survey implementasi dan revisi standard kompetensi

advertisement
LAPORAN
SURVEY IMPLEMENTASI DAN REVISI
S TANDARD KOMPETENSI DAN S TANDARD
PENDIDIKAN PROFESI DOKTER INDONESIA
DALAM PENDANAAN
HEALTH PROFESSIONAL EDUCATION QUALITY (HPEQ) PROJECT
IBRD LOAN NO. 77370-ID
OKTOBER- NOVEMBER 2010
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Daftar Isi
SURVEY IMPLEMENTASI DAN REVISI STANDARD KOMPETENSI DAN STANDARD PENDIDIKAN PROFESI
DOKTER INDONESIA
Daftar Isi
Daftar Lampiran
2
7
Bab 1.
Pendahuluan
8
Latar Belakang
8
Tujuan
8
Luaran dan Dampak
8
Bab 2.
Garis Besar Mekanisme dan Rancangan
10
Bab 3.
Preliminary Survey mengenai Materi Pengetahuan Untuk Pencapaian Kompetensi Dokter Indonesia
PENDAHULUAN
16
METODE
16
HASIL SURVEY
17
ANALISIS HASIL SURVEY
43
Materi untuk pencapaian kompetensi komunikasi efektif
43
Materi untuk pencapaian kompetensi landasan ilmiah ilmu kedokteran
43
Materi untuk pencapaian kompetensi Pengelolaan Masalah Kesehatan Masyarakat
44
2
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Materi untuk pencapaian kompetensi Pengelolaan Informasi
44
Materi untuk pencapaian kompetensi Mawas Diri dan Pengembangan Diri
44
Materi untuk area kompetensi Etika, Moral, Medikolegal dan Profesionalisme serta Keselamatan pasien
44
REFLEKSI
45
Teknis pelaksanaan survey:
45
Substansi Hasil Survey:
45
Lesson Learned
45
Rencana Tindak Lanjut
45
Rekomendasi
45
DAFTAR PUSTAKA
46
Bab 4.
Survey dengan Nominal Grup Teknik mengenai Ketrampilan Klinik Dokter
PENDAHULUAN
47
TUJUAN
47
METODE
47
HASIL SURVEY
48
ANALISIS
62
REFLEKSI
63
Teknis pelaksanaan survey:
63
Substansi Hasil Survey:
63
Lesson Learned
63
Rencana Tindak Lanjut
63
Rekomendasi
63
Bab 5. Survey Pengembangan Sistim Ujian Berbasis Kompetensi
PENDAHULUAN
64
TUJUAN
64
MEKANISME
64
3
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
HASIL SURVEY
65
ANALISIS HASIL
70
Penggunaan soal yang sesuai dengan SKDI
70
Metoda ujian yang dilaksanakan institusi pada tahap sarjana
70
Metoda ujian yang dilaksanakan institusi pada tahap profesi
70
Jumlah dosen yang telah terlatih mengenai ujian kompetensi
70
Jumlah soal yang terkumpul pada pelatihan soal dari institusi yang bersangkutan
70
Pengetahuan mengenai koordinator ujian/ student assessment di wilayah AIPKI-nya
71
Dampak KB UKDI pada institusi pendidikan dokter
71
REFLEKSI
72
Teknis pelaksanaan survey
72
Substansi Hasil Survey
72
Lesson learned
72
Rencana Tindak Lanjut
72
Rekomendasi
72
Bab 6.
Survey Professional Behavior Dokter Layanan Primer
LATAR BELAKANG
73
TUJUAN
75
EXPECTED OUTPUT & OUTCOME
75
METODE
75
INSTRUMEN SURVEY
76
TIMELINE PELAKSANAAN SURVEY
76
ASSIGNMENT SURVEYOR
76
UJI VALIDASI DAN VERIFIKASI DATA
77
HASIL SURVEY
78
ANALISIS HASIL SURVEY
80
4
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Identifikasi dan Analisis Permasalahan yang Terjadi
80
Identifikasi Temuan – Temuan (terutama Institusi yang bermasalah, berbasis evidence selama survey)
81
REFLEKSI
81
Teknis pelaksanaan survey
81
Substansi Hasil Survey
81
Lesson Learned
82
Rencana Tindak Lanjut
82
Romendasi
82
Rekomendasi improvement untuk pelaksanaan survey selanjutnya
82
Rekomendasi untuk kebijakan Dikti, Kemkes, dan stakeholder lain berbasis hasil preliminary survey
83
Bab 7.
Survey mengenai Standar Pendidikan Dokter
PENDAHULUAN
84
METODA PENGAMBILAN DATA
84
Baseline data
84
HASIL SURVEY
85
ANALISIS HASIL SURVEY
97
Visi, misi dan tujuan
97
Program Pendidikan
98
Penilaian Hasil Belajar
98
Mahasiswa
99
Staf Akademik
100
Sumber Daya Pendidikan
100
Evaluasi Program Pendidikan
100
Penyelenggaraan Program dan Adiministrasi Pendidikan
101
Pembaharuan kesinambungan
101
REFLEKSI
102
5
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Teknis pelaksanaan survey:
102
Substansi Hasil Survey:
102
Lesson Learned
102
Rencana Tindak Lanjut
102
Rekomendasi
102
BAB 8.
Kesimpulan dan Saran
KESIMPULAN
103
LESSON LEARNED
104
SARAN
104
DAFTAR PUSTAKA
105
6
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Daftar Lampiran
Instrumen Survey mengenai Lingkup Bahasan Pengetahuan Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi
Instrumen Survey dengan Nominal Grup teknik mengenai Ketrampilan Klinik Dokter
Instrumen Survey mengenai Pengembangan Ujian Berbasis Kompetensi
Instrumen Survey mengenai Professional Behavior Dokter
Instrumen Survey mengenai Standar Pendidikan Dokter
Kumpulan surat menyurat melalui e-mail antar surveyor pada saat pelaksanaan survey
7
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Bab 1.
Pendahuluan
Latar Belakang
Sejak tahun 2005 Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) telah menetapkan Standar Kompetensi Dokter
Indonesia (SKDI) dan Standar Pendidikan Profesi Dokter (SPPD) . SKDI memberikan landasan penyusunan
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), sementara SPPD memberikan landasan penyelenggaraan
pendidikan secara menyeluruh untuk menunjang dan melaksanakan KBK itu sendiri. Kedua standar ini
disusun oleh Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI) berkoordinasi dengan organisasi
profesi, kolegium Ikatan Rumah Sakit Pendidikan Indonesia (IRSPI), Kemkes dan Kemendiknas sesuai
dengan pasal 26 ayat 2 dan ayat 3 UU no 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. Setelah 5 tahun
implementasinya, perlu dilakukan evaluasi dan revisi terhadap kedua standar tersebut serta
implementasinya sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang dikaitkan dengan Sistem Kesehatan Nasional.
Dalam melakukan proses tersebut diperlukan survey ke berbagai institusi pendidikan kedokteran dan pihak
terkait lainnya. Aspek yang perlu disurvey adalah evaluasi implementasi SKDI dalam hal keterampilan klinik,
profesionalisme dan isi kurikulum yang menunjang pencapaian kompetensi. Sebagai bagian penting dari
implementasi kurikulum berbasis kompetensi, (KBK), maka implementasi sistem ujian berbasis kompetensi
pun perlu dievaluasi. Disamping evaluasi implementasi, diperlukan pula usulan revisi dari institusi
pendidikan maupun pihak terkait. Selanjutnya, sebagai bagian tidak terpisahkan dari implementasi KBK
berdasarkan SKDI, maka implementasi dan revisi SPPD perlu dilakukan. Implementasi SPPD dapat
dievaluasi melalui proses akreditasi institusi. Sementara itu, revisi SPPD memerlukan survey terhadap
institusi pendidikan dokter itu sendiri berdasarkan SPPD yang telah ada.
Tujuan
1. Diperolehnya data evaluasi implementasi KBK berdasarkan SKDI di seluruh institusi pendidikan
kedokteran di Indonesia.
2. Diperolehnya rekomendasi revisi SKDI dari seluruh institusi pendidikan kedokteran di Indonesia dan
pihak lainnya.
3. Diperolehnya rekomendasi revisi SPPD dari seluruh institusi pendidikan kedokteran di Indonesia.
Luaran dan Dampak
1. Data evaluasi implementasi KBK terkait masalah kesehatan, jenis penyakit, dan keterampilan klinik.
2. Data evaluasi implementasi KBK terkait isi kurikulum yang menunjang pencapaian 7 area
kompetensi pada SKDI.
8
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
3. Data evaluasi implementasi KBK terkait sistem evaluasi belajar mahasiswa berbasis kompetensi.
4. Data usulan revisi SKDI terkait masalah kesehatan, jenis penyakit, dan keterampilan klinik.
5. Data usulan revisi SKDI terkait profesionalisme dan professional behavior.
6. Data usulan revisi SKDI terkait isi kurikulum yang menunjang pencapaian 7 area kompetensi pada
SKDI
7. Data usulan revisi SPPD terkait formulasi rincian standar.
8. Pemetaan kualitas implementasi KBK berdasarkan SKDI
9. Rekomendasi revisi SKDI
10. Rekomendasi revisi SPPD
11. Rekomendasi peningkatan kualitas implementasi KBK berdasarkan SKDI
12. Peningkatan kualitas implementasi KBK di setiap institusi pendidikan dokter di Indonesia.
13. Peningkatan kualitas implementasi SPPD di setiap institusi pendidikan dokter di Indonesia.
9
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Bab 2.
Garis Besar Mekanisme dan Rancangan
AIPKI membentuk tim pokja yang berasal dari wakil-wakil regional AIPKI dengan penugasan dari pimpinan
institusi nya masing-masing untuk membantu AIPKI menjadi anggota dari TIM POKJA REVISI STANDAR
KOMPETENSI DOKTER INDONESIA dan STANDAR PENDIDIKAN PROFESI DOKTER INDONESIA.
Tim Pokja dibentuk pada bulan Juni 2010 dengan ketua Prof Dr. Rahmatina Bustami Herman MSc PhD dari
FK Unand dan anggota sebagai berikut:
- Prof Dr. Nancy Margarita Rehatta SpAn dari FK Unair
- Dr. Tri Nur Kristina MSc PhD dari FK Undip
- Dr. Bethy S Hernowo MS dari FK Unpad
- Dr. Dhanasari Vidiawati Trisna MSc.CM-FM dari FK UI
- Dr. Titi Savitri Prihatiningsih MMed Edu PhD dari FK UGM
- Dr. Wiwik Kusumawati MS dari FK UMY
- Dr. Setiawan MSc. dari FK Unpad
- Dr. Irwin Arasy MS dari FK Unhas
Tim pokja ini kemudian membagi tugas menjadi 3 kelompok besar yaitu Tim Kerampilan Klinik, Tim
Profesionalism Behavior, dan Tim Validasi Kompetensi dan Implementai Standar Kompetensi dan
Pendidikan Profesi Dokter.
Setelah melalui 3 pertemuan yang diselelnggarakan setiap 2 minggu (kecuali minggu Hari Raya Idul Fitri),
tersusunlah 5 survey yang akan dilaksanakan.
Survey tersebut adalah (instrumen masing-masing survey terlampir):
1. Survey mengenai Lingkup Bahasan Pengetahuan Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi
2. Survey dengan Nominal Grup teknik mengenai Ketrampilan Klinik Dokter
3. Survey mengenai Pengembangan Ujian Berbasis Kompetensi
4. Survey mengenai Professional Behavior Dokter
5. Survey mengenai Standar Pendidikan Dokter.
Diputuskan bahwa pada bulan Oktober 2010 diselenggarakan preliminary survey dengan melibatkan 12
Instiuti Pendidikan Dokter yang dipilih secara purposive berdasarkan beberapa faktor:
10
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
-
Merupakan perwakilan dari semua regional AIPKI di Indonesia
-
Merupakan perwakilan institusi yang memiliki hasil Uji Kompetensi Dokter Indonesia di semua
kelompok hasil (lulus diatas 80%, diantara 60-80%, dan di bawah 60%)
-
Merupakan perwakilan institusi yang telah berdiri lebih dari 30 tahun, diantara 5-30 tahun, dan yang
belum 5 tahun
-
Merupakan perwakilan institusi yang berada di kota besar dan kota kecil
-
Merupakan perwakilan institusi negeri dan swasta
Didalam survey ini, selain 12 institusi terpilih, diperoleh pula masukan dari pakar pendidikan yang berada
pada institusi terpilih, dokter praktik, mitra kerja dokter, serta dari pasien yang merupakan perwakilan
masyarakat.
Kedua belas institusi tersebut adalah:
 FK Universitas Syiah Kuala – Banda Aceh – DI Nangroe Aceh Darussalam
 FK Universitas Sumatra Utara – Medan – Sumatera Utara
 PSPD Universitas Malahayati – Bandar Lampung - Lampung
 FK Universitas Indonesia – Jakarta – DKI Jakarta
 FK Universitas Kristen Indonesia – Jakarta – DKI Jakarta
 FK Universitas Padjadjaran – Bandung – Jawa Barat
 FK Universitas Sultan Agung – Semarang – Jawa Tengah
 FK Universitas Jenderal Soedirman – Purwokerto – Jawa Tengah
 FK Universitas Airlangga – Surabaya – Jawa Timur
 PSPD Universitas Nusa Cendana – Kupang – Nusa Tenggara Timur
 FK Universitas Hasanudin – Makassar – Sulawesi Selatan
 PSPD Universitas Pattimura – Ambon – Kepulauan Maluku
Pada saat pengumpulan data terdapat beberapa PSPD yang mengirimkan jawaban survey institusi kepada
tim melalui pos (tidak didatangi oleh surveyor seperti lainnya), sehingga pada beberapa laporan survey ini
terdapat lebih dari 12 institusi pendidikan dokter. Program Studi yang sempat mengirimkan isian survey
sebelum pertemuan analisa data adalah Prodi Universitas Alkhairat (Palu), FK Univ Maranatha, FK
Universitas Muhamadyah Yogjakarta dan Prodi PD Universitas Kristen Duta Wacana.
11
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Tabel 2.1. Daftar 58 program studi yang dikirimkan kuesioner melalui email
No
Nama Institusi Pendidikan Dokter
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
PSPD
Fakultas Kedokteran
PSPD
Fakultas Kedokteran
Fakultas Kedokteran
PSPD
PSPD
PSPD
Fakultas Kedokteran
Fakultas Kedokteran
Fakultas Kedokteran
Fakultas Kedokteran
PSPD
PSPD
Fakultas Kedokteran
PSPD
Fakultas Kedokteran
Fakultas Kedokteran
Fakultas Kedokteran
PSPD
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Fakultas Kedokteran
Fakultas Kedokteran
PSPD
PSPD
Fakultas Kedokteran
Fakultas Kedokteran
Fakultas Kedokteran
Fakultas Kedokteran
PSPD
Fakultas Kedokteran
Fakultas Kedokteran
PSPD
PSPD
Fakultas Kedokteran
Fakultas Kedokteran
Fakultas Kedokteran
Fakultas Kedokteran
PSPD
PSPD
PSPD
PSPD
Fakultas Kedokteran
Fakultas Kedokteran
Fakultas Kedokteran
Fakultas Kedokteran
Fakultas Kedokteran
Fakultas Kedokteran
Fakultas Kedokteran
Fakultas Kedokteran
Fakultas Kedokteran
UNIVERSITAS ABDURRAB (PEKANBARU)
UNIVERSITAS ABULYATAMA
UNIVERSITAS AL KHAIRAAT (PALU)
UNIVERSITAS ANDALAS
UNIVERSITAS BAITURRAHMAH
UNIVERSITAS BAKTI WIYATA KEDIRI
UNIVERSITAS BATAM
UNIVERSITAS BENGKULU
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
UNIVERSITAS CENDRAWASIH
UNIVERSITAS DIPONEGORO
UNIVERSITAS GADJAH MADA
UNIVERSITAS GUNUNG JATI CIREBON
UNIVERSITAS HALU OLEO
UNIVERSITAS HANG TUAH
UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN MEDAN
UNIVERSITAS ISLAM AL AZHAR
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
UNIVERSITAS ISLAM MALANG
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
UNIVERSITAS ISLAM SUMATERA UTARA
UNIVERSITAS JAMBI
UNIVERSITAS JEMBER
UNIVERSITAS JENDERAL AHMAD YANI
UNIVERSITAS KATHOLIK ATMA JAYA
UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA (UKRIDA)
UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA
UNIVERSITAS KRISTEN DUTA WACANA
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
UNIVERSITAS LAMPUNG
UNIVERSITAS MALIKUSSALEH,
UNIVERSITAS MATARAM
UNIVERSITAS METHODIST INDONESIA
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASAR
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
UNIVERSITAS MULAWARMAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
UNIVERSITAS PELITA HARAPAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN
UNIVERSITAS RIAU
UNIVERSITAS SAM RATULANGI
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
Data
Sudah dianalisa
Sudah diterima
Sudah diterima
Sudah dianalisa
Sudah dianalisa
Sudah dianalisa
Sudah diterima
12
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
51
52
53
54
55
56
57
.
.
.
.
.
.
.
PSPD
PSPD
Fakultas Kedokteran
Fakultas Kedokteran
Fakultas Kedokteran
PSPD
Fakultas Kedokteran
UNIVERSITAS TADULAKO PALU
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
UNIVERSITAS TARUMANEGARA
UNIVERSITAS TRISAKTI
UNIVERSITAS UDAYANA
UNIVERSITAS WARMADEWA DENPASAR
UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA SURABAYA
58
.
Fakultas Kedokteran
UNIVERSITAS YARSI
Secara garis besar, rancangan survey tampak pada diagram berikut ini:
Diagram 2.1. Rancangan Survey secara keseluruhan
Survey 1,3 dan 5 dilakukan pada 12 institusi terpilih, surveyor menghubungi pimpinan institusi untuk mengisi
borang survey, pimpinan institusi dapat mengisi sendiri atau menugaskan seseorang yang berwenang dan
menguasai mengenai isi dan organisasi pendidikan dalam program studi dokter institusi yang berdangkutan.
Survey 2 dengan metoda nominal grup tehnik, adalah dokter-dokter praktek yang direkomendasikan oleh
institusi pendidikan terkait untuk menjadi responden. Dokter tersebut pada saat ini praktek seabgai dokter di
puskesmas, di rumah sakit dan di perusahaan.
Survey 4 yang berbentuk wawancara terpimpin, merupakan survey yang dilakukan terhadap pasien,
pimpinan dan sejawat dari dokter yang menjadi responden pada survey 2. Karena pertimbangan biaya dan
waktu, maka survey 4 hanya dilakukan pada dokter yang mengikuti NGT dari 6 kota asal institusi, yaitu
Medan, Jakarta, Bandar Lampung, Purwokerto, Kupang dan Ambon.
Survey pada setiap regio/wilayah dilaksanakan oleh 3 orang surveyor. Para surveyor merupakan staf
akademik institusi pendidikan dokter pada regio/wilayah yang bersangkutan, yang tercatat merupakan
13
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
magister dalam pendidikan kedokteran, atau sedang mengikuti program magister pendidikan kedokteran,
atau staf akademik Departemen Pendidikan Kedokteran.
Berikut adalah nama surveyor yang terlibat pada survey kali ini beserta asal institusinya:
-
Dr. Reza Mulana
- FK Unsyiah
-
Dr. Hendra Kurniawan
- FK Unsyiah
-
Dr. Isti Ilmiati Fujiati MSc.CM-FM, MPdKed
- FK USU
-
Dr. Retno Asti Werdhani MEpid
- FKUI
-
Dr. Rita Mustika
- FKUI
-
Dr. Esthivana Felaza
- FKUI
-
Dr. Bony Lestari MPH
- FK Unpad
-
Dr. Bethy Hernowo
- FK Unpad
-
Dr. July Ivonne, MKK, MPdKed
- FK Maranatha
-
Dr. Marissa Anggraeni MPdKed
- FK Malahayati
-
Dr. Febrika Widiasari
- FK Malahayati
-
Dr. Siti Rokhmah Prodjosasmito
- FK UGM
-
Dr. Neni
- FK Undip
-
Dr. Yani Istadi
- FK Unissula
-
Dr. Fundhy Sinar IP
- FK Unair
-
Dr. Budi Utomo MKes
- FK Unair
-
Dr. Irawan
- FK Unair
-
Dr. Irwin Arasy MS
- FK Unhas
-
Dr. Johan B Hutagalung
- FK Unpatti
-
Dr. Ida
- FK Unpatti
Tanggal pengumpulan data adalah antara tanggal 12 – 23 Oktober 2010.
14
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Tabel 2.2. Rincian tanggal pengumpulan data seluruhnya di bulan Oktober 2010
WILAYAH 1
WILAYAH 2
WILAYAH 3
WILAYAH 4
WILAYAH 5
WILAYAH 6
USU
Unsyiah
UI
UKI
Malahayati
Unpad
Unsoed
Unissula
Undana
Unair
Unpatti
Unhas
QUESIONER
ke inst
13
19
18
11
15
20
12
18
12
19
11
18
NGT Ketr Klinik
12
22
13
14
16
16
12
16
13
20
12
19
PB ke PKM
14
12
15
13
12
13
PB ke RS
PB ke dr perush
14
19
16
13
13
11
114
20
16
13
12
13
Pada tanggal 15 – 28 Oktober dilaksanakan pengisian data ke program SPSS 16, validasi dan pembersihan
data-data pada tanggal 28 Oktober.
Pada tanggal 29-31 Oktober 2010 diselenggarakan pertemuan analisa data antara Tim Pokja dengan Tim
Analisis Data dari FKUI. Tim Analisis Data terdiri atas Dr. Aria Kekalih MIT, Dr. Nuri Purwito Adi MS,MPH,
Dr. Retno Asti MEpid, Dr. Trevino Pakasi MS,PhD.
Dalam persiapan kuesioner dan persiapan lainnya, tim pokja membagi menjadi kelompok-kelompok kecil
untuk masing-masing survey, dan Dr Titi Savitri digantikan oleh Dr Siti Rokhmah Projosasmito dari FK UGM.
Bab-bab berikut adalah hasil survey masing-masing.
15
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Bab 3. Pre-liminary Survey mengenai Materi
Pengetahuan Untuk Pencapaian Kompetensi
Dokter Indonesia
PENDAHULUAN
Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI) telah diluncurkan oleh Konsil Kedokteran Indonesia (KKI)
sejak tahun 2006 dan sebagian besar Fakultas Kedokteran telah mengimplementasikan kurikulum berbasis
kompetensi (KBK). Meskipun demikian disadari bahwa banyak kendala dalam mengimplementasikan KBK
tersebut. Hal ini terungkap dalam pertemuan-pertemuan yang diselenggarakan oleh Asosiasi Institusi
Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI) baik formal maupun informal. Salah satu dari kendala tersebut
antara lain adalah adanya kesulitan dalam menentukan materi pengetahuan untuk pencapaian 7 area
kompetensi dokter. Kemungkinan hal ini disebabkan karena SKDI hanya memilkil lampiran: daftar keluhan,
daftar ketreampilan klinik dan daftar penyakit saja, sedangkan lampiran mengenai materi yang diperlukan
untuk pencapaian kompetensi belum ada.
Penelitian ini ditujukan untuk mendapatkan data dari program pendidikan dokter mengenai materi
pengetahuan yang diimplementasikan atau tercantum dalam kurikulum. Diharapkan hasil dari penelitian ini
akan memberikan landasan ilmiah terhadap kebijakan revisi SKDI terutama dalam menyumbangkan materi
pengetahuan yang mendasar untuk pencapaian kompetensi dokter.
METODE
Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan metode survey. Instrumen survey yang
digunakan adalah kuesioner dengan pertanyaan tertutup dan terbuka. Metode pengumpulan data dilakukan
dengan 2 cara:
Secara langsung surveyor mendatangi 12 institusi kedokteran yang dipilih dengan metode stratified random
sampling berdasarkan wilayah AIPKI (kuesioner dikirimkan terlebih dahulu)
Mengirimkan kuesioner ke 58 institusi kedokteran di Indonesia yang tidak didatangi melalui jasa pengiriman
barang
Timeline pelaksanaan survey di Institusi Kedokteran terpilih dilakukan selama 2 minggu secara simultan
dengan menggunakan surveyor yang telah dilatih terlebih dahulu.
16
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
HASIL SURVEY
Dari survey kuesioner yang dilakukan dengan cara mendatangi Institusi Kedokteran terpilih, didapatkan 12
data (100% response rate) sedangkan dari 58 kuesioner yang dikirimkan, hanya didapatkan 4 kuesioner
yang dikembalikan (0,07% response rate). Oleh karena itu hasil penelitian ini hanya melaporkan survey
kuesioner dari 16 institusi kedokteran.
Tabel 3.1. Institusi pendidikan dan tahun dimulainya KBK
No
Universitas
2005
2006
2008
2009
▲
1.
Unpatti
2.
Unissula
▲
3.
Unsoed
▲
4.
Unhas
▲
5.
UI
▲
6.
UKI
7.
Un. Malahayati
8.
Un. Maranatha
9.
Unair
10. USU
2007
▲
▲
▲
▲
▲
11. UNAlkhairat
▲
12. UKDW
▲
▲
13. UMY
14. Unpad
▲
15. Unsyiah
▲
16. Undana
▲
Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh Institusi Kedokteran telah mengimplementasikan KBK, dimana
umumnya telah dimulai tahun 2005 dan 2006, sedangkan Unisa dan UKDW baru memulai implementasi
KBK pada tahun 2009 (Tabel 1). Model kurikulum yang digunakan sebagian besar telah menggunakan
Modul (Blok), dan hanya Unair dan Unpatti yang menggunakan model hibrid (Tabel 2)
17
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Tabel 3.2. Model kurikulum yang digunakan
No
Universitas
Modul (Blok)
1.
Unpatti
2.
Unissula
▲
3.
Unsoed
▲
4.
Unhas
▲
5.
UI
▲
6.
UKI
▲
7.
Un. Malahayati
▲
8.
Un. Maranatha
▲
9.
Unair
10.
USU
▲
11.
UNAlkhairat
▲
12.
UKDW
▲
13.
UMY
▲
14.
Unpad
▲
15.
Unsyiah
▲
16.
Undana
Hibrid
▲
▲
▲
Tabel-tabel berikut di bawah ini merupakan hasil analisis dari materi-materi yang tercantum dalam kurikulum
untuk pencapaian 7 area kompetensi dokter. Tabel 3 dan 4 merupakan materi yang diberikan untuk
pencapaian kompetensi komunikasi efektif. Sedangkan materi untuk kompetensi landasan ilmiah pada ilmu
kedokteran yang diberikan dengan berbagai metode, antara lain: kuliah, diskusi, PBL, dan penugasan
digunakan nama Fase dan Blok yang dalam hal ini hanya merupakan contoh, namun yang ditanyakan
adalah materi pembelajarannya (Tabel 3 sd 26). Tabel 27 – 29 merupakan materi dalam pencapaian
kompetensi Pengelolaan Masalah Kesehatan Masyarakat, sedangkan Tabel 30, 31 dan 32 berturut-turut
mengenai materi untuk pencapaian kompetensi Pengelolaan Informasi, Mawas Diri dan Pengembangan Diri
serta Etika, Moral, Medikolegal, Profesionalisme dan Keselamatan pasien.
18
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Tabel 3.3. Metode komunikasi yang efektif untuk yankes
Diberikan
Tidak
Diberikan
Dokter sebagai mitra pasien/ keluarga pasien.
