prospek perdagangan gula indonesia dalam

advertisement
1
PROSPEK PERDAGANGAN GULA INDONESIA
DALAM IMPLEMENTASI KERANGKA PERJANJIAN
PERDAGANGAN BEBAS ASEAN-CHINA
RENA YUNITA RAHMAN
S E K O L A H P AS C A S ARJ A N A
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2013
2
SURAT PERNYATAAN
Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa segala pernyataan dalam tesis
saya yang berjudul :
PROSPEK PERDAGANGAN GULA INDONESIA
DALAM IMPLEMENTASI KERANGKA PERJANJIAN
PERDAGANGAN BEBAS ASEAN-CHINA
merupakan gagasan atau hasil penelitian tesis saya sendiri dengan bimbingan
Komisi Pembimbing, kecuali yang dengan jelas ditunjukkan oleh sumbernya.
Tesis ini belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar pada program sejenis di
Perguruan Tinggi lain. Semua data dan informasi yang digunakan telah
dinyatakan secara jelas dan dapat diperiksa kebenarannya.
Bogor,
Februari 2013
Rena Yunita Rahman
NRP H353100061
3
ABSTRACT
RENA YUNITA RAHMAN. Prospect of Indonesian Sugar Trade in the
Implementation of ASEAN-China Free Trade Agreement Framework
(BONAR M. SINAGA as the Chairman and SRI HERY SUSILOWATI as a
Member of the Advisory Committee).
Sugar is an important and strategic commodity because it is one of the
main foodstuff and sugar cane as a raw material of sugar produced by a large part
of farmers in Indonesia. Globalization and unfair trade, including sugar trade, will
affect the development of the sugar industry in Indonesia. Implementation of
Asean-China Free Trade Agreement will reduce and eliminate tariff and non-tariff
barriers. Domestic production of sugar has not been able to fulfill the high
demand for sugar in Indonesia. The objectives of study are to analyze the factors
which influence demand for and supply of sugar in domestic and world markets,
to evaluate the impact of economic policy in agricultural sector on the
performance of Indonesian sugar trade for the period 2004-2010, and to forecast
the impact of economic policy in agricultural sector and external factor on the
performance of Indonesian sugar trade for the period 2011-2014 and 2015-2020.
Indonesian Sugar Trade Model was constructed as a simultaneous equations
system and estimated by 2SLS method with SYSLIN procedure. Historical and
forecasting were simulated using NEWTON method with SIMNLIN procedure.
Indonesian sugar import from China is more responsive than Indonesian sugar
import from Thailand to changes in sugar import tariff, but the share of Indonesian
sugar import from Thailand larger than Indonesian sugar import from China so
that reducing import tariff policy will increase sugar import from Thailand larger
than China. Elimination of import tariff will increase consumer’s surplus higher
than decreasing of producer’s surplus but net surplus decrease because
government’s tariff revenue also decrease. This study suggest that to increase
sugar consumer’s and producer’s welfare (net surplus) the combinations of
reducing sugar import tariff, increasing price of sugar, expansion of sugar cane
plantations and strengthening the role of State Logistics Agency could be an
appropriate policy instruments.
Keywords : sugar industry, ACFTA, import tariff, producer’s and consumer’s
surplus
4
RINGKASAN
RENA YUNITA RAHMAN. Prospek Perdagangan Gula Indonesia dalam
Implementasi Kerangka Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-China
(BONAR M. SINAGA sebagai Ketua dan SRI HERY SUSILOWATI sebagai
Anggota Komisi Pembimbing).
Gula adalah komoditas penting dan strategis karena sebagai salah satu
bahan makanan pokok dan bahan baku gula dihasilkan oleh sebagian besar petani
di Indonesia. Globalisasi dan perdagangan yang tidak fair, termasuk perdagangan
gula, akan mempengaruhi pengembangan industri gula di Indonesia. Implementasi
Perjanjian ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) diwujudkan dengan
pengurangan dan penghapusan hambatan tarif dan non-tarif. Kebutuhan gula di
Indonesia belum mampu dipenuhi oleh produksi gula dalam negeri sehingga
kecenderungan impor gula di Indonesia semakin meningkat. Permasalahan yang
terjadi dalam industri gula nasional tidak hanya on farm tetapi juga off farm. Di
sisi on farm masalah yang cukup menonjol adalah rendahnya produktivitas gula
disamping masalah ketersediaan lahan, sedangkan masalah off farm terutama
berkaitan dengan rendahnya inefisiensi pabrik gula (Kementerian Perindustrian,
2009).
Selama hampir setengah dekade penerapan ACFTA, perkembangan yang
terlihat semakin memperkuat kekhawatiran dan ketidakberdayaan Indonesia yang
tidak siap menghadapi persaingan ketat dalam perdagangan bebas. Pemerintah
melalui beberapa kementerian dan instansi telah melakukan usaha-usaha guna
meningkatkan daya saing produk Indonesia, terutama setelah pemberlakuan
kesepakatan ACFTA. Dalam perjanjian ACFTA, komoditas gula dikategorikan
sebagai komoditas High Sensitive List (HSL) sehingga masih diperbolehkan
adanya intervensi pemerintah berupa tarif dan akan mengalami penurunan atau
penghapusan tarif menjadi 0-50 persen mulai 1 Januari 2015 (Ditjen KPI, 2005).
Penurunan atau penghapusan tarif impor dapat menjadi ancaman dengan
semakin banyaknya gula impor yang akan memenuhi pasar dalam negeri. Untuk
mengantisipasi terjadinya perubahan faktor lingkungan internal dan eksternal
dalam membangkitkan kembali industri gula nasional dalam era perdagangan
bebas ACFTA maka perlu dilakukan evaluasi kebijakan-kebijakan periode historis
dan strategi kebijakan antisipatif di masa mendatang sehingga pengembangan
industri gula nasional lebih berdayaguna baik bagi kesejahteraan produsen,
konsumen maupun perekonomian nasional.
Tujuan penelitian ini adalah (1) menganalisis keragaan pasar gula
Indonesia ditinjau dari sisi permintaan dan penawaran gula serta faktor-faktor
yang mempengaruhinya, (2) mengevaluasi dampak kebijakan ekonomi di sektor
pertanian terhadap kinerja industri gula Indonesia dan kesejahteraan pelaku
ekonomi gula pada periode 2004-2010, dan (3) meramalkan dampak kebijakan
ekonomi di sektor pertanian dan faktor eksternal berkaitan dengan liberalisasi
perdagangan gula dalam skema ACFTA terhadap kinerja industri gula dan
kesejahteraan pelaku ekonomi gula pada periode 2011-2014 dan 2015-2020.
5
Model Perdagangan Gula Indonesia yang dibangun dalam penelitian ini
merupakan sistem persamaan simultan yang terdiri dari dua blok, yaitu blok pasar
gula Indonesia dan blok pasar gula dunia. Model yang telah dirumuskan terdiri
dari 30 persamaan dengan 20 persamaan struktural dan 10 persamaan identitas.
Model terdiri dari 30 variabel endogen dan 74 predetermined variable yang terdiri
dari 15 lag variabel endogen dan 59 variabel eksogen, sehingga total variabel
dalam model adalah 104 variabel. Jumlah variabel yang paling banyak dalam
suatu persamaan adalah 7 variabel. Berdasarkan kriteria order condition
disimpulkan bahwa setiap persamaan struktural yang terdapat dalam model adalah
over identified. Selanjutnya, model diestimasi menggunakan metode 2SLS dengan
prosedur SYSLIN. Simulasi historis dan peramalan menggunakan metode
NEWTON dengan prosedur SIMNLIN. Jenis data yang digunakan dalam penelitian
ini adalah data time series dengan rentang waktu tahun 1981–2010.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa produktivitas gula hablur baik pada
perkebunan tebu besar negara, swasta, dan rakyat kurang responsif terhadap
peningkatan luas areal perkebunannya. Respon permintaan gula rumah tangga
terhadap peningkatan harga riil gula eceran juga inelastis baik dalam jangka
pendek maupun jangka panjang, sedangkan penurunan permintaan gula industri
tidak dipengaruhi secara nyata oleh peningkatan harga riil gula tingkat pedagang
besar. Impor gula Indonesia dari China lebih responsif dibandingkan impor gula
Indonesia dari Thailand terhadap perubahan tarif impor gula, tetapi pangsa impor
gula Indonesia dari Thailand lebih besar daripada pangsa impor gula dari China.
Ekspor gula Brazil lebih responsif dibanding ekspor gula Thailand terhadap
perubahan produksi gula negara tersebut. Perilaku impor gula negara importir gula
(India, Amerika, dan China) dipengaruhi secara nyata oleh harga riil gula dunia.
Evaluasi dampak kebijakan ekonomi disektor pertanian yang meliputi
peningkatan harga gula sebesar 25 persen, peningkatan harga pupuk sebesar 33
persen, penurunan tarif impor gula 49 persen, peningkatan luas areal 20 persen,
dan penurunan kuota impor 50 persen meningkatkan kesejahteraan masyarakat,
kecuali pada kebijakan penurunan tarif impor gula 49 persen. Alternatif kebijakan
yang memberikan kondisi terbaik adalah kebijakan peningkatan harga gula 25
persen karena memberikan peningkatan kesejahteraan konsumen dan produsen
(net surplus) paling besar, terutama bagi petani perkebunan rakyat.
Peramalan penghapusan tarif impor gula akan meningkatkan surplus
konsumen yang lebih besar dari penurunan surplus produsen tetapi kesejahteraan
masyarakat (net surplus) menurun karena penerimaan pemerintah dari tarif impor
juga menurun. Pemerintah sebaiknya memilih opsi menurunkan tarif sampai
dengan 50 persen sesuai dengan ketentuan yang masih diperbolehkan dalam
perjanjian ACFTA. Untuk meningkatan kesejahteraan konsumen dan produsen
gula (net surplus) maka sebaiknya dilakukan kebijakan kombinasi penurunan tarif
impor, peningkatan harga gula petani, peningkatan luas areal perkebunan tebu,
dan penguatan peran BULOG.
Kata kunci : industri gula, ACFTA, tarif impor, surplus produsen dan konsumen
6
© Hak cipta milik IPB, tahun 2013
Hak cipta dilindungi Undang-Undang
1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa
mencantumkan atau menyebutkan sumber
a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan
karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu
masalah
b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB
2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya
tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB
7
PROSPEK PERDAGANGAN GULA INDONESIA
DALAM IMPLEMENTASI KERANGKA PERJANJIAN
PERDAGANGAN BEBAS ASEAN-CHINA
RENA YUNITA RAHMAN
Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Sains
pada
Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian
S E K O L A H P AS C A S ARJ A N A
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2013
8
Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis :
Dr. Ir. Ratna Winandi, MS
Staf Pengajar Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen,
Institut Pertanian Bogor
Pimpinan Ujian Tesis/Wakil PS.EPN :
Dr. Ir. Sri Hartoyo, MS
Staf Pengajar Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen,
Institut Pertanian Bogor
9
Judul Tesis
: Prospek
Perdagangan
Gula
Indonesia
dalam
Implementasi Kerangka Perjanjian Perdagangan
Bebas ASEAN-China
Nama Mahasiswa
: Rena Yunita Rahman
Nomor Pokok
: H353100061
Program Studi
: Ilmu Ekonomi Pertanian
Menyetujui :
1. Komisi Pembimbing
Prof. Dr. Ir. Bonar M. Sinaga, MA
Dr. Ir. Sri Hery Susilowati, MS
Ketua
Anggota
Mengetahui :
2. Koordinator Mayor
3. Dekan Sekolah Pascasarjana
Ilmu Ekonomi Pertanian
Dr. Ir. Sri Hartoyo, MS
Tanggal Ujian : 21 Desember 2012
Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc. Agr
Tanggal Lulus :
10
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat dan karuniaNya penulis dapat menyelesaikan tesis dengan judul “Prospek Perdagangan Gula
Indonesia dalam Implementasi Kerangka Perjanjian Perdagangan Bebas ASEANChina”. Penyusunan tesis ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister pada Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Penulis
mengucapkan terimakasih yang setinggi-tingginya kepada Prof. Dr. Ir. Bonar M.
Sinaga, MA selaku ketua komisi pembimbing dan Dr. Ir. Sri Hery Susilowati, MS
selaku anggota komisi pembimbing, yang telah mengarahkan dan memberikan
masukan kepada penulis dalam proses penelitian dan pelaksanaan tesis ini.
Terimakasih juga penulis sampaikan kepada :
1.
Dr. Ir. Sri Hartoyo, MS selaku Koordinator Mayor Ilmu Ekonomi Pertanian
(EPN) dan seluruh staf pengajar yang telah memberikan bimbingan dan
proses pembelajaran selama penulis kuliah di Mayor Ilmu Ekonomi
Pertanian.
2.
Dr. Ir. Ratna Winandi, MS selaku Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis yang
telah memberikan banyak masukan bagi perbaikan tesis ini.
3.
Kepala Sekretariat Dewan Gula Indonesia (DGI) beserta staf atas bantuan
data dan informasi yang diberikan kepada penulis selama pelaksanaan
penelitian tesis.
4.
Dr. Ir. Evita Soliha Hani, M.P., Ir. Anik Suwandari, M.P., Dr. Ir Yuli
Hariyati, M.S., dan seluruh staf pengajar Program Studi Agribisnis
Universitas Jember atas perhatian dan dukungan kepada penulis selama
menyelesaikan studi.
5.
Orang tua penulis, Saiful Rahman dan Indah Susilowati, yang selalu
memberikan doa, kasih sayang, dan dukungan baik moril maupun materiil
kepada penulis selama menyelesaikan studi.
6.
Seluruh saudara-saudariku tercinta (Novi Yulia Rahman, Kusnandar Hidayat,
Dian Rosita Rahman dan Arif Rahman Hakim) atas doa, perhatian, dan kasih
sayang yang tulus sehingga penulis mampu menyelesaikan studi.
11
7.
Fajar Andika, S.E atas doa, perhatian, semangat, kasih sayang, dan dukungan
baik moril maupun materiil kepada penulis selama menyelesaikan studi.
8.
Teman-teman mahasiswa di Program studi EPN Angkatan 2010 (Mba Erni,
Mba Fanny, Mba Kanti, Mas Danil, Mas Ardhiyan, dan Pak Ujang) atas
kebersamaan, perhatian, dan dukungan hingga perjuangan ini dapat kita lalui
tahap demi tahap.
9.
Teman-teman Wisma Bintang (Mba Isra, Mba Lisda, Mba Reikha, Nana,
Novita, Dea, Nining, Iip, Depta, Pia, Mitha, dan Mey) atas motivasi,
semangat, dan bantuannya selama penyelesaian tesis ini.
10. Seluruh staf kependidikan di Mayor Studi Ilmu Ekonomi Pertanian (Mba
Ruby, Mba Yani, Pak Johan, Ibu Kokom, dan Pak Husen) yang membantu
penulis selama perkuliahan sampai akhir penulis menyelesaikan studi ini.
11. Semua pihak yang telah membantu penyelesaian tesis ini yang tidak dapat
disebutkan satu per satu.
Semoga segala doa, bantuan, semangat, perhatian, dan dukungan yang
telah diberikan kepada penulis selama ini mendapatkan balasan dari Allah SWT.
Penulis menyadari penelitian ini masih banyak keterbatasan dan kekurangan.
Terlepas dari segala keterbatasan yang ada, penulis berharap semoga tesis ini
bermanfaat bagi para pengguna dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan
memberikan inspirasi untuk penelitian berikutnya.
Bogor,
Februari 2013
Penulis
12
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Jember pada tanggal 28 Februari 1988. Penulis
merupakan anak kedua dari empat bersaudara pasangan Saiful Rahman dan Indah
Susilowati. Pada Tahun 2006 penulis lulus dari SMA Negeri 1 Jember dan pada
tahun yang sama penulis diterima menjadi mahasiswa Jurusan Sosial Ekonomi
Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Jember. Selama kuliah penulis aktif
menjadi asisten pada Laboratorium Ekonomi Pertanian. Penulis menyelesaikan
program sarjana pada tahun 2010 dengan predikat lulusan terbaik. Pada tahun
yang sama penulis melanjutkan studi Pascasarjana pada Mayor Ilmu Ekonomi
Pertanian (EPN). Pada tahun 2011 penulis memperoleh Bakrie Graduate
Fellowship dari Bakrie Center Foundation yang membantu penulis dalam
penyelesaian studi.
13
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ..................................................................................... xix
DAFTAR GAMBAR .................................................................................. xxii
DAFTAR LAMPIRAN ..............................................................................xxiii
I.
PENDAHULUAN ......................................................................................
1
1.1. Latar Belakang....................................................................................
1
1.2. Perumusan Masalah ..........................................................................
8
1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian ........................................................... 10
1.4. Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian .................................... 11
II.
TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................. 13
2.1. Sejarah Singkat ASEAN-China Free Trade Area dan Penurunan
Tingkat Tarif di Indonesia .................................................................. 13
2.2. Profil Struktur Industri Gula Indonesia .............................................. 16
2.3. Kebijakan Pemerintah terhadap Industri Pergulaan Indonesia ........... 19
2.4. Kebijakan Pergulaan di Negara-Negara Anggota ASEAN-China
Free Trade Area ................................................................................. 28
2.5. Tinjauan Studi Terdahulu .................................................................. 32
III.
KERANGKA TEORITIS ......................................................................... 37
3.1. Fungsi Permintaan Gula .................................................................... 37
3.1.1. Permintaan Gula oleh Rumah Tangga .................................... 38
3.1.2. Permintaan Gula oleh Industri ................................................ 40
3.2. Fungsi Impor Gula .............................................................................. 41
3.3. Respon Bedakala Produksi Komoditas Pertanian .............................. 43
3.4. Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Perdagangan Gula ............ 44
3.4.1. Kebijakan Harga Eceran Tertinggi Pupuk .............................. 45
3.4.2. Kebijakan Harga Patokan Petani Gula.................................... 46
3.4.3. Kebijakan Tarif Impor Gula ................................................... 47
3.4.4. Kebijakan Kuota Impor Gula.................................................. 50
xiv
14
IV.
PERUMUSAN MODEL DAN PROSEDUR ANALISIS ....................... 53
4.1. Jenis, Sumber, dan Pengolahan Data ................................................. 53
4.2. Spesifikasi Model Perdagangan Gula ................................................ 53
4.2.1. Luas Areal Perkebunan Tebu Indonesia ................................ 55
4.2.2. Produktivitas Gula Hablur Indonesia ..................................... 56
4.2.3. Produksi.................................................................................. 58
4.2.3.1. Produksi Gula Kristal Putih ..................................... 58
4.2.3.2. Produksi Gula Indonesia .......................................... 58
4.2.4. Penawaran Gula Indonesia .................................................... 59
4.2.5. Permintaan Gula Indonesia ................................................... 59
4.2.5.1. Permintaan Gula Rumah Tangga ............................. 59
4.2.5.2. Permintaan Gula Industri ......................................... 60
4.2.5.3. Permintaan Gula Indonesia ...................................... 61
4.2.6. Harga Gula Indonesia ............................................................. 61
4.2.6.1. Harga Gula Tingkat Petani ....................................... 61
4.2.6.2. Harga Gula Tingkat Pedagang Besar ....................... 62
4.2.6.3. Harga Eceran Gula Indonesia .................................. 63
4.2.6.4. Harga Impor Gula Indonesia .................................... 63
4.2.7. Impor Gula Indonesia ............................................................. 64
4.2.7.1. Impor Gula Indonesia dari Thailand ........................ 64
4.2.7.2. Impor Gula Indonesia dari China ............................. 64
4.2.7.3. Total Impor Gula Indonesia ..................................... 65
4.2.8. Ekspor Impor Gula Dunia ...................................................... 65
4.2.8.1. Ekspor Gula Brazil ................................................... 65
4.2.8.2. Ekspor Gula Thailand .............................................. 66
4.2.8.3. Total Ekspor Gula Dunia ......................................... 66
4.2.8.4. Impor Gula India ...................................................... 67
4.2.8.5. Impor Gula Amerika Serikat .................................... 67
4.2.8.6. Impor Gula China..................................................... 68
4.2.8.7. Total Impor Gula Dunia ........................................... 68
4.2.9. Harga Gula Dunia .................................................................. 69
4.3. Prosedur Analisis ............................................................................... 69
xv
15
4.3.1. Identifikasi Model .................................................................. 69
4.3.2. Metode Estimasi Model ......................................................... 70
4.3.2.1. Uji Statistik F ............................................................ 71
4.3.2.2. Uji Statistik-t ............................................................ 71
4.3.2.3. Uji Statistik Durbin-h ............................................... 72
4.3.3. Validasi Model ....................................................................... 73
4.3.4. Simulasi Model ...................................................................... 74
4.3.4.1. Simulasi Historis (Ex Post Simulation) .................... 74
4.3.4.2. Simulasi Peramalan (Ex Ante Simulation) ................ 76
4.3.5. Metode Peramalan ................................................................. 79
4.4. Analisis Perubahan Indikator Kesejahteraan ...................................... 80
V.
KERAGAAN INDUSTRI GULA INDONESIA ..................................... 83
5.1. Luas Areal Perkebunan Tebu dan Produktivitas Gula Hablur
Indonesia ............................................................................................. 83
5.2. Perkembangan Produksi, Konsumsi, Impor, dan Stok Gula
Indonesia ............................................................................................. 85
5.2.1. Produksi Gula Kristal Putih dan Gula Kristal Rafinasi ............. 85
5.2.2. Konsumsi Gula Rumah Tangga dan Industri ............................ 86
5.2.3. Impor Gula Indonesia ................................................................ 87
5.2.4. Stok Gula Indonesia .................................................................. 89
5.3. Perkembangan Harga Patokan Petani, Harga Lelang, Harga Domestik,
dan Harga Gula Dunia ........................................................................ 91
5.4. Produksi dan Konsumsi Gula Dunia ................................................. 92
5.4.1. Produksi Gula Dunia ................................................................. 92
5.4.2. Konsumsi Gula Dunia ............................................................... 94
5.5. Ekspor dan Impor Gula Dunia ............................................................ 95
5.5.1. Ekspor Gula Dunia ................................................................... 95
5.5.2. Impor Gula Dunia ..................................................................... 97
5.6. Impor Gula Indonesia ......................................................................... 98
VI.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENAWARAN
DAN PERMINTAAN GULA DI PASAR DOMESTIK DAN DUNIA 101
6.1. Keragaan Umum Hasil Estimasi Model ............................................. 101
xvi
16
6.2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penawaran dan Permintaan
Gula di Pasar Domestik dan Dunia ................................................... 102
6.2.1. Areal Perkebunan Tebu Indonesia ......................................... 102
6.2.2. Produktivitas Gula Hablur Indonesia ..................................... 106
6.2.3. Permintaan Gula Indonesia .................................................... 111
6.2.3.1. Permintaan Gula Rumah Tangga ............................. 111
6.2.3.2. Permintaan Gula Industri ......................................... 113
6.2.4. Harga Gula Indonesia ............................................................. 115
6.2.4.1. Harga Riil Gula Tingkat Petani ................................ 115
6.2.4.2. Harga Riil Gula Tingkat Pedagang Besar ................ 116
6.2.4.3. Harga Riil Gula Eceran ............................................ 117
6.2.4.4. Harga Impor Riil Gula Indonesia ............................. 118
6.2.5. Impor Gula Indonesia ............................................................. 119
6.2.5.1.
Impor Gula Indonesia dari Thailand ...................... 120
6.2.5.2.
Impor Gula Indonesia dari China .......................... 121
6.2.6. Ekspor Impor Gula Dunia ...................................................... 123
6.2.6.1. Ekspor Gula Brazil ................................................... 123
6.2.6.2. Ekspor Gula Thailand .............................................. 124
6.2.6.3. Total Ekspor Gula Dunia ......................................... 125
6.2.6.4. Impor Gula India ...................................................... 126
6.2.6.5. Impor Gula Amerika Serikat ................................... 127
6.2.6.6. Impor Gula China..................................................... 129
6.2.6.7. Total Impor Gula Dunia ........................................... 131
6.2.7. Harga Riil Gula Dunia ........................................................... 131
VII.
EVALUASI DAMPAK KEBIJAKAN EKONOMI DI SEKTOR
PERTANIAN TAHUN 2004-2010............................................................ 133
7.1. Evaluasi Daya Prediksi Model ........................................................... 133
7.2. Dampak Kebijakan Ekonomi di Sektor Pertanian terhadap Permintaan
dan Penawaran Gula di Indonesia ..................................................... 133
7.2.1 Peningkatan Harga Gula Tingkat Petani ............................... 134
7.2.2 Peningkatan Harga Pupuk ...................................................... 136
7.2.3 Peningkatan Luas Areal Perkebunan Tebu ........................... 139
xvii
17
7.2.4 Penurunan Tarif Impor Gula ................................................... 141
7.2.5 Penurunan Kuota Impor Gula ................................................. 143
7.3. Dampak Kebijakan Ekonomi di Sektor Pertanian terhadap
Kesejahteraan Pelaku Ekonomi Gula Indonesia Tahun 2005-2010 ... 145
VIII.
PERAMALAN DAMPAK KEBIJAKAN EKONOMI DI SEKTOR
PERTANIAN DAN PERUBAHAN FAKTOR EKSTERNAL TAHUN
2011-2014 dan 2015-2020.......................................................................... 151
8.1. Peramalan Dampak Kebijakan terhadap Permintaan dan
Penawaran Gula di Indonesia............................................................... 151
8.1.1. Simulasi Tunggal Kebijakan Ekonomi di Sektor Pertanian ... 152
8.1.1.1. Peningkatan Harga Gula Tingkat Petani .................. 152
8.1.1.2. Penguatan Peran BULOG ......................................... 154
8.1.1.3. Peningkatan Luas Areal Perkebunan Tebu ............... 156
8.1.1.4. Swasembada Absolut Gula ....................................... 158
8.1.1.5. Penghapusan Tarif Impor Gula................................. 161
8.1.1.6. Penurunan Tarif Impor Gula..................................... 163
8.1.2. Simulasi Tunggal Perubahan Faktor Eksternal ....................... 168
8.1.2.1. Peningkatan Produksi Gula China ............................ 168
8.1.2.2. Peningkatan Produksi Gula Thailand dan Brazil ...... 170
8.1.3. Simulasi Kombinasi Kebijakan Ekonomi di Sektor Pertanian 172
8.1.3.1. Simulasi Kombinasi Tarif Impor dan Harga Gula
Tingkat Petani ........................................................... 172
8.1.3.2. Simulasi Kombinasi Tarif Impor, Harga Gula
Tingkat Petani, dan Luas Areal Perkebunan ............ 175
8.1.3.3. Simulasi Kombinasi Tarif Impor, Harga Gula Tingkat
Petani, Produksi Gula China, dan Stok Gula ............ 178
8.1.3.4. Simulasi Kombinasi Tarif Impor, Harga Gula Tingkat
Petani, Luas Areal, dan Stok Gula ............................ 180
8.2. Peramalan Dampak Kebijakan Ekonomi di Sektor Pertanian dan
Perubahan Faktor Eksternal terhadap Kesejahteraan Pelaku Ekonomi
Gula Indonesia .................................................................................... 183
8.2.1. Peramalan Dampak Simulasi Tunggal Kebijakan Ekonomi
di Sektor Pertanian .................................................................. 183
8.2.2. Peramalan Dampak Simulasi Tunggal Perubahan Faktor
Eksternal ................................................................................. 193
xviii
18
8.2.3. Peramalan Dampak Simulasi Kombinasi Kebijakan Ekonomi
di Sektor Pertanian dan Perubahan Faktor Ekstrnal ............... 196
IX.
KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................. 203
9.1. Kesimpulan ........................................................................................ 203
9.2. Saran .................................................................................................. 205
9.2.1. Saran Kebijakan ..................................................................... 205
9.2.2. Saran Penelitian Lanjutan ...................................................... 206
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 209
LAMPIRAN ............................................................................................... 215
19
DAFTAR TABEL
Nomor
1.
Halaman
Tahapan Perjalanan ASEAN Free Trade Area dan ASEAN-China
Free Trade Area ......................................................................................
14
2.
Jumlah Impor Gula Mentah di Indonesia Tahun 2003-2009 ..................
17
3.
Rezim Kebijakan Pergulaan Nasional.....................................................
20
4.
Analisis Dampak Kebijakan Tarif Impor terhadap Kesejahteraan
Masyarakat di Negara Eksportir dan Importir ........................................
49
Analisis Dampak Kebijakan Kuota Impor terhadap Kesejahteraan
Masyarakat di Negara Eksportir dan Importir ........................................
51
6.
Luas Areal Perkebunan Tebu dan Produktivitas Gula Hablur Indonesia
83
7.
Perkembangan produksi Gula Kristal Putih dan Gula Kristal Rafinasi
di Indonesia Tahun 2003-2010 ...............................................................
85
Konsumsi Gula Kristal Putih dan Gula Kristal Rafinasi di Indonesia
Tahun 2003-2010 ....................................................................................
87
Impor Gula Kristal Putih, Gula Mentah, dan Gula Kristal Rafinasi
di Indonesia Tahun 2003-2010 ...............................................................
88
10. Stok Gula Kristal Putih dan Gula Kristal Rafinasi di Indonesia Tahun
2003-2010 ...............................................................................................
89
11. Perkembangan Harga Patokan Petani, Harga Lelang, Harga Domestik,
dan Harga Dunia Gula Tahun 2004-2011 ...............................................
91
12. Produksi Gula di Beberapa Negara Produsen Terbesar Gula Dunia
Tahun 2008-2010 ....................................................................................
93
13. Konsumsi Gula di Beberapa Negara Konsumen Terbesar Gula Dunia
Tahun 2007-2009 ....................................................................................
94
14. Negara Eksportir Gula Dunia Tahun 2008-2010 ....................................
96
15. Negara Importir Gula Dunia Tahun 2008-2010 ......................................
97
16. Impor Gula Indonesia dari Thailand, China, Singapura, dan Australia
Tahun 2001-2010 ....................................................................................
98
5.
8.
9.
17. Hasil Estimasi Persamaan Luas Areal Perkebunan Besar Negara (APTN) 102
18. Hasil Estimasi Persamaan Luas Areal Perkebunan Besar Swasta (APTS) 104
19. Hasil Estimasi Persamaan Luas Areal Perkebunan Rakyat (APTR) ......
105
20. Hasil Estimasi Persamaan Produktivitas Gula Hablur Negara (YGHN)
107
21. Hasil Estimasi Persamaan Produktivitas Gula Hablur Swasta (YGHS)
108
xx
20
22. Hasil Estimasi Persamaan Produktivitas Gula Hablur Rakyat (YGHR)
110
23. Hasil Estimasi Persamaan Permintaan Gula Rumah Tangga (DGRT) ..
112
24. Hasil Estimasi Persamaan Permintaan Gula Industri (DGIN) ...............
114
25. Hasil Estimasi Persamaan Harga Riil Gula Tingkat Petani (HRGP) .....
115
26. Hasil Estimasi Persamaan Harga Riil Gula Tingkat Pedagang Besar
(HRGPB) ................................................................................................
116
27. Hasil Estimasi Persamaan Harga Riil Gula Eceran (HRGE) .................
118
28. Hasil Estimasi Persamaan Harga Impor Riil Gula Indonesia (HRGINA)
118
29. Hasil Estimasi Persamaan Impor Gula Indonesia dari Thailand (MGITH) 120
30. Hasil Estimasi Persamaan Impor Gula Indonesia dari China (MGICN)
122
31. Hasil Estimasi Persamaan Ekspor Gula Brazil (XGBR) ........................
123
32. Hasil Estimasi Persamaan Ekspor Gula Thailand (XGTH) ...................
125
33. Hasil Estimasi Persamaan Impor Gula India (MGIN) ...........................
126
34. Hasil Estimasi Persamaan Impor Gula Amerika Serikat (MGUS) ........
128
35. Hasil Estimasi Persamaan Impor Gula China (MGCN) .........................
129
36. Hasil Estimasi Persamaan Harga Gula Dunia (HRGW) ........................
131
37. Dampak Peningkatan Harga Gula sebesar 25 Persen terhadap
Permintaan dan Penawaran Gula di Indonesia Tahun 2004-2010..........
135
38. Dampak Peningkatan Harga Pupuk sebesar 33 Persen terhadap
Permintaan dan Penawaran Gula di Indonesia Tahun 2004-2010..........
137
39. Dampak Peningkatan Luas Areal Perkebunan Tebu 20 Persen terhadap
Permintaan dan Penawaran Gula di Indonesia Tahun 2004-2010..........
140
40. Dampak Penurunan Tarif Impor Gula 49 Persen terhadap Permintaan
dan Penawaran Gula di Indonesia Tahun 2004-2010 .............................
142
41. Dampak Peningkatan Kuota Impor Gula 50 Persen terhadap Permintaan
dan Penawaran Gula di Indonesia Tahun 2004-2010 .............................
144
42. Evaluasi Dampak Berbagai Alternatif Kebijakan Ekonomi di Sektor
Pertanian Periode 2004-2010 .................................................................
146
43. Peramalan Dampak Peningkatan Harga Gula Tingkat Petani 30 Persen
terhadap Permintaan dan Penawaran Gula Indonesia ............................
152
44. Peramalan Dampak Peningkatan Stok Gula Indonesia 20 Persen terhadap
Permintaan dan Penawaran Gula Indonesia ...........................................
155
45. Peramalan Dampak Peningkatan Luas Areal Perkebunan Tebu 30 Persen
terhadap Permintaan dan Penawaran Gula Indonesia ............................
157
xxi
21
46. Peramalan Dampak Swasembada Absolut Gula terhadap Permintaan dan
Penawaran Gula Indonesia ......................................................................
159
47. Peramalan Dampak Penghapusan Tarif Gula terhadap Permintaan dan
Penawaran Gula Indonesia ......................................................................
162
48. Peramalan Dampak Penurunan Tarif Impor Gula terhadap Permintaan
dan Penawaran Gula Indonesia ...............................................................
166
49. Peramalan Dampak Peningkatan Produksi Gula China terhadap
Permintaan dan Penawaran Gula Indonesia ............................................
169
50. Peramalan Dampak Peningkatan Produksi Gula Thailand dan Brazil
terhadap Permintaan dan Penawaran Gula Indonesia .............................
171
51. Peramalan Dampak Simulasi Kombinasi Tarif Impor dan Harga Gula
Tingkat Petani dan terhadap Permintaan dan Penawaran Gula Indonesia
174
52. Peramalan Dampak Simulasi Kombinasi Tarif Impor, Harga Gula Tingkat
Petani, dan Luas Areal terhadap Permintaan dan Penawaran Gula
Indonesia .................................................................................................
176
53. Peramalan Dampak Simulasi Kombinasi Tarif Impor, Harga Gula Tingkat
Petani, Produksi Gula China, dan Stok Gula terhadap Permintaan
dan Penawaran Gula Indonesia ...............................................................
179
54. Peramalan Dampak Kombinasi Tarif Impor, Harga Gula Tingkat Petani,
Luas Areal, dan Stok Gula terhadap Permintaan dan Penawaran Gula
Indonesia .................................................................................................
181
55. Peramalan Dampak Kebijakan Ekonomi di Sektor Pertanian terhadap
Kesejahteraan Pelaku Ekonomi Gula Indonesia Tahun 2011-2014 dan
2015-2020 ...............................................................................................
186
56. Peramalan Dampak Kebijakan Penghapusan Tarif Impor Gula terhadap
Kesejahteraan Pelaku Ekonomi Gula Indonesia Tahun 2011-2014 dan
2015-2020 ..............................................................................................
189
57. Peramalan Dampak Kebijakan Penurunan Tarif Impor Gula terhadap
Kesejahteraan Pelaku Ekonomi Gula Indonesia Tahun 2011-2014 dan
2015-2020 ...............................................................................................
192
58. Peramalan Dampak Perubahan Faktor Eksternal terhadap Kesejahteraan
Pelaku Ekonomi Gula Indonesia Tahun 2011-2014 dan 2015-2020 ......
194
59. Peramalan Dampak Perubahan Simulasi Kombinasi Kebijakan Ekonomi
di Sektor Pertanian dan Perubahan Faktor Eksternal terhadap
Kesejahteraan Pelaku Ekonomi Gula Indonesia Tahun 2011-2014 dan
198
2015-2020 ...............................................................................................
22
DAFTAR GAMBAR
Nomor
Halaman
1. Pangsa Produksi Gula Kristal Putih Perusahaan di Indonesia Tahun 2009
18
2. Mekanisme Terjadinya Ekspor-Impor....................................................
41
3. Dampak Kebijakan Harga Eceran Tertinggi Pupuk ..............................
45
4. Dampak Kebijakan Harga Patokan Petani .............................................
46
5. Dampak Pengenaan Tarif Impor ............................................................
48
6. Dampak Kuota Impor .............................................................................
50
7. Diagram Keterkaitan Variabel dalam Model Ekonomi Perdagangan
Gula Indonesia ........................................................................................
54
23
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor
Halaman
1.
Data dan Sumber Data Model Perdagangan Gula Indonesia ..................
216
2.
Rekapitulasi Persamaan dalam Model Perdagangan Gula Indonesia .....
224
3.
Definisi Operasional Variabel Endogen dan Eksogen dalam Model
Perdagangan Gula Indonesia ...................................................................
225
Program Estimasi Model Perdagangan Gula Indonesia Menggunakan
Metode 2SLS dan Prosedur SYSLIN dengan Program SAS/ETS
Versi 9.1 ..................................................................................................
228
Hasil Estimasi Model Perdagangan Gula Indonesia Menggunakan
Metode 2SLS dan Prosedur SYSLIN dengan Program SAS/ETS
Versi 9.1 ..................................................................................................
233
Program Validasi Model Perdagangan Gula Indonesia Menggunakan
Metode NEWTON dan Prosedur SIMNLIN dengan Program SAS/ETS
Versi 9.1 ..................................................................................................
253
Hasil Validasi Model Perdagangan Gula Indonesia Menggunakan
Metode NEWTON dan Prosedur SIMNLIN dengan Program SAS/ETS
Versi 9.1 ..................................................................................................
260
Program Simulasi Historis Model Perdagangan Gula Indonesia
Menggunakan Metode NEWTON dan Prosedur SIMNLIN dengan
Program SAS/ETS Versi 9.1 ...................................................................
265
Hasil Simulasi Historis Model Perdagangan Gula Indonesia
Menggunakan Metode NEWTON dan Prosedur SIMNLIN dengan
Program SAS/ETS Versi 9.1 ...................................................................
272
10. Program Peramalan Variabel Eksogen Tahun 2011-2020 Model
Perdagangan Gula Indonesia Menggunakan Metode STEPAR dan
Prosedur FORECAST dengan Program SAS/ETS Versi 9.1 .................
274
11. Hasil Peramalan Variabel Eksogen Tahun 2011-2020 Model
Perdagangan Gula Indonesia Menggunakan Metode STEPAR dan
Prosedur FORECAST dengan Program SAS/ETS Versi 9.1 .................
277
12. Program Peramalan Variabel Endogen Tahun 2011-2020 Model
Perdagangan Gula Indonesia Menggunakan Metode NEWTON dan
Prosedur SIMNLIN dengan Program SAS/ETS Versi 9.1 .....................
281
13. Hasil Peramalan Variabel Endogen Tahun 2011-2020 Model
Perdagangan Gula Indonesia Menggunakan Metode NEWTON dan
Prosedur SIMNLIN dengan Program SAS/ETS Versi 9.1 .....................
284
4.
5.
6.
7.
8.
9.
24
xxiv
14. Program Simulasi Peramalan Nilai Dasar Model Perdagangan Gula
Indonesia Menggunakan Metode NEWTON dan Prosedur SIMNLIN
dengan Program SAS/ETS Versi 9.1......................................................
287
15. Hasil Simulasi Peramalan Nilai Dasar Model Perdagangan Gula
Indonesia Menggunakan Metode NEWTON dan Prosedur SIMNLIN
dengan Program SAS/ETS Versi 9.1 .....................................................
291
16. Program Simulasi Peramalan Model Perdagangan Gula Indonesia
Menggunakan Metode NEWTON dan Prosedur SIMNLIN dengan
Program SAS/ETS Versi 9.1 ..................................................................
293
17. Hasil Simulasi Peramalan Model Perdagangan Gula Indonesia
Menggunakan Metode NEWTON dan Prosedur SIMNLIN dengan
Program SAS/ETS Versi 9.1 ..................................................................
299
1
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sektor pertanian mempunyai peranan yang cukup penting dalam kegiatan
perekonomian di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (2011), dapat
dilihat bahwa kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Bruto (PDB)
cukup besar yaitu sekitar 15.3 persen pada tahun 2010 atau merupakan urutan
ketiga setelah sektor industri pengolahan dan perdagangan, hotel dan restoran.
Akan tetapi, sekalipun sektor pertanian mempunyai kontribusi yang cukup besar
laju pertumbuhan sektor pertanian merupakan yang terendah dibandingkan sektor
lain, yaitu hanya 2.9 persen. Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan pertanian
mengalami kelesuan karena perhatian dibidang pertanian mulai menurun.
Sebagai pondasi kehidupan sebuah negara, sektor pertanian dewasa ini
tengah menghadapi tantangan terberat yaitu era globalisasi. Salah satu ciri dari era
globalisasi
adalah
perdagangan
bebas
yang
ditandai
dengan
semakin
meningkatnya arus perdagangan barang maupun jasa diantara negara-negara di
dunia. Globalisasi dan perdagangan bebas memberikan peluang terbukanya ruang
yang lebih besar untuk memperluas volume usaha pertanian. Menurut Departemen
Pertanian (2010), arus perdagangan dalam mekanisme pasar yang murni adalah
mengalir dari negara yang mempunyai comparative advantages ke negara yang
tidak mempunyai comparative advantages (trade creation). Tumbuhnya trade
creation diantara bangsa-bangsa akan meningkatkan kesejahteraan semua bangsa
di dunia. Hal inilah yang menjadi spirit dari lahirnya isu globalisasi dan
liberalisasi.
Perdagangan internasional menjadi suatu faktor utama yang dapat
membawa masyarakat Indonesia kearah kesejahteraan ekonomi yang lebih baik.
Masalah perdagangan bukan hanya masalah ekonomi tetapi juga masalah politik.
Masalah perdagangan bukan saja masalah menjalin hubungan yang saling
menguntungkan dengan mitra dagang. Adanya perbedaan kekuatan politik dan
militer merupakan godaan untuk mengubah hubungan yang semula bersifat
sukarela dan saling menguntungkan dan bersifat paksaan. Karena itu, diperlukan
kewaspadaan terhadap kemungkinan tersebut dan mengambil langkah persiapan
2
menghadapi hal tersebut. Iklim perdagangan yang terbuka dapat terus berjalan
dengan melestarikan aturan main yang dapat menunjang keterbukaan dari sistem
internasional. Tujuan tersebut dapat dicapai dengan kewaspadaan terhadap godaan
negara besar untuk menggunakan kekuatan ekonomi dan politik setiap kali ada
sektor yang mengalami kemunduran dalam daya saing (Kartadjoemena, 2000).
Kesadaran akan manfaat peranan perdagangan internasional bagi
kesejahteraan penduduknya mendorong sejumlah negara tetangga membentuk
organisasi kerjasama ekonomi regional yang memiliki kepentingan untuk
membangun
kekuatan
ekonomi
bersama.
Sebagai
bagian
dari
tatanan
perekonomian dunia, Indonesia yang menganut sistem ekonomi terbuka harus ikut
melaksanakan perdagangan bebas. Pengalaman pertama kerjasama perdagangan
bebas regional yang diikuti Indonesia adalah kerjasama pada kawasan
perdagangan bebas ASEAN yang dikenal dengan ASEAN Free Trade Area
(AFTA). Kerjasama ini diterapkan melalui skema Common Effective Preferential
Tariff (CEPT) yang diwujudkan dengan penurunan tarif hingga menjadi 0-5
persen, penghapusan pembatasan kuantitatif, dan hambatan-hambatan non tarif
lainnya. Gula dalam skema CEPT-AFTA dimasukkan dalam kategori Sensitive
List yang harus telah diturunkan tarifnya pada tahun 2010 (Tim Tarif Depkeu,
2010). Implementasinya pemerintah berhasil mengupayakan tarif impor gula
diatas 5 persen, yaitu 10 persen untuk gula putih dan 5 persen untuk gula mentah.
Pengalaman kedua Indonesia mengikuti kelompok perdagangan regional adalah
kesepakatan perdagangan bebas Indonesia-China melalui skema ASEAN-China
Free Trade Area (ACFTA). Pelaksanaan ACFTA ini telah dimulai pada tahun
2004 yang diwujudkan dengan menghilangkan atau mengurangi hambatanhambatan perdagangan barang baik tarif ataupun non tarif.
Kesepakatan perjanjian perdagangan ACFTA ini memberikan tantangan
dan peluang bagi berbagai komoditas pertanian yang diproduksi di Indonesia baik
untuk tujuan ekspor maupun memenuhi kebutuhan nasional. Beberapa pihak
menilai liberalisasi ACFTA hanya akan memberikan dampak negatif bagi kinerja
perdagangan Indonesia. Ketakutan tersebut muncul mengingat daya saing produk
asal China sangat tinggi terlebih bila dibandingkan dengan produk asal Indonesia.
Oleh karena itu, banyak pihak yang menginginkan pemerintah melakukan
3
renegosiasi terhadap perjanjian perdagangan tersebut. Namun, sebagian pihak
lainnya yang optimis yakin bahwa liberalisasi ACFTA akan membawa dampak
positif bagi sektor pertanian. Keyakinan ini yang kemudian mendorong Indonesia
untuk turut serta dalam liberalisasi awal ACFTA.
Early Harvest Programme (EHP) merupakan tahapan awal liberalisasi
ACFTA yang terdiri dari penghapusan tarif antara produk negara ASEAN dengan
produk China dan sebaliknya untuk delapan jenis produk yang terdiri dari
kelompok produk hewan hidup (live animals), daging, dan jeroan yang bisa
dimakan (meat and edible meat & offal), ikan termasuk udang (fish), produk susu
(dairy products), produk hewan lainnya (other animal products), tanaman hidup
(live trees), sayur (edible vegetables), dan produk buah serta kacang-kacangan
(edible fruits and nuts) dengan pengecualian untuk jagung manis. Komoditas
pertanian seperti beras, gula, jagung, dan kedelai dimasukkan dalam kategori
produk High Sensitive List (HSL) yang tarifnya baru akan diturunkan atau
dihapuskan menjadi 0-50 persen mulai 1 Januari 2015 (Ditjen KPI, 2005).
Sejak kesepakatan ACFTA mulai diberlakukan, tren neraca perdagangan
Indonesia dengan China semakin menurun dari tahun ke tahun. Pada tahun 2007
neraca perdagangan non migas Indonesia dengan China mengalami defisit sebesar
US$ 1.293 miliar. Pada tahun 2008 menurun tajam sebesar US$ 7.160 miliar.
Hingga tahun 2012 neraca perdagangan Indonesia dengan China masih
mengalami defisit. Defisit perdagangan Indonesia China pada tahun 2012 sebesar
US$ 5.875 miliar (Kementerian Perdagangan, 2012). Data ini menunjukkan
semakin banyaknya komoditi non migas dari China yang masuk ke Indonesia.
Semakin menurunnya surplus dalam neraca perdagangan Indonesia disebabkan
semakin timpangnya neraca ekspor Indonesia dan China. Dalam beberapa tahun
terakhir China juga telah melakukan lompatan ekonomi yang sangat besar dan
menjadi penguasa ekonomi terbesar kedua di dunia. Terlebih lagi, pemerintah
China mempunyai keeratan hubungan dengan masyarakat China perantauan yang
berada di seluruh dunia terutama ASEAN. Hal ini memberikan peluang kepada
China untuk mampu mengintegrasikan ASEAN dan menjadikannya mitra di
bidang ekonomi.
4
Tidak hanya produk-produk impor dari China yang banyak memasuki
pasar konsumsi Indonesia, tetapi juga produk-produk impor asal negara ASEAN
seperti Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Singapura. Impor produk pertanian dari
Thailand mengalami kenaikan dari tahun ke tahun, sehingga membuat neraca
perdagangan Indonesia dengan Thailand juga terus mengalami defisit. Pada tahun
2010 defisit perdagangan Indonesia dengan Thailand mencapai US$ 3.4 miliar.
Produk-produk pertanian dari negara ASEAN yang mendominasi pasar domestik
adalah beras, gula, tepung dan olahannya, buah, sayuran dan olahannya serta
produk makanan lain. Berdasarkan catatan Bank Indonesia (2010), secara
keseluruhan Singapura merupakan negara yang mendominasi ekspor ke negaranegara ASEAN yaitu sebesar 40.91 persen, diikuti oleh Malaysia sebesar 20.22
persen dan Thailand 16.28 persen, sedangkan Indonesia hanya mampu menguasai
pasar ASEAN sebesar 12.34 persen. Meskipun dalam neraca perdagangan
ASEAN Indonesia belum mengalami defisit, namun pertumbuhan impor lebih
besar daripada ekspor sehingga tetap diperlukan upaya antisipatif.
Wacana penurunan tarif impor gula sebagai komoditas High Sensitive List
yang akan mulai diturunkan tarifnya pada tahun 2015 menjadi isu menarik untuk
diwaspadai. Gula merupakan salah satu kebutuhan pokok yang dibutuhkan oleh
penduduk di Indonesia bahkan juga di dunia. Berdasarkan catatan Dewan Gula
Indonesia (2011) kebutuhan gula kristal putih untuk konsumsi langsung adalah
2.574 juta ton, sedangkan jumlah kebutuhan gula kristal rafinasi sebesar 2.058
juta ton. Jumlah tersebut sangat tinggi apabila dilihat dari kinerja produksi gula
dalam negeri yang hanya mampu menghasilkan gula hablur sebesar 3.159 juta ton
(Ditjenbun, 2011).
Tingginya kebutuhan gula nasional yang selama ini belum mampu
dipenuhi oleh produksi lokal membuat pemerintah melakukan kebijakan impor.
Beberapa impor gula Indonesia didatangkan dari negara ASEAN. Tren kenaikan
konsumsi gula di Indonesia diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan
peningkatan jumlah penduduk, peningkatan pendapatan masyarakat serta
pertumbuhan industri makan dan minuman. Terkait dengan perjanjian
perdagangan bebas yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia dikhawatirkan akan
5
semakin mengancam industri gula domestik yang tengah bangkit dari
keterpurukan.
Negara-negara anggota ASEAN memiliki kontribusi yang berbeda-beda
terhadap perkembangan perjanjian perdagangan bebas ACFTA sekalipun jenis
produk pertanian yang dihasilkan hampir sama karena adanya kesamaan kondisi
iklim dan budaya. Manfaat perdagangan bebas ACFTA yang akan dipetik oleh
negara-negara ASEAN tergantung pada daya saing produk pertanian negaranegara ASEAN itu sendiri. Hal ini terlihat setelah perjanjian perdagangan bebas
ACFTA diberlakukan, Thailand masih memimpin sebagai pengekspor gula
terbesar di antara negara ASEAN yang lain, baik untuk gula mentah maupun gula
kristal rafinasi. Untuk impor gula, jenis gula yang paling banyak diimpor oleh
Indonesia adalah gula kristal rafinasi. Bahkan terjadi peningkatan melebihi dua
kali lipat untuk impor gula kristal rafinasi ini dari tahun 2008 yang hanya sebesar
424.8 ribu ton menjadi 1.28 juta ton pada tahun 2009 (FAO Statistic Division,
2011), sedangkan Malaysia sebagai negara pengimpor gula terbesar di ASEAN
lebih banyak mengimpor gula mentah daripada gula kristal rafinasi.
Sebagai komoditas khusus, gula merupakan salah satu dari kebutuhan
pangan yang sangat penting bagi kebutuhan sehari-hari baik dalam rumah tangga
maupun industri makanan dan minuman. Prospek utama pengembangan industri
gula nasional adalah untuk memperkuat ketahanan pangan dan kualitas hidup
masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, Indonesia berupaya meningkatkan
produksi dalam negeri, termasuk mencanangkan target swasembada gula. Akan
tetapi, produksi gula yang dihasilkan oleh Indonesia tidak dapat memenuhi
permintaan dalam negeri, sehingga impor gula harus diadakan setiap tahunnya.
Hal ini membuat target swasembada gula tahun 2007, 2008, dan 2009 yang telah
dicanangkan pemerintah tidak terealisasi. Saat ini pemerintah mencanangkan
target swasembada gula akan tercapai pada tahun 2014. Untuk mencapai target
tersebut, sejak tahun 2004 pemerintah melakukan suatu Program Revitalisasi
Industri Gula Nasional. Tentunya keberhasilan program ini sangat berkaitan
dengan kemampuan industri gula dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan
domestiknya yang selama ini belum terbukti.
6
Ketidakmampuan produksi dalam negeri memenuhi kebutuhan nasional
disebabkan oleh inefisiensi pengolahan yaitu kapasitas dan efisiensi teknis pabrik
gula yang sangat rendah. Rendahnya tingkat efisiensi pabrik gula disebabkan oleh
tingginya biaya produksi dan umur mesin pabrik gula yang sudah tua. Hal ini
menyebabkan rendemen tebu yang diterima petani rendah dan kualitas gula yang
diproduksi juga menjadi kurang baik. Selain karena faktor inefisiensi, rendahnya
rendemen tebu juga karena tidak diterapkannya teknologi penggunaan varietas
bibit unggul pada budidaya tebu sehingga kualitas tebu giling yang dihasilkan
petani juga rendah.
Data yang ada menunjukkan bahwa struktur produksi gula dan rendemen
tebu cenderung mengalami penurunan. Rendemen Indonesa tidak pernah lagi
mencapai 15 persen seperti yang pernah terjadi pada tahun 1929. Rendemen
tertinggi hanya 8.1 persen pada 2008 dan turun kembali tahun 2009 menjadi 7.76
persen dan semakin menurun pada tahun 2010 menjadi 6.96 persen (Dewan Gula
Indonesia, 2012). Hal ini menjadi pemicu langkah pemerintah melakukan impor
gula yang terus mengalami peningkatan. Dampak dari membanjirnya impor gula
adalah turunnya harga gula di pasar domestik. Penurunan ini tentunya akan
menyebabkan harga gula domestik menjadi lebih rendah daripada harga pokok
produksi gula. Kondisi ini yang selanjutnya menyebabkan gula dalam negeri
Indonesia menjadi tidak kompetitif lagi dibandingkan gula impor sehingga
Indonesia menjadi sasaran pasar impor gula dunia.
Harga gula dunia ini merupakan referensi bagi produsen dan importir
ketika bertransaksi. Harga gula mentah pada Bursa Berjangka New York terbilang
fluktuatif. Demikian juga dengan harga gula kristal rafinasi pada London
International Financial Futures and Options Exchange (LIFFE). Setelah naik
pada kisaran 32.04 cents per pound untuk gula kristal rafinasi dan 34.78 cents per
pound untuk gula mentah kembali menunjukkan gejala penurunan baik pada
kuartal I maupun ke II tahun 2011. Penurunan ini disebabkan stok gula dunia yang
diperkirakan melimpah terkait dengan kenaikan produksi. Namun demikian harga
gula dunia yang lebih murah ini berpotensi mendorong pabrik gula kristal rafinasi
untuk lebih meningkatkan impor gula mentah (raw sugar). Harga gula mentah
yang tinggi ini merupakan motivator bagi para petani untuk menanam tebu dan
7
perbaikan dalam praktek usaha pertaniannya. Soewandi (2012) menyatakan
penurunan harga gula dunia perlu diwaspadai terkait dengan status Indonesia
sebagai produsen sekaligus pengimpor gula. Dimana perubahan harga gula di
pasar dunia akan berdampak terhadap terbentuknya harga di pasar domestik.
Pencegahan masuknya gula kristal rafinasi yang notabene mendapat fasilitas
keringanan tarif 0-5 persen ke pasar konsumen harus menjadi komitmen negara
terkait dengan perlindungan produksi berbasis sumberdaya lokal.
Terlebih lagi saat ini pemerintah melakukan kesepakatan ACFTA, dimana
selama hampir setengah dekade penerapan ACFTA, perkembangan yang terlihat
semakin memperkuat kekhawatiran dan ketidakberdayaan Indonesia yang tidak
siap menghadapi persaingan ketat dalam perdagangan bebas. Pemerintah melalui
beberapa kementerian dan instansi telah melakukan usaha-usaha guna
meningkatkan daya saing produk Indonesia, terutama setelah pemberlakuan
kesepakatan ACFTA. Dalam perjanjian ACFTA, komoditas gula dikategorikan
sebagai komoditas High Sensitive List (HSL) sehingga masih diperbolehkan
adanya intervensi pemerintah berupa tarif dan akan mengalami penurunan tarif
mulai tanggal 1 Januari 2015. Sehingga masih ada waktu bagi pemerintah untuk
membangkitkan kembali industri gula nasional.
Implikasi jangka panjang yang perlu diwaspadai adalah berbaliknya neraca
perdagangan sehingga Indonesia menjadi pasar produk China dan ASEAN lain.
Cadangan devisa China pada tahun 2009 sebesar US$ 2.13 trilliun dan dalam
jangka waktu enam bulan telah bertambah menjadi sebesar US$ 185.6 miliar. Hal
ini menunjukan bahwa China dapat memborong sumber komoditas ekspor sektor
pertanian di Malaysia, Thailand dan Indonesia (Irianto, 2009). Penghapusan tarif
impor dapat menjadi ancaman dengan semakin banyaknya gula impor yang akan
memenuhi pasar dalam negeri. Oleh karena itu, untuk mengantisipasi terjadinya
perubahan faktor lingkungan internal dan eksternal dalam membangkitkan
kembali industri gula nasional dalam era perdagangan bebas ACFTA maka
menarik untuk dilakukan penelitian yang mampu mengevaluasi kebijakankebijakan periode historis dan strategi kebijakan antisipatif dimasa mendatang
sehingga kebangkitan industri gula nasional lebih berdayaguna baik bagi
kesejahteraan produsen, konsumen maupun perekonomian nasional.
8
1.2. Perumusan Masalah
Gula sebagai komoditas penting dan strategis bagi masyarakat tidak hanya
dirasakan pentingnya bagi konsumen sebagai pengguna akhir tetapi juga bagi
kalangan produsen yang mengolah komoditi ini dengan value added tersendiri.
Sedangkan disisi lain, industri gula nasional menghadapi permasalahan yang
cukup kompleks. Hal ini membuat semakin perlunya penelitian terkait dengan
implementasi kebijakan perdagangan dalam skema ACFTA yang berhubungan
dengan intervensi kebijakan industri gula negara eksportir dan importir gula pada
negara-negara ASEAN dan China serta strategi kebijakan terkait dengan
kebangkitan industri gula nasional.
Industri
gula
dalam
negeri
masih
dihadapkan
pada
persoalan
ketidakmampuan dalam memenuhi kebutuhan gula baik untuk konsumsi langsung
(rumah tangga) maupun konsumsi tidak langsung (industri) yang selalu
mengalami peningkatan setiap tahunnya. Ketidakmampuan ini ditunjukkan pula
dengan kegagalan realisasi program swasembada gula tahun 2007, 2008, dan
2009. Rencana swasembada gula selanjutnya dicanangkan oleh pemerintah akan
terealisasi pada tahun 2014, dimana tepat satu tahun sebelum gula terlibat dalam
liberalisasi perdagangan bebas ACFTA. Program Revitalisasi Industri Gula 20102014 menjadi salah satu program prioritas untuk terwujudnya target swasembada
gula 2014 sekaligus menutup neraca perdagangan gula nasional. Melalui program
revitalisasi ini pemerintah menargetkan produksi gula nasional dapat mencapai
5.70 juta ton pada tahun 2014 yang terdiri dari 2.96 juta ton gula konsumsi dan
2.75 juta ton gula kristal rafinasi (Renstrabun, 2010).
Swasembada gula dapat tercapai dan keterlibatan gula dalam liberalisasi
perdagangan bebas ACFTA dapat menjadi peluang bagi Indonesia untuk
memperoleh surplus dari perdagangan tersebut apabila pemerintah mengatasi
permasalahan pada industri gula secara serius. Permasalahan pada industri gula
nasional tidak hanya on farm tetapi juga off farm. Berdasarkan uraian sebelumnya
maka secara rinci permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :
1. Ketidakmampuan produksi gula nasional memenuhi kebutuhan gula
menyebabkan kecenderungan impor gula di Indonesia semakin meningkat.
Inefisiensi ekonomis yang selama ini terjadi dalam struktur industri gula
9
domestik menyebabkan Indonesia tidak memiliki daya saing dalam
menghadapi gula impor (Kementerian Perindustrian, 2009). Lebih jauh
membiarkan ketergantungan kebutuhan pokok pada kran impor ini sama
artinya dengan membiarkan industri gula terus mengalami kemunduran.
2. Masalah swasembada gula sudah sangat sering disebut sebagai salah satu
tujuan nasional yang mudah dicapai. Hal ini mengingat Indonesia pernah
menjadi eksportir gula kedua di dunia. Akan tetapi, target peningkatan
produksi yang seringkali dicanangkan pemerintah setiap tahunnya tidak dapat
tercapai. Kementerian Pertanian (2012) menyatakan bahwa target produksi
5.7 juta ton gula yang terdiri dari 2.9 juta ton gula kristal putih dan 2.7 juta
ton gula kristal rafinasi akan terpenuhi apabila penyediaan lahan minimal
seluas 350 ribu hektar, investasi pembangunan pabrik gula baru dan
revitalisasi pabrik gula berjalan sesuai dengan rencana. Namun karena
penyediaan areal baru belum dapat dipenuhi, maka pemerintah melakukan
revisi target pencapaian produksi untuk tahun 2011.
3. Indonesia menjadi satu-satunya negara yang masih menganut dualisme gula,
yaitu gula kristal putih (GKP) dan gula kristal rafinasi (GKR), sedangkan
negara lain sudah menganut satu gula dimana hanya ada gula dan gula
mentah saja. Natsir (2012) menyatakan, sebagai negara yang menganut
dualisme gula mekanisme perdagangan, distribusi, dan produksi gula diatur
oleh Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah. Namun, kenyataanya
pemerintah kurang tegas dalam pengaturan dan pengawasannya. Hal ini yang
menyebabkan gula kristal rafinasi yang notabene kualitasnya lebih putih dan
diperuntukan bagi industri merembes ke pasar konsumsi.
4. Tim Nasional Revitalisasi Gula (2010) menyatakan bahwa masalah kebijakan
fiskal seperti tarif bea masuk, belum sepenuhnya mendukung pengembangan
industri gula Indonesia. Pemberlakuan kebijakan keringanan tarif impor
sebesar 0-5 persen yang selama ini diberlakukan pemerintah terhadap gula
mentah (raw sugar) berpengaruh pada keragaan perdagangan gula secara
simultan, dimana perubahan keragaan perdagangan gula ini berdampak pula
terhadap perubahan kesejahteraan pelaku perekonomian gula. Hal ini muncul
sehubungan dengan kecenderungan terus menurunnya harga gula dunia baik
10
untuk raw sugar maupun white sugar dikarenakan meningkatnya produksi di
sejumlah negara produsen utama yang potensial menambah stok dunia.
Pemberian fasilitas keringanan tarif ini berpotensi mendorong pabrik gula
kristal rafinasi lebih memilih mengimpor gula mentah sehingga petani akan
kembali masuk dalam perangkap liberalisasi perdagangan gula yang sarat akan
distorsi.
5. Kebijakan pemerintah dengan menetapkan harga patokan petani (HPP) dalam
era liberalisasi perdagangan yang kini dijalankan merupakan salah satu bentuk
ketidakefisienan kebijakan. HPP gula ditujukan pemerintah untuk melindungi
kepentingan petani. Dimana apabila harga lelang berada dibawah HPP maka
selisih harga akan dibayarkan pemerintah kepada petani yang disebut dana
talangan. Namun yang terjadi adalah harga lelang tidak pernah berada dibawah
HPP gula sehingga harga dasar gula tersebut yang menjadi patokan pabrik gula
atau pedagang sebagai harga terendah (KPPU, 2010).
6. Lembaga keuangan atau perbankan belum optimal dalam mendukung
Program Revitalisasi Industri gula Nasional yang direncanakan oleh
pemerintah untuk mencapai Swasembada Gula 2014. Petani masih
mengalami kesulitan dalam mengakses kredit karena rumitnya persyaratan
yang
harus
dipenuhi
petani
untuk
mendapatkan
kredit.
Sehingga,
permasalahan modal masih menjadi problematika bagi petani tebu rakyat
untuk persiapan penanaman dan pemanenan tebu (Tim Nasional Revitalisasi
Industri Gula, 2009).
Untuk menyederhanakan permasalahan industri gula nasional yang begitu
kompleks maka penelitian ini memerlukan seperangkat model ekonometrika yang
komprehensif sehingga mampu mengintegrasikan perubahan-perubahan internal
maupun eksternal pada keterpaduan perdagangan komoditas gula serta
dampaknya terhadap kesejahteraan konsumen, produsen serta penerimaan
pemerintah dalam skema liberalisasi perdagangan ACFTA.
1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah dikemukakan di atas,
maka secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengkaji prospek perdagangan
11
gula Indonesia dalam kerangka implementasi perjanjian perdagangan bebas
ASEAN-China, sedangkan secara khusus penelitian ini bertujuan untuk :
1.
Menganalisis keragaan pasar gula Indonesia ditinjau dari sisi permintaan dan
penawaran gula serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.
2.
Mengevaluasi dampak kebijakan ekonomi di sektor pertanian terhadap
kinerja industri gula Indonesia dan kesejahteraan pelaku ekonomi gula pada
era pra liberalisasi ACFTA (2004-2010).
3.
Meramalkan dampak kebijakan ekonomi di sektor pertanian dan faktor
eksternal berkaitan dengan liberalisasi perdagangan gula dalam skema
ACFTA terhadap kinerja industri gula dan kesejahteraan pelaku ekonomi gula
pada periode 2011-2014 dan 2015-2020.
Adapun manfaat hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan
masukan dan pertimbangan bagi pemerintah dalam membuat kebijakan dan
merumuskan strategi industri gula domestik dalam implementasi kerangka
perjanjian pasar bebas ASEAN-China.
1.4.
Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini difokuskan untuk mengkaji prospek perdagangan gula
Indonesia pada era liberalisasi perdagangan gula ACFTA dan dampak kebijakan
ekonomi di sektor pertanian dan faktor eksternal terhadap kinerja industri gula dan
kesejahteraan pelaku ekonomi gula Indonesia. Oleh karena itu, ruang lingkup dan
keterbatasan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Penelitian ini dibatasi pada era liberalisasi perdagangan gula ACFTA tahun
2015 dan tercapainya target swasembada gula yang dilakukan pemerintah
melalui Program Revitalisasi Industri Gula Nasional, sehingga kebijakankebijakan yang dilakukan dalam penelitian ini berada dalam lingkup kedua
hal tersebut.
2. Disagregasi pengusahaan perkebunan tebu dalam penelitian ini hanya
dilakukan berdasarkan status pengusahaan perkebunan tebu yaitu perkebunan
besar negara, perkebunan besar swasta, dan perkebunan rakyat. Disagregasi
berdasarkan provinsi ataupun kepulauan tidak dilakukan, sehingga kebijakan
pemerintah yang akan dievaluasi tidak sampai pada tingkat tersebut.
12
3. Penelitian ini tidak mengkaji pasar input usahatani tebu dan produk industri
tersiernya.
4. Kajian ini tidak melakukan analisis secara detail mengenai proses dalam
setiap subsistem produksi, tetapi melihat bagaimana kemampuan pabrik gula
dalam melakukan kegiatan produksi.
5. Karena ketiadaan data time series produksi tebu, maka data produksi yang
digunakan dalam penelitian ini sudah dalam wujud gula hablur, sehingga
produktivitas yang digunakan juga merupakan produktivitas gula hablur.
6. Dalam penelitian ini baik Gula Kristal Putih (GKP) maupun Gula Kristal
Rafinasi (GKR) dianggap sama atau homogen yang selanjutnya disebut
sebagai gula, sedangkan untuk gula mentah dilakukan konversi setara gula.
7. Permintaan gula Indonesia hanya didisagregasi berdasarkan penggunanya
yaitu konsumen rumah tangga dan industri. Untuk konsumen industri tidak
dibedakan berdasarkan penggunaan bahan bakunya, baik yang menggunakan
gula kristal putih, gula kristal rafinasi maupun gula mentah dianggap sama.
8. Data impor gula yang digunakan merupakan data resmi. Data impor gula
yang tidak resmi, ilegal, dan tidak tercatat seperti penyelundupan tidak
diakomodir dalam penelitian ini.
9. Data harga impor gula yang digunakan dalam penelitian ini tidak dibedabedakan berdasarkan asal negara impornya. Data harga impor gula yang
digunakan adalah data harga impor gula Indonesia.
10. Simulasi kebijakan yang dilakukan dalam penelitian ini terdiri dari (1)
simulasi tunggal yang mencakup kebijakan ekonomi di sektor pertanian dan
perubahan faktor eksternal, dan (2) simulasi kombinasi yang mencakup
keduanya.
11. Simulasi kebijakan tarif impor yang dilakukan dalam penelitian ini dilakukan
sesuai dengan skema penghapusan dan penurunan tarif yang telah disepakati
pemerintah dalam kerangka ACFTA, sehingga tidak dilakukan simulasi tarif
diluar perjanjian tersebut.
13
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Sejarah Singkat ASEAN-China Free Trade Area dan Penurunan Tingkat
Tarif di Indonesia
ACFTA (ASEAN-China Free Trade Area) adalah kesepakatan dari
negara-negara ASEAN untuk membentuk suatu kawasan perdagangan bebas
dengan negara China. Pada bulan November 2001 melalui ASEAN-China Summit
di Bandar Sri Begawan-Brunei Darussalam, China menawarkan sebuah proposal
ASEAN-China Free Trade Area untuk jangka waktu 10 tahun ke depan. Lima
bidang kunci kerjasama adalah pertanian, telekomunikasi, pengembangan
sumberdaya manusia, investasi antar-negara, dan pengembangan di sekitar area
sungai Mekong. Pertemuan ini ditindaklanjuti pada bulan November 2002 dengan
penandatanganan “The Framework Agreement on A Comprehensive Economic
Cooperation (CEC)” yang dihadiri oleh Menteri Ekonomi negara-negara ASEAN
dan China. Naskah ini menjadi landasan bagi pembentukan ACFTA. Kesepakatan
CEC dalam pertemuan tersebut juga mengandung tiga pilar yaitu liberalisasi,
fasilitasi, dan kerjasama ekonomi. Liberalisasi meliputi perdagangan bebas
barang, jasa, dan investasi dalam kawasan ACFTA. Namun, dalam kesepakatan
tersebut juga diberikan differential treatment and flexibility bagi negara-negara
anggota ASEAN yang belum berkembang seperti Kamboja, Laos, Myanmar, dan
Vietnam.
Peserta
ASEAN-China
Summit
pada
bulan
November
2004
menandatangani naskah “The Framework Agreement on Trade in Good” yang
berlaku pada 1 Juli 2005. Berdasarkan kesepakatan ini, enam negara ASEAN
(Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura, Filipina, Brunei Darussalam, dan
China) sepakat melakukan penurunan tarif secara bertahap dengan target
penurunan tarif hingga nol persen. Untuk negara ASEAN yang diberikan
differential treatment and flexibility akan mengikuti kesepakatan ACFTA pada
tahun 2015.
Adapun secara rinci tahapan peristiwa yang akhirnya mencetuskan
ACFTA dimana mempengaruhi kesepakatan pemerintah Indonesia terhadap
perdagangan bebas dengan ASEAN-China disajikan pada Tabel 1.
14
Tabel 1. Tahapan Perjalanan ASEAN Free Trade Area dan ASEAN-China
Free Trade Area
Waktu
Peristiwa
1991
Kesepakatan AFTA (dipercepat menjadi tahun 2001)
1991
The People’s Republic of China (PRC) secara resmi menjadi
mitra dialog ASEAN
1997 (Desember)
Joint Statement kepala negara: ASEAN-PRC sebagai sahabat
dan mitra yang saling percaya menyongsong abad 21
2000 (November)
2001 (Maret)
Pada KTT ASEAN-PRC para kepala negara menyepakati
gagasan pembentukan ACFTA
Pembentukan ASEAN-China Economic Expert Group
Pada
KTT
ASEAN-China
para
kepala
negara
menandatangani Framework Agreement on Comprehensive
Economic Cooperation between ASEAN and PRC
2003
Perundingan ACFTA dimulai dan selesai bulan Juni 2004
Bali Concord (proposal Indonesia “ASEAN Community"
2003
diterima): AFTA menjadi bagian dari ASEAN Economic
Community (AEC)
2004 (November) Kesepakatan ACFTA untuk barang ditandatangani
Kesepakatan ASEAN Charter dan AEC Blue Print
ditandatangani 2008 (Desember) ASEAN Charter berlaku
2007
Sumber : Basri (2010)
Perjalanan ACFTA hingga disetujui pemerintah Indonesia cukup lama
yaitu dimulai pada tahun 1991. Ketika ASEAN menyepakati China sebagai rekan
saing dalam perdagangan bebas, secara tidak langsung kesepakatan ini
mengarahkan sistem ekonomi negara anggota ASEAN bertransformasi ke sistem
ekonomi liberalis China. Tujuan dari Framework Agreement ACFTA ini adalah
(1) memperkuat dan meningkatkan kerjasama ekonomi, perdagangan dan
investasi kedua pihak, (2) meliberalisasikan perdagangan barang, jasa, dan
investasi, (3) mencari area baru dan mengembangkan kerjasama ekonomi yang
saling menguntungkan kedua pihak, dan (4) memfasilitasi integrasi ekonomi yang
lebih efektif dengan negara anggota baru ASEAN dan menjembatani gap yang
ada di kedua belah pihak. Selain itu, kedua pihak juga menyepakati untuk
memperkuat dan meningkatkan kerjasama ekonomi melalui (1) penghapusan tarif
dan hambatan non tarif dalam perdagangan barang, (2) liberalisasi secara
progresif perdagangan jasa, dan (3) membangun rezim investasi yang kompetitif
dan terbuka dalam kerangka ACFTA.
15
Penurunan dan penghapusan tarif perdagangan barang, telah disepakati
melalui tiga skenario yaitu (1) Early Harvest Programme (EHP), (2) Normal
Track Programme, dan (3) Sensitive dan Highly Sensitive. EHP bertujuan untuk
mempercepat implementasi penurunan tarif produk dimana program penurunan
tarif bea masuk dilakukan secara bertahap dan efektif dimulai pada 1 Januari 2004
bagi produk EHP dan menjadi nol persen pada 1 Januari 2006. Cakupan produk
yang masuk ke dalam EHP adalah produk yang masuk ke dalam Chapter 01 s/d
08 yaitu hewan hidup (01), daging dan produk daging dikonsumsi (02), ikan (03),
dairy product atau produk susu (04), produk hewan lainnya (05),tumbuhan (06),
sayuran dikonsumsi kecuali jagung manis (07), dan buah-buahan dikonsumsi (08).
Jumlah kelompok EHP meliputi 530 pos tarif (HS 10 digit), sementara produk–
produk spesifik yang ditentukan melalui kesepakatan bilateral antara lain kopi,
minyak kelapa (CPO), bubuk kakao, barang dari karet, dan perabotan.
Penurunan tarif bea masuk pada Normal Track Programme dimulai sejak
tanggal 20 Juli 2005, yang menjadi nol persen pada tahun 2010, dengan
fleksibilitas pada produk-produk yang akan menjadi nol persen pada tahun 2012.
Adapun produk-produk dalam kelompok Sensitive, akan dilakukan penurunan
tarif mulai tahun 2012, dengan penjadwalan bahwa maksimun tarif bea masuk
20 persen pada tahun 2012 dan akan menjadi 0-5 persen mulai tahun 2018.
Komoditas yang masuk daftar High Sensitive List (HSL) seperti beras, jagung,
kedelai, dan gula, tarif bea masuknya akan diturunkan atau dihapuskan menjadi
0-50 persen mulai 1 Januari 2015 (Kementerian Keuangan, 2011).
Preferensi penurunan tarif untuk ketiga skenario tersebut disepakati
melalui Pengaturan Surat Keterangan Asal Barang (SKA) dengan ketentuan
kandungan lokal ACFTA sebesar 40 persen yang secara operasional
menggunakan SKA Form E. Penurunan dan penghapusan tarif bea masuk dalam
skema ACFTA dilakukan secara bertahap. Hal ini dimaksudkan untuk tetap
menjaga kepentingan perlindungan terhadap produk Indonesia yang dianggap
belum mampu untuk bersaing dengan produk negara peserta FTA.
Penurunan tarif di Indonesia telah dilakukan secara sepihak sejak era
reformasi. Hal ini terjadi atas dorongan IMF sewaktu Indonesia dilanda krisis
pada tahun 1997 yang mengharuskan Indonesia untuk lebih terbuka pada
16
perdagangan. Pada prosesnya penurunan tarif di Indonesia dilakukan secara
bertahap yaitu dari rata-rata 6 persen, 4 persen di tahun 2008 kemudian dari 4
persen ke 3 persen tahun 2009, dan memasuki tahun 2010 menjadi nol persen
melalui Normal Track pada perdagangan ACFTA (Pasaribu, 2010).
2.2. Profil Struktur Industri Gula Indonesia
Gula terdiri dari beberapa jenis yang dilihat dari tingkat keputihannya
melalui standar ICUMSA (Internatioal Commission for Uniform Methods of
Sugar Analysis). Semakin putih gula maka semakin kecil nilai ICUMSA dalam
skala internasional unit (IU) sebagai berikut :
Raw Sugar (Gula Mentah)
Raw sugar adalah gula mentah yang berbentuk kristal berwarna
kecokelatan dengan bahan baku dari tebu. Gula mentah ini merupakan gula
setengah jadi dari pabrik-pabrik penggilingan tebu yang tidak mempunyai unit
pemutihan. Jenis gula gula mentah ini yang paling banyak diimpor untuk diolah
menjadi gula kristal putih ataupun gula kristal rafinasi. Untuk menghasilkan gula
mentah diperlukan proses dari penilaian tebu → penggilingan → pemurnian nira
→ penguapan → pengkristalan merah (gula mentah).
Refined Sugar (Gula Kristal Rafinasi)
Gula kristal rafinasi ini merupakan hasil olahan lebih lanjut dari gula
mentah. Adapun tahapan produksi gula kristal rafinasi yaitu dari raw sugar
preparation affination → karbonasi → penyaringan → pertukaran ion →
evaporasi → sentrifugal → gula kristal rafinasi → pengemasan. Pemasaran gula
kristal rafinasi dilakukan secara khusus oleh distributor gula khusus yang telah
mendapat persetujuan serta penunjukan dari pabrik gula kristal rafinasi yang
disahkan oleh Departemen Perindustrian.
Pemenuhan gula kristal rafinasi dalam negeri sebelum tahun 2000
dilakukan melalui impor. Namun dengan ekspektasi harga yang terus meningkat
dan produksi dula dalam negeri yang menurun, pada tahun 2003-2005 mulai
terdapat tiga pelaku usaha gula kristal rafinasi. Kemudian pada tahun 2006-2008
usaha industri gula kristal rafinasi bertambah menjadi 7 pelaku usaha, dan
bertambah lagi di tahun 2009 menjadi 8 pelaku usaha yang mempu mempunyai
17
kemampuan pasokan industri rafinasi mencapai sekitar 2 juta ton per tahun.
Berdasarkan data KPPU (2010) pelaku usaha dalam industri gula kristal rafinasi
antara lain :
1. PT Angles Product, Bojonagara, Serang-Banten
2. PT Jawamanis, Cilegon-Banten
3. PT Sentra Usahatama Jaya, Cilegon-Banten
4. PT Permata Dunia Sukses Utama, Cilacap-Jawa Tengah
5. PT Dharmapala Usaha Sukses, Cilacap-Jawa Tengah
6. PT Sugar Labinta
7. PT Makassar Tene
8. PT Duta Sugar International.
Pelaku industri gula kristal rafinasi dalam negeri sepenuhnya mengimpor
gula mentah untuk kemudian diolah menjadi gula kristal rafinasi. Adanya
peningkatan jumlah pabrik gula dalam negeri juga meningkatkan jumlah gula
mentah yang diimpor setiap tahunnya. Berikut ini adalah data peningkatan impor
gula mentah untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri yang
membutuhkan gula kristal rafinasi.
Tabel 2. Jumlah Impor Gula Mentah di Indonesia Tahun 2003-2009
Tahun
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
Perusahaan Rekomendasi (ton) Izin Impor (ton)
5
394 070
398 070
5
923 000
757 750
5
1 226 000
999 100
6
1 081 000
1 056 250
6
1 492 450
1 447 700
7
1 661 230
1 404 730
8
1 670 000
1 670 000
Jumlah (ton)
350 582
478 250
808 200
952 387
1 255 522
1 231 470
1 670 000
Sumber : GAPMMI, 2010
Industri yang menjadi konsumen gula kristal rafinasi antara lain industri
makanan, minuman, dan farmasi. Sejak tahun 2002 hingga September 2008
pemerintah memperbolehkan industri makanan dan minuman mengimpor sendiri
gula kristal rafinasi. Namun seiring dengan berkembangnya industri gula kristal
rafinasi dalam negeri dan terus menurunnya harga dunia gula kristal rafinasi yang
ternyata berimbas kepada petani gula, maka kemudian pada bulan September
2008 pemerintah membatasi impor gula kristal rafinasi yang dilakukan oleh
industri makanan dan minuman. Industri makanan dan minuman tersebut
18
kemudian diarahkan untuk melakukan pembelian gula kristal rafinasi dari produk
pabrik gula kristal rafinasi dalam negeri.
Gula Kristal Putih (Gula Pasir)
Gula kristal putih merupakan gula yang paling banyak digunakan untuk
rumah tangga dan diproduksi oleh pabrik-pabrik gula di dekat perkebunan tebu
dengan cara menggiling tebu dan melakukan proses pemutihan. Gula kristal putih
dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu gula kristal putih ICUMSA 250, Gula
kristal putih 2 dengan nilai ICUMSA 250-350, dan Gula kristal putih 3 dengan
nilai ICUMSA 350-450. Semakin tinggi nilai ICUMSA maka warna gula akan
semakin cokelat dan rasanya akan semakin manis. Tahapan proses memproduksi
gula kristal putih antara lain tebu → gilingan → nira → evaporator → kristal →
sentrifugal → sulfitasi → gula kristal putih (gula pasir).
Pelaku industri gula kristal putih didominasi oleh BUMN, yaitu PTPN dan
RNI dengan jumlah sebanyak hampir 10 perusahaan yang tersebar di Pulau Jawa
dan Sumatera. Produksi gula kristal putih di dalam negeri sebagian besar berasal
dari enam pelaku usaha saja, yaitu PTPN IX, PTPN X, PTPN XI, RNI, Gunung
Madu, dan Sugar Group. Secara keseluruhan pangsa produksi gula kristal putih
dapat dilihat dalam gambar berikut :
(12) 1.36%
(10) 1.78% (11) 1.42%
(13)
0.98%
(9) 4.15%
0.84%(14)
0.38%(15)
18.96%(01)
(08) 5.59%
(07) 6.16%
(06) 6.24%
(05) 8.61%
18.72% (02)
(4) 9.16%
(01) Sugar Grop
(04) PT Gula Madu Plant
(07) PTPN IX
(10) PT Pemuka Sakti Manis Indah
(13) PTPN XIV
15.64% (03)
(02) PTPN X
(05) PT RNI
(08) PTPN VII
(11) PT Madubaru
(14) PT Gorontalo
(03) PTPN XI
(06) PT Kebon Agung
(09) PT RNI II
(12) PTPN II
(15) PT Laju Perdana Indah
Sumber : Dewan Gula Indonesia, 2010
Gambar 1. Pangsa Produksi Gula Kristal Putih Perusahaan di Indonesia
Tahun 2009
19
Berdasarkan gambar tersebut dapat diketahui bahwa PTPN X, PTPN XI,
dan Sugar Group merupakan tiga pemain utama yang masing-masing pangsa
produksinya di tahun 2009 yaitu 18.72 persen, 15.64 persen, dan 18.96 persen.
Sugar Group merupakan satu-satunya perusahaan yang telah efisien dalam
industri gula sehingga perusahaan ini mampu menjadi leader dalam industri gula
kristal putih. Kemampuan industri gula swasta didukung oleh teknologi modern
dan pola usaha integratif yang telah dijalankan, sehingga terbukti mampu
memberikan daya saing yang tinggi.
2.3. Kebijakan Pemerintah terhadap Industri Pergulaan Indonesia
Industri gula merupakan salah satu industri perkebunan tertua dan
terpenting Indonesia. Industri pergulaan di Indonesia dimulai pada tahun 1673
yaitu sejak berdirinya pabrik gula tebu pertama di Batavia. Sejarah menunjukkan
bahwa Indonesia pernah mengalami era kejayaan industri gula pada tahun 1930
dimana jumlah pabrik gula yang beroperasi adalah 179 pabrik gula, produktivitas
sekitar 14.8 persen dan rendemen mencapai 11.0 persen hingga 13.8 persen.
Produksi puncak pernah mencapai sekitar 3 juta ton dan ekspor gula mencapai
sekitar 2.4 juta ton. Hal ini didukung oleh kemudahan dalam memperoleh lahan
yang subur, tenaga kerja murah, prioritas irigasi, dan disiplin dalam penerapan
teknologi (Sudana, 2000).
Sepanjang sejarahnya, industri gula termasuk produk yang paling
teregulasi diantara produk-produk lainnya. Industri gula merupakan salah satu
yang tingkat distorsinya paling tinggi. Hal ini dikarenakan disamping gula
termasuk dalam produk pokok yang bernilai strategis dalam kebutuhan
masyarakat, struktur pasar gula oligopoli. Dikatakan ologopoli sebab sekalipun
perkebunan tebu diusahakan oleh ribuan petani namun produksi gula hanya
dihasilkan oleh puluhan pemain yaitu pabrik gula nasional yang bernaung
dibawah pengusahaan negara maupun swasta.
Sebagai komoditas yang strategis, pemerintah telah menerapkan berbagai
kebijakan yang memiliki efek langsung maupun tidak langsung terhadap industri
pergulaan nasional. Kebijakan yang diterapkan pemerintah tersebut tidak hanya
berkaitan dengan input, produksi, dan pemasaran saja tetapi sudah mencakup
20
dimensi yang cukup luas hingga pada kebijakan harga dan kebijakan impor.
Kebijakan yang mempengaruhi pasang surut industri pergulaan nasional disajikan
pada Tabel 3.
Tabel 3. Rezim Kebijakan Pergulaan Nasional
Kebijakan
INPRES No. 9 Tahun
1975, 22 April 1975
Perihal
Tujuan
Intensifikasi tebu
(TRI)
Peningkatan produksi gula
serta peningkatan petani tebu
Kepmen Perdagangan
dan Koperasi
No.122/Kp/III/81, 12
Maret 1981
Tata niaga gula pasir
dalam negeri
Menjamin kelancaran
pengadaan dan penyaluran
gula pasir serta peningkatan
pendapatan petani
Kepmenkeu No.
342/KMK.011/1987
Penetapan harga gula
pasir produksi dalam
negeri dan impor
Menjamin stabilitas harga,
devisa, serta kesesuaian
pendapatan petani dan pabrik
Budidaya tanaman
Memberikan kebebasan
kepada petani untuk
menanam komoditas sesuai
dengan prospek pasar
UU No.12/1992
Pemberian peranan pada
Inpres No 5 Tahun 1997, Program pengembangan
pelaku bisnis dalam rangka
29 Desember 1997
tebu rakyat
perdagangan bebas
Inpres No. 5/1998, 21
Januari 1998
Penghentian
pelaksanaan Inpres
No. 5/1997
Kebebasan pada petani untuk
memilih komoditas sesuai
dengan Inpres No. 12/1992
Kep Menperindag No.
25 /MPP/Kep/1/1998
Tata niaga impor gula untuk
Komoditas yang diatur menjaga kelancaran arus
tata niaga impornya
barang dilakukan oleh
importir produsen (IP)
Kepmenperindag No.
505/MPP/Kep/10/1998
Perdagangan dan
distribusi minyak
goreng dan gula pasir
Perdagangan dan distribusi
gula pasir hasil produksi PT
Perkebunan Nusantara/PT
Rajawali Nusantara Indonesia
ditetapkan oleh Menteri
Perindustrian dan
Perdagangan
Kepmenhtbun No.
282/Kpts-IX/1999, 7
Mei 1999
Penetapan harga
provenue gula pasir
produksi petani
Menghindari kerugian petani
dan mendorong peningkatan
produksi
21
Kep Menperindag No.
230/MPP/Kep/6/1999,
4 Juni 1999
Menciptakan iklim
Mencabut
perdagangan minyak goreng
Kepmenperindag No.
dan gula pasir yang
505/MPP/Kep/10/1998
berorientasi pasar
Kep Menperindag No.
364/MPP/Kep/8/1999,
5 Agustus 1999
Tata niaga impor gula
Pengurangan beban anggaran
pemerintah melalui impor
gula dengan pembatasa
jumlah importir dan izin
impor hanya untuk importir
produsen
Kep Menperindag No.
717/MPP/Kep/12/1999
Pencabutan tata niaga
impor gula dan beras
Impor gula dan beras dapat
dilaksanakan oleh importir
umum
Penetapan tarif bea
masuk atas impor
beras dan gula
Untuk menjaga kepentingan
petani dan konsumen tarif bea
masuk atas impor gula
sebesar 20 persen (gula
mentah) dan 25 persen (gula
kristal putih)
Perubahan bea masuk
Peningkatan efektivitas bea
masuk melalui penggantian
dari tarif ad-valorem menjadi
tarif spesifik
Tata niaga impor gula
Pembatasan pelaku impor
gula hanya menjadi importir
gula produsen dan importir
gula terdaftar untuk
peningkatan pendapatan
petani/produsen.
Ketentuan impor gula
Pembatasan pelaku impor
gula, jumlah pasokan gula
impor, kualitas gula, waktu
impor dan harga penyangga
atau penjamin
Kepmenkeu No.
568/KMK.01/1999
Kepmenkeu No.
324/KMK.01/2002
3 Juli 2002
Kep Menperindag No.
643/MPP/Kep/9/2002,
23 September 2002
SK Menperindag No.
527/MPP/Kep/9/2004,
17 September 2004
Perubahan atas
keputusan menteri
Kepmen Perdagangan
perindustrian dan
No.02/M/Kep/XII/ 2004,
perdagangan No.
7 Desember 2004
527/MPP/Kep/9/2004
tentang impor gula
Ketentuan bahwa impor dapat
dilakukan jika harga gula
kristal putih di tingkat petani
mencapai di atas Rp 3 800.00
per kilogram dan atau apabila
produksi atau persediaan gula
kristal putih tidak mencukupi
kebutuhan
22
Perubahan atas
Keputusan Menteri
Perdagangan
No.02/M/Kep/XII/200
Kep Menperindag No.
4 tentang perubahan
08/M-DAG/ Per/4/2005
atas Keputusan
Menperindag No.
527/2004 tentang
impor gula
Permendag No. 18/MDAG/PER/4/2007
Permenkeu No.
86/PMK.010/2005
Ketentuan impor gula tidak
hanya mengatur tentang harga
patokan tetapi juga jumlah
pasokan
Perubahan atas
keputusan Menteri
Perindustrian dan
Perdagangan No.
27/MPP/Kep/9/2004
tentang ketentuan
impor gula
Ketentuan bahwa impor dapat
dilakukan jika harga gula
kristal putih di tingkat petani
mencapai di atas Rp 4 900.00
per kilogram dan apabila
produksi atau persediaan gula
kristal putih tidak mencukupi
kebutuhan
Keringanan tarif bea
masuk atas impor gula
Gula tebu dengan ICUMSA
minimal 1200 IU bea masuk
menjadi Rp 250 per kilogram
dan gula bit, gula murni menjadi
Rp 530 per kilogram
Permentan No.
Pedoman pelaksanaan
57/Permentan/KU.430/7/ kredit ketahanan
2007
Pangan dan Energi
Besar kredit untuk usahatani
tebu Rp 12 500 000.00
Perubahan atas
keputusan Menteri
Perindustrian dan
Perdagangan No.
27/MPP/Kep/9/2004
tentang ketentuan
impor gula
Ketentuan bahwa impor dapat
dilakukan jika harga gula
kristal putih di tingkat petani
mencapai di atas Rp 5 000.00
per kilogram dan atau apabila
produksi atau persediaan gula
kristal putih tidak mencukupi
kebutuhan
Pemberlakuaan
Permenperind No.83/M- Standar Nasional
IND/Per/11/2008
Indonesia (SNI) gula
kristal rafinasi
Penggunaan sertifikat produk
tanda standart nasional secara
wajib agar menghasilkan gula
kristal rafinasi yang sesuai
dengan persyaratan SNI
Program
Permenperind No. 91/M- Restrukturisasi
IND/PER/11/2008
Mesin/Peralatan
Pabrik Gula
Dalam rangka mendukung
revitalisasi pabrik gula
melalui keringanan
pembiayaan pembelian
mesin/peralatan pabrik gula
guna peningkatan kapasitas
produksi gula nasional
Permendag No. 19/MDAG/PER/5/2008
23
Penunjukan Lembaga
Penilaian Kesesuaian
dalam rangka
Permenperind No.95/M- Penerapan/Pemberlak
IND/PER/11/2008
uan dan Pengawasan
Standar Nasional
Indonesia (SNI) Gula
Kristal Rafinasi
Permendag No. 560/MDAG/PER/4/2009
Perubahan atas
keputusan Menteri
Perindustrian dan
Perdagangan No.
