KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DAN PASIEN GANGGUAN

advertisement
ANALISIS FRAMING PEMBERITAAN CIVIL VIOLENCE FPI
DI MEDIA MASSA
(Studi Analisis Framing Media Surat Kabar Harian Solopos Terhadap
Pemberitaan Civil Violence FPI di Gandekan Solo)
oleh :
Okta Wijaya Jati Kusuma
D 1210055
Disusun dan diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan syarat guna memperoleh
gelar Sarjana pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas
Maret Surakarta Jurusan Ilmu Komunikasi
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2014
ANALISIS FRAMING PEMBERITAAN CIVIL VIOLENCE FPI
DI MEDIA MASSA
(Studi Analisis Framing Media Surat Kabar Harian Solopos Terhadap
Pemberitaan Civil Violence FPI di Gandekan Solo)
Okta Wijaya Jati Kusuma
Mursito BM
Sri Hastjarjo
Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Sebelas Maret Surakarta
Abstract
One of communities organizations that often adorn the various reports in
the media is FPI (Islamic Defenders Front). FPI has a group named Islamic
Defenders’ Troops, the paramilitary group from this organization is a
controversial one for its actions of committing acts as "policing" (sweeping) the
activities that are considered as immoral or contrary to Islamic law, especially
during ramadhan and often lead to violence.
The study is aimed to investigate the framing of the news on civil violence
committed by the organizations on Solopos Newspaper. The type of the research
is descriptive research using qualitative approach. The object of the study is the
news of civil violence conducted by FPI organzation in Surakarta, especially the
news related to violences of FPI with the Gandekan people reported on Solopos.
The data collecting method was done using library research. The data analysis is
done using framing analysis employing constructionism paradigm.
Based on the analysis, the research concludes that: 1) the sequences of the
civil violence construction at Gandekan are reported partially without any
comprehensive reviews. It is indicated with the lack of detailed report on the
preceding events causing the civil violence; 2) Solopos tends to be neutral and
careful in its reports. It is indicated by the absence of the name of the group that
is involved in the civil violence that reported in its news. Other noticeable thing in
the Solopos news, is that it doesn’t provide any reviews and sharp opinion
concerning the events reported. It might be caused by the reason of the policy that
Solopos keeps, namely emphasizing to broadcast any writings, picture, sound and
images with certain benchmarks.
Keywords : framing analysis, civil violence, mass media
1
Pendahuluan
Kekerasan-kekerasan sipil seperti demonstrasi anarkistis, tawuran
antarpelajar, suporter, dan warga desa, dan tindakan-tindakan kekerasan yang
dilakukan oleh organisasi masyarakat (ormas) beragama begitu mudah dijumpai
akhir-akhir ini baik di dalam pemberitaan di berbagai media baik media elektronik
maupun media non elektronik. Hal ini menimbulkan pertanyaan kalau-kalau
kekerasan sipil (civil violence) telah mulai menjadi syndrome baru di Indonesia.
Dalam terminologi ilmu sosial, pengertian sipil sering digiring ke dalam
wacana kontramiliter atau non-military (civilian). Berdasarkan pengertian
tersebut, Rule mendefinisikan kekerasan sipil dipahami sebagai bentuk kekerasan
yang dilakukan atau diaktori sendiri oleh warga sipil, dan kekerasan ini terjadi di
antara dan antarwarga sipil sendiri. Warga sipil dengan nyata melakukan tindak
kekerasan dan radikalisme terhadap warga lain, baik oleh kelompok masyarakat
atau ormas yang sudah lama eksis ataupun kelompok temporer (temporary
groups) yang dibentuk hanya untuk kepentingan sesaat atau momentum semata
(Epstein, 2002: 7243 – 7250).
Shaw mengupas militerisme ke dalam dua tipe. Pertama, militerisme tipe I
(build-up) yang terbatas pada kalangan elit, juga menghasilkan militerisme pada
tingkat elit. Artinya, militerisme build-up mempunyai ruang dan praktik
kemiliteran secara partikuler yang hanya khusus dan fokus dikembangkan oleh
tentara (hankam) dan urusan-urusan militer tingkat tinggi. Kedua, militerisme tipe
II (build-in) tampil dalam dua bentuk: (1) intervensi dan dominasi militer dalam
politik yang melahirkan militer pretoria dan rezim militer; dan (2) internalisasi
nilai, ideologi, perilaku, organisasi, wacana militer dalam masyarakat sipil
(dengan atau tanpa kehadiran militer) (Shaw, 1993: 112).
Salah satu organisasi kemasyarakatan yang sering menghiasi berbagai
pemberitaan dalam media adalah FPI (Front Pembela Islam). FPI memiliki
kelompok Laskar Pembela Islam, kelompok paramiliter dari organisasi tersebut
yang kontroversial karena melakukan aksi-aksi "penertiban" (sweeping) terhadap
kegiatan-kegiatan yang dianggap maksiat atau bertentangan dengan syariat Islam
terutama pada masa Ramadan dan seringkali berujung pada kekerasan.
2
FPI menjadi sangat terkenal karena aksi-aksinya yang kontroversial sejak
tahun 1998, terutama yang dilakukan oleh laskar paramiliternya yakni Laskar
Pembela Islam. Rangkaian aksi penutupan klab malam, tempat pelacuran dan
tempat-tempat yang diklaim sebagai tempat maksiat, ancaman terhadap warga
negara tertentu, penangkapan (sweeping) terhadap warga negara tertentu, konflik
dengan organisasi berbasis agama lain adalah wajah FPI yang paling sering
diperlihatkan dalam media massa.
Salah satu pemberitaan yang menyoroti bentuk kekerasan sipil yang
dilakuka oleh organisasi massa FPI di harian Solopos adalah pemberitaan tentang
kasus bentrokan massa FPI dengan warga masyarakat Gandekan. Peristiwa
tersebut terjadi pada hari Kamis tanggal 3 Mei 2012.
