BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teori 1. Tinjauan Umum

advertisement
17
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kerangka Teori
1. Tinjauan Umum tentang Perlindungan Hukum
a. Pengertian Perlindungan Hukum
Dalam Kamus bahasa Inggris perlindungan adalah berasal dari
kata protection yang berarti protecting or being protected,
system
protecting atau persoon or thing that protect (www.thelawdictionary.org
diakses pada tanggal 10 April 2016 pukul 10.10 WIB). Sedangkan dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia perlindungan diartikan sebagai tempat
berlindung, perbuatan atau hal dan sebagainya memperlindungi
(www.kbbi.web.id diakses pada tanggal 10 April 2016 pukul 10.10
WIB). Pemaknaan tersebut pada dasarnya dapat ditarik unsur yang sama
yaitu adanya perbuatan melindungi, pihak yang dilindungi dan cara
melindungi (Wahyu Sasongko, 2007 : 30).
Pengertian hukum adalah kumpulan peraturan atau kaedah
mengandung isi yang bersifat umum dan normatif. Umum karena berlaku
bagi setiap orang dan normatif karena menentukan bagaimana cara
melaksanakan kepatuhan dan kaedah (Sudikno Mertokusumo, 2003 : 39).
Menurut Subekti (dalam Sudikno Mertokusumo, 2003 : 61) bahwa tujuan
hukum itu harus mengabdi kepada tujuan Negara yaitu mendatangkan
kemakmuran dan kebahagiaan bagi rakyatnya.
Beberapa pendapat mengenai definisi perlindungan hukum dari
undang-undang maupun para ahli adalah sebagai berikut ini:
1) Berdasarkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak-Hak
Asasi Manusia yang dimaksud Perlindungan hukum adalah segala
daya upaya yang dilakukan secara sadar oleh setiap orang maupun
lembaga
pemerintah,
swasta
yang
bertujuan
mengusahakan
pengamanan, penguasaan dan pemenuhan kesejahteraan hidup sesuai
dengan hak-hak asasi yang ada.
18
2) Perlindungan
hukum
adalah
perlindungan
oleh
hukum
atau
perlindungan dengan menggunakan pranata dan sarana hukum (Wahyu
Sasongko, 2007 : 31).
3) Perlindungan hukum adalah suatu tindakan untuk melindungi atau
memberikan pertolongan kepada subjek hukum dengan menggunakan
perangkat-perangkat hukum (Philipus M. Hadjon, 2011 : 10).
4) Perlindungan hukum adalah tindakan atau melindungi mayarakat dari
perbuatan sewenang-wenang oleh penguasa yang tidak sesuai dengan
aturan hukum untuk mewujudkan ketertiban dan ketentraman sehingga
memungkinkan manusia untuk menikmati martabatnya sebagai
manusia (Setiono , 2004 : 3).
5) Perlindungan hukum adalah memberikan pengayoman kepada hak
asasi manusia yang dirugikan orang lain dan perlindungan tersebut
diberikan kepada masyarakat agar mereka dapat menikmati semua hak
dan kewajiban yang diberikan oleh hukum (Satjipto Raharjo, 2000 :
54).
6) Menurut Theresia Geme (dalam Salim H.S. dan Erlies S.N., 2014 :
262) mendefinisikan perlindungan hukum adalah berkaitan dengan
tindakan negara untuk melakukan sesuatu dengan (memberlakukan
hukum negara secara eksklusif) dengan tujuan untuk memberikan
jaminan kepastian hak-hak seseorang atau kelompok orang.
Definisi di atas dirasa belum lengkap, dikarenakan bentuk
perlindungan dan subjek yang dilindungi berbeda antara satu dengan
lainnya. Menurut Salim H.S. (2014 : 263) pembenaran pengertian
perlindungan hukum yang tepat adalah upaya atau bentuk pelayanan
yang diberikan oleh hukum kepada subyek hukum serta hal-hal yang
menjadi objek yang dilindungi.
b. Bentuk Perlindungan Hukum
Menurut Philipus M. Hadjon (dalam Salim H.S. dan Erlies
S.N., 2014 : 264) menyatakan bentuk perlindungan hukum dapat dibagi
menjadi 2 yaitu:
19
1) Perlindungan Hukum yang Preventif
Perlindungan hukum ini memberikan kesempatan kepada rakyat
untuk mengajukan keberatan atas pendapatnya sebelum suatu
keputusan pemerintah mendapat bentuk yang definitif. Perlindungan
hukum ini bertujuan untuk mencegah terjadinya sengketa dan sangat
besar artinya bagi tindak pemerintah yang didasarkan pada kebebasan
bertindak. Adanya perlindungan hukum yang preventif ini mendorong
pemerintah untuk berhati-hati dalam mengambil keputusan yang
berkaitan dengan asas freies ermessen dan rakyat dapat mengajukan
keberatan atau dimintai pendapatnya mengenai rencana keputusan
tersebut.
2) Perlindungan Hukum yang Represif
Perlindungan ini berfungsi untuk menyelesaikan apabila terjadi
sengketa. Indonesia dewasa ini terdapat berbagai badan yang sangat
partial
menangani
perlindungan
hukum
bagi
rakyat
yang
dikelompokan menjadi 3 (tiga) badan yaitu:
a) Pengadilan dalam lingkup Peradilan Umum.
Dewasa ini dalam prakteknya telah ditempuh jalan untuk
menyerahkan suatu perkara tertentu kepada Peradilan Umum
sebagai perbuatan melawan hukum oleh penguasa.
b) Instasi Pemerintah yang merupakan lembaga banding administrasi.
Penanganan perlindungan hukum bagi rakyat melalui instansi
pemerintah yang merupakan lembaga banding administrasi adalah
permintaan banding terhadap suatu tindak pemerintah oleh pihak
yang merasa dirugikan oleh tindakan pemerintah tersebut. Instansi
pemerintah yang berwenang untuk merubah bahkan dapat
membatalkan tindakan pemerintah tersebut.
c) Badan-badan khusus.
Merupakan badan yang terkait dan berwenang untuk
20
menyelesaikan suatu sengketa. Badan khusus tersebut antara lain
adalah Kantor Urusan Perumahan, Pengadilan Kepegawaian,
Peradilan Administrasi Negara.
c. Cara Perlindungan Hukum
Pada dasarnya hukum dalam memberikan perlindungan dapat
melalui cara-cara tertentu yaitu dengan (Wahyu Sasongko, 2007 : 31):
1) Membuat peraturan (by giving regulation) yang bertujuan untuk:
a) Memberikan hak dan kewajiban
b) Menjamin hak-hak para subjek hukum
2) Menegakkan peraturan (by law enforcement) melalui:
a) Hukum administrasi negara berfungsi untuk mencegah (preventif)
terjadinya pelanggaran hak konsumen dengan perjanjian dan
pengawasan
b) Hukum pidana yang berfungsi untuk menanggulangi (represive)
pelanggaran hak konsumen dengan mengenakan sanksi pidana dan
hukuman
c) Hukum perdata berfungsi untuk memulihkan hak (curative,
recovery, remedy) dengan pembayaran kompensasi atau ganti
kerugian
2. Tinjauan Umum tentang Perjanjian
a. Pengertian Perjanjian
Istilah perjanjian berasal dari bahasa Belanda overeenkomst dan
verbintenis. Di Indonesia istilah verbintenis yaitu perikatan, perjanjian
dan perutangan. Sedangkan untuk overeenkomst yaitu berarti perjanjian
dan persetujuan. Menurut ketentuan Pasal 1313 KUH Perdata
menyatakan bahwa Perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana suatu
orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap suatu orang lain atau
lebih (Soeroso, 2011 : 3).
Menurut Salim H.S. (2004 : 15) definisi perjanjian dalam Pasal
1313 KUH Perdata tersebut tidak jelas karena setiap perbuatan dapat
21
disebut perjanjian, tidak tampak asas konsensualisme serta bersifat
dualisme. Subekti (2002 : 1) berpendapat mengenai rumusan tersebut
bahwa walaupun definisi perjanjian tersebut sudah otentik, namun
rumusannya masih tidak lengkap karena hanya menekankan pada
perjanjian sepihak saja dan sisi lain terluas karena dapat mengenai halhal yang berhubungan dengan janji kawin yaitu sebagai suatu perbuatan
yang terdapat dalam bidang hukum keluarga.
Hal tersebut juga didukung dengan adanya pendapat dari Abdul
Kadir Muhammad (dalam Evi Ariyani, 2013 : 2-3) yang tidak setuju
definisi perjanjian yang terdapat dalam Pasal 1313 KUH Perdata
dikarenakan mempunyai banyak kelemahan, yaitu:
1) Hanya menyangkut sepihak saja. Hal tersebut diketahui dari adanya
kata “satu orang atau lebih lainnya mengikatkan” yang sifat hanya
datang dari satu pihak saja, tidak datang dari kedua belah pihak. Jadi
rumusannya harus “saling mengikatkan diri” agar terdapat konsesus
dari kedua belah pihak.
2) Kata perbuatan mencangkup juga tanpa konsesus karena pengertian
“perbuatan” termasuk juga dalam tindakan melaksanakan tugas tanpa
kuasa (zaakwarneming), tindakan melawan hukum yang tidak
mengandung suatu konsensus, sehingga lebih tepat jika dipakai kata
“persetujuan”.
3) Pengertian perjanjian telalu luas, karena mencangkup juga masalah
perkawinan yang telah diatur dalam lapangan hukum keluarga.
Padahal yang dimaksud dalam hal tersebut adalah hubungan harta
kekayaan saja. Perjanjian yang dimaksud dalam buku 1313 KUH
Perdata sebenarnya hanya perjanjian yang bersifat kebendaan sematamata jadi bukan perjanjian yang bersifat personal.
4) Tanpa menyebutkan tujuan, karena rumusan Pasal itu tidak disebutkan
tujuan untuk mengadakan perjanjian sehingga pihak-pihak yang
mengikatkan diri itu tidak jelas.
