foto
kehidupan nelayan di Pulau Tarwa, Maluku Tenggara dengan video yang
menggambarkan kehidupan ibu-ibu yang sedang berada di perahu menuju Pulau Tarwa.
Foto dan video saling berinteraksi dan sama-sama mendukung penggambaran latar
belakang dan suasana cerita. Di sisi lain, ada juga foto yang memiliki pesan tersendiri
yang terlepas dari konteks narasi seperti tergambar dalam foto anak yang sedang
menjemur rumput laut di pinggir pantai (Lase, 2016, h. 178).
Artikel yang mempresentasikan bagaimana penggunaan elemen multimedia
dapat memperdalam narasi, diperoleh dari artikel berjudul “Jejak Korupsi Global dari
Panama” khususnya pada penggunaan elemen infografik. Narasi dalam artikel ini
berfungsi untuk mementaskan peristiwa dengan struktur kronologis. Ada beberapa tokoh
atau karakter yang dibahas dalam narasi, tetapi detail penting dari sosok yang dibahas
ditemukan dalam infografik. Ada 58 tokoh yang dibahas dalam infografik yang interaktif
tersebut. Mereka adalah orang-orang yang terkait dengan klien Firma Hukum Mossack
Fonseca. Masing-masing tokoh digambarkan tokoh, dan jaringan perusahaan gelap bebas
pajak (offshore) yang dirahasiakan tersebut. Kelemahannya adalah infografik tersebut
diperoleh dari tim International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ). Sebagai
307
e-Proceeding | COMICOS 2017
salah satu media partner ICIJ, maka Tempo diperbolehkan untuk mengakses dan
menggunakannya. Seharusnya, Tempo dapat membuat infografik yang sama untuk narasi
yang membahas tokoh-tokoh Indonesia.
Selain infografis, ada juga elemen video yang digunakan untuk memperdalam
narasi dan karakter para tokoh seperti dalam artikel “Seleksi Serampangan Punggawa
Penyiaran”. Video tersebut berisi potongan-potongan siaran televisi yang bersumber dari
Youtube. Misalnya video yang menggambarkan karakter Wiranto dan Hary Tanoe lewat
kuis Win-HT di RCTI. Atau video Aburizal Bakrie yang sedang berkampanye di TV
One, dan Surya Paloh yang berkampanye di Metro TV. Konten video tersebut sangat
kuat menggambarkan karakter Hary Tanoe, Aburizal Bakrie dan Surya Paloh sebagai
pemilik media cum pemimpin partai politik yang menggunakan medianya untuk
kepentingan politik.
Kelemahan yang mencolok dalam penggunaan elemen multimedia ini adalah
terdapat tiga infografik pada tiga artikel yang tidak tampak di layar, serta audio rekaman
yang tidak berfungsi. Hal ini cukup mengkhawatirkan karena dapat mengganggu
pengguna. Isu kompatibilitas memang menjadi salah satu persoalan yang harus
diperhitungkan, seperti mempertimbangkan jenis perangkat (devices) yang digunakan
oleh pengguna. Pengguna dapat mengakses narasi dari perangkat telepon seluler, tablet
atau laptop. Juga, mesin pencari (web browser) yang kemungkinan digunakan oleh
pengguna bisa berbeda-beda. Antara penggunaan Mozilla Firefox, Google Crome,
Safari, dan lain sebagainya bisa menyebabkan tampilan multimedia berbeda. Demikian
juga dengan penggunaan sistem operasi (operating system) perangkat seperti Android,
iOS, Windows, dan lain sebagainya.
308
e-Proceeding | COMICOS 2017
Interaktivitas
Berdasarkan amatan, ada tiga jenis interaktivitas yang dipraktikkan pada artikel-artikel
tempo.co yakni: pertama, ketersediaan elemen navigasi bagi pengguna. Pengguna bisa
memilih membaca jenis konten yang mana dengan cara menggulir (scroll) laman artikel.
Menggulir juga bisa dilakukan pada foto-foto atau video yang digunakan di dalam
artikel. Penggunaannya juga berbeda-berbeda, ada foto yang digabung dengan foto saja.
Ada juga yang bersamaan dengan video. Artikel berjudul “Miniatur Nusantara di
Tenggara Indonesia” adalah salah satu artikel yang menggunakan navigasi gulir dengan
menggabungkan antara foto dan video. Format navigasi semacam ini sangat bermanfaat
untuk menghemat ruang foto atau video dalam narasi. Komposisinya hampir sama seperti
foto slide show. Persoalannya adalah foto-foto yang digulirkan dalam format tersebut
memperlambat pengguna untuk membaca narasi. Ukuran foto yang cukup lebar
membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengulirkan masing-masing foto. Apalagi
kalau format tersebut digabung dengan video yang durasinya cukup lama.
Navigasi lainnya yang dimanfaatkan adalah ketersediaan elemen menu yang
berisi sub-sub judul penggalan cerita. Ada 14 artikel yang menggunakan elemen menu
ini. Salah satunya artikel berjudul “Prahara Pajak Raja Otomotif”. Navigasi ini berguna
untuk memberikan alternatif atau kemudahan bagi pengguna untuk memilih bagian cerita
mana yang hendak dibaca tanpa harus menggulung laman media berkali-kali.
Yang kedua adalah interaktivitas fungsional yang memberikan ruang untuk
berkomentar yang terhubung dengan akun media sosial Facebook pengguna. Dari 16
artikel hanya ada dua artikel yang menyediakan ruang komentar. Artikel ini berjudul “Di
Balik Aksi Brutal Jakmania” dikomentari oleh 5 pengguna, dan artikel berjudul “Obral
309
e-Proceeding | COMICOS 2017
Izin Sekolah Dokter” dikomentari oleh 8 pengguna. Berdasarkan amatan, ruang
komentar ini baru mulai dimanfaatkan pada artikel terbitan tahun 2017. Artinya, selama
tiga tahun sebelumnya, tempo.co belum memanfaatkan ruang interaktivitas tersebut.
Sumber gambar: https://investigasi.tempo.co/84/di-balik-aksi-brutal-jakmania
Jenis interaktivitas yang ketiga adalah bentuk interaksi yang memungkinkan
pengguna mengunggah, memberikan keterangan dan mendiskusikan konten mereka
sendiri, menawarkan ruang diskusi, dan penyesuaian pengguna terhadap desain situs
media digital yang digunakan. Hampir semua artikel menggunakan media sosial
Facebook, Twitter, Google Plus, dan Pinterest untuk menyerbarluaskan artikel. Namun,
tidak ada keterangan yang mendukung berapa jumlah penyebaran artikel di masing310
e-Proceeding | COMICOS 2017
masing media sosial. Penelitian ini terbatas untuk menelusuri siapa dan bagaimana proses
penyebarannya di media sosial. Bentuk interaksi pengguna atau pembaca berhenti pada
aktivitas pengguna di laman artikel.
Desain situs yang menarik dan interaktif dapat membuat pengguna betah untuk
berlama-lama di laman media. Tetapi, jika desain situs yang interaktif tidak didukung
dengan teknik desain yang memadai, dapat menyebabkan elemen multimedia atau
hiperlink tidak dapat diakses. Padahal, fungsi utama elemen-elemen tersebut adalah
untuk memperoleh pesan dari berbagai alternatif medium (Zerba, 2014). Pengguna
memang leluasa untuk memilih mengonsumsi konten dalam berbagai format. Namun
format-format tersebut harus dipastikan dapat berfungsi kapanpun diakses. Hal ini
misalnya terjadi pada rekaman audio dalam artikel berjudul “Tipu Muslihat Calon Abdi
Negara” yang tidak berfungsi, dan penggunaan infografik di artikel “Empat Raja Kapal
Siluman, “Setelah Michael Tak Mengaum Lagi”, dan “Kapal Siluman di laut Nusantara”
yang tidak muncul di laman.
Hipertekstual
Ada dua jenis domain hipertekstual yang digunakan dalam artikel-artikel ini: link yang
berasal dari domain internal artinya dari domain tempo.co sendiri dan link dari domain
eksternal. Link dari domain internal cukup dominan digunakan yakni sebanyak 9 artikel
dengan total 43 link. Sedangkan untuk link dari domain internal hanya ditemukan pada
artikel berjudul “Jejak Korupsi Global Dari Panama” sebanyak 13 link.
311
e-Proceeding | COMICOS 2017
hiperlink
Sumber gambar: https://investigasi.tempo.co/raja_kapal/
Ada dua cara kerja hiperteks yang digunakan dalam artikel-artikel ini yakni, pertama,
link ditanam pada kalimat dalam paragraf (lihat gambar), dan kedua misalnya seperti ini:
Baca “Obral Izin Sekolah Dokter” di Majalah Tempo Edisi 19-24 Desember 2016.
Format yang pertama, terhubung dengan link tempo.co, sedangkan format kedua
terhubung dengan link Majalah Tempo versi digital. Banyak link yang ditemukan dalam
artikel digunakan untuk menambahkan informasi terkait topik narasi, dan bukan
bertujuan untuk memperdalam narasi cerita.
Ada beberapa artikel yang ditemukan mengulang-ngulang link yang telah
digunakan pada paragraf sebelumnya. Salah satunya artikel berjudul “Tipu Muslihat
Calon Abdi Negara” yang menggunakan 10 link dari domain internal. Dari hasil
penelusuran, hanya ada lima link utama, selebihnya pengulangan dari link
https://www.tempo.co/topik/masalah/468/pegawai-negri-sipil
dan
https://www.tempo.co/topik/masalah/624/Tes-Penerimaan-Calon-Pegawai-NegeriSipil-CPNS ini. Kedua link inipun memiliki konten yang sama yakni berisi kumpulan
berita-berita singkat terkait topik pegawai negeri sipil. Dengan demikian, keberadaan
312
e-Proceeding | COMICOS 2017
link dalam artikel lebih bertujuan untuk menambahkan informasi terkait isu yang sama,
dan bukan untuk mempertajam adegan tertentu yang berusaha dibangun dalam narasi.
Tujuan penggunaan hipertekstualitas yang dipraktikkan dalam artikel tempo.co
berbeda dengan apa yang dikemukakan oleh Jacobson, Marino, dan Gutsche (2015) yang
melihat hiperteks lebih dari sekadar pemetaan pengenalan atau penambahan informasi
dari isu terkait. Tetapi merupakan integrasi teknologi yang digunakan untuk
mengisahkan narasi yang lebih mendalam dan menjadi satu kesatuan yang tidak
terpisahkan. Kendati begitu, muncul kekhawatiran bahwa keberadaan hiperteks yang
cukup dominan dalam narasi, dapat mengganggu konsentrasi pengguna, serta berpotensi
mengalihkan pengguna ke laman yang lain tanpa menuntaskan laman narasi.
KESIMPULAN
Praktik jurnalisme naratif di rubrik investigasi tempo.co adalah relokasi dari artikel yang
telah diterbitkan di Majalah Tempo dalam kurun 2014-2017. Tidak ada perubahan narasi
yang signifikan dari majalah dengan artikel yang diterbitkan di media digital. Salah satu
‘template’ yang khas dari artikel majalah adalah penggunaan kronologi wawancara
dengan salah satu narasumber yang dianggap penting. Selain itu, artikel yang diterbitkan
adalah sebagian besar hasil kerja tim yang sama seperti yang diterbitkan di majalah.
Ketika artikel yang sama dimuat di rubrik investigasi tempo.co, perbedaan yang paling
mencolok adalah adaptasinya dengan karakteristik digital. Pemanfaatan elemen
multimedia masih terbatas pada foto, video, infografis yang statis, dan audio rekaman.
Sedangkan elemen interaktif hanya menggunakan navigasi gulir layar (scroll), menu,
ruang komentar, dan media sosial. Praktik hiperteks dominan menggunakan link dari
domain internal yang sifatnya untuk menambah informasi dengan isu yang sama, dan
313
e-Proceeding | COMICOS 2017
bukan untuk mendalami narasi cerita.
Kelemahan penggunaan elemen multimedia, interaktivitas, dan hipertekstual
dalam praktik jurnalisme naratif di tempo.co adalah munculnya kompatibilitas tampilan
multimedia yang bisa disebabkan karena perbedaan perangkat, mesin pencari, dan
operasional sistem yang digunakan pengguna. Selain itu, banyak elemen multimedia
yang digunakan berasal dari Majalah Tempo, tempo.co, Koran Tempo, antara.co.id, dan
Youtube. Tidak ditemukan elemen multimedia yang khusus dibuat untuk mengadaptasi
narasi yang semula dari media cetak ke format digital. Jika dibandingkan dengan media
digital lain yang telah mengadopsi praktik jurnalisme naratif, media-media tersebut telah
jauh memanfaatkan elemen multimedia yang interaktif seperti video background, teknik
parallax scrolling, pemanfaatan peta interaktif google earth atau google street.
Penggunaan elemen multimedia, interaktivitas dan hipertekstual di tempo.co perlu
ditingkatkan, dan dimanfaatkan untuk menggambarkan adegan, memperkuat karakter,
dan memperdalam narasi cerita.
DAFTAR PUSTAKA
Alejandro, J. (2010). Journalism in The Age of Social Media. Diakses pada 26 Mei
2017, dari
https://reutersinstitute.politics.ox.ac.uk/sites/default/files/journalism%20in%20th
e%20age%20of%20social%20media.pdf
Barnhurst, KG. (2010). The Form of Reports on US Newspaper Internet Sites, an Update.
Journalism Studies 11(4): 555–566.
Barnhurst, KG. (2013). Newspapers Experiment Online: Story Content After a Decade
on The Web. Journalism, 14 (1): 3-21.
Bardoel, J. dan M. Deuze. (2001). ‘Network Journalism: Converging Competences of
Media Professionals and Professionalism’, Australian Journalism Review 23(2):
91–103.
Bennet, J .(2013). Against ‘long-form’ journalism. The Atlantic, 12 Desember. Diakses
pada
12
Mei
2017
dari:
http://www.theatlantic.com/business/archive/2013/12/against-long-formjournalism/282256/.
314
e-Proceeding | COMICOS 2017
Bernard, H. R. (2001). Research Methodes in Antropology: Qualitative and Quantitative
Approaches. 5th edition. Lanham, MD. Rowman and Littlefield.
Blattner, M. M., & Dannenberg, R. D. (ed.). (1992). Multimedia Interface Design. New
York: ACM Press.
Branch, J. (2012). Snow Fall: The Avalanche at Tunnel Creek. Diakses pada 27 Mei
2017, dari http://www.nytimes.com/projects/2012/snow-fall/#/?part=tunnel-creek
Chapman, N., & Chapman. J. (2000). Digital Cartography. New York: John Wiley &
Sons.
Coonfield, G., & Huxford, J .(2009). News images as lived images: Media ritual, cultural
performance, and public trauma. Critical Studies in Media Communication 26(5):
457–479.DOI:10.1080/15295030903325354.
Corbetta, P. (2003). Social Research: Theory, Methods and Techniques. London,
Thousand Oaks, dan New Delhi: Sage Publication.
Cresswell, J. W. (2009). Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed
Methodes Approaches. Third Edtion. Thousand Oaks, New Delhi & London: Sage
Publications, Inc.
Deuze, M. (2003). The Web and Its Journalisms: Considering The Consequences of
Different Types of News Media Online. New Media & Society 5 (2): 203–230.
Given, L. M. (2008). The Sage Encyclopedia of Qualitative Research Methods. USA:
SAGE Publications, Inc
Harsono, A. & Setiyono, B. (eds.). (2008). Jurnalisme Sastrawi: Antologi Liputan
Mendalam dan Memikat. Edisi Revisi. Jakarta: Kepustakaan Popular Gramedia.
Hiippala, T. (2016). The Multimodality of Digital Longform Journalism. Digital
Journalism. DOI: 10.1080/21670811.2016.1169197
Huxford J .(2001). Beyond the referential: Uses of visual symbolism in the press.
Journalism 2(1): 45–71. DOI:10.1177/146488490100200102.
Jacobson, S., Marino, J., & Gutsche, R. E. (2015). The Digital Animation of Literary
Journalism. Journalism. DOI:10.1177/1464884914568079.
Jiang, Y. (2014). Best Longform Journalism Sites. Diakes pada 7 Mei 2017, dari
http://www.voxmagazine.com/arts/books/best-longform-journalismsites/article_799f63ef-e062-5f10-8bac-eaa1a0e8c468.html
Lase, Formas Juitan. (2016). “Jurnalisme Multimedia Longform di Media Digital:
Analisa Naratif Artikel Tempo.co 2014-2016.” Prosiding “Tren Pola Konsumsi
Media di Indonesia 2016” yang diterbitkan oleh Serikat Perusahaan Pers. Agustus
2016, hal. 172-185.
McAthy, R. (2013). New York Times Digital Snowfall feature Wins Pulitzer. Diakses
pada 7 Agustus 2016, dari https://www.journalism.co.uk/news/new-york-timesdigital-snowfall-feature-wins-pulitzer/s2/a552683/
Nugroho, Y., Putri, D.A., & Laksmi, S. (2012) Memetakan Lanskap Industri Media
Kontemporer di Indonesia. Jakarta: CIPG dan HIVOS.
Rosenberg, H., & Feldman, C.S. (2008). No Time to Think: The Menace of Media Speed
and the 24-hour News Cycle. New York: Continuum.
Sims, N. (1995). The Art of Literacy Journalism, in Norman Sims and Mark Kramer.
(ed.), Literary Journalism: A New Collection of the Best American Nonfiction. New
York: Ballantine Books: 3-19.
Sharp, N. (2013). The Future of Longform. Diakses pada 27 Mei 2017, dari
http://www.cjr.org/behind_the_news/longform_conference.php?page=all
Tempo.co. (2016). “Bagaimana Tempo Terlibat Investigasi Panama Papers.” Diakses
315
e-Proceeding | COMICOS 2017
pada 4 Mei 2017 dari:
https://m.tempo.co/read/news/2016/04/06/078760141/bagaimana-tempo-terlibatinvestigasi-panama-papers
Wolfe, T. (2006). From The New Journalism, in G. Stuart Adam and Roy Peter Clark.
(ed.). Journalism: The Democratic Craft. New York: Oxford University Press:
271-295.
Wolfe, T., & Johnson, E. W. (1973). The new journalism: With an anthology edited by
Tom Wolfe and E.W. Johnson. New York: Harper & Row.
Zerba, A. (2004). Redefining Multimedia Toward A More Packaged Journalism Online.
Dipresentasikan di Fifth International Symposium on Online Journalism at the
University of Texas at Austin April 16-17. Diakses pada 10 Mei 2017 dari:
https://www.academia.edu/643887/Redefining_Multimedia_Toward_a_More_Pa
ckaged_Journalism_Online
LAMPIRAN
Judul Artikel
Melacak Jejak si Molly
Seleksi Serampangan Punggawa Penyiaran
Tipu Muslihat Calon Abdi Negara
Prahara pajak Raja Otomotif
Senjakala Ketoprak Tobong
Empat Raja Kapal Siluman
Miniatur Nusantara di Tenggara Indonesia
Setelah Michael Tak Mengaum Lagi
Kapal Siluman di Laut Nusantara
Jadi Seorang Martir Bernama Dokter Mochtar
Selamat Malam, Pagi...
Jejak Korupsi Global dari Panama
Ada apa dengan Pizza?
Di Balik Aksi Brutal Jakmania
Obral Izin Sekolah Dokter
316
URL
https://investigasi.tempo.co/narkoba/
https://investigasi.tempo.co/kpi/
https://investigasi.tempo.co/cpns/
https://investigasi.tempo.co/toyota/
https://investigasi.tempo.co/ketoprak_tobong/
https://investigasi.tempo.co/raja_kapal/
https://investigasi.tempo.co/kepulauan_kai/
https://investigasi.tempo.co/kbs/
https://investigasi.tempo.co/kapal_siluman/
https://investigasi.tempo.co/achmad_mochtar/
https://investigasi.tempo.co/gerhana_matahari/
https://investigasi.tempo.co/panama/
https://investigasi.tempo.co/pizza-hut-marugameudon-kedaluarsa/
https://investigasi.tempo.co/84/di-balik-aksi-brutaljakmania
https://investigasi.tempo.co/101/obral-izin-sekolahdokter
e-Proceeding | COMICOS 2017
DINAMIKA KELOMPOK DALAM PROSES KOMUNIKASI ORGANISASI
SUBTEMA
DINAMIKA MEDIA, BUDAYA DAN MASYARAKAT
317
e-Proceeding | COMICOS 2017
318
e-Proceeding | COMICOS 2017
PERHIMPUNAN PEREMPUAN PEKERJA SEKS YOGYAKARTA
Erwin Rasyid
085799093119 | [email protected]
Program Studi Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan
Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
Abstract
Prostitution is sexual service for gaining cash. For someone who works in sexual
service named as a prostitute or in Bahasa called as Pekerja Seks Komersial (PSK).
Nowaday PSK term constructed by people to discriminate the sex labor. Sometimes
Perempuan pekerja seks (PPS) obtain the negative streotype from society, because they
know as a moral offender in social culture. Even though, some of them try to get another
work. However, the society streotype have caused PPS not able to discharge from their
profession that caused by Lack of advocacy from related stakeholders who are not serious
to give more protection.
In Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), there are some location that used for
prostitution area for instance Pasar Kembang or known as sarkem, Ngebong dan nearby
Giwangan station. In every prostitution area have three community that be organtized for
PPS to advocate their rights, for example Bunga Seroja Community located in Sarkem,
Arum Dalu Sehat Community located in Ngebong and Surti Berdaya in Giwangan.
Afterward, the communities established Perhimpunan Perempuan Pekerja Seks
Yogyakarta (P3SY).
P3SY is an organization that used as an advocacy tool of female sex worker in
DIY. The community consists of Bunga Seroja, Arum Dalu Sehat and Surti Berdaya.
This research finds some factors that cause group dynamics in P3SY organization
communication process. That is, the geographical location of the three different
prostitution areas and the different number of members resulted in the dynamics of each
community. The dynamics then make the P3SY organizational communication process
becomes more interesting both in the process of decision making and in the process of
relations among fellow members.
Key words: Group Pressure , Organizational communication and Sex Labor.
Abstrak
Pelacuran atau prostitusi adalah penjualan jasa seksual atau hubungan seks untuk
uang. Seseorang yang menjual jasa seksual disebut pelacur, yang kini disebut dengan
istilah pekerja seks komersial atau PSK. Istilah PSK adalah bentuk diskriminasi
masyarakat terhadap para pekerja seks. Dalam pengertian yang luas, sesorang yang
menjual jasanya untuk hal yang dianggap tak berharga juga disebut melacurkan dirinya
sendiri. Perempuan pekerja seks (PPS) sering mengundang streotipe negatif di berbagai
lapisan masyarakat, karena dianggap pelaku pembelokan moral dan budaya yang ada di
masyarakat. Meskipun demikian, diantara PPS tersebut berupaya untuk keluar dari
319
e-Proceeding | COMICOS 2017
profesinya. Namun paradigma yang telah melekat di masyarakat membuat para PPS
enggan keluar dari keadaanya yang sekarang karena minimnya advokasi dari stakeholder
terkait yang tidak serius menaunginya.
Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terdapat beberapa kawasan yang sering
menjadi tempat para pekerja seks menjajakan diri. Yaitu kawasan Pasar Kembang atau
yang lebih dikenal sarkem, pinggir rel kereta api Stasiun Tugu (Ngebong dan di kawasan
terminal giwangan). Di tiga kawasan tersebut terdapat komunitas yang menjadi wadah
berorganisasi dari PPS untuk memperjuangkan haknya, antara lain komunitas Bunga
Seroja di Sarkem, komunitas Arum Dalu Sehat di Ngebong dan komunitas Surti Berdaya
di Giwangan. Ketiga komunitas tersebut kemudian membentuk satu payung organisasi
yang bernama Perhimpunan Perempuan Pekerja Seks Yogyakarta (P3SY).
Metode yang digunakan dalam paper ini adalah pendekatan etnografi komunikasi
dengan mengamati aktifitas komunikasi dari subjek yang diteliti. P3SY merupakan
organisasi yang dijadikan sebagai alat advokasi dari tiga komunitas pekerja seks yang
ada di DIY. Komunitas tersebut terdiri dari Bunga Seroja, Arum Dalu Sehat dan Surti
Berdaya. Penelitian ini menemukan adanya beberapa faktor yang menimbulkan
dinamika kelompok dalam proses komunikasi organisasi P3SY. Yaitu letak geografis
dari tiga wilayah prostitusi yang berbeda serta adanya perbedaan jumlah anggota
mengakibatkan terjadinya dinamika pada masing-masing komunitas. Dinamika tersebut
kemudian membuat proses komunikasi organisasi P3SY menjadi semakin menarik baik
dalam proses pengambilan keputusan maupun dalam proses hubungan antar sesama
anggotanya.
Kata Kunci: Tekanan Kelompok, Komunikasi Organisasi dan Pekerja Seks.
A. Pendahuluan
Kaum marjinal sering dianggap sebagai bentuk kegagalan dari pembangunan
khususnya dalam bidang investasi human capital. Selain itu, indikator pembangunan
yang selalu menitik beratkan pada pembangunan sektor ekonomi dan politik membuat
posisi kaum marjinal dalam struktur pembangunan semakin terjepit. Tak terkecuali
bagi perempuan yang berprofesi sebagai pekerja seks atau sering disebut dengan
pelacur.
Pelacuran atau prostitusi adalah penjualan jasa seksual atau hubungan seks
untuk uang. Seseorang yang menjual jasa seksual disebut pelacur, yang kini juga
disebut dengan istilah pekerja seks komersial atau PSK. Istilah PSK adalah bentuk
diskriminasi masyarakat terhadap para pekerja seks. Dalam pengertian yang luas,
sesorang yang menjual jasanya untuk hal yang dianggap tak berharga juga disebut
320
e-Proceeding | COMICOS 2017
melacurkan dirinya sendiri. Di Indonesia pelaku pelacuran sering disebut sebagai
sundal. Ini menunjukan bahwa perilaku perempuan pekerja seks sangat begitu hina
dan menjadi musuh masyarakat.
Pekerjaan melacur sudah dikenal di masyarakat sejak berabad lampau, ini
terbukti dengan banyaknya catatan seputar mereka dari masa kemasa. Sejarah telah
menuturkan banyak riwayat tentang perilaku seks manusia, mulai dari zaman prasejarah kini dengan ditemukannya berbagai ilustrasi yang secara antropologis dapat
dikatakan sebagai riwayat tetang perilaku seks manusia (Sudarto, 2013). Resiko yang
disebabkan akibat pelacuran antara lain adalah keresahan masyarakat dan dianggap
sebagai biang penyebaran penyakit menular seksual, seperti HIV/ AIDS, Spilis dan
sebagainya.
Perempuan pekerja seks (PPS) sering mengundang streotip negatif di berbagai
lapisan masyarakat, karena dianggap pelaku pembelokan moral dan budaya yang ada
di masyarakat. Stigma tersebut muncul sebagai akibat dari adanya norma perkawinan
yang menjadi ideologi dominan di masyarakat. Dalam pandangan budaya patriaki PPS
juga dianggap sebagai bentuk kemiskinan struktural. Hal ini timbul dari adanya
pembagian kelas dalam budaya patriaki yang menempatkan kaum perempuan berada
di bawah dominasi kaum laki-laki.
Para pekerja seks sering kali mengalami kekerasan psikis maupun fisik dari para
pelanggan. Perlakuan kasar dan diskriminasi yang terima oleh para pekerja seks acap
kali tidak terselesaikan dengan baik. Muara hukum yang tak jelas serta kurangnya
kepeduliaan masyarakat terhadap para pekerja seks juga turut mempengaruhi hal
tersebut.
321
e-Proceeding | COMICOS 2017
Meskipun demikian, beberapa diantara PPS tersebut berupaya untuk keluar dari
profesinya. Di antaranya dengan membuka warung makan, bekerja sebagai penjaga
toko dan lain-lain. Sikap itu telah menunjukan bahwa para PPS memiliki niat positif
untuk berubah, namun paradigma yang telah melekat di masyarakat membuat para
PPS kesulitan untuk keluar dari keadaanya sekarang karena minimnya peran
pemerintah dalam mengentaskan fenomena tersebut. Oleh sebab itulah kemudian
beberapa pekerja seks yang ada di Yogyakarta membentuk komunitas yang tersebar
di masing-masing wilayah sebagi bentuk gerakan perlawanan terhadap diskriminasi
yang mereka terima.
Di Daerah Istimewa Yogyakarta terdapat beberapa kawasan yang sering
menjadi tempat para pekerja seks menjajakan diri. Di antaranya adalah kawasan Pasar
Kembang atau yang lebih dikenal sarkem serta di kawasan terminal giwangan.
Kawasan Pasar Kembang (Sarkem) ini terletak di gang-gang sempit di belakang
gedung pemerintahan menuju Stasiun Tugu. Biasanya para PPS lokal yang berada
disini berasal dari daerah Parangkusumo, Parangtritis dan Bantul. Kebanyakan PPS
juga berasal dari luar Yogyakarta, ada yang berasal dari Temanggung, Semarang,
Kudus, Pati, Purwodadi, Rembang, Kendal, Nganjuk, bahkan Jawa Timur dan
Kalimantan.
Sementara itu di kawasan Giwangan terdapat sekitar 200 pekerja seks dengan
umur rata-rata 25-50 tahun yang setiap malamnya menyebar di kawasan jalan lingkar
utara dan selatan sekitar terminal18 . Angkringan menjadi semacam etalase bagi para
pekerja seks. Ada pengunjung yang sekedar mampir, ada pula yang menawar hingga
https://nasional.tempo.co/read/news/2012/12/19/058449079/memotret-angkringan-dan-pekerja-seksgiwangan
18
322
e-Proceeding | COMICOS 2017
terjadi kesepakatan harga. Transaksi terjadi di angkringan, pelanggan mulai dari anak
SMP, mahasiswa, hingga orang-orang tua. Kemudian wilayah lain yang juga sering
disinggahi oleh beberapa PPS adalah Bong Suwung atau Ngebong. Daerah ini terletak
di sepanjang pinggiran rel kereta api stasiun Tugu Yogyakarta. PPS yang mendiami
tempat tersebut biasanya berasal dari eks PPS yang dulunya sering mangkal di
Sarkem.
Para PPS di Sarkem membentuk komunitas “Bunga Seroja”, di Ngebong
mereka menyebut komunitasnya sebagai “Arum Dalu Sehat” atau ADS, kemudian di
Giwangan menamakan komunitasnya dengan sebutan “Surti Berdaya”. Ketiga
komunitas tersebut selanjutnya membentuk satu payung organisasi bersama yang
diberi nama Perhimpunan Perempuan Pekerja Seks Yogyakarta (P3SY). Organisasi
inilah yang kemudian menjadi alat advokasi bagi mereka seperti untuk memperoleh
akses layanan kesehatan, perlindungan hukum, dan sebagainya.
Pemberdayaan dalam wujud komunitas yang dilakukan oleh para PPS di
Yogyakarta menunjukkan bahwa terdapat kesadaran untuk berorganisasi di kalangan
kaum marjinal. Kesadaran kolektif tersebut tumbuh dari adanya kesamaan nasib yang
dialami oleh para anggota dari komunitas tersebut. Sehingga mereka kemudian
menciptakan sebuah ruang ekspresi yang digunakan untuk mencapai tujuan bersama
dengan cara yang formal dan terstruktur dengan rapi.
Gerakan advokasi melalui jalur organisasi dianggap lebih efektif ketimbang
hanya bergerak sendiri-sendiri. Bergerak secara berkelompok menjadi pilihan yang
ditempuh oleh pekerja seks yang ada di Yogyakarta untuk memperjuangkan hak-hak
mereka sebagai warga negara. Menurut Johnson & Johnson (2012) kelompok dapat
diartikan sebagai sejumlah orang yang berkumpul bersama untuk mencapai suatu
323
e-Proceeding | COMICOS 2017
tujuan. Kelompok itu ada untuk suatu alasan dan orang membentuk kelompok untuk
mencapai tujuan yang tidak dapat mereka capai sendiri.
Dalam suatu kelompok, terdapat suatu struktur dan pembagian peran dari
masing-masing anggota yang berhimpun di dalamnya. Struktur tersebut dapat
berbentuk formal maupun non-formal. Para pekerja seks yang ada di Yogyakarta
dalam hal ini membentuk suatu kelompok dengan susunan struktur organisasi yang
berbentuk formal. Struktur organisasi P3SY terdiri dari ketua, wakil ketua, sekretaris,
bendahara dan anggota. Kemudian pada tataran komunitas, masing-masing wilayah
juga memiliki struktur organisasi yang hampir sama dengan P3SY. Untuk lebih
jelasnya, berikut ini adalah susunan organisasi P3SY yang menaungi tiga komunitas
dari masing-masing wilayah:
Gambar 1. Struktur Organisasi P3SY
Struktur organisasi di atas menunjukkan adanya dua bentuk struktur formal
yang terdapat di P3SY. Yaitu struktur formal pada tingkatan organisasi P3SY dan
324
e-Proceeding | COMICOS 2017
struktur formal yang terdapat pada tataran komunitas yang berada di bawah naungan
P3SY. Keberadaan dua bentuk struktur tersebut kemudian akan membentuk jalur
kordinasi dan komunikasi yang berbeda pula pada masing-masing tingkatan struktural
organisasi.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa P3SY merupakan organisasi
yang terdiri dari tiga komunitas yang berbeda dan berasal dari wilayah yang berbeda
pula. Artinya, terdapat tiga kelompok yang mewakili suara masing-masing wilayah
tempat mereka berasal. Hal ini kemudian akan menimbulkan dinamika kelompok
yang berpengaruh terhadap proses komunikasi organisasi P3SY.
Masing-masing komunitas yang terdapat di dalam P3SY akan memiliki
pengaruh terhadap kebijakan dan keputusan organisasi. Selain itu, letak geografis dari
tiga wilayah prostitusi yang berbeda tentu akan membuat dinamika kelompok dalam
proses komunikasi dalam organisasi P3SY menjadi semakin menarik. Paper ini
bertujuan untuk meneliti mengenai bagaimana tekanan dan dinamika kelompok dalam
proses komunikasi organisasi P3SY.
B. Kajian Pustaka
Pada hakikatnya manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain
untuk dapat bertahan hidup. Naluri itu pula yang mendorong manusia untuk bisa hidup
dengan orang lain dan bergabung dalam suatu kelompok. Hidup secara berkelompok
dapat membantu manusia untuk memenuhi segala kebutuhannya baik kebutuhan
materil dan in-materil. Menurut Burhan Bungin (2006) struktur dalam masyarakat
terdiri dari:
325
e-Proceeding | COMICOS 2017
1. Kelompok Sosial adalah kehidupan bersama manusia dalam himpunan atau
kesatuan-kesatuan manusia yang umumnya secara fisik relatif kecil yang hidup
secara guyub.
2. Lembaga (Pranata) Sosial, yaitu sekumpulan tata aturan yang mengatur
interaksi dan proses-proses soial di dalam masyarakat. Lembaga sosial
memungkinkan setiap struktur dan fungsi serta harapan-harapan setiap anggota
dalam masyarakat dapat berjalan dan memenuhi harapan sebagaimana yang
disepakati bersama.
3. Stratifikasi Sosial, yaitu struktur sosial yang berlapis-lapis di dalam masyarakat.
Lapisan sosial menunjukkan bahwa masyarakat memiliki strata, mulai dari yang
terendah sampai yang paling tinggi.
4. Mobilitas sosial, yaitu suatu gerak perpindahan dari suatu kelas sosial ke kelas
sosial lainnya. Mobilitas sosial bisa berupa peningkatan atau penurunan dalam
segi status sosial dan biasanya termasuk pula segi penghasilan yang dapat
dialami oleh beberapa individu atau oleh keseluruhan anggota kelompok.
5. Kebudayaan adalah produk dari seluruh rangkaian proses sosial yang dijalankan
oleh manusia dalam masyarakat dengan segala aktifitasnya. Dengan demikian,
kebudayaan adalah hasil nyata dari sebuah proses sosial yang dijalankan oleh
manusia bersama masyarakatnya.
Kelompok dapat diartikan sebagai sejumlah orang yang berkumpul bersama
untuk mencapai suatu tujuan (Johnson & Johnson, 2006). Motivasi seorang Individu
untuk membentuk atau bergabung dengan kelompok adalah mencoba untuk
memuaskan beberapa kebutuhan pribadi dan tujuan mereka akan keberadaan
kelompok tersebut. Sekerumunan orang tidak dapat dikatakan sebagai kelompok
326
e-Proceeding | COMICOS 2017
apabila mereka tidak memiliki pengaruh satu sama lain. Jalaluddin Rakhmat (2015)
mengatakan bahwa kelompok mempunyai tujuan dan organisasi (tidak selalu formal)
dan melibatkan interaksi di antara anggota-anggotanya.
Salah satu bentuk kelompok yang dominan dijumpai adalah kelompok sosial.
Burhan Bungin (2006) mengklasifikasikan kelompok menjadi beberapa karakter,
yaitu:
Tabel 1. Tipe Kelompok Sosial
Kelompok
Sekunder
Primer
Formal
A
B
Sekunder
C
D
Kelompok Formal-Sekunder (A) adalah kelompok sosial yang umumnya
bersifat sekunder dan bersifat formal serta memiliki aturan dan struktur yang tegas
yang dibentuk berdasarkan tujuan-tujuan yang jelas pula. Beberapa contoh kelompok
ini adalah kelompok organisasi yang mengikat anggotanya secara formal berdasarkan
aturan-aturan yang dibuat oleh organisasi tersebut. Hubungan antar anggota biasanya
bersifat struktural dan fungsional serta memiliki hubungan timbal balik antar anggota
lainnya.
Kemudian Kelompok Formal-Primer (B) adalah kelompok sosial yang
umumnya bersifat formal namun keberadaannya bersifat primer. Kelompok ini tidak
memiliki aturan yang jelas dan tidak dijalankan pula secara tegas. Kelompok B
memiliki struktur yang tegas yang dimana fungsi-fungsi struktur tersebut dijalankan
guyub. Terbentuknya kelompok ini didasarkan oleh tujuan-tujuan yang jelas ataupun
tujuan yang abstrak. Kelompok formal-primer secara umum juga memiliki sifat-sifat
dari kelompok formal-sekunder seperti kesadaran dari anggota sebagai bagian dari
327
e-Proceeding | COMICOS 2017
kelompok tersebut. Dan sesama anggota memiliki hubungan timbal balik satu sama
lain. Contoh dari kelompok ini adalah anggota keluarga inti, kelompok kekerabatan
dan sebagainya.
Selanjutnya adalah Kelompok Informal-Sekunder (C) yaitu kelompok sosial
yang umumnya bersifat informal namun keberadaannya bersifat sekunder. Kelompok
ini bersifat tidak mengikat, tidak memiliki aturan dan struktur yang tegas serta
dibentuk berdasarkan sesaat dan tidak memikat bahkan bisa terbentuk walaupun
memiliki tujuan-tujuan kurang jelas. Contoh kelompok ini misalnya kelompok
persahabatan, geng, percintaan dan sebagainya.
Yang terakhir adalah Kelompok Informal-Primer (D) yaitu kelompok sosial
yang terjadi akibat meleburnya sifat-sifat kelompok sosial formal-primer atau
disebabkan karena pembentukan sifat-sifat di luar kelompok formal-primer yang tidak
dapat ditampung oleh kelompok formal-primer. Kelompok ini juga merupakan bentuk
lain dari kelompok informal-sekunder terutama menonjol dihubungan mereka yang
sangat pribadi dan mendalam. Contoh dari kelompok ini misalnya adalah dua orang
sahabat karib yang sudah merasa seperti saudara kandung atau seorang ayah yang
mengadopsi dan mengangkat seorang anak untuk diasuh.
Burhan Bungin (2006) juga mengungkapkan bahwa terdapat kelompok sosial
tidak teratur yang struktur dan bersifat sementara dan sulit untuk diamati. Contoh dari
kelompok ini adalah kerumunan dan publik. Kerumunan merupakan kelompok yang
terbentuk secara tiba-tiba dan kebetulan dalam suatu tempat dan waktu yang sama
karena kebetulan memiliki perhatian yang sama. Umumnya kelompok ini tidak
memiliki interaksi dan ikatan sosial di dalamnya walaupun mereka berada pada
tempat dan perasaan yang sama.
328
e-Proceeding | COMICOS 2017
Sama
seperti
Burhan
Bungin,
Cooley
(dalam
Rakhmat,
2015)
mengklasifikasikan kelompok menjadi dua yaitu kelompok primer dan sekunder. Jika
Burhan Bungin dan Cooley membagi mengklasifikasikan kelompok berdasarkan
karakter komunikasinya, maka Sumner dan Newcomb membagi kelompok
berdasarkan keanggotaan dan kedudukan seseorang dalam suatu kelompok. Sumner
membuat istilah ingroup dan outgroup sedangkan Newcomb menciptakan istilah
kelompok keanggotaan (membership group) dan kelompok rujukan (reference
group).
Dari isitlah yang dimunculkan oleh Newcomb inilah kemudian melahirkan teori
kelompok rujukan (Hyman dalam Rakhmat, 2015: 144) yang mengatakan bahwa
kelompok rujukan memiliki dua fungsi yaitu fungsi komparatif dan fungsi normatif.
Kelompok digunakan sebagai rujukan atau referensi untuk menilai diri sendiri
ataupun membentuk sikap dan perilaku diri sendiri.
Kelompok akan memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap perilaku
komunikasi dari anggota kelompok tersebut. Beberapa pengaruh (dalam Rakhmat,
2015) yang timbulkan yaitu:
1. Konformitas, yaitu bila sejumlah orang dalam kelompok mengatakan atau
melakukan sesuatu, ada kecendrungan para anggota untuk mengatakan dan
melakukan hal yang sama
2. Fasilitas sosial, yaitu kehadiran kelompok bersifat fasilitatif yang berfungsi
untuk meningkatkan kualitas pekerjaan dari anggotanya. Meski dalam beberapa
hal, kehadiran kelompok justru menghambat pelaksanaan kerja.
3. Polarisasi, yaitu suatu implikasi yang akan berdampak negatif terhadap
kelompok yang disebabkan oleh adanya proporsi yang mendukung argumentasi
329
e-Proceeding | COMICOS 2017
dari sikap atau tindakan tertentu. Keputusan kelompok akan menjadi konservatif
dan membuat peserta komunikasi jauh dari dunianya serta membuat
produktifitas kelompok menjadi menurun.
Keberhasilan suatu organisasi akan dipengaruhi oleh ukuran dan efektifitas dari
anggota
kelompok
organisasi
tersebut.
Dalam
suatu
kelompok
terdapat
kecenderungan antara kerja sama dan persaingan. Ketika anggota kelompok bekerja
dengan cara bekerja sama, maka komunikasi cenderung lebih sering terbuka, lengkap,
tepat, dan jujur. Sedangkan Ketika anggota kelompok saling bersaing, komunikasi
cenderung kurang dan dapat menjadi menyesatkan (Rakhmat, 2014).
Organisasi yang memiliki kohesifitas yang cukup tinggi adalah kelompok yang
akan cenderung kompak dan memiliki kerja sama anggota yang baik. Kohesi
kelompok didefinisikan sebagai kekuatan yang mendorong anggota kelompok untuk
tetap tinggal dalam kelompok dan mencegahnya meninggalkan kelompok (Collins
dan Raven dalam Rakhmat, 2014).
Selain ukuran dan kohesifitas, faktor lain yang akan mempengaruhi kinerja
suatu suatu organisasi adalah karakter kepemimpinan yang dimiliki oleh ketua
kelompok tersebut. Kepemimpinan adalah komunikasi yang secara positif
mempengaruhi kelompok untuk bergerak ke arah tujuan kelompok (Cragan dan
Wright dalam Rakhmat 2014). Lebih lanjut, White dan Lipit (Rakhmat, 2014)
mengklasifikasikan gaya kepemimpinan menjadi tiga, yaitu otoriter, demokratis dan
laissez faire.
Kepemimpinan otoriter ditandai dengan keputusan dan kebijakan yang
seluruhnya ditentukan oleh pemimpin. Kepemimpinan demokratis menampilkan
pemimpin yang mendorong dan membantu anggota kelompok untuk membicarkan
330
e-Proceeding | COMICOS 2017
dan memutusukan semua kebijakan. Sedangkan laissez faire memberikan kebebasan
penuh bagi kelompok untuk mengambil keputusan individual dengan partisipasi
pemimpin yang minimal (Rakhmat, 2014).
Pola-pola komunikasi berperan penting dalam memajukan studi mengenai
organisasi yaitu dengan menunjukkan pentingnya pola-pola komunikasi dalam
pembangunan hubungan jaringan, struktur kekuasaan dan budaya (Morissan, 2013).
Komunikasi Organisasi dapat didefinisikan sebagai pertunjukan dan penafsiran pesan
di antara unit-unti komunikasi yang merupakan bagian dari suatu organisasi tertentu
(Pace dan Faules, 2015). Sifat terpenting komunikasi organisasi adalah penciptaan
pesan, penafsiran, dan penanganan kegiatan anggota organisasi (Ishak, 2012).
C. Metodologi Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan etnografi
komunikasi dengan mengamati aktifitas komunikasi dari subjek yang diteliti.
Etnografi komunikasi adalah suatu kajian mengenai pola-pola komunikasi sebuah
komunitas budaya (Zakiah, 2005). Sumber data berasal dari hasil pengamatan yang
dilakukan oleh penulis selama satu tahun di tiga tempat lokalisasi yang ada di
Yogyakarta. Yaitu kawasan Pasar Kembang (Sarkem), Ngebong dan Terminal
Giwangan. Adapun unit yang dianalisis adalah pola komunikasi organisasi dari
komunitas-komunitas yang berada di bawah naungan Perhimpunan Perempuan
Pekerja Seks Yogyakarta (P3SY).
D. Pembahasan
P3SY pada dasarnya merupakan organisasi perempuan yang memiliki tujuan
untuk mendampingi dan mengadvokasi perempuan pekerja seks yang ada di
Yogyakarta. Jika merujuk kepada jenis kelompok yang dikemukakan oleh Burhan
331
e-Proceeding | COMICOS 2017
Bungin (2006), maka P3SY dapat dikategorika sebagai tipe kelompok FormalSekunder. Yaitu tipe kelompok yang mengikat anggotanya secara formal berdasarkan
aturan-aturan yang dibuat oleh organisasi tersebut. Kelompok ini juga memiliki
sturktur dan pembagian tugas yang jelas di dalamnya.
Manifestasi gerakan yang dibuat oleh P3SY adalah untuk menimbulkan
kesadaran para anggotanya melalui komunikasi organisasi baik dalam ranah
komunitas maupun P3SY sebagai organisasi yang menghimpun komunita-komunittas
tersebut. Namun dalam prosesnya, ada beberapa hal yang turut mempengaruhi proses
penyampaian pesan dalam komunikasi organisasi P3SY.
Proses komunikasi organisasi yang terjadi pada komunitas pekerja seks yang
terhimpun dalam Perhimpunan Perempuan Pekerja Seks Yogyakarta (P3SY) tidak
terlepas dari tekanan-tekanan kelompok yang ada di dalamnya. Setiap komunitas
memiliki tujuan dan kepentingan masing-masing. Hal ini kemudian akan
menimbulkan adanya perbedaan pendapat di antara komunitas-komunitas tersebut
dan turut mempengaruhi setiap pengambilan keputusan organisasi. Sehingga
mengakibatkan terjadinya polarisasi dalam internal P3SY.
Hasil penelitian di lapangan menunjukkan bahwa kondisi geografis menjadi
salah satu faktor utama yang mempengaruhi kualitas komunikasi organisasi yang
dihasilkan oleh P3SY. Di antaranya adalah sulitnya mengadakan rapat rutin organisasi
mulai dari penentuan lokasi rapat hingga kendala alur kordinasi antar komunitas.
Letak geografis dan lokasi yang berbeda dari masing-masing komunitas
mempengaruhi proses penyampaian pesan dalam proses komunikasi organisasi P3SY.
Salah satu hambatan terbesar bagi kelancaran arus komunikasi adalah keadaan
atau sikap yang sudah melekat, membudaya dalam organisasi itu sendiri, terdapat
332
e-Proceeding | COMICOS 2017
jarak fisik antar orang, dan tempat yang berjauhan, karena waktu yang dibutuhkan
dalam system komunikasi organisasi memerlukan waktu cukup panjang, berliku-liku,
lambat dan lama sekali prosesnya (Rahmanto, 2004).
Sebagai ketua organisasi, Sarmi adalah sosok yang selalu menjadi rujukan
dalam setiap pengambilan keputusan organisasi di P3SY. Tidak hanya di P3SY, di
komunitas-komunitas seperti Bunga Seroja, Surti Berdaya dan ADS juga menjadikan
ketua masing-masing sebagai rujukan utama dalam setiap keputusan yang dihasilkan.
Maka jika merujuk pada teori jaringan komunikasi, bentuk komunikasi ini merupakan
jaringan komunikasi yang berbentuk roda yaitu menjadikan pemimpin sebagai fokus
perhatian setiap anggota kelompok.
Anggota
Anggota
Ketua
Anggota
Anggota
Gambar 2. Jaringan Komunikasi P3SY
Ada beberapa hal mengakibatkan mengapa anggota dari masing-masing
komunitas maupun P3SY hanya bergantung pada pemimpin mereka. Yang pertama
adalah belum adanya kohesifitas pada tiga komunitas yang terhimpun dalam P3SY.
Hanya sebagian anggota yang bersedia untuk menyuarakan dan menyampaikan
aspirasinya. Anggota-anggota inilah yang kemudian biasanya menduduki posisi
struktural di dalam komunitas maupun P3SY. Seperti Sarmi yang menjabat sebagai
333
e-Proceeding | COMICOS 2017
ketua P3SY dan komunitas Bunga Seroja, kemudian MT (inisial) sebagai ketua
komunitas Surti Berdaya dan AN (inisial) sebagai ketua ADS.
Sementara tipe kepemimpinan yang terdapat di P3SY adalah kepemimpinan
demokratis yaitu mendorong setiap anggota untuk memutuskan setiap kebijakan
organisasi. Tipe ini dipilih karena tingkat partisipasi anggota dalam komunitas
maupun P3SY dianggap masih rendah dan hanya bergantung pada ketua. Sehingga
diperlukan adanya suatu dorongan agar semua anggota dapat terlibat aktif dalam
setiap kegiatan organisasi.
Menurut Gibb (dalam Rakhmat, 2014) kepemimpinan demokratis paling efektif
bila (1) tidak ada anggota kelompok yang merasa dirinya lebih mampu mengatasi
persoalan dari kelompok yang lain (2) bila metode komunikasi yang tepat belum
diketahi atau tidak dipahami dan (3) bila semua anggota kelompok berusaha
mempertahankan hak-hak individual mereka.
Peranan masing-masing anggota maupun komunitas dalam P3SY terdiri dari
beberapa bentuk. Pertama adalah Energizer yaitu sebagai pihak yang mendorong
kelompok untuk bertindak atau mengambil keputusan. Peran ini biasanya di ambil
alih oleh masing-masing ketua komunitas di P3SY. Kemudian Opinion Giver sebagai
pihak yang memberikan pendapat atau saran alternatif bagi kelompok. Peran ini
biasanya diberikan kepada sosok yang dianggap senior di masing-masing komunitas.
Selain sebagai opinion giver, mereka juga berperan sebagai Orienter atau pengarah.
Dan yang terakhir adalah Follower yaitu anggota yang ikut bergabung dan mengikuti
kegiatan kelompok namun berperan pasif dalam setiap pengambilan keputusan
organisasi.
334
e-Proceeding | COMICOS 2017
Faktor situasional yang terdapat pada masing-masing komunitas juga memiliki
pengaruh dalam proses komunikasi organisasi P3SY. Terdapat perbedaan jumlah
pekerja seks dari masing-masing wilayah prostitusi di Yogyakarta. Di Sarkem
terdapat sekitar 250 hingga 300-an pekerja seks, di kawasan Ngebong berjumlah 100an dan di wilayah Giwangan terdapat sekitar 150-an pekerja seks (Data menurut
P3SY). Hal ini kemudian mengakibatkan adanya perbedaan jumlah anggota yang
terhimpun pada masing-masing komunitas seperti Bunga Seroja, Surti Berdaya dan
ADS.
Dari segi komunikasi, makin besar kelompok, makin besar kemungkinan
sebagian besar anggota tidak mendapat kesempatan berpartisipasi (Rakhmat, 2014).
Masalah inilah yang kemudian terjadi pada komunitas Bunga Seroja di Sarkem.
Sarkem yang menjadi pusat lokalisasi di Yogyakarta memiliki jumlah pekerja seks
yang cukup banyak bila dibandingkan dengan di wilayah Ngebong dan Giwangan.
Hal tersebut kemudian menimbulkan rendahnya tingkat partisipasi pekerja seks yang
menjadi anggota komunitas Bunga Seroja.
Berbeda dengan Surti Berdaya di Giwangan dan ADS di Ngebong, jumlah
pekerja seks yang ada di sana jauh lebih sedikit dibandingkan dengan yang ada di
Sarkem. Sehingga tingkat partisipasi anggota di kedua komunitas tersebut juga cukup
tinggi. Hal tersebut dapat terlihat dari banyaknya jumlah anggota yang hadir dalam
setiap agenda pertemuan rutin (perut) yang diadakan oleh Surti Berdaya dan ADS.
Perbedaan ukuran kelompok antara Bunga Seroja dengan Surti Berdaya dan
ADS tidak hanya berpengaruh terhadap tingkat partisipasi anggota pada masingmasing komunitas. Namun terdapat pula perbedaan dalam efektifitas yang juga turut
mempengaruhi setiap pengambilan keputusan dari ketiga komunitas tersebut. Proses
335
e-Proceeding | COMICOS 2017
komunikasi yang terdapat pada komunitas Bunga Seroja cenderung monoton karena
kurangnya masukan dan gagasan dari anggota. Sementara di komunitas Surti Berdaya
dan ADS cenderung memiliki dinamis.
Setiap komunitas yang bernaung di bawah P3SY memiliki jadwal pertemuan
rutin atau biasa mereka sebut dengan istilah ‘Perut’. Jadwal perut akan ditentukan oleh
masing-masing komunitas. Meskipun Sarkem menjadi wilayah dengan jumlah
pekerja seks terbanyak, namun setiap penyelenggaraan Perut anggota komunitas yang
datang tidak sebanyak dibandingkan dengan komunitas Surti Berdaya dan ADS.
Menurut penuturan Sarmi yang menjadi ketua P3SY dan Bunga Seroja,
besarnya jumlah pekerja seks juga turut mempengaruhi sulitnya mengakomodir dan
menggerakkan setiap anggota komunitas. Berbeda dengan komunitas yang ada di
Ngebong dan ADS yang jumlah pekerja seksnya tidak terlalu banyak dibandingkan
dengan yang di Sarkem.
Masing-masing pekerja seks yang menjadi anggota komunitas di Sarkem,
Giwangan dan Ngebong memiliki karakter yang berbeda-beda. Pekerja seks yang ada
di Sarkem biasanya merupakan pendatang baru dan cenderung inklusif ketika baru
pertama kali datang di sana. Mereka masih memiliki kecemasan dan perlu
menyesuaikan diri dengan kondisi yang mereka hadapi. Kecemasan tersebut berupa
adanya rasa kekhawatiran terhadap lingkungan dan pekerjaan baru yang mereka
temui. Hal ini kemudian juga berpengaruh terhadap komunitas Bunga Seroja yang
kesulitan untuk merangkul anggota tersebut.
Sementara pekerja seks yang terdapat di Giwangan dan Ngebong adalah mereka
yang sudah lama tinggal dan menetap di wilayah tersebut. Selain itu, beberapa dari
mereka juga adalah pekerja seks yang pindah dari wilayah Sarkem. Sehingga karakter
336
e-Proceeding | COMICOS 2017
pekerja seks yang terdapat kedua wilayah ini cenderung eksklusif dan mudah berbaur
dengan anggota komunitas yang lain. Hal ini pula yang mendorong tingginya tingkat
partisipasi anggota di komunitas Surti Berdaya dan ADS.
Alasan dibalik rendahnya tingkat partisipasi anggota di P3SY bisa dilihat dari
berbagai aspek. Salah satunya dengan meninjau ulang keputusan anggota tersebut
bergabung dalam kelompok. Jika melihat dari apa yang terjadi pada P3SY, keputusan
tersebut dipengaruhi oleh adanya faktor kebutuhan interpersonal yaitu untuk
mengakses layanan kesehatan, sosial dan sebagainya. Beberapa anggota dari
komunitas masih memprioritaskan pekerjaannya sebagai pekerja seks dan hanya
menjadikan organisasi P3SY sebagai fasilitas sosial untuk memenuhi kebutuhan
mereka.
Sarmi juga mengungkapkan bahwa adanya perbedaan orientasi juga
mempengaruhi tingkat partisipasi anggota komunitas. Pekerja seks yang terdapat di
Sarkem cenderung berorientasi kepada ekonomi dan masih belum memiliki kesadaran
berorganisasi. Sementara pekerja seks yang ada di wilayah Ngebong dan Giwangan
adalah tipe pekerja seks yang memiliki orientasi untuk bertahan hidup dan
memperbaiki kualitas hidupnya. Sehingga anggota dari kedua komunitas tersebut
lebih memiliki tujuan untuk mengadvokasi diri dengan bergabung ke dalam
komunitas.
Masing-masing komunitas di sarkem, giwangan dan ngebong memiliki tujuan
yang berbeda-beda. Tujuan yang ingin dicapai kelompok dapat berupa perubahan
sikap, perilaku, kemampuan, produktivitas, dsb (Maryani 1997). Begitu pula dengan
ketiga komunitas yang bernaung di P3SY. Keputusan anggota untuk bergabung di
Bunga Seroja, Surti Berdaya dan ADS dipengaruhi oleh lingkungan tempat mereka
337
e-Proceeding | COMICOS 2017
berada. Motif pekerja seks di Sarkem untuk bergabung di Bunga Seroja lebih
didominasi oleh alasan karena keinginan untuk mendapatkan fasilitas yang diakses
jika tergabung ke dalam komunitas.
Sementara alasan pekerja seks di Giwangan dan Ngebong untuk bergabung di
komunitasnya masing-masing lebih bervariasi. Yang pertama karena adanya
keinginan untuk meningkatkan kapasitas diri, mengakses layanan kesehatan dan
adanya rasa solidaritas antar sesama anggota yang berprofesi sebagai pekerja seks.
Hal ini pula yang melandasi adanya perbedaan karakteristik di antara ketiga
komunitas tersebut dan turut mempengarui proses komunikasi organisasi P3SY.
Johnson dan Johnson (2012) mengungkapkan bahwa dalam suatu kelompok ada
kecenderungan suatu perpaduan antara usaha kerja sama dan persaingan. Dalam
beberapa kelompok, interaksi anggotanya hampir murni bekerja sama dan dalam
hubungan beberapa anggota kelompok, hubungan interaksi anggotanya hampir benarbenar bersaing dan ada juga kelompok yang hubungan anggotanya perpaduan antara
kerja sama dan persaingan. Hal ini juga berlaku pada kelompok-kelompok komunitas
yang terdapat di P3SY.
Pada dasarnya profesi sebagai pekerja seks juga tidak lepas dari adanya
persaingan untuk mendapatkan pelanggan. Selain itu, setiap kelompok maupun
organisasi juga tidak terlepas dari adanya kepentingan dari masing-masing anggota
yang terhimpun di dalamnya. Faktor inilah yang turut mempengaruhi dinamika dalam
proses komunikasi organisasi P3SY.
Komunikasi organisasi adalah interaksi dan interdependensi yang terdiri dari
komunikator, pesan, media, komunikan, dan dampak komunikasi dalam mencapai
tujuan organisasi melalui pembagian pekerjaan dan fungsi hirarki otoritas dan
338
e-Proceeding | COMICOS 2017
tanggung jawab (Farihanto, 2010). Sedangkan proses komunikasi organisasi di P3SY,
interaksi yang terjadi hanya antar sesama hirerarki yang memiliki tanggung jawab
dalam struktural organisasi. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa kondisi
letak geografis yang berbeda-beda di antara tiga komunitas di P3SY tidak
memungkinkan untuk adanya partisipasi aktif dari anggota.
Proses komunikasi organisasi yang penting adalah bagaimana membuat makna
dari suatu informasi sama di antara pemberi informasi dan penerima informasi
(Kuswarno, 2001). Efektifitas komunikasi organisasi P3SY akan dipengaruhi oleh
bagaimana proses penyampaian aspirasi dari masing-masing komunitas dapat
tersampaikan dengan baik oleh ketua komunitas yang menjadi struktural P3SY.
Kuswarno (2001) juga mengungkapkan bahwa selain proses pemaknaan pesan yang
akan menentukan perilaku hubungan komunikator dan komunikate di dalam
organisasi, jumlah pesan akan menentukan juga perilaku orang yang terlibat dalam
proses komunikasi organisasi tersebut.
Proses penyampaian pesan yang tidak efektif tentu saja bisa menimbulkan
konflik di antara sesama anggota dan komunitas di P3SY. Karena komunikasi dapat
merupakan suatu sumber konflik (Ibrahim, 2001). Oleh karena itu tekanan kelompok
dalam proses komunikasi organisasi P3SY tidak hanya berpengaruh terhadap
partisipasi anggota dan komunitas di dalamnya. Namun hal tersebut dapat pula
mengakibatkan timbulnya kesalahapahaman yang berujung pada terjadinya konflik.
Sehingga P3SY perlu meminimalisir adanya potensi kegagalan komunikasi dalam
setiap proses komunikasi organisasi yang terjadi baik itu di antara sesama anggotanya
maupun dengan sesama komunitas.
E. Kesimpulan
339
e-Proceeding | COMICOS 2017
Ada banyak hal yang mempengaruhi proses komunikasi organisasi yang terjadi
di P3SY. Faktor situasional dan personal merupakan faktor dominan yang
berpengaruh terhadap proses komunikasi organisasi P3SY. Karakteristik masingmasing komunitas juga turut menentukan bagaimana partisipasi pekerja seks yang
tergabung di dalamnya. Letak geografis yang cukup jauh di antara ketiga komunitas
tersebut menjadi alasan utama terhambtanya proses interkasi yang terjalin di antara
sesama anggota dan komunitas.
P3SY perlu menyusun suatu strategi komunikasi organisasi yang efektif agar
proses penyampaian pesan dan pengambilan keputusan organisasi dapat berjalan
dengan lancar. P3SY dapat membuat pembagian peran bagi anggota dan
komunitasnya agar alur kordinasi di dalam struktual P3SY dapat berfungsi dengan
baik. Sehingga tujuan dari P3SY sebagai manifestasi gerakan perempuan dapat
terwujud.
340
e-Proceeding | COMICOS 2017
Daftar Pustaka
Aris Febri Rahmanto. (2004). “Peranan Komunikasi Dalam Organisasi.” Jurnal
Komunikologi 1: 59–75.
Bungin, Burhan. (2006). Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma dan Diskursus
Teknologi Komunikasi di Masyarakat. Jakarta: Kencana
Farihanto, Muhammad Najih. (2010). “Komunikasi Organisasi Dalam Penanaman
Budaya Organisasi Di Seminari Tinggi Santo Paulus Yogyakarta.” : 179–94.
Ibrahim, Syafei. (2001). “Komunikasi Sebagai Faktor Determinan Dalam Organisasi”
MediaTor, 2(1) Hlm. 291–301.
Kuswarno, Engkus. (2001). “Efektivitas Komunikasi Organisasi.” Mediator 2(1): 55–61.
repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/47147/4/Chapter II.pdf.
Maryani, Anne. 1997. “Komunikasi Persuasif, Kohesi Kelompok, Dan Apresiasi Seni
Gamelan Sunda: Kasus Di Kalangan Mahasiswa Anne.”
Ishak, Aswad. 2012. Peran Public Relation dalam Komunikasi Organisasi. Jurnal
Komunikasi, Volume 1, Nomor 4, Januari 2012. Hlm. 373-380
Johnson, David dan Frank P. Johnson. 2012. Dinamika Kelompok: Teori dan
Keterampilan. Jakarta: Indeks
Pace R. Wayne dan Don F. Faules. 2015. Komunikasi Organisasi: Strategi
Meningkatkan Kinerja Perusahaan. Bandung: Remaja Rosdakarya
Rahmanto, Aris Febri. 2004. Peranan Komunikasi Dalam Organisasi. Jurnal
Komunikologi Volume 1 Nomor 2. Hlm. 59–75.
Rakhmat, Jalaluddin. 2015. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya
Sudarto. 2013. Silaturahmi Kelamin: Menyingkap Tabu-Tabu Dunia Perkelaminan.
Yogyakarta: Pintal
Zakiah, K. 2008. "Penelitian Etnografi Komunikasi : Tipe dan Metode" MediaTor, 9(1),
Hlm. 181–188.
341
e-Proceeding | COMICOS 2017
ANALISIS MARXIST IKLAN PT. FREEPORT INDONESIA INDONESIA
Wulan Purnama Sari
Faculty of Communication, Universitas Tarumanagara, Indonesia
[email protected]
Abstract
The name of Freeport began to rise at the end of 2015 with the case of "Papa Minta
Saham" which led to the resignation of Setya Novanto as chairman of the House of
Representatives at that time. After that, in 2017 the name of Freeport began to be
discussed again after news about the initial negotiations on contract extension with the
Indonesian government which meets obstacles. Throughout February 2017 Freeport
postedthree (3) advertisements and 1 (one) ads in March in Kompas newspaper, where
the ads show the achievements that have been done by Freeport so far, ranging from the
amount of funds already invested, the amount of labor that has been absorbed, The
resulting fiscal impact, and the amount of spending funds on goods and services. This ad
is exciting because it posts simultaneously with news report of contract renewal cases
with the government in the same month. Arthur Asa Berger writes that there are 4 (four)
media analysis techniques that can be done, one of which is Marxist analysis. This
analysis is carried out using the rationale of Marxist teaching and applying these Marxist
concepts to the public art form created by the media. The author uses this Marxist
analysis as the method used by the authors to analyze the advertisements of Freeport
during February - March 2017 in Kompas newspaper. The author will analyze all four
of Freeport's advertisements using Marxist concepts of thought. The results of this study
through Marxist analysis show how the base concept influences the superstructure, how
the economic system in the Indonesian society affects the institutions and values in
society. It is at this level that capitalism comes to be a base that not only acts as an
economic system but also as something that affects behavior, values, personality types,
and culture in general. In this case, Freeport as the ruling class uses advertising and
mass media as a means of creating a false consciousness and instilling its ideology into
society.
Keywords: Advertising, Capitalist,False Consciousness, Marxist
Abstrak
Nama Freeport mulai mencuat diakhir tahun 2015 dengan adanya kasus “Papa minta
saham” yang berujung pada mundurnya Setya Novanto sebagai ketua DPR RI pada
waktu itu. Setelah itu, pada tahun 2017 nama Freeport mulai ramai kembali
diperbincangkan setelah pemberitaan mengenai negosiasi awal mengenai perpanjangan
kontrak dengan pemerintah Indonesia menemui kendala. Sepanjang bulan Februari 2017
Freeport memasang 3 (tiga) iklan dan 1 (satu) iklan di bulan Maret di Koran Kompas,
dimana iklan tersebut menunjukkan pencapaian yang telah dilakukan Freeport selama
ini, mulai dari jumlah dana yang telah diinvestasikan, jumlah tenaga kerja yang telah
diserap, dampak fiskal yang dihasilkan, dan jumlah dana pembelanjaan untuk barang dan
jasa. Iklan ini menjadi menarik karena ditayangkan bersamaan dengan pemberitaan kasus
perpanjangan kontrak dengan pemerintah pada bulan yang sama pula. Arthur Asa Berger
342
e-Proceeding | COMICOS 2017
menuliskan bahwa ada 4 (empat) teknik media analisis yang dapat dilakukan, salah
satunya adalah analisis Marxist.Analisis ini dilakukan dengan menggunakan dasar
pemikiran ajaran Marxist dan menerapkan konsep-konsep Marxist tersebut ke dalam
bentuk seni publik yang dibuat oleh media.Penulis menggunakan analisis Marxistini
sebagai metode yang digunakan oleh penulis untuk melakukan analisis atas iklan
Freeport selama bulan Februari – Maret 2017 di Koran kompas. Penulis akan
menganalisa keempat iklan Freeport dengan menggunakan konsep-konsep pemikiran
dari Marxist.Hasil penelitian melalui analisis Marxist ini menunjukkan bagaimana
konsep base mempengaruhi superstructure, bagaimana sistem ekonomi di masyarakat
Indonesia mempengaruhi institusi dan nilai-nilai di dalam masyarakat. Pada tingkat
inilah kapitalisme hadir menjadi base yang tidak hanya berperan sebagai sistem ekonomi
tetapi juga sebagai sesuatu yang mempengaruhi perilaku, nilai, tipe kepribadian, dan
budaya secara umum. Pada kasus ini, Freeport sebagai kaum kapitalis (the ruling class)
menggunakan iklan dan media masa sebagai sarana untuk menciptakan sebuah kesadaran
palsu dan menanamkan ideologinya ke dalam masyarakat.
