1 EVALUASI KESESUAIAN LAHAN UNTUK

advertisement
EVALUASI KESESUAIAN LAHAN
UNTUK TANAMAN CENGKEH (Eugenia aromatica L.)
DI KECAMATAN BARENG KABUPATEN JOMBANG
Yuli Purwati
Jurusan Geografi Fakultas Ilmu Pengetahuan Sosial
Universitas Negeri Malang
Abstrak: Cengkeh (Eugenia aromatica L.) merupakan tanaman yang memiliki
peluang pasar yang besar di dalam negeri maupun di luar negeri. Cengkeh pada
awalnya hanya digunakan sebagai bahan obat tradisional, namun kini dimanfaatkan
sebagai bahan campuran rokok kretek serta di bidang industri farmasi juga digunakan
sebagai bahan pembuatan minyak atsiri. Kebutuhan akan cengkeh yang terus
meningkat menyebabkan keharusan penyediaan cengkeh yang besar, salah satunya
dengan perluasan lahan untuk cengkeh. Kabupaten Jombang memiliki potensi untuk
pengembangan cengkeh. Kebutuhan cengkeh di Kabupaten Jombang dipasok oleh
satu kecamatan saja, yakni Wonosalam sehingga produksi cengkehnya rendah.
Kecamatan Bareng memiliki kondisi wilayah yang cocok untuk perkebunan.
Kecamatan Bareng berada pada ketinggian ±500 m di atas permukaan laut dan curah
hujan berkisar 1.700 mm/tahun dengan suhu berkisar antara 23°C-30°C di mana
dengan kondisi tersebut memungkinkan dikembangkan budidaya cengkeh. Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik lahan dan kesesuaian lahan di
Kecamatan Bareng untuk tanaman cengkeh. Penelitian ini merupakan penelitian
survei dengan analisis matching yaitu pembandingan karakteristik lahan daerah
penelitian dengan syarat tumbuh tanaman cengkeh. Hasil penelitian menunjukkan
kesesuaian lahan untuk pengembangan cengkeh di Kecamatan Bareng tergolong
sesuai marginal (S3) pada semua lahan dengan faktor pembatas ketersediaan air
(S3wa), retensi hara (S3nr), dan bahaya erosi (S3eh).
PENDAHULUAN
Cengkeh (Eugenia aromatica L.) merupakan
tanaman yang cocok ditanam baik di dataran
rendah dekat pantai maupun hidup di
pegunungan pada ketinggian 500-1100 meter
dpl dan di tanah yang berdrainase baik.
Tanaman cengkeh memerlukan intensitas
cahaya yang kuat. Tanah yang sesuai untuk
tanaman cengkeh adalah tanah yang gembur,
humus sedang-tinggi, permeabilitas sedang,
kemasaman tanah (pH) berkisar antara 5,0-6,5,
suhu udara 25°C-28°C, curah hujan yang
1.500-2500 mm/tahun.
Dalam perkembangannya, kebutuhan
komoditas cengkeh untuk bahan baku industri
terutama industri rokok dan obat-obatan terus
meningkat sehingga pengadaannya secara
teratur, berkualitas baik, cukup, dan
berkesinambungan makin dirasakan sebagai
suatu keharusan. Dirjen Perkebunan (2011)
menyatakan kebutuhan cengkeh masih
1
mengalami kekurangan sebesar 40 ribu sampai
50 ribu ton per tahunnya untuk produksi rokok
kretek. Artinya, produksi cengkeh tidak
mencukupi kebutuhan pasar. Kebutuhan
cengkeh yang kian meningkat, mendorong
petani untuk mengembangkan budidaya
tanaman cengkeh. Dalam hubungannya
dengan peningkatan pengadaan cengkeh,
beberapa daerah telah mengembangkan usaha
penanaman cengkeh.
Kabupaten Jombang merupakan satu
dari beberapa kabupaten di Jawa Timur yang
memiliki potensi pengembangan cengkeh.
