PKWT

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Sesuai judul Bab ini yaitu tinjauan pustaka, berikut di bawah ini Penulis
mengemukakan bagaimana pustaka atau literatur menjawab pertanyaan dalam
perumusan masalah Penelitian dan Penulisan Karya Tulis ini sebagaimana telah
dikemukakan dalam Bab I. Adapun rumusan masalah tersebut adalah bagaimana
Hubungan Kerja berdasarkan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) dan
Penyerahan Sebagian Pekerjaan Kepada Perusahaan Lain? Melalui uraian
kepustakaan, diharapkan, Bab mengenai Tinjauan Kepustakaan ini akan memberikan
gambaran, menurut kepustakaan, perspektif tentang Perjanjian Kerja dan Penyerahan
Sebagian Pekerjaan kepada Perusahaan Lain, tentang bagaimana; misalnya, antara
lain, hakikat dari PKWT; hakikat dari Penyerahan Sebagian Pekerjaan kepada
Perusahaan Lain; apakah ada kemungkinan, menurut kepustakaan yang ditinjau dapat
dikemukakan bahwa sebetulnya PKWT dan Pemberian atau Penyerahan Sebagian
Pekerjaan kepada Perusahaan Lain tersebut pada hakikatnya adalah dua hal yang
mirip antara satu dengan lainnya,27 dan terutama dapat menggambarkan bagaimana
suatu pembenaran atau justifikasi mengenai apa yang Penulis kemukakan dalam Bab
I dan merupakan thesis sentence Penulis bahwa Hubungan Kerja Berdasarkan
27
Atau, seperti telah Penulis kemukakan dalam Bab I, bahwa pada hakikatnya PKWT dan Penyerahan
Sebagian Pekerjaan kepada Perusahaan Lain tersebut adalah suatu kontrak sui generis (hybrid). Dus
suatu kesatuan kontrak, dimana di dalamnya ada unsur-unsur PKWT dan juga ada unsur-unsur
Perjanjian Penyerahan Sebagian Pekerjaan kepada Perusahaan Lain. Lihat halaman 8 Bab I Skripsi ini.
21
Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) dan Penyerahan Sebagian Pekerjaan
Kepada Perusahaan Lain adalah suatu kontrak yang dapat dilihat sebagai berdiri
sendiri, sebagai suatu kesatuan, bukan hanya dua perjanjian yang berdiri sendirisendiri, yaitu Hubungan Kerja Berdasarkan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT)
saja; atau Hubungan Kerja Berdasarkan Perjanjian Penyerahan Sebagian Pekerjaan
Kepada Perusahaan Lain saja.28
2.1. Perikatan Suatu Sistem yang Terbuka
Perikatan dan perjanjian menunjuk pada dua hal yang berbeda tetapi menurut
Penulis apabila diteliti lebih mendalam maka perikatan itu sama dengan suatu
perjanjian. Perikatan adalah suatu istilah atau pernyataan yang bersifat abstrak, yang
menunjuk pada Hubungan Hukum dalam lapangan harta kekayaan antara dua atau
lebih orang atau pihak. Hubungan Hukum tersebut melahirkan kewajiban kepada
salah satu pihak yang terlibat dalam Hubungan Hukum tersebut.29
Perikatan sesuai dikte hukum (the dictate of the law) dalam KUHPerdata
diatur dalam Buku III KUHPerdata. Buku III KUHPerdata dipaksa oleh Hukum
supaya menganut sistem terbuka yang artinya bahwa dalam hukum perjanjian ada
kebebasan yang seluas-luasnya kepada masyarakat mengadakan perjanjian yang
28
Lihat Catatan Kaki No. 10, supra.
29
Kartini Muljadi, Gunawan Widjaja, Perikatan yang Lahir dari Perjanjian, (Jakarta: PT. RajaGrafindo
Persada, 2004), hlm. 1.
22
berisi apa saja, asal tidak melanggar ketertiban umum, kesusilaan dan undangundang.30
Eksistensi perjanjian yang juga adalah satu perikatan dapat ditemui
pengakuannya oleh ketentuan Pasal 1233 KUHPerdata yang menyatakan bahwa:
“Tiap-tiap perikatan dilahirkan, baik karena perjanjian baik karena UndangUndang.31 “Suatu perjanjian juga adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang
atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih”. Dari rumusan
tersebut dapat disimpulkan bahwa suatu perjanjian adalah: suatu perbuatan, yang
dapat dilakukan satu orang (bisa juga lebih dari satu orang). Perbuatan tersebut adalah
perikatan diantara pihak-pihak yang mengucap janji (promises) tersebut.