16
0
2
Dokter sebagai klinisi
16
0
3
Dokter sebagai tim petugas kesehatan
16
0
4
Dokter
sebagai
kesehatan
12
4
5
Dokter sebagai mitra petugas penegak hukum
16
0
6
Dokter sebagai tokoh dan anggota masyarakat
16
0
No
Materi
1
perpanjangan
asuransi
Keterangan
Unissula, UKI,
Unair, Undana
Alasan tidak mencantumkan dalam kurikulum:
1
Tidak perlu secara khusus
2
Diberikan tapi hanya sebatas teori tugas dokter sebagai perpanjangan tangan asuransi
kesehatan
3
Dokter bertugas melayani masyarakat bukan sebagai perpanjangan tangan asuransi kesehatan
Tabel 3.4. Materi ilmu perilaku untuk proses anamnesis
No
Materi
Diberikan
Tidak
Diberikan
1
Memberikan situasi yang nyaman dan kondusif
untuk berkomunikasi efektif
16
0
2
Mendorong pasien agar memberikan informasi
dengan sukarela
16
0
3
Melakukan interview secara sistematis
16
0
4
Mengidentifikasi tujuan pasien untuk berkonsultasi
16
0
5
Memahami berbagai elemen komunikasi efektif
16
0
6
Teknik fasilitasi pada situasi yang sulit
15
1
Keterangan
Unpatti
19
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Tabel 3.5. FASE 1; Foundation of medicine (body system & basic medical practice)
Blok 1.1. Sistim lokomotor
No
Materi
Diberikan
Tidak
Diberikan
1
Dasar-dasar istilah-istilah kedokteran
15
1
2
Struktur makroskopis dan mikroskopis sistem
lokomotor tubuh manusia
16
0
3
Mekanisme fisiologis sistem lokomotor dalam
mempertahankan homeostasis
16
0
4
Mekanisme patologis dan patofisiologis suatu
masalah dalam sistem lokomotor manusia
16
0
5
Faktor-faktor yang mendasari kelainan pada tubuh
manusia terkait dengan sistem lokomotor
16
0
Keterangan
Unair (tidak diberikan
secara khusus)
Tabel 3.6. FASE 1; Foundation of medicine (body system & basic medical practice)
Blok 1.2. sistim kardio-respiratori, hemato-& imunologi
Diberikan
Tidak
Diberikan
No
Materi
1
Struktur makroskopis dan mikroskopis
16
0
2
Mekanisme fisiologis dalam mempertahankan
homeostasis
16
0
3
Mekanisme patologis dan patofisiologis
16
0
4
Masalah kesehatan dari tingkat molekuler hingga
tubuh manusia
16
0
5
Faktor-faktor yang mendasari kelainan pada tubuh
manusia
16
0
6
Pemeriksaan laboratorium sederhana
16
0
Keterangan
Alasan tidak mencantumkan dalam kurikulum:
1
dicantumkan dalam kurikulum namun blok sistem hematologi dan limfatik 2 belum dilaksanakan
Usulan;
1
Pemeriksaan penunjang selain lab dan manajemen terpadu pasien termasuk rehabilitasi medik
2
Radiologi, EKG, manajemen kelainan, komplikasi, pencegahan, rehabilitasi
20
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Tabel 3.7. FASE 1; Foundation of medicine (body system & basic medical practice)
Blok 1.3. Sistim digesti
Tidak
Diberikan
No
Materi
Diberikan
1
Struktur makroskopis dan mikroskopis
16
0
2
Mekanisme fisiologis dalam mempertahankan
homeostasis
16
0
3
Mekanisme patologis dan patofisiologis
16
0
4
Masalah kesehatan dari tingkat molekuler hingga
tubuh manusia
16
0
5
Faktor-faktor yang mendasari kelainan pada tubuh
manusia
16
0
6
Pemeriksaan laboratorium sederhana
16
0
7
Nasib obat dalam tubuh mulai dari absorpsi hingga
eliminasi
16
0
8
Kemungkinan efek dan interaksi obat
16
0
Keterangan
Usulan;
1
Pemeriksaan penunjang selain lab dan manajemen terpadu pasien termasuk rehabilitasi medik
2
Radiologi, EKG, manajemen kelainan, komplikasi, pencegahan, rehabilitasi
Tabel 3.8. FASE 1; Foundation of medicine (body system & basic medical practice)
Blok 1.4. Sistim genito-urinaria
No
Materi
Diberikan
Tidak
Diberikan
1
Struktur makroskopis dan mikroskopis
16
0
2
Mekanisme fisiologis dalam mempertahankan
homeostasis
16
0
3
Mekanisme patologis dan patofisiologis
16
0
4
Masalah kesehatan dari tingkat molekuler
hingga tubuh manusia
16
0
5
Faktor-faktor yang mendasari kelainan pada
tubuh manusia
16
0
6
Pemeriksaan laboratorium sederhana
16
0
7
Eksresi obat
16
0
Keterangan
Usulan;
1
Pemeriksaan penunjang selain lab dan manajemen terpadu pasien termasuk rehabilitasi medik
21
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Tabel 3.9. FASE 1; Foundation of medicine (body system & basic medical practice)
Blok 1.5. Sistim saraf, endokrin & alat indra
Tidak
Diberikan
No
Materi
Diberikan
1
Struktur makroskopis dan mikroskopis
16
0
2
Mekanisme fisiologis dalam mempertahankan
homeostasis
16
0
3
Mekanisme patologis dan patofisiologis
16
0
4
Masalah kesehatan dari tingkat molekuler hingga
tubuh manusia
16
0
5
Faktor-faktor yang mendasari kelainan pada tubuh
manusia
16
0
6
Pemeriksaan laboratorium sederhana
16
0
Keterangan
Usulan;
1
Pemeriksaan penunjang selain lab dan manajemen terpadu pasien termasuk rehabilitasi medik
Tabel 3.10. FASE 1; Foundation of medicine (body system & basic medical practice)
Blok 1.6. Basic Medical Practice
Diberikan
Tidak
Diberikan
No
Materi
Keterangan
1
Pengertian dan prinsip evidence-based
medicine
12
4
UKI, Malahayati, UMY,
Undana
2
Pendokumentasian informasi medik dan non
medik
15
1
UMY
3
Prinsip dasar berbagai pemeriksaan
penunjang diagnostik (USG, EKG, radiologi,
biopsi jaringan)
16
0
4
Critical appraisal dalam diagnosis dan terapi
16
0
5
Komponen sistem pelayanan kesehatan
16
0
6
Prinsip-prinsip pendekatan kedokteran
keluarga
16
0
7
Prinsip-prinsip patient safety
16
0
8
Kode etik dokter indonesia dan undangundang praktik kedokteran
16
0
9
Aspek etika dalam penanganan pasien sesuai
standar profesi
16
0
10
Perilaku profesional dokter
16
0
Alasan tidak mencantumkan dalam kurikulum:
1
Belum keseluruhan dalam kegiatan perkuliahan
2
Masih disusun kurikulumnya
3
Tidak ada dalam SKDI
22
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Tabel 3.11. FASE 2; Transition from theory to practice (year 2: life cycle)
Blok 2.1. conception, fetal growth & congenital anomaly
Materi
1
Dasar-dasar gametogenesis , Proses fertilisasi dan
implantasi
16
0
2
Embriogenesis, plasentasi dan fetal- growth
16
0
3
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan hasil
konsepsi (infeksi, obat, lingkungan, genetik, makanan,
trauma)
16
0
4
Cara mendeteksi kelainan-kelainan dan faktor risiko
pertumbuhan janin
16
0
5
Faktor-faktor yang mempengaruhi infertilitas laki-laki
dan perempuan serta cara mendeteksinya
15
1
6
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya abortus
serta cara mendeteksinya
16
0
7
Aspek medikolegal dan aspek etis dalam penanganan
abortus
16
0
8
Penilaian, identifikasi dan penatalaksanaan berbagai
masalah bayi baru lahir
16
0
9
Identifikasi faktor risiko pada bayi baru lahir, Resusitasi
bayi baru lahir
16
0
10
Fase-fase tumbuh kembang bayi
16
0
11
Konsep imunologi dan imunisasi
16
0
12
Manajemen laktasi
15
1
Malahayati
13
Peran dan fungsi Posyandu, Deteksi gangguan
tumbuh kembang
15
1
Unpatti
14
Perawatan bayi normal dan abnormal (prematur,
postmatur dan lain-lain)
Rawat gabung
16
0
15
1
15
Diberikan
Tidak
Diberikan
No
Keterangan
Unpatti
Unpatti
Alasan tidak mencantumkan dalam kurikulum:
1
Belum ada blok yang memuat konten tersebut
2
Tidak terpikirkan dan tidak tercantum dalam SKDI
23
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Tabel 3.12. FASE 1; Foundation of medicine (body system & basic medical practice)
Blok 2.2. Safe motherhood & neonate
No
Materi
1
Perubahan fisiologis selama kehamilan
16
0
2
Masalah kesehatan ibu dan kehamilannya
16
0
3
Berbagai penyebab serta patofisiologi masalah
kesehatan ibu dan kehamilannya.
Identifikasi berbagai faktor risiko pada kehamilan dan
persalinan
16
0
16
0
5
Pemantauan kehamilan (antenatal care)
16
0
6
Teknik pemeriksaan pada kehamilan awal (inspekulo,
bimanual, leopold, denyut jantung janin, tes
kehamilan)
16
0
7
Menentukan pemeriksaan penunjang yang relevan
(mengetahui indikasi USG)
16
0
8
Menafsirkan data klinis dan merumuskannya menjadi
diagnosis
16
0
9
Berbagai pilihan terapi yang rasional dengan
mempertimbangkan aspek epidemiologi, cost
effectiveness, fisiologi, farmakologi, diet, olahraga dan
perubahan gaya hidup
16
0
10
Program KIA di pelayanan kesehatan primer
16
0
11
Mengidentifikasi masalah dan intervensi menggunakan
konsep 3 keterlambatan
15
1
12
Pertolongan persalinan normal
16
0
13
Menentukan adanya kegawatdaruratan obstetri dan
penanganan awal
16
0
14
Cara perawatan ibu pasca melahirkan (nifas)
16
0
4
Diberikan
Tidak Diberikan
Keterangan
Unpatti
24
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Tabel 3.13. FASE 1; Foundation of medicine (body system & basic medical practice)
Blok 2.3. Childhood
Materi
1
Epidemiologi penyakit-penyakit menular pada anakanak (common communicable diseases)
16
0
2
Penyebab dan patofisiologi penyakit-penyakit menular
maupun tidak menular
16
0
3
Menginterpretasi data klinis dan epidemiologis serta
merumuskannya menjadi diagnosis sementara atau
diagnosis banding
Cara diagnosis dan pilihan terapi penyakit-penyakit
menular maupun tidak menular
16
0
16
0
5
Upaya promotif, preventif (primer, sekunder, tersier),
kuratif dan rehabilitatif
16
0
6
Indikasi pemberian obat, cara kerja obat, waktu paruh,
dosis, serta penerapannya
16
0
7
Penulisan resep obat secara rasional
16
0
8
Parameter dan indikator keberhasilan pengobatan
15
1
Unpatti
9
Prinsip-prinsip investigasi dan pelaporan penyakit /
wabah (Kejadian Luar Biasa)
14
2
10
Pemanfaatan media dan partisipasi masyarakat
secara efektif dalam promosi kesehatan
14
2
Unpatti,
Unsyiah
Unpatti,
Unsyiah
11
Sistem surveylans penyakit
15
1
4
Diberikan
Tidak
Diberikan
No
Keterangan
Unsyiah
Alasan tidak mencantumkan dalam kurikulum:
1
Belum tersebar secara rinci dalam kurikulum
2
Dibahas di blok family medicine
25
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Tabel 3.14. FASE 1; Foundation of medicine (body system & basic medical practice)
Blok 2.4. Adolescent
Diberikan
Tidak
Diberikan
No
Materi
Keterangan
1
Perubahan fisik dan psikologi pada menarche
dan spermache
16
0
2
Gangguan-gangguan pada masa menarche
dan spermache
16
0
3
Masalah NAPZA dan penanggulangannya
16
0
4
Masalah agresifitas pada adolescent
14
2
Unpatti, Unsyiah
5
Masalah penyimpangan seksual
15
1
Unsyiah
6
Masalah kenakalan remaja
15
1
7
Masalah women and child-abuse dan
trafficking
10
6
Unpatti
Unpatti, Unsyiah, UKI,
Malahayati, Maranatha,
Unpad
8
Peran keluarga, lingkungan sosial sebagai
faktor yang berpengaruh pada terjadinya
kelainan pada masa adolescent
15
1
Unpatti
9
IMS (Infeksi Menular Seksual)
15
1
Unsyiah
10
Ekspresi emosi pasien (marah, kecewa,
sedih, takut) secara profesional
15
1
Unpatti
11
Cara-cara pemeriksaan toksikologi forensik
untuk NAPZA
14
2
Malahayati, Unsyiah
Alasan tidak mencantumkan dalam kurikulum:
1
Belum disebar secara rinci dalam kurikulum
2
3
Belum menjadi fokus pembelajaran
Tidak ada dalam SKDI, dimasukkan dalam teori saja
4
Tidak memiliki alokasi waktu yang cukup
5
Tidak termasuk dalam standar kompetensi
26
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Tabel 3.15. FASE 1; Foundation of medicine (body system & basic medical practice)
Blok 2.5. Adulthood
Materi
Diberikan
Tidak
Diberikan
1
Perubahan-perubahan fisik dan mental serta berbagai
masalah yang terkait dengan kesehatan pria dan
wanita dewasa
15
1
Undana
2
Masalah kesehatan yang mengganggu produktivitas
kerja
14
1
Malahayati,
1 (missing)
3
Struktur dan fungsi organ reproduksi pada setiap fase
kehidupan pada pria dan wanita (setelah pubertas
sampai andropause/menopause).
16
0
4
Masalah yang berkaitan dengan perubahan hormon
serta pertimbangan penanganannya secara rasional
16
0
5
Faktor-faktor non biologis yang berpengaruh terhadap
kesehatan pria dan wanita
Kelainan atau penyakit yang berkaitan dengan organ
khusus pria dan wanita
16
0
15
1
7
Kaitan anatomi dan produktivitas kerja (Ergonomi)
12
4
8
Patofisiologi dan diagnosis berbagai gangguan
kesehatan akibat pekerjaan dan lingkungan kerja
14
2
9
Pemeriksaan payudara sendiri
16
0
10
Berbagai jenis kontrasepsi serta prinsip pengambilan
keputusan pemilihan jenis kontrasepsi
15
1
11
Berbagai pilihan pengelolaan dari aspek epidemiologi
klinik, farmakologi, fisiologis (olah raga), diet, dan
perubahan perilaku
16
0
12
Pemilihan dan penetapan strategi pengelolaan yang
tepat berdasarkan kendali mutu, biaya, manfaat dan
keadaan serta pilihan pasien
15
1
Unpatti
13
Pembuatan surat keterangan dan visum et repertum
15
1
Unsyiah
14
Undang-undang kesehatan kerja
13
3
15
Aspek etis dalam penanganan pasien
16
0
No
6
Keterangan
Unpatti,
Unissula,
Unsoed, Malahayati
Unpatti, Malahayati
Unpatti
Unpatti, Malahayati,
Undana
Alasan tidak mencantumkan dalam kurikulum:
1
Belum
2
3
Ergonomis tidak dibahas dalam blok adulthood tapi di family medicine
Tidak ada dalam SKDI, untuk undang-undang kesehatan kerja ada dalam learning skill dalam tutorial
4
Tidak terlalu dalam, hanya membahas prinsip2 ergonomi
27
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Tabel 3.16. FASE 1; Foundation of medicine (body system & basic medical practice)
Blok 2.6. Elderly
Materi
1
Proses penuaan mulai tingkat seluler hingga tingkat
tubuh
16
0
2
Perubahan fisik dan psikologi pada proses penuaan
serta gangguannya
15
1
Unpatti
3
Karakteristik penyakit pada usia lanjut.
Masalah kelemahan, ketidakmampuan, dan hambatan
pada usia lanjut.
15
1
Unpatti
15
1
Unpatti
Assessment usia lanjut secara multidisplin dan
interdisiplin
Peran keluarga, lingkungan sosial sebagai faktor yang
berpengaruh pada terjadinya kelainan pada lansia
15
1
Unpatti
14
2
7
Faktor-faktor pemilihan farmakologis dan non
farmakologis dalam pengelolaan pasien lansia
15
1
Unpatti,
Unsyiah
Unpatti
8
Perawatan pasien stadium terminal termasuk aspek
etika dan moral
Prinsip-prinsip home care
15
1
Unpatti
13
3
Unpatti,
Unissula,
Unsoed
Edukasi tentang kebugaran lansia kepada pasien,
keluarga dan masyarakat.
14
2
Unpatti,
Unsyiah
4
5
6
9
10
Diberikan
Tidak
Diberikan
No
Keterangan
Alasan tidak mencantumkan dalam kurikulum:
Alokasi waktu tidak memungkinkan
-
Karena pengertian home care di sini akan tumpang tindih dengan home care di keperawatan
Tidak ada blok khusus tentang geriatri
Tabel 3.17. FASE 2: Transition from theory to practice (year 3:multi system disorder)
Blok 3.1. Chest complaint
Diberikan
Tidak
Diberikan
No
Materi
1
Sindroma coroner acut
16
0
2
Heart failure & Cardiorespiratory arrest
16
0
3
Hypertension
16
0
4
Valvular heart diseases
5
Aortic stenosis, Aortic regurgitation
16
0
6
Tachycardia, Atrial fibrillation, Atrial flutter, Extrasystole
16
0
7
Endocarditis, Pericarditis, Myocarditis, Cardiomyopathy
16
0
8
Tuberculosis, Atelectasis, Bronchiectasis, COPD
15
1
Keterangan
0
Unpad
28
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
9
SARS
15
1
10
CA paru
16
0
Undana
11
Trauma dada: pneumothorax, hematothorax, tamponade
cordis
16
0
12
Pneumothorax non trauma
16
0
13
Raynaud's disease, Burger's disease
15
1
Unsyiah
14
Claudicatio (gejala arterial thrombosis), Arterial
embolism
15
1
Unsyiah
15
Congenital heart disease: VSD, ASD
16
0
16
Tuberculosis pada anak, Bronchopneumonia,
Bronchiolitis, Asthma
16
0
17
"Disorders of newborns: Respiratory distress syndrome,
bronchopulmonary dysplasia, aspiration pneumonia,
apnea attacks
16
0
18
Radiodiagnosis pada sistem cardiovascular & respirasi
16
0
19
Mikroba pada infeksi saluran nafas atas dan bawah
16
0
20
Obat untuk Kardiovaskuler, Koagulan – antikoagulan
16
0
21
Obat untuk gangguan Saluran Pernapasan
16
0
22
Teknik menulis resep yang rasional untuk gangguan
pada system cardiovascular dan respirasi
16
0
Alasan tidak mencantumkan dalam kurikulum:
1
Dimasukkan pada blok traumatologi
Usulan;
1
penyakit jantung dapatan pada anak, cardiac marker, terapi bedah & rehab penyakit KV dan respirasi
29
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Tabel 3.18. FASE 2: Transition from theory to practice (year 3: multi system disorder)
Blok 3.1. Chest complaint
Diberikan
Tidak
Diberikan
No
Materi
1
Sindroma coroner acut
16
0
2
Heart failure & Cardiorespiratory arrest
16
0
3
Hypertension
16
0
4
Valvular heart diseases
5
Aortic stenosis, Aortic regurgitation
16
0
6
Tachycardia, Atrial fibrillation, Atrial flutter, Extrasystole
16
0
7
Endocarditis, Pericarditis, Myocarditis,
Cardiomyopathy
16
0
8
Tuberculosis, Atelectasis, Bronchiectasis, COPD
15
1
Unpad
9
SARS
15
1
Undana
10
CA paru
16
0
11
Trauma
dada:
tamponade cordis
16
0
12
Pneumothorax non trauma
16
0
13
Raynaud's disease, Burger's disease
15
1
Unsyiah
14
Claudicatio
embolism
15
1
Unsyiah
15
Congenital heart disease: VSD, ASD
16
0
16
Tuberculosis
pada
Bronchiolitis, Asthma
Bronchopneumonia,
16
0
17
"Disorders of newborns: Respiratory distress
syndrome, bronchopulmonary dysplasia, aspiration
pneumonia, apnea attacks
16
0
18
Radiodiagnosis pada sistem cardiovascular & respirasi
16
0
19
Mikroba pada infeksi saluran nafas atas dan bawah
16
0
20
21
Obat untuk Kardiovaskuler, Koagulan – antikoagulan
Obat untuk gangguan Saluran Pernapasan
16
16
0
0
22
Teknik menulis resep yang rasional untuk gangguan
pada system cardiovascular dan respirasi
16
0
0
pneumothorax,
(gejala
Keterangan
arterial
anak,
hematothorax,
thrombosis),
Arterial
Alasan tidak mencantumkan dalam kurikulum:
1
Dimasukkan pada blok traumatologi
Usulan;
1
penyakit jantung dapatan pada anak, cardiac marker, terapi bedah & rehab penyakit KV dan respirasi
30
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Tabel 3.19. FASE 2: Transition from theory to practice (year 3:multi system disorder)
Bblok 3.2. Abdominal complaints
No
Materi
Diberikan
Tidak
Diberikan
1
Oesofagitis, refluk oesofagitis, sindroma dyspepsia,
gastritis, gastroduodenitis, tukak lambung/duodenum,
perdarahan saluran cerna , Gastroenteritis, Colitis
16
0
2
Hepatitis, Hepatitis virus, Cirrhosis hepatis, varises
oesofagus, abses hati, perlemakan hati dan gagal hati,
Intepretasi lab fungsi hati
16
0
3
Liver cell adenoma, Hepatocellular carcinoma,
cholangiocarcinoma, carcinoma of the pancreas
16
0
4
Benign polyps, Squamous cell carcinoma, Adenocarcinoma,
carcinoid tumor, lymphoma
16
0
5
Cholesistitis, Cholelitiasis, Pankreastitis
16
0
6
Kegawatan saluran cerna: apendisitis, peritonitis, perforasi
usus, perdarahan usus, ileus
16
0
7
Atresia bilier, Pyloric stenosis, Reye's syndrome,
hirschprung disease
16
0
8
Malabsorption, Food intolerance, Gastro-oesophageal reflux
16
0
9
Gastroenteritis (+/ - dehydration), Bakteri enterik, Bacterial
Food poisoning, Infeksi virus pada saluran cerna
16
0
10
Schistosomiasis, Taeniasis, Amoebiasis,Giardiasis,
Hookworm diseases ,Strongyloidiasis ,Ascariasis
Trichiuriasis
16
0
11
Obat untuk gangguan pada sistem abdomen dan penulisan
resep yang rasional untuk gangguan pada sistem abdomen
16
0
Keterangan
Usulan;
1
Radiodiagnosis GEH, lab diagnostik, terapi bedah GEH, manajemen penanganan termasuk rehab
31
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Tabel 3.20. FASE 2: Transition From Theory To Practice (Year 3:Multi System Disorder)
Blok 3.3. Limited Movement
No
Materi
Diberikan
Tidak
Diberikan
1
Cerebrovascular disease, cerebral infarction
16
0
2
Degenerative and demyelinating disorders, including
Alzheimer’s disease and multiple sclerosis
16
0
3
Disorders of the nervous system
16
0
4
Cerebrovascular disease (e.g., intracerebral
hemorrhage; ischemic disorders; aneurysm,
subarachnoid hemorrhage; cavernous sinus
thrombosis)
Infections (e.g., meningitis, HIV infection/AIDS;
encephalitis, cytomegalovirus; Lyme disease;
abscess; neurosyphilis; rabies, poliomyelitis, herpes
16
0
16
0
16
0
5
6
zoster; Guillain-Barre syndrome)
Degenerative disorders (e.g., Alzheimer’s disease,
Huntington’s disease, parkinsonism; amyotrophic
lateral sclerosis; Tay-Sachs disease)
7
Demyelinating disorders (e.g., multiple sclerosis)
16
0
8
9
Developmental disorders (e.g., cerebral palsy)
Neuromuscular disorders (e.g., myasthenia gravis;
muscular dystrophy; peripheral neuropathy/carpal
tunnel syndrome)
16
16
0
0
10
Symptoms, signs, ill-defined conditions (e.g., coma;
confusion; delirium; dementia; syncope; ataxia gait
abnormality; dyslexia; sleep disorders)
16
0
11
Disorders relating to the spine and spinal nerve roots
(e.g., neck pain; cervical radiculopathy; low back pain;
lumbosacral radiculopathy; spinal stenosis)
16
0
12
Emergency and acute care (e.g., status epilepticus,
increased intracranial pressure, acute stroke migraine,
intracranial hemorrhage)
16
0
13
Chronic care (e.g., complications, rehabilitation,
psychological and psychiatric elements and support
16
0
Keterangan
Usulan;
1
Pemeriksaan penunjang, terapi farmako dan non farmako
32
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Tabel 3.21. FASE 2: Transition From Theory To Practice (Year 3:Multi System Disorder)
Blok 3.4. Neurosensory Complaints
Diberikan
Tidak
Diberikan
No
Materi
Keterangan
1
Nutritional deficiency affecting the nervous
system, eyes, or ears
15
0
1 (missing)
2
Occupational disorders involving the nervous
system, eyes, or ears
15
1
Unpatti
3
Infection involving the nervous system, eyes,
or ears
16
0
4
Congenital disorders involving the nervous
system, eyes, or ears
16
0
5
Disorders of the eye (e.g., blindness;
glaucoma; infection; papilledema; optic
atrophy; retinal disorders; diabetic
retinopathy; diplopia; cataract; neoplasms;
vascular disorders; uveitis, iridocyclitis)
16
0
6
Disorders of the ear, olfaction, and taste
(e.g., deafness, hearing loss; otitis,
mastoiditis; toxic damage; vertigo, tinnitus,
Meniere’s disease; acoustic neuroma)
16
0
7
Paroxysmal disorders (e.g., headache;
trigeminal neuralgia; epilepsy)
16
0
8
Metabolic, nutritional disorders (e.g.,
metabolic encephalopathy, vitamin B12
[cyanocobalamin] deficiency, vitamin B1
[thiamine] deficiency, diabetic neuropathy)
16
0
Usulan;
1
Pemeriksaan penunjang, penanganan terpadu
33
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Tabel 3.22. FASE 2: Transition from theory to practice (year 3:multi system disorder)
Blok 3.5. Lifestyle related complaints
Diberikan
Tidak
Diberikan
No
Materi
Keterangan
1
Psychologic and social factors influencing patient
behavior: Personality Psychodynamic and behavioral
factors, Related past experience, Family and cultural
factors including socioeconomic status, Adaptive
behavioral responses to stress and illness
15
1
Unpatti
2
Patient interviewing, consultation, and interactions
with the family: Establishing and maintaining
rapport, Data gathering , Approaches to patient
education, Approaches to encourage patients to
make life-style changes, Communicating bad news
15
1
Unpatti
3
Caloric and nitrogen balance
15
1
Unpatti
4
Protein-calorie malnutrition (e.g., marasmus,
kwashiorkor)
16
0
5
Vitamin defiencies (e.g., folate/anemia, vitamin C/
scurvy and toxicities (e.g., vitamin D/ hypercalcemia);
16
0
6
Mineral defiencies (e.g., magnesium/ tetany,
zinc/hypogonadism) and toxicities (e.g.,
potassium/cardiac arrrest)
16
0
7
Complimentary and alternative medicine
14
2
UI, Undana
Alasan tidak mencantumkan dalam kurikulum:
1
Tidak termasuk dalam muatan lokal kurikulum
34
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Tabel 3.23. FASE 2: Transition from theory to practice (year 3:multi system disorder)
Blok 3.6. Research
No
1
2
3
4
Materi
Fundamental concepts of writing proposal and study
result: Introduction, Theoritical Framework, Conceptual
Framework, Hypothesis, Research Method, Analysis,
Result, Discussion
Fundamental concepts of measurement: Distribution;
central tendency, variability, probability, Disease
prevalence and incidence Disease outcomes (e.g., fatality
rates), Associations (e.g., risk factors), Health impact (e.g.,
risk difference and ratios , Diagnostic test: sensitivity,
specificity, predictive value
Fundamental concepts of study design: Types of
experimental studies (e.g., clinical trials, community
intervention trials) Types of observational studies (e.g.,
cohort, case-control, cross-sectional, case series,
community surveys), Sampling and sample size, Subject
selection and exposure allocation (e.g., randomization,
stratification, self-selection, systemic assignment), Internal
and external validity, Outcome assessment,
Fundamental concepts of hypothesis testing and statistical
inference: Confidence intervals , Statistical significance
and type I error, statistical power and type II error
Diberikan
Tidak
Diberikan
Keterangan
15
1 (missing)
15
1 (missing)
15
1 (missing)
15
1 (missing)
5
Critical Appraisal
15
1 (missing)
6
Evidence-based Medicine
15
1 (missing)
7
Ethycal Clearance
15
1 (missing)
35
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Tabel 3.24. FASE 2: Transition from theory to practice (year 4: emergency & disaster)
Blok 4.1. Emergency
No
Materi
Diberikan
Tidak
Diberikan
1
Identifikasi kondisi gawat darurat medis
16
0
2
Diagnosis dan Penatalaksanaan pada pasien gawat
darurat
16
0
3
Ketrampilan berkomunikasi dengan keluarga dan
kolega
16
0
4
Mengevaluasi kemajuan dan melakukan rujukan
dengan memperhatikan aspek keamanan pasien
16
0
5
Triger: Seizure (Tetanus, Epilepsy, Meningitis,
Enchepalitis, SOP, Electrolyte disorder, Eclampsia)
15
6
Triger: Respiratory disorder (Asthma bronchiale, Air
way obstructions, Pneumothorax, Hematothorax,
Pulmonary edema, Avian influenza, Pneumonia,
SARS)
"Triger: Haemodynamic disorder (Shock hypovolemic:
Epitaksis, DHF, Hematemesis, hemoptoe, placenta
previa, Extra uterine gestations, GI tract bleeding, UT
bleeding , Traumatic; Shock distributive: septic shock,
anaphylactic shock; Shock obstructive : Tension
pneumothorax, cardiac tamponade; Shock
cardiogenic : AMI, heart failure, Crisis hypertensions)
Triger: Conssiousness disorder( Trauma brain injury,
CVA, Metabolic disorder, Electrolyte and acid base
disorder, Poisson & toxicity, Drug abuse)
Triger: Mental Disorder : Tentament suicide, Agitation
16
0
16
0
Triger: Miscellaneous diseases (Insect and animal
bites, Corpus alienum, Burn trauma, UT disorder :
urinary retention, anuria, Steven Johnson syndrome)
16
7
8
9
10
Keterangan
Unpatti
15
Unpatti
15
Unpatti
0
Alasan tidak mencantumkan dalam kurikulum:
1
Dimasukkan pada blok traumatologi
Usulan;
1
penyakit jantung dapatan pada anak, cardiac marker, terapi bedah & rehab penyakit KV dan respirasi
36
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Tabel 3.25. FASE 2: Transition from theory to practice (year 4: emergency & disaster)
Blok 4.2. Health system & disaster
Materi
1
2
Sistem Yankes Nasional, Lokal, Global
Sistem dan mekanisme pembayaran yang
berhubungan dengan peran profesional dokter
16
14
0
2
Unpatti , Undana
3
Sistem pembayaran, quality control, keselamatan
pasien dan keadilan dalam pelayanan kesehatan
Informasi yang berhubungan dengan potensial kasus
epidemik
14
2
Unpatti , Undana
15
1
Unpatti
Komunikasi dengan tim kesehatan lain, institusi dan
masyarakat dalam mengidentifikasi masalah,
menganalisis, dan merencanakan intervensi yang
15
1
Unpatti
4
5
Diberikan
Tidak
Diberikan
No
Keterangan
dibutuhkan
6
Kepemimpinan dan manajerial dalam rangka
mengatasi masalah kesehatan di masyarakat
16
0
7
Penatalaksanaan klinik gawat draurat pada keadaan
bencana sesuai kompetensi dan kewenangan
15
1
Unpatti
8
Prinsip manajemen bencana: koordinasi, tim medis,
logistic, prevensi penyakit infeksi dan masalah mental,
system informasi
15
1
Unpatti
9
Keselamatan pasien selama situasi bencana
15
1
UMY
10
International health and travel medicine that have
developed rapidly
13
3
Unpatti , Unissula,
Unpad
11
Focused diseases: Care system of DHF, Reporting
system for KLB concerning bird flu, Referral system
and limited human resources, facilities, and
infrastructures for HIV/AIDS, TB; Quality of clinical
care for burns and trauma due to disaster ; Teamwork
in handling poor nutrient level; Malaria and diarrhoea
outbreak; AFP Surveyllance
15
1
Unpatti
Alasan tidak mencantumkan dalam kurikulum:
1
Pertimbangannya sekarang berfokus ke pelayanan primer
37
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Tabel 3.26. FASE 2: Transition from theory to practice (year 4: emergency & disaster)
Blok 4.3. Elective
Materi
1
Trigger problems: Topics for electives according to
recommendation from relevant unit
Conduct analysis against health issue through research
and presenting findings in a professional manner
14
2
Unpatti, Undana
14
2
Unpatti, Undana
Understand health issues and how to resolve it in a
manner that will enhance owns knowledge of medical
practices and support career developments in accordance
to owns skill and interests
Conduct research and make a report based on research
findings
14
2
Unpatti, Undana
14
2
Unpatti, Undana
5
Collect relevant information in order to perform analysis
against certain medical condition
14
2
Unpatti, Undana
6
Write research findings according to the norms of writing
scientific article
14
2
Unpatti, Undana
7
Make a scientific presentation from research finding
2
3
4
Diberikan
Tidak
Diberikan
No
Keterangan
Alasan tidak mencantumkan dalam kurikulum:
1
Belum ada perencanaan content mata kuliah elektif
2
Semua terdapat pada modul MP
Usulan;
1
Manajemen RS, herbal medicine
2
Masalah kesehatan kepulauan, zoonosis dan penyakit tropis tertentu
Tabel 3.27. Pengelolaan Masalah Kesehatan Masyarakat
(Dasar-Dasar Kesehatan Masyarakat)
Diberikan
Tidak
Diberikan
No
Materi
1
Pengertian Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran
Komunitas
16
0
2
Epidemiologi dan biostatistik terapan
16
0
3
Konsep sehat dan sakit serta faktor risiko penyakit Konsep
sehat dan sakit serta faktor risiko penyakit
16
0
4
Pendidikan Kesehatan
16
0
5
Kebijakan Kesehatan (SKN, Sistem Pembiayaan)
16
0
Keterangan
38
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Tabel 3.28. Pengelolaan Masalah Kesehatan Masyarakat (Penerapan Ilmu Kedokteran
Komunitas Di Komunitas)
Diberikan
Tidak
Diberikan
No
Materi
1
Konsep pelayanan kesehatan primer
16
0
2
Upaya dasar pusat kesehatan masyarakat
16
0
3
Upaya pengembangan pusat kesehatan
15
0
16
0
Keterangan
1 (Missing )
masyarakat
4
Program penanggulangan dan
penatalaksanaan masalah kesehatan yang
tersering di masyarakat: Kematian ibu,
Kematian bayi, Infeksi saluran nafas,
Tuberkulosis, Demam Berdarah Dengue,
Malnutrisi, DM, Hipertensi, HIV-AIDS, Malaria
5
Kesehatan Perkotaan
11
4
6
Kesehatan Pedesaan
14
1
7
Kesehatan Okupasi
16
0
8
Kesehatan Matra
8
8
9
Kesehatan Reproduksi
16
0
10
Kesehatan Wisata (kesehatan global)
8
8
Unpatti, Unsoed, UKI, UMY
1 (missing)
Unpatti
Unpatti, Unsoed, UKI, UI,
UKDW, UMY, Unsyiah,
Undana
Unpatti, Unissula, Unsoed,
Malahayati, UMY, Unpad,
Unsyiah, Undana
Alasan tidak mencantumkan dalam kurikulum:
1
Belum merumuskan kompetensi masing2 terutama yang sesuai dengan kondisi lokal
2
Belum terpikirkan
3
Definisi keduannya apa?
