komunikasi politik pemerintah susilo bambang

advertisement
KOMUNIKASI POLITIK PEMERINTAH
SUSILO BAMBANG YUDHOYONO (SBY)
(Studi Kasus Masalah Bahan Bakar Minyak Tahun 2012)
Tukina
Marketing Communication Department, Faculty of Economic and Communication, BINUS University
Jln. K.H. Syahdan No. 9, Palmerah, Jakarta Barat 11480
[email protected]
ABSTRACT
Price of international oil and gas has fluctuatively increased from time to time. The reality encourages
the government of Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) to raise (or adjust) the price of fuel in the country. Viewed
from the history, since the era of President Soekarno, Soeharto, Megawati, and Gusdur fuel price increase
policy has always been controversial, inviting pros and cons, although the actual adjustment is reasonable and
necessary. Government policy of SBY to raise fuel prices and ultimately failed is interesting to learn. This study
focused on the political communication of SBY government. The SBY government's efforts to raise fuel prices got
tough challenge from several people, including members of the Parliament. The pros and cons protracted and
eventually the SBY government failed to raise the fuel prices. Methodology of this article used descriptivequalitative research. Data obtained through field observations and literature. Data were analyzed descriptively
based on research purposes. Role of the writer in a descriptive qualitative study was the main thing. Results
showed that the failure of SBY political communication was caused by the failure in convincing Indonesian
people. SBY government needed to clarify and reinforce the authority to raise fuel prices belong to the
Government. Any information (messages) should be communicated directly, clearly, and firmly through the
process. Messages from the source to the target (society) needs to be maintained properly. If not, the messages
can be misused. Each message can be added, subtracted (either partially or completely) which will lead to
misunderstanding, biased, confusing, and protracting situasions.
Keywords: government, political process, political communication
ABSTRAK
Harga bahan bakar minyak dunia mengalami kenaikan secara fluktuaktif dari waktu ke waktu.
Kenyataan tersebut mendorong pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk menaikkan (atau
menyesuaikan) harga bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri. Dilihat dari sejarah, dari zaman Presiden
Soekarno, Soeharto, dan Megawati Sukarnoputri, serta Gusdur kebijakan menaikkan harga BBM selalu menjadi
hal yang kontroversial, mengundang pro dan Kontra, walaupun sebenarnya penyesuaian tersebut wajar dan
diperlukan. Kegagalan kebijakan pemerintah SBY dalam menaikkan harga BBM menarik untuk diteliti.
Penelitian ini difokuskan pada komunikasi politik pemerintah SBY. Upaya pemerintah SBY untuk menaikkan
harga BBM mendapat tantangan keras dari beberapa kalangan termasuk anggota DPR. Sikap pro dan kontra
tersebut berlarut-larut dan akhirnya pemerintah SBY gagal menaikkan harga BBM. Metode penelitian yang
digunakan adalah kualitatif-deskriptif. Data diperoleh melalui observasi lapangan dan studi pustaka. Data
dianalisis secara deskriptif berdasakan tujuan. Peranan penulis dalam penelitian kualitatif deskritif menjadi hal
yang utama. Hasil penelitian menunjukkan kegagalan komunikasi politik pemerintah SBY disebabkan kegagalan
dalam meyakinkan rakyat Indonesia. Pemerintah SBY perlu memperjelas dan mempertegas bahwa kewenangan
menaikkan harga BBM merupakan kewenangan pemerintah. Setiap pesan harus dikomunikasikan langsung,
dengan jelas dan tegas melalui proses yang benar. Pesan dari sumber yang disampaikan ke target (masyarakat)
perlu dijaga dengan baik. Jika tidak, dapat disalahgunakan karena setiap pesan bisa ditambah, dikurangi (baik
sebagian atau seluruhnya) yang akan membuat kesalahpahaman, bias, dan membingungkan serta berlarut-larut.
Kata kunci: pemerintah, proses politik, komunikasi politik
894 HUMANIORA Vol.4 No.2 Oktober 2013: 894-902 PENDAHULUAN
Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) beberapa waktu yang lalu menghadapi
masalah yang cukup pelik. Masalah yang cukup berat tersebut berkaitan dengan perkembangan harga
minyak dunia yang bersifat fluktuatif dan perlu disesuaikan dengan Harga Bahan Bakar (BBM) dalam
negeri. Apalagi Pemerintah SBY sudah lama juga belum menyesuaikan harga Bahan Bakar Minyak
tersebut. Berbagai wacana sebelum kenaikan berkembang luas dan ramai menjadi bahan pembicaraan
di tengah-tengah masyarakat termasuk oleh berbagai ahli dari berbagai bidang, seperti perminyakan,
pertambangan, ekonomi dan sosial.