Keywords:Marxist, Iklan, Kapitalis, Kesadaran Palsu.
Pendahuluan
Pada akhir 2015 kemarin, masyarakat dihebohkan dengan adanya kasus “Papa
Minta Saham” yang berujung mundurnya Setya Novanto dari kursi Ketua DPR RI.Kasus
“Papa Minta Saham” menjadi tontonan politik paling hangat sepanjang tahun 2015.
Kasus tersebut melibatkan Setya Novanto terkait pencatutan nama Presiden dan Wapres
dalam perbincangan tentang saham Freeport antara Presiden PT. Freeport Indonesia
Indonesia Maroef Sjamsoeddin, Setya Novanto, dan pengusaha Reza Chalid.Sampai
akhir persidangan kasus ini di MKD (Mahkamah Kehormatan Dewan) dinyatakan bahwa
Setya Novanti terbukti melanggar kode etik tapi sanksi belum juga dijatuhkan.(Sutrisno,
2015)
Kasus yang membawa nama PT. Freeport Indonesia ini kemudian menghilang
selama tahun 2016 dna baru pada kuartal awal 2017 nama PT. Freeport Indonesia
kembali mulai menjadi pemberitaan terkait dengan proses negosiasi PT. Freeport
Indonesia dengan Pemerintah Indonesia. Pemberitaan ini dimulai dengan adanya putusan
Pemerintah yang mengumumkan perubahan status operasi PT. Freeport Indonesia dari
343
e-Proceeding | COMICOS 2017
status KK (Kontrak Karya) menjadi status IUPK (Izin Usaha Pertambangan Khusus)
pada 10 Februari lalu.Perbedaan kedua status operasi tersebut adalah posisi negara
dengan perusahaan dalam KK setara, sedangkan dalam IUPK posisi negara yang diwakili
pemerintah lebih tinggi selaku pemberi izin.Dalam IUPK, skema perpajakan bersifat
prevailing atau menyesuaikan aturan yang berlaku. Perusahaan juga dikenai kewajiban
melepas sahamnya sedikitnya 51 persen kepada Pemerintah Indonesia atau swasta
nasional.(Kuwado, 2017)
Putusan ini kemudian ditolak PT. Freeport Indonesia dengan mengajukan
keberatan kepada Pemerintah Indonesia.Pt.Freeport menganggap Pemerintah Indonesia
bersikap tidak adil lantaran menerbitkan aturan yang mewajibkan perubahan status
Kontrak Karya (KK) ke Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK). PT.Freeport bahkan
mengancam akan menggugat Pemerintah Indonesia ke arbitrase internasional.(Hakim,
2017).
Bersamaan dengan maraknya pemberitaan mengenai kasus negosiasi ini PT.
Freeport Indonesia memasang sejumlah iklan di harian cetak Kompas pada bulan
Februari dan Maret, dengan total 3 iklan pada bulan Februari dan 1 iklan pada bulan
Maret. Iklan pertama pada 13 Februari 2017 yang menuliskan US 1.5M telah
diinvestasikan untuk program pengembangan masyarakat lokal di Papua ditambah
dengan penjelasan jumlah fasilitas yang telah dibangun oleh PT. Freeport Indonesia,
yaitu sebanyak 3200 rumah, 3 rumah sakit, 2 klinik spesialis, 1 komplek olahraga, 1
institut pertambangan, 1 bandar udara, 2 lapangan terbang perintis dan 1 proyek air layak
minum untuk meningkatkan kualitas hidup.
344
e-Proceeding | COMICOS 2017
Gambar 1. Iklan Pertama Pada Bulan Februari
Iklan kedua terbit pada 20 Februari 2017 bertuliskan kami menyerap lebih dari
30.000 tenaga kerja, 99% karyawan dan kontraktor kami adalah putra-putri Indonesia.
Iklan ketiga terbit pada 27 Februari 2017 dengan bertuliskan dampak fiskal kami telah
melebihi US$ 50 miliar untuk membangun perekonomian lokal dan nasional.
Gambar 2. Iklan Kedua dan Ketiga Pada Bulan Februari
345
e-Proceeding | COMICOS 2017
Iklan pada bulan maret terbit pada tanggal 06 Maret 2017 dengan menuliskan
kami membelanjakan lebih dari US$ 2 miliar untuk barang dan jasa pada tahun 2015,
lebih daru US$ 1,7 miliar dibelanjakan di dalam negeri. Jika diperhatikan, maka
keseluruhan iklan tesebut dalam waktu yang hanya berselang 1 minggu.Kemudian
menjadi lebih menarik karena kesemua iklan tersebut terbit bersamaan dengan maraknya
pemberitaan mengenai proses negosiasi antara PT. Freeport Indonesia dengan pihak
Pemerintah Indonesia.
Gambar 3. Iklan Pada Bulan Maret
Berger(2005) menjelaskan bahwa iklan meningkatkan kecemasan, menciptakan
ketidakpuasan, dan secara umum memberikan dukungan pada kehadiran alienasi dalam
masyarakat kapitalis untuk memelihara budaya konsumerisme. Tidak hal yang iklan
tidak akan lakukan, gunakan, atau manfaatkan untuk mencapai tujuannya. Iklan juga
mengalihkan perhatian orang dari hal politik dan ekonomi dan memutar perhatian
tersebut pada hal yang bersifat pribadi dan narsisistik. Oleh karenanya, iklan-iklan PT.
Freeport Indonesia tersebut menjadi menarik untuk dianalisis untuk melihat dan
memahami perihal apa yang berusaha dialihkan dengan diterbitkannya iklan tersebut.
Berger (2005)ada empat teknik yang dapat digunakan dalam melakukan analisa
346
e-Proceeding | COMICOS 2017
atas teks media, yaitu analsiis semiotik, analisis Marxist, kritik psikoanalisis, dan analisis
sosiologikal.Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian untuk menganalisis teks
media berupa iklan yang dilakukan PT. Freeport Indonesia adalah teknik analisis
Marxist.Analisis Marxist diterapkan dengan menggunakan konsep-konsep dasar
pemikiran Marxisme.
Berbicara tentang Marxist atau Marxisme seringkali dikaitkan dengan
komunisme. Perlu dipahami bahwa Marxisme ini tidak sama dengan komunisme.
Komunisme merupakan gerakan dan kekuatan politik partai-partai komunis yang sejak
Revolusi Oktober 1917 di bawah pimpinan W.I. Lenin menjadi kekuatan politis dan
ideologis internasional. Istilah komunisme juga dipakai untuk merujuk pada ajaran
komunisme atau Marxisme-Leninisme yang merupakan ajaran atau ideologi resmi
Komunisme.Kaum komunis selalu mengklaim monopoli atas interpretasi ajaran Marx,
dengan maksud memperlihatkan diri sebagai pewaris sah dari ajaran Marx.Perlu
diperhatikan sebelum dimonopoli oleh Lenin, istilah komunisme dipakai untuk cita-cita
utopis masyarakat dimana segala hak pribadi dihapus dan semuanya dimiliki
bersama.Istilah Marxismesendiri adalah sebutan bagi pembakuan ajaran resmi Karl Marx
yang terutama dilakukan oleh temannya Friedrich Engels (1820-1938) dan oleh tokoh
Marxist Karl Kautsky (1854-1938).(Suseno, 2000)
Terdapat beberapa pokok ajaran utama dalam Marxisme, yaitu matrialisme,
konsep base dan superstructure, kesadaran palsu dan ideologi, konflik kelas, dan
alienasi. Konsep-konsep ini akan diterapkan dalam menganalisis teks media berupa iklan
PT. Freeport Indonesia. Berikut akan dibahas secara jelas dan singkat mengenai konsepkonsep ajaran Marxisme sebagai landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini.
Saat berbicara tentang matrialisme seringkali didefinisikan sebagai pendambaan
347
e-Proceeding | COMICOS 2017
akan uang dan semua yang dapat dibeli dengan uang. Bagi penganut ajaran Marxist,
matrialisme merujuk pada sebuah konsepsi atas sejarah dan cara masyarakat
mengorganisir dirinya (Berger, 2005). Lebih lanjut Farihah (2015), menjelaskan bahwa
pendekatan materialisme historis Karl Marx, berdasar pada dalil bahwa produksi dan
distribusi barang-barang serta jasa merupakan dasar untuk membantu manusia dalam
mengembangkan eksistensinya. Menurutnya, bahwa proses kehidupan manusia terdiri
dari dua faktor yang memiliki hubungan sejarah, jaitu faktor ekonomi sebagai basis
(base) dan masalah kesadaran manusia yang berwujud dalam ilmu, filsafat, ideologi dan
agama sebagai suprastruktur (superstructure).
Berger (2005) menjelaskan bahwa basis adalah sistem ekonomi yang ada dalam
masyarakat, sedangkan suprastrukture adalah institusi dan nilai yang ada dalam
masyarakat. Base mempengaruhi superstructure dalam hal pemahaman akan nilai,
budaya, filsafat, agama, dll yang ada dalam masyarakat merupakan bentukan dari sistem
ekonomi. Sistem ekonomi ini sendiri yang menurut Marx dikuasai sekelompok orang
tertentu, kelompok yang disebut oleh Marx sebagai kaum borjuasi.
Kaum borjuasi ini kemudian mengembangkan suatu sistem ekonomi sendiri yang
disebut sebagai kapitalisme.Suseno (2000) menjelaskan bahwa kapitalisme adalah sistem
ekonomi yang hanya mengakui satu hukum, yaitu hukum tawar-menawar di pasar.
Kapitalisme adalah ekonomi yang bebas: bebas dari pelbagai pembatasan oleh raja dan
penguasa, bebas dari pembatasan produksi, bebas dari pembatasan tenaga kerja, yang
menentukan semata-mata adalah keuntungan yang lebih besar. Dari sisi luaran yang ingin
dihasilkan oleh kapitalisme adalah nilai tukar dan bukannya nilai pakai.Dalam artian
orang memproduksi atau membeli sesuatu bukan karena ingin menggunakannya tetapi
karena ingin menjualnya lagi dengan keuntungan setinggi mungkin.Keuntungan ini
348
e-Proceeding | COMICOS 2017
sendiri sifatnya amat sangat penting dalam sistem kapitalisme.
Kelompok base ini yang merupakan kelas penguasa kemudian mempengaruhi
kesadaran masyarakat dengan memberikan masyarakat ide-ide tertentu, melalui cara ini
yang kaya merupakan yang paling diuntungkan dari pengaturan ini dalam sebuah negara
kapitalis. Hal ini kemudian menciptakan apa yang disebut sebagai kesadaran palsu,
dimana kelas penguasa melakukan propaganda ideologi yang membenarkan statusnya
dan membuat sulit masyarakat umumnya untuk mengenali dan sadar bahwa dirinya
sedang dieksploitasi dan diperdaya. (Berger, 2005)
Jadi dalam sistem produksi kapitalis, terdapat dua kelas yang saling berhadapan:
kelas buruh dan kelas pemilik. Keduanya saling membutuhkan, tetapi saling
ketergantungan tersebut tidak seimbang, dimana kelas buruh tidak dapat hidup jika tidak
bekerja sedangkan kelas pemilik masih dapat bertahan lama walaupun para buruh tidak
lagi bekerja dan mendatangkan keuntungnya baginya.Dengan demikian kelas pemilik
adalah kelas atas, kelas penguasa yang kuat sedangkan kelas buruh merupakan kelas
rendah yang dikuasai dan lemah (Suseno, 2000).Kedua kelas yang saling bertentangan
ini kemudian akhirnya menimbulkan konflik antar kelas yang tanpa akhir.Kaum borjuis,
kelas penguasa berusaha menanamkan konsep gagasan dan pemikirannya pada kaum
proletar, kelas yang dikuasai.Pemikiran bahwa kondisi yang dialami kelas proletar
sekarang merupakan sesuatu yang normal dan wajar dan bahwa sistem kapitalisme juga
merupakan sesuatu yang normal.Disinilah, media masa memiliki peranan sebagai sarana
yang digunakan oleh kaum borjuis untuk meyakinkan, untuk menanamkan nilai gagasan
yang dimiliki kepada kaum proletar.Media masa dalam berusaha mengalihkan orang dari
realitas sebenarnya yang ada dan menggantikannya dengan realitas buatan kaum borjuis
(Berger, 2005).
349
e-Proceeding | COMICOS 2017
Istilah alienasi diartikan sebagai pemisahan dan jarak, orang asing di dalam
masyarakat yang tidak memiliki hubungan dengan orang lainnya.Konsep ini merupakan
pusat untuk memahami Marxisme, dimana alienasi berasal dari sistem ekonomi
kapitalis.Kapitalisme mungkin dapat menghasilkan barang dan kelimpahan materi untuk
sejumlah besar orang (melalui beban orang lainnya), tetapi perlu untuk menciptakan
alienasi, dan semua kelas merasakan hal tersebut, baik secara sadar maupun tidak. Bagi
orang-orang yang teralienasi media massa menyediakan gratifikasi sementara,
mengalihkan perhatian dari situasinya, dan dengan bantuan institusi yang disebut iklan,
mendorong hasrat yang mendorong orang untuk bekerja lebih keras, yang pada akhirnya
menyebabkannya semakin teralienasi (Berger,2005)
Metodologi
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan
menggunakan analisis Marxist.(Patton, 2006)menuliskan bahwa metode kualitatif
mengijinkan evaluator mempelajari isu, kasus, atau kejadian terpilih secara mendalam
dan rinci, fakta bahwa pengumpulan data tidak dibatasi oleh kategori yang sudah
ditentukan sebelumnya atas analisis yang menyokong kedalaman dan kerincian data
kualitatif. Adanya kelebihan pada metode kualitatif ini menjadikan peneliti memutuskan
untuk menggunakan metode kualitatif dalam penelitian ini agar hasil penelitian nantinya
dapat memberikan deskripsi dan analisis yang rinci tentang kasus yang diteliti.
Seperti, telah dijelaskan diatas bahwa analisis Marxist diterapkan pada teks media
dengan menggunakan dasar-dasar atau konsep-konsep pemikiran Marxisme.Berger
(2005) menjelaskan bahwa pada masa kini Marxisme seringkali menawarkan lebih
350
e-Proceeding | COMICOS 2017
banyak diskusi menarik tentang kebudayaan, kesadaran, dan masalah-masalah terkait
dibandingkan dengan diskusi tentang ekonomi.
Objek dalam penelitian ini adalah iklan PT. Freeport Indonesia yang terbit di
harian cetak Kompas pada bulan Februari – Maret 2017, dengan total 4 iklan (3 pada
bulan Februari dan 1 pada bulan Maret). Iklan-iklan tersebut kemudian akan dianalisis
dengan menggunakan konsep dasar pemikiran Marxisme.
Data diperoleh melalui observasi dan studi pustaka yang dilakukan oleh
peneliti.Oleh karenanya, penelitian ini sangat bersifat subjektif karena analisis data
bergantung sepenuhnya pada peneliti dalam menginterpretasi data yang ada dan
dikaitkan dengan teori yang digunakan.
Pembahasan
Pembahasan akan dimulai dari sejarah singkat dan profil dari PT. Freeport
Indonesia untuk lebih memahami alasan iklannya dipilih menjadi objek penelitian. PT.
Freeport Indonesia atau PT. Freeport Indonesia Indonesia (PTFI) merupakan perusahaan
afiliasi dari Freeport-McMoRan.PTFI menambang, memproses dan melakukan
eksplorasi terhadap bijih yang mengandung tembaga, emas dan perak.Beroperasi di
daerah dataran tinggi di Kabupaten Mimika Provinsi Papua, Indonesia.PTFI memasarkan
konsentrat yang mengandung tembaga, emas dan perak ke seluruh penjuru
dunia.Kompleks tambang milik PTFI di Grasberg merupakan salah satu penghasil
tunggal tembaga dan emas terbesar di dunia, dan mengandung cadangan tembaga yang
dapat diambil yang terbesar di dunia, selain cadangan tunggal emas terbesar di
dunia.Grasberg berada di jantung suatu wilayah mineral yang sangat melimpah, di mana
kegiatan eksplorasi yang berlanjut membuka peluang untuk terus menambah cadangan
351
e-Proceeding | COMICOS 2017
PTFI yang berusia panjang.(Sekilas Tentang Kami PT Freeport Indonesia)
Potensi yang dimiliki oleh PTFI ini menjadikannya kondisi perusahaan semakin
cerah di Indonesia.Ventura(2017) seperti dikutip dalam buku Grasbergmenyatakan
cadangan bijih di sekitar Grasberg dapat ditambang lebih dari 100 tahun, merupakan
kesempatan yang jarang ada di daerah pertambangan lain di muka bumi. Kondisi ini
menjadikan PTFI melakukan kontrak karya kedua dengan pihak pemerintah Indonesia
berlaku selama 30 tahun berikut dua kali perpanjangan 10 tahun, yang artinya kontrak
baru berakhir pada tahun 2041 mendatang. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana
kontribusi yang diberikan oleh PTFI kepada Indonesia. CEO Freeport-McMoRan Inc.,
Richard Adkerson mengklaim telah berkontribusi bagi perekonomian di Indonesia,
khususnya wilayah Papua. “90 persen perekonomian di Papua ditopang oleh Freeport,”
ujar Richard dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (20/2/2017).
Hal ini berbanding terbalik dengan apa yang dikemukakan oleh Menteri ESDM
Ignasius Jonan yang menyebut kontribusi PTFI bagi Indonesia sangat kecil, bahkan
membandingkannya dengan devisa dari Tenaga Kerja Indonesia sebesar Rp144 triliun
dan cukai rokok sebesar Rp139 triliun setiap tahunnya. Kontribusi PT Freeport Indonesia
(PTFI) kepada Pemerintah pada tahun 2015 hanya sebesar USD368 juta ekuivalen Rp4,9
triliun. Dalam lembar fakta kontribusi finansial PTFI yang terbitkan pada 2016, jumlah
tersebut terdiri atas royalty senilai USD122 juta atau sekitar Rp1,6 triliun, pajak dan
pungutan lainnya USD246 juta (Rp3,3 triliun). Bahkan kontribusi tersebut terus menurun
sejak 2010. Bahkan, pemasukan melalui dividen sudah tidak ada sejak tahun 2012. Tidak
hanya itu, PTFI juga mangkir dari kewajibannya membangun fasilitas pengolahan dan
pemurnian (smelter) untuk hasil tambangnya. Termasuk kewajiban divestasi saham
sebesar 51% kepada pihak Indonesia. Sekarang PTFI menolak perubahan status Kontrak
352
e-Proceeding | COMICOS 2017
Karya menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK). Kewajiban tersebut sejatinya
selesai pada 2014, namun pemerintah memberi kelonggaran hingga Januari 2017. PTFIpun tidak mau merealisasikannya, bahkan PTFI berencana menggugat Pemerintah
Indonesia ke pengadilan arbitrase internasional. Alasan yang digunakan adalah
Pemerintah Indonesia telah melanggar kontrak dengan menerbitkan Peraturan
Pemerintah Nomor 1 Tahun 2017 pada 12 Januari lalu. Kini, Pemerintah dan PTFI
memiliki tenggat waktu 120 hari untuk menyelesaikan masalah tersebut. (Ventura, 2017)
Kasus perubahan status dari Kontrak Karya menjadi Izin Usaha Pertambangan
Khusus mulai marak diberitakan mulai dari awal Februari 2017 sampai dengan awal
Maret 2017. Selama masa itu PTFI menerbitkan iklan di harian cetak media Kompas,
dengan total 4 iklan, yaitu 3 pada bulan Februari dan 1 pada bulan Maret, seperti yang
telah dijelaskan pada bagian pendahuluan.Iklan-iklan tersebut berisikan semua
kontribusi dan peranan yang telah dilakukan dan diberikan oleh PTFI kepada Indonesia,
mulai dari jumlah dana yang telah diinvestasikan, jumlah tenaga kerja, dampak fiskal
untuk pembangunan ekonomi, dan jumlah dana yang telah dibelanjakan.
Analisis dan pembahasan atas iklan-iklan tersebut harus dimulai dari posisi PTFI
dalam masyarakat. PTFI merupakan sebuah perusahaan besar yang berarti bila menurut
pada paham Marx, maka PTFI termasuk dalam pemilik modal, kelas penguasa, kelas
borjuis yang merupakan basis.Berger (2005) menjelaskan bahwa basis mempengaruhi
suprastruktur, dalam artian basis yang merupakan sistem ekonomi yang ada dalam
masyarakat mempengaruhi pemahaman akan nilai, budaya, filsafat, agama, dll.Sistem
ekonomi yang dikuasai sekelompok orang tertentu ini atau kaum borjuasi disebut sebagai
kapitalisme.Suseno (2000) menjelaskan bahwa kapitalisme adalah sistem ekonomi yang
bebas dan mementingkan keuntungan.Kesimpulannya PTFI termasuk dalam sekelompok
353
e-Proceeding | COMICOS 2017
orang tertentu yang menguasi sistem ekonomi kepitalisme, yang disebut sebagai
kapitalis.Kapitalis merupakan kelompok borjuasi yang mementingkan keuntungan dan
dapat mempengaruhinilai dan pemahaman yang ada dalam masyarakat.
Sebagai kapitalis, kelas penguasa, kelas borjuasi, PTFI berusaha mempengaruhi
nilai dan pemahaman yang ada di masyarakat sesuai dengan kepentingan yang dimiliki
PTFI.Alat yang digunakan PTFI, para borjuasi untuk mempengaruhi nilai, pemahaman,
dan ideologi dalam masyarakat (suprastruktur) adalah melalui media massa. Media
massa dijadikan sarana atau saluran para kapitalis untuk menanamkan ideologi yang
dimiliki kepada masyarakat. Kapitalis berupaya untuk menciptakan suatu kesadaran
palsu, menutupi realitas sebenarnya dengan realitas bentukan para kapitalis.
Dalam hal ini, PTFI menggunakan iklan dan media Kompas sebagai sarana untuk
menanamkan
ideologinya
kepada
masyarakat.Iklan
dijadikan
institusi
untuk
menciptakan kesadaran palsu.Kesadaran palsu yang dimaksud disini adalah pemahaman
bahwa PTFI telah memberikan kontribusi besar bagi negara Indonesia.Oleh karenanya,
iklan-iklan PTFI tersebut menampilkan pencapaian yang telah dicapai dan dilakukan
oleh PTFI.PTFI berupaya mempengaruhi masyarakat dengan iklan tersebut.
Sebelumnya, terkait kasus ini telah marak diberitakan bahwa kontribusi yang
telah diberikan PTFItidak berbanding dengan apa yang telah didapatkan PTFI dari
Indonesia (Ventura, 2017). PTFI berupaya menghapus atau mengganti realitas ini dengan
menerbitkan iklan di media massa Kompas, dengan harapan masyarakat pemahaman
akan kontribusi PTFI bagi Indonesia sangat nyata dan sangat banyak.
Kesadaran palsu yang berupaya diciptakan oleh PTFI ini diberikan kepada
masyarakat yang berada dalam kondisi teralienasi.Berger (2005) menjelaskan bahwa
alienasi diartikan sebagai pemisahan dan jarak, orang asing di dalam masyarakat yang
354
e-Proceeding | COMICOS 2017
tidak memiliki hubungan dengan orang lainnya.Dalam sistem ekonomi kapitalisme, para
kapitalis tidak hanya menciptakan barang dan jasa, menghasilkan kelimpahan materi,
tetapi juga menghasilkan alienasi.Kapitalis memaksa masyarakat yang berada di kelas
bawah atau kelas proletar untuk bekerja dengan lebih giat setiap harinya demi
menghasilkan keuntungan yang lebih besar bagi dirinya dan tanpa disadari memisahkan
orang-orang tersebut dari keluarga, teman dekat, dan dari kehidupannya sendiri. Bagi
orang-orang yang teralienasi media massa menyediakan gratifikasi sementara,
mengalihkan perhatian dari situasinya, dan dengan bantuan institusi yang disebut iklan,
mendorong hasrat yang mendorong orang untuk bekerja lebih keras, yang pada akhirnya
menyebabkannya semakin teralienasi. Pada kasus ini, PTFI memanfaatkan kondisi
masyarakat yang telah alienasi, yang telah menjadi masyarakat konsumerisme untuk
menanamkan nilai dan ideologi pemahamannya bahwa PTFI telah memberikan
kontribusi besar bagi Indonesia.
Penutup
Berdasarkan hasil pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa iklan yang
dilakukan oleh PTFI di media Kompas dilakukan untuk mempengaruhi masyarakat
umum, menciptakan kesadaran palsu bahwa PTFI telah memberikan kontribusi besar
bagi Indonesia.PTFI yang merupakan kapitalis, kelas penguasa, kelas atas yang berada
dalam kelompok basis berupaya mempengaruhi pemahaman yang ada dalam masyarakat
yang merupakan kolompok suprastruktur.Media masa dan iklan digunakan atau
dimanfaatkan sebagai sarana atau saluran oleh PTFI untuk mempengaruhi masyarakat.
Sistem ekonomi kapitalisme yang diciptakan oleh kelas borjuis juga menciptakan
kondisi alienasi di masyarakat, dimana masyarakat dijauhkan dari keluarganya, teman
355
e-Proceeding | COMICOS 2017
dekat, dan kehidupannya. Pada tahap inilah media massa hadir menawarkan gratifikasi
sementara dengan menjadikan masyarakat semakin tidak menyadari kondisi realitas yang
dialaminya.
Kemudian saran untuk penelitian ini dapat dilakukan penelitian lanjutan dengan
menggunakan metode berbeda, misalnya dengan analisis semiotic untuk mencari tahu
makna yang tersirat dari iklan yang dilakukan oleh PTFI tersebut.Penelitian lanjutan juga
dapat dilakukan dengan menggunakan analisis wacana atau analisis framing terkait teks
media yang berhubungan dengan kasus pemberitaan PTFI tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Berger, A. A. (2005). Media Analysis Techniques (3 ed.). Thousand Oaks, California,
USA: Sage Publication.
Farihah, I. (2015, Desember). Filsafat Materialisme Karl Marx (Epistimologi Dialectical
and Historical Materialism). FIKRAH: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi
Keagamaan, 3(2), 431-454.
Hakim, R. N. (2017, Februari 20). Pimpinan DPR Minta Pemerintah Tak Takut Ancaman
Freeport.
Retrieved
Juli
06,
2017,
from
Kompas
Online:
http://nasional.kompas.com/read/2017/02/20/21210031/pimpinan.dpr.minta.pe
merintah.tak.takut.ancaman.freeport
Kuwado, F. J. (2017, Februari 23). Jokowi: Kalau Freeport Sulit Diajak Berunding, Saya
Akan Bersikap. Retrieved Juli 06, 2017, from Kompas Online:
http://nasional.kompas.com/read/2017/02/23/10425441/jokowi.kalau.freeport.su
lit.diajak.berunding.saya.akan.bersikap
Patton, M. Q. (2006). Metode Evaluasi Kualitatif. (M. Drs. Budi Puspo Priyadi, Trans.)
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sekilas Tentang Kami PT Freeport Indonesia. (n.d.). Retrieved Juli 17, 2017, from PTFI:
http://ptfi.co.id/id/about/overview
Suseno, F. M. (2000). Pemikiran Karl Marx Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan
Revisionisme. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Sutrisno, E. D. (2015, Desember 30). Panasnya Kasus Papa Minta Saham, Mundurnya
Novanto dari Kursi Ketua DPR. Retrieved Juli 06, 2017, from Detik News
Online:
https://news.detik.com/berita/3107222/panasnya-kasus-papa-mintasaham-mundurnya-novanto-dari-kursi-ketua-dpr
Ventura, B. (2017, Februari 28). Sejarah Freeport di Indonesia 3 (Selesai): Gunung
Emas Bernama Grasberg. Retrieved Juli 17, 2017, from Sindo News:
https://ekbis.sindonews.com/read/1183862/34/sejarah-freeport-di-indonesia-3selesai-gunung-emas-bernama-grasberg-1488230789/13
356
e-Proceeding | COMICOS 2017
KOMUNIKASI LINGKUNGAN PADA BUDAYA PRIANGAN “NYACAR
LEMBUR”
Aat Ruchiat Nugraha dan Iriana Bakti
Dosen Program Studi Hubungan Masyarakat Fikom Unpad
Email:[email protected]
Abstrak
Berita tentang pelestarian budaya menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelaku penggiat
budaya dan lingkungan, maupun praktisi komunikasi. Pagelaran budaya di suatu tempat
telah memberikan peluang yang cukup signifikan untuk dijadikan sebagai tujuan wisata
budaya dan alam. Pagelaran budaya ini terutama berkaitan dengan isu-isu lingkungan
yang menjadi sentral program Suistanability Development Goals (SDG’s). Adapun
bentuk pagelaran budaya yang dimaksud menjadi salah satu upaya mengingatkan akan
pentingnya pelestarian lingkungan di wilayah kabupaten Bandung yaitu pagelaran
“Nyacar Lembur”. Pagelaran “Nyacar Lembur” merupakan suatu ekspresi kelompok
masyarakat Sunda yang masih memegang teguh pada adat istiadat leluhurnya dalam
melestarikan lingkungan yang disampaikan melalui media komunikasi tradisional berupa
pagelaran seni teater dan seni tari yang diselenggarakan di air terjun Batu Templek
Kampung Lebak Cisanggarung Desa Cikadut Kabupaten Bandung. Penelitian ini
menggunakan paradigma kualitatif dengan jenis studi deskriptif. Adapun teknik
pengumpulan data dilakukan dengan cara studi kepustakaan melalui analisis pemberitaan
“Nyacar Lembur” di media massa Pikiran Rakyat edisi 9 Mei 2017. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa pemberitaan tentang budaya lokal menjadi sangat penting, unik,
dan inspiratif bagi pembacanya. Keberadaan informasi berita tentang budaya lokal dapat
dijadikan sebagai sumber pengetahuan dan pertimbangan bagi pemerintah maupun
masyarakat untuk lebih memperhatikan potensi-potensi budaya lokal yang semakin
langka dipentaskan oleh masyarakat akibat pergeseran kehidupan masyarakat yang
semakin modern. Simpulan penelitiannya adalah pagelaran seni budaya dapat dijadikan
sebagai media komunikasi dalam bentuk publisitas pemberitaan di media massa lokal
untuk dapat menarik perhatian masyarakat dan pemerintah mengenai masalah pelestarian
lingkungan.
Kata Kunci: Komunikasi, Budaya, Lingkungan, dan Media Massa
357
e-Proceeding | COMICOS 2017
Abstract
News about cultural preservation is the main attraction for cultural and environmental
activists, as well as communication practitioners. Cultural performances in a place has
provided a significant opportunity to serve as a cultural and natural tourist destination.
This cultural performance is primarily concerned with environmental issues that are
central to the Suistanability Development Goals (SDG's). The form of cultural
performances in question to be one effort to remind the importance of environmental
conservation in the district of Bandung is the show "Nyacar Lembur". The show "Nyacar
Lembur" is an expression of Sundanese people who still adhere to the customs of his
ancestors in preserving the environment conveyed through traditional communication
media in the form of art and theater art dance held at the waterfall Batu Templek
Kampung Lebak Cisanggarung Cikadut Village Bandung Regency. This research uses
qualitative paradigm with descriptive study type. The data collection technique is done
by literature study through analysis of news "Nyacar Lembur" in mass media Pikiran
Rakyat edition May 9th, 2017. The results show that coverage of local culture becomes
very important, unique, and inspiring for its readers. The existence of news information
about the local culture can be used as a source of knowledge and consideration for the
government and the community to pay more attention to the local cultural potentials
increasingly scarce staged by the community due to the shift life of an increasingly
modern society. The conclusion of his research is the art and cultural performances can
be used as a medium of communication in the form of publicity news in the local mass
media to attract the attention of the public and the government on the issue of
environmental conservation.
Keywords: Communication, Culture, Environment, and Mass Media
PENDAHULUAN
Kegiatan komunikasi dalam konteks pelestarian lingkungan kini mengalami
peningkatan secara siginifikan dipelajari oleh para akademisi seiring dengan semakin
menurunnya nilai-nilai kearifan lokal yang menjaga kelestarian alam beserta isinya.
Keterlibatan komunikasi yang menyangkut lingkungan seringkali tidak disadari oleh
sebagian masyarakat, padahal dampaknya akan terasa di kemudian hari.
Generasi muda saat ini lebih cenderung menyukai seni budaya yang serba
modern. Sebab di era modernisasi menawarkan banyak kemudahan tetapi kadang
menyisakan efek negatif antara lain kurang kepekaan terhadap pelestarian budaya dan
lingkungan. Salah satu akibatnya yang dapat dirasakan adalah semakin berkurangnya
358
e-Proceeding | COMICOS 2017
kesadaran warga masyarakat untuk melestarikan nilai-nilai kearifan lokal yang
ditunjukkan dengan penggunaan smartphone yang sangat intensif dalam berbagai sendisendi kehidupan. Dalam hal komunikasi lingkungan, para generasi muda masih
menyepelekan akan pentingnya informasi-informasi yang berkaitan dengan pelestarian
lingkungan, maka jangan salah apabila keadaan lingkungan di perkotaan semakin tidak
mendukung terhadap kesehatan secara fisik maupun mental bagi para penghuninya.
Kurangnya informasi yang didapatkan oleh generasi muda mengenai nilai-nilai
kearifan lokal dalam hal pelestarian lingkungan dikarenakan para pelaku atau keturunan
yang memegang teguh nilai-nilai kearifan lokal yang jarang memberikan penyampaian
informasi tersebut kepada generasi selanjutnya. Maka, untuk tetap nilai-nilai kearifan
lokal dapat tersampaikan ke generasi muda diperlukan suatu media komunikasi yang
dapat menjangkau seluruh aspek masyarakat yaitu melalui pemberitaan.
Berita tentang rusaknya lingkungan alam seperti munculnya kabar berita
mengenai melelehnya gletser es di kutub utara dan selatan bumi yang kadang tidak
menjadikan sebagian generasi muda untuk melek terhadap nilai-nilai kearifan lokal.
Informasi yang tersebar di media pun hanya berasal dari broadcast-broadcast di media
chatting atau berasal dari status seseorang di akun media sosialnya, sehingga kabar
tersebut tidak meyakinkan dan bisa jadi disebut berita hoax. Tak hanya itu, media massa
yang menjadi sumber informasi utama bagi sebagian besar kalangan pun turut
berkontribusi dalam penyampaian pesan mengenai lingkungan kepada masyarakat luas.
Seperti melalui film dokumenter yang ditayangkan di bioskop-bioskop, televisi berbayar
(berlangganan) ataupun melalui media online seperti Youtube. Channel-channel pun
seringkali menampilkan isu mengenai lingkungan seperti acara Planet Earth di BBC
ataupun National Geographic yang tentu banyak orang yang menyaksikannya. Situs-
359
e-Proceeding | COMICOS 2017
situs online, berita di surat kabar atau majalah, iklan, bahkan perbincangan yang formal
maupun informal pun ikut mengambil peran.
Cara kita dalam berkomunikasi, khususnya mengenai lingkungan pun semakin
hari semakin mengalami perubahan. Tentu saja, dengan disuguhkannya beragam
informasi yang didukung dengan perangkat kemudahan aksesnya, yang dapat
menjadikan setiap orang menjadi semakin kritis akan segala hal. Terutama, mengenai
hal-hal yang berkaitan langsung dengan keseharian, seperti cuaca, bencana alam, global
warming, perkembangan politik, ekonomi, idiologi, dan sebagainya. Keberadaan suatu
peristiwa yang berkaitan dengan perubahan alam akan semakin memperkuat bahasan
mengenai komunikasi lingkungan, yang tentu kaitannya dengan subjek yang
melakukannya yakni manusia itu sendiri. Kontribusi komunikasi menjadi hal yang
penting untuk memunculkan isu-isu, maupun solusi dan inovasi yang ditawarkan kepada
publik agar dapat muncul ke permukaan sehingga diketahui oleh masyarakat. Dalam
konteks persoalan lingkungan, seluruh lapisan masyarakat dapat terlibat dan berperan
langsung terhadap solusi kerusakan lingkungan melalui tulisan-tulisan yang dapat
dipublikasikan melalui media massa.
Adapun dalam proses penyampaian solusi mengenai lingkungan, industri media
dapat menjadi alternatif sarana jitu untuk menyebarkan dan menumbuhkan kesadaran
pada masyarakat mengenai lingkungan. Sebab, era sekarang di mana alam semakin
tereksploitasi oleh perkembangan teknologi dan kebutuhan manusia yang semakin
bertambah dan bersifat mengglobal yang dapat merusak tatanan ekosistem alam dan
sosial kehidupan yang telah terbentuk dengan nilai keseimbangan yang reltif stabil antara
hubungan manusia dengan alam sekitarnya. Maka, dari itu diperlukan suatu cara, salah
satunya melalui bentuk penyebaran informasi mengenai lingkungan dalam bentuk
360
e-Proceeding | COMICOS 2017
sebuah berita. Keberadaan berita di televisi, koran, radio merupakan konsumsi
masyarakat sehari-hari yang mempunyai kekuatan besar dalam membentuk kerangka
berpikir dalam upaya menggalang opini publik di masyarakat. Dengan demikian, media
massa menjadi senjata yang ampuh dalam menyebarkan informasi di berbagai lapisan
masyarakat baik secara sosial, politik, maupun ekonomi. Isu yang diberitakan ataupun
disiarkan melalui media massa dapat menjadi isu yang strategis karena akan
diperbincangkan atau menjadi perhatian publik. Perbincangan isu di media massa ini
dapat turut mempengaruhi kebijakan yang akan dibuat oleh pemerintah sehingga peran
media sangatlah penting dalam upaya mempengaruhi opini masyarakat.
Untuk mengetahui bagaimana keberadaan isu yang diberitakan di media massa,
maka teori yang dapat menggambarkan situasi seperti ini adalah Agenda Setting Theory
yang berasumsi bahwa media mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi persepsi
khalayak mengenai sebuah isu yang dianggap penting oleh khalayak. Di dalam teori ini
ada tiga agenda didalamnya yaitu agenda media, agenda publik, dan agenda
pemerintah/kebijakan. Media menjadi mediator antara publik dan pemerintah. Dalam
pandangan paradigma positivistik, surat kabar diantaranya berfungsi memainkan peran
survelince, yakni berupa pengawasan terhadap lingkungannya. Lingkungan itu berkaitan
dengan masalah ideologi, politik, ekonomi, hukum atau budaya (Wright, 1998). Wujud
dari pengawasan yang dilakukan oleh industri media adalah berupa pemberitaan (Mc
Comb dan Shaw dalam Griffin, 2003).
Dalam realitanya, proses penyajian pemberitaan itu dilakukan berdasarkan urutan
kepentingannya bagi khalayak dalam pandangan redaksi media. Dalam proses ini, maka
dalam pandangan positivistik yang nota bene awak redaksi itu diasumsikan sebagai
transmitter pasif itu, bahan berita diranking menurut tingkat kepentingannya.
361
e-Proceeding | COMICOS 2017
Berdasarkan asumsi agenda setting theory sebelumnya, mencoba memfokuskan pada
pemahaman mengenai fenomena bagaimana cara suatu isu disajikan media (valence),
misalnya apakah suatu isu disajikan dengan cara menarik atau tidak (Mc Combs & Shaw,
1972, dalam Griffin, 2003).
Media massa cetak sejatinya menjadi wadah untuk berbagai penyampaian
informasi yang berguna bagi masyarakat. Namun, pada prakteknya informasi-informasi
yang terdapat dalam media massa cetak lokal lebih pada isi informasi yang mengandung
unsur politik, tata pemerintahan, ekonomi, permasalahan sosial, konflik, seputar
kekerasan yang terjadi di masyarakat dan iklan. Untuk masalah isu lingkungan yang
dikaitkan dengan budaya lokal, isi informasi berita nya masih terbatas. Hal ini biasanya
dikaitkan dengan kebijakan redaksi yang dianut oleh suatu lembaga industri media massa
cetak.
Dalam upaya mempertegas manfaat media massa dalam pelestarian lingkungan,
hasil penelitian yang berjudul Perbandingan Efektivitas Media Cetak (Folder dan PosterKalender) dan Penyajian Tanaman Zodia terhadap Peningkatan Pengetahuan Masyarakat
yang ditulis oleh L. Marlina, dkk dalam Jurnal Komunikasi Pembangunan Volume 07
No. 2 Juli 2009, hal. 1-20 menunjukkan bahwa efektifitas media dapat ditingkatkan
melalui penggunaan media fisik dan peningkatan pengetahuan sangat efektif melalui
kombinasi media. Melihat efektifitas pesan yang ada pada media massa cetak lokal
membuktikan bahwa isu lingkungan yang dikaitkan dengan budaya akan menjadi sangat
penting apabila memang dikemas dengan baik dalam bentuk pemberitaan yang bersifat
langsung (straight news).
Menurut Asriati dan Bahari yang meneliti tentang Pengendalian Sosial Berbasis
Modal Sosial Lokal pada Masyarakat di Kalimantan Barat yang ditulis dalam Jurnal
362
e-Proceeding | COMICOS 2017
Mimbar volume XXVI, No.2 Desember 2010, hal. 147-158 menerangkan bahwa modal
social lokal yang terdapat pada masyarakat berupa hukum adat dan adat musyawarah
bersendikan syariat Islam. Sedangkan pengendalian social dilakukan secara preventif
yang bersifat social bonding melalui kepemimpinan adat, kepemimpinan agama, forum
komunikasi antaretnik, forum komunikasi umat beragama, dan kepemimpinan organisasi
sosial lainnya. Selanjutnya, pengendalian sosial secara represif bersifat social bridging
yaitu melalui hukum adat, hukum adat yng bersendikan syariat Islam, dan penegakan
hukum formal. Merujuk pada permasalahan modal sosial, maka pagelaran Nyacar
Lembur merupakan media modal sosial yang bersendikan pada nilai-nilai kebiasaan adat
istiadat orang Priangan (Sunda Buhun) zaman dahulu yang menjunjung tinggi terhadap
kecintaan dalam pelestarian alam lingkungan yang ditampilkan melalui peragaan seni
budaya dalam bentuk seni drama tari.
Apabila dikaitkan dengan fenomena sekarang ini yang terjadi di masyarakat yang
semakin menurunnya kesadaran warga negara Indonesia pentingnya mengenai isu
lingkungan yang dari hari ke hari keadaan potensi lingkungan semakin tidak berkualitas,
maka diperlukan sebuah gerakan penyebaran informasi yang dikemas dalam bentuk
pemberitaan yang memenuhi etika jurnalistik. Di mana melalui pemberitaan diharapkan
masyarakat dapat terbuka akan informasi isu lingkungan yang kekinian. Sebab salah satu
fungsi dari pemberitaan yang terdapat dalam media massa, yaitu sebagai sarana edukasi
bagi masyarakat. Dalam prakteknya, pemberitaan mengenai isu lingkungan akan menjadi
perhatian redaksi apabila dihubungkan dengan aspek budaya. Sebab redaksi menganggap
bahwa fenomena budaya tradisional sekarang menjadi sangat “seksi” untuk dijadikan
komoditas pemberitaan, apalagi dikaitkan dengan pemeliharaan lingkungan yang
mengetengahkan unsur budaya. Suatu berita akan memiliki nilai berita apabila fenomena
363
e-Proceeding | COMICOS 2017
yang dijadikan objek berita itu sangat fenomenal dan dapat memberikan suatu
“pengetahuan baru” bagi yang membacanya. Salah satu isu yang fenomenal sekarng ini
adalah masalah isu lingkungan yang dikaitkan dengan kebudayaan manusia dalam
mengelolanya. Secara Sosiologi Lingkungan, unsur budaya biasanya akan lebih efektif
dalam menjaga, memelihara, dan merawat potensi lingkungan melalui kaidah-kaidah
kearifan lokal yang berlaku dan dipatuhi secara non formal oleh masyarakat. Jenis
kearifan lokal ini pula yang dilakukan oleh masyarakat, tepatnya oleh komunitas pecinta
lingkungan di daerah kabupaten Bandung yang menyelenggarakan ritual seni budaya
dalam memelihara kelestarian lingkungan dalam bentuk pagelaran Nyacar Lembur.
Melalui tampilan pagelaran budaya tentang pelestarian lingkungan yang
dilakukan oleh suatu komunitas pecinta lingkungan tersebut dapat memberikan
gambaran informasi mengenai pentingnya keberlangsungan pelestarian lingkungan di
masa yang akan datang. Di mana sumber daya alam secara terus menerus dieksploitasi
oleh manusia dan akan habis dalam beberapa tahun ke depan apabila tidak disiapkan
upaya pelestarian lingkungan sejak dini. Pagelaran Nyacar lembur yang berupa Seni
Drama Tari akan menjadi lebih efektif lagi apabila dikemas dalam sebuah informasi
dalam bentuk berita sebagai media publikasi dan bahkan sarana kampanye pelestarian
lingkungan. Melalui pemberitaan di media massa maka khalayak akan mendapatkan
penjelasan mengenai upaya pelestarian lingkungan yang dikaitkan dengan budaya karena
dapat membaca tulisan informasi, gambar bahkan videonya secara empiris dan dapat
diulang kembali apabila membutuhkannya kembali. Dengan adanya pemberitaan isu
lingkungan di media massa cetak lokal, setidaknya akan memberikan efek yang secara
langsung bagi pembaca (masyarakat) sehingga diharapkan si pembaca dapat
menyebarkan kembali isi informasi yang disampaikan dalam berita. Oleh karena itu,
364
e-Proceeding | COMICOS 2017
penting untuk memaksimalkan penggunaan media untuk meningkatkan kepedulian
masyarakat terhadap lingkungan.
Berdasarkan fenomena di atas tersebut, maka peneliti merasa tertantang untuk
mengetahui dan menjelaskan tentang “Bagaimana Fungsi Budaya yang Berbasiskan
Kearifan Lokal Dapat Menjaga Kelestarian Lingkungan yang terdapat dalam
Pemberitaan Media Massa Cetak Lokal?”
Tujuan penulisan makalah adalah untuk mengetahui fungsi budaya yang
berbasiskan kearifan lokal dapat menjaga kelestarian lingkungan yang terdapat dalam
Pemberitaan Media Massa Cetak Lokal dan aplikasi nya dalam mengubah atau
meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pelestarian lingkungan dalam
kehidupan sehari-harinya.
METODOLOGI
Penelitian ini menggunakan metode analisis isi. Analisis isi menurut Budd
(1967), dalam Kriyantono (2009:230) menyebutkan bahwa analisis isi merupakan suatu
teknik sistematis untuk menganalisis isi pesan dan mengolah pesan atau suatu alat untuk
mengobservasi dan menganalisis isi perilaku komunikasi yang terbuka dari komunikator
yang dipilih. Sedangkan menurut Altheide (1996) dalam Kriyantono (2009:249)
menyatakan bahwa analisis isi kualitatif disebut pula dengan Ethnographic Content
Analysis (ECA), yaitu perpaduan analisis isi objektif dengan observasi partisipan. Dalam
ECA, periset berinteraksi dengan material-material dokumentasi atau bahkan wawancara
mendalam sehingga pernyataan-pernyataan yang spesifik dapat diletakkan pada konteks
yang tepat untuk dianalisis. Pada jenis analisis isi kualitatif bersifat sistematis, analitis,
dan pembuatan kategorisasi hanya dipakai sebagai guide (pedoman). Teknik
pengumpulan data berdasarkan data non human resources yang berupa dokumen, foto
365
e-Proceeding | COMICOS 2017
dan bahan-bahan lainnya yang menunjang pada penelitian seperti data statistic, berita di
media massa cetak, dan sebagainya. Keuntungan data non human resources menurut
(Nasution, 1996:85) menyatakan bahwa bahan tulisan itu telah ada, telah tersedia dan
siap pakai. Menggunakan model bahan tulisan tidak meminta banyak biaya, hanya
memerlukan waktu untuk mempelajarinya. Banyak yang dapat ditimba pengetahuan dari
bahan tulisan bila dianalisis dengan cermat yang berguna bagi penelitian yang dijalankan.
PEMBAHASAN
Sekilas Tradisi Nyacar Lembur
Tradisi “Nyacar Lembur” menceritakan tentang kepedulian masyarakat priangan
mengenai kelestarian lingkungan yang memadukan unsur budaya dan seni. Bentuk
pagelaran yang ditampilkan adalah sebuah tarian yang dilakukan oleh 3 orang perempuan
yang sebagai simbol sumber air. Di mana para penari tersebut menggunakan ornament
dan kostum tarian yang dilengkapi dengan kelebat kain warna putih menggambarkan
kesucian air, warna hitam menggambarkan tanah, dan warna merah menggambarkan
udara. Tarian “Air dan Tanah”, ini merupakan suatu dialetikan antara Tubuh, Bunyi,
Kata, dan Rupa dibawakan oleh penari dari Komunitas Jaringan Nusantara pada Minggu,
7 Mei 2017 dalam rangka memperingati hari Air dan Bumi Internasional.
Tradisi “Nyacar Lembur” merupakan suatu budaya priangan yang ingin
menyampaikan dan menciptakan kepekaan masyarakat terhadap kelestarian lingkungan
sekitar. Melalui pagelaran Nyacar Lembur potensi-potensi bencana lingkungan seperti
kebakaran hutan, banjir, longsor, kekeringan, dan lain sebagainya dapat diminimalisir
oleh masyarakat, apabila memahami apa yang disampaikan dalam setiap gerakan prosesi
pagelaran Nyacar Lembur. Keberadaan suatu bencana lingkungan merupakan bencana
yang diakibatkan oleh perilaku individu atau pun masyarakat yang tidak memperhatikan
366
e-Proceeding | COMICOS 2017
lagi akan keberlangsungan kelestarian lingkungan alam yang sesungguhnya merupakan
modal dasar manusia hidup di dunia ini. Apabila dihubungkan dengan kajian teoritis
bidang komunikasi, tradisi Nyacar Lembur merupakan bagian dari ecoliterasi yang
sedang dikampanyekan oleh pemerintah pusat maupun daerah. Ecoliterasi menurut
Goleman dalam Oktapyanto (2017) adalah gerakan tentang penyadaran kembali akan
pentingnya kesinambungan atau kelestarian lingkungan hidup. Dalam penyampaian
pesan ekoliterasi menyangkut kepekaan (kesadaran) dalam tata kelola lingkungan hidup
yang perlu dijaga, dikelola, dan dimanfaatkan bukan hanya untuk sekarang tetapi untuk
generasi yang akan datang. Melalui pagelaran Nyacar Lembur masyarakat yang melihat
secara langsung maupun dari hasil pemberitaan di media massa diharapkan dapat
meningkatkan kemelekan dan kepekaan terhadap budaya dan lingkungan dalam upaya
menangani berbagai permasalahan di lingkungan sosial ataupun ekologis.
Apabila meminjam konsep hibridisasi budaya, pagelaran Nyacar Lembur yang
diberitakan oleh media massa lokal merupakan suatu keberuntungan secara tidak
langsung antara proses transnasional dari globalisasi yaitu glokalisasi. Konsep
glokalisasi menurut Robertson dalam Djaya (2012:121) menyebutkan sebuah kondisi
yang saling penetrasi antara global dan lokal yang menghasilkan hasil-hasil yang unik di
berbagai wilayah geografis yang berbeda. Melalui pemberitaan di media massa,
setidaknya budaya Nyacar Lembur dapat diterapkan oleh masyarakat yang membacanya,
melalui tradisi menjaga, merawat, dan memelihara lingkungan alam sekitar yang sifatnya
terbatas. Lebih lanjut, teori glokalisasi melihat individu-individu dan kelompokkelompok merupakan agen yang penting dan kreatif dalam memperjuangkan suatu
pembaharuan di segala bidang, khususnya berkaitan dengan aspek pemanfaatan budaya
dalam pelestarian lingkungan. Dalam pelestarian lingkungan yang memanfaatkan aspek
367
e-Proceeding | COMICOS 2017
budaya, biasanya juga terkait dengan komunitas adat yang menjadi leader dalam
menentukan kebijakan masa depan pelestarian lingkungan di daerah kawasan adatnya
yang penuh dengan filosofi-filosofi yang akan terbukti suatu hari nanti.
Komunikasi Lingkungan
Berita tentang isu lingkungan yang dimuat oleh Harian Umum Pikiran Rakyat
pada tanggal 09 Mei 2017) yang berjudul “Nyacar Lembur” Menjaga Tanah, Air, dan
Udara menceritakan mengenai pentingnya informasi tentang isu lingkungan yang
dikaitkan dengan komunikasi. Yang di mana, bentuk informasi berita ini mengandung
isu komunikasi lingkungan. Menurut Robert Cox (2010) dalam bukunya yang berjudul
Environmental Communication and Public Sphere, mengemukakan bahwa komunikasi
lingkungan adalah sarana pragmatis dan konstitutif untuk memberikan pemahaman
mengenai lingkungan kepada masyarakat, seperti halnya hubungan kita dengan alam
semesta. Ini merupakan sebuah media simbolik yang digunakan untuk mengkonstruksi
masalah-masalah lingkungan serta menegosiasikan perbedaan respons terhadap
permasalahan lingkungan yang terjadi. Dengan kata lain komunikasi lingkungan
digunakan untuk menciptakan kesepahaman mengenai permasalahan lingkungan (Cox,
2010:20).
Informasi berita yang terkandung dalam media massa cetak lokal ini memberikan
peluang agar masyarakat melek terhadap informasi-informasi lingkungan yang
disampaikan oleh pemerintah, komunitas, maupun kelompok adat yang ingin tetap
melestarikan potensi-potensi sumber daya alam yang semakin menurun secara kualitas
dan kuantitas. Mc Quail (2011:222) menyatakan bahwa konsep paling inti dari teori
media yang berkaitan dengan kualitas informasi adalah objektivitas, terutama jika
berhubungan dengan informasi berita. Objektivitas adalah bentuk tertentu dari praktik
368
e-Proceeding | COMICOS 2017
media dan juga merupakan sikap tertentu dari tugas pengumpulan, pengolahan dan
penyebaran informasi. Ciri utama dari objektivitas adalah pertama, penerapan posisi
keterlepasan dan netralitas terhadap objek peliputan. Kedua, terdapat upaya untuk
menghindari keterlibatan, tidak berpihak dalam perselisihan atau menunjukkan bias. Dan
ketiga, membutuhkan keterikatan yang kuat terhadap akurasi dan jenis kebenaran media
yang lain. Selanjutnya, Westerstahl (dalam Mc Quail, 2011:223) menerangkan bahwa
penyajian berita objektif harus mencakup nilai-nilai dan fakta, di mana fakta itu sendiri
memiliki implikasi evaluatif. Hal ini pula yang dilakukan oleh penulis dalam
mengungkapkan objektivitas pemberitaan yang disampaikan oleh media massa lokal
yang membahas mengenai isu lingkungan yang disampaikan dalam kemasan perspektif
budaya lokal.
Dengan adanya pemberitaan mengenai kondisi lingkungan di media cetak lokal
tersebut setidaknya dapat mengurangi dan mengikis budaya gosip yang telah disuguhkan
oleh media massa dan akan ditiru bahkan dilakukan oleh masyarakat. Sehingga menurut
pengamat sosial dan budaya, Yasraf Amir Piliang (2017) kebiasaan bergosip harus
dihentikan dengan lebih mengembangkan budaya baca. Dengan banyak membaca buku,
pikiran akan terolah untuk lebih kritis ketika menerima informasi yang bebas
berseliweran di media massa dan media sosial. Selain itu, ketika banyak membaca,
seseorang akan bia membuat tulisan yang lebih baik. Saat mengkritik pun, kritikan akan
hadir secara konstruktif dan bukannya provokatif dengan informasi yang bohong yang
melebih-lebihkan realitas. Lebih lanjut, Oswald (2009:19) dalam Ratnasari (2010)
menjelaskan bahwa pesan komunikasi yang disampaikan mengandung energi, yaitu
energi rendah dan tinggi. Yang dimaksud dengan berenergi rendah dalam berkomunikasi
biasanya berkaitan dengan emosi negatif seperti sedih atau perasaan bersalah sedangkan
369
e-Proceeding | COMICOS 2017
pesan yang mengandung enegrgi tinggi memiliki daya yang kuat, sehingga dapat
menggetarkan perasaan positif kita, seperti perasaan riang, gembira, sukses, atau cinta.
Maka, pesan yang disampaikan dalam pagelaran budaya “Nyacar Lembur” seharusnya
menampilkan pesan-pesan yang positif dan senada denga nisi pesan yang disampaikan
dalam pemberitaan yang menimbulkan dampak positif terhadap pelestarian lingkungan,
dalam artian masih ada sebagian kelompok masyarakat di perkotaan yang memegang
teguh pada adat istiadat untuk mengingatkan upaya melestarikan potensi lingkungan
hidup untuk masa depan.
Melihat fenomena pemberitaan isu lingkungan yang dikaitkan dengan budaya,
tentunya hal ini dapat dikategorikan sebagai bagian dari komunikasi lingkungan. Yang
di mana komunikasi lingkungan merupakan sebuah pengertian dari komunikasi yang
barangkali terjadi pada kita awal mulanya, yaitu bentuk atau cara kerja komunikasi dalam
aksi sebagai sebuah kendaraan atau studi pemecah permasalahan, debat, serta seringkali
menjadi bagian dari kampanye publik mengenai lingkungan. Apabila menurut teori
Agenda Setting yang dikemukakan oleh Rohim (2009:174) efek komunikasi massa yang
berdasarkan agenda setting ini menganggap bahwa media massa dengan memberikan
perhatian pada isu tertentu dan mengabaikan yang lainnya, akan memiliki pengaruh
terhadap pendapat umum. Di mana orang akan cenderung mengetahui tentang hal-hal
yang diberitakan media massa dan menerima susunan prioritas yang diberikan media
massa teradap isu-isu yang berbeda.
Selain itu, komunikasi lingkungan pun memiliki fungsi konstitutif, yaitu
membantu membentuk pola pikir serta perspektif seseorang mengenai isu-isu lingkungan
dan alam agar dapat membentuk pemahaman, pengertian, pengenagkatan dan
representasi dari permasalahan mengenai lingkungan serta alam. Dengan terbentuknya
370
e-Proceeding | COMICOS 2017
persepsi terhadap lingkungan, komunikasi lingkungan dapat membuat komunikan dan
komunikator merasa bahwa keberadaan sumber daya alam tersebut apakah merupakan
sebuah ancaman atau karunia yang melimpah, sebagai sesuatu yang dieksploitasi ataukah
sebagai sumber penghidupan yang amat penting yng didalam nya terkandung penanaman
nilai-nilai, moral, serta ideologi terhadap isu-isu permasalahan lingkungan. Sebagai
contoh, dalam sebuah Pagelaran budaya “Nyacar Lembur” ini yang merupakan bagian
dari kampanye untuk melindungi sumber daya air dari keserakahan manusia yang terus
menerus mengeksploitasinya yang disampaikan melalui pesan-pesan nonverbal dalam
bentuk gerakan tarian dan pemakaian simbol-simbol pakaian yang digunakan.
Penggunaan pesan nonverbal ini merupakan bagian dari pemilihan bahasa serta kata-kata
dalam upaya penyadaran masyarakat mengenai sumber daya alam yang terbatas ini untuk
dapat benar-benar dipertimbangkan, dan lebih mengedepankan pada konstruksi budaya,
kemurnian, serta kekayaan alam yang belum dirusak.
Selain itu, adapun definisi lain yang mengartikan komunikasi lingkungan
merupakan rencana dan strategi melalui proses komunikasi dan produk media untuk
mendukung efektivitas pembuatan kebijakan, partisipasi publik, dan implementasinya
pada lingkungan (Oepen, 1999:6). Dalam hal ini, komunikasi lingkungan menjadi sebuah
komponen yang terintegrasi dalam kebijakan. Berdasarkan uraian tersebut, seharusnya
pihak pemerintah daerah dan dinas yang terkait dapat memperhatikan dan bahkan
melindungi nilai-nilai budaya lokal yang hampir punah dan sejalan dengan konsep
pembangunan, khususnya di bidang lingkungan hidup dan sumber daya alam dapat
dijadikan aset modal kebijakan pembangunan yang perlu dijaga dan dikembangkan
secara sistematis dan terintegrasi dalam misi pembangunan daerah.
371
e-Proceeding | COMICOS 2017
Fungsi Budaya dan Komunikasi Lingkungan di Media Massa Cetak Lokal
Keberadaan pelaku seni budaya yang mementaskan pagelaran ritual yang
dikaitkan dengan isu lingkungan semakin jarang dilakukan oleh masyarakat perkotaan.
Apalagi pola pikir masyarakat perkotaan yang sudah “terkontaminasi” dengan tata cara
berpikir yang ilmiah dan empiris menyebabkan kepedulian masyarakat akan aset budaya
lokal tersebut mudah dilupakan begitu saja. Sebab sebagian besar pagelaran budaya local
yang ditampilkan oleh suatu komunitas sering mengandung unsur-unsur politeisme yang
menyebabkan sebagian masyarakat perkotaan yang telah memiliki idiologi dan
keyakinan akan kekuatan yang “Maha Tunggal” tidak berkenan untuk melanjutkan
tradisi-tradisi lokal tersebut karena sagat bertentangan dengan apa yang telah menjadi
keyakinannya.
Seiring dengan perkembangan zaman dan era teknologi, keberadaan budaya lokal
semakin tersisihkan karena tergerus modernisasi, juga minim perhatian pemerintah
setempat. Dalam pentas pagelaran “Nyacar Lembur” yang menceriterakan mengenai
perjuangan masyarakat (kelompok adat) untuk mengingatkan kepada penduduk yang
tinggal di wilayah Priangan agar senantiasa menjaga, merawat, dan memanfaatkan
potensi sumber daya alam berupa air, tanah, dan udara dengan sebaik mungkin. Dalam
tarian atau gerakan tubuh serta penggunaan simbol yang digunakan oleh penari
mengandung makna dan nilai leluhur sebagai media “penyambung bathin” antara
masyarakat dengan leluhurnya.
Dilihat dari perspektif budaya, para pelaku pentas tradisi “Nyacar Lembur” kini
sangat langka didapati di wilayah Priangan dan secara adat kebiasaan nilai “kesaktian”
atau “aroma magis” itu mulai luntur. Di masyarakatnya sendiri para pelaku adat tradisi
“Nyacar Lembur” sudah tidak dianggap lagi memiliki kelebihan atau kesakralan hingga
372
e-Proceeding | COMICOS 2017
sudah amat jarang menyaksikan orang yang secara khusus menyelenggarakan tarian
seperti ini, karena sekarang dianggap hanya sebagai media penyampaian pesan
(perantara) kegiatan kampanye lingkungan. Maka, tidak salah apabila media massa lokal
mengangkat pemberitaan tradisi “Nyacar Lembur” ini sebagai upaya untuk menyadarkan
masyarakat mengenai keberadaan isu lingkungan yang semakin tidak terkendali agar
semakin ecoliterat.
Dalam ranah penulisan pemberitaan, maka isi pesan yang berupa isu kekinian
seperti isu lingkungan dapat dipertimbangkan sebagai berita utama. Menurut Dean Iyle
Spencer dalam Suhirman (2005:1) berita adalah suatu kejadian atau ide yang benar yang
dapat menarik perhatian sebagian dari pembaca. Sedangkan menurut William S. Maulsby
berita didefinisikan sebagai suatu penuturan secara benar dan tidak memihak dari faktafakta yang mempunyai arti penting dan baru terjadi, yang dapat menarik perhatian para
pembaca surat kabar yang memuat berita tersebut. Maka, dalam pemberitaan yang
berjudul “Nyacar Lembur” Menjaga Tanah, Air, dan Udara” yang ditampilkan dalam
halaman kedua tersebut memperlihatkan adanya beberapa unsur yang penting dari
informasi tersebut untuk memenuhi sebagai sebuah berita. Adapun unsur-unsur berita
tersebut adalah merupakan suatu laporan atau keterangan, berisi tentang kejadian atau
peristiwa, memiliki kebaruan yang ditulis dalam bahasa yang singkat, padat, sederhana,
amcar, jelas, lengkap, akurat, lugas, dan menarik.
Isi informasi berita yang disampaikan dalam judul “Nyacar Lembur” Menjaga
Tanah, Air, dan Udara” telah memenuhi apa yang menjadi objektifitas, mengutamakan
kepentingan umum, dan dapat dipertanggungjawabkan. Sebagaimana yang terdapat pada
rangkaian isi informasi berita tersebut menceritakan mengenai keberadaan budaya lokal
yang mengusung tema pelestarian lingkungan di tanah Priangan yang semakin sulit untuk
373
e-Proceeding | COMICOS 2017
dikembangkan karena factor-faktor sosial yang memang sudah berubah. Pesan inilah
yang ingin disampaikan kepada masyarakat Priangan khususnya oleh pelaku seni budaya
agar senantiasa memperhatikan kelestarian sumber daya alam melalui publisitas yang
terdapat pada media massa lokal Pikiran Rakyat. Dengan demikian, fungsi media massa
dalam hal ini dapat menjadi fungsi edukatif bagi pembacanya.
Menurut Susilo (2014:viii) menjelaskan bahwa apabila dilihat dari pendekatan
historis sosiologis, tradisi budaya “Nyacar Lembur” merupakan kegiatan interaksi
dengan alam yang melahirkan seni dan budaya. Sehingga pagelaran tradisi budaya
“Nyacar Lembur” ini ditemukan karena sifat manusia yang cerdas dapat memadukan dan
memanfaatkan alam melalui gerakan seni budaya. Oleh karena itu, kita bisa memahami
mengapa isu lingkungan yang dikaitkan dengan nilai-nilai budaya tidak bisa dilepaskan
begitu saja. Ternyata, hal itu berhubungan erat dengan antroposentrisme yang
memunculkan kearifan lokal berbasiskan potensi sumber daya alam.
PENUTUP
Informasi mengenai isu lingkungan telah menjadi dasar pengambilan kebijakan
redaksi untuk memberitakan di media massa lokal. Hal ini sesuai dengan syarat
pemberitaan yang objektif, faktual, dan berimbang yang menjadi kewajiban suatu
industri media massa dalam menyampaikan pesan komunikasinya kepada khalayak.
Adapun keberadaan isu lingkungan yang berbasiskan budaya sekarang telah menjadi
fenomena yang cukup mengkhawatirkan bagi keberlangsungan peradaban hidup
manusia yang semakin modern dan tergantung pada teknologi. Melalui pemberitaan
tentang budaya lokal yang mengandung nilai-nilai isu lingkungan yang dipublikasikan
di media massa cetak lokal dapat menyadarkan masyarakat secara langsung maupun
tidak langsung sebagai media pembelajaran demi terjaganya sumber daya alam yang
374
e-Proceeding | COMICOS 2017
dibutuhkan oleh manusia yang semakin terbatas.
DAFTAR RUJUKAN
Asriati, Nuraini dan Bahari Yohanes.(2010).Pengendalian Sosial Berbasis modal Sosial
Lokal pada Masyarakat di Kalimantan Barat, Jurnal Mimbar, Vol.XXVI, No.2,
pp. 147-158.
Cox, Robert.(2010).Environmental Communication and the Public Sphere.New York:
Sage Publication.
