6 Bab II KAJIAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN

advertisement
Bab II
KAJIAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, HIPOTESIS
2.1
Kajian Teori
Kajian teori merupakan model konseptual yang berkaitan dengan bagaimana
untuk menyusun teori atau menghubungkan secara logis beberapa faktor yang dinggap
penting untuk masalah dengan disesuaikan dengan tahapan-tahapan teori yang sesuai
agar menjadi model konseptual yang lebih spesifik. Fungsi peninjauan kembali pustaka
yang berkaitan merupakan hal yang mendasar dalam penelitian, seperti dinyatakan oleh
Leddy (1997) bahwa semakin banyak seorang peneliti mengetahui, mengenal dan
memahami tentang penelitian-penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya yang
berkaitan erat dengan topik dari penelitian tersebut, maka semakin dapat dipertanggung
jawabkan caranya meneliti permasalahan yang dihadapi. Tahapan teori diawali dengan
grand theory, middle theory, dan applied theory.
2.1.1 Organisasi
Organisasi adalah penataan sekumpulan orang secara disengaja guna mencapai
beberapa tujuan tertentu (Robbin dan Coulter 2010:18) sedangkan menurut Siagian,
dalam bukunya Filsafat Administrasi (2006:6), menjelaskan organisasi merupakan setiap
bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerja serta secara formal terikat
dalam rangka pencapaian suatu tujuan yang telah ditentukan dalam ikatan yang terdapat
seorang atau beberapa orang yang disebut atasan dan seorang atau sekelompok oranng
yang disebut bawahan.
Robbins dan Judge (2013:5) juga mendefinisikan organisasi sebagai suatu
koordinasi yang terdiri dari dua atau lebih individu yang berfungsi secara relatif terusmenerus untuk mencapai tujuan bersama.
6
Hal serupa juga didefinisikan oleh Greenberg dan Baron (2007) bahwa
organisasi adalah sistem sosial terstruktur termasuk didalamnya yaitu kelompok atau
individu yang bekerja sama untuk mencapai sebuah tujuan.
2.1.2 Manajemen
Robbins dan Coulter (2010:7) mendefinisikan manajemen sebagai aktivitasaktivitas koordinasi dan pengawasan kerja orang lain, sehingga pekerjaan tersebut dapat
diselesaikan secara efisien dan efektif.Sedangkan, manajer adalah seseorang yang
melakukan koordinasi dan pengawasan terhadap pekerjaan orang lain, sehingga sasaransasaran organsasi dapat dicapai. Para manajer di dalam orgnisasi biasanya
diklasifikasikan kedalam sebuah strukur piramid seperti berikut:
Gambar 2.1 Jenjang Manajemen
Sumber: Robbins dan Coulter (2010:6)
1. Manajer lini pertama (first line manager)
Para manajer yang bertanggung jawab untuk mengelola pekerjaan para karyawan
non manajemen, yang biasanya melibatkan kegiatan memproduksi barang atau jasa
bagi pelanggan organisasi.
2. Manajer tingkat menengah (middle manager)
Para manajer yang berada pada posisi antara jenjang terbawah dan teratas organisasi,
bertanggung jawab untuk mengelola pekerjaan para manajer tingkat pertama,
contohnya manajer divisi.
3. Manajer Puncak (top manager)
Para manajer jenjang teratas organisasi yang bertanggung jawab atas pengambilan
keputusan-keputusan yang dapat mempengaruhi jalannya seluruh organisasi dan
menentukan rencana kerja serta sasaran bagi organisasi secara keseluruhan.
2.1.2.2
Fungsi Manajemen
Fungsi-fungsi Manajemen menurut Robbins dan Coulter (2010:9) terdiri dari 4
(empat) hal yaitu:
1. Perencanaan (planning)
Sebuah fungsi manajemen yang meliputi pendefinisian sasaran-sasaran, menetapkan
strategi, dan mengembangkan rencana kerja untuk mengelola aktivitas-aktvitas
2. Penataan (Organizing)
Sebuah fungsi manajemen yang melibatkan tindakan-tindakan penataan dan
pengaturan berbagai aktivitas kerja secara terstruktur demi mencapai sasaran
organisasi.
3. Kepemimpinan (Leading)
Sebuah fungsi manajemen yang melibatkan interaksi dengan orang-orang lain untuk
mencapai sasaran organisasi.
4. Pengendalian (Controlling)
Sebuah fungsi manajemen yang melibatkan tindakan-tindakan pengawasan,
penilaian, dan koreksi terhadap kinerja dan hasil pekerjaan.
2.1.3
Manajemen Sumber Daya Manusia
2.1.3.1 Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia
Hani T. Handoko (2011:5) memberikan pengertian bahwa manajemen sumber
daya manusia merupakan suatu proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan
pengawasan kegiatan-kegiatan pengadaan, pengembangan, pemberian kompensasi,
8
pengintegrasian pemeliharaan dan pelepasan sumber daya manusia agar tercapai
berbagai tujuan individu, organisasi dan masyarakat.
Dan menurut Yuniarsih dan Suwatno (2008:1) manajemen sumber daya manusia
merupakan bagian dari ilmu manajemen yang memfokuskan perhatiannya pada
pengaturan peranan sumber daya manusia dalam kegiatan suatu organisasi, dimana
manajemen sumber daya manusia menjadi penting karena 3 (tiga) hal, yaitu:
1. Manajemen sumber daya manusia menjadi sumber yang signifikan bagi keunggulan
kompetitif.
