Demokratisasi Relasi Sipil-Militer pada Era Reformasi di Indonesia

advertisement
Edisi Cetak Lepas
Versi Digital
ISSN: 0852-8489
Demokratisasi Relasi Sipil-Militer pada Era Reformasi di Indonesia Penulis:
Koesnadi Kardi
Sumber: MASYARAKAT: Jurnal Sosiologi , Vol. 19, No. 2, Juli 2014: 231-256.
Dipublikasikan oleh: Pusat Kajian Sosiologi, LabSosio FISIP-UI
MASYARAKAT: Jurnal Sosiologi diterbitkan oleh LabSosio, Pusat Kajian
Sosiologi Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
(FISIP) Universitas Indonesia. Jurnal ini menjadi media informasi dan
komunikasi dalam rangka pengembangan sosiologi di Indonesia. Redaksi
MASYARAKAT mengundang para sosiolog, peminat sosiologi dan para
mahasiswa sosiologi untuk berdiskusi dan menulis secara bebas dan kreatif
demi pengembangan sosiologi di Indonesia. Email: [email protected];
[email protected] Website: www.journal.ui.ac.id/jsm
Untuk mengutip artikel ini:
Kardi, Koesnadi. 2014. “Demokratisasi Relasi Sipil-Militer pada Era
Reformasi di Indonesia.” MASYARAKAT: Jurnal Sosiologi , Vol. 19, No. 2,
Juli 2014: 231-256.
SK Dirjen Dikti Akreditasi Jurnal No. 80/DIKTI/Kep/2012
Demokratisasi Relasi Sipil–Militer pada Era
Reformasi di Indonesia
Koesnadi Kardi
UPN “Veteran” Jakarta
Email: [email protected]
Abstrak
Reformasi militer di Indonesia telah menghasilkan beberapa perubahan, baik kultural,
struktural, doktrinal, maupun organisasional. Namun, perubahan-perubahan tersebut
belum mencapai tataran yang fundamental terkait relasi sipil–militer yang demokratis
dan bersandar pada supremasi sipil. Proses reformasi militer di Indonesia menunjukkan
bahwa keberhasilan demokratisasi relasi sipil–militer bergantung pada tatanan kelembagaan militer dalam kaitannya dengan kegigihan, arahan, dan inisiatif institusi sipil.
Merujuk pada teori Peter D. Feaver tentang “agen prinsipal”, studi ini menunjukkan
bahwa kurangnya koherensi dan keterpaduan lembaga sipil mengakibatkan reformasi
militer di bawah kontrol sistem demokrasi di Indonesia masih bermasalah. Supremasi
sipil di Indonesia nampaknya lebih mengandalkan “subordinasi sukarela” dari militer,
dan bukan hasil dari kontrol sipil yang efektif terhadap militer. Kebijakan instruktif
dan dasar hukum lantas menjadi dua hal yang penting untuk menghasilkan subordinasi
penuh militer terhadap masyarakat sipil di dalam sistem demokratis. Argumentasi ini
membantah studi-studi sebelumnya, terutama studi-studi berperspektif politik, yang
cenderung menerima ide bahwa supremasi militer atas sipil dalam politik diperlukan
untuk membangun negara-bangsa yang kuat dan mempertahankan konstitusi. Studi
ini menggunakan metode kualitatif dengan data yang dikumpulkan melalui wawancara
terhadap beberapa tokoh kunci dalam institusi militer dan institusi sipil.
Abstract
Indonesia’s military reform resulted cultural, structural, doctrinal and organizational
changes. But those changes are not fundamental enough to build democratic civil–military relation that relies on civilian supremacy. The process of military reform in Indonesia showed us that the success of democratization of civil–military relation depends on
institutional setup of the military related to civilian institutions’ persistency, guidance,
and initiative. This study used Peter D. Feaver’s theory of “principal-agent” to show
that the lack of civilian institutions’ coherence and resoluteness caused persisting problems to the Indonesia’s military reform under democratic system. Civilian supremacy
in Indonesia appears to be relied on “voluntary subordination” of the military rather
than effective civilian control over the military. Hence, instructive policies and legal
basis become very important to yield a complete subordination of the military to the
civil within democratic system. This argument confronts the existing studies, especially
those with political perspective, that tended to accept the idea that military supremacy
in politics is needed to build a strong nation state and to uphold the constitution. This
study uses qualitative method with data collected by interviewing some key figures in
military and civilian institutions.
Keywords: civil–military relation, democratic control, voluntary subordination, Indonesia
2 32 |
KOESNADI K ARDI
PE N DA H U L UA N
Pertanyaan utama yang dibahas dalam tulisan ini adalah mengapa
setelah sepuluh tahun reformasi berjalan di Indonesia relasi sipil–militer yang demokratis belum juga terwujud? Menurut saya, hal ini
disebabkan oleh dua hal. Pertama, kalangan sipil belum bisa mewujudkan militer yang profesional. Hal ini misalnya terlihat dari minimnya anggaran militer yang disetujui oleh DPR. Keterbatasan anggaran
tersebut menyebabkan alutsista (alat utama sistem senjata) kurang,
latihan kurang, kesejahteraan prajurit pun masih rendah, sehingga
berujung pada kurang profesionalnya militer di Indonesia. Kedua,
kepemimpinan dari kalangan sipil yang dinilai masih lemah.
Fenomena yang terjadi di Indonesia memiliki ciri tersendiri
karena sejarah pembentukan TNI didasarkan pada perjuangan
untuk mengusir penjajah, bukan untuk meningkatkan karir dalam
bidang militer. TNI banyak berjasa dalam penyelenggaraan negara—
sebelumnya di bidang militer, kemudian di dalam politik, dan
selanjutnya di bidang ekonomi, untuk tujuan menyejahterakan bangsa.
Adapun di Amerika Serikat (AS), militer dibentuk oleh kebutuhan
sipil untuk berkarir menjadi perwira militer yang profesional. AS
juga tidak memiliki sejarah sebagai bangsa yang dijajah, sehingga
pembentukan otoritas sipil terhadap militer di sana tidak mengalami
hambatan yang signifikan dibandingkan dengan di Indonesia.
Subordinasi voluntaristik TNI kepada otoritas sipil dalam sepuluh tahun terakhir ini bukanlah konsekuensi dari ruang delegatoris
yang secara sengaja diberikan oleh institusi sipil, melainkan karena
stagnasi prakarsa-prakarsa reformasi militer yang ditawarkan oleh institusi sipil. Stagnasi itu terjadi karena fragmentasi institusi sipil dan
diversifikasi koalisi ad hoc antar-aktor di lingkaran dalam dan lingkaran luar. Konseptualisasi institusi sipil di Indonesia tentang institusi
militer cenderung tidak beranjak dari konseptualisasi modern yang
didasarkan pada kompetensi militer dalam penggunaan instrumen
koersif, melainkan beranjak dari konseptualisasi historis yang kental
mempertahankan sejarah dan kebiasaan selama bernaung di bawah
sistem otoriter Orde Baru. Dalam perspektif teori principal-agents
seperti dikemukakan oleh Feaver (2003:18), pengendalian sipil atas
militer terjadi karena asimetri institusional, bukan asimetri informasi.
Bersama dengan fragmentasi institusi-institusi sipil, asimetri institusional itu menyebabkan TNI dapat memperkokoh kepentingan
M A S YA R A K AT Ju rna l Sosiolog i Vol. 19, No. 2 , Ju li 2014:231-256
DEMOKR ATISASI R ELASI SIPIL-MILITER
| 2 33
institusinya untuk tetap mempertahankan otonomi pada konservativisme doktrin dan strategi militer maupun tradisionalisme postur
pertahanan. Dalam beberapa persoalan tersebut, dinamika pengendalian institusi sipil atas militer merupakan pola agent without principal
seperti diajukan oleh Feaver (2003:55). Secara politik, agent without
principal dan voluntary subordination mengisyaratkan kerawanan, jika
bukan ketidakstabilan, relasi sipil–militer di Indonesia. Secara sosiologis, supremasi sipil atas militer tidak mungkin dilakukan sebelum
konsolidasi institusi-institusi sipil pada tataran ideologis dan kebijakan
menjadi agenda prioritas.