Menurut pemberitaan di harian Solopos edisi Jum‟at 4 Mei 2012
diberitakan tentang ratusan massa yang mendatangi Kampung Bangunharjo RW
8, Gandekan, Jebres dengan membawa senjata tajam dan pentungan. Massa
tersebut kemudian mengeroyok dan membacok seorang warga yang sedang
berada di sebuah bengkel hingga terluka parah (Solopos, Jum‟at 4 Mei 2012: 1).
Pengemasan pemberitaan seperti tersebut di atas akan menimbulkan kesan
kepada pembaca bahwa organisasi massa tersebut sudah melakukan kekerasan
dengan mengabaikan hak-hak orang lain. Hal ini didukung dengan pemberitaanpemberitaan di berbagai media sebelumnya yang sudah membentuk opini publik
bahwa FPI identik dengan kekerasan.
Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang permasalahan di atas, maka permasalahan
dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: Bagaimana framing
pemberitaan civil violence di surat kabar harian Solopos dalam pemberitaan
kekerasan di Gandekan?
Tujuan Penelitian
Berdasarkan pada permasalahan di atas, maka tujuan dan manfaat
dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut:
3
Untuk mengatahui Bagaimana framing pemberitaan civil violence yang
dilakukan ormas di surat kabar harian Solopos.
Tinjaun Pustaka
a. Paradigma Konstruksionis
Perspektif konstruktivisme dan interpretisme sesungguhnya merujuk
pada maksud yang tidak jauh berbeda. Istilah interpretisme digunakan untuk
menjelaskan pendekatan yang berpangkal pada pemikiran sosiolog Jerman,
Max Weber, dan filosuf Jerman, Wilhem Dilthey. Ada dua tipe pendekatan
inti dari ilmu pengetahuan yang sangat fundamental yaitu pendekatan
“Naturwissenschaft” (natural science) dan Geistessenchaft (mental science).
Sedangkan berkaitan dengan pengetahuan sosial (social science), Weber
menyatakan bahwa social science menyelidiki “aksi sosial yang berarti”
(meaningful social action) atau aksi sosial yang memiliki maksud tertentu
(Zen, 2004: 44-45).
Paradigma konstruksionis diperkenalkan oleh Berger. Bersama
Thomas Luckman, ia banyak menulis karya dan menghasilkan tesis mengenai
konstruksi sosial atas realitas (Eriyanto. 2002: 14-15). Menurut Berger
manusia dan masyarakat adalah produk yang dialektis, dinamis, dan plural
secara terus menerus. Masyarakat merupakan produk manusia, dan sebaliknya
manusia adalah hasil atau produk dari masyarakat. Keduanya secara terus
menerus memberikan aksi kembali terhadap penghasilnya.
Dikaitkan
dengan
pemberitaan,
paradigma
konstruktivisme
memandang pemberitaan bukan merupakan peristiwa atau fakta dalam arti
yang riil (Eriyanto, 2002: 15). Ia adalah produk interaksi antara wartawan
dengan fakta. Dalam proses internalisasi wartawan dilanda oleh realitas.
Realitas diamati oleh wartawan dan diserap dalam kesadaran wartawan.
Dalam proses ekternalisasi, wartawan menceburkan dirinya untuk memaknai
realitas. Konsepsi tentang fakta diekspresikan untuk melihat realitas. Hasil
dari berita adalah produk dari proses interaksi dan dialektika tersebut.
4
b. Konstruksi Realitas Sosial
Istilah konstruksi atas realitas sosial (social construction of reality)
menjadi terkenal sejak diperkenalkan oleh Berger dan Luckman. Menurut
Berger dan Luckman dikatakan bahwa kenyataan dibangun secara sosial, serta
kenyataan dan pengetahuan merupakan dua istilah kunci untuk memahaminya.
Kenyataan adalah suatu kualitas yang terdapat dalam fenomena-fenomena
yang diakui memiliki keberadaan (being)-nya sendiri sehingga tidak
tergantung kepada kehendak manusia; sedangkan pengetahuan adalah
kepastian bahwa fenomen-fenomen itu nyata (real) dan memiliki karakteristik
yang spesifik (Berger & Luckman, 1990: 15).
Menurut Sobur, dikatakan bahwa realitas sosial sesungguhnya tidak
lebih dari sekedar hasil konstruksi sosial dalam komunikasi tertentu (Sobur,
2009: 91). Berdasarkan teori tersebut dijelaskan bahwa individu menciptakan
secara terus menerus suatu realitas yang dimiliki dan dialami bersama secara
subyektif.
Proses sosial dibentuk melalui tindakan dan interaksinya. Oleh karena
konstruksi sosial merupakan sosiologi pengetahuan maka implikasinya harus
menekuni pengetahuan yang ada dalam masyarakat dan sekaligus prosesproses yang membuat setiap perangkat pengetahuan yang ditetapkan sebagai
kenyataan. Sosiologi pengetahuan harus menekuni apa saja yang dianggap
sebagai pengetahuan dalam masyarakat.
Proses dialektika ini terjadi melalui eksternalisasi, objektivasi, dan
internalisasi. Proses dialektis tersebut mempunyai tiga tahapan; Berger
menyebutnya sebagai momen.
c. Konstruksi Sosial Media Massa
Bahasa merupakan unsur utama dalam proses konstruksi realitas.
Terkait hal ini, Berger dan Luckman menganggap bahwa variabel atau
fenomena media massa menjadi sangat substansi dalam proses eksternalisasi,
subyektivasi, dan internalisasi inilah yang kemudian dikenal sebagai
“konstruksi sosial media massa” (Hamad, 2004: 12).
