BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi

advertisement
32
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Daerah Penelitian
1. Letak, Batas, dan Luas Daerah Penelitian
Daerah yang digunakan sebagai tempat penelitian merupakan
wilayah sub DAS Pentung yang terletak di Kecamatan Patuk, Kabupaten
Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sub DAS Pentung
merupakan salah satu bagian dari DAS Oyo sehingga akan bermuara di
Sungai Oyo. Dalam satuan koordinat Universal Transverse Mercator
(UTM) zone 49S daerah penelitian terletak diantara 441247 mT –
449410 mT dan 9128603 mU – 9134043 mU. Secara adminsitratif batas
wilayah dari Sub DAS Pentung adalah sebagai berikut:
Sebelah utara
: Kecamatan Piyungan
Sebelah timur
: Desa Nglegi, Kecamatan Patuk
Sebelah selatan : Kecamatan Playen dan Kecamatan Dlingo
Sebelah barat
: Kecamatan Piyungan
Berdasarkan analisis peta RBI skala 1:25.000 daerah penelitian
tersebut memiliki luas 23,02 km2. Luas daerah penelitian terbagi menjadi
delapan desa yang meliputi Desa Ngoro-oro seluas 4,70 km2, Desa Patuk
seluas 2,14 km2, Desa Nglanggeran seluas 2,71 km2, Desa Salam seluas
5,19 km2, Desa Semoya seluas 4,88 km2, Desa Pengkok seluas 2,49 km2,
Desa Putat 0,06 km2 dan Desa Beji seluas 0,85 km2
32
33
Gambar 6. Peta Administratif Sub Das Pentung
34
2. Iklim
a. Curah Hujan
Curah hujan berperan dalam pengisian air pada pori tanah yang
mengakibatkan tanah mengembang dan jenuh air sehingga berat tanah
menjadi bertambah. Curah hujan menjadi dasar pengklasifikasian tipe
iklim oleh para ahli. Air hujan yang menjadi aliran permukaan adalah
unsur utama penyebab erosi. Semakin tinggi intensitas hujan maka
semakin besar aliran permukaan.
Klasifikasi iklim menurut Schmidt-Ferguson mendasarkan pada
curah hujan bulanan yaitu dengan memperhatikan jumlah bulan kering
dan bulan basah dalam periode satu tahun. Kriteria untuk menentukan
bulan kering dan bulan basah pada curah hujan bulanan adalah:
1) Bulan kering, apabila memiliki curah hujan kurang dari 60 mm
dalam kurun waktu satu bulan.
2) Bulan lembab, apabila memiliki curah hujan antara 60 mm – 100
mm dalam kurun waktu satu bulan.
3) Bulan basah, apabila memiliki curah hujan lebih dari 100 mm
dalam kurun waktu satu bulan.
Tipe iklim ditentukan berdasarkan hasil perbandingan (Q) antara
bulan basah dan bulan kering seperti ditunjukkan dalam persamaan:
Q=
x 100
Setelah nilai Quotient (Q) diketahui selanjutnya dicocokkan ke dalam kelas
kriteria tipe curah hujan menurut Schmidt-Ferguson seperti terdapat pada tabel 6.
35
Tabel 5. Tipe Curah Hujan Menurut Schmidt-Ferguson
Tipe Iklim
A
B
C
D
E
F
G
H
Nilai Q
Q < 0,143
0,143 ≤ Q < 0,333
0,333 ≤ Q < 0,600
0,600 ≤ Q < 1,000
1,000 ≤ Q < 1,670
1,670 ≤ Q < 3,000
3,000 ≤ Q < 7,000
7,000 ≥ Q
Kriteria
Sangat basah
Basah
Agak basah
Sedang
Agak kering
Kering
Sangat kering
Luar biasa kering
Sumber : A.G Kartasapoetra, 2008: 21-22
Besarnya curah hujan yang ada di daerah penelitian diperoleh dari
Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Gunungkidul. Data
curah hujan yang diperoleh merupakan pencatatan curah hujan dalam
kurun waktu sepuluh tahun dari tahun 2003 – 2012. Data curah hujan
yang telah diperoleh digunakan sebagai dasar pengklasifikasian iklim
daerah penelitian menurut iklim Schmidt-Ferguson.
Q
Gambar 7. Grafik Penentuan Tipe Iklim Menurut Schmidt-Ferguson
Berdasarkan data curah hujan yang diperoleh, maka dapat diketahui
nilai Q dengan penghitungan sebagai berikut:
36
Q=
x 100%
Q=
x 100%
Q = 96,5 %
Hasil perhitungan data curah hujan diperoleh nilai Q sebesar 96,5 %
sehingga klasifikasi iklim di daerah penelitian termasuk ke dalam
klasifikasi tipe iklim D dengan kriteria iklim sedang. Berdasarkan data
curah hujan selama sepuluh tahun dapat diketahui jumlah rata-rata hujan
di Kecamatan Patuk adalah 2179,4 mm/th.
b. Temperatur
Temperatur atau suhu menunjukkan tinggi rendahnya derajat
panas pada suatu wilayah tertentu. Tinggi rendahnya temperatur
sangat dipengaruhi oleh ketinggian tempat. Semakin tinggi tempat
dari permukaan air laut, maka temperatur akan semakin menurun.
