12 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pertumbuhan Kawasan

advertisement
12
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.
Pertumbuhan Kawasan Perkotaan
Berdasarkan tinjauan pustaka yang telah dilakukan, terdapat berbagai macam
definisi mengenai istilah “pertumbuhan”. Definisi-definisi tersebut dikemukakan
oleh berbagai pihak dengan berbagai interpretasi dan tujuan masing-masing. Di
bawah ini akan disajikan beberapa pengertian di antara sekian banyak definisi
mengenai pertumbuhan (growth), antara lain :
•
Pertumbuhan berasal dari kata tumbuh yang berarti (1) timbul (hidup) dan
bertambah besar atau sempurna, (2) sedang berkembang (menjadi besar,
sempurna, dan sebagainya). Pertumbuhan sendiri diartikan sebagai hal keadaan
tumbuh (Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1991).
•
Growth is increase; cultivation; process of growing (Oxford Dictionary, 1985).
•
Pertumbuhan memiliki pengertian ekspansi/perluasan, dorongan ke arah
pinggiran kota, pembangunan pada lahan baru (Porter, 1997).
Sebagaimana keberagaman definisi tentang pertumbuhan, istilah “kota” juga
memiliki definisi dan pengertian yang sangat beragam tergantung pada kepentingan
dan sudut pandang yang digunakan. Sujarto dalam Pengantar Planologi menyebutkan
bahwa secara umum terdapat batasan dari berbagai macam tinjauan bahwa kota9 :
1. Secara demografis merupakan pemusatan penduduk yang tinggi dengan tingkat
kepadatan penduduk yang lebih tinggi dibandingkan wilayah sekitarnya. Dari segi
statistis ketentuan kota ini beragam di berbagai negara. Demikian pula di
Indonesia selalu mengalami perubahan disesuaikan dengan situasi dan kondisi
pada suatu sensus dilakukan.
2. Secara sosiologis selalu dikaitkan dengan batasan adanya sifat heterogen dari
penduduknya serta budaya urban yang telah mengurangi budaya desa.
9
Terdapat di buku Pengantar Planologi hal 123, yang ditulis oleh Sujarto, Djoko dan diterbitkan oleh
ITB sekaligus digunakan sebagai modul resmi perkuliahan ITB.
13
3. Secara ekonomis suatu kota dicirikan dengan proporsi lapangan kerja yang
dominan di sektor non-pertanian seperti industri, pelayanan dan jasa, transportasi
dan perdagangan.
4. Secara fisik suatu kota dicirikan dengan adanya dominasi wilayah terbangun dan
struktur fisik binaan (man made structure).
5. Secara geografis kota diartikan dengan suatu pusat kegiatan yang dikaitkan
dengan suatu lokasi strategis.
6. Secara administratif pemerintahan suatu kota dapat diartikan sebagai suatu
wilayah wewenang yang dibatasi oleh suatu wilayah yurisdiksi yang ditetapkan
berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku.
Kecenderungan
menciptakan
daerah
tumbuhnya
suatu
tempat
menjadi
permukiman
yang
demikian
luas
perkotaan
dan
telah
menyebabkan
berkurangnya lahan pertanian hingga tinggal bayangan masa lalunya, tidak
menunjukkan gejala berkurang. Kota terus memperluas batasnya dan merambah
ruang-ruang terbuka, sebagai upaya untuk mendapatkan ruang untuk hidup. Daerah
pinggiran sekeliling kota, secara terus-menerus bertambah, yang semula hanya
merupakan komunitas tunggal dan relatif kompak. (Bollens dan Henry J. Schmandt).
Sujarto menjelaskan bahwa pada dasarnya pertumbuhan suatu kota cenderung tidak
bisa lepas dari pertumbuhan suatu desa yang semakin berkembang dan mengalami
peningkatan baik dalam hal fungsi maupun perannya. Secara ringkas dijelaskan
mengenai jenis perkembangan dan pertumbuhan kota di Indonesia :
1. Suatu desa berubah menjadi kota.
2. Kota kecil mengalami peningkatan fungsi dan perannya.
3. Perkembangan kota secara intensif tanpa perubahan luas wilayah kota.
4. Perkembangan dan pertumbuhan kota secara ekstensif dalam bentuk perluasan
wilayah kota.