Lahan di Kabupaten Jombang yang digunakan
untuk tanaman cengkeh seluas 2.602 Ha
dengan produksi 918,98 ton. Sampai saat ini,
produksi cengkeh hanya dihasilkan dari
Kecamatan Wonosalam saja, padahal untuk
kebutuhan cengkeh yang kian meningkat
memerlukan pasokan cengkeh yang
berkualitas dan dalam skala besar. Salah satu
usaha untuk menanganinya adalah dengan cara
memperluas lahan untuk penanaman cengkeh.
Kecamatan Bareng memiliki kondisi
wilayah yang cocok untuk perkebunan karena
termasuk tanah pegunungan. Kecamatan
Bareng berada pada ketinggian ±500 m di atas
permukaan laut dan curah hujan berkisar 1.700
mm/tahun dengan suhu berkisar antara 23°C30°C di mana dengan kondisi tersebut bisa
dikembangkan cengkeh.
Kecamatan Bareng belum banyak
mengembangkan cengkeh sebagai komoditi
perkebunan. Dibandingkan dengan Kecamatan
Wonosalam, Kecamatan Bareng sebagian
besar penggunaan lahan untuk jati dan buahbuahan, sedangkan Kecamatan Wonosalam
untuk perkebunan dan kawasan penyangga.
Kecamatan Bareng merupakan salah satu dari
tiga kecamatan yang pengembangannya
diarahkan pada kegiatan agroindustri dengan
pengelolaan hasil pertanian dan komoditi
tanaman perkebunan seperti mete, kelapa,
cengkeh, kapuk, kenanga, temulawak, lada,
kencur, jahe, serai, kunyit, lengkuas, pandan,
kakao, tebu, tembakau virginia, tembakau
jawa, dan kopi.
Pengembangan budidaya cengkeh ini
dimaksudkan untuk meningkatkan produksi
cengkeh. Guna mengetahui potensi lahan di
Kecamatan Bareng sesuai atau tidak untuk
pengembangan budidaya cengkeh, maka
diperlukan suatu pekerjaan yang kita kenal
dengan evaluasi lahan. Evaluasi lahan adalah
proses dalam menduga kelas kesesuaian lahan
dan potensi lahan untuk penggunaan tertentu
baik pertanian maupun nonpertanian (FAO
1976 dalam Djaenudin 2003). Evaluasi lahan
bertujuan untuk menduga dan memberikan
informasi seberapa besar suatu lahan dapat
mendukung kegiatan produksi sebelum
digunakan untuk tujuan tertentu sehingga
potensi lahan dapat dimaksimalkan. Dengan
adanya kegiatan evaluasi lahan tersebut maka
dapat diketahui tingkat kesesuaian lahan serta
kendala-kendalanya.
METODE PENELITIAN
Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian survei
yaitu penelitian yang dilakukan secara
sistematis dengan metode-metode tertentu
yakni pengamatan di lapangan, pengukuran di
lapangan, dan analisis laboratorium terhadap
suatu daerah yang ditunjang dari informasi lain
yang relevan. Pendekatan yang digunakan
dalam penelitian survei ini adalah pendekatan
evaluatif.
Penelitian ini dilakukan di Kecamatan
Bareng Kabupaten Jombang yang mencakup
kebun, tegalan/ladang, dan semak belukar
dengan luas total 6.275 Ha. Objek penelitian
ditentukan dari hasil overlay tiga peta yaitu
peta jenis tanah, kemiringan lereng, dan
penggunaan lahan yang menghasilkan satuan
unit lahan yang kemudian ditentukan
sampelnya dengan purposive sampling.
Purposive sampling yaitu sampel dipilih
berdasarkan pertimbangan-pertimbangan
tertentu sesuai dengan tujuan penelitian.
