studi tutupan dan kerapatan lamun di desa sitardas kecamatan

advertisement
STUDI TUTUPAN DAN KERAPATAN LAMUN DI DESA SITARDAS KECAMATAN
BADIRI KABUPATEN TAPANULI TENGAH
(Study of Seagrass Coverage and Density at Sitardas Village Badiri Subdistrict Tapanuli Tengah Distric)
Amos Christoper Meliala1, Hasan Sitorus2, Zulham Apandy Harahap2
1
Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera
Utara, (Email : [email protected])
2
Staf Pengajar Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Pertanian,
Universitas Sumatera Utara, Medan, Indonesia 20155
ABSTRACT
Research was carried out at the Sitardas Village, Badiri Subdistrict, Tapanuli Tengah
District on April 2016. The research aim were to know covered percentage and density of
seagrass at Sitardas Village, Tapanuli Tengah District. Seagrass observations using transect
quadratic method. In this research, found 4 species of seagrass consist of Enhalus acoroides,
Cymodocea serrulata, Cymodocea rotundata and Halophila ovalis. Physical-chemical
parameter of waters obtained temperature ranges 28-29°C, water depth ranges 50-95 cm,
salinity ranges 27-29 ppt, pH ranges 7.8-8.0, speed of water flow ranges 0.10-0.70 m/s, DO
ranges 5.1-6.4 mg/l and water transparency was 100%. Type of substrates obtained were
loam sandy, silty loam and sandy loam. The mean seagrass covered percentage was 5.24%,
Seagrass covered percentage per species obtained Enhalus acoroides was 4.99%, Cymodocea
serrulata was 0.19%, Cymodocea rotundata was 0.06% and Halophila ovalis was 0%.
Seagrass density of each spesies were Enhalus acoroides 26 individual/m², Cymodocea
serrulata 5 individual/m², Cymodocea rotundata 3 individual/m² and Halophila ovalis 2
individual/m². Dispersial pattern seagrass Enhalus acoroides and Cymodocea serrulata was
uniform while Cymodocea rotundata and Halophila ovalis was clumped.
Keywords: Covered percentage, Density, Seagrass, Sitardas Village
rentan terhadap gangguan alam dan
kegiatan manusia (Solihin, dkk., 2014).
Padang lamun merupakan sumber
daya laut yang cukup potensial untuk
dimanfaatkan, dan secara ekologi, padang
lamun mempunyai beberapa fungsi
penting di daerah pesisir (Pratiwi, 2010).
Padang lamun memiliki produktivitas
sekunder dan dukungan yang besar
terhadap kelimpahan dan keragaman ikan.
Padang lamun merupakan tempat berbagai
jenis ikan berlindung, mencari makan
(Rappe, 2010). Mengacu pada fungsi
ekologis yang begitu besar, disertai pula
dengan fungsi ekonomisnya yang tinggi,
maka padang lamun mampu menunjang
PENDAHULUAN
Lamun (Seagrass) adalah satusatunya kelompok tumbuh-tumbuhan
berbunga yang terdapat di lingkungan laut.
Tumbuh-tumbuhan ini hidup di habitat
perairan pantai yang dangkal Berbeda
dengan tumbuh-tumbuhan laut lainnya
(alga dan rumput laut), lamun berbunga,
berbuah dan menghasilkan biji. Lamun
juga mempunyai akar dan sistem internal
untuk mengangkut gas dan zat-zat hara
(Romimohtarto dan Juwana, 2009).
Ekosistem padang lamun Indonesia
kurang dipelajari dibanding terumbu
karang dan mangrove. Tetapi berdasarkan
berbagai indikasi, padang lamun juga
1
perekonomian lokal maupun nasional
(Poedjirahajoe, dkk., 2013).
Penurunan luas padang lamun di
dunia merupakan akibat dari tekanan
lingkungan baik alami maupun hasil
aktivitas
manusia
(Riniatsih
dan
Endrawati, 2013). Faktor alami tersebut
antara lain gelombang atau arus kuat,
badai, gempa bumi, dan tsunami. Kegiatan
manusia yang berkontribusi terhadap
penurunan area padang lamun adalah
reklamasi
pantai,
pengerukan,
penambangan pasir, dan pencemaran
perairan (COREMAP-LIPI, 2014).
