perlindungan hukum terhadap pembeli lelang dalam

advertisement
1
TESIS
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEMBELI
LELANG DALAM PROSES PELAKSANAAN LELANG
EKSEKUSI HAK TANGGUNGAN
NIRMALA SARI
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2015
2
TESIS
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEMBELI
LELANG DALAM PELAKSANAAN LELANG
EKSEKUSI HAK TANGGUNGAN
NIRMALA SARI
NIM. 1392461006
PROGRAM MAGISTER
PROGRAM STUDI KENOTARIATAN
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2015
i
3
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEMBELI
LELANG DALAM PELAKSANAAN LELANG
EKSEKUSI HAK TANGGUNGAN
Tesis ini dibuat sebagai salah satu syarat untuk memperoleh Gelar Magister
pada Program Studi Kenotariatan Pascasarjana Universitas Udayana
NIRMALA SARI
NIM. 1392461006
PROGRAM MAGISTER
PROGRAM STUDI KENOTARIATAN
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2015
ii
4
Lembar Pengesahan
TESIS INI TELAH DISETUJUI
PADA TANGGAL 17 APRIL 2015
KOMISI PEMBIMBING
Pembimbing I,
Pembimbing II,
Prof. Dr. I Wayan Parsa,SH.,MHum
NIP 19591231 198602 1 007
Dr. I Made Udiana,SH.,MH
NIP 19550925 198610 1 001
MENGETAHUI :
Ketua Program Magister Kenotariatan
Program Pascasarjana Universitas Udayana
Direktur Program Pascasarjana
Universitas Udayana
Dr. Desak Putu Dewi Kasih, SH., M.Hum
NIP. 196 40402 198911 2 001
Prof. Dr. dr. A.A. Raka Sudewi, Sp. S(K)
NIP. 19590215 198510 2 001
iii
5
Tesis Ini Telah Diuji
Pada Tanggal : 15 April 2015
Panitia Penguji Tesis
Berdasarkan Surat Keputusan Rektor Universitas Udayana
Nomor : 1119/UN14.4/HK/2015
Tanggal : 10 April 2015
Ketua
:
Anggota
:
Prof. Dr. I Wayan Parsa, SH., MHum
1. Dr. I Made Udiana, SH., MH
2. Dr. Ni Ketut Supasti Dharmawan, SH., MH., LLM
3. Dr. I Ketut Westra, SH., MH
4. Dr. I Made Sarjana, SH., MH
iv
6
PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT
Saya yang bertandatangan di bawah ini :
Nama
: NIRMALA SARI
NIM
: 1392461006
Program Studi
: Kenotariatan
Judul Tesis
: Perlindungan Hukum Terhadap Pembeli Lelang
Dalam Pelaksanaan Lelang Eksekusi Hak Tanggungan
Dengan ini menyatakan dengan sebenarnya bahwa karya ilmiah tesis ini bebas
dari plagiat. Apabila dikemudian hari karya ilmiah tesis ini terbukti plagiat, maka
saya bersedia menerima sanksi sesuai Peraturan Menteri Pendidikan Nasional
Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2010 dan Peraturan Perundang-undangan
yang berlaku.
Denpasar, 31 Januari 2015
Yang Membuat Pernyataan
(Nirmala Sari)
v
7
UCAPAN TERIMAKASIH
Puji syukur penulis panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena atas
berkat rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis yang berjudul
“Perlindungan Hukum Terhadap Pembeli Lelang Dalam Pelaksanaan Lelang
Eksekusi Hak Tanggungan”. Penulis berharap agar tesis ini dapat memberikan
informasi dan menambah khasanah pengetahuan dalam ranah hukum lelang
terkait dengan jabatan notaris sebagai pejabat lelang kelas II. Dalam penulisan
tesis ini, penulis menyadari masih terdapat kekurangan, untuk itu besar harapan
penulis semoga tesis ini memenuhi kriteria sebagai salah satu syarat untuk meraih
Gelar Magister Kenotariatan pada Program Pascasarjana Universitas Udayana.
Penulisan tesis ini tidak akan dapat terwujud tanpa bantuan serta dukungan
dari pembimbing dan berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini
penulis ingin mengucapkan terima kasi yang sebesar-besarnya kepada Prof. Dr. I
Wayan Parsa, SH.,MHum., selaku Pembimbing Pertama dan Dr. I Made Udiana,
SH.,MH. selaku Pembimbing Kedua yang telah memberikan dukungan, semangat,
saran srta dengan penuh kesabaran membimbing penulis selama menyelesaikan
tesis ini.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Prof. Dr. dr. Ketut
Suastika, Sp. PD-KEMD selaku Rektor Universitas Udayana beserta staff atas
kesempatan yang diberikan untuk mengikuti dan menyelesaikan studi pada
Program Pascasarjana Universitas Udayana. Ucapan terimakasih juga ditujukan
kepada Prof. Dr.dr. A.A. Raka Sudewi, Sp. S(K) selaku Direktur Program
Pascasarjana Universitas Udayana atas kesempatan yang diberikan kepada penulis
vi
8
untuk menjadi mahasiswa program Magister pada Program Pascasarjana
Universitas Udayana. Penulis juga mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya
kepada Prof. Dr. I Gusti Ngurah Wairocana, SH., MH, selaku Dekan Fakultas
Hukum Universitas Udayana atas ijin yang diberikan kepada penulis untuk
mengikuti Program Magister dan kepada Dr. Desak Putu Dewi Kasih, SH.,Mhum,
selaku Ketua Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Udayana atas
segenap perhatian, bimbingan dan petunjuk yang selama ini diberikan.
Terima kasih juga penulis sampaikan kepada Bapak dan Ibu Dosen
pengajar di Program Studi Magister Kenotariatan Program Pascasarjana
Universitas Udayana atas segala ilmu yang telah diberikan kepada penulis selama
perkuliahan berlangsung. Ucapan terimakasih kepada Bapak dan Ibu seluruh staff
dan karyawan di Sekretariat Magister Kenotariatan Universitas Udayana yang
telah membantu penulis dalam proses administrasi selama perkuliahan
berlangsung dan selama proses penulisan tesis ini berlangsung.
Terimakasih juga penulis tujukan kepada orang tua tercinta Yanto
Aminoto dan Liliana Dewi dan juga adik-adik tercinta, Yusuf, Yunus, Yuwono,
dan Juwita yang senantiasa mendoakan, mendukung dan memberikan semangat
selama penulis menjalani masa perkuliahan dan selama proses tesis ini.
Terimakasih pula penulis ucapkan kepada Diana Prayogo, Felia Hertanto, Nico
Hendrata, dan seluruh anggota JIJI yang telah memberikan semangat, dukungan
dan bantuan hingga tesis ini dapat berlangsung.
Ucapan terimakasih juga penulis sampaikan kepada Samuel Cibro, SH.,
Junaedi Kariadi, SH., MH., Komang Trianna, SH., Ni Nyoman Tri Indrayanti,
vii
9
SH., Putu Elik Sulistyawati, SH., Anak Agung Istri Candra Pramita, SH., I Gusti
Ayu Aryastini, SP, SH., serta seluruh teman-teman angkatan VI Magister
Kenotariatan Universitas Udayana yang tidak bisa saya sebutkan satu-persatu dan
telah memberikan semangat dan dukungan dalam penulisan tesis ini serta semua
pihak yang telah mendukung proses pembuatan tesis ini.
Terimakasih juga penulis sampaikan kepada tim pelayan anak eagle kids,
connect group imam bonjol, Lemakers, dan seluruh keluarga besar Gereja Mawar
Sharon satelit the light Bali atas dukungan dan doa yang tidak kunjung habisnya
sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis tepat pada waktunya.
Penulis juga menyampaikan terimakasih terhadap seluruh staff Jaya Agung
Terang dan Jaya Agung Sentosa yang selalu memberikan dukungan dalam
menyelesaikan tesis ini.
Sebagai akhir kata penulis berharap semoga Tuhan Yang Maha Esa, Yesus
Kristus yang selalu memberikan kasih karunia dan berkatnya kepada kita semua
dan semoga tesis ini bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan
menambah kepustakaan di bidang kenotariatan serta berguna bagi masyarakat.
Denpasar, 31 Januari 2015
Penulis
viii
10
ABSTRAK
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEMBELI LELANG DALAM
PELAKSANAAN LELANG EKSEKUSI HAK TANGGUNGAN
Hak tanggungan merupakan perlindungan hukum bagi kreditor apabila
debitor tidak dapat melakukan kewajibannya untuk melunasi hutangnya kepada
kreditor. Pelunasan hutang kreditor dilakukan dengan cara penjualan objek
jaminan hak tanggungan melalui pelelangan umum. Permasalahan dalam
pelelangan terjadi ketika pemenang lelang tidak dapat menguasai objek lelang
yang dibelinya dikarenakan susahnya pengosongan dan adanya gugatan dari pihak
debitor ataupun pihak ketiga. Perlindungan hukum harus diberikan terhadap
pemenang lelang yang berarti adanya kepastian hukum hak pemenang lelang atas
obyek yang dibelinya melalui lelang. Proses lelang yang telah dilakukan akan
menimbulkan akibat hukum yaitu peralihan hak obyek lelang dari penjual kepada
pemenang lelang. Dalam peralihan hak obyek lelang ternyata menimbulkan suatu
permasalahan, seperti tidak dapat dikuasainya obyek lelang oleh pemenang lelang,
serta pembatalan lelang berdasar putusan. Adanya pembatalan lelang eksekusi hak
tanggungan oleh putusan pengadilan mengakibatkan pemenuhan hak preferen
yang diberikan oleh undang-undang kepada kreditur pemegang hak tanggungan
melalui lelang eksekusi menjadi tidak memiliki kepastian hukum. Penelitian ini
dilakukan untuk mengetahui bagaimana perlindungan hukum bagi pemenang
lelang eksekusi hak tanggungan atas penguasaan obyek lelang dan bagaimana
tanggung jawab pejabat lelang terhadap penjualan lelang hak tanggungan dan juga
upaya hukum apa saja yang dapat dilakukan oleh pembeli lelang beritikad baik
atas pembatalan eksekusi lelang oleh putusan pengadilan. Penelitian ini dilakukan
dengan metode yuridis normatif. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa
hukum positif Indonesia yang mengatur tentang lelang yaitu Vendu Reglement,
HIR, serta PMK Nomor 106/PMK.06/2013 Tentang Perubahan Atas PMK Nomor
93/PMK.06/2010 dan PMK Nomor 93/PMK.06/2010 Tentang Petunjuk
Pelaksanaan Lelang. Adanya pembatalan lelang eksekusi hak tanggungan oleh
putusan pengadilan mengakibatkan pemenuhan hak preferen yang diberikan oleh
undang-undang kepada kreditur pemegang hak tanggungan melalui lelang
eksekusi menjadi tidak memiliki kepastian hukum.
Kata Kunci : Perlindungan hukum, Lelang Pemenang lelang, Eksekusi hak
tanggungan.
ix
11
ABSTRACT
LEGAL PROTECTION FOR THE AUCTION WINNER EXECUTION IN THE
AUCTION EXECUTION OF THE MASTERY OBJECT AUCTION
Dependent rights is a legal protection for creditors if the debtor cannot
perform their responsibility to pay off the debt to the creditor. Debt repayment of
creditors can make sales collateral dependent rights objects through public
auction. The problems in the auction occurs when the auction winner can’t master
the auction object bought due to the discharge of his difficult and the existence of
a lawsuit from the debtor or a third party. Legal protection against the winner of
the auction means legal certainty rights the auction winner of the object bought
by auction. In the auction process that has been done will lead to legal
consequences which the object right transfer from the seller to the auction the
winning bidder. In fact the process of transition right auction object cause a
problems, for example an object can’t be mastered by the auction winner, as well
as the cancellation of the auction based on the decision of the District Court.
Cancellation of the auction execution by the court ruling cause the
implementation of the preferen rights that giving by the law to the creditor
mortgage holders through the auction execution be not have legal certainty. This
research was conducted to determine how the legal protection for the auction
winner execution of the mastery object auction and to find how the responsibility
of the auction officials to auction sales rights and legal protection for dependants
auction winner and what kind of remedy for the auction winner who has a good
faith because a cancellation of the auction execution by the court. This research
was conducted by the method of juridicial normative. The result of this research
concluded that Indonesian positive law which are Vendu Reglement, HIR, and the
PMK 106/PMK.06/2013 about the changes of the PMK 93/PMK.06/2010 and the
PMK 93/PMK.06/2010 about the instruction of auction not yet give legal
protection against the winner of the auction is. While the auction treatise doesn’t
provide legal protection to the auction winner. Cancellation of the auction
execution by the court ruling cause the implementation of the preferen rights that
giving by the law to the creditor mortgage holders through the auction execution
be not have legal certainty.
Keywords : Legal protection, Auction winner, Execution of mortgage.
x
12
RINGKASAN
Tesis ini menganalisis mengenai perlindungan hukum pembeli lelang
dalam pelaksanaan lelang eksekusi hak tanggungan. Adapun dalam tesis ini terdiri
dari enam bab yang dapat diuraikan sebagai berikut.
Bab I merupakan bab pendahuluan yang menguraikan latar belakang
mengenai permasalahan yang dihadapi berkaitan dengan judul yang dipilih, yaitu
Perlindungan Hukum Terhadap Pembeli Lelang Dalam Proses Pelaksanaan
Lelang Eksekusi Hak Tanggungan. Berawal dari perjanjian kredit yang
menimbulkan adanya jaminan yang dibebani hak tanggungan bertujuan agar
apabila debitor tidak dapat memenuhi kewajibannya maka kreditor dapat
mendapatkan pelunasannya dari hasil penjualan jaminan yang dibebani hak
tanggungan tersebut. Pada penulisan tesis ini membahas tentang perlindungan
hukum pembeli lelang dalam pelaksanaan lelang eksekusi hak tanggungan.
Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut maka pada sub bab ini
diuraikan mengenai rumusan masalah, tujuan dan manfaat penulisan, landasan
teoritis serta metode penelitian yang digunakan.
Bab II merupakan tinjauan pustaka yaitu bab yang tersusun atas teori
umum yang merupakan dasar-dasar pemikiran, yang digunakan dalam menjawab
permasalahan terdiri dari dua sub bahasan. Pada sub bahasan pertama membahas
tentang tinjauan umum lelang yang terdiri dari pengertian dan dasar hukum
lelang, fungsi dan asas lelang, pejabat lelang, jenis-jenis lelang, dan akta risalah
lelang sebagai akta otentik, Pada sub bahasan kedua membahas tentang tinjauan
umum hak tanggungan yang terdiri dari pengertian hak tanggungan, subjek dan
objek hak tanggungan, asas-asas hak tanggungan, pemberian hak tanggungan, dan
lahir dan berakhirnya hak tanggungan. Teori-teori umum ini merupakan kumpulan
pendapat para ahli di bidang hukum lelang atau merupakan bahan dari hasil
penelitian sebelumnya.
Bab III merupakan hasil penelitian dan pembahasan terhadap rumusan
masalah pertama umum yang terdiri dari tiga sub bahasan. Pada sub bahasan
pertama membahas mengenai hak tanggungan sebagai jaminan kredit pada bank.
Pada sub bahasan kedua membahas mengenai kekuatan eksekutorial hak
tanggungan. Pada sub bahasan ketiga membahas tentang perlindungan hukum
pembeli lelang eksekutorial hak tanggungan yang dibatalkan oleh pengadilan.
Bab IV merupakan hasil penelitian dan pembahasan terhadap rumusan
masalah kedua yang terdiri dari tiga sub bahasan. Pada sub bahasan pertama
membahas tentang pembatalan eksekusi lelang melalui pengadilan. Pada sub
bahasan kedua membahas tentang akibat hukum pembatalan eksekusi lelang. Pada
sub bahasan ketiga membahas tentang upaya hukum yang dapat dilakukan oleh
pihak-pihak yang merasa dirugikan atas pembatalan eksekusi lelang.
Bab V sebagai bab penutup menguraikan mengenai simpulan dan saran
yang didapatkan dari hasil uraian analisis yang dilakukan pada bab-bab
sebelumnya. Adapun simpulan yang didapatkan dari pembahasan tersebut terdiri
dari dua yaitu: pertama bahwa peraturan pelaksanaan lelang yang ada selama ini
tidak memberikan perlindungan hukum secara preventif kepada pemenang lelang
artinya bahwa Vendu Reglement yang menjadi dasar hukum utama lelang di
xi
13
Indonesia, dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 106/PMK.06/2013 tentang
Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 93/PMK.06/2010 tentang
Petunjuk Pelaksanaan Lelang belum ditemukan adanya perlindungan hukum
kepada pemenang lelang eksekusi hak tanggungan. Risalah lelang tidak
memberikan perlindungan hukum kepada pemenang lelang atas penguasaan objek
lelang. Perlindungan hukum secara represif diberikan oleh HIR dalam hal
pengosongan objek lelang dapat meminta bantuan Pengadilan Negeri dan apabila
terjadi bantahan pemenang lelang dapat mengajukan upaya hukum berupa
banding dan kasasi. Kedua, Lelang merupakan bentuk jual beli yang masih
terbuka terhadap bantahan/keberatan/gugatan dari pihak ketiga. Jika terjadi
bantahan akibat gugatan yang diajukan oleh pihak ketiga yang pada akhirnya
gugatan tersebut masuk ke pengadilan dan putusan pengadilan memenangkan
gugatan pihak ke tiga tersebut, maka pemenang lelang dapat mengajukan upaya
hukum ke pengadilan tinggi untuk menyelesaikan persoalan yaitu melalui
Banding dan melalui Mahkamah Agung untuk Kasasi. Hal ini dikarenakan
penjualan melalui lelang termasuk dalam penjualan perdata dan upaya hukum
yang dapat dilakukan adalah upaya hukum dalam ruang lingkup hukum acara
perdata. Adapun saran dalam penelitian ini ada tiga yaitu: pertama, Guna untuk
mewujudkan perlindungan hukum terutama bagi pembeli lelang, maka diperlukan
adanya pembaharuan peraturan lelang oleh pemerintah yaitu dengan cara
melakukan perombakan terhadap norma-norma dalam Vendu Reglement karena
norma-norma didalamnya sudah tidak relevan lagi dalam perkembangan hukum
yang pesat saat ini, juga peraturan teknis pelaksanaan lelang agar tidak
menimbulkan celah hukum yang merugikan bagi pihak debitur, kreditur,
pemenang lelang, serta pihak-pihak lain yang berkepentingan. Untuk menunjang
perlindungan hukum secara preventif yang masih belum ada maka pejabat lelang
dan pembeli lelang harus lebih cermat, teliti dan berhati-hati dalam proses
pelaksanaan lelang terutama dalam hal keabsahan dokumen-dokumen terkait
obyek lelang. Kedua, adanya upaya hukum yang dapat dilakukan oleh pihak-pihak
yang merasa dirugikan telah memberikan celah untuk adanya
bantahan/gugatan/keberatan meskipun risalah lelang seharusnya telah mempunyai
kekuatan hukum tetap namun dalam prakteknya pembeli lelang eksekusi hak
tanggungan dapat dibatalkan berdasarkan putusan pengadilan. Hal ini bertujuan
untuk memberikan kesempatan kepada pihak lain yang merasa dirugikan atas
penjualan lelang tersebut. Upaya hukum yang telah disediakan untuk kedua belah
pihak telah disediakan dan jelas, hal ini untuk menunjang tercapainya tujuan
hukum yaitu keadilan dan juga kepastian hukum tidak hanya pada sisi pembeli
lelang namun juga untuk sisi penjual lelang maupun pihak ketiga yang dirugikan.
xii
14
DAFTAR ISI
SAMPUL DALAM ............................................................................................ i
PRASYARAT GELAR ...................................................................................... ii
LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................... iii
PENETAPAN PANITIA PENGUJI .................................................................. iv
PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT.................................................................. v
UCAPAN TERIMA KASIH .............................................................................. vi
ABSTRAK ......................................................................................................... ix
ABSTRACT ......................................................................................................... x
RINGKASAN ..................................................................................................... xi
DAFTAR ISI ...................................................................................................... xiii
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah .............................................................. 1
1.2. Rumusan Masalah ....................................................................... 15
1.3. Tujuan Penelitian......................................................................... 15
1.3.1. Tujuan Umum.................................................................. 15
1.3.2. Tujuan Khusus ................................................................. 16
1.4. Manfaat Penelitian....................................................................... 16
1.4.1. Manfaat Teoritis............................................................... 16
xiii
15
1.4.2. Manfaat Praktis................................................................ 17
1.5. Landasan Teoritis ........................................................................ 17
1.5.1. Teori Perlindungan Hukum ............................................. 18
1.5.2. Teori Pertanggungjawaban .............................................. 21
1.5.3. Konsep Lelang ................................................................. 28
1.5.3.1 Pengertian Lelang .............................................. 28
1.5.3.2. Jenis Lelang ....................................................... 30
1.5.4. Asas Itikad Baik............................................................... 32
1.6. Metode Penelitian........................................................................ 36
1.6.1. Jenis Penelitian ................................................................ 36
1.6.2. Jenis Pendekatan.............................................................. 37
1.6.3. Sumber Bahan Hukum/Data ............................................ 39
1.6.4. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum............................... 41
1.6.5. Teknik Pengolahan dan Analisis Bahan Hukum ............. 41
1.7. Sistematika Penulisan.................................................................. 42
BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG LELANG DAN
HAK TANGGUNGAN ....................................................................... 44
2.1. Tinjauan Umum Tentang Lelang................................................. 44
2.1.1. Pengertian dan Dasar Hukum Lelang .............................. 44
2.1.2. Fungsi dan Asas Lelang................................................... 51
2.1.3. Pejabat Lelang ................................................................ 52
xiv
16
2.1.4. Jenis-Jenis Lelang............................................................ 54
2.1.5. Akta Risalah Lelang Sebagai Akta Otentik ..................... 57
2.2. Tinjauan Umum Tentang Hak Tanggungan .................................. 60
2.2.1. Pengertian Hak Tanggungan .............................................. 60
2.2.2. Subjek dan Objek Hak Tanggungan .................................. 63
2.2.3. Asas-Asas Hak Tanggungan ............................................. 64
2.2.4. Pemberian Hak Tanggungan .............................................. 72
2.2.5. Lahir dan Berakhirnya Hak Tanggungan........................... 77
BAB III PERLINDUNGAN HUKUM PEMBELI LELANG
EKSEKUSI ......................................................................................... 81
3.1. Hak Tanggungan Sebagai Jaminan Kredit Pada Bank ................ 81
3.2. Kekuatan Eksekutorial Hak Tanggungan .................................... 92
3.3. Perlindungan Hukum Pembeli Lelang Eksekutorial ................... 102
Hak Tanggungan Yang Dibatalkan Oleh Pengadilan..................
BAB IV UPAYA HUKUM TERHADAP PEMBATALAN
EKSEKUSI LELANG MELALUI PENGADILAN...................... 115
4.1. Pembatalan Eksekusi Lelang Melalui Pengadilan....................... 115
4.2. Akibat Hukum Pembatalan Eksekusi Lelang .............................. 127
4.3. Upaya Hukum Atas Pembatalan Eksekusi Lelang ...................... 136
BAB V. PENUTUP ......................................................................................... 148
5.1. Kesimpulan.................................................................................. 148
5.2. Saran-Saran.................................................................................. 149
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ viii
xv
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Masyarakat dalam usaha memenuhi kebutuhannya membutuhkan suatu
pendananaan dari bank, yaitu salah satunya dengan cara pengkreditan. Menurut
Muchdarsyah Sinungan, memberikan pengertian kredit sebagai suatu pemberian
prestasi oleh suatu pihak kepada pihak lain dan prestasi itu akan dikembalikan
lagi pada suatu masa tertentu yang akan datang disertai dengan suatu kontra
prestasi berupa bunga.1 Pengertian ini apabila dikaitkan dengan pengertian kredit
dari Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perubahan atas Undangundang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan (UU Perbankan) mempunyai
persamaan, dimana berdasarkan Pasal 1 angka 11 UU Perbankan, Kredit di
definisikan sebagai sebagai penyediaan uang atau tagihan yang dapat
dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjammeminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam
untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga”
Dalam pemberian kredit unsur esensialnya adalah kepercayaan yaitu dari
bank sebagai kreditur terhadap peminjam sebagai debitur dengan dilandasi adanya
1
1
Muchdarsyah Sinungan, 1984, Dasar-dasar dan Teknik Management
Kredit, PT Bina Aksara, Jakarta, Cet. II, hal. 12.
2
kesepakatan pinjam meminjam. Pemberian kredit merupakan suatu perjanjian
utang piutang antara bank dengan debitur yang ditekankan kepada kesepakatan
para pihak yaitu berdasar pada kebebasan dalam membuat perikatan yang diatur
dalam Pasal 1329 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (selanjutnya disebut
KUHPerdata) yang menyatakan bahwa: “Tiap orang berwenang untuk membuat
perikatan, kecuali jika ia dinyatakan tidak cakap untuk hal itu.” Selain itu adapula
Pasal 1338 KUHPerdata sistem pengaturan perjanjian yang menyebutkan “Semua
perjanjian yang dibuat sesuai dengan Undang-Undang berlaku sebagai UndangUndang bagi mereka yang membuatnya.” Pasal 1337 KUHPerdata menyatakan
bahwa asas kebebasan berkontrak merupakan suatu asas dalam hukum perjanjian
pada umumnya yang intinya memperbolehkan para pihak untuk secara bebas
menuangkan kehendaknya, kemudian disusun dalam perjanjian yang mengikat
para pihak yang menandatangani perjanjian asal saja tidak bertentangan dengan
undang-undang, kesusilaan baik, atau ketertiban umum.
Pada perjanjian kredit terdapat dua perjanjian yaitu perjanjian pokok dan
perjanjian tambahan (accesoir). Perjanjian pokoknya merupakan perjanjian kredit
yang dibuat bank bersama debitur dalam rangka kegiatan usaha pemberian kredit
perbankan,
dan
perjanjian
accesoirnya
merupakan
perjanjian
hak
tanggungan.Dibuatnya suatu perjanjian kredit antara bank dengan debitur
bertujuan agar memberikan kepastian atas pengembalian pinjaman. Perjanjian
pinjam meminjam antara bank dengan peminjam diikat dengan hak jaminan.
Perjanjian jaminan yang dibuat antara kreditur dengan debitur membuat suatu
janji dengan mengikatkan benda tertentu atau kesanggupan pihak debitur, dengan
3
tujuan memberikan keamanan dan kepastian hukum pengembalian kredit atau
pelaksanaan perjanjian pokok jaminan. Dalam perjanjian kredit menghendaki
adanya jaminan atau anggunan yang dapat digunakan sebagai pengganti
pelunasan hutang bilamana dikemudian hari apabila debitur cidera janji atau
wanprestasi.
Apabila debitur cidera janji dengan tidak melakukan pelunasan setelah
melewati proses somasi atas perjanjian utang-piutang dalam hak tanggungan,
maka sertifikat hak tanggungan memiliki kekuatan eksekutorial, diperjanjikan
atau tidak diperjanjikan dalam akta pembebanan hak tanggungan. Karena
sertifikat hak tanggungan tersebut pada dasarnya merupakan suatu grose akta
yang berirah-irah “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.”
Maka eksekusi hak tanggungan berdasarkan Pasal 20 ayat (1) huruf b UndangUndang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan dapat dilakukan dengan
cara pelelangan dimuka umum.
Berdasarkan ketentuan Pasal 6 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996
tentang Hak Tanggungan yaitu: “Apabila debitur cidera janji, pemegang Hak
Tanggungan pertama mempunyai hak untuk menjual obyek Hak Tanggungan atas
kekuasaan sendiri melalui pelelangan umum serta mengambil pelunasan
piutangnya dari hasil penjualan asset tersebut”, artinya adalah apabila debitur
cidera janji, pemegang Hak Tanggungan pertama mempunyai hak untuk menjual
objek Hak Tanggungan atas kekuasaan sendiri melalui pelelangan umum serta
mengambil pelunasan piutangnya dari hasil penjualan tersebut. Konsep ini dalam
KUHPerdata dikenal sebagai Parate Eksekusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal
4
1178 ayat (2) KUHPerdata. Dengan konsep parate eksekusi, pemegang Hak
Tanggungan tidak perlu meminta persetujuan terlebih dahulu kepada pemberi Hak
Tanggungan, dan tidak perlu juga meminta penetapan pengadilan setempat
apabila akan melakukan eksekusi atas Hak Tanggungan yang menjadi jaminan
utang debitur dalam hal debitur cidera janji.2 Pemegang Hak Tanggungan dapat
langsung datang dan meminta kepada Kepala Kantor Lelang untuk melakukan
pelelangan atas objek Hak Tanggungan yang bersangkutan.
3
Konsep ini
merupakan terobosan atas proses eksekusi yang ada sebelum lahirnya Undangundang Hak Tanggungan, dimana eksekusi atas grosse akta hipotik hanya dapat
dilakukan melalui eksekusi di Pengadilan Negeri yang memakan waktu yang lama
dan biaya eksekusi yang relatif lebih besar dibandingkan dengan Parate Eksekusi
Hak Tanggungan.4
Lelang adalah penjualan barang yang terbuka untuk umum dengan
penawaran harga secara tertulis dan/atau lisan yang semakin meningkat atau
menurun untuk mencapai harga tertinggi yang didahului dengan pengumuman
lelang. Keberadaan lembaga lelang di Indonesia yang diatur di dalam sistem
hukum dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat diantaranya
penyelesaian sengketa yang telah memperoleh putusan pengadilan. Penjualan
umum melalui lembaga lelang diatur di dalam Vendu Reglement (Peraturan
Lelang Stbl. 1908 Nomor 189) dan Vendu Instructie (Instruksi Lelang Stbl. 1908
2
Remy Sjahdeini, 1999, Hak Tanggungan, Asas-Asas, KetentuanKetentuan Pokok dan Masalah yang Dihadapi Oleh Perbankan, Alumni, Bandung,
hal. 46.
3
Ibid.
4
Ibid.
5
Nomor 190). Di dalam Vendu Reglement mengatur hal-hal yang sifatnya
mengkhusus namun tetap dikuasai oleh ketentuan-ketentuan dalam KUH Perdata
Pasal 1319 yang menyatakan bahwa, “Semua perjanjian baik yang mempunyai
nama khusus maupun yang tidak dikenal dengan suatu nama tertentu, tunduk pada
peraturan umum yang termuat dalam bab ini dan bab yang lalu.”
Lelang eksekusi menurut Penjelasan Pasal 41 Peraturan Menteri Negara
Agraria/ Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 tentang
Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang
Pendaftaran Tanah, 5 meliputi lelang Putusan Pengadilan, Hak Tanggungan, sita
pajak, sita Kejaksaan atau Penyidik dan sita Panitia Urusan Piutang Negara.
Sedangkan lelang sukarela adalah lelang atas prakarsa sendiri pihak yang berhak
atas objek yang akan dilelang. Berbeda halnya dengan lelang eksekusi yang
peralihan haknya dilakukan oleh kreditur. Dalam lelang eksekusi, lembaga yang
berwenang melaksanakannya adalah Kantor Lelang Negara sedangkan untuk
lelang sukarela dapat dilaksanakan oleh Kantor Lelang Negara atau Balai Lelang
Swasta.
Dalam pelaksanaan lelang khususnya lelang eksekusi, potensi gugatan
sangat tinggi. Total gugatan yang masuk ke DJKN/KPKNL (berdasarkan Buletin
Media Kekayaan Negara Edisi No.14 Tahun IV/2013) adalah 2.458 dan 1.500
5
Penjelasan Pasal 41 ayat (4): “Lelang eksekusi meliputi lelang dalam
rangka pelaksanaan putusan pengadilan, hak tanggungan, sita pajak, sita
Kejaksaan/Penyidik dan sita Panitian Urusan Piutang Negara. Dalam pelelangan
eksekusi kadang-kadang tereksekusi menolak untuk menyerahkan sertifikat asli
hak yang akan dilelang. Hal ini tidak boleh menghalangi dilaksanakannya lelang.
Oleh karena itu lelang eksekusi tetap dapat dilaksanakan walaupun sertifikat asli
tanah tersebut tidak dapat diperoleh Pejabat lelang dari tereksekusi.”
6
lebih adalah gugatan dari lelang eksekusi Pasal 6 Hak Tanggungan. Hal ini
dikarenakan dalam lelang eksekusi, kebanyakan barang dilelang tanpa
kesukarelaan
dari
pemilik
barang dan
seringkali
banyak
pihak
yang
berkepentingan terhadap barang tersebut tidak menginginkan lelang, sehingga
dalam praktek terdapat para pihak yang merasakan kepentingannya terganggu
dengan adanya pelaksanaan lelang. Pihak-pihak yang merasa kepentingannya
terganggu berkaitan dengan lelang atas suatu objek lelang, biasanya akan
mengajukan gugatan di pengadilan, untuk memperjuangkan haknya yang terkait
dengan objek yang dilelang, sehingga terdapat banyak perkara baik perdata
maupun tata usaha negara berkaitan dengan lelang.
Peralihan hak melalui lelang dapat dibagi menjadi dua bentuk, yaitu
peralihan hak dengan beralih dan peralihan hak dengan cara dialihkan.6 Beralih
yang dimaksud artinya bahwa peralihan hak tersebut terjadi manakala pemegang
haknya meninggal dunia sehingga secara hukum ahli waris akan memperoleh hak
tersebut. Sedangkan peralihan hak karena dialihkan terjadi manakala perbuatan
hukum
dilakukan
secara
sengaja
agar
pihak
lain
memperoleh
hak
tersebut.Peralihan hak terhadap benda tak bergerak melalui lembaga lelang
dilakukan dengan jual beli secara resmi di hadapan pejabat lelang. Dalam
prakteknya benda tak bergerak seperti tanah yang sering mengalami permasalahan
dalam Peralihan haknya melalui lembaga lelang. Secara yuridis, yang dilelang
dalam hal ini adalah hak atas tanah.
6
Urip Santoso, 2010, Pendaftaran dan Peralihan Hak Atas Tanah,
Kencana, Jakarta, hal. 383.
7
Tujuan daripada lelang hak atas tanah adalah agar pembeli lelang dapat
secara sah menguasai dan menggunakan tanah. Sebagaimana diketahui bahwa
tanah merupakan benda yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Peraturan yang ada
terkait dengan lelang tersebut terkadang tidak mampu dalam menampung kasuskasus yang terjadi di masyarakat.Peralihan hak dengan pelelangan hanya dapat
didaftar jika dibuktikan dengan kutipan risalah lelang yang dibuat oleh Pejabat
Lelang baik dalam lelang eksekusi dan lelang sukarela.7
1. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 106/PMK.06/2013 tentang
Perubahan Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 93/PMK/06/2010
tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang, yang menyatakan bahwa:
“Lelang adalah penjualan barang yang terbuka untuk umum dengan
penawaran harga secara tertulis dan atau lisan yang semakin meningkat
atau menurun untuk mencapai harga tertinggi yang didahului dengan
pengumuman lelang.”
2. UU Nomor 19 Thn 2000 tentang Perubahan atas Undang-Undang
Nomor 19 Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa
Pasal 1 sub 17, menyatakan bahwa:
”Lelang adalah penjualan barang
di muka umum dengan cara penawaran harga secara lisan dan atau
tertulis melalui usaha pengumpulan calon pembeli atau peminat.”
Salah satu upaya untuk mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakat adalah
adanya pembangunan nasional berupa pembangunan ekonomi. Adapun upaya
7
Boedi Harsono, 2008, Hukum Agraria Indonesia Sejarah Pembentukan
Undang-Undang Pokok Agraria, Isi dan Pelaksanaannya, Jilid 1, Cet. XII,
Djambatan, Jakarta, hal. 516.
8
yang dilakukan masyarakat adalah melakukan usaha dengan dukungan dana dan
tersedianya dana dari bank dalam bentuk kredit. Dalam Pasal 1 angka 11 UndangUndang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1992 sebagaimana telah
diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan
menyatakan bahwa kredit merupakan penyediaan uang atau tagihan yang dapat
dipersamakan berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara
bank dan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya
setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga. Pemberian kredit
merupakan suatu perjanjian utang-piutang antara bank dengan debitur, yang
ditekankan kepada kesepakatan para pihak yang berdasarkan asas kebebasan
berkontrak namun dalam prakteknya pemberian kredit sering mengalami resiko
kemacetan kredit.
