identitas politik “gereja suku” di ruang publik

advertisement
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
IDENTITAS POLITIK “GEREJA SUKU” DI RUANG PUBLIK
(Studi Tentang Komunitas Credit Union Modifikasi (CUM) ”Talenta”
Berdasarkan Perspektif Hegemoni Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe)
TESIS
Untuk memenuhi persyaratan mendapat gelar
Magister Humaniora (M.Hum)
Oleh:
Mardison SM Simanjorang
NIM: 106322005
PROGRAM MAGISTER ILMU RELIGI DAN BUDAYA
UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA
2015
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
TESIS
IDENTITAS POLITIK “GEREJA SUKU” DI RUANG PUBLIK
(Studi Tentang Komunitas Credit Union Modifikasi (CUM) ”Talenta”
Berdasarkan Perspektif Hegemoni Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe)
Oleh:
Mardison SM Simanjorang
NIM: 106322005
Telah disetujui oleh:
Dr. St. Sunardi
Pembimbing I
Dr. Gregorius Budi Subanar.SJ
Pembimbing II
………………….………………
27 Agustus 2015
…………………………………
27 Agustus 2015
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
TESIS
IDENTITAS POLITIK “GEREJA SUKU” DI RUANG PUBLIK
(Studi Tentang Komunitas Credit Union Modifikasi (CUM) ”Talenta”
Berdasarkan Perspektif Hegemoni Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe)
Oleh:
Mardison SM Simanjorang
NIM: 106322005
Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji Tesis
Pada tanggal, 27 Agustus 2015
Dan dinyatakan telah memenuhi syarat
Tim Penguji:
Ketua
:Dr. Gregorius Budi Subanar.SJ
.……………….
Sekretaris/Moderator
:Dr. des. Vissia Ita Yulianto
.…...………….
Anggota
: 1. Dr. St.Sunardi
…………….…
2. Dr. Gregorius Budi Subanar.SJ .………………
3. Y.Tri Subagya.MA
……………….
Yogyakarta, 27 Agustus 2015
Direktur Porgram Pasca Sarjana
Prof.Dr.A. Supratiknya
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
PERNYATAAN KEASLIAN
Yang bertanda tangan di bawah ini,
Nama
: Maridison SM Simanjorang
Program
: Program Pascasarjana Ilmu Religi dan Budaya
NIM
Universitas
: 106322005
: Sanata Dharma
Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tesis ini:
Judul
Pembimbing
Tanggal diuji
: Identitas Politik Gereja Suku di Ruang Publik (Studi
Tentang Komunitas Credit Union Modifikasi (CUM)
“Talenta” Berdasarkan Perspektif Politik Hegemoni
Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe
: 1. Dr. St. Sunardi
: 2. Dr. Gregorius Budi Subanar, S.J
: 27 Agustus 2015
Adalah benar-benar hasil karya saya.
Di dalam tesis ini, tidak terdapat keseluruhan atau sebagian tulisan atau gagasan
orang lain yang saya ambil dengan cara menyalin atau meniru dalam bentuk
rangkaian kalimat atau simbol yang saya aku seolah-olah sebagai tulisan saya
sendiri tanpa memberikan pengakuan kepada penulis aslinya. Apabila kemudian
terbukti bahwa saya melakukan tindakan menyalin atau meniru tulisan orang
lain seolah-olah hasil pemikiran saya sendiri, saya bersedia menerima sangsi
sesuai dengan peraturan yang berlaku di Program Pascasarjana Ilmu Religi dan
Budaya Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, termasuk pencabutan gelar
Magister Humaniora (M.Hum.) yang telah saya peroleh.
Yogyakarta, 27 Agustus 2015
Yang memberikan pernyataan
Mardison SM Simanjorang
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK
KEPENTINGAN AKADEMIS
Nama
NIM
Program
: Mardison SM Simanjorang
: 106322005
: Program Magister Ilmu Religi dan Budaya
Demi keperluan pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada
perpustakaan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta karya ilmiah yang
berjudul:
IDENTITAS POLITIK “GEREJA SUKU” DI RUANG PUBLIK
(Studi Tentang Komunitas Credit Union Modifikasi (CUM) ”Talenta”
Berdasarkan Perspektif Hegemoni Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe)
Beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya
memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk
menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam
bentuk pangkalan data, mendistribusikan
secara terbatas, dan
mempublikasikannya di internet atau media lainnya demi kepentingan
akademis tanpa perlu meminta izin dari saya atau memberikan royalti
kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.
Dengan demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.
Dibuat di: Yogyakarta
Pada tanggal: 27 Agustus 2015
Yang menyatakan
Mardison SM Simanjorang
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Daftar Singkatan
BMT-PAS
: Baitul Maal wat Tamwil Projo Artha Sejahtera
BRI-UD
: Bank Rakyat Indonesia Unit Desa
BPR-PPK
: Bank Perkreditan Rakyat Indonesia-Pijer Podi Kekelengen
CU
: Credit Union
CUM
: Credit Union Modifikasi
DGD
: Dewan Gereja Dunia
GB
: Grameen Bank
GBKP
: Gereja Batak Karo Protestan
GKPI
: Gereja Kristen Protestan Indonesia
GKPPD
: Gereja Kristen Pak-pak Dairi
GKPS
: Gereja Kristen Protestan Simalungun
HKI
: Huria Kristen Indonesia
HKBP
: Huria Kristen Batak Protestan
JWS
: Jaulung Wismar Saragih
LGBT
: Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender
LKM
: Lembaga Keuangan Mikro
LM
: Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe
PB
: Perjanjian Baru
PGI
: Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia
PL
: Perjanjian Lama
PELPEM
: Pelayanan Pembangunan
PT
: Perseroan Terbatas
RAT
: Rapat Anggota Tahunan
RMG
: Rheische Mission Gesselschaft
SB
: Sinode Bolon
UMR
: Upah Minimum Regional
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
DAFTAR TABEL
Tabel 1: Tiga jenis Lembaga Keuangan Mikro
Tabel 2: Tiga Jenis Lembaga Keuangan Mikro: Persamaan dan Perbedaannya
Tabel 3: Perbedaan CU dengan Bank Komersial dan BPR
Tabel 4: Materi Pendidikan dan Pelatihan CUM
Tabel 5: Gambaran Umum Pertumbuhan unit, calon unit dan bakal calon unit
Komunitas CUM “Talenta” hingga tahun 2011
Tabel 6: Jumlah anggota Komunitas CUM “Talenta” per 31 Desember 2011
Tabel 7: Pertumbuhan dan Perkembangan Komunitas Credit Union Modifikasi
(CUM) Talenta 2007-2011
Tabel 8: Tuntutan dan Konstruksi Rantai Ekuivalensi (chain Of equivalence)
dalam Pembentukan Komunitas CUM “Talenta”
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
KATA PENGANTAR
Tesis Identitas Politik “Gereja Suku” di Ruang Publik, yang memaparkan bagaimana
sebuah Komunitas Credit Union Modifikasi (CUM) “Talenta” merepresentasikan kedirian
subjek “Gereja Suku” yakni Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) di ruang publik
ini ditulis untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Magister Humaniora (M.Hum)
di Program Studi Pasca Sarjana Ilmu Religi dan Budaya (IRB) Universitas Sanata Dharma
(USD) Yogyakarta.
Proses penelitian dan penulisan tesis ini telah melibatkan banyak pihak lewat
serangkaian diskusi di ruang Palma maupun di berbagai tempat lainnya di seputar kota
Yogyakarta, Semarang, Klaten. “Cepat ada yang dituju, lambat ada yang ditunggu”.
Pepatah ini mewakili keseluruhan persaan saya dalam melakukan proses penyelesaian
penulisan tesis ini. Tanpa kehadiran dan bantuan dari berbagai pihak, tentu penelitian ini
tidaklah
mungkin dapat diselesaikan.
Karena itulah saya mengucapkan terima kasih
kepada:
1. Rekan-rekan mahasiswa Pasca Sarjana IRB Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
angkatan 2010; Mas Benny Setiawan, Irfan, Zuhdi, Nelly, Lisis, Gintani, Pongkot,
Mando, Alwi, Windarto, Amsa Saefuddin.
2. Mas Jun, (Junior Hafij Hery) untuk diskusi postmarxis LM, Lacan dan Zizek yang
kita lakukan berdua dan berkali-kali di rumah yang tenang di Klaten itu.
3. Pak St. Sunardi (Pembimbing), Romo. G. Budi Subanar (Penguji sekaligus
Ka.Prodi IRB Universitas Sanata Dharma), Pak Y.Tri Subagya (Penguji) dan ibu
Des Vissia Ita Yulianto yang menjadi moderator dalam pengujian tesis ini.
4. Rekan-rekan Pendeta (muda) GKPS pendiri dan manajer Komunitas CUM
“Talenta”:

Pdt. Liharson Sigiro, Pdt. Syahrudin Sinaga, Pdt. Kelurenca Rumahorbo dari
mereka saya telah memperoleh data-data (awal) primer tambahan dan datadata sekunder.

Teman-teman pegawai kantor Komunitas CUM “Talenta” di Saribudolok
viii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Bapak Damanik (Bandar Purba), ibu LS (Saribudolok), bapak RP (Buah
Bolon), bapak Sianipar (Saribudolok), bapak Sutrisno beserta ibu, semuanya
adalah
anggota
Komunitas
CUM
“Talenta”
yang
telah
bersedia
diwawancarai terutama untuk mengetahui manfaat kehadiran Komunitas
CUM “Talenta”.
5. Bapak MP.Ambarita, meski telah berusia lanjut tetapi tampak masih bertenaga dan
bersemangat dalam mendidik dan melatih para pelayan gereja (Pendeta
dan
Diakones).
6. Sekretariat IRB (mbak Desy), atas kesabarannya setiap waktu mengingatkan
penyelesaian tesis ini.
7. Pimpinan Pusat GKPS di Pamatang Siantar yang telah sudi memberi rekomendasi
untuk studi lanjutan ini.
8. Martin Lukito Sinaga, saudara dan juga teman berdiskusi di seputar cultural studies
dan kaitannya dengan pergulatan gereja.
9. Orang tuaku, T.Simanjorang/N br Saragih di Berastagi, yang senantiasa memberi
dorongan dan doa untuk penyelesaian tesis ini.
10. Istriku (Melly Damanik) dan anak-anakku (Pauline Mard Manjorang dan adiknya
Palma Ernesto Laclau Simanjorang) atas dukungannya.
11. Setiap orang yang terlibat dalam membantu penulisan tesis ini yang tidak dapat saya
sebutkan satu per satu.
Tentu, tidak ada gading yang tak retak. Demikian juga tesis ini mengandung sejumlah
kelemahan. Meskipun disadari, tesis ini memiliki kelemahan dan tidak sempurna, kiranya
pembaca dapat memperoleh manfaat dari isinya. Keseluruhan isi tesis (penulisan teknis,
maupun substansi) sepenuhnya merupakan tanggungjawab penulis. Terima kasih. Selamat
membaca.
Yogyakarta,
Mardison SM Simanjorang
ix
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
ABSTRAK
Penelitian ini (Identitas Politik “Gereja Suku” di Ruang Publik) memapar Komunitas Credit
Union Modifikasi (CUM) “Talenta” dalam mengartikulasikan identitas politik GKPS
sebagai sebuah “gereja suku” di ruang publiknya di pedesaan Simalungun.
Persoalan bermula dari ketidakmampuan GKPS untuk memberi respon etis terhadap
krisis sosial ekonomi (solidaritas sosial jemaat di pedesaan yang mulai melorot dan
kesulitan dalam mengakses fasilitas permodalan dari Lembaga Keuangan Mikro formal
(seperti: BRI-UD, BPR, dan lain sebagainya) yang beroperasi di pedesaan Simalungun.
Tujuan penelitian dilakukan untuk mengetahui tiga persoalan utama yakni:1). Apa
dan bagaimana latar belakang kemunculan wacana CUM sebagai sebuah sistem
pemberdayaan ekonomi jemaat versi kristiani,2). Sejauhmana Komunitas CUM “Talenta”
mampu mengartikulasikan identitas politik GKPS di ruang publiknya di pedesaan
Simalungun, 3). Perjuangan-perjuangan demokratik baru yang seperti apa yang dilakukan
Komunitas CUM “Talenta” sehingga tercipta “ruang politis” di ruang publiknya di
pedesaan Simalungun. Metode pengumpulan data dikerjakan dengan melakukan studi
lapangan: mengumpulkan dokumen, observasi, wawancara, dan studi literatur, sedangkan
metode analisis dikerjakan mengikuti kaidah hermeneutik-etnografis dengan menggunakan
teori hegemoni yang dikembangkan Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe sebagai piranti
analisisnya.
Penelitian ini telah mengungkap keberadaan UU Bank No. 10 tahun 1998 dan UU
Perseroan Terbatas (PT) No. 1 tahun 1995, yang membuat institusi gereja secara legal
formal tidak diijinkan mendirikan Bank serta ketidakfelksibelan wacana BPR untuk
digunakan sebagai instrumen pelayanan pemberdayaan eknomi jemaat hingga pelosok
pedesaan di mana gereja berada, telah mendorong kemunculan wacana CUM sebagai
wacana alternatifnya. Meskipun secara legal formal Komunitas CUM “Talenta” tidak lahir
dari “rahim” institusi GKPS namun ia berhasil menciptakan “ruang politis” dengan
mengklaim diri sebagai “bidang diakonia” GKPS. Selain itu, “ruang politis” lain juga
berhasil diciptakannya melalui pendirian perusahaan bersama (berbadan hukum:
CV.Talenta), padahal Komunitas CUM “Talenta” sendiri tidak atau belum berbadan
hukum. Godaan dari Rabo Bank untuk memberi suntikan dana (walau kemudian ditolak)
serta keputusannya mengubah nama dirinya menjadi Komunitas “Credo Union Modifikasi”
(menghindarkan diri dari pungutan pajak) menunjukkan keberhasilannya menciptakan
ruangpolitis di ruang publiknya di pedesaan Simalungun.
Kata-kata kunci: identitas, politik, hegemoni, antagonisme, subjek politik, ruang publik,
wacana, titik nodal, penanda utama, penanda kosong, rantai persamaan, credit union
modifikasi,
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
ABSTRACT
The research (Identitas Politik “Gereja Suku” di Ruang Publik, The Political
Identity of "The Church of Etnic” in the Public Sphere) elaborates the “Talenta” Community
of Credit Union Modification (CUM) on the articulating of political identity of GKPS as a
"church rate" in the public sphere in the countryside of Simalungun.
The problem is start to emerge by the inability of GKPS to give ethically respond to
the crisis of the socio-economic (social solidarity of the church in the countryside began to
sag and there is a difficulty in accessing capital facilities of formal Microfinance Institutions
(BRI-UD, BPR, etc.) operating in the countryside of Simalungun.
The aim of this research was conducted to determine three main issues namely: 1).
What and how the background emergence of discourse CUM as a Christian church version of
economic empowerment system. 2). The extent of Community CUM "Talenta" GKPS’s
ability to articulate a political identity in the public sphere in rural Simalungun, 3). What kind
of new democratic struggles done by the Community CUM "Talenta", in order to create
"political space" in the public space in the countryside Simalungun. Methods of data
collection is done by conducting field studies: collecting documents, observation, interview,
and literature study, whereas the method of analysis is done by following the rules of
hermeneutics-ethnographic by using the theory of hegemony developed by Ernesto Laclau
and Chantal Mouffe as a tool of analysis.
This study has revealed the existence of the Law of Bank No. 10 of 1998 and the Law
of Perseroan Terbatas (P.T.) ( Limited Liability Company ) No. 1 of 1995, which made the
church institutions are legally not allowed to establish a Bank and also the inflexibility of the
BPR’s (Public Bank of Credit) discourse to be used as an instrument of economics
empowerment services that reach to remote rural area in which a church is located. It has
prompted the emergence of CUM’s discourse as an alternative discourse. Although formally
and legally the Community CUM "Talenta" was not born from the “womb" of GKPS, it has
managed to create a "political space" by a self-proclaimed act of being an "institution of
diakonia" of GKPS. In addition, another "political space" is also successfully created through
the establishment of joint companies (incorporated: CV.TALENTA), although the
Community CUM “Talenta” itself is not yet a legal entity. The temptation of Rabo Bank to
give an injection of funds (although being rejected later on) as well as the decision to rename
itself into the Community of "Credo Union Modifications" (for avoiding the tax) showed a
success of CUM “Talenta” in creating political space in public spaces in the rural of
Simalungun.
Key words: identity, politics, hegemony, antagonism, the subject of politics, the public
sphere, discourse, nodal point, master signifier, empty signifier, chain of equivalence,
modification of credit union.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
DAFTAR ISI
Halaman Judul……………………………………………… ……..……………..………...i
Lembar Persetujuan…..……………………………………..……………………………..ii
Lembar Pengesahan….…………………….……………………………………………....iii
Pernyataan Keaslian …………………………….………………………………………...iv
Pernyataan Persetujuan Publikasi ………………………..…………………………….…v
Daftar Singkatan……………..………………………………………………………….…vi
Daftar Tabel……………………………………………………………………………….vii
Kata Pengantar ………………………..............................................................................viii
Abstrak ………………………...............................................................................................x
Daftar Isi..……………………………………………………………………………….….xi
BAB I: PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Permasalahan…………………………………………..………….…....1
1.2. Rumusan Permasalahan……………..…………………………….…..………....…......18
1.3. Tujuan Penelitian…..……………………..………………………………….................19
1.4. Manfaat Penelitian.….………………………………………………………….…........19
1.5. Tinjauan Pustaka………………………………………………………………..….......19
1.6. Kerangka Teori…..…………………….……………………………….….……...........25
1.6.1. Identitas Politik: Hegemoni, Antagonisme, dan Pembentukan Subjek
Dalam Pemikiran Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe…..…………………….25
1.6.1.1. Hegemon-Artikulasi……………………………………………………….….25
1.6.1.2. Antagonisme…………………………………..…………………………..….33
1.6.1.3. Pembentukan Subjek ….………………….….………………………………36
1.6.1.4. Pengertian “Gereja Suku” dan “Ruang Publik”……………………………...39
1.7. Metode Penelitian………………………………………………………………...........45
1.7.1. Posisi Peneliti.……………………………………………………………..…...45
1.7.2. Sumber Data dan Teknik Memperoleh Data..………………………………....46
1.7.3. Pengolahan Data/Analisis……………………………………..…………….....49
1.8. Sistematika Penulisan………………………………………………………………….49
xi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
BAB II : Gereja di Era Kapitalisme Neoliberal: Urgensi Menghadirkan Sistem
Ekonomi Mikro Alternatif
2.1. Pengantar………………………………………………………………………………51
2.2. Gereja di Era Globalisasi Kapitalisme Neoliberal: Urgensi Menghadirkan
Sistem Ekonomi Mikro Alternatif…………………………..………………………...51
2.2.1. Konteks Oikumenis.……………………………………………………………51
2.2.2. Sejarah Lembaga Keuangan Mikro (LKM) di Indonesia: Pengertian,
Perkembangan, Peta Persoalan dan Jenis-jenisnya……………..……..............59
2.2.2.1. Pengertian LKM……..………………………………………..………..…….59
2.2.2.2. Perkembangan dan Peta Persoalannya….……………..……………………..60
2.2.2.3. Jenis-Jenisnya..................……….……………………………………………70
2.3. Perdebatan Seputar Credit Union (CU): Antara Gerakan Ekonomi atau
Gerakan Sosial………………………………………………………………………...73
BAB III. Gereja Suku di Ruang Publik: Gereja Kristen Protestan Simalungun
(GKPS) Dalam Diri Komunitas CUM “Talenta”
3.1. Pengantar……………………………………………………………..………………..82
3.2. Mengenal Wacana CUM Sebagai Sistem Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan
Alternatif……… ……………………………………………………….…..…………..83
3.2.1. MP. Ambarita dan Kisah Awal Munculnya Wacana CUM...………………...…….83
3.2.2. Posisi wacana CUM di antara LKM yang ada di Indonesia.………………..…..…88
3.2.3. Pola Hubungan Komunitas CUM dengan Gereja.………………………………….91
3.2.4. Ideologi dan Masyarakat Yang Dicita-citakan……....……………………...……...94
3.2.5. Pendidikan dan Pelatihan Calon Pengelola (Manajer) CUM…..……………….….98
3.3. Konkretisasi Wacana CUM ke Dalam Konteks GKPS..…………………………......102
3.3.1. Sekilas Tentang GKPS………………………………………..….………........102
3.3.2. GKPS: Kisah Awal GKPS Mengenal Wacana CUM…....…………………....104
3.3.3. Pembentukan Komunitas CUM “Talenta”………..……………………….......108
xii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
3.3.4. Memperluas Keanggotaan Komunitas CUM “Talenta”: Membangun Kelompok
(unit) di Basis Jemaat........………...…….…………………………………….112
3.4. Hubungan Komunitas CUM “Talenta” Dengan GKPS………………………………118
3.4.1. Klaim Sebagai Bidang Pelayanan GKPS....……………………………….......118
3.4.2. Program Dan Aktivitas Yang Dilakukan..……………………………………..121
3.4.2.1. Menciptakan Modal Bersama: Melawan Bank Dan Rentenir..………..….....121
3.4.2.2. Memaknai (ulang) Haroan Bolon Simalungun…………………….….…….122
3.4.2.3. Memotong route Pemasaran Kopi: Mendirikan Perusahaan (CV.Talenta)....124
3.5. Perkembangan Komunitas CUM Talenta dan Manfaat yang Dirasakan Anggota.…..125
3.5.1. Dinamika Organisasi… .……………………………………….……….....…..128
3.5.1.1. Internal……………………………….………………………........................128
3.5.1.2. Eksternal………………………………………….…………..………….…..130
3.6. Keterbatasan Dana Pinjaman dan Godaan Rabo Bank.………….……..…….…….131
BAB IV: Identitas Politik “Gereja Suku”: Dari Gerakan Ekonomi Ke Gerakan Politik
4.1. Pengantar.………………………………………………………………………….…133
4.2. Hegemoni, Antagonisme dan Persoalan Identitas Subjek Dalam Konteks Kemunculan
Wacana CUM....………………………………………………………………..…….135
4.2.1. Identitas (posisi subjek) MP.Ambarita Sebagai Penemu Gagasan CUM....…..135
4.2.2. Pendidikan dan Pelatihan Calon Pengelola (Manajer) CUM: Strategi Diskursif
Membangun Formasi Hegemoni Tandingan..……………………………..….148
4.3. Artikulasi Identitas Politik “Gereja Suku” (GKPS) dan Representasinya Oleh
Komunitas CUM “Talenta”…………………………………………………………..153
4.3.1. Tuntutannya (demands).……………………………………….……………...155
4.3.2. “Diakonia” Sebagai “Penanda Kosong” ……………………..…..…………..161
4.3.3. Logika Persamaan Dan Logika Perbedaan Dalam Formasi Hegemonik
Komunitas CUM “Talenta”……………..…………..……...............................164
4.3.4. Identitas Politik dan Representasinya…..….…………………………….……167
4.3.4.1. Menciptakan Modal Bersama: Siasat Melawan Rentenir..…………………167
xiii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
4.3.4.2. Memaknai (ulang) Haroan Bolon Simalungun: Siasat Melawan
Individualisme……………………………………………………………....168
4.3.4.3. Menolak Rayuan Agen Neolib (Rabo Bank)…..……………………….…..170
4.3.4.4. Mendirikan Perusahaan (CV.Talenta): Memotong Jalur Pemasaran Kopi...172
4.3.4.5. Mengubah Tanda Pengenal Diri: Dari komunitas “Credit” ke Komunitas
“Credo”: Siasat melawan intervensi Pemerintah…………..……………….174
BAB V: Penutup: Kesimpulan dan Refleksi
5.1. Kesimpulan…………………………….………………………………….…………176
5.2. Refleksi ....……..……………………………………………………………..……...178
Daftar Pustaka………………………………………..……….…………………………180
Lampiran-Lampiran: (foto dokumentasi penelitian)…………………………….……...185
xiv
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
Dalam sebuah laporan dan analisisnya (tahun 2006) mengenai identitas gereja-gereja di
Indonesia, John A. Titaley menyimpulkan bahwa gereja-gereja di Indonesia pada
umumnya merupakan gereja pada tataran identitas primordial saja. Akibatnya, gereja
lalu menjadi introvert, tidak partisipatif dan reaktif seperti tampak dalam sikapnya
terhadap Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (RUU Sisdiknas)”.1
Masih dalam keprihatinan yang hampir sama, Martin Lukito Sinaga melihat bahwa di
masa reformasi ini, kita orang Kristen seolah gagap dan gugup melihat perkembangan
Islam. Kerepotan kita saat ini melulu pada upaya membela hak-hak mendirikan rumah
ibadah, sehingga energi kita habis untuk membela diri, walaupun memang ada soal yang
genting di situ, yakni soal masa depan dan eksistensi kekristenan di Indonesia”.2
Apa yang dikatakan John A. Titaley dan Martin Lukito tersebut di atas
menunjukkan bahwa pada umumnya gereja-gereja di Indonesia masih cenderung
1
John A Titaley,”Dekonstruksi dan Rekonstruksi Teologi Menuju Teologi Indonesia yang Kontekstual”
(dalam),Jeffrie A.A.Lempas, eds (2006),Format Rekonstruksi Kekristenan:“Menggagas TeologiMisiologi,
dan Ekklesiologi Kontekstual di Indonesia”,Jakarta, Pustaka Sinar Harapan, hlm, 192. Undang-undang
Sisdiknas No.20 tahun 2003,Pasal 12 ayat (1) RUU Sisdiknas menyebutkan bahwa setiap peserta didik
pada satuan pendidikan merupakan subyek dalam proses pendidikan yang berhak mendapatkan
pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama.Item
dalam UU Sisdiknas tersebut tentu saja mendapatkan resistensi dari umat Kristen. Mereka keberatan
dengan item tersebut yang dipandang merusak ciri khas sekolah dan berbagai persoalan administrasi
sebagai konsekuensinya. Kalangan Kristen, terutama dari sekolah-sekolah Kristen, melakukan
demonstrasi untuk menolak Sisdiknas. Alasan yang dikemukakan oleh kalangan Kristen, seperti B.S.
Mardiatmaja, adalah bahwa negara tidak berhak untuk memberikan pendidikan agama dan pendidikan
suara hati model tertentu. Ia juga menilai bahwa Sisdiknas tidak mengatur pendidikan secara utuh,
melainkan terbatas mengenai pendidikan formal (sekolah).(http://wmc-iainws.com/artikel/12-konflikislam-kristen-di-era-reformasi, diakses, 5 Februari 2015).
2
Martin Lukito Sinaga, “Kata Pengantar: Iman yang membangun struktur rahmat” (dalam), Albert Nolan
2011) Harapan di Tengah Kesesakan Masa Kini: Mewujudkan Injil Pembebasan, terj, Jakarta, BPKGunung Mulia, hlm, ix
1
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
bertahan dan berkutat hanya pada tataran identitas primordialnya sebagai “gereja suku”.
Dengan kata lain, banyak gereja-gereja di Indonesia belum mampu mengekspresikan
identitasnya ke dalam konteks sosial yang lebih luas sehingga pergulatan identitasnya
juga tampak baru bisa memperlihatkan sisi “defensif”-nya saja. Kenyataan seperti ini
telah ikut memberi kesan bahwa identitas primordial sebagai “gereja suku” hanya
menjadi tanda pengenal diri suatu komunitas agama yang terisolir dari lingkungan
sekitarnya. Apa yang menjadi permasalahan kontekstual yang sedang dihadapi
publiknya tampaknya belum dijadikan sebagai bagian dari kehidupan bergereja.
Bahkan, kalau mempertimbangkan apa yang disebut Martin Lukito tersebut di atas,
maka secara tersirat memunculkan kesan bahwa kristianitas tampaknya masih
cenderung dimaknai dalam kerangka “aspirasi” komunitas daripada sebagai “inspirasi”
yang dapat mendorong hadirnya “kebaikan bersama” (the common good)3 di masyarakat
baik dalam konteks partikular maupun konteks yang universal di mana gereja berada.
Memang, secara psikologis, sikap bertahan dan berkutat hanya pada identitas
primordial sebagai “gereja suku” sepertinya bisa memberikan rasa aman dan
menumbuhkan “solidaritas” atau perasaan satu keluarga di antara anggotanya. Namun
kalau ditelisik secara lebih mendalam, sikap bertahan dan berkutat hanya pada identitas
primordial sebagai “gereja suku”, sesungguhnya bisa jadi hanya merupakan selubung
dari sektarianisme, atau dalam istilah religious studies disebut sebagai fundamentalisme
atau ultra konservatisme agama yang memahami “makna” ataupun identitas bersifat
3
Common Goods diartikan sebagai sesuatu yang hendak dicapai oleh seluruh warga seluas-luasnya
melalui sarana-sarana politik dan aksi kolektif dari warga Negara yang berpartisipasi dalam tata
pemerintahan mereka sendiri (self government). Dengan kata lain, kesejahteraan, kesetaraan,
kebebasan dsb, merupakan hasrat publik yang bisa dicapai melalui politik kewargaan (citizenship), aksi
kolektif dan partisipasi aktif dalam praksis politik dan pelayanan publik. Selanjutnya lihat: Hasrul Hanif,
(dalam) Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, Volume 11 No. 1 Juli
2007
2
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
tunggal dan statis (fixed). Menurut Leonardus Samosir, kalau fundamentalisme ataupun
ultra-konservatisme dalam agama menjadi mayoritas dalam realitas sosial yang nyata
maka cita-citanya yang terdalam adalah menjadi penguasa, tentunya dengan cara
menyingkirkan “yang lain” (the other). Perlu juga ditambahkan bahwa menjadi
kelompok mayoritas atau minoritas, identitas statis akan membuntungi gerak kelompok
sehingga tinggal di masa lalu”.4
Kehidupan bergereja yang seperti ini tentu saja sangat memprihatinkan.
Sebabnya, bukan saja karena disitu kristianitas dihayati tanpa memiliki relevansi dengan
problematika sosial yang terjadi di masyarakat tetapi juga karena sikap bertahan dan
berkutat hanya pada tataran identitas primordial itu sesungguhnya hanya akan
menyuburkan isolasi dirinya dari lingkungan sekitarnya. Jauh-jauh hari sebelumnya
teolog politik J.B. Metz sebenarnya, pernah mengingatkan bahwa Kristianitas yang
dihayati tanpa relevansi merupakan Kristianitas tanpa identitas. Identitas kristianitas itu,
seperti kata J.B. Metz akan tampak kalau kristianitas (baca: orang kristen: pen) tidak
menarik diri dari wilayah publik”.5 Itu artinya, persoalan menemukan identitas
komunitas kristen “gereja suku” dalam konteks sosial yang lebih luas merupakan
persoalan bagaimana subjek komunitas kristen “gereja suku”itu keluar dari penjara
identitas primordialnya dan membentuk ulang perspektif etisnya dalam terang tantangan
dan pergulatan yang dihadapi masyarakatnya serta pada saat yang sama ia juga harus
masuk ke ruang publik”.6
4
Leonardus Samosir (2010) Agama dengan Dua Wajah “ Refleksi Teologis atas Tradisi dalam Konteks”,
Jakarta, Obor,hlm, 74
5
Ibid
6
Martin Lukito Sinaga (2004) Identitas Poskolonial “Gereja Suku” dalam Masyarakat Sipil: Studi Tentang
Jaulung Wismar Saragih dan Komunitas Kristen Simalungun, Yogyakarta, LKiS,hlm,129
3
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Kalau memang dalam rangka menemukan identitas politiknya tersebut, subjek
komunitas kristen “gereja suku” harus masuk ke ruang publik, pertanyaan selanjutnya
adalah mekanisme apa atau jalur apa yang harus ditempuhnya agar ia dapat menembus
tataran publiknya tersebut? Pertanyaan ini penting untuk dijawab sebab dari pengalaman
empiris gereja-gereja di Indonesia di masa lalu yang memilih jalur ideologi – Pancasilasebagai pintu masuk dan strategi kerja untuk melakukan pembelaan terhadap publiknya
- bukan hanya telah membuat gereja-gereja di Indonesia menjadi kehilangan
kemampuan untuk menangkap permasalahan kontekstual yang sedang dihadapi
masyarakatnya tetapi juga telah membuat identitasnya menjadi mangkir dalam konteks
yang lebih luas..
Di masa lalu (masa orde baru), pilihan gereja-gereja di Indonesia yang
menjangkarkan diri pada ideologi-Pancasila sebagai strategi kerja untuk melakukan
pembelaan atas publiknya justru telah membuat identitas subjek komunitas kristen
“gereja suku” sebagai salah satu representasi subjek “yang lokal” atau “yang partikular”
menjadi terserap ke dalam “apa yang nasional” yang telah dikonstruksi secara
hegemonik oleh penguasa (Pemerintah). Hal inilah yang telah membuat identitas
komunitas kristen “gereja suku” menjadi mangkir dalam pentas nasional. Untuk
mengatasi persoalan itu maka apa yang ditawarkan Martin Lukito Sinaga berikut ini
tampaknya bisa menjadi strategi alternatif.
Kalau komunitas kristen “gereja suku” berniat menembus tataran publiknya
maka ia harus bertranformasi menjadi sebentuk komunitas etis (moral
community). Di samping itu, komunitas kristen “gereja suku” juga harus
melanjutkan dan meluaskan identitas barunya tadi secara radikal dengan hadir
membela ruang publiknya, dengan memanfaatkan mekanisme masyarakat sipil
lainnya, yaitu lewat gerakan-gerakan sosial baru”.7
7
Ibid, hlm, 129
4
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Dengan melakukan transformasi (peralihan) jati dirinya menjadi sebentuk komunitas
etis (moral community) dan pemanfaatan gerakan-gerakan sosial baru sebagai strategi
kerja untuk menembus tataran publik sekaligus sebagai cara untuk melakukan
pembelaan atas kehidupan publiknya maka (meminjam istilah Haryatmoko:2006) akan
menciptakan perubahan orientasi politik gereja dari politik yang selama ini sangat bias
pada Negara menjadi politik yang memihak warga negara. Haryatmoko menambahkan
bahwa tolak ukur keberhasilan politik semacam ini ialah pemenuhan hak-hak sipil,
politik, ekonomi, sosial dan budaya warga negara”. 8 Selain itu, kualifikasi utama
tindakan politis semacam ini juga cukup jelas yakni perubahan sosial dan perluasan
kebebasan yang hendak diwujudkan di ruang publik,tidak diartikulasi dengan
menggunakan cara-cara revolusioner yang menggemparkan sebagaimana dalam
pandangan gerakan sosial lama yang diasuh oleh Marxisme klasik. Tetapi perubahan
sosial dan perluasan kebebasan di ruang publik itu dilakukan justru dengan cara
memanfaatkan daya persuasi rasional dan moral yang dimilikinya selaku komunitas
agama untuk mempengaruhi opini masyarakat umum”.9
Politik semacam inilah, dalam istilah Martin Lukito Sinaga disebut sebagai arah
baru atau jalan baru politik kristen di Indonesia yaitu sebentuk politik memompakan
pengaruh (politic of influence) atau politics of the commons di mana kekristenan tidak
lagi dilihat sebagai sumber kuasa di kotak suara tetapi justru melihat dan memaknai
kekristenan sebagai “inspirasi” yang dapat mendorong terwujudnya the common (“yang
baik untuk publik”). Kalau politik via masyarakat ini yang ditempuh gereja sebagai cara
untuk mengekspresikan identitas atau tindakan politiknya maka jati diri komunitas
kristen “gereja suku” sebagai komunitas etis akan tampak dalam aktualitas respons dan
8
Haryatmoko, “Peran Gereja di Indonesia Ketika Neo-Liberalisme Semakin Mendikte”, (dalam) Jeffrie A.
A.Lempas, eds (2006),Op.cit, hlm, 110.
9
Ibid
5
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
sikap kritisnya terhadap problematika sosial politik dan ekonomi yang terjadi di
masyarakatnya”.10
Secara ideal, ruang publik itu dapat diartikan sebagai ruang diskursif. Dengan
begitu, ruang publik bukan saja merupakan tempat atau arena di mana antar individu
dapat bertemu, berkomunikasi dan berinteraksi tetapi juga merupakan tempat di mana
terjadi upaya hegemonisasi antar wacana”.11 Di situ, wacana (si)apa saja berhak untuk
masuk dan berkontestasi, termasuk wacana agama.Jurgen Habermas, sebagaimana
dikemukakan A.Sunarko mengatakan:
Dalam ruang publik informal/umum (diluar parlemen misalnya) pihak beragama
menurut Habermas harus tetap diperkenankan mengungkapkan gagasangagasannya dalam bahasa religius masing-masing yang khas. Mereka juga harus
diperkenankan untuk mengungkapkan keyakinan-keyakinan mereka serta
berargumentasi dengan bahasa religiusnya bila mereka tidak mampu
mengungkapkannya dalam bahasa sekular”.12
Dengan berpijak pada perspektif Habermas, Martin Lukito Sinaga menegaskan, bahwa
komunitas agama (baca:”gereja suku”) sepenuhnya berhak memasuki ruang publik dan
berhak mengajukan traditional-life-world-nya ke tengah-tengah konteks sosial”.13 Hal
yang sama juga ditegaskan oleh Muhammad A.S. Hikam bahwa wacana agama di ruang
publik dirasa begitu penting bahkan mendesak lantaran wacana agama dapat hadir
sebagai “diskursus tandingan” atau “kontra hegemoni” terhadap segala bentuk ideologi
atau tindakan-tindakan dominatif yang terjadi.Muhammad A.S. Hikam menambahkan
bahwa sebagai seperangkat struktur makna khusus, agama memiliki kemampuan untuk
10
Martin Lukito Sinaga, “Kristiani dan Agama Publik: Peta Persoalan dan Prospeknya di Indonesia”,
(dalam) Majalah Tatap, 25 Mei 2010
11
Boni Hargens (2006) Demokrasi Radikal: Memahami Paradoks Demokrasi Modern dalam Perspektif
Postmarxis-Postmodernis Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe, Jakarta, Parhesia, hlm, 62
12
A.Sunarko, “Ruang Publik dan Agama Menurut Habermas” (dalam) F.Budi Hardiman, ed, (2010) Ruang
Publik: Melacak “partisipasiDemokrastis” dari Polis sampai Cyberspace, Yogyakarta, Kanisius, hlm, 231
13
Martin Lukito Sinaga (2004), Op.cit, hlm, 129
6
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
menjelaskan dan mengkonstruksi kenyataan sosial di dalam waktu dan tempat yang
berbeda”.14
Agar pergulatan identitas komunitas kristen “gereja suku” dapat memperlihatkan
sisi “ofensif”-nya maka ia perlu bertindak politis. Dengan bertindak politis, komunitas
kristen “gereja suku” dapat terlibat (engaging) dalam mengelola kerangka hidup
bersama sehingga kehidupan di ruang publik di mana ia berada dapat ditata menjadi
lebih adil dan mendatangkan kesejahteraan dan kebaikan bagi semua. Politik dapat
memberi keleluasaan untuk memproses konflik kepentingan menjadi proses saling
memperhitungkan dan saling memberi ruang satu kelompok dengan kelompok lain.
Politik adalah komunikasi demi mengarahkan dan mentransformasikan kekuasaan
(power) menjadi pemberdayaan (empowerment) dan hanya dengan politiklah kehadiran
orang lain dapat terus menerus diperhitungkan sebagai kehadiran yang menuntut namun
juga berkontribusi”.15
Dalam konteks pergulatan dan perspektif urgensi permasalahan seperti itu,
penelitian ini berniat memperbincangkan bagaimana subjek komunitas kristen “gereja
suku” menghadirkan dirinya di ruang publik di mana hegemonisasi nilai-nilai
kapitalisme neoliberal di ruang publik sudah menjadi kenyataan tak terbantahkan. Di
sana ideologi kapitalisme neoliberal tidak hanya telah mengonstruksi kehidupan sosial,
ekonomi, politik dan kebudayaan masyarakat di perkotaan tetapi juga masyarakat
tradisional di pedesaan di mana ekonomi-uang tampak kokoh menjadi struktur
pemaknaan yang utama. Uang bahkan telah menjelma menjadi berhala (fetish).
Akibatnya, tidak jarang upaya untuk mengejar kemakmuran dilakukan dengan
14
Muhammad A.S.Hikam (1996) Demokrasi dan Civil Society, Jakarta, LP3ES, hlm, 133
Martin Lukito Sinaga, (makalah) ”Hidup yang Dibangun di atas Batu (Matius :2:24-27) Refleksi Teologis
Memperkuat Masyarakat Sipil”, disampaikan pada Rapat Umum Anggota (RUA) Perhimpunan Kelompok
Studi Pengembangan Masyarakat (PKSPPM), Parapat, 21-23 Februari 2014
15
7
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
menghalalkan segala cara, termasuk penguasaan atas (si)apa saja yang dianggap “liyan”
(the other) baik manusia maupun alam. Uang yang tadinya dimaksudkan sebagai agen
netral (baca: sarana, pen) perdagangan, kini sudah menjadi majikan neurotik”.16“Hepeng
do mangatur Negara on!” (Uanglah yang mengatur Negara-segalanya), begitulah
ungkapan orang Batak menggambarkan status hegemonik uang saat ini. Uang tidak
hanya mendominasi sistem ekonomi produksi, kepemilikan, tenaga kerja, dan konsumsi
tetapi juga mempunyai pengaruh besar nyaris pada semua aspek kehidupan pribadi”.17
Hasrat, selera, cita-cita, relasi sosial bahkan pelaksanaan ritus-ritus keagamaan (gereja)
juga tidak luput dari determinasi uang. Uang telah mengubah apa saja yang ada di
masyarakat. Di Bali misalnya:
Posisi uang telah menjadi kesadaran hidup mereka. Kenyataan itu
mengakibatkan terjadinya pasarisasi atau monoterisasi hampir segala bidang,
terutama pertanian. Bahkan, banyak tradisi yang berlawanan dengan asas
pasarisasi perlahan mulai tergusur. Tradisi pelayanan kredit sosial lewat
resiprositas (matulungan, ngopin, maselisi dan lain-lain) mulai semakin langka,
karena tergantikan oleh sistem upah. Pergantian ini dilandasi oleh pemikiran
bahwa kredit sosial dianggap tidak praktis dan tidak ekonomis, baik dari pihak
pengguna tenaga maupun penyedia tenaga. Begitu pula asuransi ekonomi,
misalnya meminjam uang-nyilih pipis- tanpa bunga - semakin langka dan
tergantikan oleh sistem kredit informal (rentenir) dan formal (bank, LPD)”.18
Hegemonisasi nilai-nilai kapitalisme neoliberal itu tentu tidak hanya terjadi di Bali
tetapi juga terjadi di berbagai tempat di berbagai wilayah lainnya di Indonesia. Di tanah
Simalungun misalnya, hegemonisasi nilai-nilai kapitalisme neoliberal itu, ditandai
dengan mulai menghilangnya kosa kata marharoan dalam percakapan sehari-hari
masyarakatnya bahkan di warung-warung kopi sekalipun. Ajakan marharoan nyaris tak
terdengar. Budaya mar-haroan yang tadinya akrab sebagai sistem kerjasama timbal
16
Jack Weatherford (2005) Sejarah Uang“Dari zaman Batu hingga era Cyberspace”, terj, Yogyakarta,
Bentang Pustaka, hlm, 374
17
Ibid.
18
Nengah Bawa Atmadja,(2010),Ajeg Bali: “Gerakan,Identitas Kultural dan Globalisasi”, Yogyakarta, LKiS,
hlm, 17
8
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
balik (reciprocity) dalam dunia pertanian masyarakat Simalungun kini tergantikan oleh
sistem kerja upahan yang disandarkan pada prinsip pertukaran tenaga dengan uang.
Tidak hanya itu, mar-haroan juga kini terdesak oleh gempuran penemuan dan
penggunaan teknologi dalam dunia pertanian. Hal ini tidak hanya membuat budaya
masyarakat Simalungun berubah menjadi individualistik tetapi jugatelah membuat
kebutuhan akan uang juga menjadi sangat tinggi.
Malangnya, dalam keadaan seperti itu akses masyarakat marjinal di pedesaan
Simalungun terhadap fasilitas permodalan (finansial) dari Lembaga Keuangan Mikro
formal (LKM) seperti BRI-UD, BPR, Bank Sumut yang ada di daerah pedesaan
Simalungun, malah tidak dapat diperoleh dengan mudah. Selain harus menyertakan
jaminan (agunan) serta memenuhi tuntutan persyaratan administratif yang rumit,
masyarakat marjinal di pedesaan di Simalungun juga masih harus menghadapi birokrasi
yang panjang dan berbelit-belit.Akses Usaha Kecil Mikro (UKM), Koperasi terhadap
lembaga perbankan, termasuk BRI Unit Desa dan BPR tampak masih belum memihak
kaum marjinal. Hal itu terjadi, karena lembaga perbankan yang menerapkan manajemen
bank secara ketat dalam kenyataannya justru telah membuat masyarakat pemilik Usaha
Kecil Mikro (UKM) bahkan keluarga miskin mengalami kesulitan mengembangkan
usahanya karena ketiadaan modal. Salah satu persoalan yang paling menyulitkan adalah
keharusan menyerahkan agunan bagi semua masyarakat untuk memperoleh kredit dari
bank.Fenomena seperti tampaknya merupakan fenomena umum yang juga terjadi di
tempat lain di Indonesia. Tidak heran kalau Didik J.Rachbini kemudian menyimpulkan
bahwa kehadiran lembaga ekonomi formal dan birokrasi […] tidak pernah menjadi
9
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
representasi kepentingan mereka bahkan cenderung mempersulit kedudukannya yang
sudah inferior dan subordinatif”.19
Persoalan kesulitan permodalan yang dialami masyarakat marjinal di pedesaan
menjadi semakin parah lantaran nilai jual hasil produksi pertanian mereka seringkali
tidak mampu mengembalikan modal yang telah dikeluarkan. Mubyarto mengungkapkan
bahwa selalu ada kecenderungan menurunnya nilai tukar sektor pertanian terhadap
sektor non-pertanian. Perkembangan komoditi pertanian secara relatif, lebih kecil
dibandingkan dengan perkembangan harga komoditi di luar pertanian. Kenyataan ini
menimbulkan rasa “frustasi”di dalam diri petani terutama petani kecil dan petani tak
bertanah yang bekerja keras memproduksi berbagai komoditi. Komoditas yang
dihasilkan petani secara relatif makin rendah nilainya sehingga pendapatan petani dari
hari ke hari secara relatif juga lebih rendah”,20.
Selain telah memposisikan ekonomi-uang sebagai struktur makna yang utama,
ideologi sistem kapitalisme neoliberal juga tampak telah mengokohkan “kompetisi”
sebagai satu-satunya etos dominan demi meraih martabat (dignity) dan kemakmuran
manusia. Dengan semata-mata “kompetisi”, tentu tidak sulit untuk memprediksi apa
yang menjadi konsekuensinya di dalam kehidupan sosial masyarakat sehari-hari. Moral
Darwinisme (survival of the fittest) menjadi satu-satunya norma yang mengatur relasi
sosial masyarakat di mana hanya yang kuat atau yang punya akses pada kekuasaan
sajalah yang bisa survive. Selebihnya, individu atau kelompok sosial yang tidak
memiliki akses kepada kekuasaan segera saja menerima penderitaannya sebagai takdir
yang sudah ditentukan.
19
Didik J.Rachbini, “Dimensi Ekonomi dan Politik Pada Sektor Informal”, (dalam) Hadi Soesatro, dkk,
peny, (2005), Pemikiran dan Permasalahan Ekonomi di Indonesia Dalam Setengah Abad Terakhir,
Yogyakarta, Kanisius, hlm, 209
20
Ibid, hlm, 203-204
10
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Pengalaman tragis yang dialami keluarga Sumarsih di Bantul Yogyakarta
misalnya, memperlihatkan bagaimana masyarakat miskin terpaksa menempuh jalan
berhutang untuk mengatasi himpitan kesulitan ekonomi yang dialami keluarganya.
Berhutang yang pada awalnya dibayangkan sebagai “jalan ke kehidupan”, dalam
kenyataannya justru telah membuat Sumarsih harus kehilangan Pardiyu suami yang
dikasihinya untuk selamanya. Ketidakmampuan keluarganya untuk membayar hutang
(kredit) kepada Baitul Maal wat-Tamwil Projo Artha Sejahtera (selanjutnya
disingkat:BMT-PAS),21 telah membuat Pardiyu mengalami tekanan psikologis sangat
berat yang akhirnya telah membuatnya memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan
cara gantung diri di pohon yang ada di sawah di depan rumah mereka”.22
Keadaan hidup seperti yang dialami keluarga Sumarsih ini, telah membuat
banyak masyarakat marjinal di pelosok pedesaan menjadi terjebak ke dalam jerat
praktik bank plecit (rentenir). Ironisnya, meskipun Negara memandang praktik bank
plecit atau rentenir ini sebagai sebentuk illegal banking namun dalam kenyataannya,
praktik bank plecit (rentenir) ini justru surivive karena turut dikondisikan oleh adanya
persekongkolan (konspirasi) yang dilakukan oleh Lembaga Keuangan (Mikro) formal
(formal microfinance) dengan para rentenir. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan
Heru Nugroho terhadap masyarakat marjinal di Bantul Yogyakarta misalnya terungkap
21
Baitul Maal wat-Tamsil (BMT) adalah sebentuk lembaga keuangan mikro (semi formal) yang
memadukan prinsip-prinsip keuangan syariah dan keuangan mikro. BMT berfungsi mengumpulkan
tabungan dari masyarakat dan menyediakan berbagai skema investasi, kredit, serta modal kerja
berdasarkan prinsip syariah kepada perorangan dan usaha mikro di sektor informal dengan target fakir
miskin. Selanjutnya lihat: Bagus Aryo (2012) Tenggelam dalam Neoliberalisme? “Penetrasi Ideologi Pasar
Dalam Penanganan Kemiskinan”, Depok-Jawa Barat, Kepik, khususnya hlm, 59-61
22
Tentang Kisah tragis yang dialami keluarga Sumarsih selengkapnya lihat: Litbang Kompas, (15/2/2010],
(dalam), T.Handono eko Prabowo, (2010), Pengembangan Kekuatan-kekuatan Transformatif untuk
Kedaulatan Sosial Ekonomi (sebuah refleksi sosial ekonomi), Yogyakarta, Universitas Sanata Dharma,
hlm,10
11
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
adanya kompetisi antara bank dan rentenir dalam hal nasabah dan ada juga kerjasama
dalam hal distribusi kredit di dalam masyarakat Bantul”.23
Keadaan ini kemudian diperparah lagi oleh kenyataan banyaknya koperasi
berbadan hukum tetapi justru melakukan praktik rentenir. Suroto, ketua koalisi
Organisasi non Pemerintah (Ornop) untuk Demokratisasi Ekonomi (pemohon uji materi
UU Perkoperasian) mengatakan: 70% dari 200.000 unit koperasi berbadan hukum
melakukan praktik rentenir”.24 Artinya, “Badan Hukum” (koperasi) itu, ternyata hanya
kedok dan untuk mengecoh sebab dalam kenyataannya koperasi ber “Badan Hukum”
itu, justru tidak sedikit yang digunakan sebagai selubung bagi penyelenggaraan praktik
rentenir secara legal dan melembaga. Itu artinya, di era globalisasi kapitalisme
neoliberal saat ini, praktik (ber)koperasi tidak lagi berpijak dan bersandar pada prinsip
atau nilai-nilai kekeluargaan dan kegotongroyongan. Semangatnya bukan lagi semangat
saling membantu, saling berbagi dan bekerjasama (kolektifitas). Pantas saja, istilah
“koperasi” dewasa ini seringkali diplesetkan menjadi “kuperasi”. Logika koperasi tidak
lagi berpijak pada logika sosial tetapi kini justru memusat pada logika ekonomi (uang).
Menurut Haryatmoko, logika ekonomi selalu didasarkan pada logika persaingan sebagai
pendorong efektivitas. Logika ini dipisahkan dari logika sosial yang justru sangat
menekankan aturan keadilan. Selain itu, logika ekonomi juga tertutup terhadap wacana
lain. Padahal wacana lain sering memberi pemecahan atas permasalahan ekonomi,
meski dalam skala kecil”.25
Gambaran tersebut di atas, merupakan potret buram kehidupan sosial, ekonomi
dan kebudayaan masyarakat pedesaan di era globalisasi kapitalisme neoliberal saat ini.
23
Heru Nugroho (2001) Uang, Rentenir dan Hutang Piutang di Jawa, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, hlm,
183
24
Sumber: Harian Nasional, A6, Opini, Sabtu, 23 Agustus 2014
25
Haryatmoko, “Peran Gereja di Indonesia Ketika Neo-LIberalisme Semakin Mendikte”, (dalam) Jeffrie A.
A.Lempas, eds (2006),Op.cit,hlm, 112.
12
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Tantangan ini, bagaimanapun juga membutuhkan jawaban etis dari siapa saja, baik oleh
negara maupun lembaga sosial keagamaan seperti gereja sebab ada aspek etis di dalam
dirinya yang mesti diartikulasikan ke dalam konteks sosialnya yang lebih luas. Upaya
gereja untuk menghentikan praktik “penjagalan” di bidang ekonomi di era kapitalisme
neoliberal saat ini tidak cukup hanya dilakukan dengan mempraktikkan “cara hidup
alternatif” tetapi juga harus dibarengi dengan menghadirkan “sistem ekonomi
alternatif”. Pendirian “Grameen Bank” di Bangladesh misalnya menjadi salah satu
contoh bagaimana menghadirkan gagasan (sistem ekonomi) alternatif yang lebih dari
sekedar logika ekonomi-uang. Kelompok masyarakat marjinal yang miskin yang tidak
memiliki kekuasaan untuk mengakses fasilitas permodalan bisa memperoleh modal
berkat pemikiran Muhammad Yunus yang memperhitungkan aspek budaya”. 26
Bagaimanapun juga, sebagai lembaga sosial keagamaan, tentunya institusi gereja
(termasuk komunitas kristen “gereja suku”) memiliki tugas dan tanggungjawab untuk
memberi respons etis terhadap kesulitan yang dialami warga jemaat dan juga
masyarakat marjinal dalam mengakses fasilitas permodalan. Di tengah harapan dan
tuntutan terhadap gereja-gereja di Indonesia yang seperti itu, justru ada hal yang sering
luput dari perhatian sehingga respon etis tersebut tidak dapat diartikulasikan. Banyak
institusi gereja mengalami kesulitan bahkan tidak mampu memberi respon etis tersebut
justru karena gereja-gereja di Indonesia justru tidak memiliki instrumen untuk
mengartikulasikan aspek etisnya tersebut.
Beberapa gereja-gereja di Indonesia, memang berniat untuk menggunakan
wacana BPR sebagai instrumen untuk mengartikulasi aspek etis gereja.Namun kalau
dilihat dari aspek yuridis (legal formal) keinginan gereja untuk mendirikan dan
26
Ibid.