Desa Sitardas, Kecamatan Badiri,
Kabupaten Tapanul Tengah merupakan
salah satu lokasi Konservasi Terumbu
Karang dan memiliki hamparan lamun.
Perlunya mengetahui nilai tutupan dan
kerapatan lamun di Desa Sitardas agar
dilakukan pengelolaan padang lamun di
wilayah pesisir Desa Sitardas.
Deskripsi Area
Lokasi penelitian dan pengambilan
sampel berada di Desa Sitardas,
Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli
Tengah, Provinsi Sumatera Utara. Metode
yang digunakan dalam penentuan lokasi
adalah purposive sampling yang dibagi
menjadi 3 stasiun yang berbeda
berdasarkan aktivitas warga pada masingmasing stasiun.
Stasiun I
Stasiun ini merupakan daerah
Pantai Monyet. Pada lokasi ini terdapat
hutan mangrove, padang lamun dan
terumbu
karang.
Warga
biasanya
menangkap ikan dan udang di daerah
pantai Monyet. Stasiun I terletak pada
koordinat
1°34’10,85”LU
dan
98°46’48,21”BT.
Stasiun II
Stasiun ini merupakan daerah
pemukiman warga Dusun Kampung
Sawah, Desa Sitardas, Kecamatan Badiri,
Tapanuli Tengah. Jarak lokasi ini dengan
pantai Monyet sekitar 1,5 km. Stasiun II
terletak pada koordinat 1°33’16,96” LU
dan 98°46’32,22” BT.
Stasiun III
Stasiun ini merupakan daerah
pantai Kerambi Sabatang yang berjarak
sekitar 2,5 km dari pemukiman. Lokasi ini
merupakan kawasan konservasi terumbu
karang yang terdapat hutan mangrove,
padang lamun dan terumbu karang.
Stasiun III terletak pada koordinat
1°38’18,87” LU dan 98°45’5,93” BT.
METODE PENELITIAN
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada bulan
April 2016, di Desa Sitardas, Kecamatan
Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah.
Identifikasi jenis lamun dilakukan
langsung di lapangan. Untuk analisis
sampel subtrat dilakukan di Laboratorium
Sentral Fakultas Pertanian Universitas
Sumatera Utara.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam
penelitian adalah Global Positioning
System (GPS), underwater camera, roll
meter, kuadrat berukuran 50x50 cm²,
spidol,
termometer,
DO
meter,
refaktometer, bola duga, stopwatch, pH
meter, secchi disk, meteran, sekop, dan
buku identifikasi lamun (KLH, 2014).
Bahan yang digunakan software
Microsoft excel, plastik kantongan, sampel
lamun, sampel air, sampel subtrat .
2
Pengamatan Lamun
Pengambilan data setiap stasiun
dilakukan pada tiga transek dengan
panjang masing-masing 100 m dan jarak
kuadrat antara satu transek yaitu 50 m
sehingga total luasannya 100x100 m2.
Jarak antara kuadrat satu dengan yang
lainya adalah 10 m. Titik awal transek
diletakan pada pertama kali lamun
dijumpai dari arah pantai. Pada penilaian
tutupan lamun minimal lamun menutupi
kuadrat ¼ kotak dan kelipatannya sampai
memenuhi kotak kuadrat yang tertera pada
Tabel 2.
100 m
dst
50 m
10 m
0m
Gambar 2. Skema Transek Kuadrat di
Padang Lamun
50 cm
Pengukuran Kualitas Air
Pengambilan data kualitas air
dilakukan hanya sekali sebelum transek
lamun dilakukan. Pengukuran kualitas air
menggunakan alat yang disediakan.
Substrat yang dianalisis di Laboratorium.
Pengukuran parameter kualitas air dapat
dilihat pada Tabel 1.
25 cm
25 cm
50 cm
25 cm
Gambar 3. Kuadrat Transek
Tabel 1. Pengukuran Parameter Fisika-Kimia Perairan
Parameter
Satuan
Alat
Fisika
Suhu
Termometer
°C
Kedalaman Perairan
cm
Meteran
Kecerahan
%
Secchi disk
Substrat
Sekop
Salinitas
ppt
Refaktometer
Arus
m/detik
Bola duga
Kimia
pH
pH meter
DO
mg/l
DO meter
Analisis Data
Perhitungan kerapatan dan tutupan
lamun menggunakan metode ditetapkan
COREMAP-LIPI (2014) lalu diolah
menggunakan perangkat Microsoft Excel.