Adanya resiko kemacetan kredit maka untuk mengatasinya perlu adanya
perjanjian pinjam meminjam antara kreditur dengan debitur yang diikat dengan
jaminan. Tujuan dari pengikatan jaminan adalah untuk memberikan kepastian dan
keamanan atas pelaksanaan kredit tersebut jika terjadi wanprestasi yang
diakibatkan oleh debitur. Jika debitur melakukan wanprestasi atau cidera janji
maka kreditur dapat mengambil pelunasannya melalui pelelangan umum yang
berdasarkan irah-irah “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”
yang tercantum dalam sertifikat hak tanggungan.
Sertifikat hak tanggungan memiliki titel eksekutorial yang mempunyai
kekuatan hukum yang sama dengan putusan pengadilan. Pemerintah membentuk
suatu lembaga yaitu Kantor Pelayanan Piutang dan Lelang Negara (selanjutnya
9
disingkat KP2LN) sebagai sarana penjualan lelang. Sehingga lelang dapat menjadi
sarana penjualan yang efisien untuk memperoleh pelunasan bagi kreditur. Namun
dalam kenyataannya banyak kendala-kendala serta masalah yang timbul di dalam
pelaksanaanya diantaranya yaitu pemenang lelang yang beritikad baik tidak dapat
memperoleh dan menikmati atas barang yang telah dimenangkannya.
Secara normatif sebenarnya tidak ada peraturan perundang-undangan yang
mengatur tentang asas lelang, namun apabila dicermati dari klausula-klausula
dalam peraturan perundang-undangan di bidang lelang dapat ditemukan adanya
asas lelang, yaitu:
a. Asas Transparansi
Asas ini mengandung makna bahwa cara penjualan umum melalui lelang
dilakukan dimuka umum. Lelangnya pun harus diumumkan terlebih dahulu,
agar masyarakat mengetahui akan adanya lelang dan barang lelangnya cepat
terjual. Lelang harus dikontrol ini terbukti dengan adanya sistem lelang yang
sudah diatur dalam peraturan perundang-undangan untuk memberikan
perlindungan/kepastian kepada masyarakat/pembeli mengenai objek lelang
tersebut. Oleh karena itu setiap pelaksanaan lelang harus didahului dengan
pengumuman lelang. Asas ini juga untuk mencegah terjadinya praktek
persaingan usaha tidak sehat, dan tidak memberikan kesempatan adanya
praktek korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).
b. Asas Akuntabilitas
Maksud
akuntabilitas
adalah
lelang
dalam
pelaksanaannya
dapat
dipertanggungjawabkan. Hal ini dibuktikan dengan adanya akta yang bersifat
10
otentik yaitu Akta Risalah Lelang yang dibuat oleh Pejabat Lelang dan sistem
pelaksanaan lelang sudah diatur oleh Undang-Undang.
c. Asas Efisiensi
Menjamin pelaksanaan lelang dilakukan dengan cepat dan dengan biaya yang
relatif murah karena lelang dilakukan dalam tempat dan waktu yang telah
ditentukan dan pembeli disahkan saat itu juga. Pelaksanaan lelang tidak
membutuhkan waktu yang lama, tidak perlu mencari-cari pembeli dan tidak
perlu bernegosiasi seperti transaksi jual beli pada umumnya. Tidak hanya itu
saja, objek lelang pun sebelumnya telah diteliti baik fisik maupun aspek
juridisnya oleh pejabat lelang dan transaksi lelang dilakukan pada satu waktu
dan pada satu tempat yang telah ditentukan. Penjualannya pun tidak
diperkenankan melalui perantara dan pembayarannya bersifat tunai.
d. Asas Certainty (kepastian)
Kepastian lelang sudah diatur sebagaimana dalam Peraturan Menteri Keuangan
Pelaksanaan Lelang, yaitu Lelang di pimpin oleh Pejabat Lelang yang
diselenggarakan oleh Kantor Lelang Negara. Tempat, tanggal, waktu dan objek
lelang telah ditetapkan sebelumnya dan diumumkan kepada masyarakat.
Pelaksanaan lelang tidak mudah untuk ditunda atau dibatalkan kecuali melalui
putusan/penetapan pengadilan.
e. Asas Keadilan
Mengandung pengertian bahwa dalam proses pelaksanaan lelang harus dapat
memenuhi rasa keadilan secara proporsional bagi setiap pihak yang
berkepentingan. Asas ini untuk mencegah terjadinya keberpihakan pejabat
11
lelang kepada peserta lelang tertentu atau berpihak hanya kepada kepentingan
penjual. Khusus pada pelaksanaan lelang eksekusi, penjual lelang tidak dapat
menentukan harga limit secara sewenang-wenang yang berakibat merugikan
pihak tereksekusi.
Berdasarkan asas-asas lelang yang diuraikan diatas, menimbulkan
beberapa kebaikan lelang. Menurut Peraturan Menteri Keuangan Republik
Indonesia Nomor 106/PMK.06/2013 Perubahan Atas Peraturan
Menteri
Keuangan 93/PMK.06/2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan, kebaikan lelang antara
lain adalah aman, cepat, dan mewujudkan harga yang wajar, selain itu kebaikan
lelang yaitu dapat memberikan kepastian hukum bagi pelaksanaan lelang.
Adapula
Putusan
Perkara
Pengadilan
Negeri
Malang
Nomor:
133/Pdt.G/2000/PN.Mlg tanggal 27 Pebruari 2001 jo. Pengadilan Tinggi Surabaya
Nomor: 934/Pdt/2001/PT.Sby tanggal 25 April 2002 sebagai contoh kasus nyata
putusan pengadilan yang merugikan pembeli lelang. Perkara ini antara Paulus
Suryatika sebagai Penggugat lawan PT. Bank Bumi Daya (Persero) sekarang
menjadi PT. Bank Mandiri Tergugat I: Yusuf Ismail sebagai Tergugat II;
Wellyansah (d/h Thio kok Soey) sebagai Tergugat III; Departemen Keuangan Cq
BUPLN Cq KP3N sebagai Tergugat IV; Yusuf Barasyid sebagai Tergugat V;
Kepala Wilayah Kecamatan Purwodadi (Camat) Tergugat VI; Kepala Desa Sentul
Kecamatan Purwodadi Kabupaten Pasuruan sebagai Tergugat VII.
Adapun posita gugatan antara lain: bahwa Penggugat adalah pemilik yang
sah atas sebidang tanah/bangunan SHM Nomor: 5 seluas 1486 m2 yang
disewakan pada Tergugat III, selanjutnya karena Tergugat III ingkar janji dalam
12
perjanjian sewa menyewa tersebut, maka penggugat telah mengajukan gugatan
terdaftar
dalam
register
Perkara
Pengadilan
Negeri
Malang
Nomor:
198/PDT/G/1986/PN.Malang Jo Perkara Nomor 783/PDT/1987/PT.Surabaya, Jo.
Perkara Nomor: 2438 K/PDT/1988, perkara mana telah mempunyai kekuatan
hukum yang pasti, dan isi putusan pengadilan tersebut telah pula dilaksanakan
eksekusi melalui perantaraan Pengadilan Negeri Bangil sesuai Berita Acara
Pengosongan. Perkara tersebut diakhiri dengan putusan pengadilan yang
memenangkan Penggugat.
Putusan pengadilan tingkat I, lelang dinyatakan sebagai perbuatan
melawan hukum sehingga, risalah lelang batal demi hukum implikasi putusan,
barang kembali pada posisi semula yaitu dalam kepemilikan pihak ketiga yang
mengaku pemilik. Hak pembeli lelang atas objek lelang akan menjadi berakhir.
Hakim tidak mempertimbangkan kepentingan pembeli, tidak mempertimbangkan
kepentingan pembeli lelang yang beritikat baik yang sama sekali tidak mengetahui
cacat yuridis objek lelang yang dibelinya. Bank kreditur tidak berhak atas
pelunasan dari eksekusi lelang, sebaliknya pembeli lelang tidak jelas hak-hak atas
uang harga lelang yang telah dibayarkannya.
Salah satu asas lelang adalah efisiensi yang artinya pelaksanaan lelang
dilakukan dengan cepat, namun pengertian tersebut tidaklah ada di dalam
peraturan perundang-undangan sehingga menimbulkan adanya norma kosong.
Adanya norma kosong mengakibatkan pelaksaan lelang tidak memberikan
kepastian bagi pembeli lelang, sehingga pembeli lelang seringkali mengalami
kerugian baik waktu, tenaga, dan biaya. Faktanya perlindungan hukum bagi
13
pembeli lelang eksekusi hak tanggungan yang dibatalkan oleh pengadilan maupun
asas
efesiensi
tidak
106/PMK.06/2013
diatur
secara
Perubahan
Atas
normatif
Peraturan
dalam
peraturan
Menteri
lelang
Keuangan
93/PMK.06/2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang sehingga menyebabkan
adanya kekosongan hukum, maka diangkatlah permasalahan ini ke dalam suatu
karya tulis dengan judul: “PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEMBELI
LELANG DALAM PROSES PELAKSANAAN LELANG EKSEKUSI HAK
TANGGUNGAN” dan adapula rumusan masalah yang harus dijawab melalui
penelitian ini yaitu bagaimanakah perlindungan hukum bagi pembeli lelang
eksekusi hak tanggungan yang dibatalkan oleh pegadilan dan juga bagaimanakah
penerapan asas efisiensi dalam peraturan lelang berkaitan dengan perlindungan
hukum terhadap pembeli lelang atas dasar itikad baik dalam proses pelaksanaan
lelang eksekusi hak tanggungan.
Berdasarkan hasil penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya yang
menyangkut masalah “Perlindungan hukum bagi pembeli lelang yang dirugikan
atas putusan pengadilan”, tidak ditemukan tesis maupun karya tulis lainnya
dengan judul dan rumusan masalah yang sama. Namun dapat dibandingkan
dengan tiga (3) penelitian yang menyangkut permasalahan tentang perlindungan
hukum bagi pembeli lelang, yaitu:
a. Penelitian yang dilakukan oleh Elizabeth Karina Leonita, SH, NIM
0806426805, pada tahun 2010 dari Program Pascasarjana Universitas
Indonesia Depok, dengan judul “Perlindungan Hukum Bagi Pembeli
Barang Jaminan Melalui Lelang Ditinjau Dari Kitab Undang-Undang
14
Hukum Perdata dan Undang-Undang Lelang (Studi Kasus Lelang Gedung
Aspac
oleh
Badan
Penyehatan
Perbankan
Nasional)”,
dengan
menggunakan metode penelitian Empiris, dengan rumusan masalah
pertama “Apakah BPPN berwenang melakukan pelelangan barang
jaminan secara langsung tanpa melalui Kantor Lelang, mengingat Menteri
Keuangan secara akademik, melaksanakan Vendu Reglement sebagai dasar
pelaksanaan lelang?” kedua “Bagaimana perlindungan hukum yang
diberikan oleh Negara (BPPN) kepada PT. Bumijawa Sentosa sebagai
pembeli objek lelang yang beritikad baik ditinjau dari segi hukum Perdata
dan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1999 Tentang Badan
Penyehatan Perbankan Nasional (“PP No. 17 Tahun 1999”)?”
b. Penelitian yang dilakukan oleh Mona Octaviani Bambang, SH, NIM
B4B.004.145, pada tahun 2006 dari Program Pascasarjana Magister
Kenotariatan Universitas Diponegoro Semarang, dengan judul “Tanggung
Jawab Pejabat Lelang Atas Keabsahan Dokumen Lelang Dalam Proses
Pelelangan” menggunakan metode penelitian empiris, dengan rumusan
masalah pertama “Bagaimanakah tanggung jawab Pejabat lelang atas
keabsahan dokumen lelang?” kedua “Siapakah pihak yang bertanggung
gugat apabila dalam proses pelelangan merugikan pihak ketiga?”
c. Penelitian yang dilakukan oleh Melani Ananta, SH, NIM 0806478802,
pada tahun 2011 dari Program Pascasarjana Magister Kenotariatan
Universitas Indonesia Depok, dengan judul “Sistem Lelang Online
Melalui iPasar Kayu Jati Perum Perhutani Ditinjau Dari Asas Lelang Yang
15
Berlaku Di Indonesia” menggunakan metode penelitian empiris, dengan
rumusan masalah pertama “Apakah ketentuan pelelangan kayu jati
Perhutani yang diwadahi oleh iPASAR tersebut sesuai dengan asas lelang
yang berlaku?” kedua “Bagaimanakah akibat hukum dari lelang oleh
iPASAR tanpa dihadiri Pejabat Lelang dan tanpa dibuatkan Risalah
Lelangnya?”
Dari penelusuran orisinalitasnya penelitian yang telah dilakukan, penulis tidak
menemukan adanya kesamaan dalam hal ini maupun substansi karya tulis yang
telah dimuat sebelumnya, oleh karena itu tingkat orisinalitas penelitian
dipertanggungjawabkan keasliannya.
1.2
Rumusan Masalah
Sehubungan dengan latar belakang permasalahan yang telah diuraikan,
adapun permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini dibatasi pada 2 (dua)
hal, yaitu:
1. Bagaimanakah perlindungan hukum bagi pembeli lelang eksekusi hak
tanggungan yang dibatalkan oleh pengadilan?
2. Bagaimanakah upaya hukum yang dapat dilakukan oleh pihak-pihak yang
dirugikan dalam pembatalan eksekusi lelang oleh pengadilan?
1.3
Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Adapun tujuan penulisan ini adalah mengembangkan kemampuan dan
dalam menyampaikan dan menuliskan pikiran dalam suatu karya ilmiah serta
16
lebih memahami mengenai aturan-aturan hukum yang berlaku terutama yang
terkait dengan pengaturan tentang lelang, dan secara umum penelitian ini untuk
pengembangan ilmu hukum, khususnya bidang Hukum Kenotariatan melalui
pemahaman terhadap perlindungan pembeli lelang dalam proses pelelangan.
Sehingga pembeli lelang mendapatkan kepastian hukum dalam proses pelelangan
tersebut, dan memberikan pemahaman kepada masyarakat berkaitan dengan
pelelangan.
1.3.2 Tujuan Khusus
Berdasarkan pada tujuan umum di atas adapun tujuan khusus dari
penelitian ini sesuai dengan permasalahan yang dibahas, yakni:
1. Untuk mengetahui dan menganalisa perlindungan hukum yang diberikan
negara terhadap pihak pembeli lelang dalam proses pelelangan.
2. Untuk mengetahui dan menganalisa kekosongan hukum yaitu dalam penerapan
asas efisiensi dalam proses pelelangan.
1.4
Manfaat Penelitian
Setiap penelitian dalam penulisan karya ilmiah diharapkan akan adanya
manfaat dari penelitian tersebut, yaitu:
1.4.1 Manfaat Teoritis
Secara teoritis, hasil penulisan ini diharapkan dapat memberikan
sumbangan pemikiran bagi pengembangan Ilmu Hukum, khususnya dalam bidang
Kenotariatan yang berkaitan dengan Notaris selaku kewenangan Notaris sebagai
pembuat Risalah Lelang.
17
1.4.2 Manfaat Praktis
Secara praktis, penulisan ini bermanfaat untuk mengetahui lebih dalam
mengenai perlindungan hukum pihak pembeli lelang dalam proses pelelangan
yaitu penerapan asas efisiensi yang mana nantinya akan disusun dalam bentuk
tesis untuk memenuhi syarat meraih gelar Magister. Penulisan ini bermanfaat bagi
notaris sebagai pengetahuan karena notaris berperan juga sebagai Pejabat Lelang,
menjalankan profesinya yaitu sebagai pembuat akta risalah lelang. Selain itu
penulisan tesis ini juga dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi
khalayak umum mengenai suatu pelelangan agar semua pihak dapat terlindungi
dan tidak merugikan pihak manapun khususnya mengenai proses pelelangan.
1.5
Landasan Teoritis
Landasan teoritis adalah upaya untuk mengidentifikasi teori hukum umum
atau teori khusus, konsep-konsep hukum, asas-asas hukum, aturan hukum, normanorma dan lain-lain yang akan dipakai sebagai landasan untuk membahas
permasalahan penelitian. Dalam setiap penelitian harus disertai dengan pemikiranpemikiran teoritis, oleh karena ada hubungan timbal baik yang erat antara teori
dengan kegiatan pengumpulan dan pengolahan data, analisa, serta kontruksi,
data.8
8
Magister Kenotariatan, 2013, Buku Pedoman Pendidikan Program Studi
Magister Kenotariatan Universitas Udayana, Universitas Udayana Denpasar,
hal. 58.
18
1.5.1 Teori Perlindungan Hukum
Teori yang digunakan dalam kasus ini adalah teori perlindungan hukum
oleh Philipus M. Hadjon, dalam kepustakaan hukum berbahasa Belanda dikenal
dengan sebutan “rechtbescherming van de burgers.”9Pendapat ini menunjukkan
kata perlindungan hukum merupakan terjemahan dari Bahasa Belanda yakni
“rechtbescherming.”
Philipus M. Hadjon membedakan perlindungan hukum bagi rakyat dalam
2 (dua) macam yaitu:
1.
Perlindungan hukum reprensif artinya ketentuan hukum dapat dihadirkan
sebagai upaya pencegahan terhadap tindakan pelanggaran hukum. Upaya ini
diimplementasikan dengan membentuk aturan hukum yang bersifat normatif.
2.
Perlindungan hukum yang preventif bertujuan untuk mencegah terjadinya
sengketa, yang mengarahkan tindakan pemerintah berikap hati-hati dalam
pengambilan keputusan berdasarkan diskresi. Perlindungan hukum yang
represif bertujuan untuk menyelesaikan terjadinya sengketa, termasuk
penanganannya di lembaga peradilan.
Menurut Soerjono Soekanto fungsi hukum adalah untuk mengatur
hubungan antara negara atau masyarakat dengan warganya, dan hubungan antara
sesama warga masyarakat tersebut, agar kehidupan dalam masyarakat berjalan
dengan tertib dan lancar. Hal ini mengakibatkan bahwa tugas hukum untuk
mencapai kepastian hukum (demi adanya ketertiban) dan keadilan dalam
9
Philipus M. Hadjon, 1987, Perlindungan Hukum bagi Rakyat Indonesia:
Sebuah Studi tentang Prinsip-Prinsipnya, Penanganannya oleh Pengadilan dalam
Lingkungan Peradilan Umum dan Pembentukan Peradilan Administrasi Negara,
Bina Ilmu, Surabaya, hal. 1.
19
masyarakat. Kepastian hukum mengharuskan diciptakannya peraturan umum atau
kaidah umum yang berlaku umum. Agar tercipta suasana aman dan tentram dalam
masyarakat, maka kaidah dimaksud harus ditegakkan serta dilaksanakan dengan
tegas.10
Hukum pada hakikatnya adalah sesuatu yang abstrak, tetapi dalam
manifestasinya bisa berwujud konkrit. Suatu ketentuan hukum baru dapat dinilai
baik jika akibat-akibat yang dihasilkan dari penerapannya adalah kebaikan,
kebahagian yang sebesar-besarnya dan berkurangnya penderitaan.11
Menurut teori konvensional, tujuan hukum adalah mewujudkan keadilan
(rechtsgerechtigheid),
kemanfaatan
(rechtsutiliteit)
dan
kepastian
hukum
(rechtszekerheid).12 Menurut Satjipto Raharjo, ”Hukum melindungi kepentingan
seseorang dengan cara mengalokasikan suatu kekuasaan kepadanya untuk
bertindak dalam rangka kepentingannya tersebut. Pengalokasian kekuasaan ini
dilakukan secara terukur, dalam arti, ditentukan keluasan dan kedalamannya.
Kekuasaan yang demikian itulah yang disebut hak. Tetapi tidak di setiap
kekuasaan dalam masyarakat bisa disebut sebagai hak, melainkan hanya
kekuasaan tertentu yang menjadi alasan melekatnya hak itu pada seseorang. 13
Menurut Setiono, perlindungan hukum adalah tindakan atau upaya untuk
melindungi masyarakat dari perbuatan sewenang-wenang oleh penguasa yang
10
Soerjono Soekanto, 1999, Penegakkan Hukum, Binacipta, Bandung,
hal. 15.
11
Lili Rasjidi dan I. B. Wyasa Putra, 2003, Hukum Sebagai Suatu Sistem,
Remaja Rosdakarya, Bandung, hal. 79.
12
Achmad Ali, 2002, Menguak Tabir Hukum (Suatu Kajian Filosofis dan
Sosiologis), PT. Gunung Agung Tbk, Jakarta, hal. 85.
13
Satjipto Rahardjo, 2012, Ilmu hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, hal.
53.
20
tidak sesuai dengan aturan hukum, untuk mewujudkan ketertiban dan ketentraman
sehingga memungkinkan manusia untuk menikmati martabatnya sebagai
manusia.14 Adapula menurut Muchsin, perlindungan hukum merupakan kegiatan
untuk melindungi individu dengan menyerasikan hubungan nilai-nilai atau
kaidah-kaidah yang menjelma dalam sikap dan tindakan dalam menciptakan
adanya ketertiban dalam pergaulan hidup antar sesama manusia.15
Pada dasarnya terdapat hubungan antara subjek hukum dengan objek yang
dilindungi oleh hukum yang dapat menimbulkan adanya hak dan kewajiban dari
masing-masing pihak. Hak dan kewajiban didalam hubungan hukum tersebut
harus mendapatkan perlindungan oleh hukum, sehingga anggota masyarakan
merasa aman dalam melaksanakannya. Hal ini menunjukkan bahwa arti dari
perlindungan hukum itu sendiri adalah pemberian kepastian atau jaminan bahwa
seseorang yang melakukan hak dan kewajiban telah dilindungi oleh hukum.
Adanya hubungan hukum yang terjadi antara pembeli lelang, debitur dan
kreditur menciptakan adanya perlindungan hukum, dalam hal ini perlindungan
hukum dapat diartikan bahwa hubungan antara kreditur dan debitur tidaklah
mengurangi perlindungan hukum yang seharusnya diterima oleh pembeli lelang
tersebut.
14
Setiono, 2004, Rule of Law (Supremasi Hukum), Magister Ilmu Hukum
Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret, Surakarta, hal. 3.
15
Muchsin, 2003, Perlindungan dan Kepastian Hukum bagi Investor di
Indonesia, Magister Ilmu Hukum Program Pascasarjana Universitas Sebelas
Maret, Surakarta, hal. 14.
21
1.5.2 Teori Pertanggungjawaban
Pertanggungjawaban seseorang ada seimbang dengan kerugian yang
diakibatkan oleh perbuatannya yang bertentangan dengan hukum dari orang lain.
Hal ini disebut tanggung jawab kualitatif, yaitu orang yang bertanggungjawab
karena orang itu memiliki suatu kualitas tertentu.16
Kranenburg dan Vegtig mengemukakan bahwa mengenai persoalan
pertanggungjawaban pejabat ada dua teori yang melandasi, yaitu Teori Fautes
Personalles dan Teori Fautes de Servuces yang akan diuraikan sebagai berikut:
a. Teori Fautes Personalles yang menyatakan bahwa kerugian terhadap
pihak ketiga dibebankan kepada pejabat yang karena tindakannya itu
telah menimbulkan kerugian. Menurut teori ini, beban tanggungjawab
ditujukan pada manusia selaku pribadi.
b. Teori Fautes de Servuces yaitu teori yang menyatakan bahwa kerugian
terhadap pihak ketiga dibebankan pada instansi dari pejabat yang
bersangkutan. Menurut teori ini tanggungjawab dibebankan kepada
jabatan. Dalam penerapannya, kerugian yang timbul itu disesuaikan
pula apakah kesalahan yang dilakukan itu merupakan kesalahan berat
atau kesalahan ringan, dimana berat dan ringannya suatu kesalahan
berimplikasi pada tanggungjawab yang harus ditanggung.17
16
W. Sommermeijer, 2003, Tanggung Jawab Hukum, Pusat Studi Hukum
Universitas Parahyangan, Bandung, hal. 23.
17
Ridwan, HR, 2011, Hukum Administrasi Negara, PT. Raja Grafindo
Persada, Jakarta, (selanjutnya disingkat Ridwan I), hal. 365.
22
Dalam suatu negara hukum, setiap tindakan jabatan yang dilakukan oleh
suatu perwakilan (vertegenwoordiger) yaitu pejabat (ambtsdrager) harus
berdasarkan pada asas legalitas, artinya setiap tindakan jabatan harus berdasarkan
pada wewenang yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan. Oleh
karenannya, penggunaan wewenang untuk melakukan tindakan hukum harus
dapat dipertanggungjawabkan.18
Dalam Hukum Administrasi Negara, tanggungjawab dapat dibagi menjadi
tiga
yaitu
tanggungjawab
tanggungjawab
yuridis.
administratif,
Dalam
tanggungjawab
tanggungjawab
politis,
administratif,
dan
pemerintah
memberikan sanksi kepada pejabat yang melakukan pelanggaran. Sanksi yang
diberikan
dalam
pertanggungjawaban
administratif
merupakan
sanksi
administratif yang berupa teguran hingga pemecatan dari jabatan.
Pertanggungjawaban politik dalam realitasnya berkaitan dengan sistem
politik atau lebih memusatkan pada tekanan demokrasi (democratic pressure).
Pertanggungjawaban yuridis mengandung arti bahwa pejabat dan instansi
pemerintah
dalam
menyelenggarakan
kewenangannya
yang
merugikan
kepentingan pihak lain harus mempertanggungjawabkan dan menerima tuntutan
hukum atas tindakannya tersebut. Pertanggungjawaban hukum dapat dilakukan
melalui Hukum Pidana dan Hukum Perdata.
Hans
Kelsen
mengemukakan
dalam
teorinya
mengenai
pertanggungjawaban bahwa: “Seseorang bertanggungjawab secara hukum
terhadap suatu perbuatan tertentu atau karena ia memikul tanggungjawab hukum
18
Ridwan, 2009, Hukum Administrasi Di Daerah, FH UII Press.
Yogyakarta, (selanjutnya disingkat Ridwan II), hal. 114.
23
tersebut yang berarti ia bertanggungjawab apabila ia melakukan suatu perbuatan
yang bertentangan dengan hukum.” 19 Hans Kelsen juga mengemukakan bahwa
pertanggungjawaban sangat erat kaitannya dengan sanksi, selain itu ia juga
menyatakan bahwa pertanggungjawaban dibagi menjadi: Pertanggungjawaban
individu,
pertanggungjawaban
kesalahan
(based on
kolektif,
pertanggungjawaban
berdasarkan
fault) dan pertanggungjawaban mutlak (absolute
responsibility).20
Dalam pertanggungjawaban individu, seorang individu bertanggungjawab
terhadap
pelanggaran
yang
dilakukannya
sendiri,
sedangkan
pada
pertanggungjawaban kolektif seorang individu bertanggungjawab terhadap suatu
pelanggaran yang dilakukan oleh orang lain. Suatu sanksi dapat dikenakan kepada
seorang individu yang melakukan suatu perbuatan hukum bersama-sama dengan
individu lainnya tetapi ia berposisi dalam suatu hubungan hukum dengan pelaku
delik.Menurut teori tradisional pertanggungjawaban dapat dibedakan menjadi dua
macam, yaitu pertanggungjawaban berdasarkan kesalahan (based on fault) dan
pertanggungjawaban mutlak (absolute responsibility).
21
Pertanggungjawaban
berdasarkan kesalahan yaitu seorang individu yang bertanggungjawab atas
pelanggaran yang dilakukannya dengan sengaja dan diperkirakan memiliki tujuan
untuk menimbulkan kerugian. Pertanggungjawaban mutlak artinya seorang
19
Hans Kelsen, 2013, General Theory Of Law And State, Teori Umum
Hukum Dan Negara, Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif Sebagai Ilmu Hukum
Deskriptif Empirik, terjemahan Somardi, BEE Media Indonesia, Jakarta,
(selanjutnya disingkat Hans Kelsen I), hal. 95.
20
Hans Kelsen, 2006, Teori Hukum Murni, terjemahan Raisul Mutaqien,
Nuansa & Nusamedia, Bandung, (selanjutnya disingkat Hans Kelsen II), hal. 140.
21
Hans Kelsen I, loc.cit.
24
individu bertanggungjawab atas pelanggaran yang dilakukannya karena tidak
sengaja dan tidak diperkirakan.22
Dalam
kamus
hukum
ada
dua
istilah
yang
menunjuk
pada
pertanggungjawaban, yaitu liability dan responsibility. Liability merupakan istilah
hukum yang luas yang menunjuk hampir semua karakter risiko atau
tanggungjawab yang pasti, yang bergantung atau yang mungkin meliputi semua
karakter hak dan kewajiban secara aktual dan potensi seperti kerugian, ancaman,
kejahatan, biaya, atau kondisi yang menciptakan tugas untuk melaksanakan
Undang-Undang. 23 Responsibility berarti hal yang dapat dipertanggungjawabkan
atas suatu kewajiban dan termasuk putusan, ketrampilan, kemampuan, dan
kecakapan meliputi juga kewajiban bertanggungjawab atas Undang-Undang yang
dilaksanakan. Liability menunjuk pada pertanggungjawaban hukum, yaitu
tanggung gugat akibat kesalahan yang dilakukan oleh subjek hukum.
Responsibility
berarti
suatu
kewajiban
atau
hal
yang
dapat
dipertanggungjawabkan, dan termasuk putusan, keterampilan, kemampuan, dan
kecakapan meliputi juga kewajiban bertanggungjawab atas Undang-Undang yang
dilaksanakan. Responsibility menunjuk pada pertanggungjawaban politik.24
Sedangkan menurut Munir Fuady pertanggungjawaban hukum dari
pemerintah menyatakan bahwa pemerintah harus bertanggungjawab secara hukum
kepada rakyatnya muncul dalam teori sebagai berikut:
22
Hans Kelsen II, loc.cit.
I Gede Surata, 2010, Kedudukan Pejabat Pembuat Akta Tanah Yang
Dijabat Oleh Camat Dalam Penetapan Akta Tanah (Tesis), Program Studi
Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, Malang, hal. 13.
24
Ridwan I, op.cit. hal. 335-337.
23
25
1. Teori hukum umum, yang menyatakan bahwa setiap orang, termasuk
pemerintah, harus mempertanggungjawabkan setiap tindakannya, baik
karena kesalahan atau tanpa kesalahan (strict liability). Dari teori ini
selanjutnya muncul tanggung jawab hukum berupa tanggung jawab
pidana, perdata, dan administrasi negara. Tanggung jawab hukum dari
pemerintah seperti ini dilakukan di depan badan pengadilan.
2. Teori demokrasi, yang menyatakan bahwa setiap yang memerintah harus
mempertanggungjawabkan tindakannya kepada yang diperintah, karena
kekuasaan yang memerintah tersebut berasal dari yang diperintahnya
(rakyat). Dari teori ini muncul tanggung jawab yang dari para
penyelenggara negara, termasuk tanggung jawab yang berakibat kepada
“pemakzulan” (impeachment). Tanggung jawab pemerintah secara politis
ini dilakukan di didepan parlemen dengan atau tanpa keikutsertaan badanbadan lain.25
Beberapa prinsip-prinsip yang terkait dengan tanggungjawab yang sering
diterapkan dalam upaya perlindungan hukum:
1. Prinsip Tanggungjawab Berdasarkan Unsur Kesalahan
Prinsip tanggungjawab berdasarkan unsur kesalahan (fault liability
atau based on fault) adalah prinsip yang umum dianut. Prinsip ini
menyatakan seseorang baru dapat dimintakan pertanggungjawaban
25
Munir Fuady, 2011, Teori Negara Hukum Modern (Rechtstaat), Refika
Aditama, Bandung, hal. 147-148.
26
secara hukum jika terdapat unsur kesalahan yang dilakukan.
26
Berdasarkan prinsip ini konsumen diberikan tanggungjawab untuk
membuktikan adanya unsur kesalahan pelaku usaha yang tentunya
berdampak memberatkan konsumen.27
2. Prinsip Praduga Untuk Selalu Bertanggungjawab
Prinsip ini menyatakan tergugat selalu dianggap bertanggungjawab
(presumption of liability principlep), sampai ia dapat membuktikan ia
tidak bersalah. Jadi beban pembuktian diletakkan pada tergugat (pelaku
usaha).
3. Prinsip Praduga Untuk Tidak Selalu Bertanggungjawab
Prinsip ini merupakan kebalikan dari prinsip sebelumnya, dimana
pihak yang dibebankan untuk membuktikan kesalahan itu terdapat
pada konsumen. Konsumen dianggap selalu bertanggungjawab, sampai
ia dapat membuktikan bahwa ia tidak bersalah.
4. Prinsip Tanggungjawab Mutlak
Prinsip tanggungjawab mutlak (strict liability) adalah prinsip
tanggungjawab yang menetapkan kesalahan tidak sebagai faktor yang
menentukan,
tetapi
masih
terdapat
suatu
pengecualian
yang
memungkinkan dibebaskannya dari tanggungjawab, yaitu keadaan
force majeure. Prinsip tanggungjawab mutlak ini secara umum
dipergunakan untuk menjerat pelaku usaha, khususnya pelaku usaha
26
Lukman Santoso Az, 2011, Hak dan Kewajiban Hukum Nasabah Bank,
Pustaka Yustisia, Jakarta, hal. 130.
27
Erman Rajagukguk, et. al. 2000, Hukum Perlindungan Konsumen, CV
Mandar Maju, Bandung, hal. 14.
27
yang memasarkan
produk
dan
merugikan
konsumen.
Dalam
perlindungan konsumen penerapan prinsip tanggungjawab mutlak ini
dikenal dengan product liability.
5. Prinsip Tanggungjawab Dengan Pembatasan
Prinsip tanggungjawab dengan pembatasa ini (limitation ability
principle) sangat disenangi pelaku usaha, karena pelaku usaha dapat
membatasi secara maksimal tanggungjawabnya.
6. Product Liability, Professional Liability
Tanggungjawab produk (product liability) merupakan tanggungjawab
produsen untuk produk yang dibawanya kedalam peredaran yang
menimbulkan atau menyebabkan kerugian karena cacat yang melekat
pada produk tersebut. Melalui prinsip ini, dasar gugatan untuk
tanggungjawab produk dapat dilakukan atas landasan adanya:
1) pelanggaran jaminan;
2) kelalaian; dan
3) tanggungjawab mutlak.
Teori tanggungjawab memberikan pengertian bahwa setiap orang harus
bertanggungjawab atas perbuatan hukum yang dilakukannya. Dalam penulisan
tesis ini menekankan pada pembahasan mengenai pertanggungjawaban pejabat
lelang berkaitan dengan kerugian pembeli lelang eksekusi hak tanggungan yang
dibatalkan oleh pengadilan.
28
1.5.3 Konsep Lelang
1.5.3.1. Pengertian Lelang
Menurut Pasal 1 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 106/PMK.06/2013
tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 93/PMK.06/2010
tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang, disebutkan: Lelang adalah penjualan
barang yang terbuka untuk umum dengan penawaran harga secara tertulis
dan/atau lisan yang semakin meningkat atau menurun untuk mencapai harga
tertinggi yang didahului dengan pengumuman lelang.
Penjualan lelang tidak secara khusus diatur dalam KUHPerdata tetapi
termasuk perjanjian bernama di luar KUHPerdata. Penjualan Lelang dikuasai oleh
ketentuan-ketentuan KUHPerdata mengenai jual beli yang diatur dalam
KUHPerdata Buku III tentang Perikatan. Pasal 1319 KUHPerdata berbunyi,
semua perjanjian baik yang mempunyai nama khusus, maupun yang tidak dikenal
dengan suatu nama tertentu, tunduk pada peraturan umum. Pasal 1319
membedakan perjanjian atas perjanjian bernama (nominaat) dan perjanjian tidak
bernama (innominaat). Pasal 1457 KUH Perdata, merumuskan jual beli adalah
suatu persetujuan, dengan mana pihak satu mengikatkan dirinya untuk
menyerahkan suatu kebendaan, dan pihak lain untuk membayar harga yang
dijanjikan. Perjanjian jual beli adalah suatu perjanjian yang dibuat antara pihak
penjual dan pembeli. Di dalam perjanjian itu pihak penjual berkewajiban untuk
menyerahkan objek jual beli kepada pembeli dan berhak menerima harga dan
pembeli berkewajiban untuk membayar harga dan berhak menerima objek
tersebut. Lelang mengandung unsur-unsur yang tercantum dalam defenisi jual beli
29
adanya subjek hukum, yaitu penjual dan pembeli, adanya kesepakatan antara
penjual dan pembeli tentang barang dan harga; adanya hak dan kewajiban yang
timbul antara pihak penjual dan pembeli. Esensi dari lelang dan jual beli adalah
penyerahan barang dan pembayaran harga. Penjualan lelang memiliki identitas
dan karakteristik sendiri, dengan adanya pengaturan khusus dalam Vendu
Reglement, namun dasar penjualan lelang sebagian masih mengacu pada
ketentuan KUHPerdata mengenai jual beli, sehingga penjualan lelang tidak boleh
bertentangan dengan asas atau ajaran umum yang terdapat dalam hukum perdata,
seperti ditegaskan dalam Pasal 1319.
