perlindungan hukum terhadap pasien akibat malpractice

advertisement
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PASIEN AKIBAT MALPRACTICE
Ikhsan Yusda PP
Dosen Jurusan Teknologi Informasi Politeknik Negeri Padang
[email protected]
ABSTRAK
Timbulnya malpractice bermula pada hubungan pasien-dokter. Hubungan inilah yang
memberikan dasar terdapatnya hak dan kewajiban antara kedua belah pihak. Dalam transaksi
terapeutik dokter harus menggunakan kepandaiannya maupun keilmuan yang dimilikinya
dalam melakukan perawatan seorang pasien dan kewajiban pasien untuk membayar
honorarium dan sebagainya. Adanya kelalaian dokter akibat hubungan yang telah terjadi
dapat menyebabkan kerugian pasien. Perubahan nilai-nilai yang terjadi dalam masyarakat
akan mengakibatkan benturan-benturan kepentingan yang tidak jarang menyebabkan
seseorang akan bertindak menyimpang dari norma-norma yang telah ada sebelumnya. Kode
Etika Kedokteran adalah perwujudan nilai-nilai moral yang berlaku bagi profesi kedokteran
yang sampai kini berusaha mempertahankan kemuliaan dan kehormatan profesi kedokteran.
Transaksi antara dokter dan pasien menimbulkan hak dan kewajiban yang timbal balik, dan
apabila hak dan kewajiban itu tidak dipenuhi oleh salahsatu pihak yang sudah bersepakat
mengadakan transaksi itu, maka wajarlah apabila pihak yang merasa dirugikan melakukan
tuntutan gugatan. Sehingga akhir-akhir ini banyak timbul permasalahan yang menjurus pada
tuduhan malpractice kepada profesi dokter. Sebagai pemakai terakhir dari jasa, maka pasien
merupakan konsumen yang memakai jasa pelayanan kesehatan. Oleh karena konsumen
menyangkut semua individu, maka konsumen mempunyai hak yang mendapat perlindungan
hukum, baik itu Hak-hak Asasi Manusia maupun Masyarakat Ekonomi Eropa telah
menemukan adanya hak-hak dasar konsumen itu.
Kata kunci: Dokter-Pasien, Transaksi Terapeutik, Malpractice, Perlindungan Hukum.
ABSTRACT
The emergence of malpractice began in patient-physician relationship. These relationships
that provide the presence of basic rights and obligations between the parties. In the
transaction therapeutic doctors should use its intelligence and science in the treatment of a
patient and the patient's obligation to pay the fee and so on. Doctor's negligence that has
occurred as a result of a relationship can cause harm patients. Changes in values that
occurred in the community will lead to conflicts of interest that does not cause a person will
act rarely deviate from the norms that have been there before. Code of Medical Ethics is the
embodiment of moral values that apply to the medical profession, which until now tried to
keep the glory and honor of the medical profession. Transactions between doctor and patient
rights and obligations are reciprocal, and if the rights and obligations are not met by one of
the main parties have agreed to hold the deal, it was natural if the party who feels aggrieved
perform action lawsuit. So lately many problems arise that lead to allegations of malpractice
to the medical profession. As end users of the service, so patients are consumers who use
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 845
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
health services. Because of consumer concerns all individuals, then the consumer has the
right to legal protection, both Human Rights and the European Economic Community has
discovered the existence of the basic rights of the consumer.
Keywords: Doctor-Patient, Therapeutic Transactions, Malpractice, Legal Protection.
PENDAHULUAN
Akhir-akhir ini kalangan dokter sibuk membicarakan masalah Kode Etik Kedokteran.
Misalnya saja, bulan Desember 1978 telah diadakan Simposium Kode Etik Kedokteran
Indonesia dengan tema Penilaian Kembali Pelaksanaan Kode Etik Kedokteran Indonesia.
Fakultas Kedokteran Airlangga pun pada bulan April 1981 mengadakan Panel Diskusi
Peranan Pendidikan Kedokteran dalam Menegakkan Kode Etik Kedokteran Indonesia dan
Pemantapan Citra Dokter di dalam Masyarakat. Bahkan baru-baru ini telah diadakan Panel
Diskusi Aspek Hukum dalam Profesi Kedokteran di Bandung.
Adanya berbagai macam diskusi tersebut memberi petunjuk pada kita, bahwa
sebenarnya kalangan dokter sendiri merasakan adanya pelayanan dokter yang kurang ataupun
tidak sesuai dengan maksud dari Kode Etik tersebut. Di samping itu dokter saat ini memang
sedang disoroti oleh masyarakat lewat media massa, baik itu media TV maupun beberapa
surat kabar harian yang terbit di ibu kota. Pada umumnya, keluhan masyarakat berupa
pelayanan kesehatan yang mengakibatkan kerugian pasien atau dapat menimbulkan
penderitaan lebih lanjut. Misalnya, akibat tindakan dokter yang kurang tepat menyebabkan
seorang pasien meninggal dunia.
Kita kini memang hidup dalam suatu masa transisi, karena terjadi perubahan besar
dalam susunan masyarakat yang mempengaruhi sendi-sendi kehidupan kita dan karena
terjadinya perubahan besar lain yang lebih mendalam sifatnya, yaitu pergeseran nilai-nilai
budaya yang mempengaruhi alam pikiran, mentalitet serta jiwa kita. (saya kursipkan).
(Kuncaraningrat.1975:17). Ini adalah akibat pembangunan yang sekarang sedang kita
lakukan, di mana masa pembangunan merupakan masa ketimpangan-ketimpangan.
(Soemardjan. 1976).
Perubahan nilai-nilai yang terjadi dalam masyarakat akan mengakibatkan benturanbenturan kepentingan yang tidak jarang menyebabkan seseorang akan bertindak menyimpang
dari norma-norma yang telah ada sebelumnya. Kode Etika Kedokteran adalah perwujudan
nilai-nilai moral yang berlaku bagi profesi kedokteran yang sampai kini berusaha
846 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
mempertahankan kemuliaan dan kehormatan profesi kedokteran. Oleh karena Kode Etik
tersebut mengandung makna yang sangat berkait erat dengan:
1. Perilaku yang berisikan hak dan kewajiban berdasarkan perasaan moral, dan
2. Perilaku yang sesuai untuk mendukung sntar profesi. (Koeswadji, 1981:3).
Terjadinya hubungan kepercayaan antara 2 (dua) insan, yaitu; sang pengobat dan
penderita, dalam zaman modern sekarang ini disebut transaksi terapeutik antara dokter dan
pasien. Adapun yang dimaksudkan dengan ”transaksi terapeutik” adalah transaksi untuk
menentukan-mencari terapi yang paling tepat bagi pasien dan dokter. (Koeswadji, 1981:4).
Transaksi antara dokter dan pasien menimbulkan hak dan kewajiban yang timbal balik, dan
apabila hak dan kewajiban itu tidak dipenuhi oleh salah satu pihak yang sudah bersepakat
mengadakan transaksi itu, maka wajarlah apabila pihak yang merasa dirugikan melakukan
tuntutan gugatan. Sehingga akhir-akhir ini banyak timbul permasalahan yang menjurus pada
tuduhan malpractice kepada profesi dokter.
Sebagai pemakai terakhir dari jasa, maka pasien merupakan konsumen yang memakai
jasa pelayanan kesehatan. Oleh karena konsumen menyangkut semua individu, maka
konsumen mempunyai hak yang mendapat perlindungan hukum, baik itu Hak-hak Asasi
Manusia maupun Masyarakat Ekonomi Eropa telah menemukan adanya hak-hak dasar
konsumen itu.
Berdasarkan beberapa pokok uraian di atas, maka penelaahan malpractice dalam
artikel ini penulis kaitkan dengan transaksi antara dokter-pasien berdasarkan hubungan
keperdataan yang dijamin oleh Hak Asasi Manusia.
Masalah yang timbul dari penelaahan tersebut adalah: sampai seberapa jauh
perlindungan hukum terhadap pasien akibat malpractice? Dari sini timbul beberapa persoalan,
yaitu:
1. Adakah hak-hak pasein yang mendapat perlindungan hukum?
2. Faktor-faktor apakah yang menghambat terealisirnya hak-hak pasien itu?
3. Usaha-usaha apakah yang dapat dilakukan untuk mengurangi timbulnya malpractice?
TINJAUAN PUSTAKA
1. Pengertian Malpractice
Malpractice adalah suatu tindakan yang kurang hati-hati dari seseorang dalam
menjalankan profesinya. Ukuran dari tingkah laku yang kurang hati-hati itu tidak kita
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 847
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
temui dalam hukum melainkan terletak pada ketentuan seorang hakim atau juri. (Hayt,
1964: 328-329). Istilah malpractice mempunyai konotasi yang luas dan biasanya dipakai
untuk bad practice; suatu ketika disebut dengan malapraxis, dalam hal perawatan seorang
pasien. Dalam Legal Aspects of Medical Records hal. 329 kita dapat membaca rumusan
malpractice sebagai:
1.
the failure of a physician or surgeon in the treatment of patient to possess and employ
that reasonable degree of learning skill, and experience which ordinarily is possessed
by others of his profession; or
2.
his failure to exercise reasonable and ordinary care and diligence in the exertion of
his skill and the application of his knowledge; or
3.
his failure to exert his best judgment as to the treatment of the case entrusted to him;
or
4.
his failure to bestow such reasonable and ordinary care skill, and diligence as
physician and surgeens in the same neigborhood in the same general of practice
orninary have and exercise in like cases.
Dari tulisan di atas dapat disimpulkan bahwa timbulnya malpractice bermula pada
hubungan pasien-dokter. Hubungan inilah yang memberikan dasar terdapatnya hak dan
kewajiban antara kedua belah pihak. Dalam transaksi terapeutik dokter harus
menggunakan kepandaiannya maupun keilmuan yang dimilikinya dalam melakukan
perawatan seorang pasien dan kewajiban pasien untuk membayar honorarium dan
sebagainya. Adanya kelalaian dokter akibat hubungan yang telah terjadi dapat
menyebabkan kerugian pasien.
Black’s Law Dictionary memerinci persyaratan untuk timbulnya suatu medical
malpractice ke dalam 4 hal, yaitu:
1. the existence of a physician’s duty to the plaintiff, usually based upon the existence
of the physician patient relationship;
2. the applicable standard of care and its violation;
3. A consensable injury;
4. A causal connection between the violation of the standard of care and the harm
complained.
Persyaratan itupun memberi gambaran kepada kita bahwa malpractice bisa terjadi
bila ada hubungan dokter-pasien. Timbulnya malpractice harus didahului oleh hubungan
848 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
dokter-pasien yang masing-masing pihak dibebani hak-hak maupun kewajiban. Oleh
karena hubungan dokter-pasien dalam transaksi terapeutik itu bertumpu pada 2 (dua)
macam hak asasi, yaitu;
1.
hak untuk menentukan nasih sendiri; dan
2.
hak atas informasi. (Koeswadji, 1981: 17).
Maka pengertian malpractice yang dibahas dalam atikel ini sangat terkait dengan hak-
hak pasien yang tidak dipenuhi oleh seorang dokter. Sudah barang tentu persyaratan untuk
timbulnya malpractice sebagaimana telah diuraikan di atas, tetap akan disinggung
sepanjang ada relevansi dengan masalah pokoknya.
2. Hubungan Dokter dan Pasien
Transaksi antara dokter-pasien secara umum diatur dalam pasal 1320 Kitab UU
Hukum Perdata. Suatu transaksi atau perjanjian dapat dikatakan sah bila memenuhi
syarat-syarat:
1. sepakat dari mereka yang mengikatkan dirinya;
2. kecakapan untuk membuat suatu perikatan;
3. suatu hal tertentu; dan
4. karena suatu sebab yang halal.
Transaksi terapeutik antara dokter-pasien pun harus memenuhi syarat-syarat tersebut
di atas, dan bila transaksi telah terjadi maka kedua belah pihak dibebani hak dan
kewajiban yang dilindungi dan dijamin oleh Hak Asasi Manusia sebagai hak-hak dasar
yang bersifat universal.
Pada asasnya hubungan dokter-pasien dalam transaksi terapeutik itu bertumpu pada 2
(dua) macam hak asasi, yaitu;
1. hak untuk menentukan nasib sendiri (”the right to selfdetermination”); dan
2. hak atas informasi (”the right to be informed”). (Koeswadji, 1981:5).
Adanya 2 (dua) hak tersebut membawa konsekuensi bagi seorang dokter dalam
menjalankan profesinya untuk mengkomunikasikan setiap tindakan terapeutik itu kepada
pasiennya. Tentunya dokterlah yang dapat menseleksi apa yang harus dikomunikasikan
dan bagaimana caranya untuk mengkomunikasikannya. Informasi dokter itu sangat
diperlukan oleh seorang pasien, sehingga dia dapat memilih ataupun menentukan nasib
dirinya, perawatan apakah yang dia kehendaki.
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 849
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
Pada tahun 1914 oleh seorang Justice Cardozo di Schloem-dorff v. Society of the New
York Hospital menyatakan bahwa:
”Every human being of adult years and sound mind has a right to determine what
shall he does with his own body, a surgeon who performs an operation without his
patient’s consent, commits an assault for which he is liable in damages”. (Florence: 8).
Pernyataan yang hampir serupa dikemukakan pula oleh seorang hakim Natenson V. Kline:
A man is a master o his own body. He may expressly prohibit the performance of
lifesaving surgery or other medical treatment. A doctor may well believe that an
operation or other form of treatment is desirable or necessary, but the law does not
permit him to substitute his own judgement for that of the patient by any form of
article or deception”. (Florence: 8).
Dari 2 (dua) pernyataan hakim tersebut di atas, dalam hubungn dokter-pasien, maka
masalah informasi yang berkaitan dengan perawatan, diagnosa maupun porgnosa memberi
beban kepada dokter untuk bertindak hati-hati dan seksama dalam menanggapi
kepercayaan yang dilimpahkan oleh pasien kepadanya. Ini berarti, kalau dokter telah
memenuhi ketentuannya yang telah tercantum dalam Kode Etik Kedokteran Indonesia
yang bertolak pada pasien, maka sagala kemungkinan yang terjadi terhadap setiap tindakan
terapeutik itu harus dikomunikasikan pada pasien. Komunikasi itu sangat penting bagi
seorang pasien untuk mengambil keputusan apakah yang akan dia kehendaki. Tentunya
keputusan itu juga harus disepakati oleh dokternya.
Jadi hak pasien itu perlu mendapat perhatian dalam transaksi tersebut. Hal ini
disebabkan oleh sifat transaksi terapeutik itu adalah memberikan bantuan pertolongan
(”hulpver-leningscontract”), di mana di satu pihak yaitu pasien telah menyerahkan dirinya
dengan kepercayaan bahwa dokterlah dengan bekal ilmu dan keterampilannya yang
dimilikinya akan dapat menolong dirinya. (Koeswadji, 1981:7). Dokter mempunyai
kewajiban untuk bertindak hati-hati dan teliti dalam melayani kepercayaan pasien yang
telah diberikan padanya. Sifat transaksi yang sedemikian itu membawa konsekuensi dalam
beban pembuktiannya. Bagaimanakah seandainya tindakan dokter karena kurang hati-
850 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
hatinya bisa menyebabkan cacat tubuh atau matinya seseorang? Dengan perkataan lain
timbul permasalahan malpractice itu.
3. Kode Etik sebagai Pedoman Tingkah Laku Dokter
Kode Etik Kedokteran harus diartikan sebagai pedoman tingkah laku bagi pelaksana
profesi medis. Etika dalam kaitannya dengan filsafat dapat diartikan dalam 2 (dua) hal,
yaitu:
1. syarat-syarat yang diperlukan untuk memberikan batasan bagi apa yang disebut
sebagai perbuatan yang benar, baik dan
2. apa yang disebut sebagai summum bonum, yaitu; batasan untuk sesuatu yang dikatakan
baik dan benar. (Koswadji. 1981: 3).
Etika dalam kaitannya dengan profesi tidak lain daripada suatu konsensus, suatu
kesepakatan bersama diantara pendapat para ahli dalam menentukan hal-hal yang
berhubungan dengan standar profesional. Dalam artinya yang demikian, maka etika sangat
erat berkait dengan:
1. perilaku yang berisikan hak dan kewajiban berdasarkan perasaan moral, dan
2. perilaku yang sesuai untuk mendukung standar profesi. Sehingga etika dapat disebut
sebagai filsafat tentang tindakan manusia.
Untuk dapat melaksanakan nilai-nilai yang terkandung dalam Kode Etik Kedokteran
Indonesia (KODEKI) tersebut maka pengemban/pelaksana profesi harus menghayati serta
mengamalkan isinya itu. Masalah kepatuhan atau ketaatan menyangkut masalah
pengetahuan, pengakuan dan penghargaan terhadap isi KODEKI. Salah satu faktor yang
mempengaruhi ketaatan seorang pengemban profesi ditentukan oleh jangka waktu
penanaman nilai-nilai KODEKI, yaitu panjang atau pendeknya jangka waktu dalam usahausaha menanamkan itu dilakukan dan diharapkan memberi hasil. (Soekanto, 1976:45).
Oleh karena ketaatan pada KODEKI dikontrol atas dan oleh dirinya sendiri.
Kedokteran disebut sebagai suatu profesi, yaitu; suatu pekerjaan yang bersifat
memberikan pelayanan dan yang mengandung 2 (dua) unsur, yaitu:
1. Menerapkan seperangkat pengetahuan yang tersusun secara sistematis terhadap
problema-problema tertentu.
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 851
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
2. Probleman-problema tersebut mempunyai relevansi yang besar dalam hubungannya
dengan nilai-nilai yang dipandang pokok dalam masyarakat. (Rahardjo. 1978: 144).
Kode etik sebagai kode profesi merupakan faktor yang sangat penting dalam rangka
pendekatan kepada pasien dan bersifat normatif. Norma-norma etik medis memang tidak
dapat dipisahkan dari nilai-nilai yang dipandang pokok dalam masyarakat secara
keseluruhan. Timbullah interaksi yang dinamis antara norma etik kedokteran dan norma
etik masyarakat sehingga dokter sebagai pengemban profesi diharapkan dapat
mencerminkan nilai yang dianut oleh dunia profesi kedokteran sebagai nilai pandangan
hidupnya.
Usaha untuk menanamkan norma etik medis merupakan suatu proses yang panjang.
Proses pendidikan yang demikian itu hendaknya dilihat sebagai suatu proses sosialisasi,
tidak hanya mengenai keterampilan teknik yang dibutuhkan, melainkan juga memapankan
komitmen kepada nilai-nilai serta norma-norma yang mempunyai kedudukan sentral bagi
tugas-tugas profesionalnya. (Rahardjo, 1978:149).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Faktor-faktor Sosial yang Mempengaruhi Seorang Dokter Melakukan
Malpractice
Malpractice Commission melaporkan bahwa pada tahun 1970 di Amerika telah tercatat
tuntutan yang menyangkut soal malpractice sebanyak 12.000 peristiwa. Claim ini bisa
diselesaikan sebelum pemeriksaan di pengadilan sejumlah 90 % di mana 65 % nya
diselesaikan tanpa didahului oleh tuntutan hukum (King I:28).
Di Indonesia, masalah yang menyangkut malpractice ini belum bisa diketahui
jumlahnya. Hanya akhir-akhir ini masyarakat banyak melakukan sorotan di berbagai media
khususnya surat-surat kabar harian yang menyangkut masalah pelaksanaan profesi, tentunya
menjurus pada adanya malpractice.
Bagian Anestesi RS dr. Kariadi Fakultas Kedokteran UNDIP telah melakukan
penelitian pendahuluan tentang kematian pada 7348 penderita yang berhubungan dengan
tindakan anestesi umum secara retrospektif di Bagian Bedah Rumah Sakit dr Kariadi
Semarang, selama periode 1978-1979. Hal yang sangat menarik dari laporan itu adalah
disebutkannya kemungkinan adanya beberapa faktor yang menimbulkan kematian tersebut:
1. status fisik penderita.
852 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
2. macam dan sifat operasi.
3. peranan kemampuan ahli bedah dan anestesi.
4. sarana-sarana lain yang menunjang lancarnya pembedahan/anestesi dan pengelolaan
penderita pasca bedah. (Bulletin, 1981:12).
Sangat disayangkan bahwa dalam laporan itu tidak disebutkan secara terperinci berapa
persen penderita yang meninggal akibat status fisik penderita, berapa penderita yang
meninggal akibat peranan kemampuan ahli bedah dan anestesi dan berapa persen yang
meninggal akibat faktor lain. Tetapi yang jelas meninggalnya penderita akibat faktor-faktor
tersebut dapat menunjukkan adanya malpractice.
Dokter dalam melaksanakan profesinya tidak dapat terlepas dari lingkungan disik
yang melingkupinya. Sebagai anggota masyarakat maka dokter pun selalu berinteraksi dengan
anggota masyarakat lainnya. Interaksi adalah akibat dari proses komunikasi adalah alat dari
interaksi dan alat proses sosial.
Setiap proses sosial selalu melibatkan masalah sistem nilai-nilai yang dapat
dikelompokkan dalam:
1. welfare values dan
2. deference values.
Adapun welfare values adalah nilai-nilai yang dianggap penting oleh dan untuk
kehidupan manusia agar supaya ia dapat hidup dengan layak, mempunyai pendapatan yang
mencukupi keperluan sehari-hari, nilai tentang kesehatan badaniah termasuk didalamnya
perasaan aman dalam memperoleh atau melanjutkan pekerjaannya, agar supaya kehidupannya
tetap terjamin. Sedangkan deference values adalah kelompok nilai yang lebih tinggi, nilainilai moral yaitu apa yang dianggap baik, buruk, tidak jujur dan seterusnya. (Susanto,
1977:41). Keterlibatan nilai-nilai tersebut dalam interaksi sosial sangat menentukan tingkah
laku/tindakan apa yang akan diambil oleh seseorang yang notabene dia adalah pengemban
profesi medis. Baik itu welfare values maupun deference values merupakan kekuatankekuatan yang cenderung mempengaruhi tingkah laku seorang. Tingkah laku-tingkah laku
yang melanggar tiap norma apakah itu norma hukum, norma kebiasaan, biasanya dirumuskan
sebagai penyimpangan.
Teori penyimpangan mengajarkan bahwa para pemegang peran (disini profesi medis)
itu dapat mempunyai motivasi, baik yang berkehendak untuk menyesuaikan diri dengan
norma (dalam hal ini menyangkut norma etik) maupun yang berkehendak untuk tidak
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 853
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
menyesuaikan diri dengan keharusan norma (motivasi untuk konform, dan motivasi untuk non
konform).
Tingkah laku yang tidak konform itu dapat saja timbul bersama-sama dengan motivasi
untuk berkonform, dan sebaliknya, tingkah laku yang bersesuaian dengan bunyi norma dapat
pula timbul bersama-sama dengan motivasi yang berkehendak untuk tidak konform.
Ketidaksesuaian tingkah laku dapat saja terjadi sekalipun si pemegang peran telah
berkehendak sungguh-sungguh untuk menyesuaikan diri. Hal ini dapat terjadi pada perkaraperkara di mana dia tidak sadar akan normanya atau di mana norma-norma yang menjadi
pedoman perilakunya bersifat tidak serasi dengan tujuan-tujuan yang ditetapkan untuk posisi
si pemegang peran itu.
Hukum Memberi Perlindungan Terhadap Hak-hak Pasien
Hak atas penghidupan, kemerdekaan, keselamatan dapat kita jumpai dalam Universal
Declaration of Human Rights. Demikian pula Presiden J.F. Kennedy telah menemukan 4
(empat) hak dasar, yaitu:
1. hak memperoleh keamanan.
2. Hak memilih.
3. Hak mendapat informasi, dan
4. Hak untuk didengar.
Dalam pada itu Masyarakat Ekonomi Eropa juga telah mensekapakati 5 (lima) hak
dasar konsumen sebagai berikut:
1. Hak perlindungan kesehatan dan keamanan.
2. Hak perlindungan kepentingan ekonomi.
3. Hak mendapat ganti rugi.
4. Hak atas penerangan, dan
5. Hak untuk didengar. (Badrulzaman, 1981: 23).
Hak-hak dasar ini adalah merupakan hak-hak yang bersifat universal. Bila demikian
maka timbul pertanyaan apakah hak-hak dasar yang bersifat universal itu diterima di
Indonesia. Apakah hak-hak dasar itu mendapat tempat di dalam Pancasila dan UUD 1945.
Di dalam UUD 1945 dapat kita jumpai pasal yang mengatur mengenai hak-hak warga
negara. Pasal yang menjamin hak-hak warga negara itu telah diatur dalam pasal 27 ayat 2 dan
pasal 28 UUD kita maupun penjelasannya. Pasal 27 ayat 2: ”Tiap-tiap warga negara berhak
854 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”. Penjelasan pasal ini
menyatakan bahwa ketentuan ini mengenai hak-hak warga negara. Ini dapat meliputi hak apa
saja dari warga negara yang secara universal sudah diakui. Misalnya saja, hak atas
penghidupan yang layak bagi kemanusiaan, maka hak tersebut melihat manusia secara utuh.
Hal ini tidak saja untuk mengejar kemajuan lahiriah atau kepuasan batiniah melainkan
keselarasan, keserasian dan keseimbangan antara keduanya. Demikian pula pasal 28 berbunyi:
”Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan
sebagainya ditetapkan dengan undang-undang”. Penjelasannya menentukan bahwa memuat
hasrat bangsa Indonesia untuk membangun negara yangb ersifat demokrasi dan yang hendak
menyelenggarakan pikiran dengan lisan dan tulisan dalam rangka tercapainya keadilan sosial
dan perikemanusiaan. Ia mengandung makna, bahwa seseorang mempunyai hak untuk
menentukan nasib sendiri yang dicerminkan dengan mengeluarkan apa yang dikehendaki,
baik itu berbentuk tulisan maupun lisan. Untuk dapat mengeluarkan isi pikirannya mengenai
apa yang dikehendaki, tentunya telah didahului oleh adanya informasi yang diketahuinya.
Adanya informasi ini penting baginya, agar ia dapat ikut berpartisipasi dalam membangun
negaranya. Jadi secara implisit hak untuk mendapat informasi maupun hak untuk menentukan
nasib dirinya dasar hukumnya ada dalam pasal 27 ayat 2 dan pasal 28 UUD 1945.
Selanjutnya Tap MPR No. II/MPR/1978 menegaskan bahwa setiap manusia
mempunyai hak dan kewajiban asasi yang sama. Sangat diharapkan agar hak dan kewajiban
itu dipenuhi oleh masing-masing orang. Penggunaan hak dan kewajiban asasi itu harus
seimbang, selaras dan serasi sehingga tercipta saling mencintai sesama manusia. Begitu pula
tentunya hak an kewajiban dokter-pasien, hendaknya dipatuhi, sehingga tercapai hasil yang
diharapkan oleh masing-masing pihak.
Sekalipun pengaturan secara tegas tentang hak-hak pasien tidak dijumpai tetapi
melalui undang-undang yang telah ada maupun Tap MPR, adanya hak-hak dasar pasien dapat
disimpulkan dan perlu mendapatkan perlindungan. Persoalannya sekarang, dapatkah hak-hak
dasar itu dilaksanakan atau dengan perkataan lain bagaimanakah perwujudan dari hak-hak
dasar yang telah mendapat tempat dalam perundang-undangan kita.
Hukum dalam Pelaksanaannya
Transaksi terapeutik antara dokter dan pasien adalah bersifat pemberian bantuan pertolongan.
Seorang pasien mempunyai harapan bahwa dokterlah satu-satunya yang dapat menolong
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 855
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
dirinya. Dokter harus bertindak hati-hati dalam melakukan tindakan terapeutik dalam
menanggapi kepercayaan itu. Oleh karena pasien mempunyai hak yang dilindungi oleh
hukum yaitu; hak atas informasi dan hak untuk menentukan nasib sendiri, maka hal ini
memberi kewajiban pada dokter untuk mengkomunikasikan padanya selengkap-lengkapnya.
Pada umumnya informasi yang diberikan oleh dokter bersifat lisan walaupun ada kalanya
tertulis. Informasi ini sangat penting bagi seorang pasien untuk dapat memberi persetujuan
ataupun menolak suatu perawatan yang akan diberikan oleh dokter yang bersangkutan. Pasien
berdasarkan hak untuk menentukan nasib sendiri mungkin saja menolak dilanjutkannya
perawatan atau pindah pada dokter lain.
Apabila tindakan dokter yang telah dilakukannya itu tanpa seizin pasien, sedangkan
resiko dari tindakan itu dapat menyebabkan cacat, maka pasien dapat menggugat dokter
berdasarkan wanprestasi dan onrechtmatig daad yang diatur dalam pasal 1843 s/d 1889
KUHPerdata dan pasal 1365, 1366 KUHPerdata. Demikian pula seandainya seorang dokter
memberikan informasi yang tidak benar, mungkin pasien itu dalam rangka penelitian suatu
obat baru, misalnya dan ini off the record atau untuk eksperimen lainnya, maka tindakan
dokter tanpa persetujuan pasien itu pun dapat dikenakan pasal penipuan atau perbuatan
curang. Masalahnya sekarang bagaimana seorang pasien dapat membuktikan bahwa dokter
telah melakukan tindakan malpractice tersebut.
Untuk membuktikan adanya malpractice, pada umumnya timbul kesulitan, terutama
untuk mengetahui apakah kerugian yang diderita pasien ada hubungan langsung atau tidak
dengan tindakan dokter. Misalnya, di sebuah Rumah Sakit Semarang pernah dilakukan
operasi terhadap seorang korban penganiayaan. Oleh operator dilakukan penjahitan pada
jaringan hipar yang robek. Sayang operator ceroboh, yang dijahit hipar pada bagian sentral
saja, sedang bagian dorsal yang juga harus dijahit sama sekali tidak dilakukan penjahitan.
Akibatnya korban mengalami pendarahan dan akhirnya meninggal dunia. (Santoso, 1981).
Di sini kematian dan kecerobohan ada hubungan langsung. Lain halnya dengan kasus
berikutnya, yaitu; seorang penderita yang menjalani operasi ketalar sebagai biusnya. Sehabis
operasi semua berjalan baik dan normal. Namun, pada suatu ketika penderita itu dioperasi lagi
dengan memakai ketalar sebagai obat biusnya. Pada saat penderita masih ditangani oleh
dokter ahli bius, tiba-tiba meninggal dunia. Di sini sulit dibuktikan adanya tindakan
keliru/ceroboh dari dokter yang melakukannya. Sehingga contoh hubungan langsung tadi sulit
dibuktikan. (Santoso, 1981).
856 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
Di samping pasien tidak dapat menunjukkan sebab terjadinya malpractice, seorang
dokter yang telah melakukan perawatan sesuai dengan prinsip-prinsip keahlian yang telah
diperolehnya, tidak akan menyatakan, bahwa apa yang ia lakukan adalah untuk mendapatkan
hasil yang tidak dikehendaki.
Kadang-kadang dokter dalam memberikan pertolongan terhadap penderita dibantu
oleh tim dokter atau sejumlah para medis. Tindakan dokter yang mengakibatkan kerugian
penderita, tidak dapat dituduh telah melakukan malpractice. Hal ini terjadi apabila tindakan
dokter dilakukan di rumah sakit yang bukan milik pribadi, kecuali bila operasi dilakukan pada
klinik-klinik maupun praktek-praktek pribadi. Selain dari itu faktor-faktor lain, yaitu;
tersedianya fasilitas di rumah sakit, sangat menentukan berhasil tidaknya tindakan dokter
yang telah dilakukan itu. Misalnya, waktu diadakan operasi listrik mati, sehingga dokter tidak
dapat melakukan operasi dengan baik. Atau akibat listrik mati maka alat pembantu pernafasan
pasien yang sepenuhnya tergantung pada listrik berhenti sehingga pasien mati seketika.
Sekalipun dokter yang melakukan malpractice tidak dapat lolos dari hukum pidana
maupun pasal-pasal hukum perdata, namun timbul beberapa hambatan-hambatan. Seandainya
dalam membuktikan adanya malpractice perlu diajukan seorang saksi ahli, maka yang dapat
menjadi saksi itu pun dari kalangan medis sendiri. Di sini seorang saksi adalah seorang yang
wajib menyimpan rahasia pekerjaannya, maka sebagai saksi dapat menggunakan hak tolaknya
berdasarkan pasal 146 dan pasal 277 HIR. Menurut pendapat Ko Tjay Sing, seorang saksi
dapat diperingatkan bahwa ia adalah wajib menyimpan rahasia pekerjaan, yang seharusnya
menggunakan hak tolaknya, tetapi kalau ia tetap bersedia memberikan kesaksian, maka hakim
wajib mendengarnya. Oleh karena hak tolak menurut pasal-pasal itu adalah hak bukan
merupakan kewajiban. (Sing, 1978:78-79).
Bila seorang pasien mengajukan gugatan perdata untuk menuntut ganti-rugi karena
merasa dirugikan, yang menurut pendapatnya terjadi malpractice, maka dokter tidak akan
membiarkan nama dan kehormatannya dinodai. Menurut Hazewinkel-Suringa, tidak dapat
diharapkan dari para wajib menyimpan rahasia bahwa mereka membiarkan saja kalau mereka
dihina, dimalukan atau hendak dirugikan materiil. Terutama para dokter yang dihadapkan
pada kesulitan-kesulitan demikian itu. (Sing. 1978:70).
Pendapat kedua menurut Langemeyer, bahwa tidak dengan sendirinya seorang dokter
bebas untuk membuka rahasia pekerjaannya kalau ia digugat pasiennya. Dalam hal demikian
seorang dokter lebih dulu harus berusaha membela dirinya tanpa membuka rahasianya. Baru
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 857
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
kalau pembelaan itu ternyata tidak cukup, ia dapat membuka rahasianya dengan
memberitahukan bahwa berhubung dengan rahasia pekerjaannya, ia tidak lebih dulu
mengajukan fakta-fakta yang ia wajib rahasiakan. (Sing, 1978:70). Dapat disimpulkan bahwa
hal yang telah disebut diatas, wajib penyimpan rahasia pekerjaan, dalam hal ini dokter, berhak
membuka rahasia, kalau perlu untuk membela dirinya, tetapi mereka harus membatasi diri
untuk tidak mengungkapkan fakta-fakta yang tidak perlu bagi pembelaan dirinya. (Sing,
1978:70).
Seorang dokter yang melakukan perbuatan karena daya paksa untuk membela dirinya,
telah diatur dalam pasal 48 maupun pasal 49 KUHPidana. Walaupun dalam pembelaannya
dokter harus membatasi diri, tetapi membawa kemungkinan kepentingan ataupun hak pasien
dirugikan karenanya. Oleh karenanya dalam mewujudkan hak-hak pasien, maka sistem
peradilan kita perlu dibenahi.
Usaha-usaha untuk Mengurangi Terjadinya Malpractice
Penyebab terjadinya malpractice adalah tindakan dokter yang kurang hati-hati dalam merawat
pasien yang menyebabkan kerugian pasien. Di samping itu seorang dokter yang melakukan
perawatan tanpa persetujuan pasien, sedangkan hasil perawatan itu mengakibatkan cacat atau
matinya, maka dokter dapat dikenai pasal-pasal KUHPerdata. Terjadinya malpractice dapat
melibatkan tidak hanya satu dokter, mungkin juga tim dokter atau tenaga para medis lainnya.
Bahkan faktor-faktor lain dapat pula menentukan berhasil tidaknya tindakan seorang dokter.
Oleh karena itu perlu dilakukan usaha-usaha untuk mengurangi terjadinya malpractice, yaitu:
1. Penanaman nilai-nilai moral yang terkandung dalam KODEKI sebaiknya dilakukan sedini
mungkin.
2. Pemberian izin praktek dokter harus diperketat, misalnya; dokter spesialis tidak boleh
praktek sebagai dokter umum.
3. Perlu dilakukan peninjauan secara berkala terhadap izin praktek.
4. Peningkatan pengetahuan maupun keterampilan dokter perlu dilakukan melalui diskusidiskusi maupun sarana yang lain.
5. Dokter harus memenuhi hak-hak pasien sebagaimana telah dijelaskan di muka.
6. Dokter yang melanggar KODEKI harus dikenai sanksi yang tegas, misalnya; pencabutan
sementara izin prakteknya.
858 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
Adapun kegagalan perawatan yang diakibatkan oleh faktor-faktor lain, misalnya;
fasilitas rumah sakit yang tidak memenuhi syarat sebagai rumah sakit yang tidak memenuhi
syarat sebagai rumah sakit maka perlu diadakan pengontrolan terhadap keadaan rumah sakit
maupun peninjauan kembali tujuan dari pendirian rumah sakit. Di samping itu perlu dibuat
suatu persyaratan yang ketat untuk dapat mendirikan sebuah rumah sakit, sehingga unsur
untuk mencari keuntungan semata-mata dapat dihindari. Misalnya, baru-baru ini terjadi protes
dari perawat Rumah Sakit Sumber Waras yang menuntut kenaikan gaji. Rumah Sakit yang
melanggat atau tidak memenuhi persyaratan yang telah ditentukan oleh Pemerintah harus
ditindak tegas.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Transaksi dokter-pasien timbul karena adanya kepercayaan dari pasien bahwa dokter satusatunya manusia yang dapat memberikan pertolongan. Di dalam transaksi itu masingmasing pihak dibebani hak-hak dan kewajiban yang harus dipenuhinya.
2. Informasi perlu diberikan oleh seorang dokter kepada pasien dengan selengkapnya.
Informasi yang berdasarkan fakta yang bohong baik itu dengan alasan untuk kepentingan
pasien atau untuk eksperimen, dapat dikenai hukuman pidana tentang penipuan atau
perbuatan curang.
3. Perawatan pasien oleh seorang dokter dapat dilakukan setelah ada persetujuan dari pasien.
Hak pasien yang dilanggar sehingga menimbulkan kerugian, dokter dapat dikenai tuduhan
melakukan malpractice.
4. Timbulnya kerugian yang diderita pasien disebabkan oleh faktor-faktor lain, maka dokter
tidak dapat dituntut telah melakukan malpractice.
5. Sekalipun hak-hak pasien sebagai hak dasar yang bersifat universal itu secara implisit
tercantum dalam perundang-undangan kita, namun pelaksanaan dari perwujudan hak-hak
dasar tersebut masih sulit.
6. Perlu adanya usaha yang sungguh-sungguh dalam mengurangi terjadinya malpractice.
DAFTAR PUSTAKA
Alibasah, Partomo M. 1979. Masalah Profesi Kesehatan. Hukum No 6 tahun ke lima. Jakarta:
Yayasan Penelitian dan Pengembangan Hukum (Law Centre).
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 859
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
Badrulzaman, Mariam Darus. 1981. Perlindungan Terhadap Konsumen Dilihat dari Sudut
Perjanjian Baku. Hukum dan Keadilan. No 17 Th ke IX. Jakarta: Januari-Februari.
Florence, David W. Informing Patients-The Need : The Law; The Dilema. Mineapolis:
Minnessota (USA).
Hayt and Hayt. 1964. Legal Aspects of Medical Records. Illionis: Physicians, Record
Company Berwyn
Karyadi, M. Komisaris Besar Polisi: Reglemen Indonesia yang dibaharui. S 1941 No 44.
Bogor: Politeia
King, Josephine Y. A Commentary On The Report of The Malpractice Commissions. New
York (USA) : Haspstra University, Hempstead.
Koeswadji, Hermien Hadiati. (1981). Pembahasan pada diskusi ’’Panel Diskusi Peranan
Pendidikan Kedokeran dalam Menegakkan Kode Etik Kedokteran Indonesia dan
Pemantapan Citra Dokter di dalam Masyarakat. Surabaya: Fakultas Hukum Unair.
Kuntjaraningrat. (1975). Pergeseran Nilai-nilai Budaya dalam Masa Transisi. Simposium
Kesadaran Hukum Masyarakat dalam Masa Transisi. Jakarta: BPHN, Binacipta
Moeljatno. (1979). Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. (terjemahan). Cet XI.
Permadi. (1980). Sikap Masyarakat terhadap Masalah Pelindungan Konsumen. Hukum dan
Keadilan. No 16 tahun ke VIII. November-Desember.
Rahardjo, Satjipto. (1978). Kode Etik Kedokteran Ditinjau dari Segi Hukum. Kertas Kerja
pada Simposium Kode Etik Kedokteran Indonesia. Semarang: 2-3 Desember.
Santoso, Bambang Prameng, Sofwan Dahlan. (1981). Malpractice, ceramah klinik. Semarang:
Fakultas Kedokteran Undip. 4 April.
Seidman, Robert B. (1972). ’’Law and Development’’: A General Model, Law and Society
Review. No 2t, hlm 311-339 alih bahasa Satjipto Rahardjo.
Sianturi, R. (1980). Perlindungan Konsumen Dilihat dari Sudut Peraturan Perundangundangan. Hukum dan Keadilan. No 16 tahun VIII. November-Desember.
Sing, Ko Tjay. 1978. Rahasia Pekerjaan Dokter dan Advokat. Jakarta: Gramedia.
Soekanto, Soerjono. 1976. Kegunaan Sosiologi Hukum bagi Kalangan Hukum. Bandung: cet
I. Alumni.
Soemardjan, Selo. 1976. ”Ketimpangan-ketimpangan dalam Pembangunan Pengalaman di
Indonesia”, dalam Yuwono Sudarsono ed. Pembangunan Politik dan Perubahan Politik.
Jakarta: Gramedia.
Subekti, R dan Tjitrosudibio. 1961. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (terjemahan).
Jakarta: Pradnya Paramita.
Susanto, S. Astrid. 1977. Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial. Bandung: cet I.
Binacipta.
Bahan-bahan Panel Diskusi Aspek Hukum dalam Profesi Kedokteran. Bandung: Mei 1981.
Kode Etik. (1978). Simposium Kode Etik Kedokteran Indonesia. Tema: Penelitian Kembali
Pelaksanaan Kode Etik Kedokteran Indonesia. Semarang: 2-3 Desember
Buletin Ikatan Dokter Indonesia cabang Semarang. 1981. Volume VI. No 1. Mei 1981.
Black’s Law Dictionary. St Paul, Minn. 5th ed. (1979). hlm 864.
Undang-Undang Dasar. Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (Ketetapan MPR
No II/MPR/1978). Garis-garis Besar Haluan Negara (Ketetapan MPR No
IV/MPR/1978).
860 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
EFEKTIVITAS PELAKSANAAN PELAYANAN PENGADUAN MASYARAKAT
BERBASIS E-GOVERNMENT
STUDI : PELAKSANAAN PELAYANAN PENGADUAN MASYARAKAT DI UNIT
PELAYANAN INFORMASI DAN KELUHAN (UPIK)
KOTA YOGYAKARTA
Gerry Katon Mahendra1
Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Lampung, Jl. Teuku Umar No. 14 Kota
Bandar Lampung
[email protected]
ABSTRAK
Pelayanan pengaduan masyarakat saat ini sudah menjadi bagian dari upaya perbaikan
pelayanan publik di Indonesia. Pemerintah, pusat maupun di daerah sudah selayaknya
memberikan perhatian khusus terhadap peningkatan kualitas pelayanan pengaduan
masyarakat. Perhatian pemerintah dapat diwujudkan salah satunya dengan terus berinovasi
menciptakan pelayanan pengaduan masyarakat yang tidak hanya mudah diakses oleh
masyarakat, namun juga dapat diterima dan ditanggapi secara responsif dan efektif oleh
pemerintah daerah serta menghasilkan output yang bermanfaat bagi masyarakat dan
pemerintah. Pemerintah Kota Yogyakarta berinovasi dengan menyediakan pelayanan
pengaduan masyarakat yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi (e-government).
Inovasi yang dilakukan oleh pemerintah Kota Yogyakarta adalah dengan menyediakan Unit
Pelayanan Informasi dan Keluhan (UPIK). Penelitian menggunakan metode kualitatif. Studi
kasus dalam penelitian ini adalah Unit Pelayanan Informasi dan Keluhan (UPIK) Kota
Yogyakarta yang menjadi salah satu hasil inovasi dalam hal pelayanan pengaduan
masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk melihat menjelaskan efektivitas proses
penanganan pengaduan masyarakat yang berbasis elektronik. Hasil dari penelitian ini adalah
bahwa kegiatan UPIK sudah berjalan efektif dibuktikan dengan tingginya persentase
penangan aduan. Temuan dalam penelitian ini adalah UPIK belum sepenuhnya diketahui oleh
masyarakat dan juga masih terdapat beberapa SKPD yang belum responsif menanggapi
aduan masyarakat yang dikelola oleh UPIK.
Kata Kunci : Pelayanan Pengaduan Masyarakat,UPIK, Inovasi, Teknologi Informasi dan
Komunikasi, E-Government
PENDAHULUAN
Tuntutan masyarakat mengenai peningkatan kualitas dalam pelayanan publik hingga saat ini
belum sepenuhnya dapat dipenuhi oleh pemerintah. Secara umum, banyak faktor yang
mempengaruhi kualitas pelayanan publik antara lain faktor internal penyedia layanan, seperti
sistem dan prosedur pelayanan yang berbelit-belit, sikap diskriminatif, budaya tidak mau
melayani, banyaknya pungutan liar dan penempatan sumber daya aparatur yang tidak
berdasarkan pada kompetensi. Selain masalah yang timbul di lingkungan internal penyedia
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 861
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
layanan, permasalahan pelayanan publik juga dapat terjadi di lingkungan eksternal atau pihak
penerima layanan (masyarakat). Fakta menyebutkan bahwa Indonesia saat ini masih berada
pada urutan 109 dari 180 negara pada rangking pelayanan publik1
Kualitas pelayanan publik yang belum maksimal hampir terjadi pada seluruh sektor,
termasuk pada pelayanan pengaduan masyarakat. Sistem penanganan pengaduan masyarakat
yang disediakan oleh penyelenggara layanan dinilai masih sangat buruk. Penyelenggara
pelayanan publik, terkesan masih setengah hati dalam mengakomodasi pengaduan
masyarakat sehingga menimbulkan kesan formalitas dan apatis hingga akhirnya berdampak
buruk pada kualitas pelayanan publik secara keseluruhan.
Upaya pemerintah yang masih terkesan kurang serius menangani pelayanan
pengaduan masyarakat tentu saja bertentangan dengan amanat Undang-Undang. Jika
didasarkan pada Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 pasal 18, menyebutkan bahwa
masyarakat berhak untuk mendapatkan tanggapan pengaduan, berhak mengadukan pelaksana
layanan yang tidak memberikan layanan sesuai dengan SOP yang tersedia dan berhak
mengadukan pelaksana layanan kepada penyelenggara / ombudsman apabila pelaksana tidak
menjalankan kewajibannya dengan benar.
Selanjutnya dalam pasal 21 dan pasal 35 disebutkan bahwa penyelenggara pelayanan
berkewajiban
menyediakan
sarana
pengaduan
masyarakat
dan
masyarakat
wajib
mengawasinya.
Undang-Undang tersebut sudah secara jelas menyatakan bahwa masyarakat berhak
mendapatkan pelayanan pengaduan dan pemerintah wajib menyediakan akses pengaduan
bagi masyarakat.
Dengan adanya aturan guna memaksimalkan sarana pengelolaan pengaduan
masyarakat, seharusnya pemerintah khususnya di daerah sudah mampu memberikan
kesempatan, ruang dan fasilitas yang luas kepada masyarakat untuk ikut serta dalam
memberikan keluhan, saran dan kritik guna membangun pelayanan publik yang aspiratif dan
berkualitas.
Namun ternyata, fakta empiris yang terdapat di lapangan memperlihatkan bahwa
kondisi penanganan pengaduan atau manajemen pengaduan masih banyak yang dilakukan
secara konvensional (penyediaan kotak saran), sehingga belum berjalan secara optimal dan
dianggap hanya sekedar formalitas belaka. Pemerintah daerah belum menyadari bahwa
dengan tersedianya ruang yang cukup untuk menyampaikan saran dan keluhan diharapkan
1
www.ombudsman.go.id. Pelaynana Publik di Indonesia Masih Jelek. 2015
862 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
nantinya tercipta pemerintahan yang aspiratif dan pelayanan publik yang diberikan
pemerintah mampu sesuai dengan keinginan masyarakat. Kontrol masyarakat melalui sarana
penyampaian kritik dan saran yang jelas dan dikelola secara profesional oleh aparatur
pemerintah juga dapat menghindarkan pemerintah dari sikap arogan dan otoriter.
Prioritas tersebut saat ini sangat ditunjang dengan perkembangan teknologi dan
informasi yang digunakan oleh pemerintah atau e-government. Di Indonesia sendiri,
penerapan e-government sudah mulai diterapkan dengan dukungan Intruksi Presiden
Republik Indonesia Nomor : 3 tahun 2003 Tentang Kebijakan Dan Strategi Nasional
Pengembangan E-Government. Dengan menerapkan teknologi dalam pengelolaan pengaduan
masyarakat yang berbasis e-government, diharapkan dapat menciptakan pelayanan
pengaduan masyarakat yang lebih efektif, mudah dijangkau oleh masyarakat, informatif, dan
terintegrasi dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) lain sehingga pada akhirnya
dapat tercipta pemerintahan yang aspiratif dan peningkatan kualitas pelayanan publik secara
merata.
Sebagai bentuk komitmen Kota Yogyakarta untuk terus berinovasi dengan basis egovernment dan komitmen untuk menciptakan pemerintahan yang aspiratif adalah dengan
mendirikan Unit Pelayanan Informasi dan Keluhan atau yang lebih dikenal dengan sebutan
UPIK. Dengan didirikannya UPIK segala bentuk pengaduan yang berisi keluhan, masukan,
dan kritikan warga bisa disampaikan langsung melalui e-mail, website, telepon, SMS atau
datang langsung ke sekretariat UPIK Kota Yogyakarta.
Sebagaimana disebutkan dalam laporan Menpan tahun 2014 mengenai inovasi
pelayanan publik, pembentukan UPIK didasari berbagai permasalahan, diantaranya : Warga
tidak bisa menyampaikan informasi dan keluhan setiap waktu; Masyarakat masih mengalami
kesulitan dalam menyampaikan informasi, keluhan, pertanyaan dan saran kepada pemerintah
daerah; Kurangnya respon SKPD dalam menangani keluhan masyarakat; Masyarakat
kesulitan mengawasi kinerja aparatur pemerintah Kota Yogyakarta.
Pembentukan UPIK juga dilandasi tiga persoalan, yaitu: 1) Tidak semua warga
masyarakat mengetahui saluran pengaduan yang dapat dipergunakan secara mudah, 2)
Adanya hambatan waktu bertemu antara rakyat dengan pejabat atau penguasa, dan 3) Adanya
rasa takut dan sungkan untuk mengadukan keluhan diantara masyarakat2
2
Wahyudi Kumorotomo. Pengembangan E-Government untuk Peningkatan Transparansi Pelayanan Publik.
Konferensi Adminstrasi Negara. 2008
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 863
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
UPIK yang diinisiasi oleh Herry Zudianto (mantan Walikota Yogyakarta) melalui
Keputusan Walikota Yogyakarta No.86 tahun 2003 dan ditetapkan pada tanggal 14
November 2003 telah dikukuhkan kembali pada Peraturan Walikota Yogyakarta no 77 tahun
2009 tentang UPIK, dan KEPWAL Kota Yogyakarta No 16 / KEP / 2014 tentang
pembentukan Tim pengelolaan UPIK. Masyarakat ternyata merespon positif keberadaan
UPIK dan juga memanfaatkannya untuk melakukan
pengaduan. Daftar pengaduan
masyarakat melalui UPIK dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 1
Daftar Aduan yang Diterima UPIK Tahun 2015
No
Jenis Media
Keluhan
Pertanyaan
Informasi
Saran
Jumlah
184
1378
1919
554
4035
34
48
44
21
147
1
SMS
2
Website
3
Email
0
0
1
1
2
4
Telepon
0
0
0
0
0
5
Fax
0
0
0
0
0
6
Pos
0
0
0
0
0
7
Datang Langsung
0
0
0
0
0
Total
4184
Sumber : Diolah dari Data Server UPIK 2015
Berdasarkan data dari website UPIK Kota Yogyakarta pada tahun 2014 menampilkan
jumlah pesan yang disampaikan dan menunjukkan UPIK tetap menjadi sarana penyampaian
aduan utama yang mampu diandalkan oleh warga Kota Yogyakarta. Terkait masalah yang
ada dalam pelaksanaan UPIK, hasil studi terdahulu3 menunjukkan bahwa masih ada beberapa
masyarakat yang belum mengetahui keberadaan dan memanfaatkan UPIK sebagai sarana
pengaduan masyarakat.
Sebagai salah satu inovasi pelayanan pengaduan masyarakat yang berbasis elektronik,
UPIK harus tetap dipertahankan. Penguatan UPIK ini tentu saja membutuhkan komitmen dari
berbagai stakeholders agar keberadaan UPIK dapat tetap efektif dalam mengelola dan
3
Nori Aurumbita, Yuke,dkk. Pemanfaatan dan Persepsi Masyarakat Terhadap Unit Pelayanan Informasi dan
Keluhan (Upik) di Kelurahan Suryatmajan, Kota Yogyakarta. 2012.
864 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
mendistribusikan pengaduan masyarakat berbasis e-government dan memberikan manfaat
yang signifikan terhadap peningkatan kualitas pelayanan publik secara umum.
Berdasarkan fenomena yang telah disebutkan diatas, penulis ingin berfokus pada
efektifitas pelaksanaan pelayanan pengaduan masyarakat yang berbasis E-Government
dengan melakukan studi di Unit Pelayanan Informasi dan Keluhan (UPIK) Bagian Humas
dan Informasi Kota Yogyakarta. Penulis ingin melihat, apakah setelah sekian tahun beridiri
UPIK masih mampu menjadi Unit yang mampu mengelola pengaduan masyarakat dengan
efektif.
TINJAUAN PUSTAKA
1. Pelayanan Publik
Pelayanan publik adalah sebagai kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah terhadap
sejumlah manusia yang memiliki setiap kegiatan yang menguntungkan dalam suatu
kumpulan atau kesatuan dan menawarkan kepuasan meskipun hasilnya tidak terkait
pada suatu produk secara fisik4.
Pelayanan publik adalah pemberian pelayanan (melayani) keperluan orang lain
atau masyarakat yang mempunyai kepentingan pada organisasi itu sesuai dengan
aturan pokok dan tata cara yang ditetapkan5.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa pelayanan
publik merupakan segala bentuk pelayanan berupa barang dan jasa publik yang
menjadi tanggung jawab pemerintah pusat, pemerintah daerah dan BUMN serta
BUMD sebagai penyedia layanan dalam rangka pemenuhan kebutuhan masyarakat
dan dalam rangka pelaksanaan peraturan perundang-undangan.
2. Pengaduan Masyarakat
Penangananpengaduan masyarakat menurut Ombudsman New South Wales
merupakan salah satu komponen penting dalam formula peningkatan kepuasan dan
dukungan pengguna layanan publik6.
Pengaduan masyarakat memiliki elemen penanganan pengaduan. Elemen
penanganan pengaduan terdiri dari beberapa aspek antara lain:
4
Harbani Pasolong.Kepemimpinan Birokrasi. Alfabeta. 2013.
Op.Cit. Harbani Pasolong
6
https://www.ombo.nsw.gov.au/__data/assets/pdf_file/0012/3612/GL_EffectiveComplaintHand_Dec10_0914.p
df
5
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 865
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
a. Sumber atau Asal Pengaduan
b. Isi Pengaduan
c. Unit Penanganan Pengaduan
d. Respon Pengaduan
e. Umpan Balik
f. Laporan Penanganan Pengaduan
Pengaduan yang dikelola dengan baik akan mendatangkan manfaat atau
keuntungan bagi organisasi yang dikomplain, antara lain:
1. Organisasi semakin tahu akan kelemahan atau kekurangannya dalam memberikan
pelayanan kepada pelanggan;
2. Sebagai alat introspeksi diri organisasi untuk senantiasa responsif dan mau
memperhatikan suara dan pilihan pelanggan;
3. Mempermudah
organisasi
mencari
jalan
keluar
meningkatkan
mutu
pelayanannya;
4. Bila segera ditangani, pelanggan merasa kepentingan dan harapannya
diperhatikan;
5. Mempertebal rasa percaya dan kesetiaan pelanggan kepada organisasi pelayanan;
6. Penanganan komplain yang benar bisa meningkatkan kepuasan pelanggan7.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa pengaduan
masyarakat merupakan proses penyampaian informasi, kritik, saran, aduan, dan
keluhan yang terkait dengan pelayanan publik yang diselenggarakan oleh pemerintah.
3. E-Government
Secara sempit dan sederhana, pengertian e-government adalah tata kelola pemerintahan
secara elektronik. Sedangkan dalam arti luas, pengertian e-government adalah
pemanfaatan teknologi informasi oleh instansi pemerintah dalam menyelenggarakan
pelayanan publik. E-government memiliki berbagai definisi yang dikemukakan oleh
instansi maupun ahli.
United Nation Development Programme (UNDP) mendefinisikan e-government
sebagai berikut:
7
Jurnal Bappenas. Kajian Manajemen Pengaduan Masyarakat. 2010
866 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
“E-government is the application of Information and Communication Technology
(ICT) by government agencies8”
E-government didefinisikan sebagai penggunaan teknologi informasi dan komunikasi
(TIK) untuk meningkatkan kegiatan organisasi sektor publik. Penerapan e-government
membantu mengurangi biaya, inefisiensi, ketidaknyamanan dan ketidakefektifan dalam
penyediaan layanan9.
Teori-teori di atas memiliki beberapa kesamaan karakteristik, diantaranya sebagai
berikut:
1. Merupakan suatu mekanisme interaksi baru (modern) antara pemerintah dengan
masyarakat dan kalangan lain yang berkepentingan (stakeholder);
2. Melibatkan penggunaan teknologi informasi (terutama internet);
3. Memperbaiki mutu (kualitas) pelayanan yang selama ini berjalan.
Dari beberapa teori di atas dapat disimpulkan bahwa e-government merupakan
kegiatan-kegiatan pemerintah yang memanfaatkan teknologi dan informasi. E-government
menjadikan pemerintah lebih transparan dan akuntabel. Dengan menggunakan teknologi
informasi, hal tersebut dapat mempermudah masyarakat untuk mengakses informasi dan
pelayanan publik.