2
Penelitian survei ini didukung oleh
data primer dan data sekunder. Data primer
diperoleh dari pengamatan, pengukuran
langsung di lapangan, dan uji laboratorium
serta wawancara. Data sekunder diperoleh dari
Dinas atau Badan terkait. Analisis data yang
digunakan adalah pembandingan (matching)
antara karakteristik lahan dengan syarat
tumbuh tanaman cengkeh yang telah
ditentukan oleh Djaenudin (2003).
klorida), H2SO4 1N (asam sulfat), NaOH
(natrium hidroksida) untuk mengukur
kandungan KTK dan Kejenuhan Basa.
Peta-peta: Peta Administrasi Kecamatan
Bareng (skala 1: 250.000), Peta Jenis Tanah
Kecamatan Bareng (skala 1: 250.000), Peta
Kemiringan Lereng Kecamatan Bareng (skala
1: 250.000), Peta Penggunaan Lahan
Kecamatan Bareng (skala 1: 250.000).
Subyek dan Objek Penelitian
Pengumpulan Data
1) Subjek
Data dalam penelitian ini adalah data primer
(tingkat bahaya erosi, bahan kasar, kedalaman
efektif tanah, drainase, banjir, batuan di
permukaan, batuan tersingkap, kemiringan
lereng, tekstur tanah, KTK liat, kejenuhan
basa, pH, dan C-organik) dan sekunder (data
curah hujan, temperatur, kelembaban udara,
peta administrasi, peta jenis tanah, peta
kemiringan lereng, peta penggunaan lahan,
dan data-data lain yang dibutuhkan dalam
penelitian ini). Teknik Pengumpulan Data
meliputi observasi, dokumentasi, pengukuran
di lapangan, uji laboratorium, dan wawancara.
Subjek dalam penelitian ini adalah
kebun (1.311,71 Ha), tegalan (689,20 Ha), dan
semak belukar (18,86 Ha) di Kecamatan
Bareng Kabupaten Jombang.
2) Objek
Objek dalam penelitian ini ditentukan
dari hasil tumpang susun (overlay) tiga peta
yakni, peta jenis tanah, peta kemiringan
lereng, dan peta penggunaan lahan dengan
purposive sampling. Dalam penelitian ini,
diambil lima unit sampel dari 29 unit lahan
yang ada. Pengambilan lima sampel tersebut
didasarkan pada ketinggian tempat, suhu
udara, penggunaan lahan terutama kebun dan
tegalan, dan kemiringan lereng titik sampel.
Analisis Data
Analisis data yang digunakan dalam penelitian
ini adalah menggunakan metode matching atau
pembandingan antara karakteristik lahan
dengan syarat tumbuh tanaman cengkeh yang
akan menghasilkan kelas kesesuaian lahan
beserta faktor pembatasnya.
Alat dan Bahan
Alat: Software ESRI ArcGIS 9.3 untuk
kegiatan digitasi dan overlay peta, GPS
(Global Positioning System) untuk mengetahui
posisi atau letak koordinat daerah tempat
penelitian, alat tulis, plastik, bor tanah dan
meteran, abney level, kamera, alat-alat
laboratorium untuk uji tanah: gelas ukur erlen
meyer 500 ml, botol kocok, ph meter,
timbangan tekstur, pipet, conductivity meter.
Bahan: K2CrO7 1N (kalium kromat), H2SO4
(asam sulfat), H3PO4 (asam fosfat), H2O2
(hydrogen peroksida) untuk mengukur
kandungan C-organik, KCl 1N dan H2O untuk
mengukur kandungan pH, NH4O (amoniak
hidroksida) pH 7, NH4Cl 1N (ammonium
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Satuan lahan diperoleh dari hasil
tumpang susun tiga peta yakni peta jenis tanah,
peta kemiringan lereng, dan peta penggunaan
lahan. Hasil overlay menunjukkan bahwa
terdapat 29 unit lahan di Kecamatan Bareng.