2. Manajemen sumber daya manusia menjadi bagian penting dari strategi organisasi.
3. Manajemen sumber daya manusia mempengaruhi kinerja organisasi.
Begitu juga Mathis dan Jackson (2011:4) menjelaskan bahwa manjemen sumber
daya manusia adalah perancangan sistem formal di dalam organisasi untuk memastikan
adanya efektivitas dan efisiensi atas penggunaan sumber daya manusia untuk mencapai
tujuan organisasi.
Sedangkan menurut Hasibuan (2007:111) menyatakan bahwa manajemen SDM
atau pengelolaan SDM berarti penyiapan dan pelaksanaan suatu rencana yang
terkoordinasi untuk menjamin bahwa SDM yang ada dapat dimanfaatkan dengan sebaikbaiknya untuk mencapai tujuan organisasi. Berbeda dengan Dessler (2005:2) yang
menyatakan bahwa manajemen SDM adalah kebijakan dann praktik menentukan aspek
manusia atau sumber daya manusia dalam posisi manajemen, termasuk merekrut,
menyaring, melatih, memberi penghargaan dan penilaian.
Dan menurut Edwin B. Flippo dalam H. Suwatno dan Donni Juan Priansa
(2011:29)
menyatakan
bahwa,
“Manajemen
personalia
adalah
perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian dari pengadaan, pengembangan,
kompensasi, pengintegrasian, pemeliharaan, dan pemberhentian karyawan, dengan
maksud terwujudnya tujuan perusahaan individu, karyawan, dan masyarakat.
2.1.3.2 Fungsi Sumber Daya Manusia
Fungsi sumber daya manusia dibagi menjadi 7 (tujuh) bagian yang dapat dilihat
melalui gambar 2.2 dibawah ini:
Gambar 2.2 Human Resources Functions
Sumber: Mathis dan Jackson (2011:6)
1. Strategic HR Management
Sebagai bagian dari mempertahankan organisasi, perencanaan strategis untuk
efektivitas SDM dapat ditingkatkan melalui penggunaan metrik SDM dan
teknologi HR
2. Equal Employment Opportunity
10
Kepatuhan atas undang-undang dan peraturan untuk memberi kesempatan yang
sama bagi setiap manusia untuk bekerja.
3. Staffing
Tujuan dari staf adalah untuk menyediakan manusia yang berkualitas untuk
melaksanakan pekerjaan di organisasi melalui proses seleksi dan adanya desain
pekerjaan dan kualifikasi kemampuan yang dibutuhkan.
4. Talent Management
Adanya pelatihan dan pengembangan bagi manusia yang ada di dalam organisasi
serta melihat seberapa baik mereka menyelesaikan pekerjaan untuk orientasi
perencanaan karir dimasa depan.
5. Total Rewards
Adanya kompensasi, tunjangan, dan bonus yang sesuai dan kompetitif serta terus
menerus melakukan perbaikan dalam hal ini.
6. Risk Management and worker protection
Memperhatikan lingkungan kerja dan resiko yang mungkin terjadi serta
menyediakan keselamatan dan keamanan bagi pekerja.
7. Employee and labor relations
Adanya kebijakan tentang sumber daya manusia yang mengatur hak dan
kewajiban antara atasan dan bawahan.
2.1.4
Job Design
Peranan sumber daya manusia dalam mendesain pekerjaannya adalah hubungan
yang sangat dinamis. Sehingga masukan-masukan atau pikiran yang cerdas, tidak hanya
bersumber dari majikan atau perusahaan kekaryawan, tapi juga ada hak-hak mereka
untuk berperan aktif dalam merancang pekerjaannya. Sudah terlihat sangat jelas bahwa
job design merupakan faktor penting dalam manajemen terutama manajemen operasi
karena selain berhubungan dengan produktifitas juga menyangkut tenaga kerja yang
akan melaksanakan kegiatan operasi perusahaan.
Menurut Pooja Garg dan Renu Rastogi dalam jurnal yang berjudul “New Model of
Job Design : Motivating Employees Performance” mengemukakan bahwa sehubungan
dengan desain pekerjaan terdapat teori besar pertama dari seorang psikolog bernama
Frederick Herzberg. Herzberg mengembangkan suatu teori motivasi yang disebut teori
Dua Faktor, dimana terdiri dari : Faktor Higienis dan Faktor Motivasi. Faktor Higienis
yaitu faktor-faktor yang dapat menyebabkan ataupun mencegah ketidakpuasan.
Sedangkan faktor motivasi yaitu faktor-faktor yang betul-betul membawa pada
pengembangan sikap positif dan merupakan pendorong pribadi; dengan perkataan lain
bersifat intrinsik.
Menurut Herzberg hanya sebuah pekerjaan yang menantang memiliki kesempatan
untuk berprestasi, pengakuan, dan pertumbuhan yang akan memotivasi karyawan.
Greenberg dan Baron (2005) menyatakan desain pekerjaan adalah fungsi penetapan
kegiataan-kegiataan
kerja
seorang
individu
atau
kelompok
karyawan
secara
organisasional. Tujuannya adalah untuk mengatur penugasan-penugasan kerja yang
memenuhi kebutuhan-kebutuhan organisasi, teknologi dan keprilakuan. Sejalan dengan
Rivai (2004) rancangan pekerjaan adalah proses penentuan tugas-tugas yang akan
dilaksanakan, metode-metode yang digunakan untuk melaksanakan tugas ini, dan
bagaimana pekerjaan tersebut berkaitan dengan pekerjaan lainnya di dalam perusahaan.