5. Perkembangan akibat intensifikasi dan ekstensifikasi secara bersama.
6. Kota yang tumbuh dan berkembang sebagai kota baru.
14
Sebagaimana disebutkan di atas bahwa suatu kota pada awalnya merupakan
suatu desa yang tumbuh dan berkembang hingga memiliki ciri perkotaan, maka
terdapat desa yang memiliki sebagian ciri perkotaan yang disebut dengan desa-urban.
Fase pertumbuhan selanjutnya adalah terbentuknya kawasan perkotaan. Kawasan
perkotaan sendiri adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian
dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan
dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi
(Sujarto). Adapun UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, pada pasal
199 menyebutkan bahwa Kawasan Perkotaan dapat berbentuk :
1. Kota sebagai daerah otonom.
2. Bagian daerah kabupaten yang memiliki ciri perkotaan.
3. Bagian dari dua atau lebih daerah yang berbatasan langsung dan memiliki ciri
perkotaan.
Terdapat berbagai faktor yang membuat kota akan terus tumbuh dan
berkembang. Ekonomi berkembang di perkotaan karena perkotaan memiliki
keuntungan aglomerasi dan keuntungan skala. Berkembangnya perekonomian di
perkotaan membuat kota semakin berkembang dan menarik migrasi dari luar kota,
akibatnya kota tumbuh lebih pesat lagi. Pertumbuhan ekonomi karena merupakan
sesuatu yang alami dan dikehendaki akan cenderung untuk bertumbuh terus. Yunus
dalam buku Manajemen Kota Perspektif Spasial menjelaskan bahwa pertumbuhan
perkotaan terutama disebabkan oleh pertumbuhan alami (natural growth) dan juga
inmigration atau pengaliran penduduk dari bagian-bagian wilayah lain yang masuk ke
kota. Motivasi utama migrasi sendiri dikarenakan faktor ekonomi untuk
meningkatkan pendapatan.
Peningkatan kepadatan perkotaan yang dinyatakan dalam jumlah penduduk
per satuan luas wilayah, menyertai pertumbuhan perkotaan dan peningkatan ukuran
kota. Semakin meluasnya kota dan semakin tingginya angka kepadatan penduduk
menciptakan berbagai permasalahan kota (Branch). Persoalan yang dihadapi adalah
keterbatasan ruang yang dapat digunakan untuk mengakomodasi berbagai kebutuhan
15
kegiatan perkotaan. Sebagian besar kebutuhan ruang yang tidak dapat dibangun di
bagian dalam kota baik oleh karena kelangkaan ruang maupun karena tingginya harga
lahan yang tidak terjangkau, mengalihkan perhatiannya ke daerah pinggiran kota
yang ketersediaan lahan terbukanya masih banyak (Yunus, 2005 ; 57).
2.2.
Kawasan resapan air
Dalam Keputusan Presiden No. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan
Lindung, disebutkan bahwa kawasan resapan air termasuk dalam kategori kawasan
lindung yang melindungi kawasan bawahannya, oleh karena itu sebelum melakukan
tinjauan khusus mengenai karakteristik kawasan resapan air, akan terlebih dahulu
dilakukan tinjauan mengenai karaktersitik kawasan lindung.
2.2.1. Karakteristik kawasan lindung
Kawasan adalah suatu wilayah yang teritorialnya didasarkan kepada
pengertian dan batasan fungsional yaitu bahwa wilayah tersebut dapat ditentukan
teritorialnya sebagai suatu wilayah yang secara fungsional mempunyai perwatakan
tersendiri seperti kawasan industri, kawasan pusat kota atau pusat perdagangan,
kawasan rekreasi, kawasan hutan lindung dll (Sujarto). Kawasan lindung adalah
kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan
hidup yang mencakup sumber alam, sumber daya buatan dan nilai sejarah serta
budaya bangsa guna kepentingan pembangunan berkelanjutan (Keppres No. 32
Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung).
Pengelolaan kawasan lindung adalah upaya penetapan, pelestarian dan
pengendalian pemanfaatan kawasan lindung (Keppres No. 32 tahun 1990 tentang
Pengelolaan Kawasan Lindung). Berdasarkan RTRW Nasional November 2002 (hasil
penyempurnaan), pola pengelolaan kawasan lindung bertujuan untuk mencegah
timbulnya kerusakan lingkungan hidup dan melestarikan fungsi lindung kawasan
yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya, kawasan perlindungan
setempat, kawasan suaka alam, kawasan pelestarian alam, kawasan cagar budaya, dan
16
kawasan lindung lainnya, serta menghindari berbagai usaha dan/atau kegiatan di
kawasan rawan bencana.