Perikatan yang adalah undang-undang diatur dalam Pasal 1352 sampai Pasal
1380 KUHPerdata. Perikatan yang adalah undang-undang terbagi lagi menjadi
undang-undang saja dan undang-undang karena perbuatan orang. Perikatan yang
adalah perbuatan orang terdiri dari perbuatan yang menurut hukum dan perbuatan
yang melawan hukum. Perikatan yang adalah perbuatan yang sesuai dengan hukum
ada dua yaitu wakil tanpa kuasa (zaakwaarneming) diatur dalam Pasal 1354 sampai
Pasal 1358 KUHPerdata dan pembayaran tanpa hutang (onverschulddigde betaling)
diatur dalam Pasal 1359 sampai Pasal 1364 KUHPerdata. Sedangkan perikatan yang
adalah perbuatan yang tidak seturut dengan kehendak hukum adalah perbuatan
30
Diktat Christiana Tri Budhayati, SH, M.Hum, Hukum Perdata, hlm. 38.
31
Ibid.
23
melawan hukum (onrechtmatige daad) diatur dalam Pasal 1365 sampai Pasal 1380
KUHPerdata.
2.2. Sumber – Sumber Perikatan
Untuk memerjelas sumber-sumer perikatan sebagaimana dinyatakan dalam
KUHPerdata, maka berikut di bawah ini Penulis akan menggambarkan sumbersumber itu dalam suatu Bagan. Dimana dalam Bagan 1., ada perikatan yang
bersumber pada perjanjian dan juga ada perikatan yang bersumber pada Undangundang. Perikatan yang bersumber pada Undang-undang sebagaimana dapat dilihat
dalam bagan tersebut masih dibagi lagi menjadi perikatan yang bersumber pada
Undang-Undang karena perbuatan manusia dan perbuatan yang ditentukan oleh
Undang-Undang. Sedangkan perikatan yang bersumber pada Undang-Undang karena
perbuatan manusia dibagi lagi ke dalam perikatan yang bersumber pada perbuatan
manusia menurut hukum dan perbuatan melawan hukum.
Perlu Penulis kemukakan di sini bahwa yang Penulis maksudkan dengan katakata “yang bersumber” adalah, maksud Penulis, “yang adalah” atau “yang identik”
atau “yang sama dengan”.
Artinya, contoh: Perikatan “yang bersumber” pada perjanjian seharusnya
dibaca dalam perspektif Ilmu Hukum sebagai Perikatan yang adalah perjanjian, atau
perikatan yang identik dengan Perjanjian atau Perikatan yang sama dengan
Perjanjian.
24
Bagan 1. Sumber-sumber perikatan.
2.2.1. Perjanjian Secara Umum
Perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih
mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih lainnya.32 Dalam membuat
perjanjian, pada prinsipnya kedudukan antara para pihak yang mengadakan perjanjian
adalah sama dan seimbang. Artinya, ditinjau dari sudut pandang kaedah yang baru
saja dikemukakan di atas, maka kedudukan Pengusaha atau Pemberi Kerja dengan
Pekerja atau Buruh idealnya harus seimbang.
32
Djumadi, Loc. Cit., hlm. 9. Pasal 1313 KUHPerdata.
25
Apabila perjanjian pada umumnya tersebut dibandingkan dengan Perjanjian
Kerja, maka suatu Perjanjian Kerja adalah suatu perjanjian dimana pihak yang satu,
Pekerja atau Buruh, mengikatkan diri untuk bekerja pada pihak yang lain yaitu
Pemberi Kerja, selama waktu tertentu dengan menerima upah.33
Perjanjian Kerja dapat dikatakan sebagai bagian dari perjanjian pada
umumnya. Perjanjian pada umumnya sesuai dikte hukum (the dictate of the law)
diatur di dalam Buku III A KUHPerdata.
2.2.2. Asas-Asas Perjanjian Pada Umum
Seperti telah Penulis kemukakan di depan, perjanjian menganut sistem
terbuka yang nampak pada asas ini berada pada Pasal 1338 Ayat (1). “Semua
perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang
membuatnya”.
Asas-asas perjanjian, yang harus diperhatikan dalam dalam membuat kontrak
adalah: Asas Kebebasan Berkontrak (freedom of contract). Suatu asas yang
memberikan kebebasan kepada para pihak untuk: membuat atau tidak membuat
perjanjian; mengadakan perjanjian dengan siapapun; menentukan isi perjanjian,
33
Lihat, Pasal 1601 (a) KUHPerdata. Demikian pula, seperti di-restate lagi dalam UU
Ketenagakerjaan Republik Indonesia, sebagaimana telah dikemukakan dalam Bab I skripsi ini, Lihat
Catatan Kaki Bab I No. 1, supra.
