BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

advertisement
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Filsafat perennial jika dibicarakan tidak bisa terlepas dari persoalan-persoalan
mengenai keabadian, Realitas Ultim, substansi dan bentuk, serta pluralitas agama.
Seperti yang dikatakan oleh Damardjati Supadjar bahwa filsafat perennial
berkenaan dengan keabadian kebenaran, keabadian dan keindahan di sisi Allah
(Permata, 1996: xiii). Bagi peneliti yang dikemukakan oleh Damardjati Supadjar
dapat diketahui bahwa keabadian kebenaran serta keindahan memang menjadi hak
milik Tuhan yang tidak bisa diganggu gugat.
Keabadian jika dibahas mulai dari awal jaman sampai ke jaman sekarang ini
akan menjadi menarik dan akan selalu menarik. Tuhan merupakan contoh
keabadian itu sendiri, yang dipercaya oleh
manusia sebagai Sang Pencipta
pemilik kehidupan dan alam semesta. Agamawan juga intelektual berlombalomba membuktikan dengan argumen dan bukti ilmiah bahwa Tuhan memang
benar ada, walaupun di dunia Barat sempat juga terjadi permusuhan serta
perbedaan pendapat antara agamawan dan intelektual perihal bukti bahwa Tuhan
ada.
Keabadian untuk diketahui memang tidak mudah dan itu membutuhkan waktu
yang lama bagi manusia yang ingin menelitinya, bahkan umur manusia tidak akan
pernah cukup untuk meneliti keabadian. Ilmu pengetahuan manusia yang
dipercaya tidak akan bisa menandingi ilmu pengetahuan Tuhan menjadi faktor
[Type text]
2
utama bahwa manusia hanya bisa mengetahui sedikit tentang ilmu pengetahuan
yang bersumber dari Tuhan.
Al-qur’an, (17): 85:
“mereka bertanya kepadamu Muhammad tentang roh, katakanlah bahwa roh
adalah rahasia Tuhan. Tidaklah kamu diberi ilmu pengetahuan selain yang hanya
sedikit sekali.”
Ayat al-qur’an di atas memberitahukan bahwa memang manusia hanya sedikit
sekali mengetahui perihal ilmu pengetahuan, kenyataannya pun manusia selalu
terfokus pada bidang ilmu yang manusia sukai, yang manusia tidak sukai mungkin
hanya sedikit sekali usaha untuk mengetahui, bisa dikatakan sekedar
permukaannya saja.
Keabadian Tuhan untuk diketahui tentu mustahil, namun Tuhan juga tidak
serta merta menyembunyikan keabadiannya. Tuhan memberikan petunjuk untuk
menunjukkan keabadiannya dengan memberikan contoh-contoh yang Tuhan buat
melalui makhluk-makhluknya. Tuhan contohkan sendiri pada nabi-nabi yang
menjadi utusannya, yang kemudian beberapa nabi diberi keistimewaan berupa
keabadian dalam hidupnya dan kisahnya.
Kata nabi berasal dari kata naba’ yang memiliki arti “kabar berita yang
berguna dan jauh dari kesalahan”. Nabi yang memiliki bentuk jamak “anbiya’”
atau “nabiyun” adalah orang yang menerima kabar berita agung. Kata rasul
diambil dari kata “rasala” yang artinya mengutus. Rasul berarti pesuruh atau
utusan (Noor, 2009: 113). Menurut istilah rasul adalah seorang laki-laki merdeka
[Type text]
3
yang diberi wahyu oleh Allah dengan membawa syariat dan rasul diperintahkan
untuk menyampaikan kepada umatnya, baik yang Rasul kenal maupun yang Rasul
tidak mengenalnya (Agus,1998:83-84).
Nabi Khidir adalah salah satu nabi yang diberi keistimewaan keabadian
tersebut oleh Tuhan. Nabi Khidir juga disebut oleh beberapa orang sebagai nabi
misterius, dan dikalangan Islam pun sosok Nabi Khidir tidaklah terkenal seperti
nabi-nabi yang lain, karena dalam al-qur’an Nabi Khidir disebut sebagai hamba
yang soleh oleh Allah.
Tuhan memberikan keabadian kepada selain-Nya jelas memang akan terlihat
ganjal dan itu bisa disebut sebagai tandingan Tuhan dalam masalah keabadian.
Tuhan tidaklah serta merta memberikan keabadian-Nya kepada makhluk yang
Tuhan pilih tanpa alasan, dan Tuhan akan dengan mudah kembali mencabut
keabadian dari makhluk yang dipilih karena itu hak Tuhan sendiri. Keabadian
yang dimaksud dalam penelitian ini tidaklah terfokus pada permasalahan
keabadian apakah Nabi Khidir itu masih hidup atau telah wafat, walaupun
nantinya perihal apakah Nabi Khidir masih hidup atau sudah wafat akan tetap
disinggung dalam penelitian ini.
Penelitian ini bermaksud membahas keabadian dalam al-qur,an khususnya
surah al-kahfi ayat 60 sampai 82 yang menceritakan atau mengisahkan siapa itu
Nabi Khidir. Kisah Nabi Khidir juga terdapat keabadian tentang ajarannya yang
akan selalu diingat oleh umat Islam khususnya namun juga tidak menutup
kemungkinan bahwa ajaran dari Nabi Khidir boleh dipelajari oleh kaum agama
yang lain, karena dalam kitab selain al-qur’an kisah Nabi Khidir tidak ada.
[Type text]
4
Nama Nabi Khidir dikenal semenjak bertemu dengan Nabi Musa yang
terdapat dalam al-qur’an surah al-kahfi ayat 60-82, ketika itu Nabi Musa ingin
mendapatkan ilmu pengetahuan yang belum dimiliki dan itu dimiliki oleh Nabi
Khidir. Tuhanpun menyuruh Nabi Musa untuk mempelajarinya melalui Nabi
Khidir. Nama asli Nabi Khidir adalah Balya bin Balkan bin Falakh bin Anbar bin
Salakh bin Arfakhsyadz bin Sam bin Nuh As. bin lamak bin Mutawasylikh bin
Idris As. bin Yard bin mahlain bin Qainan bin Yanasy bin Syits bin Adam As,
selain itu Nabi Khidir juga sering dipanggil dengan nama Abdul Abbas, riwayat
yang lain juga menyebutkan bahwa nama Nabi khidir adalah Talia bin Malik bin
Abir bin Arfakhsyadz bin Sam bin Nuh (Bahar, 2015:12).