Keinginan Pemerintah SBY sudah mengerucut dan menjadi bulat bahwa BBM perlu
dinaikkan, disesuaikan dengan harga minyak dunia. Bahasa yang dipilih adalah menaikkan, bukan
menyesuaikan. Kedua bahasa antara menyesuaikan dan menaikan juga menjadi perdebatan tersendiri.
Upaya pemerintah untuk menaikan harga BBM mendapat ganjalan yang cukup berat terutama dari
berbagai tokoh mayarakat, LSM, dan sebagian anggota DPR, terlebih dari partai politik. Hal demikian
menjadi makin rumit karena seolah-olah masalah hak pemerintah untuk menaikan BBM dicampuri
oleh urusan politik.
Pemerintah SBY sendiri menekankan bila BBM dinaikkan maka akan ada program
kompensasi untuk membantu atau menolong warga kurang mampu dengan disalurkannya kembali
Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan perluasan Beasiswa. Sebagian kalangan masyarakat ada yang
tidak sepakat dengan cara BLT tersebut sebab dikhawatirkan disalahgunakan dalam pelaksanaannya di
lapangan, disalagunakan untuk kepentingan Politik tertentu apalagi mendekati Pemilu 2014. Ada pula
yang beranggapan kebijakan BLT tersebut sebagai kebijakan yang ‘kurang mendidik’ karena membuat
orang menjadi malas. Hal tersebut juga sudah dijelaskan panjang lebar oleh Pemerintahan SBY, tetapi
penjelasan tersebut kurang bisa diterima masyarakat. Penjelasan tersebut malah justru menimbulkan
sikap pro dan kontra. Pada waktu itu yang mengemuka di publik justru adalah masalah kekuatan
politik antikebijakan pemerintah (oposisi) dan di sisi lain ada kekuatan politik pro pemerintah (sedang
berkuasa). Istilah pro dan kontra (oposisi) sangat familiar, mungkin karena juga dipengaruhi politik
internasional, terutama dengan masalah di Libya waktu itu yaitu kejatuhan pemerintahan Muammar
Gaddafi di Libia.
Perdebatan Politik masalah kenaikan BBM akhirnya meluas antara kekuatan politik
antipemerintah dan kekuatan politik pro pemerintah. Perdebatan sebenarnya dipengaruhi dengan
terpecah belahnya DPR (parlemen) menjadi 2 kekuatan: pro dengan kebijakan pemerintah (pro
pemerintah) dan pro dengan kebijkan pemerintah (antipemerintah). Dari perdebatan tersebut akhirnya
meluas ‘membelah masyarakat’. Padahal perdebatan tersebut bukan pada subtansi permasalahan dan
sebenarnya juga tidak perlu terjadi jika kedewasaan dalam kehidupan politik berjalan dengan baik,
sehingga masing-masing pihak mengetahui hak dan kewenangannya secara tepat. Serta yang sangat
penting diperhatikan, pemerintah perlu melakukan komunikasi politik secara tepat.
Kenaikan BBM jika dipikirkan dengan kepala dingin merupakan sesuatu yang wajar dan tidak
aneh karena harga minyak di Indonesia pasti juga dipengaruhi oleh harga minyak dunia. Jika harga
minyak dunia naik terus dalam kurun waktu tertentu, tidak salah harga BBM dalam negeri juga
disesuaikan. Belajar dari penguasa sebelumnya, zaman Soeharto, Gusdur, dan Megawati Sukarnoputri
kenaikan harga BBM sering dilakukan, terlepas dari pro dan kontra. Pada masa Megawati
Sukarnoputri berkuasa, sekitar tiga kali kenaikan harga BBM terjadi. Upaya Pemerintah SBY untuk
menaikkan harga BBM sangat berat dan berliku serta tidak mudah. Hal itu tentunya juga dialami
presiden-presiden sebelumnya. Oleh karena itu, menjadi sangat menarik untuk mempelajari tentang
cara komunikasi politik pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam masalah kenaikan
harga BBM. Teori yang dipakai adalah teori politik dan komunikasi politik, sebagai berikut.