27/MPP/Kep/9/2004
tentang ketentuan
impor gula
SK Mendag No.111/MDAG/2/2009
Penyempurnaan
petunjuk
pendistribusian gula
kristal rafinasi
Permenkeu
No.150/PMK.011/2009
24 September 2009
Penetapan tarif bea
masuk atas impor gula
Perubahan Kedua Atas
Peraturan Menteri
Perindustrian Nomor
91/MPermenperind No. 44/M- IND/PER/11/2008
IND/PER/4/2010
tentang Program
Restrukturisasi
Mesin/Peralatan Pabrik
Gula
Untuk melaksanakan
sertifikasi dan pengujian mutu
produk gula kristal rafinasi
Ketentuan bahwa impor dapat
dilakukan jika harga gula
kristal putih di tingkat petani
mencapai di atas Rp 5 350.00
per kilogram dan apabila
produksi atau persediaan gula
kristal putih tidak mencukupi
kebutuhan
Memberi kepastian dan
kejelasan bagi semua pihak
yang terlibat distribusi gula
kristal rafinasi
Menjaga stabilitas harga gula
dalam negeri tarif bea masuk
atas impor gula kristal
rafinasi Rp 400 per kilogram
dan gula mentah Rp 150 per
kilogram
Memperluas peserta program
restrukturisasi mesin/peralatan
pabrik gula dengan syarat
pabrik gula tidak memproduksi
gula kristal rafinasi, mengganti
sebagian/seluruh komponen
peralatan dengan teknologi
yang lebih baik
Sumber : Sudana et al.(2002) dan Susila (2005a), KPPU (2010), Kementerian Perindustrian
(2008), Kementerian Perdagangan (2009), dan Kementerian Keuangan (2009)
Pada masa pra 1975 sebagian tanaman tebu diusahakan oleh pabrik gula di
atas tanah persewaan. Tarif sewa tanah untuk tanaman tebu setiap tahun
ditetapkan oleh pemerintah yang sekaligus meliputi persewaan tanah untuk
tanaman tebu, dan tembakau. Penetapan tarif sewa tanah yang rendah setiap tahun
menimbulkan masalah karena pemilik tanah hilang minatnya untuk menyewakan
24
tanahnya pada pabrik gula. Apabila ditetapkan terlalu tinggi, maka biaya pokok
produksi gula akan menjadi tinggi pula. Amang (1993) menjelaskan bahwa pada
tahun 1975 melalui Inpres No. 9 Tahun 1975 pemerintah menghapus sistem sewa
tanah dan menggantikannya dengan sistem Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI).
Dalam sistem ini diintrodusir paket kredit dan input yang bertujuan mendorong
petani perorangan bergantung dalam suatu kelompok untuk menanam tebu
ditanahnya. Pada sistem TRI ini juga dimaksudkan agar terdapat suatu pemisahan
yang jelas antara tanggung jawab produsen tebu (dilakukan oleh petani) dan
pengolahan tebu menjadi gula pasir (oleh pabrik gula).
Pada tahun 1980 pemerintah melakukan modifikasi sistem TRI dengan
memberikan pengarahan kepada pabrik gula untuk memberi bimbingan dan
bantuan langsung kepada petani melalui Koperasi Unit Desa (KUD) baik dalam
hal penyediaan benih, pengelolaan lahan, panen, dan proses pengangkutan.
Namun demikian, Hariyati (2003) mengemukakan bahwa sejak dikeluarkannya
Inpres No. 9 Tahun 1975 telah merubah sejarah baru yang merombak sistem
persewaan perkebunan menjadi sistem tebu rakyat. Sejak saat itu kehadiran petani
sebagai partner pabrik gula menyebabkan terjadinya pemisahan tanggung jawab,
produksi, dan pengolahan, sehingga dalam produksi gula terbagi menjadi dua segi
yaitu produksi tebu dan industri pengolahannya. Pelaku utama dalam produksi
gula terbagi menjadi petani dan pabrik gula sehingga kebijakan produksi gula
tidak boleh terlepas dari perilaku keduanya.
Harapan bahwa kehidupan ekonomi petani dapat meningkat melalui
program TRI tidak terwujud. Selama pelaksanaan Inpres No. 9 Tahun 1975 segala
hal menyangkut tebu mulai dari penyediaan lahan, proses tebang, dan angkut tebu
serta penggilingan diatur dan dikuasai KUD yang ditunjuk pemerintah. Akibatnya
petani menjadi pihak yang dirugikan, tingkat keuntungan yang diperoleh petani
dari tanaman tebu lebih kecil daripada jenis tanaman lain, sehingga secara
psikologis petani kehilangan kebebasan untuk mengolah lahan pertaniannya
sendiri. Menyikapi perkembangan yang negatif akan pelaksanaan TRI serta
seiring dengan semakin menurunnya produksi gula nasional dan tingkat
kebutuhan konsumsi gula nasional yang terus meningkat pemerintah kemudian
mencabut Inpres No. 9 Tahun 1975. Pencabutan kebijakan ini diikuti dengan
25
Keputusan Menperindang No. 25/MPP/Kep/I/1998 yang intinya menetapkan
BULOG tidak lagi menangani perdagangan gula. Hafsah (2003) menyatakan
penerbitan keputusan ini terjadi karena adanya keterikatan Indonesia dengan IMF
(Internasional Monetary Fund) dengan Letter of Intent-nya terutama tentang
pelaksanaan butir nomor 44 dari Letter of Intent tersebut tentang pembebasan tata
niaga komoditi pertanian termasuk gula, yang harus dilakukan sejak Januari 1999.
Pada tahun 1999 ketika krisis ekonomi Indonesia mulai membaik harga
gula dalam negeri mengalami penurunan. Hal ini disebabkan harga gula dunia
yang terus menurun, nilai tukar rupiah yang menguat serta tidak adanya tarif
impor. Keputusan pemerintah Indonesia untuk mencabut monopoli BULOG
dalam pengadaan gula dan menerapkan tarif impor gula sebesar nol persen
mengakibatkan industri gula lokal terancam. Kenyataannya pada saat itu, gula
impor lebih murah daripada harga gula lokal menunjukkan ketidakefisienan dari
industri gula lokal di Indonesia sehingga banyak pabrik gula domestik terancam
bangkrut karena tidak dapat bersaing dengan gula impor. Wibowo (2009)
menyatakan kebijakan tersebut telah membawa ekonomi pertebuan nasional
berada pada titik nadir menuju liberalisasi yang menekan produksi tebu petani.
Tidak ada langkah tegas dari pemerintah untuk merevitalisasi agribisnis tebu
sehingga parameter produksi dan produktivitas serta nilai tambah agribisnis
berbasis tebu benar-benar menunjukkan kinerja yang memprihatinkan.
Pemerintah mengeluarkan SK Menhutbun No. 228/KPTS-IV/1999 untuk
melindungi produsen dalam negeri dengan menetapkan harga provenue gula
sebesar Rp 2 500.00 per kilogram. Namun, kebijakan ini tidak didukung oleh
rencana dan tindak lanjut dari pemerintah sehingga kebijakan ini menjadi tidak
efektif. Sebagai contoh, ketika pemerintah menetapkan kebijakan ini ternyata
pemerintah dan BUMN perkebunan tidak memiliki dana yang memadai.
Akibatnya kebijakan tersebut tidak terealisasi dan harga gula petani masih
mengalami ketidakpastian. Pemerintah kemudian mengambil jalan keluar dengan
mengeluarkan SK Menperindag No. 364/MPP/Kep/8/1999 dengan melakukan
pembatasan jumlah impor dan hanya memberikan izin impor kepada importir
produsen. Melalui kebijakan ini pemerintah mampu mengendalikan volume impor
sehingga harga gula dalam negeri dan kesejahteraan petani dapat ditingkatkan.
26
Kebijakan importir produsen tersebut ternyata masih kurang efektif, baik
untuk mengangkat harga gula di pasar domestik maupun mengontrol volume
impor. Walau tidak ada data pendukung yang memadai, kegagalan tersebut
terutama disebabkan oleh stok gula dalam negeri sudah terlalu banyak serta masih
adanya gula impor ilegal. Situasi ini membuat harga gula di pasar domestik tetap
melemah. Desakan petani dan pabrik gula terhadap pemerintah untuk melindungi
industri gula dalam negeri semakin kuat (Dewan Gula Indonesia, 1999). Dalam
jangka waktu 4 bulan melalui surat keputusan Menteri Perindustrian dan
Perdagangan No. 717/MPP/Kep/12/1999 pemerintah mencabut tata niaga impor
gula dan beras yang mulai berlaku sejak tanggal 1 Januari 2000, sehingga
perdagangan komoditas gula diserahkan kepada mekanisme pasar.
Melalui surat Keputusan Menteri Keuangan No. 568/KMK.01/1999 yang
mulai diberlakukan sejak 1 Januari 2000 maka semua importir baik importir
umum (IU) maupun importir produsen (IP) termasuk BULOG diperbolehkan
mengimpor gula dengan ketentuan dikenakan bea masuk sebesar 20 persen untuk
gula mentah dan 25 persen untuk gula kristal putih. Namun, karena dirasa tarif advalorem tersebut kurang efektif maka melalui Keputusan Menteri Keuangan No.
324/KMK.01/2002 tarif tersebut diganti menjadi tarif spesifik yaitu Rp 550.00 per
kilogram untuk gula mentah dan Rp 700.00 per kilogram untuk gula putih.
Tingkat tarif ini terus berlaku hingga tahun 2004.
Pada tahun 2004 dalam rangka mendukung program akselerasi pemerintah
melakukan perbaikan terhadap kebijakan sebelumnya, yaitu dengan menerbitkan
Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 527/MPP/Kep/9/2004
dimana pemerintah kembali melibatkan BUMN seperti BULOG dan PT
Perusahaan Perdagangan Indonesia dalam perdagangan gula di Indonesia.
BULOG mempunyai peran sebagai distributo tunggal untuk memasarkan gula
milik PTPN dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) melalui jaringannya
yang tersebar diseluruh Indonesia.
Ketentuan impor gula yang tertuang dalam SK Menperindag No. 527/2004
telah mendatangkan permasalahan baru dalam industri pergulaan nasional. Hal ini
mengingat dalam kebijakan tersebut pemerintah membagi pemasaran gula
menjadi gula kristal putih dan gula kristal rafinasi. KPPU (2010) menyatakan
27
bahwa segmentasi pasar yang dilakukan oleh pemerintah menyebabkan tidak
seimbangnya pasokan dan permintaan. Pemisahan yang dilakukan untuk menjaga
gula kristal putih diatas Harga Dasar Gula (HDG) tidak efektif sebab adanya
perbedaan harga yang cukup signifikan. Kondisi ini yang membuat gula kristal
rafinasi yang seringkali dimaksudkan untuk kepentingan industri banyak
ditemukan beredar dipasaran.
Target produksi gula konsumsi tahun 2009 tidak tercapai, sedangkan
sebagian stok gula konsumsi nasional diserap oleh industri makanan dan minuman
skala kecil dan menengah serta rumah tangga, sehingga terjadi lonjakan harga di
pasar dunia maupun di pasar domestik. Industri makanan dan minuman skala kecil
dan menengah sebelumnya menggunakan pasokan gula kristal rafinasi. Oleh
karena itu, pada tahun 2009 pemerintah menetapkan penurunan tarif bea masuk
impor gula kristal rafinasi dan gula mentah melalui revisi peraturan Menteri
Keuangan No. 150/PMK.011/2009, dimana tarif bea masuk gula kristal rafinasi
turun 49.4 persen menjadi Rp 400.00 per kilogram dari sebelumnya Rp 700.00 per
kilogram dan gula mentah dari Rp 550.00 per kilogram menjadi Rp 150.00 per
kilogram. Pemerintah memperpanjang pemberlakuan tarif bea masuk tersebut
hingga April 2010.
Tata niaga penyaluran gula nasional pada tahun 2010 dan 2011 tidak
tertata dengan baik sekalipun pemerintah telah secara serius mengatur distribusi
gula kristal rafinasi melalui Surat Keputusan Menteri Perdagangan No.111/MDAG/2/2009 tentang penyempurnaan petunjuk pendistribusian gula. Penyaluran
gula kristal rafinasi tidak lagi langsung ditujukan kepada industri pengguna tetapi
melalui distributor, sehingga gula kristal rafinasi impor banyak yang masuk ke
pasar konsumsi rumah tangga dan industri kecil. Pemerintah tidak melakukan
sistem pengawasan yang baik terhadap peredaran gula kristal rafinasi di pasar
umum. Hal ini menunjukkan ketidakseriusan pemerintah dalam mewujudkan
swasembada gula.
Target untuk swasembada gula sebenarnya telah dicanangkan oleh
pemerintah pada tahun 2002 pemerintah untuk tercapai pada tahun 2007. Namun
kemudian target tersebut mundur menjadi tahun 2008, lalu mundur lagi menjadi
tahun 2009 walaupun dengan catatan swasembada hanya untuk gula konsumsi
28
masyarakat atau gula kristal putih dan bukan untuk industri. Kegagalan target
swasembada gula ini produksi gula nasional yang tidak mampu memenuhi
kebutuhan nasional dan kurang ketertarikan investor dalam menanamkan modal di
sektor perkebunan tebu di Indonesia. Bahkan saat ini target swasembada
dicanangkan oleh pemerintah tercapai pada tahun 2014.
2.4. Kebijakan Pergulaan di Negara-Negara Anggota ASEAN-China Free
Trade Area
Perkembangan ekonomi dunia saat ini telah mengarah pada keterbukaan
hubungan ekonomi antar bangsa. Dewasa ini, dunia melihat ASEAN sebagai
kawasan yang strategis. ASEAN mampu membuktikan diri sebagai perhimpunan
yang mampu menciptakan stabilitas di kawasannya serta mampu meningkatkan
kekuatan ekonominya. Salah satu mitra dagang terbesar ASEAN adalah China.
Kesepakatan perdagangan yang tengah dijalankan oleh kedua pihak tersebut
tentunya hanya akan memberikan dampak negatif apabila kedua belah pihak tidak
mampu melindungi produk dalam negerinya. Demikian halnya untuk komoditas
pertanian seperti gula yang juga menjadi bagian dari kesepakatan perdagangan
bebas ASEAN-China. Masing-masing negara ASEAN yang memproduksi gula
dan China yang selain produsen juga pengimpor gula turut menerapkan
kebijakannya untuk melindungi dan meningkatkan kapasitas produksi gula.
Thailand
Kebijakan industri gula di Thailand dijalankan oleh Thai Cane and Sugar
Board yang memiliki keanggotaan petani (grower), pabrik gula (miller) dan
pemerintah. Dalam berusahatani, para petani tebu di Thailand mendapat bantuan
kredit dari bank dengan bunga di bawah harga pasar. Besarnya kredit ini
disesuaikan dengan nilai kontrak penyerahan tebu ke pabrik.
Hafsah
(2003)
menyatakan
bahwa
Thailand
telah
menetapkan
kebijaksanaan pasar domestik dan impor gulanya dengan cara membagi produksi
gula domestik menjadi tiga kuota yaitu kuota A untuk pasar domestik, kuota B
untuk ekspor, dan kuota C untuk kelebihan kuota A dan B. Dalam pelaksanaannya
jumlah kuota A ditetapkan oleh pemerintah Thailand, sedangkan kuota B untuk
ekspor gula dilakukan oleh Thai Cane and Sugar Board. Penetapan harga tebu
petani dilakukan oleh pemerintah deengan menggunakan total penerimaan pabrik
29
gula dari kuota A dan kuota B sebagai dasar perhitungannya. Tidak hanya itu,
harga gula domestik juga ditunjang oleh pengenaan tarif bea masuk impor sebesar
65 persen untuk volume impor dengan minimum akses sebesar 13 105 ton dan
pemberlakuan tarif sebesar 104 persen untuk impor gula diatas minimum akses.
Filipina
Filipina merupakan salah satu contoh negara yang mempunyai kebijakan
pembangunan gula nasional yang komprehensif, saling terkait dan konsisten satu
dengan yang lainnya baik di tingkat makro hingga mikro maupun nasional hingga
daerah. Sama halnya dengan Indonesia, Filipina juga mencanangkan program
swasembada gula sehingga agribisnis gula tidak terlepas dari perhatian utama
pemerintahnya. Pambudy, et al. (2005) menyatakan bahwa Filipina mempunyai
kemampuan untuk menciptakan lapangan kerja sebanyak 5 juta orang dalam
agribisnis gula. Luas lahan tebu Filipina saat ini mencapai 368 ribu hektar dengan
produktivitas rata-rata yang baru mencapai 60 ton per hektar yang masih jauh lebih
rendah dari produktivitas tebu di Thailand yang mencapai 180 ton per hektar.
Namun demikian, data hingga bulan Juni 2003 menunjukkan bahwa produksi gula
di Filipina sudah mencapai 2.12 juta ton. Pencapaian jumlah produksi gula yang
cepat ini menjadikan target swasembada gula di Filipina tercapai pada tahun 2003,
lebih cepat dari target yang dicanangkan yaitu tahun 2007.
Pemerintah Filipina membebankan tanggung jawab pergulaan pada Sugar
Regulatory Administration (SRA) yang bertanggung jawab langsung kepada
Presiden. Lembaga ini mempunyai kemampuan untuk mengikat semua institusi
yang terlibat dalam agribisnis gula di Filipina. Lembaga ini mempunyai mandat
meningkatkan pertumbuhan dan pengembangan sektor industri gula nasional
dengan lebih meningkatkan partisipasi sektor swasta serta meningkatkan
kesejahteraan para buruh gula (www.sra.gov.ph).
Kebijakan umum yang diterapkan untuk melindungi industri gula di
Filipina antara lain :
1. Free enterprise, yaitu baik penduduk lokal maupun asing dapat berpartisipasi
dalam perdagangan gula selama mempunyai kapabilitas keuangan dan
memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh pemerintah.
30
2. Gula yang diproduksi didalam negeri diprioritaskan untuk memenuhi
kebutuhan domestik dan prioritas berikutnya untuk memenuhi kuota ekspor
gula ke Amerika Serikat
3. Impor gula diusahakan dalam bentuk raw sugar agar dapat memberikan
keuntungan padarefiners. Impor gula harus dididasarkan atas Executive Order
yang diterbitkan oleh Presiden atas rekomendasi Departemen Pertanian untuk
kemudian ditenderkan diantara traders.
Selain kebijakan umum, pemerintah Filipina juga melakukan proteksi
terhadap pasar pergulaan nasionalnya dengan menjaga harga pasar domestik
relatif tinggi melalui kebijakan tarif bea impor. Upaya lain yang telah dilakukan
oleh pemerintah Filipina adalah dengan menetapkan minimum akses sebesar 150
ribu ton dengan tarif 50 persen dan sebesar 80 persen untuk impor gula atas
minimun akses. Sedangkan untuk impor gula di negara ASEAN pemerintah
memberlakukan tarif preferensi sebesar 65 persen (Hafsah, 2003).
China
Industri gula China memiliki sejarah panjang dan telah mengalami
perubahan yang signifikan dalam beberapa tahun ini. Industri gula China telah
tumbuh lebih dari 300 persen sejak reformasi ekonomi dimulai pada tahun 2004.
Pertumbuhan industri pergulaan di China disertai dengan berbagai tekanan baik
internal maupun eksternal yang telah mengakibatkan restrukturisasi mesin dan
peralatan pabrik gula yang signifikan di dalam negeri. Pemerintah China berupaya
untuk mengejar pengembangan industri gula melalui serangkaian kebijakan yang
ditujukan untuk meningkatkan surplus produsen dan petani, peningkatan kualitas
produk gula dan perlindungan yang besar bagi lingkungan. Manajemen teknologi
yang kreatif dan inovatif menjadi sarana utama pencapaian pengembangan
industri gula China (Zhu, et al. 2007).
Perkembangan konsumsi yang lebih tinggi daripada produksi membuat
China saat ini menjadi salah satu konsumen gula terbesar di dunia. Sekalipun
China merupakan negara importir, namun pemerintah China juga memberikan
kebijakan proteksi dan promosi untuk industri pergulaannya. Dalam merumuskan
kebijakannya pemerintah China melibatkan State Development and Reform
Commission
(SDRC)
yang
bertanggung
jawab
membuat
perencanaan
31
pembangunan industri gula jangka panjang, State Economic and Trade
Commision (SETC) yang bertanggung jawab terhadap pengendalian produksi,
kementerian pertanian yang bertanggung jawab langsung terhadap pengaturan
lahan tebu, Kementerian perdagangan yang mengatur ekspor dan impor gula, serta
China Sugar Association yang membantu pemerintah dalam melaksanakan
pengendalian kebijakan makro dan masukan bagi pengembangan industri gula.
Adapun serangkaian kebijakan yang telah dilakukan oleh pemerintah China
dalam mendukung industri pergulaannya antara lain (Pambudy, et al. 2005) :
1.
Menerapkan sistem tanggung jawab produksi keluarga di wilayah pedesaan
yang membangkitkan antusiasme para petani tebu untuk meningkatkan
produksi.
2.
Memberikan insentif berupa pangan kepada petani tebu untuk menjamin
kecukupan pangan dan menjaga agar tetap menanam tebu.
3.
Memberikan subsidi berupa pembangunan irigasi pada lahan-lahan yang
ditanami tebu dan pembukaan lahan kering dataran tinggi untuk dijadikan
lahan tebu.
4.
Melepaskan seluruh kendali pembelian dan kontrak penjualan gula pada
mekanisme pasar.
5.
Menerapkan pajak pendapatan yang cukup tinggi terhadap pabrik gula
sebesar 33 persen dan PPN sebesar 17 persen.
6.
Menerapkan kebijakan proteksi dengan menerapkan kuota impor pada tahun
2003 sebesar 1.85 juta ton, dan tahun 2004 sebesar 1.94 juta ton dengan tarif
sebesar 30 persen untuk gula putih dan 20 persen untuk gula mentah. Impor
diatas kuota yang telah ditetapkan dikenakan tarif impor sebesar 76 persen.
Pemerintah China juga tengah menerapkan konsep pembangunan
keberlanjutan untuk industri gula. Li, et al. (2006) menjelaskan konsep
pembangunan berkelanjutan industri gula China dilakukan sedemikian rupa
sehingga produksi berada dalam kondisi yang seimbang dengan untuk input
sumberdaya yang terbarukan seperti energi. Dorongan ini dilakukan dengan
menekankan pada pengurangan dampak negatif lingkungan yang signifikan terkait
dengan produksi gula di China dan seluruh dunia. Sebagai bagian dari tujuan
jangka panjangnya, pemerintah China juga akan melakukan penekanan pada
32
pemanfaatan produk hilir yang selama ini hanya dikenal sebagai limbah.
Sehingga, arah industri gula di China akan melalui proses produksi yang dikenal
dengan 3P atau “Planting-Processing-Production Cycle”.
2.5. Tinjauan Studi Terdahulu
Sanjaya (2009) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa peningkatan
produksi tebu Indonesia jauh lebih responsif jika dilakukan dengan pendekatan
intensifikasi, artinya peningkatan penawaran dilakukan dengan meningkatkan
produktivitas tanaman tebu. Hal tersebut dapat dilakukan dengan menetapkan
kebijakan-kebijakan terkait dengan kebijakan harga faktor-faktor input produksi
produk pertanian seperti kebijakan harga pupuk, harga pestisida, dan tingkat upah
buruh. Berdasarkan nilai elastisitas penawaran tebu di Indonesia, jumlah
penawaran tebu pada tahun 2025 mendatang diproyeksikan sebesar 70.531 juta
ton sedangkan proyeksi jumlah kebutuhan total tebu nasional adalah sebesar
63.158 juta ton sehingga pada tahun 2025 dapat disimpulkan bahwa program
swasembada gula dapat tercapai.
Studi mengenai liberalisasi perdagangan gula yang dikaji oleh Hariyati
(2003) menyatakan bahwa penerapan liberalisasi gula ditandai dengan
penghapusan tarif diikuti dengan pelepasan tata niaga gula yang berarti stok gula
sama dengan nol. Kondisi ini berdampak pada penurunan penawaran secara
drastis sebesar 35.9 persen dan kenaikan harga gula domestik sebesar 14.3 persen,
kenaikan harga gula petani sebesar 10.6 persen meningkatkan produksi gula.
Pemenuhan kebutuhan nasional yang dilakukan dengan impor menyebabkan
meningkatnya impor gula sebesar 34.5 persen. Kenaikan impor gula indonesia
menyebabkan kenaikan harga impor dunia sehingga juga akan mengakibatkan
kenaikan harga gula dunia.
Refomasi tarif telah menjadi isu penting di awal dekade kedua sejah abad
20. Tarif yang tinggi dipercaya menjadi penyebab kekacauan ekonomi pada
beberapa negara. Ellison, et al. (1995) mempelajari voting Kongres Reformasi
Tarif untuk gula pada tahun 1912 untuk menyelidiki pengaruh para konstituen
terhadap kebijakan perdagangan terutama kebijakan tarif. Hasil studi yang
diperoleh kongres reformasi tarif tersebut terjadi karena adanya sebuah gerakan
33
nasional yang memang menginginkan reformasi tarif. Akibat dari hal inilah yang
kemudian membuat sebagian kalangan menilai bahwa legislator atau para
konstituen memiliki tingkat visibilitas dan akuntabilitas politik yang tinggi dalam
pengaturan sebuah kebijakan perdagangan. Selain itu, sifat dari industri gula dan
tarif gula itu sendiri menyebabkan munculnya sekelompok produsen yang ingin
bersaing. Dalam mengevaluasi efektivitas dari kelompok-kelompok ini, penulis
menjelaskan bahwa mereka hanya terkonsentrasi pada pencarian keuntungan yang
relatif kurang penting peranannya dalam industri gula. Terbentuknya kelompokkelompok ini merupakan dampak yang timbul dari kebijakan pemerintah terhadap
kebijakan penurunan tarif itu sendiri.
Lebih lanjut studi mengenai tarif juga dikaji oleh Malian dan Saptana
(2003) yang menyatakan bahwa penetapan tarif impor gula sebesar Rp 550.00 per
kilogram untuk gula tebu (raw sugar) dan Rp 700.00 per kilogram untuk gula
putih (refined sugar) dalam kondisi harga gula dunia yang rendah dan nilai tukar
rupiah yang makin menguat, belum cukup merangsang petani untuk
meningkatkan produksi dan kualitas pasokan tebu. Tanpa adanya perubahan
kebijakan atau kebijakan tambahan bagi petani tebu, maka pendapatan bersih
petani tebu relatif tidak meningkat. Dengan asumsi harga gula dunia sebesar US$
225 per ton, nilai tukar rupiah antara Rp 8 500.00 sampai Rp 8 700.00, rendemen
tebu 6.00 persen sampai 6.50 persen dan kepada petani diberikan management fee
sebesar 20 persen, maka tarif spesifik yang dipandang layak bagi petani tebu
berkisar antara Rp 950.00 per kilogram hingga Rp 1 300.00 per kilogram.
Hutabarat (2011) menganalisis dampak pemotongan tarif dalam kerangka
Kesepakatan Perdagangan Bebas ASEAN-China. Metode analisis keseimbangan
umum yang dilakukan menggunakan dua skenario yaitu (1) liberalisasi penuh
(pemotongan tarif sebesar 100 persen) pada seluruh produk pertanian ASEAN dan
China dan (2) liberalisasi penuh pada seluruh produk yang diperdagangkan
ASEAN dan China. Pada skenario (1) memberikan hasil tingkat kesejahteraan
masyarakat menurun sebesar Rp 128.96 miliar tetapi pada skenario (2) tingkat
kesejahteraan meningkat sebesar Rp 2.878 triliun. Untuk kegiatan ekspor, jumlah
ekspor hasil olahan pertanian menurun sebesar 0.74 persen sampai 24.64 persen
pada skenario (1), sedangkan pada skenario (2) ekspor seluruh produk pertanian
34
menurun sebesar 0.6 persen sampai 28.21 persen. Untuk impor produk olahan
pertanian pada skenario (1) meningkat antara 0.06 persen sampai 2.62 persen dan
pada skenario (2) impor untuk seluruh produk pertanian meningkat antara 0.43
persen sampai 4.08 persen kecuali gandum menurun 0.15 persen. Sehingga
skenario liberalisasi penuh bagi komoditas yang diperdagangkan di sektor
pertanian belum tentu diikuti dengan perbaikan pada produksi dan ekspor
komoditas andalannya.
Hadi dan Nuryanti (2005) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa
kebijakan perdagangan yang diperlukan untuk pengembangan perekonomian gula
nasional ke depan antara lain (1) mempertahankan kebijakan proteksi dengan
pengenaan tarif Rp 550.00 per kilogram untuk gula mentah dan Rp 700.00 per
kilogram untuk gula putih yang dikombinasikan dengan pengaturan, pengawasan,
dan pembatasan impor, (2) berjuang bersama negara yang tergabung dalam
kelompok G-33 agar negara-negara maju dan berkembang tertentu menurunkan
subsidi ekspor dan subsidi domestik secara signifikan, dan (3) melakukan upayaupaya perbaikan efisiensi industri gula nasional, baik pada tingkat budidaya tebu
maupun proses pengolahan di pabrik gula.
Hasil studi simulasi kebijakan dalam suatu model ekonometrik industri
gula domestik yang dilakukan oleh Susila (2005b), menunjukkan bahwa dalam
situasi perdagangan yang distorsif, kebijakan yang berkaitan langsung dengan
harga output lebih efektif dibandingkan kebijakan yang berkaitan dengan input,
guna mendukung pengembangan industri gula Indonesia. Kebijakan harga
provenue lebih efektif bila dibandingkan dengan tariff-rate quota, tarif impor, dan
subsidi input. Terhadap kebijakan pemerintah, perkebunan rakyat lebih responsif
dibandingkan dengan perkebunan milik negara dan perkebunan swasta. Implikasi
kebijakan dari penelitian ini adalah menciptakan medan persaingan yang lebih
adil, industri gula Indonesia masih memerlukan dukungan kebijakan pemerintah.
Kebijakan harga provenue, tarif impor, tarif rate quota, dan subsidi input
merupakan beberapa pilihan kebijakan guna pengembangan industri gula
Indonesia.
35
Hasil penelitian Abidin (2000) tentang liberalisasi perdagangan gula
menyatakan bahwa setiap perubahan dalam harga dunia atau tingkat proteksi akan
mempengaruhi harga ekspor maupun impornya. Sebagian besar negara eksportir
(70 persen) memberikan subsidi ekspor antara 8 persen sampai 102 persen dan 30
persen negara eksportir memberlakukan pajak ekspor antara 6 persen sampai 52
persen yang berarti bahwa negara eksportir pada umumnya merangsang ekspor
melalui subsidi. Sedangkan di negara importir, sebagian negara importir (54
persen) memberikan subsidi impor antara 17 persen sampai 48 persen dan 46
persen negara importir lainnya memberlakukan pajak impor atau bea masuk
sebesar 7 persen sampai 173 persen. Ini menunjukkan adanya kepentingan yang
sangat
beragam
dari
negara
eksportir
maupun
importir
yang
saling
memberlakukan proteksi kepentingan negaranya.
Suparno (2004) yang melakukan penelitian tentang evaluasi perubahan
kesejahteraan petani tebu pasca liberalisasi perdagangan gula dari tahun 19952002 menjelaskan bahwa kebijakan penghapusan tata niaga gula oleh BULOG
menurunkan kesejahteraan bersih (net walfare) masyarakat. Hal ini dikarenakan
kenaikan harga eceran gula dapat menurunkan daya beli konsumen yang dipicu
oleh intervensi IMF melalui pengurangan subsidi. Selain itu, kenaikan impor gula
sebesar 20 persen yang disebabkan penurunan tarif impor nol persen
menyebabkan penurunan kesejahteraan baik dari sisi konsumen maupun produsen.
Walaupun terjadi kenaikan penerimaan pemerintah, namun tidak mampu
mengkompensasi penurunan kesejahteraan tersebut.
36
37
III. KERANGKA TEORITIS
3.1.
Fungsi Permintaan Gula
Keadaan konsumsi dan permintaan suatu komoditas sangat menentukan
banyaknya komoditas yang dapat digerakkan oleh sistem tata niaga dan
memberikan arahan bagi produsen berapa besar mereka harus memproduksi
(Limbong dan Sitorus, 1987). Secara umum dikatakan bahwa selera dan kekuatan
membeli sebagai faktor-faktor yang menentukan konsumsi sedangkan dalam teori
ekonomi, permintaan terhadap gula dapat dirumuskan sebagai berikut :
𝐷𝑥
= 𝑓 𝐻𝑥, 𝐼, 𝐻𝑦, 𝑃, 𝑆 ………………………...………….….....….(01)
dimana :
Dx
= Jumlah produk gula yang diminta
Hx
= Harga komoditas gula
I
= Pendapatan
Hy
= Harga barang lain yang berkaitan dengan konsumsi gula
P
= Jumlah penduduk atau konsumen gula
S
= Selera
Seorang konsumen dalam mengkonsumsi barang secara rasional
dihadapkan pada berbagai pilihan yang lengkap dan konsisten tentang sederetan
preferensinya. Koutsoyiannis (1985) memberikan asumsi untuk teori indifference
curves sebagai berikut :
1. Rasionalitas
Konsumen diasumsikan rasional, dimana berusaha memaksimumkan utilitinya
berdasarkan pendapatannya dan harga pasar tertentu. Konsumen juga
diasumsikan mempunyai pengetahuan yang cukup tentang semua informasi
yang relevan.
2. Utiliti adalah ordinal
Konsumen dianggap dapat menyusun secara berurutan pilihan-pilihannya
terhadap berbagai kelompok barang berdasarkan tingkat kepuasan setiap
kelompok.
3. Tingkat substitusi marginal yang menurun (diminishing marginal rate of
substitution). Pilihan-pilihan (preferences) disusun dalam bentuk kurva
38
indiferen yang diasumsikan cembung (convex) pada titik origin. Hal ini
menunjukkan bahwa slope kurva indiferen adalah menaik. Slope kurva
indiferen ini disebut sebagai tingkat substitusi marginal dari suatu komoditi.
4. Total utiliti tergantung pada kuantitas komoditi yang dikonsumsi. Secara
matematis ditulis : U = f(q1,q2,…,qn).
5. Konsistensi dan transitivitas dalam pilihan
Pilihan preferensinya dibatasi oleh kendala pendapatannya, oleh karenanya
problem pilihan konsumen adalah menentukan sejumlah konsumsi yang
optimum didalam opportunity set-nya.
Fungsi permintaan konsumen terhadap suatu barang diturunkan dari fungsi
konsumsi atau utilitas konsumen. Konsumen terdiri dari dua golongan yaitu
konsumen akhir atau konsumen yang mengolah lagi produk yang dikonsumsinya
(industri).
3.1.1. Permintaan Gula oleh Rumah Tangga
Secara umum, fungsi permintaan diturunkan dari fungsi utilitas konsumen
yang dimaksimumkan dengan kendala pendapatan (Henderson dan Quandt, 1980).
Diasumsikan fungsi utilitas konsumen adalah sebagai berikut :
𝑈
= 𝑈 𝑄𝐺 , 𝑅 ………………………………………………………..(02)
dimana :
U
= Total utilitas konsumen mengkonsumsi gula
QG = Jumlah konsumsi gula
R
= Jumlah konsumsi komoditi lain
Jika harga gula dinotasikan sebagai PG dan harga barang lain sebagai Pr dengan
asumsi semua pendapatan digunakan utuk mengkonsumsi barang, maka fungsi
kendala pada tingkat pendapatan tertentu (Y) bagi konsumen adalah :
𝑌 = 𝑃𝐺 ∗ 𝑄𝐺 + 𝑃𝑟 ∗ 𝑅………..………………………………………….(03)
Dengan memasukkan fungsi kendala (persamaan 03) ke dalam fungsi utilitas
(persamaan 02) maka dapat digambarkan fungsi Langrange sebagai berikut :
𝑍 = 𝑈 𝑄𝐺 , 𝑅 + λ(𝑌 − 𝑃𝐺 ∗ 𝑄𝐺 − 𝑃𝑟 ∗ 𝑅)……………………………..(04)
dimana :
λ = Lagrange Multiplier
39
Untuk mendapatkan utilitas maksimum, maka syarat pertama adalah turunan
parsial dari fungsi Lagrangian harus sama dengan nol.
𝜕𝑍
𝜕𝑈
=
− 𝜆𝑃𝐺 = 0 ……..…………………………………..……..(05)
𝜕𝑄𝐺 𝜕𝑄𝐺
𝜕𝑍 𝜕𝑈
=
− 𝜆𝑃𝑟 = 0 ………..……………………….…………..……..(06)
𝜕𝑅 𝜕𝑅
𝜕𝑍
= −(𝑃𝐺 ∗ 𝑄𝐺 + 𝑃𝑟 ∗ 𝑅 − 𝑌) = 0 ……..……….………….………..(07)
𝜕𝜆
Dari persamaan 05, 06, dan 07 diatas maka diperoleh :
𝜕𝑈
𝜕𝑈 𝜕𝑄𝐺
……..…………………………...……..(08)
= 𝜆 𝑃𝐺 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝜆 =
𝑃𝐺
𝜕𝑄𝐺
𝜕𝑈
𝜕𝑈 𝜕𝑅 …………..……..…….………….………..(09)
= 𝜆𝑃𝑟 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝜆 =
𝜕𝑅
𝑃𝑅
𝑃𝐺 ∗ 𝑄𝐺 + 𝑃𝑟 ∗ 𝑅 = 𝑌 …….………..………..…….………….………..(10)
jika 𝜕𝑈 𝜕𝑄𝐺 = 𝑀𝑈𝐺 dan 𝜕𝑈 𝜕𝑅 = 𝑀𝑈𝑟 maka :
𝜆 = 𝑀𝑈𝐺 𝑃𝐺 = 𝑀𝑈𝑟 𝑃𝑟 …….………..………..…….……….………..(11)
dan 𝑀𝑈𝐺 𝑀𝑈𝑟 = 𝑃𝐺 𝑃𝑟 = 𝑀𝑅𝑆𝐺,𝑟…….…………….……….………..(12)
Persamaan 12 menyatakan bahwa kepuasan konsumen akan maksimum pada
kondisi dimana rasio marjinal utilitas terhadap harga sama untuk semua komoditi,
yaitu sebesar koefisien pengganda Lagrangian (𝜆).
Penyelesaian PG dan Pr pada persamaan 12 disubstitusikan pada persamaan
10 sehingga diperoleh fungsi permintaan terhadap gula yaitu :
𝑄𝐺 = 𝑓(𝑃𝐺 , 𝑃𝑟 , 𝑌) ………………………………………………..……..(13)
Persamaan tersebut menyatakan bahwa permintaan gula kristal putih dipengaruhi
oleh harga gula, harga komoditi lain sebagai alternatif, dan tingkat pendapatan
konsumen. Dengan asumsi bahwa model permintaan bersifat dinamis maka
elastisitas permintaan atas harga gula, elastisitas permintaan atas harga komoditi
lain, dan elastisitas pendapatan dapat dihitung baik dalam jangka pendek maupun
panjang. Dolan (2006) menambahkan bahwa selain dipengaruhi oleh harga barang
tersebut, harga barang lain, dan pendapatan permintaan suatu barang juga
dipengaruhi selera, distribusi pendapatan, jumlah penduduk, dan harapan harga.
40
3.1.2. Permintaan Gula oleh Industri
Sebagai bahan baku untuk industri makanan dan minuman, permintaan
terhadap gula dapat diturunkan melalui fungsi permintaan turunan (derived
demand), yaitu melalui fungsi keuntungan. Produsen yang rasional akan
berproduksi pada tingkat keuntungan yang maksimum (Debertin, 1986). Input
yang digunakan pada kondisi keuntungan maksimum berada pada jumlah yang
optimal. Adapun persamaan keuntungan dapat dituliskan sebagai berikut :
𝜋 = 𝑃. 𝑌 −
dimana :
𝑟𝑖 𝑋𝑖 ………………………………………………………(14)
𝜋
= Keuntungan
P
= Harga output yang dihasilkan oleh industri makanan dan minuman
Y
= Jumlah produksi
ri
= Harga input gula
Xi = Jumlah input gula
dengan menurunkan fungsi keuntungan tersebut terhadap masing-masing input
maka diperoleh :
𝛿𝜋
𝛿𝑌
𝛿𝑋𝑖 = 𝑃.
𝛿𝑋𝑖 − 𝑟𝑖 = 0………………………....………………(15)
atau 𝑃. 𝑃𝑀𝑖 = 𝑟𝑖 ……………………………………….………………..(16)
dimana PMi adalah produk marjinal dan P.PMi adalah nilai dari produk marginal
input gula.
Pada persamaan diatas penggunaan input yang optimal dicirikan oleh
kondisi dimana nilai produk marjinal dari masing-masing input (P.PMi) sama
dengan harga input yang bersangkutan. Implikasi dari kondisi tersebut adalah
permintaan suatu input oleh industri sangat dipengaruhi oleh harga input yang
bersangkutan (r), harga output (P), dan teknologi produksi (PMi). Disamping itu,
permintaan suatu input dapat pula dipengaruhi oleh harga input substitusi dan
faktor lain yang dapat mendistorsi pasar.
Pada industri makanan dan minuman, permintaan terhadap gula selain
dipengaruhi oleh harga gula juga dipengaruhi oleh harga input alternatif lain, yaitu
harga pemanis alternatif dan tingkat suku bunga. Dalam model ekonomi,
permintaan gula industri tersebut dituliskan sebagai berikut :
𝐷𝑓 = 𝑓(𝑃𝑓 , 𝑃𝑚 , 𝑖)…………………………………...…………….……..(17)
41
dimana Df adalah permintaan gula kristal rafinasi oleh industri makanan dan
minuman, Pf adalah harga gula kristal rafinasi, Pm adalah harga produk makanan
dan minuman, dan i adalah tingat bunga.
3.2.
Fungsi Impor Gula
Perdagangan internasional memungkinkan setiap negara melakukan
spesifikasi produksi dan barang-barang tertentu sehingga mencapai tingkat
efisiensi yang tinggi dengan skala produksi yang besar. Adanya perbedaan sumber
daya yang dimiliki oleh setiap negara menyebabkan negara tersebut berusaha
menghasilkan produk dengan biaya yang relatif lebih rendah. Perbedaan sumber
daya inilah yang akan menyebabkan perbedaan harga dan akan menentukan
keputusan suatu negara untuk melakukan ekspor dan impor.
P
P
DA
P
SA
r
ES
DB
SB
PB
x
PW
m
PA
s
ED
0
QA
Q
Negara A
(Eksportir)
0
QE
Pasar Dunia
Q 0
QB
Q
Negara B
(Importir)
Sumber : Tweeten, 1992
Gambar 2. Mekanisme Terjadinya Ekspor-Impor
Proses ekspor dan impor dunia diilustrasikan oleh Gambar 2. Suatu
negara (negara A) akan mengekspor suatu komoditi gula ke negara lain (negara
B) karena harga di negara A sebelum terjadinya perdagangan relatif lebih rendah
bila dibandingkan dengan harga domestik di negara B. Di negara A terjadi
kelebihan produksi (excess supply) karena produksi domestiknya lebih besar
daripada konsumsi domestiknya, sehingga negara A berkesempatan menjual
kelebihan produksinya ke negara lain. Di lain pihak negara B mengalami
kelebihan permintaan (excess demand) karena konsumsi domestiknya lebih
42
besar daripada produksi domestiknya sehingga harga di negara B lebih tinggi.
Oleh karena itu, negara B membeli komoditi gula dari negara lain yang harganya
relatif lebih murah. Komunikasi yang terjadi antara negara A dan negara B
menyebabkan terjadinya perdagangan dengan harga yang diterima oleh kedua
negara adalah sama.
Berdasarkan Gambar 2 dapat dilihat bahwa sebelum terjadinya
perdagangan dunia harga di negara A adalah P A, sedangkan di negara B adalah
PB. Penawaran di pasar dunia akan terjadi jika harga dunia lebih tinggi dari P A
sedangkan permintaan di pasar dunia akan terjadi jika harga dunia lebih kecil
dari PB. Pada saat harga dunia (P W) sama dengan PA maka di negara A tidak
terjadi excess supply (ES) namun di negara B akan terjadi excess demand (ED)
sebesar s. Tetapi, jika harga dunia (P W) sama dengan PB maka dinegara A akan
terjadi excess supply (ES) sebesar r, namun di negara B tidak terjadi excess
demand (ED). Dari PA dan PB tersebut maka akan terbentuk kurva ES dan ED di
pasar dunia, dimana perpotongan antara kurva ES dan ED akan menentukan
harga yang terjadi di pasar dunia sebesar P W. Dengan adanya perdagangan
tersebut maka negara A akan mengekspor gula sebesar x dan negara B akan
mengimpor gula sebesar m.
Permintaan impor terjadi karena suatu negara membeli barang dari
negara lain yang disebabkan karena berbagai faktor antara lain (1) produksi
barang dalam negeri tidak mencukupi untuk kebutuhan konsumsi, (2) barang
tersebut sangat penting dalam proses kehidupan namun negara tersebut tidak
dapat memproduksi dengan baik akibat adanya keterbatasan teknologi dan iklim,
dan (3) suatu negara mempunyai teknologi tetapi tidak mempunyai bahan baku
(dalam hal ini negara tersebut akan melakukan re-ekspor) (Purwanto, 2002).
Indonesia merupakan negara importir untuk komoditas gula. Salah satu hal
yang menentukan jumlah impor adalah konsumsi. Secara sederhana, persamaan
impor gula dapat dinyatakan sebagai berikut :
𝑀𝐺 = 𝐶𝐺 − 𝑄𝐺 + 𝑆𝐺 …………………………….….…………………..(18)
dimana:
𝑀𝐺 = Jumlah impor gula
𝐶𝐺 = Jumlah konsumsi gula
43
𝑄𝐺 = Jumlah produksi gula
𝑆𝐺 = Jumlah Stok gula
Pendekatan selanjutnya didekati dari fungsi konsumsi yang membentuk
fungsi permintaan yang dinyatakan sebagai berikut :
𝐶𝐺 = 𝑓(𝑃𝐺 , 𝑃𝑆, 𝑌, 𝑃𝑜𝑝, 𝐷𝑦 , 𝑆)………………………………………..…(19)
dimana :
𝐶𝐺
= Jumlah konsumsi gula
𝑃𝐺
= Harga gula
𝑌
= Tingkat pendapatan
𝑃𝑜𝑝 = Jumlah Penduduk
𝐷𝑦
= Distribusi pendapatan
𝑆
= Selera
Dari persamaan 19 dapat diketahui apabila harga gula menurun maka konsumsi
akan meningkat, begitu pula sebaliknya. Selain itu, konsumsi juga akan
dipengaruhi oleh (1) harga komoditi lain yang bersifat substitusi dan
komplementer, (2) jumlah penduduk, dan (3) laju pertumbuhan konsumsi.
Sedangkan untuk impor, suatu negara akan mencari harga yang lebih murah. Oleh
karena itu, nilai tukar akan mempengaruhi jumlah barang yang diimpor oleh suatu
negara. Dengan demikian, persamaan impor dapat dinyatakan sebagai berikut :
𝑀𝐺 = 𝑓(𝑃𝐺 , 𝐶𝐺 , 𝐸𝑅, 𝑍, 𝑀𝐺(𝑡−1) )……………………………………..…(20)
dimana :
𝑀𝐺
= Jumlah impor gula
𝑃𝐺
= Harga gula
𝐶𝐺
= Jumlah konsumsi gula
𝐸𝑅
= Nilai tukar
𝑍
= Faktor lain yang mempengaruhi impor
𝑀𝐺(𝑡−1) = Impor gula tahun sebelumnya
3.3.
Respon Bedakala Produksi Komoditas Pertanian
Salah satu karakteristik utama produk pertanian adalah adanya tenggang
waktu (gestation period) antara menanam dengan memanen. Hasil yang diperoleh
petani didasarkan pada perkiraan-perkiraan di masa mendatang serta pengalaman
44
masa lalu. Harga output komoditas pertanian tidak dapat dipastikan pada saat
produk tersebut ditanam. Dengan kata lain, petani harus mengambil keputusan
produksi berdasarkan perkiraan atas produknya tahun lalu. Hal ini mengacu pada
adanya bedakala (lag) diantara dua periode, yaitu saat menanam dan memanen.
Respon petani setelah bedakala sebagai dampak perubahan pada harga-harga input
dan produk serta kebijakan pemerintah.
Jika peningkatan harga diperkirakan oleh petani akan berlangsung terus
pada periode berikutnya, maka petani akan merubah komposisi sumber daya pada
masa tanam mendatang, sehingga pengaruh kenaikan harga tersebut baru akan
terlihat pada periode tanam berikutnya. Apabila kemungkinan adanya ekspektasi
demikian dapat diterima maka hubungan-hubungan yang spesifik diantara harga
harapan dengan harga di masa lalu dapat dibuat. Sehingga model dapat
dikembangkan menjadi dinamik yang dirintis oleh Nerlove melalui persamaan
parsial. Nerlove (1958) menjelaskan bahwa petani pada setiap periode produksi
akan merevisi dugaan mereka terhadap apa yang mereka anggap sebagai proporsi
yang normal terhadap perbedaan yang terjadi dengan yang sebelumnya dianggap
normal. Atau petani juga akan menyesuaikan perkiraan harga dimasa mendatang
dalam bentuk proporsi dari selisih antara perkiraan dengan kenyataannya.
3.4.
Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Perdagangan Gula
Proses pembentukan harga gula dunia dalam perdagangan internasional
ditentukan oleh kekuatan penawaran dan permintaan dunia. Akan tetapi, karena
setiap negara eksportir dan importir mempunyai kepentingan yang berbeda-beda
maka pemerintah melakukan intervensinya terhadap perdagangan gula. Intervensi
pemerintah ini diperlukan baik untuk mengatur mekanisme perdagangan gula
internasional maupun melindungi pelaku ekonomi gula dalam negeri. Beberapa
kebijakan yang terkait dengan kinerja pasar gula antara lain kebijakan tarif impor,
suku bunga, harga pokok pembelian, subsidi sarana produksi, suku bunga, dan
lain-lain. Namun, yang akan dijelaskan dalam penelitian ini hanyalah dampak
kebijakan harga pokok pembelian dan kebijakan tarif impor sesuai dengan
fenomena yang terjadi sekarang.
45
3.4.1. Kebijakan Harga Eceran Tertinggi Pupuk
Pupuk sebagai salah satu sarana produksi pertanian mempunyai peran
yang cukup penting dalam peningkatan produktivitas pertanian. Oleh karena itu,
pemerintah menerapkan kebijakan harga eceran tertinggi (HET) pupuk untuk
melindungi petani sebagai konsumen pupuk agar dapat membeli pupuk sesuai
kebutuhannya dengan harga yang lebih murah yang berada di bawah harga
keseimbangan. Dampak kebijakan HET pupuk terhadap surplus konsumen dan
surplus produsen dapat dilihat pada gambar 4.
Harga
F
S
E
P0
P1
B
C
HET
D
A
Q1 Q0 Q2
Jumlah
Gambar 3. Dampak Kebijakan Harga Eceran Tertinggi Pupuk
Apabila pemerintah melakukan intervensi dengan menetapkan harga
eceran tertinggi (HET) maka akan mengakibatkan jumlah yang diproduksi
menjadi sebesar Q1 dan jumlah yang diminta oleh konsumen sebesar Q2. Keadaan
ini terjadi sebagai akibat dari respon konsumen yang meningkat jika harga pupuk
turun, sehingga kebijakan ini akan efektif jika pemerintah memenuhi kelebihan
permintaan (excess demand) yaitu sebesar Q2 – Q1 sehingga besarnya pengeluaran
pemerintah sebesar Q1BCQ2
Kebijakan HET pupuk ini akan berdampak pada perubahan surplus
konsumen dan produsen. Sebelum adanya kebijakan HET pupuk surplus
konsumen sebesar P0FE dan surplus produsen P0EA, sedangkan setelah adanya
kebijakan HET pupuk surplus konsumen sebesar P1CF dan surplus produsen
sebesar P1BA. Kebijakan HET pupuk ini menambah surplus konsumen sebesar
P0ECP1 dan mengurangi surplus produsen sebesar P0ECP1.
46
3.4.2. Kebijakan Harga Patokan Petani Gula
Harga patokan petani (HPP) untuk produk gula ini merupakan harga
minimal yang diterima petani. Harga ini menjadi signal atau patokan bagi importir
untuk melakukan impor karena impor gula baru dapat dilakukan apabila petani
tebu menerima harga minimal sama dengan HPP yang ditetapkan oleh
pemerintah. Penentuan harga patokan petani ini menggunakan biaya pokok
produksi (BPP) tebu atau gula petani. Penetapan kebijakan HPP gula diatur
melalui seperangkat kebijakan pemerintah melalui SK Menperindag No.
527/MPP/Kep/2004 tentang ketentuan impor gula yang telah direvisi dengan
mengeluarkan
perangkat
Peraturan
Menteri
Perdagangan
No.
08/M-
DAG/PER/4/2005. Peraturan Menteri Perdagangan ini tidak hanya mengatur
tentang penetapan harga patokan akan tetapi juga mengatur jumlah pasokan gula.
Tujuan utama pemerintah menetapkan HPP
gula
adalah untuk
meningkatkan kesejahteraan petani dan pendapatan petani dalam upaya untuk
meningkatkan produksi tebu dan produktivitas lahan menuju swasembada gula.
Selain itu, HPP juga bertujuan untuk memenuhi kebutuhan gula bagi masyarakat
konsumen dengan harga yang stabil dan terjangkau. Dampak kebijakan harga
patokan petani terhadap surplus konsumen dan surplus produsen dapat dilihat
pada gambar 4.
Harga
S
C
P1
E
P0
F
G
HPP
B
D
A
Q1
Q0 Q2
Jumlah
Gambar 4. Dampak Kebijakan Harga Patokan Petani
47
Penetapan HPP gula oleh pemerintah sebesar P1 mengakibatkan jumlah
produksi gula menjadi sebesar Q2 dan jumlah yang diminta oleh konsumen Q1.
Keadaan ini terjadi sebagai akibat dari respon konsumen yang menurunkan
volume permintaan gula jika harga gula naik, sehingga kebijakan ini akan efektif
jika pemerintah membeli kelebihan produksi gula (excess supply) sebesar Q2 – Q1,
sehingga besarnya pengeluaran pemerintah sebesar Q1EGQ2.
Kebijakan HPP gula ini akan berdampak pada perubahan surplus
konsumen dan produsen. Sebelum adanya kebijakan HPP surplus konsumen
sebesar P0BC dan surplus produsen P0BA, sedangkan setelah adanya kebijakan
HPP surplus konsumen sebesar P1EC dan surplus produsen sebesar P1GA.
Kebijakan HPP ini mengurangi surplus konsumen sebesar P0BEP1 dan
meningkatkan surplus produsen sebesar P1GBP0.
3.4.3. Kebijakan Tarif Impor
Kebijakan perdagangan dibidang impor akan diartikan sebagai tindakan
yang langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi struktur, komposisi, dan
kelancaran usaha untuk melindungi atau mendorong pertumbuhan industri
didalam negeri. Kebijakan dibidang impor ini dapat dikelompokkan menjadi
kebijakan tarif dan non tarif. Oktaviani (2010) mengemukakan apabila ditinjau
dari aspek asal komoditinya, terdapat dua macam tarif yaitu tarif ekspor dan tarif
impor. Apabila ditinjau dari mekanisme perhitungannya terdapat tiga macam tarif
yaitu tarif ad valorem (ad valorem tariff), tarif spesifik (specific tariff), dan tarif
campuran (compound tariff). Tarif ad valorem adalah pajak yang dikenakan
berdasarkan angka presentase tertentu dari nilai barang-barang yang diimpor.
Tarif spesifik dikenakan sebagai beban tetap unit barang yang diimpor dan tarif
campuran merupakan gabungan dari tarif ad valorem dan tarif spesifik.
Tarif merupakan pajak yang dikenakan atas impor suatu barang dimana
suatu tarif akan cenderung menaikkan harga dan menurunkan jumlah yang
dikonsumsi, dan menaikkan produksi domestik (Samuelson dan Nordhaus, 2001).
Kebijakan tarif ini disatu sisi bertujuan untuk mengurangi volume impor, namun
disisi lain akan meningkatkan produksi dalam negeri melalui perbaikan harga.
Pemberlakuan tarif impor akan menyebabkan kenaikan harga produk di negara
importir, penurunan konsumsi, peningkatan produksi, penurunan volume impor,
48
dan adanya penerimaaan pemerintah yang berasal dari tarif impor tersebut.
Pemberlakuan tarif impor ini akan menguntungkan produsen domestik karena
harga impor suatu komoditas cenderung lebih mahal daripada harga domestiknya.
Dampak ekonomi dari pengenaan tarif impor oleh negara importir
ditunjukkan oleh Gambar 5 dengan menggunakan asumsi-asumsi antara lain (1)
hanya ada dua negara yaitu negara A sebagai importir, (2) tarif impor yang
dilakukan adalah tarif impor spesifik, dan (3) negara impor adalah negara besar
dimana perubahan jumlah impor dapat mempengaruhi harga dunia.
P
P
P
SA
SB
ES
Pw’+ t
Pw
Pw’
a
b
c
e
4
2
α
d
β
1
3
ED
DA
DB
ED - t
Q
qp qp’ qc’ qc
(a) Negara Importir
Q
qe’ qe
(b) Pasar Dunia
Q
Qc Qc’ Qp’Qp
(c) Negara Eksportir
Sumber : Tweeten, 1992
Gambar 5. Dampak Pengenaan Tarif Impor
Esensi dari kebijakan tarif impor adalah untuk melindungi produsen
domestik.
Berdasarkan
Gambar
5
dapat
diketahui
apabila
pemerintah
memberlakukan kebijakan tarif sebesar t maka menyebabkan biaya impor menjadi
lebih tinggi sehingga menggeser kurva ED sejajar ke bawah dengan jarak vertikal
sesuai dengan besarnya tarif menjadi ED-t. Kondisi ini menyebabkan harga dunia
turun menjadi Pw’ sedangkan harga impor yang diterima konsumen di negara
importir (Gambar 5a) akan meningkat menjadi Pw’+ t. Meningkatnya harga impor
ini menyebabkan permintaan konsumen terhadap komoditas yang perdagangkan
menjadi turun sebesar qc’, sebaliknya produksi domestik akan meningkat sebesar
qp’. Adanya kebijakan tarif ini membuat volume impor negara importir menjadi
turun menjadi qp’- qc’, sedangkan pada negara eksportir, dengan harga dunia Pw’
49
kelebihan penawaran akan turun menjadi Qc’-Qp’ (Gambar 5c). Pada pasar dunia,
akan terbentuk keseimbangan baru yaitu pada tingkat harga dunia sebesar Pw’ dan
volume perdagangan sebesar qe’ (Gambar 5b).
Pengenaan tarif impor terhadap suatu komoditas menyebabkan kenaikan
harga komoditas tersebut sehingga akan menurunkan konsumsi, peningkatan
produksi, penurunan volume impor, dan adanya penerimaan pemerintah dari tarif.
Sedangkan di negara eksportir terjadi penurunan harga sehingga menyebabkan
berkurangnya volume ekspor. Dampak perubahan kesejahteraan dari adanya
pemberlakuan tarif impor dianalisis melalui perubahan-perubahan surplus
konsumen dan surplus produsen serta adanya penerimaan pemerintah dari tarif
dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Analisis Dampak Kebijakan Tarif Impor terhadap Kesejahteraan
Masyarakat di Negara Eksportir dan Importir
Indikator
Surplus Konsumen
Surplus Produsen
Penerimaan Pemerintah
Kesejahteraan nasional bersih
Kesejahteraan dunia bersih
Negara Importir
Negara Eksportir
– (a + b + c + d)
1
a
– (1 + 2 + 3 +4)
c+e
---
e–b–d
– (2 + 3 + 4)
–b–d–2–4
Berdasarkan pada Tabel 4, terlihat bahwa secara umum pengenaan tarif
impor ini akan menurunkan kesejahteraan dunia. Di negara eksportir akan terjadi
penurunan kesejahteraan nasional bersih sebesar daerah (2 + 3 + 4) sedangkan di
negara importir dampaknya terhadap kesejahteraan nasional sangat ditentukan
oleh elastisitas penawaran ekspor. Semakin elastis kurva ES maka daerah (b + d)
akan lebih luas dari daerah (e), sehingga secara umum negara importir akan
semakin dirugikan dengan adanya tarif impor. Pada Tabel 4 dapat diketahui pula
bahwa penurunan tarif impor berarti akan memperkecil penurunan kesejahteraan
masyarakat dunia. Konsumen di negara importir akan menerima kenaikan harga
yang lebih rendah sedangkan produsen di negara eksportir menerima harga yang
lebih tinggi.
50
3.4.4. Kebijakan Kuota Impor
Kuota impor merupakan instrumen pembatasan kuantitas barang yang
dapat diimpor dalam kurun waktu tertentu. Kuota impor disebut mengikat
(binding) apabila kuantitas impor yang diperbolehkan berada di bawah kuantitas
impor yang terjadi dalam perdagangan bebas. Kondisi sebaliknya berlaku untuk
kuota impor yang tidak mengikat (non-binding) (Arifin et al., 2007). Kuota impor
digunakan oleh negara-negara berkembang untuk melindungi produsen dalam
negeri. Kuota impor akan menyebabkan penawaran domestik turun, yang pada
gilirannya akan meningkatkan harga domestik. Dampak pemberlakuan kuota
impor terhadap mekanisme perdagangan dunia dapat dilihat pada Gambar 6.
SA
P
P
SA’
P
ES’
Pd’
SB
a
Pw
b
x
e
c d
1 2 3
y
4
Pw’
ED
DA
ED’
qp
qp’
DB
Q
Q
qc’ qc
(a) Negara Importir
qe’
Q
Qc Qc’ Qp’ Qp
qe
(b) Pasar Dunia
(c) Negara Eksportir
Sumber : Tweeten, 1992
Gambar 6. Dampak Kuota Impor
Pada analisis ini diasumsikan terdapat dua negara yaitu negara A sebagai
negara importir dan negara B (atau gabungan beberapa lainnya) sebagai negara
eksportir. Negara A juga diasumsikan sebagai negara besar dalam perdagangan.
Berdasarkan gambar tersebut keseimbangan mula-mula terjadi pada saat harga
dunia sama dengan harga domestik (P) dan jumlah impor dari negara A sebesar
qc-qp = qe. Adanya pembatasan impor oleh negara A sebesar qe’ menyebabkan
kurva permintaan impor negara A menjadi kurva patah ED’ dan berpotongan
dengan kurva ES membentuk harga Pw’. Akan tetapi, pada harga ini di negara A
terjadi kelebihan permintaan. Kelebihan permintaan ini akan hilang pada tingkat
harga domestik Pd’ yaitu pada perpotongan antara kurva permintaan S A dan kurva
51
penawaran domestik ditambah kuota impor SA’, dimana kurva SA’ sejajar dengan
jarak horizontal sebesar kuota yang ditetapkan. Dengan demikian terlihat
pembatasan impor akan menyebabkan peningkatan harga domestik di negara A
dan harga dunia sehingga volume perdagangan menjadi berkurang.
Selanjutnya dengan adanya kebijakan pembatasan volume impor maka
kebijakan ini akan berpengaruh pada besarnya kesejahteraan yang dapat diperoleh
baik oleh eksportir maupun importir. Perubahan kesejahteraan (surplus) dari
Gambar 6 dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Analisis Dampak Kebijakan Kuota Impor terhadap Kesejahteraan
Masyarakat di Negara Eksportir dan Importir
Indikator
Surplus Konsumen
Surplus Produsen
Penerimaan Pemerintah
Kesejahteraan nasional bersih
Kesejahteraan dunia bersih
Negara Eksportir
Negara Importir
-(a+b+c+d)
1
a
-1-2-3-4
(b+e)
-
-(c+d+e)
-2-3-4
-(c + d + 2 + 4)
Berdasarkan Tabel 5 dapat diketahui bahwa secara umum dampak dari
pemberian kuota impor akan menurunkan kesejahteraan dunia. Secara keseluruhan
kebijakan kuota impor akan menyebabkan terjadinya penurunan kesejahteraan
dunia sebesar daerah (c + d + 2 + 4). Distorsi perdagangan internasional yang telah
dipaparkan dalam penelitian ini difokuskan pada kebijakan distorsi perdagangan di
Indonesia sebagai negara pengimpor gula yaitu berupa pemberlakukan tarif impor
dan kuota impor.
52
53
IV. PERUMUSAN MODEL DAN PROSEDUR ANALISIS
4.1. Jenis, Sumber, dan Pengolahan Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data time series
dengan rentang waktu penelitian tahun 1981-2010. Periode dengan rentang waktu
yang panjang ini dilakukan dengan harapan agar dapat memberikan performance
yang lebih memuaskan. Adapun data yang digunakan dalam penelitian ini
diperoleh dari instansi-instansi terkait dengan tema penulisan tesis ini seperti
Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, Kementerian Pertanian Republik
Indonesia, Direktorat Jenderal Perkebunan Republik Indonesia, Dewan Gula
Indonesia (DGI), dan Badan Pusat Statistik (BPS). Untuk kelengkapan serta
penyesuaian data juga dilakukan pengumpulan data dari beberapa publikasi
seperti Food Agricultural Organization (FAO), World Bank (WB), United States
Development of Agricultural (USDA), dan International Monetary Fund (IMF).
Sebelum dilakukan pengolahan data lebih lanjut, semua variabel dalam bentuk
nominal diriilkan terlebih dahulu, termasuk untuk Produk Domestik Bruto (PDB),
nilai tukar, dan suku bunga Bank Indonesia (BI). Pengolahan data dalam
penelitian ini dilakukan dengan program komputer yaitu SAS 9.1 for Windows.
4.2. Spesifikasi Model Perdagangan Gula Indonesia
Model merupakan suatu abstraksi atau penyederhanaan dari fenomena
yang ada di dunia nyata. Melalui penyederhanaan ini idealnya yang
dimunculkan adalah komponen-komponen penting dari fenomena yang
sesungguhnya diamati, sehingga kita dapat menduga secara akurat atau
mendekati kondisi dan perilaku fenomena tersebut. Salah satu model pendekatan
kuantitatif yang sering digunakan untuk analisis masalah ekonomi adalah model
ekonometrika (Hallam, 1990). Model ekonometrika adalah suatu model statistik
yang menghubungkan variabel-variabel ekonomi dari suatu fenomena ekonomi
yang mencakup unsur stochastic yang terdiri dari satu atau lebih variabel
penganggu (Intriligator, 1978).
54
54
Keterangan :
= variabel endogen
= variabel eksogen
SHS
= faktor konstanta SHS
Gambar 7. Diagram Keterkaitan Variabel dalam Model Perdagangan Gula Indonesia
55
Spesifikasi model ekonometrika disusun berdasarkan teori ekonomi, dan
berbagai pengalaman empiris yang berhubungan dengan fenomena yang sedang
dipelajari. Koutsoyiannis (1977) menyatakan bahwa spesifikasi model meliputi
penentuan mengenai (1) endogenous dan exogenous variable yang dimasukkan
dalam model, (2) harapan secara teori mengenai tanda dan besaran parameter
estimasi dari setiap persamaan, dan (3) bentuk model matematis terkait dengan
jumlah persamaan, bentuk persamaan linear atau non linear, dan lain-lain. Model
yang baik harus dapat memenuhi kriteria ekonomi (theoritically meaningfull),
kriteria statistik yang dilihat dari suatu derajat ketepatan (goodness of fit) biasanya
dengan melihat R2 signifikan secara statistik dan kriteria ekonometrika yaitu
apakah suatu estimasi model memiliki sifat unbias, konsistensi, kecukupan, dan
efisiensi.
Salah satu hal yang sangat diperhatikan adalah tahapan spesifikasi model
yang diharapkan dapat benar-benar mendekati fenomena sesungguhnya.
Berdasarkan tinjauan perkembangan perdagangan gula, relevansi dengan
penelitian terdahulu, dan kerangka teoritis, maka Model Perdagangan Gula
Indonesia dispesifikasikan dalam bentuk persamaan simultan yang keterkaitan
antar variabelnya disajikan dalam Gambar 7.
4.2.1. Luas Areal Perkebunan Tebu Indonesia
Analisis respon luas areal perkebunan tebu dalam penelitian ini dibedakan
berdasarkan status pengusahaannya yaitu perkebunan besar negara, perkebunan
besar swasta, dan perkebunan rakyat. Luas areal perkebunan dipengaruhi oleh
harga gula, dimana dalam penelitian ini dilakukan pembedaan terhadap harga gula
yang
mempengaruhi
perusahaan
perkebunan
rakyat
dengan
perusahaan
perkebunan besar negara dan swasta. Perkebunan rakyat dipengaruhi oleh harga
gula tingkat petani yang merupakan harga lelang dari hasil penggilingan tebu,
sedangkan perkebunan besar negara dan swasta dalam pemasarannya menjual
kepada distributor dan tidak berhubungan dengan petani, sehingga harga yang
mempengaruhi adalah harga gula tingkat pedagang besar. Persamaan areal
perkebunan pada ketiga wilayah tersebut dirumuskan masing-masing sebagai
berikut :
56
APTNt
=
a0 + a1HRGPBt + a2HRGBt + a3JPGt + a4LSBR+ a5T +
a6LAPTN + μ 1 ……………………………………….…(01)
APTSt
=
b0 + b1SHRGPB + b2RHRGB + b3JPGt + b4SBRt + b5T
+ b6 LAPTS + μ2 ……………………………..………....(02)
APTRt
=
c0 + c1HRGPt + c2HRGBt + c3JPGt + c4SBRt + c5T
+ c6 LAPTR + μ3………………………………………..(03)
Tanda parameter estimasi yang diharapkan (hipotesis) adalah :
a1, a3, a5, b1, b3, b5, c1, c3, c5>0 ; a2, a4, b2, b4, c2, c4<0 dan 0<a6, b6, c6<1
dimana :
APTNt
= Luas areal panen perkebunan besar negara tahun t (ha)
APTSt
= Luas areal panen perkebunan besar swasta tahun t (ha)
APTRt
= Luas areal panen perkebunan rakyat tahun t (ha)
HRGPt
= Harga riil gula tingkat petani tahun t (Rp/kg)
HRGPBt
= Harga riil gula tingkat pedagang besar tahun t (Rp/kg)
HRGBt
= Harga riil gabah tingkat petani tahun t (Rp/kg)
SHRGPB = HRGPBt - HRGPBt-1 : Perubahan harga riil gula tingkat
pedagang besar (Rp/kg)
RHRGB
= HRGBt/HRGBt-1 : Rasio harga riil gabah tahun t dengan t-1
JPGt
= Jumlah pabrik gula tahun t (unit)
SBRt
= Suku bunga BI riil tahun t (%)
LSBR
= SBRt-1 : Suku bunga BI riil tahun t-1 (%)
T
= Tren waktu
LAPTN
= APTNt-1 : Luas areal perkebunan besar negara tahun t-1 (ha)
LAPTS
= APTSt-1 : Luas areal perkebunan besar swasta tahun t-1 (ha)
LAPTR
= APTRt-1 : Luas areal perkebunan rakyat tahun t-1 (ha)
μ1, μ2, μ3 = Variabel pengganggu
4.2.2. Produktivitas Gula Hablur Indonesia
Produktivitas gula yang digunakan dalam wujud gula hablur yang
merupakan salah satu hasil pengolahan nira tebu selain molases (tetes tebu) dan
blotong (hasil endapan nira). Produktivitas gula hablur juga didisagregasi
berdasarkan status pengusahaannya, yaitu produktivitas gula hablur perkebunan
besar negara, produktivitas gula hablur perkebunan swasta, dan produktivitas gula
57
hablur perkebunan rakyat. Adapun persamaan produktivitas gula hablur dan tanda
estimasi parameter yang diharapkan adalah :
YGHNt
= d0 + d1HRGPBt + d2SHRPUK + d3LAPTN + d4RENDt +
d5LURBUN + d6T+ μ4…………………………………(04)
YGHSt
= e0 + e1SHRGPB + e2RHPUK + e3LAPTS+ e4CHJt +
e5RENDt + e6URBUNt + e7LYGHS + μ5……………...(05)
YGHRt
= f0 + f1HGPUK + f2LAPTR + f3URBUNt + f4DKKPEt +
f5RENDt + f6LYGHR + μ6………………………………(06)
Tanda parameter estimasi yang diharapkan (hipotesis) adalah :
d1, d3, d4, d6, e1, e3, e4, e5, f1, f2, f4, f5 >0 ; d2, d5, e2, e6, f3 < 0 dan 0< e7, f6 <1
dimana :
YGHNt
= Produktivitas gula hablur perkebunan besar negara tahun t
(ton/ha)
YGHSt
= Produktivitas gula hablur perkebunan besar swasta tahun t
(ton/ha)
YGHRt
= Produktivitas gula hablur perkebunan rakyat tahun t (ton/ha)
HRGPBt
= Harga riil gula tingkat pedagang besar tahun t (Rp/kg)
HGPUK
= HRGPt/HRPUKt : Rasio harga riil gula tingkat petani
dengan harga riil pupuk
SHRGPB = HRGPBt-HRGPBt-1 : Perubahan harga riil gula tingkat
pedagang besar (Rp/kg)
SHRPUK = HRPUKt-HRPUKt-1 : Perubahan harga riil pupuk (Rp/kg)
RHPUK
= HRPUKt/HRPUKt-1 : Rasio harga riil pupuk tahun t dengan
tahun t-1
LAPTN
= APTNt-1 : Luas areal perkebunan besar negara tahun t-1 (ha)
LAPTS
= APTSt-1 : Luas areal perkebunan besar swasta tahun t-1 (ha)
LAPTR
= APTRt-1 : Luas areal perkebunan rakyat tahun t-1 (ha)
URBUNt = Upah riil pekerja sektor perkebunan tahun t (Rp/hari)
LURBUN = URBUNt-1 : Upah riil pekerja sektor perkebunan tahun t
(Rp/hari)
CHJt
= Curah hujan Indonesia tahun t (mm/tahun)
DKKPEt
= Dummy Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKPE)
untuk bongkar ratoon, dimana D = 1 jika ada KKPE dan
D = 0 jika tidak ada KKPE
RENDt
= Rendemen tebu Indonesia pada tahun t (%)
T
= Tren waktu
58
LYGHS
= YGHSt-1 : Produktivitas gula hablur pada perkebunan besar
swasta tahun t-1 (ha)
LYGHR
= YGHRt-1 : Produktivitas gula hablur pada perkebunan
rakyat tahun t-1 (ha)
μ 4 , μ5 , μ6 = Variabel pengganggu
4.2.3. Produksi
4.2.3.1.Produksi Gula Kristal Putih
Produksi gula kristal putih didefinisikan sebagai hasil kali antara luas areal
panen dengan produktivitasnya dengan faktor konstanta SHS = 1.003.
QGKPNt = (APTNt * YGHNt)*1.003 .................................................... (07)
QGKPSt = (APTSt * YGHSt)*1.003 ..................................................... (08)
QGKPRt = (APTRt * YGHRt)*1.003 .................................................... (09)
Total produksi gula kristal putih Indonesia
QGKPt
= QGKPNt + QGKPSt + QGKPR t ........................................ (10)
dimana :
QGKPNt = Produksi gula kristal putih perkebunan besar negara tahun t
(ton)
QGKPSt =
Produksi gula kristal putih perkebunan besar swasta tahun t
(ton)
QGKPRt = Produksi gula kristal putih perkebunan rakyat tahun t (ton)
QGKPt
= Produksi gula kristal putih Indonesia tahun t (ton)
APTNt
= Luas areal panen perkebunan besar negara tahun t (ha)
APTSt
= Luas areal panen perkebunan besar swasta tahun t (ha)
APTRt
= Luas areal panen perkebunan rakyat tahun t (ha)
YGHNt
= Produktivitas gula hablur perkebunan besar negara tahun t
(ton/ha)
YGHSt
= Produktivitas gula hablur perkebunan besar swasta tahun t
(ton/ha)
YGHRt
= Produktivitas gula hablur perkebunan rakyat tahun t (ton/ha)
4.2.3.2.Produksi Gula Indonesia
Produksi gula di Indonesia tidak hanya dihasilkan oleh pabrik gula yang
menggunakan bahan baku tebu, tetapi juga pabrik gula yang berbahan baku gula
mentah. Pabrik gula yang berbahan baku gula mentah ini akan menghasilkan gula
59
yang disebut gula kristal rafinasi. Gula kristal rafinasi sendiri banyak digunakan
untuk industri makanan, minuman, dan farmasi. Di Indonesia, pabrik gula kristal
rafinasi mulai berproduksi tahun 2003. Gula kristal putih (GKP) dan gula kristal
rafinasi (GKR) adalah dua jenis produk gula yang hampir sama, dimana yang
membedakan hanya kualitas yang ditunjukkan oleh nilai ICUMSA gula. Oleh
karena itu, dalam penelitian ini baik GKP maupun GKR dianggap sama atau
homogen, sehingga persamaan produksi gula Indonesia sebagai berikut :
QGINAt = QGKP t + QGKRt ……...…..………....……....…..…...…(11)
dimana :
QGINAt = Produksi gula Indonesia tahun t (ton)
QGKPt
= Produksi gula kristal putih Indonesia tahun t (ton)
QGKRt
= Produksi gula kristal rafinasi Indonesia tahun t (ton)
4.2.4. Penawaran Gula Indonesia
Penawaran gula dalam penelitian ini merupakan penjumlahan dari
produksi gula, jumlah impor gula atau pengadaan luar negeri dan stok gula dalam
negeri. Karena Indonesia merupakan net importir maka jumlah ekspor sangat kecil
sehingga dalam penelitian ini dianggap nol. Adapun persamaan penawaran gula
Indonesia dapat dirumuskan sebagai berikut :
SGINAt = QGINAt + MGINAt + LSTG………...….....……....……...(12)
dimana :
SGINAt = Penawaran gula Indonesia tahun t (ton)
QGINAt = Produksi gula Indonesia tahun t (ton)
MGINAt = Impor gula Indonesia tahun t (ton)
LSTG
= STGt-1 : Stok gula Indonesia tahun t-1 (ton)
4.2.5. Permintaan Gula Indonesia
4.2.5.1.Permintaan Gula Rumah Tangga
Permintaan gula oleh rumah tangga digunakan sebagai konsumsi
langsung. Permintaan gula dipengaruhi oleh harga gula itu sendiri, harga barang
substitusinya, harga barang komplementernya, pendapatan masyarakat, dan
jumlah penduduk. Gula merah dianggap sebagai barang substitusi yang biasa
60
menjadi alternatif pengganti gula oleh konsumen di Indonesia, sedangkan kopi
merupakan barang komplementer dari gula. Permintaan gula rumah tangga
dirumuskan dalam persamaan berikut :
DGRTt
= g0 + g1HRGEt + g2RHRGM + g3HRKOt + g4LJPDBR +
g5POPINAt + g6LDGRT + μ7.............................................(13)
Tanda parameter estimasi yang diharapkan (hipotesis) adalah :
g2, g4, g5 > 0; g1, g3 < 0 dan 0<g6<1
dimana :
DGRTt
= Permintaan gula Indonesia tahun t (ton)
HRGEt == Harga riil eceran gula tahun t (Rp/kg)
RHRGM = HRGMt/HRGMt-1 : Rasio harga riil gula merah tahun t
dengan tahun t-1
HRKOt
= Harga riil kopi tahun t (Rp/kg)
LJPDBR = (PDBRt - PDBRt-1)/PDBRt-1 : Pertumbuhan Produk Domestik
Bruto Indonesia tahun t
POPINAt = Jumlah penduduk Indonesia tahun t (jiwa)
LDGRT = DGRTt-1 : Permintaan gula Indonesia tahun t-1 (ton)
μ7
= Variabel pengganggu
4.2.5.2.Permintaan Gula oleh Industri
Industri yang dimaksud dalam penelitian ini adalah industri makanan dan
minuman yang menggunakan gula sebagai salah satu bahan baku produksinya.
Gula yang biasa digunakan oleh industri makanan dan minuman adalah gula
kristal rafinasi karena industri ini membutuhkan gula dengan kadar kotoran yang
sedikit dan warna yang putih. Permintaan gula oleh industri makanan dan
minuman dipengaruhi oleh harga gula tingkat pedagang besar, harga komposit
makanan dan minuman, jumlah industri makanan dan minuman, serta PDB sektor
industri makanan dan minuman. Harga komposit makanan dan minuman
ditetapkan berdasarkan harga ekspor dari produk makanan dan minuman yang
paling banyak diekspor, yaitu confectionary sugar (permen gula). Permintaan gula
oleh industri makanan dan minuman dirumuskan dalam persamaan berikut :
DGINt
= h0 + h1LHRGPB + h2HRKINt + h3LJJIM + h4L2PDBIN +
h5LDGIN + μ8…………………………….………………(14)
61
Tanda parameter estimasi yang diharapkan (hipotesis) adalah :
h2, h3, h4>0; h1<0 dan 0<h5<1
dimana :
DGIN t
= Permintaan gula industri tahun t (ton)
LHRGPB==
HRGPBt-1 : Harga riil gula pedagang besar tahun t (Rp/kg)
t
HRKINt
= Harga riil komposit produk makanan dan minuman tahun t
(US$/kg)
LJJIM
= (JIMt-JIMt-1)/JIMt-1 : Pertumbuhan industri makanan dan
minuman tahun t
L2PDBIN = PDBINRt-2 : Produk Domestik Bruto riil Sektor Industri
Makanan dan Minuman tahun t-2 (Rp miliar)
LDGIN
= DGINt-1: Permintaan gula industri tahun t-1 (ton)
μ8
= variabel penganggu
4.2.5.3.Permintaan Gula Indonesia
Permintaan gula Indonesia merupakan penjumlahan dari permintaan gula
oleh rumah tangga dan industri. Persamaan total permintaan gula di Indonesia
adalah sebagai berikut :
DGINAt = DGRTt + DGINt ……………...………….………………(14)
dimana :
DGINAt = Permintaan gula Indonesia tahun t (ton)
DGRTt
= Permintaan gula rumah tangga tahun t (ton)
DGINt
= Permintaan gula industri tahun t (ton)
4.2.6. Harga Gula Indonesia
4.2.6.1.Harga Gula Tingkat Petani
Harga gula tingkat petani yang dimasukkan dalam penelitian ini adalah
harga gula yang diterima oleh petani. Sebelum tahun 2000 harga gula yang
diterima petani adalah harga provenue yang merupakan harga pembelian BULOG
kepada petani tebu. Tahun 2000-2003 harga gula yang diterima petani adalah
harga gula lelang kesepakatan antara petani dengan investor gula, sedangkan
setelah tahun 2004 hingga saat ini harga gula yang diterima petani adalah harga
lelang berdasarkan harga patokan petani (HPP) sebagai harga dasar pembelian
62
gula oleh investor. Adapun persamaan harga gula tingkat petani dirumuskan
dalam persamaan berikut :
HRGPt
= i0 + i1HRGPBt + i2RQGINA + i3DHPP + i4T + i5LHRGP
+ μ9……………………………………………………...(16)
Tanda parameter estimasi yang diharapkan (hipotesis) adalah :
i1, i3, i4 >0; i2 <0 dan 0<i5<1
dimana :
HRGPt
= Harga riil gula tingkat petani tahun t (Rp/kg)
HRGPBt
= Harga riil gula tingkat pedagang besar tahun t (Rp/kg)
RQGINA
= QGINAt/QGINAt-1 : Produksi gula Indonesia tahun t-1 (ton)
DHPP
= Dummy Kebijakan HPP Gula, dimana D = 1 jika ada
kebijakan HPP dan D = 0 jika tidak ada kebijakan HPP
T
= Tren waktu
LHRGP
= HRGPt-1 : Harga gula riil di tingkat petani tahun t-1 (Rp/kg)
μ9
= Variabel pengganggu
4.2.6.2.Harga Gula Tingkat Pedagang Besar
Harga gula di tingkat pedagang besar meliputi biaya pembelian dan biaya
transportasi. Adapun persamaan harga gula di tingkat pedagang besar dirumuskan
dalam persamaan berikut :
HRGPBt
= j0 + j1HRGEt + j2T + j3LHRGPB + μ10………………….(17)
Tanda parameter estimasi yang diharapkan (hipotesis) adalah :
j1, j2>0 dan 0<j3<1
dimana :
HRGPBt
= Harga riil gula di tingkat pedagang besar tahun t (Rp/kg)
HRGEt
= Harga riil eceran gula tahun t (Rp/kg)
T
= Tren waktu
LHRGPB = HRGPBt -1 : Harga riil gula tingkat pedagang besar tahun
t-1 (Rp/kg)
μ9
= Variabel pengganggu
63
4.2.6.3.Harga Eceran Gula Indonesia
Harga eceran gula merupakan harga yang diterima oleh konsumen.
Persamaan harga eceran gula Indonesia dirumuskan dalam sebagai berikut :
HRGEt
= k0 + k1HRGINAt + k2DGINAt + k3SGINAt + μ11……….(18)
Tanda parameter estimasi yang diharapkan (hipotesis) adalah :
k1, k2>0 dan k3<0
dimana :
HRGEt
= Harga riil eceran gula tahun t (Rp/kg)
HRGINAt = Harga impor riil gula Indonesia tahun t (Rp/kg)
DGINAt
= Permintaan gula Indonesia tahun t (ton)
SGINAt
= Penawaran gula Indonesia tahun t (ton)
μ11
= Variabel pengganggu
4.2.6.4.Harga Impor Gula Indonesia
Harga impor gula Indonesia yang digunakan dalam penelitian ini adalah
harga rata-rata impor gula Indonesia dari beberapa negara eksportir yang
mengekspor gulanya ke Indonesia. Adapun persamaan harga impor gula Indonesia
dirumuskan dalam persamaan berikut :
HRGINAt
= l0 + l1HRGWt + l2T + l3LHRGINA + μ12…….……......(19)
Tanda parameter estimasi yang diharapkan (hipotesis) adalah :
l1, l2>0 dan 0<l3<1
dimana :
HRGINAt
= Harga impor riil gula Indonesia tahun t (Rp/Kg)
HRGWt
= Harga riil gula dunia tahun t (US$/ton)
T
= Tren waktu
LHRGINA = HRGINAt-1 : Harga impor riil gula Indonesia tahun t-1
(Rp/kg)
μ12
= Variabel pengganggu
64
4.2.7. Impor Gula Indonesia
4.2.7.1.Impor Gula Indonesia dari Thailand
Thailand merupakan ekspotir gula utama bagi Indonesia, karena Thailand
merupakan produsen penghasil gula terbesar di Asia Tenggara. Adapun impor
gula Indonesia dari Thailand dapat dirumuskan dalam persamaan berikut :
MGITHt
= m0 + m1HRGINAt + m2QGINAt + m3ERITHt + m4LSTG
+ m5TIGt + m6T + m7LMGITH+ μ13…………..….…..…(20)
Tanda parameter estimasi yang diharapkan (hipotesis) adalah :
m6>0; m1, m2, m3, m4, m5<0 dan 0<m7<1
dimana :
MGITHt
= Impor gula Indonesia dari Thailand tahun t (kg)
HRGINAt = Harga impor riil gula Indonesia tahun t (Rp/Kg)
QGINAt
= Produksi gula Indonesia (ton)
ERITHt
= Nilai tukar riil Indonesia terhadap Thailand tahun t (Rp/Bath)
LSTG
= STGt-1 : Stok gula Indonesia tahun t-1 (ton)
TIGt
= Tarif impor gula Indonesia tahun t (%)
T
= Tren waktu
LMGITH = MGITHt-1 : Impor gula Indonesia dari Thailand tahun t-1 (ton)
μ13
= Variabel pengganggu
4.2.7.2.Impor Gula Indonesia dari China
China merupakan salah satu negara produsen gula terbesar di dunia.
Tujuan utama ekspor gula China adalah Indonesia. Indonesia dan China akan
terlibat dalam perdagangan bebas gula melalui skema perjanjian perdagangan
ACFTA. Adapun impor gula Indonesia dari China dapat dirumuskan dalam
persamaan berikut :
MGICNt
= n0 + n1SHRGINA + n2QGINAt + n3TIGt + n4SERICN
+ n5SSTG+ n6T + μ14…………………….……….….....(21)
Tanda parameter estimasi yang diharapkan (hipotesis) adalah :
n1, n2, n3, n4, n5<0 dan n6>0
dimana :
MGICNt
=
SHRGINA =
Impor gula Indonesia dari China tahun t (ton)
HRGINAt - HRGINAt-1 : Perubahan harga impor riil gula
Indonesia tahun t (Rp/Kg)
65
QGINAt
=
Produksi gula Indonesia tahun t (ton)
TIGt
=
Tarif impor gula Indonesia tahun t (%)
SERICN
=
ERICNt - ERICNt-1: Perubahan nilai tukar riil Indonesia
terhadap China tahun t (Rp/Yuan)
SSTG
=
STGt - STGt-1 : Perubahan stok gula Indonesia tahun t (ton)
T
=
Tren waktu
μ14
=
Variabel pengganggu
4.2.7.3.Total Impor Gula Indonesia
Total impor gula Indonesia adalah penjumlahan dari permintaan impor
gula Indonesia dari Thailand, China, dan negara lain. Persamaan impor gula
Indonesia dirumuskan sebagai berikut :
MGINAt
= MGITHt + MGICNt + MGIRWt……………………..…(22)
dimana :
MGITHt
= Impor gula Indonesia dari Thailand tahun t (ton)
MGICNt
= Impor gula Indonesia dari China tahun t (ton)
MGIRWt
= Impor gula negara lain (rest of the world) tahun t (ton)
4.2.8. Ekspor Impor Gula Dunia
Ekspor Gula Dunia
4.2.8.1. Ekspor Gula Brazil
Brazil merupakan negara produsen dan eksportir gula baik untuk gula
mentah maupun gula kristal rafinasi terbesar di dunia. Adapun persamaan ekspor
gula Brazil dirumuskan sebagai berikut :
XGBRt
= o0 + o1HRGWt + o2QGBR + o3SERBRt + o4LXGBR+ μ15 (23)
Tanda parameter estimasi yang diharapkan (hipotesis) adalah :
o1, o2, o3 >0 dan 0<o4<1
dimana :
XGBRt
= Ekspor gula Brazil tahun t (ton)
HRGWt = Harga riil gula dunia tahun t (US$/ton)
QGBRt
= Produksi gula Brazil tahun t (ton)
SERBR = ERBRt - ERBRt-1 : Perubahan Nilai tukar riil Brazil terhadap
Dollar Amerika tahun t (R$/US$)
66
LXGBR = XGBRt-1 : Ekspor gula Brazil tahun t-1 (ton)
μ15
= Variabel pengganggu
4.2.8.2.Ekspor Gula Thailand
Thailand juga merupakan produsen dan eksportir gula baik raw sugar
maupun refined sugar dengan share terbesar kedua di dunia. Adapun persamaan
ekspor gula Thailand dirumuskan dalam persamaan berikut :
XGTHt
= p0 + p1HRGWt + p2QGTHt + p3SERTH + p4T + μ16……..(24)
Tanda parameter estimasi yang diharapkan (hipotesis) adalah :
p1, p2, p3, p4>0
dimana :
XGTHt
= Ekspor gula Thailand tahun t (ton)
HRGWt = Harga riil gula dunia tahun t (US$/ton)
QGTHt
= Produksi gula Thailand tahun t (ton)
SERTH = ERTHt - ERTHt-1 : Nilai tukar riil Thailand terhadap Dollar
Amerika (Bath/US$)
T
= Tren waktu
μ16
= Variabel pengganggu
4.2.8.3. Total Ekspor Gula Dunia
Ekspor gula dunia dibentuk melalui persamaan identitas yang merupakan
penjumlahan dari ekspor gula negara eksportir terbesar dunia (Brazil dan
Thailand) dan negara lainnya. Setiap perubahan yang mempengaruhi ekspor gula
negara-negara eksportir terbesar dunia mempengaruhi ekspor gula dunia.
XGWt
= XGBRt + XGTHt + XGRWt.................................................(25)
dimana :
XGWt
= Ekspor gula dunia tahun t (ton)
XGBRt
= Ekspor gula Brazil tahun t (ton)
XGTHt
= Ekspor gula Thailand tahun t (ton)
XGRWt = Ekspor gula sisa dunia (selain Brazil dan Thailand) tahun t
(ton)
67
Impor Gula Dunia
4.2.8.4. Impor Gula India
India yang merupakan salah satu negara dengan penduduk terbesar di
dunia juga merupakan importir gula. Adapun persamaan gula India dirumuskan
dalam persamaan berikut :
MGINt
= q0 + q1HRGWt + q2QGINt + q3LJPOPIN + q4SERIN +
q5IRINt + q6T + μ17…….........................……….…….......(26)
Tanda parameter estimasi yang diharapkan (hipotesis) adalah :
q3, q5, q6>0 dan q1, q2, q4<0
dimana :
MGINt
= Impor gula India tahun t (ton)
HRGWt
= Harga riil gula dunia tahun t (US$/ton)
QGINt
= Produksi gula India tahun t (ton)
LJPOPIN = (POPINt - POPINt-1)/POPINt-1 : Pertumbuhan populasi penduduk
India
SERIN
= ERINt - ERINt-1 : Nilai tukar India terhadap Dollar Amerika
(Rupee/US$)
IRINt
= Pendapatan riil India (US$)
T
= Tren waktu
μ17
= Variabel pengganggu
4.2.8.5.Impor Gula Amerika Serikat
Amerika Serikat yang merupakan negara produsen gula juga menjadi
negara yang mengimpor gula dari negara lain untuk memenuhi kebutuhan gula
penduduknya. Adapun persamaan gula India dirumuskan dalam persamaan
berikut :
MGUSt
= r0 + r1SHRGW + r2QGUSt + r3CGUSt + r4STUSt + r5LMGUS
+ μ18………………………………………………………(27)
Tanda parameter estimasi yang diharapkan (hipotesis) adalah :
r3>0; r1, r2, r4<0dan 0<r5<1
dimana :
MGUSt
= Impor gula Amerika Serikat tahun t (ton)
SHRGW
= HRGWt - HRGWt-1: Harga gula dunia tahun t-1 (US$/ton)
68
QGUSt
= Produksi gula Amerika Serikat tahun t (ton)
CGUSt
= Konsumsi gula Amerika Serikat tahun t (ton)
STUSt
= Stok gula Amerika Serikat tahun t (ton)
LMGUS
= MGUSt-1: Impor gula Amerika Serikat tahun t-1 (ton)
μ18
= Variabel pengganggu
4.2.8.6.Impor Gula China
China sekalipun merupakan negara penghasil gula terbesar di dunia juga
masih kekurangan dalam memenuhi kebutuhan gula penduduknya yang terbesar
di dunia sehingga harus melakukan impor gula dari negara lain. Adapun
persamaan gula India dirumuskan dalam persamaan berikut :
MGCNt
= s0 + s1LHRGW + s2QGCNt + s3CGCNt + s4STCNt + s5IRCNt
+ s6LJPOPCN + s7LMGCN+ μ19…………..……………..(28)
Tanda parameter estimasi yang diharapkan (hipotesis) adalah :
s3, s5, s6>0; s1, s2, s4 <0dan 0<s7<1
dimana :
MGCNt
= Impor gula China tahun t (ton)
LHRGW
= HRGWt-1: Harga gula dunia tahun t-1 (US$/ton)
QGCNt
= Produksi gula China tahun t (ton)
CGCNt
= Konsumsi gula China tahun t (ton)
STCNt
= Stok gula China tahun t (ton)
IRCNt
= Pendapatan riil China (US$)
LJPOPCN = (POPCNt-POPCNt-1)/POPCNt-1 : Populasi China tahun t (jiwa)
LMGCN
= MGCNt-1: Impor gula China tahun t-1 (ton)
μ19
= Variabel pengganggu
4.2.8.7. Total Impor Gula Dunia
Total impor gula dunia merupakan penjumlahan dari impor negara
terbesar gula di dunia, yaitu India, Amerika Serikat, China, dan Indonesia.