Tafsir Al-Misbah adalah sebuah buku tafsir yang dibuat oleh Quraish Shihab.
Tafsir Al-Misbah oleh peneliti digunakan untuk memahami tentang bagaimana
dan siapa sosok Nabi Khidir, karena tanpa rujukan sebuah buku tafsir peneliti
tidak bisa secara semena-mena menafsirkan ayat yang ada dalam kitab suci AlQur,an.
Tujuan peneliti menggunakan Tafsir Al-Misbah adalah untuk mengangkat
pemikiran kenusantaraan khususnya Indonesia yang memiliki sosok seorang
Quraish Shihab yang telah mampu menafsirkan Al-Qur’an secara teliti, kemudian
dari segi bahasa Tafsir Al-Misbah menggunakan bahasa Indonesia sehingga
peneliti mudah untuk memahami, mengutip serta membahasakan kembali lalu
dalam tafsir Al-Misbah terdapat korelasi atau keterhubungan penjelasan ayat satu
dengan ayat yang lain, sehingga para pembaca Tafsir Al-Misbah mampu
mengambil isi kandungan ayat satu dengan ayat yang lain. Pada Tafsir Al-Misbah
[Type text]
5
juga tidak melupakan tafsir dari berbagai ulama yang lebih dahulu menafsirkan
ayat-ayat Al-Qur’an.
Sudut pandang filsafat perennial menjadi kajian penting dalam penelitian ini,
untuk mengamati serta menganalisis kisah Nabi Khidir dalam al-qur,an maka bagi
peneliti sangat relevan apabila filsafat perennial digunakan sebagai pisau
analisisnya. Filsafat Perennial digunakan pertama kali di Barat oleh Augustinus
Steuchus (1497-1548) sebagai judul karyanya yaitu De Perenni Philosophia yang
diterbitkan tahun 1540, kemudian istilah filsafat perennial dipopulerkan kembali
oleh Leibniz dalam sepucuk surat yang dituliskannya pada tahun 1715, yang
menegaskan bahwa dalam membicarakan tentang pencarian jejak-jejak kebenaran
dikalangan filosof kuno dan tentang pemisahan yang terang dari yang gelap,
sebenarnya itulah yang dimaksud dengan Filsafat Perennial (Rukmana,2013:90).
Filsafat Perennial sudah ada sejak lama ketika para filsuf kuno mulai
memikirkan tentang apa itu filsafat. Perdebatan masih terjadi dikalangan filsuf
perihal kapan filsafat perennial ini muncul. Filsafat Perennial hadir untuk
mengatasi serta memberikan solusi pada masalah yang timbul di jaman modern.
Jaman modern yang telah meninggalkan sikap spiritualnya menjadikan hidup
manusia tidak lagi mempunyai makna. Sayyed Hossein Nasr mengatakan bahwa
manusia telah terlempar dari lingkaran eksistensi ketuhanan sehingga manusia
terjebak dalam lingkaran eksistensi dirinya (Saputra, 2012:v).
Secara etimologis kata perennial berasal dari bahasa Latin yaitu perennis yang
memiliki arti kekal, selama-lamanya atau abadi (Kuswanjono, 2006:10). Filsafat
[Type text]
6
Perennial biasanya muncul dalam wacana filsafat agama di mana tema-tema yang
didiskusikannya adalah seputar persoalan Tuhan, Wujud Yang Absolut, sumber
dari segala wujud. Filsafat Perennial juga sering dipahami sebagai pembahasan
seputar fenomena pluralisme agama secara kritis dan kontemplatif, sehingga
filsafat perennial sering dijadikan sebagai sebuah media untuk menelusuri akarakar kesadaran religiusitas seseorang atau kelompok melalui simbol-simbol, ritus,
serta pengalaman keberagaman (Rukmana,2013:89).
Filsafat Perennial berusaha memahami tentang Tuhan melalui dua pendekatan
yaitu pendekatan yang bersifat eksoteris dan esoteris. Pendekatan eksoteris
berfungsi sebagai dasar pijakan pemahaman tentang Tuhan berdasarkan perkataan
Tuhan tentang Diri-Nya sendiri melalui wahyu, sedangkan pendekatan esoteris
adalah pemahaman langsung tentang Tuhan melalui penyatuan seluruh potensi
kemanusiaan yang dikenal sebagai “jalan mistik” (Kuswanjono,2006:8).
Bagi peneliti pokok permasalahan ontologi serta aksiologi dalam penelitian ini
yaitu tentang bagaimana manusia jaman modern yang telah menghilangkan
dimensi
transendental
yang
seolah-olah
peran
adanya
Tuhan
tidaklah
dipentingkan lagi. Dimensi spiritual yang dimiliki oleh manusia modern lambat
laun akan tergerus terhadap perkembangan jaman yang serba canggih. Peran
Tuhan tergantikan oleh perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi. Arqom
Kuswanjono mengatakan bahwa masyarakat modern seudah banyak kehilangan
kesadarn tentang wahyu, tentang hikmah, tentang Yang Sakral yang merupakan
unsur-unsur yang terdapat dalam tradisi (Kuswanjono, 2001:82).
[Type text]
7
Krisis lingkungan menjadi hal yang paling tampak di depan mata, manusia
banyak yang membakar hutan dengan cara-cara yang bagi peneliti itu adalah cara
yang salah. Metode tebang pilih merupakan contoh yang tepat untuk menebang
pohon, bukan dengan cara membakar semua pohon yang ada di hutan. Manusia
seperti inilah yang kehilangan spiritualitasnya, tidak pernah merasa bersalah
dengan merusak hutan bahkan tidak pernah merasa berdosa dengan tidak
mengganti tanaman pohon yang telah dibakarnya.
Bagi peneliti penting menggunakan filsafat perennial sebagai sudut pandang
atau sebagai objek formal karena kehadiran filsafat perennial adalah untuk
mengatasi masalah yang dialami oleh manusia modern. Peneliti menggunakan
kisah Nabi Khidir sebagai objek material yang akan dikaji, karena dalam kisah
Nabi Khidir ini bagi peneliti terdapat pelajaran bagaimana manusia tetap
terhubung atau terkoneksi dengan Tuhan pada setiap perkembangan jaman dan
pada setiap perkembangan ilmu pengetahuan sehingga spiritualitas dalam diri
manusia tidak ditinggalkan.