Djaya, Ashad Kusuma.(2012).Teori-teori Modernitas dan Globalisasi: Melihat
Modernitas Cair, Neoliberalisme, Serta Berbagai Bentuk Modernitas
Muktahir.Bantul:Kreasi Wacana.
Griffin, EM.(2003). A First Look At Communication Theory.Fifth Edition.New York:
Mc Graw Hill.
Heriyanto, Retno.(09/05/2017).”Nyacar Lembur” Menjaga Tanah, Air, dan Udara”.
Harian Umum Pikiran Rakyat. Bandung.
Manihuruk, Vebertina.(08/01/2017).”Pilah Informasi Secara Bijak dan Kritis”. Harian
Umum Pikiran Rakyat.Bandung.
Mc Quail, Denis.(2011).Teori Komunikasi Massa.Penerjemah Putri Iva Izzati.
Jakarta:Salemba Humanika.
Marlina, L., Saleh, A., dan Lumintang, R.W.E.(2009).Perbandingan Efektivitas Media
Cetak (Folder dan Poster-Kalender) dan Penyajian Tanaman Zodia terhadap
Peningkatan Pengetahuan Masyarakat, Jurnal Komunikasi Pembangunan,
Vol.07, No.2, pp. 1-20.
Nasution.(1996).Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif.Bandung:Tarsito
375
e-Proceeding | COMICOS 2017
Oepen, Manfred and Hamacher, Winfried.(1999).Environmental Communication for
Sustainable Development. New York: Sage Publication.
Oktapyanto,
Riyan
Rosal
Yosma.(22/05/2017).Ecoliteracy,
Literasi
yang
Terlupakan.Harian Umum Pikiran Rakyat.Bandung.
Ratnasari, Anne.(2010).Pesan Positif dalam Komunikasi, Jurnal Mimbar, Vol.XXVI,
No.2, pp. 159-168.
Rohim, Syaiful.(2009).Teori Komunikasi Perspektif Ragam & Aplikasi.Jakarta:PT.
Rineka Cipta.
Suhirman, Imam.(2006).Menjadi Jurnalis Masa Depan.Bandung:Dimensi Publisher.
Susilo, Rachmad K. Dwi.(2014).Sosiologi Lingkungan.Jakarta:PT. Raja Grafindo
Persada.
Wright,
Charles
R.(1988).Sosiologi
Rakhmat.Bandung:Remadja Karya.
376
Komunikasi
Massa.Editor:Jalaludin
e-Proceeding | COMICOS 2017
MEDIA LOKAL DALAM MEMBERITAKAN KORUPSI
(ANALISIS FRAMING BERITA KORUPSI DANA PERSIBA BANTUL
DI SURAT KABAR KEDAULATAN RAKYAT, TRIBUN JOGJA,
HARIAN JOGJA, BERNAS JOGJA DAN RADAR JOGJA)
Olivia Lewi Pramesti
[email protected]gmail.com
Pupung Arifin
[email protected]
Universitas Atma Jaya Yogyakarta
Jl. Babarsari No.6, Yogyakarta 55281
Abstract
In 2013 Idham Samawi, a former high profile official in Yogyakarta, was named as
corruption suspect on local football club funds worth 12.5 billion Rupiah. Establishment
of himself as a criminal suspect is an important news for the people of Yogyakarta. Idham
Samawi's long experience in politics in Yogyakarta has made him an influential figure.
In journalism, news of this kind of corruption case has a strong news value. News of
corruption in the mass media is part of the political coverage that influences the nation's
development. This is the reason when political news has a large portion of the media. At
an ideal level, the media must be able to provide a communication medium between the
state and its citizen. But the media also has the power to shape public opinion. Media can
define audiences' views on a political issue or a political actor. This research try to
discover the frame of five local newspapers in reporting corruption case that ensnare
Idham Samawi. Researchers quarry how far the local media play a role in eradicating
corruption in Indonesia. The reason, in accordance with its responsibilities, the media
should be oriented to the public interest. Media should preach this corruption case openly
for the accountability to the public. This research is done by framing analysis method to
see the process of reality constructions built by media. Researchers try to compare the
discourse that is built by each local media through news content. In addition, researchers
also conducted interviews with each editorial staff of the media to discover the context
behind typical news content production.
Keywords: local media, corruption, framing
Pendahuluan
Pada Kamis 18 Juli 2013, masyarakat di Yogyakarta dikagetkan dengan
pemberitaan mengenai penetapan Idham Samawi, mantan Bupati Bantul periode 19992004 dan 2005-2010 sebagai tersangka korupsi dana Persatuan Sepakbola Indonesia
Bantul (Persiba) sebesar 12,5 miliar. Penetapan tersangka ini dilakukan oleh Kejaksaan
377
e-Proceeding | COMICOS 2017
Tinggi (Kejati) Daerah Istimewa Yogyakarta. Berdasar berita di Tempo.co pada Jumat
19 Juli 2013, korupsi Idham ini dilakukan pada 2011 ketika dirinya menjabat sebagai
ketua Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) Bantul dan ketua Komisi Olahraga
Nasional Indonesia (KONI). Hasil penyidikan dilakukan sejak Januari 2013 dan ada
dugaan penyimpangan administrasi dana hibah Persiba. Penyimpangan ini berasal dari
dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) dan APBD Perubahan pada 2011
masing-masing Rp 8 miliar dan Rp 4,5 miliar.
Penetapan tersangka ini tentunya menjadi berita baru dan penting untuk
diberitakan masyarakat. Lebih lagi ini merupakan berita korupsi yang melibatkan public
figure di Yogyakarta. Idham selain mantan Bupati, ia juga menjadi ketua umum DPD
PDI Perjuangan DIY dan waktu itu ia merupakan calon legislator DPR dari DIY. Dalam
bahasa jurnalistik, berita ini memiliki nilai berita yaitu significance (penting), timeliness
(terkini), dan prominence (keterkenalan).
Berita korupsi di media massa merupakan bagian dari liputan politik. Seperti
dikutip dari buku Ibnu Hamad (2004) yang berjudul Konstruksi Realitas Politik dalam
Media Massa,peristiwa politik selalu menarik media massa. Hal ini disebabkan karena
dua faktor yaitu politik berada di era mediasi dimana media mustahil dipisahkan dari
media massa. Para aktor politik selalu berusaha menarik wartawan agar aktivis politiknya
diliput media. Alasan kedua menyangkut faktor nilai berita. Peristiwa politik, aktivis
politik, dan kegiatan politik lainnya selalu menarik bagi media. Tak jarang peristiwa
politik selalu menjadi headline surat kabar bahkan mendominasi berita di sebuah media.
Kaitannya dengan kasus korupsi ini, tentu saja media memiliki peranan yang
sangat penting. Selain tugasnya sebagai pilar keempat, media juga harus menyelamatkan
publik dari koruptor. Penyelamatan publik ini wajib dilakukan karena hakekat jurnalisme
378
e-Proceeding | COMICOS 2017
adalah kesejahteraan bagi publik. Hal ini tertuang dalam Sembilan Elemen Jurnalisme
yang dikembangkan oleh Bill Kovach dan Tom Ressenstieal.
Pada awal era Reformasi, fungsi media massa sangat ideal. Pers betul-betul bebas
dan terlepas dari tekanan pemerintah Orde Baru. Namun memasuki decade kedua
pascareformasi, media mengalami disorientasi. Kovach dan Rossenstiel dalam
Wicaksono (2015:2), menyatakan kuatnya cengkeraman kapitalisme mengakibatkan
media massa dihadapkan pada dilema antara keberpihakan pada kebenaran dan
kepentingan warga negara pada satu sisi, dan pada sisi lain harus mengabdi pada
kepentingan kapitalisme. Akibatnya media mengalami kondisi tragis, berpindah dari
kontrol negara menjadi kekuatan kapital dan melahirkan otoritarian baru yang disebut
otorian capital (Siregar dalam Wicaksono, 2015:2).
Berita korupsi soal Idham Samawi di media ternyata mendapat sorotan dari media
lokal di Yogyakarta. Pemberitaan soal Idham ramai dibicarakan media. Hal ini tidak bisa
dipungkiri karena berita korupsi adalah berita yang memiliki nilai berita tinggi yaitu
penting, kekinian, dan menyangkut kepentingan publik. Lebih lagi korupsi ini
melibatkan Idham Samawi yang dikenal sebagai public figure di Yogyakarta.
Surat kabar lokal seperti Kedaulatan Rakyat, Tribun Jogja, Harian Jogja, Radar
Jogja, dan Bernas Jogja menaruh perhatian pada kasus Idham Samawi. Berdasarkan
observasi awal yang dilakukan peneliti, sejak Idham Samawi ditetapkan sebagai
tersangka kasus korupsi dana Persiba, Kedaulatan Rakyat justru tidak memberitakannya.
Padahal, kasus tersebut adalah kasus besar dan memiliki nilai berita penting, kekinian,
dan menyangkut public figure di Yogyakarta. Tribun Jogja memberitakan penetapan
tersebut pada Sabtu, 20 Juli 2013 dengan judul “PDIP Beri Bantuan” “Hukum Berat
Idham”. Namun, Kedaulatan Rakyat pasca penetapan Idham tidak menampilkan berita
379
e-Proceeding | COMICOS 2017
apapun.
Berdasarkan hal ini, peneliti tertarik untuk melihat lebih lanjut berita korupsi dana
Persiba di semua koran lokal di Yogyakarta. Peneliti ingin melihat sejauh mana media
lokal turut memerangi korupsi di Indonesia. Pasalnya, sesuai dengan tanggungjawabnya,
media harus berorientasi pada kepentingan publik dan menyejahterakannya. Sementara
itu, korupsi merupakan persoalan besar di masyarakat yang menyangkut dana publik.
Oleh karenanya, media semestinya mengawal kasus korupsi ini dan menjerat seadiladilnya bagi pelaku penyewelengan dana publik. Dalam hal ini, korupsi adalah tindakan
merugikan negara.
Penelitian ini dilakukan dengan metode analisis framing sebagai analisis teksnya
dan dilanjutkan dengan metode wawancara pada bagian redaksional media. Entman,
Matthes, dan Pellicano (2009:177) menyatakan analisis framing digunakan untuk
mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan wartawan ketika
menyeleksi isu dan menulis berita. Cara pandang ini menentukan fakta mana yang akan
diambil dan dibuang, fakta mana yang ditonjolkan dan tidak hingga akhirnya terbentuk
angle atau fokus pemberitaan.
Fokus pemberitaan yang diperoleh dari bagaimana media melakukan framing ini
akhirnya dimunculkan lewat berita yang dikonsumsi khalayak. Sebelum dikonsumsi
khalayak, ternyata isi media juga dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor
ini oleh Becker dan Vlad (2009, 59) terdiri dari faktor individual media, rutinitas media,
organisasi media, ekstramedia dan ideologi media. Penelitian ini mencoba untuk
mengetahui framing media lokal dalam memberitakan kasus korupsi dana Persiba
Bantul.
380
e-Proceeding | COMICOS 2017
METODOLOGI
Jenis penelitian dalam penelitian ini ialah kualitatif. Denzin dan Lincoln dalam
Moleong menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang mengunakan
latar belakang alamiah, dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan
dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada. (Moleong, 2004:5).
Subjek penelitian dalam penelitian ini redaktur atau reporter di lima media lokal
di Yogyakarta yaitu Kedaulatan Rakyat, Tribun Jogja, Harian Jogja, Bernas Jogja, dan
Radar Jogja. Objek penelitian dalam penelitian ini adalah berita korupsi dana Persiba
yang melibatkan Idham Samawi. Time frame berita yang diteliti adalah sejak Idham
Samawi ditetapkan sebagai tersangka korupsi oleh Kejaksaan Tinggi DIY pada 19 Juli
2013 hingga berita terkini yakni pasca protes dari masyarakat yang dimulai pada 12
Maret 2015. Berita yang dibandingkan dan dianalisis juga berada dalam waktu yang
sama. Mengingat penelitian ini menggunakan metode analisis framing, maka kuantitas
berita tidak terlalu menjadi masalah.
Tabel 1
Berita Korupsi Dana Persiba di 5 Surat Kabar Lokal di Yogyakarta
Tanggal
Terbit
Senin,22
Juli
2013
Kedaulatan
Rakyat
Paserbumi
Ingin Idham
Terus di
Persiba
Selasa,2
3 Juli
2013
Idham Tak
Salahi Aturan
Caleg
Tribun Jogja
Harian Jogja
Idham Tidak
Hadiri
Peringatan
Hari Jadi
Bantul
Pencalegan
Idham Harus
Dianulir
Idham Masih
Aman ke
Senayan
DPD Tak
Berkutik Soal
Idham
Bernas
Jogja
Kejati DIY
Dituding
Politis
Radar
Jogja
Jangan
Terhenti
pada Idham
Posisi Idham
Masih Aman
Dalami
Keterlibatan
Pejabat Lain
381
e-Proceeding | COMICOS 2017
Kamis,2
5 Juli
2013
Kepemimpinan Persiba Butuh
Idham Tetap
Dana Rp6M
Dibutuhkan
KPK Dukung
Kajati Usut
Dugaan
Korupsi Bantul
KPK
Supervisi
Pengusutan
Idham
Keroyok
Tangani
Perkara
Idham
Metode penelitian dalam penelitian ini menggunakan analisis konsep framing dari Robert
N. Entman. Untuk menganalisis teks, terdapat empat perangkat dari Entman (dalam
Eriyanto, 2002:189) yakni: Define problems (pendefinisian masalah), Diagnose Causes
(memperkirakan masalah atau sumber masalah), Make moral judgement (membuat
keputusan moral), dan Treatment Recommendation (menekankan penyelesaian)
PEMBAHASAN
Peneliti telah melakukan proses analisis teks terhadap 15 artikel berita dari lima
media lokal yang menjadi obyek penelitian. Setelah proses analisis teks dilakukan,
peneliti meneruskan tahapan analisis konteks untuk memperoleh konfirmasi dari pihak
redaksi media dalam proses pembuatan artikel tersebut. Berikut ini akan dipaparkan
terlebih dahulu analisis teks dari lima media lokal di DIY.
ANALISIS TEKS
Analisis Teks Berita Kedaulatan Rakyat
1. Berita “Paserbumi Ingin Idham Terus di Persiba “
Dapat disimpulkan bahwa frame besarnya adalah Idham adalah orang yang
sangat dibutuhkan oleh kelompok suporter Persiba untuk terus mengangkat prestasi
Persiba di kejuaraan sepakbola. Berdasarkan berita tersebut terlihat bagaimana KR
berusaha mengarahkan pembaca untuk mengerti betul perjuangan Idham Samawi dalam
kiprah Persiba. Berkat perjuangan itu, Idham dinilai masih layak mengurusi Persiba.
Hal pertama yang bisa dilihat adalah lewat judul berita “Paserbumi Ingin Idham
Terus di Persiba”. Berdasarkan judul tersebut, kata “ingin” menandakan bahwa
Paserbumi memang berharap Idham terus mengelola Persiba. Judul ini pun dijadikan
headline oleh KR. Dengan menjadikannya headline dalam rubrik Sportmania, tentu saja
akan menjadi daya tarik pertama pembaca untuk membacanya.
382
e-Proceeding | COMICOS 2017
Lead pun makin menguatkan judul yang diberikan KR. Lead dimulai dengan
kalimat “Kelompok suporter Persiba Bantul, Paserbumi berharap Drs. HM Idham
Samawi tetap bersedia untuk mendampingi tim kebanggaan masyarakat Bantul dalam
mengarungi kompetisi Indonesian Premier League (IPL) musim ini. Hal tersebut karena,
prestasi yang saat ini diraih “Laskar Sultan Agung” tak lepas dari perjuangannya selaku
Ketua Umum. Melalui lead tersebut, KR mengarahkan pada kesediaan Idham Samawi
untuk mendampingi tim kebanggaan Bantul. Kata “kesediaan”, “kebanggaan”, dan
“perjuangan Idham Samawi” menandakan bahwa Idham memang diharapkan terus ada
di Persiba karena memperjuangkan tim ini hingga berprestasi dan menjadi kebanggaan
masyarakat Bantul.
Pemilihan narasumber dalam keseluruhan tubuh berita semua mengarah pada
satu sisi yakni dari sisi Paserbumi. Sementara itu kutipan langsung pun banyak
menegaskan soal kiprah Idham di Persiba. Beberapa kutipan langsung ini terlihat dari
paragraf 2, 5, dan 7 dimana Idham ditampilkan sebagai sosok yang sangat berperan
dalam Persiba. Bahkan terdapat kata “Idham menjadi motor bangkitnya persepakbolaan
Bantul “ dimana ketika ditafsirkan lebih berarti Idham adalah orang utama dan penting
dalam sejarah sepakbola Bantul. Dari pemilihan narasumber dan kutipan baik langsung
maupun tidak makin menguatkan bahwa Paserbumi serius menginginkan Idham
Samawi.
Sementara itu, pada penyelesaian KR lebih menekankan pada perhatian
pemerintah untuk Persiba. Melalui narasumbernya, KR menyampaikan bahwa
pemerintah harus memikirkan nasib Persiba yang tengah dilanda persoalan internal.
Secara implisit, tampaknya KR ingin menyampaikan bahwa ketika Idham sedang dilanda
kasus korupsi, pemerintah seyogyanya juga berpikir soal nasib Persiba. Kasus Idham
383
e-Proceeding | COMICOS 2017
tentu saja akan membuat manajemen Persiba akan terganggu. Oleh karena itu ketika
dilihat dari beritanya, terdapat kutipan yang menyebutkan Persiba tengah dilanda
persoalan manajemen. Dugaan peneliti ini salah satunya terkait dengan penetapan Idham
sebagai tersangka dana Persiba. Kesimpulannya, meskipun Idham ditetapkan menjadi
tersangka, namun Idham tetap disosokkan positif oleh KR.
2.
Berita “DPP PDIP Bantah Ada Diskriminasi, Idham Tak Salahi Aturan Caleg”
Framing pada berita berjudul DPP PDIP Bantah Ada Diskriminasi, Idham Tak
Salahi Aturan Caleg ingin menegaskan bahwa Idham Samawi masih sangat layak
menjadi caleg DPR RI. Kelayakan ini dinilai dari status hukum Idham yang belum
membuktikan apa-apa. Lebih lagi, penetapan Idham berlangsung setelah ditetapkannya
Idham menjadi caleg. Menurut aturan hal tersebut tidak masalah, kecuali penetapan
tersangka terjadi sebelum penetapan sebagai Caleg. Pernyataan ini hampir ditekankan
dalam setiap paragrafnya.
Pada berita ini, narasumber hanya berjumlah satu yakni dari Ketua Bidang
Hukum Dewan Pimpinan Pusat PDIP, Trimedya Panjaitan. Menurut asumsi penulis,
narasumber ini cenderung memiliki ketekaitan organisasi dengan Idham Samawi.
Kemungkinan selanjutnya adalah pernyataan narasumber tersebut tidak independen
artinya memang memihak pada pencalonan Idham. Secara kualitas berita, berita di KR
ini tidak memenuhi unsur keseimbangan berita. Narasumber tidak cover both sides dan
cenderung memilih narasumber yang berasal dari partai pendukungnya.
Dalam berita ini, KR tetap mengingatkan pembaca pada prestasi Idham. Meski ia
terkandung kasus, namun peranan Idham sangat besar bagi Bantul terkhusus soal Persiba.
Hal ini terdapat dalam paragraf 4 dalam kalimat sebagai berikut.
“Untuk itu, mantan Bupati Bantul 2 periode yang dianggap berprestasi berhasil
384
e-Proceeding | COMICOS 2017
memajukan Pemkab Bantul dalam berbagai bidang tersebut, termasuk untuk
pertama dalam sejarah Persiba menjadi juara Liga Utama PSSI 2010/2011, diminta
terus melakukan konsolidasi kaitannya dalam pencalegan sebagai anggota DPR
RI.”
Lewat kutipan tak langsung dari Trimedya, KR juga ingin menggiring opini bahwa
penetapan Idham sebagai tersangka masih janggal. Kejanggalan ini terlihat dari Idham
yang belum pernah diperiksa sebagai saksi dan belum ada kerugian negara. Oleh karena
itu, penyelesaian kasus ini oleh KR diarahkan pada penyiapan tim hukum untuk membela
Idham.
3. Berita “Demi Kiprah Persiba, Kepemimpinan Idham Tetap Dibutuhkan”
Framing berita dengan judul “Demi Kiprah Persiba, Kepemimpinan Idham Tetap
Dibutuhkan” masih memberikan citra positif pada sosok Idham Samawi. KR masih
menggiring publik bahwa Idham belum menjadi tersangka resmi korupsi. Hal ini
dibuktikan dengan adanya lead “Meski saat ini posisi Ketua Umum Persiba, Drs.HM
Idham Samawi sedang tersangkut masalah hukum, namun pemerhati sepakbola di Bantul
menilai kehadirannya tetap diperlukan bagi tim yang berjuluk “Laskar Sultan Agung”
tersebut. Kata-kata “tersangkut masalah hukum”, menjadi bukti bahwa KR masih sangat
halus dan belum berani menunjuk Idham sebagai tersangka. Penggunaan kata tersangkut
masalah hukum masih bisa diartikan publik sebagai persoalan biasa dan tidak
mengerikan seperti halnya bila KR menggunakan tersangkut masalah korupsi. Ketika
menggunakan kata “korupsi” opini masyarakat pasti akan merujuk pada tindakan yang
sangat berat karena korupsi masih dipandang sebagai penyakit masyarakat yang sangat
merugikan negara.
Dalam leadnya, KR juga berniat untuk mengarahkan pembaca bahwa sosok
385
e-Proceeding | COMICOS 2017
Idham adalah sosok yang dibutuhkan oleh dunia persepakbolaan di Bantul. Kita pun tahu
bahwa Persiba merupakan tim sepakbola utama di kalangan masyarakat Bantul.
Sepakbola pun, masih menjadi magnet bagi masyarakat umumnya. Tentu saja, dengan
pernyataan KR dalam leadnya, masyarakat akan melihat bahwa karena Idham-lah,
Persiba menjadi tim yang kuat dan menorehkan banyak prestasi.
Di dalam tubuh beritanya, KR menampilkan pernyataan dari salah satu pengurus
cabang PSII Bantul dan Persiba, M.Fanani untuk menguatkan kembali bahwa Idham
adalah sosok yang membuat Persiba berprestasi. Ia banyak menceritakan kiprah Idham
di Persiba saat menjadi ketua umum. Saat menjadi ketua umum, Idham membuat
keteraturan manajerial dan berbagai program tim sehinga Persiba meraih prestasi
maksimal di Kompetisi Komda Jateng dan DIY bagian selatan.
Pernyataan pengurus cabang ini ingin menggiring pembaca kembali untuk
berpikir bahwa mana mungkin Idham melakukan tindakan yang merugikan untuk
Persiba. Tak hanya itu,berbagai kutipan pengurus cabang juga menguatkan pembaca
bahwa Idham memang sangat dibutuhkan bagi tim Persiba. Karenanya, KR ingin
mengarahkan publik untuk kembali berpikir apakah memang Idham bersalah atas
tindakannya melakukan korupsi dana Persiba?
Berita ini tidak memenuhi unsur cover both sides. KR hanya menampilkan
pernyataan narasumber dari satu sisi saja. Hal ini tentu saja bisa dikritisi, apakah memang
Idham benar-benar memberikan prestasi bagi Persiba?
Analisis Teks Berita Tribun Jogja
1. Idham Tidak Hadiri Peringatan Hari Jadi Bantul
386
e-Proceeding | COMICOS 2017
Framing Tribun Jogja atas berita berjudul Idham Tidak Hadiri Peringatan Hari
Jadi Bantul lebih menunjukkan sikap Idham yang tidak berani tampil di depan umum
pasca penetapan tersangka dirinya. Tribun menguatkan dugaan tidak berani datang di
HUT Jadi Bantul dengan memaparkan upaya yang dilakukan Tribun saat
menghubungi Idham. Dalam paparannya tersebut, Tribun menjelaskan Idham tidak
merespon. Tribun pun makin menguatkan dugaan ketidakhadiran Idham dengan
mewawancara istri Idham, Bupati Ida. Saat diwawancara, Bupati Ida sama sekali tidak
berkomentar atas ketidakhadiran Idham.
Selain menyorot ketidakhadiran Idham, Tribun juga memaparkan fakta soal
kronologi penetapan tersangka pada Idham. Tribun menjelaskan bagaimana
pelanggaran yang dilakukan Idham atas dana Persiba 2010 yang tidak sesuai prosedur.
Penjelasan ini diungkapkan dengan memilih narasumber seperti Kajati DIY. Sebagai
bentuk cover both sidesnya (sisi Idham) Tribun memilih Sidharto, Ketua DPP PDIP
Bidang Kehormatan yang juga menjabat Ketua MPR RI. Dalam pernyataannya,
Sidharto juga tidak berkomentar dan hanya mengatakan rencana advokasi hukum
untuk Idham. Ia pun juga tak mau berkomentar atas keberadaan Idham sebagai bakal
calon legislatif.
Tribun Jogja cenderung memaparkan kasus Idham ini dari sisi Idham memang
bersalah dalam kasus korupsi dana Persiba. Angle yang dipilih pun cenderung
menguatkan bahwa Idham tidak memiliki nyali untuk bertemu media dan masyarakat
pasca penetapan tersangka. Tribun pun membuka kembali alasan mengapa Idham
ditetapkan tersangka. Dengan demikian pembaca pun makin dikuatkan bahwa
penetapan Idham sebagai tersangka adalah benar karena ada fakta yang mendukung.
387
e-Proceeding | COMICOS 2017
2. Berita Pencalegan Idham Harus Dianulir
Frame berita Tribun dengan judul “Pencalegan Idham Harus Dianulir” adalah
pencalonan Idham sebagai calon legisatif perlu dibatalkan. Frame ini dibentuk dengan
mengangkat pernyataan narasumber dari kader PDIP yang dahulu pernah dibatalkan
pencalonannya dalam pemilihan legislatif karena tersandung kasus korupsi. Pernyataan
narasumber dilihatkan sebagai bentuk kekecewaan ketika PDIP tidak konsisten dalam
menerapkan aturan pencalonan DCS. Narasumber terkesan menuntut PDIP agar tidak
pilih kasih pada sosok Idham. Hal ini dikatakan narasumber agar citra PDIP tidak rusak
di mata masyarakat.
Tribun menunjukkan bahwa tindakan koruptor perlu mendapatkan perhatian
serius. Lebih lagi ketika ia dicalonkan sebagai bagian dari calon legislatif. Tribun juga
mengajak masyarakat khususnya partai PDIP untuk kembali mengingat aturan yang
pernah dibuatnya yakni pencabutan pada anggota kadernya bila tersandung korupsi.
3. Berita Persiba Butuh Dana Rp. 6M
Framing berita ini, Tribun ingin menunjukkan bahwa penetapan Idham sebagai
tersangka juga membuat kondisi pada Persiba terguncang. Digambarkan dalam berita
tersebut, bagaimana Persiba yang begitu kesulitan untuk mendapatkan dana Rp 6M.
Pernyataan narasumber yakni Sekretaris Persiba, Wikan Werdo Kisworo, banyak
menceritakan kondisi Persiba yang memang membutuhkan orang yang mau membantu
dana hingga 6M.
Wikan malah menyebutkan, opsi terakhir mereka jika tidak
mendapatkan dana adalah menjual Persiba kepada pihak lain. Namun hal tersebut juga
menimbulkan persoalan baru yakni pemindahan markas.
Tribun memberikan pandangan lain terhadap kasus Idham. Idham memang sosok
388
e-Proceeding | COMICOS 2017
yang dibutuhkan oleh Persiba, meski kalimat dalam berita tidak secara langsung
menyebutkannya. Tribun memberikan bukti-bukti nyata bahwa persoalan dana adalah
persolan krusial dalam Persiba, dan sosok Idham-lah yang selama ini bisa membantu
pendanaan.
Analisis Teks Berita Harian Jogja
1. Idham Masih Aman ke Senayan
Framing berita di atas menunjukkan bahwa Harjo ingin memberitahukan pada
publik bahwa penetapan Idham sebagai tersangka tidak berpengaruh pada pencalonan
dia di Senayan. Hal ini ditunjukkan Harjo dengan memberikan kutipan dari KPU dengan
dasar legalitas hukum. Dikatakan bahwa berdasar hukum, memang keputusan atas Idham
belum final dan dia masih layak untuk dicalonkan.
Namun, dalam berita ini Harjo tetap menunjukkan bahwa aturan KPU belum
sepenuhnya benar. Hal ini dibuktikan dengan salah satu kutipan mantan bakal calon
legislatif Bambang Eko dan Ternalem yang dilarang untuk mencalonkan diri karena
tersandung kasus korupsi. Pelarangan ini bahkan dilakukan saat proses banding berjalan.
Dalam wawancaranya dengan Ternalem, Ternalem menilai bahwa ada indikasi pilih
kasih dari pihak yang bersangkutan pada Idham Samawi.
Sementara itu, Harjo mengingatkan kembali pada publik akan konteks berita
Idham. Disebutkan dalam berita bahwa Idham adalah tersangka kasus korupsi Persiba
dari dana APBD 2011. Harjo pun berusaha mengkonfirmasi pernyataan Kejati dengan
menghubungi Idham dengan politisi PDIP atas hal tersebut, namun sama sekali tidak ada
direspon. Hal ini membuktikan bahwa secara sisi jurnalistik, Harjo tetap memenuhi asas
cover both sides. Harjo pun terlihat menyerahkan pada publik atas konfirmasi yang tak
terjawab dari Idham dan politisi PDIP lainnya.
389
e-Proceeding | COMICOS 2017
1. DPD Tak Berkutik Soal Idham
Framing Harjo pada berita di atas adalah DPD PDIP tidak bisa berbuat banyak
atas pencalonan Idham sebagai caleg. Hal ini ditegaskan dengan mengutip pernyataan
baik kutipan langsung dan tidak langsung dari Sekretaris Jendral DPD PDIP DIY,
Bambang Praswanto. Dalam berita ini, PDIP justru digambarkan memberikan bantuan
hukum pada Idham dan tetap mendukung pencalegan Idham.
Namun dalam tubuh beritanya, Harjo tetap memberikan antitesis dari pernyataan
Bambang yaitu dengan mengutip berita sebelumnya. Pernyataan antitesis ini berasal dari
Ternalem kader PDIP, yang merasa terdiskriminasi atas kasus Idham. Harjo terus
mengulang kutipan Ternalem bahwa kasus Ternalem harusnya menjadi contoh dalam
penyelesaian kasus pencalegan Idham. Dijelaskan pula oleh Harjo, partai PDIP sebagai
penyokong Ternalem bahkan melarang Ternalem untuk ikut pencalonan legislatif 2014.
Berdasarkan pernyataan-pernyataan Ternalem ini, Harjo terkesan ingin memberikan
wacana bahwa Idham sama dengan kader lainnya.Oleh karenanya, penyelesaikan atas
kasus Idham selayaknya sama dengan kader lainnya.
3.KPK Dukung Kejati Usut Dugaan Korupsi di Bantul
Framing Harjo atas berita di atas adalah keseriusan KPK dan Kejati DIY dalam
menuntaskan kasus hibah Persiba Bantul. Kendati dalam berita tersebut disebutkan
bahwa kedatangan tim KPK tak hanya menangani kasus Persiba, namun kedatangan
tim ini makin mempercepat penanganan kasus Persiba.
Dalam tubuh beritanya, Harjo lebih banyak memberikan porsi lebih pada
narasumber KPK serta Kejati DIY. Kendati demikian Harjo tetap melakukan
verifikasi dengan memberikan pernyatan Idham dan istrinya yang menjabat Bupati
Bantul. Dalam pernyataannya, mereka berdua menolak berkomentar. Penolakan ini
390
e-Proceeding | COMICOS 2017
menandakan bahwa kemungkinan memang Idham bersalah atas kasus Persiba ini.
Analisis Teks Berita Radar Jogja
1. Berita Jangan Terhenti pada Idham, Kejati Diminta Usut Semua Pejabat yang
Terlibat
Framing Radar Jogja dalam berita di atas menunjukkan banyak pihak yang
berharap kasus Idham diselesaikan. Harapan itu ditorehkan lantaran Idham merupakan
salah satu public figure di Jogja yaitu mantan bupati Bantul dan pimpinan partai PDIP
di Jogja. Tentunya dengan melihat predikatnya sebagai tokoh publik, bisa saja kasus
korupsi yang menyangkut Idham tidak dapat terselesaikan.
Dalam tubuh beritanya, Radar memberikan narasumber dari berbagai elemen
masyarakat yang notabenya mendukung penyelesaian kasus Idham. Pernyataan yang
dikeluarkan narasumber lebih pada meminta KPK dan Kejati mengusut tuntas kasus
Idham tanpa mamandang jabatan apa pun. Mereka juga menekankan adanya
independensi dari KPK maupun Kejati mengingat posisi Idham yang dinilai kuat. Hanya
saja dalam berita tersebut, pihak Idham sama sekali tidak diberi kesempatan untuk
memberikan pendapatnya. Dengan demikian asas cover both sides tidak terpenuhi dalam
berita ini.
Dalam tanggal yang sama yaitu 22 Juli 2013, berita Idham dikeluarkan dua kali
oleh Radar Jogja dengan angle yang berbeda. Angle pertama berjudul “Jangan Terhenti
pada Idham, Kejati Diminta Usut Semua Pejabat yang Terlibat” dan angle kedua
berjudul “DPP Jangan Diskriminatif, Ternalem Berharap Idham Bersikap Konsisten”.
Angle kedua ini banyak menyorot soal keprihatinan beberapa kader PDIP terhadap
Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDIP yang melakukan kebijakan bernuansa diskriminatif
pada Idham. Hal ini pun dikutip langsung oleh Radar dengan pernyataan sebagai berikut.
“Kami heran dengan arah dan sikap PDIP. Katanya kader yang tersangkut perkara
391
e-Proceeding | COMICOS 2017
korupsi tidak akan dibela, karena memalukan partai. Namun yang terjadi kok
justru sebalinya,”sindir mantan Ketua DPC PDIP Gunungkdiul Ratno Pintoyo,
kemarin (20/7). (Radar Jogja, 22 Juli 2013)
Pemilihan kutipan langsung oleh Radar tersebut terkesan memang ada proses
diskriminatif pada Idham. Hal ini ditunjukkan dengan memunculkan kata-kata “tidak
akan dibela”, “memalukan”, serta “kok”.
Untuk menguatkan lagi pada publik bahwa ada nuansa diskriminatif dalam kasus
Idham, Radar pun kembali mengingatkan pada kasus yang Ternalem, anggota DPRD
DIY non aktif dari partai PDIP. Berdasarkan wawancara Radar dengan Ternalem,
diperoleh fakta bahwa dirinya dinonaktifkan karena tersangkat korupsi. Kekecewaan
Ternalem pada aparat hukum dalam penanganan kasus Idham pun dikutip secara
langsung oleh Radar sebagai berikut.
“Kalau konsisten itu juga diterapkan sama dengan kasus yang menimpa pak
Idham. Ini demi nama baik dan nama besar PDIP. Jangan sampai tercoreng
juga,”harap ketua PAC PDIP Kecamatan Playen, Gunung Kidul ini. (Radar Jogja,
22 Juli 2013).
Berdasarkan kutipan di atas terlihat jelas adanya nada kekecewaan dari Ternalem.
Hal ini ditunjukkan dengan penggunaan kata-kata “ kalau konsisten”, dan “demi nama
baik dan nama besar PDIP”. Dari kata-kata tersebut menyiratkan bahwa kasus Idham
sama dengan kasus Ternalem dimana semestinya Idham harus diperlakukan sama seperti
Ternalem.
Narasumber pada angle berita kedua ini meski berasal dari kubu Idham (PDIP)
namun Radar memilih pihak-pihak yang memiliki pengalaman serupa dengan kasus
Idham. Dengan demikian muncul pernyataan menarik yang makin mengejutkan publik.
392
e-Proceeding | COMICOS 2017
2. Dalami Keterlibatan Pejabat Lain, Aspidsus Pimpin Langsung Penyidikan
Framing berita di atas menunjukkan bahwa kasus dana hibah Persiba melibatkan
lebih dari satu orang. Dalam berita ini ditunjukkan ada keseriusan dari Kejati DIY untuk
mengusut kasus Idham. Dijelaskan bahwa Kejati DIY tengah membentuk tim untuk
mencari tersangka lain.
Berita ini menunjukkan makin menujukkan keseriusan Radar untuk mengawal
kasus korupsi Idham. Pada berita tanggal 22 Juli 2013 dengan judul “Jangan Terhenti
pada Idham, Kejati Diminta Usut Semua Pejabat yang Terlibat” dan berita tanggal 23
Juli 2013 dengan judul “Dalami Keterlibatan Pejabat Lain, Aspidsus Pimpin Langsung
Penyidikan”, Radar tampak mengawal langkah Kejati DIY dalam penanganan kasus
Idham. Keseriusan Kejati pun diperlihatkan Radar dalam lead beritanya. Selain Kejati
pun, Radar lebih memilih narasumber dari elemen masyarakat yang setuju kasus korupsi
ini diungkap. Sayangnya berita ini tidak memenuhi asas cover both sides. Idham atau
pihaknya tidak diberi kesempatan untuk memverifikasi berita ini.
Dalam berita ini pula, Radar tetap memberikan narasumber dari elemen
masyarakat. Elemen masyarakat yang dipilih adalah Masyarakat Transparansi Bantul
dan Jogja Corruption Watch (JCW). Keduanya dengan tegas mengatakan kasus Idham
adalah kasus serius yang harus segera ditindaklanjuti. Mereka pun terlihat bernafas lega
bahwa dengan kasus Idham ini, kasus-kasus korupsi lain di Bantul akan segera
tertangani. Dapat disimpulkan bahwa kasus Idham adalah angin segar bagi masyarakat
karena akan muncul tersangka-tersangka baru dalam sejumlah kasus korupsi di Bantul.
Hal ini terlihat dalam kutipan tidak langsung dan kutipan langsung dari kedua elemen
masyarakat yang menjadi narasumber. Berikut kutipannya.
Sedangkan Koordinator Masyarakat Transparansi Bantul (MTB) Irwan Suryono
393
e-Proceeding | COMICOS 2017
kembali meyakini kasus hibah Persiba bisa menjadi pintu masuk membongkar
kasus-kasus megakorupsi yang terjadi di Bantul. Di antaranya, kasus Radio
Bantul senilai Rp 1,7 miliar, Bantul Kota Mandiri (BKM) Rp 4,5 miliar, tukang
guling tanah kas desa Bangunharjo di Sewon Rp 8 miliar, dan dana asistensi ke
pemerintah pusat Rp 1,7 miliar. “Semua harus diusut tuntas,”desaknya. (Radar
Jogja, 23 Juli 2013).
Kutipan narasumber lain adalah
JCW juga yakin pelaku yang terlibat tidak sebatas dua tersangka itu. Tapi, ada
keterlibatan dan peranan pejabat atau pihak lain dalam perkara itu.”Korupsi tidak
mungkin hanya satu atau dua orang yang terlibat. Korupsi dilakukan secara
berjamaah. Kita dukung kejati membongkarnya,”desaknya.
Berdasar dua kutipan tersebut terlihat bahwa korupsi Bantul tidak hanya dilakukan
Idham atau Kakanpora semata, melainkan juga pejabat-pejabat lain yang bersangkutan.
Hal ini terlihat dari kata-kata “berjamaah” serta kutipan dari MTB yang menyebut
banyaknya kasus korupsi yang ada di Bantul. Kutipan ini makin menunjukkan bahwa
kasus korupsi ini serius dan perlu diselesaikan.
1. Berita dengan judul “Keroyok Tangani Perkara Idham”
Framing berita di atas menunjukkan Radar terlihat memang serius ingin kasus
korupsi yang melibatkan Idham dituntaskan. HRadar terlihat terus mengapresiasi
langkah Kejati dan KPK yang terus mencari keterlibatan Idham dalam kasus korupsi
yang melibatkan dirinya. Hal ini terlihat pertama kali dari pemilihan diksi dalam judul.
Radar membubuhkan kata “keroyok” dalam judul berita. Dalam KKBI “keroyok” berarti
menyerang beramai-ramai. Kata tersebut mengandung arti bahwa kasus Idham tidak
hanya ditangani Kejati melainkan mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. Selain
394
e-Proceeding | COMICOS 2017
kata “keroyok”, Radar dalam paragraf pertamanya juga membubuhkan kata “suntikan
darah segar”. Diksi ini mengandung arti kasus ini tidak hanya mendapat perhatian Kejati
DIY melainkan KPK sebagai penegak hukum tertinggi di negeri ini. Kata “darah segar”
bisa diasosiasikan bahwa kasus ini tentunya tidak main-main diusut karena telah
melibatkan KPK.
Dalam tubuh beritanya, Radar menjelaskan dengan detail bagaimana tim KPK
dan Kejati serius mengusut kasus Idham. Bahkan tak hanya kasus Persiba, tetapi kasuskasus korupsi lain yang melibatkan Idham. Radar menceritakan bagaimana tim KPK
yang mendatangani secara langsung Kejati dan langkah-langkah apa saja yang akan
dilakukan. Dalam hal ini sekali bahwa kasus Idham memang kasus serius yang harus
segera ditangani. Namun sayangnya, berita ini tidak dibarengi dengan komentar dari
Idham. Dalam hal ini, Radar memang tidak memenuhi asas coverboth sides.
Analisis Teks Berita Bernas Jogja
1. Kejati DIY Dituding Politis
Pada artikel tersebut, Bernas mencoba untuk memberitakan perbedaan pendapat
antara pihak yang mendukung Idham dengan pihak yang pro pengusutan kasus korupsi
Idham. Pada bagian judul, nampak kesan awal bahwa Bernas Jogja memberikan
dukungan kepada Idham karena judul yang digunakan adalah “Kejati DIY Dituding
Politis”. Hal tersebut mengesankan bahwa Bernas mengedepankan wacana bahwa
penetapan tersangka Idham oleh Kejati semata-mata hanya alasan politis saja. Alasan
politis yang dimaksud adalah usaha untuk menggagalkan pencalonan anggota legislatif
Idham.
Namun setelah didalami ke bagian tubuh berita, ternyata judul yang bernuansa
tudingan politis tersebut hanya merujuk sebagai kecil dari keseluruhan artikel. Hanya
395
e-Proceeding | COMICOS 2017
mengambil lia paragraf awal dari total 26 paragraf yang ada di artikel tersebut. Bagian
artikel yang lain justru lebih bayaj menampilkan pendapat pihak-pihak yang pro atas
penetapan tersangka Idham. Antara lain mantau Ketua DPC PDIP Gunungkidul Ratno
Pitoyo, politisi PDIP Gunungkidul Ternalem, peneliti Pusat Kajian Antikorupsi UGM
Hifdzil Alim, dan pihak Jogja Corruption Watch Baharadduin Kamba.
Pemberitaan Bernas pada artikel ini sudah menjunjung prinsip multi side
coverage. Karena selain informasi yang disampaikan oleh pihak yang mendukung Idham
dijadikan tersangka, Bernas juga menampikan suara dari pihak yang masih pro kepada
Idham. Pihak tersebut antara lain Ketua DPP PDIP Bidang Kehormatan Sidarto
Danusubroto, Wakil ketua Bidang Politik dan Hubungan antar lembaga DPD PDIP DIY
Esti Wijayanti yang diberikan kesempatan untuk menjadi pelantun wacana. Kemudian
ditambah dengan usaha konfirmasi Bernas kepada Gubernur DIY dan Bupati Bantul (istri
dari Idham) yang tidak membuahkan hasil karena penjagaan ketat kedua orang tersebut.
Pihak KPU juga diberikan ruang yang cukup sehingga mampu menjadi pelengkap
keberagaman sudut pandang terhadap kasus ini.
2.
KPK Supervisi Pengusutan Idham
Artikel ini menyiratkan bahwa KPK mendukung penuh upaya pengusutan kasus
Idham oleh Kejati DIY. KPK memberikan bantuan konsultatif kepada Kejati untuk
melanjutkan proses penyelidikan kasus Idham. KPK mengakui bahwa tidak secata
khusus hanya mendukung Kejati DIY saja. KPK secara rutin juga melakukan diskusi
dengan Kejati lain di seluruh Indonesia. Kejati DIY sendiri membuka tangan lebar-lebar
atas bantuan yang diberikan oleh KPK. Kejati sendiri mengaku kedatangan KPK bukan
karena hambatan yang dialami oleh Kejati ketika mendalami kasus.
396
e-Proceeding | COMICOS 2017
Berdasarkan artikel tersebut, pembaca dapat melihat bahwa lembaga penegak
hukum, khususnya kasus korupsi saling memberikan dukungan. Koordinasi antar pihak
berjalan dengan baik, untuk mencapai tujuan selesainya kasus korupsi Idham Samawi
tersebut. Prinsip cover both side dalam artikel ini lebih menekankan narasumber dari
pihak Kejati DIY dan KPK. Kedua pihak tersebut menjadi plot utama dalam artikel ini
karena fokus pemberitaan lebih kepada dukungan KPK terhadap penyidikan Kejati.
Berdasarkan artikel tersebut, nampak bahwa adanya kekompakan lembaga penegakan
hukum dalam kasus korupsi. Kedua lembaga secara terbuka menyatakan sikap positif
dengan mengesampingkan ego sektoral masing-masing.
3. Posisi Idham Masih Aman
Artikel ketiga Bernas Jogja ini mencoba mengingatkan pembaca bahwa DPP
PDIP tetap bergeming untuk menetapkan Idham sebagai caleg DPR RI dari dapil DIY.
Padahal berdasarkan artikel nomor dua, seorang tersangka dapat dibatalkan pencalonan
legilatifnya oleh DPP. Namun pada kasus Idham, yang bersangkutan masih melenggang
aman. Artikel ini juga mengesankan bahwa DPD PDIP mengeluarkan pernyataan
berlindung di balik DPP. Mereka seolah hanya mengikuti arahan dari DPP, padahal
sebenarnya memang mereka tidak ingin mempermasalahkan pencalonan legislatif
Idham. Hal tersebut muncul pada paragraf keempat yang berbunyi, “Jalan terus bahkan
ditingkatkan sesuai target” ketika menyinggung upaya pemenangan PDIP pada pemilu
2014.
Namun arus wacana utama dari artikel ini justru lebih mengarah pada kemajuan
proses penyeidikan Idham yang dilakukan oleh Kejati DIY. Hal ini nampak dari jumlah
paragraf yang mendominasi sebanyak 13 paragraf, sedangkan pernyataan pihak DPD
PDIP hanya sejumlah lima paragraf. Bernas melihat kesan Kejati DIY yang terlalu hati-
397
e-Proceeding | COMICOS 2017
hati dan lambat dalam proses penyelidikan kasus Idham. Bernas melihat kesan Kejati
gamang melajutkan dengan cepat karena adanya ancaman demonstrasi dari pendukung
Idham. Semuan narasumber dari pihak Kejati terkesan tidak memiliki tanggal atau waktu
yang pasti tentang pemanggilan Idham.
REKAPITULASI ANALISIS TEKS LIMA MEDIA LOKAL
Tabel Perbandingan Analisa Teks Lima Media Lokal di Yogyakarta
Posisi/ Keterkaitan
dengan pihak yang
Pemberitaan
Media
diberitakan (Idham
Samawi)
Kedaulatan
Memihak Idham
a. Idham disosokkan positif
Rakyat
Samawi
b. Idham adalah korban demi menyelamatkan
Persiba
c. Idham menuai banyak prestasi untuk Persiba
Harian Jogja
Netral
a. Idham diberitakan berdasarkan fakta hukum
sesuai statusnya yakni sebagai tersangka
b. Kekecewaan pada DPP PDIP yang tidak tegas
menangani kasus Idham
Tribun Jogja
Netral
a. Idham diberitakan berdasarkan fakta hukum
sesuai statusnya yakni sebagai tersangka
b. Idham memberikan banyak prestasi pada
Persiba
Radar Jogja
Netral
a. Idham diberitakan berdasarkan fakta hukum
sesuai statusnya yakni sebagai tersangka
b. Kejati DIY dicitrakan positif dengan porsi
pemberitaan terbesar. Radar telihat cenderung
mendesak penyelesaian kasus ini dengan
menampilkan narasumber dari aparat penegak
hukum.
c. Apresiasi penegak hukum (Kejati DIY dan
KPK) dalam mengawal kasus ini.
Bernas Jogja
Netral
a. Idham diberitakan berdasarkan fakta hukum
sesuai statusnya yakni sebagai tersangka
b. Ada perbedaan pendapat di internal DPD
PDIP terkait kasus Idham. Ada kesan Idham
diperlakukan istimewa secara hukum oleh
PDIP
c. KPK dan Kejati secara kompak bekerja sama
untuk menyelesaikan kasus Idham
d. Bernas menilai Kejati kurang cepat dan tegas
dalam menyidik kasus Idham
Sumber : Olahan peneliti
398
e-Proceeding | COMICOS 2017
ANALISIS KONTEKS
a. Kedaulatan Rakyat
Level konteks pada media KR ini diperoleh berdasarkan hasil wawancara dengan
pemimpin redaksi Octo Lampito pada April 2015 lalu. Dari sejarahnya, koran KR
berpijak pada pers Pancasila. Wonohito sebagai pendiri KR, menyatakan KR memiliki
tugas dan tanggungjawab besar untuk mencapai kesejahteraan masyarakat Yogyakarta.
Kesejahteraan ini terwujud manakala KR bisa menjalankan fungsinya dengan baik.
Fungsi media ini merujuk pada fungsi dasar media yaitu sebagai sarana informasi,
hiburan, pengawasan, pendidikan, serta transmisi budaya. Tentu saja aspek lokalitas
menjadi hal utama dalam pemberitaan KR.
Dari ideologi pers Pancasila ini, Octo menyatakan pemberitaan KR sangat pro
terhadap rakyat. Bentuk bentuk ketertindasan terhadap rakyat lebih banyak diungkapkan
oleh KR. Oleh karena itu, kata Octo, pemberitaan akan lebih banyak menampilkan
narasumber dari rakyat.
Untuk menerapkan pers Pancasila ini, KR juga menggunakan pendekatan budaya
Jawa dalam menampilkan pemberitaannya. Budaya Jawa ini seperti menyampaikan
sesuatu dengan pelan-pelan namun mengena. Hal ini disampaikan Octo sebagai berikut.
“Pendekatan saya "ngantem" tapi jangan keras, yang penting kena, dengan
bahasa. Kalau kami hidup di Surabaya mungkin akan lain, kalau di Jakarta juga
akan lain, tapi ini kami harus berhadapan dengan mayoritas Jawa. Pesannya
adalah untuk menjaga Jogja dengan "migunani tumraping liyan", harus bisa
bermanfaat bagi orang Jogja dan sekitarnya. (Octo, wawancara, April 2015)
Berdasarkan kutipan di atas, pemberitaan KR terlihat lebih landai ketimbang
berita dari media lain yang lebih kritis. Menurut Octo, ketika KR terlalu kritis menyoroti
sesuatu, maka pembaca enggan akan membaca KR. Diakui oleh Octo bahwa KR masih
mendapat peringkat tertinggi oplah di Yogyakarta atau sekitar 400 ribu per hari,
dikarenakan berita yang dimunculkan banyak menggunakan bahasa yang landai, tidak
keras. Isunya pun banyak menyentuh persoalan-persoalan langsung dalam masyarakat.
399
e-Proceeding | COMICOS 2017
Pada persoalan Idham Samawi, Octo mengatakan bahwa faktor kedudukan
Idham sebagai penasehat tidak mempengaruhi pemberitaan. Meski sebutan Idham adalah
“bapak”, namun Octo membantah Idham melakukan intervensi pada pemberitaaan.
Hanya saja Idham “memperingatkan”KR bahwa ia belum divonis. Berikut kutipan
wawancaranya,
“Dia bilang silakan memberitakan, tapi dia bilang juga jangan lupa bahwa dia
belum divonis. Dia memberikan kebebasan, tapi kami juga harus hati-hati karena
kami tidak mau membuat orang celaka seumur hidup.”(Octo, wawancara, April
2015)
Octo juga menegaskan dalam kutipan sebagai berikut.
“Mungkin juga begitu, tapi jangan lupa saya menjaga sekali, kalau belum
tersangka belum saya beritakan jika belum tertentu bersalah. Kasihan
keluarganya, kasihan publiknya, kasihan bisnisnya.” (Octo, wawancara, April
2015)
Berdasar kutipan di atas, peneliti menduga peringatan Idham bahwa ia belum
divonis merupakan bentuk kekhawatiran dari Idham. Idham berusaha untuk
mempengaruhi kebijakan redaksional secara tidak langsung. Hal ini terungkap dari
pernyataan Octo bahwa jangan pernah membuat orang celaka seumur hidup di kutipan
terakhirnya. Hal ini menandakan KR tampak hati-hati sekali membingkai pemberitaan
Idham. Bahkan Octo sendiri menyebutkan bahwa berita Idham akan berdampak bagi
keluarga, publik Idham serta bisnisnya. Hal ini menandakan pula bahwa KR ingin
menggiring opini publik bahwa Idham tak layak dijadikan tersangka.
Kehati-hatian pemberitaan Idham sangat terlihat ketika KR memilih narasumber
yang pro Idham. Bahkan KR melakukan liputan khusus soal Persiba dimana seluruh isi
beritanya sangat memihak Idham. Idham disosokkan sebagai pahlawan dalam Persiba
sehingga tak layak dijadikan tersangka. Bahkan dijelaskan oleh KR, Idham “terpaksa”
melakukan korupsi (mengambil uang negara) karena untuk membiayai Persiba.
Octo pun menanggapi pemberitaan di berbagai media khususnya media lokal soal
Idham. Media lain selain KR tampak menyudutkan Idham. Ia menyebut inilah kelemahan
400
e-Proceeding | COMICOS 2017
media yang disebut trial by the press atau asas praduga tak bersalah. Ia mengatakan KR
tidak ingin asas praduga tak bersalah terhadap Idham Samawi, dengan asumsi Idham
belum divonis. Bagi Octo, KR harus memaparkan fakta yang sesungguhnya tanpa
menghakimi Idham. Hal ini diungkapkan Octo dalam kutipan sebagai berikut.
“Pertimbangan kita karena belum salah. Kecuali Pak Idham tersangka korupsi
dan terbukti divonis, mungkin kami akan ditekan. Andaikan itu sudah sangkaan
negatif, itu bisa dituntut media-media itu.” (Octo, wawancara, April 2015)
Berdasarkan kutipan tersebut, tampak terlihat faktor organisasi khususnya
penasehat sangat berpengaruh dalam kebijakan redaksional media. Lebih lagi ketika
penasehat tersangkut persoalan korupsi, KR sendiri sangat berhati-hati dalam
menampilkan fakta. Bahkan akhirnya fakta yang dimunculkan justru banyak yang
mengandung tone positif atas Idham dengan narasumber yang tidak coverboth sides.
b. Tribun Jogja
Untuk mendapatkan level konteks ini, peneliti melakukan wawancara dengan
Krisna Sumargo sebagai Pemimpin Redaksi Tribun Jogja. Wawancara dilakukan di
Tribun Jogja pada Rabu, 13 Juli 2016. Berdasarkan hasil wawancara dengan Krisna,
terdapat beberapa jawaban yang dapat melengkapi level teks.
Krisna menyatakan Tribun Jogja lebih leluasa untuk melakukan framing
pemberitaan soal Idham. Hal ini disebabkan karena Tribun Jogja tidak memiliki afiliasi
politik dengan pihak mana pun. Terkait dengan kebijakan redaksional atas berita-berita
politik seperti kasus korupsi, Tribun mencoba untuk menempatkan sebagai media yang
ikut memberantas korupsi seperti di level nasional. Lebih lagi ketika kasus korupsi
tersebut melibatkan public figure, Tribun ingin menempatkan isu korupsi dengan baik
agar masyarakat, pemerintah, serta pihak lain yang berkaitan bisa belajar atas kasus
tersebut.
Kaitannya dengan kasus Persiba, Krisna menyebutkan bahwa peristiwa ini layak
401
e-Proceeding | COMICOS 2017
diangkat karena memiliki nilai berita. Nilai berita dalam peristiwa ini adalah penting
(menyangkut persoalan korupsi yang menggunakan dana negara (APBD)), aktual,
proximity (aspek lokalitas), dan prominence (menyangkut Idham sebagai seorang public
figure). Persoalan nilai berita inilah yang membuat Tribun mengawal kasus Idham. Hal
ini disampaikan Krisna sebagai berikut.
“Penggunaan APBD untuk Persiba, kembali ke konsen Tribun untuk
menempatkan kasus ini sebaik-baiknya. Ada pertimbangan selain konteks
hukum, tetapi juga lokalitas. Kasus ini melibatkan pejabat publik dan
kepentingan banyak orang. (Krisna, wawancara, 15 Juli 2016).
Hanya saja, Krisna mengaku untuk mengemas berita Idham ini, terjadi dinamika
dalam redaksi. Perdebatan yang terjadi berkaitan dengan frame setting yang akan
dimunculkan oleh Tribun. Frame setting ini berkaitan dengan penggunaan diksi yang
diperhalus, judul yang tidak terlalu keras, dan bahasa dalam tubuh berita yang tidak
terlalu menyudutkan. Krisna mengatakan, kebijakan redaksional atas penggunaan diksi
sangat penting dilakukan oleh Tribun Jogja. Hal ini dilakukan untuk menghormati Idham
Samawi yang masih berstatus tersangka. Tribun tidak ingin melukai perasaan Idham
bahkan keluarga korban. Hal ini disampaikannya dalam kutipan sebagai berikut.
“Tribun hanya memperhatikan cara mengemasnya. Apakah kita menggunakan
diksi agar tidak menimbulkan ketersinggungan. Pilihan judul hasil pergulatan
di redaksi. Bagaimana pesannya sampai tetapi tidak terlalu menyodok. Karena
apapun faktanya beliau sudah dinyatakan sebagai tersangka. Kita mencoba
memilih diksi yang diperhalus dan masih relevan dengan konsep penyajian kita.
(Krisna, wawacara, 15 Juli 2016).
Tak hanya persoalan ketersinggungan, namun Tribun Jogja menggunakan diksi
yang diperhalus dengan pertimbangan konteks budaya Jogja. Masyarakat Jogja,
khususnya,tidak suka membaca berita yang lugas dan menohok. Karenanya, rasa
tepaslira tetap harus dipertimbangkan Tribun Jogja dalam mengemas berita Idham.
Pertimbangannya adalah persoalan Idham sebagai pulic figure dan kasusnya menyangkut
402
e-Proceeding | COMICOS 2017
kepentingan banyak orang.
Penghalusan diksi inilah yang akhirnya membentuk dua frame Tribun dalam
mengemas kasus Idham. Frame pertama adalah memaparkan fakta pada publik bahwa
Idham adalah tersangka. Tribun tidak melakukan asas praduga tak bersalah karena
menurut Tribun fakta Idham sebagai tersangka sudah terurai dalam fakta persidangan.
Frame kedua Tribun adalah meski Idham ditetapkan sebagai tersangka, namun Idham
tidak ditinggalkan oleh partainya (PDIP) serta para penggemarnya (Persiba).
Kedua frame inilah yang digunakan Tribun untuk mengawal kasus Idham
Samawi. Krisna pun menyatakan Tribun tidak melakukan pendekatan investigasi untuk
mencari-cari kesalahan Idham. Tribun hanya memaparkan fakta persidangan dan fakta
publik yang mewarnai kasus Idham. Proses verifikasi tetap dilakukan sepanjang fakta
yang diperlukan kurang kuat.
Kedua frame inilah yang akhirnya terbukti dalam level teks yang diteliti oleh
peneliti. Tribun berada dalam posisi netral dan hanya memaparkan fakta yang terjadi
tanpa rasa sungkan pada sesama media ataupun tersangka.
c. Harian Jogja
Level konteks pada Harian Jogja diperoleh peneliti berdasarkan wawancara
dengan pimpinan redaksi, Anton Wahyu Prihartono dan redaktur pelaksana, Nugroho
Nurcahyo. Wawancara dilakukan pada 27 Juli 2017.
Kasus korupsi, menurut Harian Jogja, adalah kasus yang harus dikawal oleh
media karena memenuhi nilai berita penting (significance). Dalam kasus korupsi Idham
Samawi, tidak hanya memenuhi nilai berita penting melainkan nilai berita lain yaitu
aktual, prominence (menyangkut orang terkenal), dan proximity (aspek lokal). Anton
Wahyu menyatakan Harjo berkomitmen mendorong agar kasus ini ditindaklanjuti dan
403
e-Proceeding | COMICOS 2017
bisa diputuskan di lembaga peradilan. Korupsi, menurutnya,
berkaitan dengan
kepentingan publik dan telah merusak sendi-sendi yang menggerogoti bangsa ini.
Dalam level teks diperoleh Harjo lebih berani mengkritik Idham dengan bahasabahasa yang kritis. Pemilihan narasumber pun banyak berasal dari narasumber yang
kontra pada Idham. Terlihat jelas lagi bahwa angle berita Harjo mengarahkan pada
penegak hukum untuk segera menuntaskan kasus ini.
Anton dan Nugroho menyatakan Harjo sama sekali tidak memiliki kepentingan
apa pun pada Idham Samawi. Oleh karena itu, Harjo berani menampilkan berita-berita
yang cenderung “berani”. Nugroho pun menambahkan alasan Harjo berani
memberitakan Idham adalah ingin tampil sebagai koran alternatif di Jogja yang memberi
perspektif lain soal Idham. Menurutnya, ada media lokal yang selalu memberitakan
positif soal Idham, dan Harjo ingin memberitahu sosok lain Idham lewat berita-beritanya.
Hal ini, tambah Nugroho, juga bisa memperkaya referensi pembaca soal Idham dan
menambah pasar bagi Harjo. Berikut kutipan langsungnya.
“Memang kan karena Harjo sebagai koran alternatif jadi masyarakat yang sudah
mengonsumsi bisa melihat bahwa masih ada surat kabar yang objektif yang belum
terkontaminasi. Kami melihat ini ada nilai potensi cukup besar untuk mendapat
pembaca juga cukup besar. Jadi memang kesepakatan dalam rapat redaksi bahwa
kasus Idham ini adalah isu yang sangat seksi yang walaupun sekecil apapun tetap
harus kami ikut. Isu Idham adalah isu seksi, dan itu adalah celah kami. (Nugroho,
wawancara 27 Juli 2017).
Keseriusan Harjo dalam mengawal kasus Idham pun dibuktikan dengan seringnya
menempatkan kasus ini di halaman headline dengan memberikan font yang lebih. Tak
hanya itu saja, narasumber banyak diberikan dari pihak-pihak penegak hukum, pihak
yang merasa terdiskriminasi, serta elemen masyarakat yang mendesak pengusutan kasus
Idham. Berdasar hasil wawancara, kesepakatan penempatan berita dan pemilihan diksi
didasarkan pada rapat redaksi. Untuk halaman headline, di Harian Jogja sendiri, benarbenar ditangani oleh tiga pihak yaitu pimpinan redaksi, redaktur pelaksana, dan
404
e-Proceeding | COMICOS 2017
pemegang halaman headline. Hal ini membuktikkan bahwa berita-berita yang ada di
halaman headline memang sudah mendapatkan proses gatekeeping yang ketat.
Dalam mengawal kasus ini, kedua narasumber menyatakan tidak ada kepentingan
lain yang berpengaruh. Sultan Hamengkubuwono X pun yang juga memiliki saham di
Harian Jogja tidak sama sekali mempengaruhi pemberitaan Harjo. Harjo menegaskan
pemberitaan Idham hanya berdasarkan fakta di lapangan berdasarkan laporan jurnalis.
Sementara itu, dalam memberitakan kasus ini Harjo memiliki sedikit kendala.
Pertama terkait dengan sosok Idham sendiri yang enggan berkomentar ketika diminta
konfirmasi atas pemberitaan. Hanya saja Harjo berusaha coverboth sides dengan tetap
menampilkan kubu Idham misal dari pengurus partai atau penasehat hukumnya. Menurut
Anton dan Nugroho, asas coverboth sides merupakan syarat mutlak dalam berita
jurnalistik. Lebih lagi, tambahnya, pemberitaan tersebut menyangkut korupsi dimana
pihak yang tersangkut belum mendapatkan vonis. Oleh karena itu, pemberitaan harus
hati-hati dan tidak boleh menenkankan asas praduga tak bersalah.
Kendala lain adalah intimidasi dari PDIP yang merupakan partai dari Idham.
Nugroho mengaku mereka tidak setuju dan mempermasalahkan diksi Harjo dalam satu
pemberitaannya. Nugroho menjelaskan pernah Harjo menampilkan judul “Idham
Mangkir”, dan kata “mangkir” ini yang menjadi persoalan. Menurut PDIP, kata ini
berkonotasi negatif dan fakta di lapangan tak benar. Berikut kutipan langsungnya.
“Sempat datang dari PDIP yang tidak terima dengan kata mangkir. Itu malah
sebelum ditetapkan sebagai tersangka. Jadi menimbulkan kesan bahwa mereka
dizholimi. Ini seakan-akan menghindari panggilan. Kata mangkir dikonotasikan
jelek gitu lo. Yang mana kami memaknai mangkir itu datang tanpa pemberitahuan.
(Nugroho, wawancara 27 Juli 2017).
Berdasarkan hasil level konteks ini, Harjo berada dalam posisi netral dalam arti
tidak memiliki kepentingan apa pun terkait kasus Idham. Harjo pun serius mengawal
kasus korupsi dengan mengedepankan fakta hukum dan tidak mengedepankan asas
405
e-Proceeding | COMICOS 2017
praduga tak bersalah.
d. Radar Jogja
Level konteks pada Radar Jogja diperoleh peneliti berdasarkan wawancara
dengan dewan redaksi Amin Surachmad. Wawancara dilakukan pada 19 Juli 2017. Kasus
korupsi, menurut Radar Jogja, adalah kasus yang harus dikawal oleh media karena
memenuhi nilai berita penting (significance). Menurut Amin, kasus korupsi harus
diberantas hingga tuntas karena melibatkan kepentingan publik. Lebih lagi dalam kasus
kasus korupsi Idham Samawi, tidak hanya memenuhi nilai berita penting melainkan nilai
berita lain yaitu aktual, prominence (menyangkut orang terkenal), dan proximity (aspek
lokal).
Dalam level teks diperoleh Radar lebih berani mengkritik Idham dengan bahasabahasa yang kritis. Pemilihan narasumber pun banyak berasal dari narasumber yang
kontra pada Idham. Terlihat jelas lagi bahwa angle berita Radar mengarahkan pada
penegak hukum untuk segera menuntaskan kasus ini. Radar lebih memberikan porsi
banyak pada aparat penegak hukum untuk segera menyelesaikan kasus ini. Amin
mengatakan pemilihan aparat penegak hukum bukan disengaja namun berdasar fakta
yang di lapangan.
Dalam mengawal kasus ini, Amin menyatakan tidak ada kepentingan lain yang
berpengaruh. Amin mengatakan Radar lebih bebas untuk meliput kasus Idham. Dia pun
menegaskan pemberitaan Idham hanya berdasarkan fakta di lapangan berdasarkan
laporan jurnalis. Hanya saja Radar berusaha coverboth sides dengan tetap menampilkan
kubu Idham misal dari pengurus partai atau penasehat hukumnya. Namun berdasarkan
hasil penelitian teks, bentuk konfirmasi Radar pada kubu Idham terlihat minim.
Berdasarkan hasil level konteks ini, Radar berada dalam posisi netral dalam arti
tidak memiliki kepentingan apa pun terkait kasus Idham. Radar pun serius mengawal
406
e-Proceeding | COMICOS 2017
kasus korupsi dengan mengedepankan fakta hukum dan tidak mengedepankan asas
praduga tak bersalah.
e. Bernas Jogja
Level konteks pada media Bernas Jogja peneliti telusuri berdasarkan wawancara
yang dilakukan pada hari Jumat, 28 Juli 2017. Peneliti mewawancarai Razaini Taher
selaku Pemimpin Redaksi Bernas. Berdasarkan informasi yang disampaikan Razaini.