13
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
menggunakan wacana BPR tersebut seolah-olah seperti sesuatu yang terlarang. Hal itu
paling tidak dapat dilihat dari pengalaman empiris MP. Ambarita yang terlibat dalam
proses perencanaan dan pendirian PT.BPR-PPK (sebuah bank milik GBKP) namun
dibalik kesuksesannya tersebut, MP. Ambarita justru berpendapat bahwa sesungguhnya
berdasarkan Undang-Undang Bank (UU No.7 tahun 1992) dan Undang-Undang
Perseroan Terbatas (UU No.1 tahun 1985) secara yuridis formal gereja tidak diijinkan
mendirikan bank”.27
Berdasarkan
pengalaman
empirisnya
mengelola,
mengoperasikan
dan
mengembangkan pelayanan PT. BPR-PPK sejak tahun 199-2010, MPA sampai pada
kesimpulan bahwa wacana BPR itu sebenarnya tidak cocok digunakan sebagai
instrumen untuk mengartikulasi aspek etis gereja di bidang pemberdayaan ekonomi
jemaat dan masyarakat. Sebab sebagai sebuah Lembaga Keuangan Mikro formal,
pemaknaan wacana BPR bagaimanapun
juga sudah ditentukan dan hanya bisa
direartikulasi dalam kerangka yuridis yang legal-formal berdasarkan regulasi yang
sedang berlaku yang justru sering sekali tidak sejalan dengan tuntutan jemaat dan
masyarakat. Kenyataan seperti itulah yang membuat sehingga wacana BPR (milik
gereja) itu tidak dapat diartikulasi secara fleksibel demi pemberdayaan ekonomi jemaat
di seluruh wilayah administratif pelayanan gereja.
Bertolak dari pengalaman empirisnya serta keprihatinannya atas kesulitan yang
dialami gereja-gereja di Indonesia dalam memberi respons etis terhadap kesulitan warga
jemaat
dan
masyarakat
marjinal
karena
ketiadaan
instrumen
untuk
mengartikulasikannya, MP. Ambarita lantas mengajukan wacana Credit Union
Modifikasi (CUM) sebagai wacana alternatif untuk mengisi ketiadaan instrumen
27
E.P. Ginting dan MP.Ambarita (2001), PT. Bank Perkreditan Rakyat Pijer Podi Kekelengen Desa
Simalem, Jakarta, BPK-Gunung Mulia, hlm, 148
14
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
artikulasi tersebut. MP.Ambarita mengklaim bahwa wacana CUM ini merupakan
sebentuk sistem pemberdayaan ekonomi kerakyatan alternatif (versi kristiani) sebab
berpijak pada nilai-nilai etik kristiani yang bersifat universal.Secara teknis, sistem
manajemennya merupakan perpaduan dari sistem manajemen CU konvensional dan
sistem manajemen BPR. Jadi, kalau gereja-gereja di Indonesia menggunakan wacana
CUM sebagai instrumen untuk mengartikulasi aspek etisnya di bidang pemberdayaan
ekonomi jemaat dan masyarakat maka keinginannya untuk menggunakan wacana BPR
(dalam arti hanya menginginkan sistem manajemennya) sesungguhnya otomatis dapat
diwujudkan.
Memang, gairah yang dirasakan mungkin tidak sama sebab dalam wacana CUM
tersebut, sistem manajemen wacana BPR dialihkan status dan identitasnya menjadi
bersifat informal (informal microfinance). Dalam status ontologisnya yang seperti itu,
praktik pengartikulasian wacana CUM itu menjadi menarik untuk dikaji. Disebut
menarik, bukan saja karena di dalam wacana CUM identitas sistem manajemen BPR
ditransformasi menjadi bersifat informal tetapi karena dalam statusnya sebagai sebentuk
informal microfinance seperti itu, wacana CUM tampak diterima dan berkembang
secara masif sebagai sebuah sistem pemberdayaan ekonomi kerakayatan versi kristiani.
Hal itu tampak dari berkembangnya Komunitas CUM di berbagai denominasi gereja
khususnya “gereja suku” yang ada di Sumatera Utara. Tercatat institusi gereja-gereja
yang telah menggunakan dan mengembangkan wacana CUM dalam konteks
partikularitas di wilayah pelayanannya masing-masing antara lain: “Huria Kristen Batak
Protestan” (HKBP), “Gereja Batak Karo Protestan” (GBKP), “Gereja Kristen Protestan
Indonesia” (GKPI) dan “Gereja Kristen Protestan Simalungun” (GKPS) dan berbagai
komunitas kristen “gereja suku” lain yang ada di Sumatera Utara.
15
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Dalam konteks GKPS, wacana CUM ini tampak telah mewujud menjadi
sebentuk kesatuan sosial yang disebut dengan Komunitas Credit Union Modifikasi
(CUM) “Talenta”. Pembentukan kesatuan sosial komunitas CUM “Talenta” ini
tergolong unik sebab secara legal formal, komunitas ini justru tidak lahir dari “rahim”
institusi GKPS sendiri. Komunitas CUM “Talenta” justru lahir melalui mekanisme
formal melainkan dibentuk oleh para Pendeta (muda) GKPS (di Distrik III Saribudolok)
yang didahului dengan sejumlah pertemuan-pertemuan (diskusi) informal
yang
memperbincangkan tentang berbagai problem sposial ekonomi yang dialami oleh jemaat
di wilayah partikular pelayanannya masing-masing. Meskipunkomunitas CUM
“Talenta” tidak lahir dari “rahim” institusi GKPS tetapi komunitas ini tampak
mengklaim bahwa dirinya merupakan perpanjangan tangan institusiGKPS di bidang
pelayanan (diakonia) ekonomi. (Lihat:foto papan nama yang dipajang di depan kantor
pusatnya di Jl. Sutomo 15 di Saribudolok, Kecamatan Silimakuta Simalungun dibawah
ini):
(Sumber foto: dok. pribadi).
Klaimnya berbunyi: Kantor Pusat Credit Union Modifikasi (CUM) “Talenta”. “Bidang
Pelayanan GKPS”. Pengakuan Pemerintah RI. Dep.Agama No. 28 Tgl 12 Oktober 1972
16
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
dan No.149 tgl 10 Juli 1989. Pengakuan pemerintah RI yang dimaksudkan dalam hal ini
adalah pengakuan Pemerintah terhadap GKPS sebagai lembaga sosial keagamaan yang
dikeluarkan Departemen Agama. Singkat kata, Badan Hukum Komunitas CUM
“Talenta”berlindung dibawah payung Badan Hukum GKPS sebagai lembaga sosial
keagamaan.
Kehadiran komunitas CUM “Talenta” yang senyatanya bukan lahir dari “rahim”
institusi GKPS secara legal formal menarik untuk dikaji sebab Pimpinan Pusat GKPS
dikemudian hari telah memberi “pengakuan” atas keberadaan komunitas CUM
“Talenta” ini. Hal itu terlihat misalnya dari diberinya ruang kepada komunitas CUM
“Talenta”
untuk
menggunakan
struktur
kelembagaan
GKPS
sebagai
media
pengorganisasian untuk merekrut anggota dan pengembangan wilayah pelayanannya.
Selain itu, Pimpinan pusat GKPS juga tampak memberi pengakuan melalui
kesediaannya menugaskan tenaga pelayannya yakni para pendeta yang memiliki
sertifikat (lulus) sebagai manajer CUM, (melalui suatu Surat Keputusan (SK) penugasan
dan penempatan) di komunitas CUM “Talenta”. Meskipun dengan “pengakuan” seperti
itu, tidak berarti komunitas CUM “Talenta” menjadi lembaga pelayanan in-subordinasi
dalam struktur kelembagaan GKPS. Kesatuan sosial komunitas CUM “Talenta” dan
GKPS adalah dua entitas sosial yang berbeda meskipun keduanya tidak dapat
dipisahkan secara dikotomis. Anggota Komunitas CUM “Talenta”, melalui Rapat
Anggota Tahunan (RAT)merupakan pemegang kekuasaan tertinggi di dalam komunitas
CUM “Talenta”. Seluruh harta kekayaannya adalah milik anggota. Dengan kata lain,
GKPS secara kelembagaan bukanlah pemilik komunitas CUM “Talenta”.
Dengan latar belakang permasalahan dan perspektif relasi komunitas CUM
“Talenta” dengan GKPS sebagaimana diungkapkan di atas penelitian ini akan
17
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
memperbincangkan pengartikulasian identitas politik GKPS sebagai “gereja suku” di
ruang publik, yang direpresentasikan oleh Komunitas CUM “Talenta”. Politik tentulah
punya arti dan defenisi yang sangat luas sehingga pengertian politik tidak mungkin
dibatasi dan hanya terkait dengan lembaga politik, partai politik, pemilu, kampanye,
caleg dan lain-lain. Dalam konteks penelitian ini, politik adalah ihwal menata hidup
bersama agar menjadi lebih baik dan lebih adil. Bertolak dari hal tersebut, maka
mempertanyakan identitas politik seseorang atau kelompok sosial (agama) tertentu, itu
sama artinya dengan mempertanyakan tindakan apa yang dilakukannya dalam memberi
respons terhadap kondisi krisis yang sedang dihadapinya publiknya. Dengan pengertian
politik yang seperti itu maka perbincangan tentang identitas politik “gereja suku” di
ruang publik merupakan perbincangan tentangihwal pembentukan masyarakat. Karena
itulah, penelitian ini menggunakan perspektif politik hegemoni sebagaimana
dikembangkan oleh duet pemikir postmarxis Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe
(1985).
1.2. Rumusan Permasalahan
Berdasarkan latar belakang permasalahan sebagaimana yang sudah digambarkan di atas,
maka permasalahan pokok yang ingin dijawab dalam penelitian ini adalah:
1.
Apa dan bagaimana latar belakang munculnya wacana CUM sebagai sistem
pemberdayaan ekonomi kerakyatan alternatif- versi kristiani?
2.
Sejauhmana Komunitas CUM “Talenta”
mampu mengartikulasi
identitas
politik “gereja suku” (GKPS) di ruang publiknya di Simalungun?
3.
Perjuangan-perjuangan demokratik baru(new democratic struggles) yang seperti
apa yang dilakukan“komunitas CUM Talenta” di ruang publik sehingga tercipta
political space di ruang publiknya di pedesaan Simalungun?
18
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
1.3. Tujuan Penelitian
Bertolak dari rumusan permasalahan tersebut di atas maka penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui: pertama, apa dan bagaimana latar belakang munculnya wacana CUM
sebagai sistem ekonomi kerakyatan alternatif (versi kristiani), kedua sejauhmana
komunitas CUM Talenta mampu mengartikulasi identitas politik “gereja suku” di ruang
publik di pedesaan Simalungun, dan ketiga perjuangan-perjuangan demokratik baru
(new democratic struggles)yang seperti apa yang dilakukan “komunitas CUM Talenta”
di ruang publiksehingga tercipta political space di ruang publik pedesaandi Simalungun.
1.4. Manfaat Penelitian
Penelitian ini, secara khusus disandarkan pada displin religious and cultural studies
yang dikenal dengan pendekatannya yang interdispliner. Oleh karena itu penelitian ini
sebenarnya dapat bermanfaat kepada siapa saja yang berniat untuk menjadikannya
sebagai referensi untuk penelitian-penelitian lanjutan dalam berbagai perspektif
keilmuan yang lain.
Karena tema penelitian ini terkait dengan identitaspolitik “gereja suku”, maka
penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi komunitas kristen “gereja suku” di Indonesia
yang berniat merepresentasikan dirinya di tengah-tengah “permasalahan kontekstual”
yang sedang dihadapi masyarakat di wilayah partikular dimana gereja berada. Selain itu,
bagi para pengambil keputusan, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai
pertimbangan bagi pembuatan kebijakan politik ekonomi yang lebih baik, lebih adil,
manusiawi dan memihak kaum marjinal.
1.5. Tinjauan Pustaka
Sebelum melakukan penelitian ini lebih jauh, rasanya perlu untuk memaparkan
penelitian-penelitian sebelumnya dengan tema yang (hampir) sama sehingga posisi dan
19
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
perbedaan pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini dapat terlihat dengan jelas.
Sejauh ini, ada beberapa penelitian dengan tema yang hampir sama,dapat
disebutkan antara lain:pertama, penelitian yang dilakukan oleh Saut Sirait (2001),
“Politik Kristen di Indonesia: Suatu Tinjauan etis”, yang diterbitkan oleh BPK-Gunung
Mulia Jakarta. Kedua, Leonardus Samosir (2010), Agama dengan Dua Wajah, “
Refleksi Teologis atas Tradisi dalam Konteks, diterbitkan oleh Obor-Jakarta. Ketiga,
Martin Lukito Sinaga (2004), Identitas Poskolonial “gereja suku” dalam Masyarakat
Sipil, Studi tentang Jaulung wismar Saragih dan komunitas Kristen Simalungun,
diterbitkan oleh LKiS-Yogyakarta.
1.5.1. Politik Kristen di Indonesia: Suatu Tinjauan Etis
Penelitian ini semula merupakan tesis penulis (Saut Sirait) yang diajukan pada program
studi Magister Teologi di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta tahun 1999 dengan judul:
Menuju Kota yang Setia. Penelitian ini merupakan kajian teologi dengan pendekatan
analisis kritis-praktis berdasarkan kritik-historis; biblika-etika. Studi yang dilakukan
Saut Sirait, menyimpulkan bahwa perhatian gereja-gereja di Indonesia terhadap realitas
sosial tampak begitu tipis, kecuali pada hal-hal yang bersifat karitatif, insidental dan
sporadis. Saut Sirait mengatakan bahwa model perhatian gereja terhadap realitas sosial
masih berorientasi kepada latreia yakni yang berkaitan dengan “pelayanan Allah”,
“ibadah Allah” dan belum dalam arti diakonia yakni yang berhubungan dengan
pelayanan kepada sesama manusia. Dengan kata lain, Saut melihat bahwa praksis hidup
menggereja masih berkutatpada aspek kultis atau latreia semata dan kurang menyentuh
dunia etis atau diakonia”. Hal ini menurut Saut Sirait telah membuat ekspresi politik
Kristen di Indonesia cenderung berorientasi kepada kekuasaan (“istana sentris”) seperti
tampak dalam sikapnya ketika Indonesia dilanda krisis ekonomi pada tahun 1997 di
20
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
mana saat itu pemimpin gereja di Indonesia (PGI) justru pergi ke istana Negara
membawa emas sebagai tanda solidaritas dan keprihatinan komunitas kristen di
Indonesia atas krisis ekonomi yang sedang terjadi.
Catatan penting lainnya yang diangkat Saut Sirait adalah pengalaman empiris
gereja-gereja di Indonesia sejak awal kemerdekaan hingga runtuhnya rezim Orde Baru,
dianggap belum mampu memberikan pencerahan dan pengaruh nilai-nilai etis-kristiani
dalam dunia perpolitikan Indonesia. Keterlibatan masyarakat agama dalam dunia politik
telah secara jelas dirumuskan dalam ketetapan MPR tahun 1993, bahwa fungsi agama
untuk memberikan sumbangan etis, moral dan spiritual dalam pembangunan nasional
merupakan hak dan kewajiban konstitusional agama-agama di Indonesia.
1.5.2. Agama dengan Dua Wajah: Refleksi Teologis atas Tradisi Dalam Konteks
Buku ini merupakan kumpulan tulisan dari penulisnya (Leonardus Samosir) di mana
terdapat satu bab yang khusus membahas tentang identitas kristianitas, tepatnya
“Identitas Kristiani: Tegangan antara Tradisi dan Relevansi”. Dengan melacak mundur
ke belakang, Leonardus Samosir menemukan apa yang menjadi “biang kerok” yang
menjadi penyebab terjadinya “privatisasi iman” dalam kehidupan bergereja. Leonardus
Samosir menyimpulkan bahwa sikap bertahan hanya pada wilayah privat gereja dan
menolak masuk ke wilayah publik merupakan dampak dari masih begitu bertenaganya
“subjek pencerahan” yang membanjiri kehidupan spiritual komunitas Kristen dengan
kata “aku” (me). Hal itu telah membuat adanya penolakan terhadap “gerak di luar” diri
dan persentuhan dengan “yang lain” (the other). Keadaan seperti ini membuat gereja
menjadi terdesak ke pinggir dan akhirnya menjadi sektarian.
Bagaimanapun juga, gereja adalah bagian dari masyarakat demikian pula
sebaliknya, masyarakat adalah bagian dari gereja. Meskipun begitu, Leonardus Samosir
21
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
mengingatkan bahwa pertemuan gereja dengan lingkungan jangan menyerap pesan
Kristiani menjadi jawaban atas kebutuhan sosiologis. Sebaliknya, memegang tradisi
tidak boleh pula menjadi hambatan untuk bertemu dengan realitas sosial yang aktual.
Posisi seimbang hanya mungkin kalau identitas kristianitas tidak dilihat secara statis
demikian pula halnya dengan tradisi agar tidak dilihat sebagai sesuatu yang statis.
1.5.3. Identitas Poskolonial “Gereja Suku” Dalam Masyarakat Sipil: Studi
Tentang Jaulung Wismar Saragih Dan Komunitas Kristen Simalungun
Penelitian ini merupakan penelitian yang dianggap “lebih dekat” atau bahkan dapat
dikatakan merupakan titik tolak dari penelitian yang hendak saya dilakukan. Penelitian
ini mengambil tema “identitas poskolonial “Gereja Suku” dalam Masyarakat Sipil”
Sebagaimana tampak dari judulnya, penelitian ini menggunakan tafsir poskolonial
sebagai alat analisis atas hidup seorang perintis kekristenan di Simalungun bernama
Jaulung Wismar Saragih (selanjutnya disingkat JWS). Sementara unit analisisnya
adalah: 1). Teks-teks teologis dan 2). Gerakan-gerakan sosial alternatif yang diajukan
JWS dalam menghadapi penetrasi wacana dan institusi modern misi/zending yakni
Rheische Missions Gessellschaft(RMG) dan pengecer lokalnya orang Toba lewat
institusinya “Huria Kristen Batak Protestan” (selanjutnya disingkat: HKBP).Secara
lugas Martin Lukito Sinaga menyingkap bagaimana seorang JWS sebagai representasi
dari liyan “yang lokal” dan juga sebagai representasi dari komunitas orang Kristen
Simalungun yang subaltern (tersubordinasi) berhasil menjadi subjek politik baru di
mana JWS berhasil menegosiasikan identitas kelokalannya.
Proses negosiasi itu ditempuh JWS dengan pertama-tama melakukan retakan
(rupture) terhadap (1). wacana (teks) kekristenan yang diterimanya sudah dalam ritme
pietisme. Pietisme adalah corak rohani yang menekankan kesalehan pribadi dan
22
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
penghayatan iman dan sebagai segi-segi iman Kristen disamping ajaran yang benar.
Upaya melakukan retakan (rupture) itu dilakukan JWS dengan membawa setiap hal
baru yang diterimanya ke dalam konteks pergulatan suku dan konteks manfaatnya bagi
kehidupan etnik dan dirinya sendiri. Setiap penerimaan keyakinan baru akan dihadapkan
pada tuntutan nyata dalam persoalan sehari-hari dalam lokasi sosial kulturalnya”.
Dengan basis kedirian seperti itulah JWS juga melakukan retakan (rupture)
terhadap (2) “sosial agency” yang melakukan hegemonisasi dan dominasi struktural dan
kultural atas dirinya dan komunitasnya (orang Kristen Simalungun) yakni RMG dan
HKBP. Hal itu ditempuhnya dengan pertama-tama menerjemahkan “Allah” dalam
Alkitab setara dengan “Naibata” dalam konsep (bahasa) orang Simalungun. Dengan
cara seperti itu, JWS sekaligus menegaskan bahwa konsep “Naibata” berbeda dengan
konsep “Debata” yang dikenal dalam istilah orang Toba. Perjuangan yang dilakukan
JWS dengan menggunakan “politik bahasa” (menerjemahkan Alkitab) ke dalam bahasa
ibunya itulah yang membuat ia dan komunitasnya, orang kristen Simalungun berhasil
meraih identitas poskolonial “gereja suku”-nya yang mewujud dalam bentuknya sebagai
Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS).
Selanjutnya (di Bab III) Martin Lukito Sinaga memperbincangkan tentang sosok
baru identitas poskolonial “gereja suku” sebagai hasil perjumpaannya dengan
problematika yang dihadapi oleh masyarakat sipil. Maksudnya,“ruang publik”
merupakan konteks baru identitas poskolonial ”gereja suku”. Kalau komunitas kristen
“gereja suku” berniat meluaskan (makna) identitas poskolonialnya ke dalam konteks
barunya di ruang publik tersebut maka jalur atau mekanisme yang paling tepat yang
harus digunakannya adalah dengan bertransformasi menjadi sebentuk komunitas etis
(moral community) sebagaimana sudah disinggung sebelumnya. Selanjutnya, di sana ia
23
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
juga harus meluaskan identitasnya tersebut secara radikal dengan hadir membela
publiknya melalui mekanisme masyarakat sipil lainnya yakni lewat gerakan-gerakan
sosial baru. Dengan peralihan identitas poskolonial “gereja suku” menjadi sebentuk
komunitas etis dan memanfaatkan mekanisme masyarakat sipil sebagai carauntuk
membela publiknya maka hal itu akan membuat komunitas kristen “gereja suku”
memperoleh sebentuk identitas baru dalam kategori politik.
Bagaimanakah komunitas kristen “gereja suku” (GKPS) hasil bentukan JWS itu
kemudian menghadirkan dirinya di tengah-tengah konteks barunya di ruang publik? Ke
arah itulah penelitian ini saya kerjakan. Dengan kata lain, penelitian yang hendak saya
lakukan ini merupakan kelanjutan dari penelitian yang sudah dilakukan Martin Lukito
Sinaga. Perbedaannya dengan penelitian yang dilakukan Martin Lukito Sinaga tidak
hanya terletak pada kerangka teori atau alat analisis yang digunakan tetapi juga pada
jenis data dan unit analisisnya. Martin Lukito Sinaga menggunakan tafsir poskolonial
sebagai alat analisis untuk membaca dua unit analisis yang diajukannya yakni: teks-teks
teologis dan gerakan-gerakan sosial alternatif yang diajukannya untuk menghadapi
penetrasi wacana dan institusi modern misi/zending sebagaimana terdapat dalam
biografi Jaulung Wismar Saragih. Sedangkan penelitian ini, menggunakan teori politik
hegemoni sebagaimanadikembangkan Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe,dengan tiga
konsep lain yang mengiringinya yakni:artikulasi, antagonisme dan subjek politik.Teori
hegemoni sebagaimana yang dikembangkan LM tersebut akan digunakan untuk
membaca tiga unit analisis dalam penelitian ini yakni:1). Teks atau dokumen yang bisa
menggambarkan latar belakang sosio historis dan politis yang mendasari munculnya
wacana Credit Union Modifikasi sebagai sebuah sistem pemberdayaan ekonomi
kerakyatan alternatif versi kristiani, 2). Bentuk-bentuk pengartikulasian identitas politik
24
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
GKPS di ruang publik sebagaimana direpresentasikan oleh Komunitas CUM “Talenta”,
3).Perjuangan-perjuangan demokratik baru yang dilakukan komunitas CUM “Talenta”di
ruang publik pedesaan di Simalungun.
1.6. Kerangka Teori
1.6.1. Identitas Politik: Hegemoni, Antagonisme dan Pembentukan Subjek Dalam
Perspektif Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe (LM)
1.6.1.1. Hegemoni-Artikulasi
Sebelum memaparkan lebih jauh tentang teori hegemoni dengan tiga konsep yang
mengiringinya yakni artikulasi, antagonisme dan subjek politik, penting untuk diketahui
bahwa cara atau pendekatan yang digunakan Ernesto Laclau-Chantal Mouffe
(selanjutnya disingkat: LM)untuk memahami dan mengkaji fenomena sosial (the social)
dilakukan dengan menggunakan pendekatan “bahasa”. Artinya, akses kita pada realitas
sosial hanya bisa dicapai melalui bahasa. Lalu, apa yang dimaksud LM dengan bahasa?
Jawabannya, “bahasa” yang dimaksud LM dalam hal ini bukan sistem umum bahasa
atau gramatika (struktur bahasa) tetapi bahasa sebagaimana dimanifestasikan dalam
wujudnya sebagai wacana, atau dalam omongan”.28
LM adalah pasangan pemikir politik kiri sekaligus penggagas postmarxis yang
menyandarkan paradigma teoritiknya pada tradisi linguistik strukturalis dan poststrukturalis. Kalaupun di kemudian hari, LM lebih cenderung menganut cara berpikir
tradisi poststrukturalis, namun prinsip-prinsip dasar strukturalisme masih tetap mereka
gunakan untuk memahami dan menggeledah fenomena sosial ataupun (pembentukan)
masyarakat. Ada perbedaan yang cukup tajam antara tradisi linguistik srukturalisme dan
poststrukturalisme. Boni Hargens mencatatkan perbedaan keduanya sebagai berikut:
28
St. Sunardi, Logika Demokrasi Plural Radikal, (dalam) Retorik, Jurnal Ilmu Humaniora Baru, vol.3 No. 1
Desember 2012, Program Studi Ilmu Religi dan Budaya, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, hlm, 5
25
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Kaum strukturalis, sangat percaya bahwa makna diproduksi oleh proses
penandaan (signifikasi) dalam suatu sistem bahasa yang mensyaratkan secara
mutlak adanya penanda (siginifier) dan petanda (signified). Hubungan stabil
penanda (imaji, akustik, kata) dan petanda (konsep)_menentukan makna”.
Sebaliknya, di tangan kaum poststrukuralis bahasa kehilangan kemutlakannya
karena makna ternyata tidak diproduksi oleh struktur bahasa tetapi dipengaruhi
oleh konteks”.Barthes bahkan secara radikal mengatakan bahwa subjek bebas
memasuki teks dari berbagai sudut dan menemukan makna baru dalam setiap
penelusurannya. Dengan kata lain, tidak ada makna mutlak, tidak ada konsep
sentral dan tidak ada universalitas mutlak. Makna bersifat partikular dan
kontekstual”.29
Merujuk pada perbedaan dari kedua tradisi linguistik tersebut maka dapat
disimpulkan bahwa di tangan kaum strukturalis “makna”dipahami sebagai sesuatu yang
tetap (fixed) dan final. Itu artinya, kaum strukturalis memahami “makna”bersifat
universal. Sedangkan kaum poststrukturalis memahami sebaliknya, “makna”adalah
sesuatu yang tidak tetap (unfixed). Dengan kata lain, “makna”bersifat partikular dan
kontekstual bukan universal.
Perlu juga ditambahkan, selain bersandar pada tradisi berpikir linguistik, LM
juga memijakkan paradigma teoritiknya pada pemikiran Jacques Lacan, seorang filsuf
psikoanalisa dari Perancis itu. Menurut Lacan tidak ada kata yang bebas dari metafora.
Setiap upaya untuk memahami suatu penanda (kata) selalu memerlukan penanda yang
lain dan penanda berikutnya juga memerlukan penanda yang lain sehingga membentuk
suatu rantai penanda (chain of signifier) yang tidak terputus. Bagi Lacan, tidak ada kata
yang tuntas dan tidak ada kalimat yang tertutup. Setiap kata atau kalimat selalu
menuntut adanya kata atau kalimat yang lain sehingga makna juga tidak bersifat tertutup
dan tetap. Baik penanda (kata) maupun petanda (makna) bersifat sementara”.30
29
Boni Hargen ((2006) Op.cit,hlm, 27
Ibid, hlm, 67
30
26
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Karena bahasa (makna) pada dasarnya tidak bisa sepenuhnya stabil, maka bagi
LM identitas juga tidakakan pernah bisa bersifat tetap dan final (unfixed of all
identities).All identity is relational, kata LM”.31 Dengan status ontologis seperti itu
maka setiap identitas menjadi terbuka (contingent) untuk segala pemaknaan dan
reartikulasi”.32 Identitas bukanlah sesuatu yang terberi (given) atau terbawa melainkan
sesuatu yang dibentuk. Dibentuk melalui apa? LM mengatakan identitas adalah hasil
dari konstruksi diskursif (discursive construction). Dalam istilahnya yang lain, LM
mengatakan bahwa identitas itu merupakan hasil dari artikulasi diskursif (discursive
articulation). Meskipun identitas adalah hasil dari artikulasi diskursif namunartikulasi
diskursif itu tidak pernah bisa mencapai fiksasi makna yang utuh dan sempurna. Itu
berarti identitas selalu merupakan hasil “kontestasi-sementara”. Dan, setiap reproduksi
atau proses pembaharuan makna selalu merupakan tindakan politik sebab politik bagi
LM melampaui dari sekedar lembaga-lembaga politik seperti partai politik, kelender
pemilu dan sebagainya. Bagi LM, politik merupakan suatu konsep yang sangat luas
sebab mengacu pada cara kita senantiasa menyusun fenomena sosial dengan cara-cara
meniadakan cara-cara yang lain”.33 Chantal Mouffe membedakan politik itu dalam dua
kategori yakni “yang politis” (the political) dan “politik” (politics). By “the political” I
mean the dimension of antagonism which I take to be constitutive of human societies,
while “politics” I mean the set of practices and institutions through which and order is
created organizing of human coexistence in the context of conflictuality provided by the
political”.34
31
Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe, (1985) Hegemony& Socialist Strategy; Towards a Radical
Democratic Politics, London-New York, Verso, hlm, 111
32
Boni Hargen, (2006), Op.cit, hlm, 22
33
Marianne W.Jorgensen dan Phillips.J. Louise, (2007) Analisis Wacana: Teori dan Metode, terj,
Yogyakarta, Pustakan Pelajar, hlm, 68
34
Chantal Mouffe, (2005) On the Political: Thinking in Action, London-New York, Routledge, hlm, 9
27
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Dalam perspektif seperti itulah, LM memahami (pembentukan) masyarakat atau
realitas sosial. Masyarakat atau realitas sosial itu tidak pernah selesai atau tidak pernah
sampai pada totalitasnya yang penuh dan sempurna. Dengan begitu maka masyarakat itu
bersifat terbuka (contingent) dan tidak tetap (unfixed). Itulah sebabnya dalam dictumnya yang terkenal itu LM mengatakan: “Masyarakat itu tidak ada!” Maksudnya,
masyarakat atau realitas sosial secara objektif tidak pernah selesai atau tepatnya tidak
pernah bisa bersifat penuh dan total”.35 Masyarakat selalu merupakan hasil dari praktik
diskursif yang beragam dan terus menerus. Masyarakat adalah cara subjek memberi
makna padanya. Meskipun begitu harus diingat bahwa subjek dalam pandangan LM
adalah subjek yang rentan, tidak pasti dan tidak otonom sebagaimana subjek cogitan
(cogito ergo sum: aku berpikir maka aku ada) yang dipahami Descartes. Subjek dalam
pandangan LM adalah subjek yang dikondisikan atau disituasikan. Karena itulah LM
memahami masyarakat atau realitas sosial itu tidak memiliki pusat hegemonik, atau
tidak memiliki semacam fondasi tetap yang tidak bisa berubah (semacam penyangga
permanen dalam dunia sosial) sebagaimana dalam pandangan Gramsci ataupun
Marxisme klasik.
Karena masyarakat adalah wacanaatau tepatnya merupakan praktik wacana maka
tidak ada elemen (kelompok sosial) yang lebih tinggi atau lebih unggul dalam ranah
sosial. Karena itu, setiap unsur dalam realitas sosial memiliki potensi untuk menjadi
wacana. Setiap elemen di dalam masyarakat yang dapat diartikulasikan ke dalam ruang
sosial dengan sendirinya dapat diidentifikasi. Bertolak dari pemahaman seperti itu
maka LM memahami bahwa hegemoni adalah hasil dari suatu praktik artikulasi yang
35
Boni Hargens, (206) Op.cit,hlm, 73
28
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
bersifat terus menerus. Artikulasi itu selalu memberi identitas dan identitas itu akan
selalu menempati posisi struktural tertentu dalam ruang sosial”.36
LM memahami bahwa munculnya hegemoni merupakan konsekuensi dari
artikulasi diskursif dari elemen atau kelompok sosial tertentu yang mendominasi
artikulasi elemen atau kekuatan sosial tertentu yang berlangsung secara terus menerus
dalam ranah sosial. Sebaliknya, artikulasi diskursif yang dilakukan oleh elemen atau
kekuatan sosial tertentu dalam masyarakat yang memandang dirinya lebih lemah dari
kekuatan sosial yang mendominasi artikulasi diskursif dalam masyarakat dapat disebut
sebagai hegemoni tandingan atau kontra hegemoni”.37
Untuk memahami masyarakat sebagai hasil dari praktik artikulasi diskursif, LM
merumuskan empat konsep penting yang saling terkait:
We will call articulation any practice establishing a relation among elements
such that their identity is modified as a result of articulatory practice. The
structured totality resulting from articulate practice, we will call discourse. The
differential positions, in sofar as they appear articulated within a discourse, we
will call moments. By contrast, we will call element any difference that is not
discursively articulated”.38
Artikulasi dalam pemahaman LM adalah setiap praktik menghadirkan hubungan
antar elemen sedemikian rupa sehingga identitas elemen-elemen tersebut berubah
sebagai akibat dari praktik artikulatoris. Totalitas terstruktur sebagai hasil dari praktik
artikulasi itulah yang disebut LM sebagai wacana. Posisi-posisi mereka yang berbeda
selama terartikulasi ke dalam sebuah wacana disebut sebagai momen-momen. Dan
secara kontras, setiap perbedaan yang tidak terartikulasikan secara diskursif disbeut
dengan elemen .
36
Ibid, hlm, 65
Ibid
38
E.Laclau & Ch.Mouffe (1985) Hegemony & Socialist Strategy: Toward a Radical Democratic Politics,
London-New York, Verso, hlm, 105
37
29
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Sebagaimana sudah disinggung sebelumnya bahwa identitas adalah hasil dari
artikulasi diskursif sehingga formasi hegemonik pada dasarnya adalah juga formasi
diskursif. Formasi hegemonik tidak terjadi secara spontan melainkan hasil kerja
kepemimpinan moral dan intelektual. Artinya, formasi hegemonik dengan sendirinya
meliputi pengorganisasian kekuatan-kekuatan sosial yang berfungsi sebagai “penanda
mengambang”
(floating
signifier)
sehingga
menghasilkan
hubungan-hubungan
diferensial dalam suatu totalitas struktural”.39
Pengorganisasian itu dijalankan dengan menggunakan logika ekuivalensi atau
logika persamaan (logic of equivalence). Logika persamaan ini meliputi cara orang
mengelompokkan unsur-unsur yang sama (ekuivalen) sehingga bisa menjadi sebuah
totalitas trstruktur dengan identitas tertentu”. Singkat kata, logika ekuivalensi adalah
logika yang digunakan dalam rangka menghadapi musuh bersama”.40 Sementara itu,
logika perbedaan (logic of difference) adalah logika yang digunakan untuk
mengumpulkan dan mengelompokkan unsur-unsur dengan berbagai perbedaan. Logika
perbedaan
tidak menunjuk kepada perbedaan internal antar kekuatan sosial yang
bersifat antagonistik tetapi justru merujuk kepada perbedaan dengan yang di luar
(constitutive out side). Jadi, baik logika ekuivalen (the logic of equivalence) maupun
logika perbedaan (the logic of difference), keduanya merupakan logika yang digunakan
untuk menyatukan unsur-unsur yang bernilai sama dan juga menyatukan unsur-unsur
yang berbeda dengan sesuatu yang di luar (eksternal) ke dalam apa yang disebut
Gramsci dengan blok historis (historical block) yang
merupakan
manifestasi
“kehendak bersama” (collective will). Sehubungan hal ini, Boni Hargens memberi
penjelasan:
39
St.Sunardi “Logika Demokrasi Plural-Radikal”, Opcit, hlm, 13
Ibid, hlm, 8
40
30
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Di satu pihak para pelaku sosial (social actors) dalam masyarakat menempati
posisi yang diferensial alias berbeda sama sama lain. Itu artinya, masing-masing
aktor adalah partikularitas. Namun di pihak lain terdapat antagonisme sosial
dalam masyarakat, antar kelompok sosial yang beragam. Antagonisme sosial
inilah yang mendesak para pelaku sosial untuk membangun hubungan yang
seimbang dan harmonis. Dengan kata lain, antagonisme mendorong terciptanya
ekuivalensi sosial”.41
Tapi harus diingat bahwa agar hubungan-hubungan yang berbeda itu dapat
menyatu dibutuhkan “penanda utama” (master signifier) atau nodal point. LM
mengambil konsep ini dari psikoanalisa Lacanian. Itulah sebabnya, LM mengatakan
bahwa hegemoni itu pada dasarnya merupakan praktik artikulasi membangun nodal
points (point de capiton), yakni semacam titik temu dari sebuah rangkaian dalam suatu
tenunan masyarakat yang terdiferensiasi”.42 Dalam istilah lain, nodal point atau
“penanda utama” (master signifier) ini adalah sebauh “penanda kosong” (empty
signifier) yakni penanda tanpa petanda. Begitu dikosongkan, penanda ini bebas
dimaknai oleh “penanda mengambang” (floating signifier). Robertus Robet mengatakan
bahwa semua pihak atau aktor yang bermanuver harus dipandang sebagai “penanda
mengambang” (floating signifier), yakni penanda yang bergerak dalam kontestasi tanpa
akhir untuk mengisi penanda kosong itu”.43
Perlu ditambahkan bahwa dalam rangka membangun hegemoni tersebut
sebaiknya nodal point itu tidak berupa identitas konkret seperti buruh, gerakan
perempuan, gerakan lingkungan melainkan penanda yang dikosongkan seperti tatanan,
persatuan, reformasi atau nama lain sejauh bisa menyatukan dan membedakan dirinya
41
Boni Hargens (2006) Op.cit, hlm, 64
http://dyanuardy.wordpress.com/2008/01/16/jalan-hegemoni-meraba-arah-bagi-gerakan-sosial/
(Diakses, tgl.12-10.2011)
43
Robertus Robet,(2010) Manusia Politik:Subjek Radikal dan Politik Emansipasi di Era Kapitalisme Global
Menurut Slavoj ZIzek, Tangerang, Marjin Kiri, hlm, 11
42
31
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
dengan totalitas yang di luar sebagai kekuasaan yang represif”. 44 Dalam formasi
hegemonik tersebut, “penanda utama” inilah yang berfungsi menjadi semacam “pusat
hegemonik”, meskipun harus tetap diingat bahwa “pusat hegemonik” di ranah sosial
dalam pandangan LM tidaklah tunggal melainkan plural. Karena tidak ada identitas
yang bersifat tetap maka “penanda utama” (master signifier) dalam formasi hegemonik
(blok historis) itu menurut LM, tidak harus dimainkan oleh “kelas pekerja” sebagaimana
dalam pandangan Gramsci. Penanda utama (master signifier) dapat dimainkan oleh
kelompok apa saja sejauh bisa mempersatukan kekuatan-kekuatan sosial yang ada
sehingga memiliki common differentiation dengan kekuatan hegemonik tandingan yang
dipandang eksploitatif dan otoritarian yang oleh karenanya dieksklusikan dari totalitas
hegemonik”.45
Praktik diskursif yang menyertakan “penanda utama” (master signifier) dengan
sendirinya akan menghasilkan identitas kolektif dan bukan lagi identitas “kelas pekerja”
sebagaimana dalam pemahaman Marxisme klasik dan Gramsci. Identitas itu, baik secara
individu maupun kolektif menurut LM selalu merupakan hasil dari proses politik yang
bersifat kewacanaan”.46 Dalam ungkapan yang lebih padat Josep Lowndes mengatakan:
Populist movements are thus successful to the degree that they can universalise
their claims on behalf of the people, and yoke various social groups and
discourses into one common identity. The success of this process is what
political theorists Ernesto Laclau and Chantal Mouffe, after Gramsci, call
hegemony.Reigning political orders, they argue, present themselves as internally
coherent, universal forms of truth and representation that transcend politics as
such - this, in fact, is the source of their power. But any hegemonic order is
actually a highly contingent product of dissimilar elements that get articulated
together in political struggle.47
44
St. Sunardi, Op.cit, hlm, 15
Ibid, hlm, 13
46
M.W.Jorgensen & Louise J.Phillips (2008)Op.cit, terj, hlm, 64
47
Josep Lowndes, “From Founding Violence to Political Hegemony: The Conservative Populism of George
Wallace (dalam) Fransisco Panizza, ed, (2005) Populism and Mirror Democracy, London-New York,
Verso,hlm,146
45
32
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Jadi, identitas kolektif yang dihasilkan dari formasi hegemonik tersebut
menghasilkan identitas yang terbuka sekaligus tertutup. Maksudnya, melalui praktik
diskursif, kesatuan sosial memang dapat terbentuk namun kesatuan tersebut sekaligus
bersifat mustahil sebab bagaimanapun juga hubungan yang berbeda dalam hubungan
ekuivalensial yang terbangun tidak dapat diatasi secara tuntas. Selalu ada tegangan
dalam hubungan diferensial antar unsur-unsur atau kekuatan-kekuatan sosial yang sudah
terbentukitu meskipun mereka sudah masuk ke dalam suatu hubungan ekuivalensial
tertentu.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka masyarakat sebagai praktik
artikulatoris tidak hanya meliputi apa yang bisa diwacanakan tetapi juga meliputi apa
yang tidak terwacanakan.Terjadi penyebaran wacana secara beraturan (dispersionin
regularity)”.48
1.6.1.2. Antagonisme
Sudah dijelaskanpada bagian sebelumnya bahwa formasi hegemonikitu meliputi
pengorganisasian kekuatan-kekuatan sosial yang berfungsi sebagai floating signifier
sehingga hubungan-hubungan yang berbeda dari setiap kelompok sosial menghasilkan
suatu totalitas struktural. Di sini LM memberi catatan, walaupun unsur-unsur atau
kekuatan-kekuatan sosial itu sudah disatukan ke dalam suatu totalitas struktural dengan
identitas tertentu namun hal itu tidak dapat menghilangkan tegangan hubungan
diferensial antar unsur-unsur yang ada dengan hubungan ekuivalensial yang sudah
terbentuk. Dengan kata lain, dalam suatu formasi hegemoni yang terbentuk,
antagonisme identitas dari setiap unsur secara internal tidak dapat dihilangkan.
Antagonisme antar identitas dalam suatu formasi hegemonik selalu ada meskipun tidak
48
St.Sunardi, Op.cit, hlm, 12-13
33
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
dapat dikatakan. Antagonisme antar identitas yang pluralinilah yang menjadi titik tolak
munculnya gerakan sosial baru (LM lebih menyukai istilah perjuangan demokratik baru
“new democratic strugles”) yang kemudian dikembangkan secara lebih luas sebagai
gerakan demokrasi kerakyatan. (popular democratic).
Dalam rangka membangun dan merayakan demokrasi plural radikal itulah,LM
mendekonstruksi gagasan antagonisme dalam perspektif Marxisme klasik. Kalau
Marxisme klasik memahami dan memaknai antagonisme tersebut bersifat eksternal
maka LM justru memahami sebaliknya. LM melihat antagonisme itu sebagai sesuatu
yang ada secara internaldan sekaligus yang menciptakan keterbatasan masyarakat.
Antagonisme internal inilah yang membuat masyarakat itu tidak pernah stabil (fixed)
atau tidak pernah bisa mencapai totalitasnya yang utuh dan sempurna secara
objektif.Antagonisme memainkan peran penting dalam pembentukan identitas dan
hegemoni lantaran antagonismemembuat setiap makna sosial selalu berkontestasi dan
tidak akan pernah penuh/tetap (fixed). Keadaan inilah yang memunculkan antagonisme
sosial yang kemudian membentuk “garis politik” (political frontier). Dengan
munculnya, political frontier itu maka akan terjadi pertarungan hegemonik dengan rejim
opresif yang dipandang atau dijadikan sebagai “musuh bersama” (common enemy).
Keadaan seperti didorong oleh munculnya rantai ekuivalensi (chain of equivalence) di
antara kelompok-kelompok sosial yang beragama yang melakukan resistensi terhadap
rejim opresif.
LM (sebagaimana diungkapkan Daniel Hutagalung)49 mengatakan kalau
perjuangan hegemonik ingin berhasil maka yang harus diperhatikan adalah tidak
menempatkan logika yang diartikulasikan oleh semua bentuk eksternal ke dalam ruang
49
Daniel Hutagalung, ”Hegemoni dan Demokrasi Radikal Plural: Membaca Laclau dan Mouffe” (dalam)
Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe (2008) Op.cit, terj, hlm, xxxvii-xxxix
34
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
partikular. LM memberi contohnya dari pengalaman Rosa Luxemburg, di mana dalam
situasi penindasan yang ekstrim yang dilakukan rejim Tsar, kaum buruh memulai
pemogokan dan menuntut kenaikan upah. Tuntutan kaum buruh ini sesungguhnya
bersifat partikular, tetapi dalam perspektif rejim represif (Tsar) hal itu justru dilihat
sebagai aktivitas menolak sistem rejim opresif (anti sistem). Makna dari tuntutan
tersebut terbagi menjadi dua, dari yang paling awal, antara partikularitasnya sendiri
dan sebuah dimensi yang lebih universal yakni anti sistem.
Untuk memahaminya dengan lebih mudah berikut ini dikutipkan saja diagram
yang dibuat Ernesto Laclau tentang apa yang menjadi pengalaman Rosa Luxemburg
pada masa rejim Tsar tersebut:50
Ts
D1
D1
0 =
D2
0
= 0
D3
D4
= 0 = 0……..
D5….dst
Rejim opresif Tsarism (Ts) dipisahkan oleh batas politik (political frontier) dari
tuntutan-tuntutan sebagaian besar sektor dalam masyarakat (D1, D2, D3…dan
seterusnya). Setiap tuntutan tersebut ada dalam partikularitasnya masing-masing
sehingga masing-masing tuntutan itu berbeda dengan tuntutan-tuntutan lainnya.
Meskipun demikian, semuanya memiliki kesamaan (ekuivalen) satu dengan lainnya
yakni adanya kesamaan sikap beroposisi dengan rejim opresif, yakni rejim Tsar. Melalui
pembangunan rantai ekuivalensi (chain of equivalence), satu dari semua tuntutan
50
Ernesto Laclau (2005) On Populist Reason, London - New York, Verso, hlm, 130
35
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
partikular yang beragam itu kemudian dijadikan atau ditampilkan untuk memimpin
atau mengambil tempat menjadi penanda (signifier) dari keseluruhan rantai tuntutan
yang beragam – suatu tendensi empty signifier. Akhirnya, D1 di atas lingkaran
ekuivalen mewakili tuntutan dari mereka yang anti sistem secara general.
Dalam hal ini, LM memberi catatan penting bahwa keseluruhan model ini sangat
tergantung pada kehadiran dichotomic frontier; tanpa hal ini relasi equivalential
(kesamaan) tersebut akan runtuh dan identitas dari setiap tuntutan-tuntuan tersebut akan
tergerus ke dalam keberbedaan dan partikularitasnya sendiri-sendiri. Harus diingat
bahwa pada saat ada upaya untuk membentuk sebuah political frontier maka pada saat
yang sama rejim opresif juga akan melakukan praktek mempertahankan proyek
hegemoninya dengan cara mencoba menyerap dan (meminjam istilah Gramsci)
mentransformasi beberapa dari tuntutan kaum oposisi tersebut. Dengan begitu, maka
garis batas yang memisahkan rejim opresif dengan kelompok yang berseberangan
sangatlah tidak stabil atau tidak permanen. Jika, rejim opresif mengakomodir sebagian
dari tuntutan-tuntuan tersebut maka implikasinya, chain of equivalence yang sudah
terbangun dengan sendirinya akan segera buyar. Dalam keadaan seperti itu, masingmasing tuntutan-tuntutan partikular itu akan (dipaksa) kembali ke kondisi semula atau
yang disebut LM sebagai kondisi logic of difference, yakni kondisi seperti sebelum ada
ikatan pemersatu.
1.6.1.3. Pembentukan Subjek
Selain mengadopsi sejumlah konsep dari tradisi linguistik (strukturalis/poststrukturalis)
LM
juga
mengambil
sejumlah
konsep
dari
psikoanalisa
Lacanian
dalam
mengembangkan teorinya terutama terkait dengan (pembentukan) subjek. Menurut St.
Sunardi:
36
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Lacan memahami seseorang menjadi subjek hanya setelah ia berbahasa. Dengan
berbahasa orang mengambil posisi sebagai subjek (subject position) dalam
masyarakat karena dia menyerahkan (subject) dirinya pada sistem bahasa
sebagai sistem perbedaan. Dia mengalami dirinya secara sosial dalam tatanan
bahasa. Lacan memandang kesuluruhan bahasa itu sebagai liyan, karena bahasa
yang ia pakai bukanlah bahasanya sendiri melainkan bahasa yang sudah ada di
masyarakat, yaitu bahasa orang lain, nilai-nilai yang dalam bahasa itu bukanlah
nilai-nilainya sendiri melainkan nilai-nilai orang lain. Dalam arti inilah liyan
merupakan nama untuk totalitas bahasa yang dipakai seseorang saat dia
memasuki masyarakat”. Dengan demikian orang mengalami dirinya saat
berhubungan dengan Liyan.51
Dengan berpijak pada perspektif psikonalisa Lacanian yang seperti itu, LM
kemudian memahami bahwa identitas setara dengan identifikasi terhadap sesuatu, dan
sesuatu itu merupakan posisi subjek yang ditawarkan wacana kepada individu”. 52Subjek
dalam pemikiran LM selalu berarti “posisi subjek”(subject position).Perbincangan
tentang proses pembentukan subjek pada dasarnya merupakan soal identifikasi diri.
Dalam esainya The Minding Gap: The Subject Politics yang ditulis oleh Ernesto Laclau
bersama dengan Lilian Zac dijelaskan bahwa pembentukan subjek politik itu start from
the constitutive split of all political identity and try to ground, on that basis, both the
notion of an original lack and that of 'identification' as the central categories for
politics”.53
Cukup jelas bahwa, LM memandang bahwa “identifikasi” merupakan kategori
utama dalam politikdan ihwal “identifikasi” ini sejajar dengan apa yang disebut Pierre
Bordieu terma “mengambil posisi” (taking position) dalam suatu masyarakat. Robertus
Robet, kemudian menegaskan bahwa “subjek” dalam pandangan LM muncul dari
gerakan mensubversi realitas sosial yang nyata atau dalam istilah Lacan disebut sebagai
“tatanan simbolik”. Dengan kata lain, subjek muncul dari struktur yang terdislokasi
51
Ibid, hlm, 9-10
M.W.Jorgensen & Louise J.Phillips (2008)Op.cit, hlm, 81
53
Ernesto Laclau, ed (1994) The Making of Political Identities, London-New York,Verso,hlm, 6
52
37
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
yang kemudian membentuk dari luar dirinya (constitutive outside)”.54 Dan harus diingat,
meskipun sudah mengambil posisi, namun subjek tidak akan pernah bisa menjadi subjek
yang utuh. Subjek senantiasa selalu membawa original lack di dalam dirinya sehingga
subjek dalam pandangan LM diidentifikasi sebagai subjek yang terdislokasi, split dan
decentred. Subjek yang terdislokasi maksudnya adalah subjek yang mengidentifikasikan
dirinya itu senantiasa merasa tidak berada di dalam totalitas terstruktur yang
dimasukinya. Lebih lanjut LM menjelaskan bahwa dislokasi merupakan subversi
diskursus hegemonik oleh peristiwa-peristiwa yang tidak berhasil didomestifikasi,
disimbolisasi atau diintegrasikan ke dalam diskursus. Pada akhirnya, dislokasi-dislokasi
itulah yang menjadi fondasi bagi terbentuknya identitas-identitas politik baru. Dengan
kata lain, benturan-antagonisme pada dirinya merupakan jalan menuju suatu arah baru
identifikasi identitas politik”.55
Dalam teori (pembentukan) subjek Lacanian, sejak dari bayi hingga dewasa,
seseorang (anak) senantiasa tidak pernah merasa cukup sesuai dengan citra-citra yang
disematkan kepadanya. Itulah sebabnya, Lacan mengatakan subjek itu pada dasarnya
adalah subjek yang split (terbelah) atau subject of lack. Subjek Lacanian adalah subjek
yang senantiasa merasa tidak pernah cukup untuk bisa untuk menjadi dirinya sendiri.
Jadi, subjek itu adalah subjek decentred. Kalau disebut bahwa subjek adalah subjek
yang decentreditu artinya, subjek memperoleh identitasnya diwakili oleh wacana. Di
dalam wacana (discourse) atau praktik kewacanaan tertentu itulah subjek atau posisi
subjek ditentukan. Oleh karena itu, seorang individu dapat saja memiliki lebih dari satu
kategori identitas yang melekat pada dirinya; tergantung kepada wacana apa yang
mengonstruksi dirinya pada momen tertentu. Subjek dalam pandangan LM bukanlah
54
Robertus Robet,(2010), Op.cit, hlm, 102-103
Ignasius Jaques Juru, Radikalisasi Pluralisme Sebagai Usaha Pengarusutamaan Politik Agonisme (dalam)
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (JSP), Volume 14 No.2 Novemberi 2010, hlm, 189
55
38
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
subjek yang otonom dan mandiri yang ditentukan oleh pusat kesadarannya sebagaimana
dipahami Descartes dengan subjekego cogitan-nya itu.
Sebagaimana sudah disinggung pada bagian sebelumnya, formasi hegemonik
menurut LM harus meliputi pengorganisasian kekuatan-kekuatan sosial yang mengalami
bentuk-bentuk subordinasi baru dalam realitas sosial yang nyata (tatanan simbolik).
Dalam menghadapi berbagai bentuk subordinasi baru itulah, subjek akan mengalami
transformasi. Di sana ideologi memiliki peran dalam membentuk subjek baru politik.
Ideologi menurut LM berfungsi untuk menyatukan berbagai unsur-unsur atau
antagonisme identitas yang plural itu ke dalam sebuah totalitas yang terstruktur walau
sifatnya selalu sementara (temporer). LM memberi peringatan bahwa selalu ada jarak
antara subjek dan struktur. Subjek lantas mengalami apa yang disebut dengan dislokasi
(dislocation). Kalau Marxisme klasik atau Gramsci memahami adanya kelas utama
(kelas pekerja) sebagai agen utama perubahan sosial maka LM melihat bahwa subjek
baru politik atau agen perubahan itu dicirikan oleh adanya pluralitas identitas seperti
kaum buruh, feminis, gay, lesbian. Pendek kata subjek politik dalam arti agen (aktor)
perubahan dalam perjuangan demokrasi plural radikal bukan lagi “kelas-pekerja” tetapi
agen-agen dengan pluralitas identitasatau semacam asosiasi-asosiasi bebas, seperti
gerakan feminisme, LGBT, gerakan lingkungan hidup, gerakan masyarakat adat,
gerakanmasyarakat sipil (civil society) dan lain sebagainya”.56
1.6.1.4. Pengertian “Gereja Suku” dan “Ruang Publik”
Sebelum memperbincangkan lebih jauh tentang ruang publik tersebut, maka perlu
mendefenisikan apa yang dimaksud dengan “gereja suku”. Secara
etimologi,
istilah
“gereja” berasal dari Bahasa Portugis igreja. Istilah ini dipakai untuk menerjemahkan
56
Ignasius Jaques Juru, Radikalisasi Pluralisme Sebagai Usaha Pengarusutamaan Politik Agonisme (dalam)
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (JSP), Volume 14 No.2 Novemberi 2010, hlm, 189
39
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
kata ekklêsia(bahasa Yunani) yang berarti dipanggil keluar (ek=keluar; klesia dari kata
kaleo=memanggil). Ekklesiaatau gereja (igreja) berarti kumpulan orang-orang yang
dipanggil ke luar. Setidaknya ada tiga komponen yang terkandung dalam pengertian
gereja tersebut yakni kumpulan orang-orang (lembaga/komunitas), ada subjek yang
memanggil (Tuhan) dan transformasi atas kondisi orang-orang yang dipanggil atau
dikumpulkan. “Gereja Suku” diartikan suatu komunitas orang kristen yang secara
historis terbentuk sebagai buah dari pekerjaan penginjilan (zending) yang dilakukan
terhadap etnis tertentu. Keanggotaaan komunitas kristen “gereja suku” merupakan
jaringan yang saling mengenal dan merupakan bagian dari satu keluarga (etnis)
tertentu.Etnis atau etnisitas, seperti kata Daniel Perret adalah “perasaan menjadi bagian
dari” yang dibawa seolah-olah sejak lahir dan yang mendasari sebuah identitas budaya
”primordial”.57
Dalam statusnya yang seperti itu, subjek “gereja suku” adalah subjek “yang
lokal” atau “yang partikular”. Sebagai sebuah komunitas agama, komunitas kristen
”gereja suku” bagaimanapun juga memiliki apa yang disebut Habermas dengan tradisi
“dunia-kehidupan” (labenswelt), good life (konsep solidaritas warga demi keadilan)
serta intuisi-moral (weltanschuung). Sebagai komunitas agama, yang didirikan pada alas
etnisitas maka dalam derajat tertentu ihwal labenswelt, good life dan weltanschuung
yang ada di dalam dirinya, tentulah dihayati bersamaan dengan penghayatan pada nilainilai atau tradisi kebudayaan etnisnya.