22
Rumusan tersebut menegaskan kembali bahwa perjanjian
mengakibatkan seseorang mengikatkan dirinya terhadap orang lain. Ini
berarti dari suatu perjanjian lahirlah kewajiban atau prestasi dari satu atau
lebih orang (pihak) kepada satu atau lebih orang (pihak) lainnya, yang
berhak atas prestasinya tersebut. Rumusan tersebut memberikan
konsekuensi hukum bahwa dalam suatu perjanjian akan selalu ada dua
pihak, dimana satu pihak adalah pihak yang wajib berprestasi (debitor)
dan pihak lainnya adalah pihak yang berhak atas prestasi tersebut
(kreditor). Masing-masing pihak tersebut dapat terdiri dari satu orang
atau lebih, bahkan dengan berkembangnya ilmu hukum, pihak tersebut
juga terdiri dari satu atau lebih badan hukum (Kartini Muljadi dan
Gunawan Widjaja, 2010 : 91-92).
Penyempurnaan terhadap definisi perjanjian menurut Handri
Raharjo (2009: 41-42) adalah suatu hubungan hukum di bidang harta
kekayaan yang didasari kata sepakat antara subyek hukum yang satu
dengan yang lain dan di antara mereka (para pihak / subjek hukum)
saling mengikatkan dirinya sehingga subjek hukum yang satu berhak atas
prestasi dan begitu juga subyek hukum yang lain berkewajiban untuk
melaksanakan prestasinya sesuai dengan kesepakatan yang telah
disepakati para pihak tersebut serta menimbulkan akibat hukum. Secara
garis besar perjanjian dapat dibedakan menjadi 2 yaitu:
1) Perjanjian dalam arti luas adalah setiap perjanjian yang menimbulkan
akibat hukum sebagaimana yang telah dikehendaki oleh para pihak,
misalnya perjanjian tidak bernama atau perjanjian jenis baru.
2) Perjanjian dalam arti sempit adalah hubungan-hubungan hukum dalam
lapangan harta kekayaan seperti yang dimaksud dalam Buku III KUH
Perdata, misalnya perjanjian bernama.
b. Unsur Perjanjian
Suatu perjanjian seharusnya memuat tiga macam unsur yaitu:
1) Unsur Essentialia yaitu unsur yang mutlak harus ada agar perjanjian
itu sah yang mana syarat sahnya perjanjian ialah adanya kata sepakat,
23
kecakapan para pihak, obyek tertentu dan kausa atau dasar yang halal
(Evi Ariyani, 2013 : 6). Tanpa keberadaan unsur tersebut maka
perjanjian yang dibuat para pihak menjadi berbeda dan karenanya
menjadi tidak sejalan dan sesuai dengan kehendak para pihak.
Sehingga unsur essentialia ini merupakan unsur pembeda dengan
perjanjian lainnya. Semua perjanjian yang disebut dengan perjanjian
bernama yang terdapat dalam KUH Perdata mempunyai unsur
essentialia yang berbeda satu dengan yang lainnya dan karenyanya
memiliki karakteristik yang berbeda satu dengan yang lain (Kartini
Muljadi dan Gunawan Widjaja, 2010 : 86).
2) Unsur naturalia yaitu unsur yang lazim melekat pada perjanjian yang
mana unsur tanpa diperjanjikan secara khusus dalam perjanjian secara
diam-diam dengan sendirinya dianggap ada dalam perjanjian karena
sudah merupakan pembawaan atau melekat pada perjanjian. Misal
dalam perjanjian jual beli haruslah penjual menjamin pembeli
terhadap cacat-cacat tersembunyi. Ketentuan ini tidak dapat diimpangi
oleh para pihak, karena sifat dari perjanjian jual beli menghendaki hal
demikan (Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja, 2010 : 88-89).
3) Unsur accidentalia yaitu unsur pelengkap dalam suatu perjanjian yang
merupakan ketentuan yang dapat diatur secara menyimpang oleh para
pihak, sesuai dengan kehendak para pihak yang merupakan
persyaratan khusus yang ditentukan secara bersama-sama oleh para
pihak. Sehingga pada hakikatnya unsur ini bukan merupakan suatu
bentuk prestasi yang harus dilaksanakan atau dipenuhi oleh para
pihak. Misalnya dalam perjanjian jual beli adalah ketentuan mengenai
tempat dan saat penyerahan kebendaan yang dijual atau dibeli (Kartini
Muljadi dan Gunawan Widjaja, 2010 : 89-90)
c. Asas- Asas dalam Perjanjian
Aturan –aturan hukum yang menguasai kontrak sebenarnya
penjelmaan dari dasar-dasar filosofis yang terdapat pada asas-asas hukum
secara umum. Asas-asas hukum ini bersifat sangat umum dan menjadi
24
landasan berfikir yaitu dasar ideologis aturan hukum. Beberapa asas
bersifat samar dan hanya dengan upaya keras dapat baru dipahami.
Asas hukum menurut Peter Mahmud Marzuki adalah sumber
bagi sistem hukum sebagai landasan norma menjadi alat uji bagi
norma hukum yang ada, dalam arti norma hukum tersebut pada
akhirnya harus dapat dikembalikan pada asas hukum yang
menjiwainya (dalam Agus Yudha Hernoko, 2013 : 102-103).
Menciptakan keseimbangan dan memelihara hak-hak yang
dimiliki oleh para pihak sebelum perjanjian yang dibuat menjadi
perikatan yang mengikat bagi para pihak, Oleh KUH Perdata diberikan
berbagai asas umum, yang merupakan pedoman atau patokan, serta
menjadi batas atau rambu dalam mengatur dan membentuk perjanjian
yang akan dibuat hingga pada akhirnya menjadi perikatan yang berlaku
bagi para pihak, yang dapat dipaksakan pelaksanaan atau pemenuhannya
(Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja, 2010 : 14).
M. Isnaeni (dalam Agus Yudha Hernoko, 2013 : 105-106)
menyebutkan beberapa asas sebagai tiang penyangga hukum kontrak
yaitu asas kebebasan berkontrak yang berdiri sejajar dengan asas lain
berdasarkan proporsi yang berimbang, yaitu:
1) Asas pacta sunt servanda
2) Asas kesederajatan
3) Asas privaty of contract
4) Asas konsensualisme
5) Asas Iktikad baik
Seminar tetang “Reformaasi Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata” yang diselenggarakan oleh Badan Pengembangan Hukum
Nasional (BPHN) pada tahun 1981 menyatakan bahwa undang-undnag
kontrak yang baru akan dibuat berlandasakan pada asas-asas berikut ini
(dalam Agus Yudha Hernoko, 2013 : 106):
1) Asas kebebasan untuk mengadakan berkontrak
2) Asas menjamin perlindungan bagi kelompok-kelompok ekonomi
lemah
3) Asas itikad baik
25
4) Asas keselarasan
5) Asas kesusilaan
6) Asas kepentingan umum
7) Asas kepastian hukum
8) Asas pacta sunt servanda
Terkait asas hukum kontrak sebagaimana diuraikan para ahli di
atas. Maka berikut ini terdapat empat asas dalam hukum kontrak yang
dianggap sebagai saka guru hukum kontrak yaitu:
1) Asas kebebasan berkontrak
Mempelajari asas kebebasan berkontrak maka dapat diketahui
bahwa latar belakang lahirnya asas kebebasan berkontrak adalah
adanya paham
individualisme yang secara embrional lahir pada
zaman Yunani yang diteruskan oleh kaum Epicuristen dan
berkembang pesat pada zaman renaisance melalui antara lain ajaranajaran Hugo de Grotth, Thomas Hobbes, John Locke dan Rosseau.
Menurut paham individualisme sistemnya orang bebas untuk
memperoleh apa yang dihendaki, hukum kontrak menerapkan asas ini
sebagai perwujudan dalam kebebasan berkontrak. Teori Lisbet fair ini
menganggap bahwa the invisible hand akan menjamin kelangsungan
jalannya persaingan bebas, dikarenakan pemerintah sama sekali tidak
boleh mengadakan intervensi di dalam kehidupan (sosial ekonomi)
masyarakat. Paham individualisme memberikan peluang yang luas
kepada golongan kuat (ekonomi) untuk menguasai golongan lemah
(ekonomi). Pihak yang kuat menentukan kedudukan pihak yang
lemah. Pihak yang lemah berada dalam cengkraman pihak yang kuat,
diungkapkan dalam exploitation de homme par l’homme (Salim H.S.,
2004:9-10).
Pada akhir abad ke-19 akibat desakan paham etis dan sosialis,
paham individualisme mulai pudar, terlebih sejak berakhirnya Perang
Dunia II. Paham ini tidak mencerminkan keadilan. Masyarakat ingin
pihak yang lemah lebih banyak mendapatkan perlindungan. Oleh
26
karena itu kehendak bebas tidak lagi diberikan dalam arti mutlak,
tetapi diberi arti relatif dikaitkan selalu dengan kepentingan umum.
Pengaturan substansi kontrak tidak semata-mata dibiarkan kepada
para pihak namun perlu diawasi. Pemerintah sebagai pengemban
kepentingan
individu
dan
kepentingan
masyarakat.
Melalui
penerobosan hukum kontrak oleh pemerintah terjadi pergeseran
hukum kontrak ke bidang hukum publik. Melalui campur tangan
pemerintah ini terjadi pemasyarakatan (vermastchappelijking) hukum
kontrak (Salim H.S., 2004 : 9-10).
Hukum perjanjian mempunyai sifat terbuka artinya memberikan
kebebasan yang seluas-luasnya kepada masyarakat untuk mengadakan
perjanjian yang berisi dan bermacam apa saja asalkan tidak melanggar
ketertiban umum dan kesusilaan. Pasal-Pasal dalam hukum perjanjian
merupakan apa yang dinamakan hukum pelengkap (option law) yang
berarti bahwa pasal-pasal itu boleh dikesampingkan manakala
dikehendaki oleh pihak-pihak yang membuat suatu perjanjian. Mereka
diperbolehkan mengatur sendiri kepentingan mereka dalam perjanjian
yang mereka adakan (Soeroso, 2011 : 15-16) sesuai Pasal 1337 dan
1338 KUH Perdata.
Hal tersebut dalam perkembangannya tidak lagi bersifat mutlak
tetapi relatif (kebebasan berkontrak yang bertanggungjawab). Asas
inilah yang menyebabkan hukum perjanjian bersistem terbuka. PasalPasal dalam hukum perjanjian sebagian besar (karena Pasal 1320
KUH Perdata bersifat memaksa) dinamakan hukum pelengkap. Jika
dipahami
secara
seksama
maka
asas
kebebasan
berkontrak
memberikan kebebasan kepada para pihak untuk:
a) Membuat atau tidak membuat perjanjian.
b) Mengadakan perjanjian dengan siapapun.
c) Menentukan isi perjanjian, pelaksanaan dan persyaratannya.
d) Menentukan bentuknya perjanjian yaitu secara tertulis maupun
lisan (Handri Raharjo, 2009 : 44).