Vendu Reglement (Stbl. Tahun 1908 Nomor 189 diubah dengan Stbl.
1940 Nomor 56) yang masih berlaku sebagai dasar hukum lelang, dinyatakan:
Penjualan umum adalah pelelangan atau penjualan barang-barang yang dilakukan
kepada umum dengan harga penawaran yang meningkat atau menurun atau
dengan pemasukan harga dalam sampul tertutup, atau kepada orang-orang yang
diundang atau sebelumnya diberitahu mengenai pelelangan atau penjualan itu,
atau diizinkan untuk ikut serta, dan diberi kesempatan untuk menawar harga,
menyetujui harga yang ditawarkan atau memasukkan harga dalam sampul
tertutup.
Pengertian lelang menurut pendapat Polderman, sebagaimana dikutip
Rochmat Soemitro, menyatakan:
Penjualan umum adalah alat untuk mengadakan perjanjian atau persetujuan yang
paling menguntungkan untuk sipenjual dengan cara menghimpun para peminat.
30
Polderman selanjutnya mengatakan, bahwa syarat utama lelang adalah
menghimpun para peminat untuk mengadakaan perjanjian jual beli yang paling
menguntungkan si penjual. Dengan demikian syaratnya ada 3, yaitu:
1) Penjualan umum harus selengkap mungkin (volledigheid).
2) Ada kehendak untuk mengikat diri.
3) Bahwa pihak lainnya yang akan mengadakan perjanjian tidak dapat ditunjuk
sebelumnya.
Menurut Roell sebagaimana dikutip Rochmat Soemitro menyatakan:
Penjualan umum adalah suatu rangkaian kejadian yang terjadi antara saat mana
seseorang hendak menjual sesuatu atau lebih dari satu barang, baik secara pribadi
maupun dengan perantaraan kuasanya, memberikan kesempatan kepada orangorang yang hadir melakukan penawaran untuk membeli barang-barang yang
ditawarkan sampai kepada saat di mana kesempatan lenyap.
1.5.3.2 Jenis Lelang
Berdasarkan peraturan yang berlaku, lelang barang tidak bergerak dan
barang bergerak meliputi :
1.
Lelang Noneksekusi Sukarela
Lelang Noneksekusi Sukarelaadalah lelang untuk melaksanakan penjualan
barang milik perorangan, kelompok masyarakat atau Badan Swasta yang
dilelang secara sukarela oleh pemiliknya.
Yang termasuk lelang Noneksekusi Sukarela adalah :
a. Lelang yang dilakukan atas kehendak pemiliknya sendiri (perorangan,
swasta)
31
b. Lelang Aset BUMN/BUMD berbentuk Persero
c. Lelang Aset milik Bank Dalam Likuidasi berdasarkan PP Nomor 25 Tahun
1999 tentang pencabutan izin usaha, pembubaran dan likuidasi Bank.
Harga limit dapat bersifat terbuka / tidak rahasia atau dapat bersifat tertutup/
rahasia sesuai keinginan Penjual/ Pemilik Barang
2.
Lelang Eksekusi
Lelang Eksekusi adalah lelang untuk melaksanakan putusan/penetapan
pengadilan atau dokumen-dokumen lain yang sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku, dipersamakan dengan itu, dalam rangka
membantu penegakan hukum, antara lain : lelang eksekusi fidusia dan lelang
eksekusi pasal 6 Undang-Undang Hak Tanggungan Nomor 4 Tahun
1996.Pasal 6 UUHT No. 4 tahun 1996, yaitu apabila debitur cidera janji,
Pemegang Hak Tanggungan tingkat Pertama mempunyai hak untuk menjual
obyek Hak Tanggungan atas kekuasaan sendiri melalui pelelangan umum
serta mengambil pelunasannya dari hasil tersebut. Harga limit bersifat
terbuka/tidak
rahasia
dan
harus
dicantumkan
dalam
pengumuman
lelang.Sedangkan mengenai Lelang Eksekusi diatur dalam Peraturan Menteri
Keuangan Nomor: 106/PMK.06/2013 Perubahan Atas Peraturan Menteri
Keuangan 93/PMK.06/2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang, Pasal 5
menyatakan;
Lelang Eksekusi termasuk tetapi tidak terbatas pada Lelang Eksekusi Panitia
Urusan Piutang Negara (PUPN), Lelang Eksekusi Pengadilan, Lelang
Eksekusi Pajak, Lelang Eksekusi Harta Pailit, Lelang Eksekusi Pasal 6
32
Undang-Undang Hak Tanggungan (UUHT), Lelang Eksekusi dikuasai/tidak
dikuasai Bea Cukai, Lelang Eksekusi Barang Sitaan Pasal 45 Kitab UndangUndang Hukum Acara Pidana (KUHP), Lelang Eksekusi Barang Rampasan,
Lelang Eksekusi Barang Temuan, Lelang Eksekusi Fidusia, Lelang Eksekusi
Gadai. Lelang Eksekusi Benda Sitaan pasal 18 ayat (2) UU nomor 31 tahun
1999 tentang Tipikor yang diubah dengan UU.
3.
Lelang Non Eksekusi Wajib
Lelang Non Eksekusi Wajib adalah lelang untuk melaksanakan penjualan
barang milik negara/daerah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang
Nomor 1 Tahun 2004 Tentang Perbendaharaan Negara atau barang milik
Badan Usaha Milik Negara/Daerah (BUMN/D) yang oleh peraturan
perundang-undangan diwajibkan untuk dijual secara lelang, termasuk kayu
dan hasil hutan lainnya dari tangan pertama.
1.5.4 Asas Itikad Baik
Dalam Black’s Law Dictionary yang dimaksud itikad baik atau good faith
adalah:28
“A state of mind consisting in (1)honesty in belief or purposes. (2)
faithfulness to one’s duty or obligation, (3) observance of reasonable commercial
standards of fair dealing in a given trade or business, or (4) absence of intent to
defraud or to seek unconscionable advantage”.
28
Bryan A. Garner, 2004, Black’s Law Dictionary, eight Edition, United
Stated of America, hal. 713.
33
Prof. R. Subekti, SH merumuskan itikad baik dengan pengertian bahwa
itikad baik di waktu membuat suatu perjanjian berarti kejujuran, orang yang
beritikad baik menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada pihak lawan, yang
dianggapnya jujur dan tidak menyembunyikan sesuatu yang buruk yang di
kemudian hari akan menimbulkan kesulitan-kesulitan.29
Itikad baik adalah salah satu asas klasik dalam hukum perjanjian yang juga
terdapat pada KUHPerdata. Pada Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata merumuskan jual beli sebagai “suatu persetujuan dengan mana pihak yang
satu mengikatkan dirinya untuk menyerahkan suatu kebendaan, dan pihak yang
lain untuk membayar harga yang telah diperjanjikan”. Dari rumusan tersebut
dapat diketahui bahwa jual beli melahirkan kewajiban secara bertimbal balik
kepada para pihak yang membuat perjanjian.Asas ini bersumber darihukum
Romawi. Di dalam hukum Romawi asas ini disebut Bonafides. Kitab UndangUndang Hukum Perdata mempergunakan istilah itikad baik dalam dua pengertian.
Pertama, itikad baik dalam pengertian arti subyektif.Dalam bahasa Indonesia,
itikad baik dalam arti subyektif disebut kejujuran. Hal itu terdapat dalam pasal
530 KUHPerdata dan seterusnya yang mengatur mengenai kedudukan berkuasa
(bezit). Itikad baik dalam arti subyektif ini merupakan sikap batin atau suatu
keadaan jiwa. Sedangkan dalam arti obyektif. itikad baik dalam bahasa Indonesia
disebut kepatutan. Hal ini dirumuskan dalam ayat (3) pasal 1338 KUHPerdata
yang berbunyi: “Suatu perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik”.
29
Samuel M.P. Hutabarat, 2010, Penawaran dan Penerimaan dalam
Hukum Perjanjian, PT Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta, hal. 45.
34
Asas iktikad baik berakar pada etika sosial Romawi mengenai kewajiban
yang komprehensif akan ketaatan dan keimanan yang berlaku bagi warganegara
maupun bukan. Dengan demikian, hukum kontrak Romawi mengenal dua macam
kontrak,yakni iudicia strictiiuris dan iudicia bonae fidei. Domat dan Pothier
sebagai penganutajaran hukum alam Romawi yang mendominasi pemikiran
substansi isi Code CivilPerancis tidak setuju dengan kedua pembedaan tersebut.
Dia menyatakan bahwa hukum alam dan hukum kebiasaan menentukan bahwa
setiap kontrak adalah bonaefidei, sebab kejujuran dan integritas harus selalu ada
dalam semua kontrak yangmenuntut pemenuhan kontrak harus sesuai dengan
kepatutan.30
Kecenderungan seluruh sejarah hukum kontrak Romawi bergerak dari
formalistik ke arah konsensual, dan pengakuan akan arti pentingnya iktikad baik
dalam kontrak yang dikembangkan melalui diskresi pengadilan. 31Konsep iktikad
baik tersebut diperluas sedemikian rupa melalui diskresi pengadilan Romawi.
Diskresi tersebut membolehkan orang membuat kontrak di luar formalisme yang
telah
ditentukan
dan
mengakui
ex
fide
bona,
yakni
sesuai
dengan
persyarataniktikad baik. Di sini terlihat bahwa pengadilan di Romawi selain
mengakui keberadaan atau kekuatan hukum kontrak konsensual, pada saat yang
sama juga membebankan adanya kewajiban iktikad baik bagi para pihak.32 Jika
seorang tergugat melakukan wanprestasi dalam suatu kontrak konsensual, dia
30
Reinhard Zimmerman dan Simon Whittaker, eds, Good Faith in
European ContractLaw, Cambridge University Press, Cambridge, 2000, hal. 32.
31
Carleton Kemp Allen, 1978, Law in the Making, Oxford, Clarendon
Press, hal 395.
32
Helmut Coing, 1987, Analysis of Moral Values by Case Law,
Washington University Law Quarterly, Vol 65, hal. 713.
35
langsung dapat digugat ke pengadilan oleh tergugat atas dasar melanggar
kewajiban iktikad baik.33Dalam menghadapi keadaan demikian, menurut Lawson,
hakim harus melakukan:34
“Found to be due to ex bona fides, that is to say, in accordance with the
requirements of goodfaith; and this cast on the judge, or rather the jurists who
advised him, the burden of decidingwhat kind what the defendant ought in good
faith to have done, in other words what kind ofperformance the contract called
for. This meant that, in contrast to the stipulation, where allthe term had to be
expressed, the parties would be bound not only by the terms they had actually
agreed to, but by all the terms that were naturally implied in their agreement”
Inti konsep bona fides adalah fides. Fideskemudian diperluas ke arah bona
fides. Fidesmerupakan suatu konsep yang pada mulanya merupakan sumber yang
bersifat religius, yang bermakna kepercayaan yang diberikan seseorang kepada
orang lainnya, atau suatu kepercayaan atas kehormatan dan kejujuran seseorang
kepada orang lain.35Dengan demikian asas itikad baik didasarkan pada kejujuran
induvidual dan sebagai wujud dari suatu universal social force atau dengan kata
lain kewajiban itikad baik dalam suatu kontrak merupakan suatu moral yang harus
dipegang teguh dan secara universal ditentukan oleh kejujuran dan kewajiban
kepada Tuhan. Iktikad baik dalam pelaksanaan kontrak mengacu kepada iktikad
baik yang objektif. Standar yang digunakan dalam iktikad baik objektif adalah
standar yangobjektif yang mengacu kepada suatu norma yang objektif. 36Perilaku
33
Jill Pride Anderson, 1987, Lender Liability for Breach of Obligation of
Good Faith Performance, Emory Law Journal, Vol 36, hal. 920.
34E. Allan Farnsworth, 1963,Good Faith Performance and Commercial
Reasonableness under the Uniform Commercial Code, The University of
Chicago Law Review, Vol 30, hal. 669.
35
Martin Joseph Schermaier, Bona Fides in Roman Contract Law,
Reinhard Zimmerman dan Simon Whittaker, eds, op.cit. hal. 77.
36
Martin Willem Hessenlink, 1999, De Redelijkheid en Billijkheid in
het Eurease Privaatrecht, Kluwer, Deventer, hal. 28.
36
para pihak dalamkontrak harus diuji atas dasar norma-norma objektif yang tidak
tertulis yangberkembang di dalam masyarakat. Ketentuan iktikad baik menunjuk
kepada norma-norma tidak tertulis yang sudah menjadi norma hukum sebagai
suatu sumber hukumtersendiri.
1.6
Metode Penelitian
1.6.1
Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis
penelitian hukum normatif, yaitu penelitan yang dilakukan untuk mendapatkan
data dari bahan-bahan kepustakaan terutama yang berhubungan mengenai
masalah hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bahan hukum primer, dan
sekunder. 37 Penelitian hukum normatif dilakukan dengan cara mengkaji hukum
dalam Law in Book yang dikonsepsikan sebagai apa yang tertulis dalam peraturan
perundang-undangan.38
Penelitian tesis ini adalah penelitian normatif yang beranjak dari adanya
kekosongan
norma
tentang
asas-asas
dalam
pelaksanaan
lelang
yang
menyebabkan efisiensi pelaksanaan lelang tidak mempunyai kepastian hukum.
Sehingga
terdapat
konsekuensi
dari
pelaksanaan
lelang
tersebut
yaitu
menyebabkan adanya kerugian kepada pihak pembeli lelang yang beritikad baik,
hal ini bersinggungan dengan prinsip hubungan kontraktual yaitu Pasal 1338
KUHPerdata yang menyatakan bahwa Undang-Undang melindungi pihak yang
beritikad baik.
37
Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, 2013, Penelitian Hukum Normatif:
Suatu Tinjauan Singkat, Raja Grafindo Persada, Jakarta, hal. 13-14.
38
Ibid.
37
1.6.2 Jenis Pendekatan
Pendekatan dalam penelitian hukum dimaksudkan agar bahan hukum yang
ada menjadi dasar sudut pandang dan kerangka berfikir peneliti untuk melakukan
analisis. Dalam penelitian hukum terdapat beberapa pendekatan yaitu:
-
Pendekatan Perundang-Undangan (Statute Approach) hal ini dimaksudkan
agar bahwa peneliti menggunakan peraturan perundang-undangan sebagai
dasar awal melakukan analisis. Penelitian dalam ruang lingkup hukum atau
penelitian untuk keperluan praktik hukum tidak dapat melepaskan diri dari
pendekatan peraturan perundang-undangan.
-
Pendekatan Konseptual (Conceptual Approach) artinya konsep-konsep dalam
ilmu hukum dapat dijadikan titik tolak atau pendekatan bagi analisis
penelitian hukum, karena akan banyak muncul konsep bagi suatu fakta
hukum. Pendekatan konseptual dilakukan manakala peneliti tidak beranjak
dari aturan hukum yang ada. Hal itu dilakukan karena memang belum atau
tidak ada aturan hukum untuk masalah yang dihadapi.
-
Pendekatan Perbandingan (Comparative Approach) pendekatan ini dilakukan
dengan membandingkan peraturan perundangan Indonesia dengan satu atau
beberapa peratuan perundangan di negara-negara lain. Menurut Gutteridge,
perbandingan hukum merupakan suatu metode studi dan penelitian hukum,
Gutteridge juga membedakan perbandingan deskriptif yang tujuan utamanya
adalah untuk mendapatkan informasi dan perbandingan hukum terapan yang
mempunyai sasaran tertentu.
38
-
Pendekatan Historis (Historical Approach) pendekatan sejarah ini dilakukan
dengan menelaah latar belakang dan perkembangan dari materi yang diteliti.
Pendekatan historis dilakukan dalam kerangka pelacakan sejarah lembaga
hukum dari waktu ke waktu. Pendekatan ini sangat membantu peneliti untuk
memahami filosofi dari aturan hukum dari waktu ke waktu. Di samping itu,
melalui pendekatan demikian peneliti juga dapat memahami perubahan dan
perkembangan filosofi yang melandasi aturan hukum tersebut.
-
Pendekatan Kasus (Case Approach) pendekatan kasus dalam penelitian
hukum bertujuan untuk mempelajari norma-norma atau kaidah hukum yang
dilakukan dalam praktik hukum. Dalam pendekatan kasus, yang perlu
dipahami oleh peneliti adalah ratio decidendi, yaitu alasan-alasan hukum
yang digunakan oleh hakim untuk sampai kepada putusannya. Ratio
decidendi inilah yang menunjukkan bahwa ilmu hukum merupakan ilmu yang
bersifat preskriptif, bukan deskriptif. Sedangkan dictum, yaitu putusannya
merupakan sesuatu yang bersifat deskriptif. Oleh karena itulah pendekatan
kasus bukanlah merujuk kepada diktum putusan pengadilan, melainkan
merujuk kepada ratio decidendi.39
Jenis Pendekatan yang dipergunakan adalah Pendekatan Perundang-
Undangan
(Statute
Aprroach)
dan
Pendekatan
Konseptual
(Conceptual
Aprroach). Pendekatan perundang-undangan ini dilakukan dengan cara mengkaji
peraturan perundang-undangan yang mengatur peraturan pelaksanaan Lelang.
Pendekatan Konseptual dilakukan dengan cara beranjak dari prinsip-prinsip
39
93-139.
Peter Mahmud Marzuki, 2010, Penelitian Hukum, Kencana, Jakarta, hal.
39
hukum, pandangan para sarjana, doktrin-doktrin, dan dapat juga meneliti dari
peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pokok permasalahan
tersebut.
1.6.3 Sumber Bahan Hukum
Adapun sumber bahan hukum yang diperoleh dalam penulisan tesis ini
yaitu bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder. Kedua bahan hukum
tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Bahan Hukum Primer
Mengingat Indonesia bekas jajahan Belanda, sebagaimana negara-negara
Eropa kontinental lainnya dan bekas jajahannya, Indonesia menganut Civil
Law System, bahan hukum primer yang terutama bukanlah putusan
peradilan
atau
yurisprudensi,
melainkan
peraturan
perundang-
undangan.40Bahan hukum primer merupakan bahan hukum yang bersifat
autoritatif artinya mempunyai otoritas. Bahan-bahan hukum primer terdiri
dari perundang-undangan, catatan-catatan resmi atau risalah dalam
pembuatan perundang-undangan. Peraturan perundang-undangan yang
dipergunakan sebagai bahan hukum penulisan tesis ini yaitu:
-
40
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata;
-
RBG (Reglemen Hukum Acara untuk Daerah Luar Jawa dan
-
RIB/HIR (Reglemen Indonesia yang diperbaharui) Stb 1941
Madura) Stb. 1927 Nomor 227;
Nomor 44;
Ibid, hal. 144.
40
-
Vendu Reglement (Peraturan Lelang Stb. 1908 Nomor 189);
-
Peraturan
-
Vendu Instructie (Instruksi Lelang Stb. 1908 Nomor 190);
Menteri
Perubahan
Keuangan
Atas
Peraturan
Nomor
106/PMK.06/2013
Menteri
Keuangan
Nomor93/PMK.06/2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang;
-
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 158/PMK.06/2013tentang
-
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 159/PMK.06/2013
-
Peraturan
Pejabat Lelang Kelas I;
tentang Pejabat Lelang Kelas II;
Menteri
Keuangan
Nomor
160/PMK.06/2013
tentang Balai Lelang.
2. Bahan Hukum Sekunder
Bahan hukum sekunder adalah bahan hukum yang bersifat membantu atau
menunjang bahan hukum primer dalam penelitian yang akan memperkuat
penjelasan didalamnya. Bahan hukum sekunder berupa semua publikasi
tentang hukum yang bukan merupakan dokumen-dokumen resmi, yang
meliputi: literatur-literatur, hasil penelitian, buku-buku teks, jurnal-jurnal
hukum, makalah, komentar-komentar atas putusan pengadilan, kamus
hukum, dan ensiklopedia yang dapat diakses melalui media internet
berkaitan dengan permasalahan yang dibahas dalam penulisan tesis ini,
dan juga bahan-bahan hukum lainnya yang terkat dengan permasalahan
penelitian.
41
1.6.4 Teknik Pengumpulan Bahan Hukum
Penelitian ini menggunakan pendekatan peraturan perundang-undangan
dan pendekatan konseptual, untuk pendekatan peraturan perundang-undangan
teknik pengumpulan bahan hukumnya yaitu dengan cara mencari peraturan
perundang-undangan mengenai atau yang berkaitan dengan permasalahan hukum
tersebut. Sedangkan untuk pendekatan konseptual menggunakan penelusuran
buku-buku hukum yang mengandung banyak konsep-konsep hukum.41
1.6.5 Teknik Pengolahan dan Analisis Bahan Hukum
Pengolahan bahan hukum dilakukan dengan cara memeriksa kembali
bahan hukum yang diperoleh terutama dari kelengkapannya, kesesuaian, kejelasan
makna, serta relevansinya dengan kelompok lain. Kemudian langkah selanjutnya
dengan memberikan catatan atau tanda yang menyatakan jenis sumber bahan
hukum, nama penulis, dan juga tahun penerbitannya, setelah itu melakukan
penyusunan ulang bahan-bahan hukum secara teratur, berurutan, logis, yang
bertujuan supaya mudah dipahami dan diinterpretasikan.
Analisis bahan hukum dilakukan dengan memaparkan isu hukum dengan
deskripsi yang diuraikan secara lengkap dan jelas, selanjutnya dilakukan
sistematisasi pengklasifikasian terhadap bahan-bahan hukum tertulis melalui
proses analisis dan dikaitkan dengan teori, konsep serta doktrin para sarjana.
Berdasarkan hasil sistematisasi tersebut kemudian dilakukan teknik interpretasi
atau penafsiran secara normatif.
41
Ibid, hal. 196.
42
1.7
Sistematika Penulisan
BAB I merupakan bab pendahuluan berisi latar belakang, rumusan masalah,
tujuan penelitian, kegunaan penelitian dan sistematika penulisan, Bab ini
merupakan bab yang berisi latar belakang mengenai permasalahan yang dihadapi
berkaitan dengan judul yang dipilih, yaitu Perlindungan Hukum Terhadap
Pembeli Lelang Dalam Proses Pelaksanaan Lelang Eksekusi Hak Tanggungan.
BAB IImerupakan Tinjauan Pustaka yaitu bab yang tersusun atas teori umum
yang merupakan dasar-dasar pemikiran, yang akan penulis gunakan dalam
menjawab permasalahan. Teori-teori umum ini merupakan kumpulan pendapat
para ahli di bidang hukum lelang atau merupakan bahan dari hasil penelitian
sebelumnya.
BAB III merupakan pembahasan dari Rumusan Masalah yang pertama yaitu
Bagaimanakah perlindungan hukum bagi pembeli lelang eksekusi hak tanggungan
yang dibatalkan oleh pengadilan. Bab III merupakan pembahasan yang
merupakan hasil analisis penulis terhadap permasalahan yang dihadapi dikaitkan
dengan landasan teori guna menjawab permasalahan yang dirumuskan dalam
penelitian ini.
BAB IV merupakan pembahasan dari Rumusan Masalah yang kedua yaitu
Bagaimanakah upaya hukum yang dapat dilakukan oleh pihak-pihak yang
dirugikan dalam pembatalan eksekusi lelang oleh pengadilan. Bab IV merupakan
pembahasan yang merupakan hasil analisis penulis terhadap permasalahan yang
dihadapi dikaitkan dengan landasan teori guna menjawab permasalahan yang
dirumuskan dalam penelitian ini.
43
BAB VPenutup merupakan bab yang berisi simpulan dan saran.
44
BAB II
TINJAUAN UMUM TENTANG LELANG DAN HAK TANGGUNGAN
2.1
Tinjauan Umum Tentang Lelang
2.1.1 Pengertian dan Dasar Hukum Lelang
Pengertian lelang dilihat dari peraturan perundang-undangan dan para
sarjana, dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Vendu Reglement (Stb. 1908 Nomor 189)
2. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 106/PMK.06/2013 tentang Perubahan
Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 93/PMK/06/2010 tentang
Petunjuk Pelaksanaan Lelang Pasal 1 Angka 1 menyebutkan: Lelang
adalah penjualan barang yang terbuka untuk umum dengan penawaran
harga secara tertulis dan/atau lisan yang semakin meningkat atau menurun
untuk mencapai harga tertinggi yang didahului dengan Pengumuman
Lelang.
3. Menurut Polderman, lelang dapat diartikan sebagai penjualan umum.
Penjualan umum adalah alat untuk mengadakan perjanjian atau
persetujuan yang paling menguntungkan untuk sipenjual dengan cara
menghimpun para peminat. Polderman selanjutnya mengatakan, bahwa
syarat utama lelang adalah menghimpun para peminat untuk mengadakan
44
45
perjanjian jual beli yang paling menguntungkan si penjual.42
Dengan demikian syaratnya ada 3, yaitu:
1) Penjualan umum harus selengkap mungkin (volledigheid).
2) Ada kehendak untuk mengikat diri.
3) Bahwa pihak lainnya yang akan mengadakan perjanjian tidak dapat
ditunjuk sebelumnya.
4. Menurut Roel. Sebagaimana dikutip oleh Rochmat Soemitro, lelang juga
diartikan sebagai penjualan umum. Menyatakan bahwa penjualan umum
adalah suatu rangkaian kejadian yang terjadi antara saat mana seseorang
hendak menjual sesuatu atau lebih dari satu barang, baik secara pribadi
maupun dengan perantaraan kuasanya, memberikan kesempatan kepada
orang-orang yang hadir melakukan penawaran untuk membeli barangbarang yang ditawarkan sampai kepada saat dimana kesempatan lenyap.43
Jadi menurut Rochmat Soemitro titik berat dari definisi yang diberikan
Roel adalah pada kesempatan penawaran barang.
Sehubungan dengan hal tersebut diatas, dapat dikemukakan bahwa ada 5 (lima)
unsur yang harus dipenuhi dalam pengertian lelang, yaitu: 44
a. Lelang adalah suatu sarana dalam melakukan bentuk penjualan atas
sesuatu barang;
42
Rochmat Soemitro, op.cit. hal 106.
Ibid, hal. 107.
44
S. Mantayborbir, Imam Jauhari, dan Agus Hari Widodo, 2002, Hukum
Piutang dan Lelang Negara, Pustaka Bangsa Press, Medan, hal. 168.
43
46
b. Harga yang diperoleh bersifat kompetitif karena cara penawaran harga
dilakukan secara khusus, yaitu dengan cara penawaran harga secara lisan
memberi prioritas pada pihak manapun untuk membeli;
c. Pembeli tidak dapat ditunjuk sebelumnya kecuali kepada calon peminat
limit dapat ditunjuk sebagai pemenang/pembeli;
d. Memenuhi unsur publisitas, karena lelang adalah penjualan yang bersifat
transparan;
e. Dilaksanakan pada suatu saat dan tempat tertentu sehingga bersifat cepat,
efisien, dan efektif.
KUHPerdata mengatur ada dua macam perjanjian yaitu Perjanjian yang
bernama dalam KUHPerdata dan perjanjian yang bernama diluar KUHPerdata
yang artinya perjanjian tersebut tidak mempunyai nama dalam KUHPerdata.
Penjualan lelang tidak secara khusus diatur dalam KUHPerdata, sehingga
termasuk dalam perjanjian bernama di KUHPerdata. Penjualan melalui lelang
tunduk pada ketentuan-ketentuan KUHPerdata mengenai perikatan di dalam Buku
III KUHPerdata. Pada Pasal 1457 KUHPerdata menyebutkan bahwa: “Jual Beli
adalah suatu persetujuan dengan mana pihak satu mengikatkan dirinya untuk
menyerahkan suatu kebendaan, dan pihak lain untuk membayar harga yang
dijanjikan.”
Vendu Reglement (Stbl. Tahun 1908 Nomor 189 diubah dengan Stbl.
1940 Nomor 56) yang masih berlaku sebagai dasar hukum lelang, dinyatakan:
Penjualan umum adalah pelelangan atau penjualan barang-barang yang
dilakukan kepada umum dengan harga penawaran yang meningkat atau
menurun atau dengan pemasukan harga dalam sampul tertutup, atau
kepada orang-orang yang diundang atau sebelumnya diberitahu mengenai
47
pelelangan atau penjualan itu, atau diizinkan untuk ikut serta, dan diberi
kesempatan untuk menawar harga, menyetujui harga yang ditawarkan atau
memasukkan harga dalam sampul tertutup.
Lelang
di
Indonesia
mulai
dikenal
sejak
tahun
1908
dengan
dikeluarkannya Vendu Reglement (Peraturan Lelang Staatsblad 1908 Nomor 189
sebagaimana telah diubah dengan Staatsblaad Tahun 1940 Nomor 56) dan Vendu
Instructie (Instruksi Lelang Staatsblad 1908 Nomor 190 sebagaimana telah
diubah dengan Staatsblaad 1930 Nomor 85). Sesuai dengan perkembangan, demi
untuk mengefektifkan serta mengaktualkan pelaksanaan lelang yang telah diatur
dalam Peraturan Lelang, maka diterbitkan berbagai Keputusan Menteri Keuangan
maupun keputusan Dirjen Piutang dan Lelang Negara.
Bertitik tolak dari Pasal 1 Peraturan Lelang, pengertian lelang adalah
penjualan barang di muka umum atau penjualan barang yang terbuka untuk
umum.45 Pengertian tersebut diperjelas kemudian oleh Pasal 1 angka 1 Peraturan
Menteri Keuangan Nomor 106/PMK.06/2013 tentang Perubahan Atas Peraturan
Menteri Keuangan Nomor 93/PMK/06/2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang
(selanjutnya disebut PERMENKEU No. 106/PMK/06/2013 atas perubahan
PERMENKEU No. 93/PMK.06/2010), yang berbunyi Lelang adalah penjualan
barang yang terbuka untuk umum dengan penawaran harga secara tertulis
dan/atau lisan yang semakin meningkat atau menurun untuk mencapai harga
tertinggi, yang didahului dengan Pengumuman Lelang.
45
M. Yahya Harahap, 2007, Ruang Lingkup Permasalahan Eksekusi
Bidang Perdata, cet. 3., ed. 2, Sinar Grafika, (selanjutnya disingkat M. Yahya
Harahap I), Jakarta, hal.115.
48
Pasal 1 angka 2 dan 3 Keputusan Menteri Keuangan No. 450/KMK
01/2002 mengklasifikasi lelang menjadi 2 (dua), yaitu Lelang Eksekusi dan
Lelang Non Eksekusi. M. Yahya Harahap dalam bukunya menyebutkan bahwa
ada dua jenis lelang yaitu:
a. Lelang eksekusi
Jenis lelang ini merupakan penjualan umum untuk melaksanakan atau
mengeksekusi putusan atau penetapan pengadilan atau dokumen yang
dipersamakan
dengan
putusan
pengadilan,
seperti
Hipotek,
Hak
Tanggungan atau Jaminan Fiducia.
Jenis atau bentuk lelang inilah yang dimaksud pada Pasal 200 ayat (1)
HIR/ Pasal 215 RBG:
-
Penjualan di muka umum barang milik tergugat (tereksekusi) yang
disita Pengadilan Negeri;
-
Penjualan dilakukan Pengadilan Negeri melalui perantaraan Kantor
Lelang.
b. Lelang Non Eksekusi.
adalah penjualan umum di luar pelaksanaan putusan atau penetapan
pengadilan yang terdiri dari:
- Lelang barang milik/dikuasi Negara;
- Lelang sukarela atas barang milik swasta.46
46
Ibid, hal. 116-117.
49
Selain itu pengklasifikasian lelang juga dapat dilihat dari cara
penawarannya, jenis barang yang dilelang, dan lelang karena eksekusi maupun
bukan eksekusi, dijabarkan sebagai berikut:
1. Penggolongan lelang dari cara penawarannya
Penggolongan lelang dari cara ini merupakan penggolongan lelang
berdasarkan cara penawaran yang dilakukan oleh pejabat lelang. Cara
penawaran ini dapat dilakukan dengan cara lisan dan tertulis.
Penggolongan
penawaran
ini
cukup
dengan
mengucapkan
atau
menyatakan dengan tutur kata di depan peserta lelang. 47 Penjual lelang
atau pejabat lelang telah menyiapkan harga barang yang akan dilelang,
kemudian harga tersebut disampaikan kepada peserta lelang. Apabila
peserta lelang menyetujui harga yang telah disampaikan maka peserta
lelang dapat menawarkan harga yang diinginkannya dalam bentuk tertulis
maupun lisan.
2. Penggolongan lelang dari aspek objek
Penggolongan jenis objek yang akan dilelang dapat dibagi dua yaitu benda
bergerak dan benda tidak bergerak.
3. Penggolongan lelang dari aspek eksekusi
Pelelangan dari aspek eksekusi merupakan pelelangan yang merupakan
tindak lanjut dari putusan pengadilan. Penggolongan lelang dari aspek
eksekusi dapat dibagi menjadi 2 (dua) macam yaitu lelang noneksekusi
dan lelang eksekusi. Pelelangan noneksekusi merupakan pelelangan yang
47
Salim, HS, 2004, Perkembangan Hukum Jaminan di Indonesia, Raja
Grafindo Persada, Jakarta, (selanjutnya disingkat Salim HS I), hal. 245.
50
tanpa adanya putusan hakim, sedangkan pelelangan eksekusi adalah
pelelangan yang berdasarkan pada putusan hakim. Eksekusi dapat
dibedakan menjadi 2 (dua) antara lain:
a. Eksekusi dalam perkara pidana, yaitu pelaksanaan putusan hakim yang
dilakukan oleh Jaksa;
b. Eksekusi dalam perkara perdata, yaitu pelaksanaan putusan yang
dilakukan oleh juru sita.48
Dasar Hukum Lelang
Lelang telah ada dan berkembang di Indonesia sebagai bentuk penjualan
benda sejak masa Hindia Belanda, begitu juga dengan peraturan lelang antara lain:
-
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata;
-
RBG (Reglemen Hukum Acara untuk Daerah Luar Jawa dan Madura)
-
RIB/HIR (Reglemen Indonesia yang diperbaharui) Stb, 1941 Nomor
-
Vendu Reglement (Peraturan Lelang Stb. 1908 Nomor 189);
-
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 106/PMK.06/2013 Perubahan
Stb. 1927 Nomor 227;
44;
-
Vendu Instructie (Instruksi Lelang Stb. 1908 Nomor 190);
Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 93/PMK.06/2010 tentang
Petunjuk Pelaksanaan Lelang;
-
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 174/PMK.06/2010 tentang Pejabat
Lelang Kelas I;
48
Ibid, hal. 246.
51
-
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 175/PMK.06/2010 tentang Pejabat
-
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 160/PMK.06/2013 tentang Balai
Lelang Kelas II;
Lelang.
2.1.2 Fungsi dan Asas Lelang
Lelang sebagai salah satu penjualan barang memiliki fungsi privat dan
fungsi publik. Fungsi privat dalam lelang karena lelang merupakan institusi pasar
yang mempertemukan penjual dan pembeli. Lelang dapat dikatakan berfungsi
sebagai sarana transaksi jual beli barang yang dapat memperlancar arus lalu lintas
perdagangan barang.49
Fungsi lelang disamping mempunyai fungsi privat juga memiliki fungsi
publik dalam pelaksanaannya, antara lain:
a. Mendukung Law Enforcement di bidang Hukum Perdata, Hukum
Pidana, Hukum Perpajakan, dan lain-lain yaitu sebagai bagian dari
eksekusi suatu putusan;
b. Mendukung tertib administrasi dan efisiensi pengelolaan dan
pengurusan asset yang dimiliki atau dikuasai Negara;
49
Aryo Dharmajaya, 2009, Tinjauan Hukum Terhadap Lelang Atas Tanah
dan Bangunan yang Tidak Dapat Dimiliki oleh Pemenang Lelang (Analisis Kasus
Putusan Mahkamah Agung Nomor 158k/Pdt/2005),Tesis, Program Pascasarjana,
Universitas Indonesia, Jakarta, hal. 19.
