model bimbingan belajar melalui teknik mind map untuk mengatasi

advertisement
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
MODEL BIMBINGAN BELAJAR MELALUI TEKNIK MIND MAP
UNTUK MENGATASI KESULITAN MEMPELAJARI
BAHASA INGGRIS PADA PESERTA DIDIK KELAS V
(Penelitian di SD Negeri Gentan 03 Bulu Sukoharjo
Tahun Pelajaran 2011/2012)
SKRIPSI
Oleh :
ESTI NURJAYANTI
NIM K3108021
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2012
commit to user
i
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama
: Esti Nurjayanti
NIM
: K3108021
Jurusan/ Program Studi
: IP/ Bimbingan dan Konseling
Menyatakan
BELAJAR
bahwa
skripsi
MELALUI
saya
berjudul
TEKNIK
“MODEL
MIND
BIMBINGAN
MAP
UNTUK
MENGATASI KESULITAN MEMPELAJARI BAHASA INGGRIS
PADA PESERTA DIDIK KELAS V (Penelitian di SD Negeri Gentan
03 Bulu Sukoharjo Tahun Pelajaran 2011/2012)” ini benar-benar
merupakan hasil karya saya sendiri. Selain itu, sumber informasi yang dikutip dari
penulis lain telah disebutkan dalam teks dan tercantum dalam daftar pustaka.
Apabila pada kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan skripsi ini hasil jiplakan,
saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan saya.
Surakarta,
Desember 2012
Yang membuat pernyataan
Esti Nurjayanti
commit to user
ii
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
MODEL BIMBINGAN BELAJAR MELALUI TEKNIK MIND MAP
UNTUK MENGATASI KESULITAN MEMPELAJARI
BAHASA INGGRIS PADA PESERTA DIDIK KELAS V
(Penelitian di SD Negeri Gentan 03 Bulu Sukoharjo
Tahun Pelajaran 2011/2012)
Oleh :
ESTI NURJAYANTI
NIM K3108021
Skripsi
diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan mendapatkan gelar Sarjana
Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling,
Jurusan Ilmu Pendidikan
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2012
commit to user
iii
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
PERSETUJUAN
Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Surakarta,
Desember 2012
Pembimbing I
Pembimbing II
Dr. Siti Sutarmi Fadhilah, M.Pd
NIP. 19540812 198103 2 001
Dr. Asrowi, M.Pd
NIP. 19550808 198503 1 002
commit to user
iv
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
commit to user
v
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
MOTTO
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”
~Al-Insyirah:6~
”Hadapilah segala kesulitan dengan jiwa yang tenang. Pekerjaan sekecil apapun harus
dikerjakan dengan penuh perhatian, karena hal - hal yang kecil itu yang bisa
menyebabkan hal - hal yang besar “
~ Lao Tze ~
“It is literally true that you can succeed best and quickest by helping others to
succeed (Ini adalah sebuah kebenaran bahwa Anda bisa sukses luar biasa dengan
cepat bila Anda membantu orang lain untuk juga merasakan sukses).”
~ Napoleon Hill ~
commit to user
vi
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
PERSEMBAHAN
Kupersembahkan karya ini kepada:
 Bapak dan Ibu tercinta, yang senantiasa memanjatkan doa
kepadaku dalam setiap sujudnya, senantiasa menghiburku
dikala susah dan menjadikanku lebih tegar.
 Kakak dan adikku, yang senantiasa ada saat suka maupun
duka.
 Keluarga besarku yang aku sayangi atas motivasi dan doa yang
diberikan.
 Program Studi Bimbingan dan Konseling, FKIP Universitas
Sebelas Maret Surakarta.
commit to user
vii
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirabbil’alamin, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah
SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi dengan judul Keefektifan Bimbingan Belajar melalui Teknik
Mind Map untuk Mengatasi Kesulitan Mempelajari Bahasa Inggris pada Peserta
Didik Kelas V (Penelitian di SD Negeri Gentan 03 Bulu Sukoharjo Tahun Pelajaran
2011/2012). Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat mendapatkan gelar Sarjana
Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan.
Penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan berbagai
pihak sehingga skripsi ini dapat terselesaikan, dalam kesempatan ini penulis ingin
mengucapkan terima kasih kepada:
1. Prof. Dr. H. M. Furqon Hidayatullah, M.Pd selaku Dekan Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta atas pemberian izin dalam
penyusunan skripsi.
2. Drs. Rusdiana Indianto, M.Pd selaku Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan atas izin
penyusunan skripsi.
3. Dra. Siti Mardiyati, M.Si selaku Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta
yang turut membantu memperlancar jalannya penyelesaian skripsi dan ujian skripsi.
4. Dr. Siti Sutarmi Fadhilah, M.Pd, selaku pembimbing I yang telah memberikan
masukan, arahan, dukungan dan dengan sabar membimbing.
5. Dr. Asrowi, M.Pd, selaku dosen pembimbing II yang telah berkenan mengajar,
membimbing dan memberi masukan atau ide-ide terhadap penulisan skripsi ini.
6. Bapak dan ibu dosen program studi Bimbingan dan Konseling yang telah
memberikan bimbingan dan motivasinya.
7. Bapak dan ibu yang telah mengajari penulis banyak hal.
8. Sunardi, S.Pd selaku Kepala Sekolah SD Negeri Gentan 03 yang telah
memberikan kesempatan penulis untuk meneliti di sekolah tersebut.
to user
9. Dani Sapujowati, S.Pd selaku commit
guru bahasa
Inggris atas bantuan dan kerjasamanya.
viii
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
10. Sahabat-sahabat Bimbingan dan Konseling angkatan 2008 terima kasih untuk
persaudaraan dan kebersamaan selama ini.
11. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang telah dengan
ikhlas membantu dan memberikan semangat sampai terselesaikannya skripsi ini.
Bantuan, doa dan dukungan dari bapak, ibu maupun rekan-rekan semuanya
semoga mendapat balasan yang sesuai oleh Allah SWT. Semoga skripsi ini dapat
memberikan manfaat dan menambah wawasan bagi pembaca.
Surakarta,
Desember 2012
Penulis
commit to user
ix
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
ABSTRAK
Esti Nurjayanti. MODEL BIMBINGAN BELAJAR MELALUI TEKNIK MIND
MAP UNTUK MENGATASI KESULITAN MEMPELAJARI BAHASA
INGGRIS PADA PESERTA DIDIK KELAS V (Penelitian di SD Negeri Gentan
03 Bulu Sukoharjo Tahun Pelajaran 2011/2012). Skripsi, Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. Desember 2012.
Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi kesulitan mempelajari bahasa Inggris
melalui teknik mind map pada peserta didik kelas V di SDN Gentan 03. Penelitian ini
menggunakan pendekatan penelitian dan pengembangan (Research and
Development) dan menggunakan pola eksperimen one group pre-test post-test design
untuk menguji keefektifan bimbingan belajar melalui teknik mind map. Subjek
penelitian ini adalah peserta didik kelas V SDN Gentan 03 Bulu Sukoharjo yang
berjumlah 9 peserta didik.
Studi pendahuluan dari daftar nilai ulangan harian bahasa Inggris menunjukkan
peserta didik kelas V SDN Gentan 03 yang berjumlah 14 peserta didik, 9 diantaranya
mengalami kesulitan mempelajari bahasa Inggris tingkat tinggi dan sedang. Selain itu
dari hasil pengumpulan data melalui angket ternyata 43% mengalami kesulitan
belajar tinggi. Peserta didik yang berjumlah 9 ini kemudian diberikan test bahasa
Inggris sebagai pre-test dan post-test serta diberikan bimbingan belajar melalui teknik
mind map. Bedasarkan penilaian ahli, modul yang dikembangkan mendapat
kelayakan dengan prosentase rata-rata sebesar 92%, dari penilaian praktisi diperoleh
91% kemudian dalam uji coba terbatas diperoleh 75%, sedangkan untuk hasil
evaluasi tanggapan akhir penelitian diperoleh 98,61%.
Hasil penelitan tersebut pada data yang bersifat empirik dianalisis secara statistik
dengan uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata post-test
menunjukkan 7,9167 lebih besar dari rerata pre-test yaitu 4,5556, jadi ada
peningkatan signifikan kemampuan bahasa Inggris antara sebelum dan sesudah
intervensi pada peserta didik kelas V. Berdasarkan uji Wilcoxon yang mendasarkan
pada rangking positif = 5, diperoleh nilai z hitung sebesar -2,670 dan probabilitas (p)
0,004 (uji dua sisi). Oleh karena z hitung diperoleh hasil minus (-) dan probabilitas
(p) lebih kecil dari α = 0,005, maka dapat disimpulkan bahwa bimbingan belajar
melalui teknik mind map efektif untuk mengatasi kesulitan mempelajari bahasa
Inggris pada peserta didik kelas V SDN Gentan 03.
Kata Kunci : bimbingan belajar, teknik mind map, kesulitan mempelajari bahasa
Inggris
commit to user
x
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
ABSTRACT
Esti Nurjayanti. LEARNING GUIDANCE MODEL THROUGH MIND MAP
TECHNIQUE TO OVERCOME ENGLISH LEARNING DIFFICULTY IN
THE FIFTH GRADES (EXAMINATION ON SDN GENTAN 03 BULU
SUKOHARJO ACADEMIC YEAR 2011/2012). Thesis, Teacher Training and
Education Faculty of Surakarta Sebelas Maret University. December 2012.
This research aims to overcome English learning difficulty using mind map
technique in the fifth grades of SDN Gentan 03 Bulu Sukoharjo. This research use the
Research and Development approach using one group pre-test post-test design
experiment pattern to examine the effectiveness of learning guidance through mind
map technique. The subject of research was the fifth grades of SDN Gentan 03 Bulu
Sukoharjo that consisting of 9 students.
Preliminary study from the list English daily test showed that students in the
fifth grades of SDN Gentan 03 who totaled 14 students, 9 of them have difficulty to
learning English of high and middle levels. In addition, from data collection through
questionnaires apparently 43% higher learning difficulties. Students who totaled 9 is
then given English test as a pre-test and post-test, and given guidance learned through
mind map techniques. Based on expert judgment, the module gets developed
feasibility with an average percentage of 92%, from 91% valuation practitioners
obtained later in the limited trial gained 75%, while for the final response evaluation
results were obtained 98.61%.
The research results on the empirical data that is statistically analyzed with
the Wilcoxon test. The result of research showed that the mean post-test of 7,9167
was higher than the mean pre-test of 4,5556, so there was a significant improvement
in English language competency between before and after intervention in the fifth
grades. Considering the Wilcoxon test based on positive ranking = 5, it could be
found the z statistic value of -2,670 and probability value (p) of 0,005 (two-way test).
Because the z statistic value was negative (-) and the probability (p) value was lower
than α = 0,005, it could be concluded that the learning guidance through mind map
technique was effective to overcome English learning difficulty in the fifth grades of
SDN Gentan 03.
Keywords: learning guidance, mind map technique, English learning difficulty
commit to user
xi
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ................................................................................
i
HALAMAN PERNYATAAN ...................................................................
ii
HALAMAN PENGAJUAN ......................................................................
iii
HALAMAN PERSETUJUAN ..................................................................
iv
HALAMAN PENGESAHAN ...................................................................
v
HALAMAN MOTTO ................................................................................
vi
HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................
vii
KATA PENGANTAR ..............................................................................
viii
HALAMAN ABSTRAK ............................................................................
x
DAFTAR ISI ............................................................................................
xii
DAFTAR TABEL .....................................................................................
xv
DAFTAR GAMBAR ................................................................................
xvi
DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................
xvii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ..............................................................
1
B. Rumusan Masalah ........................................................................
6
C. Tujuan Penelitian .........................................................................
6
D. Manfaat Penelitian .......................................................................
6
1. Manfaat teoritis ........................................................................
6
2. Manfaat praktis ........................................................................
6
BAB II KAJIAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS
A. Kajian Teori ..................................................................................
8
1. Kesulitan Mempelajari Bahasa Inggris ......................................
8
a. Pengertian Kesulitan Mempelajari Bahasa Inggris .................
8
b. Kriteria Gejala Kesulitan Belajar ...........................................
10
c. Faktor Penyebab Kesulitan Mempelajari Bahasa Inggris ........
to user Anak Usia SD .............
2. Karakteristik dan Tugascommit
Perkembangan
12
xii
14
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
a. Karakteristik Anak Usia Sekolah Dasar (SD) ..........................
15
b. Tugas Perkembangan Anak Usia Sekolah Dasar (SD) ...........
16
3. Kesulitan Mempelajari Bahasa Inggris bagi Anak Usia SD .......
17
4. Konsep Dasar Bimbingan Belajar ..............................................
18
a. Pengertian Bimbingan Belajar ...............................................
18
b. Fungsi Bimbingan Belajar .....................................................
20
c. Pendekatan dalam Bimbingan Belajar ....................................
21
5. Konsep Dasar Teknik Mind Map ................................................
23
a. Pengertian Mind Map .............................................................
24
b. Kegunaan Mind Map ..............................................................
24
c. Cara Membuat Mind Map ......................................................
26
d. Keunggulan Mind Map dalam Pembelajaran ..........................
29
6. Keefektifan Bimbingan Belajar Melalui Teknik Mind Map untuk
Mengatasi Kesulitan Mempelajari Bahasa Inggris ......................
29
B. Kerangka Pemikiran ......................................................................
30
C. Hipotesis .......................................................................................
31
BAB III METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian ..............................................................................
32
B. Tempat dan Waktu Penelitian ........................................................
32
C. Subjek Penelitian ...........................................................................
33
D. Variabel Penelitian ........................................................................
34
E. Teknik Pengumpulan Data .............................................................
36
F. Prosedur Penelitian ........................................................................
38
G. Validitas Data ................................................................................
43
H. Teknik Analisis Data ......................................................................
43
BAB IV PROSES DAN HASIL PENELITIAN SERTA PEMBAHASANNYA
A. Proses dan Hasil Penelitian ............................................................
44
1. Tahap Studi Pendahuluan ...........................................................
44
2. Tahap Merancang Model ...........................................................
46
3. Tahap Pengembangan Model ....................................................
user
4. Uji Rasional Kelayakancommit
Model to
..................................................
47
xiii
48
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
5. Revisi Model .............................................................................
49
6. Uji Coba Terbatas .....................................................................
50
7. Uji Efektivitas Model ................................................................
50
a. Pengujian Pre-test dan Post-test ............................................
52
1. Pre-test .............................................................................
52
2. Post-test ............................................................................
57
b. Pengujian Hipotesis .............................................................
62
B. Pembahasan Hasil Penelitian .........................................................
64
C. Keterbatasan Penelitian .................................................................
65
BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI
A. Simpulan .......................................................................................
67
B. Rekomendasi ..................................................................................
68
DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................
69
commit to user
xiv
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
DAFTAR TABEL
Tabel
Halaman
1. Fungsi Bagian Otak...................................................................................
23
2. Perbedaan Catatan Biasa dan Mind Map....................................................
25
3. Jadwal Penelitian .....................................................................................
33
4. Kisi Angket Kesulitan Mempelajari Bahasa Inggris ..................................
37
5. Hasil Nilai Rata-Rata Ulangan Harian Bahasa Inggris ..............................
44
6. Tingkat Kesulitan Mempelajari Bahasa Inggris ........................................
45
7. Hasil Pre-test bahasa Inggris untuk pokok bahasan hospital .....................
53
8. Hasil Pre-test bahasa Inggris untuk pokok bahasan transportation ...........
54
9. Hasil Pre-test bahasa Inggris untuk pokok bahasan weather and season ....
55
10. Hasil Pre-test bahasa Inggris untuk ketiga pokok bahasan ......................
56
11. Hasil Post-test bahasa Inggris untuk pokok bahasan hospital ...................
57
12. Hasil Post-test bahasa Inggris untuk pokok bahasan transportation .........
58
13. Hasil Post-test bahasa Inggris untuk pokok bahasan weather and season .
59
14. Hasil Post-test bahasa Inggris untuk ketiga pokok bahasan .....................
60
15. Hasil Pre-test dan Post-test Tiap Pokok Bahasan .....................................
61
16. Deskripsi Data Hasil Pre-test dan Post-test .............................................
62
17. Hasil Uji Wilcoxon ...............................................................................
63
commit to user
xv
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
DAFTAR GAMBAR
Gambar
Halaman
1. Contoh Mind Map .....................................................................................
27
2. Kerangka Pemikiran .................................................................................
31
3. Bagan Pemberian Treatment ....................................................................
41
4. Prosedur Penelitian Pengembangan ..........................................................
42
5. Prosentase Skor Angket Kesulitan Mempelajari Bahasa Inggris ...............
46
6. Grafik Hasil Pre-test bahasa Inggris untuk Pokok Bahasan Hospital .........
53
7. Grafik Hasil Pre-test bahasa Inggris untuk Pokok Bahasan Transportation
54
8. Grafik Hasil Pre-test bahasa Inggris Pokok Bahasan Weather and Season
55
9. Grafik Hasil Pre-test bahasa Inggris untuk Ketiga Pokok Bahasan .............
56
10. Grafik Hasil Post-test bahasa Inggris untuk Pokok Bahasan Hospital .....
58
11. Grafik Hasil Post-test bahasa Inggris untuk Pokok Bahasan Transportation 59
12. Grafik Hasil Post-test bahasa Inggris Pokok Bahasan Weather and Season 60
13. Grafik Hasil Post-test bahasa Inggris untuk Ketiga Pokok Bahasan ........
commit to user
xvi
61
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran
Halaman
1
Instrument Angket ...... ..............................................................
73
2
Form Penilaian Modul .............................................................
76
3
Daftar Nama Peserta Didik Kelas V ..........................................
79
4
Tabulasi Hasil Angket (Studi Pendahuluan) ...............................
80
5
Data Subjek Pre-test dan Post-test ..............................................
81
6
Distribusi Nomor Item Soal Bahasa Inggris ...............................
82
7
Soal Pre-test Pemahaman Kosakata Bahasa Inggris ...................
83
8
Kunci Jawaban Soal Pre-test .....................................................
85
9
Soal Post-test Pemahaman Kosakata Bahasa Inggris ..................
86
10
Kunci Jawaban Soal Post-test ....................................................
88
11
Tabulasi Hasil pre-test .............................................................
89
12
Hasil Nilai Pre-test Bahasa Inggris ............................................
90
13
Tabulasi hasil post-test .............................................................
91
14
Hasil Nilai Post-test Bahasa Inggris ...........................................
92
15
Lembar Evaluasi dan Tanggapan Akhir Penelitian .....................
93
16
Dokumentasi .............................................................................
94
17
Hasil Penilaian Modul dari Ahli ................................................
96
18
Hasil Penilaian Modul dari Praktisi ..........................................
97
19
Hasil Evaluasi Uji Coba Terbatas ..............................................
98
20
Hasil Evaluasi dan Tanggapan Akhir Penelitian .........................
99
21
Presensi Kehadiran Peserta Didik ..............................................
100
22
Satuan Layanan .........................................................................
101
23
Surat Permohonan Izin Penyusunan Skripsi ...............................
107
24
Surat Keputusan Dekan tentang Izin Penyusunan Skripsi ..........
108
25
Surat Permohonan Izin Penelitian ...............................................
109
26
Surat Pernyataan Kesediaan Penelitian ......................................
commit to
user
Surat Keterangan Selesai Penelitian
...........................................
110
27
xvii
111
1
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan sarana dan wahana yang sangat baik di dalam
pembinaan sumber daya manusia, sehingga perlu mendapat perhatian, penanganan
dan prioritas secara baik oleh pemerintah, keluarga dan pengelola pendidikan.