Komunikasi Politik Pemerintah ….. (Tukina)
895 Politik
Membicarakan Politik berkaitan dengan masalah power (kekuasaan). Ada juga yang
mengerucutkan pembahasan yang berkaitan dengan masalah Policy (kebijakan/kebijaksanaan). Secara
umum Politik berkaitan dengan kekuasaan. Dalam Negara perlu ada orang atau sekelompok orang
yang berkuasa.Pembahasan mengenai politik menjadi sesuatu yang sangat sentral dalam negara, sebab
adanya negara, penguasa, dan para pejabat negara diperoleh dan dibentuk dari aktivitas politik
tersebut. Maka dapat dikatakan adalah benar bahwa tidak ada politik maka tidak ada negara karena
negara sendiri sebenarnya tujuan akhir dari sebuah politik. Sehingga tidaklah mungkin ada negara dan
penguasa jika tidak ada politik. Orang atau sekelompok orang yang berkuasa tersebut sebut elite
politik. Oleh karena itu, berbicara masalah politik sejatinya adalah berbicara masalah kekuasaan,
dalam pengertian cara untuk mendapatkan, memperoleh, dan juga tentunya mempertahankan
kekuasaan. Pada akhirnya politik akan selalu berkaitan dengan kepentingan, yaitu kepentingan untuk
mendapatkan kekuasaan dalam pengertian kedudukan dan posisi tertentu terutama posisi politik dalam
negara.
Kekuasaan
Menurut Budiarjo (200x), kekuasaan adalah orang atau sekelompok orang memengaruhi orang
atau sekelompok orang lain sehingga orang atau kelompok orang tersebut berperilaku sama.
Kekuasaan berbeda dengan orang yang memiliki peran dalam masyarakat. Peran (role) yang dimiliki
tokoh masyarakat dan atau pemerintah sifatnya tidak memaksa dan mutlak. Sedangkan pada konsep
kekuasaan pengaruh seseorang bersifat dapat menjadi mutlak, dalam pengertian orang atau kelompok
orang lain wajib berperilaku sama dengan orang yang sedang berkuasa. Itulah sebabnya kekuasaan
disertai dengan alat pemaksa yang sah. Dalam hal ini, jika dalam negara adalah alat Negara,
kedudukan dan peran alat negara adalah sebagai alat untuk menegakkan kekuasaan negara agar dapat
berjalan dengan kuat. Alat negara tersebut adalah militer (TNI), Polri, dan sebagainya.
Kewenangan
Merupakan sesuatu hak yang ditegaskan atau dinyatakan dalam suatu aturan perundanganundangan. Kewenangan merupakan hak yang melekat pada seseorang yang dinyatakan secara tegas
dalam suatu peraturan. Kewenangan tersebut sangat penting apalagi dalam memabahas politik dan
pemerintahan. Adanya istilah kewenangan adalah dalam rangka agar tugas yang dilakukan oleh yang
memiliki kewenangan tersebut dapat berjalan dengan efektif dan efisien. Hal demikian didasari karena
tidak semua orang memiliki kemampuan, pemahaman, pengetahuan, dan pengertian mengenai suatu
bidang tugas secara memadai. Orang yang baik atau bahkan sangat baik mengetahui, memahami, dan
mampu memberi solusi dengan baik dalam suatu bidang tertentu itulah yang oleh peraturan ditegaskan
untuk diberi kewenangan.
Partai Politik
Partai politik merupakan sekelompok orang yang berhimpun atau berorganisasi dalam satu
tujuan dan visi politik yang sama. Partai politik merupakan bagian kelompok tertentu yang beraktivitas
politik disatukan atas dasar tujuan (visi) politik yang sama. Tujuan dan visi politik tersebut dapat juga
dalam istilah dewasa ini disebut sebagai platform politik. Ikatan dan pengikatan anggota partai politik
ditentukan oleh adanya kesamaan antara seseorang dengan platform politik tersebut. Berkaitan dengan
berjalannya waktu, terkadang anggota partai politik bisa menyeberang atau pindah partai politik jika
tidak sejalan lagi dengan partai politik sebelumnya. Partai politik juga terbangun karena kesamaan
ideologi. Persamaan ideologi yang dibangun lebih memungkinkan seseorang terikat dengan politik
dengan sangat kuat bahkan tidak mustahil dan biasa dapat sampai masalah hidup dan mati. Dengan
kata lain, jika keterikatan seseorang dengan partai politik begitu kuat, pembenar tingkah laku dan
aktivitas politiknya adalah bersifat ideologis. Itulah sebabnya setiap pertentangan politik yang bersifat
896 HUMANIORA Vol.4 No.2 Oktober 2013: 894-902 ideologis adalah pertentangan yang keras (bahkan sangat keras), menyangkut hidup dan mati dan
sangat mendasar dari sebuah politik.
