Hubungan Antara Motivasi Berprestasi Dengan

advertisement
Hubungan Antara Motivasi Berprestasi Dengan Prokrastinasi Akademik
Mahasiswa Psikologi Universitas Medan Area
Mulia Siregar*
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara motivasi berprestasi
dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa Fakuktas Psikologi stambuk 2012
Universitas Medan Area dengan sampel sebanyak 44 mahasiswa. Hipotesis yang
diajukan dalam penelitian ini adalah bahwa terdapat hubungan negatif antara motivasi
berprestasi dengan prokrastinasi pada mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Medan
Area. Berdasarkan analisis data dengan menggunakan Metode Analisis Product
Moment, diperoleh hasil bahwa terdapat hubungan negatif yang tidak signifikan antara
motivasi berprestasi dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa Fakultas Psikologi
Universitas Medan Area. Dengan nilai rxy = 0,031 p= 0,844> 0,050. Artinya motivasi
berperstasi tidak mimiliki hubungan dengan prokrastinasi akademik maka hipotesis
yang telah diajukan dalam penelitian ini, dinyatakan ditolak. Dimana diketahui mean
empirik prokrastinasi akademik 70.7500 yang lebih besar dari pada hipotetiknya 62.50
dan mean empirik motivasi berprestasi 72.2727 yang lebih kecil daripada nilai
hipotetiknya 100.
Kata Kunci : Prokrastinasi Akademik, Motivasi Berprestasi
A. PENDAHULUAN
Pendidikan adalah satu hal
yang tidak dapat lepas dari kehidupan
manusia, baik itu pendidikan formal
maupun non formal. Pendidikan non
formal bisa kita dapat di kehidupan
sehari-hari, dalam keluarga, dalam
bermasyarakat bahkan kita dapat dari
alam itu sendiri yang tanpa kita sadari
ada pembelajaran di dalamnya.
Sedangkan di pendidikan formal bisa
kita dapatkan dalam lembaga-lembaga
pendidikan seperti sekolah dan
perguruan tinggi. Perguruan tinggi
sebagai
lembaga
pendidikan
memegang peranan penting untuk
menghasilkan tenaga ahli yang tangguh
dan
kreatif
dalam
menghadapi
tantangan pembangunan dengan bekal
ilmu dan kemampuan yang dimilikinya
(http://repositiory.usu.ac.id).
Mahasiswa adalah status pendidikan
yang di dapat setelah seseorang
melewati masa SMA dan memasuki
jenjang perkuliahan di perguruan
tinggi. Mahasiswa khususnya di
Indonesia
diharapkan
memiliki
kestabilan emosi dan pola pikir yang
lebih matang dibandingkan siswa
SMA.(http://id.svpoong.com/pengertia
n/mahasiswa).
Seorang mahasiswa memiliki
berbagai kegiatan yang di lakukan, di
antaranya ada mahasiswa yang bekerja
sambil kuliah ataupun melaksanakan
kegiatan lain di luar perkuliahan.
Namun selama menuntut ilmu di
perguruan tinggi, sebagai mahasiswa
tidak
terlepas
dari
kewajiban
mengerjakan tugas-tugas akademik.
Menurut
Mayasari
dkk,
(2010)
Beberapa tuntutan penyelesaian tugas
tersebut antara lain adalah membuat
makalah, menyiapkan prsentasi maupun
membuat jurnal-jurnal dari penelitan,
membuat berbagai macam tugas
akademik
maupun
ujian
yang
merupakan suatu bentuk evaluasi bagi
mahasiswa yang dilaksanakan secara
rutin, serta kegiatan non akademis
lainnya. Kemudian adanya kegiatan
gangguan lain yang mungkin lebih
* Dosen Fakultas Psikologi Universitas Medan Area
1
menyenangkan
dibandingkan
mengerjakan tugas-tugas akademik dari
dosen. Dalam memberikan tugas, dosen
akan menentukan batas waktu tertentu
untuk di kumpulkan.
Mahasiswa
dalam
konteks
sebagai pembelajar di perguruan tinggi
diharapkan
sejak
awal
mampu
menampilkan
perilaku
produktif,
diantaranya menyelesaikan tepat waktu
berbagai tugas yang berkaitan dengan
perkuliahan yang diikutinya. Dengan
demikian, setiap bentuk penundaan atau
keterlambatan dalam menyelesaikan
tugas-tugas akan menjadi masalah yang
tidak dapat diabaikan begitu saja.
Prilaku seseorang yang tidak dapat
membagi waktu kapan harus memulai
dan
mengerjakan
sesuatu
yang
seharusnya dapat bermanfaat, sehingga
waktu yang dimilki tersebut menjadi
percuma dan terbuang dapat diartikan
sebagai prokrastinasi Salomon dkk
(dalam Coralia, 2012).
Prokrastinasi
adalah
kecenderungan untuk menunda dalam
memulai, melaksanakan dan mengakhiri
suatu aktivitas. Prokrastinasi akademik
adalah prokrastinasi yang terjadi di
lingkungan akademik. Ellis&Knaus
(dalam Rumaini, 2006) menemukan
bahwa
hampir
70%
mahasiswa
melakukan prokrastinasi dalam makna
luas. Mahasiswa yang melakukan
prokrastinasi akademik ditandai dengan
kelambanan, keterlambatan menghadiri
kuliah, terlambat dalam menyelesaikan
tugas hingga menunda belajar untuk
ujian, sehingga tidak mungkin membuat
waktu studinya lebih lama menundanunda mengganggu kedisplinan dalam
memenuhi dan menyelesaikan tugastugas akademik.