Peningkatan mutu pendidikan merupakan suatu kebutuhan bangsa yang ingin
maju karena pendidikan yang bermutu dapat menunjang pembangunan disegala
bidang. Tujuan pendidikan merupakan salah satu komponen utama pada sistem
pendidikan, sehingga diharapkan proses pendidikan dapat mencapai hasil secara
efektif dan efisien.
Apabila tujuan pendidikan tidak digariskan secara tegas maka pendidikan
akan mengalami ketidakpastian dalam prosesnya (M. Jumali dkk, 2008:52).
Uraian tersebut dapat dimaknai bahwa keberadaan tujuan pendidikan merupakan
hal yang penting di dalam menjalankan proses pendidikan karena sebagai
pedoman untuk merencanakan proses pendidikan. Sesuai dengan amanat UndangUndang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional dijelaskan bahwa:
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab (Pasal 3 UU RI No 20/ 2003).
Berdasarkan paparan Undang-Undang tersebut menunjukkan bahwa
pendidikan nasional mempunyai berbagai fungsi dan tujuan yang hendak dicapai.
Salah satu upaya untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut adalah melalui
metode atau teknik pembelajaran yang tepat kepada peserta didik. Pembelajaran
merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh pihak guru
sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan peserta didik. Pembelajaran
commit to user
sebagai proses belajar yang dibangun guru untuk mengembangkan kreativitas
1
perpustakaan.uns.ac.id
2
digilib.uns.ac.id
berpikir yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir peserta didik, serta dapat
meningkatkan kemampuan mengkonstruksi pengetahuan baru sebagai upaya
meningkatkan penguasaan yang baik terhadap materi pelajaran.
Pembelajaran menurut psikologi kognitif yaitu dengan mengaktifkan
indera peserta didik dengan menggunakan media belajar agar memperoleh
pemahaman (Gino dkk, 1996:34). Pernyataan tersebut dapat dimaknai bahwa
dalam pembelajaran peserta didik perlu menggunakan media belajar seperti media
cetak dan media elektronik sehingga didapatkan pemahaman. Adapun ciri-ciri
pembelajaran terletak pada adanya unsur-unsur dinamis dalam proses belajar
peserta didik yaitu motivasi belajar, bahan belajar, alat bantu belajar, suasana
belajar, dan kondisi subjek yang belajar.
Pembelajaran di Sekolah Dasar (SD) merupakan pembelajaran yang paling
penting keberadaannya karena tanpa mendapat pembelajaran di SD atau yang
sederajat seseorang tidak akan mungkin dapat mengikuti pembelajaran di SMP.
Ibrahim Bafadal (2003:9) menjelaskan bahwa keberhasilan seseorang dalam
mengikuti pendidikan di SD sangat menentukan keberhasilan dalam mengikuti
pendidikan di sekolah menengah dan perguruan tinggi. Hal tersebut menunjukkan
besarnya peranan pendidikan di Sekolah Dasar, sehingga harus dikelola dengan
sebaik-baiknya untuk menjadi Sekolah Dasar yang bermutu.
Sekolah Dasar dapat dikatakan bermutu baik apabila mampu mengemban
misinya dalam rangka mencapai tujuan kelembagaannya. Menurut Direktorat
Pendidikan Dasar misi yang diemban oleh Sekolah Dasar antara lain melakukan
proses edukasi, sosialisasi dan transformasi. Direktorat Pendidikan Dasar
menambahkan, ada lima komponen yang menentukan mutu pendidikan yaitu
kegiatan belajar mengajar, manajemen pendidikan yang efektif dan efisien, buku
dan sarana belajar yang memadai, penampilan sekolah yang baik, serta partisipasi
aktif masyarakat.
Pada praktiknya, banyak ditemukan peserta didik yang mengalami
kesulitan dalam pembelajaran seperti kesulitan dalam memusatkan perhatian atau
mengingat, yang berujung pada rendahnya hasil pembelajaran. Hal tersebut
commit
to user
diperkuat dengan hasil wawancara
peneliti
terhadap guru Bahasa Inggris SDN
3
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Gentan 03 Bulu Sukoharjo yang menyatakan bahwa banyak peserta didik kelas V
yang mengalami kesulitan belajar Bahasa Inggris. Kesulitan belajar tersebut
diantaranya ditandai dengan hasil belajar peserta didik yang rendah, sulit
menerima penjelasan dari guru, dan kurang mampu dalam mengerjakan tugas
yang diberikan guru.
Selain wawancara terhadap guru Bahasa Inggris, peneliti juga memperoleh
daftar nilai ulangan harian dari guru bahasa Inggris tersebut. Hasil dari daftar nilai
tersebut menunjukkan bahwa peserta didik yang memperoleh nilai rata-rata
dibawah KKM sejumlah 9 peserta didik dari 14 peserta didik. KKM yang telah
ditetapkan pada mata pelajaran Bahasa Inggris di SDN Gentan 03 tersebut yaitu
6.8. Sebagai pendukung studi pendahuluan, peneliti juga melakukan penyebaran
angket pada peserta didik kelas V SDN Gentan 03 yang terdiri dari 14 peserta
didik. Kategori kesulitan belajar Bahasa Inggris yang dialami peserta didik dapat
dibedakan menjadi tiga, yaitu tinggi, sedang, dan rendah. Hasil studi pendahuluan
yang dilakukan terhadap peserta didik di SD Negeri Gentan 03 menunjukkan
bahwa sebanyak 36% mempunyai tingkat kesulitan belajar Bahasa Inggris yang
rendah, 21% mempunyai tingkat kesulitan belajar Bahasa Inggris yang sedang,
dan sebanyak 43% peserta didik mempunyai tingkat kesulitan belajar Bahasa
Inggris yang tinggi. Berdasarkan hasil studi pendahuluan tersebut, maka peserta
didik yang mempunyai tingkat kesulitan belajar Bahasa Inggris tinggi dan sedang
perlu diatasi.
Kesulitan belajar merupakan suatu keadaan yang menunjukkan bahwa
peserta didik mengalami kesulitan dalam mencapai hasil belajar atau tujuan
pengajaran (Thulus Hidajat, 1990:98). Hal ini berarti bahwa peserta didik yang
gagal dalam mencapai hasil belajar atau tujuan pengajaran dikatakan mengalami
kesulitan belajar. Cara untuk mempelajari sesuatu dengan baik, peserta didik perlu
mendengarnya, melihatnya, menggambarkan sesuatu dengan cara mereka sendiri,
menunjukkan
contohnya,
mencoba
mempraktikkan
keterampilan,
dan
mengerjakan tugas yang menuntut pengetahuan yang telah mereka dapat.
Pada pembelajaran konvensional kegiatan pembelajaran terpusat pada guru
commitmendengarkan
to user
sedangkan peserta didik hanya duduk,
dan menerima informasi.
4
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Cara penerimaan informasi dilakukan dengan membuat catatan dalam bentuk
catatan yang monoton dan linear. Pada dasarnya peserta didik dapat menuangkan
pikiran dengan caranya masing-masing, tetapi mereka terbiasa dalam menuangkan
pikiran yang kurang efektif seperti model dikte dan mencatat semua yang
didiktekan guru, mendengar ceramah dan mengingat isinya, serta menghafal katakata penting dan artinya. Hal ini terjadi dalam proses belajar mengajar sehingga
kreativitas peserta didik tidak muncul dan menimbulkan masalah-masalah ketika
peserta didik berusaha mengingat kembali materi yang sudah didapatkan,
dipelajari, direkam, dicatat atau yang dahulu pernah diingat. Beberapa anak
mengalami kesulitan ketika mengerjakan tugas atau dalam berkonsentrasi karena
catatan ataupun ingatannya belum teratur.
Berdasarkan masalah tersebut diperlukan teknik pembelajaran yang
memudahkan peserta didik dalam belajar yaitu dengan peta pikiran atau mind
map. Mind map adalah cara termudah untuk menempatkan informasi ke dalam
otak dan mengambil informasi ke luar dari otak dengan cara mencatat yang kreatif
dan efektif (Tony Buzan, 2007:4). Paparan tersebut berarti bahwa mind map
sangat tepat dalam upaya peserta didik mengingat pelajarannya. Mind map juga
merupakan peta rute yang hebat bagi ingatan yang memungkinkan menyusun
fakta dan pikiran sehingga cara kerja otak dilibatkan sejak awal. Hal ini berarti
mengingat informasi akan lebih mudah dan lebih bisa diandalkan daripada
menggunakan teknik pencatatan tradisional. Manfaat membuat mind map
diantaranya adalah hemat waktu, mengembangkan skill organisasi dan
meningkatkan memori.
Mind
map
dikembangkan
oleh Tony Buzan,
seorang
Psikolog
berkebangsaan Inggris pada awal 1970-an (Walfajri, 2011). Tony Buzan terilhami
oleh pengalamannya ketika masih kuliah yang juga dialami oleh sebagian besar
teman-temannya yaitu merasa kesulitan dalam belajar. Kesulitan belajar tersebut
antara lain sering mengalami ketinggalan mencatat, lupa dengan pelajaran yang
baru diajarkan, kesulitan menangkap inti dari pelajaran, dan lambat dalam
membaca.
commit to user
5
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Mind map merupakan suatu teknik mencatat yang mengembangkan gaya
belajar visual yang menggunakan kata-kata, warna, garis, dan gambar sehingga
memudahkan otak dalam menyerap informasi yang diterima. Otak berpikir dalam
bentuk warna dan gambar sehingga mind map ini dapat membangkitkan ide-ide
orisinil dan memicu ingatan dengan mudah. Konsep mind map ini menjadi
semakin kuat dan disukai, setelah diketahui pula ternyata tokoh-tokoh penting
dunia juga menggunakan pola-pola mind map untuk mencatat hasil-hasil riset,
gagasan-gagasan penting, temuan-temuan atau pemikiran-pemikirannya. Menurut
Beccary (2009), tokoh-tokoh penting dunia tersebut antara lain Leonardo da
Vinci, Newton, Darwin, Marie Curie, dan Thomas Jefferson.
Metode pembelajaran inovatif seperti mind map ini sudah mulai diterapkan
di beberapa bimbingan belajar di Jambi (Dion Eprijum Ginanto, 2011). Hasilnya
adalah bahwa peserta didik lebih antusias dalam mengikuti pembelajaran, hal ini
terbukti dengan banyaknya peserta didik yang bergabung pada lembaga
bimbingan belajar yang menerapakan metode seperti ini. Berdasarkan survey pada
alumni dari Eastern University, menunjukkan bahwa pengguna mind map pada
business environment mencapai 87%, government environment 76%, education
environment 98% (Joanne M. Tucker dkk, 2010:11).
Penelitian tentang mind map juga pernah dilakukan Alfi Sapitri (2010)
tentang penerapan strategi belajar mind map sebagai suatu strategi belajar Biologi.
Hasil penelitian pada siklus I diperoleh persentase seluruh aktivitas sebesar
51,79% sedangkan di siklus II diperoleh persentase seluruh aktivitas sebesar
72,07% meningkat sebesar 20,28%. Respon peserta didik terhadap pembelajaran
dengan strategi belajar mind map sangat positif.
Berdasarkan uraian di atas peneliti tertarik melakukan penelitian dengan
menggunakan teknik mind map dengan judul “Model Bimbingan Belajar Melalui
Teknik Mind Map untuk Mengatasi Kesulitan Mempelajari Bahasa Inggris Peserta
Didik Kelas V (Penelitian di SDN Gentan 03 Bulu Sukoharjo Tahun Pelajaran
2011/2012)”.
commit to user
6
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
B. Rumusan Masalah
Fokus masalah dari penelitian ini adalah :
1. Seperti apakah profil awal kesulitan mempelajari bahasa Inggris peserta didik
kelas V SDN Gentan 03?
2. Apakah model bimbingan belajar melalui teknik mind map layak digunakan
untuk mengatasi kesulitan mempelajari bahasa Inggris pada peserta didik kelas
V SDN Gentan 03?
3. Apakah teknik mind map efektif untuk mengatasi kesulitan mempelajari
bahasa Inggris peserta didik kelas V SDN Gentan 03?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan pelaksanaan penelitian
ini adalah :
1. Mengetahui profil awal kesulitan belajar Bahasa Inggris peserta didik kelas V
SDN Gentan 03.
2. Mengetahui tingkat kelayakan model bimbingan belajar melalui teknik mind
map untuk mengatasi kesulitan mempelajari bahasa Inggris pada peserta didik
kelas V SDN Gentan 03.
3. Mengetahui efektivitas penggunaan metode mind map untuk mengatasi
kesulitan belajar Bahasa Inggris peserta didik kelas V SDN Gentan 03.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat secara teoritis maupun secara
praktis. Adapun manfaat teoritis maupun praktis adalah sebagai berikut:
1.
Manfaat Teoritis
Dapat mengetahui efektivitas bimbingan belajar dengan teknik mind map
untuk mengatasi kesulitan mempelajari Bahasa Inggris pada peserta didik.
2.
Manfaat praktis yang diharapkan dalam penelitian ini terdiri :
1) Bagi kepala sekolah, dapat merekomendasikan kepada guru bidang studi
untuk mengaplikasikan teknik mind map sebagai alternatif pembelajaran
to user didik.
untuk mengatasi kesulitan commit
belajar peserta
7
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
2) Guru dapat menggunakan model layanan bimbingan belajar dengan teknik
mind map untuk mengatasi kesulitan belajar peserta didik.
3) Bagi peserta didik dapat mengatasi kesulitan belajar dengan menggunakan
teknik belajar mind map.
commit to user
8
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
BAB II
KAJIAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS
A. Kajian Teori
1. Kesulitan Mempelajari Bahasa Inggris
a. Pengertian Kesulitan Mempelajari Bahasa Inggris
Pada umumnya kesulitan merupakan suatu kondisi tertentu yang
ditandai dengan adanya hambatan-hambatan dalam kegiatan mencapai tujuan,
sehingga memerlukan usaha lebih giat lagi untuk dapat mengatasinya.
Mulyadi (2010:6) menjelaskan bahwa kesulitan belajar mempunyai pengertian
yang luas seperti learning disorder (ketergantungan belajar), learning
disabilities (ketidakmampuan belajar), learning disfunction (ketidakfungsian
belajar), under achiever (pencapaian rendah) dan slow learner (lambat
belajar). Pengertian mengenai learning disorder, learning disabilities,
learning disfunction, under achiever dan slow learner akan dijelaskan sebagai
berikut. Learning disorder merupakan keadaan suatu proses belajar seseorang
yang terganggu karena timbulnya respon yang bertentangan. Pada dasarnya
orang yang mengalami gangguan belajar, prestasi belajarnya tidak terganggu,
akan tetapi proses belajarnya yang terganggu atau terhambat oleh adanya
respon-respon yang bertentangan. Hal ini berakibat hasil belajar yang dicapai
akan lebih rendah dari potensi yang dimiliki.
Learning disabilities adalah ketidakmampuan seorang peserta didik
yang mengacu pada gejala tidak mampu belajar atau menghindari belajar,
sehingga hasil belajarnya di bawah potensi intelektualnya. Learning
disfunction merupakan gejala dalam proses belajar yang tidak berfungsi
dengan baik meskipun pada dasarnya tidak ada tanda-tanda subnormalitas
mental, gangguan alat indera atau gangguan-gangguan psikologis lainnya.
Under achiever mengacu pada peserta didik yang memiliki tingkat potensi
intelektual di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah.
Sedangkan slow learner merupakan kondisi peserta didik yang lambat dalam
to user
proses belajarnya sehinggacommit
membutuhkan
waktu yang lebih lama
8
9
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
dibandingkan dengan peserta didik yang lain yang memiliki taraf potensi
intelektual yang sama.
Uraian di atas menunjukkan bahwa kesulitan belajar mempunyai
pengertian lebih luas daripada pengertian-pengertian learning disorder,
learning disabilities, learning disfunction, under achiever, dan slow learner.
Individu yang tergolong seperti tersebut di atas, akan mengalami kesulitan
belajar yang ditandai dengan adanya hambatan-hambatan dalam proses
belajar. Hal tersebut berarti bahwa kesulitan mempelajari bahasa Inggris dapat
dimaknai sebagai suatu kondisi proses belajar bahasa Inggris yang mengalami
hambatan-hambatan atau gangguan-gangguan tertentu dalam belajar.
Bahasa Inggris merupakan salah satu bahasa asing bagi peserta didik.
Meski demikian pengajaran bahasa Inggris di Sekolah Dasar (SD) bukan hal
baru di Indonesia. Saat ini banyak SD di perkotaan maupun di pedesaan telah
berani mengenalkan bahasa Inggris, khususnya kepada peserta didik kelas
IV – VI. Pengajaran Bahasa Inggris di SD masih mengalami beberapa kendala
terutama di SD pedesaan. Salah satu kendala yang dihadapi oleh para peserta
didik yaitu kesulitan dalam mempelajari bahasa Inggris.
Seorang peserta didik dapat diduga mengalami kesulitan belajar, jika
yang bersangkutan menunjukkan kegagalan tertentu dalam mencapai tujuantujuan belajarnya (Burton dalam Mulyadi, 2010:8). Hal tersebut dapat
dimaknai sebagai ciri seseorang yang mengalami kesulitan belajar dapat
ditunjukkan
melalui
kegagalan
yang
dialaminya.
Kegagalan
belajar
diidentifikasikan oleh Burton dalam Mulyadi (2010:8) yaitu sebagai berikut:
1. Peserta didik dikatakan gagal, apabila dalam batas waktu tertentu yang
bersangkutan tidak mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau tingkat
penguasaan minimal dalam pelajaran tertentu seperti yang telah ditetapkan
oleh guru. Sistem pendidikan di Indonesia, angka nilai batas lulus ialah
angka 6 atau 60 (60% dari ukuran yang diharapkan); peserta didik ini
dapat digolongkan ke dalam “lower group”. Hal ini berarti bahwa peserta
didik yang hasil belajarnya terutama dalam pelajaran bahasa Inggris
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
10
digilib.uns.ac.id
mencapai nilai kurang dari 60% dari ukuran yang diharapkan maka peserta
didik tersebut dikatakan gagal.
2. Peserta didik dikatakan gagal, apabila yang bersangkutan tidak dapat
mengerjakan atau mencapai prestasi yang semestinya berdasarkan ukuran
tingkat kemampuannya, intelegensi dan bakatnya, peserta didik ini dapat
digolongkan ke dalam under achiever.
3. Peserta didik dikatakan gagal, apabila yang bersangkutan tidak dapat
mewujudkan tugas-tugas perkembangan, termasuk penyesuaian sosial,
maka peserta didik tersebut dapat dikategorikan ke dalam “slow learner”.
4. Peserta didik dikatakan gagal, apabila yang bersangkutan tidak berhasil
mencapai tingkat penguasaan yang diperlukan sebagai prasyarat bagi
kelanjutan pada tingkat pelajaran berikutnya. Peserta didik ini dapat
dikategorikan ke dalam “slow learner” atau belum matang sehingga harus
menjadi pengulangan
b. Kriteria Gejala Kesulitan Belajar
Kriteria untuk menetapkan gejala kesulitan belajar diperlukan untuk
menandai individu yang mengalami kesulitan belajar. Kriteria ini akan dapat
ditentukan batas individu yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar.
Menurut Mulyadi (2010:10) kemajuan belajar individu dapat dilihat dari segi
tujuan yang harus dicapai, tingkat pencapaian hasil belajar dibandingkan
potensinya, kedudukannya dalam kelompok yang memiliki potensi yang sama
dan dapat dilihat dari kepribadiannya. Berdasarkan hal ini, kriteria kesulitan
belajar dapat ditentukan dari tingkat pencapaian tujuan, perbandingan antara
potensi dengan prestasi, kedudukan dalam kelompok dan tingkah laku yang
nampak.