Indonesia dalam penelitian ini diasumsikan sebagai negara importir gula yang
cukup besar di dunia dengan pertimbangan share impor gula Indonesia terhadap
impor gula dunia yang cukup tinggi dan masuk dalam sepuluh besar negara
importir gula dunia. Negara lain yang mengimpor gula dikelompokkan sebagai
69
rest of the world atau sisa dunia. Adapun persamaan total impor gula dunia
dirumuskan sebagai berikut :
MGWt
= MGINt + MGUSt + MGCNt + MGINAt + MGRWt...........(29)
dimana :
MGWt
Impor gula dunia tahun t (ton)
MGINt
Impor gula India tahun t (ton)
MGUSt
Impor gula Amerika Serikat tahun t (ton)
MGCNt
Impor gula China tahun t (ton)
MGINAt
Impor gula Indonesia tahun t (ton)
MGRWt
Impor gula sisa dunia tahun t (selain India, Amerika Serikat
dan China) (ton)
4.2.9. Harga Gula Dunia
Setiap komoditas ekspor masing-masing memiliki harga yang ditentukan
oleh keseimbangan pasar dunia. Harga dunia yang digunakan dalam penelitian ini
adalah harga dunia untuk white sugar. Harga dunia tersebut sangat ditentukan
oleh penawaran ekspor dan permintaan gula dunia. Selain itu juga dipengaruhi
oleh harga gula dunia sebelumnya. Oleh karena itu, persamaan harga gula dunia
dapat dirumuskan sebagai berikut :
HRGWt
= t0 + t1XGWt + t2MGWt + t3LHRGW + μ20………....……(30)
Tanda parameter estimasi yang diharapkan (hipotesis) adalah :
dimana :
4.3.
HRGWt
= Harga gula dunia tahun t (US$/ton)
XGWt
= Volume ekspor gula dunia tahun t (ton)
MGWt
= Volume impor gula dunia tahun t (ton)
LHRGW
= HRGWt-1: Harga gula dunia tahun t-1 (US$/ton)
μ20
= Variabel pengganggu
Prosedur Analisis
4.3.1. Identifikasi Model
Identifikasi dilakukan sebelum estimasi model dan tidak hanya terkait
dengan penentuan metode estimasi model, tetapi juga spesifikasi model
70
persamaan simultan. Identifikasi model persamaan struktural berdasarkan order
condition menurut Koutsoyiannis (1977) dapat ditentukan dengan rumus :
(K-M) ≥ (G-1) ……………………………..………….………..………(31)
dimana :
K
= Total variabel dalam model (variabel endogen dan eksogen)
M
= Jumlah variabel endogen dan eksogen terbanyak dalam
persamaan
G
= Total persamaan (jumlah variabel endogen dalam model)
Apabila (K–M) lebih besar dari (G–1) maka persamaan teridentifikasi
berlebih dikatakan over-identified. Jika (K–M) sama dengan (G–1) maka
persamaan teridentifikasi tepat exactly-identified dan jika (K–M) lebih kecil dari
(G–1) maka persamaan dikatakan dikatakan under-identified. Hasil identifikasi
setiap persamaan struktural haruslah exactly-identified atau over-identified untuk
dapat menduga parameter-parameternya.
Model Perdagangan Gula Indonesia yang telah dirumuskan terdiri dari 30
persamaaan dengan 20 persamaan struktural dan 10 persamaan identitas. Model
ini terdiri dari 30 variabel endogen (G) dan 74 predetermined variables yang
terdiri dari 15 lag variabel endogen dan 59 variabel eksogen, sehingga total
variabel dalam model adalah 104 variabel (K). Jumlah variabel yang paling
banyak dalam persamaan adalah 7 variabel (M). Berdasarkan kriteria order
condition, maka dapat disimpulkan bahwa setiap persamaan struktural yang
terdapat dalam model adalah over identified.
4.3.2. Metode Estimasi Model
Berdasarkan hasil identifikasi model yang menyatakan model over
identified, maka estimasi model dapat dilakukan dengan metode 2SLS (Two Stage
Least Squares) atau metode 3SLS (Three Stage Least Squares). Koutsoyiannis
(1977) menjelaskan bahwa metode 3SLS sensitif terhadap perubahan spesifikasi
model. Apabila terdapat perubahan spesifikasi pada salah satu persamaan dalam
sistem maka dapat mempengaruhi semua estimasi parameter. Sedangkan menurut
Gujarati (2004), metode 2SLS tidak terlalu sensitif terhadap terhadap kesalahan
spesifikasi model serta dapat memberikan estimasi parameter secara konsisten dan
71
tidak bias. Selain itu, metode 3SLS memerlukan data sampel yang lebih besar
daripada metode 2SLS karena semua parameter struktural diestimasi pada waktu
yang sama (Sinaga, 1989). Berdasarkan pertimbangan ketersediaan data dan
kemungkinan adanya perubahan dalam spesifikasi model untuk alternatif simulasi
kebijakan, maka metode estimasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah
2SLS.
4.3.2.1.Uji Statistik F
Pengujian statistik F digunakan untuk mengetahui dan menguji apakah
variabel penjelas secara bersama-sama mampu menjelaskan keragaman variabel
endogen (Koutsoyiannis, 1977). Mekanisme untuk menguji hipotesis dari estimasi
parameter secara bersama-sama (uji statistik F) adalah sebagai berikut :
Hipotesis :
Ho : β1= β2 = β3 =…..= βi = 0
H1 : minimal ada satu βi ≠ 0
dimana :
i = banyaknya variabel penjelas dalam suatu persamaan
β= estimasi parameter
Kriteria yang digunakan dalam pengujian estimasi model adalah :
1. Apabila nilai probabilitas (Pr) uji statistik F < taraf α = 5 persen maka H0
ditolak. Artinya variabel penjelas secara bersama-sama mampu menjelaskan
keragaman dari variabel endogen.
2. Apabila nilai probabilitas (Pr) uji statistik F > taraf α = 5 persen maka H0
diterima. Artinya variabel penjelas secara bersama-sama tidak mampu
menjelaskan keragaman dari variabel endogen.
4.3.2.2.Uji Statistik-t
Uji statistik-t digunakan untuk menguji apakah masing-masing variabel
penjelas secara parsial berpengaruh secara nyata terhadap variabel endogennya.
Adapun mekanisme pengujian hipotesis dari estimasi parameter secara parsial (uji
statistik t) adalah sebagai berikut :
72
Hipotesis :
H0 : βi = 0 (tidak ada pengaruh Xi terhadap Y)
H1 : Pengujian satu arah
a) βi > 0 (ada pengaruh positif Xi terhadap Y)
b) βi < 0 (ada pengaruh negatif Xi terhadap Y)
Pengujian dua arah
c) βi ≠ 0 (ada pengaruh Xi terhadap Y)
Kriteria pengujian :
1. H0 ditolak apabila H1 : βi > 0 ; dengan probabilitas uji t < α
2. H0 ditolak apabila H1 : βi < 0 ; dengan probabilitas uji t < α
3. H0 ditolak apabila H1 : βi ≠ 0 ; dengan probabilitas uji t < 𝛼/2
Penelitian ini menggunakan uji satu arah dengan taraf α = 15 persen, sehingga
apabila nilai probabilitas uji statistik-t < taraf α =15 persen maka H0 ditolak. Hal ini
berarti bahwa variabel penjelas berpengaruh secara nyata terhadap variabel
endogennya. Pada program SAS, hasil uji statistik bisa dilihat dari nilai probabilitas
(Pr). Nilai probabilitas ini merupakan probabilitas untuk uji dua sisi (two tails test),
sehingga untuk pengujian satu arah nilai probabilitas harus dibagi dua.
4.3.2.3.Uji Statistik Durbin-h
Metode pengujian yang sering digunakan untuk mendeteksi adanya serial
korelasi (autocorrelation) adalah dengan statistik dw (Durbin Watson Statistics).
Namun, mengingat di dalam model terdapat persamaan yang mengandung
variabel bedakala, maka penggunaan statistik dw sudah tidak valid. Oleh karena
itu, digunakan uji statistik dh (Durbin-h Statistics) untuk mengetahui ada tidaknya
serial korelasi pada persamaan yang mengandung variabel bedakala (Pindyck dan
Rubinfield, 1998). Persamaan 32 berikut merupakan formula untuk memperoleh
nilai Durbin-h Statistics atau hhitung.
 d
hhitung  1  W
2


N

............................................................(32)

 1  N Var  
dimana :
h
= Nilai statistik durbin h
N
= Jumlah pengamatan contoh
73
Var (β) = Varians dari koefisien lag endogen
dW
= Nilai durbin watson hitung (dari pengolahan komputer)
Apabila digunakan taraf α = 5 persen, sehingga diketahui -1.96 ≤ hhitung ≤
1.96, maka dapat disimpulkan persamaan tidak mengalami masalah serial
korelasi. Namun apabila diketahui hhitung<-1.96 maka terdapat autokorelasi
negatif, sebaliknya apabila nilai hhitung >1.96 maka terdapat autokorelasi positif.
4.3.3. Validasi Model
Tujuan dari validasi model adalah untuk menganalisis sejauh mana model
dapat menggambarkan dunia nyata. Untuk mengetahui apakah model cukup valid
digunakan untuk simulasi kebijakan ekonomi di sektor pertanian dan perubahan
faktor eksternal, maka dilakukan validasi model. Kriteria statistik yang digunakan
untuk validasi nilai estimasi Model Perdagangan Gula Indonesia dalam penelitian
ini yaitu RMSPE (Root Mean Squares Percent Error) dan Theil’s Inequality
Coefficient (U) (Pindyck dan Rubinfield, 1998). Adapun kriterita validasi tersebut
dirumuskan sebagai berikut :
2
s
a
1 T  Yt  Yt

RMSPE 

T t 1  Yta

U
1 T
 Yts  Yta
T t 1
 
1 T
 Yts
T t 1
2

 100% ……………..….………………(33)



2
 
1 T

 Yta
T t 1
……………..………...……..……...(34)
2
dimana :
Yt s
= Nilai simulasi dasar dari variabel endogen
Yt a
= Nilai aktual variabel endogen
T
= Jumlah periode pengamatan
U
= Theil’s inequality coefficient
RMSPE
= Root Mean Squares Percent Error
Statistika RMSPE digunakan untuk mengukur presentase penyimpangan
nilai-nilai estimasi variabel endogen dari nilai aktualnya selama periode
pengamatan. Semakin kecil nilai RMSPE maka estimasi variabel endogen tersebut
74
semakin valid. Sitepu dan Sinaga (2006) juga menyatakan bahwa nilai statistik U
dapat digunakan sebagai ukuran validasi model untuk mengevaluasi kemampuan
model dalam analisis simulasi. Statistik U selalu bernilai antara 0 dan 1. Jika nilai
U=1 maka estimasi variabel endogen adalah naif, sedangkan jika U=0 maka
estimasi variabel endogen sempurna, sangat mendekati kenyataan. Oleh karena itu,
semakin kecil nilai RMSPE dan U maka estimasi variabel endogen semakin baik.
4.3.4. Simulasi Model
Prosedur selanjutnya setelah validasi model adalah simulasi model.
Simulasi diperlukan untuk mempelajari dampak perubahan variabel eksogen
terhadap variabel endogen dalam model. Tujuan dari simulasi dalam penelitian ini
adalah untuk menjelaskan dampak dari berbagai kebijakan ekonomi di sektor
pertanian dan perubahan faktor eksternal terhadap Model Perdagangan Gula
Indonesia dan terhadap surplus produsen, surplus konsumen, penerimaan
pemerintah dari tarif, serta devisa impor.
Pindyck dan Rubinfield (1998) menjelaskan bahwa simulasi model
bertujuan untuk mengevaluasi kebijakan masa lampau dan membuat peramalan
untuk masa yang akan datang. Dalam penelitian ini, simulasi digunakan untuk
mengevaluasi alternatif kebijakan ekonomi di sektor pertanian dan faktor
eksternal melalui simulasi historis (ex post simulation) dan untuk meramalkan
dampak alternatif kebijakan dan perubahan faktor eksternal melalui simulasi
peramalan (ex ante simulation).
4.3.4.1.Simulasi Historis (Ex Post Simulation)
Tujuan kedua mengenai evaluasi dampak kebijakan ekonomi di sektor
pertanian terhadap permintaan dan penawaran gula Indonesia, penerimaan
pemerintah dan kesejahteraan pelaku ekonomi gula Indonesia pada tahun 20042010 diselesaikan dengan menggunakan simulasi historis. Pada analisis simulasi
ini lebih lanjut dapat dilihat dampaknya terhadap perubahan tingkat kesejahteraan
baik menurut pelaku pasar maupun masyarakat secara keseluruhan. Skenario
simulasi kebijakan ekonomi di sektor pertanian yang dilakukan dalam penelitian
ini antara lain :
75
1.
Peningkatan harga gula tingkat petani sebesar 25 persen
HPP untuk komoditas gula kristal putih selalu mengalami revisi setiap
tahunnya. Beberapa pertimbangan mengenai kenaikan HPP gula ini antara
lain disesuaikan dengan perhitungan biaya pokok produksi yang mengalami
kenaikan dikarenakan biaya sewa lahan yang juga mengalami kenaikan.
Selain itu, kenaikan inflasi juga menjadi perhitungan dalam kenaikan HPP
gula. Peningkatan harga gula tingkat petani disimulasikan sebesar 25 persen.
HPP gula pada tahun 2010 mengalami peningkatan dari sebelumnya sebesar
Rp 5 350.00 menjadi Rp 6 350.00 atau sebesar 18.7 persen sedangkan Dewan
Gula Indonesia mengusulkan kenaikan harga gula tingkat petani sebesar 25
persen.
2.
Peningkatan harga eceran tertinggi pupuk 33 persen
Tata niaga pupuk diatur oleh pemerintah mengingat peranannya yang esensial
dalam produksi gula Indonesia. Dasar pertimbangan simulasi kebijakan
peningkatan harga eceran tertinggi (HET) pupuk adalah pernyataan pemerintah
melalui Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No.32 Tahun 2010 yang
menaikkan harga eceran tertinggi (HET) untuk pupuk bersubsidi yang
diaplikasikan di seluruh wilayah Indonesia dari harga sebelumnya Rp 1 200.00
per kilogram meningkat menjadi Rp 1 600.00 per kilogram atau sebesar 33.33
persen. Adapun tujuan kebijakan tersebut antara lain (1) menghindari
penggunaan pupuk urea berlebih guna meningkatkan produksi dan rendemen
tebu, (2) mengurangi subsidi pupuk, dan (3) diharapkan dalam jangka
panjang petani dapat beralih menggunakan pupuk organik.
3.
Peningkatan luas areal perkebunan tebu Indonesia 20 persen
Salah satu program revitalisasi industri gula yang dicanangkan pemerintah
untuk pencapaian swasembada gula adalah ekstensifikasi pertanian.
Dukungan lahan pertanian yang dicanangkan oleh pemerintah untuk
tercapainya program tersebut adalah 350 ribu hektar. Namun, hingga saat ini
target perluasan areal tersebut belum tercapai. Peningkatan luas areal tanam
tebu di Indonesia hingga tahun 2010 hanya mencapai 3.75 persen per
tahunnya, sedangkan harapan pemerintah peluang ekstensifikasi lahan
perkebunan tebu untuk tahun 2011 bisa mencapai 20 persen.
76
4.
Penurunan tarif impor 49 persen
Seiring dengan penerapan kebijakan ACFTA di Indonesia yang masih
memperbolehkan penurunan tarif impor di Indonesia hingga 50 persen, maka
berdasarkan kebijakan sebelumnya ingin diketahui dampak penurunan tarif
impor sebesar 49 persen. Simulasi kebijakan penurunan tarif ini didasarkan
atas Peraturan Menteri Keuangan No.83/PMK.01/2005 yang pernah
memberikan keringanan tarif bea masuk atas impor gula menjadi Rp 400.00
per kilogram dari sebelumnya Rp 790.00 per kilogram atau sebesar 49 persen.
5.
Penurunan kuota impor gula 50 persen
Penurunan kuota impor ini didasarkan atas wacana pemerintah yang
mengusulkan untuk penurunan kuota impor gula sampai 50 persen.
Pembatasan kuota impor tersebut diharapkan dapat memacu para petani tebu
untuk meningkatkan produksinya dan mengurangi rembesan gula kristal
rafinasi ke pasar konsumsi.
4.3.4.2.Simulasi Peramalan (Ex Ante Simulation)
Simulasi peramalan digunakan untuk menjawab tujuan penelitian ketiga
yaitu meramalkan dampak kebijakan ekonomi di sektor pertanian dan perubahan
faktor eksternal terhadap keragaan industri gula nasional, kesejahteraan pelaku
ekonomi gula di Indonesia, dan penerimaan pemerintah dengan membandingkan
pada 2 periode, yaitu sebelum diberlakukannya liberalisasi perdagangan gula
ACFTA (2011-2014) dan pada saat liberalisasi perdagangan gula ACFTA (20152020). Simulasi peramalan dalam penelitian ini dibedakan menjadi dua yaitu
simulasi tunggal dan simulasi kombinasi. Adapun skenario simulasi tersebut
antara lain :
Skenario Simulasi Tunggal Kebijakan Ekonomi di Sektor Pertanian
1.
Peningkatan harga gula tingkat petani sebesar 30 persen.
Peningkatan harga gula tingkat petani ini didasarkan atas keluhan petani
melalui APTRI (Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia) yang menginginkan
kenaikan HPP gula sebesar 30 persen. Usulan HPP sebesar 30 persen yang
diinginkan petani tersebut diperoleh dengan asumsi kenaikan biaya produksi
yang sebesar 30 persen yang terdiri dari biaya sewa lahan, sewa traktor, bibit,
77
biaya tanam, biaya tebang, biaya angkut, dan kenaikan harga bahan bakar
minyak (BBM) bukan 14.7 persen seperti survei yang dilakukan oleh tim
independen. Dengan HPP yang ada dan memperhitungkan 10 persen besarnya
keuntungan bagi petani dirasa terlalu kecil bagi petani sebab petani
membutuhkan waktu satu tahun untuk mendapatkan keuntungan 10 persen.
2.
Penguatan kembali peran BULOG
Melalui Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 25 Tahun
1998, pemerintah telah menghapuskan peranan BULOG sebagai pengendali
tunggal tata niaga gula di Indonesia. Penghapusan intervensi gula oleh BULOG
ini juga berarti bahwa stok gula yang ada pada BULOG setelah kebijakan
tersebut adalah nol atau tidak ada lagi. Namun kemudian pemerintah
menyadari bahwa selama ini ketika produksi gula di dalam negeri tidak ada
karena musim giling sudah selesai, pedagang sering kali memainkan harga gula
di tingkat konsumen. Sementara pemerintah juga tidak dapat menstabilkan
harga gula, karena tidak adanya stok gula. Oleh karena itu, muncul wacana dari
Panitia Kerja swasembada gula DPR untuk mengembalikan peran BULOG
sebagai buffer stock pengendalikan harga komoditas strategis ini. Wacana
peningkatan
kembali
peran
BULOG
sebagai
lembaga
buffer
stock
disimulasikan dengan peningkatan stok gula sebesar 20 persen.
3.
Peningkatan luas areal perkebunan tebu 30 persen
Peningkatan luas areal perkebunan tebu ini merupakan salah satu upaya
pemerintah untuk mencapai swasembada gula yang telah dirumuskan melalui
Program Revitalisasi Industri Gula Nasional. Dalam program tersebut
pemerintah berharap dapat membuka areal perkebunan baru untuk
pertanaman tebu sebesar 350 ribu hektar atau meningkat sekitar 30 persen,
baik yang diupayakan oleh pihak pemerintah maupun swasta.
4.
Swasembada absolut gula di Indonesia
Simulasi ini dimaksudkan untuk mengetahui kesiapan industri gula Indonesia
dalam permintaan dan penawarannya apabila pemerintah menutup kran
impor. Hal ini sejalan dengan salah satu varian dari konsep swasembada
pangan dengan pemenuhan kebutuhan pangan seluruhnya oleh produksi
dalam negeri tanpa adanya impor gula.
78
5.
Penghapusan tarif impor gula di Indonesia
Sejak tanggal 1 Januari 2010 perjanjian antara China dan Indonesia efektif
berlaku. Sesuai dengan skema kesepakatan ACFTA dimana komoditas gula
yang dimasukkan kategori HSL akan mengalami penghapusan atau
penurunan tarif pada 1 Januari 2015. Untuk melihat performansi industri gula
di Indonesia terkait dengan impor gula, maka dilakukan simulasi
penghapusan tarif yang artinya tarif impor gula sebesar nol.
6.
Penurunan Tarif Impor Gula
Simulasi ini dimaksudkan untuk melihat alternatif penurunan tarif impor gula
terbaik yang masih dapat diterapkan dalam era liberalisasi perdagangan gula
ACFTA pada komoditas yang masuk dalam kategori HSL. Karena batas
penurunan tarif yang diperbolehkan dalam perjanjian tersebut adalah antara 0
sampai 50 persen, maka simulasi kebijakan penurunan tarif impor yang
dilakukan antara lain penurunan tarif 10 persen, 30 persen, dan 50 persen.
Skenario Tunggal Simulasi Perubahan Faktor Eksternal
Simulasi perubahan faktor eksternal dalam penelitian ini meliputi : (1)
peningkatan produksi gula China sebesar 20 persen dan (2) peningkatan produksi
gula Thailand dan Brazil sebesar 20 persen. Pertimbangan memasukkan China
didasarkan pada proyeksi adanya peningkatan produksi gula negara ini akibat
peningkatan efisiensi pabrik gula yang mampu menghasilkan gula lebih banyak,
sedangkan pertimbangan memasukkan Brazil dan Thailand sehubungan dengan
terus menurunnya harga gula dunia menyusul keberhasilan panen kedua negara
yang notabene menjadi eksportir gula terbesar di dunia. Besarnya perubahan
sebesar 20 persen tersebut semata-mata hanya berdasarkan kecenderungan adanya
peningkatan volume produksi dari negara bersangkutan mendekati 20 persen.
Skenario Simulasi Kombinasi Kebijakan Ekonomi di Sektor Pertanian
1. Kombinasi penurunan tarif impor 50 persen dan peningkatan harga gula
tingkat petani 30 persen. Skenario kebijakan kombinasi ini dilakukan untuk
melihat bagaimana kebijakan peningkatan harga gula tingkat petani yang
direfleksikan dari peningkatan HPP gula dapat melindungi industri gula
khususnya produsen domestik dari derasnya impor gula jika kebijakan
penurunan tarif impor harus dilakukan.
79
2. Penurunan tarif impor 50 persen, peningkatan harga gula petani 30 persen,
dan peningkatan luas areal 30 persen. Skenario kombinasi ini dilakukan untuk
melihat bagaimana kebijakan harga gula tingkat petani dan tercapainya target
perluasan areal dalam Program Revitalisasi Industri Gula Nasional mampu
melindungi industri gula dari serbuan gula impor.
3. Kombinasi peningkatan produksi gula China 20 persen, penurunan tarif impor
30 persen, peningkatan harga gula tingkat petani 30 persen, dan peningkatan
stok gula 20 persen. Simulasi ini dilakukan untuk melihat efektivitas dari
kebijakan peningkatan harga gula tingkat petani 30 persen dan peningkatan
stok dalam melindungi industri gula nasional dari peningkatan produksi gula
China yang diduga akan meningkatkan ekspornya ke Indonesia serta
keharusan penurunan tarif impor sesuai skema ACFTA yang menyebabkan
peningkatan impor gula Indonesia.
4. Penurunan tarif impor 50 persen, peningkatan harga gula tingkat petani 30
persen, peningkatan luas areal 30 persen, dan peningkatan stok gula 20 persen.
Kombinasi simulasi ini dilakukan untuk melihat bagaimana peningkatan luas
areal, peningkatan stok gula, dan peningkatan harga gula tingkat petani mampu
melindungi industri gula nasional dan kesejahteraan masyarakat.
4.3.5. Metode Peramalan
Proses simulasi pada periode peramalan dilakukan melalui beberapa
tahapan. Tahap pertama adalah meramalkan variabel eksogen. Prosedur yang
digunakan untuk meramalkan nilai-nilai variabel eksogen adalah prosedur
FORECAST. Prosedur tersebut merupakan prosedur ekstrapolasi yang praktis dan
efisien dalam meramalkan nilai variabel tertentu dibandingkan dengan prosedur
ilmiah yang memerlukan pengujian hipotesis yang lebih rumit (Sitepu dan Sinaga,
2006). Metode yang dapat digunakan untuk meramalkan nilai-nilai variabel
eksogen antara lain Stepwise Autoregressive Method (STEPAR), Exponential
Smoothing Method (EXPO), dan Winters Exponentially Smoothed Trend-Seasonal
Method (WINTERS). Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode
STEPAR. Metode ini mengkombinasikan kecenderungan waktu dengan
autoregressive dan menggunakan metode stepwise untuk memilih lag yang
80
digunakan pada prosedur autoregressive. Program dan hasil peramalan variabel
eksogen dapat dilihat pada Lampiran 9 dan Lampiran 10. Tahap kedua adalah
peramalan nilai variabel endogen menggunakan prosedur SIMNLIN dan metode
NEWTON. Program dan hasil peramalan variabel endogen dapat dilihat pada
Lampiran 11 dan Lampiran 12.
4.4. Analisis Perubahan Indikator Kesejahteraan
Surplus produsen dan konsumen menunjukkan tingkat kesejahteraan
masyarakat dan merupakan indikator penentu arah kebijakan yang dilakukan.
Perubahan kesejahteraan dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Perubahan Surplus Produsen Gula = a + b + c
a. Produsen Perkebunan Besar Negara
QGKPNb(HRGPBs – HRGPBb) + ½ (QGKPNs – QGKPNb) (HRGPBs – HRGPBb)
b. Produsen Perkebunan Besar Swasta
QGKPSb(HRGPBs – HRGPBb) + ½ (QGKPSs – QGKPSb) (HRGPBs – HRGPBb)
c. Produsen Perkebunan Rakyat
QGKPNb(HRGPs – HRGPb) + ½ (QGKPNs – QGKPNb) (HRGPs – HRGPb)
2. Perubahan Surplus Konsumen = a + b + c
a. Konsumen Rumah Tangga
DGRTb(HRGEb – HRGEs) + ½(DGRTb–DGRTs)(HRGEs – HRGEb)
b. Konsumen Industri
DGINb(HRGPBb – HRGPBs) + ½(DGINb–DGINs)(HRGPBs – HRGPBb)
3. Perubahan Penerimaan Pemerintah dari Tarif Impor Gula = a + b + c
a. Impor Gula Indonesia dari Thailand
(TIGs*MGITHs*(HRGINAs*1000))/100 - (TIGd*MGITHd*(HRGINAd*1000))/100
b. Impor Gula Indonesia dari China
(TIGs*MGICNs*(HRGINAs*1000))/100 - (TIGd*MGICNd*(HRGINAd*1000))/100
c. Impor Gula Indonesia dari Negara Lain
(TIGs*MGIRWs*(HRGINAs*1000))/100 - (TIGd*MGIRWd*(HRGINAd*1000))/100
4. Penerimaan Devisa Negara
a. Impor Gula Indonesia dari Thailand
(MGITHs*HRGINAs*1000) - (MGITHd*HRGINAd*1000)
81
b. Impor Gula Indonesia dari China
(MGICNs*HRGINAs*1000) - (MGICNd*HRGINAd*1000)
c. Impor Gula Indonesia dari Negara Lain
(MGIRWs*HRGINAs*1000) - (MGIRWd*HRGINAd*1000)
5. Kesejahteraan Pelaku Pasar
Net Surplus = Perubahan surplus produsen + Perubahan surplus konsumen +
Penerimaan pemerintah dari tarif impor gula
Keterangan :
Subscript d
= menyatakan nilai simulasi dasar
Subscript s
= menyatakan nilai simulasi kebijakan
QGKPN
= Produksi gula kristal putih perkebunan besar negara (ton)
QGKPS
= Produksi gula kristal putih perkebunan besar swasta (ton)
QGKPR
= Produksi gula kristal putih perkebunan rakyat (ton)
DGRT
= Permintaan gula rumah tangga (ton)
DGIN
= Permintaan gula industri (ton)
HRGE
= Harga riil eceran gula (Rp/Kg)
HRGPB
= Harga riil gula tingkat pedagang besar (Rp/Kg)
HRGP
= Harga riil gula tingkat petani (Rp/Kg)
HRGINA
= Harga impor riil gula Indonesia (Rp/Kg)
TIG
= Tarif impor gula Indonesia (%)
MGITH
= Impor gula Indonesia dari Thailand (ton)
MGICN
= Impor gula Indonesia dari China (ton)
MGIRW
= Impor gula Indonesia dari Negara Lain (ton)
82
83
V. KERAGAAN INDUSTRI GULA INDONESIA
5.1. Luas Areal Perkebunan Tebu dan Produktivitas Gula Hablur Indonesia
Tebu merupakan tanaman yang ditanam untuk bahan baku gula. Tujuan
penanaman tebu adalah untuk menghasilkan gula hablur yang tinggi. Gula hablur
ini merupakan sukrosa yang dikristalkan, dimana dalam sistem produksi gula
pembentukan gula terjadi di dalam proses metabolisme tanaman. Pabrik gula
sebenarnya hanya berfungsi sebagai alat ekstraksi untuk mengeluarkan nira dari
batang tebu dan mengolahnya menjadi gula kristal. Perkembangan luas areal
perkebunan tebu dan produktivitas gula hablur di Indonesia dari tahun 2005-2011
dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Luas Areal Perkebunan Tebu dan Produktivitas Gula Hablur Indonesia
Luas Areal (ha)
Tahun
PBN
PBS
Produktivitas (ton/ha)
PR
PBN
PBS
PR
2005
80 383
89 924
211 479
5.27
6.95
5.64
2006
87 227
95 338
213 876
5.20
6.58
5.74
2007
81 655
96 657
249 487
5.20
7.08
6.07
2008
82 222
101 500
252 783
4.82
7.25
6.08
2009
74 185
105 549
243 219
4.81
7.90
5.46
2010
76 250
114 494
243 513
4.13
5.94
5.32
79 302
114 554
280 067
5.89
8.25
6.24
*)
2011
Keterangan :
PBN
PBS
PR
*)
Sumber
: Perkebunan Besar Negara
: Perkebunan Besar Swasta
: Perkebunan Rakyat
: Angka sementara
: Ditjenbun (2011)
Saat ini perkebunan rakyat mendominasi luas areal perkebunan tebu di
Indonesia. Berdasarkan data dari tahun 2005-2011 terlihat bahwa perkebunan
rakyat memiliki luas areal yang terbesar dibandingkan luas areal perkebuan besar
negara dan swasta. Pada tahun 2010 dari total areal perkebunan tebu nasional
seluas 434 257 ha, sekitar 243 513 ha (56.08 persen) diusahakan oleh perkebunan
rakyat, sedangkan 76 250 ha (17.56 persen) diusahakan oleh perkebunan besar
negara dan sisanya 114 494 ha (26.37 persen) diusahakan oleh perkebunan besar
swasta. Pada periode 2005-2011 pertumbuhan luas areal perkebunan besar swasta
selalu mengalami peningkatan dengan laju pertumbuhan 4.48 persen per tahun,
84
sedangkan luas areal perkebunan rakyat mencapai 6.46 persen per tahun,
sementara luas areal perkebunan besar negara hanya 0.37 persen per tahun. Luas
areal perkebunan rakyat mengalami penurunan pada tahun 2009. Hal ini dipicu
oleh anjloknya harga gula pada periode tersebut sehingga menurunkan minat
petani untuk menanam tebu, sedangkan pada perkebunan besar negara, anomali
cuaca yang tidak kondusif menyebabkan banyak tebu yang tidak berbunga
sehingga tanaman tebu banyak yang mati. Selain itu, terjadinya konflik hak guna
usaha pada perkebunan besar negara VII Unit Usaha Cinta Manis Sumatera
Selatan yang berujung pada pembakaran luas areal perkebunan sehingga
mengurangi luas areal perkebunan besar negara.
Apabila ditinjau dari sisi produktivitasnya, selama kurun waktu 2005-2011
rata-rata tingkat produktivitas gula hablur pada perkebunan besar swasta jauh
lebih tinggi dibandingkan pada perkebunan rakyat dan perkebunan besar negara.
Produktivitas perkebunan rakyat dan negara cenderung mengalami penurunan,
sedangkan swasta mengalami peningkatan. Namun, pada tahun 2010 seluruh
perkebunan mengalami penurunan produktivitas sebelum akhirnya kembali
mengalami peningkatan pada tahun 2011. Produktivitas perkebunan rakyat
meningkat sebesar 6.24 ton per hektar, perkebunan besar negara meningkat 5.89
ton per hektar, sedangkan perkebunan besar swasta meningkat 8.25 ton per hektar.
Produktivitas perkebunan besar swasta lebih baik karena lahan perkebunan
tebunya berstatus Hak Guna Usaha (HGU) yang didukung dengan pola
manajemen budidaya tebu yang integratif dan dikelola dengan baik.
Dalam rangka mendukung target swasembada gula nasional pada 2014,
pemerintah mencanangkan program revitalisasi dengan memperluas tanaman tebu
dan peningkatan produktivitas melalui penataan komposisi varietas, percepatan
pembibitan dengan menerapkan metode colombia, rehabilitasi, dan revitalisasi
pabrik gula serta peningkatan efisiensi pabrik serta peningkatan kualitas hasil
produksi (Tim Nasional Revitalisasi Industri Gula, 2010). Target perluasan areal
tebu dalam rangka program revitalisasi adalah seluas 600 ribu hektar. Akan tetapi
sampai saat ini masalah yang dihadapi oleh industri perkebunan tebu adalah masih
kurangnya areal perkebunan dalam rangka mendukung program tersebut.
85
5.2. Perkembangan Produksi, Konsumsi, Impor, dan Stok Gula Indonesia
5.2.1. Produksi Gula Kristal Putih dan Gula Kristal Rafinasi
Gula merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat dan telah
ditetapkan sebagai salah satu komoditas strategis sebagaimana yang tertuang
dalam Kepres No. 57 Tahun 2004. Indonesia pernah menjadi negara produsen
gula terbesar kedua setelah Kuba yang mampu memasok kebutuhan gula negaranegara lain. Namun, saat ini fakta tersebut telah berbalik, dan Indonesia menjadi
salah satu negara pengimpor gula terbesar di dunia. Hal ini terjadi karena produksi
gula Indonesia tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri.
Pabrik gula di Indonesia tidak hanya memproduksi gula kristal putih, tetapi sejak
tahun 2003 juga memproduksi gula kristal rafinasi. Gula kristal putih ditujukan
untuk konsumsi rumah tangga, sedangkan gula kristal rafinasi untuk konsumsi
industri. Berikut ini adalah perkembangan produksi gula kristal putih dan rafinasi
di Indonesia tahun 2003-2010.
Tabel 7. Perkembangan Produksi Gula Kristal Putih dan Gula Kristal
Rafinasi di Indonesia Tahun 2003-2010
Produksi (ton)
Tahun
Gula Kristal Putih
Gula Kristal Rafinasi
2003
1 631 919
329 547
2004
2 051 643
439 990
2005
2 241 742
759 708
2006
2 307 027
1 100 228
2007
2 448 143
1 441 501
2008
2 668 428
1 256 435
2009
2 299 504
2 031 843
2010
2 214 488
2 356 805
2011
2 228 259
2 192 109
Sumber : Dewan Gula Indonesia, 2012
Produksi gula kristal putih merupakan produksi gula yang berbahan baku
tebu petani, sedangkan produksi gula kristal rafinasi sebagian besar bahan
bakunya masih berupa gula mentah yang berasal dari impor. Berdasarkan Tabel 7
tampak bahwa produksi gula kristal putih Indonesia dari tahun 2003 hingga 2010
mengalami pertumbuhan yang lebih rendah bila dibandingkan dengan produksi
86
gula kristal rafinasi yang baru berdiri sejak tahun 2003. Sejak awal berdirinya,
hanya terdapat tiga pelaku usaha gula kristal rafinasi. Selama periode 2003-2005,
ketiga pelaku usaha tersebut mampu memasok kebutuhan gula kristal rafinasi
untuk industri hingga 759.71 ribu ton per tahun. Kemudian pada 2006-2008,
pelaku usaha di industri gula kristal rafinasi ini bertambah menjadi tujuh pelaku
usaha dengan total kemampuan pasokan meningkat jadi sekitar 1.1 juta ton hingga
1.4 juta ton per tahun. Pada 2009 hingga sekarang, total pelaku usaha dalam
industri gula kristal rafinasi menjadi delapan, sehingga kemampuan pasokan
industri rafinasi mencapai lebih dari 2 juta ton per tahun. Pertumbuhan produksi
gula kristal rafinasi paling tinggi adalah pada tahun 2009 yaitu tumbuh 61.71
persen menjadi 2.031 juta ton gula, sedangkan gula kristal putih, yang mayoritas
diproduksi oleh pabrik gula BUMN dan swasta yang berjumlah 62 unit hanya
mampu berproduksi 2.228 juta ton pada tahun 2011.
Produksi gula kristal putih bahkan tidak mampu tumbuh lebih dari 10
persen dalam setiap tahunnya. Pada tahun 2009 produksi gula kristal putih
mengalami penurunan paling besar, yaitu 13.83 persen dari 2.668 juta ton pada
tahun 2008 menjadi hanya sebesar 2.299 juta ton pada tahun 2009. Bahkan pada
tahun 2010 produksi gula kristal putih masih mengalami penurunan hingga
menyebabkan produksinya lebih rendah dibandingkan gula kristal rafinasi.
Ketidakmampuan produksi gula kristal putih dalam meningkatkan laju
produksinya, disebabkan pabrik-pabrik gula yang memproduksi gula kristal putih
tersebut mayoritas adalah pabrik-pabrik tua peninggalan pemerintah Hindia
Belanda yang dalam prosesnya kurang memenuhi standar sebagai produsen bahan
pangan.
5.2.2. Konsumsi Gula Rumah Tangga dan Industri
Indonesia merupakan negara yang masih menganut dualisme gula, dimana
di Indonesia konsumsi gula di Indonesia dibedakan berdasarkan penggunaannya,
yaitu konsumsi gula langsung atau rumah tangga dan konsumsi gula industri. Gula
kristal putih adalah gula yang ditujukan untuk konsumen rumah tangga,
sedangkan gula kristal rafinasi tidak diperbolehkan untuk dikonsumsi rumah
tangga sehingga hanya sektor industri yang mempergunakan gula jenis ini. Sektor
87
industri yang paling banyak menggunakan gula kristal rafinasi adalah sektor
industri makanan dan minuman. Namun, kurangnya pengawasan membuat tidak
sedikit gula kristal rafinasi merembes pada pasar konsumsi. Berikut ini adalah
perkembangan konsumsi gula kristal putih dan gula kristal rafinasi di Indonesia
tahun 2003-2007.
Tabel 8. Konsumsi Gula Kristal Putih dan Gula Kristal Rafinasi di
Indonesia Tahun 2003-2010
Konsumsi (ton)
Tahun
Gula Kristal Putih
Gula Kristal Rafinasi
2003
2 309 570
845 918
2004
2 441 279
904 203
2005
2 616 480
1 373 403
2006
2 719 956
1 532 837
2007
2 618 679
2 084 737
2008
2 693 559
1 647 555
2009
3 011 971
2 280 139
2010
2 288 025
2 519 232
2011
2 768 831
2 246 705
Sumber : Dewan Gula Indonesia, 2012
Konsumsi gula kristal putih di Indonesia berfluktuasi dalam setiap
tahunnya. Konsumsi gula kristal putih mengalami penurunan 24.04 persen dari
tahun 2009 sebesar 3.012 juta ton menjadi 2.288 juta ton pada tahun 2010. Seiring
dengan peningkatan produksinya, pertumbuhan konsumsi gula kristal rafinasi juga
lebih tinggi dibanding pertumbuhan gula kristal putih. Gula kristal rafinasi
meningkat 38.40 persen pada tahun 2009 dengan total konsumsi mencapai 2.280
juta ton. Bahkan pada tahun 2010, konsumsi gula kristal rafinasi meningkat 10.49
persen atau sebesar 2.519 juta ton lebih tinggi dari konsumsi gula rumah tangga.
5.2.3. Impor Gula Indonesia
Berdasarkan Tabel 7 dan 8 dapat dilihat bahwa kebutuhan gula di
Indonesia baik gula kristal putih maupun rafinasi seringkali lebih tinggi daripada
produksi gula di Indonesia. Adanya gap atau selisih antara produksi dan konsumsi
ini yang menyebabkan Indonesia selalu membuka kran impornya untuk memenuhi
kekurangan konsumsi gula dalam negeri. Peningkatan tersebut selain karena
88
peningkatan jumlah penduduk dan tingkat perekonomian masyarakat yang
mengalami peningkatan juga karena meningkatnya kebutuhan gula karena industri
makanan dan minuman juga mengalami kemajuan. Perkembangan impor gula
Indonesia ditunjukkan oleh Tabel 9.
Tabel 9. Impor Gula Kristal Putih, Gula Mentah, dan Gula Kristal Rafinasi
di Indonesia Tahun 2003-2010
Impor (ton)
Tahun
Gula Kristal
Gula Kristal Putih
Gula Mentah
Rafinasi
2003
647 908
350 582
516 371
2004
256 589
478 250
464 213
2005
453 160
808 200
629 615
2006
216 490
952 387
462 741
2007
448 681
1 255 522
715 930
2008
49 025
1 213 470
453 743
2009
13 000
1 670 000
149 837
2010
446 894
2 265 000
158 384
2011
143 479
2 268 954
60 412
Sumber : Dewan Gula Indonesia, 2012
Berdasarkan Tabel 9 diketahui bahwa laju pertumbuhan impor gula kristal
putih relatif berfluktuasi dipengaruhi oleh kebijakan impor yang diterapkan oleh
pemerintah. Impor gula kristal putih mempunyai komposisi yang lebih kecil
dibanding impor gula kristal rafinasi dan gula mentah karena impor gula kristal
putih dilakukan hanya untuk memenuhi kekurangan kebutuhan gula didaerah non
sentra produksi. Daerah sentra produksi gula di Indonesia berada pada wilayah
Indonesia bagian barat sehingga kekurangan gula pada non sentra produksi atau
wilayah timur Indonesia seringkali dipenuhi melalui impor karena distribusi dari
daerah sentra produksi membutuhkan waktu yang relatif lama dan biaya
transportasi yang tinggi apabila menunggu distribusi gula dari wilayah barat.
Sejak tahun 2007 impor gula kristal putih telah mengalami penurunan namun
pada tahun 2010 impor gula kristal putih meningkat kembali menjadi 446.89 ribu
ton karena faktor cuaca yang menyebabkan penurunan produksi.
89
Impor gula mentah digunakan oleh pelaku-pelaku dalam industri gula
kristal rafinasi di Indonesia untuk kemudian diolah menjadi gula kristal rafinasi.
Berdasarkan Tabel 9 seiring dengan bertambahnya jumlah pabrik gula kristal
rafinasi maka permintaan akan impor gula mentah juga terus meningkat.
Peningkatan impor gula mentah terjadi sejak tahun 2007 yang dari tahun ke tahun
terus mengalami peningkatan. Impor gula mentah tahun 2011 mencapai 2.268 juta
ton. Untuk memenuhi kebutuhan gula kristal rafinasi yang terus meningkat dari
tahun ke tahun pemerintah juga melakukan impor langsung gula kristal rafinasi
untuk diserap oleh industri yang menggunakan bahan baku gula kristal rafinasi.
Perkembangan impor gula kristal rafinasi menunjukkan tren penurunan seiring
dengan peningkatan pabrik gula kristal rafinasi. Hingga tahun 2011 impor
langsung gula kristal rafinasi hanya 60.412 ribu ton.
5.3. Stok Gula Indonesia
Peningkatan impor gula yang terus meningkat dari tahun ke tahun karena
ketidakmampuan industri gula dalam meningkatkan produksinya semakin
diperparah dengan tidak adanya peran BULOG dalam importasi gula Indonesia.
Hal ini menyebabkan stok gula mengalami peningkatan setiap tahunnya. Stok
gula yang tercatat kini merupakan data stok gula yang terdapat pada perusahaanperusahaan gula. Berikut ini adalah data yang menunjukkan perkembangan stok
gula di Indonesia tahun 2003-2011.
Tabel 10. Stok Awal Gula Kristal Putih dan Gula Kristal Rafinasi di
Indonesia Tahun 2003-2010
Stok Awal Tahun (ton)
Tahun
Gula Kristal Putih
Gula Kristal Rafinasi
2003
391 701
75 000
2004
528 986
75 000
2005
397 219
75 000
2006
617 581
90 920
2007
446 142
121 052
2008
888 485
193 746
2009
947 926
256 369
2010
352 852
157 910
2011
876 102
153 868
Sumber: Dewan Gula Indonesia, 2012
90
Berdasarkan data pada Tabel 10 tampak bahwa pasokan gula yang tidak
tersalurkan berfluktuasi setiap tahunnya. Menyikapi data tersebut, seharusnya
dengan tingkat stok gula kristal putih yang tinggi tersebut pemerintah tidak perlu
melakukan atau mengurangi impor gula kristal putih pada tahun-tahun berikutnya.
Namun, berdasarkan data impor gula kristal putih pada Tabel 8 menunjukkan
bahwa impor gula kristal putih tetap dilakukan oleh pemerintah. Hal ini
menunjukkan ketidakcermatan pemerintah dalam menghitung stok gula kristal
putih yang membuat impor terus dilakukan. Terlebih lagi, data stok tersebut
belum termasuk gula selundupan atau ilegal dan rembesan gula kristal rafinasi
yang beredar pada pasar konsumsi. Peningkatan stok gula kristal putih paling
besar terjadi pada tahun 2008 dan 2010. Pada tahun 2008 stok gula kristal putih
meningkat sebesar 99.15 persen menjadi sebesar 888.48 ribu ton, sedangkan pada
tahun 2011 meningkat 148.28 persen atau sebesar 876.10 ribu ton.
Stok gula kristal rafinasi cenderung lebih rendah dibandikan cadangan
gula kristal putih. Hal ini menunjukkan distribusi dan impor gula kristal rafinasi
lebih efektif dibandingkan impor gula kristal putih. Gula kristal rafinasi diimpor
oleh beberapa produsen gula kristal rafinasi yang jumlahnya lebih sedikit dari
produsen gula kristal putih. Gula kristal rafinasi mengalami peningkatan paling
besar tahun 2008 sebesar 60.05 persen atau sebesar 193.75 ribu ton dan meningkat
kembali 32.32 persen atau sebesar 256.37 ribu ton pada tahun 2010. Sejak 2 tahun
terakhir stok gula kristal rafinasi menunjukkan tren penurunan. Perhitungan
neraca gula yang tidak cermat inilah yang membuat impor gula dan produksi gula
yang sebenarnya mencukupi untuk kebutuhan nasional tidak terserap oleh pasar.
Kelebihan stok gula kristal putih yang cukup besar dari tahun ke tahun diduga
disebabkan diluar musim giling stok gula kristal putih dikuasai oleh beberapa
pedagang besar saja. Hal ini yang membuat pemerintah melakukan impor gula
untuk menjaga stabilitas harga gula didalam negeri. Penguatan peran BULOG
tampaknya dibutuhkan sebagai lembaga yang berwenang mengatur impor gula
dan lembaga buffer stock untuk komoditas strategis seperti gula, sehingga
perhitungan kekurangan pasokan gula dapat dilakukan secara cermat.
91
5.3. Perkembangan Harga Patokan Petani, Harga Lelang, Harga Domestik,
dan Harga Dunia Gula
Sejak tahun 2004 pemerintah mengeluarkan kebijakan dalam industri gula
yang lebih mengarah untuk melindungi petani dan meningkatkan kesejahteraan
dalam rangka mewujudkan swasembada gula. Perlindungan tersebut berupa
penetapan harga patokan petani (HPP) yang besarnya ditentukan oleh pemerintah
dan direvisi setiap tahunnya. HPP ini menjadi tolak ukur dalam pembentukan
harga gula awal pada tingkat petani yang dikenal sebagai harga lelang. Di
Indonesia dikenal istilah “the seven samurai” yaitu tujuh pengusaha yang bermain
dalam industri pergulaan Indonesia. Kelompok pengusaha tersebut beroperasi
melalui sistem pembelian gula melalui lelang. Tidak hanya adanya pengusaha
besar yang mempengaruhi pergerakan harga gula di Indonesia, keterlibatan
Indonesia dalam perdagangan internasional membuat harga gula domestik tidak
lagi ditentukan oleh harga gula petani melainkan harga gula dunia turut
mempengaruhi pergerakan harga gula domestik. Pergerakan harga gula baik pada
pasar domestik maupun pada pasar dunia disajikan pada Tabel 11.
Tabel 11. Perkembangan Harga Patokan Petani, Harga Lelang, Harga
Domestik, dan Harga Dunia Gula Tahun 2004-2011
Harga Gula (Rp/Kg)
Tahun
HPP
Lelang
Domestik
Dunia
2004
3 410
3 609
5 489.70
1 417.10
2005
3 800
4 585
5 979.80
2 114.38
2006
4 000
5 380
6 341.90
2 984.80
2007
4 900
5 382
6 190.80
2 030.86
2008
5 100
5 255
8 205.00
2 729.76
2009
5 350
7 056
8 752.00
4 132.77
2010
6 350
8 732
10 502.00
4 270.42
2011
7 000
8 142
9 981.20
5 040.18
Sumber :
Data HPP, Harga Lelang, dan Harga Domestik : Dewan Gula Indonesia, 2012
Data harga gula dunia : International Sugar Organization (ISO), 2012
Harga nominal gula baik pada pasar domestik maupun dunia menunjukkan
tren peningkatan. Berdasarkan Tabel 11 HPP gula setiap tahunnya direvisi oleh
pemerintah dan menunjukkan tren peningkatan. Presentase peningkatan terbesar
terjadi pada tahun 2007 dimana HPP gula meningkat 22.50 persen atau Rp 900.00
92
dan pada tahun 2010 yang meningkat Rp 1 000.00 atau 18.7 persen. Namun,
harga lelang gula yang diterima petani mengalami fluktuasi, dan memiliki laju
pertumbuhan yang menurun. Pada tahun 2008 harga lelang yang diterima petani
menurun 2.36 persen dari harga lelang tahun sebelumnya. Demikian pula yang
terjadi pada tahun 2011, dimana petani menerima harga lelang hanya Rp 8 142.00
atau menurun 6.76 persen dari tahun sebelumnya.
Harga gula dunia secara umum mengalami peningkatan. Penurunan harga
gula terjadi pada tahun 2007 yaitu sebesar Rp 2 030.86 per kilogram atau
menurun 31.96 persen dari tahun sebelumnya. Penurunan ini disebabkan
menurunnya produksi gula Brazil yang merupakan eksportir utama gula dunia.
Namun setelah tahun 2007 harga gula dunia terus melambung. Pergerakan harga
gula domestik cenderung mengikuti pergerakan harga gula dunia. Walaupun
pemerintah telah menerapkan berbagai kebijakan impor gula, harga gula di pasar
dunia berpengaruh cukup signifikan terhadap harga gula domestik baik pada harga
lelang yang diterima petani maupun harga domestik. Harga gula domestik
mengalami peningkatan setiap tahunnya kecuali pada tahun 2011 yang mengalami
penurunan menjadi Rp 9 981.20. Penurunan ini diakibatkan oleh banyaknya gula
impor yang diperparah dengan impor gula ilegal yang masuk ke pasar konsumen.
Penurunan harga gula ini juga berimbas pada penurunan harga lelang gula yang
diterima petani.
5.4. Produksi dan Konsumsi Gula Dunia
5.4.1. Produksi Gula Dunia
Sebagai salah satu komoditas pangan yang berguna sebagai sumber kalori
yang penting bagi manusia, gula banyak diproduksi oleh beberapa negara yang
mempunyai kesesuaian lahan dan iklim untuk budidaya tebu. Negara-negara
penghasil gula terbesar adalah negara-negara dengan iklim hangat seperti Brazil,
Australia, dan Thailand. Perkembangan produksi gula pada negara-negara
penghasil gula cenderung mengalami peningkatan setiap tahunnya seiring dengan
kemajuan teknologi dalam budidaya tebu dan tingkat efisiensi pabrik gula dalam
memproduksi gula. Berikut ini pada Tabel 12 dapat dilihat perkembangan 10
negara produsen gula utama di dunia pada periode 2008-2010.
93
Tabel 12. Produksi Gula di Beberapa Negara Produsen Terbesar Gula
Dunia Tahun 2008-2010
Tahun (ton)
No
Produksi
2008
2009
2010
1. Brazil
29 517 295
31 864 673
36 680 773
2.
India
26 338 546
14 673 413
18 985 281
3.
China
12 490 322
10 788 040
10 515 179
4.
Thailand
7 190 929
6 611 398
6 374 158
5.
Amerika Serikat
6 286 109
6 514 259
6 535 419
6.
Mexico
5 464 397
4 565 317
4 439 319
7.
Australia
4 382 190
4 263 109
4 157 314
8.
Pakistan
3 829 807
3 206 992
3 606 256
9.
Perancis
3 529 899
3 980 681
3 557 498
3 347 185
3 870 708
3 349 052
10. Jerman
Sumber : FAO, 2012
Berdasarkan Tabel 12 dapat diketahui bahwa Brazil masih menduduki
peringkat pertama produsen gula dunia. Produksi gula Brazil selalu mengalami
peningkatan dari tahun ke tahun. Berdasarkan Tabel 8 terlihat bahwa produksi
gula Brazil pada tahun 2010 sebanyak 38.68 juta ton atau mampu menguasai
25.74 persen produksi gula dunia yang meningkat dari tahun sebelumnya yang
hanya mampu menguasai 23.29 persen produksi gula dunia. Keberhasilan Brazil
dalam industri gula ini karena dukungan teknologi yang lebih maju baik dalam
pembibitan, pemeliharaan, dan pemanenan tebu dibanding negara lainnya. India
juga merupakan negara produsen terbesar kedua di dunia. Namun tren produksi
gula India mengalami penurunan. Produksi gula India sebesar 26.34 juta ton pada
tahun 2008 dan mengalami penurunan sebesar 7.03 persen menjadi hanya sebesar
14.673 juta ton pada tahun 2009. Kemudian kembali mengalami peningkatan
sebesar 18.985 juta ton. Penurunan gula India ini dikarenakan cuaca yang sangat
ekstrim dan bencana kekeringan yang melanda negara ini. Demikian juga dengan
China yang menjadi negara dengan penduduk terbesar di dunia juga merupakan
produsen gula ketiga terbesar di dunia. Produksi gula China menguasai 7.38
persen produksi gula dunia atau sebesar 18.985 juta ton. Thailand menjadi salah
satu produsen gula terbesar di Asia Tenggara. Produksinya mencapai 7.190 juta
94
ton atau menguasai 4.85 persen produksi gula dunia. Akan tetapi, produksi gula
Thailand mengalami penurunan dari tahun 2009 hingga 2010.
5.4.2. Konsumsi Gula Dunia
Kebutuhan akan gula sebagai salah satu sumber kalori di dunia terus
meningkat. Peningkatan ini dapat ditunjukkan dari pertumbuhan konsumsi gula
dunia yang meningkat dengan laju 0.97 persen pada tahun 2008 (FAO, 2012).
Peningkatan konsumsi gula terutama sangat berkaitan dengan peningkatan jumlah
penduduk, peningkatan kesejahteraan, dan perkembangan industri makanan dan
minuman. India, Amerika Serikat, dan China pada Tabel 9 ditunjukkan sebagai
negara produsen gula terbesar di dunia, ternyata tidak hanya mempunyaii
kemampuan produksi yang tinggi, ketiga negara tersebut juga menjadi negara
terbesar untuk konsumsi gula di dunia. Lebih lanjut mengenai perkembangan
konsumsi gula negara konsumen terbesar gula di dunia disajikan pada Tabel 13.
Tabel 13. Konsumsi Gula di Beberapa Negara Konsumen Terbesar Gula
Dunia Tahun 2007-2009
Tahun (ton)
No.
Negara
2007
2008
2009
19 121 765.41
20 536 276.91
22 039 492.18
9 297 591.54
9 281 262.19
9 379 266.79
1.
India
2.
Amerika Serikat
3.
China
10 216 894.20
8 922 887.76
7 424 276.91
4.
Brazil
6 901 473.78
7 000 953.08
7 001 940.20
5.
Mexico
4 549 092.00
4 628 262.19
4 740 655.93
6.
Rusia
5 950 532.66
5 470 660.53
4 166 477.46
7.
Pakistan
3 803 080.04
4 259 600.74
3 612 639.37
8.
Jerman
2 903 215.27
2 900 541.86
2 900 598.90
9.
Indonesia
2 779 690.89
2 752 919.04
2 814 996.32
10.
Perancis
1 918 126.95
2 290 520.70
2 155 808.65
Sumber : FAO, 2012
Berdasarkan Tabel 13 dapat dilihat bahwa mayoritas negara konsumen
gula terbesar di dunia merupakan negara produsen gula. Negara yang
mengonsumsi gula terbesar di dunia selama tiga tahun terakhir adalah India.
95
Posisi India tidak tergeser dan semakin meningkat setiap tahunnya. Pada tahun
2009 share konsumsi gula India adalah 16.67 persen konsumsi gula dunia.
Peningkatan konsumsi gula India sangat berkaitan dengan pertambahan jumlah
penduduknya yang terus meningkat dari tahun ke tahun, sedangkan pada posisi
kedua adalah Amerika dengan share 7.10 persen konsumsi gula dunia. Pada tahun
2007 China menjadi konsumen gula terbesar kedua di dunia. Namun tren
konsumsi gula China mengalami penurunan dari tahun ke tahun sehingga China
menempati urutan ketiga dalam konsumsi gula dunia. Konsumsi gula di China
diperkirakan akan terus menurun seiring dengan progam pemerintah China yang
tengah menekan laju pertumbuhan penduduknya.
Indonesia juga masuk ke dalam sepuluh negara konsumen gula terbesar
dunia. Hal ini dikarenakan gula juga merupakan penduduk terbesar di dunia.
Konsumsi gula Indonesia memiliki share 2.13 persen dari konsumsi gula dunia
pada tahun 2009. Apabila ditinjau dari sisi produksi, dimana Indonesia bukan
merupakan negara produsen gula terbesar di dunia tingkat konsumsi tersebut
sangat tinggi. Hal inilah yang menyebabkan Indonesia mengejar angka konsumsi
dengan terus berupaya meningkatkan produksinya.
5.5. Ekspor dan Impor Gula Dunia
5.5.1. Ekspor Gula Dunia
Gula merupakan sumber kalori bagi kebutuhan pangan dunia. Namun
tidak semua negara mampu memenuhi kebutuhan penduduknya melalui
produksinya sendiri. Oleh karena itu, beberapa produsen gula juga melakukan
ekspor untuk memenuhi kebutuhan konsumsi negara lain yang kekurangan
pasokan gula. Namun, tidak semua negara produsen menjadi negara eksportir
gula. Negara produsen yang juga mempunyai share ekspor gula yang cukup besar
diantaranya Brazil, Thailand, dan Australia. India juga memiliki share ekspor
yang besar namun beberapa tahun terakhir karena bencana yang menyebabkan
kegagalan panen India beralih menjadi importir gula. Perkembangan sepuluh
negara eksportir gula terbesar di dunia dari tahun 2008 hingga 2010 dapat dilihat
pada Tabel 14.
96
Tabel 14. Negara Eksportir Gula Dunia Tahun 2008-2010
Tahun (ton)
No.
Negara
2008
2009
1.
Brazil
2.
2010
18 382 053
22 859 395
26 323 624
Thailand
4 773 471
4 864 634
4 334 643
3.
Australia
2 356 240
2 434 819
2 842 163
4.
France
1 969 642
2 242 702
2 338 397
5.
Guatemala
1 193 134
1 463 969
1 602 653
6.
India
3 214 025
40 853
1 268 418
7.
Mexico
952 832
965 060
855 339
8.
Colombia
408 477
897 519
791 184
9.
Cuba
741 314
684 765
497 267
10.
South Africa
647 933
854 694
404 857
Sumber : FAO, 2012
Pada Tabel 14 dapat dilihat bahwa dari tahun ke tahun Brazil masih
menjadi eksportir gula terbesar di dunia, yang kemudian diikuti oleh Thailand,
Australia, Perancis, Guatemala, India, dan Mexico. Ekspor gula Brazil yang selalu
mengalami peningkatan membuat posisi Brazil sebagai negara eksportir terbesar
di dunia semakin tidak tergantikan oleh negara lain. Brazil mampu menguasai
57.11 persen ekspor gula dunia atau sebesar 26.32 juta ton pada tahun 2010.
Posisi kedua ekspor terbesar adalah Thailand, dengan share lebih dari 10 persen
yang relatif stabil dalam tiga tahun terakhir. Ekspor gula Thailand meningkat pada
tahun 2009 dan menurun menjadi 1.15 persen pada tahun 2010 menjadi sebesar
4.33 juta ton. Australia juga merupakan negara eksportir gula dengan share ketiga
terbesar di dunia yang relatif konsisten dengan volume ekspornya. Australia
mampu menguasai kurang lebih dari 5 persen ekspor gula dunia. Demikian halnya
dengan India, pada tahun 2008 India merupakan negara pengekspor gula terbesar
keempat di dunia dengan share 6.97 persen. Namun, seiring dengan bencana
kekeringan yang pernah melanda India dan menyebabkan penurunan produksi
ekspor India pada tahun 2009 mengalami penurunan dan hanya menguasai 0.09
persen pasar ekspor gula dunia. Namun, pada tahun 2010 share ekspor gula India
kembali meningkat dengan menguasai 2.75 persen pasar ekspor gula dunia.
97
5.5.2. Impor Gula Dunia
Gula sebagai bahan pemanis utama dibutuhkan sebagai sumber energi bagi
sebagian besar penduduk dunia. Ketidakmampuan suatu negara dalam memenuhi
kebutuhan gula dalam negerinya membuat negara tersebut harus melakukan impor
gula. Berdasarkan Tabel 15 dapat diketahui perkembangan negara-negara
pengimpor gula terbesar di dunia dari tahun 2008-2010.
Tabel 15. Negara Importir Gula Dunia Tahun 2008-2010
Tahun (ton)
No
Negara
2008
2009
2010
1.
United States of America
2 479 994
2 368 537
2 754 799
2.
Russian Federation
2 291 500
1 251 821
2 017 788
3.
China
1 151 821
1 526 660
1 896 877
4.
India
355 056
2 387 959
1 105 008
5.
Indonesia
972 317
1 384 150
1 675 116
6.
Iran (Islamic Republic of)
837 679
502 532
1 668 933
7.
Malaysia
1 335 290
1 442 227
1 578 382
8.
Republic of Korea
1 515 922
1 519 310
1 508 975
9.
Saudi Arabia
1 387 473
1 072 659
1 446 650
10.
United Kingdom
1 399 846
1 322 014
1 331 261
Sumber : FAO, 2012
Berdasarkan Tabel 15 dapat diketahui bahwa negara importir gula terbesar
di dunia antara lain Amerika, Rusia, China, India, dan Indonesia. Impor gula
Amerika merupakan yang terbesar setiap tahunnya. Pada tahun 2010, impor gula
Amerika mencapai 2.75 juta ton atau menguasai 5.42 persen impor gula dunia.
Rusia juga merupakan negara pengimpor gula yang cukup besar setelah Amerika
karena menguasai 3.97 persen impor gula dunia pada tahun 2010. China yang
merupakan negara produsen gula juga telah menjadi negara pengimpor gula
karena produksi gula domestik yang kurang mencukupi. Impor gula China dari
tahun 2008-2010 cenderung mengalami peningkatan. China mengimpor gula
sebesar 1.15 juta ton pada tahun 2008, meningkat menjadi 1.53 juta ton pada
tahun 2009 dan meningkat kembali sebesar 1.89 juta ton pada tahun 2010.
Demikian halnya dengan India, pada tahun 2008 India hanya mengimpor sebesar
355.06 ribu ton, namun seiring dengan bencana kekeringan yang menurunkan
98
produksi hingga mengurangi ekspornya membuat negara ini juga melakukan
impor gula. Bahkan negara ini menjadi importir gula terbesar di dunia pada tahun
2009 dengan total impor gula sebesar 2.39 juta ton. Jumlah gula yang diimpor
oleh suatu negara dipengaruhi pula oleh kebijakan pada perdagangan gula yang
diterapkan oleh pemerintah masing-masing negara.
5.6. Impor Gula Indonesia
Masalah pokok dalam pergulaan nasional adalah ketidakmampuan
produksi gula Indonesia dalam memenuhi kebutuhan gula dalam negeri. Hal inilah
yang kemudian membuat pemerintah selalu memenuhi kekurangan tersebut
dengan melakukan impor gula. Bahkan, Indonesia termasuk negara yang cukup
besar dalam melakukan importasi gula. Adapun perkembangan impor gula
Indonesia tahun 2001-2010 dapat dilihat pada Tabel 16.
Tabel 16. Impor Gula Indonesia dari Thailand, China, Singapura, dan
Australia Tahun 2001-2010
Total
Partner Impor Gula Indonesia
Tahun
Impor
Thailand
China
Singapura Australia ROW Indonesia
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
651 522
460 124
517 971
758 693
690 082
177 888
1 086 935
800 040
572 684
421 150
27 635
43 340
13 356
28
16 022
23 018
3 500
201
250
299
30 240
22 823
2 031
6 220
874
1 226
7 202
49 553
8 074
3 760
60 562
82 089
139 330
116 030
249 345
407 259
654 920
3 601
172 804
167 354
430 900
308 881
275 858
195 385
565 171
716 586
696 350
100 117
517 803
694 600
1 200 858
917 258
948 546
1 076 356
1 521 494
1 325 977
2 448 907
953 512
1 271 615
1 287 162
Sumber : FAO, 2012
Ketergantungan impor gula Indonesia setiap tahun semakin meningkat
menurunkan pertumbuhan industri gula di dalam negeri. Hal ini juga turut
menjadi ancaman terhadap kemandirian pangan Indonesia yang mempunyai
penduduk yang besar dengan daya beli yang masih rendah. Nainggolan (2010)
menyatakan bahwa kemandirian pangan mensyaratkan agar pemenuhan
kebutuhan pangan pokok semaksimal mungkin dipenuhi oleh produksi dalam
negeri mengingat Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki sumberdaya
99
alam yang memadai dan mempunyai potensi untuk berproduksi lebih baik dari
saat ini. Impor gula Indonesia banyak berasal dari negara Thailand, Singapura,
China, Australia, serta negara lain.
Sesuai dengan Tabel 16 dapat dilihat bahwa impor gula Indonesia paling
banyak berasal dari Thailand. Pada periode 2001-2010 diperoleh bahwa proporsi
(share) rata-rata impor gula Indonesia dari Thailand sebesar 47.38 persen dan dari
Australia sebesar 15.85 persen sehingga proporsi kedua negara tersebut sebesar 63
persen. Hal ini menunjukkan bahwa kedua negara tersebut merupakan eksportir
utama gula di Indonesia. Selain dari kedua negara tersebut, impor gula Indonesia juga
banyak berasal dari China, dan Singapura. Sekalipun China masih melakukan impor
gula untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya, namun negara ini masih
melakukan ekspor gulanya ke Indonesia. Indonesia merupakan negara utama tujuan
ekspor gula China. Demikian juga dengan Singapura, sekalipun negara ini bukan
negara produsen gula dan bahkan juga melakukan impor gula untuk memenuhi
kebutuhan konsumsinya, sebagian besar impor gula Indonesia berasal dari negara ini.
Ditinjau dari sisi impornya, fluktuasi impor gula Indonesia juga dipengaruhi oleh
kebijakan pemerintah yang mengatur ketentuan impor gula. Selama satu dekade
terakhir impor gula Indonesia paling tinggi terjadi pada tahun 2007 sebesar 2.45 juta
ton dengan impor terbeesar dari Thailand sebesar 1.09 juta ton.
100
101
VI. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
PENAWARAN DAN PERMINTAAN GULA
DI PASAR DOMESTIK DAN DUNIA
6.1. Keragaan Umum Hasil Estimasi Model
Model ekonometrika perdagangan gula Indonesia dalam penelitian ini
merupakan model simultan yang dinamis dan dibangun dari 30 persamaan yang
terdiri dari 20 persamaan struktural dan 10 persamaan identitas. Model tersebut
sudah melalui beberapa tahapan respesifikasi model. Data yang digunakan adalah
deret waktu (time series) dengan periode pengamatan tahun 1981 sampai dengan
tahun 2010.
Berdasarkan kriteria ekonomi, semua variabel penjelas telah menunjukkan
tanda parameter estimasi yang sesuai dengan harapan (hipotesis). Berdasarkan
kriteria statistik, nilai koefisien determinasi (R2) secara umum cukup tinggi.
Sebagian besar (83.33 persen) persamaan struktural mempunyai nilai R2 diatas 50
persen. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat 83.33 persen variabel penjelas yang
mampu menjelaskan dengan baik lebih dari 50 persen perilaku variabel endogen.
Kemudian apabila dilihat dari nilai peluang uji F-statistik, sebesar 86.67 persen
persamaan memiliki nilai peluang uji F-statistik yang lebih kecil dari taraf
α = 0.05.
Pengujian asumsi klasik autokorelasi yang menggunakan uji statistik
durbin watson (dw) diperoleh nilai dw berkisar antara 1.440 sampai 2.366
sedangkan yang menggunakan uji statistik durbin-h (dh) diperoleh kisaran nilai
-2.448 sampai 2.829. Dari hasil tersebut diperoleh 11 persamaan yang mengalami
masalah serial korelasi, 7 persamaan yang tidak terdeteksi serial korelasinya dan 2
persamaan yang mengalami masalah serial korelasi. Terlepas dari ada tidaknya
masalah serial korelasi yang serius, Pindyck dan Rubinfield (1998) menjelaskan
bahwa masalah serial korelasi hanya mengurangi efisiensi estimasi parameter dan
serial korelasi tidak menimbulkan bias regresi. Berdasarkan kriteria-kriteria
tersebut dan mempertimbangkan model yang cukup besar serta periode
pengamatan yang cukup panjang, maka hasil estimasi model cukup representatif
menangkap fenomena ekonomi dari industri gula di pasar domestik maupun pasar
dunia.
102
6.2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penawaran dan Permintaan Gula
di Pasar Domestik dan Dunia
6.2.1. Areal Perkebunan Tebu Indonesia
Persamaan luas areal perkebunan di Indonesia didisagregasi menjadi 3
persamaan berdasarkan status pengusahaan perkebunan, yaitu : (1) luas areal
perkebunan besar negara, (2) luas areal perkebunan besar swasta, dan (3) luas
areal perkebunan rakyat. Luas areal perkebunan besar negara berhubungan positif
dengan harga gula tingkat pedagang besar, sedangkan jumlah pabrik gula, tren
waktu, dan luas areal perkebunan besar negara t-1. harga riil gabah dan suku
bunga BI riil berhubungan negatif dengan luas areal perkebunan besar negara di
Indonesia. Hasil estimasi pada Tabel 17 menunjukkan bahwa luas areal pada
perkebunan besar negara dipengaruhi secara nyata oleh jumlah pabrik gula dan
luas areal perkebunan besar negara tahun t-1
Tabel 17. Hasil Estimasi Persamaan Luas Areal Perkebunan Besar Negara
(APTN)
Variabel
Parameter
Estimate
Elastisitas
SR
Intercept
-58 507.800
HRGPB
7.019
0.410
0.676
HRGB
-8.931
-0.216
-0.356
1 401.404
1.063
1.752
-235.054
-0.008
-0.014
JPG
LSBR
T
0.393
Prob>|F| : 0.1338
Variabel Label
0.2182 Intercept
296.083
LAPTN
Prob > |T|
LR
R2 : 0.3482
0.1540 Harga riil gula pedagang besar
0.2310 Harga riil gabah
0.1025 Jumlah pabrik gula
0.2208 Suku bungaBI riil t-1
0.3051 Tren waktu
Luas areal perkebunan besar
0.0286
negara t-1
Dw : 2.0409
Dh : -
Keterangan : taraf signifikansi yang digunakan α= 0.15
Harga riil gula tingkat pedagang besar berpengaruh secara tidak nyata
terhadap luas areal perkebunan besar negara. Hal ini menunjukkan bahwa
fluktuasi harga gula tidak mempengaruhi keputusan petani pada perkebunan besar
negara mengenai luas areal tanamnya. Harga riil gabah juga berpengaruh secara
tidak nyata terhadap luas areal perkebunan besar negara. Perkebunan besar negara
memang spesifik untuk fokus dalam membudidayakan komoditas perkebunan
seperti tebu, sehingga kenaikan harga riil gabah tidak mempengaruhi luas areal
perusahaan perkebunan tebu negara untuk beralih mengusahakan tanaman padi.
103
Jumlah pabrik gula berpengaruh secara nyata terhadap luas areal perkebunan
besar negara. Perkebunan tebu sangat mengandalkan adanya pabrik gula untuk
mengolah tebu menjadi gula. Pertambahan jumlah pabrik gula di Indonesia
menjadi pertimbangan tersendiri bagi perkebunan besar negara untuk menambah
luas areal tanamnya. Hal ini diperkuat pula oleh respon luas areal perkebunan
besar negara terhadap jumlah pabrik gula yang elastis baik dalam jangka pendek
maupun jangka panjang. Penambahan 1 persen jumlah pabrik gula akan
meningkatkan luas areal perkebunan besar negara sebesar 1.063 persen dalam
jangka pendek dan 1.752 persen dalam jangka panjang.
Suku bunga BI riil t-1 berpengaruh secara tidak nyata terhadap luas areal
perkebunan besar negara. Hal ini dikarenakan peningkatan luas areal perkebunan
besar negara lebih ditentukan oleh kebijakan pemerintah sehingga tidak
mengandalkan perbankan sebagai salah satu sumber permodalan. Variabel tren
waktu yang merepresentasikan perbaikan teknologi, infrastruktur, dan manajemen
berpengaruh secara tidak nyata terhadap areal perkebunan besar negara. Adopsi
teknologi yang dilakukan oleh perkebunan besar negara tidak menjadi
pertimbangan bagi perkebunan besar negara untuk meningkatkan luas areal
perkebunannya, sedangkan luas areal perkebunan besar negara t-1 berpengaruh
secara
nyata
terhadap
luas
areal
perkebunan
besar
negara.
Hal
ini
mengindikasikan bahwa ada tenggang waktu yang relatif lambat bagi luas areal
perkebunan besar negara untuk menyesuaikan diri dalam merespon perubahan
ekonomi yang terjadi.
Hasil estimasi persamaan luas areal perkebunan besar swasta yang
ditunjukkan oleh Tabel 18 dipengaruhi oleh perubahan harga riil gula tingkat
pedagang besar, rasio harga riil gabah, jumlah pabrik gula, suku bunga BI riil,
teknologi, dan luas areal perkebunan besar swasta t-1. Berdasarkan hasil estimasi
persamaan luas areal perkebunan besar swasta dapat dijelaskan bahwa variabel
luas areal perkebunan besar swasta dipengaruhi secara nyata oleh jumlah pabrik
gula, suku bunga BI riil, tren waktu, dan luas areal perkebunan besar swasta t-1.
Perubahan harga riil gula tingkat pedagang besar tidak berpengaruh secara nyata
terhadap luas areal perkebunan besar swasta. Hal ini mengindikasikan bahwa
perubahan harga riil gula tingkat pedagang besar tidak mempengaruhi keputusan
104
perkebunan besar swasta mengenai luas arealnya. Rasio harga riil gabah juga
tidak berpengaruh secara nyata terhadap luas areal perkebunan besar swasta.
Perkebunan besar swasta lebih konsisten terhadap jenis tanaman yang ditanam
sehingga kenaikan harga riil gabah tidak akan membuat perusahaan perkebunan
besar swasta beralih mengusahakan tanaman padi sehingga menurunkan luas areal
perkebunan.
Tabel 18. Hasil Estimasi Persamaan Luas Areal Perkebunan Besar Swasta
(APTS)
Variabel
Parameter
Estimate
Intercept
-30 759.5
SHRGPB
RHRGB
JPG
SBR
T
LAPTS
Elastisitas
SR
LR
Prob > |T|
0.2543
1.396
0.001
0.001
0.3411
-10 934.20
660.433
-488.834
1 655.675
-0.179
0.682
-0.022
-0.458
1.742
-0.056
0.2869
0.1471
0.0527
0.0057
0.609
Prob>|F| : <.0001
Variabel Label
0.0007
R2 : 0.9513
Dw :
Perubahan harga riil gula
tingkat pedagang besar
Rasio harga riil gabah
Jumlah pabrik gula
Suku bunga BI riil
Tren waktu
Luas areal perkebunan besar
swasta t-1
2.448
Dh : -2.449
Jumlah pabrik gula t-1 berpengaruh secara nyata terhadap luas areal
perkebunan besar swasta. Perkebunan besar swasta pada umumnya lebih progresif
dalam melakukan pengembangan perkebunan. Hal ini diperkuat dengan
perubahan luas areal perkebunan besar swasta yang sangat responsif terhadap
perubahan jumlah pabrik gula baik dalam jangka panjang. Peningkatan 1 persen
jumlah pabrik gula akan meningkatkan luas areal perkebunan besar swasta sebesar
0.682 persen dalam jangka pendek dan 1.742 persen dalam jangka panjang. Suku
bunga BI riil juga berpengaruh secara nyata terhadap luas areal perkebunan besar
swasta. Hal ini menunjukkan bahwa perkebunan besar swasta mengandalkan
perbankan sebagai salah satu sumber dalam permodalan untuk peningkatan areal.
Namun, respon luas areal perkebunan besar swasta terhadap perubahan suku
bunga BI riil adalah ineslastis baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Peningkatan 1 persen suku bunga BI riil akan menurunkan luas areal perkebunan
besar swasta sebesar 0.022 persen dalam jangka pendek dan 0.056 persen dalam
jangka panjang. Variabel tren waktu yang merepresentasikan perbaikan teknologi,
infrastruktur, dan manajemen juga berpengaruh secara nyata terhadap luas areal
105
perkebunan besar swasta. Peningkatan terhadap adaposi inovasi dan teknologi
akan mendorong peningkatan luas areal pada perkebunan besar swasta. Luas areal
perkebunan besar swasta t-1 juga berpengaruh secara nyata terhadap luas areal
perkebunan besar swasta. Hal ini mengindikasikan bahwa ada tenggang waktu
yang relatif lambat bagi luas areal perkebunan besar swasta untuk menyesuaikan
diri dalam merespon perubahan ekonomi yang terjadi.
Berdasarkan Tabel 19 dapat diketahui bahwa persamaan luas areal
perkebunan rakyat dipengaruhi oleh harga riil gula tingkat petani, harga riil gabah,
jumlah pabrik gula, suku bunga BI riil, tren waktu, dan luas areal perkebunan
rakyat t-1. Hasil estimasi menunjukkan bahwa luas areal perkebunan rakyat hanya
dipengaruhi secara nyata oleh jumlah pabrik gula dan luas areal perkebunan
rakyat t-1. Peningkatan harga riil gula tidak berpengaruh secara nyata terhadap
peningkatan luas areal perkebunan rakyat. Hal ini mengindikasikan peningkatan
harga gula tingkat petani tidak mampu menjadi insentif bagi petani tebu rakyat
untuk meningkatkan luas areal perkebunannya. Kenaikan harga gula tingkat
petani seringkali juga diikuti dengan kenaikan biaya produksi yang harus
dikeluarkan oleh petani selama masa tanam. Hal ini yang membuat kenaikan
harga
gula
petani
tidak
membuat
petani
meningkatkan
luasan
areal
perkebunannya.
Tabel 19. Hasil Estimasi Persamaan Luas Areal Perkebunan Rakyat (APTR)
Variabel
Parameter
Estimate
Elastisitas
SR
LR
Prob > |T|
Variabel Label
Intercept
-70 786.7
HRGP
4.640525
0.088
0.193
HRGB
-30.1531
-0.261
-0.572
JPG
3 185.105
0.867
1.899
0.1291 Jumlah pabrik gula
SBR
-420.724
-0.005
-0.011
0.3345 Suku bunga BI riil
T
915.7704
LAPTR
0.3375
0.1536 Harga riil gabah
0.2030 Tren waktu
0.54337
Prob>|F| : 0.0013
0.3873 Harga riil gula tingkat petani
0.0098 Luas areal perkebunan rakyat t-1
R2 : 0.6176
Dw : 1.991
Dh : -
Harga riil gabah berpengaruh secara tidak nyata terhadap luas areal
perkebunan rakyat. Hal ini menunjukkan bahwa petani relatif konsisten dalam
membudidayakan tebu dan tidak serta merta mengganti luas areal pertanamannya
dengan padi sekalipun harga gabah mengalami peningkatan. Jumlah pabrik gula
106
berpengaruh secara nyata terhadap peningkatan luas areal perkebunan rakyat.
Namun peningkatan jumlah pabrik gula ini responsif pada jangka panjang dalam
mempengaruhi luas areal perkebunan rakyat. Peningkatan 1 persen jumlah pabrik
gula akan meningkatkan luas areal perkebunan rakyat sebesar 0.867 persen dalam
jangka pendek dan 1.899 persen dalam jangka panjang.
Suku bunga BI riil t-1 juga berpengaruh secara tidak nyata terhadap luas
areal perkebunan rakyat. Hal ini mengindikasikan bahwa petani pada perkebunan
rakyat kurang tertarik untuk mengakses permodalan dengan pihak perbankan,
demikian pula dengan perbankan yang tidak tertarik untuk membiayai usaha
pertanian dengan alasan resiko yang terlalu tinggi (high risk) dan keuntungan
yang relatif rendah (low profit). Hal ini yang kemudian membuat petani beralih
pada rentenir untuk memperoleh modal pembiayaan usahataninya. Variabel tren
waktu yang merepresentasikan perbaikan teknologi, infrastruktur, dan manajemen
juga tidak berpengaruh secara nyata terhadap peningkatan luas areal perkebunan
rakyat. Petani perkebunan rakyat relatif masih tertinggal dalam melakukan adopsi
teknologi. Luas areal perkebunan rakyat t-1 juga berpengaruh secara nyata
terhadap luas areal perkebunan rakyat. Hal ini mengindikasikan bahwa ada
tenggang waktu yang relatif lambat bagi luas areal perkebunan besar negara untuk
menyesuaikan diri dalam merespon perubahan ekonomi yang terjadi.
6.2.2. Produktivitas Gula Hablur Indonesia
Sama halnya dengan persamaan luas areal perkebunan, persamaan
produktivitas gula hablur Indonesia juga didisagregasi menjadi 3 persamaan,
yaitu : (1) produktivitas gula hablur negara, (2) produktivitas gula hablur swasta,
dan (3) produktivitas gula hablur rakyat. Berdasarkan hasil estimasi pada Tabel 20
produktivitas gula hablur negara dipengaruhi secara nyata oleh harga riil gula
tingkat pedagang besar, perubahan harga riil pupuk, luas areal perkebunan besar
negara t-1, rendemen tebu, dan tren waktu.
Harga riil gula tingkat pedagang besar berpengaruh secara nyata terhadap
produktivitas gula hablur negara. Respon produktivitas gula hablur negara
terhadap harga riil gula tingkat pedagang besar adalah inelastis dalam jangka
pendek. Hal ini mengindikasikan bahwa kenaikan harga riil gula tingkat pedagang
107
besar 1 persen akan menyebabkan produktivitas gula hablur meningkat sebesar
0.818 persen dalam jangka pendek. Perubahan harga riil pupuk juga berpengaruh
secara nyata terhadap produktivitas gula hablur negara. Peningkatan harga pupuk
membuat produktivitas perkebunan besar negara mengalami penurunan. Namun,
respon penurunan perubahan harga riil pupuk terhadap produktivitas gula hablur
negara adalah inelastis. Peningkatan perubahan harga riil pupuk sebesar 1 persen
akan menurunkan produktivitas gula hablur sebesar 0.003 persen dalam jangka
pendek.
Tabel 20. Hasil Estimasi Persamaan Produktivitas Gula Hablur Negara (YGHN)
Elastisitas
Parameter
Variabel
Prob > |T|
Variabel Label
Estimate
SR
LR
Intercept
-7.8257
0.0003
Harga riil gula tingkat
HRGPB
0.0007 0.818
0.0001
pedagang besar
SHRPUK
-0.0009 -0.003
0.0970 Perubahan harga riil pupuk
Luas areal perkebunan besar
LAPTN
0.000007 0.126
0.1070
negara t-1
REND
1.0217 1.762
<.0001 Rendemen tebu
LURBUN
-0.000008 -0.021
0.4105 Upah pekerja perkebunan t-1
T
0.0350
0.0724 Tren waktu
Prob>|F| : <.0001
R2 : 0.7616
Dw : 2.366
Luas areal perkebunan besar negara t-1 berpengaruh secara nyata terhadap
produktivitas gula hablur negara. Ini juga menunjukkan bahwa peningkatan luas
areal perkebunan besar negara dapat menjadi tolak ukur bagi peningkatan
produktivitas gula hablur negara. Namun respon produktivitas gula hablur negara
terhadap luas areal perkebunannya adalah inelastis. Peningkatan 1 persen luas
areal perkebunan besar negara hanya akan meningkatkan 0.126 persen
produktivitas gula hablur negara dalam jangka pendek. Lebih lanjut, rendemen
tebu juga berpengaruh secara nyata terhadap produktivitas gula hablur negara.
Peningkatan rendemen tebu akan meningkatkan produksi sehingga meningkatkan
produktivitas gula hablur negara. Respon produktivitas gula hablur pada
perkebunan besar negara terhadap rendemen adalah elastis, artinya perubahan
tingkat rendemen akan memberikan perubahan yang cukup besar bagi
produktivitas gula hablur pada perkebunan besar negara sehingga akan
meningkatkan produksi gula di Indonesia.
108
Upah riil pekerja perkebunan t-1 tidak berpengaruh secara nyata terhadap
peningkatan produktivitas gula hablur negara. Peningkatan upah pekerja
perkebunan tidak menyebabkan turunnya produktivitas perkebunan gula hablur
negara. Variabel tren waktu yang merepresentasikan perbaikan teknologi,
infrastruktur dan manajemen berpengaruh secara nyata terhadap produktivitas
gula hablur negara. Berkembangnya teknologi budidaya tebu yang dilakukan oleh
perkebunan besar negara ternyata memberikan manfaat ekonomi melalui
peningkatan produktivitas gula hablur pada perkebunan besar negara.
Hasil estimasi terhadap persamaan produktivitas gula hablur pada
perkebunan besar swasta di Tabel 21 menunjukkan bahwa produktivitas gula
hablur dipengaruhi oleh perubahan harga riil gula tingkat pedagang besar, rasio
harga riil pupuk, luas areal perkebunan besar swasta t-1, curah hujan, rendemen
tebu, upah riil pekerja perkebunan, dan produktivitas gula hablur swasta t-1.
Dapat dijelaskan bahwa produktivitas gula hablur swasta hanya dipengaruhi
secara nyata oleh luas areal perkebunan besar swasta t-1 dan rendemen tebu.
Tabel 21. Hasil Estimasi Persamaan Produktivitas Gula Hablur Swasta (YGHS)
Elastisitas
Parameter
Variabel
Prob > |T|
Variabel Label
Estimate
SR
LR
Intercept
1.3175
0.4100
Perubahan harga riil gula
SHRGPB
0.0000 0.00010
0.0001
0.4608
tingkat pedagang besar
RHPUK
-1.8542
-0.314
-0.325
0.2687 Rasio harga riil pupuk
Luas areal perkebunan
LAPTS
0.000028
0.272
0.282
0.0233
besar swasta t-1
CHJ
0.0001
0.048
0.049
0.3487 Curah hujan
REND
0.6392
0.789
0.818
0.0680 Rendemen tebu
Upah riil pekerja
URBUN
-0.000020
-0.040
-0.041
0.3867
perkebunan
Produktivitas gula hablur
LYGHS
0.0356
0.4505
swasta t-1
2
Prob>|F| : 0.050
R : 0.46315
Dw : 2.101
Dh : -
Perubahan harga riil gula tingkat pedagang besar berpengaruh secara tidak
nyata terhadap produktivitas gula hablur pada perkebunan besar swasta.
Perkebunan besar swasta umumnya mempunyai tata cara budidaya tersendiri
dalam upaya meningkatkan produktivitas gula hablur sehingga perubahan harga
riil gula tingkat pedagang besar tidak mempengaruhi produktivitas gula hablur
swasta. Rasio harga riil pupuk juga berpengaruh secara tidak nyata terhadap
109
produktivitas gula hablur swasta. Demikian juga dengan upah riil pekerja
perkebunan yang juga berpengaruh secara tidak nyata terhadap produktivitas gula
hablur swasta. Hal ini menunjukkan bahwa perkebunan besar swasta memiliki
ketahanan modal yang kuat sehingga peningkatan harga pupuk dan upah riil
pekerja perkebunan tidak membuat perkebunan besar swasta mengurangi
kuantitas input tersebut sehingga tidak menurunkan produktivitas gula hablurnya.
Pada perkebunan besar swasta curah hujan berpengaruh secara tidak nyata
terhadap produktivitas gula hablur swasta. Curah hujan tidak menjadi penghalang
dalam upaya peningkatan produktivitas gula hablur pada perkebunan besar
swasta. Hal ini diduga karena perkebunan besar swasta telah memiliki sistem tata
kelola air yang baik. Begitu pula dengan luas areal perkebunan besar swasta tahun
t-1 yang berpengaruh secara tidak nyata terhadap produktivitas gula hablur
swasta. Ini berarti peningkatan luas areal perkebunan besar swasta tidak menjadi
tolok ukur bagi peningkatan produktivitas gula hablur swasta.
Luas areal perkebunan besar swasta t-1 berpengaruh secara nyata terhadap
peningkatan produktivitas gula hablur swasta. Akan tetapi respon yang diberikan
oleh luas areal perkebunan besar swasta t-1 terhadap produktivitas gula hablur
swasta swasta adalah inelastis baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Peningkatan luas areal perkebunan t-1 sebesar 1 persen maka akan meningkatkan
produktivitas gula hablur swasta sebesar 0.272 persen dalam jangka pendek dan
0.282 persen dalam jangka panjang. Rendemen tebu berpengaruh secara nyata
terhadap produktivitas gula swasta. Rendemen tebu pada perkebunan besar swasta
pada umumnya lebih tinggi karena mesin penggiling gula yang digunakan lebih
modern sehingga lebih efisien dan mampu meningkatkan produktivitas gula
hablur. Namun demikian, respon produktivitas terhadap rendemen tebu pada
perkebunan besar swasta tidak lebih elastis daripada perkebunan besar negara.
Peningkatan rendemen tebu sebesar 1 persen hanya akan meningkatkan
produktivitas gula hablur sebesar 0.789 persen dalam jangka pendek dan 0.818
persen dalam jangka panjang. Produktivitas gula hablur swasta t-1 berpengaruh
secara tidak nyata terhadap produktivitas gula hablur swasta. Hal ini
mengindikasikan bahwa tidak ada tenggang waktu yang dibutuhkan oleh
110
produktivitas gula hablur swasta untuk menyesuaikan diri kembali kepada tingkat
keseimbangannya dalam merespon perubahan ekonomi yang terjadi.
Produktivitas gula hablur rakyat dipengaruhi oleh rasio harga riil gula
tingkat petani dengan harga riil pupuk, luas areal perkebunan rakyat t-1, upah riil
pekerja perkebunan, dummy kredit ketahanan pangan dan energi, rendemen tebu,
dan produktivitas gula hablur rakyat t-1. Berdasarkan hasil estimasi pada Tabel
22 dapat dijelaskan bahwa produktivitas gula hablur rakyat hanya dipengaruhi
secara nyata oleh rendemen tebu dan produktivitas gula hablur rakyat t-1.
Tabel 22. Hasil Estimasi Persamaan Produktivitas Gula Hablur Rakyat (YGHR)
Elastisitas
Variabel
Parameter
Estimate
Intercept
-0.9461
HGPUK
0.1448
0.086
0.269
0.2200
LAPTR
0.0000003
0.011
0.035
0.4786
URBUN
-0.000040
-0.086
-0.270
0.1937
DKKPE
0.6171
-
-
0.1747
REND
0.3278
0.437
1.369
0.0542
LYGHR
0.6807
Prob>|F| : 0.0009
SR
Prob > |T|
LR
Variabel Label
0.2681
0.0001
R2 : 0.63075
Rasio harga riil gula tingkat
petani dengan harga riil pupuk
Luas areal perkebunan rakyat
t-1
Upah riil pekerja perkebunan
Dummy Kredit Ketahanan
Pangan dan Energi
Rendemen tebu
Produktivitas gula hablur
rakyat t-1
Dw : 2.424
Dh : -1.853
Rasio harga riil gula tingkat petani dengan harga riil pupuk tidak
berpengaruh secara nyata terhadap produktivitas gula hablur rakyat. Hal tersebut
menunjukkan bahwa rasio harga riil gula tingkat petani dengan harga riil pupuk
tidak dapat menjadi tolak ukur peningkatan produktivitas gula hablur pada
perkebunan rakyat. Demikian pula dengan luas areal perkebunan rakyat t-1 tidak
berpengaruh secara nyata terhadap produktivitas gula hablur. Peningkatan luas
areal perkebunan rakyat juga tidak dapat menjadi tolak ukur bagi peningkatan
produktivitas gula hablurnya. Upah riil pekerja perkebunan berpengaruh secara
nyata terhadap peningkatan produktivitas gula hablur rakyat. Hal ini
mengindikasikan bahwa peningkatan upah riil pekerja perkebunan membuat
petani tebu mengurangi penggunaan input lainnya sehingga menurunkan
produktivitas gula hablurnya.