1. Rumusan masalah
a. Apa yang dimaksud Filsafat Perennial?
b. Bagaimana kisah Nabi Khidir?
c. Bagaimana analisis Filsafat Perennial terhadap kisah Nabi Khidir?
2. Keaslian Penelitian
Sepanjang pengamatan peneliti, kisah tentang Nabi Khidir telah ada yang
menelitinya berbentuk skripsi, hasil penelusuran tentang skripsi yang membahas
kisah Nabi Khidir yaitu:
[Type text]
8
1. M. Quraish Shihab. 2009. Tafsir Al Misbah : pesan, kesan dan
keserasian Al-Qur’an. Lentera Hati. Jakarta. Buku ini dibuat untuk
memberikan kemudahan pemahaman kepada masyarakat tentang isi
dan makna ayat yang ada dalam Al-Qur’an berupa tafsir. Buku ini
menggambarkan kelengkapan tafsir dari ayat per ayat dengan lengkap,
mulai dari surah al-Fatiqah sampai dengan surah an-Nass. Buku tafsir
ini selalu memberikan hubungan ayat per ayat sehingga orang yang
membacanya akan mengetahui bagaimana jalan cerita yang ada dalam
suatu surah karena terdapat keterhubungan.
2. Habib Rahman. 2013. Nilai-nilai Pendidikan Islam dalam Kisah Nabi
Khidir dan Nabi Musa. Skripsi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
UIN Sunan Kalijaga. Yogyakarta. Hasil penelitian dalam skripsi ini
adalah nilai-nilai pendidikan islam yang dapat diambil dari kisa Nabi
Khidir dan Nabi Musa yaitu nilai pendidikan yang ada di beberapa lini,
pertama aspek nilai pendidikan
secara umum, tentang perintah
menuntut ilmu sampai akhir hayat. Kedua, aspek nilai pendidikan
untuk pendidik, tentang strategi membuat desain pembelajaran yang
dapat meningkatkan semangat belajar para pelajar. Ketiga, apek nilai
pendidikan untuk pelajar, tentang sifat dan akhlak seorang pelajar yaitu
sifat kegigihan, sifat ingin tahu, dan sifat kesopanan.
3. Nendi Bahtiar. 2014. Pendidikan Dialog Kritis dalam Kisah Nabi
Khidir dan Nabi Musa dan Relevansinya terhadap Pendidikan Islam.
Skripsi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga.
[Type text]
9
Yogyakarta. Hasil penelitian dalam skripsi ini yaitu: Pertama,
pendidikan dialog mengharuskan kesabaran yang ekstra dari seorang
pendidik, dikarenakan sifat kekritisan soerang perserta didik dalam
sebuah pembelajaran, sebagaimana kekritisan Nabi Musa. Kedua,
pendidikan
kritis
perkembangan
dalam
potensi
islam
manusia
berupaya
secara
mengoptimalisasikan
holistik,
yang
berarti
didalamnya terdapat dimensi spiritual dan intelektual. Dalam hal ini,
kolaborasi antara Nabi Musa (jiwa rasionalis) dan Nabi Khidir (ahli
ilmu kebatinan) akan merangsang kedua dimensi tersebut.
Hasil pengamatan yang peneliti lakukan terhadap studi filsafat perennial,
belum ada yang mencoba untuk menganalisis kisah Nabi Khidir yang dipandang
dari kaca mata filsafat perennial. Sejauh ini dari hasil penelusuran
yang
berhubungan dengan filsafat perennial yaitu:
1. Agus
Himawan
Utomo.
1997.
Agama
dalam
pandangan
Perennialisme. Skripsi Fakultas Filsafat UGM. Isi yang disampaikan
dalam skripsi ini adalah: Pertama, bahwa agama merupakan hal yang
penting ada bagi manusia untuk hidup di dunia, meskipun banyak
agama yang ada di dunia dan itu berbeda, namun tentulah ada hal-hal
yang dapat menyatukan dalam agama yang berbeda-beda itu. Agama
dianggap sebagai media hubungan antara Tuhan dengan manusia.
Kedua, pada dasarnya menurut perennialiasme agama mempunyai dua
unsur yang menjadi essensi atau dasar agama yaitu unsur esoteris
yang berupa doktrin, yang membedakan antara “Yang Kudus” dan
[Type text]
10
“Yang Profan”, antara kenyataan dan khayalan, antara nilai “Yang
Kudus” dan nilai “Yang Profan”, serta unsur eksoteris berupa bentuk,
format atau metode untuk mendekatkan diri kepada “Yang Kudus”
serta hidup sesuai dengan kehendak-Nya, yang menjadi tujuan dan arti
eksistensi manusia.
2. Arqom Kuswanjono. 2001. Konsep Ketuhanan dalam Filsafat
Perennial: Analisis Konseptual Bagi Pluralisme Agama di Indonesia.
Tesis Fakultas Filsafat UGM. Isi yang disampaikan dalam tesis ini
adalah bertujuan untuk mengungkap konsep ketuhanan menurut
Filsafat Perennial serta menganalisis konsep tersebut dalam konsep
pluralitas agama di Indonesia. Dalam konteks kekinian, pemikiran
Filsafat Perennial banyak digunakan untuk memahami pluralitas
agama maupun keberagaman pemahaman keagamaan yang tidak
jarang dianggap sebagai salah satu faktor pemicu terjadinya
perpecahan dikalangan umat beragama.
3. Adi Baskoro. 2003. Konsep Cinta Jalaluddin Rumi Tinjauan Filsafat
Perennial. Skripsi Fakultas Filsafat UGM. Isi yang disampaikan dalam
skripsi ini adalah: pertama,
puisi Jalaluddin Rumi berasal dari
pengalaman religiusnya, hasil cerapan pengetahuan Rumi berasal dari
intuisinya. Rumi tidak membangun subuah sistem filsafat. Hasil
kontemplasinya ia tuangkan dalam puisi-puisi mistis tentang
hubungan cinta manusia dengan Tuhan, namun Rumi bukanlah
seorang pemikir yang memiliki sistem berpikir yang runtut. Kedua,
[Type text]
11
aspek eksoteris dalam karya-karya Rumi dapat dilihat dari tradisitradisi yang ada, tradisi yang dimaksud yaitu tradisi spiritualitas Rumi,
sedangkan aspek esoteris dari karya-karya Rumi dapat dilihat pada
hal-hal yang mendasar, tentang pertemuan tradisi-tradisi keagamaan
yang berlangsung cukup lama. Rimu telah mewariskan pengetahuan
yang hakiki tentang yang banyak demi Yang Tunggal lewat proses
ritual yang khusus, Rumi mendapat visi tentang Yang Satu dalam
Yang Banyak.