Unit lahan dapat dilihat pada Tabel 5.1
berikut:
3
Tabel 5.1 Unit Lahan Kecamatan Bareng
No Unit lahan
Jenis tanah
Kelerengan (%)
A1k
Alluvial Kelabu
0-2
1
A1p
Alluvial Kelabu
0-2
2
A1s
Alluvial Kelabu
0-2
3
A2k
Alluvial Kelabu
2-8
4
A2l
Alluvial Kelabu
2-8
5
A2p
Alluvial Kelabu
2-8
6
A2s
Alluvial Kelabu
2-8
7
A2t
Alluvial Kelabu
2-8
8
A3b
Alluvial Kelabu
8-25
9
A3k
Alluvial Kelabu
8-25
10
A3l
Alluvial Kelabu
8-25
11
A3p
Alluvial Kelabu
8-25
12
A3s
Alluvial Kelabu
8-25
13
A3t
Alluvial Kelabu
8-25
14
A4b
Alluvial Kelabu
25-40
15
A4k
Alluvial Kelabu
25-40
16
A4l
Alluvial Kelabu
25-40
17
A4p
Alluvial Kelabu
25-40
18
A4s
Alluvial Kelabu
25-40
19
A4t
Alluvial Kelabu
25-40
20
B1k
Ass Mediteran Coklat dan Grumosol Kelabu
0-2
21
B1p
Ass Mediteran Coklat dan Grumosol Kelabu
0-2
22
B1s
Ass Mediteran Coklat dan Grumosol Kelabu
0-2
23
B1t
Ass Mediteran Coklat dan Grumosol Kelabu
0-2
24
B2k
Ass Mediteran Coklat dan Grumosol Kelabu
2-8
25
B2p
Ass Mediteran Coklat dan Grumosol Kelabu
2-8
26
B2s
Ass Mediteran Coklat dan Grumosol Kelabu
2-8
27
B2t
Ass Mediteran Coklat dan Grumosol Kelabu
2-8
28
B3s
Ass Mediteran Coklat dan Grumosol Kelabu
8-25
29
Sumber: Peta Unit lahan Kecamatan Bareng Kabupaten Jombang
Satuan unit lahan yang diambil meliputi A3b,
A3k, A3l, A4k, dan A4l. Pengambilan sampel
ini didasarkan pada ketinggian tempat, suhu
udara, penggunaan lahan terutama kebun dan
Penggunaan lahan
Kebun
Pemukiman
Sawah irigasi
Kebun
Tanah Ladang
Pemukiman
Sawah irigasi
Sawah tadah hujan
Semak belukar
Kebun
Tanah Ladang
Pemukiman
Sawah irigasi
Sawah tadah hujan
Semak belukar
Kebun
Tanah Ladang
Pemukiman
Sawah irigasi
Sawah tadah hujan
Kebun
Pemukiman
Sawah irigasi
Sawah tadah hujan
Kebun
Pemukiman
Sawah irigasi
Sawah tadah hujan
Sawah irigasi
tegalan, dan kemiringan lereng. Sampel ayng
diambil dapat dilihat pada Tabel 5.2.