111
Dummy Kredit Ketahanan Pangan dan Energi merupakan bantuan kredit
untuk usaha budidaya tebu yang diberikan kepada petani perkebunan rakyat
utamanya untuk program bongkar ratoon dan rawat ratoon dalam upaya
peningkatan produktivitas. Namun, Dummy Kredit Ketahanan Pangan dan Energi
ini berpengaruh secara tidak nyata terhadap peningkatan produktivitas gula hablur
rakyat. Kredit Ketahanan Pangan dan Energi belum optimal dalam membantu
petani perkebunan rakyat dalam meningkatkan produktivitasnya. Pada penyaluran
kredit ketahanan pangan dan energi ini pemerintah perlu menyertainya dengan
bimbingan dan pendampingan sehingga target kredit untuk peningkatan
produktivitas gula hablur rakyat terealisasi sesuai dengan tujuannya. Sebagai
upaya pemerintah untuk meningkatkan ketangguhan produksi tebu maka bantuan
kredit tersebut dapat terus dilanjutkan dan menjangkau lebih banyak petani tebu
lagi sehingga dapat menjadi kail bagi petani tebu untuk meningkatkan
kesejahteraannya.
Selanjutnya berdasarkan Tabel 22 dapat dijelaskan pula bahwa rendemen
tebu berpengaruh secara nyata terhadap produktivitas gula hablur. Respon
produktivitas perkebunan rakyat terhadap rendemen tebu adalah inelastis dalam
jangka pendek namun elastis pada jangka panjang. Peningkatan 1 persen
rendemen tebu akan meningkatkan 0.437 persen gula hablur perkebunan rakyat
pada jangka pendek dan 1.369 persen pada jangka panjang. Demikian pula dengan
variabel produktivitas gula hablur rakyat tahun t-1 berpengaruh secara nyata
terhadap produktivitas gula hablur rakyat. Hal ini mengindikasikan bahwa ada
tenggang waktu yang relatif lambat bagi produktivitas gula hablur rakyat untuk
menyesuaikan diri dalam merespon perubahan ekonomi yang terjadi.
6.2.3. Permintaan Gula Indonesia
6.2.3.1.Permintaan Gula Rumah Tangga
Hasil estimasi permintaan gula Indonesia untuk konsumsi dapat dilihat
pada Tabel 23. Permintaan gula rumah tangga dipengaruhi oleh harga riil gula
eceran, rasio harga riil gula merah, harga riil kopi, pertumbuhan PDB riil
Indonesia, populasi penduduk Indonesia dan permintaan gula rumah tangga t-1.
Permintaan gula rumah tangga dipengaruhi secara nyata oleh harga riil gula
112
eceran, pertumbuhan PDB riil Indonesia, populasi penduduk Indonesia, dan
permintaan gula rumah tangga t-1.
Tabel 23. Hasil Estimasi Persamaan Permintaan Gula Rumah Tangga (DGRT)
Parameter Elastisitas
Variabel
Prob>|T|
Variabel Label
Estimate
SR
LR
0.3776
Intercept 224 009.4
0.0287 Harga riil gula eceran
HRGE
-185.862 -0.464 -0.752
0.4498 Rasio harga riil gula merah
RHRGM 37 639.88 0.018 0.029
0.2763 Harga riil kopi
HRKO
-2.49354 -0.037 -0.061
Pertumbuhan PDB riil
0.1283
LJPDBR 522 469.5 0.019 0.031
Indonesia
0.0235 Populasi penduduk Indonesia
POPINA 0.010401 0.982 1.590
Permintaan gula rumah
0.0657
LDGRT
0.382462
tangga t-1
2
Prob>|F| : <.0001
R : 0.8334
Dw : 2.002
Dh : Harga eceran gula berpengaruh secara nyata terhadap permintaan gula
rumah tangga. Konsumen gula rumah tangga akan cenderung mengurangi
konsumsi gula ketika harga gula mengalami kenaikan. Namun, respon permintaan
gula terhadap peningkatan harga riil gula eceran adalah inelastis baik dalam
jangka pendek maupun jangka panjang. Hal ini dikarenakan gula merupakan salah
sumber pemanis utama yang digunakan oleh mayoritas penduduk Indonesia.
Kenaikan 1 persen harga riil gula eceran hanya akan mengurangi 0.464 persen
dalam jangka pendek dan 0.752 persen dalam jangka panjang permintaan gula
rumah tangga. Permintaan gula dipengaruhi secara tidak nyata oleh rasio harga riil
gula merah. Kenaikan perubahan harga riil gula merah tidak akan membuat
konsumen meningkatkan permintaan gula. Gula merah merupakan salah satu
komoditas substitusi gula. Hal ini ditunjukkan oleh nilai elastisitas yang bernilai
positif 0.018 dalam jangka pendek dan 0.029 dalam jangka panjang. Namun
demikian, permintaan gula tidak responsif terhadap perubahan rasio harga gula
merah. Sekalipun gula merah merupakan komoditas substitusi, namun gula merah
tidak mempunyai ikatan yang erat dengan gula.
Harga riil kopi memberikan pengaruh secara tidak nyata terhadap
permintaan gula rumah rangga. Kenaikan harga riil kopi tidak akan membuat
konsumen menurunkan permintaan gula. Kopi merupakan salah satu komoditas
komplementer gula. Hal ini ditunjukkan oleh elastistias harga kopi yang bernilai
113
negatif yaitu 0.037 persen pada jangka pendek dan 0.061 dalam jangka panjang.
Pertumbuhan GDP riil Indonesia berpengaruh secara nyata terhadap permintaan
gula rumah tangga. Namun respon permintaan gula terhadap GDP riil Indonesia
adalah inelastis. Kenaikan 1 persen pertumbuhan GDP riil Indonesia hanya akan
meningkatkan 0.019 persen permintaan gula dalam jangka pendek dan 0.031
persen dalam jangka panjang.
Populasi penduduk Indonesia berpengaruh secara nyata terhadap
permintaan gula rumah rangga. Peningkatan jumlah penduduk akan meningkatkan
permintaan akan gula rumah tangga. Respon yang ditunjukkan oleh permintaan
gula rumah tangga terhadap perubahan jumlah penduduk adalah inelastis dalam
jangka pendek namun elastis pada jangka panjang. Kenaikan 1 persen jumlah
penduduk Indonesia akan meningkatkan 0.982 persen permintaan gula rumah
tangga dalam jangka pendek dan 1.590 persen dalam jangka panjang. Permintaan
gula rumah tangga tahun t-1 berpengaruh secara nyata terhadap permintaan gula
rumah tangga tahun t. Hal ini mengindikasikan bahwa ada tenggang waktu yang
relatif lambat bagi permintaan gula Indonesia untuk menyesuaikan diri dalam
merespon perubahan ekonomi yang terjadi.
6.2.3.2.Permintaan Gula Industri
Hasil estimasi permintaan gula industri dapat dilihat pada Tabel 24.
Permintaan gula industri dipengaruhi oleh harga riil gula tingkat pedagang besar
t-1, harga riil komposit produk makanan dan minuman, pertumbuhan industri
makanan dan minuman, PDB riil sektor makanan dan minuman, dan permintaan
gula Indonesia t-1. Permintaan gula industri hanya dipengaruhi secara nyata oleh
harga riil komposit produk makanan dan minuman, PDB riil sektor makanan dan
minuman, serta permintaan gula industri t-1.
Harga riil gula tingkat pedagang besar t-1 berpengaruh secara secara tidak
nyata terhadap permintaan gula industri. Hal ini dikarenakan gula menjadi bahan
baku yang sangat esensial bagi industri makanan dan minuman maupun
olahannya, sehingga peningkatan harga riil gula tingkat pedagang besar tidak akan
langsung direspon dengan penurunan permintaan gula oleh industri makanan dan
minuman. Sebagai produk industri makanan dan minuman yang paling banyak
114
diekspor confectionary sugar (permen gula) berpengaruh secara nyata terhadap
permintaan gula industri. Kenaikan harga riil komposit produk makanan dan
minuman ini akan membuat konsumen industri meningkatkan permintaan mereka
terhadap gula.
Tabel 24. Hasil Estimasi Persamaan Permintaan Gula Industri (DGIN)
Elastisitas
Parameter
Variabel
Prob > |T|
Variabel Label
Estimate
SR
LR
Intercept
-396 625
LHRGPB
-12.4975
-0.067
-0.280
0.4332
HRKIN
34 560.46
0.266
1.109
0.0984
LJJIM
148 787.7
0.008
0.034
0.3365
L2PDBIN
1.292485
0.532
2.213
0.0351
LDGIN
0.759753
Prob>|F| : <.0001
0.2089
0.0002
R2 : 0.9003
Harga riil gula pedagang
besar t-1
Harga riil komposit produk
makanan dan minuman
Pertumbuhan industri
makanan dan minuman
PDB riil sektor makanan
dan minuman t-2
Permintaan gula industri t-1
Dw : 3.015
Dh : -
Pertumbuhan jumlah industri makanan dan minuman berpengaruh secara
tidak nyata terhadap permintaan gula industri. Hal ini menunjukkan bahwa
kenaikan permintaan gula industri tidak semata-mata disebabkan oleh peningkatan
jumlah industri makanan dan minuman di Indonesia. Selain itu pula, diduga sejak
beberapa dekade terakhir industri makanan dan minuman tidak hanya
menggunakan gula sebagai perasa manis, adanya tambahan fruktosa sebagai
penguat rasa manis mulai banyak digunakan pula oleh industri gula. PDB riil
sektor makanan dan minuman tahun t-2 berpengaruh secara nyata terhadap
permintaan gula. Bahkan respon permintaan gula terhadap PDB sektor makanan
dan minuman tahun t-2 adalah inelastis pada jangka pendek namun sangat elastis
pada jangka panjang. Peningkatan 1 persen PDB riil sektor makanan dan
minuman tahun t-2 akan meningkatkan permintaan gula industri sebesar 0.532
persen dalam jangka pendek dan 2.213 persen dalam jangka panjang. Demikian
pula dengan permintaan gula industri tahun t-1 yang berpengaruh secara nyata
terhadap permintaan gula industri tahun t. Hal ini mengindikasikan bahwa ada
tenggang waktu yang relatif lambat bagi permintaan gula industri untuk
menyesuaikan diri dalam merespon perubahan ekonomi yang terjadi.
115
6.2.4. Harga Gula Indonesia
6.2.4.1.Harga Riil Gula Tingkat Petani (HRGP)
Hasil estimasi harga riil gula tingkat petani yang ditunjukkan oleh Tabel
25 dapat dijelaskan bahwa harga riil gula tingkat petani dipengaruhi secara positif
oleh harga riil gula tingkat pedagang besar, dummy kebijakan Harga Patokan
Petani (HPP), tren waktu, dan harga riil gula tingkat petani tahun t-1. Adapun
variabel rasio produksi gula tahun t dengan tahun t-1 berpengaruh secara negatif
terhadap harga riil gula tingkat petani. Variabel yang berpengaruh secara nyata
terhadap harga riil gula tingkat petani adalah harga riil gula tingkat pedagang
besar, rasio produksi gula Indonesia tahun t terhadap tahun t-1, dan harga riil gula
tingkat petani t-1.
Tabel 25. Hasil Estimasi Persamaan Harga Riil Gula Tingkat Petani (HRGP)
Variabel
Parameter
Estimate
Elastisitas
SR
Prob > |T|
LR
Intercept
-16.5646
HRGPB
0.881358
0.97174
1.1346
-557.12
-0.1304
-0.1522
105.1625
-
-
3.70296
0.01369
0.0160
RQGINA
DHPP
T
LHRGP
0.4897
0.1435
Prob>|F| : <.0001
Variabel Label
Harga riil gula tingkat
pedagang besar
Rasio produksi gula Indonesia
0.0672
tahun t terhadap tahun t-1
0.2056 Dummy Kebijakan HPP
<.0001
0.2723 Tren waktu
0.0111 Harga riil gula tingkat petani t-1
2
R : 0.93707
Dw : 2.153
Dh : -0.426
Harga riil gula tingkat pedagang besar berpengaruh secara nyata terhadap
harga riil gula tingkat petani. Peningkatan harga riil gula di tingkat pedagang besar
akan meningkatkan harga riil gula di tingkat petani. Hal ini diduga karena adanya
transmisi harga yang besar antara harga riil gula tingkat pedagang besar dengan
harga riil gula tingkat petani. Respon harga riil gula tingkat petani terhadap harga
riil gula tingkat pedagang besar adalah inelastis dalam jangka pendek namun elastis
pada jangka panjang. Peningkatan harga riil gula tingkat pedagang besar sebesar 1
persen akan meningkatkan harga riil gula tingkat petani dalam jangka pendek
sebesar 0.972 persen dan 1.135 persen dalam jangka panjang.
Rasio produksi gula Indonesia tahun t dengan tahun sebelumnya
berpengaruh secara nyata terhadap harga riil gula tingkat petani. Peningkatan
116
produksi gula Indonesia akan menurunkan harga gula tingkat petani. Oleh karena
itu, target swasembada yang dicanangkan oleh pemerintah hendaknya diikuti
dengan kebijakan penetapan harga yang sesuai bagi petani, sehingga
kesejahteraan petani tidak mengalami penurunan.
Dummy kebijakan HPP gula berpengaruh secara tidak nyata terhadap
harga riil gula tingkat petani. Hal ini menunjukkan bahwa adanya kebijakan HPP
tidak efektif dalam meningkatkan harga gula petani. Kebijakan HPP gula memang
tidak dimaksudkan untuk meningkatkan harga gula, karena sistem penetapan
harga gula tingkat petani dilakukan dengan sistem lelang yang menggunakan HPP
sebagai referensi harga atau sebagai batas harga minimum. Harga riil gula
kecenderungan waktu tidak menunjukkan adanya peningkatan harga gula tingkat
petani. Dalam hal ini harga riil gula tingkat petani relatif tidak stabil, sedangkan
harga riil gula tingkat petani t-1 berpengaruh secara nyata terhadap harga riil gula
tingkat petani. Hal ini mengindikasikan bahwa terdapat tenggang waktu yang
cukup bagi harga riil gula tingkat petani untuk menyesuaikan diri dalam merespon
perubahan ekonomi yang terjadi.
6.2.4.2.Harga Riil Gula Tingkat Pedagang Besar (HRGPB)
Hasil estimasi persamaan harga riil gula tingkat pedagang besar disajikan
pada Tabel 26. Harga riil gula tingkat pedagang besar dari model yang diestimasi
ditentukan oleh variabel harga riil gula eceran, tren waktu, dan harga riil gula
tingkat pedagang besar t-1. Berdasarkan kriteria statistik maka harga riil gula
tingkat pedagang besar dipengaruhi secara nyata oleh harga riil gula eceran dan
tren waktu.
Tabel 26. Hasil Estimasi Persamaan Harga Riil Gula Tingkat Pedagang
Besar (HRGPB)
Variabel
Parameter
Estimate
Elastisitas
SR
LR
Intercept
HRGE
-218.315
0.904098
0.985
1.015
T
8.933385
0.030
0.031
LHRGPB
0.029177
Prob>|F| : <.0001
Prob > |T|
Variabel Label
0.1919
R2 : 0.9752
<.0001 Harga riil gula eceran
0.0005 Tren waktu
Harga riil gula tingkat
0.2029
pedagang besar t-1
Dw : 1.340
Dh : 1.776
117
Harga riil gula eceran berpengaruh secara nyata terhadap harga riil gula
tingkat pedagang besar. Kenaikan harga riil gula eceran akan meningkatkan harga
riil gula pedagang besar. Hal ini dikarenakan adanya transmisi harga yang besar
antara harga riil gula eceran dengan harga riil gula tingkat pedagang besar.
Respon harga riil gula tingkat pedagang besar terhadap harga riil gula eceran
adalah inelastis dalam jangka pendek namun elastis dalam jangka panjang.
Peningkatan harga gula eceran sebesar 1 persen akan meningkatkan harga riil gula
tingkat pedagang besar sebesar 0.985 persen pada jangka pendek dan 1.015 pada
jangka panjang. Selanjutnya harga riil gula tingkat pedagang besar berpengaruh
secara nyata terhadap tren waktu. Hal ini menunjukkan bahwa adanya tenggang
waktu yang relatif lambat bagi harga riil gula tingkat pedagang besar untuk
kembali pada tingkat keseimbangannya, dalam hal ini harga riil gula tingkat
pedagang besar relatif tidak stabil.
6.2.4.3.Harga Riil Gula Eceran
Hasil estimasi terhadap persamaan harga riil gula eceran pada Tabel 27
menunjukkan bahwa harga riil gula eceran dipengaruhi secara positif oleh harga
impor riil gula Indonesia, permintaan gula Indonesia dan secara negatif oleh
penawaran gula t-1. Harga riil gula eceran dipengaruhi secara nyata oleh harga
impor riil gula Indonesia dan permintaan gula Indonesia. Harga riil gula eceran
tidak responsif terhadap perubahan harga impor riil gula Indonesia dengan nilai
elastisitas 0.192 dalam jangka pendek. Artinya, apabila harga impor riil gula
meningkat 1 persen maka hanya akan meningkatkan harga riil gula eceran sebesar
0.262 persen. Kebijakan impor yang bertujuan untuk memenuhi segmen pasar
tertentu dan memenuhi kebutuhan domestik akan gula pada musim-musim
tertentu dengan harga yang relatif murah dapat menekan kenaikan harga riil gula
eceran, terlebih lagi banyaknya gula impor rafinasi yang seharusnya untuk pasar
industri merembes ke pasar konsumsi dan akan mensubstitusi gula domestik
begitu perbedaan harga keduanya menjadi tinggi. Meskipun hal ini dilarang,
namun kenyataan dilapangan masih menunjukkan banyaknya jumlah gula impor
(rafinasi) yang dipasarkan pada pasar konsumsi. Hal ini terjadi akibat harga impor
gula kristal rafinasi lebih murah daripada harga gula domestik.
118
Tabel 27. Hasil Estimasi Persamaan Harga Riil Gula Eceran (HRGE)
Variabel
Parameter
Estimate
Elastisitas
SR
Intercept
3 905.693
HRGINA
0.262341
0.192
DGINA
SGINA
0.000249
-0.00008
0.142
-0.062
LR
Prob > |T|
<.0001
R2 : 0.4379
Prob>|F| : 0.0028
Variabel Label
Harga impor riil gula
Indonesia
0.1473 Permintaan gula Indonesia
0.3267 Penawaran gula Indonesia
0.0002
Dw : 1.906
Selanjutnya pada Tabel 27 juga menunjukkan bahwa permintaan gula
berpengaruh secara nyata terhadap harga riil gula eceran. Peningkatan permintaan
gula akan menyebabkan kenaikan harga riil gula eceran. Namun, respon harga riil
gula eceran terhadap perubahan permintaan adalah inelastis. Artinya, kenaikan 1
persen permintaan gula Indonesia hanya akan meningkatkan harga riil gula eceran
sebesar 0.142 persen. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa harga riil gula eceran
kurang responsif terhadap permintaan gula Indonesiaedangkan penawaran gula
Indonesia tidak berpengaruh secara nyata terhadap harga riil gula eceran.
Perubahan pada penawaran gula Indonesia tidak dapat menjadi tolok ukur bagi
perubahan harga riil gula eceran Indonesia.
6.2.4.4.Harga Impor Riil Gula Indonesia
Hasil estimasi terhadap harga impor riil gula Indonesia yang disajikan pada
Tabel 28 menunjukkan bahwa harga impor riil gula Indonesia dipengaruhi secara
positif oleh harga riil gula dunia, tren waktu, dan harga impor riil gula Indonesia t-1.
Berdasarkan kriteria statistik, dapat diketahui bahwa harga impor riil gula Indonesia
dipengaruhi secara nyata oleh harga riil gula dunia dan tren waktu.
Tabel 28. Hasil Estimasi Persamaan Harga Impor Riil Gula Indonesia (HRGINA)
Variabel
Parameter
Estimate
Intercept
HRGW
T
156.1317
4.937577
51.66909
LHRGINA
0.202815
Prob>|F| :
0.1201
Elastisitas
Prob > |T|
Variabel Label
SR
LR
0.4683
0.540
0.678
0.0204 Harga riil gula dunia
0.1539 Tren waktu
Harga impor riil gula
0.1441
Indonesia t-1
2
R : 0.2119
Dw : 1.932 Dh : 1.159
119
Salah satu konsekuensi dari perekonomian terbuka yaitu adanya integrasi
harga antara harga di tingkat pasar dunia dengan harga pada negara yang
bersangkutan. Apabila ditinjau dari koefisien parameternya harga riil gula dunia
sangat berpengaruh terhadap harga impor riil gula Indonesia dengan koefisien
parameter 4.937 yang menjelaskan bahwa dari setiap kenaikan harga riil gula
dunia sebesar 1 US$ per ton, dengan asumsi ceteris paribus maka harga impor riil
gula Indonesia akan meningkat sebesar Rp 4 937.00 per kilogram. Apabila
ditinjau dari elastisitasnya, respon harga impor riil gula Indonesia terhadap
perubahan harga riil gula dunia bersifat inelastis baik pada jangka pendek maupun
jangka panjang. Peningkatan harga riil gula dunia sebesar 1 persen hanya akan
menyebabkan peningkatan harga impor riil gula Indonesia 0.540 persen dalam
jangka pendek dan 0.678 persen dalam jangka panjang. Selanjutnya, harga riil
gula tingkat pedagang besar berpengaruh secara nyata terhadap tren waktu. Hal ini
menunjukkan bahwa adanya tenggang waktu yang relatif lambat bagi harga impor
riil gula untuk kembali pada tingkat keseimbangannya. Dalam hal ini harga impor
riil gula relatif tidak stabil. Sedangkan harga impor riil gula Indonesia t-1
berpengaruh secara tidak nyata terhadap harga impor riil gula Indonesia. Hal ini
mengindikasikan bahwa tidak ada tenggang waktu yang cukup bagi harga impor
riil gula Indonesia untuk menyesuaikan diri dalam merespon perubahan ekonomi
yang terjadi.
6.2.5. Impor Gula Indonesia
Thailand merupakan eksportir gula terbesar bagi Indonesia, sedangkan
bagi China yang merupakan negara produsen gula, Indonesia masih menjadi
tujuan ekspor nomor satu bagi negara ini. Disamping Thailand dan China sebagai
negara pengekspor gula bagi Indonesia ada beberapa negara lain yang juga
mengekspor gulanya ke Indonesia. Namun dalam penelitian ini negara selain
Thailand dan China dikelompokkan dalam rest of the word. Persamaan impor gula
Indonesia merupakan penjumlahan impor gula Indonesia dari Thailand, China,
dan negara lain (selain Thailand dan China).
120
6.2.5.1.Impor Gula Indonesia dari Thailand
Hasil estimasi persamaan impor gula Indonesia dari Thailand pada Tabel
29 menunjukkan bahwa impor gula Indonesia dari Thailand dipengaruhi secara
positif oleh tren waktu dan impor gula Indonesia dari Thailand t-1. Adapun
variabel harga impor riil gula Indonesia, produksi gula Indonesia, nilai tukar
Indonesia terhadap Thailand, stok gula Indonesia t-1, dan tarif impor gula
Indonesia berpengaruh secara negatif terhadap impor gula Indonesia dari
Thailand. Variabel yang berpengaruh secara nyata terhadap impor gula Indonesia
dari Thailand adalah produksi gula Indonesia dan tren waktu.
Tabel 29. Hasil Estimasi Persamaan Impor Gula Indonesia dari Thailand
(MGITH)
Elastisitas
Parameter
Variabel
Prob > |T|
Variabel Label
Estimate
SR
LR
Intercept
341 127.1
0.1543
Harga impor riil gula
HRGINA
-20.8237 -0.222
-0.239
0.2664
Indonesia
QGINA
-0.09003 -0.592
-0.637
0.1480 Produksi gula Indonesia t-1
Nilai tukar Indonesia
ERITH
-244.582 -0.233
-0.251
0.3465
terhadap Thailand
LSTG
-0.14987 -0.378
-0.406
0.2006 Stok gula Indonesia t-1
Tarif impor gula
TIG
-6 335.73 -0.200
-0.216
0.1767
Indonesia
T
36 383.02
0.0145 Tren waktu
Impor gula Indonesia dari
LMGITH
0.070703
0.3848
Thailand t-1
2
Prob>|F| : 0.000
R : 0.71443
Dw : 2.0128
Dh : Harga impor riil gula Indonesia berpengaruh secara tidak nyata terhadap
impor gula Indonesia dari Thailand. Indonesia mempunyai ketergantungan yang
sangat tinggi terhadap ekspor gula dari Thailand, sehingga peningkatan harga
impor riil gula Indonesia tidak menyebabkan penurunan impor gula Indonesia dari
Thailand. Produksi gula Indonesia berpengaruh secara nyata terhadap impor gula
Indonesia dari Thailand. Hal ini menunjukkan bahwa untuk mengurangi
ketergantungan impor gula Indonesia dari Thailand maka pemerintah sebaiknya
berupaya untuk meningkatkan produksi gula Indonesia dari produsen dalam
negeri. Namun demikian respon perubahan impor gula Thailand terhadap
perubahan produksi gula Indonesia adalah inelastis baik dalam jangka pendek
maupun jangka panjang. Peningkatan produksi gula Indonesia t-1 sebesar 1 persen
121
akan menurunkan impor gula Indonesia dari Thailand sebesar 0.592 persen dalam
jangka pendek dan 0.637 persen dalam jangka panjang. Hal ini dikarenakan impor
gula dilakukan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan gula pada daerah non
produsen di Indonesia. Seperti misalnya, di Kalimantan Barat yang tidak
memungkinkan untuk menunggu pasokan gula karena terkendala trasportasi yang
tidak bisa mengirim dalam waktu yang cepat sehingga pemerintah memberikan
izin untuk melakukan impor bagi daerah tersebut. Lebih lanjut, hal ini pula yang
turut menyebabkan banyaknya impor gula ilegal yang memenuhi pasar konsumsi
di Indonesia sebab lemahnya pengawasan dari pemerintah.
Nilai tukar riil Indonesia mempengaruhi impor gula Indonesia dari
Thailand secara tidak nyata. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan yang terjadi
pada nilai tukar tersebut tidak dapat digunakan sebagai tolak ukur perubahan
jumlah impor gula Indonesia dari Thailand. Pengaruh tarif impor gula Indonesia
dari Thailand juga tidak nyata. Peningkatan tarif impor gula oleh pemerintah
Indonesia tidak menyebabkan turunnya impor gula Indonesia dari Thailand. Hal
ini diduga karena besaran tarif yang ditetapkan pemerintah Indonesia terhadap
impor gula selama ini masih rendah. Selain faktor-faktor tersebut, tren waktu juga
berpengaruh secara nyata terhadap impor gula Indonesia dari Thailand. Hal ini
menunjukkan bahwa adanya tenggang waktu yang relatif lambat bagi impor gula
Indonesia dari Thailand untuk kembali pada tingkat keseimbangannya. Impor gula
Indonesia dari Thailand juga dipengaruhi secara tidak nyata oleh impor gula
Indonesia dari Thailand t-1. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat tenggang
waktu yang cukup bagi impor gula Indonesia dari Thailand untuk menyesuaikan
diri dalam merespon perubahan ekonomi yang terjadi.
6.2.5.2.Impor Gula Indonesia dari China
China merupakan salah satu negara produsen gula terbesar di Dunia. Salah
satu negara tujuan ekspor China adalah Indonesia. Hasil estimasi yang disajikan
pada Tabel 30 menunjukkan bahwa impor gula Indonesia dari China dipengaruhi
secara positif oleh tren waktu. Adapun perubahan harga impor riil gula Indonesia,
produksi gula Indonesia, tarif impor gula Indonesia, perubahan nilai tukar
Indonesia terhadap China dan perubahan stok gula Indonesia berpengaruh secara
122
negatif. Impor gula Indonesia dari China dipengaruhi secara nyata oleh produksi
gula Indonesia, tarif impor gula Indonesia, dan tren waktu.
Tabel 30. Hasil Estimasi Persamaan Impor Gula Indonesia dari China
(MGICN)
Elastisitas
Parameter
Variabel
Prob > |T|
Variabel Label
Estimate
SR
LR
Intercept
27 132.28
0.0319
Perubahan harga impor
SHRGINA -1.83649 -0.0002
0.2977
riil gula Indonesia
QGINA
-0.02588 -2.7787
0.0002 Produksi gula Indonesia
Tarif Impor Gula
TIG
-2 397.54 -1.2375
0.0006
Indonesia
Perubahan nilai tukar
SERICN
-2.15749 -0.0005
0.4257 Indonesia terhadap
China
Perubahan stok gula
SSTG
-0.00045
0.0003
0.4896
Indonesia
T
5 214.175
<.0001 Tren waktu
2
Prob>|F| : 0.0005
R : 0.6497
Dw : 2.360
Sama halnya dengan impor gula Indonesia dari Thailand, perubahan harga
impor riil gula Indonesia juga berpengaruh secara tidak nyata terhadap impor gula
Indonesia dari China. Peningkatan harga impor riil gula Indonesia tidak
menyebabkan penurunan impor gula Indonesia dari China. Demikian juga dengan
perubahan nilai tukar Indonesia terhadap China yang berpengaruh secara tidak
nyata terhadap impor gula Indonesia dari China. Hal ini menunjukkan bahwa
perubahan yang terjadi pada nilai tukar tersebut tidak dapat digunakan sebagai
tolak ukur perubahan jumlah impor gula Indonesia dari China. Demikian halnya
dengan perubahan stok gula Indonesia yang berpengaruh secara tidak nyata
terhadap impor gula Indonesia. Peningkatan stok gula Indonesia tidak
menyebabkan impor gula Indonesia dari China berkurang. Pemerintah masih
kurang cermat dalam melakukan perhitungan stok gula di Indonesia, sehingga
sering kali impor gula masih dilakukan sekalipun sebenarnya stok gula masih
mencukupi untuk memenuhi kebutuhan domestik.
Produksi gula Indonesia berpengaruh secara nyata terhadap impor gula
Indonesia dari China. Penurunan produksi gula Indonesia menyebabkan
peningkatan impor gula Indonesia dari China. Hal ini diperkuat oleh respon
impor gula China terhadap produksi gula indonesia yang sangat elastis.
123
Peningkatan 1 persen produksi gula Indonesia menyebabkan impor gula Indonesia
dari China menurun 2.779 persen. Tarif impor gula juga berpengaruh secara nyata
terhadap impor gula Indonesia dari China. Respon perubahan impor gula China
terhadap perubahan tarif impor gula adalah elastis. Penurunan tarif impor gula
sebesar 1 persen akan meningkatkan impor gula Indonesia dari China sebesar
1.237 persen. Impor gula Indonesia dari China juga dipengaruhi secara nyata oleh
tremd waktu. Hal ini menunjukkan bahwa adanya tenggang waktu yang relatif
lambat bagi harga impor riil gula Indonesia dari China untuk kembali pada tingkat
keseimbangannya.
6.2.6. Ekspor Impor Gula Dunia
Ekspor Gula
6.2.6.1.Ekspor Gula Brazil
Brazil merupakan negara pengekspor gula terbesar di dunia saat ini. Hasil
estimasi persamaan eskpor gula Brazil disajikan pada Tabel 31. Ekspor gula
Brazil dapat ditentukan harga riil gula dunia, produksi gula Brazil, perubahan nilai
tukar riil Brazil, dan ekspor gula Brazil t-1. Ekspor gula Brazil dipengaruhi secara
nyata oleh harga riil gula dunia, produksi gula Brazil dan perubahan nilai tukar riil
Brazil.
Tabel 31. Hasil Estimasi Persamaan Ekspor Gula Brazil (XGBR)
Elastisitas
Parameter
Variabel
Prob > |T|
Variabel Label
Estimate
SR
LR
Intercept -6 330 563
<.0001
HRGW
2 504.546
0.125
0.135
0.0604 Harga riil gula dunia
QGBR
0.790311
1.544
1.667
<.0001 Produksi gula Brazil
Perubahan nilai tukar riil
SERBR 325 475.5
0.002
0.002
0.1353
Brazil
LXGBR
0.073383
0.3085 Ekspor gula Brazil t-1
Prob>|F| : <.0001
R2 : 0.98382
Dw : 1.868
Dh : 0.539
Harga riil gula dunia berpengaruh secara nyata terhadap ekspor gula
Brazil. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan harga riil gula dunia dapat
menjadi stimulus bagi Brazil meningkatkan volume ekspor gulanya. Namun,
respon ekspor gula Brazil terhadap harga riil gula dunia adalah inelastis baik
dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Peningkatan harga riil gula dunia
124
sebesar 1 persen akan meningkatkan ekspor gula Brazil sebesar 0.125 persen
dalam jangka pendek dan 0.135 persen dalam jangka panjang. Produksi gula
Brazil berpengaruh secara nyata terhadap ekspor gulanya. Semakin besar jumlah
gula yang diproduksi oleh Brazil maka akan mendorong pengusaha gula Brazil
untuk meningkatkan jumlah ekspor gula yang lebih banyak lagi. Hal ini diperkuat
dengan respon ekspor gula Brazil terhadap produksi gulanya yang sangat elastis
baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Kenaikan 1 persen produksi
gula Brazil maka akan meningkatkan 1.544 persen ekspor gulanya dalam jangka
pendek dan 1.667 persen dalam jangka panjang.
Perubahan nilai tukar riil Brazil juga berpengaruh secara nyata terhadap
ekspor gula Brazil. Namun respon ekspor gula Brazil terhadap perubahan nilai
tukar riil Brazil bersifat inelastis baik dalam jangka pendek maupun jangka
panjang. Hal ini berarti bahwa perubahan yang terjadi pada nilai tukar riil Brazil
menyebabkan terjadinya perubahan volume gula yang diekspor oleh eksportir gula
Brazil, walaupun perubahannya kecil baik dalam jangka pendek maupun jangka
panjang. Sebaliknya, ekspor gula Brazil t-1 berpengaruh secara tidak nyata
terhadap ekspor gula Brazil. Hal ini mengindikasikan bahwa tidak ada tenggang
waktu yang dibutuhkan oleh ekspor gula Brazil untuk menyesuaikan diri kembali
kepada tingkat keseimbangannya dalam merespon perubahan ekonomi yang
terjadi.
6.2.6.2.Ekspor Gula Thailand
Thailand merupakan eksportir gula terbesar kedua di dunia. Hasil
estimasi persamaan ekspor gula Thailand disajikan pada Tabel 32. Ekspor gula
Thailand dari model yang diestimasi ditentukan oleh harga riil gula dunia,
produksi gula Thailand, perubahan nilai tukar riil Thailand, dan tren waktu.
Ekspor gula Thailand dipengaruhi secara nyata oleh harga riil gula dunia,
produksi gula Thailand, dan nilai tukar riil Thailand. Harga riil gula dunia yang
berpengaruh secara nyata terhadap ekspor gula Thailand mengindikasikan bahwa
peningkatan harga riil gula dunia menjadi stimulus bagi eksportir gula Thailand
untuk meningkatkan ekspor gulanya. Respon ekspor gula Thailand terhadap harga
riil gula dunia adalah inelastis. Hal ini mengindikasikan bahwa peningkatan harga
125
gula dunia sebesar 1 persen akan meningkatkan ekspor gula Thailand sebesar
0.100 persen dalam jangka pendek.
Tabel 32. Hasil Estimasi Persamaan Ekspor Gula Thailand (XGTH)
Elastisitas
Parameter
Variabel
Prob > |T|
Variabel Label
Estimate
SR
LR
Intercept
-179 072
0.2948
HRGW
716.1686
0.100
0.0501 Harga riil gula dunia
QGTH
0.470358
0.687
<.0001 Produksi gula Thailand
Perubahan nilai tukar riil
SERTH 2 570.296 -0.001
0.4335
Thailand
T
50 528.95
0.0009 Tren waktu
Prob>|F| : <.0001
R2 : 0.95432
Dw : 1.440
Peningkatan produksi gula Thailand juga menjadi salah satu pendorong
ekspor gula Thailand. Namun, respon ekspor gula Thailand terhadap produksi
gula Thailand adalah inelastis. Apabila terjadi peningkatan produksi gula Thailand
sebesar 1 persen maka akan meningkatkan ekspor gula Thailand sebesar 0.687
persen dalam jangka pendek. Selain faktor-faktor tersebut ekspor gula Thailand
juga dipengaruhi secara tidak nyata oleh perubahan nilai tukar riilnya. Hal ini
menujukkan bahwa perubahan yang terjadi pada nilai tukar tidak dapat digunakan
sebagai tolak ukur perubahan jumlah ekspor gula Thailand, sedangkan variabel
tren waktu berpengaruh secara nyata terhadap ekspor gula Thailand. Hal ini
menunjukkan bahwa adanya tenggang waktu yang relatif lambat bagi harga
ekspor gula Thailand untuk kembali pada tingkat keseimbangannya dalam
merespon perubahan ekonomi yang terjadi.
6.2.6.3. Total Ekspor Gula Dunia
Persamaan ekspor gula dunia merupakan penjumlahan dari ekspor gula
Brazil, Thailand, dan negara eksportir lainnya (selain Brazil dan Thailand). Hal
tersebut dibangun berdasarkan analisis dalam kurun waktu 1981 sampai dengan
2010 yang diperoleh proporsi (share) ekspor rata-rata gula dunia adalah 57.11
persen oleh Brazil dan 10.37 persen oleh Thailand, sedangkan rata-rata ekspor
dari negara lain sebesar 40.92 persen. Hal tersebut mengindikasikan bahwa
meskipun Brazil dan Thailand merupakan negara terbesar dalam impor gula
namun masih terdapat banyak negara-negara lain yang menjadi negara eksportir
126
gula di dunia, namun jumlah impornya relatif kecil. Sehingga ekspor gula dunia
merupakan penjumlahan dari ekspor gula Brazil, Thailand, ditambah dengan
ekspor gula sisa dunia.
Impor Gula Dunia
6.2.6.4. Impor Gula India
India sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar kedua di dunia
merupakan negara importir gula terbesar di dunia. Impor gula India dipengaruhi
secara positif oleh pertumbuhan penduduk india t-1, perubahan nilai tukar India,
sedangkan harga riil gula dunia dan GDP riil India berpengaruh secara negatif
terhadap impor gula India. Adapun hasil estimasi persamaan impor gula India
yang ditunjukkan oleh Tabel 33 menyatakan bahwa impor gula India dipengaruhi
secara nyata oleh harga riil gula dunia, produksi gula India, pertumbuhan
penduduk India, GDP riil India, dan tren waktu.
Tabel 33. Hasil Estimasi Persamaan Impor Gula India (MGIN)
Elastisitas
Parameter
Variabel
Prob > |T|
Variabel Label
Estimate
SR
LR
Intercept
-23 560 000
0.0329
HRGW
-2 465.20 -2.226
0.0080 Harga riil gula dunia
QGIN
-0.12 -3.572
0.0002 Produksi gula India
Pertumbuhan penduduk
LJPOPIN 1 064 500 000 41.378
0.0243
India
Perubahan nilai tukar
SERIN
-43 429.60 0.067
0.0652
India terhadap Amerika
IRIN
0.000003 2.517
0.0411 GDP riil India
T
356 268.40
0.0350 Tren waktu
2
Prob>|F| : 0.0012
R : 0.6212
Dw : 2.058
Pengaruh harga riil gula dunia yang nyata terhadap impor gula India
menunjukkan bahwa perubahan pada harga riil gula dunia mampu menyebabkan
terjadinya perubahan impor gula India. Secara ekonomi, respon perubahan ekspor
gula India terhadap harga riil gula dunia adalah elastis. Kenaikan 1 persen harga
gula dunia akan meyebabkan impor gula India berkurang 1.814 persen. Produksi
gula India berpengaruh secara nyata terhadap impor gula India. Penurunan impor
gula dunia sangat responsif terhadap peningkatan produksi gula India.
Peningkatan produksi gula India sebesar 1 persen akan menurunkan impor gula
India sebesar 3.572 persen dalam jangka pendek. Pertumbuhan penduduk India
127
juga berpengaruh secara nyata terhadap impor gula India. Peningkatan penduduk
India menjadi pendorong bagi India untuk meningkatkan volume impornya.
Namun demikian impor gula India terhadap pertumbuhan penduduk India adalah
sangat elastis. Peningkatan jumlah penduduk India sebesar 1 persen akan
meningkatkan impor gula India sebesar 41.378 persen. GDP riil India
berpengaruh secara nyata pula terhadap impor gula India. Hal ini menunjukkan
bahwa perilaku impor gula India ditentukan oleh perubahan GDP riilnya dan
memiliki respon yang sangat elastis dalam jangka pendek. Peningkatan GDP riil
India sebesar 1 persen akan meningkatkan impor gula India sebesar 2.517 persen
dalam jangka pendek. Selain itu, perubahan nilai tukar India juga berpengaruh
secara nyata terhadap impor gula India. Ini menunjukkan bahwa perubahan yang
terjadi pada nilai tukar riil India dapat dijadikan tolak ukur berubahnya volume
impor gula India. Demikian juga dengan variabel tren waktu yang berpengaruh
secara nyata terhadap impor gula India. Hal ini menunjukkan bahwa adanya
tenggang waktu yang relatif lambat bagi harga impor gula India untuk kembali
pada tingkat keseimbangannya dalam merespon perubahan ekonomi yang terjadi.
6.2.6.5.Impor Gula Amerika Serikat
Hasil estimasi persamaan impor gula Amerika Serikat ditunjukkan oleh
Tabel 34. Impor gula Amerika Serikat dari model yang diestimasi ditentukan oleh
perubahan harga riil gula dunia, produksi gula Amerika Serikat, konsumsi gula
Amerika Serikat, stok gula Amerika Serikat, dan impor gula Amerika Serikat t-1.
Dapat diketahui bahwa konsumsi gula Amerika Serikat dan impor gula Amerika
Serikat t-1 berpengaruh positif terhadap impor gula Amerika Serikat. Adapun
perubahan harga riil gula, produksi gula Amerika Serikat, dan stok gula Amerika
Serikat mempengaruhi impor gula Amerika Serikat secara negatif. Berdasarkan
kriteria statistik, impor gula Amerika Serikat dipengaruhi secara nyata oleh
produksi gula Amerika Serikat, konsumsi gula Amerika Serikat, dan stok gula
Amerika Serikat.
Perubahan harga riil gula dunia berpengaruh secara tidak nyata terhadap
impor gula Amerika Serikat. Ini menunjukkan bahwa kenaikan harga gula dunia
tidak membuat pengusaha importir gula Amerika Serikat mengurangi impor gula.
128
Produksi gula Amerika Serikat berpengaruh secara nyata terhadap impor gula
Amerika Serikat. Peningkatan produksi gula Amerika Serikat akan menurunkan
impor gula Amerika Serikat. Hal ini diperkuat oleh respon impor gula Amerika
Serikat terhadap produksi yang sangat elastis. Peningkatan 1 persen produksi gula
Amerika Serikat akan menurunkan impor gula Amerika Serikat sebesar 3.223
persen dalam jangka pendek dan 3.248 persen dalam jangka panjang.
Tabel 34. Hasil Estimasi Persamaan Impor Gula Amerika Serikat (MGUS)
Elastisitas
Parameter
Variabel
Prob > |T|
Variabel Label
Estimate
SR
LR
Intercept
1 565 346
<.0001
Perubahan harga riil gula
SHRGW
-132.809 0.001 0.002
0.3099
dunia
QGUS
-0.93316 -3.113 -3.284
<.0001 Produksi gula USA
CGUS
0.767013 3.225 3.401
<.0001 Konsumsi gula USA
STUS
-0.89732 0.008 0.008
<.0001 Stok gula USA
LMGUS
0.051877
0.2103 Impor gula USA t-1
Prob>|F| : <.0001
R2 : 0.9548
Dw : 1.286
Dh : 2.004
Konsumsi gula Amerika Serikat berpengaruh secara nyata terhadap
impor gulanya. Ini menunjukkan bahwa perilaku impor gula Amerika Serikat
dapat ditentukan oleh perubahan konsumsi masyarakatnya. Adapun respon impor
gula Amerika Serikat terhadap konsumsi gulanya adalah elastis. Peningkatan 1
persen konsumsi gula Amerika Serikat akan meningkatkan impor gula Amerika
Serikat sebesar 3.225 persen pada jangka pendek dan 3.402 persen pada jangka
panjang. Stok gula Amerika Serikat juga berpengaruh secara nyata terhadap impor
gula Amerika Serikat. Peningkatan stok gula akan menurunkan impor gulanya
meskipun kurang responsif. Peningkatan stok gula Amerika Serikat akan
menurunkan impor gula Amerika Serikat sebesar 0.008 persen baik dalam jangka
pendek maupun jangka panjang. Lebih lanjut, impor gula Amerika Serikat t-1 juga
berpengaruh secara tidak nyata terhadap impor gula Amerika Serikat. Hal ini
mengindikasikan bahwa tidak ada tenggang waktu yang cukup bagi impor gula
Amerika serikat untuk menyesuaikan diri dalam merespon perubahan ekonomi
yang terjadi.
129
6.2.6.6.Impor Gula China
China merupakan negara produsen gula terbesar di dunia, namun China
juga menjadi konsumen gula terbesar di dunia setelah Amerika Serikat dan India.
Hal ini sesuai dengan tabulasi data historis selam kurun waktu 2007-2009 yang
dapat dijelaskan bahwa rata-rata share impor gula China terhadap total impor
dunia adalah 3.03 persen. Berdasarkan Tabel 35 dapat diketahui bahwa impor gula
China ditentukan oleh harga gula dunia t-1, produksi gula China, konsumsi gula
China, stok gula China, GDP riil China, pertumbuhan penduduk China, dan impor
gula China t-1. Adapun secara statistik yang memberikan pengaruh secara nyata
terhadap impor gula China antara lain harga riil gula dunia t-1, produksi gula
China, stok gula China, GDP riil China, pertumbuhan penduduk China, dan impor
gula China t-1.
Tabel 35. Hasil Estimasi Persamaan Impor Gula China (MGCN)
Elastisitas
Parameter
Variabel
Prob > |T|
Variabel Label
Estimate
SR
LR
Intercept
350 378.8
0.3886
LHRGW
-1 131.57 -0.358 -0.498
0.1000 Harga riil gula dunia t-1
QGCN
-0.16627 -0.941 -1.311
0.0615 Produksi gula China
CGCN
0.061002 0.327 0.456
0.3280 Konsumsi gula China
STCN
-0.45192 0.033 0.047
0.0114 Stock gula China
0.0000007
IRCN
0.553 0.771
0.0214 GDP riil China
Pertumbuhan penduduk
LJPOPCN 120 150 000 0.859 1.197
0.0828
China
LMGCN
0.2825
0.0777 Impor gula China t-1
Prob>|F| : 0.078
R2 : 0.395
Dw : 1.868
Dh : Harga riil gula dunia memberikan pengaruh nyata terhadap impor gula
China. Hal ini mengindikasikan bahwa harga riil gula dunia mampu menyebabkan
terjadinya perubahan volume impor gula China. Namun demikian, secara ekonomi
respon impor gula China terhadap harga riil gula dunia t-1 adalah inelastis baik
dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Hal ini berarti perubahan harga
gula dunia sebesar 1 persen akan menyebabkan perubahan impor gula China
kurang dari 1 persen baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Produksi
gula China juga berpengaruh secara nyata terhadap impor gula China.
Peningkatan produksi gula China akan menurunkan impor gula China dengan
respon yang cukup elastis dalam jangka panjang. Peningkatan 1 persen produksi
130
gula China akan menurunkan impor gula China sebesar 0.941 persen dalam
jangka pendek dan 1.311 persen dalam jangka panjang.
Sebaliknya, konsumsi gula China tidak berpengaruh secara nyata terhadap
peningkatan impor gula China. Hal ini menunjukkan bahwa konsumsi gula China
tidak dapat menjadi tolak ukur dalam peningkatan impor gula China. Adapun stok
gula China berpengaruh secara nyata terhadap impor gula China. Peningkatan stok
gula China akan menurunkan impor gula China sekalipun kurang responsif.
Peningkatan stok gula China akan menurunkan impor gula China sebesar 0.033
persen dalam jangka pendek dan 0.047 persen dalam jangka panjang. Lebih lanjut,
GDP riil China memberikan pengaruh yang nyata terhadap impor gula China.
Peningkatan GDP riil China membuat importir gula di China meningkatkan
jumlah impor gula. Namun respon peningkatan impor gula China terhadap GDP
riil China adalah inelastis baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Peningkatan GDP riil China sebesar 1 persen hanya akan meningkatkan impor
gula China sebesar 0.553 persen dalam jangka pendek dan 0.771 persen dalam
jangka panjang.
Demikian halnya dengan pertumbuhan penduduk China yang juga
berpengaruh secara nyata terhadap impor gula China. Namun respon impor gula
China terhadap pertumbuhan penduduk China inelastis dalam jangka pendek dan
elastis dalam jangka panjang. Hal ini mengindikasikan bahwa peningkatan
penduduk China sebesar 1 persen akan meningkatkan impor China sebesar 0.895
dalam jangka pendek dan 1.197 dalam jangka panjang. Apabila dikaitkan dengan
perjanjian perdagangan bebas ASEAN China Free Trade Area (ACFTA) jika
pemerintah China tidak mampu membendung laju pertumbuhan penduduknya
maka China yang selama ini dikenal sebagai negara penghasil gula terbesar ketiga
dunia akan memborong gula dari pasar internasional dan mengurangi ekspornya
ke Indonesia. Impor gula China juga dipengaruhi secara nyata oleh impor gula
China t-1. Ini berarti bahwa ada tenggang waktu yang cukup bagi China untuk
menyesuaikan diri dalam merespon perubahan ekonomi yang terjadi.
131
6.2.6.7. Total Impor Gula Dunia
Persamaan impor gula dunia merupakan penjumlahan impor gula India,
Amerika Serikat, China, dan negara importir gula lainnya. Hal tersebut dibangun
berdasarkan tabulasi data historis selama kurun waktu 2007-2009 dapat dijelaskan
bahwa rata-rata share impor India, Amerika Serikat, China, dan Indonesia adalah
14.09 persen (India 2.10 persen, Amerika Serikat 5.03 persen, China 3.03 persen,
dan Indonesia 3.93 persen), sedangkan rata-rata impor gula negara lain sebesar
85.91 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun India, Amerika Serikat,
China, dan Indonesia merupakan negara-negara terbesar dalam impor gula dunia,
namun masih terdapat banyak negara-negara lain yang juga menjadi importir gula
dunia. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa terdapat banyak negara importir gula
di dunia, namun jumlah impornya relatif kecil.
6.2.7. Harga Riil Gula Dunia
Hasil estimasi terhadap persamaan harga riil gula dunia disajikan pada
Tabel 36. Harga riil gula dunia ditentukan oleh ekspor gula dunia, impor gula
dunia, dan harga riil gula dunia t-1. Ekspor gula dunia berpengaruh secara
negatif terhadap harga riil gula dunia, sedangkan impor gula dunia dan harga
riil gula dunia t-1 berpengaruh secara positif terhadap harga riil gula dunia.
Tabel 36. Hasil Estimasi Persamaan Harga Gula Dunia (HRGW)
Elastisitas
Parameter
Variabel
Prob > |T|
Variabel Label
Estimate
SR
LR
Intercept
216.782
0.0709
XGW
-0.00002 -1.652 -4.473
0.1583 Ekspor gula dunia
MGW
0.00002 1.572 4.256
0.1857 Impor gula dunia
LHRGW
0.630578
<.0001 Harga riil gula dunia t-1
Prob>|F| : <.0001
R2 : 0.7651
Dw : 1.180
Dh : 2.829
Harga riil gula dunia hanya dipengaruhi secara nyata oleh harga riil
gula dunia t-1. Ekspor gula dunia berpengaruh secara tidak nyata terhadap harga
riil gula dunia. Hal ini menunjukkan bahwa ekspor gula dunia tidak dapat menjadi
tolak ukur peningkatan harga gula dunia. Peningkatan ekspor gula dunia memiliki
kecenderungan untuk tidak menyebabkan penurunan harga riil gula dunia.
Demikian pula dengan impor gula dunia yang juga berpengaruh secara tidak nyata
132
terhadap harga riil gula dunia, sehingga perubahan impor gula dunia juga tidak
menyebabkan perubahan yang besar terhadap harga riil gula dunia, sedangkan
harga riil gula dunia t-1 berpengaruh secara nyata terhadap harga riil gula dunia.
Hal ini mengindikasikan bahwa ada tenggang waktu yang relatif lambat dari harga
riil gula dunia untuk menyesuaikan diri dalam merespon perubahan ekonomi yang
terjadi.
133
VII. EVALUASI DAMPAK KEBIJAKAN EKONOMI
DI SEKTOR PERTANIAN TAHUN 2004-2010
7.1. Evaluasi Daya Prediksi Model
Simulasi historis untuk menggambarkan kondisi permintaan dan penawaran
gula baik di pasar domestik maupun pasar dunia dilakukan dalam kurun waktu
tahun 2004-2010. Kriteria validasi model dalam kajian ini adalah RMSPE dan U
Theil. Validasi model juga dilakukan secara historik-dinamis. Hasil validasi model
menunjukkan bahwa variabel endogen yang memiliki RMSPE 1-30 sebesar 80
persen, berkisar antara 31-60 sebesar 10 persen, dan yang memiliki nilai RMSPE >
60 sebesar 10 persen. Selain itu, diperoleh juga nilai rata-rata U-Theil sebesar 0.09.
Berdasarkan kondisi tersebut dapat disimpulkan bahwa sebagian besar persamaan di
dalam model memiliki daya prediksi yang baik. Walaupun beberapa persamaan
memiliki validasi yang lemah, namun nilai dekomposisi U-Theil mengindikasikan
bahwa bias (error) yang terjadi dalam simulasi model lebih banyak disebabkan oleh
faktor nonsistemik. Dengan demikian secara umum model yang dibangun memiliki
daya prediksi yang cukup valid untuk melakukan simulasi historis dan simulasi
peramalan. Evaluasi dampak penerapaan alternatif kebijakan ekonomi di sektor
pertanian dibatasi pada perubahan variabel endogen yang terkait dengan
pengukuran kesejahteraan pelaku ekonomi gula. Evaluasi dilakukan terhadap enam
skenario simulasi historis tahun 2004-2010, dimana periode ini merupakan periode
liberalisasi ACFTA mulai diimplementasikan di Indonesia disamping juga
merupakan periode dimulainya kebijakan HPP gula. Selain itu, periode ini juga
merupakan periode Harga Patokan Petani (HPP) gula, dimana pada tahun 2004
pemerintah mengeluarkan kebijakan HPP gula sebagai batas harga minimun yang
diterima petani. Hasil validasi terkait dengan daya prediksi model lainnya dapat
dilihat pada Lampiran 8.
7.2. Dampak Kebijakan Ekonomi di Sektor Pertanian terhadap Permintaan
dan Penawaran Gula di Indonesia
Evaluasi dampak kebijakan ekonomi di sektor pertanian terhadap
permintaan dan penawaran gula di Indonesia dibatasi pada perubahan variabel
endogen yang terkait dengan pengukuran kesejahteraan pelaku industri gula, yaitu
134
produksi gula, harga gula tingkat petani, harga gula eceran, permintaan gula
Indonesia, volume dan harga impor gula Indonesia. Skenario simulasi historis
yang dilakukan meliputi peningkatan harga gula tingkat petani 25 persen,
peningkatan harga pupuk 33 persen, peningkatan luas areal perkebunan tebu 20
persen, penurunan tarif impor 49 persen, dan penurunan kuota impor gula 50
persen. Berikut ini dikemukakan hasil simulasi pada masing-masing skenario.
7.2.1. Peningkatan Harga Gula Tingkat Petani
Sejak tahun 2004 pemerintah mengeluarkan kebijakan penetapan harga
patokan petani (HPP) dalam industri gula untuk memberikan perlindungan kepada
petani. HPP gula ini merupakan salah satu insentif bagi petani dalam berbudidaya
tebu. Harga patokan petani ini besarannya ditetapkan oleh pemerintah dan direvisi
angkanya setiap tahun. Peningkatan harga gula petani dalam penelitian ini
disimulasikan sebesar 25 persen sesuai usulan peningkatan HPP gula yang
diusulkan oleh Dewan Gula Indonesia. Adapun dampak peningkatan harga gula
sebesar 25 persen terhadap perubahan nilai rata-rata variabel endogen periode
2004-2010 dapat dijelaskan pada Tabel 37. Peningkatan harga gula akan
meningkatkan luas areal perkebunan rakyat sebesar 4.590 persen dan
produktivitas sebesar 15.858 persen sehingga produksi gula kristal pada
perkebunan rakyat juga akan meningkat sebesar 4.056 persen.
Peningkatan produksi gula kristal putih rakyat mampu meningkatkan
produksi gula Indonesia sebesar 4.544 persen. Adanya harga gula yang wajar dan
menguntungkan akan menjadi acuan bagi petani untuk menanam tebu atau tidak
pada musim giling tahun berikutnya. Khudori (2005) menambahkan bahwa besar
kecilnya harga berpengaruh besar terhadap minat dan insentif petani untuk terus
menekuni usahatani tebu. Petani tebu tidak semata-mata menginginkan
keuntungan yang besar tetapi juga stabilitas harga, sebab dengan harga yang baik
petani bisa dijadikan tumpuan pertumbuhan industri gula nasional.
Selanjutnya, peningkatan produksi gula ini akan menyebabkan penawaran
gula Indonesia meningkat 1.581 persen. Selain itu, peningkatan produksi gula
juga akan menyebabkan impor gula Indonesia mengalami penurunan sebesar
0.872 persen. Presentase penurunan impor gula paling tinggi berasal dari China
135
sebesar 30.503 persen, sedangkan dari Thailand menurun sebesar 1.653 persen.
Penurunan impor gula Indonesia menyebabkan berkurangnya volume impor gula
dunia, sehingga impor gula dunia turun sebesar 0.025 persen.
Tabel 37. Dampak Peningkatan Harga Gula sebesar 25 persen terhadap
Permintaan dan Penawaran Gula di Indonesia Tahun 2004-2010
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
Variable Endogen
Areal perkebunan besar negara
Areal perkebunan besar swasta
Areal perkebunan rakyat
Produktivitas hablur negara
Produktivitas hablur swasta
Produktivitas hablur rakyat
Produksi GKP negara
Produksi GKP swasta
Produksi GKP rakyat
Produksi GKP Indonesia
Produksi gula Indonesia
Permintaan gula rumah tangga
Permintaan gula industri
Permintaan gula Indonesia
Penawaran gula Indonesia
Harga riil gula tingkat petani
Harga riil gula pedagang besar
Harga riil gula eceran Indonesia
Harga riil impor gula Indonesia
Impor gula dari Thailand
Impor gula dari China
Impor gula Indonesia
Ekspor gula Brazil
Ekspor gula Thailand
Impor gula India
Impor gula Amerika Serikat
Impor gula China
Harga riil gula dunia
Ekspor gula dunia
Impor gula dunia
Sumber : Data diolah, 2012
Satuan
Nilai Dasar
Ha
Ha
Ha
Ton/Ha
Ton/Ha
Ton/Ha
Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
Rp/Kg
Rp/Kg
Rp/Kg
Rp/Kg
Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
US$/Ton
Ton
Ton
83 826.5
99 508.5
213 487
4.9324
7.0486
5.5915
414 313
705 568
1 197 796
2 317 678
3 658 608
2 599 370
1 609 852
4 209 223
5 855 610
4 880.7
5 279.4
5 646.1
4 424.4
606 388
8 933.5
1 462 833
19 535 931
2 933 704
444 435
2 198 155
1 256 535
415
46 622 553
44 691 177
Perubahan
(%)
-0.087
-0.004
4.590
-0.107
-0.001
4.056
-0.195
-0.005
8.863
4.544
2.879
0.079
0.011
0.053
1.581
25.000
-0.133
-0.133
-0.054
-1.653
-30.503
-0.872
-0.006
-0.010
0.229
0.000
0.040
-0.096
-0.003
-0.025
136
Penurunan volume impor gula dunia ini menyebabkan harga riil gula dunia
turun 0.096 persen. Turunnya harga gula dunia ini juga akan menyebabkan harga
riil impor gula Indonesia mengalami penurunan sebesar 0.054 persen. Penurunan
harga impor gula Indonesia menyebabkan harga gula eceran menurun sebesar
0.133 persen. Turunnya harga gula eceran ini akan meningkatkan permintaan gula
rumah tangga sebesar 0.079 persen. Harga gula eceran yang mengalami
penurunan mempengaruhi harga gula tingkat pedagang besar yang juga
mengalami penurunan sebesar 0.133 persen. Penurunan harga gula tingkat
pedagang besar akan meningkatkan permintaan gula industri sebesar 0.047 persen.
Peningkatan permintaan gula rumah tangga dan industri akan meningkatkan
permintaan gula Indonesia sebesar 0.011 persen. Penurunan harga gula tingkat
pedagang besar ini akan menjadi disinsentif bagi perkebunan besar negara dan
swasta sehingga menurunkan produksi gula yang ditunjukkan oleh penurunan
areal perkebunan dan produktivitas.
7.2.2. Peningkatan Harga Pupuk
Pupuk mempunyai peranan yang sangat penting dalam produksi pertanian
sehingga hal ini mendorong pemerintah untuk turut campur tangan dalam
mengatur tata niaga pupuk. Termasuk dalam upaya pemerintah untuk menekan
biaya yang akan ditanggung petani dalam pengadaan pupuk melalui subsidi pupuk
sejak tahun 1971. Namun, pada akhirnya pemerintah mengeluarkan kebijakan
peningkatan harga pupuk untuk meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk. Harga
eceran tertinggi pupuk bersubsidi ditetapkan dalam Peraturan Menteri Pertanian
Nomor 32 Tahun 2010 yang diaplikasikan diseluruh wilayah Indonesia dari harga
sebelumnya Rp 1 200.00 perkilogram dinaikkan menjadi Rp 1 600.00 perkilogram
atau meningkat 33.33 persen.
Dampak peningkatan harga pupuk sebesar 33 persen terhadap perubahan
nilai rata-rata variabel endogen periode 2004-2010 dapat dijelaskan pada Tabel
38. Kebijakan peningkatan harga pupuk sebesar 33 persen menurunkan
produktivitas gula hablur rakyat sebesar 4.228 persen, sedangkan perkebunan
perkebunan negara masih mengalami peningkatan sebesar 0.606 persen dan
perkebunan swasta meningkat 0.001 persen. Kebijakan peningkatan harga pupuk
137
lebih dirasakan dampaknya bagi petani perkebunan tebu rakyat. Meningkatnya
biaya produksi yang ditanggung petani akibat peningkatan harga pupuk selama
masa tanam menyebabkan penurunan produktivitas gula hablur.
Tabel 38. Dampak Peningkatan Harga Pupuk sebesar 33 Persen terhadap
Permintaan dan Penawaran Gula di Indonesia Tahun 2004-2010
Perubahan
No.
Variable Endogen
Satuan Nilai Dasar
(%)
1 Areal perkebunan besar negara
Ha
83 826.5
0.038
2 Areal perkebunan besar swasta
Ha
99 508.5
0.002
3 Areal perkebunan rakyat
Ha
213 487
0.020
4 Produktivitas hablur negara
Ton/Ha
4.9324
0.606
5 Produktivitas hablur swasta
Ton/Ha
7.0486
0.001
6 Produktivitas hablur rakyat
Ton/Ha
5.5915
-4.228
7 Produksi GKP negara
Ton
414 313
0.633
8 Produksi GKP swasta
Ton
705 568
0.003
9 Produksi GKP rakyat
Ton
1 197 796
-4.336
10 Produksi GKP Indonesia
Ton
2 317 678
-2.126
11 Produksi gula Indonesia
Ton
3 658 608
-1.347
12 Permintaan gula rumah tangga
Ton
2 599 370
-0.035
13 Permintaan gula industri
Ton
1 609 852
-0.004
14 Permintaan gula Indonesia
Ton
4 209 223
-0.023
15 Penawaran gula Indonesia
Ton
5 855 610
-0.740
16 Harga riil gula tingkat petani
Rp/Kg
4 880.7
0.104
17 Harga riil gula pedagang besar
Rp/Kg
5 279.4
0.061
18 Harga riil gula eceran
Rp/Kg
5 646.1
0.060
19 Harga riil impor gula Indonesia
Rp/Kg
4 424.4
0.023
20 Impor gula dari Thailand
Ton
606 388
0.769
21 Impor gula dari China
Ton
8 933.5
14.271
22 Impor gula Indonesia
Ton
1 462 833
0.406
23 Ekspor gula Brazil
Ton
19 535 931
0.002
24 Ekspor gula Thailand
Ton
2 933 704
0.004
25 Impor gula India
Ton
444 435
-0.097
26 Impor gula Amerika Serikat
Ton
2 198 155
0.000
27 Impor gula China
Ton
1 256 535
-0.014
28 Harga riil gula dunia
US$/Ton
415
0.048
29 Ekspor gula dunia
Ton
46 622 553
0.001
30 Impor gula dunia
Ton
44 691 177
0.012
Sumber : Data diolah, 2012
138
Selanjutnya kebijakan peningkatan harga pupuk sebesar 33 persen akan
menyebabkan penurunan produksi gula Indonesia sebesar 1.347 persen. Hal ini
menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas dan produksi perkebunan besar
negara dan swasta tidak mampu meningkatkan produksi gula Indonesia, karena
penurunan produktivitas dan produksi perkebunan rakyat lebih besar daripada
peningkatan produksi dan produktivitas perkebunan besar negara dan swasta.
Penurunan produksi gula Indonesia menyebabkan penurunan penawaran gula
Indonesia sebesar 0.740 persen. Selain itu, penurunan produksi gula Indonesia
juga menyebabkan impor gula Indonesia meningkat 0.406 persen. Presentase
peningkatan impor gula paling besar berasal dari China sebesar 14.271 persen,
sedangkan dari Thailand hanya sebesar 0.769 persen. Peningkatan impor gula
dunia ini selanjutnya akan meningkatkan impor gula dunia sebesar 0.012 persen
yang juga akan meningkatkan harga gula dunia sebesar 0.048 persen. Peningkatan
harga gula dunia ini menunjukkan bahwa Indonesia merupakan negara besar (big
country) dalam perdagangan gula dunia. Penawaran gula Indonesia tidak
mengalami peningkatan sekalipun impor gula Indonesia meningkat, karena
penurunan produksi gula Indonesia masih lebih tinggi dibandingkan peningkatan
impor.
Peningkatan harga gula dunia berdampak terhadap harga impor gula
Indonesia yang meningkat sebesar 0.023 persen. Selanjutnya, peningkatan harga
impor gula Indonesia akan ditransmisikan pada harga gula eceran, sehingga harga
gula eceran mengalami peningkatan sebesar 0.060 persen. Peningkatan harga gula
eceran ini menyebabkan permintaan gula rumah tangga turun sebesar 0.035
persen. Penurunan permintaan gula yang masih lebih kecil dibandingkan dengan
peningkatan harga eceran gula menunjukkan bahwa gula masih merupakan
kebutuhan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Peningkatan harga
gula eceran juga akan ditransmisikan pada harga gula tingkat pedagang besar yang
mengalami peningkatan sebesar 0.061 persen. Peningkatan harga gula tingkat
pedagang besar ini akan menyebabkan permintaan gula industri menurun sebesar
0.004 persen. Penurunan permintaan gula rumah tangga dan permintaan gula
industri akan menurunkan permintaan gula Indonesia sebesar 0.023 persen.
139
Peningkatan harga gula pedagang besar akan menjadi insentif bagi
perkebunan besar negara dan swasta dalam meningkatkan produksinya yang
ditunjukkan oleh peningkatan luas areal dan produktivitas. Luas areal perkebunan
besar negara akan meningkat sebesar 0.038 persen dan perkebunan besar swasta
akan meningkat sebesar 0.002 persen. Peningkatan harga gula pedagang besar
kemudian akan ditransmisikan pada harga gula tingkat petani yang juga
meningkat sebesar 0.104 persen. Peningkatan harga gula tingkat petani ini
menjadi insentif bagi petani perkebunan rakyat dalam meningkatkan luas arealnya
sehingga meningkat sebesar 0.020 persen.
7.2.3. Peningkatan Luas Areal Perkebunan Tebu
Salah satu upaya pemerintah untuk mewujudkan program swasembada
gula adalah melalui ekstensifikasi dengan pembukaan areal baru untuk tanaman
tebu. Dampak peningkatan luas areal perkebunan tebu sebesar 20 persen terhadap
permintaan dan penawaran gula Indonesia disajikan pada Tabel 39. Dampak
langsung peningkatan 20 persen luas areal adalah peningkatan produksi gula
kristal putih dari perkebunan besar negara sebesar 16.370 persen, perkebunan
besar swasta sebesar 26.666 persen dan perkebunan rakyat sebesar 29.036 persen.
Namun demikian, secara keseluruhan produksi gula akan meningkat sebesar 8.276
persen akibat kebijakan ini.
Peningkatan produksi gula Indonesia ini menyebabkan peningkatan
penawaran gula Indonesia sebesar 9.017 persen. Selain itu, peningkatan produksi
juga menurunkan impor gula Indonesia dari Thailand dan China sebesar 9.463
persen dan 174.042 persen, sehingga total impor gula Indonesia mengalami
penurunan sebesar 4.986 persen. Penurunan impor gula Indonesia ini akan
menurunkan impor gula dunia sebesar 0.143 persen. Hal ini mengingat Indonesia
merupakan negara besar dalam perdagangan gula dunia. Lebih lanjut turunnya
impor gula dunia ini akan menyebabkan harga gula dunia juga mengalami
penurunan sebesar 0.578 persen. Penurunan harga gula dunia ini akan
ditransmisikan ke harga gula eceran yang menurun 0.758 persen melalui
penurunan harga impor gula sebesar 0.319 persen.
140
Tabel 39. Dampak Peningkatan Luas Areal Perkebunan Tebu 20 Persen
terhadap Permintaan dan Penawaran Gula di Indonesia Tahun
2004-2010
Perubahan
No.
Variable Endogen
Satuan Nilai Dasar
(%)
1
Areal perkebunan besar negara
Ha
83 826.5
20.000
2
Areal perkebunan besar swasta
Ha
99 508.5
20.000
3
Areal perkebunan rakyat
Ha
213 487
20.000
4
Produktivitas hablur negara
Ton/Ha
4.9324
1.379
5
Produktivitas hablur swasta
Ton/Ha
7.0486
6.977
6
Produktivitas hablur rakyat
Ton/Ha
5.5915
0.372
7
Produksi GKP negara
Ton
414 313
16.370
8
Produksi GKP swasta
Ton
705 568
26.266
9
Produksi GKP rakyat
Ton
1 197 796
29.036
10 Produksi GKP Indonesia
Ton
2 317 678
25.929
11 Produksi gula Indonesia
Ton
3 658 608
16.425
12 Permintaan gula rumah tangga
Ton
2 599 370
0.455
13 Permintaan gula industri
Ton
1 609 852
0.063
14 Permintaan gula Indonesia
Ton
4 209 223
0.305
15 Penawaran gula Indonesia
Ton
5 855 610
9.017
16 Harga riil gula tingkat petani
Rp/Kg
4 880.7
-1.088
17 Harga riil gula pedagang besar
Rp/Kg
5 279.4
-0.752
18 Harga riil gula eceran Indonesia
Rp/Kg
5 646.1
-0.758
19 Harga riil impor gula Indonesia
Rp/Kg
4 424.4
-0.319
20 Impor gula dari Thailand
Ton
606 388
-9.463
21 Impor gula dari China
Ton
8 933.5
-174.042
22 Impor gula Indonesia
Ton
1 462 833
-4.986
23 Ekspor gula Brazil
Ton
19 535 931
-0.033
24 Ekspor gula Thailand
Ton
2 933 704
-0.058
25 Impor gula India
Ton
444 435
1.323
26 Impor gula Amerika Serikat
Ton
2 198 155
0.002
27 Impor gula China
Ton
1 256 535
0.230
415
-0.578
28 Harga riil gula dunia
US$/Ton
29 Ekspor gula dunia
Ton
46 622 553
-0.017
30 Impor gula dunia
Ton
44 691 177
-0.143
Sumber : Data diolah, 2012
141
Penurunan harga gula eceran ini akan menyebabkan peningkatan
permintaan gula rumah tangga sebesar 0.455 persen. Penurunan harga gula eceran
ini akan menyebabkan harga gula tingkat pedagang besar juga mengalami
penurunan yang lebih besar yaitu sebesar 0.752 persen. Penurunan harga gula
tingkat pedagang besar akan meningkatkan permintaan gula industri sebesar 0.063
persen. Meningkatnya permintaan gula rumah tangga dan industri akan
meningkatkan permintaan gula Indonesia sebesar 0.305 persen. Penurunan harga
gula tingkat pedagang besar akan menurunkan harga gula tingkat petani sebesar
1.088 persen.
7.2.4. Penurunan Tarif Impor Gula
Dampak penurunan tarif impor gula sebesar 49 persen terhadap
permintaan dan penawaran gula Indonesia disajikan pada Tabel 40. Dampak
langsung penurunan tarif impor adalah peningkatan impor gula Indonesia dari
masing-masing negara eksportir sehingga secara keseluruhan total impor gula
Indonesia mengalami peningkatan sebesar 8.104 persen. Impor gula Indonesia
dari China meningkat sebesar 349.532 persen, sedangkan dari Thailand hanya
meningkat sebesar 14.400 persen. Namun demikian, volume impor gula dari
Thailand masih lebih tinggi daripada volume impor gula dari China.
Peningkatan impor gula Indonesia ini akan meningkatkan impor gula
dunia sebesar 0.234 persen sehingga meningkatkan harga gula dunia sebesar
0.916 persen. Hal ini semakin menguatkan bahwa Indonesia merupakan negara
besar importir gula di dunia sebab penurunan dan peningkatan gula Indonesia
berpengaruh terhadap pasar gula dunia. Selain itu, peningkatan impor gula dunia
juga akan menyebabkan peningkatan penawaran gula Indonesia sebesar 2.013
persen. Peningkatan penawaran gula ini akan menyebabkan harga gula eceran
menurun sebesar 0.324 persen, sehingga peningkatan harga gula dunia yang
akan ditransmisikan pada pasar domestik melalui peningkatan harga impor gula
Indonesia sebesar 0.058 persen tidak akan meningkatkan harga gula eceran.
Penurunan harga gula eceran menyebabkan permintaan gula rumah tangga
meningkat sebesar 0.035 persen. Selanjutnya, penurunan harga gula eceran akan
menurunkan harga gula tingkat pedagang besar sebesar 0.057 persen. Penurunan
142
harga gula tingkat pedagang besar akan meningkatkan permintaan gula industri
sebesar 0.006 persen.
Tabel 40. Dampak Penurunan Tarif Impor Gula 49 Persen terhadap
Permintaan dan Penawaran Gula di Indonesia Tahun 2004-2010
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
Variable Endogen
Areal perkebunan besar negara
Areal perkebunan besar swasta
Areal perkebunan rakyat
Produktivitas hablur negara
Produktivitas hablur swasta
Produktivitas hablur rakyat
Produksi GKP negara
Produksi GKP swasta
Produksi GKP rakyat
Produksi GKP Indonesia
Produksi gula Indonesia
Permintaan gula rumah tangga
Permintaan gula industri
Permintaan gula Indonesia
Penawaran gula Indonesia
Harga riil gula tingkat petani
Harga riil gula pedagang besar
Harga riil gula eceran Indonesia
Harga riil impor gula Indonesia
Impor gula dari Thailand
Impor gula dari China
Impor gula Indonesia
Ekspor gula Brazil
Ekspor gula Thailand
Impor gula India
Impor gula Amerika Serikat
Impor gula China
Harga riil gula dunia
Ekspor gula dunia
Impor gula dunia
Sumber : Data diolah, 2012
Satuan
Nilai Dasar
Ha
Ha
Ha
Ton/Ha
Ton/Ha
Ton/Ha
Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
Rp/Kg
Rp/Kg
Rp/Kg
Rp/Kg
Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
US$/Ton
Ton
Ton
83 826.5
99 508.5
213 487
4.9324
7.0486
5.5915
414 313
705 568
1 197 796
2 317 678
3 658 608
2 599 370
1 609 852
4 209 223
5 855 610
4 880.7
5 279.4
5 646.1
4 424.4
606 388
8 933.5
1 462 833
19 535 931
2 933 704
444 435
2 198 155
1 256 535
415
46 622 553
44 691 177
Perubahan
(%)
-0.039
-0.001
-0.013
-0.047
0.000
-0.011
-0.085
-0.001
-0.024
-0.028
-0.018
0.035
0.006
0.024
2.013
-0.061
-0.057
-0.058
0.513
14.400
349.532
8.104
0.052
0.093
-2.124
-0.004
-0.367
0.916
0.028
0.234
143
Peningkatan permintaan gula rumah tangga dan industri
akan
meningkatkan permintaan gula Indonesia sebesar 0.024 persen. Penurunan harga
gula tingkat pedagang besar kemudian akan ditransmisikan pada harga gula
tingkat petani sehingga harga gula tingkat petani menurun sebesar 0.061 persen.
Penurunan harga gula tingkat petani dan pedagang besar ini merupakan disinsentif
bagi pengusaha perkebunan tebu baik negara, swasta maupun rakyat yang akan
direspon dengan penurunan luas areal perkebunan tebu sebesar 0.039 persen pada
perkebunan besar negara, 0.001 persen pada perkebunan besar swasta, dan 0.013
persen pada perkebunan rakyat. Lebih lanjut, penurunan areal ini menyebabkan
penurunan produktivitas gula sehingga menurunkan produksi gula Indonesia
sebesar 0.018 persen. Namun demikian, sekalipun produksi gula Indonesia
mengalami penurunan tidak membuat penawaran gula Indonesia mengalami
penurunan. Hal ini menunjukkan bahwa gula impor mendominasi penawaran gula
Indonesia.
7.2.5. Penurunan Kuota Impor Gula
Upaya peningkatan produksi gula nasional yang bertujuan untuk mencapai
swasembada gula didukung oleh pemerintah dengan mengurangi kuota impor gula
sebesar 50 persen dari kuota yang telah ditetapkan oleh sebelumnya. Pembatasan
kuota impor ini diharapkan dapat memacu para petani tebu untuk meningkatkan
produksinya. Adapun dampak penurunan kuota impor gula sebesar 50 persen
dapat dilihat pada Tabel 41.
Penurunan kuota impor gula Indonesia sebesar 50 persen menurunkan
impor gula dunia sebesar 1.407 persen. Penurunan impor gula dunia menyebabkan
penurunan harga gula dunia sebesar 5.542 persen. Hal ini menunjukkan Indonesia
merupakan negara besar dalam impor gula, karena perubahan impor gula dalam
negeri mampu mempengaruhi harga gula dunia. Penurunan harga gula dunia
selanjutnya akan menurunkan harga impor gula Indonesia sebesar 3.087 persen.
Penurunan harga impor gula tidak membuat harga gula eceran mengalami
penurunan. Hal ini dikarenakan kebijakan penurunanan kuota impor menyebabkan
penawaran gula Indonesia menurun sebesar 12.128 persen.
144
Tabel 41. Dampak Penurunan Kuota Impor Gula 50 Persen terhadap
Permintaan dan Penawaran Gula di Indonesia Tahun 2004-2010
No.
Variable Endogen
Satuan
Nilai Dasar
Perubahan
(%)
1
Areal perkebunan besar negara
Ha
83 826.5
0.231
2
Areal perkebunan besar swasta
Ha
99 508.5
0.007
3
Areal perkebunan rakyat
Ha
213 487
0.075
4
Produktivitas hablur negara
Ton/Ha
4.9324
0.286
5
Produktivitas hablur swasta
Ton/Ha
7.0486
0.004
6
Produktivitas hablur rakyat
Ton/Ha
5.5915
0.068
7
Produksi GKP negara
Ton
414 313
0.509
8
Produksi GKP swasta
Ton
705 568
0.008
9
Produksi GKP rakyat
Ton
1 197 796
0.142
10 Produksi GKP Indonesia
Ton
2 317 678
0.167
11 Produksi gula Indonesia
Ton
3 658 608
0.106
12 Permintaan gula rumah tangga
Ton
2 599 370
-0.210
13 Permintaan gula industri
Ton
1 609 852
-0.034
14 Permintaan gula Indonesia
Ton
4 209 223
-0.142
15 Penawaran gula Indonesia
Ton
5 855 610
-12.128
16 Harga riil gula tingkat petani
Rp/Kg
4 880.7
0.369
17 Harga riil gula pedagang besar
Rp/Kg
5 279.4
0.343
18 Harga riil gula eceran Indonesia
Rp/Kg
5 646.1
0.344
19 Harga riil impor gula Indonesia
Rp/Kg
4 424.4
-3.087
20 Impor gula dari Thailand
Ton
606 388
0.437
21 Impor gula dari China
Ton
8 933.5
-0.629
22 Impor gula Indonesia
Ton
1 462 833
-50.000
23 Ekspor gula Brazil
Ton
19 535 931
-0.314
24 Ekspor gula Thailand
Ton
2 933 704
-0.562
25 Impor gula India
Ton
444 435
12.780
26 Impor gula Amerika Serikat
Ton
2 198 155
0.025
27 Impor gula China
Ton
1 256 535
2.218
415
-5.542
28 Harga riil gula dunia
US$/Ton
29 Ekspor gula dunia
Ton
46 622 553
-0.167
30 Impor gula dunia
Ton
44 691 177
-1.407
Sumber : Data diolah, 2012
Penurunan penawaran gula selanjutnya menyebabkan harga gula eceran
meningkat sebesar 0.344 persen. Peningkatan harga gula eceran akan direspon
145
dengan penurunan permintaan gula rumah tangga sebesar 0.210 persen.
Penurunan permintaan gula rumah tangga lebih kecil dibandingkan dengan
penurunan harga gula ecerannya. Hal ini menunjukkan bahwa gula merupakan
kebutuhan pokok bagi sebagian penduduk Indonesia. Penurunan harga gula eceran
akan ditransmisikan lebih lanjut pada harga gula tingkat pedagang besar yang
akan meningkat sebesar 0.343 persen. Peningkatan harga gula tingkat pedagang
besar ini akan menyebabkan permintaan gula industri mengalami penurunan
sebesar 0.034 persen. Penurunan permintaan gula rumah tangga dan industri akan
menurunkan permintaan gula Indonesia sebesar 0.142 persen.
Harga gula tingkat petani juga akan terdorong naik seiring dengan
peningkatan harga gula tingkat pedagang besar. Harga gula tingkat petani akan
meningkat sebesar 0.369 persen. Peningkatan ini akan menjadi insentif bagi petani
dalam meningkatkan produksi tebu yang ditunjukkan oleh peningkatan luas areal
dan produktivitas baik pada perkebunan besar negara, swasta, dan rakyat.
Produksi gula kristal putih perkebunan besar negara meningkat sebesar 0.286
persen, perkebunan besar swasta meningkat sebesar 0.004 persen dan perkebunan
rakyat meningkat 0.064 persen. Secara keseluruhan produksi gula Indonesia akan
meningkat sebesar 0.167 persen. Sekalipun produksi gula Indonesia mengalami
peningkatan namun besarnya peningkatan produksi gula Indonesia masih lebih
rendah dibandingkan dengan penurunan impor gula Indonesia, sehingga
penawaran gula Indonesia masih mengalami penurunan.
7.3. Dampak Kebijakan Ekonomi di Sektor Pertanian terhadap
Kesejahteraan Pelaku Ekonomi Gula Indonesia Tahun 2004-2010
Kompilasi dari dampak kebijakan ekonomi di sektor pertanian terhadap
kesejahteraan pelaku ekonomi gula dan penerimaan devisa Indonesia tahun 20042010 ditunjukkan pada Tabel 42. Adapun kebijakan ekonomi di sektor pertanian
yang disimulasikan yaitu peningkatan harga gula petani sebesar 25 persen,
peningkatan harga pupuk 33 persen, penurunan tarif impor gula 49 persen,
peningkatan luas areal perkebunan tebu sebesar 20 persen, dan penurunan kuota
impor gula 50 persen.
146
146
Tabel 42. Evaluasi Dampak Berbagai Alternatif Kebijakan Ekonomi di Sektor Pertanian Periode 2004-2010
Rp miliar
No.
Komponen
1
Perubahan Surplus Produsen Indonesia
a. Perusahaan perkebunan besar negara
b. Perusahaan perkebunan besar swasta
c. Perusahaan perkebunan rakyat
2
Perubahan Surplus Konsumen Indonesia
a. Konsumen Rumah Tangga
b. Konsumen Industri
3
Perubahan Penerimaan Pemerintah dari Tarif Impor
a. Impor Gula dari Thailand
b. Impor Gula dari China
c. Impor Gula dari Negara Lain
4
Net Surplus Indonesia
5
Perubahan Devisa Impor
a. Impor Gula dari Thailand
b. Impor Gula dari China
c. Impor Gula dari Negara Lain
Keterangan :
1. Peningkatan harga gula tingkat petani 25 persen
2. Peningkatan harga pupuk 33 persen
3. Peningkatan luas areal perkebunan tebu 20 persen
Sumber : Data diolah, 2012
S1
S2
Alternatif Kebijakan
S3
S4
S5
1 518.455
-2.897
-4.939
1 526.291
9.564
1.330
2.258
5.976
-118.642
-17.795
-28.011
-72.837
-6.952
-1.242
-2.117
-3.593
41.865
7.518
12.771
21.576
30.773
19.503
11.270
-13.988
-8.836
-5.151
175.438
111.506
63.931
13.409
8.579
4.830
-79.508
-50.375
-29.133
-16.796
-12.50
-3.30
-1.00
7.703
6.10
1.60
0.00
-94.097
-71.40
-18.70
-4.00
-781.937
-293.20
14.86
-503.60
-53.967
-18.80
-0.27
-34.90
1 532.43
3.28
-37.30
-775.48
-91.61
-61.200
-47.00
-12.20
-2.00
28.990
22.00
5.99
1.00
-348.470
-266.00
-69.47
-13.00
563.430
404.00
139.43
20.00
-198.000
-70.00
-1.00
-127.00
4. Penurunan tarif impor gula 49 persen
5. Penurunan kuota impor gula 50 persen
147
Berdasarkan Tabel 42 dapat diketahui bahwa simulasi peningkatan harga
gula tingkat petani sebesar 25 persen mampu memberikan dampak peningkatan
surplus produsen gula paling besar, yaitu sebesar Rp 1.518 triliun. Hal ini
disebabkan kenaikan harga gula tingkat petani sebesar 25 persen menyebabkan
kenaikan produksi yang besar, yaitu 2.879 persen. Namun jika dikaji lebih lanjut,
pada simulasi peningkatan harga gula 25 persen terdapat trade off antara petani
perkebunan rakyat dengan perusahaan perkebunan besar negara dan perkebunan
besar swasta. Hal ini dikarenakan perkebunan besar negara dan swasta tidak
dipengaruhi oleh harga gula tingkat petani melainkan harga gula tingkat pedagang
besar, sehingga kenaikan harga gula tingkat petani bukan insentif bagi perkebunan
besar negara dan swasta dalam memproduksi tebu.
Ditinjau dari sisi konsumen, kebijakan ini juga memberikan peningkatan
surplus konsumen gula yaitu sebesar Rp 30.773 miliar. Peningkatan surplus
konsumen tersebut merupakan total dari peningkatan surplus konsumen gula
rumah tangga sebesar Rp 19.503 miliar dan peningkatan surplus konsumen
industri sebesar Rp 11.270 miliar. Hal ini dikarenakan pada kebijakan
peningkatan harga gula tingkat petani 25 persen, harga gula eceran dan harga gula
pedagang besar masing-masing mengalami penurunan sebesar 0.133 persen
sehingga permintaan gula rumah tangga mengalami peningkatan sebesar 0.079
persen dan permintaan gula industri meningkat 0.011 persen. Peningkatan
produksi juga mampu menurunkan impor gula Indonesia sebesar 0.872 persen
sehingga penerimaan pemerintah dari tarif impor menurun sebesar Rp 16.796
miliar dan devisa impor pemerintah juga mengalami penurunan sebesar Rp 61.2
miliar. Namun, secara keseluruhan kebijakan ini masih memberikan peningkatan
kesejahteraan bagi masyarakat (net surplus) yang tinggi, yaitu sebesar Rp 1.532
triliun.
Kebijakan peningkatan harga pupuk 33 persen memberikan peningkatan
surplus bagi produsen sebesar Rp 9.564 miliar. Namun, hal ini bukan terjadi
karena efisiensi pupuk yang dilakukan oleh pemerintah sebagai upaya untuk
meningkatkan produktivitas melainkan karena penurunan produksi gula sebesar
1.347 persen yang mengakibatkan peningkatan impor gula Indonesia sebesar
0.406 persen sehingga meningkatkan harga gula dunia yang kemudian
148
ditransmisikan pada peningkatan harga gula tingkat petani sebesar 0.104 persen
dan harga gula tingkat pedagang besar sebesar 0.061 persen. Konsumen menderita
kerugian dengan penurunan surplus sebesar Rp 13.988 miliar yang berasal dari
penurunan surplus konsumen rumah tangga sebesar Rp 8.836 miliar dan
konsumen industri sebesar Rp 5.151 miliar. Hal ini diakibatkan peningkatan harga
gula eceran sebesar 0.060 persen dan harga gula tingkat pedagang besar sebesar
0.061 persen yang menyebabkan penurunan permintaan gula rumah tangga
sebesar 0.035 persen dan permintaan gula industri sebesar 0.004 persen.
Kebijakan ini juga menyebabkan impor gula Indonesia meningkat sehingga
penerimaan pemerintah dari tarif impor meningkat sebesar Rp 7.703 miliar. Selain
itu perubahan devisa impor pemerintah juga meningkat sebesar Rp 28.990 miliar.
Secara keseluruhan, kebijakan ini menurunkan kesejahteraan masyarakat (net
surplus) sebesar Rp 3.28 miliar.
Kebijakan peningkatan luas areal 20 persen memberikan dampak
penurunan surplus produsen paling besar yaitu sebesar Rp 118.642 miliar. Semua
produsen perkebunan tebu mengalami penurunan surplus masing-masing
Rp 17.795 miliar, Rp 28.011 miliar, Rp 72.837 miliar untuk perkebunan besar
negara, swasta, dan rakyat. Hal ini dikarenakan pada kebijakan peningkatan luas
areal harga riil gula tingkat petani dan pedagang besar mengalami penurunan
masing-masing sebesar 1.088 persen dan 0.752 persen. Sedangkan disisi lain,
kebijakan ini meningkatkan surplus konsumen sebesar Rp 175.438 miliar pada
konsumen rumah tangga dan Rp 111.506 miliar pada konsumen industri.
Peningkatan ini dikarenakan harga gula eceran dan harga gula tingkat pedagang
besar mengalami penurunan sebesar 0.758 persen dan 0.752 persen sehingga
konsumen rumah tangga meningkatkan permintaannya sebesar 0.455 persen dan
konsumen industri meningkatkan permintaannya sebesar 0.063 persen. Dari sisi
impor, peningkatan produksi gula karena peningkatan luas areal menyebabkan
impor gula Indonesia mengalami penurunan sebesar 4.986 persen sehingga
penerimaan pemerintah dari tarif juga turut mengalami penurunan sebesar
Rp 94.097 miliar. Devisa impor negara juga mengalami penurunan sebesar
Rp 348.470 miliar. Namun demikian, secara menyeluruh kebijakan ini
149
memberikan penurunan kesejahteraan bagi masyarakat (net surplus) sebesar
Rp 37.30 miliar.
Kebijakan penurunan tarif impor gula 49 persen menyebabkan penurunan
surplus produsen sebesar Rp 6.952 miliar dengan penurunan surplus paling besar
diderita oleh petani perkebunan rakyat sebesar Rp 3.593 miliar, sedangkan
perkebunan besar negara hanya menurun Rp 1.242 miliar dan perkebunan swasta
menurun Rp 2.117 miliar. Hal ini dikarenakan penurunan harga gula tingkat
petani yang sebesar 0.061 persen dan harga gula tingkat pedagang besar yang
sebesar 0.057 persen menyebabkan penurunan produksi gula perkebunan besar
negara 0.085 persen, perkebunan besar swasta 0.001 persen, dan perkebunan
rakyat 0.024 persen. Sebaliknya, surplus konsumen mengalami peningkatan
sebesar Rp 13.409 miliar yang berasal dari peningkatan surplus konsumen rumah
tangga sebesar Rp 8.579 miliar dan surplus konsumen industri sebesar Rp 4.830
miliar. Peningkatan surplus konsumen tersebut diakibatkan oleh penurunan harga
gula eceran sebesar 0.058 persen dan harga gula tingkat pedagang besar 0.057
persen yang menyebabkan konsumen rumah tangga meningkatkan permintaannya
sebesar 0.035 persen dan konsumen industri meningkatkan permintaannya sebesar
0.006 persen.
Peningkatan impor pada kebijakan penurunan tarif impor sebesar 49
persen ini menyebabkan penurunan penerimaan pemerintah dari tarif impor
sebesar Rp 781.937 miliar. Dengan penurunan penerimaan pemerintah dari tarif
paling besar berasal dari Thailand sebesar Rp 293.20 miliar, sedangkan dari China
mengalami peningkatan sebesar Rp 14.86 miliar. Namun demikian, devisa negara
dari impor masih mengalami peningkatan, bahkan paling besar diantara kebijakan
lainnya yaitu sebesar Rp 563.430 miliar. Secara keseluruhan kebijakan penurunan
tarif impor gula 49 persen ini menurunkan kesejahteraan masyarakat (net surplus)
sebesar Rp 775.48 miliar.