26
pelaksanaan, dan persyaratannya; menentukan bentuk perjanjian, yaitu tertulis atau
lisan34 yang sebetulnya tertulis di mata Yuris.
Asas Konsensualisme (concsensualism) berhubungan dengan saat lahirnya
suatu perjanjian yang mengandung arti bahwa perjanjian itu terjadi sejak saat
tercapainya kata sepakat antara pihak-pihak mengenai pokok perjanjian, mengenai
saat terjadinya kesepakatan dalam suatu perjanjian.
Asas Kepastian Hukum (pacta sunt servanda) perjanjian itu tidak dapat
ditarik kembali tanpa persetujuan dari pihak lain. Hal ini disebutkan dalam Pasal
1338 Ayat (2) KUHPerdata yaitu suatu perjanjian tidak dapat ditarik kembali selain
dengan sepakat kedua belah pihak, atau karena alasan-alasan yang oleh undangundang dinyatakan cukup untuk itu.
Asas iktikad baik (good faith) yaitu, subyektif, kejujuran seseorang dalam
melakukan suatu perbuatan hukum yaitu apa yang terletak pada sikap batin seseorang
dalam perbuatan hukum. Iktikad baik dalam arti subyektif ini diatur dalam Pasal 531
Buku II KUHPerdata. Namun, iktikad baik itu sebetulnya obyektif, yaitu pelaksanaan
suatu perjanjian harus didasarkan pada norma kepatutan dalam masyarakat. Hal ini
merupakan dikte hukum kepada Pasal 1338 Ayat (3) KUHPerdata, bahwa hakim
diberikan suatu kekuasaan untuk mengawasi pelaksanaan perjanjian agar jangan
sampai pelaksanaannya tersebut melanggar norma-norma kepatutan dan keadilan.
Kepatutan dimaksudkan agar jangan sampai pemenuhan kepentingan salah satu pihak
34
H.S. Salim, Hukum Kontrak, Teori dan Teknik Penyusunan Kontrak (Jakarta: Sinar Grafika, 2006),
hlm. 70.
27
terdesak, harus adanya keseimbangan. Keadilan artinya bahwa kepastian untuk
mendapatkan apa yang telah diperjanjikan dengan memperhatikan norma-norma yang
berlaku.
Asas Kepribadian (personality) berhubungan dengan subyek yang terikat
dalam suatu perjanjian. Asas kepribadian dalam KUHPerdata diatur dalam Pasal 1340
Ayat (1) yang menyatakan bahwa suatu perjanjian hanya berlaku antara pihak yang
membuatnya. Pernyataan ini mengandung arti bahwa perjanjian yang dibuat oleh para
pihak hanya berlaku bagi mereka yang membuatnya. Ketentuan mengenai hal ini ada
pengecualiannya, sebagaimana tuntutan hukum kepada Pasal 1337 KUHPerdata
yaitu, dapat pula perjanjian diadakan untuk kepentingan pihak ketiga, bila suatu
perjanjian dibuat untuk diri sendiri, atau suatu pemberian kepada orang lain,
mengandung suatu syarat semacam itu. Pasal ini memberi pengertian bahwa
seseorang dapat terikat dalam perikatan untuk kepentingan pihak ketiga dengan suatu
syarat yang telah ditentukan. Sedangkan dalam Pasal 1338 KUHPerdata, tidak hanya
mengatur perjanjian untuk diri sendiri, tetapi juga untuk kepentingan ahli warisnya
dan untuk orang-orang yang memperoleh hak dari padanya.
2.2.3. Syarat-Syarat dalam Perjanjian Pada Umumnya
Pasal 1320 KUHPerdata telah diatur tentang syarat sahnya suatu perjanjian.
Syarat yang pertama, yaitu adanya kesepakatan kedua belah pihak. Sedangkan yang
dimaksud dengan kata sepakat adalah, kedua belah pihak yang membuat perjanjian
setuju mengenai hal-hal yang pokok dalam jenis perjanjian tertentu.
28
Dalam bentuknya, perjanjian itu berupa suatu rangkaian perkataan yang
mengandung janji-janji atau kesanggupan yang diucapkan atau ditulis. Hal yang
demikian itu adalah perikatan atau suatu perhubungan hukum antara dua orang atau
dua pihak. Pihak yang satu berhak menuntut suatu hal dari pihak yang lain, dan pihak
yang lain berkewajiban untuk memenuhi tuntutan itu. Sifat perjanjian seperti itu
adalah para pihak saling berjanji (exchange of promises).