5
Proses konstruksi sosial media massa melalui tahapan sebagai berikut:
1. Tahap Menyiapkan Materi Konstruksi. Dalam menyiapkan materi
konstruksi, media massa memosisikan diri pada tiga hal tersebut di atas,
namun pada umumnya keberpihakan pada kepentingan kapitalis menjadi
sangat dominan mengingat media massa adalah mesin produksi kapitalis
yang mau ataupun tidak harus menghasilkan keuntungan.
2. Tahap Sebaran Konstruksi. Pada umumnya sebaran konstruksi sosial
media massa menggunakan model satu arah, dimana media menyodorkan
informasi sementara konsumen media tidak memiliki pilihan lain kecuali
mengonsumsi informasi itu.
3. Tahap Pembentukan Konstruksi Realitas. Tahap ini terdiri dari dua
tahapan, yaitu: a) Tahap pembentukan konstruksi realitas; dan b)
Pembentukan konstruksi citra.
4. Tahap Konfirmasi. Konfirmasi adalah tahapan ketika media massa
maupun pembaca memberi argumentasi dan akuntabilitas terhadap
pilihannya untuk terlibat dalam tahap pembentukan konstruksi
d. Media dan Berita
Media adalah agen konstruksi (Bungin, 2008: 12). Pandangan
konstruksionis mempunyai posisi yang berbeda dibandingkan positivis dalam
menilai media. Dalam pandangan positivis, media dilihat sebagai saluran.
Media adalah sarana bagaimana pesan disebarkan dari komunikator ke
penerima (khalayak). Media dilihat murni sebagai saluran, tempat bagaimana
transaksi pesan dari semua pihak yang terlibat dalam berita. Pandangan
semacam ini, tentu saja melihat media bukan sebagai agen melainkan hanya
saluran. Media dilihat sebagai sarana yang netral. Kalau ada berita yang
menyebutkan kelompok tertentu atau menggambarkan realitas dengan citra
tertentu, gambaran semacam itu merupakan hasil dari sumber berita
(komunikator) yang menggunakan media untuk mengemukakan pendapatnya.
Berita
bersifat
subjektif/konstruksi
atas
realitas.
Pandangan
konstruksionis mempunyai penilaian yang berbeda dalam menilai objektivitas
jurnalistik. Hasil kerja jurnalistik tidak bisa dinilai dengan menggunakan
6
sebuah standar yang rigid, seperti halnya positivis. Hal ini karena berita adalah
produk dari konstruksi dan pemaknaan atas realitas. Pemaknaan seseorang
atas suatu realitas bisa jadi berbeda dengan orang lain, yang tentunya
menghasilkan realitas yang berbeda pula. Karenanya, ukuran yang baku dan
standar tidak bisa dipakai (Sobur, 2009: 30).
e. Konsep Framing
Framing adalah pendekatan untuk melihat bagaimana realitas itu
dibentuk dan dikonstruksi oleh media. Proses pembentukan dan konstruksi
realitas itu, hasil akhirnya adalah adanya bagian tertentu dari realitas yang
lebih menonjol dan lebih mudah dikenal.
Pada dasarnya, analisis framing merupakan versi terbaru dari
pendekatan analisis wacana, khususnya untuk menganalisis teks media.
Gagasan mengenai framing, pertama kali dilontarkan oleh Beterson tahun
1955. Mulanya, frame dimaknai sebagai struktur konseptual atau perangkat
kepercayaan yang mengorganisir pandangan politik, kebijakan dan wacana,
serta yang menyediakan kategori-kategori standar untuk mengapresiasi
realitas. Konsep ini kemudian dikembangkan lebih jauh oleh Goffman pada
1974, yang mengandaikan frame sebagai kepingan-kepingan perilaku yang
membimbing individu dalam membaca realitas.
Dalam ranah studi komunikasi, analisis framing mewakili tradisi yang
mengedepankan
pendekatan
atau
perspektif
multidisipliner
untuk
menganalisis fenomena atau aktivitas komunikasi. Analisis framing digunakan
untuk membedah cara-cara atau ideologi media saat mengkonstruksikan fakta.
Analisis ini mencermati strategi seleksi, penonjolan, dan tautan fakta ke dalam
berita agar lebih bermakna, lebih menarik, lebih berarti atau lebih diingat,
untuk menggiring interpretasi khalayak sesuai perpektifnya (Sobur, 2001: 32).
f. Framing Model Entman
Entman melihat framing dalam dua dimensi besar: seleksi isu dan
penekanan atau penonjolan aspek-aspek tertentu dari realitas/isu. Framing
dijalankan oleh media dengan menseleksi isu tertentu dan mengabaikan isu
7
yang lain. Framing adalah pendekatan untuk mengetahui bagaimana
perspektif atau cara pandang yang digunakan oleh wartawan ketika menseleksi
isu dan menulis berita (Eriyanto, 2011: 124).
Konsep framing, dalam pandangan Entman, secara konsisten
menawarkan sebuah cara untuk mengungkap the power of a communication
text. Framing pada dasarnya merujuk pada pemberitaan definisi, penjelasan,
evaluasi, dan rekomendasi dalam suatu wacana untuk menekankan kerangka
berpikir tertentu terhadap peristiwa yang diwacanakan.
Entman membagi perangkat framing ke dalam empat elemen sebagai
berikut (Eriyanto, 2011: 126):
1. Define Problems (pendefinisian masalah)
Elemen pertama ini merupakan bingkai utama/master frame yang
menekankan bagaimana peristiwa dimaknai secara berbeda oleh wartawan,
maka realitas yang terbentuk akan berbeda.
2. Diagnose causes (memperkirakan penyebab masalah)
Elemen kedua ini merupakan elemen framing yang digunakan untuk
membingkai siapa yang dianggap sebagai aktor dari suatu peristiwa.
Penyebab disini bisa berarti apa (what), tetapi bisa juga berarti siapa
(who). Bagaimana peristiwa dipahami, tentu saja menentukan apa dan
siapa yang dianggap sebagai sumber masalah.