Fenomena
prokrastinasi
akademik juga terjadi di Fakultas
Psikologi kuhusnya Stambuk 2012
Universitas Medan Area, dimana
terlihat mahasiswa banyak menundanunda mengerjakan tugas, seperti
berleha-leha mengerjakan tugas dari
dosen. Stambuk 2012 terlihat lebih
banyak
mementingkan
berkumpul
bercerita
dari
pada
berkumpul
mengerjakan
tugas.
Berdasarkan
observasi tampak sebagian mahasiswa
ada
yang
menunda-nunda
menyelesaikan tugas-tugas akademik
seperti membuat laporan, mencari
jurnal, serta tugas membuat makalah
yang untuk dipresentasikan, mereka
terlihat lebih banyak mengerjakan
kegiatan-kegiatan santai, sehingga tidak
dapat
mengatur
waktu
untuk
mengerjakan tugas-tugas dari kampus
sehingga mahasiswa tersebut sering
terlambat mengumpulkan tugas. Seperti
yang terlihat berdasarkan observasi, ada
yang berkelompok mengerjakan tugas
dengan semangat, sedangkan kelompok
lainnya terlihat hanya duduk-duduk
bercerita, dan sebagian dari mereka ada
yang sibuk dengan handphonenya
sendiri bahkan ada yang jalan-jalan
kluyuran kesana kesini, nongrong
dikantin dan kegiatan yang santai
lainnya yang padahal lebih penting
mengerjakan tugas dari pada kegiatan
yang tidak begitu penting, sehingga
mahasiswa terlambat mengumpulkan
tugas sesuai dengan waktu yang di
tentukan dan bahkan mahasiswa
meminta waktu lebih dari deadline yang
ditentukan dan lain sebagainya. Banyak
juga mahasiswa menunda belajar untuk
menghadapi tes kecil atau ujian, bahkan
tidak jarang dari mahasiswa tersebut
yang baru sibuk melengkapi catatan
dengan cara memfotokopi catatan
teman yang lengkap bahkan sepekan
bahkan sehari sebelum ujian. Hal ini
terjadi karena kurangnya motivasi dari
dalam diri mahasiswa tersebut tidak
adanya dorongan yang kuat dari dalam
diri
mahasiswa
untuk
segera
menyelesaikan tugas tugas akademik
dengan baik.
Ada banyak faktor yang memicu
mahasiswa
melakukan
penundaan
terhadap tugas akademiknya, salah satu
diantaranya seperti yang di ungkapkan
* Dosen Fakultas Psikologi Universitas Medan Area
2
oleh Ferrari dkk, (dalam, Ika. C. 2007)
yaitu faktor internal meliputi faktor fisik
seperti kelelahan dan faktor psikologis
seperti tipe kepribadian dan motivasi.
Mengenai
motivasi
berpreastasi,
McClelland (dalam Rumiani, 2006)
mengartikan sebaga imotif yang
mendorong individu untuk meraih
sukses dan bertujuan untuk meraih hasil
dengan standar tertentu. Sedangkan
Keith dkk (dalam Winkel, 1996)
mendefiniskan motivasi berprestasi
sebagai dorongan yang dimiliki oleh
seseorang untuk mengatasi hambatan
dalam mencapai tujuan, sehingga
individu yang memiliki motivasi
berprestasi tinggi menunjukkan usaha
yang lebih besar dan ulet. Dalam arti
kata
lain,
motivasi
berprestasi
merupakan dorongan individu untuk
meraih sukses.
Adapun
ciri-ciri
motivasi
berprestasi menurut McClelland (dalam,
Rumaini 2006) adalah pemilihan tingkat
kesulitan
tugas,
ketaatan
atau
ketekunan, harapan terhadap umpan
balik, memilki tanggung jawab pribadi
terhadap kenerjanya dan kemampuan
dalam melakukan inovasi. Seseorang
juga dapat kehilangan motivasi dalamm
elakukan aktivitasnya sehari-hari karena
banyaknya stressor yang diterima.
Kondisi ini rentan untuk membuat
mahasiswa melakukan prokrastinasi
akademik. Menurut Heckhausen, orang
yang memiliki motivasi berprestasi
tinggi tidak suka membuang waktu
dengan cara mengalihkan pelaksanaan
tugas dengan hal-hal yang tidak berguna
(dalam Hidayat, 1995). Prokrastinator
akan mudah tergoda untuk mengalihkan
pembuatan tugas yang rumit dengan
aktifitas yang menyenangkan akan
tetapi tidak berguna.