Adapun cara untuk mengetahui peserta didik yang mendapatkan
hambatan dalam pencapaian tujuan adalah sebelum proses belajar mengajar
dimulai, tujuan dirumuskan secara jelas dan operasional. Hasil belajar yang
dicapai merupakan ukuran tingkatan pencapaian tujuan tersebut. Secara
commit
to user
statistik berdasarkan “distribusi
normal”
seseorang dikatakan berhasil jika
perpustakaan.uns.ac.id
11
digilib.uns.ac.id
dapat menguasai sekurang-kurangnya 60% dari tujuan yang harus dicapai.
Teknik yang dapat dipakai ialah dengan menganalisis prestasi belajar dalam
bentuk nilai hasil belajar. Apabila menggunakan hasil sistem skala nilai 0-10,
maka peserta didik yang mendapat nilai kurang dari 6 atau 5 ke bawah
diidentifikasi sebagai anak yang mengalami kesulitan belajar. Hal ini dapat
dilakukan dengan menganalisis angka-angka rapor setiap peserta didik baik
secara keseluruhan maupun menurut mata pelajaran tertentu. Apabila
menggunakan sistem skala nilai 100, maka batas kesulitan belajar ialah nilai
60. Jika nilai-nilainya masih berupa skor mentah, maka dapat ditetapkan
batasnya yaitu 0,25 standar deviasi di atas rata-rata. Mereka yang mendapat
nilai kurang dari 0,25 standar deviasi di atas rata-rata, diperkirakan mengalami
kesulitan belajar. Misalnya hasil suatu mata pelajaran tertentu dari 50 peserta
didik diperoleh rata-rata sebesar 60, dengan standar deviasi sebesar 10, maka
batas normal kesulitan adalah 60+0,25x10=62,5, sehingga mereka yang
mendapat nilai kurang dari 62,5 dianggap mengalami kesulitan belajar.
Prestasi belajar yang dicapai seorang peserta didik tergantung dari
tingkat potensinya, baik yang berupa bakat maupun kecerdasan. Anak yang
mempunyai potensi tinggi cenderung dapat memperoleh prestasi yang lebih
tinggi pula. Peserta didik yang mendapat kesulitan belajar ialah jika terdapat
perbedaan yang besar antara potensi dengan prestasi. Potensi peserta didik
dapat diketahui dengan melaksanakan tes kemampuan yaitu tes bakat atau tes
inteligensi. Hal tersebut masih sulit untuk dilaksanakan pada setiap sekolah,
tetapi para guru dapat memperkirakan tingkat waktu kemampuan peserta didik
melalui pengamatan yang teliti dan sistematis dalam jangka waktu yang cukup
lama. Patokan ini dapat diketahui peserta didik yang mendapatkan prestasi
jauh di bawah potensinya atau dianggap mengalami kesulitan belajar.
Kedudukan seseorang dalam kelompoknya merupakan ukuran dalam
pencapaian hasil belajar. Seorang peserta didik yang mendapat nilai 8
mungkin akan dianggap terpandai jika peserta didik lainnya mendapat nilai 7
ke bawah. Sebaliknya dianggap kurang, jika peserta didik yang lain mendapat
commit
to user akan dapat memberikan arti jika
nilai 8 ke atas. Nilai yang dicapai
seseorang
perpustakaan.uns.ac.id
12
digilib.uns.ac.id
telah dibandingkan dengan yang lain dalam kelompoknya. Secara statistik,
peserta didik diperkirakan mengalami kesulitan belajar jika menduduki urutan
paling bawah dalam kelompoknya. Berdasarkan teknik ini guru dapat
mengurutkan seluruh peserta didik berdasarkan nilai yang dicapainya mulai
dari nilai yang tinggi sampai nilai yang terendah, sehingga setiap peserta didik
memperoleh nomor urut prestasi (ranking). Mereka yang menduduki sebanyak
25% dari bawah dianggap mengalami kesulitan belajar. Misalnya ada 60
peserta didik dan telah diurutkan kedudukannya berdasarkan nilainya, maka
yang menghadapi kesulitan belajar adalah 15 peserta didik yang di bawah.
Teknik lain adalah dengan membandingkan prestasi belajar setiap peserta
didik dengan prestasi rata-rata kelompok (dengan nilai rata-rata kelas).
Mereka yang mendapat angka di bawah nilai rata-rata kelas, dianggap
mengalami kesulitan belajar, baik secara keseluruhan maupun setiap mata
pelajaran. Berdasarkan kedua teknik tersebut, maka guru dapat mengetahui
peserta didik yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar, sehingga dapat
dianalisis untuk memberikan bimbingan kepada mereka.
Hasil belajar yang dicapai oleh seorang peserta didik akan nampak
dalam tingkah lakunya. Setiap proses belajar mengajar akan menghasilkan
perubahan dalam aspek-aspek tingkah lakunya. Peserta didik yang tidak
berhasil dalam belajar akan menunjukkan pola tingkah laku yang
menyimpang. Misalnya menunjukkan sikap acuh tak acuh, melalaikan tugas,
menentang, membolos, menyendiri, dusta, kurang motivasi serta gangguan
emosional lainnya. Selanjutnya gejala kesulitan belajar akan dimanifestasikan
dalam bebagai jenis kesulitan dalam keseluruhan proses belajar. Jenis-jenis
kesulitan belajar tersebut saling berinteraksi satu dengan lainnya.
c. Faktor Penyebab Kesulitan Mempelajari Bahasa Inggris
Ada beberapa faktor penyebab peserta didik mengalami kesulitan
mempelajari bahasa Inggris. Menurut Duta (2012) faktor-faktor penghambat
tersebut antara lain faktor lingkungan, tata bahasa (grammar), malu, malas
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
13
digilib.uns.ac.id
belajar, minimnya kosakata (vocabulary), tidak fokus dan tidak mempunyai
komitmen.
1). Lingkungan
Lingkungan sangat mempengaruhi keterampilan dalam berbahasa
Inggris. Anak-anak yang terlahir di Inggris sudah tentu lambat laun akan bisa
berbahasa inggris. Berbeda dengan orang-orang di luar Inggris dalam hal ini
yaitu di Indonesia. Bagi peserta didik yang ingin bisa berbahasa inggris
dengan baik, maka ada baiknya jika membuat lingkungan yang mendukung
untuk belajar bahasa inggris.
2). Tata bahasa (Grammar/Structure)
Tata bahasa/grammar sering kali menjadi kendala tersendiri bagi
pemula yang ingin belajar bahasa inggris. Tata bahasa Inggris berbeda dengan
tata bahasa Indonesia, sehingga peserta didik terutama di SD akan merasa
kesulitan ketika menggunakan kalimat dalam bahasa Inggris.
3). Malu
Pada kenyataannya rasa malu menjadi penghambat untuk praktik
bahasa Inggris. Ada kemungkinan individu yang sudah mempunyai
perbendaharaan kata dalam bahasa Inggris, tetapi mereka malu untuk
mempraktikkannya. Sehingga mengakibatkan perbendaharaan kata dalam
bahasa Inggris tersebut menjadi tidak berkembang.
4). Malas belajar
Rasa malas untuk mempelajari bahasa Inggris sudah tentu akan
mengakibatkan seseorang tidak bisa berbahasa Inggris. Apabila peserta didik
ingin bisa berbahasa inggris, maka harus menghantam rasa malas belajar.
Peserta didik sebaiknya mulai menyisihkan waktu untuk belajar bahasa
inggris, misalnya 15 menit per hari untuk sekedar membaca buku bahasa
Inggris.
5). Minim Kosakata (vocabulary)
Sedikitnya perbendaharaan kosakata mempengaruhi peserta didik
untuk bisa berbahasa Inggris dengan baik. Untuk itu peserta didik harus
commit tosetiap
user hari.
memperbanyak kosakata (vocabulary)
perpustakaan.uns.ac.id
14
digilib.uns.ac.id
6). Tidak fokus
Banyaknya materi yang harus dipelajari dalam bahasa Inggris menjadi
faktor penghambat dalam belajar bahasa Inggris. Tidak sedikit pemula yang
tidak fokus untuk belajar bahasa Inggris. Misalnya saat ini belajar listening,
satu bulan kemudian sudah beralih belajar grammar, bulan berikutnya belajar
pronunciation, kemudian seteerusnya. Sangat sulit rasanya bila belajar bahasa
Inggris namun tidak fokus. Jadi, peserta didik harus fokus di satu bidang
terlebih dahulu, kemudian belajar tahap berikutnya bila materi sebelumnya
sudah kuasai dengan baik.
7). Tidak punya komitmen
Tidak ada komitmen dalam belajar bahasa Inggris, membuat peserta
didik tidak bersemangat dalam mempraktikkan, belajar atau membaca bukubuku bahasa Inggris.
2. Karakteristik dan Tugas Perkembangan Anak Usia Sekolah Dasar (SD)
Pada pembagian tahapan perkembangan anak usia SD, ada dua masa
perkembangan yaitu masa kanak-kanak tengah (6-9 tahun), dan masa kanakkanak akhir (10-12 tahun). Perkembangan anak menunjuk pada perubahan
fungsional dan kualitatif anak, misalnya perubahan fungsi pikir dari yang
kurang berkualitas menjadi berkualitas tinggi. Periodisasi perkembangan
berdasarkan psikologi untuk anak usia SD dikemukakan oleh pakar popular
yaitu Piaget.
Menurut Sutan Zanti Arbi dkk (1991:58) sifat khas anak usia SD perlu
dijadikan landasan dalam mempersiapkan dan melaksanakan pengajaran bagi
mereka. Pengajaran serupa perlu dirancang dan dilaksanakan sehingga sajian
memungkinkan bagi anak dapat melihat (seeing), berbuat sesuatu (doing),
melibatkan diri dalam proses belajar (undergoing) dan mengalami secara
langsung apa yang dipelajarinya (experiencing). Sifat-sifat khas yang terdapat
pada anak usia SD adalah sebagai berikut: 1) Sangat ingin tahu tentang segala
sesuatu yang ada dalam dunia realita di sekitarnya. 2) Telah mulai terbentuk
user
dan disadarinya aturan-aturancommit
dirinya.to3)
Tidak lagi semata-mata tergantung
perpustakaan.uns.ac.id
15
digilib.uns.ac.id
pada orang yang lebih tua. 4) Suka melakukan kegiatan-kegiatan yang berguna
terhadap lingkungannya. 5) Sudah mulai muncul kesadaran terhadap diri
sendiri dan orang lain. 6) Sudah memiliki self esteem (pertimbangan) tentang
kemampuan, kekuatan, dan keistimewaan yang dimiliki sendiri. 7) Telah dapat
memainkan peranan sesuai dengan jenis kelaminnya. 8) Telah dapat
berkompetisi yang sehat. 9) Telah mempunyai sifat kepemimpinan. 10) Telah
muncul kebutuhan akan persahabatan.
a. Karakteristik Anak Usia Sekolah Dasar (SD)
Menurut Kurnia Septa (2011), ada beberapa karakteristik anak di usia
Sekolah Dasar yang perlu diketahui para guru, agar lebih mengetahui keadaan
peserta didik khususnya ditingkat Sekolah Dasar. Sebagai guru harus dapat
menerapkan metode pengajaran yang sesuai dengan keadaan peserta didiknya
maka sangatlah penting bagi seorang pendidik mengetahui karakteristik
peserta didiknya. Selain karakteristik juga perlu diperhatikan kebutuhan
peserta didik. Adapun karakeristik dan kebutuhan peserta didik dibahas
sebagai berikut.
Karakteristik pertama anak SD adalah senang bermain. Karakteristik ini
menuntut guru SD untuk melaksanakan kegiatan pendidikan yang bermuatan
permainan lebih – lebih untuk kelas rendah. Guru SD seyogyanya merancang
model pembelajaran yang memungkinkan adanya unsur permainan di
dalamnya. Guru hendaknya mengembangkan model pengajaran yang serius
tapi santai. Penyusunan jadwal pelajaran hendaknya diselang saling antara
mata pelajaran serius seperti IPA, Matematika, dengan pelajaran yang
mengandung unsur permainan seperti pendidikan jasmani, atau Seni Budaya
dan Keterampilan (SBK). Karakteristik yang kedua adalah senang bergerak,
orang dewasa dapat duduk berjam-jam, sedangkan anak SD dapat duduk
dengan tenang paling lama sekitar 30 menit. Oleh karena itu, guru hendaknya
merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak berpindah atau
bergerak. Menyuruh anak untuk duduk rapi untuk jangka waktu yang lama,
dirasakan anak sebagai siksaan.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
16
digilib.uns.ac.id
Karakteristik yang ketiga dari anak usia SD adalah anak senang bekerja
dalam kelompok. Dari pergaulanya dengan kelompok sebaya, anak belajar
aspek-aspek yang penting dalam proses sosialisasi, seperti: belajar memenuhi
aturan-aturan kelompok, belajar setia kawan, belajar tidak tergantung pada
diterimanya dilingkungan, belajar menerimanya tanggung jawab, belajar
bersaing dengan orang lain secara sehat (sportif), mempelajarai olah raga dan
membawa implikasi bahwa guru harus merancang model pembelajaran yang
memungkinkan anak untuk bekerja atau belajar dalam kelompok, serta belajar
keadilan dan demokrasi. Karakteristik ini membawa implikasi bahwa guru
harus merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak untuk
bekerja atau belajar dalam kelompok. Guru dapat meminta peserta didik untuk
membentuk kelompok kecil dengan anggota 3-4 orang untuk mempelajari atau
menyelesaikan suatu tugas secara kelompok.
Karakteristik yang keempat anak SD adalah senang merasakan atau
melakukan/memperagakan sesuatu secara langsung. Ditinjau dari teori
perkembangan kognitif, anak SD memasuki tahap operasional konkret. Dari
yang dipelajari di sekolah, ia belajar menghubungkan konsep-konsep baru
dengan konsep-konsep lama. Berdasar pengalaman ini, peserta didik
membentuk konsep-konsep tentang angka, ruang, waktu, fungsi-fungsi badan,
jenis kelamin, dan moral. Bagi anak SD, penjelasan guru tentang materi
pelajaran akan lebih dipahami jika anak melaksanakan sendiri, sama halnya
dengan memberi contoh bagi orang dewasa. Dengan demikian guru
hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak terlibat
langsung dalam proses pembelajaran. Sebagai contoh anak akan lebih
memahami tentang arah mata angin, dengan cara membawa anak langsung
keluar kelas, kemudian menunjuk langsung setiap arah anginnya, bahkan
dengan sedikit menjulurkan lidah akan diketahui secara persis dari arah mana
angin saat itu bertiup.
b. Tugas Perkembangan Anak Usia Sekolah Dasar (SD)
Menurut Havighurst (dalam Desmita 2010:35), bahwa ada beberapa
to harus
user terpenuhi. Tugas perkembangan
tugas perkembangan anak usiacommit
SD yang
perpustakaan.uns.ac.id
17
digilib.uns.ac.id
merupakan sejumalah tugas yang timbul pada suatu fase perkembangan
tertentu dalam kehidupan seseorang. Havighurst menambahkan bahwa tugas
perkembangan anak usia SD antara lain: a) Menguasai keterampilan fisik yang
diperlukan dalam permainan dan aktifitas fisik. b) Membina hidup sehat.
c) Belajar bergaul dan bekerja dalam kelompok. d) Belajar menjalankan
peranan social sesuai dengan jenis kelamin. e) Belajar membaca, menulis dan
berhitung agar mampu berpartisipasi dalam masyarakat. f) Memperoleh
sejumlah konsep yang diperlukan untuk berpikir efektif. g) Mengembangkan
kata hati, moral dan nilai-nilai. h) Mencapai kemandirian pribadi.
Dalam menjalankan tugas-tugas perkembangannya, anak sering
menemui hambatan-hambatan dan permasalahan-permasalahan sehingga
mereka memerlukan perhatian khusus dari orang lain, terutama orangtua dan
guru. Keberhasilan seseorang menunaikan tugas-tugas perkembangan pada
fase tertentu merupakan pertanda keberhasilan untuk menunaikan tugas pada
fase berikutnya.
3. Kesulitan Mempelajari Bahasa Inggris bagi Anak Usia SD
Diantara berbagai mata pelajaran yang dianggap menjadi kendala bagi
sebagian peserta didik adalah bahasa Inggris. Menurut Anne Ahira (2011),
pelajaran bahasa Inggris dijadikan salah satu jenis pelajaran wajib di berbagai
tingkat pendidikan di Indonesia. Pada saat ini mata pelajaran bahasa Inggris
sudah diberikan pada peserta didik di Sekolah Dasar (SD). Di beberapa kota
besar pun sudah banyak dijumpai sekolah berlabel internasional yang
menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dalam kegiatan belajar
mengajar. Banyak peserta didik khususnya bagi anak usia SD yang mengalami
masalah atau kesulitan dalam mempelajari bahasa Inggris.
Menurut Anne Ahira (2011), masalah-masalah tersebut diantaranya
adalah sebagai berikut: (1) Kesulitan dalam mengingat kata-kata. Kadangkadang kata yang baru saja didengar pada saat guru mengajar dengan
mudahnya hilang dari ingatan. Penyebab dari masalah ini diantaranya adalah
user atau metode belajar yang kurang
karena faktor daya konsentrasicommit
pesertatodidik,
perpustakaan.uns.ac.id
18
digilib.uns.ac.id
menyenangkan bagi peserta didik. (2) Pengucapan yang salah. Bagi
kebanyakan orang sudah sangat terbiasa dengan pengucapan seperti yang
tertulis, terutama bagi peserta didik tingkat SD. Pengucapan kata dalam
bahasa Inggris mempunyai perbedaan dengan tulisannya sesuai dengan aturan
yang telah ditetapkan. Cara pengucapan kata dalam bahasa Inggris terdapat
dalam kamus bahasa Inggris, namun banyak peserta didik yang tidak bisa
membaca simbol-simbol pengucapan yang ada dikamus tersebut. (3) Fasih
mengucapkan tetapi tidak bisa menuliskan kata yang benar. Sebagian peserta
didik bisa mengucapkan kata dalam bahasa Inggris secara fasih tetapi mereka
terkadang tidak bisa menuliskan kata tersebut dengan benar. (4) Tensis yang
banyak aturannya sehingga sulit dihafalkan. Tensis yang berjumlah 16
membuat peserta didik kesulitan dalam menghafal. Masalah yang sering
dijumpai yaitu peserta didik tidak mengetahui tensis mana yang harus dipakai
ketika ingin mengungkapkan sebuah ide atau ingin membuat kalimat padahal
mereka mengerti tensis.
4. Konsep Dasar Bimbingan Belajar
a. Pengertian Bimbingan Belajar
Menurut Winkel (1991:125) bimbingan belajar adalah bimbingan dalam
hal menemukan cara belajar yang tepat dalam memilih program studi yang
sesuai, dan dalam mengatasi kesukaran-kesukaran yang timbul berkaitan
dengan tuntutan-tuntutan belajar di suatu institusi pendidikan. Cara-cara
belajar yang salah mengakibatkan materi pelajaran tidak dikuasai dengan baik
sehingga dalam mengikuti materi pelajaran tersebut akan timbul kesulitan.
Menurut Pedoman PPL UMN Malang dalam Caray (2011) bimbingan belajar
peserta didik adalah upaya mengenal, memahami dan menetapkan peserta
didik yang mengalami kesulitan belajar dengan kegiatan mengidentifikasi,
mendiagnosa, memprognosa dan memberikan pertimbangan pemecahan
masalah.