Dengan tahap mencari tutupan per kuadrat,
per stasiun, hingga per lokasi, begitu juga
dalam menentukan kerapatan lamun.
Tempat Analisis
In situ
In situ
In situ
Ex situ
In situ
In situ
In situ
In situ
Menghitung Penutupan Lamun dalam
Satu Kuadrat
Persentase penutupan lamun dalam
satu kuadrat adalah menjumlah nilai
penutupan lamun pada setiap kotak kecil
dalam kuadrat dan membaginya dengan
jumlah kotak kecil yaitu 4. Rumus
menghitung persentase tutupan lamun
3
dalam kotak kecil penyusun kuadrat
adalah sebagai berikut:
Menghitung
Rata-rata
Penutupan
Lamun per Lokasi
Cara
menghitung
rata-rata
penutupan lamun per lokasi/pulau adalah
menjumlah rata-rata penutupan lamun
setiap stasiun kemudian dibagi dengan
jumlah stasiun pada lokasi/pulau tersebut.
Perhitungan rata-rata penutupan lamun per
lokasi menggunakan perangkat Microsoft
excel menggunakan rumus:
Tabel 2. Penilaian persentase penutupan
Lamun dalam Kuadrat
Nilai Penutupan
Kategori
Lamun (%)
Penuh
100
¾ kotak kecil
75
½ kotak kecil
50
¼ kotak kecil
25
Kosong
0
Sumber: COREMAP-LIPI (2014).
Menghitung
Rata-rata
Penutupan
Lamun per stasiun
Cara
menghitung
rata-rata
penutupan lamun per stasiun adalah
menjumlahkan penutupan lamun setiap
kuadrat pada seluruh transek di dalam satu
stasiun kemudian dibagi dalam jumlah
kuadrat pada stasiun tersebut. Perhitungan
penutupan
lamun
per
stasiun
menggunakan sebagai berikut :
Tabel 3. Kategori Tutupan Lamun
Persentase Penutupan
Kategori
(%)
0-25
Jarang
26-50
Sedang
51-75
Padat
Sangat
76-100
Padat
Sumber:COREMAP-LIPI (2014)
Kerapatan Lamun
Kerapatan
lamun
merupakan
jumlah jenis/tegakan lamun per satuan
luas. Kerapatan jenis lamun dihitung
menggunakan rumus:
Menghitung Penutupan Lamun per
Jenis pada Satu Stasiun
Cara menghitung penutupan lamun
per jenis dalam satu stasiun adalah
menjumlah nilai presentase penutupan
setiap jenis lamun pada kuadrat seluruh
transek dan membaginya dengan jumlah
kuadrat pada stasiun tersebut. Perhitungan
dilakukan untuk setiap jenis lamun yang
terdapat di stasiun tersebut. Perhitungan
penutupan lamun per jenis satu
menggunakan rumus sebagai berikut:
Keterangan:
Kerapatan Lamun = Jumlah jenis/tegakan
lamun per satuan luas
(Individu/m²)
Angka 4
= Konstanta untuk
konversi 50x50 ²cm
ke 1 m²
4
segitiga, dan memiliki akar serabut.