Konsekuensi temuan teoretis pada kebijakan reformasi yang ditujukan untuk memperkuat pengendalian institusi sipil atas militer
adalah bahwa konsolidasi institusi sipil itu harus didorong dengan
mengeluarkan militer dari lingkaran dalam. Wujud institusional dari
keharusan itu adalah penempatan TNI di bawah Kementerian Pertahanan dan pembentukan Kepala Staf Gabungan. Upaya ini, seperti
yang dikemukakan oleh Pion-Berlin sebagai civilianization pada sektor
pertahanan, dilakukan tidak lain dalam kerangka demokratisasi relasi
sipil–militer. Argumentasi ini sekaligus sebagai kritik terhadap studi
sebelumnya, terutama yang didominasi studi berperspektif politik dan
sejarah, yang menempatkan supremasi militer atas sipil dalam politik
sebagai suatu kewajaran (lihat Crouch 1985, 1998). Di samping itu,
studi ini juga untuk menolak adanya keyakinan yang kuat dalam
masyarakat bahwa militer harus berpolitik karena mereka merasakan
kegagalan beberapa pemimpin sipil setelah era kemerdekaan 1945, dan
hanya melalui kekuatan militerlah stabilitas suatu bangsa akan dapat
diwujudkan guna mengatasi kekacauan politik.
M E T O DE PE N E L I T I A N
Studi ini didasarkan pada hasil penelitian yang menggunakan
pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan
adalah wawancara mendalam, observasi, dan survei. Melalui metode
wawancara, subjek penelitian akan menceritakan dan memberikan
pendapat tentang pandangan, pengalaman, serta pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki terkait penelitian yang dilakukan. Wawancara
dilakukan kepada representasi aktor-aktor yang merupakan bagian
dari lingkaran dalam (Kementerian Pertahanan, Markas Besar TNI,
dan DPR RI, terutama Komisi I) dan lingkaran luar (diwakili para
M A S YA R A K AT Ju rna l Sosiolog i Vol. 19, No. 2 , Ju li 2014:231-256
234 |
KOESNADI K ARDI
aktivis LSM, media massa, ormas/parpol, dan akademisi universitas
serta lembaga-lembaga penelitian). Observasi dilakukan dengan mengikuti proses yang ada di kementerian atau satuan yang sedang diteliti.
Sementara itu, survei dilakukan untuk memperoleh data tentang
persepsi terhadap calon pemimpin masa depan TNI yang ada di
SESKO TNI dan mahasiswa Universitas Pertahanan (Unhan) dalam
memahami proses relasi sipil–militer, termasuk hubungan TNI dengan supra dan infra. Total responden penelitian ini adalah 51 orang,
terdiri atas 30 orang di SESKO TNI yang berasal dari tiga angkatan
berpangkat letkol dan kolonel dan 21 orang di Unhan yang berasal
dari kalangan sipil dan militer. Responden dalam metode survei ini
merupakan pemimpin masa depan di militer, sehingga akan mewarnai kebijakan pertahanan dan militer di masa yang akan datang
PE N G E N DA L I A N DE M O K R AT I S ATA S M I L I T E R
Pada prinsipnya pembahasan tentang pengendalian demokratis atas
angkatan bersenjata berkaitan erat dengan siapa yang menjaga penjaga
(who guards the guardians). Ketentuan ini sesuai dengan pemikiran
klasik Romawi dari Juvelai dan Omnia Romae yang mengatakan bahwa demokrasi adalah supremasi sipil, termasuk terhadap komando
angkatan bersenjatanya. Bagaimana sebenarnya pengendalian demokratis dan bagaimana pula dapat dikonseptualisasikan? Kita harus
memahami bahwa pengendalian demokratis (democratic control) merupakan produk yang didasarkan pada sistem pemerintahan, politik,
sejarah, dan kultur suatu bangsa. Oleh sebab itu, kita sadari bahwa
tidak ada satu pun model demokrasi di dunia ini yang dikatakan
paling baik atau paling tepat untuk diterapkan di suatu negara. Ada
beberapa definisi tentang pengendalian demokratis yang perlu dipahami, antara lain:
1. Samuel P. Huntington (1957) menyatakan bahwa kontrol sipil
(civilian control) harus melakukan sesuatu yang berkaitan dengan kekuatan relatif sipil terhadap militer yang merupakan
bentuk pengendalian, baik subjektif maupun objektif sipil.
2. Pemerintah Czech memandang bahwa pengendalian demokratis
merupakan umpan balik dari proses manajemen terhadap militer yang disahkan oleh otoritas konstitusi, termasuk di dalamnya bagaimana mengumpulkan dan mengendalikan informasi
untuk kepentingan operasi militer (Vlachová 2002).
M A S YA R A K AT Ju rna l Sosiolog i Vol. 19, No. 2 , Ju li 2014:231-256
DEMOKR ATISASI R ELASI SIPIL-MILITER
| 2 35
3. Pandangan Stevan Sarvas (1998:2), “Democratic control always
implies civilian control, but civilian control not necesarilly
democratic control.” Misalnya, “the political oversight of the Czech
communist regime over the military forces was civilian control, but
not democratic control”.
4. Chris Donnelly (2006) dari NATO mendefinisikan bahwa
pengendalian demokratis adalah peran pemerintah yang mempunyai kewenangan untuk mengarahkan kegiatan militer dan
juga peran parlemen dalam memberikan pengawasan kepada
militer dan pemerintah.
Dari pemahaman di atas, pendapat Chris Donnelly nampaknya
yang paling mendekati situasi dan kondisi di Indonesia. Namun demikian, pemahaman tersebut masih menyimpan sedikit perbedaan,
terutama berkaitan dengan parlemen yang memberikan peran pengawasan kepada militer. Pengawasan yang dilakukan oleh DPR saat
ini masih sebatas anggaran pertahanan dalam rangka mendukung
kemampuan militer. Adapun untuk permasalahan lain, misalnya yang
berkaitan dengan doktrin dan organisasi militer, sistem pengadaan
alutsista, dan peningkatan kemampuan pertahanan, masih belum
dikuasai oleh DPR. Kemampuan anggota DPR Komisi I terkait permasalahan tersebut masih sangat rendah.
Pada relasi sipil–militer yang otoritarian, yang terjadi adalah tidak
adanya kontrol sipil atas militer sehingga keberadaan pemerintahan
sipil sering kali dilangkahi oleh militer. Kondisi ini sama seperti yang
terjadi di Indonesia pada awal masa kemerdekaan. Peran tentara saat
itu sangatlah besar dan terkadang tidak ada kontrol sipil atas operasi-operasi yang dilakukan. Seperti yang terjadi pada era 1950-an,
Tentara Rakyat (sekarang TNI) sering kali melakukan perlawanan
terhadap agresi asing ataupun gerakan pemberontakan tanpa komando
Presiden (Sutoro 2002). Hal ini kemudian dilanjutkan pada era Orde
Baru, namun dengan model supremasi yang berbeda. Berlakunya doktrin Dwifungsi ABRI telah menjadikan kekuatan militer benar-benar
mendominasi aspek-aspek kehidupan masyarakat Indonesia.
Posisi militer sendiri secara ideal seharusnya berada di bawah kontrol sipil. Secara teoretis, kontrol sipil atas militer sebenarnya sangat
sederhana. Bahwa seluruh keputusan pemerintah termasuk keputusan
mengenai keamanan nasional, tidak bisa ditentukan secara sepihak
oleh militer, melainkan harus didasarkan pada keputusan pejabat sipil
M A S YA R A K AT Ju rna l Sosiolog i Vol. 19, No. 2 , Ju li 2014:231-256
236 |
KOESNADI K ARDI
yang telah dipilih secara demokratis. Keberadaan sipil sebagai pemegang kekuasaan pemerintahan mencakup seluruh aspek kehidupan
bernegara. Seluruh tanggung jawab yang diemban oleh militer berasal
dari keputusan sipil yang telah didelegasikan oleh pemerintah sipil.
Bahkan secara lebih rinci, relasi sipil–militer yang ideal sampai masuk ke dalam ranah keputusan perintah perang, termasuk pemilihan
strategi pertahanan yang akan digunakan, bahkan juga penentuan
waktu serangan militer. Sementara itu, militer telah didelegasikan
untuk melaksanakan operasional militer di lapangan berdasarkan doktrin militer yang dimiliki, strategi militer yang ada, serta pengalaman
dan kompetensi yang secara profesional dimiliki oleh militer. Namun,
pada dasarnya seluruh peraturan yang dibentuk dan digunakan, akan
disesuaikan dengan kebijakan kalangan sipil (Sutoro 2002).