Tabel 5.2 Sampel Unit Lahan Kecamatan Bareng
No
1
2
3
4
5
Unit lahan
A3b
A3k
A3l
A4k
A4l
Jenis tanah
Alluvial Kelabu
Alluvial Kelabu
Alluvial Kelabu
Alluvial Kelabu
Alluvial Kelabu
Kelerengan (%)
8-25
8-25
8-25
25-40
25-40
Karakteristik Lahan di Kecamatan Bareng
Karakteristik satuan lahan di Kecamatan
Bareng diuraikan sebagai berikut:
4
Penggunaan lahan
Semak belukar
Kebun
Tanah Ladang
Kebun
Tanah Ladang
Tabel 5.2 Karakteristik Lahan Daerah Penelitian
No
1
2
3
4
5
6
Persyaratan penggunaan/
karakteristik lahan
Temperatur (tc)
Temperatur rerata
Ketersediaan Air (wa)
Curah hujan (mm)
Lamanya masa kering (bulan)
Kelembaban Udara
Ketersediaan Oksigen (oa)
Drainase
Keadaan Perakaran (rc)
Tekstur
Bahan Kasar
Kedalaman Efektif Tanah
Retensi Hara (nr)
KTK liat (cmol)
Kejenuhan Basa (%)
pH H2O
C-Organik (%)
Bahaya Erosi (eh)
Lereng (%)
Bahaya Erosi
Bahaya Banjir (fh)
Banjir
8
Penyiapan Lahan (lp)
Batuan di Permukaan (%)
Batuan Tersingkap (%)
Kelas Kesesuaian Lahan
Subkelas Kesesuaian Lahan
Sumber: Analisis Data 2012
Kelas Kesesuaian Lahan
A3k
A3l
A4k
A4l
27
25,1
26,7
25
25,9
1.785,4
3,8
80,05
1.785,4
3,8
80,05
1.785,4
3,8
80,05
1.785,4
3,8
80,05
1.785,4
3,8
80,05
Agak Baik
Agak Baik
Agak Baik
Halus
0,876
75
Halus
0
110
Agak halus
0,00008
75
Halus
0
105
Halus
0
90
58,70
39
6,7
0,35
30,71
23
6,6
0,07
28,64
38
6,6
0,19
26,25
30
6,2
0,27
25,82
31
6,3
0,59
30
Sedang
15
Sangat
Ringan
24
Sedang
16
Ringan
16
Ringan
F0
F0
F0
F0
F0
0
4
S3
S3wa, S3eh,
3
0
S3
S3wa, S3nr
1
0
S3
S3wa, S3eh
0
0
S3
S3wa, S3nr
0
2
S3
S3wa, S3nr
A3b
Agak Baik
Agak Baik
7
Evaluasi Kesesuaian Lahan Untuk Tanaman Cengkeh di Kecamatan Bareng Kabupaten
Jombang
Berdasarkan data karakteristik lahan di atas maka untuk lebih jelasnya akan dilakukan
pengklasifikasian tingkat kesesuaian lahan yakni termasuk kelas sangat sesuai (S1), cukup sesuai
(S2), sesuai marginal (S3) atau tidak sesuai (N). Metode yang digunakan adalah matching atau
pembandingan nilai kelas kesesuaian lahan didasarkan pada nilai terendah sebagai faktor
pembatas evaluasi kesesuaian lahan. Data mengenai hasil evaluasi kesesuaian masing-masing
lahan bisa dilihat pada Tabel 5.3.
5
Tabel 5.3 Hasil Evaluasi Kesesuaian Lahan Daerah Penelitian
No
1
2
3
4
5
6
7
8
Persyaratan penggunaan/
karakteristik lahan
Temperatur (tc)
Temperatur rerata
Ketersediaan Air (wa)
Curah hujan (mm)
Lamanya masa kering (bulan)
Kelembaban Udara
Ketersediaan Oksigen (oa)
Drainase
Keadaan Perakaran (rc)
Tekstur
Bahan Kasar
Kedalaman Efektif Tanah
Retensi Hara (nr)
KTK liat (cmol)
Kejenuhan Basa (%)
pH H2O
C-Organik (%)
Bahaya Erosi (eh)
Lereng (%)
Bahaya Erosi
Bahaya Banjir (fh)
Banjir
Penyiapan Lahan (lp)
Batuan di Permukaan (%)
Batuan Tersingkap (%)
Kelas Kesesuaian Lahan
Subkelas Kesesuaian Lahan
A3b
Kelas Kesesuaian Lahan
A3k
A3l
A4k
A4l
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S3
S2
S1
S3
S2
S1
S3
S2
S1
S3
S2
S1
S3
S2
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S2
S1
S1
S1
S1
S1
S2
S1
S1
S1
S1
S1
S2
S1
S2
S1
S2
S1
S3
S1
S2
S1
S2
S1
S2
S1
S3
S1
S2
S1
S3
S1
S2
S3
S2
S2
S1
S3
S2
S2
S2
S2
S2
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S3
S3wa,
S3eh,
S1
S1
S3
S3wa,
S3nr
S1
S1
S3
S3wa,
S3eh
S1
S1
S3
S3wa,
S3nr
S1
S1
S3
S3wa,
S3nr
Sumber: Analisis Data 2012
Berdasarkan Tabel 5.3, maka diperoleh
hasil sebagai berikut: Karakteristik lahan di
Kecamatan Bareng adalah memiliki
temperatur rata-rata 25,9°C, curah hujan
1.785,4 mm, lamanya masa kering 3,8 bulan,
kelembaban udara 80,05%, drainase agak baik,
tekstur tanah halus (liat) dan agak halus
(lempung berliat), bahan kasar <15%,
kedalaman efektif tanah 75-110 cm, KTK liat
>16, kejenuhan basa 23-39%, pH H2O 6,2-6,7,
C-organik <0,8%, lereng 15-30%, bahaya erosi
sangat ringan sampai sedang, tidak ada banjir,
batuan di permukaan <5%, dan batuan
tersingkap <5%.