“Tidak hanya kasus korupsi, apapun yang kita angkat, teknik penulisan itu musti
cover both side. Kalau enggak cover both side kita ga akan berani mengeluarkan.
Apalagi isu-isu sensitif sekarang ini seperti isu agama, pembubaran HTI.” (Taher,
wawancara 28 Juli 2017)
Bernas memiliki prinsip utama bahwa pernyataan dari pihak yang diperkerakan
harus mampu diperoleh jurnalisnya. Bila pernyataan tersebut gagal diperoleh, maka
Bernas tidak akan menyebarkan berita tersebut kepada pembacanya. bila orang pertama
tersebut gagal diperoleh pernyataannya, maka Bernas dapat mengambil pernyataan dari
orang terdekatnya, namun ini tetap menjadi opsi terakhir. Bernas juga mewajibkan
wartawan memiliki rekaman wawancara sebagai bukti otentik dari pernyataan
narasumber. Hal ini penting untuk memastikan pernyataan narasumber dituliskan dengan
benar dan sebagai bukti kalau suatu hari narasumber melakukan protes atau gugatan.
Bernas sendiri melihat kasus korupsi di Indonesia sudah sedemikian parah.
Bernas merasa memiliki tanggung jawab sosial dan moral untuk menyuarakan ketidak
benaran dalam kasus korupsi. Topik soal korupsi bagi Bernas merupakan konteks yang
nomor satu harus diberitakan dengan segera. Bernas merasa dengan demikian, mereka
sudah memeberikan pendidikan yang baik tentang gerakan anti korupsi.
“Topik korupsi ada di level satu. Kita bersama-sama memerangi, negeri ini sudah
darurat korupsi. Ketua Hakim MK, Ketua DPD, Ketua DPR RI (semua
tersandung kasus korupsi), ini kita kalau ke luar negeri malu lho” (Taher,
wawancara 28 Juli 2017)
Media Lokal dalam Membingkai Kasus Korupsi
407
e-Proceeding | COMICOS 2017
Kasus korupsi dilihat sebagai kasus penting bagi media. Korupsi adalah tindakan
kejahatan yang merugikan publik. Karena berhubungan dengan kerugian publik, maka
media sebagai pilar keempat harus mengawal kasus korupsi hingga tuntas. Hal ini sejalan
dengan tujuan jurnalisme yakni menyejahterakan publik dan pengawas bagi lembaga
negara (eksekutif, legislatif, dan yudikatif).
Berdasarkan hasil penelitian, tim redaksi dari kelima media lokal di Yogyakarta
sepakat bahwa korupsi harus diberantas hingga tuntas. Oleh karena itu, media
berkontribusi memberantasnya dengan aktif memberitakannya. Berita korupsi pun,
secara nilai berita memiliki nilai berita penting (significance) yang berarti penting untuk
kehidupan publik.
Mengawal kasus korupsi ternyata bukan hal yang mudah bagi media lokal di
Yogyakarta. Lebih lagi ketika korupsi melibatkan tokoh terkenal di Yogyakarta serta
memiliki afiliasi dengan medianya. Kendala yang dihadapi media dalam meliput korupsi
meliputi. Pertama, persoalan keterkaitan aktor korupsi dengan media. Berdasarkan teori
terkait lingkaran media Reese dan Shoemaker, terdapat lima faktor yang berpengaruh
dalam menentukan isi media yaitu individu jurnalis media, rutinitas media, organisasi,
ekstramedia, dan ideologi. Pada penelitian ini terbukti faktor organisasi menjadi faktor
utama yang menghambat salah satu media lokal di Yogyakarta yaitu Kedaulatan Rakyat
dalam memberitakan kasus korupsi Idham Samawi. Idham Samawi berdasarkan faktor
organisasi merupakan salah satu penasehat Kedaulatan Rakyat dan berdasar faktor
sejarah keluarga Samawi adalah pendiri koran lokal terbesar di Yogyakarta ini.
Perasaan “sungkan” mewarnai dinamika redaksi untuk mengemas kasus korupsi.
Tentunya media dengan afiliasi tertentu akan mengalami perdebatan yang luar biasa
untuk melakukan framing berita korupsi terlebih yang menyangkut afiliasinya. Hal ini
408
e-Proceeding | COMICOS 2017
terlihat dari berita korupsi Idham yang ditampilkan oleh KR selalu bernada positif. KR
dengan jelas memperlihatkan perjuangan Idham dalam menyelamatkan Persiba. KR
berdalih media tidak boleh melakukan asas praduga tak bersalah dan Idham belum
ditetapkan sebagai tersangka.
Berbeda dengan empat media lokal lain di Yogyakarta yaitu Harian Jogja, Tribun
Jogja, Radar Jogja, dan Bernas Jogja. Empat media lokal ini lebih leluasa untuk
melakukan pemberitaan kasus korupsi Idham Samawi. Berdasarkan penelitian, tim
redaksional dari empat media tersebut menyatakan dengan tegas bahwa kasus korupsi
memiliki nilai berita penting dan harus dikawal hingga tuntas. Mereka menegaskan
meski melibatkan salah satu tokok terkenal di Yogyakarta namun sama sekali tidak
berpengaruh dalam penentuan isi medianya. Pemberitaan Idham Samawi di empat media
lokal ini cenderung seragam yakni mendorong Kejati DIY dan KPK untuk segera
menyelidiki dan menuntaskan kasus ini. Kendati judul dan angle yang dipilih berbeda,
namun isi berita korupdi Idham Samawi cenderung sama. Narasumber yang dipilih pun
lebih banyak didominasi oleh kubu di luar Idham. Media-media lokal tersebut lebih
banyak menggunakan fakta hukum untuk menghindari asas praduga tidak bersalah untuk
Idham Samawi.
Kendala kedua berkaitan dengan sulitnya mencapai aspek coverboth sides dari
pihak Idham lantaran yang bersangkutan tidak mau diwawancara. Dalam aspek
jurnalistik, kriteria coverboth sides atau multi sisi ini sangat penting karena sebagai
bentuk verifikasi media pada narasumber. Berdasarkan penelitian, KR paling banyak
melupakan kriteria ini. Media ini cenderung hanya memilih narasumber yang pro Idham
Samawi. Hal inilah yang menyebabkan tone berita cenderung positif. Sementara empat
media lokal lainnya cenderung banyak menampilkan narasumber dari sisi selain Idham.
409
e-Proceeding | COMICOS 2017
Kendati demikian, empat media tersebut berusaha mencari narasumber dari pihak Idham
meski porsi pemberitaannya tidak terlalu banyak. Namun berdasarkan penelitian, mereka
mengatakan kriteria coverboth sides harus selalu dilakukan meski pihak Idham selalu
enggan berkomentar.
Kendala ketiga dalam pemberitaan kasus korupsi bagi media lokal adalah
intimidasi. Intimidasi ini dilakukan oleh kelompok tertentu yang pro Idham. Dalam
penelitian ini, hanya media Harian Jogja yang mendapat intimidasi dari kelompok
Idham. Intimidasi dilakukan lantaran pihak tersebut tidak berkenan atas salah satu judul
yang diberikan oleh Harian Jogja. Namun demikian, intimidasi ini bisa terselesaikan
dengan mediasi antara dua pihak. Sementara itu empat media lain yaitu Kedaulatan
Rakyat, Radar Jogja, Bernas Jogja, dan Tribun Jogja mengaku tidak mengalami
intimidasi apa pun.
PENUTUP
Peristiwa korupsi merupakan peristiwa yang wajib diberitakan di masyarakat
karena menyangkut kepentingan publik. Kasus korupsi dilihat sebagai kasus penting bagi
media karena mengandung nilai berita yaitu penting (significance). Tak hanya berkaitan
dengan nilai berita semata, pemberitaan pada korupsi merupakan implementasi media
sebagai pilar keempat atauu pengawas bagi lembaga negara (eksekutif, legislatif, dan
yudikatif).
Media lokal di Yogyakarta sepakat bahwa korupsi harus diberantas hingga tuntas.
Hanya saja, di antara lima media lokal di Yogyakarta, hanya Kedaulatan Rakyat yang
tidak intens memberitakan kasus korupsi khususnya menyangkut Idham Samawi. Empat
media lain yaitu Harian Jogja, Radar Jogja, Tribun Jogja, dan Bernas Jogja intens
410
e-Proceeding | COMICOS 2017
memberitakan kasus korupsi dengan mengambil angle yang berbeda.
Pembingkaian kasus korupsi berkaitan di media lokal dipengaruhi oleh faktor di
luar media. Faktor tersebut di antaranya adalah faktor individu media, rutinitas media,
organisasi, ekstra media, dan ideologi. Media Kedaulatan Rakyat kental dengan
pengaruh organisasi, sedangkan media lain tidak berkaitan dengan kepentingan lain.
Pengaruh organisasi ini berpengaruh pada isi media sehingga berita KR soal Idham
paling berbeda dengan media lainnya.
Saran dari penelitian ini adalah dari segi analisis data yang digunakan. Analisis
data dengan menggunakan model framing Robert Entman kurang bisa menunjukkan
secara detail penggunaan diksi, unsur 5W+1H, serta struktur-struktur berita lainnya.
Peneliti menyarankan untuk menggunakan model analisis framing yang berbeda seperti
Pan Kosicki dan Gamson. Model ini lebih bisa menjawab dengan jelas secara teks terkait
penggunaan bahasa sebuah media atas peristiwa tertentu.
411
e-Proceeding | COMICOS 2017
DAFTAR PUSTAKA
Becker, Lee B., and Tudor Vlad. 2009. “News Organization and Routines” in Handbook
of Journalism Studies, ed. Karen Wahl-Jorgensen and Thomas Hanitzsch
(Mahwah, NJ: Lawrence Erlbaum, 2009), 59 - 72
Coronel, Sheila S. 2002. Investigating Corruption A Do It Yourself Guide. Philippine:
Philippine Center for Investigative Journalism.
Entman, Robert M, Jorg Matthes, dan Lynn Pellicano. 2009. “Nature, Sources, and
Effects of News Framing” in Handbook of Journalism Studies, ed. Karen WahlJorgensen and Thomas Hanitzsch (Mahwah, NJ: Lawrence Erlbaum, 2009),
175-90
Eriyanto. 2002, Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media.
Yogyakarta: LkiS Yogyakarta.
Hamad, Ibnu.2004. Konstruksi Realitas Politik dalam Media Massa “Sebuah Studi
Critical Discourse Analysis terhadap Berita – berita Politik. Jakarta: Granit.
Kriyantono,Rachmat,S.Sos,M.Si.2010. Teknik Praktis, Riset Komunikasi. Jakarta :
Prenada Media Group.
Kusumaningrat, Hikmat dan Purnama Kusumaningrat. 2005. Jurnalistik Teori dan
Praktik. Bandung: Remaja Rosda Karya.
McQuail, Denis. 1987. Teori Komunikasi Massa. Eds II. Cet X. Jakarta: Erlangga.
McQuail, Denis. 2011. Teori Komunikasi Massa McQuail .Edisi 6.Jakarta : Salemba
Humanika.
Moleong, Lexy. 2004. Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT Remaja Rosdakarya.
Pope, Jeremy.2007.Strategi Memberantas Korupsi, Elemen Sistem
Integritas Nasional. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Rahayu (Eds). 2006. Menyingkap Profesionalisme Kinerja Surat Kabar di Indonesia.
Jakarta : Pusat Kajian Media dan Budaya Poluler, Dewan Pers, dan Departemen
Komunikasi dan Informasi.
Santana, Septiawan. 2005. Jurnalisme Kontemporer. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.
Simarmata, Salvatore. 2014. Media dan Politik. Jakarta: Buku Obor.
Siregar, Ashadi. 1998. Bagaimana Meliput dan Menulis Berita Untuk Media Massa.
Yogyakarta : LP3Y.
412
e-Proceeding | COMICOS 2017
Sularto, ST. 2011. Syukur Tiada Akhir, Jejak Langkah Jokob Oetama. Jakarta : PT
Kompas Media Nusantara.
Wicaksono, Anugrah Pambudi. 2015. Media Terpenjara, Bayang-Bayang Pemilik
dalam Pemberitaan Pemilu 2014. Yogyakarta: Tifa.
413
e-Proceeding | COMICOS 2017
414
e-Proceeding | COMICOS 2017
PERAN MEDIA MASSA DALAM PERUBAHAN BUDAYA DAN PERILAKU
MASYARAKAT UNTUK PEDULI DENGAN KONSERVASI TUMBUHAN
Fitria Rizki Wijaya
Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi – LIPI
Jl. Raya Surabaya – Malang Km 65 Purwodadi, Pasuruan,
Jawa Timur
[email protected]
Abstract
The mass media has a very important role for people's lives. The role of the
mass media can not simply be released in the life of the community, this is due to a
consumptive society of information that can support their lives. The role of mass media
can also alter local culture and community behavior by influencing (persuade) through
the thinking of a particular group or community to like or follow something new or
unfamiliar to them. The influence of the mass media can have a positive or negative
impact. Botanical Garden as a government institution that has the main duty and function
to do the conservation of plants utilize the role of mass media in supporting the main task
and function, to educate the community to change the culture and behavior of the
community to care for the conservation of plants. The purpose of this study is to describe
the role of mass media in cultural change and community behavior to care about the
conservation of plants. This research uses qualitative research approach with case study
research method. Data obtained by researchers through interviews and documentation.
Sampling technique using purposive sampling. Data collection techniques in this study
through interviews and documentation. The process of data analysis using Stake.
Keyword : mass media, culture, behavior of society, plant conservation
Abstrak
Media massa mempunyai peran yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat.
Peran media massa tidak dapat begitu saja dilepaskan dalam kehidupan masyarakat, hal
ini disebabkan masyarakat yang konsumtif akan informasi yang dapat menunjang
kehidupan mereka. Peran media massa juga dapat merubah budaya lokal setempat dan
perilaku mayarakat dengan cara mempengaruhi (persuade) melalui cara berpikir suatu
kelompok atau masyarakat tertentu agar menyukai atau mengikuti suatu hal yang baru
atau asing bagi mereka. Pengaruh media massa tersebut dapat berdampak positif maupun
negatif. Kebun Raya sebagai lembaga pemerintah yang mempunyai tugas pokok dan
fungsi untuk melakukan konservasi tumbuhan memanfaatkan peran media massa dalam
menunjang tugas pokok dan fungsinya, untuk mengedukasi masyarakat untuk melakukan
perubahan budaya dan perilaku masyarakat untuk peduli konservasi tumbuhan. Tujuan
penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan peran media massa dalam perubahan budaya
dan perilaku masyarakat untuk peduli dengan konservasi tumbuhan. Penelitian ini
menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan metode penelitian studi kasus.
Data didapatkan peneliti melalui wawancara dan dokumentasi. Teknik pengambilan
sampel menggunakan purposive sampling. Teknik pengumpulan data dalam penelitian
ini melalui wawancara dan dokumentasi. Proses analisis data menggunakan cara Stake.
415
e-Proceeding | COMICOS 2017
Kata kunci : media massa, budaya, perilaku masyarakat, konservasi tumbuhan
Pendahuluan
Media massa sebagai alat untuk menyampaikan informasi. Kelebihan media
massa sebagai alat menyampaikan informasi kepada seluruh lapisan masyarakat lebih
cepat jika dibandingkan dengan disampaikan secara langsung atau face to face yang
kurang efektif dan efisien. Media massa tidak dapat dilepaskan dan telah menjadi bagian
penting dalam kehidupan masyarakat.
Adapun peranan penting media massa yaitu pertama, media dapat memperluas
cakrawala pemikiran. Kedua, media massa memusatkan perhatian. Ketiga, mampu
mengangkat aspirasi media massa (Paul,dkk,2013, h.36). Berdasarkan kelebihan dan
peranan penting media massa tersebut maka media massa yang menyampaikan informasi
secara efektif, efisien dan terus menerus dapat mempengaruhi pola pikir masyarakat
sehingga dapat terjadi perubahan perilaku.
Pengaruh media massa terhadap perubahan perilaku dikuatkan dengan adanya
tiga paradigma yang menyatakan bahwa media massa adalah pelopor perubahan. Tiga
paradigma tersebut antara lain : pertama, media massa sebagai institusi pencerah
masyarakat, yaitu perannya sebagai media edukasi. Media menjadi media yang setiap
saat mendidik masyarakat supaya cerdas, terbuka pikirannya dan menjadi masyarakat
yang maju. Kedua, media informasi yaitu media yang setiap hari menyampaikan
informasi kepada masyarakat. Informasi yang banyak dimiliki masyarakat menjadikan
masyarakat sebagai masyarakat dunia yang dapat berpartisipasi dengan berbagai
kemampuannya. Ketiga, media hiburan. Sebagai pelopor perubahan media juga menjadi
institusi budaya, yaitu institusi yang setiap saat menjadi corong kebudayaan, katalisator
perkembangan budaya. Agar perkembangan budaya bermanfaat bagi manusia bermoral
416
e-Proceeding | COMICOS 2017
dan masyarakat sakinah sehingga media berperan untuk mencegah berkembangnya
budaya-budaya yang justru merusak peradaban manusia dan masyarakatnya (Bungin,
2009, h. 85-86).
Menyadari arti penting media massa maka Kebun Raya yang berada di bawah
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang salah satu tugas dan fungsinya
melaksanakan konservasi ex-situ tumbuhan memanfaatkan media massa sebagai agen
perubahan (agent of change) untuk mempengaruhi masyarakat sehingga terjadi
perubahan budaya dan perilaku masyarakat untuk peduli dengan konservasi tumbuhan.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu
bagaimana peran media massa dalam perubahan budaya dan perilaku masyarakat untuk
peduli dengan konservasi tumbuhan.
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peran media massa dalam
perubahan budaya dan perilaku masyarakat untuk peduli dengan konservasi tumbuhan.
Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai: data bagi penelitian
selanjutnya, khususnya yang berkaitan dengan peran media massa dalam perubahan
budaya dan perilaku masyarakat serta sebagai bahan rekomendasi bagi Kebun Raya
untuk memanfaatkan media massa sebagai sarana untuk meningkatkan kepedulian
masyarakat terhadap pentingnya konservasi tumbuhan.
Tinjauan Pustaka
Ada tiga teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu perspektif peran
media, teori semiotik dan teori norma budaya untuk menjelaskan adanya hubungan
417
e-Proceeding | COMICOS 2017
antara media dan budaya. Hubungan yang terdapat dalam media dan budaya
digambarkan sebagai hubungan yang saling mempengaruhi.
Ada enam perspektif peran media antara lain : pertama, media massa sebagai
window on event and experience. Media dipandang sebagai jendela yang
memungkinkan khalayak melihat apa yang sedang terjadi di luar sana. Atau media
merupakan sarana belajar untuk mengetahui berbagai peristiwa. Kedua, media juga
sering dianggap sebagai a mirror of event in society and the world, implying a faithful
reflection. Cermin berbagai peristiwa yang ada di masyarakat dan dunia, yang sering
merefleksikan apa adanya. Karenanya para pengelola media sering merasa tidak
“bersalah” jika isi media penuh dengan kekerasan, konflik, pornografi dan berbagai
keburukan lain, karena memang menurut mereka faktanya demikian, media hanya
sebagai refleksi fakta, terlepas dari suka atau tidak suka. Padahal sesungguhnya, angle,
arah dan framing dari isi yang dianggap sebagai cermin realitas tersebut diputuskan
oleh para profesional media, dan khalayak tidak sepenuhnya bebas untuk mengetahui
apa yang mereka inginkan. Ketiga, memandang media massa sebagai filter, atau
gatekeeper yang menyeleksi berbagai hal untuk diberi perhatian atau tidak. Media
senantiasa memilih isu, informasi atau bentuk content yang lain berdasar standar para
pengelolanya. Disini khalayak “dipilihkan” oleh media tentang apa-apa yang layak
diketahui dan mendapat perhatian. Keempat, media massa seringkali pula dipandang
sebagai guide, penunjuk jalan atau interpreter, yang menerjemahkan dan menunjukkan
arah atas berbagai ketidakpastian, atau alternatif yang beragam. Kelima, media massa
sebagai forum untuk mempresentasikan berbagai informasi dan ide-ide kepada
khalayak, sehingga memungkinkan terjadinya tanggapan dan umpan balik. Keenam,
media massa sebagai interlocutor, yang tidak hanya sekedar tempat berlalu lalangnya
418
e-Proceeding | COMICOS 2017
informasi, tetapi juga partner komunikasi yang memungkinkan terjadinya komunikasi
interaktif (McQuail, 2000, h.66).
Semiotik adalah ilmu tentang tanda-tanda. Studi tentang tanda dan segala yang
berhubungan dengannya, cara berfungsinya, hubungannya dengan tanda-tanda lain,
pengirimannya dan penerimaannya oleh mereka yang menggunakannya. Menurut
Preminger (2001), ilmu ini menganggap bahwa fenomena sosial atau masyarakat dan
kebudayaan itu merupakan tanda-tanda. Semiotik mempelajari sistem-sistem, aturanaturan, konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut mempunyai arti.
Tujuan semiotik yang digagas oleh Ronald Barthes adalah menafsirkan tanda verbal
dan nonverbal. Barthes menekankan interaksi antara teks dengan pengalaman personal
dan kultural penggunanya, interaksi antara konvensi dalam teks dengan konvensi yang
dialami dan diharapkan oleh penggunanya (Kriyantono, 20105, h.265-266).
Konsep pemikiran Barthes yang operasional ini dikenal dengan Tatanan
Pertandaan (Order of Signification). Secara sederhana, kajian semiotik Barthes bisa
dijabarkan sebagai berikut : Denotasi merupakan makna kamus dari sebuah kata atau
terminologi atau objek (literal meaning of a term or object). Ini adalah deskripsi dasar.
Konotasi merupakan makna-makna kultural yang melekat pada sebuah terminologi
(the cultural meanings that become attached to a term). Metafora adalah
mengomunikasikan dengan analogi. Simile merupakan subkategori metafor dengan
menggunakan kata-kata “seperti’. Metafora berdasarkan identitas, sedangkan simile
berdasarkan kesamaan. Metanimi adalah mengomunikasikan dengan asosiasi. Asosiasi
dibuat dengan cara menghubungkan sesuatu yang kita ketahui dengan sesuatu yang
lain. Synecdoche merupakan subkategori metonimi yang memberikan makna
“keseluruhan” atau “sebaliknya”. Artinya, sebuah bagian digunakan untuk
419
e-Proceeding | COMICOS 2017
mengasosiasikan keseluruhan bagian tersebut. Dan intertextual merupakan hubungan
antarteks (tanda) dan dipakai untuk memperlihatkan bagaimana teks saling bertukar
satu dengan yang lain, sadar ataupun tidak sadar. (Kriyantono, 2010, h.272-273).
Sementara itu, Paul, dkk (2013, h.35) menawarkan
beberapa pendekatan
kontemporer yang dapat menjelaskan hubungan antara media massa dan perubahan
sosial.
Salah
satu
pendekatan tersebut kemudian mencoba menghubungkan
keberadaan media massa dengan perubahan sosial dalam konteks budaya. Pendekatan
tersebut selanjutnya dikenal dengan pendekatan norma
budaya.
Pendekatan
ini
mengasumsikan bahwa pesan atau informasi yang disampaikan oleh media massa
dengan cara tertentu dapat menyebabkan interpretasi yang berbeda oleh masyarakat
sesuai dengan budaya. Ini berarti bahwa media mempengaruhi sikap individu. Ada
beberapa cara oleh media massa dalam mempengaruhi norma-norma budaya,
diantaranya adalah :
1. Media massa menyampaikan untuk memperkuat pola budaya yang berlaku
dan meyakinkan orang bahwa budaya tersebut masih berlaku dan harus ditaati.
2. Media massa untuk menciptakan budaya baru yang dapat melengkapi atau
memperbaiki budaya lama yang tidak bertentangan.
3. Media massa dapat mengubah norma-norma budaya yang sudah ada dan berlaku
untuk waktu yang lama dan perubahan sikap dari masyarakat itu sendiri.
Sedangkan menurut Lazarsfeld dan Merton, media sebenarnya hanya
berpengaruh dalam memperkokoh norma-norma yang berlaku, tetapi tidak
membentuk norma budaya baru. Mereka beranggapan bahwa media bekerja secara
konservasif dan hanya menyesuaikan diri dengan norma budaya masyarakat seperti
selera atau nilai-nilai, sehingga mereka tidak membentuk norma budaya baru
420
e-Proceeding | COMICOS 2017
melainkan memperkuat “status quo” belaka. Dalam keadaan tertentu media massa
memang mampu menumbuhkan norma-norma budaya baru (Suprapto, 2006, h. 21).
Melvi DeFleur menambahkan asumsi bahwa media massa melalui penyajiannya
yang selektif dan penekanannya pada tema-tema tertentu menyajikan kesan-kesan pada
khalayak dimana norma-norma budaya mengenai suatu hal tertentu akan
mempengaruhi perilaku (Effendi, 2000, h.279). Media secara potensial mempengaruhi
situasi dan norma bagi individu-individu. Pesan komunikasi massa akan memperkuat
pola-pola yang sedang berlaku dan memadu khalayak untuk percaya bahwa suatu
bentuk sosial tertentu tengah dibina oleh masyarakat.
Media komunikasi dapat menciptakan keyakinan baru mengenai hal-hal dimana
khalayak sedikit banyak telah memiliki pengalaman. Komunikasi massa dapat mengubah
norma-norma yang tengah berlaku dan karenanya mengubah khalayak dari suatu bentuk
perilaku mejadi bentuk perilaku yang lain. Pada dasarnya teori norma-norma budaya
mengemukakan bahwa media massa melalui prentasi selektif dan penekanan terhadap
tema-tema tertentu menciptakan kesan diantara para khalayaknya (Suprapto, 2006, h.
58).
Selain itu dalam Effendy (2000, h.318) dijelaskan bahwa media massa
mempunyai efek yang meliputi efek kognitif, efek afektif dan efek konatif. Efek kognitif
adalah sebab akibat yang timbul pada diri komunikan yang sifatnya informatifnya bagi
dirinya. Dalam efek kognitif ini membahas tentang bagaimana media dapat membantu
khalayak dalam mempelajari informasi yang bermanfaat dan mengembangkan
keterampilan kognitifnya. Efek afektif yaitu tujuan dari komunikasi massa bukan sekedar
memberitahu khalayak tentang sesuatu, tetapi lebih dari itu, khalayak diharapkan dapat
turut merasakan perasaan iba, terharu, sedih, gembira, marah, benci, kesal, kecewa,
421
e-Proceeding | COMICOS 2017
penasaran, sayang, cemas, sinis, kecut dan sebagainya. Dan efek behaviour merupakan
akibat yang timbul pada diri khalayak dalam bentuk perilaku, tindakan atau kegiatan.
Behavior bersangkutan dengan niat, tekad, upaya, usaha, yang cenderung menjadi suatu
kegiatan atau tindakan.
Matode Penelitian
Pada penelitian ini data didapatkan peneliti melalui wawancara dengan 3 (tiga)
narasumber (informan) yang langsung berhubungan dengan penelitian ini dan mampu
memberikan informasi terkait fokus penelitian dan melalui dokumentasi. Penelitian ini
menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan metode penelitian studi kasus.
Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Teknik pengumpulan
data dalam penelitian ini melalui wawancara dan dokumentasi. Proses analisis data
menggunakan cara Stake.
Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian ditemukan 2 (dua) tema yaitu peran media massa
dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat dan terpaan budaya yang dihadirkan
media massa. Masing-masing tema akan dibahas satu persatu. Tema pertama yaitu peran
media massa dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat. Peran media sebagai
pemberi informasi dan sarana edukasi masyarakat dapat menciptakan perubahan perilaku
masyarakat sesuai dengan yang diinginkan. Media mampu menghasilkan dan
membentuk opini masyarakat melalui teks maupun konten tayangan media massa
tersebut.
Peran media sebagai pendorong perubahan perilaku masyarakat ini menjadi
sangat penting bagi Kebun Raya untuk mengedukasi masyarakat agar peduli dengan
konservasi tumbuhan. Pemilihan media massa dan pesan yang disampaikan kepada
422
e-Proceeding | COMICOS 2017
masyarakat yang tepat akan sangat efektif untuk menyampaikan informasi sekaligus
mengedukasi masyarakat untuk berperilaku peduli dengan konservasi tumbuhan.
Salah satu media massa yang digunakan yaitu media televisi. Kebun Raya
memanfaatkan momen perayaan Hari Ulang Tahun Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun
Raya Bogor – LIPI yang memasuki usia 2 (dua) abad melalui tayangan 360 di Metro TV.
Pemilihan acara 360 di Metro TV ini tepat karena acara ini merupakan acara yang
membahas tentang profil tokoh yang inspiratif, isu-isu terkini atau reportase mendalam
yang dipandu petinggi Metro TV yaitu Prita Laura, sehingga sesuai dengan tujuan Kebun
Raya memanfaatkan peran media massa untuk menyebarkan informasi atau pesan dan
mengedukasi masyarakat dengan mempengaruhi opini masyarakat melalui tayangan
tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat McQuail (2000, h.66) bahwa media massa
sebagai window on event and experience. Media dipandang sebagai jendela yang
memungkinkan khalayak melihat apa yang sedang terjadi di luar sana. Atau media
merupakan sarana belajar untuk mengetahui berbagai peristiwa.
Dalam tayangan 360 terdapat beberapa informasi atau pesan yang disampaikan
oleh Kebun Raya melalui tanda verbal dan nonverbal. Tanda verbal seperti yang
disampaikan oleh Prita Laura, “Tahun ini Kebun Raya Bogor memasuki usia 200 tahun.
2 abad bukanlah waktu yang singkat dalam perannya sebagai paru-paru kota dan juga
juga pusat konservasi tumbuhan asli Indonesia”. Kata “paru-paru” merupakan konotasi
karena yang dimaksud adalah Kebun Raya dapat menyerap karbon dan mensuplai
oksigen murni untuk masyarakat yang hidup disekitar kota tersebut. Hal ini sesuai
dengan yang disampaikan Barthes bahwa konotasi merupakan makna-makna kultural
yang melekat pada sebuah terminologi (the cultural meanings that become attached to a
term) (Kriyantono, 2010, h.272). Dari kalimat “pusat konservasi tumbuhan asli
423
e-Proceeding | COMICOS 2017
Indonesia” dapat dimaknai bahwa Kebun Raya menjadi pokok pangkal dalam melakukan
kegiatan konservasi tumbuhan asli Indonesia. Kebun Raya sangatlah penting berusaha
untuk melestarikan flora Indonesia dan keberadaan Kebun Raya sangatlah penting bagi
kehidupan. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan Barthes bahwa Denotasi merupakan
makna kamus dari sebuah kata atau terminologi atau objek (literal meaning of a term or
object) (Kriyantono, 2010, h.272).
Tanda verbal lainnya melalui narasi yang disampaikan oleh pembawa acara,
Ferry Prihardi yang mengatakan bahwa “Sofi yang juga peneliti anggrek bercerita pada
saya bahwa pekerjaannya bukanlah hal yang mudah” Narasi lainnya seperti “Ini adalah
cikal bakal bunga Raflesia di kandang badak, sebuah lokasi khusus yang disiapkan
pihak Kebun Raya Bogor agar Raflesia bisa berkembang di luar habitat aslinya. Namun
bakal bunga ini belum tentu bermekaran mengingat banyaknya faktor yang
mempengaruhi pertumbuhannya”. Narasi tersebut merupakan synecdoche bahwa
usaha untuk mengkonservasi tumbuhan di luar habitatnya itu tidaklah mudah. Narasi
tersebut diharapkan dapat mempengaruhi opini pemirsa tayangan 360 ini sehingga
merubah pola pikirnya yang selanjutnya dapat menciptakan perilaku peduli terhadap
upaya konservasi tumbuhan. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan Barthes bahwa
synecdoche merupakan subkategori metonimi yang memberikan makna “keseluruhan”
atau “sebaliknya”. Artinya, sebuah bagian digunakan untuk mengasosiasikan
keseluruhan bagian tersebut (Kriyantono, 2010, h.273). Narasi dari pembawa acara ini
juga dapat menggambarkan peran media massa sebagai a mirror of event in society and
the world, implying a faithful reflection. Cermin berbagai peristiwa yang ada di
masyarakat dan dunia, yang sering merefleksikan apa adanya (McQuail, 2000, h.66).
Dalam tayangan 360 tersebut yang mengupas tentang bunga bangkai
424
e-Proceeding | COMICOS 2017
merupakan metonimi dari upaya konservasi karena bunga bangkai merupakan salah
satu jenis flora endemik Indonesia yang terancam kepunahan dan merupakan salah satu
koleksi tumbuhan yang dikonservasi di Kebun Raya Bogor. Hal ini sesuai dengan yang
disampaikan Barthes bahwa Metonimi adalah mengomunikasikan dengan asosiasi.
Asosiasi dibuat dengan cara menghubungkan sesuatu yang kita ketahui dengan sesuatu
yang lain (Kriyantono, 2010, h.273). Selain itu materi dalam tayangan tentang bunga
bangkai ini sesuai dengan pendapat McQuail (2000, h.66) bahwa peran media massa
massa sebagai filter, atau gatekeeper yang menyeleksi berbagai hal untuk diberi
perhatian atau tidak. Media senantiasa memilih isu, informasi atau bentuk content yang
lain berdasar standar para pengelolanya. Disini khalayak “dipilihkan” oleh media
tentang apa-apa yang layak diketahui dan mendapat perhatian.
Berdasarkan hasil analisa dalam tayangan 360 tersebut menyatakan bahwa
peran media massa dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat untuk peduli
dengan konservasi tumbuhan melalui pertama, penyebaran informasi tentang upaya
konservasi tumbuhan yang dilakukan oleh Kebun Raya. Dalam hal ini fungsi
penyampaian informasi dilakukan media secara akurat dan cepat. Kedua, media massa
sebagai pendukung perubahan perilaku masyarakat untuk peduli dengan konservasi
tumbuhan. Dalam hal ini, media berperan sebagai pendukung perubahan perilaku
masyarakat untuk peduli dengan konservasi tumbuhan melalui penyebaran informasi
sebagai bahan diskusi dan penyampai pesan kepada masyarakat dengan mengangkat
isu-isu konservasi tumbuhan dalam tayangannya, sehingga diharapkan terjadi
perubahan sikap dan kepercayaan dalam masyarakat terkait konservasi tumbuhan.
Ketiga, media sebagai pendidik. Dalam hal ini, media dapat meningkatkan tingkat
pengetahuan masyarakat mengenai konservasi tumbuhan.
425
e-Proceeding | COMICOS 2017
Salah satu indikasi bahwa telah terjadi peningkatan kepedulian mayarakat
terhadap konservasi tumbuhan yaitu adanya peningkatan jumlah pengunjung ke Kebun
Raya Bogor – LIPI. Tercatat, untuk jumlah pengunjung pada liburan lebaran tahun
2017 ini sejak H+3 hingga H+5 adalah sebanyak 65.394 orang pengunjung. Puncak
kepadatan pengunjung terjadi pada H+4 dengan jumlah pengunjung sebanyak 24.027
orang, sedangkan jumlah pengujung pada H+3 dan H+5 masing-masing sebanyak
21.090 dan 20.277 orang pengunjung. Sehingga jika dihitung jumlah rata-rata
pengunjung perharinya mulai dari H+1 hingga H+7 adalah sebanyak 16.741 orang
pengunjung, jumlah tersebut mengalami peningkatan jika dibandingkan pada tahun
sebelumnya yang hanya berjumlah 13.189 orang pengunjung. Jumlah tersebut lebih
tinggi dari kunjungan hari biasa yakni rata-rata 1.500 sampai 2.000 orang pengunjung
per hari. Berbeda dengan akhir pekan lebih banyak dari hari biasa, yakni bisa mencapai
3.000 hingga 4.000 orang pengunjung. Peningkatan jumlah pengunjung ke Kebun Raya
Bogor – LIPI memang belum bisa dibuktikan secara langsung karena hanya pengaruh
dari peran media massa untuk mengubah perilaku masyarakat untuk peduli dengan
konservasi tumbuhan ataukah karena pengaruh dari faktor lainnya.
Tema kedua yaitu terpaan budaya yang dihadirkan media massa. Terpaan
budaya yang dihadirkan dalam tayangan 360 melalui informasi atau pesan yang
disampaikan dengan menggunakan bahasa verbal maupun dengan visualisasi gambar.
Penyampaian informasi atau pesan tersebut disampaikan dengan menggunakan media
melalui cara tertentu seperti penggunaan bahasa verbal dan didukung oleh visualisasi
gambar yang menarik dapat mempengaruhi sikap individu sesuai dengan pendapat
Paul, dkk (2013, h.35).
Adapun terpaan budaya tersebut dapat membawa efek antara lain efek media
426
e-Proceeding | COMICOS 2017
massa terhadap individu dan efek media massa terhadap masyarakat. Efek media massa
terhadap individu yaitu : (a). Efek kognitif adalah akibat yang timbul pada diri
komunikan (pemirsa) yang sifatnya informatif bagi dirinya. Dalam efek kognitif ini
mengenai bagaimana media massa dapat membantu khalayak dalam mempelajari
informasi yang bermanfaat dan mengembangkan keterampilan kognitifnya. Dengan
melihat tayangan 360, khalayak akan menduga bahwa beberapa flora endemik
Indonesia terancam kepunahan. Dengan demikian jelaslah bahwa media massa dapat
menonjolkan budaya untuk peduli dengan konservasi tumbuhan yang merupakan
situasi tertentu di atas situasi orang lain yang dapat mempengaruhi kognitif pemirsanya
untuk peduli dengan konservasi tumbuhan. Selain itu efek kognitif juga memberikan
efek bagaimana media massa dapat memberikan manfaat yang dikehendaki oleh
masyarakat. Dalam tayangan 360 terpaan budaya yang dihadirkan seperti untuk
mengenal Kebun Raya sebagai rumah ribuan jenis flora, Kebun Raya bukan hanya
tempat wisata, Kebun Raya sebagai simbol pengembangan ilmu pengetahuan, Kebun
Raya merupakan warisan nusantara dan Kebun Raya mengkonservasi tumbuhan
endemik Indonesia. Terpaan budaya-budaya tersebut menyebabkan pemirsa lebih
mengerti tentang konservasi tumbuhan maka media massa telah menimbulkan efek
prososial kognitif. (b). Efek afektif ini kadarnya lebih tinggi daripada efek kognitif.
Tujuannya bukan sekedar memberitahu khalayak tentang sesuatu, tetapi lebih dari itu,
khalayak diharapkan dapat turut merasakan. Terpaan budaya dalam tayangan 360 ini,
pemirsa diharapkan dapat merasakan bahwa konservasi tumbuhan itu sangat sulit
dilakukan dan butuh kesabaran serta ketelatenan. (c). Efek behavioral merupakan
akibat yang timbul pada diri khalayak dalam bentuk perilaku, tindakan atau kegiatan.
Terpaan budaya yang ditampilkan dalam tayangan 360 yang berbentuk adegan
427
e-Proceeding | COMICOS 2017
merawat koleksi tumbuhan membuat pemirsa tayangan 360 bertindak untuk merawat
koleksi tumbuhan di rumahnya atau di lingkungan sekitarnya.
Sedangkan efek media massa terhadap masyarakat yaitu media massa secara pasti
mempengaruhi pemikiran dan tindakan khalayak. Terpaan budaya dalam tayangan 360
yang berisikan tentang konservasi tumbuhan diharapkan bahwa
media mampu
membentuk opini publik untuk membawakannya pada perubahan yang signifikan.
Media massa secara instant dapat membentuk kristalisasi opini publik untuk melakukan
tindakan tertentu yang dalam kajian ini kepada perubahan budaya dan perilaku untuk
peduli konservasi tumbuhan.
Berdasarkan pemaparan di atas menunjukkan bahwa media mempunyai pengaruh
yang sangat kuat dalam pembentukan kognisi seseorang. Kognisi adalah semua proses
yang terjadi di fikiran kita yaitu, melihat, mengamati, mengingat, mempersepsikan
sesuatu, membayangkan sesuatu, berfikir, menduga, menilai, mempertimbangkan dan
memperkirakan. Media memberikan informasi dan pengetahuan yang pada akhirnya
dapat membentuk persepsi. Dan menunjukan bahwa persepsi mempengaruhi sikap
(attitude) dan perilaku seseorang.
Media massa memegang kunci penting dalam mengendalikan perubahan
budaya yang terjadi, dalam konteks analisa penelitian ini lebih ditekankan pada
perubahan budaya untuk peduli dengan konservasi tumbuhan. Teori norma budaya
telah menyebutkan bahwa informasi yang diberikan oleh media massa dapat
mempengaruhi sikap individu. Informasi mengenai konservasi tumbuhan yang
dikemas dalam program acara televisi sedikit banyak telah mempengaruhi masyarakat
yang mengkonsumsi informasi tersebut.
Berdasarkan tiga asumsi yang diajukan oleh pendekatan teori norma budaya,
428
e-Proceeding | COMICOS 2017
asumsi pertama adalah asumsi yang paling menjelaskan fenomena budaya untuk
peduli konservasi tumbuhan. Budaya konservasi tumbuhan merupakan budaya yang
sudah ada dalam masyarakat. Melalui tayangan 360 budaya-budaya konservasi
tumbuhan yang disampaikan dapat memperkuat pola budaya yang berlaku dan
meyakinkan orang yang mengkonsumsi tayangan informasi tersebut bahwa budaya
tersebut masih berlaku dan harus ditaati. Hal ini juga sesuai dengan pendapat
Lazarsfeld dan Merton, media sebenarnya hanya berpengaruh dalam memperkokoh
norma-norma yang berlaku, tetapi tidak membentuk norma budaya baru. Mereka
beranggapan bahwa media bekerja secara konservasif dan hanya menyesuaikan diri
dengan norma budaya masyarakat seperti selera atau nilai-nilai, sehingga mereka tidak
membentuk norma budaya baru melainkan memperkuat “status quo” belaka (Suprapto,
2006, h. 21).
Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan uraian pembahasan penelitian dapat ditarik
simpulan bahwa peran media massa dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat
untuk peduli dengan konservasi tumbuhan melalui pertama, penyebaran informasi
tentang upaya konservasi tumbuhan yang dilakukan oleh Kebun Raya. Kedua, media
massa sebagai pendukung perubahan perilaku masyarakat untuk peduli dengan
konservasi tumbuhan. Ketiga, media sebagai pendidik. Sedangkan terpaan budaya yang
dihadirkan media massa berdasarkan tiga asumsi yang diajukan oleh pendekatan teori
norma budaya, asumsi pertama adalah asumsi yang paling menjelaskan fenomena
budaya untuk peduli konservasi tumbuhan.
Daftar Pustaka
429
e-Proceeding | COMICOS 2017
Bungin, Burhan. (2009). Sosiologi Komunikasi (Teori, Paradigma dan Diskursus
Teknologi
Komunikasi di Masyarakat), Jakarta : Kencana Prenada Media Group
Effendi, Onong Uchyana. (2000). Ilmu, Teori & Filsafat Komunikasi, Bandung : Citra
Aditya Bakti
Kriyantono, Rachmat. (2010). Teknik Praktis Riset Komunikasi, Yogyakarta : Prenada
McQuail, Denis. (2000). Mass Communication Theories, London : Sage Publication.
Paul, Virginia. Singh, Priyanka & John, Sunit B. (2013). Role of Mass Media In Social
Awarness. International journal of Humanities & Social Sciences.
Suprapto, Tommy. (2006). Pengantar Teori Komunikasi, Yogyakarta : Media Pressindo
430
e-Proceeding | COMICOS 2017
RADIO KOMUNITAS JAWA DI KOTA MEDAN: DARI EKSPRESI DIRI
KE AJANG SILATURAHMI
Anggy Denok Sukmawati
Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan
Kebudayaan Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia
[email protected]
Abstrak
Berdasarkan hasil sensus BPS tahun 2010, suku Jawa yang ada di Provinsi Sumatra
Utara berjumlah 33,04% dari populasi keseluruhan dan sebagian besarnya tinggal di
Kota Medan. Keberadaan suku Jawa yang cukup banyak di Kota Medan tersebut
merupakan alasan utama didirikannya Radio Komunitas Jawa, “Radio Jawa”. Berdiri
pada tahun 1980-an, tujuan utama didirikannya “Radio Jawa” adalah sebagai wujud
ekspresi eksistensi komunitas Jawa di Kota Medan. Seiring waktu, anggota “Radio
Jawa” bertambah dan tidak hanya berasal dari suku Jawa saja. Hal itu menjadikan
tujuan “Radio Jawa” juga berubah. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan
metode wawancara mendalam kepada pengurus “Radio Jawa”, tulisan ini akan
memaparkan alasan perubahan tujuan dan dampak perubahan tujuan tersebut pada
kegiatan-kegiatan dari “Radio Jawa’. Dari analisis hasil wawancara, ditemukan bahwa
tujuan “Radio Jawa” berubah dari semula sebagai wujud ekspresi keberadaan suku
Jawa di Kota Medan menjadi wadah silaturahmi dan kegiatan antarsuku yang ada di
Kota Medan. Secara tidak langsung, “Radio Jawa” telah bertindak sebagai agen
pemersatu suku-suku yang tinggal di Kota Medan.
Kata Kunci: Radio Komunitas, Eksistensi Diri, Identitas Komunitas, Kota Medan,
Suku Jawa.
Abstract
Based on the results of the 2010 BPS census, Javanese count on 33,04% of the
population in North Sumatra Province and most of them live in Medan. This fairly
large number of Javanese in Medan is the main reason for the establishment of
Javanese Community Radio, “Radio Jawa”. Established in the 1980s, the main purpose
of “Radio Jawa” is as a form of expression of Java community existence in Medan.
Over time, members of the “Radio Jawa” are increasing and not only Javanese, but
also other ethnic group, such as Batak, Malay, Indianese,Chinese,etc. It makes the
purpose of “Radio Jawa” also changed. Based on qualitative approach and in-depth
interviews metode with “Radio Jawa” officials, this article will describe the reasons
behind those changes and the impact of the changes to the activities of “Radio Jawa”.
From the analysis of those interview, it was found that the purpose of “Radio Jawa”
changed from expression of the existence of the Javanese in Medan to intertribal
community in Medan. Indirectly, “Radio Jawa” has acted as the unifying agent of many
tribes who live in Medan.
431
e-Proceeding | COMICOS 2017
Keywords: Community Radio, Self Existence, Community Identity, Medan, Javane
Pendahuluan
Suku Jawa merupakan suku terbesar yang ada di Indonesia. Menurut Hasil
Sensus Penduduk tahun 2010 jumlah suku Jawa 95.217.022 jiwa. Dari jumlah itu,
sebanyak 4.319.719 jiwa tinggal di Sumatra Utara. Menurut Anthony Reid (1995), suku
Jawa pertama kali masuk ke Pulau Sumatra karena dibawa oleh Perserikatan Dagang
Belanda (VOC) untuk dijadikan pekerja di perkebunan-perkebunan yang dibuka oleh
VOC di berbagai kota di Pulau Sumatra, salah satunya adalah Sumatra Utara. Setelah
itu, program transmigrasi yang dilakukan oleh Pemerintahan Orde Baru juga membuat
bertambahnya jumlah suku Jawa yang masuk ke Sumatra Utara. Sejak itu, masyarakat
suku Jawa tinggal dan berkeluarga di Sumatra Utara. Hal itu menjadi salah satu
penyebab tumbuh kembangnya kehidupan masyarakat Jawa di Sumatra Utara.
Pada tahun 1980-an, masyarakat Jawa yang ada di Sumatra Utara mendirikan
perkumpulan masyarakat Jawa yang diberi nama PUJAKESUMA (Putra Jawa
Kelahiran Sumatra). Kantor pusat PUJAKESUMA tersebut berada di Kota Medan.
Tujuan awal didirikannya PUJAKESUMA ini adalah menjalin komunikasi
antarmasyarakat Jawa di seluruh penjuru Sumatra Utara serta sebagai bentuk unjuk diri
identitas masyarakat Jawa di Sumatra Utara. Dengan cakupan wilayah yang cukup luas,
jumlah anggota PUJAKESUMA juga cukup banyak dan tersebar di seluruh penjuru
Sumatra Utara. Oleh karena itu, setiap kabupaten di Sumatra Utara memiliki kantor
cabang PUJAKESUMA masng-masing.
PUJAKESUMA pada awal berdirinya telah memiliki beberapa divisi di dalam
organisasinya, yaitu divisi kesenian dan divisi radio komunitas. Divisi kesenian dari
PUJAKESUMA kemudian diberi nama IKJ (Ikatan Kesenian Jawa). Sementara itu,
432
e-Proceeding | COMICOS 2017
divisi radio komunitas dari PUJAKESUMA mendirikan radio yang diberi nama Radio
Pasopati. Tujuan awal dibentuknya IKJ adalah melestarikan dan mewariskan
budaya Jawa dari generasi tua ke generasi muda. Hal itu dilakukan dengan membuka
sanggar tari yang melatih anak-anak muda suku Jawa berbagai macam tari tradisional
Jawa. Selain itu, IKJ juga memiliki kelompok kesenian wayang kulit yang bernaung di
bawahnya. Kelompok kesenian wayang kulit tersebut biasa diundang untuk mengisi
berbagai acara, baik acara yang diadakan oleh masyarakat Jawa maupun oleh
masyarakat selain Jawa.
Sementara itu, Radio Pasopati didirikan dengan tujuan mempermudah
komunikasi antarmasyarakat Jawa di seluruh Sumatra Utara dengan saling berbagi
kabar lewat radio serta mempertahankan kesenian tembang-tembang Jawa. Program
dari Radio Pasopati sebagian besar adalah lagu-lagu berbahasa Jawa dan kesenian Jawa
lainnya. Seiring berjalannya
waktu, ada pihak-pihak yang memanfaatkan Radio
Pasopati untuk kepentingan politik. Hal itu dilakukan dengan menunggangi siaransiaran dari Radio Pasopati untuk berkampanye. Penggunaan Radio Pasopati untuk
berkampanye tersebut ditentang oleh sebagian anggota PUJAKESUMA yang lain. Hal
itu menyebabkan perpecahan di dalam kepengurusan Radio Pasopati. Perpecahan
tersebut kemudian semakin berlarut-larut sehingga menyebabkan ditutupnya Radio
Pasopati pada tahun 2005.
Hilangnya sarana aktualisasi diri masyarakat Jawa di Sumatra Utara secara
umum dan di Kota Medan secara khusus tersebut sedikit banyak berdampak pula pada
dinamika kehidupan masyarakat Jawa di sana. Masyarakat Jawa di sana merasa
kehilangan alat untuk menunjukkan identitas diri mereka. Kegelisahan tersebut
menjadikan munculnya ide untuk mendirikan radio komunitas Jawa yang lain. Ide
433
e-Proceeding | COMICOS 2017
tersebut diprakarsai oleh Bapak Edy Kewa yang merupakan teknisi Radio Pasopati.
Tulisan ini merupakan abstraksi dari perjalanan “hidup” radio komunitas Jawa
di Kota Medan yang merupakan alat identitas diri. Sama seperti hal lain di dunia, alat
tersebut kemudian berubah seiring berjalannya waktu. Perubahan itu dipengaruhi oleh
beberapa hal, baik itu yang berasal dari dalam maupun dari luar masyarakat Jawa di
Kota Medan. Tulisan ini ingin melihat dinamika masyarakat yang menetap di luar
daerah asalnya, terutama berkaitan dengan persentuhan antara budaya yang satu dengan
budaya lainnya dalam konteks kehidupan masyarakat kota besar yang multilingual dan
multietnik. Persentuhan antara satu budaya dengan budaya lainnya itu kemudian
menyebabkan adanya keinginan dalam diri suatu kelompok untuk mencari dan
menunjukkan identitas budayanya kepada “dunia luar”.
Kajian mengenai masyarakat yang tinggal di luar daerah asalnya sudah banyak
dilakukan oleh banyak ahli. Kajian yang ada juga dilakukan dari berbagai macam
kacamata keilmuan, misalnya bahasa, sosiologi, politik, dan sebagainya. Dari sisi
bahasa, masyarakat yang tinggal di luar daerah asalnya biasanya menjadi objek
penelitian dalam melihat perubahan dan pemertahan bahasa asalnya. Kajian ini
dilakukan dengan melakukan penggalian data pada generasi ketiga atau keempat dari
masyarakat tersebut. Data kebahasaan yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan
bahasa tersebut yang masih dituturkan di daerah asalnya. Salah satu contoh kajian ini
dilakukan oleh Sukmawati pada tahun 2012 dalam tesisnya yang berjudul “Enklave
Bahasa Jawa di Provinsi Bengkulu: Kajian Dialektologi Diakronis”.
Dalam tesisnya tersebut, Sukmawati membahas tentang enklave bahasa Jawa di
Provinsi Bengkulu. Disebutkan bahwa bahasa Jawa yang ada di Provinsi Bengkulu
tersebut terbagi menjadi dua dialek besar, yaitu bahasa Jawa dialek Jogja dan sekitarnya
434
e-Proceeding | COMICOS 2017
dan bahasa Jawa Ngapak. Kedua dialek tersebut kemudian dibandingkan dengan bahasa
Jawa yang dituturkan di Yoyakarta dan Banyumas. Hasil dari perbandingan itu
menunjukkan bahwa bahasa Jawa di Provinsi Bengkulu tidak mengalami perubahan
yang besar dari bahasa yang dituturkan di daerah asalnya. Namun, terdapat
kecenderungan bahasa Jawa tersebut sudah semakin ditinggalkan penggunaannya oleh
generasi muda masyarakat Jawa di Provinsi Bengkulu. Selain itu, dipaparkan pula halhal yang menyebabkan menurunnya penggunaan bahasa Jawa oleh generasi muda
masyarakat Jawa di Provinsi Bengkulu tersebut. Selain itu, Mudzakir pada tahun 2015
menuliskan artikel yang menarik yang mengangkat topik diaspora dengan judul “Hidup
di Pengasingan: Eksil Indonesia di Belanda”. Artikel tersebut menyoroti kehidupan
kaum eksil Indonesia di Belanda, mulai dari keberangkatan hingga era pasca-Suharto.
Dalam tulisan ini dipaparkan bahwa munculnya kaum eksil Indonesia di Belanda
tersebut dipengaruhi oleh adanya interaksi yang kuat antara pertarungan politik
internasional dan domestik. Tulisan ini meberikan paparan mengenai perjuangan yang
harus dihadapi oleh orang-orang yang pada awalnya dikirimkan untuk bersekolah atau
menjadi delegasi Indonesia di negara-negara komunis pada pemerintahan Soekarno
setelah terjadinya peristiwa tahun 1965 di Indonesia.
Pada tahun 1965, terjadi penghancuan secara sistematis terhadap kekuatan kiri,
khususnya Partai Komunis Indonesia (PKI) dan kalangan nasionalis pada umumnya.
Segera setelah peristiwa 1965, pihak kedutaan besar yang dibantu oleh tim khusus
menyaring warga negara Indonesia yang berada di luar negeri. Mereka yang terkait atau
dituduh terlibat dengan PKI dicabut paspornya secara sewenang-wenang. Hal tersebut
membuat mereka kehilangan identitas kewarganegaraan dan terhalang pulang ke
Indonesia. Setelah peristiwa tersebut, sebagian besar kaum eksil Indonesia di Rusia dan
435
e-Proceeding | COMICOS 2017
negara-negara eks-komunis lain memutuskan untuk bermigrasi ke ke negara-negara
Eropa Barat dan Skandinavia, khususnya Perancis, Swedia, dan Belanda. Artikel ini
menyoroti perjuangan mereka dalam bertahan hidup di luar negeri, khusunya di negara
Belanda, dan bagaimana mereka merawat komitmen nasionalisme mereka terhadap
Indonesia.
Sementara itu, kajian terhadap radio komunitas juga sudah banyak dilakukan
oleh para ahli maupun praktisi. Hasandinata (2014) menuliskan artikel dengan judul
“Peran Pengelola Radio Komunitas dalam Mengembangkan Siaran Kearifan Lokal”
yang membahas secara detil mengenai peran radio komunitas dalam meningkatkan
kearifan lokal dalam berbagai aspek kehidupan, khususnya aspek budaya. Hal
itu,
menurut Hasandinata, merupakan tugas utama dari pengelola radio komunitas
dalam memilih siaran yang mengandung muatan kearifan lokal dan mengemasnya
dalam bentuk yang bisa menarik pendengar.
Lilis Ch. dan Yuliati (2012) dalam tulisan yang berjudul “Mengusung Radio
Komunitas sebagai Basis Kearifan Lokal” mendeskripsikan sepak terjang radio
komunitas dalam mewujudkan masyarakat madani melalui peran aktifnya menanamkan
nilai-nilai kearifan lokal. Tulisan tersebut berangkat mengambil contoh dua radio
komunitas di Kabupaten Bandung, yaitu Radio PASS dan Radio Kombas. Dalam artikel
ini, kedua penulis mendeskripsikan bagaimana kedua radio tersebut melibatkan
masyarakat dalam pengelolaannya dan hal itu tercermin dalam siaran-siaran dari kedua
radio tersebut yang berisi informasi seputar daerahnya. Siaran-siaran dari kedua radio
ini bertujuan untuk
menjadi media hiburan yang informatif, mendidik, serta
membangun bagi masyarakat komunitas.
Sementara itu, Bassar, dkk. (2015) mencoba melihat sisi lain dari radio
436
e-Proceeding | COMICOS 2017
komunitas dalam tulisannya yang berjudul “Keterlibatan Perempuan dan Siaran Siaran
Budaya Lokal di Radio Komunitas Ruyuk FM, Tasikmalaya, Jawa Barat”. Dalam
tulisannya, Bassar, dkk. memaparkan bahwa radio komunitas merupakan salah satu
wadah yang bisa dimanfaatkan oleh perempuan untuk turut berpartisipasi dalam
komunitas. Namun, sayangnya, peran wanita dalam radio komunitas Ruyuk FM ini
baru sebatas pada siaran yang berhubungan dengan kehidupan wanita dan belum
mendobrak stereotip siaran-siaran yang termasuk dalam “ranah laki-laki” seperti siaran
mengenai pertanian, konservasi hutan, kesehatan masyarakat, atau pemerintahan desa.
Oleh karena itu, Bassar, dkk. menyarankan adanya peningkatan kapasitas pegiat
perempuan Radio Ruyuk FM. Peningkatan kapasitas itu bisa dilakukan dengan cara
menambah aksesibilitas perempuan pada informasi, pendidikan, dan pelatihan
mengenai radio komunitas.
Tulisan ini akan membahas radio komunitas dari masyarakat Jawa di Kota
Medan dari sisi yang berbeda dari ketiga tulisan mengenai rado komunitas yang
disebutkan sebelumnya. Radio Jawa sebagai radio komunitas bukanlah merupakan
penanda identitas yang tunggal dari masyarakat Jawa di Kota Medan dan bukan pula
organisasi pionir yang didirikan oleh komunitas masyarakat Jawa di Kota Medan. Ada
proses panjang dan berliku yang mendahului kelahiran Radio Jawa. Proses tersebut
selain memperlihatkan lika-liku proses persentuhan antarbudaya di kota besar dengan
masyarakat yang multietnik juga membentuk arah dari kegiatan-kegiatan Radio Jawa.
Tulisan ini melihat akibat dari persentuhan antarbudaya di kota multietnik seperti Kota
Medan terhadap dinamika kehidupan masyarakatnya.
437
e-Proceeding | COMICOS 2017
Metodologi
Tulisan ini merupakan deskripsi kualitatif dari sebuah fenomena yang ada di
dalam masyarakat. Dalam hal ini, fenomena yang diangkat adalah masalah identitas
suatu komunitas masyarakat. Informan yang digunakan dalam pengambilan data dipilih
secara purposif disesuaikan dengan tujuan tulisan ini. Informan yang dipilih merupakan
pengurus dan/ penyiar di Radio Jawa yang bersedia diwawancara dan mampu
memberikan informasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan topik tulisan.
Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara mendalam (depth interview).
Data yang diperoleh kemudian diolah dan diabstraksi untuk kemudian dibuat menjadi
tulisan ini.
Radio Pujakesuma: Bibit Awal Radio Jawa
Setelah Radio Pasopati bubar pada tahun 2005, Bapak Edy Kewa, salah satu
teknisi pemancar Radio Pasopati, merasa bahwa masyarakat Jawa di Kota Medan tidak
lagi memiliki sarana untuk mengembangkan dan menyebarluaskan kesenian dan
kebudayaan
Jawa. Oleh karena itu, beliau berniat untuk membangun sebuah radio
komunitas baru bagi masyarakat Jawa di Medan. Sebagai seorang teknisi pemancar,
Bapak Edy Kewa adalah seorang ahli dalam membangun pemancar, baik pemancar
radio
maupun
pemancar
televisi.
Berbekal
keahliannya,
beliau
kemudian
menyampaikan idenya tersebut kepada para mantan anggota Radio Pasopati yang
notabene adalah orang Jawa juga. Ide tersebut disambut dengan baik oleh para mantan
anggota Radio Pasopati. Butuh waktu dua tahun bagi Bapak Edy Kewa dan rekanrekannya untuk mempersiapkan radio komuintas yang baru tersebut. Persiapan yang
dilakukan adalah menyiapkan bahan-bahan untuk membangun pemancar radio, alat-alat
438
e-Proceeding | COMICOS 2017
perlengkapan siaran, dan tentu saja ruangan yang bisa digunakan sebagai ruang siaran.
Setelah melalui tahap persiapan selama dua tahun, pada tahun 2007 radio
komunitas yang baru sudah siap untuk dioperasikan. Radio tersebut kemudian diberi
nama Radio Pujakesuma. Dana yang dipakai untuk membangun Radio Pujakesuma ini
sepenuhnya berasal dari Bapak Edy Kewa dengan dibantu oleh beberapa mantan
anggota Radio Pasopati. Sementara itu, beberapa orang yang lain membantu dengan
menjadi penyiar radio secara sukarela tanpa menerima bayaran. Setelah Radio
Pujakesuma terbentuk, langkah selanjutnya adalah menurus ijin kepada pemerintah
daerah. Hal ini perlu dilakukan agar kegiatan Radio Pujakesuma memiliki dasar hukum
yang jelas. Selama menunggu keluarnya ijin dari pemerintah daerah, Radio Pujakesuma
tetap beroperasi dan mengadakan siaran. Karena penyiarnya kebanyakan adalah para
pekerja, siaran Radio Pujakesuma ini dimulai pada waktu sore hari pukul 15.00 dan
akan berakhir pukul 24.00 pada hari kerja. Namun, Radio Pujakesuma akan beroperasi
24 jam pada akhir pekan.
Pada awalnya, Radio Pujakesuma belum memiliki banyak format acara untuk
siarannya. Sebagian besar siaran adalah pemutaran lagu-lagu tradisional Jawa, seperti
keroncong, rekaman pertunjukan kesenian gamelan, dan rekaman pertunjukan kesenian
wayang kulit. Selain itu, acara pemutaran lagu tersebut juga diselingi segmen berkirim
salam, kabar, atau informasi antarangota komunitas Jawa di Medan. Baru setelah
mendapat ijin resmi dari pemerintah daerah pada tahun 2009, Bapak Edy Kewa dan
rekan-rekan mulai memikirkan untuk menmbenahi susunan organisasi serta format
acara Radio Pujakesuma secara lebih baik dan teratur.
Bapak Edy Kewa terpilih sebagai Ketua Radio Pujakesuma yang pertama.
Beliau kemudian mengusulkan menambahkan beberapa segmen baru bagi siaran Radio
439
e-Proceeding | COMICOS 2017
Pujakesuma, yaitu segmen lagu campursari dan lagu dangdut berbahasa Jawa. Pada
awalnya, hanya ada Pak Edy Kewa dan Pak Kardi yang secara sukarela menjadi penyiar.
Namun, dengan ditambahnya segmen acara tersebut, Pak Mulyono kemudian diminta
untuk menjadi penyiar.
Selain berkomunikasi lewat radio komunitas, masyarakat Jawa di Kota Medan
juga mengadakan pertemuan secara langsung lewat arisan dan juga pengajian anggota
Radio Pujakesuma. Arisan dilakukan setiap satu bulan sekali sedangkan pengajian
diadakan setiap minggu di rumah salah satu anggota secara bergantian. Selain itu, IKJ
kemudian dihidupkan kembali kegiatannya. Anak-anak muda dan remaja kembali
berlatih menari ataupun bermain gamelan setiap hari minggu di rumah Pak Mulyono.
Radio Pujakesuma sebagai Alat Identitas dan Alat Pemertahanan Bahasa dan
Budaya
Dari penjelasan di atas terlihat bahwa keberadaan Radio Pujakesuma bukan
hanya sebagai sarana komunikasi dalam komunitas. Hal yang perlu diperhatikan dari
kegiatan rutin yang diadakan oleh Radio Pujakesuma dan IKJ ini adalah, selain
keduanya menjadi alat identitas komunitas Jawa di Medan, kedua organisasi ini
menyediakan ruang bagi para anggotanya untuk menunjukkan identitas kesukuan
mereka dengan berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa. Bahasa bisa dikatakan
merupakan alat identitas utama bagi setiap komunitas (Gudykunst: 1988, Fishman:
1999, Evans: 2015). Bertemu dan berkomunikasi dengan sesama anggota komunitas
menggunakan bahasa “asli” mereka bisa memperkuat ikatan yang ada. Selain itu,
dalam pertemuan ini ada proses pemertahan dan transmisi bahasa secara tidak langsung
yang sedang terjadi.
Proses pemertahanan terjadi ketika sesama anggota komunitas berkomunikasi
440
e-Proceeding | COMICOS 2017
dengan mengunakan bahasa Jawa, sedangkan proses transmisi bahasa terjadi ketika
para anggota membawa anak-anak mereka ke pertemuan tersebut dan anak-anak itu
secara langsung terpapar oleh bahasa Jawa. Meskipun, misalnya, ada di antara anakanak itu yang belum terbiasa menggunakan bahasa Jawa di kehiduan sehari-hari
mereka, dengan mengikuti pertemuan-pertemuan komunitas seperti ini, mereka lamalama akan terbiasa dan kemudian mulai belajar juga menggunakan bahasa Jawa ketika
berkomunikasi dengan anggota komunitas lain. Kemudian dia akan mulai
menggunakan bahasa Jawa terhadap anak muda seusianya yang juga merupakan
anggota komunitas itu. Ketika hal itu terjadi, artinya proses transmisi bahasa dari
generasi tua ke generasi muda berhasil dilakukan.
Transmisi bahasa dari generasi tua ke generasi muda merupakan proses yang
sangat penting untuk menjaga daya hidup dari suatu bahasa (Tomasello: 2003, Bloch:
2005, Gathercole: 2007, Cangelosi: 2008). Daya hidup suatu bahasa bisa dinilai dari
seberapa banyak penutur aktif bahasa itu dan seberapa sering bahasa itu digunakan di
berbagai ranah, mulai dari ranah informal sampai ranah formal. Bahasa Jawa
merupakan bahasa yang memiliki daya hidup yang baik. Bahasa Jawa merupakan
bahasa dari suku terbesar yang ada di Indonesia, yaitu suku Jawa, yang berjumlah
95.217.022 jiwa. Jumlah itu merupakan 40,22% dari jumlah keseluruhan penduduk
Indonesia menurut hasil sensus penduduk tahun 2010. Dengan jumlah anggota suku
Jawa sebanyak itu, bahasa Jawa menjadi bahasa sehari- hari yang digunakan oleh
68.044.660 orang di seluruh Indonesia, dan secara khusus dituturkan oleh 884.903
orang di Sumatra Utara.
Meskipun secara umum bahasa Indonesia merupakan bahasa yang paling
banyak dituturkan oleh masayarakat Indonesia, tetapi Sumatra Utara secara khusus
441
e-Proceeding | COMICOS 2017
menjadi salah satu provinsi yang memiliki penutur bahasa Indonesia dalam kehidupan
sehari-hari yang besar. Sebanyak 55,6% penduduk Sumatra Utara memilih
menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari mereka.
