PRODUKSI BIOETANOL DARI SELULOSA ALGA

advertisement
1
PRODUKSI BIOETANOL DARI SELULOSA ALGA MERAH DENGAN SISTEM FERMENTASI SIMULTAN
MENGGUNAKAN BAKTERI Clostridium acetobutylicum
Bioethanol Production From Red Algae Cellulose By Simultaneous Fermentation system
Using Clostridium acetobutylicum
Anita purnama sari, Ahyar Ahmad, Hanapi Usman
[email protected]
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk membuat bioetanol dari selulosa alga merah dan mengetahui nilai konversi
selulosa dari Alga merah sebagai bahan untuk produksi bioetanol melalui proses sakarifikasi dan fermentasi
secara simultan dengan menggunakan bakteri Clostridium acetobutylicum. Optimasi fermentasi dilakukan
dengan cara memvariasikan pH dan waktu fermentasi. Pada penelitian ini digunakan selulosa dari Alga merah
jenis Gracillaria verrucosa dan Eucheuma cottonii yang difermentasi dengan menggunakan metode
sakarifikasi dan fermentasi secara simultan. Selama fermentasi, proses hidrolisis selulosa menjadi glukosa
dan selanjutnya menjadi bioetanol berlangsung secara serempak menggunakan bakteri Clostridium
acetobutylicum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimum fermentasi diperoleh pada pH 6,0
dengan waktu fermentasi 10 hari. Nilai konversi selulosa alga merah adalah setiap 1 kilogram selulosa
Gracillaria verrucosa menghasilkan 21,56 % bioetanol dengan kemurnian 17,04% dan satu kilogram
Eucheuma cottonii menghasilkan 18,40% bioetanol dengan kemurnian 8,42%
Kata Kunci : selulosa, alga merah fermentasi simultan
Abstract
This research aimed to produce bioethanol from red algae cellulose and to investigate a conversion value of
cellulose of red algae as the material for bioethanol production through the processes of the simultaneous
sacharification and fermentation by using Clostridium acetobutylicum. The optimalisation of fermentation with
variation of pH and fermentation time.
In this research, cellulose from red algae Gracillaria verrucosa, Eucheuma cottonii which fermented
using Simultaneous Saccharification and fermentation methode. The cellulose hydrolisis process become
glucose and then become bioethanol simultaneously using Clostridium acetobutylicum.
The result show that the optimum conditions of the fermentation obtained on the pH 6,0 in 10 days of
fermentation time. The conversion value of cellulose from red algae. In every kilogram cellulose Gracillaria
verrucosa of its powder can produce 21,56% bioethanol with the purity level 17,04% and in every kilogram
cellulose Eucheuma cottonii of its powder can produce 18,40% of bioethanol with the purity level 8,42%.
Keywords : cellulose, red algae, simultaneous fermentation
PENDAHULUAN
Kebutuhan energi fosil seperti bensin atau solar kian hari kian meningkat. Hal ini menjelaskan bahwa
kebutuhan energi masih tergantung pada ketersediaan energi fosil ini padahal ketersediaan energi fosil
berbanding terbalik dengan kebutuhannya karena sifat energi fosil yang tidak terbarukan (shofnita, 2011).
Persediaan minyak bumi dan batu bara sangat terbatas dan memerlukan waktu jutaan tahun untuk
kembali terbentuk, selain itu bahan bakar yang berasal dari minyak bumi dan batu bara menghasilkan polusi
yang berakibat pada pemanasan global, oleh karena itu diperlukan suatu energi terbarukan dan merupakan
energi yang ramah lingkungan sehingga dapat mengatasi permasalahan energi dan pemanasan global
Alga laut merupakan salah satu sumber energi yang terbarukan. Alga laut dapat dimanfaatkan sebagai
bahan baku pembuatan bioetanol. Potensi pengembangan bioetanol alga laut lebih besar dibandingkan
dengan pengembangan bioetanol berbahan baku tebu.