Persis dalam kerangka pemikiran seperti itulah keberadaan subjek komunitas
“gereja suku” memiliki keterkaitan dengan pemikiran LM yang mana mereka
memperkenalkan pertanyaan-pertanyaan seputar moralitas dan keadilan ke dalam politik
57
Daniel Perret ( 2010) Kolonialisme dan Etnisitas: Batak dan Melayu Sumatera Utara, Jakarta,
Kepustakaan Popular Gramedia, hlm,4-6
40
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
untuk melawan konsepsi demokrasi yang disandarkan pada ekonomi dan partisipasi
politik yang bersifat skeptis. Mereka mencari makna-makna baru dari gagasan
demokrasi tradisional seperti otonomi, kedaulatan rakyat dan kesetaraan yang tujuannya
tidak lain adalah untuk merumuskan ulang gagasan klasik mengenai ruang publik dan
menjadikannya sebagai pusat proyek politik. Selengkapnya, Chantal Mouffe
mengatakan:
Against interest-based conception of democracy, inspired by economicsand
skeptical about the virtues of political participation, they wantto introduce
questions of morality and justice into politics. Theyare looking for new
meanings of traditional democratic notionslike autonomy, popular sovereignty,
and equality'. Their aim is toreformulate the classical idea of the public sphere,
giving it a central place in the democratic project”.58
Apa yang dikemukakan Mouffe tersebut di atas memperlihatkan adanya pergeseran
politik-demokrasi dari model ekonomi ke moral. Dalam perspektif seperti itulah LM
mengembangkan konsepsi politik demokrasi deliberatif-nya (deliberative democracy) di
mana konsep ruang publik akan dielaborasi secara penuh. Dengan begitu, maka cukup
jelas sebagaimana Habermas tidak hanya memahami ruang publik sebagai locus
artikulasi politik tetapi sekaligus juga merupakan tempat menicptakan ruang politis
(political space) demi terwujudnya demokrasi radikal kewarganegaraan (radical
democratic citizenship).
Memang, ada begitu banyak versi dari demokrasi deliberatif tersebut. Namun,
Chantal Mouffe mencatat bahwa salah satu gagasan teoritik yang dirumuskan
Habermas adalah salah satu yang paling jitu. Demokrasi deliberatif itu bertolak dari
tesis yang berlaku umum tentang fungsi hukum sebagai mediator integrasi sosial.
Sumber legitimasi hukum sebagai produk politik diperoleh dengan menjadikannya
58
Chantal Mouffe, Deliberative Democracy or Agonistic Pluralisme (dalam) Jurnal Social Research,
Vol.66, No.33 (fall1999).
41
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
terlebih dahulu sebagai diskursus publik. Di Indonesia, wujud material model demokrasi
deliberatif ini dikenal sebagai demokrasi permusyawaratan di mana sumber
legitimasinya tidak lagi disandarkan pada kumpulan kehendak individu atau “kehendak
umum” rakyat tetapi melalui proses pencapaian keputusan-keputusan politik yang
berlangsung secara diskursif, argumentatif dan deliberatif”. 59 Dengan kata lain,
legitimasi hukum sebagai produk politik (yang berfungsi sebagai mediator integrasi
sosial) dipahami tidak lagi sebagai sarana yang terpisah dari warga negara itu sendiri
sebab diskursus hukum itu sendiri lahir melalui proses seleksi publik secara rasional.
Singkat kata, demokrasi deliberatif itu sudah mengandaikan adanya ruang publik”.60
Menurut Habermas, istilah “ruang publik” (public sphere) hadir untuk
membedakan dirinya dengan ruang privat. Dalam perspektif kekuasaan Habermas
membagi ruang publik tersebut menjadi dua bagian:
Pertama, ruang publik yang tidak dikooptasi kekuasaan yaitu ruang publik yang
tumbuh dari dunia-kehidupan dan kedua adalah ruang publik yang dikooptasi
oleh kekuasaan. Masing-masing ruang publik ini dikuasai oleh aktor-aktor
tertentu. Aktor dalam ruang publik yang tidak dikooptasi oleh kekuasaan adalah
para pribumi, karena mereka berasal dari publik itu sendiri dan memiliki akar
yang mendalam pada dunia-kehidupan (labenswelt). Sementara aktor yang ada
di dalam ruang publik yang dikooptasi oleh kekuasaan didominasi oleh aktor
pemakai, yaitu aktor-aktor yang tidak tumbuh dalam publik melainkan hadir di
depan publik dan menduduki ruang publik di mana mereka memanfaatkan
medium uang serta kuasa untuk memperalat publik. Mereka biasanya memiliki
identitas sosial yang mapan dan diakui dalam masyarakat Pemikiran Habermas
mengenai ruang publik tersebut menyiratkan bahwa sifat dari ruang publik
adalah eksklusif. Ia menempati posisi yang tunggal (singular), yaitu borjuis”. 61
Berbeda dengan pemikirannya yang pertama, Habermas dalam bukunya Between
Facts and Norms (1996) menempatkan ruang publik sebagai ruang yang plural.
59
Istilah Deliberatif berasal dari bahasa Latin deliberatio yang berarti menimbang-nimbang secara
rasional, berkonsultasi, atau bermusyawarah secara terbuka. Selanjutnya lihat: Gusti A.B. Menoh (2015)
Agama Dalam Ruang Publik, Yogyakarta, Kanisius,hlm,81
60
Ibid, hlm, 84
61
Obed Bima Wicandra, Merebut Kuasa Atas Ruang Publik: Pertarungan Ruang Komunitas Mural di
Suarabaya, Program Studi Desain Komunikasi Visual, Universitas Kristen Petra Surbaya,hlm,2
42
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Setiap komunitas dan kelompok masyarakat dapat membentuk ruang publiknya
sendiri. Pemikiran ini sebagai reaksi atas kritik kaum posmodernisme yang
melihat pemikiran ruang publik pertama (borjuis) sebagai ruang yang cenderung
eksklusif. Sedangkan formula inti dari pemikiran ruang publik yang kedua ini
adalah varian dari demokrasi yang memfokuskan dirinya pada isu legitimasi
politik. Keputusan bisa bersifat legitim apabila keputusan tersebut memperoleh
persetujuan rasional melalui partisipasi di dalam pertimbangan mendalam
(deliberation) yang otentik oleh semua pihak yang berkepentingan terhadap
keputusan tersebut. Menurut Habermas, arena untuk berpartisipasi dalam
deliberasi tersebut adalah ruang publik”.62
Sementara itu, HannahArendt, (sebagaimana diungkapkan Eddie S. Riyadi
Langgut Tere)mendefenisikan “ruang publik” (public sphere) sebagai berikut:
Sebagai “ruang penampakan” dan sebagai “ruang bersama”.Ruang publik
sebagai “ruang penampakan” berarti ruang di mana saya sebagai manusia
dikenali sebagai manusia oleh yang lain karena saya “berada di antara manusia”
(inter homines esse). Ruang publik sebagai ruang penampakan akan memisahkan
apa-apa yang tidak relevan dengan kehidupan bersama itu sebagai “masalah
privat”, dan karena itu “cahaya kepublikan”, itulah yang menyinari apa yang
privat,tetapi bukan sebaliknya”.Sedangkan, ruang publik dalam pengertiannya
sebagai “ruang bersama” adalah “dunia bersama” (common world), dunia dalam
arti dunia yang kita pahami bersama, hidupi bersama, adalah dunia “yang adalah
umum atau sama bagi kita semua, yang berbeda dari tempat kita yang privat di
dalamnya. Dunia tidaklah sama dengan bumi atau alam. Kalau bumi atau alam
adalah ruang bagi seluruh makhluk hidup, maka dunia adalah sebuah kategori
khas bagi manusia. Dunia menghubungkan dan sekaligus memisahkan manusia
pada waktu yang sama.Ruang publik sebagai dunia bersama menyatukan kita
bersama dan mencegah kita untuk saling menelikung. Ruang publik sebagai
dunia bersama adalah ruang “di antara” (in-between). Dunia bersama
memungkinkan manusia untuk hidup bersama dalam arti bahwa “pada esensinya
adalah sebuah dunia yang berada di antara mereka yang memilikinya sebagai
milik bersama, sebagaimana halnya sebuah meja yang ditempatkan di antara
mereka yang duduk mengitarinya. Jika meja itu hilang, maka hilanglah
kebersamaan itu”.63
Menurut Habermas, ruang publik merupakan arena diskursif yang berbeda dan
terpisah dari ekonomi dan negara. Di sanalah para warga negara berpartisipasi dalam
politik dengan bertindak melalui dialog dan debat. Habermas juga menambahkan bahwa
62
Ibid
Eddie S.Riyadi Langgut Tere, (makalah) Manusia Politis Menurut Hannah ArendtPertautan antara
Tindakan dan Ruang Publik, Kebebasan dan Pluralitas, dan Upaya Memanusiawikan Kekuasaan”.
Disampaikan pada Kuliah Umum Filsafat Salihara, Totalitarianisme Menurut Hannah Arendt, 20 April
2011. Komunitas Salihara Jakarta, hlm, 5
63
43
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
ruang publik merupakan ruang otonom yang berbeda dari negara dan pasar. Ia otonom
karena tidak hidup dari kekuasaan administratif maupun ekonomi kapitalis melainkan
dari labenswelt atau civil society”.64
Di ruang publik itu, tidak ada satu tradisi atau budaya (agama) apapun yang
boleh mengklaim komitmen etisnya sendiri sebagai satu-satunya norma bagi semua
pihak. Yang dimungkinkan adalah masing-masing tradisiatau dunia-kehidupan
(labenswelt) sebuah komunitas agama diperkenankan masuk ke sana dan diskursus
labesnwelt-nya bisa hanya bisa diterima menjadi diskursus publik kalau diskursus
keagamaan yang hendak diajukan itu memiliki argumentasi rasional-universal,
mengandung good life dan intuisi moral (weltanschuung) yang bisa mendorong
tumbuhnya solidaritas sosial diantara beragam elemen masyarakat sipil yang ada di
dalamya. Tumbuhnya solidaritas sosial di ruang publik yang diekspresikan lewat
perjuangan-perjuangan demokratik baru (new democratic strugles) merupakan momen
penciptaan “ruang politis” (political space) atau pembentukan masyarakat. Pemahaman
ruang publik ini, menjadi dasar untuk mendeskripsikan bagaimana subjek komunitas
kristen “gereja suku” – GKPS - (yang direpresentasikan oleh Komunitas CUM
“Talenta”) membentuk suatu masyarakat di ruang publiknya di pedesaan Simalungun.
Adapun “ruang publik” (public sphere) yang dimaksud dalam konteks penelitian ini
adalah ruang publik yang informal yakni dunia kehidupan masyarakat sipil yang tidak
dikooptasi negara ataupun pasar.
64
Gusti A.B.Menoh (2015) Op.cit, hlm, 85
44
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
1.7. Metode Penelitian
1.7.1. Posisi peneliti
Sebagai seorang Pendeta di Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) (salah satu
“Gereja Suku” di Sumatera Utara) dan juga sebagai salah seorang yang terlibat dalam
proses pembentukan Komunitas CUM “Talenta” maka tujuan saya melakukan
penelitian adalah untuk mengembangkan pemahaman secara teoritik tentang praktik
pengartikulasian identitas politik gereja-gereja di Indonesia khususnya “Gereja Suku”
dalam konteks barunya di “ruang publik”. Dengan posisi subjektif seperti itu, posisi
peneliti dalam penelitian ini adalah “orang dalam”.
Tentulah ada keuntungan dan kerugian dengan identitas ganda saya sebagai
seorang Pendeta yang terlibat dalam mendirikan Komunitas CUM “Talenta” dan
sebagai peneliti yang meneliti justru apa yang saya lakukan sendiri. Identitas saya
sebagai Pendeta di GKPS dan juga sebagai salah seorang pendiri Komunitas CUM
“Talenta” tahun 2007 telah memberikan saya pemahaman
dan pengetahuan dasar
tentang arti dan makna istilah-istilah yang terdapat dalam gerakan pemberdayaan
ekonomi kerakyatan yang terdapat dalam wacana CUM. Dengan menyatakan hal ini,
saya tidak mengklaim bahwa saya memiliki semacam monopoli atas kebenaran tentang
wacana CUM yang digunakan sebagai instrumen untuk mengartikulasikan aspek etis
gereja di bidang diakonia pemberdayaan ekonomi rakyat-jemaat. Pernyataan tentang
posisi saya sebagai peneliti dalam penelitian ini dimaksudkan untuk mengungkapkan
bahwa posisi (identitas ganda) tersebut justru memungkinkan saya untuk melakukan
penelitian atas sebuah komunitas yang justru saya sendiri terlibat di dalamnya.
Sangat disadari bahwa posisi peneliti sebagai “orang dalam” potensial
menimbulkan bias karena subjektifitas saya masuk terlalu jauh mempengaruhi proses
45
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
pengumpulan data-data dan pengolahannya. Oleh karena itu, penelitian ini dikerjakan
dan bersandar semata-mata pada kaidah-kaidah penelitian yang objektif dan
dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
1.7.2. Sumber dan Teknik Memperoleh Data
Berdasarkan rumusan permasalahan dan tujuan penelitian yang telah ditetapkan
makauntuk mendapatkan data yang dibutuhkan guna menjawab rumusan permasalahan
dan tujuan penelitian yang telah dirumuskan digunakan metode etnografis yang
difokuskan untuk mendeskripsikan sekaligus menginterpretasikan praktik-praktik
kebudayaan yang dilakukan oleh subjek penelitian ini, yakni komunitas CUM
“Talenta”.
Untuk menggali data-data yang dibutuhkan untuk mendeskripsikan setting
sosiohistoris keagamaan yang meliputi urgensi keterlibatan gereja dalam menghadirkan
sistem pemberdayaan ekonomi kerakyatan di era kapitalisme neoliberal. Selain itu, studi
kepustakaan juga dilakukan untuk mendeskripsikan sejarah dan perkembangan
Lembaga Keuangan Mikro (LKM) di Indonesia hingga perdebatan seputar wacana
Credit Union (CU) antara gerakan ekonomi dan gerakan sosial.
Sedangkan untuk memperoleh data-data yang dibutuhkanguna menjawab
rumusan permasalahan dan tujuan penelitian ini, dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Untuk memperoleh data-data tentang apa dan bagaimana latar belakang
historis munculnya wacana Credit Union Modifikasi sebagai wacana allternatif
bagi pemberdayaan ekonomi rakyat-jemaat, maka dibutuhkan data-data primer
antara lain Buku Pedoman Umum Pengelolaan CUM, buku Bank Perkreditan
Rakyat: PT. Pijer Podi Kekelengen. Sebagai seorang yang sudah pernah
46
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
mengecap “Pendidikan dan Pelatihan” calon pengelola (manajer) yang
diselenggarakan oleh MP. Ambarita, data primer tersebut sebelumnya sudah ada
di tangan penulis. Data-data primer lain yang dibutuhkan diperoleh dengan
melakukan wawancara MP.Ambarita sebagai penemu gagasan CUM.Karena
alasan alasan jarak tempuh yang cukup jauh dan waktu yang tidak meungkinkan
(kini domisili MP.Ambarita sekarang di desa Sirait Uruk Kecamatan Porsea
Toba Samosir) maka wawancara dilakukan melalui telepon. Data-data sekunder
yang dibutuhkan diperoleh melalui pelacakan dari internet.
2. Untuk memperoleh data-data primer tentang sejauhmana komunitas CUM
“Talenta” mampu mengartikulasi identitas politik GKPS sebagai “gereja suku”
di ruang publiknya di pedesaan Simalungun, dilakukan dengan cara
mengumpulkan dokumen-dokumen seperti Anggaran Dasar dan Anggaran
Rumah Tangga (AD/ART) Komunitas CUM “Talenta” edisi tahun 2009 dan
edisi revisi tahun 2012 yang menggambarkan dapat menggambarkan konstruksi
pola relasi atau hubungan Komunitas CUM “Talenta” dengan institusi GKPS.
Selain itu, dibutuhkan data-data primer lainnya seperti Tata Gereja (TG) dan
Peraturan Rumah Tangga (PRT) GKPS serta risalah dan Keputusan-keputusan
Sinode Bolon GKPS tahun 2000 dan tahun 2005 untuk mengkonfrontasi klaimklaim yang dilakukan Komunitas CUM “Talenta”. Sebagai “orang dalam” datadata ini sebelumnya sudah ada di tangan penulis.
3. Untuk memperoleh data-data tentang “Perjuangan-perjuangan demokratik
baru yang seperti apa yang dilakukan komunitas CUM “Talenta” di ruang
publiknya di pedesaan Simalungun, dilakukan dengan cara mengumpulkan
dokumen (rencana program kerja Komunitas CUM “Talenta” tahun 2011),
47
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Laporan Pertanggung jawaban pelaksanaan program oleh Badan Pengurus dan
Badan Pengawas Komunitas CUM “Talenta” kepada Rapat Anggota Tahunan
(RAT) tahun 2012. Selain itu, data-data primer juga diperoleh dengan cara
melakukan observasi (pengamatan langsung di lapangan) yakni di kelompokkelompok basis di
mana perjuangan-perjuangan demokratik baru itu
diartikulasikan. Data-data yang diperoleh kemudian didokumentasikan dalam
bentuk foto. Sementara itu untuk memperoleh data-data tentang untuk mengukur
keberhasilan perjuangan-perjuangan demokratik baru yang dilakukan komunitas
CUM “Talenta” tersebut data-data yang dibutuhkan diperoleh melalui dokumen
dan wawancara terhadap lima orang anggota Komunitas CUM “Talenta”.
Semua data yang telah diperoleh kemudian dikumpulkan dan diklasifikasi secara
tematis sesuai dengan rumusan permasalahan penelitian sehingga proses analisis data
secara teknis dapat dikerjakan dengan lebih mudah. Deskripsi tentang sumber data dan
teknik memperoleh data penelitian ini dapat digambarkan bentuk matrik berikut ini:
No
1.
Kategori Data
Gereja dan
urgensi
menghadirkan
Sistem Ekonomi
Mikro Alternatif
di Era
Kapitalisme
Neoliberal(setting
sosio historis
keagamaan)
2.
Proses
menciptakan
identitas politik
“GKPS” di
Jenis Data
Konteks Oikumenis
Lembaga Keuangan
Mikro (LKM):
Pengertian,
Sejarah,
Perkembangan dan
peta persoalan LKM
di Indonesia
Sumber Data
Literatur/Internet
Jenis-jenis LKM
Perdebatan seputar
CU: antara LKM dan
gerakan sosial
Latar belakang
munculnya wacana
CUM: Mengenal
MP.Ambarita sebagai
penemu gagasan dan
kisah awal
kemunculan wacana
CUM
Konkretisasi wacana
CUM ke dalam
 Buku Bank
Perkreditan Rakyat
Kekelengen Pijer
Podi Desa Simalem
 Buku Pedoman
Umum Pengelolaan
CUM
 MP. Ambarita
 Liharson Sigiro
 AD/ART komunitas
48
Prosedur Memperoleh Data
Studi literatur dan media
elektronik (internet)
 Ada di tangan penulis
 Wawancara
(hasil wawancara
ditranskripsi dan
diterjemahkan secara bebas
oleh penulis)
 Wawancara
(hasil wawancara
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Ruang Publik dan
representasinya
oleh Komunitas
CUM “Talenta”
konteks GKPS
CUM “Talenta”
(2009/2012)
Hubungan
kelembagaan
Komunitas CUM
“Talenta” dengan
GKPS
Menciptakan modal
bersama
 TG/PRT GKPS
 Risalah Sinode
Bolon GKPS tahun
2000/2005
Memaknai (ulang)
Haroan Bolon
 2 Komisariat/
(kelompok
basis)/pengurus
komisariat
 Manajer Komunitas
CUM “Talenta”
Saribudolok/P.
Raya dan P.Siantar
 Keputusan RAT
tahun 2012
 4 orang anggota
Komunitas CUM
“Talenta”
 AD/ART Komunitas
CUM “Talenta”
 Manajer
3.
Perjuanganperjuangan
demokratik baru
yang dilakukan
Komunitas CUM
“Talenta” dan
ruang politis
(political space)
yang tercipta
Mendirikan
perusahaan
(CV.Talenta)
Perkembangan
organisasi dan
manfaat yang
dirasakan anggota
ditranskripsi dan
diterjemahkan secara bebas
oleh penulis)
 Ada di tangan penulis
 Wawancara
(hasil wawancara
ditranskripsi dan
diterjemahkan secara bebas
oleh penulis)
 Observasi
(didokumentasikan dalam
bentuk foto)l
 Wawancara
(hasil wawancara
ditranskripsi dan
diterjemahkan secara bebas
oleh penulis)
 Wawancara
(hasil wawancara
ditranskripsi dan
diterjemahkan secara bebas
oleh penulis)
1.7.3. Pengolahan Data dan Analisis
Data-data yang diperoleh kemudian diklasifikasi dan dinarasikan mengikuti kerangka
rumusan permasalahan. Setelah itu, data-data tersebut dianalisis dengan menggunakan
perspektif teoritis tentang politik hegemoni yang dikembangkan Ernesto Laclau dan
Chantal Mouffe (LM). Sebagaimana sudah disebutkan pada bagian sebelumnya, bahwa
LM juga mengembangkan perspektif teoritiknya dengan mengadopsi sejumlah
perspektif psikoanalisa Lacanian maka analisis dalam penelitian ini, juga menggunakan
perspektif psikoanalisa Lacanian.
1.8. Sistematika Penulisan
Penulisan tesis ini menggunakan sistematika sebagai berikut: Bab I memaparkan latar
belakang, rumusan permasalahan, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan
pustaka, kerangka teori, metode penelitian, sumber data dan teknik memperoleh data,
sistematika penulisan, Kemudian Bab II memaparkan setting sosio historis keagamaan
49
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
yang dibingkai dalam judul pembahasan: “Gereja di era Kapitalisme Neoliberal:
Urgensi menghadirkan sistem ekonomi mikro alternatif. Sub pembahasannya meliputi:
konteks oikumenis,
Lembaga Keuangan Mikro (LKM), pengertian,
sejarah,
perkembangannya dan peta persoalannya, dan jenis-jenis LKM, perdebatan seputar
Credit Union (CU): gerakan ekonomi atau gerakan sosial. Bab III merupakan paparan
data-data tentang proses menciptakan Identitas Politik “Gereja Suku” (GKPS) di Ruang
Publik dan representasinya oleh Komunitas CUM “Talenta. Pembahasannya dibagi
menjadi tiga sub bagian. Sub bagian pertama membahas pengenalan terhadap wacana
CUM, konkretisasinya ke dalam konteks GKP, Hubungan Komunitas CUM “Talenta”
dengan GKPS, Perkembangannya dan manfaat yang dirasakan anggota. Bab IV
merupakan bagian analisis terhadap atas proses penciptaan identitas politik “gereja
suku” dan representasinya oleh komunitas CUM “Talenta”. Pembahasannya akan dibagi
menjadi dua bagian: bagian pertama, hegemoni, antagonisme dan persoalan identitas
subjek dalam konteks kemunculan wacana CUM. Bagian kedua, membahas artikulasi
identitas politik yang direpresentasikan oleh komunitas CUM “Talenta”. Sub
pembahasannya meliputi: tuntutannya (demands), diakonia sebagai “penanda kosong”
(empty signifier), logika persamaan dan logika perbedaan dalam formasi hegemonik
komunitas CUM “Talenta”, ekspresi identitas politik dan representasinya; menciptakan
modal bersama: melawan rentenir, memaknai (ulang) haroan bolon; menolak
individualisme, menolak rayuan agen neoliberal (Rabo Bank), mendirikan perusahaan
(CV.Talenta): memotong jalur pemasaran kopi, Dari Komunitas Credit menjadi
Komunitas Credo”: siasat melawan hegemoni negara. Bab V merupakan bagian
penutup berisi Kesimpulan dan Refleksi.
50
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
BAB II
GEREJA DI ERA KAPITALISME NEOLIBERAL:
URGENSI MENGHADIRKAN SISTEM EKONOMI MIKRO ALTERNATIF
2.1. Pengantar
Bab II ini merupakan paparan tentang setting sosio historis keagamaan. Bagian pertama
memaparkan konteks oikumenis urgensi keterlibatan gereja dalam menghadirkan sistem
ekonomi (mikro) alternatif di era kapitalisme neoliberal. Lalu, pembahasan pada bagian
kedua akan menampilkan pengenalan lembaga keuangan mikro (LKM) di Indonesia.
Subpembahasannya meliputi: pengertian,
sejarah dan perkembangannya, peta
persoalannya, jenis-jenisnya dan terakhir perdebatan seputar Credit Union (CU):
gerakan ekonomi atau gerakan sosial.
2.2. Gereja Di Era Globalisasi Kapitalisme Neoliberal: Urgensi Menghadirkan
Sistem Ekonomi Mikro Alternatif
2.2.1. Konteks Oikumenis
Sudah menjadi kenyataan yang tak terbantahkan bahwa cengkeraman hegemoni sistem
ekonomi konglomerasi yang diasuh oleh ideologi kapitalisme neoliberal tampak
semakin kokoh dan tak tergoyahkan. Meskipun begitu, masyarakat dunia tidak lantas
menerima begitu saja kenyataan hegemonik hegemonik tersebut. Di berbagai belahan
dunia tampak telah terjadi berbagai aksi protes (demonstrasi) untuk menolak
hegemonisasi yang diciptakan sistem ekonomi kapitalisme neoliberal tersebut. Bahkan
masyarakat agama juga telah berkali-kali menyuarakan bahaya yang diakibatkan oleh
sistem ekonomi neoliberal tersebut.
Dalam konteks oikumenis (global), perbincangan mengenai urgensi keterlibatan
Gereja untuk menghadirkan sistem ekonomi (mikro) alternatif yang lebih adil dan
51
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
manusiawi sesungguhnya sudah menjadi diskursus oikumenis yang cukup serius yang
dipergumulkan Dewan Gereja Dunia (DGD) sejak Sidang Raya-nya di HarareZimbabwe pada tahun 1998. Pada saat itu, mengemuka sebuah pertanyaan reflektif:
“Bagaimanakah kita menghayati iman kita dalam konteks globalisasi?”. Tentu saja,
pertanyaan reflektif ini menuntut tanggapan etis, pastoral, teologis dan spiritual dari
gereja-gereja baik pada aras global, regional, nasional maupun lokal. Logika globalisasi
perlu
ditantang
dengan
suatu
cara
hidup
alternatif
bermasyarakat
dalam
keberagaman”.65 Menurut Duchrow dan Hinkelammert tuntutan agar gereja-gereja di
seluruh dunia memberikan respon etis tersebut, karenaproperty-based capitalism is not
just an economic or political phenomenon but a religious one […], On the other, the
Churches can be forceful actors in civil society once they work together with social
movements”.66
Apa yang dikatakan Duchrow dan Hinkelammert di atas mengindikasikan bahwa
globalisasi sistem ekonomi kapitalisme neoliberal sekaligus telah menyodorkan
tantangan yang lebih besar tidak hanya bagi gereja-gereja tetapi juga bagi seluruh
masyarakat dunia di muka bumi ini. Kebutuhan untuk menghadirkan dan
mengembangkan sistem ekonomi (mikro) alternatif semakin mendesak sebab sistem
ekonomi kapitalisme neoliberal itu hanya memupuk kesenjangan sosial (kemiskinan)
ekonomi masyarakat global yang semakin subur dan melebar. Itulah sebabnya, pada
Sidang Raya-nya tahun 2006 di Porto Allegre, Dewan Gereja Dunia (DGD) mengajak
semua gereja-gereja di semua aras serta masyarakat oikumenis lainnya untuk tidak
hanya bersikap kritis terhadap globalisasi kapitalisme neoliberal tetapi juga didesak
65
Tim Keadilan, Perdamaian Dan CIptaan Dewan Gereja-gereja se-Dunia (DGD),(2006) Globalisasi
Alternatif Mengutamakan Rakyat Dan Bumi: Sebuah dokumen Latar Belakang, terj, Jakarta, PMK-HKBP,
hlm, 1-2
66
Ulrich Duchrow dan Franz J. Hinkelammert (2004) Property for People Not for Profit ; Alternatives to the
global tyranny of capital, London-New York, Zed Books, hlm, 205
52
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
agarmampu menghadirkan sistem ekonomi yang dapat menjadi alternatifnya. Dalam
perspektif keprihatinan dan urgensi permasalahan seperti itulah sehingga DGD
merumuskan tema Sidang Raya-nya di Porto Allegre itu: “Tuhan, dalam RahmatMu,
Ubahlah Dunia”.67
Upaya untuk menghadirkan tatanan kehidupan sosial, ekonomi, politik
masyarakat dunia yang lebih adil dan manusiawi, tidak cukup kalau hanya dilakukan
dengan mempraktikkan “cara hidup alternatif”. Gereja-gereja dan masyarakat oikumenis
dunia harus didorong untuk mengajukan “sistem ekonomi (mikro) alternatif”. Hal itu
mendesak sebab sistem ekonomi kapitalisme neoliberal dipandang tidak mungkin dapat
mengubah kesenjangan sosial ekonomi masyarakat dunia dewasa ini menjadi lebih adil
dan manusiawi. Bagaimanapun juga, sistem kapitalisme neoliberal akan selalu membuat
relasi manusia-manusia maupun relasi manusia-alam, kokoh dalam relasi penghisapan
dan penaklukan tiada henti. Tidak hanya itu, “kompetisi” pun telah dipancang sebagai
satu-satunya etos dominan untuk meraih martabat kemanusiaan (human dignity). Di situ
manusia telah disituasikan menjadi serigala bagi sesamanya (homo homini lupus).
Persoalannya kemudian menjadi semakin pelik sebab di sana uangjuga tampak telah
kokoh sebagai struktur makna yang utama dalam relasi sosial, budaya, ekonomi dan
politik di masyarakat. Pendek kata, uang adalah segalanya.
Dengan watak dasar seperti itu, sistem ekonomi kapitalisme neoliberal akan
selalu menghancurkan segala bentuk struktur kolektif yang ada di masyarakat, mulai
dari unit yang terkecil (keluarga) sampai dengan unit yang terbesar yakni Negara.
Haryatmoko, bahkan menggambarkan budaya masyarakat yang diciptakan oleh sistem
ekonomi kapitalisme neoliberal itu sebagai berikut:
67
Tim Keadilan, Perdamaian Dan CIptaan Dewan Gereja-gereja se-Dunia (DGD),(2006) Op.cit, hlm, 2
53
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Neoliberal telah mengubah tatanan dunia menjadi hanya berpusat pada ekonomiuang. Masyarakat yang menekankan pada ekonomi merupakan masyarakat yang
hanya mengenal satu pola hubungan yaitu bertarung dalam persaingan.
Masyarakat seperti ini menjadi arena di mana kelompok-kelompok dan individuindividu bertarung tanpa ada yang menengahi. Hanya prestasi dan kompetensilah
yang menentukan. Pragmatisme lalu menjadi ideologi pokok dari masyarakat
seperti itu. Dalam sistem kapitalisme neoliberal, logika ekonomi dipisahkan dari
logika sosial. Logika ekonomi didasarkan pada persaingan sebagai pendorong
efektifitas. Logika ini dipisahkan dari logika sosial yang sangat menekankan
aturan keadilan. Logika ekonomi tertutup terhadap wacana lain, padahal wacana
lain sering memberi pemecahan atas suatu permasalahan ekonomi meskipun
dalam skala yang kecil”.68
Perlu ditambahkan bahwa sistem ekonomi kapitalisme neoliberalisme itu pada
dasarnya mau mengubah manusia menjadi komoditi dan mereduksi peran pemerintahpemerintah nasional dalam menjaga pembangunan sosial yang harmonis dan lestari.
Neoliberalisme memberi perhatian maksimum pada modal swasta dan apa yang
dinamakan dengan “pasar tak terkekang” (unfettered market) untuk mengalokasikan
sumber daya untuk menaikkan pertumbuhan”.69 Neoliberalisme telah menjadi selubung
ideologis bagi proyek globalisasi ekonomi yang memperluas kekuasaan dan
dominasinya melalui jalinan jaringan institusi internasional, kebijakan nasional, praktik
perusahaan dan investor serta perilaku individual. Akibatnya, neoliberalisme
menghapuskan fungsi negara sebagai penyelenggara kesejahteraan sosial”,70 bagi
warganya. Albert Nolan mendefenisikan sistem ekonomi neoliberal ini sebagai sebuah
cara pandang yang sepenuhnya materialistik yang didasarkan pada prinsip kemenangan
bagi mereka yang kuat, sebuah budaya yang menghancurkan kebudayaan lain,
68
Haryatmoko, “Peran Gereja di Indonesia Ketika Neo-liberalisme Semakin Mendikte” (dalam) Jeffrie
A.A.Lempas, eds (2006),Format Rekonstruksi Kekristenan:“Menggagas TeologiMisiologi, dan Ekklesiologi
Kontekstual di Indonesia”,Jakarta, Pustaka Sinar Harapan, hlm, 112.
69
Tim Keadilan, Perdamaian Dan CIptaan Dewan Gereja-gereja se-Dunia (DGD),(2006) Op.cit, hlm, 3-4
70
Ibid, hlm, 4
54
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
menghancurkan kebijaksanaan-kebijaksanaan asli dan menjadikan yang kaya makin
kaya dan yang miskin makin miskin”.71
Dalam keprihatinan seperti itulah, gereja diajak untuk memperjuangkan suatu
tatanan kehidupan sosial, ekonomi dan politik masyarakat global, yang lebih adil dan
manusiawi. Dalam perspektif gereja, perjuangan itu dapat dilakukan lewat diakonia
gereja baik dalam skala lokal, nasional, regional maupun global. Dalam hal ini, gereja
harus mengingat apa yang pernah dikemukakan Leonardus Samosir bahwa:
Gereja tidak pernah lepas dari lingkungan di mana ia hidup. Gereja bukan
sebuah instansi abstrak-universal yang tidak tersentuh oleh pertanyaan dan
jawaban lokal.[...] Gereja dibentuk di dalam partikularitas dan kelokalan. Gereja
adalah bagian dari masyarakat di mana Gereja berada. Karena itu, masyarakat
adalah “milik” Gereja; sebaliknya Gereja adalah “milik” masyarakat. Segala
keprihatinan masyarakat adalah keprihatinan Gereja. Oleh karena itu, mau tidak
mau Gereja harus tampil dalam panggung masyarakat; masuk ke dalam wilayah
publik”.72
Kalau memang demikian halnya, maka diakonia gereja tidak cukup dijalankan
hanya secara karitatif saja. Gereja dipanggil untuk memulihkan kegiatan diakonia
menjadi pelayanan konkret yang mencerminkan kesetiakawanan manusia”,73 sehingga
mampu mentransformasi kehidupan sosial, ekonomi, politik dan religiusitas warga
gereja dan masyarakat menjadi lebih otentik. Diakonia gereja seharusnya dijalankan
untuk mentransformasi tidak hanya dimensi kultural-personal tetapi juga harus menohok
ke dimensi struktural (politik). Meskipun begitu, ikhtiar Gereja untuk melakukan
perubahan atau mentransformasi kehidupan sosial ekonomi masyarakat sehingga
menjadi lebih adil, tidak boleh membuat gereja larut kepada sistem yang justru hendak
ditentangnya”.74
71
Albert Nolan (2009) Jesus Today : “Spiritualitas Kebebasan Radikal”, Yogyakarta, Kanisius, hlm, 60
Leonardus Samosir,(2010), Op.cit, hlm, 83
73
Ulrich Duchrow dan Franz J. Hinkelammert (2004) Op.cit, hlm, 8-9
74
Leonardus Samosir (2010), Op.cit, hlm, 83
72
55
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Apa yang dikemukakan Leonardus tersebut di atas, menjadi penting untuk
dicatat sebab Gereja pernah terjerembab lantaran keliru dalam mengambil posisi (taking
position) di tengah-tengah kondisi krisis sosial ekonomi dan politik yang dialami
masyarakat di mana ia berada. Hal itu terlihat misalnya dari catatan kritis yang dibuat
oleh Ulrich Duchrow yang mengkritik cara gereja (Barat) memosisikan (taking position)
dirinya di tengah-tengah sistem kekuasaan yang bersifat totaliter di Eropa di masa lalu:
Bercermin dari akibat nyata sejarah gereja Barat, kami juga bisa menyimpulkan
bahwa tidaklah cukup hanya dengan upaya melemahkan sistem-sistem
kekuasaan. Gereja-gereja dengan struktur kekuasaan politik dan ekonomi, yang
mula-mula muncul sebagai gereja-gereja imperialis, kemudian sebagai gerejagereja nasional atau regional, dan juga keuskupan gereja besar, telah gagal dalam
berbagai usaha untuk melemahkan struktur-struktur kekuasaan dan uang dengan
mempertegas suara kenabian mereka. Sistem-sistem kekuasaan telah muncul
penuh kemenangan dan celakanya, gereja telah menyesuaikan diri dengan
kapitalis atau teologi negara, atau telah mengikuti “teologi gereja” sehingga
gereja berada dalam situasi kekuasaan asimetris, mengkompromikan diri mereka
dengan Injil agar tidak membahayakan lembaga mereka sendiri”.75
Salah satu contoh kekeliruan gereja-gereja di Indonesia dalam mengambil posisi
di tengah-tengah konteks krisis sosial ekonomi dan politik yang terjadi pada tahun
1997/1998 adalah ketika sekelompok elite gereja yang memiliki kekuasaan ekonomis
dan politis, bersama-sama dengan Ketua umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia
(PGI) masa bakti 1994-1999, pergi ke istana untuk mempersembahkan uang dan emas.
Pada hal saat itu masyarakat luas, khususnya mahasiswa, lembaga swadaya masyarakat
(LSM) dan gerakan-gerakan pro-demokrasi telah melakukan perlawanan dan
menyatakan: tidak pada Suharto”.76
Tidak heran kalau Emanuel Gerrith Singgih (sebagaimana dikutip Martin Lukito
Sinaga) kemudian mengatakan bahwa hal tersebut merupakan ketidakmampuan gereja75
Ulrich Duchrow, (1999), Mengubah Kapitalisme Dunia “Tinjauan Sejarah-Alkitabiah bagi Aksi Politis”,
Jakarta, BKP Gunung Mulia, hlm, 323
76
Saut Sirait, (2001), Politik Kristen di Indonesia “Suatu Tinjauan etis”, Jakarta, BPK- Gunung Mulia, hlm,
242
56
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
gereja di Indonesia melihat bahwa momen tahun 1998 itu sebagai kairos, yakni momen
tindakan ilahi yang kreatif”.77 Dunia, adalah tempat dimana gereja dan masyarakat
lainnya berada bersama sehingga semuanya merupakan satu keluarga di dalam “rumah
tangga Allah”. Oleh karena itu, Gereja memiliki tanggung jawab untuk mengatur dan
menata “rumah tangga Allah” tersebut. Gereja ditantang untuk bergabung dalam
perjuangan melawan ketidakadilan dan kekuatan yang merusak dengan berkarya untuk
membangun suatu masyarakat AGAPE (Alternative Globalization Addressing Peoples
and Earth), lintas iman, budaya dan gerakan-gerakan sosial, apakah itu perjuangan
lokal, regional, kontinental atau global”.78
Lalu, “sistem ekonomi alternatif” yang seperti apa yang dapat menjadi
alternatifnya? Tentu jawababan yang dapat dipastikan adalah tidak ada satu alternatif
yang tunggal. Sistem ekonomi alternatif itu dapat muncul sesuai dengan kebutuhan dan
tuntutan dalam konteks partikularitas masing-masing. Penting untuk mengingat apa
dikatakan Ulrich Duchrow bahwa sistem “ekonomi mikro alternatif” yang hendak
diajukan semestinya adalah sistem ekonomi mikro yang berorientasi kepada: 1).
Kehidupan semua orang zaman sekarang, yaitu harus memenuhi kebutuhan-kebutuhan
pokok mereka, 2). Kehidupan semua makhluk dunia lainnya, 3). Kehidupan generasigenerasi yang akan datang. Duchrow juga menambahkan bahwa ciri dari “sistem
ekonomi alternatif” itu adalah “ekonomi dari bawah” yang berlawanan dengan ekonomi
penimbunan”.79 Duchrow menambahkan bahwa “ekonomi mikro alternatif” itu beranjak
dari “komunitas ragi” di tingkat komunitas lokal dan daerah skala kecil”. 80
77
Martin Lukito Sinaga, “Kata Pengantar”, (dalam) Albert Nolan, (2011), Harapan di Tengah Kesesakan
Masa Kini “Mewujudkan Injil Pembebasan”, terj, Jakarta, BPK-Gunung Mulia, hlm, ix
78
Tim Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan DGD,(2006) Op.cit, hlm, 8-9
79
Ulrich Duchrow (1999) Op.cit, hlm, 280
80
Ibid, hlm, 287
57
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Dalam perspektif Dewan Gereja Dunia (DGD), sistem “ekonomi alternatif” itu
merupakan sebentuk “ekonomi kehidupan” atau “ekonomi Allah” (divine economy)
yang rincian ciri-cirinya dirumuskan sebagai berikut:
- Rahmat ekonomi Allah yang ramah (oikonomia tou theou) membawa dan
melestarikan kelimpahan bagi semua
- Ekonomi Allah yang ramah menuntut kita agar mengelola kelimpahan hidup
dengan cara yang adil, partisipatif dan bersifat melestarikan;
- Ekonomi Allah adalah suatu ekonomi kehidupan yang mengedepankan
semangat saling berbagi, solidaritas yang mengglobal, martabat manusia,
cinta kasih dan pemeliharaan keutuhan ciptaan;
- Ekonomi Allah adalah suatu ekonomi untuk keseluruhan ekumenekeseluruhan komunitas bumi;
- Keadilan Allah dan keberpihakan-Nya pada kaum miskin adalah tanda dari
“ekonomi Allah”.81
Berdirinya Grameen Bank (GB) di Bangladesh, yang digagas oleh Muhammad
Yunus (1976), merupakan salah satu contoh hadirnya gagasan atau sistem ekonomi
alternatif lebih dari Sekadar logika ekonomi. Dalam mekanisme di Grameen Bank,
kelompok miskin yang tidak mempunyai jaminan menjadi bisa memiliki akses ke modal
berkat pemikiran yang memperhitungkan aspek budaya”.82 Selain itu, model Accion
Intrnational di Amerika Latin dan Self-employed Women Association Bank (SEWA) di
India83 atau Ecobank yang berkantor di Frankfurt dan Ecumenical Development
Cooperative Society (EDCS) yang berkantor di Amersfoot yang memiliki kantor cabang
di beberapa negara adalah contoh lain dari bagaimana menghadirkan sistem ekonomi
81
Tim Keadilan, Perdamaian Dan CIptaan Dewan Gereja-gereja se-Dunia (DGD),(2006) Op.cit, hlm, 5-6
Dalam mekanisme Grameen Bank, peminjam harus membentuk kelompok terdiri dari lima orang. Pada
tahap pertama, hanya dua orang mendapat pinjaman. Bila dalam waktu lima minggu mereka mampu
mengembalikan pijaman maka tiga orang lain akan diberi pinjaman. Selanjutnya lihat:
Haryatmoko,”Peran Gereja di Indonesia ketika Neoliberalisme semakin mendikte”, (dalam) Jeffrie
A.A.Lempas, dkk, eds (2006) Op.cit, hlm, 112. Penjelasan lebih lanjut tentang Grameen Bank, lihat juga,
Ulrich Duchrow (1999), Op.cit, khususnya, hlm, 302
83
Bagus Aryo (2012) Tenggelam Dalam Neoliberalisme: Penetrasi Ideologi Pasar Dalam Penanganan
Kemsiskinan, Depok-Jawa Barat, Kepik, hlm, 15
82
58
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
alternatif yang berbasis pada masyarakat setempat”.84 Dalam konteks Indonesia, sistem
ekonomi alternatif yang berbasis pada masyarakat setempat itu telah dihadirkan oleh
Bina Swadaya di Jawa dan Pancur Kasih di Kalimantan.
2.2.2. Sejarah Lembaga Keuangan Mikro (LKM) di Indonesia: Pengertian,
Perkembangan, Peta persoalannya dan Jenis-jenisnya
2.2.2.1. Pengertian LKM
Untuk menghindari salah pengertian, ada baiknya dijelaskan terlebih dahulu apa yang
dimaksud dengan institusi atau lembaga dalam konteks penelitian ini. Bagi banyak
orang istilah lembaga atau institusi sering dipahami hanya dalam perspektif organisasi
sehingga dalam penggunaannya seringkali terjadi kerancuan. Frank
Knight,
sebagaimana dikemukakan Erna Ermawati Chotim dan A. Diana Handayani,
mengkategorisasi institusi menjadi dua bagian:
Pertama, institusi yang dibentuk oleh “tangan yang tak terlihat”. Institusi dalam
kategori ini bukan organisasi atau lembaga. Kedua, institusi yang sengaja
dibuat. Kategori ini mengacu pada pengertian institusi sebagai sebuah
organisasi atau lembaga. Institusi pada dasarnya memiliki nilai-nilai untuk
masyarakat umum lebih dari orang-orang yang memegang peranan (stakeholder)
tertentu dari institusi itu sendiri. Institusi memiliki kumpulan stakeholder
yang tersebar, sementara stakeholder dari suatu organisasi lebih sempit dan
spesifik. Institusi merupakan kumpulan norma dan tingkah laku yang tahan
lama dan mempunyai sejumlah tujuan yang dinilai secara kolektif, sedangkan
organisasi atau lembaga merupakan struktur dari peranan-peranan yang dikenal
dan diterima baik secara formal maupun informal”.85
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka pengertian lembaga atau institusi
keuangan mikro yang hendak diperbincangkan tidak hanya dalam pengertiannya sebagai
organisasi atau badan tetapi juga terkait dengan pengertiannya sebagai perilaku yang
84
Ulrich Duchrow (1999) Op.cit, hlm, 305-306
Erna Ermawati Chotim dan A. Diana Handayani, “LKM: Beberapa Catatan Sejarah”. (dalam) Jurnal
Analisis Sosial, Volume 6, No.3 Desember 2001, Akatiga-Bandung,
85
59
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
terorganisir, dalam hal ini terkait dengan kepentingan masyarakat maupun negara untuk
mengatasi kesulitan keuangan (finansial). Dengan kata lain, LKM yang hendak
dbicarakan dalam penelitian ini terkait juga dengan LKM dalam perspektif norma
ataupun sistem yang menghasilkan dan membentuk perilaku seseorang maupun
organisasi.
A. Budisusila mengatakan bahwa sistem ekonomi adalah keseluruhan lembaga
(formal maupun informal) yang hidup di tengah masyarakat yang dijadikan tuntutan
masyarakat untuk berpikir, berasa dan bertindak untuk mencapai tujuan memenuhi
kebeutuhan dan tujuan hidup mendasar lainya. Dalam konteks Indonesia, dinamailah
sebagai sistem ekonomi kerakyatan yang tercermin dalam UUD 1945 pasal 33 dan pasal
27”.86 Munculnya, sistem ekonomi kerakyatan sebagaimana yang digariskan dalam
konstitusi Indonesia tersebut dimaksudkan bukan hanya untuk mengoreksi sistem dan
struktur ekonomi yang bercorak kolonial tetapi merupakan jalan baru penyelenggaraan
perekonomian Indonesia”.87
2.2.2.2. Perkembangan dan Peta Persoalannya
Sejarah kehadiran lembaga keuangan mikro (LKM) di Indonesia, bagaimanapun juga
memiliki akar historis yang cukup panjang di masa lalu yakni pada praktik sosial
ekonomi yang dilakukan berbagai suku-bangsa yang ada di nusantara jauh sebelum
Indonesia lahir sebagai sebuah Negara bangsa (nation-state). Sebutlah misalnya, praktik
lumbung beras desa, arisan, jimpitan (pengumpulan beras secara sukarela untuk
kegiatan sosial) yang dilakukan berdasarkan tradisi yang sudah ada secara turun
86
Antonius Budisusila, “Ekonomi, Garis Massa, dan Pendidikan: Perspektif Ekonomi Institusional”
(dalam), Antonius Budisusila, ed (2009), Rakyat, Pendidikan dan Ekonomi:Menuju Pendidikan Ekonomi
Kerakyatan, Yogyakarta, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, hlm, 49
87
Revrisond Baswir (2010) Manifesto Ekonomi Kerakyatan, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, hlm, 22, 44
60
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
temurun. Praktik-praktik sosial ekonomi seperti ini dilakukan dengan tujuan untuk
menjaga kohesi sosial sehingga motifnya tidak didasarkan semata-mata pada
pengembangan ekonomi (uang) tetapi justru pada ekonomi sosial”.88 Jadi, pada mulanya
atau secara tradisional praktik keuangan mikro itu dikelola pada basis keluarga dan
komunitas sehingga cirinya bersifat informal di mana kesepakatan bersama merupakan
norma tertinggi yang mengatur dan mengikat keseluruhan praktik-praktik sosial
ekonomi yang dilakukan.
Secara formal, kehadiran lembaga keuangan mikro di Indonesia diawali dengan
berdirinya Hulp en Spaar Bank Der Inlandesch Bestuurs Ambtenaren pada awal abad
ke-19 (1895) yang sering juga disebut sebagai Bank Bantuan dan Tabungan Pegawai”. 89
Bank Ambtenaren ini didirikan oleh seorang patih di Purwokerto Jawa Tengah bernama
Raden Wiriaatmadja (Desember 1895)”.90 Menurut Erna Ermawati Chotim dan A.
Diana Handayani tujuan utama pendirian lembaga kredit formal ini adalah untuk
membebaskan para pegawai pemerintahan dari rentenir dan pengijon. Bank Purwokerto
inilah yang dianggap sebagai cikal bakal perkembangan bank di Indonesia. Bank ini
memberikan pelayanan kredit bagi pegawai negeri pribumi, tukang, dan petani. Catatan
yang menarik pada fase ini adalah bank menetapkan persyaratan penggunaan uang
kepada para nasabahnya. Syaratnya, kredit tidak boleh dipinjamkan lagi kepada orang
lain untuk mencaribunga yang lebih tinggi, tidak boleh digunakan untuk membiayai
pesta yang tidak perlu, dan tidak boleh digunakan untuk membeli perhiasan. Kredit
harus digunakan untuk kegiatan produktif. Dengan kata lain, pada tahapan ini lembaga
keuangan sudah mulai “memisahkan” kredit untuk kebutuhan produktif dan kebutuhan
88
Bagus Aryo (2012) Op.cit, hlm, 19-20
I Gde Kajeng Baskara, “Lembaga Keuangan Mikro di Indonesia” (dalam) Jurnal Buletin Studi Ekonomi,
Vol. 18, No. 2, Agustus 2013, hlm, 116
90
Bagus Aryo (2012) Op.cit, hlm, 47
89
61
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
konsumtif. Sayangnya tidak ada informasi yang menjelaskan bagaimana membangun
mekanisme untuk memastikan pengguna kredit menggunakan kreditnya sesuai
ketentuan bank dan respons-respons apa yang muncul dari pengguna akibat pemisahan
kebutuhan tersebut”.91
Lalu, pada tahun 1896, gagasan atau ide Raden Wiriaatmadja ini dikembangkan
oleh seorang administrator kolonial Belanda bernama Sieburgh yang kemudian
mengembangkannya menjadi sebentuk koperasi kredit desa. Selanjutnya, seorang
administrator kolonial lainnya yakni Wolf van Westerrode, kemudian mengembangkan
koperasi kredit desa ini menjadi Bank Perkreditan Umum”.92 Pada periode sekitar tahun
1898, desa-desa di pulau Jawa terutama desa-desa yang menjadi sentra penghasil beras
mulai mendirikan Lumbung Desa. Lumbung Desa merupakan lembaga simpan pinjam
yang menggunakan komoditas padi sebagai instrumen simpan-pinjam-nya. Lalu, seiring
dengan berkembangnya wilayah pedesaan serta peredaran uang yang semakin meluas
dan semakin dikenal masyarakat desa, pada tahun 1904 didirikanlah Bank Desa, yang
kemudian dikenal sebagai BadanKredit Desa (BKD)”.93
Sejak saat itu, di berbagai daerah mulai bermunculanberbagai bentuk bank
perkreditan rakyat. Implikasinya, subsidi pemerintah terhadap perbankan menjadi
meningkat. Keadaan ini, membuat pemerintah harus mengontrol bank-bank tersebut.
Upaya pemerintah kolonial untuk mengendalikan bank-bank tersebut dilakukan dengan
cara mendirikan Central Kas pada tahun 1934 di mana semua bank-bank perkreditan
rakyat umum itu kemudian disatukan ke dalam Algemene Volkscredietbank (AVB) atau
91
Erna Ermawati Chotim dan A. Diana Handayani, “LKM: Beberapa Catatan Sejarah”. (dalam) Jurnal
Analisis Sosial, Volume 6, No.3 Desember 2001, Akatiga-Bandung,
92
Bagus Aryo (2012) Op.cit, hlm, 48
93
I Gde Kajeng Baskara, Op.cit, hlm, 116
62
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Bank Rakyat Umum. Algemene Volkscredietbank (AVB) inilah yang menjadi cikal
bakal Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang dikenal saat ini”. 94
Meskipun bank-bank perkreditan umum yang bermunculan itu sudah disatukan
ke dalam AVB atau Bank Rakyat Umum,
namun penggabungan itu tidak lantas
membuat Badan Kredit Desa menghentikanusahanya. Badan Kredit Desa tetap
berkembang seiring dengan perkembangan jaman. Dalam perkembangan selanjutnya,
Badan Kredit Desa yang terdiri dari Bank Desa dan Lumbung Desa bertransformasi
menjadi lembaga-lembaga perkreditan rakyat sepertiLembaga Perkreditan Kecamatan
(LPK) dan Bank KaryaProduksi Desa (LKPD) di Jawa Barat, Badan KreditKecamatan
(BKK) di Jawa Tengah, Kredit Usaha RakyatKecil (KURK) di Jawa Timur. Lalu,
beberapa lembaga kemudian bertransformasimenjadi lembaga keuangan yang
berdasarkan ikatanadat seperti Lembaga Perkreditan Desa di Bali danLumbung Pitih
Nagari di Sumatera Barat”.95
Di era kemerdekaan (1945-1966), dapat dikatakan merupakan era kemunduran
Lembaga Keuangan Mikro di Indonesia. I Gde Kajeng Baskara mencatat, pada kurun
periode 1957 sampai 1965, sistem keuangan formal sangat dikekang. Hal ini terutama
dipengaruhi oleh adanya kebijakan untuk menghapus segala kepemilikan
atau
keterlibatan orang asing dalam sistem perbankan dan nasonalisasi bank-bank yang
dulu menjadi milik Belanda”.96 Selain karena alasan itu, kemunduran lembaga keuangan
mikro juga dipengaruhi oleh situasi sosial, politik-ekonomi nasional yang mulai
dikaitkan dengan beberapa persoalan seperti munculnya desakan untuk membuat
kebijakan afirmatif bagi pemberdayaan pengusaha pribumi. Keadaan ini telah membuat
94
Bagus Aryo (2012) Op.cit, hlm, 48
I Gde Kajeng Baskara, Op.cit, hlm 116
96
Ibid
95
63
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
sistem keuangan nasional menjadi tertekan (depresi) sebab untuk menopang kebijakan
afirmasi tersebut Pemerintah lantas menjadi sangat tergantung kepada Bank Central.