Berdasarkan data ketinggian tempat daerah penelitian yang diperoleh
dari peta Rupa Bumi Indonesia, dapat diketahui bahwa titik terendah
berada pada ketinggian 19 m dan titik tertinggi berada pada ketinggian
428 m. Untuk menentukan suhu suatu tempat menggunakan rumus
Braak, yaitu:
T = 26,3° C ‒
26,3°C
= rata-rata temperatur dpal
0,6
= angka gradien temperatur setiap naik 100 m
h
= ketinggian rata-rata dalam meter
37
Temperatur rata-rata pada titik terendah di daerah penelitian
yaitu:
T = 26,3°C ‒
= 26,18°C
Temperatur rata-rata pada titik tertinggi di daerah penelitian
yaitu:
T = 26,3°C ‒
= 23,69°C
Jadi, temperatur udara rata-rata pada daerah penelitian
berkisar antara 23,69° hingga 26,18°.
3. Kondisi Geologi
Berdasarkan peta geologi yang diperoleh dari BAPPEDA Kabupaten
Gunungkidul, daerah penelitian terbagi menjadi tiga formasi batuan,
yaitu Formasi Nglanggeran, Formasi Sambipitu, dan Formasi Semilir.
a.
Formasi Nglanggeran
Formasi Nglanggeran diperkirakan terbentuk pada Zaman
Miosen Awal sampai Miosen Tengah. Formasi ini terletak di
sebagian besar Sub DAS Pentung yang tertutup selaras oleh Formasi
Sambipitu. Formasi Nglanggeran terdiri dari breksi gunungapi,
aglomerat, tuff, dan lava andesit-basal. Batuan pembentuk utama
berupa breksi gunungapi dan aglomerat yang terdapat dalam Formasi
Nglanggeran umumnya tidak berlapis. Komponen dari batuan
andesit hingga basalt, berukuran 2 hingga 50 cm.
Ketebalan Formasi Nglanggeran sekitar 325 m. Formasi ini
mempunyai susunan batuan breksi andesit. Breksi yang pejal dan
38
berlapis tersingkap dengan baik di tebing lembah sungai Oyo.
Formasi Nglanggeran yang meliputi daerah penelitian seluas 20,20
km2 atau 87,75% yang menempati sebagian besar daerah penelitian.
b.
Formasi Sambipitu
Formasi Sambipitu tersusun dari batu pasir dan batu lempung
yang berumur Miosen Tengah. Bagian bawah Formasi Sambipitu
terdiri dari batu pasir kasar terutama batu pasir sela yang tidak
berlapis dan batu pasir halus yang setempat diselingi serpih dan batu
lanau gampingan. Struktur sedimen berupa perlapisan bersusun,
perairan sejajar, dan gelembur gelombang, yang menunjukkan
adanya arus turbid. Tebal formasi ini sekitar 380 m. Formasi
Sambipitu berada di sebagian wilayah yang termasuk Desa Beji
seluas 1,75 km2 atau 7,60%.
c.
Formasi Semilir
Formasi Semilir memiliki batuan berupa tuf, breksi batu apung,
batu pasir tufan, dan serpih. Formasi Semilir pada awalnya pernah
tenggelam oleh laut. Di bagian tengah dijumpai lignit yang
berasosiasi dengan batu pasir tufan gampingan dan kepingan koral
pada breksi gunung api sedangkan bagian atasnya ditemukan batu
lempung dan serpih dengan tebal lapisan sampai 15 cm dan berasal
dari longsoran bawah laut. Ketebalan formasi ini lebih dari 460 m.
Formasi ini terbentuk pada Miosen Awal hingga awal Miosen
Tengah.
39
Formasi ini dicirikan dengan warna batuan yang abu-abu dan
berada di Kecamatan Patuk bagian utara, pengaruhnya terhadap
kesuburan tanah yaitu batuan yang tersusun atas hasil letusan
gunungapi dimana material yang ada lebih subur untuk tanaman.
Pada daerah penelitian Formasi Sambipitu memiliki luas 1,07 km2
atau 4,65%. Deskripsi tersebut disajikan dalam Tabel 6.
Tabel 6. Pembagian Luas Wilayah Berdasarkan Kondisi Geologi
Luas Wilayah
No.
Nama Formasi
Persentase
(km2)
1.
Formasi Nglanggeran
20,20
87,75 %
2.
Formasi Sambipitu
1,75
7,60 %
3.
Formasi Semilir
1,07
4,65 %
23,02
100
Jumlah
Sumber: Analisis 2013
Berdasarkan Tabel 6 wilayah yang paling luas merupakan Formasi
Nglanggeran. Sebagian besar Formasi Nglanggeran menduduki wilayah
Sub DAS Pentung dengan luas 20,20 km2. Formasi Sambipitu dan Formasi
Semilir yang berada di Sub DAS Pentung hanya memiliki luas 1,75 km2
dan 1,07 km2.
40
40
Gambar 8. Peta Geologi
Sub DAS Pentung
41
4. Topografi
Kondisi topografi adalah gambaran yang menjelaskan tentang
tingkat kemiringan lereng dan ketinggian tempat yang diukur dari
permukaan air laut.
a.