Hubungan antara perikatan dan perjanjian adalah bahwa perjanjian itu
perikatan. Perjanjian adalah perikatan. Dalam perjanjian tidak boleh ada pihak yang
dipaksa oleh satu pihak untuk membuat perjanjian, disamping perjanjian itu juga
tidak boleh dibuat karena paksaan.
Sedangkan syarat kedua adalah kecakapan untuk melakukan perbuatan
hukum, atau asas cakap melakukan perbuatan hukum. Dalam hal ini yang
dimaksudkan dengan kecakapan adalah bahwa setiap orang yang hendak
mengikatkan diri ke dalam perjanjian itu adalah orang yang sudah dewasa dan sehat
pikirannya dan tidak berada di bawah pengampuan.
Sementara itu syarat ketiga adalah suatu hal tertentu. Sesuatu yang
diperjanjikan dalam suatu perjanjian haruslah suatu hal atau barang yang sudah cukup
jelas atau sudah tertentu. Misalnya saja, bahwa bagi pihak Pekerja, ia harus
melakukan pekerjaan yang bukan merupakan suatu pekerjaan utama (core business)
dari perusahaan si Pemberi Kerja. Lebih jauh, sudah ditentukan pula berapa harga
yang harus dibayar oleh si Pemberi Kerja atas upah yang harus diterima oleh si
Pekerja.
29
Sedangkan syarat yang keempat adalah; adanya sebab yang halal. Suatu
perjanjian yang tidak memakai suatu sebab atau kausa yang halal, atau dibuat dengan
sebab yang palsu atau terlarang, tidak mempunyai kekuatan hukum. Misalnya
perjanjian jual beli narkoba atau jual beli senjata gelap.35 Dalam penelitian, Penulis
menemukan, apabila keempat syarat dalam perjanjian pada umumnya sebagaimana
telah Penulis kemukakan di atas itu diperbandingkan dengan pengertian kerja, maka
sebetulnya tidak ada perbedaan yang mendasar; baik syarat dalam perjanjian pada
umumnya maupun syarat dalam Perjanjian Kerja. UU Ketenagakerjaan memuat
pernyataan bahwa Perjanjian Kerja dibuat atas dasar kesepakatan kedua belah pihak,
kemampuan atau kecakapan melakukan perbuatan hukum, adanya pekerjaan yang
diperjanjikan, dan pekerjaan yang diperjanjikan tidak bertentangan dengan ketertiban
umum, kesusilaan, dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.36
2.3. Perikatan yang Timbul Karena Undang-Undang dan Perbuatan Manusia
Perikatan yang timbul karena undang-undang dan perbuatan manusia terdiri
dalam tiga hal yaitu Perwakilan Sukarela (Zaakwarneming), Pembayaran yang Tidak
Terutang
(onverschulddigde
betaling),
dan
Perbuatan
Melawan
Hukum
(onrechtmatige daad).
35
Pasal 1335 KUHPerdata.
36
Lihat, Pasal 52 UU Ketenagakerjaan.
30
2.3.1. Perwakilan Sukarela (Zaakwarneming)
Perwakilan sukarela adalah suatu perbuatan dimana seseorang secara
sukarela menyediakan dirinya dengan maksud mengurus kepentingan orang lain
dengan sepengetahuan maupun tanpa sepengetahuan dari pihak yang diurus
kepentingannya.
Perwakilan
sukarela
dapat
terjadi
biasanya
apabila
yang
diurus
kepentingannya itu tidak di tempat, sakit atau keadaan apapun dimana ia tidak dapat
melakukan sendiri kepentingannya.
Berdasarkan Pasal 1354 KUHPerdata jelas bahwa perwakilan sukarela
sebagai suatu perbuatan atau perikatan dapat terjadi tanpa sepengetahuan orang yang
diwakilinya, tetapi pada umumnya terjadi dengan sepengetahuannya. Syarat
perwakilan sukarela adalah, kepentingan yang diurus adalah kepentingan orang lain;
seorang wakil sukarela harus mengurus kepentingan orang yang diwakilinya secara
sukarela. Maksudnya adalah bahwa ia berbuat atas inisiatif sendiri bukan berdasarkan
kewajiban yang ditimbulkan oleh undang-undang atau persetujuan. Seorang wakil
sukarela harus mengetahui dan menghendaki dalam mengurus kepentingan orang
lain, serta harus terdapat keadaan yang sedemikian rupa yang membenarkan
inisiatifnya untuk bertindak sebagai wakil sukarela.