Mengacu pada Keppres No. 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan
Lindung, yang lebih rinci menjabarkan mengenai ruang lingkup kawasan lindung
yang meliputi :
-
Kawasan yang memberikan perlindungan bawahannya
-
Kawasan perlindungan setempat
-
Kawasan suaka alam, pelestarian alam dan cagar budaya
-
Kawasan rawan bencana alam
Khusus untuk kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya
merupakan kawasan yang berfungsi untuk mencegah terjadinya erosi, bencana banjir,
sedimentasi, dan hidrologis tanah untuk menjamin ketersediaan unsur hara tanah, air
tanah dan air permukaan. Kawasan ini berperan penting dalam menjaga kelestarian
lingkungan baik bagi kawasan yang bersangkutan maupun kawasan bawahnya. Hal
ini disebabkan karena kawasan ini mempunyai kepekaan yang tinggi terhadap suatu
perubahan dan akan berdampak luas terhadap keseimbangan. Kawasan yang
memberikan perlindungan kawasan bawahannya terdiri dari :
-
Kawasan hutan lindung.
-
Kawasan bergambut.
-
Kawasan resapan air.
Dalam PP 47 tahun 1997, langkah-langkah pengelolaan kawasan yang
memberikan perlindungan kawasan bawahannya berupa:
-
Mencegah terjadinya erosi, bencana banjir, sedimentasi dan menjaga fungsi
hidroorologis tanah di kawasan hutan lindung sehingga ketersediaan unsur hara
tanah, air tanah dan air permukaan selalu dapat terjamin;
-
Mengendalikan hidrologi wilayah, berfungsi sebagai penambat air dan pencegah
banjir, serta untuk melindungi ekosistem yang khas di kawasan bergambut;
17
-
Memberikan ruang yang cukup bagi resapan air hujan pada kawasan resapan air
untuk keperluan penyediaan kebutuhan air tanah dan penanggulangan banjir, baik
untuk kawasan bawahannya maupun kawasan yang bersangkutan.
Sesuai dengan ketentuan yang berlaku, maka penggunaan tanah di dalam
kawasan lindung harus sesuai dengan fungsi lindung. Adapun ketentuan pengendalian
kawasan lindung berdasarkan Keppres Nomer 32 tahun 1990 pasal 37 adalah :
1. Di dalam kawasan lindung dilarang melakukan kegiatan budidaya, kecuali yang
tidak mengganggu fungsi lindung.
2. Di dalam kawasan suaka alam dan kawasan cagar budaya dilarang melakukan
kegiatan budidaya apapun, kecuali kegiatan yang berkaitan dengan fungsinya dan
tidak mengubah bentang alam, kondisi penggunaan lahan, serta ekosistem alami
yang ada.
3. Kegiatan budidaya yang sudah ada di kawasan lindung yang mempunyai dampak
penting terhadap lingkungan hidup dikenakan ketentuan-ketentuan yang berlaku
sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1986
tentang Analisis Mengenai Dampak lingkungan.
4. Apabila menurut Analisis Mengenai Dampak Lingkungan kegiatan budidaya
mengganggu fungsi lindung harus dicegah perkembangannya, dan fungsi sebagai
kawasan lindung dikembalikan secara bertahap.
2.2.2. Karakteristik Kawasan Resapan Air
Berdasarkan Keputusan Presiden No. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan
Kawasan Lindung, kawasan resapan air didefinisikan sebagai daerah yang
mempunyai kemampuan tinggi untuk meresapkan air hujan sehingga merupakan
tempat pengisian air bumi (akuifer) yang berguna sebagai sumber air. Perlindungan
terhadap kawasan resapan air dilakukan untuk memberikan ruang yang cukup bagi
peresapan air hujan pada daerah tertentu untuk keperluan penyediaan kebutuhan air
tanah dan penenggulangan banjir, baik untuk kawasan bawahannya maupun kawasan
yang bersangkutan.
18
Kriteria kawasan resapan air adalah :
-
Curah hujan yang tinggi (> 1.500 mm/tahun).