B. TINJAUAN PUSTAKA
1. Pengertian Mahasiswa
Pengertian Mahasiswa menurut
etimologi atau asal-usul katanya,
mahasiswa berasal dari dua suku kata
yaitu, kata “Maha” dan “Siswa”. Kata
“maha” berarti besar, paling, ter, sangat
sedangkan siswa berasal dari kata
“Murid” dari kata “Iradatan” yaitu
orang yang mencari pengetahuan di
tingkat sekolah dasar, menengah. Jadi
mahasiswa ialah seseorang yang lebih
tinggi, baik tingkat tempat dimana dia
belajar (SD, SMP, SMA) maupun
tingkat intelektualnya. Pengertian
Mahasiswa Menurut Para Ahli di
Indonesia banyak sekali perguruan
tinggi,
sehingga
banyak
sekali
mahasiswa yang kebanyakannya adalah
seorang yang membawa perubahan,
banyak juga yang bilang kalau
mahasiswa adalah penerus bangsa, dan
cerminan bangsa dmasa depan,
berbicara
mengenai
mahasiswa
sebenarnya
apa
pengertian
dari
mahasiswa itu. Terdapat banyak
referensi tentang arti dari istilah
mahasiswa itu sendiri, baik dari segi
hukum, para doctor, maupun pandangan
dari masyarakat umum, mereka punya
arti yang tersendiri jika berbicara
mengenai istilah mahasiswa. Pengertian
Mahasiswa dalam peraturan pemerintah
RI No.30 tahun 1990 adalah peserta
didik yang terdaftar dan belajar di
perguruan tinggi tertentu. Selanjutnya
menurut Sarwono (2000) mahasiswa
adalah setiap orang yang secara resmi
terdaftar untuk mengikuti pelajaran di
perguruan
tinggi
dengan
batas
usiasekitar 18-30 tahun. Mahasiswa
merupakan suatu kelompok dalam
masyarakat yang memperoleh statusnya
karena perguruan tinggi mahasiswa juga
merupakan calon intelektual atau
cendikiawan muda dalam suatu lapisan
masyarakat yang sering kali syarat
dengan
berbagai
predikat
(http://id.shvoong.com/pengertian/maha
siswa).
2.
Pengertian
Prokrastinasi
Akademik
Istilah prokrastinasi berasal
dari bahasa Latin procrastination
* Dosen Fakultas Psikologi Universitas Medan Area
3
dengan awalan pro yang berarti
mendorong maju atau bergerak maju
dan akhiran crastinus yang berarti
keputusan hari esok atau jika
digabungkan menjadi menangguhkan
atau menunda sampai hari berikutnya
Ferrari dkk (dalam, Tjundjing 2006).
Pada abad lalu prokrastinasi bermakna
positif bila penunda sebagai upaya
konstruktif
untuk
menghindari
keputusan implusif dan tanpa pemikiran
yang matang, dan bermakna negatif bila
dilakukan Karena malas atau tanpa
tujuan yang pasti (Ghufron, 2010). Pada
kalangan ilmuwan istilah prokrastinasi
untuk menunjukkan pada suatu
kecenderungan
menunda-nunda
penyelesaian suatu tugas atau pekerjaan,
pertama kali digunakan oleh Brown dan
Holzman (dalam Ghufron, 2010).
Seseorang
yang
mempunyai
kecenderungan untuk menunda, atau
tidak segera memulai suatu pekerjaan,
menghadapi pekerjaan atau tugas
disebut sebagai seseorang yang
melakukan prokrastinasi. Tidak peduli
apakah penundaan tersebut mempunyai
alasan atau tidak. Setiap penundaan
dalam menghadapi suatu tugas disebut
prokrastinasi.
Menurut Beck (dalam, Coralia,
2002) mengatakan bahwa prokrastinasi
akademik biasanya dilatarbelakangi
oleh keyakinan-keyakinan irasional
yang berasal dari perasaan tidak mampu
atau perasaan tidak disayang. Adanya
keyakinan irasional pada prokrastinator,
dimanifestasikan dalam bentukasumsiasumsi, sikap dan aturan-aturan yang
irasional pula.
Menurut Ferrari dkk (dalam
Rumaini, 2006) prokrastinasi akademik
adalah kecenderungan perilaku dalam
menunda pelaksanaan atau penyelesaian
tugas pada 6 area akademik (tugas
mengarang, belajar untuk ujian,
membaca,
kinerja
administratif,
menghadiri pertemuan dan kinerja
akademik secara umum) yang dilakukan
secara terus menerus baik itu penundaan
jangka pendek, penundaan beberapa
saat menjelang deadline ataupun
penundaan
jangka
panjang
hinggamelebihi
deadline
sehingga
mengganggu kinerja dalam rentang
waktu
terbatasdengan
mengganti
aktivitas yang tidak begitu penting.
Sedangan menurut Elis & knaus (dalam
Mayasari dkk, 2010) prokrastinasi
merupakan
kecendrungan
untuk
menunda
dalam
memulai,
melaksanakan dan mengahiri suatu
aktivitas.
Menurut
Silver
(dalam
Mayasari dkk, 2010) seseorang yang
melakukan
prokrastinasi
tidak
bermaksud untuk menghindari atau
tidak mau tahu dengan tugas yang
dihadapi. Akan tetapi, mereka hanya
menunda-nunda untuk mengerjakannya,
sehingga
menyita
waktu
yang
dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas.