Bimbingan belajar menurut Priyatno (1994:286) merupakan salah satu
user diselenggarakan di sekolah.
bentuk layanan bimbingan commit
yang to
penting
19
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Pengalaman menunjukkan bahwa kegagalan-kegagalan yang dialami peserta
didik dalam belajar tidak selalu disebabkan oleh kebodohan atau rendahnya
inteligensi. Seringkali kegagalan itu terjadi disebabkan karena tidak
mendaapatkan layanan bimbingan yang memadai. Jika permasalahan peserta
didik tidak segera ditemukan solusinya, peserta didik akan mengalami
kegagalan atau kesulitan belajar yang dapat mengakibatkan rendah
prestasinya/tidak lulus, rendahnya prestasi belajar, minat belajar atau tidak
dapat melanjutkan belajar (Sucitae dalam Caray, 2011).
Caray (2011) menambahkan bahwa langkah-langkah yang ditempuh
untuk menjamin keberhasilan belajar adalah: 1) Identifikasi masalah peserta
didik, 2) Diagnosa, 3) Prognosa, 4) Pemberian Bantuan, 5) Follow up (tindak
lanjut).
1) Identifikasi Masalah Peserta didik
Identifkasi masalah peserta didik adalah untuk menentukan peserta didik
yang mengalami kesulitan belajar yang sangat memerlukan bantuan.
Langkah ini sangat mendasar sekali dan merupakan awal kegiatan
bimbingan terhadap peserta didik yang bermasalah, untuk menentukan
masalah yang dialaminya. Dalam bimbingan belajar peserta didik, masalah
yang terjadi dijaga kerahasiaannya. Dikandung maksud agar peserta didik
yang mengalami permasalahan tidak terbebani, tidak ragu dan tanpa rasa
takut
mengungkapkan
permasalahannya
dengan
jujur.
Metode
pengumpulan data dapat melalui observasi, wawancara, instrumen.
2) Diagnosa
Diagnosa dilakukan dalam bimbingan belajar, diartikan sebagai rumusanrumusan masalah peserta didik, jenis kesulitan serta latar belakang
kesulitan dalam pelajaran, serta kesulitan belajar atau masalah yang
mengganggu aktivitasnya sehari-hari sehingga mempengaruhi belajarnya.
3) Prognosa
Prognosa merupakan kegiatan memperkirakan permasalahan, apabila
peserta didik yang mengalami kesulitan belajar tidak segera mendapat
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
20
digilib.uns.ac.id
bantuan. Bertujuan untuk menentukan bantuan yang dapat diberikan
kepadanya.
4) Pemberian Bantuan
Bantuan yang diberikan dengan menggunakan pengarahan, motivasi,
belajar. Cara mengatasi masalah kesulitan belajar melalui latihan-latihan
dan tugas baik individu maupun kelompok, secara rutin.
5) Tindak Lanjut
Tindak lanjut kegiatan bimbingan belajar, untuk mengevaluasi sejauh
mana keberhasilan atau ketidakberhasilan, usaha-usaha memberikan
bantuan pemecahan masalah yang telah diberikan.
b. Fungsi Bimbingan Belajar
Menurut Caray (2011) Bimbingan belajar mempunyai beberapa fungsi,
antara lain fungsi kuratif, penyesuaian, akselerasi dan terapi. Fungsi tersebut
dijelaskan sebagai berikut:
a). Fungsi Kuratif
Tindak lanjut dari bimbingan belajar merupakan usaha memperbaiki
kekurangtepatan yang sebelumnya dilakukan oleh guru dalam proses
pembelajaran di kelas antara lain kekurangan dalam merumuskan tujuan,
dalam menggunakan metode, dalam menggunakan media pemilihan bahan
dan materi pelajaran dalam menyusun evaluasi dan pengelolaan pelajaran.
b). Fungsi Penyesuaian
Bimbingan belajar adalah salah satu motivasi ekstrinsik agar peserta didik
menyesuaikan diri dengan situasi belajar di kelas. Peserta didik dapat
belajar sesuai dengan kondisi pribadinya, sehingga ia memiliki peluang
yang besar untuk mencapai prestasi belajar yang lebih baik.
c). Fungsi Akselerasi
Peserta didik yang lambat belajar dapat ditingkatkan kecepatan belajarnya
melalui program bimbingan belajar, karena materi dan waktu yang
disediakan telah disesuaikan dengan kesulitan yang dialami peserta didik.
commit to user
21
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
d). Fungsi Terapi
Pemberian bimbingan belajar secara langsung atau tidak langsung
menyembuhkan atau memperbaiki kondisi kepribadian peserta didik yang
menunjukkan adanya penyimpangan tingkah laku belajar. Pentingnya
pemberian bimbingan belajar dapat dilihat dari berbagai segi. Kenyataan
menunjukkan bahwa masih ada peserta didik dalam satu kelas yang
prestasi belajarnya rendah jauh dibawah prestasi belajar rata-rata kelas.
Guru memiliki tanggung jawab atas keberhasilan peserta didik seluruh
kelas, atau tanggung jawab atas tercapainya tujuan pembelajaran yang
telah diterapkan.
c. Pendekatan dalam Bimbingan Belajar
Dalam memberikan bimbingan belajar diperlukan adanya pendekatanpendekatan pembelajaran yang dapat dilakukan peserta didik. Menurut
Chasiyah dkk (2009:107), ada tiga pendekatan yang paling populer dan sering
digunakan yaitu pendekatan preferensi sensori, pendekatan multiple
intelligences serta pendekatan berdasarkan wilayah otak. Pendekatanpendekatan tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:
a. Pendekatan preferensi sensori
Secara umum, manusia menggunakan tiga preferensi sensori yaitu visual,
auditori dan kinestetik. Sebagian peserta didik belajar terutama dengan
menggunakan keterampilan auditori untuk memproses informasi yang
didengar, sebagian lagi lebih menggunakan keterampilan visual untuk
memproses informasi yang sama dan sebagian lagi suka menggunakan
keterampilan fisik melalui peran peragaan atau pembelajar kinestetis.
b. Pendekatan multiple intelligences
Pendekatan multiple intelligences terdiri dari kecerdasan linguistik
(bahasa),
kecerdasan
kecerdasan
musikal,
logika-matematika,
kecerdasan
interpersonal, kecerdasan intrapersonal.
commit to user
kecerdasan
jasmani-kinestetik,
visual-spasial,
kecerdasan
22
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
c. Pendekatan berdasarkan wilayah otak
Ada pengaruh dominasi otak kanan dan otak kiri dalam belajar peserta
didik. Pengaruh ini disebabkan karena fungsi-fungsi dasar yang berbeda
dari belahan otak tersebut.
Salah satu pendekatan yang dapat diberikan guru dalam memberikan
bimbingan belajar yaitu dengan pendekatan berdasarkan wilayah otak. Guru
atau pembimbing dapat memberikan pendekatan ini kepada peserta didik
sebagai salah satu cara dalam membantu peserta didik mengatasi masalah
kesulitan belajar.
Berdasarkan penelitian terhadap model gaya belajar dari Dunn dan
Dunn (dalam Chasiyah dkk 2009:118) telah membuktikan bahwa tipe orang
yang memproses dengan otak kiri lebih menyukai lingkungan belajar yang
sunyi, pencahayaan yang terang dan dirancang secara formal. Sebaliknya tipe
orang yang memproses dengan otak kanan lebih menyukai kebisingan atau
menggunakan alunan musik, pencahayaan redup dan rancangan informal.
Walaupun demikian, peserta didik yang mampu mengintegrasikan
penggunaan kedua belahan otak akan lebih baik karena dapat memanfaatkan
fleksibilitas untuk menyesuaikan diri dalam situasi apapun. Mind map
merupakan salah satu dari teknik atau model pembelajaran yang cara
bekerjanya menggunakan otak kanan dan kiri. Dengan mind map mampu
mengaktifkan tugas-tugas otak kanan antara lain warna, gambar dan dimensi
sedangkan tugas-tugas otak kiri antara lain tulisan, urutan penulisan dan
hubungan antar kata. Hal tersebut menurut Tony Buzan (2007:6) bahwa fungsi
bagian otak sebelah kiri yaitu untuk kata-kata, logika, angka, sekuens
(urutan), linearitas, analisis dan daftar; sedangkan fungsi bagian otak sebelah
kanan yaitu untuk ritme, kesadaran, imajinasi, warna dan dimensi.
Fungsi bagian otak juga dikemukakan oleh Barbara Prashnig (dalam
Chasiyah 2009:117) yang dapat dilihat dalam tabel berikut ini.
commit to user
23
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Tabel 2.1 Fungsi Bagian Otak
Belahan kiri
Analitis
Terpecah menjadi detail-detail dan
bagian-bagian komponen, tidak
peduli atau berminat pada
keseluruhan
Fokus
Memusatkan perhatian pada detail
kecil, membidik pada area aktivitas
yang kecil.
Serial
Sepotong demi sepotong, berurutan,
auditori, logika, bahasa, matematika.
Memerinci
Memahami segala sesuatu melalui
langkah demi langkah dan bagian
demi bagian.
Temporal
Memerhatikan waktu, meruntut
sesuatu satu demi satu.
Logis
Menarik kesimpulan berdasarkan
logika: yang satu mengikuti yang lain
secara logis, misalnya sebuah teori
matematika atau artikel yang
dikemukakan dengan baik.
Belahan kanan
Pandangan umum
Melihat seluruh gambar besar,
mengaitkan seluruh situasi, tidak
memandang pada detail, memadukan.
Menyebar
Menyebar ke seluruh area yang luas,
tidak terkonsentrasi di satu tempat.
Simultan
Relasi spasial, visual, irama dan
aliran musik.
Sintesis
Menyatukan segala sesuatu bersamasama untuk membentuk keseluruhan.
Non-temporal
Tanpa pengertian waktu.
Intuitif
Membuat lompatan-lompatan
wawasan, sering didasarkan pada
pola-pola yang tidak lengkap,
prasangka, perasaan atau citra visual.
Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa guru dapat
memberikan pendekatan kepada peserta didik dalam membimbing belajarnya.
Salah satu pendekatan yang digunakan dapat mengacu pada fungsi bagian
otak, sehingga teknik mind map dapat dijadikan sebagai salah satu teknik
belajar yang cara bekerjanya menggunakan otak kanan dan kiri.
5. Konsep Dasar Teknik Mind map
Konsep dasar teknik mind map ini terdiri dari pengertian, kegunaan,
commit to user
cara membuat dan keunggulan mind map. Pembahasan mengenai pengertian,
24
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
kegunaan, cara membuat dan keunggulan mind map akan dijelaskan sebagai
berikut.
a. Pengertian Mind map
Mind map adalah metode mencatat kreatif yang memudahkan dalam
mengingat banyak informasi (Bobbi DePorter, 2010:225). Teknik mind map
merupakan teknik baru untuk mencatat yang bekerjanya disesuaikan dengan
bekerjanya dua belah otak (otak kiri dan otak kanan). Keterlibatan kedua
belahan otak akan memudahkan seseorang untuk mengatur dan mengingat
segala bentuk informasi, baik secara tertulis maupun secara verbal. Adanya
kombinasi warna, simbol, dan bentuk memudahkan otak dalam menyerap
informasi yang diterima.
Mind map yang dibuat oleh peserta didik dapat bervariasi pada setiap
materi, karena berbedanya emosi dan perasaan yang terdapat dalam diri
peserta didik setiap saat. Suasana menyenangkan yang diperoleh peserta didik
ketika berada di ruang kelas pada saat proses belajar akan mempengaruhi
penciptaan mind map. Guru diharapkan dapat menciptakan suasana yang dapat
mendukung kondisi belajar peserta didik terutama dalam proses pembuatan
mind map.
b. Kegunaan Mind map
Mind map dapat dimanfaatkan atau berguna untuk berbagai bidang
termasuk bidang pendidikan. Menurut Michael Michalko dalam Tony Buzan
(2007:6)
kegunaan
metode
mind
map
yaitu
mengaktifkan
otak,
memungkinkan untuk fokus pada pokok bahasan, meunjukkan hubungan
antara bagian-bagian informasi yang saling terpisah, memberi gambaran yang
jelas
pada
keseluruhan
dan
perincian
serta
memungkinkan
untuk
mengelompokkan konsep. Selain itu menurut Tony Buzan (2007:4) mind map
dapat menolong peserta didik untuk a) lebih baik dalam mengingat, b)
mendapatkan ide brilian, c) menghemat waktu dan dapat memanfaatkan waktu
commit to user
25
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
dengan sebaik-baiknya, d) mendapatkan nilai yang lebih bagus, e) mengatur
pikiran dan hobi, f) serta lebih banyak bersenang-senang.
Tony Buzan (2007:17) menambahkan bahwa yang dapat dilakukan
dengan menggunakan mind map yaitu untuk mengingat-ingat, membuat catatn
dengan lebih baik, memunculkan ide, menghemat waktu, berkonsentrasi,
memanfaatkan waktu sebaik mungkin dan menghadapi ujian dengan mudah.
Menurut Yovan dalam Astutiamin (2009), keutamaan metode pencatatan
menggunakan mind map, antara lain: 1) Tema utama terdefinisi secara sangat
jelas karena dinyatakan di tengah, 2)
Level keutamaan informasi
teridentifikasi secara lebih baik. Informasi yang memiliki kadar kepentingan
lebih diletakkan dengan tema utama, 3) Hubungan masing-masing informasi
secara mudah dapat segera dikenali, 4) Lebih mudah dipahami dan diingat,
5) Informasi baru setelahnya dapat segera digabungkan tanpa merusak
keseluruhan struktur mind map, sehingga mempermudah proses pengingatan,
6) Masing-masing mind map sangat unik, sehingga mempermudah proses
pengingatan. 7) Mempercepat proses pencatatan karena hanya menggunakan
kata kunci.
Berikut ini disajikan perbedaan antara catatan tradisional (catatan biasa)
dengan catatan pemetaan pikiran (mind map).
Tabel 2.2. Perbedaan Catatan Biasa dan Mind map
Catatan Biasa
Mind map
1. Hanya berupa tulisan-tulisan
1. Berupa tulisan, simbol dan gambar
saja
2. Hanya dalam satu warna
3. Untuk
mereview
2. Berwarna-warni
ulang
memerlukan waktu yang lama
4. Waktu yang diperlukan untuk
belajar lebih lama
5. Statis
3. Untuk mereview ulang diperlukan
waktu yang pendek
4. Waktu yang diperlukan untuk belajar
lebih cepat dan efektif
5. Membuat
kreatif
commit to user
individu menjadi lebih
perpustakaan.uns.ac.id
26
digilib.uns.ac.id
c. Cara Membuat Mind map
Sebelum membuat mind map, perlu dipersiapkan beberapa peralatan.
Peralatan untuk membuat mind map antara lain kertas, pulpen berwarna dan
otak (Tony Buzan, 2007:11). Paparan tersebut berarti bahwa peralatan dalam
membuat mind map sangat sederhana. Menurut Tony Buzan (2007:10), ada
lima langkah membuat mind map untuk anak yaitu sebagai berikut:
a) Pergunakanlah selembar kertas kosong tanpa garis dan beberapa pulpen
berwarna. Pastikanlah kertas tersebut diletakkan menyamping, b) Buatlah
sebuah gambar yang merangkum subjek utama di tengah-tengah kertas.
Gambar itu melambangkan topik utama, c) Buatlah beberapa garis tebal
berlekuk-lekuk yang menyambung dari gambar di tengah kertas, masingmasing untuk setiap ide utama yang ada mengenai subjek. Cabang-cabang
utama tersebut melambangkan subtopik utama, d) Berilah nama pada setiap
ide dan lebih menarik lagi buatlah gambar-gambar kecil mengenai masingmasing ide tersebut. Setiap kata dalam mind map akan digaris bawahi. Hal ini
karena kata-kata merupakan kata-kata kunci, dan pemberian garis bawah
seperti pada catatan biasa menunjukkan tingkat kepentingannya, e) Dari setiap
ide yang ada, tariklah garis penghubung lainnya yang menyebar seperti
cabang-cabang pohon. Tambahkan buah pikiran ke setiap ide tadi. Cabangcabang tambahahan ini melambangkan detail-detail yang ada.
Tony Buzan dalam Astutiamin (2009) telah menyusun sejumlah aturan
yang harus diikuti agar mind map yang dibuat dapat memberikan manfaat
yang optimal, berikut adalah ringkasan dari Law of Mind map (MM):
a) Kertas: polos dengan ukuran minimal A4 dan paling baik adalah ukuran A3
dengan orientasi horizontal (Landscape). Central Topic diletakkan ditengahtengah kertas dan lebih baik berupa image dengan minimal 3 warna, b) Garis:
lebih tebal untuk BOIs (Basic Ordering Ideas) dan selanjutnya semakin jauh
dari pusat garis akan semakin tipis. Garis harus melengkung (tidak boleh garis
lurus) dengan panjang yang sama dengan panjang kata atau image yang ada di
atasnya. Seluruh garis harus tersambung ke pusat, c) Kata: menggunakan kata
commit
usergaris, harus selalu menggunakan
kunci saja dan hanya satu kata
untukto satu
27
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
huruf cetak supaya lebih jelas dengan besar huruf yang semakin mengecil
untuk cabang yang semakin jauh dari pusat, d) Gambar: gunakan sebanyak
mungkin gambar, kode, simbol, grafik, dan tabel karena lebih menarik serta
mudah untuk diingat dan dipahami. Apabila memungkinkan gunakan image
yang 3 dimensi agar lebih menarik lagi, e) Warna: gunakan minimal 3 warna
dan lebih baik 5-6 warna. Warna berbeda untuk setiap BOIs dan warna cabang
harus mengikuti warna BOIs, f) Struktur: menggunakan struktur radian
dengan sentral topik terletak di tengah-tengah kertas dan selanjutnya cabangcabangnya menyebar ke segala arah. BOIs umumnya terdiri dari 2-7 buah
yang disusun sesuai dengan arah jarum jam dimulai dari arah jam 1. Berikut
disajikan contoh mind map.
commit
to userMind map
Gambar
2.1. Contoh
perpustakaan.uns.ac.id
28
digilib.uns.ac.id
Aplikasi mind map dalam pembelajaran dalam tahap aplikasi, terdapat
empat langkah yang harus dilakukan proses pembelajaran berbasis mind map,
yaitu: 1) Overview: tinjauan menyeluruh terhadap suatu topik pada saat proses
pembelajaran baru dimulai. Hal ini bertujuan untuk memberi gambaran umum
kepada peserta didik tentang topik yang akan dipelajari. Khusus untuk
pertemuan pertama pada setiap awal semester, overview dapat diisi dengan
kegiatan untuk membuat master mind map yang merupakan rangkuman dari
seluruh topik yang akan diajarkan selama satu semester yang biasanya sudah
ada dalam silabus. Sejak awal peserta didik sudah mengetahui topik apa saja
yang akan dipelajarinya sehingga membuka peluang bagi peserta didik yang
aktif untuk mempelajarinya lebih dahulu di rumah atau di perpustakaan,
2) Preview: tinjauan awal merupakan lanjutan dari overview sehingga
gambaran umum yang diberikan setingkat lebih detail daripada overview dan
dapat berupa penjabaran lebih lanjut dari silabus.