Angka di atas tidaklah mengejutkan karena Sumatra Utara memang merupakan
provinsi dengan masyarakat yang multietnis. Hal itulah yang menyebabkan bahasa
Indonesia lebih banyak digunakan sebagai bahasa sehari-hari oleh masyarakatnya.
Berkaitan dengan hal itu, masing-masing suku di Sumatra Utara juga berusaha
mempertahankan
identitas
kesukuan
mereka
dengan
mengembangkan
dan
menggunakan bahasa daerah mereka ketika berada di dalam komunitas mereka. Di
sinilah Radio Pujakesuma memegang peran yang penting dalam usaha pemertahanan
bahasa Jawa, khususnya di wilayah Kota Medan.
Selain sebagai ruang yang digunakan komunitas Jawa untuk mempertahankan
bahasa Jawa, Radio Pujakesuma juga berperan penting dalam menjaga dan
mempertahankan budaya Jawa. Peran tersebut terutama dilakukan oleh IKJ sebagai
anak organisasi dari Radio Pujakesuma. IKJ yang sempat mati bersama Radio Pasopati
dihidupkan kembali oleh Bapak Edy Kewa dan rekan-rekannya. IKJ mulai membuka
kembali kelas tari tradisional Jawa yang diperuntukkan terutama bagi para generasi
muda suku Jawa di Kota Medan. Selain itu, terdapat pula kelas gamelan yang
mengajarkan generasi muda bagaimana cara bermain gamelan. Di kelas ini, dalam
bermain gamelan, Pak Mulyono selaku pengajar juga memperkenalkan lagu-lagu
tradisional Jawa kepada para anak didiknya.
Selain membuka kelas-kelas, IKJ juga menjadi event organiser yang membuka
jasa penyelenggaraan pernikahan tradisional Jawa. IKJ juga memayungi beberapa
kelompok seni tradisional Jawa, seperti kelompok seni Wayang Kulit dan kelompok
442
e-Proceeding | COMICOS 2017
seni Jaran Kepang. Jasa penyelenggaraan pernikahan tradisional Jawa ini merupakan
salah satu yang banyak diminati oleh warga Kota Medan. Menurut keterangan Bapak
Edy Kewa, banyak permintaan dari masyarakat untuk menyelenggarakan pernikahan
dengan menggunakan adat tradisional Jawa. Permintaan tersebut terutama berasal dari
anggota komunitas Jawa di Medan.
Radio Jawa: Nama Baru, Identitas Baru
Setelah beroperasi selama lima tahun, pada tahun 2012, anggota komunitas Jawa
di Kota Medan memutuskan untuk mengubah nama Radio Pujakesuma menjadi Radio
Jawa. Terdapat beberapa hal yang mendasari perubahan nama tersebut. Pertama, Radio
Jawa merupakan nama yang lebih singkat dan lebih mudah diingat, baik oleh para
anggota komunitas Jawa maupun oleh masyarakat penggemar Radio Jawa. Dalam lima
tahun perjalanannya, penggemar Radio Pujakesuma memang telah bertambah dan para
penggemar baru itu banyak yang berasal dari luar anggota komunitas Jawa.
Kedua, nama Radio Jawa mencerminkan identitas kesukuan lebih kuat daripada
Radio Pujakesuma. Berkaitan dengan bertambahnya penggemar Radio Pujakesuma
yang berasal dari luar anggota komunitas Jawa, nama Radio Jawa dianggap lebih kuat
dalam menunjukkan identitas komunitas suku Jawa yang berada di baliknya, terutama
kepada para penggemar baru tersebut.
Ketiga, berkaitan dengan alasan kedua tentang identitas kesukuan, Bapak Edy
Kewa dan rekan-rekan merasa nama Radio Jawa memberikan kesan yang lebih kuat
dalam memegang citra Jawa. Hal ini maksudnya adalah ketika masyarakat atau
pemerintah daerah tahu bahwa Radio Jawa memiliki banyak penggemar, bahkan
penggemar yang berasal dari suku selain suku Jawa, hal itu akan memberikan citra yang
kuat bahwa Radio Jawa sebagai radio komunitas mampu menarik masyarakat di luar
443
e-Proceeding | COMICOS 2017
komunitasnya.
Hal itu diakui oleh Bapak Edy Kewa merupakan hal yang penting bagi eksistensi
Radio Jawa. Sebagai radio komunitas, Radio Jawa mengemban misi penting dalam
menjaga dan mempertahankan identitas suku Jawa, terutama di Kota Medan yang
notabene adalah “negeri orang”. Banyaknya penggemar Radio Jawa yang berasal dari
suku selain suku Jawa membuktikan bahwa Radio Jawa tidak hanya berhasil
menjalankan fungsinya dalam mempertahankan budaya Jawa tetapi juga berhasil
memperkenalkan budaya Jawa kepada masyarakat luas.
Bertambahnya jumlah penggemar yang berasal dari suku selain suku Jawa
tersebut menjadi alasan penambahan segmen acara baru di Radio Jawa. Beberapa
segmen baru yang ditambahkan antara lain segmen lagu Melayu, segmen lagu India,
segmen lagu Karo, segmen lagu pop Indonesia, dan segmen bahasa Jawa Ngapak.
Segmen lagu Melayu, segmen lagu India, dan segmen lagu Karo merupakan acara yang
dibuat untuk mengakomodasi banyaknya penggemar yang berasal dari suku Melayu,
keturunan India, dan suku Karo. Segmen lagu pop Indonesia dibuat untuk
mengakomodasi bertambahnya generasi muda dan remaja yang menjadi penggemar
Radio Jawa. Sementara itu, segmen bahasa Jawa Ngapak dibuat untuk mengakomodasi
keberagaman yang ada di dalam komunitas suku Jawa di Medan. Memang banyak dari
anggota komunitas suku Jawa di Kota Medan yang leluhurnya berasal dari daerah Jawa
yang menuturkan bahasa Jawa dialek Ngapak.
Meskipun jumlah penggemarnya bertambah secara signifikan, tidak berarti
bahwa dana operasional Radio Jawa ikut bertambah pula. Sampai saat ini, sumber dana
operasional Radio Jawa adalah dana iuran dari para anggota komunitas suku Jawa. Para
penyiar Radio Jawa pun sampai saat ini merupakan penyiar yang sukarela melakukan
444
e-Proceeding | COMICOS 2017
siaran tanpa dibayar. Hal ini kemudian menjadi salah satu perhatian para penggemar
Radio Jawa, terutama yang berasal dari suku selain suku Jawa. Mereka bukan anggota
dari komunitas suku Jawa sehingga mereka tidak bisa ikut memberikan iuran dalam
mendanai operasional Radio Jawa. Oleh karena itu, mereka kemudian meminta kepada
Bapak Edy Kewa dan pengurus Radio Jawa yang lain untuk membuka keanggotaan
komunitas mereka kepada para penggemar yang berasal dari suku selain suku Jawa.
Setelah melalui pertimbangan panjang di antara anggota komunitas suku Jawa,
akhirnya diputuskan bahwa para penggemar Radio Jawa yang berasal dari suku selain
suku Jawa boleh masuk ke dalam komunitas. Hal tersebut membawa pengaruh yang
positif dan negatif bagi dinamika Radio Jawa secara khusus dan komunitas suku Jawa
di Kota Medan secara umum.
Pengaruh positif yang paling terlihat dari masuknya penggemar Radio Jawa
yang berasal dari suku selain suku Jawa ke dalam komunitas adalah bertambahnya
sumber dana untuk operasional Radio Jawa dan kegiatan-kegiatan lain yang mereka
selenggarakan. Selain itu, komunikasi dan hubungan baik antara suku Jawa dan suku
lainnya menjadi lebih baik karena mereka menjadi sering melakukan kegiatan bersama.
Namun, di sisi lain, masuknya penggemar Radio Jawa yang berasal dari suku selain
suku Jawa ke dalam komunitas memberikan pengaruh negatif pula. Hal itu dijelaskan
dengan lebih detil pada bagian selanjutnya.
Pergeseran Fungsi Radio Jawa
Masuknya penggemar Radio Jawa yang berasal dari suku selain suku Jawa ke
dalam komunitas membawa perubahan besar, baik pada Radio Jawa maupun pada
dinamika komunitas suku Jawa di Kota Medan. Seperti dijelaskan di atas, perubahan
yang terjadi tidak hanya bersifat positif, tetapi juga bersifat negatif. Penambahan
445
e-Proceeding | COMICOS 2017
segmen-segmen acara baru yang notabene tidak berhubungan dengan budaya Jawa
membuat Radio Jawa seolah-olah kehilangan ruhnya sebagai radio komunitas. Radio
Jawa bukan lagi radio yang ada untuk masyarakat Jawa di Kota Medan, tetapi sudah
berubah menjadi mirip radio swasta yang menyasar pasar masyarakat umum. Memang
sebagai radio komunitas, Radio Jawa tetap tidak menyiarkan iklan produk-produk
komersial seperti radio swasta. Namun, Radio Jawa kini menyiarkan iklan layanan
masyarakat dari pemerintah serta iklan produk buatan UKM-UKM di Medan. Meskipun
para produsen yang hendak memasang iklan di Radio Jawa tidak ditarik biaya, dan oleh
karena itu dibatasi jumlahnya, tetap saja keberadaan iklan di Radio Jawa mengubah
warna rado ini secara signifikan.
Selain itu, adanya segmen-segmen baru tersebut juga menjadikan masuknya
penyiar- penyiar baru yang bukan berasal dari suku Jawa. Segmen lagu Melayu dan
lagu India dibawakan oleh Bapak Aris yang merupakan keturunan India, sedangkan
segmen lagu Karo dibawakan oleh Ibu May Hayrani Saragih yang berasal dari suku
Batak Karo. Selain itu, ada juga Ibu Sri Sekar yang membawakan semen lagu pop
Indonesia. Pada segmen-segmen baru tersebut, penyiar berkomunikasi dengan
penggemar menggunakan bahasa Indonesia, bukan bahasa Jawa. Hal ini menjadikan
Radio Jawa sebagai radio komunitas yang dulunya berfungsi sebagai salah satu alat
pemertahanan bahasa dan budaya Jawa kini telah mulai bergeser.
Hal ini tentu perlu mendapat perhatian serius. Bergesernya fungsi pemertahan
bahasa dan budaya daerah pada Radio Jawa tersebut sedikit banyak mempengaruhi
kelangsungan hidup bahasa dan budaya Jawa di Medan. Selama ini, Radio Jawa
memberikan ruang bagi komunitas suku Jawa di Kota Medan untuk berkomunikasi
dengan menggunakna bahasa Jawa. Jika fungsi itu berkurang, atau lebih jauh lagi
446
e-Proceeding | COMICOS 2017
hilang, akan hilang pula ruang komunikasi dengan menggunakan bahasa daerah bagi
komunitas suku Jawa, terutama di Kota Medan.
Lebih lanjut, penggemar Radio Jawa yang berasal dari suku selain suku Jawa
tersebut juga secara aktif ikut berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan
oleh Radio Jawa, seperti pengajian dan arisan bulanan, acara ulang tahun Radio Jawa,
dan berbagai kegiatan lain. Hal ini juga mempengaruhi pola komunikasi
terjadi di dalam
yang
komunitas. Sebelumnya, mereka akan menggunakan bahasa Jawa
ketika berkomunikasi dengan sesama anggota komunitas pada setiap acara yang
diselenggarakan oleh Radio Jawa. Namun, kini mereka lebih memilih menggunakan
bahasa Indonesia dengan sesekali dicampur bahasa Jawa ketika berkomunikasi di dalam
kegiatan-kegiatan tersebut. Hal itu wajar dilakukan karena kini mereka memiliki
anggota yang bukan berasal dari suku Jawa dan tidak memahami bahasa Jawa. Agar
komunikasi tetap berlangsung dengan lancar, mereka kemudian memilih menggunakan
bahasa Indonesia ketika berkomunikasi. Mereka akan menggunakan bahasa Jawa hanya
jika berkomunikasi dengan sesama anggota yang berasal dari suku Jawa—itupun tidak
secara terus menerus menggunakan bahasa Jawa dan lebih cenderung pada campuran
bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Perubahan yang bersifat negatif pada Radio Jawa
itu menjadi terlihat ironis. Tujuan awal mengganti nama menjadi Radio Jaa adalah
untuk memperkuat citra Radio Jawa sebagai radio komunitas suku Jawa di Kota Medan.
Namun, seiring bertambahnya waktu dan bertambahnya penggemar, Radio Jawa
menjadi radio umum dengan penggemar yang berasal dari berbagai kalangan.
Memasuki usia ke 10 tahun, jumlah penggemar Radio Jawa sudah demikian
banyak, bahkan melebihi jumlah penggemar RRI sebagai radio resmi milik pemerintah.
Menurut Bapak Edy Kewa, salah satu faktor yang membuat bertambah banyaknya
447
e-Proceeding | COMICOS 2017
jumlah penggemar Radio Jawa adalah banyaknya kegiatan yang diselenggarakan oleh
Radio Jawa. Radio Jawa selalu memiliki ide kreatif dalam menyelenggarakan tiap
kegiatan mereka dan mereka selalu memasukkan unsur budaya Jawa di dalamnya. Salah
satu contoh kegiatan yang dilaksanakan oleh Radio Jawa adalah lomba karaoke lagu
berbahasa Jawa bagi orang yang berasal dari suku selain suku Jawa. Lomba tersebut
diselenggarakan oleh Radio Jawa dalam rangka peringatan HUT Indonesia pada tahun
2016 kemarin.
Banyaknya jumlah penggemar Radio Jawa yang mengalahkan jumlah
penggemar RRI membuat Radio Jawa mendapatkan perhatian dari Pemerintah
Provinsi Sumatra Utara. Pemerintah mulai memanfaatkan Radio Jawa sebagai media
penyebaran informasi lewat iklan layanan masyarakat. Selain itu, Radio Jawa kini juga
membuak segmen talkshow setiap minggunya dengan narasumber yang kebanyakan
berasal dari badan-badan pemerintahan, seperti BNN, Balai Pertanian Kota Medan,
pihak Kepolisian, dan sebagainya. Narasumber tersebut mebahas berbagai isu yang
sedang hangat di masyarakat maupun memberikan saran dan masukan mengenai
berbagai hal sesuai bidang masing-masing. BNN memberikan penyuluhan tentang
pencegahan peredaran narkoba, Balai Pertanian memberikan informasi mengenai tipstips di bidang pertanian, Kepolisian memberikan informasi seputar cara pencegahan
tindakan kriminal sehari-hari, dan sebagainya. Kadang-kadang Radio Jawa juga
mengundang pihak UKM untuk mempromosikan produk-produknya.
Pada ulang tahun ke 10 Radio Jawa tanggal 26 Februari 2017 kemarin, Gubernur
Sumatra Utara, Ir. H.Tengku Erry Nuradi, M.si, menitipkan sambutan yang dibacakan
oleh Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Sumut, H.M. Ayub., S.E.
Di dalam sambutan itu, Beliau mengatakan bahwa sebagai radio komunitas, Radio Jawa
448
e-Proceeding | COMICOS 2017
menyebarluaskan pesan-pesan komunikasi yang lebih mengarah kepada kepentingan
bangsa dan negara dalam pembangunan karakter dan rasa nasionalisme. Radio Jawa
dianggap banyak memberikan kontribusi nyata bagi pemerintah dan masyarakat,
khususnya dalam pelayanan siaran informasi, kontrol sosial, serta menjaga citra positif
Provinsi Sumatera Utara. Beliau juga berharap nilai positif Radio Jawa tersebut dapat
terus dijaga dan dipertahankan sebagai sebuah identitas. Dengan demikian diharapkan
Radio Jawa dapat menjadi lembaga penyiaran yang berfungsi sebagai perekat sosial,
pemersatu bangsa, mencerminkan identitas bangsa, merefleksikan keberagaman
SARA, serta ikut menyukseskan pembangunan yang ada di Sumatera Utara.
Melihat tanggapan yang baik dari Pemerintah Provinsi Sumatra Utara tersebut,
Bapak Edy Kewa selaku Ketua Radio Jawa optimis bahwa kegiatan-kegiatan Radio
Jawa di masa depan akan sangat didukung oleh pemerintah. Hal tersebut dianggap
merupakan satu tahap penting dalam sejarah kehidupan Radio Jawa. Adanya dukungan
dari Pemerintah Provinsi Sumatra Utara membuka pintu kesempatan yang lebih luas
kepada Radio Jawa dalam mengembangkan kegiatan-kegiatan mereka.
Semua perubahan yang terjadi pada Radio Jawa berujung pada satu hal penting
yang sepertinya belum disadari oleh para anggota komunitas suku Jawa di Kota Medan
tersebut. Radio Jawa kini sudah bukan lagi radio komunitas yang khusus milik
masyarakat Jawa di Kota Medan saja, tetapi sudah menjadi milik umum. Semua elemen
masyarakat bisa masuk ke dalam Radio Jawa. Hal itu berarti telah hilang satu ruang
bagi masyarakat Jawa untuk berkomunikasi dan terus menghidupkan bahasa Jawa.
Hilangnya ruang tersebut akan sangat berpengaruh pada semakin berkurangnya
penggunaan bahasa Jawa di antara komunitas suku Jawa sendiri. Jika hal ini terus
terjadi, lama-kelamaan bahasa Jawa di Kota Medan tidak akan memiliki ruang untuk
449
e-Proceeding | COMICOS 2017
hidup dan berkembang.
Penutup
Keberadaan komunitas suku Jawa di Sumatra Utara, khususnya di Kota Medan,
memunculkan dinamika tersendiri yang menambah maraknya kehidupan multietnis
yang ada di kota tersebut. Komunitas suku Jawa di Kota Medan tersebut kemudian
mendirikan sebuah media tempat mereka bisa membangun ruang untuk berkomunikasi
dengan bahasa Jawa sekaligus sebagai identitas keberadaan mereka. Ruang itu adalah
Radio Jawa. Radio Jawa selain berfungsi sebagai media komunikasi juga digunakan
sebagai salah satu alat pemertahanan bahasa dan budaya Jawa.
Namun, seiring berjalannya waktu, Radio Jawa berkembang dan terus mendapat
penggemar dalam jumlah banyak. Penggemar Radio Jawa kini tidak hanya terbatas pada
anggota komunitas suku Jawa saja tetapi juga masyarakat luas yang berasal dari suku
selain suku Jawa. Hal itu membuat fungsi Radio Jawa berubah. Radio Jawa kini bukan
hanya berfungsi sebagai alat pemertahanan bahasa dan budaya, tetapi juga sebagai
wadah silaturahmi masyarakat Medan.
Perubahan tersebut di satu sisi memiliki efek positif. Namun, jika dilihat lebih
dalam, perubahan itu bisa menjadi awal dari lunturnya proses pemertahanan bahasa dan
budaya Jawa di Kota Medan. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah Apakah
pemertahan bahasa dan budaya daerah masih penting dilakukan di era globalisasi
sekarang ini? Apakah identitas kesukuan dan kedaerahan masih tetap harus dipegang
erat ketika semua hal menjadi tanpa batas dengan adanya internet dan dunia maya? Jika
memang masih penting untuk dipertahankan, bagaimana cara terbaik yang bisa
dilakukan untuk mempertahankannya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan
450
e-Proceeding | COMICOS 2017
pintu selanjutnya yang harus dijawab bagi siapapun yang tertarik untuk meneliti dan
melihat lebih jauh dinamika masyarakat multietnik seperti yang terjadi di Kota Medan
ini.
Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Edy Kewa selaku Ketua Radio Jawa
serta Bapak Kardi, Bapak M. Aris, dan Bapak Mulyono selaku pengurus dan penyiar
Radio Jawa yang telah bersedia diwawancara dan dengan itu memberikan data bagi
penulisan tulisan ini. Selain itu, penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada
Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan, Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia selaku tempat penulis bekerja.
Daftar Pustaka
Bassar, Emilia. (2015). “Keterlibatan Perempuan dan Siaran Siaran Budaya Lokal di
Radio Komunitas Ruyuk FM, Tasikmalaya, Jawa Barat”. Jurnal Masyarakat
dan Budaya Vol. 17 No. 3 Tahun 2015. Hlm. 347-358.
Bloch, Maurice. (2005). Essays on Cultural Transmission. London: Bloomsbury
Academic.
Cangelosi, Angelo. (2008). "The Grounding and Sharing of Symbols" dalam
Cognition Distributed: How Cognitive Technology Extends Our Minds.
Editor Itiel E. Dror and Stevan R. Harnad. Amsterdam: John Benjamins.
Evans, David. (2015). Language and Identity: Dinscourse inthe World. London:
Bloomsbury Academic.
Fishman, Joshua A. (1999). Handbook of Language and Ethnic Identity. Oxford:
Oxford University Press.
Gathercole, Virginia C. Mueller (ed.). (2007). Language Transmission In Bilingual
Families In Wales. Welsh: Welsh Language Board.
Gudykunst, William B (ed.). (1988). Language and Ethnic Identity. Bristol:
Multilingual Matters.
Hasandinata, Neni Sumiati. (2014). “Peran Pengelola Radio Komunitas dalam
451
e-Proceeding | COMICOS 2017
Mengembangkan Siaran Kearifan Lokal”. Jurnal Penelitian Komunikasi
Vol. 17 No.2 Desember 2014. Hlm. 165-176.
Lilis CH, Dede dan Nova Yuliati. (2012). “Mengusung Radio Komunitas sebagai
Basis Kearifan Lokal”. Prosiding Seminar Nasional Menggagas Pencitraan
Berbasis Kearifan Lokal 26 September 2012, Universitas Jenderal
Soedirman: Purwokerto. Hlm.198.
Mudzakir, Amin. (2015). “Hidup di Pengasingan: Eksil Indonesia di Belanda”.
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 17 No. 2 Tahun 2015. Hlm. 171-184.
Na’im, Akhsan dan Hendry Saputra. (2011). Kewarganegaraan, Suku Bangsa,
Agama, dan Bahasa Sehari-Hari Penduduk Indonesia: Hasil Sensus
Penduduk 2010. Jakarta: Badan pusat Statistik.
Reid, Anthony. (1995). Witnesses to Sumatra: A Travellers' Anthology. Oxford:
Oxford University Press.
Sukmawati, Anggy Denok. (2012). “Enklave Bahasa Jawa di Provinsi Bengkulu:
Kajian Dialektologi Diakronis”. Yogyakarta: FIB, UGM.
Tomasello, M. (2003). Constructing a Language: A Usage-Based Theory of
Language Acquisition. Harvard: Harvard University Press.
https://metrorakyat.com/pesan-gubernur-sumatera-utara-haul-radio-jawa-fm/,
diakses pada 13 Juli 2017.
http://pemkomedan.go.id/artikel-16273-plt-kadis-kominfo-medan-berharap-radiojawa- menjadi-corong-pemerintah-dalam-menyampaikan-hasilhasil-.html,
diakses pada 13 Juli 2017.
http://www.medanekspres.com/radio-jawa-diharapkan-jadi-pemersatu-antarsuku/,
diakses pada 13 Juli 2017.
https://www.thoughtco.com/what-is-cultural-transmission-1689814, diakses pada 1
Juli 2017.
452
e-Proceeding | COMICOS 2017
MEDIA ASING DAN PERDA ACEH: PRO KONTRA PEMBERITAAN
HUKUM CAMBUK GAY DI ACEH
Reni Juliani
Program Studi Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Teuku Umar Meulaboh
Email : [email protected]
Abstrak
Penerapan syariat Islam di Aceh masih memicu pro dan kontra dari berbagai kalangan.
Pelaksanaan hukum cambuk pasangan gay yang terjadi pada tanggal 23 mei 2017 lalu
menjadi isu hangat yang diangkat oleh berbagai media baik media lokal maupun media
asing. Pasangan gay tersebut dikenakan Pasal 63 ayat 1 Qanun Nomor 6 Tahun yang
berbunyi “Setiap orang yang dengan sengaja melakukan Jarimah Liwath diancam dengan
‘Uqubat Ta’zir paling banyak 100 (seratus) kali cambuk atau denda paling banyak 1.000
(seribu) gram emas murni atau penjara paling lama 100 (seratus) bulan.” Pasal tersebut
menjelaskan bahwa hukuman yang terima adalah 100 kali cambuk. Akan tetapi pasangan
gay yang melakukan tindakan asusila tersebut hanya didera hukuman 85 kali cambukan.
Kasus ini merupakan kasus cambuk pasangan gay yang pertama kali terjadi di Aceh. Hal
ini yang menjadi penyebab mengapa media asing sangat menyoroti kasus ini. Stigma pro
terhadap gay dan anti terhadap Islam dibangun. Isu pelanggaran hak asasi manusia dan
hukuman cambuk yang dianggap sebagai bentuk lain dari penyiksaan dijadikan tema
besar di dalam berbagai pemberitaan. Hal tersebut yang melatarbelakangi penelitian ini.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mengapa terjadi pro dan kontra media asing
dalam pemberitaan hukum cambuk pasangan gay di Aceh dan apa saja faktor yang
mempengaruhi sikap media asing sehingga bersikap pro dan kontra dengan pemberitaan
hukum cambuk pasangan gay di Aceh. Metode yang digunakan dalam penelitian ini
adalah metode deskriptif dengan bentuk penelitian kualitatif. Subjek penelitian berupa
beberapa sumber pemberitaan dari media dan beberapa informan. Teknik pengumpulan
data dilakukan dengan wawancara dan dokumentasi. Hasil yang didapat setelah
melakukan wawancara dan dokumentasi adalah ada 2 isu yang membuat media pro dan
kontra terhadap pemberitaan kasus ini yang pertama adalah isu hukum cambuk dan ham,
dan yang kedua adalah isu gay kaum minoritas. Faktor yang mempengaruhinya antara
lain adalah pembedaan sudut pandang baik dari segi budaya, hukum dan ideologi media,
faktor lainnya adalah Islamophobia yang timbul di masyarakat.
Kata Kunci:
Media Asing, Hukum Cambuk, dan Gay.
453
e-Proceeding | COMICOS 2017
Abstract
Implementation of Islamic law in Aceh still triggers the pros and cons of various circles.
The implementation of the caning law of a gay couple that occurred on 23 May 2017
became a hot issue raised by various media both local media and foreign media. The gay
couple was subject to Article 63 paragraph 1 of Qanun No.6 Year 2014 which reads
"Anyone who deliberately commits Jarimah Liwath is threatened with 'Uqubat Ta'zir at
most 100 (one hundred) lashes, or a fine of not more than 1,000 (one thousand) grams
of pure gold, or a maximum of 100 (one hundred) months imprisonment. The article
explains that the penalty to be received is 100 lashes. However, the gay couple who
perform such immoral acts only suffered a sentence of 85 lashes. This case is a case of
whipping gay couples that first occurred in Aceh. This is the reason why foreign media
highly highlight this case. Pro-gay and anti-Islam stigma was built. Issues of human
rights violations and caning punishment that are considered to be other forms of torture
serve as a major theme in various reports. This is what lies behind this research. This
study aims to analyze why there are pros and cons of foreign media in the spreading of
caning law for gay couples in Aceh and what are the factors influencing the attitude of
foreign media that cause them to be pro and contra with the news of whipping of gay
couples in Aceh. A descriptive method with qualitative research form was used in this
reasearch. The subject of this research were some sources of media and some informants.
Data collection techniques were conducted with interviews and documentations. The
results obtained from interviews and documentations are two issues that make the media
pro and contra against the news of this case. The first is the issue of caning and human
rights, and the second is the issue of gay minorities. The factors influencing the attitude
of foreign media are differentiation point of view, both in terms of culture, law and media
ideology and also the factor namely Islamophobia arising in society.
Keyword:
Foreign Media, Caning Law, dan Gay.
PENDAHULUAN
Pembentukan wilayah Islami merupakan tuntutan rakyat Aceh sejak masa
pemerintahan Soekarno. Penerapan Syari’at Islam tersebut baru diaminkan pada masa
SBY dan merupakan salah satu perjanjian dalam MoU Helsinki. Di dalam Nota
Kesepahaman antara Pemerintahan Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka
menjelaskan bahwa Qanun Aceh akan disusun kembali untuk Aceh dengan menghormati
tradisi sejarah dan adat istiadat rakyat Aceh serta mencerminkan kebutuhan hukum
454
e-Proceeding | COMICOS 2017
terkini Aceh. Hal tersebut menegaskan bahwa Aceh berhak menyusun Qanun sesuai
keadaan dan kondisi Aceh.
Syari’at Islam walau sudah beberapa tahun penerapannya tapi masih memicu pro
dan kontra dari berbagai kalangan. Terlebih lagi dengan hukuman yang didera terdakwa
pelanggar syari’ah seperti hukum cambuk. Pada saat ini banyak pihak yang kurang setuju
dengan ditetapkannya hukum cambuk sebagai sebuh hukuman syari’ah. Hukum cambuk
dianggap tidak manusiawi dan melanggar Hak Asasi Manusia.
Kasus pelanggaran syari’ah yang dilakukan oleh pasangan Gay sehingga berakhir
dengan hukuman cambuk pada tanggal 23 mei 2017 lalu menjadi isu hangat yang
diangkat oleh berbagai media baik media lokal maupun media asing. Ada dua isu yang
menjadi focus dalam kasus ini yaitu isu hukum cambuk dan pasangan gay.
Pasangan gay yang diadili oleh Mahkamah Syari’ah tersebut dikenakan Pasal 63
ayat 1 Qanun Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat yang berbunyi “Setiap orang
yang dengan sengaja melakukan Jarimah Liwath diancam dengan ‘Uqubat Ta’zir paling
banyak 100 (seratus) kali cambuk atau denda paling banyak 1.000 (seribu) gram emas
murni atau penjara paling lama 100 (seratus) bulan.” Pasal tersebut menjelaskan bahwa
hukuman yang terima adalah 100 kali cambuk. Akan tetapi pasangan gay yang
melakukan tindakan asusila tersebut hanya didera hukuman 85 kali cambukan.
Qanun Jinayat sudah ditetapkan sejak tahun 2015. Namun kasus hukuman
cambuk terhadap pasangan homoseksual tersebut merupakan kasus yang pertama kali
terjadi di Aceh. Hal ini menjadi penyebab mengapa media asing sangat menyoroti kasus
ini. Salah satu media asing yang meliput pelaksanaan hukuman tersebut adalah BBC.
BBC bahkan membuat video wawancara pendapat LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan
transgender) di Aceh. Video BBC tersebut seakan menegaskan bahwa pasangan gay
455
e-Proceeding | COMICOS 2017
merupakan korban dan penerapan syariat Islam di Aceh dinilai tidak relevan.
Fenomena di atas merupakan konteks penelitian ini, sekaligus menjadi alasan
mengapa penelitian ini harus dibuat. Penelitian ini berjudul “Media Asing Dan Perda
Aceh: Pro Kontra Pemberitaan Hukum Cambuk Gay Di Aceh” dan bertujuan untuk
menganalisis mengapa terjadi pro dan kontra media asing dalam pemberitaan hukum
cambuk pasangan gay di Aceh dan apa saja faktor yang mempengaruhi sikap media asing
sehingga bersikap pro dan kontra dengan pemberitaan hukum cambuk pasangan gay di
Aceh.
Sejarah Syari’at Islam di Aceh
Asal mula masuknya Islam di Aceh dijelaskan di dalam buku Djalil (2010:181)
dengan judul “Peradilan Agama di Aceh.” Sebelum Masehi, Aceh banyak dilalu oleh
pedangang-pedangang dari berbagai negara. Dikarenakan letak wilayahnya yang
strategis, Aceh menjadi pusat perdagangan Asia Tenggara. Pedagang Timur tengah
sebelum melanjutkan perjalananya ke Cina, singgah di Aceh terlebih dahulu. Dajlil
(2010:181) menjelaskan bahwa:
“Abad VI. Abad ini abad kelahiran Islam, pada abad inilah Aceh menjadi
wilayah pertama di Nusantara ini menerima Islam, para sejarawan pada
umumnya menyebutkan bahwa masuknya melalui daerah Peurlak/Pase. Abad
XII. Setelah melalui proses sejarah yang panjang, Aceh menjelma menjadi
sebuah kerajaan Islam, yang kemudian berkembang menjadi sebuah kerajaan
yang maju. Abad XIV. Perkembangan kerajaan Aceh ditandai dengan
dikenalnya Aceh sebagai daerah pusat perkembangan Islam ke seluruh
wilayah Asia Tenggara.”
Setelah berhasil melawan Portugis dan mengusir mereka dari tanah Aceh.
Kerajaan Aceh mulai berdiri dengan dikukuhkannya Sultan Alaidin Ali Mughaiyat Syah
sebagai Sultan pertama Kerajaan Aceh Darussalam dengan ibukota negara Banda Aceh.
456
e-Proceeding | COMICOS 2017
Dalam bukunya yang berjudul “Aceh dalam Perang Mempertahankan Proklamasi
Kemerdekaan 1945-1949 dan Peranan Teuku Hamid Azwar Sebagai Pejuang,” Jakobi
(2004:17) juga menyebutkan bahwa:
“Berdirinya Kerajaan Islam Besar pada masa tersebut sekaligus mendudukkan
Aceh Darussalam menjadi salah satu Kerajaan Islam Besar yang masuk dalam
deretan “Lima Besar Islam”. Pada masanya, Lima Besar Islam ini menjalin
kerja sama ekonomi, politik, militer, dan kebudayaan. Lima Besar Kerajaan
Islam tersebut adalah:
a.
Kerajaan Islam Turki Usmaniyah yang berpusat di Istambul.
b.
Kerajaan Islam Maroko di Afrika Utara.
c.
Kerajaan Islam Isfahan di Timur Tengah.
d.
Kerajaan Islam Agra di Anak Benua India.
e.
Kerajaan Aceh Darussalam di Asia Tenggara.”
Pasca kemerdekaan pada Tahun 1945, masyarakat Aceh ingin wilayahnya
dibentuk peraturan yang bersumber dari agama Islam. pembentukan peraturan mengenai
Syari’at Islam tidak sepenuhnya diaminkan oleh pemerintah. Walaupun pada saat itu izin
mengenai pembentukan Mahkamah Syari’ah telah diberikan oleh Gubernur Sumatera
Utara melalui surat kawat No.189 Tanggal 13 Januari 1947, namun peraturan yang
diizinkan hanya berupa peraturan mengenai peratura-peraturan dalam bidang
kekeluargaan seperti perkara nafkah, perkawinan, perceraian, harta bersama, warisan,
hak pengampunan anak dan sebagainya (Amal dan Panggabean, 2004:20).
Mahkamah Syari’ah yang telah dibentuk sebelumya kembali dikaburkan oleh
pemerintah pada Tahun 1950. Amal dan Panggabean (2004:20) menjelaskan bahwa
Mahkamah Syari’ah dan semua pengadilan swapraja disatukan dalam satu payung
Pengadilan Negeri. Hal ini terjadi setelah dikeluarkannya UU Darurat No.1 Tahun 1950.
Dikarenakan semangat dan impian besar masyarakat Aceh untuk membentuk wilayah
yang berasaskan Islam, Pemerintah di daerah Aceh dan seluruh lini masyarakat
mendesak pemerintah untuk memberikan status Mahkamah Syari’at yang jelas dan pasti.
457
e-Proceeding | COMICOS 2017
Desakan tersebut tidak pernah sehingga pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah
No.29 Tahun 1957 mengenai pembentukan pengadilan agama di seluruh Aceh, termasuk
susunan dan kewenangannya. Namun peraturan tersebut tidak menjadikan hakim-hakim
Pengadilan Agama bisa leluasa dalam memberikan putusannya. Mereka hanya diberi
wewenang dalam putusan bidang kekeluargaan dan warisan, dan hal tersebut baru bisa
dijalankan setelah Pengadilan Agama mengaminkannya.
Berbagai peraturan pemerintah mengenai pembentukan Mahkamah Syari’ah
dikeluarkan. Mulai dari Undang-undang Darurat sampai Peraturan Pemerintah, namun
kebijakan pemerintah tersebut terkesan tidak sepenuh hati. Peraturan yang dikeluarkan
pemerintah tidak menyentuh seluruh peraturan yang ingin ditegakkan oleh masyarakat.
Masyarakat Aceh masih merasa kecewa dengan Pemerintah Republik Indonesia.
Pada masa Gubernur Tgk. Daud Beureueh, Soekarno berjanji untuk mengizinkan Aceh
sebagai wilayah yang memberlakukan Syari’at Islam. Namun janji tersebut
dilanggarkan. Seperti yang diceritakan Abubakar (2002: 26) bahwa:
“Soekarno berulang kali berjanji akan memberikan keluasan kepada Aceh
untuk memberlakukan Syari’at Islam. Tetapi janji tersebut hanya berbentuk
lisan, tidak memiliki kekuatan hukum kuat padahal Tgk. Daud Beureueh
meminta agar janji itu dituliskan, namun Soekarno menjawab sambil berlinang
air mata berkata ‘Apakah Kakanda Daud Beureueh tidak mempercayai saya
lagi?’ Mendengar ungkapan Soekarno, hati Daud Beureueh melunak dan tidak
laki menuntuk janji tertulis.
Pada Tahun 1959, Pemerintah Pusat mengeluarkan Keputusan untuk
menyelesaikan “Peristiwa Aceh” tersebut. Keputusan tersebut adalah Keputusan Perdana
Menteri Republik Indonesia Nomor I/Missi Tahun 1959 dimana keputusan tersebut
memberikan Aceh gelas Daerah Istimewa. Keistimewaan tersebut berupa bidang agama,
pendidikan dan adat (Zamzani, 1970: 322). Sedangkan izin pelaksanaan Syari’at Islam
baru diberikan pada masa reformasi. Dedi Sumardi M.Ag (Bantasyam dan Siddiq,
458
e-Proceeding | COMICOS 2017
2009:41) menjelaskan bahwa pelaksanaan Syari’at Islam ini sesuai dengan UU No.44
Tahun 1999 tentang Keistimewaan Aceh. Selain berasaskan UU No.44 Tahun 1999, izin
pelaksanaan Syari’at Islam juga berdasarkan UU No.18 Tahun 2001. Prof. Dr. Syahrizal
Abbas (Bantasyam dan Siddiq, 2009:63) menjelaskan mengenai pelaksanaan Syari’at
Islam di Aceh bahwa:
“Pelaksanaan Syari’at Islam di Aceh yang dibawa oleh kedua undang-undang
yaitu UU No.44 Tahun 1999 dan UU No.11 Tahun 2006, membawa semangat
formulasi ajaran Islam melalui aturan formal negara yaitu Qanun Aceh.
Melalui Qanun inilah berbagai aturan Syari’at Islam dapat ditegakkan dalam
kehidupan bermasyarakat dan berbangsa di Aceh. Persoalan yang muncul
adalah bagaimana merumuskan materi Qanun yang kuat secara filosofis dan
tidak kering dari semangat sosiologis dari ketentuan Syari’at.”
Sedangkan Qanun Jinayat sendiri baru disahkan pada tahun 2014. Qanun Jinayat
No. 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat ini mulai berlaku pada Tanggal 23 Oktober
2015, setahun setelah disahkannya. Hukum Jinayat ini merupakan hukum pidana yang
memuat ketetuan hukuman cambuk dan rajam. Juga menegaskan pada tindakan yang
melanggar Syari’at seperti zina, maisir, dan banyak lagi termasuk liwath (homoseksual).
Dalam Qanun Jinayat No.6 tahun 2014 Pasal 63 menyebutkan perihal liwath yang
berbunyi sebagai berikut:
1. Setiap Orang yang dengan sengaja melakukan Jarimah Liwath diancam
dengan ‘Uqubat Ta’zir paling banyak 100 (seratus) kali cambuk atau denda
paling banyak 1.000 (seribu) gram emas murni atau penjara paling lama 100
(seratus) bulan.
2. Setiap Orang yang mengulangi perbuatan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) diancam dengan ‘Uqubat Ta’zir cambuk 100 (seratus) kali dan dapat
ditambah dengan denda paling banyak 120 (seratus dua puluh) gram emas
murni dan/atau penjara paling lama 12 (dua belas) bulan
3. Setiap Orang yang melakukan Liwath dengan anak, selain diancam
dengan ‘Uqubat Ta’zir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat ditambah
dengan cambuk paling banyak 100 (seratus) kali atau denda paling banyak
1.000 (seribu) gram emas murni atau penjara paling lama 100 (seratus) bulan.
459
e-Proceeding | COMICOS 2017
Sejarah Gay dan Kaum Nabi Luth
Bila kita mendengar riwayat Nabi Luth (1950-1870 SM), kita teringat kepada
kaum sodom yang diceritakan dalam riwayat tersebut, kaum sodom merupakan kaum
yang melakukan hubungan sesama jenis. Nama sodom diambil dari nama kota besar di
Yordania yaitu Kota Sodom. Bukan hanya di dalam Al-Qur’an yang merupakan kitab
pedoman umat Muslim. Riwayat tentang Nabi Luth dan kaum sodom ini juga diceritakan
dalam kitab agama lain seperti agama Yahudi dan Kristen (Kurniawan, 2015).
Pada masa Nabi Luth. Merajalelanya kaum sodom yang melakukan hubungan
sesama jenis. Mereka tidak takut akan dosa yang mereka lakukan. Karena hal tersebut
Allah murka dan memberikan bencana besar kepada mereka. Seperti yang dijelaskan
Syalaby (2016) bahwa, Kaum sodom mendapatkan azab dari Allah berupa gempa yang
maha dasyat sehingga memusnahkan mereka. Kota sodom dan kaumnya terjun ke Laut
Mati bersamaan dengan Letusan lava dan semburan gas metana akibat gempa bumi
tersebut. Kota Sodom terjungkal dan runtuh, bagian atas kota itu duluan yang terjun ke
dalam laut, Layaknya orang jungkir balik atau terguling, kerap bagian kepala jatuh
duluan, lalu diikuti badan dan kaki. Runtuhnya Kota Sodom beserta kaumnya Allah
kisahkan dengan jelas di dalam Al-Qur’an Surat Huud ayat 82 yang berbunyi ''Maka
tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu (terjungkir balik sehingga)
yang di atas ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar
dengan bertubi-tubi.
Kebangkitan kaum sodom abad ke-21 dimulai dengan dilegalkannya pernikahan
sesama jeni di 30 negara bagian Amerika Serikat dan Kota Washington DC (Kurniawan,
2015). Tahun 2011 menjadi pertanda dosa kaum Nabi Luth akan diwariskan. Brazil
menjadi penggerak peyelewengan ini. Mereka menjadi salah satu yang terdepan,
460
e-Proceeding | COMICOS 2017
pernikahan gay telah disahkan lebih awal daripada Amerika. Amerika mulai melegalkan
pernikahan ini pada tahun 2015 dan kemudian menjalar begitu cepat ke berbagai negara
bagian lainnya. Padahal tahun 1950, tidak ada satu pun negara yang setuju dan
mendukung pernikahan sesama jenis (Hadi, 2016).
Pertanda sudah mencuatnya kaum sodom di Indonesia dengan banyaknya
bermunculan komunitas LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) di kota-kota
besar. Hal ini juga menjadi pertandah bahwa sodom wave telah merambat masuk ke
negara yang penduduknya mayoritas Muslim. Dengan lahirnya komunitas gay di
berbagai sosial media seperti Facebook memudahkan komunitas ini untuk berinteraksi
dengan sesamanya. Mereka bahkan dapat melakukan transaksi seks dengan bebas
melalui sosial media dikarenakan begitu tidak terbatasnya sosial media (Kurniawan,
2015). Setalah munculnya komunitas LGBT, muncul pula Lembaga Sosial Masyarakat
(LSM) yang melindungi kaum tersebut. Aktivis LGBT bermunculan membela hak-hak
mereka. Mereka berjuang melegalkan pernikahan mereka dan menuntut untuk
penyamarataan hak memilih pasangan hidup yang mereka nilai hal ini merupakan
masalah pribadi mereka. Bukan saja di kota-kota besar di Indonesia, polemik ini juga
telah ada di provinsi yang menetapkan peraturan daerah berbasis Islam, Aceh. Walaupun
Aceh adalah wilayah yang menetapkan Syari’at Islam, terdapat beberapa kasus
penyelewengan syari’ah khususnya kasus pasangan gay. Seperti yang terjadi akhir Mei
2017 lalu. Pasangan Gay tersebut dihukum cambuk karena terbukti telah melakukan
pelanggaran syari’ah. Hukum cambuk pada pasangan Gay di Aceh ini merupakan
hukuman cambuk pertama yang dijatuhkan kepada pasangan Gay.
Hukuman Pasangan Gay di Negara Lain
Dalam harian Al-Okaz (Yus, 2007) bahwa, perbuatan homoseksual adalah ilegal
461
e-Proceeding | COMICOS 2017
di Arab Saudi, yang menjatuhkan sanksi keras berdasarkan hukum Islam. Pada Tanggal
2 Oktober 2007, Dua laki-laki di Arab Saudi divonis masing-masing denga tujuh ribu
kali cambukan karena melakukan sodomi. Mereka telah menjalani babak pertama
hukuman mereka di depan umum. Kedua lelaki tersebut mendapat cambukan dalam
jumlah yang tidak diketahui di depan umum, di kota Al-Bahah. Mereka kemudian
dikembalikan ke penjara dan ditahan hingga hukuman mereka selesai seluruhnya.
Djalil (2012:172) menyebutkan bahwa “Pengertian Syari’at Islam menurut
Kerajaan Arab Saudi tidak terbatas pada aturan-aturan yang bersumber pokok dari Alqur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW, tetapi peraturan perundang-undangan yang
dikeluarkan oleh pihak yang berwenang dan tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah
pokok Islam (Syari’at Islam).” Selain hukuman cambuk seperti yang dilakukan di Aceh,
Peradilan Arab Saudi juga memberlakukan Qishash, pemotongan, rajam (Djalil,
2012:170).
Menurut washington Post (Wicaksono dan Alia, 2016) bahwa ada 10 negara yang
memberlakukan hukuman mati untuk pasangan sejenis, baik pasangan sejenis pria
maupun pasangan sejenis wanita. Data yang mereka miliki, kebanyakan negara Islam
yang memberlakukan hukuman tersebut. Pelaksanaan hukuman mati pun cukuo
mengerikan, ada yang dilempari batu sampai mati dan dicambuk sampai mati. 10 negera
tersebut antara lain (Wicaksono dan Alia, 2016):
1. Yaman
Di negara ini ada hukum pidana yang diberlakukan sejak 1994. Dalam hukum
itu, seorang pria yang sudah menikah akan dilempar batu sampai meninggal
jika ternyata gay. Sedangkan pria yang belum menikah akan dicambuk di
bagian wajah atau dipenjara selama satu tahun. Lain halnya dengan wanita
lesbian yang diancam hukuman tujuh tahun penjara.
2. Iran
Iran menganut hukum syariah. Pria yang ketahuan sebagai gay akan dihukum
mati atau dihukum cambuk jika ketahuan berciuman. Sama halnya dengan
lesbian yang juga akan dihukum cambuk.
462
e-Proceeding | COMICOS 2017
3. Irak
Hukum pidana di Irak tidak secara langsung menyebut hukuman bagi
pasangan homoseksual. Namun dari kejadian yang ada, pasangan gay akan
dibunuh oleh militer dan dihukum sampai mati oleh hakim, merujuk pada
hukum syariah.
4. Mauritania
Seorang pria muslim yang menjadi gay akan dihukum lempar batu sampai
mati. Ini tertuang dalam hukum yang ditegaskan sejak 1984. Sedangkan
wanita lesbi akan diancam hukuman penjara.
5. Nigeria
Hukum federal di negara ini mengkelompokkan gay sebagai perilaku
kejahatan yang dapat dihukum penjara. Namun beberapa wilayah di negara itu
telah mengadopsi hukum syariah dan memberlakukan hukuman mati bagi gay.
Bahkan sebuah aturan baru saja diberlakukan pada Januari yang melarang gay
untuk mengadakan pertemuan atau membentuk forum.
6. Qatar
Hukum syariah telah diberlakukan di negara ini, namun hanya untuk pria
muslim yang ketahuan sebagai gay. Mereka bisa dihukum mati jika ketahuan
memiliki orientasi seksual berbeda.
7. Arab Saudi
Hukum syariah sangat ditegaskan di negara ini. Semua perilaku seksual yang
menyimpang akan dihukum mati melalui lempar batu tanpa henti. Sodomi,
gay, atau berhubungan di luar nikah dianggap sebagai kejahatan.
8. Somalia
Hukum pidana akan diberlakukan bagi gay dengan ancaman penjara. Namun
di beberapa wilayah, khususnya di selatan, sudah diberlakukan hukum syariah
dengan ancaman mati.
9. Sudan
Kasus sodomi akan menghadapi hukum cambuk dan penjara di negara ini.
Namun jika terjadi sampai tiga kali dan tersangka tidak juga insaf maka
hukuman mati akan menanti.
10. Uni Emirat Arab
Perangkat hukum di negara ini tidak setuju jika hukum federal disebut sebagai
dasar pemberlakukan hukuman mati bagi homoseksual, atau hanya untuk
pemerkosa. Namun yang jelas, semua kasus seksualitas di luar nikah dilarang
keras.
Media dan Peranananya
Rizki Alfi Syahril (Hasyim, dkk, 2013:125) memberikan sebuah contoh
bagaimana sebuah kondisi dunia pada saat dikuasi oleh media. Sebuah Film yang
merupakan salah satu seri dari film James Bond yang berjudul “Tomorrow Never Dies”
463
e-Proceeding | COMICOS 2017
ini menceritakan tentang bahaya apabila media berhasil memonopoli “kebenaran”, selain
itu media bisa membuat konspirasi besar di dalam pemberitaannya sehingga media
mampu mempengaruhi dan mengendalikan publik. Apabila hal ini terjadi, dunia
sepenuhnya akan ada di tangan media. Rizki (Hasyim, dkk, 2013:125) menambahkan:
“Digambarkan di awal film bagaimana Carver-Raja Media Dunia yang
mampu menjatuhkan pemerintahan dengan sebuah berita-sedang dalam
perayaan atas peluncuran satelit barunya dalam jaringan Grup Media Carver.
Satelit ini tidak hanya dimanfaatkan untuk kepentingan medianya saja, tapi
juga menjadi salah satu alat perang yang digunakan untuk memanipulasi
informasi termasuk informasi militer negara-negara dunia. Di akhir pidatonya
saat peluncuran satelit yang akan mampu menjangkau seluruh umat manusia
di muka bumi ini-kecuali Cina yang menolak menyiarkannya-dia berjanji
untuk memberikan berita tanpa ketakutan dan tendensi, berjuang untuk
kebaikan dunia, melawan ketidakadilan, ketidakpedulian, memerangi
ketidakmanusiaan. Tapi apa dinyana, Carver bukan orang yang jujur dan
menepati kata-katanya. Dia juga adalah seorang penjahat yang baru saja
membuat aksi kekacauan di Laut Cina Selatan yang memantik konfrontasi
pihak Inggris dan Cina. Carver memiliko koran, majalah, buku, film, TV,
radio, online, dan dengan kekuasaannya dia mampu meletupkan sebuah isu
sehingga menjadi ‘besar’ dengan sokongan medianya”
Begitu besarnya peranan media di dalam kehidupan masyarakat dunia. Oleh
sebab itu sudah selayaknya dan sepatutnya media harus menjadi sumber kepercayaan
masyarakat mengenai informasi sehingga kehidupan masyarakat menjadi lebih baik lagi.
Media menjadi watch dog (anjing penjaga) bagi pemerintah dan masyarakat. Di
Indonesia sendiri, begitu tinggi posisi media. Media dijadikan salah satu pilar demokrasi.
Media merupakan pilar ke-empatnya. Dengan kata lain, demokrasi ada apabila
ditegakkannya media atau pers. Syam (2016: 28) menyebutkan bahwa:
“Disebabkan anjing penjaga mempunyai kekuatan untuk menggonggong
apabila terdapat kesalahan, maka terkadang ada kecenderungan anjing penjaga
di bawah peliharaan para pemodal, atau kalau diinterpretasi ulang, anjing
penjaga yang sudah dipelihara para majikan pemilik modal. Kalau hal ini dapat
terjadi, maka sangat sulit untuk diharapkan dapat menjalankan fungsinya
sebagai anjing pengawas yang selalu mengawasi terhadap para yang membuat
kesalahan dalam masyarakat baik dalam aspek politik, ekonomi maupun
sosial. Pers yang demikian, dalam berfungsi sebagai watch dog dalam
464
e-Proceeding | COMICOS 2017
kenyataan sudah diikat kakinya dan dijinakkan gonggongannya. Betapapun,
anjing biasanya sangat paham dengan tuannya. Ia tak akan menggonggong
apalagi mengginggit tuannya, walaupun mungkin tuannya melakukan
tindakan yang mencurigakan. Ia hanya menggonggomg orang asing yang tidak
begitu dikenalnya. Ini terjadi mengingat pers sudah terjadi tumpang tindih
dalam kepemilikan. Pers sudah mulai dimiliki oleh penguasa yang juga
sekaligus terjun sebagai politisi. Sebagian dari mereka sadar dengan kekuatan
media yang dapat dimanfaatkan untuk meraih keuntungan politis. Dalam
keadaan demikian, sangat sulit bisa diharapkan media massa dapat menjadi
anjing penjaga yang galak terhadap kekuasaan.”
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan bentuk penelitian
kualitatif. Penelitian deskriptif yaitu penelitian yang berusaha untuk memecahkan
masalah-masalah dengan menuturkannya berdasarkan atas data-data. Subjek penelitian
berupa beberapa sumber pemberitaan dari media dan beberapa orang informan. Untuk
mendapat data yang tepat, maka diperlukan informan yang tepat dan berkompeten dalam
bidang tertentu yang sesuai dengan penelitian yang dilakukan peneliti. Purposive
Sampling digunakan untuk menentukan informan mana yang akan diwawancara. Yang
dianggap memenuhi kriteria dalam penelitian ini antara lain:
1. Dr. Hamdani M.Syam, M.A., Pakar Komunikasi Kajian Media (Informan 1)
2. Davi Abdullah, Wartawan Kompas (Informan 2)
3. Rizki Alfi Syahril, salah satu penulis Buku Wajah Syari’at Islam di Media
(Informan 3)
4. Hartoyo, Pimpinan LSM LGBT Ourvoice (Informan 4)
5. Nanda Riva J, Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Sumatera
Utara (Informan 5)
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan dokumentasi.
Sedangkan untuk teknik analisis data dengan cara dianalisis secara kualitatif kemudian
465
e-Proceeding | COMICOS 2017
diuraikan dalam bentuk deskriptif.
PEMBAHASAN
Kronologi Kasus Pasangan Gay
Dalam media berita online baranewsaceh.com, Iyan (2017) menjelaskan
kronologis penggrebekan pasangan Gay di Aceh. Kasus ini bermula dari
kecurigaan warga atas gerak gerik MT, pria asal Sumatera Utara dan MH, pria
asal Jeunieb Kabupaten Bireun. Kecurigaan ini lebih kepada MT yang berperilaku
seperti wanita (waria). Pada awalnya, warga tidak begitu curiga terhadap
keduanya. Dikarenakan kerap bergonta-ganti pasangan dan selalu mengajak
teman prianya bermalam, kecurigan masyarakat semakin menjadi sehingga diambil
keputusan untuk melakukan penggerebekan ke rumah indekos di Dusun Silang Desa
Rukoh, Darussalam, Kota Banda Aceh. Dari penggerebekan tersebut didapati kedua pria
tersebut terlanjang dan beberapa barang bukti berhasil diamankan. Barang bukti tersebut
antara lain:
1. My Baby ( Pelicin)
2. Celana dalam 2
3. Kondom Baru 3
4 Kondom yg sudah terpakai 1
5 Tisu 2 lbr
6. HP Xiaomi 1
7 Dompet 2
Selanjutnya kedua pelaku dan Barang bukti di serahkan ke Komandan Operasi
Wilayatul Hisbah untuk diproses. Setelah MT dan MH mengaku bersalah dan dinilai
466
e-Proceeding | COMICOS 2017
terbukti melakukan perbuatan yang melanggar ketentuan Qanun Nomor 6 Tahun 2014
tentang Hukum Jinayat. Hakim memutuskan hukuman untuk pasangan Gay ini.
Keduanya dijatuhi hukuman cambuk sebanyak 85 kali.
Pemberitaan Media Asing Terkait Hukum Cambuk Gay di Aceh
1. The Sun (Media Berita Inggris)
Dalam pemberitaannya dengan judul “caned for the crowd: two gay men whipped
in front of large crowds taking selfies after being caught in bed together in indonesia,”
The Sun menyebutkan bahwa hukum cambuk merupakan barbaric punishment. The Sun
memberikan penjelasan pada gambar yang diliputnya dengan kalimat “Thousands filled
the square to watch the barbaric punishment” (Charlton, 2017).
Sumber : Charlton (2017)
2. Belfast Telegraph (Media Berita Inggris)
Two men caned in Indonesia for gay sex merupakan judul besar dari berita yang
dipublikasikan oleh Belfast Telegraph (belfasttelegraph.co.uk, 2017) yang membahas
467
e-Proceeding | COMICOS 2017
mengenai kejadian kasus pecambukan pasangan gay di Aceh. Di dalam pemberitaannya,
media berita Inggris ini terkesan kontra terhadap keputusan Pemerintahan Provinsi Aceh
yang mengadili kedua pasangan gay yang melanggar syari’at Islam dengan hukuman
cambuk sebanyak 85 kali. Belfast Telegraph menyebutkan bahwa hukuman cambuk
tersebut adalah sebuah bentuk penyiksaan abad pertengahan. Pernyataan tersebut
berbunyi “The punishment was denounced by rights advocates as "medieval torture" and
intensifies an anti-gay backlash in the world's most populous Muslim country.”
3. Transkrip Video BBC (Media Berita Inggris)
Pada tanggal 23 Mei 2017, sebuah situs berita online bbc.com merilis video
berjudul “Pencambukan gay di Aceh berlangsung dalam sorakan”. Video berdurasi
lebih dari 1 menit tersebut dibuat oleh Rebecca Henschke dan Oki Budhi, wartawatan
BBC Indonesia yang melihat secara langsung proses hukum cambuk pasangan gay di
Banda Aceh. Berikut transkrip video (Henschke dan Budhi, 2017) yang beredar di media
sosial:
Mereka (pasangan gay) dipermalukan di depan publik dengan 82 kali
cambukan karena didakwa melakukan hubungan sesama jenis. Mereka
adalah gay pertama yang ditindak dengan hukum syariah di aceh. Lalu
bagaimana kaum LGBT di Aceh menanggapinya?
Aktivis gay di Aceh : Tentu sangat takut karena itu bisa saja terjadi sama
saya. Untungnya pasangan saya memang tidak di sini. Saya merasa tidak
berdosa karena itu adalah urusan privasi saya. Dengan agama saya dan
dengan Tuhan saya. Selama saya tidak menyakiti orang, tidak memakimaki orang, tidak memfitnah orang, tidak mengambil hak orang, saya
merasa itu semua tidak dosa.
Tapi Wali Kota Banda Aceh tegas mengusir LGBT.
Wali Kota Banda Aceh : Saya ingin menyelamatkan generasi ini. Kita
bayangkan apabila dunia ini menjadi sesama jenis semua dan penyakit itu
akan hadir, timbul dan sebagainya. Kita tidak membenci orangnya, yang
tidak kita senangi adalah perbuatannya.
468
e-Proceeding | COMICOS 2017
Video tersebut sempat beredar di banyak media sosial sehingga menjadi
pembicaraan khusus. Hal ini dikarenakan video ini memperlihatkan wawancara secara
khusus kelompok LGBT di Aceh yang mengatakan keberatan dengan keputusan
pemerintah Aceh untuk mencambuk pasangan gay yang ditangkap oleh Wilayatul
Hisbah. Mereka menganggap hal tersebut merupakan upaya merenggut hak-hak mereka
selaku manusia yang ingin diperlakukan sama seperti manusia lainnya.
Selain wawancara dengan kelompok LGBT Aceh, di akhir video singkat tersebut
ada cuplikan sekilas wawancara Wali Kota Banda Aceh. Di dalam video tersebut Wali
Kota menjelaskan kegelisahannya akan genereasi muda berikutnya. Beliau menjelaskan
bahwa beliau ingin menghindari generasi mudanya akan penyakit yang timbul karena
hubungan sesama jenis.
Video BBC ini terkesan kontra terhadap keputusan pemerintah Aceh. Dilihat dari
kata-kata yang digunaka seperti kata “mengusir” untuk menggambarkan bahwa Wali
Kota Banda Aceh membenci kaum Gay dan tidak ingin ada kaum Gay yang tinggal di
wilayahnya. Padahal ditekankan oleh Wali Kota di semua wawancara yang dilakukannya
bahwa beliau tidak membenci orangnya tapi perbuatannya.
Dari kelima informan yang Penulis wawancarai, mereka sepakat mengatakan
bahwa alasan mengapa adanya media yang pro dan kontra terhadap hukum cambuk
kepada pasangan gay di Aceh adalah karena menyinggung isu HAM dan kaum minoritas.
Informan 3 menekankan bahwa:
“Terutama karena fenomena Gay atau LGBT secara umum sedang naik
isunya, dan khususnya setelah ada beberapa negara melegalkan LGBT dan
pernikahan sejenis serta PBB (cek lagi di google) juga menganggap LGBT
sebagai minoritas atau orang-orang terpinggirkan/terdiskriminasi. Sampai
sekarang di beberapa daerah ada IDAHOT (International Day Against
Homophobia Transphobia and Biphobia). Isunya ada 2:
469
e-Proceeding | COMICOS 2017
1. Rupanya ada gay di Aceh (isu orang Aceh bukan orang normal saja
(normal dalam artian menyukai lawan jenis).
2. Cambuk/syariat Islam di Aceh. “
Faktor yang menjadikan media menjadi tidak berpihak terhadap keputusan
Pemerintahan Provinsi Aceh untuk mencambuk pasangan gay yang melanggar syari’at
juga dikemukana oleh Informan 1, yaitu:
“Dalam aspek pemberitaan selalu bersinggungan dengan asas/ ideologi dari
media tersebut. Kalau media tersebut menganut asas liberal, tentunya
mereka akan menentang mengenai penerapan hukum cambuk terhadap
kaum gay. Asas liberal tersebut semua manusia sama di dunia ini. Tidak
ada perbedaan kaum gay atau bukan. Kemudian ada juga media yang pro,
itu dapat dilihat dari asas/ ideologi dari media juga.”
Informan 2 menambahkan bahwa dalam situasi ini tidak layak disebut dengan pro
dan kontra media terhadap pemberitaan hukum cambuk pasangan gay di Aceh, melaikan
media mempunyai sudut pandangnya masing-masing sehingga hasil dari berita yang
mereka tulis akan berbeda. Namun untuk 5W+1H dalam semua pemberitaan adalah
sama. Yang membedakan adalah sudut pandang. Sama halnya seperti yang dikatan
Informan 4 “Media berbeda ideologinya. Berbeda angle dan beda pendekatan, beda cara
ambil berita dan mungkin juga beda narasumber. Jadi karena beda-beda semuanya, ya
jelaslah hasil beritanya juga beda.”
Dalam menanggapi kasus ini, Informan 5 menyatakan bahwa faktor yang
membuat pemberitaan hukum cambuk pasangan gay di Aceh itu kontra karena yang
memberitakan adalah media barat. Menurutnya media tersebut memang sudah dikenal
tidak pro terhadap Islam. Media barat bahkan berperan penting dalam lahirnya
Islamophobia di masyarakat. Ia menambahkan bahwa:
“Hal yang perlu untuk kita pahami yaitu pada dasarnya budaya kita di Aceh
dengan budaya mereka di Barat memang berbeda. Di Aceh hukum Syari’at
Islam memang sudah diterapkan dari dahulu, bahkan itu juga yang menjadi
pertimbangan untuk bergabung dengan negara ini. Oleh sebab itu tidak heran
470
e-Proceeding | COMICOS 2017
kalau hukum syari’at Islam berlaku untuk perkara seperti ini, disamping aspekaspek lain dalam kehidupan juga disesuikan dengan Syari’at Islam. Selain itu,
dari segi agama dan pemahaman tentang Tuhan juga berbeda antara kita
masyarakat Aceh dengan media barat disana. Mungkin bagi mereka hukuman
cambuk itu bukan hukuman yang pantas karena masalah orientasi seksual
termasuk ke dalam ranah privat dan tidak berhak untuk ikut campur.”
Informan 5 sangat setuju dengan hukum cambuk pasangan gay. Baginya “Gay
merupakan suatu penyakit yang harus dibasmi, karena diharamkan dari sisi agama,
ancamannya juga berat, bahkan laknat Allah bisa turun karena hal ini”. Pandangan
mengenai ini sangat bertentengan dengan apa yang dikatan Informan 4. Menurutnya:
“Saya tidak setuju pasangan gay dihukum, baik itu di penjara maupun
dicambuk. apakah menghukum orang dengan cara mencabuk di depan publik,
kemudian orang-orang menertawakan dan mengucilkan serta memberikan
sanksi sosial, apakah itu pelanggaran HAM atau tidak? Apakah itu sesuai
ajaran Islam atau tidak? apalagi ada penyiksaan selama ditahanan. Apakah
itu pelanggaran HAM atau apakah itu ajaran Islam?”
Untuk menghindari Pro dan Kontra terhadap penerapan Syari’at Islam. Informan
2 menyarankan agar Aceh khususnya Pemerintah Provinsi Aceh untuk meniru Perjanjian
Madinah yang telah disepakati Internasional sehingga ke depan apabila ada pergolakan
atau adanya protes terhadap penerapan Syari’at Islam, maka Pemerintah Provinsi Aceh
dapat berpegang pada kesepakan Internasional tersebut.
Pro dan Kontra Media Asing terhadap Pemberitaan Hukum Cambuk Pasangan Gay
di Aceh
Dari hasil yang telah dipaparkan di atas dapat kita lihat bahwa yang menjadikan
media asing pro dan kontra terhadap pemberitaan huku cambuk pasangan gay di Aceh
dikarenakan 2 isu sensitif yang berkaitan dengan kasus tersebut. Isu tersebut antara lain
adalah:
471
e-Proceeding | COMICOS 2017
1. Hukum Cambuk dan HAM
Alyasa’ Abu Bakar (Yani, 2011: 181) penulis artikel “Syariat Islam jangan
Bertentangan dengan HAM”, Alyasa‘ menyatakan bahwa Ia setuju dengan hukuman
cambuk, menurutnya “Semua hukuman adalah derita, yang menurut filosof Eropa,
penderitaan paling berat adalah kehilangan kemerdekaan. Logikanya karena hak asasi
paling dasar adalah kebebasan, maka hukuman cambuk yang diterapkan adalah yang
lebih ringan dan yang agak jauh dari pelanggaran HAM.”
Segala peraturan Syari’at Islam di Aceh telah disesuaikan dengan hukum Islam
yang menjadi landasannya, hukum yang berlaku di Indonesia dan juga hukum Hak Asasi
Manusia. Hal tersebut agar penerapan Syari’at Islam tidak bertentangan dengan Hukumhukum lainnya yang ada di Indonesia (Yani, 2011:204). Yani (2011:204) juga
menambahkan bahwa:
“Bukan hanya di Aceh, penerapan hukum Jinayat dalam Islam didukung
konsep HAM yang telah disahkan dalam Deklarsi Universal Hak-hak Asasi
Manusia Menurut Islam (DIUHR) 1981 dan Deklarasi Kairo (CDHRI) 1990—
yang menyatakan bahwa penerapan syariat Islam di dunia dapat disesuaikan
dengan penafsiran fiqh berbagai mazhab yang ada dalam Islam menurut
kondisi dan situasi umat Islam berada, (tak terkecuali di Aceh-Indonesia).
Menurut Hukum Islam dan konsep HAM Islam, menghukum orang yang
bersalah bukan bertujuan untuk menyiksa mereka secara tidak manusiawi dan
merendahkan martabatnya. Namun merupakan balasan atas kesalahan yang ia
lakukan, di samping merupakan salah satu cara taubah (permohonan
ampunan/penyesalan dari dosanya), bila dilakukan dengan suka rela. Tujuan
Hukum Islam adalah untuk mencegah kriminalitas—(kesalahan) yang sama—
dilakukan oleh umat Islam yang lain.”