1. Relasi E-Governance
Dalam e-governance dikenal 4 (empat) jenis relasi yaitu government-to-citizen (G2C),
government-to-business (G2B), government-to government (G2G), dan government to
employee (G2E). Domain G2C dirancang untuk memfasilitasi pemerintah berinteraksi
dengan warga negara. Domain G2B menjembatani pemerintah dalam memberikan
layanan yang lebih baik kepada dunia bisnis, di antaranya dapat berupa penyediaan
informasi dan proses perizinan. Domain G2G digunakan lembaga-lembaga
pemerintah untuk saling berkomunikasi. Domain G2E digunakan untuk menjalin
komunikasi antar pegawai pemerintah10.
8
Yusuf Arifin. Kualitas Pelayanan E-Government ditinjau dari Kepemimpinan Transformasional, Manajemen
Pengetahuan dan Manajemen Perubahan. 2010
9
Richard Heeks. E-government in Africa: Promise ad Practice.2002 (online). Diakses dari :
http//www.sed.manchester.ac.uk/idpm/research/publications/wp/igovernment/documents/igov_wp13.pdf
(2 Januari 2014)
10
Indrajit, Eko Richardus. Electronic Government : Strategi Pembangunan dan Pengembangan Sistem
Pelayanan Berbasis Teknologi Digital.2004
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 867
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
2. Indikator E-Government
Dalam penerapan e-government terdapat indikator-indikator yang berkaitan dengan
berbagai infrastruktur serta strategi pendukungnya, dimana penerapan e-government
ini meliputi:
a. Data infrastruktur, meliputi manajemen sistem, dokumentasi, dan proses kerja di
tempat untuk menyediakan kuantitas dan kualitas data yang berfungsi mendukung
penerapan e-government;
b. Infrastruktur legal, hukum dan peraturan termasuk berbagai perizinan untuk
mendukung menuju e-government;
c. Infrastruktur institusional, diwujudkan dengan institusi pemerintah secara sadar
dan eksis melakukan dan
memfokuskan tujuannya dalam penerapan e-
government;
d. Infrastruktur manusia, sumber daya manusia yang handal merupakan hal pokok
yang harus dipersiapkan dalam penerapan e-government;
e. Infrastuktur teknologi, penerapan e-government banyak bertumpu pada adanya
infrastruktur teknologi yang memadai;
f. Strategi pemikiran pemimpin, penerapan e-government sangat membutuhkan
pemimpin yang membawa visi e-government dalam agendanya dan memiliki
strategi pemikiran untuk mewujudkannya11.
3. Peran Information, Communication, and Technology (ICT) dalam E-Government
Melalui pengembangan E-government dilakukan penataan sistem manajemen dan
proses kerja di lingkungan pemerintah dengan mengoptimalkan peran dan
pemanfaatan ICT. Peran dan pemanfaatan ICT tersebut mencakup dua aktivitas yang
berkaitan yaitu: (1) pengolahan data, pengelolaan informasi, sistem manajemen dan
proses kerja secara elektronis; (2) pemanfaatan kemajuan teknologi informasi agar
pelayanan publik dapat diakses secara mudah dan murah oleh masyarakat di seluruh
wilayah Negara12.
11
12
Indrajit, Eko Richardus. Electronic Governement (Strategi Pembangunan dan Pengembangan Sistem
Pelayanan Publik Berbasis Teknologi Digital). 2002
Vandemi Ryan. E-Government, Kemunculan, Ruang Lingkup dan Manfaat E-Government, 2008.
868 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
METODE PENELITIAN
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Metode penelitian kualitatif biasanya
disebut juga dengan metode penelitian naturalistik, karena penelitiannya dilakukan
pada kondisi yang alamiah (natural setting), disebut juga dengan metode kualitatif
karena data yang terkumpul dan analisisnya lebih bersifat kualitatif.13
2. Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di Unit Pelayanan Informasi dan Keluhan (UPIK),
Bagian Hubungan Masyarakat dan Informasi, Kantor Sekretariat Daerah Kota
Yogyakarta, Komplek Balai Kota, Jalan Kenari Nomor 56 Yogyakarta 55165 dan juga
SKPD terkait dengan penanganan pengaduan masyarakat.
3. Jenis Data
a. Data Primer
Adapun data primer dalam penelitian ini adalah :
1) Informasi pegawai UPIK Kota Yogyakarta tentang efektivitas pelayanan
pengaduan masyarakat di UPIK Kota Yogyakarta;
b. Data Sekunder
Adapun data sekunder dalam penelitian ini adalah :
1) Data jumlah pengguna layanan pengaduan masyarakat di UPIK Kota
Yogyakarta;
2) Data alur pelayanan;
3) Data penggunaan media penyampaian aduan;
4) Data distribusi pengaduan;
4. Teknik Pengumpulan Data
a. Observasi
b. Wawancara
c. Dokumentasi
5. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data dalam penelitian ini merujuk pada teori yang dikemukakan oleh
Huberman dan Miles.Huberman dan Miles mengajukan model analisis data yang
13
Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. 2014.
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 869
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
disebut dengan model interaktif. Model interaktif terdiri dari tiga hal utama, yaitu
reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi14.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan diketahui bahwa tujuan pendirian Unit
Pelayanan Informasi dan Keluhan atau disingkat UPIK adalah agar dapat menampung
berbagai macam aduan masyarakat dan sudah berbasis teknologi, informasi, dan komunikasi
(TIK). Dengan menggunakan basis sistem teknologi informasi, diharapkan dapat beroperasi
lebih efektif dan efisien dalam menampung dan mendistribusikan pesan aduan dibandingkan
dengan penggunaan sistem manual seperti kotak saran dan surat. Pengelolaan UPIK sendiri
diserahkan kepada Bagian Humas dan Informasi Kota Yogyakarta.
Dalam mengakomodir masyarakat untuk menyampaikan informasi dan aduan, UPIK
menyediakan berbagai macam media yang bisa dimanfaatkan, antara lain :
1. Telp/Fax : 0274-561270
2. SMS : 08122780001
3. Internet (website) : http://upik.jogjakota.go.id
4. E-mail : [email protected]
5. Melalui surat atau datang langsung / tatap muka dengan Admin / Operator
UPIK : Di Bagian Humas dan Informasi Setda Kota Yogyakarta, Jl.Kenari
No.56 Komplek Balaikota Timoho15.
Dari beberapa media yang disediakan oleh UPIK Kota Yogyakarta, dapat terlihat
antusiasme warga untuk menggunakan media-media favorit, media-media pilihan warga
dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 2
Media Penyampaian Pengaduan Masyarakat Tahun 2015
No
Jenis Media
Keluhan
Pertanyaan
Informasi
Saran
Jumlah
184
1378
1919
554
4035
34
48
44
21
147
1
SMS
2
Website
3
Email
0
0
1
1
2
4
Telepon
0
0
0
0
0
14
Muhammad Idrus. Metode Penelitian Ilmu Sosial. 2009.
15
www.upikjogjakota.go.id. 2014
870 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
5
Fax
0
0
0
0
0
6
Pos
0
0
0
0
0
7
Datang Langsung
0
0
0
0
0
4184
Total
Sumber : Diolah dari Server Admin UPIK 2015
Berdasarkan tabel di atas, jumlah pesan masuk selama tahun 2015 sebanyak 4184
pesan, namun dari jumlah tersebut tidak bisa semuanya bisa diproses dikarenakan terkait
persayaratan pengaduan yang harus terpenuhi. Misalnya terkait lokasi pengaduan yang hanya
mencakup wilayah Kota Yogyakarta. Berdasarkan tabel tersebut juga terlihat bahwa media
SMS paling banyak digunakan oleh masyarakat dalam menyampaikan pengaduan kepada
UPIK Kota Yogyakarta dikarenakan SMS merupakan media yang paling praktis dan juga
dapat dimanfaatkan setiap saat.
Pesan yang masuk ke UPIK Kota Yogyakarta juga sangat beragam, tidak hanya
sebatas keluhan namun juga terdapat banyak sekali pesan yang bersifat pertanyaan, saran, dan
informasi. Untuk lebih jelasnya mengenai isi pengaduan yang masuk dan ditindaklanjuti
melalui UPIK Kota Yogyakarta dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 3
Isi Pengaduan Masyarakat Tahun 2015
Isi Pengaduan
Jumlah
Pertanyaan
1431
Informasi
1780
Saran
576
Keluhan
219
4006
Total
Sumber :Diolah Dari Server Admin UPIK 2015
Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa selama tahun 2015 daftar pertanyaan
terhadap pemerintah Kota Yogyakarta masih mendominasi.
Penangananpengaduan masyarakat dapat dikatakan efektif jika instansi yang
mengelola memiliki komitmen kuat dan respon cepat dalam memproses tuntas aduan yang
telah diterima. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh penulis, penulis
memiliki gambaran yang cukup jelas terkait respon yang selama tahun 2015 dilaksanakan
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 871
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
UPIK Kota Yogyakarta. Terkait respon penanganan pengaduan yang telah dilaksanakan oleh
UPIK Kota Yogyakarta dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 4
Respon Pengaduan Masyarakat Tahun 2015
Status
Jumlah
Sudah Direspon
3851
Belum Direspon
34
Salah Alamat
121
4006
Total
Sumber : Diolah dari Server Admin UPIK 2015
Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa dari 4006 pesan yang didistribusikan admin
UPIK Kota Yogyakarta kepada operator UPIK pada tiap SKPD menunjukkan bahwa 3851
pesan diantaranya sudah direspon dan ditindaklanjuti. Alur pengelolaan pengaduan yang
dilakukan oleh UPIK Kota Yogyakarta dalam menangani setiap aduan yang masuk adalah
sebagai berikut :
Bagan 2
Alur Pelayanan UPIK Kota Yogyakarta
Sumber : www.upikjigjakota.goid
872 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
Berdasarkan gambar di atas, dapat dijelaskan secara umum proses penerimaan dan
pendistribusian pengaduan masyarakat sebagai berikut :
1. Admin UPIK di bagian Humas dan Informasi membuka login;
2. Admin UPIK mengidentifikasi pesan yang harus dihapus atau yang harus blacklist;
3. Admin UPIK dibantu Ka. Sub, Bag. Humas membaca, menelaah, dan memverifikasi
pesan masuk yang menjadi tanggungjawab Pemerintah Kota Yogyakarta;
4. Admin UPIK mengirimkan pesan yang sudah terverifikasi kepada SKPD terkait;
5. SKPD terkait merespon melalui tindak lanjut fisik maupun non fisik (sesuai
pengaduan) dan melakukan koordinasi dengan SKPD apabila dibutuhkan;
6. SKPD memberikan respon dan perkembangan jawaban kepada admin UPIK Bagian
Humas dan kepada masyarakat (pengadu)
PEMBAHASAN
Perbandingan antara parameter dengan data empirik di lapangan dapat dilihat pada tabel di
bawah ini :
Tabel 4
Variabel Efektivitas dan Hasil Penelitian Lapangan
Indikator
Parameter
Empirik
Sumber atau Asal
-Masyarakat Kota
-Masyarakat Kota Yogyakarta dan
Pengaduan
Yogyakarta
luar Kota
-Penggunaan media
-Mayoritas menggunakan SMS dan
(Website, email, SMS,
website
telepon surat, datang
langsung)
Isi Pengaduan
-Informasi
-Informasi
-Pertanyaan
-Pertanyaan
-Keluhan
-Keluhan
-Saran
-Saran
Unit Penanganan
-UPIK (identifikasi,
-UPIK (identifikasi, distribusi,
Pengaduan
distribusi, tindak lanjut)
tindak lanjut)
-SKPD terkait
-SKPD terkait (koordinasi, tindak
(koordinasi, tindak
lanjut)
lanjut)
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 873
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
Respon
-1x24 jam untuk Admin
-1x24 jam untuk Admin UPIK
Pengaduan
UPIK
-Penyelesaian tidak selalu 2x24
-2x24 jam untuk operator
jam pada tiap SKPD
SKPD
-Penyelesaian tidak selalu 6x24
-6x24 jam untuk
jam untuk penanganan lintas SKPD
penanganan lintas SKPD
Umpan Balik
- Pemerintah mampu
- Feedback pemerintah sangat baik
memberikan feedback
-Masyarakat sangat jarang
-masyarakat memberikan
memberikan feedback pengaduan
feedback pada setiap
pengaduan
Laporan Penanganan
-Laporan bulanan
-Laporan bulanan
Pengaduan
-Rapat koordinasi per
-Rapat koordinasi per tiga bulan
tiga bulan
(tidak semua operator hadir)
Sumber : Data Diolah 2015
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa secara keseluruhan antara parameter dengan
data empirik di lapangan sudah menunjukkan kesesuaian. Indikator-indikator utama yang
menjadi tolok ukur efektivitas pelaksanaan pengaduan masyarakat berbasis e-government di
UPIK tahun 2015 sudah dapat terpenuhi. Dimulai dari indikator sumber pengaduan. Selama
ini sumber pengaduan yaitu masyarakat semakin aktif memberikan berbagai pengaduan
melalui berbagai media yang terkait pelayanan publik.
Kedua, indikator isi / konteks pengaduan.Aduan yang ditujukan kepada pemerintah
Kota Yogyakarta melalui UPIK sudah cukup substantif. Ketiga, indikator unit penanganan
pengaduan. Dalam indikator ini, jelas bahwa yang dimaksud unit penanganan pengaduan yang
harus tersedia dalam mengelola pengaduan masyarakat adalah UPIK Kota Yogyakarta.
Keempat, indikator respon pengaduan. Dalam indikator ini, respon terbaik ditunjukkan oleh
admin UPIK yang berada di Bagian Humas, khususnya dalam hal menjawab aduan dan
mendistribusikan aduan kepada SKPD terkait.
Respon yang ditunjukkan oleh operator dan SKPD terkait cukup beragam, hingga
pada akhirnya muncul SKPD yang responsif dan kurang responsif. Kelima, indikator umpan
balik. Dari hasil penelitian lapangan menunjukkan bahwa pemerintah memberikan umpan
balik yang sangat baik melalui UPIK, sedangkan masyarakat umumnya sudah merasa puas
874 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
dengan penyelesaian aduan yang telah dilakukan oleh UPIK/SKPD tanpa mendiskusikannya
lebih lanjut lagi.
Keenam, indikator laporan penanganan pengaduan. Berdasarkan data empirik di
lapangan dalam kegiatan UPIK selama tahun 2015, pelaksanaan kegiatan UPIK selalu
dibarengi dengan kegiatan pelaporan rutin tiap bulan dan rapat koordinasi tiap tiga bulan.
Upaya ini dilaksanakan agar kegiatan UPIK tetap dapat terkontrol dan terus beroperasi secara
efektif dan efisien.
Tabel 5
Variabel E-Government dan Hasil Penelitian Lapangan
Indikator
Parameter
Empirik
Data Infrastruktur
-Manajemen sistem
-Manajemen sistem
-Dokumentasi
-Dokumentasi
-Proses kerja
-Proses kerja
-Peraturan Perundang-
-Peraturan Perundang-Undangan
Undangan
-Perda
-Perda
-Perwal
-Perwal
-Kepwal
Infrastruktur
-Komitmen aparatur
-Komitmen Aparatur yang belum
Institusional
-Eksistensi institusi
merata
Dasar Hukum
-Eksistensi Institusi
Infrastruktur
-Mindset
-Mindset yang cukup baik
Manusia
- Ketersediaan SDM
-SDM mencukupi
-Pelatihan khusus
-Tidak ada pelatihan khusus
Infrastruktur
-Software (program)
-Software (program)
Teknologi
-Hardware (komputer)
-Hardware (komputer)
-Jaringan Internet
-Jaringan Internet
-Jaringan telepon
-Jaringan telepon
-Visi dan Misi Pemimpin
-Visi dan Misi Pemimpin
Strategi Pemikiran
Pemimpin
Sumber : Data Diolah 2015
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa secara keseluruhan antara parameter dengan
data empirik di lapangan sudah menunjukkan kesesuaian. Indikator - indikator utama yang
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 875
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
menjadi tolok ukur efektivitas pelaksanaan pengaduan masyarakat berbasis e-government di
UPIK tahun 2015 sudah dapat terpenuhi.
Dimulai dari indikator data infrastruktur. Berdasarkan hasil penelitian lapangan,
pertama pengelolaan data infrastruktur UPIK yang meliputi sistem, dokumentasi, dan proses
kerja sudah baik dan mencerminkan penerapan e-government. Kedua, indikator dasar hukum.
Berdasarkan data empirik dasar hukum dalam kegiatan UPIK sudah cukup kuat dan lengkap
(UU, Inpres, Perda, Perwal, Kepwal). Ketiga, indikator infrastruktur institusional. Dalam
indikator ini, diketahui komitmen aparatur belum merata namun jika dilihat secara
keseluruhan, institusi pemerintah Kota Yogyakarta khususnya yang terlibat dalam kegiatan
UPIK memiliki komitmen untuk menerapkan e-government dalam pelaksanaan pelayanan
publik.
Keempat, indikator infrastruktur manusia. Secara umum SDM yang tersedia dalam
kegiatan pengaduan masyarakat berbasis e-government di UPIK sudah cukup memadai, baik
dari segi kualitas maupun kuantitas. Mindset SDM yang tersedia juga sudah modern dan
mulai mengedepankan pelayanan kepada masyarakat. Kelima, indikator infrastruktur
teknologi. Kegiatan UPIK sudah memanfaatkan teknologi, komunikasi, dan informasi.
Teknologi yang digunakan tidak terlalu canggih, namun lebih difokuskan pada kebutuhan
kegiatan UPIK itu sendiri. Keenam, indikator strategi pemikiran pemimpin. Pemimpin yang
paling berjasa dalam pembentukan UPIK tentu saja mantan Walikota Kota Yogyakarta, Heri
Zudianto.
Sebagai
penerus,
Walikota
saat
ini
harus
mampu
mempertahankan
dan
mengembangkan kegiatan UPIK agar tetap dapat menjadi sarana yang efektif dalam
menampung pengaduan masyarakat. Selama tahun 2015, terlihat bahwa pemimpin saat ini
tetap mendukung kegiatan UPIK melalui berbagai upaya, diantara dukungan anggaran dan
pengawasan.
Berdasarkan variabel beserta indikator yang telah ditetapkan oleh penulis dengan hasil
penelitian yang telah didapatkan dan dianalisis, menunjukkan bahwa pelaksanaan pelayanan
pengaduan masyarakat yang berbasis e-government di UPIK Kota Yogyakarta tahun 2015
sudah berjalan efektif.
876 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa Pelaksanaan pelayanan
pengaduan masyarakat berbasis e-government di UPIK Kota Yogyakarta pada tahun
2015 sudah berjalan efektif. Hal ini salah satunya ditandai dengan banyaknya pesan
aduan yang masuk, yakni sebanyak 4006 pesan aduan dan 3851 diantaranya dapat
ditindaklanjuti oleh UPIK dan SKPD terkait. Kemudian berdasarkan parameter
mengenai pengelolaan pengaduan dan penggunaan teknologi informasi dan
komunikasi yang dibuat oleh penulis juga menunjukkan kesesuaian.
2. Saran
Berdasarkan hasil kesimpulan tersebut di atas, maka peneliti menyarankan beberapa
hal sebagai berikut :
1. Sosialisasi keberadaan UPIK perlu ditingkatkan lagi.
2. Peningkatan komitmen dan koordinasi antar aparatur, khususnya yang bertugas
sebagai pengelola, admin, operator dan aparatur di tingkat SKPD.
3. Bagi SKPD yang kurang responsif dalam memberikan tanggapan yang terkait
pengaduan, seharusnya diberikan peringatan dan teguran sehingga ke depannya
tidak ada lagi SKPD yang malas merespon pengadun masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Yusuf. Dkk. 2010. Kualitas Pelayanan E-Government ditinjau dari Kepemimpinan
Transformasional, Manajemen Pengetahuan dan Manajemen Perubahan. Unpad Press.
BAPPENAS. 2010. Manajemen Pengaduan Masyarakat Dalam Pelayanan Publik.
Idrus, Muhammad 2009. Metode Penelitian Ilmu Sosial. Erlangga.Yogyakarta.
Indrajit, Richardus Eko, et all. 2004. Electronic Government : Strategi Pembangunan dan
Pengembangan Sistem Pelayanan Berbasis Teknologi Digital.Yogyakarta.
Indrajit, Richardus Eko. 2002.
Electronic Governement(StrategiPembangunan dan
Pengembangan Sistem Pelayanan Publik Berbasis Teknologi Digital). Andi Yogyakarta.
Yogyakarta.
Kumorotomo, Wahyudi. 2008. Pengembangan E-Government untuk Peningkatan
Transparansi Pelayanan Publik. Konferensi Adminstrasi Negara, Yogyakarta.
Nori Aurumbita, Yuke,dkk. 2012. Pemanfaatan dan Persepsi Masyarakat Terhadap Unit
Pelayanan Informasi dan Keluhan (Upik) di Kelurahan Suryatmajan, Kota
Yogyakarta.UGM.
Pasolong, Harbani. 2013. Kepemimpinan Birokrasi. Alfabeta. Bandung.
Richard Heeks. 2002 E-government in Africa: Promise ad Practice. (online). Diakses dari :
http//www.sed.manchester.ac.uk/idpm/research/publications/wp/igovernment/document
s/igov_wp13.pdf (2 Januari 2014)
Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Alfabeta, Bandung.
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 877
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
Vandemi, Ryan dkk. 2008. Pengertian E-Government, Kemunculan, Ruang Lingkup dan
Manfaat E-Government.E-Government.
Inpres No.3 tahun 2003 mengenai Strategi Pengembangan E-Government.
Peraturan Walikota Yogyakarta Nomor 77 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Informasi dan
Keluhan Pada Unit Pelayanan Infomasi dan Keluhan (UPIK) Kota Yogyakarta.
PERMENPAN Nomor 5 Tahun 2009 Tentang Pedomam Umum Penanganan Pengaduan
Masyarakat Bagi Instansi Pemerintah.
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik.
Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik.
Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2008 Tentang Ombudsman Republik Indonesia.
https://www.ombo.nsw.gov.au/__data/assets/pdf_file/0012/3612/GL_EffectiveComplaintHand_Dec
10_0914.pdf
http://upik.jogjakota.go.id/
http://www.jogjakota.go.
878 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
POTENSI DAN TANTANGAN PILKADA SERENTAK 2015
Audra Jovani
Prodi Ilmu Politik, Fisipol-Universitas Kristen Indonesia
[email protected]
ABSTRAK
Demokrasi lokal di Indonesia mengalami perubahan yang dinamis. Pemilihan pemimpin
lokal: Gubernur, Bupati dan Walikota secara langsung atau Pilkada dipilih menjadi sistem
yang mengantikan pemilihan tidak langsung melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
(DPRD). Sistem ini tertuang dalam UU No. 32 Tahun 2004 yang kemudian direvisi dengan
UU No. 12 Tahun 2008. Sejak tahun 2005 hingga 2014 telah dilaksanakan di seluruh provinsi,
kabupaten dan kota di Indonesia, namun berbagai persoalan masih membayangi pelaksanaan
Pilkada di Indonesia. Oleh karenanya, Pemerintah bersama dengan Dewan Perwakilan Rakyat
(DPR) merumuskan perbaikan terkait dengan pelaksanaan Pilkada, yang tertuang dalam UU
No. 8 Tahun 2015 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota. Pelaksanaan Pilkada
serentak 2015 telah menjadi perhatian publik karena merupakan pilkada yang pertama kali
diadakan dalam sistem demokrasi di Indonesia. Keberhasilan pelaksanaan Pilkada serentak
2015 ini sangat mempengaruhi roda pemerintahan di provinsi, kabupaten dan kota.
Pelaksanaan Pilkada ini juga merupakan proses demokrasi di Indonesia, keberhasilan dan
kegagalan dalam pelaksanaan Pilkada sangat mempengaruhi proses demokrasi di Indonesia.
Kata kunci : Demokrasi, Pemilu, Pemilu Kepala Daerah, Kepala Daerah
PENDAHULUAN
Pemilihan kepada daerah gubernur, bupati dan walikota telah dilakukan secara serentak di
Indonesia pada 9 Desember 2015. Calon kapala daerah berasal dari partai politik dan melalui
non-partai. Penyelenggraan pilkada serentak dilakukan secara bertahap, dengan 269 pemilihan
kepada daerah yang terdiri dari 9 provinsi, 224 kabupaten dan 36 kota. Saat ini pemilihan
kepala daerah dilakukan bersamaan dengan wakil kepala daerah.
Sebelumnya pada tahun 2005, kepala daerah dan wakil kepala daerah dipilih Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Sejak diberlakunya UU No. 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah, kepala daerah dipilih secara langsung oleh rakyat melalui pemilihan
kepala daerah dan wakil kepala daerah atau disingkat Pilkada. Pilkada pertama kali
diselenggarakan pada bulan Juni 2005. Pemerintah eksekutif dan legislatif telah menyepakati
pilkada serentak untuk daerah-daerah yang akan habis masa jabatannya pada tahun 2015 dan
semuanya diselenggarakan pada Desember 2015. Berdasarkan UU No. 32 Tahun 2004,
peserta pilkada adalah pasangan calon yang diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai
politik. Ketentuan ini diubah dengan UU No. 12 Tahun 2008 yang menyatakan bahwa peserta
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 879
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
pilkada juga dapat berasal dari pasangan calon perseorangan yang didukung oleh sejumlah
orang. UU ini menindaklanjuti keputusan Mahkamah Konstitusi yang membatalkan beberapa
pasal menyangkut peserta pilkada dalam UU No. 32 Tahun 2004. Khususnya di Aceh, peserta
pilkada dapat diusulkan oleh partai politik lokal.
Penyelenggaraan pilkada diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU)
Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota dengan diawasi oleh Panitia Pengawas Pemilihan Umum
(Panwaslu) Provinsi dan Panwaslu Kabupaten/Kota. Khusus di Aceh, Pilkada diselenggarakan
oleh Komisi Independen Pemilihan (KIP) dengan diawasi oleh Panitia Pengawas Pemilihan
Aceh (Panwaslih Aceh). KPU sebagai penyelenggara pilkada harus memperhatikan potensi
yang menimbulkan konflik dalam pelaksanaan pilkada, salah satu potensi konflik muncul
adalah daftar pemilih. Tahap ini sangat rentan konflik karena masih banyak warga yang tidak
memiliki identitas atau belum terdaftar sebagai pemilih. Kasus ini sering kali muncul,
terutama di daerah-daerah perbatasan, dimana para calon saling mengklaim warga perbatasan
sebagai warganya untuk memperoleh suara lebih banyak. Selain itu, permasalahan kampanye,
debat terbuka dan iklan kampanye juga berpotensi besar menimbulkan konflik. Selain potensi
yang dihadapi dalam pilkada serentak tersebut, terdapat tantangan yang dihadapi oleh KPU
sebagai penyelenggara pilkada. Berdasarkan uraian diatas, penulis akan membahas mengenai
potensi dan tantangan dalam pilkada serentak di Indonesia
TINJAUAN PUSTAKA
1. Pemilihan Umum
Pemilu merupakan sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat dimana rakyat dapat memilih
pemimpin politik secara langsung. Yang dimaksud dengan pemimpin politik adalah
wakil-wakil rakyat yang duduk di lembaga perwakilan rakyat (parlemen) baik di
tingkat pusat maupun daerah dan pemimpin lembaga eksekutif atau kepala
pemerintahan seperti presiden, gubernur, atau bupati/walikota.
Fungsi pemilu adalah
sebagai berikut Pertama, pemilu merupakan
implementasi perwujudan kedaulatan rakyat. Asumsi demokrasi adalah kedaulatan
terletak di tangan rakyat. Karena rakyat yang berdaulat itu tidak bisa memerintah
secara langsung maka melalui pemilu rakyat dapat menentukan wakil-wakilnya dan
para wakil rakyat tersebut akan menentukan siapa yang akan memegang tampuk
pemerintahan.
880 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
Kedua, pemilu merupakan sarana untuk membentuk perwakilan politik.
Melalui pemilu, rakyat dapat memilih wakil-wakilnya yang dipercaya dapat
mengartikulasikan aspirasi dan kepentingannya. Semakin tinggi kualitas pemilu,
semakin baik pula kualitas para wakil rakyat yang bisa terpilih dalam lembaga
perwakilan rakyat.
Ketiga, pemilu merupakan sarana untuk melakukan penggantian pemimpin
secara konstitusional. Pemilu bisa mengukuhkan pemerintahan yang sedang berjalan
atau untuk mewujudkan reformasi pemerintahan. Melalui pemilu, pemerintahan yang
aspiratif akan dipercaya rakyat untuk memimpin kembali dan sebaliknya jika rakyat
tidak percaya maka pemerintahan itu akan berakhir dan diganti dengan pemerintahan
baru yang didukung oleh rakyat.
Keempat, pemilu merupakan sarana bagi pemimpin politik untuk memperoleh
legitimasi. Pemberian suara para pemilih dalam pemilu pada dasarnya merupakan
pemberian mandat rakyat kepada pemimpin yang dipilih untuk menjalankan roda
pemerintahan. Pemimpin politik yang terpilih berarti mendapatkan legitimasi
(keabsahan) politik dari rakyat.
Kelima, pemilu merupakan sarana partisipasi politik masyarakat untuk turut
serta menetapkan kebijakan publik. Melalui pemilu rakyat secara langsung dapat
menetapkan kebijakan publik melalui dukungannya kepada kontestan yang memiliki
program-program yang dinilai aspiratif dengan kepentingan rakyat. Kontestan yang
menang karena didukung rakyat harus merealisasikan janji-janjinya itu ketika telah
memegang tampuk pemerintahan.
2. Pemilu Kepala Daerah
Pemilu kepala daerah dan wakil kepala daerah adalah pemilu untuk memilih pasangan
calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang diusulkan oleh parpol atau
gabungan parpol dan perseorangan. Sejak tahun 2005, telah diselenggarakan Pilkada
secara langsung, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Penyelenggaraan ini
diatur dalam UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang menyebutkan
bahwa “Kepala daerah dan wakil kepala daerah dipilih dalam satu pasangan calon
yang dilaksanakan secara demokratis berdasarkan asas langsung, umum, bebas,
rahasia, jujur dan adil”.
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 881
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
Pilkada masuk dalam rezim Pemilu setelah disahkannya UU No. 22 Tahun
2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum sehingga sampai saat ini Pemilu
Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah lebih dikenal dengan istilah Pilkada. Pada
tahun 2008, tepatnya setelah diberlakukannya UU No. 12 Tahun 2008 tentang
Perubahan Kedua Atas UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, peserta
Pilkada adalah pasangan calon dari:
a. Partai politik atau gabungan partai politik yang memperoleh kursi paling
rendah 15% (lima belas perseratus) dari jumlah kursi DPRD di daerah
bersangkutan atau memperoleh suara sah paling rendah 15% (lima belas
perseratus) dari akumulasi perolehan suara sah dalam Pemilu Anggota DPRD
di daerah bersangkutan.
b. Perseorangan yang didukung oleh sejumlah orang yang telah memenuhi
persyaratan secara berpasangan sebagai satu kesatuan, dengan ketentuan
sebagai berikut (UU No.12 Tahun 2008 perubahan kedua atas UU No. 32
Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah):
1. Provinsi dengan jumlah penduduk sampai dengan 2.000.000 (dua
juta) jiwa harus didukung paling rendah 6,5% (enam koma lima per
seratus);
2. Provinsi dengan jumlah penduduk lebih dari 2.000.000 (dua juta)
sampai dengan 6.000.000 (enam juta) jiwa harus didukung paling
rendah 5% (lima per seratus);
3. Provinsi dengan jumlah penduduk lebih dari 6.000.000 (enam juta)
sampai dengan 12.000.000 (dua belas juta) jiwa harus didukung
paling rendah 4% (empat per seratus);
Tahapan penyelenggaraan pemilu kepala daerah dan wakil kepala daerah: 16
16
a.
Pemutakhiran data dan daftar pemilih;
b.
Pencalonan;
c.
Kampanye;
d.
Masa tenang;
e.
Pemungutan suara dan penghitungan suara;
f.
Penetapan hasil pemilu kepala daerah dan wakil kepala daerah;
“Definisi Pemilu dan Demokrasi” dalam www.kpu.go.id
882 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
g.
Pengucapan sumpah/janji kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih.
3. Komisi Pemilihan Umum
Komisi Pemilihan Umum atau KPU adalah lembaga negara yang menyelenggarakan
pemilihan umum di Indonesia. Dalam Pasal 10 UU No. 3 Tahun 1999 tentang
Pemilihan Umum dan Pasal 2 Keputusan Presiden No. 16 Tahun 1999 tentang
Pembentukan Komisi Pemilihan Umum dan Penetapan Organisasi dan Tata Kerja
Sekretariat Umum Komisi Pemilihan Umum, dijelaskan bahwa untuk melaksanakan
Pemilihan Umum, KPU mempunyai tugas kewenangan sebagai berikut: 17
1.
Merencanakan
dan
mempersiapkan
pelaksanaan
Pemilihan
Umum;
menerima, meneliti dan menetapkan Partai-partai Politik yang berhak sebagai
peserta Pemilihan Umum;
2.
Membentuk Panitia Pemilihan Indonesia yang selanjutnya disebut PPI dan
mengkoordinasikan kegiatan Pemilihan Umum mulai dari tingkat pusat
sampai di Tempat Pemungutan Suara yang selanjutnya disebut TPS;
3.
Menetapkan jumlah kursi anggota DPR, DPRD I dan DPRD II untuk setiap
daerah pemilihan;
4.
Menetapkan keseluruhan hasil Pemilihan Umum di semua daerah pemilihan
untuk DPR, DPRD I dan DPRD II;
5.
Mengumpulkan dan mensistemasikan bahan-bahan serta data hasil Pemilihan
Umum;
6.
Memimpin tahapan kegiatan Pemilihan Umum.
Dalam Pasal 2 Keputusan Presiden No. 16 Tahun 1999 terdapat tambahan huruf:
1. Tugas dan kewenangan lainnya yang ditetapkan dalam Undang-undang No. 3 Tahun 1999
tentang Pemilihan Umum.
Sedangkan dalam Pasal 11 UU No. 3 Tahun 1999 tersebut juga ditambahkan, bahwa
selain tugas dan kewenangan KPU sebagai dimaksud dalam Pasal 10, selambat-lambatnya 3
(tiga) tahun setelah Pemilihan Umum dilaksanakan, KPU mengevaluasi sistem Pemilihan
Umum.
17
“Tugas dan Kewenangan KPU” dalam www.kpu.go.id
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 883
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
METODOLOGI
Metodologi yang digunakan adalah bersifat deskriptif-analisis, yaitu suatu metode yang
bertujuan untuk menggambarkan, mencatat, menganalisa dan menginterpretasikan kondisi
yang terjadi atau ada, dengan kata lain bertujuan untuk memperoleh informasi-informasi
mengenai suatu keadaan dan melihat kaitannya antara variabel-variabel yang ada.
18
Dengan
metode ini, penulis berusaha mengambarkan potensi dan tantangan pilkada serentak di
Indonesia tahun 2015.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Potensi konflik yang timbul dalam pilkada serentak 2015 adalah potensi kekerasan yang yaitu
(1) konflik antar calon gubernur, bupati/walikota, terkait dengan relasi kekuasaan antar calon
yang cenderung tidak adil dan seimbang. Adanya upaya penjegalan calon yang dianggap
potensial menang dan popular, hal dilakukan adalah kampanye hitam, intimidasi dan lain-lain.
Hal ini memicu kemarahan dari pendukung calon kepada daerah. Sejarah konflik antar calon
kepala daerah yang memiliki massa loyal dan berbasis pada identitas tertentu seperti suku,
agama dan geografis; (2) isu kecurangan pemilu, melalui persoalan kecurangan pemungutan
dan rekapitulasi suara. Politik uang juga masih menjadi masalah utama; (3) konteks lokal,
yang berkaitan dengan identitas masyarakat pemilih (agama, suku/etnik, geografis); (4)
profesionalisme dan netralitas dari penyelenggara pilkada (KPU, KPUD, BAWASLU,
PANWASLU (5) lemahnya penegakan hukum, untuk mengantisipasi kecurangan, maka
penegak hukum harus dapat berdiri sendiri dan tidak terpengaruh. (6) sengketa hasil akhir.
Menurut UU No.8 Tahun 2015 perkara perselisihan penetapan perolehan suara hasil pemilhan
diperiksa dan diadili oleh bada peradilan khusus, yang sampai dengan terbentuknya badan
tersebut maka perselisihan diajukan ke Mahkamah Konstitusi dan keputusan Mahkamah
Konstitusi adalah putusan terakhir dan final. Namun, keputusan MK tidak selamanya bisa
diterima oleh pasangan calon serta para pendukungnya, dan dapat menimbulkan aksi unjuk
rasa yang ditunjukan lewat aksi –aksi kekerasan.
18
Mardalis. 1995. Metode Penelitian Sosial. Bumi Aksara. Jakarta. Hal. 26.
884 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
Namun KPU mengungkapkan bahwa terdapat tiga peluang dalam pilkada serentak
pada tahun 2015 yaitu: 19
1. Peningkatan Partisipasi Pemilih
Peningkatan partisipasi pemilih dalam pilkada serentak adalah (a) meningkatnya
pengetahuan tentang politik dan pentingnya memilih kepala daerah sebagai pemimpin
daerah; (b) memiliki kesadaran untuk berpartisipasi aktif dengan memilih calon kepala
daerah; dan (c) memiliki kemampuan dalam memilih.
2. Penguatan Aspek Transparansi
(a) Scan C1 (b) Exel DA1 (c) E-Rekap
Penggunaan Sistem Informasi Penghitungan Suara (SITUNG) untuk Pilkada Serentak
Tahun 2015 untuk menampilkan hasil penghitugan suara yang dilakukan di seluruh
Tempat Pemungutan Suara (TPS). Proses pengumpulan dan publikasi C1 kali ini bisa
lebih cepat dibanding pada Pilpres Tahun 2014 yang berhasil mengumpulkan 98,6
formulir C1 dalam waktu tujuh hari. Aplikasi dapat diakses melalui situs
https://pilkada2015.kpu.go.id ini, selain akan mengunggah formulir C1 dari tiap TPS, juga
akan melakukan e-Rekapitulasi hasil pilkada. Demi terjaminnya akurasi data pada proses
e-Rekapitulasi, aplikasi yang digunakan memungkinkan adanya fungsi validasi dan
koreksi sehingga akan menghasilkan hasil penghitungan suara yang bukan hanya tepat,
tapi juga akurat. Selain menjalankan prinsip transparansi, penggunaan SITUNG juga
mengurangi tindak pidana manipulasi penghitungan suara dengan memaksimalkan
partisipasi masyarakat.
3. Perbaikan Data Pemilih Keberlanjutan
Kebijakan strategis mutarlih Pilkada serentak 2015. (a) Pemutakhiran data pemilih
dilakukan dengan basis data DP4 dan DPT Pemilu terakhir sehingga menjamin
keberlanjutan data pemilih; (b) Penerimaan dan Pengelolaan DP4 dilakukan satu pintu
dari Kemendagri ke KPU RI dan seterusnya ke KPU Provinsi dan Kabupaten/Kota; (c)
Format DP4 berbentuk CSV sehingga lebih mudah diimplementasikan ke dalam platform
sistem yang dikembangkan oleh KPU; (d) Terdapat penegasan dalam regulasi mutarlih
terkait kewajiban analisa DP4 dan Sinkronisasi DP4 dengan DPT Pemilu Terakhir; (e)
Fasilitasi Data Pemilih untuk daerah pemekaran baik di DP4 maupun Sidalih; (f) Formulir
data pemilih sudah memuat kolom khusus untuk penyandang disabilitas.
19
Dalam Seminar Nasional “Peluang dan Tantangan Pilkada Serentak 2015”, pada tanggal 22 November 2015 di
Hotel Le Meridien Jakarta
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 885
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
Selain itu terdapat juga tantangan yang disampaikan oleh KPU, yaitu:20
1. Dualisme Kepengurusan Parpol
Partai politik di DPR bersepakat untuk tetap memberikan peluang kepada parpol yang
berkonflik dapat mengajukan pasangan calon dengan catatan pasangan calon diajukan dan
mendapat rekomendasi dari kepengurusan yang tengah berkonflik
2. Uji Materi UU Pilkada
KPU merespons langsung setiap Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) tentang JR UU
Pikada dengan cara merevisi Peraturan KPU
3. Potensi Konflik Pilkada
Desain kampanye pilkada yang mengedepankan pertemuan terbatas, tatap muka dan
meminimalisasi rapat umum serta alokasi waktu berkampanye yang cukup panjang
membuat potensi konflik pada masa kampanye dapat diminimalisir karena setiap
pasangan calon dapat dengan leluasa mengatur ritme kampanye
4. Potensi Pragmatisme Politik
Gambar 1 Potensi Pragmatisme Politik
Sumber: KPU
5. Pengadaan dan Distribusi Logistik
(a) Faktor Produksi (b) Faktor Distribusi (c) Faktor Geografi dan Topografi.
20
Idem
886 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
KESIMPULAN DAN SARAN
Pelaksanaan pilkada serentak 2015 sangat penting dan merupakan kemajuan dalam sistem
demokrasi di Indonesia. Pilkada harus dilihat sebagai dobrakan dalam mempengaruhi
pembentukan struktur pemerintahan di tingkat lokal dan dengan sendirinya dapat menciptakan
good governance bagi masyarakat.
Untuk pelaksanaan pilkada berbagai pihak telah terlibat didalamnya baik di tingkat
nasional dan lokal. Aparat kepolisian telah melakukan pemantauan di daerah yang rawan
konflik sehingga konflik dapat dicegah. Dan KPU sebagai penyelenggara pilkada tetap harus
bersikap professional dan netral dalam pelaksanaan pilkada.
DAFTAR PUSTAKA
Budiarjo, Miriam. 2013. Dasar-dasar Ilmu Politik. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Mardalis. 1995. Metode Penelitian Sosial. Bumi Aksara. Jakarta.
Undang-Undang No. 8 Tahun 2015 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota
Kajian Perdamaian dan Kebijakan The Habibie Center Edisi 10/November 2015 “Potensi dan
Tantangan Kekerasan Pilkada Serentak 2015 di Indonesia
www.kpu.go.id
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 887
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
DEMOKRASI LOKAL :
DAMPAK PEMILIHAN KEPALA DAERAH LANGSUNG
TERHADAP PERILAKU PEMILIH
Syafhendry
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Riau
[email protected]
ABSTRAK
Esensi dari demokrasi adalah kekuasaan berada ditangan rakyat, tetapi bagaimana demokrasi
itu diimplikasikan dalam kehidupan berpolitik sehari-hari tentu sangat berbeda, tergantung
dari seberapa besar keikutsertaan rakyat didalamnya. Dalam kontek demokrasi, pemilih
merupakan satu institusi yang menentukan masa depan mereka dan daerahnya. Keadaan ini
menyatakan bahwa pilihan kepala daerah itu merupakan satu proses yang komplek karena
melibatkan keputusan individu yang mampu memberi makna dalam proses demokrasi lokal.
Dengan perubahan paradigma pada sistem pemilihan kepala daerah, dari sistem pemilihan
tidak langsung (sistem perwakilan) kepada sistem pilihan langsung (direct democracy).
Perubahan ini berdampak pada perilaku pemilih dalam memilih kepala daerah. Jika pada
pemilihan umum legislatif orientasi pemilih cenderung memilih partai politik maka pada
pemilihan kepala daerah secara langsung orientasi pemilih tertuju pada figur atau kandidat.
Dengan dibukanya ruang partisipasi masyarakat dalam memilih pemimpin-pemimpin
mereka, maka dapat di asumsikan bahwa masyarakat akan lebih dekat pemerintahannya. Hal
ini akan mendorong keterlibatan aktif masyarakat dalam sistem politik, dan masyarakat tidak
hanya sekedar memilih kepala daerahnya (demokrasi lokal) tetapi sekaligus terlibat dalam
pembuatan, menjalankan, mengawasi, dan memelihara kebijakan. Berdasarkan uraian diatas,
artikel ini akan memfokuskan pada kajian pemilihan kepala daerah sebagai sebuah proses
demokrasi lokal, dan dampaknya pada perilaku pemilih.
Kata kunci : Demokrasi, Dampak, Sistem Pilkada, Perilaku Pemilih
PENDAHULUAN
Pemilihan kepala daerah langsung adalah upaya demokrasi untuk mencari pemimpin daerah
yang berkualitas dengan cara-cara yang damai, jujur, dan adil.Salah satu prinsip demokrasi
yang terpenting adalah pengakuan terhadap perbedaan dan penyelesaian perbedaan secara
damai. Karena itu, pihak-pihak yang berbeda pendapat itu harus mengembangkan sikap
toleransi, saling menghargai,dan saling menghormati antara satu dengan yang lainnya.
Meskipun demikian, tidak berarti semua perbedaan harus dipadukan, karena kenyataannya
memang ada perbedaan-perbedaan yang tidak mungkin terkompromikan.Agar perbedaan ini
tidak melahirkan persengketaan, harus diciptakan aturan main yang dibuat bersama dan ditaati
bersama.
888 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
Problem lain yang cukup mendasar adalah belum melembaganya demokrasi sosial
dalam kehidupan masyarakat kita. Karena itu diperlukan upaya pemberdayaan untuk
mendewasakan masyarakat melalui berbagai pendidikan politik.Pemberdayaan ini termasuk
pemberdayaan organisasi sosial-politik dan kelompok kepentingan.Masyarakat beserta
infrastruktur politik yang tumbuh dan berkembang tidak harus lebih lemah atau lebih kecil
keberdayaannya dibanding dengan pemerintah beserta suprastruktur politiknya.Upaya
pemberdayaan ini harus berlangsung simultan untuk memantapkan tatanan demokrasi yang
ada agar tidak hanya mengejar formalitas demokrasi tetapi kehilangan substansinya.Jika
tatanan demokrasi sosial belum melembaga, maka individu atau kelompok-kelompok yang
memiliki perbedaan sulit untuk menyelesaikan perbedaan itu secara damai.Inilah perjuangan
kita bersama agar pilkada dapat berjalan lancar, damai, jujur, adil dan menghasilkan kepala
daerah yang berkualitas dan mampu meningkatkan kesejahtraan rakyat.
Semangat yang terkandung dalam UU.No. 23/2014 tentang pemerintahan daerah
adalah bahwa pelaksanaan pilkada langsung pada hakikatnya tidak hanya untuk tujuan
mengoptimalkan demokratisasi di daerah, melainkan merupakan perwujudan dari prinsip
otonomi daerah seluas-luasnya. Semua tingkatan daerah di Indonesia di beri hak untuk
menyelenggarakan pilkada langsung dengan tujuan agar rakyat di daerah yang bersangkutan
dapat secara bebas dan bertanggung jawab memilih kepala daerahnya yang berkualitas.
Tinggi rendahnya kualitas kepala daerah yang terpilih sepenuhnya diserahkan kepada
masyarakat didaerah, tanpa intervensi pemerintah pusat.
Penguatan demokrasi lokal melalui pilkada langsung adalah bagian dari pemberian
otonomi luas, nyata, dan bertanggung jawab. Pemerintah dan KPUD harus berupaya agar
kesadaran dan pengetahuan masyarakat pemilih akan hak-haknya berdemokrasi dapat
ditingkatkan kualitasnya, sehingga tidak mudah di pengaruhi oleh praktik-praktik yang
mengotori demokrasi lokal.
Upaya penguatan demokrasi lokal melalui pilkada langsung adalah mekanisme yang
tepat sebagai bentuk terobosan atas mandeknya pembangunan demokrasi di tingkat lokal.Jika
dilihat pengalaman pemilihan langsung kepala desa belum memberikan pencerahan politik
dalam skala yang lebih luas. Pemilihan kepala desa yang disebut telah mengakar ternyata
belum mampu mendewasakan perilaku politik masyarakat, antara lain ditunjukkan oleh
berbagai tindak kekerasan yang masih mewarnai proses pilkades. Dalam proses politik yang
luas dan besar, masyarakan juga belum menunjukkan tabiat berpolitik secara dewasa.
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 889
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
Sampai saat ini realitas budaya politik sebagian besar masyarakat khususnya di
daerah-daerah pedesaan bersifat paternalistik, belum sepenuhnya bersifat rasional dan
menyalurkan hak-hak
politik dan kepentingannya. Berdasarkan realitas ini maka proses
pilkada langsung belum menjamin perubahan kualitas demokrasi. Meskipun secara formalprosedural pilkada langsung dapat terselenggara dengan tertib dan aman, tidak otomatis dapat
berlangsung jujur, adil,dan berkualitas. Hal ini disebabkan, demokrasi di samping ditentukan
oleh seberapa besar partisipasi masyarakat, juga kualitas partisipasi itu sendiri dalam
menentukan pejabat pemerintah baik di tingkat lokal, regional, maupun nasional.
Jika kualitas partisipasi rendah maka kulitas demokrasi juga rendah.Kualitas
partisipasi yang rendah bukan hanya ditunjukkan oleh angka numerik yang rendah, tetapi
angka yang tinggi juga bisa menunjukkan rendahnya kualitas partisipasi jika yang terjadi
sesungguhnya hanya mobilisasi.Semakin besar dan baik kualitas partisipasi masyarakat,
semakin baik pula demokrasi. Kadar kualitas partisipasi politik masyarakat dapat dilihat dari
sejauh mana tingkat otonomi dalam menentukan sikapnya, apakan karena pengaruh mobilisasi
partai politik semata, faktor primordialisme, ataukah karena rasionalitas dan hati nurani ? jika
dorongan rasionalitas dan hati nurani semakin berkembang dalam penentuan sikap pilihan
masyarakat selama pilkada langsung, maka kualitas demokrasi langsung meningkat
(Amirudin & Bisri : 16)
Tulisan ini hanya berfokus pada fenomena politik lokal karena mudah terobservasi
dari kejadian yang ada. Tulisan ini menguraikan dampak pemilihan kepala daerah secara
langsung terhadap perilaku pemilih. Dampak tersebut di tinjau dari perspektif teoritis maupun
fakta di lapangan.
PERSPEKTIF TEORETIS
David Easton, teoretisi politik pertama yang memperkenalkan pendekatan sistem dalam
politik, menyatakan bahwa suatu sistem selalu memiliki sekurangnya tiga sifat. Ketiga sifat
tersebut adalah (1) terdiri dari banyak bagian-bagian; (2) bagian-bagian itu saling berinteraksi
dan saling tergantung; dan (3)mempunyai perbatasan (boundaries) yang memisahkannya dari
lingkungannya yang juga terdiri dari sistem-sistem lain.(Mas’oed dan Andrews (ed); 1991)
Sebagai suatu sistem, sistem pilkada langsung mempunyai bagian-bagian yang
merupakan sistem skunder (secondary system) atau sub-sub sistem (subsystems).Bagianbagian tersebut adalah electoral regulation, electoral process, dan electoral law enforcement.
Electoral regulation adalah segala ketentuan atau aturan mengenai pilkada langsung yang
890 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
berlaku, bersifat mengikat dan menjadi pedoman bagi penyelenggara, calon dan pemilih
dalam menunaikan peran dan fungsi masing-masing. Electoral process dimaksudkan seluruh
kegiatan yang terkait secara langsung dengan pilkada yang merujuk pada ketentuan
perundang-undangan baik yang bersifat legal maupun tenikal.Electoral law enforcement yaitu
penegakan hukum terhadap aturan-aturan pilkada baik politis, administratif atau pidana.
Ketiga bagian pilkada langsung tersebut sangat menentukan sejauh mana kapasitas sistem
dapat menjembatani pencapaian tujuan dari proses awalnya. Masing-masing bagian tidak
dapat dipisah-pisahkan karena merupakan satu kesatuan utuh yang komplementer.
Mekanisme, prosedur dan tata cara dalam pilkada langsung merupakan dimensi
electoral regulation. Secara teknis parameter mekanisme, prosedur dan tata cara dalam sistem
adalah yang terukur (measurable). Ben Really mengonstatasikan 3 ukuran tersebut yang
menurutnya juga komplementer dan tak dapat dipisah-pisahkan.Ketiganya adalah (1) Sistem
pemilihan menerjemahkan jumlah suara yang diperoleh dalam pemilihan menjadi kursi; (2)
Sistem pemilihan bertindak sebagai wahana penghubung yang memungkinkan rakyat dapat
menagih tanggung jawab pemimpin yang telah mereka pilih; (3) Sistem pemilihan memberi
dorongan terhadap pihak-pihak yang saling bersaing pengaruh supaya melakukannya dengan
cara yang tidak sama.(Reilly; 1999). Pendeknya, untuk memperoleh hasil pilkada langsung
yang demokratis, proses yang dilalui
pun musti demokratis pula, yang di dalamnya
mengandung aspek keadilan,keterbukaan, dan kejujuran.
Atas dasar itu, sistem pilkada langsung merupakan sekumpulan unsur yang melakukan
kegiatan atau menyusun skema atau tatacara melakukan proses untuk memilih kepala daerah.
Sebagai suatu sistem, sistem pilkada memiliki cirri-ciri antara lain bertujuan memilih kepala
daerah, setiap komponen yang terlibat dan kegiatan mempunyai batas, terbuka, tersusun dari
berbagai kegiatan yang merupakan subsistem, masing-masing kegiatan saling terikat dan
tergantung dalam satu rangkaian utuh, memiliki mekanisme kontrol, dan mempunyai
kemampuan menyusun dan menyesuaikan diri. Pendeknya, inti sistem pilkada adalah
hubungan kebergantungan antar setiap komponen yang terlibat dalam antar kegiatan yang
membentuk sistem (interrelationship between parts).
DEMOKRASI DAN DELEGASI KEWENANGAN KEPADA PUBLIK
Bagaimana delegasi kewenangan ke publik dapat mempromosikan demokrasi dan bagaimana
penting demokrasi local untuk kesehatan publik dari sebuah negara demokrasi?Dilys M.
Hill’s (1974) menyimpulkan tiga pandangan kontradiktif tentang hubungan pemerintah local
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 891
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
dan demokrasi.Pertama, hubungan dengan romantisme Toulmin Smith dan Victoria abad
pertengahan yang mempertimbangkan pemerintah lokal yang otonomus merupakan sebuah
penghargaan
pada
tradisi,
bukan
berdasarkan
pemilihan
dan
prinsip-prinsip
demokrasi.Pandangan kedua, di dukung oleh Langrod dan Moulin yang menyatakan bahwa
pemerintah lokal bersifat parochial, beragama, berpotensi membentuk oligarki, dan korup.
Karena itu pemerintah lokal tidak mampu mengakomodasi perinsip-perinsip universal
demokrasi seperti kekuasaan mayoritas, egalitarianisme, dan penyamaan standar perlakuan
untuk semua. Pandangan ketiga, disponsori oleh Jhon Stuart Mill yang menyatakan bahwa
ada hubungan yang kuat antara pemerintah lokal yang mandiri atau otonomus dan demokrasi.
Pandangan ini menganggap bahwa level lokal, provinsi dan kabupaten/kota, adalah satu lokasi
di mana “kebebasan dilindungi, pembayar pajak diberi hak bersuara di pemerintahan,
diinformasikan, dan dikonsultasikan; dan masyarakat harus bebas, di kota atau desa, untuk
mengatur kota mereka sesuai dengan kepentingan daerahnya. (Smith : 1985)
Bagi Langrod, sebagai mana dikutip oleh Smith, pemerintahan lokal yang otonomus
tidak selalu penting dan sistem politik tanpa pemerintahan lokal tidak berarti tidak demokratis
(ibid ),Sementara itu, Smith, Manor, dan Niessen (Niessen : 1999) yang mendukung
pandangan Mill menyatakan bahwa demokrasi lokal merupakan suatu kondisi yang penting
untuk demokrasi nasional karena demokrasi lokal memberi kesempatan untuk partisipasi
personal yang lebih besar dan merupakan metode terbaik dalam mengatur pelayanan publik.
Para pendukung pemerintah lokal menyatakan bahwa pertama, pemerintah lokal baik untuk
demokrasi nasional dan kedua memberi keuntungan lokal bagi demokrasi lokal.
Dengan membuka partisipasi publik dalam memilih pemimpin-pemimpin mereka,
maka dapat diasumsikan bahwa masyarakat akan lebih dekat dengan pemerintahnya. Hal ini
akan mendorong keterlibatan aktif publik dalam sistem politik, dan publik tidak sekedar
memilih eksekutif lokal tapi sekaligus terlibat dalam pembuatan kebijakan.
Meskipun Larry Diamond dalam Mandica (2008) menyebut pemilu sebagai demokrasi
pemilihan umum (electoral democracy) atau biasa pula diistilahkan sebagai sebagai definisi
minimal dari demokrasi, tetapi Joseph Schumpeter meyakinkan pentingnya pemilu bagi
mereka yang hendak terlibat dalam penganbilan keputusan. Menurutnya bahwa: “untuk tiba
pada pengambilan kebijakan politik di mana individu-individu diharuskan memiliki
kekuasaan untuk memutuskan yang didapatnya dari kompetisi mendapatkan suara rakyat
[melelui pemilu]”(Diamond : 1999)
892 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
Sebagai mana dinyatakan oleh Smith bahwa ada tiga nilai dari demokrasi lokal dalam
pandangan perspektif liberal yang mempengaruhi proses demokrasi yakni: pertama,
kesetaraan politik (political aquality) yang berhubungan dengan keterlibatan publik secara
luas dalam proses pengambilan keputusan; kedua, akuntabilitas (accountability) menyangkut
keterlibatan masyarakat dan para wakilnya dalam mempertahankan hak-hak individu mereka
dalam rangka membangun akuntabilitas pemerintah kota; dan ketiga, kepekaan pemerintah
(government responsipeness) yang merujuk pada respon pemerintah terhadap tuntutan
masyarakat untuk efisiensi dan efektivitas pelayanan publik dan adminstrasi keresahan sosial.
Secara singkat nilai-nilai demokrasi liberal menganggap partisipasi masyarakat
melalui pemilu, voting, dan repsentasi di perwakilan rakyat merupakan jalan untuk membawa
masyarakat dekat dengan pemerintah. Sebagai mana diungkapkan oleh Putman bahwa
“melibatkan masyarakan secara aktif dalam proses demokrasi melalui pemilu dan civil society
besar kemungkinan menciptakan ‘civic culture’ dari toleransi, kepercayaan, saling
membutuhkan, dan kerjasama.”