Peserta didik diharapkan telah memiliki pengetahuan awal yang cukup
mengenai sub-topik dari bahan sebelum pembahasan yang lebih detail
dimulai. Khusus untuk bahan yang sangat sederhana, langkah preview dapat
dilewati sehingga langsung masuk ke langkah inview, 3) Inview: tinjauan
mendalam yang merupakan inti dari suatu proses pembelajaran, sehingga
suatu topik akan dibahas secara detail, terperinci dan mendalam. Selama
inview ini, peserta didik diharapkan dapat mencatat informasi, konsep atau
rumus penting beserta grafik, daftar atau diagram untuk membantu peserta
didik dalam memahami dan menguasai bahan yang diajarkan, 4) Review:
tinjauan ulang dilakukan menjelang berakhirnya jam pelajaran dan berupa
ringkasan dari bahan yang telah diajarkan serta ditekankan pada informasi,
konsep atau rumus penting yang harus diingat atau dikuasai oleh peserta didik.
Hal ini akan dapat membantu peserta didik untuk fokus dalam mempelajari
ulang seluruh bahan yang diajarkan di sekolah pada saat di rumah. Review
dapat juga dilakukan saat pelajaran akan dimulai pada pertemuan berikutnya
untuk membantu peserta didik mengingatkan kembali bahan yang telah
commit to user
diajarkan pada pertemuan sebelumnya.
perpustakaan.uns.ac.id
29
digilib.uns.ac.id
d. Keunggulan mind map dalam Pembelajaran
Menurut Tony Buzan dalam Alfi Sapitri (2010) keunggulan mind map
dalam pembelajaran, antara lain: a) Ide utama materi pelajaran ditentukan
secara jelas, b) Menarik perhatian mata dan otak sehingga memudahkan kita
berkonsentrasi, c) Dapat melihat gambaran menyeluruh sekaligus detailnya, d)
Hubungan antar informasi yang satu dengan yang lainnya lebih jelas,
e) Terdapat pengelompokan informasi, f) Prosesnya menyenangkan (fun),
tidak membosankan karena banyak menggunakan unsur otak kanan, seperti
gambar, warna, dan dimensi, g) Ditinjau dari segi waktu, mind map juga dapat
mengefisienkan penggunaan waktu dalam mempelajari suatu informasi. Hal
ini utamanya disebabkan karena mind map dapat menyajikan gambaran
menyeluruh atas suatu hal dalam waktu yang lebih singkat, h) Bagi banyak
pembelajar, teknik ini sangat mengurangi stres dibandingkan dengan cara
mencatat tradisional, i) Sifatnya unik sehingga mudah diingat
Menurut Tony Buzan dalam Alfi Sapitri (2010) untuk menggunakan
mind map sangat mudah, hanya perlu memperhatikan 3 prinsip dasar dari
mind map yaitu gambar, warna dan asosiasi.
a. Gambar (Visualize/Image/Symbol). Gunakan sebanyak mungkin kode,
dimensi, atau gambar.
b. Warna (Colour). Gunakan warna sebanyak mungkin
c. Asosiasi (Association/branch). Gunakan asosiasi yang menghubungkan
satu informasi dengan informasi lain, diusahakan meliuk atau melengkung,
pangkal tebal lalu menipis, semakin jauh dari pusat dan semakin menipis,
menyebar ke segala arah.
6. Keefektifan Bimbingan Belajar dengan Teknik Mind map untuk
Mengatasi Kesulitan Mempelajari Bahasa Inggris
Kesulitan belajar merupakan suatu permasalahan yang sering terjadi
pada peserta didik, namun terkadang peserta didik tidak menyadarinya.
commit
to user
Peserta didik biasanya dipandang
bodoh
oleh orang lain karena tidak dapat
30
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
mencapai prestasi yang diinginkan atau gagal dalam suatu pembelajaran.
Kenyataannya peserta didik yang gagal dalam pembelajaran belum tentu
memiliki IQ yang kurang atau dapat dikatakan bodoh, mereka kemungkinan
memiliki sebab-sebab lain yang mengakibatkan dirinya gagal. Penyebab
tersebut salah satunya yaitu karena teknik belajar yang digunakan kurang
efektif sehingga peserta didik tidak dapat mengikuti pembelajaran dengan
baik. Upaya untuk mengatasinya yaitu dengan pemberian bimbingan belajar.
Pemberian bimbingan belajar terkait dengan teknik mind map
merupakan suatu bantuan pembelajaran yang diberikan oleh orang yang ahli
kepada seseorang atau beberapa individu dengan menggunakan teknik
pemetaan pikiran (mind map). Mind map merupakan salah satu teknik belajar
yang dapat digunakan sebagai alternatif dalam belajar yang menyenangkan
bagi peserta didik. Bimbingan belajar dengan teknik mind map memiliki
tujuan yaitu sebagai upaya untuk membantu peserta didik dalam mengatasi
masalah-masalah belajar, salah satunya untuk mengatasi kesulitan belajar.
Belajar dengan menggunakan mind map akan membantu menemukan
cara memudahkan otak belajar dan mengingat informasi (Tony Buzan,
2007:7). Hal ini berarti bahwa mind map dapat dijadikan salah satu teknik
untuk memudahkan peserta didik dalam belajar khususnya dalam mata
pelajaran bahasa Inggris sehingga efektif untuk mengatasi kesulitan dalam
belajar. Mind map lebih merangsang secara visual daripada metode pencatatan
tradisional yang cenderung linear dan satu warna.
B. Kerangka Pemikiran
Pada kegiatan pembelajaran di sekolah, guru dihadapkan dengan sejumlah
karakterisktik peserta didik yang beraneka ragam. Ada peserta didik yang dapat
menempuh kegiatan belajarnya secara lancar dan berhasil tanpa mengalami
kesulitan, namun di sisi lain tidak sedikit pula peserta didik yang dalam belajarnya
mengalami berbagai kesulitan. Kesulitan belajar peserta didik ditunjukkan oleh
adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar, dan dapat
commitfisiologis,
to user sehingga pada akhirnya dapat
bersifat psikologis, sosiologis, maupun
31
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
menyebabkan prestasi belajar yang dicapainya berada di bawah semestinya. Salah
satu upaya guru dalam membantu peserta didiknya yang mengalami kesulitan
belajar adalah dengan bimbingan belajar melalui teknik mind map.
Berdasarkan uraian di atas apabila digambarkan dalam kerangka
pemikiran dalam mengatasi kesulitan belajar tersebut adalah sebagai berikut:
Peserta didik berhasil
tanpa mengalami
kesulitan belajar
Karakteristik peserta
bahasa Inggris
didik yang beraneka
Bimbingan belajar
dengan teknik
ragam
Peserta didik
mind map
mengalami
kesulitan belajar
Bahasa Inggris
Gambar 2.2. Kerangka Pemikiran
C. Hipotesis
Berdasarkan kajian teori dan kerangka pemikiran yang telah diuraikan,
maka dapat dirumuskan hipotesis dalam penelitian ini adalah:
Model bimbingan belajar melalui teknik mind map efektif untuk mengatasi
kesulitan mempelajari Bahasa Inggris pada peserta didik kelas V SD Negeri
Gentan 03 Bulu Sukoharjo.
commit to user
32
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan pengembangan
atau disebut dengan R and D (Research and Development). Sugiyono (2009:297)
mengemukakan bahwa R&D (Research and Development) merupakan metode
penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu dan menguji
keefektifan produk tersebut. Produk yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah
modul bimbingan belajar melalui teknik mind map untuk mengatasi kesulitan
mempelajari bahasa Inggris.
Modul bimbingan belajar melalui teknik mind map adalah kemasan baru
yang berisi tiga materi (bagian), bagian satu berisi materi mengenai pentingnya
pelajaran bahasa Inggris, bagian dua berisi bimbingan belajar melalui teknik mind
map, dan bagian tiga berisi belajar bahasa Inggris melalui teknik mind map.
Modul berisi materi bimbingan yang berkenaan dengan suatu unit materi
bimbingan yang digunakan sebagai pedoman dalam melaksanakan treatment.
Modul bimbingan belajar melalui teknik mind map tersebut khususnya ditujukan
bagi guru bahasa Inggris SD Negeri Gentan 03 agar dapat digunakan sebagai
pedoman atau panduan dalam mengatasi kesulitan mempelajari bahasa Inggris.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat Penelitan
Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Gentan 03 Kecamatan Bulu
Kabupaten Sukoharjo. Alasan memilih sekolah tersebut karena di SD Negeri
Gentan 03 terdapat banyak peserta didik kelas V yang mengalami kesulitan
belajar khususnya pada mata pelajaran Bahasa Inggris. Hal ini dapat diketahui
melalui daftar nilai ulangan harian dari guru bahasa Inggris yang
menunjukkan bahwa peserta didik yang memperoleh nilai rata-rata dibawah
KKM sejumlah 9 peserta didikcommit
dari 14topeserta
user didik. Sebagai pendukung data
32
33
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
yaitu dari hasil angket kesulitan belajar bahasa Inggris yang diisi oleh para
peserta didik kelas V SDN Gentan 03 pada tanggal 18 Februari 2012 yang
menunjukkan 43% mengalami kesulitan mempelajari bahasa Inggris tingkat
tinggi. Selain itu berdasarkan wawancara dengan guru Bahasa Inggris di SD
tersebut bahwa guru bahasa Inggris tersebut belum pernah menggunakan
teknik mind map dalam pembelajaran karena belum mengetahui mengenai
teknik tersebut.
2. Waktu Penelitian
Waktu penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran
2011/2012.
Tabel 3.1. Jadwal Penelitian
Bulan
No
Kegiatan
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1
Pengajuan
Judul
2
Penyusunan
Proposal
3
Persiapan
Penelitian
4
Pengumpulan
Data
5
Mengolah Data
6
Penyusunan
Laporan
C. Subjek Penelitian
Penelitian ini mengambil beberapa subjek penelitian yaitu subjek ahli,
subjek praktisi, dan subjek peserta didik. Rincian masing-masing subjek dapat
commit to user
dijelaskan sebagai berikut:
34
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
a. Subjek uji kelayakan, terdiri dari:
1. Subjek ahli
Subjek ahli sebagai penilai produk dari segi isi, konsep, dan tampilan
kebahasan. Pemilihan subjek ini didasarkan pada kriteria tingkat
pendidikan dan kompetensi bidang yang relevan dengan produk penelitian
yaitu berjumlah 3 orang, 1 oleh ahli bahasa Inggris dan 2 oleh ahli
bimbingan.
2. Subjek praktisi
Subjek praktisi diambil dari guru Bahasa Inggris di SDN Gentan 03 dan
berperan dalam memberikan penilaian terhadap modul intervensi yang
akan digunakan dalam memberikan layanan.
b. Subjek lapangan terbatas
Subjek lapangan terbatas yang digunakan yaitu subjek peserta didik kelas V
yang mengikuti bimbingan belajar di Gama Integra Sukoharjo yang berjumlah
5 orang.
c. Subjek uji keefektifan
Subjek uji keefektifan yang digunakan yaitu subjek peserta didik kelas V SDN
Gentan 03 yang mengalami kesulitan belajar bahasa Inggris yang berjumlah 9
peserta didik. Peserta didik tersebut akan diberikan pretest, treatment, dan
posttest.
D. Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini terdiri dari dua variabel, yaitu variabel terikat
dan variabel bebas. Variabel terikat yang dikaji dalam penelitian ini adalah
kesulitan belajar bahasa Inggris, sedangkan variabel bebasnya adalah bimbingan
belajar melalui teknik mind map.
Definisi konseptual kesulitan belajar yaitu menurut Mulyadi (2010:6) bahwa
kesulitan belajar mempunyai pengertian yang luas seperti learning disorder
(ketergantungan belajar), learning disabilities (ketidakmampuan belajar), learning
disfunction (ketidakfungsian belajar), under achiever (pencapaian rendah) dan
commit
to user
slow learner (lambat belajar). Menurut
Thulus
Hidajat, (1990:98) kesulitan belajar
35
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
merupakan suatu keadaan yang menunjukkan bahwa peserta didik mengalami
kesulitan dalam mencapai hasil belajar atau tujuan pengajaran.
Definisi konseptual bimbingan belajar yaitu menurut Winkel (1991:125)
bimbingan belajar adalah bimbingan dalam hal menemukan cara belajar yang
tepat dalam memilih program studi yang sesuai, dan dalam mengatasi kesukarankesukaran yang timbul berkaitan dengan tuntutan-tuntutan belajar di suatu
institusi pendidikan. Menurut Pedoman PPL UMN Malang dalam Caray (2011)
bimbingan belajar peserta didik adalah upaya mengenal, memahami dan
menetapkan peserta didik yang mengalami kesulitan belajar dengan kegiatan
mengidentifikasi, mendiagnosa, memprognosa dan memberikan pertimbangan
pemecahan masalah.
Definisi konseptual mind map adalah metode mencatat kreatif yang
memudahkan dalam mengingat banyak informasi (Bobbi DePorter, 2010:225).
Menurut Tony Buzan, (2007:4) mind map adalah cara termudah untuk
menempatkan informasi ke dalam otak dan mengambil informasi ke luar dari otak
dengan cara mencatat yang kreatif dan efektif.
Definisi operasional kesulitan belajar bahasa Inggris yaitu suatu kondisi
proses belajar bahasa Inggris yang mengalami berbagai gangguan mencakup
pemahaman dan kemampuan dalam mencapai keberhasilan belajar bahasa Inggris
yang dapat ditandai dengan adanya gejala-gejala yang nampak.
Definisi operasional bimbingan belajar melalui teknik mind map yaitu
layanan untuk membantu peserta didik dalam mengembangkan diri, sikap dan
kebiasaan belajar yang baik melalui teknik mind map. Mind map merupakan suatu
teknik dalam memahami kerangka konsep materi pelajaran yang didasarkan pada
cara kerja otak menyimpan informasi yang dibuat oleh kata-kata, warna, garis dan
gambar. Tujuan bimbingan belajar dengan teknik mind map salah satunya yaitu
untuk mengatasi kesulitan belajar yang dapat menghambat peserta didik dalam
meraih prestasi belajarnya.
commit to user
36
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
E. Teknik Pengumpulan Data
Data yang akan dikumpulkan adalah data kesulitan belajar bahasa Inggris.
Sumber data dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas V SDN Gentan 03
yang mengalami kesulitan belajar bahasa Inggris. Cara yang digunakan di dalam
pengumpulan data adalah sebagai berikut:
1.
Daftar nilai ulangan harian mata pelajaran bahasa Inggris pada peserta didik
kelas V SDN Gentan 03
2.
Test kognitif bahasa Inggris sebagai pretest dan posttest untuk mengetahui
perubahan hasil belajar bahasa Inggris sebelum dan sesudah menggunakan
teknik mind mind.
3.
Angket untuk pendukung studi pendahuluan dalam mengetahui peserta didik
yang mengalami kesulitan belajar bahasa Inggris.
Cara yang digunakan di dalam pengumpulan data untuk studi pendahuluan
dalam mengetahui peserta didik yang mengalami kesulitan belajar bahasa Inggris
adalah dengan menggunakan angket. Pilihan jawaban yang digunakan dalam
angket terdiri empat pilihan jawaban yaitu sangat sesuai, sesuai, kurang sesuai dan
tidak sesuai. Pengumpulan data dengan pembuatan angket melalui proses sebagai
berikut:
1. Menulis konsep dasar dalam pembuatan instrumen angket sesuai dengan
tujuan
penelitian,
yaitu
tentang
kesulitan
belajar
dengan
mendefinisikannya menurut para ahli.
2. Definisi operasional dari variabel terikat
Definisi operasional kesulitan belajar adalah suatu kondisi proses belajar
yang
mengalami
berbagai gangguan mencakup pemahaman dan
kemampuan dalam mencapai keberhasilan belajar yang dapat ditandai
dengan adanya gejala-gejala yang nampak.
3. Menentukan aspek-aspek dari konsep dasar
4. Mencari indikator-indikator yang akan diteliti yang digunakan untuk
mengukur tercapainya aspek-aspek dari konsep dasar.
5. Penulisan kisi-kisi pernyataan yang mengarah pada indikator yang telah
commit to user
ditetapkan.
37
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Tabel 3.2 Kisi-Kisi Angket Kesulitan Mempelajari Bahasa Inggris
Konsep dasar
Aspek yang
Indikator
Nomor Soal
1. Sulit menerima pelajaran
7, 11, 25, 35
2. Sulit berkonsentrasi
6, 13, 29, 31
diteliti
Kesulitan belajar
a. Pemahaman
adalah suatu
dalam
kondisi proses
belajar
belajar yang
dalam belajar
mengalami
3. Kurangnya perhatian,
berbagai
minat dan bakat peserta
gangguan
didik terhadap pelajaran
mencakup
b. Kemampuan
pemahaman dan
dalam
kemampuan
belajar
1. Metode belajar yang
1, 5, 14, 21, 33, 37
4, 12, 19,23, 26
digunakan
2. Inteligensi/kecerdasan
dalam mencapai
8, 10, 17, 24, 32,
40
keberhasilan
3. Pembagian waktu belajar
9, 15, 20, 30, 39
1. Belum dapat mencapai
3, 18, 28, 38
belajar yang
dapat ditandai
c. Hasil belajar
dengan adanya
tingkat ketuntasan yang
gejala-gejala
diharapkan
yang nampak.
2. Tingkat penguasaan
materi pelajaran yang
2, 16, 22, 27, 36,
34
rendah
6.
Menyusun item-item pernyataan pada angket
Penulisan item pernyataan merupakan proses menuliskan kisi-kisi
pernyataan dalam suatu format angket dengan adanya pengaturan tertentu.
commit to user
38
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
7. Uji coba lapangan
Uji coba lapangan bertujuan untuk meneliti adanya item-item pernyataan
yang
cenderung
ditolak
responden
dan
untuk
meneliti
adanya
kemungkinan bahasa yang tidak jelas. Pengujian angket dengan cara
memberikan angket pada peserta didik.
8. Skoring berdasarkan skala penilaian yang telah ditentukan.
Proses pemberian skor pada angket yang telah diisi oleh responden uji
coba lapangan angket. Pemberian skor angket berdasarkan skala penilaian
yang
telah
ditentukan.
Subjek
yang
mendapat
skor
rendah
mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat kesulitan belajar bahasa
Inggris yang diperoleh individu.
Hasil studi pendahuluan dengan menggunakan angket ditemukan peserta
didik yang mengalami tingkat kesulitan mempelajari bahasa Inggris yang berbedabeda. Peserta didik yang mengalami kesulitan mempelajari bahasa Inggris tingkat
tinggi dan sedang selanjutnya diberikan tes kognitif bahasa Inggris. Tes tersebut
dibuat oleh guru bahasa Inggris berdasarkan pokok bahasan mata pelajaran bahasa
Inggris untuk kelas V SD dengan bekerjasama dengan peneliti. Tes bahasa Inggris
tersebut digunakan sebagai pre-test dan post-test yang diberikan kepada peserta
didik.
F. Prosedur Penelitian
Penelitian yang digunakan yaitu dengan mengembangkan teknik mind map
berupa panduan intervensi. Panduan intervensi merupakan materi belajar yang
dapat digunakan untuk dipelajari secara mandiri berupa satu unit materi. Wujud
dari panduan intervensi dapat berupa bahan cetak untuk dibaca dan bahan cetak
ditambah dengan tugas. Panduan intervensi kesulitan belajar bahasa Inggris
ditujukan kepada peserta didik SD Negeri Gentan 03 kelas V melalui bimbingan
belajar teknik mind map. Adapun mengenai tahapan penelitian ini dapat diuraikan
sebagai berikut:
commit to user
39
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
1. Tahap 1 (Studi Pendahuluan)
Studi pendahuluan bertujuan untuk memperoleh data awal sebagai dasar
pengembangan model. Studi pendahuluan terdiri dari dua kegiatan, yaitu studi
pustaka dan studi empiris kesulitan belajar bahasa Inggris. Studi pustaka untuk
memahami konsep kesulitan belajar bahasa Inggris, konsep bimbingan belajar
melalui teknik mind map.