Dan menurut Veithzal Rivai dan Ella Jauvani (2009:127). Desain pekerjaan adalah
proses penentuan tugas-tugas yang akan dilaksanakan, metode-metode yang digunakan
untuk melaksanakan tugas ini dan bagaimana pekerjaan tersebut berkaitan dengan
pekerjaan lainnya di dalam perusahaan. Adapun Irawan (2003) menjelaskan bahwa
desain pekerjaan adalah struktur bangunan pekerjaan yang disusun sedemikian rupa
sehingga pekerjaan tersebut dapat dikerjakan dengan cara yang efisien dan efektif.
Pendekatan motivasi untuk mendesain pekerjaan yang dikemukakan oleh Hackman
dan Oldham (1975 dalam International Journal of Business and Management; Vol,9, No.
2 ; 1014, Nisbat & Muhammad) menggunakan job characteristics model. Model
karakteristik pekerjaan berupaya mengidentifikasikan karakteristik tugas pekerjaanpekerjaan, bagaimana gabungan karakteristik dapat membentuk pekerjaaan yang
12
berbeda, dan hubungan karakteristik pekerjaan dengan motivasi, kepuasaan dan kinerja
karyawan (Robbins, 2003: 637)
Desain pekerjaan juga dapat diartikan sebagai pendekatan dalam suatu pekerjaan
yang dilakukan dengan sedemikian rupa dengan mengandalkan dan mempertimbangkan
job enlargement yaitu parktik untuk memperluas isi daripada suatu pekerjaan yang
meliputi jenis dan tugas dalam tingkat yang sama dan job enrichment yaitu parktik yang
memberikan karyawan tingkat kebebasan yang lebih tinggi terhadap perencanaan ddan
pengorganisasian melalui implementasi kerja dan evaluasi kerja.
Desain pekerjaan merupakan sebuah pendekatan yang menentukan tugas-tugas yang
terkandung dalam suatu pekerjaan bagi seseorang atau sekelompok karyawan dalam
suatu organisasi (Dwiningsih, 2009). Desain pekerjaan dapat dijadikan suatu alat untuk
memotivasi dan memberi tantangan pada karyawan. Oleh karena itu perusahaan perlu
memiliki suatu sistem kerja yang dapat menunjang tercapainya tujuan perusahaan secara
efektif dan efisien yang dapat merangsang karyawan untuk bekerja secara produktif,
mengurangi timbulnya rasa bosan dan dapat meningkatkan kepuasan kerja, desain
pekerjaan terkadang digunakan untuk menghadapi stress kerja yang dihadapi karyawan
(Sullivan, 2000).
Desain pekerjaan yang baik turut pula menyumbangkan peran dalam menentukan
keberhasilan karyawan dalam menyelesaikan tanggungjawab pekerjaan sesuai keinginan
perusahaan. Setiap organisasi atau perusahaan mempunya cara tersendiri dalam
membuat desain pekerjaan untuk setiap karyawannya sesuai bagiannya masing-masing,
dalam membuat desain pekerjaan komunikasi antara atasan dan bawahan harus
diperhatikan karena desain pekerjaan dalam suatu organisasi dan proses komunikasi
adalah jalan yang tidak dapat dipisahkan (Sunarto, 2005). Inti dalam membuat desain
pekerjaan yang ada disusun secara sistematis. Desain pekerjaan membatu dalam
menjelaskan pekerjaan apa yang harus dikerjakan, bagaimana mengerjakan pekerjaan
tersebut, berapa banyak pekerjaan yang harus dilakukan dan bagaimana ketentuan yang
harus dijalankan sehingga pekerjaan dapat diselesaikan (Sunarto,2005).
Desain Pekerjaan meliputi fungsi penetapan kegiatan-kegiatan kerja seorang
individu atau kelompok karyawan secara organisasional. Dengan tujuan mengatur
penugasan-penugasan kerja yang memenuhi kebutuhan organisasi, teknologi dan
keperilakuan. Desain pekerjaan yang merupakan hasil dari analisis pekerjaan, terdiri dari
tiga karakteristik pekerjaan yaitu: rentang tugas, kedalaman tugas dan hubungan tugas.
Desain pekerjaan menjadi faktor penyebab yang mempengaruhi prestasi kerja karyawan.
Untuk itu terasa penting dapat mengetahui pengaruh desain pekerjaan yang terdiri dari
rentang tugas, kedalaman tugas dan hubungan tugas terhadap prestasi kerja karyawan
penting untuk dilakukan serta proses pengumpulan, mengevaluasi serta mengorganisasi
informasi-informasi tentang perancangan pekerjaan, pemahaman pekerjaan dan
persyaratan-persyaratan.