Penjelasan di atas semakin meyakinkan bahwa kekuasaan sipil seharusnya benar-benar dimaksimalkan atas kekuasaan militer. Hal ini
juga berarti meminimalkan kekuasaan militer. Meskipun demikian,
kekuasaan sipil sendiri terbentuk dari elemen-elemen yang berbeda
dan secara otomatis memiliki kepentingan yang berbeda-beda pula.
Wajar jikalau hal ini menimbulkan konflik kepentingan yang berimbas pada adanya dominasi satu elemen sipil atas elemen sipil lainnya.
Huntington (1981) membagi kontrol sipil menjadi tiga pola: kontrol
sipil oleh lembaga pemerintah, kontrol sipil oleh kelas sosial, dan kontrol sipil secara konstitusional.
Campbell (2009) kemudian menjelaskan bahwa keterlibatan militer
dalam hubungannya dengan sipil secara demokratis ditandai oleh
sebuah corporateness. Bentuk nyata yang dapat kita temui dari kata
corporateness ini adalah bahwa militer memiliki otonomi profesional
dan secara organisasional bukan organisasi politik. Namun demikian,
militerlah pihak yang paling memiliki suara dalam keputusan yang
menyangkut keamanan nasional. Selain itu, aspek penting lain yang
juga menandakan corporateness militer adalah adanya otonomi yang
dimiliki militer dari kalangan sipil. Hal ini berarti terbentuknya
sebuah ikatan internal militer ataupun integritas, sehingga kepentingan
personal di dalamnya dapat diminimalkan dengan karir untuk
kepentingan institusi militer.
Pengendalian demokratis atas militer melahirkan sejumlah
instrumen yang dirumuskan melalui proses demokratis. Dengan
sendirinya proses demokratis itu bermuara pada keberadaan institusiinstitusi politik (sipil) yang dapat berubah seiring proses demokrasi,
M A S YA R A K AT Ju rna l Sosiolog i Vol. 19, No. 2 , Ju li 2014:231-256
DEMOKR ATISASI R ELASI SIPIL-MILITER
| 2 37
misalnya pemilihan umum yang melahirkan susunan elit baru.
Sementara itu, institusi militer bukan institusi yang lahir dari proses
demokratis, tetapi lebih karena tuntutan keamanan nasional suatu
negara.
Oleh karena itu, pengendalian politik atas militer menjadi
sangat penting. Tanpa pengendalian itu, transformasi dari rezim
non demokratis menjadi rezim yang lebih demokratis tidak dapat
disertai dengan perubahan di lingkungan militer. Pertanyaan yang
pada mulanya muncul sebagai who guards the guardian pada akhirnya
berubah menjadi how to control the guardian. Lebih dari itu, hal ini
perlu karena perubahan rezim, khususnya akibat konstelasi politik
tertentu, tidak menjamin kelangsungan nilai-nilai demokratis
(Sarvas 1998), misalnya ketika pemerintahan demokratis justru
digantikan oleh pemerintahan yang tidak demokratis. Pertanyaan
“bagaimana mengendalikan para penjaga” memerlukan jawaban
yang lebih konkret, baik terkait ruang lingkup maupun instrumen
yang diperlukan untuk tetap terselenggaranya kendali demokratis.
Instrumen-instrumen tersebut dapat berada pada tataran konstitusional
(termasuk perundang-undangan), institusional, sampai operasional.
Tentu diperlukan berbagai macam faktor pendukung atau prasyarat
untuk dapat menunjang prinsip-prinsip yang telah diutarakan di atas.
Berbagai prasyarat tersebut antara lain adanya kerangka konstitusi
yang benar, parlemen yang berfungsi, pemerintahan sipil yang bisa
mengatur, kekuasaan kehakiman, organisasi militer, masyarakat sipil
yang matang, publik yang terdidik, elit militer dan elit politik yang
profesional, serta pejabat publik yang percaya diri dan memiliki
kompetensi yang cukup (Vlachová 2002:3).
Menurut Pion-Berlin (2003:567), upaya demokratisasi relasi sipil–
militer melalui penyusunan institusi yang menempatkan otoritas sipil
pada kedudukan yang lebih tinggi daripada militer dapat mengacu
pada empat prinsip penting. Prinsip pertama, memperkuat kehadiran
kalangan sipil dalam mengatur persoalan pertahanan negara. Ini
meliputi apa yang disebut oleh Pion-Berlin sebagai civilianization
pada sektor pertahanan dengan mengangkat sejumlah besar kalangan
sipil untuk ditempatkan mulai dari posisi Menteri Pertahanan, staf
pendukungnya, hingga penasihatnya.
Prinsip kedua, memperkuat Kementerian Pertahanan (Kemenhan)
sebagai institusi negara yang merepresentasikan otoritas sipil dalam
urusan pertahanan dan keamanan. Prinsip ini juga mengandaikan
M A S YA R A K AT Ju rna l Sosiolog i Vol. 19, No. 2 , Ju li 2014:231-256
238 |
KOESNADI K ARDI
Kemenhan memegang tanggung jawab dalam mengorganisasikan
kekuatan pertahanan serta menyiapkan tujuan-tujuan pertahanan,
perencanaan, strategi, hingga doktrinnya (Pion-Berlin 2003:567).
Prinsip ketiga, menurunkan otoritas militer secara vertikal. Otoritas militer berada di bawah Presiden dan dipisahkan melalui organisasi pertahanan yang dikendalikan kalangan sipil. Hal ini karena
pemosisian otoritas militer secara langsung berada di bawah kekuasaan tertinggi negara (presiden) sama saja artinya dengan memberikan
akses yang istimewa dan karena itu justru dapat membuat kekuasaan
politiknya semakin besar. Otoritas vertikal militer yang besar juga
dapat memperlemah posisi Kemenhan.
Prinsip keempat dalam upaya demokratisasi relasi sipil–militer menurut Pion-Berlin adalah menjaga tetap terpisahnya kekuasaan militer. Unifikasi dan sentralisasi kekuasaan militer berdasarkan prinsip
ini harus dihindarkan. Alasannya, menurut Pion-Berlin (2003:569)
struktur kekuasaan militer yang terlalu sentralistik dapat meniadakan
adanya kemungkinan perbedaan pandangan di antara staf militer,
sehingga memperkecil pilihan-pilihan pertimbangan bagi Presiden dan
Kemenhan dalam membuat kebijakan pertahanan.
Gambar 1. Model Struktur Pertahanan Terbaik/Ideal
Sumber: Pion-Berlin (2009:572)
M A S YA R A K AT Ju rna l Sosiolog i Vol. 19, No. 2 , Ju li 2014:231-256
DEMOKR ATISASI R ELASI SIPIL-MILITER
| 2 39
Model hubungan antar-aktor yang mengacu pada empat prinsip
di atas dalam struktur pertahanan negara dapat ditunjukkan melalui Gambar 1. Model tersebut merupakan tipe paling ideal dalam
menggambarkan relasi sipil–militer di suatu negara. Otoritas vertikal
bersifat langsung dari Presiden kepada Kemenhan, yang merepresentasikan sipil, dan kemudian kepada masing-masing Kepala Staf Angkatan. Kepala Staf Gabungan hanya dapat memberikan masukan, baik
kepada Kemenhan maupun kepada Kepala Staf Angkatan sehingga
tidak memiliki garis komando secara langsung kepada staf militer.
Dari sini terlihat bahwa institusi Kemenhan secara legal semakin
diperkuat dengan memegang berbagai tanggung jawab urusan pertahanan, mulai dari doktrin, strategi, administrasi, dan fiskal. Di
samping itu, desain ini juga mengandaikan adanya pemisahan antara unit militer dengan kepala negara yang dipilih oleh rakyat serta
mempertahankan adanya pemisahan kekuasaan militer yang secara
langsung berada di bawah garis komando Kemenhan. Beberapa negara di Amerika Latin telah menerapkan model ini, antara lain Chili,
Brasil, Republik Dominika, Uruguay, dan Peru.
Gambar 2. Tipe Struktur Pertahanan Terbaik Kedua
Sumber: Pion-Berlin (2009:577)
M A S YA R A K AT Ju rna l Sosiolog i Vol. 19, No. 2 , Ju li 2014:231-256
240 |
KOESNADI K ARDI
Model relasi sipil–militer berikutnya ditunjukkan melalui Gambar
2. Pada model ini, terdapat institusi unit militer gabungan antara Kemenhan dengan unit-unit militer. Dengan demikian, model semacam
ini mengabaikan prinsip pentingnya melakukan pemisahan kekuasaan unit militer dengan mencegah adanya sentralisasi kekuasaan yang
dipegang oleh Kepala Staf Gabungan. Desain ini, dengan demikian, juga dinilai kurang menggambarkan hubungan yang demokratis
antara sipil dengan militer. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh
Pion-Berlin di Amerika Latin, contoh negara yang menerapkan model
ini antara lain Argentina, El Savador, dan Guatemala.
