7 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Pendidikan

advertisement
7
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
1. Pendidikan Karakter
a.
Pengertian Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter merupakan pendidikan yang sedang
gencar diterapkan pemerintah pada lembaga-lembaga pendidikan
baik formal maupun bukan. Menurut Aunillah (2011: 18)
menyebutkan bahwa pendidikan karakter adalah sebuah system yang
menanamkan
nilai-nilai
karakter
pada
peserta
didik,
yang
mengandung komponen pengetahuan, kesadaran individu, tekad,
serta adanya kemauan dan tindakan untuk melaksanakan niali-nilai,
baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia,
lingkunga, maupun bangsa, sehingga akan terwujud insan kamil.
Pendapat lain dikemukakan Fitri (2012: 21) pendidikan karakter
adalah usaha aktif untuk membentuk kebiasaan sehingga sifat anak
akan terukir sejak dini, agar dapat mengambil keputusan dengan baik
dan bijak serta mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan beberapa pendapat tentang pendidikan karakter
dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter merupakan salah satu
usaha sadar untuk menanamkan nilai-nilai kepada anak. Dengan
menanamkan nilai-nilai diharapkan anak memiliki perilaku dan
7
Upaya Meningkatkan Disiplin…, Ika Mahfiroh Apriyani, FKIP, UMP, 2017
8
pribadi yang baik. Pendidikan karakter sangat erat hubungannya
dengan pendidikan moral. Pendidikan karakter dikaitkan dengan
pendidikan moral, karena adanya nilai moral yang diharapkan, yaitu
perilaku dan pribadi yang baik.
b.
Tujuan dan Fungsi Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter pada penerapannya di lingkungan
sekolah memiliki tujuan yang diharapkan akan tercapai dengan baik.
Menurut Kesuma dkk (2011: 9) Pendidikan karakter dalam seting
sekolah memiliki tujuan sebagai berikut:
1) Menguatkan dan mengembangkan nilai-nilai kehidupan yang
dianggap penting dan perlu sehingga menjadi kepribadian/
kepemilikan peserta didik yang khas sebagaimana nilai-nilai
yang dikembangkan.
2) Mengoreksi perilaku peserta didik yang tidak bersesuaian
dengan niali-nilai yang dikembangkan di sekolah.
3) Membangun koneksi yang harmoni dengan keluarga dan
masyarakat dalam memerankan tanggung jawab pendidikan
karakter secara bersama.
Pendidikan karakter selain memiliki tujuan juga memiliki
fungsi dalam penerapannya. Menurut Sahrudin dalam Aunillah
(2011: 105), pendidikan karakter memiliki fungsi-fungsi sebagai
berikut :
1) Mengembangkan potensi dasar peserta didik agar pesrta didik
tumbuh menjadi sosok yang baik hati, berpikiran baik dan
berperilaku baik.
2) Memperkuat dan membangun perilaku masyarakat dan
multikultur.
3) Meningkatkan peradaban bangsa yang kompetitif dalam
pergaulan dunia.
Upaya Meningkatkan Disiplin…, Ika Mahfiroh Apriyani, FKIP, UMP, 2017
9
2.
Kedisiplinan
a.
Pengertian Disiplin
Disiplin adalah sikap dasar yang harus dimiliki oleh setiap
anak. Penerapan disiplin dilakukan sejak anak berusia dini.
Penanaman disiplin dimulai dari lingkungan kelurgan, berlanjut di
lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. Menurut Endah
Sulistyowati
(2014:
73) disiplin merupakan tindakan
yang
menunjukan perilaku tertib dan patuh terhadap berbagai ketentuan
dan peraturan.
Nurul Zuriah (2008:69) disiplin merupakan sikap dan
perilaku yang mencerminkan ketaatan, kepatuuhan, ketertiban,
kesetiaan, ketelitian dan keteraturan perilaku seseorang terhadap
norma dan aturan yang berlaku. Menurut Hadianti (2008: 5)
berpendapat tentang kedisiplinan sebagai berikut :
Disiplin merupakan suatu sikap moral siswa yang terbentuk
melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukan
nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, keteraturan dan ketertiban
berdasarkan acuan nilai moral.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan
bahwa disiplin adalah perilaku atau sikap patuh terhadap norma dan
peraturan yang berlaku di lingkungan. Di sekolah, disiplin dapat
diartikan sebagai bentuk ketaatan peserta didik terhadap peraturan
dan norma yang berlaku di lingkungan sekolah.