Bioetanol merupakan produk fermentasi yang dapat dibuat dari substrat yang mengandung
karbohidrat (gula, pati, atau selulosa). Etanol adalah salah satu senyawa alkohol dengan rumus kimia C2H5OH
2
yang berupa cairan, tidak berwarna, jernih mudah menguap, memiliki bau yang sangat halus dan rasa yang
pedas.
Sifat fisika dari etanol adalah bersifat polar disebabkan karena gugus hidroksil (ROH). Seperti air
etanol dapat membentuk ikatan hidrogen. Karena adanya ikatan hidrogen ini maka etanol memiliki titik didih
yang lebih tinggi dari senyawa lain yang memiliki berat formula yang sama. Etanol juga memiliki nilai pH
sebagai asam lemah. Etanol mudah menguap meskipun pada suhu rendah, mudah terbakar dan mendidih
pada suhu 78oC (Triwisari DA. Dkk, 2009)
Selulosa merupakan polisakarida melimpah di bumi yang dapat diubah menjadi glukosa dengan cara
hidrolisis (Groggins dalam Sari 2009). Teknologi produksi bioetanol dalam proses hidrolisis biasanya
dilakukan dengan metode konvensional yaitu dengan menggunakan asam. Namun metode ini tidak ramah
lingkungan karena dapat menimbulkan korosif disamping bahan kimia tersebut harganya relatif mahal.
Pengembangan teknologi bioproses dengan menggunakan enzim pada proses hidrolisisnya
merupakan suatu proses yang lebih ramah lingkungan. Pada penelitian ini menggunakan bakteri selulolitik
untuk memproduksi enzim guna menghidrolisis selulosa menjadi glukosa. Bakteri yang digunakan adalah jenis
Clostridium dimana bakteri ini merupakan jenis bakteri yang dapat menghasilkan enzim selulase untuk
menghidrolisis selulosa menjadi glukosa ( Balusu et al, 2004; Demain et al, 2005; Riyanti, 2009).
Beberapa penelitian yang menggunakan bakteri jenis Clostridium untuk produksi beberapa pelarut
antara lain : Ezeji T., et al (2006) memproduksi aseton, butanol dan etanol dari tepung jagung dengan kadar
14,28 g/L. Claasen et al ( 2000) memproduksi aseton, butanol dan etanol dari tepung jagung dengan kadar
14,28 g/L. dengan bakteri Clostidium dengan kadar 9,3 g/L. Napoli, et al (tanpa tahun) memproduksi etanol
dengan kadar 0,03 g/Lh-1.
METODE PENELITIAN
Bahan-bahan Penelitian
Alga laut Gracillaria verrucos, Eucheuma cottonii, Eucheuma spinosum,
bakteri Clostridium
acetobutylicum, ekstrak ragi, (NH4)2SO4, K2HP04, KH2P04, MgSO4. 7H20, MnSO4, NaCl, CaCl2 anhydrat,
FeS04.7H20, Co(N03)2.6H20, H2O2 30%, etanol absolute, Sistein, Asparagin, Casein, ekstrak daging dan air
suling.
Persiapan Bahan Baku
Alga laut dicuci bersih kemudian dikerinkan lalu di crusher hingga halus
Analisis Lignin Dan Selulosa
Analisis selulosa dan lignin dilakukan dengan metode Chesson (Datta, 1981). Sebanyak 1 g (a) sampel
kering ditambahkan 150 mL akuades, direfluks pada suhu 100 oC dengan water bath selama 1 jam. Hasilnya
disaring, residu dicuci dengan air panas (300 mL). Residu kemudian dikeringkan dengan oven sampai konstan
kemudian ditimbang (b). Residu ditambahkan 150 mL H2SO4 1N kemudian direfluks dengan water bath
o
selama 1 jam pada suhu 100 C. Hasilnya disaring dan dicuci dengan akuades sampai netral (300 mL) lalu
dikeringkan (c). Residu kering ditambahkan 10 mL H2SO4 72% dan direndam pada suhu kamar selama 4 jam.