Kebijakan penurunan kuota impor gula sebesar 50 persen memberikan
dampak peningkatan surplus produsen sebesar Rp 41.865 miliar karena adanya
peningkatan produksi gula sebesar 0.106 persen dan peningkatan harga gula
tingkat petani serta pedagang besar masing-masing sebesar 0.369 persen dan
0.343 persen. Konsumen menderita kerugian sebesar Rp 79.508 miliar yang
150
berasal dari penurunan surplus konsumen rumah tangga sebesar Rp 50.375 miliar,
dan penurunan surplus konsumen industri sebesar Rp 29.133 miliar. Penurunan
tersebut disebabkan oleh peningkatan harga eceran gula dan pedagang besar
masing-masing sebesar 0.344 persen dan 0.343 persen sehingga menurunkan
permintaan gula rumah tangga sebesar 0.210 persen dan permintaan industri
sebesar 0.034 persen. Penurunan kuota impor ini menyebabkan menurunnya
penerimaan pemerintah dari tarif impor sebesar Rp 53.967 miliar dan penurunan
devisa impor yang paling besar yaitu Rp 198 miliar, sehingga secara keseluruhan
kebijakan ini telah menyebabkan penurunan kesejahteraan masyarakat (net
surplus) sebesar Rp 91.61 miliar.
151
VIII. PERAMALAN DAMPAK KEBIJAKAN EKONOMI DI
SEKTOR PERTANIAN DAN PERUBAHAN FAKTOR
EKSTERNAL TAHUN 2011-2014 DAN 2015-2020
8.1. Peramalan Dampak Kebijakan terhadap Permintaan dan Penawaran
Gula di Indonesia
Peramalan dampak kebijakan terhadap permintaan dan penawaran gula di
Indonesia dilakukan pada dua periode yaitu periode sebelum liberalisasi
perdagangan gula ACFTA dimplementasikan atau tahun 2011-2014 dan periode
pada saat diimplementasikannya liberalisasi perdagangan gula ACFTA atau tahun
2015-2015. Skenario kebijakan yang dilakukan antara lain skenario simulasi
tunggal kebijakan ekonomi di sektor pertanian dan perubahan faktor eksternal,
serta simulasi kombinasi kebijakan ekonomi di sektor pertanian.
Simulasi tunggal kebijakan ekonomi di sektor pertanian terdiri dari (1)
peningkatan harga gula petani 30 persen, (2) penguatan peran BULOG melalui
peningkatan stok gula 20 persen (3) peningkatan areal panen tebu 30 persen, (4)
swasembada absolut gula, (5) penghapusan tarif impor gula, (6) penurunan tarif
impor gula 10 persen, (7) penurunan tarif impor gula 30 persen, (8) penurunan
tarif impor gula 50 persen. Simulasi tunggal perubahan faktor eksternal terdiri dari
: (9) penurunan impor gula China 20 persen dan (10) peningkatan produksi gula
Brazil dan Thailand 20 persen. Simulasi kebijakan ekonomi di sektor pertanian
difokuskan pada penurunan tarif impor yang merupakan bagian dari skema
perjanjian perdagangan bebas ACFTA. Adapun simulasi kombinasi yang
dilakukan yaitu (11) simulasi kombinasi penurunan tarif impor 50 persen dan
pengurangan kuota impor gula 50 persen, (12) simulasi kombinasi penurunan tarif
impor gula 30 persen, peningkatan harga gula tingkat petani 15 persen, dan
peningkatan luas areal perkebunan 30 persen, (13) simulasi kombinasi penurunan
tarif impor gula 50 persen, peningkatan harga gula tingkat petani 30 persen,
pengurangan kuota impor gula 50 persen, dan peningkatan luas areal tebu 30
persen, dan (14) simulasi kombinasi penurunan tarif impor gula 50 persen,
peningkatan harga gula tingkat petani 30 persen, peningkatan luas areal tebu 30
persen, dan penguatan peran BULOG melalui peningkatan stok gula 20 persen.
152
8.1.1. Simulasi Tunggal Kebijakan Ekonomi di Sektor Pertanian
8.1.1.1. Peningkatan Harga Gula Tingkat Petani
Berdasarkan Tabel 43 dapat diketahui peramalan dampak peningkatan
harga gula tingkat petani sebesar 30 persen. Baik pada periode 2011-2014 maupun
periode 2015-2020 skenario simulasi peningkatan harga gula tingkat petani
sebesar 30 persen menyebabkan produksi gula Indonesia meningkat sebesar 3.005
persen (2011-2014) dan 2.883 persen (2015-2020).
Tabel 43. Peramalan Dampak Peningkatan Harga Gula Tingkat Petani 30
Persen terhadap Permintaan dan Penawaran Gula Indonesia
No.
Variable Endogen
1. Areal perkebunan besar negara
2. Areal perkebunan besar swasta
3. Areal perkebunan rakyat
4. Produktivitas hablur negara
5. Produktivitas hablur swasta
6. Produktivitas hablur rakyat
7. Produksi GKP negara
8. Produksi GKP swasta
9. Produksi GKP rakyat
10. Produksi GKP Indonesia
11. Produksi gula Indonesia
12. Permintaan gula rumah tangga
13. Permintaan gula industri
14. Permintaan gula Indonesia
15. Penawaran gula Indonesia
16. Harga riil gula tingkat petani
17. Harga riil gula pedagang besar
18. Harga riil gula eceran
19. Harga riil impor gula Indonesia
20. Impor gula dari Thailand
21. Impor gula dari China
22. Impor gula Indonesia
23. Ekspor gula Brazil
24. Ekspor gula Thailand
25. Impor gula India
26. Impor gula Amerika Serikat
27. Impor gula China
28. Harga riil gula dunia
29. Ekspor gula dunia
30. Impor gula dunia
Nilai Dasar
Perubahan (%)
BA
AA
BA
AA
Ha
88 470.1
91 075 -0.090 -0.088
Ha
126 693
147 670 -0.006 -0.003
Ha
238 617
234 361
5.464
6.337
Ton/Ha
4.3578
4.6109 -0.147 -0.132
Ton/Ha
6.9627
7.6122 -0.003 -0.003
Ton/Ha
4.8519
4.1861
5.585
5.834
Ton
386 788
421 185 -0.238 -0.220
Ton
885 552 1 128 436 -0.009 -0.006
Ton
1 161 700
985 199 11.296 12.417
Ton
2 434 040 2 534 821
5.350
4.787
Ton
4 332 967 4 209 037
3.005
2.883
Ton
2 637 506 2 918 284
0.086
0.078
Ton
2 763 026 2 954 823
0.004
0.005
Ton
5 400 532 5 873 107
0.044
0.041
Ton
6 801 666 6 762 361
1.685
1.578
Rp/Kg
5 402.4
5 663.1 30.000 30.000
Rp/Kg
5 632.5
5 875 -0.149 -0.136
Rp/Kg
5 967.1
6 179.7 -0.154 -0.139
Rp/Kg
4 805.8
5 156 -0.048 -0.048
Ton
707 776
925 994 -1.733 -1.244
Ton
10 195.2
26 056.9 -33.039 -12.047
Ton
1 746 257 2 123 894 -0.895 -0.690
Ton
25 155 099 2 698 8620 -0.004 -0.004
Ton
3 492 231 3 872 515 -0.009 -0.008
Ton
1 930 761 2 449 443
0.054
0.045
Ton
1 990 763 1 806 342
0.001
0.001
Ton
2 632 508 2 385 513
0.013
0.020
US$/Ton
407.3
407.3 -0.098 -0.123
Ton
53 615 282 56 434 941 -0.003 -0.003
Ton
50 011 773 52 633 659 -0.028 -0.025
Satuan
Keterangan
: BA = Periode 2011 – 2014
Sumber : Data diolah, 2012
AA
= Periode 2015 – 2020
153
Peningkatan produksi tersebut merupakan implikasi dari meningkatnya
luas areal perkebunan rakyat sebesar 5.464 persen (2011-2014) dan 6.337 persen
(2015-2020). Perkebunan besar negara dan swasta tidak mengalami peningkatan
dikarenakan perkebunan besar swasta tidak dipengaruhi langsung oleh harga gula
tingkat petani melainkan dipengaruhi oleh harga gula tingkat pedagang besar.
Selanjutnya, peningkatan produksi gula ini akan menyebabkan penawaran gula
Indonesia meningkat 1.685 persen (2011-2014) dan 1.578 persen (2015-2020).
Selain itu, peningkatan produksi gula juga akan menyebabkan impor gula
Indonesia mengalami penurunan sebesar 0.895 persen (2011-2014) dan 0.690
persen (2015-2020). Presentase penurunan impor gula paling tinggi baik sebelum
periode liberalisasi perdagangan gula ACFTA maupun pada periode liberalisasi
ACFTA gula berasal dari China masing-masing sebesar 33.039 persen dan 12.047
persen, sedangkan dari Thailand menurun sebesar 1.733 persen (2011-2014) dan
1.244 persen (2015-2020). Penurunan impor gula Indonesia menyebabkan
berkurangnya volume impor gula dunia, sehingga impor gula dunia turun 0.028
persen (2011-2014) dan 0.025 persen (2015-2020). Penurunan volume impor gula
dunia ini menyebabkan harga riil gula dunia turun 0.098 persen (2011-2014) dan
0.123 persen (2015-2020). Turunnya harga gula dunia ini juga akan menyebabkan
harga riil impor gula Indonesia mengalami penurunan sebesar 0.048 persen baik
pada periode 2011-2014 maupun pada periode 2015-2020.
Penurunan harga impor gula Indonesia menyebabkan harga gula eceran
menurun sebesar 0.154 persen (2011-2014) dan 0.139 persen (2015-2020).
Turunnya harga gula eceran ini akan meningkatkan permintaan gula rumah tangga
sebesar 0.086 persen (2011-2014) dan 0.078 persen (2015-2020). Harga gula
eceran yang mengalami penurunan mempengaruhi harga gula tingkat pedagang
besar yang juga mengalami penurunan sebesar 0.149 persen (2011-2014) dan
0.136 persen (2015-2020). Penurunan harga gula tingkat pedagang besar akan
meningkatkan permintaan gula industri sebesar 0.004 persen (2011-2014) dan
0.005 persen (2015-2020). Peningkatan permintaan gula rumah tangga dan
industri akan meningkatkan permintaan gula Indonesia sebesar 0.044 persen
(2011-2014) dan 0.041 persen (2015-2020). Penurunan harga gula tingkat
pedagang besar ini akan menjadi disinsentif bagi perkebunan besar negara dan
154
swasta sehingga menurunkan produksi gula yang ditunjukkan oleh penurunan
areal perkebunan dan produktivitas baik pada periode 2011-2014 maupun 20152020. Apabila ditinjau dari sisi penawaran, sekalipun impor gula Indonesia
mengalami penurunan, namun penawaran gula Indonesia masih mengalami
peningkatan dikarenakan peningkatan produksi gula pada kedua periode lebih
tinggi daripada penurunan impor gulanya. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan
ini efektif untuk mengurangi kebijakan impor gula dan meningkatkan produksi
gula Indonesia yang merupakan salah satu tujuan tercapainya swasembada gula.
8.1.1.2.Penguatan Peran BULOG
Simulasi kebijakan penguatan kembali peran BULOG didasarkan pada
rencana pemerintah sejak tahun 2008 yang akan melakukan revitalisasi peran
BULOG. Hal ini dilakukan seiring terjadinya lonjakan harga minyak dan
komoditas pangan baik pada tingkat global maupun nasional. Penguatan kembali
peran BULOG direpresentasikan melalui simulasi peningkatan stok gula 20
persen. Dampak kebijakan ini terhadap perubahan variabel endogen dalam Model
Perdagangan Gula Indonesia baik sebelum periode liberalisasi perdagangan gula
ACFTA maupun pada era liberalisasi perdagangan gula ACFTA dapat dilihat
pada Tabel 44.
Peningkatan stok gula secara langsung akan berdampak pada peningkatan
penawaran gula Indonesia sebesar 1.765 persen apabila diterapkan pada periode
2011-2014 dan 1.055 persen pada periode 2015-2020. Selain itu, kebijakan ini
juga menyebabkan penurunan impor gula Indonesia. Impor gula Indonesia
menurun 1.279 persen pada periode 2011-2014 dan 0.636 persen pada periode
2015-2020. Tidak semua impor gula dari negara eksportir mengalami penurunan.
Impor gula dari China mengalami peningkatan sebesar 0.592 persen pada periode
2011-2014 dan 0.117 persen pada periode 2015-2020. Sehingga diduga,
penurunan impor gula yang berasal dari Thailand dan negara lain masih lebih
besar dibanding peningkatan impor gula dari China. Lebih lanjut, penurunan
impor gula Indonesia menyebabkan penurunan impor gula dunia sebesar 0.041
persen pada periode 2011-2014 dan 0.023 persen 2015-2020.
155
Tabel 44. Peramalan Dampak Peningkatan Stok Gula Indonesia 20 Persen
terhadap Permintaan dan Penawaran Gula Indonesia
No.
Variable Endogen
1. Areal perkebunan besar negara
2. Areal perkebunan besar swasta
3. Areal perkebunan rakyat
4. Produktivitas hablur negara
5. Produktivitas hablur swasta
6. Produktivitas hablur rakyat
7. Produksi GKP negara
8. Produksi GKP swasta
9. Produksi GKP rakyat
10. Produksi GKP Indonesia
11. Produksi gula Indonesia
12. Permintaan gula rumah tangga
13. Permintaan gula industri
14. Permintaan gula Indonesia
15. Penawaran gula Indonesia
16. Harga riil gula tingkat petani
17. Harga riil gula pedagang besar
18. Harga riil gula eceran
19. Harga riil impor gula Indonesia
20. Impor gula dari Thailand
21. Impor gula dari China
22. Impor gula Indonesia
23. Ekspor gula Brazil
24. Ekspor gula Thailand
25. Impor gula India
26. Impor gula Amerika Serikat
27. Impor gula China
28. Harga riil gula dunia
29. Ekspor gula dunia
30. Impor gula dunia
Satuan
Nilai Dasar
BA
AA
Ha
88 470.1
91 075
Ha
126 693
147 670
Ha
238 617
234 361
Ton/Ha
4.3578
4.6109
Ton/Ha
6.9627
7.6122
Ton/Ha
4.8519
4.1861
Ton
386 788
421 185
Ton
885 552 1 128 436
Ton
1 161 700
985 199
Ton
2 434 040 2 534 821
Ton
4 332 967 4 209 037
Ton
2 637 506 2 918 284
Ton
2 763 026 2 954 823
Ton
5 400 532 5 873 107
Ton
6 801 666 6 762 361
Rp/Kg
5 402.4
5 663.1
Rp/Kg
5 632.5
5 875
Rp/Kg
5 967.1
6 179.7
Rp/Kg
4 805.8
5 156
Ton
707 776
925 994
Ton
10 195.2
26 056.9
Ton
1 746 257 2 123 894
Ton 25 155 099 2 698 8620
Ton
3 492 231 3 872 515
Ton
1 930 761 2 449 443
Ton
1 990 763 1 806 342
Ton
2 632 508 2 385 513
US$/Ton
407.3
407.3
Ton 53 615 282 56 434 941
Ton 50 011 773 52 633 659
Perubahan (%)
BA
AA
-0.104
-0.005
-0.029
-0.161
-0.003
-0.031
-0.265
-0.008
-0.060
-0.074
-0.041
0.099
0.006
0.052
1.765
-0.168
-0.163
-0.168
-0.081
-3.209
0.592
-1.297
-0.007
-0.014
0.086
0.001
0.026
-0.172
-0.004
-0.041
-0.063
-0.002
-0.019
-0.091
-0.001
-0.019
-0.155
-0.003
-0.037
-0.042
-0.025
0.056
0.004
0.030
1.055
-0.099
-0.094
-0.095
-0.048
-1.463
0.117
-0.636
-0.004
-0.008
0.044
0.001
0.021
-0.098
-0.003
-0.023
: BA = Periode 2011 – 2014
AA = Periode 2015 – 2020
Sumber : Data diolah, 2012
Keterangan
Indonesia merupakan negara besar dalam perdagangan gula, sehingga
penurunan impor gula dunia menurunkan harga gula dunia. Selanjutnya
penurunan harga gula dunia akan menurunkan harga impor gula Indonesia.
Penurunan harga impor gula Indonesia menyebabkan harga gula eceran
156
mengalami penurunan sebesar 0.168 persen (2011-2014) dan 0.095 persen (20152020). Penurunan harga gula eceran ini akan membuat konsumen rumah tangga
meningkatkan konsumsinya sebesar 0.099 persen (2011-2014) dan 0.056 persen
(2015-2020). Penurunan harga gula eceran ini kemudian akan menurunkan harga
gula tingkat pedagang besar sebesar 0.163 persen (2011-2014) dan 0.094 persen
(2015-2020) sehingga permintaan gula industri juga akan meningkat sebesar
0.006 persen baik periode 2011-2014 dan 0.004 persen pada periode 2015-2020.
Penurunan harga gula tingkat pedagang besar ini akan ditrasmisikan lebih
lanjut pada harga gula tingkat petani. Harga gula tingkat petani menurun sebesar
0.168 persen (2011-2014) dan 0.099 persen (2015-2020). Penurunan harga gula
tingkat petani dan harga gula tingkat pedagang besar ini akan menjadi disinsentif
bagi petani perkebunan rakyat, pengusaha perkebunan besar negara dan swasta
sehingga luas areal dan produktivitas gula menurun baik pada periode 2011-2014
maupun 2015-2020. Selanjutnya, penurunan luas areal dan produktivitas ini akan
menurunkan produksi gula Indonesia sebesar 0.041 persen pada periode 20112014 dan 0.025 persen pada periode 2015-2020.
8.1.1.3.Peningkatan Luas Areal Perkebunan Tebu
Peningkatan luas areal perkebunan merupakan salah upaya pemerintah
untuk mencapai swasembada gula 2014 melalui Program Revitalisasi Industri
Gula Nasional. Dalam program tersebut pemerintah mencanangkan program
ekstensifikasi atau pembukaan areal baru untuk pertanaman tebu sebesar 30
persen baik yang tengah diupayakan baik oleh pihak pemerintah maupun swasta.
Adapun dampak dari peningkatan luas areal perkebunan sebesar 30 persen
terhadap permintaan dan penawaran gula Indonesi dapat dilihat pada Tabel 45.
Peningkatan luas areal perkebunan berdampak langsung terhadap
peningkatan produktivitas gula hablur baik pada perkebunan besar negara, swasta
maupun rakyat. Peningkatan produktivitas gula hablur ini pada akhirnya akan
meningkatkan produksi gula Indonesia. Apabila kebijakan ini dapat tercapai pada
periode sebelum liberalisasi perdagangan gula ACFTA maka produksi gula akan
meningkat 23.264 persen, sedangkan apabila diterapkan pada periode liberalisasi
perdagangan ACFTA akan meningkat produksi gula Indonesia yang lebih besar
157
yaitu 27.067 persen. Peningkatan produksi gula Indonesia ini menyebabkan
peningkatan penawaran gula Indonesia sebesar 13.036 persen (2011-2014) dan
14.809 persen (2015-2020). Selain itu, peningkatan produksi juga menurunkan
impor gula Indonesia sebesar 6.949 persen (2011-2014) dan 6.489 persen (20152020).
Tabel 45. Peramalan Dampak Peningkatan Luas Areal Perkebunan 30
Persen terhadap Permintaan dan Penawaran Gula Indonesia
No.
Variable Endogen
1. Areal perkebunan besar negara
2. Areal perkebunan besar swasta
3. Areal perkebunan rakyat
4. Produktivitas hablur negara
5. Produktivitas hablur swasta
6. Produktivitas hablur rakyat
7. Produksi GKP negara
8. Produksi GKP swasta
9. Produksi GKP rakyat
10. Produksi GKP Indonesia
11. Produksi gula Indonesia
12. Permintaan gula rumah tangga
13. Permintaan gula industri
14. Permintaan gula Indonesia
15. Penawaran gula Indonesia
16. Harga riil gula tingkat petani
17. Harga riil gula pedagang besar
18. Harga riil gula eceran
19. Harga riil impor gula Indonesia
20. Impor gula dari Thailand
21. Impor gula dari China
22. Impor gula Indonesia
23. Ekspor gula Brazil
24. Ekspor gula Thailand
25. Impor gula India
26. Impor gula Amerika Serikat
27. Impor gula China
28. Harga riil gula dunia
29. Ekspor gula dunia
30. Impor gula dunia
Satuan
Ha
Ha
Ha
Ton/Ha
Ton/Ha
Ton/Ha
Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
Rp/Kg
Rp/Kg
Rp/Kg
Rp/Kg
Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
US$/Ton
Ton
Ton
: BA = Periode 2011 – 2014
AA = Periode 2015 – 2020
Sumber : Data diolah, 2012
Keterangan
Nilai Dasar
BA
AA
Perubahan (%)
BA
AA
88 470.1
91 075 30.000 30.000
126 693
147 670 30.000 30.000
238 617
234 361 30.000 30.000
4.3578
4.6109
3.148
3.392
6.9627
7.6122 15.363 16.421
4.8519
4.1861
0.400
0.769
386 788
421 185 39.043 41.026
885 552 1 128 436 50.747 51.593
1 161 700
985 199 35.088 39.004
2 434 040 2 534 821 41.414 44.944
4 332 967 4 209 037 23.264 27.067
2 637 506 2 918 284
0.684
0.744
2 763 026 2 954 823
0.036
0.056
5 400 532 5 873 107
0.353
0.398
6 801 666 6 762 361 13.036 14.809
5 402.4
5 663.1 -1.916 -1.835
5 632.5
5 875 -1.168 -1.277
5 967.1
6 179.7 -1.195 -1.309
4 805.8
5 156 -0.404 -0.487
707 776
925 994 -13.460 -11.700
10 195.2
26 056.9 -255.761 -113.113
1 746 257 2 123 894 -6.949 -6.489
25 155 099 2 698 8620 -0.036 -0.042
3 492 231 3 872 515 -0.070 -0.079
1 930 761 2 449 443
0.435
0.432
1 990 763 1 806 342
0.008
0.007
2 632 508 2 385 513
0.116
0.202
407.3
407.3 -0.835 -1.056
53 615 282 56 434 941 -0.021 -0.026
50 011 773 52 633 659 -0.219 -0.232
158
Penurunan impor gula Indonesia ini akan menurunkan impor gula dunia
sebesar 0.219 persen (2011-2014) dan 0.232 persen (2015-2020). Hal ini
mengingat Indonesia merupakan negara besar dalam perdagangan gula dunia.
Lebih lanjut penurunan impor gula dunia ini akan menyebabkan harga gula dunia
juga mengalami penurunan sebesar 0.835 persen (2011-2014) dan 1.056 persen
(2015-2020). Penurunan harga gula dunia ini akan ditransmisikan pada harga gula
eceran yang menurun 1.195 persen (2011-2014) dan 1.309 persen (2015-2020)
melalui penurunan harga impor gula sebesar 0.376 persen (2011-2014) dan 0.441
persen (2015-2020). Penurunan harga gula eceran ini akan menyebabkan
peningkatan permintaan gula rumah tangga sebesar 0.404 persen (2011-2014) dan
0.487 persen (2015-2020).
Harga gula tingkat pedagang besar juga mengalami penurunan seiring
dengan penurunan harga gula eceran, yaitu sebesar 1.195 persen (2011-2014) dan
1.309 persen (2015-2020). Penurunan harga gula tingkat pedagang besar ini akan
meningkatkan permintaan gula industri sebesar 0.036 persen (2011-2014) dan
0.056 persen (2015-2020). Meningkatnya permintaan gula rumah tangga dan
industri ini akan meningkatkan permintaan gula Indonesia sebesar 0.353 persen
(2011-2014) dan 0.398 persen (2015-2020). Penurunan harga gula tingkat
pedagang besar akan menurunkan harga gula tingkat petani sebesar 1.916 persen
(2011-2014) dan 1.835 persen (2015-2020). Kebijakan ini terbukti mampu
meningkatkan produksi gula namun tidak memberikan jaminan peningkatan harga
yang baik bagi petani.
8.1.1.4. Swasembada Absolut Gula
Kebijakan ini dilakukan untuk meramalkan apabila Indonesia tidak
melakukan impor gula sama sekali atau mempertahankan swasembada absolut
gula, sehingga dapat dilihat kemampuan industri gula Indonesia apabila kebijakan
ini diterapkan. Hal ini sejalan dengan konsep kemandirian pangan yang
merupakan salah satu varian dari konsep swasembada pangan dengan
swasembada absolut, yaitu kebutuhan pangan dipenuhi seluruhnya (100 persen)
dari produksi domestik. Adapun dampak peramalan apabila pemerintah
melakukan swasembada absolut gula dapat dilihat pada Tabel 46.
159
Tabel 46. Peramalan Dampak Swasembada Absolut
Permintaan dan Penawaran Gula Indonesia
No.
Variabel Endogen
Satuan
Nilai Dasar
BA
Gula
terhadap
Perubahan
AA
BA
AA
1. Areal perkebunan besar negara
Ha
88 470.1
91 075
0.647
0.679
2. Areal perkebunan besar swasta
Ha
126 693
147 670
0.031
0.018
3. Areal perkebunan rakyat
Ha
238 617
234 361
0.181
0.214
4. Produktivitas hablur negara
Ton/Ha
4.3578
4.6109
1.001
0.980
5. Produktivitas hablur swasta
Ton/Ha
6.9627
7.6122
0.022
0.013
6. Produktivitas hablur rakyat
Ton/Ha
4.8519
4.1861
0.190
0.203
7. Produksi GKP negara
Ton
386 788
421 185
1.650
1.666
8. Produksi GKP swasta
Ton
885 552
1 128 436
0.051
0.030
9. Produksi GKP rakyat
Ton
1 161 700
985 199
0.370
0.415
10. Produksi GKP Indonesia
Ton
2 434 040
2 534 821
0.457
0.451
11. Produksi gula Indonesia
Ton
4 332 967
4 209 037
0.257
0.272
12. Permintaan gula rumah tangga
Ton
2 637 506
2 918 284
-0.614
-0.597
13. Permintaan gula industri
Ton
2 763 026
2 954 823
-0.038
-0.052
14. Permintaan gula Indonesia
Ton
5 400 532
5 873 107
-0.319
-0.323
15. Penawaran gula Indonesia
Ton
6 801 666
6 762 361 -25.510 -31.238
16. Harga riil gula tingkat petani
Rp/Kg
5 402.4
5 663.1
1.042
1.029
17. Harga riil gula pedagang besar
Rp/Kg
5 632.5
5 875
1.010
0.989
18. Harga riil gula eceran
Rp/Kg
5 967.1
6 179.7
1.029
1.015
19. Harga riil impor gula Indonesia
Rp/Kg
4 805.8
5 156
-5.797
-7.514
20. Impor gula dari Thailand
Ton
707 776
925 994 -100.00 -100.00
21. Impor gula dari China
Ton
10 195.2
26 056.9 -100.00 -100.00
22. Impor gula Indonesia
Ton
1 746 257
2 123 894 -100.00 -100.00
23. Ekspor gula Brazil
Ton
24. Ekspor gula Thailand
Ton
3 492 231
25. Impor gula India
Ton
26. Impor gula Amerika Serikat
27. Impor gula China
28. Harga riil gula dunia
-0.512
-0.651
3 872 515
-1.004
-1.222
1 930 761
2 449 443
6.252
6.650
Ton
1 990 763
1 806 342
0.113
0.108
Ton
2 632 508
2 385 513
1.655
3.105
US$/Ton
25 155 099 2 698 8620
407.3
407.3 -12.030 -16.229
29. Ekspor gula dunia
Ton
53 615 282 56 434 941
-0.306
-0.395
30. Impor gula dunia
Ton
50 011 773 52 633 659
-3.159
-3.581
: BA = Periode 2011 – 2014
AA = Periode 2015 – 2020
Sumber : Data diolah, 2012
Keterangan
Peramalan dampak kebijakan swasembada absolut gula atau tidak adanya
impor gula Indonesia ini akan berdampak pada menurunnya impor gula dunia.
160
Impor gula dunia akan menurun 3.159 persen pada periode 2011-2014 dan 3.581
persen pada periode 2015-2020. Akibat penurunan impor gula dunia ini, maka
harga gula dunia juga akan mengalami penurunan sebesar 12.030 persen pada
periode 2011-2014 dan 16.229 persen pada periode 2015-2020. Hal ini mengingat
Indonesia merupakan negara besar dalam perdagangan gula dunia. Lebih lanjut,
penurunan harga gula dunia ini akan menurunkan harga impor gula Indonesia.
Harga impor gula Indonesia akan menurun sebesar 5.797 persen pada periode
2011-2014 dan sebesar 7.514 persen pada periode 2015-2020.
Kebijakan pelarangan impor gula ini juga akan menyebabkan penawaran
gula Indonesia mengalami penurunan yang cukup besar yaitu 25.510 persen
(2011-2014) dan 31.238 persen (2015-2020). Penurunan penawaran gula
Indonesia akan menyebabkan harga gula eceran mengalami peningkatan. Harga
gula eceran meningkat sebesar 1.029 persen (2011-2014) dan 1.015 persen (20152020) sehingga menyebabkan permintaan gula oleh konsumen rumah tangga
menurun 0.614 persen (2011-2014) dan 0.597 persen (2015-2020). Peningkatan
harga gula eceran ini akan ditransmisikan pada harga gula tingkat pedagang besar
sebesar 1.010 persen (2011-2014) dan 0.989 persen (2015-2020) sehingga
permintaan gula oleh industri menurun sebesar 0.038 persen (2011-2014) dan
0.052 persen (2015-2020). Selanjutnya, peningkatan harga gula tingkat pedagang
besar akan menyebabkan peningkatan harga gula tingkat petani sebesar 1.042
persen (2011-2014) dan 1.029 persen (2015-2020). Peningkatan harga gula tingkat
petani dan pedagang besar ini akan menjadi insentif bagi petani perkebunan rakyat
maupun pengusaha perkebunan besar negara dan swasta dalam meningkatkan
produksinya yang ditunjukkan oleh peningkatan areal perkebunan dan
produktivitasnya. Produksi gula Indonesia mengalami peningkatan sebesar 0.257
persen (2011-2014) dan 0.272 persen (2015-2020). Sekalipun produksi gula
Indonesia
mengalami
peningkatan
namun
tidak
cukup
mampu
untuk
meningkatkan penawaran gula Indonesia. Hal ini disebabkan peningkatan
produksi gula Indonesia masih lebih rendah dibandingkan penurunan impor gula
Indonesia.
161
8.1.1.5. Penghapusan Tarif Impor Gula
Penghapusan tarif impor gula Indonesia dilakukan sesuai dengan skema
ACFTA untuk gula sebagai komoditas high sensitive list (HSL) yang akan
diimplementasikan mulai tahun 2015. Namun, berdasarkan Tabel 47 dapat dilihat
dampak penghapusan impor gula baik jika diterapkan sebelum masa implementasi
liberalisasi perdagangan ACFTA untuk gula (2011-2014) maupun pada masa
implementasi liberalisasi perdagangan ACFTA untuk gula (2015-2020).
Penghapusan tarif impor gula baik apabila diterapkan pada periode 2011-2014
maupun 2015-2020 sama-sama menyebabkan impor gula Indonesia dari Thailand,
China maupun negara lain meningkat. Peningkatan terbesar terjadi pada periode
2011-2014 dimana impor gula meningkat 15.970 persen, sedangkan pada periode
ACFTA (2015-2020) hanya sebesar 15.658 persen. Negara ekspotir yang akan
meningkatkan jumlah ekspornya menjadi sangat besar adalah China. Hal ini
menunjukkan bahwa China merespon dengan menambah impornya, jika
liberalisasi perdagangan perjanjian perdagangan bebas ACFTA dilakukan.
Namun, secara volume impor gula Thailand masih lebih besar daripada impor
gula China.
Peningkatan impor ini selanjutnya menyebabkan peningkatan impor gula
dunia sebesar 0.504 persen (2011-2014) dan 0.561 persen (2015-2020).
Meningkatnya volume impor gula dunia akan menyebabkan harga gula dunia juga
meningkat. Hal ini dikarenakan Indonesia merupakan negara besar yang mampu
mempengaruhi harga gula dunia. Pada periode 2011-2014 penghapusan tarif
impor gula menyebabkan harga gula dunia meningkat lebih rendah, yaitu 1.940
persen sedangkan pada periode 2015-2020 meningkat 2.529 persen. Selain itu,
volume impor gula Indonesia yang semakin meningkat ini menyebabkan
penawaran gula Indonesia juga mengalami peningkatan sebesar 4.074 persen
(2011-2014) dan 4.891 persen (2015-2020). Hal ini menunjukkan bahwa
Indonesia dipenuhi oleh gula impor sehingga harga gula eceran akan menurun
sebesar 0.164 persen (2011-2014) dan 0.159 persen (2015-2020). Penurunan
harga gula eceran ini akan meningkatkan permintaan gula rumah tangga sebesar
0.098 persen (2011-2014) dan 0.094 persen (2015-2020).
162
Tabel 47. Peramalan Dampak Penghapusan Tarif Impor Gula terhadap
Permintaan dan Penawaran Gula Indonesia
No.
Variabel Endogen
1. Areal perkebunan besar negara
2. Areal perkebunan besar swasta
3. Areal perkebunan rakyat
4. Produktivitas hablur negara
5. Produktivitas hablur swasta
6. Produktivitas hablur rakyat
7. Produksi GKP negara
8. Produksi GKP swasta
9. Produksi GKP rakyat
10. Produksi GKP Indonesia
11. Produksi gula Indonesia
12. Permintaan gula rumah tangga
13. Permintaan gula industri
14. Permintaan gula Indonesia
15. Penawaran gula Indonesia
16. Harga riil gula tingkat petani
17. Harga riil gula pedagang besar
18. Harga riil gula eceran
19. Harga riil impor gula Indonesia
20. Impor gula dari Thailand
21. Impor gula dari China
22. Impor gula Indonesia
23. Ekspor gula Brazil
24. Ekspor gula Thailand
25. Impor gula India
26. Impor gula Amerika Serikat
27. Impor gula China
28. Harga riil gula dunia
29. Ekspor gula dunia
30. Impor gula dunia
Nilai Dasar
Satuan
Ha
Ha
Ha
Ton/Ha
Ton/Ha
Ton/Ha
Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
Rp/Kg
Rp/Kg
Rp/Kg
Rp/Kg
Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
US$/Ton
Ton
Ton
BA
AA
88 470.1
91 075
126 693
147 670
238 617
234 361
4.3578
4.6109
6.9627
7.6122
4.8519
4.1861
386 788
421 185
885 552 1 128 436
1 161 700
985 199
2 434 040 2 534 821
4 332 967 4 209 037
2 637 506 2 918 284
2 763 026 2 954 823
5 400 532 5 873 107
6 801 666 6 762 361
5 402.4
5 663.1
5 632.5
5 875
5 967.1
6 179.7
4 805.8
5 156
707 776
925 994
10 195.2
26 056.9
1 746 257 2 123 894
25 155 099 2 698 8620
3 492 231 3 872 515
1 930 761 2 449 443
1 990 763 1 806 342
2 632 508 2 385 513
407.3
407.3
53 615 282 56 434 941
50 011 773 52 633 659
Perubahan
BA
AA
-0.103
-0.107
-0.005
-0.003
-0.029
-0.033
-0.158
-0.152
-0.003
-0.001
-0.031
-0.031
-0.261
-0.260
-0.008
-0.005
-0.059
-0.065
-0.073
-0.071
-0.041
-0.043
0.098
0.094
0.006
0.008
0.051
0.051
4.074
4.891
-0.165
-0.162
-0.160
-0.157
-0.164
-0.159
0.930
1.175
28.965 26.440
724.593 336.675
15.970 15.658
0.082
0.102
0.161
0.191
-1.002
-1.040
-0.018
-0.017
-0.267
-0.484
1.940
2.529
0.049
0.062
0.504
0.561
: BA = Periode 2011 – 2014
AA = Periode 2015 – 2020
Sumber : Data diolah, 2012
Keterangan
Penurunan harga gula eceran akan ditransimikan pada harga gula tingkat
pedagang besar sehingga akan menurunkan harga gula tingkat pedagang besar
sebesar 0.160 persen (2011-2014) dan 0.157 persen (2015-2020). Penurunan
harga gula tingkat pedagang besar ini akan menyebabkan permintaan gula industri
163
mengalami peningkatan sebesar 0.006 persen (2011-2014) dan 0.008 persen
(2015-2020). Peningkatan permintaan gula rumah tangga dan industri akan
meningkatkan permintaan gula Indonesia sebesar 0.051 persen baik pada periode
2011-2014 maupun 2015-2020. Penurunan harga gula tingkat pedagang besar
selanjutnya juga akan menurunkan harga tingkat petani sebesar 0.160 persen
(2011-2014) dan 0.157 persen (2015-2020). Penurunan harga gula tingkat petani
dan harga gula tingkat pedagang besar ini merupakan disinsentif bagi pengusaha
perkebunan baik negara, swasta maupun rakyat yang akan direspon dengan
menurunkan luas areal perkebunan dan produktivitas gula hablur sehingga
produksi gula mengalami penurunan 0.041 persen (2011-2014) dan 0.043 persen
(2015-2020). Penurunan produksi gula Indonesia ternyata juga tidak membuat
penawaran gula Indonesia meningkat. Hal ini semakin memperkuat adanya
dominansi gula impor yang membanjiri penawaran gula Indonesia.
8.1.1.6. Penurunan Tarif Impor Gula
Simulasi ini dilakukan sesuai dengan kesepakatan perjanjian perdagangan
ACFTA dimana pemerintah masih dapat mendapatkan pilihan untuk melindungi
komodistas yang dimasukkan dalam kategori produk High Sensitive List (HSL)
dengan penurunan tarif 0-50 persen mulai 1 Januari 2015. Skenario kebijakan
penurunan tarif yang dilakukan pada penelitian ini adalah penurunan tarif 10
persen, 30 persen dan 50 persen untuk melihat kombinasi peramalan dampak
penurunan tarif yang terbaik untuk diterapkan baik sebelum periode liberalisasi
perdagangan gula ACFTA maupun pada era liberalisasi perdagangan gula
ACFTA. Adapun dampak peramalan berbagai kombinasi penurunan tarif impor
tersebut dapat dilihat pada Tabel 48.
Penurunan tarif 10 persen akan berdampak langsung pada peningkatan
impor gula Indonesia sebesar 1.597 persen pada periode 2011-2014 dan 1.566
persen pada periode 2015-2020. Peningkatan impor gula Indonesia paling besar
berasal dari China. Impor gula China meningkat 72.460 persen pada periode
2011-2014 dan 33.668 persen pada periode 2015-2020. Hal ini menunjukkan
bahwa China sangat responsif terhadap perubahan tarif impor. Namun, secara
jumlah peningkatan impor gula paling besar tetap berasal dari Thailand.
164
Peningkatan impor gula Indonesia ini menyebabkan impor gula dunia mengalami
peningkatan yang selanjutnya akan meningkatkan harga gula dunia. Peningkatan
harga gula dunia ini kemudian akan meningkatkan harga impor gula Indonesia.
Peningkatan impor gula Indonesia juga akan menyebabkan penawaran
gula Indonesia meningkat 0.407 persen (2011-2014) dan 0.489 persen (20152020). Peningkatan penawaran gula Indonesia akan menurunkan harga gula
eceran sebesar 0.017 persen (2011-2014) dan sebesar 0.015 persen (2015-2020)
sehingga permintaan gula rumah tangga akan meningkat sebesar 0.010 persen
(2011-2014) dan 0.009 persen (2015-2020). Penurunan harga gula eceran ini akan
ditransmisikan pada harga gula tingkat pedagang besar yang juga akan menurun
sebesar 0.016 persen (2011-2014) dan 0.015 persen (2015-2020). Penurunan
harga gula tingkat pedagang besar akan meningkatkan permintaan gula industri
sebesar 0.001 persen baik pada periode 2011-2014 maupun pada periode 20152020. Peningkatan permintaan gula rumah tangga dan industri akan meningkatkan
permintaan gula Indonesia sebesar 0.005 persen baik pada periode 2011-2014
maupun pada periode 2015-2020.
Penurunan harga gula tingkat pedagang besar juga akan menurunkan harga
gula tingkat petani sebesar 0.017 persen (2011-2014) dan 0.018 persen (20152020). Penurunan harga gula tingkat petani dan harga gula tingkat pedagang besar
merupakan disinsentif bagi petani perkebunan rakyat dan pengusaha perkebunan
besar negara dan swasta dalam membudidayakan tebu. Hal ini ditunjukkan dengan
penurunan produksi gula sebesar 0.004 persen baik pada periode 2011-2014
maupun pada periode 2015-2020 yang merupakan dampak dari penurunan luas
areal perkebunan dan produktivitas gula hablur baik pada perkebunan besar
negara, swasta maupun rakyat.
Simulasi penurunan tarif impor gula sebesar 30 persen juga memberikan
pengaruh yang lebih besar daripada kebijakan penurunan tarif 10 persen. Pada
kebijakan ini, volume impor gula Indonesia meningkat lebih besar yaitu sebesar
4.791 persen pada periode 2011-2014 dan sebesar 4.697 persen pada periode 20152020. Semakin rendahnya tarif impor gula Indonesia akan semakin meningkatkan
impor gula, terutama impor gula yang berasal dari China. Impor gula China
meningkat hingga 217.378 persen pada periode 2011-2014 dan 101.003 persen pada
165
periode 2015-2020. Namun dilihat dari volumenya, impor gula Thailand masih
lebih tinggi. Peningkatan volume impor gula ini kemudian akan menyebabkan
meningkatnya volume impor gula dunia sehingga harga gula dunia akan mengalami
peningkatan sebesar 0.589 persen pada periode 2011-2014 dan 0.761 persen pada
periode 2015-2020.
Selanjutnya, peningkatan harga gula dunia ini akan ditransmisikan pada
harga impor gula Indonesia yang juga mengalami peningkatan. Harga impor gula
Indonesia meningkat sebesar 0.279 persen pada periode 2011-2014 dan 0.353
persen pada periode 2015-2020. Selain itu, peningkatan impor gula Indonesia juga
akan menyebabkan penawaran gula Indonesia meningkat lebih tinggi dari
penerapan kebijakan penurunan tarif impor gula 30 persen, yaitu sebesar 1.222
persen (2011-2014) dan 1.467 persen (2015-2020). Peningkatan penawaran gula
Indonesia akan menurunkan harga gula eceran sebesar 0.050 persen pada periode
2011-2014 dan sebesar 0.049 persen pada periode 2015-2020 sehingga
permintaan gula rumah tangga akan mengalami peningkatan sebesar 0.029 persen
(2011-2014) dan 0.028 persen (2015-2020).
Penurunan harga gula eceran ini akan ditransmisikan pada harga gula
tingkat pedagang besar yang juga akan menurun sebesar 0.048 persen baik pada
periode 2011-2014 maupun pada periode 2015-2020. Penurunan harga gula
tingkat pedagang besar akan meningkatkan permintaan gula industri sebesar 0.002
persen baik pada periode 2011-2014 maupun pada periode 2015-2020.
Peningkatan permintaan gula rumah tangga dan industri akan meningkatkan
permintaan gula Indonesia sebesar 0.015 persen juga pada kedua periode.
Penurunan harga gula tingkat pedagang besar juga akan menurunkan harga
gula tingkat petani sebesar 1.222 persen (2011-2014) dan 1.467 persen (20152020). Penurunan harga gula tingkat petani dan harga gula tingkat pedagang besar
merupakan disinsentif bagi petani perkebunan rakyat dan pengusaha perkebunan
besar negara dan swasta dalam membudidayakan tebu. Hal ini ditunjukkan dengan
penurunan produksi gula sebesar 0.012 persen pada periode 2011-2014 dan 0.013
persen pada periode 2015-2020 yang merupakan dampak dari penurunan luas
areal perkebunan dan produktivitas gula hablur baik pada perkebunan besar
negara, swasta maupun rakyat.
166
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
Variable Endogen
Areal perkebunan besar negara
Areal perkebunan besar swasta
Areal perkebunan rakyat
Produktivitas hablur negara
Produktivitas hablur swasta
Produktivitas hablur rakyat
Produksi GKP negara
Produksi GKP swasta
Produksi GKP rakyat
Produksi GKP Indonesia
Produksi gula Indonesia
Permintaan gula rumah tangga
Permintaan gula industri
Permintaan gula Indonesia
Penawaran gula Indonesia
Harga riil gula tingkat petani
Harga riil gula pedagang besar
Harga riil gula eceran
Harga riil impor gula Indonesia
Impor gula dari Thailand
Impor gula dari China
Impor gula Indonesia
Ekspor gula Brazil
Ekspor gula Thailand
Impor gula India
Impor gula Amerika Serikat
Impor gula China
Harga riil gula dunia
Ekspor gula dunia
Impor gula dunia
Satuan
Nilai Dasar
BA
AA
Ha
88 470.1
91 075
Ha
126 693
147 670
Ha
238 617
234 361
Ton/Ha
4.3578
4.6109
Ton/Ha
6.9627
7.6122
Ton/Ha
4.8519
4.1861
Ton
386 788
421 185
Ton
885 552 1 128 436
Ton
1 161 700
985 199
Ton
2 434 040 2 534 821
Ton
4 332 967 4 209 037
Ton
2 637 506 2 918 284
Ton
2 763 026 2 954 823
Ton
5 400 532 5 873 107
Ton
6 801 666 6 762 361
Rp/Kg
5 402.4
5 663.1
Rp/Kg
5 632.5
5 875
Rp/Kg
5 967.1
6 179.7
Rp/Kg
4 805.8
5 156
Ton
707 776
925 994
Ton
10 195.2
26 056.9
Ton
1 746 257 2 123 894
Ton
25 155 099 26 988 620
Ton
3 492 231 3 872 515
Ton
1 930 761 2 449 443
Ton
1 990 763 1 806 342
Ton
2 632 508 2 385 513
US$/Ton
407.3
407.3
Ton
53 615 282 56 434 941
Ton
50 011 773 52 633 659
Keterangan
: BA = Periode 2011 – 2014
Sumber : Data diolah, 2012
AA
Tarif Turun 10%
BA
AA
-0.010
-0.011
-0.001
0.000
-0.003
-0.003
-0.016
-0.015
0.000
0.000
-0.004
-0.002
-0.026
-0.026
-0.001
0.000
-0.006
-0.006
-0.007
-0.007
-0.004
-0.004
0.010
0.009
0.001
0.001
0.005
0.005
0.407
0.489
-0.017
-0.018
-0.016
-0.015
-0.017
-0.015
0.094
0.118
2.897
2.644
72.460
33.668
1.597
1.566
0.008
0.010
0.016
0.019
-0.100
-0.104
-0.002
-0.002
-0.027
-0.048
0.196
0.246
0.005
0.006
0.050
0.056
= Periode 2015 – 2020
Perubahan (%)
Tarif Turun 30%
BA
AA
-0.031
-0.032
-0.002
-0.001
-0.009
-0.010
-0.046
-0.046
0.000
0.000
-0.010
-0.010
-0.078
-0.078
-0.002
-0.001
-0.018
-0.019
-0.022
-0.021
-0.012
-0.013
0.029
0.028
0.002
0.002
0.015
0.015
1.222
1.467
-0.050
-0.049
-0.048
-0.048
-0.050
-0.047
0.279
0.353
8.689
7.932
217.378
101.003
4.791
4.697
0.025
0.031
0.048
0.057
-0.301
-0.312
-0.005
-0.005
-0.080
-0.145
0.589
0.761
0.015
0.019
0.151
0.168
Tarif Turun 50%
BA
AA
-0.052
-0.053
-0.002
-0.001
-0.014
-0.017
-0.078
-0.076
-0.001
-0.001
-0.016
-0.017
-0.131
-0.130
-0.004
-0.002
-0.030
-0.032
-0.036
-0.035
-0.020
-0.021
0.049
0.047
0.003
0.004
0.025
0.025
2.037
2.446
-0.083
-0.081
-0.080
-0.078
-0.082
-0.079
0.466
0.588
14.483
13.220
362.297
168.339
7.985
7.829
0.041
0.051
0.080
0.096
-0.501
-0.520
-0.009
-0.009
-0.134
-0.242
0.958
1.277
0.025
0.031
0.252
0.280
166
Tabel 48. Peramalan Dampak Penurunan Tarif Impor Gula terhadap Permintaan dan Penawaran Gula Indonesia
167
Pada kebijakan penurunan tarif impor gula 50 persen memberikan
pengaruh terhadap peningkatan volume impor gula yang paling tinggi diantara
kebijakan penurunan tarif sebelumnya. Impor gula Indonesia meningkat sebesar
7.985 persen sebelum periode liberalisasi perdagangan gula ACFTA dan
meningkat sebesar 7.829 persen pada periode liberalisasi perdagangan gula
ACFTA. Peningkatan volume impor gula yang cukup tinggi ini akan
meningkatkan volume impor gula dunia yang juga lebih tinggi dibandingkan pada
kebijakan sebelumnya. Selanjutnya, mengingat Indonesia merupakan negara besar
pada perdagangan gula maka peningkatan volume impor gula dunia juga akan
turut menyebabkan peningkatan harga gula dunia. Meningkatnya harga gula dunia
akan meningkatkan harga impor gula Indonesia.
Peningkatan harga impor gula ini seharusnya juga akan menyebabkan
harga eceran gula Indonesia mengalami peningkatan. Namun hal ini tidak terjadi,
dikarenakan peningkatan volume impor gula Indonesia juga akan meningkatkan
penawaran gula Indonesia sebesar 2.037 persen (2011-2014) dan 2.446 persen
(2015-2020). Peningkatan penawaran gula Indonesia akan menurunkan harga gula
eceran sebesar 0.082 persen pada periode 2011-2014 dan sebesar 0,079 persen
pada periode 2015-2020 sehingga permintaan gula rumah tangga akan mengalami
peningkatan sebesar 0.049 persen (2011-2014) dan 0.047 persen (2015-2020).
Penurunan harga gula eceran ini akan ditransmisikan pada harga gula tingkat
pedagang besar yang juga akan menurun sebesar 0.080 persen (2011-2014) dan
0.078 persen (2015-2020). Penurunan harga gula tingkat pedagang besar akan
meningkatkan permintaan gula industri sebesar 0.003 persen (2011-2014) dan
0.004 persen (2015-2020). Peningkatan permintaan gula rumah tangga dan
industri akan meningkatkan permintaan gula Indonesia sebesar 0.025 persen baik
pada periode 2011-2014 maupun pada periode 2015-2020.
Penurunan harga gula tingkat pedagang besar juga akan menurunkan harga
gula tingkat petani sebesar 0.083 persen (2011-2014) dan 0.081 persen (20152020). Penurunan harga gula tingkat petani dan harga gula tingkat pedagang besar
merupakan disinsentif bagi petani perkebunan rakyat dan pengusaha perkebunan
besar negara dan swasta dalam membudidayakan tebu. Hal ini ditunjukkan dengan
penurunan produksi gula sebesar 0.020 persen (2011-2014) dan 0.021 persen
168
(2015-2020) yang merupakan dampak dari penurunan luas areal perkebunan dan
produktivitas gula hablur baik pada perkebunan besar negara, swasta, maupun
rakyat. Namun demikian, baik pada penurunan tarif impor 10 persen, 30 persen
maupun 50 persen, sekalipun produksi gula mengalami penurunan tidak
menyebabkan penawaran gula Indonesia mengalami penurunan. Hal ini
dikarenakan peningkatan impor gula Indonesia masih lebih tinggi dibandingkan
dengan penurunan produksi yang terjadi akibat kebijakan ini. Dengan kata lain,
penawaran gula Indonesia dikuasai oleh gula impor jika pemerintah menerapkan
kebijakan ini.
8.1.2. Simulasi Tunggal Perubahan Faktor Eksternal
8.1.2.1.Peningkatan Produksi Gula China
Peramalan dampak simulasi peningkatan produksi gula China dilakukan
sebagai upaya antisipatif bagi pemerintah Indonesia dalam rangka implementasi
liberalisasi perdagangan gula ACFTA. Adapun dampak peningkatan produksi
gula China 20 persen dapat dilihat pada Tabel 49. Peningkatan produksi gula
China berdampak langsung terhadap penurunan impor gula China sebesar 19.529
persen pada periode 2011-2014 dan 23.957 persen pada periode 2015-2020.
Penurunan impor gula China akan menurunkan impor gula dunia sebesar 0.951
persen pada periode 2011-2014 dan 0.994 persen pada periode 2015-2020.
Penurunan impor gula dunia ini akan menurunkan harga gula dunia sebesar 3.560
persen (2011-2014) dan 4.444 persen (2015-2020).
Keterlibatan Indonesia dalam perdagangan dunia membuat segala gejolak
yang terjadi pada pasar dunia langsung ditransmisikan pada pasar domestik,
sehingga penurunan harga gula dunia akan menyebabkan penurunan harga gula
eceran Indonesia melalui penurunan harga impor gula Indonesia 1.710 persen
(2011-2014) dan 2.056 persen (2015-2020). Harga gula eceran ini mengalami
penurunan sebesar 0.340 persen sebelum periode liberalisasi perdagangan gula
ACFTA dan 0.419 persen pada periode liberalisasi perdagangan gula ACFTA.
Penurunan harga gula eceran ini menyebabkan permintaan gula rumah tangga
meningkat sebesar 0.185 persen (2011-2014) dan 0.231 persen (2015-2020).
Penurunan harga gula eceran juga akan menyebabkan penurunan pula pada harga
169
gula tingkat pedagang besar sebesar 0.330 persen (2011-2014) dan 0.409 persen
(2015-2020) sehingga permintaan gula industri meningkat 0.008 persen (20112014) dan 0.015 persen (2015-2020). Permintaan gula Indonesia akan meningkat
sebesar 0.094 persen (2011-2014) dan 0.122 persen (2015-2020) seiring dengan
peningkatan permintaan gula rumah tangga dan industri.
Tabel 49. Peramalan Dampak Peningkatan Produksi Gula China terhadap
Permintaan dan Penawaran Gula Indonesia
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
Variabel Endogen
Satuan
Nilai Dasar
BA
AA
Areal perkebunan besar negara
Ha
88 470.1
91 075
Areal perkebunan besar swasta
Ha
126 693
147 670
Areal perkebunan rakyat
Ha
238 617
234 361
Produktivitas hablur negara
Ton/Ha
4.3578
4.6109
Produktivitas hablur swasta
Ton/Ha
6.9627
7.6122
Produktivitas hablur rakyat
Ton/Ha
4.8519
4.1861
Produksi GKP negara
Ton
386 788
421 185
Produksi GKP swasta
Ton
885 552 1 128 436
Produksi GKP rakyat
Ton
1 161 700
985 199
Produksi GKP Indonesia
Ton
2 434 040 2 534 821
Produksi gula Indonesia
Ton
4 332 967 4 209 037
Permintaan gula rumah tangga
Ton
2 637 506 2 918 284
Permintaan gula industri
Ton
2 763 026 2 954 823
Permintaan gula Indonesia
Ton
5 400 532 5 873 107
Penawaran gula Indonesia
Ton
6 801 666 6 762 361
Harga riil gula tingkat petani
Rp/Kg
5 402.4
5 663.1
Harga riil gula pedagang besar
Rp/Kg
5 632.5
5 875
Harga riil gula eceran
Rp/Kg
5 967.1
6 179.7
Harga riil impor gula Indonesia Rp/Kg
4 805.8
5 156
Impor gula dari Thailand
Ton
707 776
925 994
Impor gula dari China
Ton
10 195.2
26 056.9
Impor gula Indonesia
Ton
1 746 257 2 123 894
Ekspor gula Brazil
Ton 25 155 099 2 698 8620
Ekspor gula Thailand
Ton
3 492 231 3 872 515
Impor gula India
Ton
1 930 761 2 449 443
Impor gula Amerika Serikat
Ton
1 990 763 1 806 342
Impor gula China
Ton
2 632 508 2 385 513
Harga riil gula dunia
US$/Ton
407.3
407.3
Ekspor gula dunia
Ton 53 615 282 56 434 941
Impor gula dunia
Ton 50 011 773 52 633 659
: BA = Periode 2011 – 2014
AA = Periode 2015 – 2020
Sumber : Data diolah, 2012
Keterangan
Perubahan (%)
BA
AA
-0.193
-0.013
-0.050
-0.321
-0.007
-0.047
-0.518
-0.022
-0.096
-0.136
-0.076
0.185
0.008
0.094
-0.016
-0.329
-0.330
-0.340
-1.710
0.297
1.380
0.129
-0.152
-0.298
1.853
0.035
-19.529
-3.560
-0.091
-0.951
-0.261
-0.012
-0.076
-0.397
-0.008
-0.067
-0.656
-0.019
-0.140
-0.172
-0.103
0.231
0.015
0.122
-0.021
-0.417
-0.409
-0.419
-2.056
0.297
0.607
0.137
-0.178
-0.335
1.824
0.031
-23.957
-4.444
-0.108
-0.994
170
Penurunan harga gula tingkat pedagang besar selanjutnya akan
ditransmisikan pada harga gula tingkat petani yang juga akan mengalami
penurunan sebesar 0.329 persen (2011-2014) dan 0.417 persen (2015-2020).
Penurunan harga gula tingkat petani dan pedagang besar ini akan menjadi
disinsentif bagi petani perkebunan rakyat dan pengusaha perkebunan besar negara
dan swasta dalam meningkatkan produksi gula. Hal ini ditunjukkan melalui
penurunan areal dan produktivitas pada ketiga perkebunan yang pada akhirnya
menurunkan produksi gula Indonesia sebesar 0.076 persen (2011-2014) dan 0.103
persen (2015-2020). Penurunan produksi gula Indonesia ini akan memicu
peningkatan impor gula Indonesia. Impor gula Indonesia meningkat sebesar 0.129
persen (2011-2014) dan 0.137 persen (2015-2020) dengan peningkatan terbesar
berasal dari China sebesar 1.380 persen (2011-2014) dan 0.607 persen (20152020). Penurunan produksi gula dan peningkatan impor gula Indonesia
menurunkan penawaran gula Indonesia sebesar 0.016 persen (2011-2014) dan
0.021 persen (2015-2020).
8.1.2.2.Peningkatan Produksi Gula Thailand dan Brazil
Peramalan dampak peningkatan produksi gula Thailand dan Brazil ini
dilakukan dengan dasar adanya wacana kedua negara akan mencapai keberhasilan
panen. Adapun dampak peningkatan produksi gula Thailand dan Brazil dapat
dilihat pada Tabel 50. Peningkatan produksi gula Thailand dan Brazil akan
berdampak langsung pada peningkatan ekspor gula Thailand dan Brazil. Pada
periode sebelum liberalisasi perdagangan gula ACFTA kebijakan tersebut mampu
meningkatkan ekspor gula Brazil sebesar 21.951 persen yang masih lebih tinggi
dibandingkan ekspor gula Thailand yang hanya sebesar 15.466 persen. Demikian
juga pada liberalisasi ACFTA peningkatan produksi sebesar 20 persen akan
meningkatkan ekspor gula Brazil sebesar 21.688 persen dan Brazil yang hanya
sebesar 15.297 persen. Peningkatan ekspor gula kedua negara ini akan
meningkatkan volume ekspor gula dunia sebesar 11.306 persen (2011-2014) dan
11.421 persen (2015-2020) yang kemudian akan menurunkan harga riil gula dunia
dengan cukup besar yaitu 46.403 persen pada periode 2011-2014 dan sebesar
54.849 persen pada periode 2015-2020.
171
Tabel 50. Peramalan Dampak Peningkatan Produksi Gula Thailand dan
Brazil terhadap Permintaan dan Penawaran Gula Indonesia
No. Variabel Endogen
Nilai Dasar
Satuan
BA
Perubahan (%)
AA
BA
AA
1. Areal perkebunan besar negara
Ha
88 470.1
91 075
-2.569
-3.252
2. Areal perkebunan besar swasta
Ha
126 693
147 670
-0.170
-0.135
3. Areal perkebunan rakyat
Ha
238 617
234 361
-0.675
-0.961
4. Produktivitas hablur negara
Ton/Ha
4.3578
4.6109
-4.225
-4.917
5. Produktivitas hablur swasta
Ton/Ha
6.9627
7.6122
-0.102
-0.092
6. Produktivitas hablur rakyat
Ton/Ha
4.8519
4.1861
-0.647
-0.853
7. Produksi GKP negara
Ton
386 788
421 185
-6.712
-7.979
8. Produksi GKP swasta
Ton
885 552
1 128 436
-0.274
-0.226
9. Produksi GKP rakyat
Ton
1 161 700
985 199
-1.297
-1.762
10. Produksi GKP Indonesia
Ton
2 434 040
2 534 821
-1.785
-2.111
11. Produksi gula Indonesia
Ton
4 332 967
4 209 037
-1.003
-1.271
12. Permintaan gula rumah tangga
Ton
2 637 506
2 918 284
2.458
2.875
13. Permintaan gula industri
Ton
2 763 026
2 954 823
0.112
0.194
14. Permintaan gula Indonesia
Ton
5 400 532
5 873 107
1.258
1.526
15. Penawaran gula Indonesia
Ton
6 801 666
6 762 361
-0.206
-0.261
16. Harga riil gula tingkat petani
Rp/Kg
5 402.4
5 663.1
-4.354
-5.154
17. Harga riil gula pedagang besar
Rp/Kg
5 632.5
5 875
-4.336
-5.042
18. Harga riil gula eceran
Rp/Kg
5 967.1
6 179.7
-4.441
-5.178
19. Harga riil impor gula Indonesia
Rp/Kg
4 805.8
5 156
-22.444
-25.417
20. Impor gula dari Thailand
Ton
707 776
925 994
3.907
3.669
21. Impor gula dari China
Ton
10 195.2
26 056.9
17.555
7.335
22. Impor gula Indonesia
Ton
1 746 257
2 123 894
1.686
1.689
23. Ekspor gula Brazil
Ton
25 155 099 2 698 8620
21.951
21.688
24. Ekspor gula Thailand
Ton
3 492 231
3 872 515
15.466
15.297
25. Impor gula India
Ton
1 930 761
2 449 443
24.134
22.480
26. Impor gula Amerika Serikat
Ton
1 990 763
1 806 342
0.421
0.362
27. Impor gula China
Ton
2 632 508
2 385 513
6.535
10.532
407.3
407.3
-46.403
-54.849
28. Harga riil gula dunia
US$/Ton
29. Ekspor gula dunia
Ton
53 615 282 56 434 941
11.306
11.421
30. Impor gula dunia
Ton
50 011 773 52 633 659
1.351
1.604
Keterangan
: BA = Periode 2011 – 2014
Sumber : Data diolah, 2012
AA = Periode 2015 – 2020
Penurunan harga gula dunia ini ditransmisikan pada harga gula eceran
melalui penurunan harga impor gula Indonesia. Harga gula eceran mengalami
penurunan sebesar 4.441 persen pada periode 2011-2014 dan sebesar 5.178 persen
172
pada periode 2015-2020 sehingga permintaan gula rumah tangga akan mengalami
peningkatan sebesar 2.458 persen (2011-2014) dan 2.875 persen (2015-2020).
Lebih lanjut penurunan harga gula eceran ini menurunkan harga gula tingkat
pedagang besar sebesar 4.336 persen (2011-2014) dan 5.042 persen (2015-2020)
sehingga juga akan meningkatkan permintaan gula industri sebesar 0.112 persen
(2011-2014) dan 0.194 persen (2015-2020). Permintaan gula Indonesia akan
meningkat sebesar 1.258 persen (2011-2014) dan 1.526 persen (2015-2020)
seiring dengan peningkatan permintaan rumah tangga dan industri.
Penurunan harga gula tingkat pedagang besar juga akan menurunkan harga
gula tingkat petani, yang akan menurun sebesar 4.354 persen (2011-2014) dan
5.154 persen (2015-2020). Penurunan harga gula tingkat petani dan pedagang
besar ini tentu saja akan membuat petani tidak bergairah untuk membudidayakan
tebu. Hal ini ditunjukkan dengan penurunan produksi gula Indonesia yang
merupakan dampak dari pengurangan luas areal dan produktivitas perkebunan
baik pada perkebunan besar negara, swasta maupun rakyat. Penurunan produksi
gula paling besar terjadi pada periode liberalisasi perdagangan gula ACFTA yaitu
sebesar 1.003 persen, sedangkan pada sebelum liberalisasi perdagangan gula
ACFTA hanya menurun 1.271 persen. Karena produksi gula Indonesia mengalami
penurunan maka volume impor gula Indonesia akan meningkat sebesar 1.686
persen pada periode 2011-2014 dan sebesar 1.689 persen pada periode 2015-2020.
Peningkatan impor gula Indonesia ini ternyata juga tidak cukup mampu
untuk meningkatkan penawaran gula di Indonesia. Hal ini terlihat dari penawaran
gula Indonesia yang mengalami penurunan yaitu 0.206 persen sebelum periode
liberalisasi perdagangan gula ACFTA dan 0.261 persen pada periode liberalisasi
perdagangan gula ACFTA. Hal ini diduga karena adanya penurunan pula pada
stok gula Indonesia yang tidak terekam dalam model.
8.1.3. Simulasi Kombinasi Kebijakan Ekonomi di Sektor Pertanian
8.1.3.1.Simulasi Kombinasi Tarif Impor dan Harga Gula Tingkat Petani
Simulasi penurunan tarif impor 50 persen dilakukan sesuai dengan skema
ACFTA yang masih memperbolehkan penurunan tarif impor hingga 50 persen,
sedangkan peningkatan harga 30 persen diharapkan dapat menjadi stimulus bagi
173
petani dalam meningkatkan produksinya. Peramalan dampak kombinasi kedua
kebijakan ini terhadap permintaan dan penawaran gula Indonesia baik diterapkan
sebelum era liberalisasi perdagangan gula ACFTA (2011-2014) maupun pada era
liberalisasi perdagangan gula ACFTA (2015-2020) ditunjukkan oleh Tabel 51.
Simulasi kombinasi penurunan tarif impor gula 50 persen dan peningkatan
harga gula tingkat petani 30 persen menyebabkan peningkatan impor gula
Indonesia sebesar 7.088 persen (2011-2014) dan 7.137 persen (2015-2020).
Peningkatan impor terbesar berasal dari China yaitu sebesar 329.171 persen
(2011-2014) dan 156.260 persen (2015-2020). Hal ini dikarenakan perilaku China
yang sangat respon terhadap perubahan tarif impor Indonesia. Peningkatan impor
Indonesia ini akan meningkatkan impor gula dunia sebesar 0.224 persen pada
periode 2011-2014 dan 0.256 persen pada periode 2015-2020. Peningkatan impor
gula dunia meningkatkan harga gula dunia mengingat Indonesia merupakan
negara besar dalam perdagangan gula. Harga gula dunia meningkat sebesar 0.859
persen pada periode 2011-2014 dan menurun lebih besar pada periode 2015-2020
yaitu 1.154 persen.
Peningkatan harga gula dunia akan ditransmisikan pada peningkatan harga
impor gula Indonesia. Namun peningkatan ini tidak menyebabkan harga gula
eceran mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan penawaran gula mengalami
peningkatan sebesar 3.726 persen (2011-2014) dan 4.027 persen (2015-2020)
akibat peningkatan impor gula Indonesia. Peningkatan penawaran gula Indonesia
menyebabkan harga gula eceran menurun sebesar 0.236 persen (2011-2014) dan
0.218 persen (2015-2020). Penurunan harga gula eceran ini akan meningkatkan
permintaan gula rumah tangga sebesar 0.135 persen (2011-2014) dan 0.125 persen
(2015-2020). Penurunan harga gula eceran akan menurunkan harga gula tingkat
pedagang besar sebesar 0.231 persen (2011-2014) dan 0.214 persen (2015-2020).
Penurunan harga gula tingkat pedagang besar ini akan meningkatkan permintaan
gula industri sebesar 0.007 persen (2011-2014) dan 0.009 persen (2015-2020).
Peningkatan permintaan gula rumah tangga dan industri akan menyebabkan
permintaan gula Indonesia meningkat sebesar 0.070 persen (2011-2014) dan 0.067
persen (2015-2020).
174
Tabel 51. Peramalan Dampak Simulasi Kombinasi Tarif Impor dan Harga
Gula Tingkat Petani terhadap Permintaan dan Penawaran Gula
Indonesia
No. Variabel Endogen
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Satuan
Nilai Dasar
BA
AA
Perubahan (%)
BA
AA
Areal perkebunan besar negara
Areal perkebunan besar swasta
Areal perkebunan rakyat
Produktivitas hablur negara
Produktivitas hablur swasta
Produktivitas hablur rakyat
Ha
Ha
Ha
Ton/Ha
Ton/Ha
Ton/Ha
88 470.1
126 693
238 617
4.3578
6.9627
4.8519
91 075
147 670
234 361
4.6109
7.6122
4.1861
-0.142
-0.008
5.464
-0.227
-0.004
5.585
-0.141
-0.005
6.337
-0.208
-0.003
5.834
7. Produksi GKP negara
8. Produksi GKP swasta
9. Produksi GKP rakyat
10. Produksi GKP Indonesia
11. Produksi gula Indonesia
12. Permintaan gula rumah tangga
13. Permintaan gula industri
14. Permintaan gula Indonesia
15. Penawaran gula Indonesia
16. Harga riil gula tingkat petani
17. Harga riil gula pedagang besar
18. Harga riil gula eceran
Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
Rp/Kg
Rp/Kg
Rp/Kg
386 788
885 552
1 161 700
2 434 040
4 332 967
2 637 506
2 763 026
5 400 532
6 801 666
5 402.4
5 632.5
5 967.1
421 185
1 128 436
985 199
2 534 821
4 209 037
2 918 284
2 954 823
5 873 107
6 762 361
5 663.1
5 875
6 179.7
-0.369
-0.013
11.296
5.328
2.993
0.135
0.007
0.070
3.726
30.000
-0.231
-0.236
-0.351
-0.008
12.417
4.764
2.869
0.125
0.009
0.067
4.027
30.000
-0.214
-0.218
19. Harga riil impor gula Indonesia Rp/Kg
4 805.8
5 156
0.416
0.537
20. Impor gula dari Thailand
Ton
707 776
925 994 12.745 11.973
21. Impor gula dari China
Ton
10 195.2
26 056.9 329.171 156.260
22. Impor gula Indonesia
Ton
1 746 257 2 123 894
7.088
7.137
23. Ekspor gula Brazil
Ton 25 155 099 2 698 8620
0.037
0.046
24. Ekspor gula Thailand
Ton
3 492 231 3 872 515
0.072
0.087
25. Impor gula India
Ton
1 930 761 2 449 443
-0.447
-0.475
26. Impor gula Amerika Serikat
Ton
1 990 763 1 806 342
-0.008
-0.008
27. Impor gula China
Ton
2 632 508 2 385 513
-0.121
-0.222
28. Harga riil gula dunia
US$/Ton
407.3
407.3
0.859
1.154
29. Ekspor gula dunia
Ton 53 615 282 56 434 941
0.022
0.028
30. Impor gula dunia
Ton 50 011 773 52 633 659
0.224
0.256
: BA = Periode 2011 – 2014
AA = Periode 2015 – 2020
Sumber : Data diolah, 2012
Keterangan
Penurunan harga gula tingkat pedagang besar tidak akan menurunkan
harga gula tingkat petani karena adanya kebijakan peningkatan harga gula tingkat
petani sebesar 30 persen. Peningkatan harga gula tingkat petani ini menjadi
175
insentif bagi petani perkebunan rakyat dalam meningkatkan produksinya yang
ditunjukkan oleh peningkatan luas areal dan produktivitasnya. Produksi gula
kristal putih rakyat meningkat sebesar 11.296 persen (2011-2014) dan 12.417
persen (2015-2020), sedangkan penurunan harga gula tingkat pedagang besar
menjadi disinsentif bagi pengusaha perkebunan besar negara dan swasta dalam
meningkatkan produksinya melalui penurunan luas areal dan produktivitas.
Produksi gula kristal putih pada perkebunan besar negara dan swasta akan
menurun masing-masing sebesar 0.3699 persen dan 0.013 persen pada periode
2011-2014 serta 0.351 persen dan 0.008 persen pada periode 2015-2020. Secara
keseluruhan produksi gula Indonesia meningkat 2.993 persen (2011-2014) dan
2.869 persen (2015-2020). Peningkatan produksi gula Indonesia yang cukup besar
dan peningkatan impor gula Indonesia membuat penawaran gula Indonesia masih
meningkat.
8.1.3.2.Simulasi Kombinasi Tarif Impor, Harga Gula Tingkat Petani, dan
Luas Areal Perkebunan
Simulasi penurunan tarif 50 persen merupakan skema penurunan tarif yang
masih diizinkan untuk komoditas gula dalam era liberalisasi perdagangan gula
ACFTA. Peningkatan luas areal 30 persen merupakan salah satu target yang
tengah diupayakan pemerintah dalam Program Revitalisasi Industri Gula Nasional
untuk mencapai swasembada gula, sedangkan peningkatan harga gula tingkat
petani sebesar 30 persen merupakan usulan yang diinginkan petani melalui
APTRI untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Adapun kombinasi ketiga
simulasi tersebut ditunjukkan pada tabel 52.
Simulasi penurunan tarif impor gula sebesar 50 persen tidak akan
berdampak langsung pada peningkatan impor gula Indonesia karena kebijakan
peningkatan luas areal perkebunan sebesar 30 persen akan meningkatkan
produktivitas gula hablur baik pada perkebunan besar negara, swasta maupun
rakyat. Peningkatan produktivitas gula hablur ini pada akhirnya akan
meningkatkan produksi gula Indonesia. Apabila kebijakan ini dapat tercapai pada
periode sebelum liberalisasi perdagangan gula ACFTA maka produksi gula akan
meningkat 25.366 persen, sedangkan apabila diterapkan pada periode liberalisasi
176
perdagangan ACFTA akan meningkat produksi gula Indonesia yang lebih besar
yaitu 28.999 persen.
Tabel 52. Peramalan Dampak Simulasi Kombinasi Tarif Impor, Harga Gula
Tingkat Petani, dan Luas Areal terhadap Permintaan dan
Penawaran Gula Indonesia
No.
Variable Endogen
Nilai Dasar
Satuan
BA
Perubahan (%)
AA
BA
AA
1. Areal perkebunan besar negara
Ha
88 470.1
91 075
30.000
30.000
2. Areal perkebunan besar swasta
Ha
126 693
147 670
30.000
30.000
3. Areal perkebunan rakyat
Ha
238 617
234 361
30.000
30.000
4. Produktivitas hablur negara
Ton/Ha
4.3578
4.6109
2.974
3.238
5. Produktivitas hablur swasta
Ton/Ha
6.9627
7.6122
15.363
16.420
6. Produktivitas hablur rakyat
Ton/Ha
4.8519
4.1861
6.278
6.818
7. Produksi GKP negara
Ton
386 788
421 185
38.810
40.815
8. Produksi GKP swasta
Ton
885 552
1 128 436
50.745
51.592
9. Produksi GKP rakyat
Ton
1 161 700
985 199
43.008
47.351
10. Produksi GKP Indonesia
Ton
2 434 040
2 534 821
45.156
48.153
11. Produksi gula Indonesia
Ton
4 332 967
4 209 037
25.366
28.999
12. Permintaan gula rumah tangga
Ton
2 637 506
2 918 284
0.794
0.843
13. Permintaan gula industri
Ton
2 763 026
2 954 823
0.042
0.064
14. Permintaan gula Indonesia
Ton
5 400 532
5 873 107
0.409
0.451
15. Penawaran gula Indonesia
Ton
6 801 666
6 762 361
16.263
18.324
16. Harga riil gula tingkat petani
Rp/Kg
5 402.4
5 663.1
30.000
30.000
17. Harga riil gula pedagang besar
Rp/Kg
5 632.5
5 875
-1.355
-1.445
18. Harga riil gula eceran
Rp/Kg
5 967.1
6 179.7
-1.386
-1.482
19. Harga riil impor gula Indonesia
Rp/Kg
4 805.8
5 156
0.027
0.066
20. Impor gula dari Thailand
Ton
707 776
925 994
-0.201
0.678
21. Impor gula dari China
Ton
10 195.2
26 056.9
83.202
47.062
22. Impor gula Indonesia
Ton
1 746 257
2 123 894
0.404
0.873
23. Ekspor gula Brazil
Ton
25 155 099 2 698 8620
0.002
0.006
24. Ekspor gula Thailand
Ton
3 492 231
3 872 515
0.004
0.011
25. Impor gula India
Ton
1 930 761
2 449 443
-0.028
-0.058
26. Impor gula Amerika Serikat
Ton
1 990 763
1 806 342
0.000
-0.001
27. Impor gula China
Ton
2 632 508
2 385 513
-0.009
-0.027
407.3
407.3
0.049
0.147
28. Harga riil gula dunia
US$/Ton
29. Ekspor gula dunia
Ton
53 615 282 56 434 941
0.001
0.003
30. Impor gula dunia
Ton
50 011 773 52 633 659
0.013
0.031
: BA = Periode 2011 – 2014
AA = Periode 2015 – 2020
Sumber : Data diolah, 2012
Keterangan
177
Peningkatan produksi gula Indonesia ini menyebabkan peningkatan
penawaran gula Indonesia sebesar 16.263 persen (2011-2014) dan 18.234 persen
(2015-2020). Peningkatan produksi gula dan penurunan tarif impor sebesar 50
persen ini masih menyebabkan impor gula Indonesia mengalami peningkatan
sebesar 0.404 persen (2011-2014) dan 0.873 persen (2015-2020). Volume impor
gula Indonesia dari China meningkat paling besar yaitu 47.062 persen apabila
diterapkan pada periode liberalisasi perdagangan gula ACFTA. Peningkatan
impor gula Indonesia ini akan meningkatkan impor gula dunia sebesar 0.013
persen (2011-2014) dan 0.031 persen (2015-2020).
Lebih lanjut, penurunan impor gula dunia ini akan menyebabkan harga
gula dunia juga mengalami penurunan sebesar 0.049 persen (2011-2014) dan
0.147 persen (2015-2020). Hal ini mengingat Indonesia merupakan negara besar
dalam perdagangan gula dunia. Penurunan harga gula dunia ini akan
ditransmisikan pada harga impor gula Indonesia yang akan mengalami penurunan
sebesar 0.027 persen dan 0.066 persen. Penurunan harga impor gula Indonesia
kemudian akan menurunkan harga gula eceran sebesar 1.386 persen (2011-2014)
dan 1.482 persen (2015-2020). Penurunan harga gula eceran ini akan
menyebabkan peningkatan permintaan gula rumah tangga sebesar 0.794 persen
(2011-2014) dan 0.843 persen (2015-2020).
Harga gula tingkat pedagang besar juga mengalami penurunan seiring
dengan penurunan harga gula eceran, yaitu sebesar 1.355 persen (2011-2014) dan
1.445 persen (2015-2020). Penurunan harga gula tingkat pedagang besar ini akan
meningkatkan permintaan gula industri sebesar 0.042 persen (2011-2014) dan
0.064 persen (2015-2020). Meningkatnya permintaan gula rumah tangga dan
industri ini akan meningkatkan permintaan gula Indonesia sebesar 0.409 persen
(2011-2014) dan 0.451 persen (2015-2020). Penurunan harga gula tingkat
pedagang besar tidak akan menurunkan harga gula tingkat petani dengan adanya
kebijakan peningkatan harga gula tingkat petani sebesar 30 persen, sehingga
dengan didukung oleh kebijakan peningkatan luas areal target swasembada gula
2014 dapat tercapai sebab produksi gula mampu meningkat 25.366 persen pada
periode 2011-2014 dan 28.999 persen pada periode 2011-2015.
178
8.1.3.3. Simulasi Kombinasi Tarif Impor, Harga Gula Tingkat Petani,
Produksi Gula China, dan Stok Gula
Simulasi kombinasi yang dilakukan adalah peningkatan produksi gula
China 20 persen, penurunan tarif impor 50 persen sesuai dengan skema
liberalisasi perdagangan bebas ACFTA, peningkatan harga gula tingkat petani 30
persen sesuai dengan usulan APTRI, dan penguatan peran BULOG melalui
peningkatan stok gula sebesar 20 persen sesuai dengan rencana pemerintah.
Adapun kombinasi keempat simulasi tersebut akan menunjukkan hasil seperti
pada Tabel 53.
Kebijakan peningkatan produksi gula China sebesar 20 persen akan
berdampak secara langsung terhadap penurunan impor gula China sebesar 19.624
persen pada periode 2011-2014 dan 24.157 persen pada periode 2015-2020.
Penurunan impor gula China akan menurunkan impor gula dunia sebesar 0.768
persen (2011-2014) dan 0.762 persen (2015-2020). Harga gula dunia juga akan
mengalami penurunan sebesar 2.873 persen (2011-2014) dan sebesar 3.413 persen
(2015-2020) karena penurunan impor gula dunia. Selanjutnya penurunan harga
gula dunia akan menurunkan harga impor gula Indonesia sebesar 1.378 persen
(2011-2014) dan 1.567 persen (2015-2020). Penurunan harga impor akan
meningkatkan impor gula Indonesia sebesar 5.907 persen pada periode 2011-2014
dan 6.628 persen pada periode 2015-2020. Peningkatan impor gula paling tinggi
berasal dari China yang meningkat 330.687 persen (2011-2014) dan 156.812
persen (2015-2020). Namun, sekalipun presentase peningkatan impor gula
Indonesia dari China lebih tinggi dari pada peningkatan impor gula Indonesia dari
Thailand, secara volume peningkatan impor gula Indonesia dari Thailand masih
lebih tinggi. Penurunan harga impor gula Indonesia selanjutnya akan
menyebabkan harga gula eceran mengalami penurunan sebesar 0.744 persen pada
periode 2011-2014 dan 0.736 persen pada periode 2015-2020. Penurunan harga
gula eceran ini akan meningkatkan permintaan gula oleh konsumen rumah tangga
sebesar 0.421 persen (2011-2014) dan 0.412 persen (2015-2020).
Penurunan harga gula eceran selanjutnya akan ditransmisikan pada harga
gula tingkat pedagang besar yang mengalami penurunan sebesar 0.726 persen
pada periode 2011-2014 dan 0.718 persen pada periode 2015-2020. Penurunan
harga gula tingkat pedagang besar ini akan meningkatkan permintaan gula oleh
179
industri sebesar 0.021 persen (2011-2014) dan 0.029 persen (2015-2020). Secara
keseluruhan permintaan gula Indonesia akan meningkat sebesar 0.216 persen
(2011-2014) dan 0.219 persen (2015-2020).
Tabel 53. Peramalan Dampak Simulasi Kombinasi Tarif Impor, Harga Gula
Petani, Produksi Gula China, dan Stok Gula terhadap Permintaan
dan Penawaran Gula Indonesia
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
Variable Endogen
Satuan
Nilai Dasar
BA
AA
Perubahan (%)
BA
AA
Areal perkebunan besar negara
Ha
88 470.1
91 075
-0.440 -0.467
Areal perkebunan besar swasta
Ha
126 693
147 670
-0.027 -0.018
Areal perkebunan rakyat
Ha
238 617
234 361
5.464
6.337
Produktivitas hablur negara
Ton/Ha
4.3578
4.6109
-0.711 -0.701
Produktivitas hablur swasta
Ton/Ha
6.9627
7.6122
-0.016 -0.012
Produktivitas hablur rakyat
Ton/Ha
4.8519
4.1861
5.585
5.834
Produksi GKP negara
Ton
386 788
421 185
-1.153 -1.163
Produksi GKP swasta
Ton
885 552 1 128 436
-0.043 -0.031
Produksi GKP rakyat
Ton
1 161 700
985 199 11.296 12.417
Produksi GKP Indonesia
Ton
2 434 040 2 534 821
5.192
4.619
Produksi gula Indonesia
Ton
4 332 967 4 209 037
2.917
2.782
Permintaan gula rumah tangga
Ton
2 637 506 2 918 284
0.421
0.412
Permintaan gula industri
Ton
2 763 026 2 954 823
0.021
0.029
Permintaan gula Indonesia
Ton
5 400 532 5 873 107
0.216
0.219
Penawaran gula Indonesia
Ton
6 801 666 6 762 361
5.499
5.083
Harga riil gula tingkat petani
Rp/Kg
5 402.4
5 663.1 30.000 30.000
Harga riil gula pedagang besar
Rp/Kg
5 632.5
5 875
-0.726 -0.718
Harga riil gula eceran
Rp/Kg
5 967.1
6 179.7
-0.744 -0.736
Harga riil impor gula Indonesia Rp/Kg
4 805.8
5 156
-1.378 -1.567
Impor gula dari Thailand
Ton
707 776
925 994
9.809 10.790
Impor gula dari China
Ton
10 195.2
26 056.9 330.687 156.812
Impor gula Indonesia
Ton
1 746 257 2 123 894
5.907
6.628
Ekspor gula Brazil
Ton 25 155 099 2 698 8620
-0.122 -0.136
Ekspor gula Thailand
Ton
3 492 231 3 872 515
-0.240 -0.256
Impor gula India
Ton
1 930 761 2 449 443
1.493
1.393
Impor gula Amerika Serikat
Ton
1 990 763 1 806 342
0.029
0.024
Impor gula China
Ton
2 632 508 2 385 513 -19.624 -24.157
Harga riil gula dunia
US$/Ton
407.3
407.3
-2.873 -3.413
Ekspor gula dunia
Ton 53 615 282 56 434 941
-0.073 -0.083
Impor gula dunia
Ton 50 011 773 52 633 659
-0.768 -0.762
: BA = Periode 2011 – 2014
AA = Periode 2015 – 2020
Sumber : Data diolah, 2012
Keterangan
180
Penurunan harga gula tingkat pedagang besar tidak akan ditransmisikan
pada harga gula tingkat petani karena adanya kebijakan peningkatan harga gula
tingkat petani sebesar 30 persen. Kebijakan peningkatan harga gula petani akan
menjadi stimulus bagi petani perkebunan rakyat untuk semakin meningkatkan
produksi gula. Hal ini ditunjukkan oleh peningkatan luas areal perkebunan rakyat
sebesar 5.464 persen (2011-2014) dan 6.337 persen (2015-2020). Peningkatan
luas areal ini diikuti dengan peningkatan produktivitas gula hablur sehingga
produksi gula kristal putih rakyat mampu meningkat sebesar 11.296 persen (20112014) dan 12.417 persen (2015-2020). Namun,penurunan harga gula tingkat
pedagang besar menjadi disinsentif bagi perkebunan besar negara dan swasta
dalam upaya peningkatan produksinya. Hal ini ditunjukkan oleh penurunan luas
areal dan produktivitas sehingga produksi gula kristal putih negara menurun
sebesar 1.153 persen (2011-2014) dan 1.163 persen (2015-2020) serta produksi
gula kristal putih swasta menurun sebesar 0.043 persen (2011-2014) dan 0.031
persen (2015-2020).
Peningkatan produksi gula kristal putih perkebunan rakyat yang lebih
besar dibandingkan penurunan produksi gula kristal putih perkebunan negara dan
swasta membuat produksi gula Indonesia secara keseluruhan masih mengalami
peningkatan sebesar 2.917 persen pada periode 2011-2014 dan 2.782 persen pada
periode 2015-2020. Selanjutnya, adanya peningkatan kebijakan peningkatan stok
gula 20 persen, peningkatan produksi gula Indonesia dan peningkatan impor gula
Indonesia akan meningkatkan penawaran gula Indonesia sebesar 5.499 persen
(2011-2014) dan 5.083 persen (2015-2020).
8.1.3.4. Simulasi Kombinasi Tarif Impor, Harga Gula Tingkat Petani, Luas
Areal, dan Stok Gula
Pada Tabel 54 dapat dilihat dampak dari simulasi kombinasi tarif impor,
harga gula tingkat petani, luas areal dan stok gula. Adapun simulasi yang
dilakukan adalah penurunan tarif impor 50 persen sesuai dengan yang
diperbolehkan dalam skema liberalisasi perdagangan bebas ACFTA, peningkatan
harga gula tingkat petani 30 persen, peningkatan luas areal tebu sebesar 30 persen
dan peningkatan stok gula 20 persen.
181
Tabel 54. Peramalan Dampak Simulasi Kombinasi Tarif Impor, Harga Gula
Petani, Luas Areal, dan Stok Gula terhadap Permintaan dan
Penawaran Gula Indonesia
No. Variabel Endogen
Nilai Dasar
Satuan
BA
AA
Perubahan (%)
BA
AA
1. Areal perkebunan besar negara
Ha
88 470.1
91 075
30.000
30.000
2. Areal perkebunan besar swasta
3. Areal perkebunan rakyat
Ha
Ha
126 693
238 617
147 670
234 361
30.000
30.000
30.000
30.000
4. Produktivitas hablur negara
5. Produktivitas hablur swasta
Ton/Ha
Ton/Ha
4.3578
6.9627
4.6109
7.6122
2.823
15.362
3.151
16.420
6.
7.
8.
9.
10.
11.
Ton/Ha
Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
4.8519
386 788
885 552
1 161 700
2 434 040
4 332 967
4.1861
421 185
1 128 436
985 199
2 534 821
4 209 037
6.278
38.607
50.745
43.008
45.123
25.348
6.818
40.698
51.591
47.351
48.133
28.987
Ton
Ton
2 637 506
2 763 026
2 918 284
2 954 823
0.894
0.048
0.899
0.068
Ton
5 400 532 5 873 107
Ton
6 801 666 6 762 361
Rp/Kg
5 402.4
5 663.1
Rp/Kg
5 632.5
5 875
Rp/Kg
5 967.1
6 179.7
Rp/Kg
4 805.8
5 156
Ton
707 776
925 994
Ton
10 195.2
26 056.9
Ton
1 746 257 2 123 894
Ton 25 155 099 2 698 8620
Ton
3 492 231 3 872 515
Ton
1 930 761 2 449 443
0.461
18.041
30.000
-1.520
-1.554
-0.054
-3.424
83.540
-0.900
-0.005
-0.009
0.059
0.481
19.386
30.000
-1.540
-1.579
0.017
-0.790
47.124
0.234
0.001
0.003
-0.014
1 806 342
2 385 513
0.001
0.017
0.000
-0.006
US$/Ton
407.3
407.3
Ton 53 615 282 56 434 941
-0.098
-0.003
0.025
0.001
-0.028
0.008
Produktivitas hablur rakyat
Produksi GKP negara
Produksi GKP swasta
Produksi GKP rakyat
Produksi GKP Indonesia
Produksi gula Indonesia
12. Permintaan gula rumah tangga
13. Permintaan gula industri
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
Permintaan gula Indonesia
Penawaran gula Indonesia
Harga riil gula tingkat petani
Harga riil gula pedagang besar
Harga riil gula eceran
Harga riil impor gula Indonesia
Impor gula dari Thailand
Impor gula dari China
Impor gula Indonesia
Ekspor gula Brazil
Ekspor gula Thailand
Impor gula India
26. Impor gula Amerika Serikat
27. Impor gula China
28. Harga riil gula dunia
29. Ekspor gula dunia
30. Impor gula dunia
Ton
Ton
Ton
1 990 763
2 632 508
50 011 773 52 633 659
Keterangan
: BA = Periode 2011 – 2014
Sumber : Data diolah, 2012
AA = Periode 2015 – 2020
Penurunan tarif impor gula 50 persen tidak akan menyebabkan
peningkatan impor gula Indonesia yang besar dengan adanya peningkatan luas
areal perkebunan. Peningkatan luas areal perkebunan sebesar 30 persen yang
182
meningkatkan produktivitas gula hablur menyebabkan produksi gula Indonesia
meningkat sebesar 25.348 persen (2011-2014) dan 28.987 persen (2015-2020).
Peningkatan produksi gula akan menurunkan impor gula Indonesia. Namun,
impor gula Indonesia dari China tidak mengalami penurunan sehingga impor gula
Indonesia secara keseluruhan menurun pada periode 2011-2014 sebesar 0.900
persen dan masih meningkatkan sebesar 0.234 persen 2015-2020 karena
peningkatan impor gula dari China yang lebih besar.
Penurunan impor gula Indonesia pada periode 2011-2014 akan
menurunkan impor gula dunia sebesar 0.028 persen, sedangkan pada periode
2011-2015 peningkatan impor gula Indonesia yang lebih besar dari penurunan
impor gula China (0.006 persen) membuat impor gula dunia masih mengalami
peningkatan sebesar 0.008 persen. Penurunan impor gula dunia pada periode
2011-2014 akan menurunkan harga gula dunia sebesar 0.098 persen, sedangkan
peningkatan impor gula dunia pada periode 2015-2020 akan meningkatkan harga
gula dunia sebesar 0.025 persen. Penurunan harga gula dunia akan ditransmisikan
pada harga impor gula Indonesia. ada periode 2011-2014 mengalami penurunan
sebesar 0.054 persen dan peningkatan harga gula dunia akan menyebabkan
peningkatan harga impor gula Indonesia pada periode 2015-2020 sebesar 0.017
persen. Penurunan harga impor gula pada periode 2011-2014 ini akan
ditransmisikan pada harga gula eceran yang akan menurun 1.554 persen,
sedangkan penurunan harga impor gula pada periode 2015-2020 tidak akan
menurunkan harga eceran gula. Hal ini disebabkan kebijakan peningkatan luas
areal yang meningkatkan produksi dan menurunkan impor gula serta diikuti
dengan peningkatan stok gula sebesar 20 persen akan meningkatkan penawaran
gula Indonesia pada periode 2015-2020 sebesar 19.386 persen. Penawaran gula
Indonesia yang juga mengalami peningkatan ini menyebabkan harga gula eceran
turun sebesar 1.579 persen.
Penurunan harga gula eceran ini akan meningkatkan permintaan gula
rumah tangga sebesar 0.894 persen (2011-2014) dan 0.899 persen (2015-2020).
Penurunan harga gula eceran lebih lanjut akan menurunkan harga gula tingkat
pedagang besar sebesar 1.520 persen (2011-2014) dan 1.540 persen (2015-2020).