Sumber yang digunakan antara lain, buku, jurnal, dan artikel. Kegiatan
need assessment yang dilakukan melalui survey lapangan dengan menerapkan
instrument angket.
2. Tahap 2 (Merancang Teknik Mind Map)
Tahap ini dilakukan dengan studi literatur dan kajian hasil penelitian
sebelumnya yang relevan untuk menjadi landasan dasar penelitian ini.
Berdasarkan studi dan kajian tersebut maka disusunlah modul bimbingan
belajar melalui teknik mind map untuk mengatasi kesulitan mempelajari
bahasa Inggris kelas V di SDN Gentan 03 Bulu Sukoharjo.
3. Tahap 3 (Pengembangan Teknik Mind Map)
Pada tahap ini, yang dilakukan peneliti adalah mengembangkan teknik
mind map. Kegiatan ini dilakukan untuk menghasilkan modul yang berpotensi
menjadi produk. Kelayakan produk dapat diperoleh melalui uji rasional
dengan memperhatikan saran-saran yang diberikan oleh ahli.
Uji modul dilakukan dengan guru bahasa Inggris SD untuk membahas
tentang langkah-langkah penerapan teknik mind map yang sesuai untuk anak
SD. Produk yang berupa modul ini mempunyai kriteria, antara lain: (a) tujuan
realistis; (b) isi modul sesuai dengan karakteristik anak SD; dan (c) metode
serta strategi yang menarik untuk mengasah ranah kognitif, psikomotor, dan
afektif peserta didik.
Pengembangan
modul,
disusun dengan struktur
sebagai berikut:
a). Sampul, b). Halaman Pengesahan, c). Kata Pengantar d). Daftar Isi, e). Isi
Modul: Bagian I berisi Pentingnya Pelajaran Bahasa Inggris, Rangkuman,
Lembar Tugas Peserta Didik dan Daftar Pustaka; Bagian II berisi Bimbingan
commit
to user
Belajar melalui teknik Mind Map
terdiri
dari Pengertian Bimbingan Belajar,
perpustakaan.uns.ac.id
40
digilib.uns.ac.id
Tujuan Bimbingan Belajar, Fungsi Bimbingan Belajar, Pengertian Mind Map,
Manfaat Mind Map, Kelebihan Mind Map, Cara Membuat Mind Map,
Rangkuman, Lembar Tugas Peserta Didik dan Daftar Pustaka; Bagian III
berisi Belajar Bahasa Inggris melalui Teknik Mind Map yang terdiri dari
Tujuan Belajar Bahasa Inggris melalui Teknik Mind Map, Contoh-Contoh
Mind Map pada Pelajaran Bahasa Inggris, Rangkuman, Lembar Tugas Peserta
Didik dan Daftar Pustaka.
4. Tahap 4 (Uji Rasional Kelayakan Mind Map)
Tahapan selanjutnya adalah menguji kelayakan dari panduan intervensi
terhadap ahli, dalam rangka untuk mencari validitas isi, kelayakan materi,
kelayakan panduan, dan kelayakan operasionalisme materi. Pendapat para ahli
tersebut dijadikan masukan bagi kesempurnaan modul.
5. Tahap 5 (Revisi Panduan Intervensi melalui Teknik Mind Map)
Tahap revisi ini, terdapat kegiatan pokok yang dilakukan, yaitu melakukan
validitas untuk memperoleh panduan intervensi melalui Teknik Mind Map
yang layak secara isi dan operasionalisasinya sebagai panduan untuk
mengatasi kesulitan belajar bahasa Inggris.
6. Tahap 6 (Uji Coba Terbatas)
Kegiatan uji coba terbatas merupakan kegiatan menyusun rencana untuk
melakukan uji terbatas. Kemudian menyiapkan guru dan fasilitator dalam
rangka membantu tercapainya pelaksanaan uji coba terbatas. Selanjutnya
sebagai masukan untuk perbaikan panduan intervensi dilakukan proses
refleksi, sehingga diketahui tingkat kelayakan isi dan operasional pada
pengembangan mind map pada praktisi dan peserta didik.
7. Tahap 7 (Uji Efektivitas)
Pada tahap ini efektivitas mind map untuk mengatasi kesulitan belajar
bahasa Inggris peserta didik diuji. Uji keefektifan panduan intervensi dengan
metode eksperimen dengan design one group pretest-posttest design. Menurut
Cynthia, (2002: 80) in a one group pretest/posttest design, begin with review
of the baseline data, conduct the program, and re-collect data to see if it is
commit
to userHal ini berarti bahwa penggunaan
different from original baseline
measures.
41
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
one group pretest-posttest design karena peneliti hendak ingin mengetahui
perubahan subjek antara sebelum dan sesudah treatment. Sehingga akan
diketahui keefektifan teknik mind map untuk mengatasi kesulitan mempelajari
bahasa Inggris peserta didik kelas V SD Negeri Gentan 03.
Adapun pola dan prosedurnya adalah sebagai berikut:
Pengukuran (T1)
(Pretest)
Perlakuan (X)
(Treatment)
Pengukuran (T2)
(Posttest)
Gambar 3.1 Bagan Pemberian Treatment
Keterangan :
T1: Pre test yaitu tes yang dilakukan sebelum diberikan teknik mind map untuk
mengatasi kesulitan belajar bahasa Inggris
X: Teknik mind map untuk mengatasi kesulitan mempelajari bahasa Inggris
(treatment)
Treatment dilakukan dengan memberikan perlakuan pada subjek
dengan menerapkan teknik mind map. Sebelum membuat mind map,
peserta didik perlu mempersiapkan beberapa peralatan. Peralatan untuk
membuat mind map antara lain kertas, pulpen berwarna dan otak (Tony
Buzan, 2007:11). Menurut Tony Buzan proses pembuatan mind map dapat
dibagi menjadi lima langkah: 1). Pergunakan selembar kertas kosong tanpa
garis dan beberapa pulpen berwarna. Pastikan kertas tersebut diletakkan
menyamping. 2). Buatlah sebuah gambar yang merangkum subjek utama
di tengah-tengah kertas. Gambar itu melambangkan topik utama.
3). Buatlah beberapa garis tebal berlekuk-lekuk yang menyambung dari
gambar di tengah kertas, masing-masing untuk setiap ide utama yang ada
mengenai subjek. Cabang-cabang utama tersebut melambangkan subtopik
commit
to user
utama. 4). Berilah nama pada
setiap
ide di atas dan akan lebih baik bila
42
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
ditambahkan gambar-gambar kecil mengenai masing-masing ide tersebut.
Setiap kata dalam mind map akan digaris bawahi. Hal ini karena kata-kata
merupakan kata-kata kunci, dan pemberian garis bawah seperti pada
catatan biasa menunjukkan tingkat kepentingannya. 5). Dari setiap ide
yang ada, bisa ditarik garis penghubung lainnya, yang menyebar seperti
cabang-cabang pohon. Tambahkan buah pikiran ke setiap ide tadi.
Cabang-cabang tambahan ini melambangkan detail-detail yang ada.
T2: Post test yaitu tes yang dilaksanakan setelah diberikan teknik mind map
untuk mengatasi kesulitan belajar bahasa Inggris
Pemberian post-test dilakukan untuk mengetahui perubahan peserta didik
yang dialami sebelum pemberian treatment dengan sesudah pemberian
treatment.
Untuk mempermudah dalam pembacaan prosedur penelitian tersebut,
dapat digambarkan seperti pada diagram di bawah ini:
Tahap III
Tahap I
1.
Kondisi objektif di
lapangan
2.
Kajian teoritik
3.
Kajian hasil
Tahap II
Merancang
produk
Pengembangan Layanan
Bimbingan Belajar
Melalui Teknik Mind Map
Tahap VI
Uji Coba
Terbatas
Tahap IV
Tahap V
Revisi
Uji Kelayakan
Rasional
Tahap VII
Uji Efektivitas
to user
Gambarcommit
3.2 Prosedur
Penelitian Pengembangan
43
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
G. Validitas Data
Uji validitas dalam penelitian ini menggunakan uji validitas isi atau
content validity (uji rasional), melalui review professional judgement oleh dosen
pembimbing. Validitas isi pada instrumen angket menggunakan validasi oleh ahli
yang masukan-masukan dari ahli dapat dijadikan rujukan, sehingga instrumen
menjadi layak digunakan untuk penelitian. Sedangkan uji validitas modul dalam
penelitian ini menggunakan validitas isi atau content validity (uji rasional) melalui
review professional judgement oleh guru bahasa Inggris.
H. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji
Wilcoxon yang merupakan pengukuran non-parametrik. Wilcoxon digunakan
untuk menguji efektivitas bimbingan belajar melalui teknik mind map untuk
mengatasi kesulitan mempelajari bahasa Inggris. Apabila hasilnya signifikan,
maka dapat diketahui bahwa bimbingan belajar melalui teknik mind map efektif
untuk mengatasi kesulitan mempelajari bahasa Inggris. Perhitungan selengkapnya
akan dilakukan dengan menggunakan program statistik SPSS for Windows version
16.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
BAB IV
PROSES DAN HASIL PENELITIAN SERTA PEMBAHASANNYA
A. Proses dan Hasil Penelitian
1. Tahap Studi Pendahuluan
Tahap studi pendahuluan yang digunakan yaitu dengan menggunakan data
hasil nilai ulangan harian bahasa Inggris. Dari hasil nilai tersebut diketahui bahwa
ada 9 peserta didik yang memperoleh nilai rata-rata dibawah rata-rata kelas dan
berada di bawah nilai KKM. Oleh karena itu 9 peserta didik tersebut perlu
diberikan layanan bimbingan belajar agar masalah kesulitan mempelajari bahasa
Inggris dapat teratasi. Berikut disajikan tabel hasil nilai rata-rata ulangan harian
peserta didik kelas V pada mata pelajaran bahasa Inggris.
Tabel 4.1 Hasil nilai rata-rata ulangan harian bahasa Inggris
NO
NAMA
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
Angga Deni Setiawan
Bilal Setya Pambudi
David P.
Dimas Dwi Kusworo
Doni Muktiana
Ela Endah Rinjani
Firli H.
Handika
Kevin
Linda P.
Putri Erniati
Widiyanti
Windy Prihartiwi
Wisnu
Rata-rata kelas
Nilai rata-rata
6.1
7.65
5.9
7.6
5.3
7.85
6
6.2
5.6
6.35
5.5
8.05
9.65
5.35
6.65
commit to user
44
45
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui bahwa hasil rata-rata kelas
yaitu 6.65, sehingga peserta didik yang nilai rata-ratanya berada di bawah nilai
rata-rata kelas dapat dikatakan memiliki kesulitan mempelajari bahasa Inggris.
Oleh karena di SDN Gentan 03 memiliki kriteria tersendiri untuk menetapkan
keberhasilan dalam belajar peserta didik yaitu 6.8 untuk mata pelajaran bahasa
Inggris, maka peserta didik yang mencapai nilai rata-rata dibawah nilai KKM
(Kriteria Ketuntasan Minimal) yaitu 6.8 dapat dikatakan memiliki kesulitan
mempelajari bahasa Inggris.
Selain itu terdapat juga data pendukung dalam tahap studi pendahuluan ini
yaitu dengan menggunakan instrumen angket yang dilaksanakan pada hari Sabtu,
tanggal 18 Februari 2012 di SD Negeri Gentan 03 Bulu Sukoharjo. Peserta didik
yang diberikan angket kesulitan mempelajari bahasa Inggris adalah peserta didik
kelas V yang terdiri dari 9 laki-laki, dan 5 perempuan. Hasil studi pendahuluan
menunjukkan bahwa dari 14 peserta didik nilai minimum diperoleh skor 50, skor
maximum 103, mean diperoleh 72,5714 dan standart deviasi 19,27818.
Penghitungan dengan menggunakan spss 16.0 for windows.
Hasil studi pendahuluan menunjukkan bahwa dari 14 peserta didik, 6
peserta didik memiliki tingkat kesulitan tinggi dengan prosentase 43% dengan
skor angket antara 49 sampai 68, 3 peserta didik memiliki tingkat kesulitan sedang
dengan prosentase 21% dengan skor angket antara 69 sampai 88, dan 5 peserta
didik memiliki tingkat kesulitan rendah dengan prosentase 36% dengan skor
angket antara 89 sampai 103.
Tabel 4.2 Tingkat Kesulitan Mempelajari Bahasa Inggris
Tingkat Kesulitan
Skor Angket
Prosentase
Frekuensi
Tinggi
49-68
43 %
6
Sedang
69-88
21 %
3
Rendah
89-103
36 %
5
commit to user
46
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Berikut disajikan pula diagram prosentase skor angket kesulitan
mempelajari bahasa Inggris peserta didik kelas V SDN Gentan 03.
Diagram Prosentase Skor Angket
Kesulitan Mempelajari Bahasa Inggris
36%
43%
kesulitan tinggi
kesulitan sedang
kesulitan rendah
21%
Gambar 4.1 Prosentase Skor Angket Kesulitan Mempelajari Bahasa Inggris
Tabulasi hasil angket kesulitan mempelajari bahasa Inggris dapat dilihat di
lampiran 4. Berdasarkan hasil angket kesulitan mempelajari bahasa Inggris
tersebut menunjukkan bahwa banyak peserta didik kelas V di SDN Gentan 03
yang mengalami kesulitan mempelajari bahasa Inggris. Peneliti menggunakan
angket tersebut untuk digunakan sebagai studi pendahuluan untuk mencari need
assessment yang nantinya akan diberikan treatment. Need assesment ini dilakukan
untuk mendapatkan gambaran mengenai profil awal kesulitan mempelajari bahasa
Inggris SD dengan mengisi angket sebanyak 40 butir.
2. Tahap Merancang Model
Setelah melakukan studi literatur serta kajian hasil – hasil penelitian yang
relevan untuk memperkuat landasan penelitian dan pengembangan ini, maka
langkah selanjutnya adalah merancang model hipotetik bimbingan belajar melalui
teknik mind map untuk mengatasi kesulitan mempelajari bahasa Inggris. Kegiatan
merancang model hipotetik dilakukan dengan menyusun modul bimbingan belajar
melalui teknik mind map untuk mengatasi kesulitan mempelajari bahasa Inggris.
Pada pelaksanaannya, peneliti melakukan studi literatur dan hasil penelitian
commit
to user ini antara lain di Perpustakaan
yang relevan dengan penelitian dan
pengembangan
perpustakaan.uns.ac.id
47
digilib.uns.ac.id
Program Studi Bimbingan dan Konseling, Perpustakaan FKIP UNS, Perpustakaan
Universitas Sebelas Maret Surakarta, Perpustakaan Universitas Muhammadiyah
Surakarta, website lokal, nasional maupun internasional, dan toko buku Gramedia
Surakarta. Setelah memperoleh pandangan dan pengetahuan yang lebih lengkap,
kemudian peneliti merancang model. Model hipotetik ini juga berdasarkan pada
buku pegangan peserta didik kelas V semester genap untuk pembuatan contoh dari
mind map mata pelajaran bahasa Inggris.
3. Tahap Pengembangan Model
Berdasarkan landasan teori dan hasil temuan pada need asessmen maka
tujuan pengembangan model ini adalah untuk mengembangkan keefektifan
bimbingan belajar melalui teknik mind map untuk mengatasi kesulitan
mempelajari bahasa Inggris. Tahap pengembangan model secara rinci diuraikan
sebagai berikut:
Model Hipotetik Bimbingan Belajar melalui Teknik Mind Map untuk
Mengatasi Kesulitan Mempelajari Bahasa Inggris
Berdasarkan studi pendahuluan menunjukkan bahwa peserta didik kelas V
di SDN Gentan 03 masih banyak yang mengalami kesulitan mempelajari bahasa
Inggris. Menurut Guru bahasa Inggris di SDN tersebut bahwa kemampuan
kosakata bahasa Inggris (vocabulary) peserta didik masih kurang sehingga peserta
didik mengalami kesulitan ketika mengerjakan soal. Ungkapan tersebut telah
terbukti berdasarkan hasil pre-test bahasa Inggris yang telah diberikan kepada
peserta didik kelas V.
Upaya untuk mengatasi kesulitan mempelajari bahasa Inggris sangat
penting karena bahasa Inggris dijadikan sebagai bahasa internasional. Oleh karena
itu perlu disusun Modul Bimbingan Belajar melalui Teknik Mind map untuk
Mengatasi Kesulitan Mempelajari Bahasa Inggris. Modul ini merupakan materi
bimbingan belajar yang diberikan oleh guru bahasa Inggris kepada peserta didik
kelas V untuk mempermudah peserta didik dalam memahami dan menerapkan
teknik mind map dalam mata pelajaran bahasa Inggris.
commit to user
48
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
4. Uji Rasional Kelayakan Model
Uji kelayakan modul dilakukan oleh ahli bimbingan, ahli bahasa Inggris
dan praktisi guru bahasa Inggris yang sudah berpengalaman (expert judgment).
Para ahli tersebut yang terlibat dalam penilaian modul sejumlah tiga orang. Tiga
orang tersebut adalah Ibu Siti Sutarmi Fadhilah, Bapak Asrowi dan Ibu Rusli
Rahmawati, sedangkan untuk praktisi yaitu ibu Dani Sapujowati untuk dilibatkan
dalam validasi modul ini dengan alasan untuk mencari masukan yang bervariasi
sehingga dapat menemukan validitas rasional secara efektif dan efisien.
Dalam mengetahui validitas rasional modul diperlukan masukan dalam
bentuk penilaian secara langsung terhadap
modul dengan memberikan
pengarahan, catatan maupun form penilaian yang diisi oleh pakar. Form penilaian
berisi tentang bentuk modul, isi modul, ketermudahan digunakannya modul, serta
penggunaan bahasa.
Hal-hal yang dievaluasi untuk uji rasional para ahli sebagai berikut:
a)
Bentuk Modul
Bentuk modul mencakup cover modul, judul modul, kata pengantar, serta
gambar-gambar dalam modul. Hasil penilaian para ahli menunjukkan bahwa
hal tersebut sudah cukup baik dan menarik dari segi bentuk.
b)
Isi Modul
Isi modul mencakup rumusan tujuan, rincian materi, topik bahasan, tugas
peserta didik serta sajian gambar. Hasil penilaian ahli menunjukkan rumusan
tujuan, rincian materi dan tugas peserta didik sudah sesuai bagi tingkat
perkembangan peserta didik kleas V, topik bahasan juga sudah sesuai dengan
rumusan tujuan, tetapi untuk sajian gambar disarankan untuk dilengkapi agar
mendukung setiap aspek dalam materi sehingga akan menarik peserta didik.
c)
Ketermudahan Digunakannya Modul
Ketermudahan
digunakannya
modul
mencakup
keterbacaan
serta
ketermudahan dilaksanakan. Hasil penilaian ahli menunjukkan modul
tersebut sudah memenuhi dari segi kemudahan keterbacaan kata-kata dalam
modul dan mudah untuk dilaksanakan karena disesuaikan dengan kebutuhan
commit to user
peserta didik.
49
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
d)
Penggunaan Bahasa
Penggunaan bahasa mencakup pemahaman bahasa dan tingkat kesukaran
bahasa. Hasil penilaian ahli menunjukkan dalam langkah-langkah pembuatan
mind map perlu dibenahi bahasa yang digunakan agar peserta didik mudah
memahaminya.