Ketinggian Tempat
Ketinggian tempat di daerah penelitian memiliki garis kontur
interval 100 meter yang diperoleh dari BAPPEDA Gunungkidul. Daerah
penelitian memiliki ketinggian antara 50 meter hingga 600 meter di atas
permukaan air laut.
Tabel 7. Pembagian Luas Wilayah Berdasarkan Ketinggian Tempat
No
Persentase
Ketinggian
Luas (km2)
1
44,18
200 M - 300 M
10,17
2
25,24
100 M - 200 M
5,81
3
17,42
300 M - 400 M
4,01
4
0,39
400 M - 500 M
0,09
5
0,04
500 M - 600 M
0,01
6
10,56
300 M - 400 M
2,43
7
2,17
50 M - 100 M
0,50
Jumlah
100
23,02
Sumber: Analisis 2013
Berdasarkan Tabel 7 dapat diketahui bahwa sebagian besar daerah
penelitian berada di ketinggian 200-300 mdpal seluas 10,17 km2 dengan
persentase 44,18%. Daerah paling tinggi berada pada ketinggian 500-600
mdpal dengan luas wilayah 0,01 km2 atau 0,04 dan merupakan wilayah
paling sempit dalam daerah penelitian. Ketinggian paling rendah berada
pada 50-100 mdpal seluas 0,50 km2 atau 2,17%. Ketinggian 100-200
mdpal seluas 5,81 km2 atau 25,24%. Ketinggian tempat 300-400 mdpal
42
seluas 4,01 km2 atau 17,42%. Ketinggian tempat 400-500 mdpal seluas
0,09 km2 atau 0,39%.
b. Kemiringan Lereng
Kemiringan lereng di daerah penelitian cukup bervariasi mulai dari
datar hingga sangat curam. Kemiringan lereng berpengaruh terhadap
tingkat erodibilitas karena kemiringan lereng berhubungan dengan
kemampuan tanah untuk menahan tetesan air hujan yang jatuh.
Tabel 8. Pembagian Luas Wilayah Berdasarkan Kemiringan Lereng
No.
Kemiringan
Luas (km2)
1.
0–8%
Datar
5,47
Persentase
23,76
2.
3.
4.
5.
8 – 15 %
15 – 25 %
25 – 40 %
> 40 %
Landai
Miring
Agak Terjal
Terjal
11,53
4,83
0,85
0,34
23,02
50,06
20,99
3,69
1,50
100
Jumlah
Sumber: Analisis 2013
Kelas
Pada tabel 8 dapat diketahui bahwa luas daerah dengan kemiringan
lereng 0-8% seluas 5,57 km2 atau 23,76 merupakan daerah datar.
Kemiringan lereng 8-15% seluas 11,53 km2 atau 50,06% merupakan
daerah dengan kemiringan lereng paling luas dengan kategori landai.
Pada daerah ini digunakan sebagai permukiman, tegalan, dan
persawahan. Kemiringan lereng 15-25% seluas 4,83 km2 atau 20,99%
merupakan daerah miring. Kemiringan lereng 25-40% seluas 0,85 km2
atau 3,69% termasuk lereng agak terjal. Kemiringan lereng >40% seluas
0,35 km2 atau 1,50% merupakan daerah dengan kategori terjal.
43
43 Lereng Sub DAS Pentung
Gambar 9. Peta Kemiringan
44
5. Geomorfologi
Rangkaian pegunungan selatan yang membentang dari barat ke timur
sering disebut dengan Pegunungan Baturagung. Pegunungan Baturagung
merupakan hasil pengangkatan dalam proses pembentukannya. Di bagian
utara kecamatan Patuk, menjulang pegunungan Nglanggeran yang
membentuk variasi pegunungan dari lembah sampai puncak pegunungan
Nglanggeran. Sedangkan untuk bagian selatan kecamatan Patuk terdapat
pegunungan Hogback yang memanjang di utara-selatan batas kecamatan
Patuk bagian barat. Bagian selatan pada daerah penelitian merupakan
wilayah yang lebih rendah dari bagian utara yang berupa kumpulan
perbukitan.
Pegunungan Hogback merupakan perbukitan yang terbentuk karena
adanya pemiringan (dipping) lereng lebih dari 35% dan termasuk dalam
kategori lereng curam. Pembentukan tersebut disertai dengan terjadinya
patahan sehingga terbentuk gawir (escarpment) pada lereng belakangnya.
Pada lereng gawir terlihat strata batuan secara jelas, sedangkan pada
lereng pemiringan (dip slope) hanya tersusun oleh satu lapisan saja, yang
umumnya lapisan batuan yang relatif resisten. Pegunungan Hogback ini
terbagi menjadi tiga bagian yaitu lereng atas pegunungan Hogback
Formasi Nglanggeran (S1), lereng tengah pegunungan Hogback Formasi
Nglanggeran (S2) dan lereng bawah pegunungan Hogback Formasi
Nglanggeran (S3). Selain ketiga bagian lereng yang telah disebutkan,
adapula lembah pegunungan Hogback Formasi Nglanggeran (S13) yang
45
terbentuk akibat adanya erosi tingkat lanjut sehingga membentuk lembah
yang lebih rendah.