4
Sedang diterlusuri lebih lanjut
5
Tidak termasuk muatan lokal institusi
Usulan;
1
Kesehatan di daerah pesisir, kesehatan sekolah, upaya kesehatan lansia, rehab, berSDM kesehatan
masyarakat kepulauan
39
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Tabel 3.29. Pengelolaan Masalah Kesehatan Masyarakat Penerapan Ilmu Kedokteran Komunitas di Klinik
Tidak
Diberikan
No
Materi
Diberikan
Keterangan
1
15
1
UKI
2
Mengelola penyakit, keadaan sakit dan masalah
pasien sebagai individu yang utuh, bagian dari
keluarga dan masyarakat
Melakukan Pencegahan Penyakit dan Keadaan Sakit
15
1
UKI
3
Penerapan biostatistik dan epidemiologi di klinik
15
1
UKI
4
Berkomunikasi pada praktik kedokteran
15
1
UKI
5
Mengelola sumber daya manusia serta sarana dan
prasarana secara efektif dan efisien dalam pelayanan
kesehatan primer dengan pendekatan kedokteran
keluarga
15
1
UKI
Tabel 3.30. Pengelolaan informasi
Diberikan
Tidak
Diberikan
No
Materi
Keterangan
1
Library resources and systems
13
2
Unpatti, Unsyiah
2
Key professional texts and journals
13
2
Unpatti, Undana
3
Automated information-retrieval systems
(local, national, international)
12
3
Unpatti, UMY, Undana
4
Electronic mail
14
1
Unpatti
5
Remote computer access
11
4
6
Computer-assisted instructional resources
13
2
Unpatti, UMY, Unair,
Undana
Unpatti, Undana
7
Word processing
14
1
Unpatti
8
Statistical analysis software
14
1
Unpatti
Alasan;
1
Belum ada dana
2
3
Lebih kearah teknis
Tidak ada blok teknologi informasi
4
Tidak ditugaskan khusus untuk library resources karena mahasiswa memang aktif menggunakan
perpustakaa
40
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Tabel 3.31. Mawas Diri dan Pengembangan Diri
Diberikan
Tidak
Diberikan
No
Materi
1
Pembelajaran berbasis masalah (problem based learning)
15
0
2
Pembelajaran orang dewasa (adult learning)
15
0
3
Self-directed learning
15
0
4
Mencari literatur (literature searching)
15
0
5
Berpikir kritis (critical thinking)
15
0
6
Kemampuan memecahkan masalah (problem solving
learning)
15
0
7
Pengenalan gaya belajar (learning style)
15
0
8
Mendengar yang aktif (active listening)
14
1
9
Membaca yang efektif (effective reading)
15
0
10
Konsentrasi dan memori (concentration & memory)
15
0
11
Manajemen waktu (time management)
15
0
12
Manajemen stres (stress management)
14
1
13
Membuat catatan kuliah (note taking)
15
0
14
Penelusuran sumber belajar secara kritis
15
0
15
Penulisan ilmiah (academic writing)
15
0
16
Scientific presentation skill
15
0
17
Umpan balik yang membangun (constructive feedback)
15
0
18
Persiapan ujian (test preparation)
15
0
19
Refleksi diri (self reflection)
15
0
Keterangan
UKI
missing
untuk tabel ini
UKDW
Unpad
41
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Tabel 3.32. Etika, moral, medikolegal dan profesionalisme serta keselamatan pasien
No
Materi
Diberikan
Tidak
Diberikan
Keterangan
1
Frameworks of Ethical Reasoning
15
0
2
Moral Principles which underlie the PatientPhysician Relationship: Truth-telling,confidentiality,
Privacy, Autonomy,. Beneficence,. Non-maleficence,
Justice, Fidelity, Promise keeping, Public reporting
15
0
3
Elements of Informed Consent to Treatment:
Inform, Patient autonomy, Competency to make
decision, Surrogate decision makers if not competent ,
Roles, rights, obligations of the surrogate, Voluntary,
Full disclosure, Risk and benefits, Alternate therapies
Religion-Related Issues: Religious values of the
Patient
15
0
15
0
5
Religious values of the physician
15
0
6
Death and Dying: Diagnosing death, Advance
directives
15
0
7
Living will, Durable power of attorney, Lifesupport(Competency to make decision, Withholding
andwithdrawing, Nutrition, hydration and other
therapies, Autopsy, Euthanasia, Active vs. passive,
Suicide,
15
0
8
Birth-Related Issues: Assisted reproductive
technologies, Pre-natal diagnosis, Abortion,
Counseling obligations, Maternal-fetal conflict,
Obligations/relationships
Research Issues: Physicians as researchers,
Authorship, Consent, Coercion, Placebos, Conflict of
interest, Vulnerable populations, Prisoner , Children
Organ Donation
14
1
Unpatti, 1 missing
14
1
Unpatti, 1 missing
13
2
11
Genetic Information Issues: Testing, Voluntary
vs.mandated,Confidentiality, Repercussions
12
2
Unpatti, Undana,
1 missing
Unpatti, Undana,
2 missing
12
Organizations and Cost of Health Care Delivery:
Economics, Access, Quality, Vulnerable populations,
Discriminatory practices or possibilities, HIV
testing/treatment, Gender, Age, Poverty,Race,
Religion/ culture
12
3
4
9
10
Unpatti, Unair,
Undana, 1
missing
42
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
ANALISIS HASIL SURVEY
Materi untuk pencapaian kompetensi komunikasi efektif
Dalam pencapaian kompetensi komunikasi efektif yang terdiri dari enam materi pertanyaan, materi keempat
yaitu materi dokter sebagai perpanjangan asuransi kesehatan tidak diberikan oleh 4 institusi dari 16 institusi
survey dengan alasan bahwa asuransi kesehatan tidak perlu diberikan secara khusus (hanya sebatas teori
saja). Hal ini mungkin karena kalimat dari pertanyaan kuesioner yang kurang tepat, sehingga bila penelitian
akan diulang perlu dilakukan revisi pada pertanyaan tersebut. Materi ilmu perilaku untuk teknik fasilitasi
komunikasi efektif pada situasi yang sulit tidak diberikan hanya oleh 1 institusi, sehingga dianggap dapat
dianggap materi ini dapat diterima.
Materi untuk pencapaian kompetensi landasan ilmiah ilmu kedokteran
Materi dasar-dasar istilah-istilah kedokteran diberikan oleh 16 institusi, namun pada 1 institusi materi
tersebut tidak diberikan secara khusus. Sebagaimana kita ketahui dasar-dasar istilah kedokteran tentu dapat
diberikan secara tersendiri tetapi dapat pula langsung diaplikasikan dalam proses belajar-mengajar. Hal ini
juga menunjukkan bahwa pertanyaan pada kuesioner tersebut perlu diperbaiki.
Dari hasil survey blok 1.2. sistim kardio-respiratori hematologi-onkologi, terdapat usulan penambahan
materi, yaitu: kardiologi, EKG, manajemen kelainan, komplikasi, pencegahan, rehabilitasi dan pemeriksaan
penunjang selain lab dan manajemen terpadu pasien termasuk rehabilitasi medik. Usulan tersebut mungkin
karena responden tidak menyadari mengenai percontohan fase tersebut, karena usulan-usulan tersebut
tentunya lebih sesuai untuk fase yang lebih lanjut.
Dari hasil survey blok 1.6 mengenai Basic Medical Practice, materi pengertian dan prinsip evidence-based
medicine (EBM) sudah diberikan pada 12 institusi survey, namun pada 4 institusi belum diberikan dengan
alasan penyusunan kurikulum belum selesai dan bahwa EBM tidak tercantum dalam SKDI.
Dari hasil survey blok 2.1 mengenai conception, fetal growth & congenital anomaly, materi faktor-faktor yang
mempengaruhi infertilitas laki-laki dan perempuan serta cara mendeteksinya, serta manajemen laktasi dan
rawat gabung sudah diberikan pada 15 institusi namun satu institusi belum memberikan materi tersebut
dengan alasan: belum ada blok yang memuat konten tersebut, tidak terpikirkan, tidak tercantum dalam
SKDI.
Dari hasil survey blok 2.3. mengenai childhood, materi prinsip-prinsip investigasi dan pelaporan penyakit/
wabah (Kejadian Luar Biasa) dan pemanfaatan media dan partisipasi masyarakat secara efektif dalam
promosi kesehatan sudah diberikan pada 16 institusi, 14 institusi memberikan materi ini secara khusus dan
pada 2 institusi diberikan secara tersebar.
Dari hasil survey blok 2.4. mengenai adolescent, materi masalah agresifitas pada adolescent dan cara-cara
pemeriksaan toksikologi forensik untuk NAPZA tidak tercantum pada kurikulum dari 2 institusi. Sedangkan
masalah women and child-abuse dan trafficking tidak tercantum pada kurikulum dari 6 institusi dengan
alasan: belum menjadi fokus pembelajaran, tidak ada dalam SKDI, dan tidak memiliki alokasi waktu yang
cukup. Meskipun demikian, alasan-alasan ini menjadi sulit untuk dianalisis untuk materi yang mana karena
tidak disebutkan secara spesifik. Hal ini juga menjadi lesson learnt dari penelitian ini dalam pembuatan
kuesioner.
Dari hasil survey blok 2.5. mengenai adulthood, dari 15 materi pertanyaan terdapat 9 materi yang belum
diberikan yaitu materi ke-1, 6, 10, 12, dan 13 belum diberikan oleh 1 institusi yang berbeda. Materi ke-2 dan
43
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
8 belum diberikan oleh 2 institusi, materi ke-14 belum diberikan oleh 3 institusi, dan materi ke-7 belum
diberikan oleh 4 institusi. Alasan yang dikemukan secara umum adalah materi tersebut tidak tercantum
dalam SKDI.
Dari blok 2.6. mengenai elderly, materi ke- 2, 3, 4, 5, 7, dan 8 belum diberikan oleh 1 institusi yang sama.
Materi ke-6 dan 10 belum diberikan oleh 2 institusi. Materi ke-9 belum diberikan oleh 3 institusi. Alasan yang
dikemukan antara lain: alokasi waktu tidak memungkinkan dan tidak ada blok khusus tentang geriatri.
Mengingat semakin pentingnya masalah kesehatan lansia ini maka perlu ditindak lanjuti dalam revisi SKDI.
Dari hasil survey blok 3.5. mengenai lifestyle related complaints, materi Complimentary and alternative
medicine tidak tercantum pada kurikulum dari 2 institusi, dengan alasan tidak termasuk dalam muatan lokal
kurikulum. Kemungkinan untuk materi ini akan lebih sesuai bila dimasukkan dalam usulan program elektif/
muatan lokal saja.
Dari hasil survey blok 4.2. mengenai health system and disaster, materi sistem dan mekanisme pembayaran
yang berhubungan dengan peran profesional dokter dan sistem pembayaran, quality control, keselamatan
pasien dan keadilan dalam pelayanan kesehatan, serta International health and travel medicine tidak
tercantum dalam kurikulum dari beberapa intitusi dengan alasan pertimbangannya sekarang fokus ke
pelayanan primer.
Materi untuk pencapaian kompetensi Pengelolaan Masalah Kesehatan Masyarakat
Pada Tabel 28 tentang Pengelolaan Masalah Kesehatan Masyarakat yang berkaitan dengan penerapan ilmu
kedokteran komunitas pada komunitas diperoleh hasil bahwa sebagian besar materi sudah tercantum dalam
kurikulum semua institusi yang disurvey. Hanya beberapa materi yang tidak diberikan, yaitu Kesehatan
Perkotaan oleh 4 institusi, Kesehatan Matra dan Kesehatan Wisata oleh 8 institusi. Ada pun Tabel 29
tentang penerapan ilmu kedokteran komunitas pada klinik, hanya ada satu institusi yang menjawab tidak
memberikan untuk semua materi pertanyaan. Selebihnya sudah memberikan semua materi tersebut dalam
kurikulumnya.
Materi untuk pencapaian kompetensi Pengelolaan informasi
Materi-materi yang tercantum pada Tabel 30 untuk pencapaian kompetensi pengelolaan informasi,
mayoritas institusi telah memberikan. Namun pada materi pertanyaan terdapat 1-3 institusi secara bervariasi
yang tidak memasukkan dalam kurikulum. Hanya ada satu institusi yang menjawab tidak memberikan untuk
semua materi pertanyaan pada tabel ini. Belum ada dana, lebih kearah teknis dan tidak ada blok teknologi
informasi menjadi alasan institusi yang tidak memasukkan dalam kurikulumnya.
Materi untuk pencapaian kompetensi Mawas Diri dan Pengembangan Diri
Pada tabel 31 tentang Kompetensi Mawas Diri dan Pengembangan Diri, sebagian besar materi sudah
tercantum dalam kurikulum semua institusi. Hanya ada 1 institusi secara bervariasi yang tidak
mencantumkan materi berkaita mendengar aktif (active listening) dan manajemen stres (stress
management).
Materi untuk area kompetensi Etika, Moral, Medikolegal dan Profesionalisme serta Keselamatan pasien
Dari Tabel 32 diketahui bahwa materi berkaitan dengan Birth-Related Issues dan Research Issues tidak
tercantum hanya pada kurikulum 1 institusi saja. Selain itu terdapat 2 institiusi yang tidak mencantumkan
materi donor organ dan isu-isu mengenai infomasi genetik, serta 3 institusi yang tidak mencantumkan
mengenai organisasi dan pembiayaan pelayanan kesehatan.
44
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
REFLEKSI
Teknis pelaksanaan survey
Teknis pelaksanaan survey dengan metode kunjungan ke institusi tidak mengalamai kendala, sedangkan
dengan metode pengiriman ke institusi mendapatkan respons yang sangat minim. Oleh karena itu, bila
dianggap bahwa jumlah sampel dalam penelitian ini tidak memenuhi syarat sehingga harus dilakukan
pengumpulan data ulang, maka perlu dilakukan dengan metode yang lebih memungkinkan untuk
mendapatkan respon yang lebih baik, misalnya dengan memberikan kuesioner pada staf MEU yang datang
pada pertemuan AIPKI.
Substansi Hasil Survey
Beberapa item dalam hasil survey perlu mendapatkan perhatian khusus, terutama pada materi-materi yang
tidak tercantum dalam kurikulum pada ≥ 2 institusi
Lesson Learned
Beberapa kalimat dalam kuesioner perlu diperbaiki sehingga menjadi lebih jelas, karena tampaknya ada
misunderstanding dalam mengintepretasikan beberapa item pertanyaan dalam kuesioner. Demikian pula
alasan-alasan yang dikemukakan oleh institusi kadang-kadang sulit untuk dianalisis karena tidak diketahui
untuk materi yang mana alasan tersebut diberikan karena tidak disebutkan secara spesifik. Hal ini juga
menjadi lesson learnt dari penelitian ini seandainya akan dilakukan revisi kuesioner.
Rencana Tindak Lanjut
Rencana Sosialiasi Hasil Pre-lIminary Survey: pada acara SEARAME di Jakarta 19-22 November 2010
Rekomendasi
Rekomendasi improvement untuk pelaksanaan survey selanjutnya adalah dengan memperbaiki beberapa
item dalam kuesioner sehingga menjadi lebih jelas. Disamping itu akan lebih baik bila pelaksanaan
pengisian survey dilakukan dalam suatu kesempatan Pertemuan Nasional seperti SEARAME yang akan
datang, dimana umumnya juga dihadiri oleh staf MEU dari seluruh institusi, sehingga akan lebih hemat.
Rekomendasi untuk kebijakan Dikti, Kemkes, dan stakeholder lain berbasis hasil preliminary survey. Hasil
preeliminari survey sudah dapat mendeteksi beberapa permasalahan, sehingga untuk kebijakan tersebut
dapat disarankan untuk mencantumkan materi yang digunakan untuk pencapaian kompetensi agar ada
keseragaman dari institusi kedokteran di Indonesia dalam memberikan materi pengetahuan yang minimal
atau yang paling mendasar.
45
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
DAFTAR PUSTAKA
World Federation for Medical Education. 2003. Basic Medical Education. WFME Global Standards for
Quality Improvement. Copenhagen. http://www.wfme.org.
Konsil Kedokteran Indonesia. 2006. Standar Kompetensi Dokter Indonesia. Jakarta
Konsil Kedokteran Indonesia. 2006. Standar Pendidikan Profesi Dokter. Jakarta.
st
Indiana University School of Medicine. Educational Blueprint for The Indiana Initiative: Physicians for the 21
Century
46
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Bab 4. Survey dengan Nominal Grup Teknik
mengenai Ketrampilan Klinik Dokter
PENDAHULUAN
Keterampilan adalah kegiatan mental dan atau fisik yang terorganisasi serta memiliki bagian-bagian kegiatan yang saling bergantung dari awal hingga akhir. Dalam melaksanakan praktik dokter,lulusan dokter perlu
menguasai keterampilan klinis yang akan digunakan dalam mendiagnosis maupun menyelesaikan suatu
masalah kesehatan. Keterampilan klinis ini perlu dilatihkan sejak awal pendidikan dokter secara berkesinambungan hingga akhir pendidikan dokter. Daftar keterampilan klinis dikelompokkan menurut bagian atau
departemen terkait. Pada setiap keterampilan klinik ditetapkan tingkat kemampuan menggunakan Piramid
Miller (knows, knows how, shows, does) yang diharapkan dicapai oleh mahasiswa di akhir pendidikan.
Dalam rangka revisi SKDI, daftar ketrampilan klinik di dalamnya akan direview ulang karena pembuatannya
selama ini berdasarkan pendapat dari dokter spesialis. Melalui survey ini, diharapkan adanya gambaran
mengenai kekerapan kasus ketrampilan klinik dalam praktek umum sehari-hari, serta harapan dokter umum
mengenai tingkat kemampuan yang seharusnya dokter umum kuasai. Pada akhirnya, hasil survey ini
diharapkan dapat menjadi rekomendasi yaitu ketrampilan klinik apa saja yang perlu dipertimbangkan
kembali mengenai tingkat kemampuan untuk dibicarakan lebih lanjut dengan pakar di bidangnya.
TUJUAN
Teridentifikasi daftar ketrampilan klinik yang diharapkan dilatihkan pada program studi dokter untuk
memperoleh dokter praktik umum yang siap bekerja pada lahan pelayanan kesehatan primer dan
teridentifikasinya tingkat kemampuan ketrampilan pada masing-masing ketrampilan klinis tersebut.
METODE
Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan metode nominal grup teknik. Nominal
grup teknik merupakan variasi dari sebuah diskusi kelompok kecil. Dalam teknik ini partisipan dimintai pendapatnya atas satu set masalah yang dihadapkan oleh moderator. Masing-masing partisipan diminta pendapatnya dan kemudian diminta untuk membuat skala prioritas dari semua hasil pendapat partisipan, sehingga
dapat dihindari dominasi dari salah satu partisipan.
Resonden untuk survey ini berjumlah 12 orang pada tiap institusi, dengan ketentuan:
1. Dokter umum yang melakukan pelayanan kesehatan primer.
2. Sudah melakukan praktek pelayanan kesehatan primer minimal 6 bulan
47
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
3. Responden menjalankan praktek di Rumah Sakit atau Puskesmas atau Praktek Mandiri atau
Perusahaan
Supaya didapatkan representasi responden yang seimbang diharapkan dari masing-masing lokasi praktek
didapatkan 3 orang responden.
Lokasi
Rumah Sakit (Pemerintah dan Swasta)
Puskesmas
Praktek Mandiri
Perusahaan
Jumlah
3 orang
3 orang
3 orang
3 orang
Keduabelas institusi yang menjadi sasaran penelitian akan dibagi menjadi 2 kelompok. Tiap-tiap kelompok
akan mengerjakan 1 set instrumen penelitian yang berbeda (instrument A atau B). Adapun pembagian kelompok institusi sebagai berikut:
Kelompok A
UNSYIAH
UI
UNPAD
UNSOED
UNDANA
UNHAS
Kelompok B
USU
UKI
MALAHAYATI
UNISSULA
UNAIR
UNPATTI
Pada tiap institusi, keduabelas responden akan dibagi menjadi 3 kelompok yang masing-masing akan mengerjakan 1 set instrument yang berbeda (instrument A.1 atau A.2 atau A.3 atau B.1 atau B.2 atau B.3). Satu
set instrument terdiri atas 2 bendel yang dikerjakan dalam 2 sesi. Sesi 1 (bendel 1) dikerjakan secara mandiri dan sesi 2 (bendel 2) dikerjakan secara diskusi.