-
Struktur tanah meresapkan air (permeabilitas > 27,7 mm/jam).
-
Bentuk geomorfologi yang mampu meresapkan air hujan secara besar-besaran
(datar hingga berbukit dan/atau pada ketinggian > 750 mdpl).
2.2.3. Penggunaan Lahan dan Pengaruhnya Terhadap Siklus Hidrologi
Siklus hidrologi didefinisikan sebagai proses aliran air dalam rentang ruang
dan waktu yang luas dan panjang yang dipengaruhi oleh kekuatan gaya gravitasi
bumi dan energi matahari yang bersirkulasi melalui sistem lingkungan baik yang
terjadi di atas permukaan tanah atau dataran maupun lautan (Chow). Air di bumi yang
meliputi air laut, air danau, dan air sungai akan mengalami penguapan yang
disebabkan oleh pemanasan sinar matahari. Penguapan dapat berasal dari badan air
atau dari semua benda yang mengandung air seperti tumbuhan, tubuh manusia, dan
tubuh hewan. Dalam hidrologi, penguapan dari badan air secara langsung disebut
evaporasi. Penguapan yang terkandung dalam tumbuhan disebut transpirasi. Uap air
hasil transpirasi dan evaporasi bergerak ke atmosfer dan setelah mengalami beberapa
proses, uap air akan menjadi awan. Akibat proses angin yang berhembus, awan akan
dibawa ke puncak-puncak pegunungan, sebagian awan yang belum sampai di daerah
pegunungan akan diturunkan sebagai hujan dan sebagian lagi diturunkan di daerah
pegunungan. Hujan dalam istilah hidrologi disebut presipitasi. Presipitasi adalah tetes
air dari awan yang jatuh ke permukaan tanah (Aribowo, 2007 ; 16).
Hujan yang turun ke permukaan bumi jatuh langsung ke permukaan tanah,
permukaan air danau, sungai, laut, hutan atau perkebunan. Khusus mengenai
penelitian ini dititikberatkan pada pembahasan mengenai model aliran air tanah di
daerah resapan air tanah atau sering juga disebut sebagai daerah imbuhan air tanah
(recharge zone). Daerah resapan air adalah wilayah dimana air yang berada di
permukaan tanah baik air hujan ataupun air permukaan mengalami proses
penyusupan (infiltrasi) secara gravitasi melalui lubang pori tanah/batuan atau
19
celah/rekahan pada tanah/batuan. Proses penyusupan ini akan berakumulasi pada satu
titik dimana air tersebut menemui suatu lapisan atau struktur batuan yang bersifat
kedap air (impermeable). Titik akumulasi ini akan membentuk suatu zona jenuh air
(saturated zone) yang seringkali disebut sebagai daerah luahan air tanah (discharge
zone). Perbedaan kondisi fisik secara alami akan mengakibatkan air dalam zonasi ini
akan bergerak/mengalir baik secara gravitasi, perbedaan tekanan, kontrol struktur
batuan dan parameter lainnya. Kondisi inilah yang disebut sebagai aliran air tanah.
Daerah aliran air tanah ini selanjutnya disebut sebagai daerah aliran (flow zone).
Perubahan jumlah (kuantitas) air dalam tanah ditentukan oleh berbagai faktor
antara lain: peresapan (infiltrasi) yaitu gerakan air di atas tanah, perkolasi yaitu
gerakan air melalui atau di bawah tanah, intersepsi atau pencegatan yaitu penambatan
air hujan oleh tumbuhan penutup (canophy vegetation) dan transpirasi (Hardiana,
1999 ; 37). Secara singkat dapat disebutkan bahwa keseimbangan siklus air yang
terjadi di alam dibentuk oleh berbagai komponen dalam daur hidrologi.