Ditambahkan 150 mL H2SO4 1 N dan direfluks pada water bath selama 1 jam pada pendingin balik. Residu
disaring dan dicuci dengan akuades sampai netral (400 mL) kemudian dipanaskan dalam oven pada suhu
105 oC dan hasilnya ditimbang sampai bobot tetap (d), selanjutnya residu diabukan dan ditimbang (e).
Perhitungan kadar selulosa dan kadar lignin sebagai berikut:
Kadar selulosa = c - d x 100% ………..(1)
a
Kadar lignin
= d - e x 100% ………..(2)
a
Proses Pretreatment
Percobaan pendahuluan dilakukan dengan proses pretreatment tepung alga laut menggunakan larutan
NaOH 4 % dilakukan dengan cara perendaman selama 24 jam. Residu dan filtrat dipisahkan, lalu dicuci
3
dengan akuades sampai netral kemudian dikeringkan di oven pada suhu 105 0C sampai berat konstan (Seligh
et al, 2009).
Peremajaan bakteri dengan media agar miring
Tabel 1 : Komposisi bahan untuk media agar miring
Bahan
Jumlah (g)
Tauge
5,00
Glukosa
1,00
Bacto agar
1,00
Akuades
50 mL
Pembuatan media agar miring dilakuan dengan cara merebus tauge dengan 50 mL akuades hingga
mendidih setelah itu disaring, kedalam air tauge kemudian ditambahkan glukosa dan bacto agar lalu
dipanaskan sambil diaduk hingga larut. Disiapkan 10 buah tabung reaksi lalu dipipet masing-masing 5 mL
larutan ekstrak dimasukkan kedalam tabung reaksi lalu disumbat dengan kapas dan aluminium foil.
Disterilisasi pada suhu 121 oC selama 15 menit lalu didinginkan dalam keadaan miring (media agar miring).
Biakan murni Clostridium acetobutylicum digoreskan secara zig-zag pada media agar miring dengan
menggunakan ose bulat. Pengerjaan ini dilakukan dalam ent case lalu ditumbuhkan dalam inkubator pada
suhu 37 oC selama 7 hari
selama 15 menit lalu didinginkan dalam keadaan miring (media agar miring). Biakan murni bakteri
Clostridium acetobutylicum digoreskan secara zig-zag pada media agar miring dengan menggunakan ose
Pengerjaan ini dilakukan dalam lemari sterilisasi (ent case) lalu ditumbuhkan dalam incubator pada suhu 37
o
C selama 7 hari.
Pembuatan media fermentasi untuk penentuan kondisi optimum fermentasi
Tabel 2 : Komposisi bahan untuk media fermentasi
Bahan
Tepung alga laut
K2HPO4
KH2PO4
(NH4)2SO4
MgSO4.7H2O
MnSO4
CoCl2.6H2O
FeSO4.7H2O
CaCl2
NaCl
Ekstrak ragi
Asparagin
Sistein
Casein
Ekstrak daging
Media inokulum
3,000
0,112
0,112
0,300
0,003
0,0015
0,0015
0,0015
0,250
0,150
1,500
0,300
0,015
0,150
15 mL
Jumlah (g)
Media fermentasi
3,000
0,112
0,112
0,300
0,003
0,0015
0,0015
0,0015
0,250
0,150
1,500
0,300
0,015
0,150
15 mL
(Lin, Y.Y., and Blaschek, H.P., 1983)
Kedalam beker gelas 250 mL untuk pembuatan media inokulum untuk pembuatan media fermentasi
masing-masing ditambahkan tepung alga laut, dan 100 ml air untuk media inokulum dan media fermentasi,
dipanaskan sambil diaduk hingga membentuk gel. Kedalam gel ditambahkan bahan-bahan diatas, diaduk
hingga larut. Diatur larutan diatur hingga pH 5,0 dengan buffer fospat lalu encerkan hingga 150 mL. Untuk
media fermentasi dibuat sebanyak 8 buah buah Erlenmeyer 250 mL. Erlenmeyer disumbat dengan kapas
dan aluminium foil dan disterilisasi dalam otoklaf selama 15 menit pada suhu 121 oC. Erlenmeyer dipindahkan