Upaya Meningkatkan Disiplin…, Ika Mahfiroh Apriyani, FKIP, UMP, 2017
10
b.
Indikator Sikap Disiplin
Disiplin merupakan sikap yang harus dimiliki oleh peserta
didik, disiplin dalam penerapannya pada peserta didik memiliki
beberapa indikator yang harus dicapai peseta didik. Menurut
Kemendiknas (2010: 40) indikator disiplin dapat dijabarkan pada
tabel 2.1 berikut:
Tabel 2.1 Indikator Sikap Disiplin
Nilai
Disiplin:
Tindakan yang
menunjukan perilaku
tertib dan patuh pada
berbagai ketentuan dan
peraturan.
Indikator
Menyelesaikan tugas pada waktunya.
Saling menjaga dengan teman agar
semua tugas-tugas kelas terlaksana
dengan baik.
Selalu mengajak teman menjaga
ketertiban kelas.
Mengingatkan teman yang melanggar
peraturan dengan kata-kata yang
sopandan tidak menyinggung.
Berpakaian sopan dan rapi.
Mematuhi aturan sekolah.
( Kemendiknas, 2010: 40)
Jadi indikator sikap disiplin yang dijabarkan pada tabel di
atas ada enam, yang keseluruhan merupakan tindakan yang
mewujudkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan
peratuaran.
c.
Hal Penting Dalam Menanamkan Perilaku Disiplin
Perilaku disiplin perlu ditanamkan dengan memperhatikan
beberapa hal penting. Guru dalam membentuk karakter disiplin
kepada peserta didiknya hendaknya melakukan beberapa hal yang
dapat membantu terbentuknya karakter disiplin tersebut. Dalam
Upaya Meningkatkan Disiplin…, Ika Mahfiroh Apriyani, FKIP, UMP, 2017
11
bukunya Aunillah (2011: 56) menyebutkan ada beberapa hal yang
perlu dilakukan oleh guru untuk membentuk karakter disiplin pada
diri peserta didik. Diantaranya adalah sebagai berikut:
1) Konsisten
Dalam hal ini, guru harus membuat kesepakatankesepakatan dengan peserta didik selama peserta didik berada di
lingkungan sekolah. Setelah kesepakatan-kesepakatan antara
guru dan peserta didik tercipta, guru harus berusaha bersikap
konsisten dengan cara tidak merubah kesepakatan tersebut,
apalagi demi kepentingannya. Bersikap konsisten dalam
mematuhi peratuarn dapat menumbuhkan sikap disiplin dalam
diri peserta didik.
2) Bersifat Jelas
Cara lain yang dapat dilakukan oleh guru dalam
menanamkan sikap disiplin pada peserta didik adalah dengan
membuat peraturan yang jelas. Peraturan yang jelas dan
sederhana
bisa
mempermudah
peserta
didik
untuk
melakukannya. Sebaliknya peraturan-peraturan yang kurang
jelas dan cenderung berbelit-belit dapat menjadikan peserta
didik merasa enggan untuk mematuhi peraturan tersebut
sehingga peserta didik akan melakukan pemberontakan.
3) Memperhatikan Harga Diri
Jika ada peserta didik yang melakukan pelanggaran
kedisiplinan, sebaliknya guru jangan menegurnya di depan
Upaya Meningkatkan Disiplin…, Ika Mahfiroh Apriyani, FKIP, UMP, 2017
12
banyak orang. Cara seperti ini dapat membuatnya merasa malu
dan cenderung berusaha mempertahankan sikapnya. Alangkah
lebih baik jika guru menasihatinya secara langsung.
4) Sebuah Alasan yang Bisa Dipahami
Jika Guru hendak memberikan peraturan kepada peserta
didik, sebaiknya peserta didik juga memberikan alasan-alasan
yang mudah dipahami tentang peraturan-peraturan tersebut.
Jangan biarkan peserta didik menerima peraturan tanpa
menerima pemahaman.
5) Menghadiahkan Pujian
Tidak ada salahnya jika guru memberikan apresiasi
berupa pujian kepada peserta didik apabila peserta didik telah
mematuhi peraturan yang disepakati. Sebuah pujian yang
dikatakan
dengan
jujur
dan
terbuka
oleh
guru
akan
menyebabkan peserta didik merasa dihargai dan tidak merasa
tertekan atas peraturan yang diberikan.
6) Memberikan Hukuman
Apabila guru terpaksa menghukum, sebaiknya berhatihati dalam meberikan hukuman. Guru harus memberikan
hukuman yang bersifat mendidik tidak sampai menyakiti fisik
maupun psikologi peserta didik.