Sosrodarsono dalam Libriani (2004) menyatakan bahwa korelasi antar
komponen hidrologi dapat disederhanakan dengan persamaan water balance dari F.J
Mock :
PPT = EV+RO+I+WR
Dimana :
PPT (Precipitation)
= jumlah curah hujan
EV (Evaporation)
= jumlah penguapan
RO (Run Off)
= jumlah limpasan air permukaan
I (Infiltration)
= jumlah penambahan air tanah
WR (Water Retention)
= jumlah air genangan
Infiltrasi merupakan peristiwa masuknya air ke dalam tanah melalui
permukaan tanah secara vertikal. Rata-rata dan banyaknya jumlah air yang masuk ke
dalam tanah merupakan fungsi dari jenis tanah, kelembaban tanah, permeabilitas
tanah, tutupan lahan, kondisi drainase, kedalaman tanah, intensitas dan volume
20
precipitation10. Banyaknya air yang masuk melalui permukaan tanah persatuan waktu
dikenal sebagai laju infiltrasi. Nilai laju infiltrasi sangat tergantung pada kapasitas
infiltrasi, yaitu kemampuan tanah untuk melewatkan air dari permukaan secara
vertikal. Kapasitas infiltrasi bervariasi terhadap sifat alamiah tanah, antara lain
porositas, kelembaban awal, dan kemiringan tanah (Suripin, 2002 ; 49).
Permeabilitas dari lapisan tanah yang berlainan, merupakan kemampuan tanah
untuk meloloskan air atau udara ke lapisan bawah profil tanah. Bilamana kapasitas
infiltrasi dan permabilitas besar seperti pada tanah berpasir yang mempunyai
kedalaman lapisan kedap yang dalam, walapun dengan curah hujan yang lebat
kemungkinan terjadinya aliran permukaan kecil sekali. Tanah-tanah bertekstur halus
akan menyerap air sangat lambat, sehingga curah hujan yang cukup rendah akan
menimbulkan aliran permukaan (Suripin, 2002 ; 46). Lebih detail, tanah-tanah yang
berstekstur kasar membentuk struktur tanah yang ringan, sebaliknya tanah-tanah yang
berbentuk atau tersusun dari tekstur yang halus menyebabkan terbentuknya tanahtanah yang berstruktur berat. Adanya perbedaan struktur tanah yang terjadi, secara
tidak langsung mempengaruhi ukuran dan jumlah pori-pori tanah yang terbentuk.
Tanah-tanah dengan struktur yang berat mempunyai jumlah pori halus yang banyak,
dan miskin akan pori-pori besar, mempunyai kapasitas infiltrasi kecil. Sebaliknya,
tanah yang berstruktur ringan mengandung banyak pori besar dan sedikit pori halus,
kapasitas infiltrasinya lebih besar dibandingkan dengan tanah yang berstruktur berat.
Berdasarkan riset yang dikeluarkan oleh USDA (Hydrology : Water Quantity and
Quality Control) terdapat beberapa penggolongan/pengklasifikasian jenis tanah 11
berdasarkan potensi kemampuan meresapkan dan meloloskan air :
-
Group A Soils: High infiltration (low runoff). Termasuk dalam kategori ini
adalah pasir, pasir kegeluhan dan geluh kepasiran. Infiltration rate > 0.3 inch/hr
ketika basah.
10
Wanielsta dkk dalam Hydrology : Water Quantity and Quality Control halaman 148.
Digunakan untuk memasukkan tanah dalam tabel 2.1 (Tabel SCS RO CN) halaman 22 : Soil Group
(kolom sebelah kanan : A, B, C, D).
11
21
-
Group B Soils: Moderate infiltration (moderate runoff). Termasuk dalam
kategori ini adalah geluh dan geluh keliatan. Infiltration rate 0.15 to 0.3 inch/hr
ketika basah.
-
Group C Soils: Low infiltration (moderate to high runoff). Termasuk dalam
kategori ini adalah geluh lempung kepasiran. Infiltration rate 0.05 to 0.15 inch/hr
ketika basah.
-
Group D Soils: Very low infiltration (high runoff). Termasuk dalam kategori ini
adalah geluh kelempungan, geluh lempung keliatan, lempung kepasiran, lempung
keliatan dan lempung. Infiltration rate 0 to 0.05 inch/hr ketika basah.
Pada penelitian ini, untuk mengetahui jumlah air limpasan digunakan metode
SCS Run Off Curve Number. Metode SCS Run Off Curve Number adalah parameter
empiris yang digunakan untuk memperkirakan jumlah air limpasan. Alasan
penggunaan metode ini adalah karena telah sering digunakan sebagai metode yang
efisien untuk menentukan perkiraan jumlah air limpasan (run off) air hujan pada suatu
kawasan. Alasan berikutnya adalah karena SCS Run Off Curve Number diperkirakan
cukup akurat karena mempertimbangkan berbagai variabel seperti jenis tanah, guna
lahan, perlakuan dan kondisi hiodrologi di suatu daerah. Adapun persamaan untuk
mencari jumlah air limpasan adalah :
RO =
( P − 0.2S ' ) 2
( P + 0.8S ' )
di mana,
RO : Rainfall excess, yang nantinya akan dikalikan dengan luas lahan untuk
mendapatkan volumenya.