Penundaan
tersebut
menyebabkan
seseorang gagal menyelesaikan tugas
tepat waktu. Ellis dan Knaus (dalam
Ghufron, 2010) mengatakan bahwa
prokrastinasi
adalah
kebiasaan
penundaan yang tidak bertujuan dan
proses penghindaran tugas, yang
seharusnya hal itu tidak perlu dilakukan
seseorang karena adanya ketakutan
untuk gagal, serta adanya pandangan
bahwa segala sesuatu harus dilakukan
dengan benar, dan penundaan yang
telah menjadi respon tetap atau
kebiasaan dapat dipandang sebagai
suatu trait prokrastinasi. Prokrastinator
sebenarnya sadar bahwa dirinya
menghadapi tugas-tugas yang penting
dan bermanfaat bagi dirinya, akan tetapi
dengan sengaja menunda-nunda secara
berulang-ulang,
sehingga
muncul
perasaan tidak nyaman, cemas, dan
merasa bersalah dalam dirinya.
Suatu penundaan dikatakan
sebagai
prokrastinasi,
apabila
penundaan itu dilakukan pada tugas
yang penting, dilakukan berulang-ulang
secara sengaja dan menimbulkan
perasaan tidak nyaman, secara subyektif
* Dosen Fakultas Psikologi Universitas Medan Area
4
dirasakan oleh seseorang prokrastinator
(Solomon, 1984) sedangkan Millgram
(dalam Ghufron, 2010) mengatakan
bahwa prokrastinasi adalah suatu
perilaku spesifik, yang meliputi : (1)
suatu perilaku yang melibatkan unsur
penundaan, baik untuk memulai
maupun menyelesaikan suatu tugas atau
aktivitas, (2) menghasilkan akibatakibat lain yang lebih jauh, misalnya
keterlambatan menyelesaikan tugas
maupun kegagalan dalam mengerjakan
tugas, (3) melibatkan suatu tugas yang
dipersepsikan oleh pelaku prokrastinasi
sebagai suatu tugas yang penting untuk
dikerjakan, misalnya tugas kantor, tugas
sekolah, maupun tugas rumah tangga,
(4) menghasilkan keadaan emosional
yang tidak menyenangkan, misalnya
perasaan cemas, perasaan bersalah,
marah, panik, dan sebagainya. Ferrari
dkk, (dalam Mayasari dkk, 2010)
menyimpulkan
bahwa
pengertian
prokrastinasi dapat dipandang dari
berbagai batasan tertentu, yaitu: (1)
prokrastinasi hanya sebagai perilaku
penundaan,
yaitu
bahwa
setiap
perbuatan untuk menunda dalam
mengerjakan suatu tugas disebut
sebagai
prokrastinasi,
tanpa
mempermasalahkan tujuan serta alasan
penundaan
yang
dilakukan,
(2)
prokrastinasi sebagai suatu kebiasaan
atau pola perilaku yang dimiliki
individu, yang mengarah kepada trait,
penundaan yang dilakukan sudah
merupakan respon tetap yang selalu di
lakukan seorang dalam menghadapi
tugas, biasanya di sertai oleh adanya
keyakinan-keyakinan yang irrasional,
(3) prokrastinasi sebagai suatu trait
kepribadian, dalam pengertian ini
prokrastinasi tidak hanya sebuah prilaku
penundaan
saja,
akan
tetapi
prokrastinasi merupakan suatu trait
yang melibatkan komponen-komponen
prilaku maupun struktur mental lain
yang saling terkait yang dapat di
ketahui secara langsung maupun tidak
langsung.
Berdasarkan
beberapa
pendapat ahli, maka dapat disimpulkan
bahwa prokrastinasi akademis adalah
perilaku penundaan yang khusus terjadi
di dalam konteks tugas-tugas akademis
dimana
pelakunya
melakukan
penundaan, baik untuk memulai
maupun menyelesaikan suatu tugas atau
aktivitas, menghasilkan akibat-akibat
lain yang lebih jauh, melibatkan suatu
tugas yang dipersepsikan oleh pelaku
prokrastinasi sebagai suatu tugas yang
penting
untuk
dikerjakan,
dan
menghasilkan keadaan emosional yang
tidak menyenangkan.
3. Pengertian Motivasi Berprestasi
Menurut Mc.donald (dalam
Sardiman 2011) motivasi adalah
perubahan energi dalam diri seseorang
yang di tandai dengan munculnya
“feeling” dan di dahului dengan
tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari
pengertian yang di kemukakan Mc.
Donald ini mengandung tiga elemen
penting.
1. Bahwa motivasi itu mengawali
terjadinya perubahan energi
pada diri setiap individu
manusia.
2. Motivasi
ditandai
dengan
munculnya,rasa/”feeling”, afeksi
seseorang.
3. Motivasi akan di rangsang
karena adanya tujuan.
Motivasi dipandang sebagai
dorongan mental yang menggerakkan
dan mengarahkan prilaku manusia,
termasuk prilaku belajar. Dalam
motivasi terkandung adanya keinginan
yang mengaktifkan, menggerakkan,
menyalurkan, dan mengarahkan sikap
dan prilaku individu belajar (dalam
Dimyanti
&
Mudjijono,
2009).
Sedangkan
pengertian
motivasi
berprestasi menurut Gunarsa (dalam,
ninawati, 2002) mengungkap motivasi
berprestasi adalah kecenderungan untuk
mencapai sukses atau memperoleh apa
yang menjadi tujuan akhir yang
dikehendaki. Lebih lanjut McClelland
* Dosen Fakultas Psikologi Universitas Medan Area
5
(dalam Listiorini, 2012) mendefinisikan
motivasi berprestasi sebagai motivasi
yang mendorong seseorang untuk
mencapai keberhasilan dalam bersaing
dengan suatu ukuran keunggulan.