27
2) Asas konsensualisme
Apabila menyimak rumusan Pasal 1338 (1) KUH Perdata yang
menyatakan bahwa “Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku
sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya”. Istilah
“secara sah” bermakna bahwa dalam pembuatan perjanjian yang sah
(kaitannya dengan Pasal 1320 KUH Perdata) adalah mengikat karena
asas ini terkandung kehendak para pihak untuk saling mengikatkan
diri dan menimbulkan kepercayaan diantara para pihak terhadap
pemenuhan perjanjian (Agus Yudha Hernoko, 2013 : 120-121).
Konsensualisme pada dasarnya berasal dari kata consensus yang
berarti sepakat. Sepakat berarti bahwa pada asasnya suatu perjanjian
yang timbul sudah dilahirkan sejak detik tercapainya kesepakatan atau
dengan kata lain perjanjian itu sudah sah apabila sudah tercapai kata
sepakat mengenai hal yang pokok dan tidak perlu suatu formalitas (R.
Soeroso, 2011 : 16).
Adanya kata sepakat pada prinsipnya sudah mengikat dan sudah
mempunyai akibat hukum, sehingga mulai saat itu juga sudah timbul
hak dan kewajiban diantara para pihak. Syarat tertulis pada dasarnya
tidak diwajibkan untuk suatu kontrak. Namun terdapat beberapa
kontrak yang memang harus ditulis, atau bahkan dibuat oleh atau
dihadapan pejabat tertentu, sehingga disebut kontrak formal. Hal
tersebut merupakan perkecualian dari prinsip umum tentang asas
konsesualisme (Munir Fuady, 2011 : 31).
Asas konsensualisme sebagaimana yang tersimpul dalam Pasal
1320 KUH Perdata syarat sahnya perjanjian yang pertama adalah
tentang kesepakatan, hendaknya tidak juga diinterpretasikan sematamata secara gramatikal. Pemahaman asas konsensualisme yang
menekankan pada “sepakat” para pihak ini, berangkat dari pemikiran
bahwa yang berhadapan dalam kontrak itu adalah orang yang
menjunjung tinggi komitmen dan tanggungjawab dalam lalu lintas
hukum. Sehingga pemahaman asas konsensualisme tidak terpaku
28
sekadar mendasarkan pada kata sepakat saja tetapi juga syarat lain
dalam Pasal 1320 KUH Perdata dianggap telah terpenuhi sehingga
kontrak tersebut menjadi sah (Agus Yudha Hernoko, 2013 : 123).
3) Asas pacta sunt servanda
Istilah pacta sunt servanda berarti janji yang mengikat
maksudnya adalah bahwa suatu kontrak yang dibuat secara sah oleh
para pihak tersebut secara sah oleh para pihak mengikat para pihak
tersebut secara penuh sesuai isi kontrak tersebut. Istilah terkenalnya
adalah “my word is my bonds”. Mengikatnya secara penuh atas
kontrak yang dibuat oleh para pihak tersebut oleh hukum kekuatannya
dianggap sama dengan kekuatan mengikat dari suatu undang-undang.
Apabila suatu pihak dalam kontrak tidak menuruti kontrak yang telah
dibuatnya, oleh hukum disediakan ganti rugi atau bahkan pelaksanaan
kontrak secara paksa (Munir Fuady, 2005 : 12-13) sebagaimana diatur
dalam Pasal 1338 ayat 1 KUH Perdata.
Asas pacta sunt servanda disebut juga dengan asas kepastian
hukum. Asas ini berhubungan dengan akibat perjanjian. Asas pacta
sunt servanda menurut Salim H.S. (2004 : 10) adalah asas bahwa
hakim atau pihak ketiga harus menghormati subtansi kontrak yang
dibuat oleh para pihak, sebagaimana layaknya sebuah undang-undang.
Mereka tidak boleh melakukan intervensi terhadap subtansi kontrak
yang dibuat oleh para pihak.
Asas pacta sunt servanda pada mulanya dikenal dalam hukum
gereja. Di dalam hukum gereja itu disebutkan bahwa terjadinya suatu
perjanjian apabila ada kesepakatan kedua belah pihak dan dikuatkan
dengan sumpah. Ini mengandung makna bahwa setiap perjanjian yang
diadakan oleh kedua belah pihak merupakan perbuatan yang sakral
dan
dikaitkan
dengan
unsur
keagamaan.
Namun,
dalam
perkembangannya asas pacta sunt servanda diberi arti pactum, yang
berarti sepakat tidak perlu dikuatkan dengan sumpah dan tindakan
29
formalitas lainnya. Sedangkan nudus pactum sudah cukup dengan
sepakat saja (Salim H.S., 2004 : 11).
4) Asas itikad baik
Perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik sesuai Pasal
1338 ayat 3 KUH Perdata yang menyatakan bahwa “Perjanjianperjanjian harus dilaksanakan degan iktikad baik”. Apa yang
dimaksud dengan iktikad baik (te goeder trouw, good faith) pada
dasarnya perundang-undangan tidak memberikan definisi secara tegas
dan jelas.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang dimaksud iktikad
adalah kepercayaan, keyakinan yang teguh, kemauan yang baik
(www.kbbi.web.id diakses pada tanggal 10 April 2016 pukul 10.10
WIB). Sedangkan dalam Kamus Hukum Fockema Andrea dijelaskan
bahwa “goede trouw” adalah maksud semangat yang yang menjiwai
para peserta dalam suatu perbuatan hukum atau tersangkut dalam
suatu hubungan hukum. Sedangkan menurut Wirjono prodjodikoro
memeberikan batasan iktikad baik dengan istilah dengan jujur dan
secra jujur (dalam Agus Yudha Hernoko, 2013 : 134)
Handri Raharjo (2009 : 45). membagi iktikad baik menjadi 2
yaitu:
a) Bersifat objektif artinya mengindahkan kepatutan dan kesusilaan.
b) Bersifat subjektif artinya ditentukan sikap batin seseorang.
Wirjono Prodjodikoro (dalam Agus Yudha Hernoko, 2013 :
137) membagi itikad baik menjadi dua macam yaitu:
a) Itikad baik pada waktu mulai berlakunya suatu hubungan hukum.
Dalam konteks ini hukum memberikan perlindungan hukum
kepada pihak yang beritikad baik harus bertanggungjawab dan
menanggung risiko. Iktikad semacam ini dapat disimak dalam
ketentuan Pasal 1977 ayat 1 KUH Perdata dan Pasal 1963 KUH
Perdata dimana terkait dengan salah satu syarat untuk memperoleh
30
hak milik atas barang melalui daluwarsa. Iktikad ini bersifat
subyektif dan statis.
b) Itikad baik pada waktu pelaksanaan hak-hak dan kewajibankewajiban yang termaktub dalam hubungan hukum itu. Pengertian
itikad baik semacam ini sebagaimana diatur dalam Pasal 1338 ayat
3 KUH Perdata adalah bersifat objektif dan dinamis mengikuti
situasi sekitar perbuatan hukumnya. Titik itikad baik disini terletak
pada tindakan yang akan dilakukan oleh kedua belah pihak yaitu
tindakan sebagai pelaksanaan sesuatu hal.
Adapun asas-asas umum hukum perjanjian yang dikenal yang
dikemukakan oleh beberapa ahli adalah sebagai berikut:
1) Asas Tidak Boleh Main Hakim Sendiri
Maksudnya dengan tindakan menghakimi sendiri adalah
tindakan untu melaksanakan hak menurut kehendaknya sendiri yang
bersifat sewenang-wenang tanpa persetujuan pihak lain yang
berwenang melalui pengadilan atau meminta bantuan hakim, sehingga
akan menimbulkan kerugian. Oleh karena itu, tindakan menghakimi
sendiri tidak dibenarkan oleh hukum (R.Soeroso, 2011 : 14). Asas ini
berkaitan dengan Pasal 1266 KUH Perdata yang menentukan
persetujuan tidak batal demi hukum suatu perjanjian haruslah
dimintakan kepada Hakim.
2) Asas Kepribadian (Personalitas)
Pada umumnya tidak seorangpun dapat mengadakan perjanjian
kecuali untuk dirinya sendiri. Pengecualiannya terdapat di dalam Pasal
1317 KUH Perdata tentang janji untuk pihak ketiga (Handri Raharjo,
2009 : 45).
Asas kepribadian merupakan asas yang menentukan bahwa
seseorang yang akan melakukan atau membuat kontrak hanya untuk
kepentingan perseorangan saja. Hal ini dapat dilihat dalam Pasal 1315
KUH Perdata yang intinya seseorang yang mengadakan perjanjian
hanya untuk kepentingan dirinya sendiri. Selain itu diatur pula di
31
dalam Pasal 1340 KUH Perdata yang intinya perjanjian yang dibuat
oleh para pihak hanya berlaku bagi mereka yang membuatnya.
Namun ketentuan tersebut terdapat pengecualian, yaitu di Pasal
1317 KUH Perdata yang intinya bahwa seseorang dapat mengadakan
perjanjian untuk kepentingan pihak ketiga, dengan syarat yang
ditentukan. Sedangkan Pasal 1318 KUH Perdata tidak hanya mengatur
perjanjian untuk diri sendiri, tetapi juga untuk kepentingan ahlinya
warisnya dan untuk orang-orang yang memperoleh hak dari padanya.
Kedua Pasal tersebut memberikan pegecualian yang intinya
mengatur perjanjian untuk pihak ketiga yaitu untuk kepentingan
(Salim H.S., 2004 : 13) :
a) Dirinya sendiri
b) Ahli waris
c) Orang-orang yang memperoleh hak daripadanya
3) Asas Keadilan
Pembahasan mengenai hubungan antara kedua belah pihak yang
mengikatkan dirinya dalam suatu perjanjian yang kemudian akan
dijadikan suatu dasar hukum bagi para penyepakat (Pasal 1320 dan
Pasal 1338 KUH Perdata) tidak dapat dilepaskan hubungan dengan
masalah keadilan. Berbagai cara telah ditempuh banyak ahli untuk
menciptakan suatu kondisi yang kondusif dan win-win solution untuk
berkontrak secara benar dan memperhitungkan berbagai latar
belakang dan kondisi kedua belah pihak dan melahirkan suatu bentuk
prestasi dan kontra prestasi yang dapat diterima dan dianggap adil
bagi kedua belah pihak.