3. Make moral judgement (membuat pilihan moral)
Elemen framing yang dipakai untuk membenarkan/memberi argumentasi
pada pendefinisian masalah yang sudah dibuat. Setelah masalah
didefinisikan dan penyebab masalah sudah ditentukan, dibutuhkan
argumentasi yang kuat untuk mendukung gagasan tersebut. Gagasan yang
dikutip berhubungan denga sesuatu yang familiar dan dikenal oleh
khalayak.
4. Treatment recommendation (menekankan penyelesaian)
Elemen keempat ini dipakai untuk menilai apa yang dikehendaki oleh
wartawan. Jalan
apa yang dipilih untuk menyelesaikan masalah.
8
Penyelesaian itu tentu saja sangat tergantung pada bagaimana peristiwa itu
dilihat dan siapa yang dipandang sebagai penyebab masalah.
Metode Penelitian
Tipe penelitian ini ialah deskriptif dengan menggunakan pendekatan
Kualitatif. Menurut Creswell, pendekatan kualitatif adalah pendekatan untuk
membangun
pernyataan
pengetahuan
berdasarkan
perspektif-konstruktif
(misalnya, makna-makna yang bersumber dari pengalaman individu, nilai-nilai
sosial dan sejarah, dengan tujuan untuk membangun teori atau pola pengetahuan
tertentu), atau berdasarkan perspektif partisipatori (misalnya: orientasi terhadap
politik, isu, kolaborasi, atau perubahan), atau keduanya (Creswell, 2005: 18).
Penelitian ini menggunakan metode analisis framing dengan paradigma
atau pendekatan konstruksionis. Paradigma konstruksionis memandang bahwa
tidak ada realitas yang obyektif, karena realitas tercipta melalui proses konstruksi
dan pandangan tertentu.
Objek dalam penelitian ini adalah berita – berita mengenai kasus
kekerasan sipil (civil violence) yang dilakukan oleh ormas FPI di Surakarta
khususnya yang berkaitan dengan bentrok antara FPI dengan warga Gandekan
Surakarta yang dimuat di Harian Solopos.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan penulis
berdasarkan kebutuhan analisis dan pengkajian. Pengumpulan data tersebut sudah
dilakukan sejak penulis menentukan permasalahan apa yang sedang dikaji. Data
primer diperoleh dari dokumen berupa pemberitaan mengenai kasus kekerasan
sipil (civil violence) yang dilakukan oleh ormas FPI yang berkaitan dengan
bentrok antara FPI dengan warga Gandekan Surakarta yang dimuat di Solopos,
sedangkan data sekunder diperolehnya dari penelitian dokumen atau kepustakaan.
Proses analisis data dilakukan secara kualitatif dengan wawancara terbuka,
pendekatan kualitatif inilebih menekankan pada paradigma interpretatif, karena
ingin memahami apa yang ada di balik kesadaran individu subjek penelitian, yaitu
pengambil keputusan. Analisis data di lapangan dibedakan menjadi dua bagian (1)
bagian deskripsi yang berisi gambaran tentang latar belakang pengamatan,
9
tindakan dan pembicaraan dan (2) bagian reflektif yang berisi pendapat, gagasan,
komentar, tafsiran, analisis dan label yang diberikan oleh peneliti.
Langkah-langkah yang ditempuh untuk proses selanjutnya adalah
mengikuti model yang dinyatakan oleh Miles dan Huberman (1984) sebagai
berikut: Pertama, dari bagian deskripsi atau catatan langsung dari lapangan yang
berupa hasil wawncara dan diskusi dengan subjek penelitian dan informan
disesuaikan dengan tujuan penelitian, serta bagian refleksi atau hasil renungan
peneliti terhaap deskripsi itu peneliti melakukan “reduksi data”, yang berupa
pokok-pokok temuan, dan selanjutnya dikembangkan sajian datanya secara
naratif.
Validitas
data
dilakukan
dengan
menggunakan
triangulasi
data.
Triangulasi merupakan cara pemeriksaan keabsahan data yang paling umum
digunakan dengan memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data untuk pengecekan
atau sebagai pembanding terhadap data itu. Dalam hal ini digunakan triangulasi
sumber data dan triangulasi metode pengumpulan data. Triangulasi sumber data
menurut Patton (1970) dilakukan dengan cara membandingkan dan mengecek
derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan sumber
yang berbeda dalam metode kualitatif (Sutopo, 2006: 92). Trianggulasi adalah
teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain
(Moleong, 2009: 330). Dalam penelitian ini, peneliti akan menggunakan teknik
trianggulasi data (sering kali juga disebut dengan trianggulasi sumber), yaitu cara
membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi atau
data yang telah diperoleh melalui wawancara dengan data sekunder berupa
dokumen-dokumen terkait.
Sajian dan Analisis Data
a. Frame Harian Solopos terkait Peristiwa Bentrok di Gandekan
Pemberitaan yang terkait dengan bentrok massa berjudul “Polisi
Tetapkan 2 Tersangka Imbauan Jokowi Diabaikan”, Dalam pemberitaan ini,
Solopos lebih banyak memberitakan tentang diabaikannya himbauan Jokowi
untuk tidak terpancing provokasi oleh massa dibandingkan dengan penetapan
10
ke dua tersangka tersebut. Hal ini dituliskan oleh Solopos dalam pemberitaan
sebagai berikut.
Walikota Solo, Joko Widodo (Jokowi), mendatangi warga di Gandekan,
Jebres dan kelompok massa di Semanggi, Pasarkliwon, Solo, untuk
meredam kedua belah pihak agar tidak terjadi bentrok susulan, Jum’at
(4/5). Namun, upaya itu tidak membuahkan hasil. Bentrokan antara
warga dan kelompok massa terjadi beberapa saat setelah Jokowi
mendatangi kedua belah pihak
Dari pemberitaan tersebut dapat diketahui bahwa harian Solopos kurang
komprehensif dalam memberikan ulasan dan analisis sehingga pemberitaan
terkesan parsial dan tidak berkaitan satu sama lain dengan peristiwa yang
mendahuluinya. Hal ini menunjukkan adanya kesan bahwa harian Solopos
kurang tajam dalam melakukan ulasan terhadap suatu peristiwa.