Komunikasi Politik
Menurut Pye (Nasution, 1990), hubungan politik dan komunikasi dinilai bersifat intim.
Komunikasi menempati fungsi yang fundamental. Di atas segalanya, menurut Pye, ada pertanyaan
menarik. Bahwa menurutnya, bagaimanapun, pendekatan komunikasi telah membantu memberikan
pandangan yang mendalam dan lebih halus mengenai perilaku politik.
Dalam peristiwa komunikasi politik ada 3 hal mendasar yang perlu dipahami, yaitu: sumber
(source), pesan (Message), dan Penerima (destination). Sumber disebut juga komunikator atau sender
atau pengirim merupakan pihak yang memulai dan atau memprakarsai suatu komunikasi.
Sumber/komunikator/sender dapat berupa orang-peroangan ataupun organisasi yang terdiri dari
beberapa atau banyak orang. Sedangkan pesan (message/content) merupakan suatu
informasi/pengetahuan/ide/maksud hati yang disampaikan melalui proses komunikasi. Penerima yang
disebut sebagai komunikan atau audience (khalayak) merupakan pihak yang dituju dalam proses
komunikasi.
Komunikasi politik dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung dengan penerima.
Komunikasi politik secara tidak langsung bisa disebabkan karena jarak dan waktu atau wujud pesan
seperti visual dan audio. Untuk komunikasi politik tidak langsung diperlukan adanya saluran
(medium/media komunikasi), dan jika menyangkut saluran berupa media elektronik disebut channel.
Media komunikasi sendiri secara umum dapat dikelompokkan menjadi media cetak (print media) dan
media elektronik. Masing-masing media memiliki karakterisktik tersendiri.
Unsur berikutnya dari proses komunikasi adalah umpan balik (feedback), yaitu berupa respons
atau tanggapan pihak penerima terhadap pesan ataupun informasi yang diperoleh yang disampaikan
kepada pihak sumber. Dari umpan balik inilah sumber dapat mengetahui, jika pesan yang disampaikan
diterima (dicerna dengan tepat) dan cara reaksi penerima pesan yang dimaksud.
METODE PENELITIAN
Penelitian mengenai komunikasi politik pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)
(Studi Kasus Kegagalan Pemerintah Menaikkan harga BBM) adalah penelitian kualitatif. Data didapat
dari observasi (pengamatan) dan studi literature. Analisis data yang digunakan adalah analisis
deskriptif. Data yang diperoleh diuraikan untuk menjawab pokok masalah penelitian. Periode
pengamatan adalah sebelum dan sesudah isu BBM tersebut hangat dibicarakan di masyarakat.
Sedangkan maksud dan tujuan penulisan adalah untuk mengetahui dan memahami proses komunikasi
politik yang baik dan untuk mengetahui komunikasi politik pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono
(SBY) dalam masalah BBM
HASIL DAN PEMBAHASAN
Proses Komunikasi Politik
Keberhasilan komunikasi politik tidak terlepas dari proses komunikasi politik tersebut.
Komunikasi tidak dapat dilepaskan dari proses komunikasi politik. Proses komunikasi politik sangat
penting agar dapat menjamin keberhasilan dari sebuah komunikasi. Sebagai suatu proses, maka
Komunikasi Politik Pemerintah ….. (Tukina)
897 berkaitan pula dengan dimensi waktu. Waktu juga merupakan essensi dasar keberhasilan sebuah
komunikasi. Dengan kata lain, komunikasi yang baik tentunya juga perlu mempertimbangkan dimensi
waktu. Keterlambatan, kecepatan, momen serta masa (periode) waktu, merupakan kata-kata dasar dari
berhasil tidaknya komunikasi diadakan termasuk komunikasi politik. Sebagai sebuah proses, dimensi
waktu menjadi melekat dari berhasil tidaknya komunikasi dilakukan.
Proses Komunikasi Politik, melibatkan dua kata utama dari sisi (sudut) komunikasi dan dari
sudut politik. Keberhasilan sebuah komunikasi politik perlu memerhatikan komunikasi dan Politik,
artinya proses komunikasi dan proses politik akan terjadi demi untuk keberhasilan sebuah komunikasi.
Proses komunikasi dan proses politik terbingkai menjadi satu, yaitu Proses Komunikasi Politik. Oleh
karena itu, tidak heran bila keberhasilan berkomunikasi politik juga sangat dipengaruhi oleh proses
politik. Perdebatan bahwa permasalahan Bahan Bakar Minyak (BBM) masa Susilo Bambang
Yudhoyono (SBY) adalah bukan masalah politik perlu dipertimbangkan dari sisi logika bahwa
komunikasi politik adalah berkaitan pula tentunya dengan proses politik. Keberhasilan komunikasi
politik dalam masalah BBM dengan demikian juga perlu pula dikomunikasikan secara politik. Di
sinilah peran pendekatan politik perlu turut disertakan.