Menurut Rawls keadilan itu diukur dengan tidak mengorbankan
hak dari satu atau beberapa orang hanya demi keuntungan ekonomis
yang lebih besar bagi masyarakat secara keseluruhan. Konsep
ekonomis tidak boleh bertentangan dengan prinsip kebebasan dan hak
sama bagi semua orang (Agus Yudha Hernoko, 2010 : 43). Keadilan
haruslah dipahami sebagai kesetaraan kedudukan dan hak serta
32
bukanlah merupakan kesamaan hasil yang dapat diperoleh semua
orang (Agus Yudha Hernoko,2014 : 58)
Menurut John Boatright dan Manuel Velasques keadilan dibagi
menjadi 3 yaitu:
1) Keadilan distributif (distributive justice) yaitu hak dan kewajiban
harus dibagi secara adil.
2) Keadilan retributif (retributive justice) yaitu berkaitan dengan
terjadinya kesalahan dimana hukum atau denda dibebankan kepada
orang yang bersalah haruslah bersifat adil.
3) Keadilan kompensatoris (compensatory justice) menyangkut
tentang kesalahan yang dibuat tetapi menurut aspek lain dimana
orang mempunyai kewajiban moral untuk memberikan kompensasi
atau ganti rugi kepada pihak lain yang dirugikan (Agus Yudha
Hernoko, 2013 : 50).
Kriteria ketidakadilan menurut menurut Munir Fuady adalah
sebagai berikut:
1) Kriteria utama doktrin ketidakadilan
Suatu kontrak yang sudah ditandatangani oleh kedua belah
pihak, maka tidak semua ketidakadilan dalam kontrak dinyatakan
batal atau dapat dibatalkan manakala dalam kontrak tersebut
terdapat unsur-unsur ketidakadilan. Akan tetapi kontrak tersebut
batal atau dapat dibatalkan jika memenuhi kriteria tersebut.
Kriteria utama agar suatu kontrak batal atau dapat dibatalkan
karena alasan ketidakadilan (unconscionability) adalah apakah
dalam pengertian dan kebutuhan komersil dari suatu perdagangan
atau suatu kasus, klausula tersebut telah memihak kesatu pihak
sehingga hal tersebut menjadi tidak adil terhadap pihak lainnya
menurut situasi dan kondisi pada saat dibuatnya kontrak yang
bersangkutan (Munir Fuady, 2001 : 53).
2) Teori asumsi risiko dengan doktrin ketidakadilan
Telah dijelaskan pula sebelumnya bahwa tidak semua klausula
33
yang tampaknya tidak adil batal atau dapat dibatalkan berdasarkan
doktrin ketidakadilan (unconscionability) ini. Disamping harus
memenuhi kriteria tertentu doktrin ketidakadilan ini juga
berbenturan dengan prinsip yuridis tentang “asumsi risiko atau
(assumption of risk). Menurut prinsip asumsi risiko ini, jika
seseorang telah menandatangani suatu kontrak sungguhpun dia
tidak membaca semua isi kontrak, oleh hukum dia dianggap telah
mengasumsi risiko dari isi kontrakk yang mungkin tidak adil,
artinya dia sudah bersedia menanggung risiko tersebut.
Akan tetapi apabila seseorang tidak atau sangat terbatas pilihan
atau sangat kurang kekuatan tawar menawarnya, dalam kontrak
terdapat klausula yang begitu tidak adil dan memberatkan salah
satu pihak, maka dia tidak dapat lagi dikatakan telah mengasumsi
risiko. Dalam hal ini kepadanya (pihak yang dirugikan) bahkan
diberikan kewenangan untuk meminta kontrak tersebut batal atau
dibatalkan berdasarkan teori ketidakadilan (unconscionability)
tersebut (Munir Fuady, 2001 : 53-54).
3) Ketidakadilan substantif dan prosedural
Teori ketidakadilan (unconscionability) ini sering dibedakan ke
dalam:
a) Ketidakadilan yang bersifat prosedural
Adanya doktrin ketidakadilan yang bersifat prosedural yang
dimaksudkan adalah ketidakadilan dari klausula kontrak sebagai
akibat dari kedudukan para pihak yang tidak seimbang dalam
proses tawar menawar dari kontrak tersebut.
b) Ketidakadilan yang bersifat substantif
Adanya doktrin ketidakadilan yang bersifat substantif yang
dimaksud adalah klausula dalam kontrak tersebut. Doktrin
ketidakadilan yang bersifat substantif dari kontrak ini misalnya
muncul melalui “doktrin harga yang tidak adil atau (doctrine on
unfair price)” (Munir Fuady, 2001 : 54)
34
4) Keterkejutan yang tidak adil (unfair surprise)
Salah satu wujud dari ketidakadilan dalam kontrak adalah apa
yang disebut dengan keterkejutan yang tidak adil (unfair surprise).
Suatu klausula dalam kontrak dianggap merupakan unfair surprise,
manakala klasula tersebut bukan klausula yang diharapkan oleh
orang yang normal dalam kontrak semacam itu, sementara pihak
yang menulis kontrak mempunyai alasan untuk mengetahui bahwa
klausula tersebut tidak akan sesuai dengan keinginan yang wajar
dari pihak lain, tetapi pihak yang menulis kontrak tersebut tidak
berusaha menarik perhatian pihak lainnya terhadap klausula
tersebut.
Salah satu contoh klausula yang bersifat (unfair surprise) adalah
kontrak baku yaitu kontrak yang yang sudah secara baku yang
menempatkan pihak lain tidak mempunyai posisi tawar menawar
tetapi hanya memiliki pada posisi menerima atau menolak konrak
tersebut (take it or leave it).
Pandangan yang modern dalam hukum kontrak mengajarkan
bahwa klausula dalam kontrak baku hanya mengikat sejauh
klausula-klausula oleh manusia yang normal akan dipandangnya
sebagai klausula yang wajar dan adil. Jika ada klausula tersebut
berisat sebaliknya maka klausula yang bersangkutan oleh hukum
dianggap tidak pernah ada (Munir Fuady, 2001 : 554-55)
5) Klausula pembebasan (exculpatory clause)
Klausula pembebasan (exculpatory clause) adalah suatu
klausula dalam kontrak yang membebaskan salah satu pihak dari
kewajibannya untuk mengganti kerugian yang disebabkan oleh
perbuatannya sendiri. Klausula pembebasan ini dicakup juga oleh
doktrin
ketidakadilan
baik
klausula
pembebasan
yang
membebaskan pihak pembuatnya dari kesalahan yang bersifat
kesengajaan ataupun hanya kelalaian (Munir Fuady, 2001 : 55).
6) Ganti rugi campur aduk (remedy meddling)
35
Ganti rugi campur aduk (remedy meddling) juga merupakan
salah satu perwujudan dari apa yang dilarang oleh doktrin
ketidakadilan yang mana arti dari remedy meddling adalah suatu
variasi dari berbagai taktik dimana pihak kreditor biasanya penjual
berusaha untuk memperbesar haknya jika pihak debitor wanprestasi
dan mengurangi atau menghapuskan kewajibannya jika digugat
oleh pihak lain dalam kontrak tersebut.Berikut ini adalah wujud
remedy meddling dari yaitu:
a) Ganti rugi tetap (liquidated damages)
Ganti rugi tetap (liquidated damages) merupakan suatu ganti
rugi yang jumlahnya telah ditetapkan secara pasti dan sudah
disebutkan dalam kontrak tersebut, sungguhpun kerugian pada
saat itu belum terjadi. Ganti rugi tetap yang terlalu besar
jumlahnya dianggap sebagai penalty dan tidak dianggap “tidak
adil (unconscion)”. Demikian juga dengan gantirugi tetap yang
terlalu kecil jumlahnya juga dianggap tidak adil.
b) Pemilikan barang jaminan (repossess the security)
Klausula yang memberikan hak kepada kreditor untuk
memiliki barang jaminan jika keditur menganggap hutangnya
atau pelaksanaan kewajiban dari pihak debitor diangap tidak
terjamin lagi juga dapat dianggap sebagai klausula yang dilarang
oleh doktrin ketidakadilan (unconscionability)
c) Penolakan jaminan purna jual (warranty disclaimer)
Pada prinsip pembatasan pemberian jaminan purna jual
sampai batas-batas tertentu adalah sah-sah saja. Tetapi jika
pembatasan tersebut sedemikan rupa misalnya pembatasan
terhadap ganti rugi konsekuensi (consequential damages)
terhadap kerusakan pada tubuh manusia. Karena tidak
dibenarkan berdasarkan doktrin ketidakadilan.
d) Pembatasan ganti rugi (limitation of remedies)
Apabila sampai batas-batas teretntu, suatu ganti rugi dapat
36
saja dibatasi. Tetapi apabila gantirugi dibatasi secara tidak adil
maka hal tersebut tidak dapat dibenarkan.
e) Klausula penjaminan silang (cross collateralization)
Klausula penjaminan silang adalah suatu teknik dari masingmasing jual beli (secara kredit) terhadap masing-masing barang
yang sampai dengan dibayar seluruh harga barang tersebut pihak
penjual masih diberikan kewenangan untuk mereposes seluruh
item dari barang tersebut, jual beli
kredit dengan memakai
sistem klausula penjaminan silang tersebut juga dirasakan tidak
adil sehingga dianggap sebagi ketentaun yang bertentangan
dengan doktrin ketidakadilan (unconscionability) (Munir Fuady,
2001 : 56-67).
d. Syarat Sah Perjanjian
Syarat sah perjanjian pada dasarnya dapat ditemukan dalam
ketentuan Pasal 1320 KUH Perdata yang berbunyi “Untuk sahnya
perjanjian-perjanjian, diperlukan empat syarat:
1) Kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya
2) Kecakapan untuk membuat suatu perikatan
3) Suatu pokok persoalan tertentu
4) Suatu sebab yang tidak dilarang
Keempat unsur tersebut selanjutnya dalam doktrin ilmu hukum
yang berkembang digolongkan ke dalam dua unsur,yaitu:
1) Dua unsur pokok yang menyangkut subyek atau pihak yang
mengadakan
perjanjian
(unsur
subyektif).