Ada tiga unsur desain pekerjaan organisasi, yaitu pendekatan mekanik yang
artinya berupaya mengidentifikasi setiap tugas dalam suatu pekerjaan guna
meminimumkan waktu dan tenaga. Hasil pengumpulan identifikasi tugas akan
menentukan spesialisasi. Pendekatan ini lebih menekankan pada faktor efisiensi waktu,
tenaga, biaya dan latihan. Selain itu adanya aliran kerja, ini dipengaruhi oleh sifat
komoditi yang dihasilkan oleh suatu orgainisasi atau perusahaan guna menentukan
urutan dan keseimbangan pekerjaan dan pendekatan yang terakhir adalah praktekpraktek kerja, yaitu cara pelaksanaan pekerjaan yang ditetapkan, ini bisa berdasarkan
kebiasaan yang berlaku dalam perusahaan, perjanjian atau kontrak kotak serikat kerja
karyawan, kesepakatan bersama. spesialisasi pekerjaan yang terlalu rendah perusahaan
dapat dilakukan simplikasi pekerjaan (penyederhanaan pekerjaan). Resiko dari
simplikasi pekerjaan yaitu menimbulkan kebosanan karena terspesialisasi yang akhirnya
menimbulkan kesalahan-kesalahan. Untuk menghindari adanya kejenuhan, terkadang
pekerjaan dapat dibuat lebih menarik dengan cara memperkayan pekerjaan. Tiga metode
untuk memperbaiki kondisi pekerjaan yang terlalu spesialisasi melalui perancangan
kembali dengan rotasi jabatan, pemerkayaan pekerjaaan secara horizontal (job
enlargement) dan vertikal (job enrichment).
14
2.1.4.1 Dimensi Job Design
Desain pekerjaan merupakan analisis fungsi penetapan kegiatan kerja seorang atau
sekelompok karyawan secara organisasional. Menurut Hackman dan Oldham (1975
dalam International Journal of Business and Management; Vol,9, No. 2 ; 1014, Nisbat &
Muhammad) pekerjaan perlu didiagnosis dan diperbaiki melalui lima dimensi kerja yang
pokok yaitu skill variety, task identity, task significance, autonomy, dan feedback. Ketika
melakukan tugas yang menggabungkan lima dimensi kerja inti, karyawan merasa
termotivasi untuk menampilkan kerja berkualitas tinggi, sangat puas pada pekerjaannya,
mempunyai tingkat kemangkiran yang rendah dan juga angka turnover yang rendah
pula. Karakteristik pekerjaan merupakan sifat dari tugas yang meliputi tanggung jawab,
macam tugas dan tingkat kepuasaan yang diperoleh dari pekerjaan itu sendiri.
Dessler (2004) menerangkan bahwa sebuah desain pekerjaan merupakan pernyataan
tertulis tentang apa yang harus dilakukan oleh pekerja, bagaimana orang itu
melakukannya dan bagaimana kondisi kerjanya. Dimensi pekerjaan inti merupakan
karakteristik-karakteristik yang membuat pekerjaan lebih motivasional.
Dimensi inti pekerjaan menurut Hackman dan Oldman:
1.
Skill Variety
Skill variety adalah tingkat dimana seseorang perlu menggunakan berbagai
keterampilan dan kemampiannya untuk melakukan pekerjaan. pekerjaan yang
mempunyai keragaman tinggi ini akan membuat karyawan menggunakan beberapa
keterampilan dan bakat untuk menyelesaikan tugasnya.
Pekerjaan yang beragam dipandang lebih menantang karena mencakup bebrapa
jenis pekerjaan. pekerjaan seperti ini akan menghilangkan rasa kemonotonan yang
timbul dari setiap aktivitas yang berulang. selain itu keragaman keterampilan akan
menimbulkan perasaan kompeten yang lebih besar bagi para pekerja, karena para
pekerja dapat melakukan jenis pekerjaan yang berlainan dengan cara yang berbeda.
2. Task Identity
Tingkat dimana suatu pekerjaan itu memerlukan penyelesaian yang menyeluruh
dan dapat diidentifikasikan . gerakan manajemen ilmiah masa lampau telah
menimbulkan pekerjaan yang terlalu dispesialisasikan dan rutinitas. para karyawan
mengerjakan bagian kecil dari pekerjaan sehingga para karyawan tidak dapat
mengidentifikasikan salah satu hasil kerja dengan upaya mereka sendiri. para
karyawan tidak dapat memiliki rasa menyelesaikan atau tanggung jawab terhadap
pekerjan secara keseluruhan.
3. Task Significance
Tingkat dimana pekerjaan itu dapat memberikan pengaruh besar pada kehidupan
atau pekerjaan orang lain, dengan kata lain seberapa jauh suatu pekerjaan
berpengaruh terhadap kehidupan dari pekerjaan orang lain baik diluar maupun di
dalam organisasi.
4. Otonomi
Tingkat atau keadaan dimana sesuatu pekerjaan itu memberikan kebebasan
kepada karyawan untuk dapat merancang dan memprogramkan aktivitas kerjanya
sendiri. pekerjaan yang mempunyai otonomi mendorong karyawan menggunakan
kemampuan dan kebikjaksanaan untuk dapat menentukan strategi dalam
melaksanakan pekerjaannnya.
5. Feedback
Tingkat dimana karyawan mendapat umpan balik dari pngetahuan mngenai hasil
dari pekerjaannya. Umpan balik mengacu pada informasi yang diberikan kepada
seorang karyawan atas prestasi yang dicapainya dalam pekerjaan. Umpan Balik
16
dapat timbul dari pekerjaan itu sendiri, pimpinan atau atasan atau rekan kerja
lainnya.
Gagasan atau kata- kata umpan balik yang cukup sederhana akan sangat penting
dan berarti bagi karyawan, terlebih apabila diwujudkan dalam bentuk hadiah atau
bonus. Mereka perlu mengetahui seberapa baik prestasi mereka, karena mereka
menyadari bahwa prestasi itu memeang berbeda - beda, dan agar dapat melakukan
penyesuaian diri melalui proses perolehan atau pembentukan keahlian.