7) Bersikap Luwes
Guru harus mampu bersikap luwes dalam menegakan
disiplin. Hindari bersikap kaku terhadap peserta didik dalam
Upaya Meningkatkan Disiplin…, Ika Mahfiroh Apriyani, FKIP, UMP, 2017
13
menegakan peraturan sehingga peserta didik tidak merasa
tertekan. Sebaliknya, peraturan dan hukuman harus disesuaikan
dengan situasi peserta didik.
8) Melibatkan Peserta Didik
Dalam membuat peraturan, peserta didik hendaknya
dilibatkan di dalamnya. Hindari membuat peraturan-peraturan
secara sepihak karena hal ini dapat menimbulkan pertentangan
pada dirinya. Dengan melibatkan peserta didik, setidaknya guru
mengerti sesuatu yang diinginkan peserta didik.
9) Bersikap Tegas
Bersikap tegas bukan berarti bersikap kasar. Ketegasan
dalam hal ini lebih berarti sebagai keseriusan guru dalam
menerapkan peraturan kedisiplinan itu. Sehingga dengan
sendirinya, guru juga akan berusaha mentaatinya.
10) Jangan Emosional
Dalam hal ini menghukum peserta didik, sebaiknya guru
menghindari emosi yang berlebihan. Guru jangan menghukum
peserta didik saat guru marah. Hal ini dapat membuat guru tidak
objektif dalam memperlakukan peserta didik.
3.
Pengertian Aktivitas Belajar
a.
Pengertian Aktivitas Belajar
Kata aktivitas merupakan kata yang berasal dari Inggris, yaitu
“activity” yang artinya adalah kegiatan. Menurut Sriyono (2007)
Upaya Meningkatkan Disiplin…, Ika Mahfiroh Apriyani, FKIP, UMP, 2017
14
menayatakan bahwa “aktivitas belajar adalah segala kegiatan yang
dilaksanakan baik secara jasmani maupun rohani”. Segala aktivitas
peserta didik di dalam kelas selama mengikuti proses pembelajaran
adalah indikator adanya keinginan peserta didik untuk mengikuti
proses pembelajaran dengan baik. Aktivitas-aktivitas yang dimaksud
adalah aktivitas atau kegiatan yang mengarah pada proses
pembelajaran
seperti
mengajukan
pernyataan,
bertanya,
menyampaikan
mengerjakan
tugas,
dan
pendapat,
menjawab
pertanyaan dari guru serta dapat bekerja sama dengan peserta didik
lain.
Kelas yang aktif adalah kelas yang terdiri dari guru dan
siswa yang aktif dalam proses pembelajaran. Aktifnya peserta didik
selama proses pembelajaran adalah salah satu tercapainya kegiatan
pembelajaran. Menurut Djamarah (2002: 102):
dalam proses belajar mengajar aktivitas anak didik yang
diharapkan tidak hanya aspek fisik, melainkan juga aspek
mental. Aktivitas anak didik lebih banyak dari pada kativitas
guru, guru hanya membimbing dan sebagai fasilitator dari
aktivitas belajar anak didik di kelas. Beberapa aktiitas anak
didik yang aktif secara mental maupun fisik meliputi:
mengamati, mengkritisi, menemukan konsep, berdiskusi dan
membuat kesimpulan.
Adapun jenis-jenis aktivitas belajar menurut (Sardiman,
2007) aktifitas belajar dapat diklasifikasikan menjadi delapan
kelompok, yaitu:
Upaya Meningkatkan Disiplin…, Ika Mahfiroh Apriyani, FKIP, UMP, 2017
15
1) Visual Activities, yang termasuk di dalamnya mislanya,
membaca, meperhatikan gambar demonstrasi, percobaan,
pekercakapan dengan orang lain.
2) Oral Activities, seperti menyatakan rumus, bertanya,
memberi saran, berpendapat, diskusi, interupsi.
3) Listening Activities, sebagai contoh mendengarkan uraian,
percakapan, diskusi, musik.
4) Writing Activities, seperti menulis cerita, karangan, prosa,
menyalin.
5) Drawing Activites, menggambar, membuat grafik, peta,
diagram.
6) Motor Activities, yang termasuk di dalamnya anatara lain
melakukan percobaan, membuat kontruksi, model,
mereparasi, berkebun, beternak.