52
c. Mengumpulkan penerimaan Negara dalam bentuk Bea Lelang, Biaya
Administrasi, Pajak Pph Pasal 25, dan BPHTB (Bea Perolehan Hak
Atas Tanah dan Bangunan).50
2.1.3 Pejabat Lelang
Berdasarkan PERMENKEU No. 106/PMK/06/2013 tentang Pelaksanaan
Lelang,
Pejabat
Lelang
(Vendumeester
sebagaimana
dimaksud
dalam
Vendureglement) adalah orang yang berdasarkan peraturan perundang-undangan
diberi wewenang khusus untuk melaksanakan penjualan barang secara lelang.
Berdasarkan Pasal 200 ayat (1) HIR atau Pasal 215 RBG, dalam pelaksanaan
lelang, Ketua Pengadilan Negeri wajib meminta bantuan kantor lelang untuk
melaksanakan lelang eksekusi. Selanjutnya Pasal 1 (a) Peraturan Lelang
menegaskan bahwa penjualan umum atau lelang hanya boleh dilakukan oleh
Pejabat Lelang atau Juru Lelang. Adapun dalam setiap pelaksanaan lelang Pejabat
Lelang harus membuat Risalah Lelang memuat semua peristiwa yang terjadi
dalam prosesi penjualan lelang sebagai bukti otentikasi pelaksanaan lelang
sebagaimana yang telah diatur dalam Pasal 77 Peraturan Lelang Nomor
93/PMK.06/2010 yang berbunyi: “Pejabat Lelang yang melaksanakan lelang
wajib membuat berita acara lelang yang disebut Risalah Lelang.”
Tingkatan Pejabat Lelang
PERMENKEU No. 106/PMK/06/2013 membedakan Pejabat lelang
menjadi 2 (dua) antara lain:
50
Ibid.
53
1. Pejabat Lelang Kelas I, dan
2. Pejabat Lelang Kelas II
Pejabat Lelang Kelas I adalah Pejabat Lelang pegawai Direktorat Jenderal
Kekayaan Negara yang berwenang melaksanakan Lelang Eksekusi, Lelang
Noneksekusi Wajib, dan Lelang Noneksekusi Sukarela. Sedangkan Pejabat
Lelang Kelas II adalah Pejabat Lelang swasta yang berwenang melaksanakan
Lelang Noneksekusi Sukarela.
Pejabat Lelang Kelas I adalah:
a. Pegawai Pejabat Lelang pegawai Direktorat Jenderal Kekayaan Negara
(selanjutnya disebut DJPLN) yang diangkat untuk itu;
b. Dengan demikian yang menduduki Pejabat Lelang Kelas I, hanya pegawai
yang berada di lingkungan DJPLN;
c. Tidak bisa diangkat yang berasal dari luar pegawai DJPLN.
Pejabat Lelang Kelas II adalah:
a. Berkedudukan di Kantor Pejabat Lelang Kelas II atau Balai Lelang;
b. Diangkat dari kalangan:
1. Notaris,
2. Penilai, atau
3. Pensiunan Pegawai Negeri Sipil DJPLN.51
Pelaksanaan lelang oleh balai lelang dilakukan di hadapan pejabat lelang,
sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pejabat lelang adalah pejabat umum yang
diangkat oleh Menteri Keuangan untuk melaksanakan pelelangan berdasarkan
51
M. Yahya Harahap I, op.cit. hal. 118-119.
54
peraturan perundang-undangan yang berlaku (Pasal 1 (14) Peraturan Menteri
Keuangan Republik Indonesia Nomor 106/PMK.06/2013 tentang Perubahan Atas
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 93/PMK.06/2010 Tentang Petunjuk
Pelaksanaan Lelang.
Menurut Salim HS, fungsi dari pejabat lelang antara lain adalah:
1. Peneliti dokumen objek lelang, dalam pelaksanaan lelang. Pejabat
lelang meneliti kebenaran formal dokumen lelang;
2. Pemberi informasi lelang untuk mengoptimalkan pelaksanaan lelang,
informasi ini diberikan kepada pengguna jasa lelang;
3. Pemimpin lelang, yaitu untuk menjamin ketertiban, keamanan, dan
kelancaran, serta mewujudkan pelaksanaan lelang yang berdaya guna
dan dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan yang
berlaku. Pejabat lelang dalam memimpin lelang harus komunikatif,
tegas, dan berwibawa;
4. Juri. Pejabat lelang sebagai seorang juri harus bertindak adil dan
bijaksana untuk menyelesaikan persengketaan yang mungkin timbul
dalam pelaksanaan lelang;
5. Pejabat umum. pejabat lelang sebagai pejabat yang membuat akta
autentik berdasarkan undang-undang di wilayah kerjanya;
6. Bendaharawan, dalam pelaksanaan lelang, pejabat lelang menerima,
menyetorkan, dan mempertanggungjawabkan uang hasil lelang.52
2.1.4 Jenis-Jenis Lelang
Adapun jenis-jenis lelang yang dimaksud adalah:
1. Lelang Eksekusi Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN)
Lelang eksekusi PUPN adalah pelayanan lelang yang diberikan kepada
PUPN/BUPLN dalam rangka proses penyelesaian pengumuman pitang
negara atas barang jaminan/sitaan milik penanggung hutang yang tidak
membayar hutangnya kepada negara berdasarkan Undang-Undang
52
Salim, HS I., op.cit. hal. 250.
55
Nomor 49 Prp tahun 1960 tentang Panitia Pengurusan Piutang
Negara.53
2. Lelang Eksekusi Pengadilan Negeri (PN)/Pengadilan Agama (PA)
Lelang Eksekusi Pengadilan Negeri (PN)/Pengadilan Agama (PA)
adalah lelang yang diminta oleh panitera PN/PA untuk melaksanakan
keputusan hakim pengadilan yang telah berkekuatan pasti, khususnya
pemegang hak tanggungan telah diminta fiat eksekusi kepada ketua
pengadilan. Lelang eksekusi pengadilan untuk melaksanakan Pasal 200
HIR dan Pasal 215 Rbg. Lelang dalam rangka penyelesaian kredit
macet bank swasta, yang penyelesaiannya melalui pengadilan
berdasarkan gugat perdata, atau berdasarkan fiat eksekusi.54
3. Lelang
Eksekusi
Pasal
6
Undang-Undang
Hak
Tanggungan
(selanjutnya disebut UUHT)55
Lelang eksekusi hak tanggungan yang dilakukan berdasarkan Pasal 6
UUHT, yang memberikan hak kepada pemegang tanggungan pertama
untuk menjual sendiri secara lelang terhadap objek hak tanggungan
apabila cidera janji.
Terdapat tiga cara untuk melakukan eksekusi Hak Tanggungan:
a. Parate Eksekusi (Pasal 6 dan Pasal 11 huruf c UUHT)
-
53
Pasal 6 UUHT mengatakan Parate Eksekusi demi hukum.
Purnama Tioria Sianturi, 2013, Perlindungan Hukum Terhadap Pembeli
Barang Jaminan Tidak Bergerak Melalui Lelang, CV. Mandar Maju, Bandung,
hal. 62.
54
Ibid, hal. 72.
55
Ibid, hal. 74.
56
-
Pasal 11 huruf c UUHT Parate Eksekusi karena diperjanjikan
Parate Eksekusi adalah eksekusi tanpa proses pengadilan dan tanpa
titel eksekutorial. Parate eksekusi dapat terjadi berdasarkan Pasal 6
UUHT yang mengatakan bahwa apabila debitur cidera janji,
pemegang Hak Tanggungan pertama mempunyai hak untuk
menjual objek Hak Tanggungan atas kekuasaan sendiri melalui
pelelangan umum serta mengambil pelunasan piutangnya dari hasil
penjualan tersebut. Ketentuan Pasal 6 UUHT ini berarti tanpa ada
janjipun sudah mengikat.
b. Eksekusi melalui Pengadilan
UUHT memberikan kemungkinan pelaksanaan eksekusi melalui
proses pengadilan. Proses peradilan, memakan waktu dan biaya,
maka dalam praktek yang dilakukan adalah eksekusi melalui suatu
gugatan. Apabila terjadi gugatan lewat pengadilan, benda objek
jaminan akan dilelang di muka umum dan hasilnya dipakai untuk
melunasi hutang debitur.
c. Penjualan objek jaminan secara di bawah tangan (Pasal 20 UUHT
angka 3)
Penjualan di bawah tangan adalah penjualan yang dilakukan tidak
melalui lelang di muka umum. Penjualan di bawah tangan akan
lebih menguntungkan kedua belah pihak karena biasanya apabila
terjadi penjualan melalui lelang harga mungkin turun dan debitur
maupun kreditor dapat dirugikan.
57
Penjelasan Pasal 6 UUHT menyebutkan bahwa hak untuk menjual
hak tanggungan atas kekuasaan sendiri adalah salah satu bentuk
perwujudan dari kedudukan yang diutamakan yang dipunyai pemegang
hak tanggungan. UUHT memberikan landasan hukum untuk langsung
melakukan eksekusi jaminan melakukan eksekusi atau penjualan jaminan
hutang melalui pelelangan umum tanpa fiat pengadilan yaitu berdasarkan
Pasal 14 yang memberikan penegasan bahwa sertifikat hak tanggungan
memiliki titel eksekutorial yang memuat irah-irah “Demi Keadilan
Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” memiliki kekuatan eksekutorial
yang sama dengan pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap.
Sehingga dengan adanya titel eksekutorial maka apabila debitur cidera
janji maka kreditor dapat langsung melakukan eksekusi jaminan tanpa
harus melakukan gugatan perdata kepada debitur melalui Pengadilan
Negeri.
2.1.5 Akta Risalah Lelang Sebagai Akta Otentik
Risalah Lelang adalah berita acara pelaksanaan lelang yang dibuat oleh
Pejabat Lelang yang merupakan akta otentik dan mempunyai kekuatan
pembuktian sempurna. Pasal 1 Angka (32) Peraturan Menteri Keuangan Republik
Indonesia Nomor106/PMK.06/2013 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 93/PMK.06/2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang
58
(selanjutnya disebut PERMENKEU Nomor 106/PMK.06/2013 tentang Petunjuk
Pelaksanaan Lelang). Risalah lelang terdiri dari:56
a. Bagian Kepala;
b. Bagian Badan; dan
c. Bagian Kaki.
Setiap risalah lelang harus diberi nomor urut tersendiri. Bagian kepala
risalah lelang memuat sekurang-kurangnya:
a. hari, tanggal, dan jam ditulis dengan huruf dan angka;
b. nama lengkap, pekerjaan, dan tempat tinggal/domisili dari pejabat
lelang;
c. nama lengkap, pekerjaan, dan tempat/domisili penjual;
d. pendapat pejabat lelang yang bersangkutan mengenai analisis subjek
dan objek lelang;
e. nomor/tanggal surat permohonan lelang;
f. tempat pelaksanaan lelang;
g. sifat barang yang dilelang dan alasan barang tersebut dilelang;
h. dalam hal yang dilelang barang-barang tidak bergerak berupa tanah
dan/atau bangunan harus disebutkan:
1. status hak tanah atau surat-surat lain yang menjelaskan bukti
kepemilikan;
2. batas-batasnya;
3. surat keterangan ranah dari Kantor Pertanahan;
4. keterangan lain yang membebani tanah tersebut;
5. cara bagaimana lelang itu diumumkan oleh penjual;
6. syarat-syarat umum lelang.
Sedangkan bagian badan risalah lelang memuat sekurang-kurangnya:
a. banyaknya penawaran lelang yang masuk dan sah;
b. nama barang yang dilelang;
c. nama, pekerjaan, dan alamat pembeli, sebagai pembeli atas nama
sendiri atau sebagai kuasa atas nama orang lain;
d. bank kreditur pembeli untuk orang atau badan hukum atau badan usaha
yang akan ditunjuk namanya;
e. harga lelang dengan angka dan huruf; dan
f. daftar barang yang laku terjual/ditahan memuat nilai, nama, alamat
pembeli.
Kemudian dibagian kaki risalah lelang memuat sekurang-kurangnya:
56
Salim, H.S. I, op.cit. hal. 266-268.
59
a. banyaknya barang yang ditawar/dilelang dengan angka dan huruf;
b. jumlah nilai barang-barang yang telah terjual dengan angka dan huruf;
c. banyaknya surat-surat yang dilampirkan pada risalah lelang dengan
angka dan huruf;
d. jumlah nilai barang-barang yang ditahan dengan angka dan huruf;
e. jumlah perubahan yang dilakukan (catatan, tambahan, coretan, dengan
penggantiannya) maupun tidak adanya perubahan ditulis dengan angka
dan huruf; dan
f. tanda tangan pejabat lelang, penjual/kuasa penjualan dalam hal barang
lelang tidak bergerak, pembeli/kuasa pembeli dapat turut
menandatangani risalah lelang;
Apabila risalah lelang terjadi kesalahan dalam pembuatannya, maka harus
dilakukan pembetulan. Pembetulan kesalaahan pembuatan risalah lelang berupa
pencoretan, penggantian, dilakukan sebagai berikut:57
a. Pencoretan kesalahan kata, huruf, atau angka dalam risalah lelang
dilakukan dengan garis lurus tipis, sehingga yang dicoret dapat dibaca,
dan atau
b. Penambahan/perubahan kata atau kalimat risalah lelang ditulis di
sebelah pinggir kiri dari lembar risalah lelang. Apabila tidak mencukupi
ditulis pada bagian bawah kaki dari lembaran risalah lelang dengan
menunjuk lembar dan garis yang berhubungan dengan perubahan itu;
c. Jumlah kata, huruf atau angka yang dicotet atau yang ditambahkan
diterangkan pada sebelah pinggir lembar risalah lelang, begitu pula
banyaknya kata atau angka yang ditambahkan.
Perubahan tersebut hanya dapat dilakukan sebelum risalah lelang tersebut
ditandatangani. Apabila sesudah risalah lelang ditutup dan ditandatangani maka
tidak boleh dilakukan perubahan lagi. Penandatanganan risalah lelang ini
57
Ibid.
60
dilakukan oleh pejabat lelang pada tiap lembar disebelah kanan atas dari risalah
lelang, kecuali pada lembar terakhir ditandatangani oleh pejabat lelang beserta
pembeli dan penjual lelang. Kemudian pihak-pihak yang berkepentingan berhak
mendapat salinan dari minuta risalah lelang tersebut yang telah ditandatangani
oleh Kepala Kantor Lelang, pihak-pihak yang berkepentingan antara lain adalah
pembeli lelang, penjual lelang, dan instansi pemerintah untuk kepentingan dinas.
Risalah lelang merupakan akta otentik karena dibuat dihadapan pejabat
dan memenuhi syarat formil dan syarat materiil suatu akta otentik. 58 Syarat formil
yaitu syarat bahwa risalah lelang dibuat dihadapan pejabat yang berwenang
menurut Undang-Undang, yaitu Pejabat Lelang. Sedangkan syarat materiilnya
adalah risalah lelang menurut kesepakatan kedua belah pihak yaitu pihak pembeli
dan penjual lelang, isi keterangan hukum (rechthandling) yang bersegi dua berupa
jual beli melalui lelang atau mengenai hubungan hukum (rechtbetrekking) antara
penjual dan pembeli lelang dan pembuatan akta sengaja dimaksudkan sebagai
bukti.
2.2
Tinjauan Umum Tentang Hak Tanggungan
2.2.1 Pengertian Hak Tanggungan
Pengertian hak tanggungan sesuai dengan Pasal 1 Angka 1 UUHT, yaitu:
Hak Tanggungan adalah hak jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah
sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960
tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, berikut atau tidak berikut
benda-benda lain yang merupakan satu kesatuan dengan tanah itu, untuk
pelunasan utang tertentu terhadap kreditor-kreditor lain.
58
M. Yahya Harahap I, op.cit. hal. 187.
61
Adrian Sutedi membedakan jaminan menjadi dua yaitu jaminan yang lahir
dari undang-undang yaitu jaminan umum dan jaminan yang lahir karena
perjanjian. 59 Jaminan umum adalah jaminan yang adanya telah ditentukan
Undang-Undang, Contohnya adalah pada Pasal 1311 KUHPerdata, Pasal 1232
KUHPerdata, dan Pasal 1311 KUHPerdata yang menyatakan bahwa kekayaan
Debitur, baik berupa benda bergerak dan tidak bergerak, yang telah ada dan yang
akan datang dikemudian hari walaupun tidak diserahkan sebagai jaminan, maka
akan secara hukum menjadi jaminan seluruh utang Debitur. Sedangkan jaminan
khusus adalah jaminan yang timbul karena adanya perjanjian terlebih dahulu,
yaitu perjanjian yang ada antara Debitur dengan pihak perbankan atau pihak
ketiga yang menanggung utang Debitur.60
Jaminan khusus terdiri dari jaminan yang bersifat perseorangan dan
jaminan yang bersifat kebendaan. Jaminan kebendaan memberikan hak
mendahului atas benda-benda tertentu dan mempunyai sifat yang melekat dan
mengikuti benda yang bersangkutan, sedangkan jaminan perseorangan bersifat
tidak memberikan hak mendahului atas benda-benda tertentu tetapi hanya terbatas
pada harta kekayaan seseorang lewat orang yang menjamin pemenuhan yang
bersangkutan.61
Menurut sifatnya perjanjian dibagi dua yaitu pokok dan perjanjian
accesoir. Perjanjian pokok adalah perjanjian utama yang dilakukan oleh Debitur
59
Adrian Sutedi, 2010, Hukum Hak Tanggungan, Sinar Grafika,
Jakarta, hal. 21.
60
Ibid, hal. 27.
61
Salim, HS, 2007, Perkembangan Hukum Jaminan Di Indonesia, Raja
Grafindo Persada, Jakarta, (selanjutnya disingkat Salim HS II), hal. 7.
62
dengan lembaga perbankan maupun lembaga keuangan non bank yang
diperuntukkan untuk mendapatkan fasilitas kredit dari lembaga keuangan.
Perjanjian kredit merupakan perjanjian pokok. Sedangkan perjanjian accesoir
adalah perjanjian tambahan yang dibuat disamping perjanjian pokok yang
bertujuan untuk memberikan kekuatan tambahan bagi perjanjian pokoknya.
Perjanjian accesoir bersifat melekat dengan perjanjian pokoknya sehingga apabila
perjanjian pokoknya telah usai maka secara otomatis perjanjian accesoir juga
telah berakhir, begitu juga apabila perjanjian pokoknya berpindah maka perjanjian
accesoir-nya ikut pula berpindah. Contoh dari perjanjian accesoir adalah
perjanjian pembebanan jaminan seperti perjanjian gadai, hak tanggungan, dan
fidusia.62
Sri Soedewi dalam bukunya yang berjudul Hukum Jaminan di Indonesia
menyatakan bahwa dalam praktek perbankan perjanjian pokoknya itu berupa
perjanjian pemberian kredit atau perjanjian membuka kredit oleh bank, dengan
kesanggupan memberikan jaminan berupa pembebanan hak tanggungan pada
suatu objek benda tertentu yang mempunyai tujuan sebagai penjaminan kekuatan
dari perjanjian pokonya.
63
Selain hak tanggungan, adapula fidusia, gadai,
borgtocht, dan lain-lain. Perjanjian penjaminan sendiri mempunyai kedudukan
sebagai perjanjian tambahan atau perjanjian accesoir yang dikaitkan dengan
perjanjian
62
pokok
tersebut.
kedudukan
perjanjian
penjaminan
yang
Ibid, hal. 23.
Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, 1980, Hukum Jaminan Di Indonesia
Pokok-Pokok Hukum Jaminan dan Jaminan Perorangan, C.V. Bina Usaha,
Yogyakarta, hal. 37.
63
63
dikonstruksikan sebagai perjanjian accesoir itu memberikan kuatnya lembaga
jaminan tersebut bagi keamanan pemberian kredit oleh kreditur.
2.2.2 Subjek dan Objek Hak Tanggungan
Subjek hak tanggungan dapat dilihat pada ketentuan Pasal 8 dan Pasal 9
UUHT, yaitu menurut Pasal 8 ayat (1) UUHT “Pemberi Hak Tanggungan adalah
orang perorangan atau badan hukum yang mempunyai kewenangan untuk
melakukan
perbuatan
hukum
terhadap
obyek
Hak
Tanggungan
yang
bersangkutan.” Pada Pasal 9 UUHT menyebutkan bahwa: “Pemegang Hak
Tanggungan adalah orang perorangan atau badan hukum yang berkedudukan
sebagai pihak yang berpiutang.” Sehingga dapat disimpulkan bahwa subjek hak
tanggungan merupakan pemberi dan pemegang hak tanggungan yaitu para pihak
yang mempunyai kepentingan berkaitan dengan perjanjian utang piutang yang
dijamin pelunasanya.
Objek hak tanggungan terdapat pada Pasal 4 ayat (1) UUHT yaitu hak atas
tanah yang dapat dibebani hak tanggungan adalah Hak Milik, Hak Guna Usaha,
dan Hak Pakai Atas Tanah Negara. Hak-hak tersebut menurut ketentuan yang
berlaku wajib didaftarkan dan menurut sifatnya dapat dipindahtangankan. Selain
hak-hak atas tanah tersebut dalam Pasal 4 ayat (2) yang dapat juga dibebani hak
tanggungan juga berikut hak pakai atas tanah negara yang menurut ketentuan
yang berlaku wajib di daftar dan menurut sifatnya dapat dipindahtangankan.
Pasal 4 ayat 4 UUHT menyatakan bahwa hak tanggungan dapat juga
dibebankan pada hak atas tanah berikut bangunan, tanaman, dan hasil karya yang
telah ada atau aka nada yang merupakan satu kesatuan dengan tanah tersebut, dan
64
yang merupakan milik pemegang hak atas tanah yang pembebanannya dinyatakan
secara tegas dalam Akta Pembebanan Hak Tanggungan yang bersangkutan.
Suatu objek hak tanggungan dapat dibebani lebih dari satu hak tanggungan
guna menjamin pelunasan lebih dari satu hutang dan peringkatnya masing-masing
hak tanggungan tersebut ditentukan sesuai dengan tanggal pendaftarannya pada
kantor pertanahan. Dalam hal apabila didaftarkan dengan tanggal yang sama maka
melihat pada Akta Pembebanan Hak Tanggungan, dan apabila suatu objek hak
tanggungan dapat dibebani lebih dari satu hak tanggungan sehingga terdapat
pemegang hak tanggungan peringkat pertama, peringkat kedua, dan seterusnya.64
2.2.3 Asas-Asas Hak Tanggungan
Apabila dilihat dalam UUHT maka Hak Tanggungan mempunyai asasasas sebagai berikut:
1. Hak tanggungan memberikan hak preferent (droit de preference) yaitu
kedudukan yang diutamakan atau mendahului. (Pasal 1 ayat (1));
2. Hak tanggungan tidak dapat dibagi-bagi (Pasal 2);
3. Hak tanggungan mempunyai sifat Droit de Suite (Pasal 7);
4. Hak tanggungan mempunyai sifat accesoir;
5. Hak tanggungan untuk menjamin utang yang telah ada maupun yang
akan ada;
6. Hak tanggungan dapat menjamin lebih dari satu hutang;
7. Hak tanggungan dapat dibebankan pada hak atas tanah saja;
8. Hak tanggungan dapat dibebankan pada hak atas tanah berikut benda
diatasnya dan dibawah tanah;
9. Hak tanggungan berisi hak untuk melunasi utang dari hasil penjualan
benda jaminan dan tidak memberikan hak bagi kreditur untuk memiliki
benda jaminan;
10. Hak tanggungan mempunyai kekuatan eksekutorial;
11. Hak tanggungan mempunyai sifat spesisalitas dan publiksitas.65
64
M. Bahsan, 2010, Hukum Jaminan dan Jaminan Kredit Perbankan
Indonesia, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, hal. 28.
65
Salim, HS II, op.cit. hal. 102.
65
Menurut Salim H.S artinya bahwa pemegang hak tanggungan diberikan
kedudukan yang diutamakan terhadap kreditor tertentu sehingga kreditor satu
mempunyai kedudukan yang lebih diutamakan dibandingkan dengan kreditor
lainnya untuk memperoleh pembayaran piutangnya dari hasil penjualan objek
jaminan kredit yang diikat dengan hak tanggungan tersebut. Apabila debitur
cidera janji, maka kreditor pemegang hak tanggungan berhak menjual melalui
pelelangan umum objek hak jaminan dalam hal ini adalah tanah yang dijadikan
jaminan menurut ketentuan peraturan perundang-undangan yang bersangkutan
dengan hak mendahului daripada kreditor-kreditor lainnya. Kreditor pemegang
hak tanggungan didahulukan dalam mengambil pelunasan atas hasil penjualan
eksekusi obyek hak tanggungan. Kedudukan sebagai kreditor yang mempunyai
hak didahulukan dari kreditor lain (kreditor preferen). Jadi hak mendahulukan
dimaksudkan adalah bahwa kreditor pemegang Hak Tanggungan didahulukan
dalam mengambil pelunasan atas hasil penjualan eksekusi obyek Hak
Tanggungan. Kedudukan diutamakan tersebut sudah barang tentu tidak
mengurangi preferensi piutang-piutang Negara menurut ketentuan-ketentuan
hukum yang berlaku.
Sedangkan asas Hak Tanggungan yang kedua yaitu tidak dapat di bagibagi sebagaimana dalam Pasal 2 UUHT artinya Hak Tanggungan membebani
secara utuh obyeknya dan setiap bagian daripadanya. Didalam penjelasan Pasal 2
UUHT menyatakan bahwa:
Yang dimaksud dengan sifat tidak dapat dibagi-bagi dari Hak Tanggungan
adalah bahwa Hak Tanggungan membebani secara utuh objek hak tanggungan
dan setiap bagian daripadanya. Telah dilunasinya sebagian dari utang yang telah
dijamin tidak berarti terbebasnya sebagian objek Hak Tanggungan dari beban Hak
66
Tanggungan untuk sisa utang yang belum dilunasi. Ketentuan ini merupakan
pengecualian dari asas yang ditetapkan pada ayat (1) untuk menampung
kebutuhan perkembangan dunia perkreditan, antara lain untuk mengakomodasi
keperluan pendanaan pembangunan kompleks perumahan yang semula
menggunakan kredit untuk pembangunan seluruh kompleks dan kemudian akan
dijual kepada pemakai satu persatu, sedangkan untuk membayarnya pemakai
akhir ini juga menggunakan kredit dengan jaminan rumah yang bersangkutan.
Sesuai ketentuan ayat ini apabila Hak Tanggungan itu dibebankan pada beberapa
hak atas tanah yang terdiri dari beberapa bagian yang masing-masing merupakan
suatu kesatuan yang berdiri sendiri dan dapat dinilai secara tersendiri, asas tidak
dapat dibagi-bagi ini dapat disimpangi asal hal itu diperjanjikan secara tegas
dalam Akta Pemberian Hak Tanggungan yang bersangkutan.
Sehingga pelunasan sebagian utang yang dijamin tidak membebaskan
sebagian obyek dari beban Hak Tanggungan, tetapi Hak Tanggungan tetap
membebani seluruh obyeknya untuk sisa utang yang belum dilunasi.Kemudian
sifat droit de suite atau zaaksgelovg mempunyai arti bahwa pemegang hak
tanggungan mempunyai hak mengikuti objek hak tanggungan meskipun objek hak
tanggungan telah berpindah dan menjadi milik pihak lain. Penjelasan Pasal 7
menyatakan bahwa sifat ini merupakan salah satu jaminan khusus bagi
kepentingan pemegang hak tanggungan. Walaupun objek hak tanggungan sudah
berpindahtangan dan menjadi milik pihak lain, kreditor masih tetap dapat
menggunakan haknya melakukan eksekusi jika debitur cidera janji. Misalnya
apabila ada objek hak tanggungan (tanah dan bangunan) telah dijual dan menjadi
milik pihak lain, maka kreditur sebagai pemegang jaminan tersebut tetaplah
mempunyai hak untuk melakukan eksekusi atas jaminan tersebut apabila debitur
cidera janji meskipun tanah dan bangunan tersebut telah beralih dari milik debitur
menjadi milik pihak lain. Hal ini merupakan perwujudan dari Pasal 7 yang
menyatakan bahwa hak tanggungan tetap mengikuti objeknya dalam tangan
siapapun objek tersebut berada dan objek tersebut tetap terbeban hak tanggungan
67
walaupun di tangan siapapun benda itu berada.
Hak tanggungan juga bersifat accesoir yang artinya hak tanggungan yang
berarti bahwa hak tanggungan bukanlah hak yang berdiri sendiri tetapi
eksistensinya tergantung pada perjanjian pokoknya yaitu perjanjian kredit atau
perjanjian utang lainnya. Lahirnya ditentukan oleh piutang yang dijamin
pelunasannya begitu juga hapusnya tergantung pada perjanjian pokonya yaitu
perjanjian kredit atau perjanjian lain yang menimbulkan utang yang hapusnya
disebabkan karena lunasnya kredit atau lunasnya hutang tertentu. Sifat jaminan
yang accesoir maka mempunyai sifat antara lain:
1.
2.
3.
4.
5.
Adanya tergantung pada perjanjian pokok;
Hapusnya tergantung pada perjanjian pokok;
Jika perjanjian pokok batal maka perjanjian accesoir juga batal.
Ikut beralih dengan beralihnya perjanjian pokok;
Jika perutangan pokok beralih karena cessi, subrograsi maka ikut
beralih juga tanpa adanya penyerahan khusus.66
Selain itu hak tanggungan diperuntukkan untuk menjamin utang yang telah
ada maupun yang akan ada sesuai dengan Pasal 3 ayat (1) UUHT yaitu:
a. Utang yang telah ada artinya besarnya utang yang telah ditentukan
dalam perjanjian kredit. Besarnya utang yang ada dalam perjanjian
kredit biasanya merupakan jumlah maksimum atau plafond;
b. Utang yang aka nada telah diperjanjikan dengan jumlah tertentu. Utang
ini merupakan utang yang akan ada karena terjadinya dimasa akan
dating tetapi jumlahnya sudah bisa ditentukan sesuai komitmen kreditur
untuk membayar Bank Garansi akibat debitur tidak memenuhi
kewajiban kepada penerima Bank Garansi;
c. Utang yang akan ada tetapi jumlahnya pada saat permohonan eksekusi
hak tanggungan diajukan dapat ditentukan berdasarkan perjanjian kredit
atau perjanjian lain yang menimbulkan hubungan utang-pitang.
Sedangkan Pasal 3 ayat (2) UUHT menyatakan bahwa hak tanggungan
dapat diberikan untuk suatu hutang yang berasal dari satu hubungan hukum atau
66
Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, loc.cit.
68
untuk satu atau lebih yang berasal dari beberapa hubungan hukum. Sehingga
pemberian hak tanggungan dapat diberikan untuk:
a. Satu atau lebih kreditur yang memberikan kredit kepada satu debitur
berdasarkan perjanjian masing-masing secara bilateral antara krediturkreditur dengan debitur.
b. Beberapa kreditur secara bersama-sama memberikan kredit kepada satu
debitur berdasarkan satu perjanjian.
Hak tanggungan juga dapat menjamin lebih dari satu hutang. Hak
tanggungan dapat diberikan untuk suatu utang yang berasal dari satu hubungan
hukum atau untuk satu utang atau lebih yang berasal dari beberapa hubungan
hukum sesuai dengan Pasal 3 ayat (2) UUHT. Penjelasan Pasal 3 antara lain
adalah bahwa utang yang dijamin dengan hak tanggungan dapat berupa utang
yang sudah ada maupun yang belum ada, tetapi sudah diperjanjikan, misalnya
utang yang timbul dari pembayaran yang dilakukan oleh kreditor untuk
kepentingan debitur dalam rangka pelaksanaan bank garansi. Jumlahnya juga
dapat ditentukan secara tetap didalam perjanjian yang bersangkutan dan dapat
pula ditentukan dikemudian hari berdasarkan cara perhitungan yang telah
ditentukan didalam perjanjian yang menimbulkan hubungan utang-piutang yang
bersangkutan. Misalnya utang bunga atas pinjaman pokok dan ongkos-ongkos
lain yang jumlahnya baru dapat ditentukan kemudian. Suatu onjek hak
tanggungan dapat dibebani lebih dari satu hak tanggungan guna menjamin
pelunasan dari satu hutang. Peringkat masing-masing hak tanggungan ditentukan
menurut tanggal pendaftarannya di kantor pertanahan, suatu objek hak
69
yanggungan yang dapat dibebani lebih dari satu hak tanggungan tersebut
menimbulkan pemegang hak tanggungan peringkat pertama, peringkat kedua, dan
seterusnya.
Hak tanggungan dapat dibebankan pada hak atas tanah saja yaitu asas yang
merupakan perwujudan dari sistem tanah nasional yang didasarkan pada hukum
adat yang menggunakan asas pemisahan horizontal. Secara yuridis formal asas
yang menyatakan bahwa Hak Tanggungan hanya dapat dibebankan pada hak atas
tanah yang telah ada diatur dalam : Pasal 8 ayat (2) dinyatakan bahwa
kewenangan untuk melakukan perbuatan hukum terhadap objek Hak Tanggungan
harus ada pada pemberi Hak Tanggungan pada saat pendaftaran Hak Tanggungan.
Hak Tanggungan hanya dapat dibebankan pada hak atas tanah yang telah dimiliki
oleh pemegang Hak Tanggungan. Oleh karena itu, hak atas tanah yang baru akan
dipunyai oleh seseorang di kemudian hari tidak dapat dijaminkan dengan Hak
Tanggungan bagi pelunasan suatu utang. Begitu juga tidaklah mungkin untuk
membebankan Hak Tanggungan pada suatu hak atas tanah yang baru akan ada
di kemudian hari.
Hak tanggungan dapat dibebankan pada hak atas tanah berikut benda
diatasnya dan dibawah tanah. Hal ini sesuai ketentuan dalam Pasal 4 ayat (4)
UUHT yaitu Hak Tanggungan dapat juga dibebankan pada hak atas tanah
berikut bangunan, tanaman, dan hasil karya yang telah ada atau akan ada yang
merupakan satu kesatuan dengan tanah tersebut, dan yang merupakan milik
pemegang hak atas tanah yang pembebanannya dengan tegas dinyatakan di dalam
Akta Pemberian Hak Tanggungan yang bersangkutan.Berdasarkan ketentuan
70
Pasal 4 ayat (4) di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dapat dijadikan jaminan
selain benda-benda yang berkaitan dengan tanah, juga benda-benda yang bukan
dimiliki oleh pemegang hak atas tanah tersebut.
Hak tanggungan berisi hak untuk melunasi utang dari hasil penjualan
benda jaminan dan tidak memberikan hak bagi kreditur untuk memiliki benda
jaminan. Asas ini merupakan perlindungan terhadap debitur. Melihat dari tujuan
hak tanggungan tersebut adalah untuk menjamin pelunasan utang apabila debitur
atau si berhutang cidera janji dengan cara mengambil dari hasil penjualan benda
jaminan itu bukan untuk dikuasai atau dimiliki kreditor sebagai pemegang hak
tanggungan. Salah satu tujuan dari asas ini yaitu melindungi debitur dari tindakan
sewenang-wenang dari kreditor sebagai pemegang hak tanggungan.
Asas
selanjutnya
adalah
hak
tanggungan
mempunyai
kekuatan
eksekutorial yang artinya bahwa kreditor sebagai pemegang hak tanggungan
pertama mempunyai hak untuk mengeksekusi benda jaminan apabila debitur
cidera janji. Apabila debitur wanprestasi yaitu tidak melunasi utangnya sesuai
dengan yang diperjanjikan kepada kreditor, maka kreditor yang bersangkutan
akan melakukan eksekusi atas objek jaminan yang diikuti hak tanggungan.
Pencantuman asas Hak Tanggungan ini berkaitan untuk mencegah terjadinya
cedera janji yang dilakukan pemegang Hak Tanggungan. Oleh karena itu, apabila
terjadi cedera janji, pemegang Hak Tanggungan pertama mendapatkan prioritas
pertama menjual obyek Hak Tanggungan.67 Hal ini sesuai dengan Pasal 6 UUHT,
dengan mengacu pada Pasal 6 tersebut maka apabila debitur cidera janji, hal ini
67
Supriadi, 2012, Hukum Agraria, Sinar Grafika, Jakarta, hal. 185.