Belajar dari presiden Republik Indonesia yang pernah berkuasa sebelumnya (Soekarno,
Soeharto, Habibie, dan Megawati Sukarnoputri) mempertegas kembali bahwa masalah yang
menyangkut kepentingan mendasar publik secara nasional Indonesia akan mendatangkan sikap pro
dan kontra. Permasalahan Bahan Bakar Minyak (BBM) juga merupakan masalah yang mendasar
menyangkut hajat hidup 245 Juta penduduk Indonesia, maka sudah pasti akan mendatangkan pro dan
kontra yang luar biasa. Sebenarnya dalam politik sikap pro dan kontra merupakan sesuatu yang tidak
salah dan sangat wajar. Yang akan menjadi masalah adalah jika sikap pro dan kontra tersebut dibesarbesarkan, dilawan-lawankan, dikorek-korek biar terjadi biang perbedaan yang tajam, jadi bukan
masalah pro dan kontranya itu sendiri.
Untuk membuat sikap yang harmonis sikap pro dan kontra tersebut perlu disikapi dengan
kematangan dan kedewasaan dalam bersikap. Selama tidak ada kedewasaan dan kematangan bersikap,
maka yang terjadi adalah proses komunikasi dan proses politik tidak berjalan dengan baik.
Proses Komunikasi
Dalam komunikasi peranan proses sangat penting. Keberhasilan dalam berkomunikasi
dipengaruhi oleh proses itu sendiri. Artinya, perlu dilihat sumber pesannya dengan keadaan baik.
Sumber perlu baik, dalam pengertian sumber adalah pengirim/sender dapat memiliki sesuatu yang
akan dikomunikasikan dan itu merupakan sesuatu yang baik. Sumber yang tidak ada masalah (tidak
cela) akan menjadikan sumber pesan sebagai pengirim yang layak untuk diproses selanjutnya. Jika
sumber kurang bisa dipercaya bahkan buruk atau sangat buruk, dalam proses selanjutkan
dikhawatirkan terjadi kesalahpahaman dan keselahmengertian yang semakin melebar dan pada
akhirnya mendatangkan kekacauan pada tahap-tahap berikutnya. Validitas, soliditas, dan kepercayaan
pengirim akan menjadi penentu, termasuk tentunya kredibilitas. Jika sampai permasalahan di pengirim
ini tidak ditangani sedangkan proses terus berjalan, yang terjadi adalah semakin memperluas
permasalahan sampai media dan akhirnya pada ujungnya yaitu penerima (masyarakat luas).
Dalam proses komunikasi, pengirim pesan perlu menjaga dan memagari serta membatasi agar
keinginan (maksud hati) yang merupakan hal inti yang akan disampaikan dapat dijaga dan terjaga
dengan baik. Penjagaan ini penting karena banyak pihak–apalagi dalam negara berjumlah penduduk
245 juta ini berkeinginan untuk terlibat. Keinginan terlibat apalagi secara aktif sebenarnya juga bukan
hal yang negatif dan salah, tetapi apa jadinya jika pengirim tidak menjaga dan ditambah dengan
banyak masukan. Akibatnya, informasi menjadi membingungkan, bias, kacau, tidak jelas, dan
membuat pusing banyak orang sehingga masyarakat sendiri yang galau. Informasi dari pengirim
898 HUMANIORA Vol.4 No.2 Oktober 2013: 894-902 akhirnya membingungkan seluruh orang yang mendengar. Hal ini akan sangat berbahaya dan
membuat masyarakat resah (informasi meresahkan masyarakat).
Keterlibatan masyarakat itu sangat perlu, tetapi masyarakat perlu kedewasaan dan kematangan
dalam bersikap. Perlu dipahami bahwa maksud hati (inti pesan) itu sifat otonomi orang yang
bersangkutan karena yang mengetahui hanya orang tersebut dan ada pada pengirim, bukan pada pihak
lain apalagi yang tidak paham dan mengerti akan duduk perkaranya. Pihak lain sebenarnya menjadi
pengawas secara umum. Inti pesan tersebut akan menjadi masalah besar jika menyangkut hal yang
ilmiah, teknis, rumit diterima orang yang belum mengerti dan memahami hal demikian termasuk
duduk perkaranya. Kematangan dan kedewasaan dalam bersikap diperlukan agar komunikasi rawan
bias dapat diminimalisasi.