Gambar 3. Model Struktur Pertahanan Dualisme Komando
Sumber: Pion-Berlin (2009:578)
Model relasi sipil–militer lainnya, sebagaimana juga berlaku di
Indonesia, dapat ditunjukkan melalui Gambar 3. Model ini dinilai
M A S YA R A K AT Ju rna l Sosiolog i Vol. 19, No. 2 , Ju li 2014:231-256
DEMOKR ATISASI R ELASI SIPIL-MILITER
| 2 41
sebagai model yang paling tidak demokratis. Model ini mengandaikan
adanya dualisme komando yang dapat mengendalikan unit militer,
meskipun dengan pembagian kewenangan yang berbeda. Kewenangan
Kemenhan lebih berkaitan dengan urusan-urusan administratif,
sedangkan Kepala Staf Gabungan militer berwenang mengatur unit
militer dalam urusan-urusan operasional. Akibatnya, Kepala Staf
Gabungan berada secara langsung di bawah komando Presiden.
Dengan hubungan semacam itu, organisasi tersebut pada akhirnya
seperti memiliki akses istimewa langsung kepada Presiden sekaligus
memiliki kekuasaan politik yang besar—dua hal yang sejak awal
menjadi pokok perhatian reformasi relasi sipil-militer di Indonesia
pasca Orde Baru. Selain itu, model relasi semacam ini juga pada
akhirnya mengurangi porsi kekuasaan Kemenhan serta mengabaikan
prinsip pembagian kekuasaan dalam unit-unit militer. Berdasarkan
studi yang dilakukan Pion-Berlin, beberapa negara yang menerapkan
model hubungan ini di Amerika Latin adalah Bolivia, Honduras,
Nicaragua, Paraguay, dan Venezuela.
PR I N S I P DA S A R R E L A S I
S I PI L – M I L I T E R Y A N G DE M O K R AT I S
Kompetensi elite militer dan elit politik tetap diperlukan sebagai
prasyarat agar fungsi militer dapat berjalan dengan baik. Sementara
itu para pejabat publik, baik dari kalangan sipil maupun militer, harus
tetap memenuhi kewajiban, berani memikul tanggung jawab, dan
menerima pembatasan-pembatasan yang diberikan.
Ciri khas relasi sipil–militer yang terjadi di negara-negara bekas
jajahan Inggris, ternyata cenderung lebih menonjolkan supremasi sipil;
rakyat lebih memercayai warga sipil untuk memerintah negara dibandingkan dengan militer. Hal ini dapat kita buktikan antara lain di
negara-negara seperti Singapura, India, Afrika Selatan, maupun New
Zealand, sebagai anggota persemakmuran (commonwealth). Hubungan
tersebut juga terlihat dari mekanisme demokratisasi melalui sistem
pemilihan umum yang demokratis daripada melakukan kudeta militer
(Latuconsina 2008).
Hubungan ini tampak lebih harmonis karena sangat terasa bahwa
militer tidak memegang seluruh kendali pemerintahan dan posisinya
ditempatkan bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai institusi
profesional. Ketika kondisi seperti ini dapat diwujudkan, maka relasi
M A S YA R A K AT Ju rna l Sosiolog i Vol. 19, No. 2 , Ju li 2014:231-256
242 |
KOESNADI K ARDI
sipil–militer akan terbukti dapat berjalan dengan harmonis melalui
pembagian tugas yang sesuai dengan kompetensi dan proporsi masing-masing institusi.
Selain Inggris, Amerika Serikat juga memiliki kekhasan dalam
relasi sipil–militernya yang lebih menonjolkan supremasi sipil dengan
menempatkan militer bertanggung jawab hanya dalam urusan pertahanan. Hal ini berakibat pada kedudukan militer yang subordinat
terhadap kekuasaan sipil. Kedudukan ini merupakan penempatan
posisi yang ideal dan sebaiknya menjadi model bagi penataan relasi
sipil–militer yang demokratis di berbagai negara. Dengan demikian,
sejak awal menjadi jelas bahwa memasuki dunia militer bukanlah
untuk menjadi penguasa, karena militer merupakan jalur profesional
untuk mencapai prestasi kepangkatan di dunia militer. Walaupun
demikian, menurut Lauren Kahea Moriarty, Dean of Academics College
of Security Studies, Hawaii, AS, di AS hubungan tersebut baru dapat
terwujud setelah berakhirnya Perang Dingin antara NATO dan AS
dengan Pakta Warsawa (wawancara, 9 Juli 2012).
Berbeda halnya dengan relasi sipil–militer di dunia Arab. Setelah
masa 1970-an peran militer dalam kehidupan bernegara semakin berkurang. Namun demikian, kecenderungan yang ada telah memunculkan rezim otoritarian yang menempatkan relasi sipil–militer di
dunia Arab cenderung masih jauh dari kondisi demokratis. Kondisi
tersebut secara otomatis memangkas demokrasi sebagai mekanisme
menuju kekuasaan yang sah. Fakta ini dapat kita lihat di beberapa
negara Arab, seperti Saudi Arabia, Syria, dan Mesir (Campbell 2009).
Meskipun militer tidak berkuasa secara formal, namun pemerintahannya dipimpin oleh penguasa yang bersifat otoritarian dan cenderung
sangat menghendaki masa kekuasaan yang tiada batas.
Sejak masa Perang Dingin, ideologi politik dunia cenderung
memperbolehkan adanya keterlibatan militer dalam politik yang
berakibat pada dominasi militer dalam kekuasaan di banyak negara di
berbagai belahan dunia. Namun, pasca-Perang Dingin peran militer
secara perlahan mulai menurun dan mulai muncul seruan bahwa
militer harus kembali ke barak. Kecenderungan ini dapat kita lihat
di berbagai negara di Amerika Latin, seperti Brasil, Argentina, dan
Chili (Latuconsina 2008).
Sementara itu, Indonesia sendiri telah mengalami beberapa tahap
evolusi relasi sipil–militer, sejak zaman penjajahan hingga saat ini. Hal
ini dimulai dari perjalanan historis sejak kelahiran TNI di Indonesia,
M A S YA R A K AT Ju rna l Sosiolog i Vol. 19, No. 2 , Ju li 2014:231-256
DEMOKR ATISASI R ELASI SIPIL-MILITER
| 243
di mana para perwira militer bergabung di dalamnya bukan dimotivasi oleh karier kemiliteran, melainkan banyak dilandasi oleh semangat
untuk melawan penjajahan (Crouch 1998). Hal inilah yang menjadi
dasar sulitnya peran TNI lepas dari kepentingan politik karena sejak
kelahirannya, institusi ini telah memegang peranan yang sangat vital dalam memperjuangkan kemerdekaan dan mengisi kemerdekaan
Indonesia.
Kedudukan militer dalam politik semakin diperkuat pada masa
Orde Baru melalui kebijakan Dwifungsi yang menugaskan militer
baik di bidang pertahanan maupun politik dan ekonomi. Hal ini
diyakini sebagai bagian dari upaya mempertahankan stabilitas dan
keamanan negara. Bahkan, secara praktis dapat dirasakan bahwa peran militer telah terasa di hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat
pada saat itu. Militer masuk ke ranah yang bukan tugas pokoknya
sebagai anggota militer, seperti dalam penanganan aset negara, menjadi penguasa di sektor bisnis dan industri, bahkan menjadi pejabat
pemerintahan yang seharusnya ditempati oleh orang sipil.
PE R A N PE N G AWA S A N T E R H A DA P
R E L A S I S I PI L – M I L I T E R
Agency theory yang diuraikan oleh Peter D. Feaver (2003) pada
bukunya, Armed Servants, adalah jawaban dari pertanyaan, apakah
kendali sipil terhadap militer (the civilian control of the military) dapat
mewujudkan Keamanan Nasional di Amerika Serikat? Teori ini ada
setelah terjadinya tragedi 11 September di WTC, Amerika Serikat,
yang berdampak pada peningkatan sistem pengamanan dalam negeri
yang sangat ketat. Teori ini sebenarnya muncul sebagai kelanjutan
dari teori Huntington tentang relasi sipil–militer. Ada tiga aspek penting mengenai relasi sipil–militer menurut Feaver (2003:7):
1.