HASIL SURVEY
Praktek Umum
No. Ketrampilan Klinik
1
Pengambilan benda asing di konjungtiva
2
Pengambilan benda asing di kornea
3
Pembersihan serumen
4
Pengambilan benda asing (by syringing ear)
5
Apus endocervical
6
Pemeriksaan discharge (melakukan apusan untuk kultur, menyiapkan
slide dengan salin dan natrium hidroksida)
7
Drainase bursa, ganglion
8
Melakukan dressing (sling, pembalutan bahu, pembalutan jari, pembalutan tangan)
9
Mengobati ulkus tungkai
10
Melakukan dressing(pembalutan tungkai, kaki, pergelangan, lutut)
11
Pemberian obat intravena
12
Pemberian obat, intramuskuler
13
Pemberian obat, subkutan
14
Pemberian obat, intrakutan
15
Menggunakan anastesi topikal (tetes, semprot)
16
Pemberian anestesi local
17
Pemberian blok saraf
SKDI
3
2
3
3
3
3
Pernah
72,2%
52,8%
83,3%
77,8%
50%
31,3%
Mandiri
74,3%
40%
80%
74,9%
42,9%
34,3%
2
3
47,2%
85,7%
45,7%
91,2%
3
3
4
4
4
3
3
3
2
91,7%
94,4%
88,9%
97,2%
91,7%
88,9%
86,1%
91,7%
66,7%
82,9%
91,4%
91,4%
100%
97,1%
94,3%
94,3%
100%
60%
48
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
Insisi abses
Eksisi kutil (warts)
Perawatan luka
Menjahit luka
Terapi luka bakar
Pengambilan splinter
Disinfeksi
Finger prick
Laju endap darah/kecepatan endap darah (LED/KED
Pengukuran Hb
Pengukuran kadar gula darah
Tes monospot
Uji deteksi protein
Uji deteksi glukosa
Uji deteksi empedu
Uji deteksi darah
Menyiapkan slide dan uji mikroskopis urin
Metode dip slide (kultur urine)
Tes kehamilan
Uji deteksi sputum
Darah tersembunyi (occult blood)
Protozoa
Cacing usus (intestinal helminth)
Sertifikasi kematian
2
3
3
4
3
3
3
4
4
4
4
3
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
3
94,4%
75%
97,2%
97,2%
91,7%
51,9%
91,7%
82,9%
55,6%
68,6%
88,6%
34,5%
69,4%
72,2%
27,8%
38,9%
41,2%
34,3%
100%
68,6%
43,7%
42,4%
44,1%
82,4%
97,1%
80%
100%
100%
88,2%
56%
91,4%
85,3%
80%
82,9%
91,7%
25,9%
68,4%
74,3%
32,4%
44,1%
44,1%
25,7%
94,4%
63,9%
57,6%
41,2%
48,6%
87,9%
SKDI
4
4
4
2
4
4
4
4
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
4
4
4
4
3
3
3
2
3
2
Pernah
94,3%
94,1%
94,3%
94,3%
94,3%
82,9%
74,3%
70,6%
67,6%
74,3%
77,1%
68,6%
37,5%
41,2%
42,9%
37,1%
97,1%
94,3%
97,1%
94,3%
85,7%
97,1%
74,3%
80%
80%
25,8%
52,9%
45,7%
Mandiri
88,6%
91,2%
91,4%
91,4%
85,7%
88,6%
74,3%
88,6%
79,4%
80,0%
82,9%
85,7%
62,5%
64,7%
74,3%
77,1%
91,4%
85,7%
91,4%
91,4%
94,3%
94,3%
85,7%
88,6%
85,3%
35,5%
67,6%
54,3%
ANAK
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
Ketrampilan Klinik
Menanyakan riwayat dari pihak ketiga
Menanyakan riwayat menyusui
Menanyakan riwayat penyakit anak yang lebih tua
Berbicara dengan orang tua yang cemas dengan anak yang sakit berat
Pemeriksaan fisik umum dengan perhatian khusus usia pasien
Penilaian keadaan umum, gerakan, prilaku, tangisan
Pengamatan malformasi kongenital
Palpasi fontanella
Respon moro
Refleks menggenggam palmar
Refleks mengisap
Refleks melangkah/menendang
vertical suspension positioning
asymmetric tonic neck reflex
Refleks anus
Penilaian pinggul
Penilaian fisik dan perkembangan
Penilaian perkembangan berbicara dan bahasa
Berat badan
Pengukuran panjang badan
Pengukuran lingkar kepala
Pengukuran suhu
Pengukuran indeks massa tubuh
Peresepan makanan untuk bayi yang mudah dipahami ibu
Penilaian penglihatan
Tes Ewing
Fingerprick
Pungsi vena (Venepuncture)
49
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
Insersi kanula (vena perifer)
Insersi kanula (vena sentral)
Tes rumple Leed
Intubasi
Resusitasi
Oropharyngeal tube insertion
Tes fungsi paru, peak flow meter
Ultrasound kranial
EEG
Pungsi lumbal
Echocardiografi
Kateterisasi jantung
2
1
4
3
2
2
2
1
1
2
2
1
45,7%
20%
91,4%
34,3%
65,7%
31,4%
34,3%
5,7%
14,3%
14,3%
20%
2,9%
60%
17,1%
94,3%
42,9%
80%
45,7%
42,9%
0%
2,9%
5,7%
8,6%
0%
BEDAH
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
Ketrampilan Klinik
Pemeriksaan fisik umum
Digital rectal examination (DRE)
Bimanual ginjal
Menilai atrofi otot
Menetapkan ROM kepala
Inspeksi bahu/ ext atas
Tes fungsi sendi bahu
Tes fungsi otot dan sendi siku
Tes fungsi sendi pergelangan tangan, metacarpal dan jari-jari tangan
Inspeksi postur tulang belakang/pelvis
Inspeksi posisi skapula
Inspeksi fleksi dan ekstensi punggung
Penilaian fleksi lumbal
Palpasi tulang belakang, sendi sacro-iliac dan otot-otot punggung
Inspeksi gait
Pengukuran panjang ext bawah
Panggul: penilaian fleksi dan ekstensi, adduksi, abduksi dan rotasi
Lutut: Menilai ligamen krusiatus dan kolateral
Penilaian meniscus
Kaki: inspeksi postur dan bentuk
Kaki: penilaian fleksi dorsal/plantar, inversi dan eversi
Tes Trendelenburg
Tes Perthes
Uji postur untuk insufisiensi arteri
Tes hiperemia reaktif untuk insufisiensi arteri
Capillary refill
Inspeksi selangkangan pada saat tekanan abdomen meningkat
Palpasi hernia
Palpasi penis, testis, duktus spermatik epididimis
Transluminasi skrotum
Apus uretra
Pertolongan pertama
Penilaian kesadaran menggunakan Glasgow Coma Scale
Pijat jantung luar
Resusitasi mulut ke mulut/ hidung
Ventilasi masker
Intubasi
Penilaian dan perawatan luka eksternal (luka, perdarahan, luka bakar,
distortion, dislokasi, fraktur)
Menghentikan perdarahan (tekan langsung, tekanan titik (pressure point),
dan balut tekan
SKDI
4
4
4
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
4
4
4
4
3
3
4
Pernah
100%
76,5%
91,2%
97,1%
84,4%
100%
82,4%
85,3%
85,3%
97,1%
97,1%
93,9%
85,3%
97%
81,8%
88,2%
97,1%
85,3%
73,5%
97,1%
94,1%
70,6%
32,4%
26,5%
44,1%
76,5%
100%
100%
79,4%
85,3%
58,8%
100%
100%
82,4%
50%
85,3%
41,2%
97,1%
Mandiri
97%
64,7%
85,3%
91,2%
69,7%
97,1%
85,3%
88,2%
88,2%
91,2%
91,2%
84,8%
73,5%
84,8%
78,8%
73,5%
79,4%
61,8%
44,1%
82,4%
82,4%
73,5%
35,5%
20,6%
11,8%
67,6%
94,1%
91,2%
76,5%
85,3%
50%
100%
100%
94,1%
94,1%
94,1%
55,9%
91,2%
4
97,1%
97,1%
50
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
Transport pasien (transport of casualty)
Manuver Heimlich
Melakukan pembalutan
Resusitasi cairan
Radiologi (foto polos)
Arthrography
Arterigraphy
Scintiscan
CT
MRI
Ultrasound
Endoscopy
Biopsi
Uroflowmetri
Micturating cystography
Pemeriksaan urodinamik
Reflek bulbokavernosus
Menyiapkan pre-operasi lapangan operasi untuk bedah minor, asepsis,
antisepsis, anestesi lokal
Persiapan untuk melihat atau menjadi asisten di kamar operasi (cuci
tangan, menggunakan baju operasi, menggunakan sarung tangan steril,
dll)
Anestesi infiltrasi
Blok saraf lokal
Insisi dan drainase abses
Pembersihan luka
Debridement luka dengan scalpel dan gunting
Jahit luka
Pengambilan jahitan
Perawatan luka bakar
Apply a pressure dressing
Reposisi fraktur tertutup
Stabilisasi fraktur (tanpa gips)
Reduksi dislokasi
Apply a sling
Nail bes cauterisation
Ekstraksi kuku
Nasogastric suction
Insersi nasogastric
Kateterisasi uretra laki-laki
Kateterisasi uretra perempuan
Clean intermitten chatheterization (Neuropathic blader)
Sirkumsisi
Dursumcircumcision
Pungsi suprapubik
Colostomy, mengganti kantong
Enema
Injeksi varises dengan sklerosan
Kanulasi vena
Pemberian analgesik
Mendampingi pasien dengan kanker dengan memperhitungkan isu sosial
dan psikologis
4
4
4
4
2
1
1
1
2
2
2
2
2
2
2
2
2
4
91,2%
52,9%
100%
88,2%
73,5%
14,7%
11,8%
20,6%
50%
32,4%
54,5%
38,2%
35,3%
23,5%
20,6%
23,5%
42,5%
88,2%
94,1%
82,4%
100%
97,1%
58,8%
8,8%
2,9%
0%
5,9%
6,1%
5,9%
0%
10%
0%
0%
0%
24,1%
91,2%
3
73,5%
88,2%
3
2
3
3
3
3
3
2
3
2
2
2
3
2
2
2
2
3
3
3
3
3
3
2
3
2
3
3
3
73,3%
65,5%
96,7%
96,7%
96,7%
100%
100%
100%
93,9%
50%
80%
58,8%
46,7%
36,4%
93,3%
67,7%
58,8%
91,2%
88,2%
44,1%
85,3%
70,6%
36,7%
32,7%
41,7%
14,7%
27,6%
91,2%
69,7%
86,7%
73,3%
96,7%
96,7%
96,7%
96,7%
96,6%
90%
69,7%
35,5%
60%
23,5%
33,3%
24,2%
90%
70%
73,5%
97,1%
97,1%
50%
97,1%
73,5%
51,7%
48,3%
36,4%
12,1%
21,4%
93,9%
75%
SKDI
4
Pernah
83,3%
Mandiri
93,3%
DERMATOLOGI
No.
1
Ketrampilan Klinik
Kulit, inspeksi dengan kaca pembesar
51
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
Kulit, inspeksi dengan sinar UVA (Wood’s lamp)
Kuku, inspeksi
Dermografisme
Palpasi kulit
Deskripsi lesi kulit dengan perubahan primer dan sekunder, seperti ukuran,
distribusi, penyebaran dan konfigurasi
Penyiapan dan penilaian slide kalium hidroksida
Penyiapan dan penilaian slide Metilen biru
Penyiapan dan penilaian pewarnaan Gram
Usap uretra
Anal swab
Identifikasi parasit
Punch biopsy
Patch test
Prick test
Kolposkopi condylomata acuminata
Proctoscopy
Kulit, insisi/drainase abses
Kulit, eksisi tumor
Cryoterapi tumor
Warts, cryotherapy
Jerawat, terapi komedo
Perawatan luka
To apply a dressing
Varicose veins, compressive sclerotherapy
Varicose veins, ambulant compressive therapy on venous leg ulcer
Haemorrhoids
Masking therapy
Phototherapy
Pencarian kontak
3
4
3
4
4
46,7%
100%
73,3%
96,7%
93,3%
63,3%
96,7%
73,3%
93,3%
93,3%
3
3
3
3
3
3
2
2
2
1
1
3
2
1
3
3
4
4
1
2
2
1
1
2
23,3%
36,7%
33,3%
20%
26,7%
30%
26,7%
33,3%
33,3%
17,7%
6,7%
93,3%
73,7%
20%
13,3%
70%
93,3%
72,4%
13,8%
10,3%
55,2%
20,7%
13,8%
63%
30%
30%
30%
33,3%
43,3%
50%
23,3%
367%
36,7%
13,3%
13,3%
96,6%
73,3%
16,7%
13,3%
73,3%
96,7%
66,7%
6,7%
6,7%
46,7%
6,7%
6,7%
64,3%
SKDI
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
3
4
4
4
4
4
4
3
4
4
Pernah
95,2%
100%
100%
97,6%
100%
100%
100%
90,5%
100%
100%
100%
100%
100%
65,7%
92,9%
50%
97,6%
90,5%
92,9%
97,6%
90,5%
83,3%
88,1%
Mandiri
85,7%
97,6%
95,2%
81%
97,6%
100%
100%
78%
100%
97,6%
97,6%
95,1%
100%
68,8%
88,1%
19%
19%
73,8%
85,7%
92,9%
88,1%
76,2%
81%
ILMU PENYAKIT DALAM
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
Ketrampilan Klinik
Penilaian status mental
Penilaian keadaan umum
Penilaian status gizi
Penilaian antropologi (habitus and posture)
Penilaian respirasi
Menghitung denyut nadi
Pengukuran tekanan darah
Pengukuran tekanan vena jugularis
Pengukuran tinggi badan dan berat badan
Inspeksi dan palpasi kulit
Inspeksi membran mukosa
Palpasi kelenjar limfe
Inspeksi mata, hidung, mulut dan tenggorokan
Pemeriksaan tanda chvostek
Palpasi kelenjar ludah
Apus tenggorokan
Palpasi kelenjar tiroid
Palpasi trakhea
Palpasi arteria caroticus
Inspeksi saat berbaring
Inspeksi saat bergerak
Perkusi for tenderness
palpation for tenderness
52
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
Palpasi untuk mendeteksi nyeri diakibatkan tekanan vertikal
Penilaian fleksi lumbal
Inspeksi sambil berbaring
Inspeksi saat melakukan respirasi
Palpasi ekspansi respirasi
Palpasi taktil fremitus
Palpasi detak apex jantung
Perkusi paru, dasar paru, dan ukuran jantung
Auskultasi paru-paru
Auskultasi jantung
Inspeksi payudara
Palpasi payudara
Inspeksi
Auskultasi (usus, suara perut dan bruits)
Perkusi (pekak hati, area Traube, dan kandung kemih)
Palpasi (dinding perut, colon, hati, limpa, aorta dan rigiditas dinding perut)
Memicu nyeri abdomen dan nyeri lepas tekan
Pemeriksaan pekak beralih
Melakukan tes undulasi
Memicu nyeri ketok ginjal
Inspeksi daerah perianal
Pemeriksaan rektum
Palpasi prostat
Palpasi kantong Douglas
Palpasi adnexa
Palpasi sakrum
Inspeksi sarung tangan
Inspeksi vulva dan perineum
Pemeriksaan vagina: palpasi vagina, uterus dan adnexa
Inspeksi penis
Inspeksi dan palpasi skrotum
Inspeksi kulit, kuku dan tonus otot
Inspeksi sendi
Penilaian denyut kapiler
Penilaian pengisian ulang kapiler (capillay refill)
Palpasi denyut arteri
Deteksi bruits
Palpasi kulit, tendon dan sendi
Penilaian range of motion sendi
Pemeriksaan sistem sensoris
Pemeriksaan sistem motoris
Memicu refleks: platela, pergelangan, trisep dan bisep, respon plantar
Venapuncture
Arterial puncture
Finger prick
Penyiapan dan pemeriksaan apus darah
Penyiapan dan pemeriksaan sedimen urin
Penyiapan dan pemeriksaan sputum
Penyiapan dan pemeriksaan tinja
Pengecatan Gram
Pengecatan Ziehl Nielsen
Pemeriksaan X-ray: foto polos
Pemeriksaan X-ray menggunakan kontras
CT Scan
NMR/ MRI
Pemeriksaan scintigrafi
Echography
Endoscopy lambung
4
3
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
1
4
3
3
4
4
4
4
2
1
1
1
1
1
1
80,5%
76,2%
100%
100%
95,2%
90,5%
95,2%
97,6%
100%
100%
100%
97,6%
100%
100%
95,4%
100%
100%
97,6%
88,1%
100%
97,6%
90,5%
79,6%
50%
69%
79,6%
85,7%
92,9%
83,3%
97,6%
88,1%
100%
95,2%
73,2%
76,9%
95%
80,5%
97,6%
87,8%
97,6%
97,6%
97,6%
78%
55%
87,2%
59,5%
56,1%
61,9%
54,8%
40,5%
35,7%
57,6%
38,3%
40,5%
26,2%
22,5%
23,8%
21,4%
77,5%
60%
100%
100%
90,5%
97,6%
95,2%
97,6%
100%
100%
95,2%
97,6%
100%
100%
95,2%
97,6%
100%
92,9%
78,6%
97,6%
90,5%
88,1%
73,8%
50%
59,5%
51,2%
83,3%
90,5%
69%
88,1%
90,5%
90,5%
88,1%
78,6%
79,5%
90,2%
68,3%
100%
85,7%
100%
100%
95,2%
70%
42,5%
69,2%
47,6%
48,8%
47,6%
47,6%
38,1%
35,7%
26,2%
9,5%
4,8%
2,4%
0%
2,4%
0%
53
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100
102
102
103
104
105
106
107
108
109
110
111
112
1113
114
115
116
Proctoscopy
Biopsi ginjal atau hati
Pengambilan cairan ascites
Pengambilan cairan pleura
Pemeriksaan patologi hasil biopsi
Elektrokardiografi
Melakukan EKG
Phonocardiolography
Pemeriksaan Doppler
Pemeriksaan Holter
Kateterisasi jantung
Pengukuran tekanan darah secara automatis
Echocardiography
Uji fungsi paru/spirometry
uji provokasi histamin
Tes alergi
Tes provokasi hiperventilasi
Scan perfusi/ventilasi
Bronchoscopy
Aspirasi sendi
Menasehati pasien tentang gaya hidup
Mengatur diet
Injeksi subkutan dan intramuskular
Pemberian insulin
Kanulasi intravena
Resusitasi mulut ke mulut
Pijat jantung
Menginisiasi resusitasi
Pemasangan NGT (nasogastric tube)
Dekompresi jarum (contraventil needle)
Pemasangan WSD
Endoscopy
Pemasangan kateter kandung kemih
Dialisis ginjal
Skleroterapi vena varikosa
1
1
1
1
1
3
1
1
2
1
1
1
1
3
2
2
3
1
1
1
4
4
4
3
3
4
4
4
1
2
2
1
3
1
1
9,8%
7,1%
21,4%
33,3%
22%
71,4%
63,4%
10,3%
61%
17,1%
4,8%
64,3%
19%
30,5%
26,2%
45,2%
23,8%
14,6%
11,9%
26,2%
100%
92,9%
100%
76,2%
57,5%
47,6%
64,3%
75%
259,5%
25%
31%
14,3%
81%
21,4%
14,6%
0%
0%
9,8%
7,3%
0%
51,2%
63,4%
0%
48,8%
0%
0%
65,9%
2,5%
26,2%
9,8%
35,7%
14,6%
0%
0%
9,5%
97,6%
90,5%
97,6%
85,7%
61%
92,9%
85,7%
82,1%
73,2%
23,1%
9,5%
0%
85,7%
0%
2,4%
SKDI
4
3
4
2
3
3
4
4
4
4
4
3
3
3
3
3
3
4
Pernah
100%
85,3%
87,1%
43,7%
82,4%
50%
100%
97,1%
94,1%
100%
100%
82,4%
97,1%
64,7%
41,2%
94,1%
67,6%
100%
Mandiri
91,2%
55,9%
76,5%
27,3%
76,5%
41,2%
97,1%
86,7%
97,1%
91,2%
91,2%
73,5%
88,2%
52,9%
38,2%
88,2%
61,8%
94,1%
MATA
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
Ketrampilan Klinik
Penilaian penglihatan
Penilaian penglihatan, bayi dan anak
Penilaian refraksi, subjektif
Penilaian refraksi, objektif (refractometry keratometer)
Lapangan Pandang, Donders confrontation test
Lapangan Pandang, Amsler panes
Inspeksi kelopak mata
Inspeksi kelopak mata dengan eversi kelopak atas
Inspeksi bulu mata
Inspeksi konjungtiva, termasuk forniks
Inspeksi sclera
Inspeksi apparatus lakrimalis
Palpasi limfonodus pre-aurikuler
Penilaian posisi dengan corneal reflex images
Penilaian posisi dengan cover test
Pemeriksaan gerakan bola mata
Penilaian penglihatan binokular
Inspeksi pupil
54
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
Penilaian pupil dengan reaksi langsung terhadap cahaya dan konvergensi
Inspeksi media refrakta dengan transilluminasi (pen light)
Inspeksi kornea
Inspeksi kornea dengan fluoresensi
Tes sensivitas kornea
Inspeksi bilik mata depan
iris, inspection
lens, inspection
Pemeriksaan dengan slit-lamp
fundoscopy, bringing the fundus into focus
Inspeksi diskus optik, perbedaan antara normal dan abnormal
Inspeksi vena retina, perbedaan antara normal dan abnormal
Tekanan intra okular, estimasi dengan palpasi
Tekanan intra okular, pengukuran dengan indentasi tonometer '(Schiötz)
atau non-contact-tonometer
Tekanan intra okular, pengukuran dengan aplanasi tonometer
Penentuan refraksi setelah sikloplegia (skiascopy)
Pemeriksaan lensa kontak fundus, mis. gonioscopy
Pengukuran produksi air mata
Pengukuran exophthalmos (Hertel)
Pembilasan melalui saluran lakrimalis (Anel)
Pemeriksaan orthoptic
Perimetri
Pemeriksaan lensa kontak
Tes penglihatan warna
Electroretinografi
electro-oculography
Visual evoked potentials (VEP/VER)
Fluorescein angiography (FAG)
Echographic examination: ultrasonography (USG)
Pemberian obat tetes mata
Aplikasi salep mata
flood ocular tissue
Eversi kelopak atas dengan kapas lidi (swab) untuk membersihkan benda
asing
to apply eyes dressing
Melepaskan lensa kontak atau protesa mata
Melepaskan bulu mata
Membersihkan benda asing dan debris
Terapi laser
Operasi katarak
squint, surgery
Vitrectomi
Operasi glaukoma dengan trabekulotomi
Transplantasi kornea
Cryocoagulation : mis. cyclocryocoagulation
Bedah kelopak mata (chalazion, entropion, ectropion, ptosis)
Operasi detached retina
4
4
4
3
3
4
4
4
3
3
3
3
4
3
100%
88,2%
90,9%
35,3%
61,8%
44,1%
47,1%
70,6%
20,6%
40%
26,5%
26,5%
76,5%
20,6%
94,1%
70,6%
79,4%
35,3%
61,8%
35,3%
52,9%
67,6%
11,8%
23,3%
18,2%
20,6%
73,5%
35,3%
1
1
1
2
2
1
2
2
2
1
1
1
1
2
1
4
4
3
3
14,7%
11,8%
11,8%
14,7%
35,3%
12,1%
17,6%
11,8%
26,5%
91,2%
8,8%
6,1%
0%
0%
5,9%
100%
97,1%
53,3%
82,4%
35,3%
20,6%
0%
5,9%
23,5%
6,1%
8,8%
11,8%
20,6%
94,1%
2,9%
3%
0%
0%
0%
97,1%
97,1%
30%
76,5%
3
2
2
2
1
1
1
1
1
1
1
1
1
56,7%
41,2%
44,1%
85,3%
2,9%
8,8%
10%
8,8%
8,8%
2,9%
2,9%
14,7%
5,9%
50%
58,8%
55,9%
79,4%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
8,8%
0%
NEUROLOGI
No.
1
2
3
4
5
Ketrampilan Klinik
assessment of sense of smell
inspection of width of palpebral cleft
inspection of pupils (size and shape)
pupillary reaction to light
pupillary reaction of close objects
SKDI
4
4
4
4
3
Pernah
80,0%
90,0%
100%
100%
100%
Mandiri
70,0%
73,3%
96,7%
100%
80%
55
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
assessment of extra-ocular movements
assessment of diplopia
assessment of nystagmus
corneal reflex
assessment of visual fields
test visual acuity
fundoscopy assessment of pupil
assessment of facial symmetry
assessment of strength of temporal and masseter muscles
assessment of facial sensation
assessment of facial movements
assessment of taste
assessment of hearing (lateralization, air and bone conduction
assessment of swallowing
inspection of palate
test gag reflex
assessment of sternomastoid and trapezius muscles
tongue, inspection at rest
tongue, inspection and assessment of motor system (e.g. sticking out)
inspection: posture, habitus involuntary movements
assessment of passive stretch
assessment of muscle strength
assessment of strength of individual muscles
inspection of gait (normal, on heels, on toes, hopping in one place, heelto-toe)
shallow knee bend
Romberg’s test
reaction to a push (balance)
point-to-point testing: between index finger and nose
point-to-point testing: heel on opposite knee, running down to big toe
testing for dysdiadochokinesis
assessment of sense of pain
assessment of sense of temperature
assessment of light touch
assessment of extinction phenomenon
assessment of vibration
assessment of position sense
assessment of discriminative sensations (e.g. stereognosis)
Lasègue’s sign
assessment of level of consciousness by
means of Glasgow coma scale
assessment of orientation
assessment of aphasia
assessment of apraxia
assessment of agnosia
assessment of new learning ability
assessment of memory
assessment of concentration
tendon reflexes (biceps, reflex, triceps reflexknee reflex, ankle reflex)
plantar response
abdominal reflexes
cremaster reflex
anal reflex
Hoffmann-Trömner sign
snout reflex
rooting reflex
grasp reflex
glabela reflex
3
3
3
3
3
3
3
4
4
4
4
3
3
3
3
3
3
4
4
4
4
4
4
4
82,8%
73,3%
73,3%
66,7%
76,7%
76,7%
50,0%
86,2%
60,0%
83,3%
79,3%
53,3%
72,4%
66,7%
80,0%
43,3%
48,3%
82,1%
75,9%
86,2%
86,2%
86,2%
86,2%
75,9%
75,9%
63,3%
60,0%
80%
60%
63,3%
20,0%
79,3%
53,3%
60,0%
70,0%
73,3%
63,3%
60,0%
79,3%
46,7%
56,7%
79,3%
62,1%
86,7%
73,3%
83,3%
76,7%
65,5%
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
53,6%
62,1%
64,3%
63,3%
56,7%
34,5%
89,7%
66,7%
72,4%
81,5%
46,7%
53,3%
43,3%
58,6%
93,1%
44,8%
56,7%
66,7%
66,7%
60,0%
53,3%
80,0%
80,0%
76,7%
40,7%
57,1%
53,3%
53,3%
64,3%
96,7%
4
4
3
3
3
3
3
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
89,7%
63,3%
53,3%
50,0%
37,9%
73,3%
70,0%
93,3%
83,3%
80,0%
53,3%
50,0%
59,3%
53,3%
66,7%
60,0%
58,6%
89,7%
73,3%
70,0%
70,0%
51,7%
72,4%
82,8%
96,7%
93,3%
79,3%
73,3%
79,3%
69,0%
60,0%
63,3%
63,3%
58,6%
56
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
90
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100
101
palmomental Reflex
detections of neck stiffness
assessment of fontanelles
patrick’s and contra Patrick’s sign
chvostek’s sign
X-ray skull
X-ray spine
Seldinger angiography
Myelography
Caudography
CT-scan of cerebrum
EEG
EMG, EMNG
ENG
Brain mapping
PET, SPECT
visual evoked response examination, BAEP, SSEP
digital substraction angiography
duplex-scan of vessels
biopsy of muscle
lumbar puncture
lumbar puncture, Queckenstedt test
MRI, MRA
Laminectomy
therapeutic spinal tap
opening the skull
surgery for acoustic neuroma
surgery of pituitary gland
surgery for extradural haemorrhage
surgery for subdural haemorrhage
surgery for cerebral tumour
surgery for carpal/tarsal tunnel syndrome
surgery for intra cerebral aneurysm
Inspection at rest
Inspection in motion
Percussion for tenderness
Palpation for tenderness
Palpation for pain on vertical pressure
Assessment of lumbar flections
4
4
4
4
4
2
2
1
1
1
2
2
2
2
2
2
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
4
4
4
4
4
4
37,9%
69,0%
65,5%
53,3%
39,3%
66,7%
66,7%
13,3%
53,3%
53,3%
53,3%
40,0%
37,9%
53,3%
43,3%
3,3%
3,3%
46,7%
23,3%
17,2%
6,7%
3,3%
10,0%
6,7%
6,7%
6,9%
3,3%
0,0%
6,7%
3,3%
6,7%
16,7%
10,0%
20,0%
10,0%
3,3%
10,0%
3,3%
3,3%
10,0%
10,3%
10,0%
13,3%
6,7%
86,2%
90,0%
76,7%
76,7%%
73,3%
55,2%%
3,3%
3,3%
3,3%
3,3%
3,3%
13,8%
3,3%
6,7%
0,0%
0,0%
0,0%
0,0%
3,3%
3,3%
0,0%
0,0%
0,0%
3,3%
66,7%
66,7%
70,0%
70,0%
60,0%
48,3%
SKDI
4
4
4
4
3
3
4
4
4
4
4
4
4
2
Pernah
100%
91,4%
68,6%
57,1%
40,0%
28,1%
65,7%
37,1%
31,4%
45,7%
37,1%
17,6%
15,2%
8,6%
Mandiri
88,6%
91,4%
77,1%
68,6%
57,1%
32,3%
74,3%
62,9%
40,0%
57,1%
42,9%
32,4%
23,5%
3,0%
OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
Ketrampilan Klinik
Pemeriksaan fisik umum termasuk pemeriksaan payudara
Inspeksi dan palpasi genitalia eksterna
Pemeriksaan spekulum: inspeksi vagina dan serviks
Pemeriksaan bimanual: palpasi vagina, serviks, korpus uteri, dan ovarium
Pemeriksaan rektal: palpasi kantung Douglas, uterus
Combined recto-vaginal septum
Duh (discharge) genital: bau
Duh (discharge) genital: Ph
Duh (discharge) genital: pewarnaan Gram
Duh (discharge) genital: usap vagina
Duh (discharge) genital: pemeriksaan dengan salin
Duh (discharge) genital: pemeriksaan dengan kalium hidroksida
Endocervical swab and cervical scraping
Colposcopy
57
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
Pemeriksaan uterus, USG abdomen
Pemeriksaan uterus, USG vaginal
Kuretase
Suction curettage
Laparoscopi, diagnostic
Pemeriksaan fisik genitalia maskulina
Penilaian hasil pemeriksaan semen
Kurva temperatur basal, instruksi, penilaian hasil
Pemeriksaan mukus serviks, Tes fern
Uji paska-koitus, mendapatkan bahan uji, penyiapan dan menilai slide
Histero salpingografi
Peniupan tuba Fallopi
Inseminasi artificial
Melatih pemeriksaan payudara sendiri
Insersi pessary
Insersi kateter urin
Electro-or crycoagulation cervix
Laparoscopy, terapetik
Advokasi kontrasepsi
Insersi I.U.D
Laparoscopi, sterilisasi
Pemilihan kehamilan risiko tinggi untuk perawatan rumah sakit atau klinis
Merawat wanita hamil
Inspeksi abdomen wanita hamil
Palpasi: tinggi fundus, manuver Leopold, penilaian posisi dari luar
Mengukur denyut jantung janin
Pemeriksaan dalam pada kehamilan muda
Pemeriksaan pelvis
Tes kehamilan, urin
CTG: melakukan dan menginterpretasikan
Pemeriksaan USG
Amniosentesis
Biopsi chorion
Menolong wanita dalam persalinan
CTG: melakukan dan menginterpretasikan
Pemeriksaan obstetri (penilaian serviks, dilatasi, membran, presentasi janin dan penurunan)
Pemecahan membran ketuban
Insersi kateter untuk tekanan intra-uterus
Inspeksi dan menahan perineum
Anestesi lokal perineum
Anestesi pudendus
Anestesi epidural
Episiotomi
Menerima/memegang bayi baru lahir
Aspirasi mulut/tenggorokan bayi baru lahir
Menilai skor Apgar
Klem tali plasenta/pemisahan plasenta
Pemeriksaan tali plasenta
Pemeriksaan fisik bayi baru lahir
Postpartum: pemeriksaan tinggi fundus, plasenta: lepas/tersisa
Melahirkan plasenta
Pemeriksaan plasenta dan tali plasenta
Memperkirakan/mengukur kehilangan darah, sesudah melahirkan
Memperbaiki episiotomi dan laserasi
Induksi kimiawi persalinan
Menyokong persalinan dengan presentasi bokong (breech presentation)
Pengambilan darah fetus
2
2
2
2
1
4
3
3
3
3
1
1
1
4
2
3
2
1
4
3
2
3
4
4
4
4
3
3
4
2
2
1
1
4
2
4
31,4%
31,4%
34,3%
17,1%
11,4%
80,0%
45,7%
45,7%
25,7%
14,3%
11,4%
17,1%
11,4%
88,6%
21,9%
68,6%
8,6%
5,7%
91,4%
51,4%
14,3%
82,9%
80,0%
100%
94,3%
97,1%
54,3%
65,7%
94,3%
34,4%
40,0%
11,4%
8,6%
68,6%
21,9%
57,1%
11,4%
8,6%
31,4%
14,3%
0,0%
65,7%
54,3%
48,5%
31,4%
17,6%
2,9%
0,0%
0,0%
91,4%
12,9%
77,1%
0,0%
0,0%
88,6%
48,6%
2,9%
77,1%
85,7%
88,6%
91,4%
97,1%
62,9%
54,3%
91,4%
41,9%
17,1%
5,7%
0,0%
77,1%
28,1%
68,6%
3
2
3
2
2
2
3
3
4
3
4
3
4
4
3
3
3
3
2
2
2
45,7%
28,6%
45,7%
40,0%
20,0%
9,1%
42,9%
62,9%
51,4%
62,9%
54,3%
57,1%
68,6%
60,0%
57,1%
60,0%
57,1%
48,6%
40,0%
28,6%
20,0%
62,9%
34,3%
54,3%
51,4%
14,3%
5,7%
58,8%
77,1%
73,5%
85,7%
80,0%
77,1%
88,2%
82,9%
77,1%
82,9%
82,9%
62,9%
45,7%
40,0%
28,6%
58
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
72
73
74
75
76
77
78
79
80
82
83
Menolong persalinan vagina
Operasi Caesar (Caesarean section)
Pengambilan plasenta secara manual
Membantu dan memeriksa ibu dan bayi baru lahir
Menilai lochia
Palpasi posisi fundus
Payudara: inspeksi, laktasi
Mengajarkan hygiene
Mendiskusikan kontrasepsi
Inspeksi luka episiotomy
Inspeksi luka operasi Caesar
2
2
2
4
4
4
4
4
4
4
3
60,0%
17,1%
34,3%
65,7%
65,7%
74,3%
82,9%
85,7%
82,9%
77,1%
82,9%
77,1%
0,0%
45,7%
82,9%
82,9%
85,7%
88,6%
94,3%
91,4%
91,4%
88,6%
SKDI
4
4
4
4
3
3
4
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
2
2
2
2
2
Pernah
100%
94,1%
91,2%
91,2%
100%
94,1%
97,1%
85,3%
85,3%
94,1%
85,3%
88,2%
91,2%
88,2%
94,1%
91,2%
79,4%
91,2%
88,2%
94,1%
70,6%
67,6%
70,6%
88,2%
44,1%
58,8%
62,5%
55,9%
66,7%
85,3%
58,8%
54,5%
41,2%
26,5%
69,4%
20,6%
67,6%
32,4%
44,1%
11,8%
Mandiri
94,1%
88,2%
85,3%
91,2%
94,1%
85,3%
85,3%
76,5%
73,5%
73,5%
76,5%
70,6%
73,5%
67,6%
88,2%
82,4%
76,5%
79,4%
82,4%
82,4%
64,7%
70,6%
61,8%
79,4%
38,2%
64,7%
51,5%
50%
65,6%
76,5%
38,2%
23,5%
23,5%
23,5%
14,7%
0%
61,8%
18,2%
23,5%
2,9%
PSIKIATRI
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
Ketrampilan Klinik
Anamnesis psikiatri, dari pasien, umum
Anamnesis psikiatri, dari pasien,, detail biografis
Anamnesis psikiatri, dari pasien, sejarah sosial
Anamnesis psikiatri, dari orang ketiga
Penilaian kesadaran
Penilaian persepsi
Penilaian orientasi
Penilaian intelegensi
Penilaian memori
Penilaian pikir (bentuk dan isi)
Penilaian afek
Penilaian mood
Penilaian tindakan
Penilaian keinginan (desire)
Kesan, umum, deskiripsi sistematis
Menyadari reaksi personal yang terpicu saat melihat pasien
Penilaian risiko bunuh diri
Identifikasi masalah bersama dengan pasien sendiri
Identifikasi masalah dengan pasangan (misalnya dengan pasangan)
Identifikasi masalah dengan keluarga
Identifikasi masalah dalam sebuah situasi krisis
Identifikasi masalah setelah percobaan bunuh diri
Identifikasi masalah dalam sebuah kelompok
Memaparkan masalah psikiatri ke teman sejawat
Melakukan Mini Mental State Exam
Home visit
Pemeriksaan psikologis
Pengenalan dan interpretasi pola berulang dalam sebuah interaksi
Mendiagnosis berdasarkan kriteria utama DSM IIIR
Indikasi untuk perawatan rumah sakit untuk kasus psikiatri
Tim konsultasi, partisipasi dalam konsultasi
Terapi okupasi
Terapi bermain
Terapi kreatif
Terapi psikomotor
electroconvulsion therapy (ECT)
Terapi konseling
Terapi tingkah laku
Psychotherapy
Hipnoterapi
1
1
1
59
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
THT
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
Ketrampilan Klinik
Inspeksi aurikula, posisi telinga dan mastoid
Pemeriksaan meatus auditorius externus dengan otoscope
Pemeriksaan membran thympani dengan otoscope
Menggunakan cermin kepala
Menggunakan lampu kepala
Tes pendengaran, pemeriksaan garpu tala (Weber, Rinne, Schwabach)
Tes pendengaran, tes berbisik
Audiometri - tone audiometry
Audiometri - speech audiometry
Pemeriksaan pendengaran pada anak-anak
Otoscopy pneumatic (Siegle)
Melakukan dan menginterpretasikan timpanometri
Pemeriksaan vestibular
Tes Ewing
Electronystagmography
Inspeksi bentuk hidung dan lubang hidung
Penilaian obstruksi hidung
Uji penciuman
Rhinoscopy anterior
Transiluminasi of sinus frontalis
Nasopharyngoscopy
USG sinus
Radiologi sinus, interpretasi
Uji sensasi indera pencecap
Inspeksi bibir dan kavitas oral
Inspeksi tonsil
Penilaian pergerakan lidah
Penilaian pergerakan otot-otot hipoglosus
Palpasi kelenjar ludah (submandibular, parotid)
Inspeksi basal lidah (dengan laringoskop)
Inspeksi kavitas nasofaring (dengan nasopharyngoscope, cermin kepala
and laryngoscope)
Inspeksi hipopharyng (dengan laryngoscope/hypopharyngoscope)
Usap tenggorokan (throat swab)
Laryngoscopy, indirek
Laryngoscopy, direk
Menilai suara dan bicara
Penilaian bicara
Oesophagoscopy
Inspeksi leher
Palpasi nodus limfatikus brachialis
Palpasi kelenjar tiroid
Manuver Politzer
Manuver valsalva
Pemasangan probe wool katun didalam telinga - insert cotton wool probe
in ear
Pembersihan meatus auditorius eksternus dengan usapan
Pengambilan serumen menggunakan kait atau kuret
Syringing the ear
Paracentesis
Pengambilan benda asing di telinga
Insersi grommet
Menyesuaikan alat bantu dengar
Menghentikan perdarahan hidung
Packing the nose
SKDI
4
3
3
3
3
4
4
3
2
2
1
2
2
2
1
4
4
2
3
3
2
1
2
1
4
4
4
4
3
4
2
Pernah
100%
80,6%
77,8%
55,6%
69,4%
60,0%
71,4%
31,4%
29,4%
70,6%
25,0%
20,0%
42,9%
19,4%
11,8%
100%
97,2%
72,2%
76,5%
50,0%
42,9%
13,9%
58,3%
57,1%
100%
100%
97,1%
69,4%
97,2%
41,7%
30,6%
Mandiri
97,1%
91,4%
82,9%
69,7%
77,1%
61,1%
75,0%
16,7%
16,7%
48,6%
9,1%
8,6%
27,8%
6,7%
0,0%
97,1%
88,6%
77,8%
61,8%
38,2%
8,3%
0,0%
37,1%
72,2%
100%
100%
100%
74,3%
91,4%
37,1%
28,6%
2
3
2
2
3
2
4
4
4
2
2
2
25,0%
36,1%
37,1%
32,4%
94,4%
91,7%
19,4%
100%
94,4%
97,2%
41,9%
72,7%
40,0%
17,1%
48,6%
19,4%
13,9%
91,4%
85,7%
0,0%
100%
82,9%
94,3%
37,5%
76,5%
44,1%
3
3
3
2
2
2
2
3
2
68,6%
80,6%
51,4%
27,8%
83,3%
21,9%
16,7%
80,6%
46,7%
76,5%
71,4%
44,1%
12,1%
65,7%
7,1%
14,3%
85,7%
44,8%
60
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
54
55
56
57
58
59
60
Pengambilan benda asing dari hidung
Bilas sinus - sinus lavage
Pungsi sinuses
Antroscopy
Tracheostomy
Intubasi
Setiap dokter harus pernah mengikuti beberapa operasi di telinga, hidung
dan tenggorokan selama pendidikan
2
2
2
2
2
2
85,7%
17,1%
14,3%
14,3%
13,9%
45,7%
69,4%
5,6%
0,0%
0,0%
11,4%
33,3%
71,0%
7,1%
SKDI
4
4
4
4
4
4
Pernah
88,9%
96,6%
88,9%
92,3%
92,6%
92,6%
Mandiri
96,3%
92,6%
92,6%
96,3%
96,3%
92,6%
4
4
92,6%
92,6%
96,3%
92,6%
SKDI
4
4
4
4
4
4
Pernah
88,9%
92,6%
88,9%
88,9%
77,8%
74,1%
Mandiri
85,2%
85,2%
88,9%
88,9%
74,1%
70,4%
4
85,2%
92,6%
4
85,2%
88,9%
4
96,3%
96,3%
KOMUNIKASI
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
Ketrampilan Klinik
Formulating orally and in writing
Educating, advising and coaching of individuals and groups
Making a management plan
Therapeutic consultation
Drug prescription
Oral and written communication with colleagues and other health care
professional (referral, consultation)
Reporting and making record
Information processing and applying (especially from scientific literature)
MASYARAKAT
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Ketrampilan Klinik
Prevention (vaccination policy included)
Recognition of hazardous behaviour and life style
Performing directed medical examination
Assessment of absent due to illness
Performance of environmental research
Performance of several interventions in the domain of primary, secondary
and tertiary
Prevention like vaccination, periodical medical examination, social medical
support
Management, prevention of accident and set up a programme/ plan for
individuals, their environment or an institution.