Menurut Waycott, dkk (2004) klasifikasi
dari spesies ini adalah sebagai berikut:
Kingdom
: Plantae
Divisi
: Angiospermae
Kelas
: Liliopsida
Ordo
: Potamogetonales
Famili
: Potamogetonaceae
Genus
: Cymodocea
Species
: Cymodocea serrulata
Pola Pemencaran Lamun
Pola pemencaran lamun dapat
dihitung dengan menggunakan Indeks
Dispersi. Menurut Brower, dkk., (1998),
rumus dari Pola Pemencaran Lamun
adalah sebagai berikut:
(
)
Cymodocea rotundata
Tumbuhan ini hampir sama dengan
Cymodocea serrulata tapi ukurannya lebih
kecil dan helai daunnya sempit. Adapun
klasifikasi dari tumbuhan ini menurut
Waycott, dkk (2004) adalah sebagai
berikut:
Kingdom
: Plantae
Divisi
: Angiospermae
Kelas
: Liliopsida
Ordo
: Potamogetonales
Famili
: Potamogetonaceae
Genus
: Cymodocea
Species
: Cymodocea rotundata
Keterangan:
Id
= Indeks Dispersi
Morista
n
= Jumlah plot contoh
Xi
= Jumlah individi setiap
kuadrat
N
= Jumlah individu n plot
Menurut Brower, dkk., (1998),
pemencaran individu lamun mempunyai
nilai dan kriteria sebagai berikut :
Id<1
= Seragam
Id=1
= Acak
N
= Mengelompok
HASIL DAN PEMBAHASAN
Jenis-jenis Lamun
Adapun jenis-jenis lamun yang
diperoleh pada perairan laut Desa Sitardas
adalah sebagai berikut:
Halophila ovalis
Jenis lamun ini memiliki helai daun
kecil berbentuk oval, jumlah daun
melintang ada 10 dan permukaan daun
tidak berambut. Menurut Waycott, dkk
(2004) klasifikasi dari spesies ini adalah
sebagai berikut:
Kingdom
: Plantae
Divisi
: Angiospermae
Kelas
: Liliopsida
Ordo
: Hidrocharitales
Famili
: Hydrocharitaceae
Genus
: Halophila
Species
: Halophila ovalis
Enhalus acoroides
Tumbuhan ini memiliki daun
panjang berbentuk seperti pita, mempunyai
rimpang yang tebal, akarnya sperti tali dan
memiliki serabut di rhizome. Adapun
klasifikasi dari tumbuhan ini menurut
Waycott, dkk (2004) adalah sebagai
berikut:
Kingdom
: Plantae
Divisi
: Angiospermae
Kelas
: Liliopsida
Ordo
: Hidrocharitales
Famili
: Hydrocharitaceae
Genus
: Enhalus
Species
: Enhalus acoroides
Parameter Fisika-Kimia PPerairan
Secara umum lokasi sampling
merupakan perairan laut dangkal dengan
kedalaman dibawah 1 meter, dan hal ini
mendukung dalam pelaksanaan transek
lamun. Stasiun I memiliki kedalaman 92
cm, stasiun II 50 cm dan stasiun III 95 cm.
Menurut Supriharyono (2007), tumbuhan
lamun biasanya tumbuh di laut yang
Cymodocea serrulata
Spesies ini terlihat seperti rumput
ditaman. Seludang daun berbentuk
5
dangkal, karena membutuhkan cahaya
yang
sangat
banyak
untuk
mempertahankan populasinya.
Suhu perairan diukur dengan
termometer. Suhu pada stasiun I dan
stasiun III memiliki nilai suhu sama yaitu
29°C, sedangkan pada stasiun II memiliki
suhu 28°C. Menurut Wirawan (2014),
suhu merupakan salah satu faktor
lingkungan yang berpengaruh terhadap
ekosistem
lamun,
karena
suhu
mempengaruhi pertumbuhan dan distribusi
lamun. Perubahan suhu mempengaruhi
metabolisme, penyerapan unsur hara dan
kelangsungan hidup lamun. Pada kisaran
suhu 25-30°C fotosintesis bersih pada
lamun
akan
meningkat
dengan
meningkatnya suhu. Suhu perairan Desa
Sitardas, Kabupaten Tapanuli Tengah
mendukung kehidupan lamun yakni 2829°C.
Kecerahan perairan pada semua
stasiun adalah 100%, hal ini karena cahaya
matahari mencapai dasar perairan.
Menurut Supriharyono (2007), penetrasi
cahaya matahari atau kecerahan adalah
penting sekali bagi tumbuhan lamun.
Tumbuhan lamun biasanya tumbuh di laut
yang sangat dangkal, karena membutuhkan
cahaya untuk proses fotosintesis.
Salinitas pada stasiun I dan stasiun
III memiliki nilai sama yaitu 29 ppt,
sedangkan pada stasiun II memiliki nilai
28 ppt. Menurut Wirawan (2014), kisaran
salinitas yang dapat ditolerir tumbuhan
lamun adalah 10-40 ppt dan nilai
optimumnya adalah 35 ppt. Supriharyono
(2007)
menyatakan
bahwa
fase
pembungaan tumbuhan lamun kisaran
salinitas yang baik adalah antara 28-32 ppt.