Menurut
Murray
(dalam
Listiorini, 2012) motivasi berprestasi
adalah
suatu
keinginan
atau
kecenderungan
untuk
mengatasi
hambatan, melatih kekuatan, dan untuk
berusaha melakukan sesuatu yang sulit
dengan baik dan secepat mungkin.
Sedangkan Keith dkk (dalam Winkel,
1996)
mendefiniskan
motivasi
berprestasi sebagai dorongan yang
dimiliki oleh seseorang untuk mengatasi
hambatan dalam mencapai tujuan,
sehingga individu yang memiliki
motivasi
berprestasi
tinggi
menunjukkan usaha yang lebih besar
dan ulet. Dalam arti kata lain, motivasi
berprestasi merupakan dorongan.
Dari uraian mengenai motivasi
berprestasi diatas dapat disimpukan
bahwa motivasi berprestasi adalah
berprestasi sebagai dorongan yang
dimiliki oleh seseorang untuk mengatasi
hambatan dalam mencapai tujuan,
sehingga individu yang memiliki
motivasi
berprestasi
tinggi
menunjukkan usaha yang lebih besar
dan ulet. Dalam arti kata lain, motivasi
berprestasi merupakan dorongan. Dan
berusaha melakukan sesuatu yang sulit
dengan baik dan secepat mungkin.
4. Hubungan Antara Motivasi
Berprestasi Dengan
Prokrastinasi Akademik
Munculnya
prokrastinasi
akademik dipengaruhi oleh faktor
eksternal dan internal. Termasuk dalam
faktor internal adalah rendahnya
motivasi
dan
tipe
kepribadian,
sedangkan faktor eksternal antara lain
lingkungan, tugas yang menumpuk
Wulan (dalam Rumaini, 2006). Lebih
lanjut Milgram (1996) menyatakan
melalui penelitian ini ditemukan
motivasi
berprestasi
terhadap
prokrastinasi akademik sebesar 30.7%,
artinya masih ada sekitar 69.3%faktor
lain yang tidak diikutsertakan dalam
penelitian ini.
Sedangkan (dalam Ika. C.
2007) menemukan adanya hubungan
negatif yang sangat segnifikan antara
motivasi
berprestasi
dengan
prokrastinasi akademik yang berarti
semakin tinggi motivasi berprestasi
yang dimiliki maka prokrastinasi
akademik akan semakin rendah
demikian juga sebaliknya. Adapun
motivasi
berprestasi
memberikan
pengaruh sebesar 25.2% terhadap
prokrastinasi
akademik.
Menurut
Ferrari (Ghufron, 2010) prokrastinasi
akademik memiliki faktor-faktor yang
mempengaruhi yaitu faktor motivasi.
Semakin tinggi motivasi yang di miliki
individu ketika menghadapi tugas, akan
semakin rendah kecenderungan untuk
melakukan prokrastinasi akademik.
Dinamika psikologi (dalam Rumaini,
2006) menurut Rizvi, dkk (1997)
mengemukakan bahwa faktor motivasi
internal yang rendah dapat mendorong
seseorang
untuk
melakukan
prokrastinasi akademik. Sebab, ketika
seseorang memiliki motivasi yang
rendah,
maka
ia
akan
malas
untukmemulai suatu pekerjaan sehingga
kinernjanya akan menurun.
Dari uraian diatas berdasarkan
beberapa hasil penelitian yang sudah
dilakukan dapat disimpulkan bahwa ada
terdapat hubungan antara motivasi
berprestasi
dengan
prokrastinasi
akademik.
Dimana
prokrastinasi
akademik memiliki faktor-faktor yang
mempengaruhi yaitu faktor motivasi.
Semakin tinggi motivasi yang di miliki
individu ketika menghadapi tugas, akan
semakin rendah kecenderungan untuk
melakukan prokrastinasi akademik.
C. METODE PENELITIAN
Populasi dalam penelitian ini
adalah mahasiswa Fakultas Psikologi
Universitas Medan Area tahun 2012
sebanyak 440 orang. Sampel yang
* Dosen Fakultas Psikologi Universitas Medan Area
6
digunakan dalam penelitian ini adalah
44 orang sampel. Untuk itu, sampel
yang digunakan representatif artinya
dapat mewakili populasi. Untuk
memperoleh sampel yang representatif,
maka diguakan teknik tertentu yang
menentukan sampel penelitian. Dalam
penelitian ini, menggunakan teknik
pengambilan sampel random sampling,
teknik random sampling ini digunakan
karena tiap-tiap individu dalam sampel
diberi kesempatan yang sama untuk
ditugaskan menjadi anggota, serta
sampel diambil dengan cara acak (Hadi,
2004).