Patient safety
61
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
ANALISIS
Dalam survey keterampilan klinik ini daftar butir ketrampilan klinik dibagi dalam kelompok keterampilan
praktek umum, Anak, Bedah, Dermatologi, Ilmu Penyakit Dalam , Mata, Neurologi, Obstetri dan Ginekoogi,
Psikiatri , THT, Komunikasi dan Masyarakat . Seluruh butir pertanyaan ketrampilan klinik berjumlah 679.
Dari kelompok praktek umum yang terdiri dari 41 jenis ketrampilan terdapat 6 jenis keterampilan yang
mempunyai tingkat kemampuan 4 pada SKDI, ternyata kurang dari 50% responden menyatakan
ketrampilan tersebut harus mandiri.
Dari kelompok Ilmu penyakit dalam yang terdiri atas 116 jenis keterampilan terdapat 6 jenis keterampilan
yang mempunyai tingkat kemampuan 4 pada SKDI, ternyata kurang dari 50% responden menyatakan
ketrampilan tersebut harus mandiri.
Dari kelompok Mata yang terdiri dari atas 64 jenis keterampilan terdapat 1 jenis keterampilan yang
mempunyai tingkat kemampuan 4 pada SKDI, ternyata kurang dari 50% responden menyatakan
ketrampilan tersebut harus mandiri.
Dari kelompok Neurologi yang terdiri atas 101 jenis keterampilan terdapat 4 jenis keterampilan yang
mempunyai tingkat kemampuan 4 pada SKDI, ternyata kurang dari 50% responden menyatakan
ketrampilan tersebut harus mandiri.
Dari kelompok OB-GYN yang terdiri atas 83 jenis keterampilan terdapat 4 jenis keterampilan yang
mempunyai tingkat kemampuan 4 pada SKDI, ternyata kurang dari 50% responden menyatakan
ketrampilan tersebut harus mandiri.
Dari kelompok THT yang terdiri atas 60 jenis ketrampilan terdapat 1 jenis keterampilan yang mempunyai
tingkat kemampuan 4 pada SKDI, ternyata kurang dari 50% responden yang menyatakan ketrampilan
tersebut harus mandiri.
Dari kelompok Anak (40 ketrampilan), Bedah (87 ketrampilan), Dermatologi (30 ketrampilan), Psikiatri (40
ketrampiln), Komunikasi (8 ketrampilan) dan Masyarakat (9 ketrampilan) seluruhnya tidak terdapat
ketidaksesuaian yang jelas.
Ketidaksesuaian antara jenis ketrampilan klinik yang mempunyai tingkat kemampuan 4 pada SKDI yang
berarti ketrampilan ini harus dilakukan mandiri dengan jawaban responden yang kurang dari 50% terdapat
sebanyak 3,24%.
62
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
REFLEKSI
Teknis Pelaksanaan Survey
Teknis pelaksanaan survey dengan metode nominal grup teknik tidak mengalami kendala. Pada pengisian
kuesioner masih adanya tumpang tindih tugas dokter yang bekerja rangkap sebagai dokter perusahaan dan
puskesmas atau tugas rangkap sebagai dokter praktek pribadi dan dokter rumah sakit.
Substansi Hasil Survey
Beberapa ketrampilan klinik dalam hasil survey perlu mendapatkan perhatian khusus yaitu yang diharapkan
mempunyai tingkat kemampuan 4 ternyata hasil survey tidak sesuai, juga hal yang sebaliknya pada SKDI
tingkat kemampuan 1 atau 2 ternyata hasil survey ketrampilan tersebut diharapkan dapat dilakukan secara
mandiri.
Lesson Learned
Jenis ketrampilan klinik pada survey ini sebagian masih dalam bahasa asing sehingga perlu diterjemahkan
kedalam bahasa Indonesia. Apabila jenis ketrampilan tersebut memang memakai bahasa asing hendaknya
ada penjelasan cara melakukannya.
Rencana Tindak Lanjut
Rencana Sosialiasi Hasil Pre-lIminary Survey: pada acara SEARAME di Jakarta 19-22 November 2010
Rekomendasi
Rekomendasi revisi ketampilan klinik ini sebaiknya mengikut sertakan pakar yang terkait sehingga
didapatkan kata sepakat tentang tingkat kemampuan yang harus dicapai untuk ketrampilan klinik tertentu
bagi seseorang dokter umum.
63
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Bab 5. Survey Pengembangan Sistim Ujian
Berbasis Kompetensi
LATAR BELAKANG
Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) berdasarkan amanah UU Praktik Kedokteran telah mengesahkan
Standar Pendidikan Profesi Dokter (SPPD) dan Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI). SKDI
merupakan landasan penyusunan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).Implementasi KBK dimulai dari
penyusunan struktur dan isi kurikulum sampai dengan evaluasi hasil belajar mahasiswa. Evaluasi hasil
belajar mahasiswa sebagai bagian dari implementasi KBK harus berbasis kompetensi (berdasarkan SKDI)
dan memenuhi SPPD.
Pada tingkat nasional, proses sertifikasi kompetensi dilakukan melalui Uji Kompetensi Dokter Indonesia
(UKDI). Uji Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI) merupakan upaya pengembangan sistem ujian nasional
yang terdiri atas level ujian di institusi, wilayah dan nasional. Aspek pengembangan meliputi
institusionalisasi, metoda ujian (CBT dan OSCE), serta pengembangan item bank yang difasilitasi melalui
HPEQ Project.
Pengembangan melalui HPEQ Project memerlukan implementasi di setiap institusi untuk menjamin
keberlangsungan dan peningkatan kualitas terus menerus. Pengembangan sistem ujian nasional berbasis
kompetensi, sehingga harus kongruen dengan Standard Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI).
TUJUAN
1. Mengevaluasi mekanisme pengembangan sistem ujian di institusi (evaluasi hasil belajar mahasiswa)
apakah sudah berbasis kompetensi (SKDI).
2. Mengevaluasi dampak pengembangan UKDI oleh KB UKDI maupun melalui proyek HPEQ terhadap
pengembangan sistem ujian di institusi dan wilayah.
MEKANISME SURVEY
Survey dilakukan terhadap seluruh institusi pendidikan kedokteran, baik yang sudah meluluskan maupun
belum.
Survey dilakukan menggunakan self-administered questionnaire yang menanyakan secara tertutup dan
terbuka.
Pengisi kuesioner adalah Pembantu Dekan I atau staf yang ditunjuk oleh Dekan. Pengisi kuesioner
diharapkan terlibat dalam proses terkait UKDI atau pengembangan sistem ujian di institusinya.
64
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Pada beberapa institusi akan ada surveyor yang membantu validasi pengisian kuesioner.
Pada sebagian besar institusi yang lain kuesioner yang telah diisi dikirimkan kembali melalui email
Validasi kuesioner akan dilakukan, dan bila kuesioner tidak diisi dengan lengkap dan valid maka kuesioner
akan dikembalikan ke institusi yang mengisi sehingga dinyatakan valid.
HASIL SURVEY
Terdapat 16 Institusi Pendidikan Dokter yang mengumpulkan jawaban atas kuesioner survey ini yang sama
dengan responden survey pada bab 3.
Tabel 5.1. Soal yang digunakan pada pembelajaran telah sesuai SKDI
Seluruhnya
Jumlah IPD
1 (6,2%)
Sebagian besar
12 (75%)
Undana
Sebagian kecil
3 (18.8%)
Unpatti,UKDW &
Unsyiah
Alasan:
ada beberapa soal yang belum menggunakan vignette seperti soal praktikum
belum semua pembuat soal memahami menyusun soal sesuai SKDI, tim review soal di tingkat
blok belum aktif
belum memiliki banyak bank soal, banyak dosen belum mengetahui SKDI dan pembuatan format
UKDI
hanya ada sedikit yang bersifat spesialistik dan terlalu kompleks untuk DU
karena kadang-kadang ada sejawat yang memasukkan soal di luar SKDI
padahal para dosen sudah diingatkan untuk membuat soal sesuai SKDI
pengembangan soal diarahkan agar sesuai SKDI tapi masih memerlukan follow up dan
penyempurnaan terus
sebagian kecil yang tidak sesuai adalah materi tambahan kompetensi kekhususan FKUI
seluruh dosen diwajibkan membuat soal sesuai SKDI
soal MCQ menanyakan materi kuliah, pemeilihan topik kuliah dalam blok berdasarkan SKDI
sulit menyesuaikan ujian akhir blok dengan SKDI karena tujuan pembelajaran blok lebih detil dari
SKD
tidak seluruh dosen bisa meratakan mind setnya
65
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Tabel 5.2. Metoda Ujian yang dilaksanakan pada institusi pada tahap sarjana
Jumlah Institusi
%
15
3
4
3
6
7
14
93.8
18.8
25
18.8
37.5
43.8
87.5
MCQ tipe A
MCQ True & False
MCQ Sebab akibat
MCQ kombinasi
Modified Essay Question
Essay
OSCE
Jenis ujian lain yang digunakan pada tahap sarjana adalah :
e-exam
identifikasi
OSPE, OSCA
PAQ (Problem Analysis Question)
Praktikum
SOCA (Structured Oral Case Analysis)
SOCA, identifikasi
Tabel 5.3. Metoda Ujian yang dilaksanakan pada institusi pada tahap profesi
MCQ tipe A
MCQ True & False
MCQ Sebab akibat
MCQ kombinasi
Modified Essay Question
Essay
OSCE
Mini C-Ex
Long-case
Ujian kasus
DOPS
Ujian lisan/oral exam
OMLCE (Objective Modified
Long Case Examination)
SOCA (Structured Oral Case
Analysis)
CBD
Jumlah Institusi
%
8
15
1
1
3
9
13
13
9
3
2
3
50
93.8
6.2
6.2
18.8
56.2
81.2
81.2
56.2
18.8
12.5
18.8
1
6.25
2
1
12.5
6.25
Seluruh responden menyatakan bahwa kriteria kelulusan pada insitutsinya menggunakan nilai hasil akhir
dan proses sekaligus.
66
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Tabel 5.4. Jumlah dosen yang telah terlatih mengenai ujian kompetensi
Jumlah dosen terlatih
0
1
2-5
6-10
11-15
16-20
Melalui pelatihan KB UKDI
Melalui pelatihan HPEQ
Project 2010
Melalui pelatihan soal secara
mandiri oleh institusi
banyaknya
institusi
%
banyaknya
institusi
%
banyaknya
institusi
%
3*
2
4
4
1
2****
18.8
12.5
25
25
6.25
12.5
1**
3
11
0
0
1***
6.25
18.75
68.75
0
0
6.25
8
0
6
1
0
1***
50
0
37.5
6.25
0
6.25
Keterangan:
* prodi Upalu, Universitas Kristen Dwi Wacana, Universitas Syiah Kuala
** FK Universitas Muhamadiyah Yogjakarta
*** FK Unpad
**** FK Unpad & UI
Tabel 5.5. Jumlah soal yang terkumpul pada pelatihan soal dari institusi yang bersangkutan
Melalui pelatihan KB UKDI
Melalui pelatihan HPEQ
Project 2010
Melalui pelatihan soal secara
mandiri oleh institusi
banyaknya
institusi
%
banyaknya
institusi
%
banyaknya
institusi
%
4
0
5
4
0
2
1*
25
0
31.25
25
0
12.5
6.25
5
2
5
1
3**
0
0
31.25
12.5
31.25
6.25
18.75
0
0
8
3
3
2 ***
0
0
0
50
18.75
18.75
12.5
0
0
0
Jumlah soal terkumpul
0
1-49
50-100
101-200
201-300
301-400
500
Keterangan:
*
FK Universitas Maranatha
** FK Unhas, FK USU, FK Unpad
*** FK UI, FK Unpad
Jenis pelatihan mandiri yang dilakukan institusi pada tiga tahun terakhir adalah:
pelatihan Penulisan Soal
pelatihan item development dan item analysis
pelatihan pembuatan dan review soal koordinator dan sekretaris sistem
pelatihan penulisan dan analisis SPJ dalam ujian modul (MEU FKUI)
workshop pemantapan implementasi dan pengembangan evaluasi hasil belajar
67
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Tabel 5.6. Telah terbentuk Koordinator Ujian/Student Assessment di wilayah AIPKI-nya
sudah
Wilayah 1
Unsyiah
USU
Wilayah 2
UI
UKI
Wilayah 3
Unpad
Umalahayati
UK Maranatha
UKDW
Wilayah 4
Unsoed
Unisula
UMY
Wilayah 5
Unair
Undana
Wilayah 6
Unhas
Unpatti
UnPalu
belum
tidak tahu
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
68
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Tabel 5.7. Dampak KB UKDI pada institusi pendidikan dokter
Pembentukan
unit khusus
pengelolaan
sistim ujian
di institusi
Pembuatan
sistim review
soal olehunit
khusus pengembangan
sudah
sudah
Penggunaan vignette pada
soal yang dibuat
sudah
sebasebaselugian
gian
ruhnya
besar
kecil
Pembuatan
perangkat
software dan
administrasi
item bank di
institusi
Persiapan sarana dan prasarana dan SDM
pelaksanaan
CBT
Persiapan
sarana dan
prasarana
dan SDM
pelaksanaan
OSCE
sudah
Sudah
sudah
1
1
Wilayah 1
Unsyiah
1
1
USU
1
1
1
1
1
1
1
Wilayah 2
UI
UKI
1
1
1
1
1
Wilayah 3
Unpad
1
1
1
1
1
Umalahayati
UK Maranatha
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
UKDW
1
1
1
Wilayah 4
Unsoed
1
1
Unisula
1
1
UMY
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
10
12
Wilayah 5
Unair
Undana
Wilayah 6
Unhas
1
1
1
Unpatti
1
1
1
10
11
UnAlkhairat
1
1
10
1
1
5
6
1
69
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
ANALISIS HASIL SURVEY
Penggunaan soal yang sesuai dengan SKDI
Seluruh institusi pendidikan dokter yang disurvey sejumlah 16 institusi telah menggunakan soal sesuai dengan SKDI dengan perbandingan; satu institusi (6,2%) yang seluruh soalnya telah sesuai dengan SKDI, 12
institusi (75%) sebagian besar soalnya sudah sesuai dengan SKDI, dan tiga institusi (18,8%) yang baru sebagian kecil menggunakan soal yang sudah sesuai dengan SKDI. Beberapa alasan institusi mengapa belum
menggunakan soal yang sudah sesuai dengan SKDI antara lain karena belum semua pembuat soal memahami menyusun soal sesuai dengan SKDI dan pembuatan format UKDI, belum adanya bank soal, serta sulitnya menyesuaikan ujian akhir blok dengan SKDI karena tujuan pembelajaran blok lebih detil dari SKDI.
Metoda ujian yang dilaksanakan institusi pada tahap sarjana
Sebanyak 15 dari 16 (93,8%) institusi pada tahap sarjana telah menggunakan MCQ tipe A sebagai metode
ujian. Selain itu metode OSCE juga telah diterapkan pada 14 dari 16 (87,5%) institusi. Metode MCQ
true&false,sebab akibat, MCQ kombinasi, dan essay masih digunakan oleh beberapa institusi sebagai metoda ujian walaupun sebenarnya jenis soal ini sudah tidak boleh lagi digunakan. Jenis metoda ujian lain yang
digunakan pada tahap sarjana antara lain: praktikum, PAQ (problem analysis question), dan SOCA (structured oral case analysis).
Metoda ujian yang dilaksanakan institusi pada tahap profesi
Pada tahap profesi, jenis metoda ujian yang paling banyak digunakan adalah MCQ true false (15 dari 16
institusi, 93,8%), OSCE dan Mini CEx (13 dari 16 institusi, 81,2%), essay (9 dari 16 institusi, 56,2%) serta
MCQ tipe A (8 dari 16 institusi, 50%). Seluruh responden menyatakan bahwa criteria kelulusan pada institusinya menggunakan nilai hasil akhir dan proses sekaligus.
Jumlah dosen yang telah terlatih mengenai ujian kompetensi
Dosen yang telah terlatih mengenai uji kompetensi baik melalui pelatihan KB UKDI, pelatihan HPEQ Project,
maupun pelatihan mandiri, jumlahnya beragam.Melalui pelatihan KB UKDI, FK Unpad dan FKUI memiliki
jumlah dosen terlatih yang paling banyak (16-20 orang dosen) sedangkan terdapat 3 institusi yang tidak
mengikuti pelatihan ini yaitu Unisa, UKDW, dan Unsyiah . Melalui pelatihan HPEQ project 2010, Unpad menyumbangkan dosen terlatih mengenai UKDI terbanyak (16-20 orang dosen), sedangkan terdapat satu institusi yang tidak mengikuti pelatihan ini yaitu FK UMY. Terdapat 8 institusi yang tidak melakukan pelatihan
soal secara mandiri oleh institusi, sedangkan Unpad menghasil 16-20 dosen melalui pelatihan mandiri soal.
Jumlah soal yang terkumpul pada pelatihan soal dari institusi yang bersangkutan
Jumlah soal yang terkumpul saat pelatihan soal terbanyak dihasilkan oleh FK Universitas Maranatha melalui
pelatihan KB UKDI sebanyak 500 soal; FK Unhas, FK USU, dan FK Unpad melalui pelatihan HPEQ Project
70
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
2010 sebanyak masing-masing 201-300; dan FKUI dan FK Unpad melalui pelatihan soal secara mandiri sebanyak 101-200 soal. Sayangnya definisi operasional terkumpulnya soal disini masih belum jelas, apakah
total soal yang dibawa oleh masing-masing institusi atau jumlah soal yang ter-review.
Adapun jenis pelatihan mandiri yang dilakukan institusi pada tiga tahun terakhir antara lain: pelatihan penulisan soal, pelatihan item development dan item analysis, pelatihan pembuatan dan review soal koordinator
dan sekretaris sistem, pelatihan penulisan dan analisis SPJ dalam ujian modul, dan workshop pemantapan
implementasi dan pengembangan evaluasi hasil belajar.
Pengetahuan mengenai koordinator ujian/ student assessment di wilayah AIPKI-nya
Banyak institusi yang masih belum mengetahui mengenai koordinator ujian/ student assessment di wilayah
AIPKI nya. Hal ini menunjukkan masih kurangnya komunikasi dan koordinasi antara AIPKI wilayah dengan
masing-masing institusi mengenai ujian/ student assessment. Hal ini tentunya perlu diperbaiki mengingat
pentingnya peran koordinator ujian ini dalam pengembangan sistem ujian berbasis kompetensi.
Dampak KB UKDI pada institusi pendidikan dokter
Keberadaan KB UKDI memberikan banyak dampak pada sistem ujian di institusi pendidikan dokter. Sepuluh
dari total 16 institusi (62,5%) yang telah disurvey menyatakan bahwa pada institusinya telah terbentuk unit
khusus pengelolaan sistim ujian. Selain itu 11 dari 16 institusi (68,75%) juga telah membuat sistem review
soal oleh unit khusus pengembangan. Seluruh institusi yang disurvey telah menggunakan vignette pada soal
yang dibuat hanya saja masih ada 5 institusi (31,25%) yang baru sebagian kecil soalnya menggunakan vignette. Terdapat 6 institusi (37,5%) yang sudah membuat perangkat software dan administrasi item bank.
Sebagian besar institusi yang telah melakukan persiapan sarana dan prasarana serta SDM dalam pelaksanaan CBT (10 dari 16 institusi, 62,5%), serta telah mempersiapkan sarana dan prasarana serta SDM dalam
pelaksanaan OSCE (12 dari 16 institusi, 75%).
71
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
REFLEKSI
Teknis pelaksanaan survey
Teknis pelaksanaan survey dengan metode kunjungan ke institusi tidak mengalami kendala, sedangkan
dengan metode pengiriman ke institusi mendapatkan respons yang sangat minim. Oleh karena itu, bila
dianggap bahwa jumlah sampel dalam penelitian ini tidak memenuhi syarat sehingga harus dilakukan
pengumpulan data ulang, maka perlu dilakukan dengan metode yang lebih memungkinkan untuk
mendapatkan respon yang lebih baik, misalnya dengan memberikan kuesioner pada staf MEU yang datang
pada pertemuan AIPKI.
Substansi Hasil Survey
Beberapa item dalam hasil survey perlu mendapatkan perhatian khusus, misalnya pada jenis metoda ujian
yang digunakan baik pada tahap sarjana maupun pada tahap profesi. Metoda yang dianjurkan adalah MCQ
tipe A dan R serta OSCE, oleh karena itu institusi yang masih menggunakan metoda lain sudah seharusnya
menyesuaikan metoda ujian sehingga pada akhirnya mahasiswa diharapkan sudah terbiasa dengan jenis
soal yang digunakan pada UKDI. Selain itu, masih diperlukan maksimalisasi dan peran aktif dari masingmasing institusi untuk menambah jumlah dosen terlatih mengenai ujian kompetensi dan juga dalam
pengumpulan soal. Komunikasi dan koordinasi antara AIPKI wilayah dan institusi di dalamnya harus
diperbaiki.