4
kedalam ruang steril, ditambahkan stok kultur murni bakteri Clostridium acetobutylicum ditutup kembali
dengan kapas lalu difermentasi pada shaker incubator selama 2 hari untuk media inokulum. Kedalam tiap
Erlenmeyer media fermentasi ditambahkan 15 mL media inokulum lalu difermentasikan dalam shaker
inkubatorselama 2, 4, 6, 8, 10, 12 dan 14 hari dengan kecepatan 150 rpm. Setelah 2 hari salah satu
erlenmeyer pada media fermentasi diambil, disaring lalu didistilasi pada suhu 100 OC hingga diperoleh volume
destilat 10 mL. Dibuat juga perlakuan pH 4,5; 5,0; 5,5; 6,0; dan 6,5 terhadap waktu fermentasi. Untuk produksi
bioetanol dilakukan perlakuan media sesuai dengan kondisi optimum fermentasi yang diperoleh. Didestilasi
pada 78 oC untuk memperoleh bioetanol murni. Destilat dikeringkan dengan Na2SO4 dan dianalisis dengan
kromatografi gas.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penentuan waktu optimum fermentasi.
Data hasil pengaruh waktu fermentasi terhadap kadar bioetanol pada beberapa perlakuan pH 5,0
dapat dilihat pada Tabel 3. Sedang grafik penentuan waktu optimum fermentasi dapat dilihat pada Gambar 1.
Dari grafik dapat diketahui untuk semua perlakuan pH pada hari ke-2 sampai hari ke-6 peningkatan
kadar bioetanol sangat lambat. Pada tahap ini terjadi fase lag yakni fase dimana mikroba masih
menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan sehingga aktivitas mikroba belum optimum. Selama fase ini
massa sel bertambah sangat sedikit tanpa disertai penambahan densitas jumlah sel oleh karena itu laju
pertumbuhan sel bisa saja sama dengan nol. Lama fase lag pada bakteri sangat bervariasi, tergantung pada
komposisi media, pH, suhu, aerasi, jumlah sel pada inokulum awal dan sifat fisiologis mikroorganisme pada
media sebelumnya. Ketika sel telah menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru maka sel mulai
membelah hingga mencapai populasi yang maksimum. Fase ini disebut fase logaritma atau fase
eksponensial. Fase eksponensial ditandai dengan terjadinya periode pertumbuhan yang cepat. Setiap sel
dalam populasi membelah menjadi dua sel. Variasi derajat pertumbuhan bakteri pada fase eksponensial ini
sangat dipengaruhi oleh sifat genetik yang diturunkannya. Selain itu, derajat pertumbuhan juga dipengaruhi
oleh kadar nutrien dalam media, suhu inkubasi, kondisi pH dan aerasi. Pada penelitian ini fase ini terjadi pada
hari ke-8 dan kari ke-10 yang ditandai dengan peningkatan kadar bioetanol. Pada hari ke-8 dan ke-10 mulai
terjadi reproduksi seluler, dimana perlahan-lahan konsentrasi biomassa meningkat disertai dengan
penambahan jumlah sel. Pada saat ini laju pertumbuhan atau reproduksi seluler mencapai titik maksimum,
maka terjadi pertumbuhan secara ekponensial. Selama fase ekponensial, laju pertumbuhan sel meningkat
sebanding dengan konsentrasi sel pada saat itu.
Pada hari ke-12, bakteri mengalami fase stasioner yang menunjukkan bakteri sudah tidak bekerja lagi secara
optimal. Fase stasioner terjadi pada saat laju pertumbuhan bakteri sama dengan laju kematiannya, sehingga
jumlah bakteri keseluruhan tetap.