2.1.5
Employee Satisfaction
2.1.5.1 Pengertian Employee Satisfaction
Kuswadi (2004:13) kepuasan kerja merupakan ukuran sampai seberapa jauh
perusahaan dapat memenuhi harapan karyawannya yang berkaitan dengan berbagai
aspek dalam pekerjaan dan jabatannya. Kepuasan kerja adalah sikap umum terhadap
pekerjaan seseorang, yang menunjukkan perbedaan antara jumlah penghargaan yang
diterima pekerja dan jumlah yang mereka yakini seharusnya mereka terima (Wibowo,
2007:229). Greenberg dan Baron (2003 dalam Wibowo 2007:299) mendeskripsikan
kepuasan kerja sebagai sikap positif atau negatif yang dilakukan individual terhadap
pekerjaan mereka.
Definisi Employee Satisfaction menurut Colquitt, LePine, dan Wesson (2009,
p105) adalah suatu pernyataan emosi yang menyenangkan yang dihasilkan dari
penghargaan terhadap pekerjaan seseorang dan apa yang anda pikirkan tentang
pekerjaan anda.
Hasibuan (2007:202), menyatakan bahwa kepuasaan kerja karyawan adalah
sikap emosional yang menyenangkan dan mencintai pekerjaannya. Sikap ini
dicerminkan oleh moral kerja, kedisiplinan, dan prestasi kerja.
Dalam bukunya, Veithzal Rivai dan Ella Jauvani (2009:856) mengemukakan
bahwa kepuasaan kerja merupakan evaluasi yang menggambarkan seseorang atas
perasaan sikap senang atau tidak senang, puas atau tidak puas dalam bekerja.
Menurut Osborn dalam H. Suwatno dan Donni Juan Priansa (2011:263),
menyatakan bahwa: “Job satisfaction is the degree to which an individual feels
positively or negatively about the various facets of the job task, the work setting and
relationship with co-worker”. Kepuasaan kerja adalah derajat positif atau negatifnya
perasaan seseorang mengenai berbagai segi tugas-tugas pekerjaan, tempat kerja, dan
hubungan dengan sesama pekerja.
Dan menurut Kreitner dan Kinicki, (2008, p170) ialah suatu respon yang
mempengaruhi atau emosional terhadap berbagai segi dari pekerjaan seseorang. Jadi
kepuasaan kerja adalah evaluasi yang menggambarkan seseorang atas perasaan sikapnya
senang atau tidak senang, puas atau tidak puas dalam bekerja.
Berdasarkan beberapa definisi para ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa
kepuasan kerja adalah suatu respon berupa pernyataan emosi perasaan dan kepercayaan
yang dimiliki seseorang terhadap berbagai segi dari pekerjaannya yang menggambarkan
sikap karyawan terhadap pekerjaannya.
2.1.5.2 Dimensi Employee Satisfaction
Ada beberapa dimensi dalam employee satisfaction, yaitu:
a. Satisfaction with Pay
Satisfaction with pay merupakan kepuasaan karyawan atas gaji mereka yang
disesuaikan dengan pekerjaan yang mereka kerjakan dan seberapa besar tanggung jawab
yang mereka pegang. Pekerja yang menganggap gajinya sesuai dengan kerja yang
dibebankan akan merasa senang dan akan termotivasi untuk mengerjakan tugas mereka
sebaik-baiknya demi tercapainya tujuan perusahaan.
b. Satisfaction with Nature of Work
18
Memuaskan kebutuhan konsumen adalah keinginan setiap perusahaan. Selain
faktor penting bagi kelangsungan hidup perusahaan, memuaskan kebutuhan konsumen
dapat meningkatkan keunggulan dalam persaingan.
Dari bekerja orang mendapatkan lebih dari sekedar uang atau prestasi-prestasi
yang berwujud, bagi sebagian karyawan kerja juga dapat mengisi kebutuhan akan
berinteraksi social. Oleh karena itu, tidak heran jika seorang karyawan memiliki rekan
kerja yang suportif dan bersahabat dapat meningkatkan kepuasan kerja mereka.
Konsumen yang puas terhadap produk dan jasa pelayanan cenderung untuk
membeli kembali produk dan menggunakan kembali jasa pada saat kebutuhan yang
sama muncul kembali dikemudian hari.
Hal ini berarti kepuasan merupakan faktor kunci bagi konsumen dalam
melakukan pembelian ulang yang merupakan porsi terbesar dari volume penjualan
perusahaan. Terutama untuk industri jasa. Konsumen akan merasa puas bila mereka
mendapatkan pelayanan yang baik atau yang sesuai dengan yang diharapkan.
c. Satisfaction with Supervision
Komunikasi dengan supevision merupakan komunikasi yang terjadi antara atasan
dengan karyawan di tempat kerja. Supervisor terlibat dalam tujuh jenis komunikasi yang
positif yaitu, pemikiran yang positif dan pemikiran yang negatif, dasar rasionil,
penentuan arah, pemikiran, informasi, dan feedback. Komunikasi merupakan proses
penyampaian pesan antara anggota-anggota organisasi yang terjadi untuk kepentingan
organisasi, seperti komunikasi antara pimpinan dengan bawah, maupun antar sesama.