Akibatnya, terjadi hiperinflasi yang cukup tinggi sehingga merusak kepercayaan
masyarakat terhadap mata uang yang sekaligus juga menurunkan nilai mata uang yang
sedang beredar. Pada tahun 1966 sistem keuangan Indonesia secara finansial runtuh
bahkan tidak ada karena krisis ekonomi dan politik yang parah selama periode
tersebut”.97
Masa Orde Baru, dapat dikatakan merupakan masa keemasan sistem keuangan
mikro di Indonesia. Di era Orde Baru, lembaga keuangan mikro mampu menyediakan
layanan tabungan dan kredit dengan prinsip berkelanjutan dan dapat diakses oleh
sebagian besar penduduk Indonesia di pedesaan. Upaya pemerintahan Orde Baru
dibawah kepemimpinan Suharto untuk memulihkan krisis ekonomi dan moneter di
Indonesia yang terjadi pada tahun 1967, dilakukan dengan cara mendirikan Bank
Pembangunan Daerah (BPD) di setiap provinsi sehingga dapat mendorong pertumbuhan
jasa keuangan, terutama di sektor perbankan”.98
Pada tahun 1970, pemerintahan Orde Baru menciptakan program kredit “Binmas
dan Inmas”,99 melalui BRI cabang pedesaan untuk meningkatkan pembangunan
pertanian dengan tujuan mewujudkan swasembada beras. Menurut Erna Ermawati
Chotim dan A. Diana Handayani, program inilah yang menjadi cikal bakal BRI-Unit
Desa yang kemudian menjadi lembaga keuangan yang cukup dominan di pedesaan di
Indonesia. Dalam hal ini, unit desa dimaknai sebagai keadaan agro ekonomi
97
Bagus Aryo (2012), Op.cit, hlm, 48
Ibid, hlm, 49
99
Binmas (Bimbingan massa) merupakan rencana penyetujuan paket kredit, di mana Inmas (intensifikasi
pertanian) merupakan program intensifikasi pertanian. Selanjutnya lihat: ibid
98
64
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
masyarakat desa yang memiliki fungsi penyuluhan, perkreditan, penyaluran sarana
produksi, pengelolaan, dan pemasaran hasil pertanian.Pada awalnya, BRI-UD ini
hanya menjadi penyalur kredit Bimas. Seluruh dana BRI-UD berasal dari
pemerintah. Namun pada tahun 1974, BRI-UD diberi tugas tambahan unutk
menyalurkan paket kredit mini dan paket kredit midi. Penambahan tugas ini secara
perlahan kemudian menggiring BRI-UD menjadi lebih mirip BPR.Kemiripan ini
setidaknya terlihat dari dua sisi. Pertama, paket kredit mini dan midi yang diberikan BRI
jelas menyasar kelompok-kelompok
kredit
yang
diberikan
dalam
masyarakat
kedua
paket
berpenghasilan
tersebut
rendah.
Plafon
antara Rp.200.000
s/d.
Rp.500.000 dengan tingkat suku bunga rata-rata 12% per tahun. Kedua, BRI
menyederhanakan prosedur pelayanannya menjadi lebih fleksibel sehingga menjadi
lebih mudah untuk diakses nasabahnya”.100
Hasilnya, hingga tahun 1984, BRI telah berhasil mendirikan lebih dari 3600
BRI-Unit Desa di tingkat kecamatan di seluruh penjuru negeri yang dirancang untuk
menyalurkan pinjaman secara langsung kepada para petani yang berpartisipasi dengan
program kredit yang terkait. Tetapi malangnya, pada tahun itu juga program kredit
Binmas dan Inmas itu terpaksa harus dihentikan sebab sejumlah kredit Binmas
mengalami kegagalan. Setelah meninjau ulang kinerja BRI dan pelaksanaan program
kredit Binmas dan Inmas tersebut, Pemerintah memutuskan untuk mengubah sistem
BRI Unit Desa menjadi sistem perbankan komersial berkelanjutan di tingkat lokal.
Implikasinya, BRI dimungkinkan menerapkan bunga deposito dengan tingkat bunga
yang cukup tinggi supaya orang-orang tertarik untuk menabung dan membebankan suku
bunga pinjaman yang cukup tinggi untuk menutupi biaya pendanaan dan operasional.
100
Erna Ermawati Chotim dan A. Diana Handayani,”LKM: Beberapa Catatan Sejarah” (dalam), Jurnal
Analisis Sosial, Vol. 6, No.3, Desember 2001, AkatigaBandung,
65
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Dalam perspektif seperti itu, BRI kemudian menawarkan program baru ke seluruh unit
jaringannya yaitu kredit untuk berbagai tujuan, KUPEDES (Kredit Umum Pedesaan),
tabungan
pedesaan,
SIMPEDES
(Simpanan
Pedesaan),
tabungan
perkotaan,
SIMASKOT (Simpanan Masyarakat Kota)”.101
Lalu, pada tahun 1988, Pemerintah mengeluarkan paket kebijakan reformasi
sektor perbankan dan keuangan yang dikenal dengan sebutan Pakto 88 (paket oktober
1988). Pakto 88 ini, menandai lahirnya satu jenis lembaga keuangan mikro yang baru
yakni Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Melalui kebijakan Pakto 88 ini, Pemerintah
memberi kesempatan selama dua tahun kepada lembaga keuangan non bank yang
tumbuh subur di banyak daerah (seperti Bank Kredit Desa (BKD), Bank Kredit
Kecamatan (BKK) di Jawa Tengah, Lembaga Perkreditan Kecamatan (LPK), Lumbung
Pitih Nagari (LPN) di Sumatera Barat, Kredit Usaha Rakyat Kecil (KURK) di Jawa
Timur, dan Lembaga Perkreditan Desa (LPD) di Bali) untuk bertransformasi menjadi
BPR. Tetapi, peraturan ini dianggap cukup menyulitkan lembaga kredit di pedesaan.
Merespon, kesulitan yang dialami lembaga kredit pedesaan tersebut, Pemerintah
kemudian mengeluarkan keputusan Maret 1989 atau yang dikenal dengan sebutan
“pakmar 89”, yang menghapus aturan tersebut untuk mengurangi kesulitan yang
dihadapi lembaga kredit pedesaan dan BPR yang berasal dari transformasi lembaga
tersebut”.102
Salah satu
Lembaga
Dana
Kredit
Pedesaan (LDKP)
yang bersedia
bertransformasi menjadi BPR adalah Lembaga Pitih Nagari (LPN) di Sumatera Barat.
Tetapi, tidak semua LKM yang dikategorikan sebagai LDKP bersedia bertransformasi
101
Bagus Aryo (2012) Op.cit, hlm, 49
I Gde Kajeng Baskara, Op.cit, hlm, 117
102
66
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
menjadi BPR. LPD di Bali misalnya, mereka menyatakan keberatannya atas kebijakan
tersebut. Alasan penolakannya sebab perubahan itu juga akan mengakibatkan terjadinya
perubahan prosedur dan mekanisme yang khas wilayah ke prosedur dan mekanisme
yang sesuai dengan ketentuan Pemerintah. Dari sisi pemerintah, perubahan tersebut
tentu akan memudahkan pengawasan. Namun, dari sisi masyarakat perubahan ini
menyebabkan mereka harus berhadapan dengan prosedur perbankan yang kerap
menjauhkan mereka dari sumber kredit yang dibutuhkan”.103
Merespon keberatan masyarakat Bali tersebut, Bank Indonesi (BI) akhirnya,
memberikan persetujuan dengan membuat keputusan bahwa LPD merupakan lembaga
keuangan non bank yang khusus beroperasi di wilayah Bali. Dalam Undang-undang
No.1 tahun 2013 tentang LKM, keberadaan LPD kemudian diakui sebagai sebuah
lembaga keuangan berbasis adat, sehingga tidak dapat dikategorikan sebagai LKM yang
paling sukses di Indonesia. Regulasi yang mengatur keberadaan LPD di Bali kemudian
diatur secara tersendiri oleh Peraturan Daerah (Perda) Propinsi Bali No.8 tahun 2002,
yang kemudian mengalami perubahan melalui Perda Nomor 3 tahun 2007”.104
Alasan
penolakan
Lembaga
Dana
Kredit
Pedesaan
(LDKP)
untuk
bertransformasi menjadi BPR pada umumnya adalah karena perubahan itu akan
berdampak pada perubahan prosedur dan mekanisme pencairan kredit yang sebelumnya
didasarkan pada nilai-nilai kearifan lokal atau adat istiadat masyarakat di suatu daerah
menjadi berubah ke prosedur dan mekanisme sesuai dengan ketentuan pemerintah
(perbankan) yang justru mendasarkan pengelolaan dan pengembangannya pada prinsip
manajemen kehati-hatian. Dalam hal ini, memang ada perbedaan kepentingan antara
103
Erna Ermawati Chotim dan A. Diana Handayani,”LKM: Beberapa Catatan Sejarah” (dalam), Jurnal
Analisis Sosial, Vol. 6, No.3, Desember 2001, AkatigaBandung,
104
I Gde Kajeng Baskara, Op.cit, hlm, 121
67
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Pemerintah dan Masyarakat dalam memahami keberadaan LKM di Indonesia. Bagi
masyarakat (adat), perubahan itu akan membuat mereka harus berhadapan dengan
prosedur (birokrasi) perbankan yang justru kerap menjauhkan mereka dari sumber kredit
yang dibutuhkan. Sementara itu, bagi Pemerintah perubahan tersebut dimaksudkan
untuk memudahkan mereka untuk melakukan pengawasan”.105
Menurut I Gde Kajeng Baskara, institusi yang terlibat dalamkeuangan mikro di
Indonesia dapat dibagi menjadi tiga, yakni: institusi Bank, Koperasi, serta Non
Bank/Non Koperasi. Institusi bank termasuk di dalamnya bank umum, yang
menyalurkan kredit mikro atau mempunyai unit mikro serta bank syariah dan unit
syariah”.106 Sementara itu, kalau mengacu pada undang-undang No. 7 tahun 1992 atau
undang-undang hasil amandemen No.10 tahun 1998 maka ada dua kategori bank yang
ada di Indonesia yakni: bank komersial (bank umum) dan Bank Perkreditan Rakyat
(BPR) yang sering juga disebut sebagai bank pedesaan”. 107
Perlu juga ditambahkan bahwa dalam perkembangan selanjutnya, lembaga
keuangan mikro di Indonesia juga ikut diramaikan dengan hadirnya Baitul Maal wat
Tamwil (BMT). Secara etimologis, Baitul Maal yang berarti “rumah uang” dan Baitul
Tamwil dengan pengertian “rumah pembiayaan”. Rumah uang dalam artian ini adalah
pengumpulan dana yang berasal dari infaq, zakat,ataupun shodaqah, dan pembiayaan
yang dilakukan adalah berdasarkan prinsip bagi hasil, yang berbeda dengan sistem
perbankan konvensional yang mendasarkan pada sistem bunga”. 108 Sejarah keberadaan
BMT di Indonesia diinisiasi oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Bank Muamalat
105
Erna Ermawati Chotim dan A. Diana Handayani, “LKM: Beberapa Catatan Sejarah”. (dalam) Jurnal
Analisis Sosial, Volume 6, No.3 Desember 2001, Akatiga-Bandung,
106
I Gde Kajeng Baskara, Op.cit, hlm, 115
107
Bagus Aryo (2012) Op.cit, hlm, 50
108
I Gde Kanjeng Baskara, Op.cit, hlm, 122
68
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Indonesia yang mendirikan Yayasan Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (YINBUK) yang
kemudian membentuk juga Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (PINBUK). Pada bulan
Desember tahun 1995, secara legal formal Presiden Suharto mendeklarasikan BMT
sebagai sebuah gerakan nasional untuk pemberdayaan usaha kecil, dan pada tahun yang
sama BI memberi ijin atau mengakui BMT sebagai lembaga keuangan yang dapat
diberikan bantuan pendanaan dan masuk dalam program linkage dengan bank umum.
Sejak disahkannya UU No. 1 tahun 2013, BMT kemudian diklasifikasi sebagai sebuah
LKM yang memang sudah lama dinantikannya”.109
Berdasarkan data Bank Indonesia tahun 2000, setidaknya terdapat 53.644 LKM
di Indonesia mulai dari varian bank, koperasi, lembaga kredit, BMT, dan pegadaian
sedangkan
LKM
non bank
berjumlah
42.186
unit. LKM tersebut mampu
memberikan pelayanan kredit terhadap lebih kurang 27.000.000 nasabah dengan
total jumlah pinjaman Rp. 24.443.594.000. Namun demikian, masih banyak kelompok
usaha kecil dan mikro serta masyarakat berpenghasilan rendah yang belum terlayani.
Kenyataan ini pada satu sisi memperlihatkan betapa sangat kecilnya akses dan
pelayanan bagi usaha kecil tetapi di sisi lain kondisi ini juga menjadi peluang bagi
LKM untuk berkembang apalagi keberadaannya sangat dekat dengan masyarakat
sehingga bisa dengan mudah direplikasi apalagi cenderung juga mendapat dukungan
dari berbagai lembaga keuangan baik di dalam maupun di luar negeri. Seharusnya
dengan jumlah sebesar itu permasalahan yang dihadapi pelaku ekonomi kecil dan
mikro dan masyarakat berpenghasilan rendah bisa memenuhi kebutuhannya dan
109
Ibid
69
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
memiliki akses terhadap sumber-sumber kredit bagi kelangsungan hidup maupun
usahanya”.110
2.2.2.3. Jenis-jenisnya
Bertolak dari uraian tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa keberadaan LKM
sesungguhnya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari strategi pembangunan untuk
mengatasi kemiskinan khususnya dalam rangka mengatasi kesulitan finansial atau
permodalan yang dialami oleh warga negara Indonesia. Memang ada berbagai macam
bentuk lembaga keuangan mikro (LKM) yang beroperasi di Indonesia. Kalau dilihat dari
segi fungsinya maka LKM di Indonesia pada umumnya berfungsi memberi layanan
intermediasi keuangan (finansial) dan intermediasi sosial, berupa pendidikan dan
pelatihan-pelatihan keterampilan.
Menurut Bagus Aryo, kalau dilihat dari segi jenisnya maka LKM di Indonesia
dapat diklasifikasi menjadi tiga bagian yakni lembaga keuangan mikro formal (formal
microfinance), lembaga keuangan mikro semiformal (semiformal microfinance) dan
lembaga keuangan mikro informal (informal microfinance). Bagus Aryo juga telah
mengidentifikasi bentuk-bentuk LKM yang termasuk dalam ketiga jenis LKM lembaga
keuangan mikro tersebut seperti tampak dalam tabel berikut ini”,111:
110
Erna Ermawati Chotim dan A. Diana Handayani,”LKM: Beberapa Catatan Sejarah” (dalam), Jurnal
Analisis Sosial, Vol. 6, No.3, Desember 2001, Akatiga Bandung,
111
Bagus Aryo, (2012) Op.cit, hlm, 51
70
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Tabel 1:
Tiga jenis Lembaga Keuangan Mikro (LKM)
Lembaga keuangan
mikro formal
- Bank Komersial:
Bank Rakyat Unit
Desa
dan Bank Dagang Bali
- Bank Desa:
Bank Perkreditan
Rakyat (BPR)
Lembaga keuangan mikro
semi formal
- Proyek Pemerintahan:
Proyek keuangan mikro
lembaga kementerian dan
pemerintahan
- Koperasi: koperasi,
koperasi simpan pinjam,
dan koperasi unit desa
- Proyek LSM:
Pola Hubungan Bank
dengan Kelompok Swadaya
Masyarakat
Lembaga keuangan mikro
informal
- Arisan
- Pinjaman pribadi tanpa
jaminan
- Hutang warung
- Gadai
- Pemberi pinjaman
informal (rentenir/ lintah
darat)
Ketiga jenis lembaga keuangan mikro (LKM) yang beroperasi di Indonesia itu
menurut Bagus Aryo memiliki sejumlah perbedaan dan persamaan seperti yang dapat
dilihat dalam tabel berikut ini:112
Tabel 2:
Tiga Jenis Lembaga Keuangan Mikro:
Persamaan dan Perbedaannya
Lembaga keuangan mikro
formal
-
Lembaga keuangan mikro
Lembaga keuangan mikro informal
semiformal
Persamaan
- Dipandang sebagai lembaga keuangan
Memberikan layanan intermediasi keuangan ke keluarga berpenghasilan
menengah dan rendah
Perbedaan
- Menggunakan pendekatan
keberlanjutan institusional
- Memenuhi kategori yang
tercantum dalam undangundang Perbankan 1992
112
- Rata-rata
menggunakan
pendekatan
kesejahteraan
- Lembaga-lembaga
didaftarkan atau sah
dibawah otoritas
negara/ kementerian
- Bagian dari strategi
pembangunan untuk
mengikis kemiskinan
Ibid, hlm, 52
71
-
-
Rata-rata menggunakan
pendekatan kesejahteraan
Lembaga keuangan mikro
informal beroperasi di luar
struktur regulasi dan
pengawasan pemerintah
Ikatan sosial atau tradisional
memperkokoh lembaga terkait
Bunganya merentang dari tidak
berbunga hingga berbunga 100
persen (pemberi
pinjaman
atau lebih)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Berdasarkan kedua tabel tersebut di atas, terlihat dengan jelas bahwa BRI-Unit
Desa dan BPR digolongkan sebagai LKM formal. Bagus Aryo menambahkan bahwa
BRI-UD dan BPR adalah LKM yang bersandar pada UU Perbankan tahun 1992 yang
memusatkan perhatiannya pada keberlanjutan (pendekatan) institusional atau dalam
literatur keuangan mikro disebut LKM yang bersandar pada Mazhab Ohio. LKM yang
berpijak pada pendekatan institusional atau Mazhab Ohio ini adalah LKM yang
memberi penekanan pada keberlanjutan finansial di mana keluasan jangkauan (yang
berarti jumlah nasabah) lebih diutamakan daripada kedalaman jangkauan (yang berarti
tingkat kemiskinan yang dijangkau), dan dampak positif bagi nasabah diasumsikan ada.
Singkat kata, kesuksesannya diukur dari kemajuan lembaga dalam mencapai
swasembada finansial sehingga pendekatan ini selalu berupaya menyingkirkan subsidi
dalam bentuk apapun”.113
Sementara itu, semua proyek-proyek pemerintah-kementerian, koperasi baik
koperasi “simpan-pinjam”, koperasi unit desa maupun proyek-proyek lembaga swadaya
masyarakat (LSM) serta Pola Hubungan Bank (PHBK) dengan Kelompok Swadaya
Masyarakat (KSM) digolongkan sebagai LKM semi formal. Pendekatan LKM
semiformal memberi titik tekan pada pendekatan kesejahteraan (welfarist) yakni
penanganan kemiskinan melalui kredit yang acapkali diberikan bersamaan dengan
layanan sosial seperti pelatihan keterampilan, pelatihan melek keuangan, kegiatan
membangun kesadaran, pelayanan kesehatan dan gizi dan lain-lain. Berbeda dengan
LKM formal, LKM semi formal memberikan kredit bersubsidi sehingga bunganya
berada dibawah tingkat suku bunga pasar”.114 Cukup jelas terlihat adanya perbedaan
yang cukup mencolok antara LKM formal dengan LKM informal. Kalau LKM formal
113
Ibid, hlm, 23
Ibid
114
72
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
beroperasi di dalam struktur regulasi dan pengawasan pemerintah maka LKM informal
justru sebaliknya ia beroperasi di luar struktur regulasi dan pengawasan pemerintah.
Pendekatannya juga berbeda secara diametral. LKM informal menekankan pendekatan
kesejahteraan (welfarist) sedangkan LKM formal menekankan pendekatan institusional
atau keberlanjutan finansial. LKM yang termasuk dalam kategori LKM informal,
menurut Bagus Aryo antara lain: arisan, pinjaman pribadi tanpa jaminan, hutang
warung, gadai dan pemberi pinjaman informal (rentenir).
2.2.3. Perdebatan Seputar Credit Union (CU): Antara Gerakan ekonomi atau
Gerakan Sosial
Salah satu lembaga keuangan mikro non bank atau non koperasi yang cukup
berkembang di Indonesia adalah Credit Union (CU). Tetapi, diantara para pegiat CU itu
sendiri tampaknya terdapat pandangan yang berbeda dalam memahami keberadaan CU.
Pada satu pihak ada yang memahami bahwa CU merupakan sebentuk lembaga
keuangan mikro pada pihak yang lain ada yang memahami bahwa CU tidak tepat
disebut sebagai lembaga keuangan mikro sebab di dalam CU, aktivitas simpan-pinjam
hanya merupakan salah satu dari beragam aktivitas CU. Mereka yang tidak setuju
mengasosiasikan CU sebagai suatu LKM, lebih memahami CU sebagai bagian dari
gerakan sosial.
Istilah credit union berasal dari bahasa Latin, credere, atau credo yang artinya
percaya dan unus berarti kumpulan atau persatuan(union). Jadi, “credit union” dapat
diartikan sebagai kumpulan orang yang saling percaya dalam suatu ikatan pemersatu
dan sepakat menabungkan uang mereka sehingga menciptakan modal bersama untuk
73
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
dipinjamkan kepada anggota dengan tujuan produktif dan kesejahteraan”.115 Dalam
kenyataan aktualnya di Indonesia, CU dianggap merupakan bagian dari koperasi apalagi
asosiasinya disebut sebagai Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit). Meskipun begitu, harus
dicatat bahwa ada perbedaan yang sangat fundamental antara CU dan Koperasi pada
umumnya bahkan dengan lembaga keuangan mikro yang lain seperti bank. Manfaat CU
bagi anggota adalah mengubah pola pikir dari yang terbiasa instan - langsung
memanfaatkan uang saat mendapat pinjaman - menjadi menciptakan modal dahulu
dengan menabung secara rutin – baru kemudian meminjam. Di dalam CU, modal atau
tabungan diciptakan terlebih dahulu baru kemudian anggota dapat memanfaatkannya
atau meminjam. Hal seperti inilah yang tidak ditemukan dalam praktik perkoperasian
pada umumnya.
CU dapat mengubah kebiasaan seseorang dari tidak biasa menabung menjadi
biasa menabung. Di dalam CU, setiap anggota selalu mempunyai uang dalam bentuk
tabungan yang terus meningkat, dan selalu bisa memanfaatkan tabungan untuk
meningkatkan jumlah aset. Di dalam CU, seorang anggota mesti menabung untuk
meningkatkan modal. Menabung dalam sistem CU berbeda dengan menabung secara
‘tradisional’ di lembaga lain, misalnya bank, di mana setelah menabung, uang kemudian
ditarik untuk dipergunakan. Tetapi di dalam CU ada yang khas, karena anggota yang
meminjam tetap memiliki dana yang tersimpan”.116 Artinya, kalaupun seorang anggota
meminjam dari CU dan ia memiliki kewajiban membayar jasa (bunga) pinjamannya,
namun ia sendiri juga mendapatkan hasil dari jasa (bunga) pinjaman ia berikan lewat
pembagian deviden atau keuntungan. Besarnya jumlah deviden yang akan diterima
115
T.Handono Eko Prabowo (2010) Pengembangan Kekuatan-Kekuatan Tranformasi Untuk Kedaulatan
Sosial Ekonomi “Sebuah Refleksi Sosial Ekonomi”, Yogyakarta, Universitas Sanata Dharma, hlm, 55
116
http://widodo07.blogspot.com/2012/11/apa-perbedaan-dan-persamaan-koperasi.html, (diakses tgl,
31 Juli 2014)
74
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
masing-masing anggota disesuaikan dengan besarnya jumlah dana (saham) yang
dimiliki (dana yang tersimpan) di CU tersebut.
Kini wacana Credit Union (CU) tidak dipahami hanya sebagai lembaga
keuangan mikro tetapi gerakan CU telah menjelma menjadi sebentuk model gerakan
sosial ekonomi yang berdampak besar dan luas. Berdasarkan data dari Induk Koperasi
Kredit jumlah anggota secara keseluruhan dari tahun 1970 sampai 2011 mengalami
peningkatan yaitu tahun 1970 sebanyak 733 anggota dan pada tahun 2011 sebanyak
1.808.329 anggota dengan total jumlah kekayaan sebesar Rp12,823 triliun. Saat ini
Induk Koperasi Kredit (Inkopdit memiliki jaringan 30 Pusat Koperasi Kredit
(Puskopdit)/ Pra Puskopdit/ BK3D yang tersebar di beberapa Propinsi di seluruh
Indonesia (Inkopdit, 2012)”.117
Sejarah kemunculan gagasan tentang CU bermula pada tahun 1848 di Jerman”,
118
yang mana Jerman ketika itu sedang mengalami krisis sosial ekonomi yang hebat.
Turunnya badai salju yang melanda seluruh negeri telah mengakibatkan para petani
menjadi gagal panen. Akibatnya, kelaparan terjadi di mana-mana. Dalam keadaan
seperti itu, para rentenir justru memanfaatkan keadaan dengan semakin merajalela
meminjamkan uangnya kepada kaum miskin dan mematok bunga yang sangat tinggi.
Akibatnya, masyarakat miskin terpaksa menjual harta bendanya. Urbanisasi besarbesaran menjadi tak terhindarkan. Persoalan ini kemudian diperumit lagi oleh kenyataan
di mana tenaga manusia mulai digantikan oleh tenaga teknologi (mesin) sebab tidak
lama berselang terjadi revolusi industri. Perubahan tersebut telah memantik perubahan
manajemen pabrik dengan mengadopsi manajemen efisiensi. Akibatnya, pemutusan
117
Monica Carollina, Ag. Edi Sutarta, “Peranan Credit Union Sebagai lembaga pembiayaan Mikro” :
“Studi Kasus: Pada Usaha UMKM Di Desa Tumbang Manggo Kecamatan Sanaman Mantikei, Kabupaten
Katingan, Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2013” (dalam) Jurnal CU, 2013
118
http://www.cu-cintamulia.or.id/?aapro=sejarah.html, (diakses tgl, 24 Mei 2011)
75
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
hubungan kerja (PHK) terjadi di mana-mana yang kemudian membuat terjadi
pengangguran besar-besaran.
Dalam kondisi krisis seperti itu, Walikota Flammersfield, Frederich Wilhelm
Raiffeisen, mencoba mengatasinya dengan cara menghimpun dana dari dermawan dan
membagikannya kepada kaum miskin sebagai modal usaha(mirip dengan program
Bantuan Langsung Tunai – BLT-nya Indonesia). Cara seperti itu ternyata tidak berhasil
untuk mengatasi kondisi krisis yang sedang terjadi sebab orang-orang miskin merasa
apa yang diberikan Pemerintah tersebut selalu kurang atau tidak cukup. Belajar dari
kenyataan tersebut Wilhelm Raiffeisen kemudian mengubah pendekatannya. Kali ini
Raiffeissen tidak lagi memberikan uang tetapi membeli roti dari pabrik-pabrik, lalu
membagikannya kepada kaum miskin.Malangnya, upaya tersebut juga tidak dapat
mengatasi kondisi krisis yang sedang terjadi.
Dari pengalaman itu, Wilhelm Raiffeisen akhirnya sampai pada kesimpulan
bahwa kesulitan kaum miskin hanya dapat diatasi oleh kaum miskin itu sendiri. Ia
kemudian mencoba mengorganisasi masyarakat dan mengumpulkan modal (uang) yang
ada pada mereka untuk dijadikan sebagai modal bersama. Uang yang terkumpul
tersebut, kemudian dipinjamkan kepada orang-orang miskin dengan jumlah tertentu
untuk dapat digunakan sebagai modal usaha untuk mengatasi kondisi krisis yang sedang
terjadi. Pendekatan ini ternyata cukup berhasil mengatasi kondisi krisis sosial ekonomi
yang sedang terjadi. Dari keberhasilan itulah, filosofi CU dikenal dengan “People
helping, people help themselves”.119
119
http://www.cu-cintamulia.or.id/?aapro=sejarah.html, (diakses tgl, 24 Mei 2011)
76
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Sejak saat itulah, konsep CU dikenal sebagai sebuah sistem ekonomi informal
yang kemudian menyebar dan berkembang ke seantero dunia”. 120 Gerakan CU mulamula menyebar ke Kanada dan Amerika Serikat. Lalu, pada tahun 1934, ketika Amerika
Serikat dipimpin oleh Rossevelt, dibentuklah Biro pengembangan Credit Union se dunia
dengan nama World Council of Credit Union (WOCCU) dan di Asia dibentuk “The Asia
Confederation of Credit Union” (ACCU). Pada tahun 1963, sebuah seminar mengenai
“Social Economic Life in Asia” dan “Social Action Leadership Course” diselenggarakan
di Bangkok yang juga diikuti oleh delegasi dari Indonesia. Di situ, gagasan mengenai
CU juga mulai diperkenalkan kepada peserta seminar.
Di Indonesia, wacana CU sebagai sebuah sistem ekonomi mikro mulai
diperkenalkan secara formal ketika perwakilan dari WOCCI diundang secara resmi ke
Indonesia untuk memperkenalkan detail konsep CU tersebut:
Pada tahun 1967, Mr.A.A.Baily, perwakilan WOCCU diundang ke Indonesia
untuk memperkenalkan CU. Sejak saat itulah beberapa tokoh seperti, Pater
Albretch Karim Arbi, SJ, Ir.Ibnoe Soedjono, Margono Djojohadikusumo,
Mokhtar Lubis, Prof. Dr. Fuad Hasan, Prof.Dr. A.M. Kadarman, SJ dan Roby
Tulus mulai memperkenalkan gagasan tentang CU kepada masyarakat
Indonesia. Gerakan Credit Union mulai dirintis melalui Konpernas PSE/Delsos
di Bandung pada tahun 1968 dan Konpernas PSE (Pelayanan Sosial Ekonomi)/
Delsos (Delegatus sosial) di Sukabumi pada tahun 1969, yang diselenggarakan
oleh gereja Katolik”.121
Dari situlah, gerakan CU mulai bertumbuh di Indonesia bahkan mengalami
perkembangan dan kemajuan yang cukup pesat yang ditandai dengan banyaknya CU
primer yang berdiri. Karena perkembangannya yang begitu pesat dan untuk
120
http://www.mail-archive.com/[email protected]/msg105221.html.
(Diakses, tgl, 27 Okt 2011)
121
http://www.mail-archive.com/[email protected]/msg105221.html.
( Diakses, tgl, 27 Okt 2011)
77
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
memperkenalkan gagasan tentang CU secara lebih meluas, pada tahun 1970,122 Pater
Albretch dan kawan-kawan, membentuk sebuah asosiasi untuk mewadahi CU yang
sudah ada dengan mendirikan Credit Union Counseling Office (CUCO). CUCO inilah
kemudian yang menjadi cikal bakal dari “Badan Kordinasi Koperasi Kredit Indonesia”
(BK3I) atau yang saat ini dikenal dengan “Induk Koperasi Kredit” (Inkopdit). Sejak saat
itulah CUCO semakin gencar memasyarakatkan CU kepada masyarakat Indonesia
khususnya kepada masyarakat lokal di pedesaan.
Seiring dengan berjalannya waktu, berbagai inovasi untuk mengembangkan
gerakan pelayanan CU di Indonesiasemakin banyak dilakukan. Sistem CU pada
dasarnya bukanlah perkumpulan uang melainkan perkumpulan orang-orang yang saling
percaya. Dalam status ontologisnya sebagao perkumpulan orang atau perkumpulan
sosial, CU dapat dimaknai dengan berbagai cara dan bentuk yang berbeda-beda. Harus
diingat bahwa aktivitas generik simpan-pinjam di dalam suatu perkumpulan CU
hanyalah salah satu dari beragam bentuk kegiatan yang dapat dilakukan. Sebagai sebuah
diskursus sosial ekonomi, CU menjadi terbuka (contingent) untuk segala kemungkinan
pemaknaan dan reartikulasi sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat yang
berniat menggunakannya. Karena sifatnya yang terbuka seperti itu maka bentuk atau
model CU yang dikembangkan masyarakat di Indonesia juga menjadi beragam. Di
berbagai tempat, gerakan CU tidak selalu memfokuskan aktivitasnya semata-mata pada
“uang” tetapi telah menjadi bagian dari gerakan pemberdayaan, penyadaran sosial,
ekonomi politik, dan kebudayaan masyarakat (adat) lokal. Sebutlah misalnya, CU model
Kalimantan, yang tidak dapat lagi dipandang sebagai gerakan “ekonomi uang” saja
tetapi sudah menjelma menjadi sebentuk gerakan sosial. Bahkan, CU model Kalimantan
122
Ibid
78
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
yang berada dibawah naungan Badan Kordinasi Credit Union (BKCU) Kalimantan ini
telah diakui bahkan digunakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai salah
satu model alternatif bagi pemberdayaan masyarakat adat (lokal) di dunia”.123
Rahasia sukses CU model Kalimantan ini, menurut AR.Mecer, karena BKCU
Kalimantan berhasil memformulasikan empat filosofi (nilai-nilai) kehidupan masyarakat
adat Dayak ke dalam pelayanan dan produk-produk CU. Filosofi itu disebut dengan
"Empat Jalan Keselamatan" yakni konsumsi, benih, sosial, ritual.Ke empat filosofi
tersebut mewujud sebagai produk CU model Kalimantan dalam bentuknya sebagai:
produksimpanan bunga harian (konsumsi); simpanan jangka panjang, deposito(benih);
ada solidaritas sosial--seperti kesehatan, pendidikan (sosial); adasolidaritas kematian,
tabungan hari raya (ritual): agar dapat dilihat secara lebih terperinci, berikut ini
dikutipkan saja “Empat Jalan Keselamatan” yang menjadi filosofi mayarakat adat
Dayak Kalimantan:
1) Konsumsi: penting sekali memenuhi kebutuhan makan-minum, meliputi
kebutuhanpokok manusia yaitu makan-minum sehari-hari, sandang, papan,
pendidikan,kesehatan, air bersih, dan lain sebagainya agar memenuhi karya
penciptaanTuhan di bumi ini dari generasi ke generasi.
2) Benih: menyisihkan hasil sebagai benih untuk ditanam kembali, yang
eratkaitannya dengan pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya alam/hayati
dankonsep menghemat dari hasil kerja agar ekologi dan kehidupan ini
dapatlestari.
3) Sosial: pentingnya kebutuhan sosial-budaya untuk menyokong kualitas
hiduppribadi yakni kesadaran untuk partisipasi dan emansipasi dalam
bentuksumbangan materi maupundoa dan restuuntuk membangun dan
mempertahankankeutuhan relasi sosial di antara sesama manusia. Di sini
terdapat nilai danspirit kebersamaan dan sosial.
4) Ritual: pentingnya kebutuhan ritual untuk menyeimbangkan hubungan
denganTuhan (vertikal) dan hubungan dengan sesama dan lingkungan
alamnya(horizontal). Konsep ritual ini memberikan partisipasi horizontal
yangmenekankan keseimbangan hubungan antara alam-sesama-Tuhan.
123
Ibid
79
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Tidak mengherankan kalau ada yang menyatakan ketidaksetujuannya jika CU
digolongkan hanya semata-mata sebentuk lembaga keuangan. Yohanes Agus Setyono
CM, misalnya mengatakan pandangan yang menyebut Credit Union hanya merupakan
sebentuk lembaga keuangan bukan saja merupakan pandangan yang fatal dan keliru
tetapi terlalu menyempitkan gerakan credit union. Di banyak tempat, gerakan Credit
Union mengalami kegagalan dan kekacauan, justru karena gerakan dan perikatan
kesatuan sosialnyahanya didasarkan pada ekonomi-uang”.124
Lalu, kalau tidak bisa disebut hanya semata-mata sebagai lembaga keuangan,
lantas apa sebenarnya yang menjadi identitas credit union? Yohanes menambahkan
bahwa credit union pertama-tama adalah alat gerakan sosial. Logika gerakannya
pertama-tama dimaksudkan sebagai wadah atau forum pendidikan dan pemberdayaan
berbagai aspek kehidupan manusia. Uang merupakan instrumen atau sarana sehingga
bukan menjadi tujuan utama dalam gerakan CU. Dengan kata lain, CU bukanlah sebuah
perkumpulan uang tetapi merupakan perkumpulan orang (sosial) sehingga tidak tepat
untuk menggolongkan CU sebagai lembaga keuangan mikro formal.
Terdapat sejumlah perbedaan prinsip yang cukup mencolok antara CU dengan
lembaga keuangan seperti Bank komersial termasuk dengan Bank Perkreditan Rakyat.
Berikut ini dikutipkan perbedaan antara Credit Union dengan Bank komersial dan juga
BPR:125
124
http://solidaritasburuh.blogspot.com/.(Diakses, tgl, 24 Mei 2011)
http://idabangeet-hidayati.blogspot.com/2010/12/perbedaan-koperasi-simpan-pinjam-dan. html
(Diakses, 31 Juli 2014)
125
80
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Tabel 3:
Perbedaan CU dengan Bank Komersial dan BPR
Unsur
Susunan
Credit Union
Bank Komersial
Lembaga Keuangan
Mikro a.l. BPR
Bukan untuk mencari keuntungan, Lembaga (keuangan) yang Lembaga (keuangan) yang
dimilikioleh para Anggotanya,
dimiliki oleh para pemegang pada umumnya didanai
didanai dari simpanan-simpanan saham, bertujuan mencari oleh/dari sumber luar
Anggota bersifat sukarela
keuntungan.
lembaga yakni para
pemberi-pinjaman, hibah
dan atau para investor
Nasabah/Anggota
(Credit Union)
Anggota (“nasabah”) punya
kesamaan ikatan; seperti tempat
tinggal, tempat kerja atau tempat
beribadah. Pelayanan kepada
yang miskin dicampurkan kepada
kelompok masyarakat lebih luas,
hingga tingkat balas jasa dan
biaya menjadi kompetitif.
Pada umumnya melayani Pada umumnya melayani
nasabah kelas menengah ke nasabah / anggota kelas
atas. Tidak ada batasan
bawah (biasa) khususnya
untuk nasabah khusus.
perempuan dari sebuah
komunitas yang sama.
Tata Kelola
Anggota Credit Union
memilih Badan Pengurus
(bersifat relawan)
dengan prinsip
satu orang satu suara, tanpa
memperhitungkan jumlah
simpanan atau sahamnya.
Para pemegang saham
Lembaga dikendalikan
memilih Dewan Direksi
dan dikuasai oleh Dewan
yang digaji, yang bisa bukan Direksi yang ditunjuk atau
berasal dari masyarakat
staf yang digaji.
atau dari nasabah. Suara ditentukan oleh besar
kecilnya saham yang
dipunyai.
Pendapatan
Pendapatan bersih (SHU) dipakai
untuk menciptakan balas jasa
simpanan lebih tinggi daripada
balas jasa pinjaman, atau
memperkenalkan produk layanan
baru, atau pengembangan
pelayanan lain-lain yang
bermanfaat bagi Anggota.
Pemegang saham
menerima dividen atau
pembagian imbal balik dari
saham (bagian keuntungan)
Pendapatan bersih
dipergunakan untuk
memupuk modal atau
dibagi di antara para
investor.
Produk dan pelayanan. Berbagai macam
bentuk pelayanan keuangan
sesuai kebutuhan Anggota,
utamanya simpanan, kredit,
pengembalian jasa dan asuransi
Berbagai macam bentuk
pelayanan keuangan
termasuk peluang-peluang
investasi
Berkonsentrasi pada
produk kredit kecil.
Beberapa lembaga
keuangan mikro
menawarkan
produk simpanan dan
balas jasa pelayanan.
Sarana Pelayanan
Punya kantor pusat, juga
cabang, ATM,
pelayanan transfer
elektronik,
akun debet credit antar
tingkat daerah, nasional,
internasional
Punya kantor, layanan
simpan pinjam, dan
layanan keuangan lain
serta kunjungan reguler
pada komunitas nasabah.
Punya kantor pusat, punya
cabang atau
tempat pelayanan,
punya ATM, jasa pengiriman
uang lewat perangkat elektronik,
akun debet kredit antar CU
di satu Pusat CU sekunder
tingkat daerah, nasional maupun
regional.
81
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
BAB III
“GEREJA SUKU” DI RUANG PUBLIK:
GEREJA KRISTEN PROTESTAN SIMALUNGUN (GKPS) DALAM DIRI
KOMUNITAS CUM “TALENTA”
3.1. Pengantar
Pembahasan pada bab III ini dengan topik “Gereja Suku” di Ruang Publik merupakan
deskirpsi data penelitian. Paparannya dibagi menjadi lima bagian. Bagian pertama,
mengulas tentang gambaran umum wacana CUM sebagai sistem pemberdayaan
ekonomi kerakyatan alternatif versi kristiani. Sub pembahasan meliputi: mengenal
MP.Ambarita sebagai penemu gagasan dan kisah awal munculnya wacana CUM, posisi
wacana CUM diantara LKM yang ada di Indonesia, pola hubungan Komunitas CUM
dengan Gereja, Ideologi dan Masyarakat yang dicita-citakan CUM, Pendidikan dan
Pelatihan calon pengelola (manajer) CUM. Dari situ pembahasan dilanjutkan pada
bagian kedua yang mengulas tentang bagaimana wacana CUM itu dikonkretisasi
(dimaterialisasi) ke dalam konteks GKPS. Sub pembahasannya meliputi: mengenal
sekilas GKPS, kisah awal GKPS mengenal (menerima) wacana CUM, pembentukan
Komunitas CUM “Talenta”, memperluas keanggotaan: membangun kelompok basis
(unit). Lalu, bagian ketiga mengulas tentang hubungan Komunitas CUM “Talenta”
dengan GKPS. Sub pembahasannya meliputi: klaim komunitas CUM “Talenta” sebagai
bidang diakonia GKPS, program dan aktivitas yang dilakukan; Menciptakan modal
bersama, memaknai (ulang) haroan bolon, memotong route pemasan kopi. Bagian akhir
membahas dinamika organisasi baik secara internal maupun eksternal hingga
perjumpaannya dengan Rabo Bank.
82
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
3.2. Mengenal Wacana CUM Sebagai Sistem Ekonomi Kerakyatan Alternatif
3.2.1. MP. Ambarita dan Kisah Awal Munculnya Wacana CUM126
MP.Ambarita (selanjutnya disingkat MPA) adalah penemu gagasan CUM. Ia adalah
seorang mantan (pensiunan) pegawai Bank Rakyat Indonesia (BRI). MPA lahir di
Parapat, 20 September 1934. Ia adalah anak dari seorang guru Zending bernama
J.Ambarita dan ibu (Bidan Zending) D. br Sirait. Beliau menikah dengan J.B.R br
Pardede pada tahun 1963 dan dikaruniai enam orang anak. MPA adalah warga gereja
HKBP. MPA adalah salah satu aktor yang terlibat dalam perencanaan dan pendirian PT.
Bank Perkreditan Rakyat-Pijer Podi Kekelengan (selanjutnya disingkat: PT.BPR-PPK)
sebuah “bank pedesaan” milik “Gereja Batak Karo Protestan” (selanjutnya disingkat:
GBKP). MPA adalah direktur utama PT.BPR-PPK sejak berdiri pada tahun 1992 hingga
tahun 2010. MPA dikenal memiliki integritas moral-dan spiritualitas yang tinggi.
Rincian hidup rohaninya sehari-hari selalu diisinya dengan: berdoa - membaca Firman
Tuhan – bekerja/mengajar - berdoa. Tidak heran, kalau kemudian ia dikenal sebagai
seorang yang saleh, pendoa dan taat beragama.
Setelah menamatkan pendidikan SMP dan SMA (1950-1956), MPA kemudian
melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi Pendidikan Guru Kristen Indonesia
(PTPG-KI) Satya Wacana di Salatiga pada tahun 1956-1959”.127 Setelah menyelesaikan
studi dari Satya Wacana, ia sempat mengabdi sebagai direktur SMA Kristen bersubsidi
Malang 1959-1961. Sebelum diterima menjadi pegawai BRI, ia juga sempat
berwiraswasta di Jakarta (1962-1964). Pada tahun 1965-1967, MPA menjadi staf di
126
Riwayat hidup MPA: diolah berdasarkan buku E.P.Ginting & MP.Ambarita, (2001) Bank Perkreditan
Rakyat PT.Pijer Podi Kekelengen Desa Simalem, Jakarta, BPK-Gunung Mulia, hlm, 185
127
Perguruan Tinggi Pendidikan Guru Kristen Indonesia (PTPGKI) Satya Wacana yang diresmikan tgl, 30
November 1956 merupakan cikal bakal dari berdirinya Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW)
Salatiga. (Sumber:http://www.uksw.edu/id.php/tentang)
83
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Kantor Pusat BRI. Sejak diterima menjadi staf atau pegawai BRI, MPA berkali-kali
diutus mengikuti berbagai pendidikan khusus bagi karyawan BRI seperti: pendidikan
khusus staf BRI (1967), Pendidikan khusus staf pemimpin I tahun 1976, Pendidikan
khusus staf pemimpin II tahun 1983, dan pendidikan staf pemimpin III pada tahun 1986.
Selain itu MPA juga aktif mengikuti berbagai seminar yang terkait dengan
pembangunan koperasi, pembangunan Kabupaten Karo (1995), seminar pendirian BPR
Gereja-gereja PGI di Jakarta tahun 1999 dan seminar-seminar yang secara rutin
dilaksana Bank Indonesia setiap tahun. Dengan segudang pengalaman mengikuti
pendidikan dan pelatihan staf pemimpin seperti itu maka tidak mengherankan kalau di
sepanjang karirnya sebagai pegawai di BRI, MPA diberi kepercayaan untuk menjadi
pimpinan di berbagai lembaga struktural di BRI.
Perlu juga ditambahkan bahwa MPA adalah seorang warga gereja yang cukup
aktif mengikuti berbagai kegiatan pelayanan gereja khususnya yang berkaitan dengan
pengembangan pelayanan di bidang pemberdayaan ekonomi jemaat. MPA bahkan sudah
ber-nazar (baca: berjanji) kepada Tuhan bahwa ia akan mengabdikan dirinya untuk
melakukan pengembangan pelayanan (diakonia) pemberdayaan ekonomi jemaat dan
masyarakat melalui gereja pasca ia pensiun sebagai pegawai BRI”.128 Hal itu kemudian
dibuktikkannya dengan terlibat dalam membidani kelahiran PT.BPR-PPK (1992)
sebuah bank pedesaan milik GBKP. MPA tidak hanya berhasil mendirikan PT. BPRPPK tetapi juga berhasil memperoleh ijin operasionalnya dari Bank Indonesia (BI) pada
tanggal, 11 Januari 1993”.129 Bahkan, MPA juga berhasil membuat GBKP pada
akhirnya memiliki PT.BPR-PPK itu secara yuridis formal setelah menempuh
mekanisme akuisisi sebagaimana diatur dalam UU No. 7 tahun 1992. Selengkapnya,
128
Sumber: Wawancara dengan MPA via telepon tanggal, 24 April 2012. (dicatat secara manual dan
diterjemahkan secara bebas:ms).
129
E.P.Ginting dan MP.Ambarita, (2001) Op.cit, hlm, xi
84
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
berikut ini dikutipkan saja route yang ditempuh GBKP dalam mendirikan dan memiliki
PT.BPR-PPK tersebut:
PT. BPR-PPK dibuat atas nama 6 orang pemegang saham dan secara di bawah
tangan melalui akte notaris sudah diserahkan haknya kepada Deparpem
(Departemen Partisipasi Pembangunan, pen) Moderamen GBKP. Deparpem
Moderamen GBKP tunduk secara langsung kepada Moderamen GBKP dan
keputusan-keputusan Sidang Sinode GBKP/ Sidang BPL (Badan Pekerja
Lengkap, pen) GBKP. [...] Yayasan Ate Keleng dibentuk oleh Deparpem GBKP
untuk pelayanan masyarakat umum secara luas dan dalam upaya lebih
meningkatkan status hukum PT.BPR-PPK dan atas persetujuan GBKP maka
dibuatlah permohonan kepada menteri keuangan untuk mengakuisisi PT.BPRPPK (akuisisi ialah pengambil alihan secara hukum terhadap suatu perusahaan
dan hanya bisa diakuisisi bila sudah diijinkan oleh Bank Indonesia). Izin
mengakuisisi PT.BPR-PPK diperoleh Yayasan Ate Keleng GBKP yang ada
dalam sub bagian pelayanan Parpem Moderamen GBKP. Izin tersebut telah
diterima pada tahun 1999 (No.1/28/DPBR /IDBPR /Medan, tanggal 24
November 1999) dan diterapkan mulai tahun 2000”.130
Meskipun GBKP dikatakan berhasil mendirikan dan memiliki PT.BPR-PPK
tersebut tetapi MPA tetap memberi catatan penting bahwa secara yuridis formal
berdasarkan UU No.7 tahun 1992,131 dan UU Perseroan Terbatas, No.1 tahun 1985
gereja tidak diijinkan mendirikan bank”.132 Oleh karena itu, keberhasilan GBKP
mendirikan dan memiliki PT.BPR-PPK itu merupakan hasil dari sebuah “kerja paksa”.
Artinya, MPA memang menerima “kebenaran” wacana BPR itu untuk digunakan
sebagai instrumen untuk mengartikulasi aspek etis gereja di bidang pemberdayaan
ekonomi jemaat-rakyat tetapi wacana BPR itu tidak sepenuhnya hegemonik dalam
dirinya.
Sejak awal berdirinya PT.BPR-PPK tersebut sesungguhnya sudah ada semacam
gairah di dalam dirinya untuk melakukan retakan (rupture) terhadap wacana hegemonik
130
Ibid, hlm, 148-149
UU Bank No. 7 tahun 1992 sudah diamandemen menjadi UU No.10 tahun 1998. Dalam pasal 25 UU
No.10 tahun 1998, disebutkan bahwa Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat yang berbentuk hukum
Perseroan Terbatas sahamnya hanya dapat diterbitkan dalam bentuk saham atas nama.
132
E.P.Ginting dan MP.Ambarita (2001), Op.cit,hlm, 148
131
85
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
sistem ekonomi kerakyatan yang diasuh oleh negara ini. Gairah itu kemudian semakin
membuncah sebab berdasarkan pengalamannya dalam mengelola dan mengoperasikan
PT.BPR-PPK itu (sejak tahun 1992), MPA melihat bahwa wacana BPR itu sebenarnya
kurang cocok untuk digunakan sebagai instrumen artikulasi aspek etis gereja di bidang
pemberdayaan ekonomi jemaat. Wacana BPR menurut MPA memiliki keterbatasan
sebab ia tidak dapat menjangkau seluruh wilayah pelayanan gereja sampai ke pelosokpelosok pedesaan”.133
Keterbatasan wacana BPR itu menjadi persoalan yang cukup serius, sebab dalam
kenyataannya GBKP sebagai “pemilik” PT.BPR-PPK secara yuridis formal tidak dapat
secara bebas untuk memaknai wacana BPR tersebut sesuai dengan kebutuhan dan
tuntutan pelayanan gereja. Sebagai sebuah lembaga keuangan mikro formal, pemaknaan
wacana
BPR
(khususnya
ihwal
pengembangan
dan
perluasan
wilayah
pelayanannya)hanya bisa dilakukan dalam kerangka yang sudah ditentukan oleh
regulasi (undang-undang) dan peraturan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia (BI)
selaku pemangku otoritas moneter di Indonesia. Berdasarkan undang-undang No.7
tahun 1992 (yang sudah diamandemen menjadi UU No.10 tahun 1998 itu) maka
kepemilikan atas suatu BPR yang didirikan dalam bentuk hukum Perseroan Terbatas
(PT) adalah kepemilikan atas sahamnya. Artinya, saham pemiliknya hanya dapat
diterbitkan sebagai saham atas nama. Selain itu, pemilik suatu BPR juga tidak
diperbolehkan atau tidak diijinkan untuk menentukan sendiri wilayah pelayanan atau
perluasan wilayah pelayanannya. UU Bank No.10 tahun 1998, pasal 19 ayat 1 dan 2
menyatakan bahwa:
1. Pembukaan kantor cabang Bank Perkreditan Rakyat hanya dapat dilakukan
dengan izin Pimpinan Bank Indonesia.
133
MP.Ambarita (2007) Pedoman Pengelolaan CUM, (untuk kalangan sendiri), hlm, 4
86
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
2. Persyaratan dan tata cara pembukaan kantor Bank Perkreditan Rakyat
sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 ditetapkan oleh Bank Indonesia.
Keberadaan UU inilah yang membuat wacana BPR tidak dapat digunakan secara
fleksibel oleh institusi gereja untuk merespons berbagai kesulitan warga gereja yang
berada di wilayah pelayanannya di pelosok-pelosok pedesaan. Bagi seorang MPA,
ketidakfleksibelan wacana BPR sebagai instrumen artikulasi aspek etis gereja di bidang
pemberdayaan ekonomi rakyat-jemaat menjadi persoalan yang cukup serius sebab di
berbagai wilayah pelayanan gereja di pelosok-pelosok pedesaan itu, justru banyak
jemaat dan masyarakat sekitar sedang mengalami kesulitan dalam mengakses fasilitas
permodalan dari lembaga keuangan mikro formal yang ada. Akibatnya, tidak sedikit
warga gereja dan masyarakat marjinal di pedesaan terpaksa menempuh “jalan ke
keselamatan” yang ditawarkan oleh para rentenir atau para tengkulak. Celakanya, di
tengah-tengah kesulitan sesamanya sebagai warga gereja dalam mengakses fasilitas
permodalan, praktik rentenir diantara sesama warga gereja juga berlangsung sebagai
cara untuk mengatasi kesulitan yang sedang dihadapi. Hal ini menunjukkan bahwa
suasana persekutuan (koinonia) gereja sesungguhnya sedang bermasalah.
Persoalan ini kemudian menjadi semakin sulit sebab praktik rentenir itu kini
tidak lagi dilakukan secara perseorangan tetapi sudah melibatkan lembaga keuangan
mikro yang ada. MPA mengatakan sudah bukan rahasia lagi bahwa banyak praktik
rentenir yang berlangsung di masyarakat justru dilakukan berkedok koperasi”. 134 Apa
yang dilansir MPA ini tampaknya sudah menjadi fenomena umum praktik ekonomi
pedesaan di Indonesia. Dari hasil penelitian yang dilakukan Heru Nugroho misalnya
terungkap bahwa “antara bank dan rentenir ada sebuah kompetisi dalam hal nasabah dan
134
Ibid
87
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
ada juga kerjasama dalam hal distribusi kredit di masyarakat Bantul Yogyakarta”. 135
Bahkan, Heru Nugroho akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa praktik rentenir ini
merupakan salah satu ciri ekonomi pedesaan di Indonesia”.136
Dalam keadaan seperti itu, MPA melihat banyak institusi gereja justru mangkir
dalam menjalankan tugas dan tanggungjawabnya untuk memberi respon etis terhadap
kesulitan yang dialami warga gereja. MPA melihat bahwa salah satu yang menjadi
penyebabnya lantaran gereja tidak memiliki instrumen artikulasi aspek etisnya di bidang
pemberdayaan ekonomi rakyat.Banyak institusi gereja berniat untuk mendirikan BPR
sebagai instrumen untuk mengartikulasi aspek etisnya tetapi karena persyaratan
administratif dan mekanisme dan birokrasi yang cukup panjang dan berbelit-belit,
banyak institusi gereja akhirnya “gagal” mendirikan BPR yang dicita-citakannya. GKPS
adalah salah satu contoh dari sekian banyak institusi gereja yang “gagal” mendirikan
BPR tersebut.
