PENGARUH PADAT PENEBARAN 12, 14, 16

advertisement
3
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ikan Gurami Osphronemus gouramy Lac.
Ikan gurami Osphronemus gouramy Lac. merupakan ikan air tawar yang
memiliki nilai ekonomis tinggi. Gurami dapat tumbuh dan berkembang pada
perairan tropis maupun subtropis. Di alam, gurami hidup di sungai-sungai atau
rawa air tawar yang berada pada ketinggian antara 50-600 m dpl. Tidak menutup
kemungkinan bahwa gurami dapat hidup di air yang sedikit asin. Namun,
meskipun mempunyai daya adaptasi yang tinggi terhadap kondisi lingkungan,
gurami lebih cocok hidup di perairan tawar. Suhu optimal habitat hidup gurami
berkisar 24-28 0C. Kandungan oksigen terlarut di perairan minimal sebesar 3-5
ppm. Sementara itu, derajat keasaman (pH) perairannya berkisar 7-8 (Saparinto,
2008).
Secara morfologi ikan gurami memiliki ciri badan pipih, bagian punggung
berwarna merah sawo, dan bagian perut berwarna putih atau keperak-perakan, dan
termasuk salah satu ikan teritorial. Sejak menetas sampai besar, benih gurami
mempunyai nama dan sebutan yang berbeda-beda untuk setiap ukurannya.
Sebutan tersebut diadopsi dari benda-benda yang setara dengan ukuran benih.
Sebutan nama-nama tersebut dari ukuran paling kecil hingga besar, yaitu larva,
biji oyong, gabah, kuaci, kuku, silet, korek, bungkus rokok atau bungkus kaset
(Sendjaja, 2002).
Ikan gurami termasuk golongan ikan Labyrinthici. Ikan ini memiliki alat
pernapasan tambahan berupa selaput yang menonjol pada tepi atas lapisan insang
pertama yang disebut labirin. Pada selaput ini terdapat pembuluh darah kapiler
sehingga memungkinkan gurami untuk mengambil oksigen langsung dari udara.
Adanya alat tersebut menyebabkan gurami dapat hidup di air tenang dan oksigen
terlarut yang rendah (Keppler et al., 1989). Bentuk tubuh yang pipih dan tinggi
(compress) serta bentuk sirip ekor setengah lingkaran merupakan ciri bahwa
gurami merupakan penghuni air tenang, dalam, dengan dasar perairan tidak keras
dan tidak berlumpur. Dasar kolam yang keras dapat merusak tubuh gurami ketika
menggosok-gosokan tubuhnya, terutama jika sedang stres. Sementara itu, dasar
kolam yang berlumpur mudah diaduk-aduk gurami, terutama pada waktu mencari
4
makan sehingga dapat mengganggu organ pernafasan dan penglihatannya
(Saparinto, 2008).
Di alam bebas, gurami mempunyai kebiasaan makan makanan yang
spesifik pada stadium pertumbuhannya. Gurami stadium larva dan benih
umumnya memakan jasad renik seperti fitoplankton, zooplankton, chlorella, kutu
air, larva serangga, dan serangga air. Sementara itu, gurami dewasa cenderung
lebih menyukai tumbuhan. Gurami dewasa biasanya memakan tumbuhan air yang
lunak seperti azolla, hydrilla, kangkung air, genjer, dan apu-apu (Agromedia,
2007). Menurut Bardach et al. (1972), benih ikan gurami ukuran 3 cm memakan
Azolla pinata sebagai makanan primer. Daun yang bisa menjadi makanan gurami
dewasa adalah daun sente (Alocasia macrorrhiza). Di kolam budidaya, gurami
dewasa juga menyukai daun singkong, daun pepaya, dan daun talas atau sente
yang diberikan oleh petani. Namun dalam budidaya intensif pemberian pakan
alami ini belum cukup. Petani biasanya juga memberikan pelet atau pakan buatan
pabrik agar pertumbuhannya optimal.
Usaha budidaya gurami terdiri dari pembenihan, pendederan dan
pembesaran.
Usaha
pembenihan
meliputi
kegiatan
pemeliharaan
induk,
pemijahan, penetasan telur, dan perawatan larva hingga ukuran 0,5-1 cm.
Kegiatan pendederan meliputi pemeliharaan benih 0,5-1 cm hingga ukuran 15 cm,
sedangkan kegiatan pembesaran merupakan lanjutan dari pendederan. Benih dari
pendederan akan dibesarkan hingga mencapai ukuran konsumsi dengan bobot
rata-rata 500 gram/ekor (Agromedia, 2007).