Maka dari itu komunikasi dengan supervision sangat mempengaruhi kepuasaan
pada karyawan itu sendiri.
2.1.5.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Employee Satisfaction
Berdasarkan para ahli faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja yang
berkaitan dengan beberapa aspek menurut Marihot (2007:291), yaitu :
1. Gaji, yaitu jumlah bayaran yang diterima sesorang sebagai akibat dari pelaksanaan
kerja apakah sesuai dengan kebutuhan dan dirasakan adil. Nilai memiliki dampak
terhadap level kepuasan kerja karena mereka merefleksikan keyakinan karyawan tentang
hasil yang seharusnya terjadi dan bagaimana seseorang seharusnya berperilaku saat
bekerja. Ada dua macam nilai kerja, yaitu: nilai kerja intrinsik dan ekstrinsik.
2. Pekerjaan itu sendiri, yaitu isi pekerjaan yang dilakukan seseorang apakah memiliki
elemen yang memuaskan. Setiap aspek dalam pekerjaan dan organisasi merupakan
bagian dari situasi kerja dan dapat mempengaruhi kepuasan kerja. Kebanyakan orang
dapat menjadi lebih terpuaskan dengan sebuah pekerjaan yang menggaji mereka secara
baik dan itu sangat aman dibandingkan pekerjaan yang menggaji mereka sedikit dan
ancaman pemberhentian kepada karyawan untuk selalu hadir.
3. Rekan sekerja, yaitu teman-teman kepada siapa seseorang senantiasa berinteraksi
dalam pelaksanaan pekerjaan. Pengaruh sosial dari rekan kerja dapat menjadi faktor
penentu yang sangat penting dari kepuasan kerja seorang karyawan karena rekan kerja
selalu ada disekeliling mereka, dan memiliki tipe pekerjaan yang serupa, dan seringkali
memiliki beberapa hal yang sama dengan seorang karyawan.
4. Atasan, yaitu seorang yang senantiasa memberi perintah atau petunjuk dalam
pelaksanaan kerja. Cara-cara atasan dapat tidak menyenangkan bagi sesorang atau
menyenangkan dan hal ini dapat mempengaruhi kepuasan kerja.
5. Promosi, yaitu kemungkinan seseorang dapat berkembang melalui kenaikan jabatan.
Seseorang dapat merasakan adanya kemungkinan yang besar untuk naik jabatan atau
tidak, proses kenaikan jabatan kurang terbuka atau terbuka.
20
6. Lingkungan kerja yaitu lingkungan fisik dan psikologis.
Menurut Steven P. Robbins dan Timothy A. Judge (2007, p84) pekerja yang senang
biasanya merupakan pekerja yang produktif, walaupun sulit untuk mengatakan
bagaimana kualitasnya berjalan. Bagaimanapun, beberapa peneliti pernah mempercayai
bahwa relasi antara kepuasan kerja dan kinerja merupakan mitos. Tetapi sebuah review
dari 300 studi menyimpulkan bahwa korelasinya cukup kuat. Mulai dari level individu
sampai kepada organisasi, juga ditemukan dukungan terhadap relasi kepuasan-kinerja.
Menurut George dan Jones (2005, p80-83) ada beberapa determinan dari kepuasan kerja.
Gambar 2.3 Bagan Determinan Employee Satisfaction
Sumber: George dan Jones (2005, p80)
2.1.5.4 Pengukuran Employee Satisfaction
Menurut A.A Anwar Prabu Mangkunegara (2004:127): Mengukur kepuasan
kerja dapat digunakan skala indeks deskripsi jabatan, skala kepuasan kerja berdasarkan
ekspresi wajah, dan kuesioner kepuasan kerja Minnesota.
a. Pengukuran Kepuaan Kerja dengan skala Indeks Deskripsi Jabatan
Skala pengukuran ini dikembangkan oleh Smith, Kendall, dan Hulin pada
tahun 1969. Dalam penggunaanya, pegawai ditanya mengenai pekerjaan
maupun jabatannya yang dirasakan sangat baik dan sangat buruk, dalam
skala mengukur sikap dari lima area. Yaitu kerja, pengawasan, upah,
promosi, dan Co-worker. Setiap pertanyaan yang diajukan, harus dijawab
oleh pegawai dengan cara menandai jawaban ya, tidak, atau tidak ada
jawaban.
b. Pengukuran Kepuasan Kerja dengan Berdasarkan Ekspresi Wajah.
Skala ini terdiri dari seri gambar wajah- wajah orang mulai dari sangat
gembira, gembira, netral, cemberut, dan sangat cemberut Pegawai diminta
untuk memilih ekspresi wajah yang sesuai dengan kondisi pekerjaan yang
dirasakan pada saat itu.
c. Pengukuran kepuasan kerja denagn kuesioner Minnesota
Pengukuran kepuasan kerja ini dikembangkan oleh Weiss, Dawis, dan
England pada tahun 1967. Skala ini terdiri dari pekerjaan yang dirasakan
sangat tidak puas, tidak puas, netral, memuaskan, dan sangat memuaskan.
Pegawai diminta memilih satu alternative jawaban yang sesuai dengan
kondisi pekerjaannya.