Unsur
subyektif
mencangkup adanya unsur kesepakatan secara bebas dari para pihak
yang berjanji dan kecakapan dari pihak-pihak yang melaksanakan
perjanjian yang mana bila salah satu unsur tak dipenuhi maka
akibatnya perjanjian tersebut dapat dibatalkan.
2) Dua unsur pokok lainnya yang berhubungan langsung dengan obyek
perjanjian (unsur obyektif). Unsur Objektif meliputi keberadaan dari
pokok persoalan yang merupakan objek yang diperjanjikan dan causa
37
dari objek yang berupa prestasi yang disepakati untuk dilaksanakan
tersebut haruslah sesuatu yang tidak dilarang atau diperkenankan
menurut hukum yang mana bila salah satu unsur tak dipenuhi maka
batal demi hukum dengan pengertian bahwa perikatan yang lahir dari
perjanjian tersebut tidak dapat dipaksakan pelaksanaannya (Kartini
Muljadi dan Gunawan Widjaja, 2003: 93-94).
Berikut ini akan dijelaskan mengenai syarat sahnya perjanjian
menurut Pasal 1320 KUH Perdata:
1) Syarat Subyektif
a) Kesepakatan kedua belah pihak
Syarat sah sebuah kontrak yang pertama adalah adanya
konsensus atau kesepakatan kedua belah pihak yang diatur dalam
Pasal 1320 ayat 1 KUH Perdata. Kesepakatan adalah persesuaian
pernyataan kehendak antara satu orang atau lebih dengan pihak
lainnya. Ada lima cara untuk terjadinya persesuaian pernyataan
kehendak yaitu dengan cara (Salim H.S., 2005 : 33) sebagai
berikut:
(1)Bahasa yang sempurna dan tertulis
(2)Bahasa yang sempurna secara lisan
(3)Bahasa yang tidak sempurna asal dapat diterima pihak lawan
(4)Bahasa isyarat asal dapat diterima oleh pihak lawan
(5)Diam atau membisu tetapi asal dapat dipahami atau diterima
pihak lawan
Cara
yang
paling
banyak
digunakan
adalah
dengan
menggunakan bahasa yang sempurna secara lisan dan tertulis.
Kesepakatan yang dicapai tidak boleh karena adanya unsur paksaan
atau dwang (Pasal 1324 KUH Perdata),penipuan (bedrog) (Pasal
1328 KUH Perdata) dan kekhilafan atau dwaling (Pasal 1322 KUH
Perdata). Jika suatu kontrak atau perjanjian itu disebut atas dasar
salah satu unsur tersebut di atas maka kontrak tersebut dapat
dibatalkan (Evi Ariyani, 2013 : 7).
38
b) Kecakapan untuk bertindak
Kecakapan bertindak adalah kecakapan atau kemampuan untuk
melakukan perbuatan hukum yang menimbulkan akibat hukum.
Jika subyek hukumnya adalah orang maka, orang –orang yang
mengadakan perjanjian haruslah orang yang cakap dan mempunyai
wewenang untuk melakukan perbuatan hukum, sebagaimana
ditentukan olehundang-undang. Orang yang cakap dan berwenang
untuk melakukan perbuatan hukum merupakan orang yang sudah
dewasa (yang berumur 21 tahun dan atau sudah kawin).
Adapun orang yang tidak berwenang untuk melakukan
perbuatan hukum adalah:
(1) Orang yang belum dewasa
(2) Mereka yang berada di bawah pengampuan
(3) Istri
(Pasal
1330
KUH
Perdata),
akan
tetapi
dalam
perkembangannya istri dapat melakukan perbuatan hukum
sebagaimana diatur dalam Pasal 31 Undang-Undang Nomor 1
tahun 1974 jo Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 3 tahun
1963. Jika subyeknya adalah badan hukum maka harus
memenuhi syarat formal suatu badan hukum. Badan hukum
atau rechtspersoon berarti person atau badan hukum ini dapat
memiliki hak dan kewajiban serta melakukan perbuatan hukum
seperti manusia bahkan juga memiliki kekayaan sendiri. Suatu
badan hukum maka cirinya bahwa harta kekayaan dari badan
hukum tersebut harus terpisah dari kekayaan para pengurusnya
(Evi Ariyani, 2013 : 8-9).
2) Syarat Objektif
a) Suatu hal tertentu
Berbagai literatur menyebutkan bahwa yang menjadi objek
perjanjian adalah prestasi atau pokok perjanjian dimana prestasi
adalah apa yang menjadi kewajiban debitor dan apa yang menjadi
39
hak kreditor baik dapat berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu.
Prestasi harus dapat ditentukan, diperbolehkan, dimungkinkan dan
dapat dinilai dengan uang. Hal ini sesuai dengan Pasal 1332 KUH
Perdata yaitu bahwa hanya barang yang dapat diperdagangkan saja
yang dapat menjadi objek perjanjian (Evi Ariyani, 2013 : 8-9)
b) Adanya sebab atau causa yang halal
Pasal 1336 KUH Perdata menyatakan suatu perjanjian tidak
mempunyai kekuatan mengikat apabila dibuat tanpa sebab atau
dibuat dengan sebab yang palsu atau terlarang. Pengertian sebab
yang halal dapat dilihat dalam Pasal 1337 KUH Perdata yang
menyebutkan suatu sebab adalah terlarang apabla bertentangan
dengan undang-undang, kesusilaan dan ketertiban umum (Evi
Ariyani, 2013 : 9)
e. Jenis-Jenis Perjanjian
Menurut Handri Raharjo (2009 : 59-69) dalam bukunya yang
berjudul “Hukum Perjanjian di Indonesia” menyatakan bahwa perjanjian
dapat dibedakan menurut berbagai cara, yaitu:
1) Perjanjian menurut sumbernya, menurut Sudikno Mertokusumo dapat
dibagi menjadi:
a) Perjanjian yang bersumber dari hukum keluarga. Misalnya
perkawinan.
b) Perjanjian yang bersumber dari hukum kebendaan adalah
perjanjian yang berhubungan dengan peralihan hukum benda.
c) Perjanjian
obligatoir
adalah
perjanjian
yang menimbulkan
kewajiban.
d) Perjanjian yang bersumber dari hukum acara.
e) Perjanjian yang bersumber dari hukum publik.
2) Perjanjian menurut hak dan kewajiban para pihak, menurut Salim H.S.
dapat dibedakan menjadi:
a) Perjanjian timbal balik adalah perjanjian yang menimbulkan hak
dan kewajiban pokok bagi kedua belah pihak. Perjanjian ini ada 2
40
(dua) macam yaitu timbal balik yang sempurna dan tidak
sempurna. Contohnya perjanjian jual beli.
b) Perjanjian sepihak adalah perjanjian yang menimbulkan kewajiban
pada satu pihak saja sedangkan pada pihak lain hanya ada hak.
Contoh: hibah (Pasal 1666 KUH Perdata) dan Perjanjian Pemberian
Kuasa (Pasal 1792 KUH Perdata)
c) Perjanjian menurut keuntungan salah satu pihak dan adanya
prestasi pada pihak yang lain menurut Salim H.S. dapat dibedakan
menjadi:
(1) Perjanjian
cuma-cuma
adalah
perjanjian
yang
hanya
memberikan keuntungan pada salah satu pihak. Contoh
Perjanjian Hibah.
(2) Perjanjian atas beban yaitu perjanjian dimana terhadap prestasi
dari pihak yang satu selalu terdapat kontra prestasi dari pihak
lain dan diantara kedua prestasi itu ada hubungannya menurut
hukum. Misal Perjanjian Jual Beli dan Sewa Menyewa.
3) Perjanjian menurut namanya, menurut Salim H.S. dapat dibedakan
menjadi:
a) Perjanjian khusus / bernama / nominaat adalah perjanjian yang
memiliki nama dan diatur dalam KUH Perdata. Contoh Perjanjian
yang terdapat dalam KUH Perdata buku III Bab V-XVIII KUH
Perdata antara lain jual beli, perjanjian tukar menukar, perjanjian
perdamaian, perjanjian pemberian kuasa, perjanjian pinjam pakai,
dan sebagainya.
b) Perjanjian umum / tidak bernama / innominaat / perjanjian jenis
baru adalah perjanjian yang timbul, tumbuh dan hidup dalam
masyarakat karena asas kebebasan berkontrak dan perjanjian ini
belum dikenal sebelum KUH Perdata diundangkan. Dimana unsur
perjanjian ini adalah:
(1) Perjanjian yang tidak diatur dalam KUH Perdata
(2) Perjanjian yang timbul, tumbuh dan hidup dalam masyarakat
41
(3) Berdasarkan asas kebebasan berkontrak. Contohnya perjanjian
leasing, perjanjian sewa beli, franchise, joint ventura, kontrak
production sharing, dan sebagainya.
Dikarenakan perjanjian innominaat ini didasarkan pada asas
kebebasan berkontrak maka sistem pengaturan hukum perjanjian
innominaat adalah sistem terbuka / open system. Dilihat dari aspek
pengaturannnya perjanjian innominaat dibedakan menjadi:
(1)Perjanjian innominaat yang diatur secara khusus dan dituangkan
dalam bentuk undang-undang dan atau telah diatur dalam Pasal
tersendiri. Misalnya kontrak production sharing telah diatur
dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak
dan Gas Bumi.
(2)Perjanjian innominaat yang diatur dalam peraturan pemerintah,
misalnya tentang waralaba / franchise yang diatur dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2007 tentang Waralaba
dan perjanjian lembaga pembiayaan konsumen yang diatur
dalam Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2009 tentang lembaga
Pembiayaan.
(3)Perjanjian innominaat yang belum diatur atau belum ada
undang-undang di Indonesia. Misalnya kontrak rahim atau
surrogate mother.
4) Perjanjian menurut bentuknya menurut Salim H.S dapat dibedakan
menjadi 2 macam yaitu:
a) Perjanjian Lisan/Tidak Tertulis,yang termasuk perjanjian lisan
adalah:
(1)Perjanjian Konsensual menurut J.Satrio adalah perjanjian
dimana adanya kata sepakat antara para pihak saja sudah cukup
untuk timbulnya perjanjian yang bersangkutan.