2.
3.
that there is a meaningful difference between civilian
and military roles;
that the key to civilian control is professionalism;
that the key to professionalism is military autonomy.
Agency Theory, menurut Eisenhardt (1989) menekankan pada hubungan antara principal (pemberi tugas) dengan agent (yang diberi
tugas). Menurut pemikiran positivis tentang agency theory, teori ini
M A S YA R A K AT Ju rna l Sosiolog i Vol. 19, No. 2 , Ju li 2014:231-256
244 |
KOESNADI K ARDI
dapat digunakan dalam hubungan yang bersifat governmental—principal diartikan sebagai atasan, sementara agent merupakan bawahan
yang menerima perintah atasan. Proses ini terjadi ketika terjadi konflik perbedaan tujuan akhir organisasi di antara kedua belah pihak.
Kemudian, menurut pandangan teori ini juga, permasalahan tersebut
dapat diselesaikan melalui mekanisme governmental yang membatasi
agent dalam bersikap sesuai dengan keinginannya. Tentu hal ini dapat
dituangkan salah satunya dalam relasi sipil–militer yang demokratis.
Bukan berarti hubungan atasan–bawahan yang dimaksud layaknya
tuan dan pembantu, melainkan relasi sipil–militer yang bersifat lebih
kooperatif. Hal ini disebabkan karena kemampuan dan kerja militer
bukanlah spesifikasi dari kemampuan seorang sipil. Oleh sebab itu,
walaupun hubungan yang ideal menghendaki sipil berperan sebagai
principal daripada agent, hubungan atasan–bawahan yang terbentuk
harus mencerminkan hubungan profesional yang lebih menekankan
pada kebutuhan dan keberpihakan satu sama lain dalam mengurus
masalah yang lebih besar, yakni masalah negara.
Inti dari agency theory dalam relasi sipil–militer ini adalah hubungan strategis antara principal sipil dan agent militer. Jelasnya, prinsip
dari relasi sipil–militer yang ditinjau dari kerangka agency theory berkaitan erat dengan pertanyaan, bagaimana sipil dapat mengontrol militer dari hari ke hari? Pertanyaan politik tersebut sangatlah mendasar
dan mempunyai dua makna yang saling menguntungkan. Pertama,
hal itu memberikan pada institusi militer suatu kepuasan karena memiliki kebanggaan yang sangat besar sebagai kekuatan pemaksa (coercive power) yang sah. Kedua, sebaliknya, hal tersebut memberikan
pada sipil suatu kematangan berdemokrasi yang menempatkan supremasinya terhadap fungsi militer dan memainkan peran yang sangat
penting dalam pengendalian hubungan tersebut dari hari ke hari.
Patut dicatat bahwa relasi sipil–militer merupakan jantung dari
berjalannya suatu roda demokrasi di dalam sebuah negara. Melalui
agency theory tercakup upaya bagaimana sipil mampu mengatur kekuatan militer dalam melaksanakan tugas kekerasan (managing the
coercive power of the military) (Eisenhardt 1989). Sebagaimana dikemukakan Feaver, agency theory merupakan teori tentang relasi sipil–militer yang mengkhususkan pada upaya memonitor agent militer
dari hari ke hari, terutama dalam kaitannya dengan kehidupan dan
kondisi militer, baik pada saat terganggu (intrusive) maupun tidak
terganggu (nonintrusive).
M A S YA R A K AT Ju rna l Sosiolog i Vol. 19, No. 2 , Ju li 2014:231-256
DEMOKR ATISASI R ELASI SIPIL-MILITER
| 2 45
“... agency theory, that specifies conditions under which we
would expect civilians to monitor the military intrusively or
nonintrusively and the conditions under which we would
expect the military to work or shirk. ... agency theory allows
for contigent predictions about the likely conduct of day-to-day
civil-military relation” (Eisenhardt 1989:3).
Bagi Indonesia, sejak Reformasi 1998 hingga terwujudnya relasi sipil–militer yang demokratis harus dilakukan pemantauan secara terusmenerus sesuai dengan agency theory yang dilakukan di negara-negara
yang perkembangan demokratisasinya sudah berjalan dengan baik dan
harmonis. Pemantauan yang dilakukan harus bersifat terus-menerus
(day-to-day) dan berkesinambungan (continue) demi memastikan bahwa hubungan ini akan dapat terbentuk di masa yang akan datang.
Namun, saat ini terbukti bahwa teori tersebut belum dapat dilaksanakan dengan baik sehingga peran pengawasan terhadap relasi
sipil–militer belum terlihat dengan jelas. Hal ini terbukti dari tindak
lanjut ketentuan UU No. 3/2002 tentang Pertahanan Negara maupun
UU No. 34/2004 tentang TNI yang belum dilaksanakan dengan
tuntas. Oleh karena itu, diperlukan peran “lingkaran dalam” sebagai
agen pengawas, yang menempatkan Kementerian Pertahanan, DPR,
maupun Presiden sebagai representasi sipil dalam melakukan peran
pengawas terhadap militer demi terwujudnya kondisi relasi sipil–militer yang demokratis.
Pengawasan juga perlu dilakukan oleh “lingkaran luar”, seperti media, LSM, partai/parpol, serta universitas, sesuai dengan agency theory
yang menghendaki pengawasan dilakukan secara terus-menerus. Para
narasumber di kelompok wawancara yang telah dilaksanakan berkaitan dengan relasi sipil–militer yang demokratis, mengatakan bahwa
kesadaran partai politik dalam permasalahan ini pun masih kurang.
Sebagian parpol masih mengikutsertakan para mantan perwira TNI
sebagai bagian inti dalam kepengurusan partai, dengan alasan demi
berjalannya nilai disiplin kerja partai. Dikatakan bahwa kebiasaan
ini muncul karena adanya paradigma yang menganggap militer telah
memiliki etos kerja yang lebih baik daripada sipil, sehingga wajib bagi
parpol untuk memiliki mantan perwira TNI sebagai anggota partai.
Tentu gejala seperti ini bukanlah indikasi positif bagi perkembangan
relasi sipil–militer yang demokratis. Keberadaan parpol sebagai alat
perebut kekuasaan yang sah, justru tidak berpegang secara utuh pada
M A S YA R A K AT Ju rna l Sosiolog i Vol. 19, No. 2 , Ju li 2014:231-256
246 |
KOESNADI K ARDI
prinsip demokrasi itu sendiri. Hal inilah yang merupakan salah satu
faktor yang harus diwaspadai serta dikoreksi dalam membangun relasi
sipil–militer yang demokratis di Indonesia di masa mendatang. Saat
ini hal ini masih bisa dimaklumi karena dinilai masih dalam proses
transisi mencari bentuk demokrasi yang tepat.
Gambar 4. Hubungan Lingkaran Dalam dan Lingkaran Luar dalam Proses Relasi
sipil–militer yang Demokratis
Secara garis besar, relasi sipil–militer di Indonesia telah mengalami
dinamika perubahan yang dipengaruhi oleh berbagai macam faktor
seiring perkembangan demokratisasinya. Faktor-faktor tersebut antara
lain faktor sosial dan ekonomi, termasuk juga keadaan politik dalam
negeri yang sering kali naik–turun. Ditambah dengan faktor internasional yang turut memengaruhi relasi sipil–militer, sehingga terasa
bahwa perubahan yang terjadi memiliki banyak hambatan. Lain halnya jika semua faktor tersebut telah stabil—dinamika politik tidak
lagi signifikan perubahannya, sebagian besar masyarakat telah mampu
hidup layak, ditandai dengan meningkatnya pendapatan per kapita
sehingga kesejahteraan telah cukup. Kondisi tersebut bertambah dengan kesadaran politik yang tinggi, peran masyarakat dalam bidang
politik juga cukup tinggi, hubungan demokratis dalam masyarakat
yang baik, peran militer dalam intervensinya terhadap kepentingan
politik sudah jauh berkurang, dan rasa keadilan sudah dapat dijamin.
Kondisi ini dapat terjadi jika sudah terwujud kontrol sipil yang kuat.
M A S YA R A K AT Ju rna l Sosiolog i Vol. 19, No. 2 , Ju li 2014:231-256
DEMOKR ATISASI R ELASI SIPIL-MILITER
| 2 47
Untuk mencapai kondisi tersebut diperlukan waktu yang tidak singkat dan komitmen yang kuat. Gambar 4 memperlihatkan hubungan
“lingkaran dalam” dan “lingkaran luar” dalam proses relasi sipil–militer yang demokratis.