Kesesuaian lahan untuk pengembangan
cengkeh di Kecamatan Bareng tergolong
sesuai marginal (S3) pada semua lahan,
perbedaannya terletak pada faktor pembatas
masing-masing lahan.
a. Satuan lahan I (A3b) dengan faktor
pembatas ketersediaan air (S3wa) berupa
lamanya masa kering dan faktor pembatas
bahaya erosi (S3eh) berupa lereng dan
bahaya erosi.
b. Satuan lahan II (A3k) dengan faktor
pembatas ketersediaan air (S3wa) berupa
lamanya masa kering dan faktor pembatas
retensi hara (S3nr) berupa kejenuhan basa.
c. Satuan lahan III (A3l) dengan faktor
pembatas ketersediaan air (S3wa) berupa
lamanya masa kering dan faktor pembatas
bahaya erosi (S3eh) berupa lereng.
6
d. Satuan lahan IV (A4k) dengan faktor
pembatas ketersediaan air (S3wa) berupa
lamanya masa kering dan faktor pembatas
retensi hara (S3nr) berupa kejenuhan basa.
e. Satuan lahan V (A4l) dengan faktor
pembatas ketersediaan air (S3wa) berupa
lamanya masa kering dan faktor pembatas
retensi hara (S3nr) berupa kejenuhan basa.
dan A3l memiliki faktor pembatas bahaya
erosi. Kemiringan lereng pada satuan lahan
A3b dan A3l termasuk kelas sesuai marginal
(S3) artinya butuh penanganan dan modal yang
besar untuk menjadikannya sesuai untuk
pengembangan tanaman cengkeh.
Menurut Djaenudin (2003), tanaman
cengkeh untuk bisa tumbuh dengan baik pada
kemiringan lereng <8%. Kondisi di lapangan
pada semua satuan lahan kemiringan lereng
>8% bahkan ada yang berada pada kemiringan
lereng 30%. Pada satuan lahan A3b dan A3l
dengan besar kemiringan lereng 30% dan 24%
memiliki bahaya erosi sedang, sedangkan pada
satuan lahan A3k, A4k, dan A4l dengan besar
kemiringan lereng berturut-turut 15%, 16%,
dan 16% bahaya erosi tergolong sangat ringan
sampai ringan. Hal ini disebabkan karena
kemiringan lereng satuan lahan A3b dan A3l
lebih besar daripada kemiringan lereng satuan
lahan A4k, dan A4l. Faktor lain adalah
penutup lahan, pada satuan lahan A3b tidak
terdapat banyak jenis rerumputan sementara
pada satuan lahan A3k, A4k, dan A4l terdapat
jenis rerumputan dan variasi tanaman yang
dapat mengurangi pukulan air hujan dan
memperlambat aliran permukaan sehingga
bahaya erosi menjadi berkurang.