7) Mental Activties, misalnya menggapai, mengingat,
memecahkan saoal, menganalisis, mengambil keputusan.
8) Emotional Activities, seperti merasa bosan, gugup, melamun,
berani, tenang.
Berdasarkan pendapat para ahli tentang pengertian aktivitas
belajar dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar adalah segala
kegiatan yang dilakukan oleh peserta didik selama proses
pembelajaran yang meliputi kegiatan fisik dan pemikiran sesuai
dengan proses bembelajaran agar tujuan dari proses pembelajaran
dapat tercapai.
b.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Aktivitas Belajar
Menurut
Slameto
(2010:
54)
faktor-faktor
yang
mempengaruhi belajar peserta didik dapat digolongkan menjadi dua
golongan, yaitu:
1) Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor yang ada dalam individu
yang sedang belajar, meliputi : kondisi jasmani,
psikologis dan faktor kelelahan.
2) Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor yang dapat mempengaruhi
proses dalam prestasi belajar yang datangnya dari luar
Upaya Meningkatkan Disiplin…, Ika Mahfiroh Apriyani, FKIP, UMP, 2017
16
siswa. Faktor ini dapat dikelompokan menjadi tiga
faktor, yaitu: faktor keluarga, faktor sekolah dan faktor
masyarakat.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa faktor yang
mempengaruhi aktivitas belajar adalah kondisi fisik dan psikis peserta
didik serta keadaan di luar diri peserta didik seperti keadaan keluarga,
sekolah dan masyarakat.
4.
Prestasi Belajar
a.
Pengertian Belajar
Belajar merupakan proses dari tingkah laku individu dalam
kehidupan sehari-hari dengan interaksi terhdap lingkungannya.
Menurut Slameto (2010: 2) belajar ialah suatu proses usaha yang
dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku
yang baru secara keseluruhan, sehingga hasil pengalaman individu
itu sendiri dalam interaksi dengan lingkunganya. Menurut Abdilah
dalam Anurrahman (2010: 35) mengemukakan belajar adalah suatu
usaha sadar yang dilakukan individu dalam perubahan tingkah laku
baik melalui latihan dan pengalaman yang menyangkut aspek
kognitif, afektif dan psikomotorik untuk memperoleh tujuan tertentu.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah
perubahan tingkah laku seseorang secara keseluruhan dari yang tidak
tahu menjadi tahu, dari yang awalnya tidak baik menjadi baik
sebagai hasil dari usaha dan interaksi yang berdasarkan pengalaman
tertentu
dan
bertambahnya
ilmu
pengetahuan
untuk
dapat
diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Upaya Meningkatkan Disiplin…, Ika Mahfiroh Apriyani, FKIP, UMP, 2017
17
b.
Pengertian Prestasi Belajar
Kata prestasi berasal dari bahasa Belanda yaitu prestatie.
Kemudian dalam Bahasa Indonesia menjadi prestasi yang memiliki
arti hasil belajar. Prestasi belajar pada umumnya berkenaan dengan
aspek pengetahuan, sedangkan hasil belajar meliputi pembentukan
watak peserta didik. Kata prestasi lebih sering digunakan dalam
berbagai bidang seperti bidang kesenian, olahraga, pendidikan
khususnya pembelajaran.
Prestasi belajar merupakan salah satu keberhasilan dalam
pembelajaran. Prestasi belajar menurut Hamdani (2011: 138) “
prestasi belajar merupakan tingkat kemampuan yang dimiliki siswa
dalam menerima, menolak, dan menilai informasi-informasi yang
diperoleh dalam proses belajar mengajar”. Arifin (2013: 12)
menyatakan bahwa “prestasi belajar merupakan suatu masalah yang
bersifat perennial dalam sejarah kehidupan manusia, karena
sepanjang rentang kehidupannya masnusia selalu mengejar prestasi
menurut
bidang
dan
kemampuan
masing-masing”.
Dengan
demikian, prestasi belajar dapat diartikan sebagai hasil maksimum
yang dicapai seorang setelah melakukan serangkaian usaha-usaha
belajar.
c.
Faktor-Faktor yang Memperngaruhi Prestasi Belajar
Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar menurut
Hamdani (2011: 139) faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi
Upaya Meningkatkan Disiplin…, Ika Mahfiroh Apriyani, FKIP, UMP, 2017
18
belajar dapat digolongkan menjadi dua bagian, yaitu faktor dari
dalam (intern) dan faktor dari luar (ekstern).