Prof. Syahrizal, staf pengajar IAIN Ar Raniry Banda Aceh (Bantasyam dan
Siddiq, 2009: 140) menyatakan bahwa: “ Terkait dengan urusan hak asasi manusia,
penerapan hukum Islam di Aceh dipandang oleh sebagian kalangan di Aceh tidak
472
e-Proceeding | COMICOS 2017
melanggar HAM. Penerapan hukum Syari’at Islam bukan untuk menghukum orang, akan
tetapi pada prinsipnya justru melindungi, menjaga keamanan dan ketertiban semua
orang.”
Seperti hasil wawancara Warsidi (2017), wartawan tempo.co dengan berbagai
tokoh menjelaskan bahwa mereka sangat mendukung pelaksanaan hukum cambuk
terhadap pasangan gay tersebut. Menurut mereka hukuman tersebut tidak melanggar
HAM dan sudah sesuai dengan aturan-aturan di dalam qanun. Berikut kutipan
wawancara mereka:
“’Kasus cambuk untuk gay adalah yang pertama kali di Aceh, sejak hukum
cambuk diberlakukan pada 2003 silam.Hukum cambuk sendiri diatur dalam
Qanun Hukum Jinayat, yang juga mengacu kepada Al Quran dan hadist.
Masyarakat luar mungkin merasa asing, karena di luar tidak diatur tentang
hukuman yang seperti ini. Kalau ada yang bilang melanggar HAM, saya
mengajak semua pihak bisa saling menghargai proses hukuman cambuk,
karena yang dilakukan tersebut sesuai dengan aturan dalam hukum’ Kata
Yusnardi. Sementara itu, Tgk Abdul Gani Isa dari dari Majelis
Permusyawaratan Ulama (MPU) Kota Banda Aceh mengatakan bahwa
‘hukuman cambuk berdasarkan azas pembelajaran yang terkandung dalam
Qanun Aceh, persuasif dan mendidik semua orang. Tidak bertentangan dengan
HAM. Hukuman juga dilaksanakan secara terbuka dan melalui proses
pengadilan. Bahkan saat prosesi hukuman cambuk dilakukan, mereka
didampingi jaksa dan tim medis, sesuai dengan aturan yang dibakukan dalam
qanun.’”
Beda halnya bila kita membicarakan Konsep Hak Asasi Manusia (HAM) PBB
yang memiliki perbedaan yang signifikan dengan aturan-aturan Jinayah. Walaupun
mempuyai perbedaan yang besar, hadirnya HAM PBB memberikan peranan penting di
dalam kehidupan manusia. Kesadaran akan hak-hak dasar seorang manusia meningkat.
Manusia berhak bebas dari rasa takut, intimidasi dari pihak lain, penyiksaan dan segala
bentuk hak yang merampas kemerdekaan seorang manusia (Yani, 2011:205)
2. Gay sebagai Kaum Minoritas
Gay merupaka kaum minoritas di Indonesia. Kaum ini termasuk dalam komunitas
LGBT (Lesbi, Gay, Biseks dan TransGender). Akhir-akhir ini, isu LGBT merupakan isu
473
e-Proceeding | COMICOS 2017
yang tengah panas-panasnya. Berbagai pihak ada yang menolak dan ada juga pihak yang
menjadi pembela. Banyak kalangan yang menolak berasal dari ormas Islam yang
menuntuk agar tidak terulangnya dosa-dosa kaum nabi Luth di muka bumi ini.
Sedangkan pembela kaum LBGT kebanyak berasal dari aktivis-aktivis LBGT, HAM dan
juga dari pemerintah negara-negara yang mendukung adanya komunitas ini. Nurdin
(2016) menjelaskan bahwa:
“Dalam kondisi minoritas, kaum gay memposisikan diri sebagai orang-orang
yang dizalimi. Berharap perhatian dan dihargai. Kata mereka, keluarga dan
masyarakat telah memperlakukan mereka tidak adil. Datanglah pembelaan
dari aktivis HAM (Hak Asasi Manusia). Para aktivis kemanusiaan yang tidak
mengenal fitrah manusia. Mereka membela siapa saja, kecuali umat Islam.
Islam tetap konsisten, kebenaran tidak diukur oleh jumlah. Yang banyak bisa
jadi benar, bisa pula berlaku zalim. Yang sedikit bisa saja berpegang teguh
dengan kebenaran, dan belum tentu pula selalu benar. Kebenaran adalah apa
yang sesuai dengan Alquran dan Sunnah Rasulullah.”
Fitriana (2016) mengaitkan LGBT dan media. Ia menerangkan bahwa media
massa sangat berperan dalam penyebaran isu-isu mengenai LGBT. Media mempunyai
andil besar dalam pencitraan kaum minoritas ini.Media bahkan bisa mempengaruhi
seseorang baik dari segi kognis, afeksi maupun konatifnya. Fitriana (2016) menjelaskan
bahwa:
“Media massa dapat membentuk pencitraan tertentu dari suatu peristiwa atau
suatu kelompok dan dipahami sebagai kebenaran atau kesalahan yang umum
dalam masyarakat. Simbol-simbol atau istilah yang terus menerus diulang
menciptakan citra tersendiri tentang sesuatu di mata masyarakat. Pencitraan
yang sudah begitu melekat dalam benak masyarakat ini kemudian berkembang
menjadi stereotype atau biasa kita sebut sebagai judjing (lebeling). Pada
mulanya media massa menggambarkan dan memberi stereotipe sehingga isu
yang berkembang di masyarakat Indonesia dan dunia adalah mengenai kaum
LGBT yang dianggap menyimpang dari norma, kenyataannya saat ini media
massa tak lagi seperti itu, media massa justru mengekspos kaum-kaum tersebut
dari sisi positif mereka. Kaum ini dipandang sebagai kaum yang ”benar”
bukan lagi menyimpang. Media tidak pernah memberitakan sisi negatife
mereka karena media tidak memiliki hak menjelekan atau mengeksploitasi
kaum tertentu.“
474
e-Proceeding | COMICOS 2017
Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap media asing sehingga bersikap pro dan
kontra dengan pemberitaan hukum cambuk pasangan gay di Aceh.
1. Berbeda sudut pandang
Banyak faktor yang menjadikan seseorang berbeda dalam memandang suatu
kasus dan peristiwa. Salah satu yang menyebabkan mereka berbeda adalah dikarenakan
mereka mempunyai latar belakang budaya, hokum dan ideology yang berbeda.
Berbeda Budaya dan Hukum
Budaya dan hokum tidak bisa dipisahkan dalam tatanan bermasyarakat. Hukum
dibuat berdasarkan budaya masyarakat setempat guna kenyaman dalam hidup
bermasyarakat. Karena tercipta berdasarkan budaya yang ada di masyarakat, hal tersebut
merupakan alasan yang membuat hokum di suatu Negara berbeda dengan Negara
lainnya. Makmur (2015:4-7) menjelaskan bahwa:
“Hukum pada dasarnya tidak hanya sekedar rumusan hitam di atas putih
saja sebagaimana yang dituangkan dalam berbagai bentuk peraturan
perundang-undangan, tetapi hendaknya hukum dilihat sebagai suatu gejala
yang dapat diamati dalam kehidupan masyarakat melalui pola tingkah laku
warganya. Hal ini berarti hukum sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor non
hukum seperti : nilai, sikap, dan pandangan masyarakat yang biasa disebut
dengan kultur/budaya hukum. Adanya kultur/budaya hukum inilah yang
menyebabkan perbedaan penegakan hukum di antara masyarakat yang satu
dengan masyarakat lainnya. Berkaitan dengan hal tersebut, ada 3 persoalan
mendasar tentang kultur/budaya hukum yaitu: Persoalan yang pertama
adalah persoalan yang berkaitan dengan hukum sebagai suatu sistem,
dimana hukum itu dinilai dari 2 sisi yang berbeda yaitu: Persoalan kedua
adalah persoalan tentang fungsi hukum kaitannya dengan pengaruh budaya
hukum. Persoalan ketiga adalah peranan kultur/budaya hukum terhadap
bekerjanya hukum, ini berarti menyangkut bagaimana cara pembinaan
kesadaran hukum.”
Ideologi Media
Ideologi terkait dengan kerangka berfikir tertentu. Ideologi media biasanya
mengarah kepada kerangka berfikir yang telah ditentukan dan harus sesuai dengan
475
e-Proceeding | COMICOS 2017
kepentingan media tersebut. Syam (2016:105) menyebutkan bahwa “Bisnis media dan
ideologi media/pers sesungguhnya tidak pernah sejalan. Keduanya, memiliki
kepentingan yang tidak dapat diseiringkan. Di satu sisi, bisnis media berkepentingan
meraih keuntungan ekonomis sebesar-besarnya. Maka, informasi atas sebuah fakta
diperlakukan sebagai komoditas yang harus bernilai jual.”
Pemberitaan yang dipublikasikan oleh media tidak serta merta adalah sebuah
kebenaran. Menurut Schramm (Syam, 2016: 106) bahwa “Berita bukan peristiwa itu
sendiri. Hal ini terkait dengan ideologi media. Seperti halnya pemberitaan media Barat
tentang Islam. Mereka mempunya sudut pandang tersendiri menanggapi kasus hukum
cambuk pasangan gay di Aceh. Begitu juga dari sudut pandang pemerintah. Pemerintah
Provinsi Aceh merasa keputusannya adalah benar, bahwa pasangan gay tersebut harus
dihukum cambuk. Berbeda sudut pandang dipengaruhi oleh ideologi yang mereka
gunakan. Syam (2016: 107) menambahkan bahwa:
“Sebagai sebuah kerangka peristiwa yang telah direkonstruksi, tentu, berita
dapat memiliki kepentingan sendiri, meski tetap merupakan kepentingan
ekonomis. Berita- walaupun telah berdasarkan prinsip dasar dan Kode Etik
Jurnalistik - tetap dapat disesuaikan atau diselaraskan dengan kepentingan
pemilik modal atau pemilik bisnis media. Makna sebenarnya, hasil liputan atau
berita yang dibuat oleh jurnalis terbuka ruang untuk disesuikan dengan
kepentingan manapun, terutama kepentingan industri media sendiri. Para
jurnalis hanya bagian kecil dari seluruh struktur sosial yang lebih besar.
Struktur sosial di luar jurnalis itu dapat begitu kuat memengaruhi seluruh isis
berita media massa.”
2. Islamophobia
Bagi orang awam, istilah Islamophobia masih asing di telinga. Namun
Islamophobia merupakan isu genting mengenai Islam di banyak negara di dunia.
Islamophobia merupakan ketakutan (phobia) akan Islam. Sama halnya ketika seseorang
phobia terhadap sesuatu, Ia akan menghindari dan anti terhadap apa yang diakutinya.
476
e-Proceeding | COMICOS 2017
Begitu juga dengan Islamophobia. Seseorang yang sudah phobia akan Islam, Ia akan anti
segala sesuatu yang berkaitan dengan islam.
Christoper Allen dari University of Birmingham (Zarkasi, 2017: 15) telah
merangkum dari beberapa sumber mengenai definisi Islamophobia.
“Islamophobia might be: defined as: any ideology or pattern of thought and/or
behaviour in which (Muslims) are excluded from positions, right, possibilities
in (part of) society because of their believed or actual Islamic Background.
(Muslim) are positioned and treated as (imagined/real) representatives of
Islam in general or (imagined/real) Islamic groups instead of theircapacities
as individuals.”
Pernyataan dari Christoper juga diterjemah oleh Zarkasi (2017:15) ke dalam
bahasa Indonesia. Berikut terjemahannya:
“Islamophobia dapat didefinisikan sebagai ideologi atau pola pikir dan/atau
sikap terhadap Muslim dalam masyarakat karena keyakinan atau latar
belakang Islamterkini. Dalam hai ini semua umat Islam (Muslim) diposisikan
dan diperlakukan sebagai representasi dari Islam secara umum atau kelompok
Islam tertentu, bukan sebagai Muslim secara individu-individu.”
Banyaknya media yang mempublikasi sisi negatif mengenai Islam akan
menimbulkan kebencian terhadap Islam. Pemberitaan tersebut biasa bersifat propaganda
pemahaman yang salah terhadap nilai-nilai Islam. Seperti yang dikemukakan oleh Jasafat
(2014: 195) bahwa “Perkembangan teknologi media interaktif seperti internet turut di
jadikan medium yang menggambarkan image Islam yang negatif. Terdapat berbagai
laman web yang mencoba mengelirukan umat Islam. Islam terusmenerus dilabelkan
sebagai teroris, fundamentalis, militan dan segala aktivitas yang negatif.”
Hal tersebut di atas akan menjadi penyebab terbesar meningkatkannya
Islamophobia di kalangan non-muslim dikarenakan apa yang mereka pahami dari media
tentang Islam adalah wajah buruk Islam yang dilakukan oknum “Islam” dan
477
e-Proceeding | COMICOS 2017
mengatasnamakan agama Islam. Oleh karenanya adanya berita yang berimbang di media.
Pemberitaan terkait Islam berwajah ramah perlu ditingkatkan terlebih lagi bagi mediamedia Islam. Apabila tidak ada kerjasama untuk membangun citra positif Islam di mata
dunia. Maka wajah Islam akan digambarkan oleh media barat yang seperti kita ketahui
lebih mengedepankan pemberitaan yang propaganda terhadap Islam. Awiyat (2009:41)
menambahkan bahwa:
“Melalui kekuatan media massa yang dikuasainya, Barat menjadikan Islam
sebagai sasaran berbagai propaganda negatif. Sejumlah pejabat Barat secara
terang-terangan mengumumkan bahwa mereka akan merencanakan untuk
meng-Eropakan Islam atau akan menciptakan Islam yang berhaluan Eropa.
Untuk mencapai tujuan ini, mereka berusaha menampilkan wajah Islam yang
kasar dan kejam. Pemerintah Barat melancarkan berbagai politik dan
propaganda yang terpadu untuk menampilkan wajah Islam yang salah seperti
ini. Perlindungan atas kelompok-kelompok atau sebagian negara yang
menerapkan Islam secara salah, dilakukan oleh negara-negara Barat untuk
kemudian diperalat dalam mendukung citra Islam yang sedang mereka
bangun. Sementara itu, negara-negara Islam yang maju dan mengamalkan
nilai-nilai Islam secara benar justru difitnah dan dicitrakan buruk.”
Islamophobia tidak hanya disebabkan oleh oknum “Islam” yang melakukan
tindakan tidak terpuji seperti aksi teror yang mengatasnamakan Islam. Kehadiran istilah
Islamophobia juga dikarenakan oleh Barat sendiri. Oleh sebab itu, Dalal Alshammari
memberikan beberapa gambaran Islamophobia dari perspektif non-muslim (Fadhlia dan
Nizmi, 2014: 6) antara lain:
1. Islam menggambarkan budaya yang monolitik, dan tidak dapat menerima
realitas yang muncul di masyarakat.
2. Agama Islam memiliki nilai-nilai budaya yang sangat berbeda dengan
agama dan budaya lainnya.
3. Oleh Barat, Islam dianggap lebih rendah, memiliki perilaku barbar, kuno,
dan relatif tidak rasional,
4. Agama Islam mendukung terorisme dan kekerasan dalam masyarakat.
5. Dalam politik, Islam memakai ideologi kekerasan.
478
e-Proceeding | COMICOS 2017
PENUTUP
Dari apa yang telah dijelaskan maka dapat disimpulkan bahwa, ada 2 isu yang
menimbulkan pro dan kontra media dalam pemberitaan hukum cambuk pasangan gay di
Aceh, yaitu: yang pertama adalah isu hukum cambuk dan ham, dan yang kedua adalah
isu gay kaum minoritas. Selain ditemukannya alasan, penelitian ini juga menemukan
faktor yang mempengaruhinya antara lain adalah pembedaan sudut pandang baik dari
segi budaya, hukum dan ideologi media, faktor lainnya adalah Islamophobia yang timbul
di masyarakat.
Mengingat kasus pro dan kontra media dalam pemberitaan hukum cambuk
pasangan gay di Aceh, Penulis ingin menegaskan bahwa peraturan tentang pelanggaran
Syari’at Islam telah ada di Aceh. Pelaksanaan Syari’at Islam di Aceh berbeda dengan
negara-negara lainnya. Hal ini dikarenakan peraturan yang dibuat disesuaikan dengan
kondisi wilayah dan masyarakat setempat. Pro dan Kontra dalam pemberitaan media bisa
saja terjadi. Namun dalam pemberitaan haruslah berimbang sehingga tidak terkesan
berita yang dibuat hanya untuk kepentingan sebagian kalangan semata.
Setelah melakukan penelitian mengenai pro dan kontra media asing dalam
pemberitaannya terhadap kasus hukum cambuk pasangan gay, maka penulis memberikan
beberapa saran antara lain:
1. Penulis mengharapkan pemerintah akan lebih terbuka lagi terhadap media
khususya media asing dan apabila terjadi perbedaan pendapat di dalam
pemberitaan media, sudah sepatutnya Pemerintah mengklarifikasikan
pemberitaan tersebut.
2. Penulis mengharapkan apabila memang ingin Syari’at ini dijalankan secara
kaffah, maka ada baiknya pemerintah meneliti bagaimana Perjanjian
479
e-Proceeding | COMICOS 2017
Madinah yang telah disepakati Internasional itu dibuat sehingga Pemerintah
Provinsi Aceh bisa mencontoh langkah-langkah yang dilakukan Pemerintah
Madinah.
3. Penulis mengharapkan kepada kaum LGBT untuk menghormati hukum yang
telah ada di Aceh. Karena penetapan Syari’at Islam merupakan impian
masyarakat Aceh dari dulu. Oleh sebab itu dimana bumi dipijak, disitulah
langit dijunjung.
4. Penulis juga menyarankan kepada masyarakat untuk tidak menghukum kaum
LGBT secara massal, karena hukum dan punishment telah ada. Jadi selaku
masyarakat bila menemui kesalahan da nada pelanggaran hukum untuk
menghubungi pihak yang berwenang. Jangan main hakim sendiri.
480
e-Proceeding | COMICOS 2017
DAFTAR RUJUKAN
Buku
Abubakar, Al Yasa’. (2002). Pelaksanaan Syari’at Islam: Sejarah dan Prospek. Dalam
Safwan Idris, dkk. Syari’at Islam di Wilayah Syari’at: Pernak-pernik Islam di
Nanggroe Aceh Darussalam. Banda Aceh: Dinas Syari’at Islam NAD.
Amal, Taufik Adnan dan Panggabean, Samsu Rizal. (2004). Politik Syari’at Islam: Dari
Indonesia hingga Nigeria. Jakarta: Pustaka Alvabet.
Bantasyam, Saifuddin dan Siddiq, Muhammad (ed). (2009). Aceh Madani dalam
Wacana: Format Ideal Implementasi Syari’at Islam di Aceh. Banda Aceh: Aceh
Justice Resource Center (AJRC).
Djalil, Basiq. (2010). Peradilan Agama di Indonesia. Jakarta: Kencana Prenada Media
Group.
---------------. (2012). Peradilan Islam. Jakarta: Amzah.
Hasyim, Ansari, dkk. (2013). Wajah Syari’at Islam di Media. Banda Aceh: Aliansi
Jurnalis Independen.
Jakobi, A.K. (2004). Aceh dalam Perang Mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan
1945-1949 dan Peranan Teuku Hamid Azwar Sebagai Pejuang. Jakarta:
Grametika Pustaka Utama.
Syam, Hamdani M. (2016). Jurnalisme Damai: Memahami Pemberitaan di Daerah
Konflik. Yogyakarta: Samudra Biru (Anggota IKAPI)
Yani, Muhammad. (2011). Pelaksanaan Hukum Jinayat di Aceh dalam Perspektif
Hukum dan HAM: Studi Qanun Nomor 12, 13, dan 14 Tahun 2003. Banten: Isdar
Press.
Penelitian dan Perundang-undangan
Awiyat, Anggid. (2009). Propaganda Barat terhadap Islam dalam Film: Studi tentang
Makna, Simbol dan Pesan Film “Fitnah” Menggunakan Analisis Semiologi
Komunikasi (Skripsi Sarjana Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta). Diakses Tanggal 01 Juli 2017,
dari
https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad
=rja&uact=8&ved=0ahUKEwj5k_fQs4_VAhUINJQKHZCqA9UQFgglMAA&
url=https%3A%2F%2Feprints.uns.ac.id%2F2249%2F1%2F9941020920090912
1.pdf&usg=AFQjCNHEHjf0NcssqlFlPnZYD_DZtyMmiw
Fadhlia, Wentiza dan Nizmi, Yusnarida Eka. (2014). Upaya ICNA (Islamic Circle of
481
e-Proceeding | COMICOS 2017
North America) dalam Melawan Islamophobia di Amerika Serikat. Jom FISIP, 2
(1), 1-15.
Jasafat. (2014). Distoris terhadap Islam: Analisis Pemberitaan Media Barat. Jurnal
Ilmiah Peuradeun, 2 (2). 191-210.
Makmur, Syafrudin. (2015). Budaya Hukum dalam Masyarakat Multikultural. SALAM:
Jurnal Sosial dan Budaya Syar'i, 2 (2). 1-34.
Qanun Aceh No. 6 tahun 2014 tentang Hukum Jinayah.
Zarkasi, Ahmad. (2017). Islamophobia dalam Film 3: Alif, Lam, Min (Skripsi Sarjana
Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Usuluddin dan Pemikiran
Islam. Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta). Diakses Tanggal
01 Juli 2017, dari http://digilib.uin-suka.ac.id/25285/
Website dan Berita
Belfast Telegraph Digital: Two Men Caned in Indonesia for Gay Sex. Diakses Tanggal
05 Juni 2017, dari http://www.belfasttelegraph.co.uk/news/world-news/twomen-caned-in-indonesia-for-gay-sex-35744936.html edisi 23/05/2017
Charlton, Corey. (2017). CANED FOR THE CROWD: Two gay men WHIPPED in front
of large crowds taking selfies after being caught in bed together in Indonesia.
Diakses
Tanggal
20
Juni
2017,
dari
https://www.thesun.co.uk/news/3631226/indonesia-gay-men-whipped-crowdscaught-in-bed-together/
Fitriana, Lia. (2016). Ketika Kaum Minoritas Menjadi Sorotan Media Massa. Diakses
Tanggal 03 Juli 2017, dari http://www.kompasiana.com/liafitriana/ketika-kaumminoritas-menjadi-sorotan-media-massa_54f94f6da3331178178b4974
Hadi, Nurfitri. (2016). Pelajaran dari Kisah Nabi Luth Ketika Kaum Gay Mayoritas.
Diakses Tanggal 21 Juni 2017, dari http://kisahmuslim.com/5428-pelajaran-darikisah-nabi-luth-ketika-kaum-gay-mayoritas.html
Henschke, Rebecca dan Budho, Oki. (2017). Pencambukan gay di Aceh berlangsung
dalam
sorakan.
Diakses
Tanggal
03
Juni
2017,
dari
www.bbc.com/indonesia/indonesia-40009560
Iyan. (2017). Berhubungan Intim Sesama Jenis, Dua Pria Diamankan Warga
Darussalam Banda Aceh. Diakses Tanggal 22 Juni 2017, dari
http://baranewsaceh.co/2017/03/29/berhubungan-intim-sesama-jenis-dua-priadiamankan-warga-darussalam-banda-aceh/
Kurniawan, Hasan. (2015). Kebangkitan Kaum Sodom dan Kehancuran Umat Nabi Luth.
Diakses
Tanggal
22
Juni
2017,
dari
https://ramadan.sindonews.com/read/1020757/70/kebangkitan-kaum-sodom482
e-Proceeding | COMICOS 2017
dan-kehancuran-umat-nabi-luth-1436180683/52
Nurdin, Ihan (ed). (2016). Pelajaran dari Kisan Nabi Luth Ketika Kaum Gay Mayoritas.
Diakses Tanggal 30 Juni 2017, dari http://portalsatu.com/read/oase/pelajarandari-kisah-nabi-luth-ketika-kaum-gay-mayoritas-8700
Syalaby, Achmad. (2016). Kisah Nabi Luth, Saat Allah Mengazab Kaum Gay. Diakses
Tanggal 21 Juni 2017, dari http://www.republika.co.id/berita/duniaislam/khazanah/16/01/18/o11trr394-kisah-nabi-luth-saat-allah-mengazab-kaumgay
Warsidi, Adi. (2017). Kepala Polisi Syariah Banda Aceh: Hukuman Cambuk Tak
Langgar
HAM.
Diakses
Tanggal
5
Juni
2017,
dari
https://nasional.tempo.co/read/news/2017/05/23/063878011/kepala-polisisyariah-banda-aceh-hukuman-cambuk-tak-langgar-ham
Wicaksono, Bayu Adi dan Alia, Siti Sarifah. (2016). 10 Negara yang Berlakukan Hukum
Mati Mengerikan Bagi LGBT. Diakses Tanggal 03 Juli 2017, dari
http://m.viva.co.id/amp/berita/dunia/784733-10-negara-yang-berlakukanhukum-mati-mengerikan-bagi-lgbt/2
Yus. (2007). Akibat Sodomi, Dua Pria Saudi Dicambuk 7.000 Kali. Diakses Tanggal 03
Juli
2017,
dari
https://www.google.co.id/amp/s/m.liputan6.com/amp/183752/akibat-sodomidua-pria-arab-saudi-dicambuk-7000-kali
483
e-Proceeding | COMICOS 2017
484
e-Proceeding | COMICOS 2017
TRADISI MENYILAQ SEBAGAI KEARIFAN KOMUNIKASI KOMUNITAS
ADAT BAYAN DI KABUPATEN LOMBOK UTARA
Kadri
Abstrak
Bayan adalah salah satu komunitas adat yang menyebar di beberapa wilayah yang ada di kaki
gunung Rinjani Lombok provinsi Nusa Tenggara Barat. Komunitas adat yang secara
administratif tercatat sebagai warga kecamatan Bayan kabupaten Lombok Utara ini memiliki
tatanan sosial dan budaya tersendiri, yang dalam batas-batas tertentu berbeda dengan suku Sasak
Lombok. Dalam kehidupan sosial, masyarakat adat Bayan sudah diatur dalam tatanan sosial adat
yang senantiasa taat dan tunduk pada aturan-aturan adat yang dipimpin oleh para pemangku.
Sedangkan dalam pranata religius keagamaan, komunitas adat Bayan selalu tunduk pada kiai
yang memimpin urusan keagamaan. Sebagai komunitas adat, Bayan memiliki tradisi dan ritual
khas yang membedakannya dengan komunitas adat atau masyarakat umum lainnya. Dalam
proses ritual adat Bayan ditemukan banyak kearifan komunikasi, salah satunya adalah tradisi
menyilaq. Tradisi atau ritual menyilaq dilakukan dengan cara mendatangi warga adat untuk
menginformasikan dan mengundang mereka dalam kegiatan atau ritual adat. Tradisi menyilaq
dilakukan oleh Lang Lang ke Pebenkel dan hal yang sama juga dilakukan Pebenkel kepada
masyarakat adat Bayan. Menyilaq merupakan bentuk lain dari sosialisasi kegiatan adat kepada
anggota komunitas yang dilakukan dengan dua cara yaitu sosialisasi top down pasif dan
sosialisasi top down aktif. Lewat tradisi menyilaq komunitas adat Bayan menunjukkan
konsistensinya dalam mempertahankan tradisi penyampaian informasi secara langsung di tengah
gencarnya gempuran teknologi komunikasi yang mudah, cepat dan praktis. Tradisi ini sebagai
media silaturahim langsung yang mereka anggap sebagai bentuk penghormatan dan silaturahim
yang paling baik sehingga ikatan kekeluargaan di antara anggota komunitas terus terbangun.
Menyilaq juga merupakan perwujudan dari komunikasi efektif karena di dalamnya berlangsung
personal contact dan terjadi immediate feedback di saat face to face communication terjadi. Lebih
dari itu, tradisi menyilaq tidak hanya menyampaikan isi pesan tetapi juga membangun hubungan
baik di antara anggota komunitas adat sehingga kehidupan mereka terlihat tentram.
Kata Kunci: komunitas adat Bayan, ritual adat, menyilaq, kearifan komunikasi
Pluralitas bangsa Indonesia antara lain dilihat dari keragaman sosial dan budaya
yang dimilikinya. Jaspan (dalam Soejono, 1983:40) mencatat tidak kurang dari 366 suku
yang mendiami wilayah Indonesia. 30 suku di antaranya berada di wilayah Nusa
Tenggara. Sasak merupakan adalah salah satu suku asli dan mayoritas yang mendiami
pulau Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB), tempat dimana komunitas adat Bayan
berada.
Secara administratif, masyarakat adat Bayan mendiami beberapa desa yang
berada di kecamatan Bayan kabupaten Lombok Utara seperti Karang Bajo, Gumantar
485
e-Proceeding | COMICOS 2017
dan Akar-Akar. Komunitas adat Bayan memiliki tatanan sosial dan budaya tersendiri
yang dalam batas-batas tertentu berbeda dengan suku Sasak pada umumnya. Dalam hal
bahasa misalnya, masyarakat adat Bayan menggunakan bahasa Sasak dengan dialek
Kuto Kute. Dalam konteks pemerintahan adat, komunitas adat Bayan dipimpin oleh
seorang mekel, yang menjalankan dan mengkoordinasikan tugas yang berkaitan dengan
pemerintahan adat.
Dalam kehidupan sosial, masyarakat adat Bayan sudah diatur dalam tatanan
sosial adat yang senantiasa taat dan tunduk pada aturan-aturan adat yang dipimpin oleh
para pemangku. Sedangkan dalam pranata religius keagamaan, komunitas yang
berdomisili di wilayah Utara pulau Lombok ini senantiasa tunduk pada kiai yang
memimpin hal-hal yang terkait di bidang keagamaan.
Terdapat beberapa ritual adat dan agama yang dilakukan komunitas adat Bayan,
di antaranya adalah ritual mauled adat, ritual lebaran adat, Gawe Alip, dan Lohoran.
Kegiatan ritual adat tersebut hanya digelar di wilayah komunitas adat, atau yang dikenal
dengan sebutan wet dalam bahasa setempat. Wet Bayan adalah wet paling besar yang
meliputi beberapa komunitas adat seperti Bayan, Senaru, Loloan, Semokan, Segenter.
Pergelaran ritual adat Bayan yang berlangsung di beberapa wet seperti wet Bayan, wet
Sesait, Semokan, dan juga di masjid kuno Gumantar, prosesinya pada dasarnya sama.
Wet Bayan adalah salah satu pusat kegiatan ritaual adat, tepatnya di desa Karang
Bajo yang merupakan desa hasil pemekaran dari desa Bayan. Sebagai salah satu pusat
perayaan ritual adat Bayan, desa Karang Bajo dan dusun Semokan ramai didatangi
komunitas adat menjelang perayaan maulid. Biasanya mereka datang membawa aneka
bahan makanan sembari mengenakan pakaian adat. Mereka datang membawa hasil bumi,
ternak berupa ayam dan kambing. Semua bahan itu dikumpulkan di dalam kompleks
kampu.
Salah satu realitas komunikasi khas dalam proses ritual adat Bayan adalah tradisi
“menyilaq”. Budaya menyilaq merupakan tradisi yang biasa dilakukan oleh komunitas
adat Bayan yang ditandai dengan kehadiran secara fisik pihak berhajat ke rumah kerabat
untuk menyampaikan informasi sekaligus mengundang kerabatnya untuk menghadiri
hajatan yang diselenggarakan oleh sohibul hajjah. Tradisi ini secara konsisten dilakukan
oleh komunitas adat Bayan dalam setiap pesta atau ritual adat mereka seperti perayaan
maulid adat Bayan.
486
e-Proceeding | COMICOS 2017
Menyilaq merupakan fenomena komunikasi khas komunitas adat Bayan yang
menarik untuk dikaji dengan perspektif komunikasi, terutama komunikasi intrabudaya.
Tradisi menyilaq dalam konteks komunikasi
dapat dikategorikan sebagai bentuk
manajemen komunikasi berbasis kearifan lokal. Disebut manajemen komunikasi karena
di dalamnya ada standar prosedur beracara yang telah turun terumun dilakukan oleh
komunitas adat Bayan. Lewat tradisi menyilaq komunitas adat Bayan menunjukkan
konsistensinya dalam mempertahankan tradisi penyampaian informasi di tengah
gencarnya gempuran teknologi komunikasi yang mudah, cepat dan praktis. Konsistensi
seperti ini bukan tanpa alasan dan pasti memiliki landasan filosofis dan sarat akan
pemaknaan dari komunitas adat Bayan.
Fenomena unik tersebut akan lebih maksimal terungkap bila dieksplorasi dengan
pendekatan yang khas, yakni studi etnografi komunikasi, yakni suatu pendekatan yang
secara khusus mengkaji tentang pengorganisasi bertutur manusia, termasuk di dalamnya
mencakup situasi, peristiwa, dan tindakan serta pola komunikasi kelompok tertentu
dalam suatu komunitas (Ibrahim, 1994:310). Tulisan ini mengelaborasi latar dan makna
tradisi menyilaq sebagai bagian dari manajemen informasi komunitas adat Bayan dalam
menjalankan tradisi Maulid Adat.
Kajian Pustaka dan Landasan Teoritis
Mengkaji realitas komunikasi dalam ritual religious dan budaya seperti pada
maulid adat Bayan akan selalu menarik. Di dalamnya akan terungkap kearifan
komunikasi sosial yang bersumber dari tradisi turun temurun komunitas adat Bayan.
Ritual adat suatu komunitas acap kali sarat akan nilai-nilai sosial yang begitu arif yang
sangat mungkin dapat menginspirasi kehidupan masyarakat kontemporer. Dalam
penelitian Andung (2010) misalnya terungkap kearifan komunikasi masyarakat adat
Boti. Riset berjudul “Komunikasi Ritual Natoni Masyarakat Adat Boti Dalam di Nusa
Tenggara Timur” menemukan bagaimana cara suku tersebut melakukan ritual
komunikasi, dimana suku Boti masih menggunakan natoni sebagai media komunikasi
tradisional mereka. Media tersebut digunakan secara lisan dalam bentuk puisi tradisional
di acara formal sekalipun.
Ritual juga menjadi tradisi turun temurun yang memiliki makna bagi kehidupan
setiap generasi dalam satu komunitas adat. Lebih dari itu, setiap ritual yang diyakini dan
487
e-Proceeding | COMICOS 2017
dilakoni suatu komunitas selalu menyertakan makna. Simbol-simbol dalam ritual antara
lain mengandung makna tentang jati diri komunitas. Penelitian Widyatwati (2013)
tentang Ritual “Kliwonan” bagi Masyarakat Batang, misalnya mengungkap sifat luwes
dan modern dari masyarakat Jawa lewat ritual tersebut.
Suatu ritual seperti maulid adat Bayan sarat akan makna simbolik yang telah lama
tertanam dalam diri setiap anggota komunitas karena diwariskan secara turun temurun
dari generasi ke generasi. Tradisi menyilaq yang merupakan bagian dari ritual mauled
adat Bayan misalnya merupakan tradisi yang terus diwariskan oleh komunitas adat setiap
ritual adat digelar. Pewarisan nilai baik seperti menyilaq dilakukan lewat proses
komunikasi. Gorden (dalam Mulyana, 2001:5-30) menyebut fungsi ritual sebagai salah
satu fungsi komunikasi.
Fungsi ritual dalam komunikasi sebagaimana dijelaskan di atas berintikan bahwa
dalam setiap ritual yang dilaksanakan oleh setiap manusia selalu menggunakan
komunikasi sebagai alatnya. Sebaliknya, seorang berkomunikasi untuk memenuhi
kebutuhan dirinya sebagai manusia sosial yang terikat dengan prosesi ritual-ritual
tertentu berdasarkan agama atau budaya yang dianutnya, sebab tanpa berkomunikasi
(verbal maupun nonverbal) yang bersangkutan tidak bisa melakoni ritual tersebut.
Tradisi menyilaq merupakan ritual yang mensyaratkan kehadiran dan pertemuan
antara individu dengan individu yang lainnya. Dalam konteks komunikasi, tradisi
menyilaq merupakan bentuk komunikasi interpersonal. Salah satu keampuhan atau
kelebihan komunikasi interpersonal menurut (Effendy, 2003:62) antara lain karena
terjadi komunikasi tatap muka di dalamnya (face to face communication). Di dalam
komunikasi tatap muka terjadi kontak pribadi (personal contact). Di samping itu,
komunikasi interpersonal juga dapat memperoleh feedback verbal dan nonverbal secara
langsung (immediate feedback).
Setiap komunikasi yang berlangsung selama proses menyilaq senantiasa
menyertakan simbol-simbol bermakna yang dipertukarkan dan ditafsirkan oleh masingmasing anggota komunitas adat yang terlibat dalam ritual menyilaq. Cara berkomunikasi
seperti ini secara teoritis dapat dijelaskan oleh teori interaksi simbolik-nya George
Herbert Mead (Mulyana, 2002). Teori interkasi memandang aktivitas manusia sebagai
suatu perilaku khas berupa komunikasi dengan menggunakan (pertukaran) simbol.
Kehidupan sosial dalam pandangan kaum interaksi simbolik dimaknai sebagai
488
e-Proceeding | COMICOS 2017
suatu interaksi manusia dengan menggunakan simbol, di mana simbol tersebut selalu
digunakan manusia untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesamanya. Di dalam
interaksi tersebut juga terjadi upaya saling mendefinisi dan menginterpretasi antara
tindakan yang satu dengan yang lainnya. Cara seperti ini dilakukan oleh komunitas adat
Bayan yang terlibat dalam ritual menyilaq, di mana mereka saling memaknai dan
menerjemahkan symbol di antara mereka.
Pesan-pesan komunikasi non-verbal banyak disampaikan secara simbolik, di
mana proses interpretasi yang menjadi penengah antara pesan dan tanggapan menempati
posisi kunci dalam teori interaksi simbolik. Individu atau unit-unit tindakan yang terdiri
atas sekumpulan orang tertentu, saling menyesuaikan atau saling mencocokkan tindakan
mereka satu sama lain melalui proses interpretasi (Ritzer, 1992: 62).
Menelusuri fenomena komunikasi (khususnya dalam ritual adat seperti menyilaq)
pada komunitas adat Bayan selalu sarat dengan symbol-simbol bermakna yang
digunakan oleh setiap individu dalam berinterkasi dengan komunitasnya. Komunitas
adat Bayan diasumsikan sebagai individu-individu sadar dalam melakukan dan
memaknai setiap pesan yang mereka komunikasikan, termasuk di saat mereka memberi
dan menerima informasi.
Metode Penelitian
Penelitian ini menjadikan individu-individu yang berasal dari komunitas adat
bayan sebagai subjek penelitian. Penentuannya berdasarkan purposive sampling. Bogdan
& Taylor (1993:163) menyatakan informan dipilih secara purposif dengan
mempertimbangkan: Pertama, subjek yang mau menerima kehadiran peneliti secara
lebih baik dibanding dengan yang lainnya. Kedua, kemampuan dan kemauan mereka
untuk mengutarakan pengalaman masa lalu dan masa sekarang. Ketiga siapa saja yang
dianggap memiliki memiliki pengalaman khusus, seperti keterlibatan dalam ritual adat
Bayan.
Objek dalam penelitian ini adalah simbol dan perilaku sosial, dan perilaku lainnya
yang digunakan dan ditafsirkan oleh komunitas adat Bayan. Objek penelitian dalam studi
ini adalah simbol verbal dan nonverbal yang digunakan oleh komunitas adat Bayan
selama ritual adat seperti tradisi menyilaq dilakukan. Simbol dan lambang tersebut akan
489
e-Proceeding | COMICOS 2017
ditelusuri maknanya, menurut pandangan subyektif para komunitas adat Bayan itu
sendiri.
Penelitian ini berlangsung di wilayah komunitas adat Bayan. Karena penyebaran
komunitas adat yang begitu luas, maka peneliti menetapkan dua desa sebagai sampel
lokasi penelitian ini, yakni desa Bayan dan desa Sukadana. Kedua desa ini berada di
kecamatan Bayan kabupaten Lombok Utara Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan tradisi penelitian etnografi komunikasi.
Creswell (1998:14) menyatakan penelitian kualitatif adalah penelitian yang latar tempat dan
waktunya alamiah. Peneliti merupakan instrumen pengumpul data dan kemudian data
dianalisisnya secara induktif untuk menjelaskan proses yang diteliti secara ekspresif. Penelitian
kualitatif ini menggunakan tradisi penelitian etnografi komunikasi, yakni suatu pendekatan yang
secara khusus mengkaji tentang pengorganisasi bertutur manusia, termasuk di dalamnya
mencakup situasi, peristiwa, dan tindakan serta pola komunikasi kelompok tertentu dalam suatu
komunitas (Ibrahim, 1994:310).
Sumber data utama dalam penelitian kualitatif menurut Lofland (dalam Moleong,
2000:112) adalah berasal dari kata-kata dan tindakan. Penelitian ini pun menjadikan
pernyataan (ungkapan) dan tindakan sadar komunitas adat Bayan sebagai sumber data
utamanya. Untuk mengumpulkan data dan informasi yang terkait dengan penelitian ini,
digunakan tiga teknik pengumpulan data, yaitu pengamatan berperan serta, wawancara
mendalam (In-depth interview), dan studi dokumentasi.
Data dianalisis menggunakan tiga tahap analisis yaitu reduksi data, penyajian
(display) data, dan penarikan kesimpulan serta verifikasi. Untuk menguji keabsahan data
atau kesimpulan dari hasil verifikasi diperlukan pemeriksaan ulang terhadap data yang
telah terkumpul dengan cara ketekunan pengamatan, triangulasi, dan pengecekan sejawat
melalui diskusi.
Profil Komunitas dan Kampung Tradisional Adat Bayan
Profil komunitas dan kampong tradisional adat Bayan yang dideskripsikan adalah
dusun Semokan. Untuk mencapai atau memasuki dusun Semokan tidaklah mudah.
Peneliti harus melakukan perjalan jauh yang berawal dari kota Mataram menuju
kecamatan Bayan (kecamatan yang berada di ujung Utara Kabupaten Lombok Utara).
Akses jalan menuju kampung adat/tradisional Semokan tidak bisa dilalui oleh kendaraan
490
e-Proceeding | COMICOS 2017
roda empat. melanjutkan perjalanan ke dusun Semokan dengan menggunakan sepeda
motor melewati jalan yang menanjak ke wilayah gunung dan turun ke wilayah lembah.
Dusun Semokan Desa Sukadana merupakan perkampungan kecil yang dihuni
oleh masyarakat adat yang konsep hidupnya masih sangat sederhana dan memegang
teguh nilai adat istiadat yang mereka warisi dari nenek moyang mereka. Perkampungan
ini jauh dari keramaian sebab letaknya yang berada di sekitar paha Gunung Rinjani.
Dusun Semokan terletak sekitar 7 km dari pusat Desa Sukadana atau sekitar 18
km dari ibu kota Kecamatan Bayan atau sekitar 108 km dari ibu kota Lombok Utara.
Jalan menuju Dusun Semokan sebagian sudah diaspal sehingga kita dapat mengunjungi
dusun itu dengan perjalanan menggunakan sepeda motor. Kehidupan masyarakat Dusun
Semokan sangat sederhana dan unik dengan norma-norma adat yang kuat.
Masyarakat Dusun Semokan hanya diperbolehkan menanam padi, jarak, dan
sayur-sayuran, mereka tidak diperbolehkan menanam atau membudidayakan selain
tanaman itu. Selain itu mereka hanya boleh memelihara Kerbau, Kambing, dan Ayam,
mereka tidak boleh memelihara hewan lainnya. Pada saat-saat tertentu mereka akan
mengadakan perburuan di sekitar wilayah Gunung Rinjani.
Peralatan hidup yang mereka gunakan juga masih sangat tradisional, peralatan
rumah tangga yang mereka gunakan hanya terbuat dari bahan tanah liat sebab aturan adat
mereka tidak memperbolehkan warga kampung untuk menggunakan peralatan-peralatan
modern yang terbuat dari bahan logam. Sebagai alat penerangan, masyarakat setempat
hanya menggunakan Jojor (lampu yang mereka buat dari bahan jarak dan kapas).
Sehari-hari masyarakat setempat berpakaian dengan pakaian adat dan uniknya
mereka tidak boleh menggunakan celana dalam dan BH bagi warga perempuannya.
Suasana kampung yang dikelilingi oleh hutan belantara sangat nyaman dan damai, tidak
ada hiruk pikuk dan polusi. Perkampungan ini cukup nyaman sebagai tempat berekreasi
dan membuang pengap dari hiruk pikuk kehidupan kota yang memusingkan kepala. Suhu
udara di dusun ini berkisar antara 28 hingga 30 ºC.
Dusun Semokan hanya dihuni oleh komunitas adat yang berjumlah 16 Kepala
Keluarga. Di perkampungan ini tidak terdapat konstruksi rumah modern sebab
masyarakat Dusun Semokan sangat menjaga kelestarian arsitektur tradisional yang
mereka warisi dari nenek moyang mereka. Semua warga kampung membangun rumah
dengan konstruksi Bale Mengina yang semua perabotnya terbuat dari bahan alami.
491
e-Proceeding | COMICOS 2017
Masyarakat Desa Semokan memiliki kebun adat yang mereka pagari dengan
potongan-potongan bambo setinggi 2 meter. Kebun adat itu hanya berukuran 1 are (100
m2). Tanah tersebut hanya ditanami salak yang dikelola dengan system adat dan apabila
salak itu berbuah, maka setiap warga diperbolehkan untuk memetiknya setelah mendapat
izin dari Amaq Lokak (tetua adat). Di tengah-tengah perkampungan terdapat sebuah
sumur tua yang airnya cukup jernih dan di sebelah sumur itu ditaruh sebuah
bong/gentong (tempat air yang terbuat dari bahan tanah liat). Sumur inilah yang dijadikan
sebagai sumber air bersih bagi setiap warga kampung.
Di tengah-tengah perkampungan Dusun Semokan terdapat sebuah Masjid Kuno
yang bentuknya sangat unik. Masjid Kuno ini disebut dengan Masjid Kuno Semokan.
Masjid ini dijadikan sebagai pusat pelaksanaan Tradisi Adat Gama masyarakat Desa
Sukadana dan Desa Akar-Akar. Perlu diketahui bahwa Masjid Kuno Semokan
merupakan masjid kuno yang keberadaannya lebih awal dari Masjid Kuno Bayan dan di
masjid ini juga dilaksanakan ritual Adat Gama seperti Maulid Adat, Lebaran Adat, Gawe
Alip, dan Lohoran. Masjid ini dijaga oleh seorang Kiyai Mudim yang ditunjuk oleh warga
berdasarkan garis keturunnya. Di depan masjid terhapar halaman yang ditumbuhi oleh
rumput (gegaba) yang hijau. Rumput itu terhampar di atas tanah seluas 1,5 are.
Hamparan rumput ini memperindah suasan kampung dan di atas rumput inilah anak-anak
warga Dusun Semokan menghabiskan waktunya untuk bermain dengan kawankawannya.
Hal unik yang berlaku dalam kehidupan masyarakat Dusun semokan adalah tidak
diperbolehkannya setiap anggota masyarakat setempat untuk mendapatkan pendidikan
atau dengan kata lain, setiap warga Dusun Semokan tidak diperbolehkan bersekolah
sehingga sampai saat ini belum ada masyarakat setempat yang menikmati pendidikan
formal mulai dari SD hingga perguruan tinggi. Hal inilah yang kemudian menyebabkan
tradisi dan sistem kehidupan masyarakat setempat yang sangat tradisional tidak berubah
meskipun oleh perkembangan zaman.
Dusun Semokan adalah salah satu perkampungan yang sangat unik di wilayah
Kecamatan Bayan dan bahkan di wilayah Lombok Utara. Masyarakat setempat sungguh
luar biasa dalam mempertahankan konsep hidup tradisional dan berpegang teguh kepada
norma-norma adat yang mereka warisi dari nenek moyang mereka. Keunikan bentuk
bangunan tradisional, suasana hutan yang rindang, dan gaya hidup tradisional yang
492
e-Proceeding | COMICOS 2017
dimiliki oleh masyarakat Dusun Semokan adalah pesona wisata yang sungguh
menakjubkan. Perlu juga diketahui bahwa setiap pengunjung yang hendak memasuki
Dusun Semokan diharuskan memakai pakaian adat/tradisional. Jika pengunjung tidak
mengikuti ketentuan itu maka kehadiran mereka tidak akan diterima oleh warga
setempat.
Menyilaq sebagai Kearifan Komunikasi Komunitas Adat Bayan
Menyilaq adalah bahasa Sasak yang berarti mendatangi seseorang untuk
menyampaikan
sesuatu
maksud
atau
mengundang
secara
langsung
dengan
menyampaikan secara lisan kepada orang yang akan diundang. Menyilaq dalam konteks
ritual adat Bayan merupakan bentuk sosialisasi atau menginformasikan kepada seluruh
komunitas adat yang tersebar di beberapa wilayah Bayan perihal waktu pelaksanaan
ritual. Berdasarkan pengamatan peneliti dan pengakuan dari pemangku adat Bayan,
proses sosialisasi kegiatan ritual adat Bayan dilakukan dengan dua proses, yaitu;
Pertama, pemangku adat yang ada di pusat adat memanggil perwakilan adat
yang ada disetiap wilayah adat untuk menginformasikan rencana kegiatan yang
selanjutnya perwakilan yang dipanggil meneruskan informasi kepada seluruh warga.
Cara dan proses sosialisasi seperti ini, penulis menyebutnya dengan proses sosialisasi
top down pasif.
Kedua, pemangku adat yang ada di pusat adat mengutus orang tertentu untuk
mendatangi pemangku adat yang ada di setiap wilayah untuk membawa informasi yang
terkait dengan rencana pelaksanaan ritual. Selanjutnya perwakilan yang didatangi itulah
yang akan meneruskan informasi kepada seluruh warga. Cara dan proses seperti ini yang
penulis sebut dengan proses sosialisasi top down aktif. Tradisi menyilaq dilakukan
dalam dua proses sosialisasi kegiatan ritual adat Bayan.
Menyilaq dan Proses Sosialisasi Top Down Pasif
Nama dan istilah ini (proses sosialisasi top down pasif) tepat untuk
merepresentasikan proses sosialisasi kegiatan ritual adat kepada masyarakat adat Bayan
yang tersebar di seluruh wilayah Bayan dan sekitarnya. Meskipun seluruh proses
sosialisasi dilakukan secara top down, namun tidak semua dilakukan secara aktif oleh
para pemangku adat yang ada di pusat adat Bayan. Ukuran pasif dan aktif dalam hal ini
493
e-Proceeding | COMICOS 2017
dilihat dari tingkat partisipasi pemangku adat dan jajarannya untuk mensosialisasikan
atau menyebarkan informasi tentang pelaksanaan ritual adat kepada masyarakat.
Sebagaimana yang telah dijelaskan secara sepintas sebelumnya bahwa proses
sosialisasi top down pasif ini dilakukan oleh pemangku adat secara pasif. Disebut pasif
karena pemangku dan jajarannya yang ada di pusat adat hanya memanggil pemangku
adat yang ada di setiap perwakilan atau pebenkelan untuk dijelaskan dan melanjutkan
informasi terkait dengan pelaksanaan ritual adat, baik ritual budaya maupun ritual agama.
Menurut pemangku adat Bayan, Karyadi
bahwa terkadang pemangku
memanggil pebenkel yang ada di wilayah lain untuk datang agar bisa diinformasikan
perihal kegiatan adat yang akan dilaksanakan. Pernyataan pemangku adat tersebut
selengkapnya dapat dikutip sebagai berikut:
Biasanya kalau kami ingin melaksanakan acara adat seperti maulud adat atau acara
turun ton atau turun balet atau lebaran adat kami merencanakannya dulu dengan
pemangku yang ada di sini (Bayan dan Karang Bajo, pen.), kemudian kami terkadang
memanggil setiap pebenkelan untuk datang kemari agar bisa kami sampaikan tentang
rencana acara. Tujuannya agar setelah mereka kembali ke wilayahnya masingmasing bisa meneruskan informasi tersebut kepada seluruh masyarakat. (Karyadi,
wawancara, 21 September 2015)
Sebagaimana diketahui bahwa ada empat pebenkelan yang ada di wilayah Bayan,
yaitu pebenkelan Karang Bajo, pebenkelan Bayan Timur, pebenkelan Bayan Barat, dan
pebenkelan Loloan. Keempat perwakilan dari pebenkelan inilah yang dipanggil oleh
pemangku di pusat adat untuk mendapat informasi acara adat sekaligus diamanahkan
untuk menyambungkan informasi kegiatan adat ke seluruh warga. Proses sosialisasi top
down pasif dapat digambarkan secara skematis sebagai berikut:
494
e-Proceeding | COMICOS 2017
Gambar 1.
Model Sosialisasi Top Down Pasif Komunitas Adat Bayan
Menyampaikan
informasi
PEMANGKU
ADAT BAYAN
memanggil
mendatangi
Berdiskusi
PEBENKEL
Menerima
informasi
KEGIATA
N RITUAL
ADAT
PEBENKEL
Menginformasikan
dan
mensosisialisasikan
kegiatan adat
(menyilaq)
MASYARAKAT
ADAT BAYAN
Gambar 1 di atas semakin jelas menunjukkan pola atau model sosialisasi yang
pasif yang dilakukan oleh pemangku adat Bayan saat ingin mensosialisasikan kegiatan
adat. Pemangku adat hanya memanggil pebenkel atau pemangku yang ada di setiap
pebenkelan. Gambar tersebut juga memperlihatkan posisi pebenkel atau pemangku adat
yang ada dipebenkel yang lebih aktif untuk melakukan sosialisasi.
Gambar Model sosialisasi top down pasif di atas juga menunjukkan ada empat
tahapan yang dilakukan, yakni; tahapan pertama, pemangku adat Bayan memanggil
pemangku yang ada di pebenkel; tahapan kedua, pebenkel mendatangi pemangku adat
di Bayan; tahapan ketiga, pemangku adat Bayan berdiskusi dan menyampaikan pesan
kepada pebenkel yang telah diundang; dan tahapan keempat, pebenkel kembali ke
wilayah masing-masing dan mensosialisasikan kegiatan atau ritual adat ke masyarakat
yang ada di wilayahnya. Pada tahapan keempat inilah kegiatan menyilaq dalam konteks
sosialisasi top down pasif berlangsung.
Menyilaq Proses Sosialisasi Top Down Aktif
Sebagaimana namanya, proses sosialisasi top down aktif menunjukkan adanya
sikap aktif unsur pimpinan adat untuk menginformasikan kegiatan adat kepada
495
e-Proceeding | COMICOS 2017
warganya. Hal ini berbeda dengan proses sosialisasi top down pasif, dimana pebenkel
mendatangi pemangku adat Bayan untuk menerima perintah atau amanah menyampaikan
informasi kegiatan adat kepada warga yang ada di wilayah masing-masing.
proses sosialisasi top down aktif ini relevan dengan penjelasan Lokaq Pande,
Karyadi (wawancara, 21 September 2015) yang mengatakan bahwa ada tiga cara dan
proses lain bagi komunitas adat Bayan dalam menginformasikan kegiatan adat kepada
masyarakat, yaitu; pertama, pemangku atau kiyai penghulu adat mengutus para lang-lang
(pasukan siap pake) untuk mendatangi para pembengkel di setiap wilayah adat; kedua,
lang-lang yang diutus oleh pemangku minimal dua orang (seorang menjadi saksi dan
pendamping), dan; ketiga, penyampaian informasi yang dilakukan oleh utusan pemangku
adat harus “menyilaq” atau mengundang lisan secara langsung kepada pembengkel
Dari tahapan di atas dapat dijelaskan bahwa kiyai penghulu mengambil inisiatif
untuk secara aktif mengutus pasukannya untuk mendatangi pebenkel yang ada di setiap
wilayah. Inisiatif inilah yang menandai penamaan aktif dalam proses sosialisasi ini.
Dalam proses tersebut juga memperlihatkan keseriusan pemangku adat Bayan untuk
memberikan informasi kepada seluruh warga dengan mengutus paling tidak dua orang
lang-lang, dengan alasan satu orangnya sebagai saksi dan pendamping.
Pemangku adat benar-benar ingin memastikan bahwa informasi terkait dengan
kegiatan atau ritual adat benar-benar akan sampai kepada rakyatnya. Pemangku juga
serius untuk menginstruksikan kepada lang-lang untuk menjaga dan mengawal
informasi. Pertimbangan pemangku adat untuk mengutus minimal dua orang lang-lang
dapat dimaknai sebagai upaya beliau untuk membangun kepercayaan (trush)
komunikator atau pemberi informasi.
Proses komunikasi dan sosialisasi topdown aktif yang dilakukan oleh komunitas
adat Bayan dalam menyampaikan kegiatan adat yang mereka lakukan dapat digambarkan
secara skematis sebagai berikut.
496
e-Proceeding | COMICOS 2017
Gambar 2.
Model Proses Sosialisasi Topdown Aktif
PEMANGKU
ADAT BAYAN
KEGIATA
N RITUAL
ADAT
mengutus
LANG-LANG
Mendatangi (menyilaq)
PEBENKEL
Menginformasikan
dan
mensosisialisasikan
kegiatan adat
(Menyilaq)
MASYARAKAT
ADAT BAYAN
Gambar 2 di atas menunjukkan adanya sikap proaktif pemangku adat sebagai pemimpin
informal di komunitas adat Bayan untuk menyampaikan informasi kepada warga
komunitas, dengan mengutus pasukan siap pake atau yang biasa disebut dengan LangLang. dalam konteks inilah model ini disebut sebagai proses yang aktif. Dalam model
sosialisasi top down aktif di atas terjadi dua kali tradisi menyilaq yaitu saat Lang Lang
menyampaikan informasi ritual adat ke Pebenkel, dank ala Pebenkel menyampaikan hal
yang sama kepada masyarakat adat.
Pembahasan
Proses komunikasi dan sosialisasi top down pasif sebagaimana yang dijelaskan
sebelumnya menunjukkan kekhasan dalam manajemen informasi tradisional, dimana
posisi pimpinan selalu untuk didatangi dan memberi nasehat kepada bawahan. Terlepas
dari budaya yang telah terwariskan, proses sosialisasi dan komunikasi seperti ini akan
semakin mempertegas ketokohan pemimpin adat atau pemangku adat, atau akan semakin
memperjelas kepatuhan rakyat atau masyarakat adat kepada pemangku adat. Hal ini
relevan dengan salah satu dari tiga faktor penentu hubungan antarsuku menurut Royle
(dalam Pelly, 1989:25), yakni faktor kekuasaan (power). Pemangku adalah pemimpin
dan penguasa dalam suatu komunitas adat. Posisinya sebagai pemimpin adat
mempengaruhi tingkat kepatuhan rakyatnya.
497
e-Proceeding | COMICOS 2017
Di samping itu, tradisi “menyilaq” dengan mendatangi dan menyampaikan secara
lisan informasi tentang kegiatan adat oleh lang-lang kepada pebenkel yang ada di setiap
wilayah merupakan tradisi yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan,
penghargaan, dan kemanusiaan. Sebab mengundang secara langsung (secara lisan
dengan mendatangi) merupakan wujud penghargaan yang luar biasa dari pada
mengundang secara tertulis tanpa hadir langsung. Tradisi pertemuan seperti ini yang
belakangan mulai langka terlihat.
Masyarakat kita sudah banyak terkontaminasi oleh tradisi pemanfaatan teknologi
komunikasi. Tradisi menyilaq juga menunjukkan bahwa komunitas adat Bayan tidak
terkontaminasi dengan budaya tradisi komunikasi social modern yang mengandalkan
teknologi seperti telpon selular, atau memanfaatkan teknologi percetakan dengan
menggunakan undangan, sebagaimana yang umumnya dilakukan oleh masyarakat
modern di perkotaan dan bahkan di perdesaan. Tradisi menyilaq diklaim dapat menjaga
hubungan baik di antara masyarakat.
Berkomunikasi tatap muka lewat tradisi menyilaq dalam kajian komunikasi
dianggap bisa mewujudkan efektifitas komunikasi, karena di dalamnya terjadi pertemuan
antarpribadi. Oleh karena itu tradisi menyilaq dapat memenuhi unsur kelebihan
komunikasi interpersonal menurut Effendy (2003: 6) karena ada personal contact dan
immediate feedback selama face to face communication berlangsung dalam tradisi
menyilaq.
Dalam tradisi menyilaq terlihat adanya rangkaian informasi berjenjang dengan
melibatkan orang-orang terpercaya dalam komunitas adat. Upaya pemangku adat untuk
membangun trush komunikator (pembawa informasi), dan memilih dua orang yang
diutus untuk membangun dan meyakinkan kebenaran konten yang disampaikan,
termasuk pilihan cara penyampaian informasi yang manusiawi atau humanis (dengan
menyilaq) merupakan tradisi komunikasi yang baik.
Tradisi komunikasi lewat ritual menyilaq seperti yang dilakukan oleh komunitas
adat Bayan dalam menyampaikan informasi kegiatan ritual mereka telah memenuhi
persyaratan komunikator yang sukses menurut Aristoteles (dalam Effendy, 2003:351)
yaitu; pertama, etos, yang mensyaratkan komunikator untuk selalu bersikap jujur dalam
menjalankan tugas dan mempunyai komitmen yang tinggi untuk konsisten; Kedua,
logos, dimana statemen yang keluar dari komunikator merupakan cerminan kebenaran,
498
e-Proceeding | COMICOS 2017
dan itu harus bisa dipertanggungjawabkan pada public; dan ketiga, pathos, dimana aspek
kemanusiaan juga mesti dipertimbangkan dalam menjamin suksesnya komunikasi yang
dilakukan.
Dua proses sosialisasi dan menyilaq (model topdown pasif dan model topdown
aktif) yang telah dijelaskan sebelumnya pada prinsipnya sama dengan model komunikasi
dua tahap atau yang dikenal dengan two step flow of communication dari Paul Lazarsfeld
et.al.dan Elihu Katz (1940). Meskipun hasil riset ilmuwan Amerika tersebut terkait
dengan komunikasi politik dalam pemilihan umum dan terkait dengan media massa,
tetapi prinsip dan tahapan dasarnya sama, yakni adanya dua tahapan komunikasi dan
adanya opinion leader.
Bila dalam modelnya Lazarsfeld dan teman-teman menjadikan media massa
sebagai channel pada tahapan pertama dan komunikasi interpersonal pada tahapan kedua,
maka dalam model menyilaq yang dilakukan komunitas adat Bayan menggunakan media
komunikasi interpersoanal dalam kedua tahapannya. Bila model komunikasi dua tahap
(two step flow of communication) dari Lazarsfeld dkk diadaopsi untuk komunikasi dua
tahap dalam praktek komunikasi dan sosialisasi kegiatan adat di masyarakat Bayan, maka
dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar. 3.
Model Komunikasi Dua Tahap dalam tradisi Menyilaq
dan Sosialisasi Kegiatan Ritual Adat Bayan
Tahap II
Komunikasi
interpersonal
(Menyilaq)
Tahap I
Komunikasi
interpersonal
PEMANGKU
ADAT
PEBENKEL
MASYARAKAT
ADAT BAYAN
Tradisi menyilaq tidak hanya dilihat dari konteks penyampaian pesan tentang
suatu acara adat yang akan dilaksanakan tetapi di dalamnya tersirat upaya membangun
hubungan dan silaturahim di antara komunitas adat Bayan. Banyak hal yang dibicarakan
dan didiskusikan selain persoalan perayaan ritual adat. Pemangku adat dapat
menanyakan perkembangan komunitas pada pebenkel, demikian juga kepada masyarakat
499
e-Proceeding | COMICOS 2017
pebenkel dapat meminta informasi yang terkait dengan banyak aspek kehidupan yang
terjadi di level bawah. Kenyataan seperti inilah yang disebut Mulyana (2001:99) dalam
prinsip komunikasi yang mengatakan bahwa komunikasi punya dimensi isi dan
hubungan. Artinya komunikasi tidak sekedar penyampaian isi pesan tetapi juga
membangun hubungan. Tradisi menyilaq sebagai salah satu proses dari ritual adat Bayan
menyertakan pentingnya hubungan dalam berkomunikasi.
500
e-Proceeding | COMICOS 2017
DAFTAR PUSTAKA
Alqadrie, Syarif Ibrahim. 1999. Konflik Etnik di Ambon dan Sambas: Tinjauan
Sosiologis, maklah disampaiakn dalam rangka memperingati Jebelium ke 30
Jurnal Antropologi Indonesia di Pusat Studi Jepang, Depok 6-8 Mei 1999
Andung, Petrus Ana, “Komunikasi Ritual Natoni Masyarakat Adat Boti Dalam di
Nusa T enggara Timur” Jurnal Ilmu Komunikasi, V olume 8, Nomor 1,
Januari-April 2010
Barth, Fredrik (ed.). 1988. Kelompok Etnik dan Batasannya. Jakarta: Universitas
Indonesia Press
Bogdan, Robert & Taylor, Steven J. 1975. Introduction to Qualitative Research Methods, A
Phenomenological Approach to the Social Science, Canada: John Willey & Sons. Inc.
Capozza, Dora dan Brown, Rupert, 2000, Social Identity Processes, London: SAGE
Publications
Cresswell, W, John. 1998. Qualitative Inquiry and Research Design Choosing Among Five
Traditions, California: Sage Publications, Inc.
Denzin, Noman. K,. & Yvonna S. Lincoln. 2000. Handook of Qualitative Research. Sage
Publications
Effendy, Onong Uchjana. 2003. Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi. Bandung: Citra Aditya
Bakti
Fisher, Simon dkk., 2001, Mengelolah Konflik: Keterampilan dan Strategi untuk
Bertindak, Indonesia: SMK Grafika Desa Putra
Huberman, A. Michael dan Miles B. Matthew. 1992. Analisis Data Kualitatif, Penj. Rohendi
Rohidi, Jakarta: UI Press.
Ibrahim, Abd Syukur. 1992. Panduan Penelitian Etnografi Komunikasi. Surabaya: Usaha
Nasional
Ken Widiyatwati, Ritual “Kliwonan” bagi Masyarakat Batang, Jurnal Humanika,
Jurnal Ilmiah Kajian Humaniora, Vol. 18 Nomor 2. Desember 2013
Liliweri, Alo, 2002, Gatra-Gatra Komunikasi Antarbudaya, Yogyakarta: Pustaka
Pelajar
---------, 2004. Dasar-Dasar Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
----------, 1997, Komunikasi Antarpribadi, Bandung: PT. Adiyta Citra Bakti
Marzali, Amri. 2001. Kekerasan Sosial di Kalimantan: Sebuah Analisis Antropologi
Sosiokultural. Jurnal Analisis CSIS. Thn. XXX/2001 No. 3
501
e-Proceeding | COMICOS 2017
Moleong, Lexy J. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Mulyana, Deddy. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja
Rosdakarya.
---------, 2001, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, Bandung: Remaja Rosdakarya
Mulyana, Deddy dan Jalaluddin Rakhmat (ed.). 2001. Komunikasi Antarbudaya.
Bandung: Rosda
Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Utara, 2010, Kabupaten Lombok Utara Dalam
Angka
Ritzer, Goerge & Douglas J. Goodman. 2004. Teori Sosiologi Modern, Edisi Keenam,
Terjemahan Alimandan, Jakarta: Prenada Media.
Soekanto dan Soeleman, 1983, Hukum Adat Indonesia, Jakarta, CV. Rajawali
Soeprapto, Riyadi. 2002. Interaksionisme Simbolik, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Spradley, James P. 1997. Metode Etnografi. Yogyakarta: Tiara Wacana
Suparlan, 1984, Pola Interaksi Antaretnik di Pontianak, Pekanbaru dan Sumenep,
Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Taylor, M. Donald and Moghaddam, M. Fathali, 1994, Theories of Intergroup Relations:
International Social Psychological Perspective, London: Westport Connecticut
502
e-Proceeding | COMICOS 2017
STRATEGI MEDIA DALAM ERA KONVERGENSI
Sandi Jaya Saputra, Sahat Sahala Tua Saragih
Journalism Department, Faculty of Communication Science, Universitas Padjadjaran &
[email protected]
Journalism Department, Faculty of Communication Science, Universitas Padjadjaran &
[email protected]
Abstrak
“Ada Asa Perusahaan Pers”. Ini judul sebuah berita sukacita pada Agustus tahun
lalu. Dalam berita ini dikutip siaran pers Nielsen Advertising Information Services (AIS).