Harga gula tingkat pedagang besar yang menurun ini akan meningkatkan
183
permintaan gula industri sebesar 0.048 persen (2011-2014) dan 0.068 persen
(2015-2020). Secara keseluruhan peningkatan permintaan gula Indonesia adalah
sebesar 0.461 persen (2011-2014) dan 0.481 persen (2015-2020) seiring dengan
peningkatan permintaan gula rumah tangga dan industri. Karena harga gula
tingkat petani telah dilindungi oleh kebijakan peningkatan sebesar 30 persen,
maka harga gula petani tidak akan terimbas dampak penurunan harga gula dunia.
8.2. Peramalan Dampak Kebijakan Ekonomi di Sektor Pertanian dan
Perubahan Faktor Eksternal terhadap Kesejahteraan Pelaku Ekonomi
Gula Indonesia
8.2.1. Peramalan Dampak Simulasi Tunggal Kebijakan Ekonomi di Sektor
Pertanian
Tabel 55 merupakan kompilasi dari peramalan dampak kebijakan ekonomi
di sektor pertanian terhadap kesejahteraan pelaku ekonomi gula Indonesia
sebelum periode 2011-2014 dan 2015-2020. Adapun kebijakan ekonomi di sektor
pertanian terdiri dari simulasi (1) peningkatan harga gula tingkat petani 30 persen,
(2) penguatan peran BULOG (stok gula meningkat 20 persen), (3) peningkatan
luas areal perkebunan 30 persen dan (4) swasembada absolut gula atau impor gula
sama dengan nol.
Pada simulasi 7 (S7) peningkatan harga gula tingkat petani sebesar 30
persen) berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa skenario kebijakan
tersebut mampu memberikan dampak peningkatan surplus produsen gula yang
paling besar diantara skenario kebijakan tunggal yang lain, baik apabila
diterapkan sebelum periode liberalisasi perdagangan gula ACFTA maupun pada
periode liberalisasi perdagangan gula ACFTA. Surplus produsen meningkat
sebesar Rp 2.191 triliun pada periode 2011-2014 dan sebesar Rp 1.765 triliun
pada periode 2015-2020. Peningkatan tersebut disumbangkan oleh peningkatan
surplus produsen pada perkebunan rakyat yang meningkat sebesar Rp 2.201
triliun (2011-2014) dan Rp 1.777 triliun (2015-2020). Peningkatan surplus
produsen perkebunan rakyat ini dikarenakan kebijakan peningkatan harga gula
tingkat petani 30 persen akan menyebabkan peningkatan produksi gula kristal
putih petani perkebunan rakyat sebesar 11.296 persen (2011-2014) dan 12.417
persen (2015-2020). Namun, pada skenario kebijakan ini terjadi trade off dimana
184
perkebunan besar negara dan swasta mengalami penurunan surplus produsen.
Perkebunan besar negara menurun sebesar Rp 3.25 miliar (2011-2014) dan Rp
3.37 miliar (2015-2020) sedangkan perkebunan besar swasta menurun sebesar Rp
7.44 miliar pada 2011-2014 dan Rp 9.03 miliar pada 2015-2020. Penurunan ini
disebabkan adanya penurunan harga gula tingkat pedagang besar sebesar 0.149
persen (2011-2014) dan 0.136 persen (2015-2020) yang menyebabkan produksi
perkebunan besar negara dan swasta mengalami penurunan.
Ditinjau dari sisi konsumen, karena harga gula eceran mengalami
penurunan sebesar 0.154 persen (2011-2014) dan 0.139 persen (2015-2020) maka
permintaan gula rumah tangga mengalami peningkatan sebesar 0.086 persen
(2011-2014) dan 0.078 persen (2015-2020) sehingga konsumen memperoleh
tambahan surplus dengan adanya kebijakan ini. Surplus konsumen rumah tangga
meningkat lebih tinggi pada periode 2015-2020 yaitu sebesar Rp 24.28 miliar,
sedangkan pada periode 2011-2014 sebesar Rp 25.11 miliar. Harga gula tingkat
pedagang besar yang menurun menyebabkan permintaan gula industri meningkat
sebesar 0.004 persen (2011-2014) dan 0.005 persen (2015-2020) sehingga surplus
konsumen gula industri meningkat lebih tinggi daripada surplus konsumen rumah
tangga yaitu sebesar Rp 23.21 miliar dan Rp 23.64 miliar. Secara keseluruhan
surplus konsumen gula Indonesia mengalami peningkatan sebesar Rp 47.49 miliar
pada 2011-2014 dan Rp 48.75 miliar pada 2015-2020.
Penurunan impor yang terjadi akibat kebijakan ini juga menyebabkan
penerimaan pemerintah dari tarif impor dan devisa impor mengalami penurunan.
Penerimaan tarif pada periode 2011-2014 menurun Rp 24.05 miliar dan pada
periode 2015-2020 menurun Rp 30.02 miliar. Demikian pula dengan devisa impor
negara juga menurun Rp 80.23 miliar pada periode 2011-2014 dan Rp 81.20
miliar pada periode 2015-2020. Namun demikian, dengan adanya redistribusi
pendapatan secara keseluruhan kesejahteraan masyarakat mengalami peningkatan
yaitu sebesar Rp 2.214 triliun (2011-2014) dan Rp 1.784 triliun (2015-2020).
Pada simulasi 8 (S8) peningkatan stok gula 20 persen yang
merepresentasikan penguatan peran BULOG akan akan menyebabkan penurunan
surplus produsen sebesar Rp 22.26 miliar (2011-2014) dan Rp 14.04 miliar (20152020). Seluruh produsen mengalami penurunan surplus yang terjadi akibat
185
penurunan harga gula tingkat petani sebesar 0.168 persen (2011-2014) dan 0.099
persen (2015-2020) dan harga gula tingkat pedagang besar sebesar 0.163 persen
(2011-2014) dan 0.094 persen (2015-2020) yang menjadi disinsentif bagi petani
sehingga produksi gula perkebunan besar negara, swasta dan rakyat mengalami
penurunan baik sebelum periode liberalisasi perdagangan gula ACFTA maupun
pada periode liberalisasi perdagangan gula ACFTA.
Dari sisi konsumen, terjadi penurunan harga gula eceran sebesar 0.168
persen (2011-2014) dan 0.095 persen (2015-2020) yang diikuti dengan
peningkatan permintaan rumah tangga sebesar 0.099 persen pada periode 20112014 dan 0.056 persen pada periode 2015-2020. Hal ini menyebabkan surplus
konsumen rumah tangga mengalami peningkatan sebesar Rp 26.39 miliar sebelum
periode liberalisasi perdagangan gula ACFTA dan sebesar Rp 17.22 miliar pada
periode liberalisasi perdagangan gula ACFTA. Harga gula tingkat pedagang besar
yang menurun menyebabkan permintaan gula industri meningkat sebesar 0.006
persen pada periode 2011-2014 dan 0.004 persen pada periode 2015-2020
sehingga surplus konsumen gula industri meningkat lebih tinggi daripada surplus
konsumen rumah tangga yaitu sebesar Rp 25.42 miliar (2011-2014) dan Rp 16.25
miliar (2015-2020). Secara keseluruhan, surplus konsumen gula Indonesia
mengalami peningkatan sebesar Rp 51.81 miliar pada 2011-2014 dan Rp 33.47
miliar pada 2015-2020.
Demikian pula dengan perubahan penerimaan pemerintah dari tarif impor
dan devisa impor pemerintah mengalami penurunan dengan adanya kebijakan ini.
Penerimaan pemerintah dari tarif impor menurun Rp 34.93 miliar pada periode
2011-2014 dan Rp 26.97 miliar pada periode 2015-2020. Kebijakan ini hanya
menurunkan penerimaan pemerintah dari tarif akan impor gula Indonesia dari
Thailand sedangkan impor gula dari China meningkat sebesar Rp 0.07 miliar
(2011-2014) dan Rp 0.03 miliar (2015-2020). Devisa impor pemerintah juga
mengalami penurunan seiring dengan penurunan impor gula Indonesia. Devisa
impor menurun Rp 115.75 miliar (2011-2014) dan Rp 74.90 miliar (2015-2020).
Secara menyeluruh kebijakan ini menurunkan kesejahteraan masyarakat (net
surplus) sebesar Rp 5.38 miliar sebelum periode liberalisasi perdagangan gula
ACFTA dan Rp 7.53 miliar pada periode liberalisasi perdagangan gula ACFTA.
186
Tabel 55. Peramalan Dampak Kebijakan Ekonomi di Sektor Pertanian terhadap Kesejahteraan Pelaku Ekonomi Gula Indonesia
Tahun 2011-2014 dan 2015-2020
Rp miliar
Alternatif Kebijakan
No
Komponen
1
Perubahan Surplus Produsen
a. Perusahaan perkebunan besar negara
b. Perusahaan perkebunan besar swasta
c. Perusahaan perkebunan rakyat
2
Perubahan Surplus Konsumen Indonesia
a. Konsumen gula rumah tangga
b. Konsumen gula industri
3
Perubahan Penerimaan Pemerintah dari Tarif
a. Impor Gula dari Thailand
b. Impor Gula dari China
c. Impor Gula dari Negara Lain
4
Net Surplus Indonesia
5
Perubahan Devisa Impor
a. Impor Gula dari Thailand
b. Impor Gula dari China
c. Impor Gula dari Negara Lain
S7
S8
S10
BA
2 191.12
-3.25
-7.44
2 201.81
AA
1 765.31
-3.37
-9.03
1 777.70
BA
-22.26
-3.55
-8.15
-10.56
AA
-14.04
-2.31
-6.21
-5.52
BA
-286.99
-30.42
-73.05
-183.52
AA
-266.86
-38.07
-106.46
-122.32
BA
138.36
22.19
50.40
65.77
AA
147.80
24.67
65.57
57.56
47.49
24.28
23.21
48.75
25.11
23.64
51.81
26.39
25.42
33.47
17.22
16.25
370.54
188.70
181.84
458.64
236.97
221.67
-318.63
-161.45
-157.19
-354.06
-182.43
-171.63
-24.05
-19.00
-5.05
0.00
-30.02
-23.00
-6.02
-1.00
-34.93
-34.00
0.07
-1.00
-26.97
-26.00
0.03
-1.00
-190.37
-145.70
-38.67
-6.00
-279.70
-213.00
-55.70
-11.00
-2 594.57
-1 054.00
-15.57
-1 525.00
-4 017.57
-1 753.00
-49.57
-2 215.00
2 214.56
1 784.03
-5.38
-7.53
-106.82
-87.92
-2 774.85
-4 223.83
-80.23
-61.00
-16.23
-3.00
-81.20
-62.00
-16.20
-3.00
-115.75
-112.00
0.25
-4.00
-74.90
-72.00
0.10
-3.00
-616.08
-471.00
-125.08
-20.00
-760.90
-579.00
-151.90
-30.00
-8 396.18
-3 404.00
-49.18
-4 943.00
-10 950.30
-4 774.00
-134.30
-6 042.00
: BA = Periode 2011 – 2014
AA = Periode 2015 – 2020
S7 = Peningkatan harga gula tingkat petani 30 persen
S8 = Penguatan peran BULOG (Stok gula meningkat 20 persen)
S9 = Peningkatan luas areal perkebunan 30 persen
S10 = Swasembada absolut gula (tidak ada impor gula)
Sumber : Data diolah, 2012
Keterangan
S9
187
Pada simulasi 9 (S9) peningkatan luas areal perkebunan 30 persen
menyebabkan peningkatan produksi gula sebesar 23.264 persen pada periode
2011-2014 dan 27.067 persen pada periode 2015-2020, namun menurunkan harga
gula tingkat petani sebesar 1.916 persen (2011-2014) dan 1.835 persen (20152020) serta harga gula tingkat pedagang besar sebesar 1.168 persen (2011-2014)
dan 1.277 persen (2015-2020). Hal tersebut menyebabkan surplus produsen gula
mengalami penurunan yang cukup besar, yaitu Rp 286.99 miliar (2011-2014) dan
Rp 266.86 miliar (2015-2020). Sedangkan dari sisi konsumen terjadi penurunan
harga gula eceran sebesar 1.195 persen (2011-2014) dan 1.309 persen (20152020) yang diikuti dengan peningkatan permintaan rumah tangga sebesar 0.684
persen pada periode 2011-2014 dan 0.744 persen pada periode 2015-2020
sehingga surplus konsumen rumah tangga mengalami peningkatan sebesar
Rp 188.70 miliar (2011-2014) dan sebesar Rp 236.97 miliar (2015-2020).
Selanjutnya harga gula tingkat pedagang besar yang menurun menyebabkan
permintaan gula industri meningkat sebesar 0.036 persen (2011-2014) dan 0.056
persen (2015-2020) sehingga surplus konsumen gula industri meningkat lebih
tinggi daripada surplus konsumen rumah tangga yaitu sebesar Rp 181.84 miliar
(2011-2014) dan Rp 221.67 miliar (2015-2020). Secara keseluruhan surplus
konsumen gula Indonesia meningkat sebesar Rp 370.54 miliar pada 2011-2014
dan Rp 458.64 miliar pada 2015-2020.
Demikian pula dengan perubahan penerimaan pemerintah dari tarif impor dan
devisa impor pemerintah juga mengalami penurunan dengan adanya kebijakan ini.
Penerimaan pemerintah dari tarif impor menurun Rp 190.37 miliar pada periode
2011-2014 dan Rp 279.70 miliar pada periode 2015-2020. Devisa impor pemerintah
juga mengalami penurunan seiring dengan penurunan impor gula Indonesia. Devisa
impor menurun Rp 616.08 miliar pada periode 2011-2014 dan Rp 760.90 miliar pada
periode 2015-2020. Secara menyeluruh kebijakan ini memberikan penurunan
kesejahteraan bagi masyarakat (net surplus) sebesar Rp 106.82 miliar pada periode
2011-2014 namun apabila dilakukan pada periode 2015-2020 akan memberikan
peningkatan kesejahteraan masyarakat (net surplus) sebesar Rp 87.92 miliar. Hal ini
dikarenakan peningkatan surplus konsumen yang lebih besar dibanding penurunan
surplus produsen dan penerimaan pemerintah dari tarif impor.
188
Pada simulasi 10 (S10) penerapan swasembada absolut dengan
menghentikan impor gula memacu produsen untuk meningkatkan produksi gula
sehingga meningkat sebesar 0.257 persen pada periode 2011-2014 dan 0.272
persen pada periode 2015-2020. Selain itu, kebijakan ini juga meningkatkan harga
gula tingkat petani sebesar 1.042 persen pada periode 2011-2014 dan 1.029 persen
pada periode 2015-2020 serta harga gula tingkat pedagang besar sebesar 1.010
persen (2011-2014) dan 0.989 persen (2015-2020). Hal ini menyebabkan
produsen memperoleh tambahan surplus sebesar Rp 138.36 miliar apabila
diterapkan sebelum periode liberalisasi perdagangan gula ACFTA dan sebesar
Rp 147.80 miliar apabila kebijakan tersebut diterapkan pada periode liberalisasi
perdagangan gula ACFTA.
Konsumen merupakan yang paling dirugikan dari adanya kebijakan ini.
Peningkatan harga gula eceran sebesar 1.029 persen (2011-2014) dan 1.015
persen (2015-2020) yang diikuti dengan penurunan permintaan rumah tangga
sebesar 0.614 persen pada periode 2011-2014 dan 0.597 persen pada periode
2015-2020 menyebabkan surplus konsumen rumah tangga mengalami penurunan
sebesar Rp 161.45 miliar (2011-2014) dan sebesar Rp 182.43 miliar (2015-2020).
Selanjutnya, harga gula tingkat pedagang besar yang menurun menyebabkan
permintaan gula industri turun sebesar 0.038 persen (2011-2014) dan 0.052 persen
(2015-2020) sehingga surplus konsumen gula industri menurun lebih besar
daripada surplus konsumen rumah tangga yaitu sebesar Rp 157.19 miliar (20112014) dan Rp 171.63miliar (2015-2020). Secara keseluruhan surplus konsumen
gula Indonesia menurun sebesar Rp 318.63 miliar pada 2011-2014 dan Rp 354.06
miliar pada 2015-2020.
Pelarangan impor gula ini memiliki dampak yang paling besar terhadap
penurunan penerimaan pemerintah dari tarif impor dan devisa impor. Pada periode
sebelum liberalisasi perdagangan gula ACFTA penerimaan permerintah dari tarif
impor menurun Rp 2.594 triliun dan devisa impor menurun Rp 8.396 triliun,
sedangkan pada periode liberalisasi perdagangan gula ACFTA penerimaan
pemerintah dari tarif impor menurun lebih besar yaitu Rp 4.017 triliun dan devisa
impor menurun lebih besar yaitu Rp 10.950 triliun. Secara menyeluruh kebijakan
ini juga menurunkan kesejahteraan masyarakat sebesar Rp 2.774 triliun pada
189
periode 2011-2014 dan Rp 4.223 triliun pada periode 2015-2020. Hal ini
menunjukkan bahwa kebijakan swasembada gula absolut masih belum tepat untuk
dilakukan di Indonesia.
Selanjutnya pada Tabel 56 dapat dilihat skema skenario kebijakan
penghapusan tarif impor gula sesuai dengan kesepakatan perjanjian perdagangan
bebas ACFTA. Kebijakan ini apabila dilakukan oleh pemerintah baik sebelum
liberalisasi perdagangan gula ACFTA (2011-2014) maupun pada era liberalisasi
perdagangan gula ACFTA (2015-2020) maka akan menurunkan surplus produsen.
Penurunan surplus produsen paling tinggi terjadi pada era liberalisasi perdagangan
gula ACFTA yaitu Rp 21.78 miliar, sedangkan sebelum era liberalisasi
perdagangan gula ACFTA surplus produsen menurun sebesar Rp 23.31 miliar.
Tabel 56. Peramalan Dampak Kebijakan Penghapusan Tarif Impor Gula
terhadap Kesejahteraan Pelaku Ekonomi Gula Indonesia Tahun
2011-2014 dan 2015-2020
Rp miliar
No
Komponen
1
Perubahan Surplus Produsen
a. Perusahaan perkebunan besar negara
b. Perusahaan perkebunan besar swasta
c. Perusahaan perkebunan rakyat
2
Perubahan Surplus Konsumen Indonesia
a. Konsumen gula rumah tangga
b. Konsumen gula industri
3
Alternatif Kebijakan
S11
BA
AA
-21.78
-23.31
-3.48
-3.87
-7.97
-10.38
-10.34
-9.06
50.73
25.86
24.87
55.80
28.61
27.19
Perubahan Penerimaan Pemerintah dari Tarif
a. Impor Gula dari Thailand
b. Impor Gula dari China
c. Impor Gula dari Negara Lain
-2 594.57
-1 054.00
-15.57
-1 525.00
-4 017.57
-1 753.00
-49.57
-2 215.00
4
Net Surplus Indonesia
-2 565.62
-3 985.08
5
Perubahan Devisa Impor
a. Impor Gula dari Thailand
b. Impor Gula dari China
c. Impor Gula dari Negara Lain
1 433.02
1 028.00
359.02
46.00
1 866.40
1 335.00
459.40
72.00
: BA = Periode 2011 – 2014
AA = Periode 2015 – 2020
S11 = Penghapusan tarif impor gula
Sumber : Data diolah, 2012
Keterangan
190
Penurunan surplus produsen paling tinggi dialami oleh perusahaan
perkebunan rakyat, yaitu Rp 10.34 miliar pada periode 2011-2014 dan Rp 9.06
miliar pada periode 2015-2020. Penurunan surplus ini dikarenakan penurunan
produksi gula sebesar 0.041 persen (2011-2014) dan 0.043 persen (2015-2020)
yang disebabkan oleh penurunan harga gula tingkat petani dan harga gula tingkat
pedagang besar. Tingginya penurunan surplus produsen perkebunan rakyat
diantara perusahaan perkebunan lainnya menunjukkan bahwa petani yang paling
dirugikan dengan adanya liberalisasi perdagangan gula ACFTA yang diwujudkan
melalui penghapusan tarif.
Lain halnya dengan konsumen, kebijakan ini sangat menguntungkan
konsumen karena adanya tambahan surplus. Penurunan harga gula eceran dan
pedagang besar membuat surplus konsumen Indonesia meningkat Rp 50.73 miliar
pada periode 2011-2014 dan Rp 55.80 miliar pada periode 2015-2020. Surplus
konsumen rumah tangga meningkat lebih tinggi yaitu sebesar Rp 25.86 miliar
(2011-2014) dan Rp 28.61 miliar (2015-2020), sedangkan surplus konsumen
industri hanya meningkat Rp 24.87 miliar (2011-2014) dan Rp 27.19 miliar (20152020). Peningkatan surplus ini karena adanya peningkatan permintaan gula rumah
tangga dan industri akibat penurunan harga gula eceran dan pedagang besar.
Penerimaan pemerintah dari tarif impor mengalami penurunan, namun
devisa impor gula meningkat. Pada periode 2011-2014 penerimaan pemerintah
dari tarif impor menurun sebesar Rp 2.594 triliun dan devisa impor meningkat Rp
1.433 triliun, sedangkan pada periode 2015-2020 penerimaan pemerintah dari tarif
impor menurun lebih besar yaitu Rp 4.017 triliun dan devisa impor meningkat
lebih besar pula yaitu Rp 1.866 triliun. Secara keseluruhan, penghapusan tarif
impor gula sesuai dengan skema ACFTA ini menyebabkan penurunan
kesejahteraan masyarakat (net surplus) yang paling besar diantara kebijakan
lainnya, yaitu sebesar Rp 2.565 triliun (2011-2014) dan Rp 3.985 triliun (20152020).
Berdasarkan Tabel 57 dapat dilihat peramalan dampak skenario simulasi
penurunan tarif impor gula terhadap kesejahteraan pelaku ekonomi gula
Indonesia. Skenario penurunan tarif impor gula sesuai dengan skema penurunan
tarif untuk komoditas HSL yang salah satunya adalah gula terdiri dari penurunan
191
tarif sebesar 10 persen, 30 persen dan 50 persen. Ketiga skenario simulasi ini
menurunkan surplus produsen gula Indonesia. Penurunan surplus produsen gula
terbesar adalah pada skenario penurunan tarif impor 50 persen. Pada periode
2011-2014 surplus produsen menurun sebesar Rp 10.951 miliar dan pada periode
2015-2020 surplus produsen menurun lebih besar yaitu sebesar Rp 11.658 miliar.
Pada skenario penurunan tarif impor 30 persen, surplus produsen menurun
lebih rendah yaitu sebesar Rp 6.571 miliar (2011-2014) dan Rp 7.097 miliar
(2015-2020), sedangkan pada skenario penurunan tarif impor 10 persen surplus
produsen menurun paling rendah, yaitu sebesar Rp 2.191 miliar (2011-2014) dan
Rp 2.380 miliar (2015-2020). Penurunan surplus produsen ini terjadi karena
peningkatan impor gula yang memicu penurunan harga gula tingkat petani dan
pedagang besar sehingga produksi gula pada ketiga perkebunan mengalami
penurunan.
Dari sisi konsumen, peningkatan impor gula menyebabkan harga gula
eceran dan harga gula tingkat pedagang besar mengalami penurunan. Penurunan
harga gula eceran dan tingkat pedagang besar ini direspon dengan peningkatan
permintaan gula baik oleh konsumen gula rumah tangga maupun industri sehingga
surplus konsumen mengalami peningkatan. Tambahan surplus konsumen paling
tinggi juga berada pada skenario simulasi penurunan tarif impor gula 50 persen.
Surplus konsumen akibat kebijakan ini meningkat sebesar Rp 25.361 miliar
(2011-2014) dan meningkat Rp 27.895 miliar (2015-2020). Pada pada skenario
simulasi penurunan tarif impor 30 persen, surplus konsumen mengalami
peningkatan lebih rendah yaitu Rp 16.738 miliar (2011-2014) dan Rp 25.361
miliar (2015-2020). Pada skenario simulasi penurunan tarif impor gula 10 persen,
surplus konsumen juga mengalami peningkatan, namun hanya sebesar Rp 5.124
miliar pada periode 2011-2014 dan Rp 5.286 miliar pada periode 2015-2020.
Peningkatan surplus konsumen industri meningkat lebih besar daripada
peningkatan surplus konsumen rumah tangga baik pada skenario penurunan tarif
impor 10 persen, 30 persen maupun 50 persen. Hal ini menunjukkan bahwa
kebijakan penurunan tarif impor gula lebih berpihak dan menguntungkan bagi
konsumen.
192
Tabel 57. Peramalan Dampak Kebijakan Penurunan Tarif Impor Gula terhadap Kesejahteraan Pelaku Ekonomi Gula Indonesia
Tahun 2011-2014 dan 2015-2020
Rp miliar
No
Komponen
S12
S14
1
Perubahan Surplus Produsen
a. Perusahaan perkebunan besar negara
b. Perusahaan perkebunan besar swasta
c. Perusahaan perkebunan rakyat
BA
-2.191
-0.348
-0.797
-1.045
2
Perubahan Surplus Konsumen Indonesia
a. Konsumen gula rumah tangga
b. Konsumen gula industri
5.124
2.638
2.487
5.286
2.627
2.659
3
Perubahan Penerimaan Pemerintah dari Tarif Impor
a. Impor Gula dari Thailand
b. Impor Gula dari China
c. Impor Gula dari Negara Lain
-219.970
-77.300
8.330
-151.000
-340.950
-132.000
10.050
-219.000
-685.650 -1 062.770 -1 186.910 -1 838.490
-250.100 -424.000 -448.100 -754.600
18.450
20.230
19.790
17.110
-454.000 -659.000 -758.600 -1 101.000
4
Net Surplus Indonesia
-217.036
-338.044
-676.847 -1 053.129 -1 172.500 -1 822.253
5
Perubahan Devisa Impor
a. Impor Gula dari Thailand
b. Impor Gula dari China
c. Impor Gula dari Negara Lain
142.600
102.000
35.600
5.000
184.500
132.000
45.500
7.000
: BA = Periode 2011 – 2014
AA = Periode 2015 – 2020
S12 = Penurunan tarif impor gula 10 persen
S13 = Penurunan tarif impor gula 30 persen
S14 = Penurunan tarif impor gula 50 persen
Sumber : Data diolah, 2012
Keterangan
AA
-2.380
-0.379
-1.016
-0.985
Alternatif Kebijakan
S13
BA
AA
-6.571
-7.097
-1.044
-1.179
-2.391
-3.160
-3.136
-2.758
15.374
7.914
7.460
427.020
306.000
107.020
14.000
16.738
8.464
8.274
555.700
397.000
136.700
22.000
BA
-10.951
-1.739
-3.985
-5.227
AA
-11.658
-1.936
-5.191
-4.531
25.361
12.927
12.434
27.895
14.303
13.592
712.720
511.000
178.720
23.000
928.300
664.000
228.300
36.000
193
Skenario penurunan tarif impor gula ini juga menyebabkan penerimaan
pemerintah dari tarif impor mengalami penurunan. Penurunan penerimaan
pemerintah dari tarif impor paling tinggi adalah pada skenario penurunan tarif 50
persen. Pada periode 2011-2014 penerimaan pemerintah dari tarif impor
mengalami penurunan sebesar Rp 1.838 triliun, sedangkan pada periode 20152020 menurun lebih besar yaitu Rp 1.186 triliun. Hal yang sebaliknya berlaku
pada devisa impor. Devisa impor mengalami peningkatan, dengan peningkatan
paling tinggi terjadi skenario penurunan tarif impor gula 50 persen yaitu Rp
717.720 miliar (2011-2014) dan Rp 928.300 miliar (2015-2020).
Secara keseluruhan, adanya redistribusi pendapatan dari ketiga skenario
penurunan tarif tersebut memberikan penurunan bagi kesejahteraan (net surplus).
Skenario kebijakan penurunan tarif impor 10 persen memberikan penurunan
kesejahteraan masyarakat (net surplus) yang lebih rendah dari simulasi kebijakan
penurunan tarif impor lainnya. Pada periode 2011-2014 penurunan tarif impor 10
persen menurunkan net surplus sebesar Rp 217.036 miliar sedangkan pada
periode 2015-2020 net surplus menurun Rp 338.044 miliar. Penurunan tarif impor
30 persen menyebabkan penurunan net surplus lebih besar lagi yaitu Rp 676.847
miliar (2011-2014) dan Rp 1.053 triliun (2015-2020). Pada simulasi penurunan
tarif impor 50 persen terjadi penurunan kesejahteraan masyarakat yang paling
besar yaitu Rp 1.172 triliun pada periode 2011-2014 dan Rp 1.822 triliun pada
periode 2015-2020.
8.2.2. Peramalan Dampak Simulasi Tunggal Perubahan Faktor Eksternal
Berdasarkan Tabel 58 dapat dilihat peramalan dampak perubahan faktor
eksternal terhadap kesejahteraan pelaku ekonomi gula dan devisa impor. Adapun
perubahan faktor eksternal yang disimulasi adalah (1) peningkatan produksi gula
China 20 persen dan (2) peningkatan produksi gula Thailand dan Brazil 20 persen.
Kedua skenario simulasi ini sama-sama memberikan dampak penurunan terhadap
surplus produsen.
Peningkatan produksi gula China yang menurunkan impor gula China 20
persen menyebabkan harga gula dunia menurun sehingga menurunkan harga gula
tingkat petani sebesar 0.329 persen (2011-2014) dan 0.417 persen (2015-2020)
194
dan harga gula tingkat pedagang besar sebesar 0.330 persen (2011-2014) dan
0.409 persen (2015-2020). Penurunan harga gula tingkat petani dan harga gula
tingkat pedagang besar ini menyebabkan penurunan produksi gula pada masingmasing perkebunan. Inilah yang menyebabkan surplus produsen gula menurun
sebesar Rp 44.29 miliar pada periode 2011-2014 dan menurun Rp 60.39 miliar
pada periode 2015-2020.
Tabel 58. Peramalan Dampak Perubahan Faktor Eksternal terhadap
Kesejahteraan Pelaku Ekonomi Gula Indonesia Tahun 20112014 dan 2015-2020
Rp miliar
No
Komponen
Alternatif Kebijakan
S15
S16
BA
AA
BA
AA
1
Perubahan Surplus Produsen
a. Perusahaan perkebunan besar negara
b. Perusahaan perkebunan besar swasta
c. Perusahaan perkebunan rakyat
-44.29
-7.18
-16.47
-20.65
-60.39
-10.08
-27.08
-23.23
-575.16
-91.28
-215.96
-267.92
2
Perubahan Surplus Konsumen Indonesia
a. Konsumen gula rumah tangga
b. Konsumen gula industri
104.99
53.59
51.39
146.59
75.67
70.92
1 382.64 1 823.34
707.53
947.28
675.11
876.07
3
Perubahan Penerimaan Pemerintah dari Tarif
a. Impor Gula dari Thailand
b. Impor Gula dari China
c. Impor Gula dari Negara Lain
-42.13
-16.00
-0.13
-26.00
-79.81
-32.00
-0.81
-47.00
-568.88 -1 003.74
-216.70 -415.00
-2.18
-10.74
-350.00 -578.00
4
Net Surplus Indonesia
18.56
6.39
5
Perubahan Devisa Impor
a. Impor Gula dari Thailand
b. Impor Gula dari China
c. Impor Gula dari Negara Lain
238.60
-738.69
-119.78
-333.87
-285.05
80.92
-137.39 -215.10 -1 820.65 -2 694.60
-51.00 -87.00 -691.00 -1 112.00
-0.39
-2.10
-6.65
-28.60
-86.00 -126.00 -1 123.00 -1 554.00
: BA = Periode 2011 – 2014
AA = Periode 2015 – 2020
S18 = Peningkatan produksi gula China 20 persen
S19 = Peningkatan produksi gula Thailand dan Brazil 20 persen
Sumber : Data diolah, 2012
Keterangan
Peningkatan produksi gula Thailand dan Brazil juga menyebabkan
penurunan surplus produsen akibat penurunan harga gula dunia yang juga memicu
penurunan harga gula tingkat petani sebesar 4.354 persen (2011-2014) dan 5.154
persen (2015-2020) dan harga gula tingkat pedagang besar sebesar 4.336 persen
195
(2011-2014) dan 5.042 persen (2015-2020). Penurunan harga gula tingkat petani
dan pedagang besar ini sama-sama menyebabkan produksi gula pada ketiga
perkebunan mengalami penurunan baik pada periode 2011-2014 maupun 20152020. Hal ini menyebabkan surplus produsen pada periode 2011-2014 menurun
Rp 575.16 miliar dan pada periode 2015-2020 menurun Rp 738.69 miliar.
Pada skenario peningkatan produksi gula China 20 persen, harga gula
eceran mengalami penurunan sebesar 0.340 persen (2011-2014) dan 0.419 persen
(2015-2020) karena penurunan harga gula dunia. Penurunan harga gula eceran ini
menyebabkan permintaan gula rumah tangga mengalami peningkatan sebesar
0.185 persen pada periode 2011-2014 dan 0.231 persen pada periode 2015-2020,
sehingga persen surplus konsumen rumah tangga meningkatkan sebesar Rp 53.59
miliar pada periode 2011-2014 dan Rp 75.67 miliar pada periode 2015-2020.
Penurunan harga gula tingkat pedagang besar juga menurunkan permintaan gula
industri sebesar sebesar 0.008 persen (2011-2014) dan 0.015 persen (2015-2020)
sehingga surplus konsumen industri meningkat Rp 51.39 miliar dan Rp 70.92
miliar. Demikian halnya dengan skenario peningkatan produksi gula Brazil dan
Thailand 20 persen juga menyebabkan peningkatan surplus konsumen sebesar Rp
1.382 triliun pada periode 2011-2014 dan Rp 1.823 triliun pada periode 20152020. Surplus konsumen Indonesia ini merupakan total dari peningkatan surplus
konsumen rumah tangga dan industri yang meningkat akibat penurunan harga
gula eceran dan pedagang besar sehingga meningkatkan permintaannya.
Penerimaan pemerintah dari tarif impor dan devisa impor pada kedua
skenario perubahan faktor eksternal ini juga mengalami penurunan. Pada periode
2011-2014 penerimaan pemerintah dari tarif impor pada skenario peningkatan
produksi gula China menurun sebesar Rp 42.13 miliar, sedangkan pada skenario
peningkatan ekspor gula Brazil dan Thailand menurun sebesar Rp 568.88 miliar.
Pada periode 2015-2020 penerimaan pemerintah dari tarif impor pada skenario
peningkatan produksi gula China menurun sebesar Rp 79.81 miliar, sedangkan
pada skenario peningkatan impor gula Brazil dan Thailand menurun sebesar
Rp 1.003 triliun.
196
Devisa impor pada skenario simulasi peningkatan produksi gula China
menurun sebesar Rp 137.39 miliar pada periode 2011-2014 dan Rp 215.10 miliar
pada periode 2015-2020, sedangkan pada skenario simulasi peningkatan ekspor
gula Brazil dan Thailand menurun sebesar Rp 1.820 triliun pada periode 20112014 dan Rp 2.694 triliun pada periode 2015-2020. Secara keseluruhan dua
skenario perubahan faktor eksternal ini memberikan peningkatan kesejahteraan
bagi masyarakat Indonesia (net surplus). Pada skenario peningkatan produksi gula
China peningkatan kesejahteraan adalah sebesar Rp 18.56 miliar (2011-2014) dan
Rp 6.39 miliar (2015-2020), sedangkan pada skenario peningkatan ekspor gula
Brazil dan Thailand memberikan peningkatan kesejahteraan sebesar Rp 238.60
miliar (2011-2014) dan Rp 80.92 miliar (2015-2020).
8.2.3. Peramalan Dampak Simulasi Kombinasi Kebijakan Ekonomi di
Sektor Pertanian dan Perubahan Faktor Eksternal
Tabel 59 menunjukkan kompilasi dari peramalan dampak kebijakan
ekonomi di sektor pertanian dan perubahan faktor eksternal terhadap
kesejahteraan pelaku ekonomi gula dan penerimaan devisa impor baik apabila
diterapkan sebelum era liberalisasi perdagangan gula ACFTA (2011-2014)
maupun pada era liberalisasi perdagangan gula ACFTA (2015-2020). Adapun
kombinasi kebijakan ekonomi di sektor pertanian yang dilakukan meliputi
simulasi kombinasi tarif impor, harga gula di tingkat petani, peningkatan stok
gula, peningkatan luas areal, dan penurunan impor gula China.
Simulasi 17 (S17) menunjukkan bahwa simulasi penurunan tarif impor 50
persen yang diikuti dengan peningkatan harga gula tingkat petani sebesar 30
persen menyebabkan peningkatan surplus produsen sebesar Rp 1.972 triliun
(2011-2014)
dan
Rp
1.758
triliun
(2015-2020).
Peningkatan
tersebut
disumbangkan oleh peningkatan surplus produsen pada perkebunan rakyat yang
meningkat sebesar Rp 1.989 triliun (2011-2014) dan Rp 1.777 triliun (20152020). Peningkatan surplus produsen perkebunan rakyat ini dikarenakan kebijakan
peningkatan harga gula tingkat petani 30 persen akan menyebabkan peningkatan
produksi gula kristal putih petani perkebunan rakyat sebesar 11.296 persen (20112014) dan 12.417 persen (2015-2020). Namun, pada skenario kebijakan ini terjadi
trade off dimana perkebunan besar negara dan swasta mengalami penurunan
197
surplus produsen. Perkebunan besar negara menurun sebesar Rp 5.02 miliar
(2011-2014) dan Rp 5.30 miliar (2015-2020) sedangkan perkebunan besar swasta
menurun sebesar Rp 11.51 miliar pada 2011-2014 dan Rp 14.22 miliar pada 20152020. Penurunan ini disebabkan adanya penurunan harga gula tingkat pedagang
besar sebesar 0.231 persen (2011-2014) dan 0.214 persen (2015-2020) yang
menyebabkan produksi perkebunan besar negara dan swasta mengalami
penurunan.
Dari sisi konsumen peningkatan impor gula Indonesia menyebabkan harga
gula eceran menurun sebesar 0.236 persen (2011-2014) dan 0.218 persen (20152020) yang kemudian direspon dengan peningkatan permintaan rumah tangga
sebesar 0.135 persen (2011-2014) dan 0.125 persen (2015-2020). Hal ini
menyebabkan peningkatan surplus konsumen rumah tangga sebesar Rp 37.21
miliar sebelum periode liberalisasi gula ACFTA dan meningkat lebih besar yaitu
Rp 39.42 miliar apabila diterapkan pada era liberalisasi perdagangan gula
ACFTA. Penurunan harga gula tingkat pedagang besar sebesar 0.231 persen
(2011-2014) dan 0.214 persen (2015-2020) menyebabkan peningkatan permintaan
gula industri sebesar 0.007 persen (2011-2014) dan 0.009 persen (2015-2020),
sehingga surplus konsumen industri meningkat sebesar Rp 35.92 miliar (20112014) dan Rp 37.23 miliar (2015-2020).
Penurunan tarif impor juga menyebabkan penurunan penerimaan
pemerintah dari tarif impor dan penurunan devisa impor. Penerimaan pemerintah
dari tarif impor menurun sebesar Rp 1.199 triliun (2011-2014) dan Rp 1.853
triliun (2015-2020) dengan penurunan yang hanya terjadi pada impor gula yang
berasal dari Thailand. Sebaliknya, devisa impor Indonesia mengalami peningkatan
yang cukup besar akibat kebijakan ini, yaitu Rp 633.22 miliar (2011-2014) dan Rp
845.80 miliar (2015-2020). Secara keseluruhan, apabila kebijakan ini diterapkan
akan memberikan dampak peningkatan kesejahteraan masyarakat (net surplus)
yang cukup besar pada periode 2011-2014 Rp 846.26 miliar namun menurunkan
kesejahteraan masyarakat pada 2015-2020 sebesar Rp 18.31 miliar. Penurunan ini
disebabkan penurunan penerimaan pemerintah dari tarif impor yang lebih besar
pada periode 2015-2020 dibandingkan pada periode 2011-2014.
198
Rp miliar
No
Komponen
S17
AA
1 758.18
-5.30
-14.22
1 777.70
76.65
39.42
37.23
Alternatif Kebijakan
S18
S19
BA
AA
BA
AA
2 167.71 1 906.48 1 937.19 1 712.42
-35.24
-43.06
-15.73
-17.67
-84.71
-120.52
-36.21
-47.61
2 287.66 2 070.06 1 989.13 1 777.70
S20
BA
AA
2 153.13 1 895.72
-39.50
-45.87
-95.04
-128.47
2 287.66 2 070.06
1
Perubahan Surplus Produsen
a. Perusahaan perkebunan besar negara
b. Perusahaan perkebunan besar swasta
c. Perusahaan perkebunan rakyat
BA
1 972.60
-5.02
-11.51
1 989.13
2
Perubahan Surplus Konsumen Indonesia
a. Konsumen gula rumah tangga
b. Konsumen gula industri
73.13
37.21
35.92
3
Perubahan Penerimaan Pemerintah dari Tarif Impor
a. Impor Gula dari Thailand
b. Impor Gula dari China
c. Impor Gula dari Negara Lain
4
Net Surplus Indonesia
846.26
-18.31
1 305.85
435.70
927.27
60.17
1 325.79
445.96
5
Perubahan Devisa Impor
a. Impor Gula dari Thailand
b. Impor Gula dari China
c. Impor Gula dari Negara Lain
633.22
450.00
162.22
21.00
845.80
601.00
211.80
33.00
35.78
-6.00
40.78
1.00
103.40
36.00
63.40
4.00
369.92
280.00
158.92
-69.00
539.10
430.00
205.10
-96.00
-81.13
-119.00
40.87
-3.00
27.40
-37.00
63.40
1.00
429.85
218.99
210.86
519.39
268.44
250.94
230.37
117.35
113.02
257.77
133.06
124.71
482.16
245.59
236.57
-1 199.47 -1 853.15 -1 291.71 -1 990.17 -1 240.29 -1 910.01 -1 309.50 -2 003.37
-457.70
-766.20
-528.10
-870.00
-483.90
-797.80
-545.30
-883.20
17.23
14.05
-1.51
-13.17
16.71
12.79
-1.50
-13.17
-759.00 -1 101.00
-762.10 -1 107.00
-773.10 -1 125.00
-762.70 -1 107.00
= Periode 2011 – 2014
= Periode 2015 – 2020
= Kombinasi penurunan tarif impor 50 persen dan peningkatan harga gula petani 30 persen
= Kombinasi penurunan tarif impor 50 persen, peningkatan harga gula petani 30 persen dan peningkatan luas areal 30 persen
= Kombinasi peningkatan produksi gula China 20 persen, penurunan tarif impor 50 persen, peningkatan harga gula petani 30 persen,
dan peningkatan stok gula 20 persen
S20 = Kombinasi penurunan tarif impor 50 persen, peningkatan harga gula petani 30 persen, peningkatan luas areal 30 persen dan
peningkatan stok gula 20 persen
Sumber : Data diolah, 2012
Keterangan :
BA
AA
S17
S18
S19
553.61
286.10
267.50
198
Tabel 59. Peramalan Dampak Simulasi Kombinasi Kebijakan Ekonomi di Sektor Pertanian dan Perubahan Faktor Eksternal
terhadap Kesejahteraan Pelaku Ekonomi Gula Indonesia Tahun 2011-2014 dan 2015-2020
199
Simulasi 18 (S18) yang merupakan simulasi penurunan tarif impor 50
persen, peningkatan harga gula tingkat petani 30 persen dan peningkatan luas
areal 30 persen memberikan peningkatan surplus produsen sebesar Rp 2.167
triliun (2011-2014) dan Rp 1.906 triliun (2015-2020). Peningkatan ini
dikarenakan adanya peningkatan harga gula petani 30 persen dan peningkatan luas
areal 30 persen yang memacu petani sehingga mampu meningkatkan produksi
gula Indonesia sebesar 25.366 persen dan 28.999 persen. Namun, jika dikaji lebih
lanjut terjadi trade off antara produsen perkebunan besar swasta dengan
perkebunan besar negara dan rakyat. Hal ini terjadi karena perkebunan besar
swasta tidak merasakan dampak peningkatan harga gula tingkat petani sebesar 30
persen, karena perkebunan besar negara dan swasta dipengaruhi oleh harga gula
tingkat pedagang besar yang mengalami penurunan sebesar 1.355 persen (20112014) dan 1.445 persen (2015-2020).
Ditinjau dari sisi konsumen peningkatan impor gula Indonesia akibat
peningkatan produksi sehingga penawaran gula meningkat menyebabkan harga
gula eceran menurun sebesar 1.386 persen (2011-2014) dan 1.482 persen (20152020) yang kemudian direspon dengan peningkatan permintaan rumah tangga
sebesar 0.794 persen (2011-2014) dan 0.843 persen (2015-2020). Hal ini
menyebabkan peningkatan surplus konsumen rumah tangga sebesar Rp 218.99
miliar sebelum periode liberalisasi gula ACFTA dan meningkat lebih besar yaitu
Rp 268.44 miliar apabila diterapkan pada era liberalisasi perdagangan gula
ACFTA. Penurunan harga gula tingkat pedagang besar sebesar 1.355 persen
(2011-2014) dan 1.445 persen (2015-2020) menyebabkan peningkatan permintaan
gula industri sebesar 0.042 persen (2011-2014) dan 0.064 persen (2015-2020).
Hal ini menyebabkan surplus konsumen industri meningkat lebih besar yaitu
Rp 210.86 miliar (2011-2014) dan Rp 250.94 miliar (2015-2020). Secara total,
surplus konsumen Indonesia meningkat Rp 429.85 miliar (2011-2014) dan Rp
519.39 miliar (2015-2020) akibat simulasi ini
Penurunan impor gula Indonesia yang terjadi akibat kebijakan ini
menyebabkan penurunan penerimaan pemerintah dari tarif dan devisa negara.
Penerimaan pemerintah dari tarif menurun sebesar Rp 1.291 triliun (2011-2014)
dan Rp 1.990 triliun (2015-2020), sedangkan devisa impor meningkat sebesar
200
sebesar Rp 35.78 miliar (2011-2014) dan Rp 103.40 miliar (2015-2020). Namun,
secara keseluruhan dengan adanya redistribusi pendapatan kebijakan ini masih
memberikan peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat (net surplus) sebesar
Rp 1.305 triliun dan Rp 435.70 miliar.
Simulasi 19 (S19) yang merupakan kombinasi dari empat kebijakan yang
meliputi tarif, harga gula petani, luas areal, dan perubahan faktor eksternal berupa
penurunan impor gula China memberikan dampak peningkatan surplus produsen
yang cukup besar yaitu sebesar Rp 1.937 triliun pada 2011-2014 dan Rp 1.712
triliun pada 2015-2020. Peningkatan tersebut diberikan oleh peningkatan surplus
produsen pada perkebunan rakyat yang meningkat sebesar Rp 1.989 triliun (20112014) dan Rp 1.777 triliun (2015-2020). Peningkatan surplus produsen
perkebunan rakyat ini dikarenakan adanya kebijakan peningkatan harga gula
tingkat petani 30 persen sehingga menyebabkan peningkatan produksi gula kristal
putih petani perkebunan rakyat sebesar 11.296 persen (2011-2014) dan 12.417
persen (2015-2020). Pada kebijakan ini juga terjadi trade off antara perkebunan
besar besar negara dan swasta dengan perkebunan rakyat. Surplus perkebunan
besar negara menurun sebesar Rp 15.73 miliar (2011-2014) dan Rp 17.67 miliar
(2015-2020) sedangkan perkebunan besar swasta menurun sebesar Rp 36.21
miliar pada 2011-2014 dan Rp 47.61 miliar pada 2015-2020. Penurunan ini
disebabkan adanya penurunan harga gula tingkat pedagang besar sebesar 0.726
persen (2011-2014) dan 0.718 persen (2015-2020) yang menyebabkan produksi
perkebunan besar negara dan swasta mengalami penurunan.
Pada kebijakan ini, konsumen juga memperoleh tambahan surplus sebesar
Rp 230.37 miliar pada periode 2011-2014 dan Rp 257.77 miliar pada periode
2015-2020. Tambahan surplus terjadi karena adanya tambahan surplus yang
diterima oleh konsumen rumah tangga dan industri. Penurunan harga gula eceran
sebesar 0.744 persen (2011-2014) dan 0.736 persen (2015-2020) akibat
peningkatan penawaran gula meningkatkan permintaan gula rumah tangga
sehingga konsumen rumah tangga memperoleh tambahan surplus sebesar Rp
117.35 miliar (2011-2014) dan Rp 133.06 miliar (2015-2020). Penurunan harga
pedagang besar menyebabkan peningkatan permintaan industri sebesar 0.021
201
persen (2011-2014) dan 0.029 persen (2015-2020) sehingga surplus konsumen
industri mengalami peningkatan sebesar Rp 113.02 miliar dan Rp 124.71 miliar.
Penerimaan pemerintah dari tarif dan devisa impor juga mengalami
penurunan akibat adanya penurunan tarif impor. Penerimaan pemerintah menurun
sebesar Rp 1.240 triliun (2011-2014) dan Rp 1.910 triliun (2015-2020). Devisa
impor masih mengalami peningkatan karena peningkatan impor gula Indonesia
yaitu sebesar Rp 369.92 miliar pada periode 2011-2014 dan Rp 539.10 miliar
pada periode 2015-2020. Namun, secara keseluruhan kebijakan ini juga masih
memberikan peningkatan kesejahteraan masyarakat (net surplus) sebesar Rp
927.27 miliar (2011-2014) dan Rp 60.17 miliar (2015-2020).
Simulasi 20 (S20) merupakan simulasi yang juga menggunakan empat
simulasi yang meliputi penurunan tarif, harga gula tingkat petani, luas areal dan
stok gula. Simulasi ini memberikan peningkatan surplus produsen yang besar
yaitu Rp 2.153 triliun pada 2011-2014 dan Rp 1.895 triliun pada 2015-2020.
Peningkatan harga gula tingkat petani sebesar 30 persen dan peningkatan luas
areal 30 persen yang menyebabkan produksi gula Indonesia mengalami
peningkatan sebesar 25.348 persen pada periode 2011-2014 dan 28.987 persen
pada periode 2015-2020. Pada kebijakan ini juga terjadi trade off pada
perkebunan besar negara dan swasta karena tidak merasakan dampak peningkatan
harga gula tingkat petani. Perkebunan besar negara menurun sebesar Rp 39.50
miliar (2011-2014) dan Rp 45.87 miliar (2015-2020) sedangkan perkebunan besar
swasta menurun lebih besar yaitu Rp 95.04 miliar pada 2011-2014 dan Rp 128.47
miliar pada 2015-2020. Penurunan ini disebabkan adanya penurunan harga gula
tingkat pedagang besar sebesar 1.520 persen (2011-2014) dan 1.540 persen (20152020) yang menyebabkan produksi perkebunan besar negara dan swasta
mengalami penurunan.
Pada simulasi ini, konsumen juga memperoleh tambahan surplus yang
paling besar diantara simulasi lainnya, yaitu sebesar Rp 482.16 miliar pada
periode 2011-2014 dan Rp 553.61 miliar pada periode 2015-2020. Tambahan
surplus terjadi karena adanya tambahan surplus yang diterima oleh konsumen
rumah tangga dan industri. Penurunan harga gula eceran sebesar 1.554 persen
(2011-2014) dan 1.579 persen (2015-2020) akibat peningkatan penawaran gula
202
meningkatkan permintaan gula rumah tangga sehingga konsumen rumah tangga
memperoleh tambahan surplus sebesar Rp 245.59 miliar (2011-2014) dan Rp
268.10 miliar (2015-2020). Penurunan harga pedagang besar menyebabkan
peningkatan permintaan industri sebesar 0.048 persen (2011-2014) dan 0.068
persen (2015-2020) sehingga surplus konsumen industri mengalami peningkatan
sebesar Rp 236.57 miliar dan Rp 267.50 miliar.
Penerimaan pemerintah dari tarif dan devisa impor juga mengalami
penurunan akibat kebijakan ini. Penurunan ini dikarenakan adanya penurunan tarif
sebesar 50 persen pada kedua periode. Penerimaan pemerintah menurun sebesar
Rp 1.309 triliun pada periode 2011-2014 dan Rp 2.003 triliun pada periode 20152020. Devisa impor mengalami penurunan pada periode 2011-2014 Rp 81.13
miliar namun mengalami peningkatan pada periode 2015-2020 Rp 27.40 miliar
pada periode 2015-2020. Namun, secara keseluruhan kebijakan ini memberikan
peningkatan kesejahteraan masyarakat yang paling besar diantara kebijakan
lainnya, yaitu meningkat sebesar Rp 1.325 triliun apabila kebijakan diterapkan
sebelum periode liberalisasi gula ACFTA dan meningkat sebesar Rp 445.96
miliar apabila diterapkan pada periode liberalisasi gula ACFTA. Rendahnya net
surplus pada periode 2015-2020 disebabkan tingginya penurunan penerimaan
pemerintah dari tarif impor pada periode ini dibanding periode 2011-2014.
Namun, dilihat dari surplus yang diterima oleh konsumen dan produsen pada
simulasi kebijakan ini lebih tinggi dibanding pada simulasi yang lain, sehingga
kebijakan ini dapat menjadi alternatif kebijakan yang tepat untuk diterapkan
dalam rangka implementasi perjanjian perdagangan bebas ACFTA 2015.
203
IX. KESIMPULAN DAN SARAN
9.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dikemukakan di atas, maka dapat
ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Analisis terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran dan permintaan
gula di pasar domestik dan dunia menunjukkan bahwa :
a. Pada luas areal perkebunan rakyat variabel harga gula tingkat petani
berpengaruh secara tidak nyata terhadap peningkatan luas areal perkebunan.
Peningkatan harga gula tingkat petani sering kali diikuti dengan peningkatan
biaya produksi yang harus dikeluarkan oleh petani selama masa tanam,
sedangkan respon produktivitas gula hablur baik negara, swasta, dan rakyat
kurang responsif terhadap peningkatan luas areal perkebunannya.
b. Permintaan gula Indonesia merupakan penjumlahan dari permintaan gula
untuk konsumsi rumah tangga dan permintaan gula untuk kebutuhan
industri. Permintaan gula rumah tangga dipengaruhi secara nyata oleh harga
riil gula eceran, pertumbuhan PDB riil Indonesia, populasi, dan permintaan
gula rumah tangga tahun t-1, sedangkan permintaan gula oleh industri hanya
dipengaruhi secara nyata oleh PDB riil sektor makanan dan minuman t-2
serta permintaan gula industri tahun t-1.
c. Perilaku harga riil impor gula Indonesia dipengaruhi secara nyata oleh harga
riil gula dunia tahun t-1. Harga riil impor gula Indonesia ini juga
berpengaruh secara nyata terhadap harga riil gula eceran. Harga riil gula
eceran kemudian berpengaruh secara nyata terhadap harga riil gula tingkat
pedagang besar dan harga riil gula tingkat pedagang besar berpengaruh pula
secara nyata terhadap harga riil gula tingkat petani.
d. Pada perilaku impor gula Indonesia dari kedua negara eksportir diketahui
bahwa impor gula Indonesia dari China lebih responsif dibandingkan impor
gula Indonesia dari Thailand terhadap perubahan tarif impor gula, tetapi
pangsa impor gula Indonesia dari Thailand lebih besar daripada pangsa
impor gula dari China sehingga kebijakan penurunan tarif impor yang sama
akan meningkatkan impor gula yang lebih besar dari Thailand. Indonesia
204
mempunyai ketergantungan yang lebih besar terhadap impor gula dari
Thailand dibanding impor gula dari China.
e. Pada perilaku ekspor gula pada negara eksportir terbesar yaitu Brazil dan
Thailand diketahui bahwa produksi gula berpengaruh secara nyata terhadap
ekspor gula di kedua negara tersebut. Respon perubahan ekspor terhadap
perubahan produksi gula pada kedua negara eksportir bersifat elastis.
Namun, ekspor gula Brazil terhadap perubahan produksinya lebih responsif
daripada ekspor gula Thailand terhadap perubahan produksinya.
f. Pada perilaku impor gula negara importir gula terbesar di dunia yaitu India,
Amerika, dan China terdapat variabel yang berpengaruh secara nyata yaitu
harga riil gula dunia. Impor gula India, Amerika Serikat, dan China masingmasing sangat responsif terhadap perubahan produksi gulanya. Peningkatan
produksi gula sebesar 1 persen pada negara importir akan menurunkan lebih
dari 1 persen impor gulanya. Peningkatan pertumbuhan penduduk baik di
China maupun di India berpengaruh secara nyata terhadap peningkatan
impor gulanya.
2. Kebijakan ekonomi di sektor pertanian yang meliputi skenario peningkatan
harga gula sebesar 25 persen, peningkatan harga pupuk sebesar 33 persen
berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat (net surplus),
sedangkan skenario penurunan tarif impor gula 49 persen, peningkatan luas
areal 20 persen, dan penurunan kuota impor 50 persen berdampak pada
penurunan kesejahteraan masyarakat (net surplus). Alternatif kebijakan yang
memberikan kondisi terbaik dalam mendukung usaha perkebunan rakyat
adalah kebijakan peningkatan harga gula 25 persen karena memberikan
peningkatan surplus bagi produsen perkebunan paling besar terutama bagi
perkebunan rakyat.
3. Peramalan dampak kebijakan penghapusan tarif impor sesuai skema ACFTA
akan menyebabkan penurunan kesejahteraan masyarakat (net surplus) yang
sangat tinggi. Kombinasi penurunan tarif impor 50 persen, peningkatan harga
gula 30 persen, peningkatan luas areal 30 persen, dan peningkatan stok gula 20
persen yang merepresentasikan penguatan peran BULOG dapat menjadi
alternatif kebijakan yang memberikan kondisi terbaik bagi industri gula
205
Indonesia karena tidak memberikan dampak negatif bagi pelaku ekonomi gula,
memberikan net surplus yang besar dan mampu mendorong peningkatan
produksi gula kristal putih sehingga mengurangi ketergantungan Indonesia
akan impor gula.
9.2. Saran
9.2.1. Saran Kebijakan
1.
Kebijakan penghapusan tarif impor gula belum tepat untuk diterapkan di
Indonesia pada era liberalisasi perdagangan gula ACFTA karena memberikan
dampak negatif bagi produsen gula terutama petani perkebunan rakyat dan
menyebabkan penurunan kesejahteraan masyarakat yang besar. Pemerintah
sebaiknya memilih opsi menurunkan tarif sampai dengan 50 persen sesuai
dengan ketentuan yang masih diperbolehkan dalam perjanjian ACFTA.
2.
Peningkatan produksi gula China dan penurunan tarif impor gula 50 persen
yang menyebabkan penurunan surplus produsen sebaiknya diantisipasi oleh
pemerintah dengan kebijakan peningkatan harga gula tingkat petani 30 persen
dan peningkatan stok gula sebagai representasi dari penguatan kembali peran
BULOG. Kebijakan kombinasi ini mampu memberikan peningkatan
kesejahteraan bagi produsen dan konsumen serta secara menyeluruh
memberikan peningkatan kesejahteraan masyarakat (net surplus) yang besar.
3.
Kebijakan swasembada absolut gula tanpa adanya impor juga masih belum
dapat dilakukan dalam kondisi industri gula Indonesia saat ini. Impor
sebaiknya tetap dilakukan untuk mengurangi kerugian konsumen akibat
berkurangnya kesejahteraan. Kebijakan impor yang diikuti dengan penurunan
tarif impor dalam era liberalisasi ACFTA sebaiknya dikombinasikan dengan
kebijakan peningkatan harga gula tingkat petani. Peningkatan harga gula akan
menjadi insentif bagi petani tebu rakyat sebagai produsen terbesar sehingga
mampu mendorong peningkatan produksi.
4.
Kebijakan ekstensifikasi lahan pertanian akan menyebabkan penurunan
kesejahteraan yang besar bagi produsen karena peningkatan produksi gula
menyebabkan harga yang diterima petani menjadi lebih rendah. Kebijakan
ekstensifikasi lahan akan efektif apabila diikuti dengan kebijakan lain yang
206
memacu peningkatan produksi, yaitu melalui peningkatan harga gula dan
adanya lembaga yang mengatur pasokan gula dipasaran ketika harga gula
konsumen meningkat sehingga stabilitas harga tetap terjaga.
5.
Dalam rangka menghadapi pasar bebas ASEAN-China dan target
swasembada gula, pemerintah sebaiknya menerapkan kebijakan penurunan
tarif 50 persen sesuai dengan yang masih diperbolehkan dalam perjanjian
ACFTA. Namun, untuk mengurangi peningkatan impor penguatan industri
gula domestik perlu dilakukan dengan menerapkan kebijakan peningkatan
harga gula petani 30 persen, mewujudkan peningkatan luas areal 30 persen,
dan peningkatan stok gula 20 persen yang merepresentasikan penguatan
kembali peran BULOG. Selain memberikan peningkatan kesejahteraan
masyarakat (net surplus) yang besar, kebijakan kombinasi ini juga mampu
meningkatkan produksi gula Indonesia. Wacana penguatan kembali peran
BULOG sebaiknya segera direalisasikan oleh pemerintah. Dengan demikian,
diharapkan Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri
tetapi juga mampu mengekspor gula.
9.2.2. Saran Penelitian Lanjutan
1.
Penelitian ini tidak melakukan disagregasi wilayah kajian. Pembedaan
wilayah kajian ini penting untuk dilakukan sebab selama ini sentra produksi
berada pada wilayah barat dan non sentra produksi adalah wilayah timur
Indonesia. Hal ini sangat terkait dengan perilaku impor dan ketersediaan stok
pada kedua wilayah tersebut yang berbeda, sehingga diharapkan dapat
disusun suatu kebijakan pengembangan industri gula yang spesifik pada
tingkat kewilayahan.
2.
Pada penelitian selanjutnya perlu dipertimbangkan pula penyusunan model
perdagangan gula yang dibedakan berdasarkan jenisnya gula. Gula kristal
putih, gula mentah dan gula kristal rafinasi mempunyai perilaku yang berbeda
sehingga dapat dirumuskan kebijakan yang lebih spesifik berdasarkan jenis
gulanya.
3.
Penelitian ini belum menggambarkan dampak kebijakan perdagangan
terhadap kesejahteraan konsumen industri makanan dan minuman yang
207
menggunakan gula kristal putih dan gula kristal rafinasi, serta industri farmasi
dan industri MSG untuk konsumen langsung gula mentah. Sehingga pada
penelitian selanjutnya dapat dilakukan penelitian yang juga mengkaji
kesejahteraan konsumen pada pelaku industri gula tersebut.
4.
Dalam penelitian selanjutnya dapat dimasukan kebijakan yang diterapkan
oleh masing-masing negara eksportir ke Indonesia, sehingga akan lebih
komprehensif dalam menggambarkan kondisi perdagangan gula dunia.
208
209
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Z. 2000. Dampak Liberalisasi Perdagangan terhadap Keragaan Industri
Gula Indonesia : Suatu Analisis Kebijakan. Disertasi Doktor. Sekolah
Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Amang, B. 1993. Kebijaksanaan Pemasaran Gula di Indonesia. PT Dharma Karsa
Utama, Jakarta.
Ariff, M.M. Lesson From The Sugar Crunch. Ministry of Domestic Trade.
http://kpdnkk.bernama.com/news.php?id=225422&. Diakses 22 Maret
2011.
Arifin,
B.
2011.
Swasembada
Gula
2014
Sulit
Tercapai.
http://metrotvnews.com/read/analisdetail/2012/01/20/242/SwasembadaGula-2014-Sulit-Tercapai. Diakses Tanggal 6 Maret 2011.
Arifin, S., D. Ediana, dan Charles P. 2007. Kerjasama Perdagangan Internasional :
Peluang dan Tantangan bagi Indonesia. PT Elex Media Komputindo,
Jakarta.
Badan Pusat Statistik. 2011. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan II-2011.
Badan Pusat Statistik, Jakarta.
Basri, F. 2010. Menyikapi ASEAN-China FTA. http://kompasiana.com/faisalbasri.
Diakses tanggal 28 Desember 2011.
Chiang, A.C. 2005. Fundamental Methods of Mathematical. Economics. Fourth
Edition. Mc.Graw Hill Inc, New York.
Debertin, D.L. 1986. Agricultural Production Economics. MacMillan Publishing
Company, New York.
Ditjen KPI. 2005. Implementasi Penurunan Tarif Bea Masuk dalam Perjanjian
Perdagangan Bebas ASEAN-China. Kementerian Perdagangan, Jakarta.
Dewan Gula Indonesia. 1999. Restrukturisasi Gula Indonesia. Publikasi Interen
DGI dan Bahan Diskusi Reformasi. Dewan Gula Indonesia, Jakarta.
Dolan, E.G. 2006. Introduction to Microeconomics. Second Edition. Best Value
Textbooks Publisher Llc, Redding.
Ellison, S.F. and W.P. Mullin. 1995. Economics and Politics : The Case of Sugar
Tariff Reform. Journal of Law and Economics, 38(2): 335-366.
210
Food and Agriculture Organization Statistics Division. 2008. Crops and Livestock
Products.
http://faostat.fao.org/site/535/desktopDefault.aspx?PageID=
535#ancor. Diakses 13 November 2011.
Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman. 2010. Gerakan Nasional Penerapan
Standart Nasional Indonesia. Food Review Indonesia, 5(7): 20-21.
Gujarati, D. 2004. Basic Econometrics. Fourth Edition. Mc.Graw Hill Inc, New
York.
Hadi, P.U. dan S. Nuryanti. 2005. Dampak Kebijakan Proteksi terhadap Ekonomi
Gula Indonesia. Jurnal Agro Ekonomi, 23(1): 82-89.
Hafsah, M.J. 2003. Bisnis Gula di Indonesia. Pustaka Sinar Harapan, Jakarta.
Hallam, D. 1990. Econometric Modelling of Agricultural Commodity Markets.
Routledge, London.
Hariyati, Y. 2003. Performansi Perdagangan Beras dan Gula Indonesia Pada Era
Liberalisasi Perdagangan. Disertasi Doktor. Universitas Brawijaya,
Malang, Malang.
Henderson, J.M. and R.E. Quandt. 1980. Microeconomic Theory : A
Mathematical Approach. Third Edition. Mc.Graw Hill Inc, New York.
Hutabarat, B. 2011. Perdagangan Bebas Wilayah ASEAN-China : Implikasinya
Terhadap Perdagangan dan Investasi Pertanian Indonesia. Jurnal Analisis
Kebijakan Pertanian, 9(1): 19-31.
Kartadjoemena, H.S. 2002. GATT dan WTO : Sistem, Forum dan Lembaga
Internasional di Bidang Perdagangan. UI Press, Jakarta.
Kementerian Keuangan. 2009. Peraturan Menteri Keuangan Nomor
150/PMK.011/2009 tentang Penetapan Tarif Bea Masuk Atas Impor
Gula. Kementeriaan Keuangan, Jakarta.
____________________. 2011. ASEAN-CHINA Free Trade Area.
http://www.tarif.depkeu.go.id/Others/?hi=AC-FTA. Diakses tanggal 3
Maret 2012.
Kementeriaan Perdagangan. 2009. Surat Keputusan Menteri Perdagangan No.
111/M-DAG/2/2009 tentang Petunjuk Pendistribusian Gula Rafinasi.
Kementeriaan Perdagangan, Jakarta.
______________________. 2012. Statistik Neraca Perdagangan Indonesia dengan
Republik Rakyat China Periode 2007-2012. Kementerian Perdagangan,
Jakarta.
211
Kementerian Perindustrian. 2008. Peraturan Menteri Perindustrian Republik
Indonesia Nomo 44/M-IND/PER/4/2008 tentang Program Restrukturisasi
Mesin/Peralatan Pabrik Gula. Kementeriaan Perindustrian, Jakarta.
_________________. 2009. Roadmap Industri Gula Indonesia. Direktorat
Jenderal Industri Agro dan Kimia, Kementerian Perindustrian, Jakarta.
Kementeriaan Pertanian. 2010. Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian.
http://www.deptan.go.id/pusdatin/tampil.php?page=berita-&id-214.
Diakses tanggal 3 Maret 2012.
____________________. 2012. Laporan Kinerja Kementerian Pertanian Tahun
2011. Kementerian Pertanian, Jakarta.
Khudori. 2005. Gula Rasa Neoliberalisme : Pergumulan Empat Abad Industri
Gula. Penerbit Pustaka LP3ES Indonesia, Jakarta.
KPPU. 2010. Position Paper Komisi Pengawasan Persaingan Usaha terhadap
kebijakan dalam Industri Gula. Komisi Pengawas Persaingan Usaha,
Jakarta.
Koutsoyiannis, A. 1977. Theory of Econometrics. Second Edition. Macmillan
Publisher Ltd, London.
_______________. 1985. Modern Microeconomics. Second Edition. Macmillan
Publisher Ltd, London.
Kustia, A. 2004. Ekonomi Gula 11 Negara Pemain Utama Dunia : Kajian
Komparasi dari Perspektif Indonesia. Sekretariat Dewan Ketahanan
Pangan, Jakarta.
Li, Y.R. and Y.A. Wei. 2006. Sugar Industry in China : R & D and Policy
Initiatives Meet Sugar and Biofuel Demand of Future. Sugar Tech, 8(4):
203-216.
Malian, A.H. dan Saptana. 2003. Dampak Peningkatan Tarif Gula terhadap
Pendapatan Petani Tebu. Media SOCA (Socio Economic of Agriculture
and Agribussines), 3(2): 107-124.
Mulyana, A. 1998. Keragaan Penawaran dan Permintaan Beras Indonesia dan
Prospek Swasembada Menuju Era Perdagangan Bebas : Suatu Analisis
Simulasi. Disertasi Doktor. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian
Bogor, Bogor.
Natsir,
M. 2012. Atasi Masalah Gula, Pemerintah Harus Tegas.
http://regional.kompas.com/read/2012/01/16/08141354/Atasi.Masalah.Gula.
Pemerintah.Harus.Tegas. Diakses Tanggal 7 Juni 2012.
212
Nerlove, B. 1958. The Dynamics for Supply : Estimation of Farmers to Price. The
John Hopkins Press, Baltimore.
Oktaviani, R., T. Novianti, dan Widyastutik. 2010. Teori Kebijakan Perdagangan
Internasional dan Aplikasinya di Indonesia Bagian II. Penerbit
Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut
Pertanian Bogor, Bogor.
Pambudy, R., S. Mardianto, dan N. Syafa’at. 2005. Kebijakan Proteksi dan
Promosi Agribisnis Gula Dunia dan Prospek Pengembangannya di
Indonesia. Agro-Ekonomika, 35(1): 49-72.
Pasaribu,
D.
2010.
ACFTA,
Ancaman
atau
Peluang?
http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2010/04/22/. Diakses tanggal 8
Maret 2012.
Pindyck, R. S. and D.L Rubinfeld. 1998. Econometric Models and Economic
Forecasts. Fourth Edition. McGraw-Hill Inc, New York.
Purwanto, S. K. 2002. Dampak Kebijakan Domestik dan Faktor Eksternal
terhadap Perdagangan Dunia Minyak Nabati. Tesis Magister Sains.
Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian. 2009. Outlook Kinerja Perdagangan
Komoditas Pertanian. Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian, 1(1): 512.
Renstrabun. 2010. Rencana Strategis Pembangunan Perkebunan 2010-2014.
Direktorat Jenderal Perkebunan Kementeriaan Pertanian, Jakarta.
Samuelson, P. dan W. Nordhaus. 2003. Ilmu Mikroekonomi. PT Media Global
Edukasi, Jakarta.
Sanjaya, I.M. 2009. Proyeksi Penawaran Tebu Indonesia Tahun 2025: Analisis
Respon Penawaran. Tesis Magister Sains. Sekolah Pascasarjana, Institut
Pertanian Bogor, Bogor.
Sinaga, B.M. 1989. Econometric Model of The Indonesian Hardwood Product
Industry : A Policy Simulation Analysis. Ph.D. Dissertation. University of
The Philippines, Los Banos.
Sitepu, R.K. dan B.M. Sinaga. 2006. Aplikasi Model Ekonometrika : Estimasi,
Simulasi dan Peramalan Menggunakan Program SAS. Program Studi Ilmo
Ekonomi Pertanian Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Soewandi, A. 2012. Petani dan PG Waspadai Harga Gula Turun.
http://www.beritasatu.com/mobile/bisnis/34991-harga-gula-kemungkinanturun.html. Diakses tanggal 19 Maret 2012.
213
Sudana, W. 2000. Dampak Deregulasi Industri Gula terhadap Realokasi
Sumberdaya Produksi Pangan dan Pendapatan Petani. Pusat Penelitian
Sosial Ekonomi Pertanian (PSE), Bogor.
Suparno. 2004. Analisis Dampak Kebijakan Tata Niaga Gula Terhadap
Kesejahteraan Petan Tebu di Indonesia (Simulasi Kebijakan Pra dan
Pasca Liberalisasi Perdagangan Gula). Skripsi Sarjana. Fakultas
Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Supranto, J. 2004. Ekonometri. Buku Kedua. Penerbit Ghalia Indonesia, Jakarta.
Susila, W. dan B.M. Sinaga. 2005. Analisis Kebijakan Industri Gula Indonesia.
Jurnal Agro Ekonomi, 23(1): 30-53.
Susila, W. 2005a. Dinamika Impor Gula Indonesia: Sebuah Analisis Kebijakan.
Jurnal Agrimedia, 10(1): 12-27.
________. 2005b. Pengembangan Industri Gula Indonesia : Analisis Kebijakan
dan Keterpaduan Sistem Produksi. Disertasi Doktor. Sekolah
Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Suryantoro, A. 2005. Model Respon Penawaran Produksi Gula Menghadapi
Liberalisasi Perdagangan. Jurnal Dinamika Pembangunan, 2(1): 78-100.
Tim Tarif Departemen Keuangan RI. 2011. ASEAN-China Free Trade Area.
Badan Kebijakan Fiskal (Pusat Badan Kebijakan Pendapatan Negara),
Jakarta.
Tim Nasional Revitalisasi Industri Gula. 2009. Laporan P 75 H Rencana Aksi
Revitalisasi Industri Gula 2010-2014. Kementerian Perindustrian, Jakarta.
________________________________. 2010. Laporan P 100 H Rencana Aksi
Revitalisasi Industri Gula 2010-2014. Kementerian Perindustrian, Jakarta.
Tweeten, L. 1992. Agricultural Trade : Principal and Policies. Westview Press,
Inc, Colorado.
United States Department of Agriculture. 2012. Sugar and Sweeteners Yearbook
Tables. http://www.ers.usda.gov/Briefing/Sugar/Data.htm. Diakses tanggal
10 Maret 2012.
Wibowo, R. 2009. Musim Giling Tebu 2009: Maniskah Gula Kita? Jurnal
Agrimedia, 14(1): 56-63.
Zhu, Q., E.A. Lowe, Y. Wei, and D. Barnes. 2007. Industrial Symbiosis in China :
A Case Study of Guitang Group. Journal of Industrial Ecology, 11(1): 3142.
214
215
LAMPIRAN
216
216
Lampiran 1. Data dan Sumber Data Model Perdagangan Gula Indonesia
Tahun
1981
1982
1983
1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
APTR
1
290470
303228
315649
236810
225787
238509
241169
254669
249933
259877
255934
262092
280504
276581
263157
304047
218201
195048
176733
171279
178887
196509
172015
184283
211479
213876
249487
252783
243219
243513
APTN
2
36722
43043
49152
85569
95079
69168
75926
92368
77378
71252
96625
105905
104460
107570
120162
79269
85086
83069
82106
64133
87687
79975
87251
78205
80383
87227
81655
82222
74185
76250
APTS
3
18996
17049
19572
19629
19363
18026
17823
18492
30441
32839
33745
36065
40689
44585
52718
63217
83591
98972
83372
105248
77867
74238
76459
82305
89924
95338
96657
101500
105549
114494
YGHR
4
3.15
4.53
3.93
5.90
6.42
6.57
7.23
6.18
6.49
6.19
6.30
6.31
6.01
6.05
5.13
4.97
5.48
3.89
4.18
4.62
4.55
4.92
4.88
5.58
5.64
5.74
6.07
6.08
5.46
5.32
YGHN
5
5.46
4.23
5.91
3.85
3.61
5.00
4.25
3.68
3.95
4.30
4.66
4.49
3.77
4.73
3.51
3.99
4.29
3.68
3.47
3.65
3.55
3.72
4.25
4.91
5.27
5.20
5.20
4.82
4.81
4.13
YGHS
6
6.11
4.21
4.52
4.24
5.45
5.60
6.14
4.84
5.95
6.22
5.63
4.94
6.18
6.09
5.44
4.20
7.54
4.28
5.64
6.32
7.72
6.61
5.52
7.76
6.95
6.58
7.08
7.25
7.90
5.94
QGKR
7
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
329547
439990
759708
1100228
1441501
1256435
2031843
2356805
REND
8
8.77
8.87
9.03
7.89
8.25
8.22
7.91
7.51
7.55
8.00
7.99
7.21
6.60
8.02
6.97
7.32
7.83
5.49
6.96
7.04
6.85
6.43
7.21
7.67
7.18
7.63
7.35
7.96
7.60
6.46
JPG
9
59
60
65
67
67
67
67
67
67
67
68
68
68
68
68
69
69
63
63
58
58
58
58
58
59
59
59
60
62
62
HRGP
10
5247.38
4729.73
4402.52
4264.39
4024.62
3891.94
4185.32
3889.94
4234.30
4284.77
4242.06
4512.82
4290.36
4122.85
4513.38
4053.40
3963.70
6563.16
4682.52
4416.51
4718.41
4100.53
3988.16
4548.78
5324.58
5369.26
4733.93
4028.98
4260.10
5364.04
HRGE
11
6431.78
5797.30
5735.85
5373.13
5009.47
4844.32
5192.48
4848.71
5243.47
5359.26
5404.43
5732.19
5433.37
5221.24
5302.28
4761.90
4641.09
7383.57
4944.75
4649.23
5656.05
4667.99
5540.98
5185.28
6375.57
5968.06
5578.33
4746.61
4953.81
6424.18
HRGPB
12
5839.58
5263.51
5069.18
4818.76
4517.05
4368.13
4688.90
4369.36
4738.88
4822.02
4823.25
5122.51
4861.86
4672.05
4907.83
4407.65
4302.39
6972.89
4708.75
4579.58
5187.23
4361.42
5061.11
4867.03
5850.08
5668.66
5156.13
4387.79
4606.96
5894.11
HRGB
13
2001.20
2000.68
1848.30
1669.72
1415.53
1609.16
1835.09
1866.72
1932.89
1974.49
1938.23
1965.70
1770.37
1989.90
2311.15
2103.83
2186.22
3398.49
2324.44
2016.46
1954.30
1912.29
2064.58
1969.57
2072.76
2372.49
2331.61
2155.91
1803.55
2181.73
217
Lampiran 1. Lanjutan
Tahun HRPUK
14
1981
1081.11
1982
1106.62
1983
1144.28
1984
988.06
1985
949.53
1986
1087.73
1987
1159.27
1988
1116.64
1989
1227.73
1990
1330.65
1991
1366.81
1992
1416.47
1993
1510.51
1994
1570.64
1995
1650.64
1996
1728.35
1997
1831.19
1998
2167.97
1999
2038.58
2000
2297.96
2001
2257.00
2002
2028.40
2003
2054.90
2004
2029.42
2005
1932.03
2006
1803.30
2007
1605.43
2008
1326.86
2009
1090.79
2010
1157.75
HRKO
15
69487.26
62936.76
58865.79
50131.66
44743.09
43474.27
42702.86
36251.36
34490.83
28998.15
26910.25
28029.12
27950.05
49577.93
48697.87
40349.71
38549.59
107295.27
39284.04
35637.61
29462.60
32543.44
24392.87
24901.25
23400.79
21143.36
19655.84
22318.10
15757.65
16213.08
HRGM
16
7796.40
7544.59
8003.52
6910.77
7020.93
7346.61
6906.00
6645.46
6023.15
6896.57
6198.80
9496.70
6933.42
7555.28
8355.40
7494.84
7859.86
13279.06
7315.30
6982.86
6840.84
6167.74
7072.71
6974.45
6943.93
6552.62
6818.01
6305.68
5899.70
6996.22
URBUN HRKIN SBR DKKPE
17
18
19
20
7062.18
32.38
4.28
0
7092.51
28.24
6.45
0
7686.12
18.99
2.50
0
7113.68
20.26
7.08
0
6935.62
14.68 10.89
0
7151.75
15.38
5.20
0
7593.16
15.85
6.35
0
7716.49
12.86
9.71
0
7783.31
12.77
6.63
0
7827.21
12.06
1.83
0
8221.12
12.04
8.20
0
8320.09
11.17 10.93
0
8537.15
10.51
-0.44
0
8579.43
11.19
-0.61
0
9125.89
10.80
4.38
0
9206.02
9.79
6.58
0
9341.93
6.89
4.13
0
11954.23
6.97 -39.20
0
10346.67
3.37 10.50
0
10912.67
2.73
5.10
1
11942.42
2.36
5.03
1
12867.44
2.18
4.83
1
13183.59
2.15
4.70
1
14165.72
2.34
0.96
1
17332.21
1.95
-6.57
1
20696.32
1.89
5.38
1
21684.97
1.74
1.90
1
23528.48
1.61
-2.33
1
23014.21
1.33
4.37
1
23381.54
1.46
-0.46
1
CHJ
STG
21
2235.37
1613.37
1639.48
2013.69
1809.17
2163.53
1962.09
2492.66
2677.38
2127.50
1628.44
1308.34
2093.23
1592.10
2605.62
2573.28
1057.65
979.86
1415.67
1930.14
2368.09
1950.17
2572.65
2169.92
1266.27
985.15
2389.99
2411.53
2206.24
2152.17
22
1944698
1239845
1474796
1239845
1305698
1147578
1169535
1339607
1058757
1117835
1132982
1172690
1361801
1388771
1036880
486404
488946
676532
1163737
600000
532331
460002
466701
593986
472219
708501
567194
1082231
1204295
510762
DGRT
23
1760300
1628000
1548456
1231772
1389409
1503606
1567938
1784295
1739748
1782383
1901732
1884176
2131476
2367443
2628706
2251683
2664094
2070473
2175471
2219111
2349406
2202601
2309570
2441279
2616480
2719956
2618697
2693559
3011971
2288025
DGIN
24
414170
428440
438060
463690
493890
523580
538410
542560
578630
600480
618000
550990
560380
561680
542230
815800
702850
654480
713700
770060
801460
797940
845918
904203
1373403
1532837
2084737
1647555
2280139
2519232
PDBR
25
667824.5
656746.7
741424.6
783571.6
771970.7
745705.1
917771.3
956290.7
1041000.6
1144512.6
1234800.2
1289109.6
1393713.9
1607992.0
1761682.2
1886532.1
2059368.1
2951678.5
2144562.4
2047125.3
2627992.7
2549445.0
2518667.4
2693999.3
3064149.7
3339216.8
3492965.4
4111572.3
4241501.1
4638155.8
PDBINR
26
43007.3
51195.3
62481.9
69749.8
70229.8
103508.2
126716.2
143191.8
154896.0
184918.7
212511.4
237283.7
267546.8
331517.0
380969.4
432984.8
500512.1
635344.7
488974.8
421813.4
494349.7
634676.3
614449.9
645481.3
686901.3
747444.4
783599.7
946053.6
959506.8
999598.5
218
Tahun
1981
1982
1983
1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
POPINA
27
154275429
157758440
161245684
164706919
168119209
171472345
174767379
178006800
181197879
184345939
187451800
190512441
193525648
196488446
199400339
202257039
205063468
207839287
210610776
213395411
216203499
219026365
221839235
224606531
227303175
229918547
232461746
234951154
237414495
239870000
ERINA
28
7873.92
7334.80
8993.96
9270.93
9087.20
9984.44
12132.35
11386.27
11033.62
10825.04
10629.75
10104.17
9672.36
9087.08
8728.68
7977.33
8851.71
29311.30
15115.05
13155.85
15907.32
13473.27
10690.43
10524.52
10712.39
9184.00
8087.70
8042.54
7879.20
6561.24
TGI
29
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
10
10
10
10
0
0
0
0
0
25
25
25
25
25
25
28
28
28
24
28
CPINA
30
8.09
9.08
9.94
11.11
12.27
12.85
13.60
14.86
16.06
17.09
18.42
20.16
21.67
23.77
25.80
28.23
30.48
32.38
51.28
61.79
64.09
71.46
79.95
85.22
90.54
100.00
113.11
120.36
132.12
138.48
WPINA
31
6.67
7.40
7.95
9.38
10.56
10.92
11.17
13.22
14.17
15.17
16.69
17.55
18.46
19.21
20.18
22.47
24.24
26.41
53.39
58.87
66.23
75.60
77.73
79.34
86.11
100.20
113.69
130.43
165.63
162.62
ERITH
32
262.052
300.661
336.016
355.536
371.638
402.335
425
430.013
435.866
445.29
418.024
396.032
381.495
361.17
348.915
325.151
302.723
756.949
402.867
336.656
358.153
301.777
257.248
259.88
265.783
241.22
248.519
241.201
227.134
204.874
ERICN
33
711.74
813
906.04
956.89
998.78
1080.08
1139.93
1152.56
1167.56
1192.22
1194.3
1171.78
1671.07
1062.18
1041.55
991.6
1143.93
3768.59
1841.97
1636.74
1927.46
1568.91
1290.82
1264.18
1306.54
1147.32
1059.57
1154.17
1149.21
964.76
MFITH
34
18700
55425
50754
0
0
0
0
0
0
12308
0
11116
29448
61984
253212
497845
358594
16500
174931
215559
53255
127046
220761
416110
332942
84926
425817
514267
60145
114361
MFICN
35
35500
0
0
1
19
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
19300
35591
30252
816
4405
13356
18
16019
23018
3500
201
250
299
MFINA
36
483220
685655
163699
250
943
48161
129756
2233
2085
19848
13869
35503
57525
103570
334998
684848
577346
109141
587373
430558
239801
304560
461107
577114
716133
598138
712789
603719
97334
191343
HRGINA
37
7483.75
5501.79
8891.53
5536.63
4583.11
1418.23
2920.96
4659.27
5888.49
7081.59
4698.14
4057.87
3766.21
4066.67
5049.93
4217.76
4459.27
10924.53
3218.57
2734.61
3668.69
2913.23
2650.64
2892.15
3828.46
4262.22
3089.11
2808.86
3381.57
3869.34
MWITH
38
0
0
0
0
0
0
0
0
165227
73708
19540
257214
98480
40
8500
58900
322365
459520
568672
671392
650316
362056
323067
372388
388212
101050
718634
310635
557130
333479
MWICN
39
0
0
0
0
0
0
0
0
41457
49100
0
8200
33839
0
48114
100740
0
61208
87724
24843
29152
42322
0
11
3
0
0
0
0
0
218
Lampiran 1. Lanjutan
219
Lampiran 1. Lanjutan
Tahun
XFTH
41
19485
111284
190856
64429
152880
277492
149181
198551
416956
639657
988143
1280720
538186
708762
958614
1485930
1582390
927588
1271680
1765740
1027470
1969830
2574710
2364830
1457760
994575
2316750
2034040
2704450
2362118
XWBR
42
1785210
1619840
1720830
1847670
1355920
1234390
1100580
984320
549380
926121
978224
1345870
2132980
2716980
4800100
4090400
3844220
4788980
7826980
4346080
7089870
7630320
8353680
9565750
11579000
12806900
12443200
13624600
17925500
12684238
XWTH
43
1099150
2094960
1346040
1177530
1703560
1683150
1876590
1656610
2544740
1730750
1912330
2476630
1680800
1902060
2800620
2966950
2449850
1359250
1997630
2321690
2218290
2063350
2551310
2235210
1583630
1244130
2091590
2977770
2348120
2381898
QWBR
44
8423300
9312400
9576300
9331900
8273800
8650000
8458400
8683000
7793400
7935000
9348000
9986000
10038000
12618000
13594000
14775000
15975000
19232000
20955000
17100000
20400000
23810000
26400000
28150000
29500000
32166000
31279800
32085300
34636900
39872000
QWTH
45
1641000
2930000
2305000
2349000
2572000
2586000
2637000
2704000
4051850
3505790
4054650
5106000
3792000
3974000
5202000
6085000
6188000
4325100
5478700
5520080
4920280
6141050
7302790
6988940
5174440
4835040
6719780
7816540
7186590
6928710
QWCN
46
4231996
4976823
4543052
5364233
6268598
6350004
5226870
5991066
6338148
7396680
9022665
8920358
6980687
6409459
7213579
7764591
9122916
10047803
7720445
7021034
9471200
11797917
11058177
9976900
9666400
13097791
16199630
13576980
11726600
11430000
QWUS
47
5643500
5261650
5106500
5363250
5473020
6075400
6650500
6264000
6003000
6344000
6628000
7110000
6945000
7192000
6686000
6537000
7276000
7598000
8202000
7955000
7171000
7645000
7846000
7144000
6712000
7662000
7396000
6833000
7081000
7104000
QWIN
48
5595000
9170000
8948000
6410000
6630000
7507000
9099000
9748000
9365000
11757000
12891000
14341000
12447000
11704000
16410000
18225000
14616000
14592000
17436000
20219000
20480000
20475000
22140000
15150000
14170000
21140000
30780000
28630000
15950000
20637000
MFIN
49
195992
12000
0
321683
1638700
930690
513419
319
134321
12000
0
0
284
1669490
150632
1123
128414
547229
699205
2759
26578
36582
81
181
5070
844
527
129
513244
71881
MFUS
50
4416
30108
19405
48077
41666
39019
51271
31629
28495
56854
72851
86204
87988
118622
56774
76788
69152
68033
84038
70820
65565
132627
81745
103152
337667
956192
245639
916856
727594
450914
MFCN
51
25000
120337
389061
32669
39993
68259
66416
357547
101133
173356
94684
21554
31482
67612
382245
50122
99270
118769
123323
122527
207274
165253
190289
331605
349135
371034
450460
416246
281282
313281
219
1981
1982
1983
1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
XFBR
40
915946
1090000
782713
1211910
1192310
1196150
1095000
781200
503920
611216
677296
1056770
903891
689936
1439070
1288500
2527750
3575270
4273260
2158350
4083340
5724010
4560730
6198180
6568080
6063240
6915800
5847940
6368560
6325018
220
220
Lampiran 1. Lanjutan
Tahun
1981
1982
1983
1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
MWIN
52
0
0
0
0
0
0
124998
0
0
0
2593
1343
164
111285
0
1006
218473
353938
481748
28201
0
4845
74322
932255
553698
207
383
385806
2037820
556727
MWUS
53
4580760
2545040
2682670
3080150
2525840
1940660
1329230
1212490
1682760
1785250
1804960
1837020
1689200
1486090
1602480
2720610
2877870
1959870
1613630
1336190
1272750
1274640
1439910
1418070
1750340
1963200
1701940
1699130
1783710
1309936
MWCN
54
1003600
2041100
1445000
1198030
1868730
1114230
1760280
3351390
1480230
958873
968055
1130440
498665
1544430
2665056
1328681
890198
606804
546739
886813
1382689
1387743
1033581
1448019
1651393
1548006
971115
799570
1353726
1078254
MWW
55
18741047
19889344
18265582
18726175
17925341
17293150
17620066
17972548
18011338
17018316
16466489
17283508
15637424
15777933
17943588
20825902
20721627
20517053
22822114
21077981
22915137
22075271
23055695
22488723
25567344
25067196
26892357
25220615
24758997
24893881
CGIN
56
5241631
8160718
7673989
6064789
7689226
7827647
8978779
8959783
8718096
10801408
11690450
12800250
11266974
12487614
14879956
16118996
13607340
14284181
17169092
18304490
17444465
17224581
19259623
14692379
13234522
17835380
18509791
18803296
19293435
19783575
CGUS
57
8147300
7640520
7361076
7049076
6411819
6490891
6794808
6819330
6961761
7213403
7220413
7397041
7436923
7583322
7679355
7862382
8205574
8300015
8559237
8112861
8033607
8624634
8818227
9144340
9295257
9307500
9297963
8770827
8861678
8952529
CGCN
58
4543795
5944158
5432815
5969909
6872858
6512517
7187350
8263164
7299234
7496909
8558724
7692420
5815800
6564452
7669597
8672618
9808219
9608339
7433448
6925362
7334164
7019662
7688950
7502460
7623354
7816650
10153515
8341995
8437172
8532349
ERBR
59
0.12
0.11
0.10
0.09
0.08
0.08
0.07
0.07
0.06
0.06
0.05
0.05
0.05
0.04
3.72
3.54
3.54
3.58
3.53
2.96
3.64
4.02
3.80
3.43
2.68
2.17
1.72
1.52
1.51
1.26
ERTH
60
51.76
51.83
49.97
50.92
57.11
54.31
51.81
49.08
47.34
44.52
42.00
40.34
38.84
36.61
34.28
32.97
38.22
46.94
43.00
44.94
48.97
46.98
44.55
42.02
40.21
36.18
29.95
29.00
30.47
27.27
ERIN
61
50.09
50.70
48.39
50.24
51.84
48.59
45.91
45.08
50.89
50.36
57.47
58.60
66.67
60.50
56.71
56.81
54.38
54.55
54.41
54.52
55.23
54.48
50.30
47.12
43.98
42.56
36.61
35.65
35.70
30.10
ERCN
62
10.83
12.39
12.90
13.59
13.35
12.39
11.55
10.93
10.84
11.44
11.34
11.15
12.71
11.63
9.74
8.99
8.72
8.78
8.88
8.86
8.79
8.86
8.76
8.43
8.28
8.16
7.66
7.07
6.84
6.15
IRTH
63
39476772126
41589706661
43912159722
46438174779
48596267188
51285501317
56167342577
63630922388
71387853266
79359850156
86151673510
93115648058
100798662359
109857624323
120005700844
127087651039
125344804675
112171099813
117160062361
122725247706
125385028151
132052469496
141480983231
150456640790
157384716142
165400160325
173743467322
178059776977
173911253778
187494613811
221
Lampiran 1. Lanjutan
IRBR
IRIN
IRUS
IRCN
1981
1982
1983
1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
64
411470658991
413858199197
399746489304
420809704088
454246661387
490533225221
508190603692
507668830626
524317621032
501771963327
509359093915
506980820289
530632240834
558938074183
583625429866
596173376608
616293863303
616527313475
618073920864
644701831101
653149809199
670512665737
678217761979
716959543489
739613124999
768867489436
815703390474
857885609996
855069617297
919487274118
65
170690606911
176623357074
189497244409
196737437362
207074611006
216965662681
225569122810
247286428288
261993401183
276490686996
279412727485
294731239741
308733261390
329291574837
354233738304
380976693190
396405566741
420920935324
456543772248
474691627708
498161456345
517627284474
558747568021
602602553782
658553437817
719561619358
790088337362
820830424070
888452309192
973324950212
66
5272895704466
5168479293070
5401885901722
5790542060028
6028650512184
6235265484267
6432742911428
6696489717783
6935219168138
7063943223309
7045490705407
7285373438130
7494649831064
7803019793692
8001916645307
8304875052204
8679070823886
9061073430064
9502248293168
9898800000000
10007031114616
10189959441124
10450068972316
10813707774621
11146296666995
11442690235793
11660926745593
11619053724200
11209194913112
11547905073444
67
192454058701
209967378043
232853822250
268247603232
304461029668
331253600279
369679017911
411452746935
428322309560
444598557323
485501624597
554442855290
632064855030
714865351039
792785674302
872064241732
953166216214
1027513181078
1105604182840
1198474934199
1297948353737
1416061653927
1557667819320
1714992269071
1908786395477
2151202267702
2456672989716
2692513596728
2940224847627
3246008231781
POPTH
68
48460289
49422519
50379788
51346204
52328663
53339762
54368583
55370526
56284973
57072058
57711519
58225969
58671177
59126690
59650157
60258113
60933752
61660383
62408639
63155029
63898879
64642931
65370277
66060383
66698483
67276383
67796451
68267982
68706122
69122000
POPBR
69
124588432
127514673
130459023
133380123
136246764
139049440
141791325
144470377
147088677
149650206
152146887
154582103
156985824
159398558
161848162
164342524
166869168
169409713
171936271
174425387
176877135
179289227
181633074
183873377
185986964
187958211
189798070
191543237
193246610
194946000
POPIN
70
716493309
733151769
750033539
767146806
784490842
802051806
819800055
837699675
855707358
873785449
891910180
910064576
928226051
946373316
964486155
982553253
1000558144
1018471141
1036258683
1053898107
1071374264
1088694080
1105885689
1122991192
1140042863
1157038539
1173971629
1190863679
1207740408
1224615000
POPUS
71
229466000
231664000
233792000
235825000
237924000
240133000
242289000
244499000
246819000
249623000
252981000
256514000
259919000
263126000
266278000
269394000
272657000
275854000
279040000
282162411
284968955
287625193
290107933
292805298
295516599
298379912
301231207
304093966
306771529
309349000
POPCN
72
993885000
1008630000
1023310000
1036825000
1051040000
1066790000
1084035000
1101630000
1118650000
1135185000
1150780000
1164970000
1178440000
1191835000
1204855000
1217550000
1230075000
1241935000
1252735000
1262645000
1271850000
1280400000
1288400000
1296075000
1303720000
1311020000
1317885000
1324655000
1331380000
1338300000
STBR
73
236252
-360402
-988316
56922
449717
472476
409700
-218288
184481
1091146
-82916
483790
1199104
-510183
1548128
-400939
-95018
-1155661
99153
-961039
723311
-176565
-2999437
-1429864
-166263
-2031131
-1914339
-1053216
-1116218
-1179221
221
Tahun
222
222
Lampiran 1. Lanjutan
Tahun
1981
1982
1983
1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
STTH
74
86793
-86554
-87891
-346322
16312
127660
261810
55222
-60756
-12287
-31350
13587
-188834
119583
231951
171015
-240452
-103443
-275518
234263
-153641
-270511
-211212
-223316
-110742
-267572
129248
-127335
-132854
-138372
STUS
75
-263369
523672
439862
-448900
-459150
-506859
-46933
170041
281056
157344
-56321
-453813
-280733
-102316
442496
-425954
-1080635
-463313
-479510
-466546
256755
373699
213850
1189828
1177897
-379753
874042
-127335
-132854
-138372
STCN
76
-128
-320760
-356145
-41144
-417723
-115719
1043067
-556418
339370
57415
-489463
-24960
630755
-2317
-1462198
734816
728988
-148357
-714
-63659
10901
-433263
-1502809
-537738
918251
481167
-1212845
-168639
-176641
-184642
HGW
77
2053.93
1020.21
792.97
474.02
436.33
496.43
508.22
626.45
780.84
760.31
579.58
502.09
501.43
523.36
557.43
480.81
387.42
295.26
224.13
237.17
259.66
231.32
208.86
226.32
263.75
363.89
255.52
267.13
360.67
433.20
CPIBR
78
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.01
0.06
1.28
27.75
46.06
53.32
57.01
58.84
61.70
66.04
70.56
76.52
87.78
93.57
100.00
104.18
107.97
114.09
119.66
125.69
CPITH
79
42.16
44.38
46.03
46.43
47.56
48.43
49.64
51.53
54.29
57.48
60.76
63.27
65.37
68.67
72.67
76.88
81.21
87.70
87.95
89.35
90.81
91.44
93.09
95.66
100.00
104.64
107.02
112.80
111.83
115.54
CPIIN
80
17.29
18.66
20.87
22.61
23.86
25.95
28.23
30.88
31.89
34.75
39.57
44.23
47.05
51.85
57.15
62.28
66.74
75.58
79.10
82.28
85.31
89.05
92.44
95.93
100.00
106.15
112.91
122.34
135.64
151.91
CPIUS
81
46.55
49.41
51.00
53.20
55.10
56.12
58.22
60.55
63.48
66.90
69.74
71.85
73.97
75.90
78.03
80.32
82.19
83.47
85.30
88.18
90.67
92.11
94.20
96.72
100.00
103.23
106.17
110.25
109.85
111.66
CPICN
82
19.21
21.39
23.57
25.75
27.93
30.11
32.29
38.34
45.37
46.75
48.41
51.48
58.99
73.28
85.67
92.80
95.40
94.60
93.27
93.50
94.18
93.46
94.54
98.21
100.00
101.46
106.28
112.52
111.72
115.43
CPIW
83
19.97
22.27
28.75
32.53
31.13
34.14
34.42
38.34
43.94
45.55
46.27
49.35
51.03
59.84
64.55
69.21
73.95
78.48
81.18
84.11
86.97
89.52
93.22
96.05
100
104.46
109.6
119.51
122.73
128.25
223
Sumber Data :
1.