Perwakilan sukarela meliputi perbuatan nyata dan perbuatan hukum.
Sepanjang mengenai perbuatan nyata, perwakilan sukarela bagi kepentingan orang
yang tidak cakap atau tidak wenang jelas masih mungkin. Sedangkan jika mengenai
perbutan hukum hal itu masih mungkin, sepanjang perbuatan hukum tersebut
31
menurut sifatnya menurut ketentuan undang-undang tidak dilarang. Karena perikatan
itu adalah undang-undang, maka hak dan kewajiban pihak-pihak juga diatur oleh
undang-undang.
2.3.2. Pembayaran yang Tidak Terutang (onverschulddigde betaling)
Seseorang
kembali
apa
yang
yang
membayar
telah
tanpa
dibayarkan.
adanya
Dan
utang,
yang
berhak
menerima
menuntut
tanpa
hak
berkewajiban untuk mengembalikan. Hal ini sejalan dengan apa yang didikte oleh
hukum kepada Pasal 1359 KUHPerdata bahwa setiap pembayaran yang ditujukan
untuk melunasi suatu hutang tetapi ternyata tidak ada hutang, pembayaran
yang telah dilakukan itu dapat dituntut kembali. Pembayaran yang dilakukan itu
bukanlah bersifat sukarela namun karena ada kewajiban yang harus dipenuhi yaitu
utang yang harus dibayarkan secara sukarela.
Dalam perikatan pembayaran tanpa utang, tuntutan kembali atas pembayaran
yang telah dilakukan itu disebut conditio indebiti. Tuntutan semacam ini dapat
dilakukan badan-badan Pemerintah, misalnya pembayaran “pajak” yang kemudian
ternyata tidak ada pajak sebaliknya pemungutan liar, maka pihak yang telah
membayar bisa meminta kembali pembayaran tersebut melalui hakim.
2.3.3. Perbuatan Melawan Hukum (onrechtmatige daad)
Menurut ketentuan Pasal 1365 KUHPerdata: ”setiap perbuatan melawan
hukum, yang oleh karenanya menimbulkan kerugian pada orang lain, mewajibkan
32
orang yang karena kesalahannya menyebabkan kerugian itu mengganti kerugian”.
Pasal tersebut jelas mengandung tuntutan hukum untuk menghukum unsur-unsur
perbuatan melawan hukum. Perbuatan tersebut harus tidak boleh melawan hukum;
harus tidak ada kesalahan; harus tidak ada kerugian yang ditimbulkan dan adanya
hubungan kausal antara perbuatan dan kerugian yang dapat dihukum.
Perbuatan melawan hukum yang ditujukan terhadap diri pribadi orang
lain dapat menimbulkan kerugian fisik atau pun kerugian nama baik (martabat).
Perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh organ badan hukum,
pertanggungjawabnya diatur oleh hukum pada Pasal 1365 KUHPerdata. Perbuatan
melawan hukum yang dilakukan oleh seorang wakil badan hukum yang mempunyai
hubungan kerja dengan badan hukum dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan
Pasal 1367 KUHPerdata. Untuk perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh
organ yang mempunyai hubungan kerja dengan badan hukum pertanggungjawabnya
dapat dipilih antara Pasal 1365 KUHPerdata dan Pasal 1367 KUHPerdata.
2.4. Perjanjian Keagenan37
Keagenan memainkan peranan penting di dalam transaksi-transaksi komersial,
khususnya dalam perusahaan modern, yang menurut hukum, dianggap memiliki
pribadi dan dapat mengadakan transaksi atas namanya sendiri. Bahkan dengan
individu sekalipun, seringkali dianggap lebih mudah bila bertransaksi melalui pihak
perantara. Dengan demikian, banyak transaksi komersial sehari-hari yang dilakukan
37
Lihat Catatan Kaki No. 26 dalam Bab I Skripsi ini.
33
melalui pihak perantara yang dalam hal ini bertindak dalam lingkup kewenangan
yang diberikan kepadanya baik secara tegas maupun tersirat namun tersurat. Pihak
yang bertindak atas nama pihak lainnya disebut agen dan akibat hukum dari tindakan
yang dilakukan oleh agen adalah pihak untuk siapa ia bertindak – yaitu prinsipal –
akan terikat oleh tindakannya tersebut dan dapat menimbulkan kewajiban hukum
kepada pihak ketiga yang berurusan dengan agennya. Dengan demikian, keagenan
dapat memperluas pihak yang harus melakukan perikatan.