4. Husna Amin. 2013. Tradisi menurut Filsafat Perennial Sayyed
Hossein Nasr dan Relevansinya bagi Pluralitas Kehidupan Umat
Beragama di Indonesia. Desertasi Fakultas Filsafat UGM. Isi yang
disampaikan dalam desertasi ini adalah: Pertama, Nasr menekankan
nilai sacral dari tujuan hidup manusia beragama yang tertuang dalam
gagasannya tentang “Tradisi”. Kedua, “Tradisi” adalah wahyu atau
scientia sacra yang tertuang dalam ajaran agama dan dalam hati
manusia. Ketiga, Menurut Nasr “Tradisi” harus dihidupkan kembali
dalam kancah kehidupan modern agar kebenaran hakiki agama dapat
ditemukan, sehingga agama dapat menjadi akternatif dalam mengatasi
problem pluralitas kehidupan umat beragama. Keempat, Nasr
mengajak seluruh umat beragama untuk menyadari signifikansi nilainilai religious dalam cara yang lebih baru, yakni menangkap substansi
ajaran agama dalam konteks “Tradisi”
[Type text]
12
5. Tri Utami Oktafiani. 2015. Tinjauan Filsafat Perennial terhadap
Konsep Ketuhanan dalam Film PK. Skripsi Fakultas Filsafat UGM. Isi
yang disampaikan dalam skripsi ini adalah: pertama, konsep ketuhanan
dalam film PK menunjukkan kepercayaan manusia terhadap Tuhan
mengalami perkembangan pemikiran dari waktu ke waktu. Kedua,
tinjauan Filsafat Perennial terhadap konsep ketuhanan dalam film PK
karya
Rajkumar
Hirani
menunjukkan
substansi
agama
yang
berdimensi eksoterik dan esoterik, Realitas Ultim dan pluralitas agama.
Hasil pengamatan terhadap penelitian yang telah dilakukan dan telah ada,
posisi penelitian ini merupakan kajian tindak lanjut dari yang telah dilakukan oleh
peneliti lain terhadap kisah Nabi Khidir. Hal yang penting dari penelitian ini dan
membuat berbeda dengan penelitian lain adalah pemakaian salah satu cabang
filsafat agama yaitu filsafat perennial yang digunakan sebagai sudut pandang
untuk memandang kisah Nabi Khidir.
3. Manfaat Penelitian
Nabi yang dipercaya oleh manusia sebagai utusan Tuhan merupakan suatu
objek yang menarik serta penting untuk diteliti. Penelitian terhadap para nabi ini
merupakan bentuk perkembangan pemikiran yang ada di studi-studi ilmiah
dibidang agama. Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :
A. Bagi perkembangan studi filsafat adalah dengan adanya penelitian ini
semoga bertambah sudut pandang baru yang dapat diterima, terutama
untuk mengkaji persoalan-persoalan filosofis, sehingga kajian yang
[Type text]
13
ada pada studi filsafat dapat berkembang secara luas terutama dalam
Filsafat Agama dan Filsafat Perennial.
B. Bagi masyarakat, semoga penelitian ini dapat menambah ilmu
pengetahuan baru yang berdampak pada pola kehidupan bermasyarakat
yang lebih baik.
C. Bagi Bangsa dan Negara Indonesia, dengan adanya penelitian ini
daharapkan menambah ilmu pengetahuan yang ada di Indonesia, selain
itu juga dengan adanya penelitian ini semoga dapat diambil nilai-nilai
yang baik, yang kemudian menjadikan pemerintah dan masyarakat
Indonesia dapat melaksanakan pembangunan dengan sinergi dan jauh
dari sifat korupsi.
B. Tujuan Penelitian
Penelitian terhadap Kisah Nabi Khidir dalam sudut pandang Filsafat
Perennial ini mempunyai tujuan yang hendak dicapai yaitu:
1. Mendeskripsikan tentang Filsafat Perennial.
2. Mendeskripsikan, menelusuri dan memahami kisah Nabi Khidir.
3. Menganalisis kisah Nabi Khidir dari sudut pandang Filsafat Perennial.
C. Tinjauan Pustaka
Penelitian ini menggunakan studi kepustakaan (Library Reaserch) dengan
mekanisme yang secara langsung mempelajari, memahami dan menganalisis
karya-karya yang berhubungan dengan objek material yaitu kisah Nabi Khidir dan
berhubungan dengan objek formal yaitu filsafat perennial. Dalam buku Prophecy
In Islam: Philosophy and Ortodoxy dijelaskan bahwa nabi atau rasul adalah orang
[Type text]
14
yang memiliki daya intelektual yang mampu mengetahui tentang segala sesuatu
tanpa ada yang mengajarkannya dari sumber-sumber luar (Damhuri, 2001:27).
C. A Qadir menegaskan bahwa masalah kenabian adalah salah satu tema
penting di dalam diskursus filsafat Islam dan dibahas oleh hampir semua filsuf
muslim (Damhuri, 2001:32). Al-Farabi menerima dan mengakui bahwa salah satu
dasar keimanan Islam adalah percaya pada wahyu Ilahi yang diberikan oleh
manusia penerima wahyu yaitu yang dikenal sebagai nabi dan rasul, namun lebih
dalam Al-Farabi mencoba memahami realitas wahyu sebagai suatu kebenaran
filosofis, ia mengatakan (Damhuri, 2001:33):
“opini-opini teoritis dalam agama mempunyai bukti dalam filsafat teoritis,
walaupun dalam konteks agama (opini-opini tersebut) diterima tanpa bukti”
Al-Farabi menjelaskan bahwa saat menerima wahyu dari Tuhan, tidak
hanya malaikat saja yang menyampaikan wahyu tersebut namun nabi juga
menggunakan akal fa’al nya untuk menerima pesan wahyu, karena akal fa’al itu
dianggap sebagai sumber-sumber pesan nubuat yang mirip dengan malaikat saat
diberi tugas untuk mengurusi wahyu (Damhuri, 2001:106). Bagi peneliti ada dua
perantara yang digunakan Tuhan untuk menyampaikan wahyu kepada nabi yaitu
melalui malaikat dan akal fa’al.