1) Faktor Internal
a) Kecerdasan (inteligenis)
Kecerdasan
adalah
kemampuan
belajar
disertai
kecakapan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang
dihadapinya. Tingkat inteligensi sangat menentukan tingkat
keberhasilan belajar peserta didik. Semakin tinggi tingkat
inteligensi seorang siswa, semakin tinggi pulan peluang
untuk meraih prestasi yang tinggi.
b) Faktor Jasmani
Kondisi
jasmaniah
pada
umumnya
sangat
berpengaruh terhadap kemampuan belajar seorang.
c) Sikap
Sikap
yaitu
kecenderungan
untuk
mereaksikan
terhadap suatu hal, atau benda dengan suka, tidak suka, atau
acuh tak acuh. Sikap seseorang dapat dipengaruhi oleh
faktor pengetahuan, kebiasaan, keyakinan. Dalam diri
peserta didik harus ada sikap yang positif (menerima)
kepada sesama peserta didik atau gurunya. Sikap yang
positif ini akan menggeraknnya unutk belajar. Adapun
peserta didik yang sikapnya negatif (menolak) kepada
sesama peserta didik atau gurunya tidak akan mempunyai
kemauan untuk belajar.
Upaya Meningkatkan Disiplin…, Ika Mahfiroh Apriyani, FKIP, UMP, 2017
19
d) Minat
Minat menurut para ahli psikologi adalah suatu
kencenderungan
untuk
selalu
memperhatikan
dan
mengingat sesuatu secara terus menerus. Minat ini erat
kaitannya dengan perasaan, terutama perasaan senang.
Dapat dikatakan ini terjadi karena perasaan senang pada
sesuatu, minat memiliki pengaruh yang besar terhadap
pembelajaran. Jika menyukai suatu pelajaran, peserta didik
akan belajar dengan senang hati tanpa rasa bebean.
e) Bakat
Bakat mempengaruhi tinggi rendahnya prestasi
belajar bidang-bidang studi tertentu. Dalam proses belajar,
terutama belajar keterampilan, bakat memegang peranan
penting dalam mencapai suatu hasil akan prestasi yang baik.
f)
Motivasi
Motivasi dapat menentukan baik-tidaknya dalam
mencapai tujuan sehingga semakin besar kesuksesan
belajarnya. Motivasi dalam belajar adalah faktor yang
penting karena hal tersebut merupakan keadaan yang
mendorong keadaan peserta didik untuk melakukan belajar.
2) Faktor Eksternal
a) Keadaan Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan terkecil dalam
masyarakat tempat seorang dilahirkan dan dibesarkan.
Upaya Meningkatkan Disiplin…, Ika Mahfiroh Apriyani, FKIP, UMP, 2017
20
Orang tua hendaknya menyadari bahwa pendidikan dimuali
dari keluarga. Adapun sekolah merupakan pendidikan
lanjutan. Peralihan pendidikan informal ke lembagalembaga formal memerlukan kerjasama yang baik orang tua
dan guru sebagai pendidik dalam usaha meningkatkan
prestasi belajar anak.
b) Keadaan Sekolah
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal
pertama
yang
saying
penting
dalam
menentukan
keberhasilan peserta didik. Oleh karena itu, lingkungan
sekolah yang baik dapat mendorong peserta didiknya untuk
belajar lebih giat. Keadaan sekolah ini meliputi penyajian
pelajaran, hubungan guru denga peserta didik, alat-alat
pelajaran, dan kurikulum. Hubungan guru dan peserta didik
yang
kurang
baik
akan
mempengaruhi
hasil-hasil
belajarnya.
c) Lingkungan Masyarakat
Lingkungan membentuk kepribadian anak karena
pergaulan
sehari-hari,
menyesuaikan
dirinya
seorang
dengan
anak
akan
selalu
kebiasaan-kebiasaan
lingkungannya.
Berdasarakan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa
faktor intern yang mempengaruhi prestasi belajar adalah
kecerdasan, jasmaniah, sikap, minat, bakat dan motivasi.
Upaya Meningkatkan Disiplin…, Ika Mahfiroh Apriyani, FKIP, UMP, 2017
21
Sedangkan faktor ekstern yang mempengaruhi prestasi
belajar adalah keadaan keluarga, keadaan sekolah dan
keadaan lingkungan masyarakat.
5.
Pengertian Metode Synergetic Teaching
a.