2.1.6
Employee Performance
2.1.6.1 Pengertian Employee Performance
Definisi kinerja menurut Kreitner dan Kinicki (2008, p36) adalah nilai dari
sekelompok perilaku karyawan yang berkontribusi, baik positif atau negatif, terhadap
pencapaian tujuan organisasi. Dan menurut Lloyd I. Byars dan Leslie w. Rue (2008,
p222) Kinerja adalah tingkat prestasi/pencapaian dari suatu tugas yang membuat
pekerjaan seorang karyawan menjadi lebih baik. Hal ini merefleksikan seberapa baik
seorang karyawan memenuhi tuntutan pekerjaannya.
Menurut Mathis dan Jackson (2006:378), kinerja pada dasarnya adalah apa yang
dilakukan atau yang tidak dilakukan oleh karyawan. Kinerja karyawan yang umum
untuk kebanyakan pekerjaan meliputi elemen sebagai berikut: kuantitas dari hasil,
kualitas dari hasil, ketepatan waktu dari hasil, kehadiran, dan kemampuan bekerja sama.
22
Menurut Hasibuan (2009:34) mengemukakan kinerja (prestasi kerja) adalah
suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang
dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman, dan kesungguhan,
serta waktu.
Lloyd I. Byars dan Leslie w. Rue juga menambahkan bahwa, usaha (effort)
mengacu pada energi yang dihabiskan, sedangkan kinerja (performance) diukur dengan
hasil. Misal, seorang murid mungkin berusaha keras untuk mempersiapkan sebuah tes
dan tetap mendapatkan ranking yang rendah. Dalam kasus ini usaha yang dihasilkan
sangat tinggi, tetapi kinerjanya rendah. Produktivitas kerja merepakan kemampuan
menghasilkan sesuatu sebagai perbandingan output dibagi input. Kinerja juga dapat
digambarkan sebagai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan dalam mewujudkan
sasaran, tujuan, misi, visi perusahaan yang tertuang dalam perumusan strategi
planning suatu perusahaan. Penilaian tersebut tidak terlepas dari proses yang merupakan
kegiatan mengolah masukan menjadi keluaran atau penilaian dalam proses penyusunan
kebijakan/program/kegiatan
yang dianggap
penting dan berpengaruh terhadap
pencapaian sasaran dan tujuan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa kinerja adalah segala sesuatu yang dilakukan
karyawan yang memberikan kontribusi bagi organisasi baik positif atau negatif, baik
hal-hal yang dilakukan ataupun tidak dilakukan, demi mencapai tujuan organisasi dan
membuat pekerjaan seorang karyawan menjadi lebih baik.
2.1.6.2 Pengukuran Produktivitas Kerja
Pengukuran produktivitas tenaga kerja menurut sistem pemasukan fisik
perorangan/perorang atau per jam kerja orang diterima secara luas, namun dari sudut
pandangan/ pengawasan harian, pengukuran-pengukuran tersebut pada umumnya tidak
memuaskan, dikarenakan adanya variasi dalam jumlah yang diperlukan untuk
memproduksi satu unit produk yang berbeda. Oleh karena itu, digunakan metode
pengukuran waktu tenaga kerja (jam, hari atau tahun).
Pengeluaran diubah ke dalam unit-unit pekerja yang biasanya diartikan sebagai
jumlah kerja yang dapat dilakukan dalam satu jam oleh pekerja yang terpercaya yang
bekerja menurut pelaksanaan standar. Untuk mengukur suatu produktivitas perusahaan
dapatlah digunakan dua jenis ukuran jam kerja manusia, yakni jam-jam kerja yang harus
dibayar jam-jam kerja yang dipergunakan untuk bekerja. Jam kerja yang harus dibayar
meliputi semua jam-jam kerja yang harus dibayar, ditambah jam-jam yang tidak
digunakan untuk bekerja namun harus dibayar, liburan, cuti, libur karena sakit, tugas
luar dan sisa lainnya. Jadi bagi keperluan pengukuran umum produktivitas tenaga kerja
kita memiliki unit-unit yang diperlukan, yakni: kuantitas hasil dan kuantitas penggunaan
masukan tenaga kerja (Sinungan, 2003:24)
Menurut Cascio (2003: 336-337), kriteria sistem pengukuran kinerja adalah sebagai
berikut:
1. Relevan (relevance). Relevan mempunyai makna (1) terdapat kaitan yang
erat antara standar untuk pelerjaan tertentu dengan tujuan organisasi, dan (2)
terdapat keterkaitan yang jelas antara elemen-elemen kritis suatu pekerjaan
yang telah diidentifikasi melalui analisis jabatan dengan dimensi-dimensi
yang akan dinilai dalam form penilaian.
2. Sensitivitas (sensitivity). Sensitivitas berarti adanya kemampuan sistem
penilaian kinerja dalam membedakan pegawai yang efektif dan pegawai yang
tidak efektif.
3. Reliabilitas (reliability). Reliabilitas dalam konteks ini berarti
konsistensi penilaian. Dengan kata lain sekalipun instrumen tersebut
digunakan oleh dua orang yang berbeda dalam menilai seorang pegawai,
hasil penilaiannya akan cenderung sama.
4. Akseptabilitas (acceptability). Akseptabilitas berarti bahwa pengukuran
kinerja yang dirancang dapat diterima oleh pihak-pihak yang
24
menggunakannya.
5. Praktis (practicality). Praktis berarti bahwa instrumen penilaian yang
disepakati mudah dimenegerti oleh pihak-pihak yang terkait dalam proses
penilaian tersebut.