Peneliti harus merujuk pada tafsiran-tafsiran al-qur’an, hadist, dan bukubuku untuk mengetahui tentang siapa Nabi Khidir, dikarenakan Nabi Khidir
dalam surah al-kahfi ayat 60 sampai 82 hanya disebut sebagai hamba Allah yang
saleh, selain itu Nabi Khidir tidak mempunyai karya-karya ilmiah yang ditulisnya.
[Type text]
15
Kisah Nabi Khidir oleh Tuhan diceritakan pada saat Nabi Musa mengaku
bahwa di dunia orang yang berpengetahuan tinggi hanyalah dirinya, namun
ternyata ada yang berpengetahuan lebih tinggi ketimbang Nabi Musa yaitu Nabi
Khidir. Penulis menggunakan buku-buku yang ditulis oleh peneliti lain yang
berhubungan dengan Nabi Khidir untuk memahami tentang Nabi Khidir seperti:
Buku Rahasia Makrifat Nabi Khidir a.s. yang ditulis oleh M. Ali tahun
2009. Dalam buku yang ditulis ini dapat dijelaskan bahwa ada hal-hal yang
disampaikan tentang uraian pelajaran makrifat Nabi Khidir , baik yang beliau
sampaikan kepada Nabi Musa, para wali, maupun orang-orang awam yang beliau
temui.
Buku Khidir Sang Nabi Super Misterius. Oleh Khalifi Elyas Bahar tahun
2015. Isi yang disampaikan dalam buku ini bahwa ditengah kehidupan yang
kompleks dan serba modern sekarang ini apakah pola kehidupan dan keilmuan
Nabi Khidir masih layak untuk diperhitungkan, atau juatru kisah dan ketinggian
ilmunya menjadi bagian pelengkap sejarah semata. Kisah Nabi Khidir menjadi
salah satu ruh atau semangat motivasional bagi kehidupan manusia agar bisa
berpikir dan mempertimbangkan setiap realitas yang ditemuinya.
Buku Misteri Nabi Khidir. Oleh Ibnu Hajar al-Asqalani tahun 2015.
Diterjemahkan dari Az-Zahru an-Nadhir Fi Naba’ I al-Khadir. Isi yang
disampaikan dalam buku ini yaitu mengungkapkan tentang pendapat yang
simpang siur mengenai permasalahan bahwa apakah Nabi Khidir masih hidup
atau telah wafat.
[Type text]
16
D. Landasan Teori
Kisah Nabi Khidir untuk dibicarakan tidak bisa terlepas dari al-qur’an
khususnya surah al-kahfi ayat 60 sampai 82. Surah al-kahfi tersebut terdapat cerita
tentang siapa Nabi Khidir walaupun namanya disebut dengan hamba yang saleh,
kemudian disamping itu juga sosok Nabi Khidir menjadi misteri karena
keberadaannya yang sampai sekarang diyakini oleh beberapa kalangan masih
hidup dan ada.
Buku Agama Masa Depan Perspektif Filsafat Perennial yang ditulis oleh
Komaruddin Hidayat dan Muhammad Wahyuni Nafis tahun 1995. Dalam buku ini
disampaikan bahwa Filsafat Perennial merupakan suatu pandangan yang secara
kontekstual menemukan urgensinya dimasa kemoderenan ini. Komaruddin
Hidayat dan Muhammad Wahyuni Nafis dalam buku ini juga menyinggung
tentang tradisi yang menjadi bagian dari filsafat perennial. Tradisi yang
diungkapkan meminjam dari Sayyed Hossein Nasr yaitu tradisi berarti al-din dan
al-sunnah yaitu segala sesuatu yang didasarkan atas model-model sakral yang
telah menjadi kebiasaan turun-temurun dikalangan masyarakat tradisional
(Hidayat & Nafis, 1995:x).
Buku Perennialisme: Kritik atas Modernisme dan Postmodernisme. Buku
ini ditulis oleh Emanuel Wora tahun 2006. Dalam pengantar buku ini yang
disampaikan oleh Dr. I. Bambang Sugiharto menuliskan bahwa filsafat perennial
sering digunakan dengan berbagai arti, filsafat perennial dapat menunjuk sistem
yang menggunakan istilah itu secara eksplisit berlandaskan keyakinan bahwa tema
[Type text]
17
yang dibahasnya dan juga pola nalar metafisik yang digunakannya bersifat
universal dan abadi (Wora, 2006:viii).
Buku Tuhan Semua Agama; Perspektif Filsafat Perennial Sayyed Hossein
Nasr. Buku ini ditulis oleh Riki Saputra, M.A tahun 2012. Nasr mengatakan
dalam buku ini bahwa agama memiliki dua aspek yaitu satu bentuk dan satu
substansi. Arti bentuk dalam setiap agama memiliki nama, penyebutan Tuhan,
model peribadatan, konsep sakral, dan profan. Arti substansi dalam setiap agama
adalah berasal dari Yang satu yang apabila dilihat makna dibalik bentuk tersebut
pasti ada kesamaan antara satu agama dengan agama yang lain (Saputra, 2012:vi).
Sayyed Hossein Nasr menyatakan bahwa filsafat perennial digunakan
pertama kali di barat oleh seorang yang bernama Agustinus Steuchus (1497-1548)
sebagai judul karyanya “De Perenni Philosophia” yang diterbitkan pada tahun
1540, yang kemudian istilah filsafat perennial dipopulerkan oleh Leibniz dalam
surat yang dibuatnya pada tahun 1714, yang menegaskan bahwa dalam
membicarakan tentang jejak-jejak kebenaran dikalangan para filosof kuno dan
tentang pemisahan yang terang dan yang gelap, sebenarnya itulah yang dimaksud
dengan filsafat perennial (Utomo, 1997:8).
Menurut Huxley (2001:1) Philosophia Perennis atau filsafat perennial
merupakan suatu frase yang diciptakan oleh Leibniz, yang memiliki arti pertama
yaitu suatu hal-metafisika yang mengakui adanya realitas Illahi yang substansial
bagi dunia bendawi, hayati, dan akali. Kedua filsafat perennial merupakan
psikologi yang sesuatu yang serupa dalam jiwa atau bahkan identik dengan
Realitas Illahi. Ketiga, filsafat perennial adalah etika yang menempatkan tujuan
[Type text]
18
akhir manusia di dalam pengetahuan tentang Dasar (Ground) yang imanen dan
transenden dari seluruh wujud-hal yang bersifat immemorial dan universal.