Lesson learned
Beberapa istilah pada kuesioner membutuhkan definisi operasional sehingga tidak terjadi misunderstanding
dalam mengintepretasikan beberapa item pertanyaan dalam kuesioner.
Rencana Tindak Lanjut
Rencana Sosialiasi Hasil Pre-lIminary Survey: pada acara SEARAME di Jakarta 19-22 November 2010
Rekomendasi
Rekomendasi improvement untuk pelaksanaan survey selanjutnya adalah dengan memperbaiki beberapa
item dalam kuesioner sehingga menjadi lebih jelas atau dapat dilakukan dengan pembuatan definisi
operasional mengenai istilah yang membingungkan. Disamping itu akan lebih baik bila pelaksanaan
pengisian survey dilakukan dalam suatu kesempatan Pertemuan Nasional seperti SEARAME yang akan
datang, dimana umumnya juga dihadiri oleh staf MEU dari seluruh institusi, sehingga akan lebih hemat.
Rekomendasi untuk kebijakan Dikti, Kemkes, dan stakeholder lain berbasis hasil preliminary survey. Hasil
preliminari survey sudah dapat mendeteksi beberapa permasalahan, sehingga diperlukan koordinasi dan
peran aktif dari masing-masing institusi untuk menyesuaikan diri dalam pembuatan soal sesuai dengan SKDI
sehingga mahasiswa bisa lebih siap dalam menghadapi UKDI yang pada akhirnya diharapkan angka
keberhasilan first-taker UKDI dapat meningkat.
72
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Bab 6. Survey Professional Behavior Dokter
Layanan Primer
LATAR BELAKANG
Implementasi standar kompetensi dokter sebagai salah satu acuan dalam penyelenggaraan pendidikan dokter di Indonesia yang telah ditetapkan oleh konsil kedokteran Indonesia pada tahun 2006 sudah hampir 5
tahun berjalan. Setelah 5 tahun implementasi standar kompetensi dokter dalam kurikulum berbasis kompetensi perlu dilakukan evaluasi dan review terhadap standar kompetensi dokter tersebut dan implementasinya. Hasil data penelitian yang sudah ada dari Dikti dan proyek HWS menjadi bahan pertimbangan evaluasi standar kompetensi dokter. Revisi standar kompetensi dokter yang dilakukan olah pokja AIPKI difokuskan pada masalah atau data yang belum ada untuk melengkapi dan menyempurnakan standar kompetensi dokter tersebut. Pokja AIPKI terdiri dari 3 tim yaitu tim yang mengevaluasi keterampilan klinis, tim professional behavior dan tim validasi kompetensi dan implementasi standar kompetensi dokter.
Professional behavior merupakan behavior yang dapat diamati dari seorang dokter dalam menangani masalah kesehatan pasien yang mencerminkan nilai-nilai profesional yang dapat meningkatkan kepercayaan
pasien kepada dokter. Dalam pengertian professional behavior tersebut terdapat unsur-unsur standar, nilai
dan profesional. Hal ini menunjukkan adanya keterkaitan yang erat professional behavior dengan area 7
standar kompetensi dokter yaitu etika, moral, medikolegal dan profesionalisme serta keselamatan pasien.
Mengingat profesionalisme dan professional behavior ini menjadi salah satu aspek penting dalam standar
kompetensi dokter, maka hal ini perlu dikembangkan dalam arti perlu diajarkan dan dinilai secara formal dan
eksplisit dalam kurikulum pendidikan dokter. Menyikapi hal ini, maka institusi kedokteran perlu menyesuaikan atau merevisi kurikulumnya agar lebih menekankan pada pentingnya profesionalisme ini (Whitcomb,
2007) karena pendidikan dokter di masa lampau dengan metode konvensional lebih bersifat teacher centered dan discipline based. Pada metode konvensional, profesionalisme dan perilaku belum diajarkan secara
eksplisit dan terintegrasi dengan ilmu-ilmu kedokteran.
Kondisi perkembangan pengajaran dan penilaian professional behavior pada institusi kedokteran di
Indonesia relatif masih muda atau belum panjang. Ditetapkannya standar kompetensi dokter dan standar
pendidikan profesi dokter oleh Konsil Kedokteran Indonesia atau KKI pada tahun 2006 menjadi landasan
penting untuk mengembangkan isu profesionalisme khususnya area 1, 6 dan 7. Pengajaran etik dan bioetik
yang berkaitan dengan area 7 standar kompetensi dokter pada institusi kedokteran di Indonesia sebetulnya
sudah dimulai sebelum ditetapkannya standar kompetensi dokter ini. Pengajaran yang dilakukan sebagian
besar masih bersifat konvensional atau departement based. Profesionalisme dan isu etik menjadi penting
dan dominan bagi institusi kedokteran agar menghasilkan lulusan yang kompeten dalam afektif atau
73
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
professional behavior untuk melengkapi kompetensi kognitif dan psikomotor sesuai dengan tujuan yang
diharapkan (Hays, 2006).
Dalam praktik penyelenggaraan dokter yang baik disebutkan bahwa dewasa ini kejadian tuntutan hukum
oleh masyarakat terhadap dokter praktik semakin meningkat. Praktik kedokteran tidak sekedar hubungan
dokter dan pasien tetapi juga mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap yang sesuai dengan
standar profesi. Etik dan moral yang menjadi inti penyelengaran pelayanan kesehatan perlu mendapatkan
perhatian untuk mengantisipasi hal tersebut di atas. Menurut Castellani (2006) Profesi dokter dan bidang
pekerjaannya ditinjau dari aspek sosial ternyata sangat kompleks. Studi terakhir tentang teori kompleksitas
sosial yang berkaitan dengan profesionalisme dokter salah satu hasilnya menunjukkan adanya 7 kelompok
atau kluster profesi dokter. Tujuh kluster tersebut muncul sebagai respon langsung terhadap kekuatan
desentralisasi organisasi kedokteran yang berkembang 2 dekade terakhir. Adapun 7 kluster tersebut yaitu
nostalgic professionalism and the ruling class, academic professionalism, entrepreneurial professionalism,
lifesyle professionalism, empirical professionalism, unreflective professionalism, dan activist professionalism.
Masing-masing kluster mempunyai prioritas terhadap 10 aspek profesionalisme dokter yang meliputi
autonomy, altruism, interpersonal competence, personal morality, professional dominance, technical
competence, social contract, social justice, lifestyle, dan commercialisme. Sepuluh aspek profesionalisme
tersebut dalam masing-masing kluster mempunyai penekanan atau prioritas yang berbeda-beda.
Berkembangnya 7 kluster bidang profesi dokter ini tentunya membawa implikasi kepada teaching dan evaluation profesionalisme pendidikan dokter termasuk kurikulum, literatur, dosen dan mahasiswa serta residen.
Pendidikan perlu melakukan rekonseptualisasi dan peninjauan kembali instrumen penilaian profesionalisme
sesuai 7 kluster tersebut. Dosen, mahasiswa dan residen juga perlu terlibat langsung secara eksplisit dalam
proses yang terkait dengan kompleksitas profesionalisme ini. Kuliah, kursus dan seminar perlu memberikan
data tentang kompleksitas profesi dokter ini khususnya commersialism. Sejak awal pendidikan pada tahun
pertama mahasiswa perlu dikenalkan terhadap 7 kelompok atau kluster bidang profesi dokter ini dan difasilitasi untuk mengidentifikasi bidang interest mereka.
Data mengenai profesionalisme dokter praktik umum atau dokter layanan primer di Indonesia sejauh ini
belum ada. Tim professional behavior dalam pokja AIPKI malakukan survey (pendekatan kuantitatif) untuk
mendapatkan gambaran tentang profesionalisme dan professional behavior dokter layanan primer dan
mengadakan Focus Group Discussion (FGD) sebagai pendekatan kualitatif untuk membahas komponen
atau atribut (PB) dokter layanan primer yang sesuai dengan kondisi di Indonesia (local wisdom) dan
pendekatannya yang perlu diajarkan dalam pendidikan dokter.
74
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
TUJUAN
Tujuan survey professional behavior dokter layanan primer yaitu:
1. untuk mengetahui sejauh mana implementasi professional behavior pada dokter layanan primer.
2. untuk mendapatkan masukan tentang perilaku (PB) yang diharapkan dokter layanan primer dari
pengguna (pasien), atasan, sejawat dan mitra .
EXPECTED OUTPUT & OUTCOME
Dari survey PB ini diharapkan dapat memberikan masukan substansial berupa data empiris tentang PB
dokter layanan primer sehingga dapat memberikan masukan apabila ada kelemahan untuk perbaikan
standar kompetensi dokter yang perlu diajarkan dalam pendidikan dokter Indonesia.
METODE SURVEY
Survey tentang professional behavior (PB) dokter layanan primer ini dilakukan dengan pendekatan
kuantitatif menggunakan kuesioner tertutup dengan kombinasi dengan beberapa pertanyaan terbuka.
Penentuan besar sampel, lokasi penelitian ditentukan secara purposive disesuaikan dengan tujuan dan
sumber daya yang tersedia. Survey PB dilakukan bersama-sama dengan survey kegiatan lain dari pokja
AIPKI. Lokasi survey ditentukan 6 lokasi dengan pertimbangan variasi wilayah dokter bekerja yaitu Medan,
Lampung, Jakarta, Purwokerto, Kupang dan Ambon. Besar sample yaitu dokter yang dinilai sejumlah 24
orang dari 6 lokasi tersebut. Empat dokter yang dinilai masing-masing lokasi diambil dari Puskesmas,
Rumah Sakit tipe C, Perusahaan dan institusi kedokteran. Masa kerja dokter yang dinilai minimal 2 tahun.
Setiap dokter akan dinilai oleh 6 responden yang terdiri dari 3 pasien, 1 atasan dan 2 sejawat dan atau para
medis. Responden pasien adalah dewasa, bervariasi antara pasien rawat jalan dan rawat inap. Responden
atasan dan sejawat atau mitra ditentukan yang sudah berinteraksi dengan dokter yang dinilai minimal 1
tahun.
Jalannya penelitian, dokter yang dinilai dan para responden diminta kesediaannya terlebih dahulu
keterlibatannya dalam penelitian ini dengan mengisi inform consent. Para reponden diminta mengisi
kuesioner tertutup sebanyak 23 item (pasien) dan 21 item (atasan) dan 20 item (sejawat dan mitra).
Pertanyaan terbuka disampaikan langsung oleh surveyor sebagai klarifikasi dan mendapatkan masukan
tentang perilaku yang diharapkan (PB) dokter layanan primer.
75
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
INSTRUMEN SURVEY
Instrument survey tentang professional behavior (PB) dokter layanan primer ini dikembangkan berdasarkan
literature review baik mengenai dasar teoritis maupun penelitian serupa yang sudah dilakukan. Kuesioner
tertutup dengan 2 pilihan ya dan tidak ditujukan kepada responden pasien, sedangkan kuesioner tertutup
dengan 4 skala Lickert ditujukan kepada responden atasan, sejawat dan mitra. Kuesioner tertutup juga
dilengkapi dengan beberapa pertanyaan terbuka untuk mendapatkan masukan tentang PB dokter layanan
primer.
Pengembangan item kuesioner divalidasi dengan review oleh expert dan stake holder pada waktu workshop
stake holder. Validasi juga dilakukan dengan cara peer evaluation dengan pokja dan para surveyor
TIMELINE PELAKSANAAN SURVEY
BULAN/ TAHUN 2010
KEGIATAN
Agustus
September
Oktober
November
Penyusunan
TOR
dan
pengembangan instrumen
survey
Review instrumen survey
Pelatihan
Surveyor
review instrumen
&
Pelatihan Surveyor
Survey PB di lapangan
Analisis
data
penyusunan laporan
dan
Sosialisasi hasil survey
ASSIGNMENT SURVEY
Tugas bagi para surveyor (6 orang) adalah mengikuti pelatihan surveyor yang dilakukan sebanyak 2x
sebagai bekal pelaksanaan survey. Melakukan survey PB dokter layanan primer pada lokasi penelitian. Satu
orang surveyor PB mendatangi instansi yaitu Institusi kedokteran, Puskesmas, Rumah Sakit tipe C, dan
Perusahaan. Surveyor minta kesediaan dokter yang akan dinilai dan para responden dengan memberi
inform consent untuk terlibat dalam survey PB. Surveyor mengumpulkan kembali berkas survey dan inform
consent kepada koordinator survey untuk selanjutnya dilakukan analisis data hasil survey.
76
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
UJI VALIDASI DAN VERIFIKASI DATA
Validasi instrumen kuesioner dilakukan dengan cara review oleh expert dan stake holder serta peer review
oleh pokja AIPKI dan para surveyor. Verifikasi data hasil survey dilakukan dengan cara membandingkan
dan menganalisis antara data dari kuesioner tertutup dan terbuka yang ditanyakan langsung oleh para surveyor kepada responden.
HASIL SURVEY
Survey tentang Professional Behavior (PB) dokter layanan primer ini dilakukan dengan pendekatan
kuantitatif. Pendekatan kualitatif dengan Focus Group Discussion (FGD) dilakukan kemudian.Kuesioner
tentang PB dengan 2 pilihan ya dan tidak diberikan kepada responden pasien. Kuesioner dengan 4 skala
Lickert diberikan kepada responden atasan dan sejawat serta mitra. Kepada semua responden juga
diberikan pertanyaan terbuka untuk mendapatkan masukan komponen atau atribut PB bagi dokter layanan
primer.
Sebagai gambaran responden pasien, rata-rata usia pasien adalah 37,33 tahun dengan rentang usia pasien
27 – 67 tahun. Jenis kelamin, pasien laki-laki 31 (41,3%) dan perempuan 44 (58,7%). Jenis pelayanan rawat
inap 10 (13,3%) dan rawat jalan 65 (86,7 %). Pendidikan pasien sebagian besar rendah dan menengah 46
(61,4%). Sedangkan untuk atasan dokter yang dinilai adalah dokter atasan langsung atau koordinator
tempat dokter bekerja. Dokter layanan primer yang dinilai mempunyai lama kerja rata-rata 9 tahun dengan
rentang minimal 2 tahun dan paling lama 23 tahun. Sejawat atau mitra diambilkan dari sesama dokter dan
bidan atau perawat yang bekerja sama dengan dokter yang dinilai selama kurun waktu minimal 1 tahun.
Adapun hasil penilaian pasien terhadap dokter layanan primer dapat dilihat pada tabel 1, sedangkan hasil
penilaian atasan, sejawat dan mitra pada tabel 2.
Tabel 6.1. Hasil Penilaian Pasien terhadap Dokter Layanan Primer pada 6 Lokasi Survey
NO
1
ITEM PENILAIAN
Apakah dokter menjelaskan penyakit sesuai kondisi sebenarnya dan tidak berlebihan? Honesty
Jumlah responden
pasien menjawab ya
97,3 %
(73)
2
Apakah dokter menyampaikan perkiraan besar biaya yang dibutuhkan sebelum dilakukan
tindakan atau prosedur medik (pemeriksaan dan pengobatan)? Responsibility
3
Apakah dalam menarik imbalan jasa, dokter mempertimbangkan kemampuan anda?
24 % (18) **
43,1%*
(31)
4
5
6
7
8
Apakah anda merasa dokter menghormati hak anda sebagai pasien secara adil dengan tidak
membedakan jenis kelamin, agama, status sosial, dan status pendidikan. respect/justice
94,7%
Apakah dokter memberikan kesempatan anda sebagai pasien menyampaikan pendapat atau
keputusan yang berhubungan dengan penyakit anda? Respect/trust
98,6%
(71)
(73)
Apakah dokter meminta persetujuan anda terlebih dahulu sebelum sesuatu tindakan dilakukan?
Inform consent
88%
Apakah dokter menjelaskan alternatif pengobatan dan kemungkinan keberhasilan dari masingmasing alternatif tersebut kepada anda sebelum sesuatu tindakan dilakukan? Responsibility
66,7%
Bila dokter memberikan pilihan terapi apakah menjelaskan keuntungan dan kerugian dari masingmasing pilihan tersebut? Responsibility
70,3%
(66)
(50)
(52)
77
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18.
19
20
21
Apakah anda diberikan kesempatan untuk menentukan pilihan anda atas tawaran terapi yang
ditawarkan? Respect/trust
68,9%
Apabila anda merasa ragu-ragu akan penyakit (diagnosis) yang dikatakan atau pengobatan yang
ditawarkan dokter, apakah dokter menawarkan anda untuk memperoleh pendapat dokter/ahli
lain? Respect
65,8%
Apakah dokter mendukung anda, ketika anda mengatakan akan mencari alternatif pendapat ?
respect
67,6%
Apakah menurut anda, dokter menunjukkan sikap ramah, santun dan memperhatikan keluhan
dan masalah anda dengan sepenuh hati? Respect/empathy
100%
Apakah anda mendapatkan informasi tentang penyakit anda, petunjuk pengobatan dan nasihat
dengan jelas? Responsibility
97,3%
Apakah dokter memberikan kesempatan yang cukup kepada anda untuk bertanya tentang
penyakit dan pengobatan dan anda merasa puas dengan semua informasi atau penjelasan yang
diberikan dokter? Respect
93,3%
Apakah selama berkomunikasi, dokter selalu berada dihadapan anda atau kontak mata dengan
anda? empathy
91,9%
Apakah dokter memperhatikan masalah anda dan tidak hanya fokus pada penyakit yang anda
alami dengan menanyakan perasaan anda atau hal lain yang mempengaruhi penyakit anda?
Caring
78,7%
Apakah menurut anda dalam menjalankan tugas sebagai dokter menunjukkan sikap disiplin dalam
waktu dan selalu memenuhi janji yang sudah disampaikan sebelumnya?
Commitment/responsibility
79,7%
Apakah menurut anda, dokter menunjukkan pengetahuan dan keterampilan yang yang cukup
serta percaya diri dalam menjalankan tugas/pekerjaannya? Competence
94,7%
Apakah dalam menjalankan tugasnya sebagai dokter selalu mendahulukan kepentingan pasien
daripada kepentingan pribadi? Altruism
90,4%
Apakah anda merasa puas dengan keputusan atau tindakan yang dilakukan oleh dokter terkait
dengan penyakit anda?
90,7%
Apakah anda merasa diperlakukan sama dengan pasien lain oleh dokter? Justice
93,3%
(51)
(48)
(46)
(75)
(73)
(70)
(70)
(59)
(59)
(71)
(66)
(72)
(70)
22
Apakah dokter menunjukkan iba kepada anda? compassion
93,3%
(70)
23
Apakah dokter dapat dihubungi, ketika anda perlukan? Commitment/responsibility
70,4%
(50)
Hasil survey penilaian PB terhadap 24 orang dokter layanan primer (Puskesmas, RS Tipe C, Perusahaan
dan Institusi Kedokteran) oleh responden (pasien) pada 6 lokasi menunjukkan hasil yang baik. Dari
kuesioner tertutup menunjukkan rata-rata pasien menjawab ya terhadap semua pertanyaan sebesar pasien
adalah 60 (80,2%). Pertanyaan yang dijawab ya oleh sedikit pasien
adalah
apakah dokter
mempertimbangkan kemampuan pasien dalam menarik imbalan jasa 43,1% (31)* dan apakah dokter
menginformasikan masalah pembiayaan sebelum dilakukan tindakan atau prosedur medik 24 % (18) **.
Selain itu, pasien secara langsung memberikan masukan terhadap perilaku dokter di Indonesia yaitu
mendahulukan kepentingan pasien, pembiayaan mempertimbangkan kemampuan/ekonomi (miskin), tidak
membedakan status sosial, meningkatkan kompetensi (komunikatif, terampil, cermat), sabar, dan ikhlas.
78
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Tabel 6.2. Hasil Penilaian Atasan dan Sejawat serta Mitra terhadap Dokter Layanan Primer pada 6
Lokasi Survey
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
ITEM PENILAIAN
Dokter mencatat dan melaporkan hasil pemeriksaan dan pengobatan
sesuai data sesungguhnya. Honesty
Dokter melakukan tindakan medik sesuai standar medik yang berlaku dan
tidak terpengaruh oleh pengaruh luar (hadiah/kompensasi). Accountability
Dokter menunjukkan kerja sama yang baik dalam tim. Teamwork
Dokter menghormati teman sejawat dan profesi kesehatan lain sesuai
peran dan tugasnya dalam tim. Respect
Dokter menunjukkan sikap kepemimpinan yang baik. Leadership
Dalam menjalankan tugasnya dokter selalu berdasar pada kode etik,
prosedur atau standar medik yang berlaku. Accountability
Dokter berupaya melindungi rahasia pasien dalam menjalankan
tugasnya. Confidentiality
Dokter menunjukkan komitmen yang tinggi terhadap tugas tanggung
jawabnya. Commitment
Semua tugas yang dilakukan dokter dapat dipertanggung jawabkan
terhadap publik (Responden : Atasan). Responsibility
Dokter aktif mengikuti pelatihan atau pendidikan sesuai tuntutan dan
kebutuhan tugasnya. Excellence and Scholarship
Dokter menunjukkan pengetahuan dan keterampilan yang yang cukup
serta percaya diri dalam menjalankan tugas/pekerjaannya. Competence
Selama bekerja dokter tidak pernah melakukan pelanggaran (medik,
sosial, etika, hukum, dll).
Dalam menjalankan tugas/pekerjaannya dokter selalu mendahulukan
kepentingan orang lain (bersama) daripada kepentingan pribadi. Altruism
Dokter mampu mengambil tindakan yang bermanfaat dalam menghadapi
masalah. Decision making
Dokter selalu berupaya menghindari tindakan yang merugikan orang lain.
Competence
Dokter siap menjalankan tugas dengan ikhlas.
18
Dokter dalam menjalankan tugas kewajiban selalu memberikan contoh
yang baik (role model)
Dokter adil dalam menghadapi konflik pelayanan kesehatan. Justice
19
Dokter jujur dalam menjalankan tugasnya. Honesty
20
Dokter menunjukkan rasa belas kasihan dan empati kepada pasien.
Compassion/empathy
21
Dokter menghormati pasien dan keluarganya. Respect
Jumlah
responden
sejawat dan
Mitra
menyatakan
setuju
98%
(48)
98%
(48)
93,9%
(46)
95,6%
(47)
87,8%*
Jumlah
responden
atasan
menyatakan
setuju
95,9%
(47)
95,9%
(47)
89,8%
(44)
91,8%
(45)
95,9%
(47)
95,9%
(47)
95,9%
(47)
95,9%
(47)
95,9%
(47)
95,9%
(47)
100%
(49)
100%
( 25)
100%
(25)
100%
(25)
100%
(25)
92%*
(23)
100%
(25)
100%
(25)
92%
(23)
100%
(25)
92%
(23)
100%
(25)
96%
(24)
100%
(25)
100%
(25)
100%
(25)
100%
(25)
92%
(23)
100%
(25)
92%
(23)
100%
(25)
93,9%
(46)
96%
(24)
95,9%
(47)
98%
(48)
93,9%
(46)
Hasil survey penilaian PB terhadap 24 orang dokter layanan primer (Puskesmas, RS Tipe C, Perusahaan
dan Institusi Kedokteran) oleh responden (atasan, sejawat dan mitra) pada 6 lokasi menunjukkan hasil yang
baik pula. Dari kuesioner tertutup menunjukkan rata-rata penilaian terhadap dokter oleh atasan 24 (97,7%),
sejawat serta mitra 47 (95,2%). Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh para responden dalam
pertanyaan terbuka bahwa secara umum PB dokter layanan primer pada 6 lokasi survey adalah baik.
79
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Secara langsung atasan dokter memberikan masukan untuk dokter Indonesia yaitu disiplin waktu, selalu
mengupdate ilmu, perlu tambahan materi profesionalisme, perilaku, budi pekerti, etika dan moral.
Sedangkan sejawat dokter dan mitra memberikan masukan tentang perilaku dokter Indonesia yaitu
peningkatan perilaku, budi pekerti, karakter, etika, mengendalikan emosi, agama
ANALISIS HASIL SURVEY
Data hasil survey PB dengan metode kuantitatif dianalisis menggunakan statistic deskriptif (SPSS).
Identifikasi dan Analisis Permasalahan yang Terjadi
Hasil survey penilaian PB 24 dokter layanan primer (Puskesmas, RS Tipe C, Perusahaan dan Institusi
Kedokteran) oleh responden (pasien, atasan, sejawat dan mitra) pada 6 lokasi menunjukkan hasil yang baik,
hal ini ditunjukkan dengan 80,2% pasien yang menyatakan setuju terhadap semua item pertanyaan, 95,2%
sejawat dan mitra, 97,7% atasan menyatakan setuju terhadap semua item pertanyaan. Hal ini dapat dapat
disebabkan oleh pasien yang menilai dokter sebagian besar dari rawat jalan, sehingga ada keterbatasan
kontak dokter pasien yang dapat berpengaruh pada bias penilaian. Ada beberapa catatan dari total 75
responden pasien tentang PB dokter yang menunjukkan nilai paling rendah yaitu apakah dokter
mempertimbangkan kemampuan pasien dalam menarik imbalan jasa 43,1% (31) dan apakah dokter
menginformasikan masalah pembiayaan sebelum dilakukan tindakan atau prosedur medik 24 % (18) pasien
menyatakan. Masalah pembiayaan mungkin tidak menjadi perhatian bagi dokter mengingat sebagian besar
pasien pada survey ini adalah rawat jalan (86,7%). Dengan asumsi untuk rawat jalan baik di RS atau
Puskesmas atau Klinik Perusahaan biaya pengobatan atau jasa sudah jelas. Dari responden atasan dan
sejawat atau mitra meskipun menunjukkan hasil yang baik, ada satu hal yang sama tentang PB dokter
layanan primer dengan nilai terendah yaitu dokter menunjukkan sikap kepemimpinan yang baik atau
leadership. Kelemahan dalam hal kepemimpinan ini disebabkan oleh dokter rata-rata mempunyai lama kerja
lebih dari 9 tahun dan tidak mendapatkan kesempatan berlatih atau mengembangkan kemampuan
leadership selama proses pendidikan.
Dari pertanyaan terbuka yang diberikan kepada responden maka ada beberapa masukan tentang PB dokter
layanan primer dari pasien yaitu bahwa pasien mengharapkan dokter mendahulukan kepentingan pasien,
pembiayaan mempertimbangkan kemampuan/ekonomi (miskin), tidak membedakan status sosial,
meningkatkan kompetensi (komunikatif, terampil, cermat, dll); sabar, ikhlas. Dari responden atasan
didapatkan masukan agar dokter disiplin waktu, selalu mengupdate ilmu (penambahan item pertanyaan
untuk cek), perlu tambahan materi profesionalisme, perilaku, budi pekerti, etika dan moral. Dari responden
sejawat dan mitra didapatkan masukan agar dokter meningkatkan atau memperbaiki perilaku, budi pekerti,
karakter, etika, mengendalikan emosi, agama. Masukan terbuka dari atasan, sejawat dan mitra yang
menunjukkan kemiripan ini mempunyai arti perlunya perbaikan dalam proses pendidikan dokter untuk
menambahkan dan memperjelas pendidikan perilaku, budi pekerti, etika, moral dll. Sesuai masukan pasien
80
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
yang kebanyakan dari kalangan pendidikan rendah dan menengah perlunya pengembangan sifat sabar dan
ikhlas menarik untuk diperhatikan dan dapat diwujudkan dalam proses pendidikan.
Identifikasi Temuan – Temuan (terutama Institusi yang bermasalah, berbasis evidence selama survey)
Masalah penyampaian biaya pengobatan/tindakan medis dan jasa dokter serta dokter memperhitungkan
kemampuan pasien dalam pembiayaan merupakan perilaku dokter yang mendapat penilaian paling rendah
oleh pasien.
Leadership dokter layanan primer merupakan PB yang paling rendah penilaiannya di mata responden
atasan , sejawat dan mitra.
Pasien mengharapkan dokter layanan primer lebih memperhatikan kelompok miskin tidak membedakan
status sosial, sabar dan ikhlas.
Atasan, sejawat serta mitra mengaharapkan dokter layanan primer lebih disiplin waktu, mengupdate ilmu
dan dalam pendidikan dokter perlu ditingkatkan pembelajaran perilaku, budi pekerti, moral, etik dan agama.
REFLEKSI
Teknis pelaksanaan survey
Survey berjalan lancar 1 surveyor untuk survey professional behavior (PB) 4 dokter layanan primer dari 4
instansi masing-masing dengan 6 responden dapat diselesaikan dalam waktu 2 sd 3 hari. Surveyor kesulitan
mendapatkan pasien rawat inap (13%) yang di rawat oleh dokter layanan primer sehingga jumlah responden
pasien lebih banyak dari rawat jalan (87%).
Substansi Hasil Survey
Pengembangan item kuesioner perlu penyempurnaan dibedakan antara pertanyaan untuk atasan dan
bawahan atau sejawat. Untuk menilai PB dokter sebagai pendidik (dosen) perlu pengembangan item
penilaian khusus. Perlu tambahan item pertanyaan untuk menilai/validasi elemen PB tertentu (dokter
mengikuti pelatihan/kursus). Elemen atau atribut PB yang dinilai banyak pada salah satu atribut (respect dan
responsibility). 1 atribut atau elemen PB dapat dinilai dengan beberapa item dengan konsekuensi jumlah
item semakin banyak dan hal ini dapat menimbulkan resiko kelelahan atau kebosanan responden yang
berakibat bias.
81
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Lesson Learned
Untuk survey professional behavior (PB) dokter layanan primer ini masih terbatas jumlah sampel dokter
yang dinilai yaitu 24 orang, sehingga hasil tidak dapat digeneralisir. Namun demikian metode penilaian
terhadap dokter layanan primer oleh pasien, atasan dan sejawat atau mitra (360º) menjadi nilai tambah dari
penelitian ini.