Tabel 3 : Pengaruh waktu terhadap kadar bioetanol
Alga laut
G.verrucosa
E.cottonii
Hari
ke2
4
6
8
10
12
14
2
4
6
8
10
12
14
Indeks Bias
1,3314
1,3318
1,3321
1,3325
1,3331
1,3319
1,3316
1,3312
1,3316
1,3320
1,3325
1,3333
1,3323
1,3319
Kadar bioetanol (%)
1,59
2,80
3,46
4,35
6,45
3,02
2,30
1,46
2,35
3,24
4,35
6,13
3,91
3,02
5
Kadar Etanol (%)
Keseimbangan jumlah keseluruhan bakteri ini terjadi karena adanya pengurangan derajat pembelahan sel.
Fase tersebut disebabkan kadar glukosa dan nutrien yang semakin berkurang, terjadi
akumulasi
produk
toksik
sehingga mengganggu pembelahan sel, serta terjadinya produk samping dari fermentasi yang tidak
terkait dengan pertumbuhan dan produktivitas bakteri, sehingga pada hari enzim yang dihasilkan semakin
berkurang dan kadar bioetanol yang kecil.
7
6.5
6
5.5
5
4.5
4
3.5
3
2.5
2
1.5
1
6.45
4.35
3.46
3.02
2.81
2.35
1.59
0
2
4
6
8
10
Waktu fermentasi (hari)
12
14
16
Kadar etanol (%)
Gambar 1. Grafik penentuan waktu optimum fermentasi alga laut Gracillaria verrucosa pada pH 5,0
6.5
6
5.5
5
4.5
4
3.5
3
2.5
2
1.5
1
6.13
4.35
3.91
3.24
3.02
2.35
1.466
0
2
4
6
8
10
12
14
16
Waktu fermentasi (Hari)
Gambar 2. Grafik penentuan waktu optimum fermentasi alga laut Eucheuma cottonii pada pH 5,0
Jika dilihat dari waktu inkubasinya, pada hari ke-14 konsentrasi bioetanol yang dihasilkan sudah turun
dan cenderung konstan. Pada tahap ini bakteri telah mengalami fase kematian yang ditandai dengan
peningkatan laju kematian yang melampaui laju pertumbuhan, sehingga secara keseluruhan terjadi penurunan
populasi bakteri. Hal ini terjadi pada semua variasi waktu, sehingga dapat dikatakan bahwa waktu optimum
dari kinerja bakteri Clostridium acetobutylicum pada proses fermentasi bioetanol dengan bahan alga laut
adalah 10 hari.
a. Penentuan pH Optimum Fermentasi
Pada penelitian ini divariasikan kondisi pH yaitu sebesar 4,5 – 6,5. Derajat keasaman yang diinginkan
diperoleh dengan menambahkan buffer asetat dan buffer posfat, Penambahan buffer disini dimaksudkan agar
6
kondisi pH sesuai dengan besaran pH yang diinginkan. Hasil yang diperoleh dengan perlakuan variasi pH dan
waktu terhadap kadar bioetanol dapat dilihat pada Tabel 4.
Sedang grafik perlakuan pH dan waktu terhadap kadar bioetanol dapat dilihat pada gambar 2. Dari
gambar diketahui bahwa konsentrasi bioetanol paling tinggi dihasilkan pada perlakuan pH 6,0 yaitu sebesar
7,68 % untuk G. verrucosa, 7,24% untuk E.cottonii dan 7,02% untuk E.spinosum sedangkan untuk pH 5,0 –
5,5 menghasilkan kadar bioetanol yang lebih rendah yaitu sebesar 6 % sampai 1,91 %.