71
dapat dimintakan untuk melaksanakan eksekusi atau yang biasa disebut parate
eksekusi. Oleh karena itu, parate eksekusi yang terdapat didalam hak tanggungan
diperjanjikan atau tidak diperjanjikan hak itu demi hukum dipunyai oleh
pemegang Hak Tanggungan. Sertifikat hak tanggungan yang merupakan tanda
bukti adanya Hak Tanggungan yang diberikan oleh Kantor Pertanahan dan yang
memuat irah-irah dengan kata-kata “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang
Maha Esa.”, mempunyai kekuatan eksekutorian yang sama kuatnya dengan
putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.
Hak tanggungan juga mempunyai sifat spesisalitas dan publiksitas, yaitu
uraian yang jelas dan terperinci mengenai obyek hak tanggungan yang meliputi
rincian mengenai sertifikat ha katas tanah misalnya hak atas tanah Hak Milik atau
Hak Guna Bangunan atau Hak Guna Usaha, tanggal penerbitannya, tentang
luasnya, letaknya, batas-batasnya dan lain sebagainya. Jadi di dalam akta Hak
Tanggungan harus diuraikan secara spesifik mengenai hak atas tanah yaitu
dibebani hak tanggungan. Seperti tercantum dalam Pasal 11 ayat (1) huruf e
UUHT yang menentukan bahwa “Didalam Akta Pemberian Hak Tanggungan
wajib dicantumkan uraian yang jelas mengenai objek Hak Tanggungan. Uraian
yang jelas mengenai obyek hak tanggungan adalah uraian mengenai sertifikat ha
katas tanah seperti disebutkan di atas.” Sedangkan sifat Publiksitas hak
tanggungan adalah bahwa hak tanggungan haruslah didaftarkan di Kantor
Pertanahan dimana tanah yang dibebani hak tanggungan tersebut berada, sehingga
apabila ada pihak ketiga yang merasa dirugikan dapat melakukan tindakan karena
telah melihat adanya pendaftaran tersebut, dan hanya dengan pencatatan
72
pendaftaran yang terbuka bagi umum yang memungkinkan pihak ketiga dapat
mengetahui tentang adanya pembebanan Hak Tanggungan atas suatu hak atas
tanah.
2.2.4 Pemberian Hak Tanggungan
Tata cara pemberian dan pendaftaran Hak Tanggungan diatur dalam Pasal
17 UUHT yang menyatakan bahwa:
Bentuk dan isi akta pemberian Hak Tanggungan, bentuk dan isi buku
tanah Hak Tanggungan, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan tata cara
pemberian dan pendaftaran hak tanggungan ditetapkan dan
diselenggarakan berdasarkan Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 19 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan
Dasar Pokok-Pokok Agraria.
Tata cara pemberian Hak Tanggungan merupakan prosedur tata cara
proses pelimpahan kepada pihak ketiga, karena di dalamnya terdapat janji
pelunasan utang. Tata cara ini diatur dalam Pasal 10 ayat (1), (2), dan (3) UUHT
yang dinyatakan sebagaimana berikut:
Pemberian Hak Tanggungan didahului dengan janji untuk memberikan
Hak Tanggungan sebagai jaminan pelunasan utang tertentu, yang dituangkan di
dalam dan merupakan bagian tak terpisahkan dari perjanjian utang piutang yang
bersangkutan atau perjanjian lainnya yang menimbulkan utang tersebut.
Pemberian Hak Tanggungan dilakukan dengan pembuatan Akta Pemberian Hak
Tanggungan dilakukan dengan pembuatan Akta Pemberian Hak Tanggungan oleh
PPAT sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Apabila objek
Hak Tanggungan berupa hak atas tanah yang berasal dari konversi hak lama yang
telah memenuhi syarat untuk didaftarkan akan tetapi pendaftarannya belum
dilakukan, pemberian Hak Tanggungan dilakukan bersama dengan permohonan
pendaftaran ha katas tanah yang bersangkutan.
Dari penjelasan Pasal 10 ayat (1) disebutkan bahwa sesuai dengan sifat
hak tanggungan yaitu accesoir maka pemberiannya haruslah merupakan ikutan
dari perjanjian pokok, yaitu perjanjian yang menimbulkan hubungan hukum
73
utang-piutang yang dijamin pelunasannya. Perjanjian yang dapat menimbulkan
utang piutang ini dapat dibuat dengan akta dibawah tangan maupun dengan akta
autentik, tergantung pada ketentuan hukum yang mengatur materi perjanjian itu.
Dalam hal hubungan utang-pitang itu timbul dari perjanjian utang piutang atau
perjanjian kredit, perjanjian tersebut dapat dibuat didalam maupun di luar negeri
dan pihak-pihak yang bersangkutan dapat perseorangan atau badan hukum asing
sepanjang
kredit
yang
bersangkutan
dipergunakan
untuk
kepentungan
pembangunan di wilayah negara Republik Indonesia.68
Pemberian hak tanggungan dilakukan dengan cara pembuatan Akta
Pemberian Hak Tanggungan oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (selanjutnya
disingkat PPAT), hal ini telah tercantum di dalam Pasal 10 ayat (2) UUHT. Dalam
bukunya yang berjudul Hukum Jaminan dan Jaminan Kredit Perbankan Indonesia,
M. Bahsan menjelaskan Pasal 10 ayat (3) yaitu bahwa apabila objek hak
tanggungan tersebut berupa hak atas tanah yang berasal dari konvensi hak lama
yang telah memenuhi syarat untuk didaftarkan, tetapi pendaftarannya belum
dilakukan, maka pemberian hak tanggungan dilakukan bersamaan dengan
permohonan pendaftaran hak atas tanah yang bersangkutan. Hak lama dalam hal
ini artinya hak kepemilikan atas tanah menurut hukum adat yang telah ada tetapi
proses administrasi dalam konvensinya belum selesai dilaksanakan, dan syaratsyarat yang harus dipenuhi adalah syarat-syarat yang ditetapkan oleh peraturan
perundang-undangan yang berlaku.69
68
69
Ibid, hal. 30.
Ibid, hal. 31.
74
Proses yang dijalani dalam pembebanan hak tanggungan antara lain:70
1. Perjanjian Kredit
Dalam hal ini para pihak, yaitu kreditor (bank) dan debitur membuat
perjanjian kredit. Perjanjian kredit ini dapat dilakukan dengan dua cara
yaitu:
a. Perjanjian kredit di bawah tangan, yaitu perjanjian kredit yang dibuat
antara debitur sebagai peminjam dengan kreditor sebagai pemberi
pinjaman atau kredit.
b. Perjanjian kredit notariil, yaitu perjanjian kredit yang dibuat
dihadapan Notaris. Hal ini perlu dilakukan apabila jumlah pinjaman
yang diberikan sangat besar.
2. Pembebanan Hak Tanggungan
Keberadaan Hak Tanggungan tersebut ditentukan melalui pemenuhan
tata cara pembebanan yang meliputi dua tahap kegiatan, yaitu:
a. Tahap Pemberian Hak Tanggungan:
1.
Untuk keperluan pembebanan hak tanggungan, pertama
debitur harus menyerahkan kepada bank sertifikat hak atas
tanah (Hak Milik, Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan,
Hak Pakai Atas Tanah Negara) yang akan dibebani hak
tanggungan. Sertifikat hak atas tanah tersebut dapat atas
nama debitur sendiri atau atas nama pihak ketiga.
70
Adrian Sutedi, op.cit. hal. 91-93.
75
2.
Disamping harus menyerahkan sertifikat hak atas tanah
debitur atau pemilik tanah juga harus mengusahakan atau
menyerahkan kepada bank, Surat Keterangan Pendaftaran
Tanah (SKPT) dan Kantor Pertanahan setempat, dapat pula
langsung dimintakan oleh bank kepada Kantor Pertanahan.
Adapun yang dimaksud dengan SKPT adalah Surat
Keterangan yang memuat keterangan mengenai:
i.
Keabsahan dari sertifikat hak atas tanah;
ii. Status tanah tersebut dalam sengketa atau diletakkan
sita oleh pengadilan atau tidak;
iii. Tanah sudah atau belum dibebani hak tanggungan,
dan lain-lain yang berkaitan dengan pendaftaran
tanah.
3.
Demi menjamin keamanan, selain informasi yang diperoleh
dari SKPT, kreditur (bank) seharusnya mencari informasi
lainnya, antara lain dengan cara:

Melihat
rencana
tanah
kota,
untuk
melihat
peruntukkan tanah tersebut di masa yang akan
datang.

4.
Memeriksa lokasi tanah.
Setelah penelitian kreditor (bank) dianggap cukup, kemudian
pihak bank dan pemilik tanah datang ke PPAT yang
wewenangnya meliputi daerah dimana tanah tersebut terletak,
76
untuk membuat Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT).
Pemberian hak tanggungan ini dilakukan dengan pembuatan
Akta Pemberian Hak Tanggungan oleh PPAT sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku. Setelah itu
Akta Pemberian Hak Tanggungan itu ditandatangani oleh
pemilik tanah selaku pemberi hak tanggungan, pemegang hak
tanggungan, yaitu pihak bank, dua orang saksi, dan PPAT
sendiri.
b. Kantor pertahanan tersebut kemudian akan melakukan hal-hal
sebagai berikut:

Membuat buku tanah hak tanggungan

Mencatat di buku tanah hak atas tanah yang menjadi objek
hak tanggungan

Mencatat pembebanan hak tanggungan tersebut dalam
sertifikat hak atas tanah yang bersangkutan

Mendaftar dalam daftar buku tanah hak tanggungan
Menurut Pasal 13 ayat (4) UUHT, tanggal buku tanah hak
tanggungan adalah tanggal hari ketujuh setelah penerimaan
secara
lengkap
surat-surat
yang
diperlukan
bagi
pendaftarannya, yang merupakan saat lahirnya sertifikat hak
tanggungan.
77
c. Sertifikat hak tanggungan dan sertifikat hak atas tanah kemudian
diserahkan kepada kreditur selaku pemegang hak tanggungan untuk
disimpan.
2.2.5 Lahir dan Berakhirnya Hak Tanggungan
Hak tanggungan dinyatakan lahir pada tanggal buku tanah hak tanggungan
yaitu pada hari ketujuh setelah Kantor Pertanahan menerima secara lengkap suratsurat yang diperlukan bagi pendaftaran dan jika hari ketujuh jatuh pada hari libur
buku tanah yang bersangkutan diberi tanggal hari kerja berikutnya. Hari dan
tanggal lahirnya hak tanggungan menandai atau membuktikan lahirnya hak
preferent atau hak diutamakan bagi kreditur sebagai pemegang hak tanggungan
sehingga kreditur yang memegang hak tanggungan memiliki kedudukan yang
diutamakan atas jaminan yang dipegangnya. Apabila kreditur sebagai pemegang
hak tanggungan yang memiliki hak preferent maka Undang-Undang memberikan
perlindungan dan kekuatan hukum yang khusus bagi pemegang hak tanggungan
tersebut. Tanda bukti ada atau lahirnya hak tanggungan, Kantor Pertanahan
setempat menerbitkan sertifikat hak tanggungan sebagaimana ditegaskan dalam
ketentuan Pasal 14 ayat (1) UUHT. Dengan kata lain, sertifikat hak tanggungan
merupakan bukti ada atau lahirnya hak tanggungan, yang kelahiran ditentukan
pada saat pendaftaran benda yang menjadi objek hak tanggungan tersebut dalam
buku tanah hak tanggungan. Pasal 14 ayat (2) dan ayat (3) UUHT menyebutkan
bahwa sertifikat hak tanggungan dimaksud memuat irah-irah “Demi Keadilan
Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”, yang mempunyai kekuatan
eksekutorial yang sama dengan putusan pengadilan yang telah memperoleh
78
kekuatan hukum tetap dan dapat berlaku sebagai pengganti grosse akta hipotek
sepanjang hak atas tanah.
Pada Pasal 13 ayat (1) UUHT diatur mengenai pemberian hak tanggungan
yaitu wajib didaftarkan pada kantor pertanahan, kemudian di dalam Pasal 11 ayat
(2) dan ayat (3) dijelaskan mengenai bagaimana cara pendaftaran hak tanggungan
dilakukan. Menurut St. Remy Sjahdeni, tata cara pelaksanaannya adalah sebagai
berikut:71
a. Setelah penandatanganan Akta Pemberian Hak Tanggungan yang dibuat
oleh PPAT dilakukan oleh para pihak, PPAT mengirimkan Akta
Pemberian Hak Tanggungan yang bersangkutan dan warkah lain yang
diperlukan oleh kantor pertanahan. Pengiriman tersebut wajib dilakukan
oleh PPAT yang bersangkutan selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja
setelah penandatanganan Akta Pemberian Hak Tanggungan.
b. Pendaftaran Hak Tanggungan dilakukan oleh Kantor Pertanahan dengan
membuatkan buku tanah Hak tanggungan dan mencatatnya dalam buku
tanah hak atas tanah uang menjadi objek Hak Tanggungan serta
menyalin catatan tersebut pada sertifikat hak atas tanah yang
bersangkutan.
c. Tanggal buku tanah Hak Tanggungan adalah tanggal hari ketujuh
setelah penerimaan secara lengkap surat-surat yang diperlukan bagi
pendaftaran nya dan jika hari ketujuh itu jatuh pada hari libur, buku
tanah yang bersangkutan diberi bertanggal hari kerja berikutnya.
Sedangkan hapusnya hak tanggungan diatur pada Pasal 18 sampai dengan
Pasal 19 UUHT, yang dimaksud dengan hapusnya hak tanggungan adalah tidak
berlaku lagi hak tanggungan. Ada empat sebab hapusnya hak tanggungan, yaitu:
1. Hapusnya hutang yang dijamin dengan hak tanggungan;
2. Dilepaskan hak tanggungan oleh pemegang hak tanggungan;
3. Pembersihan hak tanggungan berdasarkan penetapan peringkat oleh
Ketua Pengadilan Negeri;
4. Hapusnya hak atas tanah yang dibebani hak tanggungan.
71
Sutan Remy Sjahdeni, 1999, Hak Tanggungan Asas-Asas, KetentuanKetentuan Pokok dan Masalah Yang Dihadapi Oleh Perbankan (Suatu Kajian
Mengenai Undang-Undang Hak Tanggungan), Alumni, Bandung, hal. 110.
79
Sudikno Mertokusumo mengemukakan 6 (enam) cara berakhirnya atau
hapusnya hak tanggungan yaitu:
1. Dilunasinya hutang atau dipenuhinya prestasi secara sukarela oleh
debitur. Disini tidak terjadi cedera janji atau sengketa;
2. Debitur tidak memenuhi tepat pada waktu, yang berakibat debitur akan
ditegur oleh kreditur untuk memenuhi prestasinya. Teguran ini tidak
jarang disambut dengan dipenuhinya prestasi oleh debitur dengan
sukarela, sehingga dengan demikian utang debitur lunas dan perjanjian
utang piutang berakhir;
3. Debitur cidera janji. Dengan adanya cidera janji tersebut, maka debitur
dapat melakukan parate executie dengan menjual lelang barang yang
dijaminkan tanpa melibatkan pengadilan. Utang dilunasi dari hasil
penjualan lelang tersebut. Dengan demikian, perjanjian utang piutang
berakhir;
4. Debitur cidera janji, maka kreditur dapat mengajykan sertifikat hak
tanggungan ke pengadilan ke pengadilan untuk dieksekusi berdasarkan
Pasal 224 HIR yang diikuti pelelangan umum. Dengan dilunasi utang
dari hasil penjualan lelang, maka perjanjian utang pitang berakhir.
Disini tidak terjadi gugatan.
5. Debitur cidera janjidan tetap tidak mau memenuhi prestasi maka debitur
digugat oleh kreditur, yang kemudian diikuti oleh putusan pengadilan
yang memenangkan kreditur. Putusan tersebut dapat dieksekusi secara
sukarela seperti yang terjadi pada cara yang kedua dengan
dipenuhinnya prestasi oleh debitur tanpa pelelangan umum dan dengan
demikian perjanjian utang piutang berakhir.
6. Debitur tidak mau melaksanakan putusan pengadilan yang
mengalahkannya dan menghukum melunasi utangnya maka putusan
pengadilan dieksekusi secara paksa dengan pelelangan umum yang
hasilnya digunakan untuk melunasi hutang debitur dan mengakibatkan
perjanjian utang piutang berakhir.72
Pasal 22 UUHT menyatakan bahwa setelah hak tanggungan hapus maka
Kantor Pertanahan mencoret catatan hak tanggungan tersebut pada buku tanah hak
atas tanah dan sertifikatnya. Penghapusan hak tanggungan dilakukan dengan cara
pencoretan catatan atau roya hak tanggungan. Sertifikat hak tanggungan tersebut
ditarik dan bersama-sama dengan buku tanah hak tanggungan yang dinyatakan
72
Sudikno Mertokusumo, 1996, Eksekusi Objek Hak Tanggungan
Permasalahan dan Hambatan, Yogyakarta, hal. 35.
80
tidak berlaku lagi oleh Kantor Pertanahan. Lahirnya hak tanggungan pada saat
buku tanah hak tanggungan yaitu pada hari ketujuh setelah kantor pertanahan
menerima secara lengkap surat-surat yang diperlukan bagi pendaftaran, sedangkan
untuk hapusnya hak tanggungan telah jelas tertulis pada Pasal 18 dan Pasal 19
UUHT.
81
BAB III
PERLINDUNGAN HUKUM PEMBELI LELANG EKSEKUSI
3.1
Hak Tanggungan Sebagai Jaminan Kredit Pada Bank
Asal mula terbentuknya bank salah satunya adalah untuk menopang
kegiatan usaha dalam masyarakat yaitu dengan cara pemberian bantuan berupa
dana yang akan dipergunakan untuk kegiatan usaha. Bank merupakan penyalur
dana untuk masyarakat dalam bentuk pemberian kredit disamping lembaga
keuangan lainnya. Di dalam UU Perbankan terdapat dua jenis bank yaitu Bank
Umum dan Bank Pengkreditan Rakyat. Kedua jenis bank ini mempunyai tujuan
komersial yaitu melakukan kegiatan usaha berupa pemberian kredit.
Menurut Pasal 1 Angka 2 UU Perbankan pengertian Bank antara lain:
“Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam
bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk
kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf
hidup rakyat banyak.”
Melihat dari pengertian bank di dalam peraturan perundang-undangannya
maka dapat disimpulkan bahwa kredit merupakan salah satu bentuk kegiatan
usaha dari bank dengan tujuan untuk menyalurkan dana kepada masyarakat. Bank
selain menyalurkan dana kepada masyarakat dalam eksistensinya bank juga
merupakan sebagai penghimpun dana dalam masyarakat. Pasal 1 Angka 11 UU
81
82
Perbankan menyatakan bahwa “Kredit adalah penyediaan uang atau
tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau
kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan
pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan
pemberian bunga.” Sehingga dari pengertian tersebut dapat dilihat bahwa bank
sebagai pihak penyedia dana dengan persetujuan atau kesepakatan pinjammeminjam yang dibuat antara pihak bank dengan pihak debitur, selain itu juga ada
kewajiban untuk melunasi hutang yang dimiliki oleh debitur sehingga debitur
wajib melakukan pembayaran pelunasan kredit sesuai dengan jadwal pembayaran
yang telah disepakati oleh pihak-pihak yang bersangkutan dan termuat dalam
perjanjian kredit.
Adanya jaminan sebagai perjanjian accesoir yang melekat dengan
perjanjian kredit sebagai perjanjian pokoknya memiliki dasar pemikiran bahwa
jika terhadap kredit yang diberikan berjalan dengan baik dan debitur melunasinya
sesuai dengan yang diperjanjikan dalam perjanjian kredit, maka hubungan usaha
antara bank dengan debitur menjadi berakhir dan semuanya berjalan dengan baik
karena hak dan kewajiban antara masing-masing pihak tersebut telah dipenuhi,
namun adapula kemungkinan resiko terjadinya kredit bermasalah yang dapat
terjadi dan dapat menyebabkan bank mengalami kerugian maka di dalam
penjaminan utang tersebut dilekatkan pula perjanjian pembebanan hak
tanggungan yang akan termuat dalam Akta Pembebanan Hak Tanggungan.
Jaminan kredit sebagai pengamanan pelunasan kredit yang dibuat oleh
bank karena bank sebagai badan usaha yang memberikan kredit kepada debitur
83
wajib membuat upaya pengamanan agar kredit yang diberikannya dapat dilunasi
oleh debitur yang bersangkutan. Sesuai dengan salah satu prinsip bank yaitu
prinsip kehati-hatian maka pengamanan kredit merupakan hal yang mutlak yang
harus dilakukan bank karena apabila debitur tidak melunasi kredit maka hal itu
merupakan kerugian bagi bank dan dapat mempengaruhi tingkat kesehatan bank
sehingga sekecil apapun jumlah kredit debitur maka bank tetap membuat jaminan
kredit guna untuk memberikan keamanan. Sehingga apabila debitur ingkar janji
dan tidak melunasi utangnya maka bank dapat melakukan penjualan atas objek
jaminan kredit yang bersangkutan, dan hasil dari pencairan jaminan kredit
tersebut dapat diperhitungkan oleh bank sebagai pelunasan kredit debitur yang
disebut kredit macet.
Jaminan kredit dapat dibebankan kepada 3 (tiga) kelompok objek yaitu
barang bergerak, barang tidak bergerak, dan jaminan perorangan. Barang bergerak
misalnya perhiasan, surat berharga, kendaraan bermotor, perlengkapan kantor,
barang persediaan, barang dagangan, dan sebagainya. Sedangkan barang tidak
bergerak berupa tanah dan benda-benda yang melekat dengan tanah seperti rumah
tinggal, gedung kantor, gudang, hotel, dan lain sebagainya. Barang tidak berwujud
dapat berupa tagihan, piutang, dan sejenisnya. Penanggungan utang dapat berupa
jaminan pribadi (personal guaranty) dan jaminan perusahaan (company/corporate
guaranty).
Jaminan kredit dapat diikat dengan gadai yaitu penguasaan barang jaminan
tersebut berpindah pada kreditur, biasanya dibebankan kepada barang bergerak
namun adapula fidusia yaitu barang jaminan tersebut tetap berada pada kekuasaan
84
debitur tetapi hanya surat-suratnya yaitu hak jamiannanya saja yang berada dalam
kekuasaan kreditur misalnya kendaraan bermotor sehingga masih dapat digunakan
oleh debitur. Adapula untuk jaminan barang tidak bergerak diikat dengan hak
tanggunganmisalnya untuk tanah dan bangunan.
Pengikatan atas objek hak jaminan kredit bertujuan untuk memberikan
kepastian hukum bagi bank dalam menerima pelunasan kredit dengan cara
menguasai objek jaminan kredit. Pengikatan objek jaminan yang sempurna
diperlukan untuk memberikan kepastian hukum bagi bank yang dapat dilakukan
melalui lembaga jaminan. Tiap-tiap benda yang dijaminkan mempunyai lembaga
jaminan yang berbeda-beda dan hal ini tergantung pada bentuk jaminan yang
diserahkan kepada bank, adapula lembaga jaminan yang digunakan untuk
mengikat objek jaminan kredit dapat berupa gadai, hipotek, hak tanggungan, dan
jaminan fidusia. Pemenuhan pengikatan objek jaminan kredit dari masing-masing
lembaga jaminan tersebut mempunyai satu tujuan utama yaitu memberikan
kepastian hukum kepada bank dan pihak-pihak lain yang berkepentingan.
Hak tanggungan digunakan untuk jaminan kredit pada bank yang berupa
barang tidak bergerak yaitu untuk tanah dan bangunan sesuai dengan Pasal 20
UUHT bahwa cara mencairkan objek hak tanggungan yang diikat dengan hak
tanggungan yaitu dapat melalui eksekusi dan juga melalui penjualan dibawah
tangan. Bank sebagai kreditur dapat mendapatkan pengembalian utang oleh
debitur melalui lembaga hukum yang tersedia. Lembaga hukum yang dapat
dipergunakan dan berfungsi untuk menyelesaikan masalah kredit macet, adalah :
85
a. Pengadilan Negeri, apabila kredit macet yang terjadi merupakan tagihantagihan dari bank swasta.
b. Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN)/Badan Urusan Piutang dan Lelang
Negara (BUPLN)/Kantor Pelayanan Kekayaan Negara Dan Lelang
(KPKNL), berfungsi untuk menyelesaikan masalah kredit macet yang
merupakan tagihan-tagihan dari bank pemerintah.
Pelaksanaan eksekusi yang dilakukan oleh Pengadilan Negeri selama ini
hanya terhadap tagihan bank, yang oleh pihak kreditor sebelumnya telah
mengajukan permohonan eksekusi terhadap obyek hak tanggungan kepada Ketua
Pengadilan Negeri di wilayah mana hak tanggungan itu berada. Setelah debitor
yang ingkar janji dipanggil dan diberi tenggang waktu untuk membayar
hutangnya dengan sukarela, namun tetap lalai untuk membayar, maka obyek hak
tanggungan disita dengan sita eksekutorial. Jika setelah disita tetapi debitor tetap
lalai untuk membayar, maka obyek hak tanggungan tersebut akan dilelang secara
umum.
Proses pelaksanaan eksekusi terhadap Hak Tanggungan yang dilakukan
oleh pihak kreditor, sebenarnya tidaklah sulit. Karena disamping sertifikat Hak
Tanggungan berfungsi sebagai surat tanda bukti adanya Hak Tanggungan, dimana
pada sertifikat tersebut dibubuhkan irah-irah dengan kata-kata "Demi Keadilan
Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa'', yang mempunyai kekuatan eksekutorial
yang sama dengan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum
tetap, pemegang Hak Tanggungan pertama juga mempunyai hak untuk melakukan
eksekusi langsung terhadap obyek Hak Tanggungan yang dijadikan sebagai
86
jaminan kredit, apabila debitur ingkar janji. Hal mana didasarkan pada kuasa yang
diberikan oleh debitor maupun oleh undang-undang kepada pihak kreditor.
Sri Soedewi dalam bukunya yang berjudul Hukum Jaminan di Indonesia
menyatakan bahwa dalam praktek perbankan perjanjian pokoknya itu berupa
perjanjian pemberian kredit atau perjanjian membuka kredit oleh bank, dengan
kesanggupan memberikan jaminan berupa pembebanan hak tanggungan pada
suatu objek benda tertentu yang mempunyai tujuan sebagai penjaminan kekuatan
dari perjanjian pokonya.
73
Selain hak tanggungan, adapula fidusia, gadai,
borgtocht, dan lain-lain. Perjanjian penjaminan sendiri mempunyai kedudukan
sebagai perjanjian tambahan atau perjanjian accesoir yang dikaitkan dengan
perjanjian
pokok
tersebut.
kedudukan
perjanjian
penjaminan
yang
dikonstruksikan sebagai perjanjian accesoir itu memberikan kuatnya lembaga
jaminan tersebut bagi keamanan pemberian kredit oleh kreditur.
Hak tanggungan juga bersifat accesoir yang artinya hak tanggungan yang
berarti bahwa hak tanggungan bukanlah hak yang berdiri sendiri tetapi
eksistensinya tergantung pada perjanjian pokoknya yaitu perjanjian kredit atau
perjanjian utang lainnya. Lahirnya ditentukan oleh piutang yang dijamin
pelunasannya begitu juga hapusnya tergantung pada perjanjian pokonya yaitu
perjanjian kredit atau perjanjian lain yang menimbulkan utang yang hapusnya
disebabkan karena lunasnya kredit atau lunasnya hutang tertentu. Sifat jaminan
yang accesoir maka mempunyai sifat antara lain:
1. Adanya tergantung pada perjanjian pokok;
2. Hapusnya tergantung pada perjanjian pokok;
73
Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, loc.cit.
87
3. Jika perjanjian pokok batal maka perjanjian accesoir juga batal.
4. Ikut beralih dengan beralihnya perjanjian pokok;
5. Jika perutangan pokok beralih karena cessi, subrograsi maka ikut
beralih juga tanpa adanya penyerahan khusus.74
Menurut Undang-Undang Hak Tanggungan mengandung hak untuk
pelaksanaan pemenuhan piutangnya terhadap benda jaminan, manakala piutang
tersebut telah jatuh tempo dan sudah dapat ditagih, namun ternyata debitur tidak
sanggup untuk melunasinya sehingga dapat dinyatakan bahwa debitur telah
wanprestasi. Kreditur mempunyai kewenangan untuk melakukan eksekusi secara
langsung terhadap benda yang menjadi jaminan tanpa perantaraan hakim. Hal ini
dikarenakan dalam perjanjian Hak Tanggungan terdapat titel eksekutorial yang
berirah-irah “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” sehingga
mempunyai kekuatan yang mengikat dan pasti seperti kekuatan putusan
pengadilan. Dengan kata lain telah mempunyai kekuatan eksekutorial, yang
mempunyai dampak dapat dilakukannya eksekusi secara langsung terhadap benda
yang dijaminkan tersebut dengan jalan benda jaminan tersebut dapat dijual
dimuka umum dan hasilnya diperhitungkan untuk pelunasan piutangnya.Selain itu
karena ada janji untuk menjual atas kekuasaan sendiri, maka kreditur dapat
menjual benda yang dijaminkan oleh debitur tersebut dimuka umum atas dasar
parate eksekusi.
Jika debitur wanprestasi, setelah mendapat peringatan beberapa kali tetap
tidak memenuhi maka pihak bank tidak melakukan eksekusinya sendiri melainkan
meminta campur tangan Panitia Urusan Piutang Negara (selanjutnya disingkat
74
Ibid.
88
PUPN) atau pengadilan. 75 Namun untuk mendapatkan harga yang lebih tinggi
seringkali pihak debitur lebih memilih menjual sendiri barang jaminannya
tersebut guna melunasi hutangnya dan dapat menerima kembali apabila ada sisa
uang dari hasil penjualannya tersebut setelah digunakan untuk melunasi
hutangnya pada kreditur karena apabila melalui penjualan umum akan
memberatkan debitur karena barang akan dijual dengan harga yang jauh lebih
murah.
Objek hak tanggungan terdapat pada Pasal 4 ayat (1) UUHT yaitu hak atas
tanah yang dapat dibebani hak tanggungan adalah Hak Milik, Hak Guna Usaha,
dan Hak Pakai Atas Tanah Negara. Hak-hak tersebut menurut ketentuan yang
berlaku wajib didaftarkan dan menurut sifatnya dapat dipindahtangankan. Selain
hak-hak atas tanah tersebut dalam Pasal 4 ayat (2) yang dapat juga dibebani hak
tanggungan juga berikut hak pakai atas tanah negara yang menurut ketentuan
yang berlaku wajib di daftar dan menurut sifatnya dapat dipindahtangankan.
Pasal 4 ayat 4 UUHT menyatakan bahwa hak tanggungan dapat juga
dibebankan pada hak atas tanah berikut bangunan, tanaman, dan hasil karya yang
telah ada atau aka nada yang merupakan satu kesatuan dengan tanah tersebut, dan
yang merupakan milik pemegang hak atas tanah yang pembebanannya dinyatakan
secara tegas dalam Akta Pembebanan Hak Tanggungan yang bersangkutan.
Tata cara pemberian dan pendaftaran Hak Tanggungan diatur dalam Pasal
17 UUHT yang menyatakan bahwa:
Bentuk dan isi akta pemberian Hak Tanggungan, bentuk dan isi buku
tanah Hak Tanggungan, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan tata cara
75
Ibid, hal. 35.
89
pemberian dan pendaftaran hak tanggungan ditetapkan dan
diselenggarakan berdasarkan Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 19 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan
Dasar Pokok-Pokok Agraria.
Tata cara pemberian Hak Tanggungan merupakan prosedur tata cara
proses pelimpahan kepada pihak ketiga, karena di dalamnya terdapat janji
pelunasan utang. Tata cara ini diatur dalam Pasal 10 ayat (1), (2), dan (3) UUHT
yang dinyatakan sebagaimana berikut:
Pemberian Hak Tanggungan didahului dengan janji untuk memberikan
Hak Tanggungan sebagai jaminan pelunasan utang tertentu, yang dituangkan di
dalam dan merupakan bagian tak terpisahkan dari perjanjian utang piutang yang
bersangkutan atau perjanjian lainnya yang menimbulkan utang tersebut.
Pemberian Hak Tanggungan dilakukan dengan pembuatan Akta Pemberian Hak
Tanggungan dilakukan dengan pembuatan Akta Pemberian Hak Tanggungan oleh
PPAT sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Apabila objek
Hak Tanggungan berupa hak atas tanah yang berasal dari konversi hak lama yang
telah memenuhi syarat untuk didaftarkan akan tetapi pendaftarannya belum
dilakukan, pemberian Hak Tanggungan dilakukan bersama dengan permohonan
pendaftaran ha katas tanah yang bersangkutan.
Dari penjelasan Pasal 10 ayat (1) disebutkan bahwa sesuai dengan sifat
hak tanggungan yaitu accesoir maka pemberiannya haruslah merupakan ikutan
dari perjanjian pokok, yaitu perjanjian yang menimbulkan hubungan hukum
utang-piutang yang dijamin pelunasannya. Perjanjian yang dapat menimbulkan
utang piutang ini dapat dibuat dengan akta dibawah tangan maupun dengan akta
autentik, tergantung pada ketentuan hukum yang mengatur materi perjanjian itu.
Selain itu pemberian hak tanggungan dilakukan dengan cara pembuaatan Akta
Pemberian Hak Tanggungan oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (selanjutnya
disingkat PPAT), hal ini telah tercantum di dalam Pasal 10 ayat (2) UUHT.
Selain itu pemberian hak tanggungan dilakukan dengan cara pembuaatan
Akta Pemberian Hak Tanggungan oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (selanjutnya
90
disingkat PPAT), hal ini telah tercantum di dalam Pasal 10 ayat (2) UUHT. Dalam
bukunya yang berjudul Hukum Jaminan dan Jaminan Kredit Perbankan Indonesia,
M. Bahsan menjelaskan Pasal 10 ayat (3) yaitu bahwa apabila objek hak
tanggungan tersebut berupa hak atas tanah yang berasal dari konvensi hak lama
yang telah memenuhi syarat untuk didaftarkan, tetapi pendaftarannya belum
dilakukan, maka pemberian hak tanggungan dilakukan bersamaan dengan
permohonan pendaftaran hak atas tanah yang bersangkutan.
Pada penjelasan Pasal 10 ayat (3) menyebutkan bahwa pembebanan hak
tanggungan pada hak atas tanah tersebut dimungkinkan asalakan pemberiannya
dilakukan bersamaan dengan permohonan pendaftaran hak atas tanah tersebut.
Dengan kata lain memberikan kesempatan kepada pemegang hak atas tanah yang
belum bersertifikat untuk memperoleh kredit. Dengan adanya ketentuan ini berarti
penggunaan tanah yang bukti kepemilikannya berupa girik, petuk, dan lain-lain
yang sejenis masih dimungkinkan sebagai angunan sebagaimana diatur dalam
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan.
Menurut Undang-Undang Hak Tanggungan mengandung hak untuk
pelaksanaan pemenuhan piutangnya terhadap benda jaminan, manakala piutang
tersebut telah jatuh tempo dan sudah dapat ditagih, namun ternyata debitur tidak
sanggup untuk melunasinya sehingga dapat dinyatakan bahwa debitur telah
wanprestasi. Kreditur mempunyai kewenangan untuk melakukan eksekusi secara
langsung terhadap benda yang menjadi jaminan tanpa perantaraan hakim. Hal ini
dikarenakan dalam perjanjian Hak Tanggungan terdapat titel eksekutorial yang
berirah-irah “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” sehingga
91
mempunyai kekuatan yang mengikat dan pasti seperti kekuatan putusan
pengadilan. Dengan kata lain telah mempunyai kekuatan eksekutorial, yang
mempunyai dampak dapat dilakukannya eksekusi secara langsung terhadap benda
yang dijaminkan tersebut dengan jalan benda jaminan tersebut dapat dijual
dimuka umum dan hasilnya diperhitungkan untuk pelunasan piutangnya.Selain itu
karena ada janji untuk menjual atas kekuasaan sendiri, maka kreditur dapat
menjual benda yang dijaminkan oleh debitur tersebut dimuka umum atas dasar
parate eksekusi.