Nilai salinitas di lokasi penelitian sangat
mendukung kehidupan lamun.
Kecepatan arus air pada stasiun I
memiliki nilai 0,11 m/detik, stasiun II
memiliki nilai 0,7 m/detik dan pada stasiun
III memiliki nilai 0,10 m/detik. Menurut
Amri, dkk (2011), arus membuat kolom air
tercampur dengan baik, mempengaruhi
sebaran suhu atau salinitas, membawa
nutrien dan membawa pasokan oksigen ke
perairan yang lebih dalam. Arus yang
berkurang
kecepatannya
dapat
mempertahankan sedimen yang menempel
pada daun lamun sehingga mengurangi
daya daun untuk menyerap cahaya
matahari yang dibutuhkan lamun Menurut
Nur (2011), padang lamun mempunyai
kemampuan maksimum menghasilkan
”standing crop” pada saat kecepatan arus
0,5 m/detik.
Derajat keasaman (pH) air di
stasiun I sedikit lebih tinggi dibandikan
stasiun II dan III. Pada stasiun I pH air 8,0
sedangkan stasiun II dan stasiun III
memiliki nilai pH sama yaitu 7,8. Menurut
Tahril, dkk (2011), kisaran derajat
keasaman air untuk pertumbuhan lamun
berkisar 7,3– 9,0.
Stasiun I mempunyai substrat pasir
berlempung. Pada stasiun II mempunyai
substrat lempung berdebu dan pada stasiun
III mempunyai substrat lempung berpasir.
Menurut Kiswara dan Hutomo (1985),
berdasarkan karakteristik tipe substratnya,
padang lamun di Indonesia dikelompokkan
ke dalam enam kategori yaitu lamun yang
hidup di substrat lumpur (lempung), pasir
berlumpur (pasir berlempung), pasir,
lumpur berpasir (lempung berpasir),
puing-puing karang.
Nilai DO tertinggi terdapat pada
stasiun I yaitu 6,4 mg/l hal ini, sedangkan
nilai DO terendah terdapat pada stasiun II
yaitu 5,1 mg/l dan stasiun III memilik nilai
DO 5,5 mg/l. Pada stasiun I memiliki nilai
kerapatan lamun tertinggi sehingga
menghasilkan oksigen tertinggi dari proses
fotosintesis lamun dan fitoplankton,
sedangkan nilai DO terendah terdapat pada
stasiun II hal ini diduga karena limbah
domestik berasal dari pemukiman warga.
6
a
b
c
d
Gambar 4. Jenis-jenis Lamun di Perairan Laut Desa Sitardas
a. Enhalus acoroides, b. Cymodocea serrulata,
c. Cymodocea rotundata, d. Halophila ovalis
Tabel 4. Parameter Fisika-Kimia Perairan di Desa Sitardas.
Parameter
Stasiun I
Stasiun II
Stasiun III
Kedalaman (cm)
92
50
95
Suhu (°C)
29
28
29
Kecerahan (%)
100
100
100
Salinitas (ppt)
29
27
29
Substrat
Pasir berlempung Lempung berdebu Lempung berpasir
Arus (m/detik)
0,11
0,70
0,10
pH
8,0
7,8
7,8
DO (mg/l)
6,4
5,1
5,5
Tutupan
Tutupa Lamun dan Kerapatan Lamun
Tabel 5. Persentase Tutupan Total Lamun di Desa Sitardas.
Stasiun
Lokasi
Tutupan Lamun (%)
I
Pantai Monyet
II
Dusun Kampung Sawah
III
Pantai Kerambi Sabatang
Rata-rata
11,36
2,84
1,53
5,24
7
Tabel 6. Persentase Tutupan Lamun di Desa Sitardas
Tutupan lamun (%)
Stasiun
Enhalus
Cymodocea
Cymodocea
acoroides
serrulata
rotundata
I
10,61
0,57
0,19
II
2,84
0
0
III
1,53
0
0
Rata-rata
4,99
0,19
0,06
Halophila
ovalis
0
0
0
0
besar, daun yang panjang dan jumlahnya
terbesar dari spesies lainnya.