D. PEMBAHASAN
Hasil
penelitian
ini
membuktikan
bahwa
tidak
ada
hubungan antara motivasi berprsetasi
dengan prokrastinasi akademik. Hasil
ini dibuktikan dengan koefisien
korelasirxy= 0,031 p= 0,844> 0,050
Artinya
motivasi
berperstasi
tidakmemiliki
hubungan
dengan
prokrastinasi akademik. Berdasarkan
hasil penelitian ini, maka hipotesis yang
telah diajukan dalam penelitian ini,
dinyatakan ditolak. Hasil penelitian ini
tidak sesuai dengan teori yang
dikemukakan oleh Ferrari dkk (dalam
Ghufron, 2010) bahwa prokrastinasi
akademik memiliki faktor yang
mempengaruhi yaitu faktor motivasi
dimana semakin tinggi motivasi yang
dimiliki individu ketika menghadapi
tugas,
akan
semakin
rendah
kecenderungan
untuk
melakukan
prokrastinasi akademik. Demikian juga,
hasil penelitian ini berbeda dengan
pendapat yang dikemukkan oleh Rizvi,
dkk (dalam Rumaini, 2006)
yang
mengemukakan bahwa faktor motivasi
internal yang rendah dapat mendorong
seseorang
untuk
melakukan
prokrastinasi akademik, sebab ketika
seseorang memiliki motivasi yang
rendah, maka ia akan malas untuk
memulai suatu pekerjaan.
Ditolaknya
hipotesis
mengartikan bahwa terdapat kelemahan
dalam penelitian yang dilakukan
kemungkinan kelemahan penelitian ini
dikarenakan adanya faktor-faktor lain
yang dapat mempengaruhi seorang
mahasiswa melakukan prokrastinasi dan
tidak dikontrol oleh peneliti. Faktorfaktor tersebut adalah mengacu pada
teori Ferrari (dalam, Ghufron 2010)
bahwa terdapat dua faktor utama yang
mempengaruhi prokrastinasi akademik,
yaitu faktor internal dan faktor
eksternal. Kedua faktor tersebut
berkesinambungan membentuk perilaku
menunda pada individu. Faktor internal
yaitu faktor-faktor yang terdapat dalam
diri individu yang meliputi kondisi
kodrati, terdiri dari jenis kelamin anak,
umur, dan urutan kelahiran kondisi fisik
individu, kondisi kesehatan individu,
dan kondisi psikologis individu seperti
trait
sifat
kepribadian
individu.
Besarnya motivasi yang dimiliki
seseorang juga akan mempengaruhi
prokrastinasi secara negatif. Kemudian
faktor eksternal yaitu faktor-faktor yang
terdapat diluar diri individu yang
meliputi
pola asuh orang tua,
lingkungan keluarga, masyarakat dan
sokolah.
Dalam penelitian ini peneliti
hanya menguji satu faktor, yang mana
faktor tersebut adalah berupa faktor
internal yaitu motivasi berprestasi tanpa
melakukan kontrol terhadap faktor
internal lainnya dan faktor eksternal
yang mungkin lebih dominan dalam
membentuk
hubungan
dengan
prokrastinasi
akademik.
Perilaku
prokrastinasi pada mahasiswa psikologi
sambuk 2012 terjadi karena berbagai
pengaruh, baik itu pengaruh internal
maupun eksternal Rachmana (dalam,
Arifyoega 2009) salah satu faktor
eksternal
yang
mempengaruhi
prokrastinasi adalah lingkungan, faktor
lingkungan adalah faktor yang paling
sering untuk menjadi alasan mereka
melakukan prokrastinasi. Pernyataan
* Dosen Fakultas Psikologi Universitas Medan Area
7
diatas sejalan dengan pengamatan
peneliti terhadap mahasiswa psikologi
stambuk 2012, dimana mahasiswa
terlihat menciptakan lingkungan dengan
membuat
kelompok,
mahasiswa
memilki kekompakan yang erat antara
kelompok satu dengan yang lainnya
selalu bersama-sama dalam melakukan
kegiatan baik itu kegiatan yang bersifat
akademik
maupun
non-akademik.
Karena kebiasaaan mereka yang selalu
bersama-sama sehingga apabila salah
satu dari anggota kelompok tersebut
melakukan penundaan penyelesaian
tugas akademik maka mahasiswa yang
lain akan ikut terpengaruh. Terlihat juga
mahasiswa fakultas psikologi 2012 ada
sebagian yang mengikuti kegiatankegiatan kampus diluar dari tugas
akademik seperti mengikuti organisasi
banyaknya kegiatan-kegiatan yang tidak
berguna yang dilakukan mahasiswa
membuat
mahasiswa
tersebut
mengkesampingkan tugas akademik
lebih memilih melakukan kegiatan lain
dari pada mengerjakan tugas sehingga
menunda untuk mengerjakan tugas
akademik.