Statistik Perkebunan Tebu 2011 : Variabel nomor 1-6
2.
Dewan Gula Indonesia (DGI) : Variabel nomor 7, 8, 9, 25
3.
Neraca Bahan Makanan, Badan Ketahanan Pangan : Variabel nomor 24
4.
Badan Pusat Statistik (BPS) : Variabel nomor 10-18, 22, 26, 27, 28.
5.
Buku Tarif, Kementerian Keuangan : Variabel nomor 29
6.
Food Agricultural Organization (FAO) : Variabel nomor 19, 34-76.
7.
London International Financial Futures and Options Exchange (LIFFE) :
Variabel nomor 77
8.
Bank Indonesia (BI) : Variabel nomor 20
9.
World Bank (WB) : Variabel nomor 30, 31, 63-67, 78-83
10. International Monetary Fund (IMF) : Variabel nomor 32, 33, 60, 61, 62, 63.
Catatan : Apabila pada series variabel terdapat data yang tidak tersedia diantara
tahun maka dilakukan interpolasi data, sedangkan apabila data tidak tersedia di
awal atau diakhir tahun maka dilakukan ekstrapolasi data. Interpolasi dan
ekstapolasi data dilakukan menggunakan regresi sederhana dengan trend variable.
224
Lampiran 2. Rekapitulasi Persamaan dalam Model Perdagangan Gula
Indonesia
Blok
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
Pasar
11.
Gula
Indonesia 12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
Pasar
26.
Gula
27.
Dunia
28.
29.
30.
Persamaan
Luas Areal perkebunan tebu Negara
Luas Areal perkebunan tebu Swasta
Luas Areal perkebunan tebu Negara
Produktivitas tebu Negara
Produktivitas tebu Swasta
Produktivitas tebu Rakyat
Produksi GKP Negara
Produksi GKP Swasta
Produksi GKP Rakyat
Produksi GKP Indonesia
Produksi gula Indonesia
Permintaan gula rumah tangga
Permintaan gula industri
Permintaan Indonesia
Penawaran gula Indonesia
Harga riil gula tingkat petani
Harga riil gula pedagang besar
Harga gula eceran Indonesia
Harga riil impor gula Indonesia
Impor gula Indonesia dari Thailand
Impor gula Indonesia dari China
Impor gula Indonesia
Ekspor gula Brazil
Ekspor gula Thailand
Impor gula India
Impor gula Amerika Serikat
Impor gula China
Harga riil gula dunia
Ekspor gula dunia
Impor gula dunia
Struktural/
Identitas
APTN
Struktural
APTS
Struktural
APTR
Struktural
YGHR
Struktural
YGHS
Struktural
YGHN
Struktural
QGKPN
Identitas
QGKPS
Identitas
QGKPR
Identitas
QGKP
Identitas
QGINA
Identitas
DGRT
Struktural
DGIN
Struktural
DGINA
Struktural
SGINA
Identitas
HRGP
Struktural
HRGPB Struktural
HRGE
Struktural
HRGINA Struktural
MGITH
Struktural
MGICN
Struktural
MGINA
Identitas
XGBR
Struktural
XGTH
Struktural
MGIN
Struktural
MGUS
Struktural
MGCN
Struktural
HRGW
Struktural
XGW
Identitas
MGW
Identitas
Notasi
225
Lampiran 3. Definisi Operasional Variabel Endogen dan Eksogen dalam
Model Perdagangan Gula Indonesia
A. Variabel Endogen
1. APTNt
= Luas areal panen perkebunan besar negara (ha)
2. APTRt
= Luas areal panen perkebunan besar rakyat (ha)
3. APTSt
= Luas areal panen perkebunan besar swasta (ha)
4. DGIN t
= Permintaan gula industri (ton)
5. DGINAt
= Permintaan gula Indonesia (ton)
6. DGRTt
= Permintaan gula Indonesia (ton)
7. HRGE
= Harga riil eceran gula (Rp/kg) yang telah dideflasi dengan
indeks harga perdagangan besar Indonesia (2005=100)
8. HRGINAt = Harga impor riil gula Indonesia (Rp/kg) yang telah dideflasi
dengan indeks harga perdagangan besar Indonesia (2005=100)
9. HRGPBt
= Harga riil gula tingkat pedagang besar (Rp/kg) yang telah
dideflasi dengan indeks harga perdagangan besar Indonesia
(2005=100)
10. HRGPt
= Harga riil gula tingkat petani (Rp/kg) yang telah dideflasi
dengan indeks harga perdagangan besar (2005=100)
11. HRGWt
= Harga riil gula dunia (US$/ton) yang telah dideflasi dengan
indeks harga konsumen dunia (2005=100)
12. MGCNt
= Impor gula China (ton)
13. MGICNt
= Impor gula Indonesia dari China (ton)
14. MGINAt
= Impor gula Indonesia (ton)
15. MGINt
= Impor gula India (ton)
16. MGITHt
= Impor gula Indonesia dari Thailand (kg)
17. MGUSt
= Impor gula Amerika Serikat (ton)
18. MGWt
= Impor gula dunia (ton)
19. QGINAt
= Produksi gula Indonesia (ton)
20. QGKPNt
= Produksi gula kristal putih perkebunan besar negara (ton)
21. QGKPRt
= Produksi gula kristal putih perkebunan rakyat (ton)
22. QGKPSt
= Produksi gula kristal putih perkebunan besar swasta (ton)
23. QGKPt
= Produksi gula kristal putih Indonesia (ton)
24. SGINAt
= Penawaran gula Indonesia (ton)
25. XGBRt
= Ekspor gula Brazil (ton)
226
26. XGTHt
= Ekspor gula Thailand (ton)
27. XGWt
= Ekspor gula dunia (ton)
28. YGHNt
= Produktivitas gula hablur perkebunan besar negara (ton/ha)
29. YGHRt
= Produktivitas gula hablur perkebunan rakyat (ton/ha)
30. YGHSt
= Produktivitas gula hablur perkebunan besar swasta (ton/ha)
B. Variabel Eksogen
1. CGCNt
= Konsumsi gula China (ton)
2. CGUSt
= Konsumsi gula Amerika Serikat (ton)
3. CHJt
= Curah hujan Indonesia (mm/tahun)
4. DHPPt
= Dummy Kebijakan HPP Gula, dimana D = 1 jika ada
kebijakan HPP dan D = 0 jika tidak ada kebijakan HPP
5. DKKPEt
= Dummy Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKPE) untuk
bongkar ratoon, dimana D = 1 jika ada KKPE dan D = 0 jika
tidak ada KKPE
6. ERBRt
= Nilai tukar Brazil terhadap Dollar Amerika (R$/US$) yang telah
dideflasi dengan indeks harga konsumen Brazil (2005=100)
7. ERCNt
= Nilai tukar China terhadap Dollar Amerika (Yuan/US$) yang
telah dideflasi dengan indeks harga konsumen China
(2005=100)
8. ERICNt
= Nilai tukar Indonesia terhadap China (Rp/Yuan) yang telah
dideflasi dengan indeks harga konsumen Indonesia (2005=100)
9. ERINAt
= Nilai tukar Indonesia terhadap Dollar Amerika (Rp/US$) yang
telah dideflasi dengan indeks harga konsumen Indonesia dan
USA (2005=100)
10. ERINt
= Nilai tukar India terhadap Dollar Amerika (Rupee/US$) yang
telah dideflasi dengan indeks harga konsumen India (2005=100)
11. ERITHt
= Nilai tukar Indonesia terhadap Thailand (Rp/Bath) yang telah
dideflasi dengan indeks harga konsumen Indonesia (2005=100)
12. ERTHt
= Nilai tukar Thailand terhadap Dollar Amerika (Bath/US$)
yang telah dideflasi dengan indeks harga konsumen Thailand
(2005=100)
13. HRGBt
= Harga riil gabah yang telah dideflasi dengan indeks harga
perdagangan besar Indonesia (2005=100)
14. HRGMt
= Harga riil gula merah yang telah dideflasi dengan indeks
harga perdagangan besar Indonesia (2005=100)
227
15. HRKINt
= Harga riil komposit produk makanan dan minuman (US$/kg)
yang telah dideflasi dengan indeks harga perdagangan besar
Indonesia (2005=100)
16. HRKOt
= Harga riil kopi yang telah dideflasi dengan indeks harga
perdagangan besar Indonesia (2005=100) (Rp/kg)
17. IRCNt
= Pendapatan riil China (US$) yang telah dideflasi dengan
indeks harga konsumen China (2005=100)
18. IRINt
= Pendapatan riil India (US$)yang telah dideflasi dengan indeks
harga konsumen India (2005=100)
19. JIMt
= Jumlah industri makanan dan minuman (unit)
20. JPGt
= Jumlah pabrik gula (unit)
21. PDBINRt
= Produk Domestik Bruto riil Sektor Industri Makanan dan
Minuman (Rp miliar) yang telah dideflasi dengan indeks
harga konsumen Indonesia (2005=100)
22. PDBRt
= Produk Domestik Bruto riil Indonesia (Rp miliar) yang telah
dideflasi dengan indeks harga konsumen Indonesia
(2005=100)
23. POPCNt
= Populasi China (jiwa)
24. POPINAt
= Jumlah penduduk Indonesia (jiwa)
25. POPINt
= Populasi penduduk India (jiwa)
26. QGCNt
= Produksi gula China (ton)
27. QGINt
= Produksi gula India (ton)
28. QGKRt
= Produksi gula kristal rafinasi Indonesia (ton)
29. QGTHt
= Produksi gula Thailand (ton)
30. QGUSt
= Produksi gula Amerika Serikat (ton)
31. RENDt
= Rendemen tebu Indonesia (%)
32. SBRt
= Suku bunga BI riil (%) yaitu suku bunga BI nominal
dikurangi dengan tingkat inflasi
33. STCNt
= Stok gula China (ton)
34. STGt
= Stok gula Indonesia (ton)
35. STUSt
= Stok gula Amerika Serikat (ton)
36. T
= Tren waktu (1981=1, 1982=2, ..…., 2010=30)
37. TIGt
= Tarif impor gula Indonesia (%)
38. URBUNt
= Upah riil pekerja sektor perkebunan (Rp/hari) yang telah
dideflasi dengan indeks harga konsumen (2005=100)
Keterangan : subscript t menunjukkan tahun t
228
Lampiran 4. Program Estimasi Model Perdagangan Gula Indonesia
Menggunakan Metode 2SLS dan Prosedur SYSLIN dengan
Program SAS/ETS Versi 9.1
/*Program Estimasi*/
OPTIONS NODATE NONUMBER;
DATA GULA;
SET ANALISIS;
*Make Nominal Data Real*/
ERINA
= (EINA/CPINA)*100;
ERITH
= (EITH/CPINA)*100;
ERICN
= (EICN/CPINA)*100;
ERBR
= (EBR/CPIBR)*100;
ERTH
= (ETH/CPITH)*100;
ERIN
= (EIN/CPIIN)*100;
ERCN
= (ECN/CPICN)*100;
HRGB
= (HGB/WPINA)*100;
HRGE
= (HGE/WPINA)*100;
HRGM
= (HGM/WPINA)*100;
HRGP
= (HGP/WPINA)*100;
HRGPB
= (HGPB/WPINA)*100;
HRKO
= (HKO/WPINA)*100;
HRPUK
= (HPUK/WPINA)*100;
URBUN
= (UBUN/CPINA)*100;
SBR
= SB-INF;
PDBR
= (PDB/CPINA)*100;
PDBINR
= (PDBIN/CPINA)*100;
HRGIIN
= (HGINA/WPINA)*100;
HRKIN
= (HKIN/WPINA)*100;
HRGW
= (HGW/CPIW)*100;
HRGINA
= HRGIIN*EINA/1000;
/*create
QGHN
QGHS
QGHR
QGKPN
QGKPS
QGKPR
QGKP
QGINA
DGINA
QGBR
QGTH
QGCN
QGIN
QGUS
MGITH
MGICN
XGBR
XGTH
MGIN
MGUS
MGCN
MGIW
data*/
= APTN*YGHN;
= APTS*YGHS;
= APTR*YGHR;
= QGHN*1.003;
= QGHS*1.003;
= QGHR*1.003;
= QGKPN+QGKPS+QGKPR;
= QGKP+QGKR;
= DGRT+DGIN;
= QWBR/1.087;
= QWTH/1.087;
= QWCN/1.087;
= QWIN/1.087;
= QWUS/1.087;
= MFITH + (MWITH/1.087);
= MFICN + (MWICN/1.087);
= XFBR + (XWBR/1.087);
= XFTH + (XWTH/1.087);
= MFIN + (MWIN/1.087);
= MFUS + (MWUS/1.087);
= MFCN + (MWCN/1.087);
= MFINA + (MWINA/1.087);
229
XGTW
MGTW
MGIRW
MGINA
MGRW
XGRW
XGW
MGW
=
=
=
=
=
=
=
=
/*Make Lag
LSBR
=
LAPTN
=
LAPTS
=
LAPTR
=
LHRGPB
=
LHRGB
=
LHRGE
=
LJPG
=
LHRPUK
=
LURBUN
=
LYGHR
=
LYGHS
=
LHRGM
=
LPDBR
=
LDGRT
=
LHRKIN
=
LJIM
=
L2PDBIN =
LDGIN
=
LQGINA
=
LHRGP
=
LHRGW
=
LHRGINA =
LERICN
=
LSTG
=
LXGBR
=
LERTH
=
LPOPIN
=
LERIN
=
LMGUS
=
LPOPCN
=
LMGCN
=
LMGITH
=
LERBR
=
/*Create
SGINA
LSGINA
SHRGPB
RHRGPB
RHRGB
SHRPUK
RHPUK
HGPUK
RHRGM
LJPDBR
SHRKIN
XFW + (XWW/1.087);
MFW + (MWW/1.087);
MGIW - (MGITH + MGICN);
MGITH + MGICN + MGIRW;
MGTW - (MGIN+MGUS+MGCN+MGINA);
XGTW - (XGBR+XGTH);
XGBR + XGTH + XGRW;
MGIN + MGUS + MGCN + MGINA + MGRW;
Variables*/
LAG(SBR);
LAG(APTN);
LAG(APTS);
LAG(APTR);
LAG(HRGPB);
LAG(HRGB);
LAG(HRGE);
LAG(JPG);
LAG(HRPUK);
LAG(URBUN);
LAG(YGHR);
LAG(YGHS);
LAG(HRGM);
LAG(PDBR);
LAG(DGRT);
LAG(HRKIN);
LAG(JIM);
LAG2(PDBINR);
LAG(DGIN);
LAG(QGINA);
LAG(HRGP);
LAG(HRGW);
LAG(HRGINA);
LAG(ERICN);
LAG(STG);
LAG(XGBR);
LAG(ERTH);
LAG(POPIN);
LAG(ERIN);
LAG(MGUS);
LAG(POPCN);
LAG(MGCN);
LAG(MGITH);
LAG(ERBR);
Data Baru*/
= QGINA+MGINA+LSTG;
= LAG(SGINA);
= HRGPB-LHRGPB;
= HRGPB/LHRGPB;
= HRGB/LHRGB;
= HRPUK-LHRPUK;
= HRPUK/LHRPUK;
= HRGP/HRPUK;
= HRGM/LHRGM;
= (PDBR-LPDBR)/LPDBR;
= HRKIN-LHRKIN;
230
LJJIM
RQGINA
SHRGINA
SERICN
SPOPIN
SSTG
SERBR
SERTH
LJPOPIN
LJPOPCN
SERIN
SHRGW
PPMRTH
PPMRCN
PPMRRW
DEVITH
DEVICN
DEVIRW
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
(JIM-LJIM)/LJIM;
QGINA/LQGINA;
HRGINA-LHRGINA;
ERICN-LERICN;
POPIN-LPOPIN;
STG-LSTG;
ERBR-LERBR;
ERTH-LERTH;
(POPIN-LPOPIN)/LPOPIN;
(POPCN-LPOPCN)/LPOPCN;
ERIN-LERIN;
HRGW-LHRGW;
(TIG*MGITH*(HRGINA*1000))/100;
(TIG*MGICN*(HRGINA*1000))/100;
(TIG*MGIRW*(HRGINA*1000))/100;
MGITH*(HRGINA*1000);
MGICN*(HRGINA*1000);
MGIRW*(HRGINA*1000);
/*Make Description of Variables*/
label
APTN
= 'Luas Areal Perkebunan Besar Negara'
APTS
= 'Luas Areal Perkebunan Besar Swasta'
APTR
= 'Luas Areal Perkebunan Rakyat'
YGHN
= 'Produktivitas gula hablur negara'
YGHS
= 'Produktivitas gula hablur swasta'
YGHR
= 'Produktivitas gula hablur rakyat'
QGINA
= 'Produksi gula Indonesia'
SGINA
= 'Penawaran gula Indonesia'
DGINA
= 'Permintaan gula Indonesia'
DGRT
= 'Permintaan gula RT'
LDGRT
= 'Permintaan gula RT t-1'
DGIN
= 'Permintaan gula industri'
LDGIN
= 'Permintaan gula industri t-1'
HRGPB
= 'H.r gula pdg.besar'
LHRGPB
= 'H.r gula pdg.besar t-1'
SHRGPB
= 'Perubahan H.r gula pdg.besar'
HRGE
= 'H.r gula eceran'
HRGB
= 'H.r gabah'
RHRGB
= 'Rasio H.riil gabah'
HRGP
= 'H.r gula petani'
LHRGP
= 'H.r gula petani t-1'
HRKIN
= 'H.r produk mamin'
HRPUK
= 'H.r pupuk'
HGPUK
= 'Rasio H.r gula thd H.r pupuk'
SHRPUK
= 'Perubahan H.r pupuk'
RHPUK
= 'Rasio H.r pupuk'
RHRGM
= 'Rasio H.r gula merah'
HRKO
= 'H.r kopi'
MGITH
= 'Impor gula dari Thailand'
LMGITH
= 'Impor gula dari Thailand t-1'
MGICN
= 'Impor gula dari China'
HRGINA
= 'H.r impor gula Ina'
LHRGINA = 'H.r impor gula Ina t-1'
SHRGINA = 'Perubahan H.riil impor gula Ina'
XGBR
= 'Ekspor gula Brazil'
LXGBR
= 'Ekspor gula Brazil t-1'
XGTH
= 'Ekspor gula Thailand'
231
MGIN
MGUS
LMGUS
MGCN
LMGCN
HRGW
LHRGW
SHRGW
XGW
MGW
CHJ
CGUS
DKKPE
DHPP
ERBR
SERBR
ERITH
SERTH
LJPDBR
SERICN
SERIN
IRCN
IRIN
JPG
POPINA
LJPOPIN
LJPOPCN
QGBR
QGTH
QGIN
QGCN
QGUS
REND
STCN
STUS
STG
LSTG
SSTG
SBR
LSBR
TIG
T
LJJIM
L2PDBIN
RQGINA
LAPTN
LAPTS
LAPTR
LYGHN
LYGHS
LYGHR
URBUN
LURBUN
RUN;
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
'Impor gula India'
'Impor gula USA'
'Impor gula USA t-1'
'Impor gula China'
'Impor gula China t-1'
'H.r gula dunia'
'H.r gula dunia t-1'
'Perubahan H.r gula dunia'
'Ekspor gula dunia'
'Impor gula dunia'
'Curah hujan'
'Konsumsi gula USA'
'Dummy KKPE'
'Dummy HPP'
'Nilai tukar riil Brazil'
'Perubahan Nilai tukar riil Brazil'
'Nilai tukar riil Ina thdp Thai'
'Perubahan Nilai tukar riil Thailand'
'Pertumbuhan PDB riil Ina'
'Perubahan nilai tukar Ina thd China'
'Perubahan nilai tukar India'
'GDP riil China'
'GDP riil India'
'Jumlah pabrik gula'
'Populasi Ina'
'Pertumbuhan Penduduk India'
'Pertumbuhan Penduduk China'
'Produksi gula Brazil'
'Produksi gula Thailand'
'Produksi gula India'
'Produksi gula China'
'Produksi gula USA'
'Rendemen tebu'
'Stok gula China'
'Stok gula USA'
'Stok gula Ina'
'Stok gula Ina t-1'
'Perubahan Stok gula Ina'
'Suku bunga BI riil'
'Suku bunga BI riil t-1'
'Tarif impor gula'
'Tren waktu'
'Pertumbuhan industri mamin'
'PDB riil sektor mamin t-2'
'Rasio produksi gula Ina'
'APTN t-1'
'APTS t-1'
'APTR t-1'
'YGHN t-1'
'YGHS t-1'
'YGHR t-1'
'Upah riil pekerja perkebunan'
'Upah riil pekerja perkebunan t-1';
232
PROC SYSLIN 2SLS DATA=GULA OUTEST=HASIL;
ENDOGENOUS
APTN APTS APTR YGHR YGHS YGHN QGHN QGHS QGHR
QGKPN QGKPS QGKPR QGKP QGINA DGINA DGRT DGIN SGINA HRGP HRGPB
HRGE HRGINA MGITH MGICN MGINA XGBR XGTH MGIN MGUS
MGCN HRGW XGW
MGW
PPMRTH PPMRCN PPMRRW DEVITH DEVICN DEVIRW;
INSTRUMENTS
CGCN CGUS CHJ
DKKPE DHPP ERITH ERBR ERTH
HRPUK HRKO IRIN
IRCN PDBR JPG
HRGB HRGM ERICN XGRW MGRW POPIN ERIN POPCN
STG
MGIRW POPINA QGBR QGTH JIM
PDBINR QGIN QGUS QGCN QGKR
REND SBR
STCN STUS T
TIG
URBUN HRKIN;
/*STRUCTURAL EQUATIONS*/
ARL_NEG
: MODEL APTN
= HRGPB HRGB JPG LSBR T LAPTN/DW;
ARL_SWA
: MODEL APTS
= SHRGPB RHRGB JPG SBR T LAPTS/DW;
ARL_RAK
: MODEL APTR
= HRGP HRGB JPG SBR T LAPTR/DW;
YLD_NEG
: MODEL YGHN
= HRGPB SHRPUK LAPTN REND LURBUN T/DW;
YLD_SWA
: MODEL YGHS
= SHRGPB RHPUK LAPTS CHJ REND URBUN LYGHS/DW;
YLD_RAK
: MODEL YGHR
= HGPUK LAPTR URBUN DKKPE REND LYGHR/DW;
DEMANDRT : MODEL DGRT
= HRGE RHRGM HRKO LJPDBR POPINA LDGRT/DW;
DEMANDIN : MODEL DGIN
= LHRGPB HRKIN LJJIM L2PDBIN LDGIN/DW;
HRG_PET
: MODEL HRGP
= HRGPB RQGINA DHPP T LHRGP/DW;
HRG_GPB
: MODEL HRGPB
= HRGE T LHRGPB/DW;
HRG_ECR
: MODEL HRGE
= HRGINA DGINA SGINA/DW;
HRG_INA
: MODEL HRGINA = HRGW T LHRGINA/DW;
IMP_TH
: MODEL MGITH
= HRGINA QGINA ERITH LSTG TIG T LMGITH/DW;
IMP_CN
: MODEL MGICN
= SHRGINA QGINA TIG SERICN SSTG T/DW;
EKS_BR
: MODEL XGBR
= HRGW QGBR SERBR LXGBR/DW;
EKS_TH
: MODEL XGTH
= HRGW QGTH SERTH T/DW;
IMP_IND
: MODEL MGIN
= HRGW QGIN LJPOPIN SERIN IRIN T/DW;
IMP_USA
: MODEL MGUS
= SHRGW QGUS CGUS STUS LMGUS/DW;
IMP_CHN
: MODEL MGCN
= LHRGW QGCN CGCN STCN IRCN LJPOPCN LMGCN/DW;
HRG_WRD
: MODEL HRGW
= XGW MGW LHRGW/DW;
/*IDENTITY EQUATIONS*/
QGHN : IDENTITY QGHN
QGHS : IDENTITY QGHS
QGHR : IDENTITY QGHR
QGKPN : IDENTITY QGKPN
QGKPS : IDENTITY QGKPS
QGKPR : IDENTITY QGKPR
QGKP : IDENTITY QGKP
QGINA : IDENTITY QGINA
DGINA : IDENTITY DGINA
MGINA : IDENTITY MGINA
SGINA : IDENTITY SGINA
XGW
: IDENTITY XGW
MGW
: IDENTITY MGW
PPMRTH : IDENTITY PPMRTH
PPMRCN : IDENTITY PPMRCN
PPMRRW : IDENTITY PPMRRW
DEVITH : IDENTITY DEVITH
DEVICN : IDENTITY DEVICN
DEVIRW : IDENTITY DEVIRW
RUN;
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
QGHN + 0;
QGHS + 0;
QGHR + 0;
QGKPN + 0;
QGKPS + 0;
QGKPR + 0;
QGKP + 0;
QGINA + 0;
DGINA + 0;
MGITH + MGICN
QGINA + MGINA
XGBR + XGTH +
MGIN + MGUS +
PPMRTH + 0;
PPMRCN + 0;
PPMRRW + 0;
DEVITH + 0;
DEVICN + 0;
DEVIRW + 0;
+ MGIRW;
+ LSTG;
XGRW;
MGCN + MGINA + MGRW;
233
Lampiran 5. Hasil Estimasi Model Perdagangan Gula Indonesia
Menggunakan Metode 2SLS dan Prosedur SYSLIN dengan
Program SAS/ETS Versi 9.1
The SAS System
The SYSLIN Procedure
Two-Stage Least Squares Estimation
Model
Dependent Variable
Label
ARL_NEG
APTN
Luas Areal Perkebunan Besar Negara
Analysis of Variance
Source
DF
Sum of
Squares
Mean
Square
Model
Error
Corrected Total
6
21
27
1.917E9
3.5886E9
5.5055E9
3.1949E8
1.7088E8
Root MSE
Dependent Mean
Coeff Var
13072.2663
84261.3214
15.51396
R-Square
Adj R-Sq
F Value
Pr > F
1.87
0.1338
0.34819
0.16196
Parameter Estimates
Variable
DF
Parameter
Estimate
Standard
Error
t Value
Pr > |t|
Intercept
HRGPB
HRGB
JPG
LSBR
T
LAPTN
1
1
1
1
1
1
1
-58507.8
7.019464
-8.93069
1401.404
-235.054
296.0828
0.393402
73733.80
6.717223
11.91798
1071.167
299.6956
571.9206
0.195461
-0.79
1.04
-0.75
1.31
-0.78
0.52
2.01
0.4364
0.3079
0.4620
0.2049
0.4416
0.6101
0.0571
Durbin-Watson
Number of Observations
First-Order Autocorrelation
2.040986
28
-0.08685
Variable
Label
Intercept
H.r gula pdg.besar
H.r gabah
Jumlah pabrik gula
SBI riil t-1
Tren waktu
APTN t-1
234
The SAS System
The SYSLIN Procedure
Two-Stage Least Squares Estimation
Model
Dependent Variable
Label
ARL_SWA
APTS
Luas Areal Perkebunan Besar Swasta
Analysis of Variance
Source
DF
Sum of
Squares
Mean
Square
Model
Error
Corrected Total
6
21
27
2.839E10
1.4533E9
2.984E10
4.7314E9
69204138
Root MSE
Dependent Mean
Coeff Var
8318.90244
61882.7857
13.44300
F Value
Pr > F
68.37
<.0001
R-Square
Adj R-Sq
0.95130
0.93739
Parameter Estimates
Variable
DF
Parameter
Estimate
Standard
Error
t Value
Pr > |t|
Intercept 1
SHRGPB
1
-30759.5
1.395940
45731.87
3.360525
-0.67
0.42
0.5085
0.6821
RHRGB
JPG
SBR
T
LAPTS
-10934.2
660.4332
-488.834
1655.675
0.608505
19128.79
613.7405
288.8502
596.3194
0.165341
-0.57
1.08
-1.69
2.78
3.68
0.5737
0.2941
0.1054
0.0113
0.0014
1
1
1
1
1
Durbin-Watson
Number of Observations
First-Order Autocorrelation
Variable
Label
Intercept
Perubahan H.r
gula pdg.besar
Rasio H.riil gabah
Jumlah pabrik gula
SBI riil
Tren waktu
APTS t-1
2.448216
28
-0.22961
235
The SAS System
The SYSLIN Procedure
Two-Stage Least Squares Estimation
Model
Dependent Variable
Label
ARL_RAK
APTR
Luas Areal Perkebunan Rakyat
Analysis of Variance
Source
DF
Sum of
Squares
Mean
Square
Model
Error
Corrected Total
6
21
27
2.506E10
1.551E10
4.057E10
4.176E9
7.3876E8
Root MSE
Dependent Mean
Coeff Var
27180.1939
234715.357
11.58007
F Value
Pr > F
5.65
0.0013
R-Square
Adj R-Sq
0.61760
0.50834
Parameter Estimates
Variable
DF
Parameter
Estimate
Intercept
HRGP
HRGB
JPG
SBR
T
LAPTR
1
1
1
1
1
1
1
-70786.7
4.640525
-30.1531
3185.105
-420.724
915.7704
0.543370
Standard
Error
166461.6
16.00020
28.81031
2740.034
970.4056
1079.989
0.214774
t Value
Pr > |t|
-0.43
0.29
-1.05
1.16
-0.43
0.85
2.53
0.6750
0.7746
0.3072
0.2581
0.6690
0.4060
0.0195
Durbin-Watson
Number of Observations
First-Order Autocorrelation
Variable
Label
Intercept
H.r gula petani
H.r gabah
Jumlah pabrik gula
SBI riil
Tren waktu
APTR t-1
1.990762
28
-0.07054
236
The SAS System
The SYSLIN Procedure
Two-Stage Least Squares Estimation
Model
Dependent Variable
Label
YLD_NEG
YGHN
Produktivitas gula hablur negara
Analysis of Variance
Source
DF
Sum of
Squares
Mean
Square
Model
Error
Corrected Total
6
21
27
8.765761
2.743507
11.50927
1.460960
0.130643
Root MSE
Dependent Mean
Coeff Var
0.36145
4.30893
8.38830
F Value
Pr > F
11.18
<.0001
R-Square
Adj R-Sq
0.76163
0.69352
Parameter Estimates
Variable
DF
Parameter
Estimate
Intercept
HRGPB
SHRPUK
LAPTN
REND
LURBUN
1
1
1
1
1
1
-7.82566
0.000716
-0.00091
6.527E-6
1.021687
-7.81E-6
T
1
0.035034
Standard
Error
t Value
Pr > |t|
1.930810
0.000158
0.000676
5.094E-6
0.158934
0.000034
-4.05
4.53
-1.34
1.28
6.43
-0.23
0.0006
0.0002
0.1940
0.2140
<.0001
0.8210
0.023132
1.51
0.1448
Durbin-Watson
Number of Observations
First-Order Autocorrelation
Variable
Label
Intercept
H.r gula pdg.besar
Perubahan H.r pupuk
APTN t-1
Rendemen tebu
Upah riil pekerja
perkebunan t-1
Tren waktu
2.366441
28
-0.25009
237
The SAS System
The SYSLIN Procedure
Two-Stage Least Squares Estimation
Model
Dependent Variable
Label
YLD_SWA
YGHS
Produktivitas gula hablur swasta
Analysis of Variance
Source
DF
Sum of
Squares
Mean
Square
Model
Error
Corrected Total
7
20
27
14.73438
17.07869
31.81307
2.104911
0.853935
Root MSE
Dependent Mean
Coeff Var
0.92409
6.01893
15.35299
F Value
Pr > F
2.46
0.0537
R-Square
Adj R-Sq
0.46315
0.27526
Parameter Estimates
Variable
DF
Parameter
Estimate
Standard
Error
t Value
Pr > |t|
Intercept 1
SHRGPB
1
1.317542
0.000028
5.715783
0.000282
0.23
0.10
0.8200
0.9215
RHPUK
LAPTS
CHJ
REND
URBUN
1
1
1
1
1
-1.85419
0.000028
0.000147
0.639197
-0.00002
2.954085
0.000013
0.000373
0.411462
0.000083
-0.63
2.12
0.39
1.55
-0.29
0.5373
0.0465
0.6974
0.1360
0.7733
LYGHS
1
0.035580
0.282526
0.13
0.9010
Durbin-Watson
Number of Observations
First-Order Autocorrelation
2.100594
28
-0.11795
Variable
Label
Intercept
Perubahan H.r
gula pdg.besar
Rasio H.r pupuk
APTS t-1
Curah hujan
Rendemen tebu
Upah riil pekerja
perkebunan
YGHS t-1
238
The SAS System
The SYSLIN Procedure
Two-Stage Least Squares Estimation
Model
Dependent Variable
Label
YLD_RAK
YGHR
Produktivitas gula hablur rakyat
Analysis of Variance
Source
DF
Sum of
Squares
Mean
Square
Model
Error
Corrected Total
6
21
27
12.08506
7.074634
19.15970
2.014177
0.336887
Root MSE
Dependent Mean
Coeff Var
0.58042
5.57464
10.41179
F Value
Pr > F
5.98
0.0009
R-Square
Adj R-Sq
0.63075
0.52526
Parameter Estimates
Variable
DF
Parameter
Estimate
Standard
Error
t Value
Pr > |t|
Intercept 1
HGPUK
1
-0.94612
0.144799
1.504335
0.183922
-0.63
0.79
0.5362
0.4399
LAPTR
URBUN
1
1
2.605E-7
-0.00004
4.791E-6
0.000045
0.05
-0.88
0.9571
0.3873
DKKPE
REND
LYGHR
1
1
1
0.617054
0.327803
0.680695
0.644670
0.195469
0.150359
0.96
1.68
4.53
0.3494
0.1084
0.0002
Durbin-Watson
Number of Observations
First-Order Autocorrelation
Variable
Label
Intercept
Rasio H.r gula
thd H.r pupuk
APTR t-1
Upah riil pekerja
perkebunan
Dummy KKPE
Rendemen tebu
YGHR t-1
2.424243
28
-0.40279
239
The SAS System
The SYSLIN Procedure
Two-Stage Least Squares Estimation
Model
Dependent Variable
Label
DEMANDRT
DGRT
Permintaan gula RT
Analysis of Variance
Source
DF
Sum of
Squares
Mean
Square
Model
Error
Corrected Total
6
21
27
4.705E12
9.402E11
5.645E12
7.841E11
4.477E10
Root MSE
Dependent Mean
Coeff Var
211594.237
2146197.00
9.85903
F Value
Pr > F
17.51
<.0001
R-Square
Adj R-Sq
0.83344
0.78585
Parameter Estimates
Variable
DF
Parameter
Estimate
Intercept
HRGE
RHRGM
HRKO
LJPDBR
1
1
1
1
1
224009.4
-185.862
37639.88
-2.49354
522469.5
POPINA
LDGRT
1
1
0.010401
0.382462
Standard
Error
t Value
Pr > |t|
708819.8
92.45554
294388.9
4.131745
447942.6
0.32
-2.01
0.13
-0.60
1.17
0.7551
0.0574
0.8995
0.5526
0.2565
0.004926
0.243601
2.11
1.57
0.0469
0.1314
Durbin-Watson
Number of Observations
First-Order Autocorrelation
2.002861
28
-0.10615
Variable
Label
Intercept
H.r gula eceran
Rasio H.r gula merah
H.r kopi
Pertumbuhan
PDB riil Ina
Populasi Ina
Permintaan
gula RT t-1
240
The SAS System
The SYSLIN Procedure
Two-Stage Least Squares Estimation
Model
Dependent Variable
Label
DEMANDIN
DGIN
Permintaan gula industri
Analysis of Variance
Source
DF
Sum of
Squares
Mean
Square
Model
Error
Corrected Total
5
22
27
8.115E12
8.987E11
9.013E12
1.623E12
4.085E10
Root MSE
Dependent Mean
Coeff Var
202119.364
909174.786
22.23108
F Value
Pr > F
39.73
<.0001
R-Square
Adj R-Sq
0.90029
0.87762
Parameter Estimates
Variable
DF
Parameter
Estimate
Standard
Error
t Value
Pr > |t|
Intercept 1
LHRGPB
1
-396625
-12.4975
480196.0
73.36834
-0.83
-0.17
0.4177
0.8663
HRKIN
LJJIM
1
1
34560.46
148787.7
25963.45
347813.1
1.33
0.43
0.1968
0.6730
L2PDBIN
1
1.292485
0.678929
1.90
0.0701
LDGIN
1
0.759753
0.180565
4.21
0.0004
Durbin-Watson
Number of Observations
First-Order Autocorrelation
Variable
Label
Intercept
H.r gula pdg.
besar t-1
H.r produk mamin
Pertumbuhan industri
mamin
PDB riil sektor
mamin t-2
Permintaan gula
industri t-1
3.015167
28
-0.50822
241
The SAS System
The SYSLIN Procedure
Two-Stage Least Squares Estimation
Model
Dependent Variable
Label
HRG_PET
HRGP
H.r gula petani
Analysis of Variance
Source
DF
Sum of
Squares
Mean
Square
Model
Error
Corrected Total
5
22
27
8655049
581233.1
9236282
1731010
26419.69
Root MSE
Dependent Mean
Coeff Var
162.54133
4463.40465
3.64164
F Value
Pr > F
65.52
<.0001
R-Square
Adj R-Sq
0.93707
0.92277
Parameter Estimates
Variable
DF
Parameter
Estimate
Standard
Error
t Value
Pr > |t|
Intercept 1
HRGPB
1
RQGINA
1
-16.5646
0.881358
-557.120
629.8220
0.063665
358.4765
-0.03
13.84
-1.55
0.9793
<.0001
0.1344
DHPP
T
LHRGP
105.1625
3.702960
0.143517
125.5372
6.017443
0.058346
0.84
0.62
2.46
0.4112
0.5446
0.0222
1
1
1
Durbin-Watson
Number of Observations
First-Order Autocorrelation
Variable
Label
Intercept
H.r gula pdg.besar
Rasio produksi
gula Ina
Dummy HPP
Tren waktu
H.r gula petani t-1
2.153606
28
-0.11058
242
The SAS System
The SYSLIN Procedure
Two-Stage Least Squares Estimation
Model
Dependent Variable
Label
HRG_GPB
HRGPB
H.r gula pdg.besar
Analysis of Variance
Source
DF
Sum of
Squares
Mean
Square
Model
Error
Corrected Total
3
24
27
9021222
228934.5
9250156
3007074
9538.937
Root MSE
Dependent Mean
Coeff Var
97.66748
4921.12675
1.98466
F Value
Pr > F
315.24
<.0001
R-Square
Adj R-Sq
0.97525
0.97216
Parameter Estimates
Variable
DF
Parameter
Estimate
Intercept
HRGE
T
LHRGPB
1
1
1
1
-218.315
0.904098
8.933385
0.029177
Standard
Error
246.1036
0.031077
2.366979
0.034483
t Value
Pr > |t|
-0.89
29.09
3.77
0.85
0.3838
<.0001
0.0009
0.4058
Durbin-Watson
Number of Observations
First-Order Autocorrelation
Variable
Label
Intercept
H.r gula eceran
Tren waktu
H.r gula pdg.
besar t-1
1.34016
28
0.295403
243
The SAS System
The SYSLIN Procedure
Two-Stage Least Squares Estimation
Model
Dependent Variable
Label
HRG_ECR
HRGE
H.r gula eceran
Analysis of Variance
Source
DF
Sum of
Squares
Mean
Square
Model
Error
Corrected Total
3
24
27
4554531
5846195
10400725
1518177
243591.4
Root MSE
Dependent Mean
Coeff Var
493.54984
5363.48568
9.20204
F Value
Pr > F
6.23
0.0028
R-Square
Adj R-Sq
0.43791
0.36764
Parameter Estimates
Variable
DF
Parameter
Estimate
Standard
Error
t Value
Pr > |t|
Intercept 1
HRGINA
1
DGINA
1
3905.693
0.262341
0.000249
446.6259
0.063110
0.000232
8.74
4.16
1.07
<.0001
0.0004
0.2946
SGINA
-0.00008
0.000177
-0.45
0.6534
1
Durbin-Watson
Number of Observations
First-Order Autocorrelation
1.906461
28
0.004701
Variable
Label
Intercept
H.r impor gula Ina
Permintaan gula
Indonesia
Penawaran gula
Indonesia
244
The SAS System
The SYSLIN Procedure
Two-Stage Least Squares Estimation
Model
Dependent Variable
Label
HRG_INA
HRGINA
H.r impor gula Ina
Analysis of Variance
Source
DF
Sum of
Squares
Mean
Square
Model
Error
Corrected Total
3
24
27
13236811
49212724
62449535
4412270
2050530
Root MSE
Dependent Mean
Coeff Var
1431.96724
3926.86481
36.46592
F Value
Pr > F
2.15
0.1201
R-Square
Adj R-Sq
0.21196
0.11346
Parameter Estimates
Variable
DF
Parameter
Estimate
Intercept
HRGW
T
LHRGINA
1
1
1
1
156.1317
4.937577
51.66909
0.202815
Standard
Error
1943.128
2.282518
49.57324
0.186738
t Value
Pr > |t|
0.08
2.16
1.04
1.09
0.9366
0.0407
0.3077
0.2882
Durbin-Watson
Number of Observations
First-Order Autocorrelation
Variable
Label
Intercept
H.r gula dunia
Tren waktu
H.r impor gula
Ina t-1
1.932661
28
-0.00625
245
The SAS System
The SYSLIN Procedure
Two-Stage Least Squares Estimation
Model
IMP_TH
Dependent Variable
MGITH
Label
Impor gula dari Thailand
Analysis of Variance
Source
DF
Sum of
Squares
Mean
Square
Model
Error
Corrected Total
7
20
27
2.007E12
8.024E11
2.81E12
2.868E11
4.012E10
Root MSE
Dependent Mean
Coeff Var
200296.130
368089.751
54.41503
F Value
Pr > F
7.15
0.0002
R-Square
Adj R-Sq
0.71443
0.61448
Parameter Estimates
Variable
DF
Parameter
Estimate
Standard
Error
t Value
Pr > |t|
Intercept 1
HRGINA
1
QGINA
1
341127.1
-20.8237
-0.09003
326474.5
32.80511
0.083894
1.04
-0.63
-1.07
0.3085
0.5328
0.2960
ERITH
1
-244.582
610.3303
-0.40
0.6929
LSTG
TIG
T
LMGITH
1
1
1
1
-0.14987
-6335.73
36383.02
0.070703
0.174717
6668.487
15451.46
0.238023
-0.86
-0.95
2.35
0.30
0.4012
0.3534
0.0289
0.7695
Durbin-Watson
Number of Observations
First-Order Autocorrelation
2.012872
28
-0.06411
Variable
Label
Intercept
H.r impor gula Ina
Produksi gula
Indonesia
Nilai tukar riil
Ina thdp Thailand
Stok gula Ina t-1
Tarif impor gula
Tren waktu
Impor gula dari
Thailand t-1
246
The SAS System
The SYSLIN Procedure
Two-Stage Least Squares Estimation
Model
Dependent Variable
Label
IMP_CN
MGICN
Impor gula dari China
Analysis of Variance
Source
DF
Sum of
Squares
Mean
Square
Model
Error
Corrected Total
6
21
27
1.722E10
9.282E9
2.65E10
2.8701E9
4.42E8
Root MSE
Dependent Mean
Coeff Var
21023.7522
22557.1992
93.20196
F Value
Pr > F
6.49
0.0005
R-Square
Adj R-Sq
0.64977
0.54971
Parameter Estimates
Variable
DF
Parameter
Estimate
Standard
Error
t Value
Pr > |t|
Intercept 1
SHRGINA
1
27132.28
-1.83649
13859.91
3.404562
1.96
-0.54
0.0637
0.5953
QGINA
1
-0.02588
0.006206
-4.17
0.0004
TIG
SERICN
1
1
-2397.54
-2.15749
634.7933
11.37825
-3.78
-0.19
0.0011
0.8514
SSTG
1
-0.00045
0.017111
-0.03
0.9792
T
1
5214.175
983.4159
5.30
<.0001
Durbin-Watson
Number of Observations
First-Order Autocorrelation
Variable
Label
Intercept
Perubahan H.riil
impor gula Ina
Produksi gula
Indonesia
Tarif impor gula
Perubahan nilai
tukar Ina thd China
Perubahan Stok
gula Ina
Tren waktu
2.36001
28
-0.18215
247
The SAS System
The SYSLIN Procedure
Two-Stage Least Squares Estimation
Model
Dependent Variable
Label
EKS_BR
XGBR
Ekspor gula Brazil
Analysis of Variance
Source
DF
Sum of
Squares
Mean
Square
Model
Error
Corrected Total
4
23
27
1.459E15
2.4E13
1.483E15
3.648E14
1.044E12
Root MSE
Dependent Mean
Coeff Var
1021546.59
8586169.99
11.89758
F Value
Pr > F
349.53
<.0001
R-Square
Adj R-Sq
0.98382
0.98100
Parameter Estimates
Variable
DF
Parameter
Estimate
Intercept
HRGW
QGBR
SERBR
1
1
1
1
-6330563
2504.546
0.790311
325475.5
LXGBR
1
0.073383
Standard
Error
t Value
Pr > |t|
1291680
1554.190
0.107557
288289.5
-4.90
1.61
7.35
1.13
<.0001
0.1207
<.0001
0.2705
0.144712
0.51
0.6169
Durbin-Watson
Number of Observations
First-Order Autocorrelation
Variable
Label
Intercept
H.r gula dunia
Produksi gula Brazil
Perubahan Nilai
tukar riil Brazil
Ekspor gula
Brazil t-1
1.868928
28
0.041467
248
The SAS System
The SYSLIN Procedure
Two-Stage Least Squares Estimation
Model
Dependent Variable
Label
EKS_TH
XGTH
Ekspor gula Thailand
Analysis of Variance
Source
DF
Sum of
Squares
Mean
Square
Model
Error
Corrected Total
4
23
27
2.874E13
1.376E12
3.012E13
7.186E12
5.982E10
Root MSE
Dependent Mean
Coeff Var
244579.804
3068920.53
7.96957
F Value
Pr > F
120.12
<.0001
R-Square
Adj R-Sq
0.95432
0.94637
Parameter Estimates
Variable
DF
Parameter
Estimate
Standard
Error
t Value
Pr > |t|
Intercept 1
HRGW
1
QGTH
1
-179072
716.1686
0.470358
327272.1
418.0276
0.067838
-0.55
1.71
6.93
0.5895
0.1001
<.0001
SERTH
1
2570.296
15181.67
0.17
0.8670
T
1
50528.95
14303.85
3.53
0.0018
Durbin-Watson
Number of Observations
First-Order Autocorrelation
1.440074
28
0.23452
Variable
Label
Intercept
H.r gula dunia
Produksi gula
Thailand
Perubahan Nilai
tukar riil Thailand
Tren waktu
249
The SAS System
The SYSLIN Procedure
Two-Stage Least Squares Estimation
Model
Dependent Variable
Label
IMP_IND
MGIN
Impor gula India
Analysis of Variance
Source
DF
Sum of
Squares
Mean
Square
Model
Error
Corrected Total
6
21
27
6.909E12
4.212E12
1.112E13
1.151E12
2.006E11
Root MSE
Dependent Mean
Coeff Var
447867.252
475941.090
94.10140
F Value
Pr > F
5.74
0.0012
R-Square
Adj R-Sq
0.62123
0.51301
Parameter Estimates
Parameter
Estimate
Variable
DF
Intercept
HRGW
QGIN
LJPOPIN
1
1
1
1
-2.356E7
-2465.20
-0.11979
1.0645E9
SERIN
1
IRIN
T
1
1
Standard
Error
t Value
Pr > |t|
12135152
940.5539
0.028314
5.0836E8
-1.94
-2.62
-4.23
2.09
0.0657
0.0160
0.0004
0.0486
-43429.6
27588.90
-1.57
0.1304
2.673E-6
356268.4
1.463E-6
186635.7
1.83
1.91
0.0821
0.0700
Durbin-Watson
Number of Observations
First-Order Autocorrelation
Variable
Label
Intercept
H.r gula dunia
Produksi gula India
Pertumbuhan Penduduk
India
Perubahan nilai
tukar India
GDP riil India
Tren waktu
2.058233
28
-0.0597
250
The SAS System
The SYSLIN Procedure
Two-Stage Least Squares Estimation
Model
Dependent Variable
Label
IMP_USA
MGUS
Impor gula USA
Analysis of Variance
Source
DF
Sum of
Squares
Mean
Square
Model
Error
Corrected Total
5
22
27
7.609E12
3.603E11
7.969E12
1.522E12
1.638E10
Root MSE
Dependent Mean
Coeff Var
127969.653
1890739.60
6.76823
F Value
Pr > F
92.93
<.0001
R-Square
Adj R-Sq
0.95479
0.94452
Parameter Estimates
Variable
DF
Parameter
Estimate
Standard
Error
t Value
Pr > |t|
Intercept 1
SHRGW
1
1565346
-132.809
271773.0
263.9267
5.76
-0.50
<.0001
0.6198
QGUS
CGUS
STUS
LMGUS
-0.93316
0.767013
-0.89732
0.051877
0.061537
0.049439
0.068598
0.063212
-15.16
15.51
-13.08
0.82
<.0001
<.0001
<.0001
0.4206
1
1
1
1
Durbin-Watson
Number of Observations
First-Order Autocorrelation
Variable
Label
Intercept
Perubahan H.r
gula dunia
Produksi gula USA
Konsumsi gula USA
Stok gula USA
Impor gula USA t-1
1.286087
28
0.296483
251
The SAS System
The SYSLIN Procedure
Two-Stage Least Squares Estimation
Model
Dependent Variable
Label
IMP_CHN
MGCN
Impor gula China
Analysis of Variance
Source
DF
Sum of
Squares
Mean
Square
Model
Error
Corrected Total
7
20
27
4.087E12
6.265E12
1.035E13
5.839E11
3.132E11
Root MSE
Dependent Mean
Coeff Var
559687.191
1426827.36
39.22599
F Value
Pr > F
1.86
0.1299
R-Square
Adj R-Sq
0.39483
0.18302
Parameter Estimates
Variable
DF
Parameter
Estimate
Intercept
LHRGW
QGCN
CGCN
STCN
IRCN
LJPOPCN
1
1
1
1
1
1
1
350378.8
-1131.57
-0.16627
0.061002
-0.45192
6.802E-7
1.2015E8
LMGCN
1
0.282497
Standard
Error
t Value
Pr > |t|
1221495
853.8172
0.103257
0.134857
0.183213
3.144E-7
83471911
0.29
-1.33
-1.61
0.45
-2.47
2.16
1.44
0.7772
0.2000
0.1230
0.6559
0.0228
0.0428
0.1655
0.191291
1.48
0.1553
Durbin-Watson
Number of Observations
First-Order Autocorrelation
Variable
Label
Intercept
H.r gula dunia t-1
Produksi gula China
Konsumsi gula China
Stok gula China
GDP riil China
Pertumbuhan Penduduk
China
Impor gula China t-1
1.868724
28
0.058347
252
The SAS System
The SYSLIN Procedure
Two-Stage Least Squares Estimation
Model
Dependent Variable
Label
HRG_WRD
HRGW
H.r gula dunia
Analysis of Variance
Source
DF
Sum of
Squares
Mean
Square
Model
Error
Corrected Total
3
24
27
633127.5
194326.1
827453.5
211042.5
8096.919
Root MSE
Dependent Mean
Coeff Var
89.98288
429.80639
20.93568
F Value
Pr > F
26.06
<.0001
R-Square
Adj R-Sq
0.76515
0.73580
Parameter Estimates
Variable
DF
Intercept
XGW
MGW
LHRGW
1
1
1
1
Parameter
Estimate
216.7820
-0.00002
0.000020
0.630578
Standard
Error
142.6788
0.000021
0.000022
0.121408
t Value
Pr > |t|
1.52
-1.02
0.91
5.19
0.1417
0.3166
0.3713
<.0001
Durbin-Watson
Number of Observations
First-Order Autocorrelation
Variable
Label
Intercept
Ekspor gula dunia
Impor gula dunia
H.r gula dunia t-1
1.180449
28
0.369507
253
Lampiran 6.
Program Validasi Model Perdagangan Gula Indonesia
Menggunakan Metode NEWTON dan Prosedur SIMNLIN
dengan Program SAS/ETS Versi 9.1
/*Program Estimasi*/
OPTIONS NODATE NONUMBER;
DATA GULA;
SET ANALISIS;
*Make Nominal Data Real*/
ERINA
= (EINA/CPINA)*100;
ERITH
= (EITH/CPINA)*100;
ERICN
= (EICN/CPINA)*100;
ERBR
= (EBR/CPIBR)*100;
ERTH
= (ETH/CPITH)*100;
ERIN
= (EIN/CPIIN)*100;
ERCN
= (ECN/CPICN)*100;
HRGB
= (HGB/WPINA)*100;
HRGE
= (HGE/WPINA)*100;
HRGM
= (HGM/WPINA)*100;
HRGP
= (HGP/WPINA)*100;
HRGPB
= (HGPB/WPINA)*100;
HRKO
= (HKO/WPINA)*100;
HRPUK
= (HPUK/WPINA)*100;
URBUN
= (UBUN/CPINA)*100;
SBR
= SB-INF;
PDBR
= (PDB/CPINA)*100;
PDBINR
= (PDBIN/CPINA)*100;
HRGIIN
= (HGINA/WPINA)*100;
HRKIN
= (HKIN/WPINA)*100;
HRGW
= (HGW/CPIW)*100;
HRGINA
= HRGIIN*EINA/1000;
/*create
QGHN
QGHS
QGHR
QGKPN
QGKPS
QGKPR
QGKP
QGINA
DGINA
QGBR
QGTH
QGCN
QGIN
QGUS
MGITH
MGICN
XGBR
XGTH
MGIN
MGUS
MGCN
MGIW
data*/
= APTN*YGHN;
= APTS*YGHS;
= APTR*YGHR;
= QGHN*1.003;
= QGHS*1.003;
= QGHR*1.003;
= QGKPN+QGKPS+QGKPR;
= QGKP+QGKR;
= DGRT+DGIN;
= QWBR/1.087;
= QWTH/1.087;
= QWCN/1.087;
= QWIN/1.087;
= QWUS/1.087;
= MFITH + (MWITH/1.087);
= MFICN + (MWICN/1.087);
= XFBR + (XWBR/1.087);
= XFTH + (XWTH/1.087);
= MFIN + (MWIN/1.087);
= MFUS + (MWUS/1.087);
= MFCN + (MWCN/1.087);
= MFINA + (MWINA/1.087);
254
XGTW
MGTW
MGIRW
MGINA
MGRW
XGRW
XGW
MGW
=
=
=
=
=
=
=
=
/*Make Lag
LSBR
=
LAPTN
=
LAPTS
=
LAPTR
=
LHRGPB
=
LHRGB
=
LHRGE
=
LJPG
=
LHRPUK
=
LURBUN
=
LYGHR
=
LYGHS
=
LHRGM
=
LPDBR
=
LDGRT
=
LHRKIN
=
LJIM
=
L2PDBIN =
LDGIN
=
LQGINA
=
LHRGP
=
LHRGW
=
LHRGINA =
LERICN
=
LSTG
=
LXGBR
=
LERTH
=
LPOPIN
=
LERIN
=
LMGUS
=
LPOPCN
=
LMGCN
=
LMGITH
=
LERBR
=
/*Create
SGINA
LSGINA
SHRGPB
RHRGPB
RHRGB
SHRPUK
RHPUK
HGPUK
RHRGM
LJPDBR
SHRKIN
XFW + (XWW/1.087);
MFW + (MWW/1.087);
MGIW - (MGITH + MGICN);
MGITH + MGICN + MGIRW;
MGTW - (MGIN+MGUS+MGCN+MGINA);
XGTW - (XGBR+XGTH);
XGBR + XGTH + XGRW;
MGIN + MGUS + MGCN + MGINA + MGRW;
Variables*/
LAG(SBR);
LAG(APTN);
LAG(APTS);
LAG(APTR);
LAG(HRGPB);
LAG(HRGB);
LAG(HRGE);
LAG(JPG);
LAG(HRPUK);
LAG(URBUN);
LAG(YGHR);
LAG(YGHS);
LAG(HRGM);
LAG(PDBR);
LAG(DGRT);
LAG(HRKIN);
LAG(JIM);
LAG2(PDBINR);
LAG(DGIN);
LAG(QGINA);
LAG(HRGP);
LAG(HRGW);
LAG(HRGINA);
LAG(ERICN);
LAG(STG);
LAG(XGBR);
LAG(ERTH);
LAG(POPIN);
LAG(ERIN);
LAG(MGUS);
LAG(POPCN);
LAG(MGCN);
LAG(MGITH);
LAG(ERBR);
Data Baru*/
= QGINA+MGINA+LSTG;
= LAG(SGINA);
= HRGPB-LHRGPB;
= HRGPB/LHRGPB;
= HRGB/LHRGB;
= HRPUK-LHRPUK;
= HRPUK/LHRPUK;
= HRGP/HRPUK;
= HRGM/LHRGM;
= (PDBR-LPDBR)/LPDBR;
= HRKIN-LHRKIN;
255
LJJIM
RQGINA
SHRGINA
SERICN
SPOPIN
SSTG
SERBR
SERTH
LJPOPIN
LJPOPCN
SERIN
SHRGW
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
(JIM-LJIM)/LJIM;
QGINA/LQGINA;
HRGINA-LHRGINA;
ERICN-LERICN;
POPIN-LPOPIN;
STG-LSTG;
ERBR-LERBR;
ERTH-LERTH;
(POPIN-LPOPIN)/LPOPIN;
(POPCN-LPOPCN)/LPOPCN;
ERIN-LERIN;
HRGW-LHRGW;
PPMRTH
PPMRCN
PPMRRW
DEVITH
DEVICN
DEVIRW
=
=
=
=
=
=
(TIG*MGITH*(HRGINA*1000))/100;
(TIG*MGICN*(HRGINA*1000))/100;
(TIG*MGIRW*(HRGINA*1000))/100;
MGITH*(HRGINA*1000);
MGICN*(HRGINA*1000);
MGIRW*(HRGINA*1000);
/*Make Description of Variables*/
label
APTN
= 'Luas Perkeb. Besar Negara'
APTS
= 'Luas Perkeb. Besar Swasta'
APTR
= 'Luas Perkeb. Rakyat'
YGHN
= 'Produktivitas hablur negara'
YGHS
= 'Produktivitas hablur swasta'
YGHR
= 'Produktivitas hablur rakyat'
QGINA
= 'Produksi gula Indonesia'
SGINA
= 'Penawaran gula Indonesia'
DGINA
= 'Permintaan gula Indonesia'
DGRT
= 'Permintaan gula RT'
LDGRT
= 'Permintaan gula RT t-1'
DGIN
= 'Permintaan gula industri'
LDGIN
= 'Permintaan gula industri t-1'
HRGPB
= 'H.r gula pdg.besar'
LHRGPB
= 'H.r gula pdg.besar t-1'
SHRGPB
= 'Perubahan H.r gula pdg.besar'
HRGE
= 'H.r gula eceran'
HRGB
= 'H.r gabah'
RHRGB
= 'Rasio H.riil gabah'
HRGP
= 'H.r gula petani'
LHRGP
= 'H.r gula petani t-1'
HRKIN
= 'H.r produk mamin'
HRPUK
= 'H.r pupuk'
SHRPUK
= 'Perubahan H.r pupuk'
RHPUK
= 'Rasio H.r pupuk'
RHRGM
= 'Rasio H.r gula merah'
HRKO
= 'H.r kopi'
MGITH
= 'Impor gula dari Thai'
LMGITH
= 'Impor gula dari Thai t-1'
MGICN
= 'Impor gula dari China'
HRGINA
= 'H.r impor gula Ina'
LHRGINA
= 'H.r impor gula Ina t-1'
SHRGINA
= 'Perubahan H.riil impor gula Ina'
XGBR
= 'Ekspor gula Brazil'
LXGBR
= 'Ekspor gula Brazil t-1'
XGTH
= 'Ekspor gula Thailand'
256
MGIN
MGUS
LMGUS
MGCN
LMGCN
MGINA
HRGW
LHRGW
SHRGW
XGW
MGW
CHJ
CGUS
DKKPE
DHPP
ERBR
SERBR
ERITH
SERTH
LJPDBR
SERICN
SERIN
IRCN
IRIN
JPG
POPINA
LJPOPIN
LJPOPCN
QGKP
QGKPN
QGKPS
QGKPR
QGBR
QGTH
QGIN
QGCN
QGUS
REND
STCN
STUS
STG
LSTG
SSTG
SBR
LSBR
TIG
T
LJJIM
L2PDBIN
RQGINA
LAPTN
LAPTS
LAPTR
LYGHN
LYGHS
LYGHR
URBUN
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
'Impor gula India'
'Impor gula USA'
'Impor gula USA t-1'
'Impor gula China'
'Impor gula China t-1'
'Impor gula Ina'
'H.r gula dunia'
'H.r gula dunia t-1'
'Perubahan H.r gula dunia'
'Ekspor gula dunia'
'Impor gula dunia'
'Curah hujan'
'Konsumsi gula USA'
'Dummy KKPE'
'Dummy HPP'
'Nilai tukar riil Brazil'
'Perubahan Nilai tukar riil Brazil'
'Nilai tukar riil Ina thdp Thai'
'Perubahan Nilai tukar riil Thailand'
'Pertumbuhan PDB riil Ina'
'Perubahan nilai tukar Ina thd China'
'Perubahan nilai tukar India'
'GDP riil China'
'GDP riil India'
'Jumlah pabrik gula'
'Populasi Ina'
'Pertumbuhan Penduduk India'
'Pertumbuhan Penduduk China'
'Produksi GKP Indonesia '
'Produksi GKP Negara '
'Produksi GKP Swasta '
'Produksi GKP Rakyat '
'Produksi gula Brazil'
'Produksi gula Thailand'
'Produksi gula India'
'Produksi gula China'
'Produksi gula USA'
'Rendemen tebu'
'Stok gula China'
'Stok gula USA'
'Stok gula Ina'
'Stok gula Ina t-1'
'Perubahan Stok gula Ina'
'Suku bunga BI riil'
'Suku bunga BI riil t-1'
'Tarif impor gula'
'Tren waktu'
'Pertumbuhan industri mamin'
'PDB riil sektor mamin t-2'
'Rasio produksi gula Ina'
'APTN t-1'
'APTS t-1'
'APTR t-1'
'YGHN t-1'
'YGHS t-1'
'YGHR t-1'
'Upah riil pekerja perkebunan'
257
LURBUN
PPMRTH
PPMRCN
PPMRRW
DEVITH
DEVICN
DEVIRW
=
=
=
=
=
=
=
'Upah riil pekerja perkebunan t-1';
'Pen. Pmrth dari tarif Impor asal Thailand'
'Pen. Pmrth dari tarif Impor asal China'
'Pen. Pmrth dari tarif Impor asal ROW'
'Devisa impor dari Thailand'
'Devisa impor dari China'
'Devisa impor dari ROW';
RUN;
PROC SIMNLIN DATA=GULA DYNAMIC SIMULATE STAT OUTPREDICT THEIL OUT=A;
ENDOGENOUS
APTN APTS APTR YGHN YGHS YGHR QGKPN QGKPS QGKPR QGKP QGINA
DGRT DGIN DGINA SGINA HRGP HRGPB HRGE HRGINA MGITH MGICN MGINA
XGBR XGTH MGIN MGUS MGCN HRGW XGW
MGW
PPMRTH PPMRCN PPMRRW
DEVITH DEVICN DEVIRW;
INSTRUMENTS
CGCN CGUS CHJ
DKKPE DHPP ERITH ERBR ERTH
HRPUK HRKO IRIN
IRCN PDBR JPG
HRGB HRGM ERICN XGRW MGRW POPIN ERIN POPCN
STG
MGIRW POPINA QGBR QGTH JIM
PDBINR QGIN QGUS QGCN QGKR
REND SBR
STCN STUS T
TIG
URBUN HRKIN;
LSBR
= LAG(SBR);
LAPTN
= LAG(APTN);
LAPTS
= LAG(APTS);
LAPTR
= LAG(APTR);
LHRGPB = LAG(HRGPB);
LHRGB
= LAG(HRGB);
LJPG
= LAG(JPG);
LHRPUK = LAG(HRPUK);
LURBUN = LAG(URBUN);
LYGHR
= LAG(YGHR);
LYGHS
= LAG(YGHS);
LHRGM
= LAG(HRGM);
LPDBR
= LAG(PDBR);
LDGRT
= LAG(DGRT);
LHRKIN = LAG(HRKIN);
LJIM
= LAG(JIM);
L2PDBIN = LAG2(PDBINR);
LDGIN
= LAG(DGIN);
LQGINA = LAG(QGINA);
LHRGP
= LAG(HRGP);
LHRGW
= LAG(HRGW);
LHRGINA = LAG(HRGINA);
LERICN = LAG(ERICN);
LSTG
= LAG(STG);
LXGBR
= LAG(XGBR);
LERTH
= LAG(ERTH);
LPOPIN = LAG(POPIN);
LERIN
= LAG(ERIN);
LMGUS
= LAG(MGUS);
LPOPCN = LAG(POPCN);
LMGCN
= LAG(MGCN);
LMGITH = LAG(MGITH);
LERBR
= LAG(ERBR);
258
PARM
A0 -58507.8
A1 7.019
A2 -8.931
A3 1401.404
A4 -235.054
A5 296.083
A6 0.393
B0 -30759.5
B1 1.396
B2 -10934.2
B3 660.433
B4 -488.834
B5 1655.675
B6 0.609
C0 -70786.7
C1 4.640525
C2 -30.1531
C3 3185.105
C4 -420.724
C5 915.7704
C6 0.54337
D0 -7.82566
D1 0.000716
D2 -0.00091
D3 6.53E-06
D4 1.02E+00
D5 -7.81E-06
D6 0.035034
;
E0
E1
E2
E3
E4
E5
E6
E7
F0
F1
F2
F3
F4
F5
F6
G0
G1
G2
G3
G4
G5
G6
H0
H1
H2
H3
H4
H5
1.317542
0.000028
-1.85419
0.000028
0.000147
0.639197
-0.00002
0.03558
-0.94612
0.144799
2.61E-07
-0.00004
0.617054
0.327803
0.680695
224009.4
-185.862
37639.88
-2.49354
522469.5
0.010401
0.382462
-396625
-12.4975
34560.46
148787.7
1.292485
0.759753
I0-16.5646
I1 0.881358
I2 -557.12
I3 105.1625
I4 3.70296
I5 0.143517
J0 -218.315
J1 0.904098
J2 8.933385
J3 0.029177
K0 3905.693
K1 0.262341
K2 0.000249
K3 -0.00008
L0 156.1317
L1 4.937577
L2 51.66909
L3 0.202815
M0 341127.1
M1 -20.8237
M2 -0.09003
M3 -244.582
M4 -0.14987
M5 -6335.73
M6 36383.02
M7 0.070703
N0
N1
N2
N3
N4
N5
N6
O0
O1
O2
O3
O4
P0
P1
P2
P3
P4
Q0
Q1
Q2
Q3
Q4
Q5
Q6
27132.28
-1.83649
-0.02588
-2397.54
-2.15749
-0.00045
5214.175
-6330563
2504.546
0.790311
325475.5
0.073383
-179072
716.1686
0.470358
2570.296
50528.95
-2.36E+07
-2465.2
-0.11979
1.06E+09
-4.34E+04
2.67E-06
3.56E+05
R0
R1
R2
R3
R4
R5
S0
S1
S2
S3
S4
S5
S6
S7
T0
T1
T2
T3
1565346
-132.809
-0.93316
0.767013
-0.89732
0.051877
350378.8
-1131.57
-0.16627
0.061002
-0.45192
6.80E-07
1.20E+08
2.82E-01
216.782
-0.00002
0.00002
0.630578
/*STRUCTURAL EQUATIONS*/
APTN
APTS
= A0 + A1*HRGPB + A2*HRGB + A3*JPG + A4*LSBR + A5*T + A6*LAPTN;
= B0 + B1*(HRGPB-LHRGPB) + B2*(HRGB/LHRGB) + B3*JPG + B4*SBR +
B5*T + B6*LAPTS;
APTR
= C0 + C1*HRGP + C2*HRGB + C3*JPG + C4*SBR + C5*T + C6*LAPTR;
YGHN
= D0 + D1*HRGPB + D2*(HRPUK-LHRPUK) + D3*LAPTN + D4*REND +
D5*LURBUN + D6*T;
YGHS
= E0 + E1*(HRGPB-LHRGPB) + E2*(HRPUK/LHRPUK) + E3*LAPTS + E4*CHJ
+ E5*REND + E6*URBUN + E7*LYGHS;
YGHR
= F0 + F1*(HRGP/HRPUK) + F2*LAPTR + F3*LURBUN + F4*DKKPE +
F5*REND + F6*LYGHR;
DGRT
= G0 + G1*HRGE + G2*(HRGM/LHRGM) + G3*HRKO + G4*((PDBRLPDBR)/LPDBR)+ G5*POPINA + G6*LDGRT;
DGIN
= H0
+
H1*LHRGPB + H2*HRKIN
+
H3*((JIM-LJIM)/LJIM)
+
H4*(L2PDBIN) + H5*LDGIN;
HRGP
= I0 + I1*HRGPB + I2*(QGINA/LQGINA) + I3*DHPP + I4*T + I5*LHRGP;
HRGPB = J0 + J1*HRGE + J2*T + J3*LHRGPB;
HRGE
= K0 + K1*HRGINA + K2*DGINA + K3*SGINA;
HRGINA = L0 + L1*HRGW + L2*T+ L3*LHRGINA ;
MGITH = M0 + M1*HRGINA + M2*QGINA + M3*ERITH + M4*LSTG + M5*TIG + M6*T
+ M7*LMGITH;
MGICN = N0 + N1*(HRGINA-LHRGINA) + N2*QGINA + N3*TIG + N4*(ERICNLERICN) + N5*(STG-LSTG) + N6*T;
XGBR
= O0 + O1*HRGW + O2*QGBR + O3*(ERBR-LERBR) + O4*LXGBR;
XGTH
= P0 + P1*HRGW + P2*QGTH + P3*(ERTH-LERTH);
259
MGIN
MGUS
MGCN
HRGW
= Q0 + Q1*HRGW + Q2*QGIN + Q3*(POPIN-LPOPIN)/LPOPIN + Q4*(ERINLERIN) + Q5*IRIN + Q6*T;
= R0 + R1*(HRGW-LHRGW) + R2*QGUS + R3*CGUS + R4*STUS + R5*LMGUS;
= S0 + S1*LHRGW + S2*QGCN + S3*CGCN + S4*STCN + S5*IRCN +
S6*((POPCN-LPOPCN)/LPOPCN) + S7*LMGCN;
= T0 + T1*XGW + T2*MGW+ T3*LHRGW;
/*IDENTITY EQUATIONS*/
QGKPN = (APTN*YGHN)*1.003;
QGKPS = (APTS*YGHS)*1.003;
QGKPR = (APTR*YGHR)*1.003;
QGKP = QGKPN+QGKPS+QGKPR;
QGINA = QGKP+QGKR;
DGINA = DGRT+DGIN;
MGINA = MGITH + MGICN + MGIRW;
SGINA = QGINA + MGINA + LSTG;
XGW
= XGBR + XGTH + XGRW;
MGW
= MGIN + MGUS + MGCN + MGINA + MGRW;
PPMRTH = (TIG*MGITH*(HRGINA*1000))/100;
PPMRCN = (TIG*MGICN*(HRGINA*1000))/100;
PPMRRW = (TIG*MGIRW*(HRGINA*1000))/100;
DEVITH = MGITH*(HRGINA*1000);
DEVICN = MGICN*(HRGINA*1000);
DEVIRW = MGIRW*(HRGINA*1000);
RANGE TAHUN= 2004 TO 2010;
RUN;
260
Lampiran 7.