Filsafat Perennial memiliki tujuan membuka kembali jalan menuju
pendakian spiritual yang berasal dari dalam tradisi-tradisi keagamaan yang
berkembang dalam sertiap agama (Kuswanjono, 2006:4). Dasar-dasar filsafat
perennial dapat ditemukan di antara adat pengetahuan tradisional (tradisi) sukusuku primitif disetiap belahan dunia, dan dalam bentuknya yang telah
dikembangkan sepenuhnya, ia (tradisi) memiliki tempat-tempat tertentu dalam
agama-agama besar (Huxley, 2001:1). Nasr mengatakan bahwa filsafat perennial
mengakui adanya tradisi sakral yang ada dalam setiap agama, tradisi sakral
tersebut berasal dari yang Ilahi atau berasal dari surga yang harus dihormati
(Kuswanjono, 2006:4).
Filsafat Perennial berusaha untuk mencari titik temu mata rantai historis
tentang perkembangan agama, dan juga filsafat perennial mencari esensi esoteris
dari eksoteris pada masing-masing agama yang ada (Kuswanjono, 2006:5).
Filsafat Perennial berusaha memahami Tuhan dengan dua pendekatan yaitu
perndekatan bersifat eksoteris (bentuk) dan esoteris (substansi). Eksoteris adalah
berfungsi untuk memahami Tuhan berdasarkan perkataan Tuhan tentang diri-Nya
sendiri melalui wahyu, sedangkan esoteris adalah pemahaman langsung melalui
penyatuan seluruh potensi kemanusiaan yang dikenal dengan jalan mistik
(Kuswanjono, 2006:8). Dua aspek yang digunakan filsafat perennial dalam
memahami Tuhan yaitu eksoteris dan esoteris tidak dapat berdiri sendiri-sendiri,
bagaimanapun esoteris akan selalu bergantung pada eksoteris.
[Type text]
19
E. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian filsafat perennial. Beserta dengan itu
penelitian ini merupakan penelitian berjenis kepustakaan dengan model penelitian
sistematis reflektif. Objek material penelitian sistematis reflektif membahas salah
satu pokok dalam kehidupan manusia, yang merupakan fenomena cukup sentral,
misalnya bahasa, kebebasan, komunikasi antarpribadi, kebaikan, keadilan,
hubungan agama dan negara, validitas pengetahuan, cinta, symbol, cara bicara
tentang Tuhan, dsb (Bakker, A & Zubair, 1996:99). Objek material dalam
penelitian ini adalah kisah Nabi Khidir yang yang dijadikan sebagai fenomena.
Objek formal dalam penelitian sistematis reflektif tidak tinggal terbatas pada
studi antropologis, sosiologis atau historis, melainkan diteliti secara filosofis,
yaitu sejauh berhubungan langsung dengan hakikat manusia menurut pemahaman
dan keyakinan pribadi (Bakker, A & Zubair, 1996:99). Objek formal yang
digunakan dalam penelitian ini adalah filsafat perennial.
Bahan-bahan yang digunakan adalah berupa buku-buku, jurnal, artikel ilmiah,
hasil-hasil penelitian ilmiah dan pustaka lain yang membahas tentang Filsafat
Perennial dan membahas tentang kisah Nabi Khidir. Data-data kepustakaaan yang
sudah diperoleh kemudian akan diolah dan disusun sehingga akan dapat
menghasilkan analisis yang mengaitkan antara objek material dan objek formal.
2. Bahan Penelitian
Bahan penelitian menyesuaikan dengan jenis penelitian. Penelitian ini berjenis
kepustakaan, maka akan dipetakan menjadi pustaka primer dan pustaka sekunder.
[Type text]
20
a. Pustaka Primer
Pustaka primer menjadi rujukan utama dalam penelitian ini. Pustaka primer
terkait dengan pustaka yang digunakan untuk mendeskripsikan objek material dan
objek formal secara lengkap dan komprehensif.
1. Ali, M. 2009. Rahasia Makrifat Nabi Khidir a.s. Oase Writers
Management. Bandung
2. al-Asqalani, Ibnu Hajar. 2015. Misteri Nabi Khidir. Diterjemahkan dari
Az-
Zahru an-Nadhir Fi Naba’ I al-Khadir. Turos. Jakarta
3. Bahar, Khalifi Elyas. 2015. Khidir Sang Nabi Super Misterius. Diva Press.
Yogyakarta
4. Baskoro, Adi. 2003. Konsep Cinta Jalaluddin Rumi Tinjauan Filsafat
Perennial. Skripsi Fakultas Filsafat UGM. Yogyakarta
5. Hidayat, Komaruddin dan Muhammad Wahyuni Nafis. 1995. Agama
Masa
Depan Perspektif Filsafat Perennial. Paramadina. Jakarta
6. Huxley, Aldous. 2001. Filsafat Perennial. Terjemahan Ali Noer Zaman.
Penerbit Qalam. Yogyakarta
7. Kuswanjono, Arqom. 2001. Konsep Ketuhanan dalam Filsafat Perennial:
Analisis
Konseptual Bagi Pluralisme Agama di Indonesia.
Tesis Fakultas Filsafat
UGM. Yogyakarta
8. Kuswanjono, Arqom. 2006. Ketuhanan dalam Telaah Filsafat Perennial
: Refleksi Pluralisme agama di Indonesia. Badan Penerbitan
Filsafat UGM. Yogyakarta
[Type text]
21
9. Oktafiani, Tri Utami. 2015. Tinjauan Filsafat Perennial terhadap Konsep
Ketuhanan dalam Film PK. Skripsi Fakultas Filsafat UGM.
Yogyakarta
10. Saputra , Riki M.A. 2012.Tuhan Semua Agama; Perspektif Filsafat
Perennial Sayyed Hossein Nasr. Lima. Yogyakarta
11. Shihab, M. Quraish. 2009. Tafsir Al Misbah : pesan, kesan dan keserasian
Al-Qur’an. Lentera Hati. Jakarta
12. Utomo, Agus Himmawan. 1997. Agama dalam pandangan Perennialisme.
Skripsi Fakultas Filsafat UGM. Yogyakarta
13. Wora, Emanuel. 2006. Perennialisme: Kritik atas Modernisme dan
Postmodernisme. Kanisius. Yogyakarta
b. Pustaka Sekunder
Pustaka sekunder digunakan sebagai referensi pendukung dari pustaka primer.
Pustaka sekunder berfungsi sebagai pendukung kelengkapan data penelitian.