Di bagian utara daerah penelitian terdapat lereng tengah pegunungan
struktural Formasi Nglanggeran (S6) dan lereng bawah pegunungan
struktural Formasi Nglanggeran (S7). Zona di bagian ini didominasi oleh
batuan breksi gunung api yang bersifat keras. Lereng kaki koluvial
Formasi Sambipitu (D1) dan dataran koluvial Formasi Sambipitu (D2)
merupakan daerah yang relatif datar sehingga lahan yang berada pada
daerah ini dapat dimanfaatkan secara lebih optimal. Dataran aluvial (F1)
merupakan bentuk lahan yang terjadi karena adanya proses fluvial
sungai-sungai. Bentuk lahan ini berada di sepanjang aliran sungai.
Tanahnya lebih subur karena mengandung bahan endapan sungai yang
terlarut.
Tabel 9. Pembagian Wilayah Berdasarkan Bentuk Lahan
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Bentuk Lahan
Lembah Pegunungan Hogback Formasi
Nglanggeran (S13)
Lembah Koluvial Pegunungan Struktural
Formasi Nglanggeran (S16)
Lereng Tengah Pegunungan Formasi
Nglanggeran (S6)
Lereng Bawah Pegunungan Struktural Formasi
Nglanggeran (S7)
Lereng Kaki Koluvial Formasi Sambipitu (D1)
Dataran Koluvial Formasi Sambipitu (D2)
Lereng Bawah Pegunungan Hogback Formasi
Sambipitu (S3)
Dataran Aluvial (F1)
Lereng Tengah Pegunungan Hogback Formasi
Nglanggeran (S2)
Jumlah
Sumber: Analisis 2013
Luas (km2)
Persentase
2,34
10,17
1,48
6,43
4,26
18,51
1,98
8,60
2,45
1,08
10,64
4,70
1,81
7,85
2,50
10,86
5,12
22,24
23,02
100
46
Gambar 10. Peta Bentuk Lahan Sub DAS Pentung
47
6. Jenis Tanah
Jenis tanah yang terdapat di Sub DAS Pentung adalah tanah
Latosol dan Litosol. Tanah Latosol mendominasi hampir seluruh bagian
yang ada di Sub DAS Pentung. Tanah Latosol yang berada di Sub DAS
Pentung seluas 20,80 km2. Tanah Latosol merupakan tanah yang paling
muda sehingga dekat dengan bahan induknya. Tanah Litosol yang
terdapat di Sub DAS Pentung seluas 2,22 km2. Ciri tanah yang terdapat
di Sub DAS Pentung berwarna cokelat tua dan cokelat kemerahan.
Tanahnya sebagian besar berupa lempung.
7. Penggunaan Lahan
Penggunaan lahan di wilayah Sub DAS Pentung dimanfaatkan
masyarakat untuk perkampungan, sawah irigasi, sawah tadah hujan,
kebun campuran serta tegalan atau ladang. Penggunaan lahan di daerah
penelitian disajikan dalam tabel 10.
Tabel 10. Pembagian Luas Wilayah Berdasarkan Penggunaan Lahan
Jenis Penggunaan Lahan
Hutan Sejenis
Kampung
Kebun Campuran
Sawah Irigasi
Sawah Tadah Hujan
Tanah Rusak
Tegalan/Ladang
Jumlah
Luas (km2)
0,10
10,29
0,75
1,63
0,27
0,07
9,91
23,02
Persentase
0,43
44,70
3,26
7,08
1,17
0,30
43,06
100
Sumber: Analisis data 2013
Berdasarkan Tabel 10 diketahui bahwa penggunaan lahan untuk
perkampungan lebih dominan seluas 10,29 km2. Penggunaan lahan seluas
48
9,91 km2 dimanfaatkan untuk tegalan/ladang. Lahan yang digunakan
untuk sawah terbagi menjadi sawah irigasi seluas 1,63 km2 dan sawah
tadah hujan seluas 0,27 km2. Lahan seluas 0,10 km2 digunakan untuk
kawasan hutan sejenis. Kebun campuran meliputi wilayah seluas 0,75
km2 dan sisanya seluas 0,07 km2 merupakan tanah rusak.
B. Kondisi Daerah Aliran Sungai Pentung
Pola aliran sungai Pentung merupakan tipe pola aliran dendritik, yaitu
pola aliran yang tampak menyerupai percabangan pohon. Luas DAS Pentung
adalah sebesar 23,02 km2. Panjang sungai utama Pentung ± 6,7 km.
Gambar 11. Bagian Sungai Pentung
Gambar 12. Sungai Pentung di bagian Hilir
49
Gambar 13. Peta Jenis Tanah Sub DAS Pentung
50
Gambar 14. Peta Penggunaan Lahan Sub DAS Pentung
51
C. Nilai Erodibilitas Tanah Sub DAS Pentung
1. Satuan Lahan Sub DAS Pentung
Tabel 11. Satuan Lahan Daerah Penelitian
No. Satuan Lahan
Luas (km2)
1.
S2 II La Tg
1,69
2.
S2 III La Tg
1,95
3.
S3 II La Tg
2,24
4.