Secara umum dokter layanan primer pada lokasi penelitian menunjukkan PB yang baik di mata responden
(pasien, atasan, sejawat dan mitra), namun ada catatan khusus dari para responden yang dapat
memberikan kontribusi pada perbaikan proses pendidikan dokter antara lain menginformasikan pembiayaan
kepada pasien sebelum tindakan medis, mempertimbangkan kemampuan pasien dalam menarik imbalan
jasa, kemampuan kepemimpinan atau leadership, disiplin waktu, memperhatikan pasien kelompok miskin,
tidak membedakan status sosial pasien, lebih sabar dan ikhlas serta penambahan materi perilaku, moral,
etik dan profesionalisme.
Rencana Tindak Lanjut
Sosialisasi hasil pre-iliminary survey PB dokter layanan primer ini direncanakan pada waktu Searame 20 sd
23 November 2010 dihadapan para dekan institusi kedokteran seluruh Indonesia.
Rekomendasi
Rekomendasi improvement untuk pelaksanaan survey selanjutnya
-
Jumlah sampel dokter yang dinilai ditambah
-
Mengingat kesulitan mendapatkan responden pasien rawat inap, maka dokter yang dinilai tidak
hanya dokter layanan primer
-
Kriteria inklusi responden pasien (rawat inap dan rawat jalan dengan kriteria tertentu) dan feasibilitas
di lapangan perlu ditekankan untuk menjamin pasien kontak lebih lama dengan dokter sehingga bias
penilaian dapat diminimalisir.
-
Perbaikan dan penyempurnaan item pertanyaan dalam kuesioner sesuai tujuan dan karakteristik
responden yang menilai dokter
82
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Rekomendasi untuk kebijakan Dikti, Kemkes, dan stakeholder lain berbasis hasil preliminary survey
- Dalam standar kompetensi dokter perlu ditambahkan kompetensi dalam domain professional behavior
(PB) dokter Indonesia secara jelas.
- Perlunya memperjelas pembelajaran perilaku, budi pekerti, moral, etika, disiplin waktu dalam proses
pendidikan dokter dan mengembangkan karakter yang mendukung profesi dokter yang dibutuhkan
oleh masyarakat Indonesia.
- Memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk berlatih dan mengembangkan perilaku profesional
sebagai dokter dalam setiap aktivitas pembelajaran.
Perlu regulasi yang lebih baik terhadap pelayanan kesehatan pasien kelompok kurang mampu (miskin).
83
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Bab 7. Survey mengenai Standar Pendidikan
Dokter
PENDAHULUAN
Standar Pendidikan Profesi Dokter (SPPD) yang diterbitkan oleh Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) pada
tahun 2006 merupakan standar minimal yang harus dipenuhi oleh institusi pendidikan kedokteran dalam
menyelenggarakan pendidikannya. Setelah empat tahun digunakan, dirasa perlu diselelnggarakan suatu
survey untuk mengidentifikasi apakah standar tersebut dapat diterima dengan baik oleh institusi.
Sebagian besar butir-butir standar pada SPPD merupakan butir kuesioner pada survey ini, dan responden
diminta untuk memilih skala Likert dari 1-6 yang menyatakan bahwa institusi pendidikan merasa perlu atau
tidak perlu tercantum dalam Standar Pendidikan.
Kelompok variabel pada survey ini terdiri atas:
- Visi Misi dan Tujuan
- Program Pendidikan
- Penilaian Hasil Belajar
- Mahasiswa
- Staf Akademik
- Sumber Daya Pendidikan
METODE PENGAMBILAN DATA
Institusi dikirimi borang kuesioner melalui surveyor dengan surat pengantar HPEQ dan AIPKI
Pengisi borang adalah pimpinan institusi pendidikan dokter atau seseorang yang ditugaskan. Yang
ditugaskan adalah wakil dekan bidang pendidikan, ketua program studi pendidikan dokter, atau ketua
medical education unit
Borang yang telah diisi dikumpulkan ke surveyor, dan surveyor mengumpulkannya pada koordinator survey
Institusi lain yang tidak dikunjungi surveyor telah dikirimkan CD borang, dan diharapkan mengirimkannya
pada bulan ini
BASELINE DATA
Institusi pendidikan dokter yang diperoleh datanya melalui surveyor ada 12 institusi, dan 3 institusi
mengirimkan melalui email atau pos
84
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Duabelas institusi pendidikan dokter adalah : Unsyiah, USU,UI, UKI, UnMalahayati, Unpad, Unissula,
Unsoed, Unair, Undana, Unhas, Unpatti
Tiga institusi pendidikan dokter yang mengirimkan datanya adalah: UnMuhammadyah Yogjakarta, Univ
Maranatha, UKDW (Kristen Duta Wacana) Yogjakarta
HASIL SURVEY
Tabel 7.1. Tahun mulai diimplementasikannya KBK dan Bentuk Terintegrasi Kurikulum
2005 2006 2007 2008 2009
Bentuk
integrasi
Syah Kuala (Unsyiah)
v
Modul
Sumatra Utara (USU)
v
Modul
Universitas Indonesia (UI)
v
Modul
v
Kristen Indonesia (UKI)
Modul
v
Malahayati (UM)
Modul
v
Padjadjaran (Unpad)
Modul
Sultan Agung (Unisula)
v
Modul
Jendral Soedirman (Unsoed)
v
Modul
Airlangga (Unair)
v
Hibrid
v
v
Nusa Cendana (UnDana)
Pattimura (Unpatti)
Hasanudin (Unhas)
Maranatha (UKM)
Hibrid
v
Modul
v
Modul
v
Kristen Dwi Wacana (UKDW)
Muhammadyah Yogjakarta (UMY)
Hibrid
v
Modul
Modul
85
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Tabel 7.2. Hasil survey visi, misi dan tujuan institusi beserta komentarnya
…………………..…………sangat perlu
No.
1
Rincian standar pendidikan
Terumuskan visi program studi
2
3
4
5
1
UI
6
14
Alasan
agar arah jelas, mohon standar penyusunan visi
memberi arah yang jelas
perlu dalam menetapkan tahap-tahap
perencanaan jangka panjang
2
Terumuskan misi program studi
1
UI
14
visi dan misi perlu dirumuskan, namun
sebaiknya dirumuskan di tingkat yang
lebih tinggi dari program studi, misalnya
fakultas atau bahkan universitas, mengingat visi dan misi menentukan arah
kebijakan yang akan diambil oleh institusi
tersebut
agar misi jelas, mohon standar penyusunan misi
untuk terciptanya program-program
yang mengacu pada visi
visi dan misi perlu dirumuskan, namun
sebaiknya dirumuskan di tingkat yang
lebih tinggi dari program studi, misalnya
fakultas atau bahkan universitas, mengingat visi dan misi menentukan arah
kebijakan yang akan diambil oleh institusi
tersebut.
3
4
Terumuskan rencana strategis
(renstra) yang sesuai dengan visi
dan misi
Pimpinan institusi, senat, staf
akademik, mahasiswa, lembaga
pemerintah dan swasta yang terkait dan organisasi profesi sebagai
stakeholder berperan dalam penyusunan renstra
2
UKI
UMY
2
Unpatti
Unhas
13
7
Unisulla
Unsoed
Unhas
UM
USU
UKDW
Unpad
6
karena RENSTRA harus mengacu pada
VISI dan MISI
rencana yang sejalan dengan visi dan
misi penting untuk jati diri institusi pendidikan
karena dari internal akan diketahui kekuatan dan kelemahan institusi dan dari
luar akan diketahui peluang dan ancaman
rencana yang sejalan dengan visi dan
misi penting untuk jati diri institusi pendidikan
tidak semua stakeholder peduli dan mau
5
Institusi pendidikan memiliki hak
otonomik akademik dalam menyelenggarakan pendidikannya
6
Lulusan institusi pendidikan dokter harus mencapai Standar Kompetensi Dokter Indonesia
1
USU
5
Unpatti
Unhas
UI
UKDW
UMY
2
Unhas
USU
9
13
dalam membuat perencanaan, proses
dan evaluasi tidak tergantung pada orang
lain
agar lulusan mempunyai kualitas yang
mumpuni dan profesional
harus mencapai standar kompetensi
dokter indonesia plus ketrampilan lain
86
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
·
sudah sewajarnya demikian.
Hal yang harus diperhatikan adalah standar kompetensi yang ditetapkan haruslah
secara bertanggung jawab ditetapkan
sebagai standar yang berlaku di seluruh
Indonesia
Tabel 7.3. Hasil survey Program Pendidikan beserta komentarnya
………………………………sangat perlu
No.
Rincian standar pendidikan
2
3
4
5
6
Alasan
kurikulum KBK/CBC hibrid, proses pembelajaran
pbl
mahasiswa dapat secara horizontal mendapatkan materi
tahap profesi tidak mutlak
Orientasi pendidikan dokter hendaknya mengacu kepada sistem kesehatan yang dibangun serta
kondisi strata pendidikan yang dikembangkan
1
Model kurikulum terintegrasi
3
UKM
Unair
UMY
5
Unpatti
UI UM
USU
Unpad
7
2
Berorientasi pada pelayanan
kesehatan primer
1
Unpad
9
3
Meliputi prinsip-prinsip metode
ilmiah, ilmu biomedik, ilmu kedokteran klinik, ilmu humaniora,
ilmu kedokteran komunitas, dan
ilmu kedokteran keluarga
Meliputi metodologi penelitian,
filsafat ilmu, berpikir kritis, biostatistik dan evidence-based
medicine
5
Unpatti
UI UM
Unair
UMY
3
UI UM
Unpad
4
5
6
7
· semua prinsip, metode dan ragam ilmu dalam
no 3 - 8 penting, dan merupakan bagian dari
kurikulum model integratif
· sesuai dengan tujuh area kompetensi
Mempelajari Ilmu biomedik
meliputi anatomi, biokimia, histologi, biologi sel dan molekuler,
fisiologi, mikrobiologi, imunologi, parasitologi, patologi, dan
farmakologi
Mempelajari ilmu humaniora
yang meliputi ilmu perilaku,
psikologi kedokteran, sosiologi
kedokteran, antropologi kedokteran,agama, etika dan hukum
kedokteran, bahasa, Pancasila
serta kewarganegaraan
Mempelajari Ilmu kedokteran
klinik meliputi ilmu penyakit
dalam beserta percabangannya,
ilmu bedah, ilmu penyakit anak,
ilmu kebidanan dan kandungan,
ilmu penyakit syaraf, ilmu kesehatan jiwa, ilmu kesehatan kulit
dan kelamin, ilmu kesehatan
mata, ilmu THT, radiologi, anestesi, ilmu kedokteran forensik
dan medikolegal
12
1
U
K
M
3
UM
USU
UMY
7
Unpatti
UI UM
UKM
USU
UMY
Unpad
8
3
Unpatti
UI
UKDW
12
4
Unpatti
Unsoed
UI Unpad
7
3
UM
USU
12
UI
· semua prinsip, metode dan ragam ilmu dalam
no 3 - 8 penting, dan merupakan bagian dari
kurikulum model integratif
· sesuai dengan trio darma perguruan tinggi
· sebagai dasar dari ilmu pengetahuan klinik
· semua prinsip, metode dan ragam ilmu dalam
no 3 - 8 penting, dan merupakan bagian dari
kurikulum model integratif
· mendidik seorang dokter yang mempunyai
"attitude" yang baik
· semua prinsip, metode dan ragam ilmu dalam
no 3 - 8 penting, dan merupakan bagian dari
kurikulum model integratif
· sebagai dasar/ilmu seorang dokter umum
· semua prinsip, metode dan ragam ilmu dalam
no 3 - 8 penting, dan merupakan bagian dari
kurikulum model integratif
87
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
………………………………sangat perlu
No.
8
9
10
11
Rincian standar pendidikan
Ilmu kedokteran komunitas terdiri dari ilmu kesehatan masyarakat, ilmu kedokteran pencegahan, epidemiologi,ilmu kesehatan kerja, ilmu kedokteran keluarga dan pendidikan kesehatan masyarakat
Tahap sarjana kedokteran dilakukan minimal 7 semester (112
minggu atau minimal 4480 jam
atau minimal 144 SKS) dan diakhiri dengan gelar Sarjana Kedokteran (S.Ked)
Tahap profesi dokter dilakukan
minimal 3 semester (minimal 72
minggu atau minimal 2880 jam)
di RS Pendidikan dan wahana
pendidikan lain, serta diakhiri
dengan gelar Dokter (dr)
Kurikulum dilaksanakan dengan
pendekatan/ strategi SPICES
(Student-centred, Problembased, Integrated, Communitybased, Elective/ Early clinical
Exposure, Systematic)
2
3
4
1
U
I
1
U
I
2
USU
UMY
3
UM
USU
UMY
Beban muatan lokal maksimal
20% dari seluruh kurikulum
2
UM
UKM
14
Muatan lokal kurikulum institusi
dikembangkan oleh setiap institusi sesuai dengan visi, misi dan
kondisi lokal, dapat merupakan
materi wajib dan atau materi
elektif
Institusi pendidikan memiliki
unit pendidikan kedokteran yang
mencakup kegiatan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan
pengembangan kurikulum
1
UKM
16
Mahasiswa harus mendapat
pengalaman belajar lapangan di
dalam Sistem Pelayanan Kesehatan yang secara nyata termuat di
dalam kurikulum
6
Alasan
3
UI
USU
UMY
12
· semua prinsip, metode dan ragam ilmu dalam
no 3 - 8 penting, dan merupakan bagian dari
kurikulum model integratif
· untuk menuju seorang dokter keluarga
13
15
5
1 UI
3
Unpatti
Unhas
UM
9
· asal sesuai dengan SKDI
· mohon ada standar nasional
· perlu kepastian jumlah semester minimal yang
ditempuh sampai tahap sarjana karena berbeda
dengan Dikti
· Tahap pendidikan dokter hendaknya digabung
menjadi satu tahap utuh, dengan gelar akademik
- profesi yang sesuai yang diberikan di akhir program pendidikan
· Mohon ada standar nasional
2
Unhas
Unpad
9
4
UM
Unair
USU
UMY
11
7
Unpatti
Unhas
UI
Unair
USU
UKDW
UMY
5
UM
USU
UKDW
UMY
Unpad
3
Unpatti
UM
UMY
6
· muatan lokal perlu untuk menyesuaikan problem kesehatan di daerah institusi
· Perlu ditingkatkan presentasi (30-40%)
9
· sebaiknya materi wajib agar lulusan menekuni
muatan lokal yang bermanfaat setelah lulus
5
Unsoed
UM USU
UKDW
UMY
· Sebaiknya untuk semesta
· untuk melatih mahasiswa berpikir kritis dan
percaya diri
· sewajarnya demikian
11
· harus ada standar mutu nasional
· kemajuan institusi ditentukan oleh evaluiasi,
untuk membuat perencanaan yang akan datang
· Seharusnya penekanannya adalah kegiatan/fungsi tersebut semuanya dilaksanakan secara terus menerus oleh institusi, bisa dalam
bentuk "unit" atau lainnya, sesuai dengan struktur organisasi dari masing-masing institusi
10
· perlu mendapatkan hal-hal untuk mengimplementasikan yang didapat di kampus
· sewajarnya demikian
88
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Tabel 7.4. Hasil survey Penilaian Hasil Belajar beserta komentarnya
……...……sangat perlu
No.
1
2
3
4
Rincian standar pendidikan
2
3
4
Penilaian hasil belajar harus
didasarkan pada pencapaian
kompetensi sesuai dengan Standar Kompetensi Dokter
Pencapaian kompetensi dinilai
dengan menggunakan Penilaian
Acuan Patokan (Criterionreferenced)
Kriteria kelulusan merupakan
hasil pencapaian kompetensi
dan penilaian proses pendidikan
(akademik dan non-akademik)
Pada akhir pendidikan, dilaksanakan uji kompetensi yang dilaksanakan oleh Kolegium Dokter
Indonesia dan Asosiasi Institusi
Pendidikan Kedokteran Indonesia, untuk memperoleh sertifikat
kompetensi
2
UKM
UMY
5
6
Alasan
3
UKM
USU
UKDW
3
UM
USU
UKDW
5
Un
patti
Unhas
UM
USU
UKDW
4
UI UM
USU
UKDW
12
· sewajarnya demikian
12
· supaya lulusan institusi sesuai dengan tuntutan
SKD
· sewajarnya demikian
· supaya hasilnya mendekati kebenaran
· tidak ada ketentuan tidak boleh turun
· perlu dalam mendidik calon dokter yang proporsional
10
· sewajarnya demikian
9
· perlu kerja sama MPKI dengan KDI karena
arah/tujuan dari uji kompetensi sesuai dengan SKD
· perlu standarisasi input dan proses
· Uji kompetensi sangat perlu dilaksanakan, namun
teknisnya dapat memperhatikan perkembangan hasil
uji kompetensi masing-masing institusi maupun kecenderungan hasil uji secara nasional. Secara berkala
dapat dilakukan kajian
Tabel 7.5. Hasil survey Mahasiswa beserta komentarnya
…………sangat perlu
No.
Rincian standar pendidikan
1
2
3
4
5
6
Alasan
Calon mahasiswa program
studi profesi dokter harus
memenuhi kriteria sebagai
berikut : Lulus Sekolah Menengah Umum atau setara
dari jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)
1 UI
1 Unhas
2 USU
Unpad
11
2
Lulus seleksi penerimaan
mahasiswa yang diadakan
oleh institusi pendidikan
yang bersangkutan, yang
meliputi tes akademik atau
memiliki prestasi khusus, tes
psikologi, dan tes kesehatan
1 UM
5 Unhas UI
USU
UMY
Unpad
9
· berdasarkan pengalaman di institusi kami
ada 10-15 orang non IPA dan mereka tidak
kalah berprestasi
· bila calon mahasiswa berasal dari ilmu
sosial, akan sulit untuk beradaptasi dengan
sistem perkuliahan USU saat ini
· karena lulusan IPA biasanya berpikir kritis
dan kuat analisa
· Perlu dilakukan kajian mendalam mengenai
kriteria masukan mahasiswa, yang lebih dikaitkan dengan pengembangan sikap profesional dokter
· perlu disesuaikan dengan sistem penerimaan mahasiswa baru
· sebaiknya seleksi penerimaan mahasiswa
oleh suatu badan khusus
3
Jumlah mahasiswa baru
setiap angkatan maksimal
1 Unair
4 Unpatti UI
5
4
Unhas
· agar sesuai dengan student sarana dan
sumber daya manusia
89
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
…………sangat perlu
No.
Rincian standar pendidikan
2
3
20% dari jumlah seluruh
mahasiswa pendidikan dokter
5
6
UKM
USU
UKDW
UM
UMY
1
Un
patti
3 UM
UKDW
UMY
10
Alasan
· ditujukan untuk mengurangi jumlah mahasiswa untuk meningkatkan kualitas pendidikan
· Keputusan tentang hal ini dapat dipengaruhi oleh kondisi lain seperti pengembangan
maupun penyusutan fasilitas, SDM staf pengajar maupun hal lain yang mempengaruhi
kualitas pendidikan untuk mencapai kompetensi
· parameter jumlah mahasiswa yang diterima sebaiknya berpatokan pada kecukupan
SDM dan fasilitas
· terhitung dari keseluruhan masa studi
· tidak tahu
· Pernyataan ini harus dipertimbangkan dengan bijaksana karena adanya keterlibatan
dosen pendidik klinik di fasilitas rumah sakit
pendidikan/pelayanan kesehatan primer yang
dapat mempengaruhi angka ekuivalen waktu
mengajar penuh
· supaya proses belajar-mengajar berjalan
efektif dan efisien
· tapi EWMP dosen kedokteran ada
pengkhususan jangan sama dengan dosen
bidan ilmu lain
· sesuai daya tampung
4
Jumlah mahasiswa institusi
pendidikan kedokteran didasarkan pada Jumlah dosen
(sesuai dengan Ekuivalen
Waktu Mengajar Penuh=EWMP)
5
Jumlah mahasiswa institusi
pendidikan kedokteran didasarkan pada sarana dan
prasarana pendidikan
1 Unpatti
4
UI
UM
USU
UMY
10
6
Jumlah mahasiswa institusi
pendidikan kedokteran didasarkan pada daya tampung RS Pendidikan dan
jejaringnya
Rasio dosen EWMP dan
mahasiswa untuk tahap
S.Ked maksimal 1 : 10
1
Unpatti
4
UI
UM
USU
UMY
10
· agar mahasiswa tidak ada yang istirahat
menunggu stase
1 UI
4 Unpatti
UKM
USU
UKDW
10
3
Unpatti
UI
UKM
2 USU
UKDW
10
· agar tercipta suasana belajar yang konstan
· Angka ini masih memerlukan kajian lebih
lanjut, khususnya mengingat masukan adanya
keterlibatan dosen pendidik klinik di fasilitas
rumah sakit pendidikan/pelayanan kesehatan
primer yang dapat mempengaruhi angka
ekuivalen waktu mengajar penuh
· Angka ini masih memerlukan kajian lebih
lanjut, khususnya mengingat masukan adanya
keterlibatan dosen pendidik klinik di fasilitas
rumah sakit pendidikan/pelayanan kesehatan
primer yang dapat mempengaruhi angka
ekuivalen waktu mengajar penuh
· dalam melayani mahasiswa koass secara
maksimal
· dibutuhkan minimal 1 doktr spesialis untuk
setiap bagian yang sesuai untuk pendidikan
profesi DU
4 Unpatti
11
7
8
Rasio dosen EWMP dan
mahasiswa untuk tahap
Profesi maksimal 1 : 5
9
Pada Institusi pendidikan
kedokteran tersedia unit
1 UI
4
· perlu sekali untuk menyelesaikan masalahmasalah yang dihadapi mahasiswa
90
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
…………sangat perlu
No.
10
Rincian standar pendidikan
2
3
4
5
6
bimbingan dan konseling
untuk menangani masalahmasalah akademik dan nonakademik mahasiswa
UI USU
UKDW
Setiap mahasiswa memiliki
dosen pembimbing akademik
5 UKM
Unair
USU
UKDW
Unpad
10
2
UKDW
UMY
5
Unpatti
Unsoed
Unhas
Unair
Unpad
5
1
UKDW
3
UI
UM
USU
11
11
Perwakilan mahasiswa berpartisipasi di dalam unit
pendidikan kedokteran
12
Mahasiswa memiliki organisasi kemahasiswaan yang
meliputi kegiatan-kegiatan
organisasi, penalaran, minat
dan bakat, pengabdian masyarakat dan kesejahteraan
mahasiswa
1
USU
2
Unisula
UM
Alasan
· Unit bimbingan dan konseling dapat merupakan unit di institusi pendidikan kedokteran
maupun organisasi di atasnya (universitas)
· Banyak peran dapat dilaksanakan oleh
dosen pembimbing akademik, sekaligus dapat
memberi pengalaman berinteraksi secara
personal dengan rekan senior
· mengatasi masalah-masalah mahasiswa
· dikhawatiri dari mahasiswa kurang mengetahui tentang pendidikan kedokteran
· kadang bisa konflik antarmahasiswa
· Keuntungannya adalah untuk kedua belah
pihak, baik untuk mahasiswa maupun staf
pengajar
· melatih mahasiswa dalam kepemimpinan
Tabel 5.5. Hasil survey Staf Akademik beserta komentarnya
……………sangat perlu
No.
1
2
3
4
5
Rincian standar pendidikan
Staf akademik di institusi pendidikan kedokteran minimal
harus memiliki kualifikasi akademik setara Strata 2 (S2)
Semua staf akademik harus
mendapatkan pelatihan metodologi pendidikan kedokteran dan harus memiliki sertifikat pendidik sesuai dengan
Undang-Undang RI No. I4
tahun 2005 tentang Guru dan
Dosen
Institusi pendidikan kedokteran harus memfasilitasi staf
akademik dalam rangka peningkatan profesionalisme
Setiap staf akademik memiliki
Surat Keputusan Pimpinan
sebagai dosen, termasuk staf
akademik yang ada di rumah
sakit pendidikan dan jejaringnya
Setiap staf akademik harus
mendapatkan penilaian kinerja dari pimpinan, karyawan
maupun mahasiswa secara
berkala
2
3
4
5
6
2 UI
USU
11
UI
UM
USU
9
3 UM
USU
UKDW
12
· perlu untuk meningkatkan profesionalisme
PBM
3
Unpatti
USU
UKDW
12
· agar ada legalitas dari dsetiap dosen agar
bertanggung-jawab dalam PBM
4 Unpatti
UM
UKDW
UMY
9
2
Unpatti
UKDW
3 Unpatti
UKM
UKDW
2
UI
USU
3
Alasan
· atau SP1
· pengetahuan strata 2 untuk mengajar sudah
dapat dipertanggung-jawabkan
· program studi baru kesulitan merekrut staf
akademik setara S2 sehingga merekrut dosen
setara S1
· agar ada legalitas sebagai dokter serta diakui
keberadaannya secara hukum
· agar dosen mengetahui kelemahan dan kekuatan dalam PBM
91
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Tabel 7.6. Hasil survey Sumber Daya Pendidikan beserta komentarnya
No.
1
2
3
Rincian standar pendidikan
……………sangat perlu
2
3
4
Institusi pendidikan kedokteran harus menjamin tersedianya fasilitas pendidikan
klinik bagi mahasiswa yang
terdiri atas rumah sakit pendidikan dan sarana pelayanan
kesehatan lain yang diperlukan
Adanya perjanjian kerjasama
antara pimpinan institusi
pendidikan dengan pimpinan
fasilitas pendidikan klinik.
Perjanjian kerjasama tersebut harus minimal meliputi
hak, tanggungjawab dan
kewenangan masing-masing
pihak yang menjamin terlaksananya proses pendidikan
dan pelayanan kesehatan
berjalan secara optimal
Jumlah pasien rawat jalan
rata-rata per hari di tiap-tiap
bagian/klinik minimal 2 kali
jumlah mahasiswa yang menjalankan praktik di bagian/klinik tersebut
4
Rumah sakit yang digunakan
untuk pendidikan harus terakreditasi sebagai rumah sakit
pendidikan
5
Sarana pelayanan kesehatan
lain meliputi puskesmas,
balai pengobatan, dan klinik
dokter keluarga. Sarana tersebut harus tersedia secara
memadai
1 Unpatti
5
6
1 USU
13
Alasan
· agar lulusan profesi suatu institusi berkualitas dan profesional
· Pendidikan profesi mensyaratkan adanya
sarana pendidikan untuk mencapai kompetensi
progesional, dalam hal ini tentunya adalah
sarana pelayanan kesehatan yang sesuai dengan tujuan pendidikan/kompetensi yang akan
dicapai
· Hal yang lebih penting untuk menjadi standar
pendidikan adalah adanya standar kegiatan/layanan yang memperlihatkan bagaimana
sarana dan prasarana (termasuk di sarana pelayanan kesehatan) akan dimanfaatkan untuk
pendidikan, serta langkah bertahap pencapaian
kompetensi
· supaya pimpinan fasilitas pendidikan klinik
mempunyai tanggung jawab terhadap proses
belajar mengajar koass
6 Unpatti UI
UM
Unair
USU
UKDW
9
5 Unpatti
Unhas
UM
Unair
UKDW
7
· agar memenuhi kriteria belajar efektif seorang koass
· Hal yang lebih penting untuk menjadi standar
pendidikan adalah adanya standar kegiatan/layanan yang memperlihatkan bagaimana
sarana dan prasarana (termasuk di sarana pelayanan kesehatan) akan dimanfaatkan untuk
pendidikan, serta langkah bertahap pencapaian
kompetensi
· tidak semua RS jejaring mempunyai jumlah
pasien yang sama. yang terpenting adalah bed
side teaching kepada peserta didik
· banyak rumah sakit jejaring yang belum terakreditasi sebagai rumah sakit pendidikan
· belum, masih RS tipe B non pendidikan yang
sedang dalam proses menuju tipe B pendidikan
· Hal yang lebih penting untuk menjadi standar
pendidikan adalah adanya standar kegiatan/layanan yang memperlihatkan bagaimana
sarana dan prasarana (termasuk di sarana pelayanan kesehatan) akan dimanfaatkan untuk
pendidikan,
· memenuhi standar pendidikan untuk meluluskan dokter yang berkualitas
· tetapi bertahap
· yang penting metode yang digunakan sesuai
dengan metode pendidikan ideal
· Hal yang lebih penting untuk menjadi standar
pendidikan adalah adanya standar kegiatan/layanan yang memperlihatkan bagaimana
sarana dan prasarana (termasuk di sarana pelayanan kesehatan) akan dimanfaatkan untuk
pendidikan
· harus tersedia sesuai srtandar balai pengobatan/ rumahsakit jejaring
2 UI
USU
1
Unpad
1
Unpatti
2
Unisula
UKDW
2
UI
USU
9
2
Unpatti
USU
4
Unisula
UI UM
UKDW
9
92
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
6
Menyediakan fasilitas teknologi informasi bagi staf akademik dan mahasiswa, yaitu
komputer dengan rasio minimal 1:20 bagi mahasiswa,
sedangkan untuk staf akademik minimal setiap bagian
1 komputer
7
1
Unpatti
5
Unhas
UI
Unair
USU
Unsyiah
8
Tersedia jaringan internet
yang menjamin komunikasi
antara pimpinan institusi
pendidikan kedokteran, staf
akademik dan mahasiswa
1
Unpatti
4
UI Unair USU
UKDW
10
8
Tersedianya kepustakaan
elektronik
3
Unpatti
USU
UKDW
3
UI
UM
Unair
9
9
Institusi pendidikan kedokteran harus mengalokasikan
anggaran untuk menjamin
aktivitas penelitian yang
mendukung pendidikan kedokteran, minimal 5% dari
seluruh anggaran operasional
institusi pendidikan kedokteran
Institusi pendidikan kedokteran harus memiliki minimal
satu orang ahli dalam bidang
pendidikan kedokteran berderajat strata dua yang
membantu unit pendidikan
kedokteran
1
Unpatti
3
UI
UM
UKDW
11
1
USU
3
Unpatti
UI
UKDW
11
10
1
UKDW
· dalam era globalisasi perlu pendidikan teknologi informasi yang mejnambah wawasan ilmu
pengetahuan
· Hal yang lebih penting untuk menjadi standar
pendidikan adalah adanya standar kegiatan/layanan yang memperlihatkan bagaimana
sarana dan prasarana (termasuk di sarana pelayanan kesehatan) akan dimanfaatkan untuk
pendidikan
· agar adanya link yang cepat
· Hal yang lebih penting untuk menjadi standar
pendidikan adalah adanya standar kegiatan/layanan yang memperlihatkan bagaimana
sarana dan prasarana (termasuk di sarana pelayanan kesehatan) akan dimanfaatkan untuk
pendidikan,
· Hal yang lebih penting untuk menjadi standar
pendidikan adalah adanya standar kegiatan/layanan yang memperlihatkan bagaimana
sarana dan prasarana (termasuk di sarana pelayanan kesehatan) akan dimanfaatkan untuk
pendidikan,
· mempermudah akses baca mahasiswa dan
dosen
· Hal yang lebih penting untuk menjadi standar
pendidikan adalah adanya standar kegiatan/layanan yang memperlihatkan bagaimana
sarana dan prasarana (termasuk di sarana pelayanan kesehatan) akan dimanfaatkan untuk
pendidikan,
· supaya tri darma pt dari segi pendidikan
seimbang dengan dua kegiatan yang lain
· ditambah dengan mengembangkan ilmu
pendidikan kedokteran
· Hal yang lebih penting untuk menjadi standar
pendidikan adalah adanya standar kegiatan/layanan yang memperlihatkan bagaimana
sarana dan prasarana (termasuk di sarana pelayanan kesehatan) akan dimanfaatkan untuk
pendidikan,
· strata dua mampu untuk mengembangkan
sistem pendidikan kedokteran
93
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Tabel 7.7. Hasil survey Evaluasi Program Pendidikan beserta komentarnya
No.