Pada satuan lahan A3b dan A3l
panjang lereng lebih besar dibandingkan
satuan lahan A3k, A4k, dan A4l. Panjang
lereng satuan lahan A3b dan A3l adalah
masing-masing 10 meter sedangkan panjang
lereng A3k , A4k, dan A4l masing-masing
sebesar 5 meter. Jadi, dapat disimpulkan
bahwa pada satuan lahan A3b dan A3l dengan
kemiringan 30% dan 24% bahaya erosi
sedang, sedangkan pada satuan lahan A3k,
A4k, dan A4l bahaya erosi sangat ringan,
ringan, dan ringan. Sebagaimana yang
dijelaskan oleh Suripin (2000) bahwa secara
umum bahaya erosi akan meningkat dengan
meningkatnya kemiringan dan panjang lereng.
Sifat-sifat tanah yang mempengaruhi
erosi antara lain adalah tekstur, struktur, dan
bahan organik, sifat lapisan bawah, dan tingkat
Faktor pembatas yang mempengaruhi
kelas kesesuaian lahan di atas diuraikan
sebagai berikut:
Ketersediaan air
Muljana (2002) menjelaskan bahwa
tanaman cengkeh membutuhkan curah hujan
yang merata untuk setiap tahunnya. Hal ini
disebabkan karena pohon cengkeh tidak kuat
terhadap musim kemarau yang panjang, untuk
bisa tumbuh dan berkembang tanaman
cengkeh memerlukan curah hujan atau air
antara 60-80 mm tiap bulannya pada musim
kering.
Permasalahan yang dihadapi semua
lahan adalah lamanya masa kering yang terlalu
panjang yakni 3,8 bulan. Kecamatan Bareng
memiliki curah hujan 1.785,4 mm/tahun
dengan bulan basah 6,2 bulan. Artinya
Ketersediaan air untuk tanaman cengkeh di
Kecamatan Bareng tergolong rendah, bahkan
pada bulan Juni-Oktober besarnya curah hujan
tiap bulan <60 mm.
Sebagaimana dijelaskan oleh Indranada
(1986) bahwa produktivitas tanaman akan
tumbuh normal dan memberikan hasil yang
baik apabila ketersediaan air cukup.
Penyediaan air untuk tanaman harus sesuai
dengan jumlah air yang dibutuhkan tanaman.
Apabila kekurangan air, maka tanaman akan
mengalami kekeringan sedangkan apabila
kadar air terlalu berlebihan mengakibatkan
hilangnya unsur hara yang terlarut.
Faktor Pembatas Bahaya Erosi (eh)
Bahaya erosi merupakan faktor
pembatas berat karena merupakan suatu
bentuk alami dari topografi. Pada lahan A3b
7
kesuburan tanah. Tanah bertekstur kasar
memiliki kapasitas infiltrasi kecil, sehingga
curah hujan yang cukup rendah akan
menimbulkan limpasan permukaan
(Rahim:2000:33). Pada tanah bertekstur liat
atau halus yakni pada semua satuan lahan
memiliki daya rekat yang kuat sehingga tahan
terhadap erosi. Tekstur tanah yang paling peka
terhadap erosi adalah debu dan pasir sangat
halus. Sebagaimana diungkapkan oleh Rahim
(2000) bahwa jenis tanah pada daerah
penelitian yaitu Alluvial Kelabu tidak peka
terhadap erosi.
organik. Bahan organik memiliki peranan
kimia dalam menyediakan N, P, dan S untuk
tanaman.
Tanaman cengkeh membutuhkan
kandungan bahan C-organik >0,8%, namun
hasil uji laboratorium menunjukkan
kandungan C-organik yang rendah. Hal ini
terkait dengan daerah penelitian yang berjenis
tanah Alluvial di mana tanah ini mengalami
pencucian selama bertahun-tahun yang dapat
mengangkut unsur hara pada tanah. Untuk
mengatasi hal ini diperlukan tindakan
penambahan bahan organik seperti pemakaian
mulsa (sisa-sisa tanaman), pupuk hijau, pupuk
kandang, dan kompos (Indranada, 1986:82).