DAMPAK PILKADA TERHADAP PERILAKU PEMILIH
Berawal dari perubahan paradigma dalam sistem pemilihan umum di Indonesia. Perubahan
tersebut dapat dilihat dari pemilihan umum dengan sistem perwakilan menjadi sistem
pemilihan umum langsung. Sistem pemilihan umum perwakilan ketika itu negara hanya
menyelenggarakan pemilihan umum satu kali saja yaitu memilih Dewan Perwakilan Rakyat
dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Tetapi dengan sistem pemilihan umum secara
langsung pemilihan umum tidak hanya untuk anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR),
tetapi juga untuk anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) termasuk pemilihan umum untuk
presiden dan Kepala Daerah. Dengan paradigma model seperti ini maka akan berdampak
terjadi perubahan logika masyarakat pemilih tentang keputusan politik yang akan diambil.
Ketika kepala daerah di pilih oleh DPRD (sistem perwakilan) publikpun menunjukan
antusias dalam partisipasi mendukung kandidat tertentu dalam mengikuti proses pilkada,
tetapi partisipasi tersebut tidaklah total karena partisipasi publik ini tidak pada penentuan
pemenang melalui pemberian suara. setelah Pilkada langsung di berlakukan, partisipasi
masyarakat menjadi total, mulai dari deklarasi diri sebagai peserta pendukung, sebagai tim
sukses, sebagai relawan, hingga penghitungan suara. semuanya dilakukan secara terbuka dan
transparan.Seperti halnya pemilu legislatif, massa terlibat dalam proses Pilkada langsung
sejak awal hingga penetapan calon terpilih. Massa pun nampak lebih terbuka
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 893
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
memproklamirkan diri sebagai pendukung salah satu pasangan calon kepala daerah semisal
dalam pawai kampanye, memakai atribut kandidat tertentu dan secara terbuka berdebat
tentang kandidat yang didukungnya. Adapun bentuk-bentuk partisipasi total tersebut sebagai
berikut :
1. Partisipasi sebagai Tim Sukses Pemenanagan pasangan calon
Salah satu dampak pengaruh pemilihan kepala daerah langsung adalah munculnya
orang-orang yang mengatur strategi pemenangan pasangan calon. Orang-orang
tersebut biasa di sebut sebagai tim pemenangan yang bertanggungjawab pada proses
pencalonan, pemilihan pasangan, penentuan basis-basis suara dan metode kampanye.
Tim sukses ini bisa berasal dari partai politik pendukung, kalangan keluarga,
kalangan masyarakat perseorangan atau kelompok profesional. Mereka bekerja untuk
para pasangan calon dan menjadi jembatan bagi para calon ke kantong-kantong
massa.Mereka ini pula yang biasanya mengatur kebutuhan kampanye biaya kampanye.
Pada tahap mendekati massa, isu tentang penggunaan uang dan materi mengemuka.
Para tim sukses akan menggunakan berbagai cara untuk meraih simpati para pemilih,
mulai dari pengadaan aktivitas olahraga, kesenian, perlengkapan perwiridan kaum ibuibu, sosial kematian di lingkungan rukun tetangga hingga ke rumah ibadah, termasuk
pembagian kebutuhan bahan pokok, tak ketinggalan bagi amplop.
Selain strategi diatas, tim sukses juga mempelajari teknik-teknik kampanye
yang efektif untuk menjatuhkan lawan. Maka timbullah istilah kampanye negatif atau
black campaign. Jenis kampanye ini diterapkan dalam bentuk verbal, iklan, selebaran,
atau sekedar isu dari mulut ke mulut. Bentuk kampanye negatif ini biasanya
menyentuh aspek-aspek personal.
2. Partisipasi sebagai Pendukung atau Oposan
Partisipasi publik yang paling umum disaksikan adalah keterlibatan pada pemberian
suara. mereka inilah yang menentukan nasib para pasangan calon ketika mereka
memberikan suara pada hari pencoplosan. Partisipasi pemberian suara ini diikuti pula
dengan bentuk partisipasi yang lebih ekspresif melalui protes atau demontrasi. Dalam
suatu pemilu suasana damai, aman, kooperatif, dan akomodatif merupakan prasyarat
dari proses transisi ke dan konsolidasi demokrasi (Diamond : 1999).
Pengalaman pemilihan kepala daerah secara langsung di Indonesia kadangkala
berakhir dengan kericuhan, khususnya pada masa kampanye dan pasca penghitungan
894 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
suara. faktor penyebab keributan tersebut adalah sikap saling mencurigai diantara
pendukung, sikap tidak mempercayai lembaga penyelenggaraan pemilihan kepala
daerah mulai dari KPUD hingga ke TPS, sikap kaku dan tidak mematuhi peraturanperaturan pilkada langsung, menghalalkan bentuk kecurangan termasuk intimidasi,
pembelian suara, penggelembungan suara, dan saling fitnah, dan terakhir sikap tidak
menerima kenyataan atas sebuah kekalahan (Mandika : 2008).
Dalam hal ini Larry Diamond (1999) mengungkapkan dengan gamblang
bahwa iklim demorasi, khususnya demokrasi liberal hanya akan terwujud apabila : 1)
Ada toleransi terhadap kepercayaan politik yang berbeda, perbedaan posisi dan
perbedaan latar belakang sosial budaya; 2) Partisipan seyogyanya bersikap pragmatis
dan fleksibel; 3) Partisipan tidak bersifat kaku dan memaksakan ideologi tertentu
tetapi memberi kesempatan kepada aktor-aktor politik dan lingkungan sosial; 4)
Keinginan untuk berkompromi; dan 5) Bersikap santun dalam berpolitik dan saling
menghormati pendapat atau pilihan orang lain.
Kualitas sikap yang diajukan oleh Diamond tampak masih jauh dari karakter
bangsa Indonesia. Sebab beberapa pilkada langsung di daerah masih saja mengalami
protes dan demontrasi yang berakhir dengan pengerusakan. Dari fakta di atas, dapat
kita yakini bahwa Pemilihan kepala daerah secara langsung memang memberi dampak
yang sangat besar terhadap partisipasi pemilih, hal ini mereka lakukan semata-mata
untuk memenangkan jagoannya.
PENUTUP
Secara umum pemilihan kepala daerah secara langsung menunjukkan prospek yang positif
bagi perkembangan demokrasi di Indoensia. Ada tiga ukuran yang menunjukkan suatu
pemerintahan di kelola dengan berbasis pada doktrin demokrasi lokal; yakni political
equality, local accountability, dan sense of local response (Amiridin & Bisri : 2006)
Pertama political equality; penyelenggaraan pemerintahan yang baik adalah manakala
dalam proses dan pelaksanaannya di bangun atas dasar prinsip kesetaraan politik yang bukan
saja terjadi secara horizontal antara eksekutif tetapi juga secara vertikal antara rakyat dan
kepala daerah dan juga rakyat dengan lembaga legislatif. Posisi masyarakat terkuatkan dengan
memiliki bargaining politic yang cukup, begitupun posisi kepala daerah di hadapan legislatif
dan atau sebaliknya. Sama-sama terkuatkan dengan spirit kemitraan. Pada situasi di mana
posisi publik, eksekutif, dan legislatif berada dalam irisan lingkaran kekuasaan yang samaSEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 895
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
sama kuat, maka di titik ordinat politik semacam itu memungkinkan sekali sistem check and
balance dapat berlangsung normal. Dan pilkada langsung dalam konteks itu sesungguhnya
masuk bagi terbangunnya penyelenggaraan pemerintahan di daerah yang berbasiskan prinsip
kesetaraan.
Kedua, Local accountability. Dulu, akuntabilitas lokal dalam penyelenggaraan
pemerintahan menjadi sangat sulit sekali diwujudkan. Bagaimana mungkin dapat
menwujudkan akuntabiltas lokal, sementara keterlibatan masyarakat dalam proses
penyelenggaraan di daerah tidak diwadahi dalam suatu sistem yang jelas, pemerintahan
daerah
kala itu dapat menolak kewajiban melaporkan hal itu semua kepada DPRD dengan
sistem Laporan PertanggungJawaban dan laporan akhir jabatan. Transparansi terhadap rakyat
tidak mendapat tempat yang proporsional. Menurut saya, di titik itulah letak arti pentingnya
pilkada langsung, ia dapat menjadi pemecah kebekuan sistem politik yang lebih
memungkinkan terbukanya akuntabilitas lokal.
Ketiga, sense of local response, jelaslah bagi kita bahwa sistem pilkada langsung
memungkinkan sense of local response kepala daerah menjadi lebih teraktifkan. Itu terjadi
karena kepala daerah yang di hasilkan dari pemilihan rakyat secara langsung memiliki
konsekuensi, suara pemerintah harus tunduk kepada rakyat. Ketertundukkan pada suara rakyat
adalah jaminan bagi selamatnya kontrak politik yang terbangun melalui sistem ini.
Itulah keunggulan dari sistem pilkada langsung bahwa di tingkat peradaban politik
menguntungkan sekali, karena di depan mata, masa depan demokrasi lokal akan semakin
bersinar. Tetapi itu pun bukan satu-satunya jaminan. Masa depan demokrasi lokal selain
ditentukan oleh ketepatan dalam memilih sistem pilkadanya, juga tersedianya kepala daerah
yang telah terpilih akan membawakan diri untuk tidak berlaku otoriter.
DAFTAR PUSTAKA
Amirudin dan A. Zaini Bisri, 2006, Pilkada Langsung Problem dan Prospek, Pustaka Pelajar,
Yogyakarta
BC. Smith, 1985; Decentralization in the Territorial Dimension of the State; London : George
Allen and Unwin.
Ben Reilly, 1991, Reformasi pemilu di Indonesia: sejumlah pilihan, dalam Almanak Parpol
Indonesia; Yayasan API, Jakarta.
Dilys M. Hill, 1974, Democratic Theory and Regional Government, London : George Allen
and Unwin Ltd.
Nicole Niessen, 1999, Municipal Government in Indonesia, The Netherlands : Research
School CNWS.
Mohtar Mas’oed dan Colin Mac Andrews (ed.), 1991, “Pengantar” perbandingan sistem
politik,: Gadjah Mada University pressYogyakarta.
896 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
Mandica, GB. Notrida, 2008, Dampak Pemilihan Kepala Daerah pada Proses Demokratisasi,
Jurnal Ilmu Pemerintahan edisi 26 Tahun 2008, Mipi, Jakarta
Prihatmoko, J. Joko, 2005, Pem`ilihan Kepala Daerah Langsung, Pustaka Pelajar Yogyakarta
Larry Diamon, 1999, Developing Democracy Toward Consolidation, (Baltimore : the Johns
Hopkins University Press.
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 897
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
KAMPANYE DALAM PEMILIHAN KEPALA DAERAH DIBIAYAI NEGARA
Komunikasi Politik, Demokrasi dan Pemilu
Desna Aromatica
FISIP Universitas Andalas
[email protected]
ABSTRAK
Pelaksanaan Pemilihan Umum Kepala Daerah, baik pemilihan Gubernur ataupun
Bupati/Walikota adalah sebuah pesta demokrasi dalam penyelenggaraan kehidupan
pemerintahan yang dianut Indonesia pasca reformasi. Pemilihan Kepala Daerah berdasarkan
UU nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah pasal 62 menyebutkan bahwa
pemilihan kepala daerah diatur dengan Undang-undang, yang dirubah dengan UU RI nomor 9
tahun 2015 . Adapun yang menjadi landasan dilangsungkannya pilkada langsung di Indonesia
adalah UU no 1 tahun 2015 yang disempurnakan dengan UU no 8 tahun 2015. Hal ini tentu
akan berimplikasi positif bagi tumbuh suburnya demokrasi di Indonesia karena pemilihan
Kepala daerah adalah salah satu upaya demokratisasi didaerah dalam sistem pemerintahan
presidentil di Indonesia. Salah satu faktor penting dalam keberhasilan pemilu Kepala Daerah
bagi pasangan calon adalah kampanye. Maka dalam penyelenggaraan pemilihan Kepala
Daerah seperti yang dilakukan serentak pada 9 Desember 2015 yang lalu, ada perubahan
dalam pendanaan kampanye. Berdasarkan UU no 1 tahun 2015 pasal 65 ayat 1 dan 2 dapat
dilihat bahwa ada beberapa kegiatan kampanye yang ditanggung oleh negara. UU no 8 tahun
2015 menyatakan bahwa pasal 65 ayat 1 disebutkan bahwa kampanye dapat dilakukan. Dalam
ayat 2 kemudian disebutkan bahwa ayat 1 huruf c,d,e dan f difasilitasi oleh KPU yang didanai
oleh APBD. Hal ini punya dampak positif dan negatif, Namun apakah benar-benar mampu
menghilangkan politik uang dan uang yang ditunggangi oleh kepentingan kelompok atau
individu tertentu?
Kata kunci : kampanye, elit, demokrasi
PENDAHULUAN
Mosca dalam Rush dan Althoff menyatakan bahwa dalam semua masyarakat baik yang
berkembang ataupun yang sudah maju akan selalu muncul dua kelas. Yaitu kelas yang
berkuasa dan kelas yang dikuasai21. Kelas berkuasa yang disebut ruling class ini oleh pareto
disebut sebagai elit politik. Dalam hirarki partisipasi politik orang-orang ini menurut Rush
dan Althoff adalah orang yang menduduki puncak hirarki dengan menduduki berbagai macam
jabatan dalam sistem politik seperti Jabatan politis sebagai Kepala Daerah yaitu Gubernur,
Bupati dan Walikota22. Untuk dapat berada dijabatan tersebut, para elit politik ini harus
melalui serangakain partisipasi politik dalam pemiliham Kepala daerah langsung berdasarkan
21
22
Rush dan althoff. 2005. Pengantar Sosiologi Politik. Grafindo Persada. Jakarta. Hal 232-233
Ibid, hal 123
898 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
Perpu no 1 tahun 2014 tentang pemilihan Gubernur, Bupati
dan Walikota yang telah
diundangkan dengan UU no 1 tahun 2015 dan dirubah kembali dengan UU no 8 Tahun 2015
Tentang Perubahan atas undang-undang no 1 tahun 2015 tentang penetapan peraturan
pemerintah pengganti Undang-undang no 1 tahun 2014 tentang pemilihan gubernur, Bupati
dan Walikota menajadi undang-undang.
Pelaksanaan Pemilihan Umum Kepala Daerah atau disingkat Pemilukada, baik
pemilihan Gubernur ataupun Bupati/Walikota adalah sebuah pesta demokrasi dalam
penyelenggaraan kehidupan pemerintahan yang dianut Indonesia pasca reformasi. Pemilihan
Kepala Daerah berdasarkan UU nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah pasal
62 menyebutkan bahwa pemilihan kepala daerah diatur dengan Undang-undang, yang dirubah
dengan UU RI nomor 9 tahun 2015 . Adapun yang menjadi landasan dilangsungkannya
pilkada langsung di Indonesia adalah UU no 1 tahun 2015 yang disempurnakan dengan UU
no 8 tahun 2015. Hal ini tentu akan berimplikasi positif bagi tumbuh suburnya demokrasi di
Indonesia karena pemilihan Kepala daerah adalah salah satu upaya demokratisasi didaerah
dalam sistem pemerintahan presidentil di Indonesia.
Salah satu faktor penting dalam keberhasilan pemilu Kepala Daerah bagi pasangan
calon adalah kampanye. Agar dipilih, kandidat Kepala Daerah melakukan berbagai upaya
pengenalan citra pada masa pemilih. Beberapa poin penting atas kontribusi kampanye dalam
pemilukada, baik bagi kandidat ataupun pemilih sesungguhnya membutuhkan modal yang
tidak sedikit untuk mengejar tujuan. Hal ini menyebabkan muncul opini publik bahwa untuk
menjadi kandidat harus disertai dengan modal yang tidak sedikit untuk membiayai kampanye
kandidat. Jauh sebelum masa kampanye dimulai pun, pencitraan para kandidat sudah
dilakukan melalui berbagai media. Sebagai alat untuk menjual figur kandidat. Kampanye
adalah sebuah kegiatan yang butuh budget khusus. Salah satu penyandang dana kampanye
adalah kalangan pebisnis atau privat. Menurut Wursanto kalangan privat adalah sebuah entitas
yang ada untuk memenuhi kebutuhan konsumen dengan orientasi pencapaian keuntungan23.
Melalui Viva news 24 Agustus 2011, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Marzuki Alie
pernah melontarkan ide untuk memperbaiki sistem politik diIndonesia lebih baik bila biaya
kampanye seluruh parpol dibiayai negara. Entah terinspirasi dari hal ini atau tidak, maka
melalui UU RI Nomor 8 Tahun 2015 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 1
tahun 2015 tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti Undang-undang Nomor 1
tahun 2014 tentang pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota menjadi Undang-undang. Pasal
23
Wursanto. 2005. Ilmu Organisasi. Andi. Yogyakarta. Hal 20
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 899
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
65 ayat 1 dan 2 kemudian menjelaskan bahwa kampanye dibiayai dengan APBD. Namun
dalam UU tersebut juga jelas dituliskan kampanye dalam bentuk apa saja yang difasilitasi dan
dibiayai oleh APBD. Hal tersebut juga jelas dituliskan dalam peraturan KPU nomor 7 Tahun
2015 Tentang Dana Kampanye peserta pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan
Wakil Bupati, Dan/Atau Walikota dan Wakil Walikota. Keadaan ini menimbulkan banyak
perdebatan diranah publik khususnya bagi pihak-pihak yang mengganggap negara telah
melakukan inefisiensi terhadap anggaran negara untuk hal yang seharusnya ditanggung
pasangan calon dan parpol. Maka dalam makalah ini akan diuraikan tentang bagaimana
bentuk kampanye pemilihan Kepala Daerah yang dibiayai negara
TINJAUAN PUSTAKA
Menurut Dahl, demokrasi itu dapat diciptakan secara otonom dan dapat pula diciptakan
kembali apabila terdapat kondisi yang memungkinkan untuk itu. Pada dasarnya demokrasi
akan dapat berjalan sangat tergantung pada budaya demokrasi pada suatu tempat, dan budaya
umum yang mendukungnya. Box (dalam Muluk) mengungkapkan bahwa terdapat empat
prinsip yang dipergunakan untuk menjelaskan mengapa demokratisasi perlu dilakukan pada
tingkatan pemerintahan daerah yaitu24 :
a. The scale principle yang menjelaskan bahwa terdapat beberapa fungsi yang lebih
tepat diatur dan diurus pada tingkatan pemerintah pusat, sedangkan beberapa fungsi
lain yang lebih tepat diatur dan diurus pada tingkatan pemerintahan daerah.
partisipasi masyarakat yang lebih besar sebaiknya diberikan pada tingkatan
pemerintahan daerah karena lebih memungkinkan masyarakat berpartisipasi lebih
aktif dan efektif.
b. The democracy principle, yang menjelaskan bahwa pada dasarnya proses
pemerintahan seharusnya melibatkan masyarakat dalam pembahasan kebijakan dan
pengambilan keputusan secara terbuka dan bebas. Partisipasi masyarakat merupakan
kunci penyelenggaraan prinsip ini.
c. The accountability principle yang menjelaskan bahwa pemerintahan adalah milik
masyarakat. Karena itu, akuntabilitas publik berarti pertanggung jawaban kepada
masyarakat sebagai pemilik pemerintahan. Untuk mencapai akuntabilitas publik
dibutuhkan keterlibatan masyarakat dalam proses kebijakan bersama dengan para
wakilnya dan administrator publik. Akuntabilitas publik menuntut adanya.
24
Muluk,M.R.K. 2006. Desentralisasi dan Pemerintahan Daerah. Bayu Media Publishing. Malang
900 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
keterkaitan langsung warga masyarakat dengan penyusunan dan pelaksanaan
program-program publik.
d. The rationality principle yang menjelaskan bahwa proses partisipasi publik dalam
pemerintahan daerah harus ditanggapi secara rasional. Yaitu lebih mengacu pada
kesadaran dan pengakuan bahwa proses partisipasi membutuhkan waktu yang
memadai, pemikiran yang cermat, kesempatan kepada masyarakat untuk
menyatakan pendapatnya, perlunya mendengar beragam pendapat yang muncul serta
penghargaan atas perbedaan pendapat.
Menurut Sisk, demokrasi terdiri dari direct democracy dan Representative Democracy25.
a. Direct democracy. Saat ini partisipasi langsung tidak memungkinkan karena jumlah
rakyat yang banyak. Size dari sebuah kota, atau negara akan sangat mempengaruhi
realisasi demokrasi langsung. Situasi dan kondisi ini membuat pilihan demokrasi
kedua bagi beberapa daerah/negara menjadi lebih rasional
b. Representative democracy
Dalam perwakilan, rakyat memilih calon/kandidat sebagai wakil mereka, atau partai
politik yang akan memegang kekuasaan untuk menyampaikan kehendak rakyat. Bagi
pendukung demokrasi ini, kompetisi akan terjadi diantara Potensial leaders. Dalam
demokrasi ini, seluruh warga negara berhak untuk ikut berpartisipasi dalam setiap
pembuatan kebijakan dan pengambilan keputusan yang akan mempengaruhi mereka,
melalui perwakilan. Didalam sebuah Negara yang besar seperti Indonesia, demokrasi
langsung tidak bisa berjalan sukses. Untuk itu diperlukan sistem demokrasi secara
perwakilan. Para perwakilan inilah yang akan menjalankan atau menyampaikan semua
aspirasi rakyat didalam pertemuan. Mereka dipilih oleh rakyat dan seharusnya tetap
berpihak kepada rakyat.
Pemilihan Kepala daerah adalah salah satu upaya demokratisasi didaerah
dalam sistem pemerintahan presidentil di Indonesia. Menurut Sisk ”The principal
function of election is to legitimize public authority and to provide officials with a
mandate for specific action” 26. Pemilihan kepala daerah diharapkan akan menjadi alat
untuk melegitimasi kedaulatan dari rakyat, karena pemilihan kepala daerah memiliki
25
Timothy D Sisk. 2001. Democracr at The Local Level: The International IDEA Handbook on Participation,
Representation, Conflict management and governance . international IDEA.Sweden
26
Ibid hal 116
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 901
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
fungsi yang amat penting, Ada beberapa keuntungan dari Local election menurut
sisk27 yaitu:
a. Barometers of national political trends.
b. Determinig what matters most to voters
c. Democratization process
d. Minority inclusion
e. Development of national party systems”
Dalam pemilihan Kepala Daerah Kampanye adalah salah satu rangkaian
aktivitas yang dilakukan sebelum pemilihan dilakukan. Dalam UU no 8 Tahun 2015
pasal 21 disebutkan bahwa kampanye adalah Kegiatan untuk meyakinkan pemilih
dengan menawarkan visi, misi, dan program calon Gubernur dan calon wakil
Gubernur, calon Bupati dan Wakil Bupati, serta calon Walikota dan Wakil Walikota.
PEMBAHASAN
Pemilihan Kepala Daerah dapat menjadi barometer bagi kecenderungan perpolitikan,
sekaligus menjadi alat untuk mengetahui kebutuhan apa dan apa yang terbaik bagi voters.
Menurut Sisk (2001:116) “Election campaigns serve many functions too, such as clarifying
issues and policies, holding candidates to account, comunicating information among
candidates and voters, and offering choices about solutions to community problems to the
general public”.28
Pemilu Kepala Daerah akan melibatkan seluruh masyarakat baik minoritas ataupun
mayoritas, sehingga menjadi alat perwujudan demokratisasi yang sangat tepat didaerah. Pada
dasarnya keuntungan besar bagi sebuah daerah dengan sistem pemilihan kepala daerah secara
langsung yang di usung Undang-Undang adalah pembangunan kehidupan dan pendidikan
politik yang baik bagi masyarakatnya. Namun menurut Akbar tandjung dalam buku
terjemahan models of democracy David Held29,
bahwa pilihan kita terhadap demokrasi
dengan melakukan Local election sebagai the only game in town
tidak hanya untuk
membangun kehidupan politik yang demokratis, namun lebih detail menurut akbar tandjung
bahwa bentuk demokrasi pluralis karena keberagaman kita, haruslah demokrasi yang mampu
mengaktifkan modalitas dan sumberdaya politik yang ada.
27
Ibid hal 118
Ibid hal 116
29
David Held. 2007. Models of Democracy. Jakarta: Akbar Tandjung Institut.Hal xii
28
902 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
Untuk mengaktifkan modalitas dan sumber daya yang ada bahkan termasuk sumber
daya alam dan manusia, kita butuh pemimpin demokratis yang punya kompetensi sebagai
manajer dan bukan hanya sebagai pemimpin pilihan massa yang akan menjalankan kedaulatan
rakyat sesuai tujuan berdirinya negara. Pemilihan Kepala Daerah ini diatur dalam UU no 1
tahun 2015 yang dirubah dengan UU no 8 tahun 2015 Tentang Perubahan atas UndangUndang No 1 Tahun 2015 tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti Undang-undang
Nomor 1 tahun 2014 Tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota menjadi UndangUndang.
Maka agar dipilih, kandidat Kepala Daerah melakukan berbagai upaya pengenalan
citra pada masa pemilih lewat sebuah aktivitas yang biasa kita sebut dengan kampanye.
Kampanye merupakan alat pencitraan untuk membentuk persepsi massa pemilih dalam
pemilihan Kepala Daerah.
Beberapa poin penting atas kontribusi kampanye dalam pemilukada, baik bagi
kandidat ataupun pemilih sesungguhnya membutuhkan modal yang tidak sedikit untuk
mengejar manfaat yang diutarakan Sisk tersebut. Hal ini yang menyebabkan muncul opini
publik bahwa untuk menjadi kandidat harus disertai dengan modal yang tidak sedikit.
Kampanye sendiri menurut PKPU no 8 tahun 2015 diartikan sebagai kegiatan menawarkan
visi, misi dan program pasangan calon dan/atau informasi lainnya, yang bertujuan
mengenalkan atau meyakinkan pemilih. Sementara dana kampanye adalah sejumlah biaya
berupa uang, barang dan jasa yang digunakan pasangan calon dan/atau parpol atau gabungan
parpol yang mengusulkan pasangan calon untuk membiayai kegiatan kampanye pemilihan
Maka dalam penyelenggaraan pemilihan Kepala Daerah seperti yang akan dilakukan
serentak pada 9 Desember 2015 yang akan datang, ada perubahan dalam pendanaan
kampanye. Berdasarkan UU no 1 tahun 2015 pasal 65 ayat 1 dan 2 dapat dilihat bahwa ada
beberapa kegiatan kampanye yang ditanggung oleh negara. UU no 8 tahun 2015 menyatakan
bahwa pasal 65 ayat 1 disebutkan bahwa kampanye dapat dilakukan dengan
a) Pertemuan terbatas
b) Pertemuan tatap muka dan dialog
c) Debat publik/debat terbuka antar pasangan calon
d) Penyebaran bahan kampanye kepada umum
e) Pemasangan alat peraga
f)
Iklan media massa cetakdan media massa elektronik dan atau
g) Kegiatan lain yang tidak melanggar larangan kampanye dan ketentuan peraturan
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 903
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
perundangan
Dalam ayat 2 kemudian disebutkan bahwa ayat 1 huruf c,d,e dan f difasilitasi oleh
KPU yang didanai oleh APBD. Jadi ada 4 sarana kampanye pilkada yang dibiayai negara.
Yaitu pemasangan alat peraga kampanye, penyebaran bahan kampanye, iklan media cetak dan
elektronik serta debat publik antar pasangan calon. Semuanya dibiayai KPU melalui APBD
tergantung banyaknya jumlah KK didaerah tersebut. Contoh untuk salah satu Kabupaten di
Provinsi Sumatera Barat, berdasarkan data yang penulis dapatkan dari salah satu pegawai
KPUD untuk semua pasangan calon dana yang harus dikeluarkan KPUD melalui APBD
untuk bahan kampanye saja sekitar Rp.287 juta dan untuk alat peraga kampanye adalah
dekitar Rp.146 juta. Dimana keselurahan dana kampanye yang disepakati KPU dengan Paslon
adalah sekitar 5 milyar
Aturan mengenai Pengelolaan Dana kampanye ini sudah diatur dalam Permendagri no
44 tahun 2015 yang dirubah dengan Permendagri no 51 Tahun 2015 tentang Perubahan atas
peraturan menteri dalam negri nomor 44 tahun 2015 tentang pengelolaan dana kegiatan
pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan wakil Bupati serta Walikota dan Wakil
Walikota. Dalam lampirannya dapat dilihat cara penghitungan anggaran pelaksanaan 4 item
yang menjadi tanggungan APBD tersebut. Lebih jelas lagi dapat dilihat dalam PKPU no 7
tahun 2015 tentang Kampanye Pemilihan Gubernur dan wakil gubernur, Bupati dan wakil
Bupati dan/atau Walikota dan wakil walikota. Sementara untuk Dana kampanye diatur dalam
PKPU nomor 8 tahun 2015 tentang Dana kampanye peserta pemilihan Gubernur dan Wakil
Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, dan/atau Walikota dan Wakil Walikota.
Jika dilihat dari serangkaian aktivitas kampanye pemilu maka jumlah yang
dikeluarkan oleh negara untuk menanggung biaya kampanye pemilu pasangan calon memang
tidak seberapa dibandingkan jumlah keseluruhan dana kampanye yang disiapkan oleh
pasangan calon yang biasanya didapatkan dari sumbangan individu atau badan swasta. Ini
artinya jika tujuan utama menanggung dana kampanye melalui APBD untuk mengurangi
dampak negatif dari besarnya dana kampanye yang harus dikeluarkan paslon maka ini jelas
tidak akan berpengaruh signifikan. Namun jika esensi dari ditanggungnya oleh negara
beberapa aktifitas kampanye untuk menghindari ketimpangan dan ketidak seragaman paslon
dalam memasang dan menyebarkan bahan dan alat peraga kampanye tentu sangat baik.
Namun karena hal ini harus dibebankan pada APBD yang sebenarnya masih lebih bermanfaat
jika diperuntukkan bagi perwujudan kesejahteraan masyarakat tentu sangat disayangkan.
Apalagi bagi daerah-daerah yang jelas-jelas memiliki PAD yang minim dan bahkan
904 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
mengalami defisit keuangan. Bukankah yang utama adalah mensejahterakan masyarakat lah
yang harusnya menjadi orientasi utama dalam pengelolaan keuangan oleh pemerintah.
Kondisi ini tetap tidak akan mampu menghilangkan politik uang dan kontrak politik
dengan pihak lain yang akan berubah wujud menjadi politik balas budi jika terpilih nanti.
Dikhawatirkan bahkan mungkin akan menumbuhkan benih korupsi baru yang bisa disemai di
KPUD. Karena tidak seluruhnya biaya kampanye ditanggung oleh negara, tentu saja peluang
KKN ketika terpilih nantinya bagi pasangan calon masih akan tetap terbuka lebar. Masih
banyak aktivitas kampanye lainnya yang harus merogoh kocek mereka sendiri lewat bantuan
pihak lain yang notabene memiliki kepentingan didalamnya. Menurut penulis, kampanye
menjadi begitu penting, karena kebanyakan pasangan calon adalah orang-orang yang tidak
memiliki sepak terjang luar biasa positif ditengah masyarakat sehingga tanpa kampanye
politik mereka tidak akan dikenali.. Berandai-andai saja, jika kampanye hanya merupakan
sarana publik untuk mengenali paslon hanya lewat debat terbuka, tentu akan banyak paslon
yang mengukir prestasi jauh sebelum masa pemilihan. Karena mereka perlu membangun
reputasi atau citra yang baik dimata publik agar publik kenal dan memilih mereka atas lakon
kerennya sehari-hari dimasyarakat.
Maka ditanggungnya sebagian kecil dana kampanye oleh negara menurut penulis
adalah hal yang kurang tepat jika dianggap sebagai solusi menghentikan politik uang atau
politik balas budi karena hanya akan membebani APBD. Kampanye tidak akan bermodal
besar jika sosok yang dipilih sudah memiliki kiprah luar biasa dimata publik. Tanpa poster,
tanpa alat peraga kampanye lainnya pasangan calon sudah sangat dikenali masyarakatnya.
Maka bicara soal ditanggungnya biaya kampanye oleh Negara/ daerah lewat APBD adalah hal
yang baik tujuannya, namun menurut penulis belum efektif menghentikan patologi dalam
pilkada. Elektabilitas seorang pasangan calon yang terbangun dari ketokohan yang
diperlihatkan sebelumnya dalam berbuat banyak terhadap daerah apalagi Negara saat ini
masih minim. Pasangan calon yang bahkan muncul dan kurang terkenal dimasyarakat
menjadikan kampanye senjata utama membuat masyarakat melek terhadap mereka sehingga
menempuh berbagai cara disertai modal sebagai pendukung keberhasilan.
Salah satu hal yang dapat dilakukan justru adalah memperkuat aturan dan pengawasan
dalam kampanye dan pemilihan agar patologi dalam pilkada tidak menjadi penyakit yang
menulari birokrasi nantinya ketika sang pasangan calon terpilih dan berkinerja. Sedikit
pasangan calon yang maju dengan modal elektabilitas tinggi atas dasar kiprahnya
dimasyarakat. Inilah membuat banyak kontrak politik muncul dibalik biaya kampanye yang
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 905
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
besar. Semakin besar biaya kampanye yang dikeluarkan justru sebenarnya bagi penulis
menunjukkan semakin tidak percaya dirinya pasangan calon bahwa mereka dikenali dan akan
dipilih karena ketokohannya. Maka lebih baik biaya kampanye disalurkan untuk bidangbidang urgen dimasyarakat seperti beasiswa pendidikan atau untuk pemberdayaan
masyarakat. Meskipun relatif tidak banyak namun sangat bermanfaat bagi kesejahteraan
masyarakat didaerah, apalagi daerah dengan kondisi PAD yang tidak memadai.
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Kesimpulan
Berlakunya UU no 8 tahun 2015 serta Permendagri no 51 tahun 2015 yang diperjelas dalam
PKPU no 7 dan 8 tahun 2015 yang didalamnya mengatur tentang Dana kampanye pemilihan
Kepala daerah memberikan tanggungjawab pada negara leawat KPU untuk menanggung
penyelenggaraan kampanye melalui APBD. Dari 7 kegiatan kampanye yang diatur ada 4
kegiatan atau aktivitas yang ditanggung negara yaitu debat publik, penyebaran bahan
kampanye, pemasangan alat peraga dan iklan media massa cetak dan elektronik. Hal ini
membebani APBD yang sebaiknya digunakan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Namun hal ini juga bermanfaat positif bagi kesetaraan, keseragaman kampanye pasangan
calon dari pendanaan. Namun untuk kondisi negara yang tidak baik saat ini, keputusan negara
menanggung biaya kampanye pemilihan Kepala Daerah bagi penulis tetaplah keputusan yang
inefisien dampaknya bagi daerah sendiri.
Rekomendasi
Perlunya ditinjau kembali kebijakan tentang ditanggungnya oleh APBD sejumlah aktivitas
kampanye. Karena dinilai tidak efisien dan efektif hasilnya. Bukan menanggung dana
kampanye namun seharusnya adalah melakukan penguatan kelembagaan terhadap pihak yang
berwenang melakukan pengawasan dalam masa kampanye. Bahkan Jika memungkinkan
justru kampanye yang dilakukan hanyalah debat terbuka pada publik saja. Dengan metode ini
akan terlihat jelas visi dan misi pasangan calon ketimbang pemasangan dan penyebaran bahan
kampanye dan alat peraga kampanye.
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Held, David. 2007. Models of Democracy. Jakarta: Akbar Tandjung Institut
906 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia. 2008. Penyusunan saran Kebijakan
Pembangunan dan Pengembangan Sistem Administrasi Negara Berdasarkan UUD
1945.Jakarta :LAN RI
Muluk,M.R.K. 2006. Desentralisasi dan Pemerintahan Daerah. Malang: Bayu Media
Publishing
Rush dan Althoff.2005.Pengantar Sosiologi Politik. Jakarta:Grafindo Persada
Sisk, Timothy.D. 2001. Democracy at the Local Level.Sweden. IDEA Book
Wursanto.2005. Dasar-dasar ilmu organisasi. Jakarta:Andy
Peraturan
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Pemilihan
Gubernur, Bupati, dan Walikota menjadi Undang-Undang
Undang-Undang RI Nomor 1 Tahun 2015 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-Undang no 1 tahun 2014 Tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan
Walikota menjadi Undang-Undang
Undang-Undang RI No 8 Tahun 2015 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 1
tahun 2015 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang
Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota Menjadi
Undang-Undang
Peraturan Menteri Dalam Negeri no 51 Tahun 2015 Tentang Perubahan Atas Peraturan
Menteri Dalam Negeri Nomor 44 Tahun 2015 Tentang Pengelolaan dana Kegiatan
Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, Serta Wali kota
dan Wakil Walikota
Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 7 Tahun 2015 Tentang Kampanye Pemilihan
Gubernur dan Wakil Gubernur Bupati dan Wakil Bupati Dan/Atau Walikota dan Wakil
Walikota
Peraturan Komisi Pemilihan Umum nomor 8 Tahun 2015 Tentang Dana Kampanye Peserta
Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati Dan/Atau Walikota
dan Wakil Walikota
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 907
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
MUHAMMADIYAH DAN POLITIK
(Analisa Pengalaman Politik pada Pilpres II Ponorogo tahun 2004)
Happy Susanto
Direktur Program Pascasarjana Univ. Muhammadiyah Ponorogo
[email protected]
PENGANTAR
Muhammadiyah sebagai gerakan sosial keagamaan yang cukup tua tentunya telah mengalami
banyak pengalaman. Muhammadiyah telah banyak melakukan kegiatan yang bermanfaat
dalam melakukan pembinaan individu dan sosial kemasyarakatan. Muhammadiyah telah
banyak melakukan kontak dengan bentuk kebudayaan-kebudayaan baru yang silih berganti.
Maka untuk setiap kontak dengan sesuatu yang baru akan selalu terjadi proses dialektika yang
terus menerus antar satu dengan lainnya, yang dalam terminologi sosial Berger (1991)
disebut dengan eksternalisasi, obyektivasi dan internalisasi.30 Eksternalisasi adalah suatu
aktivitas pencurahan diri ke dalam dunia baik fisik maupun mental. Obyektivasi berarti bahwa
setelah melakukan pencurahan terhadap dunia ini, masyarakat berhadapan dengan prosedur
tersebut, mereka bereaksi terhadap pencurahan itu dan mereka sebagai realitas eksternal yang
berbeda. Sedangkan internalisasi adalah peresapan kembali realitas tersebut yang kemudian
ditransformasikan sekali lagi dari struktur kesadaran obyektif menuju kesadaran subyektif.
Proses inilah yang terus akan mewarnai kehidupan manusia. Usaha menutup diri terhadap
kemajemukan justru akan membuat kita tidak dewasa dan ketinggalan zaman. Ketiga proses
diatas tersebut adalah dasar setiap manusia termasuk warga Muhammadiyah dalam berprilaku
dan mengapresiasi setiap zamannya.
Warga Muhammadiyah yang cukup banyak ini merupakan komponen bangsa yang
aktif memberikan kontribusi dan warna dalam dinamika kehidupan di Indonesia ini termasuk
dinamika politik. Untuk melihat keterlibatan organisasi besar ini dalam panggung politik
memang bukan hal mudah karena organisasi ini tidak memiliki partai yang resmi didirikan
dan dijadikan sebagai satu-satunya tempat penyaluran aspirasi politik disamping itu sikap cair
politik warga Muhammadiyah itu sendiri yang bisa berkiprah di mana-mana. Tulisan ini akan
berusaha mengkaji posisi agama dan politik secara umum kemudian akan melihat secara
30
Peter.L.Berger, 1991, The Sacred Canopy: Elements of a Sociological Theory Religion, New York:
Doubleday, hal. 1-2
908 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
historis terlibatan Muhammadiyah dalam politik dan secara praksis akan mengkaji
keterlibatan Muhammadiyah dalam pilpres II khususnya di Ponorogo.
AGAMA DAN POLITIK
Agama dan politik adalah topik pembahasan dan perdebatan perenial dalam sebuah
masyarakat yang bebas. Dalam negara semaju Amerika pun diskursus tentang agama dan
politik cukup menyita perhatian masyarakat. Jika membicarakan masyarakat agama maka kita
tidak akan bisa melepaskan dari pembicaraan mengenai keterlibatannya dalam dunia politik.
Maka untuk itu tak dapat disangkal lagi dalam negara yang bebas yang menerapkan prinsipprinsip demokrasi, agama merupakan faktor yang cukup besar sebagai daya penggerak
keterlibatan masyarakatnya dalam politik.31 Pentingnya posisi agama dalam masyarakat
menjadi daya tarik tersendiri khususnya bagi politisi untuk mencapai kekuasaan.
Memang sangat sulit untuk mengatakan manakah yang memiliki peran lebih penting
antara agama dan politik dalam perubahan sosial. Dua hal ini dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara terlihat saling berkaitan. Seorang politikus akan melihat agama sebagai sarana
untuk mencapai maksudnya. Demikian juga seorang agamawan akan melihat politik sebagai
sarana yang potensial untuk mengembangkan agama. Bahkan saat ini banyak muncul politisi
sekaligus agamawan, karena memang melihat pentingnya agama sebagai sarana pencapaian
kekuasaan. Kita menyaksikan pada pemilu yang lalu banyak agama diposisikan sebagai
sarana dan alat dalam monuver-monuver politik oleh kelompok tertentu.32 Penggunaan agama
dalam politik yang selama ini dianggap sebagai wilayah profan bisa saja membuat politik
memiliki akar religius sehingga aktivitas politik yang dilakukan seorang politikus selalu
dikontrol oleh nilai-nilai agama yang dianutnya. Namun di sisi lain bisa saja terjadi politisasi
agama yang mngakibatkan pendangkalan makna agama yang hanya dijadikan sebagai sarana
pencapaian kekuasaan. Disamping itu bahaya yang lebih besar politisasi agama bisa
menyebabkan perpecahan antar umat yang hanya dikarenakan aspirasi politiknya berbeda.
Secara sosiologis pentingnya agama dalam perubahan sosial pernah dijelaskan oleh
Weber. Dunia Barat yang kapitalis ternyata tidak bisa dipisahkan dari keterlibatan agama.
Agama merupakan daya pendorong yang kuat bagi pemeluknya untuk mengkonstruksi
31
Robert Audi, 2000, Religious Commitment and the Secular Reason, New York: Cambridge University Press,
hal. ix
32
Penggunaan agama sebagai sarana politik ataupun urgensi agama dalam dunia politik pernah diungkapkan
oleh Facry Ali. Lihat Facry Ali, 1984, Islam, Pancasila dan Pergulatan Politik, Jakarta: Pustaka Antara,
hal. 2-7
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 909
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
dunianya. Kapitalisme di Barat yang di analisa oleh Weber muncul dari sebuah sekte
Protestant yang aktif yang bernama Clavinisme. Dengan doktrin internal yang disebut beruf
(panggilan), Calvinisme mulai membangun dunia melalui perekonomian. Calvinisme yang
mempercayai bahwa Tuhan telah menetapkan orang-orang yang telah dipilihnya dan
dianugarahi rahmat, namun mereka tidak mengetahui siapa orang-orang yang terpilih tersebut.
Maka untuk menghilangkan keraguan ini ia menunjukkan dengan semangat kerja dan
kemapanan duniawi sebagi simbol bahwa mereka adalah orang yang terpilih oleh Tuhan.
Melalui askese duniawi (innerworldly ascesticism) yaitu mengalahkan dunia dengan
menguasainya, Calvinisme merasa agama memiliki beruf dengan kerja sebagai sarana untuk
menunjukkan bahwa mereka telah ditunjuk oleh Tuhan sebagai manusia pilihan. Kerja yang
dulunya berada pada wilayah profan menemukan bentuknya yang religius dalam ajaran ini.33
Dikaitkan dengan perkembangan sosial, kedudukan agama baik secara teologis
maupun sosiologis, sebenarnya sangat mendukung proses pendemokrasian politik, ekonomi,
dan kebudayaan. Semua agama besar dunia yang disebut sebagai agama Ibrahim (Abrahamic
Religion) muncul dan berkembang dengan misi untuk melindungi dan menjunjung tinggi
harkat manusia. Menempatkan manusia pada hak dan kodratnya. Indonesia sebagai bangsa
yang yang bertuhan artinya nilai-nilai ketuhanan dijadikan sandaran nilai tertinggi maka
politik Indonesia diharapkan menjadi sebuah politik yang tetap diwarnai nilai-nilai spiritual
keagamaan. Politik yang selalu berbasis pada koridor moral dan nilai-nilai ketuhanan yang
menjadi landasandan dasar ideologi negara. Upaya ini hendaknya tidak dilihat sebagai
pemolitikan agama, yaitu menjadikan isu-isu agama sebagai komoditas politik untuk
memperoleh kekuasaan, tetapi lebih pada pengagamaan politik, yaitu upaya menjadikan
agama sebagai alat untuk mengkontrol para pelaku politik agar tidak terjebak dalam politik
yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Aktualisasi nilai-nilai kemanusiaan
yang bersumber dari agama selalu mengasumsikan terwujudnya keadilan dan kemerdekaan
yang merupakan dasar dari hak-hak asasi manusia. Demokrasi yang terjadi dalam masyarakat
merupakan suatu keniscayaan bagi terwujudnya keadilan dan hak kemerdekaan manusia.
Meski agama secara sistematis tidak mengajarkan praktik politik dan demokrasi, namun
33
Weber melakukan penelitian bahwa ada kaitan erat antara kemunculan kapitalisme di Barat dengan salah satu
sekte Protestan yaitu Calvin. Ia juga memberikan pernyataan bahwa agama-agama di dunia ini punya
kaitan erat dengan perubahan sosial terutama berkaktan dengan persoalan ekonomi. Lihat: Marx Weber,
1958, The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism, New York: ChrlesScribner’s Son. Lihat juga
dalam: Taufik Abdullah, 1988, Agama, Etos Kerja dan Perkembangan Ekonomi, Jakarta: LP3ES
910 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
agama mampu memberikan etos dan spirit yang mendorong terwujudnya tatanan iklim
kehidupan yang demokratis. Maka bisa kita lihat di sini agama tidak saja memiliki tataran
teologis-normatif namun agama juga memiliki dan memasuki wilayah sosiologis-politik.
MUHAMMADIYAH DAN POLITIK
Sebagai organisasi massa yang besar, Muhammadiyah memiliki kontribusi yang cukup besar
dalam perpolitikan di Indonesia. Secara historis keterlibatan banyak tokoh Muhammadiyah di
Masyumi ternyata telah membawa warna tersendiri pada partai tersebut kala itu.
Muhammadiyah juga selalu melakukan kontekstualisasi terhadap perubahan zaman. Sebagai
gerakan, Muhammadiyah selalu mempunyai kepentingan untuk melaksanakan amar ma'ruf
nahi-munkar. Sebagai gerakan sosial Muhammadiyah berdakwah melalui pendirian berbagai
jenis amal usaha untuk membangun masyarakat. Semua aktivitas ini dilakukan untuk
mencapai tujuan dasar yaitu menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga
terwujud masyarakat utama, adil dan makmur yang diridlai Allah SWT.
Sementara itu secara politis pada tahun 1971 dalam sidang Tanwir di Maksaar
ditegaskan bahwa Muhammadiyah menjaga jarak dari semua partai politik yang ada.
Muhammadiyah juga membebaskan warganya untuk menyalurkan aspirasi politiknya sesuai
pilihan dan hati nuraninya masing-masing. Khittah ini bukanlah tanpa sejarah. Khittah itu
lahir setelah Muhammadiyah ikut mendirikan Parmusi (Partai Muslim Indonesia) yang
semula dimaksudkan untuk sebagai rehabilitasi politik Masyumi yang mengalami
kekecewaan. Kekecewaan itu disebabkan intervensi pemerintah yang sangat besar dan
terjadinya konflik antar kader Muhammadiyah sendiri. Konflik antara Djarnawi HadikusumoLukman Harun dan H.M.S. Mintaredja, tentu tidak bisa dilupakan begitu saja. Pengalaman
ketika menjadi anggota istimewa Masyumi, juga menyebabkan kader-kader lainnya seperti
Supeni dan Roeslan Abdulgani yang aktif di PNI, menjadi teranaktirikan. Maka dapat
dipahami bahwa setelah munculnya keputusan Tanwir 1971 tersebut kita melihat
Muhammadiyah sebagai organisasi menjaga jarak terhadap semua partai politik yang ada.
Dengan tidak berafiliasi terhadap salah satu partai politik, membuat kader-kader
Muhammadiyah bebas berkiprah dimana saja. Tidak mengherankan seperti pimpinan
Muhammadiyah saat ini (Din Syamsudin) dulu pernah aktif dan menjadi pengurus pusat
partai berlambang pohon beringin
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 911
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
Setelah kejatuhan rezim Suharto, iklim demokrasi kita mulai berubah. Perubahan
secara drastis terjadi di Indonesia, terutama di bidang politik. Saat kran demokrasi di buka,
maka bermunculan partai-partai baru. Eforia politik ini juga melanda warga Muhammadiyah.
Akhirnya salah satu tokoh Muhammadiyah yang cukup terkenal, Amin Rais mencalonkan diri
menjadi presiden untuk menggantikan Suharto. Melalui PAN (Partai Amanat Nasional) yang
didirikan bersama beberapa tokoh cendekiawan Indonesia seperti Gunawan Muhammad dan
T.H. Sumartana, Amin Rais mengkapanyekan bahwa PAN adalah partai terbuka bagi siapa
saja dan bukan partai ekslusif yang hanya milik orang Muhammadiyah saja. Namun tidak
dapat dipungkiri dukungan terbesar partai berlambang matahari bersinar ini bersumber dari
organisasi yang pernah dipimpin sebelumnya yaitu Muhammadiyah. Amin Rais merupakan
sosok yang kharismatik bagi warga Muhammadiyah. Tutur katanya yang satun ternyata
banyak memikat warga Muhammadiyah untuk mendukungnya, disamping ia memang piawai
di bidang politik karena sebagai basis keilmuannya.
Kemunculan Amin Rais sebagai calon presiden ternyata membawa dilema tersendiri
bagi Muhammadiyah. Ketika Muhammadiyah melakukan Tanwir di Bali tahun 2002 dan
Makassar tahun 2003 berhasil membendung aspirasi sebagian warga untuk mendukung
kadernya tersebut sebagai kandidat presiden. Saat itu, kepercayaan masyarakat pada
Muhammadiyah yang independen bertambah besar. Netralitas ini patut diacungin jempol
karena Muhammadiyah telah melakukan pendidikan politik dengan baik yaitu tidak
membawa Muhammadiyah dalam wilayah politik praktis. Keberhasilan ini tidak bisa lepas
dari figur Buya Syafi'i Ma'arif sebagai ketua organisasi ini. Namun akhirnya pada tahun 2004
organisasi besar ini yang semula netral akhirnya mengeluarkan ijtihad politik. Secara resmi
Muhammadiyah mendukung sepenuhnya pencalonan Amien Rais sebagai presiden dalam
Pemilu 2004. Muhammadiyah mengeluarkan taushiyah agar warganya memilih calon-calon
anggota legislatif dan partai yang memberikan peluang besar dan langsung bagi terpilihnya
kader terbaik Muhammadiyah dalam pemilihan presiden pada Pemilu 2004. Bagi Amien Rais,
Muhammadiyah tidak hanya memberikan tiket dan kendaraan tetapi juga jalan lampang
menuju istana kepresidenan.
Pemberian dukungan resmi Muhammadiyah itu, didasarkan pada alasan subjektif
karena Amien Rais pernah menjadi ketua umum dan merupakan kader terbaik persyarikatan
ini. Selain itu, alasan objektifnya adalah bahwa Amien Rais adalah tokoh reformasi yang
diharapkan dapat melanjutkan cita-cita reformasi menuju demokrasi di Indonesia tercinta ini.
912 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
Maka, dengan keanggotaan Muhammadiyah yang hampir mencapai 15 juta dan tersebar di
banyak partai, diharapkan pada pemilu presiden 5 Juli semua warganya akan menaati
keputusan itu dan memilih Amien Rais
Ijtihad politik Muhammadiyah merupakan fatwa yang secara struktural dan moral
mengikat semua warga Muhammadiyah. Meskipun demikian, ijtihad tersebut menimbulkan
polemik, bahkan dalam internal Muhammadiyah sendiri. Kelompok kontra menilai
Muhammadiyah telah keluar dari khittah sebagai gerakan Islam dan dakwah amar ma'ruf nahi
munkar. Muhammadiyah mulai kehilangan independensi gerakan karena melakukan kegiatan
politik praktis. Pada sisi lain, pihak yang setuju menyatakan dukungan kepada Amien Rais
merupakan keputusan natural dan netral. Keputusan diambil berdasarkan musyawarah dan
pengkajian yang mendalam terhadap dinamika politik kenegaraan. Polemik fatwa resmi
Muhammadiyah untuk mendukung Amien Rais yang dikeluarkan di Yogya, menimbulkan
riak-riak konflik di interna Muhammadiyah. Hal itu terlihat pada kasus gugatan AMM
(Angkatan Muda Muhammadiyah) terhadap pernyataan PKS yang didukung beberapa
pengurus Muhammadiyah di harian Kedaulatan Rakyat sebelum pemilu 5 April lalu. Protes
serupa juga datang dari warga Muhammadiyah yang juga aktif di PPP, Golkar, atau PBR yang
merasa dianaktirikan setelah lahirnya keputusan resmi tersebut. Pernyataan sikap JIMM
(Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah) yang menggugat dukungan resmi itu dengan
alasan pelanggaran khittah.
34
Disamping itu dukungan ini juga memunculkan kembali
terminologi lama yang sudah mulai dilupakan orang namun menjadi segar kembali setelah
fatwa tersebut muncul, yaitu bangkitnya politik aliran. Jika ini memang terjadi justru bukan
kemajuan politik yang terjadi melainkan kemunduran politik. Munculnya ancaman politisasi
terhadap agama.35
Inilah keunikan partai ini. Meski muncul ijtihad politik tersebut di atas namun ternyata
PAN hanya menduduki urutan ke tujuh dalam pemilihan legislatif 2004. Slogan sebagai partai
terbuka dan di komandani oleh tokoh yang dikenal sebagai figur reformis ini ternyata belum
banyak memikat hati rakyat. Suara PAN malah terbukti ambrol dan kalah dengan pendatang
34
Uraian lebih lengkap mengenai ini dapat dilihat dalam Ahmad Fuad Fanani yang berjudul “Menyoal
Konsistensi ”Khittah” Muhammadiyah dalam Kompas Cyber Media (KCM) 2004, maupun dalam
artikelnya yang berjudulMembendung “Syahwat” Politik Muhammadiyah di http. Islamlib.com 24 Mei
2004.
35
Istilah politik aliran ini sebenarnya dikaitkan dengan hasil penelitian antropolog Cliford Geertz tentang
trikotomo sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat Jawa dalam ketiga varian yaitu santri, priyayi, dan
abangan. Lebih lanjut lihat dalam Cliford Geertz, 1960, The Religion of Java, Chicago: London.
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 913
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
baru seperti Partai Demokrat, bahkan posisinya di bawah Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Dengan beberapa contoh itu, dapat diambil pelajaran bahwa meski pengurus Muhammadiyah
mengajak secara resmi warganya untuk memilih partai tertentu, mereka tetap memiliki pilihan
sendiri yang diyakininya.
Kekalahan PAN ini sebenarnya terjadi diantaranya karena kesalahan pembacaan
terhadap realitas politik, terutama kepada warga Muhamadiyah. Kultur politik warga
Muhammadiyah yang dulunya cair dan terkotak-kotak diberbagai partai politik kini
disamaratakan. Terjadi generalisasi yang berlebihan (over generalization) terhadap warga
Muhammadiyah dimana jika keyakinan religius disamakan dengan keyakinan politik, meski
hal ini tidak dipungkiri juga saling berkaitan. Kesalahan pembacaan ini karena, dalam
terminologi Al-Jabiri, mereka menggunakan metode berfikir bayani (tekstual). Dalam model
berpikir ini, semua hal dipandang secara tekstual, material, dan konkret. Semua akan dilihat
sebagai hitam-putih dan otomatis. Karena Amien Rais merupakan mantan ketua PP
Muhammadiyah dan kader terbaiknya, maka semua orang Muhammadiyah pasti akan
mendukungnya. Namun kenyataannya tidaklah demikian. Penyamaan aspirasi politik di
Muhammadiyah memang tidaklah mudah karena secara historis organisasi ini memang tidak
berafiliasi terhadap partai tertentu (sesuai khittah 1971) dan secara kultur anggota organisasi
ini telah mengalami pluralitas politik. Mereka tersebar di berbagai partai politik yang ada.
Menghadapi pluralitas politik ini maka pembacaan politik ke depan harus menggunakan
metode rasional (burhani) dan imajinatif (irfani).36
PENGALAMAN POLITIK MUHAMMADIYAH PONOROGO DALAM PEMILU
LEGISLATIF II TAHUN 2004
Muhammadiyah di Ponorogo lahir pada ahun 1922, sebuah umur yang cukup tua bagi gerakan
sosial keagamaan. Tidak heran jika Muhammadiyah banyak memeiliki pengeikutnya di sini,
untuk itu Ponorogo juga termasuk kantong Muhammadiyah yang cukup besar di Jawa Timur.
Kondisi umum perpolitikan Muhmaadiyah diatas ternyata juga terjadi di Ponorogo. Pada
pemilu legislatif yang lalu kader-kader Muhammadiyah tersebar di mana-mana. Pluralitas
politik ini karena tiga hal. Pertama secara historis memang Muhammadiyah sebagai gerakan
sosial keagamaan menjaga jarak dengan partai pokitik yang ada. Demkian Muhammadiyah
memberikan kebebasan bagi warganya untuk memilih partai yang dikehendakinya. Kondoisi
36
M. Abid Al-Jabiri, 1993, Bunyah al-‘Aql al-Arabi: Dirasah Tahliliyah Naqdiyah Li al-Nudzum al-Ma’rifah fi
al-Tsaqafah al-‘Arabiyah, Beirut: al-Markaz al-Tsaqafah al-Araby.