Rincian standar pendidikan
……………sangat perlu
2
3
4
5
6
3
Unpatti
UM
USU
12
perlu karena evaluasi adalah kunci untuk perencanaan yang akan datang
3
UI
USU
UKDW
11
Pihak yang dipersyaratkan untuk terlihat dalam
evaluasi tidak harus "unit"; dapat menyesuaikan
dengan organisasi lokal, dengan tetap mengacu
kepada standar penjaminan mutu yang ada yang
telah ditetapkan oleh pemerintah
untuk megetahui kemajuan PBM
agar staf akademik mengetahui tingakt kemampuannya
evaluasi dapat dilakukan oleh tim mutu
minimal 1 surat
Pihak yang dipersyaratkan untuk terlihat dalam
evaluasi tidak harus "unit"; dapat menyesuaikan
dengan organisasi lokal, dengan tetap mengacu
kepada standar penjaminan mutu yang ada yang
telah ditetapkan oleh pemerintah
dilakukan pada setiap learning unit (mata kuliah/blok/modul)
evaluasi dapat dilakukan oleh tim mutu
Pihak yang dipersyaratkan untuk terlihat dalam
evaluasi tidak harus "unit"; dapat menyesuaikan
dengan organisasi lokal, dengan tetap mengacu
kepada standar penjaminan mutu yang ada yang
telah ditetapkan oleh pemerintah dan melibhatkan
mahasiswa
sebaiknya dalam satu semester untuk meninjau
ulang proses-proses yang berlaku
evaluasi dalam satu semester untuk dapat jadi
pedoman untuk dosen PA
1
Institusi pendidikan kedokteran
harus melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan kurikulum,
kualitas staf akademik, proses
belajar mengajar, kemajuan
mahasiswa dan fasilitas yang
mendukung
2
Evaluasi kurikulum dilakukan
oleh unit pendidikan kedokteran dan Senat Fakultas secara
berkala, minimal sekali dalam
setahun.
3
Evaluasi terhadap kualitas staf
akademik dilakukan oleh mahasiswa dan unit pendidikan
kedokteran, minimal sekali
dalam setahun
4
Unpatti
UI
USU
UKDW
11
4
Evaluasi terhadap proses belajar mengajar dilakukan oleh
unit pendidikan kedokteran,
minimal sekali dalam satu
semester
5
Unpatti
UI
Unair
USU
UKDW
10
5
Evaluasi terhadap kemajuan
mahasiswa dilakukan oleh institusi pendidikan kedokteran,
minimal sekali dalam satu
semester untuk memantau
kemajuan pencapaian kompetensi.
Evaluasi terhadap fasilitas yang
mendukung dilakukan oleh
institusi pendidikan kedokteran, minimal sekali dalam satu
tahun.
Institusi pendidikan kedokteran
harus memiliki sistem pemantauan kemajuan mahasiswa
yang dikaitkan dengan latar
belakang mahasiswa, kualifikasi
ujian masuk, pencapaian kompetensi, serta digunakan sebagai umpan balik kepada panitia
seleksi ujian masuk, perencanaan kurikulum dan biro konseling.
4 Unpatti
UI
USU
UKDW
11
4
Unpatti
UI
UM
USU
2
Unpatti
UMY
10
6
7
1 Unpatti
1
UKDW
4
UI
USU
UKDW
Unpad
9
Alasan
untuk fasilitas pendukung setiap satu semester
agar PBM semester yang akan datang berjalan
dengan baik dan lancar
hal ini penting untuk menjaring mahasiswa yang
berkualitas tinggi sehingga lulusan UKDI juga tinggi
harus ada mekanisme dari DIKTI ke rektorat
94
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
8
Setiap lim
a tahun sekali, institusi pendidikan kedokteran harus melakukan evaluasi program pendidikan secara menyeluruh yang
melibatkan penyelenggara dan
administrasi pendidikan, staf
akademik, mahasiswa, otoritas
pelayanan kesehatan, wakil/tokoh masyarakat serta
organisasi profesi.
1
USU
5
Unpatti
UI UM
UKDW
Unpad
9
untuk mendapatkan input agar terdapat perbaikan
sistem untuk yang akan datang
Tabel 7.8. Hasil survey Penyelenggaraan Program dan Adiministrasi Pendidikan beserta
komentarnya
No.
Rincian standar pendidikan
……………sangat perlu
2
3
4
1
Institusi pendidikan kedokteran
harus memiliki ijin penyelenggaraan yang sah dari Menteri
Pendidikan Nasional.
2
Institusi pendidikan kedokteran
dapat berupa fakultas,jurusan,
atau program studi.
3
Dalam menjalankan tugasnya,
dekan/ketua program studi,minimal dibantu oleh wakil
dekan/asisten bidang akademik
dan wakil dekan/asisten bidang
administrasi.
1
UI
Institusi pendidikan kedokteran
harus memiliki senat fakultas
yang menggambarkan perwakilan dari staf akademik di semua
bagian
1
UI
4
1
UI
5
6
2 USU
UKDW
13
Ijin penyelenggaraan yang sah merupakan dasar
hukum utama penyelenggaraan kegiatan pendidikan
untuk adanya legalitas dari pemerintah
2 Unhas
USU
2 UM
UKDW
10
institusi pendidikan kedokteran sebaiknya tidak
berbentuk jurusan atau prodi, agar memudahkan
dalam hal otonomi pelaksanaan dan pencarian
dana
sebaiknya fakultas, agar dalam kegiatannya lebih
luas
Standarisasi format dan organisasi institusi hendaknya ditetapkan terlebih dahulu melalui kajian
secara mendalam di tingkat yang lebih tinggi
1 USU
2 UM
UKDW
11
dekan dibantu oleh wakil dekan akademik dan
kemahasiswaan serta asisten bidang administrasi
2 Unpatti
USU
1
UKDW
11
Alasan
Standarisasi format dan organisasi institusi hendaknya ditetapkan terlebih dahulu melalui kajian
secara mendalam di tingkat yang lebih tinggi
belum punya masih dalam proses
mohon ditegaskan dengan peraturan menteri
senat berfungsi sebagai legistlatif
Standarisasi format dan organisasi institusi hendaknya ditetapkan terlebih dahulu melalui kajian
secara mendalam di tingkat yang lebih tinggi
5
Jumlah bagian/laboratorium di
institusi pendidikan kedokteran
disesuaikan dengan tingkat
perkembangan institusi yang
mampu mendukung visi dan
misi
1
UI
3
Unpatti
USU
UKDW
11
disesuaikan dengan kurikulum KBK, jika banyak
memerlukan skill lab
Perlu ditetapkan lingkup kajian minimal yang
harus ada di institusi pendidikan kedokteran yang
dapat menjamin terlaksananya kegiatan pendidikan untuk mencapai kompetensi
95
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
6
Institusi pendidikan kedokteran
harus memiliki struktur organisasi, uraian tugas, tatakerja dan
program kerja yang jelas.
2 Unpatti
USU
13
supaya jalannya proses pendidikan terarah untuk
mencapai tujuan
7
Institusi pendidikan kedokteran
harus mempunyai dokumen
rencana kegiatan dan rencana
anggaran
3 Unpatti
UM
UKDW
12
oleh karena kegiatan di institusi pendidikan cukup banyak, dengan anggaran dana yang besar
pula
rencana kegiatan dan rencana anggaran saling
mendukung untk tercapainya target
8
Institusi pendidikan kedokteran
harus memiliki sumbersumber
pembiayaan, baik dari mahasiswa maupun dari sumbersumber lain, yang menjamin
tercapainya visi, misi, dan tujuan.
Untuk mendukung implementasi dan pengendalian program
pendidikan serta aktivitas lainnya, institusi pendidikan kedokteran harus didukung minimal
oleh tenaga administrasi pendidikan setara strata satu.
4 UM
USU
UKDW
UMY
10
institusi sedapat mungkin mencari sumber pembiayan lain selain dari mahasiswa
3
8
9
1 Unpatti
2
2
saat ini dari PNPB
Hal yang lebih penting untuk menjadi standar
adalah tata kelola yang harus dikembangkan
sebagai cerminan standar administrasi pendidikan kedokteran yang dijalankan
khusus untuk pos-pos penting
tenaga administrasi tidak kalah pentingnya dalam
pengendalian progeram pendidikan maka diperlukan strata satu
tidak harus S1 tetapi harus bisa D3, tergantung
pada kompetensi yang dimiliki dan kebutuhan
10
Institusi pendidikan kedokteran
harus mengalokasikan anggaran
untuk mendukung pengembangan tenaga administrasi dan
manajemen.
1 USU
6 Unpatti
Unsoed
UI
UM
UKDW
8
Hal yang terkait dengan pengembangan tenaga
administrasi/manajemen serta sistem penilaian
kinerjanya harus merupakan program yang menyatu/sejalan dengan program di tingkat yang
lebih tinggi (universitas)
perlu peningkatan kualitas tenaga administrasi
untuk mendukung kelancaran program
saat ini belum teralokasikan
11
Institusi pendidikan kedokteran
harus memiliki sistem penilaian
kinerja tenaga administrasi dan
manajemen secara berkala,
minimal sekali dalam setahun.
1 USU
5
Unpatti
Unsoed
UI
UM
UKDW
9
Hal yang terkait dengan pengembangan tenaga
administrasi/manajemen serta sistem penilaian
kinerjanya harus merupakan program yang menyatu/sejalan dengan program di tingkat yang
lebih tinggi (universitas)
perlu untuk mendapatkan cara kerja yang terarah
dan terorganisasi
96
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Tabel 7.9. Hasil survey Pembaharuan kesinambungan beserta komentarnya
No.
1
2
……………sangat perlu
2
3 4
5
Rincian standar pendidikan
6
Senat institusi pendidikan kedokteran harus berfungsi dalam mekanisme peninjauan ulang secara
berkala untuk memperbarui
struktur dan fungsi institusi sesuai dengan perkembangan dan
kebutuhan.
6
Unpatti
Unsoed
UI UM
USU
UKDW
9
Senat institusi pendidikan kedokteran bersama pimpinan institusi
pendidikan kedokteran menyusun rencana stratejik jangka menengah dan jangka panjang sesuai hasil peninjauan ulang.
5
Unpatti
Unsoed
UI UM
10
Alasan
belum terbentuk
perkembangan struktur dan fungsi pendidikan kedokteran yhang berubah menuntut institut untuk mengevaluasi dan memperb
perlu untuk menyesuaikan dengan situasi dan kondisi
jika cepat berubah
ANALISIS HASIL SURVEY
Mulai diimplementasikannya kurikulum berbasis kompetensi
(KBK) adalah pada tahun 2005 dimana
Standar Pendidikan Profesi Dokter belum dikeluarkan oleh Konsil Kedokteran Indonesia (KKI), namun telah
disebarluaskan kurikulum berbasis kompetensi yang disusun oleh tim Penyusun KBK- HWS Dikti pada tahun
2004. Dari 15 responden, 5 diantaranya telah memulai KBK pada tahun 2005, 5 lainnya pada tahun 2006
dan sisanya pada tahun 2007, 2008 dan 2009.
Dari 15 program studi pendidikan dokter, 12 program memiliki struktur kurikulum dalam bentuk modul-modul,
dan 3 sisanya menyebutkan diri dalam bentuk hybrid. Hibrid dimaksudkan bahwa selain terdapat modulmodul juga terdapat beberapa matakuliah yang diberikan diluar modul.
Visi, misi dan tujuan
Prodi kedokteran merasa sangat perlu bahwa setiap program studi memiliki visi dan misi program studi
sebagai visi dan misi khusus yang berhubungan dengan visi dan misi universitasnya. Dengan adanya visi,
misi dan renstra yang sesuai dengan visi dan misi, maka program studi tersebut dapat dengan mudah
menyusun perencanaan jangka panjang. Walau ada pendapat yang menyatakan tidak begitu perlu untuk
seluruh stakeholder (pengandil) menyusun renstra karena meragukan kepeduliannya, namun seluruh
responden
merasa
perlu
bahwa
institusi
pendidikan
memiliki
hak
otonomik
akademik
dalam
menyelenggarakan pendidikan dan lulusan institusi pendidikan harus mencapai Standar Kompetensi Dokter
Indonesia.
97
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Program Pendidikan
Tampak dari hasil survey bahwa responden cenderung merasa perlu dicantumkan dalam standar pendidikan
bahwa model kurikulum terintegrasi menjadi standar model kurikulum di Indonesia. Dengan pendidikan yang
berorientasi pada pelayanan kesehatan primer, responden merasa perlu bahwa pembelajarannya meliputi
seluruh ilmu yang tercantum pada satndar pendidikan profesi dokter tersebut, kecuali terdapat responden
yang merasa tidak perlu untuk mempelajari ilmu humaniora dengan alasan bahwa yang perlu adalah
mendidik dokter dengan atitude yang baik.
Lamanya pendidikan pada standar pendidikan baik tahap sarjana kedokteran maupun tahap profesi dokter
yang tercantum pada standar pendidikan profesi dokter tampak menimbulkan keraguan pada responden.
Responden FKUI merasa tidak perlu tercantum bahwa tahap sarjana kedokteran dilakukan minimal 7
semester dan tahap profesi dokter dilakukan minimal 3 semester, karena standar ini berbeda dengan
standar pendidikan nasional yang mengatakan bahwa tahap sarjana dijadwalkan 8 semester dan dapat
ditemupuh minimal 7 semester untuk memperoleh gelar sarjana. Responden menganjurkan untuk dibuat
standar yang tidak bertentangan antara standar pendidikan profesi dokter dengan standar pendidikan
nasional.
Responden tampak cenderung untuk memilih bahwa dalam standar pendidikan profesi dokter memang perlu
tercantum presentase baban muatan lokal, walau ada responden yang mengusulkan bahwa presentase
tersebut dari 20% ditingkatkan menjadi 30-40%. Responden yang lain memberi alasan bahwa muata lokal
diperlukan untuk menyesuaikan problem kesehatan di daerah asal institusi pendidikan dokter dan cenderung
merasa perlu btercantum pada standar bahwa muatan lokal yang dikembangkan harus sesuai dengan visi,
misi dan kondisi lokal.
Responden cenderung menganggap perlu adanya tercantum pada standar bahwa unit pendidikan
kedokteran (medical education unit) perlu dimiliki institusi. Serta cenderung mengganggap perlu bahwa
mahasiswa harus mendapat pengalaman belajar lapangan yang tercantum dalam kurikulum secara nyata.
Penilaian Hasil Belajar
Hasil survey menunjukkan bahwa responden cenderung meraa sangat perlu bahwa butir-butir standa
penilaian hasil belajar sesuai dengan yang telah tercantum pada standar pendidikan profesi dokter yang ada
walaupun terdapat komentar bahwa perlua adanya standarisasi penilaian terhadap input dan penilaian
proses pendidikan. Ada responden yang menganjurkan bahwa secara berkala dilakukan kajian terhadap uji
kompetensi dokter yang selama ini telah dilakukan.
98
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Mahasiswa
Responden survey ini memiliki pendapat yang berbada mengenai adanya butir standar yang mengatakan
bahwa calon mahasiswa program studi profei dokter harus memenuhi criteria lulus SMU dengan jurusan
IPA, responden FKUI malah mengatakan bahwa pengalaman menunjukkan terdapat 10-15 orang
mahasiswa non IPA yang prestasinya tidak kalah dengan mahasiswa lainnya. Responden lainnya
berpendapat bahwa criteria masuk mahasiswa sebaiknya lebih dikaitkan dengan pengembangan sikap
professional dokter dan perlu adanya sistim penerimaan mahasiswa yang baru serta mengusulkan untuk
adanya seleksi penerimaan mahasiswa oleh badan khusus. Walau ada satu responden yang merasa tidak
perlu adanya seleksi penerimaan mahasiswa yang meliputi tes akademik, tes psikologi dan tes kesehatan.
Pada saat diskusi tim pokja mengenai analisa hasil survey terdapat beberapa usulan bahwa tes kesehatan
memang perlu diselelnggarakan oleh institusi pendidikan, namun sebagai kegiatan cross check terhadap
surat keterangan sehat yang telah dimiliki oleh mahasiswa sebelum melaksanakan tes akademik dan tes
psikologi. Sebaiknya terdapat standar yang mengatakan kriteria minimal keadaan kesehatan mahasiswa
yang ingin masuk institusi pendidikan dokter yang seluruhnya berkaitan dengan fungsi dalam pekerjaannya
sebagai profesi dokter di masa yang akan datang.
Hasil survey menunjukkan pula tidak sepakat denan butir jumlah mahasiswa baru setiap angkatan maksimal
20% dari jumalh seluruh mahasiswa pendidikan dokter. Walaupun terdapat beberapa alasan yang
mengatakan bahwa butir tersebut dapat dimengerti dalam rangka membatasi jumlah mahasiswa untuk
meningkatkan kualitas pendidikan, namun dalam beberapa alasan meminta adanya pertimbangan bahwa
jumlah mahasiswa baru dipertimbangkan dengan sarana dan sumber daya yang tersedia. Bila butir itu
disebut maksimal 25 % maka terdapat semangat bahwa adanya perkembangan dalam jumlah mahasiswa
keseluruhan, disbanding dengan maksimal 20% yang berarti setiap tahun jumlah mahasiswa akan
cenderung menurun.
Pada butir jumlah mahasiswa institusi pendidikan kedokteran didasarkan pada jumlah dosen sesuai dengan
EWMP tampaknya tidak disepakati oleh responden. Responden yang tidak merasa perlu dengan adanya
butir tersebut menguraikan alasan bahwa pernyataan ini harus dipertimbangkan dengan bijaksana karena
adanya keterlibatan dosen peneidikan klinik di sarana pelayanan kesehatan yang dapat mempengaruhi
angka EWMP, dan responden lain mengingatkan bahwa EWMP dosen kedokteran sebaiknya dibedakan
dengan dosen bidang ilmu lain. Terdapat ketidaksepakatan mengenai rasio dosen EWMP dan mahasiswa
baik tahap S Ked maupun profesi, serta adanya permintaan untuk mengkaji lebih lanjut mengenai rasio
tersebut.
Responden tamppaknya sepakat bahwa pada institusi pendidikan tersedia unit bimbingan konseling dan
setiap mahasiswa memiliki dosen pembimbing akademik. Dengan alasan untuk membantu mengatasi masalah mahasiswa.
99
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Terdapat perbedaan pendapat mengenai butir perwakilan mahasiswa untuk berpartisipasi dalam unit pendidikan kedokteran dengan alasan bahwa mahasiswa tidak mengeerti pendidikan kedokteran dan kadang ada
konflik antar mahasiswa. Tampaknya, terdapat perbedaan persepsi pada kalimat tersebut. Partisipasi perwakilan mahasiswa pada unit pendidikan kedokteran bukan berarti menjadi anggota unit, namun mungkin
dalam bentuk adanya pertemuan bersama antara mahasiswa dengan unit pendidikan kedokteran mengenai
program pendidikan.
Staf Akademik
Pada hasil survey tampak ketidaksepakatan antara responden mengenai staf akademik yang minimal harus
memiliki kualifikasi akademik setara S2, yang tidak setuju mempunyai alasan bahwa Sp1 dapat menjadi staf
akademik, namun responden yang setuju berpendapat bahwa pengetahuan staf akademik berstrata 2 telah
dapat dipertanggungjawabkan.
Butir-butir lainnya mengenai staf akademik tampaknya cenderung disepakati oleh responden sebagai butir
yang perlu ada di standar pendidikan profesi dokter.
Sumber Daya Pendidikan
Responden survey tampaknya sepakat bahwa dalam standar pendidikan dokter perlu dicantumkan pernyataan bahwa institusi pendidikan kedokteran harus menjamin tersedianya fasilitas pendidikan klinik serta
adanya perjanjian kerjasama antara institusi pendidikan dengan institusi fasilitas pelayanan kesehatan. Namun beberapa responden tidak sependapat bila jumlah pasien rawat jalan perhari di fasilitas pelayanan kesehatan harus 2 kali lipat jumlah mahasiswa, dengan alasan lebih penting bila memperhatikan standar pelayanan dibanding dengan jumlah pasien, dan yang terpenting adalah pelaksanaan bedside teaching kepada mahasiswa.
Untuk butir-butir sumber daya pendidikan yang lain, terkesan bahwa responden seluruhnya cenderung merasa perlu dicantumkan dalam standar pendidikan profesi dokter, namun untuk butir yang menyatakan bahwa institusi diharapkan menyediakan fasilitas IT agi staf akademik dan mahasiswa yaitu komputerisasi 1:20
bagi mahasiswa dan 1:1 setiap bagian bagi staf, terdapat pilihan tidak setuju. Sayangnya tidak diberi alasan
mengapa tidak setuju.
Evaluasi Program Pendidikan
Hasil survey menunjukkan bahwa responden cenderung memilih sangat diperlukan untuk butir-butir Evaluasi
Program Pendidikan sehingga tidak banyak yang perlu dianalisa, selain adanya usulan bahwa mekanisme
ujian sebaiknya ada dari Dikti ke masing-masing rektorat dari institusi pendidikan dokter.
100
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Penyelenggaraan Program dan Adiministrasi Pendidikan
Semua responden dalam survey ini sepakat bahwa institusi pendidikan harus memiliki ijn penyelenggaraan
yang sah dari Mentri Pendidikan Nasional. Namun tampak ada perbedaan pendapat mengenai institusi pendidikan kedokteran dapat berupa fakultas, jurusan atau program studi, alasanya adalah agar memudahkan
dalam hal otonomi pelaksanaan dan pencarian dana, sebaiknya dalam bentuk fakultas, walau standarisasi
format dan organisasi institusi harus lebih dikaji kembali untuk dapat membuatnya sebagai standar.
Pendapat respondenpun bervairasi terhadp pernyataan dalam standar yang menyatakan bahwa institusi
pendidikan kedokteran harus memiliki senat fakultas yang menggambarkan perwakilan dari staf akademik di
semua bagian.
Selain itu pendapat yang bervariasi juga ada pada butir yang menyatakan bahwa tenaga administrasi pendidikan harus setara S1. Hal ini disetujui bila posisinya mendudukan yang penting-penting, namun untuk tempat lain dapat dipertimbangkan D3 sebagai tenaga administrasi yang juga sesuai.
Pembaharuan kesinambungan
Tampak responden survey cenderung merasa perlu dalam standar pendidikan profesi dokter tercantum
bahwa senat institusi harus berfungsi dalam mekanisme peninjuan ulang berkala derta menyusun rencana
strategic jangka menengah dan panjang yang sesuai.
101
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
REFLEKSI
Teknis pelaksanaan survey
Survey ini dapat dikatakan merupakan survey pendahuluan. Semula diharapkan akan diperoleh data
setidaknya separuh dari jumlah prodi yang ada di Indonesia. Namun selain 12 yang didatangkan oleh
surveyor, tim menerima 3 asupan yang dikirim melalui pos. Dua dari 15 isian tersebut dikirim melalui e-mail
dan yang lainnya berupa hard-copy yang diantarkan sendiri oleh surveyor ke tangan ketua tim survey, ada
yanf mengirimkan melalu kurir, dan ada pula yang melalui pos. Surveyor yang datang ke institusi pendidikan
akan menghubungi dekan/ketua program studi untuk menugaskan seseorang yang menguasai isi kuesioner
tersebut.
Substansi Hasil Survey
Beberapa pertanyaa dalam hasil survey perlu mendapatkan perhatian khusus, karena akan dimintai
pendapatnya dan sebagaimana.
Lesson Learned
Kuesioner yang dikirim begitu saja kepada responden banyak menimbulkan missed interpretasi terutama
karena pilihan jawabannya berupa gradasi.
Rencana Tindak Lanjut
Akan diselelnggarakan survey yang sama secara lebih luas.
Rekomendasi
Rekomendasi improvement untuk pelaksanaan survey selanjutnya adalah dengan memperbaiki likert scale
dalam kuesioner sehingga menjadi lebih jelas.
102
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Bab 8. Kesimpulan dan Saran
KESIMPULAN
1. Masih ada beberapa materi yang belum diberikan oleh institusi pendidikan dokter karena belum
adanya persamaan persepsi terhadap SKDI
2. Dari pengalaman dokter, banyak ketrampilan klinik yang tingkat kemampuan diperlukan sampai
tingkat mandiri (4)
3. Materi ujian telah sesuai dengan SKDI
4. Masih banyak institusi yang memiliki sedikit dosen terlatih mengenai UKDI
5. Pelatihan merupakan sarana yang tepat untuk mengumpulkan soal ujian
6. Dampak KB UKDI pada institusi pendidikan memperlihatkan adanya dorongan peningkatan kualitas
evaluasi pembelajaran, namun perlu diperbanyak kegiatannya.
7. Hasil survey penilaian pasien terhadap perilaku profesional dokter menunjukkan hasil yang baik
a. Rata-rata pasien menjawab ya terhadap semua pertanyaan sebesar 60 (80,2%).
b. Pertanyaan yang dijawab ya oleh sedikit pasien adalah
i. apakah dokter mempertimbangkan kemampuan pasien dalam menarik imbalan jasa
43,1% (31)
ii. apakah dokter menginformasikan masalah pembiayaan sebelum dilakukan tindakan
atau prosedur medik 24 % (18)
c.
Masukan dari pasien terhadap perilaku dokter di Indonesia
-
mendahulukan kepentingan pasien
-
pembiayaan mempertimbangkan kemampuan/ekonomi (miskin)
-
tidak membedakan status sosial
-
meningkatkan kompetensi (komunikatif, terampil, cermat), sabar, dan ikhlas.
8. Hasil survey penilaian atasan dan sejawat terhadap perilaku profesional dokter menunjukkan hasil
yang baik (atasan 97,7%, sejawat serta mitra 95,2%)
a. masukan untuk dokter
- disiplin waktu perlu ditingkatkan
- selalu mengupdate ilmu
103
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
- perlu tambahan materi profesionalisme, perilaku, budi pekerti, etika dan moral.
- peningkatan perilaku, karakter, mengendalikan emosi, agama
9. Sebagian besar institusi merasa bahwa butir-butir standar pendidikan dokter telah sesuai, kecuali
beberapa hal sbb:
-
Durasi penyelenggaraan pendidikan yang belum sesuai dengan standar pendidikan
nasional
-
Rasio mahasiswa:dosen menurut EWMP diminta untuk ditinjau kembali, mengingat
dosen juga sebagai staf pelayanan.
-
Perlu standar yang lebih jelas mengenai seleksi calon mahasiswa
LESSON LEARNED
- Survey ini merupakan pre-liminary survey
- Survey kedokteran ini dapat dilaksanakan dengan cepat krena adanya pembagian regional AIPKI
sehingga masing-masing surveyor dibagi menurut wilayah masing-masing
- Surveyor dengan latar belakang magister
pelaksanaan survey
pendidikan kedokteran mempermudah persiapan dan
- Perlu adanya tim penunjang terutama untuk mengatur administrasi survey
SARAN
- Survey akan dilanjutkan dengan memperbaiki item-item kuesioner dan rincian metodologi penelitian
- Pengisian survey institutional-based dilakukan pada suatu kesempatan pertemuan nasional seperti
SEARAME
- Untuk kebijakan Dikti, Kemkes, dan stakeholder lain disarankan untuk mencantumkan materi yang
digunakan untuk pencapaian kompetensi
104
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
DAFTAR PUSTAKA
World Federation for Medical Education. 2003. Basic Medical Education. WFME Global Standards for
Quality Improvement. Copenhagen. http://www.wfme.org.
Konsil Kedokteran Indonesia. 2006. Standar Kompetensi Dokter Indonesia. Jakarta
Konsil Kedokteran Indonesia. 2006. Standar Pendidikan Profesi Dokter. Jakarta.
Indiana University School of Medicine. Educational Blueprint for The Indiana Initiative: Physicians for the 21st
Century
105
Download