Hubungan antara Kementerian Pertahanan dengan TNI sudah
dibahas secara cukup baik sesuai isi dalam UU No.3 Tahun 2002
tentang Pertahanan Negara yang menyatakan bahwa Kementerian
Pertahanan bertugas antara lain (i) menetapkan kebijakan tentang penyelenggaraan pertahanan negara berdasarkan kebijakan umum yang
ditetapkan Presiden; (ii) merumuskan kebijakan umum penggunaan
kekuatan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan komponen pertahanan lainnya. Hal tersebut bisa merupakan sebuah dasar atau awal
dari pembentukan relasi sipil–militer yang demokratis di Indonesia.
Selain Kementerian Pertahanan, institusi sipil lain adalah Komisi I DPR yang secara khusus membidangi masalah pertahanan dan
keamanan. Bagi anggota legislatif Komisi I DPR RI, kemampuan
serta kapabilitas di bidang pertahanan dan keamanan adalah suatu
hal yang mutlak harus dikuasai. Hal ini terutama terkait peran DPR
dalam membahas undang-undang, mengkaji ulang keputusan-keputusan yang telah dikeluarkan, dan mengawasi penggunaan anggaran
pertahanan. Dengan adanya kemampuan yang profesional di bidang
pertahanan dan keamanan, maka peran DPR selain bersifat politis,
akan juga bersifat profesional sehingga menghasilkan kebijakan-kebijakan yang efektif dan efisien, terutama yang terkait dengan bidang
pertahanan dan keamanan. Fungsi Komisi I DPR yang sangat dibutuhkan adalah kemampuan penguasaan dalam bidang pertahanan,
termasuk kemampuan sebagai pemonitor implementasi dari kebijakankebijakan yang telah dibuat. Tanpa kompetensi yang baik, tentu tidak
akan tercapai mekanisme check and balances yang harmonis antara
eksekutif yang menjalankan keputusan, dengan legislatif yang salah
satu tugasnya adalah melakukan kontrol dan pengawasan terhadap
regulasi yang tengah berjalan.
Hal-hal semacam ini sangatlah berpotensi menimbulkan konflik
kepentingan karena tidak dimungkiri, gesekan mungkin bisa terjadi
dalam upaya sipil mengendalikan militer. Gesekan bisa muncul
terkadang dipengaruhi oleh adanya prasangka atau bahkan motivasi
sipil melakukan hal tersebut karena digerakkan oleh kepentingan sang
penguasa (Howard 1957). Pada dasarnya militer yang dibutuhkan
oleh pemerintah sipil dalam hubungan yang demokratis adalah militer
M A S YA R A K AT Ju rna l Sosiolog i Vol. 19, No. 2 , Ju li 2014:231-256
248 |
KOESNADI K ARDI
yang profesional dalam bidangnya, bukan militer yang ikut campur
dalam urusan kekuasaan dan kepentingan politik. Hal ini kemudian
dapat pula ditempatkan sebagai tujuan utama terbentuknya institusi
militer.
Berdasarkan uraian di atas, terlihat betapa pentingnya studi
tentang relasi sipil–militer. Karena seperti yang terjadi di berbagai
belahan dunia, kondisi atau keadaan relasi sipil–militer di sebuah
negara sangat memengaruhi jalannya pemerintahan. Ciri khas masingmasing negara beserta sejarah dan faktor yang melatarbelakanginya
telah memperlihatkan adanya spesifikasi dari masing-masing negara
dalam membangun serta mengembangkan relasi sipil–militer. Namun,
semua faktor tersebut akhirnya akan bermuara pada harapan akhir
tercapainya sebuah hubungan yang harmonis antara institusi militer
dan sipil (pemerintah) yang berdampak pada relasi sipil–militer yang
demokratis.
K E S I M PU L A N
Relasi sipil–militer yang terdapat di negara-negara Barat umumnya
relatif jauh lebih maju dibandingkan dengan relasi sipil–militer di negara-negara Asia. Alasannya, perkembangan sejarah demokrasi di negara-negara Barat umumnya juga relatif lebih maju dibandingkan dengan di negara-negara Asia. Hal ini disebabkan karena perkembangan
ekonomi maupun penguasaan bidang teknologinya juga relatif lebih
maju. Kalau kita lihat sejarah, negara yang paling banyak mengalami
berbagai ragam perubahan relasi sipil–militer adalah Jerman. Diperkirakan tidak ada negara yang memiliki korps perwira militer yang
mencapai standar profesionalisme militer yang tinggi seperti yang ada
di Jerman dan tidak ada pula korps perwira militer negara-negara
besar lain di dunia ini yang benar-benar disalahgunakan oleh negara seperti halnya di Jerman. Perang Dunia I telah menggambarkan
adanya akibat buruk jika kekuasaan dipegang oleh militer. Zaman
Nazi juga telah menggambarkan adanya suatu bencana besar jika
peringatan pihak militer tidak diperhatikan karena para pemimpin
politik memperlakukan militer dengan kasar. Dari beragamnya relasi
sipil–militer yang terjadi, sejarah Jerman memang penuh dengan halhal yang mengerikan, namun banyak pula pelajaran berharga yang
bisa dipetik darinya.
M A S YA R A K AT Ju rna l Sosiolog i Vol. 19, No. 2 , Ju li 2014:231-256
DEMOKR ATISASI R ELASI SIPIL-MILITER
| 2 49
Pada awalnya, pihak militer Jerman memiliki peran aktif dalam
bidang politik negara. Pada saat tingkat profesionalisme militernya
menjadi tinggi, kemudian timbul ketegangan antara pihak militer
dengan sipil, sehingga mengakibatkan kekacauan konstitusional yang
sangat mendasar. Terangkatnya fanatisme dan kesombongan militer
yang begitu tinggi karena tingkat profesionalismenya juga tinggi,
justru menimbulkan sikap militer yang gemar berperang, bahkan
pada masa damai sekalipun. Akhirnya terjadi disintegrasi relasi
sipil–militer yang berakibat pada melemahnya keamanan nasional,
meningkatnya fanatisme, dan merebaknya sifat sombong. Pada kondisi
tersebut, terutama pada era 1871 sampai 1914 (43 tahun), relasi sipil
bangsawan–militer di Jerman bagaikan kontrol sipil yang objektif
dan profesionalisme militer yang tinggi yang didasarkan pada otoritas
militer tingkat tinggi. Hal ini berpengaruh terhadap terwujudnya
ideologi nasional yang sangat konservatif.
Buku pegangan bagi militer Jerman yang terkenal berjudul On
War. Ada dua jenderal yang terkenal dan kedua-duanya merupakan
murid Clausewitz, yaitu Von Motlke (1857–1888) dan Von Schilefen
(1891–1905). Pemikiran mereka berdua yang akhirnya ditiru oleh para
perwira Jerman. Pada era 1933–1945, terjadi penggabungan kekuasaan antara Nazi dengan militer. Militer kemudian mundur dari halhal yang berbau politik, dan menyerahkannya kepada Nazi. Sebagai
imbalannya, Nazi mendorong program pembangunan persenjataan
militer, kemudian memberikan jaminan penuh kepada pihak militer
untuk memiliki monopoli atas peran dan fungsi militer, dan otonomi pada bidang pertahanan. Kondisi ini mendapat kesepakatan
bulat pada saat angkatan bersenjata Jerman mendukung Hitler sebagai
Presiden. Relasi sipil–militer pada situasi seperti ini menggambarkan
bagaimana militer menjadi pendukung yang sangat kuat bagi negara.
Para perwira Jerman menyambut kesempatan ini untuk menjauhkan
diri dari permasalahan politik, dan selanjutnya lebih berkonsentrasi
pada pendidikan dan pelatihan militer serta peningkatan disiplin militer agar dapat menghadapi perang.
Adapun Indonesia saat ini, pola relasi sipil–militernya seperti yang
telah digambarkan oleh Syamsul Ma’arif (2007) melalui analisis dalam
disertasinya, “Militer dalam Masyarakat: Menuju TNI Profesional di
Era Reformasi”. Dikatakannya pada disertasi tersebut bahwa reformasi
yang telah dilakukan baru pada tahap awal, berupa prasyarat untuk
menuju ke tentara profesional. Dalam pemaknaan supremasi sipil
M A S YA R A K AT Ju rna l Sosiolog i Vol. 19, No. 2 , Ju li 2014:231-256
25 0 |
KOESNADI K ARDI
dikatakan bahwa harus ada pengakuan oleh semua komponen
masyarakat terhadap relasi sipil–militer yang demokratis, termasuk
di dalamnya pengakuan militer atas otoritas sipil dan pejabat publik
yang dipilih langsung oleh rakyat melalui pemilihan umum. Relasi
sipil–militer yang demokratis di Indonesia tercermin pada hubungan
antara Kementerian Pertahanan yang merepresentasikan institusi sipil
dengan TNI yang merepresentasikan institusi militer. Peran TNI
sebenarnya hanya merupakan pelaksana kebijakan politik di bidang
pertahanan.