Proses komunikasi juga perlu memerhatikan masyarakat. Masyarakat memiliki tingkat
pendidikan baik, kurang baik, dan ada sebagian yang tidak mengenyam pendidikan. Istilah terlalu
ilmiah, rumit, detail, dan menggunakan istilah-istilah khusus dalam bidang ekonomi, pertambangan,
moneter, fiskal, dan internasional serta bidang-bidang khusus lainnya memerlukan dukungan
pendidikan yang memadai. Jangan sampai kesalahpahaman, kesalahmengertian semakin lebar
sehingga pada akhirnya masyarakat sendiri yang dirugikan.
Proses Politik
Menurut Kantaprawira (2004), proses politik sangat penting. Proses politik tidak hentihentinya berputar dari masyarakat ke pemerintah dan perlu dilihat sebagai suatu kenyataan (real
politik), seperti halnya pengaruh luar masyarakat terhadap sistem politik. Oleh karena itu,
pembangunan politik merupakan suatu proses menata unsur-unsur kehidupan politik untuk sementara
dan juga seterusnya menuju suatu keadaan yang mantap/stabil (equilibrium) yang dinamis dan
responsif.
Proses politik sebagaimana namanya sebagai kenyataan politik, merupakan proses dalam
rangka memperebutkan, mendapatkan, dan mempertahankan kekuasaan. Hal demikian perlu
dimengerti dan dipahami bahwa untuk mendapatkan, memperoleh, dan mempertahankan kekuasaan
bukanlah hal yang mudah. Di situlah artinya dalam proses politik tersebut akan bergulat dengan
masalah kepentingan politik. Peran utama dari kepentingan politik dimainkan oleh partai politik dan
tentunya juga kelompok penekan seperti LSM dan organisasi kemasyarakatan (ormas).
Dalam Pemerintahan SBY, para pemain politik atau yang dikenal aktivis politik (politisi) di
Senayan terkadang tidak dapat membedakan dan mempertegas posisinya sebagai politisi partai dengan
mewakili rakyat dalam pengertian luas, juga tidak dapat pula membedakan secara jelas waktu mereka
harus bermain politik praktis (low politic) dengan politik tingkat tinggi (high politic). Orang yang
bergerak dan beraktivitas politik perlu memahami dan menempatkan politik secara tepat.
Politik dalam pengertian tingkat rendah idealnya berdampingan sejalan dengan tingkat tinggi.
Peran dan cara menerapkan peran politik praktis menyuarakan partai politik, dan menyuarakan rakyat
tidak dapat dicampuradukkan. Antara keduanya perlu ditempatkan pada porsi dan tempat yang tepat.
Namun sayangnya ada politisi yang selalu mengatakan demi kepentingan rakyat, padahal sejatinya
tidak demikian. Pertanyaan mendasar adalah rakyat yang mana, apakah seluruh rakyat Indonesia
diwakilinya. Pastilah tidak, dan tidak mungkin untuk itu. Jika ada politisi, juga aktivis organisasi yang
bergerak di masyarakat termasuk media cetak dan noncetak (TV) tidak tepat menempatkan dengan
tepat, semua urusan negara akan berlarut-larut, bertele-tele, masalah yang ringan menjadi dibesarbesarkan dan terkadang heboh. Jika hal demikian sampai meluas ke masyarakat, masyarakat akan
mengikuti pola tersebut dalam kehidupan sehari-hari termasuk dalam politik.
Komunikasi Politik Pemerintah ….. (Tukina)
899 Dalam keadaan masyarakat yang mengikuti pola politik tingkat rendah, masyarakat akan
menjadi instabil, kurang harmonis, menuduh-nuduh orang lain serba salah, dan akhirnya akan
mendatangkan keresahan, konflik, kekerasan, dan sikap pro-kontra. Sikap melawan-lawankan sesuatu
kebijakan juga menjadi ujung pangkal dan menjadi masalah tersendiri. Pikiran politik tentang kawan
dan lawan akan semakin lebar dan dibesar-besarkan. Di sisi lain kedewasaan dalam politik dan dalam
bermasyarakat akan semakin tercederai. Masyarakat, yang dalam segala sesuatu selalu dilawanlawankan, merupakan cermin dari masyarakat yang kurang sehat. Sikap demikian mengurangi
kesepahaman (saling memahami), saling mengerti, dapat menerima, dan ikhlas.