Dalam kondisi keprihatinan dan urgensi permasalahan seperti itu, MPA datang
dan mengajukan wacana “credit union modifikasi” (CUM) sebagai wacana alternatif
untuk mengisi ketiadaan instrumen artikulasi aspek etis gereja yang cocok di bidang
pemberdayaan ekonomi jemaat-rakyat.
3.2.2. Posisi Wacana CUM di antara LKM Yang Ada Di Indonesia
Secara lugas di atas telah dipetakan bagaimana kisah awal munculnya wacana CUM
sebagai sebuah sistem ekonomi kerakyatan alternatif. Selanjutnya, pada sub bagian ini
akan dipaparkan di mana posisi wacana CUM di antara lembaga keuangan mikro yang
ada di Indonesia.
135
Heru Nugroho (2001) Uang, Rentenir dan Hutang Piutang di Jawa, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, hlm,
183
136
Ibid
88
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Wacana CUM, seperti kata MPA merupakan kelanjutan dari wacana Credit
Union (CU) konvensional yang selama ini sudah beroperasi di tengah-tengah
masyarakat”.137Secara teknis, sistem akuntansi dan sistem manajemennya merupakan
perpaduan antara sistem credit union (CU) konvensional dan sistem bank perkreditan
rakyat (BPR). Perpaduan atau sintesa dari keduanya dilakukan MPA dengan cara
“modifikasi”. Dan tindakan “modifikasi” ini kemudian membawa konsekuensi
beralihnya status atau identitas wacana CU maupun BPR menjadi informal
microfinance. Itulah sebabnya,MPA mengatakan bahwa wacana CUM ini adalah bagian
dari informal microfinancesama seperti Grameen Bank yang didirikan dan
dikembangkan Muhammad Yunus di Bangladesh”.138
Selain itu, MPA juga mengklaim bahwa identitas wacana CUM merupakan
sebentuk sistem perekonomian kerakyatan versi Kristiani”. 139
Wacana CUM ini,
menurut MPA lebih cocok untuk digunakan sebagai instrumen untuk mengartikulasi
aspek etis gereja di bidang pemberdayaan ekonomi rakyat sebab prinsip pengelolaan
dan tujuannya berpijak pada nilai-nilai etik kristianitas yang berlaku universal yakni
nilai solidaritas yang manifestasinya terlihat dalam prinsip kerjasama saling membantu
dan berbagi dan kepemilikan atas harta kekayaan komunitas sebagai “kepemilikan
bersama”.. Wacana CUM menurut MPA memiliki keluwesan tersendiri dalam hal
pengoperasiannya. Disebut memiliki keluwesan lantaran untuk menyelenggarakannya,
suatu komunitas CUM tidak harus memiliki badan hukum tersendiri atau ijin
operasional dari Pemerintah. Ledgerwood (sebagaimana dikemukakan Bagus Aryo)
mengatakan bahwa lembaga keuangan mikro informal, (informal microfinance)
137
MP.Ambarita, (2007) Op.cit,hlm, 4
Ibid,
139
Ibid,
138
89
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
beroperasi di luar struktur regulasi dan pengawasan pemerintah”, 140 (lihat: Tabel 1 dan
2). Selain itu, untuk mendirikan dan menyelenggarakan praktik diskursif CUM tidak
diperlukan banyak uang bahkan tidak pula diperlukan ahli hukum ataupun ahli
pembukuan (berpendidikan formal) sebab praktik CUM justru perlu didirikan di
kalangan orang-orang yang masih belum kuat keadaan ekonominya”.141
Dalam statusnya sebagai informal microfinance maka wacana CUM hanya dapat
digunakan untuk pelayanan Gereja dan tidak diijinkan di luar kegiatan gereja. MPA
telah memancang bahwa CUM merupakan sarana pelayanan atau perpanjangan tangan
pelayanan gereja di bidang pemberdayaan ekonomi rakyat”. 142 Oleh karena itu, praktik
diskursif CUM hanya dapat diselenggarakan dalam struktur kelembagaan dan sebagai
aktivitas gereja. Dengan kata lain, praktik diskursif CUM harus merupakan bagian dari
aktivitas pelayanan (diakonia) sosial ekonomi gereja. Konsekuensinya, badan hukum
gereja (sebagai lembaga sosial keagamaan) yang dikeluarkan oleh pemerintah cq
Departemen Agama, otomatis menjadi payung hukum atau payung yuridis bagi
penyelenggaraannya”.143
Wujud material wacana CUM adalah sebentuk komunitas. Sebagai sebentuk
komunitas, status komunitas CUM sama dengan komunitas lainnya, seperti komunitas
marga, komunitas olah raga, komunitas kesenian, komunitas profesi atau komunitaskomunitas lainnya, sehingga tidak perlu di atur dalam badan hukum tersendiri”. 144
Meskipun wacana CUM termasuk dalam kategori lembaga keuangan mikro informal
140
Bagus Aryo, (2012) Op.cit,hlm, 51-52.
MP.Ambarita, “Ekonomi Kerakyatan Versi Kristiani Sebagai Kekuatan dalam Menghadapi Era
globalisasi”, (dalam) Pdt.Martunas Manullang, (2010) Menuju HKBP Inklusif dan Misioner: Ekkelsiologi di
Masyarakat Pluralis, L-Sapa STT HKBP Pematang Siantar dan Yayasan Nommensen HKBP Jambi, hlm, 149
142
MP.Ambarita, (2007) Op.cit, (dalam) “Kata Pengantar”
143
Ibid, hlm, 5
144
MP.Ambarita, ”Ekonomi Kerakyatan Versi Kristiani Sebagai Kekuatan Dalam Menghadapi Era
Globalisasi” (dalam) Pdt. Martunas Manullang, ed (2010) Op.cit, hlm, 152
141
90
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
(informal microfinance) yang tidak mengharuskan adanya badan hukum tersendiri untuk
penyelenggaraannya, namun MPA tetap terbuka peluang atau kemungkinan untuk
melembagakan wacana CUM itu secara yuridis formal sehingga bisa memiliki badan
hukum tersendiri. Menurut MPA hal itu dapat dilakukan kalau suatu komunitas CUM
yang terbentuk sudah bisa berkembang dan mandiri. Permohonan badan hukumnya
dapat diajukan ke Departemen Kehakiman”.145 Mengapa ke departemen kehakiman?
Menurut MPA, hal itu dilakukan karena di dalam CUM diwujudkan perserikatan
kooperatif (gessellschaft) dan prinsip komunitas/persekutuan (gemeinschaft) sehingga
tidak tepat untuk menyebut CUM sebagai bagian dari usaha koperasi atau
sejenisnya”.146
MPA menambahkan, dalam hal suatu komunitas CUM belum berbadan hukum
tersendiri maka kesepakatan subyek-subyek hukum untuk menggabungkan diri dalam
suatu ikatan yang berkaitan dengan kebutuhan perikatannya, mengacu kepada KUH
Perdata pasal 1338. Kesepakatan itulah yang menjadi undang-undang bagi masingmasing subyek dan tidak boleh dibatalkan secara sepihak”.147
3.2.3. Pola Hubungan Komunitas CUM Dengan Gereja
Untuk melihat secara bagaimana pola hubungan suatu komunitas CUM dengan Gereja
dikonstruksi secara ideal maka pola hubungan atau relasi diantara keduanya lebih baik
dilihat dari perspektif Pedoman Umum Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga
(AD/ART) CUM tahun 2007 yang dirumuskan MPA.
145
MP.Ambarita (2007), Op.cit, hlm, 30
Ibid, hlm, 6.Gemeinschaft merupakan ikatan sosial karena adanya factor unity of will. Bisa berupa
ikatan kekerabatan (termasuk di dalamnya ikatan kinship, klan, marga dan lain-lain) sementara
Gesselschaft lebih diikat oleh adanya kesamaan self interest. Realitasnya di dalam masyarakat,
komunitas bisa dibangun atas campuran antara dua ciri ikatan di atas.
147
Ibid
146
91
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Dalam Pedoman Umum Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga
(AD/ART) CUM yang mengatur tentang mekanisme internal dan struktur kelembagaan
komunitas CUM terlihat dengan sangat jelas bahwa dalam struktur kelembagaannya,
Gereja dalam arti “Pimpinan Gereja” yang menaunginya diposisikan sebagai Pembina.
Sebagai Pembina, Gereja bertugas mengawal, mengawasi dan sekaligus mengarahkan
komunitas CUM agar senantiasa berjalan pada visi dan misi gereja. Maksud dan tujuan
memosisikan Gereja sebagai Pembina dimaksudkan agar aktivitas CUM senantiasa
berjalan sesuai dengan program Gereja yaitu sebagai pemberdayaan jemaat”.148
Sebagai Pembina, Gereja memiliki kekuasaan atau otoritas untuk membubarkan
suatu komunitas CUM yang diselenggarakan dalam struktur kelembagaan gereja yang
mewadahinya. Dalam rumusan pedoman umum anggaran dasar dan anggaran rumah
tangga (AD/ART CUM) pada bab XIV pasal 27 tentang “Pembubaran” komunitas
CUM disebutkan bahwa: Pembubaran credit union modifikasi dapat dilakukan oleh
Pembina (Gereja…) dengan alasan sebagai berikut:
a. Credit union modifikasi tidak lagi menjalankan AD/ART yang disepakati.
b. Dalam penilaian Pembina (Gereja…) Credit Union Modifikasi tidak dapat
lagi melangsungkan hidupnya”.149
Selain itu, pola hubungan suatu komunitas CUM dengan Gereja juga tampak
dikonstruksi dalam kaitannya dengan harta kekayaan komunitas CUM. MPA
mengatakan bahwa:
Kekayaan CUM adalah berdiri sendiri, tidak termasuk kekayaan gereja.
Kekayaan CUM adalah milik anggota CUM, namun dari hasil usaha/kegiatan
CUM maka sebagian dapat diserahkan untuk menunjang pelayanan gereja tetapi
tidak boleh dianggap sebagai sumber Kas Umum Gereja. Gereja yang hidup
adalah bila seluruh kegiatan Gereja yang dibiayai dari Kas Umum menjadi
148
Selanjutnya lihat: Pedoman umum Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) CUM, pasal
16 (dalam) MP.Ambarita (2007) Op.cit, hlm,17
149
Ibid, hlm, 19
92
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
tanggungjawab jemaat, atau dengan kata lain jemaat harus bertanggungjawab
atas kecukupan Kas Umum Gereja”.150
Bertolak dari penjelasan tersebut di atas, terlihat dengan jelas gereja tidak
memiliki hak dan wewenang untuk memiliki dan mempergunakan harta kekayaan suatu
komunitas CUM. Jadi, kedaulatan dalam hal kepemilikan dan penggunaan harta
kekayaan suatu komunitas CUM hanya ada pada anggota.
Namun, sesuatu yang kontradiktif bahkan ambigu dalam pola relasi suatu
komunitas CUM dengan Gereja terlihat dalam konstruksi struktur kelembagaannya di
mana kedaulatan anggota tampak direduksi ketika Pimpinan Gereja, diberi otoritas
diberi kuasa untuk mensahkan siapa yang akan menjadi Penasehat Komunitas CUM
yang diusulkan oleh anggota melalui rapat anggota. Dalam buku Pedoman Umum
AD/ART CUM, bab VIII pasal 17 ayat 1 dictum-nya menyebutkan: bagi kepentingan
CUM, rapat anggota dapat mengusulkan Penasehat yang disahkan oleh Majelis Gereja.
Sementara itu, pada bagian lain dalam pedoman umum AD/ART CUM, bab XIII
tentang “Rapat-rapat” (Rapat anggota) pasal 23, disebutkan bahwa: rapat anggota
merupakan pemegang kekuasaan tertinggi di dalam Credit Union Modifikasi maka
setiap anggota berhak dan berkewajiban menghadirinya”.151
Pola hubungan antara CUM dan Gereja sebagaimana yang sudah diceritakan di
atas, menjelaskan bahwa pada satu sisi anggota melalui Rapat Anggota Tahunan (RAT)
disebut merupakan pemegang kekuasaan tertinggi dalam suatu komunitas CUM namun
pada sisi yang lain, institusi Gereja (melalui pimpinannya) tampak memiliki hak atau
otoritas yang justru melampaui kekuasaan (kedaulatan) anggota sebagai pemegang
kekuasaan tertinggi sebab berdasarkan pasal 27 tersebut Gereja memiliki otoritas
150
Ibid, hlm, 6
Ibid
151
93
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
(kekuasaan) untuk membubarkan suatu komunitas CUM. Dalam pedoman umum
AD/ART komunitas CUM, pasal 25 tentang fungsi “Rapat anggota Tahunan”
disebutkan bahwa instansi yang memiliki hak untuk menilai dan mensahkan laporan
Pengurus dan Badan Pengawas adalah Rapat Anggota Tahunan (RAT).
Berdasarkan hal tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa pola hubungan atau
relasi suatu komunitas CUM (yang tidak berbadan hukum tersendiri) dengan Gereja
yang menaunginya tampak dikonstruksi secara ambigu (dua wajah). Pada satu sisi,
posisi institusi Gereja menjadi semacam “struktur mediasi” bagi penyelenggaraan
praktik diskursif CUM di mana suatu komunitas CUM merupakan entitas yang otonom
dan mandiri. Pada sisi yang lain, relasi di antara keduanya tampak dikonstruksi secara
hirarkis-struktural (patron-client) di mana suatu komunitas CUM yang tidak atau belum
berbadan hukum tersendiri merupakan komunitas yang berada dalam in-subordinasi
institusi Gereja.
3.2.4. Ideologi dan Masyarakat yang Dicita-citakan
Bagaimanapun juga, MPA sudah menegaskan bahwa wacana CUM ini adalah sebentuk
sistem perekonomian kerakyatan versi Kristiani. Artinya, praktik diskursif CUM itu
diselenggarakan dengan berpijak pada nilai-nilai etik kristianitas – kasih/solidaritas
yang manifestasinya tampak dalam semangat kerjasama, saling membantu dan
kepemilikan bersama. Secara ideal, MPA merumuskan cita-cita komunitas CUM
tersebut adalah mewujudkan kesejahteraan lahir batin anggota jemaat dan masyarakat
sehingga bisa menjadi warga negara yang memiliki etos kerja yang sehat dan berjiwa
demokratis-pluralis”,152 berazaskan kekeluargaan dan kegotongroyongan”.153
152
Ibid, hlm, 4
Ibid, hlm, 12
153
94
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Dalam rangka menciptakan masyarakat yang dicita-citakannya tersebut, selain
mengadakan aktivitas simpan-pinjam sebagai aktivitas generiknya, komunitas CUM
juga mengusung sejumlah program utama yang rinciannya telah dirumuskan MPA
sebagai berikut:154
1. Memfasilitasi anggota yang berjiwa wirausaha (entrepreneur) untuk
mengembangkan potensinya dengan baik dan terarah.
2. Menciptakan wirausahawan-wirausahawan yang handal untuk lebih
berkembang dan berkesinambungan
3. Menciptakan hubungan yang harmonis antara anggota-anggota baik si
peminjam dan si penyedia dana sebagai prisnip saling menguntungkan dan
berjiwa gotong royong.
4. Menciptakan sense of belonging (rasa kepemilikan bersama) atas CUM
sebagai wadah perpanjangan tangan pelayanan gereja.
5. Membantu mewujudkan Teologi Pelayanan Holistik Gereja dimana pelayanan
menghidupkan si pelayan serta mewujudkan pengertian syalom secara nyata
sampai dalam kehidupan rumah tangga anggota jemaat. Dengan demikian
pelayanan Gereja bukan hanya soal rohani saja tetapi harus secara holistik
atau lahir dan batin sebagai perwujudan keselamatan oleh Yesus Kristus.
6. Sebagai wadah untuk mengarahkan hamba-hamba Tuhan bahwa pelayanan
Gereja bukan hanya melalui mimbar Gereja tetapi juga pelayanan lanjutan
yaitu pelayanan meja (Kisah Rasul 6:2-3).
7. CUM juga berperan untuk mencerdaskan jemaat dan masyarakat
melalui:
a. Ilmu-ilmu yang berkaitan dengan pengelolaan usaha, baik usaha industri,
dagang, pertanian, perikanan, kerajinan dan usaha-usaha rumah tangga
yang menunjang ekonomi keluarga.
b. Ceramah-ceramah tentang kesehatan, gender, hukum dan politikdemokrasi (politik) yang benar.
c. Ceramah - ceramah peningkatan keimanan, dan lain-lain.
Dari sejumlah program utama komunitas CUM sebagaimana dipaparkan tersebut
di atas, dengan segera kita bisa menangkap bahwa pendekatan yang dijalankan untuk
mewujudkan masyarakat yang dicita-citakannya tidak hanya melakukan pendekatan
kesejahteraan tetapi juga dengan pendekatan spiritual. Dengan kata lain, suatu
komunitas CUM tidak hanya memberi layanan “intermediasi keuangan” tetapi juga
154
MP.Ambarita, (2007) Pedoman CUM (kalangan sendiri),
95
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
memberi intermediasi layanan sosial, (pelatihan dan pendidikan) dan intermediasi
layanan spiritual (pastoral).
Dalam literatur keuangan mikro ada perdebatan klasik tentang mana cara yang
paling jitu untuk membantu masyarakat miskin mendapatkan akses terhadap fasilitas
permodalan dari Lembaga Keuangan Mikro (selanjutnya disebut: LKM). Perdebatannya
adalah perdebatan antara yang memberi titik tekan pada aspek ekonomi dan aspek
sosial. Bagus Aryo, telah merumuskan perbedaan dari keduanya sebagai berikut:
LKM yang memberi titik tekan pada aspek ekonomi pada umumnya
menjalankan pendekatan institusional atau Mazhab Ohio. Pendekatan
institusional memberi penekanan yang kuat pada keberlanjutan finansial.
Maksudnya, keluasan jangkauan (dalam arti jumlah nasabah) lebih diutamakan
daripada kedalaman jangkauan (yang berarti tingkat kemiskinan yang
dijangkau), dan dampak positif nasabah diasumsikan ada”. LKM yang
menggunakan pendekatan institusional ini mengukur kesuksesannya dari
kemajuan lembaga dalam mencapai swasembada finansial. Karena memberi
penekanan pada keberlanjutan finansial, LKM jenis seperti ini menyingkirkan
subsidi dalam bentuk apapun. Contoh LKM yang mengusung pendekatan
isntitusional adalah Bank Rakyat Indonesia (BRI). Sementara itu, LKM yang
memberi titik tekan pada aspek sosial mengusung pendekatan kesejahteraan
(welfarist) di mana cara membantu masyarakat untuk dapat mengakses fasilitas
permodalan seringkali diberikan bersamaan dengan pemberian layanan sosial
sepeerti pelatihan keterampilan, pelatiha melek keuangan, kegiatan membangun
kesadaran,pelayanan kesehatan, gizi dan lain-lain. Contoh LKM yang
menggunakan pendekatan kesejahteraan yang paling terkenal adalah Grameen
Bank di Bangladesh”.155
Kedua perbedaan tersebut di atas, memberi penjelasan bahwa tujuan utama LKM
yang menggunakan pendekatan institusional adalah memastikan keberlanjutan finansial
lembaga. Keberlanjutan lembagalah yang paling utama daripada kedalam jangkauan
pelayanannya. Sedangkan, LKM yang mengusung pendekatan kesejahteraan (welfarist)
tujuan utama pelayanannya adalah menciptakan dampak ekonomi dan dampak sosial
kepada masyarakat. LKM dengan pendekatan institusional meyakini bahwa dengan
155
Bagus Aryo, (2012) Op.cit, hlm, 23-24.
96
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
membuka akses faslitas permodalan yang luas kepada masyarakat marjinal maka
kemiskinan dengan sendirinya dapat teratasi. Dengan begitu, karakter LKM dengan
pendekatan institusional
bersifat
pasif. Sementara
LKM
dengan pendekatan
kesejahteraan meyakini bahwa menjangkau sebanyak-banyaknya orang miskinlah yang
penting dan dengan begitu karakternya aktif”.156
Kalau merujuk pada sejumlah program utama yang diusung oleh suatu
komunitas CUM sebagaimana yang dirumuskan MPA tersebut di atas, maka komunitas
CUM ini dapat dikategorikan sebagai lembaga keuangan mikro informal (informal
microfinance) dengan pendekatan kesejahteraan, sebab ia tidak hanya memberi layanan
intrmediasi keuangan tetapi juga layanan sosial dan juga layanan spiritual. Jadi,
kalaupun wacana CUM dikategorikan sebagai sebentuk informal microfinance, namun
ia jelas berbeda dengan sistem ekonomi kelompok sosial yang sudah dikenal di
masyarakat seperti arisan, hutang warung, gadai maupun bank plecit (rentenir). Dengan
kata lain, apa yang dilakukan dalam suatu komunitas CUM adalah apa yang
sesungguhnya menjadi tugas dan panggilan universal gereja. Suatu komunitas CUM
adalah “gereja” dengan (warna) baju yang lain.
Dalam pedoman umum anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART)
CUM yang dirumuskan MPA, pada bagian “Pembukaan” dengan jelas dinyatakan:
kesejahteraan adalah hak asasi manusia. Untuk mencapai kesejahteraan itu kami sepakat
menjadi komunitas kooperatif untuk menunjang usaha bersama dan tempat belajar
bersama dan komunitas ini kami sebut komunitas Credit Union Modifikasi”.157
156
Ibid
MP.Ambarita (2007) Op.cit, hlm, 12
157
97
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
3.2.5. Pendidikan dan Pelatihan Calon Pengelola (Manajer) CUM
MPA mengatakan bahwa identitas wacana CUM merupakan sebentuk sistem ekonomi
kerakyatan versi kristiani. Dengan mengajukan wacana CUM ini kepada gereja-gereja
untuk mengisi ketiadaan instrumen artikulasi aspek etis gereja di bidang pemberdayaan
ekonomi rakyat, MPA berniat untuk menjadikan wacana CUM ini sebagai wacana
tanding (kontra hegmoni) terhadap wacana sistem ekonomi kerakyatan yang hegemonik
(yang dominan) yang ada di masyarakat.
Sebagaimana prinsip penyelenggaraan CU pada umumnya, MPA memijakkan
prinsip dasar penyelenggaraan CUM pada tiga pilar atau trilogi komunitas CUM. Dalam
salah satu dictum tiga pilar CUM tersebut disebutkan bahwa komunitas CUM dimulai
dari pendididikan, dikembangkan dengan pendidikan dan dikontrol oleh pendidikan”.158
Atas dasar itu, MPA menyelenggarakan “Pendidikan dan Pelatihanbagi calon pengelola
(manajer) CUM”. Pendidikan dan Pelatihan calon pengelola (manajer) CUM ini sudah
diselenggarakannya sejak tahun 2004”.159 Hingga kini (tahun 2012) MPA sudah
menyelenggarakan Pendidikan dan Pelatihan tersebut sebanyak 15 angkatan dan
menghasilkan hampir 300 orang calon manejer CUM yang menyebar di berbagai
denominasi gereja di Sumatera Utara, khususnya “gereja suku”. Gereja-gereja yang
mengutus Pendetanya atau Diakonesnya untuk mengikuti pelatihan itu antara lain: Huria
Kristen Batak Protestan (HKBP), Gereja Batak Karo Protestan (GBKP), Gereja Kristen
Protestan Simalungun (GKPS), Gereja Kristen Protestan Indonesia(GKPI),Gereja
Kristen Pak-Pak Dairi (GKPPD), Gereja Kristen Protestan Angkola (GKPA), dan lain-
158
Ibid, hlm, 3-4
Komunitas CUM yang pertama sekali berdiri adalah Komunitas CUM yang diselenggarakan di HKBP
Kedaton Lampung, berdiri 13 Januari 2005. Di HKBP saat ini ada 126 orang calon manajer CUM.
Selanjutnya lihat: Pdt.Nelson F.Siregar, “HKBP menjadi Inklusif di Masyarakat Pluralis”, (dalam) Pdt.
Martunas Manullang (2010) Menuju HKBP Inklusif dan Misioner:“Ekklesiologi di Masyarakat Pluralis”,
Pematang Siantar, L.Sapa STT HKBP dan Yayasan Nomensen HKBP Jambi, hlm, 162
159
98
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
lain. Sejauh ini gereja HKBP adalah gereja yang memiliki paling banyak calon manajer
CUM, yakni lebih kurang 126 orang. Sedangkan GKPS sejauh ini memiliki 22 orang
calon manajer.
MPA mematok syarat yang boleh mengikuti “Pendidikan dan Pelatihan” itu
adalah Pendeta atau Diakones”.160 Dengan syarat seperti itu, maka yang dapat menjadi
pengelola atau manajer CUM adalah hanya Pendeta atau Diakones. Menurut MPA, hal
itu dilakukan untuk menjaga agar wacana CUM tidak dijadikan sebagai alat untuk
mencari keuntungan pribadi atau praktik rentenir. MPA sangat menyadari bahwa
sebagai sebentuk informal microfinance, wacana CUM ini rentan disalahgunakan untuk
mencari kepentingan pribadi atau sebagai praktik rentenir. MPA menginginkan
pengelola atau manajer CUM adalah mereka yang memiliki kapasitas moral, intelektual,
integritas dan jujur. MPA melihat subjek yang paling representatif untuk menjadi
pengelola atau manajer suatu komunitas CUM adalah Pendeta atau Diakones. Sebagai
Hamba Tuhan, Pendeta dan Diakones, dianggap memiliki kualifikasi tersebut. Karena
itulah, MPA hanya memperuntukkan Pendidikan dan Pelatihan calon pengelola CUM
itu hanya bagi pelayan gereja (penuh waktu) yakni Pendeta atau Diakones.
Meskipun terkesan sangat subjektif, syarat harus “Pendeta atau Diakones”
merupakan bagian dari strategi MPA untuk membangun proyek hegemoninya agar
wacana CUM tersebut dapat dengan cepat meluas dan menembus sampai ke lapisan
struktur gereja yang paling bawah yakni jemaat.Melalui para Pendeta atau Diakones
yang telah mengikuti Pendidikan dan Pelatihan itu, MPA berharap komunitas CUM
dapat didirikan atau dibentuk di wilayah pelayanan di mana para Pendeta dan Diakones
160
Yang dimaksud dengan Pendeta adalah pelayan gereja yang memiliki pengetahuan teologi (formal)
dalam arti memiliki pendidikan teologi formal (entah itu bergelar S1.S2 atau S3) Sedangkan yang
dimaksud dengan Diakones, adalah pelayan gereja non-pendeta, yang memiliki tugas-tugas khusus di
gereja dan memiliki pendidikan teologi formal.
99
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
itu menjalankan tugas-tugas pelayanan kegerejaannya sehari-hari. Dengan kata lain,
para Pendeta atau Diakones itulah yang diharapkan MPA sebagai agen atau
perpanjangan tangannya untuk memelopori pembentukan dan perluasan simpul-simpul
komunitas CUM di berbagai wilayah pelayanan gereja. Dengan cara seperti, formasi
hegemonik baru yang dicita-citakan MPA dalam wujud materialnya sebagai suatu
komunitas CUM dapat terbentang dan meluas memasuki lapisan struktur gereja yang
paling bawah. MPA mengatakan bahwa praktik CUM sebaiknya dimulai dengan
minimal 20 orang. Tetapi kalau anggota benar-benar berhasrat besar untuk
mendirikannya, dengan jumlah dibawah 20 orang juga dapat diselenggarakan. Adanya
kemauan dan tekad untuk mendirikan suatu komunitas CUM sudah merupakan ikatan
yang dapat mempersatukan, tetapi agar suatu komunitas CUM yang sudah berdiri dapat
berkembang perlu ada unsur pemersatunya”.161
Dalam upayanya untuk mendidik dan melatih para Pendeta atau Diakones
menjadi calon manajer CUM, MPA menjalin kerjasama dengan Pimpinan Gereja-gereja
khususnya yang ada di Sumatera Utara. Setiap kali MPA mengadakan Pendidikan dan
Pelatihan itu, MPA meminta kepada masing-masing Pimpinan gereja agar mengutus
para Pendeta atau Diakones (dengan kuota tertentu) untuk menjadi pesertanya. Dalam
konteks GKPS, LG adalah orang pertama (Pendeta pertama) yang mengikutinya
pendidikan dan pelatihan tersebut. Melalui LG lah, GKPS pertama sekali mengenal
wacana CUM. Sejak itu, GKPS kemudian mengutus Pendetanya untuk mengikuti
pendidikan dan pelatihan tersebut yang diselenggarakan oleh MPA setiap tahun.
Semula, Pendidikan dan Pelatihan tersebut diadakan MPA di komplek kantor
pusat PT.BPR-PPK di desa Sukamakmur Kecamatan Sibolangit Deliserdang namun
161
MP.Ambarita,”Ekonomi Kerakyatan Versi Kristiani Sebagai Kekuatan Dalam Menghadapi globalisasi”,
(dalam) Pdt. Martunas Manullang, ed, (2010) Op.cit,hlm, 148-149
100
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
sejak ia menyatakan berhenti sebagai direktur utama PT.BPR-PPK pada tahun 2010,
“Pendidikan dan pelatihan calon manajer CUM” dipindahkan ke Lumban Ambarita,
desa Sirait Uruk, Kecamatan Porsea Kabupaten Toba Samosir. Di desa inilah (yang juga
merupakan
kampung
halamannya),
MPA
berdomisili
dan
menyelenggarakan
Pendidikan dan Pelatihan calon pengelola (manajer) CUM.
Adapun materi “Pendidikan dan pelatihan calon manajer CUM” yang diberikan
MPA kepada para Pendeta dan Diakones itu adalah:
Tabel 4:
Materi Pendidikan dan Pelatihan CUM
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Materi
Akuntansi Umum dan Akuntansi CUM
Ekonomi Mikro
Ekonomi Makro
Moneter
Manajemen Umum dan Manajemen CUM
Hukum Perdata/Dagang
Ceramah-ceramah agama (teologi) pelayanan holistik
Session/jam
30 Session
20 Session
20 Session
15 Session
30 Session
10 Session
1-1,5 jam
setiap hari
8. Evaluasi penguasaan materi dan Paper akhir
Selain dididik dan dilatih untuk memahami dan menguasai pengetahuan teknis
tentang sistem akuntansi dan manajemen CUM, MPA juga menekankan pentingnya
mempraktikkan cara hidup berkomunitas. Itulah sebabnya, sehingga segala sesuatu yang
berkaitan dengan kebutuhan peserta selama masa pendidikan dan pelatihan seperti
belanja, memasak, cuci peralatan makan, ibadah (refleksi), kebersihan, semuanya
dilakukan secara bersama (bergiliran dan berkelompok) dengan tidak membedakan usia
(tua-muda) dan jenis kelamin (laki-laki – perempuan), pendeta atau diakones”.162
Dengan memberi titik tekan pada praktik hidup berkomunitas, MPA berharap para
162
Dalam penyelenggaraan ibadah bersama, pelayanan Firman Tuhan, diselenggarakan dalam bentuk
penelaahan Alkitab (PA), sehingga terselenggara sebentuk dialog dalam kesetaraan, berbagi
pengalaman religiusitas sebagai cara untuk saling menguatkan komitmen sesama peserta.
101
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
manajer CUM senantiasa mengingat bahwa menyelenggarakan praktik diskursif CUM
sesungguhnya merupakan cara untuk memaknai tri tugas panggilan universal gereja
yakni bersaksi (marturia), bersekutu (koinonia), melayani (diakonia).
Sejak MPA memutuskan bertempat tinggal di desa Sirait Uruk, MPA juga
mengumpulkan para manajer CUM dari berbagai gereja itu dalam suatu pertemuan yang
disebutnya sebagai konsolidasi manajer CUM yang dilakukan satu kali dalam enam
bulan”.163
3.3. Konkretisasi wacana CUM ke Dalam Konteks GKPS
3.3.1. Sekilas Tentang GKPS
Sebelum memaparkan bagaimana wacana CUM itu dikonkritisasi ke dalam konteks
“Gereja Kristen Protestan Simalungun” (selanjutnya disingkat GKPS) maka ada baiknya
dipaparkan secara sekilas tentang GKPS sebagai salah satu “gereja suku” yang ada di
Sumatera Utara. GKPS berkedudukan di Pematang Siantar. Sebelum menjadi gereja
mandiri, komunitas kristen Simalungun merupakan kelompok subordinasi gereja HKBP.
Berada sebagai komunitas subordinasi HKBP membuat komunitas orang kristen
Simalungun gerah. Hal itu terjadi sebab identitasnya sebagai orang kristen Simalungun
dbuat mangkir oleh HKBP yang didukung oleh agen zending RMG. Komunitas orang
kristen Simalungun yang dimotori Jaulung Wismar Saragih (JWS) kemudian menuntut
manjae (mandiri) dari HKBP. Proses manjae itu ditempuh melalui perjuangan negosiasi
panjang dan alot. Perjuangannya menuntut manjae itu akhirnya membuahkan hasil di
mana pada tangga 01 September 1963 HKBP kemudian melepaskan HKBP-Simalungun
menjadi gereja mandiri yang kemudian dikemudian dikenal dengan Gereja Kristen
Protestan Simalungun (GKPS).
163
Sumber: Wawancara dengan MPA via telepon tanggal, 24 April 2012. (dicatat secara manual dan
diterjemahkan secara bebas:ms).
102
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Sejauh ini jumlah warga GKPS yang tercatat lebih kurang 213.042 jiwa,164di
mana 82% diantaranya berdomisili di wilayah pedesaan di Simalungun dan 18% lainnya
berdomisili di berbagai wilayah diaspora di Indonesia”.165Dari sekitar 213.042 jiwa,
jumlah keseluruhan warga jemaat GKPS,lebih kurang 53.004 jiwa (25%)diantaranya
berdomisili di wilayah kordinasi pelayanan GKPS di distrik III. Secara geografis,
wilayah pelayanan GKPS distrik III, terbentang meliputi daerah Kecamatan Purba
Simalungun sampai ke sebagian daerah Kabupaten Karo dan sebagian kecil lainnya
berada di daerah Kabupaten Dairi. Saribudolok, yang adalah pusat kordinasi pelayanan
GKPS di distrik III yang juga merupakan tempat di mana Praeses sebagai kordinator
distrik berdomisili. Daerah pelayanan GKPS di distrik III merupakan daerah dataran
tinggi di mana sebagian besar identitas profesi warganya adalah petani dan sebagian
lainnya adalah pegawai negeri sipil - guru, bidan – perawat – (PNS), wiraswasta
(pengusaha lokal) dan lain-lain.
Saribudolok adalah ibukota Kecamatan Silimakuta sehingga sekaligus
merupakan pusat (administrasi) pemerintahan dan pusat perdagangan kebutuhan pokok
masyarakat pedesaan. Bahkan pada setiap hari Rabu, di Saribudolok diselenggarakan
pasar tradisional dan pasar sayur mayur skala besar, di mana nilai transaksi
perdagangannya bisa mencapai milyaran rupiah. Tidak mengherankan kalau di setiap
hari Rabu, Saribudolok sangat ramai dikunjungi oleh para pembeli sayur mayur yang
datang dari berbagai daerah dan kota di Sumatera Utara bahkan dari daerah Riau dan
Aceh. Tidak mengherankan kalau Saribudolok di sasar sebagai daerah ekspansi bisnis
keuangan dari berbagai lembaga keuangan mikro yang ada di Sumatera Utara. Sejumlah
164
Selanjutnya lihat: Susukkara (Almanak) GKPS tahun 2013, hlm, 398
Juandaharaya Purba dan MartinLukito Sinaga, Peny, (2000) Tole ! Den Timor Landen Das
Evangelium!” Sejarah Seratus Tahun Injil di Simalungun, 2 September 1903 – 2 September 2003,
P.Siantar, Kolportase GKPS-Panitia Bolon Jubileum 100 tahun Injil di Simalungun, hlm, 287
165
103
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
lembaga keuangan (mikro) yang beroperasi di sana seperti Bank Rakyat Indonesia
(BRI), Bank Sumut, beberapa BPR dan sejumlah Koperasi simpan pinjam dan juga
Credit Union (CU). Selain itu, daerah Saribudolok sekitarnya ini juga diramaikan oleh
kehadiran Lembaga Keuangan Mikro Informal (informal microfinance) seperti para
rentenir baik yang dilakukan oleh perseorangan maupun yang dilakukan oleh lembaga
berkedok koperasi. Selain itu, akhir-akhir ini suasana kehidupan sosial ekonomi
masyarakat di daerah Saribudolok, turut diramaikan oleh kehadiran mini market, agenagen (distributor) sepeda motor.
3.3.2. GKPS: Kisah Awal Mengenal Wacana CUM
Krisis ekonomi dan moneter yang melanda Indonesia pada tahun 1997-1998,tidak hanya
berdampak terhadap menurunnya daya beli masyarakat di perkotaan tetapi juga bagi
masyarakat di pedesaan. Melonjaknya harga pupuk telah membuat biaya produksi
pertanian masyarakat desa menjadi ikut melonjak. Sementara itu, harga jual produksi
pertanian masyarakat desa tidak mampu menutupi biaya (modal) yang sudah
dikeluarkan. Tidak sedikit petani yang mengalami kerugian. Kenyataan itu telah
membuat banyak warga GKPS yang berprofesi sebagai petani mengalami kesulitan
untuk melanjutkan usaha pertaniannya karena ketiadaan modal. Memang, kesulitan
mengakses sumber permodalan dari lembaga keuangan mikro itu bukanlah satu-satunya
keluhan yang dihadapi warga gereja GKPS di masa krisis. Kalau, hendak ditambahkan,
tingginya biaya kebutuhan konsumsi, biaya pendidikan anak, biaya sosial (pesta),
ketidakmenentuan iklim (cuaca) serta tidak adanya jaminan stabilitas harga produksi
pertanian (karena diserahkan ke mekanisme pasar) dan lain-lain telah ikut menambah
durasi keluhan (histeria) warga gereja. Persoalan ini menjadi semakin rumit sebab
mereka juga mengalami kesulitan dalam mengakses fasilitas permodalan dari lembaga
104
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
keuangan mikro yang beroperasi di sana. Akibatnya, tidak sedikit warga gereja terpaksa
menempuh “jalan ke keselamatan” yang ditawarkan oleh para rentenir di wilayah
partikularitasnya masing-masing. Ironisnya, praktik penghisapan (rentenir) itu
berlansung di antara sesama warga gereja sehingga suasana persekutuan (koinonia)
gereja tampak bermasalah.
Merespon kondisi krisis yang sedang dihadapi warganya tersebut, GKPS
(melalui unit pelayanannya (“Pelpem GKPS”)166mencoba mengadakan “Konsultasi
Gereja dan Masyarakat” (KGM) untuk mengidentifikasi sekaligus memetakan apa yang
menjadi tuntutan (demand) utama dari warganya. KGM tersebut diadakan di Pematang
Siantar pada tahun 2000 (sebelum pelaksanaan Sinode Bolon GKPS ke-35. KGM itu
kemudian menghasilkan sebuah rekomendasi agar GKPS melakukan “pelayanan
(diakonia) di bidang pemberdayaan ekonomi rakyat”. Rekomendasi KGM tersebut
kemudian diserahkan kepada Pimpinan Pusat GKPS, untuk dibawa ke forum Sinode
Bolon GKPS sebagai lembaga pengambil keputusan tertinggi. Sinode Bolon (SB)167
GKPS ke 35 pada tahun 2000 itu kemudian memutuskan agar GKPS melakukan
pelayanan pemberdayaan ekonomi rakyat dan merekomendasikan pendirian Bank
Perkreditan Rakyat (BPR) sebagai instrumen untuk mengartikulasi aspek etisnya.
Menindaklanjuti keputusan SB GKPS tersebut, Pimpinan Pusat GKPS sebagai
penanggungjawab penyelenggaran pelayanan (eksekutif) kemudian mencoba melakukan
berbagai langkah persiapan untuk mendirikan BPR yang dimaksud, termasuk mengutus
166
Pelpem adalah singkatan dari Pelayanan Pembangunan yakni sebuah unit (lembaga) pelayanan GKPS
yang berada di bawah naungan Departemen Diakonia.
167
Sinode Bolon adalah forum pengambil keputusan tertinggi di GKPS. SB diselenggarakan dua kali dalam
satu periode (5 tahun). Selanjutnya lihat:Tata Gereja dan Peraturan Rumah Tangga GKPS tahun 2009
105
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
LG(pada tahun 2001) untuk mengikuti orientasi pengelolaan dan pengoperasian suatu
BPR milik gereja yang diselenggarakan oleh PT.BPR-PPK di kompleks Retreat Centre
GBKP di desa Sukamakmur Kecamatan Sibolangit-Deli Serdang. Namun, keinginan
GKPS untuk mendirikan BPR tersebut tampaknya tidak dapat diwujudkan karena
berbagai hambatan baik yang bersifat internal maupun eksternal. Secara internal,
hambatan itu menurut LG terkait dengan regulasi perbankan dan Peraturan Pemerintah
(PP) yang mengatur tentang tata cara, persyaratan pendirian dan kepemilikan sebuah
BPR yang mana berdasarkan UU No.10 tahun 1998, pasal 23 :Bank Perkreditan Rakyat
hanya dapat didirikan dan dimiliki oleh warga negara Indonesia yang seluruh
pemiliknya adalah warga negara Indonesia, Pemerintah Daerah, atau dapat dimiliki
bersama di antara ketiganya, (sic!)”.168
Apa yang dialami GKPS ini hampir sama dengan apa yang pernah dialami
GBKP ketika mereka merencanakan mendirikan PT. BPR-Pijer Podi Kekelengen
(PT.BPR-PPK). Perbedaannya, ketika itu GBKP diperhadapkan dengan UU No.7 tahun
1992, di mana ketentuan yang mengatur ihwal pendirian dan kepemilikan suatu BPR
tidak berbeda dengan UU No. 10 tahun 1998. Kalau GBKP ketika itu memilih
mengambil langkah menerbitkan kepemilikan GBKP atas PT.BPR-PPK dalam bentuk
kepemilikan saham atas nama sebagaimana UU No. 7 tahun 1992 mengaturnya maka
GKPS tampaknya tidak berniat memilih langkah tersebut. Bahkan, hingga penelitian ini
dilakukan, GKPS tampaknya tidak berniat mendirikan BPR yang sudah diputuskan oleh
lembaga pengambil keputusan tertingginya tersebut. Keputusan “menghentikan”
rencana mendirikan BPR “milik” GKPS tersebut bukan karena GKPS memiliki wacana

LG adalah salah seorang Pendeta (muda) GKPS yang menjadi motor penggerak dalam proses
pembentukan Komunitas CUM “Talenta”. Ketika itu LG masih berstatus sebagai vikaris (masa persiapan
sebelum ditahbiskan menjadi Pendeta).
168
Sumber: www.komisiinformasi.go.id (diakses tanggal 18 Juni 2013, 09:18).
106
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
alternatif untuk diajukan sebagai instrumen untuk mengartikulasi aspek etisnya di
bidang pemberdayaan ekonomi jemaat/rakyat. Akibatnya, ada semacam kebuntuan yang
dialami GKPS untuk memberi respons terhadap kesulitan ekonomi warganya
khususnya, kesulitan warga jemaatnya dalam mengakses sumber permodalan dari
lembaga Keuangan Mikro yang ada di wilayah partikularnya masing-masing. Dalam
keadaan seperti itu, GKPS menjadi mangkir dalam menjalankan tugas dan
tanggungjawabnya etisnya sebagai gereja yang telah ia rumuskan sendiri yakni untuk:
“mencerdaskan dan menyejahterakan warga gereja dan masyarakat”.169
Dalam konteks berada dalam situasi “kebuntuan” seperti itu, MPA kemudian
datang dan mengajukan wacana alternatif untuk mengisi ketiadaan instrumen artikulasi
aspek etis GKPS di bidang pemberdayaan ekonomi jemaat/rakyat. Wacana alternatif
yang diajukan MPA itu adalah wacana Credit Union Modifikasi (CUM). Agar dapat
memahami dan mampu mengoperasikan wacana CUM tersebut, MPA mengundang
Pimpinan Pusat GKPS agar mengutus tenaga pelayannya untuk dididik dan dilatih
menjadi calon pengelola (manejer) CUM. Merespon undangan tersebut, GKPS
kemudian mengutus LG untuk mengikuti “Pendidikan dan Pelatihan calon pengelola
(manajer) CUM” yang diselenggarakan MPA. Itu berarti, melalui LG lah GKPS
mengenal dan menerima wacana CUM itu pertama sekali.Sejak itu, GKPS selalu
mengutus para Pendetanya (sesuai dengan kuota yang diberi MPA) untuk mengikuti
Pendidikan dan Pelatihan calon pengelola CUM yang diselenggarakan setiap tahun
tersebut. Sejauh ini (tahun 2012) setidaknya sudah ada sekitar dua puluh orang Pendeta
GKPS yang telah mengikuti Pendidikan dan Pelatihan calon pengelola (manajer) CUM
yang diselenggarakan oleh MPA tersebut.
169
Lihat:Tata Gereja GKPS tahun 2009, 7 butir g
107
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
3.3.3. Pembentukan Komunitas CUM “Talenta”
Sebagaimana sudah diutarakan pada bab sebelumnya secara teknis sistem manajemen
CUM merupakan perpaduan atau sintesa dari sistem manajemen CU konvensional dan
sistem manajemen BPR. Sebagai seorang yang sudah pernah mengikuti pernah
mengikuti orientasi tentang tata cara pengelolaan, pengoperasian dan pengembangan
BPR milik gereja yang diselenggarakan oleh PT.BPR-PPK pada tahun 2001, maka
wajar saja LG memiliki pengetahuan tentang pengelolaan dan pengoperasian credit
union. Meskipun GKPS “gagal” mendirikan BPR (hingga LG selesai mengikuti
orientasi di PT.BPR-PPK) tersebut, namun di tempat pelayanannya, sebagai Pendeta
GKPS di GKPS Resort Batam, (persisnya di GKPS Batu Aji Batam) Kepulauan Riau,
LG mencoba mendirikan komunitas “credit union” (CU) berbasis gereja. Sayangnya,
komunitas CU yang didirikan LG tersebut belum sempat mekar dan berkembang, LG
kembali harus
pindah tugas pelayanan menjadi Pendeta Resort Gajapokki, sebuah
wilayah pelayanan partikular GKPS Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun
Sumatera Utara.
Perpindahan tugas pelayanannya dari daerah kota (industri) ke daerah pedesaan
(agraris) di Simalungun tidak membuat semangat dan gairah LG untuk mengkonkretkan
wacana CUM itu ke dalam konteks gerejanya di GKPS menjadi surut. Sebaliknya, LG
justru tampak semakin bersemangat. Di daerah pelayanannya yang baru di distrik III,
upayanya untuk mengongkritkan wacana CUM tersebut dilakukannya dengan cara
menyosialisasikan wacana CUM itu kepada para Pendeta, Penginjil maupun para
Penetua gereja baik secara informal maupun secara formal. Sosialisasi wacana CUM
secara formal, dilakukan LG pertama sekali pada saat penyelenggaraan rapat kordinasi
GKPS distrik III yang diselenggarakan di Zentrum GBKP Kabanjahe,tanggal, 16-18
108
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
November 2006”.170 Sayangnya, wacana CUM yang diperkenalkan LG pada forum
rapat kordinasi distrik III ini ternyata tidak dapat begitu saja diterima sebab di situ
muncul sejumlah tanggapan dan perdebatan tentang status wacana CUM. Singkat kata,
sosialisasi wacana CUM di forum rapat distrik III tersebut berujung pada munculnya
penolakan (resistensi).
Menurut LG, setidaknya ada tiga hal yang membuat wacana CUM tidak dapat
diterima sebagai instrumen artikulasi aspek etis gereja di bidang pemberdayaan ekonomi
jemaat/rakyat. Pertama, secara legal formal wacana CUM tidak lahir dari “rahim”
institusi GKPS. Maksudnya, wacana CUM bukan merupakan wacana yang diproduksi
GKPS sehingga dianggap bukan merupakan “bahasa resmi” GKPS. Kedua, status
wacana CUM sebagai sebentuk informal microfinancememberi kesan bahwa praktik
diskursif CUM dianggap merupakan semacam praktik bank gelap (illegal banking)
sehingga dianggap bertentangan dengan ketentuan hukum dan perundang-undangan
yang berlaku. Ketiga, masih adanya polarisasi pemahaman (teologi) dari kalangan para
pelayan GKPS (Pendeta, Penginjil, Sintua) tentang keterlibatan gereja dalam melakukan
pelayanan pemberdayaan ekonomi terhadap jemaat dan masyarakat. Pada satu pihak,
ada yang memahami bahwa gereja memiliki tanggung jawab dalam melakukan
pelayanan pemberdayaan ekonomi rakyat sedangkan pada pihak yang lain adapula yang
memahami bahwa fokus pelayanan gereja atau Pendeta adalah pelayanan kerohanian
sehingga para Pendeta tidak perlu terlibat dalam pelayanan ekonomi.
170
Rapat kordinasi distrik di GKPS adalah sebuah pertemuan antara para Pendeta, Penginjil dan Pimpinan
Majelis Jemaat di suatu wilayah pelayanan GKPS yang disebut Distrik. Rapat kordinasi distrik biasanya
diselenggarakan sekali setahun (biasanya bulan November). Tugas dan fungsi rapat kordinasi distrik
GKPS adalah untuk mengevaluasi, dan merumuskan program pelayanan GKPS di tingkat distrik. Selain
itu, Rapat Kordinasi Distrik juga merupakan wadah bagi Pimpinan Pusat GKPS untuk menyampaikan
rencana Anggaran Belanja tahunan GKPS untuk satu tahun pelayanan berikutnya.
109
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Munculnya resistensi terhadap wacana CUM dari peserta rapat kordinasi distrik
III itu, tidak membuat semangat dan gairah LG untuk mengongkritkan “unsur baru”
pelayanan (diakonia) itu ke dalam konteks gerejanya menjadi surut. LG lantas “putar
haluan”. Kali ini fokus sosialisasi wacana CUM itu, diarahkannya kepada kalangan
Pendeta (muda) GKPS yang ada di distrik III. LG tampak cukup jeli melihat adanya
kebiasaan beberapa orang Pendeta (muda) GKPS yang selalu berkumpul di setiap hari
Rabu pasca pelaksanaan sermon hadomuan 8 resort,171 di GKPS Saribudolok. Biasanya
dilakukan sambil makan siang atau minum kopi. Di situ, selalu ada perbincangan
(diskusi) informal tentang berbagai hal (isu) mulai dari isu sosial, politik, ekonomi skala
nasional dan lokal. Tidak ketinggalan, di situ para Pendeta muda GKPS ini juga
memperbincangkan hal ihwal yang menyangkut kesulitan dan hambatan pelayanan di
resort (wilayah) nya masing-masing.
Dari beragam isu yang sering diperbincangkan, fenomena menurunnya tingkat
partisipasi dan kehadiran warga gereja GKPS dalam mengikuti kegiatan-kegiatan gereja
selalu menjadi isu yang hangat diperbincangkan. Selain itu, perbincangan tentang
kesulitan finansial yang dihadapi oleh masing-masing Pendeta dan Penginjil GKPS,
turut juga mewarnai perbincangan di setiap “pertemuan informal hari Rabu” itu. Hal ini
memang dapat dimaklumi, sebab perolehan (gaji) yang diterima para Pendeta dan
Penginjil GKPS setiap bulan masih tergolong minim sementara biaya kebutuhan hidup
dari waktu ke waktu terus meningkat. Dalam kondisi seperti itu, para Pendeta atau
171
Sermon hadomuan 8 resort adalah pertemuan para Pendeta, Penginjil, dan anggota majelis jemaat
dari 8 resort GKPS yang ada di sekitar Kecamatan Silimakuta Saribudolok. Pertemuan ini, adalah
pertemuan yang dilakukan untuk membahas dan mempersiapkan bahan khotbah kebaktian Minggu dan
juga partonggoan (persekutuan doa antar keluarga). Dilaksanakan sekali seminggu bertempat di GKPS
Saribudolok. Pertemuan ini bertigas untuk mendiskusikan bahan khotbah kebaktian Minggu dan
Partonggoan (persekutuan do antar keluarga). Pesertanyaadalah para Pendeta, Penginjil, Sintua dan
anggota Majelis jemaat GKPS lainnya khususnya yang akan bertugas sebagai pengkhotbah pada
kebaktian hari Minggu digerejanya masing-masing dan Partonggoan (persekutuan doa antar keluarga).
110
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Penginjil GKPS (khususnya yang melayani di daerah pedesaan), masih harus
menyediakan sendiri juga sarana dan prasarana pelayanan seperti sepeda motor,
komputer (laptop) dan lain sebagainya. Itulah sebabnya sehingga masih ada Pendeta
dan Penginjil GKPS yang masih meminta bantuan finansial setiap bulan kepada orang
tua atau keluarganya. Bagi para orang tua atau keluarga Pendeta dan Penginjil GKPS
yang memiliki kemampuan finansial yang cukup, tentu kesulitan itu dengan segera
dapat diatasi. Namun, bagi para Pendeta atau Penginjil GKPS yang orang tua atau
keluarganya tidak mampu, hal ini tentulah menjadi persoalan yang cukup serius dan
menyesakkan. Maka, tidak sedikit pula dari antara para Pendeta yang terpaksa harus
menempuh jalan berhutang (kredit) untuk mengatasi kesulitan ekonominya.
Dalam konteks keprihatinan dan urgensi permasalahan seperti itu, LG kembali
mengajukan wacana CUM sebagai wacana alternatif untuk mengatasi kesulitan finansial
yang dialami oleh para Pendeta dan Penginjil GKPS itu. LG mengatakan bahwa melalui
praktik diskursif CUM, para Pendeta dan Penginjil GKPS sebagai pemimpin umat dan
pemimpin spiritual tidak hanya dapat mempraktikkan sikap saling membantu, tetapi
sekaligus juga dapat memberi contoh dan teladan bagi upaya memaknai persekutuan
(koinonia) gereja. Menurut LG, salah satu ciri utama persekutuan (koinonia) gereja
adalah adanya sikap hidup yang mau saling berbagi dan bertolong-tolongan
sebagaimana tertulis dalam Alkitab (Galatia 6:2): “Bertolong-tolonganlah kamu
menanggung bebanmu! Demikianlah, kamu memenuhi hukum Kristus”..
Langkah “putar haluan” dengan fokus kepada Pendeta (muda) GKPS yang
ditempuh LG itu, tampaknya merupakan langkah yang cukup jitu sebab setelah
melakukan serangkaian sosialisasi secara informal di setiap “pertemuan hari Rabu” itu,
kesadaran para Pendeta (muda) GKPS tampak mulai merekah. Pada tanggal, 27
111
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Desember 2006, sembilan orang Pendeta (muda) GKPS yang ada di Distrik III
menyatakan kesediaannya untuk mendirikan komunitas CUM sebagai wadah bagi para
Pendeta dan Penginjil GKPS di distrik III untuk mempraktikkan sikap hidup saling
membantu dan berbagi di bidang keuangan. Pada tanggal 16 Januari 2007, bersamaan
dengan penyelenggaraan acara “Refleksi dan Syukuran Tahun Baru 2007 Pendeta dan
Penginjil GKPS distrik III” di rumah Praeses GKPS distrik III di Saribudolok, 16 orang
Pendeta GKPS menyatakan komitmennya untuk mendirikan suatu komunitas CUM
dalam konteks GKPS. Dan, pada hari yang sama, enam belas orang Pendeta (muda)
GKPS itu mendeklarasikan berdirinya kesatuan sosial komunitas CUM “Talenta”.172
Deklarasi berdirinya komunitas CUM “Talenta” tersebut ditandai dengan
membuat kesepakatan bahwa setiap anggota yang ingin menjadi anggota komunitas,
diwajibkan membayar sebesar Rp.15.000,- sebagai uang pangkal, Rp.100.000,- sebagai
simpanan pokok serta Rp. 20.000 sebagai simpanan wajib per bulan. Selain itu, setiap
anggota juga diperkenankan untuk menyimpankan uangnya di komunitas CUM
“Talenta” sebagai simpanan sukarela. LG kemudian ditunjuk menjadi kordinator
sementara komunitas, utuk mengelola aktivitas awal, pembukuan serta pengembangan
keanggotaan komunitas.