Hasil penilaian modul oleh ahli diperoleh tingkat kelayakan produk yang
disajikan dalam tabel di bawah ini:
Tabel 4.3 Hasil Penilaian Modul pada Uji Ahli
Ahli
No
Menilai kurang
Menilai baik
SK
K
B
SB
Total
Aspek
1
2
3
4
1
Bentuk/Perwajahan
0
0
54.1%
45.9%
100%
2
Isi Modul
0
0
9.93%
90.07%
100%
Ketermudahan
3
digunakan
0
0
48.39%
51.61%
100%
4
Penggunaan Bahasa
0
0
27.27%
72.73%
100%
0
0
34.92%
65.08%
100%
Rata-rata
Penilaian ketiga ahli tersebut telah menunjukkan prosentase pencapaian
sebesar 65.08% pada penilaian sangat baik dan 34.92% pada penilaian baik
sehingga modul dapat dikatakan layak sebagai bahan bimbingan belajar.
5. Revisi Model
Hasil uji validitas dari pakar maupun dari praktisi kemudian dijadikan
bahan untuk merevisi dalam menyempurnakan modul bimbingan belajar melalui
teknik mind map untuk mengatasi kesulitan mempelajari bahasa Inggris. Revisi
modul yang dilakukan peneliti dari expert judgement praktisi sebanyak dua kali.
Expert judgement pertama dilakukan pada hari Sabtu tanggal 14 April 2012
kepada praktisi bahasa Inggris yaitu guru bahasa Inggris di SDN Gentan 03. Dari
hasil expert judgement tersebut peneliti memperoleh masukan tentang isi dari
commit to user
modul bimbingan belajar bahwa perlu adanya penyederhanaan bahasa yang
perpustakaan.uns.ac.id
50
digilib.uns.ac.id
digunakan dalam pemaparan materi, selain itu bentuk tulisan yang digunakan
dalam modul dicari bentuk huruf yang cukup menarik dan jelas sehingga peserta
didik akan tertarik untuk membacanya.
Expert judgement kedua dilakukan pada hari Sabtu tanggal 21 April 2012
kepada praktisi bahasa Inggris. Masukan yang diperoleh peneliti yaitu pada setiap
materi pada modul lebih dilengkapi gambar-gambar yang mendukung agar peserta
didik lebih tertarik. Setelah modul diperbaiki dari hasil expert judgement praktisi,
selanjutnya modul dikonsultasikan kepada ibu Siti Sutarmi Fadilah dan bapak
Asrowi sebagai ahli bimbingan.
6. Uji Coba Terbatas
Modul yang telah direvisi sesuai dengan saran dan masukan para ahli dan
praktisi kemudian diuji secara terbatas kepada peserta didik kelas V di bimbingan
belajar Gama Integra yang berjumlah 5 peserta didik. Dari hasil uji coba terbatas
menunjukkan bahwa modul bimbingan belajar melalui teknik mind map ini perlu
ditambahkan contoh-contoh mind map pada pelajaran bahasa Inggris yang lebih
banyak agar peserta didik memahami benar mengenai mind map. Untuk
selanjutnya hal ini menjadi bahan pertimbangan agar modul menjadi lebih baik.
Atas dasar tersebut, maka peneliti membuat mind map dari materi bahasa Inggris
kelas V untuk dijadikan contoh dalam membuat mind map yang selanjutnya
dicantumkan pada isi materi modul. Selain itu setiap bagian materi perlu adanya
rangkuman tersendiri agar peserta didik lebih mudah memahami isi materi.
Peneliti juga memberikan form penilaian modul kepada peserta didik yang
berjumlah 5 anak, dalam uji coba terbatas tersebut diperoleh skor rata-rata 75%.
Sedangkan hasil form penilaian modul dari uji praktisi sebesar 91%.
7. Uji Efektivitas Model
Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian bahwa penelitian ini
untuk menguji keefektifan bimbingan belajar melalui teknik mind map dalam
mengatasi kesulitan mempelajari bahasa Inggris maka intervensi perlu dilakukan.
Sebelum diberikan intervensi mengenai bimbingan belajar melalui teknik mind
map, peserta didik perlu diberikan pre-test terlebih dahulu. Pre-test diberikan atas
commitberpedoman
to user
persetujuan guru bahasa Inggris dengan
pada materi pelajaran bahasa
perpustakaan.uns.ac.id
51
digilib.uns.ac.id
Inggris. Setelah diketahui banyaknya peserta didik yang mendapat nilai dibawah
KKM dari hasil pre-test, maka kemudian peserta didik diberikan intervensi yang
pelaksanaannya berpedoman pada modul yang telah dibuat. Pelaksanaan
intervensi dilakukan selama empat kali pertemuan. Penjelasan mengenai
pelaksanaan intervensi pada tiap pertemuan sebagai berikut:
1) Pertemuan Pertama
Intervensi pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Senin 14 Mei 2012
selama 35 menit. Semua peserta didik hadir dalam pertemuan pertama ini.
Intervensi ini menggunakan metode ceramah dan tanya jawab. Intervensi
ini berupa pemberian materi mengenai pentingnya pelajaran bahasa
Inggris, hal ini bertujuan untuk memotivasi peserta didik dalam
mempelajari bahasa Inggris. Setelah pemberian materi selesai selanjutnya
peserta didik diberikan tugas yang bertujuan untuk mengetahui pentingnya
pelajaran bahasa Inggris bagi peserta didik.
2) Pertemuan Kedua
Intervensi pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Senin 18 Mei 2012
selama 70 menit. Semua peserta didik hadir dalam pertemuan kedua ini.
intervensi ini menggunakan metode ceramah dan tanya jawab. Intervensi
ini berupa pemberian materi mengenai bimbingan belajar melalui teknik
mind map yang berisi pengertian, tujuan, fungsi dari bimbingan belajar
serta pengertian, manfaat, kelebihan dan cara membuat mind map.
Selanjutnya peserta didik diberi tugas untuk membuat mind map.
3) Pertemuan Ketiga
Intervensi pertemuan ketiga dilaksanakan pada hari Senin 21 Mei 2012
selama 35 menit. Semua peserta didik hadir dalam pertemuan ketiga ini.
Intervensi ini menggunakan metode ceramah dan tanya jawab. Intervensi
ini berupa pemberian materi mengenai belajar bahasa Inggris melalui
teknik mind map yang berisi tujuan belajar bahasa Inggris serta contohcontoh mind map pada pelajaran bahasa Inggris.
4) Pertemuan Keempat
Intervensi pertemuan keempat dilaksanakan pada hari Senin 25 Mei 2012
selama 35 menit. Semua peserta didik hadir dalam pertemuan keempat ini.
commit
to user
Intervensi ini menggunakan
metode
ceramah dan tanya jawab. Intervensi
perpustakaan.uns.ac.id
52
digilib.uns.ac.id
ini merupakan kelanjutan dari pertemuan ketiga yaitu mengenai contohcontoh mind map pada pelajaran bahasa Inggris. Selanjutnya peserta didik
diberikan tugas yang bertujuan untuk mengetahui komentar peserta didik
mengenai apakah teknik mind map mempermudah dalam belajar bahasa
Inggris.
a. Pengujian Pre-test dan Post-test
1. Pre-test
Dalam membuktikan bahwa peserta didik tersebut benar-benar mengalami
kesulitan mempelajari bahasa Inggris, maka diperlukan test bahasa Inggris. Test
bahasa Inggris tersebut digunakan sebagai pre-test dan post-test untuk mengetahui
perubahan kesulitan sebelum dan sesudah treatment. Test bahasa Inggris diberikan
oleh guru bahasa Inggris dengan menyesuaikan materi pelajaran bahasa Inggris
kelas V.
Menurut guru bahasa Inggris tersebut, kendala utama kesulitan mempelajari
bahasa Inggris yang dialami peserta didik adalah karena kurangnya kemampuan
kosakata (vocabulary), sehingga test bahasa Inggris yang diberikan berupa test
pemahaman kosakata bahasa Inggris. Test pemahaman kosakata bahasa Inggris
diberikan pada peserta didik kelas V yang memiliki tingkat kesulitan bahasa
Inggris tinggi dan sedang. Test yang diberikan berjumlah 40 soal, materi soal
yang diberikan sudah pernah diajarkan sebelumnya dengan tanpa menggunakan
teknik belajar mind map. Materi tersebut tentang tiga pokok bahasan yaitu
hospital, transportation, dan weather and season. Materi mata pelajaran bahasa
Inggris kelas V semester genap terdiri dari lima pokok bahasan, tiga pokok
bahasan yang diambil tersebut dipilih secara acak dari lima pokok bahasan yang
ada. Soal pre-test pemahaman kosakata bahasa Inggris dapat dilihat dilampiran
11. Hasil pre-test dijelaskan sebagai berikut:
a. Hasil Pre-test bahasa Inggris untuk pokok bahasan 1 “hospital”
Berdasarkan hasil pre-test bahasa Inggris untuk pokok bahasan hospital
diperoleh nilai 3.30 (minimum), 6.00 (maximum), 4.9556 (mean), 1.00885 (Std.
Deviation) dan 1.018 (variance), perhitungan menggunakan spss 16.0 for
commit to user
53
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
windows. Berikut disajikan tabel untuk hasil pre-test dalam pokok bahasan
hospital.
Tabel 4.4 Hasil Pre-test bahasa Inggris untuk pokok bahasan hospital
Kategori
Rentangan Nilai
Tinggi
Sedang
Rendah
Sangat Rendah
7,6-10
5,1-7,5
2,6-5
0-2,5
Berdasarkan tabel tersebut
dapat
Jumlah
Frekuensi
0
5
4
0
dimaknai
bahwa
%
0%
56%
44%
0%
hasil
pre-test
menunjukkan terdapat 0 peserta didik yang berada pada kategori tinggi yaitu yang
memiliki skor test bahasa Inggris antara 7,6 sampai 10. Kategori sedang pada skor
antara 5,1 sampai 7,5 dengan frekuensi 5 peserta didik. Kategori rendah yang
memiliki skor antara 2,6 sampai 5 dengan frekuensi 4 peserta didik, sedangkan
kategori sangat rendah pada skor antara 0 sampai 2,5 berjumlah 0 peserta didik.
Tabel di atas, dapat digambarkan dalam grafik di bawah ini:
Frekuensi
5
4
3
2
1
0-2.5
2.6-5
5.1-7.5
7.6-10
rentangan nilai
Gambar 4.2. Grafik Hasil Pre-test bahasa Inggris untuk pokok bahasan hospital
b. Hasil Pre-test bahasa Inggris untuk pokok bahasan 2 “transportation”
commit to user
54
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Berdasarkan hasil
pre-test
bahasa Inggris
untuk pokok bahasan
transportation diperoleh nilai 3,00 (minimum), 7,00 (maximum), 4,5556 (mean),
1,42400 (Std. Deviation) dan 2,028 (variance), perhitungan menggunakan spss
16.0 for windows. Berikut disajikan tabel untuk hasil pre-test dalam pokok
bahasan transportation.
Tabel 4.5 Hasil Pre-test bahasa Inggris untuk pokok bahasan transportation
Kategori
Rentangan Nilai
Tinggi
Sedang
Rendah
Sangat Rendah
7,6-10
5,1-7,5
2,6-5
0-2,5
Berdasarkan tabel tersebut
dapat
Jumlah
Frekuensi
0
2
7
0
dimaknai
bahwa
%
0%
22%
78%
0%
hasil pre-test
menunjukkan terdapat 0 peserta didik yang berada pada kategori tinggi yaitu yang
memiliki skor test bahasa Inggris antara 7,6 sampai 10. Kategori sedang pada skor
antara 5,1 sampai 7,5 dengan frekuensi 2 peserta didik. Kategori rendah yang
memiliki skor antara 2,6 sampai 5 dengan frekuensi 7 peserta didik, sedangkan
kategori sangat rendah pada skor antara 0 sampai 2,5 berjumlah 0 peserta didik.
Tabel di atas, dapat digambarkan dalam grafik di bawah ini :
7
6
frekuensi
5
4
3
2
1
0-2.5
2.6-5
5.1-7.5
7.6-10
rentangan nilai
commitInggris
to user
Gambar 4.3. Grafik Hasil Pre-test bahasa
untuk pokok bahasan transportation
55
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
c. Hasil Pre-test bahasa Inggris untuk pokok bahasan 3 “weather and
season”
Berdasarkan hasil pre-test bahasa Inggris untuk pokok bahasan weather and
season diperoleh nilai 2,00 (minimum), 6,00 (maximum), 4,1444 (mean), 1,31635
(Std. Deviation) dan 1,733 (variance), perhitungan menggunakan spss 16.0 for
windows. Berikut disajikan tabel untuk hasil pre-test dalam pokok bahasan
transportation.
Tabel 4.6 Hasil Pre-test bahasa Inggris untuk pokok bahasan weather and season
Kategori
Rentangan Nilai
Tinggi
Sedang
Rendah
Sangat Rendah
7,6-10
5,1-7,5
2,6-5
0-2,5
Jumlah
Frekuensi
0
3
6
0
%
0%
33%
67%
0%
Berdasarkan tabel tersebut bahwa hasil pre-test menunjukkan terdapat 0
peserta didik yang berada pada kategori tinggi yaitu yang memiliki skor test
bahasa Inggris antara 7,6 sampai 10. Kategori sedang pada skor antara 5,1 sampai
7,5 dengan frekuensi 3 peserta didik. Kategori rendah yang memiliki skor antara
2,6 sampai 5 dengan frekuensi 6 peserta didik, sedangkan kategori sangat rendah
pada skor antara 0 sampai 2,5 berjumlah 0 peserta didik.
Tabel di atas, dapat digambarkan dalam grafik di bawah ini :
7
6
frekuensi
5
4
3
2
1
0-2.5
2.6-5
5.1-7.5
7.6-10
rentangan nilai
commit to user
56
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Gambar 4.4. Grafik Hasil Pre-test bahasa Inggris untuk pokok bahasan weather
and season
d. Hasil Pre-test bahasa Inggris untuk ketiga pokok bahasan
Berdasarkan hasil pre-test bahasa Inggris untuk ketiga pokok bahasan
diperoleh nilai 3,25 (minimum), 6,00 (maximum), 4,5556 (mean), 0,91667 (Std.
Deviation) dan 0,840 (variance), perhitungan menggunakan spss 16.0 for
windows. Berikut disajikan tabel untuk hasil pre-test dalam ketiga pokok bahasan.
Tabel 4.7 Hasil Pre-test bahasa Inggris untuk ketiga pokok bahasan
Kategori
Rentangan Nilai
Tinggi
Sedang
Rendah
Sangat Rendah
7,6-10
5,1-7,5
2,6-5
0-2,5
Jumlah
Frekuensi
0
3
6
0
%
0%
33%
67%
0%
Berdasarkan tabel tersebut bahwa hasil pre-test menunjukkan terdapat 0
peserta didik yang berada pada kategori tinggi yaitu yang memiliki skor test
bahasa Inggris antara 7,6 sampai 10. Kategori sedang pada skor antara 5,1 sampai
7,5 dengan frekuensi 3 peserta didik. Kategori rendah yang memiliki skor antara
2,6 sampai 5 dengan frekuensi 6 peserta didik, sedangkan kategori sangat rendah
pada skor antara 0 sampai 2,5 berjumlah 0 peserta didik.
Tabel di atas, dapat digambarkan dalam grafik di bawah ini :
7
6
frekuensi
5
4
3
2
1
0-2.5
2.6-5
5.1-7.5
7.6-10
rentangan nilai
commit to user
57
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Gambar 4.5. Grafik Hasil Pre-test bahasa Inggris untuk ketiga pokok bahasan
Hasil tersebut menunjukkan bahwa beberapa peserta didik kelas V SDN
Gentan 03 benar-benar mengalami kesulitan mempelajari bahasa Inggris, maka
sudah selayaknya mereka diberikan layanan bantuan berupa bimbingan belajar
untuk mengatasi kesulitan yang mereka hadapi. Pada pelaksanaan bimbingan
belajar ini perlu adanya kerjasama dengan guru bahasa Inggris di SDN Gentan 03.
Dalam mata pelajaran bahasa Inggris, Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang
ditetapkan adalah sebesar 6,8. Hasil nilai pre-test bahasa Inggris dapat dilihat di
lampiran 12.
2. Post-test
Setelah peserta didik diberikan pre-test kemudian dilakukan bimbingan
belajar melalui teknik mind map selama 4x pertemuan, selanjutnya peserta didik
diberi test bahasa Inggris lagi sebagai post-test untuk melihat perubahan yang
terjadi. Soal post-test pemahaman kosakata bahasa Inggris dapat dilihat
dilampiran 13.
Hasil post-test kesulitan mempelajari bahasa Inggris peserta didik kelas V
adalah sebagai berikut.
a.
Hasil post-test bahasa Inggris pokok bahasan 1 “ hospital”
Berdasarkan hasil post-test bahasa Inggris untuk pokok bahasan hospital
diperoleh nilai 6,70 (minimum), 9.30 (maximum), 7,8556 (mean), 0,92481 (Std.
Deviation) dan 0,855 (variance), perhitungan menggunakan spss 16.0 for
windows. Berikut disajikan tabel untuk hasil post-test dalam pokok bahasan
hospital.
Tabel 4.8 Hasil Post-test bahasa Inggris untuk pokok bahasan hospital
Kategori
Tinggi
Sedang
Rendah
Sangat Rendah
Rentangan Nilai
7,6-10
5,1-7,5
2,6-5
0-2,5
commit to user
Jumlah
Frekuensi
5
4
0
0
%
56%
44%
0%
0%
58
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Berdasarkan tabel tersebut dapat dimaknai bahwa hasil post-test
menunjukkan terdapat 5 peserta didik yang berada pada kategori tinggi yaitu yang
memiliki skor test bahasa Inggris antara 7,6 sampai 10. Kategori sedang pada skor
antara 5,1 sampai 7,5 dengan frekuensi 4 peserta didik. Kategori rendah yang
memiliki skor antara 2,6 sampai 5 dengan frekuensi 0 peserta didik, sedangkan
kategori sangat rendah pada skor antara 0 sampai 2,5 berjumlah 0 peserta didik.
Tabel di atas, dapat digambarkan dalam grafik di bawah ini :
Frekuensi
7
6
5
4
3
2
1
0-2.5
2.6-5
5.1-7.5 7.6-10
rentangan nilai
Gambar 4.6. Grafik Hasil Post-test bahasa Inggris untuk pokok bahasan hospital
b.
Hasil post-test bahasa Inggris pokok bahasan 2 “transportation”
Berdasarkan hasil post-test bahasa Inggris untuk pokok bahasan
transportation diperoleh nilai 6,00 (minimum), 10,00 (maximum), 7,6667 (mean),
1,22474 (Std. Deviation) dan 1,500 (variance), perhitungan menggunakan spss
16.0 for windows. Berikut disajikan tabel untuk hasil post-test dalam pokok
bahasan hospital.
Tabel 4.9 Hasil Post-test bahasa Inggris untuk pokok bahasan transportation
Jumlah
Frekuensi
%
Tinggi
7,6-10
4
44%
Sedang
5,1-7,5
5
56%
Rendah
2,6-5
0
0%
Sangat Rendah
0-2,5
0
0%
Berdasarkan tabel tersebut dapat dimaknai bahwa hasil post-test
Kategori
Rentangan Nilai
menunjukkan terdapat 4 peserta didik yang berada pada kategori tinggi yaitu yang
memiliki skor test bahasa Inggris antara 7,6 sampai 10. Kategori sedang pada skor
antara 5,1 sampai 7,5 dengan frekuensi 5 peserta didik. Kategori rendah yang
commit to user
59
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
memiliki skor antara 2,6 sampai 5 dengan frekuensi 0 peserta didik, sedangkan
kategori sangat rendah pada skor antara 0 sampai 2,5 berjumlah 0 peserta didik.