Data Nielson AIS mengungkapkan, belanja iklan untuk televisi dan media cetak di
Indonesia pada semester I tahun 2016 sebesar Rp 66,7 triliun, naik 18 persen
dibandingkan dengan belanja iklan pada semester I tahun 2015. Dari jumlah ini sebesar
Rp 52,7 triliun (77,84 persen) disedot oleh televisi-televisi sedangkan yang diraup oleh
koran-koran cuma Rp 15 triliun (22,16 persen). Padahal pada semester I 2015 korankoran meraup Rp 15,2 triliun. Pendapatan dari iklan ini tak mempertimbangkan korting,
promosi, atau bonus yang diberikan perusahaan pers.
Dengan mempertimbangkan data diatas, ternyata yang utama tetaplah konten
(isi). Berbagai aktivitas di luar media cetak (off print) itu pun boleh berujung pada konten
komersial atau nirkomersial. Oleh karena itu Gracie Lawson-Bordes (guru besar
komunikasi dan jurnalistik Universitas Howard AS) menuliskan pentingnya
konvergensi. Dalam bukunya, Media Organization and Convergence: Case Studies of
Media Convergence Pioneers (2009), Gracie menyatakan, dalam perspektif jurnalistik
konvergensi adalah penyebaran konten, termasuk promosinya, dalam berbagai platform
media, baik media cetak, elektronik (radio dan televisi), maupun media daring. Pengelola
media bisa mewujudkan isi yang interaktif dengan khalayaknya, kolaborasi redaksi, dan
kerjasama editorial. Ini menunjukkan, tulis Gracie, masih ada asa atau masa depan cerah
perusahaan media massa di Indonesia.
Maka, dilihat dari masalah penelitian, penulis memilih desain penelitian studi
kasus intristik dari Robert E. Stake karena penelitian ini bertujuan ingin lebih memahami
implementasi strategi konvergensi yang dilakukan oleh Kompas Gramedia Grup.
Dengan tipe ini memungkinkan penulis untuk lebih memahami pola pengorganisasian
Kompas Gramedia Grup yang sudah menerapkan pola konvergensi, fenomena ini juga
dalam segala kekhasan dan kelazimannya memiliki daya tarik.
Kata Kunci: Media, Media Massa, Kompas Gramedia Grup, Konvergensi, Studi Kasus
PENDAHULUAN
503
e-Proceeding | COMICOS 2017
Dalam hal jumlah tiras, tiada laporan pasti yang dapat dijadikan rujukan. Akan
tetapi data Serikat Perusahaan Pers (SPS) Indonesia tahun 2015 mengungkapkan, tiras
media cetak tumbuh 0,25 persen di tingkat nasional (tanpa menyebut angka absolutnya),
namun sebetulnya banyak juga koran dan majalah yang merosot tirasnya. Media
tradisional berada di persimpangan jalan karena terjadi perubahan perilaku khalayak dan
tumbuhnya media dalam jaringan (daring - online) atau media digital. Biaya produksi
koran dan majalah juga terus naik. Lalu, apakah koran dan majalah harus berubah wujud
menjadi media daring, yang dari sisi biaya produksi jauh di bawah biaya produksi media
cetak?
Guru besar jurnalisme Universitas Texas, Amerika Serikat (AS), Iris Chy dalam
buku Trial and Error: US Newspapers’ Digital Struggles toward Inferiority (2013)
mengungkapkan kegagalan sebagian besar koran di AS dalam percobaannya menjadi
media daring. Pendapatan dari media daring ternyata belum mampu menggantikan
pendapatan koran, bahkan mengompensasi penurunan pendapatan yang terjadi pun ia tak
sanggup. Media daring di manapun, termasuk di Indonesia, masih menghadapi masalah
penghasilan. Model bisnisnya yang pas ternyata belum ditemukan hingga kini (Kompas,
29-8-2016).
Oleh karena belum bisa digantikan oleh versi digitalnya, media cetak harus
melakukan diversifikasi sumber pendapatan, tak lagi terbatas pada iklan dan tiras. Koran
Wall Street Journal dan Washington Post di AS telah memanfaatkan mereknya yang kuat
untuk meraih pendapatan melalui kegiatan komunitas. The Yomiuri Shimbun (koran
terbesar di Jepang) juga memiliki Primtens Ginza, pasar swalayan di kawasan Ginza,
Yomiuri Land Co (yang mengoperasikan taman hiburan dan padang golf di pinggiran
kota Tokyo), dan beberapa usaha lainnya di luar bisnis media.
Menurut mantan anggota Dewan Pers, Sabam Sinaga, masa depan jurnalisme
media daring masih dibayangi ketidakpastian. Pebisnis media daring kini berjuang
menemukan model bisnis agar tetap bertahan, karena iklan yang menjadi sumber utama
pendapatan ternyata tersedot ke Facebook dan Google. Aplikasi telepon selular (ponsel)
dan medsos mulai mengambil alih peran media daring sebagai sumber utama informasi.
Ternyata di AS kini semakin banyak orang beralih ke medsos untuk menemukan
informasi terbaru. Informasi di medsos sering lebih aktual dan orisinal daripada hasil
liputan wartawan media daring.
504
e-Proceeding | COMICOS 2017
Fenomena seperti ini harus direspon dengan cepat oleh media, berubah atau ditinggalkan
pembaca. Maka konvergensi media menjadi solusi, itu pula yang dilakukan Kompas Gramedia
Grup. Konvergensi yang saat ini dilakukan oleh Kompas Gramedia Grup adalah konvergnesi
dalam segi konten, yakni konten kompas cetak, kompas.com dan kompas televisi dielaborasi
sesuai kebutuhan medium, salah satu contohnya ekpedisi cincin api, yang bisa dihadirkan dalam
tiga medium tersebut. 19
KAJIAN TEORITIS
Secara etimologis, jurnalistik berasal dari kata journ. Dalam bahasa Perancis,
journ berarti catatan atau laporan harian. Jika diartikan secara sederhana, jurnalistik
adalah kegiatan yang berhubungan dengan pencatatan atau perlaporan setiap hari
(Sumadiria, 2011: 2). Jurnalistik juga diartikan sebagai kegiatan untuk menyiapkan,
mengedit, dan menulis untuk surat kabar, majalah, atau berkala lainnya (Assegaff,
1983:9) dalam (Sumadiria, 2011: 2). Dalam Leksikon Komunikasi dirumuskan,
jurnalistik adalah pekerjaan mengumpulkan, menulis, menyunting, dan menyebarkan
berita dan karangan untuk surat kabar, majalah dan media massa lainnya seperti radio
dan televisi (Kridalaksana, 1977:44) dalam (Sumadiria, 2011: 2).
Dunia jurnalistik telah mengalami perkembangan pesat dalam berbagai aspek,
mencakup aspek teknologi, jenis karya, genre dan proses kerja. Perkembangan tersebut
didorong oleh masyarakat yang semakin terkoneksi dengan teknologi, yakni internet.
Pola mengkonsumsi media juga telah berubah, dari kertas ke digital.
Maka perlu adaptasi dalam perubahan jaman tersebut, salah satunya adalah dengan
dengan pola konvergensi. konvergensi mengenal lima tahapan, yakni cross-promoting, cloning,
coopetition (kolaborasi), content sharing dan Fill convergensi. Selain tahapan dalam dari segi
konten, konvergensi menawarkan tiga model. Pertama, konvergensi newsroom yakni jurnalis
dengan berbeda platfrom menyatukan diri dalam suatu ruang produksi media. Kedua,
konvergensi newsgathering yakni dalam hal ini jurnalis dituntut untuk mampu mencapai
tingkatan multitasking yakni jurnlais yang mempu memproduksi berita dengan berbagai platfrom
seperti televisi, radio dan teks. Ketiga, konvergensi konten, yakni berita yang hasil akhirnya
disuguhkan dalam bentuk multimedia.
Konvergensi adalah penggabungan indutri media, telekomunikasi dan komputer menjadi
sebuah bentuk yang bersatu dan berfungsi sebagai media komunikasi dalam bentuk digital, hal
19
Wawancara peneliti dengan Budi Suwarna, wartawan senior Kompas, Selasa, 23 Juli 2017
505
e-Proceeding | COMICOS 2017
ini sebagai solusi dari efisiensi segala lini, salah satu contohnya adalah konvergensi karya
jurnalistik, dari semula karya jurnalistik media cetak, media televisi, media radio, menjadi karya
jurnalistik yang terdiri dari materi tulisan, visual yang terdiri dari gambar atau foto, audio atau
video menjadi dalam satu platform. Ragam karya jurnalistik ini dapat tersaji secara tunggal atau
kombinasi. Dengan kata lain, karya jurnalistik tersebut mengalami proses konvergensi. Medium
internet merupakan medium multi platform yang menjadi sarana sekaligus pendorong terjadinya
proses konvergensi tersebut.
METODOLOGI
Stake mengidentifikasi studi kasus ke dalam tiga tipe. Ketiga tipe tersebut adalah
studi kasus intrinsik, studi kasus instrumental, dan studi kasus kolektif. Menurut Stake
(2005: 447), tujuan kategorisasi yang dilakukannya bukanlah taksonomik, melainkan
untuk menekankan varisai terkait dan orientasi metodologis terhadap kasus. Dalam
penelitian ini, studi kasus yang digunakan adalah studi kasus intrinsik. Dalam studi kasus
ini peneliti mengingikan pemahaman yang lebih baik terhadap kasus tertentu. Studi kasus
intrinsik tidak dilakukan karena kasus mewakili atau menggambarkan sifat atau masalah,
namun alih-alih demikian karena kasus tersebut, dalam segala kekhasan dan
kelazimannya, dengan sendirinya memiliki daya tarik. Kasus-kasus dalam studi kasus
intrinsik biasanya telah menjadi perhatian penting sebelum studi formalnya dimulai.
Studi kasus intrinsik bisanya dimulai dengan kasus-kasus yang telah
terindentifikasi dengan jelas. Tujuan studi kasus intrinsik bukan untuk memahami suatu
kontruksi abstrak atau fenomena umum, bukan pula untuk membangun teori. Studi kasus
intrinsik dilaksanakan karena ada daya tarik atau kepentingan intrinsik mengenai objek
tertentu. Mengacu pada penjabaran Stake, penelitian ini menggunakan desain penelitian
studi kasus intrinsik. Penulis ingin lebih memahami aktivitas Kompas Gramedia Grup
dalam melakukan strategi dalam menghadapi era konvergensi. Selain itu, sesuai apa yang
dijelaskan oleh Stake bahwa studi kasus intrinsik ini ditempuh bukan karena
menggambarkan sifat tertentu, namun karena dalam seluruh aspek kekhususan dan
kesederhanaanya kasus itu sendiri menarik minat. Kekhususan kasus aktivitas Kompas
Gramedia Grup dalam melakukan strategi dalam menghadapi era konvergensi menjadi
kekhususan yang menarik minat penulis karena media massa menuju perubahan jaman
revolusi komunikasi.
506
e-Proceeding | COMICOS 2017
Mengacu pada penjabaran Stake, penelitian ini menggunakan desain penelitian
studi kasus intrinsik. Penulis ingin lebih memahami aktivasi Kompas Gramedia Grup
dalam melakukan strategi dalam menghadapi era konvergens. Selain itu, sesuai apa yang
dijelaskan oleh Stake bahwa studi kasus intrinsik ini ditempuh bukan karena
menggambarkan sifat tertentu, namun karena dalam seluruh aspek kekhususan dan
kesederhanaanya kasus itu sendiri menarik minat penulis. Kekhususan kasus aktivasi
Kompas Gramedia Grup dalam melakukan strategi dalam menghadapi era konvergensi
menjadi kekhususan yang menarik minat penulis karena kompas media grup yang
terdahulu beradaptasi dengan konvergensi.
HASIL ANALISIS
Pemerintah dibanyak negara terus bekerja keras membantu media konvensional,
terutama media cetak, karena secara historis media itu telah berjasa besar dalam
memajukan bangsa dan negara mereka. Media konvensional masih tetap menjadi media
yang paling dapat dipercayai isi informasinya. Media cetak juga mesti diakui memiliki
andil besar dalam mencerdaskan bangsa karena ia terus memupuk budaya atau tradisi
membaca warga masyarakat. Tiada negara yang bisa maju pesat tanpa mayoritas
penduduknya tekun membaca buku dan media cetak lainnya. Siapa kini di muka bumi
ini yang sanggup menjadi orang-orang hebat, di bidang apa pun, tanpa membaca buku
dan media cetak lainnya?
Fakta menunjukkan, memang jumlah penduduk yang buta huruf di Indonesia
menurun. Akan tetapi tradisi membaca buku dan media cetak lainnya juga terus merosot,
katanya, gara-gara medsos atau media digital. Padahal, kehadiran internet atau teknologi
informasi dan komunikasi juga menyajikan buku elektronik, majalah dan koran
elektronik, serta berbagai bahan bacaan elektronik lainnya.
Maka dengan melihat fenomena tersebut, media harus berstrategi untuk
menyajikan sebuah bacaan yang terintegrasi. Baik secara konten, manajemen atau
kombinasi keduanya, saat ini kompas mengadopsi konvergensi yang terhubug secara
konten. Contohnya satu isu bisa saling melengkapi, baik teks dan audio visual dalam satu
format. Tujuannya agar pembaca kompek dalam menangkap informasi, semua
kebutuhan informasi dan indaranya terpenuhi dalam tiga platform.
Berdasarkan pengamatan ini, disusun pertanyaan secara garis bersar pada
507
e-Proceeding | COMICOS 2017
penelitian ini, yaitu (1) Bagaimana strategi konvergensi Kompas Gramedia Grup dalam
mengelola isu berita? (2) Bagaimana redaksi Kompas Media Grup dalam menjalankan
standar news value dan news judgment pada era konvergansi? Pada pembahasan ini,
penulis menjelasan berkaitan dengan strategi Kompas Gramedia Grup yang akan dibahas
secara komprehensif dari berbagai sudut pandang redaksi yang berkaitan.
STRATEGI
KONVERGENSI
KOMPAS
GRAMEDIA
GRUP
DALAM
MENGELOLA ISU BERIT
Konvergensi Kompas dalam pengertian sampai kerja dalam newsroom yang
sama saat ini masih dalam pengkajian bersama konsultan. Baik buruknya bebagai aspek
terus didalami. Keputusannya seperti apa? Belum tau20. Karena hal tersebut yang disebut
konvergensi yang ideal, yakni semua karyawan kompas media grup dari berbagai media
duduk bersama dalam satu news room dan membagi isu sesuai medium media.
Pengkajian konvergensi yang sedang berjalanhanya mencakup tiga meduim di
Kompas yang mengunakan merek sama yakni harian kompas, kompas.com dan kompas
televisi. Jadi, medium lainnya seperti koran tribune, warta kota, bola, nova dan
sebaginya, tidak termasuk dalam sekema konvergensi. Lebih tepatnya bukan
konvergensi semua media di bawah kompas gramedia group, tetapi hanya tiga medium
yakni harian kompas, kompas.com dan kompas televisi.
Sebelum konvergensi sempurna (bekerja dalam satu newsroom) dilakukan,
sebenarnya Kompas Gramedia Grup sudah lama membuat kolaborasi liputan diantara
beberapa medium. Seperti, jelajah kuliner, ekpedisi cincin api, jelajah batik, jelajah
rempah, liputan mudik dan sebagainya dikerjakan bersama oleh beberapa medium
sekaligus. Rubrik sosok harian kompas dan satu meja sekarang muncul dalam versi
talkshow di kompas televisi.
Akan ada banyak kemungkinan ke depan. Sementara ini, kita tidak membatasi
pilihan pada keharusan untuk konvergensi sempurna dalam satu newsroom bersama21.
Apalagi sekarang ada fenomena dimana media online yang geratisan secara bisnis tidak
terlalu menarik lagi. Terobosan terbaru di berbagai belahan dunia, media cetak justru
memperkuat bisnisnya dengan online paywall. Kompas sejak mei 2017 meluncurkan
20
21
508
Wawancara peneliti dengan Budi Suwarna, wartawan senior Kompas, Selasa, 23 Juli 2017
Ibid
e-Proceeding | COMICOS 2017
kompas.id yang bisa diakses pelanggannya dengan berlangganan.
Kompas Gramedia Grup dalam hal in sealu mencari kemunginan baru dan segar
agar tidak titinggalkan oleh pelanngannya, segala inovasi dilakukan untuk mengikuti
kebutuhan jaman, salah satunya adalah bekerja dalam sistem konvergensi. Satu hal yang
positif dari sistem kerja konvergensi adalah penghematan angaran peliputan dan riset,
kompas televisi untuk acara talkshownya mengunakan data dari rubrik sosok harian
kompas. Melihat kecendrungan ini, konvergensi adalah salah satu strategi dalam
mengelola media massa hari ini.
REDAKSI KOMPAS GRAMEDIA GRUP DALAM MENJALANKAN STANDAR
NEWS VALUE DAN NEWS JUDGMENT PADA ERA KONVERGENSI
Menjadi tantangan tersendiri dalam menentukan standar news value dan news
judgment pada era baru media massa, pola kerja baru membutuhkan adaptasi yang tidak
sebentar. Sejauh ini Kompas Gramedia Grup melakukan rapat kordiantif antar pemimpin
(dari pemred samapai dengan kepala desk) dari tiga medium yang berbeda. Yang
dibicarakan soal isu bersama, standar konten, momentum untuk merilis laporan.
Biasanya dipimpin oleh redaktur pelaksana harian kompas. Tetapi baru diterapkan untuk
proyek-proyek bersama dengan sekala besar seperti liputan mudik22.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan beberapa hal mengenai Startegi
Media Dalam Era Konvergensi pada Kompas Media Grup;
1.
Strategi Kompas Media Grup dalam pengelolaan konten media dilakukan sebagai
berikut: (a) Kompas Media Grup memberikan pelayana baru dalam memanjakan
keburuhan klayak. (b) Kompas Media Grup melakukan efisiensi dalam struktur
kerja. (c) Kompas Media Grup melakukan efisiensi dalam sistem keuangan.
2.
Dalam menjalankan standar news value dan news judment berita pada era
konvergensi, redaksi melakukan rapat kordinatof anatar pemimpin redaksi
pemimpin (dari pemred samapai dengan kepala desk) dari tiga medium yang
berbeda. Hal ini untuk mengedepankan kode etik jurnalistik. Kebijakan redaksi
dalam mutuskan standar news value dan news judment berita jurnalisme warga
22
Wawancara peneliti dengan Budi Suwarna, wartawan senior Kompas, Selasa, 23 Juli 2017
509
e-Proceeding | COMICOS 2017
berdasarkan sudut pandang berita yang menarik, berita mengandung momentum
kejadian yang tinggi, dengan diramu dengan trandar kulitas jurnailstik terbaik,
kualitas riset yang didukung data valid, kulitas tulisan, visual dan video terbaik
dengan standar yang sudah ditetapkan redaksi.
DAFTAR PUSTAKA
Stake, Robert E. 2010. Qualitative Research: Studying How Things Work. New
York: The Guilford Press.
Sumadiria, As.Haris. 2005. Jurnalistik Indonesia, Menulis Berita dan Feature,
Panduan Praktis Jurnalis Profesional. Penerbit PT. Remaja Rosdakarya
Bandung
Lain – lain
Serikat Perusahaan Pers (SPS) Indonesia tahun 2015
Harian Kompas, 29-8-2016
Wawancara peneliti dengan Budi Suwarna, wartawan senior Kompas, Selasa, 23 Juli
2017
510
e-Proceeding | COMICOS 2017
MENGONSUMSI RUANG DAN MENJALANI NARASI URBAN: STUDI
KASUS REVITALISASI JALUR PEDESTRIAN MALIOBORO
Gabriela Laras Dewi Swastika
([email protected])
Universitas Ciputra
UC Town, Citraland, Surabaya 60219, Indonesia
Abstract
Malioboro, a quintessential place in Yogyakarta, Indonesia undergoes a shift.
Malioboro pedestrian area which has been used as parking spot for motorbikes, now
being returned to its ideal function to provide a wide space for pedestrians (city
walkers). When the official government runs this newst policy, it deals with
contestation from many layers of society, people who dwell in different social class or
identity or driven by diverse political economy use. This new pedestrian lane does not
only provide a new space for pedestrian, it is used by many kind of people, travellers,
street vendors, city inhabitants, local government. This research will be examined,
firstly, how pedestrian lane in Malioboro used and consumed by people as space.
Secondly, how this space can narrate the urban stories of its people and thirdly how
Malioboro‟s pedestrian lane combine the humane and commercial aim in such space.
This research outlines several concepts, such as: consumption and Michel de Certeau
and John Urry‟s work on urban narrative.
Keywords: city, urban, pedestrian, Yogyakarta, consumption
Abstrak
Malioboro adalah suatu kawasan di Yogyakarta yang erat, tidak hanya dengan citra
turistik, melainkan juga historis dan pusat niaga. Di tahun 2016 hingga 2017
Malioboro berbenah, pemerintah daerah setempat menyusun suatu agenda panjang
revitalisasi pusat kota, yang diawali dengan pedestrianisasi. Peristiwa ini tidak selalu
berjalan mulus, banyak kontestasi yang terjadi di antara pihak-pihak yang
berkepentingan di area ini, mulai dari: para penghuni, pelancong, pedagang, juga
pejalan kaki. Berangkat dari peristiwa revitalisasi jalur pedestrian di Malioboro saya
hendak meneliti beberapa hal, yakni bagaimana area pedestrian tersebut digunakan
dan dikonsumsi oleh para penghuninya, lalu bagaimana para penghuninya menyusun
narasi-narasi urban dari ruang yang mereka konsumsi, dan bagaimana area pedestrian
Malioboro mampu memadukan tujuan humanis serta komersial di satu lokasi. Dalam
penelitian ini saya gunakan beberapa konsep, yaitu praktik konsumsi yang terjadi di
perkotaan serta narasi-narasi urban yang disusun oleh Michel de Certeau dan John
Urry.
Kata kunci: kota, urban, pedestrian, Yogyakarta, konsumsi
511
e-Proceeding | COMICOS 2017
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Yogyakarta, ibukota dari provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, seturut dengan data
yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik Provinsi DIY tahun 2015, memiliki luas wilayah
sebesar 32 km2 dan dihuni oleh lebih dari 400.000 penduduk, sementara kepadatan
penduduknya lebih dari 12.000 jiwa per kilometer persegi. Yogyakarta sendiri secara
etimologis berasal dari padanan dua kata Sansekerta, yakni “yogya” yang berarti
sesuai, pantas, atau layak, sedangkan “karta” merujuk pada arti maju dan makmur.
Pada periode April hingga Desember 2016 satu kawasan ikonik tempat bertemuanya
warga lokal sekaligus pelancong, Malioboro, menjalani satu proses pembaharuan.
Revitalisasi adalah istilah yang dipilih pemerintah daerah Yogyakarta untuk menamai
pembenahan yang mereka lakukan tepatnya di jalur pedestrian sebelah timur area
Malioboro.
Revitalisasi dibagi dalam dua kloter, yang pertama adalah sisi utara dimulai
dari titik jalur pedestrian setelah rel kereta api hingga mal Malioboro, dilanjutkan sisi
selatan setelah mal Malioboro hingga sebelum Pasar Beringharjo. Sebelum revitalisasi
dilangsungkan, pemerintah setempat telah melakukan pemindahan area parkir motor
yang sebelumnya bertempat di jalur yang seharusnya steril bagi para pejalan. Dari
inisiatif itulah muncul lokasi baru tersentral di Taman Parkir Abu Bakar Ali, utara
Malioboro. Proses revitalisasi sendiri tidak berjalan mulus, selain pesimisme
masyarakat atas agenda ini, juga penolakan dari pihak- pihak seperti paguyuban parkir
dan pedagang-pedagang kaki lima yang merasa penghasilan mereka hendak
dimatikan. Setelah proses negosiasi berjalan cukup alot, kesepekatan di antara
512
e-Proceeding | COMICOS 2017
pemangku kepentingan tersebut menemukan jalan tengah, yakni area pedestrian
disterilkan dari fungsi parkir kendaraan bermotor roda dua dan dipindahkan ke area
yang lebih tersentral, sedangkan pedagang kaki lima yang kerap mangkal ditata ulang.
Proyek revitalisasi kawasan Malioboro tahun 2016 lalu tak luput dari
pemberitaan, terutama media massa lokal, seperti Kedaulatan Rakyat. Beberapa di
antaranya menjadi headline, seperti termuat pada tanggal 12 April 2016 berita dengan
judul “Lampu Penerangan Belum Optimal: Kawasan Malioboro Masih Gelap”, lalu
tanggal 19 April 2016 “Mulai Hari Ini Penataan Fisik Malioboro: Sultan Minta Semua
Konsisten” dan “Keistimewaan Jangan Sekedar Slogan: Kritis Tata Ruang DIY”,
disusul edisi 22 April 2016 berisikan berita “Pembongkaran Trotoar Dimulai:
Malioboro Bakal Mirip Singapura”. Pada awal September, tepatnya tanggal 1,
Kedaulatan Rakyat menyajikan berita berjudul “Pembangunan Malioboro Seharusnya
Dipercepat”. Selain menjadi headline, pembahasan proyek revitalisasi ini juga termuat
di kolom-kolom feature dan tulisan opini. Setelah tahap pertama selesai di Desember
2016, saya mulai mengumpulkan pemberitaan pascarevitalisasi, bersumber dari media
massa online. Pemberitaan antara lain menceritakan launching jalur pedestrian baru di
Malioboro dan fokus utama pemerintah adalah pengerjaan tahap kedua tahun 2017 di
kawasan selatan Malioboro, dimulai dari Pasar Beringharjo hingga Titik Nol
Kilometer, yang beriringan dengan pembuatan toilet bawah tanah. Rencana ini
ternyata adalah agenda jangka panjang pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta
terhitung dari tahun 2016 hingga 2019 untuk menyusun kembali tata kota DIY.
Sejak Desember 2016 jalur pedestrian Malioboro dibuka bagi publik, kali ini
pemandangan yang bisa dilihat saat melintasi jalur ini adalah para pejalan kaki yang
hilir mudik, banyak di antaranya yang memanfatkaan fasilitas bangku untuk duduk
513
e-Proceeding | COMICOS 2017
atau berfoto, dan tidak lagi ditemukan lahan parkir sepeda motor. Sesekali masih
nampak pedagang asongan yang menjajakan dagangannya dan di saat sore hari
pedagang kaki lima bersiap untuk berjualan makanan. Praktik berjalan-jalan di jalur
pedestrian ini pun
banyak diunggah melalui media sosial. Bila musim liburan tiba,
jalur pedestrian bisa sangat ramai. Gerak kaki bisa jadi melambat karena kesesakan di
jalur pedestrian. Saya sendiri mengamati bahwa berjalan kaki di kawasan ikonik
seperti Malioboro, terutama bagi para pelancong, adalah suatu pengalaman yang patut
diincar dan diingat. Sementara bagi penduduk lokal, agenda yang dilaksanakan oleh
pemerintah ini mendapatkan apresiasi. Meski masih jauh dari sempurna, namun ide
pedestrianisasi di kawasan Malioboro diterima sebagai langkah baik untuk menjadikan
rupa Yogyakarta lebih nyaman dan humanis.
Lebih jauh lagi, praktik pedestranisasi di kawasan yang spesifik seperti
Malioboro, tempat yang erat dengan turisme, menjadi instrumen guna mendorong
perkembangan industri budaya dan pelancongan di Yogyakarta. Malioboro tidak
hanya menjadi sentra dagang barang dan jasa. Pemerintah Yogyakarta hendak
membangun citra Malioboro sebagai commercial pedestrian area atau area pedestrian
bertujuan komersial. Hal ini berbeda dengan jalur-jalur pedestrian yang dibangun,
misalnya mengelilingi area sekolah, atau kawasan perkantoran, atau di pinggiran
perkotaan. Sebab tujuannya tidak hanya menyediakan area yang pantas bagi para
pejalan kaki untuk berjalan dan menghubungkan satu lokasi ke lokasi lainnya,
melainkan juga bagi penghuni lain turut merasakan pengalaman urban—window
shopping, mencicipi makanan di pinggir jalan, berfoto, nongkrong, berbelanja, dan
sebagainya. Dengan pengamatan inilah saya merasa bahwa hadirnya commercial
pedestrian seperti di kawasan Malioboro memainkan peran penting dalam mengelola
514
e-Proceeding | COMICOS 2017
urban vibrancy di Yogyakarta.
Rumusan Masalah
Dengan latar belakang yang sudah saya paparkan, maka ada dua rumusan masalah
yang perlu ditelusuri dalam penelitian ini, yaitu:
Bagaimana para penghuni menyusun relasi dengan konteks urban melalui proses
revitalisasi di kawasan Malioboro?
Mengapa pedestrianisasi dipilih sebagai instrumen untuk mempertahankan identitas
turistik Malioboro?
Bagaimana para penghuni mengonsumsi dan menyusun pengalaman mereka atas
ruang di kawasan Malioboro?
Tujuan Penelitian
Penelitian ini hendak memaparkan relasi yang terjalin di antara para penghuni
Malioboro, mulai dari pejalan, turis, warga lokal, juga pedagang dengan narasi urban
yang lahir dari kawasan Malioboro.
Penelitian ini juga ingin menunjukkan alasan dan pertimbangan yang mendorong
pedestrianisasi dilakukan untuk mendukung identitas turistik kawasan Malioboro.
Saya ingin memperlihatkan praktik konsumsi yang dilakukan oleh para penghuni di
kawasan Malioboro dan cara mengartikulasikan pengalaman mereka.
515
e-Proceeding | COMICOS 2017
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Praktik Konsumsi
Tidak terbantahkan bahwa setelah Perang Dunia II praktik konsumsi mengalami
perubahan krusial. Konsumsi didominasi oleh kelas menengah dan diekspansi secara
global, konsumsi di era modern adalah commodity consumption, tidak hanya konsumsi
di kebutuhan ekonomi subsistensial. Bagi Bauman (sebagaimana dikutip Schrage,
2012: 5) sejak tiga puluh empat puluh tahun belakangan teori-teori konsumsi telah
menancapkan ide-ide yang penting atas kondisi sosial dan kultural masyarakatm di
mana konsumsi dilihat sebagai pembentuk identitas dalam kehidupan masyarakat.
Kata „consumption‟ berasal dari kata dalam Bahasa Perancis „consomption‟, kala itu
di abad ke-14 memiliki arti efek penyakit. Di abad ke-15 penggunaan kata tersebut
untuk menjelaskan kerusakan dan ampas (limbah). Barulah di era abad ke-17 dan 18
kata tersebut merujuk pada terma ekonomi, yaitu pembelian barang- barang. Di dalam
diskursus ekonomi, kata consumption mulai mengarah pada segala wujud dan fungsi
pembelian, berada di kisaran tahun 1700-an. Semenjak itulah kata konsumsi
berkonotasi pula pada karakter-karaker seperti pemenuhan, kepuasan, distingsi sosial,
dan komunikasi (Schrage, 2012: 7-8).
Praktik konsumsi yang dipahami sebagai sesuatu yang negatif itu muncul
karena selama ini masyarakat telah diekspansi oleh konsep “the making” yang berada
pada tataran produksi. Padahal, mode produksi turut meninggalkan jejak-jejak
konsumsi atau “the use”, meski seringkali tidak setenar mode produksi sehingga
meninggalkan selubung dalam mode konsumsi. Michel de Certeau (1984: xii-xiii)
516
e-Proceeding | COMICOS 2017
menjelaskan bahwa dengan berkembangnya pemahaman atas representasi sebuah
masyarakat dan mode tindakan, dia menimbang peniscayaan
konsumsi
menjadi
penting sebagai komponen determinan dalam sebuah kelompok atau individuindividu. Konsumer seharusnya diberi keleluasaan untuk mengindikasi apa yang akan
mereka gunakan atau lakukan dari produk-produk tersebut. Konsumsi tidak hanya
sekedar aktivitas ekonomi—konsumsi produk atau penggunaan komoditas untuk
memuaskan kebutuhan material—konsumsi juga mengenai harapan, hasrat, identitas,
dan komunikasi. Mode konsumsi atas produk-produk budaya tidak lagi menjadi proses
yang bersifat pribadi, atomik, dan pasif, melainkan menjadi suatu proses yang bersifat
sosial, relasional, dan aktif.
Praktik Keseharian Kaum Urban
Dalam praktik sehari-hari, ways of operating atau praktik melakukan sesuatu tidak
lagi muncul sebagai latar belakang yang gelap dan terpinggirkan, justru para
pelakunya perlu memunculkannya sebagai bentuk artikulasi mereka sebagai diri yang
melakukan dan aktivitas yang mereka huni. Atomisme sosial selama lebih kurang tiga
abad telah menyajikan sejarah perihal unit sosial terkecil, yaitu individu, mengenai
bagaimana individu-individu ini bergerak dalam kelompok sosial yang lebih besar,
bagaimana mereka terbentuk dan diturunkan olehnya. Prosedur-prosedur kecil
(miniscule procedures) yang melibatkan individu perlu diperhitungkan ketika hal
tersebut membentuk diskursus yang lebih general. Ways of operating menyatukan
praktik-praktik yang tersebar dan berjumlah amat banyak terkait dalam pembentukan
makna individu-individu di konteks sosiokultural. Individu- individu inilah yang
bergerak setiap hari, berjalan, mengendarai kendaraan, berelasi langsung dengan kota
517
e-Proceeding | COMICOS 2017
yang mereka huni, dan menetap di situ. Merekalah yang mengalami pengalaman
langsung dengan kota, mereka “bersentuhan” dengan kota-kota yang mereka tinggali.
“The city like a proper name, thus provides a way of conceiving and constructing
space on the basis of a finite numbers of stable, isolatable, and interconnected
properties” (1984: 94).
Pedestrianisasi
Lokasi-lokasi urban yang “vibrant”, yang bergeliat dan menyenangkan, bisa
mendorong banyak aktivitas penghuninya berjalan lebih lancar. Revitalisasi yang
dilangsungkan di lokasi-lokasi urban inilah, yang biasanya terletak di pusat-pusat
kota, turut mempertahankan citra kota yang hidup. Pemerintah setempat perlu
mengambil tindakan atas hal ini, dalam kasus ini pemerintah kota Yogyakarta dan
provinsi DIY melaksanakan tugasnya dengan cukup baik. Dengan tindakan
merevitalisasi, menciptakan lingkungan sehat dan atraktif, diharapkan elemen-elemen
urbanitas menjadi lebih lengkap (Balsas, 2014: 232).
Menurut Oxford English Dictionary (sebagaimana dikutip Jarvis, 1997: 1)
adjektiva pertama disinyalir hadir pada tahun 1791 di sebuah surat yang ditulis oleh
Wordsworth ditujukan pada temannya di Cambridge, William Mathews, yaitu
“pedestrian”, yang berarti “on foot, going or walking on foot, performed on foot”.
Penggunaan lebih komprehensif kata pedestrian, yang diartikan sebagai adjektiva atau
kata sifat “on foot” juga sebagai kata benda “one who makes a journey on foot, one
distinguished for his powers of walking” , terdapat pada kamus yang ditulis oleh H.J.
Todd pada tahun 1818 (Jarvis, 1997: 2). Aktivitas berjalan kaki sendiri merupakan
aktivitas primer dalam hidup manusia, bisa dibilang satu aktivitas purba yang telah
hadir sejak manusia berada di bumi. Sementara walkability, suatu tempat bisa
518
e-Proceeding | COMICOS 2017
dinyatakan layak didiami oleh para pejalan kaki, dipahami sebagai perpanjangan dari
lingkungan yang mendorong dan menguatan aktivitas berjalan kaki dengan
menyediakan kenyamanan dan keamanan bagi pejalan kaki atau para pedestrian, bisa
menghubungkan orang-orang dengan beragam destinasi dalam jangkauan waktu dan
usaha yang masuk akal, serta menawarkan pemandangan visual di tengah proses
perpindahan tersebut. Walkable network mengandung beberapa atribut, antara lain:
konektivitas pada suatu jaringan jalan, menyediakan koneksi dengan mode-mode lain
seperti titik-titik transportasi publik, pola-pola jalur pedestrian yang tersentral dan
layak tempuh, keamanan, kualitas material jalan, dan konteks yang melingkupi arena,
misalnya desain, visual, juga lanskap (Balsas, 2014: 234).
Pelancongan
Terdapat sebanyak 698 juta kedatangan pelancong internasional setiap tahunnya. Bila
dibandingkan, di tahun 1950 jumlah kedatangan internasional sebanyak 25, kemudian
sejumlah satu miliar yang diprediksi tahun 2010, meningkat lagi menjadi 1,6 miliar
kedatangan internasional di tahun 2020 (WTO sebagaimana dikutip Urry, 2002: 5).
Pelancongan yang merupakan aktivitas di waktu senggang, justru kontradiktif dari
pengertiannya, sebab perlu diolah dan diregulasi secara seksama. Salah satunya
manifestasi dari bagaimana kerja dan waktu senggang diatur sedemikian rupa
sehingga menjadi dua aktivitas yang berbeda di masyarakat modern. Pelancongan
berangkat dari suatu ide bahwa kondisi fisik dan mental manusia perlu “melarikan
diri” dari tekanan rutinitas dan pekerjaan. Dalam pelancongan diperlukan sebuah
kinerja yang teregulasi, diatur, dan ditata ke dalam praktik sosial (Urry dan Larsen,
2011: 4). Karakter dalam pelancongan adalah tourist gaze, yang bukan saja perkara
519
e-Proceeding | COMICOS 2017
psikologi seseorang, melainkan terkonstruksi secara sosial dan dipelajari melalui cara
memandang “ways of seeing” (Berger sebagaimana dikutip Urry dan Larsen, 2011:
2). Ways of seeing adalah cara memandang yang dikonstruksi oleh citra-citra, cara
memandang ini disusun oleh sekumpulan tanda-tanda. Praktik memandang tidak
sekadar melihat, melibatkan pula interpretasi, evaluasi, komparasi, serta menangkap
tanda-tanda fotografis. Memandang merupakan serangkaian praktik yang dibingkai
oleh aspek kultural, persebaran citra dan teks dari satu lokasi ke lokasi lain, selain
tentunya pengalaman dan ingatan (Urry dan Larsen, 2011: 17). Tempat-tempat
pelancongan disasar oleh para pelancong berdasarkan antisipasi mereka atas fantasi
dan mimpi-mimpi, kesenangan- kesenangan yang mereka ingin capai. Antisipasi
inilah
yang
kemudian
dikonstruksi dan ditampilkan dalam praktik-praktik
nonturistik, seperti media massa, literatur, film, inilah yang semakin memperkuat
gaze para pelancong. Selain tourist gaze, relasi para pelancong dengan destinasi yang
mereka tuju juga melibatkan pergerakan-pergerakan melalui ruang, inilah perjalanan
dan periode masa tinggal para pelancong di suatu tempat (Urry, 2002: 2-3).
520
e-Proceeding | COMICOS 2017
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Metode Penelitian
Penelitian yang saya rancang ini menggunakan metode dalam penelitian kualitatif,
merupakan penelitian interpretatif yang menggunakan penafsiran dan telaah dalam
analisisnya (Mulyana dan Solatun (eds), 2007: 5). Penelitian kualitatif dalam A
Handbook of Qualitative Methodologies for Mass Communication Research (1991: 2)
memiliki tujuan menempatkan riset di dalam kerangka kerja yang lebih luas dengan
memfokuskan pada peran bahasa bagi manusia, kesadaran, dan praktek kultural dalam
kehidupan sosial sehari-hari. Sebagai hasilnya analisis kualitatif meletakkan
pondasinya pada obyek-obyek analisis di dalam konteks yang partikular (Jensen and
Jankowski (eds), 1991: 4). Dari sekian banyak metode dalam penelitian kualitatif, saya
memutuskan untuk menggunakan studi kasus. Studi kasus bisa digunakan untuk
menyusun pemahaman mendalam dari isu yang kompleks, studi kasus menekankan
analisis mendetail pada suatu fenomena secara spesifik. Robert K.Yin (1994: 21)
mendefinisikan riset studi kasus sebagai penyelidikan empiris yang menginvestigasi
fenomena kontemporer dalam konteks sehari-hari. Dalam studi kasus tidak cukup bila
melemparkan pertanyaan apa (what), melainkan juga bagaimana (how) dan mengapa
(why). Pertanyaan apa dimaksudkan untuk memperoleh pengetahuan deskriptif,
bagaimana bertujuan mendapatkan pengetahuan eksplanatif, sementara bagaimana
merujuk pada pencarian pengetahuan eksploratif.
Metode studi kasus yang telah saya pilih bisa berjalan seiring dengan yang
dikenal dalam pendekatan penelitian kritis (critical research), yaitu diskurus.
Discourse dalam hal ini terkait dengan cara mengumpulkan dan data-data itu sendiri,
521
e-Proceeding | COMICOS 2017
yang diperlukan seorang peneliti untuk digali, dikumpulkan, kemudian dianalisis.
Gadis Arivia (dalam Macdonell, 2005: x) menjelaskan bahwa teori diskursus bermula
saat posstrukturalis mengkritik strukturalis yang mempertahankan speaking subject
dan tidak melihat bahasa sebagai sistem yang terkait dengan konteks. Saat itu―seturut
dengan gagasan beberapa ahli―Roland Barthes ingin mengembalikan sebuah teks
pada lokasinya, bahasanya yang mengandung kutipan, repetisi, referensi, batasanbatasan yang dilanggar. Jadi, setiap pembaca secara bebas masuk ke dalam teks dari
berbagai arah, dan tentunya tidak ada jalan yang paling benar. Subyek „I‟ yang
membaca menurut Barthes membawa teks-teks „lainnya‟ dan kemudian melakukan
produksi dan reproduksi berulang kali (Macdonell, 2005: ix). Fairclough (1995b: 54)
melihat discourse sebagai konsep yang digunakan, baik oleh ilmuwan sosial,
analisator, dan ahli linguistik. Discourse merujuk pada penggunaan bahasa baik
tertulis maupun lisan, meski Fairclough juga memperluas pengunaannya dalam tipetipe semiotika, seperti citra visual yang terdapat pada foto, film, video, diagram, dan
komunikasi nonverbal seperti gestur. Diskursus dalam bahasa dipakai guna
merepresentasikan praktek yang terberikan secara sosial dari sudut pandang tertentu.
Dialog merupakan syarat utama diskursus, semua percakapan dan penulisan selalu
bersifat sosial, di mana pernyataan yang dibentuk, kata dan makna yang kemudian
digunakan, semuanya tergantung pada tempat dan kegunaan (di mana dan untuk apa
pernyataan tersebut dibuat).
Teknik Pengumpulan dan Analisis Data
Teks yang saya gunakan dalam penelitian ini terdiri dari berita-berita media massa
online dan cetak terhitung dari periode awal revitaliasi Malioboro berlangsung sampai
522
e-Proceeding | COMICOS 2017
dengan selesai dan rencana dimulainya revitalisasi tahap kedua di tahun 2017,
ditambahkan dengan data hasil wawancara dengan beberapa narasumber kunci yang
dipilih secara purposif, dan observasi saya ke lapangan untuk melihat langsung kondisi
kawasan Malioboro. Berikut saya tuliskan detil dari data yang saya gunakan di riset
ini:
NO
SUMBER
1
Berita tercetak
2
Berita tercetak
3
Berita tercetak
4
Berita tercetak
5
Berita tercetak
6
Berita online
7
Berita online
8
Berita online
9
Berita online
10 Berita online
11 Berita online
EDISI
JUDUL
12 April 2016
Lampu Penerangan Belum Optimal: Kawasan
Malioboro Masih Gelap
19 April 2016
Mulai Hari Ini Penataan Fisik Malioboro: Sultan
Minta Semua Konsisten
19 April 2016
Keistimewaan Jangan Sekedar Slogan: Kritis Tata
Ruang DIY
22 April 2016
Pembongkaran Trotoar Dimulai: Malioboro Bakal
Mirip Singapura
1 September 2016 Pembangunan Malioboro Seharusnya Dipercepat
13 Desember 2016 Pedestrian Malioboro Dilaunching 22 Desember
2016
1 Februari 2017
Revitalisasi Malioboro Tahap II Bakal Dihabiskan
Rp 17 Miliar
6 Maret 2017
Revitalisasi Malioboro Tahap II Dikerjakan oleh
Kontraktor Tahap I
30 Juni 2017
“Nuthuk” Harga, Warung Lesehan di Malioboro
Ditutup
12 Juli 2017
Sultan Minta Jalan-jalan Sirip Sekitar Malioboro
Dibenahi
13 Juli 2017
Revitalisasi Malioboro Tahap II Berlanjut di
Maret 2017
Tabel 3.1. Detil data yang diolah dalam penelitian
Data dari media massa saya gunakan untuk memahami bagaimana media
membingkai pemberitaan mereka atas proyek revitalisasi Malioboro. Dari
kesebelas teks yang saya pilih, mereka mengambil berita dari sudut pandang
Malioboro sebagai tujuan wisata, termasuk di dalamnya jalur pedestrian itu
sendiri yang ditampilkan sebagai tempat turistik yang semakin humanis.
523
e-Proceeding | COMICOS 2017
Sementara orang-orang yang diwawancarai merepresentasikan para pelancong
atau pendatang yang mengunjungi Malioboro di saat waktu senggang dan/atau
liburan.
NO
1
2
3
4
5
6
NARASUMBER
IDENTITAS
GS
Perempuan, 27 tahun, freelancer sekaligus musisi.
GA
Perempuan, 26 tahun, mahasiswa S2.
PW
Laki-laki, 30 tahun, pekerja.
RS
Laki-laki, 26 tahun, tenaga pengajar.
YS
Laki-laki, 28 tahun, wirausahawan.
KA
Laki-laki, 29 tahun, freelancer.
Tabel 3.2. Detil narasumber yang dipilih peneliti secara
purposif
Selanjutnya pemilihan narasumber di atas, saya lakukan secara purposif, subyek
yang dipilih merupakan orang-orang yang relatif dekat dengan saya, dengan
demikian orang-orang
tersebut dapat menanggapi kehadiran saya sama
informatifnya dengan mereka bereaksi terhadap situasi-situasi lain (Budiman, 2002:
30-31). Dengan mengenal lebih dahulu para narasumber, saya menjadi lebih mudah
mengamati narasumber dalam lingkungan fisik dan sosial tempat mereka
menjalankan kehidupan sehari-hari sehingga saya bisa memberi perhatian penuh
pada praktik keseharian mereka. Dalam praktik sehari-hari, ways of operating atau
praktik melakukan sesuatu tidak lagi muncul sebagai latar belakang yang gelap dan
terpinggirkan, justru para pelakunya perlu memunculkannya sebagai bentuk
artikulasi mereka sebagai diri yang melakukan dan aktivitas yang mereka huni.
Prosedur-prosedur kecil (miniscule procedures) yang melibatkan individu perlu
diperhitungkan ketika hal tersebut membentuk diskursus yang lebih general. Ways
of operating menyatukan praktik-praktik yang tersebar dan berjumlah amat banyak
terkait dalam pembentukan makna individu-individu di konteks sosiokultural (de
Certeau, 1984: xiv).
524
e-Proceeding | COMICOS 2017
NO
1
2
3
4
PERIODE
KETERANGAN
31 Oktober 2016
Observasi lapangan dan pengambilan dokumentasi foto.
25 November 2016
Observasi lapangan dan pengambilan dokumentasi foto.
17 Desember 2016
Observasi lapangan dan pengambilan dokumentasi foto.
3 Juli 2017
Observasi lapangan dan pengambilan dokumentasi foto.
Table 3.3. Detil periode observasi lapangan yang
dilakukan peneliti
Metode observasi juga saya pilih untuk menambahkan kedua data di atas sebab cara
ini sering digunakan dalam penelitian kualitatif guna mengamati secara langsung
obyek, kawasan
Malioboro dalam kasus ini, tanpa mediator. Tujuannya adalah supaya
saya
bisa mendeskripsikan fenomena atau peristiwa dalam riset
(Kriyantono, 2008: 106).
Dari data-data diskursif inilah, terdiri dari teks dan praksis, gabungan dari
beragam sumber, baik media massa daring dan tercetak, pengamatan langsung praksis
yang muncul di kawasan Malioboro, serta hasil wawancara saya hendak
menganalisisnya menggunakan teori- teori yang mendukung. Teori dan konsep yang
saya gunakan, di antaranya adalah konsumsi dalam praktik sehari-hari, kajian
pelancongan dan urbanisme, serta place and space.
525
e-Proceeding | COMICOS 2017
BAB III
PEMBAHASAN
Setiap kisah merupakan kisah perjalanan—praktik spasial. Untuk alasan ini, praktik
spasial berurusan dengan praktik sehari-hari, yang menjadi bagian darinya, mulai dari
penulisan indikator spasial (Belok kanan, ambil jalur kiri), merupakan awal mula kisah
spasial yang lahir dari jejak-jejak perjalanan hingga pemberitaan media (Coba tebak,
tadi aku bertemu siapa di toko roti), berita-berita di televisi (Teheran Khomeini tengah
terisolasi…), legenda-legenda (Cinderella-cinderella yang hidup di perkampungan),
dan kisah-kisah yang tidak tersampaikan (kenangan dan fiksi sebuah tanah nan asing
atau waktu lampau) (de Certeau, 1984: 115-116).
Menjalani Narasi Urban: Cerita dari Malioboro
Di atas adalah kutipan dari buku karya Michel de Certeau berjudul The Practice of
Everday Life (1984) yang mengupas detil bagaimana kota dihuni dan bagaimana
masyarakat merenda narasi urban di dalamnya. Ibarat tubuh manusia, jalan adalah
denyut nadinya. Geliat yang menandakan bahwa kota hidup, tidak sekarat, bisa dilihat
dari “kesehatan” jalan-jalan di dalamnya. Tidak sedikit komunitas atau program yang
menaruh fokus pada kajian urban dan dinamika masyarakat di dalamnya, termasuk
yang menyasar pada pedestrianisasi, seperti Pemuda Tata Ruang dan Kota untuk
Manusia yang berbasis di Yogyakarta, ada pula Manic Street Walkers dan Subwalker,
keduanya adalah program yang mengkhususkan pada aktivitas berjalan kaki
menyusuri kota Surabaya, tidak ketinggalan Koalisis Pejalan Kaki dan Rujak: Center
for Urban Studies yang berada di Jakarta. Semuanya terus bekerja guna menciptakan
rupa kota yang lebih humanis, aksesibel bagi banyak kalangan tanpa sekat maupun
bias, berkelanjutan, dan terus lestari.
526
e-Proceeding | COMICOS 2017
Menengok sejarah pembentukan kota di Indonesia, ada dua jenis kota, yakni
kota pelabuhan yang dijadikan titik perdagangan dan memiliki jalur pelayaran
internasional atau kota pedalaman sebagai pusat administrasi yang berada di daerah
pertanian. Kota pedalaman dibangun di pinggiran sungai, sedangkan kota perdagangan
hadir sebagai kota-kota pesisir (Raihana, 2007: 33). Dengan keberadaan kota maka
dirancanglah jalan-jalan. Jalan raya hadir di masa kolonial Belanda menjadi milik para
pengguna motor dan mobil yang didominasi oleh orang Eropa dan priyayi. Jalan raya
yang dikuasi oleh kendaraan bermotor menjadi tanda modernitas, inilah yang
kemudian diadopsi oleh bangsa Indonesia sebagai bukti bahwa menjadi modern adalah
dengan memiliki kendaraan bermotor, inilah tolak ukur kemajuan dan status. Kondisi
ini tidak hanya terjadi di kota-kota, melainkan juga merembet sampai ke desa.
Tak ayal posisi pedestrian dan aktivitas berjalan kaki kian ditinggalkan (Raihana,
2007: 40- 41). Para peneliti Universitas Stanford merilis data1 yang menyatakan bahwa
penduduk Indonesia menempati posisi terendah sebagai penduduk termalas berjalan
kaki karena hanya melangkah sebanyak 3.513 langkah setiap hari, berbeda jauh
dengan penduduk Hong Kong yang bisa mencapai 6.880 langkah per hari, nyaris dua
kali lipat. Indonesia bahkan tidak
mampu melampaui rata-rata langkah kaki penduduk dunia sebanyak 4.961 langkah
setiap hari. Bila dibandingkan negara di Asia Timur, seperti Cina dan Jepang,
Indonesia masih tertinggal. Penduduk Cina berjalan sebanyak 6.189 langkah,
sedangkan Jepang 6.010 langkah per hari.2 Banyak faktor yang menyebabkan kondisi
seperti ini, di antaranya adalah rasa aman dan nyaman yang belum terpenuhi di
aktivitas berjalan kaki, trotoar yang
diokupasi kepentingan lain dan kondisinya
yang belum layak, padahal hak pejalan kaki termuat di UU Nomor 22 Tahun 2009
527
e-Proceeding | COMICOS 2017
tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Kondisi dirasakan semakin sulit terutama
bagi kaum difabel sebab kasus seperti Indonesia jalan raya dikuasai oleh kendaraan
bermotor. Bertolak pada sejarah, setelah Indonesia merdeka kondisi keuangan
pemerintah tidak stabil sehingga belum bisa mewujudkan infrastruktur ideal,
perawatan jalan mulai digalakkan kembali di tahun 1980-an. Setelahnya rezim Orde
Baru justru melakukan liberalisasi kendaraan bermotor pada tahun 1990-an sehingga
jalan raya mulai disesaki kendaraan bermotor.
Kota pada dasarnya selalu memunculkan kebaruan. Mobil baru menguasai kotakota di Amerika Serikat di tahun 1950-an, jadi baik negara maju ataupun negara
berkembang seperti Indonesia tengah mengalami peradaban baru yang digerakkan
oleh transportasi bermotor serta teknologi. Peradaban baru di ruang khalayak berupa
jejalan mendapatkan mediasi seperti lampu lalu lintas, rambu-rambu, marka jalan,
klakson, dan sebagainya (Raihana, 2007: 13-14). Namun, sesungguhnya masyarakat
Indonesia tidak mengenal atau mengalami langsung budaya berkota, masyarakat
hanya mengenal budaya bermukim sembari mengadopsi perilaku di jalan raya.
Indonesia berada dalam fase bermukim, melompati fase berkota versi dunia barat, dan
langsung berada pada modernitas (Kusumawijaya sebagaimana dikutip Raihana,
2007: 59). Karenanya meng-kota atau ber-kota (urbanizing) adalah suatu peristiwa
yang relatif baru di Indonesia. Dari kebaruan berkota, yang terjadi adalah para pejalan
kaki menjadi pihak yang paling lemah, pedestrian termarjinalkan di jalan raya,
seringkali tanpa didukung oleh fasilitas trotoar yang layak. Sebagai pihak lemah,
1
Sebagaimana diberitakan oleh BBC Indonesia online pada tanggal 12 Juli 2017 berjudul Data Ponsel
Dunia: Orang Indonesia Paling Malas Jalan Kaki, diakses dari
http://www.bbc.com/indonesia/majalah-40577906.
2
Diambil dari berita Tirto.id tanggal 16 Juli 2017 dengan judul Orang Indonesia Paling Malas
Berjalan Kaki, diakses dari https://amp.tirto.id/orang-indonesia-paling-malas-berjalan-kaki-csJJ.
528
e-Proceeding | COMICOS 2017
pedestrian menjadi pihak yang paling lemah, pedestrian termarjinalkan di jalan raya,
seringkali tanpa didukung oleh fasilitas trotoar yang layak. Sebagai pihak lemah,
pedestrian
kerap
mengalami
himpitan
dan
ketersingkiran.
Padahal—justru
kontradiktif—para pejalan inilah yang bisa mengalami kota dengan seluruh indera di
tubuhnya, merekalah yang mampu membaca kota nyaris tanpa perantara, pedestrian
bisa merasakan pengalaman berkota secara langsung tanpa terbiaskan oleh kecepatan
mesin atau kondisi buatan lainnya (Raihana, 2007: 15). Kota adalah teks yang bisa
dibaca. Sebagaimana mengutip de Certeau (1984: 91), “A city composed of
paroxysmal places in monumental reliefs. The spectator can read in it a universe that
is constantly exploding.”
Para penghuni (dwellers), merekalah yang hadir untuk membaca kota tempat
mereka huni, turut menyatakan kegelisahan atas kondisi Malioboro yang kian lama
kian sumpek. Para penghuni kota tidak sebatas penduduk lokal saja, melainkan juga
para pendatang, pelancong, pedagang yang berjualan di Malioboro, tukang parkir,
pembeli, juga pejalan. Sebelum proyek revitalisasi digarap bagi GA aktivitas berjalan
kaki menjadi kurang menyenangkan karena lahan pedestrian dipenuhi oleh pedagang.
Lahan menjadi sesak dan terkadang membuat pedestrian berdesak-desakan dan
biasanya hal ini jadi salah satu pemicu kejahatan, copet atau pelecehan seksual. “Suatu
kali saat berjalan di kawasan pedestrian Malioboro saya mendengar seorang
perempuan di belakang saya berkata pada temannya bahwa saat mereka berjalan ada
seseorang yang sengaja memegang bokongnya tapi ia tidak bisa memastikan orang itu
karena ramai,” ujarnya. Pandangan lain dilontarkan oleh GS, “Saya pikir kegiatan
jalan-jalan di Malioboro ini terpusatnya pada dan hanya kegiatan niaga saja. Tidak ada
yang bagus di Malioboro dalam hal keindahan pemandangan, instalasi seni di ruang
529
e-Proceeding | COMICOS 2017
terbuka, atraksi rakyat, pelestarian budaya atau sejarah, dan kenyamanan pedestrian.”
Rasa tidak aman, visual yang buruk, lunturnya nilai budaya inilah yang menjadi fokus
dari kritik yang dilontarkan oleh city dwellers. Identitas mereka bukan saja sebagai
penghuni yang lahir dan dan besar di Yogyakarta, namun di suatu kesempatan bisa
berubah, mereka juga seorang pelancong yang mengonsumsi ruang, citra-citra visual,
kisah urban, dan perjalanan di kawasan Malioboro. Mereka pulalah pedestrian yang
pernah mengalami buruknya trotoar.
Saat mengetahui rencana revitalisasi, dengan melihat langsung pembongkaran
di jalur pedestrian dan kerja-kerja pertukangan di situ, beberapa orang juga
memberikan komentar— ada sisipan harapan di dalamnya. “Baiknya harus ada banyak
tempat sampah, pohon-pohonan hijau, bangku beristirahat, toilet umum yang dekat.
Tidak seperti sekarang yang hanya satu. Mungkin baik juga jika ada polisi pariwisata
yang berpatroli sehingga ada rasa aman. Ini berbicara dalam perspektif pariwisata juga.
Lalu jangan lupa jalur difabel, ruang laktasi, dan fasilitas-fasilitas penunjang lainnya.
Ada aspek kesehatan, keselamatan, dan ekonomi yang menunjuk ke arah ini,” jawaban
yang diberikan PW menanggapi bagaimana seharusnya revitalisasi itu dikerjakan.
Sementara RS menambahkan dengan apa yang dia pikirkan, “Jadi penataan kawasan
Malioboro tidak hanya itu, selain area parkir, penghijauan, termasuk ya area pedestrian
itu. Bayangan saya, lahan pedestrian yang layak adalah lahan pedestrian
yang
mendukung kebutuhan orang untuk menikmati suasana di Malioboro. Misalnya,
tersedia pohon-pohon peneduh, tersedia banyak kursi untuk duduk, tersedia tempat
sampah yang dipasang pada jarak-jarak tertentu, tersedia ruang publik untuk pameran
karya seni. Tentu jangan sampai mengganggu kelancaran jalan serta tersedia fasilitas
yang aman untuk anak kecil dan penyandang disabilitas.”
530
e-Proceeding | COMICOS 2017
Di sinilah kemampuan menakar dan menilai validitas dan fungsi dari sebuah
kota menjadi relevan dalam mempelajari konteks dari tempat yang mereka huni, sebab
urbanisasi terjadi tidak selalu sama di satu kota dan kota lainnya, dengan kecepatan
dan tingkatan yang berbeda (Hall sebagaimana dikutip Jayne, 2006: 14). Tidak hanya
perkara yang istimewa, perkara sehari-hari perlu dibaca oleh urban dwellers untuk
menyusun pemahaman mereka atas lived text berupa kota. Seperti KA pernah berkata
dalam sesi wawancara, “[…] ruang publik kita hari ini di Jogja, terutama dalam
konteks jalan raya, sangat mengkhawatirkan karena dikuasai oleh pengendarapengendara yang brengsek dan tak tahu diri. Pejalan kaki itu seolah-olah dipandang
seperti warga negara kelas ketiga dan kelas kesekian. Saya kira, ini bagian dari refeodalisasi ruang publik.”
Mereka tahu perihal kota melalui keterlibatan langsung sebagai invidividu
yang “making do”—melakukan sesuatu di dalamnya—dan kemudian mereproduksi,
salah satunya dalam kasus ini adalah narasi mereka yang dikisahkan pada saya.
Adanya trajectory atau perpindahan, individu-individu bergerak menyiasati kehidupan
mereka sebagai penghuni kota-kota besar. Trajectory menyuguhkan perpindahan,
pergerakan yang dinamis, adalah pijakan bagi seperangkat tindakan dan
operasionalisasi, adalah perpindahan temporal dan memiliki relasi dari satu titik ke
titik lainnya yang merupakan serial kejadian. Serial kejadian yang saya tangkap dalam
narasi perkotaan ini adalah yang diceritakan oleh narasumber dan diberitakan oleh
media massa. Revitalisasi di kawasan Malioboro tidak selalu diikuti oleh peristiwaperistiwa baik lainnya, seringkali peristiwa buruk tetap terjadi. Atau bila dari cerita
para narasumber proses adaptasi penerimaan kawasan terbarukan Malioboro tidak bisa
berlangsung dalam waktu singkat. RS bercerita bahwa setelah revitalisasi jalur
531
e-Proceeding | COMICOS 2017
pedestrian dia baru mampir satu kali ke Malioboro, waktu itu karena ingin mampir ke
kios buku Periplus di Mal Malioboro, tetapi dia tidak memarkirkan motornya di Taman
Parkir Abu Bakar Ali, alhasil dia juga tidak mengakses jalur pedestrian dari ujung
utara. RS hanya mengakses jalur pedestrian yang letaknya tepat di depan mal. “Tapi
parkir motor tidak Abu Bakar Ali, sengaja ga mau parkir di situ. Konsekuensinya kan
ya begitu kalau tidak ada kantong parkir di depan, mal harus punya basement untuk
parkir. Bahkan sekarang area parkir motor di mal itu dibesarkan, diperluas,” tuturnya.
Berbeda dengan GS yang memutuskan parkir motor di Abu Bakar Ali baru kemudian
berjalan kaki di Malioboro. Dia pernah menyusuri jalur pedestrian baru tersebut dari
sisi utara hingga selatan. “Bagus, menyenangkan, vibe-nya positif meski banyak
orang, ga bikin takut ketemu sama orang banyak karena kan Malioboro dulu seperti
itu, umpek-umpekan, jadi males ketemu banyak orang,” ujarnya. Hanya sayangnya,
kondisi taman parkir masih di batas kelayakan dan sangat buruk dipandang mata.
Baginya taman parkir yang dibuat pemerintah saat ini sama sekali tidak estetis, juga
cukup membahayakan karena tanjakannya yang tajam. “Ga estetik sama sekali.
Ditaruh di landmark seperti Malioboro itu mendiskreditkan image Jogja sebagai kota
seni. Keamanannya juga dirasa kurang, area jalan untuk motor naik ke parkiran itu
menakutkan. Secara psikologis membuat kita waswas untuk menaikkan motor,”
tegasnya.
Perkara yang mengikuti tidak sebatas ini, banyak media massa memberitakan
kritik dan saran dari pelancong yang sempat singgah ke Malioboro. Pelancong kerap
mengeluhkan bahwa ketidaknyamanan untuk duduk berlama-lama di Malioboro
adalah begitu banyaknya pengamen. Baru duduk sejenak, pengamen datang
menghampiri untuk meminta uang, dan kondisi itu terjadi terus-menerus.3 Selain
532
e-Proceeding | COMICOS 2017
pengamen, limbah yang dibawa oleh pedagang kaki lima juga menimbulkan polusi
bau dan tentu saja visual. Sampah juga masih berserakan, tak jarang sampah-sampah
dibuang sembarangan di pot-pot tanaman penghias.4 Terakhir, kasus yang ramai
dibicarakan, di saat libur Lebaran ada pedagang kaki lima Intan yang berjualan
makanan di area pedestrian dikenai sanksi tidak boleh berjualan sementara karena aksi
nakalnya, menaikkan harga sekenanya dan tidak sesuai standar, sehingga dilaporkan
oleh pengunjung di media sosial, kemudian UPT bertindak.5
Proyek revitalisasi Malioboro sendiri adalah bagian dari rangkaian agenda
pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta untuk menata ulang pusat kota. Dimulai dari
tahun 2016 yang ditunjukkan melalui revitalisasi jalur pedestrian Malioboro di sisi
timur, sepanjang area dari titik trotoar setelah rel kereta api hingga sebelum Pasar
Beringharjo. Dilanjutkan di tahun 2017 ini mulai dari area Pasar Beringharjo hingga
Titik Nol Kilometer, termasuk di dalamnya rencana pengerjaan di tempat-tempat
turistik, seperti Benteng Vredebur, Monumen 11 Maret sekaligus pembangunan toilet
bawah tanah. Anggaran yang digelontorkan untuk proyek ini pun tidak sedikit.
Pengerjaan toilet bawah tanah memakan dana sekitar 5-6 miliar rupiah, sedangkan
revitalisasi area pedestrian mencapai 23,7 miliar. Tidak selesai di dua tahun ini saja,
selanjutnya tahun 2018 akan dilaksanakan perombakan jalur pedestrian di sisi barat
Malioboro dan tahun 2019 fokus pengerjaan berada di jalan-jalan sirip, seperti: Jalan
Sosrowijayan, Dagen, Pajeksan, Beskalan, Perwakilan, Suryatmajan, Ketanda, dan
Papringan. Proyek jangka panjang ini dikerjakan oleh Pemda DIY melalui Dinas
3
Diambil dari pemberitaan tanggal 19 April 2017 berjudul “Sejumlah Wisatawan Keluhkan
Banyaknya Pengamen di Malioboro”, tautan dari
http://jogja.tribunnews.com/2015/04/19/sejumlah-wisatawan-keluhkan- banyaknya-pengamen-dimalioboro.
4
Data diambil dari pemberitaan tanggal 4 Februari 2017, tautan diakses dari
http://krjogja.com/web/news/read/23525/Sampah_Sisa_Makanan_Kotori_Malioboro, dengan
judul “Sampah Sisa Makanan Kotori Malioboro”.
533
e-Proceeding | COMICOS 2017
5
Pemberitaan tanggal 30 Juni 2017 berjudul “Nuthuk, Harga Warung Lesehan di Malioboro Ditutup”,
https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-3544591/nuthuk-harga-warung-lesehan-didiakses dari
malioboro-ditutup.
534
e-Proceeding | COMICOS 2017
Pekerjaan Umum Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral atau kerap disingkat
DPUP-ESDM, khusus bagi kawasan Malioboro bekerja sama dengan pemerintah
kota Yogyakarta dan UPT
(Unit Pelaksanaan Teknis) Malioboro.6 Didik Kristiadi,
IR, MLA, MAUD, Dosen Perencanaan Wilaya dan Kota Universitas Gadjah Mada
menanggapi, “Melihat Malioboro itu kita harus melihat secara arif. Kita bisa melihat
dari estetik, etik, dan logic. Membuat sesuatu jangka panjang harus memuat tiga
dimensi itu.”7 Didik membayangkan bahwa jalan bisa menjadi tempat pembelajaran
lingkungan yang kompeten.