(2)Perjanjian riil menurut Mariam Darus Badrulzaman adalah
perjanjian yang hanya berlaku sesudah terjadinya penyerahan
barang atau kata sepakat bersamaan dengan penyerahan
42
barangnya. Misalnya perjanjian penitipan barang dan perjanjian
pinjam pakai.
b) Perjanjian Tertulis, yang termasuk perjanjian tertulis adalah:
(1)Perjanjian Standar atau baku menurut Djaja S. Meliala adalah
perjanjian yang berbentuk tertulis berupa formulir yang isinya
telah distandarisasi (dibakukan) terlebih dahulu secara sepihak
oleh produsen serta bersifat massal tanpa mempertimbangkan
perbedaan kondisi yang dimiliki konsumen.
(2)Perjanjian Formal menurut Sudikno Mertokusumo adalah
perjanjian yang ditetapkan dengan formalitas tertentu. Misalnya
perjanjian perdamaian yang harus secara tertulis sesuai Pasal
1851 KUH Perdata, perjanjian hibah dengan akta notaris.
Dimana dalam perjanjian ini dikenal istilah akta yaitu surat yang
diberi tanda tangan yang memuat peristiwa yang menjadi dasar
dari pada suatu hak atau perikatan yang dibuat sejak semula
dengan sengaja untuk pembuktian.
5) Perjanjian yang istimewa sifatnya, yang termasuk dalam perjanjian ini
menurut Mariam Darus Badrulzaman adalah:
a) Perjanjian liberatoir adalah perjanjian dimana para pihak
membebaskan diri dari kewajiban yang ada. Misalnya Pembebasan
Hutang menerut Pasal 1438 KUH Perdata.
b) Perjanjian pembuktian adalah perjanjian dimana para pihak
menentukan pembuktian apakah yang berlaku di antara mereka.
c) Perjanjian untung-untungan, misalnya perjanjian asuransi (Pasal
1774 KUH Perdata).
d) Perjanjian publik adalah perjanjian yang sebagaian atau seluruhnya
dikuasai oleh hukum publik karena salah satu pihak bertindak
sebagai penguasa (pemerintah). Misalnya perjanjian ikatan dinas.
e) Perjanjian Campuran / contrctus sui generis (Pasal 1601 C KUH
Perdata) dimana dalam perjanjian ini terdapat unsur-unsur dari
beberapa perjanjian bernama yang terjalin menjadi satu sedemikian
43
rupa sehingga tidak dapat dipisah-pisahkan sebagai perjanjian yang
berdiri sendiri. Misal perjanjian anatara pemilik hotel dengan tamu.
f) Perjanjian Penanggungan (Borgtocht) adalah suatu persetujuan
dimana pihak ketiga demi kepentingan kreditor mengikatkan
dirinya untuk memenuhi perikatan debitor bila debitor tidak
memenuhi perikatannya (Pasal 1820 KUH Perdata).
g) Perjanjian Garansi (Pasal 1316 KUH Perdata) dan Derden Beding
(Pasal 1317 KUH Perdata)
(1)Perjanjian Garansi adalah menjamin pihak lain (lawan janjinya)
bahwa seorang pihak ketiga yang ada di luar perjanjian akan
melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu dan kalau
sampai terjadi pihak ketiga tidak memenuhi maka ia aka
bertanggungjawab untuk itu.
(2)Perjanjian Derden Beding (janji pihak ketiga) adalah suatu
perjanjian berlakukan asas pribadi suatu perjanjian berlaku bagi
pihak yang mengadakan perjanjian itu sendiri (Pasal 1315 KUH
Perdata jo Pasal 1340 KUH Perdata) dan para pihak tidak dapat
mengadakan perjanjian yang mengikat pihak ketiga kecuali
dalam apa yang disebut janji guna pihak ketiga (Pasal 1317
KUH Perdata).
6) Perjanjian menurut sifatnya menurut Salim H.S. dapat dibedakan
menjadi:
a) Perjanjian Pokok yaitu perjanjian yang utama.
b) Perjanjian accessoir yaitu perjanjian tambahan yang mengikuti
perjanjian utamanya/pokoknya. Misalnya perjanjian fidusia.
c) Perjanjian berdasarkan penggolongan yang lain adalah didasarkan
pada hak kebendaan dan kewajiban yang ditimbulkan dari adanya
kewajiban tersebut.
d) Perjanjian Obligatoir adalah perjanjian yang hanya meletakkan hak
dan
kewajiban
kepada
memindahkan hak milik.
masing-masing
pihak
dan
belum
44
e) Perjanjian kebendaan adalah perjanjian dengan mana seseorang
menyerahkan haknya atas sesuatu kepada pihak lain. Misal
Peralihan hak milik (dalam Handri Raharjo, 2009 : 59-69).
3. Tinjaun Umum tentang Lembaga Pembiayaan Konsumen
a. Pengertian
Pembiayaan yang disediakan di Inggris untuk pengadaan barang
kebutuhan konsumen dikenal dengan istilah kredit konsumen (Consumer
Credit) yang mana di atur dalam Undang-Undang Kredit Konsumen
1974 (Consumer Credit Act 1974). Tetapi di Indonesia, yang lebih
dikenal adalah Pembiayaan Konsumen (Consumer Finance) yang
pengertiannya meliputi juga Kredit Konsumen (Consumer Credit).
Perbedaannya
hanya
pada
perusahaan
jasa
keuangan
yang
membiayainya. Pembiayaan Konsumen dibiayai oleh Perusahaan
Pembiayaan (Financing Company), sedangkan Kredit Konsumen
dibiayai oleh Bank. Perusahaan Pembiayaan adalah badan usaha di luar
bank dan lembaga keuangan bukan Bank yang khususnya didirikan untuk
melakukan
kgiatan
dalam
bidang
usaha
Lembaga
Pembiayaan
(Abdulkadir M dan Rilda M, 2000 : 246).
Pengertian
Lembaga
Pembiayaan
consumer
finance)
berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2009 tentang Lembaga
Pembiayaan berdasarkan Pasal 1 angka 1 adalah badan usaha yang
melakukan kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan dana atau
barang modal. Sedangkan pengertian Pembiayaan Konsumen Peraturan
Presiden Nomor 9 Tahun 2009 tentang Lembaga Pembiayaan
berdasarkan Pasal 1 angka 7 adalah kegiatan pembiayaan untuk
pengadaan barang berdasarkan kebutuhan konsumen dengan pembayaran
secara angsuran.
45
b. Dasar hukum
1) Dasar Hukum Substantif
Berikut ini yang merupakan dasar hukum substantif eksistensi
pembiayaan konsumen adalah perjanjian di antara para pihak
berdasarkan asas kebebasan berkontrak, yakni perjanjian antara pihak
perusahaan financial sebagai kreditor dan pihak konsumen sebagai
debitor. Mengenai asas kebebasan berkontrak di atur dalam Pasal
1338 ayat (1) KUH Perdata. Pasal ini mengandung arti bahwa para
pihak boleh membuat berbagai persetujuan / perjanjian baik yang
sudah di atur dalam undang-undang, maupun yang tidak di atur dalam
undang-undang, selama apa yang disepakati itu sah, artinya memenuhi
syarat-syarat sahnya suatu perjanjian sebagaimana yang di atur dalam
Pasal 1320 KUH Perdata (Munir Fuady, 2002 : 164-165).
2) Dasar Hukum Administratif
Dasar hukum yang dijadikan sebagai dasar hukum administratif
bagi keberadaan perusahaan pembiayaan yaitu:
a) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 1999
tentang Jaminan Fidusia.
b) Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2009 tentang Lembaga
Pembiayaan.
c) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 130/PMK.010/2012 tentang
Pendaftaran Jaminan Fidusia bagi Perusahaan Pembiayaan yang
Melakukan Pembiayaan Konsumen untuk Kendaraan Bermotor.
d) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2015
Tentang Tata Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia Dan Biaya
Pembuatan Akta Jaminan Fidusia (Munir Fuady,2002:164-165).
e) Peraturan Kapolri Nomor 8 Tahun 2011 tentang Pengamanan
Eksekusi Jaminan Fidusia.
f) Perjanjian Pembiayaan Konsumen pada Lembaga Pembiayaan
Konsumen itu sendiri.
46
c. Pihak dalam Pembiayaan Konsumen
Pihak dalam Pembiayaan Konsumen itu terdiri dari:
1) Perusahaan Pembiayaan Konsumen
Perusahaan Pembiayaan Konsumen adalah badan usaha yang
berbentuk PT atau Koperasi yang melakukan kegiatan pembiayaan
untuk pengadaan barang berdasarkan kebutuhan konsumen dengan
sistem pembayar angsuran atau berkala oleh konsumen. Perusahaan
tersebut
menyediakan
jasa
kepada
konsumen
dalam
bentuk
pembayaran harga barang secara tunai kepada Pemasok (Supplier).
Antara perusahan dan konsumen harus ada lebih dahulu kontrak
Pembiayaan Konsumen yang sifatnya memberi kredit. Perusahaan
wajib menyediakan kredit sejumlah uang kepada konsumen sebagai
harga barang yang dibelinya dari pemasok, sedangkan pihak
konsumen wajib membayar kembali kredit secara angsuran kepada
Perusahaan tersebut (Abdulkadir M. dan Rilda M., 2000 : 247-248).
Faktor
yang mempengaruhi pembayaran angsuran
yang
diberikan oleh Perusahaan Pembiayaan Konsumen adalah:
a) Tingkat suku bunga yang dikenakan yang mana penentuannya atas
dasar tingkat bunga di pasaran dan hasil analisis dan evaluasi atas
debitor. Faktanya, tingkat bunga dikenakan oleh kreditor bersifat
fixed rated method untuk jangka waktu yang telah disepakati.
Biasanya kreditor akan mengenakan tingkat suku bunga yang tinggi
untuk mengantisipasi fluktuasi bunga.
b) Cara pembayaran yang dilakukan debitor sangat dipengaruhi
perhitungan
umumnya
dalam
transaksi
pembayaran
pembiayaan
yang dilakukan
konsumen.
bervariasi
Pada
bulanan,
triwulan, semesteran sesuai kemampuan debitor.
c) Lama Kontrak akan menentukan besar angsuran yang mana
semakin cepat maka semakin besar bayaran angsuran.
d) Fluktuasi mata uang dapat mempengaruhi dalam perhitungan
transaksi pembiayaan konsumen.