Pengertian Metode Synergetic Teaching
Synergetic
memberikan
Teaching
kesempatan
merupakan
kepada
cara
peserta
belajar
didik
yang
untuk
membandingkan pengalaman-pengalaman yang telah mereka peroleh
dengan teknik berbeda dengan membandingkan catatan (Silberman,
2006: 113). Dari uraian tersebut diperoleh dua teknik belajar, yaitu
teknik belajar sendiri dan teknik belajar dengan guru.
1) Teknik belajar sendiri
Peserta didik diberikan kesempatan untuk mempelajari
materi dari buku atau sumber lain yang telah dipersiapkan oleh
guru. Guru tidak ikut berperan aktif di dalam pembelajaran.
2) Teknik belajar dengan guru
Peserta didik memperoleh materi pelajaran dari
penjelasan langsung dari guru. Peserta didik tidak memperoleh
materi dengan mendengarkan guru berceramah.
b.
Langkah-langkah Metode Synergetic Teaching
Metode pembelajaran memiliki langkah-langkah tersendiri
dalam proses penerapanannya, begitu juga dengan
metode
pembelajaran
metode
Synergetic
Teaching.
Langkah-langkah
Upaya Meningkatkan Disiplin…, Ika Mahfiroh Apriyani, FKIP, UMP, 2017
22
Synergetic Teaching Menurut Sirberman (2002: 113) sebagai
berikut:
Langkah-langkah metode Synergetic Teaching dapat
1) Bagilah kelas menjadi dua bagian; 2) Kirimkan satu
kelompok ke ruangan lain untuk membaca tetang topic yang
Anda ajarakan. Pastikan materi bacaan itu terformat dengan
baik dan mudah dibaca; 3) Selama masa ini, berikan sebuah
pelajaran yang disampaikan dengan lisan, ceramah, tentang
materi yangsama kepada separuh lainya dari kelas itu;
4) Kemudian, ganti pengalaman belajar. Berikan materi
bacaan tentang topik Anda bagi kelompok yang telah
mendengarkan pelajaran yang disampaikan dengan ceramah
dan berikan suatu pelajaran yang didasarkan dengan kuliah
kelompok yang membaca tersebut; 5) Pasangkan anggtotaanggota untuk masing-masing kelompok dan suruhlah
mereka menyimpulkan/meringkas apa yang telah mereka
pelajari.
Langkah-langkah
mempermudah
guru
dalam
proses
penerapan model pembelajaran. Dengan adanya langkah-langkah
tersebut guru akan mengetahui tahapan yang harus dilakukan,
dengan begitu peserta didik akan mudah untuk dikendalikan selama
proses penerapan metode Synergetic Teaching.
Jadi, langkah-langkah metode Synergetic Teaching adalah :
1) Bagilah kelas menjadi dua bagian.
2) Kirimkan satu kelompok ke ruang lain untuk membaca tentang
topik yang guru ajarkan. Pastikan materi bacaan itu terformat
dengan baik dan mudah dibaca.
3) Selama masa ini, berikan sebuah pelajaran yang disampaikan
dengan lisan, ceramah, tentang materi yang sama kepada
separuh lainya di kelas itu.
Upaya Meningkatkan Disiplin…, Ika Mahfiroh Apriyani, FKIP, UMP, 2017
23
4) Kemudian, ganti pengalaman belajar. Berikan materi bacaan
tentang
topik
yang
guru
bagi
kelompok
yang
telah
mendengarkan pembelajaran yang disampaikan dengan ceramah
dan berikan suatu pelajaran yang didasarkan dengan kuliah
kelompok yang membaca tersebut.
5) Pasangkan anggota-anggota untuk masing-masing kelompok
dan suruhlah mereka menyimpulkan atau meringkas apa yang
telah peserta didik pelajari.
6.
Pendidikan Kewarganegaraan
a.
Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan
Pendidikan Kewarganegaraan adalah mata pelajaran wajib di
SD. Pendidikan kewarganegaraan adalah mata pelajaran yang
memfokuskan pada pembetukan diri yang beragam dari segi agama,
sosialkultural, bahasa, usia, suku bangsa, untuk menjadi warga
Nergara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang
diamanatkan Pancasila dan UUD 1945 (Depdiknas, 2003).
Penjelasan dalam pasal 39 ayat 2 UU No. 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan, bahwa :
Pendidikan Kewarganegaraan merupakan usaha untuk
membekali peserta didik dengan pengetahuan dan kemampuan
dasar berkenaan dengan hubungan dengan warga negara serta
pendidikan pendahuluan bela negara agar menjadi warga
negara yang dapat diandalkan oleh bangsa dan negaranya.