Charles Baudelaire (sebagaimana dikutip Nas, 2012: 431) memperkenalkan
konsep flâneur—bisa dimaknai dalam Bahasa Indonesia sebagai pengeluyur atau
pelancong iseng— di tahun 1863, dia menuliskan demikian:
For the perfect flâneur for the passionate spectator, it is an immense joy to set
up house in the heart of the multitude, amid the ebb and flow of movement, in
the midst of the fugitive and the infinite. To be away from home and yet to feel
oneself everywhere at home; to see the world, to be at the centre of the world,
and yet to remain hidden from the world […].
Di era modern, ide flâneur memainkan peranan penting dalam evaluasi kehidupan
sosial di sebuah kota dan urbanisasi yang terjadi di dalamnya. Flânerie disusun oleh
konfrontasi di antara kota dengan latar belakang biografis tiap-tiap flâneur, antara
keadaan yang familiar sekaligus asing, flânerie karenanya adalah suatu bentuk
eksplorasi etnografis, dan flâneur bertindak untuk mengumpulkan pengetahuan atas
kotanya
(Nas,
2012:
431-432).
Merekalah,
para
penghuni
kota,
yang
mengombinasikan aktivitas berkeluyur, observasi, partisipasi, serta investigasi secara
berulang. Dengan menjadi flâneur, mereka menegaskan empat elemen diskursif, yakni
gaze, produksi pengetahuan, produksi tekstual, dan waktu. Aktivitas pokok dalam the
gaze, tatapan atau pandangan, adalah observasi dan refleksi. Untuk mencapai hal itu,
535
e-Proceeding | COMICOS 2017
mereka perlu memberikan perhatian pada detil-detil kejadian atau obyek, tanda-tanda,
serta mengamati sekitarnya. Meski melebur bersama kerumunan yang ada di
sekitarnya, mereka tetap independen dan anonim, dengan cara inilah flâneur bisa
mengartikulasikan kebebasan mereka di arena tempat mereka berkeluyur. Pada elemen
kedua, para penghuni kota sebagai tukang keluyur dapat memproduksi pengetahuan
melalui bidang-bidang keilmuan atau teks media serta teks estetika. Selanjutnya
dalam perihal waktu, kerapkali flâneur mendobrak pakem waktu yang ditetapkan oleh
rezim kapitalisme, sebab mereka justru berkeluyur guna mendemonstrasikan
pemanfaatan waktu senggang guna meresistensi penetapan waktu oleh rezim kerja
kapitalis (Trivundža, 2011: 73-79).
6
Pemberitaan tanggal 1 Februari 2017 dengan judul “Revitalisasi Malioboro Tahap II Bakal
Habiskan Rp 17 Miliar‟, diakses dari tautan
http://economy.okezone.com/read/2017/02/01/470/1606521/revitalisasi-malioboro- tahap-ii-bakalhabiskan-rp17-miliar.
7
Diambil dari video wawancara Pemuda Tata Ruang dengan alamat
https://www.youtube.com/watch?v=sHGEZ4srHLY.
536
e-Proceeding | COMICOS 2017
Mengonsumsi Commercial Walking Area di Kota Yogyakarta
Dari ilustrasi di atas kita bisa melihat bagaimana kondisi jalan-jalan yang saling
terhubung di kawasan Malioboro, tidak hanya jalur pedestrian melainkan juga jalan
raya di sekelilingnya. Jalan di Asia Tenggara memang erat kaitannya dengan sektor
perdagangan, dipadati pula oleh interaksi antarmanusia dari banyak golongan dan
lapisan kelas sosial. Jalan, karenanya bisa dipahami sebagai suatu tempat bagi
perpindahan, jalan adalah tempat untuk melintas, jalan mewadahi pergerakan ruparupa, postur, dan beragam bentuk manusia (Jacobs sebagaimana dikutip oleh Raihana,
2007: 48). Kehidupan di kota-kota Asia Tenggara, Indonesia salah satunya—
Yogyakarta di kasus ini—merepresentasikan wujud ruang yang dimanfaatkan bagi
pertumbuhan perdagangan informal, tidak hanya bagi akses kendaraan bermotor dan
pejalan kaki. “Life between buildings” memberikan peluang sekaligus tantangan bagi
para penghuninya (dwellers) (Raihana, 2007: 52). Jalan merupakan ruang bagi
khalayak yang paling banyak ditemui di suatu kota, jalan juga paling banyak dalam
segi luasan dan paling banyak menampung interaksi. Sejak menjadi prasarana, jalan
tidak lagi sekadar ruang antropologis yang dihuni, melainkan juga ruang instrumental
yang dikonsumsi oleh individu- individu yang menumpang untuk lewat (Raihana,
2007: 8-9).
Dengan berjalan, mengalami ruang dan waktu, berhenti dan berkelok sesuka
hati, para pejalan bisa mengambil jeda dan jarak terhadap kota yang mereka diami.
Di situlah muncul
537
e-Proceeding | COMICOS 2017
pandangan atas kota sebagai ruang yang mereka tinggali menjadi lebih terang dan
jelas. Kajian atas tempat (place) dikembangkan pada dasarnya karena hampir semua
teori sosial dan budaya mengandung seluruh penjelasan atas tempat―atas relasi
spasial, juga tidak lupa relasi temporal (waktu)―dengan cara-cara tersendiri. Konsep
konsumsi menyebutkan bahwa konsumer seharusnya diberikan keleluasaan untuk
mengindikasikan apa yang mereka gunakan atau lakukan, apa yang mereka konsumsi.
Keterikatan antara aktivitas konsumsi dengan ruang tempat aktivitas ini berlangsung,
dalam penjelasan John Urry (1995: 1; Budiman, 2002: 36) disebabkan karena tempat
(place) yang mewadahi aktivitas itu menyediakan konteks spasial (spatial context)
yang di dalamnya benda ataupun jasa bisa digunakan, dibeli, dibandingkan, dan
dievaluasi. Sebuah ruangan tidak berfungsi semata-mata sebagai latar fisik, melainkan
juga sebagai pusat-pusat konsumsi (centres of consumption) yang mengelilinginya.
Konsumsi terabaikan dari jangkauan ilmu sosial hingga tahun 1980-an, namun
saat ini konsumsi mulai dilirik sebagai praktik yang signifikan yang menunjukkan
tindakan dan ekspektasi dari orang-orang yang melakukannya, sebagai konsumen,
yang memainkan peran penting dalam mempertahankan kehidupan sosial mereka
(Miles dan Paddison sebagaimana dikutip Jayne, 2006: 7). Konsumen dalam penelitian
ini adalah seluruh narasumber, baik GS, GA, RS, KA, YS, dan PW, termasuk orangorang yang diberitakan dalam media massa sebagai pengunjung Malioboro di saat
senggang mereka. Slater (sebagaimana dikutip Jayne, 2006: 21) menyebutkan bahwa
kultur mengonsumsi tidak hanya sebatas pembelian, penggunaan material atau produk
industrial maupun intelektual, termasuk pengalaman mereka sebagai konsumen bisa
turut membentuk kota yang yang lebih baik. Penting melihat bahwa perkembangan
kota modern tidak hanya terpusat pada lokasi-lokasi perbelanjaan atau perdagangan,
538
e-Proceeding | COMICOS 2017
perkembangannya tergantung pula pada kebijakan publik, institusi, mekanisme
pemerintah yang dimaksudkan untuk memantau pasar dan mengubah praktik
industri. Karenanya pemerintah setempat perlu menyediakan infrastruktur dan
dukungan bagi pertumbuhan kotanya, seperti perlengkapan kerja, edukasi,
transportasi, sistem pembuangan limbah yang memadai, penanggulangan kemiskinan,
dan sebagainya (Jayne, 2006: 24). Sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh YS saat
ditanyai mengenai keluhan-keluhan para pedagang yang merasa pendapatnya turun
akibat pengalihan kantong parkir ke Taman Abu Bakar Ali, “Menurutku itu bukan dua
hal yang mesti berbanding terbalik yo. Kalo infrastrukturnya bisa digarap dengan baik
justru omzetnya (omzet pedangang-pen) bisa meningkat karena kalau logika
oversimplistiknya, space yang sama kalo hanya diisi pedestrian versus diisi motor,
mobil, dan lain-lain kan manusianya banyak kalo diisi pedestrian tok.” Di kasus
Malioboro, pedestrianisasi diambil sebagai langkah menciptakan rupa kota supaya
bisa dinikmati oleh penghuninya. Langkah ini telah diambil oleh pemerintah di banyak
negara sejak puluhan dekade, bahkan abad lalu, sebab manusia pada hakikatnya perlu
merasakan geliat urban di dalam kota yang mereka tinggali untuk berkumpul di ruang
publik yang terbuka dan bersosialisasi.
Di Malioboro pedestrianisasi ditempatkan dalam sebuah kawasan komersial,
turistik, dan historis yang menggabungkan aktivitas berjalan, berkeluyur, dan
berbelanja. Tujuannya adalah mempromosikan kultur jalan kaki dalam upaya
menciptakan kota yang layak huni yang diawali dari suatu kawasan yang amat
populer, harapannya adalah semakin banyak orang yang mau melakukannya. Selain
itu, tentu saja, pemerintah setempat turut bisa mendorong urban branding Yogyakarta
(Balsas, 2014: 256-257). Urban branding yang dipamerkan melalui aksi
539
e-Proceeding | COMICOS 2017
pedestrianisasi Malioboro ada komoditas yang ditawarkan. Appadurai (1989: 6)
menjelaskan bahwa komoditas merupakan segala sesuatu yang ditujukan bagi
pertukaran. Appadurai menjelaskan bahwa nilai sebuah komoditas tidak hanya
ditentukan oleh pemakaiannya dan manfaat (use value), melainkan juga dinilai dari
seberapa jauh sesuatu tersebut bisa dipertukarkan (exchange value). Maka dari
kehadiran
mereka sebagai pejalan, pelancong, penghuni di suatu lokasi, mereka
mengonsumsi suatu komoditas, dalam hal ini kawasan Malioboro dengan tujuan
mempertukarkan nilai. Praktik konsumsi yang mereka lakukan tidak berhenti sampai
di nilai guna, namun kerapkali pemenuhan hasrat, keingintahuan, gaze, sampai status
sosial. Di bawah kapitalisme, komoditas mengambil posisi eksklusif dari pertukaran
nilai. Dari obyek komoditas inilh, baik artefak material maupun nonmaterial, turut
membentuk kehidupan seseorang (Jayne, 2006: 8). Kajian atas konsumsi menjelaskan
bahwa praktik tersebut lekat dengan praktik yng menyusun identitas. Konsumsi tidak
terjadi dalam satu kali tindakan saja, namun selalu berulang membentuk suatu sirkuit
use and reuse—penggunaan dan pengolahannya kembali (Jayne, 2006: 77).
Dalam subbab ini, praktik mengonsumsi ruang semakin kentara. Soja
(sebagaimana dikutip Jayne, 2006: 128-129) menjelaskan bagaimana ruang
dikonstruksi sebagai lokasi yang riil, yang terbayangkan (imagined), dan dialami
langsung (perceived) melalui tiga elemen pembentukan dialectics of spatiality—
dialektika dari ruang, yakni: (1) praktik spasial (spatial practice) didefenisikan sebagai
produksi dan reproduksi material fisik yang menjadi medium dari aktivitas manusia,
seperti jalan, gedung, taman, tempat parkir, toko, dan sebagainya. Selanjutnya (2)
representasi dari ruang (representations of space) yang hadir dalam dokumendokumen resmi, tata rencana, buku, media-media, bahkan penulisan ilmiah. Kemudian
540
e-Proceeding | COMICOS 2017
(3) ruang representasi (spaces of representation) adalah kombinasi dari kedua elemen
di atas, ini adalah thirdspace (ruang ketiga), ruang yang dihuni dan dialami secara
langsung. Thirdspace adalah ruang yang kita rasakan langsung, di dalamnya para
penghuni bisa merasa layaknya berada di rumah atau justru terasing dan terancam.
Sebagai bagian dari urban dweller, YS merespon thirdspace Malioboro dengan
menjelaskan intensinya atas kawasan terbarukan ini, “Teduh, misal dengan kanopi
tanaman rambat. Bersih, Malioboro yang dulu kan pesing karena limbah kaki lima,
jadi kaki lima ini perlu dipikirkan juga misal didaftar dan ditata di satu lokasi yang
disiapkan jaringan sanitasi sekalian, mencontoh Pemda DKI di Monas misalnya,
nyaman, estetis, aman. Pasang CCTV lah... Bisa saling menumbuhkan itu, tidak mesti
kontradiktif.”
Ruang ketiga bagi setiap individu bisa saja tidak sama, pengalaman dan refleksi
antara narasumber saya yang notabene lahir dan besar di Jogja tidak selalu sama
dengan para pelancong yang datang dari luar Yogyakarta. Saat saya melakukan
observasi lapangan di jalur pedestrian Malioboro, nyatanya orang-orang tidak saja
sibuk berjalan kaki, tidak sedikit pula yang asyik nongkrong di bangku-bangku yang
disediakan di situ. Banyak juga yang berfoto. Mereka menggunakan smartphone untuk
memotret, ada pula yang menggunakan DSLR. Di foto-foto yang mereka ambil
melalui gadget mereka, para pelancong ingin membuktikan bahwa mereka telah
berada di sana. Citra-citra menunjukkan bahwa mereka mencapai status “having been
there”, bersamaan dengan mereka menandai teritori baru secara simbolik,
menunjukkan kekuasan yang mereka miliki, juga selera dari pencapaian mereka
menemukan- menemukan destinasi-destinasi lanskap nan molek (Parmeggiani, 2010:
99). Seperti yang saya singgung sebelumnya, dalam tourist gaze konsumsi turut hadir,
541
e-Proceeding | COMICOS 2017
para pelancong mengonsumsi lanskap secara visual lalu direkam melalui sebuah
medium, kemudian direproduksi ke dalam teks-teks media foto. John Urry (1995)
menjelaskan bahwa relasi antara suatu tempat atau lokasi dengan praktik konsumsi
dapat dilihat dari empat hal, yang pertama tempat ditawarkan dan “dijual” sebagai
pusat-pusat konsumsi, darinya baik produk barang atau jasa dikomparasi, dievaluasi,
digunakan, dan dibeli; yang kedua suatu tempat dikonsumsi khususnya secara visual;
(3) tempat bisa secara literer dikonsumsi, itulah mengapa suatu tempat bisa habis,
dinyatakan sudah usang, rusak, dan reyot karena dikonsumsi terus-menerus.
Narasi urban lain yang bisa saya ketahui dalam proses wawancara adalah
komparasi
serta
evaluasi
yang
direfleksikan
oleh
narasumber.
Mereka
membandingkan, merefleksikan, serta mengevaluasi praktik berjalan di Malioboro
dengan dengan lokasi lainnya.
GA: Dia bercerita bahwa pengalamannya berjalan kaki yang nyaman itu
terjadi saat berada di kawasan sekitar Sudirman-Thamrin, Jakarta. Berjalan
kaki dari Plaza Indonesia menuju arah Sarinah, selain itu di kawasan
SCBD. Sayangnya, setelah keluar dari area tersebut, GA tetap menemui
kesemrawutan jalan raya. Pengalaman lainnya adalah ketika GA berada di area
pedestrian di Stuttgart, Jerman, “Yang di area pedestrian itu bener-bener steril,
ga ada yang parkir, ga ada yang jualan. Kalau aku perhatikan di sana itu selalu
ada bangku setiap beberapa meter. Kalau di area komersial, mereka
kebanyakan juga window-shopping, jalan berapa meter terus lihat- lihat. Kalau
di Jerman itu koneksinya adalah halte dan subway, lorong menuju kereta
bawah tanah. Di beberapa (lokasi-pen) aku juga lihat tersedia lift, biasanya
dipakai untuk difabel atau lansia.”
RS: “Pernah, di kota lain, di Bandung, di Braga (tahun 2017). Kawasan turistik
juga. Jalannya malam-malam, jalan di Braga itu lebih kecil dua arah, konblok.
Konblok itu bisa untuk memperlambat, bisa untuk membedakan kawasan.
Yang mengitari itu adalah toko dan café. Yang lebih bagus menuruku karena
tetap dipertahankan bentuk kunonya. Jadi ceritanya nginep di hotel dekat situ,
trus sengaja menikmati kawasan Braga di malam hari dengan berjalan kaki,
lalu mampir ngopi, dan balik ke hotel. Dingin, anginnya besar, tapi tidak hujan.
Mantap,” ujarnya.
GS: Pengalaman serupa adalah saat berjalan-jalan di Chinatown di Singapore
542
e-Proceeding | COMICOS 2017
dan Wangsa Maju di Kuala Lumpur. Keduanya memang spot turistik tapi GS
memiliki pengalaman menyenangkan berjalan kaki di situ. Meski demikian,
GS justru merasa yang paling dia sukai adalah bila berjalan kaki tidak di lokasilokasi turistik. Lokasi- lokasi permukiman warga di sekitar Tamansari dan
Tembok Beteng baginya menyenangkan untuk ditelusuri tanpa terlalu
“menjual”.
YS: “Di Bali yo akeh… Ada semacam area yang bustling, dalam konteks itu
malah jalan-jalan kecil yang intim, jalan-jalan utama urip sih tapi coraknya
beda, ga se- bustling Oberoi. Atau di Taipei, yang hampir di seluruh kota
karena menyenangkan untuk jalan-jalan.”
Dari cerita-cerita yang mereka bagikan maka relasi antara konsumsi dengan dinamika
perkotaan bisa dimediasi oleh interaksi antara praktik-praktik dan proses spasial,
ekonomi, politik, sosial, serta kultural (Jayne, 2006: 15). Mereka hadir sebagai
penghuni yang tidak terbatasi, justru mereka yang aktif menspasialisasi, “They are not
localized, it is rather they that spatialize” (de Certeau, 1984: 97).
543
e-Proceeding | COMICOS 2017
BAB IV
PENUTUP
Dari uraian di atas, analisis temuan data dan pembahasan yang telah saya lakukan,
maka commercial pedestrian area yang saat ini tengah dibangun di kawasan Malioboro
merupakan suatu arena yang menyediakan komoditas bagi para urban dwellers supaya
dapat dikonsumsi. Praktik konsumsi yang mereka lakukan, tersebar mulai dari
penduduk lokal, pendatang yang sedang melancong, para pedagang, tukang parkir,
termasuk pedestrian itu sendiri, tidak hanya mengonsumsi material fisik, namun juga
citra visual, peristiwa, perjalanan, tanda-tanda. Seluruhnya berkumpul membentuk
suatu narasi dalam dinamika perkotaan, dalam riset ini adalah Yogyakarta. Menarik
untuk mendalami lebih lanjut, salah satu strategi urban branding yang dijalankan oleh
Pemda DIY ini, yaitu pedestrianisasi Malioboro.
Sebab, seperti yang diujarkan oleh Urry (2002: 174) terdapat empat hal yang
saling terhubung ketika urban dwellers mengonsumsi lingkungan fisik, yaitu: (1)
stewardship, penataan untuk menyajikan suatu area yang layak huni bagi generasi
selanjutnya (2) eksploitasi kawasan atau sumber daya alam lainnya secara tepat guna
(3) scientisation, memperlakukan lingkungan sebagai obyek insvestigasi ilmiah (4)
dan visual consumption, mengonsumsi nilai visual dan estetis dari lanskap-lanskap
kota. Berangkat dari cara ini, bisa saya simpulkan bahwa tujuan dari pelaksanaan
proyek ini, bisa mengakomodasi elemen humanis sekaligus komersial. Keduanya bisa
memenuhi paling tidak dua kebutuhan utama, yaitu: humanisme yang terus diusahakan
supaya lestari dan kian terasa di pusat kota Yogyakarta, di mana sasaran utamanya
adalah pedestrian. Selain itu, penguatan segi komersial, dari sini berasal dari praktik
544
e-Proceeding | COMICOS 2017
pelancongan atau turisme yang tetap dipertahankan Pemda DIY. Karenanya saya rasa,
agenda pedestrianisasi semacam ini patut diapresiasi dan didukung oleh banyak pihak.
Bukan saja menambahkan citra kota Yogyakarta yang habitable, namun juga
membangkitkan geliat kota untuk terus berkembang. Meski seringkali praktik
konsumsi diremehkan, dengan keberadaan pedestrian di tengah-tengah Malioboro,
justru cara inilah yang bisa dibilang tepat untuk menjaga agar suatu ruang selalu
bergeliat. Dengan cara mendatangi pusat konsumsi, melakukan aktivitas di lokasi
tersebut, membentuk jejaring sosial di dalam ruang, mengapresiasi sekaligus
mengevaluasi, yang dilakukan terus menerus membentuk sirkuit kebudayaan.
Penelitian yang saya lakukan ini masih minor, saya merasa masih banyak yang
bisa ditambahkan. Cara-cara yang bisa dilakukan antara lain adalah menyusun riset
dengan data yang lebih luas, yang mengakomodasi suara-suara dari lebih banyak kelas
sosial masyarakat untuk mengetahui tanggapan mereka atas kota yang mereka huni.
Praktik konsumsi sendiri adalah suatu praktik di bidang ilmu yang patut untuk dilirik.
Kajian-kajian atas konsumsi saya rasa tidak cukup bila berhenti di pusat kota saja.
Praktik konsumsi bahkan bisa diteliti dari ruang yang kecil, seperti rumah, keluarga,
dan merangkul isu-isu yang lebih beragam. Di antaranya: bagaimana konsumsi
berelasi dengan gender, bagaimana menelusuri konsumsi di kota-kota lain selain
Yogyakarta, dan masih banyak lagi. Selebihnya adalah persoalan kota, di tempat saya
tinggal ini, isu-isu yang perlu digali begitu banyak dan beragam. Dengan mengetahui
bagaimana media massa lokal membingkai berita tentang Yogyakarta, dari situlah ideide penelitian saya rasa bisa diangkat.
545
e-Proceeding | COMICOS 2017
DAFTAR PUSTAKA
Appadurai, Arjun (ed). (1986). The social life of things: commodities in cultural
perspective.
Cambridge, UK: Cambridge University Press.
Balsas, Carlos. (2014). Walking and urban vibrancy, an international review of
commercial pedestrians precincts. Cidades, 11 (18), 230-260.
Budiman, Kris. (2002). Di depan kotak ajaib: menonton televisi sebagai praktik
konsumsi.
Yogyakarta, IDN: Galang Press.
Calfee, R. C., & Valencia, R. R. (1991). APA guide to preparing manuscripts for
journal publication. Washington, DC: American Psychological Association.
Fairclough, Norman. (1995). Critical discourse analysis: the critical study of
language. New York, NY: Longman Publishing.
Jarvis, Robin. (1997). Romantic writing and pedestrian travel. New York, NY: St.
Martin‟s Press, Inc.
Jensen, Klaus Bruhn & Nicholas W. Jankowski (eds). (1991). A handbook of
qualitative methodologies for mass communication. London, UK: Routledge.
Kriyantono, Rachmat. (2008). Teknik praktis riset komunikasi: disertai contoh praktis
riset media, public relations, advertising, komunikasi organisasi, komunikasi
pemasaran. Jakarta, IDN: Kencana Prenada Media Group.
Macdonell, Diane. (2005). Teori-teori diskursus: kematian strukturalisme &
kelahiran postrukturalisme dari althusser hingga foucault. Jakarta, IDN: Penerbit
Teraju.
Mulyana, Deddy dan Solatun (eds). (2007). Metode penelitian komunikasi: contohcontoh penelitian dengan pendekatan praktis. Bandung, IDN: PT Remaja
Rosdakarya Offset.
Nas, Peter J.M.. (2012). The urban anthropologist as flâneur: the symbolic pattern of
Indonesian cities. Wacana, 14 (2), 429-454.
Parmeggiani, Paolo. 2010. “Integrating Multiple Research Methods: A Visual
Sociology Approach to Venice” dalam Burns, P. et. al. (eds). Tourism and
Visual Culture, Vol.2.
Raihana, Hani. 2011. Negara di persimpangan jalan kampusku. Yogyakarta, IDN:
Impulse. Schrage, Dominik. (2012). The availability of things: a short genealogy of
consumption.
Krisis: Journal for Contemporary Philosophy, 1, 5-20.
Trivundža, Ilija Tomanić. (2011). Dragons and arcades: towards a discursive
construction of the flâneur. The Researching and Teaching Communication Series:
Critical Perspective on the European Mediasphere. Ljubljana: Faculty of Social
Sciences.
Urry, John. (1995). Consuming places. London, UK: Routledge.
Urry, John and Jonas Larsen. (2011). The tourist gaze 3.0. Nottingham, UK: SAGE
Publication Ltd.
Yin, Robert K. (1994). Case study research. London, UK: SAGE Publications.
SUMBER
546
e-Proceeding | COMICOS 2017
ELEKTRONIK
(2016, Desember 13). Pedestrian malioboro dilaunching 22 desember 2016.
Tribun Jogja. Diakses dari http://jogja.tribunnews.com/2016/12/13/pedestrianmalioboro-dilaunching- 22-desember-2016
(2017, Februari 1). Revitalisasi malioboro tahap II berlanjut di maret 2017.
Tribun Jogja. Diakses dari
http://jogja.tribunnews.com/2017/01/19/revitalisasi-malioboro-tahap-iiberlanjut-di-maret-2017
(2017, Maret 6). Revitalisasi malioboro tahap II dikerjakan oleh kontraktor
tahap I. Tribun Jogja. Diakses dari
http://jogja.tribunnews.com/2017/03/06/revitalisasi-malioboro-tahap- iidikerjakan-oleh-kontraktor-tahap-i
(2017, Juni 30). “Nuthuk” harga, warung lesehan di malioboro ditutup. Detik.
Diakses dari https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-3544591/nuthukharga-warung-lesehan-di- malioboro-ditutup
(2017, Juli 12). Sultan minta jalan-jalan sirip sekitar malioboro dibenahi. Tempo.
Diakses dari https://travel.tempo.co/read/news/2017/07/12/204890926/sultanminta-jalan-jalan-sirip- sekitar-malioboro-dibenahi
(2017, Juli 30). Revitalisasi malioboro tahap II berlanjut di maret 2017. Tribun Jogja.
Diakses dari http://jogja.tribunnews.com/2017/01/19/revitalisasi-malioborotahap-ii-berlanjut-di- maret-2017
547
e-Proceeding | COMICOS 2017
548
e-Proceeding | COMICOS 2017
Abstrak
ENKUTURASI BUDAYA PADA MASYARAKAT JATON
(MASYARAKAT JATON MENJAGA KERUKUNAN
DENGAN MASYARAKAT MINAHASA)
Suzy Azeharie
Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara Jakarta
[email protected]
Kampung Jawa Tondano atau Jaton terletak di Kecamatan Tondano Utara,
Minahasa. Seluruh warga Jaton beragama Islam. Mereka merupakan merupakan
keturunan dari salah seorang pahlawan Perang Jawa karismatik bernama KH
Muhammad Khalifah Modjo. Kyai Modjo merupakan guru agama Islam Pangeran
Diponegoro yang berperang melawan kolonialisme Belanda tahun 1825 sampai
1828.
Ketika Kyai Modjo dan anaknya Ghazali dibuang ke Minahasa pada tahun
1829 ikut bersamanya 63 pejuang lainnya. Istri Kyai Modjo menyusul ke
Minahasa satu tahun kemudian. Dalam masa pembuangannya Kyai Modjo
melanjutkan usahanya menyebarluaskan agama Islam di Minahasa. Hampir
semua pengikutnya, Kecuali Kyai Modjo, menikah dengan perempuan Tondano.
Selama hampir 200 tahun tinggal di jantung masyarakat Nasrani, kedua
kelompok ini hidup rukun, damai dan saling menghormati. Penelitian ini akan
melihat bagaimanakah enkulturasi budaya berlangsung pada masayarakat Jaton
sehingga kerukunan tercipta antara masyarakat minoritas muslim dengan
mayoritas Nasrani.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data dalam penelitian
ini terdiri dari data primer dan juga data sekunder. Data primer dalam penelitian
ini diperoleh melalui wawancara mendalam dengan dua key informant dan empat
informant di Kampung Jaton, Tondano Utara. Data sekunder dalam penelitian ini
diperoleh dengan cara mengumpulkan studi pustaka yang relevan dalam
penelitian ini. Studi pustaka diperoleh melalui berbagai sumber mulai dari sumber
buku sampai dengan sumber online.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa orang tua di Jaton
memainkan peranan signifikan dalam meneruskan nilai nilai kerukunan pada
masyarakat. Hal itu disebabkan antara lain faktor bahwa antara warga Islam
dengan Nasrani terjalin hubungan kekerabatan akibat perkawinan sehingga terjadi
toleransi dan saling menghormati diantara kedua kelompok warga. Pemerintah
Daerah juga memainkan peranan penting dalam membuat kedua kelompok itu
kohesif. Hal lain juga adalah terjadinya akulturasi budaya dalam masyarakat Jaton
sehingga membuat hubungan dengan kelompok mayoritas Nasrani berlangsung
dengan harmonis.
Keywords : Kampung Jaton, Minahasa, Enkulturasi Budaya, Kerukunan
549
e-Proceeding | COMICOS 2017
CULTURAL ENCULTURATION IN JATONESE SOCIETY
(JATON PEOPLE KEEPING HARMONY WITH THE MINAHASA SOCIETY)
Abstract
Kampung Jawa Tondano or Jaton is located in North Tondano Subdistrict, Minahasa. All
citizens Jatis are Muslims. They are descendants of one charismatic Java war heroes
named KH Muhammad Khalifah Modjo. Kyai Modjo was an Islamic teacher of Prince
Diponegoro who fought against Dutch colonialism from 1825 to 1828.
When Kyai Modjo and his son Ghazali were thrown into Minahasa in1829, he joined with
63 other fighters. Kyai Modjo's wife followed to Minahasa one year later. In his exile
Kyai Modjo continued his efforts to spread Islam in Minahasa. Almost all of his
followers, except Kyai Modjo, married to Tondano women.
For nearly 200 years living in the heart of Christian settlement, these two groups live in
harmony, peace and mutual respect. This study will look at how cultural enculturation
takes place in Jaton society so that harmony is created between Muslim minority
communities with the majority of Christians.
This research uses qualitative approach. Data in this research consist of primary data and
also secondary data. The primary data in this study was obtained through in-depth
interviews with two key informants and four informants in Jaton Village, North Tondano.
The secondary data in this study was obtained by collecting relevant literature studies in
this study. Library study was obtained through various sources ranging from book sources
to online sources.
The conclusion of this study is that parents in Jaton play a significant role in continuing
the value of harmony in society. This is caused among other factors that between Muslims
and Christians established kinship relationship due to marriage so that there is tolerance
and mutual respect between the two groups of citizens. Local governments also play an
important role in making both groups cohesive. Another thing is also the occurrence of
cultural acculturation in Jaton society so as to make connections with the majority group
of Christians took place in harmony.
Keywords: Kampung Jaton, Minahasa, Culture Enculturation, Harmony
Pendahuluan
Pada abad ke 16 bangsa Portugis mulai mengeksploitasi di tanah Minahasa di
Sulawesi Utara (http://manado.tribunnews.com/2013/07/26/sekilas-sejarah-masuknyainjil-kristen-di-tanah-minahasa, diunduh tanggal 4 Juli 2017 jam 06.56). Periode
penjajahan bangsa Eropa ini tidak hanya meninggalkan jejak peninggalan arsitektur
maupun kisah sejarah kekuasaan politik dan sistem administrasi akan tetapi yang paling
utama adalah membawa pengaruh pada kehidupan sosial masyarakat Minahasa.
550
e-Proceeding | COMICOS 2017
Misalnya dengan menyebarkan agama Kristen sehingga saat ini agama Nasrani dipeluk
mayoritas masyarakat Minahasa.
Dengan latar belakang sejarah seperti itu kerukunan beragama yang harmonis dapat
ditemukan di Minahasa.
Hal ini dapat dilihat pada sebuah Kampung di Kecamatan Tondano Utara,
Kabupaten Minahasa yang dikenal sebagai Kampung Jawa Tondano (selanjutnya
disebut sebagai Jaton) berdiri tahun 1830. Seratus persen masyarakat Jawa
Tondano ini beragama Islam dan merupakan keturunan dari salah seorang
pahlawan Perang Jawa karismatik bernama KH Muhammad Khalifah Modjo.
Kyai Modjo, merujuk pada Dzikry Subhanie, merupakan guru agama Islam
Pangeran Diponegoro yang berperang melawan kolonialisme Belanda tahun 1825
sampai 1828 (2015:1).
Bersama 63 pejuang lainnya Kyai Modjo dan putranya Gazali yang
berusia lima tahun ditangkap oleh Belanda tahun 1828 dan dibuang ke Minahasa.
Dalam
masa
menyebarluaskan
pembuangannya
agama
Kyai
Modjo
Islam
melanjutkan
di
usahanya
Minahasa
(http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbMinahasa/2015/05/09/makam-kyaimojo-di-tondano/ diunduh tanggal 11 April 2016 jam 09.27).
Ikut bersamanya saat itu beberapa orang kerabat dekat yang memiliki
pertalian darah dengannya yaitu Tumenggung Reksonegoro, Kyai Pulukadang,
Tumenggung Zess Pajang, Ilyas Zess, Wiso/Ngiso Pulukadang dan Kyai
Baderan/Kyai Sepuh) serta lebih dari 50 orang pengikut lainnya yang semuanya
laki-laki. Istri Kyai Modjo menyusul ke Tondano setahun kemudian
(http://www.tribunnews.com/travel/2015/06/21/ziarah-ke-makam-kyai-modjo-
551
e-Proceeding | COMICOS 2017
sang-penasihat-spiritual-pangeran-diponegoro diunduh tanggal 15 Juni 2017 jam
06.55April).
Pada tahun 1831 didirikanlah sebuah Kampung kecil dengan Kepala
Kampung pertama Kyai Modjo. Ketika ia wafat tanggal 20 Desember 1849 dalam
usia 85 tahun kampung kecil tadi terus berkembang menjadi pemukiman dan
sampai kini dikenal sebagai Kampung Jaton. Masih dari sumber yang sama
diketahui bahwa kecuali Kyai Modjo maka hampir semua pengikutnya menikah
dengan perempuan Tondano antara lain bermarga Tombokan, Walalangi,
Tumbelaka, Rumbayan. Ajaran Kyai Modjo, menurut Agus Yulianto, untuk hidup
damai dan penuh toleransi serta saling menghormati satu sama lainnya terus
bertahan sampai sekarang dan tetap terpelihara dengan baik meskipun kelompok
ini menjadi minoritas (2016:1).
Meskipun Kampung Jaton yang terletak sekitar 45 kilometer dari pusat
kota Minahasa terletak ditengah pemukiman masyarakat Minahasa yang
merupakan mayoritas dan dikenal sebagai wilayah “seribu gereja” tapi
masyarakat Jaton hidup rukun dengan kelompok Nasrani. Tidak pernah terdengar
ada perselisihan apalagi sampai terjadi kerusuhan dikalangan kedua kelompok ini.
“Rukun” dalam arti ini sesuai dengan arti kata rukun menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia yaitu baik dan damai, tidak bertengkar tentang pertalian
persahabatan
dan
sebagainya
atau
bersatu
hati
atau
bersepakat
(http://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/rukun, diunduh tanggal 12 Januari 2017 pukul
11.53).
Penelitian ini ingin melihat bagaimanakah enkulturasi budaya yang
berlangsung pada masyarakat Jaton. Menurut William Haviland semua
552
e-Proceeding | COMICOS 2017
kebudayaan merupakan hasil belajar dan bukan warisan biologis. Seseorang,
menurut Haviland, mempelajari kebudayaannya dengan menjadi besar di dalam
kebudayaan tersebut. Proses penerusan kebudayaan dari generasi satu ke generasi
lainnya disebut enkulturasi ( Haviland, 1999:338-339).
Metodelogi Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif
menurut Bagong dan Sutinah (2011:174) sesuai bila penelitian itu ingin
mendeskripsikan latar dan interaksi yang kompleks dari partisipan serta
memahami keadaan yang terbatas jumlahnya dengan fokus yang mendalam dan
rinci.
Pendekatan kualitatif ini dipilih peneliti karena akan mendeskripsikan
bagaimanakah enkulturasi budaya pada masyarakat Jaton di Tondano dalam
mewujudkan kerukunan bermasyarakat.
Teknik Pengumpulan Data
Data dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan juga data sekunder.
Data primer penelitian diperoleh melalui wawancara mendalam dengan key
informant dan juga informant. Kegiatan pengumpulan data berupa observasi dan
wawancara mendalam dengan key informant dan informant dilakukan pada
tanggal 4 sampai dengan 6 April 2017.
Key informant penelitian ini adalah Mody Maukar (67), seorang pensiunan
Perusahaan Ekspedisi berasal dari Minahasa keturunan keluarga Maukar.
553
e-Proceeding | COMICOS 2017
Kemudian data digali juga dari Aisha (62), istri dari Mody Maukar,
yang
merupakan keturunan ke sembilan dari Kyai Pajang salah seorang pengikut Kyai
Modjo. Informan lain dalam penelitian ini adalah Asrul (48) seorang pemuka
masyarakat serta anak laki-laki dari pasangan Bapak Maukar dan Ibu Aisha yaitu
Hendi (27) dan Rani (23).
Pembahasan
Populasi Kecamatan Tondano Utara menurut Badan Pusat Statistik sekitar
125 ribu orang (https://minahasakab.bps.go.id/index.php/publikasi). Sementara di
Kampung Jaton terdapat sekitar 2000 jiwa. Kampung Jaton terletak diketinggian
1000 meter di atas permukaan laut sehingga udaranya sejuk sepanjang waktu.
Seorang perempuan pendatang dari Jakarta mengakui bahwa meskipun ia merasa
betah tinggal di Jaton akan tetapi keluhan utamanya adalah udara yang dirasa
sangat dingin bagi dirinya.
Hidup berdampingan dengan rukun selama ratusan tahun tak pelak
menjadikan kedua kelompok masyarakat Minahasa dan Jawa, yang memiliki latar
belakang kebudayaan berbeda ini menerapkan komunikasi antar budaya dengan
santun. Komunikasi antarbudaya oleh Larry A.Samovar et.al didefinisikan
sebagai komunikasi yang melibatkan interaksi antara orang orang yang persepsi
budaya dan sistem simbolnya berbeda dalam suatu komunikasi (Samovar,
2010:13). Dari pendapat Samovar tadi dapat dijabarkan bahwa komunikasi terjadi
di antara produsen pesan dan penerima pesan yang berbeda latar belakang
kebudayaannya.
Dalam konsep budaya dikenal salah satu unsur budaya yaitu budaya
554
e-Proceeding | COMICOS 2017
nonmaterial. Menurut Alo Liliweri budaya nonmaterial wujudnya adalah berupa
gagasan, idea yang diikuti dengan penuh kesadaran atau bahkan dengan ketakutan
kalau tidak dijalankan (Liliweri, 2002:50). Bentuknya berupa nilai, norma atau
kepercayaan. Sementara budaya material adalah segala sesuatu yang dihasilkan
dan digunakan oleh manusia seperti peralatan, mesin, karya seni dll.
Bentuk budaya material dan nonmaterial diperoleh melalui proses belajar
dengan cara cara tertentu sesuai dengan kebudayaan dalam sebuah keluarga atau
kelompok sosial tertentu. Cara mempelajari kebudayaan adalah melalui
penggunaan simbol, bahasa verbal maupun nonverbal menurut Larry A.Samovar
disebut sebagai “enkulturasi” atau proses pembelajaran suatu budaya secara total
(Samovar et.al, 2010 : 31-33).
Selain dipelajari maka budaya juga menurut Samovar et.al lebih lanjut,
diteruskan dari generasi ke generasi melalui simbol simbol seperti gerakan,
pakaian, obyek, bendera, ikon keagamaan dan sebagainya (Samovar et.al,
2010:44-46).
Cara mempelajari kebudayaan adalah melalui penggunaan simbol, bahasa
verbal maupun nonverbal. Larry A.Samovar et.al adalah orang yang mengenalkan
kata “enkulturasi” atau proses pembelajaran suatu budaya secara total (Samovar
et.al, 2010:31-33).
Selain dipelajari maka menurut Samovar et.al lebih lanjut budaya juga
diteruskan dari generasi ke generasi melalui simbol simbol seperti gerakan,
pakaian, obyek, bendera, ikon keagamaan dan sebagainya (Samovar et.al,
2010:44-46).
Sementara menurut Koentjaraningrat proses enkulturasi adalah proses
555
e-Proceeding | COMICOS 2017
belajar dan menyesuaikan pikiran serta sikap terhadap adat istiadat, sistem norma
dan
semua
peraturan
yang
terdapat
dalam
kebudayaan
seseorang
(Koentjaraningrat, 1986:233).
Agar budaya masyarakat Jaton terus terjaga dan kerukunan dengan
kelompok mayoritas dipertahankan maka nilai, norma dan kepercayaan ini
diturunkan pada generasi berikutnya. Caranya adalah dengan melalui pendidikan
dalam keluarga, belajar dari nilai nilai yang dianut masyarakat dan melalui
pendidikan di sekolah. Melalui wadah pembelajaran tersebut maka fungsi
enkulturasi yaitu untuk mensosialisasikan nilai nilai budaya dan menjaga identitas
sosial dapat terus terjaga.
Hal di atas sesuai dengan pendapat Harry Daniels et.al yang mengatakan
bahwa “much of the most important learning happens through social interaction”
(2017).
Salah satu unsur penting dalam kebudayaan adalah nilai karena nilai,
menurut Liliweri, membimbing manusia untuk menentukan apakah sesuatu itu
boleh atau tidak boleh dilakukan (Liliweri, 2002:50).
Dari wawancara dengan Mody Maukar dan keluarga serta dengan Asrul
yang merupakan pemuka masyarakat asli Jaton maka nilai yang diteruskan secara
turun-temurun oleh masyarakat Jawa Tondano adalah nilai agama yang melekat
erat dengan nilai sosial. Nilai-nilai inilah yang mewujudkan kerukunan antar
umat beragama.
556
e-Proceeding | COMICOS 2017
Foto dengan Keluarga Mody Maukar
(Sumber : Dokumentasi Penulis)
Hal yang dikemukakan oleh Mody Maukar ketika melakukan wawancara
adalah untuk masyarakat Jaton, fenomena seseorang berpindah agama tidak
dipandang sebagai sesuatu yang luar biasa. Hal tersebut kemungkinan dipengaruhi
oleh salah seorang keturunan langsung Kyai Modjo yang bernama Husein.
Menurut Mody Maukar, Husein menikah dengan seorang gadis dari Papakelan
Minahasa dan pindah menjadi Kristen. Hal yang sama juga terjadi pada nenek dari
Aisah, istri Mody Maukar yang berasal dari Wayong Tomohon. Setelah ia
menikah maka ia pindah masuk Islam. Tapi keluarga sampai sekarang keluarga
Wayong tetap rukun. Apabila merayakan Natalan maka keluarga yang Islam
berkunjung. Sebaliknya ketika Lebaran maka keluarga Wayong yang Kristen pun
mengunjungi rumah keluarga yang merayakan Hari Raya Idul Fitri. Di keluarga
Maukar hal yang hampir sama terjadi. Orang tua Mody Maukar memiliki
sembilan anak yang terdiri dari lima perempuan dan empat laki laki. Keempat
anak laki laki menikah dengan perempuan Islam dan berpindah agama menjadi
557
e-Proceeding | COMICOS 2017
Islam sementara kelima anak perempuan tetap beragama Kristen. Meskipun
demikian hubungan kekeluargaan di antara kesembilan bersaudara dengan
keturunannya berlangsung baik. Hubungan kekerabatan diantara kedua kelompok
yang berlainan kepercayaan ini membuat setiap orang bersikap toleran dan saling
menghormati karena diantara mereka terjalin hubungan persaudaraan. Kesadaran
bahwa leluhur kakek atau opa warga Jaton berasal dari Jaton dan leluhur nenek
atau oma mereka dari Minahasa juga membuat warga Jaton tampaknya melakukan
adaptasi secara kultural dengan warga Minahasa.
Dalam mewujudkan kerukunan antarumat beragama di Jaton, masyarakat
saling menghormati dengan cara mengucapkan Selamat Hari Raya Natal
ditujukan bagi masyarakat Minahasa yang merayakan Natal. Begitupun
sebaliknya saat masyarakat Jaton merayakan Hari Raya Idul Fitri, masyarakat
Minahasa mengucapkan “Selamat Hari Raya Idul Fitri”. Masyarakat Minahasa
mendatangi rumah di Kampung Jaton pada hari ketujuh setelah lebaran, yang
dinamakan “Lebaran Ketupat”. Saat Lebaran Ketupat masyarakat Nasrani
Minahasa, Tondano dan daerah lainnya berkunjung ke Kampung Jaton untuk
merayakan Lebaran Ketupat dengan cara makan bersama, berbincang yang
menjadikan kohesi masyarakat Jaton dan Minahasa serta daerah lainnya melekat
erat. Menu makanan yang disajikan sesuai dengan tema yaitu ketupat, sayur
buncis, rendang, sate yang ditumis seperti opor ayam dan dodol. Sedangkan untuk
menu nasi dengan lauk pauk gado-gado dan soto ayam disajikan pada saat Hari
Lebaran setelah Shalat Ied Fitri. Lebaran Ketupat tahun 2017 ditandai dengan
datangnya Sri Sultan Hamengku Buwono X ke Kampung Katon sekaligus
menghadiri Munas II Kerukunan Keluarga Jawa Tondano tanggal 30 Juni 2017.
558
e-Proceeding | COMICOS 2017
Sementara pada hari Natal, keluarga Nasrani menyiapkan dua buah meja.
Satu meja khusus berisi hidangan halal untuk keluarga mereka yang beragama
Islam dan datang berkunjung. Sementara itu tidak disangsikan lagi bahwa peran
aparat Pemerintah Daerah juga cukupmbesar dalam merekatkan kerukunan umat
beragama. Karena dari hasil wawancara diketahui bahwa pada setiap kesempatan
Lurah Jaton Surianto Mertosono meminta masyarakat untuk terus menjaga tali
silaturahmi dengan sesama warga.
Nilai kerukunan ini diteruskan pada malam Jumat ketika anak anak Jaton
melakukan “asrokalan” setiap malam Jumat. Saat “asrokalan”, anak anak
membaca Kitab Barzanji dengan irama Melayu. Setelah selesai membaca Kitab
Barzanji, biasanya orang yang lebih tua, mengulas isi kitab yang berisi perjalanan
hidup Nabi Muhammad SAW tersebut. Umumnya di pondok pondok pesantren,
kitab Barzanji dibaca pada hari Senin malam sesuai dengan hari kelahiran
Rasulullah akan tetapi banyak orang yang membacanya pada malam Jumat untuk
mengharapkan keberkahan malam tersebut seperti yang terjadi di Jaton.
Fenomena “asrokalan” ini sejalan dengan pendapat Edward T.Hall dan William
Foote Whyte dalam buku Deddy Mulyana yang menyebutkan bahwa sebuah
budaya dalam banyak hal dipengaruhi komunikasi. Karena budaya menentukan
intensitas emosi yang dituntut oleh adat kebiasaan (Mulyana, 1996:37).
Pembacaan Kitab Barzanji yang dilakukan di mesjid Jaton diperkirakan
karena di Kecamatan Tondano Utara belum terdapat pondok pesantren. Di
Kampung Jaton hanya terdapat dua Sekolah Dasar Negeri, satu Madrasah
Tsanawiyah Al Khairat. Lalu ada dua sekolah setingkat SMA yaitu Madrasah
Aliyah dan SMK Nusantara. Menurut Mody Maukar, penduduk Jaton yang
559
e-Proceeding | COMICOS 2017
beragama Islam ada yang menyekolahkan anak anaknya di sekolah Kristen seperti
ke SMP Stella Maris di Tomohon. Sementara untuk SMA Negeri 1 di Tondano,
pelajar muslim menjadi minoritas.
Selain pada saat “asrokalan”, Kitab Barzanji juga dibacakan warga Jaton
pada saat perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Maulid adalah perayaan hari
kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada saat Maulid ini Kitab Barzanji dibacakan
dalam nada seperti menyanyikan kidung Jawa. Ritual ini oleh warga Jaton dikenal
sebagai acara “Sholawat Jowo” (wawancara dengan Mody Maukar, tanggal 4
April 2017 di Tondano).
Bukti lain penghormatan yang dilakukan oleh warga Jaton pada warga
Nasrani adalah dengan mengunjungi tetangga beragama Nasrani ketika peringatan
40 hari wafatnya. Pada saat itu warga Jaton membawa makanan ke rumah
keluarga yang wafat dan lalu makanan itu disantap bersama sama secara buffet.
Khusus untuk warga Jaton disediakan satu meja makan yang dinamakan meja
makan “nasional” yang berarti semua makanan terhidang halal disantap bagi
warga Jaton. Sementara bila warga Jaton yang wafat tradisi “mekan” ini tidak
dilakukan (wawancara dengan Rani Maukar, tanggal 4 April 2017 di Jaton,
Tondano).
Tradisi “mekan” diperkirakan berakar dari sejarah bahwa leluhur warga
Jaton yang berasal dari Yogyakarta dan merupakan pendatang di tanah Minahasa.
Sebagai kelompok yang datang terakhir, warga asal Jawa harus bersikap rendah
hati dan wajib melakukan pendekatan sosial pada warga lokal. Kerendahan hati
serta sikap orang Jawa yang luwes inilah yang menjadi salah satu unsur mereka
diterima dengan baik oleh kelompok Minahasa (Aris Prasetyo, 2011:1).
560
e-Proceeding | COMICOS 2017
Tradisi “mekan” ini tampaknya merupakan satu bentuk akulturasi budaya
pada masyarakat Jaton. Karena umumnya apabila seorang warga Muslim
meninggal tidak banyak keluarga yang menyelenggarakan makan makan secara
buffet. Sebab dalam sejarahnya, menurut Syafii Maarif, agama Islam selalu masuk
kesatu kawasan yang tidak hampa secara kultural dan juga tidak kosong. Hampir
semua kawasan yang dimasuki agama Islam sarat dengan berbagai nilai dan
kepercayaan (KOMPAS, 19 Juli 2017).
Salah contoh warga lokal Minahasa menghormati kelompok minoritas
yang beragama Islam, menurut Asrul salah seorang sesepuh masyarakat Jaton
adalah ketika tiba bulan puasa maka apabila di angkutan umum ada orang
beragama Nasrani yang merokok maka ia akan ditegur oleh penumpang Nasrani
lainnya dalam angkutan tersebut mengingatkan bahwa ini sedang bulan puasa
(wawancara dengan Asrul di Kampung Jaton, Minahasa, 5 April 2017 jam 16.20).
Hal ini sejalan dengan pendapat Andrik Purwasito yang mengemukakan logika
dependensi bahwa terjadi dependensi antara manusia, masyarakat, budaya dan
komunikasi. Menurut Purwasito, komunikasi lahir karena ada manusia yang
berpikir dan menyatakan eksistensi dirinya. Eksistensi diri lahir karena ada
pengakuan dari manusia lain. Pengakuan tersebut lahir dari bahasa. Dengan
bahasa manusia saling bertukar informasi maka lahirlah masyarakat. Masyarakat
berinteraksi satu sama lain maka lahirlah kebudayaan. Karena hidup ratusan tahun
bersama, maka di kalangan masyarakat Nasrani di Tondano Utara pun mengenal
tradisi berpuasa yang dilakukan oleh umat Muslim Jaton dan tahu bagaimana
menghormati warga Muslim yang berpuasa (2004:149-150).
Asrul menjelaskan bahwa orang tua di Jaton memainkan peran besar
561
e-Proceeding | COMICOS 2017
dalam menanamkan nilai kebaikan pada anak. Menurut Asrul, bila melihat ada
sekelompok anak muda Jaton yang duduk di pinggir jalan maka biasanya satu
orang tua akan datang menghampiri dan tanpa bicara duduk dekat dekat kelompok
tadi yang akhirnya karena merasa “pekewuh” akan membubarkan diri dan
kembali kerumah masing masing.
Foto Asrul Tokoh Masyarakat Jaton
(Sumber : Dokumentasi Penulis)
Dari wawancara dengan Rani Maukar diketahui bahwa hampir setiap hari
sebelum ia berangkat kesekolah, kedua orangtuanya akan menasihati agar saling
menghormati temannya yang berbeda agama. Yang dijelaskan Rani ini sesuai
dengan hal yang dikemukakan oleh Samovar et.al bahwa kebudayaan non material
diperoleh melalui proses belajar (Samovar, 2010 : 31-33).
Pesan lain yang selalu diulang ulang oleh orangtua Rani adalah agar tidak
sampai berkelahi apalagi sampai melakukan tawuran antar kampung atau istilah
Rani “tarkam” (wawancara dengan Rani Maukar tanggal 4 April 2017 di Jaton
Tondano). Sebab dalam kehidupan sehari hari penduduk Jaton, menurut Kinayati
562
e-Proceeding | COMICOS 2017
Djojosuroto dalam tulisannya Dialek dan Identitas Jawa Tondano di Minahasa :
Suatu kajian Historis, menggunakan bahasa Jaton, campuran Bahasa Tondano dan
Jawa (tahun tidak diketahui, page 1).
Apa yang disampaikan Rani tadi sesuai dengan pendapat Stewart L.Tubbs
dan Sylvia Moss yang mengatakan tidak ada manusia, meski akrab sekalipun,
yang hidup tanpa aturan dan harapan masyarakat (2005:3).
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas dapat disimpulkan
beberapa hasil penemuan dalam penelitian ini. Pertama, masyarakat Jaton
mempunyai nilai agama dan sosial yang sangat erat dan sangat berkaitan. Hal ini
terlihat dari sikap saling menghargai, menghormati dan sikap toleran pada umat
beragama lain. Hal tersebut antara lain disebabkan terjalin hubungan kekerabatan
yang disebabkan perkawinan antara warga Jaton dengan Minahasa. Perkawinan
yang dilakukan antara warga Jaton dengan masyarakat lokal Minahasa
mengakibatkan salah satu pihak berpindah agama mengikuti agama pasangannya.
Meskipun berpindah keyakinan akan tetapi hubungan kekeluargaan dengan
keluarga terdahulu tetap terjalin dan dalam perayaan perayaan keagamaan Islam
maupun Kristen kedua belah pihak berkumpul dan makan bersama.
Peran orang tua Jaton dan aparat Pemerintah Daerah sangat penting dalam
menjaga kerukunan dengan kelompok warga Minahasa. Orang tua Jaton
mengajari anak anak bersikap saling menghormati orang lain. Sementara aparatus
Pemerintah Daerah senantiasa mengingatkan pentingnya menjaga kerukunan
563
e-Proceeding | COMICOS 2017
antar warga.
Kehidupan yang rukun di Jaton kemungkinan juga ditunjang karakter orang
Jawa yang secara umum memiliki sifat luwes sehingga mampu beradaptasi secara
kultural dengan warga lokal. Ketika leluhur mereka Kyai Modjo bersama 63 orang
pengikutnya datang dan membawa nilai serta tradisi Islam ke tanah Minahasa,
nilai serta tradisi tersebut tidak memasuki tempat yang hampa secara kultural.
Akan tetapi tempat yang telah memiliki beragam nilai dan kepercayaan. Sehingga
kemampuan untuk melakukan adapatasi secara kultural tampaknya diteruskan
pada warga Jaton berikutnya.
Kesimpulan lain adalah meskipun generasi Jaton saat ini merupakan
keturunan yang kesembilan akan tetapi cukup banyak ritual budaya Jawa yang
masih dilakukan. Misalnya membaca Sholawat Jowo, yaitu pembacaan Kitab
Barzanji dalam nada seperti melagukan kidung Jawa. Kulinari yang dihidangkan
pun cukup banyak yang terpengaruh budaya Jawa, seperti memasak gudeg,
sambel krecek atau membuat ayam panggang.
Terjadi juga akulturasi budaya secara alamiah pada warga Jaton. Misalnya
dengan melakukan “pungguan” atau bersih kubur yang ditutup dengan makan
bersama di kompleks kuburan. Biasanya warga Muslim tidak melakukan makan
makan disekitar makam leluhur. Bentuk akulturasi budaya lainnya adalah tradisi
“mekan” makan bersama secara buffet di rumah keluarga Nasrani yang
memperingati 40 hari wafatnya anggota keluarga.
564
e-Proceeding | COMICOS 2017
DAFTAR PUSTAKA
Haviland, William A.(1999). Antropologi, Erlangga, Jakarta.
Koentjaraningrat (1986), Pengantar Ilmu Antropologi, Rineka Cipta, Jakarta. KOMPAS,
19 Juli 2017, p : 4.
Liliweri, Alo (2002). Makna Budaya Dalam Komunikasi Antarbudaya. LKis.
Yogyakarta.
Mulyana, Deddy dan Jalaluddin Rakhmat (1996). Komunikasi Antarbudaya, Rosdakarya,
Bandung.
Purwasito, Andrik (2014). Komunikasi Multikultural. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.
Samovar, Larry.A dan Richard E.Porter, Edwin R.Mc.Daniel (2010). Komunikasi Lintas
Budaya : Communication Between Cultures. Jakarta. Salemba Humanika.Ed.7
Tubbs, Stewart L. dan Sylvia Moss (2005). Human Communication KOntek-Konteks
Komunikasi, Rosdakarya, Bandung.
Sumber online :
Biro Pusat Statistik : https://minahasakab.bps.go.id/index.php/publikasi
Daniels, Harry, Roger Säljö, Heila Lotz-Sisitka, Learning, Culture and Social Interaction:
https://www.journals.elsevier.com/learning-culture-and-social-interaction
Kamus Besar Bahasa Indonesia, http://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/rukun.
Prasetyo,
Aris
(2011).
Melacak
Jejak
Pengikut
Diponegoro.
http://www.nasional.kompas.com.read.02491634.
Djojosuroto, Kinayati (unknown). Dialek dan Identitas Jawa Tondano di Minahasa: Suatu
kajian Historis, https://eprints.uns.ac.id/1298/1/66-227-2-PB.pdf.
Subhanie, Dzikry (2015), Kyai Modjo, Panglima Perang yang Dibuang ke Tondano,
565
e-Proceeding | COMICOS 2017
https://daerah.sindonews.com/read/1040315/29/kiai-modjo-panglima-perang-yangdibuang-ke-tondano-1441272138/13.
Yulianto,
Agus
(2016),
Kiai
Mojo
Guru
Spiritual
Pangeran
Diponegoro,
http://www.republika.co.id/berita/duniaislam/khazanah/16/12/28/oivwwz396-kiai-Modjoguru-spiritual-pangeran-diponegoro.
566
e-Proceeding | COMICOS 2017
ANALISIS PEMBERITAN PEMILIHAN PRESIDEN AMERIKA SERIKAT
ANTARA DONALD TRUMP & HILLARY CLINTON DI SURAT KABAR
(Studi Analisis Framing Pemberitaan Pemilihan Presiden Amerika Serikat Antara Donald
Trump dan Hillary Clinton di Surat Kabar Kompas,
Surat Kabar Republika dan Surat Kabar Jawa Pos
edisi 1 Oktober – 8 November 2016)
Dani Kurniawan; Widodo Muktiyo
(Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS); Guru
Besar Ilmu Komunikasi UNS
Abstrak
Pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) tahun 2016 menarik untuk diteliti. Karena
media massa baik dalam negeri dan luar negeri, termasuk di Indonesia terjadi persaingan dalam
memberitakan peristiwa tersebut. Framing berita tidak akan lepaskan media dalam melakukan
pemberitaan itu. Karena dipengaruhi baik latar belakang media maupun ingin mendapatkan
keuntngan dari calon presiden yang didukung.
Riset pemberitaan pemilu presiden AS kali ini dilakukan di Surat Kabar Jawa Pos, Surat
Kabar Kompas dan Surat Kabar Republika. Metodelogi penelitian yang dilakukan menggunakan
adalah metodelogi kualitatif diskriptif. Kemudian model analisis framing yJang digunakan adalah
model Pan dan Kosicki. Alasannya karena analisis framing Pan dan Kosicki memiliki
perangkat yang lebih lengkap dibanding model analisis lainnya untuk menganalisis berita
koran.
Sedangkan teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori agenda setting. Hasil
dari riset ini menunjukan bahwa ketiga koran tersebut (Jawa Pos, Kompas dan Republika)
memiliki framing yang sama yaitu mendukung calon presiden AS tertentu. Dalam hal ini calon
presiden Hillary Clinton yang didukung. Ini adalah temuan yang luar biasanya karena bisanya
hasil framing berita antar media satu dengan media yang lain itu selalu berbeda karena latar
belakang media yang berbeda.
Dalam konteks ini ketiga media cetak belum bisa bersikap netral dan objektif dalam
melakukan pemberitaan
Key : pemilu presiden, framing, netralitas pemberitaan
Latar Belakang.
Pemilihan umum presiden Amerika Serikat di bulan november tahun 2016, adalah
567
e-Proceeding | COMICOS 2017
peristiwa yang mengandung news value (nilai berita) tinggi. Sehingga puluhan media
massa ( media cetak, media elektronik dan media online) hampir di seleuruh dunia,
termasuk di Indonesia selalu memberitakan peristiwa politik tersebut.
Kandidat calon presiden dalam pemilu presiden negeri paman sam tersebut adalah
: adalah Hillary Clinton calon presiden dari Partai Demokrat. Sedangkan yang kedua yaitu
Donald Trump calon presiden dari Partai Republik. Dua sosok calon presiden ini memiliki
sifat dan karakter yang berbeda.
Pemilu adalah ciri dari sebuah negara yang demokratis. Oleh sebab itu :
Demokrasi serta pemilu yang demokratis saling melengkapi “qonditio sine qua non”, the
one can not exist without the others. Dalam arti bahwa Pemilu dimaknai sebagai prosedur
untuk mencapai demokrasi atau merupakan prosedur untuk memindahkan kedaulatan
rakyat kepada kandidat tertentu untuk menduduki jabatan-jabatan politik (Veri Junaidi,
2009: 106)
Kemudian dalam konteks pemilu presiden AS selalu menyita perhatian dunia.
Karena Amerika Serikat adalah negara adidaya menjadi polisi dunia. Siapa yang terpilih
menjadi presiden Amerika mempengaruhi kebijakan politik luar negeri AS yang akan
berdampak bagi negara lain, termasuk Indonesia.
Media cetak di Indonesia yang cukup santer memberitakan pemilihan presiden AS
adalah Surat Kabar Kompas, Surat Kabar Republika dan Surat Kabar Jawa Pos.
Walaupun ketiga koran tersebut sama-sama memberitakan tentang proses pemilihan
presiden di Amerika Serikat. Namun sering kali pemberitaan tentang pilpres di AS itu
mempunyai perbedaan.
Mulai dari angle (sudut pandang) berita, fokus berita, jumlah porsi berita sampai
penempatan halaman berita. Inilah yang disebut framing berita. Media massa melakukan
framing berita itu sah-sah saja. Hasil framing berita media satu dengan yang lain sering
berbeda, meskipun kadang bisa sama.
Framing berita dipengaruhi banyak hal seperti : menyangkut visi & misi sebuah
media, idelogi media, pemilik media, kepentingan media. Abrar (1995:65) menyebutkan
Baik langsung maupun tidak langsung pemilik media sering mempengaruhi redaksi di
news room dalam menentukan sebuah berita. Bahkan tidak jarang pemilik modalah yang
mengatur redaksional.
Termasuk dipengaruhi politik media, seperti halnya disampaikan oleh : Aceng
568
e-Proceeding | COMICOS 2017
yang mengatakan : “ politik” media inipun bukan hanya kepada parpol, tetapi juga
terhadap berbagai kepentingan lain yang berhubungan dengan kepemilikan media,
sejarah media, alasan ekonomis, misi media serta kepentingan lainnya (Abdullah,
2001:45).
Oleh karena itu , sebuah peristiwa berita tidak mungkin semua peristiwa bisa
ditampilkan bagi media massa. Ada realitas berita yang ditonjolkan ada pula sisi realitas
yang dikaburkan. Sebagian realitas berita sengaja ada yang ditonjolkan, hal ini dilakukan
untuk mendukung kepentingan media.
Framing
Analisis framing pada dasarnya bagian dari model dari analisis wacana untuk
melakukan analisis teks media (atm). Framing juga merupakan pendekatan terbaru dalam
menganalisis atm. Pertama kali yang mengnalkan framing adalah : Beterson tahun 1955.
Setelah Beterson maka framing dikembangkan oleh Goffman 1974.
Dalam perspektif komunikasi, analisis framing dipakai untuk membedah caracara atau ideologi media saat mengkontruksi fakta. Analisis ini mencermati strategi
seleksi, penonjolan dan pertautan fakta ke dalam berita agar lebih bermakna, lebih
menarik, khalayak sesuai perspektifnya.
Dengan kata lain, framing menurut Tood Gitlin adalah strategi bagaimana
realitas/dunia dibentuk dan disederhanakan sedemikian rupa untuk ditampilkan kepada
khalayak pembaca. Peristiwa-peristiwa ditampilkan dalam pemberitaan agar tampak
menonjol dan tampak menarik perhatian khalayak pembaca. Itu dilakukan dengan seleksi,
pengulangan, penekanan dan presentasi aspek tertentu dari realitas.
Proses framing juga dipengaruhi cara pandang media. Cara pandang atau
perspektif itu pada akhirnya menentukan fakta apa yang diambil, bagian mana yang
ditonjolkan dan dihilangkan, serta hendak kemana berita itu akan dibawa. (nugroho,
eriyanto, surdiasis, 1999.21).
Kemudian dalam penelitian ini, peneliti menggunakan analisis framing model Pan
dan Kosicki. Alasannya karena analisis framing Pan dan Kosicki memiliki perangkat
yang lebih lengkap dibanding model analisis lainnya untuk menganalisis berita koran.
Teori
Teori Agenda Setting Teori Agenda Setting diperkenalkan oleh McCombs dan
Shaw (1972) dalam public opinion Quarterly berjudul : Agenda-Setting Function of mass
569
e-Proceeding | COMICOS 2017
media. Asumsi dasar teori agenda setting adalah jika media memberi tekanan pada suatu
peristiwa maka media itu akan memepengaruhi khalayak utnuk menganggap penting.
Jadi apa yang dianggap penting oleh media akan dianggap penting oleh publik. Oleh
karena itu apabila media massa memberi perhatian isu tertentu dan mengabaikan yang
lainnya akan memiliki pengaruh terhadap pendapat umum.
McCombs dan Shaw kembali menegaskan kembali tentang teori agenda setting
bahwa “the media not only tell us wahat to think about, they also may tell us how and
what to think about it, and perhaps even to do about it” Bahwa media tidak hanya
berbicara mengenai apa yang masyarakat pikirkan, mungkin mereka juga memberitahu
masyarakat bagaimana dan apa yang sedang mereka pikirkan dan mereka pikirkan dan
kemungkinan yang masyarakat lakukan
Dalam konteks pemberitaan pemilu presiden AS, cukup menarik untuk menelitian
pemberitaan tersebut dengan analisis framing. Oleh karena itu rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah : Seperti apa Penonjolan atau penekanan yang diberitakan SKH
Kompas, SKH Republika dan SKH Jawa Pos terhadap calon presiden Donald Trump &
Hillary Clinton dalam proses pemilihan presiden Amerika Serikat ?
Kemudian , apa hasil analisis framing pemberitaan dari pemilihan presiden antara
Donald Trump dan Hillary Clinton di Surat Kabar Kompas, Surat Kabar Republika dan
Surat Kabar Jawa Pos pada edisi bulan oktober-november 2016?
Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah
untuk mengetahui sejauhmana
netralitas media Koran Jawa Pos, Koran Republika dan Koran Kompas dalam
pemberitaan pemilu presiden amerika serikat.
Metodelogi Penelitian :
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Menurut Bogdan dan
Taylor dalam ( Lexy J. Moleong, 2016 :4) metode kualitatif adalah sebagai prosedur
penelitian yang menghasilkan data diskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari
orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.
Sif