S3 II La Kp
3,02
5.
F1 I Li Si
2,32
6.
S13 I La Kp
2,03
7.
S2 I La Tg
1,35
8.
S13 I La Kp
0,45
9.
S6 I La Kc
0,33
10.
S6 I La Kp
0,77
11.
S6 II La Kp
0,84
12.
F1 II La Tg
0,52
13.
S6 III La Kp
1,55
14.
S6 III La Kp
1,01
15.
S16 II Li Kp
1,25
16.
S16 III La Kp 0,68
17.
S7 II La Kp
1,02
Sumber: Analisis 2013
Berdasarkan hasil overlay peta jenis tanah, bentuk lahan,
kemiringan lereng dan jenis penggunaan lahan sub DAS Pentung
maka diperoleh 17 satuan lahan. Satuan lahan yang diperoleh adalah
sebagai berikut:
1) S2 II La Tg merupakan satuan lahan yang berada pada
lereng tengah pegunungan Hogback Formasi Nglanggeran
yang memiliki kemiringan lereng landai. Jenis tanah yang
berada pada satuan lahan ini adalah jenis tanah Latosol dan
52
lahan digunakan untuk tegalan/ladang. Satuan lahan
tersebut memiliki luas 1,69 km2.
2) S2 III La Tg merupakan satuan lahan yang berada pada
lereng tengah pegunungan Hogback Formasi Nglanggeran
dengan lereng miring. Jenis tanah pada satuan lahan ini
adalah
Latosol
dengan
penggunaan
lahan
sebagai
tegalan/ladang. Satuan lahan tersebut memiliki luas 1,95
km2
3) S3 II La Tg merupakan satuan lahan yang berada pada
lereng bawah pegunungan Hogback Formasi Sambipitu
dengan kemiringan lereng landai. Jenis tanah pada satuan
lahan ini adalah Latosol dengan penggunaan lahan sebagai
tegalan/ladang. Satuan lahan tersebut memiliki luas 2,24
km2.
4) S3 II La Kp merupakan satuan lahan yang berada pada
lereng bawah pegunungan Hogback Formasi Nglanggeran
dengan kemiringan landai. Jenis tanah pada satuan lahan ini
adalah
Latosol
dengan
penggunaan
lahan
sebagai
kampung/permukiman penduduk. Satuan lahan tersebut
memiliki luas 3,02 km2.
5) F1 I Li Si merupakan satuan lahan yang berada pada
dataran aluvial dengan lereng datar. Jenis tanah pada satuan
lahan ini adalah Litosol dengan penggunaan lahan sebagai
53
persawahan irigasi. Satuan lahan tersebut memiliki luas
2,32 km2.
6) S13 I La Kp merupakan satuan lahan yang berada pada
lembah pegunungan Hogback Formasi Nglanggeran dengan
kemiringan lereng landai. Jenis tanah pada satuan lahan ini
adalah
Latosol
dengan
penggunaan
lahan
sebagai
perkampungan. Satuan lahan tersebut memiliki luas 2,03
km2.
7) S2 I La Tg merupakan satuan lahan yang berada pada
lereng tengah pegunungan Hogback Formasi Nglanggeran
dengan kemiringan datar. Jenis tanah pada satuan lahan ini
adalah
Latosol
dengan
penggunaan
lahan
sebagai
tegalan/ladang. Satuan lahan tersebut memiliki luas 1,35
km2.
8) S13 I La Kp merupakan satuan lahan yang berada pada
lembah pegunungan Hogback Formasi Nglanggeran dengan
kemiringan datar. Jenis tanah pada satuan lahan ini adalah
Latosol dengan penggunaan lahan sebagai perkampungan.
Satuan lahan tersebut memiliki luas 0,45 km2.
9) S6 I La Kc merupakan satuan lahan yang berada pada
lereng tengah pegunungan Formasi Nglanggeran dengan
kemiringan lereng datar. Jenis tanah pada satuan lahan ini
54
adalah Latosol dengan penggunaan lahan sebagai kebun
campuran. Satuan lahan tersebut memiliki luas 0,33 km2.
10) S6 I La Kp merupakan satuan lahan yang berada pada
lereng tengah pegunungan Formasi Nglanggeran dengan
kemiringan lereng datar. Jenis tanah pada satuan lahan ini
adalah
Latosol
dengan
penggunaan
lahan
sebagai
kampung/permukiman. Satuan lahan tersebut memiliki luas
0,77 km2.
11) S6 II La Kp merupakan satuan lahan yang berada pada
lereng tengah pegunungan Formasi Nglanggeran dengan
kemiringan landai. Jenis tanah pada satuan lahan ini adalah
Latosol dengan penggunaan lahan sebagai perkampungan.
Satuan lahan tersebut memiliki luas 0,84 km2.
12) F1 II La Tg merupakan satuan lahan yang berada pada
dataran aluvial dengan kemiringan lereng landai. Jenis
tanah pada satuan lahan ini adalah Latosol dengan
penggunaan lahan sebagai tegalan/ladang. Satuan lahan
tersebut memiliki luas 0,52 km2.