Terhadap klasifikasi peraturan keagenan dalam Hukum yaitu, keagenan
sebagai bentuk perjanjian khusus dan keagenan sebagai lembaga pedagang perantara
selain komisioner dan makelar. Keagenan sebagai perjanjian khusus berarti bentuk
khusus dari perjanjian pemberian kuasa. Sebagai bentuk perjanjian khusus, maka
keagenan merupakan perjanjian bernama selain perjanjian khusus bernama lainnya
yang merupakan tuntutan hukum kepada KUHPerdata. Dengan demikian ketentuanketentuan umum yang hanya merekam kembali dalam KUHPerdata dapat
diberlakukan terhadap keagenan.
Agency dalam hukum adalah suatu Hubungan Hukum atau perikatan dimana
satu pihak yaitu agen bertindak atas nama pihak lain, yaitu prinsipal dan pihak itu
tunduk pada pengawasan prinsipal. Sehingga hubungan antara agen dengan prinsipal
adalah fiduciary relationship. Prinsipal mengijinkan agen bertindak atas nama
prinsipal. Agen berada dibawah pengawasan prinsipal.38
38
Suharmoko, Hukum Perjanjian, Teori dan Analisa kasus, (Jakarta: Pranada Media,2004), hlm. 41.
34
Antara agency dengan pemberian kuasa terdapat persamaaan. Terjandinya,
yaitu secara tegas adalah suatu perjajian atau secara diam-diam. Keagenan terdiri dari
yang umum (general) dan yang khusus (special). Keagenan diam-diam berarti
menjalankan kuasa yang telah diberikan atau tidak ada bantahan atau keberatan
terhadap suatu penyerahan kuasa.39
Adapun bentuk khusus dari perjanjian pemberian kuasa adalah sebagai
berikut: agen tunduk pada pengawasan prinsipalnya. Agen melakukan tugasnya
dengan diberi upah atau komisi. Sedangkan dalam pemberian kuasa, penerima kuasa
tidak selalu diberi upah walaupun dapat juga dilakukan dengan upah. Tanggung
jawab agen terbatas dari apa yang diberikan oleh prinsipalnya yang dituangkan dalam
perjanjian, termasuk pemberian hak substitusi. Dalam pemberian kuasa, dapat
dilakuakn hak substitusi dan tanggung jawabnya tergantung dari ada tidaknya hak
itu.40 Kekhususan pada keagenan tersebut, tidak menghilangkan prinsip dasar dari
perjanjian perwakilan ini yaitu hubungan saling berjanji antara kedua belah pihak
yang didasari dengan kesepakatan dan kepercayaan satu sama lain.
2.5. Perjanjian Kerja
Hakikat Perjanjian Kerja dapat ditelusuri dengan melihat definisi Perjanjian
Kerja sebagaimana diatur di dalam Undang-Undang No. 13 tahun 2003. Menurut UU
39
Pasal 1793 Ayat (2) KUHPerdata.
40
Subekti,S.H., Aneka Perjanjian, Cet. VIII, (Bandung: Alumni, 1985), hlm. 159.
35
Ketenagakerjaan itu, Perjanjian Kerja adalah perjanjian antara Pekerja/Buruh dengan
Pengusaha atau Pemberi Kerja yang memuat syarat-syarat kerja, hak dan kewajiban
para pihak.
Ada juga kepustakaan yang menyatakan bahwa Perjanjian Kerja adalah
perjanjian antara seorang Pekerja dengan seorang Pemberi Kerja. Perjanjian mana
ditandai oleh ciri-ciri: adanya suatu upah atau gaji tertentu yang diperjanjikan dan
adanya suatu hubungan diperatas (dienturhouding) yaitu suatu hubungan berdasarkan
mana pihak yang satu (Pemberi Kerja) berhak memberikan perintah-perintah yang
harus ditaati oleh yang lain.41
Perjanjian Kerja dibuat secara tertulis ataupun lisan. Pada prinsipnya
Perjanjian Kerja dibuat secara tertulis. Namun, memerhatikan kondisi masyarakat
yang beragam, dimungkinkan Perjanjian Kerja dibuat secara lisan tetapi sebetulnya di
mata yuris adalah tertulis. Perjanjian Kerja yang dibuat secara tertulis dilaksanakan
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Antara lain perjanjian
yang menjadi fokus kajian dan penulisan ini, yaitu Perjanjian Kerja Waktu Tertentu
dan Penyerahan Sebagian Pekerjaan kepada Perusahaan Lain.