Komunikasi Politik Pemerintahan SBY
Komunikasi Politik Pemerintahan SBY berjalan tidak begitu jelas dan tegas. Pertama, source,
dalam hal ini pemerintahan SBY, kurang menjaga maksud hati (keinginan hati) menyangkut hal yang
diinginkan pemerintah. Pemerintah memiliki masalah BBM tetapi keinginan solusi yang ditawarkan
oleh pengirim dibiarkan tersalurkan secara bebas dan ditafsirkan secara bebas di tengah-tengah
masyarakat. Yang menjadi masalah serius adalah informasi yang tadinya jelas karena kurang terjaga
dan tidak dijaga, menjadi informasi yang liar. Bisa jadi hal yang diinginkan pemerintah/pengirim
sendiri tidak sesuai dengan yang diterima di masyarakat. Dengan kata lain, masyarakat Indonesia yang
berjumlah 245 juta menerima informasi yang bisa jadi tidak akurat dan tidak valid karena sudah
ditambah-tambah secara massal.
Kondisi informasi yang diterima di tengah-tengah masyarakat berbeda dengan yang dimaksud
oleh Pemerintah SBY terjadi karena tidak yakinnya atas informasi itu sendiri di samping itu dalam
perjalananya sebuah informasi menghadapi banyak sekali gangguan dan hambatan. Gangguan dan
hambatan di tengah-tengah perjalanan sebuah informasi berkaitan dengan masalah BBM (alasan harga
harus naik) menjadi informasi begitu senjang (lebar jaraknya dan bedanya). Pada kondisi yang lebar
jarak dan beda itu, informasi ditambah, ditafsirkan sendiri, atau dikurangi oleh pihak-pihak yang
punya kepentingan politik maupun nonpolitik semisal kepentingan bisnis akibat lanjutnya semua
rakyat Indonesia menerima informasi berkaitan masalah BBM tidak valid dan membingunkan.
Pemerintah sendiri bisa jadi juga menerima umpan balik yang tidak bisa diduga sebelumnya.
Akibatnya, antara pemerintah SBY dan Rakyat Indonesia terjadi kesalahpahaman dan
kesalahpengertian yang luar biasa. Masalah yang harusnya sederhana menjadi masalah yang sangat
rumit dan membingkan seluruh rakyat Indonesia.
Menyangkut isi pesan (message), masalah BBM sebenarnya kebijakan pemerintah SBY sudah
jelas. Hanya saja, pemerintah SBY kurang berhasil mengomunikasikan ke masyarakat. Hal itu terjadi
karena adanya kelemahan dalam bersikap (kurang tegas). Pesan itu berasal dari pemerintah, bukan dari
politisi atau LSM. Lebih lanjut, pemerintah SBY yang tahu dan berwenang menentukan masalah
naik/tidaknya harga BBM. Yang mengetahui duduk perkaranya adalah pemerintah, yang mempunyai
banyak ahli dari berbagai bidang kredibel. Penjelasan ke masyarakat perlu lebih lugas, jelas, dan
jangan lupa dengan ketegasan (mana yang boleh dan mana yang tidak).
Menyangkut masalah BBM, politisi di Senayan juga perlu menempatkan tempat dan
kedudukannya secara benar dan perlu kedewasaan dalam berpolitik. Seorang politisi yang bersikap
negarawan tidak semestinya ngotot dan pengin menang sendiri tanpa memerhatikan hak, kewajiban,
dan kewenangan pihak lain. Politisi juga tidak seharusnya selalu membuat berita yang kontroversial
dan saling berlawanan (menyebarkan sikap bermusuhan). Seorang politisi dengan high politik
(seorang negarawanan) adalah menciptakan keharmonisan, saling pengertian, saling memahami yang
dilandasi kedewasaan dan kematangan berpikir.
Menyangkut penerima (destination) pesan, dalam masalah BBM penerima pesan merupakan
pihak yang diberi pesan. Tingkat diterima atau tidaknya perlu dibicarakan secara tepat dan jelas. Tepat
dalam pengertian orangnya, dan jelas dalam pengertian urutan/tahap/jalurnya. Penjelasan yang
900 HUMANIORA Vol.4 No.2 Oktober 2013: 894-902 rasional, masuk akal dan logis perlu dikritisi pula, misalnya solusi selanjutnya dari pemerintah SBY.