Penyakit yang sering menyerang benih ikan gurami biasanya berupa
serangan jamur yang disebabkan oleh Saprolegnia dan penyakit bakterial.
Menurut Taufik et al. (1993), penyakit bakterial dapat menyebabkan kematian 3080% dengan gejala klinis berupa luka infeksi di bagian tubuh, sirip, dan kadangkadang mata menonjol. Penyebab penyakit bakterial ini antara lain Aeromonas
hydrophila, Pseudomonas spp, dan Enterobacter.
5
2.2 Padat Penebaran
Padat penebaran ikan merupakan jumlah ikan yang ditebar dalam wadah
budidaya per satuan luas atau volume (Hepher dan Pruginin, 1981). Menurut
Allen (1974), peningkatan kepadatan ikan akan menyebabkan menurunnya bobot
rata-rata, efisiensi pakan serta kelangsungan hidup ikan. Padat penebaran erat
sekali hubungannya dengan produksi dan pertumbuhan ikan (Hickling, 1971).
Vaas van Oven (1957) dalam Hatimah (1992) mengatakan bahwa padat
penebaran yang tinggi akan menghasilkan produksi yang tinggi namun berat
individunya kecil. Sebaliknya dengan padat penebaran rendah akan menghasilkan
produksi yang rendah tetapi berat individu ikan relatif besar.
Menurut Hepher dan Pruginin (1981), peningkatan kepadatan ikan tanpa
disertai dengan peningkatan jumlah pakan yang diberikan dan kualitas air yang
terkontrol akan menyebabkan penurunan laju pertumbuhan ikan (critical standing
crop) dan jika telah sampai pada batas tertentu (carrying capacity) maka
pertumbuhannya akan terhenti sama sekali.
Padat penebaran ikan yang lebih tinggi dapat meningkatkan biomassa ikan
sebagai total hasil produksi tetapi belum tentu dapat mempertahankan bobot ratarata ikan. Hal ini dimungkinkan karena padat penebaran yang lebih tinggi, tingkat
persaingan ikan untuk mendapatkan pakan juga meningkat, sedangkan
pemanfaatan pakan oleh ikan untuk pertumbuhannya akan menurun (Suresh dan
Lin, 1992).
Menurut Bardach et al. (1972), tingkat padat penebaran akan
mempengaruhi keagresifan ikan. Ikan yang dipelihara dalam kepadatan yang
rendah akan lebih agresif, sedangkan ikan yang dipelihara dalam kepadatan yang
tinggi akan lambat pertumbuhannya karena tingginya tingkat kompetisi dan
banyaknya sisa-sisa metabolisme yang terakumulasi dalam media air. Jika dalam
suatu perairan budidaya populasi terlalu padat dapat menyebabkan berkurangnya
oksigen terlarut (DO) dan akan mempengaruhi nafsu makan ikan. Menurut Boyd
(1990), tingkat DO yang rendah dalam kolam diikuti dengan nitrit yang tinggi
dapat merangsang pembentukan methemoglobine, sehingga mengakibatkan
menurunnya transportasi oksigen dalam darah yang dapat mengakibatkan stres
dan kematian pada ikan.
6
2.3 Pertumbuhan
Pertumbuhan merupakan perubahan ukuran baik bobot maupun panjang
dalam suatu periode waktu tertentu (Effendie, 1997). Rounsefell dan Everhart
(1962) menyatakan bahwa pertumbuhan ikan sangat dipengaruhi oleh umur, jenis
makanan, jumlah makanan, kualitas pakan, dan padat penebaran. Menurut Hepher
dan Pruginin (1981), pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor
internal yang meliputi sifat genetik (keturunan) dan kondisi fisiologis ikan serta
faktor eksternal yang berhubungan dengan pakan dan lingkungan. Faktor-faktor
eksternal tersebut diantaranya adalah komposisi kimia air dan tanah dasar, suhu
air, bahan buangan metabolit (produksi ekskresi), ketersediaan oksigen dan
ketersediaan pakan. Di daerah tropis, pakan menjadi faktor penentu keberhasilan
budidaya dibandingkan dengan pengaruh suhu perairan. Namun, dalam keadaan
ekstrim, faktor kimia perairan juga bisa menjadi penentu keberhasilan budidaya.
Senyawa kimia dalam peraian yang sering berpengaruh yaitu oksigen (O2), karbon
dioksida (CO2), hidrogen sulfida (H2S) dan keasaman.
Pertumbuhan gurami akan mengalami perlambatan ketika mulai matang
kelamin. Hal tersebut disebabkan gurami sedikit makan atau jarang makan karena
membuat sarang dan menjaga anaknya. Pertumbuhan gurami jantan lebih lambat
dibanding gurami betina. Namun, pada pertumbuhan selanjutnya gurami jantan
akan lebih memanjang dan melebar sehingga bentuk tubuhnya terlihat pipih.