Sedangkan definisi Perjanjian Kerja yang ditentukan oleh Penulis dalam
penelitian yaitu dalam UU Ketenagakerjaan adalah perjanjian antara Pekerja/Buruh
dengan Pengusaha atau Pemberi Kerja yang memuat syarat-syarat kerja, hak, dan
kewajiban para pihak.
41
Abdussalam, Loc. Cit., hlm 46.
36
Sedangkan menurut Pasal 1603 huruf (e) KUHPerdata, Perjanjian Kerja
berakhir demi hukum jika habis waktunya yang ditetapkan dalam perjanjian atau
peraturan-peraturan atau dalam peraturan perundang-undangan atau jika semuanya itu
tidak ada, menurut kebiasaan yang berlaku.
Dari pengertian Perjanjian Kerja tersebut, perjanjian kerja dibedakan menjadi
tiga, yaitu: Perjanjian Kerja waktu tertentu dimana sistem berlakunya ditentukan
menurut perjanjian, misalnya 1 tahun. Perjanjian ini pada umumnya42 diberlakukan
pada karyawan kontrak, dengan jangka waktu sepanjang kontrak tersebut. Perjanjian
Kerja Waktu Tertentu dimana sistem berlakunya ditentukan menurut kebiasaan.
Kepustakaan pada umumnya memberi ilustrasi, misalnya untuk proyek pembuatan
jalan dan pemetik teh, untuk kedua pekerjaan ini perjanjian dianggap berakhir, ketika
pekerjaan dinyatakan selesai. Perjanjian Kerja Waktu Tertentu dimana berlakunya
ditentukan menurut Undang-Undang. Misalnya untuk perusahaan asing, maka jangka
waktu perjanjian kerja sesuai dengan ketentuan tentang penempatan tenaga asing.
2.6. Perjanjian Pemborongan Pekerjaan
Pemborongan pekerjaan diatur dalam KUHPerdata Buku III Bab ke 6 (Pasal
1601 (b) dan Pasal 1604 sampai Pasal 1617).
Perjanjian pemborongan pekerjaan di mana pihak yang satu (pihak
pemborong) mengikatkan diri untuk menyelenggarakan suatu pekerjaan bagi pihak
42
Pemahaman umum, bukan pemahaman Ilmu Hukum. Mengenai pemahaman Ilmu Hukum, dapat
dilihat dalam Catatan Kaki Bab I No. 20.
37
yang lain (pihak yang memborongkan) dengan menerima suatu harga yang
ditentukan.
Pemborongan kerja yang dalam bahasa Belanda disebut "aanneming van
werk" ialah persetujuan/perjanjian (overeenkomst), dengan mana pihak yang satu
yaitu pemborong (aannemer) mengikatkan diri untuk menyelenggarakan suatu
pekerjaan bagi pihak yang lain yang memborongkan (aanbesteder) dengan menerima
suatu harga (prijs) yang ditentukan.
Dalam kontrak pemborongan itu para pihak (yang memborongkan dan
pemborong) dapat menjanjikan: bahwa pemborong hanya akan melakukan pekerjaan
(arbeid) saja, atau bahwa pemborong selain dari melakukan pekerjaan akan
menyediakan bahannya (stof) juga.
Hal tersebut membawa akibat dalam pertanggungjawaban, yaitu pertama, jika
hasil pekerjaan yang bersangkutan musnah (vergaat), maka pemborong hanya
bertanggung jawab untuk/ karena kesalahannya saja. Sedangkan hal yang kedua, jika
hasil pekerjaan yang bersangkutan dengan cara bagaimanapun juga musnah sebelum
pekerjaan itu diserahkan kepada yang memborongkan, maka pemborong bertanggung
jawab atas segala kerugian, kecuali bila pihak yang memborongkan telah lalai untuk
menerima pekerjaan itu.
Pihak pemborong bertanggung jawab terhadap perbuatan dari para pekerja
yang ia suruh untuk melakukan pekerjaan borongan yang bersangkutan. Namun
demikian pertanggungjawaban itu dilakukan karena perikatan si Pemborong dengan
38
pihak yang memborongkan pekerjaan kepadanya dan juga karena tuntutan hukum
dalam undang-undang.
Borongan pekerjaan berhenti dengan meninggalnya pemborong yang
bersangkutan, tanpa mengurangi kewajiban pihak yang memborongkan untuk
membayar kepada ahli waris pemborong harga pekerjaan yang telah dikerjakan dan
atau harga bahan yang telah disediakan oleh pemborong, dengan mana pihak yang
memborongkan memperoleh suatu manfaat.