Menurut Undang-Undang Hak Tanggungan mengandung hak untuk
pelaksanaan pemenuhan piutangnya terhadap benda jaminan, manakala piutang
tersebut telah jatuh tempo dan sudah dapat ditagih, namun ternyata debitur tidak
sanggup untuk melunasinya sehingga dapat dinyatakan bahwa debitur telah
wanprestasi. Kreditur mempunyai kewenangan untuk melakukan eksekusi secara
langsung terhadap benda yang menjadi jaminan tanpa perantaraan hakim. Hal ini
dikarenakan dalam perjanjian Hak Tanggungan terdapat titel eksekutorial yang
berirah-irah “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” sehingga
mempunyai kekuatan yang mengikat dan pasti seperti kekuatan putusan
pengadilan. Dengan kata lain telah mempunyai kekuatan eksekutorial, yang
mempunyai dampak dapat dilakukannya eksekusi secara langsung terhadap benda
yang dijaminkan tersebut dengan jalan benda jaminan tersebut dapat dijual
dimuka umum dan hasilnya diperhitungkan untuk pelunasan piutangnya.Selain itu
karena ada janji untuk menjual atas kekuasaan sendiri, maka kreditur dapat
92
menjual benda yang dijaminkan oleh debitur tersebut dimuka umum atas dasar
parate eksekusi.
Jika debitur wanprestasi, setelah mendapat peringatan beberapa kali tetap
tidak memenuhi maka pihak bank tidak melakukan eksekusinya sendiri melainkan
meminta campur tangan Panitia Urusan Piutang Negara (selanjutnya disingkat
PUPN) atau pengadilan. Namun untuk mendapatkan harga yang lebih tinggi
seringkali pihak debitur lebih memilih menjual sendiri barang jaminannya
tersebut guna melunasi hutangnya dan dapat menerima kembali apabila ada sisa
uang dari hasil penjualannya tersebut setelah digunakan untuk melunasi
hutangnya pada kreditur karena apabila melalui penjualan umum akan
memberatkan debitur karena barang akan dijual dengan harga yang jauh lebih
murah.
3.2
Kekuatan Eksekutorial Hak Tanggungan
Hak tanggungan timbul karena adanya adanya kesepakatan antara kedua
belah pihakdengan memberikan hak tanggungan dengan bentuksuatu perjanjian,
Rumusan Pasal 10 ayat (1) UUHT menyatakan bahwa “Pemberian hak
tanggungan didahului dengan janji untuk memberikan hak tanggungan sebagai
jaminan pelunasan hutang tertentu, yang dituangkan di dalam dan merupakan
bagian tak terpisahkan dari perjanjian utang piutang yang bersangkutan atau
perjanjian lainnya yang menimbulkan utang tersebut”. Salah satu ciri dari hak
tanggungan adalah pelaksanaannya yaitu apabila kreditur melakukan cidera janji
makatelah diatur dalam Undang-Undang tentang eksekusinya serta hak-hak
istimewa yang terdapat di dalam hak tanggungan tersebut yang lebih ditujukan
93
kepada penerima hak tanggungan. Keistimewaan tersebut terdapat dalam salah
satu asas hak tanggungan yaitu memberikan kedudukan yang diutamakan
(preferent) kepada krediturnya. Hal ini berarti bahwa kreditur pemegang hak
tanggungan diberikankedudukan untuk didahulukan terhadappara kreditur lainnya
dalam
mendapatkan
pelunasan
piutangnya
atas
hasil
penjualan
benda yang dibebani dengan hak tanggungan.
Pelelangan objek Hak Tanggungan oleh bank memiliki dua prosedur
eksekusi hak tanggungan, yaitu berdasarkan Pasal 6 Undang-undang Hak
Tanggungan dengan menjual langsung atas kekuasaan sendiri (parate eksekusi)
dan juga berdasarkan Pasal 14 ayat (2) jo. Pasal 26 Undang-undang Hak
Tanggungan berdasarkan Sertifikat Hak Tanggungan sebagai title eksekutorial
yaitu eksekusi dengan perantaraan pengadilan. Pasal 6 Undang-undang Hak
Tanggungan menyebutkan bahwa apabila debitur cidera janji, pemegang Hak
Tanggungan pertama mempunyai hak untuk menjual objek Hak Tanggungan atas
kekuasaan sendiri melalui pelelangan umum serta mengambil pelunasan
piutangnya dari hasil penjualan tersebut. Hak tanggungan memiliki kekuatan
eksekutorial, di dalam UUHT dijelaskan bahwa adanya landasan hukum untuk
langsung melakukan eksekusi jaminan melakukan eksekusi atau penjualan
jaminan hutang melalui pelelangan umum tanpa fiat pengadilan yaitu berdasarkan
Pasal 14 ayat (2) jo. Pasal 26yang memberikan penegasan bahwa sertifikat hak
tanggungan memiliki titel eksekutorial yang memuat irah-irah “Demi Keadilan
Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” memiliki kekuatan eksekutorial yang
sama dengan pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap. Objek yang
94
dibebankan atas hak tanggungan berada di bawah kekuasaan penerima hak
tanggungan. Hal ini bertujuan untuk memberikan perlindungan dan kepastian
hukum kepada kreditur apabila debitur cidera janji. Jika terjadi cidera janji oleh
kreditur karena disengaja maupun kealpaan maka benda yangdijaminkan dengan
hak tanggungan akan dijual untuk melunasi utang debitur yang dijamin tersebut.
Kekuatan hukum pemegang hak tanggungan sangat jelas diberikan dalam hukum
hak tanggungan karena memberikan keutamaan haknya.
Pelelangan dari aspek eksekusi merupakan pelelangan yang dilaksanakan
berdasarkan atas dasar adanya putusan pengadilan. Penggolongan lelang dari
aspek eksekusi ini dibagi menjadi 2 macam antara lain yaitu:
a. Pelelangan non eksekusi;
b. Pelelangan eksekusi.
Pelelangan non eksekusi merupakan pelelangan tanpa adanya putusan
hakim sedangkan pelelangan eksekusi yaitu pelaksanaan lelang berdasarkan dari
adanya putusan hakim atau yang memiliki titel eksekutorial.Sehingga dengan
adanya titel eksekutorial maka apabila debitur cidera janji maka kreditor dapat
langsung melakukan eksekusi jaminan tanpa harus melakukan gugatan perdata
kepada debitur melalui Pengadilan Negeri. Hal ini dapat memberikan kemudahan
eksekusi sehingga eksekusi dapat berjalan dengan mudah dan pasti apabila debitor
tidak dapat memenuhi kewajibannya yang mana telah diperjanjikan sebelumnya.
Eksekusi objek hak tanggungan terdapat pada Pasal 20 UUHT yaitu
pemegang Hak Tanggungan diberikan pilihan eksekusi sebagai berikut:
1. Pasal 6 UUHT yang menyatakan bahwa: Apabila debitor cidera janji,
95
pemegang Hak Tanggungan pertama mempunyai hak untuk menjual
obyek Hak Tanggungan atas kekuasaan sendiri melalui pelelangan
umum serta mengambil pelunasan piutangnya dari hasil penjualan
tersebut. Apabila debitor melakukan cidera janji maka berdasarkan hak
pemegang Hak Tanggungan atau dengan Pasal 14 UUHT ayat 2 yang
menyatakan bahwa Sertifikat Hak Tanggungan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) memuat irah-irah dengan kata-kata "DEMI KEADILAN
BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA".
Titel
eksekutorial yang terdapat didalam sertifikat hak tanggungan tersebut
mempunyai akibat bahwa objek hak tanggungan dapat dijual melalui
pelelangan umum menurut tata cara yang ditentukan dalam peraturan
perundang-undangan guna untuk melunasi piutang pemegang hak
tanggungan dengan mendapatkan hak mendahului daripada kreditorkreditor lainnya.
2. Penjualan objek hak tanggungan dapat dilaksanakan dengan penjualan
dibawah tangan berdasarkan atas kesepakatan pemberi dan pemegang
hak tanggungan dan akan dicari harga yang paling tinggi sehingga
dapat menguntungkan para pihak.
3. Pelaksanaan penjualan guna untuk pelunasan kredit macet tersebut yang
dimaksud dapat menjual dibawah tangan hanya dapat dilakukan setelah
lewat waktu 1 (satu) bulan sejak diberitahukan secara tertulis oleh
pemberi dan/atau pemegang hak tanggungan kepada pihak-pihak yang
memiliki kepentingan dan harus diumumkan sedikitnya dalam 2 (dua)
96
surat kabar yang beredar di daerah yang bersangkutan dan/atau media
massa setempat, serta tidak ada pihak yang menyatakan keberatan.
4. Setiap janji melaksanakan eksekusi hak tanggungan dengan cara yang
bertentangan dengan Pasal 20 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) maka akan
batal demi hukum.
5. Pada saat pengumuman lelang dikeluarkan, penjualan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dapat dihindari dengan pelunasan utang yang
dijamin dengan hak tanggungan itu beserta biaya-biaya eksekusi yang
telah dikeluarkan.
Adanya jenis eksekusi di dalam Pasal 20 UUHT tersebut bertujuan untuk
mencari jalan bagaimana caranya agar debitor bersedia memenuhi kewajibannya,
maka kreditor menahan sesuatu yang berharga dari debitor tersebut sehingga
apabila debitor menginginkannya kembali maka debitor harus terlebih dahulu
memenuhi kewajibannya yaitu dengan cara membayar utang yang telah
diperjanjikan sebelumnya, apabila debitor tidak dapat memenuhi kewajibannya
yang telah diperjanjikan sebelumnya tersebut dalam kurun waktu yang telah
disepakati maka itu berarti debitor telah cidera janji. Demi kepentingan kreditor
yang kemungkinan besar akan dirugikan tersebut maka diperlukan perlindungan
hukum yang jelas dalam rangka pelunasan piutang dan cara itu telah ditetapkan
sesuai dalam Pasal 20 UUHT.
Terdapat tiga cara untuk melakukan eksekusi Hak Tanggungan:
a
Parate Eksekusi (Pasal 6 dan Pasal 11 huruf c UUHT)
- Pasal 6 UUHT mengatakan Parate Eksekusi demi hukum.
97
- Pasal 11 huruf c UUHT Parate Eksekusi karena diperjanjikan
Parate Eksekusi adalah eksekusi tanpa proses pengadilan dan tanpa
titel eksekutorial. Parate eksekusi dapat terjadi berdasarkan Pasal 6
UUHT yang mengatakan bahwa apabila debitur cidera janji,
pemegang Hak Tanggungan pertama mempunyai hak untuk menjual
objek Hak Tanggungan atas kekuasaan sendiri melalui pelelangan
umum serta mengambil pelunasan piutangnya dari hasil penjualan
tersebut. Ketentuan Pasal 6 UUHT ini berarti tanpa ada janjipun sudah
mengikat.
Eksekusi jaminan dapat dilakukan dengan parate eksekusi, parate
eksekusi memberikan hak kepada kreditur untuk melakukan penjualan
atas kekuasaannya sendiri seolah-olah objek jaminan yang dijaminkan
oleh debitur adalah miliknya sendiri dengan tanpa melibatkan debitur
itu sendiri. Pelaksanaan parate eksekusi dianggap sederhana karena
tidak melibatkan debitur, pengadilan maupun prosedur hukum acara.
Pelaksanaannya hanya digantungkan pada syarat debitur wanprestasi,
padahal kreditur sendiri baru membutuhkannya kalau debitur
wanprestasi.kewenangan seperti itu tampak sebagai hak eksekusi yang
selalu siap ditangan kalau dibutuhkan, itulah sebabnya eksekusi yg
demikian disebut sebagai parate eksekusi.
b Eksekusi melalui Pengadilan
UUHT memberikan kemungkinan pelaksanaan eksekusi melalui
proses pengadilan. Proses peradilan, memakan waktu dan biaya, maka
98
dalam praktek yang dilakukan adalah eksekusi melalui suatu gugatan.
Apabila terjadi gugatan lewat pengadilan, benda objek jaminan akan
dilelang di muka umum dan hasilnya dipakai untuk melunasi hutang
debitur.
c
Penjualan objek jaminan secara di bawah tangan (Pasal 20 UUHT
angka 3)
Penjualan di bawah tangan adalah penjualan yang dilakukan tidak
melalui lelang di muka umum. Penjualan di bawah tangan akan lebih
menguntungkan kedua belah pihak karena biasanya apabila terjadi
penjualan melalui lelang harga mungkin turun dan debitur maupun
kreditor dapat dirugikan.
UUHT memberikan fasilitas kepada kreditor apabila debitor cidera janji
sehingga pelaksanaan eksekusi berjalan dengan mudah dan pasti. Didalam
penjelasan Pasal 6 UUHT menyebutkan bahwa:
“Hak untuk menjual obyek Hak Tanggungan atas kekuasaan sendiri
merupakan salah satu perwujudan dari kedudukan diutamakan yang
dipunyai oleh pemegang Hak Tanggungan atau pemegang Hak
Tanggungan pertama dalam hal terdapat lebih dari satu pemegang Hak
Tanggungan. Hak tersebut didasarkan pada janji yang diberikan oleh
pemberi Hak Tanggungan bahwa apabila debitor cidera janji, pemegang
Hak Tanggungan berhak untuk menjual obyek Hak Tanggungan melalui
pelelangan umum tanpa memerlukan persetujuan lagi dari pemberi Hak
Tanggungan dan selanjutnya mengambil pelunasan piutangnya dari hasil
penjualan ini lebih dahulu daripada kreditor-kreditor yang lain. Sisa hasil
penjualan tetap menjadi hak pemberi Hak Tanggungan.
Artinya bahwa hak untuk menjual hak tanggungan atas kekuasaan sendiri
adalah salah satu bentuk perwujudan dari kedudukan yang diutamakan yang
dipunyai pemegang hak tanggungan. UUHT memberikan landasan hukum untuk
99
langsung melakukan eksekusi jaminan melakukan eksekusi atau penjualan
jaminan hutang melalui pelelangan umum tanpa fiat pengadilan yaitu berdasarkan
Pasal 14 yang memberikan penegasan bahwa sertifikat hak tanggungan memiliki
titel eksekutorial yang memuat irah-irah “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan
Yang Maha Esa” memiliki kekuatan eksekutorial yang sama dengan pengadilan
yang telah memiliki kekuatan hukum tetap. Selain itu di dalam Penjelasan Pasal
11 ayat (2) huruf e menyatakan bahwa "Untuk dipunyainya kewenangan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 di dalam Akta Pemberian Hak Tanggungan
dicantumkan janji ini" yang artinya bahwa hak dari pemegang hak tanggungan
tersebut yang digunakan untuk melaksanakan haknya berdasarkan ketentuan Pasal
6 UUHT harus mempunyai landasan berdasarkan hak yang diberikan oleh
Undang-Undang, tetapi sebelumnya juga haruslah diperjanjikan dulu oleh para
pihak yang akan tertulis didalam Akta Pemberian Hak Tanggungan.
Berdasarkan Pasal 6 UUHT dengan menjual langsung atas kekuasaan
sendiri (parate eksekusi) dan juga berdasarkan Pasal 14 ayat (2) jo. Pasal 26
UUHT berdasarkan Sertifikat Hak Tanggungan sebagai title eksekutorial yaitu
eksekusi dengan perantaraan pengadilan. Objek yang ditanggungkan dapat dijual
jika debitur cidera janji berdasarkan sertifikat hak tanggungan yang memiliki title
eksekutorial yang berirah-irah “ DEMI KEADILAN BERDASARKAN
KETUHANAN YANG MAHA ESA” yang mempunyai kekuatan hukum yang
sama dengan putusan pengadilan yang bersifat mengeksekusi meskipun
diperjanjikan atau tidak diperjanjikan. Sehingga dengan kata lain apabila tidak ada
perjanjian yang dilakukan terlebih dahulu maka kreditor tidak mempunyai hak
100
untuk menjual objek hak tanggungan atas kekuasaan sendiri melalui pelelangan
umum sebagaimana dimaksud pada Pasal 20 ayat (1) huruf a UUHT, akan tetapi
eksekusinya harus dilakukan melalui titel eksekutorial sebagaimana dimaksud
oleh Pasal 20 ayat (1) huruf b UUHT, maka dapat disimpulkan bahwa maksud
pembentuk Undang-Undang mencantumkan alternatif penyelesaianbagi kreditor
atau pemegang hak tanggungan.
Berdasarkan Pasal 20 ayat (1) UUHT, penjualan objek hak tanggungan
dapat dilakukan melalui penjualan umum pelelangan yang penjualan barang yang
disita umum melalui perantara pejabat yang berwenang. Lelang sebagai suatu
alternatif cara penjualan barang oleh Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan
Lelang (KP2LN) yang bertujuan untuk menentukan harga yang wajar bagi suatu
barang dan merupakan bagian dari sistem hukum perdata nasional mempunyai
berbagai sifat yang baik dan memiliki keunggulan dibandingkan dengan cara
penjualan lainnya, seperti keterbukaan, bebas, dapat dipertanggungjawabkan,
memberikan kepastian hukum, cepat, dan efisien. Tujuan dari penjualan melalui
lelang adalah menjual secara umum harta kekayaan tergugat yang disita, dan dari
hasil penjualan uangnya akan dibayarkan kepada pihak penggugat sebesar yang
ditetapkan dalam putusan. Dalam hal permohonan lelang sesuai dengan Pasal 10
Peraturan Menteri Keuangan No.93 Tahun 2012 Tentang Petunjuk Pelaksanaan
Lelang menganut beberapa persyaratan yaitu :
1. Penjual/Pemilik Barang yang bermaksud melakukan penjualan barang
secara lelang melalui KP2LN.
101
2. Permohonan harus mengajukan surat permohonan lelang secara
tertulis kepada Kepala KP2LN untuk dimintakan jadwal pelaksanaan
lelang.
3. Permohonan disertai dokumen persyaratan lelang sesuai dengan
jenis lelangnya.
Seorang penawar lelang sebelum melaksanakan perjanjian jual beli di
pelelangan harus memperhatikan beberapa kriteria dari pelelangan. Adapun
kriterianya yaitu :
1. Pembeli harus mengetahui persis barang yang akan ia beli.
2. Pembeli harus mengetahui status hukum barang yang akan ia beli.
3. Pembeli harus benar-benar siap membeli, dalam arti bahwa ia akan
mengajukan penawaran sesuai dengan kemampuannya dan akan
memenuhi syarat-syarat yang ditentukan oleh kantor lelang Negara.
Adanya aturan yang jelas mengenai Hak Tanggungan dan kekuatan
eksekutorialnya seharusnya telah memberikan perlindungan hukum yang sangat
jelas sehingga aspek tujuan hukum yaitu kepastian hukum dan perlindungan
hukum dapat tercapai. Dalam praktiknya, pemberian kredit sering mengalami
resiko
emacetan kredit. Maka untuk mengatasi hal tesebut perlu adanya
perjanjian pinjam meminjam antara kreditur dengan debitur yang diikat dengan
jaminan. Tujuan dari pengikatan jaminan adalah untuk memberikan kepastian dan
keamanan atas pelaksanaan kredit tersebut jika terjadi wanprestasi yang
diakibatkan oleh debitur. Oleh karena itu hak debitor sebagai pemberi pinjaman
dan kewajiban kreditor sebagai pihak peminjam telah jelas tercantum dalam
102
Undang-Undang. Hal ini dapat memudahkan pelaksanaan pemberian kredit
karena posisi kreditor sebagai peminjam telah terlindungi dengan baik. Jika
debitur melakukan wanprestasi atau cidera janji maka kreditur dapat mengambil
pelunasannya melalui pelelangan umum yang berdasarkan irahirah “DEMI
KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA” yang
tercantum dalam sertifikat hak tanggungan. Sertifikat hak tanggungan memiliki
titel
eksekutorial
yang
mempunyai
kekuatan
hukum
yang
sama dengan putusan pengadilan.
3.3
Perlindungan Hukum Pembeli Lelang Eksekutorial Hak Tanggungan
Yang Dibatalkan Oleh Pengadilan
Pembeli lelang sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Petunjuk
Pelaksanaan Lelang Pasal 1 Angka 22 bahwa: Pembeli adalah orang atau badan
hukum/badan usaha yang mengajukan penawaran tertinggi dan disahkan sebagai
pemenang lelang oleh Pejabat Lelang. Pembeli lelang barulah dapat dinyatakan
sebagai pemenang lelang apabila terjadi peralihan hak milik. Peralihan hak milik
tersebut akan beralih sepenuhnya apabila memenuhi syarat lelang yaitu
pembayaran harga dan pejabat lelang mengesahkan lelang dengan dikeluarkannya
risalah lelang.
Pada Pasal 1365 KUHPerdata mengatur bahwa: “Tiap perbuatan
melanggar hukum yang membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang
yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut.”
Perbuatan melanggar hukum atau “onrechmatige daad” dapat diartikan secara
sempit dan secara luas. Perbuatan melanggar hukum dalam arti sempit adalah
103
hanya mengenai perbuatan yang secara langsung melanggar suatu peraturan
hukum, sedangkan perbuatan melanggar hukum dalam arti luas adalah
berkembangnya pengertian perbuatan pelanggat hukum tersebut yaitu dapat
diartikan sebagai berbuat tidak berbuat sesuatu yang memperkosa hak orang lain
atau yang bertentangan dengan suatu kesusilaan atau kepatutan dalam masyarakat
terhadap diri atau benda orang lain.
Perbuatan melawan hukum dapat dijelaskan antara lain:
1. Melanggar hak orang lain;
2. Bertentangan dengan kewajiban hukum si pembuat;
3. Bertentangan dengan kesusilan yang baik, bertentangan dengan
kepatutan yang terdapat dalam masyarakat terhadap diri atau barang
orang lain.
Menurut Rosa Agustina, konsep perbuatan melawan hukum tidak saja
setiap perbuatan yang melanggar kaidah-kaidah tertulis yaitu bersifat bertentangan
dengan kewajiban hukum si pelaku dan melanggar hak subjektif orang lain tetapi
juga suatu perbuatan yang melangar kaidah tidak tertulis yaitu kaidah yang
mengatur tata susila, kepatutan, ketelitian, dan kehati-hatian yang seharusnya
dimiliki seseorang dalam pergaulan hidup dalam masyarakat atau terhadap harta
benda warga masyarakat.76 Perbuatan melawan hukum mempunyai akibat yaitu
membawa kerugian kepada pihak yang bersangkutan.
Pasal 1365 KUHPerdata memberikan syarat akan adanya perbuatan
melawan hukum yakni haruslah ada kesalahan, kesalahan yang dinyatakan
76
Rosa Agustina, 2003, Perbuatan Melawan Hukum,Tesis, Program
Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta, hal. 326-327.
104
mencangkup kesengajaan maupun kelalaian dan merujuk pada tanggung jawab
atas suatu perbuatan yang bertentangan dengan hukum. Berdasarkan Pasal 1365
KUHPerdata pihak yang dirugikan cukup membuktikan bahwa kerugian yang
dideritanya adalah akibat dari perbuatan melawan hukum. Gugatan melawan
hukum pada lelang memintakan majelis hakim menyatakan perbuatan akan atau
telah melelang objek perkara sebagai perbuatan melawan hukum. Suatu perbuatan
lelang digugat dengan dalil perbuatan melawan hukum karena memenuhi unsurunsur:
1. Perbuatan melawan hukum
Gugatan dalam lelang biasanya didasarkan pada perbuatan melawan
hukum yang dikarenakan pelanggaran pada suatu peraturan hukum.
Gugatan atas perbuatan melawan hukum dalam lelang dapat
dikategorikan menjadi dua yaitu dalam arti sempit dan dalam arti luas.
Setiap prosedur dalam lelang mempunyai aturan yang menjadi dasar
hukumnya, , perbuatan melawan hukum dalam arti sempit mencangkup
segala hal yang berhubungan dengan dokumen persyaratan lelang yang
menimbulkan akibat adanya cacat hukum dalam pembuatan dokumen
karena langsung melanggar peraturan hukum tertulis. Sedangkan dalam
arti
luas
berkaitan
dengan
kewajiban
hukum
penjual
dalam
mengoptimalkan harga lelang misalnya memberikan harga terlalu
rendah sehingga bertentangan dengan kepatutan dalam masyarakat.
105
2. Kesalahan (Schuld)
Unsur kedua adalah unsur kesalahan, adanya kesalahan kemungkinan
terdapat pada persyaratan lelang atau di dalam pelaksanaan lelang baik
karena kealpaan ataupun kesengajaan yang mengakibatkan kerugian.
3. Kerugian (Scade)
Pada pelaksanaan lelang apabila ada perbuatan melawan hukum maka
akan menyebabkan adanya kerugian bagi pihak tertentu. Kerugian dapat
berupa immaterial (moril) antara lain berupa kerugian yang timbul
karena pengumuman lelang yang telah menjatuhkan harga diri kerugian
yang timbul karena pelaksaan lelang telah mencemarkan nama baik.
4. Antara hubungan kausal (oorzakelijk verband) antara kerugian dengan
perbuatan melawan hukum yang terjadi dalam lelang.
Kerugian yang ditimbulkan harus mempunyai hubungan kausal dengan
perbuatan melawan hukum yang terjadi di dalam lelang. Adanya
lembaga hukum lelang adalah untuk melaksanakan putusan peradilan
atau lembaga penyelesaian sengketa berdasarkan undang-undang dalam
rangka penegakan hukum. Lelang dilakukan untuk pelaksanaan
penyelesaian kredit macet oleh Pengadilan Negeri atau PUPN atau bank
kreditor. Kuasa yang diberikan berdasarkan undang-undang dan bukan
atas keinginan dari pemilik barang sehingga seringkali dalam lelang
terjadi gugatan dari pemilik barang maupun dari pihak ketiga pemilik
barang.
106
Putusan pengadilan dari gugatan-gugatan perkara perdata baik dalam
tingkat pertama, banding, maupun kasasi ada dua yaitu lelang mempunyai
kekuatan hukum yang sah dan lelang dinyatakan sebagai perbuatan melawan
hukum sehingga lelang dinyatakan batal demi hukum atau cacat hukum atau ridak
sah atau tidak mempunyai kekuatan mengikat. Menurut Yahya Harahap, putusan
pengadilan ada berbagai bentuk yaitu:77
a. Putusan Akhir yang bersifat negatif
Dalam putusan akhir yang bersifat negatif, putusan yang diambil
Pengadilan Negeri bukan bertitik tolak dari materi pokok perkara
(subject matter), tetapi berdasarkan pada alas an formil, yakni gugatan
yang diajukan mengandung cacat formil, sehingga amar putusan yang
dijatuhkan: menyatakan gugatan tidak dapat diterima (niet ontvankelijk
verklaard). Beberapa jenis cacat formil yang mengakibatkan putusan:
“Menyatakan gugatan tidak dapat diterima”:
1) Gugatan mengandung error in persona;
2) Gugatan yang diajukan berada di luar yurisdiksi atau kompetensi
absolut maupun relative pengadilan yang bersangkutan;
3) Gugatan mengandung cacat obscuur libel;
4) Gugatan mengandung cacat ne bis in idem;
5) Gugatan mengandung cacat prematur;
6) Gugatan yang diajukan daluarsa.
b. Putusan akhir yang bersifat positif
Putusan akhir yang bersifat positif adalah putusan yang dijatuhkan
berdasarkan materi pokok perkara. Putusan yang demikian telah
menyelesaikan secara tuntas dan menyeluruh sengketa yang
diperkarakan sehingga kedudukan dan hubungan hukum antara para
pihak maupun dengan objek perkara sudah selesai dan pasti. Bentuk
putusan akhir yang bersifat positif menurut hukum terdiri dari:
1) Menolak gugatan penggugat seluruhnya. Putusan berbunyi “Menolak
gugatan penggugat seluruhnya” merupakan penegasan mengenai
penggugat tidak mempunyai hak dan hubungan hukum yang sah
dengan tergugat maupun objek perkara. Putusan menolak gugatan
penggugat seluruhnya apabila: Penggugat tidak mampu
membuktikan dalil gugatan berdasarkan alat bukti atau alat bukti
yang diajukan penggugat dilumpuhkan dengan bukti oleh tergugat.
77
M. Yahya Harahap, 2005, Kekuasaan Pengadilan Tinggi Dan Proses
Pemeriksaan Perkara Perdata Dalam Tingkat Banding, Sinar Grafika, (selanjutnya
disingkatM. Yahya Harahap II), Jakarta, hal. 90-93.
107
2) Mengabulkan gugatan penggugat. Purusan pengabulan gugatan
merupakan koreksi terhadap hubungan hukum kearah yang
menguntungkan penggugat yang diikuti dengan pembebanan
kewajiban hukum kepada tergugat untuk melaksanakan pemenuhan
sesuatu dalam bentuk hukuman untuk menyerahkan, mengosongkan,
membayar, membagi atau menghentikan suatu perbuatan.
Putusan hakim menyatakan lelang sebagai perbuatan hukum yang sah
yaitu dengan menyatakan penjualan lelang eksekusi terhadap objek sengketa yang
sah menurut hukum yang berlaku dan sah, selain itu risalah lelang adalah sah dan
juga kepemilikan pembeli lelang yang sah. Sehingga seharusnya pembeli lelang
memperoleh kepastian hukum yang mempunyai hak atas objek yang dibelinya.
Namun pada kenyataannya putusan hakim menyatakan lelang sebagai perbuatan
melawan hukum, sehingga lelang seringkali dinyatakan batal demi hukum yang
pada akhirnya mempunyai akibat hukum yaitu barang lelang kembali kepada
kondisinya semula dan putusan dianggap tidak pernah ada. Barang lelang akan
kembali kepada keadaannya semula yaitu menjadi barang jaminan atau sebagai
barang milik debitor atau sebagai barang milik pihak ketiga, sehingga
kepemilikan pembeli lelang berakhir. Putusan menyatakan lelang batal demi
hukum menimbulkan implikasi terhadap pembeli lelang yaitu pembeli lelang
menjadi tidak jelas mengenai perlindungan hukumnya sehingga mengakibatkan
adanya perubahan hak-hak pembeli lelang atas obyek yang dibelinya melalui
lelang. Pembeli lelang yang seharusnya memiliki itikad baik dan teorinya harus
dilindungi oleh Undang-Undang pada prakteknya keadaanya menjadi tidak jelas
dan tidak ada perlindungan kepastian hukum yang diterimanya.
Adanya putusan hakim yang berbeda-beda mengenai pembatalan lelang
sehingga seringkali posisi pembeli lelang yang dirugikan dapat disimpulan
108
sebagai berikut yaitu yang pertama adalah norma hukum berupa peraturan
perundang-undangan tertulis tidak mengatur secara jelas mengenai barang dan
hasil lelang dan mengenai apakah dibatalkan suatu lelang yang telah dilaksanakan
sesuai dengan ketentuan. Selain itu adapula dari faktor pembentukan peraturan
perundang-undangannya yaitu aturan-aturan mengenai lelang yang sudah
ketinggalan, selain itu adapula faktor kedua yaitu aturan-aturan mengenai lelang
bertentangan satu dengan yang lain, dan juga aturan-aturan mengenai lelang yang
tergantung dan tidak ada aturan pelaksanaannya.
Penyelesaian suatu perkara oleh hakim terkadang tidak ditemukan aturan
hukumnya dalam hukum positif, karena di dalam hukum tertulis tidak selalu dapat
mengikuti keadaan dalam masyarakat yang mana keadaan dalam masyarakat yang
dinamis artinya adanya perubahan dalam masyarakat yang selalu bergulir dan
berubah-ubah seiring berjalannya waktu, sedangkan peraturan perundangundangannya seringkali tidak dapat memberikan jawaban untuk setiap
permasalahan yang timbul, atau peraturan yang ada tidak lengkap sehingga tidak
bisa menjamin perlindungan hukum yang haruslah diterima oleh pihak-pihak yang
bersangkutan. Apabila peraturan perundang-undangan tidak ada atau tidak
lengkap maka itu merupakan tugas hakim untuk melengkapinya atau menilai dan
menentukan apa yang berlaku sebagai hukum yang akan dijalankan oleh kedua
belah pihak karena pada asas kekuasaan kehakiman dalam Pasal 16 Ayat 1
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman
menyatakan bahwa: “Pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa,
mengadili, atau memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum
109
tidak ada atau kurang jelas, melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya.”
Sehingga hakim harus menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan
rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat. Dengan demikian, hakim harus
bertindak atas inisiatif sendiri untuk menyelesaikan perkara yang bersangkutan,
dengan kata lain artinya hakim harus berperan aktif dalam menentukan atau
menetapkan walaupun peraturan-perundang-undangan yang ada tidak ada, tidak
lengkap, atau tidak jelas.
Banyaknya wanprestasi yang dilakukan debitur dalam dunia perbankan
menyebabkan pemerintah membentuk suatu lembaga yaitu KP2LN Sehingga
lelang merupakan sarana penjualan yang efisien untuk memperoleh pelunasan
bagi kreditur. Namun masih banyak kendala-kendala serta masalah yang timbul di
dalam pelaksanaanya diantaranya yaitu pemenang lelang yang beritikad baik tidak
dapat memperoleh dan menikmati atas barang yang telah dimenangkannya. Hal
ini dikarenakan penjualan objek jaminan Hak Tanggungan melalui pelelangan
masih terbuka yang akan menyebabkan adanya kemungkinan gugatan dan
ketidakpastian atas kepemilikan objek lelang maka langkah pertama dalam hal ini
pembeli lelang haruslah mendapatkan perlindungan hukum dari kantor lelang
negara, agar ia dapat menguasai dan menikmati barang yang dibelinya apabila
barang itu berada dalam kekuasaan pihak ketiga dan pembeli yang beritikad baik
tersebut haruslah mempertahankan barang yang telah ia beli secara lelang di muka
pengadilan, karena pada saat membeli barang tersebut ia tidak mengetahui tentang
adanya cacat/permasalahan-permasalahan yang melekat pada barang yang ia beli
secara lelang, serta yang ia ketahui bahwa kantor lelang adalah sebagai perantara
110
penjual yang sah berdasarkan undang-undang dan mengetahui bahwa si pemilik
barang tersebut adalah benar-benar pemilik barang yang sah. Meskipun didalam
peraturan tidak memberikan dasar hukum bahwa kantor lelang bertanggung jawab
atas kerugian yang ditimbulkan namun kantor lelang haruslah memberikan
perlindungan kepada pembeli lelang berupa:
1.
Pejabat lelang harus meneliti barang yang akan dilelang terlebih
dahulu, hal ini berkaitan tentang keabsahan penjual dan barang yang
akan dijual, sehingga apabila terdapat permasalahan tentang barang
maupun kepemilikan barang tersebut maka antara kantor lelang
maupun
kepemilikan
barang
tersebut
menyelesaikan
segala
permasalahan-permasalahan yang melekat pada barang tersebut.
Kantor lelang harus lebih cermat melihat dan meneliti apakah ada
permasalahan pada objek lelang yang akan dilaksanakan pelalangan,
apabila semua permasalahan itu telah selesai baru kemudian terhadap
barang tersebut dilakukan penjualan secara umum (lelang). Hal ini
dilakukan guna untuk menghindarkan agar objek yang dilelang
tersebut tidak mengalami cacat hukum atau tidah sah.
2.
Pejabat lelang memberikan perlindungan hukum berupa kesaksian dan
barang-barang bukti berupa memberikan surat bukti pembelian lelang
(risalah lelang) serta bukti-bukti sertifikat yang sah terhadap barang
tersebut (Rumah toko) itu dengan sertifikat Hak Guna Usaha, Hak
Guna Bangunan, serta surat-surat bukti lainnya. Kantor lelang negara
juga akan memberikan pembelaan dengan mengatakan bahwa
111
sebelum lelang itu dilaksanakan, terlebih dahulu telah dilakukan
pengajuan permintaan penjualan lelang oleh Ketua Pengadilan Negeri.
Pelaksanaan lelang yang ada selama ini kurang memberikan tanggung
jawab yang tegas kepada pejabat lelang sehingga KP2LN tidak dapat diminta
pertanggung jawaban dalam hal kerugian. Pada dasarnya kantor lelang tidak dapat
menolak apa yang dipermohonkan kepadanya sepanjang persyaratan lelang
dipenuhi. Pihak kantor lelang tidak bertanggung jawab apabila ada kerugian yang
dipikul
oleh
pemenang
lelang.