Sementara gurami betina akan tumbuh menebal sehingga terlihat lebih gemuk
(Saparinto, 2008).
Hepher dan Pruginin (1981) menyatakan bahwa pertumbuhan biomassa
(yield) merupakan fungsi dari laju pertumbuhan ikan dan tingkat padat penebaran
ikan. Peningkatan padat tebar dapat mengakibatkan penurunan pertumbuhan ikan,
tetapi selama penurunannya tidak terlalu besar dibandingkan peningkatan padat
tebar maka yield akan tetap meningkat. Ketika penurunan pertumbuhan yang
terjadi semakin besar maka penurunan yield akan terjadi hingga mencapai tingkat
pertumbuhan nol. Ini berarti bahwa hasil ikan yang ditebar telah mencapai nilai
carrying capacity atau daya dukung maksimum wadah budidaya.
7
2.4 Kelangsungan Hidup
Derajat kelangsungan hidup suatu populasi ikan merupakan hasil
persentase jumlah ikan yang hidup selama pemeliharaan tertentu. Derajat
kelangsungan hidup atau survival rate (SR) akan sangat menentukan produksi
yang akan diperoleh dan erat kaitannya dengan ukuran ikan yang dipelihara. Ikanikan yang masih berukuran kecil (benih) akan lebih rentan terhadap parasit,
penyakit dan penanganan yang kurang hati-hati (Hepher dan Pruginin, 1981).
Pengaruh padat penebaran terhadap derajat kelangsungan hidup, laju pertumbuhan
bobot harian dan efisiensi pakan benih ikan gurami yang dipelihara pada padat
penebaran dan ukuran ikan yang berbeda disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Derajat kelangsungan hidup, laju pertumbuhan bobot harian dan efisiensi
pakan benih ikan gurami Osphronemus gouramy Lac. pada berbagai
ukuran yang dipelihara dengan padat penebaran.
Padat Tebar
Ukuran
Bobot
SR
Pertumbuhan
Efisiensi
Pakan
(%)
(ekor/l)
(cm)
(gram)
(%)
(g/hari)
2,5
0,5
0,013
93,50
0,0081
12,51
5
0,5
0,013
95,50
0,0075
10,59
7,5
0,5
0,013
94,30
0,0049
8,76
10
0,5
0,013
94,40
0,0038
9,77
6
1,8
0,1
99,52
0,0790
27,03
8
1,8
0,1
99,29
0,0680
27,49
10
1,8
0,1
90,14
0,0650
26,52
10
2
0,23
96,10
0,0570
59,13
15
20
2
2
0,23
0,23
89,14
84,10
0,0380
0,0280
39,10
22,18
Sumber
Sarah (2002)
Bugri (2006)
Darmawangsa
(2008)
Dari Tabel 1 dapat dilihat, bahwa semakin meningkatnya padat penebaran
menyebabkan laju pertumbuhan bobot harian dan derajat kelangsungan hidup
mengalami penurunan. Penurunan tersebut diduga karena padat tebar yang tinggi
dapat menggangu proses fisiologi dan tingkah laku ikan terhadap ruang gerak yang
pada akhirnya dapat menurunkan kondisi kesehatan dan fisiologis ikan. Hal ini
sesuai dengan Wedemeyer (1996) yang menyatakan bahwa peningkatan padat
penebaran akan mengganggu proses fisiologi dan tingkah laku ikan terhadap ruang
gerak yang pada akhirnya dapat menurunkan kondisi kesehatan dan fisiologis ikan
sehingga pemanfaatan pakan, pertumbuhan dan kelangsungan hidup menurun.
8
Wedemeyer (1996) menyatakan bahwa respon stres terjadi dalam tiga
tahap yaitu tanda adanya stres, bertahan, dan kelelahan. Ketika ada stres dari luar,
ikan mulai mengeluarkan energinya untuk bertahan dari stres. Selama proses
bertahan ini pertumbuhan menurun. Stres meningkat cepat ketika batas daya tahan
ikan telah tercapai atau terlewati. Dampak stres ini mengakibatkan daya tahan
tubuh ikan menurun dan selanjutnya terjadi kematian. Gejala ikan sebelum mati
yaitu warna tubuh menghitam, gerakan tidak berorientasi, dan mengeluarkan
lendir pada permukaan kulitnya.