47
e) Harga beli barang sangat berpengaruh terhadap net fasilitas yang
dibiayai kreditor yang akhirnya mempengaruhi pembayaran
angsuran yang dilakukan (Budi Rachmat, 2004 : 191)
2) Konsumen atau Debitor
Konsumen atau Debitor adalah pihak pembeli barang dari
Pemasok atas pembayaran oleh pihak ketiga yaitu Perusahaan
Pembiayaan Konsumen. Konsumen tersebut berstatus perorangan
(individu) dapat pula perusahaan bukan badan hukum. Pihak
konsumen biasanya masyarakat karyawan, buruh, petani yang
berpenghasilan menengah ke bawah yang belum tentu mampu bila
membeli barang kebutuhannnya itu secara tunai.
Dalam hal pemberian kredit, risiko menunggak angsuran oleh
konsumen merupakan hal yang biasa terjadi. Oleh karena itu, pihak
perusahaan konsumen dalam memberikan kredit kepada konsumen
masih memerlukan jaminan terutama jaminan
fidusia atas barang
yang dibeli itu, di samping pengakuan hutang (promissory notes ) dari
pihak konsumen (Abdulkadir M. dan Rilda M., 2000 : 248).
Alasan Debitor menggunakan fasilitas Kredit dari Pembiayaan
Konsumen adalah:
a) Tidak terlalu banyak persyaratan dibandingkan dengan sumber
pembiayaan lainnya.
b) Tidak berorientasi pada jaminan.
c) Tidak
mengganggu
keuangan
konsumen
karena
angsuran
disesuaikan dengan kemampuan konsumen.
d) Proses cepat.
e) Pembayaran angsuran dapat dibayar melalui anggaran rutin
bulanan konsumen dari pendapatan yang diterimanya.
f) Pembayaran angsuran tetap sehingga memudahkan pengaturan
pengelolaan keuangan debitor (Budi Rachmat, 2004 : 188-199).
3) Pemasok (Supplier)
Pemasok adalah pihak penjual barang kepada konsumen atas
48
pembayaran oleh pihak ketiga, yaitu perusahaan pembiayaan
konsumen. Hubungan kontraktual antara pemasok dan konsumen
adalah jual beli bersyarat yang mana pembayaran dilakukan oleh
pihak ketiga atau pembiayaan konsumen. Antara pemasok dan
konsumen terdapat hubungan kontraktual dimana pemasok wajib
menyerahkan barang kepada konsumen dan konsumen wajib
membayar harga barang secara angsuran kepada perusahaan yang
telah melunasi harga barang secara tunai (Abdulkadir M. dan Rilda
M., 2000 : 249).
d. Kedudukan Para Pihak
Ada tiga pihak yang terlibat dalam suatu transaksi pembiayaan
konsumen yaitu pihak perusahaan pembiayaan, pihak konsumen dan
pihak supplier. Hubungan satu sama linnya dapat dilihat dalam diagram
berikut ini:
Perusahaan Pembiayaan
Konsumen (Kreditor)
Supplier
(Harga Barang)
(Perjanjian Pembiayaan)
(Perjanjian
Jual Beli)
Konsumen
(Debitor)
(Penyerahan Barang)
Bagan I.
Para Pihak dalam Pembiayaan Kosumen
1) Hubungan Pihak Kreditor dengan Konsumen
Hubungan antara
pihak kreditor dengan konsumen adalah
hubungan kontraktual dalam hal ini kontrak pembiayaan konsumen.
Dimana pihak pemberi biaya sebagai kreditor dan pihak penerima
biaya (konsumen) sebagai debitor. Pihak pemberi biaya berkewajiban
49
utama untuk memberi sejumlah uang untuk pembelian suatu barang
konsumsi,
sementara
pihak
penerima
biaya
(konsumen)
berkewajiaban utama untuk membayar kembali uang tersebut secara
cicilan kepada pihak pemberi biaya. Jadi hubungan kontraktual antara
pihak penyedia dana dengan pihak konsumen adalah sejenis perjanjian
kredit (dalam KUH Perdata) berlaku, sementara ketentuan perkreditan
yang diatur dalam peraturan perbankan secara yuridis formal tidak
berlaku berhubung pihak pemberi biaya bukan pihak bank sehingga
tidak tunduk kepada peraturan perbankan.
Konsekuensi yuridis dari perjanjian kredit tersebut, maka
seluruh kontrak ditandatangani, dan dana sudah dicairkan serta barang
sudah diserahkan oleh supplier kepada konsumen, maka barang yang
bersangkutan sudah langsung menjadi miliknya konsumen, walaupun
kemudian biasanya barang tersebut dijadikan jaminan hutang lewat
perjanjian fidusia.
2) Hubungan Pihak Konsumen dengan Supplier
Pihak konsumen dengan pihak supplier terdapat suatu hubungan
jual beli, dalam hal ini jual beli bersyarat, dimana pihak supplier
selaku penjual menjual barang kepada pihak konsumen selaku
pembeli, dengan syarat bahwa harga akan dibayar oleh pihak ketiga
yaitu pihak pemberi biaya. Syarat tersebut mempunyai arti bahwa
apabila karena alasan apapun pihak pemberi biaya tidak dapat
menyediakan dananya, maka jual beli antara pihak supplier dengan
pihak konsumen sebagai pembeli akan batal.Karena adanya perjanjian
jual beli, maka seluruh ketentuan tentang jual beli yang relevan akan
berlaku. Misalnya tentang adanya kewajiban “menanggung” dari
pihak penjual, kewajiban purna jual “garansi”,dan sebagainya.
3) Hubungan Penyedia Dana dengan Supplier
Pihak penyedia dana (pemberi biaya) dengan pihak supplier
(penyedia barang) tidak mempunyai suatu hubungan hukum yang
khusus, kecuali pihak penyedia dana hanya pihak ketiga yang
50
disyaratkan yaitu disyaratkan untuk menyediakan dana untuk
digunakan dalam perjanjian jual beli antara pihak supplier dengan
pihak konsumen(Munir Fuady, 2002 : 165-167).
Oleh karena itu jika pihak penyedia dana atau pihak ketiga yang
disyaratkan melakukan wanprestasi, padahal kontrak jual beli dan
kontrak pembiayaan konsumen telah selesai dilaksanakan,maka jual
beli bersyarat antara pihak supplier dengan konsumen akan batal oleh
pemasok dan pihak konsumen dan pemasok dapat menggugat pihak
pemberi dana atau pihak ketiga berdasarkan wanprestasi (Abdulkadir
M. dan Rilda M., 2000 : 249).
e. Jaminan dalam Pembiayaan Konsumen
Jaminan-jaminan yang diberikan dalam transaksi pembiayaan
konsumen ini pada prinsipnya serupa dengan jaminan terhadap perjanjian
kredit bank biasa, khususnya kredit konsumsi. Berikut ini adalah
pembagian jenis jaminan:
1) Jaminan Utama
Dikarenakan sebagai suatu kredit, maka jaminan pokoknya
adalah kepercayaan dari debitor (konsumen) bahwa pihak konsumen
dapat dipercaya kepada debitor (konsumen) bahwa pihak konsumen
dapat dipercaya dan sanggup membayar hutang-hutangnya. Jadi
disini, prinsip pemberian kredit berlaku. Misalnya prinsip 5C
(Collateral, Capacity, Character, Capital, Condition of Economy)
2) Jaminan Pokok
Dikarenakan
sebagai
jaminan
pokok
terhadap
transaksi
pembiayaan konsumen adalah barang yang dibeli dengan dana
tersebut. Jika dana tersebut diberikan misalnya untuk beli mobil, maka
mobil yang bersangkutan menjadi jaminan pokoknya. Biasanya
jaminan tersebut dibentuk dalam bentuk Fiduciary Transfer Of
Ownership (fidusia), karena adanya fidusia ini, maka biasanya seluruh
dokumen
yang berkenaan
dengan
kepemilikan
barang
yang
51
bersangkutan akan dipegang oleh pihak kreditor (pemberi dana)
hingga lunas.
3) Jaminan Tambahan
Sering juga dimintakan jaminan tambahan terhadap transaksi
pembiayaan konsumen ini, walaupun tidak seketat jaminan untuk
pemberian kredit bank. Biasanya jaminan tambahan terhadap transaksi
seperti ini berupa pengakuan hutang (Promissory Notes) atau
Assignment of Proceed (cessie) dari asuransi. Disamping itu, sering
juga dimintakan persetujuan istri/suami untuk konsumsi pribadi dan
persetujuan komisaris (RUPS) untuk konsumsi perusahaan sesuai
dengan anggaran dasarnya (Munir Fuady, 2002 : 168).
f. Pembayaran Angsuran
Sesuai dengan Perjanjian Pembiayaan Konsumen dan Perjanjian
Jual Beli yang telah dilaksanakan, pihak konsumen membayar harga
barang kepada Perusahaan Pembiayaan Konsumen secara angsuran
sampai lunas. Sebelum pembayaran lunas, semua dokumen kepemilikan
atas barang diserahkan kepada dan dikuasai oleh Perusahaan Pembiayaan
Konsumen sebagai jaminan secara fidusia. Apabila konsumen melakukan
wanprestasi dalam arti tidak mampu lagi membayar, maka Perusahaan
Pembiayaan Konsumen berdasarkan Kuasa Untuk Menjual dapat
melakukan penjualan barang guna menutup hutang konsumen yang
belum dilunasi (Abdulkadir M. dan Rilda M., 2000 : 254).
Faktanya terdapat beberapa kelompok dokumentasi yang sering
diperlakukan dalam praktek pembiayaan konsumen, yang dapat
digolongkan dalam:
1) Dokumen Pendahuluan
Berikut ini yang termasuk dokumen pendahuluan,termasuk
misalnya:
a) Credit Application Form
b) Surveyor Report
c) Creditor Approval Memorandum
52
2) Dokumen Pokok
Berikut ini yang termasuk dalam dokumen pokok adalah
perjanjian pembiayaan konsumen itu sendiri. Perjanjian mana
mempunyai terms and conditions yang mirip dengan kredit konsumsi
dari perbankan.
3) Dokumen Jaminan
Berikut ini termasuk dalam dokumen jaminan termasuk antara
lain perjanjian fidusia, cessie asuransi, kuasa menjual (dan kuitansi
kosong yang ditandatangani oleh konsumen) dan Pengakuan Hutang,
persetujuan istri / suami atau persetujuan komisaris / Rapat Umum
Pemegang Saham (RUPS).