914 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
umum ini juga terjadi di Ponorogo. Sebagai warisan kultur yang memiliiki sejarah yang
panjang, maka hal ini susah untuk diubah. Meski PAN didirikan oleh kader-kader
Muhammadiyah bahkan oleh mantan ketuanya sekalipun, ternyata belum mampu menjadi
pemersatu aspirasi warga Muhammadiyah. Kedua, secara filosofis Muhammadiyah
merupakan gerakan tajdid yang ingin melakukan purifikasi terhadap penyimpangan terhadap
akidah. Sebagai gerakan tajdid atau pembaharuan Muhammadiyah sangat erat dengan model
berfikir yang terbuka. Keterbukaan pemikiran ini pada masa awal berdirinya organisasi ini
justru di tunjukkan oleh pendirinya, K.H. Ahmad Dahlan ketika menerima pimpinan Indisch
Sociaal Democratische Partij (ISDV) sebuah partai yang didirikan di Semarang pada tahun
1914 yang kemudian di berkembang penjadi Partai Komunis. Pemimpin ISDV, Darsono dan
Semaun, diizinkan untuk berbicara dihadapan warga Muhammadiyah untuk menentang
kebijakan represif pemerintah Belanda dan mengkampanyekan ide-ide sosialisme.37 (Jainuri,
2002: 115). Keadaan ini menunjukkan bahwa KH Ahmad Dahlan memiliki sifat keterbukaan
terhadap kebenaran dari manapun asalnya. Keterbukaan pemikiran ini juga beimbas pada
keterbukaan terhadap pilihan politik. Warga Muhammadiyah bebas memilih partai yang
dainggapnya mewakili nuraninya dan memnyarakan kebenaran. Ketiga, Muhammadiyah lahir
dari kelas menengah atau kelas pedagang. Kelas ini merupakan kelas masyarakat terdidik
yang menggunakan pola berfikir yang rasional.38 Karena pertimbangan rasional dan
matematis menentukan tingkat keuntungan dan kerugian termasuk dalam dunia politik.
Meskipun PAN didirikan oleh kader Muhammadiyah dan siap menampung aspirasi warga
Muhammadiyah namun karena pertimbangan yang rasional akhirnya warga Muhammadiyah
tidak semua bergabung dengan parrtai ini. Dari ketiga pertimbangan inilah, tidak
mengherankan jika warga Muhammadiyah dalam pilihan politiknya bersifat cair dan plural.
Data di Ponorogo menyebutkan
bahwa dari 45 kursi DPRD yang disediakan
pemerintah, ternyata hanya di di isi oleh 3 orang dari PAN.mereka itu adalah: Suparno SH,
Wihananto, dan Puryono. Dalam pemilu legislatif 2004, daerah basis Muhammadiyah seperti
Kecamatan Kota, perolehan PAN jauh berada dibawah parta lama seperti Partai Golkar dan
PDIP. Di kecamatan ini PAN hanya memperoleh 3841 suara sementara itu partai Golkar
mendapat suara 9.065 dan PDIP sebanyak 8.215. Ironisnya ditempat ini pula partai pendatang
baru yaitu Partai Demokrat dan juga PKB meninggalkan perolehan PAN tersebut. Partai
37
Ahmad Jainuri, 2002, Ideologi Kaum Reformis: Melacak Pandangan Awal muhammadiyah Periode Awal,
Surabaya: Lembaga Pengkajian Agama dan Masyarakat (LPAM), hal. 115
38
Ibid: hal, 85
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 915
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
Demokrat mendapat suara 6.218 dan PKB mendapat 7.214. Kondisi ini juga terjadi di
kecamtan-kecamatan lain yang dianggap menjadi basis Muhammadiyah. Sama dengan
kecamatan Kota, di kecamatan Jetis PAN hanya menempati urutan empat setelah PDIP,
Golkar, dan PKB. Demikian juga di kecamatan Mlarak perolehan PAN jauh dibawah
Fenomena kekalahan PAN ini terjadi secara merata di Ponorogo apalagi di kecamatankecamatan selain basis Muhammadiyah. Cairnya politik Muhammadiyah Ponorogo ini tidak
saja dalam pemilu legislatif namun juga dalam pilpres I dimana Amin Rais masih menjadi
kontestan calon presiden.
Di samping ketiga sebab di atas, ketidaktertarikan warga Muhammadiyah terhadap
calon wakil legislatif di 2004 adalah adanya krisis kepercayaan dan ketidaktauan terhadap
calon yang ingin dipilihnya. Krisis kepercayaan ini disebabkan karena track-record DPR
secara umum maupun DPRD sudah sangat merosot di kalangan msyarakat, disamping juga
telah terjadi rasionalisasi politik di kalangan masyarakat. Sementara itu ketidaktauan
msayarakat terhadap calon yang akan dipilihnya juga sangat mempengaruhi pilihan politik
seseorang. Distribusi caleg yang tidak tepat bisa menjadi sebab kegagalan dalam pemilu
legislatif ini. Banyak caleg yang bukan berasal dari daerah pemilihan yang justru terpasang
pada urutan atas sementara caleg yang dikenal dipasang pada urutan bawah atau justru
terpasang pada Daerah Pemilihan (DP) yang lain.
PENUTUP
Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa pluralnya pilihan politik warga
Muhammadiyah bukannya tanpa memiliki sejarah. Sisi sejarah ini ternyata memiliki ikatan
yang cukup kuat sehingga meski muncul ijtihad politik untuk mendukung pencalonan Amin
Rais menjadi presiden atau memilih wakil-wakilnya di legislatif, ternyata jatuhan pilihan
politik warga Muhammadiyah tetap beragam. Disamping organisasi ini menjaga jarak dengan
semua partai politik yang ada Muhammadiyah juga merupakan bentuk gerakan pembaharuan
yang memiliki model berfikir yang terbuka dan rasional. Keterbukan ini memberikan peluang
terhadap pilihan politik yang dianggap cocok dengan aspirasinya masing-masing sementara
itu rasionalisasi pemikiran memberikan pertimbangan matematis tentang keuntungan dan
kerugian dalam sebuah pilihan politik. Maka dari itu generelisasi pembacaan yang dilakukan
akan banyak mengalami hambatan dalam situasi yang plural tersebut.
Satu hal yang tidak dapat dipungkiri dari keberadaan organisasi besar ini adalah
Muhammadiyah telah banyak melakukan transformasi sosial. Sebagai gerakan ámar ma’ruf
916 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
nahi munkar Muhammadiyah telah memberikan warna tersendiri dalam kehidupan bangsa ini.
Karena perannya yang cukup besar gerakan ini. telah memancing banyak komentar dari
berbagai kalangan. Wertheim menyimpulkan ideologi Muhammadiyah pararel dengan
ideologi kaum borjuasi di Eropa, terutama gerakan Calvinisme puritan. Geertz menegaskan
analisa ini dengan mengatakan bahwa Muhammadiyah adalah gerakan dengan tingkat
rasionalisasi yang sangat tinggi yang menjadi basis bagi etos homo-economicus.39
Muhammadiyah merupakan unsur yang sangat penting dalam pembentukan Indonesia baru
yang kita ingin kan bersama. Untuk itu sebagai gerakan sosial keagamaan, seyogyanya
Muhammadiyah selalu membuka diri dan mampu berdialog dengan perubahan zaman.
Pembinaan terhadap umat tidak saja dilakukan kepada kader-kadernya saja namun juga
terbuka bagi kelompok lain. Sudah waktunya saat ini Muhammadiyah berkonsentrasi juga
pada persoalan-persoalan kemanusiaan, petani, buruh, pemberdayaan perempuan, kemiskinan
serta persoalan kemanusiaan lainnya.Wallhua’lam.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Taufik, 1988, Agama, Etos Kerja dan Perkembangan Ekonomi, Jakarta: LP3ES
Ali, Facry , 1984, Islam, Pancasila dan Pergulatan Politik, Jakarta: Pustaka Antara
Audi, Robert, 2000, Religious Commitment and the Secular Reason, New York: Cambridge
University Press
Berger, Peter.L, 1991, The Sacred Canopy: Elements of a Sociological Theory Religion, New
York: Doubleday
Fanani, Ahmad Fuad, 2004, Menyoal Konsistensi ”Khittah” Muhammadiyah, dalam Kompas
Cyber Media (KCM)
Geertz, Cliford, 1960, The Religion of Java, Chicago: London.
Greenawalt, Kent, 1988, Religious Convictions and Political Choice, New York: Oxford
University Press
Jainuri, Ahmad, 2002, Ideologi Kaum Reformis: Melacak Pandangan Awal muhammadiyah
Periode Awal, Surabaya: Lembaga Pengkajian Agama dan Masyarakat (LPAM)
Al-Jabiri, M. Abid, 1993, Bunyah al-‘Aql al-Arabi: Dirasah Tahliliyah Naqdiyah Li alNudzum al-Ma’rifah fi al-Tsaqafah al-‘Arabiyah, Beirut: al-Markaz al-Tsaqafah alAraby.
Kuntowijoyo, 1993, Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi, Bandung: Mizan
Weberz Marx, 1958, The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism, New York:
ChrlesScribner’s Son
39
Kuntowijoyo, 1993, Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi, Bandung: Mizan, hal. 224
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 917
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
EVALUASI SOSIALISASI PEMILIHAN PADA PILKADA SERENTAK TAHUN 2015
DI PROVINSI KEPULAUAN RIAU
Bismar Arianto
Program Studi Ilmu Pemerintahan
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Maritim Raja Ali Haji Tanjungpinang - KEPRI
[email protected] dan [email protected]
ABSTRAK
Pilkada serentak tahun 2015 di Provinsi Kepulauan Riau memilih pasangan gubernur dan
wakil gubernur serta memilih 6 pasang kepala daerah di kabupaten/kota dari tujuh
kabupaten/kota yang ada. Tulisan ini berupaya mendeskripsikan mengenai sosialisasi
pemilihan pada pilkada serentak tersebut. Sosialisasi pemilihan adalah proses penyampaian
informasi tentang tahapan dan program penyelenggaraan pemilihan. Dari temuan dapat
disimpulkan dari empat indikator yang terkait dengan sosialisasi pemilihan hanya indikator
segmen sosialisasi yang masuk dalam kategori baik, sedangkan untuk indikator intensitas
sosialisasi dan indikator inovasi kreativitas sosialisasi dan iklan layanan masyarakat masuk
dalam kategori cukup, sedangkan indikator pelibatan ormas dan civil society masuk dalam
ketegori kurang sekali.
Kata kunci : evaluasi sosialisasi pemilihan, pilkada serentak, Provinsi Kepulauan Riau
PENDAHULUAN
Tulisan ini berangkat dari pengalaman penulis sebagai salah satu tim penilai pemberian
penghargaan KPU kabupaten/kota Provinsi Kepulauan Riau berprestasi tahun 2014 pada
pemilihan legislatif dan pemilihan presiden, serta tim penilai pemberian penghargaan KPU
kabupaten/kota Provinsi Kepulauan Riau berprestasi pada pemilihan gubernur dan wakil
gubernur, bupati dan wakil bupati serta walikota dan wakil walikota Provinsi Kepulauan Riau
tahun 2015.
Pada tahun 2015 di Provinsi Kepulauan Riau berlangsung pemilihan gubernur dan
wakil gubernur serta memilih 6 pasang kepala daerah di kabupaten/kota dari tujuh
kabupaten/kota yang ada. Enam daerah tersebut yaitu Kota Batam, Kabupaten Bintan,
Kabupaten Lingga, Kabupaten Karimun, Kabupaten Natuna dan Kabupaten Kepulauan
Anambas, hanya Kota Tanjungpinang yang tidak melangsungkan pemilihan walikota dan
wakil walikota.
Pemilihan gubernur dan wakil gubernur di Kepulauan Riau diikuti oleh dua pasangan
calon, pilkada di Kota Batam, Kabupaten Bintan dan Kabupaten Kepulauan Anambas diikuti
918 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
oleh dua pasangan calon, di Kabupaten Karimun diikuti oleh tiga pasangan calon, kabupaten
Lingga dengan empat pasangan calon dan yang paling banyak Kabupaten Natuna dengan lima
pasangan calon.
Secara keseluruhan tingkat partisipasi dalam pemilihan gubernur dan pasangan
gubernur Provinsi Kepulauan Riau sebesar 55,41% masih kalah dibandingkan hasil pilkada
serentak secara nasional dengan tingkat partisipasi sebesar 69,9%. Kabupaten Natuna adalah
kabupaten dengan tingkat partisipasi yang paling tinggi sebesar 78,45% dan yang paling
terendah adalah Kota Batam sebesar 48,93%. Secara terperinci tingkat partisipasi dalam
pilkada serentak dan perbandinganya dengan hasil Pileg dan Pilres 2014 di Provinsi
Kepulauan Riau dapat diliat pada tabel berikut ini.
Tabel 1
Tingkat Partisipasi pada Pilgub 2015, Pileg dan Pilres 2014 di Provinsi Kepulauan Riau
No
Kab/Kota/Prov
Pileg 2014
Pilpres 2014
Pilgub 2015
1
Bintan
78,24%
65,48%
73,25%
2
Karimun
73,32%
59,15%
53,32%
3
Kep. Anambas
88,65%
66,27%
70,82%
4
Batam
67,70%
56,85%
48,93%
5
Tanjungpinang
70,51%
62,54%
52,69%
6
Lingga
83,90%
69,55%
77,33%
7
Natuna
85,37%
61,59%
78,45%
Total
71,65%
59,43%
55,41%
Nasional
75,11%
69,58%
69,9%
Sumber : KPU Provinsi Kepulauan Riau 2016
Tulisan ini berupaya mendeskripsikan mengenai sosialisasi pemilihan pada pilkada
serentak di Provinsi Kepulauan Riau. Berdasarkan PKPU No 5 Tahun 2015 yang dimaksud
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 919
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
dengan sosialisasi pemilihan adalah proses penyampaian informasi tentang tahapan dan
program penyelenggaraan pemilihan40.
Terkait dengan sosialisasi dalam penilaian KPU berprestasi tahun 2014 di Provinsi
Kepulauan Riau hanya diikuti oleh tiga peserta dari tujuh yaitu KPU Kabupaten Bintan, KPU
Kota Batam dan KPU Kota Tanjungpinang. Pada perhargaan pilkada serentak 2015 untuk
kategori yang terkait dengan sosialisasi juga hanya diikuti tiga peserta yaitu KPU Kabupaten
Bintan, KPU Kabupaten Natuna dan KPU Kabupaten Lingga. Dengan data ini menunjukkan
bahwa tidak semua KPU kabupaten/kota mampu memenuhi dokumen penilaian yang diminta
dan yakin untuk bisa menang pada kategori ini.
Berangkat dari tren tingkat partisipasi yang cendrung turun dalam tiga agenda pemilu
di Provinsi Kepulauan Riau dan keikutsertaan KPU kabupaten/Kota yang sedikit dalam
kategori ini penulis tertarik ingin mendeskrispsikan bagaimana aktivitas sosialiasi pemilihan
yang dilakukan oleh KPU kabupaten/kota dalam pada pilkada serentak di Provinsi Kepulauan
Riau. Fokus tulisan ini pada evaluasi sosialiasi pemilihan di Kabupaten Bintan, Kabupaten
Natuna dan Kabupaten Lingga.
TINJAUAN EVALUASI PEMILU
Ada beberapa tulisan dan penelitian tentang sosialisasi pemilu, diantaranya bisa dilihat dalam
Buletin Banwaslu Edisi 12 Desember 2014 terkaiat pelaksanaan Pilpres 2014 dan hasil
penelitian Lembaga Penelitian Pendidikan Penerangan Ekonomi Sosial (LP3ES) tahun 2014.
Dalam catatan Perhimpunan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) menemukan
tiga aspek yang menjadi evaluasi kinerja KPU dan perlu diperbaiki terkaiat pelaksanaan
Pilpres 2014. Keempat hal tersebut, pertama, perlunya perbaikan atas kerangka hukum yang
jelas, tidak tumpang tindih dan tidak multitafsir yang berdampak pada gugatan pasca pilpres.
Kedua, wacana pengunaan teknologi tidak bisa digunakan
tergesa-gesa perlu dilakukan
kajian, dan ketiga, evaluasi tidak hanya menjadi rujukan, namun harus
input bagi
pembentukan ataupun perbaikan perundangan Pemilu41.
Banwaslu juga menekan ada tiga aspek penting yang menjadi cacatan dalam
pnyelenggaraan Pilpres 2014 yaitu aspek pemilih, penyelenggara dan peserta pemilu dan
40
PKPU No 5 Tahun 2015 tentang Sosialisasi dan Partisipasi Masyarakat dalam Pemilihan Gubernur dan Wakil
Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, dan/atau Walikota dan Wakil Walikota
41
Dalam Buletin Banwaslu edisi 12 Desember 2014, Evaluasi Pilpres 2014 Untuk Masa Depan Pemilu
Berkualitas, hal 4.
920 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
terkait dengan pranata hukum pemilu saat ini belum bisa mewujudkan cita-cita politik yang
demokratis42.
Berdasarkan evaluasi Perludem dan Banwaslu di atas ada penekanan terkait aturan
yang menjadi payung hukum penyelenggaraan pemilu di Indonesia yang masih memiliki
celah bagi peserta pemilu dan pihak lain yang berkepentingan untuk mencedrai kualitas
penyelenggaran pemilu di Indonesia. Kemudian cacatan berikutnya terkait aturan perundangundangan tentang penyelenggaran pemilu di Indonesia selalu berubah43.
Kemudian hasil evaluasi yang lebih komprehensif dilakukan LP3S yang melakukan
penelitian di tiga daerah di Indonesia yaitu Sumatera Utara, Jawa Tengah dan Papua terkait
pemilu 2014. Dimana dalam kajian itu indikator yang dievaluasi meliputi tahap pra pemilu
dengan 3 aspek dan 13 indikator, pada tahapan masa pemilu dengan 8 aspek dan 62 indikator
dan tahapan pasca pemilu dengan 1 aspek dan 3 indikotor. Maka secara keseluruhan ada 3
tahapan 12 aspek dan 78 indikotar yang digunakan dalam mengevaluasi pemilu 201444.
Terkait dengan sosialisasi dalam penelitian LP3S itu ada dalam tahapan pemilu pada
aspek hak pilih dengan 8 indikator. Berdasarkan hasil pemetaan isu kritikal dalam kajian itu
terkait sosialisasi terdapat hal-hal berikut yang menjadi catatan yaitu 45:
1. Sosialisasi pemilu kurang menyentuh esensi pemilu, alasan memilih parpol dan calon
serta ketidakpatutan politik uang.
2. Keberadaan relawan demokrasi (RELASI) dan mitra PPL tidak dapat sepenuhnya
mendorong sosialisasi dan pendidikan pemilu kepada masyarakat, khususnya kepada
segmen pemilih: pemula, perempuan, marginal, dan disabilitas
3. Parpol
sama sekali kurang mendorong sosialisasi dan pendidikan pemilu/politik
kepada pemilih. Sosialisasi yang dilakukan oleh calon hanya fokus pada ajakan untuk
mencoblos nama/figur calon.
4. Minimnya partisipasi parpol dalam melakukan sosialisasi sehingga pemilih kurang
mengenal keberadaan parpol, visi, misi dan program parpol dan caleg
42
Ibid, hal 4
Undang-undang terkait pemilu legislatif sejak pemilu pertama tahun 1955 berdasarkan UU No 7 tahun 1953
tentang Pemilihan Anggota Konstituante dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, hingga UU No 8
Tahun 2012 Tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah,
Dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, begitu juga terkait dengan UU terkait yaitu UU No 23 Tahun
2003 untuk Pilpres 2004 dan UU No 42 tahun 2008 terkait Pilres 2009 dan 2014
44
Laporan Evaluasi Pemilu 2014 oleh Lembaga Penelitian Pendidikan Penerangan Ekonomi Sosial (LP3ES),
tahun 2014 hal 10-14
45
Ibid, hal 29-32
43
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 921
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
Dari temuan penelitian LP3S ini menjukkan bahwa proses sosialisasi pemilu masih
belum maksimal karena masih bersifat eksidentil (tergantung agenda pemilu/pilkada),
terbatasnya keterlibatan relawan ormas dan civil society serta minimnya kontribusi partai
politik dalam melakukan sosialisasi dan pendidikan politik bagi pemilih.
Terkait evaluasi pemilu secara kelembagaan KPU juga melakukan evaluasi
diantaranya dengan memberikan penghargaan bagi KPU provinsi dan kabupaten/kota dalam
kegiatan KPU berprestasi. Secara nasional pada tahun 2014 memberikan pengharaan bagi
yang berprestasi dalam penyelengaraan Pileg dan Pilres 2014. Penghargaan itu diberikan
untuk kategori : kreasi sosialisai dan partisipasi, daftar pemilih berkualitas, penyelenggaraan
pemilu berintegritas, transpransi informasi pemilu, iklan layanan masyarakat kreatif, serta
pemilu akses46.
Di Provinsi Kepulauan Riau untuk KPU berprestasi tahun 2014, untuk kategori kreasi
sosialisai dan partisipasi dimenangkan oleh KPU Kota Tanjungpinang, kategori daftar pemilih
berkualitas dimenangkan oleh KPU Kabupaten Bintan, kategori penyelenggaraan pemilu
berintegritas pemenangnya KPU Kabupaten Natuna, transpransi informasi pemilu
pemenangnya KPU Kabupaten Bintan, iklan layanan masyarakat kreatif dimenangi oleh KPU
Kabupaten Karimun, sedang kategori pemilu akses tidak ada KPU kabupaten/kota yang
mengikutinya47.
Pada tahun 2016 KPU Provinsi Kepulauan Riau secara internal juga memberikan
penghargaan
dalam penyelengaraan pemilihan pemilihan gubernur dan wakil gubernur,
bupati dan wakil bupati serta walikota dan wakil walikota Provinsi Kepulauan Riau tahun
2015. Kategori yang diperlombakan kategori kreasi sosialiasi, iklan layanan masyarakat dan
partisipasi pemilihan yang diimenangkan oleh KPU Kabupaten Natuna, kategori daftar
pemilih berkualitas dimenangkan oleh KPU Kabupaten Lingga, kategori penyelenggaraan
pemilu berintegritas juga dimenangkan oleh KPU Kabupaten Lingga, kategori transparan
informasi pemilu pemenangnya KPU Kabupaten Karimun dan kategori pemilu akses
dimenangkan oleh KPU Kota Tanjungpinang48.
POTRET SOSIALISASI PEMILIHAN PILKADA SERENTAK 2015 DI PROVINSI
KEPULAUAN RIAU
46
PKPU No 32 tahun 2014 tentang Penghargaan dalam Penyelenggaran Pemilu, dalam pasal 4 ayat 2
Pengumuman hasil Penilaian Pemberian Perhargaan Kpu Kabupaten/Kota Provinsi Kepulauan Riau
Berprestasi Pada Pemilu Tahun 2014
48
Hasil Penilaian Pemberian Perhargaan KPU Kabupaten/Kota Provinsi Kepulauan Riau Berprestasi Pada
Pemilu Tahun 2015
47
922 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
Pada sub bahasan ini akan dideskripsikan tentang sosialisasi pemilihan pada pilkada serentak
di Provinsi Kepuluan Riau tahun 2015 di
Kabupaten Bintan, Kabupaten Lingga dan
Kabupaten Natuna. Tiga kabupaten ini dipilih dengan pertimbangan hanya tiga KPUD ini
yang ikut dalam penilai pemberian penghargaan KPU kabupaten/kota Provinsi Kepulauan
Riau berprestasi pada pemilihan gubernur dan wakil gubernur, bupati dan wakil bupati serta
walikota dan wakil walikota Provinsi Kepulauan Riau tahun 2015 pada kategori kategori
kreasi sosialiasi, iklan layanan masyarakat dan partisipasi pemilihan. Tulisan ini hanya
memfokuskan pada aspek sosialiasi pemilihan.
Dari tujuh indikator kategori kreasi sosialiasi, iklan layanan masyarakat dan partisipasi
pemilihan dalam pandangan penulis ada empat indikator yang secara langsung terkait dengan
sosialisasi pemilihan yaitu : intensitas sosialisasi, inovasi yang dilakukan dalam kegiatan
sosialisasi dan kretivitas sosialisasi, segmen sosialisasi (segmen sasaran), dan pelibatan ormas
dan civil society. Sementara itu indikator prosentase partisipasi pemilih, prosentase surat
suara tidak sah dan pelibatan penyandang disabilitas dalam peningkatan partisipasi tidak
digunakan dalam menganalisa sosialiasi pemilihan dalam pilkada serentak ini. Secara
terperinci data hasil penilaian pada indikator sosialisasi pemilihan ada pada tabel berikut ini
Tabel 2
Hasil Penilaian Perhargaan KPU Kabupaten/Kota Provinsi Kepulauan Riau
Berprestasi Pada Pilkada Tahun 2015 Pada Indikator Sosialiasi Pemilihan
Penilaian
No
Indikator
Intensitas
1.
Sosialisasi
Kurang
Sekali
0-5
2
Jumlah
Ratarata
Skor
1
1
KPUD
2
3
2.
3.
Kurang
Cukup
5-10,
15-20
4
5
Bintan
Lingga
Natuna
4
3
3
10
3.33
3
5
3
11
3,66
3
4
5
12
4
5.
4.Baik
Baik
Sekali
16-20
>20
Inovasi
Kretivitas
1.
Sosialisasi
Kurang
2.
3.
dan
Sekali
Kurang
Cukup
2.
3.
Kurang
Cukup
iklan
5.
4.Baik
Baik
Sekali
layan
masyarakat
3
Segmen
1.
Sosialisasi
Kurang
Sekali
5.
4.Baik
Baik
Sekali
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 923
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
4
Pelibatan
Ormas
1.
dan
Civil Society
Kurang
Sekali
2.
3.
Kurang
Cukup
5.
4.Baik
Baik
1
2
2
5
1.66
Sekali
Sumber : Penilaian Pemberian Perhargaan KPU Kabupaten/Kota Provinsi Kepulauan Riau
Berprestasi Pada Pemilu Tahun 2015
Berdasarkan data di atas untuk indikator intensitas sosialiasi dalam pilkada serentak di
Provinsi Kepulauan Riau tahun 2015 masuk pada kategori cukup dimana jumlah intensitas
kegiatan sosialisasi pemilihannya antara 15-20 kali. Jika ditelaah lebih dalam
kegiatan
sosialisasi pemilihan yang dilakukan oleh KPU Kabupaten Bintan itu dilakukan pada bulan
September 2015, KPU Kabupaten Lingga melaksanakan sosialisasi pemilihan pada Oktober
dan November 2015 sedangkan KPU Kabupaten Natuna dilakukan pada bulan November
201549. Sementara itu berdasarakan PKPU No 2 Tahun 2015 tentang Tahapan, Program Dan
Jadwal Penyelenggaraan Pemilihan Dalam Pemilihan Gubernur Dan Wakil Gubernur, Bupati
dan Wakil Bupati, dan/Atau Walikota dan Wakil Walikota , sudah dimulai sejak tanggal 18
Februari 2015.
Dari temuan ini terlihat bahwa aktivitas sosialiasi pemilihan ini dilakukan di Provinsi
Kepulauan Riau pada akhir tahun atau menjelang hari pemilihan tanggal 9 Desember 2015.
Sementara itu sosialiasi pemilihan itu esensinya adalah menyampaikan informasi tentang
tahapan dan program penyelenggaraan pemilihan. Maka dengan kondisi seperti ini efektifas
tujuan sosialisasi pemilihan akan berkurang. Salah satu faktor yang mendasarkan pelaksanaan
sosialisasi ini dilangsungkan pada akhir tahun adalah terkait dengan pola pemberian pendanan
ke KPU di daerah yang dilakukan dalam beberapa termen, sehingga harus mendahulukan
pembayaran pada tahapan atau kegiatan lainnya.
Untuk indikator inovasi kreativitas sosialisasi dan iklan layanan masyarakat secara
keseluruhan di Provinsi Kepulauan Riau juga masuk dalam kategori cukup. Hal yang menjadi
penilaian dari indikator ini adalah terkait variasi, bentuk, isi, konten dan materi yang
dipublikasikan. Secara keseluruhan
variasi, bentuk, isi, konten dan materi yang
dipublikasikan antar kabupaten/kota tidak jauh berbeda, pada pilkada serentak tahun 2015 di
Provinsi Kepuluan Riau Kabupaten Lingga yang masuk dalam kategori baik sekali dalam
49
Olahan Dokumen usulan penilaian KPU Kabupaten/Kota Berprestasi pada penyelenggaran Pemilihan
Gubernur Dan Wakil Gubernur Bupati Dan Wakil Bupati Kabupaten Natuna Provinsi Kepuluan Riau
Tahun 2015
924 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
indikator ini dimana salah satu kreavitas yag dilakukan adalah dengan menggunakan mobil
keliling dalam rangka melakukan sosialisasi.
Berdasarkan segmen sosialisasi atau kelompok sasaran secara keseluruhan masuk
dalam kategori baik atau segmen yang disasar antara 6-7 segmen. Di Kabupaten Lingga
segmen yang menjadi target sosialiasasi yaitu : pemilih pemula, tokoh masyarakat, pemuda
majelis taklim, kelompok marginal dan warga binaan di Lapas. Sedangkan di Kabupaten
Natuna segmen sasaran adalah dari unsur pemerintah, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh
pemuda, tokoh perempuan, mahasiswa dan pemilih pemula. Dan di Kabupaten Bintan yang
menjadi target sosialiasinya adalah RT/WR, tokoh masyarakat, pasien rumah sakit, pemilih
pemula, dan pemilih perempuan.
Berdasarkan PKPU No 5 Tahun 2015 tentang Sosialisasi dan Partisipasi Masyarakat
dalam Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, dan/atau Walikota
dan Wakil Walikota ada 11 kelompok sasaran yang harus menjadi target yaitu : masyarakat
umum, pemilih pemula meliputi remaja, pemuda, pelajar, dan mahasiswa, tokoh masyarakat
dan/atau pemuka adat,
kelompok media massa,
partai politik,
Pemilihan Dalam Negeri dan Pemantau Pemilihan Asing,
organisasi keagamaan,
kelompok adat,
instansi pemerintah,
pengawas, Pemantau
organisasi kemasyarakatan,
dan/atau pemilih dengan
kebutuhan khusus.
Dari 11 segmen tersebut yang belum Nampak menjadi sasaran oleh KPU
kabupaten/kota di Provinsi Kepulauan Riau dalam melakukan sosialisasi yaitu kelompok
media massa, partai politik, pengawas, Pemantau Pemilihan Dalam Negeri dan Pemantau
Pemilihan Asing serta pemilih dengan kebutuhan khusus. Kedepan semua segmen ini harus
menjadi target bagi oleh KPU kabupaten/kota di provinsi Kepulauan Riau dalam elakukan
sosialisasi pemilihan.
Sedangkan untuk indikator pelibatan ormas dan civil society dalam proses sosialiasi
pemilihan. Pada indikator ini kurang sekali, berarti jumlah kerjasama dengan ormas dan civil
society dalam proses sosialisasi pemilihan dibawah 3. Secara faktual tidak ada satupun KPU
kabupaten/kota di Provinsi Kepulauan Riau di Provinsi Kepulauan Riau yang melakukan
kerjasama secara tertulis dengan ormas dan civil society pada pilkada serentak tahun 2015.
Sebagian besar civil society
yang terlibat dalam proses sosialisasi pada pilkada adalah
mahasiswa yang sedang melakukan Kuliah Kerja Nyata.
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 925
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
PENUTUP
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa dari empat indikator yang terkait
dengan sosialisasi pemilihan hanya indikator segmen sosialisasi yang masuk dalam kategori
baik, sedangkan untuk indikator intensitas sosialisasi dan indikator inovasi kreativitas
sosialisasi dan iklan layanan masyarakat masuk dalam kategori cukup, sedangkan indikator
pelibatan ormas dan civil society masuk dalam ketegori kurang sekali. Maka dari empat
indikator ini yang perlu menjadi perhatian utama oleh KPUD di Provinsi Kepulauan Riau
adalah pada pelibatan ormas dan civil society dan perlu meningkatkan intensitas sosialisasi
dan inovasi kreativitas sosialisasi dan iklan layan masyarakat.
Penulis menyarankan pertama, kepada KPU dan Pemerintah daerah untuk
mengangarkan dana sosialisasi setiap tahunnya dalam rangka meningkatkan pengetahuan
pemilih. Kedua, pada KPUD di Provinsi Kepulauan Riau harus meningkatkan kerjasama
dengan berbagai stake holder, perguruan tinggi, ormas dan civil society dalam rangka
melakukan kerjasama untuk melakukan sosialisasi pemilihan.
DAFTAR PUSTAKA
Banwaslu, Buletin edisi 12 Desember 2014 Evaluasi Pilpres 2014 Untuk Masa Depan Pemilu
Berkualitas
Dokumen usulan penilaian KPU Kabupaten/Kota Berprestasi pada penyelenggaraan
Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Natuna
Provinsi Kepuluan Riau Tahun 2015
Hasil Penilaian Pemberian Perhargaan KPU Kabupaten/Kota Provinsi Kepulauan Riau
Berprestasi Pada Pemilu Tahun 2015
Lembaga Penelitian Pendidikan Penerangan Ekonomi Sosial (LP3ES), Laporan Evaluasi
Pemilu 2014
PKPU No 32 tahun 2014 tentang Penghargaan Dalam Penyeleggaran Pemilu
PKPU No 5 Tahun 2015 tentang Sosialisasi dan Partisipasi Masyarakat dalam Pemilihan
Gubernur Dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, dan/atau Walikota dan Wakil
Walikota
926 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
HARMONI SUNGAI DAN MANUSIA DALAM TRADISI MERTI CODE
Politik Pelestarian Sungai Berbasis Kearifan Lokal di Yogyakarta50
Suswanta
Prodi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
ABSTRAK
Tulisan ini bermaksud menjelaskan bagaimana konsep harmoni sungai dan manusia yang
terkandung dalam tradisi Merti Code di Yogyakarta dan berbagai aksi pelestarian sungai Code
yang dilakukan masyarakat. Harmoni sungai dan kehidupan manusia adalah kunci
keberhasilan pelestarian sungai. Melalui konsep tersebut manusia akan menyadari arti penting
keberadaan sungai bagi kehidupan. Buah dari kesadaran tersebut, manusia akan senantiasa
menjaga, merawat dan melestarikan sungai. Merti Code adalah politik budaya untuk
membangun sungai. Sebuah tradisi, yang bukan hanya sekedar seremoni dan hura-hura, tetapi
juga konsep budaya berikut aksi nyata pelestarian sungai. Tradisi budaya yang tidak
menempatkan masyarakat hanya sebagai obyek kesadaran, melainkan juga sebagai subyek
yang ikut berperan dalam melestarikan sungai. Merti Code telah mengembangkan makna
sungai tidak hanya dalam kalkulasi ekonomi semata, tetapi sebagai sumberdaya yang
memberi kehidupan melalui proses sakralisasi. Dibalik konsepsi keyakinan yang tertuang
dalam mitos dan upacara adat yang dianggap sakral, terkandung nilai kearifan lokal yang
berfungsi sebagai mekanisme kontrol terhadap pelestarian sungai. Sungai yang lestari terbukti
mampu memberi manfaat ekologis yang besar bagi masyarakat. Merti Code dapat menjadi
spirit berkembangnya paradigma baru dalam membangun kebijakan pelestarian sungai secara
berkelanjutan.
Kata kunci : Merti Code, Tradisi Budaya, Kearifan Lokal dan Pelestarian Sungai
PENDAHULUAN
Tulisan ini bermaksud menjelaskan konsep harmoni sungai dan manusia dalam tradisi Merti
Code serta berbagai aksi pelestarian sungai yang dilakukan oleh masyarakat sempadan sungai
Code di Yogyakarta. Konsep harmoni sungai dan manusia adalah kunci keberhasilan
pelestarian sungai. Sungai adalah alur atau wadah air alami dan/atau buatan berupa jaringan
pengaliran air beserta air di dalamnya, mulai dari hulu sampai muara, dengan dibatasi kanan
dan kiri oleh garis sempadan. Tanpa konsep harmoni dengan sungai, manusia tidak akan
memahami dan menghargai sungai sebagai jalan air. Sungai justru dianggap sebagai tempat
praktis dan strategis untuk membuang semua kotoran, baik berupa sampah maupun air limbah
dari rumah tangga dan industri.
50
Judul Makalah Semnas dan Call Paper di FisipUnmuh Ponorogo, Sabtu, 9 April 2016
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 927
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
Akibat tumpukan sampah, sungai mengalami sedimentasi dan aliran air menjadi
terhalang sehingga berpotensi banjir di musim penghujan. Timbunan sampah yang membusuk
di air akan mengeluarkan bau busuk. Genangan air sungai yang tidak mengalir akan menjadi
sarang nyamuk. Air limbah yang mengandung bahan kimia menyebabkan pencemaran air
sungai dan matinya ekosistem sungai. Flora dan fauna sungai menjadi rusak, hanya enceng
gondok yang dapat tumbuh di air yang tercemar, namun keberadaannya justru memperparah
kerusakan sungai. Kerusakan sungai akibat perilaku salah masyarakat pada akhirnya juga
akan berakibat fatal kepada masyarakat itu sendiri.
Dengan demikian, dibutuhkan perubahan paradigma dalam memandang sungai.
Sungai bukanlah wadah untuk membuang segala kotoran, akan tetapi sumberdaya yang dapat
memberi kehidupan. Sungai yang kotor dan tidak sehat akan menurunkan kualitas lingkungan,
sementara sungai yang bersih dan sehat akan meningkatkan kualitas lingkungan dan
kehidupan masyarakat. Bertolak dari perspektif ini, tradisi Merti Code atau merawat sungai
Code menjadi sangat relevan untuk dikaji. Merti Code adalah politik pelestarian sungai
berbasis kearifan lokal masyarakat yang terbukti mampu membangun kesadaran masyarakat,
khususnya sempadan sungai
untuk merawat dan melestarikan sungai berkelanjutan.
Kesadaran masyarakat sempadan sungai perkotaan yang tergerak untuk melestarikan sungai
masih merupakan sesuatu yang sulit ditemui di Indonesia (Kementerian Pekerjaan Umum,
2005).
Kemunculan gerakan sosial atau gerakan penyelamatan lingkungan berbasis warga
(citizen centered) di kawasan perkotaan dapat dilihat sebagai reaksi atau kritik dari kelompok
masyarakat terhadap kelambanan institusi pemerintah dalam menyediakan atau memfasilitasi
apa yang seharusnya menjadi kewajiban pemerintah sebagai pembuat kebijakan pengelolaan
lingkungan. Di sisi lain, juga dapat menjadi peringatan (warning) bagi pemerintah dan
stakeholders agar melakukan perubahan paradigma terkait dengan pengelolaan lingkungan
kawasan perkotaan. Penanganan permasalahan lingkungan di kawasan perkotaan tidak akan
efektif jika hanya ditangani oleh masyarakat saja. Penanganan tersebut juga harus melibatkan
pemerintah kota. Pemerintah kota adalah pihak yang berwenang membuat kebijakan atau
peraturan daerah dalam rangka penataan dan penanganan lingkungan.
Berikut ini akan dijelaskan relasi konsep Hamemayu Hayuning Bawono dengan tradisi
Merti Code,
konsep harmoni sungai dan manusia dalam tradisi Merti Code serta aksi
pelestarian sungai yang dilakukan oleh masyarakat sempadan sungai Code.
928 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
RELASI KONSEP HAMEMAYU HAYUNING BAWONO DENGAN TRADISI
MERTI CODE
Unsur-unsur budaya Jawa yang intagible yang masih terpelihara di Yogyakarta adalah nilainilai luhur (value) dan keyakinan-keyakinan (beliefs) yang digunakan sebagai pedoman
perilaku atau adat untuk menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi. Nilai luhur sekaligus
konsep filosofis Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) adalah Hamemayu Hayuning Bawono.
Berkaitan dengan konsep filosofis DIY tersebut, Sri Sultan Hamengkubuwono (2009)
menjelaskan bahwa :
“Kata hayu berasal dari kata rahayu yang secara harafiah berarti selamat. Konsep
tersebut sejalan dengan prinsip keselarasan dalam masyarakat Jawa. Dalam wacana
masa kini, konsep tersebut secara universal diartikan sebagai nilai-nilai yang
menjamin keselamatan alam semesta yang lestari dan berkelanjutan dalam satu
kesatuan ekosistem yang bertumpu pada keputusan generasi sekarang, yang juga
dibutuhkan untuk kemanfaatan generasi yang kemudian. Selanjutnya dijelaskan bahwa
konsep rahayu hanya bisa dimaknai manakala kita melihat alam bukan sebagai obyek
eksploitasi. Alam harus dipandang sebagai subyek, berdampingan dengan manusia
sebagai subyek lainnya. Alam adalah tetangga kita, perilaku yang tidak bijak kepada
tetangga, akhirnya juga akan berdmpak balik yang merugikan kita sendiri juga.
Secara harfiah arti Hamemayu Hayuning Bawono adalah membuat dunia menjadi
hayu (indah) dan rahayu ( selamat dan lestari). Konsep luhur ini merupakan salah satu nilai
budaya Jawa yang masih melekat pada kehidupan masyarakat Yogyakarta sampai sekarang
(Yuwono Sri Suwito, 2005). Kandungan makna yang lebih dalam dari konsep tersebut adalah
sikap dan perilaku manusia yang senantiasa mengutamakan harmoni, keselarasan, keserasian
dan keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhannya (hablum minallah), manusia
dengan sesama manusia (hablum minannas) dan manusia dengan lingkungannya.
Muara dari sikap Hamemayu Hayuning Bawono ini adalah terwujudnya negari
panjang punjung pasir wukir gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja. Makna dari
ungkapan tersebut adalah negari panjang punjung ( negara yang berdaulat, disegani dan
namanya harum), pasir wukir (luas, memliki samudra dan gunung atau kekayaan alam yang
besar), gemah ripah loh jinawi (ramai perniagaan dan banyak dikunjungi karena subu r serta
terjangkau semua yang dibeli), tata tenterem ( masyarakatnya tertata- taat hukum- dan
tenteram) dan kerta raharja (masyarakatnya tekun bekerja dan aman dari kejahatan). Sebuah
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 929
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
gambaran negara yang penuh kebajikan dan dilindungi Tuhan, sehingga kehidupan
masyarakatnya aman, tenteram, damai, sejahtera dan adil (baldatun tayyibatun wa rabbun
ghafur).
Merti Code (merawat sungai Code) adalah salah satu manifestasi nilai-nilai budaya
Jawa secara simbolis yang masih dilestarikan masyarakat. Dengan kata lain, Merti Code
adalah salah satu manifestasi konsep Hamemayu Hayunung Bawono yang terkait dengan
pelestarian lingkungan. Sebuah konsep yang menekankan pentingnya membangun harmoni
atau keselarasan dengan alam. Merti Code adalah kegiatan budaya dari masyarakat yang
dianggap kumuh, miskin dan tidak dapat mengelola lingkungan. Melalui tradisi ini,
masyarakat sempadan sungai Code ingin membuktikan bahwa mereka memiliki potensi seni
budaya dan potensi mengelola air sungai. Hal ini bermakna mereka mampu memetri atau
merawat kebersihan sungai Code setiap hari.
FUNGSI DAN MAKNA SUNGAI DALAM TRADISI BUDAYA MERTI CODE
Sungai merupakan sumberdaya alam penting yang dapat menopang fungsi kehidupan semua
mahluk hidup. Salah satu yang paling penting adalah ketersediaan air yang mampu menarik
semua organisme untuk hidup tidak jauh darinya. Sejarah menunjukkan bahwa perkembangan
manusia dan kebudayaan manusia tidak bisa dilepaskan dari keberadaan sungai. Sungai
sangat berperan untuk transportasi, sumber bahan makanan baik untuk hewan atau tumbuhan
sekitarnya. Sungai menjadi titik perkembangan peradaban suatu bangsa. Sebagaimana sungai
yang lain, sungai Code juga memiliki peran dan fungsi penting bagi kehidupan manusia.
Code adalah sungai di bagian timur Kesultanan Yogyakarta yang digunakan untuk
pertanian dan pengairan.Sungai Code adalah salah satu sungai penting bagi perkembangan
kota Yogyakarta. Sungai ini membelah kota Yogyakarta sepanjang 42 km dan berhulu di
gunung Merapi melalui tiga wilayah administratif (Sleman, Yogyakarta dan Bantul), melewati
6 kecamatan, 14 kelurahan, 66 Rukun Warga (RW), 17.000 Kepala Keluarga (KK), hilir
sungai Code menuju Bantul (Laut Selatan). Pada era tahun 1960-1970 an, sungai Code
memiliki fungsi penting sebagai sumberdaya air, material, fungsi ekonomi, ekologi, rekreasi
dan sosial. Dengan kata lain, sungai Code menjadi sumber kemakmuran bagi warga
sekitarnya. Aktifitas cuci, mandi, bercocok tanam, mencari ikan, berkumpul, bermusyawarah
dan rekreasi dilakukan oleh warga secara bersama-sama di sungai Code. Pohon besar yang
ada di sempadan sungai, tidak hanya menjadi peneduh, tetapi juga pembatas. Di bawah
pohon tersebut terasa sejuk, rindang dan menjad tempat berkembang biaknya berbagai jenis
930 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
ikan. Sekitar pohon juga terdapat sumber mata air (belik) yang menjadi sumber mata air
warga untuk memasak atau mandi. Dilandasi konsep Hamemayu Hayuning Bawono, warga
menjaga harmoni dengan sungai. Warga senantiasa menjaga kebersihan sungai dengan tidak
membuang kotoran apapun ke sungai dan tidak mengeksploitasi sungai.
Sebelum ada tradisi budaya Merti Code, masyarakat sempadan sungai Code sudah
melakukan Ruwatan Bumi setiap 1 Syuro penanggalan Jawa. Ruwatan tersebut dalam bentuk
tirakatan (kenduri) dengan menggelar pertunjukkan wayang kulit. Pada cara kenduri, selain
acara makan bersama juga disediakan sesaji yang merupakan pengantar doa manusia kepada
Sang Pencipta. Sesaji adalah satu bentuk materi yang digunakan sebagai sarana simbolis
bersyukur kepada Sang Pencipta sekaligus permohonan keselamatan agar terhindar dari
bencana. Di dalam sesaji terdapat perangkat lain seperti bunga, kemenyan, dan rokok kretek.
Sesaji tersebut diletakkan di pinggir sungai Code dan dibiarkan beberapa hari. Tidak ada
seorangpun yang berani mengambil atau merusak sesaji tersebut. Tujuan dari kegiatan
Ruwatan Bumi adalah menghindari wabah penyakit dan bencana seperti banjir lahan dingin
Merapi.
Akan tetapi kegiatan ruwatan tersebut berhenti akibat terjadinya peristiwa G 30 S PKI.
Ada beberapa tokoh warga sempadan sungai Code yang ditangkap dengan alasan terlibat
dalam gerakan tersebut. Tradisi Merti Code baru dimulai tahun 2001. Saat itu hanya ada dua
kampung yang menyelenggarakan yaitu Jetisharjo dan Terban. Pada tahun
2003, pihak
keraton Yogyakarta mengakui Merti Code sebagai kegiatan budaya yang hidup di masyarakat.
Pengakuan tersebut ditandai dengan memberikan tombak Kyai Ranumurti yang berasal dari
kesatuan prajurit Patang Puluhan. Tombak tersebut sebagai lambang “wakil” pihak keraton
untuk silaturrahim dengan warga sekaligus restu atas penyelenggaraan tradisi Merti Code.
Pada tahun 2003 ini, perayaan tradisi Merti Code meluas tidak hanya beberapa kelurahan di
kota Yogyakarta, akan tetapi juga meliputi beberapa wilayah kabupaten Sleman yang dilewati
sungai Code, yaitu padusunan Pogung, Sendowo, Blunyah, Karangjati dan Gemawang.
Perayaan tradisi Merti Code paling meriah terjadi pada tahun 2005. Perayaan tradisi tersebut
berlangsung selama satu bulan dengan berbagai macam acara, yaitu pasar malam, membuat
sungai Code menjadi arena memancing dan berbagai lomba di atas sungai Code. Perayaan
Merti Code pada tahun 2006 berlangsung dalam suasana duka seiring dengan gempa tektonik
yang melanda Daerah Istimewa Yogyakarta. Selanjutnya, perayaan tradisi Merti Code
dilakukan setiap tahun.
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 931
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
Merti Code sebagai tradisi memetri atau merawat sungai, memiliki tiga fungsi, yaitu
spiritual, sosial dan pelestarian lingkungan sungai (Suparwoko, 2010). Fungsi spiritual
memberikan gambaran hubungan manusia dengan Tuhan (hablum minnallah). Upaya
pelestarian sungai harus dilandasi kesadaran bahwa sungai diciptakan Tuhan untuk
kepentingan manusia, sehingga harus senantiasa dijaga. Sementara itu fungsi sosial bermakna
pelibatan individu-individu warga masyarakat yang memiliki kepentingan, kepercayaan dan
keyakinan yang sama dalam tradisi tersebut (hablum minannas). Hal ini akan menumbuhkan
kerukunan sosial sehingga menciptakan ketenangan, ketenteraman, dan kesejahteraan hidup
bersama. Dibalik konsepsi keyakinan yang tertuang dalam tradisi merawat sungai ini
terkandung kearifan lokal (local wisdom) yang memiliki fungsi sebagai mekanisme kontrol
terhadap pengelolaan lingkungan sungai secara efektif. Inilah makna dari fungsi ketiga yaitu
pelestarian lingkungan fisik atau alam.
AKSI PELESTARIAN SUNGAI DALAM TAHAPAN MERTI CODE
Prosesi acara dalam tradisi Merti Code meliputi Bersih Kampung, Tuk Pitu dan Kirab
(Prasetyo, 2008). Tahap pertama dari prosesi acara Merti Code adalah Bersih Kampung.
Bersih Kampung adalah kegiatan bersama masyarakat secara gotong royong untuk
membersihkan rumah-pemukiman yang menjadi tempat tinggal mereka, daerah sempadan
sungai Code, sungai Code itu sendiri dan sumber mata air. Bersih sungai berfungsi untuk
menarik simpati sekaligus partisipasi warga masyarakat untuk membersihkan lingkungan
sendiri, yaitu mulai dari rumah masing-masing warga, kemudian ke fasilitas umum yaitu
daerah sempadan, sungai Code beserta sumber mata airnya. Tahapan pertama dari acara Merti
Code ini memberi pemahaman agar setiap warga masyarakat memaknai kembali air sungai
Code dalam kehidupan mereka. Bersih kampung merupakan tindakan langsung dari
pemahaman yang benar tentang makna dan arti penting sungai untuk kehidupan dan
kemakmuran warga selama ini. Aktifitas nyata dan langsung tersebut lebih mendekatkan
kembali warga terhadap makna pelestarian dan pemeliharaan terhadap lingkungan.
Tahapan kedua dari upacara tradisi Merti Code adalah ritual pengambilan air di tujuh
mata air (ritual Tuk Pitu). Pengambilan air di mata air juga dibarengi dengan membersihkan
atau memperbaiki bak mata air dan lingkungan sekitarnya. Aktivitas selanjutnya adalah
ruwatan sungai dan pertunjukkan wayang kulit. Sakralisasi terhadap sumber mata air tidak
dimaksudkan untuk memberikan kesan mistis dan menciptakan ketakutan bagi warga, akan
tetapi dimaksudkan agar warga lebih berhati-hati dan bersungguh-sungguh menjadi sumber
932 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
mata air. Jika sumber mata air tetap terjaga maka ketersediaan air bersih akan selalu ada.
Ritual pengambilan air dimaksudkan untuk memberi penghormatan kepada air sebagai simbol
meminta pertolongan dan perlindungan dari Tuhan Yang Maha Esa sekaligus membangun
kesadaran bersama mengenai pentingnya menjaga kelestarian dan keberlangsungan sumbersumber mata air. Sumber-sumber mata air telah memberi kehidupan bagi masyarakat,
khususnya yang tinggal di sempadan sungai.
Adapun tahap ketiga adalah kirab dan rayahan. Kirab dan rayahan adalah kegiatan
terakhir dalam acara tradisi Merti Code. Pasukan kirab membawa air dari tujuh sumber yang
telah disucikan beserta gunungan boga untuk dibagikan kepada warga masyarakat. Pasukan
kirab berasal dari masyarakat di daerah sempadan sungai dan berbagai kelompok kesenian
yang ada di kota Yogyakarta. Adapun rayahan adalah simbol dari rasa syukur dengan
memperebutkan air dan gunungan boga sebagai sumber kehidupan dan kemakmuran yang
harus senantiasa dijaga kelestariannya.
Ketiga tahapan dan aksi pelestarian sungai dalam tradisi Merti Code dapat
sederhanakan dalam bagan berikut ini :
Bagan 1.1 Tahapan dan Aksi Pelestarian Sungai Dalam Tradisi Merti Code
KESIMPULAN
Tradisi Merti Code merupakan salah satu manifestasi konsep Hamemayu Hayuning Bawono.
Sebuah konsep luhur yang mementingkan harmoni antara alam (sungai) dan manusia. Sungai
dimaknai sebagai sumberdaya yang harus dijaga kelestariannya dan tidak dieksploitasi.
Harmoni antara sungai dan manusia akan membuat sungai menjadi sehat dan tidak rusak.
Sungai yang sehat akan memberi manfaat besar kepada warga masyarakat sempadan sungai,
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 933
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
baik secara ekonomi, ekologi maupun sosial. Dengan demikian sungai akan memberi
kemakmuran dan kesejahteraan bagi kehidupan manusia. Sebaliknya sungai yang tidak dijaga
akan menjadi tidak sehat dan rusak. Kerusakan sungai akibat perilaku manusia akan
membawa akibat buruk bagi manusia itu sendiri. Merti Code dengan ketiga tahapannya
bertujuan untuk mengumpulkan banyak orang untuk menyelesaikan persoalan bersama
melalui gotong royong. Konsep gotong royong dibangun kembali melalui berbagai kegiatan
pelestarian lingkungan sungai. Ritual penghormatan terhadap air bermakna agar manusia
menghargai air dan menjaga kelestariannya. Air bersih adalah sarana vital bagi kehidupan
manusia. Merti Code sebagai politik pelestrian sungai berbasis kearifan lokal telah memberi
inspirasi bagi mereka yang ingin melestarikan sungai secara berkelanjutan.
REFERENSI
Nugroho, Yuli Prasetyo ((2008). Makna Sungai dan Praktek Pengelolaan Lingkungan
Melalui Pendekatan Budaya. Tesis. Universitas Indonesia. Jakarta
Purba, Jonny (2002) Bunga Rampai Kearifan Lingkungan. Kementerian Lingkungan Hidup
Republik Indonesia. Jakarta
Rahmat, P.S. (2009). Memupuk Institusi Lokal dan Modal Sosial dalam kehidupan
Bermasyarakat. Universitas Kuningan. Kuningan
Suseno, Franz Magnis. 2003. Etika Jawa. Sebuah Analisa Falsafati Tentang Kebijaksanaan
Hidup Orang Jawa. Gramedia, Jakarta
Suhartini et.all. Kearifan Lingkungan Masyarakat Dalam Mengelola Sumberdaya Alam dan
Lingkungan Sungai Boyong Bagian Hulu dan Sungai Code. Makalah Seminar Nasional
Pembangunan Berkelanjutan di Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo : Membangun
Sinergi antara Daya Dukung, Program Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat.
Universitas Muhammadiyah Surakarta. Surakarta. 19 Juni 2014
Sri Sultan Hamengku Buwono X (2009). Pengelolaan Lingkungan Berbasis Budaya. Bahan
Kuliah Umum Program Pascasarjana Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada.
Yogyakarta. 23 November 2009
Setiawan, B. (2006). Pembangunan Berkelanjutan dan Kearifan Lingkungan : Dari Ide ke
Gerakan. PPLH Regional Jawa. Kementerian Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia.
Yogyakarta
Sri Suwito, Yuwono. Pelestarian Warisan Budaya Jawa dan Lingkungan Hidup Untuk
Mendukung Industri Pariwisata di Daerah Istimewa Yogyakarta. Simposium Lingkungan
Hidup dan Pariwisata Dalam Rangka Memperingati 20 Tahun Kerjasama Provinsi DIY
Dengan Kyoto-Perfecture. Jepang. Yogyakarta. 18-19 Juli 2005
Suparwoko. 2010. Analisis Sumber Daya Sungai Code Sebagai Basis Wisata Alam di
Kawasan Perkotaan Yogyakarta. Research Gate Uiversitas Islam Indonesia.
934 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
KEARIFAN LOKAL SEBAGAI BASIS KOMUNIKASI PEMERINTAH DALAM
MENGATASI KONFLIK SOSIAL DAN KOMUNAL
Komunikasi dan Kearifan Lokal
Ansar Suherman
Universitas Muhammadiyah Buton
Jl. Betoambari No. 36 Kelurahan Lanto Kecamatan Betoambari Kota Baubau Provinsi
Sulawesi Tenggara
[email protected]
ABSTRAK
Perhatian pemerintah yang lebih tertuju pada pembangunan fisik dengan mengabaikan nilainilai kearifan lokal mengakibatkan bangsa Indonesia mulai mengalami pergeseran tata nilai
kehidupannya serta hilangnya karakter sebagai bangsa yang berbudaya. Terabaikannya nilainilai kearifan lokal berujung pada hilangnya semangat kebersamaan yang menjadi ciri bangsa
Indonesia serta ancaman hilangnya kelestarian budaya yang ada disetiap daerah di nusantara.
Hilangnya semangat kebersamaan dan persaudaraan menjadi bibit lahirnya konflik dan
disintegrasi. Ancaman konflik horizontal disetiap daerah di Indonesia sangat rentan terjadi
setiap saat.Mulai dari konflik SARA, konflik elite akibat dari pertarungan suksesi politik
dalam semua tingkatan suksesi, dan konflik sektarianisme. Meskipun Polri menegaskan
bahwa ada penurunan drastis jumlah konflik di Indonesia sejak tahun 2010 sampai 2014,
sebesar 60,4%, namun fakta menunjukkan bahwa konflik adalah bahaya laten yang dapat
terjadi kapanpun. Apalagi, Indonesia adalah negara majemuk yang terdiridari berbagai suku
dan budaya. Konflik yang terjadi salahsatunya diakibatkan ketidakmampuan pemerintah
dalam mengelola potensi konflik melalui pembangunan komunikasi berbasis kearifan lokal.
Konflik umumnya sangat potensial terjadi di daerah yang sedang menuju kota besar atau
daerah yang menjadi tujuan berinvestasi. Sehingga seorang pemimpin dituntut memiliki
communication skill terkait dengan seluruh bagian-bagian dalam kehidupan masyarakat di
wilayahnya. Banyaknya konflik yang terjadi di suatu daerah mengindikasikan bahwa
komunikasi yang berlandaskan kearifan lokal oleh kepala daerah kepada masyarakatnya
belum secara maksimal atau bahkan tidak dilakukan. Penyertaan nilai kearifan lokal dalam
membangun komunikasi dengan semua pihak akan membantu mencari solusi terhadap
penanganan dan pencegahan konflik sehingga pembangunan dapat berjalan lancar yang
berujung pada perubahan menuju masyarakat yang modern tanpa kehilangan identitas
lokalnya.