Cymodocea
serrulata
dan
Cymodocea rotundata hanya ditemukan
pada stasiun I dengan nilai persentase
tutupan masing-masing 0,57% dan 0,19%.
Hal ini disebabkan pada saat pengamatan
kedua spesies ini ditemukan pada beberapa
plot dan ukuran kedua spesies ini kecil
kurang lebih 3-5 cm walaupun kepadatan
kedua spesies ini tinggi tetapi persentase
tutupan kecil. Nilai persentase tutupan
Cymodocea serrulata dan Cymodocea
rotundata di desa Sitardas, Tapanuli
Tengah masing-masing 0,19% dan 0,06%.
Halophila ovalis tidak memiliki
nilai tutupan, hal ini disebabkan ukuran
genus Halophila sangat kecil berkisar 12,5 cm dan nilai kepadatan spesies
Halophila ovalis sangat rendah.
Tutupan Lamun
Tutupan total lamun di Desa
Sitardas, Tapanuli Tengah adalah 5,24%.
Menurut COREMAP-LIPI (2014), nilai ini
tergolong “Jarang” (0-25%). Ukuran
lamun dan juga kerapatan sangat
mempengaruhi tutupan lamun. Ketika
dilakukan pengamatan ada banyak plot
tidak memiliki tutupan hanya sedikit
memiliki tutupan dengan nilai rendah,
apabila semua plot dirata-ratakan maka
hasil tutupan lamun sangat rendah.
Enhalus acoroides ditemukan di
semua stasiun dan mendominasi di
perairan Desa Sitardas, Tapanuli Tengah.
Pada stasiun I persentase tutupan Enhalus
acoroides 10,61%, stasiun II sebesar
2,84% dan stasiun III sebesar 1,53%. Nilai
rata-rata persentase tutupan lamun di Desa
Sitardas yaitu 4,99%. Enhalus acoroides
memiliki nilai persentase tutupan tertinggi
dari spesies lain di Desa Sitardas sebagai
lokasi penelitian karena ukuran yang
Tabel 7. Nilai Kerapatan Lamun per Jenis di Desa Sitardas
Kerapatan Lamun (individu/m²)
Stasiun
Enhalus
Cymodocea
Cymodocea
acoroides
serrulata
rotundata
I
57
16
10
II
15
0
0
III
7
0
0
Rata-rata
26
5
3
Halophila
ovalis
8
0
0
2
berlempung. Pada stasiun II Enhalus
acoroides memiliki nilai kerapatan 15
individu/m² yang bersubstrat lempung
berdebu. Nilai terendah kerapatan Enhalus
acoroides ditemukan di stasiun III yang
bersubstrat lempung berpasir yaitu 7
individu/m². Menurut Kiswara dan
Hutomo (1985), Enhalus acoroides
Kerapatan Lamun
Kerapatan lamun dinyatakan dalam
jumlah individu per luas areal. Enhalus
acoroides mendominasi di perairan di
Desa Sitardas dengan nilai kerapatan 26
individu/m². Pada stasiun I Enhalus
acoroides memiliki nilai kerapatan 57
individu/m² yang bersubstrat pasir
8
tumbuh dengan baik pada substrat pasir
berlumpur (pasir berlempung). Substrat
perairan di Desa Sitrardas mendukung
kehidupan Enhalus acoroides terutama di
stasiun I.
Cymodocea
serrulata
dan
Cymodocea rotundata hanya ditemukan
pada stasiun
I bersubstrat pasir
berlempung dan juga hidup hewan karang.
Nilai Kerapatan masing-masing kedua
spesies ini di stasiun I adalah 16
individu/m² dan 10 individu/m². Di Desa
Sitardas, Tapanuli Tengah nilai kerapatan
masing-masing kedua spesies ini adalah 5
individu/m² dan 3 individu/m². Menurut
Tomascik, dkk (1997), Cymodocea
rotundata ditemukan di habitat karang,
tetapi berlimpah diperairan dangkal dari
terumbu karang tepi lebar. Cymodocea
serrulata ditemukan berbagai substrat
terutama pasir dan sisa-sisa karang mati.
Halophila ovalis memiliki nilai
kerapatan rendah di Desa Sitardas,
Tapanuli Tengah yaitu 2 individu/m² dan
hanya ditemukan pada stasiun I bersubstrat
pasir berlempung dengan nilai kerapatan 8
individu/m². Menurut Tomascik, dkk
(1997), Halophila ovalis ditemukan di
laguna dangkal dengan substrat pasir.