Sedangkan Somantri (2001: 104) memberikan perumusan
konsep pendidikan kewarganegaraan sebagai berikut :
Upaya Meningkatkan Disiplin…, Ika Mahfiroh Apriyani, FKIP, UMP, 2017
24
PKn merupakan usaha untuk membekali peserta didik dengan
pengetahuan dan kemampuan dasar yang berkenaan dengan
hubungan antar warga negara dengan negara serta pendidikan
pendahuluan bela negara agar menjadi warga negara agar dapat
diandalkan oleh bangsa dan negara.
Dari beberapa pendapat di atas, menjelaskan bahwa PKn
merupakan mata pelajaran wajib yang menitik beratkan pada
pembinaan karakter warga negara dalam perspektif kenegaraan.
Dengan adanya pendidikan kewarganegaraan di SD diharapkan
peserta didik dapat dibina untuk menjadi warga negara yang baik.
b.
Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan
Tujuan mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan menurut
Mulyasa dalam (Susanto, 2013: 231) adalah menjadikan peserta
didik agar :
1) Mampu berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam
menanggapi
persoalan
hidup
maupun
isu
kewarganegaraan di negaranya.
2) Mampu berpartisipasi dalam segala bidang kegiatan,
secara katif dan bertanggung jawab sehingga bisa
bertindak secara cerdas dalam semua bidang.
3) Bisa berkembang secara positif dan demokratis, sehingga
mampu hidup bersama dengan bangsa lain di dunia dan
mampu berinteraksi, serta mampu memnafaatkan
teknologi informasi dan komunikasi dengan baik.
Bersasarkan uraian di atas dapat disimpulkan tujuan
Pendidikan Kewarganegaraan ialah membekali peserta didik tentang
pengetahuan dan kemampuan dasar menjadi warga negara yang baik,
demokratis, tanggung jawab, dan dapat mengikuti perkambangan
teknologi dan informasi serta dapat berguna bagi negaranya.
Upaya Meningkatkan Disiplin…, Ika Mahfiroh Apriyani, FKIP, UMP, 2017
25
c.
Materi Pendidikan Kewarganegaraan
1) Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
Tabel 2.2 SK dan KD
Stándar
Kompetensi Dasar
Kompetensi
4. Menunjukkan sikap 4.1 Memberikan contoh sederhana
terhadap globalisasi
pengaruh
globalisasi
di
di lingkungannya
lingkungannya
4.2 Mengidentifikasi jenis budaya
Indonesia
yang
pernah
ditampilkan
dalam
misi
kebudayaan internasional
4.3 Menentukan sikap terhadap
pengaruh globalisasi yang terjadi
di lingkungannya
2) Pengertian Globalisasi
Globalisasi adalah proses perubahan menuju kehidupan
mendunia. Di zaman era globalisasi ini, setiap kejadian,
peristiwa, atau perkembangan di suatu tempat akan didapatkan
orang-orang yang ada di tempat lain yang berjauhan. Proses
globalisasi ditandai dengan adanya perubahan-perubahan dalam
tatanan masyarakat. Hal itu disebabkan adanya kemajuan
teknologi.
Perubahan-perubahan tersebut terjadi dalam berbagai
bidang kehidupan, seperti ekonomi, sosial, politik, dan budaya.
Dahulu, masyarakat tidak mudah mendapatkan informasi atau
berbagai peristiwa yang terjadi di belahan bumi lain secara
langsung karena keterbatasan teknologi. Tetapi, kini masyarakat
Upaya Meningkatkan Disiplin…, Ika Mahfiroh Apriyani, FKIP, UMP, 2017
26
dapat mengetahui dengan cepat apa saja yang terjadi di negara
lain. Hal ini berkat kemajuan teknologi informasi.
Adanya kemajuan teknologi ini, hubungan antarnegara
menjadi lebih mudah. Kerja sama antarnegara dalam berbagai
bidang dilakukan untuk memudahkan warga negaranya dalam
beraktivitas. Misalnya, kerja sama di bidang ekonomi, yaitu
adanya perdagangan bebas. Barang-barang produksi luar negeri
dapat dengan bebas dipasarkan di dalam negeri. Begitu pula
halnya dengan barangbarang buatan dalam negeri dapat
dipasarkan di luar negeri. Adanya budaya asing tersebut tentu
memberikan dampak positif dan negatif. Diantara unsur budaya
asing yang berdampak positif, antara lain:
a) Makin canggihnya sarana informasi, seperti: televisi,
parabola, komputer, satelit, internet, handphone,
kamera digital.
b) Sarana transportasi menjadi lebih cepat, seperti
menggunakan pesawat terbang, helikopter, kapal
laut, kapal ferry, kereta api, bus, mobil, sepeda
motor.
c) Teknologi bangunan dan arsitektur, gedung-gedung
pencakar langit.
d) Sistem kedokteran yang makin canggih.
e) Mesin-mesin canggih yang dapat membantu proses
produksi.
f) Sistem perbankan yang mudah.
g) Adanya persaingan untuk maju.