Hasil Validasi Model Perdagangan Gula Indonesia
Menggunakan Metode NEWTON dan Prosedur SIMNLIN
dengan Program SAS/ETS Versi 9.1
The SIMNLIN Procedure
Model Summary
Model Variables
Endogenous
Parameters
Range Variable
Equations
Number of Statements
Program Lag Length
36
36
124
Tahun
36
70
2
The SAS System
The SIMNLIN Procedure
Dynamic Simultaneous Simulation
Data Set Options
DATA=
OUT=
GULA
A
Solution Summary
Variables Solved
Simulation Lag Length
Solution Range
First
Last
Solution Method
CONVERGE=
Maximum CC
Maximum Iterations
Total Iterations
Average Iterations
36
2
Tahun
2004
2010
NEWTON
1E-8
7.269E-9
3
18
2.571429
Observations Processed
Read
Lagged
Solved
First
Last
9
2
7
24
30
261
The SAS System
The SIMNLIN Procedure
Dynamic Simultaneous Simulation
Solution Range Tahun = 2004 To 2010
Descriptive Statistics
Variable N Obs N
Actual
Mean Std Dev
Predicted
Mean Std Dev Label
APTN
APTS
APTR
YGHN
YGHS
YGHR
QGKPN
QGKPS
QGKPR
QGKP
QGINA
DGRT
DGIN
DGINA
SGINA
HRGP
HRGPB
HRGE
HRGINA
MGITH
MGICN
MGINA
XGBR
XGTH
MGIN
MGUS
MGCN
HRGW
XGW
MGW
PPMRTH
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
80018.1
4304.0 83826.5
97966.7 10501.8 99508.5
228377 25595.5
213487
4.9057
0.3925
4.9324
7.0657
0.6744
7.0486
5.6986
0.2895
5.5915
394586 46872.4
414313
691371 75180.9
705568
1307262
180065 1197796
2393219
225157 2317678
3734149
799886 3658608
2627138
227614 2599370
1763158
562503 1609852
4390296
626960 4209223
5965943 1112842 5855610
4804.2
558.4
4880.7
5204.4
612.1
5279.4
5604.5
675.1
5646.1
3648.1
720.3
4424.4
643924
290925
606388
6188.3
9406.6
8933.5
1497624
449184 1462833
19427423 3841733 19535931
4254398
679103 2933704
746030
832071
444435
2218943
511618 2198155
1606634
281022 1256535
310.1 75.9355
415.0
47834739 3838922 46622553
45398449 3575414 44691177
5.853E11 2.188E11 7.11E11
5729.3
11618.9
19430.2
0.4612
0.3965
0.1663
44572.6
107916
119363
256211
898360
71932.4
412418
477544
1102039
266.7
198.9
194.0
615.8
49678.3
12875.6
327996
3171693
494168
741622
496893
438839
68.2862
3364310
3669068
1.15E11
PPMRCN
7
7 6.5682E9 1.063E10 8.4974E9 1.289E10
PPMRRW
7
7 8.479E11 3.869E11 1.033E12 4.689E11
DEVITH
DEVICN
DEVIRW
7
7
7
7 2.21E12 7.922E11 2.666E12 3.001E11
7 2.437E10 3.879E10 3.297E10 4.986E10
7 3.147E12 1.328E12 3.824E12 1.591E12
Luas Perkeb. Besar Negara
Luas Perkeb. Besar Swasta
Luas Perkeb. Rakyat
Produktivitas hablur negara
Produktivitas hablur swasta
Produktivitas hablur rakyat
Produksi GKP Negara
Produksi GKP Swasta
Produksi GKP Rakyat
Produksi GKP Indonesia
Produksi gula Indonesia
Permintaan gula RT
Permintaan gula Industri
Permintaan gula Ina
Penawaran gula Ina
H.r gula petani
H.r gula pdg.besar
H.r gula eceran
H.r impor gula Ina
Impor gula dari Thai
Impor gula dari China
Impor gula Ina
Ekspor gula Brazil
Ekspor gula Thailand
Impor gula India
Impor gula USA
Impor gula China
H.r gula dunia
Ekspor gula dunia
Impor gula dunia
Pen.Pmrth dari tarif
Impor Asal Thailand
Pen.Pmrth dari tarif
Impor Asal China
Pen.Pmrth dari tarif
Impor Asal ROW
Devisa Impor dari Thailand
Devisa Impor dari China
Devisa Impor dari ROW
262
The SAS System
The SIMNLIN Procedure
Dynamic Simultaneous Simulation
Solution Range Tahun = 2004 To 2010
Statistics of fit
Variable
APTN
APTS
APTR
YGHN
YGHS
YGHR
QGKPN
QGKPS
QGKPR
QGKP
QGINA
DGRT
DGIN
DGINA
SGINA
HRGP
HRGPB
HRGE
HRGINA
MGITH
MGICN
MGINA
XGBR
XGTH
MGIN
MGUS
MGCN
HRGW
XGW
MGW
PPMRTH
PPMRCN
PPMRRW
DEVITH
DEVICN
DEVIRW
N
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
Mean
Error
3808.3
1541.8
-14889.9
0.0267
-0.0171
-0.107
19726.9
14197.1
-109465
-75541.1
-75541.1
-27767.7
-153306
-181073
-110332
76.444
74.9962
41.5035
776.4
-37536.3
2745.2
-34791.2
108509
-1320695
-301595
-20787.5
-350099
104.9
-1212186
-707272
1.26E+11
1.93E+09
1.85E+11
4.56E+11
8.60E+09
6.77E+11
Mean %
Error
5.2672
1.5124
-6.0159
0.8965
0.3695
-1.7293
6.6382
1.8274
-7.4657
-2.9944
-2.43
-0.4574
-5.8173
-3.5298
-1.7074
2.8605
2.6952
2.0055
23.7038
26.9592
14215.5
-0.0893
1.1555
-31.0913
-7614.3
-0.7037
-20.2554
37.2995
-2.4642
-1.5692
45.4337
17919
23.7038
45.4337
17919
23.7038
Mean Abs
Error
6628.6
2436.2
16592.1
0.3759
0.4837
0.2152
62415.5
42499.1
123886
178458
178458
143938
234112
299587
334675
483.8
509.4
546.2
777.4
217533
9573.2
208469
856167
1320695
468380
120061
373429
104.9
1214995
772361
1.70E+11
1.07E+10
1.85E+11
6.13E+11
4.03E+10
6.78E+11
Mean Abs
% Error
8.5665
2.4505
6.9395
7.5559
6.9865
3.7213
16.4502
6.2713
8.5551
7.2863
4.6629
5.5169
13.3157
6.5705
5.3779
10.5737
10.1831
10.0278
23.7285
55.5406
15336.3
13.3111
4.377
31.0913
11234.2
5.0883
21.6207
37.2995
2.4701
1.6973
50.0822
19177.3
23.7285
50.0822
19177.3
23.7285
RMS
Error
9475.2
3105.1
23415.4
0.4724
0.5683
0.2523
70263.8
56667
184352
204386
204386
207912
273364
370406
412996
589.6
602.5
642.1
959.6
271190
12717.3
264591
946012
1345303
598587
137371
566195
118.8
1555366
863605
2.45E+11
1.27E+10
2.62E+11
8.75E+11
4.84E+10
9.44E+11
RMS %
Error
12.4785
3.0604
9.4706
9.4603
8.3533
4.3075
19.0791
8.329
12.2394
8.1381
5.1757
8.093
14.8389
7.7116
6.2471
13.396
12.5052
12.1196
30.476
95.1408
37753.1
16.3066
4.7877
31.3462
25279.5
5.6392
31.6496
43.7864
3.1176
1.8793
94.6742
46947.1
30.476
94.6742
46947.1
30.476
263
Dynamic Simultaneous Simulation
Solution Range Tahun = 2004 To 2010
Theil Forecast Error Statistics
Variable N
APTN
APTS
APTR
YGHN
YGHS
YGHR
QGKPN
QGKPS
QGKPR
QGKP
QGINA
DGRT
DGIN
DGINA
SGINA
HRGP
HRGPB
HRGE
HRGINA
MGITH
MGICN
MGINA
XGBR
XGTH
MGIN
MGUS
MGCN
HRGW
XGW
MGW
PPMRTH
PPMRCN
PPMRRW
DEVITH
DEVICN
DEVIRW
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
MSE
89779742
9641786
5.4828E8
0.2231
0.3229
0.0636
4.937E9
3.2111E9
3.399E10
4.177E10
4.177E10
4.323E10
7.473E10
1.372E11
1.706E11
347576
362971
412298
920769
7.354E10
1.6173E8
7.001E10
8.949E11
1.81E12
3.583E11
1.887E10
3.206E11
14116.6
2.419E12
7.458E11
5.988E22
1.611E20
6.883E22
7.655E23
2.338E21
8.908E23
Corr
(R)
-0.74
0.97
0.66
0.30
0.44
0.53
-0.27
0.85
0.49
0.64
0.98
0.23
0.92
0.83
0.92
-0.05
-0.01
0.05
0.59
0.10
0.31
0.78
0.98
0.94
0.75
0.96
0.16
0.66
0.97
0.99
0.19
0.35
0.91
0.14
0.35
0.90
MSE Decomposition Proportions
Bias
Reg
Dist
Var Covar
(UM)
(UR)
(UD)
(US)
(UC)
0.16
0.25
0.40
0.00
0.00
0.18
0.08
0.06
0.35
0.14
0.14
0.02
0.31
0.24
0.07
0.02
0.02
0.00
0.65
0.02
0.05
0.02
0.01
0.96
0.25
0.02
0.38
0.78
0.61
0.67
0.26
0.02
0.50
0.27
0.03
0.51
0.76
0.18
0.01
0.46
0.03
0.00
0.57
0.52
0.02
0.25
0.28
0.01
0.13
0.01
0.03
0.22
0.10
0.05
0.03
0.00
0.53
0.01
0.32
0.01
0.03
0.00
0.41
0.02
0.04
0.02
0.08
0.45
0.17
0.04
0.48
0.15
0.08
0.57
0.58
0.54
0.97
0.82
0.35
0.42
0.62
0.61
0.58
0.97
0.56
0.75
0.90
0.77
0.88
0.94
0.31
0.98
0.42
0.98
0.67
0.03
0.71
0.98
0.21
0.20
0.35
0.31
0.66
0.53
0.33
0.69
0.48
0.33
0.02
0.11
0.06
0.02
0.20
0.20
0.00
0.29
0.09
0.02
0.20
0.48
0.26
0.14
0.00
0.21
0.40
0.48
0.01
0.68
0.06
0.18
0.43
0.02
0.02
0.01
0.07
0.00
0.08
0.01
0.15
0.03
0.08
0.27
0.04
0.07
0.82
0.64
0.54
0.98
0.79
0.62
0.92
0.65
0.55
0.84
0.66
0.50
0.43
0.62
0.93
0.77
0.58
0.51
0.34
0.30
0.89
0.80
0.56
0.02
0.73
0.97
0.55
0.22
0.31
0.32
0.58
0.95
0.42
0.46
0.92
0.42
Inequality Coef
U1
U
0.1183
0.0315
0.1020
0.0960
0.0801
0.0442
0.1770
0.0816
0.1399
0.0851
0.0537
0.0789
0.1487
0.0836
0.0682
0.1220
0.1151
0.1139
0.2587
0.3885
1.1904
0.1702
0.0479
0.3128
0.5582
0.0605
0.3479
0.3737
0.0324
0.0190
0.3951
1.0727
0.2850
0.3758
1.1139
0.2793
0.0577
0.0156
0.0528
0.0479
0.0402
0.0223
0.0864
0.0403
0.0731
0.0432
0.0270
0.0397
0.0783
0.0428
0.0344
0.0607
0.0573
0.0569
0.1175
0.2076
0.4972
0.0868
0.0239
0.1851
0.3167
0.0304
0.1921
0.1611
0.0164
0.0096
0.1828
0.4793
0.1286
0.1747
0.4829
0.1262
264
The SAS System
The SIMNLIN Procedure
Dynamic Simultaneous Simulation
Solution Range Tahun = 2004 To 2010
Theil Relative Change Forecast Error Statistics
Relative Change
Corr
Variable N
MSE
(R)
APTN
APTS
APTR
YGHN
YGHS
YGHR
QGKPN
QGKPS
QGKPR
QGKP
QGINA
DGRT
DGIN
DGINA
SGINA
HRGP
HRGPB
HRGE
HRGINA
MGITH
MGICN
MGINA
XGBR
XGTH
MGIN
MGUS
MGCN
HRGW
XGW
MGW
PPMRTH
PPMRCN
PPMRRW
DEVITH
DEVICN
DEVIRW
7
0.0145
7 0.00103
7
0.0109
7 0.00880
7 0.00745
7 0.00194
7
0.0315
7 0.00834
7
0.0199
7 0.00761
7 0.00361
7 0.00541
7
0.0357
7 0.00788
7 0.00549
7
0.0166
7
0.0152
7
0.0151
7
0.0820
7
1.0803
7
6964.3
7
0.0342
7 0.00285
7
0.1043
7
152967
7 0.00412
7
0.1020
7
0.1857
7 0.00112
7 0.000371
7
0.2253
7 22037.0
7
0.0673
7
0.1923
7 21938.8
7
0.0677
0.28
0.59
0.47
0.51
0.93
0.84
-0.49
0.93
0.60
0.70
0.85
0.80
0.68
0.72
0.86
0.55
0.59
0.63
0.67
0.98
1.00
0.88
0.82
0.93
-0.56
0.97
0.78
0.56
0.91
0.99
0.97
1.00
0.99
0.98
1.00
0.99
MSE Decomposition Proportions
Bias
Reg
Dist
Var Covar
(UM)
(UR)
(UD)
(US)
(UC)
0.17
0.24
0.39
0.00
0.01
0.20
0.09
0.01
0.37
0.18
0.23
0.03
0.22
0.24
0.10
0.02
0.02
0.01
0.67
0.09
0.09
0.02
0.04
0.96
0.27
0.01
0.41
0.80
0.61
0.70
0.09
0.10
0.78
0.07
0.10
0.78
0.55
0.35
0.24
0.34
0.31
0.07
0.75
0.31
0.11
0.01
0.03
0.19
0.00
0.00
0.02
0.16
0.08
0.03
0.03
0.76
0.90
0.02
0.00
0.01
0.64
0.03
0.38
0.04
0.00
0.09
0.44
0.89
0.00
0.59
0.89
0.00
0.28
0.41
0.37
0.66
0.68
0.73
0.16
0.68
0.53
0.81
0.74
0.78
0.77
0.76
0.88
0.82
0.89
0.97
0.30
0.15
0.01
0.96
0.96
0.03
0.09
0.96
0.22
0.16
0.38
0.21
0.47
0.01
0.22
0.34
0.01
0.22
0.12
0.07
0.02
0.01
0.52
0.26
0.03
0.52
0.00
0.09
0.01
0.53
0.11
0.16
0.16
0.01
0.03
0.09
0.00
0.83
0.89
0.16
0.14
0.02
0.06
0.00
0.20
0.00
0.04
0.07
0.57
0.89
0.00
0.68
0.89
0.00
0.72
0.69
0.60
0.98
0.47
0.54
0.88
0.47
0.63
0.73
0.76
0.44
0.67
0.61
0.74
0.97
0.95
0.90
0.33
0.07
0.02
0.83
0.83
0.02
0.67
0.98
0.39
0.20
0.35
0.23
0.35
0.01
0.22
0.25
0.01
0.22
Inequality Coef
U1
U
1.7472
0.4950
1.1652
1.0585
0.4528
0.6193
2.1177
0.4209
0.9600
0.7101
0.3582
0.6720
0.6355
0.6820
0.4282
0.8654
0.8311
0.7720
1.2123
0.5282
0.3882
0.4684
0.3562
2.1949
2.5678
0.2184
1.2265
1.7338
0.5006
0.2711
0.3521
0.5104
0.2531
0.3243
0.5093
0.2611
0.6634
0.2174
0.5953
0.4979
0.2710
0.3724
0.8776
0.2404
0.5203
0.4182
0.1940
0.4432
0.3839
0.4224
0.2406
0.4370
0.4406
0.4313
0.4569
0.3539
0.1628
0.2594
0.1795
0.6956
0.9141
0.1092
0.4865
0.5358
0.2950
0.1389
0.1951
0.2036
0.1197
0.1810
0.2032
0.1231
265
Lampiran 8. Program Simulasi Historis Model Perdagangan Gula Indonesia
Menggunakan Metode NEWTON dan Prosedur SIMNLIN
dengan Program SAS/ETS Versi 9.1
Contoh : Simulasi penurunan tarif impor gula 49 persen
/*Program Estimasi*/
OPTIONS NODATE NONUMBER;
DATA GULA;
SET ANALISIS;
*Make Nominal Data Real*/
ERINA
= (EINA/CPINA)*100;
ERITH
= (EITH/CPINA)*100;
ERICN
= (EICN/CPINA)*100;
ERBR
= (EBR/CPIBR)*100;
ERTH
= (ETH/CPITH)*100;
ERIN
= (EIN/CPIIN)*100;
ERCN
= (ECN/CPICN)*100;
HRGB
= (HGB/WPINA)*100;
HRGE
= (HGE/WPINA)*100;
HRGM
= (HGM/WPINA)*100;
HRGP
= (HGP/WPINA)*100;
HRGPB
= (HGPB/WPINA)*100;
HRKO
= (HKO/WPINA)*100;
HRPUK
= (HPUK/WPINA)*100;
URBUN
= (UBUN/CPINA)*100;
SBR
= SB-INF;
PDBR
= (PDB/CPINA)*100;
PDBINR
= (PDBIN/CPINA)*100;
HRGIIN
= (HGINA/WPINA)*100;
HRKIN
= (HKIN/WPINA)*100;
HRGW
= (HGW/CPIW)*100;
HRGINA
= HRGIIN*EINA/1000;
/*create data*/
QGHN
= APTN*YGHN;
QGHS
= APTS*YGHS;
QGHR
= APTR*YGHR;
QGKPN
= QGHN*1.003;
QGKPS
= QGHS*1.003;
QGKPR
= QGHR*1.003;
QGKP
= QGKPN+QGKPS+QGKPR;
QGINA
= QGKP+QGKR;
DGINA
= DGRT+DGIN;
QGBR
= QWBR/1.087;
QGTH
= QWTH/1.087;
QGCN
= QWCN/1.087;
QGIN
= QWIN/1.087;
QGUS
= QWUS/1.087;
MGITH
= MFITH + (MWITH/1.087);
MGICN
= MFICN + (MWICN/1.087);
XGBR
= XFBR + (XWBR/1.087);
XGTH
= XFTH + (XWTH/1.087);
MGIN
= MFIN + (MWIN/1.087);
266
MGUS
MGCN
MGIW
XGTW
MGTW
MGIRW
MGINA
MGRW
XGRW
XGW
MGW
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
MFUS + (MWUS/1.087);
MFCN + (MWCN/1.087);
MFINA + (MWINA/1.087);
XFW + (XWW/1.087);
MFW + (MWW/1.087);
MGIW - (MGITH + MGICN);
MGITH + MGICN + MGIRW;
MGTW - (MGIN+MGUS+MGCN+MGINA);
XGTW - (XGBR+XGTH);
XGBR + XGTH + XGRW;
MGIN + MGUS + MGCN + MGINA + MGRW;
/*Make Lag Variables*/
LSBR
= LAG(SBR);
LAPTN
= LAG(APTN);
LAPTS
= LAG(APTS);
LAPTR
= LAG(APTR);
LHRGPB
= LAG(HRGPB);
LHRGB
= LAG(HRGB);
LHRGE
= LAG(HRGE);
LJPG
= LAG(JPG);
LHRPUK
= LAG(HRPUK);
LURBUN
= LAG(URBUN);
LYGHR
= LAG(YGHR);
LYGHS
= LAG(YGHS);
LHRGM
= LAG(HRGM);
LPDBR
= LAG(PDBR);
LDGRT
= LAG(DGRT);
LHRKIN
= LAG(HRKIN);
LJIM
= LAG(JIM);
L2PDBIN
= LAG2(PDBINR);
LDGIN
= LAG(DGIN);
LQGINA
= LAG(QGINA);
LHRGP
= LAG(HRGP);
LHRGW
= LAG(HRGW);
LHRGINA
= LAG(HRGINA);
LERICN
= LAG(ERICN);
LSTG
= LAG(STG);
LXGBR
= LAG(XGBR);
LERTH
= LAG(ERTH);
LPOPIN
= LAG(POPIN);
LERIN
= LAG(ERIN);
LMGUS
= LAG(MGUS);
LPOPCN
= LAG(POPCN);
LMGCN
= LAG(MGCN);
LMGITH
= LAG(MGITH);
LERBR
= LAG(ERBR);
/*Create Data Baru*/
SGINA
= QGINA+MGINA+LSTG;
LSGINA
= LAG(SGINA);
SHRGPB
= HRGPB-LHRGPB;
RHRGPB
= HRGPB/LHRGPB;
RHRGB
= HRGB/LHRGB;
SHRPUK
= HRPUK-LHRPUK;
RHPUK
= HRPUK/LHRPUK;
HGPUK
= HRGP/HRPUK;
267
RHRGM
LJPDBR
SHRKIN
LJJIM
RQGINA
SHRGINA
SERICN
SPOPIN
SSTG
SERBR
SERTH
LJPOPIN
LJPOPCN
SERIN
SHRGW
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
HRGM/LHRGM;
(PDBR-LPDBR)/LPDBR;
HRKIN-LHRKIN;
(JIM-LJIM)/LJIM;
QGINA/LQGINA;
HRGINA-LHRGINA;
ERICN-LERICN;
POPIN-LPOPIN;
STG-LSTG;
ERBR-LERBR;
ERTH-LERTH;
(POPIN-LPOPIN)/LPOPIN;
(POPCN-LPOPCN)/LPOPCN;
ERIN-LERIN;
HRGW-LHRGW;
PPMRTH
PPMRCN
PPMRRW
DEVITH
DEVICN
DEVIRW
=
=
=
=
=
=
(TIG*MGITH*(HRGINA*1000))/100;
(TIG*MGICN*(HRGINA*1000))/100;
(TIG*MGIRW*(HRGINA*1000))/100;
MGITH*(HRGINA*1000);
MGICN*(HRGINA*1000);
MGIRW*(HRGINA*1000);
/*Simulasi penurunan tarif impor gula 49%*/
TIG
= 0.51*TIG;
/*
/*Simulasi peningkatan harga pupuk 33%*/
HRPUK = 1.33*HRPUK;
/*Simulasi peningkatan harga gula tingkat petani 25%*/
HRGP = 1.25*HRGP;
/*Simulasi peningkatan luas areal perkebunan tebu 20%*/
APTN = 1.20*APTN;
APTS = 1.20*APTS;
APTR = 1.20*APTR;
/*Simulasi penurunan kuota impor gula Indonesia 50%*/
MGINA = 0.50*MGINA; */
/*Make Description of Variables*/
label
APTN
= 'Luas Perkeb. Besar Negara'
APTS
= 'Luas Perkeb. Besar Swasta'
APTR
= 'Luas Perkeb. Rakyat'
YGHN
= 'Produktivitas hablur negara'
YGHS
= 'Produktivitas hablur swasta'
YGHR
= 'Produktivitas hablur rakyat'
QGINA
= 'Produksi gula Indonesia'
SGINA
= 'Penawaran gula Indonesia'
DGINA
= 'Permintaan gula Indonesia'
DGRT
= 'Permintaan gula RT'
LDGRT
= 'Permintaan gula RT t-1'
DGIN
= 'Permintaan gula industri'
LDGIN
= 'Permintaan gula industri t-1'
HRGPB
= 'H.r gula pdg.besar'
LHRGPB
= 'H.r gula pdg.besar t-1'
SHRGPB
= 'Perubahan H.r gula pdg.besar'
HRGE
= 'H.r gula eceran'
HRGB
= 'H.r gabah'
268
RHRGB
HRGP
LHRGP
HRKIN
HRPUK
SHRPUK
RHPUK
RHRGM
HRKO
MGITH
LMGITH
MGICN
HRGINA
LHRGINA
SHRGINA
XGBR
LXGBR
XGTH
MGIN
MGUS
LMGUS
MGCN
LMGCN
MGINA
HRGW
LHRGW
SHRGW
XGW
MGW
CHJ
CGUS
DKKPE
DHPP
ERBR
SERBR
ERITH
SERTH
LJPDBR
SERICN
SERIN
IRCN
IRIN
JPG
POPINA
LJPOPIN
LJPOPCN
QGKP
QGKPN
QGKPS
QGKPR
QGBR
QGTH
QGIN
QGCN
QGUS
REND
STCN
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
'Rasio H.riil gabah'
'H.r gula petani'
'H.r gula petani t-1'
'H.r produk mamin'
'H.r pupuk'
'Perubahan H.r pupuk'
'Rasio H.r pupuk'
'Rasio H.r gula merah'
'H.r kopi'
'Impor gula dari Thai'
'Impor gula dari Thai t-1'
'Impor gula dari China'
'H.r impor gula Ina'
'H.r impor gula Ina t-1'
'Perubahan H.riil impor gula Ina'
'Ekspor gula Brazil'
'Ekspor gula Brazil t-1'
'Ekspor gula Thailand'
'Impor gula India'
'Impor gula USA'
'Impor gula USA t-1'
'Impor gula China'
'Impor gula China t-1'
'Impor gula Ina'
'H.r gula dunia'
'H.r gula dunia t-1'
'Perubahan H.r gula dunia'
'Ekspor gula dunia'
'Impor gula dunia'
'Curah hujan'
'Konsumsi gula USA'
'Dummy KKPE'
'Dummy HPP'
'Nilai tukar riil Brazil'
'Perubahan Nilai tukar riil Brazil'
'Nilai tukar riil Ina thdp Thai'
'Perubahan Nilai tukar riil Thailand'
'Pertumbuhan PDB riil Ina'
'Perubahan nilai tukar Ina thd China'
'Perubahan nilai tukar India'
'GDP riil China'
'GDP riil India'
'Jumlah pabrik gula'
'Populasi Ina'
'Pertumbuhan Penduduk India'
'Pertumbuhan Penduduk China'
'Produksi GKP Indonesia '
'Produksi GKP Negara '
'Produksi GKP Swasta '
'Produksi GKP Rakyat '
'Produksi gula Brazil'
'Produksi gula Thailand'
'Produksi gula India'
'Produksi gula China'
'Produksi gula USA'
'Rendemen tebu'
'Stok gula China'
269
STUS
STG
LSTG
SSTG
SBR
LSBR
TIG
T
LJJIM
L2PDBIN
RQGINA
LAPTN
LAPTS
LAPTR
LYGHN
LYGHS
LYGHR
URBUN
LURBUN
PPMRTH
PPMRCN
PPMRRW
DEVITH
DEVICN
DEVIRW
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
'Stok gula USA'
'Stok gula Ina'
'Stok gula Ina t-1'
'Perubahan Stok gula Ina'
'Suku bunga BI riil'
'Suku bunga BI riil t-1'
'Tarif impor gula'
'Tren waktu'
'Pertumbuhan industri mamin'
'PDB riil sektor mamin t-2'
'Rasio produksi gula Ina'
'APTN t-1'
'APTS t-1'
'APTR t-1'
'YGHN t-1'
'YGHS t-1'
'YGHR t-1'
'Upah riil pekerja perkebunan'
'Upah riil pekerja perkebunan t-1';
'Pen. Pmrth dari tarif Impor asal Thailand'
'Pen. Pmrth dari tarif Impor asal China'
'Pen. Pmrth dari tarif Impor asal ROW'
'Devisa impor dari Thailand'
'Devisa impor dari China'
'Devisa impor dari ROW';
RUN;
PROC SIMNLIN DATA=GULA DYNAMIC SIMULATE STAT;
ENDOGENOUS
APTN APTS APTR YGHN YGHS YGHR QGKPN QGKPS QGKPR QGKP QGINA
DGRT DGIN DGINA SGINA HRGP HRGPB HRGE HRGINA MGITH MGICN MGINA
XGBR XGTH MGIN MGUS MGCN HRGW XGW
MGW
PPMRTH PPMRCN PPMRRW
DEVITH DEVICN DEVIRW;
INSTRUMENTS
CGCN CGUS CHJ
DKKPE DHPP ERITH ERBR ERTH
HRPUK HRKO IRIN
IRCN PDBR JPG
HRGB HRGM ERICN XGRW MGRW POPIN ERIN POPCN
STG
MGIRW POPINA QGBR QGTH JIM
PDBINR QGIN QGUS QGCN QGKR
REND SBR
STCN STUS T
TIG
URBUN HRKIN;
LSBR
= LAG(SBR);
LAPTN
= LAG(APTN);
LAPTS
= LAG(APTS);
LAPTR
= LAG(APTR);
LHRGPB = LAG(HRGPB);
LHRGB
= LAG(HRGB);
LHRGE
= LAG(HRGE);
LJPG
= LAG(JPG);
LHRPUK = LAG(HRPUK);
LURBUN = LAG(URBUN);
LYGHR
= LAG(YGHR);
LYGHS
= LAG(YGHS);
LHRGM
= LAG(HRGM);
LPDBR
= LAG(PDBR);
LDGRT
= LAG(DGRT);
LHRKIN = LAG(HRKIN);
LJIM
= LAG(JIM);
L2PDBIN = LAG2(PDBINR);
LDGIN
= LAG(DGIN);
LQGINA = LAG(QGINA);
270
LHRGP
LHRGW
LHRGINA
LERICN
LSTG
LXGBR
LERTH
LPOPIN
LERIN
LMGUS
LPOPCN
LMGCN
LMGITH
LERBR
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
LAG(HRGP);
LAG(HRGW);
LAG(HRGINA);
LAG(ERICN);
LAG(STG);
LAG(XGBR);
LAG(ERTH);
LAG(POPIN);
LAG(ERIN);
LAG(MGUS);
LAG(POPCN);
LAG(MGCN);
LAG(MGITH);
LAG(ERBR);
PARM
A0 -58507.8
A1 7.019
A2 -8.931
A3 1401.404
A4 -235.054
A5 296.083
A6 0.393
B0 -30759.5
B1 1.396
B2 -10934.2
B3 660.433
B4 -488.834
B5 1655.675
B6 0.609
C0 -70786.7
C1 4.640525
C2 -30.1531
C3 3185.105
C4 -420.724
C5 915.7704
C6 0.54337
D0 -7.82566
D1 0.000716
D2 -0.00091
D3 6.53E-06
D4 1.02E+00
D5 -7.81E-06
D6 0.035034
;
E0
E1
E2
E3
E4
E5
E6
E7
F0
F1
F2
F3
F4
F5
F6
G0
G1
G2
G3
G4
G5
G6
H0
H1
H2
H3
H4
H5
1.317542
0.000028
-1.85419
0.000028
0.000147
0.639197
-0.00002
0.03558
-0.94612
0.144799
2.61E-07
-0.00004
0.617054
0.327803
0.680695
224009.4
-185.862
37639.88
-2.49354
522469.5
0.010401
0.382462
-396625
-12.4975
34560.46
148787.7
1.292485
0.759753
I0-16.5646
I1 0.881358
I2 -557.12
I3 105.1625
I4 3.70296
I5 0.143517
J0 -218.315
J1 0.904098
J2 8.933385
J3 0.029177
K0 3905.693
K1 0.262341
K2 0.000249
K3 -0.00008
L0 156.1317
L1 4.937577
L2 51.66909
L3 0.202815
M0 341127.1
M1 -20.8237
M2 -0.09003
M3 -244.582
M4 -0.14987
M5 -6335.73
M6 36383.02
M7 0.070703
N0
N1
N2
N3
N4
N5
N6
O0
O1
O2
O3
O4
P0
P1
P2
P3
P4
Q0
Q1
Q2
Q3
Q4
Q5
Q6
27132.28
-1.83649
-0.02588
-2397.54
-2.15749
-0.00045
5214.175
-6330563
2504.546
0.790311
325475.5
0.073383
-179072
716.1686
0.470358
2570.296
50528.95
-2.36E+07
-2465.2
-0.11979
1.06E+09
-4.34E+04
2.67E-06
3.56E+05
R0
R1
R2
R3
R4
R5
S0
S1
S2
S3
S4
S5
S6
S7
T0
T1
T2
T3
1565346
-132.809
-0.93316
0.767013
-0.89732
0.051877
350378.8
-1131.57
-0.16627
0.061002
-0.45192
6.80E-07
1.20E+08
2.82E-01
216.782
-0.00002
0.00002
0.630578
/*STRUCTURAL EQUATIONS*/
APTN
= A0 + A1*HRGPB + A2*HRGB + A3*JPG + A4*LSBR + A5*T + A6*LAPTN;
APTS
= B0 + B1*(HRGPB-LHRGPB) + B2*(HRGB/LHRGB) + B3*JPG + B4*SBR +
B5*T + B6*LAPTS;
APTR
= C0 + C1*HRGP + C2*HRGB + C3*JPG + C4*SBR + C5*T + C6*LAPTR;
YGHN
= D0 + D1*HRGPB + D2*(HRPUK-LHRPUK) + D3*LAPTN + D4*REND +
D5*LURBUN + D6*T;
YGHS
= E0 + E1*(HRGPB-LHRGPB) + E2*(HRPUK/LHRPUK) + E3*LAPTS + E4*CHJ
+ E5*REND + E6*URBUN + E7*LYGHS;
271
YGHR
= F0 + F1*(HRGP/HRPUK) + F2*LAPTR + F3*LURBUN + F4*DKKPE +
F5*REND + F6*LYGHR;
DGRT
= G0 + G1*HRGE + G2*(HRGM/LHRGM) + G3*HRKO + G4*((PDBRLPDBR)/LPDBR)+ G5*POPINA + G6*LDGRT;
DGIN
= H0
+
H1*LHRGPB + H2*HRKIN
+
H3*((JIM-LJIM)/LJIM)
+
H4*(L2PDBIN) + H5*LDGIN;
HRGP
= I0 + I1*HRGPB + I2*(QGINA/LQGINA) + I3*DHPP + I4*T + I5*LHRGP;
HRGPB = J0 + J1*HRGE + J2*T + J3*LHRGPB;
HRGE
= K0 + K1*HRGINA + K2*DGINA + K3*SGINA;
HRGINA = L0 + L1*HRGW + L2*T+ L3*LHRGINA ;
MGITH = M0 + M1*HRGINA + M2*QGINA + M3*ERITH + M4*LSTG + M5*TIG + M6*T
+ M7*LMGITH;
MGICN = N0 + N1*(HRGINA-LHRGINA) + N2*QGINA + N3*TIG + N4*(ERICNLERICN) + N5*(STG-LSTG) + N6*T;
XGBR
= O0 + O1*HRGW + O2*QGBR + O3*(ERBR-LERBR) + O4*LXGBR;
XGTH
= P0 + P1*HRGW + P2*QGTH + P3*(ERTH-LERTH);
MGIN
= Q0 + Q1*HRGW + Q2*QGIN + Q3*(POPIN-LPOPIN)/LPOPIN + Q4*(ERINLERIN) + Q5*IRIN + Q6*T;
MGUS
= R0 + R1*(HRGW-LHRGW) + R2*QGUS + R3*CGUS + R4*STUS + R5*LMGUS;
MGCN
= S0 + S1*LHRGW + S2*QGCN + S3*CGCN + S4*STCN + S5*IRCN +
S6*((POPCN-LPOPCN)/LPOPCN) + S7*LMGCN;
HRGW
= T0 + T1*XGW + T2*MGW+ T3*LHRGW;
/*IDENTITY EQUATIONS*/
QGKPN = (APTN*YGHN)*1.003;
QGKPS = (APTS*YGHS)*1.003;
QGKPR = (APTR*YGHR)*1.003;
QGKP = QGKPN+QGKPS+QGKPR;
QGINA = QGKP+QGKR;
DGINA = DGRT+DGIN;
MGINA = MGITH + MGICN + MGIRW;
SGINA = QGINA + MGINA + LSTG;
XGW
= XGBR + XGTH + XGRW;
MGW
= MGIN + MGUS + MGCN + MGINA + MGRW;
PPMRTH = (TIG*MGITH*(HRGINA*1000))/100;
PPMRCN = (TIG*MGICN*(HRGINA*1000))/100;
PPMRRW = (TIG*MGIRW*(HRGINA*1000))/100;
DEVITH = MGITH*(HRGINA*1000);
DEVICN = MGICN*(HRGINA*1000);
DEVIRW = MGIRW*(HRGINA*1000);
RANGE TAHUN= 2004 TO 2010;
RUN;
272
Lampiran 9. Hasil Simulasi Historis Model Perdagangan Gula Indonesia
Menggunakan Metode NEWTON dan Prosedur SIMNLIN
dengan Program SAS/ETS Versi 9.1
Contoh : Simulasi penurunan tarif impor gula 49 persen
The SAS System
The SIMNLIN Procedure
Model Summary
Model Variables
Endogenous
Parameters
Range Variable
Equations
Number of Statements
Program Lag Length
36
36
124
Tahun
36
70
2
The SAS System
The SIMNLIN Procedure
Dynamic Simultaneous Simulation
Data Set Options
DATA=
OUT=
GULA
A
Solution Summary
Variables Solved
Simulation Lag Length
Solution Range
First
Last
Solution Method
CONVERGE=
Maximum CC
Maximum Iterations
Total Iterations
Average Iterations
36
2
Tahun
2004
2010
NEWTON
1E-8
6.752E-9
3
17
2.428571
Observations Processed
Read
Lagged
Solved
First
Last
9
2
7
24
30
273
The SAS System
The SIMNLIN Procedure
Dynamic Simultaneous Simulation
Solution Range Tahun = 2004 To 2010
Descriptive Statistics
Variable N Obs N
Actual
Mean Std Dev
80018.1
4304.0
97966.7 10501.8
228377 25595.5
4.9057
0.3925
7.0657
0.6744
5.6986
0.2895
394586 46872.4
691371 75180.9
1307262
180065
2393219
225157
3734149
799886
2627138
227614
1763158
562503
4390296
626960
5965943 1112842
4804.2
558.4
5204.4
612.1
5604.5
675.1
3648.1
720.3
643924
290925
6188.3
9406.6
1497624
449184
19427423 3841733
4254398
679103
746030
832071
2218943
511618
1606634
281022
310.1 75.9355
47834739 3838922
45398449 3575414
5.853E11 2.188E11
Predicted
Mean Std Dev Label
APTN
APTS
APTR
YGHN
YGHS
YGHR
QGKPN
QGKPS
QGKPR
QGKP
QGINA
DGRT
DGIN
DGINA
SGINA
HRGP
HRGPB
HRGE
HRGINA
MGITH
MGICN
MGINA
XGBR
XGTH
MGIN
MGUS
MGCN
HRGW
XGW
MGW
PPMRTH
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
83794.0
5736.9
99507.4 11621.4
213460 19432.3
4.9301
0.4613
7.0486
0.3966
5.5909
0.1662
413960 44632.0
705558
107942
1197508
119336
2317025
256305
3657955
898457
2600285 71762.2
1609943
412451
4210228
477369
5973505 1106078
4877.7
267.6
5276.4
200.0
5642.8
195.3
4447.1
622.7
693709 49473.2
40158.9 12190.5
1581380
334349
19546142 3173879
2936446
494430
434995
742135
2198063
496962
1251927
438183
418.8 69.2605
46635506 3366905
44795583 3670677
4.178E11 7.093E10
PPMRCN
7
7 6.5682E9 1.063E10 2.336E10 4.5561E9
PPMRRW
7
7 8.479E11 3.869E11 5.294E11 2.406E11
DEVITH
DEVICN
DEVIRW
7
7
7
7 2.21E12 7.922E11 3.07E12 3.685E11
7 2.437E10 3.879E10 1.724E11 3.206E10
7 3.147E12 1.328E12 3.844E12 1.601E12
Luas Perkeb. Besar Negara
Luas Perkeb. Besar Swasta
Luas Perkeb. Rakyat
Produktivitas hablur negara
Produktivitas hablur swasta
Produktivitas hablur rakyat
Produksi GKP Negara
Produksi GKP Swasta
Produksi GKP Rakyat
Produksi GKP Indonesia
Produksi gula Indonesia
Permintaan gula RT
Permintaan gula industri
Permintaan gula Indonesia
Penawaran gula Indonesia
H.r gula petani
H.r gula pdg.besar
H.r gula eceran
H.r impor gula Ina
Impor gula dari Thai
Impor gula dari China
Impor gula Ina
Ekspor gula Brazil
Ekspor gula Thailand
Impor gula India
Impor gula USA
Impor gula China
H.r gula dunia
Ekspor gula dunia
Impor gula dunia
Pen. Pmrth dari tarif
Impor asal Thailand
Pen. Pmrth dari tarif
Impor asal China
Pen. Pmrth dari
tarif Impor asal ROW
Devisa impor dari Thailand
Devisa impor dari China
Devisa impor dari ROW
274
Lampiran 10. Program Peramalan Variabel Eksogen Model Perdagangan
Gula Indonesia Menggunakan Metode STEPAR dan Prosedur
FORECAST dengan Program SAS/ETS Versi 9.1
/*Program Peramalan Variabel Eksogen*/
OPTIONS NODATE NONUMBER;
DATA GULA;
SET ANALISIS;
*Make Nominal Data Real*/
ERINA
= (EINA/CPINA)*100;
ERITH
= (EITH/CPINA)*100;
ERICN
= (EICN/CPINA)*100;
ERBR
= (EBR/CPIBR)*100;
ERTH
= (ETH/CPITH)*100;
ERIN
= (EIN/CPIIN)*100;
ERCN
= (ECN/CPICN)*100;
HRGB
= (HGB/WPINA)*100;
HRGE
= (HGE/WPINA)*100;
HRGM
= (HGM/WPINA)*100;
HRGP
= (HGP/WPINA)*100;
HRGPB
= (HGPB/WPINA)*100;
HRKO
= (HKO/WPINA)*100;
HRPUK
= (HPUK/WPINA)*100;
URBUN
= (UBUN/CPINA)*100;
SBR
= SB-INF;
PDBR
= (PDB/CPINA)*100;
PDBINR
= (PDBIN/CPINA)*100;
HRGIIN
= (HGINA/WPINA)*100;
HRKIN
= (HKIN/WPINA)*100;
HRGW
= (HGW/CPIW)*100;
HRGINA
= HRGIIN*EINA/1000;
/*create data*/
QGHN
= APTN*YGHN;
QGHS
= APTS*YGHS;
QGHR
= APTR*YGHR;
QGKPN
= QGHN*1.003;
QGKPS
= QGHS*1.003;
QGKPR
= QGHR*1.003;
QGKP
= QGKPN+QGKPS+QGKPR;
QGINA
= QGKP+QGKR;
DGINA
= DGRT+DGIN;
QGBR
= QWBR/1.087;
QGTH
= QWTH/1.087;
QGCN
= QWCN/1.087;
QGIN
= QWIN/1.087;
QGUS
= QWUS/1.087;
MGITH
= MFITH + (MWITH/1.087);
MGICN
= MFICN + (MWICN/1.087);
XGBR
= XFBR + (XWBR/1.087);
XGTH
= XFTH + (XWTH/1.087);
MGIN
= MFIN + (MWIN/1.087);
MGUS
= MFUS + (MWUS/1.087);
MGCN
= MFCN + (MWCN/1.087);
MGIW
= MFINA + (MWINA/1.087);
275
XGTW
MGTW
MGIRW
MGINA
MGRW
XGRW
XGW
MGW
=
=
=
=
=
=
=
=
XFW + (XWW/1.087);
MFW + (MWW/1.087);
MGIW - (MGITH + MGICN);
MGITH + MGICN + MGIRW;
MGTW - (MGIN+MGUS+MGCN+MGINA);
XGTW - (XGBR+XGTH);
XGBR + XGTH + XGRW;
MGIN + MGUS + MGCN + MGINA + MGRW;
/*Make Lag Variables*/
LSBR
= LAG(SBR);
LAPTN
= LAG(APTN);
LAPTS
= LAG(APTS);
LAPTR
= LAG(APTR);
LHRGPB
= LAG(HRGPB);
LHRGB
= LAG(HRGB);
LHRGE
= LAG(HRGE);
LJPG
= LAG(JPG);
LHRPUK
= LAG(HRPUK);
LURBUN
= LAG(URBUN);
LYGHR
= LAG(YGHR);
LYGHS
= LAG(YGHS);
LHRGM
= LAG(HRGM);
LPDBR
= LAG(PDBR);
LDGRT
= LAG(DGRT);
LHRKIN
= LAG(HRKIN);
LJIM
= LAG(JIM);
L2PDBIN
= LAG2(PDBINR);
LDGIN
= LAG(DGIN);
LQGINA
= LAG(QGINA);
LHRGP
= LAG(HRGP);
LHRGW
= LAG(HRGW);
LHRGINA
= LAG(HRGINA);
LERICN
= LAG(ERICN);
LSTG
= LAG(STG);
LXGBR
= LAG(XGBR);
LERTH
= LAG(ERTH);
LPOPIN
= LAG(POPIN);
LERIN
= LAG(ERIN);
LMGUS
= LAG(MGUS);
LPOPCN
= LAG(POPCN);
LMGCN
= LAG(MGCN);
LMGITH
= LAG(MGITH);
LERBR
= LAG(ERBR);
/*Create Data Baru*/
SGINA
= QGINA+MGINA+LSTG;
LSGINA
= LAG(SGINA);
SHRGPB
= HRGPB-LHRGPB;
RHRGPB
= HRGPB/LHRGPB;
RHRGB
= HRGB/LHRGB;
SHRPUK
= HRPUK-LHRPUK;
RHPUK
= HRPUK/LHRPUK;
HGPUK
= HRGP/HRPUK;
RHRGM
= HRGM/LHRGM;
LJPDBR
= (PDBR-LPDBR)/LPDBR;
SHRKIN
= HRKIN-LHRKIN;
276
LJJIM
RQGINA
SHRGINA
SERICN
SPOPIN
SSTG
SERBR
SERTH
LJPOPIN
LJPOPCN
SERIN
SHRGW
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
(JIM-LJIM)/LJIM;
QGINA/LQGINA;
HRGINA-LHRGINA;
ERICN-LERICN;
POPIN-LPOPIN;
STG-LSTG;
ERBR-LERBR;
ERTH-LERTH;
(POPIN-LPOPIN)/LPOPIN;
(POPCN-LPOPCN)/LPOPCN;
ERIN-LERIN;
HRGW-LHRGW;
RUN;
PROC FORECAST DATA=GULA METHOD=STEPAR TREND=2
ID TAHUN;
VAR
CGCN CGUS CHJ
ERITH ERBR ERTH HRPUK
JPG
HRGB HRGM ERICN XGRW MGRW POPIN
POPINA QGBR QGTH JIM
PDBINR QGIN QGUS
STCN STUS T
TIG
URBUN HRKIN MGTW
RUN;
PROC PRINT DATA=EXO (FIRSTOBS=25);
ID TAHUN;
RUN;
OUT=EXO OUTDATA LEAD=10;
HRKO
ERIN
QGCN
MGIW
IRIN
POPCN
QGKR
DKKPE
IRCN PDBR
STG
MGIRW
REND SBR
DHPP;
277
Lampiran 11. Hasil Peramalan Variabel Eksogen Model Perdagangan Gula
Indonesia Menggunakan Metode STEPAR dan Prosedur
FORECAST dengan Program SAS/ETS Versi 9.1
The SAS System
Tahun
_TYPE_
_LEAD_
CGCN
CGUS
CHJ
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
ACTUAL
ACTUAL
ACTUAL
ACTUAL
ACTUAL
ACTUAL
FORECAST
FORECAST
FORECAST
FORECAST
FORECAST
FORECAST
FORECAST
FORECAST
FORECAST
FORECAST
0
0
0
0
0
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
7623354
7816650
10153515
8341995
8437172
8532349
8756174.6348
8903644.4533
9017809.6376
9117448.1139
9210750.3774
9301288.9321
9390622.0212
9479429.3142
9568007.267
9656485.1871
9295257
9307500
9297963
8770827
8861678
8952529
9115078.1713
9250034.9219
9367172.0994
9472801.1462
9570998.0805
9664395.2521
9754692.6695
9842988.2221
9929990.9423
10016158.733
1266.27
985.15
2389.99
2411.53
2206.24
2152.17
1777.4209475
1950.7081243
1693.6886526
1860.6932862
2234.8770878
2351.5841517
1770.9826831
1762.5103831
1847.8543624
1870.6541555
Tahun
ERTH
HRPUK
HRKO
IRIN
IRCN
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
40.2100
36.1812
29.9477
28.9982
30.4748
27.2719
27.5232
29.2063
30.4708
30.6915
31.4604
31.6486
30.9568
29.6914
28.2786
26.5880
1837.50
1806.91
1613.66
1437.87
1367.45
1359.57
1516.85
1709.48
1919.77
2099.00
2235.83
2323.90
2371.21
2389.31
2391.98
2390.95
22255.82
21185.65
19756.64
24185.36
19754.31
19039.36
21845.77
21081.45
20317.14
19552.83
18788.51
18024.20
17259.89
16495.57
15731.26
14966.95
658553437817
719561619358
790088337362
820830424070
888452309192
973324950212
960952835298
956119520184
957297218479
963267759556
973059842920
985899008384
1.0011677E12
1.0183737E12
1.0371242E12
1.0571064E12
1.9087864E12
2.1512023E12
2.456673E12
2.6925136E12
2.9402248E12
3.2460082E12
3.188189E12
3.1588172E12
3.1525283E12
3.1649694E12
3.1926084E12
3.2325794E12
3.2825568E12
3.3406537E12
3.4053389E12
3.47537E12
ERITH
ERBR
265.783
241.220
248.519
241.201
227.134
204.874
274.552
269.900
265.247
260.594
255.941
251.288
246.635
241.982
237.329
232.676
2.68390
2.17000
1.71514
1.52044
1.50621
1.26372
1.83340
2.29996
2.68681
3.01206
3.28968
3.53050
3.74287
3.93325
4.10664
4.26688
PDBR
JPG
3064149.66
3339216.80
3492965.43
4111572.28
4241501.06
4638155.83
4383350.55
4309986.29
4331724.32
4403310.20
4501023.84
4612432.33
4731018.97
4853368.05
4977689.20
5103044.01
59
59
59
60
62
62
61.2531
60.6238
60.0843
59.6130
59.1937
58.8141
58.4646
58.1380
57.8290
57.5333
278
The SAS System
Tahun
HRGB
HRGM
ERICN
XGRW
MGRW
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
2072.76
2372.49
2331.61
2155.91
1803.55
2181.73
2267.86
2283.04
2298.22
2313.40
2328.58
2343.76
2358.94
2374.12
2389.30
2404.48
6604.17
6565.73
6852.97
6833.25
7396.06
8215.81
7406.85
7456.12
7505.38
7554.64
7603.91
7653.17
7702.43
7751.70
7800.96
7850.23
1306.54
1147.32
1059.57
1154.17
1149.21
964.76
1521.31
1536.71
1552.12
1567.53
1582.93
1598.34
1613.74
1629.15
1644.56
1659.96
25278276.97
26977002.93
25662632.82
22393876.82
21582976.13
24042651.80
24600008.56
24914692.63
25110131.58
25246975.54
25355026.95
25448930.20
25535881.29
25619416.21
25701272.48
25782303.90
37960334.17
40540479.22
41771044.16
38584881.58
38489693.50
43741977.31
43016861.37
42946158.39
43248310.38
43762898.28
44398522.56
45103107.91
45846984.17
46613246.60
47392263.67
48178547.75
Tahun
POPCN
STG
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
1303720000
1311020000
1317885000
1324655000
1331380000
1338300000
1354311446.8
1369847760.4
1384967830
1399723245.7
1414159203.6
1428315298.2
1442226216.3
1455922345.7
1469430307.7
1482773424.4
708501
567194
1082231
1204295
510762
1029970
726166.54572
598217.2461
535414.75315
496746.50045
467019.00146
440603.6878
415415.40399
390681.68481
366116.36331
341613.42631
MGIRW
815389.11
1125069.80
1358472.92
751319.08
698680.49
866013.27
882428.97
906381.88
933583.12
962184.31
991388.85
1020853.41
1050430.03
1080054.95
1109700.69
1139355.39
POPIN
1140042863
1157038539
1173971629
1190863679
1207740408
1224615000
1242832049.4
1260976442.4
1279058230.6
1297086074.9
1315067438.2
1333008750.7
1350915553.3
1368792620.3
1386644065.2
1404473432.9
POPINA
227303175
229918547
232461746
234951154
237414495
239870000
243219854.64
246496227.5
249712282.32
252878824.63
256004724.24
259097261.98
262162414.4
265205087.38
268229307.94
271238381.7
ERIN
43.9800
42.5624
36.6132
35.6547
35.6974
30.0968
32.3106
34.0310
35.3508
36.3454
37.0760
37.5923
37.9346
38.1357
38.2221
38.2154
QGBR
QGTH
27138914.44
29591536.34
28776264.95
29517295.31
31864673.41
36680772.77
36075944.66
35849914.00
35911226.78
36190508.98
36635135.71
37205187.42
37870382.47
38607750.16
39399865.66
40233511.10
4760294.39
4448058.88
6181950.32
7190929.16
6611398.34
6374158.23
6894404.43
7237680.50
7250085.46
7339791.23
7574021.97
7774487.61
7911824.53
8063910.10
8243570.39
8416788.44
279
The SAS System
Tahun
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
JIM
4722
6651
6341
6063
5871
5579
6017.00
6320.15
6550.64
6741.96
6912.18
7071.03
7223.75
7373.17
7520.80
7667.48
PDBINR
QGIN
686901.26
747444.40
783599.68
946053.59
959506.81
999598.50
985619.43
991771.90
1009401.11
1033573.06
1061474.94
1091503.21
1122743.72
1154675.30
1187000.85
1219551.00
Tahun
REND
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
7.18
7.63
7.35
7.96
7.6
6.46
6.7494942529
6.6994186133
6.6493429737
6.5992673341
6.5491916945
6.4991160549
6.4490404153
6.3989647757
6.3488891361
6.2988134965
QGUS
13035878.56
19448022.08
28316467.34
26338546.46
14673413.06
18985280.59
25762978.18
26275750.16
22552023.35
21405728.48
24212938.47
26857687.91
26724022.30
25573258.31
25915579.37
27562186.12
SBR
-6.57000
5.38000
1.90000
-2.33000
4.37000
-0.46000
-0.97432
-1.22707
-1.47983
-1.73258
-1.98533
-2.23808
-2.49083
-2.74359
-2.99634
-3.24909
6174793.01
7048758.05
6804047.84
6286108.56
6514259.43
6535418.58
6856356.04
7077893.69
7238865.15
7362932.47
7464513.40
7552392.95
7631923.98
7706368.10
7777712.67
7847168.63
QGCN
QGKR
8892732.29
12049485.74
14903063.48
12490321.99
10788040.48
10515179.39
11622318.83
12831787.25
13185968.91
12883968.10
12704846.17
13050246.73
13673557.80
14135979.22
14301477.71
14370912.17
STCN
STUS
918251
481167
-1212845
-168639
-176641
-184642
-234936.2925
-241732.7789
-227867.7894
-235252.715
-252731.359
-259828.8153
-261995.2032
-269233.0964
-278879.9568
-286049.2426
1177897
-379753
874042
-127335
-132854
-138372
169535.73103
180929.70078
192323.67052
203717.64027
215111.61001
226505.57976
237899.5495
249293.51924
260687.48899
272081.45873
T
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
759708
1100228
1441501
1256435
2031843
2356805
2111172.4655
1935928.0938
1814475.0985
1734130.0403
1685200.101
1660277.927
1653702.7403
1661148.5148
1679309.2558
1705658.487
TIG
25
28
28
28
24
28
29.101324627
30.226162367
31.366271902
32.516300485
33.672771503
34.83342689
35.99680003
37.161938353
38.328223165
39.495252622
280
The SAS System
Tahun
URBUN
HRKIN
MGTW
MGIW
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
17332.21
20696.32
21684.97
23528.48
23014.21
23381.54
23392.18
23481.82
23638.91
23853.60
24117.49
24423.39
24765.18
25137.60
25536.19
25957.13
1.85553
1.89000
1.75051
1.74477
1.67272
1.71144
-0.77131
-2.34618
-3.47323
-4.37940
-5.17662
-5.92010
-6.63707
-7.34097
-8.03842
-8.73269
43812550.77
46424896.05
47376041.50
44123311.80
46044468.57
50786123.46
49836323.02
49521586.37
49618125.73
49981013.07
50516391.00
51163476.20
51882904.57
52649183.35
53445803.11
54262072.10
1521493.63
1325976.09
2448906.76
1551559.85
1271614.59
1287461.68
1558367.78
1701886.46
1794668.97
1867244.16
1931771.14
1993092.65
2053137.47
2112673.83
2172007.66
2231260.83
DKKPE DHPP
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
281
Lampiran 12. Program Peramalan Variabel Endogen Model Perdagangan
Gula Indonesia Menggunakan Metode NEWTON dan
Prosedur SIMNLIN dengan Program SAS/ETS Versi 9.1
/*Program Peramalan Variabel Endogen*/
OPTIONS NODATE NONUMBER;
DATA RAMAL;
SET EXO;
IF
IF
IF
IF
IF
IF
IF
IF
IF
IF
IF
IF
IF
IF
IF
_TYPE_='FORECAST'
_TYPE_='FORECAST'
_TYPE_='FORECAST'
_TYPE_='FORECAST'
_TYPE_='FORECAST'
_TYPE_='FORECAST'
_TYPE_='FORECAST'
_TYPE_='FORECAST'
_TYPE_='FORECAST'
_TYPE_='FORECAST'
_TYPE_='FORECAST'
_TYPE_='FORECAST'
_TYPE_='FORECAST'
_TYPE_='FORECAST'
_TYPE_='FORECAST'
THEN
THEN
THEN
THEN
THEN
THEN
THEN
THEN
THEN
THEN
THEN
THEN
THEN
THEN
THEN
APTN = 1;
APTS = 1;
APTR = 1;
YGHN = 1;
YGHS = 1;
YGHR = 1;
DGRT = 1;
DGIN = 1;
HRGP = 1;
HRGPB = 1;
HRGE = 1;
HRGINA= 1;
HRGW = 1;
DKKPE = 1;
DHPP = 1;
RUN;
PROC PRINT DATA=RAMAL (FIRSTOBS=25);
RUN;
PROC SIMNLIN DATA=RAMALGULA DYNAMIC SIMULATE OUT=ENDO;
ENDOGENOUS
APTN APTS APTR YGHN YGHS YGHR QGKPN QGKPS QGKPR QGKP QGINA
DGRT DGIN DGINA SGINA HRGP HRGPB HRGE HRGINA MGITH MGICN MGINA
XGBR XGTH MGIN MGUS MGCN HRGW XGW
MGW
PPMRTH PPMRCN PPMRRW
DEVITH DEVICN DEVIRW;
INSTRUMENTS
CGCN CGUS CHJ
DKKPE DHPP ERITH ERBR ERTH
HRPUK HRKO IRIN
IRCN PDBR JPG
HRGB HRGM ERICN XGRW MGRW POPIN ERIN POPCN
STG
MGIRW POPINA QGBR QGTH JIM
PDBINR QGIN QGUS QGCN QGKR
REND SBR
STCN STUS T
TIG
URBUN HRKIN;
LSBR
= LAG(SBR);
LAPTN
= LAG(APTN);
LAPTS
= LAG(APTS);
LAPTR
= LAG(APTR);
LHRGPB = LAG(HRGPB);
LHRGB
= LAG(HRGB);
LHRGE
= LAG(HRGE);
LJPG
= LAG(JPG);
LHRPUK = LAG(HRPUK);
LURBUN = LAG(URBUN);
LYGHR
= LAG(YGHR);
LYGHS
= LAG(YGHS);
LHRGM
= LAG(HRGM);
LPDBR
= LAG(PDBR);
LDGRT
= LAG(DGRT);
282
LHRKIN
LJIM
L2PDBIN
LDGIN
LQGINA
LHRGP
LHRGW
LHRGINA
LERICN
LSTG
LXGBR
LERTH
LPOPIN
LERIN
LMGUS
LPOPCN
LMGCN
LMGITH
LERBR
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
LAG(HRKIN);
LAG(JIM);
LAG2(PDBINR);
LAG(DGIN);
LAG(QGINA);
LAG(HRGP);
LAG(HRGW);
LAG(HRGINA);
LAG(ERICN);
LAG(STG);
LAG(XGBR);
LAG(ERTH);
LAG(POPIN);
LAG(ERIN);
LAG(MGUS);
LAG(POPCN);
LAG(MGCN);
LAG(MGITH);
LAG(ERBR);
PARM
A0 -58507.8
A1 7.019
A2 -8.931
A3 1401.404
A4 -235.054
A5 296.083
A6 0.393
B0 -30759.5
B1 1.396
B2 -10934.2
B3 660.433
B4 -488.834
B5 1655.675
B6 0.609
C0 -70786.7
C1 4.640525
C2 -30.1531
C3 3185.105
C4 -420.724
C5 915.7704
C6 0.54337
D0 -7.82566
D1 0.000716
D2 -0.00091
D3 6.53E-06
D4 1.02E+00
D5 -7.81E-06
D6 0.035034
;
E0
E1
E2
E3
E4
E5
E6
E7
F0
F1
F2
F3
F4
F5
F6
G0
G1
G2
G3
G4
G5
G6
H0
H1
H2
H3
H4
H5
1.317542
0.000028
-1.85419
0.000028
0.000147
0.639197
-0.00002
0.03558
-0.94612
0.144799
2.61E-07
-0.00004
0.617054
0.327803
0.680695
224009.4
-185.862
37639.88
-2.49354
522469.5
0.010401
0.382462
-396625
-12.4975
34560.46
148787.7
1.292485
0.759753
I0-16.5646
I1 0.881358
I2 -557.12
I3 105.1625
I4 3.70296
I5 0.143517
J0 -218.315
J1 0.904098
J2 8.933385
J3 0.029177
K0 3905.693
K1 0.262341
K2 0.000249
K3 -0.00008
L0 156.1317
L1 4.937577
L2 51.66909
L3 0.202815
M0 341127.1
M1 -20.8237
M2 -0.09003
M3 -244.582
M4 -0.14987
M5 -6335.73
M6 36383.02
M7 0.070703
N0
N1
N2
N3
N4
N5
N6
O0
O1
O2
O3
O4
P0
P1
P2
P3
P4
Q0
Q1
Q2
Q3
Q4
Q5
Q6
27132.28
-1.83649
-0.02588
-2397.54
-2.15749
-0.00045
5214.175
-6330563
2504.546
0.790311
325475.5
0.073383
-179072
716.1686
0.470358
2570.296
50528.95
-2.36E+07
-2465.2
-0.11979
1.06E+09
-4.34E+04
2.67E-06
3.56E+05
R0
R1
R2
R3
R4
R5
S0
S1
S2
S3
S4
S5
S6
S7
T0
T1
T2
T3
1565346
-132.809
-0.93316
0.767013
-0.89732
0.051877
350378.8
-1131.57
-0.16627
0.061002
-0.45192
6.80E-07
1.20E+08
2.82E-01
216.782
-0.00002
0.00002
0.630578
/*STRUCTURAL EQUATIONS*/
APTN
= A0 + A1*HRGPB + A2*HRGB + A3*JPG + A4*LSBR + A5*T + A6*LAPTN;
APTS
= B0 + B1*(HRGPB-LHRGPB) + B2*(HRGB/LHRGB) + B3*JPG + B4*SBR +
B5*T + B6*LAPTS;
APTR
= C0 + C1*HRGP + C2*HRGB + C3*JPG + C4*SBR + C5*T + C6*LAPTR;
283
YGHN
= D0 + D1*HRGPB + D2*(HRPUK-LHRPUK) + D3*LAPTN + D4*REND +
D5*LURBUN + D6*T;
YGHS
= E0 + E1*(HRGPB-LHRGPB) + E2*(HRPUK/LHRPUK) + E3*LAPTS + E4*CHJ
+ E5*REND + E6*URBUN + E7*LYGHS;
YGHR
= F0 + F1*(HRGP/HRPUK) + F2*LAPTR + F3*LURBUN + F4*DKKPE +
F5*REND + F6*LYGHR;
DGRT
= G0 + G1*HRGE + G2*(HRGM/LHRGM) + G3*HRKO + G4*((PDBRLPDBR)/LPDBR)+ G5*POPINA + G6*LDGRT;
DGIN
= H0
+
H1*LHRGPB + H2*HRKIN
+
H3*((JIM-LJIM)/LJIM)
+
H4*(L2PDBIN) + H5*LDGIN;
HRGP
= I0 + I1*HRGPB + I2*(QGINA/LQGINA) + I3*DHPP + I4*T + I5*LHRGP;
HRGPB = J0 + J1*HRGE + J2*T + J3*LHRGPB;
HRGE
= K0 + K1*HRGINA + K2*DGINA + K3*SGINA;
HRGINA = L0 + L1*HRGW + L2*T+ L3*LHRGINA ;
MGITH = M0 + M1*HRGINA + M2*QGINA + M3*ERITH + M4*LSTG + M5*TIG + M6*T
+ M7*LMGITH;
MGICN = N0 + N1*(HRGINA-LHRGINA) + N2*QGINA + N3*TIG + N4*(ERICNLERICN) + N5*(STG-LSTG) + N6*T;
XGBR
= O0 + O1*HRGW + O2*QGBR + O3*(ERBR-LERBR) + O4*LXGBR;
XGTH
= P0 + P1*HRGW + P2*QGTH + P3*(ERTH-LERTH);
MGIN
= Q0 + Q1*HRGW + Q2*QGIN + Q3*(POPIN-LPOPIN)/LPOPIN + Q4*(ERINLERIN) + Q5*IRIN + Q6*T;
MGUS
= R0 + R1*(HRGW-LHRGW) + R2*QGUS + R3*CGUS + R4*STUS + R5*LMGUS;
MGCN
= S0 + S1*LHRGW + S2*QGCN + S3*CGCN + S4*STCN + S5*IRCN +
S6*((POPCN-LPOPCN)/LPOPCN) + S7*LMGCN;
HRGW
= T0 + T1*XGW + T2*MGW+ T3*LHRGW;
/*IDENTITY EQUATIONS*/
QGKPN = (APTN*YGHN)*1.003;
QGKPS = (APTS*YGHS)*1.003;
QGKPR = (APTR*YGHR)*1.003;
QGKP = QGKPN+QGKPS+QGKPR;
QGINA = QGKP+QGKR;
DGINA = DGRT+DGIN;
MGINA = MGITH + MGICN + MGIRW;
SGINA = QGINA + MGINA + LSTG;
XGW
= XGBR + XGTH + XGRW;
MGW
= MGIN + MGUS + MGCN + MGINA + MGRW;
PPMRTH = (TIG*MGITH*(HRGINA*1000))/100;
PPMRCN = (TIG*MGICN*(HRGINA*1000))/100;
PPMRRW = (TIG*MGIRW*(HRGINA*1000))/100;
DEVITH = MGITH*(HRGINA*1000);
DEVICN = MGICN*(HRGINA*1000);
DEVIRW = MGIRW*(HRGINA*1000);
RANGE TAHUN=2011 TO 2020;
RUN;
PROC PRINT DATA=ENDO;
VAR TAHUN APTN APTS APTR YGHN YGHS YGHR
QGKP QGINA DGRT DGIN DGINA SGINA HRGP
MGITH MGICN MGINA XGBR XGTH MGIN MGUS
RUN;
QGKPN QGKPS QGKPR
HRGPB HRGE HRGINA
MGCN HRGW XGW
MGW;
284
Lampiran 13. Hasil Peramalan Variabel Endogen Model Perdagangan Gula
Indonesia Menggunakan Metode NEWTON dan Prosedur
SIMNLIN dengan Program SAS/ETS Versi 9.1
The SAS System
The SIMNLIN Procedure
Model Summary
Model Variables
Endogenous
Parameters
Range Variable
Equations
Number of Statements
Program Lag Length
36
36
124
Tahun
36
70
2
The SAS System
The SIMNLIN Procedure
Dynamic Simultaneous Simulation
Data Set Options
DATA=
OUT=
RAMALGULA
ENDO
Solution Summary
Variables Solved
Simulation Lag Length
Solution Range
First
Last
Solution Method
CONVERGE=
Maximum CC
Maximum Iterations
Total Iterations
Average Iterations
36
2
Tahun
2011
2020
NEWTON
1E-8
1.15E-9
3
30
3
Observations Processed
Read
Lagged
Solved
First
Last
12
2
10
31
40
285
The SAS System
Obs
Tahun
APTN
APTS
APTR
YGHN
YGHS
YGHR
QGKPN
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
86789.82
91620.85
93695.09
94749.59
95283.74
95458.66
95436.09
95572.39
95727.27
95843.40
120057.80
125343.48
129845.88
134030.45
138028.95
141940.94
145845.66
149823.82
153805.79
157800.79
245521.56
246900.28
247742.85
248300.52
248653.57
248823.96
248878.47
249008.00
249201.74
249429.88
4.4348
4.5944
4.6640
4.7166
4.7458
4.7518
4.7464
4.7609
4.7694
4.7712
6.9231
7.1378
7.2378
7.3738
7.5299
7.6417
7.6457
7.7297
7.8300
7.9209
5.1849
5.0933
5.0256
4.9729
4.9280
4.8859
4.8439
4.8036
4.7639
4.7235
386048.58
422209.64
438304.92
448235.79
453549.46
454962.42
454336.97
456374.83
457932.68
458658.27
Obs
QGKPS
QGKPR
QGKP
QGINA
DGRT
DGIN
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
833665.87
897364.16
942620.07
991284.43
1042462.19
1087917.10
1118439.66
1161561.42
1207915.13
1253671.66
1276810.38
1261300.23
1248782.89
1238469.98
1229050.11
1219364.10
1209161.74
1199733.73
1190727.70
1181705.25
2496524.83
2580874.03
2629707.88
2677990.19
2725061.76
2762243.62
2781938.37
2817669.99
2856575.50
2894035.17
4607697.30
4516802.12
4444182.98
4412120.23
4410261.86
4422521.55
4435641.11
4478818.50
4535884.76
4599693.66
2480490.48
2564713.82
2623939.34
2671568.38
2718340.04
2769157.96
2822971.98
2870908.62
2918063.36
2966238.81
2748996.57
2971830.40
3085155.93
3128188.71
3127207.61
3100549.78
3060668.93
3015612.66
2969971.88
2926924.08
Obs
DGINA
SGINA
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
5229487.05
5536544.22
5709095.27
5799757.08
5845547.65
5869707.75
5883640.91
5886521.28
5888035.24
5893162.89
6868463.89
6505812.93
6796328.30
6692156.04
6566452.22
6687155.49
6991527.13
6917786.38
6960376.82
7123632.34
HRGP
5369.56
5499.58
5576.10
5644.47
5693.28
5718.11
5730.90
5765.27
5796.99
5821.48
HRGPB
5613.94
5750.21
5813.97
5880.47
5924.82
5942.86
5949.25
5986.24
6014.33
6033.60
HRGE
HRGINA
MGITH
5954.39
6104.27
6160.51
6222.13
6259.16
6267.80
6264.41
6295.23
6315.23
6325.75
4940.26
5109.54
5248.74
5365.82
5425.16
5471.96
5538.63
5630.91
5718.68
5803.70
589991.39
679699.28
736700.78
778628.19
814509.73
847743.91
879914.92
908683.94
936070.57
962855.16
286
Obs
MGICN
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
-969.09
4274.59
8683.27
12014.97
14617.40
16761.34
18816.17
20077.47
21031.08
21804.50
Obs
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
MGINA
1230796.60
1262844.26
1753928.07
1744621.06
1659443.85
1797614.94
2115282.34
2023552.48
2033810.37
2157822.31
MGCN
HRGW
2706625.57
2638970.98
2496818.90
2466572.97
2470827.74
2417808.74
2311002.84
2221784.07
2190419.92
2198608.15
457.88
465.42
476.19
483.72
480.47
477.04
478.16
483.65
487.17
490.32
XGBR
XGTH
25315074.36
25091651.94
25151886.82
25381818.31
25750706.48
26201295.94
26745040.66
27366196.69
28036786.43
28742502.48
3395859.17
3564602.30
3576727.78
3622369.86
3731045.87
3820902.00
3884266.99
3958579.65
4045141.53
4128321.04
XGW
52995400.48
53291800.47
53622573.95
54094770.71
54728152.70
55397674.97
56116446.47
56912294.75
57762549.39
58639873.19
MGIN
1401942.13
1403441.88
1953479.31
2170143.33
2009964.28
1883375.84
2085805.89
2418712.05
2583524.26
2599010.52
MGW
51391984.21
51287137.04
51919006.65
52427896.29
52661226.12
53262153.16
54144661.44
55179577.09
56032935.02
56956776.62
MGUS
2146157.46
2003419.08
1924993.86
1876376.73
1845589.61
1823422.16
1806489.36
1793062.20
1782558.79
1773117.34
287
Lampiran 14. Program Simulasi Peramalan Nilai Dasar Model Perdagangan
Gula Indonesia Menggunakan Metode NEWTON dan Prosedur
SIMNLIN dengan Program SAS/ETS Versi 9.1
Contoh : Simulasi Peramalan Nilai Dasar Periode ACFTA tahun 2015-2020
/*Program Simulasi Peramalan Nilai Dasar*/
data RAMALGULA ;
set RAMALAN ;
/*create data*/
QGHN
= APTN*YGHN;
QGHS
= APTS*YGHS;
QGHR
= APTR*YGHR;
QGKPN
= QGHN*1.003;
QGKPS
= QGHS*1.003;
QGKPR
= QGHR*1.003;
QGKP
= QGKPN+QGKPS+QGKPR;
QGINA
= QGKP+QGKR;
DGINA
= DGRT+DGIN;
MGIRW
= MGIW - (MGITH + MGICN);
MGINA
= MGITH + MGICN + MGIRW;
MGRW
= MGTW - (MGIN+MGUS+MGCN+MGINA);
XGW
= XGBR + XGTH + XGRW;
MGW
= MGIN + MGUS + MGCN + MGINA + MGRW;
/*Make Lag Variables*/
LSBR
= LAG(SBR);
LAPTN
= LAG(APTN);
LAPTS
= LAG(APTS);
LAPTR
= LAG(APTR);
LHRGPB
= LAG(HRGPB);
LHRGB
= LAG(HRGB);
LHRGE
= LAG(HRGE);
LJPG
= LAG(JPG);
LHRPUK
= LAG(HRPUK);
LURBUN
= LAG(URBUN);
LYGHR
= LAG(YGHR);
LYGHS
= LAG(YGHS);
LHRGM
= LAG(HRGM);
LPDBR
= LAG(PDBR);
LDGRT
= LAG(DGRT);
LHRKIN
= LAG(HRKIN);
LJIM
= LAG(JIM);
L2PDBIN
= LAG2(PDBINR);
LDGIN
= LAG(DGIN);
LQGINA
= LAG(QGINA);
LHRGP
= LAG(HRGP);
LHRGW
= LAG(HRGW);
LHRGINA
= LAG(HRGINA);
LERICN
= LAG(ERICN);
LSTG
= LAG(STG);
LXGBR
= LAG(XGBR);
LERTH
= LAG(ERTH);
LPOPIN
= LAG(POPIN);
288
LERIN
LMGUS
LPOPCN
LMGCN
LMGITH
LERBR
=
=
=
=
=
=
LAG(ERIN);
LAG(MGUS);
LAG(POPCN);
LAG(MGCN);
LAG(MGITH);
LAG(ERBR);
/*Create Data Baru*/
SGINA
= QGINA+MGINA+LSTG;
LSGINA
= LAG(SGINA);
SHRGPB
= HRGPB-LHRGPB;
RHRGPB
= HRGPB/LHRGPB;
RHRGB
= HRGB/LHRGB;
SHRPUK
= HRPUK-LHRPUK;
RHPUK
= HRPUK/LHRPUK;
HGPUK
= HRGP/HRPUK;
RHRGM
= HRGM/LHRGM;
LJPDBR
= (PDBR-LPDBR)/LPDBR;
SHRKIN
= HRKIN-LHRKIN;
LJJIM
= (JIM-LJIM)/LJIM;
RQGINA
= QGINA/LQGINA;
SHRGINA
= HRGINA-LHRGINA;
SERICN
= ERICN-LERICN;
SPOPIN
= POPIN-LPOPIN;
SSTG
= STG-LSTG;
SERBR
= ERBR-LERBR;
SERTH
= ERTH-LERTH;
LJPOPIN
= (POPIN-LPOPIN)/LPOPIN;
LJPOPCN
= (POPCN-LPOPCN)/LPOPCN;
SERIN
= ERIN-LERIN;
SHRGW
= HRGW-LHRGW;
PPMRTH
= (TIG*MGITH*(HRGINA*1000))/100;
PPMRCN
= (TIG*MGICN*(HRGINA*1000))/100;
PPMRRW
= (TIG*MGIRW*(HRGINA*1000))/100;
DEVITH
= MGITH*(HRGINA*1000);
DEVICN
= MGICN*(HRGINA*1000);
DEVIRW
= MGIRW*(HRGINA*1000);
RUN;
PROC SIMNLIN DATA=RAMALGULA DYNAMIC SIMULATE STAT
ENDOGENOUS
APTN APTS APTR YGHN YGHS YGHR QGKPN QGKPS QGKPR QGKP QGINA
DGRT DGIN DGINA SGINA HRGP HRGPB HRGE HRGINA MGITH MGICN MGINA
XGBR XGTH MGIN MGUS MGCN HRGW XGW
MGW
PPMRTH PPMRCN PPMRRW
DEVITH DEVICN DEVIRW;
INSTRUMENTS
CGCN CGUS CHJ
DKKPE DHPP ERITH ERBR ERTH
HRPUK HRKO IRIN
IRCN PDBR JPG
HRGB HRGM ERICN XGRW MGRW POPIN ERIN POPCN
STG
MGIRW POPINA QGBR QGTH JIM
PDBINR QGIN QGUS QGCN QGKR
REND SBR
STCN STUS T
TIG
URBUN HRKIN;
LSBR
= LAG(SBR);
LAPTN
= LAG(APTN);
LAPTS
= LAG(APTS);
LAPTR
= LAG(APTR);
LHRGPB = LAG(HRGPB);
LHRGB
= LAG(HRGB);
LHRGE
= LAG(HRGE);
289
LJPG
LHRPUK
LURBUN
LYGHR
LYGHS
LHRGM
LPDBR
LDGRT
LHRKIN
LJIM
L2PDBIN
LDGIN
LQGINA
LHRGP
LHRGW
LHRGINA
LERICN
LSTG
LXGBR
LERTH
LPOPIN
LERIN
LMGUS
LPOPCN
LMGCN
LMGITH
LERBR
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
LAG(JPG);
LAG(HRPUK);
LAG(URBUN);
LAG(YGHR);
LAG(YGHS);
LAG(HRGM);
LAG(PDBR);
LAG(DGRT);
LAG(HRKIN);
LAG(JIM);
LAG2(PDBINR);
LAG(DGIN);
LAG(QGINA);
LAG(HRGP);
LAG(HRGW);
LAG(HRGINA);
LAG(ERICN);
LAG(STG);
LAG(XGBR);
LAG(ERTH);
LAG(POPIN);
LAG(ERIN);
LAG(MGUS);
LAG(POPCN);
LAG(MGCN);
LAG(MGITH);
LAG(ERBR);
PARM
A0 -58507.8
A1 7.019
A2 -8.931
A3 1401.404
A4 -235.054
A5 296.083
A6 0.393
B0 -30759.5
B1 1.396
B2 -10934.2
B3 660.433
B4 -488.834
B5 1655.675
B6 0.609
C0 -70786.7
C1 4.640525
C2 -30.1531
C3 3185.105
C4 -420.724
C5 915.7704
C6 0.54337
D0 -7.82566
D1 0.000716
D2 -0.00091
D3 6.53E-06
D4 1.02E+00
D5 -7.81E-06
D6 0.035034
E0
E1
E2
E3
E4
E5
E6
E7
F0
F1
F2
F3
F4
F5
F6
G0
G1
G2
G3
G4
G5
G6
H0
H1
H2
H3
H4
H5
1.317542
0.000028
-1.85419
0.000028
0.000147
0.639197
-0.00002
0.03558
-0.94612
0.144799
2.61E-07
-0.00004
0.617054
0.327803
0.680695
224009.4
-185.862
37639.88
-2.49354
522469.5
0.010401
0.382462
-396625
-12.4975
34560.46
148787.7
1.292485
0.759753
I0-16.5646
I1 0.881358
I2 -557.12
I3 105.1625
I4 3.70296
I5 0.143517
J0 -218.315
J1 0.904098
J2 8.933385
J3 0.029177
K0 3905.693
K1 0.262341
K2 0.000249
K3 -0.00008
L0 156.1317
L1 4.937577
L2 51.66909
L3 0.202815
M0 341127.1
M1 -20.8237
M2 -0.09003
M3 -244.582
M4 -0.14987
M5 -6335.73
M6 36383.02
M7 0.070703
N0
N1
N2
N3
N4
N5
N6
O0
O1
O2
O3
O4
P0
P1
P2
P3
P4
Q0
Q1
Q2
Q3
Q4
Q5
Q6
27132.28
-1.83649
-0.02588
-2397.54
-2.15749
-0.00045
5214.175
-6330563
2504.546
0.790311
325475.5
0.073383
-179072
716.1686
0.470358
2570.296
50528.95
-2.36E+07
-2465.2
-0.11979
1.06E+09
-4.34E+04
2.67E-06
3.56E+05
R0
R1
R2
R3
R4
R5
S0
S1
S2
S3
S4
S5
S6
S7
T0
T1
T2
T3
1565346
-132.809
-0.93316
0.767013
-0.89732
0.051877
350378.8
-1131.57
-0.16627
0.061002
-0.45192
6.80E-07
1.20E+08
2.82E-01
216.782
-0.00002
0.00002
0.630578
290
;
/*STRUCTURAL EQUATIONS*/
APTN
= A0 + A1*HRGPB + A2*HRGB + A3*JPG + A4*LSBR + A5*T + A6*LAPTN;
APTS
= B0 + B1*(HRGPB-LHRGPB) + B2*(HRGB/LHRGB) + B3*JPG + B4*SBR +
B5*T + B6*LAPTS;
APTR
= C0 + C1*HRGP + C2*HRGB + C3*JPG + C4*SBR + C5*T + C6*LAPTR;
YGHN
= D0 + D1*HRGPB + D2*(HRPUK-LHRPUK) + D3*LAPTN + D4*REND +
D5*LURBUN + D6*T;
YGHS
= E0 + E1*(HRGPB-LHRGPB) + E2*(HRPUK/LHRPUK) + E3*LAPTS + E4*CHJ
+ E5*REND + E6*URBUN + E7*LYGHS;
YGHR
= F0 + F1*(HRGP/HRPUK) + F2*LAPTR + F3*LURBUN + F4*DKKPE +
F5*REND + F6*LYGHR;
DGRT
= G0 + G1*HRGE + G2*(HRGM/LHRGM) + G3*HRKO + G4*((PDBRLPDBR)/LPDBR)+ G5*POPINA + G6*LDGRT;
DGIN
= H0
+
H1*LHRGPB + H2*HRKIN
+
H3*((JIM-LJIM)/LJIM)
+
H4*(L2PDBIN) + H5*LDGIN;
HRGP
= I0 + I1*HRGPB + I2*(QGINA/LQGINA) + I3*DHPP + I4*T + I5*LHRGP;
HRGPB = J0 + J1*HRGE + J2*T + J3*LHRGPB;
HRGE
= K0 + K1*HRGINA + K2*DGINA + K3*SGINA;
HRGINA = L0 + L1*HRGW + L2*T+ L3*LHRGINA ;
MGITH = M0 + M1*HRGINA + M2*QGINA + M3*ERITH + M4*LSTG + M5*TIG + M6*T
+ M7*LMGITH;
MGICN = N0 + N1*(HRGINA-LHRGINA) + N2*QGINA + N3*TIG + N4*(ERICNLERICN) + N5*(STG-LSTG) + N6*T;
XGBR
= O0 + O1*HRGW + O2*QGBR + O3*(ERBR-LERBR) + O4*LXGBR;
XGTH
= P0 + P1*HRGW + P2*QGTH + P3*(ERTH-LERTH);
MGIN
= Q0 + Q1*HRGW + Q2*QGIN + Q3*(POPIN-LPOPIN)/LPOPIN + Q4*(ERINLERIN) + Q5*IRIN + Q6*T;
MGUS
= R0 + R1*(HRGW-LHRGW) + R2*QGUS + R3*CGUS + R4*STUS + R5*LMGUS;
MGCN
= S0 + S1*LHRGW + S2*QGCN + S3*CGCN + S4*STCN + S5*IRCN +
S6*((POPCN-LPOPCN)/LPOPCN) + S7*LMGCN;
HRGW
= T0 + T1*XGW + T2*MGW+ T3*LHRGW;
/*IDENTITY EQUATIONS*/
QGKPN = (APTN*YGHN)*1.003;
QGKPS = (APTS*YGHS)*1.003;
QGKPR = (APTR*YGHR)*1.003;
QGKP = QGKPN+QGKPS+QGKPR;
QGINA = QGKP+QGKR;
DGINA = DGRT+DGIN;
MGINA = MGITH + MGICN + MGIRW;
SGINA = QGINA + MGINA + LSTG;
XGW
= XGBR + XGTH + XGRW;
MGW
= MGIN + MGUS + MGCN + MGINA + MGRW;
PPMRTH = (TIG*MGITH*(HRGINA*1000))/100;
PPMRCN = (TIG*MGICN*(HRGINA*1000))/100;
PPMRRW = (TIG*MGIRW*(HRGINA*1000))/100;
DEVITH = MGITH*(HRGINA*1000);
DEVICN = MGICN*(HRGINA*1000);
DEVIRW = MGIRW*(HRGINA*1000);
RANGE TAHUN=2015 TO 2020;
/*
RANGE TAHUN 2011 TO 2014;
*/
RUN;
291
Lampiran 15. Hasil Simulasi Peramalan Nilai Dasar Model Perdagangan
Gula Indonesia Menggunakan Metode NEWTON dan Prosedur
SIMNLIN dengan Program SAS/ETS Versi 9.1
Contoh : Simulasi Peramalan Nilai Dasar Periode ACFTA tahun 2015-2020
The SAS System
The SIMNLIN Procedure
Model Summary
Model Variables
Endogenous
Parameters
Range Variable
Equations
Number of Statements
Program Lag Length
36
36
124
Tahun
36
70
2
The SAS System
The SIMNLIN Procedure
Dynamic Simultaneous Simulation
Data Set Options
DATA=
RAMALGULA
Solution Summary
Variables Solved
Simulation Lag Length
Solution Range
First
Last
Solution Method
CONVERGE=
Maximum CC
Maximum Iterations
Total Iterations
Average Iterations
36
2
Tahun
2015
2020
NEWTON
1E-8
3.89E-16
3
18
3
Observations Processed
Read
Lagged
Solved
First
Last
8
2
6
11
16
292
293
The SAS System
The SIMNLIN Procedure
Dynamic Simultaneous Simulation
Solution Range Tahun = 2015 To 2020
Descriptive Statistics
Variable N Obs
N
Actual
Mean Std Dev
95553.6
205.0
147874
7399.6
248999
279.8
4.7583 0.00983
7.7167
0.1411
4.8233
0.0792
456041
1891.5
1145380 78078.4
1204591 18453.1
2806013 61611.2
4480229 73516.9
2844280 92720.3
3033489 77109.2
5877769 17644.5
6991984
135573
5754.3 49.0645
5975.2 43.1764
6287.9 28.3374
5598.2
146.5
891630 55406.8
18851.3
2730.3
2082324
111917
27140421 1130548
3928043
146260
2263399
309653
1804040 27004.5
2301742
119641
482.8
5.2251
56642269 1434950
52319972 1409187
1.836E12 2.702E11
Predicted
Mean Std Dev Label
APTN
APTS
APTR
YGHN
YGHS
YGHR
QGKPN
QGKPS
QGKPR
QGKP
QGINA
DGRT
DGIN
DGINA
SGINA
HRGP
HRGPB
HRGE
HRGINA
MGITH
MGICN
MGINA
XGBR
XGTH
MGIN
MGUS
MGCN
HRGW
XGW
MGW
PPMRTH
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
91075.0
951.2
147670
7414.1
234361
4365.5
4.6109
0.0228
7.6122
0.1576
4.1861
0.3321
421185
2628.6
1128436 79824.5
985199 96834.8
2534821 25657.9
4209037 36882.6
2918284
108604
2954823 43862.7
5873107 78325.0
6762361 78732.0
5663.1 29.7592
5875.0 31.4698
6179.7 19.4958
5156.0 48.5179
925994 70071.2
26056.9
4709.1
2123894
128462
26988620 1085602
3872515
130788
2449443
342785
1806342 28624.0
2385513 68169.6
407.3 18.5122
56434941 1374359
52633659 1512435
1.753E12 2.367E11
PPMRCN
6
6 3.904E10 8.7565E9 4.957E10 1.166E10
PPMRRW
6
6 2.411E12 3.177E11 2.215E12 2.359E11
DEVITH
DEVICN
DEVIRW
6
6
6
6 4.998E12 4.401E11 4.774E12 3.609E11
6 1.059E11 1.786E10 1.343E11 2.419E10
6 6.567E12 4.746E11 6.042E12 2.848E11
Luas Perkeb. Besar Negara
Luas Perkeb. Besar Swasta
Luas Perkeb. Rakyat
Produktivitas hablur negara
Produktivitas hablur swasta
Produktivitas hablur rakyat
Produksi GKP Negara
Produksi GKP Swasta
Produksi GKP Rakyat
Produksi GKP Indonesia
Produksi gula Indonesia
Permintaan gula RT
Permintaan gula industri
Permintaan gula Indonesia
Penawaran gula Indonesia
H.r gula petani
H.r gula pdg.besar
H.r gula eceran
H.r impor gula Ina
Impor gula dari Thai
Impor gula dari China
Impor gula Ina
Ekspor gula Brazil
Ekspor gula Thailand
Impor gula India
Impor gula USA
Impor gula China
H.r gula dunia
Ekspor gula dunia
Impor gula dunia
Pen. Pmrth dari tarif
Impor asal Thailand
Pen. Pmrth dari tarif
Impor asal China
Pen. Pmrth dari
tarif Impor asal ROW
Devisa impor dari Thailand
Devisa impor dari China
Devisa impor dari ROW
294
Lampiran 16. Program Simulasi Peramalan Model Perdagangan Gula
Indonesia Menggunakan Metode NEWTON dan Prosedur
SIMNLIN dengan Program SAS/ETS Versi 9.1
Contoh : Simulasi peningkatan harga gula tingkat petani 30 persen pada
periode ACFTA tahun 2015-2020
/*Program Simulasi Peramalan */
data RAMALGULA ;
set RAMALAN ;
/*create data*/
QGHN
= APTN*YGHN;
QGHS
= APTS*YGHS;
QGHR
= APTR*YGHR;
QGKPN
= QGHN*1.003;
QGKPS
= QGHS*1.003;
QGKPR
= QGHR*1.003;
QGKP
= QGKPN+QGKPS+QGKPR;
QGINA
= QGKP+QGKR;
DGINA
= DGRT+DGIN;
MGIRW
= MGIW - (MGITH + MGICN);
MGINA
= MGITH + MGICN + MGIRW;
MGRW
= MGTW - (MGIN+MGUS+MGCN+MGINA);
XGW
= XGBR + XGTH + XGRW;
MGW
= MGIN + MGUS + MGCN + MGINA + MGRW;
/*Make Lag Variables*/
LSBR
= LAG(SBR);
LAPTN
= LAG(APTN);
LAPTS
= LAG(APTS);
LAPTR
= LAG(APTR);
LHRGPB
= LAG(HRGPB);
LHRGB
= LAG(HRGB);
LHRGE
= LAG(HRGE);
LJPG
= LAG(JPG);
LHRPUK
= LAG(HRPUK);
LURBUN
= LAG(URBUN);
LYGHR
= LAG(YGHR);
LYGHS
= LAG(YGHS);
LHRGM
= LAG(HRGM);
LPDBR
= LAG(PDBR);
LDGRT
= LAG(DGRT);
LHRKIN
= LAG(HRKIN);
LJIM
= LAG(JIM);
L2PDBIN
= LAG2(PDBINR);
LDGIN
= LAG(DGIN);
LQGINA
= LAG(QGINA);
LHRGP
= LAG(HRGP);
LHRGW
= LAG(HRGW);
LHRGINA
= LAG(HRGINA);
LERICN
= LAG(ERICN);
LSTG
= LAG(STG);
LXGBR
= LAG(XGBR);
295
LERTH
LPOPIN
LERIN
LMGUS
LPOPCN
LMGCN
LMGITH
LERBR
=
=
=
=
=
=
=
=
LAG(ERTH);
LAG(POPIN);
LAG(ERIN);
LAG(MGUS);
LAG(POPCN);
LAG(MGCN);
LAG(MGITH);
LAG(ERBR);
/*Create Data Baru*/
SGINA
= QGINA+MGINA+LSTG;
LSGINA
= LAG(SGINA);
SHRGPB
= HRGPB-LHRGPB;
RHRGPB
= HRGPB/LHRGPB;
RHRGB
= HRGB/LHRGB;
SHRPUK
= HRPUK-LHRPUK;
RHPUK
= HRPUK/LHRPUK;
HGPUK
= HRGP/HRPUK;
RHRGM
= HRGM/LHRGM;
LJPDBR
= (PDBR-LPDBR)/LPDBR;
SHRKIN
= HRKIN-LHRKIN;
LJJIM
= (JIM-LJIM)/LJIM;
RQGINA
= QGINA/LQGINA;
SHRGINA
= HRGINA-LHRGINA;
SERICN
= ERICN-LERICN;
SPOPIN
= POPIN-LPOPIN;
SSTG
= STG-LSTG;
SERBR
= ERBR-LERBR;
SERTH
= ERTH-LERTH;
LJPOPIN
= (POPIN-LPOPIN)/LPOPIN;
LJPOPCN
= (POPCN-LPOPCN)/LPOPCN;
SERIN
= ERIN-LERIN;
SHRGW
= HRGW-LHRGW;
PPMRTH
= (TIG*MGITH*(HRGINA*1000))/100;
PPMRCN
= (TIG*MGICN*(HRGINA*1000))/100;
PPMRRW
= (TIG*MGIRW*(HRGINA*1000))/100;
DEVITH
= MGITH*(HRGINA*1000);
DEVICN
= MGICN*(HRGINA*1000);
DEVIRW
= MGIRW*(HRGINA*1000);
/*Simulasi peningkatan harga gula tingkat petani sebesar 30 persen*/
HRGP = 1.30*HRGP;
/*
/*Penguatan peran BULOG melalui peningkatan stok gula 20 persen*/
STG
= 1.20*STG;
/*Peningkatan Luas Areal Perkebunan Tebu 30 persen*/
APTN = 1.30*APTN;
APTS = 1.30*APTS;
APTR = 1.30*APTR;
/*Simulasi swasembada absolut gula*/
MGINA = 0;
MGITH = 0;
MGICN = 0;
MGIRW = 0;
296
/*Simulasi penghapusan tarif impor gula*/
TIG
= 0;
/*Simulasi penurunan tarif impor gula*/
TIG
= 0.90*TIG;
TIG
= 0.70*TIG;
TIG
= 0.50*TIG;
/*Simulasi peningkatan produksi gula China sebesar 20 persen*/
QGCN = 1.20*QGCN;
/*Simulasi peningkatan produksi gula Brazil dan Thailand sebesar 20
persen*/
QGBR = 1.20*QGBR;
QGTH = 1.20*QGTH;
*/
/*Simulasi Kombinasi penurunan tarif impor 50 persen dan peningkatan
harga gula tingkat petani 30 persen*/
HRGP = 1.30*HRGP;
TIG
= 0.50*TIG;
/*Simulasi kombinasi penurunan tarif impor 50 persen, peningkatan harga
gula tingkat petani 30 persen dan peningkatan luas areal 30 persen*/
TIG
= 0.50*TIG;
HRGP = 1.30*HRGP;
APTN = 1.30*APTN;
APTS = 1.30*APTS;
APTR = 1.30*APTR;
/*Simulasi Kombinasi peningkatan produksi gula China 20 persen,
penurunan tarif impor 50 persen, peningkatan harga gula tingkat petani
30 persen, dan peningkatan stok gula 20 persen*/
HRGP = 1.30*HRGP;
TIG
= 0.50*TIG;
STG
= 1.20*STG;
/*Simulasi Kombinasi penurunan tarif impor 50 persen, peningkatan luas
areal 30 persen, peningkatan harga gula tingkat petani 30 persen, dan
peningkatan stok gula 20 persen*/
TIG
= 0.50*TIG;
HRGP = 1.30*HRGP;
APTN = 1.30*APTN;
APTS = 1.30*APTS;
APTR = 1.30*APTR;
STG
= 1.20*STG;*/
RUN;
PROC SIMNLIN DATA=RAMALGULA DYNAMIC SIMULATE
ENDOGENOUS
APTN APTS APTR YGHN YGHS YGHR QGKPN
DGRT DGIN DGINA SGINA /*HRGP*/
HRGPB
MGINA XGBR
XGTH MGIN MGUS MGCN HRGW
PPMRRW DEVITH DEVICN DEVIRW;
INSTRUMENTS
CGCN CGUS
IRCN PDBR
CHJ
JPG
DKKPE DHPP
HRGB HRGM
STAT
QGKPS QGKPR QGKP QGINA
HRGE HRGINA MGITH MGICN
XGW
MGW
PPMRTH PPMRCN
ERITH ERBR ERTH
ERICN XGRW MGRW
HRPUK HRKO
POPIN ERIN
IRIN
POPCN
297
STG
MGIRW POPINA QGBR
REND SBR
STCN STUS
LSBR
= LAG(SBR);
LAPTN
= LAG(APTN);
LAPTS
= LAG(APTS);
LAPTR
= LAG(APTR);
LHRGPB = LAG(HRGPB);
LHRGB
= LAG(HRGB);
LHRGE
= LAG(HRGE);
LJPG
= LAG(JPG);
LHRPUK = LAG(HRPUK);
LURBUN = LAG(URBUN);
LYGHR
= LAG(YGHR);
LYGHS
= LAG(YGHS);
LHRGM
= LAG(HRGM);
LPDBR
= LAG(PDBR);
LDGRT
= LAG(DGRT);
LHRKIN = LAG(HRKIN);
LJIM
= LAG(JIM);
L2PDBIN = LAG2(PDBINR);
LDGIN
= LAG(DGIN);
LQGINA = LAG(QGINA);
LHRGP
= LAG(HRGP);
LHRGW
= LAG(HRGW);
LHRGINA = LAG(HRGINA);
LERICN = LAG(ERICN);
LSTG
= LAG(STG);
LXGBR
= LAG(XGBR);
LERTH
= LAG(ERTH);
LPOPIN = LAG(POPIN);
LERIN
= LAG(ERIN);
LMGUS
= LAG(MGUS);
LPOPCN = LAG(POPCN);
LMGCN
= LAG(MGCN);
LMGITH = LAG(MGITH);
LERBR
= LAG(ERBR);
PARM
A0 -58507.8
A1 7.019
A2 -8.931
A3 1401.404
A4 -235.054
A5 296.083
A6 0.393
B0 -30759.5
B1 1.396
B2 -10934.2
B3 660.433
B4 -488.834
B5 1655.675
B6 0.609
C0 -70786.7
C1 4.640525
C2 -30.1531
C3 3185.105
C4 -420.724
E0
E1
E2
E3
E4
E5
E6
E7
F0
F1
F2
F3
F4
F5
F6
G0
G1
G2
G3
1.317542
0.000028
-1.85419
0.000028
0.000147
0.639197
-0.00002
0.03558
-0.94612
0.144799
2.61E-07
-0.00004
0.617054
0.327803
0.680695
224009.4
-185.862
37639.88
-2.49354
QGTH
T
JIM
TIG
I0-16.5646
I1 0.881358
I2 -557.12
I3 105.1625
I4 3.70296
I5 0.143517
J0 -218.315
J1 0.904098
J2 8.933385
J3 0.029177
K0 3905.693
K1 0.262341
K2 0.000249
K3 -0.00008
L0 156.1317
L1 4.937577
L2 51.66909
L3 0.202815
M0 341127.1
PDBINR QGIN QGUS
URBUN HRKIN;
N0
N1
N2
N3
N4
N5
N6
O0
O1
O2
O3
O4
P0
P1
P2
P3
P4
Q0
Q1
27132.28
-1.83649
-0.02588
-2397.54
-2.15749
-0.00045
5214.175
-6330563
2504.546
0.790311
325475.5
0.073383
-179072
716.1686
0.470358
2570.296
50528.95
-2.36E+07
-2465.2
R0
R1
R2
R3
R4
R5
S0
S1
S2
S3
S4
S5
S6
S7
T0
T1
T2
T3
QGCN
1565346
-132.809
-0.93316
0.767013
-0.89732
0.051877
350378.8
-1131.57
-0.16627
0.061002
-0.45192
6.80E-07
1.20E+08
2.82E-01
216.782
-0.00002
0.00002
0.630578
QGKR
298
C5
C6
D0
D1
D2
D3
D4
D5
D6
;
915.7704
0.54337
-7.82566
0.000716
-0.00091
6.53E-06
1.02E+00
-7.81E-06
0.035034
G4
G5
G6
H0
H1
H2
H3
H4
H5
522469.5
0.010401
0.382462
-396625
-12.4975
34560.46
148787.7
1.292485
0.759753
M1
M2
M3
M4
M5
M6
M7
-20.8237
-0.09003
-244.582
-0.14987
-6335.73
36383.02
0.070703
Q2
Q3
Q4
Q5
Q6
-0.11979
1.06E+09
-4.34E+04
2.67E-06
3.56E+05
/*STRUCTURAL EQUATIONS*/
APTN
= A0 + A1*HRGPB + A2*HRGB + A3*JPG + A4*LSBR + A5*T + A6*LAPTN;
APTS
= B0 + B1*(HRGPB-LHRGPB) + B2*(HRGB/LHRGB) + B3*JPG + B4*SBR +
B5*T + B6*LAPTS;
APTR
= C0 + C1*HRGP + C2*HRGB + C3*JPG + C4*SBR + C5*T + C6*LAPTR;
YGHN
= D0 + D1*HRGPB + D2*(HRPUK-LHRPUK) + D3*LAPTN + D4*REND +
D5*LURBUN + D6*T;
YGHS
= E0 + E1*(HRGPB-LHRGPB) + E2*(HRPUK/LHRPUK) + E3*LAPTS + E4*CHJ
+ E5*REND + E6*URBUN + E7*LYGHS;
YGHR
= F0 + F1*(HRGP/HRPUK) + F2*LAPTR + F3*LURBUN + F4*DKKPE +
F5*REND + F6*LYGHR;
DGRT
= G0 + G1*HRGE + G2*(HRGM/LHRGM) + G3*HRKO + G4*((PDBRLPDBR)/LPDBR)+ G5*POPINA + G6*LDGRT;
DGIN
= H0
+
H1*LHRGPB + H2*HRKIN
+
H3*((JIM-LJIM)/LJIM)
+
H4*(L2PDBIN) + H5*LDGIN;
HRGP
= I0 + I1*HRGPB + I2*(QGINA/LQGINA) + I3*DHPP + I4*T + I5*LHRGP;
HRGPB = J0 + J1*HRGE + J2*T + J3*LHRGPB;
HRGE
= K0 + K1*HRGINA + K2*DGINA + K3*SGINA;
HRGINA = L0 + L1*HRGW + L2*T+ L3*LHRGINA ;
MGITH = M0 + M1*HRGINA + M2*QGINA + M3*ERITH + M4*LSTG + M5*TIG + M6*T
+ M7*LMGITH;
MGICN = N0 + N1*(HRGINA-LHRGINA) + N2*QGINA + N3*TIG + N4*(ERICNLERICN) + N5*(STG-LSTG) + N6*T;
XGBR
= O0 + O1*HRGW + O2*QGBR + O3*(ERBR-LERBR) + O4*LXGBR;
XGTH
= P0 + P1*HRGW + P2*QGTH + P3*(ERTH-LERTH);
MGIN
= Q0 + Q1*HRGW + Q2*QGIN + Q3*(POPIN-LPOPIN)/LPOPIN + Q4*(ERINLERIN) + Q5*IRIN + Q6*T;
MGUS
= R0 + R1*(HRGW-LHRGW) + R2*QGUS + R3*CGUS + R4*STUS + R5*LMGUS;
MGCN
= S0 + S1*LHRGW + S2*QGCN + S3*CGCN + S4*STCN + S5*IRCN +
S6*((POPCN-LPOPCN)/LPOPCN) + S7*LMGCN;
HRGW
= T0 + T1*XGW + T2*MGW+ T3*LHRGW;
/*IDENTITY EQUATIONS*/
QGKPN = (APTN*YGHN)*1.003;
QGKPS = (APTS*YGHS)*1.003;
QGKPR = (APTR*YGHR)*1.003;
QGKP = QGKPN+QGKPS+QGKPR;
QGINA = QGKP+QGKR;
DGINA = DGRT+DGIN;
MGINA = MGITH + MGICN + MGIRW;
SGINA = QGINA + MGINA + LSTG;
XGW
= XGBR + XGTH + XGRW;
MGW
= MGIN + MGUS + MGCN + MGINA + MGRW;
PPMRTH = (TIG*MGITH*(HRGINA*1000))/100;
PPMRCN = (TIG*MGICN*(HRGINA*1000))/100;
PPMRRW = (TIG*MGIRW*(HRGINA*1000))/100;
299
DEVITH = MGITH*(HRGINA*1000);
DEVICN = MGICN*(HRGINA*1000);
DEVIRW = MGIRW*(HRGINA*1000);
RANGE TAHUN=2015 TO 2020;
/*
RANGE TAHUN 2011 TO 2014;
*/
RUN;
300
Lampiran 17. Hasil Simulasi Peramalan Model Perdagangan Gula Indonesia
Menggunakan Metode NEWTON dan Prosedur SIMNLIN
dengan Program SAS/ETS Versi 9.1
Contoh : Simulasi peningkatan harga gula tingkat petani 30 persen pada
periode ACFTA tahun 2015-2020
The SAS System
The SIMNLIN Procedure
Model Summary
Model Variables
Endogenous
Parameters
Range Variable
Equations
Number of Statements
Program Lag Length
35
35
124
Tahun
35
69
2
The SAS System
The SIMNLIN Procedure
Dynamic Simultaneous Simulation
Data Set Options
DATA =
RAMALGULA
Solution Summary
Variables Solved
Simulation Lag Length
Solution Range
First
Last
Solution Method
CONVERGE=
Maximum CC
Maximum Iterations
Total Iterations
Average Iterations
35
2
Tahun
2015
2020
NEWTON
1E-8
4.442E-9
2
12
2
Observations Processed
Read
Lagged
Solved
First
Last
8
2
6
11
16
301
The SAS System
The SIMNLIN Procedure
Dynamic Simultaneous Simulation
Solution Range Tahun = 2015 To 2020
Descriptive Statistics
Variable N Obs N
Actual
Mean Std Dev
Predicted
Mean Std Dev Label
APTN
APTS
APTR
YGHN
YGHS
YGHR
QGKPN
QGKPS
QGKPR
QGKP
QGINA
DGRT
DGIN
DGINA
SGINA
HRGPB
HRGE
HRGINA
MGITH
MGICN
MGINA
XGBR
XGTH
MGIN
MGUS
MGCN
HRGW
XGW
MGW
PPMRTH
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
95553.6
205.0 90994.9
982.0
147874
7399.6
147665
7415.5
248999
279.8
249212
658.4
4.7583 0.00983
4.6048
0.0211
7.7167
0.1411
7.6120
0.1576
4.8233
0.0792
4.4303
0.2527
456041
1891.5
420258
2909.7
1145380 78078.4 1128370 79835.3
1204591 18453.1 1107529 65813.8
2806013 61611.2 2656157 14138.4
4480229 73516.9 4330374 32259.7
2844280 92720.3 2920552
109449
3033489 77109.2 2954982 43771.4
5877769 17644.5 5875534 79184.1
6991984
135573 6869043 99900.9
5975.2 43.1764
5867.0 30.0125
6287.9 28.3374
6171.1 18.8536
5598.2
146.5
5153.5 48.8130
891630 55406.8
914479 67007.4
18851.3
2730.3 22917.9
3902.7
2082324
111917 2109239
124666
27140421 1130548 26987448 1085087
3928043
146260 3872199
130652
2263399
309653 2450534
343228
1804040 27004.5 1806357 28628.7
2301742
119641 2385980 67840.2
482.8
5.2251
406.8 18.7042
56642269 1434950 56433451 1373706
52319972 1409187 52620577 1509520
1.836E12 2.702E11 1.73E12 2.293E11
PPMRCN
6
6 3.904E10 8.7565E9 4.355E10 9.8365E9
PPMRRW
6
6 2.411E12 3.177E11 2.214E12 2.353E11
DEVITH
DEVICN
DEVIRW
6
6
6
6 4.998E12 4.401E11 4.712E12 3.444E11
6 1.059E11 1.786E10 1.181E11 2.003E10
6 6.567E12 4.746E11 6.039E12 2.833E11
Luas Perkeb. Besar Negara
Luas Perkeb. Besar Swasta
Luas Perkeb. Rakyat
Produktivitas hablur negara
Produktivitas hablur swasta
Produktivitas hablur rakyat
Produksi GKP Negara
Produksi GKP Swasta
Produksi GKP Rakyat
Produksi GKP Indonesia
Produksi gula Indonesia
Permintaan gula RT
Permintaan gula industri
Permintaan gula Indonesia
Penawaran gula Indonesia
H.r gula pdg.besar
H.r gula eceran
H.r impor gula Ina
Impor gula dari Thai
Impor gula dari China
Impor gula Ina
Ekspor gula Brazil
Ekspor gula Thailand
Impor gula India
Impor gula USA
Impor gula China
H.r gula dunia
Ekspor gula dunia
Impor gula dunia
Pen. Pmrth dari tarif
Impor asal Thailand
Pen. Pmrth dari tarif
Impor asal China
Pen. Pmrth dari tarif
Impor asal ROW
Devisa impor dari Thailand
Devisa impor dari China
Devisa impor dari ROW
Download