Dalam pemberitaan Solopos edisi Jum‟at 06 Juli 2012 dengan judul
berita “Pemindahan Sidang Kasus Gandekan Disoal”, Solopos memberitakan
tentang kedatangan Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) ke Balaikota Solo
dan Mapolresta Solo untuk mempertanyakan rencana pemindahan lokasi
sidang kasus Gandekan.
Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS), Kamis (5/7), mendatangi
Balaikota dan Mapolresta Solo untuk mempertanyakan rencana
pemindahan lokasi sidang kasus Gandekan. Di Balaikota, LUIS yang
berniat menemui Walikota Solo, Jokowi, diterima Sekretaris Daerah
(Sekda) Solo Budi Suharto dan Kabag Kesejahteraan Rakyat Setda
Kadarwati. Jokowi absen karena sedang cuti. Pertemuan berlangsung di
Ruang Rapat Sekda. Sedangkan di Mapolresta Solo, LUIS diterima
Kapolresta Kombes Pol. Asjima’in.
Solopos menuliskan tentang adanya alasan keamanan sebagai alasan
pemindahan sidang yang dipandang mengada-ada oleh LUIS. Menurut LUIS
selama persidangan berlangsung tidak pernah ada ancaman yang serius yang
dapat mengganggu jalannnya persidangan. Hal ini dituliskan dalam
pemberitaan sebagai berikut:
“Dalam pernyataan sikapnya, LUIS memandang tempat sidang
seharusnya tetap di Solo. Alasannya tempat kejadian perkara (TKP)
berada di Solo, kasus tersebut merupakan kasus kriminal murni. Selain
itu, lanjut Edi, fakta empiris persidangan di Solo selama ini tidak ada
ancaman serius yang mengganggu persidangan.
11
“Dengan usulan pemindahan tempat ini ada kesan kekhawatiran dan
ketakutan yang berlebihan dari Walikota dan Polresta, yang justru
mencitrakan Kota Solo seolah-olah tidak aman, tidak terkendali dan
tidak kondusif,” jelas Edi
Penilaian moral yang disampaikan oleh Harian Solopos dalam
pemberitaan tersebut adalah bahwa pencegahan akan lebih baik daripada
penanganan. Pesan moral ini disampaikan secara implisit dalam pemberitaan
sebagai berikut:
Mendengar aspirasi tersebut, Kapolresta Solo, Kombes Pol. Asjima’in,
menegaskan pemindahan lokasi sidang kasus bentrok Gandekan
merupakan hasil musyawarah dan keputusan dari jajaran Muspida.
“Bukan polisi takut akan pengamanan saat pelaksanaan sidang, namun
kami mempertimbangkan banyak hal. Bisa jadi, dari kubu ini menjamin
aman, sementara kubu lain terprovokasi oleh pihak-pihak yang tidak
bertanggung jawab dan menimbulkan permasalahan baru,” kata
Kapolresta.
Dari berbagai pemberitaan yang diturunkan, Solopos merekomendasikan
agar pemerintah membuka dialog dengan masyarakat. Menghentikan
pendekatan keamanan dan menegakkan hukum bagi siapapun yang terlibat.
Pendekatan keamanan di Solo harus dihentikan karena tidak efektif dan
membuat
konflik
kian
berlarut-larut.
Solopos
cenderung
mendekati
masyarakat. Masyarakat yang bukan saja bergerak dan berkembang, tetapi
masyarakat yang pergerakan dan perkembangannya memang disengaja dan
diarahkan.
Di dalam masyarakat demikian, apalagi bila masyarakat itu bersifat
majemuk seperti masyarakat Indonesia diperlukan adanya suatu pemerintahan
kuat, efektif, bersih, terbuka. Kriterium pertama bukan ada tidaknya
keseimbangan dalam alokasi kekuasaan. Kriterium itu menjadi ada tidaknya
korespondensi antara pemerintah dan masyarakat, ada tidaknya dialog terus
menerus antara yang memerintah dan yang diperintah. Dengan korespondensi
yang dimaksudkan Solopos adalah ada tidaknya saling pengertian dan saling
percaya antara pemerintah dan masyarakat. Bahwa masyarakat memahami,
mengerti, dan percaya pemerintah yang melaksanakan program dan
menempuh kebijaksanaan yang melayani kepentingan mereka. Bahwa
12
pemerintah memahami dan menyalurkan pendapat dan perasaan masyarakat
(Oetama, 1987: 82).
b. Kecenderungan Solopos terhadap Pemberitaan Peristiwa Bentrok di
Gandekan
Kecenderungan Harian Solopos terhadap pemberitaan peristiwa bentrok
di Gandekan dapat dikemukakan sebagai berikut:
1. Netral
Netralitas
media
dalam
pemberitaan
di
harian
Solopos
dimanifestasikan dalam bentuk pemberitaan yang berimbang. Pers
merupakan lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang
melaksanakan dan melahirkan media massa tersebut. Media massa dapat
berbentuk pengaturan mengenai lembaga pers tersebut diatur dalam
Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers (Undang-Undang
Pers). Dalam Undang-Undang Pers, ditekankan adanya kemerdekaan pers
sebagai salah satu wujud kedaulatan rakyat dan menjadi unsur yang sangat
penting untuk menciptakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara yang demokratis. Kemerdekaan pers tersebut dikoridori melalui
prinsip dan asas serta tanggung jawab memenuhi peraturan perundangundangan serta kode etik yang berlaku.
Kenetralan Solopos diwujudkan dalam pemberitaan yang berupaya
meminimalisir unsur SARA yang dapat mengakibatkan konflik kian meluas.