Bahan data sekunder terdiri dari buku-buku, artikel-artikel, jurnal penelitian dan
lain sebagainya yang berhubungan dengan tema dan kajian penelitian.
3. Alur Penelitian
a. Persiapan: Mencari bahan-bahan kepustakaan yang terkait
dengan
tema yang akan diteliti.
b. Inventarisasi bahan data: Bahan-bahan yang telah terkumpul kemudian
dikelompokkan sesuai dengan sifat data, yaitu data primer dan data
[Type text]
22
sekunder. Sekaligus dipilah-pilah sesuai dengan pokok bahasan guna
menjelaskan objek material yaitu kisah Nabi Khidir, serta objek formal
yaitu Filsafat Perennial.
c. Klasifikasi data: Data-data yang telah diperoleh kemudian dipilah
menjadi data primer dan data sekunder. Data-data yang telah dipilah
tentu wajib memiliki keterkaitan dengan objek material dan objek
formal penelitian. Data primer digunakan sebagai acuan utama,
sedangkan data sekunder digunakan sebagai acuan pendukung
penelitian.
d. Pengolahan dan sistematisasi data: mengolah dan menyusun data
secara sistematis juga meupakan tindakan yang penting untuk
dilakukan. Data yang didapat kemudian diolah dan disistematisasi
berdasarkan kerangka berpikir.
e. Analisis dan refleksi hasil penelitian: dari data yang telah diolah
kemudian objek material akan dianalisis menggunakan objek formal
berdasarkan rumusan masalah yang telah disusun. Setelah analisis
selesai dilakukan maka langkah selanjutnya akan direfleksikan
terhadap kondisi saat ini di Indonesia.
4. Analisis Hasil Penelitian
Buku Metodologi Penelitian Filsafat
karya Anton Bakker dan Achmad
Charris Zubair tahun 1990 digunakan sebagai acuan utama untuk melakukan
analisa terhadap data yang telah diolah. Adapun unsur metodis sebagai berikut:
[Type text]
23
a. Deskripsi, yaitu mendeskripsikan atau memberikan gambaran tentang
kisah Nabi Khidir dan mendiskripsikan atau memberikan gambaran
tentang tema-tema pokok dalam Filsafat Perennial.
b. Interpretasi, yaitu membaca interpretatif atau menafsirkan terhadap
data pustaka yang berkaitan dengan kisah Nabi Khidir sebagai objek
material dan Filsafat Perennial sebagai objek formal. Sehingga dapat
menangkap maksud yang ingin disampaikan, agar tercapai pemahaman
yang lebih utuh dan mendalam.
c. Holistika, yakni memahami secara menyeluruh latar belakang kisah
Nabi Khidir serta memahami nilai-nilai filosofis yang terkandung
dalam kisah Nabi Khidir.
F. Hasil yang ingin Dicapai
1. Didapatkan uraian deskriptif Filsafat Perennial.
2. Didapatkan uraian deskriptif kisah Nabi Khidir.
3. Didapatkan uraian analisis tentang kisah Nabi Khidir yang ditinjau dari
perspektif Filsafat Perennial.
G. Sistematika Penulisan
Penelitian ini tersusun atas lima bab. Setiap bab memiliki kesinambungan
satu dengan yang lain. Adapun rincian per-bab adalah berikut:
Bab I: berisi tentang uraian pendahuluan yang meliputi : latar belakang masalah,
tujuan penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metode penelitian, hasil yang
ingin dicapai, sistematika penelitian.
[Type text]
24
Bab II: berisi tentang uraian mengenai filsafat perennial meliputi: pengertian
Filsafat Perennial, tokoh-tokoh filsafat perennial, menjabarkan istilah-istilah
dalam Filsafat Perennial seperti: tradisi, mistisisme, realitas ultim, susbtansi dan
bentuk agama.
Bab III: berisi tentang uraian mengenai kisah Nabi Khidir meliputi: Biografi
pengarang Tafsir Al-Misbah, Tafsir Al-Misbah, kisah Nabi Khidir, Al-Qur’an
surah Al-kahfi ayat 60-82 .
Bab IV: berisi pembahasan tentang kisah Nabi Khidir dalam Tafsir Al-Misbah
dari sudut pandang Filsafat Perennial, meliputi: tradisi dalam kisah Nabi Khidir,
mistisisme dalam kisah Nabi Khidir, dan keabadian dalam kisah nabi Khidir.
Bab V: merupakan bab penutup, merupakan kesimpulan dari hasil penelitian yang
berisi jawaban dari rumusan masalah, yang juga disertai saran yang terkait dengan
penelitian.
XII. Daftar Pustaka
Al-Qur’an, diterbitkan oleh Kementrian Agama
Agus, Hasan Bashori.1998. Tim Ahli Tauhid, Kitab Tauhid 2. Penerbit Darul
Haq. Jakarta
Ali, M. 2009. Rahasia Makrifat Nabi Khidir a.s. Oase Writers Management.
Bandung
Al-Asqalani, Ibnu Hajar. 2015. Misteri Nabi Khidir. Diterjemahkan dari Az-Zahru
an-
[Type text]
Nadhir Fi Naba’ I al-Khadir. Turos. Jakarta
25
Amin, Husna. 2013. Tradisi menurut Filsafat Perennial Sayyed Hossein Nasr dan
Relevansinya bagi Pluralitas Kehidupan Umat Beragama di Indonesia.
Desertasi Fakultas Filsafat UGM. Yogyakarta
Asmaran. 2002. Pengantar Studi Tasawuf. Pt. Raja Grafindo Persada. Jakarta
Bahar, Khalifi Elyas. 2015. Khidir Sang Nabi Super Misterius. Diva Press.
Yogyakarta
Bakker, A., & Zubair, A. C. 1990. Metodologi Penelitian Filsafat. Kanisius.
Yogyakarta
Bahtiar, Nendi. 2014. Pendidikan Dialog Kritis dalam Kisah Nabi Khidir dan
Nabi Musa dan Relevansinya terhadap Pendidikan Islam. Skripsi
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga. Yogyakarta
Baskoro, Adi. 2003. Konsep Cinta Jalaluddin Rumi Tinjauan Filsafat Perennial.