Pada
awal
pengajuan
penawaran
pembelian lelang, pembeli telah membuat dan menyetujui surat pernyataan
sanggup untuk membeli objek lelang tersebut. Hal ini merupakan perlindungan
awal dari kantor lelang untuk pemenang lelang, sehingga pemenang lelang tidak
ada yang tidak tahu bagaimana benda yang akan dibelinya karena kantor lelang
melakukan semua kegiatan lelang itu secara transparan tidak ada yang ditutuptutupi, dan untuk segala resiko yang timbul akan ditanggung oleh pembeli lelang.
Pada dasarnya siapa yang melakukan perbuatan melawan hukum maka ia harus
bertanggung jawab terhadap seseorang yang dirugikannya. Namun dalam
kenyataannya di dalam peraturan lelang disebutkan bahwa pembeli lelang harus
bersedia menanggung segala resiko yang terjadi.
Adapula klausula yang tertera dalam Risalah Lelang yaitu: “Apabila tanah
dan/atau bangunan yang akan dilelang ini berada dalam keadaan berpenghuni,
maka pengosongan bangunan tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab
pembeli. Apabila pengosongan bangunan tersebut tidak dapat dilakukan secara
sukarela, maka pembeli berdasarkan ketentuan yang termuat dalam Pasal 200 HIR
112
dapat meminta bantuan Pengadilan Negeri setempat untuk mengosongkan.” Di
dalam klausula tersebut seolah-olah memberikan benteng yang kuat terhadap
kantor pelelangan sehingga sulit bagi pihak yang dirugikan untuk meminta
pertanggung jawaban apabila didalam proses pelelangan terjadi hal-hal yang tidak
diinginkan oleh pembeli lelang.
Apabila melihat dari perlindungan hukum dari Philipus M. Hadjon yaitu
perlindungan hukum secara preventif dan perlindungan hukum represif dikaitkan
dengan perlindungan hukum pembeli lelang maka:
1. Perlindungan hukum preventif artinya ketentuan hukum dapat
dihadirkan sebagai upaya pencegahan terhadap tindakan pelanggaran
hukum. Upaya ini diimplementasikan dengan membentuk aturan
hukum yang bersifat normatif.Perlindungan hukum preventif bagi
pemenang lelang sampai saat ini belum ada artinya bahwa perlindungan
hukum pembeli lelang sebelum terjadinya pelelangan untuk mencegah
adanya tindakan pelanggaran hukum yang dapat merugikan pembeli
lelang belum diatur. Hal ini merupakan kelemahan pada peraturan
perundang-undangan yang mengatur tentang lelang karena peraturan
perundang-undangan tersebut dapat dikatakan sudah terlalu lama dan
membutuhkan adanya pembaharuan hukum karena hukum merupakan
sesuatu yang dinamis artinya bahwa hukum harusnya mengikuti
perkembangan masyarakat yang ada dimana masyarakat merupakan
makhluk yang dinamis yang selalu berubah seiring dengan berjalannya
waktu. Apabila hukum tidak dapat berjalan beriringan dengan
113
masyarakat maka akan terjadi kesenjangan hukum dan masyarakat yang
akan menyebabkan kerugian pada masyarakat karena hukum yang tidak
dapat melindungi kepentingan masyarakat.
2. Perlindungan hukum yang represif bertujuan untuk menyelesaikan
terjadinya sengketa, yang mengarahkan tindakan pemerintah berikap
hati-hati.
Perlindungan
hukum
yang
represif
bertujuan
untuk
menyelesaikan terjadinya sengketa, termasuk penanganannya di
lembaga peradilan. Perlindungan hukum yang represif apabila dikaitkan
dengan pelaksanaan lelang maka perlindungan hukum represif kepada
pembeli lelang telah diatur dalam peraturan perundang-undangan yaitu
karena lelang merupakan jual beli seperti jual beli perdata pada
umumnya maka upaya hukum yang ada adalah seperti pada upaya
hukum pada hukum acara perdata yaitu melalui banding dan kasasi.
Peraturan
pelaksanaan
lelang
yang
ada
selama
ini
tidak
memberikan perlindungan kepada pemenang lelang artinya bahwa hak dari
pemenang lelang yang beritikad baik tidak mendapatkan perlindungan hukum
yang jelas. Undang-Undang harus memberikan perlindungan hukum terhadap
pemenang lelang karena dengan adanya pemenang lelang serta objek hak
tanggungan merupakan kunci dalam penyelesaian kredit macet selain itu
perlindungan hukum wajib diberikan kepada pemenang lelang agar pemenang
lelang mendapatkan kepastian hukum seperti yang tertera pada Yurispudensi
Mahkamah Agung Tanggal 28 Agustus 1976 No. 821 K/Sip/1974 bahwa itikad
114
baik memegang peranan penting dalam jual beli dan kepastian hukum haruslah
diberikan kepada pembeli yang beritikad baik.
115
BAB IV
UPAYA HUKUM TERHADAP PEMBATALAN EKSEKUSI LELANG
MELALUI PENGADILAN
4.1
Pembatalan Eksekusi Lelang Melalui Pengadilan
Pelelangan objek hak tanggungan mempunyai tujuan yaitu untuk proses
pelunasan hutang debitor. Adapun dua jenis Lelang yakni lelang eksekusi dan
lelang non eksekusi. Kedua jenis lelang ini dibedakan berdasarkan sebab barang
dijual dan penjual dalam hubungannya dengan barang yang akan dilelang. Lelang
Eksekusi adalah lelang untuk melaksanakan putusan atau penetapan pengadilan
atau dokumen-dokumen lain, yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku atau yang dipersamakan dengan itu, dalam rangka membantu
penegakan hukum. Contoh, Lelang Eksekusi Panitia Urusan Piutang Negara
(PUPN), Lelang Eksekusi Pengadilan, Lelang Eksekusi Pajak, Lelang Eksekusi
Harta Pailit, Lelang Eksekusi Pasal 6 UUHT, Lelang Eksekusi dikuasai/tidak
dikuasai Bea Cukai, lelang Eksekusi Barang Sitaan Pasal 45 Kitab Undangundang Acara Hukum Pidana (KUHAP), Lelang Eksekusi Barang Rampasan,
Lelang Eksekusi Barang Temuan, Lelang Eksekusi Fidusia dan Lelang Eksekusi
Gadai.
Sedangkan Lelang Non Eksekusi dibagi atas 2 jenis yaitu Lelang Non
EksekusiWajib, yakni lelang untuk melaksanakanpenjualan barang milik
115
116
negara/daerah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun
2004 tentang perbendaharaan Negara atau barang Milik Badan Usaha Milik
Negara/Daerah (BUMN/D) yang oleh peraturan perundang-undangan diwajibkan
untuk dijual secara lelang termasuk kayu dan hasil hutan lainnya dari tangan
pertama, dan yang kedua yaitu Lelang Non Eksekusi Sukarela, yakni lelang untuk
melaksanakan penjualan barang milik perorangan, kelompok masyarakat atau
badan swasta yang dilelang secara sukarela oleh pemiliknya, termasuk dalam hal
ini adalah BUMN/D berbentuk persero.
Pada umumnya unsur-unsur lelang diatur dalam KUHPerdata sebagaimana
halnya dengan jual beli yaitu adanya subjek hukum yaitu pembeli dan penjual.
Namun penjualan lelang memiliki identitas dan karakteristik yang khusus yang
tercantum dalam pengaturan khusus tentang Lelang yaitu Vendu Reglement dan
pada perkembangannya lelang masih memiliki peranan yang penting yaitu sebagai
pendukung upaya Law Enforcement pada hukum perdata, hukum pidana, hukum
pajak maupun hukum administasi negara yaitu sebagai bagian dari eksekusi suatu
putusan. Penjualan lelang tidak secara khusus diatur dalam KUHPerdata tetapi
termasuk perjanjian bernama di luar KUHPerdata. Penjualan Lelang dikuasai oleh
ketentuan-ketentuan KUHPerdata mengenai jual beli yang diatur dalam
KUHPerdata Buku III tentang Perikatan. Pasal 1319 KUHPerdata berbunyi,
semua perjanjian baik yang mempunyai nama khusus, maupun yang tidak dikenal
dengan suatu nama tertentu, tunduk pada peraturan umum. Pasal 1319
membedakan perjanjian atas perjanjian bernama (nominaat) dan perjanjian tidak
117
bernama (innominaat). Pasal 1457 KUH Perdata, merumuskan jual beli adalah
suatu persetujuan, dengan mana pihak satu mengikatkan dirinya untuk
menyerahkan suatu kebendaan, dan pihak lain untuk membayar harga yang
dijanjikan. Perjanjian jual beli adalah suatu perjanjian yang dibuat antara pihak
penjual dan pembeli. Di dalam perjanjian itu pihak penjual berkewajiban untuk
menyerahkan objek jual beli kepada pembeli dan berhak menerima harga dan
pembeli berkewajiban untuk membayar harga dan berhak menerima objek
tersebut. Lelang mengandung unsur-unsur yang tercantum dalam defenisi jual beli
adanya subjek hukum, yaitu penjual dan pembeli, adanya kesepakatan antara
penjual dan pembeli tentang barang dan harga; adanya hak dan kewajiban yang
timbul antara pihak penjual dan pembeli. Esensi dari lelang dan jual beli adalah
penyerahan barang dan pembayaran harga. Penjualan lelang memiliki identitas
dan karakteristik sendiri, dengan adanya pengaturan khusus dalam Vendu
Reglement, namun dasar penjualan lelang sebagian masih mengacu pada
ketentuan KUHPerdata mengenai jual beli, sehingga penjualan lelang tidak boleh
bertentangan dengan asas atau ajaran umum yang terdapat dalam hukum perdata,
seperti ditegaskan dalam Pasal 1319.
Prosedur pelaksanaan lelang pada dasarnya dikelompokkan menjadi III
(tiga) tahap sebagai berikut :78
I. Tahap Pra Lelang/persiapan lelang
Persiapan lelang menyangkut mulai dari permohonan lelang, penentuan
tempat dan waktu lelang, penentuan syarat lelang, pelaksanaan
78
Purnama Tioria Sianturi, op.cit. hal 82-84.
118
pengumuman, melakukan permintaan Surat Keterangan Tanah dan
penyetoran uang jaminan. Pada tahap persiapan lelang hal-hal yang harus
dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Menerima surat permohonan lelang dan meneliti surat tersebut berikut
lampiran-lampiran
yang mendukung (sesuai
Pasal
20
Vendu
Reglement).
2. Kepala Kantor/pejabat lelang memeriksa kelengkapan dokumen
persyaratan lelang serta meneliti legalitas subjek maupun objek lelang.
Jika dokumen persyaratan formal belum terpenuhi, pejabat lelang
wajib melengkapi meminta kekurangannya, pejabat lelang harus
menyelesaikan terlebih dahulu. Jika dianggap perlu pejabat lelang
dapat terlebih dahulu meninjau objek lelang.
3. Kepala kantor/pejabat lelang menetapkan jadwal lelang berupa hari,
tanggal, dan pukul serta tempat lelang yang ditunjukkan kepada
penjual.
4. Penjual mengumumkan lelang.
5. Kepala kantor lelang memberitahukan kepada penghuni bangunan
akan adanya rencana pelaksanaan lelang
6. Kepala Kantor Lelang memintakan Surat Keterangan Tanah ke Kantor
Pertanahan setempat.
II. Tahap Pelaksanaan Lelang
Tahap pelaksanaan lelang menyangkut penentuan peserta lelang,
penyerahan nilai limit, pelaksanaan penawaran lelang, penunjukkan
119
pembeli. Pada tahap pelaksanaan lelang hal-hal yang harus dilakukan
adalah sebagai berikut:
1. Pejabat lelang mengecek peserta lelang dengan bukti setoran uang
jaminan.
2. Pejabat lelang memimpin lelang dengan memulai pembacaan kepada
Risalah Lelang. Pembacaan tersebut diikuti dengan Tanya jawab
tentang pelaksanaan lelang antara peserta lelang, pejabat penjual, dan
pejabat lelang. Pertanyaan yang mengenai barang dijawab oleh
penjual, sedang pertanyaan yang mengenai pembayaran, surat-surat
penting dan lain-lainnya dijawab oleh pejabat lelang.
3. Peserta lelang mengajukan penawaran lelang, yang dilakukan setelah
pejabat lelang membacakan kepala risalah lelang.
4. Cara penawaran:
2. Penawaran lisan dilakukan dengan cara:
a. Pejabat lelang menawarkan barang mulai dari nilai limit.
b. Melaksanakan penawaran dengan harga naik-naik dengan
kelipatan kenaikan ditetapkan oleh pejabat lelang.
c. Penawar tertinggi yang telah mencapai atau melampaui nilai
limit ditetapkan sebagai pembeli oleh pejabat lelang.
3. Penawaran tertulis dilakukan dengan cara:
a. Formulir penawaran lelang yang disediakan oleh Kantor
Lelang, dibagikan kepada para peserta lelang.
120
b. Setelah pejabat lelang membacakan kepala risalah lelang
peserta
lelang
diberi
kesempatan
untuk
mengisi
dan
mengajukan penawaran tertulis kepada pejabat lelang sesuai
waktu yang telah ditentukan.
c. Pejabat lelang menerima amplop yang berisi nilai limit dari
pejabat penjual dan menunjukkan amplop tersebut kepada
peserta lelang. Penyerahan harga limit dari pejabat penjual
kepada pejabat lelang dalam amplop tertutup. Hal ini tidak
berlaku, jika nilai limit telah diketahui lebih dahulu.
d. Pejabat lelang membuka surat penawaran bersama-sama degan
pejabat penjual
e. Pejabat lelang dan pejabat penjual membubuhkan paraf
masing-masing pada surat penawaran yang disaksikan oleh
peserta lelang dan penawaran tersebut dicatat dalam daftar
rekapitulasi penawaran lelang.
f. Jika penawaran belum mencapai nilai limit, maka lelang
dilanjutkan dengan cara penawaran lisan dengan harga naiknaik. Jika tidak ada penawar yang bersedia menaikkan
penawaran secara lisan naik-naik, maka lelang dinyatakan
ditahan, barang tidak dijual.
g. Jika terdapat dua atau lebih penawaran tertinggi yang sama dan
telah mencapai nilai limit, maka untuk menentukan pemenang
lelang, para penawar yang mengajukan penawaran tertinggi
121
yang sama tersebut dilakukan penawaran kembali secara lisan
untuk menaikkan penawaran lisannya sehingga terdapat satu
orang saja penawar tertinggi. Penawar tertinggi tersebut
ditunjuk sebagai pemenang lelang/pembeli lelang.
Setelah proses penawaran lelang selesai, risalah lelang ditutup
dengan ditandatangani oleh pejabat lelang, pejabat penjual. Dalam
hal
barang
yang
dilelang
barang
tetap,
pembeli
turut
menandatangani risalah lelang, tetapi untuk barang bergerak
pembeli tidak perlu menandatangani risalah lelang.
III. Tahap Pasca Lelang
Pasca lelang menyangkut pembayaran harga lelang, penyetoran hasil
lelang dan pembuatan risalah lelang. Pada tahap pelaksanaan lelang halhal yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Pembayaran harga lelang. Waktu pembayaran menurut ketentuan
3x24 jam setelah lelang. Bea lelang pembeli dipungut sesuai
Peraturan Pemerintah Nomor 44 tahun 2003 dan uang miskin
berdasarkan Pasal 18 Vendu Reglement. Atas pembayaran tersebut
pembeli lelang berdasarkan bukti pelunasan yang diterbitkan Kantor
Lelang meminta dokumen kepemilikan barang yang dibelinya ke
penjual.
2. Penyetoran hasil lelang. Pejabat lelang setelah menerima hasil lelang
melakukan penyetoran hasil lelang kepada yang berhak. Bea lelang,
122
uang miskin, pajak penghasilan disetor ke kas negara, sedang harga
lelang dikurangi bea lelang penjual disetorkan kepada penjual.
3. Pembuatan risalah lelang. Pejabat lelang membuat risalah lelang
berupa minuta salinan, petikan dan grosse risalah lelang. Pejabat
lelang memberikan petikan lelang kepada pembeli lelang beserta
kuitansi lelang. Petikan risalah lelang khusus barang yang diberikan
kepada pembeli, setelah pembeli menunjukkan bukti pembayaran Bea
Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan.
4. Pengembalian uang jaminan peserta lelang yang tidak menang. Uang
jaminan
lelang
dari
peserta
yang
tidak
ditunjuk
sebagai
pemenang/pembeli lelang, harus dikembalikan kepada penyetor yang
bersangkutan selambat-lambatnya satu hari kerja sejak dilengkapinya
persyaratan permintaan pengembalian uang jaminan dari peserta
lelang.
Terkait dengan hak tanggungan maka lelang objek hak tanggungan
merupakan lelang eksekusi karena diatur didalam UUHT. Pelelangan objek hak
tanggungan oleh bank memiliki dua prosedur eksekusi hak tanggungan yaitu
berdasarkan Pasal 6 UUHT dengan menjual lngsung atas kekuasaan sendiri yaitu
parate eksekusi dan juga bisa berdasarkan Pasal 14 ayat (2) jo. Pasal 26 UUHT
berdasarkan sertifikat hak tanggungan. Dalam sertifikat hak tanggungan terdapat
titel eksekutorial yaitu eksekusi dengan perantaraan pengadilan. Pada Pasal 6
UUHT memberikan cara pelunasan untuk debitor yang cidera janji, yaitu
pemegang hak tanggungan pertama mempunyai hak untuk menjual objek hak
123
tanggungan atas kekuasaan sendiri melalui pelelangan umum serta mengambil
pelunasan piutangnya dari hasil penjualan tersebut.
Proses lelang dapat terjadi melalui Pengadilan yaitu penjualan jaminan
perbankan dilakukan melalui pengadilan negeri, melalui Panitia Urusan Piutang
Negara (PUPN), maupun melalui Bank sebagai pemegang hak tanggungan dalam
proses pelaksanaan lelang berdasarkan titel eksekutorial sertipikat hak tanggungan
sesuai dengan Pasal 6 UUHT. Proses lelang melalui pengadilan ini hanya dapat
dilakukan apabila jaminan atau barang yang akan dilelang tersebut masih dalam
kondisi masih dikuasai oleh pemilik jaminan arau pemilik barang (belum
dikosongkan). Kemudian kemungkinan kedua yaitu adanya indikasi perlawanan
dari pemilik jaminan atau pemilik barang. Dari segi prosedur dan biaya, lelang
melalui pengadilan negeri ini relatif rumit dan cukup memakan biaya karena Bank
selaku pemegang hak tanggungan tidak cukup mengajukan hanya permohonan
lelang
kepada
Ketua
Pengadilan Negeri tetapi
juga
harus
mengajukan
permohonan sita jaminan (meskipun dari segi kepraktisan, permohonan sita
jaminan dan permohonan lelang ini dapat disatukan dalam satu permohonan,
sayangnya dalam praktek, banyak Pengadilan yang menghendaki satu persatu
permohonan).
Jika permohonan lelang disetujui maka Pengadilan akan menerbitkan
penetapan lelang yang dikemudian dilanjutkan dengan penetapan sita jaminan.
Dengan diterbitkannya sita jaminan, maka Pengadilan akan melakukan penyitaan
terhadap objek lelang yang kemudian akan didaftarkan kepada kantor Badan
Pertanahan setempat sekaligus mengajukan permohonan SKPT (Surat Keterangan
124
Pendaftaran
Tanah).
Setelah
keluarnya
SKPT
tersebut,
maka Pengadilan Negeri mengajukan kegiatan Taksasi (penaksiran) dengan
melibatkan pihak kelurahan dan pihak Dinas Pekerjaan Umum (PU), untuk dapat
ditetapkannya berapa nilai atau harga wajar atas jaminan/barang yang akan
dilelang. Setelah didapatkannya harga, maka Kepala Pengadilan akan menetapkan
harga limit terendah atas jaminan/barang yang akan dilelang tersebut. Bandingkan
dengan kegiatan lelang yang dilakukan oleh Balai Lelang Swasta atau KPKNL
dimana penjual/ pemegang hak tanggungan yang berhak menentukan harga limit
terendah atas objek lelang.
Pasal 1 Angka (32) PERMENKEU No. 106/PMK/06/2013 atas perubahan
PERMENKEU No. 93/PMK.06/2010tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang,
risalah lelang adalah berita acara pelaksanaan lelang yang dibuat oleh Pejabat
Lelang yang merupakan akta otentik dan mempunyai kekuatan pembuktian
sempurna. Hal ini termuat juga didalam Pasal 35 Vendu Reglement bahwa risalah
lelang merupakan Akta Otentik dan mempunyai kekuatan pembuktian yang
sempurna serta memuat semua peristiwa yang terjadi dalam prosesi penjualan
lelang sebagai bukti otentikasi pelaksanaan lelang. Risalah lelang sesuai dengan
Pasal 1870 KUHPerdata menyatakan bahwa risalah lelang memiliki kekuatan
pembuktian yang material dan merupakan pembuktian yang sah serta sempurna
bagi para pihak yaitu penjual dan pembeli kecuali dapat dibuktikan sebaliknya.
Risalah lelang sebagai landasan otentik dalam penjualan lelang, tanpa
risalah lelang maka penjualan lelang dianggap tidak sah, dan penjualan lelang
yang tidak tercatat dalam risalah lelang tidak dapat memberikan kepastian hukum
125
dan kekuatan hukum tetap. Risalah lelang haruslah menjadi bukti yang sempurna
bagi para pihak yaitu penjual dan pembeli lelang, dan risalah lelang juga
memberikan fungsi sebagai salah satu bentuk perjanjian yang dibuat secara sah
dan berlaku sebagai undang-undang bagi para pihak, sehingga persetujuanpersetujuan itu tidak dapat ditarik kembali selain dengan sepakat kedua belah
pihak dan harus pula mengedepankan itikad baik sesuai dengan Pasal 1338
KUHPerdata.
Dalam proses pelelangan salah satu putusan pengadilan dapat memberikan
putusan pembatalan eksekusi lelang karena proses dari tuntutan oleh pihak ketiga
melalui pengadilan. Putusan pengadilan menyatakan bahwa lelang tidak sah dan
dinyatakan batal demi hukum dan uang lelang yang dibayarkan oleh pembeli
lelang akan dikembalikan kepada pembeli lelang. Hal ini dapat dikatakan sebagai
salah satu bentuk ketidakpastian hukum yaitu putusan perkara Pengadilan Negeri
Malang Nomor: 133/Pdt.G/2000/PN.Mlg tanggal 27 Pebruari 2001 dengan
pertimbangan hukumnya yang tidak memberikan kepastian hukum yang cukup
jelas, pembeli lelangnya pun tidak dinyatakan sebagai pembeli lelang beritikad
baik atau tidak dan juga untuk keadaan barangnya juga tidak ditentukan secara
jelas apakah kembali ke keadaan semula atau tidak.
Hakim dalam memutus suatu perkara yang belum ada atau tidak ada
peraturan perundang-undangannya haruslah melihat pada faktor-faktor yang ada
dan berkaitan. Hakim juga harus pula memperhatikan adanya itikad baik pembeli
lelang
yang
eksekusi
lelangnya
dibatalkan
oleh
pengadilan.
Sehingga
pertimbangan hakim dalam memutus suatu perkara dapat objektif. Dalam putusan
126
pembatalan eksekusi lelang apabila pembeli lelang mempunyai itikad baik maka
sudah seharusnya pembeli lelang mendapatkan perlindungan hukum dan
kepastian hukum.
Ukuran itikad baik seorang pembeli lelang memang tidak diatur di dalam
hukum positif, tetapi di dalam berbagai putusan hakim sebelumnya telah ada
misalnya Putusan Mahkamah Agung RI tanggal 28 Agustus 1967 Reg. No. 821
K/Sip/1974, yang menyatakan bahwa pembeli yang membeli suatu barang melalui
pelelangan umum oleh Kantor Lelang Negara adalah sebagai pembeli yang
beritikad baik dan harus dilindungi oleh Undang-Undang. Seorang pembeli lelang
yang beritikad baik harus ada dalam pra kontrak/pelaksanaan lelang adalah
seorang yang membeli barang dengan kejujuran penuh kepercayaan bahwa si
penjual benar-benar pemilik barang. Pembeli yang beritikad baik adalah orang
yang memiliki kejujuran yang tidak mengetahui adanya cacat yang melekat pada
barang yang dibelinya itu dalam artian cacat pada asal usulnya.
Pembatalan eksekusi lelang melalui putusan pengadilan berkaitan dengan
tidak adanya perlindungan hukum terhadap pemenang lelang yang seharusnya
diberikan oleh undang-undang karena pemenang lelang objek hak tanggungan
merupakan kunci dalam penyelesaian kredit macet. Padahal pembelian objek
jaminan hak tanggungan tersebut kreditor dapat mengambil pelunasaan hutang
atas hutang debitor kepada kreditor yang mana pelunasan tersebut merupakan
tujuan diadakanya penjualan objek Hak Tanggungan.
Kepastian hukum pemenang lelang dalam menguasai objek jaminan harus
ditegakan. Jika lelang dibatalkan oleh putusan pengadilan maka tujuan
127
pembebanan hak tanggungan menjadi hal yang sia-sia dikarenakan kreditor tidak
dapat mengambil pelunasan atas hutang debitor. Apabila lelang dibatalkan maka
penjualan dianggap tidak pernah terjadi dan asas droit de preference tidak
terpenuhi dikarenakan kreditor tidak dapat mengambil pelunasan atas hutang
debitor.Perlindungan hukum dalam lelang diberikan kepada pembeli lelang yang
beritikad baik sehingga mendapat kepastian kepastian hukum atas putusan
pengadilan yang menyatakan bahwa perbuatan lelang adalah sah dan berkekuatan
hukum tetap kepada pembeli lelang untuk menguasai objek lelang yang dibelinya
melalui pelelangan.
4.2
Akibat Hukum Pembatalan Eksekusi Lelang
Lelang memiliki beberapa kelebihan berupa asas dalam pelaksanaannya yang
seharusnya mempermudah pelaksanaan lelang. Asas-asas lelang tersebut antara
lain:
a. Asas Transparansi
Asas ini mengandung makna bahwa cara penjualan umum melalui lelang
dilakukan dimuka umum. Lelangnya pun harus diumumkan terlebih dahulu,
agar masyarakat mengetahui akan adanya lelang dan barang lelangnya cepat
terjual. Lelang harus dikontrol ini terbukti dengan adanya sistem lelang yang
sudah diatur dalam peraturan perundang-undangan untuk memberikan
perlindungan/kepastian kepada masyarakat/pembeli mengenai objek lelang
tersebut. Oleh karena itu setiap pelaksanaan lelang harus didahului dengan
pengumuman lelang. Asas ini juga untuk mencegah terjadinya praktek
persaingan usaha tidak sehat, dan tidak memberikan kesempatan adanya
128
praktek korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).
b. Asas Akuntabilitas
Maksud
akuntabilitas
adalah
lelang
dalam
pelaksanaannya
dapat
dipertanggungjawabkan. Hal ini dibuktikan dengan adanya akta yang bersifat
otentik yaitu Akta Risalah Lelang yang dibuat oleh Pejabat Lelang dan sistem
pelaksanaan lelang sudah diatur oleh Undang-Undang.
c. Asas Efisiensi
Menjamin pelaksanaan lelang dilakukan dengan cepat dan dengan biaya yang
relatif murah karena lelang dilakukan dalam tempat dan waktu yang telah
ditentukan dan pembeli disahkan saat itu juga. Pelaksanaan lelang tidak
membutuhkan waktu yang lama, tidak perlu mencari-cari pembeli dan tidak
perlu bernegosiasi seperti transaksi jual beli pada umumnya. Tidak hanya itu
saja, objek lelang pun sebelumnya telah diteliti baik fisik maupun aspek
juridisnya oleh pejabat lelang dan transaksi lelang dilakukan pada satu waktu
dan pada satu tempat yang telah ditentukan. Penjualannya pun tidak
diperkenankan melalui perantara dan pembayarannya bersifat tunai.
f. Asas Certainty (kepastian)
Kepastian lelang sudah diatur sebagaimana dalam Peraturan Menteri Keuangan
Pelaksanaan Lelang, yaitu Lelang di pimpin oleh Pejabat Lelang yang
diselenggarakan oleh Kantor Lelang Negara. Tempat, tanggal, waktu dan objek
lelang telah ditetapkan sebelumnya dan diumumkan kepada masyarakat.
Pelaksanaan lelang tidak mudah untuk ditunda atau dibatalkan kecuali melalui
putusan/penetapan pengadilan.
129
g. Asas Keadilan
Mengandung pengertian bahwa dalam proses pelaksanaan lelang harus dapat
memenuhi rasa keadilan secara proporsional bagi setiap pihak yang
berkepentingan. Asas ini untuk mencegah terjadinya keberpihakan pejabat
lelang kepada peserta lelang tertentu atau berpihak hanya kepada kepentingan
penjual. Khusus pada pelaksanaan lelang eksekusi, penjual lelang tidak dapat
menentukan harga limit secara sewenang-wenang yang berakibat merugikan
pihak tereksekusi.
Selain asas lelang maka adapula kelebihan penjualan lelang sebagai
berikut:79
a.
Adil
Lelang dilaksanakan secara terbuka (transparan), tidak ada prioritas di antara
peserta lelang, kesamaan hak dan kewajiban antara peserta akan
menghasilkan pelaksanaan lelang yang objektif.
b.
Aman
Lelang disaksikan, dipimpin dan dilaksanakan oleh Pejabat Lelang selaku
pejabat umum yang bersifat independen. Karena itu pembeli lelang pada
dasarnya cukup terlindungi. Sistem lelang mengharuskan Pejabat Lelang
meneliti lebih dulu secara formal tentang keabsahan penjual dan barang yang
akan dijual (subyek dan objek lelang). Bahkan pelaksanaan lelang harus lebih
dahulu diumumkan sehingga memberikan kesempatan apabila ada pihak79
F.X. Ngadijarno, Nunung Eko Laksito dan Isti Indri Listiani, 2005,
Lelang : Teori dan Praktik, Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan, Jakarta,
hal. 40.
130
pihak yang ingin mengajukan keberatan atas penjualan tersebut. Oleh karena
itu penjualan secara lelang adalah penjualan yang aman.
c.
Cepat dan efisien
Lelang didahului dengan pengumuman lelang, sehingga peserta lelang dapat
terkumpul pada saat hari lelang dan pada saat itu pula ditentukan pembelinya,
serta pembayarannya secara tunai. Mewujudkan harga yang wajar, karena
pembentukan harga lelang pada dasarnya menggunakan sistem penawaran
yang bersifat kompetitif dan transparan.
d.
Memberikan kepastian hukum
Setiap pelaksanaan lelang diterbitkan Risalah Lelang yang merupakan akta
otentik, yang mempunyai pembuktian sempurna.
Lelang mempunyai kelebihan seperti yang telah disebutkan diatas, namun
pada prakteknya pelaksanaan lelang sebagai upaya pelunasan hutang masih
seringkali mengalami kendala yaitu adanya kemungkinan eksekusi lelang tersebut
dibatalkan oleh pengadilan. Akibat hukum dari adanya pembatalan eksekusi
lelang antara lain bahwa akibat hukum tentu saja terhadap barang yang dibeli
melalui lelang tersebut akan kembali kepada keaadaan semula yaitu dalam
kepemilikan penggugat yaitu debitor pemilik barang atau pihak ketiga pemilik
barang atau termohon eksekusi pemilik barang. Jika penggugat adalah debitor,
dengan putusan yang menyatakan lelang batal atau tidak sah, maka barang akan
kembali kepada kepemilikikan debitor, namun tetap menjadi barang jaminan
sebagaimana status barang tersebut sebelum terjadinya lelang. Selain itu akibat
hukum karena adanya pembatalan lelang juga berpengaruh terhadap hak pembeli
131
lelang atas barang dan hasil lelang. Apabila putusan lelang dinyatakan tidak sah
dan batal demi hukum maka objek lelang akan berakhir baik secara fisiknya
maupun secara yuridisnya. Kemudian hasil lelang akan dikembalikan oleh pihak
yang menjadi kuasa undang-undang yang mewakili pemilik barang sebagai
penjual, diantaranya bank kreditor atau termohon eksekusi atau pemegang hak
tanggungan.
Pengembalian pokok harga lelang beserta bunga dan biayanya haruslah
dikembalikan kepada pembeli lelang agar tidak mengurangi hak-haknya sebagai
pembeli lelang yang beritikad baik namun hingga saat ini jangka waktu
pengembalian biaya dan bunganya tidak ada diatur dalam undang-undang maupun
peraturan manapun. Dalam pasal 1449 KUHPerdata hanya mengatur tentang
akibat hukum pembatalan perjanjian menerbitkan kewajiban ganti kerugian, biaya
dan bunga tetapi tidak mengatur tentang kewajiban ganti kerugian jika pembatalan
perjanjian karena perbuatan melawan hukum. Kemudian akibat pembatalan
eksekusi lelang terhadap hak penjual/pihak yang diwakilkan selaku kuasa undangundang terhadap barang dan hasil lelang apabila putusan pengadilan menyatakan
bahwa lelang batal atau tidak sah, maka penjual tidak berhak atas pemenuhan
perjanjian kredit atau kewajiban-kewajiban tereksekusi lelang atas barang objek
lelang, akibatnya penjual lelang harus mengembalikan hasil lelang kepada
pembeli lelang.
Apabila barang lelang tersebut berasal dari gugatan debitor, maka barang
yang dilelang tersebut akan kembali ke dalam status barang semula, apabila lelang
berdasarkan perjanjian kredit, maka pembatalan lelang berakibat objek lelang
132
tersebut kembali ke dalam status sebagai barang jaminan. Sedangkan jika lelang
berdasarkan hubungan pemohon eksekusi dengan termohon eksekusi, maka
pembatalan lelang berakibat objek lelang kembali ke status benda jaminan umum
berdasarkan Pasal 1131 KUHPerdata. Dengan demikian putusan yang
menyatakan lelang batal atau tidak sah, tidak menghilangkan hak-hak penjual atau
pihak yang diwakilinya selaku kuasa undang-undang untuk memperoleh
pelunasan
hutang-hutang
debitor,
hanya
penundaan
untuk
memperoleh
pemenuhan perjanjian kredit dari pihak debitor atau memenuhi perjanjian dari
pihak termohon eksekusi. Jika gugatan berasal dari pihak ketiga maka putusan
yang menyatakan lelang batal atau tidak sah, tentunya akan didahului dengan
amar putusan yang membatalkan pengikatan atau pemberian jaminan, sehingga
berakibat berakhirnya hak-hak pihak yang diwakili penjual atas barang jaminan,
tetapi hutang debitor tetaplah ada.
Apabila melihat dari berbagai putusan yang ada, maka dapat dilihat bahwa
lelang merupakan bentuk jual beli yang tetap memungkinkan adanya
bantahan/keberatan/gugatan. Pembeli lelang yang beritikad baik tidaklah
mendapatkan perlindungan yang cukup kuat dan absolut setelah adanya jual beli
lelang sehingga menimbulkan posisi kedudukan pembeli lelang tidak mempunyai
kekuatan hukum yang final meskipun transaksi jual beli lelang telah mendapat
risalah lelang yang seharusnya mempunyai kekuatan hukum tetap. Dengan adanya
kemungkinan dilakukan bantahan/keberatan/gugatan yang kemudian disertai
dengan putusan pengadilan yang mana akan mengakibatkan lelang tidak sah atau
batal demi hukum.
133
Implikasi dari putusan menyatakan lelang tidak sah atau batal demi hukum
antara lain:
1. Akibat hukum terhadap kepemilikan barang yang dibeli melalui lelang.
Dengan adanya pembatalan lelang berdasarkan putusan pengadilan
maka akan mempunyai akibat hukum terhadap kepemilikan barang
yang dibeli melalui lelang tersebut yaitu status barang tersebut akan
kembali kepada keadaan semula yaitu dalam kepemilikan Penggugat
(debitor pemilik barang atau pihak ketiga pemilik barang atau termohon
eksekusi pemilik barang) Apabila penggugat adalah debitor, dengan
putusan yang menyatakan lelang batal atau tidak sah, maka barang
kembali tetap pada kepemilikan debitor, namun tetap dalam status
barang jaminan sebagaimana sebelum lelang. Apabila penggugat adalah
pihak ketiga seperti istri, ahli waris, atau pihak ketiga lainnya yang
terbukti bahwa pihak ketiga tersebut merupakan pemilik dari objek
lelang, maka barang akan kembali kepada kepemilikan pihak ketiga
yang terbukti merupakan pemilik dari objek lelang tersebut, sedangkan
status pengikatan atas barang jaminan menjadi tidak sah. Apabila
penggugat adalah termohon eksekusi, maka barang yang merupakan
objek lelang tersebut akan kembali kepada kepemilikan termohon
eksekusi.