Hal ini dijelaskan oleh Kurniawan, Wartawan Solopos, ketika ditanya tentang
tidak disebutkannya pihak-pihak yang bertikai dalam kasus bentrok massa di
Gandekan.
“Kalau soal penyebutan kelompok yang bertikai, khususnya yang
kontra warga gandekan itu disebut dengan ormas. Kalau saya
menyebut bahwa itu ormas Islam. Kami tidak meyebut ormas islam
karena hal ini merupakan bagian dari sebuah kode etik.
Setiap reporter itu tahu bahwa sebuah berita kendati itu fakta tapi
kalo itu sudah menyentuh ranah suku, agama itu kita akan coba
mengeliminasi resiko konflik tersebut meluas.”
(Wawancara dengan Kurniawan, Wartawan Solopos, pada hari
Sabtu, 28 September 2013)
13
Solopos sangat berhati-hati dalam merepresentasikan kelompok
massa pada setiap pemberitaannya, hal ini ditunjukkan dengan tidak
adanya penyebutan nama kelompok dalam setiap pemberitaan. Penyebutan
hanya dilakukan ketika pemberitaan tidak menyebutkan aksi kekerasan.
Apabila diamati secara garis besar, pemberitaan Solopos mengenai aksi
kekerasan di Gandekan, maka dapat dikatakan bahwa Solopos cenderung
memposisikan diri pada pihak netral. Solopos tetap konsisten untuk
menjadi dinamisator masyarakat dengan beberapa pemberitaan yang
diturunkan Solopos terlihat berbagai upaya yang dilakukan untuk
„membujuk‟ masyarakat agar selalu memelihara kondisi yang kondusif.
Pada berita edisi Sabtu 5 Mei 2012 dengan judul “Polisi Harus
Tegas” dan “Polisi Tetapkan 2 Tersangka Imbauan Jokowi Diabaikan”.
Solopos tidak menuliskan bentuk ketegasan yang harus dilakukan aparat
atau pun penetapan ke dua tersangka tersebut. Solopos justru lebih banyak
menuliskan tentang bentuk upaya mendamaikan kedua kelompok yang
bentrok pada judul pertama, dan diabaikannya imbauan Jokowi pada judul
pemberitaan kedua. Hal ini dapat dilihat pada pemberitaan sebagai berikut:
“Aparat keamanan dinilai kurang tegas menangani bentrokan
warga dengan kelompok massa yang terjadi di Kelurahan
Gandekan Kecamatan Jebres, Solo selama dua hari berturut-turut,
Kamis – Jum’at (3 – 4/ 5)”
Sementara itu, Jum’at siang, bentrok kembali pecah antara warga
dan kelompok massa di ruas Jl. RE Martadinata tepatnya di salah
satu gang di RW. 009 Kampung Bangunharjo, Gandekan, Jebres.
Bentrokan itu mengakibatkan dua korban terluka, yaitu Ngatiman
Anto Suwignyo, 63, warga RT 001/RW 008 Gandekan dan Haris
Kusdibyo, 43, warga Kampung Bangunharjo. Sebelum bentrokan
terjadi, sekitar pukul 14.00 WIB, ratusan orang yang berkumpul di
Semanggi bergerak menuju Jl. Sampangan. Massa mengenakan
tanda kain putih dan sebagian besar dari mereka menggunakan
helm.
Sosiolog UNS, Drajat Tri Kartono, menjelaskan konflik horizontal
yang terjadi di Gandekan mestinya dapat diantisipasi dengan
cepat. Setidaknya, ada dua hal yang perlu dilakukan guna
menghindari bentrok susulan, yakni segera membuat jarak antara
kedua kelompok (zona bebas). Selanjutnya, kedua kelompok harus
difasilitasi bersama demi rekonsiliasi. “Di sini, peran aparat
14
keamanan atau tokoh masyarakat sangat penting. Mereka harus
difasilitasi dengan duduk bersama demi rekonsiliasi tadi,”
katanya.
Sementara itu, Front Pembela Islam (FPI) Kota Solo meminta
polisi mengusut pelaku yang terlibat dalam bentrokan di
Gandekan.
(Pemberitaan Harian Solopos dengan judul “Polisi Harus Tegas”)
Ketidaktegasan pihak berwajib menurut wartawan Solopos menjadi
salah satu faktor yang menyebabkan berlarut-larutnya bentrokan
antarwarga. Secara implisit, Solopos mengharapkan agar aparat lebih tegas
dalam menegakkan hukum. Hal ini diartikan bahwa siapa pun yang
melanggar hukum harus ditindak sesuai dengan hukum yang berlaku tanpa
pandang bulu karena semua warga negara adalah sama di depan hukum.
“Ketegasan yang di maksud di berita itu adalah polisi harus tegas
menjalankan proses hukum, artinya gini Negara ini Negara hukum
artinya polisi harus menindak pelanggar-pelanggar hukum itu
sesuai kaidah hukum yang ada. Misalkan ada warga yang
melanggar hukum atau ada orang-orang dari kelompok massa itu
melanggar hukum, polisi itu harus tegas.”
(Wawancara dengan Danang Nur Ikhsan, Redaktur Harian
Solopos, pada hari Jum‟at, 4 Oktober 2013)
Netralitas
Solopos
tercermin
dari
kehati-hatian
dalam
pemberitaannya yang cenderung datar dan tidak adanya wacana yang
berusaha memblow up terjadinya upaya-upaya salah satu pihak dalam
menonjolkan show of force untuk menuntut penyelesaian kasus tersebut.
Seperti halnya media dalam paradigma konstruksionis, media tidak
bertindak sebagai suatu institusi yang netral dalam menyampaikan pesan.
Media bukanlah saluran yang bebas, ia juga subjek yang mengkonstruksi
realitas, lengkap dengan pandangan, bias, dan pemihakannya (Eriyanto,
2011: 26).