Kata Kunci: Kearifan Lokal, Komunikasi, Pemerintah Daerah, Konflik.
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara yang terangkai oleh 13.466 pulau dari Sabang sampai Merauke
dari Timor sampai pulau Rote yang keseluruhannya memiliki kekayaan sumber daya alam
dan sumber daya manusia yang melimpah dengan pemilik suku bangsa terbanyak di dunia
yakni berjumlah 13.000 lebih suku bangsa. Kekayaan sumber daya alam dan bonus surplus
demografis tidak hanya sebagai keuntungan dalam mempercepat roda pembangunan namun
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 935
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
juga dapat menjadi rintangan atau permasalahan bagi pemerintah daerah dan pemerintah pusat
dalam mengatasi berbagai macam persoalan sosial, ekonomi, dan politik yang dapat
menghambat proses pembangunan dan dalam upaya mewujudkan tata pemerintahan yang
baik (good governance). Dengan kekayaan sumber daya alam dan sumber daya manusia,
seharusnya bangsa kita telah menjadi negara maju yang besar. Sebagai bangsa yang majemuk
dan besar, Pemerintah dituntut untuk memiliki kemampuan lebih dalam mewujudkan dan
mempraktekkan good governance. Terlebih Indonesia selalu berada dalam bayang-bayang
konflik sosial dan komunal (konflik sosial, SARA, konflik politik, konflik ekonomi, dan lainlain) yang terus terjadi setiap tahunnya.
Sebagai langkah antisipatif pemerintah, maka strategi komunikasi yang efektif mesti
dijalankan dengan memadukan nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom) masyarakat setempat.
Kegagalan komunikasi antara pemerintah dan masyarakatnya umumnya disebabkan oleh
ketidakpekaan pemerintah dalam membangun komunikasi yang berbasis local wisdom
tersebut. Pendekatan yang diambil pemerintah lebih cenderung pragmatis dan sepihak
terutama dalam proses pembangunan sehingga suara-suara protes dan gerak perlawanan
rakyat kerap terjadi yang disebabkan kepentingan masyarakat tidak terakomodir dan bahkan
nilai-nilai sosial masyarakat setempat terabaikan.
Komunikasi pemerintahan yang efektif dengan berbasiskan kearifan lokal hanya
mampu dipraktekkan oleh pemimpin daerah yang memiliki kemampuan komunikasi dengan
berlandaskan pada cara pandang hidup dan berbagai aktifitas masyarakat dalam pemenuhan
setiap persoalan dan kebutuhan masyarakat lokal. Singkatnya, kearifan lokal adalah hal yang
bersangut paut dengan local culture.
TINJAUAN PUSTAKA
1. Kearifan lokal
Kearifan lokal dapat didefinisikan sebagai suatu kekayaan budaya lokal yang
mengandung kebijakan hidup; pandangan hidup (way of life) yang mengakomodasi
kebijakan (wisdom) dan kearifan hidup. Di Indonesia—yang kita kenal sebagai
Nusantara—kearifan lokal itu tidak hanya berlaku secara lokal pada budaya atau etnik
tertentu, tetapi dapat dikatakan bersifat lintas budaya atau lintas etnik sehingga
membentuk nilai budaya yang bersifat nasional. Sebagai contoh, hampir di setiap
budaya lokal di Nusantara dikenal kearifan lokal yang mengajarkan gotong royong,
toleransi, etos kerja, dan seterusnya. Pada umumnya etika dan nilai moral yang
936 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
terkandung dalam kearifan lokal diajarkan turun-temurun, diwariskan dari generasi ke
generasi melalui sastra lisan (antara lain dalam bentuk pepatah dan peribahasa,
folklore), dan manuskrip.
Walaupun ada upaya pewarisan kearifan lokal dari generasi ke generasi, tidak
ada jaminan bahwa kearifan lokal akan tetap kukuh menghadapi globalisasi yang
menawarkan gaya hidup yang makin pragmatis dan konsumtif. Secara faktual dapat
kita saksikan bagaimana kearifan lokal yang sarat kebijakan dan filosofi hidup nyaris
tidak terimplementasikan dalam praktik hidup yang makin pragmatis.
Boni Hargens (2011) dalam tulisannya di Kompas menyatakan bahwa arus
modernisasi, liberalisasi, dan globalisasi semestinya tidak meniadakan suatu negara
jatuh dalam
percaturan global asal saja negara tersebut ditopang oleh identitas
nasional yang kuat, tetapi juga didukung oleh ideologi dan kepemimpinan politik yang
kuat.
Selain etika moral yang bersumber pada agama, di Indonesia juga terdapat
kearifan lokal yang menuntun masyarakat kedalam hal pencapaian kemajuan dan
keunggulan, etos kerja, serta keseimbangan dan keharmonisan alam dan sosial. Kita
mengenal pepatah ”gantungkan cita-citamu setinggi bintang di langit”, “bersakit-sakit
dahulu
bersenang-senang
kemudian”
yang
mengimplikasikan
ajakan
untuk
membangun etos kerja dan semangat untuk meraih keunggulan. Dalam hal
keharmonisan sosial dan alam, hampir semua budaya di Indonesia mengenal prinsip
gotong royong dan toleransi. Dalam suku tertentu yang bermukim di pedalaman juga
dikenal kearifan lokal yang bersifat menjaga dan melestarikan alam sehingga alam
(misalnya kayu di hutan) hanya dimanfaatkan seperlunya, tidak dikuras habis.
Menurut Rahyono, kearifan lokal merupakan kecerdasan manusia yang
dimilikioleh kelompok etnis tertentu yang diperoleh melalui pengalaman masyarakat.
Artinya, kearifan lokal adalah hasil dari masyarakat tertentu melalui pengalaman
mereka dan belum tentu dialami oleh masyarakat yang lain. Nilainilai tersebut akan
melekat sangat kuat pada masyarakat tertentu dan nilai itu sudah melalui perjalanan
waktu yang panjang, sepanjang keberadaan masyarakat tersebut.
2. Komunikasi
Dalam pengertian umum komunikasi adalah hubungan dan interaksi yang terjadi
antara dua orang atau lebih. Interaksi itu terjadi karena seseorang menyampaikan
pesan dalam bentuk lambang-lambang tertentu, diterima oleh pihak lain yang menjadi
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 937
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
sasaran, sehingga sedikit banyak mempengaruhi sikap dan tingkah laku pihak
dimaksud. Anggota masyarakat melakukan komunikasi ini secara terus menerus. Oleh
karena itu, dapat dipahami, komunikasi merupakan kegiatan yang dilakukan oleh
semuan anggota masyarakat dimanapun dan kapan pun.
Gambaran ini memberikan bahwa objek studi ilmu komunikasi ini adalah
komunikasi yang terjadi di masyarakat. Berhubung objek tersebut mencakup
masyarakat yang luas, maka titik berat perhatian ilmu komunikasi mencakup
komunikasi antarpribadi atau komunikasi langsung/tatap muka, yang mencakup
komunikasi melalui media massa termasuk persentuhan dunia komunikasi dengan
dunia pemerintahan.
3. Konflik sosial
Konflik berasal dari kata kerja latin configure, yang berarti saling memukul, yang
dimaksud dengan konflik sosial adalah salah satu bentuk interaksi sosial antara satu
pihak dengan pihak lain didalam masyarakat yang ditandai dengan adanya sikap saling
mengancam, menekan, hingga saling menghancurkan. Konflik sosial sesungguhnya
merupakan suatu proses bertemunya dua pihak atau lebih yang mempunnyai
kepentingan yang relative sama terhadap hal yang sifatnya terbatas. Dengan demikian,
terjadilah persaingan hingga menimbulkan suatu benturan-benturan fisik baik dalam
skala kecil maupun dalam skala besar. Berikut ini beberapa pendapat ahli tentang
pengertia konflik :
Berstein, menyebutkan bahwa konflik merupakan suatu pertentangan atau
perbedaan yang belum pernah dicegah, konflik mempunnyai potensi yang
memberikan pengaruh positif dan ada pula yang negative didalam interaksi manusia.
Robert M. Z Lawang mengemukakan bahwa konflik adalah perjuangan untuk
memperoleh nilai, status, dan kekuasan dimana tujuan dari mereka yang berkonflik
tidak hany memperoleh keuntungan, tetapi juga untuk menundukkan saingannya.
Soerjono Soekanto, konflik merupakan proses sosial dimana orang perorangan
atau kelompok manusia berusaha untuk memenuhi tujuannya dengan jalan menentang
pihak lawan yang disertai dengan ancaman dan kekerasan.
METODOLOGI
Metode pendekatan yang dilakukan pada penulisan ini yaitu metode kualitatif dengan
pendekatan deskriptif analisis yaitu mengumpulkan fakta melalui observasi, literatur
938 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
kepustakaan dan tulisan media kemudian menguraikan secara menyeluruh sesuai dengan
persoalan dan langkah penyelesaian permasalahannya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1.
Komunikasi dan Kepemimpinan Kepala Daerah
Sejak bergulirnya otonomi daerah di Indonesia, daerah-daerah dituntut untuk memiliki
kemampuan secara mandiri dalam memaksimalkan potensi sumber daya daerahnya
untuk dijadikan modal dalam pembangunan daerahnya masing-masing. Pelaksanaan
otonomi daerah tidak hanya berdasarkan pada aturan hukum, namun juga sebagai
penerapan tuntutan globalisasi dimana daerah diberikan kewenangan yang lebih luas,
lebih nyata & bertanggung jawab dalam mengelola daerahnya. Konsep desentralisasi
meupakan bagian dari praktik penyelenggaraan pemerintahan dalam hubungan
antarpemerintah
dengan
karakteristiknyayaitu
sebagian
kewenangan
urusan
pemerintahan yang menjadi kewajiban pemerintah pusat, diberikan kepada pemerintah
daerah. Menurut John Locke, Desentralisation is to choose between a dispension of
power and unification of power. Dispension power bersesuaian dengan teori pemisahan
kekuasaan, dimana salah satunya bertujuan agar masyarakat lokal memberikan
dukungan dan ikut berpartisipasi dalam penyelenggaraan kegiatan pemerintahan lokal.
Berdasarkan salah satu tujuan dari teori tersebut, menyiratkan bahwa pemimpin
daerah harus memiliki kemampuan mengkomunikasikan dengan seluruh pihak agar
tercipta dukungan dan partisipasi aktif dalam kegiatan pemerintahan terutama dalam
proses pembangunan daerah. Ketidakmapuan pemimpin daerah dalam membangun
komunikasi secara efektif hanya akan menimbulkan kegaduhan di daerah tersebut.
Kemampuan komunikasi organisasi seorang pemimpin daerah sangat menentukan
keberhasilan organisasi birokrasi pemerintah dalam mewujudkan tata pemerintahan
yang baik.
Seorang kepala daerah adalah pemimpin yang memiliki kemampuan di bidang
organisasi dan kemampuan di bidang sosial. Kepemimpinan di bidang organisasi
berkaitan dengan kemampuannya dalam mengorganisir aparatur birokrasinya atau
bawahannya agar dapat bekerja sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing
secara profesional dan bertanggungjawab, sedangkan kemampuan di bidang sosial
adalah kemampuan yang diperoleh pemimpin dari proses politik. Untuk dapat
memaksimalkan dua kemampuan tersebut, maka syaratnya adalah pemimpin wajib
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 939
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
memiliki kemampuan mengelola komunikasi yang baik, tidak hanya dengan
bawahannya namun yang tidak kalah pentingnya adalah membangun komunikasi
dengan masyarakat lokal yang dipimpinnya dengan selalu berlandaskan pada kearifan
lokal masyarakat setempat.
Kemampuan pemimpin daerah dalam membangun komunikasi yang efektif baik
dengan bawahannya maupun dengan masyarakatnya tentunya akan meningkatkan
kredibilitas serta menguatkan kapabilitasnya. Kredibilitas merupakan seperangkat
persepsi
khalayak
tentang
sifat-sifat
komunikator
dengan
khalayaknya.
Sehinggasesungguhnya kredibilitas tidak melekat dalam diri komunikator. Kredibilitas
mencakup dua komponen yaitukeahlian dan dapat dipercaya. Keahlian adalah kesan
yang dibentukoleh khalayak tentang kemampuan komunikator dalamhubungannya
dengan topik yang dibicarakan seperti cerdas,mampu,ahli, berpengalaman atau terlatih.
Sedangkan kepercayaan adalahkesan khalayak tentang komunikator yang berkaitan
denganwataknya seperti jujur, bermoral, tulus, adil, sopan dan sebagainya. (Rakhmat
dalam Corry, 1991).
2.
Komunikasi dan Kearifan Lokal
Kearifan lokal merupakan suatu bentuk kearifan lingkungan sosial yang ada dalam
kehidupanbermasyarakat di suatu tempat atau daerah. Jadi merujuk pada lokalitas dan
komunitas tertentu. Kearifan lokal merupakan tata nilai atau perilaku hidup masyarakat
lokal dalam berinteraksi dengan lingkungan tempatnya hidup secara arif. Maka dari itu
kearifan lokal tidaklah sama pada tempat dan waktu yang berbeda dan suku yang
berbeda. Perbedaan ini disebabkan oleh tantangan alam dan kebutuhan hidupnya
berbeda-beda, sehingga pengalamannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya
memunculkan berbagai sistem pengetahuan baik yang berhubungan dengan lingkungan
maupun sosial. Sebagai salah satu bentuk perilaku manusia, kearifan lokal bukanlah
suatu hal yang statis melainkan berubah sejalan dengan waktu, tergantung dari tatanan
dan ikatan sosial budaya yang ada di masyarakat. (Ngakan dalam Akhmar dan
Syarifudin, 2007).
1300 suku bangsa yang mendiami seluruh penjuru negeri ini masing-masing
memiliki keunikan dan kearifan lokal yang berbeda-beda pula. Keanekaragaman
kearifan lokal tersebut menuntut pemerintah, khususnya pemerintah daerah harus
cermat dan tepat dalam membangun komunikasi dengan selalu berlandaskan kearifan
940 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
lokal masyarakat setempat. Tujuannya tidak hanya untuk meminimalisir potensi konflik
sosial dan komunal, namun yang tidak kalah pentingnya adalah agar produk kebijakan
pemerintah dan sasaran serta tujuan hasil pembangunan dapat bermanfaat sesuai dengan
apa yang menjadi kebutuhan hidup masyarakat lokal.
Banyak kebijakan-kebijakan pemerintah dan proyek-proyek pembangunan yang
selalu mendapatkan protes keras bahkan perlawanan dari masyarakat disebabkan tidak
terbangunnya komunikasi dari awalnya antara pemerintah dengan masyarakat, sehingga
lahirlah kebijakan yang tidak populis dan hasil pembangunan yang tidak dibutuhkan
oleh masyarakat lokal atau dengan kata lain, pembangunan yang tidak tepat sasaran.
Komunikasi antar budaya adalah komunikasi yang terjadi di antara orang-orang
yang memiliki kebudayaan yang berbeda (bisa beda ras, etnik, atau sosioekonomi, atau
gabungan dari semua perbedaan ini). Kebudayaan adalah cara hidup yang berkembang
dan dianut oleh sekelompok orang serta berlangsung dari generasi ke generasi (Tubbs,
Moss:1996). Komunikasi antar budaya bertujuan untuk memahami perbedaan budaya
yang mempengaruhi praktik komunikasi, mengkomunikasi antar orang yang berbeda
budaya, mengidentifikasikan kesulitan-kesulitan yang muncul dalam komunikasi,
membantu mengatasi masalah komunikasiyang disebabkan oleh perbedaan budaya,
meningkatan ketrampilan verbal dan non verbal dalam komunikasi, dan menjadikan kita
mampu berkomunikasi secara efektif.
Komunikasi antar budaya tidak hanya diperuntukkan dalam memahami budaya
dari negara atau tempat orang lain, akan tetapi juga dapat digunakan oleh pemimpin
dalam memahami karakteristik nilai-nilai kearifan lokal yang dianut dan diyakini oleh
masyarakat lokal, terlebih dalam lingkungan masyarakat Indonesia masih banyak mitosmitos sosial yang tetap dipegang teguh dan diyakini serta diwariskan, sehingga
menabrak mitos-mitos tersebut hanya akan menimbulkan konflik dan pertentangan.
Meskipun ada usaha mewariskan local Wisdomdari generasi ke generasi, tidak ada
jaminan bahwa local wisdom tersebut akan sanggup bertahan dalam menghadapi
gempuran dan tuntutan globalisasi yang menawarkan gaya hidup yang pragmatis dan
konsumtif. Setiap hari dapat kita saksikan bagaimana kearifan lokal yang penuh akan
kebijaksanaan-kebijaksanaan dan nilai-nilai filosofi hidup nyaris tidak terwujud dalam
praktik hidup yang makin pragmatis dan konsumtif.
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 941
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
3.
Permasalahan Komunikasi antara Pemerintah dan Masyarakat.
Konflik sosial dan komunal yang terjadi di masyarakat seringkali mereduksi nilai-nilai
toleransi dan kebersamaan sebagai warisan budaya bangsa Indonesia. Perubahan
terhadap nilai-nilai sosiokultural ikut menggeser orientasi nilainya pula. Budaya
toleransi saat ini telah menjadi barang pusaka peninggalan sejarah yang hanya mampu
kita koleksi tapi tidak dapat termanifestasikan dalam kehidupan berbangsa dan
bermasyarakat. Idealnya, local wisdom yang dimiliki masyarakat merupakan identitas
bangsa Indonesia, sebab local wisdom dapat saja bertransformasi menjadi budaya
nasional.
Setiap persoalan sosial, ekonomi, politik dan lain sebagainya yang terjadi di
suatu daerah, gugatannya pasti diarahkan ke Pemimpin daerah (kepala daerah), karena
kepala daerah lah yang paling bertanggungjawab terhadap segala sesuatu yang terjadi di
daerahnya. Tidak bertangungjawab, kurang responsif, tidak mendengarkan aspirasi
masyarakat, adalah bagian kecil dari sekian banyak tudingan yang selalu di alamatkan
kepada kepala daerah atas segala persoalan yang terjadi di daerah. Di sisi yang lain,
pemerintah menganggap masyarakat tidak paham dengan agenda dan rencana
pembangunan pemerintah daerah. Hal-hal kecil terkait aspirasi masyarakat seperti itu
yang terkadang pemerintah abai dalam penanganannya apabila tidak ditangani dengan
baik dapat terakumulasi yang kemudian akan memunculkan konflik-konflik.
Upaya pelibatan masyarakat lokal dalam perumusan kebijakan dan rencana
pembangunan di tiap daerah di Indonesia sudah dilakukan melalui Musyawarah
Rencana Pembangunan (Musrembang). Musrembang merupakan instrumen yang
digunakan oleh Pemerintah dalam membangun komunikasi dengan masyarakat serta
pihak-pihak lainnya. Akan tetapi, instrumen tersebut dirasa belum memberikan hasil
yang maksimal sesuai dengan yang diharapkan oleh masyarakat. Arah pembangunan
model komunikasi oleh pemerintah kepada masyarakat tidak memperhatikan nilai-nilai
budaya atau kearifan lokal yang diyakini oleh masyarakat setempat, sehingga
pemerintah daerah terkesan jalan sendiri sesuai dengan keinginannya.
Konflik antara pemerintah dan masyarakat paling sering terjadi di daerah adalah
konflik pertanahan. Tanah-tanah milik negara yang ditempati oleh masyarakat selama
berpuluh-puluh tahun dan telah turun-temurun dikuasai, sering berujung bentrok fisik
antara sipil militer dengan masyarakat dan gugat-menggugat di lembaga peradilan.
Bentrok fisik dan gugatan hukum tidak seharusnya terjadi jika saja Pemerintah yag
942 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
memiliki otoritas dalam menyelesaikan dan mencari jalan keluar permasalahan tersebut
dapat menerapkan dan menciptakan komunikasi yang baik dengan masyarakat lokal
melalui persuasi kearifan lokal. Tidak sedikit contoh yang bisa kita lihat, di beberapa
daerah yang menerapkan persuasi sosial dengan memasukkan nilai-nilai kearifan lokal
dalam proses komunikasinya dapat berjalan dengan tenang dan semua pihak terpuaskan
dengan jalan keluar yang ditawarkan.
Pembangunan komunikasi yang baik antara pemerintah dan masyarakat akan
menumbuhkan rasa saling percaya sehingga proses pembangunan dapat berjalan dengan
lancar dan harmonisasi di daerah terus terjaga baik antara pemerintah dengan
masyarakat, dan antara sesama kelompok masyarakat di daerah. Keadaan tersebut
merupakan prasyarat utama bagi keberlangsungan peningkatan kesejahteraan dan
standar kelayakan masyarakat.
KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan
a. Salah satu aspek yang turut menentukan laju pembangunan yang berlangsung
adalah perlu adanya sinergitas antara pemerintah sebagai penggerak dan penentu
kebijakan pembangunan di satu sisi, dengan masyarat di sisi lain, karena tanpa
adanya pemerintah sebagai pembuat kebijakan dan pemilik sumber daya, ataupun
tanpa partisipasi nyata dari masyarakat dalam pembangunan maka pelaksanaan
pembangunan tersebut tentunya akan mengalami hambatan dan akan berjalan tidak
sesuai harapan. Salah satu kunci demi terciptanya kelancaran pembangunan
khususnya di daerah adalah peranan komunikasi pemerintahan untuk dapat
menyempaikan berbagai informasi tentang kebijakan pembangungan yang akan
dilaksanakan kepada masyarakat lokal agar masyarakat turut berpartisipasi aktif
dalam pembangunan tersebut.
b. Salah satu penyebab terjadi konflik sosial ditengarai diakibatkan oleh kompleksitas
permasalahn sosial, ekonomi, dan kepentingan politik. Ketiadaan pembangunan
komunikasi yang berbasis kearifan lokal oleh pemerintah terhadap masyarakat
menjadi salah satu penyebab semakin sering terjadinya konflik sosial dan komunal
di Indonesia.
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 943
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
2. Saran
a. Komunikasi
pemerintahan
yang
terbangun
hendaknya
memperhatikan
perkembangan zaman yang terjadi dalam dunia pemerintahan saat ini. Perubahan
signifikan yang terjadi dalam dunia pemerintahan adalah dari government ke
governance. Bahwa terjadi perubahan pola interaksi dari sebelumnya yang bersifat
kekuasaan semata, berubah dengan melibatkan masyarakat dalam pertukaran
informasi
dan
penggunaan
komunikasi
dan
persuasi
sehingga
agenda
pembangunan dapat melibatkan stakeholders secara aktif.
b. Komunikasi tidak akan menjadi solusi terhadap persoalan konflik sosial maupun
konflik komunal yang terjadi di daerah-daerah di Indonesia tanpa memperhatikan
kebutuhan-kebutuhan
dasar
masyarakat
dan
tidak
dilaksanakan
dengan
berdasarkan nilai-nilai kearifan lokal yang ada di tengah-tengah masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Cangara, Hafied. 2011. Komunikasi Politik; Konsep, Teori, dan Strategi. Edisi Revisi.
Jakarta, Rajawali Pers.
_____________. 2011. Pengantar Ilmu Komunikasi, Edisi Revisi. Jakarta, Rajawali Pers.
F.X, Rahyono. Kearifan Budaya dalam Kata. Jakarta: Wedatama Widyasastra. 2009.
Hargens, Boni. 2011. “Indonesia, ‘Halo Soekarno” dalam Kompas, 16 April 2011, Jakarta.
Jati, Wasisto Raharjo. 2011. “Pembangunan Gerus Kearifan Lokal” dalam Kompas,20 April
2011, Jakarta.
Kreps, Gary L. 1990. Organizational Communication: Theory and Practice. Allyn & Bacon
Incorporated.
Kriyantono, Rachmat. 2012. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta, Kencana Prenada
Media Group.
Liliweri, Alo. 2011. Komunikasi: Serba Ada Serba Makna. Jakarta, Kencana Prenada Media
Group.
Littlejohn, Stephen W. & Karen A. Foss. 2009. Theories of Human Communication (Teori
Komunkasi) Edisi 9. Jakarta, Salemba Humanika.
Suyatno, Suyono. Revitalisasi Kearifan Lokal sebagaiUpaya Penguatan Identitas
Keindonesiaan.http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/artikel/1366.
Syafiie, Inu Kencana & Azhari. 2008. Sistem Politik Indonesia. Bandung, Redika Aditama.
944 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
MERAYAKAN SEPAK BOLA, MERAWAT SEJARAH, MEMBERITAKAN KOTA
BERSAMA BAWAH SKOR
Fajar Junaedi
Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
[email protected]
ABSTRAK
Sepak bola di Indonesia berkembang sejak masa kolonial Belanda. Di tahun 1910-an klub
sepak bola mulai berkembang di beberapa kota. Sejarah sepak bola karenanya selalu
berkelindan dengan sejarah kota. Sayangnya pengarsipan sepak bola tidak berlangsung
dengan baik. Klub kurang peduli dengan sejarah sepak bola yang pernah dijalani klubnya.
Fenomena menarik terjadi di Yogyakarta, kala ada fans klub PSIM Yogyakarta yang peduli
dengan sejarah klub. Kepedulian yang sekaligus merawat sejarah kota. Bawah Skor, demikian
mereka menyebut diri, mendokumentasikan sejarah sepak bola dan merawat ingatan tentang
sejarah kota. Melalui media sosial, Bawah Skor memberitakan sejarah sepak bola dan kota
kepada publik. Model perawatan sejarah Bawah Skor bisa menjadi model bagi kota - kota
lain.
Kata kunci : sepak bola, kota, arsip, media sosial
PENDAHULUAN
Sejak bergulirnya Liga Super Indonesia (LSI), klub kebanggaan masyarakat Yogyakarta,
Persatuan Sepakbola Indonesia Mataram (PSIM) Yogyakarta, belum pernah sekalipun mampu
berada di level tertinggi sepakbola Indonesia ini. PSIM Yogyakarta masih terus berkutat di
level kedua kompetisi sepakbola Indonesia yang disebut Divisi Utama. LSI sendiri merupakan
penyederhanaan dari Liga Indonesia (Ligina), sebuah kompetisi yang menyatukan klub amatir
dari Kompetisi Perserikatan dan klub semi profesional dari Liga Sepakbola Utama (Galatama)
yang dimulai sejak tahun 1994.
Awalnya sepakbola Indonesia dijalankan dalam kompetisi amatir yang disebut sebagai
Perserikatan. PSIM Yogyakartamenjadi salah satu peserta kompetisi Perserikatan. Kompetisi
amatir ini berlangsung sejak masa kolonialisme, tidak lama setelah Persatuan Sepakbola
Seluruh Indonesia (PSSI) didirikan di Yogyakarta. Di tahun 1930-an, PSIM Yogyakarta
menjadi salah satu klub yang cukup sukses dengan sekali menjuarai kompetisi Perserikatan.
Sebagaimana disebutkan di atas, PSSI didirikan di Yogyakarta, sehingga PSIM jelas
memiliki andil dalam pendirian federasi sepakbola kaum pribumi ini. PSSI didirikan sebagai
upaya untuk melawan federasi sepakbola pro pemerintahan Hindia Belanda, bernama NIVB.
Berdiri sejak tahun 1929, PSIM pada awalnya menjadi klub yang merepresentasikan
Yogyakarta secara keseluruhan sebagai propinsi. Namun sejak tahun 2000-an, PSS Sleman
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 945
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
mulai menggeliat. Klub yang berdiri pada tahun 1976 ini juga berasal dari kompetisi
Perserikatan, namun pada masa kompetisi Perserikatan gaung prestasinya jauh kalah
mengkilap jika dibandingkan dengan PSIM. Ketika masa Ligina, prestasi PSS lebih bersinar
jika dibandingkan dengan PSIM. Wilayah Sleman tidak lagi menjadi kantong basis fans
PSIM, namun beralih menjadi suporter PSS. Sekitar satu dekade setelah kebangkitan PSS,
Persiba Bantul ikut menggeliat. Sebagaimana PSS dan PSIM, Persiba adalah klub eks
Perserikatan. Serupa dengan PSS, Persiba tidak banyak berprestasi pada masa Perserikatan.
Namun, keberhasilan Persiba menjadi kampium Divisi Utama pada era ISL di tahun 2009
menjadikan klub ini menjadi primadona baru masyarakat Bantul.
PSIM dihadapkan pada rivalitas baru dengan klub yang berasal dari satu propinsi.
Derby Yogyakarta menjadi nama yang disematkan ketika PSIM bersua dengan PSS atau
Persiba. Basis fans PSIM di Sleman dan Bantul mulai berkurang sejak kehadiran kedua klub
ini dalam peta sepakbola Indonesia.
“PSIM warisane simbah” (PSIM warisannya nenek moyang), menjadi slogan yang
didengungkan oleh fans PSIM untuk memperlihatkan bahwa PSIM jauh lebih matang secara
usia. Sayangnya, semangat kecintaan fans PSIM tidak dibarengi dengan totalitas manajemen
PSIM dalam mengelola klub. Prestasi PSIM terbilang biasa – biasa saja.
Di tengah keringnya prestasi PSIM, sekelompok anak muda fans PSIM yang terdidik
dengan baik (well educated) menginisiasi pengarsipan sejarah PSIM. Secara sukarela dan di
luar koordinasi dengan manajemen klub, mereka mendata arsip koran yang berisi berita
tentang PSIM di masa lampau. Arsip – arsip tersebut dipindai dan disebarluaskan melalui
internet. Kerja – kerja sejarah ini mereka lakukan juga dengan mendatangi mantan pemain
PSIM, dengan tujuan melakukan wawancara dengan para mantan pemain. Selain itu, mereka
juga mengadakan pameran tentang PSIM berjuluk Genealogy of Hope pada bulan Februari
2015.
Kerja – kerja sukarela tersebut menarik untuk dikaji sebagai sebuah ingatan kolektif
atas sejarah PSIM, serta dalam konteks sebagai kritik atas manajemen PSIM.
1.
Sepakbola, Fans dan Fandom
Sepakbola adalah olahraga paling populer di dunia. Di Eropa, sepakbola disebut sebagai
football, namun di Amerika Serikat disebut sebagai soccer. Corak olahraga di Amerika
Serikat yang lebih mengedepankan skor pertandingan yang besar, kerapian manajemen
pertandingan sebagaimana yang bisa dilihat di basket NBA serta olahraga yang dikemas
sebagai hiburan (sportainment) menjadikan sepakbola awalnya sulit diterima di
946 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
Amerika Serikat. Setelah Piala Dunia 1994 digelar di Amerika Serikat, sepakbola
sukses menggapai daratan Amerika Utara.
Kerusuhan fans sepakbola secara umum berseberangan dengan olahraga yang
berkembang sebelumnya di Amerika Serikat. Kegemaran atau bahkan lebih tepatnya
kegilaan pada sepakbola menjadikan sepakbola dilingkupi fanatisme pada fansnya.
Fandom atas sepakbola menjadi isu utama dalam kajian tentang fans sepakbola.
Penelitian Nick Horby tentang fandom dalam fans sepakbola melalui tulisannya
berjudul The Obsessed Fan menjumpai bahwa menurut fans sepakbola, menjadi fans
sepakbola memberikan tempat dimana kebahagian yang tidak tergapai menjadi hilang,
tempat dimana mereka masih bisa berharap (Horby dalam Real, 1996 : 53). Nick Horby
dalam penelitiannya tersebut meneliti fans klub Arsenal, sebuah klub dari London,
Inggris. Ketika Arsenal bertanding di hari Sabtu, dijumpainya fans dari klub ini
memiliki wajah yang bersedih pada Arsenal yang akan bertanding. Wajah yang
dijumpainya pada hampir semua fans Arsenal yang dijumpainya. Kala itu, prestasi
Arsenal sedang meredup. 18 tahun setelah Horby meneliti, Arsenal akhirnya berhasil
mengalahkan Liverpool dalam sebuah final di tahun 1989, yang disebutnya sebagai
“momentum terbesar yang pernah ada” (Real, 1996 : 54).
Penelitian tentang fandom dalam sepakbola Indonesia dilakukan oleh Andy
Fuller dalam bukunya The Struggle for Soccer in Indonesia (2014). Andy Fuller
mengemukakan tentang fenomena sepakbola, terutama di Yogyakarta, yang tidak
mendapat perhatian yang cukup dari pemerintah daerah. Arsip – arsip tentang klub
juga tidak dirawat dengan baik oleh klub dan pemerintah daerah. Justru, menurut
Andy Fuller, yang peduli dengan kondisi ini adalah anak muda suporter sepakbola.
2.
PSIM dan Gairah Anak Muda Kota yang Tiada Surut
PSIM Yogyakarta dalam sepak bola Indonesia kekinian tidak bisa lagi disebut tim besar
secara prestasi. Dalam level sepak bola Indonesia, PSIM Yogyakarta hanya berada di
Divisi Utama yang notabene merupakan kompetisi sepak bola kelas dua yang gengsinya
masih kalah dengan Liga Super Indonesia. Berdiri sejak tahun 1929, PSIM Yogyakarta
adalah salah satu pendiri dari Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI). Di
Yogyakarta juga, PSSI dibentuk dan dideklarasikan. Wisma PSIM Yogyakarta yang
menjadi markas dari klub ini ditabalkan sebagai Monumen PSSI, mengacu pada latar
belakang kesejarahan Yogyakarta sebagai tempat pembentukan PSSI.
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 947
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
Walaupun secara prestasi, PSIM Yogyakarta tidak lagi mengkilap berprestasi
dalam sepak bola Indonesia, animo dan gairah menonton sepak bola pendukung PSIM
Yogyakarta tidak pernah surut. Dukungan pada PSIM Yogyakarta tidak hanya
diwujudkan dalam bentuk kedatangan para fans di Stadion Mandala Krida, stadion yang
menjadi kandang PSIM Yogyakarta, namun juga tersebar dalam beragam aktivitas di
luar pertandingan. Pada tahun 2014 – 2015, berbagai mural bertema PSIM Yogyakarta
marak di Kota Yogyakarta. Demikian juga bendera dan umbul – umbul yang didominasi
warna biru, warna kebanggaan PSIM Yogyakarta.
Salah satu tema mural yang paling sering ditemui adalah mural berbahasa Jawa
“PSIM Yogyakarta Warisane Simbah” yang berarti PSIM Warisannya Kakek. Tema
mural ini mengingatkan pada posisi PSIM Yogyakarta
dalam peta sepak bola
Yogyakarta kontemporer. Sampai dengan tahun 2000-an awal, PSIM Yogyakarta
menjadi penguasa tunggal sepak bola Yogyakarta. Dukungan publik di Yogyakarta
hanya kepada PSIM Yogyakarta mengingat belum ada klub lain yang berlatar belakang
klub perserikatan yang berlaga pada kasta kompetisi yang sama dengan PSIM
Yogyakarta.
Jika kita memperbincangkan sepak bola Indonesia modern, maka kita harus
melihat kompetisi sepak bola Indonesia yang berlangsung saat ini adalah hasil unifikasi
antara kompetisi Galatama, sebuah kompetisi semi profesional yang diputar dari tahun
1978 sampai dengan 1993, dan kompetisi Perserikatan yang merupakan kompetisi
amatir antar perserikatan sepak bola di berbagai kota yang berlangsung dari masa
kolonial sampai dengan awal dekade 1990-an. PSIM Yogyakarta berasal dari rahim
kompetisi Perserikatan yang kental dengan aroma semangat kedaerahan.
Di samping PSIM Yogyakarta, sebenarnya pasca unifikasi Galatama dan
Perserikatan ke dalam Liga Indonesia, ada beberapa klub yang pernah bermarkas di
Stadion Mandala Krida, seperti Perkesa Mataram dan Mataram Indocement. Namun
sayangnya kedua klub tersebut kini sudah tidak lagi berkompetisi.
Memasuki milenium baru, terutama didorong oleh semangat otonomi daerah,
dua klub perserikatan yang berasal dari Sleman dan Bantul mulai menggeliat. Di
Sleman, PSS Sleman, sebuah klub perserikatan yang berdiri tahun 1976 berhasil naik ke
divisi utama Liga Indonesia, menyusul kemudian di Bantul adalah Persiba Bantul, klub
perserikatan yang berdiri pada tahun 1967. Dengan naiknya dua klub yang berlaga pada
948 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
kompetisi yang sama dengan PSIM Yogyakarta, dukungan publik di propinsi
Yogyakarta pun terpecah.
Dengan menggunakan slogan “PSIM Yogyakarta Warisane Simbah”, para fans
PSIM Yogyakarta sebenarnya bisa dilihat berusaha membangun praktek kewacanaan
bahwa klub yang mereka dukung adalah klub yang telah terwariskan secara turun
temurun, serempak pula PSIM Yogyakarta diklaim sebagai klub yang secara tradisional
berhak merepresentasikan Yogyakarta. Demikian pula slogan ini menjadi memori
kolektif untuk mengingat kejayaan PSIM Yogyakarta pada dekade 1930-an dan 1940an, dekade dimana para fans PSIM Yogyakarta
hanya bisa mengingatnya dalam
memori sejarah. Hanya para kakek dari para fans yang umumnya anak muda yang
sempat merasakan kejayaan tersebut.
4.
Arsip Sepak bola, Arsip Kota : Fandom dan Kesukarelaan
Sebagaimana klub – klub lain di Indonesia, manajemen PSIM Yogyakarta sebenarnya
abai terhadap pengarsipan sejarah. Tidak ada pencatatan dan pendokumentasian sejarah
PSIM Yogyakarta secara tertata dan dikelola dengan baik. Berbanding terbalik dengan
ekspektasi para fans yang berusaha menempatkan PSIM Yogyakarta sebagai warisan
leluhur yang harus dijaga.
Di tengah prestasi PSIM Yogyakarta
yang belum juga membaik, ingatan
kolektif fans terhadap kejayaan PSIM Yogyakarta di masa lampau, muncul fenomena
menarik dalam fandom fans PSIM Yogyakarta yang berusaha menguatkan legitimasi
PSIM Yogyakarta secara historis. Adalah Bawah Skor Mandala, yang sejak tahun 2010
secara aktif melakukan pengumpulan arsip tentang PSIM Yogyakarta.
Gambar 1. Tampilan publikasi pameran Team Suratin 1992 : Genealogy of Hope
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 949
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
Pada tanggal 15 Februari 2015, saya datang di pembukaan pameran bertajuk
Team Suratin 1992 : Genealogy of Hope di Lir Space, Baciro, Yogyakarta. Lokasinya
tidak jauh dari Stadion Mandala Krida. Sekitar berjarak 700 meter dari stadion ini.
Pameran ini adalah eksebisi tunggal dari Dimaz Maulana. Pameran ini menampilkan
arsip dan memorabilia prestasi PSIM Yogyakarta pada kompetisi Piala Suratin, sebuah
kompetisi nasional yang diikuti pemain muda kelompok umur (16 – 18 tahun) di bawah
naungan PSSI. Piala Suratin digelar sebagai bentuk penghormatan untuk Suratin, salah
satu sebagai pendiri PSSI. Di tahun 1992, para pemain muda PSIM Yogyakarta untuk
kali pertama memasuki final dan meraih juara kedua pada Piala Suratin.
Sesuai dengan publikasi yang beredar di media sosial, pembukaan pameran akan
berlangsung jam empat sore di hari Minggu tanggal 15 Februari 2015. Satu jam sebelum
pameran dibuka, fans PSIM Yogyakarta sudah mulai berdatangan. Mereka umumnya
memakai jersey PSIM Yogyakarta bercorak parang biru yang khas serta memakai
sepatu bermerek, terutama Adidas dan Nike. Dari fashion yang mereka kenakan
memperlihatkan para pengunjung berasal dari golongan masyarakat yang terdidik
dengan baik (well educated), terutama fans PSIM Yogyakarta yang berasal dari
kalangan mahasiswa. Pada saat pembukaan pameran, setidaknya ada 30 orang yang
datang. Jumlah yang cukup besar, mengingat ruang pameran hanya berukuran sembilan
meter persegi.
Anak muda yang datang juga bisa diidentifikasi sebagai anak muda yang berasal
dari latar belakang urban, sebagaimana yang bisa dikenali dari fashion yang mereka
kenakan. Jersey PSIM Yogyakarta yang mereka kenakan adalah jersey original. Dalam
beberapa tahun terakhir muncul kesadaran dari fans sepak bola, terutama yang berlatar
belakang urban dan berpendidikan baik, baik klub harus mandiri dalam pendanaan. Di
Indonesia, sebagai sisa – sisa dari mentalitas Perserikatan di masa lampau yang menjadi
“bagian” dari pemerintah daerah, telah menyebabkan klub – klub sepak bola tidak
mampu secara mandiri membiayai dirinya.
Penggunaan dana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) secara massif
untuk membiayai klub sepak bola terus terjadi walaupun kompetisi sepak bola
Indonesia diikrarkan oleh PSSI sebagai kompetisi sepak bola profesional sejak unifikasi
Galatama dan Perserikatan. Penggunaan dana APBD semakin menggila pasca reformasi
tahun 1998. Otonomi daerah yang menjadi luaran dari reformasi telah mendorong
950 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
pejabat birokrat dan politisi di daerah semakin bernafsu menggunakan dana ABPD
untuk kampanye politik secara terselubung melalui klub sepak bola di tingkat lokal.
Mereka mendanai klub sebagai bagian dari pencitraan di daerah, sekaligus berusaha
meraih dukungan pemilih dalam pemilihan kepala daerah langsung. Padahal dalam
sepak bola profesional, penggunaan dana APBD jelas tidak bisa dibenarkan.
Sejak tahun 2011, menteri dalam negeri melarang penggunaan dana APBD.
Klub – klub sepak bola Indonesia yang semula terninabobokan dengan dana APBD
kelimpungan untuk membiayai klub saat mengarungi musim kompetisi. Sponsor,
penjualan tiket dan penjualan merchandise klub terutama jersey original menjadi pilihan
yang harus dilakukan klub sepak bola di Indonesia, sebagaimana juga klub – klub sepak
bola di negara – negara Eropa yang telah jauh lebih maju dan mandiri. Sebenarnya ada
potensi pendapatan lain, yang juga dilakukan klub – klub di Eropa, yaitu melalui hak
siar. Sayangnya, di Indonesia hak siar kompetisi bukan di tangan klub namun di tangan
PT. Liga Indonesia sebagai operator kompetisi sepak bola. Bagi klub yang bermain di
kasta kedua kompetisi seperti PSIM Yogyakarta, hak siar pertandingan belum mampu
menjadi solusi untuk mengisi pundi – pundi pendapatan klub.
Anak muda fans sepak bola dari lingkungan urban di era kekinian
memperlihatkan fenomena yang menarik. Mereka menyadari bahwa klub harus mandiri
dan jangan sampai menyusu pada APBD maupun politisi yang selama ini hanya
menggunakan klub sepak bola sebagai jembatan karier politik para politisi. Dalam
beberapa pertandingan sepak bola yang saya tonton, termasuk pertandingan PSIM
Yogyakarta, suporter semakin tertib membeli tiket di loket resmi dan menolak membeli
tiket dari para calo. Alasan mereka adalah bahwa klub harus tetap hidup dengan tiket
resmi yang dibeli oleh suporter. Demikian juga dengan jersey original yang dirilis oleh
klub yang lebih dipilih para fans daripada jersey non original yang biasa disebut jersey
kw. Walaupun harganya jauh lebih mahal dibandingkan jersey kw, jersey original
dipilih oleh suporter sebagai bentuk dukungan nyata mereka kepada klub. Pada musim
kompetisi 2015, jersey PSIM Yogyakarta dibuat oleh perusahaan Salvo dengan harga
jual Rp. 215.000. Walaupun cukup mahal, animo fans untuk mendapatkannya tetap
tinggi. Memakai jersey original menjadi sebuah kebanggaan dan bukti loyalitas.
Fenomena yang bisa dilihat pada aktivitas kultural anak muda fans PSIM Yogyakarta
yang datang ke pameran.
Di ruang pameran, arsip berita tentang PSIM Yogyakarta tertata rapi. Demikian
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 951
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
juga memorabilia pemain PSIM Yogyakarta yang berlaga di kompetisi Piala Suratin
1992, seperti sepatu dan medali. Pengunjung yang datang rela untuk antri dengan tertib
untuk masuk ke ruang pameran. Beberapa mengabadikan apa – apa yang dipamerkan
dengan kamera di telepon seluler, sekaligus berinteraksi dengan Dimaz Maulana yang
menarasikan memorabilia yang ada melalui dialog dengan para pengunjung. Keterangan
tertulis yang ada di memorabilia rupanya tidak cukup mengobati dahaga fans PSIM
Yogyakarta yang datang ke pameran untuk memahami nostalgia mengenai masa lalu
PSIM Yogyakarta.
Dimaz Maulana adalah pengelola Bawah Skor Mandala. Sebagai lulusan
pendidikan tinggi sarjana ilmu sejarah di Universitas Gadjah Mada (UGM), Dimaz
Maulana memiliki kompetensi yang jarang dimiliki oleh anak muda fans sepak bola di
Indonesia. Menurut pengakuannya, minat untuk melakukan pengarsipan PSIM
Yogyakarta muncul di tahun 2010, sepulang menonton PSIM Yogyakarta dalam
pertandingan away ke Semarang melawan PSIS Semarang. Kepulangan rombongan fans
PSIM Yogyakarta dari Kota Semarang sempat diwarnai kericuhan tatkala melintasi
Kota Sleman yang menjadi basis pendukung PSS Sleman. Relasi fans PSIM Yogyakarta
dan PSS Sleman sendiri terus memburuk. Pertandingan antara PSIM Yogyakarta dan
PSS Sleman selalu diwarnai kerusuhan antar suporter baik di dalam maupun di luar
stadion.
Melalui Bawah Skor Mandala, Dimaz Maulana secara intens melakukan
pendokumentasian mengenai PSIM Yogyakarta dan sepak bola Indonesia. Beberapa
arsip yang dikumpulkannya sebenarnya tidak melulu tentang PSIM Yogyakarta. Ada
beberapa arsip tentang PSS Sleman dan Persiba Bantul, namun tetap saja yang paling
mendominasi adalah arsip tentang PSIM Yogyakarta.
Kerja – kerja pengarsipan yang dilakukan Dimaz Maulana adalah dengan
mendatangi Jogja Library yang berada di Jalan Malioboro Yogyakarta. Di perpustakaan
ini, berbagai arsip koran – koran, terutama terbitan Yogyakarta tersedia secara
memadai. Arsip berita tentang PSIM Yogyakarta difoto dengan kamera digital oleh
Dimaz Maulana, kemudian dipindahkan ke komputer. Untuk memudahkan pencarian,
foto – foto tersebut dikumpulkan dalam folder yang disusun berdasarkan tahun
penerbitan koran.
Sebelum PSS Sleman dan Persiba Bantul menggeliat dalam sepak bola
Indonesia, PSIM Yogyakarta mutlak mendominasi pemberitaan di berbagai media lokal
952 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
yang terbit di Yogyakarta, terutama di harian Kedaulatan Rakyat. Sangat mudah
menemukan pemberitaan tentang PSIM Yogyakarta di Kedaulatan Rakyat terbitan
dekade 1980-an dan 1990-an. Sebaliknya berita – berita tentang PSS Sleman dan
Persiba Bantul hanya muncul sesekali secara minor. Sebagai catatan tambahan,
beberapa pengurus PSIM Yogyakarta
di masa lalu adalah wartawan Kedaulatan
Rakyat, seperti Idham Samawi. Idham Samawi adalah wartawan Kedaulatan Rakyat
yang pernah menjadi bagian dari manajemen klub PSIM Yogyakarta sebelum kemudian
beralih mengurusi Persiba Bantul setelah yang bersangkutan berkarier sebagai politisi
dan dua periode menjabat bupati Bantul.
Selain Kedaulatan Rakyat, koran lokal yang terbit di Yogyakarta di tahun 1980an dan 1990-an adalah harian Bernas. Koran ini sampai sekarang masih terbit, namun
pemberitaan tentang PSIM Yogyakarta tidak semassif Kedaulatan Rakyat.
Setelah
arsip
tentang
PSIM
Yogyakarta
terkumpul,
Dimaz
Maulana
mengunggahnya melalui berbagai lini media sosial. Pada awal berdirinya, Bawah Skor
Mandala menggunakan platform blogspot dalam aktivitas blog. Namun kemudian
berganti menggunakan wordpress, dengan alasan tampilan antarmuka wordpress yang
lebih menarik dan lebih mudah diatur. Pada perkembangannya, Bawah Skor Mandala
menggunakan .com dalam sebagai platform blog yang dikelola. Di blog Bawah Skor
Mandala, Dimaz Maulana mengunggah foto – foto lama PSIM Yogyakarta terutama
yang didapatkan dari pemberitaan koran didigitalisasi melalui kamera digital yang
seukuran saku.
Selain foto, blog Bawah Skor Mandala
juga berisi artikel tentang PSIM
Yogyakarta. Kebanyakan artikel yang diterbitkan di blog Bawah Skor Mandala adalah
narasi – narasi tentang PSIM Yogyakarta di masa lampau, baik tentang klub, pemain
maupun suporter. Berita terbaru tentang PSIM Yogyakarta juga ditampilkan walaupun
tidak selalu update, seperti berita peluncuran tim PSIM Yogyakarta di musim kompetisi
2015.
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 953
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
5.
Tampilan blog Bawah Skor Mandala yang bergaya vintage hitam putih.
Selain menggunakan data dari arsip sebagai data utama, Dimaz Maulana juga
mendatangi mantan pemain PSIM Yogyakarta untuk mendapatkan data wawancara.
Data yang didapatkan melalui wawancara ini kemudian dikemas dalam bentuk narasi
sehingga lebih mudah dibaca oleh para pengunjung blog.
Selain menggunakan blog, Bawah Skor Mandala juga secara intens
menggunakan twitter dan instagram. Dua platfom media sosial yang digunakan oleh
Bawah Skor Mandala ini mendapatkan apresiasi yang luar biasa dari para pengikutnya,
terutama para fans PSIM Yogyakarta. Hasrat mereka akan PSIM Yogyakarta
mendapatkan ruang ekspresinya melalui media sosial yang dikelola oleh Bawah Skor
Mandala.
954 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
Akun instagram Bawah Skor Mandala bergambar fans PSIM Yogyakarta di
tahun 2003.
Akun twitter Bawah Skor Mandala yang mendeklarasikan diri sebagai pengepul
arsip.
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 955
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
Yang menarik dari Bawah Skor Mandala adalah kemampuannya untuk
menyajikan arsip, yang notabene selama ini dianggap sebagai sesuatu yang
membosankan, menjadi bagian dari budaya populer yang bisa dinikmati publik secara
luas. Melalui arsip yang disajikan oleh Bawah Skor Mandala, fans PSIM Yogyakarta
dibawa dalam nostalgia kejayaan sepak bola Yogyakarta di masa lampau untuk
diaktualisasikan ke masa kini. Penggunaan media sosial menjadi bagian terpenting dari
aktualisasi nostalgia masa lalu ke masa kini.
Digitalisasi yang dilakukan Dimaz Maulana di Bawah Skor Mandala sebenarnya
sangat sederhana, yaitu hanya dengan memfoto berita – berita tentang PSIM Yogyakarta
di berbagai penerbitan koran dengan menggunakan kamera digital. Digitalisasi ini
sebenarnya bisa dilakukan oleh siapapun, namun pada kenyataannya tidak banyak fans
sepak bola di Indonesia yang mampu secara rutin dan konsisten melakukan digitalisasi
seperti ini.
Selain memanfaatkan media sosial, Bawah Skor Mandala juga membuat
merchandise tentang PSIM Yogyakarta, berupa kaos, replika jersey PSIM di berbagai
musim kompetisi, topi dan jaket. Salah satu kaos yang dibuat sebagai merchandise
adalah kaos bergambar suporter PSIM Yogyakarta yang berebut masuk ke sebuah bis
ketika PSIM Yogyakarta akan bertanding ke Semarang melawan PSIS Semarang pada
tahun 1980-an. Foto hitam putih tersebut berasal dari sebuah foto di Kedaulatan Rakyat,
yang secara jelas memperlihatkan besarnya animo dukungan publik di Yogyakarta pada
dekade tersebut kepada PSIM Yogyakarta. Sebuah nostalgia yang dipopulerkan melalui
sebuah kaos.
6.
Omah Bersama (OBA) dan Museum Mini PSIM Yogyakarta
Di kawasan Warungboto Yogyakarta, Bawah Skor Mandala menginisiasi sebuah
museum mini yang menjadi ruang bersama untuk merawat ingatan kolektif tentang
PSIM Yogyakarta. Bersama parangbiru.net, Bawah Skor Mandala mengembangkan
sebuah ruang yang berisi beragam artefak tentang PSIM Yogyakarta. Beberapa artefak
yang dipamerkan terutama adalah memorabilia yang dipamerkan dalam pameran Team
Suratin 1992 : Genealogy of Hope. Di dinding, beberapa foto lama dan kliping tentang
PSIM Yogyakarta terbingkai dengan rapi. Ruangannya tidak terlalu besar, kisaran
panjang enam meter dan lebar tiga meter. Di ruang yang diperoleh dengan sistem
956 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
menyewa, Bawah Skor Mandala bersama komunitas fans PSIM Yogyakarta lainnya
melangkah lebih maju dibanding manajemen klub sepak bola yang ada di Indonesia.
Adalah sebuah ironi bahwa manajemen klub – klub sepak bola di Indonesia
tidak terlalu memperhatikan artefak sejarah klub. Piala – piala yang didapatkan oleh
klub hanya dipasang di etalase kaca di ruang sekretariat manajemen klub sepak bola,
tanpa ada narasi yang menjelaskan bagaimana piala tersebut diperoleh. Bandingkan
dengan klub – klub di Eropa yang telah jauh lebih maju dengan mengemas memorabilia
klub sebagai tontonan bagi fans yang datang.
Bawah Skor Mandala dan komunitas yang berkaitan dengan ruang kolektif
tersebut menamainya dengan OBA, yang berarti Omah Bersama. Omah adalah Bahasa
Jawa yang dalam Bahasa Indonesia berarti rumah, sehingga OBA bisa diartikan sebagai
rumah bersama. Untuk mencapai OBA harus melalui gang yang hanya cukup dilalui
sebuah mobil, dan tidak ada papan petunjuk dari jalan raya menuju ke OBA. Para
pengunjung yang datang ke OBA umumnya diberi arahan melalui pesan pendek di
telepon seluler maupun di media sosial. Di OBA tidak ada kursi tamu, yang ada adalah
karpet yang digunakan sebagai tempat untuk menyambut pengunjung yang datang
sekaligus menjadi tempat untuk berdiskusi.
Berasal dari inisiatif anak muda fans PSIM Yogyakarta, keberadaan OBA
bukanlah bagian dari manajemen klub. Untuk membiayai biaya kontrak OBA, Bawah
Skor Mandala menjual pernak – pernik PSIM Yogyakarta. Dua buah gantungan baju
penuh berisi kaos yang dirilis oleh Bawah Skor Mandala dengan berbagai desain serta
replika jersey PSIM Yogyakarta di berbagai musim kompetisi ditawarkan kepada
pengunjung.
Di beberapa kota besar, seperti Bandung, Jakarta, Surabaya dan Malang, distro
yang menjual pernak – pernik klub sepak bola lokal di masing – masing kota sudah
banyak bermunculan. Umumnya, semata – mata hanya berorientasi ekonomi sebagai
distro. Keberadaan penjualan pernak – pernik yang bertemakan PSIM Yogyakarta di
OBA tidak bisa sekedar dipahami bahwa OBA adalah distro seperti di kota – kota lain,
namun lebih dari itu, OBA justru lebih bisa dimaknai sebagai ruang untuk bernostalgia
mengenai sejarah PSIM Yogyakarta di masa lalu.
Dikonsep menjadi sebuah museum mini tentang PSIM Yogyakarta, OBA
menjadi fenomena menarik dari kultur urban fandom suporter sepak bola di Yogyakarta
dan Indonesia. Dibandingkan dengan klub – klub lain, prestasi PSIM Yogyakarta yang
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 957
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
tidak begitu mengkilap dalam beberapa dekade terakhir menjadikan pengumpulan
artefak bersejarah yang berkaitan dengan PSIM Yogyakarta relatif lebih sulit
dibandingkan dengan pengumpulan artefak klub – klub lain yang lebih berprestasi.
Sekali lagi, Bawah Skor Mandala memperlihatan konsistensinya dalam
menyajikan nostalgia dan arsip secara berbeda. Walaupun dengan segala keterbatasan
pendanaan, OBA harus diapresiasi sebagai upaya penyelamatan catatan sejarah dan
artefak klub sepak bola, sejarah kota dan sepak bola Indonesia.
7.
Epilog
Bawah Skor Mandala merupakan fenomena menarik dalam kajian tentang fandom
fans sepak bola Indonesia dalam relasinya dengan kultur urban anak muda kota. Jika
selama ini fandom fans sepak bola Indonesia identik dengan kekerasan yang
melibatkan suporter sepak bola, sebagaimana yang mudah dijumpai dalam
pemberitaan media massa, maka Bawah Skor Mandala memberikan perspektif yang
berbeda. Alih – alih terjebak dalam pusaran kekerasan dan konflik suporter sepak
bola, Bawah Skor Mandala bergerak atas dasar inisiatif dan kesukarelaan untuk
mendokumentasikan sejarah PSIM Yogyakarta.
Bawah Skor Mandala menjadikan kerja – kerja pengarsipan yang selama ini
identik dengan kerja yang membosankan menjadi aktivitas kultural yang populer bagi
anak muda. Pameran Team Suratin 1992 : Genealogy of Hope dan Omah Bersama
(OBA) memperlihatkan bagaimana Bawah Skor Mandala selangkah lebih maju
dibanding manajemen klub sepak bola di Indonesia.
Pemanfaatan gadget dan media sosial oleh Bawah Skor Mandala dalam
mempopulerkan pengarsipan dan nostalgia atas PSIM Yogyakarta di masa lalu adalah
langkah sederhana, namun bermakna dalam melestarikan sejarah klub, sekaligus juga
sejarah kota. Dalam perspektif peran dan tanggung jawab klub, kerja – kerja yang
dilakukan oleh Bawah Skor Mandala memperlihatkan ironi atas ketidakpedulian dan
atau ketidakmengertian manajemen klub mengenai pentingnya pengarsipan sejarah
klub, sebagai bagian dari sejarah kota dan sejarah sepak bola nasional.