Namun demikian, pada kenyataannya sampai saat ini, selain
kewenangan kebijakan politik, sebagian besar kebijakan di bidang
pertahanan masih dipegang oleh Panglima TNI. Sebagai pejabat
militer, kedudukan Panglima TNI masih ambigu. Sesuai UU No.
3/2002 tentang Pertahanan Negara dan UU No. 34/2004 tentang
TNI, kedudukan Panglima TNI setara dengan Menhan sebagai
pembantu Presiden. Keduanya juga bertanggung jawab langsung
kepada Presiden. Ketika permasalahan ini ditanyakan kepada
Menhan (3 Agustus 2011) dalam suatu diskusi internal antara para
anggota pakar pertahanan Kementerian Pertahanan dan Menhan,
dijawab bahwa permasalahan utamanya adalah masih eratnya kultur/
budaya lama yang masih melekat dan tidak mudah untuk diubah
(Wawancara, 5 Januari 2012). Kultur tersebut ada pada sebagian
besar perwira TNI, baik yang ada di TNI sendiri maupun yang
menduduki jabatan di Kementerian Pertahanan. Kultur dan budaya
tersebut kelihatannya banyak dipengaruhi oleh budaya Jawa karena
sebagian besar perwira TNI, baik yang menduduki jabatan di TNI
maupun di Kementerian Pertahanan, berasal dari suku Jawa. Budaya
tersebut dikenal dengan sebutan ewuh pakewuh dan mikul duwur,
mendem jero. Yang pertama bermakna masih adanya rasa sungkan
yang tinggi terhadap atasan apabila harus mengusulkan perubahan,
sedangkan yang kedua bermakna selalu menghargai yang lebih tua
atau lebih tinggi pangkatnya, yang dianggap lebih bijaksana, meski
terkadang berlebihan. Hal senada disampaikan juga oleh Salim Said
pada wawancara tentang sejarah relasi sipil–militer di Indonesia
(Wawancara, 9 Agustus 2011). Hal ini menunjukkan bahwa relasi
sipil–militer yang demokratis di Indonesia ternyata masih dalam
proses transisi menuju ke civil society yang diharapkan.
M A S YA R A K AT Ju rna l Sosiolog i Vol. 19, No. 2 , Ju li 2014:231-256
DEMOKR ATISASI R ELASI SIPIL-MILITER
| 251
DA F TA R PU S TA K A
Anggoro, Kusnanto. 1999. “Gagasan Militer mengenai Demokrasi,
Masyarakat Madani dan Transisi Demokratik.” Hubungan sipil–
militer dan Transisi Demokrasi di Indonesia: Persepsi Sipil dan Militer, disunting oleh Rizal Sukma dan J. Kristiadi. Jakarta: CSIS.
------. 2000. Security of State, Resurgence of Democracy, and CivilMilitary Relations in Indonesia, Monograph. Mainz: Institut fur
Politikwissenschaft, Johannes Guttenberg Universiteit-Mainz.
------. 2001. Indonesian Military and the Challenges of Local-Global
Nexus. New Delhi: Konrad Adeneuer Stiftung.
------. 2002. Fungsi DPR dalam Kontrol Kebijakan dan Operasi POLRI. Jakarta: Propatria.
------. 2004. Supremasi Sipil, Reformasi Militer, dan Konsolidasi Demokrasi. Surabaya: Universitas Airlangga.
------. 2007. “Civil Supremacy Without Effective Control: The Department of Defence of the Republic of Indonesia.” Almanac on
Security Sector Reform. Geneva: DCAF.
Anggoro, Kusnanto dan Banyu Perwita. 2006. Peran Masyarakat Sipil
dan Reformasi Sektor Keamanan. Jakarta: Propatria.
Anwar, Dewi Fortuna. 2002. Gus Dur Versus Militer: Studi tentang
Hubungan Sipil–Militer di Era Transisi. Jakarta: Gramedia.
Barrett, Archie D. 1983. Reappraising Defense Organizations. Washington: National Defense University Press.
------. 1996. “Empowering Eisenhower’s Concept.” Joint Force Quarterly 13(Autumn).
------. 2004. “Reflections on Leadership in Defense and Professional
Military Education Reform.” Speech of Dr. Arch Barrett, Hon. John
M. Spratt, Jr. of South Carolina In the House of Representatives,
disunting oleh John M. Spratt. Washington DC: United States
Government Printing Office.
Basuki, Ahmad Yani. 2007. “Reformasi TNI: Pola, Profesionalitas dan
Refungsionalisasi Militer dalam Masyarakat.” Disertasi Pascasarjana
Sosiologi FISIP UI.
Baylis, dkk. 2002. Strategy in the Contemporary World: An Introduction to Strategic Studies. 1st Edition. New York: Oxford University
Press Inc.
Berdal, M. dan David M. Malone. 2000. Greed and Grievance: Economic Agendas in Civil Wars. Boulder, Colo.: Lynne Riennar.
M A S YA R A K AT Ju rna l Sosiolog i Vol. 19, No. 2 , Ju li 2014:231-256
252 |
KOESNADI K ARDI
Born, Hans, Haltiner Karl W., dan Marjan Malesic. 2004. Renaissance
of Democratic Control of Armed Forces in Contemporary Societies.
Baden-Baden: Nomos Publishers.
Bruneau, Thomas C. 2001. “Ministries of Defense and Democratic
Civil-Military Relations.” Makalah Dipresentasikan pada Seminar
Governance, Security and Military Institutions in Democracies, AS.
Bruneau, Thomas C. dan Scott D Tollefson. 2006. Who Guards the
Guardian and How Democratic Civil-Military Relations. AS: University of Texas Press.
Buku Putih Pertahanan. 2008. Jakarta: Kementerian Pertahanan RI.
Buzan, Bary, dkk. 1997. Security: A New Framework for Analysis. London: Lynne Rienner Publishers.
Caforio, Giuseppe, ed. 1998. The Sociology of the Military. Cheltenham, UK: Edward Elgar Publishing Limited.
------. 2006. Handbook of the Sociology of the Military. AS: Springer.
Campbell, Kirk. 2009. Civil-Military Relations and Political Liberalization: A Comparative Study of the Military’s Corporateness and Political Values in Egypt, Syria, Turkey, and Pakistan. AS: The George
Washington University.
Chrisnandi, Yuddy. 2004. “Reformasi Internal ABRI: Menuju Hubungan Sipil–Militer di Indonesia.” Disertasi Pascasarjana Ilmu
Politik FISIP UI.
------. 2006. Sistem Pertahanan dan Keamanan Negara Perlu Regulasi
Politik yang Akomodatif: Mencari Format Komprehensif Sistem Pertahanan dan Keamanan Negara. Jakarta: Propatria Institute.
Cottey, Andrew. 1999. Civil-Military Relations in Central and Eastern Europe: Democratic Control of the Armed Forces in Central
and Eastern Europe, a Framework for Understanding Civil-Military
Relations. Nottingham: University of Nottingham.
Cottey, Andrew, Timothy Edmunc dan Anthony Forster. 2002. “The
Second Generation Problematic: Rethinking Democracy and Civil
Military Relations.” Armed & Forces, 29:31.
Crouch, Harold. 1985. The Military and Politics in Southeast Asia.
London: Oxford University Press.
------. 1998. Militer dan Politik di Indonesia. Jakarta: Sinar Harapan.
Daft, Richard L. 2007. Understanding the Theory and Design of Organizations. AS: Thomson.
M A S YA R A K AT Ju rna l Sosiolog i Vol. 19, No. 2 , Ju li 2014:231-256
DEMOKR ATISASI R ELASI SIPIL-MILITER
| 253
Desch, Michael C. 1999. Civilian Control of the Military: The
Changing Security Environment. Baltimore: The Johns Hopkins
University Press.
Diamond, Larry dan Marc F. Plattner. 2008. “How People View Democracy”. A Journal of Democracy Book.