Genus Halophila banyak ditemukan di
timur Laut Jawa, Lombok dan Irian Jaya.
Tabel 8. Nilai Indeks Dispersi Lamun di Desa Sitadas
Spesies
Id
Pola Penyebaran
Enhalus acoroides
-3,09 Seragam
Cymodocea serrulata
0,47
Seragam
Cymodocea rotundata
1,16
Mengelompok
Halophila ovalis
1,07
Mengelompok
vegetatifnya yang menunjang untuk
terbentuknya kelompok atau koloni.
Rhizoma dari kedua spesies ini menunjang
terbentuknya koloni.
Pola Pemencaran Lamun
Enhalus acoroides memiliki Id 3,09, lebih kecil dari pada Id Cymodocea
serrulata yaitu 0,47. Kedua spesies
memiliki nilai Id<1 maka pola pemencaran
kedua spesies tergolong seragam. Menurut
Hanum (2006), penyebaran secara merata
umum
terdapat
pada
tumbuhan.
Penyebaran semacam ini terjadi apabila
ada persaingan yang kuat di antara
individu-individu dalam populasi tersebut.
Ukuran akar dan daun Enhalus acoroides
yang lebih besar menyebabkan spesies
mendapatkan nutrisi dan energi matahari
yang besar. Cymodocea serrulata memiliki
akar dan daun lebih kecil daripada akar
dan daun Enhalus acoroides sehingga
tumbuh dengan jumlah yang sedikit.
Cymodocea rotundata memiliki Id
1,16, lebih besar dari pada Id Halophila
ovali yaitu 1,07. Kedua spesies memiliki
nilai Id>1 maka pola pemencaran kedua
spesies tergolong Mengelompok. Menurut
Hanum (2006), salah satu faktor
penyebaran secara berkelompok adalah
Sifat-sifat organisme dengan organ
Pengelolaan Padang Lamun
Hamparan padang lamun di
perairan laut dangkal Desa Sitardas dengan
luas sekitar 5 hektar, perlu dipertahankan
keberadaannya, karena memiliki fungsi
ekologis penting di wilayah pesisir dan
kelangsungan perikanan pantai.
Tutupan Lamun yang relatif rendah
yakni 5,24%. Perlunya perhatian dari
Dinas Kelautan dan Perikanan Tapanuli
Tengah, baik melakukan penanaman
lamun sesuai karakteristik substrat dasar
perairan, maupun melakukan pemantauan
secara
regular
untuk
mengetahui
persentase tutupan dan kerapatan lamun,
serta pengendalian aktivitas masyarakat di
daerah padang lamun.
Penyuluhan kepada masyarakat
Desa Sitardas juga perlu dilakukan untuk
memberi wawasan dan penyuluhan tentang
peranan penting padang lamun di wilayah
9
pesisir terutama dibidang perikanan.
Masyarakat lokal disarankan untuk tidak
membuang limbah sampah ke perairan
pantai dan mengatur alur pelayaran kapalkapal nelayan yang tidak merusak lamun
serta perlunya PerDes (Peraturan Desa)
yang
mengatur
masyarakat
dalam
mengelola, memanfaatkan dan melindungi
kawasan pesisir Desa Sitardas terutama
ekosistem padang lamun
Brower, J. E., J. H. Zar dan C. V. Ende.
1998. Field and Labotory Method
for General Ecology Volume I.
WCB McGraw-Hill, New York.
COREMAP-LIPI.
2014.
Panduan
Monitoring Padang Lamun. Pusat
Penelitian Oseanografi LIPI, Jakarta.
Hanum, C. 2006. Ekologi Tumbuhan.
FMIPA Universitas Sumatera Utara,
Medan.
Kiswara, W dan M. Hutomo. 1985.
Habitat dan Sebaran Geografik
Lamun. Jurnal Oseana. X(1):21-30.
KLH. 2004. Keputusan Menteri Negara
Lingkungan Hidup no 200 tentang
Kriteria Baku Kerusakan dan
Pedoman Penentuan Status Padang
Lamun, Jakarta.