DAFTAR PUSTAKA
Real, Michael R (1996). Exploring Media Culture : A Guide. London, Sage Publications
Croteu, David dan Hoynes, William (2000).Media/Society : Industries, Images and Audience.
London, Fine Forge Press
958 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
Fuller, Andy (2014). The Struggle for Soccer in Indonesia. Yogyakarta, Tan Kinira
Moleong, Lexy (2001). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung, Rosda Karya
BIODATA PENULIS
Fajar Junaedi, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Aktif
meneliti tentang fans sepak bola. Menulis esai, artikel dan buku tentang fans sepak bola, juga
beberapa buku di ranah Komunikasi. E - mail [email protected]. Twitter @fajarjun
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 959
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
ETIKA DAN TANGGUNG JAWAB KEPEMIMPINAN
(Studi hadith-hadith Rasulullah tentang al-imam dan al-Imamah)
Nurul Iman
Staf Pengajar FAI Universitas Muhammadiyah Ponorogo
[email protected]
ABSTRAK
Masalah kepemimpinan (leadership) menjadi persoalan yang signifikan pada dekade terakhir
dalam hubungannya dengan kesuksesan sebuah organisasi pada level apapun. Kepemimpinan
baik politik maupun non politik merupakan “kedudukan” yang memungkinkan seseorang
untuk mengelola wewenang kekuasaan dalam rangka tujuan tertentu sesuai amanat yang
diterimanya. Islam memiliki cara pandang tersendiri terhadap kepemimpinan. Kepemimpinan
dianggap sebagai amanat, tanggung jawab, kesempatan beramal, pelayanan masyarakat dan
bukan semata-mata sebagai kekuasaan, wewenang atau bahkan alat untuk melakukan
penindasan dan kezaliman. Dalam makalah ini akan diuraikan konsep kepemimpinan Islam
dengan fokus studi kajian hadith-hadith Rasulullah tentang al-imam dan al-imamah.
Pembatasan kajian ini dimaksudkan agar diperoleh gambaran dasar yang menyeluruh tentang
ajaran Islam berkenaan dengan kepemimpinan ini.
Kata kunci: al-imam; al-Imamah; etika; tanggung jawab kepemimpinan
PENDAHULUAN
Islam diyakini sebagai agama universal yang mengatur seluruh kehidupan seorang muslim.
Islam yang merupakan petunjuk menuntut pemeluknya untuk mengaplikasikan ajarannya
dalam kehidupan. Politik --yang berkaitan dengan kekuasaan dan negara-- sebagai bagian
kehidupan tentunya tidak terlepas dari aturan Islam. Negara yang merupakan institusi politik
sangat dibutuhkan sebagai wadah dan pelindung bagi pengaplikasikan ajaran-ajaran tersebut.
Menurut al-Maududi, banyak kebijakan syariat Islam yang tidak dapat dilaksanakan kecuali
jika ada negara, seperti halnya penegakan hukum pidana51. Hanya saja dalam kenyataannya,
masalah kekuasaan dan kepemimpinan masih menjadi materi yang terus diperdebatkan di
kalangan pemikir hingga saat ini.
Sejarah mencatat bahwa persoalan pertama yang diperselisihkan sepeninggal
Rasulullah (632 M) antara Muhajirin dan Anshar adalah masalah imamah52 (kepemimpinan)
atau kekuasaan politik. Masalah ini dapat diselesaikan dengan diangkatnya Abu Bakar
51
Abu A’la al-Maududi, The Islamic Law and Constitution, terj. Asep Hikmat, Sistem Politik Islam, (Bandung:
Mizan, 1995), 35.
52
Nazih Ayubi, Political Islam (London: Routledge, 1991), 1.
960 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
sebagai khalifah pertama, tetapi masalah ini pula yang kemudian memecah belah umat Islam
menjadi Ahl Sunnah, Syiah dan Khawarij, dan memakan korban terbunuhnya Ali bin Abi
Thalib (661 H).
Pemikiran tentang politik Islam sejatinya telah dikenal di kalangan Fuqaha seperti Abu
Hanifah (767 M) dan Imam Syafi’i (819 M). Corak pemikiran mereka masih bersifat
legalistik normatif karena berakar pada teks-teks Al-Qur’an dan Sunnah. Unsur kesejarahan
kemudian menjadi nampak pada abad ke V seperti dalam karya Ali Bin Muhammad alMawardi (450 H/1058 M). Pemikiran sosiologis historis dikemukakan oleh Abdurrahman bin
Khaldun (1404 M).53
Makalah yang sederhana ini tidak akan membahas
pemikiran para tokoh Islam
tersebut, tetapi secara khusus akan menfokuskan kajian pada teks hadith-hadith Rasulullah
berkenaan dengan masalah kepemimpinan politik khususnya dengan kata kunci imam dan
imamah. Arah pembahasan ini dipilih untuk menyederhanakan konsep berpikir tentang
politik dan kepemimpinan Islam berdasar pada petunjuk Rasulullah SAW.
LANDASAN TEORI
1.
Pemimpin Dalam Islam Dan Karakteristiknya
Dalam Islam, terdapat berbagai istilah yang digunakan untuk menyebut pemimpin dan
kepemimpinan. Terdapat kata khalifah, imam, uli al-amri, wali, dan ra’in, untuk
menyebut pemimpin Islam. Dari ungkapan tersebut, lalu istilah kepemimpinan Islam
disebut sebagai khilafah, imamah, amr al-mukminin, wilayah, dan ri’ayah.54
Secara bahasa imam menurut Anton Na’mah diartikan sebagai: man ya’tamm
bih al-nnas min rais aw ghairuh (siapa yang diikuti oleh orang lain baik pemimpin
atau selainnya);
atau
khalifah;
syakhs yujassad matsalan a’la (seseorang yang
diperhitungkan sebagai panutan utama).55 Sedangkan Hans Wehr menyebut imam
sebagai pemimpin (leader), pemimpin shalat, penguasa (master), dan garis tegak lurus
(plumb line)56.
Definisi kebahasaan ini menegaskan bahwa imam atau pemimpin merupakan
sosok panutan yang diperhitungkan dikarenakan kecakapan agama maupun kualitas
53
Abdul Muin Salim, Konsepsi Kekuasaan Politik dalam Al-Qur’an, (Jakarta: LSIK, 1994), 35.
M. Dian Supyan, Kepemimpinan dalam Tafsir al-Misbah, (Yogyakarta: IAIN Suka, 2013), 64-86
55
Anton Na’mah et.al. al-Munjid fi al-Lughah al-Arabiyah al-Mu’ashirah, (Beirut: Dar al-Masyriq, 2001), 43.
56
Hans Wehr, A Dictionary of Modern Written Arabic, (Beirut: Librairie Du Liban, 1974), 25.
54
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 961
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
dirinya. Aspek kepemimpinan dalam shalat serta sifat pemimpin yang tegak lurus
menjadikan pemimpin sebagai panutan yang disegani.
Dengan merujuk definisi etimologi tersebut, secara istilah pemimpin menurut M.
Ahmad Lauh diartikan sebagai “seseorang yang dapat diikuti oleh orang lain, baik ia
seorang kepala, tokoh panutan, imam shalat, khalifah, maupun panglima pasukan”57.
Hal ini sesuai dengan hadit Rasulullah bahwa seorang pemimpin atau imam adalah
sosok yang dapat diikuti. Lauh menambahkan bahwa lafal al-imamah secara sendiri
tidak mengandung pujian atau celaan, hingga berhimpun kepadanya sifat lain. Karena
itu sering dikatakan oleh ulama istilah imam al-huda (pemimpin penuh petunjuk) dan
imam al-dhalalah (imam kesesatan).
Abdullah bin Abdul Muhsin al-Thariqi menyebut pemimpin dalam Islam
memiliki aspek ar-riasah al-‘ammah (otoritas umum) di dalam agama dan dunia
sekaligus58. Karenanya siapa saja yang menjadi pemimpin, dialah pemimpin yang
menjaga agama dan mengendalikan urusan dunia. Inilah tuntutan penting dalam
kehidupan kaum muslimin.
Untuk menilai sebuah kepemimpinan dapat disebut
sebagai imam al-huda,
maka Muhadi Zainudin menyebut ciri kepemimpinan Islami, didasarkan kepada sistem
dan cara yang dipraktekkan dalam memimpin seseorang59. Esposito menyebut bahwa
prinsip umum tentang syarat minimal bagi kepemimpinan (pemerintahan) Islam adalah
bersesuaiannya dengan syariah, bukan watak kepala negara. Hukum Islam adalah
kriteria bagi legitimasi sebuah kepemimpinan (negara) Islam60.
S. al-Awa menambahkan bahwa prinsip-prinsip dasar yang harus dipenuhi oleh
kepemimpinan Islam adalah: a) al-Shura (mutual consultation); b) keadilan (justice); c)
kebebasan (freedom); d) persamaan (equality); e) pertanggungjawaban pemimpin dan
ketaatan rakyat61. Prinsip-prinsip tersebut merupakan supreme values yang mempunyai
banyak pengaruh terhadap format konsep kepemimpinan (negara) Islam, fungsifungsinya, serta sistem pemerintahannya.
57
M. Ahmad Lauh, “al-Imamah wa Makanatuha fi al-Islam” dalam www.darmalo.com/spip. php?article 312
diakses 20 maret 2016.
58
Abdullah bin Abdul Muhsin al-Thariqi, Al-Imamah fi al-Islam Usus wa Mabadi’ wa Wajibat, (Dubai:
Maktabah al Malik Fahd, 1415)29.
59
Mahdi Zainuddin, Studi Kepemimpinan Isam, (Yogyakarta: al-Muhsin, 2002), 15-16.
60
John L. Esposito, Islam dan Politik, (Jakarta: Bulan Bintang, 1990), 41.
61
Muhamed S. al-Awa, On The Political of The Islamic State, (Indiana: American Trust Publication, 1978), 83.
962 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
Selain prinsip-prinsip dasar yang dipegangi tersebut, kepemimpinan dapat
berjalan sukses jika ditunjang oleh karakter kuat diri pemimpin. AF Djunaerdi dengan
merujuk pada teori Prijosaksono (2002) tentang Q Leader (IQ-EQ-SQ), menyebut
aspek kepemimpinan yang baik menggabungkan aspek-aspek berikut: 1) Perubahan
karakter dari dalam (character change); 2) Visi yang jelas (clear vision); dan 3)
Kemampuan atau kompetensi yang tinggi (competence)62. Ketiga karakter tersebut
dilandasi dan didukung sikap disiplin yang tinggi untuk senantiasa tumbuh, berkembang
baik secara internal (kemampuan intrapersonal, teknis, pengetahuan dan lainnya)
maupun dalam hubungannya dengan orang lain (kemampuan interpersonal dan metode
kepemimpinan).
METODE PENELITIAN
Kajian dalam makalah ini merupakan hasil penelitian yang bercorak kepustakaan (library
research) dalam arti bahwa semua sumber datanya berasal dari bahan-bahan tertulis yang
berkaitan dengan topic yang dibahas berupa buku-buku hadits.
Data-data yang berhasil
dihimpun tentang hadith-hadith bertema al-imam dan al-imamah diinterpretasi kualitatif
untuk selanjutnya dibuat generalisasi. Penyajian data dilakukan secara deskriptif kualitatif,
setelah itu baru diambil kesimpulan.
HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS
1.
Hadits-hadits Nabi Tentang al-Imam dan al-Imamah
Berdasar penelusuran pustaka terhadap hadith-hadith tentang al-imam dan al-imamah,
ditemukan
lebih dari lima puluh hadith.
Hanya saja kajian hadith dalam makalah ini
difokuskan pada enam buah hadist berikut:
1. Hadits Kesatu
‫ ﻓﺈن ﻋﻠﯿﮫ وزرًا(؛‬،‫ وإن أﻣﺮ ﺑﻐﯿﺮه‬،‫ ﻓﺈن ﻟﮫ ﺑﺬﻟﻚ أﺟ ًﺮا‬،‫ ﻓﺈن أﻣﺮ ﺑﺘﻘﻮى ﷲ و َﻋﺪَل‬،‫)إﻧﻤﺎ اﻹﻣﺎم ُﺟﻨﱠﺔ؛ ﯾُﻘﺎﺗَﻞ ﻣﻦ وراﺋﮫ وﯾﺘﻘﻰ ﺑﮫ‬
‫ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﯿﮫ‬
“Sesungguhnya imam itu ibarat perisai, yang berperang dan berlindung di belakangnya.
Jika dia memerintah dengan ketakwaan kepada Allah dan berbuat adil, maka baginya
62
AF. Djunaedi. “Filosofi dan Etika Kepemimpinan Dalam Islam” dalam Al-Mawardi (Yogyakarta: UII, 2005),
56
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 963
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
pahala. Jika dia memerintah dengan selain itu, maka ia akan ditimpa dosa”. (Muttafaq
‘Alaih)
2. Hadits Kedua
،‫ وﯾﻔﺘﺢ ﻟﮭﺎ أﺑﻮاب اﻟﺴﻤﺎء‬،‫ ﯾﺮﻓﻌﮭﺎ ﷲ ﻓﻮق اﻟﻐﻤﺎم‬،‫ ودﻋﻮة اﻟﻤﻈﻠﻮم‬،‫ واﻹﻣﺎم اﻟﻌﺎدل‬،‫ اﻟﺼﺎﺋﻢ ﺣﺘﻰ ﯾُﻔ ِﻄﺮ‬:‫)ﺛﻼﺛﺔ ﻻ ﺗﺮد دﻋﻮﺗﮭﻢ‬
‫ وأﺣﻤﺪ‬،‫ وﻋﺰﺗﻲ ﻷﻧﺼﺮﻧﱠﻚ وﻟﻮ ﺑﻌﺪ ﺣﯿﻦ(؛ أﺧﺮﺟﮫ اﻟﺘﺮﻣﺬي‬:‫وﯾﻘﻮل اﻟﺮب‬
“Tiga golongan yang tidak ditolak permohonannya oleh Allah: Seorang yang berpuasa
hingga ia berbuka; imam yang adil; dan doa seorang yang terdholimi.
mengangkatnya
Allah akan
diatas diatas awan dan membukakan pintu-pintu langit. Allah lalu
berfirman: “Dan demi keagunganKu. Aku sungguh akan menolongnya walau sesudah
beberapa saat”. (HR. Tirmidzi dan Ahmad)
Hadit ini menegaskan bahwa diantara golongan yang tidak dapat ditolak doanya oleh
Allah SWT adalah seorang yang berpuasa, imam yang adil, serta orang yang teraniaya
(termasuk rakyat kecil). Allah bahkan bersumpah untuk memastikan pertolonganNya bagi
ketiga golongan tersebut.
3. Hadits Ketiga
‫ إﻻ ﻟﻢ ﯾﺪﺧﻞ ﻣﻌﮭﻢ اﻟﺠﻨﺔ( أﺧﺮﺟﮫ ﻣﺴﻠﻢ‬،‫ ﺛﻢ ﻻ ﯾﺠﮭﺪ ﻟﮭﻢ وﯾﻨﺼﺢ‬،‫أﻣﯿﺮ ﯾَﻠِﻲ أﻣﺮ اﻟﻤﺴﻠﻤﯿﻦ‬
‫)ﻣﺎ ﻣﻦ‬
ٍ
“Barang siapa yang memikul kepemimpinan kaum muslim, kemudian ia tidak bersungguhsungguh dan membela urusan mereka, ma tidak ia masuk surga bersama mereka” (HR.
Muslim)
Hadits ini menegaskan bahwa kepemimpinan merupakan tanggung jawab yang
seharusnya ditunaian dengan penuh kesungguhan. Rasulullah menyebut pemimpin yang abai
terhadap kenyataan ini, tidak diperkenankan masuk surga bersama mereka yang dipimpinnya.
4. Hadits Keempat
‫ وأ ﱠدى‬،‫ إﻻ ﻣﻦ أﺧﺬھﺎ ﺑﺤﻘﮭﺎ‬،‫ وإﻧﮭﺎ ﯾﻮم اﻟﻘﯿﺎﻣﺔ ﺧﺰي وﻧﺪاﻣﺔ‬،‫ )إﻧﮭﺎ أﻣﺎﻧﺔ‬:‫ ﻓﻲ اﻹﻣﺎرة‬-‫رﺿﻲ ﷲ ﻋﻨﮫ‬- ‫ﻗﺎ رﺳﻮل ﷲ ﻷﺑﻲ ذر‬
‫اﻟﺬي ﻋﻠﯿﮫ ﻓﯿﮭﺎ(؛ أﺧﺮﺟﮫ ﻣﺴﻠﻢ‬
Rasulullah bersabda kepada Abu Dzarr: “Sesungguhnya kepemimpinan itu adalah amanat,
dan di hari kiamat akan menjelma menjadi kehinaan dan penyesalan, keuali orang yang
menunaikannya dengan penuh tanggungjawab” (HR. Muslim)
Sunnah Rasul telah menunjukkan bahwa kepemimpinan merupakan amanat yang
wajib ditunaikan. Jika tidak ditunaikan, amanat kepemimpinan menjadi penyebab kehinaan
964 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
dan penyesalan. Sebaliknya jika dapat ditunaikan, maka ia akan mengantarkan kepada
kemulyaan dan kejayaan, didunia dan akhirat.
5. Hadist Kelima
‫ واﻟﺸﯿﺦ‬،‫ واﻟﻔﻘﯿﺮ اﻟﻤﺨﺘﺎل‬،‫ اﻟﺒﯿﺎع اﻟﺤﻼف‬:‫ " أرﺑﻌﺔ ﯾﺒﻐﻀﮭﻢ ﷲ‬:‫ﻋﻦ أﺑﻲ ھﺮﯾﺮة أن رﺳﻮل ﷲ ﺻﻠﻰ ﷲ ﻋﻠﯿﮫ وﺳﻠﻢ ﻗﺎل‬
‫ﺳﻨﻨﮫ‬
«‫ﻓﻲ‬
‫اﻟﻨﺴﺎﺋﻲ‬
‫أﺧﺮﺟﮫ‬
‫ﺣﺴﻦ‬
‫ﺣﺪﯾﺚ‬
‫»ھﺬا‬
‫اﻟﺠﺎﺋﺮ‬
‫واﻹﻣﺎم‬
‫اﻟﺰاﻧﻲ؛‬
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Empat golongan yang dibenci Allah:
Penjual yang banyak sumpah; Fakir yang sombong; Orang tua yang berzina; Imam yang
berbuat aniaya” (HR. Nasai)
Dalam hadits tersebut terdapat larangan bagi imam untuk berbuat aniaya. Jika tidak,
maka ia akan bergabung ke dalam golongan yang dibenci Allah bersama penjual yang
mengumbar sumpah, fakir yang sombong, serta orang tua pezina.
6. Hadits Keenam
‫ إﻻ أﻏﻠﻖ ﷲ أﺑﻮاب اﻟﺴﻤﺎء دون ﺧﻠﺘﮫ وﺣﺎﺟﺘﮫ وﻣﺴﻜﻨﺘﮫ(؛‬،‫)ﻣﺎ ﻣﻦ إﻣﺎم أو وا ٍل ﯾﻐﻠﻖ ﺑﺎﺑﮫ دون ذوي اﻟﺤﺎﺟﺔ واﻟﺨﻠﺔ واﻟﻤﺴﻜﻨﺔ‬
.‫ﺻﺤﯿﺢ؛ أﺧﺮﺟﮫ أﺣﻤﺪ‬
“Tidaklah terdapat seorang pemimpin atau penguasa yang menutup pintu rumahnya dari
(rakyat) yang memiliki kebutuhan, papa, dan miskin, kecuali Allah akan menutup pintu
langitnya ketia ia butuh dan miskin”. (HR. Ahmad)
Dalam hadit ini, menurut al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul al-Ahwadzi,
Allah akan
memberikan penolakan (ihtijab) terhadap kebutuhan seorang pemimpin jika ia enggan dan
menghindar dalam memenuhi kebutuhan rakyatnya. Penyebutan al-hajah, al-khullah, dan almaskanah yang nota bene berdekatan maknanya tersebut merupakan bentuk ta’kid dan
penekanan terhadap ancaman Allah tersebut63.
2.
Etika Dan Tanggung Jawab Kepemimpinan Menurut Hadits Nabi
Dari uraian terhadap hadit-hadit tersebut tersebut dapat dipahami beberapa hal berikut ini:
1. Seorang pemimpin haruslah adil dan melindungi rakyatnya. Keadilan merukan syarat
diperolehnya pahala, dan sebaliknya ketidakadilan hanya akan mengundang datangnya
dosa.
63
Muhammad ‘Abdurrahman bin Abdurrahim Al-Mubarakfuri, Tuhfat al-Akhwadzi Syarh Sunan al-Tirmidzi,
(Beirut: Darul Fikri, 2008), 469.
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 965
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
2. Seorang pemimpin yang adil akan diperkenankan doanya oleh Allah dan tidak akan
ditolak permohonannya.
3. Seorang pemimpin harus bersungguh-sungguh dalam bekerja dan
membela
kepentingan kaum muslimin dan rakyatnya.
4. Seorang pemimpin dilarang untuk berbuat aniaya dan kedhaliman.
5. Seorang pemimpin dilarang untuk mengambil “jarak” dan menghindar dari
problematika rakyatnya.
Petunjuk dan ajaran dari hadits tersebut jika diperhatikan menegaskan
tentang
tanggung jawab seorang pemimpin dalam Islam dalam memberikan layanan bagi rakyat.
Karena itu dikenal istilah “sayyid al-qaumi khadimuhum” yang berarti bahwa pemimpin
suatu komunitas sejatinya adalah pelayan yang berusaha memenuhi kebutuhan dan
menyesaikan problematika mereka.
Dengan adanya sikap Islam terhadap kepemimpinan tersebut tidak berlebihan jika
kepemimpinan dan kekuasaan dipandang sebagai alat dan bukan bukan tujuan.
Kepemimpinan menjadi sara bagi penegakan nilai-nilai agama serta terciptanya kesejahteraan
sosial. Kepemimpinan bahkan dapat berfungsi sebagai media dakwah jika mengindahkan
nilai-nilai Islam. Karena itu, penulis sependapat dengan Amin Rais bahwa tidak ada
sekularisasi dalam politik Islam, meskipun menurut sebagian orang sekularisasi dianggap
proses yang mau tidak mau harus membarengi modernisasi. Sekularisasi yang salah satu
komponennya adalah “desakralisasi politik” akan menghapuskan legitimasi sakral (termasuk
agama) atas otoritas kekuasaan64. Najih Ayubi menambahkan bahwa sekularisme merupakan
fenomena yang tidak ada relevansinya dengan sejarah Islam dikarenakan dua hal. Pertama,
Islam tidak memiliki gereja dan sistem hirarki kependetaan. Kedua, agama Kristen berisi
pokok-pokok kepercayaan, sedangkan Islam berupa sistem syariat menyeluruh yang
mencakup urusan ibadah dan muamalah. Karenanya, Islam identik dengan way of life dan
bukan hanya sebagai agama akhirat (din al-akhirah). Dalam Kristen hanya terdapat sedikit
peraturan yang mengorganisasikan urusan sosial dan ekonomi baik dalam kehidupan pribadi
maupun masyarakat65.
Dengan menjadikan politik sebagai alat bagi penegakan nilai-nilai agama, pemenuhan
kesejahteraan sosial, dan media dakwah, maka seorang muslim akan memandang kekuasaan,
64
65
M. Amin Rais, Cakrawala Islam, (Bandung: Mizan, 1994), 28.
Najih Ayubi, Political Islam, (London: Routledge, 1991), 45-49.
966 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
pengaruh, posisi politik, sebagai sarana untuk mencapai tujuan yang sesungguhnya, yakni
pengabdian kepada Allah dan lii’lai kalimatillah (meninggikan agama Allah).
KESIMPULAN
Islam adalah agama paripurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk
kepemimpinan dan politik. Dari kajian terhadap hadith-hadith Rasulullah tentang al-imam dan
al-imamah terdahulu dapat dipahami bahwa
pemimpin dalam Islam
pelayan bagi
kepentingan rakyatnya. Khalifah yang merupakan pemimpin politik tertinggi bahkan
menyebut dirinya sebagai amir al-mukminin (suruhan kaum mukmin).
Kepemimpinan
merupakan amanat rakyat yang harus ditunaikan sebaik-baiknya.
Dalam menjalankan kepemimpinannya, keadilan
menjadi pokok persoalan yang
selalu harus dikedepankan. Sebaliknya kedzaliman atau aniaya, haruslah dihindari.
Segala perencanan, tindakan, dan keputusan seorang pemimpin seharusnya dicermati
apakah memang telah mencerminkan keadilan. Rasul menegaskan bahwa pahala dan dosa
yang akan didapat pemimpin, bergantung pada sejauhmana prinsip keadilan ini ditegakkan.
DAFTAR PUSTAKA
al-Awa, Muhamed S. 1975. On The Political of The Islamic State. Indiana: American Trust
Publication.
al-Maududi, Abu A’la, 1995. The Islamic Law and Constitution, terj. Asep Hikmat, Sistem
Politik Islam. Bandung: Mizan.
Al-Mubarakfuri, Muhammad ‘Abdurrahman bin Abdurrahim, 2008. Tuhfat al-Akhwadzi
Syarh Sunan al-Tirmidzi. Beirut: Darul Fikri.
al-Thariqi, Abdullah bin Abdul Muhsin, 1415. Al-Imamah fi al-Islam Usus wa Mabadi’ wa
Wajibat. Dubai: Maktabah al Malik Fahd.
Ayubi, Nazih, 1991. Political Islam. London: Routledge.
Djunaedi. AF. 2005. “Filosofi dan Etika Kepemimpinan Dalam Islam” dalam Al-Mawardi.
Yogyakarta: UII.
Esposito, John L. 1990. Islam dan Politik. Jakarta: Bulan Bintang.
Lauh, M. Ahmad, 2016. “al-Imamah wa Makanatuha fi al-Islam” dalam www.darmalo.com/spip.
php?article312 diakses 20 maret 2016.
Na’mah, Anton et.al. 2001. al-Munjid fi al-Lughah al-Arabiyah al-Mu’ashirah, Beirut: Dar
al-Masyriq.
Rais, M. Amin, Cakrawala Islam, (Bandung: Mizan, 1994), 28.
Salim, Abdul Muin. 1994. Konsepsi Kekuasaan Politik dalam Al-Qur’an. Jakarta: LSIK.
Supyan, M. Dian, 2013. Kepemimpinan dalam Tafsir al-Misbah, Yogyakarta: IAIN Suka.
Wehr, Hans, 1974. A Dictionary of Modern Written Arabic. Beirut: Librairie Du Liban.
Zainuddin, Mahdi, 2002. Studi Kepemimpinan Isam. Yogyakarta: al-Muhsin.
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 967
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
GAYA KEPEMIMPINAN DALAM ORGANISASI:
Membangun Komunikasi Organisasi yang Efektif di Era MEA
Joko Sutarso
Universitas Muhammadiyah Surakarta
[email protected]
ABSTRAK
Pelaksanaan kesepakatan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sebagai integrasi ekonomi
kawasan dapat dipahami dari berkembangnya isu globalisasi tahun 2000an, sehingga negaranegara kawasan ASEAN, yang umumnya negara berkembang, membuat kesepakatan untuk
bersatu menjadi komunitas ekonomi dalam rangka memenangi kompetisi dengan kawasan
yang lain. Ketika MEA disepakati, maka tidak ada lagi hambatan keluar masuknya produk
barang, jasa, perdagangan dan tenaga kerja diantara sesamama negara ASEAN.
Kepemimpinan menjadi faktor penting dalam perubahan konstelasi politik dan ekonomi,
sehingga pemimpinan harus memiliki pandangan (vision) terhadap kepentingan organisasi
dalam konteks lokal, nasional, regional bahkan global. Diperlukan gaya kepemimpinan yang
demokratis dan mampu berkomunikasi efektif untuk menggerakkan organisasi untuk
mencapai tujuan.
Kata Kunci: Gaya Kepemimpinan, Komunikasi Organisasi, MEA
PENDAHULUAN
Dalam era reformasi ditandai oleh perubahan besar dalam tata kehidupan, baik ditinjau dari
aspek sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Globalisasi telah mendorong masyarakat menjadi
semakin terbuka terhadap pengaruh dari luar wilayah suatu negara. Negara besar yang
menguasi teknologi informasi dan komunikasi memiliki pengaruh yang besar terhadap negara
berkembang pada umumnya. Daya saing antara satu negara terhadap negara lain menjadi hal
yang begitu penting dalam hubungan ekonomi antar bangsa sehingga keunggulan kompetitif
(kompetitif advantages) suatu bangsa sangat menentukan eksistensinya. Kelemahan daya
saing di negara-negara ASEAN hendak ditingkatkan dengan cara mengintegrasikan ASEAN
sebagai kawasan ekonomi regional yang diharapkan mampu berkompetisi dengan kawasan
lain.
Azyumardi Azra (2002: 224) mendefinisikan globalisasi sebagai arus orang-orang,
barang-barang dan jasa, informasi dan gagasan melewati batas-batas negara-bangsa dan
kebudayaan lokal, nasional dan regional. Menurut Giddens (2001) globalisasi merupakan
fenomena yang hampir tidak bisa dihindari oleh suatu masyarakat modern sekarang, sekalipun
968 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
tidak semua konsekuensinya menguntungkan dan baik bagi negara tersebut. Bagi negara yang
sedang berkembang yang kualitas SDM rendah sehingga produktivitasnya dan daya saing
rendah, globalisasi dapat menimbulkan kosekuensi yang kurang menguntungkan bagi
perekonomiannya.
Pada awalnya, pengaruh globalisasi sangat terasa pada bidang ekonomi dan telah
melahirkan tata economi baru (new economy). Perkembangan new economy menuntut
perubahan-perubahan baik di dalam organisasi maupun dalam tingkah laku para pelaku
ekonomi di berbagai negara. Dengan kata lain, era globalisasi disamping sangat dipengaruhi
oleh penguasaan atas teknologi informasi dan komunikasi juga memerlukan kerjasama
ekonomi antar bangsa. Untuk itu masyarakat memerlukan pemahaman terhadap berbagai
latar budaya
masyarakat antar bangsa sebagai dasar untuk menjalin komunikasi dan
pemahaman antar bangsa (Nugroho dan Cahayani, 2003: 2).
TANTANAN
EKONOMI BARU DI ERA GLOBALISASI DAN MASYARA-KAT
EKONOMI ASEAN (MEA)
Pengaruh globalisasi terhadap perekonomian suatu bangsa dapat dipahami dengan melihat
bagaimana kehidupan antar bangsa terjalin dan semakin terhubung (interconnected) satu sama
lainnya. Bentuk nyata semakin terhubungnya satu bangsa dengan bangsa lain dapat dilihat
dari semakin banyaknya perusahaan-perusahaan atau koorporasi multinasional dari negaranegara maju melebarkan sayap di berbagai negara belahan dunia yang lain.
Restoran makanan siap saji dan produk minuman bermerek internasional seperti Coca
Cola dan Pepsi misalnya, sekarang dapat ditemui di berbagai kota dan bahkan di pedesaan
Indonesia. Restoran dan produk minuman ini tidak hanya dimaksudkan untuk melayani
tenaga kerja ekspatriat di Indonesia yang jumlahnya tidak terlalu besar, tetapi terutama untuk
melayani para pelanggan lokal yang semakin akrab dengan selera produk global ini.
Fenomena yang lain, dalam globalisasi juga ditandai dengan ekspansi perusahaan atau
koorporasi multinasional dengan menginvestasikan modalnya di negara berkembang, dengan
alasan untuk efisiensi dan mendekati pasar. Efisiensi ekonomis dapat dicapai karena di negara
berkembang umumnya, tenaga kerja dan beberapa faktor produksi lainnya relatif cukup
murah. Sedangkan dari sisi pemasaran, dapat dihemat beberapa komponen biaya, seperti
biaya transportasi, karena produk dibuat semakin dekat dengan pasar atau konsumennya.
ASEAN selama ini menjadi pasar yang penting, tetapi belum dapat menjadi produsen yang
ikut bermain dan menikmati nilai tambah ekononomi (value added) produk global, sehingga
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 969
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
di era MEA diharapkan produk barang, jasa dan tenaga kerja bersinergi membentuk kekuatan
ekonomi yang kompetitif.
Permasalahan yang umumnya muncul sebagai akibat dari semakin banyaknya
perusahaan asing di negara berkembang yang melibatkan tenaga kerja lokal adalah adanya
kendala bahasa atau komunikasi dan kesenjangan budaya. Kendala bahasa dapat di atasi
dengan waktu yang relatif cepat dengan memberikan kursus atau pendidikan ketrampilan
berbahasa kepada para staf dan karyawan lokal di suatu perusahaan multinasional, apalagi
sekarang banyak lembaga pendidikan yang mengharuskan peserta didik untuk menguasai
bahasa, terutama bahasa Inggris dengan standar tertentu sebagai syarat kelulusan. Sementara
itu kesenjangan budaya tidak bisa diselesaikan secara cepat sebagaimana mengatasi kendala
bahasa.
Masalah ini terkait erat dengan dunia pendidikan. Permasalahannya kemudian adalah
bagaimana pendidikan tidak hanya memberikan pengetahuan dan ketrampilan bekerja namun
juga mampu mengatasi dan mengantisipasi kesenjangan budaya dalam rangka menyiapkan
peserta didik agar memiliki kemampuan beradaptasi dengan berbagai kultur yang terdapat
dalam dunia kerja di era MEA pada khususnya dan global pada umumnya. Toleransi dan
pemahaman terhadap kultur berbagai bangsa akan berpengaruh terhadap kemampuan
seseorang dalam meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam bekerja bersama dengan orangorang dengan berbagai ragam latar kultural yang berbeda-beda. Dengan demikian pendekatan
kultural dalam pendidikan diharapkan dapat meningkatkan pengertian dan pemahaman
berbagai latar budaya yang beraneka ragam sehingga mereka bisa berkomunikasi secara
efektif, disamping tentunya berusaha meningkatkan mutu SDM dan daya saingnya.
Pengaruh globalisasi terhadap eksistensi negara-bangsa dikemukakan oleh Kenichi
Ohmae (2002) yang mengemukakan bahwa ada kecenderungan munculnya negara kawasan
(regionalisasi). Munculnya negara kawasan ini ini sangat kelihatan terutama dalam bidang
kerjasama ekonomi, seperti munculnya Uni Eropa dengan mata uang Euro, APEC, AFTA,
MEA, dsb. Hal senada dikemukakan Daniel Bell dalam Buchori (2001: 27) yang
mengemukakan bahwa ada dua kecenderungan yang bertolak belakang di masa depan, yaitu
kecenderungan untuk beritegrasi dalam bidang ekonomi, dan kecenderungan untuk berpecah
belah (fragmentasi) dalam kehidupan politik. Dalam beberapa hal, predikasi fragmentasi
kehidupan politik ini bahkan telah terjadi di negara-negara Eropa Timur dan Balkan di era
tahun 90an.
970 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
Gejala globalisasi sudah lama dirasakan oleh negara-negara berkembang dalam bentuk
simbol-simbol modernisasi sebagaimana disebut oleh Alvin Toffler (1992) sebagai 3 F, yaitu
Food, Fun dan Fashion. Food maksudnya makanan sebagaimana tersaji dalam berbagai
produk makanan fast food seperti Kentucky Fried Chicken (KFC), Mc Donald, Pizza Hut,
dsb. Disamping produk makanan, masyarakat negara berkembang juga semakin akrab dengan
minuman coca cola, pepsi, sprite, dan produk-produk lainnya. Pengaruh dunia fun bisa dilihat
dari begitu besarnya pengaruh hiburan baik berupa film baik layar lebar maupun televisi,
musik dan dunia gemerlap lainnya. Dunia hiburan ini erat hubungannya dengan fashion,
karena melalui dunia hiburan diperkenalkan model baju, asesori, rambut dan dandanan
lainnya. Pengaruh ini ternyata tidak hanya terjadi pada kaum remaja saja. Tentu masih ingat
ketika muncul “demam” potongan rambut Demi Moore setelah sukses sang bintang dalam
film Ghost.
Sedangkan Kenichi Ohmae (2002) menyebutkan besarnya pengaruh “4I” yang akan
sangat berpengaruh di era global. Empat I tersebut meliputi: Pertama, Investasi. Pasar modal
dunia telah kelebihan investasi untuk memenuhi keperluan negara-negara maju, dan
masalahnya kesempatan investasi yang menjanjikan keuntungan besar tidak selalu sama
dengan darimana dana itu berasal. Investasi tidak lagi dibatasi oleh batas geografis ataupun
bangsa, bahkan kehadiran investasi ini sangat dinantikan di berbagai negara berkembang di
Asia pada umumnya. Namun investasi asing pada umumnya dengan mudah bisa pergi
manakala iklim investasi di negara tempat invest tersebut dianggap tidak lagi menguntungkan.
Kasus penutupan pabrik elektronik
Sony di Indonesia dapat menjelaskan fenomena ini.
Kedua, Industri. Industri tidak lagi harus selalu melakukan negoisasi dengan kepentingan
pemerintah. Di masa lalu pemerintah sebagai representasi negara dapat melakukan regulasi
pajak, tariff bea masuk atau subtitusi ekspor sebagai strategegi melindungi (proteksi) industri
dalam negeri. Di masa sekarang bentuk proteksi dan berbagai bentuk entry barier dilarang
dan negara yang merasa dirugikan oleh perdagangan yang tidak adil dapat mengajukannya ke
sidang GATT atau WTO. Dunia industri asing yang berada pada suatu negara pada umumnya
bertujuan untuk mendekati pasar potensial sekaligus mengurangi ongkos produksi seperti
misalnya murahnya tenaga kerja, tersedianya sumber daya alam dan untuk mengurangi
ongkos transportasi. Ketiga, teknologi informasi. Dengan kemajuan perkembangan teknologi
internet maka dapat dipahami bagaimana jaringan perusahaan multinasional mengembangkan
jaringan teknologi informasi yang memungkinkan untuk mengendalikan berbagai anak
perusahaannya di berbagai belahan dunia. Hal ini tentu semakin mengukuhkan bagaimana
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 971
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
new economy dunia terbentuk. Keempat, konsumen individual. Para konsumen tidak lagi
dikondisikan oleh larangan-larangan oleh pemerintah. Para konsumen dapat melakukan
pemilihan terhadap produk yang akan mereka konsumsi, misalnya karena harganya lebih
murah, sesuai selera dan
kualitas lebih baik tanpa memperdulikan darimana barang itu
berasal. Kompetisi antar bangsa menjadi semakin ketat. Kompetisi itu bisa berupa harga,
mutu maupun jumlah tanpa memperhatikan darimana barang itu berasal. Dengan demikian
batas-batas bangsa semakin kabur.
Dalam kaitannya dengan aspek internasionalisasi dalam aspek ekonomi dalam era
global ini Jeff S. Luke (1999: 16) menyatakan dua hal. Pertama, integrasi global dari pasar
modal sebagai salah satu bentuk dari produk revolusi komunikasi sehingga memudahkan
kapital berpindah dari negara-negara maju, dengan cepat berpindah ke ekonomi dunia. Kedua,
pembangunan industri yang mendunia telah diperkuat dengan persebaran pertumbuhan cepat
sebagai akibat kemajuan teknologi.
Memahami Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau ASEAN Economic
Community (AEC) sebagai kesepakatan anggota negara ASEAN untuk menjadi wilayah
ekonomi regional yang terintegrasi sehingga dapat bersaing dengan kawasan ekonomi dunia
yang lain. Komunitas ASEAN menjadi pasar dan basis produksi tunggal, sehingga tidak ada
hambatan atau proteksi pemerintah di bidang perdagangan barang, investasi, tenaga kerja
terampil (tersertifikasi), jasa dan aliran modal di kawasan tersebut. Saat ini ASEAN
merupakan pasar potensial bagi negara industri baru yang tumbuh pesat di kawasan Asia
(Tiongkok, Jepang, Korea dan India), di masa depan negara ASEAN diharapkan mampu
bangkit sebagai kawasan yang mampu berkompetisi di tingkat Asia maupun Pasifik (Arifin,
2008:5).
Karakteristik utama Masyarakat Ekonomi ASEAN, meliputi: 1). Pasar dan basis
produksi tunggal; 2). Kawasan Ekonomi yang kompetitif; 3). Wilayah pembangunan ekonomi
yang merata; dan 4). Daerah terintegrasi penuh dalam ekonomi global. (Bapennas, 2015).
Dengan pemahaman ini kita melihat persaingan bergeser dari wilayah negara ke wilayah
regional.
GAYA KEPEMIMPINAN YANG EFEKTIF DI ERA MEA
Kepemimpinan sebagai proses menerangkan pengaruh yang bersifat “memaksa” yang secara
langsung mengkoordinir kegiatan anggota suatu kelompok, dan mengarahkan mereka ke arah
tujuan yang telah ditetapkan. Sedangkan kepemimpinan sebagai sifat yang dimiliki pemimpin,
972 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
merupakan seperangkat karakter atau sifat-sifat yang dimiliki oleh seseorang sehingga dia
mempunyai pengaruh (kekuasaan) tertentu demi suksesnya suatu kelompok itu dalam
mencapai tujuan organisasi (Liliweri, 2004: 152).
Sumber daya manusia (SDM) merupakan faktor penting dan menentukan dalam
pencapaian tujuan-tujuan organisasi. Kepemimpinan berperan besar dalam melaksanakan
tugas-tugas mengelola organisasi. Pengelolaan atau manajemen organisasi relatif tetap, namun
gaya kepemimpinan manajemen nampaknya perlu diubah sejalan dengan perubahan
lingkungan organisasi, baik di tingkat lokal, nasional, Asia, ASEAN maupun di tingkat
internasional. Perubahan-perubahan tersebut akan mendorong perlu dipikirkannya kembali
gaya kepemimpinan yang efektif di tengah perubahan besar di era global.
Organisasi modern yang hampir setiap saat dihadapkan pada ketidakpastian dan
lingkungan yang cepat berubah maka organisasi dituntut untuk menjaga fleksibilitas, kerja
sama dan kekompakan tim, kepercayaan dan kemamuan berbagi informasi dan berkomunikasi
ke dalam dan keluar organisasi. Hal-hal ini mulai diadopsi untuk menggantikan struktur
organisasi yang kaku, kompetisi antar anggota organisasi yang menimbulkan konflik
disfungional, kontrol yang ketat dan kaku, dan kerahasiaan atau tidak transparan. Dalam
kondisi seperti itu diperlukan manajer yang mampu berkomunikasi efektif dalam berbagai
level komunikasi, yaitu manajer yang mau mendengarkan, memotivasi, memberikan
dukungan dan menggerakkan anak buahnya untuk mencapai tujuan.
Melalui pengelolaan komunikasi maka dapat dikurangi terjadinya konflik dan dapat
dijaga kerekatan hubungan antar anggota dan meningkatkan kemandirian organisasi. Di satu
sisi, keeratan hubungan menekankan kepada kebersamaan, sedangkan di sisi lain,
kemandirian menekankan pada pemisahan dan perbedaan tugas dan wewenang antar bagian.
Pemimpin yang menekankan pada membangun hubungan dan keakraban memungkinkan
pemimpin tersebut lebih terbuka dan egalitarian serta memberdayakan segenap anggotanya.
Sedangkan gaya pemimpin yang menekankan pada status dan kemandirian maka pemimpin
tersebut akan mengadopsi struktur herarkhis yang kaku, menekankan pada spesialisasi pada
tugas-tugas dan perintah. Semangat MEA adalah semangat kebersamaan, kerjasama dan
sinergi ekonomi untuk memenangkan persaingan.
Perilaku pemimpin yang demokratis dan partisipatif, akan menumbuhkan rasa hormat
dan perhatian pada orang lain, menumbuhkan kemauan berbagi kekuasaan dan informasi
dengan orang lain. Gaya ini mengacu kepada kepemimpinan interaktif, yakni gaya
kepemimpinan yang memfokuskan pada upaya membangun konsensus dan membangun
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 973
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
hubungan antar pribadi, baik dengan
komunikasi dan partisipasi atau keterlibatan
(involvement). Bahkan sampai tingkat tertentu gaya kepemimpinan transformasional yaitu
kepemimpinan yang aspirasional, yang dapat memberikan aspirasi kepada orang-orang untuk
bekerja giat sangat diperlukan untuk memajukan organisasi. Sedangkan gaya kepemimpinan
yang cenderung transaksional, yakni gaya kepemimpinan yang cenderung mengarah pada
perilaku directive dan assertive dan menggunakan otoritas yang ia miliki untuk melakukan
kontrol dan komando, mungkin perlu dikurangi karena kurang tepat untuk memotivasi tim
untuk melakukan inovasi dan terobosan baru untuk menembus pasar dan memenangkan
persaingan.
Konsep gaya kepemimpinan menunjukkan adanya kombinasi antara bahasa dan
tindakan yang dilakukan seorang pemimpin. Atau dengan kata lain, gaya menyangkut pola
bahasa dan tindakan bagaimana, yang dapat digunakan seseorang untuk membantu orang lain
mencapai hasil yang diinginkan. Hal tersebut, meliputi beberapa pendekatan yang secara lebih
rinci diuraikan sebagai berikut: (1) mengendalikan atau mengarahkan orang lain, (2)
memberikan tantangan atau rangsangan kepada orang lain, (3) menjelaskan kepada atau
memberi instruksi kepada orang lain, (4) mendorong atau mendukung orang lain, (5)
memohon atau membujuk orang lain, (6) melibatkan atau memberdayakan orang lain, (7)
memberi ganjaran atau memperkuat orang lain (Pace dan Faules, 2003: 277).
Ciri-ciri kepemimpinan yang efektif akan kondusif bagi kebutuhan organisasi agar
mampu menghadapi tantangan organisasi dalam menghadapi lingkungan yang penuh
ketidakpastian sebagaimana terjadi di era global. Lebih jelasnya, untuk menjadi pemimpin
yang efektif sangat ditentukan oleh kapasitas kepemimpinan seseorang. Adapun faktor-faktor
yang dianggap yang berpengaruh terhadap efektivitas kepemimpinan adalah sebagai berikut:
(1) cara pemilihan dan penempatan pemimpin, (2) pendidikan kepemimpinan, (3) pemberian
imbalan pada prestasi pemimpin dan bawahan, dan (4) teknik pengelolaan organisasi untuk
menghadapi perubahan lingkungan, dan (5) teknologi.
Stepan dan Pace (Pace dan Faules, 2003: 302) menasehati kepada eksekutif yang
hendak menunjukkan kepemimpinan yang efektif agar memperlakukan orang lain sebagai
kawan. Karena kawan adalah orang yang murah hati dan ramah, berbakti dan periang, bahagia
di tengah kehadiran orang lain. Mereka bersedia mendahulukan kepentingan orang lain dari
kepentingan sendiri. Mereka bersedia menerima beban orang lain. Menjadi kawan membuka
pintu ke arah kepemimpinan yang menyenangkan, bergairah dan berkekuatan, tanpa
974 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
menggunakan strategi yang rumit untuk merebut dan mempengaruhi orang lain. Ini adalah
gaya kepemimpinan terbaik tunggal (one-best leadership style).
Sedangkan yang kedua adalah gaya kepemimpinan terbaik bersyarat (conditional-best
leadership style) yaitu gaya pemimpin yang menggunakan kombinasi perilaku komunikatif
yang berbeda ketika menanggapi keadaan di sekelilingnya; dalam keadaan tersebut pemimpin
berusaha membantu yang lain untuk mencapai hasil
yang diinginkan. Tidak ada gaya
kepemimpinan yang bersifat tunggal dalam menyelesaikan permasalahan organisasi, yang
dapat menjamin jenis bantuan yang tepat bagi setiap orang untuk mencapai tujuan yang
diinginkan. Gaya inipun efektif bila diterapkan bagi orang yang ramah, bersedia bekerja sama
dan bersikap mendukung pencapaian tujuan organisasi. Sementara bagi yang tidak mau
bekerja sama atau bahkan memiliki itikad tidak baik, memerlukan gaya kepemimpinan yang
berbeda.
Dalam konteks MEA, seorang pemimpin harus memiliki vision (pandangan) tentang
posisi perusahaannya dalam konteks kepentingan organisasi, nasional, ASEAN, Asia dan
global. Mengakomodasikan berbagai kepentingan tersebut merupakan wilayah pengetahuan,
ketrampilan dan sikap seorang pemimpin masa depan. Kemampuan seorang pemimpin dalam
berkomunikasi menjadi penting dengan kualifikasi dengan standar tertentu dan dan terukur,
minimal standar yang dapat diterima di tingkat ASEAN. Kemampuan bidang komunikasi
yang penting bagi seorang pemimpin antara lain kemampuan manajemen, public speaking,
presentasi, networking, negosiasi dan mediasi. Disamping itu profesi komunikasi seperti
Public Relations, Media Relations dan International Relations semakin penting dalam
mendukung organisasi mencapai tujuan.
PENUTUP
Sekalipun ada berbagai gaya kepemimpinan atau pendekatan namun penerapannya tidak
bersifat tunggal dalam menyelesaikan permasalahan organisasi. Untuk keadaan yang berbeda,
bisa jadi diperlukan kombinasi gaya dan pendekatan kepemimpinan yang berbeda pula.
Dengan meningkatknya tantangan sebagai akibat dari globalisasi dan MEA, gaya
kepemimpinan yang demokratis, partisipatif, komunikatif dan mampu mengarahkan anak
buah atau seluruh sistem menggali dan mengembangkan keahlian dan menemukan
kemampuan-kemampuan yang mereka miliki sangat diperlukan sehingga tujuan organisasi
dapat tercapai secara efektif dan efisien. Faktor kepemimpinan memiliki peran yang penting
dalam menciptakan suasana kerja yang kondusif untuk mengatasi tantangan baru di era MEA,
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 975
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
sehingga keberadaan organisasi dapat berlanjut atau bahkan mampu meningkatkan kinerjanya
untuk memenangkan persaingan.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Sjamsul. 2008. Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015: Memperkuat Sinergi ASEAN di
Tengah Kompetisi Global. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Azra, Azyumardi. 2002. Paradigma Baru Pendidikan Nasional: Rekonstruksi dan
Demokratisasi. Jakarta: Kompas.
Bapennas. 2015. SDM Berkualitas Kunci Sukses Hadapi Era Masyarakat Ekonomi ASEAN.
(http://old.bappenas.go.id diakses 3 Desember 2015.
Buchori, Mochtar. 2001. Pendidikan Antisipatoris. Yogyakarta: Kanisius.
Giddens, Anthony, 2001. Runaway World: Bagaimana Globalisasi Merombak Kehidupan
Kita. Jakarta: Grasindo.
Liliweri, Alo. 2004. Wacana Komunikasi Organisasi. Bandung: Mandar Maju.
Luke, Jeff S. 1999. “Managing Interconnectedness The New Challenge for Public
Administration” dalam Bailey, Mary Timney dan Mayer, Richard T. 1999. Public
Management in an Interconnected World. New York: Greenwood Press.
Nugroho, Alois A dan Cahayani, Ati. 2003. Multikulturalisme dalam Bisnis. Jakarta:
Grasindo.
Ohmae, Kenichi. 2002. Hancurnya Negara-bangsa: Bangkitnya Negara Kawasan dan Geliat
Ekonomi Regional di Dunia Tak Terbatas. Yogyakarta: Qalam.
Pace, R Wayne dan Faules, Don F. 2003. Komunikasi Organisasi: Strategi Mening-katkan
Kinerja Perusahaan. Jakarta: Rosda Karya.
976 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
TRADISI “TORON” :
BENTUK KOMUNIKASI KELUARGA DAN KEARIFAN LOKAL MADURA
Nikmah Suryandari
FISIB UTM Bangkalan
[email protected]
ABSTRAK
Masyarakat Madura dikenal sebagai perantau tangguh dengan etos kerja yang tinggi. Selain
itu mereka juga memiliki ikatan kekerabatan yang kuat. Tradisi toron adalah bentuk kearifan
local masyarakat perantauan Madura. Tradisi toron menggambarkan ikatan batin dan
kekerabatan yang kuat dalam keluarga besar di Madura. sebagai masyarakat tradisional
religious, masyarakat Madura kental dengan beragam bentuk kearifan local sebagai
manifestasi dari system kekerabatan yang mereka anut secara turun temurun. Metodologi
tulisan ini adalah kajian pustaka mengenai tema komunikasi dan kearifan local.. Mengapa
toron menempati posisi penting dan strategis dalam masyarakat Madura? Tulisan berusaha
mengkaji tradisi toron masyarakat Madura perantauan sebagai bentuk komunikasi keluarga
dan kearifan local masyarakat setempat Komunikasi keluarga merupakan bentuk komunikasi
dalam unit masyarakat yang paling kecil yaitu keluarga. Toron sebagai wujud komunikasi
keluarga masyarakat Madura dengan keluarga besar dan kerabatnya di tanah kelahiran.
Sebagai bentuk kearifan local, toron menjadi pengikat masyarakat Madura dengan daerah
asalnya.
Kata Kunci : toron, Madura, kearifan local,komunikasi keluarga
PENDAHULUAN
1. Tradisi Toron
Bagi masyarakat madura, toron telah menjadi tradisi dan kebiasaan turun temurun.
Tidak diketahui pasti kapan mulai adanya tradisi ini, seperti halnya tradisi-tradisi lain
dari berbagai daerah yang tidak diketahui secara pasti asal muasal waktu
kemunculannya. Toron adalah istilah mudik dalam bahasa Madura, yang memiliki
makna tinggi dalam masyarakat Madura.
Bagi sebagian besar
kelompok masyarakat di Indonesia tradisi mudik
dilakukan pada hari besar keagamaan seperti Idul Firti, natal, Nyepi dan sebagainya.
Bagi masyarakat Madura, ada 3 (tiga) moment penting yang “mewajibkan” bagi
mereka untuk “toron”, yakni Idul Fitri, Idul Adha dan peringatan Maulid Nabi
Muhammad SAW. Diantara tiga moment itu, yang paling ramai adalah “toron” saat
Idul Adha dan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Pada saat Idul Fitri tidak
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 977
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
seramai dua moment lainnya. Untuk toron selain tiga moment diatas dapat dilakukan
sewaktu-waktu sesuai kebutuhan dan kepentingan mereka.
Pada tradisi “toron” ini, masyarakat Madura di perantauan berbondongbondong pulang ke kampong halamannya masing-masing. Tak heran pada saat tradisi
“toron” ini, akses jalan menuju Pulau Madura menjadi sangat padat. Gerbang tol
Jembatan Suramadu akan penuh antrian perantau Madura yang hendak melepas rindu
kampung halamnnya. Begitu juga pelabuhan penyebrangan Kamal (yang biasanya
agak sepi karena efek Jembatan Suramadu) menjadi ramai dengan antrian berjubel.
Hal ini dikarenakan tradisi toron masyarakat Madura masih sangat kental dengan
nuansa keagamaan dan relasi sosial kemasyarakatan masyarakat Madura yang terkenal
guyub.
TINJAUAN PUSTAKA
1. Definisi Toron
Menurut Syaf Anton Wr66 “Toron” mempunyai makna “turun kebawah”, atau
pulang kampung atau mudik. Namun makna toron pada dasarnya mempunyai
makna lebih luas lagi, yaitu membangun kembali solidaritas yang mengarah
jalinan tali silaturrahmi antar keluarga dan kerabat orang Madura yang di tanah
kelahirannya.
Dengan toron, keutuhan dan keakraban antar warga Madura akan tetap
terjalin semakin rapat dan mesra. Untuk itu, ketika orang Madura pada saatnya
mudik, tentu telah mempersiapkan diri dengan bekal-bekal bawaan yang secara
formalis sebagai oleh-oleh, sekaligus sebagai bentuk manifestasi dari keterikatan
kekeluargaan, meski mereka harus merantau sejauh mana meninggalkan tanah
kelahirannya.
Dengan tradisi “toron” ini meneguhkan konsep kekerabatan masyarakat
Madura yang tak putus dengan tanah kelahiran dan kerabat mereka. Melalui tradisi
“toron” kerabat yang lama terpisah di perantauan bertemu di tanah kelahiran untuk
membuktikan eksistensi dan kecintaan pada asal usulnya. Hal ini merupakan
manifestasi rasa cinta tanah kelahiran dan kepatuhan pada tradisi turun temurun
mereka.
66
Syaf Anton Wr, 2011, Tradisi “Toron” Nilai Solidaritas Persaudaraan Warga Madura , dalam Lontar
Madura.com (akses 5 Maret 2016).
978 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
2. Komunikasi keluarga di Madura
Keluarga adalah sebagai sebuah institusi yang terbentuk karena ikatan perkawinan.
Didalamnya hidup bersama pasangan suami istri secara sah karena pernikahan.
Menurut Noor67 keluarga adalah suatu unit atau lingkungan masyarakat
yang paling kecil atau merupakan masyarakat yang paling bawah dari satu
lingkungan negara. Posisi keluarga atau rumah tangga ini sangat sentral seperti
diungkapkan oleh Aristoteles dalam Noor68 bahwa keluarga rumah tangga adalah
dasar pembinaan negara. Dari beberapa keluarga rumah tangga berdirilah suatu
kampung kemudian berdiri suatu kota. Dari beberapa kota berdiri daru propinsi,
dan dari beberapa propinsi berdiridatu negara.
Pada dasaranya keluarga itu adalah sebuah komunitas dalam “satu atap”.
Kesadaran untuk hidup bersama dalam satu atap sebagai suami istri dan saling
interaksi dan berpotensi punya anak akhirnya membentuk komunikasi baru yang
disebut keluarga. Karenanya keluargapun dapat diberi batasan sebagai sebuah
group yang terbentuk dari perhubungan laki-laki dan wanita perhubungan mana
sedikit banyak bertsanggung lama untuk menciptakan dan membesarkan anakanak. Jadi keluarga dalam bentuk yang murni merupakan satu kesatuan sosial
yang terdiridari suami, istri dan anak-anak yang belum dewasa. Satuan ini
mempunyai sifat-sifat tertentu yang sama, dimana saja dalam satuan masyarakat
manusia.
Komunikasi keluarga adalah komunikasi yang terjadi dalam sebuah
keluarga, yang merupakan cara seorang anggota keluarga untuk berinteraksi
dengan anggota lainnya, sekaligus sebagai wadah dalam membentuk dan
mengembangkan nilai-nilai yang dibutuhkan sebagai pegangan hidup. Agar anak
dapat menjalani hidupnya ketika berada dalam lingkungan masyarakat, apa yang
terjadi jika sebuah pola komunikasi keluarga tidak terjadi secara harmonis tentu
akan mempengaruhi perkembangan anak.