13) S6 III La Kp merupakan satuan lahan yang berada pada
lereng tengah pegunungan Formasi Nglanggeran dengan
lereng miring. Jenis tanah pada satuan lahan ini adalah
Latosol dengan penggunaan lahan sebagai perkampungan.
Satuan lahan tersebut memiliki luas 1,55 km2.
55
14) S6 III La Kp merupakan satuan lahan yang berada pada
lereng tengah pegunungan Formasi Nglanggeran dengan
lereng miring. Jenis tanah pada satuan lahan ini adalah
Latosol
dengan
penggunaan
lahan
sebagai
kampung/permukiman. Satuan lahan tersebut memiliki luas
1,01 km2.
15) S16 II Li Kp merupakan satuan lahan yang berada pada
lembah
koluvial
pegunungan
struktural
Formasi
Nglanggeran dengan kemiringan landai. Jenis tanah pada
satuan lahan ini adalah Litosol dengan penggunaan lahan
sebagai kampung/permukiman. Satuan lahan tersebut
memiliki luas 1,25 km2.
16) S16 III La Kp merupakan satuan lahan yang berada pada
lembah
koluvial
pegunungan
struktural
Formasi
Nglanggeran dengan lereng miring. Jenis tanah pada satuan
lahan ini adalah Latosol dengan penggunaan lahan sebagai
perkampungan. Satuan lahan tersebut memiliki luas 0,69
km2.
17) S7 II La Kp merupakan satuan lahan yang berada pada
lereng bawah pegunungan struktural Formasi Nglanggeran
dengan kemiringan landai. Jenis tanah pada satuan lahan ini
adalah
Latosol
dengan
penggunaan
lahan
sebagai
56
perkampungan. Satuan lahan tersebut memiliki luas 1,02
km2.
Berdasarkan deskripsi masing-masing satuan lahan dapat
diketahui bahwa jenis tanah yang dominan menjadi sampel daerah
penelitian adalah jenis tanah Latosol. Jenis tanah yang lain berada
pada satuan lahan daerah penelitian yang menjadi sampel yaitu
Litosol yang hanya terdapat pada sebagian kecil wilayah Sub DAS
Pentung. Kemiringan lereng bervariasi mulai landai hingga
miring/berbukit. Penggunaan lahan yang paling banyak terdapat
pada satuan lahan adalah perkampungan dan tegalan/ladang.
2. Tekstur Tanah
Tekstur merupakan ukuran dan proporsi kelompok butir-butir
primer pada bagian mineral tanah. Butir-butir primer tanah terbagi
dalam liat (clay), debu (silt) dan pasir (sand). Tanah-tanah bertekstur
kasar seperti pasir dan pasir berkerikil mempunyai kapasitas
infiltrasi yang tinggi, dan jika tanah tersebut dalam, maka erosi dapat
diabaikan. Tanah bertekstur pasir halus juga mempunyai kapasitas
infiltrasi cukup tinggi, akan tetapi jika terjadi aliran permukaan maka
butir-butir halus akan mudah terangkut. Tekstur tanah di Sub DAS
Pentung di dominasi oleh tekstur lempung dari 17 sampel yang
diujikan. Dua sampel tekstur tanah di Sub DAS Pentung berupa
lempung berliat.
57
Tabel 12. Nilai Tekstur Tanah (M)
Satuan Lahan
Pasir
Debu
Liat
S2 II La Tg
32
23
45
S2 III La Tg
14
28
58
S3 II La Tg
19
31
50
S3 II La Kp
30
28
42
F1 I Li Si
23
42
35
S13 I La Kp
14
28
58
S2 I La Tg
21
23
56
S13 I La Kp
19
37
44
S6 I La Kc
19
22
59
S6 I La Kp
17
28
55
S6 II La Kp
16
26
58
F1 II La Tg
39
28
33
S6 III La Kp
28
26
46
S6 III La Kp
38
20
42
S16 II Li Kp
32
31
38
S16 III La Kp
28
26
46
S7 II La Kp
22
23
55
Sumber: Hasil Uji Laboratorium
Pasir +
debu
55
100 –
liat
55
42
Hasil (M)
Kelas
3025
Lempung
42
1764
Lempung
50
50
2500
Lempung
58
58
3364
Lempung
65
65
4225
Lempung berliat
42
42
1764
Lempung
44
44
1936
Lempung
56
56
3136
Lempung
41
41
1681
Lempung
45
45
2025
Lempung
42
42
1764
Lempung
67
67
4489
Lempung
54
54
2916
Lempung
58
58
3364
Lempung
63
62
3906
Lempung berliat
54
54
2916
Lempung
45
45
2025
Lempung
Tekstur tanah di daerah penelitian didominasi oleh tanah
lempung. Berdasarkan uji laboratorium mengenai tekstur tanah dari
17 satuan lahan yang masing-masing diambil sampelnya diperoleh
hasil struktur tanah di daerah penelitian berupa lempung dengan
jumlah nilai M sebesar 34.180. Tanah lempung berliat dengan
jumlah nilai M sebesar 12.620. Tekstur tanah lempung yang
mendominasi sebagian besar daerah penelitian di Sub DAS Pentung
yaitu jenis tanah Latosol. Jenis tanah Litosol yang hanya memiliki
luas wilayah kecil memiliki ciri lempung berliat.