Tabel. 4: Pengaruh pH fermentasi tehadap kadar bioetanol
Alga
pH
Indeks Bias
Laut
4,0
1,3317
4,5
1,3319
5,0
1,3331
G. verrucosa
5,5
1,3335
6,0
1,3340
6,5
1,3325
4,0
4,5
5,0
5,5
6,0
6,5
Kadar etanol (%)
E. cottonii
8
7.5
7
6.5
6
5.5
5
4.5
4
3.5
3
2.5
2
Kadar Bioetanol
(%)
2,52
3,02
5,68
6,57
7,68
4,35
1,3314
1,3316
1,3333
1,3335
1,3338
1,3330
1,91
2,35
3,91
6,57
7,24
5,46
7.68
6.57
5.68
4.35
3.02
2.57
4
4.5
5
5.5
6
6.5
7
pH
Gambar 3. Grafik penentuan pH optimum fermentasi alga laut Gracillaria verrucosa pada waktu fermentasi
10 hari
Kadar etanol (%)
7
7.5
7
6.5
6
5.5
5
4.5
4
3.5
3
2.5
2
1.5
1
7.02
6.8
6.57
5.24
3.24
1.911
4
4.5
5
5.5
6
6.5
7
pH
Gambar 4. Grafik penentuan pH optimum fermentasi alga laut Eucheuma cottonii pada waktu fermentasi 10
hari
Begitu pula dengan pH 6,5 juga menghasilkan kadar bioetanol yang rendah yaitu sebesar 4 – 5%.
Perubahan pH bisa terjadi karena fermentasi tidak hanya menghasilkan etanol tetapi juga menghasilkan
senyawa-senyawa lain seperti asam asetat, asam butirat dan asam formiat. Asam asetat dapat dihasilkan oleh
kontaminan yang hidup bersama bakteri yaitu acetobacter. Lactobacillus juga dapat ikut mengkontaminasi dan
mengubah glukosa menjadi asam laktat sehingga mengurangi yield etanol dan menghambat pertumbuhan
mikroba. Namun ada juga kemungkinan glukosa yang telah terhidrolisis telah habis terfermentasi menjadi
produk lain karena sudah tidak ada lagi monosakarida yang dihasilkan dari hidrolisis polisakarida. Hal ini bisa
disebabkan oleh inhibitor-inhibitor yang ada sdalam biomassa antara lain lignin, asam lemah, turunan
senyawa fenolik.
Tinggi rendahnya kadar bioetanol pada proses fermentasi dapat disebabkan oleh aktifitas enzim
yang dihasilkan oleh bakteri. Aktivitas enzim dipengaruhi oleh pH, karena sifat ionik gugus karboksil dan
gugus amino mudah dipengaruhi oleh pH. Perubahan pH atau pH yang tidak sesuai akan menyebabkan
daerah katalitik dan konformasi enzim berubah. Selain itu perubahan pH juga menyebabkan denaturasi enzim
serta mengakibatkan hilangnya aktivitas enzim (Meryandini, et al, 2009). Bakteri Clostridium acetobutylicum
dapat berkembang dengan baik pada pH 6,0 oleh karena itu konsentrasi bioetanol yang dihasilkan lebih tinggi
dari perlakuan pH yang lain.
Penentuan kadar bioetanol
Setelah di destilasi diperoleh bioetanol sebanyak 12,5 mL untuk jenis Gracillaria verrucosa dan 10 mL
untuk Eucheuma cottonii Kemudian setelah dikeringkan dengan silika gel dan CaCO3 diperoleh bioetanol
sebanyak 8,2 mL untuk Gracillaria verrucosa dan 7,0 mL untuk Eucheuma cottonii.