Faktor lain yang mempengaruhi stres adalah kondisi kualitas air,
khususnya oksigen dan amonia. Kandungan oksigen yang rendah dapat
menurunkan tingkat konsumsi pakan ikan (nafsu makan), karena oksigen sangat
dibutuhkan untuk respirasi, proses metabolisme di dalam tubuh, aktivitas
pergerakan dan aktivitas pengelolaan makanan. Menurunnya nafsu makan ikan
dapat menyebabkan penurunan pertumbuhan. Selain itu, konsentrasi amonia
sebagai hasil metabolisme yang meningkat pada media pemeliharaan juga dapat
berpengaruh terhadap pertumbuhan karena menurunkan konsumsi oksigen akibat
kerusakan pada insang, penggunaan energi yang lebih akibat stres yang
ditimbulkan, dan mengganggu proses pengikatan oksigen dalam darah yang pada
akhirnya dapat menyebabkan kematian (Boyd, 1990).
2.5 Kualitas Air
Kualitas air dapat mempengaruhi produksi budidaya. Beberapa variabel
kunci dalam kualitas air diantaranya adalah suhu, oksigen terlarut, pH, amonia
dan alkalinitas. Suhu merupakan faktor yang mempengaruhi laju metabolisme dan
kelarutan gas dalam air (Zonneveld et al., 1991). Menurut Piper et al. (1982),
suhu yang semakin tinggi meningkatkan laju metabolisme ikan, respirasi yang
terjadi semakin cepat mengurangi konsentrasi oksigen di air, yang dapat
menyebabkan stres bahkan kematian pada ikan. Benih ikan gurami yang
dipelihara di akuarium dapat tumbuh dengan baik pada kisaran suhu 28-300C
(Darmawangsa, 2008). Pengaruh padat penebaran terhadap kualitas air benih ikan
gurami yang dipelihara pada padat penebaran dan ukuran ikan yang berbeda
disajikan pada Tabel 2.
9
Tabel 2. Kualitas air media pemeliharaan benih ikan gurami Osphronemus
gouramy Lac. pada berbagai ukuran yang dipelihara dengan padat
penebaran.
Padat
Tebar
Ukuran
Bobot
DO
(ekor/l)
(cm)
(gram)
(mg/l)
2,5
0,5
0,013
3,14-7,78
5
0,5
0,013
7,5
0,5
10
Suhu
NH3
(°C)
(mg/l)
6,52-7,08
30-34,3
TD-0,005
2,19-6,73
6,61-6,93
30,2-33,2
TD-0,005
0,013
2,10-6,60
6,53-6,94
30-33
TD-0,005
0,5
0,013
1,52-6,51
6,21-6,90
30-33,6
TD-0,005
6
1,8
0,1
3,02-5,04
7,22-7,60
28-29
0,01-0,16
8
1,8
0,1
2,15-4,67
7,19-7,57
28-29
0,02-0,19
10
1,8
0,1
1,21-5,19
7,12-7,51
28-29
0,01-0,17
10
2
0,23
3,06-7,73
7,01-7,73
28-29
0,001-0,075
15
2
0,23
3,68-7,17
6,59-7,77
28-29
0,001-0,095
20
2
0,23
2,17-6,69
7,10-7,77
28-29
0,002-0,094
pH
Sumber
Sarah (2002)
Bugri (2006)
Darmawangsa
(2008)
Dari Tabel 2 dapat dilihat, bahwa peningkatan padat penebaran
mempengaruhi kualitas air media pemeliharaan benih ikan gurami Osphronemus
gouramy Lac., seperti jumlah kelarutan oksigen dalam media pemeliharaan
semakin berkurang karena oksigen dimanfaatkan ikan untuk respirasi dan juga
untuk metabolisme sehingga terjadi penurunan konsentrasi oksigen terlarut akibat
dari peningkatan padat penebaran. Menurut Stickney (1979), suplai oksigen di
wadah produksi akuakultur sebaiknya berbanding lurus dengan padat penebaran
ikan dan jumlah pakan yang dikonsumsi oleh ikan. Oksigen yang semakin
berkurang dapat ditingkatkan dengan pergantian air dan aerasi (Goddard, 1996).
Berkurangnya kandungan oksigen di air dapat menurunkan tingkat
konsumsi pakan ikan, karena oksigen sangat dibutuhkan untuk proses
metabolisme di dalam tubuh, aktivitas pergerakan dan aktivitas pengolahan
makanan (Zonneveld et al., 1991). Menurut Wedemeyer (1996), perairan yang
baik untuk budidaya adalah yang mengandung DO minimal 7 mg/l. Namun
menurut Piper et al. (1982), ikan masih dapat bertahan pada kadar DO 1-5 mg/l
dan sebagai akibatnya pertumbuhan ikan menjadi lambat.