58
3. Struktur Tanah
Struktur adalah ikatan butir primer ke dalam butir sekunder.
Tanah-tanah yang berstruktur granular lebih terbuka dan lebih jarang
dan akan menyerap air lebih cepat dari pada tanah berstruktur
dengan susunan butir-butir primernya lebih rapi. Struktur tanah yang
terdapat pada daerah penelitian adalah berupa struktur blocky,
granuler halus dan granuler sangat halus. Struktur yang paling
banyak ditemui pada satuan lahan yang terdapat pada daerah
penelitian adalah blocky (gumpal). Berdasarkan pengamatan
lapangan, data tentang struktur tanah yang terdapat di daerah
penelitian tersaji pada Tabel 18.
Tabel 13. Hasil Pengamatan Struktur Tanah
No.
Satuan Lahan
Struktur
S2 II La Tg
1
Blocky
S2 III La Tg
2
Blocky
S3 II La Tg
3
Granuler Halus
S3 II La Kp
4
Blocky
F1 I Li Si
5
Granuler Halus
S13 I La Kp
6
Blocky
S2
I
La
Tg
7
Granuler Halus
S13 I La Kp
8
Granuler Halus
S6 I La Kc
9
Granuler Sangat halus
S6 I La Kp
10
Granuler Halus
S6 II La Kp
11
Blocky
F1 II La Tg
12
Blocky
S6 III La Kp
13
Blocky
S6 III La Kp
14
Granuler Sangat halus
S16 II Li Kp
15
Granuler Halus
S16 III La Kp Granuler Halus
16
S7 II La Kp
17
Granuler Sangat halus
Sumber: Analisis 2013
Harkat
4
4
2
4
2
4
2
2
1
2
4
4
4
1
2
2
1
59
4. Permeabilitas Tanah
Permeabilitas merupakan kemampuan tanah dalam meloloskan
air. Semakin banyak air yang masuk ke dalam tanah, akan semakin
banyak volume air yang ada di dalam tanah dan akan membuat
kebutuhan tanaman terhadap air tercukupi, serta membuat kondisi
tanah menjadi lembab. Tanah yang lembab akan memicu adanya
hewan-hewan tanah dan populasi mikroba. Laju permeabilitas yang
lambat dipengaruhi oleh kemampuan tanah yang tidak mampu
meloloskan air dengan baik. Sehingga air yang diserap menjadi lebih
sedikit dan sisanya menjadi aliran permukaan.
Tabel 14. Nilai Permeabilitas Tanah
Satuan Lahan
No.
Kecepatan (cm/jam)
S2 II La Tg
1
2.26
S2 III La Tg
2
0.81
S3 II La Tg
3
2.76
S3 II La Kp
4
1.98
F1 I Li Si
5
8.63
S13 I La Kp
6
3.01
S2 I La Tg
7
15.88
S13 I La Kp
8
2.35
S6 I La Kc
9
5.22
S6 I La Kp
10
2.46
S6 II La Kp
11
1.71
F1 II La Tg
12
6.00
S6 III La Kp
13
6.21
S6 III La Kp
14
4.00
S16 II Li Kp
15
4.10
S16 III La Kp
16
3.97
S7 II La Kp
17
7.40
Sumber: Analisis Hasil Uji Laboratorium
Harkat
4
5
4
5
3
4
2
4
4
4
5
4
4
4
4
4
3
60
Berdasarkan hasil uji laboratorium kelas permeabilitas mulai
dari lambat hingga sedang sampai cepat dengan kisaran kecepatan
0,81 – 15,88 cm/jam.
5. Kandungan Bahan Organik
Tabel 15. Kandungan Bahan Organik
Kandungan Bahan
No.
Satuan Lahan
Organik (%)
S2 II La Tg
1
2.68
S2 III La Tg
2
1.59
S3 II La Tg
3
2.08
S3 II La Kp
4
1.62
F1 I Li Si
5
1.76
S13 I La Kp
6
1.70
S2 I La Tg
7
2.05
S13 I La Kp
8
2.27
S6 I La Kc
9
1.70
S6 I La Kp
10
3.81
S6 II La Kp
11
1.69
F1 II La Tg
12
2.81
S6 III La Kp
13
2.11
S6 III La Kp
14
1.29
S16 II Li Kp
15
2.83
S16 III La Kp
16
2.09
S7 II La Kp
17
1.09
Sumber: Hasil Uji Laboratorium
Bahan organik sangat berperan pada proses pembentukan dan
pengikatan serta penstabilan agregat tanah. Peningkatan dan
penstabilan agregat tanah oleh bahan organik dapat dilakukan
melalui pengikatan secara fisik butir-butir primer tanah oleh mycelia
jamur, actinomycetes, akar-akar halus tanaman dan pengikatan
secara kimia. Kandungan bahan organik di daerah penelitian rata-
61
rata termasuk dalam kategori rendah hingga sedang. Hanya ada satu
satuan lahan yang kandungan bahan organiknya tinggi. Kadar bahan
organik dapat dipengaruhi oleh organisme yang tinggal di dalam
tanah dan penutup permukaan tanah seperti ranting dan daun.