Nur, C. 2011. Inventarisasi Jenis Lamun
dan Gastropoda yang Berasosiasi di
Perairan
Pulau
Karampuang
Mamuju. [Skripsi]. Universitas
Hasannudin, Makasar.
Poedjirahajoe, E., N. P. D. Mahayani, B.
R. Shidarta dan M. Salamuddin.
2013. Tutupan Lamun dan Kondisi
Ekosistemnya di Kawasan Pesisir
Madasanger, Jelenga, dan Maluk
Kabupaten Sumbawa Barat. Ilmu
dan Teknologi Kelautan Tropis.
5(1):36-46.
Pratiwi, R. 2010. Asosiasi Krustasea di
Ekosistem Padang Lamun Perairan
Teluk Lampung. Jurnal Ilmu
Kelautan. 15(2):66-76.
Rappe, R. A. 2010. Struktur Komunitas
Ikan pada Padang Lamun yang
Berbeda di Pulau Barrang Lompo.
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan
Tropis. 2(2):62-73.
Riniatsih, I dan H. Endrawati. 2013.
Pertumbuhan
Lamun
Hasil
Transplantasi Jenis Cymodocea
rotundata di Padang Lamun Teluk
Awur Jepara. Buletin Oseanografi
Marina. 2(1):34-40
Romimohtarto, K dan S. Juwana. 2009.
Biologi Laut. Djambatan, Jakarta.
Solihin, A., E. Batungbacal dan A. M.
Nasution. 2014. Laut Indonesia
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Terdapat 4 jenis lamun di perairan
Desa Sitardas, Kabupaten Tapanuli
Tengah
yaitu
Enhalus
acoroides,
Cymodocea
serrulata,
Cymodocea
serrulata dan Halophila ovalis. Persentase
tutupan lamun di Desa Sitardas,
Kabupaten Tapanuli Tengah adalah 5,25%
termasuk kedalam kategori jarang,
sedangkan tutupan lamun per spesies yaitu
Enhalus acoroides 4,99%, Cymodocea
serrulata 0,19%, Cymodocea rotundata
0,06%, dan Halophila ovalis 0%.
Nilai kerapatan lamun di Desa
Sitardas, Kabupaten Tapanuli Tengah
untuk
Enhalus acoroides adalah 26
individu/m²,
Cymodocea serrulata 5
individu/m², Cymodocea rotundata 3
individu/m², dan
Halophila ovalis 2
individu/m².
Saran
Penelitian lamun sangat jarang di
Sumatera Utara. Perlu dilakukan penelitian
intensif mengenai struktur komunitas
lamun dan pemantauan lamun kondisi
padang lamun secara regular serta
penelitian lanjutan mengenai replanting
lamun di wilayah pesisir.
DAFTAR PUSTAKA
Amri, K., D. Setiadi, I. Qayim dan D.
Djokosetianto.
2011.
Dampak
Aktivitas Antropogenik terhadap
Kualitas Perairan Habitat Padang
Lamun di Kepulauan Spermonde
Sulawesi Selatan. Jurnal Pesisir dan
Pantai Indonesia VI. X(1):19-31.
10
dalam Krisis. Greenpeace Southeast
Asia (Indonesia), Jakarta.
Supriharyono.
2007.
Konservasi
Ekosistem Sumberdaya Hayati di
Wilayah Pesisir dan Laut Tropis.
Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Tahril, P., Taba, N. L. Nafie dan A. Noor.
2011. Analisis Besi dalam Ekosistem
Lamun dan Hubungannya dengan
Sifat Fisiokimia Perairan Pantai
Kabupaten Donggala. Jurnal Natur
Indonesia. 13(2):105-111.
Tomascik, T., A. Mah., A. Nontji dan M.
K. Moosa. 1997. The Ecology of
Indonesian Seas Part Two. Tuttle
Publishing, Singapore.
Waycott, M., McMahon K, J. Mellors, A.
Calladine, and D. Kleine. 2004. A
Guide to Tropical Seagrasses of the
Indo-West Pacific. James Cook
University, Queensland
Wirawan,
A.
A.
2014.
Tingkat
Kelangsungan Hidup Lamun yang
Ditransplantasi secara Multispesies
di Pulau Barranglompo. [Skripsi].
Universitas Hassanudin, Makasar.
11
Download