Tabel di atas, dapat digambarkan dalam grafik di bawah ini :
7
6
Frekuensi
5
4
3
2
1
0-2.5
2.6-5
5.1-7.5
7.6-10
rentangan nilai
Gambar 4.7. Hasil Post-test bahasa Inggris untuk pokok bahasan transportation
c.
Hasil post-test bahasa Inggris pokok bahasan 3 “weather and season”
Berdasarkan hasil post-test bahasa Inggris untuk pokok bahasan weather
and season diperoleh nilai 6,70 (minimum), 10,00 (maximum), 8,1444 (mean),
1,04057 (Std. Deviation) dan 1,083 (variance), perhitungan menggunakan spss
16.0 for windows. Berikut disajikan tabel untuk hasil post-test dalam pokok
bahasan weather and season.
Tabel 4.10 Hasil Post-test bahasa Inggris untuk pokok bahasan weather and
season
Kategori
Rentangan Nilai
Tinggi
Sedang
Rendah
Sangat Rendah
7,6-10
5,1-7,5
2,6-5
0-2,5
Jumlah
Frekuensi
6
3
0
0
%
67%
33%
0%
0%
Berdasarkan tabel tersebut dapat dimaknai bahwa hasil post-test
menunjukkan terdapat 6 peserta didik yang berada pada kategori tinggi yaitu yang
memiliki skor test bahasa Inggris commit
antara 7,6
sampai 10. Kategori sedang pada skor
to user
60
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
antara 5,1 sampai 7,5 dengan frekuensi 3 peserta didik. Kategori rendah yang
memiliki skor antara 2,6 sampai 5 dengan frekuensi 0 peserta didik, sedangkan
kategori sangat rendah pada skor antara 0 sampai 2.5 berjumlah 0 peserta didik.
Tabel di atas, dapat digambarkan dalam grafik di bawah ini :
7
6
frekuensi
5
4
3
2
1
0-2.5
2.6-5
5.1-7.5 7.6-10
rentangan nilai
Gambar 4.8. Hasil Post-test bahasa Inggris untuk pokok bahasan weather and
season
d.
Hasil post-test bahasa Inggris untuk ketiga pokok bahasan
Berdasarkan hasil post-test bahasa Inggris untuk ketiga pokok bahasan
diperoleh nilai 6,75 (minimum), 9,75 (maximum), 7,9167 (mean), 0,96014 (Std.
Deviation) dan 0,922 (variance), perhitungan menggunakan spss 16.0 for
windows. Berikut disajikan tabel untuk hasil post-test dalam ketiga pokok
bahasan.
Tabel 4.11 Hasil Post-test bahasa Inggris untuk ketiga pokok bahasan
Kategori
Rentangan Nilai
Tinggi
Sedang
Rendah
Sangat Rendah
7,6-10
5,1-7,5
2,6-5
0-2,5
Jumlah
Frekuensi
5
4
0
0
%
56%
44%
0%
0%
Berdasarkan tabel tersebut dapat dimaknai bahwa hasil post-test
menunjukkan terdapat 5 peserta didik yang berada pada kategori tinggi yaitu yang
memiliki skor test bahasa Inggris antara 7,6 sampai 10. Kategori sedang pada skor
antara 5,1 sampai 7,5 dengan frekuensi 4 peserta didik. Kategori rendah yang
commit to user
61
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
memiliki skor antara 2,6 sampai 5 dengan frekuensi 0 peserta didik, sedangkan
kategori sangat rendah pada skor antara 0 sampai 2,5 berjumlah 0 peserta didik.
Frekuensi
Tabel di atas, dapat digambarkan dalam grafik di bawah ini :
7
6
5
4
3
2
1
0-2.5
2.6-5
5.1-7.5 7.6-10
rentangan nilai
Gambar 4.9. Hasil Post-test bahasa Inggris untuk ketiga pokok bahasan
Hasil post test menunjukkan peningkatan dari hasil pre-test yang telah
diujikan sebelumnya. Hasil nilai post-test bahasa Inggris dapat dilihat pada
lampiran 14.
3. Perbandingan Pre-test dan Post-test
Berdasarkan hasil pre-test dan post-test yang telah dijelaskan sebelumnya,
sehingga dapat diperoleh perbandingan antara pre-test dan post-test. Pre-test dan
post-test bahasa Inggris diberikan kepada sejumlah 9 peserta didik dari kelas V
yang berada pada kategori kesulitan belajar tinggi dan sedang dari hasil
instrument angket yang telah diberikan pada saat studi pendahuluan. Data
mengenai 9 peserta didik tersebut dapat dilihat pada lampiran 5. Gabungan tiga
pokok bahasan yang diujikan sebagai berikut:
Tabel 4.12 Hasil Pre-test dan Post-test Tiap Pokok Bahasan
Pokok Bahasan
1. Hospital
2. Transportation
3. Weather and season
Mean Pre-test
4,9556
4,5556
4,1444
commit to user
Mean post-test
7,8556
7,6667
8,1444
62
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Dari tabel di atas, pada mean pre-test pokok bahasan 1 diperoleh 4,9556,
sementara mean post-test diperoleh skor 7,8556. Pada pokok bahasan 2 diperoleh
skor mean pre-test 4,5556 sedangkan post-testnya meningkat menjadi 7,6667.
Pada pokok bahasan 3 skor mean pre-test menunjukkan skor 4,1444 sedangkan
pada post-test menunjukkan skor 8,1444. Berikut disajikan grafik hasil pre-test
dan post-test bahasa Inggris.
Berdasarkan tabel di atas, dapat dimaknai bahwa ada peningkatan antara
skor pre-test dan post-test. Sementara jika diakumulasi hasil pre-test bahasa
Inggris diperoleh nilai mean yaitu 4,5556, sedangkan akumulasi mean untuk hasil
post-test bahasa Inggris yaitu 7,9167. Hal ini berarti bahwa kesulitan mempelajari
bahasa Inggris pada peserta didik kelas V dapat diatasi dengan adanya bimbingan
belajar melalui teknik mind map.
b. Pengujian Hipotesis
Analisis yang digunakan untuk mengetahui perbedaan hasil pre-test dengan
post-test untuk mengetahui perubahan hasil belajar bahasa Inggris dalam
mengatasi kesulitan mempelajari bahasa Inggris peserta didik kelas V SDN
Gentan 03 adalah dengan menggunakan uji Wilcoxon. Pengujian hipotesis secara
rinci dijelaskan sebagai berikut:
H0: Bimbingan Belajar Melalui Teknik Mind map tidak Efektif Mengatasi
Kesulitan Mempelajari Bahasa Inggris peserta didik kelas V SDN Gentan 03 Bulu
Sukoharjo
H1: Bimbingan Belajar Melalui Teknik Mind map Efektif Mengatasi Kesulitan
Mempelajari Bahasa Inggris peserta didik kelas V SDN Gentan 03 Bulu
Sukoharjo
Tabel 4.13 Deskripsi Data Hasil Pre-test dan Post-test
Pre-test
Post-test
N
9
9
Mean
4,5556
7,9167
Std. Deviation
0,91667
0,96014
commit to user
Variance
0,840
0,922
63
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Rerata skor sebelum perlakuan (pre-test) diperoleh (Mean) 4,5556, (Std.
Deviation) 0,91667, dan (Variance) 0,840, dibandingkan dengan sesudah
perlakuan (post-test) diperoleh Mean 7,9167, (Std. Deviation) 0,96014, dan
(Variance) 0,922. Uraian di atas dapat disimpulkan bahwa berdasarkan statistik
deskriptif hasil rerata post-test (7,9167) lebih besar dari rerata pre-test (4,5556),
jadi ada peningkatan kemampuan bahasa Inggris antara sebelum dan sesudah
intervensi pada peserta didik kelas V. Selanjutnya untuk hasil uji Wilcoxon
sebagai berikut.
Tabel 4.13 Hasil Uji Wilcoxon
Wilcoxon Signed Ranks Test
Ranks
N
post – pre
Mean Rank
Sum of Ranks
Negative Ranks
0a
.00
.00
Positive Ranks
9b
5.00
45.00
Ties
0c
Total
9
a. post < pre
b. post > pre
c. post = pre
Test Statisticsb
post – pre
-2.670a
Z
Asymp. Sig. (2-tailed)
.004
a. Based on negative ranks.
b. Wilcoxon Signed Ranks Test
Berdasarkan uji Wilcoxon yang mendasarkan pada rangking positif = 5 di
atas, diperoleh nilai z hitung sebesar -2,670 dan probabilitas (p) 0,004 (uji dua
sisi). Dari tabel negative rank menunjukkan nilai 0, sehingga tidak ada angka
post-test yang lebih kecil dari pre-test. Sedangkan dari tabel positif rank
commit to user
menunjukkan nilai 9 yang berarti ada 9 data (semua data) yang angka post-testnya
64
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
lebih besar dari pre-test. Oleh karena z hitung diperoleh hasil minus (-) dan
probabilitas (p) lebih kecil dari α = 0,005, maka H1 diterima dan H0 ditolak.
Dari data dan analisis
tersebut
di atas
dapat
diyakini
bahwa
peningkatan kemampuan bahasa Inggris atau penurunan kesulitan mempelajari
bahasa Inggris diakibatkan oleh adanya perlakuan yang berupa bimbingan belajar
melalui teknik mind map. Jadi dapat disimpulkan bahwa Modul Bimbingan
Belajar Melalui Teknik Mind map Efektif Mengatasi Kesulitan Mempelajari
Bahasa Inggris, sehingga H1 diterima sedangkan H0 ditolak.
B. Pembahasan Hasil Penelitian
Dari hasil uji kelayakan dari subjek ahli menunjukkan 92%, subjek praktisi
91%, subjek uji coba terbatas 75% dan subjek uji keefektivan diperoleh 98,61%
sehingga layak digunakan. Berdasarkan uji Wilcoxon diperoleh nilai z hitung
sebesar -2,670 dan probabilitas (p) 0,004 (uji dua sisi). Hasil z hitung diperoleh
minus (-) dan probabilitas (p) lebih kecil dari α = 0,005, maka H 1 diterima dan H0
ditolak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada peningkatan secara signifikan
kemampuan bahasa Inggris antara sebelum dan sesudah intervensi pada peserta
didik kelas V.
Metode mencatat yang baik harus membantu dalam mengingat perkataan
dan
bacaan,
meningkatkan
pemahaman
terhadap
materi,
membantu
mengorganisasi materi dan memberikan wawasan baru. Mind map yang
dikembangkan oleh Tony Buzan Kepala Brain Foundation memungkinkan
terjadinya semua hal itu (Bobbi DePorter, 2010:225). Para ahli pernah menyangka
bahwa otak otak memproses dan menyimpan informasi secara linear, seperti
metode mencatat tradisional. Menurut Bobbi DePorter (2010:225) bahwa para
ilmuwan sekarang mengetahui bahwa otak mengambil informasi melalui gambar,
bunyi, aroma, pikiran dan perasaan kemudian memisah-misahkannya kedalam
bentuk linear misalnya pidato atau karya tulis. Saat otak mengingat informasi,
biasanya dilakukannya dalam bentuk gambar warna-warni, symbol, bunyi dan
perasaan (Damasio dalam Bobbi DePorter, 2010:225).
commit to user
65
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Mind map menirukan proses berpikir ini, yakni memungkinkan untuk
berpindah-pindah topik. Dengan mind map dapat merekam informasi melalui
simbol, gambar dan warna persis seperti cara otak memprosesnya. Oleh karena
mind map melibatkan kedua belah otak sehingga dapat mengingat informasi
dengan lebih mudah. Para jenius seperti Leonardo da Vinci, Michelangelo,
Charles Darwin, Sir Isaac Newton, Albert Einstein, Sir Winston Churchill, Pablo
Picasso, William Blake, Thomas Edison, Galileo, Thomas Jefferson, Richard
Feynman, Marie Curie, Martha Graham dan Ted Hughes menggunakan bahasa
gambar untuk menyusun, mengembangkan, dan mengingat pikiran mereka adalah
karena otak memiliki kemampuan alami untuk pengenalan visual bahkan
sebenarnya pengenalan yang sempurna (Tony Buzan, 2007:7).
Berdasarkan survey pada alumni dari Eastern University, menunjukkan
bahwa pengguna mind map pada business environment mencapai 87%,
government environment 76%, education environment 98% (Joanne M. Tucker
dkk, 2010:11). Penelitian tentang mind map juga pernah dilakukan Alfi Sapitri
(2010) tentang penerapan strategi belajar mind map sebagai suatu strategi belajar
Biologi. Hasil penelitian pada siklus I diperoleh persentase seluruh aktivitas
sebesar 51,79% sedangkan di siklus II diperoleh persentase seluruh aktivitas
sebesar 72,07% meningkat sebesar 20,28%. Respon peserta didik terhadap
pembelajaran dengan strategi belajar mind map sangat positif.
Berdasarkan hasil uji penelitian secara statistik dengan menggunakan
SPSS 16.0 for windows dan secara teori yang telah dikembangkan oleh Tony
Buzan maka berarti bahwa bimbingan belajar melalui teknik mind map efektif
untuk mengatasi kesulitan mempelajari bahasa Inggris pada peserta didik kelas V
SDN Gentan 03.
C. Keterbatasan Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, dari nilai-nilai posttest semua peserta didik mengalami peningkatan, jika dilihat dari kriteria kesulitan
belajar menurut Mulyadi (2010:10) bahwa secara statistik berdasarkan “distribusi
commit
to dapat
user menguasai sekurang-kurangnya
normal” seseorang dikatakan berhasil
jika
66
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
60% dari tujuan yang harus dicapai. Hal ini berarti bahwa peserta didik kelas V
telah berhasil karena nilai post-test berada di atas 6. Namun demikian, di SDN
Gentan 03 mempunyai kriteria tersendiri atau KKM (Kriteria Ketuntasan
Minimal) untuk bahasa Inggris. KKM bahasa Inggris di SDN Gentan 03
ditetapkan 6.8, sedangkan nilai minimum hasil post-test dari keseluruhan pokok
bahasan adalah 6,75 yang diperoleh dari salah satu peserta didik kelas V. Peneliti
menyadari bahwa karakteristik peserta didik berbeda-beda, sehingga akan
menimbulkan pola pikir serta kepribadian yang berbeda pula. Waktu belajar
peserta didik untuk bisa memahami materi pun berbeda-beda, ada yang dengan
cepat, sedang, lambat bahkan sangat lambat. Selain itu waktu pelaksanaan
penelitian yang terbatas sehingga memungkinkan peserta didik masih perlu
banyak waktu lagi untuk diberikan bimbingan.
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan peneliti pada saat
pelaksanaan intervensi bahwa peserta didik yang diketahui belum dapat mencapai
tingkat KKM tersebut memang terlihat pendiam dan pemalu. Setelah diselidiki
lebih lanjut dari hasil wawancara dengan guru bahasa Inggris bahwa peserta didik
tersebut memang cenderung pemalu, tidak mau bertanya apabila tidak paham,
keingintahuannya cukup rendah, cenderung pendiam sehingga cukup pasif
dibandingkan dengan yang lainnya, selain itu ia juga cengeng, ketika ada suatu hal
yang tidak ia suka atau ada masalah sedikit saja dia mudah menangis. Peneliti
pada saat memberikan intervensi juga melihat bahwa ketika pada bagian peserta
didik tersebut, ia cenderung tidak mau kalau tugasnya dilihat orang lain termasuk
peneliti. Dari beberapa hal di atas ada kemungkinan bahwa hal tersebut yang
menjadi penyebab peserta didik tersebut masih mengalami kesulitan mempelajari
bahasa Inggris jika dilihat dari KKM yang telah ditentukan di SDN Gentan 03.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
BAB V
SIMPULAN DAN REKOMENDASI
A. Simpulan
Simpulan hasil penelitian tentang keefektifan bimbingan belajar melalui
teknik mind map untuk mengatasi kesulitan mempelajari bahasa Inggris kelas
V Sekolah Dasar diuraikan sebagai berikut:
1. Berdasarkan penilaian ahli, modul yang dikembangkan mendapat
kelayakan dengan prosentase rata-rata sebesar 92%, dari penilaian praktisi
diperoleh 91% kemudian dalam uji coba terbatas diperoleh 75%,
sedangkan untuk hasil evaluasi tanggapan akhir penelitian diperoleh
98,61%.
2. Berdasarkan uji Wilcoxon yang mendasarkan pada rangking positif = 5,
diperoleh nilai z hitung sebesar -2,670 dan probabilitas (p) 0,004 (uji dua
sisi). Tanda negatif (-) menandakan mean skor post-test lebih besar
daripada pre-test sehingga ada perbedan yang signifikan antara skor pretest dan post-test untuk test bahasa Inggris peserta didik kelas V SDN
Gentan 03. Oleh karena z hitung diperoleh hasil minus (-) dan probabilitas
(p) lebih kecil dari α = 0,005, maka dapat disimpulkan bahwa bimbingan
belajar melalui teknik mind map efektif untuk mengatasi kesulitan
mempelajari bahasa Inggris pada peserta didik kelas V SDN Gentan 03
tahun pelajaran 2011/2012.
B. Rekomendasi
Berdasarkan hasil penelitian, maka peneliti memberikan rekomendasi
yang diharapkan dapat bermanfaat bagi berbagai pihak. Adapun rekomendasi
yang dapat peneliti sampaikan adalah sebagai berikut:
1. Rekomendasi untuk peserta didik
Peserta didik yang mengalami masalah dalam belajarnya yaitu
kesulitan dalam belajar dapat diberikan layanan berupa bimbingan belajar
to user
melalui teknik mind map. commit
Mind map
dijadikan sebagai teknik belajar yang
67
68
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
menarik bagi peserta didik karena dalam penerapannya menggunakan
gambar, garis dan dengan tulisan yang berwarna-warni. Bagi peserta didik
dapat menggunakan mind map di dalam pembelajaran sebagai salah satu
keterampilan belajar yang efektif untuk mengatasi kesulitan belajar, dalam
hal ini terutama pada pelajaran bahasa Inggris.
2. Rekomendasi untuk guru (pendidik)
a. Guru bahasa Inggris dapat mencoba atau menggunakan teknik mind
map dalam pengajaran kepada peserta didik sehingga diharapkan
peserta didik dapat mengatasi kesulitan mempelajari bahasa Inggris.
Teknik mind map dapat digunakan guru dalam mengenalkan kosakata
(vocabulary) terhadap peserta didik, agar peserta didik mudah
mengingatnya karena menggunakan gambar, garis dan warna.
b. Dalam pelaksanaan teknik mind map, tidak terpaku pada mata
pelajaran bahasa Inggris saja tetapi dapat juga diterapkan pada mata
pelajaran yang lainnya seperti IPS, IPA, dan bahasa Indonesia.
3. Rekomendasi untuk para peneliti lain
Peneliti selanjutnya dapat menggunakan teknik mind map dalam
mengatasi kesulitan mempelajari bahasa Inggris pada jenjang pendidikan
yang lain seperti SMP/sederajat ataupun pada tingkat SMA/sederajat
sehingga diperoleh subjek yang lebih banyak. Penggunaan waktu yang
lebih lama untuk memberikan intervensi kepada para peserta didik sangat
disarankan, terutama pada bagian pembuatan mind map. Hal ini
dimaksudkan agar hasil intervensi lebih dirasakan manfaatnya bagi para
peserta didik.
commit to user
Download