2. Akibat hukum terhadap hak pemilik lelang atas barang dan hasil lelang.
Akibat hukum terhadap pembeli lelang dapat dilihat dari segi barang
objek lelang dan dari segi hasil lelang yang telah disetorkannya. Jika
134
putusan menyatakan lelang batal dan tidak sah, maka hak pembeli
lelang atas objek lelang akan menjadi berakhir. Hal ini berlaku sejak
jual beli lelang baru pada tahap perjanjian obligatoir yaitu setelah
penunjukan pembeli lelang, maupun setelah barang objek lelang telah
dilakukan, penyerahan baik penyerahan nyata atau fisik melalui
pengosongan maupun penyerahan yuridis melalui balik nama di kantor
pertanahan. Sedangkan dari hasil lelangnya maka akan dikembalikan
oleh pihak yang menjadi kuasa undang-undang mewakili pemilik
barang sebagai penjual, diantaranya bank kreditor atau termohon
eksekusi atau pemegang hak tanggungan. Dalam peraturan perundangundangan belum mengatur hasil lelang yang dibayar, sebagai akibat
pembatalan lelang apakah menyangkut pokok, bunga dan biaya dan
juga jangka waktu untuk pengembaliannya. Pasal 1449 KUHPerdata
menyatakan bahwa perjanjian yang telah dibuat tidak dengan
kesepakatan bebas yaitu yang terjadi karena kekhilafan, paksaan, dan
penupuan tersebut dapat dibatalkan berdasarkan sautu tuntutan.
Pembatalan
perjanjian
tersebut
menerbitkan
kewajiban
untuk
memberikan ganti kerugian, biaya, dan bunga terhadap pihak yang
menurut ketentuan. Dengan kata lain di dalam KUHPerdata hanya
mengatur akibat hukum pembatalan perjanjian menerbitkan kewajiban
ganti kerugian, biaya, dan bunga, tetapi tidak mengatur kewajiban ganti
kerugian jika pembatalan perjanjian karena perbuatan melawan
hukumnya.
135
3. Akibat terhadap hak penjual/pihak yang diwakilinya selaku kuasa
undang-undang terhadap barang dari hasil lelang.
Akibat hukum terhadap penjual lelang dapat dilihat dari segi barang
objek lelang dan dari segi hasil lelang. Jika putusan menyatakan lelang
batal dan tidak sah, maka penjual tidak berhak atas pemenuhan
perjanjian kredit atau kewajiban-kewajiban tereksekusi lelang atas
barang objek lelang, sehingga akibatnya penjual lelang harus
mengembalikan hasil lelang kepada pembeli lelang, sedangkan dari segi
barang jika gugatan berasal dari debitor, maka barang kembali ke dalam
status barang semula. Dalam hal ini lelang yang berasal dari perjanjian
kredit maka pembatalan lelang akan mengakibatkan objek lelang
kembali ke status barang jaminan.
4. Kewajiban debitor atau termohon eksekusi yang menjadi dasar untuk
pelaksanaan lelang akan dianggap kembali kepada keadaan semula.
Akibat hukum atas pembatalan eksekusi lelang karena putusan
pengadilan akan mengakibatkan pelaksanaan lelang dan hasil lelang
dianggap tidak pernah ada karena kewajiban debitor untuk memenuhi
perjanjian
sebagai
dasar
pelaksanaan
lelang,
apabila
putusan
menyatakan lelang batal dan tidak sah, maka barang akan kembali
kepada keadaan semula. Jika gugatan berasal dari debitor, putusan
menyatakan lelang batal dan tidak sah mengembalikan kepemilikan
barang objek lelang pada kepemilikan debitor. Jika gugatan berasal dari
termohon eksekusi dalam perkara yang menjadi dasar lelang, putusan
136
menyatakan lelang batal dan tidak sah mengakibatkan kepemilikan
objek lelang kembali ke termohon eksekusi tetapi kewajiban termohon
eksekusi tetap pada posisi semula.
Dari keempat faktor diatas maka akibat terhadap pembeli lelang atas
barang dan hasil lelang tidak jelas, sehingga terlihat bahwa hak-hak pembeli
dalam lelang kurang terlindungi.
4.3 Upaya Hukum Atas Pembatalan Eksekusi Lelang
Adanya pembebanan hak tanggungan dapat dikaitan dengan teori
kepastian hukum dimana agar proses pemberian kredit dengan jaminan hak atas
tanah mempunyai kepastian hukum akan kedudukan para pihak. Sehingga apabila
di suatu hari nanti terjadi sengketa antara pihak yang bersangkutan, para pihak
mempunyai kepastian hukum maka dari itu diwajibkan untuk melakukan
pembebanan hak tanggungan dalam proses pemberian kredit. Dalam kaitannya
dengan tanah sebagai barang jaminan dalam pemberian kredit, Bank Pemerintah
telah meletakkan persyaratan pembebanan hak tanggungan yang memberikan hak
istimewa bagi pihak bank (kreditor) dalam perjanjian kredit dengan debitur.
Upaya hukum pada dasarnya adalah untuk mewujudkan kebenaran dan
keadilan disetiap putusan hakim. Suatu putusan hakim tidak selamanya mutlak
adil dan benar namun adapula kemungkinan-kemungkinan atau faktor-faktor
tertentu yang menyebakan putusan hakim tidak mewujudkan keadilan dan
kebenaran, kemungkinan untuk terjadi kekeliruan pasti ada dan tidak menutup
kemungkinan pula untuk bersifat memihak. Maka dari itu dimungkinkan adanya
kesempatan pada setiap putusan hakim untuk diperiksa ulang agar kekeliruan atau
137
kekhilafan yang ada dapat diperbaiki. Kesempatan untuk memeriksa ulang pada
setiap putusan hakim ialah dengan cara upaya hukum, upaya hukum yaitu upaya
atau alat untuk mencegah atau memperbaiki kekeliruan dalam suatu putusan.
Dalam proses mengajukan upaya hukum maka haruslah mempunyai syarat
memberikan dasar hukum didalamnya, dalam hal ini adalah para pihak yang
bersangkutan yang mengajukan upaya hukum haruslah menambahkan dasar
hukum yang berkaitan dengan apa yang diajukannya. Upaya hukum terhadap
suatu putusan pengadilan dimungkinkan karena hakim dalam memutuskan suatu
perkara tidak luput dari kekeliruan atau kekhilafan, bahkan tidak menutup
kemungkinan bagi hakim dapat bersifat memihak salah satu pihak yang
berperkara. Oleh karena itu, demi kebenaran dan keadilan setiap putusan hakim
perlu dimungkinkan untuk diperiksa ulang agar kekeliruan atau kekhilafan yang
terjadi pada putusan dapat diperbaiki.
Setiap putusan hakim pada umumnya tersedia upaya hukum yang
berfungsi sebagai alat untuk mencegah atau memperbaiki kekeliruan dalam setiap
putusan. Upaya hukum yang dapat dilakukan atas pembatalan eksekusi lelang
antara lain adalah banding dan kasasi. Banding adalah suatu upaya yang dilakukan
oleh salah satu pihak dalam suatu perkara perdata apabila pihak tersebut tidak
menerima suatu putusan Pengadilan Negeri karena merasa hak-haknya tidak dapat
terpenuhi atau menganggap putusan tersebut kurang benar atau kurang adil.
Permohonan banding dapat diajukan perkara yang telah diputuskan itu kepada
pengadilan yang lebih tinggi untuk dimintakan pemeriksaan ulang. Di dalam
peradilan mempunyai asas peradilan dalam dua tingkat itu berdasarkan pada
138
keyakinan bahwa putusan pengadilan dalam tingkat pertama itu belum tentu tepat
atau benar oleh karena itu perlu dimungkinkan pemeriksaan ulang oleh pengadilan
yang lebih tinggi.
Permohonan banding dilakukan setelah dijatuhkannya putusan oleh
Pengadilan Negeri, Pasal 21 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 (selanjutnya
disingkan UU Kehakiman) menyatakan bahwa yang dapat mengajukan
permohonan banding adalah pihak yang bersangkutan, artinya permohonan
banding tidak dapat dilakukan oleh pihak yang tidak berkepentingan karena
mengingat bahwa upaya banding merupakan upaya hukum untuk memperoleh
perbaikan putusan yang lebih menguntungkan dan juga bahwa banding tidak
selayaknya disediakan bagi pihak yang dimenangkan, maka upaya banding hanya
disediakan untuk pihak yang dikalahkan atau merasa dirugikan.
Putusan banding hanya dapat menguntungkan pihak yang mengajukan
banding, sehingga dalam pemeriksaan tingkat banding bagian gugatan penggugat
atau terbanding yang tidak dikabulkan tidak akan ditinjau kembali. Permohonan
banding dapat diajukan dalam waktu 14 (empat belas) hari setelah putusan
diucapkan, atau setelah diberitahukan, dalam hal putusan tersebut diucapkan
diluar hadir. Jika dalam batas waktu 14 hari dalam mana hak yang bersangkutan
boleh menyatakan naik banding itu sudah lewat tetapi baru diajukan permohonan
banding maka hakim tidak boleh menolaknya kemudian menyerahkan ke
Pengadilan Tinggi, sebab yang boleh menolak atau menerima permohonan
banding adalah Pengadilan Tinggi.
139
Pasal 9 Undang-Undnag Nomor 20 Tahun 1947 menyatakan bahwa yang
dapat dimohonkan banding hanyalah putusan akhir saja. Putusan yang bukan
putusan akhir hanya dapat dimohonkan banding bersama-sama dengan putusan
akhir. Pembatalan lelang atas dasar putusan pengadilan dimungkinkan adanya
upaya hukum yaitu melalui upaya hukum yang sama dalam acara perdata yaitu
pihak yang merasa dirugikan atau tidak mendapatkan haknya atau merasa tidak
adil dapat mengajukan permohonan yaitu permohonan banding melalui
Pengadilan Tinggi agar hakim dapat memeriksa ulang perkara dan memberikan
kemungkinan diwujudkannya putusan pengadilan yang lebih adil.
Apabila upaya banding telah dilakukan namun belum juga mendapatkan
putusan yang dirasanya adil, maka pihak yang bersangkutan dapat mengajukan
upaya hukum yang lebih tinggi yaitu upaya hukum kasasi. Pasal 22 UU
Kehakiman menyatakan bahwa Terhadap putusan pengadilan dalam tingkat
banding dapat dimintakan kasasi kepada Mahkamah Agung oleh pihak-pihak
yang bersangkutan, kecuali undang-undang menentukan lain. Upaya hukum
kasasi adalah pembatalan putusan atas penetapan pengadilan dari semua
lingkungan peradilan dalam tingkat peradilan terakhir dan diberikan dalam tingkat
akhir oleh Mahkamah Agung.
Prosedur pengajuan upaya hukum perdata di Pengadilan Negeri sebagai
berikut:
a. Tata cara/alur perkara perdata di tingkat Banding80
80
Mahkamah Agung Republik Indonesia, 2007, Pedoman Teknis
Administrasi dan Teknis Peradilan Perdata Umum dan Perdata Khusus, Buku II,
Ikatan Hakim Indonesia IKAHI, Jakarta, hal 4-7.
140
1.
Berkas perkara diserahkan pada Panitera Muda Perdata sebagai petugas
pada
meja/loket
pertama,
yang
menerima
pendaftaran
terhadap
permohonan banding.
3.
Permohonan banding dapat diajukan di kepaniteraan Pengadilan Negeri
dalam waktu 14 (empat belas) hari kalender terhitung keesokan harinya
setelah putusan diucapkan atau setelah diberitahukan kepada pihak yang
tidak hadir dalam pembacaan putusan. Apabila hari ke 14 (empat belas)
jatuh pada hari Sabtu, Minggu atau Hari Libur, maka penentuan hari ke 14
(empat belas) jatuh pada hari kerja berikutnya.
4.
Terhadap permohonan banding yang diajukan melampaui tenggang waktu
tersebut diatas tetap dapat diterima dan dicatat dengan membuat surat
keterangan panitera bahwa permohonan banding telah lampau.
5.
Panjar biaya banding dituangkan dalam SKUM, dengan peruntukan:
a. Biaya pencatatan pernyataan banding;
b. Biaya banding yang ditetapkan oleh ketua Pengadilan Tinggi
ditambah biaya pengiriman ke rekening Pengadilan Tinggi;
c. Ongkos pengiriman berkas;
d. Biaya pemberitahuan (BP):
i.
Biaya pemberitahuan akta banding;
ii. Biaya pemberitahuan memori banding;
iii. Biaya pemberitahuan kontra memori banding;
iv. Biaya pemberitahuan untuk memeriksa berkas bagi
141
pembanding;
v.
Biaya pemberitahuan untuk memeriksa berkas bagi
terbanding;
vi. Biaya pemberitahuan putusan bagi pembanding;
vii. Biaya pemberitahuan putusan bagi terbanding;
5.
SKUM (Surat Kuasa Untuk Membayar) dibuat dalam rangkap tiga:
a. lembar pertama untuk pemohon;
b. lembar kedua untuk kasir;
c. lembar ketiga untuk dilampirkan dalam berkas permohonan.
6.
Menyerahkan berkas permohonan banding yang dilengkapi dengan SKUM
kepada yang pihak bersangkutan agar membayar uang panjar yang
tercantum dalam SKUM kepada pemegang kas Pengadilan Negeri.
7.
Pemegang
kas
setelah
menerima
pembayaran
menandatangani,
membubuhkan cap stempel lunas pada SKUM.
8.
Pemegang kas kemudian membukukan uang panjar biaya perkara
sebagaimana tercantum dalam SKUM pada buku jurnal keuangan perkara.
9.
Pernyataan banding dapat diterima apabila panjar biaya perkara banding
yang ditentukan dalam SKUM oleh meja pertama telah dibayar lunas.
10. Apabila panjar biaya banding yang telah dibayar tunas maka Pengadilan
wajib membuat akta pemyataan banding dan mencatat permohonan
banding tersebut dalam register induk perkara perdata dan register
permohonan banding.
11. Permohonan banding dalam waktu 7 hari kalender harus telah disampaikan
142
kepada lawannya, tanpa perlu menunggu diterimanya memori banding.
12. Tanggal penerimaan memori dan kontra memori banding harus dicatat
dalam buku register induk perkara perdata dan register permohonan
banding, kemudian salinannya disampaikan kepada masing-masing
lawannya dengan membuat relaas pemberitahuan/penyerahannya.
13. Sebelum berkas perkara dikirim ke Pengadilan Tinggi harus diberikan
kesempatan kepada kedua belah untuk mempelajari/memeriksa berkas
perkara (inzage) dan dituangkan dalam Relaas.
14. Dalam waktu 30 hari sejak permohonan banding diajukan, berkas banding
berupa berkas A dan B harus sudah dikirim ke Pengadilan Tinggi.
15. Biaya perkara banding untuk Pengadilan Tinggi harus disampaikan
melalui Bank pemerintah/ kantor pos, dan tanda bukti pengiriman uang
harus dikirim bersamaan dengan pengiriman berkas yang bersangkutan.
16. Pencabutan permohonan banding diajukan kepada Ketua Pengadilan
Negeri yang ditandatangani oleh pembanding (harus diketahui oleh
prinsipal apabila permohonan banding diajukan oleh kuasanya) dengan
menyertakan akta panitera.
17. Pencabutan permohonan banding harus segera dikirim oleh Panitera ke
Pengadilan Tinggi disertai akta pencabutan yang ditandatangani oleh
Panitera.
b. Tata Cara/ Alur Perkara Perdata di Tingkat Kasasi.81
1.
Berkas perkara diserahkan pada Panitera Muda Perdata sebagai petugas
81
Ibid. hal. 7-10.
143
pada meja/loket pertama, yang menerima pendaftaran terhadap
permohonan Kasasi.
2.
Permohonan Kasasi dapat diajukan di kepaniteraan Pengadilan Negeri
dalam waktu 14 (empat belas) hari kalender terhitung keesokan harinya
setelah putusan Pengadilan Tinggi diberitahukan kepada para pihak.
Apabila hari ke 14 (empat belas) jatuh pada hari Sabtu, Minggu atau Hari
Libur, maka penentuan hari ke 14 (empat belas) jatuh pada hari kerja
berikutnya.
3.
Permohonan Kasasi yang melampaui tenggang waktu tersebut di atas tidak
dapat diterima dan berkas perkaranya tidak dikirimkan ke Mahkamah
Agung dengan Penetapan Ketua Pengadilan (Pasal 45 A UU No. 5/2004).
4.
Ketua Pengadilan Negeri menetapkan panjar biaya Kasasi yangdituangkan
dalam SKUM, yang diperuntukkan:
a.
Biaya pencatatan pernyataan Kasasi;
b.
Besarnya biaya Kasasi yang ditetapkan oleh Ketua Mahkamah Agung
ditambah biaya pengiriman melalui bank ke rekening Mahkamah
Agung;
c.
Biaya pengiriman berkas perkara ke Mahkamah Agung;
d.
Biaya Pemberitahuan (BP):
i.
BP pernyataan Kasasi;
ii. BP memori Kasasi;
iii. BP kontra memori Kasasi;
iv. BP untuk memeriksa kelengkapan berkas (inzage) bagi
144
pemohon;
v.
BP untuk memeriksa kelengkapan berkas (inzage) bagi
termohon;
vi. BP amar putusan Kasasi kepada pemohon;
vii. BP amar putusan Kasasi kepada termohon.
5.
6.
SKUM (Surat Kuasa Untuk Membayar) dibuat dalam rangkap tiga:
a.
lembar pertama untuk pemohon;
b.
lembar kedua untuk kasir;
c.
lembar ketiga untuk dilampirkan dalam berkas perkara;
Menyerahkan SKUM kepada pihak yang bersangkutan agar membayar
uang panjar yang tercantum dalam SKUM kepada pemegang kas
Pengadilan Negeri.
7.
Pemegang kas setelah menerima pembayaran menandatangani dan
membubuhkan cap stempel lunas pada SKUM.
8.
Pernyataan Kasasi dapat diterima apabila panjar biaya perkara Kasasi
yang ditentukan dalam SKUM telah dibayar lunas.
9.
Pemegang kas kemudian membukukan uang panjar biaya perkara
sebagaimana tercantum dalam SKUM pada buku jurnal keuangan
perkara.
10.
Apabila panjar biaya Kasasi telah dibayar lunas maka pengadilan pada
hari itu juga wajib membuat akta pernyataan Kasasi yang dilampirkan
pada berkas perkara dan mencatat permohonan Kasasi tersebut dalam
register induk perkara perdata dan register permohonan Kasasi.
145
11.
Permohonan Kasasi dalam waktu 7 (tujuh) hari kalender harus telah
disampaikan kepada pihak lawan.
12.
Memori Kasasi harus telah diterima di Kepaniteraan Pengadilan Negeri
selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kalender terhitung sejak
keesokan hari setelah pernyataan Kasasi. Apabila hari ke 14 (empat
belas) jatuh pada hari Sabtu, Minggu atau Hari Libur, maka penentuan
hari ke 14 (empat belas) jatuh pada hari kerja berikutnya.
13.
Panitera wajib memberikan tanda terima atas penerimaan memori Kasasi
dan dalam waktu selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kalender
salinan memori Kasasi tersebut disampaikan kepada pihak lawan.
14.
Kontra memori Kasasi harus telah diterima di Kepaniteraan Pengadilan
Negeri selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kalender sesudah
disampaikannya memori Kasasi.
15.
Sebelum berkas perkara dikirim ke Mahkamah Agung harus diberikan
kesempatan kepada kedua belah untuk mempelajari/ memeriksa
kelengkapan berkas perkara (inzage) dan dituangkan dalam akta.
16.
Dalam waktu 65 (enam puluh lima) hari sejak permohonan Kasasi
diajukan, berkas Kasasi berupa bundel A dan B harus sudah dikirim ke
Mahkamah Agung.
17.
Biaya permohonan Kasasi untuk Mahkamah Agung harus dikirim oleh
pemegang kas melalui Bank BRI Cabang Veteran - Jl. Veteran Raya No.
8 Jakarta Pusat; Rekening Nomor 31.46.0370.0 dan bukti pengirimannya
dilampirkan dalam berkas perkara yang bersangkutan.
146
18.
Tanggal penerimaan memori dan kontra memori Kasasi harus dicatat
dalam buku register induk perkara perdata dan register permohonan
Kasasi.
19.
Fotocopy relaas pemberitahuan putusan Mahkamah Agung wajib dikirim
ke Mahkamah Agung.
20.
Pencabutan permohonan Kasasi diajukan kepada Ketua Mahkamah
Agung melalui Ketua Pengadilan Negeri yang ditandatangani oleh
pemohon Kasasi. Apabila pencabutan permohonan Kasasi diajukan oleh
kuasanya maka harus diketahui oleh principal.
21.
Pencabutan permohonan Kasasi harus segera dikirim oleh Panitera ke
Mahkamah Agung disertai akta pencabutan permohonan Kasasi yang
ditandatangani oleh Panitera.
Lelang mempunyai karakter hukum yang sama dengan jual beli dengan
kata lain bahwa hukum lelang sama dengan jual beli antara individu. Status
penjual lelang dengan status penjual individu adalah sama. Lelang yang diatur
dalam Vendu Reglement tidak mengatur secara khusus mengenai tanggung jawab
penjual. Untuk itu berlakulah ketentuan umum hukum jual beli dalam
KUHPerdata. Kewajiban menyerahkan barang oleh penjual terdapat dalam pasal
1474 KUHPerdata yang menyatakan bahwa penjual barang berkewajiban untuk
menyerahkan barangnya dan menanggungnya, selain itu Penjual memiliki dua
kewajiban dalam pasal 1491 KUHPerdata yaitu menjamin penguasaan benda
secara aman dan tentram dan terhadap adanya cacat yang tersembunyi. Hal ini
berkaitan pula dengan upaya hukum pembatalan lelang eksekusi berdasarkan
147
putusan pengadilan, maka upaya hukum yang dapat dilakukan dalam proses
pelelangan sama dengan upaya hukum dalam proses hukum acara perdata karena
pembatalan lelang eksekusi melalui putusan pengadilan telah mempunyai
kekuatan hukum tetap dan melalui pengadilan sehingga upaya hukum yang dapat
diajukan sama pula dengan upaya hukum putusan perdata pada umumnya yaitu
melalui banding yang dilakukan dengan cara mengajukan kepada Pengadilan
Tinggi dan kasasi yang dilakukan dengan cara mengajukan kepada Mahkamah
Agung. Adanya upaya-upaya hukum yang disediakan mempunyai tujuan agar
putusan pengadilan dalam proses pelelangan dapat memberikan putusan yang
seadil-adilnya yang dapat memberikan kepastian hukum bagi kedua belah pihak.
148
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
1.
Peraturan
pelaksanaan
lelang
yang
ada
selama
ini
tidak
memberikan perlindungan hukumsecara preventif kepada pemenang lelang
artinya bahwa Vendu Reglement yang menjadi dasar hukum utama lelang di
Indonesia, dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 106/PMK.06/2013
tentangPerubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 93/PMK.06/2010
tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang belum ditemukan adanya perlindungan
hukum kepada pemenang lelang eksekusi hak tanggungan. Risalah lelang
tidak memberikan perlindungan hukum kepada pemenang lelang atas
penguasaan objek lelang. Perlindungan hukum secara represif diberikan oleh
HIR dalam hal pengosongan objek lelang dapat meminta bantuan Pengadilan
Negeri dan apabila terjadi bantahan pemenang lelang dapat mengajukan
upaya hukum berupa banding dan kasasi.
2.
Lelang merupakan bentuk jual beli yang masih terbuka terhadap
bantahan/keberatan/gugatan dari pihak ketiga. Jika terjadi bantahan akibat
gugatan yang diajukan oleh pihak ketiga yang pada akhirnya gugatan tersebut
masuk ke pengadilan dan putusan pengadilan memenangkan gugatan pihak
ke tiga tersebut, maka pemenang lelang dapatmengajukanupaya hukum ke
148
149
pengadilan tinggi untuk menyelesaikan persoalan yaitu melalui Banding dan
melalui Mahkamah Agung untuk Kasasi. Hal ini dikarenakan penjualan
melalui lelang termasuk dalam penjualan perdata dan upaya hukum yang
dapat dilakukan adalah upaya hukum dalam ruang lingkup hukum acara
perdata.
5.2 Saran-Saran
1.
Guna untuk mewujudkan perlindungan hukum terutama bagi pembeli lelang,
maka diperlukan adanya pembaharuan peraturan lelang oleh pemerintah yaitu
dengan cara melakukan perombakan terhadap norma-norma dalam Vendu
Reglementkarena norma-norma didalamnya sudah tidak relevan lagi dalam
perkembangan hukum yang pesat saat ini, juga peraturan teknis pelaksanaan
lelang agar tidak menimbulkan celah hukum yang merugikan bagi pihak
debitur,
kreditur,
pemenang
lelang,
serta
pihak-pihak
lain
yang
berkepentingan. Untuk menunjang perlindungan hukum secara preventif yang
masih belum ada maka pejabat lelang dan pembeli lelang harus lebih cermat,
teliti dan berhati-hati dalam proses pelaksanaan lelang terutama dalam hal
keabsahan dokumen-dokumen terkait obyek lelang.
2.
Adanya upaya hukum yang dapat dilakukan oleh pihak-pihak yang merasa
dirugikan telah memberikan celah untuk adanya bantahan/gugatan/keberatan
meskipun risalah lelang seharusnya telah mempunyai kekuatan hukum tetap
namun dalam prakteknya pembeli lelang eksekusi hak tanggungan dapat
dibatalkan berdasarkan putusan pengadilan. Hal ini bertujuan untuk
memberikan kesempatan kepada pihak lain yang merasa dirugikan atas
150
penjualan lelang tersebut. Upaya hukum yang telah disediakan untuk kedua
belah pihak telah disediakan dan jelas, hal ini untuk menunjang tercapainya
tujuan hukum yaitu keadilan dan juga kepastian hukum tidak hanya pada sisi
pembeli lelang namun juga untuk sisi penjual lelang maupun pihak ketiga
yang dirugikan.
151
DAFTAR PUSTAKA
a. Buku
Ali, Achmad, 2002, Menguak Tabir Hukum (Suatu Kajian Filosofis dan
Sosiologis), PT. Gunung Agung Tbk, Jakarta.
Agustina, Rosa, 2003, Perbuatan Melawan Hukum, Tesis, Program Pascasarjana
Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta.
Allen, Carleton Kemp, 1978, Law in the Making, Oxford, Clarendon Press.
Amiruddin dan H. Zainal Asikin, 2004, Pengantar Metode Penelitian Hukum, PT.
Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Anderson, Jill Pride, 1987, Lender Liability for Breach of Obligation of Good
Faith Performance, Emory Law Journal, Vol 36.
AZ, Lukman Santoso, 2011, Hak dan Kewajiban Hukum Nasabah Bank, Pustaka
Yustisia, Jakarta.
Bahsan, M., 2010, Hukum Jaminan dan Jaminan Kredit Perbankan Indonesia, PT.
Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Coing, Helmut, 1987, Analysis of Moral Values by Case Law, Washington
University Law Quarterly, Vol 65, hal. 713.
Dharmajaya, Aryo, 2009, Tinjauan Hukum Terhadap Lelang Atas Tanah dan
Bangunan yang Tidak Dapat Dimiliki oleh Pemenang Lelang (Analisis
Kasus Putusan Mahkamah Agung Nomor 158k/Pdt/2005), Tesis, Program
Pascasarjana, Universitas Indonesia, Jakarta.
Effendi, Lutfi, 2004, Pokok-Pokok Hukum Administrasi, Bayumedia Publising,
Malang.
Farnsworth, E. Allan, 1963, Good Faith Performance and Commercial
Reasonableness under the Uniform Commercial Code, The University of
Chicago Law Review, Vol 30.
Fuady, Munir, 2011, Teori Negara Hukum Modern (Rechtstaat), Refika Aditama,
Bandung.
151
152
Hadi, Moeljo, 2001, Dasar-Dasar Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa Oleh Juru
Sita Pajak Pusat dan Daerah, Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Hadjon, Philipus M.,1987, Perlindungan Hukum bagi Rakyat Indonesia: Sebuah
Studi tentang Prinsip-Prinsipnya, Penanganannya oleh Pengadilan dalam
Lingkungan Peradilan Umum dan Pembentukan Peradilan Administrasi
Negara, Bina Ilmu, Surabaya.
Harahap, M. Yahya, 2005, Kekuasaan Pengadilan Tinggi Dan Proses Pemeriksaan
Perkara Perdata Dalam Tingkat Banding, Sinar Grafika, (selanjutnya
disingkat M. Yahya Harahap II), Jakarta.
_______, 2007, Ruang Lingkup Permasalahan Eksekusi Bidang Perdata, cet. 3.,
ed. 2, Sinar Grafika, Jakarta.
Harsono, Boedi, 2008, Hukum Agraria Indonesia Sejarah Pembentukan UndangUndang Pokok Agraria, Isi dan Pelaksanaannya, Jilid 1, Cet. XII,
Djambatan, Jakarta.
Hessenlink, Martin Willem, 1999, De Redelijkheid en Billijkheid in het
Europease Privaatrecht, Kluwer, Deventer.
HR, Ridwan, 2006, Hukum Administrasi Negara, PT. Raja Grafindo Persada,
Jakarta.
HS, Salim, 2004, Perkembangan Hukum Jaminan di Indonesia, Raja Grafindo
Persada, Jakarta.
_______, 2008, Hukum Kontrak ; Teori & Teknik Penyusunan Kontrak, Sinar
Grafika, Jakarta.
Hutabarat, Samuel M.P. 2010, Penawaran dan Penerimaan dalam Hukum
Perjanjian, PT Gramedia Widiasarana Indonesia.
Kelsen, Hans, 2006, Teori Hukum Murni, terjemahan Raisul Mutaqien, Nuansa &
Nusamedia, Bandung.
_______, 2013, General Theory Of Law And State, Teori Umum Hukum Dan
Negara, Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif Sebagai Ilmu Hukum
Deskriptif Empirik, terjemahan Somardi, BEE Media Indonesia, Jakarta
Kenotariatan, Magister, 2013, Buku Pedoman Pendidikan Program Studi Magister
Kenotariatan Universitas Udayana, Universitas Udayana, Denpasar.
Latvinoff, Saul, 2000, Good Faith, Tulane Law Review, Vol 71 No. 6, January
2000.
153
Mahkamah Agung Republik Indonesia, 2007, Pedoman Teknis Administrasi dan
Teknis Peradilan Perdata Umum dan Perdata Khusus, Buku II, Ikatan
Hakim Indonesia IKAHI, Jakarta.
Mantayborbir, S., Imam Jauhari, dan Agus Hari Widodo, 2002, Hukum Piutang
dan Lelang Negara, Pustaka Bangsa Press, Medan.
Marbun, S.F., 1997, Peradilan Administrasi Negara dan Upaya Administrasi di
Indonesia, Liberty, Yogyakarta.
Marzuki, Peter Mahmud, 2010, Penelitian Hukum, Kencana, Jakarta.
Mertokusumo, Sudikno, 1996, Eksekusi Objek Hak Tanggungan Permasalahan
dan Hambatan, Yogyakarta.
Muchsin, 2003, “Perlindungan dan Kepastian Hukum bagi Investor di Indonesia”,
Tesis, Magister Ilmu Hukum Program Pascasarjana Universitas Sebelas
Maret, Surakarta.
Mukti, Fajar dan Yulianto Achmad, 2010, Dualisme Penelitian Hukum Normatif
dan Empiris, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Ngadijarno, F.X., Nunung Eko Laksito dan Isti Indri Listiani, 2005, Lelang :
Teori dan Praktik, Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan, Jakarta.
Oliver, Dawn dan Gavin Drewry, 1996, Public Service Reform, Issues Of
Accountability And Public Law, Reader In Public Law, King’s College,
University Of London.
Rajagukguk, Erman, et. Al., 2000, Hukum Perlindungan Konsumen, CV Mandar
Maju, Bandung.
Ridwan, 2009, Hukum Administrasi Di Daerah Yogyakarta, FH UII Press.
Yogyakarta.
Santoso, Urip, 2010, Pendaftaran dan Peralihan Hak Atas Tanah, Kencana,
Jakarta.
Setiono, 2004, “Rule of Law (Supremasi Hukum)”, Tesis, Magister Ilmu Hukum
Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret, Surakarta.
Sianturi, Purnama Tioria, 2013, Perlindungan Hukum Terhadap Pembeli Barang
Jaminan Tidak Bergerak Melalui Lelang, CV. Mandar Maju, Bandung.
Sinungan, Muchdarsyah, 1984, Dasar-dasar dan Teknik Management Kredit, PT
Bina Aksara, Jakarta, Cet. II.
154
Sjahdeini, Remy Sutan, 1999, Hak Tanggungan, Asas-Asas, Ketentuan-Ketentuan
Pokok dan Masalah yang Dihadapi Oleh Perbankan, Alumni, Bandung.
Soekanto, Soerjono, 1999, Penegakkan Hukum, Binacipta, Bandung.
_______dan Sri Mamudji, 2006, Penelitian Hukum Normatif: Suatu Tinjauan
Singkat, Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Soemitro, Rochmat, Peraturan dan Instruksi Lelang, Eresco, Bandung.
Soemitro, Ronny Hanitijo, 2000, Metodologi Penelitian Hukum, Ghalia
Indonesia, Jakarta.
Sofwan, Sri Soedewi Masjchoen, 1980, Hukum Jaminan Di Indonesia PokokPokok Hukum Jaminan dan Jaminan Perorangan, C.V. Bina Usaha,
Yogyakarta.
Sommermeijer, W, 2003, Tanggung Jawab Hukum, Pusat Studi Hukum
Universitas Parahyangan, Bandung.
Supriadi, 2012, Hukum Agraria, Sinar Grafika, Jakarta
Surata, I Gede, 2010, “Kedudukan Pejabat Pembuat Akta Tanah Yang Dijabat
Oleh Camat Dalam Penetapan Akta Tanah”, Tesis, Program Studi
Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, Malang.
Sutedi, Adrian, 2010, Hukum Hak Tanggungan, Sinar Grafika, Jakarta
Rahardjo, Satjipto, 2012, Ilmu hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung.
Rajagukguk, Erman, et. al. 2000, Hukum Perlindungan Konsumen, CV Mandar
Maju, Bandung.
Rasjidi, Lili dan I. B. Wyasa Putra, 2003, Hukum Sebagai Suatu Sistem, Remaja
Rosdakarya, Bandung.
Ridwan, 2009, Hukum Administrasi Di Daerah, FH UII Press. Yogyakarta.
Zimmerman, Reinhard dan Simon Whittaker, eds, Good Faith in European
Contract Law, Cambridge University Press, Cambridge, 2000.
b. Kamus
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1991, Kamus Besar Bahasa Indonesia,
Balai Pustaka, Jakarta.
155
Garner, Bryan A. 2004, Black’s Law Dictionary, eight Edition, United Stated of
America.
c. Peraturan Perundang-Undangan
Burgerlijk Wetboek Stb,1847 Nomor 23 (terjemahan R. Soebekti dan
Tjitrosudibio, 2003, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, PT. Pradnya
Paramita, Jakarta.)
ReglementBuitengewesten (RBG Hukum Acara untuk Daerah Luar Jawa dan
Madura) Stb. 1927 Nomor 227
Het Herziene Indonesisch Reglement (HIR/RIBReglemen Indonesia yang
diperbaharui) Stb, 1941 Nomor 44
Vendu Reglement (Peraturan Lelang Stbl. 1908 Nomor 189)
Vendu Instructie (Instruksi Lelang Stbl. 1908 Nomor 190)
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang
Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1998 Nomor 182, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3790)
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah
Beserta Benda-Benda Yang Berkaitan dengan Tanah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3632)
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 106/PMK.06/2013 tentang Perubahan Atas
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 93/PMK/06/2010 tentang Petunjuk
Pelaksanaan Lelang
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 158/PMK.06/2013 tentang Pejabat Lelang
Kelas I
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 159/PMK.06/2013 tentang Pejabat Lelang
Kelas II
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 160/PMK.06/2013 tentang Balai Lelang.
Peraturan Menteri Negara Agraria/ Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3
Tahun 1997 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor
24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah.
Download