Skripsi Fakultas Filsafat UGM. Yogyakarta
Damhuri, Muhammad. 2001. Tahap-tahap Kemampuan Kognitif Manusia dalam
Perspektif Filsafat Profetik. Tesis Fakutas Filsafat UGM. Yogyakarta
Glasse, Cyril. 1999. Ensiklopedi Islam. Terjemahan Ghufron A. Mas’adi. PT Raja
Grafindo Persada. Jakarta
Hidayat, Komaruddin & Muhammad Wahyuni Nafis. 1995. Agama Masa Depan
Perspektif Filsafat Perennial. Paramadina. Jakarta
Huxley, Aldous. 2001. Filsafat Perennial. Terjemahan Ali Noer Zaman. Penerbit
Qalam. Yogyakarta
Katsir, Ibnu. 2008. Kisah Para Nabi/ Qishabul Anbiya’. Terjemahan M. Abdul
Ghoffar. Pustaka Azzam. Jakarta
[Type text]
26
Kuswanjono, Arqom. 2001. Konsep Ketuhanan dalam Filsafat Perennial:
Analisis Konseptual Bagi Pluralisme Agama di Indonesia. Tesis
Fakultas Filsafat UGM. Yogyakarta
Kuswanjono, Arqom. 2006. Ketuhanan dalam Telaah Filsafat Perennial: Refleksi
Pluralisme agama di Indonesia. Badan Penerbitan Filsafat UGM.
Yogyakarta
Murdodiningrat, K.R.M.T.H. 2012. Kisah Teladan 25 Nabi dan Rasul dalam AlQuran. Pustaka Pelajar. Yogyakarta
Noor, Fauz. 2009. Berpikir Seperti Nabi Perjalanan menuju Kepasrahan. Penerbit
LKIS. Yogyakarta
Oktafiani, Tri Utami.2015. Tinjauan Filsafat Perennial terhadap Konsep
Ketuhanan dalam Film PK. Skripsi Fakultas Filsafat UGM.
Yogyakarta
Permata, Ahmad Norma. 1996. Perennialisme Melacak Jejak Filsafat Abadi.
Tiara Wacana. Yogyakarta
Purwadi. 2015. Sufisme Sunan Kalijaga : Ajaran dan Laku Spiritual Sang Guru
Sejati. Araska Publisher. Yogyakarta
Rukmana, Aan. 2013. Sayyed Hossein Nasr: Penjaga Taman Spiritualitas Islam.
Dian Rakyat. Jakarta
Saputra , Riki M.A. 2012. Tuhan Semua Agama; Perspektif Filsafat Perennial
Sayyed Hossein Nasr. Lima. Yogyakarta
Sanusi, Mohammad & Muhammad Ali Fakir AR. 2008. Membaca Misteri Nabi
Khidhir. Mitra Pustaka. Yogyakarta
[Type text]
27
Schuon, Frithjof. 1993. Islam & Filsafat Perennial. Terjemahan dari buku Islam
and the Perennial Philosophy .diterjemahkan oleh Rahmani Astuti.
Mizan. Bandung
Shihab, M. Quraish. 2005. Logika Agama: Kedudukan Wahyu & Batas-Batas
Akal dalam Islam. Lentera Hati. Jakarta
Shihab, M. Quraish. 2009. Tafsir Al Misbah : pesan, kesan dan keserasian
Al-Qur’an. Lentera Hati. Jakarta
Tebba, Sudirman. 2004. Orientasi Sufistik Cak Nur. Paramadia. Jakarta
Umar, Nasaruddin. 2015. Meraih Martabat Utama: dari Shaadiq ke Shiddiq.
Artikel. Koran Republika 8 Juni 2016
Utomo, Agus Himmawan. 1997. Agama dalam pandangan Perennialisme. Skripsi
Fakultas Filsafat UGM. Yogyakarta
Wartini, Atik. 2014. Corak Penafsiran M Quraish Shihab dalam Tafsir AlMisbah. Jurnal Studia Islamika Vol 11 No 1. Yogyakarta
Wora,
Emanuel.
2006.
Perennialisme:
Postmodernisme. Kanisius. Yogyakarta
XIII. Rencana Daftar Isi
Halaman Judul
Halaman Pengesahan
Kata Pengantar
Halaman Persembahan
Daftar Isi
Intisari
[Type text]
Kritik
atas
Modernisme
dan
28
Abstract
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
1. Rumusan Masalah
2. Keaslian Penelitian
3. Manfaat Penelitian
B. Tujuan Penelitian
C. Tinjauan Pustaka
D. Landasan Teori
E. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
2. Bahan Penelitian
3. Jalan Penelitian
4. Analisis Hasil Penelitian
F. Hasil Yang Akan Dicapai
G. Sistematika Penulisan
BAB II FILSAFAT PERENNIAL
A. Pengertian Filsafat Perennial
B. Tokoh-tokoh Filsafat Perennial
C. Pokok Bahasan dalam Filsafat Perennial
1. Tradisi
2. Mistisisme
3. Realitas ultim
[Type text]
29
4. Substansi dan Bentuk Agama
BAB III KISAH NABI KHIDIR DALAM TAFSIR AL-MISBAH
A. Biografi Quraish Shihab
B. Riwayat Nabi Khidir
C. Kontroversi Kisah Nabi Khidir
D. Orang-orang yang Bertemu Nabi Khidir
E. Pengantar Surah Al-Kahfi Ayat 60-82
F. Surah Al-kahfi Ayat 60-82 dalam Tafsir Al-Misbah
BAB IV ANALISIS KISAH NABI KHIDIR DALAM TAFSIR AL-MISBAH
PERSPEKTIF FILSAFAT PERENNIAL
A. Tradisi dalam Kisah Nabi Khidir
B. Mistisisme dalam Kisah Nabi Khidir
C. Realitas Ultim dalam Kisah Nabi Khidir
D. Substansi dan Bentuk Agama dalam Kisah Nabi Khidir
E. Refleksi atas Pemahaman Kisah Nabi Khidir dalam Tafsir Al-Misbah
Perspektif Filsafat Perennial.
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
XIV. RENCANA PELAKSANAAN KEGIATAN
[Type text]
30
Persiapan
: 3 minggu
Pelaksanaan
: 9 minggu
Penyelesaian akhir
: 2 minggu
Jumlah
: 14 minggu
Yogyakarta, 10 Februari 2016
Penyusun
(Ragil Anggara)
Disetujui/ditolak
(Agus Himmawan Utomo, S.S, M.Hum.)………./……..(calon dosen pembimbing
skripsi)
(Dr. Arqom Kuswanjono)………………../……………(calon dosen pembimbing
ahli)
[Type text]
Download