3.3.4. Memperluas Keanggotaan Komunitas CUM “Talenta”: Membangun
Kelompok (unit) di Basis Jemaat
Sambil mengelola aktivitas awal komunitas CUM “Talenta”, secara perlahan LG mulai
memperluas keanggotaan komunitas CUM “Talenta” agar dapat melibatkan warga
gereja (jemaat) dan masyarakat umum. Untuk kepentingannya tersebut, LG tampak
172
Pelaksanaan Refleksi dan Syukuran Tahun Baru Pendeta dan Penginjil GKPS distrik III itu dilaksanakan
di rumah Praeses GKPS distrik III (Pdt.Jameldin Sipayung) di Saribudolok, Kecamatan Silimakuta. Hingga
tanggal, 20 Januari 2010, jumlah Pendeta GKPS yang menjadi anggota komunitas CUM “Talenta” adalah
129 orang dari 170 orang jumlah pendeta GKPS secara keseluruhan. (Sumber: Dok, CUM Talenta, Data
Anggota CUM Talenta; Pendeta se GKPS).
112
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
tetap merawat “pertemuan informal setiap hari Rabu” yang dilakukan para Pendeta
(muda) GKPS itu. LG tampak memosisikan para Pendeta (muda) GKPS itu menjadi
semacam “kelompok inti” (core group) dalam komunitas CUM “Talenta”, sekaligus
menjadi semacam serat penghubung agar LG dapat menyosialisasikan wacana CUM
dan mendirikan unit-unit komunitas CUM “Talenta” di basis-basis jemaat di mana para
Pendeta (muda) itu melayani.
Selanjutnya, upaya LG untuk memperluas keanggotaan komunitas CUM
“Talenta”, dilakukannya dengan menyosialisasikan ulang wacana CUM itu kepada para
Sintua (penetua) dan anggota majelis jemaat GKPS. Momen pelaksanaan sermon
hadomuan 8 resort yang diselenggarakan secara rutin di setiap hari Rabu di GKPS
Saribudolok, dimanfaatkannya sebagai wadahnya. Sermon hadomuan delapan resort
ini adalah sebuah pertemuan rutin untuk mendiskusikan bahan khotbah kebaktian
Minggu dan khotbah kebaktian partonggoan (persekutuan doa antar keluarga) yang
dilakukan oleh para Pendeta dan Penginjil GKPS di distrik III bersama dengan anggota
majelis jemaat dari 8 resort GKPS yang berbeda. Kegiatan ini, dipimpin oleh Praeses
GKPS distrik III di mana pengantar diskusi (bahan khotbah) dalam sermon hadomuan 8
resort dipersiapkan oleh Pendeta atau Penginjil GKPS secara bergiliran sesuai dengan
jadwal yang sudah disepakati bersama.
Setiap kali, pelaksanaan sermon hadomuan 8 resort itu hendak diakhiri, di
situlah LG selalu meminta waktu untuk menyosialisasikan ulang wacana CUM itu
tersebut. Dari proses sosialisasi di sermon hadomuan 8 resort itulah, LG kemudian
diminta kembali oleh Pimpinan Majelis jemaat tertentu bersama dengan Pendeta Resortnya, untuk mengadakan “sosialisasi lanjutan”, secara langsung di basis jemaat. Momen
pelaksanaan “sosialisasi lanjutan” itu, dilakukan dengan memanfaatkan kegiatan rutin
113
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
GKPS yang sudah terstruktur yakni kebaktian partonggoan (persekutuan doa antar
keluarga) yang dilaksanakan sekali dalam seminggu.
Di daerah pelayanan GKPS di distrik III pelaksanaan partonggoan itu pada
umumnya dilakukan pada malam hari. Maklum saja, sebab profesi warga GKPS di
daerah pelayanan GKPS di distrik III ini, sebagian besar adalah Petani. Bahkan, tidak
sedirikit warga GKPS yang berprofesi sebagai pegawai negari sipil seperti guru,
perawat-bidan, dan lain-lain juga memiliki usaha pertanian. Biasanya, para petani di
daerah ini, baru akan pulang ke rumahnya masing-masing pada sekitar jam enam sore
(18.00 Wib). Setelah itu, masing-masing keluarga (pada umumnya perempuan;istri)
masih harus memasak untuk makan malam keluarga. Jadi sangat dapat dimengerti
mengapa partonggoan GKPS di wilayah distrik III pada umumnya baru dimulai pada
jam 20.00. Rata-rata durasi penyelenggaraan partonggoan memakan waktu antara satu
sampai satu setengah jam sehingga tidak mengherankan kalau partonggoan itu baru
berakhir pada jam 21.30. Setelah berakhirnya, acara partonggoan itulah LG
menyosialisasikan wacana CUM itu kepada warga jemaat.Itulah sebabnya, tidak jarang
LG baru akan tiba kembali di rumahnya pada waktu tengah malam bahkan dinihari.
Dinginnya udara malam yang menyelimuti daerah pedesaan Saribudolok sekitarnya
(tidak jarang juga disertai turunnya kabut embun yang cukup tebal) tidak membuat
semangat dan gairah LG menjadi surut.
Setiap kali melakukan sosialisasi lanjutan di basis-basis jemaat itu, LG selalu
mengutip Firman Tuhan yang tertulis dalam Alkitab sebagai dasar bagi praktik diskursif
CUM. Salah satu ayat Alkitab yang dikutip LG sebagai penadasaran kegiatan sosialisasi
itu adalah: Bertolong-tolonganlah kamu menanggung bebanmu! Demikianlah, kamu
memenuhi hukum Kristus”. (Galatia 6:2). Dengan cara seperti itu, LG mau menegaskan
114
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
kembali bahwa praktik ber-CUM tidak sama dengan ber-CU pada umumnya. Di dalam
komunitas CUM “Talenta”, anggota tidak hanya mendapatkan manfaat ekonomi tetapi
juga manfaat sosial dan spiritual. Dari proses sosialisasi lanjutan seperti itulah, LG
membentuk “unit” (sering juga disebut komisariat) komunitas CUM “Talenta” di tingkat
jemaat. Kalau wacana CUM yang diperkenalkan LG lewat sosialisasi lanjutan di
partonggoan itu dapat diterima oleh jemaat maka di situ akan didirikan unit atau
komisariat komunitas CUM “Talenta”. Syarat berdirinya sebuah unit atau komisariat
CUM “Talenta” di basis jemaat tertentu apabila di sana sudah ada 15 orang anggota.
Sebuah unit (komisariat) dipimpin oleh seorang kordinator yang disebut dengan
komisaris. Dalam kedudukannya sebagai kordinator unit, seorang komisaris memiliki
dua fungsi. Pertama, seorang komisaris merupakan pemimpin yang mengorganisasi
kegiatan-kegiatan komunitas CUM “Talenta” di tingkat basis. Kedua, seorang komisaris
adalah perpanjangan tangan Manajer di tingkat tingkat unit.
Sebelum melaksanakan tugasnya, seorang komisaris terlebih dahulu dilantik
pada suatu kebaktian Minggu di jemaat GKPS di mana unit itu terbentuk. Hal itu
dilakukan sebab bagaimanapun juga komunitas CUM “Talenta” telah menyatakan
dirinya sebagai alat pelayanan gereja di bidang keuangan sebagaimana dirumuskan
dalam AD/ART tahun 2009, di mana dalam bab III pasal 4 disebutkan bahwa komunitas
CUM adalah lembaga pelayanan gereja di bidang keuangan. Lalu, kalau dilihat dari
AD/ART komunitas CUM “Talenta” edisi revisi tahun 2012, pada bab III pasal 4,
dinyatakan bahwa bentuk dan jenis komunitas CUM “Talenta” adalah unit pelayanan
gereja dalam bidang pemberdayaan ekonomi jemaat. Itu sebabnya, dalam struktur
organisasi komunitas CUM “Talenta” di tingkat unit (komisariat), Pimpinan Majelis
Jemaat GKPS diposisikan sebagai Penasehat. Hal ini dimaksudkan agar aktivitas
115
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
komunitas CUM ”Talenta” di tingkat unit senantiasa dapat dijalankan sesuai dengan visi
dan misi gereja”.173
Dengan menempuh langkah sosialisasi sebagaimana yang diceritakan di atas, LG
tampak berhasil mengembangkan dan memperluas keanggotaan komunitas CUM
“Talenta” sehingga identitas keanggotaannya tidak hanya warga gereja GKPS tetapi
juga warga gereja denominasi lain bahkan masyarakat agama yang lain. Dengan begitu,
komunitas CUM “Talenta” adalah sebuah kesatuan sosial di mana keanggotaannya
bersifat sukarela dan terbuka (inklusif). Berikut ini, ditampilkan gambaran umum
perkembangan
organisasi
komunitas
CUM
“Talenta”
berdasarkan
laporan
pertanggungjawaban pengurus komunitas CUM “Talenta” tahun buku 2011:174
Tabel 5:
Gambaran Umum
Pertumbuhan unit, calon unit dan bakal calon unit
Komunitas CUM “Talenta” hingga tahun 2011
Jumlah
No
Kantor Cabang
Unit
Calon unit
Bakal calon unit
1.
Saribudolok
57
30
11
2.
Pematang Raya
39
12
29
3.
Pematang Siantar
8
4
6
104
46
46
Jumlah total
Sementara itu, rincian pertumbuhan dan perkembangan jumlah anggota
komunitas CUM “Talenta” sejak berdiri tahun 2007 hingga tahun 2011 dapat dilihat
dalam tabel berikut ini:
173
Lihat: AD/ART komunitas CUM “Talenta” Bab X pasal 18 ayat 1d
Diolah berdasarkan Laporan Hasil Pengawasan CUM “Talenta” Tahun buku 2011, Selanjutnya lihat:
Laporan Pertanggungjawaban Pengurus dan Pengawas CUM “Talenta” tahun buku 2011 dan Program
Kerja CUM “Talenta” Tahun 2012, hlm, 21
174
116
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Tabel 6:
Jumlah anggota
Komunitas CUM “Talenta” per 31 Desember 2011
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Keterangan
Jumlah anggota per 31
Desember 2010
Pertambahan anggota
tahun 2011
Anggota yang keluar sejak
tahun 2007 sampai tahun
2011
Jumlah anggota
dimutasikan
Jumlah anggota diterima
(mutasi)
Jumlah anggota aktif per
31 Des 2011
Kantor Cabang
Saribudolok
P.Raya
P.Siantar
3209
1.306
0
Jumlah
Total
4.515
1198
1.006
105
2.309
151
17
-
168
388
141
-
529
529
3.504
2.129
632
6265
Sebagai catatan tambahan, proses masuknya warga gereja dari gereja denominasi
yang lain serta masyarakat agama yang lain (muslim) menjadi anggota komunitas CUM
“Talenta”, tidak dilakukan lewat kerja pengorganisasian secara khusus melainkan hasil
dari sosialisasi dan interaksi sosial yang dilakukan oleh anggota dan komisaris
komunitas CUM “Talenta” di wilayah partikularnya masing-masing. Bapak Sutrisno
(seorang muslim) misalnya mengungkapkan bahwa keputusannya untuk masuk menjadi
anggota komunitas CUM “Talenta” unit Marihat Saribujandi, setelah ia mendengar
paparan tentang wacana CUM dari anggota dan komisaris CUM “Talenta”. Lebih jauh
bapak Sutrisno mengungkapkan bahwa ia dan keluarganya adalah kelompok minoritas
dari sisi agama di komunitas CUM “Talenta” tetapi ia merasa diperlakukan sama
dengan anggota lainnya. Saya sudah dua kali merasakan manfaat sosial dan finansial
sebagai anggota komunitas CUM “Talenta”; yang pertama ketika hendak menikahkan
117
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
anaknya ia memperoleh pinjaman sebesar Rp.4 jt, dan kedua ketika hendak merenovasi
rumah sebesar Rp.10 jt”.175
3.4. Hubungan Komunitas CUM “Talenta” Dengan GKPS
3.4.1. Klaim Sebagai Bidang Pelayanan GKPS
Meskipun komunitas CUM “Talenta” memproklamasikan dirinya sebagai “unit
pelayanan gereja dalam bidang pemberdayaan keuangan jemaat 176, namun secara legalformal, komunitas CUM “Talenta” sesungguhnya bukanlah unit pelayanan (diakonia)
GKPS secara struktural. Hal itu terjadi sebab secara legal-formal komunitas CUM
“Talenta” tidak lahir dari “rahim” institusi GKPS. Pembentukan komunitas CUM
“Talenta” bukan merupakan produk kebijakan ataupun keputusan GKPS secara
kelembagaan. Oleh karena itu, kedudukan komunitas CUM “Talenta” di dalam struktur
kelembagaan GKPS dapat dikatakan merupakan sebentuk “persekutuan” (koinonia)
informal warga gereja di bidang ekonomi. Komunitas CUM Talenta dan institusi GKPS
adalah dua entitas yang berbeda dan memiliki otonominya sendiri-sendiri.Meskipun
begitu, keduanya tidak dapat dipisahkan begitu saja sebab bagaimanapun juga sejarah
berdirinya komunitas CUM “Talenta”tidak dapat dipisahkan dari komitmen pelayanan
para Pendeta dan Penginjil GKPS untuk merespon persoalan (krisis) sosial, ekonomi
yang dihadapi warga gereja dan masyarakat di wilayah partikular pelayanan mereka
masing-masing.
Untuk menelisik bagaimana pola hubungan dari keduanya secara ideal, maka
perspektifnya akan didasarkan pada rumusan ideal sebagaimana dikonstruksi dalam
AD/ART komunitas CUM “Talenta” baik yang lama (edisi 2009) maupun yang baru
(edisi revisi 2012). Di dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AR/ART)
175
Wawancara dilakukan di kantor Induk CUM “Talenta” di Saribudolok, Rabu, 07 Maret 2012
Lihat anggaran dasar dan anggaran rumah tangga komunitas CUM Talenta tahun 2009 dan edisi
revisi tahun 2012
176
118
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
komunitas CUM “Talenta” pada bab VI pasal 9 ayat 1dan 2 tahun 2012, disebutkan
bahwa:
1. Hubungan antara CUM Talenta dan Gereja Kristen Protestan Simalungun
(GKPS) adalah sebagai Pembina agar dapat berjalan sesuai dengan program
gereja yaitu sebagai pemberdayaan warga jemaat.
2. Komisaris CUM “Talenta” yang ada di jemaat berkordinasi dengan Badan
Diakonia Sosial Gereja atau badan yang dihunjuk oleh Pimpinan Majelis
jemaat setempat”.177
Sementara itu, pada bagian lain, yakni pada bab XVII tentang “Pembubaran dan
Penyelesaian”, yakni pada pasal 31 ayat 2 disebutkan bahwa pembubaran CUM
“Talenta” dapat dilakukan:” oleh Pembina (GKPS) dengan alasan:a). CUM “Talenta”
tidak lagi menjalankan AD/ART yang disepakati, b). dalam penilaian Pembina (GKPS)
CUM “Talenta” tidak dapat lagi melangsungkan hidupnya”. 178 Pada sisi yang lain, pada
Bab XVI AD/ART-nya yang mengatur tentang “Rapat-Rapat”, pasal 26 (Rapat Anggota
Tahunan: RAT) ayat 1 disebutkan bahwa: Rapat Anggota Tahunan (RAT) merupakan
pemegang kekuasaan tertinggi dalam CUM “Talenta”…”.179
Dengan memosisikan institusi GKPS sebagai Pembina, komunitas CUM
“Talenta” tampak berharap agar GKPS dapat terlibat dalam memberi arah sehingga
praktik diskursif CUM senantiasa dapat dijalankan sesuai dengan program gereja yaitu
sebagai pemberdayaan ekonomi kerakyatan bagi jemaat dan masyarakat”.180Secara
aktual, hubungan komunitas CUM “Talenta” dengan GKPS diekspresikan melalui:
pelantikan pengurus komunitas CUM “Talenta” oleh Pimpinan Pusat GKPS dalam suatu
kebaktian GKPS ( bab VII, pasal 10 ayat 4).
177
Anggaran Dasar Dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) CUM “Talenta” tahun 2012
Ibid
179
Ibid
180
Lihat Anggaran Dasar dan Anggara Rumah Tangga (AD/ART) komunitas CUM “Talenta” tahun 2012
178
119
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Selain itu, pola hubungannya juga tampak dalam kaitannya dengan
pengangkatan Manajer maupun Top Manejer komunitas CUM “Talenta”. Berdasarkan
bab VIII pasal 15 ayat 2 AD/ART CUM “Talenta” tahun 2012, bahwa yang dapat
diangkat menjadi Manajer adalah mereka yang sudah menerima pendidikan CUM dan
memiliki sertifikat serta sudah memiliki pengalaman mengelola CUM”.( ayat 3),
Manajer yang memiliki latar belakang fultimer GKPS diangkat atau dimutasikan dan
diberhentikan oleh pengurus sesuai dengan SK (surat keputusan) Pimpinan Pusat GKPS
[…]”.181 Disamping itu, hubungan komunitas CUM “Talenta” dengan GKPS juga
tampak diekspresikan dengan mengalokasikan sebesar 2% dari 50% alokasi dana khusus
komunitas yang disebut sebagai dana solidaritas untuk GKPS (bab XIV pasal 23 ayat
2i)”.182
Berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pola
hubungan komunitas CUM “Talenta” dengan GKPS, tampak dikonstruksi secara
ambigu. Pada satu sisi, komunitas CUM “Talenta” merasa dirinya adalah sebuah entitas
sosial yang otonom dan mandiri tetapi pada saat yang sama, ia juga tampak tidak ingin
terlepas begitu saja dari GKPS sebagai institusi yang menaunginya. Dengan kata lain,
pada satu sisi komunitas CUM “Talenta” memandang GKPS sebagai semacam “struktur
mediasi” (mediating structure) bagi keberadaannya terutama ketika berhadapan dengan
kekuatan eksternal (kekuatan hegemonik; negara, rentenir, tengkulak). Dalam rangka
menghadapi kekuatan eksternal itu, komunitas CUM “Talenta” mengkonstruksi
hubungannya dengan GKPS dalam relasi patront-client (Ayah- anak). Namun,
komunitas CUM “Talenta” tampaknya tidak menginginkan relasi patront-client itu
berlaku secara mutlak (absolut) sebab ia juga ingin menjadi anak yang mandiri.
181
Lihat: Bab VIII pasal 15 ayat 2 AD/ART CUM “Talenta” tahun 2012 dan Laporan Pertanggungjawaban
Pengurus CUM “Talenta” tahun 2012
182
Ibid,
120
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
3.4.2. Program dan Akitvitas yang Dilakukan
3.4.2.1. Menciptakan Modal Bersama: Melawan Bank dan Rentenir
Sejak awal, aktivitas pokok komunitas CUM “Talenta” adalah aktivitas “simpanpinjam”, di mana dana yang sudah terhimpun selanjutnya disalurkan kepada anggota
lewat mekanisme pemberian kredit. Kepada penyimpan diberikan “jasa simpanan” dan
kepada peminjam dikenakan “jasa pinjaman”. Di dalam komunitas CUM “Talenta”,
dikenal apa yang disebut sebagai Sisa Hasil Usaha (SHU). SHU adalah pendapatan
bersih komunitas yang diperoleh dalam satu tahun buku. 50% dari SHU dibagikan
sebagai deviden kepada anggota dan 50% lainnya, dialokasikan sebagai dana-dana
khusus. Tata cara pembagian SHU diatur dalam jasa pinjaman tersebut menjadi sumber
deviden bagi komunitas CUM “Talenta” yang akan dibagikan pada akhir tahun bkepada
anggota sesuai dengan besarnya saham masing-masing.
Kalau dilihat dari segi jenisnya komunitas CUM “Talenta”dikategorikan sebagai
sebentuk informal microfinance namun aktivitas “simpan-pinjam” yang dilakukannya
tidak sama dengan praktek memungut riba sebagaimana yang dilakukan oleh para
rentenir sebab di dalam komunitas CUM “Talenta”, si peminjam sesungguhnya
memperoleh pertambahan jumlah saham dari “jasa pinjaman” yang ia berikan sendiri
melalui pembagian sisa hasil usaha (SHU) pada setiap akhir tahun buku.
Selain aktivitas “simpan-pinjam”, komunitas CUM Talenta juga menghimpun
dana melalui sejumlah kegiatan perdagangan seperti penjualan buku-buku rohani
bekerjasama (konsinyasi) dengan sejumlah pihak seperti kolportase GKPS, LAI
(Lembaga Alkitab Indonesia), Badan Penerbit Kristen Gunung Mulia dan lain-lain.
Semua keuntungan dari aktivitas perdagangan dimasukkan sebagai hasil usaha, yang
pada akhir tahun akan dibagi kepada setiap anggota sesuai besar saham masing-masing.
121
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
3.4.2.2. Memaknai (ulang) Haroan Bolon Simalungun
Tidak ketinggalan, dalam bidang
pertanian
komunitas CUM “Talenta” juga
memfasilitasi pelatihan pembuatan pupuk bokasi (pupuk organik) bagi anggota
komunitas dan masyarakat. Kelompok usaha pertanian bersama (haroan bolon) juga
turut diselenggarakan. Modal awal usaha pertanian bersama ini dialokasikan dari
posanggaran “pinjaman komunitas”. Praktek usaha pertanian bersama (haroan bolon) di
Huta Saing diselenggarakan sejak tahun 2009 dan di desa Bandar Purba sejak tahun
2011 yang diberi nama “Haroan Bolon Talenta”. Dalam kosa kata orang Simalungun,
haroan bolon adalah suatu sistem kerja yang dilakukan oleh beberapa orang secara
bersama-sama, yang anggotanya mendapat giliran untuk mengerjakannya ladangnya
dengan berganti-ganti, yang hampir serupa sifatnya dengan gotong royong”.183
Kelompok “haroan bolon” di Huta Saing dibentuk pada tahun 2009. Usaha
bersama yang mereka lakukan adalah menanam jahe seluas hampir 1 hektar (23 rante; 1
ha=25 rante). Praktik usaha pertanian bersama yang pertama ini tergolong berhasil
(beruntung) sehingga mereka bisa mengembalikan “pinjaman komunitas” ke CUM
Talenta. Lalu, pada awal tahun 2012 ini, mereka kembali mengerjakan lahan secara
bersama dengan modal berasal dari “pinjaman komunitas” di CUM Talenta sebesar
Rp.37.000.000.
Ada juga, kelompok “haroan bolon Talenta” di Bandar Purba yang dibentuk
pada tahun 2011. Usaha pertanian bersama ini dilakukan dengan modal berasal dari
“pinjaman komunitas” di CUM Talenta sebesar Rp.20.000.000. Luas lahan yang
diusahai komunitas seluas 12 rante. Namun, ada hal yang menarik dalam praktik haroan
bolon di Bandar Purba dimana motivasi mereka melakukan usaha ini tidak semata-mata
183
Juandaha Raya Purba-Fredy P.Sidagambir,dkk,eds, (2012), Peradaban Simalungun,” inti Sari Seminar
Kebudayaan Simalungun se Indonesia Pertama tahun 1964”,Pematang Siantar,KPBS, hlm, 46
122
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
demi kepentingan ekonomi uang tetapi juga demi makna sosial dan makna spiritual.
Seorang anggota komunitas CUM “Talenta” yang turut membidani terbentukanya
haroan bolon tersebut mengungkapkan latar belakang pembentukannnya sebagai
berikut: .
Dulu, semua dikerjakan bersama; ada “haroan marlajar” dan ada “haroan
bolon”. Zaman sekarang ini, semuanya sudah sendiri-sendiri. Semua ingin
menunjukkan kehebatannya masing-masing.Di kampung ini, anak-anakpun
sudah bisa naik kareta [sepeda motor:ms], merokok, kecanduan internet
[maksudnya game on line :ms]. Anehnya, walaupun sudah kenal internet tetapi
banyak juga anak anak di kampung ini putus.Lalu, kredit sepeda motor yang
murah juga telah membuat banyak anak-anak mengalami kecelakaan; ada yang
patah tulang bahkan meninggal dunia. Kaum ibu juga senang sekali dengan acara
gosip di televisi [gossip selebriti:ms], kaum bapa main judi toto gelap (togel).
Semua kami dikampung ini mengatakan mencari pekerja (pekerja upahan:ms) di
ladanglah yang susah sekarang ini. Tapi, di kelompok “haroan bolon” yang kami
bentuk ini, kami bisa bercerita dan berbagi pengalaman tentang keluarga, anakanak terutama soal pendidikan dan sekolahnya”.184
Selain program yang sudah dipaparkan di atas, komunitas CUM “Talenta” juga
melenyelenggarakan program Perlindungan jiwa (Linwa) dan program “Perlindungan
kesehatan” (Linkes). Program “Linkes” ini adalah program yang dilaksanakan sejak
tahun 2012. Sebelumnya, nama program ini adalah “Dana Pertanggungan Bersama”
(Daperma). Pada AD/ART CUM tahun 2009, program ini, sesungguhnya tidak dikenal
tetapi dalam kenyataan ia diadakan. Karena tidak memiliki pijakan konstitusi
(AD/ART) komunitas maka bersamaan dengan keputusan Rapat Anggota Tahunan pada
tahun 2012, program ini diubah namanya menjadi “Linwa” dan ditambah dengan
“perlindungan kesehatan” (Linkes). Pada AD/ART komunitas CUM tahun 2012 bab V,
pasal 13 yang mengatur tentang Linwa dijelaskan demikian:
1. Dalam rangka mewujudkan dana perlindugan jiwa (Linwa) terhadap anggota
maka anggota wajib memberikan iuran tahunan perlindungan jiwa yang
jumlahnya ditentukan oleh RAT
184
Bapak DD: adalah anggota CUM Talenta, ketua kelompok “haroan bolon” di desa Bandar Purba.
Wacancara dilakukan tanggal, 05 Maret 2012, di lokasi perladangannya pukul.13.00
123
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
2. Dana perlindungan jiwa ini diberikan kepada ahli waris apabila anggota CUM
Talenta meninggal dunia
3. Pengaturan mengenai jumlah perkalian antara iuran dan manfaat yang diperoleh
di ataur dalam peraturan khusus yang telah disepakati oleh RAT.
Pada pasal 14 tentang Perlindungan Kesehatan (Linkes):
1. Dalam rangka memberikan Perlindungan Kesehatan (Linkes) bagi anggota maka
semua anggota wajib memberikan iuran Perlindungan Kesehatan setiap tahun
yang jumlahnya ditentukan oleh RAT
2. Dana Perlindungan Kesehatan ini diberikan kepada anggota apabila anggota
mengalami sakit dan dirawat di rumah sakit dengan ketentuan harus
melampirkan surat keterangan rawat inap dari Rumah Sakit atau Puskesmas
3. Pengaturan mengenai jumlah perkalian antara iuran dan manfaat yang diperoleh
diatur dalam peraturan khusus setelah disepakati olh RAT.
Manajer komunitas CUM “Talenta” Saribudolok (SS) menjelaskan bahwa
besarnya jumlah dana “Linwa” yang akan diberikan adalah sebagai berikut: yang telah
menjadi anggota 1 – 3 tahun diberikan 1 juta rupiah, yang telah menjadi anggota 4-6
tahun 2,5 juta dan yang telah menjadi anggota 7-9 tahun diberikan 3,5 juta rupiah.
Sementara itu besarnya jumlah untuk dana Linkes tidak mempertimbangkan lamanya
masa keanggotaannya. Untuk rawat inap diberikan 500 ribu rupiah”.185
3.4.2.3. Memotong route Pemasaran Kopi: Mendirikan Perusahaan (CV.Talenta)
Salah satu, persoalan yang dihadapi oleh kebanyakan
anggota komunitas CUM
“Talenta” adalah perihal tidak menentnya harga produksi (pasca panen) khususnya
harga kopi. Setelah digumuli secara bersama dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT)
tahun 2012, komunitas CUM “Talenta” mendirikan unit usaha agribisnis, khususnya
untuk menampung dan sekaligus memasarkan biji kopi anggota komunitas dan
masyarakat untuk dipasarkan langsung ke produsen pengolah biji kopi (perusahaan).
Keputusan ini merupakan salah satu keputusan Rapat Anggota Tahunan (RAT) tahun
2012, dimana sisa hasil usaha (SHU) tahun buku 2011 sebesar Rp.401.402.039
185
Percakapan dengan (SS) manajer Komunitas CUM “Talenta” Saribudolog. Percakapan dilakukan via
telepon, 26 Maret 2012 (dicatat secara manual dan diterjemahkan secara bebas:ms)
124
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
diputuskan untuk “tidak dibagi” tetapi dijadikan sebagai modal awal (modal bersama)
bagi pendirian unit usaha agribisnis”.186
Menindaklanjuti keputusan RAT tersebut, pengurus komunitas CUM “Talenta”
kemudian mendirikan sebuah perusahaan dengan badan hukum CV.
Pada tanggal tanggal 4 Agustus 2012 berdirilah unit agribisnis CV. CUM
Talenta. Sejak itu, CV.CUM Talenta telah melakukan kerjasama dengan
PT.Volkopi Indonesia yang merupakan anak perusahaan Volcafe Group ED &
F Man yang berpusat di Amerika Serikat. Kerjasama yang telah dibangun adalah
pemasaran kopi Simalungun ke Amerika. Sejak beroperasi, CV.CUM Talenta
telah mengirimkan (menjual) sebanyak 15.000 kg produk biji kopi milik anggota
komunitas CUM Talenta kepada PT.Volkopi Indonesia dan sudah dipasarkan ke
Amerika Serikat. Dalam memori kerjasama tersebut disebutkan bahwa,
PT.Volkopi memberikan fasilitas lahan, 80x 50m2, mesin pengosas, gudang,
pelataran untuk penjemuran (terbuka dan tertutup; green house), tempat tinggal
karyawan dan juga kantor bagi CV.CUM Talenta di Saribudolok. Salah satu
poin penting dari kerjasama tersebut adalah PT.Volkopi Indonesia hanya
memasarkan produk kopi dari Simalungun.”187
3.5. Perkembangan Komunitas CUM “Talenta” Dan Manfaat Yang Dirasakan
Anggota
Sebagai sebuah komunitas yang bergerak di bidang pemberdayaan ekonomi kerakyatan
versi Kristiani, komunitas CUM “Talenta” telah mengalami pertumbuhan dan
perkembangan yang sangat cepat baik dari sisi jumlah keanggotaannya (termasuk
asetnya), maupun pengembangan kelembagaan serta aktivitas komunitasnya. Dalam
laporan Badan Pengawas kepada Rapat Anggota Tahunan tahun 2012, yang
disampaikan pada Rapat Anggota Tahunan (RAT) tahun buku 2011, dijelaskan bahwa
CUM Talenta kini memiliki 1 kantor induk, 2 kantor cabang dan 104 kelompok basis
yang disebut unit ditambah 46 calon unit dan 36 bakal calon unit. dan lebih kurang
186
Lihat : Keputusan RAT CUM Talenta, tanggal 8 maret 2012 di GKPS Immanuel Saribudolok
Kristendo Damanik, (direktur CV.CUM Talenta), “Memasarkan Kopi Arabika Simalungun Bersama
CV.CUM Talenta” (dalam), Ambilan pakon Barita (AB) GKPS Edisi 466 Februari 2013, 25-26. (Ketika
penelitian lapangan dilakukan, ihwal “unit agribisnis” ini masih dalam bentuk keputusan Rapat Anggota
Tahunan (RAT) tahun 2012. Data ini dipandang perlu ditampilkan sebagai bagian dari update data.
187
125
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
6.198 orang anggota [per 31 Desember 2011], dengan jumlah harta /total asset (aktiva)
lebih dari Rp.8 milyar”.188
Berikut ini dikutipkan saja gambaran tentang pertumbuhan komunitas Credit
Union Modifikasi (CUM) “Talenta” selama empat tahun sejak berdiri 16 Januari 2007
sampai dengan laporan tahun buku 2011, berdasarkan laporan pertanggungjawaban
badan pengurus komunitas CUM “Talenta” pada RAT tahun 2012:189
Tabel 7:
Pertumbuhan dan Perkembangan
Komunitas Credit Union Modifikasi (CUM) Talenta 2007-2011
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
Uraian
Jumlah anggota
yang Masuk
Jumlah anggota
yang Keluar
Jumlah
anggota
Kantor cabang
Unit Pelayanan
(Kelompok
basis)
Calon unit
(calon
kelompok basis)
Jumlah Manager
Jumlah
personalia/staff
Uang pangkal
Simpanan Pokok
Simpanan Wajib
Simpanan
sukarela
Jumlah
simpanan
Simpanan
saham
berjangka
Simpanan
diakonia
Saldo Pinjaman
Saldo Pinjaman
Komunitas
Jumlah
harta
/asset (aktiva)
Daperma
Asuransi
pinjaman
Pendapatan
831
Tahun
2009
1.499
0
7
42
151
391
307
1.131
2.588
4.280
6.198
-
13
1
34
1
57
2
104
-
-
-
-
46
1
1
2
2
-
-
3
10
4.605.000
24.572.000
22.820.000
43.700.000
12.550.000
101.864.000
140.677.357
272.249.961
28.625.000
234.061.000
437.030.357
647.097.716
32.875.000
377.825.880
914.861.357
914.861.357
46.360.000
577.415.880
1.699.043.357
3.426.014.134
91.092.000
514.791.318
1.318.189.073
.2.207.548.594
5.702.473.371
-
90.000.000
307.000.000
747.100.000
1.746.319.200
-
-
-
-
5.080.000
88.842.128
-
624.063.395
-
1.661.482.089
-
3.697.394.919
25.881.000
6.740.215.806
131.726.069
96.166.259
652.475.913
1.788.025.868
3.977.559.504
8.153.341.559
-
1.152.000
-
6.821.204
10.524.000
11.843.694
37.422.011
48.197.844
76.826.475
10.947.179
90.603.907
284.721.749
676.213.214
1.291.671.281
2007
307
2008
188
2010
1.843
2011
2.309
Lihat: Buku laporan Pertanggungjawaban Badan Pengurus dan Pengawas, tahun buku 2011 kepada
Rapat Anggota Tahunan (RAT), tanggal 08 Maret 2012,di GKPS Immanuel Saribudolok. Hlm, 25
189
Ibid
126
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
22
23
24
Pengeluaran
SHU tahun lalu
belum dibagi
SHU
5.877.920
-
48.510.283
-
184.462.668
723.843
456.998.981
-
890.269.241
-
5.069.259
42.093.624
100.259.081
219.214.233
401.402.039
Perkembangan komunitas CUM Talenta sebagaimana tergambar dalam tabel
tersebut di atas, tentu menjadi indikator hadirnya sejumlah manfaat yang dirasakan oleh
anggotanya. Berikut ini, dikemukakan sejumlah manfaat dirasakan anggota komunitas
CUM “Talenta”. Bapak Dosman Damanikmengatakan:
Di CUM Talenta on taridah ma “ambilan na i horjahon, horja na iambilanhon”
(terjemahan bebas: di CUM “Talenta” ini tampaklah khotbah yang dikerjakan
dan kerja yang dikhotbahkan). Anggota bisa meminjam uang, tidak banyak
urusan. Keuntungan dibagi bersama secara merata. Kita juga diajari menyimpan
dan itu untuk membantu sesama. Inilah makna persekutuan (hasadaon-koinonia)
ber-gereja bagi saya, jadi bukan hanya di-omong. Saya merasa “marharoan” itu
hadir kembali lewat CUM Talenta ini. Memang, saya tidak mempunyai
tanggungan lagi sebenarnya untuk anak-anak, sebab semua sudah tamat dan
bekerja. Tapi saya mendapat pengetahuan dan wawasan di CUM Talenta ini. Di
kampung ini, anggota CUM Talenta yang tadinya malas ke gereja (GKPS)
sekarang sudah semakin rajin. Tetapi ada juga yang keberatan, karena hasil
ladang anggota CUM “Talenta” tidak lagi di jual ke dia (rentenir,tengkulak:ms).
Melalui CUM ini, “marharoan” yang sudah hilang itu seperti ada lagi. Jadi,
terima kasihlah atas gagasan dan pelayanan para Pendeta GKPS ini. Naibata do
marhorja ijon, (Allah yang bekerja di sini; ms) kalau tidak, tidak mungkin yang
muslim pun ikut di dalamnya.190
Menurut bapak R.Purba (Bah bolon):
Kami (keluarga) tidak lagi meminjam uang dari rentenir dan dari CU yang lain.
Kini kami merasa bebas dari tekanan “bunga” rentenir. Dulu kami jadi anggota
di CU .... (.sambil menyebut beberapa nama CU tertentu. Untuk kepentingan
informan penelitian ini, nama CU tersebut tidak disebutkan) yang ada di
kampung ini. Katanya koperasi, kita anggota disitu, kita menyimpan disitu, tetapi
kita tidak tahu kemana hasil keuntungan CU tiap tahun. Tidak ada interaksi
antara pengurus CU dengan kita. Anggota cuma stempel saja. Berbeda dengan di
CUM Talenta ini, semua kita tahu, semua terbuka, dan setiap tahun kita tahu,
kita mendapat SHU sesuai simpanan kita. Mungkin karena ini dilakukan di
gereja ya dan Pendeta lagi pengurusnya”.191
190
Wawancara dilakukan tanggal, 05 Maret 2012 pukul 13.00. di lahan pertaniannya. (diterjemahkan
secara bebas ke Bahasa Indonesia:ms,) namun beberapa ungkapan dalam bahasa Simalungun tidak
diterjemahkan untuk menjaga kekhasan maknanya. Bapak DD, adalah seorang petani yang lebih suka
membuat pupuk sendiri daripada membeli pupuk. Sudah empat tahun jadi anggota CUM Talenta
(diterjemahkan secara bebas :ms)
191
Wawancara dilakukan tanggal 07 Maret 2012, pukul.10.00, di sebuah warung kopi di desa Buah Bolon
Kecamatan Raya . Bapak RP sudah tiga tahun jadi anggota. (diterjemahkan seca bebas:ms)
127
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Menurut seorang ibu L.Saragih (Saribudolok):
Saya merasa terbantu di CUM ini, sebab kita sekarang bebas membeli pupuk
kemana kita mau. Selain itu, sekarang kita juga bisa bebas menjual hasil ladang
kita kemana kita mau. Selama ini kami harus menjual hasil panen kami kepada
agen pupuk karena kami mengambil pupuk dari dia.Perjanjiannya hasil panen di
jual ke dia dan harga jual dia yang menententukan. Dulu hal itupun terpaksa
dilakukan daripada tidak makan. Sekarang, kalau kami perlu modal untuk beli
pupuk, bisa pinjam dari CUM Talenta “bunganya” (jasa:ms) tidak berat, lagi
pula dibagi juga ke kita hasilnya pada akhir tahun. Pengurusnya pun terbuka,
mungkin karena pendeta-pendeta semua pengurusnya. Sekarang kan ini sulit
kita percaya sama orang lain, tetapi di CUM ini semua terbuka, jadi kita
percaya”.192
Menurut bapak HC.Sianturi (Saribudolok):
Saya memang belum pernah meminjam di CUM Talenta, tapi saya bisa
merasakan kebersamaan apalagi sesama warga gereja GKPS. Saya baru
menyimpan saja, dan belum banyak simpanan saya. Tapi satu yang menjadi
pergumulan saya yaitu soal CUM ini yang tidak ber-“badan hukum”. Kalau
terjadi apa-apa bagaimana nanti”.193
3.5.1. Dinamika Organisasi
3.5.1.1. Internal
Dalam menjalankan roda organisasinya komunitas CUM “Talenta” juga menghadapi
sejumlah persoalan baik yang bersifat internal maupun eksternal. Secara internal, status
dan posisi LG sebagai orang pertama dalam konteks GKPS mengenal wacana CUM
menjadikannya tampak sangat dominan. Meskipun kedudukannya adalah sebagai
manajer yang diangkat oleh Badan Pengurus namun karena kekurangpahaman Anggota
Badan Pengurus tentang sistem akuntansi, sistem tata kelola dan sistem pengembangan
CUM. membuat Anggota Badan Pengurus justru menjadi sangat tergantung kepada
192
Wawancara dilakukan tanggal 8 Maret 2012 pukul 22.00 (setelah selesai partonggoan
keluarga;Persekutuan doa keluarga GKPS Immanuel Saribudolok), Ibu LS sudah tiga tahun jadi anggota
CUM Talenta (diterjemahkan secara bebas:ms)
193
Wawancara dilakukan tanggal 8 Maret 2012, (selesai partonggoan keluarga;Persekutuan doa
keluarga GKPS Immanuel Saribudolok) . Pukul: 22.00. Bapak HCS baru satu tahun menjadi anggota CUM
Talenta (Diterjemahkan secara bebas:ms)
128
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
manajer yang diangkatnya sendiri. Badan Pengurus yang seharusnya memberi guidance
kepada manajer CUM “Talenta”, yang terjadi justru sebaliknya, Anggota Badan
Pengurus justru mengkuti langgam Manajer. Hal itu tampak misalnya dari pengakuan
dari salah seorang anggota badan pengurus komunitas CUM “Talenta” ketika
menuturkan perihal ketidaksetujuannya terhadap adanya struktur Top Manajer. Dalam
anggaran dasar dan anggaran rumah tangga komunitas CUM “Talenta” tahun 2009 yang
berlaku hingga tahun 2011, sebenarnnya struktur “Top Manajer” belum dikenal, tetapi
dalam kenyataannya, Badan Pengurus telah menunjuk LG sebagai Top Manajer.
Mencuatnya struktur Top Manajer memang dilatarbelakangi oleh pertumbuhan dan
perkembangan anggota serta pengembangan wilayah pelayanan Komunitas CUM
“Talenta” yang tidak lagi cukup ditangani oleh hanya satu orang manajer. Oleh karena
itu, pada tahun 2011 diangkatlah manajer untuk setiap Kantor Cabang yang baru. LG
yang tadinya adalah manajer di kantor Saribudolok akhirnya diangkat oleh badan
pengurus menjadi top manajer untuk memimpin keseluruhan operasional (konsolidasi)
semua kantor baik induk maupun cabang CUM “Talenta”- meskipun tanpa mengubah
AD/ART-nya terlebih dahulu. Hal ini sebenarnya tidak diterima oleh beberapa orang
anggota badan pengurus dan juga manajer yang lain tetapi untuk menjaga agar tidak
terjadi konflik antar sesama pengurus dan manajer lainnya, persoalan ini diendapkan
meski hal ini melanggar konstitusi komunitas”.194
Selain itu, anggota komunitas CUM “Talenta”, mempersoalkan tidak adanya
peluang bagi anggota untuk diangkat menjadi manajer sehingga hal ini dianggap tidak
demokratis. Ibu (LS) misalnya mengatakan: di komunitas CUM “Talenta” semua
194
Wawancara dilakukan dengan salah seorang anggota badan pengurus dan manajer CUM. Untuk
kepentingan keutuhan komunitas, yang bersangkutan meminta agar nama dan tempat di mana
wawancara dilakukan tidak disebutkan. Wawancara dilakukan tgl,6 maret 2012
129
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
anggota disebutkan memiliki hak dan kewajiban yang sama, tetapi yang bisa menjadi
manajer kan cuma Pendeta, meskipun hal itu tidak disebutkan secara jelas di AD/ART
CUM”.195 Selain itu, persoalan tidak adanya badan hukum komunitas CUM “Talenta”
ini, juga masih tetap dianggap menjadi persoalan yang mengganjal meskipun seseorang
sudah menjadi anggota komunitas. Dari pernyataan bapak HCS pada kutipan di atas
terlihat bahwa meskipun ia sudah menjadi anggota komunitas CUM, tetapi tampaknya
ia masih menyimpan keraguan dan kebimbangan utamanya soal badan hukum
komunitas ini”.196
3.5.1.2. Eksternal
Persoalan lain yang dihadapi adalah adanya oknum aparatur pemerintah yang menagih
pajak dari aktivitas yang diselenggarakan oleh komunitas CUM Talenta. Hal ini,
mencuat terutama karena komunitas ini menggunakan nama “Credit Union Modifikasi”.
Sejak adanya upaya oknum petugas pajak yang ingin menagih pajak dari komunitas
CUM “Talenta”, melalui rapat anggota tahunan (RAT) tahun 2012, komunitas CUM
Talenta kemudian mengubah namanya dari komunitas Credit Union Modifikasi menjadi
komunitas Credo Union Modifikasi, Menurut LG, hal ini, dilakukan untuk menegaskan
kembali bahwa komunitas CUM “Talenta” adalah sebentuk informal microfinance
yakni sistem pemberdayaan ekonomi kerakyatan versi Kristiani, yang aktivitasnya
adalah aktivitas kegerejaan”.197
195
Wawancara dilakukan tanggal 7 Maret 2012 pukul 22.00 (setelah selesai partonggoan
keluarga;Persekutuan doa keluarga GKPS Immanuel Saribudolok), Ibu LS sudah tiga tahun jadi anggota
CUM Talenta (diterjemahkan secara bebas:ms)
196
Wawancara dilakukan tanggal Maret 2012, (selesai partonggoan-Persekutuan doa keluarga di GKPS
Immanuel Saribudolok) . Pukul: 22.00. Bapak HCS baru satu tahun menjadi anggota CUM Talenta
(Diterjemahkan secara bebas:ms)
197
Wawancara dengan LG di Pematang Siantar tgl, 08 Maret 2012
130
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
3.6. Keterbatasan Dana Pinjaman dan Godaan RABO BANK
Perkembangan dan pertumbuhan komunitas CUM “Talenta” baik dari sisi keanggotaan
maupun dari sisi keuangan tampaknya telah pula memunculkan sejumlah persoalan
baru. Salah satu persoalan tersebut adalah ketidakmampuan komunitas CUM “Talenta”
mencairkan dana pinjaman kepada anggota. Artinya, jumlah simpanan anggota tidak
mampu mencukupi kebutuhan pinjaman (kredit) yang dimohonkan oleh anggota sendiri.
Terjadi antrian peminjam yang cukup panjang karena permohonan pinjaman tidak dapat
dengan segera dicairkan. Tidak jarang keadaan itu telah memicu timbulnya konflik
antara anggota dan komisaris. Bahkan, sejak tahun 2008 hingga tahun 2011 trend
anggota yang menarik sahamnya dan selanjutnya menyatakan diri keluar menunjukkan
trend yang menaik.
Dalam laporan pertanggungajawaban Badan Pengurus dan laporan Badan
Pengawas pada RAT tahun 2012, meskipun jumlahnya tidak terlalu signifikan bila
dibandingkan dengan jumlah anggota yang masuk menjadi anggota komunitas CUM
“Talenta”, namun jumlah anggota yang keluar sesungguhnya menunjukan trend menaik
(lihat: Tabel 6: Pertumbuhan dan Perkembangan komunitas CUM “Talenta” 20072011).
Dalam kondisi seperti itu, sebuah satu Bank Umum nasional yakni RABO
BANK”,198 sempat menawarkan kerjasama dengan memberi pinjaman modal kepada
komunitas CUM “Talenta” dengan jasa 0,5%. Setelah melalui perbincangan dan diskusi
yang mendalam -(meskipun pada awalnya tawaran kerjasama tersebut sempat disetujui
Pimpinan Pusat GKPS), namun kerjasama itu kemudian dibatalkan. Alasan
198
Rabo Bank adalah salah satu dari 23 Bank Umum Nasional yang sahamnya secara mayoritas telah
dikuasai asing dan sedang beroperasi di wilayah pedesaan di Indonesia. Selanjutnya lihat: T.Handono
Eko Prabowo (2010) Pengembangan Kekuatan-Kekuatan Transformatif Untuk Kedaulatan Sosial
Ekonomi: Sebuah Refleksi Sosial Ekonomi, Yogyakarta, USD, hlm,7-6
131
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
pembatalankerjasama tersebut lantaran dianggap melanggar prinsip kemandirian dan
keswadayaan yang diatur dalam AD/ART komunitas CUM Talenta”.199
199
Wawancara dengan SS (manajer CUM Saribudolok) tanggal 05 Maret 2012, di kantor CUM “Talenta”
Saribudolok.
132
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
BAB IV
IDENTITAS POLITIK “GEREJA SUKU” :
DARI GERAKAN EKONOMI KE GERAKAN POLITIK
4.1. Pengantar
Pada pembahasan di dua bab sebelumnya, secara deskriptif telah dipaparkan latar
belakang historis kemunculan wacana “credit union modifikasi” (CUM) dan juga
bagaimana wacana CUM dikonkretisasi ke dalam konteks GKPS yang mewujud
menjadi kesatuan sosial komunitas CUM “Talenta”. Selain itu, sudah diceritakan juga
sejumlah Aktivitas yang dilakukan kesatuan sosial komunitas CUM “Talenta” untuk
merespon tuntutan-tuntutan dari beragam kesatuan sosial yang antagonistik yang
membentuk komunitas tersebut. Penguraian pada bab sebelumnya masih sekadar
memberi informasi dan belum membeberkan secara mendalam ihwal hegemoni yang
dihadapi oleh MPA dan strategi diskursif yang dilakukannya untuk menciptakan formasi
hegemoni tandingan yang dicita-citakannya. Demikian juga halnya dengan uraian
tentang pembentukan kesatuan sosial Komunitas CUM “Talenta” belum membeberkan
problematisasinya dari perspektif hegemoni LM.
Oleh karena itu, uraian pada bab IV ini berisi analisis atas artikulasi identitas
politik “gereja suku” di ruang publik tersebut sebagaimana direpresentasikan oleh
Komunitas CUM “Talenta”. Dengan melakukan analisis dan porblematisasi atas datadata yang sudah dipaparkan pada bab sebelumnya, uraian pada bab ini dapat memberi
gambaran menyeluruh tentang tujuan dan inti studi ini dilakukan yakni untuk
mengetahui sejauhmana komunitas CUM “Talenta” mampu mengartikulasi identitas
politik “gereja suku” (GKPS) di ruang publiknya di pedesaan di tanah Simalungun.
133
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Pembahasan pada bagian analisis ini akan dibagi menjadi dua bagian: pertama,
paparan data tentang konteks dan latar belakang kemunculan wacana CUM
sebagaimana sudah dipaparkan pada bab III akan direkonseptualisasi dengan
mengunakan perspektif politik hegemoni LM dan sejumlah konsep-konsep psikoanalisa
Lacanian. Pembahasan pada sub bagian pertama ini meliputi: hegemoni, antagonisme
dan identitas (posisi subjek) MPA sebagai penemu gagasan CUM dan pendidikan dan
pelatihan calon pengelola CUM sebagai strategi diskursif membangun formasi
hegemoni tandingan.
Pada bagian kedua ini pembahasannya akan fokus pada analisis atas identitas
politik “gereja suku” (GKPS) dan representasi sebagaimana diartikulasikan oleh
komunitas CUM “Talenta”. Subpembahasannya akan meliputi: pertama, inventarisasi
tuntutan-tuntutan (demand) dari beragam kekuatan sosial yang antagonistik yang telah
membentuk kesatuan sosial komunitas CUM “Talenta” tersebut. Kedua, setelah
menginventarisasi apa saja yang menjadi tuntutan-tuntutanya maka akan dibahas apa
yang dijadikan kesatuan sosial komunitas CUM “Talenta” ini sebagai “penanda kosong”
(empty siginifier) yaitu semacam alat pemersatu dari beragam kekuatan sosial yang
antagonistik tersebut. Ketiga, pembahasannya akan menampilkan bagaimana logika
persamaan dan logika perbedaan dijalankan dalam kesatuan sosial komunitas CUM
“Talenta” sehingga dapat memperlihatkan apa yang menjadi alasan beragam kekuatan
sosial yang antagonistik itu bersatu. Dengan kata lain, beragam kesatuan sosial yang
antagonistik itu bersatu karena berbeda dengan apa? Lalu, pada bagian keempat, yang
merupakan inti dari studi ini dilakukan, analisisnya akan menukik memperbincangkan
identitas politik “gereja suku” dan representasinya oleh komunitas CUM “Talenta”.
Analisis pada bagian ini akan fokus untuk menggeledah dinamika dan ciri-ciri yang
134
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
khas yang digunakan oleh kesatuan sosial komunitas CUM “Talenta” ini untuk
mengatasi hubungan-hubungan eksploitatif yang dihadapinya dalam kehidupannya
sehari-hari. Dengan cara seperti itulah kita akan melihat bagaimana logika demokrasi
radikal plural itu bekerja dalam formasi hegemonik komunitas CUM “Talenta”.
Menurut Laclau-Mouffe, revolusi demokrasi merupakan prasyarat bagi
bekerjanya logika demokrasi radikal-plural. Melalui revolusi demokrasi dibangunlah
rantai ekuivalensi dan penciptaan rantai ekuivalensi itu bagaimanapun juga
dimaksudkan untuk mengaktualisasikan kesetaraan (equality) dan kebebasaan (freedom)
yang merupakan angan-angan politik (political imaginary). Aktualisasi kesetaraan
(equality) dan kebebasaan (freedom) dilakukan dengan jalan mengeliminasi setiap
bentuk hubungan sosial yang subordinatif, eksploitatif, dan bahkan opresif”.200
Kebebasan yang otentik itu menurut LM tidak pernah bersifat individual tetapi kolektif
sebab menyangkut segi-segi relasional dari banyak orang”.201
Jadi, pembahasan tentang bagaimana logika demokrasi radikal-plural bekerja
dalam formasi hegemonik komunitas CUM “Talenta” merupakan perbincangan tentang
perjuangan-perjuangan demokratik baru apa saja yang dilakukannya untuk mengatasi
hubungan-hubungan eksploitatif, subordinatif dan opresif itu dalam kehidupannya
sehari-hari.
4.2. Hegemoni, Antagonisme dan Persoalan Identitas Subjek Dalam Konteks
Kemunculan Wacana CUM
4.2.1. Identitas (posisi subjek) MP. Ambarita Sebagai Penemu Gagasan CUM
Mengawali analisis atas identitas politik “gereja suku” (GKPS) dan representasinya
sebagaimana diartikulasi kesatuan sosial komunitas CUM “Talenta” maka akan
200
St. Sunardi, Logika Demokrasi Plural-Radikal” (dalam) Retorik: Jurnal Ilmu Humaniora Baru, Opcit, hlm,
18
201
Robertus Robert (2010),opcit,hlm, 227
135
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
dikutipkan terlebih kembali sepotong konteks kemunculan wacana CUM sehingga
pembacaan atas konteks hegemoni, antagonisme identitas yang dialami MPA sebagai
penemu gagasan CUM dapat diungkap. Untuk memudahkan pembahasannya maka
nukilan konteks hegemoni dan antagonisme identitas yang melatari kemunculan wacana
CUM disajikan dengan menggunakan penomoran:
1. Sesuai dengan program Pemerintah untuk menyejahterakan bangsa Indonesia
maka peranan Gereja untuk mendukung program tersebut merupakan bagian
yang tidak bisa diabaikan.
2. Memberdayakan jemaat dan masyarakat sekitar merupakan kontribusi Gereja
untuk menunjang program bangsa Indonesia sebagai bangsa yang terlibat
dalam perekonomian dunia, khususnya memperkuat grass root economy atau
ekonomi kerakyatan.