2.1.6.3 Dimensi Employee Performance
Dimensi employee performance berdasarkan theorectical framework dalam Internasional
Journal of Business and Management; Vol. 9, No. 2; 2014. Ali, Zia-ur-Rehma.
1.
Task Performance
Task Performance adalah sebuah proses yang membutuhkan kecakapan
kerja antara lain mendapatkan informasi, mengolah informasi, menilai kualitas
informasi, menggunakan informasi untuk sebuah tujuan, dan menggunakan
informasi untuk presentasi produk.
2.
Career Performance
Menurut Prabu Mangkunegara (2009:67) career performance atau
prestasi kerja merupakan hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai
oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung
jawab yang diberikan kepadanya, yang memiliki indikator seperti kualitas,
kuantitas, pelaksanaan tugas, dan tanggung jawab.
2.1 Penelitian Terdahulu
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
Peneliti
Nisbat Ali 1
Judul Penelitian
Tahun
2014
Hasil Penelitian
Impact of Job Design on Penelitian ini menujukkan adanya hubungan
&
Employee
Muhammad
Mediating
Zia-ur-
Satisfaction:
Rehman
FMCG’s Sector in Pakistan
Sheng Wen
2009
The
Performances, yang positif antara job design dan employee
Role
of
A
Study
Differences
in
Job performance
of memiliki
dan
efek
employee
positif
satisfaction
pada
employee
performance.
Job Adanya pengaruh yang signifikan antara job
Liu, Ralph
Characteristics,
Job characteristics,
Norcio, Jung
Satisfaction,
and organizational commitment, sehingga dapat
Tsung Tu
Organizational Commitment of menjukkan perbedaan yang signifikan dan
Working in Mainland China
2014
satisfaction,
and
Expatriates positif antara ekspatriat Taiwan yang tinggal di
Taiwanese
Iwenas Jaya
job
Cina dan yang tidak tinggal di Cina.
Analisa Pekerjaan dan Desain Metode yang digunakan dalam penelitian ini
Lownata
Pekerjaan pada PT Chandea ada metode kualitatif dan pengumpulan data
Gunawan
ELC di Sidoarjo
menggunakan wawancara dan kuisioner yang
menghasilkan
penelitian
bahwa
analisa
pekerjaan dan desain pekerjaan memiliki
pengaruh yang sangat besar pada karyawan di
PT Chandea ELC sehingga analisa pekerjaan
dan desain pekerjaan sangat dibutuhkan di
perusahaan ini.
Andy
2013
Analisis
Pengaruh
Job Berdasarkan hasil penelitian ini job insecurity
Putranda
Insecurity terhadap Kepuasaan memiliki pengaruh langsung yang lebih besar
Oemboe
Kerja
Pangat
Organisasional
dan
Komitmen terhadap kinerja karyawan dibandingkan
serta pengaruh tidak langsung melalui kepuasan
dampaknya terhadap Kinerja kerja.
Karyawan
Outsourcing
PT maupun komitmen organisasional.
26
Upaya Kelola Profitama
Denny
2014
Analisi
pengaruh
Job Job enrichment dan Job enlargement pada PT
Rompas,
Enrichment
dan
Masruroh
Enlargement terhadap
memberikan pengaruh sebesar 85,6% terhadap
Kinerja Karyawan serta
kinerja karyawan. Dimana secara individu job
Dampaknya
Job Antam Tbk secara bersama – sama
terhadap enrichment memiliki pengaruh yang signifikan
Kepuasan Karyawan pada PT terhadap kinerja karyawan dan job enlargement
Antam Tbk
memiliki pengaruh yang signifikan terhadap
kinerja karyawan.
Erlin
2011
Pengaruh
Kemampuan
Motivasi, Motivasi kerja berpengaruh terhadap kinerja
dan
Kinerja karyawan pada Poultry Shop milik UD Jatinom
Karyawan terhadap Kepuasan Indah
Setiyoningsih
Kerja
dengan
Blitar.
Dengan
demikian
dapat
Kompensasi disimpulkan bahwa semakin tinggi motivasi
sebagai Variabel Moderator
kerja karyawan, semakin tinggi pula kinerja
karyawan
sebaliknya.
yang
dihasilkan,
begitu
juga
2.3
Kerangka Penelitian
Berdasarkan dukungan landasan teoritik yang diperoleh dari eksplorasi teori
yang dijadikan rujukan konsepsional variabel penelitian, maka dapat disusun
Kerangka Pemikiran sebagai berikut:
Gambar 2.4 Kerangka Penelitian
2.4
Hipotesis
•
Untuk T1
Ho: Tidak ada pengaruh antara job design (X) terhadap employee satisfaction
(Y).
Ha: Ada pengaruh antara job design (X) terhadap employee satisfaction (Y).
•
Untuk T2
Ho: Tidak ada pengaruh antara job design (X) terhadap employee performance
(Z).
28
Ha: Ada pengaruh antara job design (X) terhadap employee performance (Z).
•
Untuk T3
Ho: Tidak ada pengaruh antara employee satisfaction (Y) terhadap employee
performance (Z).
Ha: Ada pengaruh antara employee satisfaction (Y) terhadap employee
performance (Z).
•
Untuk T4
Ho: Tidak ada pengaruh antara job design (X) terhadap employee satisfaction (Y)
dan dampaknya pada employee performance (Z).
Ha: Ada pengaruh antara job design (X) terhadap employee satisfaction (Y) dan
dampaknya pada employee performance (Z).
Download