Hal ini didukung dengan hasil wawancara dengan wartawan
Solopos sebagai berikut:
Kami selaku wartawan solopos selalu sersikap netral dalam
memberitakan, makanya di awal kami tegaskan bahwa kami tidak
mau memojokkan salah satu pihak baik siapa pelakunya dan siapa
korbannya. Karena di satu sisi kami menegaskan bahwa solopos
15
selaku media yang berdiri secara netral, tidak memihak kelompok
tertentu ataupun komunitas tertentu, kami mencoba untuk bersikap
cerdas. Di awal kami tidak meyebut itu bukan karena kami takut
ataupun kami tidak berani mem-blow-up menulis apa adanya. Tapi
kami juga punya kode etik tersendiri nyang harus di miliki oleh
seorang wartawan.”
(Wawancara dengan Mohammad Hamdi, Wartawan Solopos pada
hari Kamis, 26 September 2013)
2. Menghindari Isu-isu Primordial
Solopos dalam pemberitaannya mempunyai kecenderungan untuk
menghindari isu-isu yang berkaitan dengan primordialisme. Isu-isu
primordialisme merupakan permasalahan yang berkaitan dengan ikatan
seseorang terhadap kelompok yang pertama dengan segala nilai yang
diperolehnya melalui sosialisasi. Isu ini dapat membuat individu atau
kelompok memiliki sikap etnosentrisme, yaitu suatu sikap yang cenderung
bersifat subyektif dalam memandang budaya orang lain.
Hal ini dikemukakan oleh Kurniawan, Wartawan Solopos yang
menjelaskan bahwa wartawan harus selalu berpegang pada kode etik
jurnalistik dan menghindarkan pemberitaan yang mengandung isu SARA.
Hal ini dijelaskan dalam wawancara berikut ini:
“Setiap reporter itu tahu bahwa sebuah berita kendati itu fakta tapi
kalo itu sudah menyentuh ranah suku, agama itu kita akan coba
mengeliminasi resiko konflik tersebut meluas. termasuk dengan
tidak menyebutkan dari ormas mana kelompok ini, dalam hal ini di
gandekan kan ormas Islam”
(Wawancara dengan Kurniawan, Wartawan Solopos pada hari Sabtu,
28 September 2013)
3. Menganut Asas Cover both sides
Media bisa memperjelas sekaligus mempertajam konflik atau
sebaliknya, mengaburkan dan mengelimirnya. Hal itu terjadi pada peristiwa
bentrok antara kelompok massa dengan warga yang terjadi di Kampung
Gandekan dan meluas dengan berdatangannya anggota kelompok massa in
dari berbagai wilayah ke Solo. Dalam pemberitaannya Solopos cenderung
melakukan berupaya bermain secara „aman‟ dengan tidak melakukan
16
analisis dan ulasan yang tajam yang kemungkinan dapat menimbulkan
protes dari kelompok yang berseteru.
Kelompok massa yang sebenarnya adalah sayap dari FPI tidak
pernah diberitakan secara gamblang oleh Solopos. Di sisi lain, kelompok
preman yang disebut diketuai oleh Iwan Walet juga hanya disebut sebagai
warga Kampung Gandekan. Ini merupakan salah satu bentuk pengaburan.
Dalam pemberitaannya, Solopos selalu berusaha mematuhi kode etik
jurnalistik. Ini terlihat bagaimana Solopos selalu memposisikan diri sebagai
media yang mengakomodasi kepentingan-kepentingan kelompok yang
terkait konflik dalam peristiwa kekerasan di Gandekan tersebut.
Konsep ini dikuatkan dengan pendapat wartawan Solopos yang
menyatakan bahwa tidak menyebutkan nama merupakan salah satu standar
moral yang diterapkan Solopos. Hal ini diketahui dari hasil wawancara
sebagai berikut:
“Itu sadah menjadi sebuah standart moral kita, enggak tau kalo
media lain ya, mungkin. Kami bukannya takut tetapi kami memang
punya etika moral kita.”
(Wawancara dengan Kurniawan, Wartawan Solopos pada hari Sabtu,
28 September 2013)
Dalam
pemberitaan
dan
pemaparan
masalahnya
Solopos
menerapkan konsep cover both sides. Bagi Solopos, cover both sides sesuai
dengan arus masyarakat karena mereka ingin memperoleh informasi dan
interpretasi tentang peristiwa serta arah kejadian yang lengkap tidak apriori
memihak, dan karena itu memberikan hormat pada penilaian masyarakat
sendiri (Oetama, 1987: 27).
Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan Wright, sebagai
lembaga sosial, pers dikenal ampuh menjadi jembatan komunikasi antara
masyarakat, pemerintah, aktivis sosial, pihak media sendiri, pengusaha,
serta pihak-pihak kepentingan lainnya (interst group) (Saripudin &
Quisyaini Hasan. 2003: 11). Pada posisi ini pers berperan sebagai sarana
penjalin hubungan publik (agent of public relations) dengan melakukan
17
interaksi sosial dan mengartikulasikan berbagai kepentingan masing-masing
kelompok.