3. Dalam mewujudkan hal tersebut di atas maka Gereja memprakarsai wadah
sebagai sarana pelayanan diakonia melalui Credit Union Modifikasi atau
CUM yang berlandaskan jiwa kooperatif dan persekutuan atau komunitas
antara jemaat Gereja dan masyarakat sekitar lingkungan Gereja.
4. Credit Union Modifikasi ini adalah hasil dari Credit Union biasa yang sudah
dimodifikasi untuk mengantisipasi kebutuhan khususnya masyarakat
pinggiran kota besar dan pusat-pusat sentra ekonomi kerakyatan di daerahdaerah agraria atau industri-industri kerajinan rakyat[…].
5. Pemikiran tentang CUM sebagai wadah untuk mewujudkan kesejahteraan
masyarakat berlandaskan perekonomian kerakyatan versi kristiani adalah
berkat doa dari istri dan keluarga yang merelakan saya ambil bagian dalam
pelaksanaan operasional PT.BPR-Pijer Podi Kekelengen sebagai bank Gereja
murni di GBKP sejak tahun 1992 sampai sekarang (2007) sebagai formal
microfinance.
6. Mengingat keterbatasan BPR gereja yang sulit menjangkau seluruh wilayah
pelayanan gereja sampai ke pelosok-pelosok maka CUM adalah wadah yang
tepat karena keluwesan operasionalnya serta kemudahan-kemudahannya
sebagai sarana/wadah perpanjangan tangan pelayanan gereja yang otomatis
di bawah payung lembaga gereja c/q bidang diakonia”.202
Kisah awal munculnya wacana CUM tersebut di atas memperlihatkan bahwa
MPA tampak memiliki dua identitas atau posisi subjek. Pada satu sisi, ia
mengidentifikasikan dirinya sebagai “subjek gereja” yang memiliki tugas dan
tanggungjawab etis “memberdayakan jemaat dan masyarakat sekitar”. Pada sisi yang
202
MP.Ambarita (2007) (dalam) Kata Pengantar: Pedoman Pengelolaan CUM, untuk kalangan sendiri
136
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
lain MPA juga memiliki identitas atau posisi subjektif sebagai “pelaksana operasional”
PT.BPR-PPK yakni sebuah bank pedesaan milik gereja “GBKP” (lihat nukilan 5).
MPA adalah Direktur Utama PT.BPR-PPK (sejak berdiri pada tahun 1992-2010).
Tampaknya MPA mengalami kedua identitasnya tersebut dalam relasi yang
bertentangan (antagonis). Sebagai “subjek gereja” yang memiliki tugas dan tanggung
jawab etis untuk “memberdayakan jemaat dan masyarakat sekitar” (subjek liyan) yang
ada di seluruh wilayah pelayanan gereja sampai ke pelosok-pelosok, MPA melihat
bahwa subjek gereja tampak tidak memiliki sarana atau wadah yang tepat sehingga ia
dapat menjangkau subjek liyan yang ada di seluruh wilayah pelayanan gereja (lihat:
nukilan 6).
Sementara itu, sebagai subjek “pelaksana operasional” PT.BPR-PPK, MPA
melihat bahwa BPR milik gereja tersebut memiliki keterbatasan sehingga sulit untuk
menjangkau seluruh wilayah pelayanan gereja sampai ke pelosok-pelosok pedesaan.
Meskipun tidak dijelaskan secara langsung apa yang dimaksudkan MPA dengan
“mengingat keterbatasan BPR sehingga sulit menjangkau…”. Tetapi kalau nukilan
tersebut di atas dibaca secara keseluruhan maka dengan segera kita bisa melihat bahwa
MPA tampak sedang menegasikan wacana BPR dengan wacana CUM yang diajukannya
sebagai wacana alternatif untuk mengatasi ketiadaan sarana atau wadah bagi institusi
gereja untuk menjangkau subjek liyan yang ada di seluruh wilayah pelananan gereja
sampai ke pelosok-pelosok itu. Hal tersebut terlihat dari ungkapan MPA yang
mengatakan bahwa: “wacana CUM ini merupakan sarana dan wadah yang tepat karena
memiliki keluwesan dan kemudahan operasionalnya (nukilan 6)”. Selain itu, MPA juga
mengatakan bahwa wacana CUM yang diajukannya tersebut adalah sebentuk informal
137
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
microfinance sama seperti Grameen Bank yang dikembangkan Muhammad Yunus di
Bangladesh.
Kalau kita meminjam perspektif Ledgerwood sebagaimana diungkapkan Bagus
Aryo yang telah dipaparkan pada bab II, sebagai lembaga keuangan mikro formal
(formal microfinance) maka suatu BPR beroperasi di dalam struktur regulasi dan
pengawasan
pemerintah.
Dan
itu
berarti,
pengelolaan,
pengoperasian
dan
pengembangan wilayah pelayanan sebuah BPR harus selalu mengacu pada regulasi dan
ketentuan-ketentuan perbankan. Penetapan wilayah pelayanan maupun perluasannya
harus senantiasa mengacu pada regulasi dan ketentuan-ketentuan perbankan yang
dikeluarkan oleh Bank Indonesia (BI). Sementara itu, sebagai bagian dari informal
microfinance maka praktik diskursif CUM beroperasi di luar struktur regulasi dan
pengawasan Pemerintah. Dalam perspektif seperti inilah MPA mengatakan wacana
CUM itu memiliki keluwesan dan mudah dalam hal pengoperasiannya.
Pada titik inilah, kedua identitas MPA tersebut yakni sebagai “subjek gereja”
dan
sebagai
“pelaksana
operasional”
PT.BPR-PPK”
mengalami
benturan.
Keinginannya untuk menggunakan PT.BPR-PPK (meskipun adalah milik gereja)
sebagai sarana-wadah untuk bisa menjangkau “jemaat dan masyarakat sekitar” (subjek
liyan) yang berada di seluruh wilayah pelayanan gereja sampai ke pelosok-pelosok
pedesaan terhalang oleh aturan “bahasa” BPR yakni UU Bank No.10 tahun 1998 dan
UU No. 1 tahun 1995 serta ketentuan-ketentuan perbankan lainnya yang dikeluarkan
oleh Bank Indonesia. Kalaupun, PT. BPR-PPK itu adalah bank milik gereja namun
institusi gereja tidak dapat secara bebas melakukan pengembangan wilayah
pelayanannya sendiri tanpa mengacu pada Undang-undang perbankan. Dalam pasal 19
ayat 1 dan 2, UU No. 10 tahun 1998 secara tegas dinyatakan bahwa:
138
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
1. Pembukaan kantor cabang Bank Perkreditan Rakyat hanya dapat dilakukan
dengan izin Pimpinan Bank Indonesia.
2. Persyaratan dan tata cara pembukaan kantor Bank Perkreditan Rakyat
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan oleh Bank Indonesia.
Kalau kita menggunakan pembacaan berdasarkan perspektif psikoanalisa
Lacanian yakni ketika seorang anak yang memasuki fase bahasa (tatanan simbolik)
maka ia harus taat dan patuh pada aturan bahasa atau kebudayaan yang sedang ia
masuki. Dengan begitu maka ketaatan dan kepatuhan pada aturan bahasa BPR (regulasi)
itu sesungguhnya merupakan konsekuensi alamiah yang harus diterima subjek gereja
sebagai pengguna “bahasa BPR” sebab “bahasa BPR” yang sedang digunakan MPA
(subjek gereja) itu memang bukanlah bahasanya sendiri tetapi bahasa orang lain (The
Other). Kalau subjek gereja (masih) mau menggunakan “bahasa BPR” itu maka ia harus
taat dan patuh pada aturan bahasa BPR itu sendiri.
Dalam kenyataan seperti itu, subjek gereja tampaknya merasa seperti berada
dalam bayang-bayang ancaman kolonialisasi lifeworld Negara”.203 Subjek gereja dibuat
merasa tidak memiliki sarana atau wadah untuk menjangkau yakni “jemaat dan
masyarakat sekitar” (subjek liyan) yang berada di seluruh wilayah pelayanannya yang
sampai ke pelosok-pelosok pedesaan itu. Dalam hal ini, subjek gereja mengalami apa
yang disebut Lacan dengan “kesalahpengenalan” (misrecognition). Ketika subjek gereja
203
Istilah Lifeworldatau“dunia-kehidupan” merupakan pemikiran yang dikemukakan Jurgen Habermas
untuk menggambarkan adanya sumber-sumber “tradisi dunia kehidupan” dari kebudayaan ataupun
agama tertentu. Konsepsi filosofis tentang lifeworld secara lebih lengkap dipaparkan oleh Jurgen
Habermas (1983) Teory of Communicative Action, Vol 1, Boston, Beacon Press khususnya hlm, 330-331.
Muhammad A.S. HIkam merumuskan defenisi lifeworld sebagai kesepakatan sosial yang telah terbentuk
dalam tradisi, kebudayaan, bahasa yang dikomunikasikan dalam praktik keseharian dalam komunitas. Ia
mencakup khazanah pengetahuan (stock of knowledge), sumber keyakinan-keyakinan (reservoir of
convictions) solidaritas dan kemampuan yang dimiliki dan digunakan secara otomatis oleh para anggota
komunitas. Hal ini terutama akan terjadi kalau monopoli interpretasi ideologis oleh negara cenderung
mematikan kemampuan interpretif dari elemen-elemen dalam civil society. Yang terjadi lalu krisis
lifeworld yang tampil dalam bentuk bentuk alienasi dan kecenderungan eskapisme, apatisme dan
fundamentalisme. (Selanjutnya lihat juga: Muhammad A.S.Hikam,(1996)Demokrasi dan Civil Society,
Jakarta,Pustaka LP3ES,hlm ,206)
139
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
bercermin pada The Other yakni wacana BPR, “cermin” itu seolah-olah memanggil
dirinya: “Hey, lihatlah kesini!”. Lalu, subjek gereja langsung mengidentifikasikan
dirinya pada “cermin” itu; “Aha, itu aku!”. Tetapi, apa yang dilihatnya di “cermin” itu,
sesungguhnya bukanlah dirinya sendiri tetapi merupakan pantulan atau citra kediriannya
yakni “Itu aku!”. Inilah yang “disalah-kenali” subjek gerejasebagai kediriannya yang
otentik dan otonom (mandiri). Kesalahanpengenalan itu dialami subjek gereja sebab
dalam proses bercermin itulah logika ketidaksadaran bekerja yang dalam istilah Lacan
disebut terstruktur seperti bahasa”. Dengan kata lain, hasrat subjek gereja untuk
mendirikan dan memiliki PT.BPR-PPK itu sesungguhnya bukanlah hasrat otonom
kediriannya.
Belakangan subjek gereja baru menyadari bahwa bahasa BPR yang sedang ia
gunakan itu ternyata tidak dapat memuaskan hasratnya. Memang, hasrat subjek gereja
untuk mendirikan dan memiliki (want to have) PT.BPR-PPK atau dalam istilah Lacan
disebut “hasrat anaklitik aktif” berhasil dipuaskan. Tetapi, subjek gereja itu ternyata
tidak hanya memiliki “hasrat anaklitik aktif” itu. Subjek gereja juga ternyata memiliki
hasrat yang lain yakni “hasrat anaklitik pasif”. “Hasrat anaklitik pasif” adalah sebentuk
hasrat untuk dihasrati orang lain (want to be) yang dicirikan oleh adanya tuntutan subjek
akan sebuah pengakuan atas eksistensi dirinya.
Kalau kita membaca kembali nukilan kisah awal munculnya wacana CUM
tersebut di atas maka MPA telah mengungkapkan hasrat anaklitik pasif subjek gereja itu
lewat ketidasudiannya kalau perannya untuk terlibat dalam menyejahterakan rakyat
Indonesia diabaikan begitu saja.
1. Sesuai dengan program Pemerintah untuk menyejahterakan bangsa Indonesia
maka peranan Gereja untuk mendukung program tersebut merupakan bagian
yang tidak bisa diabaikan.
140
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
2. Memberdayakan jemaat dan masyarakat sekitar merupakan kontribusi Gereja
untuk menunjang program bangsa Indonesia sebagai bangsa yang terlibat
dalam perekonomian dunia, khususnya memperkuat grass root economy atau
ekonomi kerakyatan.
Gagasan tentang “kesejahteraan” ini sebenarnya adalah sebuah gagasan kosongmengambang dan diskursif sehingga maknanya juga ditentukan oleh tafsir antagonismeantagonisme sosial dan keberbedaan daripada hadir sebagai ide pra-konsepsi dan
kanon/korpus tertutup. Kesejahteraan ini adalah imaji kolektif atau hasrat kolektif
Indonesia sebagai sebuah bangsa untuk menampung the common goods,204 yang akan
mempertautkansatu warga negara dengan warga negara lainnya dalam suatu tindakan
kooperatif yang bersifat altruistik sebagaimana pernah dideklarasikan oleh Cicero:
"Salus Populi Suprema Lex Esto" (kesejahteraan adalah hukum tertinggi)”.205
Mengacu pada hal tersebut di atas maka kesejahteraan itu bersifat kontingen di
mana ia terbuka untuk segala pemaknaan dan reartikulasi. Kesejahteraan menjadi ranah
yang sangat politis bagi kekuasaan, konflik dan antagonisme sosial. Dalam diskursus
Nasionalisme Indonesia misalnya gagasan tentang kesejahteraan adalah sebuah
“penanda kosong” (empty siginfier), yang dalam momen sosial tertentu bertransformasi
menjadi penanda mengambang (floating siginifier) – yang kemudian kita pahami
sebagai common goods – melalui artikulasi-artikulasi sosial (yang berlangsung dalam
“arena pertarungan” bagi hegemoni) yang membentuk secara diskursif untuk menjadi
204
Common goods diartikan sebagai sesuatu hal yang hendak dicapai oleh seluruhwarga negara seluas-luasnya- melalui sarana-sarana politik dan aksi kolektifdari warga negara yang berpartisipasi
dalam tata pemerintahan mereka sendiri(self government). Dengan kata lain, kesejahteraan,
kesetaraan, kebebasan dsbmerupakan common goods, merupakan hasrat publik yang bisa dicapai
melaluipolitik kewargaan (citizenship), aksi kolektif dan partisipisi aktif dalam praksispolitik dan
pelayanan publik. (Selanjutnya lihat: Hasrul Hanif, Antagonisme Sosial, Diskonsensus, dan
RantaiEkuivalensi: Menegaskan Kembali Urgensi ModelDemokrasi AgonistikJurnal Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik Volume 1.1, Nomor 1, Juli2007(119-136)(sumber: http://jurnalsospol.fisipol.ugm.ac.id/index.php/jsp/article/view/61/52 (diakses15/8/2015)
205
Ibid
141
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
diskursus hegemonik secara parsial. Proses ini lahir dari berbagai antagonisme sosial
yang berhasil menciptakan dislokasi sekaligus sendimentasi sosial, ekslusi sekaligus
inklusi, ekuivalensi sekaligus keberbedaan”.206
Dalam perspektif MPA (sebagai representasi subjek gereja), gagasan tentang
“kesejahteraan bangsa Indonesia” yang kosong itu ingin dimaknai dengan cara
“memberdayakan jemaat dan masyarakat sekitar” yakni subjek liyan yang berada di
seluruh wilayah pelayanan gereja sampai ke pelosok-pelosok di pedesaan. Jenis
pemberdayaan yang hendak dilakukannya
adalah sebentuk penguatan “ekonomi
kerakyatan” yang menurut Revrisond Baswir merupakan nama lain dari “demokrasi
ekonomi” yang secara historis hadir untuk mengoreksi struktur ekonomi kolonial”.207
Secara aktual, wacana “ekonomi kerakyatan” (demokrasi ekonomi) sering juga disebut
sebagai “ekonomi kekeluargaan”. “Ekonomi kekeluargaan” adalah negasi dari
“ekonomi korporasi” yang menjadi watak dasar sistem ekonomi neoliberal yang hanya
mengubah manusia menjadi komoditi dan mereduksi peran pemerintah-pemerintah
nasional dalam menjaga pembangunan sosial harmonis dan lestari”. 208
Apa yang menjadi persoalan bagi MPA bukan pada wilayah pemaknaan wacana
“kesejahteraan bangsa Indonesia” itu. Relasi konfliktual-antagonistis yang dialami MPA
justru karena Sang Lain Besar (The Big Other) yakni Sang Penguasa (pemerintah) justru
mendominasi “makna” wacana penguatan ekonomi kerakyatan tersebut. Wacana BPR
yang ia gunakan selama ini untuk mengartikulasi aspek etisnya di bidang pemberdayaan
ekonomi rakyat itu, telah membuat dirinya mengalami dua identitasnya yang
berhubungan secara antagonis. Alih-alih berharap wacana BPR dapat menghadirkan
sesuatu yang ia cari sebagai objek hasratnya, bahasa BPR yang ia gunakan selama ini
206
Hasrul Hanif, ibid, hlm, 125
Revrisond Baswir (2010) Manifesto Ekonomi Kerakyatan, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, hlm, 8, 10
208
Tim Keadilan, Perdamaian dan Ciptaan DGD (2006) Op.cit, Jakarta, PMK – HKBP, hlm, 4
207
142
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
justru telah membuat dirinya mengalami disintegrasi atau dalam istilah LM disebut
dengan split dan dislokasi. Artinya, MPA memang menerima “kebenaran” wacana BPR
itu sebagai sebuah sistem “ekonomi kerakyatan” tetapi wacana BPR itu tampak tidak
sepenuhnya hegemonik di dalam dirinya. Meskipun mengalami kondisi split dan terdislokasi namun ada semacam gairah di dalam diri MPA untuk melakukan retakan
(rupture) terhadap dominasi wacana BPR (wacana tuan) yang telah menghalanginya
untuk mendapatkan kepuasan hasrat anaklitik pasifnya tersebut. Dengan kata lain,
kondisi split, dislokasi yang dialami MPA sebagai representasi subjek gereja itu justru
telah
mendorongnya
mencari
jalan
alternatif
untuk
memuaskan
hasratnya
tersebut.Kondisi split, dislokasi yang dialaminya tidak lantas membuat MPA melihat
ruang kontestasi atau perebutan makna “kesejahteaan bangsa Indonesia” menjadi
tertutup. Dalam kondisi seperti itu, MPA justru melihat terbukanya ruang bagi
identifikasi kediriannya secara baru dalam memberi makna terhadap “kesejahteraan
bangsa Indonesia” itu. Seperti kata LM, antagonisme sosial merupakan salah satu cara
untuk merespon dislokasi yang diproyeksikan sebagai “musuh”.209
MPA harus memilih salah satu di antara kedua identitasnya yang berelasi secara
antagonis tersebut. Kalau ia tetap memilih bertahan pada identifikasi dirinya sebagai
pengguna “bahasa BPR” (yang telah memberinya citra sebagai “pemilik” sebuah bank
BPR), itu berarti ia tetap menduduki posisi sebagai subjek subordinasi (subjek histeris)
dan itu berarti ia kehilangan subjek liyan jemaat dan masyarakat sekitar yang
dihasratinya. Di sisi yang lain, apakah ia sebagai “subjek gereja” memilih
mengidentifikasikan dirinya pada subjek liyan yakni memilih untuk menjangkau
“jemaat dan masyarakat sekitar” yang berada di seluruh wilayah pelayanan gereja
209
Hasrul Hanif,Op.cit,hlm,hlm,125
143
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
sampai ke pelosok-pelosok pedesaan maka konsekuensinya adalah ia harus
menyediakan wacana tandingan.
Dalam kenyataannya, MPA tampak telah melakukan intervensi hegemonis
dengan cenderung memilih identitasnya sebagai “subjek gereja”. Hal itu dengan sangat
jelas tampak dari pernyataan yang dikemukakan MPA sendiri yakni: “gereja
memprakarsai wadah sebagai sarana pelayanan diakonia melalui “credit union
modifikasi” (CUM) yang berlandaskan jiwa kooperatif dan persekutuan atau komunitas
antara jemaat Gereja dan masyarakat sekitar lingkungan Gereja”.210 Wacana CUM,
seperti kata MPA adalah sarana dan wadah yang tepat untuk digunakan sebagai
perpanjangan tangan pelayanan (diakonia) gereja. Sudah dijelaskan sebelumnya bahwa
gagasan tentang CUM ini diadopsi dari wacana CU tradisional yang selama ini sudah
beroperasi di tengah-tengah masyarakat. “tata bahasa” (manajemen), wacana CUM ini
merupakan perpaduan atau sintesa dari sistem CU tradisional dan sistem BPR.
Perpaduan kedua sistem itu dilakukan dengan tindakan “modifikasi” yang kemudian
membawa implikasi beralihnya status ataupun identitas sistem BPR dari formal
microfinance menjadi informal microfinance”.211 Dalam statusnya sebagai sebentuk
informal microfinance itulah, MPA mengklaim wacana CUM adalah sebentuk sistem
“perekonomian kerakyatan versi kristiani”.212
Wacana CUM berbeda dengan sistem pemberdayaan ekonomi kerakyatan yang
diasuh oleh formal microfinance seperti bank; BRI, BPR, BMT, bank syariah dan lainlain. Perbedaan wacana CUM dengan wacana sistem ekonomi kerakyatan yang lain
tidak hanya terletak pada sistem atau manajemen teknisnya tetapi juga pada nilai-nilai
yang diusungnya atau ideologinya. Kalaupun MPA mengatakan bahwa wacana CUM
210
MP.Ambarita (2007) dalam “Kata Pengantar”
Ibid, hlm, 4.
212
Ibid,
211
144
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
merupakan sebentuk informal microfinance, tetapi praktik diskursif CUM tidak sama
dengan praktik rentenir, hutang - gadai, arisan dan lain sebagainya. MPA mengatakan
di dalam suatu komunitas CUM, seluruh harta kekayaan adalah milik anggota.
Meskipun wacana CUM merupakan alat atau perpanjangan tangan pelayanan institusi
gereja namun harta kekayaan suatu komunitas CUM adalah berdiri sendiri dan tidak
termasuk kekayaan gereja. Tetapi, untuk mengekspresikan relasinya dengan institusi
gereja yang menaungi atau mewadahinya, maka sebagian dari hasil usaha komunitas
CUM dapat dialokasikan untuk mendukung kegiatan pelayanan (diakonia) gereja.
Namun begitu, MPA mengingatkan bahwa agar suatu komunitas CUM tidak dijadikan
sebagai sumber Kas Umum Gereja, sesuatu yang hendak diberikan oleh suatu komunitas
CUM itu kepada institusi gereja yang mewadahinya maka sesuatu itu harus diberikan
berbasis kegiatan. Menurut MPA, Gereja yang hidup adalah bila seluruh kegiatan
Gereja itu dibiayai oleh Kas Umum dan jemaat-lah yang bertanggungjawab atas
kecukupan kas umum Gereja”.213
Berdasarkan hal tersebut di atas, tampak dengan jelas bahwa relasi suatu
komunitas CUM dengan suatu Gereja yang menaunginya (sebagaimana yang ada di
dalam pemikiran MPA), tidak dikonstruksi dalam relasi yang bersifat hirarkis-struktural
(patront-client) tetapi dikonstruksi dalam struktur yang setara. Kalau meminjam
perspektif Peter Berger dan Richard John Neuhaus sebagaimana dikutip Matius Ho,
institusi gereja dapat memainkan peran atau bertindak sebagai “struktur mediasi”
(mediating structured). Diagram Struktur mediasi itu dapat digambarkan sebagai
berikut:214
213
Ibid, hlm, 9
Matius Ho, “Gereja dan Pemberdayaan Warga”, (dalam) Zakaria J Ngelow, dkk, eds, (2013), Teologi
Politik: Panggilan Gereja di Bidang Politik Pasca Orde Baru, Makassar, Oase Intim, hlm, 196: Matius Ho
menambahkan: Gereja ikut berperan sebagai struktur mediasi. Gereja membawa nilai-nilai moral
214
145
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Negara dan
Lembaga- lembaga
besar lainnya
Institusi Gereja sebagai
Struktur Mediasi
(Mediating Structure)
Individu
(Komunitas CUM)
LM mengatakan bahwa setiap wacana bersifat contingent sehingga makna juga
tidak dapat sepenuhnya stabil (fixed). Wacana selalu potensial bias untuk digunakan
demi kepentingan politik tertentu. Hal itu pulalah tampaknya yang disadari MPA
sehingga wacana CUM yang diajukannya sebagai sebuah “penanda baru” diskursus
ekonomi kerakyatan itu diarahkan hanya untuk pelayanan gereja”. 215 Sebagai alat
pelayanan gereja maka praktik diskursif CUM dilakukan hanya untuk kemuliaan nama
Tuhan sehingga penyelenggaraannya juga harus dilakukan di dalam struktur
kelembagan gereja dalam arti dijadikan sebagai Aktivitas pelayanan (diakonia) gereja,
sehingga tidak diijinkan digunakan di luar gereja”.216 Dalam posisinya yang seperti itu,
praktik CUM otomatis berada di bawah payung lembaga gereja c/q bidang Diakonia”.
Artinya, payung yuridis penyelenggaraan CUM adalah Badan Hukum Gereja sebagai
lembaga keagamaan yang dikeluarkan Pemerintah”.217
Dalam rangka mewujudkan cita-cita politiknya untuk menciptakan suatu formasi
hegemoni tandingan, MPA tampak telah menjadikan “diakonia gereja” sebagai nodal
pointyakni sebagai “penanda utama” (master signifier) yang sekaligus berfungsi untuk
menyatukan sistem makna atau “rantai signifikasi” dari keseluruhan praktik diskursif
CUM. Tampilnya, “diakonia gereja”
sebagai nodal point inilah yang menandai
spiritual dalam masyarakat. Gereja juga selalu berhadapan dengan realita kehidupan sehari-hari di
Masyarakat. Dalam konteks Negara Pancasila, lembaga-lembaga umat beragama lainnya juga perlu
berfungsi sebagai struktur mediasi ini. Tanpa mereka, Negara dapat mengambil monopoli dalam
menentukan dan menerapkan nilai-nilai hidup masyarakat. Oleh karena itu, gereja harus menjaga
independensi dari lembaga lembaga pemerintah dan lembaga politik-ekonomi lainnya, agar dapat
berperan efektif sebagai struktur mediasi.
215
MP.Ambarita (2007) Op.cit, hlm, 4
216
Ibid (dalam) “Kata Pengantar”
217
Ibid, hlm, 5
146
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
pengambilan posisi-politik MPA secara baru di mana wacana CUM kini menjadi the
other dihadapan hegemoni wacana tuan (wacana BPR) yang diasuh oleh penguasa
sebagai pemilik “bahasa” BPR yang sesungguhnya.
Sebagaimana sudah dijelaskan pada bab pendahuluan, bagi LM, identitas itu
setara dengan identifikasi subjek terhadap sesuatu. Dan sesuatu itu adalah posisi subjek
yang ditawarkan wacana kepada individu.Dengan mengajukan wacana CUM, subjek
gereja yang direpresentasikan oleh MPA tampak berniat berkontestasi dengan wacana
CU dan wacana BPR yang sebelumnya secara hegemonik telah menguasai “makna”
diskursus ekonomi kerakyatan nasional Indonesia. Kenyataan ini sekaligus sekaligus
memperlihatkan keterbelahan subjek gereja.Subjek gereja menjadi subjek yang ambigu
(split) yang berada di antara “menerima atau menolak” kebenaran wacana BPR yang
selama ini ia gunakan.Artinya, pada satu sisi subjek gereja tampak menolak
hegemonisasi makna pemberdayaan ekonomi kerakyatan yang oleh wacana BPR
(wacana tuan) karena itulah ia mengajukan wacana CUM sebagai wacana tandingan
namun pada sisi yang lain, subjek gereja juga tampak tidak ingin melepaskan status atau
posisinya sebagai “pemilik” PT.BPR-PPK itu. Dengan begitu dapat dikatakan bahwa
MPA memang menerima “kebenaran” (makna) wacana BPR itu sebagai diskursus
ekonomi kerakyatan nasional-Indonesia tetapi wacana BPR itu tidak sepenuhnya
hegemonik di dalam dirinya.
Hegemoni wacana BPR yang dijalankan lewat mekanisme “pendisplinan” itu
telah memunculkan hegemoni tandingan (kontra hegemoni) yakni munculnya wacana
CUM yang menurut MPA merupakan sebentuk sistem perekonomian kerakyatan versi
kristiani. Wacana “pemberdayaan ekonomi kerakyatan”tampak dimaknai MPA sebagai
“penanda kosong” (empty signifier) yaitu semacam ruang kontestasi untuk membentuk
147
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
suatu formasi hegemoni tandingan (baru) untuk mengimbangi dominasi wacana BPR
dan wacana bank pada umumnya yang selama ini menguasai “makna” diskursus
pemberdayaan ekonomi kerakyatan nasional-Indonesia.Melalui wacana CUM, MPA
berniat mengajukan sebentuk wacana pemberdayaan ekonomi kerakyatan versi kristiani
yang selama ini mangkir dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Pemberdayaan
ekonomi kerakyatan versi kristiani ini, dalam kosakata gereja dikenal sebagai “diakonia
pemberdayaan ekonomi jemaat-masyarakat”.
Kini MPA telah membuka ruang pertentangan (kontestasi) makna wacana politik
pemberdayaan ekonomi kerakyatan antara wacana CUM dengan wacana BPR di ruang
publik. Bagaimanakah MPA selanjutnya, mewujudkan angan-angan politiknya (political
imaginary) untuk melampaui keadaan (krisis) yang dialami oleh “jemaat dan
masyarakat sekitar” (subjek liyan) di dalam konteks partikularitasnya masing-masing.
Bagian berikut ini akan fokus untuk melihat menganalsis strategi diskursif yang seperti
apa yang ditempuh MPA untuk mewujudkan formasi hegemonik atau political
imaginary yang dicita-citakannya tersebut.
4.2.2. Pendidikan Dan Pelatihan Calon Pengelola (Manajer) CUM: Strategi
Diskursif Membangun Formasi Hegemoni Tandingan
LM telah mengatakan bahwa hegemoni adalah hasil dari suatu proses artikulasi
sehingga formasi hegemonik dengan sendirinya harus meliputi pengorganisasian
kekuatan-kekuatan sosial (yang berfungsi sebagai floating signifier) sehingga
menghasilkan hubungan-hubungan diferensial dalam suatu totalitas terstruktur”.218
Dalam rangka membangun sebuah formasi hegemoni tandingan yang dicitacitakannya tersebut strategi diskursif yang ditempuh MPA adalah dengan cara
218
St.Sunardi, Logika Demokrasi Plural-Radikal, (dalam) Retorik, Jurnal Ilmu Humaniora Baru, Vol.3
No.1,.Desember 2012, IRB-USD-Yogyakarta hlm, 13
148
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
menyelenggarakan “Pendidikan dan Pelatihan calon pengelola (manajer) CUM”. MPA
mengundang Pimpinan-pimpinan gereja dari berbagai denominasi agar mengutus para
Pendeta-nya atau Diakones-nya untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan tersebut.
MPA memancang syarat dan kriteria yang dapat mengikuti Pendidikan dan Pelatihan itu
adalah “Pendeta atau Diakones”. Penetapan syarat bahwa hanya Pendeta dan Diakones
lah yang dapat mengikuti Pendidikan dan Pelatihan calon pengelola (manajer) CUM
tersebut disebabkan karena yang boleh jadi pengelola (manajer) CUM juga hanya
Pendeta atau Diakones. Hal ini tentu memunculkan pertanyaan bukankah dengan
memancang syarat dan kriteria hanya “pendeta dan diakones” yang dapat mengikuti
Pendidikan dan pelatihan itu CUM itu, MPA sedang memperlihatkan bahwa wacana
CUM sebagai sebuah wacana alternatif (analitik) ekonomi kerakyatan tidak memiliki
logika demokrasi pada dirinya apalagi yang radikal-plural?
Menurut MPA, penetapan syarat atau kriteria (hanya) “Pendeta dan Diakones”
yang dapat mengikuti Pendidikan dan Pelatihan itu berkaitan dengan status wacana
CUM yang disebut MPA sebagai sarana atau wadah perpanjangan tangan pelayanan
diakonia gereja untuk memberdayakan jemaat dan masyarakat sekitar lingkungan
gereja. Wacana CUM adalah wadah untuk mengarahkan hamba-hamba Tuhan bahwa
pelayanan Gereja bukan hanya melalui mimbar gereja tetapi juga melalaui pelayanan
lanjutan yaitu pelayanan meja (Kisah Rasul 6:2-3)”.219 Peran “Pendeta dan Diakones”
sebagai pemimpin moral, spiritual dan intelektual menjadi sangat strategis sebab bisa
memainkan fungsi mediasi agar hasrat subjek gereja (institusi gereja) untuk
“memberdayakan jemaat dan masyarakat sekitar” (subjek liyan) yang ada di seluruh
wilayah pelayanannya sampai ke pelosok-pelosok melalui penguatan “ekonomi
219
MP.Ambarita (2007) Op.cit, hlm, 5
149
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
kerakyatan” itu dapat diartikulasikan. Gramsci mengatakan bahwaPendeta merupakan
intelektual “tradisional” yang dapat menjadi serat penghubung dengan massa di
pedesaan, [...] sekaligus yang dapat memainkan mediasi profesional yang erat kaitannya
dengan fungsi politik”.220 Jadi, ada semacam angan-angan politik (political imaginary)
di dalam diri MPA bahwa dengan mendidik dan melatih para “Pendeta dan Diakones”
maka formasi sosial komunitas CUM dapat didirikan di setiap wilayah partikular di
mana para “Pendeta dan Diakones” menjalankan pelayanan kegerejaannya sehari-hari.
Selain karena alasan sebagaimana disebutkan di atas, MPA memandang secara
subjektif bahwa “Pendeta dan Diakones” memiliki kapasitas moral-spiritual, intelektual
serta integritas yang justru sangat dibutuhkan untuk memahami, mengoperasikan dan
mengembangkan praktik-praktik diskursif CUM. MPA sangat menyadari bahwa sebagai
bagian dari informal microfinance, wacana CUM rentan disalahgunakan sebagai praktik
rentenir yang justru hendak dilawan. Sudah bukan rahasia lagi, belakangan ini banyak
kegiatan yang berbau rentenir justru dilakukan berkedok koperasi-koperasi dengan
menyalahgunakan ijin koperasi untuk melindungi kegiatannya”.221 Dengan menetapkan
hanya “Pendeta atau Diakones” yang dapat menjadi manajer suatu komunitas CUM
maka setiap manajer CUM tidak hanya diawasi oleh Badan Pengurus komunitas CUM
tetapi sekaligus juga akan diawasi oleh institusi gerejanya (melalui pimpinannya)
masing-masing. Hal itu penting untuk dilakukan agar praktik diskursif CUM senantiasa
sejalan dengan visi dan misi gereja untuk kesejahteraan lahir batin jemaat dan
masyarakat sekitar serta mendidik etos kerja yang sehat sebagai warga negara yang
220
Juandaharaya Purba dan MartinLukito Sinaga, Peny, (2000) Tole ! Den Timor Landen Das
Evangelium!” Sejarah Seratus Tahun Injil di Simalungun, 2 September 1903 – 2 September 2003,
P.Siantar, Kolportase GKPS-Panitia Bolon Jubileum 100 tahun Injil di Simalungun,
221
MP.Ambarita, (2007) Op.cit, hlm, 4
150
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
berjiwa demokratis-pluralis”.222 Dengan perspektif seperti itu maka MPA tampak
berniat menjadikan institusi gereja tidak hanya sebagai “struktur mediasi” (mediating
structure) untuk menghadapi “Sang Lain Besar” (The Big Other) tetapi sekaligus
berfungsi menjadi apa yang disebut Foucault, sebagai organisasi panopticon”,223
tepatnya untuk menjalankan semacam fungsi spiritual panopticon. Dalam perspektif
wacana CUM, Gereja bertindak dan berfungsi untuk menjadi pengawa sehingga praktik
diskursif CUM senantitasa dijalankan sesuai dengan mora-etik kristiani di mana nilainilai demokrasi-pluralisme, transparansi dan kejujuran dipastikan berjalan.
Pendidikan dan Pelatihan calon pengelola (manajer) CUM itu sudah
diselenggarakan MPA sejak tahun 2004”.224 Pendidikan dan Pelatihan itu sendiri
dilaksanakan selama tiga bulan. Materi Pendidikan dan Pelatihan yang diberikan kepada
para Pendeta dan Diakonia itu tidak hanya memuat materi pengetahuan tentang sistem
akuntansi dan manajemen CUM (lihat materi Pendidikan dan Pelatihan CUM pada bab
III), tetapi juga dilatih mempraktikkan hidup berkomunitas. Selama masa Pendidikan
dan Pelatihan berlangsung, segala sesuatu yang menyangkut kebutuhan hidup bersama
seperti belanja kebutuhan konsumsi, memasak, menghidang, membersihkan peralatan
222
Ibid
Panopticon (penjara berbentuk bundar) yang diusulkan oleh Jeremy Bentham sebagai konsep penjara
di abad ke-19. Panopticon (pan=semua, optic=melihat) adalah arsitektur yang terdiri dari dari sebuah
menara tinggi yang menjadi pusat dan dapat mengamati semua sel. Seorang pengamat di menara yang
tak terlihat tapi dapat melihat semuanya, pada prinsipnya dapat menempatkan apa pun yang berada
pada jarak pandangnya ke dalam pengawasan. Idenya adalah “narapidana tak pernah tahu apakah
setiap saat ia sedang diamati, tetapi ia harus dibikin yakin bahwa ia selalu diamati. Hal ini bisa
dibandingkan dengan praktik keagamaan di mana “Tuhan” dalam penghayatan para pemeluk agama
diyakini selalu “mengawasi”. Apa yang paling pentinga dari panoptiko ini bukanlah ihwall bagaimana
instansi panoptik itu bekerja tetapi efek yang dapat dicapailah yang penting, yaitu subjektivasi di mana
subjek terus meneris diawali meskipun dia melihar bahwa tidak ada pengawas yang tampak. Bagus Aryo
(2012) Tenggelam dalam Neoliberalisme?: Penetrasi Ideologi Pasar Dalam Penanganan Kemiskinan,
Depok, Kepik,hlm, 77. (Lihat juga: M.Foucault, (1977) Discipline and Punish, Harmonsworth, Penguin).
224
Komunitas CUM yang berdiri pertama sekali adalah Komunitas CUM yang diselenggarakan di HKBP
Kedaton Lampung yang didirikan pada tanggal, 13 Januari 2005. Di HKBP saat ini sudah ada 126 orang
calon manajer CUM. Selanjutnya lihat: Pdt.Nelson F.Siregar, “HKBP menjadi Inklusif di Masyarakat
Pluralis”, (dalam) Pdt. Martunas Manullang (2010) Menuju HKBP Inklusif dan Misioner:“Ekklesiologi di
Masyarakat Pluralis”, Pematang Siantar, L.Sapa STT HKBP dan Yayasan Nomensen HKBP Jambi, hlm, 162
223
151
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
dapur, membersihkan ruang pelatihan, semuanya dikerjakan secara bersama-sama
secara bergiliran dan berkelompok. Selama mengikuti pendidikan dan pelatihan selalu
menekankan pentingnya menjalankan prinsip “semua dilakukan dari, oleh dan untuk
semua, demi kemuliaan nama Tuhan”. Karena itulah tidak boleh ada yang merasa lebih
senior, tidak boleh ada perbedaan tugas laki-laki dan perempuan, tua-muda, PendetaDiakones dan lain sebagainya. Rincian aktivitas di ruang kelas selama masa Pendidikan
dan Pelatihan itu selalu diawali dengan: Doa - refleksi teologis - belajar bersama - dan
diakhiri Doa. Tidak mengherankan kalau materi “ceramah keagamaan yang berkaitan
dengan teologi holistik” memiliki alokasi waktu yang paling banyak yaitu hampir ratarata 1 sampai 1,5 jam setiap hari (lihat: materi pendidikan dan pelatihan pada bab III).
Dengan cara seperti itulah, MPA menekankan bahwa inti gagasan CUM adalah
“diakonia gereja” yang diekspresikan lewat sikap saling berbagi dan saling membantu
sesama yang berkekurangan.
Pilihan MPA mengorganisir para Pendeta dan Diakones sebagai jalan atau
strategi diskursif untuk membentuk formasi hegemoni tandingan tampaknya cukup jitu.
Hal itu paling tidak dapat dilihat dari berdirinya kesatuan-kesatuan sosial komunitas
CUM di berbagai konteks denominasi gereja khususnya di institusi gereja yang ada di
Sumatera Utara. Sejauh ini, institusi gereja yang telah membentuk kesatuan sosial
komunitas CUM dalam konteks gerejanya masing-masing adalah GBKP, HKBP, GKPS,
GKPI dan GKPPD. Dan di tanah Simalungun, wacana CUM itu kini telah mewujud
menjadi sebentuk kesatuan sosial yang disebut komunitas CUM “Talenta”.
Oleh karena itu, untuk sementara dapat disimpulkan bahwa proyek hegemoni
MPA yang dijalankan lewat “Pendidikan dan Pelatihan calon pengelola (manajer) CUM
itu dapat dikatakan cukup berhasil. Keyakinan MPA bahwa “Pendeta dan Diakones”
152
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
adalah “kekuatan kultural” yang maha penting untuk mengeliminasi hubungan
eksploitatif yang terjadi di dalam realitas sosial ekonomi yang dihadapi jemaat dan
masyarakat marjinal di pedesaan terbukti cukuk efektif. Hal itu paling tidak, dapat
dibuktikan dengan terbentuknya sejumlah kesatuan sosial komunitas CUM di berbagai
konteks denominasi gereja yang ada di Sumatera Utara. Dengan mendidik dan melatih
(hanya) ”Pendeta atau Diakones” gereja maka formasi hegemonik yang dicita-citakan
MPA itu juga memposisikan Pendeta atau Diakones gereja menjadi semacam pusat
hegemonik. Sayangnya, “pusat hegemonik” ini dalam pandangan MPA tempaknya
bersifat tetap sehingga berbeda dengan pandangan LM yang meyakini bahwa
masyarakat itu tidak memilik “pusat hegemonik” yang permanen (tetap) sebagaimana
diyakini oleh Marx atau Marxisme klasik (yang memahami bahwa “kelas pekerja”-lah
yang menjadi pusat hegemonik suatu masyarakat).
Selanjutnya, analisis pada bagian yang berikut ini akan melihat bagaimana,
proyek hegemoni MPA bekerja dalam konteks partikular di GKPS yang dalam
kenyataannya telah mewujud menjadi sebuah formasi hegemonik kesatuan sosial
komunitas CUM”Talenta”.
4.3. Artikulasi Identitas Politik “Gereja Suku” (GKPS) Dan Representasinya Oleh
Komunitas CUM “Talenta”
My minimal unit of analysis would be not the group as a referent
but the socio-political demand. (Ernesto Laclau).225
Karena inti studi ini ingin mengetahui sejauhmana komunitas CUM “Talenta”
mampu mengartikulasikan identitas politik “gereja suku” (GKPS) di ruang publik, maka
analisisnya pertama-tama akan menyelidiki apa saja yang menjadi tuntutan dari beragam
225
Ernesto Laclau (2005) On Populist Reason, Verso, London-New York, hlm,224
153
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
kekuatan sosial yang antagonistik dalam konteks GKPS yang telah membentuk kesatuan
sosial komunitas CUM “Talenta” itu. Hal itu dilakukan sebab seperti kata LM,
masyarakat itu coterminous dengan wacana. Masyarakat itu tidak hanya seperti wacana
tetapi sebagai wacana tepatnya sebagai praktik wacana. Dengan begitu, (pembentukan)
masyarakat itu ada karena tuntutan-tuntutannya (demand).
Karena itu pembahasannya akan dibagi menjadi empat bagian. Pertama,
inventarisasi apa saja yang menjadi tuntutan dari beragam kekuatan sosial yang
antagonistik dalam konteks GKPS. Pada bagian ini akan diperlihatkan apa yang
dijadikan sebagai “penanda” (signifier) atau representasi dari rantai tuntutan dari
beragam kekuatan sosial yang membentuk kesatuan sosial komunitas CUM “Talenta”
tersebut. Kedua, setelah menginventarisasi apa saja yang menjadi tuntutan-tuntutannya
maka akan diidentifikasi apa yang yang dijadikan sebagai alat pemersatu yang dalam
istilah LM disebut sebagai “penanda kosong” (empty signifier). Ketiga, analisisnya akan
melihat bagaimana logika persamaan dan logika perbedaan bekerja dalam proses
pembentukan formasi hegemonik komunitas CUM “Talenta”. Keempat, analisisnya
akan fokus pada artikulasi identitas politik “gereja suku” (GKPS) sebagaimana
direpresentasikan oleh komunitas CUM “Talenta”. Analisis pada bagian ini akan
menjelaskan
perjuangan-perjuangan
demokratik
baru
yang
dilakukan
yang
mencerminkan bekerjanya logika demokrasi radikal plural dalam formasi hegemonik
komunitas CUM “Talenta”.
Fokus analisis pada bagian keempat ini adalah untuk melihat bagaimana
kesetaraan (equality) dan kebebasan (freedom) diaktualisasikan untuk mengeliminasi
hubungan-hubungan sosial yang bersifat eksploitatif yang dialami beragam kekuatan
sosial yang antagonistik yang telah membentuk komunitas CUM “Talenta” tersebut.
154
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Bagi LM, aktualisasi “kesetaraan dan kebebasan” (equality and freedom) merupakan
prasyarat bagi bekerjanya logika demokrasi radikal-plural dalam suatu komunitas.
Singkat kata, apa yang akan dianalisis pada bagian keempat ini adalah ihwal siasatsiasat yang dilakukan oleh komunitas CUM “Talenta” untuk mengeliminasi hubunganhubungan yang eksploitatif, subordinatif dan opresif yang dialami oleh beragam
kekuatan sosial yang antagonistik yang membentuk kesatuan sosial komunitas CUM
“Talenta” dalam kehidupannya sehari-hari. Bertolak
dari
data-data
yang
sudah
dipaparkan pada bab III maka perjuangan-perjuangan demokratik baru yang dilakukan
kesatuan sosial komunitas CUM “Talenta” meliputi: Siasat melawan rentenir:
penciptaan modal bersama, siasat mengatasi kesulitan mencari tenaga kerja upahan:
pembentukan kelompok usaha pertanian bersama (haroan bolon: Huta Saing dan
Bandar Purba), siasat mengatasi kelangkaan dan mahalnya harga pupuk) : pembuatan
pupuk bokasi, berpijak pada prinsip keswadayaan: menolak tawaran agen neolib (Rabo
Bank), memotong jalur pemasaran produk kopi: “lepas dari mulut singa masuk ke mulut
buaya”, mengubah nama komunitas dari “Credit” ke “Credo” Union Modifikasi”:
menyiasati pajak komunitas.
4.3.1. Tuntutannya (demands)
Pada pembahasan di bab sebelumnya, sudah dijelaskan bahwa GKPS pertama sekali
mengenal wacana CUM itu melalui seorang Pendetanya (LG) yang diutus mengikuti
Pendidikan dan Pelatihan calon pengelola (manajer) CUM yang diselenggarakan MPA.
Dan sejak itulah, wacana CUM itu mulai “diterima”226 sebagai unsur baru dalam bahasa
diakonia GKPS. “Penerimaan” atas wacana CUM tersebut ditandai dengan
226
Istilah “diterima” diberi tanda kutip sebab hingga penelitian ini dilakukan keberadaan komunitas CUM
“Talenta” yang mengklaim dirinya sebagai “bidang pelayanan GKPS” tampak tidak didukung oleh sebuah
dokumen yang memiliki kekuatan yuridis yang dikeluarkan oleh GKPS. Hal ini, terjadi sebab Komunitas
CUM “Talenta” tidak lahir dari “rahim” GKPS secara legal-formal.
155
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
pembentukan kesatuan sosial komunitas CUM “Talenta”, yang dideklarasikan pada
tahun 2007 oleh para Pendeta (muda) GKPS yang ketika itu melayani di Distrik III.
Inilah momen atau saat di mana kesatuan sosial Komunitas CUM “Talenta” mulai
mengenal “bahasa” diakonia gereja. Deklarasi berdirinya komunitas CUM “Talenta”
disandarkan
pada
keinginan
untuk
“bertolong-tolongan
menanggung
beban”
sebagaimana perintah Firman Tuhan yang tertulis dalam Galatia 6:2.
Adapun yang menjadi semacam angan-angan politik (political imaginary) dari
Komunitas CUM “Talenta” ini dijelaskan sebagai berikut:
Kesejahteraan adalah hak asasi setiap manusia.Untuk mencapai kesejahteraan itu
kami sepakat membentuk komunitas kooperatif untuk menunjang usaha
bersama, dan sebagai tempat belajar bersama dan komunitas ini sebut Credit
Union Modifikasi (CUM). Dalam mencapai kesejahteraan tersebut secara
bersama-sama kami membuat kesepakatan yang harus dijalankan oleh setiap
anggota CUM”. 227
Bertolak dari
deklarasi komunitas CUM “Talenta” tersebut di atas, ada dua hal
yang dapat dijelaskan, pertama, dasar pembentukan kesatuan sosial komunitas CUM
“Talenta”. Cukup jelas, dasar pembentukan kesatuan sosial komunitas CUM “Talenta”
yakni dibentuk atas dasar keinginan untuk mewujudkan kesejahteraan yang merupakan
hak asasi setiap manusia. Hal itu dilakukan sekaligus sebagai ikhtiar untuk berperan
dalam melakukan perubahan (transformasi) kehidupan jemaat dan masyarakat agar lebih
baik. Dasar pembentukan komunitas CUM “Talenta” ini tentulah harus kita lihat sebagai
hasil dari proses bercermin yang dilakukan oleh Pendeta (muda) GKPS pada “yang lain”
(the other). yakni “jemaat dan masyarakat sekitar” yang sedang mengalami krisis secara
sosial dan ekonomidalam berbagai bentuk yang berbeda-beda. Dalam proses
“bercermin” (menatap kondisi krisis yang dialami jemaat dan masyarakat marjinal di
227
Selanjutnya lihat : “Pembukaan” Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga komunitas CUM tahun
2009
156
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Simalungun), LG sebagai Pendeta GKPS yang pertama menerima wacana CUM
kemudian mempersepsikan dirinya sesuai dengan krisis tersebut. Ada sebentuk
imperatif di situ: “para Pendeta (gereja) perlu berperan!”. Inilah yang menjadi dasar
identifikasi ‘diri’ komunitas CUM “Talenta” pertama sekali.
Kalau kita mengacu pada data yang sudah dipaparkan pada bab sebelumnya
terlihat dengan jelas bahwa ada beberapa faktor yang mendorong para Pendeta (muda)
GKPS berinsiatif mendirikan kesatuan sosial komunitas CUM “Talenta”. Fenomena
menurunnya tingkat kehadiran dan partisipasi warga jemaat GKPS mengikuti ibadah
(kebaktian Minggu) dan juga persekutuan doa keluarga menjadi keprihatinan tersendiri
bagi para Pendeta (muda) GKPS yang berada di daerah pelayanan GKPS di distrik III.
Berdasarkan Laporan Pertanggungjawaban Pimpinan Pusat GKPS kepada Sinode Bolon
GKPS pada tahun 2005 disebutkan bahwa jumlah jemaat mengikuti kedua kegiatan
gereja tersebut hanya sekitar 33% dari sekitar 200 ribu jiwa lebih jumlah anggota jemaat
GKPS”.228
Fenomena menurunnya jumlah anggota jemaat GKPS mengikuti kebaktian
Minggu dan berbagai aktivitas gereja lainnya juga dipicu oleh terjadinya konflik di
antara sesama anggota majelis jemaat (pengurus gereja) yang menurut bapak Damanik
diakibatkan oleh ketiadaan transparansi dalam hal pengelolaan keuangan jemaat yang
tidak jarang berujung pada terjadinya konflik antara sesama anggota majelis jemaat.
Turunnya jumlah jemaat mengikuti kebaktian Minggu dan kegiatan lainnya
disebabkan karena menipisnya kasih dan solidaritas. Ada pengurus gereja yang
memakai uang gereja (baca:“korupsi”:ms) untuk kepentingan dirinya atau
keluarganya. Pengurus gereja tidak transparan, tidak jujur dalam hal pengelolaan
keuangan jemaat. Akibatnya, terjadi konflik di antara sesama majelis. Situasi
konflik inilah yang membuat orang malas ke gereja”.229
228
Selanjutnya lihat: Risalah Sinode Bolon GKPS tahun 2005
Wawancara dengan bapak Damanik dilakukan di Nagori (desa) Bandar Purba pada tanggal 5 Maret
2012 (diterjemahkan secara bebas:ms)
229
157
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Selain itu, karena ketiadaan transparansi dalam hal pengelolaan keuangan jemaat
yang kemudian berakibat pada terjadinya konflik diantara sesama pengurus gereja,
fenomena menurunnya tingkat kehadiran dan partisipasi jemaat dalam mengikuti
kebaktian Minggu dan kegiatan gereja lainnya di GKPS menurut Damanik juga
disebabkan karena menipisnya kasih dan solidaritas sosial. Gambaran tentang
melorotnya solidaritas sosial warga jemaat GKPS di desanya diungkapkan bapak
Damanik sebagai berikut:
Dulu di kampung ini, semua dikerjakan bersama; ada haroan marlajar dan ada
haroan bolon. Sekarang ini, semua dikerjakan sendiri-sendiri. Semua ingin
menunjukkan kehebatan keluarganya masing-masing. Yang aneh, kampung
(desa) kami ini tidak begitu luas tetapi hampir semua kami di kampung ini selalu
mengatakan keluhan yang sama yaitu: “mencari pekerja upahanlah yang sulit
sekarang ini”. Nggak tahu saya apa sebenarnya yang terjadi di jaman ini”. 230
Selain itu, melorotnya solidaritas sosial jemaat GKPS di pedesaan di tanah
Simalungun, ikut diperparah oleh berbagai bentuk krisis ekonomi yang dialami jemaat
seperti: harga produksi pertanian (pasca panen) yang tidak stabil, harga pupuk yang
mahal dan terkadang langka, kesulitan mengakses fasilitas permodalan dari lembaga
keuangan mikro (LKM: BRI, BPR dan Koperasi simpan pinjam) dan lain sebagainya.
Akibatnya, banyak warga GKPS terpaksa menempuh “jalan ke keselamatan” yang
ditawarkan oleh para tengkulak dan para rentenir..
Kondisi krisis sosial ekonomi yang seperti itulah yang diperhadapkan kepada
Pendeta GKPS di daerah distrik III ketika ia menjalankan tugas pelayanan
kegerejaannya sehari-hari. Sebagai representasi kehadiran institusi gereja GKPS di basis
jemaat, para Pendeta GKPS harus memberi respons etis terhadap krisis sosial ekonomi
yang dihadapi jemaatnya tersebut. Ketika para Pendeta GKPS diminta untuk memberi
230
Ibid
158
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
respons etis terhadap krisis sosial ekonomi yang dihadapi jemaatnya, para Pendeta
GKPS itu sesungguhnya juga sedang mengalami krisis berbagai bentuk krisis sosial
ekonomi yang dialami dalam bentuknya yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya.