Faktor Pembatas Retensi Hara (nr)
Pada satuan lahan A3k, A4k, dan A4l
masing-masing memiliki tingkat kesesuaian
lahan sesuai marginal (S3) pada faktor
pembatas retensi hara dengan karakteristik
kejenuhan basa. Menurut Djaenudin (2003)
kejenuhan basa yang sesuai untuk
pengembangan tanaman cengkeh adalah
>50%. Kondisi di lapangan, kejenuhan basa
pada satuan lahan A3k, A4k, dan A4l masingmasing sebesar 23%, 30%, dan 31%. Nilai
tersebut menandakan bahwa kejenuhan basa
pada masing-masing lahan tergolong rendah.
Kejenuhan basa merupakan salah satu
indikator kesuburan kimia tanah. Tanah yang
subur adalah tanah dengan kejenuhan basa
tinggi sebab belum terjadi pencucian tanah
yang serius. Sebaliknya, tanah dengan
kejenuhan basa rendah menandakan tanah
tersebut asam sehingga menghambat
penyerapan unsur hara oleh akar tanaman
(Indranada, 1986).
Selain karakteristik lahan kejenuhan
basa, semua satuan lahan di daerah penelitian
memiliki kelas kesesuaian lahan cukup sesuai
(S2) pada C-organik. Bahan organik tanah
mengandung semua hara termasuk humus
yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan
tanaman. Peran bahan organik terhadap
ketersediaan hara dalam tanah tidak terlepas
dengan proses mineralisasi yang merupakan
tahap akhir dari proses perombakan bahan
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, Sitanala. 2006. Konservasi Tanah dan
Air. Bogor: IPB Press.
Djaenuddin, Marwan H., H. Subagyo,
Mulyani, Anny, Suharta. 2003. Kriteria
Kesesuaian Lahan untuk Komoditas
Pertanian. Jakarta: Pusat Penelitian Tanah
dan Agroklimat, Balai Penelitian dan
Pengembangan Pertanian.
FAO. 1976. A Framework for Land
Evaluation. Soil Resources Management
and Conservation Service Land and Water
Development Division. FAO Soil Bulletin
No.32. FAO-UNO, Rome.
Foth, Henry D. 1995. Dasar-dasar Ilmu
Tanah. Terjemahan Oleh Endang
Dwi Purbayanti, Dwi Retno Lukiwati,
Rahayuning Trimulatsih,
Editor Sri Andayani B. Hudoyo. Gadjah
Mada University Press, Edisi
ketujuh,781pp.
Hadiwijaya, Toyib. 1983. Cengkeh, Data dan
Petunjuk ke Arah Swasembada. Jakarta:
Gunung Agung.
Hardjowigeno, Sarwono. 1993. Klasifikasi
Tanah dan Pedogenesis. Jakarta: CV
Akademika Pressindo.
8
Indranada, Henry K. 1986. Pengelolaan
Kesuburan Tanah. Jakarta: PT Bina
Aksara.
Muljana, Wahyu. 2002. Bercocok Tanam
Cengkeh. Semarang: Aneka Ilmu.
Rahim, S. E. 2000. Pengendalian Erosi Tanah
Dalam Rangka Pelestarian Lingkungan
Hidup. Jakarta: Bumi Aksara.
Rayes, M. Luthfi. 2007. Metode Inventarisasi
Sumber Daya Lahan. Yogyakarta:
Penerbit Andi.
Ritung S, Wahyunto, Agus F, Hidayat H.
2007. Panduan Evaluasi Kesesuaian
Lahan dengan Contoh Peta Arahan
Penggunaan Lahan Kabupaten Aceh
Barat. Balai Penelitian Tanah dan World
Agroforestry Centre (ICRAF), Bogor,
Indonesia.
Sitorus, Santun. 1985. Evaluasi Sumber Daya
Lahan. Bandung: Penerbit Tarsito.
Wiratama, Erland Altis. 2010. Cengkeh
(Syzygium aromaticum), (online),
(http://management01.wordpress.com/201
0/10/29/mengenal-tanaman-cengkeh/),
diakses 05 Maret 2012.
9
Download