P : Rainfall volume
S’ : Storage at saturation, yang didapatkan dari rumus S ' =
1000
− 10
CN
Curve number (CN) mempunyai nilai antara 30 hingga 100. Semakin rendah
nilainya mengindikasikan semakin rendah pula potensi terjadinya air limpasan.
Sebaliknya, semakin tinggi nilai curve number, maka potensi terjadinya air limpasan
juga akan semakin meningkat. Kondisi ideal bagi kawasan lindung dengan fungsi
22
resapan air adalah infiltrasi tinggi yang berarti hanya terdapat sedikit air hujan yang
melimpas. Pada tabel 2.1 akan disajikan nilai curve number berdasarkan klasifikasi
penggunaan lahan (description of land use)12 dan kriteria jenis tanahnya (hydrologic
soil group)13.
Setelah mengetahui jumlah air hujan yang tidak tertampung dalam infiltrasi
dan berubah menjadi air limpasan, maka selanjutnya dimasukkan dalam kategori
kelas air limpasan berdasar pada klasifikasi Cook. Alasan pemilihan klasifikasi
menurut Cook adalah karena klasifikasi ini mengkategorikan kelas air limpasan
berdasarkan pada data guna lahan di kawasan yang bersangkutan. Suatu kawasan
lindung dengan fungsi spesifik sebagai daerah resapan air seharusnya masuk dalam
kelas limpasan rendah. Berikut adalah klasifikasi air limpasan menurut Cook :
1 ) Kelas ekstrim, nilai koefisien aliran = 75% - 100%
2 ) Kelas tinggi, nilai koefisien aliran = 50% - 75 %
3 ) Kelas sedang, nilai koefisien aliran = 25% - 50%
4 ) Kelas rendah, nilai koefisien aliran = 0% - 25%
12
Kolom sebelah kiri pada tabel 2.1 SCS RO CN (halaman 23) : Description of Land Use.
Kolom sebelah kanan pada tabel 2.1 (Tabel SCS RO CN) yang diklasifikasikan berdasar soil group
A, B, C, D mengacu pada klasifikasi tanah hal 20.
13
23
Tabel 2.1
Soil Conservation Service (SCS) Run Off Curve Number
Description of Land Use
Soil Group
A
B
C
D
98
98
98
98
Bidang parkir dan atap
Jalan :
Paving
98
98
98
98
Kerikil
76
85
89
91
Tanah
72
82
87
89
Lahan olahan untuk pertanian :
Tanpa perlakuan konservasi (ladang)
72
81
88
91
Dengan perlakuan konservasi (sawah dan kebun)
62
71
78
81
Padang Rumput :
Buruk (<50% tertutup tanah)
68
79
86
89
Baik (50-75% tertutup tanah)
39
61
74
80
Padang rumput (seluruhnya rumput)
30
58
71
78
Semak (baik, >75% tertutup tanah)
30
48
65
73
Hutan:
Buruk (sedikit pohon, banyak pembalakan dan
45
66
77
83
kebakaran)
Sedang (sedikit pohon, sedikit semak tapi tidak
36
60
73
79
ada pembalakan ataupun kebakaran)
Baik (banyak pohon, banyak semak, tidak ada
30
55
70
77
pembalakan, tidak ada kebakaran)
Ruang terbuka (taman, kuburan, dll) :
Sedang (rumput menutupi area sekitar 50-75%)
49
69
79
84
Baik (rumput menutupi area sekitar >75%)
39
61
74
80
Daerah bisnis dan komersial (tutupan
89
92
94
95
impervious 85%)
Daerah industri tutupan impervious 72%
81
88
91
93
Daerah permukiman :
Tutupan impervious 65%
77
85
90
92
Tutupan impervious 38%
61
75
83
87
Tutupan impervious 25%
54
70
80
85
Tutupan impervious 20%
51
68
79
84
Sumber : US Department of Agriculture dalam Hydrology : Water Quantity and
Quality Control
Download