Hubungan kerja adalah hubungan antara Pekerja dan Pemberi Kerja setelah
adanya perjanjian kerja, yaitu suatu perjanjian dimana pihak pertama, si Pekerja
mengikatkan dirinya pada pihak lain, si Pemberi Kerja untuk bekerja dengan
mendapat upah dan Pemberi Kerja menyatakan kesanggupan untuk mempekerjakan si
Pekerja dengan membayar upah.
Hubungan antara perusahaan pemakai jasa dengan perusahaan penyedia jasa
adalah terjadinya hubungan kerja dimana adanya suatu ikatan dengan timbulnya suatu
perjanjian.
Hal ini diatur dalam Pasal 66 Ayat (2) Undang-Undang Ketenagakerjaan No.
13 tahun 2003. Meskipun Pekerja tersebut bekerja pada perusahaan pemakai jasa atau
perusahaan yang memborongkan atau menyerahkan sebagian pekerjaan untuk
dikerjakan oleh si penerima pekerjaan, status dari Pekerja tersebut tetap sebagai
Pekerja perusahaan yang memborongkan pekerjaan atau perusahaan penyedia jasa.
Hak-hak yang wajib diterima oleh Pekerja tersebut juga harus dipenuhi oleh
perusahaan penyedia pekerjaan.
39
Hubungan yang tercipta antara perusahaan pemakai jasa dengan Pekerja diatur
dalam Pasal 66 Ayat 4 Undang-Undang No. 13 tahun 2003 yang berbunyi “dalam hal
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1), Ayat (2) huruf (a), huruf (b), dan
huruf (d) serta Ayat (3) tidak terpenuhi, maka demi hukum status hubungan kerja
antara Pekerja/Buruh dan perusahaan penyedia jasa Pekerja/Buruh beralih menjadi
hubungan kerja antara Pekerja/Buruh dan perusahaan Pemberi pekerjaan”.
Sedangkan hubungan antara perusahaan pemakai jasa dengan Pekerja/Buruh
yang berasal dari perusahaan penyedia jasa atau perusahaan pemborong muncul
Pekerja harus tunduk pada peraturan yang ada dalam perusahaan tersebut sepanjang
pekerjaan itu ada, dan apabila terjadi kesalahan yang merugikan perusahaan pemakai
jasa atau perusahaan yang memborongkan pekerjaan tersebut, perusahaan tersebut
dapat menegur langsung pada Pekerja tersebut, begitu juga sebaliknya kepada
perusahaan pemakai jasa yang harus tunduk pada perjanjian yang telah disepakati
bersama.
2.7. Arti Penting Tinjauan Pustaka
Uraian yang Penulis ambil dari beberapa kepustakaan atau Tinjauan
Kepustakaan sebagaimana telah dikemukakan di atas tidak sama sekali menemukan
Pustaka yang membicarakan apa yang disebut sebagai hubungan Kerja Berdasarkan
Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) dan Penyerahan Sebagian Pekerjaan
Kepada Perusahaan Lain sebagai suatu kontrak atau suatu perjanjian yang berdiri
sendiri. Yang ada adalah hanya penjelasan kepustakaan tentang perjanjian pada
40
umumnya, Perjanjian Kerja, Perjanjian Kerja untuk Waktu Tertentu, Perjanjian
Penyerahan Sebagian Pekerjaan Kepada Perusahaan Lain (outsourcing), Perjanjian
Keagenan, Perjanjian Pemborongan Pekerjaan yang masing-masing merupakan jenisjenis perjanjian yang berdiri sendiri-sendiri.
Namun demikian, uraian tentang apa yang terdapat di dalam kepustakaan
mengenai hal-hal sebagaimana telah Penulis kemukakan di depan mempunyai arti
penting, dalam hal, mengarahkan suatu analisa yang pada akhirnya menghasilkan
suatu kesimpulan yang sesuai dengan thesis sentence Penulis, yaitu bahwa Hubungan
Kerja Berdasarkan Perjanjian Kerja untuk Waktu Tertentu (PKWT) dan Penyerahan
Sebagian Pekerjaan Kepada Perusahaan Lain adalah suatu kontrak sui generis
(hybrid) yang berdiri sendiri.
Hal itu akan Penulis kemukakan dalam Bab III, setelah menguraikan hasil
penelitian, baik terhadap peraturan perundang-undangan yang telah dikemukakan
dalam satuan amatan (Bab I)43 maupun Putusan Pengadilan.
43
Satuan amatan Penelitian yang kemudian dirujuk dalam penulisan karya tulis ini diuraikan oleh
Penulis dalam Bab I, Sub Judul Metode Penelitian, 1.5.
41
Download