Sekadar
untuk
perbandingan
ketika
komunitas
CUM
“Talenta”
dibentuk
(dideklarasikan) pada tahun 2007, upah minimum regional riil (UMR) Provinsi
Sumatera Utara, adalah Rp.761.000,231sedangkan besarnya perolehan (gaji) seorang
Pendeta GKPS (belum menikah) pada tahun 2007 dengan masa kerja nol tahun adalah
Rp. 800.000”.232
Dengan kondisi perolehan (gaji) yang seperti itu, para Pendeta yang melayani di
berbagai pelosok pedesaan masih harus menyediakan sendiri sarana dan prasarana
pelayanannya seperti sepeda motor, komputer (laptop) dan lain sebagainya. Tidak
jarang, para Pendeta GKPS masih harus meminta bantuan kepada orang tuanya
(keluarga) untuk pengadaan sarana dan prasarana pelayanannya tersebut. Bagi Pendeta
yang orang tua ataupun keluarganya memiliki kemampuan ekonomi yang memadai
tentulah persoalan yang dihadapi Pendeta dengan segera dapat diatasi. Tetapi bagi
seorang Pendeta yang kebetulan orangtuanya atau keluarganya tidak mampu hal ini
tentu akan menjadi persoalan yang sulit diatasi. Seorang Pendeta GKPS (ASP) misalnya
menyebutkan bahwa ia terpaksa menempuh jalan berhutang (kredit) untuk membeli
sepeda motor sebagai sarana transportasi untuk mendukung tugas pelayanannya. Hal itu
ia lakukan sebab orang tua dan keluarganya tidak mampu memberikan bantuan untuk
membeli sepeda motor tersebut secara tunai (cash). Tidak jarang untuk membayar
cicilan kredit sepeda motornya tersebut ia juga harus kembali menempuh jalan
231
http://digilib.unimed.ac.id/public/UNIMED-Master-30705-8106162033%20Bab%20I.pdf
(diakses: 3/8/2015)
232
Wawancara dengan salah seorang Pendeta GKPS (JA) yang ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun
2007), tanggal 3/8/2015
159
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
berhutang kepada sesama Pendeta. Hal-hal yang telah diuraikan di atas menunjukkan
bahwa para Pendeta GKPS dan subjek liyan (“jemaat dan masyarakat sekitar”) samasama berada dalam kondisi lack .
Kalau menggunakan konsep rantai ekuivalensi (chain of equivalence)
sebagaimana yang dirumuskan LM maka berbagai bentuk keluhan (krisis) sosial
ekonomi dan tuntutan-tuntutan (demands) dari beragam kekuatan sosial yang
antagonistik yang membentuk kesatuan sosial komunitas CUM “Talenta” itu dapat
digambarkan dalam bentuk tabel (matrik) berikut ini:
Tabel 8
Tuntutan dan Konstruksi Rantai Ekuivalensi (chain Of equivalence)
Dalam proses Pembentukan Komunitas CUM “Talenta”
Pluralitas
Identitas Subjek /
Aktor Perubahan
Keluhan /Bentuk
krisis
yang dialami warga
Tuntutan
(Demand)
Rejim opresif
(“musuh”)
yang dihadapi
 Institusi keuangan mikro
formal
(Bank Pedesaan: (BRI, BPR
dll)
 Insitusi keuangan mikro
informal: Rentenir,
Tengkulak, dll
Jemaat GKPS/
Petani
A
 Kesulitan mengakses
fasilitas modal usaha
 Kemudahan mengakses
modal-usaha(finansial)
Jemaat GKPS/
Petani
B
 Harga pupuk yang tinggi
 Mudah mengakses
Pupuk
Jemaat GKPS/
Petani/perempuan
C
 Ketiadaan jaminan harga
produksi pasca panen
 Kepastian (stabilitas)
harga produksi (pasca
panen)
Jemaat GKPS
pns
D
 Biaya kebutuhan pendidikan
anak tidak mencukupi
 Peningkatan gaji/
pendapatan ekonomi
 Pemerintah
Pendeta GKPS
E
 Gaji (perolehan) yang minim
 Peningkatan gaji
(perolehan)
 Institusi Gereja
 Pemerintah
 Pasar bebas
Berdasarkan matrik tersebut di ats tampak dengan jelas beragam tuntutan dari
beragam kekuatan sosial yang antagonistik dalam konteks GKPS. Sudah dijelaskan
sebelumnya, bahwa kesatuan sosial komunitas CUM “Talenta” ini pada awalnya
160
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
didirikan oleh beberapa orang Pendeta (muda) GKPS yang merasa memiliki
tanggungajawab untuk memberi respon etis terhadap berbagai bentuk
krisis sosial
ekonomi yang dihadapi tidak hanya oleh para Pendeta tetapi juga oleh jemaat dan juga
masyarakat sekitar di mana gereja GKPS berada.
Para Pendeta (muda) GKPS yang menginisiasi pembentukan kesatuan sosial
komunitas CUM “Talenta” telah menjadikan tuntutan partikular (A) yakni “kemudahan
mengakses modal usaha” menjadi penanda (signifier) dari keseluruhan rantai tuntutan
dari beragam kekuatan sosial yang antagonistik yang ada dalam konteks GKPS. Dalam
hal ini, tuntutan lainnya (B, C, D,dan E) teroverdeterminasi ke tuntutan (A). Dengan
kata lain, tuntutan (A) inilah yang dijadikan sebagai penanda “kehendak kolektif”-nya
(collective will). Dengan menjadikan tuntutan partikular (A) sebagai penanda (signifier)
dari keseluruhan rantai tuntutan yang beragam dari jemaat GKPS maka“institusi
keuangan mikro formal – formal microfinance” (seperti BRI, BPR, dll) dan institusi
keuangan mikro informal – informal microfinance” (para rentenir baik yang individual
maupun yang institusional termasuk para tengkulak) dipisahkan dari tuntutan-tuntutan
sebagian besar jemaat dan masyarakat. Pemisahan seperti inilah yang disebut LM
sebagai titik di mana muncul tapal batas politik (political frontier) yang menjadi
implikasi dari tampilnya tuntutan partikular (A) sebagai penanda dari rantai keseluruhan
tuntutan jemaat GKPS yang beragam di distrik III. Dengan bangunan rantai ekuivalensi
yang seperti itu, komunitas CUM “Talenta” membedakan dirinya dengan lembagalembaga keuangan mikro lainnya seperti BMT, CU dan lain-lain.
Setiap tuntutan tersebut di atas pada dasarnya bersifat partikular sehingga
masing-masing tuntutan berbeda dalam arti bersifat antagonis dengan tuntutan-tuntutan
lainnya. Meskipun begitu, semuanya memiliki kesamaan (ekuivalen) yakni beroposisi
161
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
dengan “rejim rentenir baik yang individual maupun yang institusional” yang juga
dianggap sebagai penanda dari tatanan sosial yang opresif. Penciptaan rantai ekuivalensi
di mana tuntutan “kemudahan mengakses fasilitas modal usaha” tampil sebagai penanda
dari keseluruhan rantai tuntutan yang beragam sekaligus memunculkan tapal batas
politik (political frontier) di mana “rejim rentenir baik yang individual maupun yang
institusional” diidentifikasi sebagai “musuh bersama” (common enemy) yang hendak
dilawan.
4.3.2. Diakonia Sebagai “Penanda Kosong”
Kalau tuntutan “kemudahan mengakses modal usaha” ini telah dijadikan sebagai
penanda dari keseluruhan rantai tuntutan yang beragam, maka mengikuti perspektif LM,
apa yang dijadikan sebagai “penanda kosong”-nya (empty signifier) in dalam komunitas
CUM “TAlenta” yang berfungsi sebagai pemersatu beragam kekuatan-kekuatan sosial
yang antagonistik untuk menentang tatanan yang opresif atau menentang rejim rentenir
baik yang individual maupun yang institusional itu?
Ketika kesatuan sosial komunitas CUM “Talenta” dideklarasikan pada tanggal
16 Januari 2007, para Pendeta (muda) GKPS itu tampak mendasarkan pembentukan
komunitas CUM “Talenta” itu pada Firman Tuhan sebagaimana yang tertulis dalam
Alkitab, Galatia 6:2: “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu
memenuhi hukum Kristus”. Dengan begitu cukup jelas apa yang menjadi alasan dari
beragam kekuatan sosial yang antagonistik yang ada dalam konteks GKPS itu bersatu ke
dalam kesatuan sosial komunitas CUM “Talenta” yakni untuk berbagai bentuk kesulitan
(krisis) sosial ekonomi yang mereka alami. Sudah dijelaskan bahwa Aktivitas awal yang
dilakukan komunitas CUM “Talenta” untuk mengatasi persoalan kesulitan mengakses
krisis sosial ekonomi itu adalah dengan cara “bertolong-tolongan menanggung beban”.
162
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Lalu, apa beban yang harus mereka tanggung tersebut? Jawabannya tentu: banyak dan
beragam.
Meskipun tuntutan kesatuan sosial komunitas CUM “Talenta” itu banyak dan
beragam namun sebagaimana sudah dijelaskan sebelumnya, tuntutan “kemudahan
mengkases modal usaha”, tampak dijadikan sebagai penanda (signifier) atau
representasi dari rantai tuntutan yang beragam dari beragam kekuatan sosial yang
antagonistik yang ada dalam konteks GKPS. Sudah dijelaskan bahwa ketika kesatuan
sosial komunitas CUM “Talenta” dideklarasikan mereka mereka juga mendeklarasikan
“bahasa” “bertolong-tolongan menanggung bebanmu” sebagai bahasa bersama untuk
mencapai cita-cita bersama mereka yakni mewujudkan kesejahteraan. Bahasa
“bertolong-tolongan menanggung bebanmu” ini sesungguhnya merupakan nama lain
dari solidaritas. Dalam kosakata gereja, solidaritas merupakan tindakan “diakonia”
(pelayanan).
Sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya bahwa tuntutan “kemudahan
mengakses modal usaha” telah dijadikan representasi atau penanda (signifier) dari
beragam tuntutan dari kekuatan sosial yang antagonistik. Untuk menjawab tuntutan
“kemudahan mengakses modal usaha” inilah kesatuan sosial komunitas CUM
menjangkarkan keseluruhan praktik diskursifnya pada bahasa “bertolong-tolongan
menanggung bebanmu” yang dalam perspektif gereja merupakan cara untuk
mengerjakan atau membahasakan “diakonia gereja”. Dengan begitu maka “diakonia
gereja” lah yang dijadikan sebagai penanda utama (master signifier) untuk menentang
rejim rentenir; baik yang individual maupun yang institusional, yang oleh kesatuan
sosial komunitas CUM “Talenta” telah dijadikan menjadi semacam “musuh bersama”nya. Artinya, dalam praktik diksursif CUM tersebut wacana “diakonia gereja”
163
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
dipertentangkan dengan wacana ekonomi penghisapan yang dipraktikkan oleh rejim
rentenir baik yang individual maupun yang institusional itu.
4.3.3. Logika Persamaan Dan Logika Perbedaan Dalam Formasi Hegemonik
Komunitas CUM “Talenta”
Sejak formasi sosial komunitas CUM “Talenta” mengidentifikasi rejim rentenir (baik
yang individual maupun yang institusional) sebagai “musuh bersama” maka logika
persamaan tampak dijalankandengan mengidentifikasi semua identitas orang-orang
yang tidak berprofesi sebagai rentenir sebagai orang-orang yang memiliki kesamaan
dengan komunitas CUM “Talenta”. Artinya, kekhususan identitas orang-orang baik
identitas denominasi gereja, identitas agama, etnis, gender, dan lain sebagainya
dimasukkan ke dalam satu kategori yakni “ekonomi berbagi”. Dengan kata lain,
“ekonomi rentenir” dipertentangkan dengan “ekonomi yang tidak rentenir”. Dengan
cara seperti itu, kesatuan sosial komunitas CUM “Talenta” tampak membagi ruang
sosial menjadi dua kutub yang bertentangan yakni kutub “ekonomi berbagi” dan kutub
“ekonomi rentenir” (penghisapan). Kategori identitas keanggotaan komunitas CUM
“Talenta” terlihat cukup jamak di mana warga gereja dari denominasi gereja yang
berbeda dengan GKPS juga dapat diterima sebagai anggota dan memiliki kebebasan dan
kesetaraan yang sama dengan warga GKPS. Tidak hanya itu, pluralitas identitas
keanggotaan komunitas CUM “Talenta” juga ditandai dengan keterlibatan warga
masyarakat dengan identitas agama yang berbeda dengan kristen. Seorang anggota
komunitas
CUM
“Talenta”
yang
beragama
Islam.Bapak
Sutrisno
misalnya
menceritakan pengalamannya selama menjadi anggota komunitas CUM “Talenta”:
Saya sudah dua kali merasakan pertolongan di komunitas ini.Pertama, ketika
menikahkan anak. Ketika itu saya mendapat pinjaman konsumtif sebesar Rp. 4jt.
Pinjaman kedua adalah untuk kebutuhan membangun (renovasi) rumah dengan
pinjaman sebesar Rp. 10jt dan semua pinjaman tersebut sudah saya kembalikan
164
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
dengan tepat waktu. Hal yang sangat menggembirakan hati saya adalah ketika
pencairan pinjaman, di mana sesuai mekanisme penyerahan pinjaman selalu
disertai dengan doa. Biasanya kalau peminjam adalah orang kristen maka
Pendeta (manajer) secara langsung mendoakan uang yang akan diserahkan.
Tetapi, karena saya adalah seorang muslim maka saya sendiri diminta oleh
Pendeta untuk mendoakan uang yang dipinjam tersebut sesuai dengan keyakinan
agama saya. Dan sebelum berdoa manajer (Pendeta) mengatakan kurang lebih
seperti: uang ini adalah uang milik Allah/Tuhan yang bapak sembah dan yakini,
oleh karena itu, kembalikanlah uang itu kepada Tuhan tepat pada waktu
sebagaimana bapak menjanjikannya di hadapan Tuhan agar bisa digunakan
oleh umatnya yang lain, yang juga adalah sesama kita. Itu adalah pengalaman
pertama saya mendapat pinjaman dari komunitas CUM “Talenta” yang tak akan
pernah mungkin saya lupakan”. Pinjaman pun dapat saya kembalikan melalui
hasil penjualan kopi dan cabai yang saya tanam”. 233
Dengan menjalankan logika persamaan sebagaimana diceritakan di atas, kita
bisa melihat grafik pertumbuhan dan pertambahan jumlah keanggotaan kesatuan
komunitas CUM “Talenta” yang sangat signifikan sejak didirikan. Tidak hanya itu,
wilayah pelayanannya juga semakin meluas yang ditandai dengan bertambahnya jumlah
calon unit, unit dan juga kantor cabangnya. Meskipun, begitu harus juga dicatat bahwa
ada juga anggota komunitas CUM “Talenta” yang menyatakan diri keluar. Meskipun
jumlah anggota yang keluar tidak terlalu signifikan tetapi data menunjukkan jumlah
anggota yang keluar dari tahun ke tahun justru memperlihatkan grafik yang menaik”.234
Alasan menyatakan diri keluar tampaknya bervariasi seperti: pencairan pinjaman terlalu
lama, terjadi konflik dengan komisaris, tidak mampu mengembalikan pinjaman, pindah
domisili dan lain sebagainya”.235
Bervariasinya alasan anggota komunitas CUM “Talenta” yang menyatakan diri
keluar tersebut mengingatkan kita pada apa yang pernah dikatakan LM bahwa dalam
233
Wawancara dengan bapak Sutrisno dilakukan pada tanggal o3 Maret 2010, di Kantor Induk Komunitas
CUM”Talenta”di Saribudolok. No.Anggota: 638. Bapak Sutrisno memiliki lahan seluas 2 ha (1 ha sudah
ditanami kopi dan padi sedangkan selebihnya baru ditanami dengan kopi).
234
Lihat:Bab III (Tabel 5)
235
Diolah berdasarkan data jumlah anggota komunitas CUM “Talenta” yang keluar dan alasannya (tahun
2007-2011)
165
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
setiap pembentukan suatu formasi hegemoni selalu ada momen-momen yang menjadi
unsur-unsur baru yang kemudian perlu menjadi reartikulasi hegemonik baru”.236Artinya,
terbentuknya kesatuan sosial komunitas CUM “Talenta”, masih merupakan awal dari
dimulainya perjuangan pembentukan formasi hegemonik yang hendak diwujudkan.
Dengan kata lain, tapal batas politik (political frontiers) yang muncul sebagai akibat
dari terciptanya rantai ekuivalensi dari beragam kekuatan sosial yang membentuk
kesatuan sosial komunitas CUM “Talenta” itu sebenarnya tidak bersifat stabil sebab
seperti kata LM, pada saat yang sama rejim opresif juga melakukan praktik hegemoni
dan mencoba menyerap transformasi (menggunakan istilah Gramsci) beberapa dari
tuntuan oposisi”.237Harapannya tentu saja agar rantai ekuivalensi yang sudah terbentuk
itu bubar sehingga rejim rentenir baik yang individual maupun yang institusional
kembali menjadi leluasa mengembangkan proyek hegemoninya. Maka, satu-satunya
cara untuk menjaga agar rantai ekuivalensi yang sudah terbentuk itu tidak terputus
adalah dengan cara mengaktualisasikan kebebasan (freedom) dan kesetaraan (equality)
secara terus menerus untuk mengeliminasi hubungan-hubungan yang bersifat
subordinatif, eksploitatif dan opresif dalam kehidupan komunitas CUM “Talenta”
sehari-hari.
Analisis pada bagian berikut ini akan menyoroti bagaimana logika demokrasi
radikal-plural itu bekerja dalam formasi hegemonik komunitas CUM “Talenta”. Apa
yang akan dilihat adalah perjuangan-perjuangan demokratik baru yang seperti apa yang
dilakukan
komunitas CUM “Talenta” untuk mengatasi hubungan-hubungan
subordinatif, eksploitatif dan opresif yang dialami oleh anggotanya. Perjuangan236
St.Sunardi, (2012) Op.cit, hlm, 18
Daniel Hutagalung,” Hegemoni dan Demokrasi Radikal-Plural: Membaca Laclau-Mouffe”, (dalam)
Ernesto Laclau-Chantal Mouffe (2008) Hegemoni dan Strategi Sosialis: PosMarxisme dan Gerakan Sosial
Baru, terj, Yogyakarta, Resist Book, hlm, xxxix
237
166
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
perjuangan demokratik baru yang dilakukan komunitas CUM “Talenta” itulah yang
akan dilihat sebagai representasi ataupun ekspresi diakonia gereja. Dalam perspektif
seperti itulah identitas politik “gereja suku” (GKPS) itu dibicarakan.
4.3.4. Identitas Politik dan Representasinya
4.3.4.1. Menciptakan Modal Bersama: Siasat Melawan Rentenir
Sudah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa dalam formasi hegemonik komunitas
CUM “Talenta” tuntutan “kesulitan mengakses modal usaha” telah dijadikan sebagai
penanda dari keseluruhan rantai tuntutan dari beragam kekuatan sosial yang antagonistik
dalam konteks GKPS. Karena itu, sejak terbentuknya kesatuan sosial komunitas CUM
“Talenta” tersebut upaya yang dilakukan oleh merespon “kesulitan mengakses modal
usaha” itu pertama-tama dilakukan dengan cara menciptakan modal bersama melalui
Aktivitas simpan-pinjam uang yang bentuknya antara lain: simpanan pokok, simpanan
wajib, simpanan sukarela. Dalam perkembangan selanjutnya bentuk-bentuk simpanan
yang terdapat dalam kesatuan sosial komunitas CUM “Talenta” kemudian diperluas
dengan membuka bentuk simpanan yang mirip dengan “deposito” yang dikenal dalam
dunia perbankan. Komunitas CUM “Talenta” menyebutnya dengan istilah “simpanan
diakonia”. Dalam perkembangan selanjutnya, komunitas CUM “Talenta” juga tampak
mengadakan dana Perlindungan Jiwa (LINWA) dan dana Perlindungan Kesehatan
(LINKES). Linwa dan Linkes adalah semacam
“asuransi”
untuk kematian dan
kesehatan anggota. Telah secara lugas dipaparkan besarnya uang yang harus dibayarkan
anggota untuk setiap bentuk simpanan diputuskan oleh anggota melalui Rapat Anggota
Tahunan (RAT).
Di era globalisasi kapitalisme neoliberal yang sedang berlangsung dewasa ini,
“uang” tampak secara hegemonik telah mengambil tempat sebagai struktur makna yang
167
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
utama dalam relasi sosial di masyarakat. Lalu, masih adakah kemungkinannya untuk
mengubah (mentransformasikan) makna uang menjadi sesuatu yang lain sehingga uang
bisa memiliki makna sosial? Uang tampak tidak lagi semata-mata sebagai alat tukar
tetapi sudah merupakan tujuan. Tetapi, dengan pembentukan formasi sosial komunitas
CUM “Talenta” ini tampaknya ada semacam cita-cita untuk menegaskan kembali
konsepsi yang paling elementer dari pemikiran Marx bahwa uang merupakan produk
relasi sosial dan bukan sebaliknya uang yang menciptakan relasi sosial. Kalau logika
sistem ekonomi neoliberal yang mempertuankan “kebebasan pasar” (unfettered market)
itu dicirikan oleh penghancuran terhadap segala bentuk struktur kolektif dari unitnya
yang terkecil (keluarga) sampai terbesar (negara) maka formasi sosial komunitas CUM
“Talenta” dengan seluruh kegiatan dan usaha-usaha bersama yang mereka lakukan
sedang menunjukkan perlawanannya. Tidak hanya itu, kesatuan sosial komunitas CUM
“Talenta” juga tampak sedang mengajukan sebentuk jenis masyarakat baru yang cirinya
adalah adanya semangat berbagi (bertolong-tolongan menanggung beban).
4.3.4.2. Memaknai (ulang) Haroan Bolon di Simalungun: Siasat Melawan
Individualisme
Mencari pekerja upahanlah yang susah sekarang ini pak Pendeta? Kalau soal, modal
usaha sudah bisa diatasi lewat komunitas CUM “Talenta” ini!. Demikian ungkapan
salah seorang anggota komunitas CUM “Talenta” kepada saya ketika penelitan ini
dilakukan.
Ungkapan tersebut bagaimanapun juga menunjukkan bahwa tuntutan-tuntutan
dari beragam kekuatan sosial yang antagonistik yang membentuk kesatuan sosial
komunitas CUM “Talenta” itu cukup beragam. Tuntutan “kemudahan mengakses modal
usaha” hanyalah salah satu dari beragam tuntutan dari kekuatan sosial yang membentuk
168
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
komunitas CUM “Talenta” tersebut. Sudah dijelaskan juga bahwa untuk mengatasi
persoalan kesulitan mengakses modal usaha tersebut sudah mereka upayakan dengan
mengadakan atau menciptakan modal bersama. Dari sisi ekonom, upaya itu tampak
cukup berhasil. Tetapi, kalau kita melihat pengakuan dari salah seorang anggota
komunitas CUM “Talenta”tersebut jelas bahwa uang tidak dapat dapat menjawab segala
persoalan.
Sadar bahwa uang bukan merupakan jawaban dari segala persoalan, kesatuan
sosial komunitas CUM “Talenta”
menjawab persoalan kesulitan mengolah lahan
pertanian dari masing-masing anggota dengan cara mereartikulasi kembali tradisi
haroan bolon yang ada dalam budaya masyarakat Simalungun. Kali ini haroan bolon
tersebut tidak lagi dilakukan secara bergilir sebagaimana dipraktikkan pada masa lalu.
Dalam konteks komunitas CUM “Talenta”, haroan bolon itu tidak hanya diartikulasikan
dengan mengadakan atau menciptakan modal bersama tetapi juga membentuk semacam
“usaha pertanian bersama” (berkelompok). Sejauh ini ada dua kelompok basis (unit)
komunitas CUM “Talenta” yang mempraktikkan kerja haroan bolon tersebut. Yang
pertama adalah kelompok haroan bolon di unit (basis) komunitas CUM “Talenta” di
desa Huta Saing dan desa Bandar Purba di Kabupaten Simalungun.
Modal usaha kelompok haroan bolon ini merupakan pinjaman kelompok yang
berasal dari komunitas CUM “Talenta”. Lahan yang mereka gunakan adalah lahan milik
salah seorang anggota komunitas yang dipinjam-pakaikan untuk unit komunitas CUM
“Talenta”. Usaha pertanian bersama yang dilakukan oleh kelompok haroan bolon unit
komunitas CUM “Talenta” di Huta Saing, yang dilakukan tampaknya cukup berhasil
sehingga mereka bisa mengembalikan pinjaman kelompok mereka kepada komunitas
(Lihat: pembahasan pada bab III: hlm. 133). Sementara itu, kelompok “haroan bolon
169
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Talenta” di desa Bandar Purba yang dibentuk tahun 2011 meskipun dari sisi ekonomi,
usaha pertanian bersama ini tidak beruntung namun mereka menemukan makna sosial
dari marharoan tersebut sebab di sela-sela kerja bersama tersebut mereka bisa berbagi
informasi dan pengalaman tidak hanya terkait dengan dunia pertanian tetapi juga terkait
dengan pendidikan anak-anak mereka. (bab III:133).
4.3.4.3. Menolak Rayuan Agen Neolib (Rabo Bank)
Salah satu kesulitan yang dihadapi oleh kesatuan sosial komunitas CUM “Talenta” yang
terbilang cukup pelik adalah ihwal kecukupan dana pinjaman yang harus diberikan
kepada
anggota
komunitas.
Memang,
ketika
didirikan
komunitas
ini
telah
menyandarkan usaha bersama yang ingin mereka lakukan untuk mengatasi berbagai
bentuk krisis sosial ekonomi yang mereka hadapi adalah dengan cara mengartikulasi
bahasa “diakonia gereja” sebagai cara untuk mengartikulasi “bahasa” bertolongtolongan menanggung beban tersebut. Namun, dalam perjalanannya kesatuan sosial
komunitas CUM “Talenta” ini tidak mampu mengatasi kebutuhan ataupun tuntutan
pinjaman modal usaha tersebut.
Dalam kenyataan seperti itu, sebuah bank umum nasional yakni Rabo Bank
datang menawarkan “kerjasama” dengan kesediaan mengucurkan dana pinjaman
sebesar Rp.2 milyar. Sebagaimana sudah dijelaskan pada bab sebelumnya, kerjasama ini
nyaris ditandatangani dengan melibatkan Pimpinan Pusat GKPS sebagai “saksinya”.
Namun, pada detik akhir menjelang penanda tanganan kerjasama tersebut, perjanjian
dibatalkan sebab dianggap bertentangan dengan prinsip “keswadayaan” yang telah
dipancang oleh komunitas ini dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga
komunitas. Ketika ditanyakan kepada manajer maupun pengurus komunitas CUM
“Talenta” bagaimana Rabo Bank bisa mengetahui adanya kesulitan dana yang dihadapi
170
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
oleh komunitas CUM, baik manajer maupun pengurusnya tidak bersedia memberikan
jawabannya. Satu hal yang dapat dipastikan adalah bahwa salah seorang dari pegawai
Rabo Bank tersebut diketahui merupakan warga jemaat GKPS di daerah perkotaan
Jakarta. Bahkan, ketika penulis menanyakan mengapa Rabo Bank bersedia
mengucurkan dana pinjaman sebesar itu padahal komunitas ini adalah sebuah komunitas
yang tidak (belum) berbadan hukum, maka jawaban dari salah seorang manajer CUM
tersebut mengatakan karena ada semacam jaminan dari Pimpinan Pusat GKPS bahwa
komunitas CUM “Talenta” merupakan unit (lembaga) pelayanan yang berada di bawah
naungan GKPS, meskipun dalam kenyataannya sebagaimana sudah dijelaskan pada bab
sebelumnya kesatuan sosial komunitas CUM “Talenta” tidak lahir dari rahim institutsi
GKPS.
Kesadaran bahwa kesatuan sosial telah memijakkan prinsipnya pada
“keswadayaan”
menyadarkan
manajer
dan
juga
pengurus
komunitas
bahwa
ketidakcukupan dana pinjaman itu sesungguhnya menunjukkan bahwa “penanda
kosong” (empty signifier) yang juga merupakan “penanda utama” (master signifier)
tidak mampu berfungsi sebagaimana mestinya. Dengan kata lain, bahasa “bertolongtolongan menanggung beban” yang dijadikan sebagai bahasa bersama untuk mengatasi
berebagai bentuk krisis sosial ekonomi yang dihadapi tidak dapat menjadi ikatan
pemersatu yang sempurna sebab telah mengakibatkan sejumlah orang anggota
komunitas CUM “Talenta” menyatakan diri keluar karena need-nya tidak terpenuhi.
Kenyataan seperti ini, tentu mengingatkan kita pada apa yang disebut LM bahwa dalam
suatu formasi hegemonik selalu ada momen-momen yang menjadi unsur baru hegemoni
yang mesti direartikulasikan secara terus menerus.
171
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
4.3.4.4. Mendirikan Perusahaan (CV. Talenta): Memotong Jalur Pemasaran Kopi
Tanaman kopi adalah salah satu produk pertanian andalan masyarakat Simalungun
bagian atas (Barat) di samping produk sayur mayur dan buah-buahan. Masyarakat lokal
Simalungun menyebut jenis (varietas) kopi mereka dengan sebutan kopi “sigarar utang”
(kopi untuk bayar hutang). Sebagai daerah penghasil kopi, tidak heran kalau daerah ini
diserbu oleh para pembeli kopi untuk kemudian dipasarkan kembali ke perusahaanperusahaan pengolah biji kopi. Di era teknologi informasi saat ini tidaklah sulit untuk
mengetahui disparitas harga kopi di berbagai daerah. Apa yang ditemukan oleh
komunitas CUM “Talenta” adalah adanya disparitas harga yang cukup mencolok di
tingkat petani dengan harga kopi di tingkat perusahaan. Rendahnya harga kopi
masyarakat di Simalungun ini diperparah lagi oleh kenyataan di mana para pembeli kopi
juga masih harus membayar sejumlah uang kepada “preman” di daerah ini yang bahkan
bisa mencapai Rp.500 per kilogram.
Semuanya itu tentu akan dibebankan kepada petani. Akibatnya, petani sebagai
produsen kopi justru hanya mendapatkan keuntungan yang sedikit dibanding dengan
para pembeli yang datang dari luar daerah sebab merekalah yang langsung menjual kopi
tersebut ke perusahaan. Kesadaran akan adanya disparitas marjin harga komoditas kopi
yang cukup mencolok itulah yang mendorong kesatuan sosial komunitas CUM
“Talenta” membuat sebuah keputusan melalui rapat anggota tahunan pada tahun 2012 di
mana hampir Rp. 400 jutaan Sisa Hasil Usaha (SHU) yang seharusnya dibagikan kepada
anggota kemudian diputuskan secara bersama untuk tidak dibagi tetapi dialokasikan
sebagai dana awal untuk mendirikan sebuah perusahaan milik anggota komunitas CUM
“Talenta” secara kolektif. Pendirian perusahaan (CV.Talenta) ini termasuk unik sebab
kesatuan sosial komunitas CUM “Talenta” sendiri adalah sebuah komunitas yang tidak
172
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
berbadan hukum namun harus mendirikan sebuah perusahaan yang mempersyaratkan
adanya badan hukum. Untuk mengatasi persoalan tersebut komunitas ini tampak
menggunakan celah yuridis di mana perusahaan tersebut didirikan oleh representasi
komunitas CUM “Talenta” dan dengan perjanjian yang ditandatangani dihadapan
notaris bahwa CV.Talenta tersebut adalah milik anggota komunitas CUM “Talenta”.
Melalui CV. Talenta inilah, komunitas CUM “Talenta” mulai mengumpulkan
sendiri kopi anggota untuk dipasarkan secara langsung ke tingkat perusahaan. Dari sini
komunitas CUM “Talenta” kemudian mengenal beberapa perusahan pengolah biji kopi
seperti PT.Volkopi Indonesia dan dengan Tiga Raja International Coffee sebuah
perusahaan pengolah biji kopi dari Australia yang memiliki perwakilan di daerah
Silimakuta Saribudolok (Lisa and Leo’s organic coffee):
We are buying coffee from a farmer group who are all members of one grower’s
co-operative called Talenta. It has over 10,000 members; 7,000 members are
coffee farmers and 5,000 of those members are attached to the Saribu Dolok
office which covers the sub-regions of Silimakuta, Dolok Silau and Pematang
Purba. These are the three regions from whom we will be buying our
coffee.Talenta is a highly organised group. They have a total of 117 active
‘komisaris’. Komisaris are members who live in the villages and are employed
to collect parchment coffee from the local member farmers”.238
Kerjasama yang dilakukan komunitas CUM “Talenta” dengan perusahaan dari
Australia ini memang dapat mendongkrak harga kopi di tingkat petani. Terobosan yang
dilakukan oleh komunitas CUM “Talenta” ini sempat membuat “preman desa” yang
selama ini mendapatkan keuntungan dari “upeti” yang diberikan pembeli menjadi
berang bahkan sempat mengancam Pendeta (manajer) dan pegawai komunitas CUM
238
(http://www.fivesenses.com.au/blog/2014/02/05/its-all-systems-go-at-tiga-raja-mill: (diakses: 12
Maret 2015).
173
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
“Talenta”. Menurut salah seorang manajer CUM “Talenta”, “preman desa” tidak dapat
menerima, Pendeta mengelola bisnis. Meskipun, begitu seiring berjalannya waktu dan
dengan mengadakan pendidikan dan penyadaran lewat Aktivitas kegerejaan yakni
persekutuan doa antar keluarga dan khotbah-khotbah kebaktian Minggu, seklompok
masyarakat yang tadinya merasa terganggu dengan kehadiran komunitas CUM
“Talenta” lambat laun kini dapat memahaminya sebagai bagian dari tugas gereja.
4.3.4.5. Mengubah Tanda Pengenal Diri: Dari Komunitas “Credit” ke Komunitas
“Credo” : Siasat Melawan Intervensi Pemerintah
Sejak awal berdiri, hingga penelitian ini dilakukan komunitas CUM “Talenta” bukanlah
sebuah komunitas yang memiliki badan hukum. Dari sejarah pembentukkannya juga
cukup jelas diketahui bahwa pembentukan kesatuan sosial komunitas CUM “Talenta”
ini bertolak dari kesulitan institusi GKPS untuk memberi respons etis terhadap berbagai
bentuk krisis sosial ekonomi yang dihadapi jemaatnya. Itulah sebabnya sejak awal
komunitas CUM “Talenta” ini mengklaim dirinya sebagai bagian dari pelayanan
(diakonia) gereja GKPS meskipun hal ini jelas merupakan klaim sepihak. Sudah
dijelaskan pada bab sebelumnya komunitas CUM “Talenta” tidak lahir dari rahim
institusi GKPS secara legal formal.
Perlu ditambahkan bahwa persoalan atau tuntutan akan badan hukum komunitas
CUM “Talenta” baru mengemuka sejak komunitas ini mengalami pertumbuhan dan
perkembangan yang cukup pesat baik dari sisi finansial maupun jumlah anggotanya.
Tidak sedikit anggota komunitas CUM “Talenta” sejak ia menyatakan masuk sebagai
anggota sudah mengetahui ihwal ketiadaan badan hukum komunitas ini tetapi mereka
masih tetap bertahan menjadi anggota. Salah satu alasannya adalah kehadiran para
Pendeta sebagai manajer ataupun pengurus komunitas yang dianggap bisa
174
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
menghadirkan kepercayaan (trust) kepada anggotanya. Bapak Sianturi dan ibu Saragih
(lihat: bab III) misalnya mempertanyakan ihwal badan hukum komunitas ini tetapi ia
tetap tidak menyatakan diri keluar sebab trust dalam komunitas masih terjaga, mungkin
karena manajer dan pengurusnya para Pendeta, demikian pak Sianturi mengatakannya.
Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan moral-spiritual yang dijalankan oleh
pemimpin agama (Pendeta) dapat mengatasi budaya formalisme yang semakin merebak
di dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Selain itu, ketiadaan badan hukum komunitas CUM “Talenta”, lambat laun
mulai dipersoalkan oleh “mereka” yang di luar komunitas termasuk institusi-institusi
keuangan yang menjadi kompetitor komunitas ini termasuk petugas pajak. Tanda
pengenal kedirian komunitas CUM “Talenta” sebagai
“komunitas credit” telah
mengundang aparatus pemerintah lokal untuk meminta pajak. Alasannya, karena
komunitas ini adalah komunitas kredit. Tetapi, alasan bahwa komunitas CUM “Talenta”
adalah komunitas yang berada dibawah naungan gereja membuat petugas pajak undur
diri. Kehadiran petugas pajak membuat komunitas CUM”Talenta” ini akhirnya
mengubah tanda pengenal kediriannya dari “Komunitas Credit” menjadi “Komunitas
Credo” Union Modifikasi. Hal itu dilakukan sebagai strategi eskapis ataupun siasat
untuk menghindari pungutan pajak yang dilakukan oleh oknum pegawai pemerintah.
175
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
BAB V
KESIMPULAN DAN REFLEKSI
5.1. Kesimpulan
Studi tentang identitas politik “gereja suku” di ruang publik yang direpresentasikan oleh
komunitas CUM “Talenta”, bertolak dari pengamatan dan keprihatinan subjektif penulis
atas kondisi kegamangan bahkan “kebuntuan” yang dialami oleh gereja-gereja di
Indonesia dalam merepresentasikan dirinya (identitasnya) di tengah-tengah konteks
sosialnya yang lebih luas. Kegamangan gereja-gereja di Indonesia sebagaimana dilansir
oleh para peneliti-peneliti sebelumnya (telah telah diungkapkan pada bab pendahuluan)
telah membuat gereja-gereja di Indonesia cenderung menjadi introvert dan reaktif di
mana ia tampak hanya mampu memperlihatkan sisi “defensif” dari identitasnya
sementara sisi “ofensif” tampak menjadi mangkir.
Bertolak dari keprihatinan seperti itulah studi terhadap komunitas CUM
“Talenta” menarik untuk dilakukan. Berdasarkan data-data dan analisis yang sudah
dilakukan terlihat dengan jelas bagaimana komunitas CUM “Talenta” mencoba
menghadirkan dirinya sebagai representasi gereja tidak hanya bagi warga GKPS sendiri
tetapi juga meluas melibatkan warga gereja denominasi yang lain. Tidak hanya itu,
komunitas CUM “Talenta” juga tampak bisa menjadi rumah bersama bagi masyarakat
beragama yang lain (muslim). Tidak ada sekat-sekat yang dibangun. Pengelolaan dan
pengembangan komunitas dilakukan dengan prinsip demokrasi di mana keputusan yang
diambil melibatkan partisipasi dari seluruh anggota. Kalaupun, pengelola ataupun
manajer komunitas CUM “Talenta” sepertinya diplot hanya Pendeta namun hal itu tidak
dimaksudkan dalam rangka mendominasi. Kesediaan anggota masyarakat dengan
176
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
beragam pluralitas identitasnya masuk menjadi anggota komunitas CUM Talenta ini
justru karena kepemimpinan moral-spiritual yang dijalankan oleh Pendeta GKPS
tersebut mampu menghadirkan apa yang justru dicari masyarakat luas dewasa ini yakni
kepercayaan (trust) dan keterbukaan (transparancy). Aktualisasi kepercayaan dan
transparansi dari para Pendeta GKPS itu tampak mampu mengatasi formalisme ataupun
legalisme yang sering dipersyaratkan oleh demokrasi prosedural-liberal. Nilai-nilai etik
kristiani yang diusung oleh komunitas CUM “Talenta” secara mantap telah
diterjemahkan demi menghadirkan the common goods bagi anggotanya.
Memang keberhasilannya tampak masih menunjukkan keberhasilan dari sisi
ekonomi uang (finansial) tetapi berbagai upaya untuk
melakukan gerakan
pemberdayaan ke arah yang lebih politis juga terlihat telah dilakukan walau masih
belum diartikulasikan secara serius dalam arti terstruktur dan berkesinambungan.
Berbagai perjuangan-perjuangan demokratik baru untuk mengatasi hubungan-hubungan
eksploitatif, subordinatif dan opresif yang dialami oleh anggota komunitas CUM
“Talenta” dalam konteks partikularitasnya masing-masing tampak cukup berhasil
dilakukan. Meskipun begitu tidak dapat dipungkiri bahwa masih ada momen-momen
atau unsur-unsur baru yang masih perlu diartikulasikan. Dan hal itu tampak dari
fenomena adanya anggota komunitas CUM “Talenta” yang menyatakan diri keluar
sebagai anggota, meskipun jumlahnya tidak terlalu signifikan dibandingkan dengan
jumlah anggota yang masuk. Fenomena seperti justru mengingatkan kita pada apa yang
disebut LM bahwa di era globalisasi kapitalisme neoliberal bentuk-bentuk subordinasi,
eksploitasi dan opresif juga berkembang dan tidak dapat diprediksi. Selain itu,
fenomena itu juga sekaligus menunjukkan bahwa masyarakat atau pembentukan
177
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
masyarakat itu tidak pernah mencapai totalitas struktural yang sempurna. Karena itulah
LM mengatakan bahwa masyarakat itu adalah hasil dari praktik artikulasi terus menerus.
Kehadiran kesatuan sosial komunitas CUM “Talenta” yang mengklaim dirinya
sebagai bidang pelayanan (diakonia) gereja telah membuat terjadinya relasi konfliktual
dengan GKPS sebagai institusi gereja yang menaunginya. Hal itu terjadi karena
memang kesatuan sosial komunitas CUM “Talenta” tidak lahir dari “rahim” institusi
GKPS. Meskipun begitu, GKPS sendiri juga tampak memberi pengakuan terhadap
eksistensi komunitas CUM “Talenta”. Hal itu terlihat dari kebersediaan GKPS
mengutus tenaga pelayannya (Pendeta) ditempatkan sebagai manajer di komunitas
CUM “Talenta”. Penempatan Pendeta menjadi manajer di komunitas CUM “Talenta”
tampaknya cukup efektif untuk memainkan fungsinya sebagai semacam “pusat
hegemonik” sebab keberhasilan kesatuan sosial komunitas CUM “Talenta” ini jelas
karena kepemimpinan (leadership) dijalankan dengan cukup baik di mana trust dan
transparansi menjadi indikator utama yang menjadi pegangan bagi anggota-anggotanya
di tengah-tengah konteks tidak adanya badan hukum komunitas ini
5.2. Refleksi
Sebagaimana sudah dijelaskan pada bagian kesimpulan di atas, secara umum
konsentrasi atau poros utama aktivitas kesatuan sosial komunitas CUM “Talenta”
tampak masih berpusat pada ekonomi-uang. Agar komunitas CUM “Talenta” dalam
gerakan pemberdayaannya bisa bergerak ke arah yang lebih luas atau politis maka
penelitian ini memberikan beberapa saran untuk dipertimbangkan:
1. Perihal badan hukum komunitas CUM “Talenta” dapat dipertimbangkan untuk
diadakan, khususnya terkait dengan aktivitas mengumpulkan dana dari masyarakat.
178
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Hal ini terutama mengingat adanya undang-undang lembaga keuangan mikro
(LKM) dan undang-undang Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
2. Kerjasama antar Komunitas CUM mendesak untuk dilakukan agar eksistensi
wacana CUM sebagai sebuah diskursus sistem pemberdayaan ekonomi kerakyatan
alternatif versi kristiani bisa memperoleh pengakuan dari Negara.
3. Pendidikan dan pelatihan yang dilakukan kepada anggota dan komisaris agar tidak
semata-mata diarahkan pada aspek manajemen-keuangan tetapi bisa diarahkan
menjadi lebih meluas meliputi aspek ideologis dan advokasi agar kesadaran politis
anggotanya menjadi bertumbuh. Bagaimanapun juga kalau
Komunitas CUM
“Talenta” ingin mempertahankan proyek hegemoninya maka gerakan diakonia
ekonomi kerakyatan versi kristiani yang dijadikan sebagia master signifier-nya
tersebut harus bergerak ke arah yang lebih politis sehingga tampak bedanya dengan
komunitas atau kelompok yang diidentifikasi sebagai kelompok penindas.
179
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Daftar Pustaka
Referensi Buku:
Aryo, Bagus (2012),Tenggelam dalam Neoliberalisme? “Penetrasi Ideologi Pasar
Dalam Penanganan Kemiskinan”, Depok-Jawa Barat, Kepik,
Atmadja, Nengah Bawa (2010)Ajeg Bali:“Gerakan,Identitas Kulturaldan Globalisasi”,
Yogyakarta, LKiS.
Baswir, Revrisond (2010) Manifesto Ekonomi Kerakyatan, Yogyakarta, Pustaka Pelajar.
Budisusila, Antonius ed (2009), Rakyat, Pendidikan dan Ekonomi:Menuju Pendidikan
Ekonomi Kerakyatan, Yogyakarta, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
Duchrow,Ulrich,(1999),Mengubah Kapitalisme Dunia“Tinjauan Sejarah-Alkitabiah
Bagi Aksi Politis”, terj,Jakarta, BKP Gunung Mulia
Eko Prabowo, T.Handono (2010)Pengembangan Kekuatan-Kekuatan Tranformasi
Untuk Kedaulatan
Sosial
Ekonomi“Sebuah
Refleksi
Sosial
Ekonomi”,
Yogyakarta, Universitas Sanata Dharma
Ginting, E.P dan MP.Ambarita (2001), PT. Bank Perkreditan Rakyat Pijer Podi
Kekelengen Desa Simalem, Jakarta, BPK-Gunung Mulia.
Hardiman, F.Budi ed, (2010) Ruang Publik: Melacak “partisipasiDemokrastis” dari
Polis sampai Cyberspace, Yogyakarta, Kanisius
Hargens, Boni (2006) Demokrasi Radikal: Memahami Paradoks Demokrasi Modern
dalam Perspektif
Postmarxis-Postmodernis
ErnestoLaclau
dan
Chantal
Mouffe, Jakarta, Parhesia.
Hikam, Muhammad A.S.(1996) Demokrasi dan Civil Society, Jakarta, LP3ES
Hinkelammert Franz J dan Duchrow, Ulrich dan (2004) Property for People, Not for
Profit Alternatives to the global tyranny of capital, London-New
York,
Zed
Books
Jorgensen, Marianne W dan Louise J. Phillips (2007) Analisis Wacana: Teori dan
Metode, terj, Yogyakarta, Pustaka Pelajar.
Laclau, Ernesto (2005) On Populist Reason, London - New York, Verso.
_____________, dan Chantal Mouffe, (1985) Hegemony& Socialist Strategy; Towards
a Radical Democratic Politics, London-New York, Verso.
180
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Lempas, Jeffrie A.A. eds (2006), Format RekonstruksiKekristenan:“Menggagas
TeologiMisiologi, dan Ekklesiologi Kontekstual di Indonesia”,Jakarta, Pustaka
Sinar Harapan
Manullang, Martunas, (2010) Menuju HKBP Inklusif dan Misioner: Ekkelsiologi di
Masyarakat Pluralis, Pamatang Siantar, L-Sapa, STT-HKBP dan Yayasan
Nommensen HKBP Jambi
Menoh, Gusti A.B. (2015) Agama Dalam Ruang Publik, Yogyakarta, Kanisius
Mouffe,Chantal, (2005) On the Political: Thinking in Action, London-New York,
Routledge.
Nolan, Albert (2011) Harapan di Tengah Kesesakan Masa Kini: Mewujudkan Injil
Pembebasan, terj, Jakarta, BPK- Gunung Mulia
Nugroho, Heru (2001) Uang, Rentenir dan Hutang Piutang di Jawa, Yogyakarta,
Pustaka Pelajar.
Panizza, Fransisco, ed, (2005) Populism and Mirror Democracy, London-New York,
Verso,hlm,146
Perret, Daniel (2010), Kolonialisme dan Etnisitas: Batak dan Melayu Sumatera Utara,
terj, Jakarta, Kepustakaan Popular Gramedia.
Robet, Robertus, (2010),Manusia Politik:Subjek Radikal dan Politik Emansipasi di Era
Kapitalisme Global Menurut Slavoj ZIzek, Tangerang, Marjin Kiri.
Samosir, Leonardus (2010)Agama dengan Dua Wajah “ Refleksi Teologis atas Tradisi
dalam Konteks”,Jakarta, Obor.
Sinaga,Martin Lukito dan Juandaha Raya Purba, Peny, (2000), Tole ! Den Timor
Landen Das Evangelium!” Sejarah Seratus Tahun Injil di Simalungun,2
September 1903 – 2 September 2003, P.Siantar, Kolportase GKPS-Panitia Bolon
Jubileum 100 tahun Injil di Simalungun.
______,Martin Lukito, (2004), Identitas Poskolonial “Gereja Suku” dalam Masyarakat
Sipil:“Studi
Tentang
Jaulung
Wismar
Saragih
dan
KomunitasKristen
Simalungun”, Yogyakarta, LKiS.
Sirait, Saut, (2001),Politik Kristen di Indonesia “Suatu Tinjauan etis”, Jakarta, BPKGunung Mulia.
Soesatro, Hadi, dkk,peny, (2005),Pemikiran dan Permasalahan Ekonomi di Indonesia
Dalam Setengah Abad Terakhir, Yogyakarta, Kanisius.
181
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Tim Keadilan, Perdamaian dan Ciptaan Dewan Gereja-gereja se-Dunia (2006)
Globalisasi Alternatif Mengutamakan Rakyat Dan Bumi:Sebuahdokumen Latar
Belakang, terj, Jakarta, PMK-HKBP.
Weatherford, Jack (2005), Sejarah Uang“Dari zaman Batu hingga era Cyberspace”,
terj, Yogyakarta, Bentang Pustaka
Referensi Jurnal, Majalah, Koran, dan Naskah Akademik:
Baskara, I Gde Kajeng (2013) “Lembaga Keuangan Mikro di Indonesia” (dalam) Jurnal
Buletin Studi Ekonomi, Vol. 18, No. 2, Agustus
Diana Handayani,A dan Ermawati Chotim, Erna, “LKM: Beberapa Catatan Sejarah”.
(dalam) Jurnal Analisis Sosial, Volume 6, No.3 Desember 2001, AkatigaBandung
Edi Sutarta, Ag dan Carollina, Monica (2013) ,“Peranan Credit Union Sebagai lembaga
pembiayaan Mikro” : “Studi Kasus: Pada Usaha UMKM Di Desa Tumbang
ManggoKecamatanSanaman
Mantikei,
Kabupaten
Katingan,Provinsi
Kalimantan Tengah Tahun 2013” (dalam) Jurnal CU
Ignasius Jaques Juru, (2010), Radikalisasi Pluralisme Sebagai Usaha Pengarusutamaan
Politik Agonisme (dalam) Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (JSP), Volume 14
No.2 November
I Gde Kajeng Baskara, (2013), “Lembaga Keuangan Mikro di Indonesia” (dalam) Jurnal
Buletin Studi Ekonomi, Vol. 18, No. 2, Agustus
Langgut Tere Eddie S. Riyadi, , (makalah) Manusia Politis Menurut Hannah Arendt
Pertautan antara Tindakan dan Ruang Publik, Kebebasan dan Pluralitas, dan
Upaya Memanusiawikan Kekuasaan”. Disampaikan pada Kuliah Umum Filsafat
Salihara, Totalitarianisme Menurut Hannah Arendt, 20 April 2011. Komunitas
Salihara Jakarta,
Mouffe, Chantal, Deliberative Democracy or Agonistic Pluralisme (dalam) Jurnal
Social Research, Vol.66, No.33 (fall1999).
Sinaga, Martin Lukito, (2010) “Kristiani dan Agama Publik: Peta Persoalan dan
Prospeknya di Indonesia”, (dalam) Majalah Tatap, 25 Mei
__________________, (makalah) ”Hidup yang Dibangun di atas Batu (Matius :2:2427)Refleksi Teologis Memperkuat Masyarakat Sipil”, disampaikan pada Rapat
Umum Anggota (RUA) Perhimpunan Kelompok Studi Pengembangan
Masyarakat (PKSPPM), Parapat, 21-23 Februari 2014
182
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Sunardi, St, Logika Demokrasi Plural Radikal, 2012 (dalam) Retorik, Jurnal Ilmu
Humaniora Baru, vol.3 No. 1 Desember
Wicandra, Obed Bima,(artikel)Merebut Kuasa Atas Ruang Publik: Pertarungan Ruang
Komunitas Mural di Suarabaya, Program Studi Desain Komunikasi Visual,
Universitas Kristen Petra Surbaya.
Referensi Majalah, Koran, dokumen-dokumen:
Harian Nasional, A6, Opini, Sabtu, 23 Agustus 2014
Laporan Pertanggungjawaban Pengurus dan Pengawas CUM “Talenta” tahun buku
2011 dan Program Kerja CUM “Talenta” Tahun 2012
Majalah “Ambilan pakon Barita” (AB) GKPS Edisi 466 Februari 2013
Majalah Tatap, 25 Mei 2010
Susukkara (Almanak) GKPS tahun 2013
Tata Gereja dan Peraturan Rumah Tangga GKPS tahun 2009
Referensi Internet:
http://dyanuardy.wordpress.com/2008/01/16/jalan-hegemoni-meraba-arah-bagi-gerakansosial/ (Diakses, tgl.12-10.2011)
http://widodo07.blogspot.com/2012/11/apa-perbedaan-dan-persamaan-koperasi.html,
(diakses tgl, 31 Juli 2014)
http://www.cu-cintamulia.or.id/?aapro=sejarah.html, (diakses tgl, 24 Mei 2011)
http://www.mail-archive.com/[email protected]/msg105221.
html. (Diakses, tgl, 27 Oktober 2011)
http://solidaritasburuh.blogspot.com/.(Diakses, tgl, 24 Mei 2011)
http://idabangeet-hidayati.blogspot.com/2010/12/perbedaan-koperasi-simpan-pinjamdan. html (Diakses, 31 Juli 2014)
www.komisiinformasi.go.id diakses tanggal 18 Juni 2013.
http://jurnalsospol.fisipol.ugm.ac.id/index.php/jsp/article/view/61/52 (diakses15/8/2015)
http://digilib.unimed.ac.id/public/UNIMED-Master-30705-8106162033%20
.pdf (diakses: 3/8/2015)
Bab%20I
(http://www.fivesenses.com.au/blog/2014/02/05/its-all-systems-go-at-tiga-raja-mill:
(diakses: 12 Maret 2015).
183
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
(http://wmc-iainws.com/artikel/12-konflik-islam-kristen-di-erareformasi,diakses,5Februari 2016).
184
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Lampiran-Lampiran (dokumen foto penelitian):
komunitas CUM “Talenta: Kelompok Usaha Bersama Haroan Bolon “Talenta”
Desa Bandar Purba Kec.Purba Simalungun
(sumber foto: dok.CUM “talenta” Saribudolok)
Kelompok Usaha Bertani Bersama (Haroan Bolon) “Huta Saing”
(Sumber:FotoDok.Komunitas CUM “Talenta”)
185
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Pelantikan Komisaris dalam sebuah Kebaktian Minggu
(Sumber: Foto Dok. Komunitas CUM “Talenta”)
Sumber: foto DokKomunitas CUM “Talenta”
Pendidikan dan Pelatihan bagi Komisaris di Tongging-Kabupaten Karo
186
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Sebagaian Peserta Pendidikan dan Pelatihan Pembuatan pupuk Bokasi
(Sumber Foto Dok;komunitas CUM”TAlenta”)
Sumber Foto.Dok: Komunitas CUM “Talenta”
Pendidikan dan Pelatihan Manajemen ekonomi Rumah Tangga di Pelpem GKPS Pematang Siantar
187
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Pdt. Liharson Sigiro ketika melakukan sosialisasi di salah satu jemaat GKPSdi distrik III Saribudolok
(sumber foto: dok. komunitas CUM “Talenta”)
Pengurus , Pegawai dan Anggota komunitas CUM “Talenta” Cabang Pematang Raya pada saat
pembukaan Kantor Cabang Pematang Raya
(sumber foto: dok.CUM “Talenta” Saribudolok)
188
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Manajer Komunitas CUM “Talenta” Saribudolok berfotobersama bapak Dosman Damanik
(pemimpin kelompok Haroan Bolon nagori (desa) Bandar Purba
(Sumber foto:dok pribadi)
Acara Serah terima Manajer CUM “Talenta” Saribudolok
dari Pdt.LIharson Sigiro kepada Pdt.Syahrudin Sinaga
(sumber foto:dok.CUM “Talenta” Saribudolok)
189
Download