4. Menganut Asas Jurnalisme Humanis
Harian Solopos dalam melakukan framing berita cenderung
mengindikasi sikap dari perusahaan pers bersangkutan. Hal ini dapat dilihat
dari proses pemilihan judul, lead, visual image, serta penempatan sebagai
headline maupun paging. Dalam dunia jurnalistik, berita dan framing adalah
dua hal yang tidak dapat dipisahkan bahkan satu sama lain tidak bisa berdiri
sendiri. Solopos yang menganut patron journalism humanisme yang
digunakan
untuk
membangun
sebuah
konfigurasi
wacana
yang
mempresentasikan sisi-sisi kemanusiaan. Memang ada kriteria jurnalistik
untuk memilih suatu kejadian atau suatu masalah menjadi berita. Namun
pemilihan dan presentasinya sebagai berita, tidak akan terlepas dari visi
dasar serta kerangka referensinya. Dalam makna itulah media massa
senantiasa aktif, kejadian dan permasalah dipilih dan disusun menjadi berita.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat ditarik
kesimpulan bahwa framing pemberitaan civil violence di surat kabar harian
Solopos dalam pemberitaan kekerasan di Gandekan, Solo dapat dipaparkan
sebagai berikut:
1. Konstruksi peristiwa kekerasan yang terjadi di Kampung Gandekan
diberitakan secara sepotong-sepotong dengan tidak memberikan ulasan yang
mendalam tentang peristiwa persebut. Konstruksi framing pemberitaan
Solopos tentang bentrok di Gandekan dideskripsikan ke dalam empat aspek
framing sesuai dengan pendapat Entman, yang terdiri dari define problem,
diagnose cause, Make Moral Judgement, dan Treatment Recommendation.
Define Problem, Pemberitaan yang disampaikan lebih mengemukakan fakta
yang disampaikan pihak berwajib. Solopos membingkai pemberitaan
kekerasan di Gandekan sebagai konflik horisontal antara kelompok massa
18
yang tidak ada kaitannya dengan isu SARA. Diagnose Causes, Kekerasan
sipil yang terjadi disebabkan karena kekurangtegasan pihak berwajib dalam
menangani permasalahan keamanan. Make Moral Judgement, Solopos
mengemukakan penilaian moral bahwa bentrok massa atau kekerasan sipil
lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Treatment Recommendation,
Solopos merekomendasikan agar pemerintah membuka dialog dengan
masyarakat. Menghentikan pendekatan keamanan dan menegakkan hukum
bagi siapapun yang terlibat.
2. Solopos dalam pemberitaannya cenderung bersikap netral dan sangat hati-hati.
Hal ini ditunjukkan dengan tidak adanya pemberitaan yang tidak menyebutkan
nama kelompok massa yang terlibat dalam bentrokan tersebut. Hal lain yang
terlihat adalah bahwa dalam pemberitaannya, Solopos tidak memberikan
ulasan dan opini yang tajam atas peristiwa tersebut. Hal ini dilandasi adanya
kebijakan Solopos yang lebih mengedepankan patut tidaknya menyiarkan
tulisan, gambar, suara, serta suara dan gambar dengan tolok ukur: Hal yang
dapat membahayakan keselamatan dan keamanan negara ialah memaparkan
atau menyiarkan rahasia negara atau rahasia militer, dan berita yang bersifat
spekulatif. Gambaran ini sejalan dengan prinsip kode etik jurnalistik
sebagaimana tertuang dalam Pasal 2 Kode Etik Jurnalistik.
Saran
Sesuai dengan simpulan di atas, selanjutnya dapat dikemukakan beberapa
saran sebagai berikut:
1. Limitasi atau keterbatasan penelitian ini adalah penelitian ini hanya terbatas
pada analisis teks media saja, tanpa meneliti faktor lain terkait di dalam media
yang mempengaruhi agenda pemberitaan media. Peneliti mengharapkan pada
penelitian selanjutnya lebih menitikberatkan pada seluruh komponen framing,
bukan hanya pada teks saja.
2. Berita pada dasarnya dibentuk lewat proses aktif dari pembuat berita.
Khalayak diharapkan lebih kritis dalam melihat, memahami dan menyikapi
sebuah berita yang dhadirkan media massa. Jadi hendaknya sebuah teks berita
19
tidak ditelan mentah-mentah dan mengakibatkan reaksi spontan yang hanya
berdasarkan pemahaman dangkal. Oleh karena itu, khalayak pembaca
sebaiknya lebih selektif dalam memilih media sesuai dengan fakta atau
kejadian yang sebenarnya.
3. Solopos
diharapkan
dapat
meningatkan
kualitas
pemberitaan
yang
menitikberatkan pada asas jurnalistik, objektif, dan pembentukan opini
terhadap masyarakat yang sesuai dengan realitas. Alasannya karena Solopos
merupakan harian umum lokal yang paling berpengaruh dan memiliki
pembaca yang dominan serta sering dijadikan referensi oleh masyarakat untuk
mengetahui perkembangan informasi di wilayah Solo dan sekitarnya.
Daftar Pustaka
Bungin, Burhan. (2008). “Konstruksi Sosial Media Massa”. Jakarta: Kencana
Prenada Media Group.
Creswell, John W. (2005). Research Design: Qualitative and Quantitative
Approaches. London: Sage Publications.
Eriyanto. (2011). “Analisis Framing”: Konstruksi Ideologi, dan Politik Media.
Yogyakarta: Lkis.
Epstein, Joshua M. (2002). “Modeling civil violence: An agent-based
computational approach” Journal of Social and Economic Dynamics Vol.
99 No.3, 2002, pp: 7243 – 7250.
Hamad, Ibnu. (2004). Konstruksi Realitas Politik Dalam Media Massa Sebuah
Studi Critical Discopurse Analisis terhadap Berita-berita Politik. Jakarta:
Granit.
Miles, Matthew B. dan A. Michael Huberman. (1992). Analisis Data Kualitatif.
Terj. Tjetjep Rohendi Rohidi. Jakarta: UI Press.
Moleong, Lexy. J. (2001). Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung, Penerbit
PT. Remaja Rosdakarya.
Saripudin & Quisyaini Hasan. (2003). “Tomy Winata Dalam Citra Media:
Analisis Berita Pers Indonesia”. Jakarta: JARI.
Shaw, Martin. (1993). Post-Military Society: Militarism, Demilitarization and
War at the End of the Twentieth Century. London: Temple University
Press.
Sobur, Alex. (2009). “Analisis Teks Media : Suatu Pengantar analisis wacana,
analisis semiotika, dan analisis framing”. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
20
Download