Komunikasi keluarga di masyarakat Madura yang terkenal sebagai
perantau tidak hanya terfokus pada keluarga inti (ayah, ibu dan anak) tapi juga
keluarga besar atau kerabat. System kekerabatan dalam masyarakat Madura
67
Noor, Faried Ma’ruf. 1983. Menuju keluarga sejahtera dan bahagia. Bandung. PT Alma’arif
68
Noor, Faried Ma’ruf. 1983. Menuju keluarga sejahtera dan bahagia. Bandung. PT Alma’arif
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 979
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
sangat erat sehingga tidak mengherankan mereka memiliki spirit tertentu untuk
selalu berinteraksi dan bertemu dengan keluarga besar mereka. Karena posisi para
perantau ada di luar tanah kelahirannya, maka tradisi toron menjadi salah satu
sarana bagi masyarakat Madura perantauan untuk tetap menjalin komunikasi dan
interaksi dengan keluarga besarnya.
3. Kearifan local
Menurut Manan dan Nur Arafah69 , Tim G. Babcook menyebutkan kearifan lokal
adalah pengetahuan dan cara berpikir dalam kebudayaan kelompok manusia, yang
merupakan hasil dari pengamatan kurun waktu yang lama. Kearifan berisi suatu
pandangan hidup masyarakat berkaitan tentang struktur lingkungan, bagaimana
lingkungan berfungsi, bagaimana reaksi alam atas tindakan manusia, dan
hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungannya.
Menurut Wurianto70 kearifan lokal berupa harmonisasi supra dan
insprastruktur. Menurutnya, kearifan lokal dalam bentuknya yang berupa
kompleksitas budaya merupakan penyangga sekaligus penghubung antara supra
dan infra struktur. Talcot Pason menyatakan bahwa kebudayaan pada dasarnya
sebagai
pengontrol
sistem
kehidupan
demi
terselenggaranya
“pattern
maintenance” . Hal ini pada dasarnya sebagai pembentuk nilai harmonisasi. Dalam
harmonisasi terdapat keseimbangan yang bersifat sintagmatik yaitu antara
perumusan konsep sosial budaya beserta nilai-nilainya, penataan sosial dan budaya
yang baru beserta nilai-nilainya sehingga diperoleh sebuah keteraturan sosial.
Menurut I Ketut Gobyah
71
kearifan lokal (lokal genius) adalah
kebenaran yang telah mentradisi atau ajeg dalam suatu daerah. Kearifan lokal
merupakan perpaduan antara nilai-nilai suci firman Tuhan dan berbagai nilai
yang ada. Kearifan lokal terbentuk sebagai keunggulan budaya masyarakat
setempat maupun kondisi geografis dalam arti luas. Kearifan lokal merupakan
produk budaya masa lalu yang patut secara terus-menerus dijadikan pegangan
69
Manan, A., dan Nur Arafah. 2000. “Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam Berbasis Kearifan Lokal di Pualu
Kecil. Studi Kasus Pulau Wangi-wangi Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara”. Manusia dan
Lingkungannya, Vol. VII, No. 2 Agustus
70
Wurianto, Arif Budi. 2007. “Konstruksi Ketidakseimbangan Pembangunan dalam
Telaah
Harmonisasi
Suprastuktur Dan Infrastruktur Kebudayaan” dalam
http://elka.umm.ac.id/artikel1.htm.
71
I Ketut Gobyah “Berpijak pada Kearifan Lokal” (http://www. balipos.co.id)
980 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
hidup. Meskipun bernilai lokal tetapi nilai yang terkandung di dalamnya
dianggap sangat universal.
Sedangkan S. Swarsi Geriya72 mengatakan bahwa secara konseptual,
kearifan lokal dan keunggulan lokal merupakan kebijaksanaan manusia yang
bersandar pada filosofi nilai-nilai, etika, cara-cara dan perilaku yang
melembaga secara tradisional. Kearifan lokal adalah nilai yang dianggap baik
dan benar sehingga dapat bertahan dalam waktu yang lama dan bahkan
melembaga.
4. Kearifaan Lokal Madura
Masyarakat Madura dikenal memiliki budaya yang khas, unik, stereotipikal, dan
stigmatik. Penggunaan istilah khas73 menunjuk pada pengertian bahwa entitas
etnik Madura memiliki kekhususan-kultural yang tidak serupa dengan etnografi
komunitas etnik lain. Menurut Latif Wiyata,
74
kekhususan kultural itu tampak
antara lain pada ketaatan, ketundukan, dan kepasrahan mereka secara hierarkis
kepada empat figur utama dalam berkehidupan, lebih-lebih dalam praksis
keberagamaan. Keempat figur itu adalah Buppa,’ Babbu, Guru, ban Rato (Ayah,
Ibu, Guru, dan Pemimpin pemerintahan). Kepada figur-figur utama itulah
kepatuhan hierarkis orang-orang Madura menampakkan wujudnya dalam
kehidupan sosial budaya mereka
Kearifan lokal Madura yang juga menjadi keunikan etnografisnya tampak
pada perilaku dalam memelihara jalinan persaudaraan sejati. Hal itu tergambar dari
ungkapan budaya oreng dhaddhi taretan, taretan dhaddhi oreng, (orang lain bisa
menjadi/dianggap sebagai saudara sendiri, sedangkan saudara sendiri bisa
menjadi/dianggap sebagai orang lain).
Kearifan lokal lain yang dianut masyarakat Madura adalah etos kerja tinggi
dan keuletan dalam berusaha. Keuletan ini merupakan manifestasi dari ungkapan
kar-karkar colpe’ yang dipegang teguh oleh orang Madura dalam mencari nafkah.
Lebih jelasnya, orang Madura akan selalu berperilaku layaknya seekor ayam yang
72
S. Swarsi Geriya “Menggali Kearifan Lokal untuk Ajeg Bali” dalam http://www.balipos.co.id
Alwi, Hasan. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Ed. III. Jakarta: Depdiknas RI dan Balai Pustaka.
74
Wiyata, A. Latief. 2003. Madura yang Patuh?; Kajian Antropologi Mengenai Budaya Madura. Jakarta:
CERIC-FISIP UI
73
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 981
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
mencakar-cakar tanah mencari makanan meskipun yang didapat hanya sedikit tapi
terus saja dilakukan penuh semangat dan keuletan sampai akhirnya kenyang.
Menurut Syaf Anton Wr75 kearifan lokal kerap diekspresiakan dalam
bentuk saloka seperti :
1. Andhap asor tampaknya menjadi tolok ukur dalam menanamkan etika dan
estetika, termasuk didalamnya tentang kesantunan, kesopanan, penghormatan,
dan nilai-nilai luhur lainnya sehingga menjadi raddin atena, bagus tengka
gulina (cantik
hatinya,
kebersamaan
dalam
baik
saloka
tingkah
lakunya).
diungkap bila
Untuk
cempa,
membangun
palotan,
bila
kanca, taretan, (bila beras (kualitas) yaitu ketan, bila teman adalah saudara),
hal disimbolkan sebagai bentuk untuk menjaga keutuhan persabatan perlu
dijaga: Mon ba’na etobi’ sake’ ja’ nobi’an oreng (kalau kamu dicubit sakit,
jangan nyubit orang lain)
2. Kehidupan yang harmoni menjadi penekanan kehidupan yang diharapkan
dalam rampa’ naong beringin korong, serta ghu’tegghu’ sabbhu’ atau songosong lombung, merupakan solidaritas sosial antar warga.
3. Ango’ potea tolang etembang pote mata (lebih baik putih tulang daripada
putih mata, lebih baik mati daripada menanggung malu)atau otang pesse
nyerra pesse, otang rassa nyerra rassa, otang nyaba nyerra nyaba (hutang
uang uang dibayar uang, hutang rasa dibayar rasa, hutang nyawa dibayar
nyawa) yang barangkali menjadi pertimbangan mereka. Sebenarnya semua itu
dapat
diselesaikan
rembhak (berembuk,
dengan
terhormat
musyawarah)yang
bila
telah
diawali
mengakar
dengan abhakkuat
dalam
masyarakat Madura.
4. Karkar kar colpe’, bantheng tolang seang are seang malem, sapa atane
bakal atana’, sapa adagang bakal adaging, abharentheng, abanthal omba’
asapo’ angin, alako berra’ apello koneng dan sejenisnya menunjukkan etos
kerja dalam usaha memenuhi kehidupan sehari-harinya, meski harus “kepada
jadi kaki, kaki jadi kepala”. Istilah ini dikenal mengingat masyarakat Madura
dikenal sebagai perantau, dan dari sinilah kemampuan dalam etos kerja
diungkap seperti Bila kerja banyak menghasilkan untung sehingga menjadi
75
Syaf Anton Wr Tradisi “Toron” Nilai Solidaritas Persaudaraan Warga Madura, 04-11-2011
982 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
kaya, jalan lupa yang miskin atau tidak mampu, karena yang kaya
berkewajiban menjadi tulang punggung yang miskin, mon sogi pasogha’ (bila
sudah kaya harus perkasa), jangan sekali-kali raja guntorra tadha’
ojanna (besar bunyi halililantar, tapi tidak ada hujan)dan sebaliknya atau
menjadi keras ta’ akerre (keras tapi tidak sakti).
Untuk itu dalam menjaga martabat keluarga atau kelompok jangan sampai jha’
methha’ buri’ etengnga lorong, (jangan menunjukkan bokong/dubur ditengah
jalan) sebab sapenter-penterra nyimpen babathang paste e kaedhing bauna
(sepintar-pintar nyembunyikan bangkai, pasti akan dirasaukan baunya).
5. Fungsi Kearifan Lokal
Menurut Sartini
76
dijelaskan beberapa fungsi dan makna kearifan lokal,
yaitu:
1. Berfungsi untuk konservasi dan pelestarian sumber daya alam.
2. Berfungsi untuk pengembangan sumber daya manusia, misalnya
berkaitan dengan upacara daur hidup, konsep kanda pat rate.
3. Berfungsi untuk pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan,
misalnya pada upacara saraswati, kepercayaan dan pemujaan pada pura
Panji.
4. Berfungsi sebagai petuah, kepercayaan, sastra dan pantangan.
5. Bermakna sosial misalnya upacara integrasi komunal/kerabat.
6. Bermakna sosial, misalnya pada upacara daur pertanian.
7. Bermakna etika dan moral, yang terwujud dalam upacara Ngaben
dan penyucian roh leluhur.
8. Bermakna politik, misalnya upacara ngangkuk merana dan kekuasaan
patron client
METODOLOGI
Tulisan ini merupakan kajian pustaka mengenai tema komunikasi dan kearifan local di
Madura berupa tradisi toron. Studi kepustakaan adalah segala usaha yang dilakukan oleh
peneliti untuk menghimpun informasi yang relevan dengan topik atau masalah yang akan atau
sedang diteliti. Studi kepustakaan merupakan langkah yang penting sekali dalam metode
76
Sartini, Jurnal Filsafat, Agustus 2004, Jilid 37, Nomor 2
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 983
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
ilmiah untuk mencari sumber data sekunder yang akan mendukung penelitian dan untuk
mengetahui sampai ke mana ilmu yang berhubungan dengan penelitian telah berkembang.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Mengapa Toron?
Bagi orang Madura, toron adalah tradisi turun temurun yang masih dipegang erat
hingga saat ini. Toron mempunyai makna “turun kebawah”, atau pulang kampung
atau mudik. Namun makna toron pada dasarnya mempunyai makna lebih luas lagi,
yaitu membangun kembali solidaritas yang mengarah jalinan tali silaturrahmi antar
keluarga dan kerabat orang Madura yang di tanah kelahirannya.
Dengan toron, keutuhan dan keakraban antar warga Madura akan tetap
terjalin semakin rapat dan mesra. Untuk itu, ketika orang Madura pada saatnya
mudik, tentu telah mempersiapkan diri dengan bekal-bekal bawaan yang secara
formalis sebagai oleh-oleh, sekaligus sebagai bentuk manifestasi dari keterikatan
kekeluargaan, meski mereka harus merantau sejauh mana meninggalkan tanah
kelahirannya.
2. Posisi Toron dalam masyarakat Madura
Dalam masyarakat Madura, ada tiga moment penting yang digunakan untuk toron,
yaitu hari Raya Idul Fitri, hari raya Idul Adha, dan Peringatan Maulid Nabi
Muhammad SAW. Bagi masyarakat Madura di perantauan, dalam tiga moment
tersebut wajib untuk toron, sedangkan toron yang dilakukan tidak dalam tiga
moment tersebut dapat mereka lakukan sewaktu-waktu menyesuaikan dengan
kepentingan mereka.
Toron pada masa Idul Fitri umum dilakukan oleh hampir semua penduduk
muslim di Indonesia, termasuk di Madura. Sedangkan pada moment hari Raya Idul
Adha atau yang biasa disebut Hari Raya Besar atau Hari Raya Reaje (rajhe)
umumnya dilakukan oleh masyarakat pedesaan yang masih sangat kental system
kekerabatannya.
Sebagai masyarakat tradisional religius, posisi penting dalam system
kemasyarakatan Madura dipegang oleh Bhuppha’, bhabhu’, ghuru, ratoh . Empat
sosok penting ini dalam masyarakat Madura memegang peran penting dalam tiap
sendi kehidupan warganya. Tak mengherankan jika kepatuhan mereka pada
984 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
keempat sosok tersebut merupakan manifestasi dari pengabdian dan ketaatan pada
leluhur mereka. Hal ini juga diwujudkan dalam moment peringatan Maulid Nabi
Muhammad SAW. Ketaatan masyarakat Madura pada agama salah satunya
diwujudkan dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan mengikuti
sunnah-sunnah rosul.
3. Toron sebagai pengikat kekerabatan masyarakat Madura
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW telah menjadi symbol kepatuhan dan
perhatian masyarakat Madura. Toron pada masa ini merupakan bentuk solidaritas
dan persaudaraan. Dalam istilah Madura ada ungkapan bila cempa, palotan, bila
kanca, taretan, (bila beras (kualitas) yaitu ketan, bila teman adalah saudara).
Ungkapan ini adalah bentuk ungkapan dalam menjaga keutuhan persabatan .
Ungkapan lain tentang persahabatan dan persaudaraan adalah Mon ba’na etobi’
sake’ ja’ nobi’an oreng (kalau kamu dicubit sakit, jangan nyubit orang lain).
Sebagai salah satu bentuk kearifan local Madura, tradisi toron memiliki
beberapa fungsi, diantaranya:
1. Memperrat persaudaraan. Selain berarti mudik, pulang kampong, toron
memiliki makna yang lebih luas lagi, yaitu membangun kembali solidaritas
yang mengarah pada jalinan silaturahmi antar keluarga dan kerabat di tanah
kelahiran. Sehingga keutuhan dan keakraban antar warga Madura tetap
terjaga.
2. Toron merupakan bentuk keterikatan keluarga. Toron merupakan proses
sinergi sosial atau pembentukan ikatan sosial antara warga perantau dan
kampung halamannya. Pada saat orang Madura perantauan toron, mereka
telah menyiapkan beragam bekal bawaan sebagai oleh-oleh bagi kerabat di
kampong halaman. Toron merupakan bentuk kertikatan batin antara orang
Madura perantauan dengan tanah kelahiran dan leluhurnya, jadi sejauh
aapun mereka merantau ikatan dengan kampong halaman tidak pernah
lepas.
3. Mengembalikan jati diri dan kodrat masyarakat Madura. Toron akan
mengembalikan jatidiri dan kodrat sebagai warga Madura. Sebab toron
sendiri merupakan bagian peristiwa budaya yang tidak lepas dari perilaku
dan tradisi masyarakat (Madura) yang menjalankannya.
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 985
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
4. Toron merupakan bentuk sikap guyub dan kedekatan dengan daerah asal.
Bagi sebagian besar masyarakat Madura, peringatan idul Adha dan Maulid
Nabi Muhammad SAW belum terasa lengkap bila belum pulang kampong
atau toron.
5. Toron adalah bentuk kebanggan. Sebagai masyarakat dengan tradisi
merantau yang kuat, masyarakat Madura menganggap tradisi toron sebagai
salah satu cara untuk menunjukkan hasil kerja atau keberhasilan mereka di
perantauan. Bagi mereka, berapapun penghasilan yang merke peroleh di
perantauan, selalu ada yang disisihkan untuk dialokasikan secara khusus
dalam tradisi toron.
6. Toron merupakan tanda “kemenangan kedua”. Pada peringatan Idul Adha,
banyak masyarakat yang berkurban sehingga menjadi ajang berkumpulnya
keluarga. "Idul adha juga identik dengan hari ketupat, sehingga banyak
masyarakat yang mengadakan 'syukuran' sebagai tanda hari kemenangan
kedua
4. Toron sebagai bentuk kearifan lokal
Sebagai tradisi turun temurun, toron merrupakan bentuk kearifan local Madura.
Kearifan local ini menjadi ruh penyemangat bagi masyarakatnya dalam menjalani
kehidupan spiritualnya. Dengan spirit toron ini menjadikan mereka memiliki etos
kerja tinggi dan kekerabatan yang erat. Etos kerja yang tinggi membuat mereka
menjadi perantau-perantau tangguh yang sukses di tempat lain. system
kekerabatan yang tinggi di wilayah ini menjadikan masyarakat Madura memiliki
keterikatan batin dengan daerah asal dan kerabat di sana. Hal ini secara tidak
langsung turut membantu perekonomian masyarakat di Madura.
Toron sebagai kearifan local merupakan bentuk kepedulian sosial yang
tinggi bagi masyarakat Madura di perantauan. Melalui tradisi toron mereka
mengikatkan diri dengan daerah asal dan kerabatnya. Melalui toron mereka
menunjukkan eksistensi dan identitas kemaduraannya, meski mereka jauh dari
daerah asalnya.
986 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
KESIMPULAN DAN SARAN
Tradisi toron dalam masyarakat Madura merupakan salah satu bentuk kearifan local setempat
yang memiliki makna dan filosofi tinggi. Toron merupakan bentuk keterikatan masyarakat
Madura perantauan dengan tanah kelahiran dan kerabatnya. Toron juga menjadi sarana
komunikasi keluarga bagi masyarakat Madura yang secara turun temurun dikenal sebagai
perantau.
DAFTAR PUSTAKA
Alwi, Hasan. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Ed. III. Jakarta: Depdiknas RI dan Balai
Pustaka.
Elly
Burhainy
Faizal,
(SP
Daily)
31
Oktober
2003
dalam
http://www.papuaindependent.com
Fuad Hassan, “Pokok-pokok Bahasan Mengenai Budaya Nusantara Indonesia” , dalam
http://kongres.budpar.go.id/news/article/Pokok_pokok_bahasan.htm,
I Ketut Gobyah, “Berpijak pada Kearifan Lokal”, dalam http://www.balipos. co.id
Manan, A., dan Nur Arafah. 2000. “Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam Berbasis Kearifan
Lokal di Pualu Kecil. Studi Kasus Pulau Wangi-wangi Kabupaten Buton Provinsi
Sulawesi Tenggara”. Manusia dan Lingkungannya, Vol. VII, No. 2 Agustus
Noor, Faried Ma’ruf. 1983. Menuju keluarga sejahtera dan bahagia. Bandung. PT Alma’arif
Nyoman Sirtha dalam “Menggali Kearifan Lokal untuk Ajeg Bali”
dalam http://www.balipos.co.id
Sartini, Jurnal Filsafat, Agustus 2004, Jilid 37, Nomor 2
Syaf Anton Wr Tradisi “Toron” Nilai Solidaritas Persaudaraan Warga Madura, 04-11-2011
Wiyata, A. Latief. 2003. Madura yang Patuh?; Kajian Antropologi Mengenai Budaya
Madura. Jakarta: CERIC-FISIP UI.
Wurianto, Arif Budi. 2007. “Konstruksi Ketidakseimbangan Pembangunan dalam
Telaah Harmonisasi Suprastuktur Dan Infrastruktur Kebudayaan” dalam
http://elka.umm.ac.id/artikel1.htm. diakses tanggal 14 November 2008
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 987
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
STUDI MODAL SOSIAL KELOMPOK PEREMPUAN PESISIR :
UPAYA PENGENTASAN KEMISKINAN KELUARGA
MASYARAKAT PESISIR
Andy Arya Maulana Wijaya
Program Studi Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Muhammadiyah Buton
[email protected]
ABSTRAK
Fakta menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan di Indonesia sudah jauh menurun, ada dua
kecenderungan yang harus mendapat perhatian khusus, (i) perlambatan penurunan tingkat
kemiskinan, dan (ii) ketimpangan yang meningkat serta masih tingginya proporsi masyarakat
yang mengalami kerentanan ekonomi dan sosial. Kota Baubau juga mengalami trend yang
sama, ini terjadi khususnya pada kasus-kasus keberdayaan kelompok masyarakat pesisir.
Perlu adanya sebuah kajian eksploratif terhadap keberdayaan masyarakat melalui perspektif
modal sosial masyarakat. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka penelitian ini bertujuan
untuk mengkaji peran modal sosial kelompok masyarakat pesisir sebagai upaya arah
pemberdayaan masyarakat. Penelitian ini didesain menggunakan studi ekploratif kelompok
masyarakat pesisir, khususnya kelompok perempuan pesisir. Sampel diambil menggunakan
non probability sampel dengan pendekatan purposive sampel dan dibantu dengan pendekatan
snowball sampling. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan kelompok
perempuan pesisir, observasi kegiatannya dan telaah dokumen yang relevan. Analisi data
menggunakan model interaktif, dan disajikan secara deskriptif. Penelitian ini menemukan
bahwa modal sosial kelompok perempuan pesisir yakni 1) Kepemimpinan yang efektif dalam
mengelola organisasi dan sebagai penghubung kelompok dengan pemerintah daerah, 2)
Jejaring Kerjasama yakni kemampuan dalam membangun jaringan pemasaran produksi dan
berbagi inovasi, serta 3) Saling Percaya, yakni partisipasi anggota kelompok perempuan
pesisir baik menjalankan keputusan kelompok, gerakan menabung, arisan kelompok, serta
kelompok juga menjadi forum anggota kelompok untuk memecahkan persoalan mereka.
Keywords : Modal Sosial, Perempuan Pesisir, Kemiskinan
PENDAHULUAN
Penelitian ini dilakukan pada kelompok perempuan pesisir di Kelurahan Sulaa Kota Baubau.
Hal ini dilakukan dengan beberapa alasan yang diperoleh, diantaranya; a) Pemberdayaan
masyarakat pesisir masuk dalam RPJMD 2013-2018 Kota Baubau, b) Kelompok Perempuan
Pesisir di Kelurahan Sulaa seringkali mewakili Kota Baubau dalam beberapa kegiatan
UMKM daerah, c) Adanya kemampuan kolektif dalam mengelola organisasi yang kemudian
mampu meningkatkan pendapatan anggotanya (Wijaya, 2014), serta d) Tingkat Kemiskinan
Kota Baubau tiap tahunnya menurun sekitar 1 % (kominfo.baubaukota.go.id).
988 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
Penelitian ini, ingin mengkaji penanganan kemiskinan pada sisi yang berbeda. Dimana
problem kemiskinan membutuhkan keterlibatan multistakeholder dalam penangananya.
Masyarakat atau kelompok masyarakat dirasa mampu untuk kemudian terlibat dalam
penanganan kemiskinan didaerah, dengan memanfaatkan nilai-nilai organisasional dan
kemampuan kolektifnya. Maka masyarakat dapat dilibatkan dalam skema penanganan
kemiskinan melalui pemberdayaan. Fakta menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan di
Indonesia sudah jauh menurun, ada dua kecenderungan yang harus mendapat perhatian
khusus, (i) perlambatan penurunan tingkat kemiskinan, dan (ii) ketimpangan yang meningkat
serta masih tingginya proporsi masyarakat yang mengalami kerentanan ekonomi dan sosial.
Penanganan masalah kemiskinan seringkali dilakukan melakukan pendekatan
pemberdayaan ekonomi masyarakat. Akibatnya solusi yang ditawarkan lebih berfokus pada
penanganan masalah ekomomi seperti modal, investasi, teknologi dan berbagai aspek
financial lainnya saja. Konteks ini tidak salah, namun pada perjalanannya model ini belum
mampu mengangkat kondisi masyarakat menjadi lebih baik. Bahkan pemerintah melihat
masyarakat miskin sebagai objek pasif, tidak bisa melakukan apa-apa selain pemberdayaan
yang dilakukan oleh pemerintah.
Disisi lain, ada kemampuan masyarakat untuk kemudian mengembangkan dirinya
melalui kemampuan organisasional kelompok, jejaring kerjasama, maupun kepemimpinan
informal masyarakat yang mampu sebagai solidaritas bersama untuk memecahkan berbagai
persoalan diantara mereka. Seperti penelitian mengenai modal sosial oleh komunitas
masyarakat, menyebutkan bahwa melalui modal sosial masyarakat mampu menyediakan
layanan publik yang belum mampu disediakan oleh pemerintah. Melalui pemanfaatan modal
sosial seperti kepercayaan, jaringan dan kerjasama masyarakat menjadi basis pengembangan
komunitas masyarakat (Bowles dan Gintis, 2002; Sudarmo, 2006; Suharto, 2008; Wijaya,
2014).
Disisi lain, masyarakat pesisir di Kota Baubau secara umum memiliki ikatan budaya
yang dalam istilah masyarakat setempat disebut sabangka sarope (teman dalam satu perahu).
Istilah ini lekat hubungannya dengan nilai-nilai pelayaran masyarakat Buton (etnis mayoritas
masyarakat Kota Baubau), namun juga memiliki peran penting dalam rona kehidupan
masyarakat didarat, untuk menyebutnya sebagai kawan/teman/sahabat (Hamid, 2011; dalam
Tahara, dkk. 2015). Dimana ikatan ini bermakna kemampuan organisasi masyarakat, ikatan
solidaritas, etos kerja dan kepemimpinan oleh karena berada dalam satu perahu (baca:
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 989
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
daerah), dan ini masih terjaga dalam masyarakat pesisir sekalipun dalam kelompok-kelompok
informal masyarakat utamanya kelompok perempuan pesisir (Wijaya, 2014).
Kaum perempuan disatu sisi memiliki streotip yang lemah dimasayrakat, namun disisi
lain perempuan juga memiliki ikatan solidaritas yang kuat dalam komunitasnya. Kondisi yang
ditunjukkan oleh kelompok perempuan pesisir kelurahan sulaa, memberikan kondisi yang lain
tentang hal itu. Oleh karena itu, penelitian ini mencoba menjelaskan kapasitas modal sosial
kelompok perempuan pesisir, untuk kemudian dapat dijadikan pertimbangan dalam usahausaha penanangan kemiskinan masyarakat.
TINJAUAN PUSTAKA
1.
Kemiskinan dan Masyarakat Pesisir
Kemiskinan merupakan padanan yang sulit didefinisikan, dalam perbedaan konteks,
ruang dan waktu kemiskinan memiliki indikator yang berbeda-beda. Untuk konteks penelitian
ini, peneliti menggunkan definisi yang dikemukakan oleh Friedman (1979; dalam Suyanto,
2013; 2), kemiskinan adalah ketidaksamaan untuk mengakumulasi basis kekuasaan sosial.
Sementara yang dimaksud basis kekuasaan sosial itu menurut friedman meliputi : pertama,
Modal Produktif atas asset, misalnya tanah perumahan, peralatan, dan kesehatan. Kedua,
Sumber keuangan, seperti income dan kredit yang memadai. Ketiga, organisasi sosial dan
politik yang dapat digunakan untuk mencapai kepentingan bersama, seperti koperasi.
Keempat, network atau jaringan sosial untuk memperoleh pekerjaan, barang-barang,
pengetahuan dan keterampilan yang memadai. Kelima, informasi-informasi yang berguna
untuk kehidupan (Suyanto, 2013).
Masyarakat pesisir dan kemiskinan merupakan dua hal yang saling terhubung untuk
menjelaskan penciri kawasan pesisir di Indonesia. Dimana, saat ini tercatat bahwa masyarakat
dikawasan pesisir merupakan sumber kantung-kantung kemiskinan masyarakat (Salman,
2008). Sebagian besar masyarakat nelayan yang bertempat tinggal di desa-desa pantai
umunya memiliki taraf kesejahteraan hidup sangat rendah dan tak menentu (Suyanto, 2013;
48).
Disisi lain, kemiskinan dan komunitas masyarakat pesisir umumnya disebabkan oleh
beberapa hal yakni; 1) Ketimpangan Pendapatan oleh karena komoditas hasil laut yang
murah, 2) Akses Kelompok nelayan ke pusat kekuasaan dan pasar cenderung termarginalkan
dan berimplikasi pada ekonomi masyarakat, 3) Berbagai Program Pemerintah yang digulirkan
990 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
belum sepadan dan belum menyentuh tujuan yang ditetapkan (Kusnadi, 2002: 46, dalam
Sunyoto, 2013; 50).
Dari berbagai penjelasan diatas, setidaknya kita memahami bahwa pembahasan
kemiskinan di tingkat masyarakat pesisir hanya dilihat pada kondisi ekonomi dan pendekatan
yang dilakukan adalah hanya menyangkut seperti apa program pemberdayaan dilakukan
untuk meningkatkan kesejahteraannya saja, bukan menyangkut kapasitas masyarkat itu
sendiri. Belum lagi, dalam beberapa riset pemberdayaan kelompok perempuan nelayan
ditemukan bahwa perempuan nelayan adalah kelompok masyarakat yang rentan dan paling
miskin. Betapapun demikian, tentunya dalam konteks apapun masyarakat juga ingin berubah
dan memperbaiki kondisi hidupnya.
Namun kita perlu memperhatikan juga bahwa komunitas masyarakat pesisir tentu
memiliki nilai lokal tertentu, dimana melalui nilai-nilai lokal tersebut kemudian dikelola
menjadi rangkaian aktivitas maupun interaksi masyarakat pesisir dalam memecahkan
masalah-masalah publik di lingkungannya. Seperti misalnya dalam konteks masyarakat
didaerah dikenal masih cukup kental dengan budaya lokal serta kepemimpinan, menjadi
sarana untuk menangani beberapa masalah publik khususnya kemiskinan.
2.
Pengertian dan Peran Modal Sosial
Konteks komunitas masyarakat tentu memiliki modal sosial yang menjadi dasar
interkasi dan aktivitas sosialnya. Dimana hal ini, menyangkut nilai-nilai kepercayaan (trust),
kerjasama (network) dan norma (norms) yang menjadi dasar relasi antara masyarakat secara
informal serta berkembang didalam komunitas masyarakat seiring dengan interaksi sosial
yang dilakukannya (Putnam, 1996; Fukuyama, 2010; Bowles dan Gintis, 2002; Sudarmo,
2011: 197-198; Hasbullah, 2006:9; Suharto, 2011:98-100).
Sementara itu, Wim van Oorschot dan Ellen Finsveen (2010) yang mengkaji mengenai
social capital dan keterkaitannya dengan negara kesejahteraan mengkaitkan social capital
terdiri dari 3 apek yaitu : (1) Jaringan Sosial; Hubungan dalam dan antara keluarga dan
teman-teman (sosialisasi informal), keterlibatan dalam masyarakat dan kehidupan organisasi
(misalnya sukarela), dan keterlibatan publik (misalnya pemilihan); (2) norma-norma sosial;
nilai-nilai dalam masyarakat, norma dan kebiasaan kerjasama; dan (3) kepercayaan sosial;
Kepercayaan pada lembaga sosial dan orang lain.
Modal sosial itu sifatnya produktif, dalam artian bahwa interaksi modal sosial
memiliki capaian-capaian positif bagi perkembangan komunitas masyarakat jika kemudian
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 991
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
dapat dimanfaatkan dengan maksimal. Meskipun interaksi terjadi karena berbagai alasan,
orang-orang berinteraksi, berkomunikasi dan kemudian menjalin kerjasama pada dasarnya
dipengaruhi oleh keinginan untuk berbagi cara mencapai tujuan bersama yang tidak jarang
berbeda dengan tujuan dirinya sendiri secara pribadi. Keadaan ini terutama terjadi pada
interaksi yang berlangsung relatif lama (Suharto, 2007: 98).
Kajian modal sosial kemudian tidak saja menjadi domain dalam studi-studi
kemasyarakatan saja namun juga sebagai bagian dari konsep ilmu administrasi publik dan
pemerintahan. Hal ini sebagai imbas oleh dikembangkannya konsep governance yang
kemudian melihat apa yang dapat dilakukan komunitas masyarakat dalam membantu jalannya
penyelenggaraan pemerintahan dengan efektif. Sebagai bentuk pertautan tersebut, kemudian
modal sosial dapat dipahami dalam beberapa hal, yakni partisipasi dalam suatu jaringan
(networks), hubungan timbal balik (reciprocity), kepercayaan (trust), norma sosial (norms),
nilai-nilai (values) dan tindakan yang pro aktif (pro active act) (Hasbullah, 2006: 9; Sudarmo,
2011: 197-198; Suharto, 2011: 98-100).
Bersandar pada norma-norma dan nilai-nilai bersama, asosiasi antar manusia tersebut
menghasilkan kepercayaan yang pada gilirannya memiliki nilai ekonomi yang besar dan
terukur (Fukuyama, 1995). Bahkan perkembangannya saat ini modal sosial di suatu
komunitas dapat turut mempengaruhi kebijakan publik (Suharto, 2011; Fields, 2008). Karena
itu, sebagai kepentingan penelitian ini maka modal sosial dapat dijelaskan pada serangkaian
unsur yang dimilikinya.
Terkait hal ini, Suharto (2011) menjelaskan kriteria menakar modal sosial dalam
komunitas, yaitu ; (a) Kepercayaan, bahwa hal ini bisa menumbuhkan dan mempermudah
pertukaran dan interaksi antar individu-individu, kelompok-kelompok dan isntitusi-institusi.
(c) norma, terdiri dari pemahaman, nilai, harapan dan tujuan yang ingin dicapai bersama
kelompok/ komunitasnya. (b) Kerjasama, hal ini mengakui bahwa komunitas masyarakat
seringkali tidak bisa menyediakan kepentingannya sendiri maka dengan melakukan kerjasama
atau aktivitas kolektif untuk menanggulanginya.
METODOLOGI
Penelitian ini didesain menggunakan studi ekploratif kelompok masyarakat pesisir, khususnya
kelompok perempuan pesisir. Sampel diambil menggunakan non probability sampel dengan
pendekatan purposive sampel dan dibantu dengan pendekatan snowball sampling. Data
diperoleh melalui wawancara mendalam dengan kelompok perempuan pesisir, observasi
992 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
kegiatannya dan telaah dokumen yang relevan. Analisi data menggunakan model interaktif,
dan disajikan secara deskriptif.
PEMBAHASAN
1.
Profil Kelompok Perempuan Pesisir
Maksud dari Masyarakat Pesisir dalam kajian penelitian ini adalah masyarakat yang
mendiami kawasan pesisir, untuk itu dalam kelompok masyarakat tersebut melekat penciri
dan indikator sebagai masyarakat pesisir. Penelitian ini dilakukan pada masyarakat di
kelurahan Sulaa Kecamatan Betoambari Kota Baubau. dengan berfokus pada aktivitas yang
dilakukan oleh kelompok perempuan.
Kondisi sumberdaya manusia di Kelurahan Sulaa pada tahun 2014 berjumlah 1667
orang yang terdiri dari 820 orang Laki-Laki dan 841 Orang Perempuan, dengan sebaran 411
Kepala Keluarga (KK). Pada beberapa KK, didapati bahwa perempuan menjadi kepala
keluarga (Baubau Dalam Angka: BPS Kota Baubau, 2015). Sekalipun begitu, perempuan
dalam struktur masyarakat Kelurahan Sulaa memegang peranan yang cukup penting.
Mengingat bahwa pekerjaan kaum laki-laki adalah nelayan, maka ketika keluarga ditinggal
berlayar oleh Kepala Keluarga maka secara otomatis kaum perempuan menjadi tonggak
ekonomi keluarga. Untuk musim-musim tertentu juga misalnya musim barat ketika nelayan
tidak bisa melaut, maka perempuan menjadi tulang punggung ekonomi keluarga.77.
Berdasar kondisi tersebut, maka dibentuklah beberapa kelompok perempuan berbasis
keterampilan atau pekerjaan yang digeluti oleh kaum perempuan. Keberadaan kelompokkelompoknya menjadi sarana dimana perempuan memiliki kemampuan untuk mengorganisir
dirinya sendiri dan kelompoknya, selain itu sebagai sarana berbagi pengetahuan untuk ikut
membantu kepala keluarga mencari nafkah bagi keluarga. Setidaknya hingga kini, perempuan
pesisir di Kelurahan Sulaa membentuk beberapa kelompok yang dibantu oleh LSM atau
Pemerintah Kelurahan78. Dengan begitu, kelompok-kelompok tersebut kemudian menjadi
melalui sarana kelompok perempuan menjalin hubungan dengan berbagai pihak utamanya
pemerintah daerah.
Kelompok ini kemudian dibentuk atas alasan tujuan dan arah yang satu, kemudian
diperluas berdasarkan pada kegiatan-kegiatan yang disusun oleh kelompok. Disisi lain,
77
78
Wawancara dengan Ketua Kelompok Perempuan Pesisir “Poose-ose”, Wa Muzi
Wawancara Lurah Sulaa,
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 993
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
kelompok memfasilitasi anggotanya untuk belajar menjahit dan menenun79. Melalui
penjelasan diatas, aktivitas kelompok perempuan dapat dikategorikan sebagai bentuk
kapasitas kelompok perempuan dalam memberdayakan dirinya sendiri dalam kelompokkelompok yang dikelola oleh mereka.
Untuk menggambarkan detail kelompok perempuan pesisir ini, dapat dikategorikan
pada dua hal pokok yakni :
a. Kelompok Perempuan Penenun; Kelompok perempuan ini berprofesi sebagai penenun
sarung. Dalam kelurahan Sulaa terdapat dua kelompok yang hingga kini masih terus
berlangsung. Perempuan yang menjadi anggota pada kelompok ini tidak harus bisa
menenun. Disisi lain, kelompok menjadi sarana pemasaran bagi produk sarung
mereka. Hasil penjualan sarung selain digunakan untuk belanja keluarga, disisihkan
untuk tabungan kelompok dan sebagian digunakan untuk modal membuat sarung
kembali80
b. Kelompok Perempuan Pesisir; Kelompok ini lebih homogenitas keterampilan dimana
kelompok ini cukup terbuka bagi setiap keterampilan. Sekalipun ada beberapa anggota
kelompoknya yang juga berprofesi sebagai penenun. Kelompok ini lebih berorientasi
sebagai wadah berkumpulnya perempuan pesisir di Kelurahan Sulaa dengan berbagai
latar belakang. Kelompok ini juga menjadi saran memperoleh informasi bagi
perempuan. Kelompok ini secara rutin melakukan rapat atau pertemuan, untuk
membahas beberapa persoalan kelompok. Misalnya jika ada anak mereka yang butuh
biaya kuliah, sakit atau persoalan lainnya81.
Tabel. 1
Profil Kelompok-Kelompok Masyarakat Pesisir
Kategori
Nama
Nama Ketua
Jenis Pekerjaan
Kelompok
Kelompok
Kelompok
Kelompok
Masyarakat
Lakeba
Kelompok
Kainawa
Penenun
Molagina
Wa Ode Zamra
Hatia
79
Wawancara dengan Tokoh Masyarakat, Bapak La Pina
Wawancara dengan Ketua Kelompok Tenun Kainawa Molagina, Hatia.
81
Wawancara dengan Ketua Kelompok Perempuan “Poose-ose”, Wa Muzi
80
994 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
Penenun Sarung
Tradisional
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
Penenun,
Kelompok
Poose ‘ose
Wa Muzi
Pedagang, Ibu
Perempuan
Rumah Tangga,
Pesisir
dll.
Disisi lain, melalui kelompok-kelompok perempuan tersebut diatas menjadi sarana
perempuan pesisir mengakses permodalan dari pemerintah dan juga sebagai sarana pemasaran
hasil produksi anggota kelompok. Kemampuan diatas, tentu menunjukkan kapasitas modal
sosial perempuan pesisir, utamanya dalam mengelola dirinya dalam kelompok yang dibuat
mereka.
2.
Modal Sosial Kelompok Perempuan Pesisir
Penjelasan diatas mendeskripsikan bahwa aktivitas yang ditunjukkan oleh kelompok
perempuan pesisir, dapat dipetakan model bekerjanya modal sosial di dalam kelompok.
sebagaimana aspek kolektif, modal sosial menyangkut hubungan, antara kepemimpinan
(leadership), jaringan kerjasama (network) dan Kepercayaan (Trust). Melalui kelompok ini
pula kemudian menjadi sarana kaum perempuan untuk bertukar pengetahuan, mengelola
organisasi hingga membangun jaringan pemasaran hasil usaha mereka.
a. Kepemimpinan
Kepemimpinan kelompok menjadi point penting bagi efektif tidaknya sebuh
kelompok. Dalam kelompok perempuan pesisir peran kepemimpinan memiliki
kepercayaan yang cukup kuat dari anggotanya. Ketua kelompok dipilih secara
demokratis dalam rapat anggota82. Melalui interaksi dalam ranah ini kelompok
perempuan membangun sikap saling percaya dan juga menyangkut kepemimpinan
kelompok. Sekalipun kemudian kelompok yang terbentuk adalah informal. Melalui
ketua kelompok biasanya menjadi sarana pemerintah daerah seringkali bekerjasama
dengan kelompok tersebut.
Disisi lain, pada ranah ini kepemimpinan kelompok perempuan pesisir
menunjukkan adanya kemampuan organisasional yang efektif, kemampuan mengelola
organisasi, dan berlangsungnya proses berbagi informasi dan berbagi pengetahuan
82
Wawancara dengan Tokoh Masyarakat,Bapak La Pina
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 995
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
dalam kelompoknya. Biasanya, ketua kelompok menjadi sarana anggota kelompok
untuk mengkonsultasikan persoalannya, membangun jejaring kerjasama, hingga
memfasilitasi kelompok ke pihak pemerintah daerah83. Sekalipun dalam observasi
lapangan, penelitia menemukan bahwa ketua kelompok seringkali hanya lulusan SD
hingga SMA, namun mampu menggerakkan kelompoknya dengan efektif.
b. Jaringan Kerjasama
Jaringan kerjasama berkaitan dengan kemamuan kelompok perempuan dalam
membangun kerjasama saling menguntungkan dengan pihak atau kelompok lain.
Dimana kapasitas ini tergambarkan dalam kondisi bahwa kelompok perempuan
membangun hubungan kerjasama positif dengan kelompok lainnya. namun catatan
penting dari proses ini adalah hubungan interakasi sosial hanya terjadi oleh kelompok
masyarakat saja. Dalam pelaksanaanya, kapasitas ini terjadi oleh bantuan dari pihak
LSM (APPaK) dan adanya pendampingan dalam bentuk Program KUBE oleh
Pemerintah Daerah84.
Merujuk pada kondisi diatas kelompok perempuan pesisir membangun relasi
dengan kelompok lainnya, baik dalam lingkup wilayah Kota Baubau maupun diluar
Kota Baubau. biasanya jaringan didapati oleh kelompok saat mereka diikutkan dalam
program atau kegiatan pelatihan oleh pemerintah daerah85. Selain itu, program pelatihan
yang oleh Pemerintah Daerah ini biasanya berlangsung tiap tahun dengan syarat
masyarkat yang diikutkan memiliki kelompok86. Maka secara tidak langsung, kelompok
perempuan pesisir mampu menyediakan sarana untuk diperhatikan oleh pemerintah
daerah melalui kelompok yang dibentuknya.
Pemanfaatan jejaring ini adalah selain membagun hubungan dalam hal pemasaran
hasil usaha yang bermotif kultur jaringan. Disisi lain juga, hal ini mewujud dalam
jaringan kerjasama dengan kelompok usaha (bisnis) lainnya, dengan jaringan ini
kemudian kelompok masyarakat pesisir memproduksi berbagai inovasi usaha dan
berbagai pengetahuan umum lainnya.
83
Wawancara dengan beberapa anggota kelompok perempuan
Wawancara dengan Ketua Kelompok Poose-ose “Wa Muzi” dan Kainawa Molagina “Hatia”
85
Wawancara dengan Ketua Kelompok Poose-ose “Wa Muzi”
86
Wawancara dengan Lurah Sulaa
84
996 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
c. Saling Percaya
Saling percaya menjadi penting dalam proses organisasi, dengan begitu
kepercayaan yang tumbuh dalam anggota kelompok akan mampu menggerakkan
kelompok untuk terus berkembang dan tentu didukung pula dengan kepemimpinan yang
efektif. Sebagai cerminan saling percaya yang terbangun dalam kelompok perempuan di
kelurahan sulaa, dapat diamati dalam adanya kesadaran gerakan menabung, melakukan
arisan rutin setiap bulannya, dan kelompok menjadi sarana berbagi “curahan hati”
anggota kelompok.
Dalam beberapa kesempatan, kelompok juga menjadi sarana anggota kelompok
untuk memecahkan persoalannya. Seperti misalnya jika ada anggota kelompok yang
membutuhkan uang sekolah anaknya, ada anggota keluarganya yang sedang sakit, atau
hal-hal mendesak lainnya bisa dibantu oleh kelompok dalam musyawarah yang
dilakukan oleh kelompok87. Deskripsi diatas tentu terjadi jika adanya saling percaya
antara anggota kelompok, sehingga setiap persoalan dan masalah yang dialami oleh
anggota kelompok dapat dimusyawarahkan dan dicari solusi bersama untuk
menyelesaikannya.
Tabel 2
Kapasitas Modal Sosial
Kelompok Perempuan Pesisir Kelurahan Sulaa, Kota Baubau
No.
1.
Modal Sosial
Keterangan
Kepemimpinan
Kemampuan ketua kelompok dalam memimpin organisasi yang
cukup efektif dalam mengelola organisasi, ketua kelompok
sebagai sarana penghubung anggota kelompok dengan kelompok
lain maupun pemerintah daerah dan fungsi pemimpin (ketua
kelompok) dalam mengadvokasi anggota.
2.
Jaringan
Kemampuan yang ditunjukkan dalam bentuk jaringan kerjasama
Kerjasama
dengan kelompok lain, dengan jaringan ini kemudian kelompok
perempuan pesisir memproduksi berbagai inovasi usaha dan
berbagai pengetahuan umum lainnya.
87
Wawancara dengan Anggota Kelompok Perempuan, Wa Poasa
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 997
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
3.
Saling Percaya
Ditunjukkan
pada
adanya
partisipasi
anggota
kelompok
perempuan pesisir baik menjalankan keputusan kelompok,
gerakan menabung, dan arisan kelompok. Disamping itu,
kelompok juga menjadi forum anggota kelompok untuk
memecahkan persoalan mereka.
Pembahasan diatas memberikan gambaran bahwa masyarakat pesisir, melalui
kelompok perempuanya memiliki kapasitas untuk kemudian mengembangkan dirinya
sendiri. Kelompok perempuan menjadi sarana kaum perempuan pesisir bukan saja
untuk mengembangkan dirinya (berbagi pengetahuan), namun juga sebagai sarana
berusaha untuk ikut memberikan kontribusi bagi pendapatan keluarga. Mengingat
bahwa potret kemiskinan di masyarakat pesisir, seringkali berkaitan erat dengan akses
pasar terhadap hasil-hasil tangkapan yang masih minim, setidaknya gambaran kapasitas
dari kaum perempuan yang tercermin dalam aktivitas kelompok perempuan mampu
member pandangan lain tentang potensi kemiskinan masyarakat pesisiri.
Khususnya di wilayah kelurahan Sulaa Kecamatan Betoambari Kota Baubau,
tentunya kapasitas seperti tergambarkan diatas mampu digunakan sebagai perspektif
lain dalam upaya pemberdayaan masyarakat pesisir. Pendekatan bantuan financial yang
diberikan pemerintah daerah, hingga saat ini belum menunjukkan kondisi yang optimal.
Maka setidaknya apa yang ditunjukkan dalam kapasitas kaum perempuan pesisir dalam
aktivitas kelompoknya bisa menjadi mitra dalam pemberdayaan masyarakat. Konteks
ini juga menjawab bahwa pelibatan multisektor dalam penanganan kemiskinan
diperlukan, salah satunya adalah kelompok perempuan pesisir. Pendekatan modal sosial
jelas diperlukan untuk kemudian merumuskan model pengentasan kemiskinan keluarga
masyarakat pesisir.
KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan
Kemiskinan masih perlu terus dicarikan solusi dalam penanganannya. Pendekatan
ekonomi melalui bantuan financial tidak sepenuhnya bisa menjadi solusi bagi
pengentasan kemiskinan. Dari pembahasan penelitian ini, didapati bahwa modal sosial
masyarakat juga mampu dimanfaatkan untuk menjadi salah satu solusi dalam
mengentaskan masalah kemiskinan masyarkat, khususnya focus penelitian ini adalah
998 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
masyarakat pesisir. Adapun kesimpulan penelitian terkait indikator kapasitas modal
sosial kelompok perempuan pesisir adalah sebagai berikut: 1) Kepemimpinan yang
cukup efektif dalam mengelola organisasi, penghubung kelompok dengan kelompok
lain hingga pemerintah daerah; 2) Jaringan Kerjasama, dengan jaringan ini kemudian
kelompok perempuan pesisir memproduksi berbagai inovasi usaha dan berbagai
pengetahuan umum lainnya; 3) Saling Percaya, partisipasi anggota kelompok
perempuan pesisir baik menjalankan keputusan kelompok, gerakan menabung, arisan
kelompok, serta kelompok juga menjadi forum anggota kelompok untuk memecahkan
persoalan mereka.
2. Saran
Berdasarkan pembahasan diatas, penelitian ini menganggap bahwa betapapun demikian,
kapasitas modal sosial memiliki peran penting, namun juga perlu mendapat dukungan
eksternal untuk mempertahankannya atau memperkuatnya. Kondisi lingkungan yang
unpredictable menjadi tantangan tersendiri bagi kapasitas modal sosial masyarakat.
Untuk itu, selain menggunakan perspektif modal sosial dalam pengentasan kemiskinan,
juga perlu diperhatikan bahwa kebijakan public diarahkan untuk mendukung penguatan
kapasitas tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
BPS Kota Baubau, 2015. Baubau Dalam Angka. Baubau: Badan Pusat Statistik.
Bowles, Samuel and Herbert Gintis, Social Capital and Community Governance. 2002. The
Economic Journal 112 (November), F419-F436. Royal Economic Society. Diakses
melalui http://tuvalu.santafe.edu/~bowles/SocialCapital.pdf. (10/10/2013. pukul 22.00
wib)
Eversole, Robyn. 2011., Community Agency and Community Engagement: Re-theorising
Participation in Governance, Journal of Public Policy / Volume 31 pp 51-71,
http://journals.cambridge.org/abstract_S0143814X10000206 (10/10/2013. pukul 22.00
wib)
Field, John. 2010., Modal Sosial, Bandung: Kreasi Wacana.
Fukuyama, Francis.,2010. Trust: Kebijakan Sosial dan Penciptaan Kemakmuran, Yogyakarta:
Penerbit Qalam.
Hamid, Abdul Rahman. 2011. Orang Buton: Suku Bangsa Bahari Indonesia. Yogyakarta:
Ombak.
Hasbullah, Jousairi. 2006. Social capital: menuju keunggulan budaya manusia Indonesia.
MR.United Press, Jakarta.
Nugroho, Riant. 2014., Kebijakan Publik di Negara-Negara Berkembang, Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 999
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
Nugroho, Riant. 2014., Metode Penelitian Kebijakan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Suharto, Edi, 2011., Kebijakan Sosial Sebagai Kebijakan Publik, Bandung: Alfabeta.
Sudarmo, 2011. Isu-Isu Administrasi Publik dalam Perspektif Governance, Surakarta: Smart
Media.
Sudarmo. 2008. Social Capital untuk Community Governance, Jurnal Spirit Publik, Volume
4, Nomor 2 Halaman 101-112.
Suyanto, Bagong. 2013. Anatomi Kemiskinan dan Strategi Penangannya, Malang: Intras
Publising.
van Oorschot, Wim and Ellen Finsveen. 2010. Does the welfare state reduce inequalities in
people’s social capital?, dalam International Journal of Sociology and Social Policy,
Vol. 30 Nos. 3/4, pp. 182-193. Diakses melalui : www.emeraldinsight.com/0144333X.htm. (diakses, 14/10/2013. 14.00 wib)
Wijaya, Andy Arya Maulana. 2014. Penguatan Kapasitas Community Governance Melalui
Social capital : Studi Kasus Masyarakat Pesisir Kota Baubau Sulawesi Tenggara,
Tesisi Pascasarjana Universitas Sebelas Maret: tidak dipublikasikan.
1000 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
PERAYAAN GREBEG SURO SEBAGAI PENGEMBANGAN SEKTOR
PARIWISATA PONOROGO
(ANALISIS POTENSI PENGEMBANGAN WISATA BUDAYA PONOROGO)
Ekapti Wahjuni Djuwitaningsih
Program Stdi Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Muhammadiyah Ponorogo
[email protected]
ABSTRAK
Perayaan Grebeg Suro merupakan sebuah agenda rutin tahunan yang diselenggarakan oleh
Pemerintah Kabupaten Ponorogo dan selalu mendapatkan perhatian serta ditunggu-tunggu
baik masyarakat Ponorogo (berdomisili di kota Ponorogo maupun di kota-kota lain) maupun
berbagai masyarakat dari kota-kota lainnya, termasuk para turis dari manca
negara.Pemerintah Kabupaten Ponorogo telah merespon dengan baik dengan menyusun
berbagai agenda kegiatan yang mampu mewarnai kemeriahan Perayaan Grebeg Suro
tersebut.Berbagai acara atau lomba yang digelar dalam Perayaan Grebeg Suro, mulai
berbagai acara atau lomba sebelum acara Pembukaan Grebeg Suro, Malam Pembukaan
Grebeg Suro, Festival Reyog Nasional, Pusat Keramaian di Aloon-Aloon Ponorogo, Kirap
Pusaka, Malam Penutupan Grebeg Suro, Larung Risallah, dan berbagai acara lainnya,
ternyata telah mampu menarik penonton atau pengunjung yang sangat besar. Pusat
Keramaian di Aloon-Aloon Ponorogo, mulai dari sebelum tanggal pembukaan sampai
dengan penutupan acara Perayaaan Grebeg Suro, dan bahkan beberapa hari setelah acara
penutupan, tidak pernah sepi dari pengunjung dan pembeli. Hal ini mengundang wisatawan
domestik maupun wisatan Luar Negeri.Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan
Perayaan Grebeg Suro Sebagai Pengembangan Sektor Pariwisata Ponorogo ( Analisis
Potensi Pengembangan Wisata Budaya Ponorogo),penelitian ini menggunakan metode
pengamatan secara langsung, melakukan wawancara. Metode analisis data penelitian dengan
menggunakan metode Diskriptif Kualitatif, dilakukan analisis data secara naratif. Perayaan
Grebek Suro sebenarnya berasal dari kebiasaan masyarakat yang diambil alih oleh
Pemerintah Daerah sebagai Agenda Tahunan dengan melibatkan partisipasi masyarakat
secara keseluruhan dengan didasarkan pada Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II
Ponorogo Nomor 63 Juncto 130 Tahun 1987 tentang Tim Kepariwisataan Daerah Tingkat II
Ponorogo.
Kata Kunci: Grebeg suro, Pariwisata
PENDAHULUAN
Pelaksanaan Perayaan Grebeg Suro merupakan moment penting bagi masyarakat dalam
maupun luar Ponorogo.Disamping sebagai barometer perkembangan seni budaya, Perayaan
Grebeg Suro tersebut juga merupakan indikator kepedulian Pemerintah Kabupaten Ponorogo
terhadap persoalan sosial ekonomi dan budaya masyarakat Ponorogo. Adapun alasan
penyelenggaraan perayaan Grebeg Suro: 1) Dalam upaya melestarikan, mengembangkan dan
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 1001
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
meningkatkan mutu kesenian Reog Ponorogo sebagai asset Budaya Nasional. 2) Menunjang
Program Pemerintah, khususnya Bidang Kepariwisataan di Kabupaten Ponorogo. 3)
Memperingati Tahun baru Hijriah 1 Muharram, 4) Meningkatkan perekonomian masyarakat
Ponorogo sebagai dampak multiplier effect dari penyelenggaraan Grebeg Suro.
Perayaan Grebek Suro sebenarnya berasal dari kebiasaan masyarakat yang diambil
alih oleh Pemerintah Daerah sebagai Agenda Tahunan dengan melibatkan partisipasi
masyarakat secara keseluruhan dengan didasarkan pada Keputusan Bupati Kepala Daerah
Tingkat II Ponorogo Nomor 63 Juncto 130 Tahun 1987 tentang Tim Kepariwisataan Daerah
Tingkat II Ponorogo.Sektor pariwisata ini mendapat perhatian khusus dari pemerintah karena
pariwisata memiliki posisi strategis dalam perekonomian nasional.
Kabupaten Ponorogo merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur yang
mendukung untuk dikembangkan potensi pariwisatanya, Kabupaten Ponorogo dikenal dengan
julukan Kota Reog atau Bumi Reog karena daerah ini merupakan daerah asal dari kesenian
Reog. Ponorogo juga dikenal sebagai Kota Santri karena memiliki banyak pondok pesantren,
salah satu yang terkenal adalah Pondok Modern Darussalam Gontor yang terletak di desa
Gontor, kecamatan Mlarak. Karena disamping adanya faktor daya tarik wisata budaya berupa
kesenian Reog, kota ini juga memiliki beberapa obyek wisata alam yang cukup bagus, salah
satunya berupa Telaga Ngebel. Selama ini masyarakat masih hanya mengenal potensi wisata
Ponorogo lewat Kesenian Reog, belum mengenal lebih jauh potensi alamnya.
TINJAUAN PUSTAKA
1. Kebijakan Pemerintah Perayaan Grebeg Suro.
a.
Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah
sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 12 Tahun
2008.
b.
Peraturan Daerah Kabupaten Ponorogo Nomor 10 Tahun 2008 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Kabupaten Ponorogo.
c.
Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Ponorogo Nomor 63 Juncto 130
Tahun 1987 tentang Tim Kepariwisataan Daerah Tingkat II Ponorogo.
d.
Kebijakan Pemerintah Pengembangan Sektor Pariwisata Undang – Undang RI
No 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan.