8
Gambar 5 . Data analisis sampel bioetanol Gracillaria verrucosa dengan GC 2010 sebelum pemurnian
9
Gambar 6 . Data analisis sampel bioetanol E. cottonii dengan GC 2010 sebelum pemurnian
Untuk menentukan kadar sampel dengan alat GC dilakukan dengan cara membandingkan luas area
antara larutan standar dengan luas area sampel. Penunjukan area pada alat ini sebagai berikut:
Area standar etanol absolut
= 226873158
Area bioetanol Gracillaria verrucosa = 8554183
Area bioetanol Eucheuma cottoni = 3479942
Kadar etanol yang diperoleh untuk
a. G.verrucosa =
100% = 3,77 %
b. E.cottonii
=
100%
= 1,533%
Kadar bioetanol yang diperoleh sangat rendah, hal ini dimungkinkan karena bioetanol yang diperoleh
masih belum murni karena masih adanya zat pengotor atau masih mengandung air. Pengotor ini dapat
disebabkan oleh adanya produk samping yang terbentuk berupa asam asetat atau asam organik lain yang
terbentuk dari etanol yang mengalami reaksi lebih lanjut, bisa juga oleh injektor yang tidak bersih
10
Gambar 7. Data analisis sampel bioetanol Gracilaria verrucosa dengan GC 2010 setelah pemurnian
Setelah pemurnian dengan silika gel dan CaCO3 kadar bioetanol yang diperoleh meningkat menjadi
17,04%
11
Gambar 8 . Data analisis sampel bioetanol Eucheuma cottonii dengan GC 2010 setelah pemurnian
Setelah pemurnian dengan silika gel dan CaCO3 kadar bioetanol yang diperoleh meningkat menjadi 8,42%
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Kondisi optimum fermentasi bioetanol dari Gracillaria verrucosa, Eucheuma cottonii dan Eucheuma
spinosum dengan menggunakan bakteri clostridium acetobutylicum adalah pada pH 6,0 dengan waktu
fermentasi 10 hari
2. Bioetanol paling banyak dihasilkan oleh alga laut jenis Gracillaria verrucosa.
3. Nilai konversi alga laut Gracillaria verrucosa adalah setiap satu kilogram selulosa menghasilkan 215,63
gram bioetanol dengan kemurnian 17,04% dan untuk satu kilogram jenis alga laut Eucheuma cottonii
menghasilkan bioetanol sebanyak 184,09 gram dengan kemurnian 8,42%
Saran
1.
2.
Masih dibutuhkan penelitian yang lebih lanjut tentang metode penghilangan lignin dari alga laut agar
diperoleh selulosa yang benar-benar murni
Masih diperlukan penelitian yang lebih lanjut tentang metode pemurnian bioetanol yang diperoleh agar
hasil lebih maksimal.
DAFTAR PUSTAKA
Anindyawati, T. 2009. Prospek Enzim dan Limbah Lignoselulosa untuk Produksi Bioetanol. Pusat Penelitian
Bioteknologi – LIPI. Bandung.
12
Anggadiredja, J., Irawati, S. dan Kusmiyati. 2006. Rumputn Laut :Pembudidayaan Pengolahan, dan
Pemasaran Komoditas perikanan Potensial. Jakarta : Penebar Swadaya
Arora S.P. 1989. Pencernaan Mikroba Pada Ruminansia. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Aslan, L. M. 1998. Budidaya Rumput Laut. Yogyakarta : Kanisius
Atmadja. 2007. Apa Rumput Laut Sebenarnya?, Semarang : Divisi Penelitian dan Pengembangan Alga Laut
UNDIP, www. algalaut.org. Diakses pada 2 September 2010
Dale, M. C. Tanpa tahun. Enzymatic Simultaneous Saccharification And Fermentation (SSF) OF Biomass To
Ethanol In A Pilot 130 Liter Multistage Continuous Reactor Separator (http://www.
nrbp.org/papers/049.pdf, diakses 6 November 2009).
Datta, R. 1981. Acidogenic fermentation of lignocellulose-acid yield and conversion of components.
Biotechnology and Bioengineering 23 (9): 2167-2170.
Demain, A.L., Newcomb, M. and Wu, J. H. D. 2005. Cellulase, Clostridia, and Ethanol, Microbiologi And
Molecular Biology Reviews, 69(1): 124–154 (Online), (http://mmbr.asm.org/cgi/reprint/69/1/124, Diakses
16 Februari 2010).
Didu, N. 2010. Produksi Bioetanol dari Sirup Glukosa Ubi Jalar (Ipomoea batats L) Secara Fed Batch dengan
Menggunakan Saccharomyces cereviseae. Tesis, Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor..