Sikap selanjutnya dari pemerintah SBY sebenarnya dinanti masyarakat. Masyarakat perlu pula
bersikap kritis, rasional dan mendidik, menghindari sikap ngotot dan menang sendiri, serta melawanlawankan dengan kebijakan pemerintah. Masyarakat perlu berkomunikasi yang baik pula dengan
pemerintah agar masalah dapat diselesaikan dengan tetap memerhatikan negara, pemerintah, dan
tentunya masyarakat. Masyarakat perlu dilibatkan dalam setiap aktivitas bernegara dan pemerintahan
SBY secara benar dan bermartabat.
SIMPULAN
Komunikasi politik merupakan hal yang sangat penting dalam suatu pemerintahan termasuk di
Indonesia. Komunikasi politik yang baik dan diikuti proses politik yang baik akan menjadikan sumber
komunikasi dengan penerima komunikasi sejalan. Sejalan dengan pengertian bahwa pesan yang
disampaikan dalam komunikasi politik diterima oleh sasaran (khalayak) dengan sangat baik. Arus atau
arah komunikasi yang benar adalah dari sumber pesan terlebih dahulu. Sumber pesan harus dengan
jelas dan juga terang disampaikan melalui media (saluran) yang ada dan diterima oleh audiens
(kalayak) dengan baik. Penerimaan pesan tersebut perlu diyakinkan atas informasi agar dapat diterima
dengan baik. Dalam komunikasi seperti itu, posisi sebagai pemberi pesan (sumber) adalah aktif dan
menyalurkan informasi tertentu (ada substansi), sedangkan saluran perlu dijaga agar tidak banyak atau
terlalu banyak gangguan. Dengan kata lain, informasi pesan yang akan disampaikan perlu dijaga
dengan baik (diminimalisasi) gangguan yang kemungkinan akan mengancam. Perlu dipahami dalam
proses komunikasi, pihak penerima pesan adalah lebih pasif karena sifatnya menerima sesuatu.
Dalam proses komunikasi juga perlu disertai dengan pemahaman secara mendalam dan, jika
perlu, detail untuk mengurangi–jika bisa–menghilangkan kesimpangsiuran (kesalahapahaman) berita.
Kesimpangsiuran (kesalahpahaman) pesan berita jika diterima oleh 245 juta penduduk Indonesia akan
menjadikan sesuatu yang sulit dan ‘galau’. Inilah yang ditemui atau dihadapi Pemerintahan SBY
dalam masalah kenaikan BBM. Penerima pesan perlu diyakinkan pula bahwa pemerintah memiliki
kewenangan untuk menaikkan harga BBM, namun pemerintah perlu menjelaskan dengan jelas ke
masyarakat secara benar.
Dalam proses dan komunikasi politik, maka perlu bagi pemerintahan Susilo Bambang
Yudhoyono (SBY) untuk: pertama, memberi pengetahuan, pengertian, dan pemahaman masalah
pemerintah ke publik (masyarakat) secara tepat. Hal tersebut menjadi tantangan yang serius
Pemerintahan SBY; kedua, memberi pengetahuan, pemahaman, dan pengertian ke publik (masyarakat)
akan masalah BBM secara tepat dan benar (tentunya juga masalah yang lain) sangat penting serta
menghindari kebijakan yang dapat menimbulkan saling berlawanan, pro dan kontra; ketiga, sikap
saling berlawanan (sikap bermusuhan) yang ada di tengah-tengah masyarakat perlu diminimalisasi
karena hal demikian, jika terus berkembang, merupakan sikap yang tidak sehat dan jika terjadi pada
Pemerintahan SBY, perlu dicarikan solusi tepat; keempat, perlu ketegasan kebijakan pemerintahan
SBY terhadap masalah BBM dan tentunya masalah yang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Adam, A. (2004). Ideologi Politik Mutakhir, Konsep, Ragam, Kritik, dan Masadepannya.Yogyakarta:
Qalam.
Budiardjo, M. (200x). Dasar-dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Eatwell, R., dan Wright, A. (ed) (2004). Ideologi Politik Kontemporer. Yogyakarta: Jendela.
Komunikasi Politik Pemerintah ….. (Tukina)
901 Hartati, dkk. (2010). Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta: UT.
Kantaprawira, R (2004). Sistem Politik Indonesia, Suatu Model Pengantar. Bandung: Sinar Baru
Algesindo.
Nasution, Z. (1990). Komunikasi Politik Suatu Pengantar. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Sanit, A. (2002). Sistem Politik Indonesia, Kestabilan Peta Kekuatan Politik dan Pembangunan.
Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Suhelmi, A. (2001). Pemikiran Politik Barat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Surbakti, R. (1992). Memahami Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia Widiasarana.
902 HUMANIORA Vol.4 No.2 Oktober 2013: 894-902 
Download