1002 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
Berdasarkan Peraturan Bupati Nomor 63 Tahun 2008 tentang Uraian Tugas dan
Fungsi Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Ponorogo. Tugas
dan Fungsi Bidang Pengembangan Wisata adalah sebagai berikut :
a. Bidang Pengembangan Pariwisata mempunyai tugas mengumpulkan bahan
pembinaan, pengembangan dan pemantauan objek dan daya tarik wisata, atraksi
dan hiburan wisata, serta pemberdayaan masyarakat pelaku pariwisata.
b. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
Bidang Pengembangan Pariwisata menyelenggarakan fungsi :
1) Pembinaan dan pengembangan pengusahaan objek dan daya tarik wisata, atraksi
dan hiburan wisata.
2) Pelaksanaan perizinan di bidang pengusahaan objek dan daya tarik wisata,
atraksi wisata dan hiburan wiksata.
3) Pemantauan dan pengevaluasian kegiatan pengelolaan objek dan daya tarik
wisata, atraksi wisata dan hiburan wisata.
4) Pelaksanaan sosialisasi dan pemberdayaan masyarakat di bidang pengembangan
pariwisata.
5) Pelaksanaan evaluasi dan pelaporan pelaksanaan tugas di bidang pengembangan
pariwisata, dan
6) Pelaksanaan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas.
Sebagaiman Tugas dan Fungsi di atas maka, adapun upaya yang dilakukan Bidang
Pengembangan Wisata adalah sebagai berikut :
1.
a)
Promosi, dan promosi dibagi menjadi dua, yaitu :
Promosi secara lesan, yaitu promosi yang dilakukan secara langsung melalui
sosialisasi lewat radio atau talk show langsung melalui televise dengan
mengenalkan GrebegSuro sebagai salah satu objek wisata yang ada di
Ponorogo.
b) Promosi secara tertulis, yaitu promosi yang dilakukan melalui brosur, buku
panduan wisata, leaflet dan lain sebagainya saat diadakannya kegiatankegiatan kegiatan saat perayaaan grebeg suro dan kemudian disebarkan
kepada masyarakat.
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 1003
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
2. Dinas Pariwisata bersama dengan Pemerintah bekerjasama mengadakan event
Tahunan yang di sebut dengan Perayaan Grebeg Suro yang dilaksanakan
setiap 1 Muharam
3. Peningkatan event-event lomba reog tingkat Nasional.
4. Penelitian dan pembinaan pokdarwis (kelompok sadar wisata).
2. Tata Kelola Kepariwisataan yang Baik
Menurut Bambang Sunaryo, dalam bukunya yang berjudul Kebijakan Pembangunan
Destinasi Pariwisata (2013), mengemukakan Secara teoritis pola manajemen dari
penyelenggaraan pembangunan kepariwisataan yang berlanjut dan berwawasan
lingkungan akan dapat mudah dikenali melalui berbagai cirri penyelenggaraanya yang
berbasis pada prisip-prinsip sebagai berikut ini: 1) Partisipasi Masyarakat Terkait 2)
Keterlibatan Segenap Pemangku Kepentingan 3) Kemitraan kepemilikan Lokal 4)
Pemanfaatan Sumber Daya Secara Berlanjut 5)Mengamodasikan Aspirasi Masyarakat
6) Daya Dukung Lingkungan 7) Monitor dan Evalusi Program 8) Akuntabilitas
Lingkungan 9 )Pelatihan Pada Masyarakat Terkait.
3. Promosi dan Pemasaran Pariwisata
Menurut Bambang Sunaryo, dalam bukunya yang berjudul Kebijakan Pembangunan
Destinasi Pariwisata (2013), Promosi (promotion) merupakan bagian dari proses
pemasaran yang termasuk salah satu aspek dalam baruan pemasaran (marketing mix).
Baruan pemasaran pada dasarnya merupakan koodinasi interaksi dari empat
komponen, yang sering disebut dengan 4P, yaitu produk (product), harga (price),
lokasi distribusi (place), dan promosi (promotion).Aktivitas promosi kepariwisataan
secara prinsip merupakan kegiatan komunikasi, yang dilakukan oleh organisasi
penyelenggara pariwisata (destinasi) yang berusaha mempengaruhi khalayak atau
pasar wisatawan yang merupakan tumpuan atau sasaran dari penjualan produk
wisatanya.
4. Pemberdayaan Masyrakat dan Kepariwisataan
Upaya pemberdayaan masyarakat melalui kepariwisataan pada hakekatnya harus
diarahkan pada beberapa hal sebagai berikut: a) Meningkatkan kapasitas, peran dan
inisiatif masyarakat sebagai subjek atau pelaku penting dalam pengembangan
1004 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
kepariwisataan.b) Meningkatkan posisi dan
kualitas keterlibatan/
partisipasi
masyarakat dalam pegembangkan kepariwisataan.c) Meningkatnya nilai manfaat
positif pembangunan kepariwisataan bagi kesejahteraan ekonomi masyarakat, dan d)
Meningkatnya kemampuan masyarakat dalam melakukan perjalanan wisata.
5. Pengembangan Sadar Wisata
Di dalam suatu pengembangan sadar wisata terdapat unsur-unsur Sapta Pesona yang
tidak terpisahkan dalam suatu pengembangan destinasi pariwisata, yang selama dua
dekade ini telah menjadi pilar penting dalam upaya pengembangan dan pertumbuhan
destinasi pariwisata di Indonesia, dan unsur-unsur tersebut adalah sebagai berikut: a)
Keamanan b) Kebersihan c) Ketertiban d) Kenyamanan e) Keindahan f) Keramahan,
dan e) Kenangan.
METODE PENELITIAN
Lokasi penelitian dilaksanakan di Kabupaten Ponorogo Propinsi Jawa Timur, terutama pada
dinas-dinas pemerintahan yang bersentuhan dengan Perayaan Grebeg suro, sebagai lembaga
yang paling berkompeten dalam bidang pengembangan potensi pariwisata di daerah yaitu
Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Ponorogo. Sebagai
informan dalam penelitian ini .Dalam penelitian ini mempergunakan jenis penelitian
deskriptif kualitatif. Teknik Pengumpulan Data menggunakan teknik pengumpulan data
antara lain sebagai berikut:Dokumentasi ,Wawancara,
dan Teknik Analisis Datayang
digunakan dalam penelitian ini adalahseperti apa yang diungkapkan oleh Miles dan Huberman
(1992: 16-18), bahwa terdiri atas tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu
reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan/verifikasi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Hasil Wawancara dengan Informan
Hasil wawancara dengan
pegawai di Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan
Olahraga Kabupaten Ponorogo
a. Upaya-upaya apa saja yang telah dilakukan oleh Pemerintah Daerah ( Dinas
Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga ) untuk mengembangkan sektor
pariwisata di Kabupaten Ponorogo ?
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 1005
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
Menurut Keterangan Bapak Ir. Mahmud Budihartono, M.Si
"Kabupaten Ponorogo adalah salah satu kota yang tidak dipungkiri lagi eksistensi
potensi pariwisatanya, memiliki potensi wisata alam
yang sangat penting untuk
dikembangkan hal ini didukung oleh tersedianya infrastrukur pendukung kendaraan
umum yang menghubungkan ke titik-titik lokasi obyek wisata dari kota dan kabupaten
lain yang turut membantu dalam pengembangan pariwisata. Pemerintah juga telah
berupaya untuk memajukan objek wisata yang belum berkembang sehingga ke depan
semua objek wisata tersebut bisa dikelola dengan baik dan dapat dikunjungi , selain
itu juga didukung oleh budaya masyarakat sebagai peninggalan sejarah yang perlu
dilestarikan dan dipromosikan untuk menarik wisatawan baik domestic maupun asing
".
Menurut keterangan Bapak Edy Darwanto, ST
"Menurut saya, Kabupaten Ponorogo sangat potensial untuk pengembangan daerah
tujuan wisata, karena memiliki beragam objek wisata, utamanya Makam Batoro
Katong yang menjadi bukti sejarah yang dapat dilihat secara nyata.. Selain obyek
wisata, masih lestarinya kegiatan tradisional yang ada di masyarakat seperti Larung
Risalah Do’a, Taman Rekreasi Singo Pitu, Pentas Wayang Kulit dan Reog Bulan
Purnama dan Iain-Iain.,serta perayaaan Grebeg Suro sudah dikemas sebagai acara
agenda tahunan oleh Pemmerintah Daerah Kabupaten Ponorogo yang semuanya di
kemas dalam satu paket wisata budaya, dan ditetapkan dalam kalender wisata
provinsi jawa timur. "
Dari kedua wawancara diatas dapat dikemukakan bahwa potensi obyek wisata
Kabupaten Ponorogo meliputi wisata Alam , waisata Budaya dan wisata kuliner perlu untuk
di kembangkan sebagai tempat wisata. Usaha pemerintahan untuk mengoptimalkan objek
wisata yang belum berkembang juga harus mendapat dukungan dari masyarakat sekitar.
b. Bagaimana manajemen pengelolaan pariwisata di Kabupaten Ponorogo ?
Menurut keterangan Bapak Ir. Mahmud Budihartono, M.Si
"Pengelolaan semua potensi wisata yang ada dilakukan dengan menyiapkan segala
fasilitas yang dibutuhkan wisatawan seperti penginapan, rumah makan/restoran,
1006 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
travel dan perbankan di Kabupaten Ponorogo cukup lengkap, hotel, restoran, dan
biro perjalanan wisata semuanya ada di pusat kota apalagi kita punya terminal
angkutan umum dan pada umumnya semua obyek wisata yang ada di Kabupaten
Ponorogo itu bisa di akses dengan lancar oleh kendaraan".
Menurut keterangan Bapak Edy Darwanto, ST
"Fasilitas pendukung guna mensupport kegiatan pariwisata yang ada di Kabupaten
Ponorogo terbilang sudah lengkap, ada banyak hotel dan penginapan yang siap
menampung para wisatawan kapanpun mulai dari kelas bawah sampai pada hotel
berbintang, kemudian tempat-tempat transaksi keuangan telah tersedia dimana-mana
selain itu juga beberapa sarana hiburan seperti kafe dan tempat karaoke maupun
sarana olahraga mulai dari lapangan hingga tempat khusus olahraga kebugaran telah
disediakan guna mendukung arus kegiatan para wisatawan selama di kota ini ."
Dari hasil wawancara dapat dikemukakan bahwa sarana dan prasarana pendukung
kegiatan pariwisata bagi wisatawan untuk kebutuhan akses ketempat wisata telah tersedia
hampir ke semua obyek wisata yang ada.
c. Sejauh mana perkembangan sektor pariwisata di Kabupaten Ponorogo ?
Menurut Keterangan Bapak Ir. Mahmud Budihartono, M.Si
“Kabupaten Ponorogo memiliki banyak warisan budaya dan sejarah yang dapat
menjadi potensi wisata budaya dan kesenian yang sangat besar namun saat ini
banyak dari warisan budaya dan sejarah tersebut mulai luntur oleh sikap kurang
pedulinya generasi sekarang akan peninggalan-peninggalan budaya masa lalu.
Untuk itu perlu dilakukan upaya-upaya untuk melindungi, mempertahankan, dan
melestarikan peninggalan-peninggalan budaya khas masyarakat Kabupaten Ponorogo
dengan menggiatkan kembali pentas-pentas seni budaya, perbaikan gedung kesenian,
sosialisasi pentingnya mempertahankan warisan budaya dansejarah kepada
masyarakat, dan meningkatkan sumber daya manusia yang kompeten dalam
pembangunan kebudayaan”
Menurut keterangan Bapak Edy Darwanto, ST
"Perkembangan setor pariwisata dalam perayaaan Grebeg Suro mengalami
peningkatan dalam menarik wisatawan tingkat Nasional maupun Internasional , hal
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 1007
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
ini didukung oleh program Pemerintah Daerah dalam mempromosikan budaya Reog
agar terkenal , disamping partisipasi masyarakat Ponorogo dalam melestarikan
dan berperilaku yang baik dan ramah terhadap para wisatawan maupun para
pendatang di kota ini, Hal ini juga dilihat dari jumlah arus kunjungan wisatawan
ke Kabupaten Ponorogo yang setiap tahunnya selalu mengalami peningkatan”.
Dari hasil kedua wawancara tersebut dapat dikemukakan bahawa perkembangan
pariwisata di Kabupaten Ponorogo terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun,
terlihat dari jumlah kunjungan wisatawan sejak tahun 2009 sampai dengan 2015 terus
meningkat.
d. Dalam usaha pengembangan sektor pariwisata di Kabupaten Ponorogo pihakpihak mana saja yang ikut berperan ?
Menurut keterangan Bapak Ir. Mahmud Budihartono, M.Si
“Usaha pengembangan sector pariwisata dalam perayaan Grebeg Suro melibatkan
peran Pemerintah Daerah yang dituangkan dalam agenda tahunan dengan program
Festifal Reog Nasional yang diikuti oleh semua masyarakat Ponorogo ( Institusi) dan
masyarakat di seluruh Indonesia yang mempunyai kompeten dengan kesenian
Reogselain itu juga partisipasi , masyarakat (baik sebagai pengusuha dan
pengunjung), dan investor”.
Menurut keterangan Bapak Edy Darwanto, ST
“Usaha yang paling penting dengan mengadakan promosi melalui media cetak
maupun elektronik, karena para Wisatawan membutuhkan informasi yang lengkap
dan tepat tentang segala sesuatu yang ada di Ponorogo, tidak hanya wisata budaya
saja tetapi wisata alam seperti Telaga Ngebel yang sangat potensial dan saya kira hal
itu akan menarik jumlah wisatawan, Kalau bicara tentang pengembangan sektor
pariwisata yang berperan adalah Dinas Teknis dalam hal ini ya Dinas Pariwisata,
Dinas terkait, juga masyarakat sekitar obyek wisataPengembangan potensi wisata
dalam hal ini tentang Budaya Reog sebagai Barometer Wisata Budaya agar tidak
punah dan bias bersaing di era globalisasi , maka salah satu usahanya dengan
melestarikan melalui pendidikan baik secara formal maupun non formal”.
1008 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
Dari hasil kedua wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa yang berperan dalam
pengembangan sektor pariwisata yaitu pemerintah daerah, masyarakat dan investor.
e. Adakah kendala-kendala yang dihadapai Dinas Kebudayaan, Priwisata, Pemuda
dan Olahraga Kabupaten Ponorogo dalam pengembangan sektor pariwisata ?
Menurut keterangan Bapak Ir. Mahmud Budihartono, M.Si
“Kendala dalam pengembangan sector pariwisata tidak dapat dipungkiri adalah
masalah promosi yang kurang maksimal, dan kerja sama dengan masyarakat tempat
wisata dalam upaya pembenahan, perbaikan, pelestarian , dan swadaya masyarakat
untuk peningkatan kreatifitas yang dimiliki baik pengolahan alam dan budaya yang
sudah ada”
Menurut keterangan Bapak Edy Darwanto, ST
“Kurang perhatiannya dalam melengkapi sarana dan prasarana sebagai Jalan dan
infrastuktur menuju atau yang berada di tempat –tempat wisata membutuhkan
pembenahan untuk kelancaran dan kenyamanan wisatawan mengunjungi tempattempat tersebut”
Dari hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa kendala-kendala yang
dihadapi oleh pemerintah daerah Kabupaten Ponorogo dalam pengambangan pariwisata
adalah kurangnya informasi tentang obyek-obyek wisata di Ponorogo dan juga jalan
atau infrastruktur masih perlu pembenahan.
f. Bagaimana cara mengatasi kendala-kendala tersebut ?
Menurut keterangan Bapak Ir. Mahmud Budihartono, M.Si
“Memperluas jaringan informasi pariwisata melalui internet dan melakukan
koordinasi dengan dinas-dinas terkait serta melibatkan masyarakat setempat untuk
meramaikan dengan membuka warung makanandan tempat istirahat yang memadai
sesuai dengan kondisi alamnya agar wisatawan tidak kesulitan untuk menikmati alam
wisatanya”
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 1009
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
Menurut keterangan Bapak Edy Darwanto, ST
“Melakukan koordinasi dengan dinas-dinas terkait yang berhubungan dengan
pariwisata baik tingkat Nasional maupun Internasional”
Dari kedua wawancara tersebut dapat di simpulkan bahwa perlu dilakukan
koordinasi dengan dinas-dinas instansi terkait pariwisata dan memperluas jaringan
informasi pariwisata untuk promosi pariwisata di Kabupaten Ponorogo.
g. Bagaimanakah tanggapan masyarakat sekitar obyek –obyek wisata terhadap
obyek-obyek tersebut ?
Menurut keterangan Bapak Ir. Mahmud Budihartono, M.Si
“masyarakat sangat mendukung dengan adanya obyek-oyek wisata karena dapat
menciptakan lapangan pekerjaan untuk meningkatkan perekonomian”
Menurut keterangan Bapak Edy Darwanto, ST
“Tentunya masyarakat sangat mendukung dan antusias karena dapat meningkatkan
penghasilan dan kesejahteraan masyarakat sekitar lokasi wisata”
Dari hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa masyarakat sekitar
kawasan wisata sangat antusias dan mendukung dengan adanya obyek-obyek wisata
tersebut karena sangat membantu dan dapat meningkatkan ekonomi masyarakat
sekitar.
h. Adakah kebijakan untuk pengembangan obyek-obyek wisata di Kabupaten
Ponorogo ?
Menurut keterangan Bapak Ir. Mahmud Budihartono, M.Si
“ada, kebijakan yang dipakai adalah kebijakan yang tercantum dalam strategi Dinas
Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ponorogo”
(wawancara tanggal 27 Agustus 2015)
1010 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
Menurut keterangan Bapak Edy Darwanto, ST
“Kebijakan pengembangan pariwisata dibebankan kepada Pemerintah Desa setempat
untuk melakukan swadaya masyarakat dalam penataan, perawatan ,pelestarian dan
perbaikan budaya yang ada juga pembangunan sarana dan prasarana dalam
memenuhi kebutuhan wisatawan terutama wisatawan domestik”
Dari hasil wawancara tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa pemerintah
daerah telah menetapkan kebijakan untuk pengembangan obyek-obyek wisata
sebagaimana tercancum dalam strategi Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan
Olahraga Kabupaten Ponorogo.
KESIMPULAN
1.
Perkembangan potensi
pariwisata di Kabupaten Ponorogo terus mengalami
peningkatan dari tahun ke tahun, terlihat dari jumlah kunjungan wisatawan tahun
2015 terus mengalami peningkatan, dalam hal ini yang berperan dalam
pengembangan sektor pariwisata yaitu pemerintah daerah, masyarakat dan investor.
2.
Sedangkan kendala-kendala yang dihadapi oleh pemerintah daerah Kabupaten
Ponorogo dalam pengambangan pariwisata adalah kurangnya informasi tentang
obyek-obyek wisata di Ponorogo dan juga jalan atau infrastruktur masih perlu
pembenahan, untuk itu perlu dilakukan koordinasi dengan dinas-dinas instansi
terkait pariwisata dan memperluas jaringan informasi pariwisata untuk promosi
pariwisata.
3.
Masyarakat sekitar kawasan wisata sangat antusias dan mendukung dengan adanya
obyek-obyek wisata karena sangat membantu dan dapat meningkatkan ekonomi
masyarakat sekitar. Pemerintah daerah telah menetapkan kebijakan untuk
pengembangan obyek-obyek wisata sebagaimana tercancum dalam strategi Dinas
Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ponorogo.
4.
Kabupaten Ponorogo mempunyai potensi pariwisata yang cukup besar untuk
dikembangkan sebagai tujuan wisata dengan didukung oleh sarana prasarana
penunjang pariwisata yang memadai seperti angkutan umum menuju lokasi wisata,
hotel dan penginapan, rumah makan atau restoran dan sarana hiburan yang
semuanya sudah tersedia dipusat kota maupun di sekitar kawasan wisata yang
mudah dijangkau. Pemerintah Daerah dalam hal ini Dinas Kebudayaan, Pariwisata,
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 1011
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ponorogo telah membuat kebijakan dalam
strategi Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga dan melakukan
berbagai upaya mengembangkan potensi pariwisata untuk menarik minat
wisatawan berkunjung ke Kabupaten Ponorogo diantaranya melakukan promosi
pariwisata dengan memperluas jaringan informasi kepariwisataan melalui internet,
perbaikan infrastruktur dan sarana prasarana yang menuju ke lokasi wisata maupun
yang ada di tempat-tempat wisata, memberdayakan masyarakat sekitar kawasan
wisata dengan memberikan bantuan atau pinjaman modal usaha untuk
meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar kawasan wisata.
SARAN
1.
Agar
pemerintah
peningkatan
dan
kualitas
pendayagunaan
maupun
daerah
sarana
Kabupaten
pelayanan
fasilitas
dan
berupa
prasarana
Ponorogo
pariwisata
sarana
pendukung
dapat
berupa
dan
pada
melakukan
penyediaan
prasarana
vital
obyek-obyek
wisata yang berada di Kabupaten Ponorogo dan menindak lanjuti semua program
yang telah dituangkan dalam rencana pengembangan dan pengelolaanpariwisata
Kabupaten Ponorogo sehingga sektor pariwisata memberi kontribusi lebih besar
terhadap pendapatan asli daerah juga memberi dampak langsung terhadap
kesejahteraan masyarakat utamanya di sekitar obyek-obyek wisata yang ada di
Kabupaten Ponorogo;
2.
Bagi masyarakat sekitar kawasan wisata agar ikut menjaga kelestarian, kebersihan dan
keamanan tempat-tempat wisata serta meningkatkan pelayanan terhadap para
wisatawan dengan sambutan yang ramah dan baik agar para wisatawan betah berlamalama bersantai menikmati keindahan obyek-obyek wisata yang ada di Kabupaten
Ponorogo;
3.
Untuk para pengusaha atau investor, potensi pariwisata di Kabupaten Ponorogo
merupakan aset yang sangat besar untuk berinvestasi dalam pengembangan usaha dan
bisnis dibidang pariwisata untuk menarik minat para wisatawan berkunjung ke obyekobyek wisata yang ada di Kabupaten Ponorogo dan menjadikannya tujuan wisata.
1012 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
DAFTAR PUSTAKA
Agus Salim, Teori Dan Paradigma Penelitian Sosial (dari Denzin Guba dan Penerapannya),
Tiara Wacana, Yogjakarta, 2001
Badan Pusat Statistik Kabupaten Ponorogo, 2014, Ponorogo Dalam Angka.
C.A. Van Peursen, Strategi Kebudayaan. Penerbit Kanisius, Yogjakarta, 1988.
Departemen Pendidikan Nasional, 2012, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa,
Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Fatcan H.A, 2011, Metode Penelitian Kualitatif, Surabaya: Jenggala Pustaka Utama
H. Kodyat, Sejarah Pariwisata dan Perkembangannya di Indonesia, PT Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta
Koentjaraningrat, KEBUDAYAAN JAWA, Balai Pustaka, Jakarta, 1994.
Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, PT Remaja Rosdakara, Bandung, 1995.
Lono Simatupang, Pergelaran Sebuah Mozaik Penelitian Seni-Budaya, Jalasuitra, Yogjakarta,
2013.
Nyoman Kutha Ratna, 2010, Metodologi Penelitian Kajian Budaya dan Ilmu Sosial
Humaniora Pada Umumnya, Yogyakarta: Pusta Pelajar
Nyoman S Pendit,1994, Potensi Pariwisata, Gramedia Pustaka Utama
Paul Stange, Politik Perhatian ( Rasa Dalam Kebudayaan Jawa ), LKiS, Jakarta, 1998
Peraturan Bupati Ponorogo Nomor 63 Tahun 2008, Tentang Uraian Tugas dan Fungsi Dinas
Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga
Peraturan Daerah Kabupaten Ponorogo Nomor 1 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Kabupaten Ponorogo Tahun 2012-2032
Peraturan Daerah Kabupaten Ponorogo Nomor 10 Tahun 2008, tentang Struktur Organisasi
Tata Kerja Dinas Daerah Kabupaten Ponorogo
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 1013
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
KOMPETENSI WARTAWAN MEDIA CETAK DALAM
PERSFEKTIF ISLAM
Marlina
Jalan gatot subroto/ rasmi no 28 medan 20123
[email protected]
ABSTRAK
Kompetensi Wartawan Media Cetak Dalam Persfektif Islam ini adalah, karena
banyaknya wartawan media cetak yang muncul silih berganti, dan dengan kepentingan yang
mereka usung masing-masing. Tak jarang mereka sering hadir dan membuat pembaca merasa
sangat resah, karena berita yang mereka sajikan sangatlah tidak benar, walaupun ada yang
benar akan tetapi terkesan dilebih-lebih kan, sehingga terkesan seperti sedang mengadu
domba. Hal inilah yang menyebabkan mengapa peneliti mengangkat masalah kompetensi
wartawan khusunya media cetak untuk diteliti lebih lanjut. Penelitian ini adalah penelitian
jenis kualitatif, wawancara adalah suatu tekhnik pengumpulan data yang ada pada penelitian
ini , melalui wawancara tersebut bertujuan untuk dapat memperoleh keterangan tentang orang,
kejadian, aktivitas, organisasi, perasaan, motivasi, pengakuan dan kerisauan. Ada tiga orang
yang dijadikan informan dalam penelitian kali ini, dan mereka berasal dari wartawan
majalah, surat kabar daerah, dan surat kabar nasional. Kompetensi media cetak oleh peneliti
diistilah kan denga STAF KPK dimana, Siddiq, Tabligh, Amanah, Fatonah, Keterampilan,
Pengetahuan dan Kesadaran menjadi satu kesatuan dalam terciptanya wartawan yang
berkompetensi baik. Pada penelitian ini akhlak yang berisi sifat keNabian telah dipenuhi leh
para wartawan, dan berpegang teguh pada sifat kenabian merupakan sebuah keharusan yang
dimiliki oleh seorang wartawan media cetak. Pengetahuan yang didalamnya yang bersifat
umum, khusunya dan kejurnalistikan atau kewartawanan juga menjadi acuan oleh para
wartawan untuk dijadikan hal yang mesti dikuasai. Kesadaran dalam hal keprofesionalan serta
rambu-rambu etika yang ada dan sesuai dengan KEJ PWI merupakan suatu yang dijunjung
tinggi oleh wartawan. Dari sisi keterampilan ada satu point yang wajib diasah oleh para
wartawan, yaitu keterampilan dalam investigasi terhadap sebuah informasi atau berita yang
akan mereka sajikan.
Kata kunci: kompetensi, wartawan, media cetak, persfektif Islam
PENDAHULUAN
Wartawan media cetak kerap sekali dijadikan sebuah arena “menitip kemauan” dari pemilik
kepentingan atau bahkan hanya sekedar cari sensasi, tak jarang banyak yang mengaku sebagai
seorang wartawan hanya untuk “meminta” sesuatu dari aparat pemerintah yang sedikit
“nakal”, pastinya sang aparatur negara tersebut khawatir apabila wartawan tersebut membuka
kenakalan yang selama ini dilakukannya. Selain itu masih banyak hal yang sering orang
1014 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
takutkan dengan wartawan, bukan karena hal yang positif akan tetapi sering mengarah kepada
hal yang negati mengenai citra seorang wartawan tersebut.
Dari hal diatas sangatlah penting untuk mengkaji bagaimana sebenarnya seorang
wartawan media cetak tersebut, apa saja yang harus dimiliki dan disiapkan ketika seseorang
ingin terjun pada dunia kewartawanan tersebut. Khsusunya dalam persfektif Islam, karena
dalam Islam semua telah diajarkan dan diatur bagaimana hendaknya seseorang berlaku atau
berbuat terhadap apa yang akan dilakukan, apalagi hal yang menyangkut hajat orang banyak,
apabila berita yang disampaikan oleh seorang wartawan hanya sekedar berdasarkan emosi
atau ketidak benaran, pastilah dampak yang akan diterima oleh pembaca akan menyimpang.
Dalam bidang kewartawanan atau jurnallistik umat Islam khusunya harus
diberdayakan, karena dunia kewartawanan sangatlah penting mengingat selama ini umat
Islam lebih banyak menjadi konsumen informasi dan sebagai objek dalam pembentukan opini
publik88, netralitas media juga sepertinya tidak pernah berimbang dalam menyiarkan atau
menginformasikan sesuatu, cenderung berat sebelah apabila kejadian yang menimpa umat
Islam sangat sepi pemberitaan akan tetapi tidak sebaliknya, sehingga netralitas sebuah media
sangat diperlukan. Selain media yang tidak kalah pentingnya
adalah wartawan dalam
pencarian beita juga hendaknya tidak ada motif A atau B, akan tetapi hanya ada satu motif
yaitu menyempaikan kebenars pada satu berita.
Hasil dari produk jurnalistik yang disajikan oleh seorang wartawan sangat
mempengaruhi opini publik, sehingga hasil produk jurnalistik ini sangatlah penting dan sangat
diperhitungkan dalam semua sisi kehidupan, khususnya yang berhubungan dengan pembuatan
opini baru ditengah masyarakat dan pengarunya terhadap sikap masyarakat setelah
mengkonsumsi hasil produk dari kegiatan jrnalistik yang disajikan oleh seorang wartawan.
Bila kita melihat pada media audio visual dan visual seperti televisi dan radio dampak
yang dihasilkan akan berbeda, selain ini proses mendapatkan informasinya juga sangat
berbeda, bila kita ingin memperoleh informasi yang disajikan pada media yang disiarkan
secara audio visual, dan visual, si penerima informasi dapat memperolehnya sambil
mengerjakan sesuatu, sehingga efek “lengketnya” informasi tersebut akan berbeda bila
dibandingkan dengan media cetak, dimana informasi yang akan kita dapatkan harus dibaca
dengan fokus dan tanpa ada kegiatan lain selain membaca, sehingga efek lengketnya
88
Asep syamsul. 2003. jurnalistik dakwah, visi dan misi dakwah bilqalam. Bandung: PT Remaja Rosda Karya,.
h, vi
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 1015
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
informasi tersebut akan bersifat lama dan utuh, selain itu apabila kita inginmengulang
informasi tersebut dapat kita baca ulang berbeda dengan media audio dan audio visual.
Rasulullah dalam proses dakwahnya tidak hanya menyampaikan pesan dakwahnya
melalui lisan (Bil-Lisan) saja akan tetapi penyampaian pesan dakwah kepada umat (mad’u)
juga disampaikan dengan cara tulisan (Bil-Kitabbah), kegiatan penyampaian pesan atau berita
Islam kepada Mad’u khususnya para Raja yang belum memeluk Islam, dan hasil yang
diterima dari produk dakwah Rasul melalui kegiatan jurnalistik Rasul yang penulis sebut
sebagai Bil-Kitabbah menunjukan hasil yang sangat luar biasa, banyak Raja yang masuk
Islam walaupun ada juga yang menerima hasil dari produk jurnalitik Rasul dengan reaksi
yang biasa saja.
Dari uraian diatas menyatakan bahwa seorang wartawan memiliki peranan penting
bagi pembentukan opini publik selain itu juga ditangan seorang wartawanlah sebuah berita
dapat diterima oleh masyarakat luas, karena masyarakat pada umumnya merupakan konsumen
yang menrima semua berita, tugas seorang wartawanlah untuk menyediakan dan menyajikan
sebuah berita yang baik, benar dan dapat dipertangunggjawabkan. Untuk itu wartawan
haruslah memiliki sebuah kompetensi yang akan membuat dirinya menjadi seorang wartawan
yang benar-benar siap menyajikan informasi kepada masyarakat.
Artinya: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang
tidak kamu kerjakan.89
Ayat diatas mempertegas bahwa Allah sangat tidak suka adanya kemunafikan, apa
yang diungkapakan tidak sesuai dengan apa yang diperbuat. Hal ini peringatan keras bagi
seorang wartawan, yang sangat suka menyajikan berita dan informasi tidak sesuai dengan
keadaan yang sebenarnya, untuk itulah seorang wartawan harus memiliki kompetensi bukan
hanya pandai menulis dan mencari berita, akan tetapi dapat menyajikan kebenaran untuk
mencerdaskan masyarakat dan membangun
Masyarakat akan mendapatkan sebuah informasi yang bernialai dan berbobot untuk
kepentingan pembangunan masyarakat yang berkemajuan bila sorang wartawan khususnya
wartawan media cetak mau menyajikan berita yang bersifat informatif, bukan sebuah berita
berisi komersil semata, karena apapun yang menyebabkan penyebarab berita hingga sampai
ke khalayak ramaai adalah tangunggjawab seorang wartawan. Kompetensi seorang jurnalis
bukan hanya bisa membuat sebuah berita terjual ke khalayak ramai akan tetapi juga
89
QS As-Shaf : 3
1016 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
bagaimana sebuah berita dapat menjadikan sebuah pemicu yang positif untuk pembangunan
ditengah-tengah masyarakat.
TINJAUAN PUSTAKA
Wartawan adalah orang yang pekerjaannya mencari berita, menyusun berita untuk kemudian
berita tersebut dimuat dalam media massa, biasanya surat kabar atau majalah90, kata lain
untuk wartawan bisa juga kita sebut dengan juru warta atau seorang jurnalis, yang kesemua
kegiatannya adalah mencari,menyusun dan membuat berita untuk dikonsumsi secara umum
oleh masyarakat
Artinya: hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada
kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar91 merekalah orangorang yang beruntung.92
Wartawan sering dianggap sebuah profesi93 sama halnya dengan seorang dokter, guru
dan lain sebagainya, yang kesemuanya memiliki keterampilan yang sering disebut dengan
kompetensi, seiring dengan Alquran surah As-Sahaff bahwa Allah mengharapkan adanya
segolongan orang yang mau mengungkapakan kebanaran memang benar dan sebaliknya,
selain mengungkapakan kebenaran seorang wartawan khususnya wartawan media cetak,
dapat memperjuangkan dan menegakkan kebenaran melalui tulisannya, bukan hanya sampai
disitu saja melalui tulisannya wartawan juga bisa mengajak pembaca untuk tidak melakukan
perbuatan yang tidak seseuai dengan nilai-nilai dan norma yang berlaku.
Masyarakat yang cerdas terbentuk dari wartawan yang cerdas, wartawan yang cerdas
ada jika standar kompetensi wartawan tercapai, dalam Islam uswah yang sangat di sarankan
untuk menjadi rujukan, baik dari bahasa, prilaku dan lain sebagainya adalah Rasulullah SAW.
Rasul selalu mengeluarkan kata-kata penuh makna dan hikamh, rasul merupakan sosok yang
disegani lawan dan dihormati kawan, hal ini terjadi karena Rasul selalu menujukan yang baik
dan bermanfaat bagi yang lain. Seorang wartawan muslim hendaknya memiliki kode etik
kewartawanan tersendiri yang sesuai deng Alquran dan As-Sunah, Asep syamsul M..Romli94
90
Paulus winarto. 2003. how to handle the journalist. Jakarta, Pt Gramedia. H 14
Ma'ruf: segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah; sedangkan Munkar ialah segala perbuatan
yang menjauhkan kita dari pada-Nya.
92
QS Al-Baqarah 104
93
Hikmat kusuma ninggrat.2005. purnama kusuma ninggrat. Jurnalistik teori dan praktik, byandung : pt remaja
rosda karya, H 115
94
Asep Syamsul.2003.Jurnalistik dakwah, visi dan misi dakwah Bilqalam. Bandung Pt Remaja Rosda Karya. h
41-43
91
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 1017
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
menyatakan bahawa paling tidak ada 5 kode etik wartawan yang dimiliki oleh wartawan
muslim, anatara lain
1. Menginformasikan berita yang benar saja dan tidak merekayasa fakta yang ada.
Ini sesuai dengan firman Allah SWT :
Artinya: Demikianlah (perintah Allah). dan Barangsiapa mengagungkan apa-apa yang
terhormat di sisi Allah
95
Maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. dan telah
Dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu
keharamannya, Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataanperkataan dusta.96
Dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa perkataan dusta merupakan hal harus dijauhi
oleh setiap orang, apabila sifat dusta dimiliki oleh seorang wartawan bisa dipastikan,
informasi yang disampaikan akan tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya yang akan
menimbulkan masalah barunantinya.
2. Bijaksana
Artinya :Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah97 dan pelajaran
yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang
lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih
mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.98
Ingin menyampaikan sebuah informasi juga harus bijak, bukan hanya sekedar
menyampaikan kebenaran semata akan tetapi, penyampaian kebenaran juga terkadang dapat
membuat seseorang tersinggung, seorang harus bisa bijaksana menempatkan beritanya agar
tidak ada yang tersinggung dengan kebenaran yang akan disampaikan oleh seorang wartawan.
3. Cermat
Sebelum membuat atau menyajikan beita hendaknyalah ada usaha untuk chek and
rechek atas kebenaranyang akan disampaikan, hal ini sejalan dengan firman Allah SWT,
Artinya :Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa
suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah
95
Maksudnya antara lain Ialah: bulan Haram (bulan Zulkaidah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab), tanah Haram
(Mekah) dan ihram.
96
QS Al-Hujarat: 30
97
Hikmah: ialah Perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.
98
QS AN-Nahl: 125
1018 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas
perbuatanmu itu.99
4. Santun
Dalam semua kegiatan bukan hanya wartawan, sikap santun sangat diperlukan, apalagi
dalam kegiatan kewartawanan ini sikap santun sangat diperlukan karena untuk mendapatkan
berita dan informasi yang akurat terlebih dahulu kita harus mengambil perhatian dan simpati
dari nara sumber, hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Alquran yang berbunyi:
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki
merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka.
dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang
direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri100 dan jangan
memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah
(panggilan) yang buruk sesudah iman
101
dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka
102
Itulah orang-orang yang zalim.
5. Tidak suudzan
Seorang wartawan bisa menjadi saksi atas sebuah kejadian atau peristiwa, akan tetapi
sebagai manusia biasa wartawan juga memiliki kelemahan untuk itu apabila ada kesalahan
yang diperbuat oleh seorang wartawan dan terlanjur telah dipublikasikan, sehingga dalam
kode etik kewartawanan dikenal prinsip etis dengan memberi ruang hak jawab, yaitu
memberik kesempatan kepada perseorangan atau pada kelompok untuk memperbaiki atau
meluruskan terhadap informasi dan kebenaran yang sudah dipublikasikan pada media
massa103, hal tersebut dilakukan untuk menghindari sikap suudzan baik oleh narasumber
kepada wartawan atau pembaca kepada wartawan dan sebaliknya. Hal ini sejaln dengan
Firman Allah swt dalam Alquran
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar
penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa
99
QS Al-Hujarat : 6
100
Jangan mencela dirimu sendiri Maksudnya ialah mencela antara sesama mukmin karana orang-orang mukmin
seperti satu tubuh.
101
Panggilan yang buruk ialah gelar yang tidak disukai oleh orang yang digelari, seperti panggilan kepada orang
yang sudah beriman, dengan panggilan seperti: Hai fasik, Hai kafir dan sebagainya.
102
103
QS Al-Hujarat: 11
Amilia indriyati.2006. belajar jurnalistik dari nilai-nilai Alquran semarang, Samudra. H 111
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 1019
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
dan kaum kerabatmu. jika ia104 Kaya ataupun miskin, Maka Allah lebih tahu
kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang
dari kebenaran. dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, Maka
Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.105
Dalam kode etik kewartawanan persatuan wartawan Indonesia hal diatas sesuai dengan
“menyajikan berita secara berimbang dan adil yang bersumber dari berbagai pihak yang
punya kepentingan dan penilaian masing-masing”.
106
jika dilihat dari Alquran tidak dapat
dibedakan antara kode etik kewartawanan dalam Islam dalam kode etik kewartawanan secara
umum, karena keduanya bersandar dan berdasarkan kepada kebaikan, kejujuran serta asas
keadilan.
METODOLOGI
Penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang
dipakai dan digunakan untuk meneliti kondisi objek alamiah dimana peneliti adalah instrumen
kuncinya107, penelitian kualitatif ini juga sering disebut sebagai penelitian yang bersifat
natural, atau studi kasus, karena penelitian ini tidak berfokus pada angka-angka atau kuantitas
namun mengarah untuk pengujian, walaupun ada juga yang menggunakan angka atau jumlah
untuk tetap dilakukan analisi secara kualitatif.
Dalam konteks pendekatan kualitatif adad beberapa hal yang merupakan inti atau isi
dari rancangan penelitian tersebut, adapun ke enam hal tersebut adalah: konteks penelitian,
fokus kajian, tujuan penelitian, ruanglingkup dan setting penelitian, persfektif teoritik dan
kajian pustaka serta metodr yang akan digunakan108. Ciri dasar dari pernyataan maksud
penelitian kualitatif adalah pernyataan yang diungkapkan pada penelitian ini bersifat dan
bercirikan untuk menyatakan atau mengungkapkan asumsi-asumsi paradigma kualitatif,
seperti bahasa penelitian kualitatif dan metodologi desain yang terus berubah yang mengikut
pada pengalaman peneliti dan latar alamiah ketika penelitian tersebut berlangsung.109
Desain penelitian ini bersifat sementara dan dapat saja berubah manakala pada
perkembangan yang memungkinkan perubahan saat penelitian tersebut dilakukan. Hal ini juga
104
Maksudnya: orang yang tergugat atau yang terdakwa.
105
QS An-Nisa 135
Kode etik jurnalisti persatuan wartawan Indonesia, pasal 5
107
Ridwan, Metode dan Tekhnik Menyusun Tesis, Bandung, Alfabet, 2004. H 51
108
Burhan bungin, analisi data penelitian kualitatif, Jakkarta, Pt.Raja Grafindo Persada, 2012. H 39
109
Jhon W.Creswell, Research Design qualitative &Quantitative Approach, Jakarta Kik Pres, 2002. H 53
106
1020 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
sependapat dengan Lexi J.Moleong, beliau mngatakan bahwa desai nya hanya bersifat
sementara, yang desainnya akan terus berubah dan diperbaharui sesuai dengan perkambangan
dan penemuan yang akan ditemui dilapangan, ketika sebuah penelitan tersebut berlangsung.110
Berdasarkan paparan yang relah di sebutkan diatas, maka jenis peelitian yang sesuai dalam
penelitian mengenai kompetensi wartawan media cetak dalam persfektif Islam adalah
kualitatif deskriptif.
Sumber data yang digunakan oleh peneliti ada dua yaitu, sumber data primer dan
sumber data skunder, sumber data primer adalah sumber data langsung yang diperoleh dari
tangan pertama atau pelaku langsung111, sumber data skunder ini adalah berupa hasil
wawancara yang dilakukan peneliti kepada 3 orang wartawan media cetak yaiitu wartawan
majalah lokal, surat kabar lokal dan surat kabar nasional. Data skunder adalah data yang
didapat melalui keterangan yang berhubungan dengan hal yang diteliti. Adapun yang menjadi
data skunder dalam penelitian ini adalah buku-buku, jurnal dan lain sebagainya yang relevan
dan mendukung dengan penelitian.
Instrumen utama penelitian ini adalah peneliti sendiri, menggunakan peneliti sebagai
instrumen penelitian. Kelebihan dari tekhnik ini adalah peneliti lebih tanggap dan peneliti bisa
menjelajah keseluruh setting penelitian untuk mendapatkan data, selain itu juga data dapat
diperoleh dari sikap dan cara responden memberikan informasi.112 Selain kelebihan
kelemahan dalam tekhnik ini adalah dalam menginterpertasikan data dan fakta dipengaruhi
oleh kesan atau persepsi yang sudah dibangun sebelum peneliti menemukan data dan fakta
yang sebenarnya, demikian juga dalam pengumpulan data responden akan memebrikan kesan
dan persepsi terhadap peneliti, namun kelemahan tersebut dspat ditutupi dengan kesadaran
yang tinggi terhadap munculnya kemungkinan subyektivitas, baik dari peneliti maupun
responden.113
Adapun cara lain untuk menghadapi subyektifitas yang akan ditimbulkan ditengah
penelitian yaitu dengan wawancara. Wawancara adalah suatu tekhnik pengumpulan data
peneliti melalui percakapan dan dialog yang kesemua rangkaian dari wawancara tersebut
adalah untuk mendapatkan data,114 peneliti menggunakan wawancara tidak terstruktur seperti
110
Lexi J Moleong, metode penelitian kualitatif, Bandung, Remaja Rosda Karya, 1997. H 7
Winamo surakhmad,penelitian ilmiah, dasr metode dan tekhnik. Bandung, Tarsito, 1982. H 134
112
Bogdan dan Biklen.1990. Riset Kualitatif untuk pendidikan, terjemahan oleh Munandir. Jakarta. Depdikbud.
H 92
113
Ibid, h 98
114
Nasution S. 1998. metode penelitianNaturalistik, Bandung, Tarsito. H 27
111
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 1021
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
yang dinyatakan Kuntjara ninggrat bahwa wawancara yang dilakukan dengan tidak
berstruktur dan pelaksanannya harus berpusat pada fokus penelitian.115
Tekhnik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tekhnik deskriptif,
karena penyusunan secara sistematis terhadap transkip wawancara, catatan-catatan lapangan
dan bahan masukan lainnya yang telah terkumpul untuk memperluas pengetahuan dan
menambah
pengalamanserta
berusaha
untuk
tetap
mengkomunikasikan
dan
mendiskusikannya.116 Miles dan Huberman berpendapat bahwa proses analisis data dengan
tekhnik deskriptifdilakukan melalui tiga alur kegiatan yang berlangsung secara bersamaan,
yakni reduksi atau penyederhanaandata, paparan atau sajian data, penarikan kesimpulan atau
ferifikasi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Islam mengaanggap bahwa tugas yang diemban sebagai seorang wartawan bukanlah sebuah
tugas biasa akan tetapi sebuah tugas yang murni dan mulia dan Allah telah mengingatkan hal
ini pada QS An-Nahl: 125
Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah117 dan pelajaran
yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang
lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih
mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.118
Dalam ayat ini Allah SWT menegaskan bahwa apabila ingin mengingatkan atau
memberikan informasi kepada kepada masyarakat, bukan hanya sekedar memebrikan
Informasi saja akan tetapi lebih mengarah kepada memebrikan sebuah pengajaran yang baik,
yaitu pengajaran yang berhikmah, hikmah disini adalah sebuah sikap tegas bahwa yang bathil
adalah bathil dan yang benar adalah benar, sehingga terhindarlah seorang wartawan dari sifat
yang sangat tidak disukai oleh Allah dan dapat merugikan masyarakat luas.
Dalam menuliskan suatu berita seorang wartawan hendaknya memperhatikan beberapa
hal yang menjadi kompetensinya, agar berita yang disajikan menjadi nilai guna yang baik
ditengah masyarakat, bukan hanya sekedar memenuhi sebagai pencari berita saja akan tetapi
115
116
Kuntjaraninggrat S. 1986. Metode penelitian kualitatif dalam bidang pendidikan. Jakarta, Bina Aksara. H 22
Bogdan dan Biklen,1990 Riset Kualitatif untuk pendidikan, terjemahan oleh Munandir. Jakarta. Depdikbud.
H 92
117
Hikmah: ialah Perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang
bathil.
118
QsS An-Nahl 125
1022 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
lebih daripada itu, seperti mendidik, menyampaikan kebenaran dan dapat menjadi acuan
untuk pembanngunan ditengah masyarakat. Ada beberapa hal yang menjadi syarat mutlak
yang harus dimiliki oleh seorang wartawan berupa kompetensi yang menjadi jati diri seorang
wartawan media cetak. Adapun yang menjadi kompetensi tersebut adalah keterampilan,
pengetahuan, kesadaran serta akhlak dan moral.
Semua kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang wartawan media cetak merupakan
hal yang akan menjadikan nilai informasi berupa berita akan lebih akurat dan bermanfaat,
sehingga terwujudlah sebuah pembangunan ditengah masyarakat yang dilahirkan oleh
wartawan, karena wartawan yang cerdas akan menghasilkan berita kepada masyarakat secara
baik dan akan membentuk masyarakat yang cerdas pula sehingga pembangunan bukan hanya
tugas dari pemerintah akan tetapi pembangunan itu akan didukung oleh masyarakat yang
cerdas pula.
Ada beberapa poin mengenai Keterampilan yang harus diperhatikan dan dimiliki oleh
seorang wartawan antara lain; keterampilan menulis, keterampilan dalam hal mewawancarai,
keterampilan menginvestigasi, dan keterampilan dalam hal tekhnis. Dalam hal Keterampilan
dalam menulis seorang wartawan haruslah dapat menuangkan gagasan, ide atau sebuah
pengalaman kedalam tulisan sehingga tulisan tersebut dapat membentuk kalimat-kalimat yang
hidup, mengalir dan yang pastinya mudah untuk dipahami119. Informasi yang disajikan juga
harus akurat, lengkap, adil dan berimbang, objektif, ringkas dan jelas serta hangat.
Kompetensi yang kedua yaitu pengetahuan, pengetahuan yang harus dimiliki oleh
seorang wartawan adalah pertama pengetahuan umum, mempelajari ilmu yang dibutuhkan
oleh masyarakat untuk keberlangsungan hidup didunia dalam pandangan Islam memiliki
hukum fardhu kifayyah, seperti ilmu kedolteran, astronomi dan lain sebagainya120 . kedua
pengetahuan khusus, seorang wartawan harus terampil berbahasa, keterampilan berbahasa
mempunyai empat komponen121 yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis, setiap
komponen adalah satu kesatuan yang erat hubungannya. Ketiga adalah pengetahuan
kewartawanan dan hal ini meliputi, pengetahuan tekhnis dan praktis, pemahaman dan
substansi terhadap objek pemberitaan, wawasan mengenai prilaku masyarakat pembaca,
penguasaan bahasa indonesia dan bahas lainnya, etika profesi.
119
Badiatul muchlisin asti. 2005. Da’i Bersenjata Pena, bandung, pustaka ulumuddin. H 77
Yususf Al-Qardawi. 1996. islam yang didambakan, terj Ghazali Mukti, Yogyakarta, titian ilahi press. H 39
121
Haris sumadria. 2006.Bahasa Jurnakistik Panduan Praktis Penulis dan Jurnalis, Bandung, simbiosa rekatama
media. H 6
120
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 1023
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
Kompetensi selanjutnya adalah keasadaran, adapun pon mengenai keadaran yang
harus dimiliki oleh seorang wartawan adalah,pertama etika dan hukum meliputi kode etik
jurnalistik, embargo, off the rcord danmenyembunyikan identitas sumber berita. Kedua
profesionalisme wartawan,menyangkut kepekaan, keberanian,dan ketekunan.
Kompetensi yang terakhir adalah mengenai akhalak dan moral,mengenai akhlak dan
moral dalm presfektig Islam ada satu tokoh yang sempurna baik perkataan dan perbuatannya
yait baginda Rasulullah SAW dalam Alquran Allaf berfirman,
Artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik
bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan
Dia banyak menyebut Allah.122
Seorang wartawan yang ingin benar-benarmenjalankan tugasnya hendaknyalah
memiliki akhlak dan moral seperti baginda Rasulullah, uswah yang telah dikenal diseluruh
dunia, terkenal dengan akhlak dan budi bahasa, banyak kaum Yahudi dan Nasrani memeluk
Islam karena surat yang dikirim oleh Rasulullah, melalui bahasa yang ada di surat yang Rasul
kirimkan telah menggugah hati nurani para pemimpinkaum Quraisy sehingga mereka mau
mengucapkan dua kalimah syahadat. Ada emat sifat yang dimiliki oleh Rasulullah yaitu
Siddiq,Tabligh, Amanah, dan Fataonah, alangkah sempurnanya dan terjaminnya kualitas
berita dan informasi yang disampaikan oleh seorang wartawan yang memiliki keempat sifat
Rasul.
Artinya Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan
Katakanlah Perkataan yang benar.123
Sifat siddiq yang dimiliki Rasul harus dimiliki oleh seorang wartawan, karena
sangatlah penting apabla menyajikan sebuah berita berdasarkan kebenaran dan kemampuan
manusia tersebut untuk menyampaikannya, selain itu kebenaran dan kejujuran merupakan
pilar utama kehidupan bermasyarakat, cara untuk menghindar dari perbuatan dusta ini adalah
dengan berbicara seperlunya, tidak berlebihan dalam mengobrol dan melucu, bila tidak dapat
berkata benar hendaklah diam.
Tabligh adalah menyampaikan hal yang diperintahkan untuk disampaikan tidak
menyembunyikannya, walaupun sedikit, seorang wartawan yang menyembunyikan sesuatu
kebenaran akan menjadi boomerang bagi wartawan tersebut, jika suatu saat kebenaran itu
122
123
QS Al-Ahzab: 21
QS Al-Ahzab: 70
1024 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
terbongkar maka akan ada konsekwensi berupa buruknya reputasi dan lain hal yang lebih
buruk dari pada itu.
Artinya: Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan
jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan
amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia124. Sesungguhnya Allah tidak
memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.
Ketika Rasulullah menyelesaikan permusuhan diantara kaum Quraisy pada zaman
jahiliyah, yang membuahkan kesepatan, menjalankan bisnis khadijah dan mendamaikan para
pemuka Quraisy yang bertikai tentang masalah siapa yang berhak meletakan kembali hajar
aswad dibangunan ka’bah yang baru direnovasi, dan masih banyak lagi contoh yang
mencerminkan ke Amanahan Rasulullah. Allah juga berfirman dalam Alquran
Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang
berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia
supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaikbaiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat.
Siddiq dan amanh adalah ciri utama orang beriman, sebaliknya dusta dan khianat adalah sifat
orang munafik, sifat amanah dan siddiq sangat dibutuhkan pada sosok seorang wartawan, hal
ini akan mempengaruhi akhlak dan moral yang dimiliki wartawan tesebut.
Artinya :Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapanglapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan
untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan
meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu
pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.125
Dalam ayat diatas Allah menegaskan bahwa hanya orang yang berilmu pengetahuan
dan cerdas mendapatkan derajat yang tinggi, Rasulullah adalah orang yang sangat terkenal
akan kecerdasannya, walaupun Rasul adalah seorang Ummy,fatonah atau cerdas adalah
kompetensi mutlak yang wajib dimiliki oleh seorang wartawan. Dalam persfektif Islam yang
menjadi rujukan sumber utama segala hukum adalah Alquran dan Hadis maka tak heranlah
banya ayat yang masukan dalam mengambil suatu rujukan, dan sosok Rasul sebagai seorang
tauladan yang tak diragukan lagi apapun padanya.
124
Maksudnya: tak seorangpun yang dapat membunuh Nabi Muhammad s.a.w.
125
QS Al-Mujadilah: 11
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 1025
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
Kompetensi wartawan media cetak oleh penulis disebut sebagai STAF KPK dimana siddiq,
tabligh, amanah fatonah,keterampilan pengetahuan dan kesadarn adalah satu kesatuan yang
harus dimiliki oleh seorang wartawan.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Kompetnsi
wartawan dalam hal pengetahuan dalam penelitian ini telah memenuhi
standarisasi yang baik, karena pengetahuan yang bersifat umum, khusus serta kejurnalistikan
atau kewartawanan telah mereka kuasai dan menjadi suatu keharusan bagi seorang wartawan
dalam menghimpun beritanya. Keterampilan juga merupakan sebuah keharusan dalma
penyajian berita baik bersifat umum ataupun bersifat khusus, kesadaran yang didalammya
termasuk keprofesionalismean, adanya etika serta rambu-rambu yang wajib dipatuhi sesuai
dengan kaidah KEJ PWI, sudah menjadi hal yang mereka ketahui dan mereka sadar untuk
tidak berusaha ataupun pernah melanggar hal tersebut.
Dari segi akhlak sifat Rasulullah merupakan keharusan yang dimiliki oleh seorang
wartawan yaitu Siddiq, Tabligh, amanah, dan Fatonah, agar keberimbangan suatu berita
bukan hanya menjadi sebuah informasi belaka akan tetapi lebih dari itu, pengembangan dan
pembangunan akan diperoleh dari sebuah berita yang sangat mengesankan karena, berita
disajikan dengan hati dan kesungguhan untuk memberikan kebenaran.
Saran
Para wartawan sangat diharapkan untuk memenuhi kompetensi yang seharusnya mereka
miliki karena kompetansi seorang wartawan sangat dibutuhkan pada kebenaran informasi dan
kualitas berita yang akan disajikan nantinya, selain itu hendaknya adanya diskusi yang intens
dan serius untuk membahas kompetensi yang dimiliki oleh wartawan saat ini sehingga bisa
menerapkan komptensi yang seharusnya pada masing-masing wartawan, terakhir kapada
pihak yang ingin dan tertarik pada dunia kewartawanan hendaknyalah benar-benar menjadi
seorang wartawan yang benar-benar menyuguhkan berita yang benar beradaya guna untuk
masyarakat serta pembangunan bangsa.
DAFTAR PUSTAKA
Alquran Alkarim
1026 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
Asep syamsul. 2003. jurnalistik dakwah, visi dan misi dakwah bilqalam. Bandung: PT
Remaja Rosda Karya.
Amilia indriyati.2006. belajar jurnalistik dari nilai-nilai Alquran semarang, Samudra.
Badiatul muchlisin asti,. 2005. Da’i Bersenjata Pena, bandung, pustaka ulumuddin.
Bogdan dan Biklen.1990. Riset Kualitatif untuk pendidikan, terjemahan oleh Munandir.
Jakarta. Depdikbud.
Burhan bungin.2012 analisi data penelitian kualitatif, Jakkarta, Pt.Raja Grafindo Persada.
Haris sumadria.2006. Bahasa Jurnakistik Panduan Praktis Penulis dan Jurnalis, Bandung,
simbiosa rekatama media.
Hikmat kusuma ninggrat. 2005. purnama kusuma ninggrat. Jurnalistik teori dan praktik,
byandung : pt remaja rosda karya.
Jhon W.Creswell.2002. Research Design qualitative &Quantitative Approach, Jakarta Kik
Pres.
Kuntjaraninggrat S. 1986. Metode penelitian kualitatif dalam bidang pendidikan. Jakarta,
Bina Aksara.
Lexi J Moleong.1997. metode penelitian kualitatif, Bandung, Remaja Rosda Karya.
Paulus winarto. 2003. how to handle the journalist. Jakarta, Pt Gramedia.
Ridwan. 2004. Metode dan Tekhnik Menyusun Tesis, Bandung, Alfabet.
Winamo surakhmad.1982. penelitian ilmiah, dasr metode dan tekhnik. Bandung, Tarsito.
Yususf Al-Qardawi. 1996. islam yang didambakan, terj Ghazali Mukti, Yogyakarta, titian
ilahi press,
SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016 | 1027
TEMA : DINAMIKA PARTAI POLITIK
1028 | SEMINAR NASIONAL FISIP UMPO 2016
Download