4) Dokumen Kepemilikan Barang
Berikut ini yang termasuk dalam dokumen kepemilikan barang,
yang biasanya berupa BPKB, fotocopy STNK dan/atau faktur-faktur
pembelian, kuitansi pembelian, sertifikat kepemilikan.
5) Dokumen Pemesanan dan Penyerahan Barang
Dalam hal dokumen pemesanan dan penyerahan barang,
biasanya diberikan Certificate of Delivery and AccePTance, Delivery
Order, dan lain-lain.
6) Dokumen Pendukung (Supporting documents)
Berikut ini yang termasuk supporting documents berisikan
dokumen-dokumen pendukung lain-lain, yang untuk konsumen
individu misalnya:
a) Fotocopy KTP
b) Fotocopy kartu keluarga (KK)
c) Pas Foto
d) Daftar gaji
Sementara untuk konsumen yang merupakan suatu perusahaan
dokumen pendukungnya adalah:
a) Anggaran dasar perusahaan beserta seluruh perubahan dan
tambahannya
53
b) Fotocopy KTP yang diberi hak untuk menandatangani
c) NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak)
d) SIUP ( Surat Izin Usaha Perdagangan)
e) TDP (Tanda Daftar Perusahaan)
f) Bank Statements
Faktanya biasanya sangat bertentangan dengan hal tersebut,
dokumen-dokumen apa saja yang diperlukan sebenarnya sangat
bervariasi, bergantung kepada jenis barang yang dibiayai dan
juga
kepercayaan kreditor terhadap konsumennya (Munir Fuady, 2002 : 169170).
g. Mekanisme Pembiayaan Konsumen
Mekanisme transaksi pembiayaan konsumen hampir sama
dengan sewa guna usaha. Adapun mekanime pembiayaan konsumen
yaitu:
1) Tahap permohonan
Sebelum mengajukan permohonan untuk mendapatkan fasilitas
pembiayaan konsumen debitor lebih dahulu melampirkan dokumen
pendukung yang mana permohonan pembiayaan konsumen biasanya
dilakukan debitor di tempat supplier penyedia barang kebutuhan
konsumen yang telah bekerja sama dengan perusahaan pembiayaan
konsumen
2) Tahap pengecekan dan pemeriksaan lapangan
Marketing department akan melakukan pengecekan atas
kebenaran dari pengisian formulir aplikasi dengan melakukan analisis
dan evaluasi terhadap data dan informasi yang telah diterima yang
dilanjutkan dengan kunjungan,pengecekan, dan observasi secara
umum.
3) Tahap pembuatan Costomer Profil
Berdasarkan pemeriksaan lapangan, Marketing department akan
membuat Customer Profil yang isinya menggambarkan tentang:
a) Nama
54
b) Alamat
c) Nomor telepon
d) Nomor KTP
e) Pekerjaan
f) Alamat kantor
g) Kondisi pembiayaan yang diajukan
h) Jenis dan tipe barang kebutuhan konsumen
i) Data lain yang mendukung
j) Tahap pengajuan proposal kepada kredit komite
Marketing department akan mengajukan proposal terhadap
permohonan yang diajukan oleh debitor kepada Kredit Komite.
Proposal yang diajukan biasanya terdiri dari tujuan pemberian fasilitas
pembiayaan konsumen, latar belakang kreditor, analisis risiko, saran
dan kesimpulan serta struktur fasilitas pembiayaan yang mencangkup
harga barang, uang muka, bunga, jangka waktu, tipe, jenis barang.
4) Keputusan kredit komite
Keputusan ini merupakan dasar bagi kreditor untuk melakukan
pembiayaan atau tidak. Apabila ditolak maka harus diberitahukan
melalui surat penolakan namun apabila disetujui maka Marketing
department akan meneruskan ketahap selanjutnya.
5) Tahap pengikatan
Berdasarkan keputusan kredit komite maka bagian legal akan
mempersiapkan pengikatan kontrak perjanjian pembiayaan konsumen.
6) Tahap pemesanan barang kebutuhan konsumen
Setelah proses penandatanganan perjanjian dilakukan oleh
debitor dan kreditor maka akan dilakukan pemesanan barang kepada
Supplier
7) Tahap pembayaran pada Supplier
Setelah barang diserahkan oleh Supplier kepada debitor maka
selanjutnya Supplier akan melakukan penagihan kepada kreditor
dengan lampiran kuitansi penuh, kuitansi uang muka, bukti
55
pengiriman, surat pernyataan BPKB, dan lampiran lain yang
dibutuhkan.
8) Tahap penagihan/ Monitoring pembayaran
Monitoring yang dilakukan kreditor tidak hanya sebatas
monitoring pembayaran angsuran dari debitor, kreditor juga
melakukan monitoringterhadap jaminan, jangka waktu berlakunya
jaminan dan masa berlaku penutupan asuransi.
9) Pengambilan Surat Jaminan
Apabila seluruh kewajiban debitor telah dilunasi, maka kreditor
akan mengembalikan jaminan berupa BPKB dan dokumen lain bila
ada (Budi Rachmat, 2004 : 192-195).
h. Bentuk dan Substansi Perjanjian Pembiayaan
Pada umumnya
sebuah kontrak haruslah memperhatikan
struktur dan anatomi kontrak yang di buat. Adapun anatomi kontrak
secara umum menurut Ray Wujaya (Salim H.S. dkk, 2008 : 96) yaitu:
1) Judul (heading)
2) Pembukaaan
3) Komparisasi (para pihak)
4) Premis (recital)
5) Isi perjanjian
6) Penutup
7) Tandatangan
Berbeda
halnya
dengan
anatomi
sebuah
kontrak
yang
berdimensi nasional. Berdasarkan hasil analisis terhadap berbagai
kontrak yang dibuat oleh pihak yang mengacu pada dimensi kontrak
nasional, maka anatominya adalah sebagai berikut (Salim H.S. dkk, 2008
: 98):
1) Judul Kontrak
2) Pembukaan kontrak
3) Komparisi
56
4) Resital (konsiderans atau pertimbangan)
5) Definisi
6) Pengaturan hak dan kewajiban
7) Domisili
8) Keadaan memaksa
9) Kelalaian dan pengakhiran kontrak pola penyelesaian sengketa
10) Penutup
11) Tanda tangan
Begitupula dengan anatomi yang dimiliki oleh perusahaan
pembiayaan pasti memiliki anatomi sendiri dengan perjanjiannya. Pada
umumnya Perusahaan pembiayaan yang menyodorkan kontrak baku
kepada
debitor/penerima
fasilitas/konsumen,
maka
para
tinggal
menyetujui atau tidak kontrak tersebut. Bentuk kontraknya adalah tertulis.
Sementara isi kontrak ditentukan secara sepihak oleh perusahaan
pembiayan (Salim H.S., 2008 : 139-140)
Berdasarkan
hasil
kajian
terhadap
subtansi
perjanjian
pembiayaan yang disiapkan oleh perusahaan pembiayaan, maka dapat
diketahui bahwa substansi kontraknya sangat singkat. Adapun struktur
kontraknya secara umum dalam perusahaan pembiayaan meliputi (Salim
H.S., 2008 : 139-140):
1) Judul Kontrak
2) Komparisi
3) Substansi
4) Penutup
57
B. KERANGKA PEMIKIRAN
Perjanjian innominaat atau
Perjanjian tidak bernama
K
R
E
D
I
T
O
R
D
E
B
I
T
O
R
Perjanjian Pembiayaan Konsumen PT
Summit Oto Finance
Bentuk Perjanjian Baku untuk pengadaan
barang berupa kendaraan bermotor dengan
sistem kredit
Terdapat
klausul yang
bertentangan
dengan
peraturan
perundangundangan
Dokumen Ditandatangani
Para Pihak
Perjanjian Mengikat Para Pihak
Perlindungan Hukum dalam Kitab UndangUndang Hukum Perdata
A Asas Kebebasan
Asas Keadilan
Berkontrak
Bagan II.
Kerangka Pemikiran
Keterangan :
Alur berfikir sebagaimana kerangka di atas akan memberikan
58
gambaran yang disusun secara sistematis oleh Penulis. Sehingga dapat
berguna untuk menjawab perumusan masalah yang telah dipaparkan dimuka.
Pemaparan akan dimulai dari bahasan umum mengenai perjanjian yang mana
salah satu bentuk perjanjian adalah perjanjian innominaat atau perjanjian
tidak bernama. Salah satu contohnya adalah perjanjian pembiayaan
konsumen. Di sini penulis mengambil contoh perjanjian pembiayaan
konsumen pada PT Summit Oto Finance yang mana bentuknya biasanya
sudah berbentuk perjanjian yang tertulis yang telah dibakukan oleh lembaga
pembiayaan tersebut.
Bentuk perjanjiannya adalah perjanjian tertulis, dikarenakan lebih
mudah dijadikan sebagai alat bukti terjadinya sebuah perjanjian. Di dalam
perjanjian pembiayaan tersebut sudah berbentuk perjanjian baku, sehingga
kreditor tinggal membubuhkan tandatangan bila menyetujui perjanjian
tersebut.
Setelah dikaji lebih mendalam, ternyata terdapat beberapa klasul yang
memang menurut Penulis bertentangan dengan Peraturan PerundangUndangan. Selain itu dalam klausul tersebut menurut Penulis lebih banyak
memberikan keuntungan bagi pihak Kreditor. Sedangkan pihak debitor di sini
selaku pihak yang merasa dirugikan. Alasan pengefektifanlah yang selalu
menjadi alasan bagi pelaku usaha dalam menerapkan perjanjian baku yang
tidak banyak memberikan perlindungan hukum bagi pihak Debitor.
Sehingga menarik untuk dikaji dalam penulisan ini mengenai bentuk
perlindungan apa saja yang diberikan di dalam Kitab Undang-Undang
Hukum Perdata dalam melindungi Debitor dalam sebuah perjanjian
khususnya perjanjian Pembiayaan Konsumen pada PT Summit Oto Finance
tersebut terhadap debitor yang telah mengikatkan diri dengan perjanjian
tersebut. Bentuk perlindungan hukum kepada debitor yang telah tunduk
dalam suatu perjanjian pembiayaan konsumen tersebut dapat pula di lihat dari
penerapan terhadap asas kebebasan berkontrak dan asas keadilan apakah
dalam pelaksanaannya telah sesuai dengan teori atau tidak.
Download