Drew, Dennis M. dan Donald M. Snow. 2002. Making Strategy: An
Introduction to National Security Processes and Problems, 8th Printing. Alabama: Maxwell Air Force Base.
Duverger, Maurice. 1972. The Study of Politics. Nelson’s Political Science Library.
------. 2002. Sosiologi Politik. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Eaton, Eric. 1990. Eric Eaton in “Team Spirit” Joint Military Training
Exercise. South Korea 1990, Central Connecticut State University.
AS: Center for Public Policy and Social Research.
Effendy, Muhajir. 2009. Jatidiri dan Profesi TNI. Malang: UMM
Press.
Eisenhardt, Kathleen M. 1989. “Agency Theory: An Assessment and
Review.” The Academy of Management Review 14(1):57-74.
Eko, Sutoro. 2002. Meletakkan Militer pada Posisi yang Sebenarnya.
Yogyakarta: IRE Press.
Fatwa, A. M. 2009. Tugas dan Fungsi MPR serta Hubungan Antar
Lembaga Negara dalam Sistem Ketatanegaraan. Jakarta: Jurnal Majelis.
Feaver, Peter D. 1990. “Guarding the Guardians: Civil-Military Relations and the Control of Nuclear Weapons.” Disertasi, Harvard
University.
------. 1992. Guarding the Guardians: Civilian Control of Nuclear Weapons in the United States. AS: Cornell University Press.
------. 1996. “The Civil-Military Problematique: Huntington, Janowitz
and the Question of Civilian Control.” Armed Forces and Society
23(2):149-178.
------. 1997. “An Agency Theory Explanation of American Civil-Military Relations during the Cold War.” Working Paper for the Program for the Study in Democracy, Institutions and Political Economy,
5 November.
------. 2003. Armed Servants: Agency, Oversights and Civil Military
Relations. Cambridge, MA: Harvard University Press.
Giddens, Anthony. 1982. Sociology: a Brief but Critical Introduction.
London: Macmillan.
M A S YA R A K AT Ju rna l Sosiolog i Vol. 19, No. 2 , Ju li 2014:231-256
25 4 |
KOESNADI K ARDI
Gray, Colin S. 1999. Modern Strategy, 1st Edition. New York: Oxford
University Press Inc.
Gunaryadi. 2003. Angkatan Bersenjata dan Rakyat: Hubungan Sipil–
Militer. Den Haag: Clingendael Institut.
Hannerz, Ulf. 1992. Cultural Complexity. AS: Colombia Universty.
Harahap, Husnul Isa. 2009. “Otonomi Daerah dan Hubungan Sipil–
Militer di Daerah.” Jurnal Politeia 1(2).
Howard, Michael Eliot. 1978. Soldiers and Governments: Nine Studies
in Civil-Military Relations. London: Greenwood Pub Group.
Huntington, Samuel P. 1981 [1957]. Soldier and the State: Theory and
Politics Of Civil-Military Relations. New York: Belknap Press of
Harvard University Press.
------. 2003. “The Function of Foreign Policy in America’s Domestic
Clash of Civilizations.” International Studies Perspectives 4(2):113–
132.
Janoski, Thomas, Robert Alford, Alexander Hicks, dan Mildred A.
Schwartz, ed. 2005. The Handbook of Political Sociology: States,
Civil Societies, and Globalization. New York: Cambridge University
Press.
Johns, Sir Richard. 1999. British Air Power Doctrine—AP 3000, 3th
Edition. UK: Directorate of Air Staff MOD.
“Kajian Krisis Perundangan di Bidang Pertahanan dan Keamanan.”
2006. Monograph No. 7 (12 September):5-17. Jakarta: Propatria
Institute.
Kinloch, Graham C. 1977. Sociological Theory: Its Development and
Major Paradigms. AS: McGraw-Hill, Inc.
Kuroda, Yasumasa. 1965. “Agencies of Political Socialization and Political Change.” Journal of Human Organization 24 (4).
Latuconsina, M. J. 2008. “Antagonisme Hubungan Sipil–Militer di
Fiji (Potret Coup d’etat Militer terhadap Pemerintahan Sipil).” Hipotesa 2(2).
Ma’arif, Syamsul. 2007. “Militer dalam Masyarakat: Menuju TNI
Profesional di Era Reformasi.” Disertasi Program Pascasarjana Sosiologi FISIP UI.
Maleong, Lexy. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung:
Rosda Karya.
Mietzner, Marcus. 2006. The Politics of Military Reform in Post-Suharto Indonesia: Elite Conflict, Nationalism, and Institutional Resistance.
Washington: East-West Center.
M A S YA R A K AT Ju rna l Sosiolog i Vol. 19, No. 2 , Ju li 2014:231-256
DEMOKR ATISASI R ELASI SIPIL-MILITER
| 255
Moskos, Charles C. dan Frank R. Wood, ed. 1988. The Military:
More Than Just a Job? Virginia: Pergamon–Brassey’s International
Defence Publisher.
Nurchasim, Moch. dan Sri Yanuarti. 2005. “Pemilu Legislatif dan
Presiden 2004.” Hubungan Sipil–Militer Era Megawati, disunting
oleh M. Hamdan Basyar. Jakarta: Pusat Penelitian Politik LIPI.
Pion-Berlin, David. 2009. “Defense Organization and Civil Military
Relations in Latin America.” Armed & Forces 35:562-586.
Prihartono, T. Hary. 2008. Departemen Pertahanan-TNI-Masyarakat
Sipil: Relasi dalam Formulasi Kebijakan dan Transparansi Implementasi. Jakarta: Propatria.
Prihartono, T. Hary. 2008. Satu Dekade: Keberhasilan Reformasi TNI
Terbebani Paradigma Orde Baru (1998-2008). Jakarta: Kontras.
Przeworski, Adam. 1991. Democracy and the Market: Political and
Economic Reforms in Eastern Europe and Latin America. Cambridge:
Cambridge University Press.
Ritzer, George dan Douglas J. Goodman. 2003. Sociological Theory,
6th Edition. New York: The McGraw-Hill Companies, Inc.
Rush, Michael dan Phillip Althoff. 2002. An Introduction to Political
Sociology, diterjemahkan oleh Kartini Kartono. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.
Said, Salim. 2001. Militer Indonesia dan Politik: Dulu, Kini, dan Kelak. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
------. 2006. Legitimizing Military Rule–Indonesian Armed Forces Ideology, 1958–2000, 1st Edition, diterjemahkan oleh Toenggoel P.
Siagian. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Sarvas, Stefan. 1998. “The Shift from the Transitional to Democratic
Agenda: Problems and Future of Democratic Control of Armed
Forces in the Chech Republic.” Makalah Dipresentasikan di Konferensi ERGOMAS, Stockholm.
Saunders, Joseph. 1998. “Academic Freedom in Indonesia: Dismantling Soeharto-Era Barriers.” Human Rights Watch (Agustus).
Schiff, Rebecca L. 1995. “Civil-Military Relations Reconsidered: A
Theory of Concordance.” Armed Forces and Society.
Sibeon, Roger. 2004. Rethinking Social Theory. London: Sage Publication.
Spradley, James P. 2007. Metodologi Etnografi, diterjemahkan oleh
Misbah Zulfa Elizabeth. Yogyakarta: PT Tiara Wacana.
M A S YA R A K AT Ju rna l Sosiolog i Vol. 19, No. 2 , Ju li 2014:231-256
25 6 |
KOESNADI K ARDI
Sucharov, Mira. 2005. “Security Ethics and the Modern Military: The
Case of the Israel Defense Forces.” Armed Forces & Society 31(2).
Sukadis, Beni. 2008. ‘Laporan Seminar “Reformasi Birokrasi dalam
Institusi Pertahanan: penguatan Institusi Pertahanan di Indonesia”
19 November 2008.’ Jakarta: LESPERSSI.
Sukma, Rizal. 2010. “Civil-Military Relation in Post-Authoritarian
Indonesia.” Hlm. 149-169 dalam Democracy under Stress: CivilMilitary Relation in South and Southeast Asia, disunting oleh Paul
Chambers dan Aurel Croissant. Bangkok: ISIS.
Undang-Undang No.3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara.
Vlachová, Marie. 2002. Democratic Control of Armed Forces: Notes
on Lessons Learned and Upcoming Research Issues. Czech: Research
Department, Ministry of Defence of the Czech Republic.
M A S YA R A K AT Ju rna l Sosiolog i Vol. 19, No. 2 , Ju li 2014:231-256
Download