10
Menurut Anonimous (1995), pH yang baik untuk pertumbuhan gurami
adalah 6,2-7,8. Sembilan puluh persen perairan alami memiliki kisaran pH sebesar
6,7-8,2 dan sebaiknya ikan tidak dipelihara pada perairan dengan pH di luar
kisaran 6,5-9,0 (Schmittou dan Emeritus, 1993).
Kandungan amonia hasil metabolisme yang meningkat cenderung
menyebabkan gangguan yang bersifat fisiologis dan pemicu stres pada ikan
(Boyd, 1990). Colt dan Armstrong (1979) dalam Boyd (1990), menambahkan
bahwa meningkatnya kandungan amonia di air akan memungkinkan ikan lebih
mudah terserang penyakit dan pertumbuhannya menurun. Menurut Tiews, 1981
dalam Pillay, 1993, toleransi maksimum konsentrasi amonia adalah 0,1 mg/l.
Alkalinitas adalah gambaran kapasitas air untuk menetralkan asam atau
biasa juga diartikan sebagai kapasitas penyangga (buffer capacity) terhadap
perubahan pH. Perairan mengandung alkalinitas lebih dari 20 ppm menunjukkan
bahwa perairan tersebut relatif stabil terhadap perubahan asam dan basa sehingga
kapasitas buffer atau basa lebih stabil. Satuan alkalinitas dinyatakan dengan
mg/liter kalsium karbonat (CaCO3) atau mili-ekuivalen/liter (Effendi, 2003).
Menurut Anonimous (1995), benih ikan gurami dapat hidup dengan baik pada
perairan yang beralkalinitas 14-100 mg/l.
Piper et al. (1982), mengatakan agar ikan tetap bertahan hidup dan
tumbuh, amonia dan produk metabolisme lainnya harus diminimalkan dan
dikeluarkan dengan cara mengalirkan sejumlah air atau pergantian air. Karena
produk metabolisme meningkat dengan meningkatnya pertumbuhan ikan dan
kepadatan, maka pergantian air harus ditingkatkan. Oleh karena itu, padat tebar
dan pergantian air sangat mempengaruhi pertumbuhan, kelangsungan hidup dan
efisiensi pakan.
2.6 Efisiensi Ekonomi dan Produksi
Efisiensi ekonomi menentukan sejauh mana usaha yang dilakukan
menguntungkan atau tidak serta mengukur keberlanjutan usaha tersebut. Analisis
usaha dalam bidang perikanan merupakan pemeriksaan keuangan untuk
mengetahui keberhasilan usaha yang telah dicapai selama usaha perikanan itu
berlangsung (Rahardi, 1998).
11
Beberapa parameter yang digunakan dalam analisis usaha adalah
keuntungan, Revenue-Cost ratio (R/C), Payback Periode (PP) dan biaya produksi
per ekor. Keuntungan adalah selisih dari pendapatan dan biaya total yang
dikeluarkan. Analisis R/C bertujuan untuk melihat seberapa jauh setiap nilai
rupiah biaya yang digunakan dalam kegiatan usaha dapat memberikan sejumlah
nilai penerimaan. Kegiatan usaha yang menguntungkan memiliki nilai R/C yang
besar. Menurut Lukito (2008), analisis Payback Periode (PP) digunakan untuk
mengetahui berapa lama waktu yang diperlukan untuk menutup biaya investasi.
Memproduksi ikan berarti mempertahankan ikan agar tetap hidup, tumbuh
dan berkembang biak dalam waktu sesingkat mungkin hingga mencapai ukuran
pasar dan bisa dijual (Effendi, 2004). Produksi akan mencapai nilai maksimal
bilamana ikan dapat dipelihara dalam padat penebaran tinggi yang diikuti dengan
pertumbuhan yang tinggi. Padat penebaran erat sekali hubungannya dengan
produksi dan pertumbuhan ikan (Hickling, 1971). Hepher dan Pruginin (1981)
menyatakan bahwa pertumbuhan biomassa (yield) merupakan fungsi dari laju
pertumbuhan ikan dan tingkat padat penebaran ikan. Peningkatan padat tebar
dapat mengakibatkan penurunan pertumbuhan ikan, tetapi selama penurunannya
tidak terlalu besar dibandingkan peningkatan padat tebar maka yield akan tetap
meningkat. Ketika penurunan pertumbuhan yang terjadi semakin besar maka
penurunan yield akan terjadi hingga mencapai tingkat pertumbuhan nol. Ini berarti
bahwa hasil ikan yang ditebar telah mencapai nilai carrying capacity atau daya
dukung maksimum wadah budidaya.
Download