Selanjutnya dalam penelitian
ini diketahui bahwa subjek penelitian
ini memilki motivasi berprestasi yang
cinderung sangat rendah hal ini terlihat
dari nilai rata-rata empirik 72.2727
yang lebih kecil daripada nilai rata-rata
hipotetiknya 100, hal ini terletak
diantara SD-3 dimana sangat rendahnya
motivasi berprestasi yang ditunjukkan
oleh mahasiswa disebabkan karena
lingkungan seperti pengaruh temanteman sekitar dan lingkungan tempat
proses
pembelajaran
berlangsung
dimana suasana belajar tersebut tidak
begitu
ketat
misalnya
masih
diizinkannya terlambat untuk tetap
mengikuti proses belajar sehingga
mahasiswa tidak khawatir akan
kegagalan,
serta pengaruh latar
belakang budaya dimana mahasiswa
psikologi stambuk 2012 berasal dari
suku yang berbeda-beda mungkin
mahasiswadibesarkan dalam budaya
yang
tidak
menekankan
pada
pentingnya keuletan, kerja keras, sikap
inisiatif serta suasana yang tidak selalu
mendorong individu untuk memcahkan
masalah secara mandiri sehingga
seseorang tidak dihantui perasaan takut
gagal. Kemudian untuk variabel
prokrastinasi, diketahui bahwa subjek
penelitian ini dinyatakan memilki
perilaku prokrastinasi yang tinggi sebab
nilai rata-rata empirik 70.7500 yang
lebih besar dari pada hipotetiknya 62.50
hal ini terletak diantara SD1 dan SD2
yang menunjukkan bahwa perilaku
prokrastinasi akademik mahasiswa
tergolong tinggi.
Dalam penelitian ini ada
terdapat kelemahan yang menyebabkan
penelitian ini tidak berjalan sempurna
sesuai dengan harapan peneliti seperti,
kemungkinan
subjek
memilih
pernyataan-pernyataan dalam skala
yang di ajukan peneliti dengan tidak
jujur, mengisi jawaban sambil bercerita
dengan teman sebelahnya dan subjek
mengisi dengan asal-asalan tidak
membaca
dengan
jelas
setiap
pernyataan dikarenakan ingin cepat
selesai dan mungkin subjek kurang
memahami makna dan tujuan skala
penelitian yang disuguhkan sehingga
subjek
kurang
koopratif
dalam
membantu pelaksanaan penelitian.
E. KESIMPULAN DAN SARAN
1. KESIMPULAN
a) Hasil penelitian ini membuktikan
bahwa tidak ada hubungan antara
motivasi
berprsetasi
dengan
prokrastinasi akademik. Hasil ini
dibuktikan
dengan
koefisien
korelasi rxy = 0,031 p= 0,844>
0,050 Artinya motivasi berperstasi
tidak memiliki hubungan dengan
prokrastinasi
akademik.
Berdasarkan hasil penelitian ini,
maka hipotesis yang telah diajukan
dalam penelitian ini, dinyatakan
ditolak.
* Dosen Fakultas Psikologi Universitas Medan Area
8
b) Prokrastinasi
akademik
tidak
memiliki hubungan yang besar
terhadap motivasi berprestasi pada
mahasiswa Fakultas Psikologi
Universitas Medan Area stambuk
2012. Hal ini berarti masih banyak
faktor-faktor
lain
yang
menyebabkan munculnya perilaku
prokrastinasi. Beberapa faktor lain
tersebut adalah faktor eksternal
pola asuh orang tua, lingkungan
keluarga, masyarakat dan sekolah.
Faktor internal lain faktor-faktor
yang terdapat dalam diri individu
yang meliputi
kondisi kodrati,
terdiri dari jenis kelamin anak,
umur, dan urutan kelahiran kondisi
kondisi fisik individu, kondisi
kesehatan individu, dan kondisi
psikologis individu seperti trait
sifat kepribadian individu.
c) Mahasiswa Fakultas Psikologi
stambuk 2012 Universitas Medan
Area memilki prilaku prokrastinasi
akademik yang cinderung tinggi hal
ini terlihat dari nilai rata-rata
empirik 70.7500 yang lebih besar
dari pada hipotetiknya 62.50.
Kemudian untuk variabel motivasi
berprestasi diketahui bahwa subjek
penelitian ini dinyatakan memilki
motivasi berprestasi yang sangat
rendah hal ini terlihat dari nilai
rata-rata empirik 72.2727 yang
lebih kecil daripada nilai rata-rata
hipotetiknya 100.
2.
a)
SARAN
Saran kepada subjek penelitian.
Bagi mahasiswa Universitas Medan
Area khususnya Fakultas Psikologi
stambuk 2012, Diharapkan para
mahasiswa
menyadari
dan
menghindari perilaku prokrastinasi
dalam bidang akademik agar tidak
memberikan dampak negatif yang
akhirnya memperburuk prestasi
akademik dan tetap semangat untuk
menjadi lebih baik serta berani
menghadapi setiap tantangan yang
ada dalam setiap tugas yang
dihadapi dengan penuh tanggung
jawab dan pada akhirnya tidak
melakukan prokrastinasi.
b) Saran kepada peneliti selanjutnya.
Bagi para peneliti selanjutnya yang
tertarik untuk meneliti mengenai
prokrastinasi akademik disarankan
untuk memperhatikan faktor-faktor
lain yang juga berpengaruh antara
lain adalah faktor eksternal pola
asuh orang tua, lingkungan
keluarga, masyarakat dan sekolah.
Faktor internal lain faktor-faktor
yang terdapat dalam diri individu
yang meliputi kondisi kodrati,
terdiri dari jenis kelamin anak,
umur, dan urutan kelahiran kondisi
fisik individu, kondisi kesehatan
individu, dan kondisi psikologis
individu
seperti
trait
sifat
kepribadian individu.
c) Saran kepada Fakultas Psikologi.