Gozan¸ M., Samsuri, M., Siti, F., Bambang dan Nasikin, M., 2007. Sakarifikasi Dan Fermentasi Bagas
Menjadi Etanol Menggunakan Enzim Selulase Dan Enzim Sellobiase, (Online), (http://www.
journal.eng.ui.ac.id/data/6._Misri_G_._.pdf, diakses 12 November 2009).
Lin, Y.Y and Blaschek, H.P., 1983. Butanol Production by a Butanol Tolerant Strain of Clostridium
acetobutylicum in Extruded Corn Broth, Applied and Environmental Microbiology, p. 966-973 Vol. 45, No.
3.
Meryandini, A., Widosari, W,. Maranatha, B., Sunarti, T.C., Rachmania, N.,dan Satria, H., 2009. Isolasi
Bakteri
Selulolitik
Dan
Karakterisasi
Enzimnya
(Online)
(http://www.journal.ui.ac.id/.../07Edit1_AnjaMeryIsolasi%20BakteriLayout_new.pdf, diakses 12 November
2009).
Napoli, F., Marzocchella, G.OA, Russo, M.E., P. (tanpa Salatino, P. (Tanpa tahun). Production Of Butanol In
A Continuous Packed Bed Reactor Of Clostridium Acetobutylicum. P.le V. Tecchio, 80 – 80125 Napoli,
Italy.
Oh, S.E., Zuo, Y., Zhang, H., Guiltinan, M.J., Logan, B.E., and Regan, J.M., 2009. Hydrogen production by
Clostridium acetobutylicum ATCC 824 and megaplasmid-deficient mutant M5 evaluated using a large
headspace volume technique, ScienceDirect, International Journal Of Hydogen Energy 34
www.elsevier.com/locate/he, diakses tanggal 28 April 2010.
Riyanti, E.I. 2009. Biomassa Sebagai Bahan Baku Bioetanol. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan
Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian, Bogor.
Ruso, Sakius. 2011. Pembuatan Bioetanol Dari Batang Rumput Gajah (Pennisetum purpureum schumach)
Dengan Sistem Fermentasi Simultan Menggunakan Bakteri Clostridium acetobutylicum. Jurusan Kimia
Fakultas MIPA, UNHAS, Makassar.
13
Selig, M.J., Todd B. Vinzant, T.B., Himmel, M.E. and Decker, S.R., 2009. The Effect of Lignin Removal by
Alkaline Peroxide Pretreatment on the Susceptibility of Corn Stover to Purified Cellulolytic and Xylanolytic
Enzymes, Appl Biochem Biotechnol. DOI 10.1007/s12010-008-8511-x.
Sudarmadji, S., Haryono, B. dan Suhardi. 1997. Prosedur Analisa Untuk Bahan makanan Dan Pertanian,
Penerbit Liberty, Yogyakarta.
Syarifuddin, N.A. 2007. Nilai Gizi Rumput Laut Sebelum Dan Setelah Ensilase Pada Berbagai Umur
Pemotongan
(Online).
Nilai
Gizi
Alga
Laut
Sebelum
dan
Setelah
Ensilase
(http://images.andinursyam.multiply.multiplycontent.com/attachment/0/R5ztTQoKCtMAAFCzsFw1pdf,
diakses 15 Maret 2010).
Tamrin. 2007. Produksi Etanol dari Jerami Padi Dengan Menggunakan Rumen Sapi Dan Ragi. Tesis tidak
diterbitkan. Makassar : Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin.
Wyman, C.E. 1999. Biomass Ethanol : Technical Progress, Opportunities, and Commercial Challenges.
Annual Review of Energy and the Environment, November 1999, Vol. 24, Pages 189-226 (doi: 10.1146/
annurev energy.24.1.189).
Download