Berdasarkan hasil uji laboratorium nilai kandungan bahan
organik pada daerah penelitian berkisar antara 1,09 hingga 3,81.
Semakin besar nilai bahan organik, semakin subur kondisi tanah
tersebut.
6. Nilai Erodibilitas
Tabel 16. Hasil Penghitungan Nilai Erodibilitas (K)
Satuan Lahan
M
a
b
C
S2 II La Tg
3025
2.68
4
4
S2 III La Tg
1764
1.59
4
5
S3 II La Tg
2500
2.08
2
4
S3 II La Kp
3364
1.62
4
5
F1 I Li Si
4225
1.76
2
3
S13 I La Kp
1764
1.70
4
4
S2 I La Tg
1936
2.05
2
2
S13 I La Kp
3136
2.27
2
4
S6 I La Kc
1681
1.70
1
4
S6 I La Kp
2025
3.81
2
4
S6 II La Kp
1764
1.69
4
5
F1 II La Tg
4489
2.81
4
4
S6 III La Kp
2916
2.11
4
4
S6 III La Kp
3364
1.29
1
4
S16 II Li Kp
3906
2.83
2
4
S16 III La Kp 2916
2.09
2
4
S7 II La Kp
2025
1.09
1
3
Sumber: Analisis 2013
K
0,35
0,29
0,23
0,44
0,38
0,26
0,12
0,29
0,12
0,16
0,29
0,48
0,36
0,30
0,34
0,27
0,13
Harkat
agak tinggi
sedang
sedang
agak tinggi
agak tinggi
sedang
rendah
sedang
rendah
rendah
sedang
tinggi
agak tinggi
sedang
agak tinggi
sedang
rendah
Berdasarkan Tabel 16 hasil penghitungan nilai erodibilitas,
diketahui nilai tekstur tanah, struktur tanah, permeabilitas dan
62
kandungan bahan organik terdapat hasil yang bervariasi di setiap
satuan lahan. Nilai erodibilitas tanah di sub DAS Pentung berada
pada kisaran 0,12 – 0,48. Harkat tingkat erodibilitas tanah di sub
DAS Pentung mulai dari rendah hingga tinggi yang tersebar di
seluruh satuan lahan. Tingat erodibilitas rendah sebanyak empat
satuan lahan. Tingkat erodibilitas sedang sebanyak tujuh satuan
lahan. Tingkat erodibilitas agak tinggi sebanyak lima satuan lahan.
Tingkat erodibilitas tinggi hanya berada pada satu satuan lahan.
D.
Persebaran Tingkat Erodibilitas di Sub DAS Pentung
Persebaran tingkat erodibilitas Sub DAS Pentung yaitu dengan
tingkat erodibilitas rendah berada pada satuan lahan S2 I La Tg, S6 I La
Kc, S6 I La Kp dan S7 II La Kp. Tingkat erodibilitas sedang berada pada
satuan lahan S2 III La Tg, S3 II La Tg, S13 I La Kp, S13 I La Kp, S6 II
La Kp, S6 III La Kp dan S16 III La Kp. Tingkat erodibilitas agak tinggi
berada pada satuan lahan S2 II La Tg, S3 II La Kp, F1 I Li Si, S6 III La
Kp, S16 II Li Kp. Satuan lahan yang memiliki tingkat erodibilitas tinggi
hanya terdapat pada satuan lahan F1 II T1 Tg.
Tabel 17. Tingkat Erodibilitas
Luas
No
Kelas
(km2)
1
Agak Tinggi
9,59
2
Rendah
4,14
3
Sedang
8,80
4
Tinggi
0,49
23,02
Sumber: Analisis 2013
Persentase
41,69
17,97
38,22
2,12
100
63
Berdasarkan Tabel 17 dapat diketahui bahwa tingkat erodibilitas
yang banyak terdapat di daerah penelitian adalah kelas agak tinggi dan
sedang. Tingkat erodibilitas agak tinggi menempati wilayah seluas 9,59
km2 atau 41,69%. Tingkat erodibilitas rendah menempati wilayah seluas
4,14 km2 atau 17,93%. Tingkat erodibilitas sedang menempati wilayah
seluas 8,80 km2 atau 38,22%. Tingkat erodibilitas tinggi yang hanya
terdapat pada satu satuan lahan memiliki luas 0,49 km2 atau 2,12%.
Tabel 18. Pembagian Wilayah Berdasarkan Tingkat Erodibilitas
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Nama Desa
Beji
Nglanggeran
Ngoro-oro
Patuk
Pengkok
Putat
Salam
Semoya
Tingkat Erodibilitas
Agak Tinggi
Luas (km2)
0,85
Agak Tinggi
0,98
Tinggi
0,16
Sedang
0,40
Rendah
0,93
Agak Tinggi
2,28
Tinggi
0,33
Sedang
2,42
Rendah
0,95
Sedang
1,21
Rendah
0,95
Agak Tinggi
1,71
Sedang
0,76
Agak Tinggi
0,08
Agak Tinggi
2,60
Sedang
1,12
Rendah
1,31
Agak Tinggi
1,09
Sedang
2,89
64
Gambar 15. Peta Persebaran Tingkat Erodibilitas di Daerah Penelitian
Download