Pihak fakultas dapat memberikan
pembinaan dan pemantauan kepada
para mahasiswa untuk mencegah
dan meminimalkan terjadinya
prokrastinasi akademik yang dapat
menimbulkan
rusaknya
mutu
pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi.(2006). Prosedur
Penelitian Suatu Pendekatan
Praktik. Edisi Revisi VI.
Jakarta: RinekaCipta
Arif, P. (2007). Prokrastinasi Akademik
Pada Mahasiswa Fakultas
Arsitektur Dan Desien
Universitas Katolik
Soegijapranata Semarang
Ditinjau Dari Konformitas.
Skripsi (tidak diterbitkan).
Semarang. Universitas Katolik
Soegijapranata.
* Dosen Fakultas Psikologi Universitas Medan Area
9
Azwar, (2007). Penyusunan Skala
Psikologi. Yogyakarta :
PustakaPelajar.
Coralia, Yusuf. U, Yarnayuanti. N.
(2012). Profil Prilaku
Prokrastinasi Akademik
Berbasis Cognitive-Behavioral
Therapy (CBT) Pada
Mahasiswa. Jurnal Psikologi
Universitas Islam Bandung
Vol. 7, (1) 2012
Dimyati&Mudjiono, 2009. Belajar dan
Pembelajaran. Jakarta : Proyek
Ferrari,J. R., Johnson, J. L., &McCown,
W . G. (1995).Procrastination
And Task Avoidance: Theory,
Research, And Treatment. New
York: Plenum Press.
Ghufron, M. Nur&Rini R.S. (2010).
Teori–teori psikologi.
Jogjakarta: Ar-ruzz media.
Hadi, Sutrisno. (2004).
Statistik1.Yogyakarta : Andi
Offset
Hidayat, MN. 1995. Perbedaan Motif
Berprsetasi terhadap
Lingkungan pada Program
Pendidikan Kampung
Improvement dan Pendidikan
Kampung Nonimprovement.
Skripsi (tidak diterbitkan).
Yogyakarta: Fakultas
Psikologi Universitas Gadjah
Mada.
http://id.shvoong.com/socialsciences/education/2341135pengertian-mahasiswa-adalah/
(tanggalakses: 17 desember
2013).
http://repositiory. USU.ac.id (tanggal
akses: 13 november 2014)
Ika,C.(2007). Prokrastinasi Akademik
pada Mahasiswa Ditinjau dari
Kecemasan Terhadap Tugas
Akademik dan Motivasi
Berprestasi. Skripsi (tidak
diterbitkan). Semarang.
Universitas Katolik
Soegijapranata
Listiorini, W. (2012). Hubungan Antara
Persepsi Terhadap Peran
Ayah Dengan Motivasi
Berprestasi. Skripsi (tidak
diterbitkan). Medan.
Universitas Medan Area
Mayasari.D.M, Weni. M. D, Warni. E.
(2010). Hubungan Antara
Persepsi Mahasiswa
Terhadap Metode
Pengajaran Dosen dengan
Kecenderungan Prokrastinasi
Akademik. Jurnal Psikologi
Universitas Hang Tuah
Surabaya Vol. 12 No. 02,
Agustus 2010
McClleland, D.C. 1987. Human
Motivation. NewYork : The
Press Syndicate of The
University of Chambridge
Milgram, N. 1996. Typologi in
Procrastination .Joernal of
personality and Individual
Differences
Ninawati. (2002). Hubungan Motivasi
Prokrastinasi dengan
Prestasi Kerja Karyawan.
Jurnal. Vol. 5 No. 8
Desember 2002
Rachmahana, R.S. (2002). Prilaku
Prokrastinasi Akademik pada
Mahasiswa Psikodimensia
Kajian Ilmiah Psikologi. Vol.
2. No.3
* Dosen Fakultas Psikologi Universitas Medan Area
10
Rizki, S.A. (2009). Hubungan
Prorastinasi Akademik
dengan Kecenderungan
Akademis Pada Mahasiswa
[on-line]. Diakses pada
tanggal 16 februari 2014
dari http: //repositiory.
USU.ac.id/123456789/1454
0/1/09EO1143.pdf
Rizvi, A. Prawitasari, J.E. Soerjipto, H.
P. (1997). Pusat Kendalidan
Efikasi Diri sebagai
Predikator Prokrastinasi
Akademik Mahasiswa
Psikologika. No. 3 Tahun II
Rumaini. (2006). Prokrastinasi
Akademik Ditinjau Dari
Motivasi Berprestasi Dan
Stres Mahasiswa. Jurnal
Psikologi Universitas
Diponogoro Vol.3 No. 2,
Desember 2006
Sardiman, A.M. (2011). Interaksi dan
Motivasi Belajar Mengajar.
Jakarta : Rajagrafindo
Persada
Solomon, L.J&Rothblum,E.D.1984.
1989. Academic
Procrastination:
Frequencyand Cognitive
Behavior correlation. Journal
of Counseling Psychology,
vol 31,p 304-510.Taylor
Tjundjing, S. (2006) Apakah penundaan
menurunkan prestasi?
Sebuah meta-analisis.
Anima : Indonesian
Psychological Journal. Vol.
22 (1).
Winkel, W. S. (1996). Psikologi
pengajaran. Jakarta : PT.
Gramedia.
* Dosen Fakultas Psikologi Universitas Medan Area
11
Download