(Sri Nuryani, 2009:78-79)
Adapun dampak negatif dari adanya globalisasi adalah
sebagai berikut:
Upaya Meningkatkan Disiplin…, Ika Mahfiroh Apriyani, FKIP, UMP, 2017
27
a) Masyarakat Indonesia lebih senang menggunakan dan
membeli produk luar negeri daripada membuat
produknya, disebut konsumerisme. Akibatnya,
masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang boros
dan lebih senang menghambur-hamburkan uang untuk
membeli barangbarang baru dari luar negeri.
b) Akibat banyaknya kendaraan dan berdirinya pabrikpabrik, terjadilah pencemaran lingkungan, di
antaranya pencemaran air, pencemaran udara, dan
pencemaran tanah.
c) Berkurangnya lahan pertanian yang produktif
menjadikan masyarakat bergantung kepada orang lain.
d) Berubahnya mata pencaharian penduduk.
(Sri Nuryani, 2009:80)
3) Kebudayaan Indonesia dalam Misi Internasional
Masyarakat Indonesia terdiri atas banyak suku. Sehingga
suku-suku tersebut memiliki ciri khas tersendiri. Dari ciri khas
tersebut, terwujudlah kebudayaan Indonesia. Misalnya, Aceh
memiliki tarian khas, yaitu tari Saman, Yogyakarta memiliki
rumah khas, yaitu rumah Joglo, dan sebagainya. Dari
keberagaman
kebudayaan
tersebut
menghantarkan
nama
Indonesia ke dunia internasional. Sehingga misi Indonesia
adalah memperkenalkan kebudayaan Indonesia di dunia
internasional.
4) Sikap Terhadap Pengaruh Globalisasi
Globalisasi secara tidak langsung dapat mempengaruhi
aktivitas kehidupan manusia. Dampak positif dan dampak
negatif dari globalisasi cepat atau lambat dapat dirasakan.
Pancasila dan UUD 1945 bisa dijadikan filter (penyaring) dari
budaya asing yang masuk ke Indonesia. Beberapa sikap yang
Upaya Meningkatkan Disiplin…, Ika Mahfiroh Apriyani, FKIP, UMP, 2017
28
harus ditanamkan dalam menghadapi globalisasi adalah sebagai
berikut:
a) Menjadi hamba yang taat kepada agama yang dianut
sehingga di dalam diri kertanam jiwa kebaikan.
b) Senantiasa meningkatkan kedisiplinan terhadap aturan
yang berlaku, seperti nilai dan norma yang berlaku
dalam masyarakat.
c) Tidak mudah terpengaruh terhadap hal-hal yang baru.
Setiap hal yang baru harus diuji nilai manfaat dan
kebenarannya.
d) Berpikirlah mendunia, tetapi tidak melupakan budaya
sendiri.
(Sri Nuryani, 2009:83)
B. Penelitian yang Relevan
1.
Berdasarkan penelitian Efrinaldi
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Efrinaldi pada tahun
2011 yang berjudul
“Penerapan Metode Pembelajaran Synergetic
Teaching untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah
Matematika Siswa pada Materi Pecahan di Kelas V Madrasah Ibtidaiyah
Swasta
Rumbio
pembelajaran
Kecamatan
menggunakan
Kampar”,
metode
menyimpulkan
Syenergetic
Teaching
bahwa
dapat
meningkatkan kemampuan pemecahan masalah peserta didik di MI
Rumbo kecamatan Kampar. Peneliti menggunakan hasil penelitian
tersebut karena, terdapat persamaan yaitu menggunakan metode
pembelajaran Synergetic Teaching. Perbedaan dari kedua penelitian ini,
yaitu terlihat dari variabel. Peneliti menggunakan dua variable,
sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Efrinaldi menggunakan saru
variable.
Upaya Meningkatkan Disiplin…, Ika Mahfiroh Apriyani, FKIP, UMP, 2017
29
Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa
penggunaan metode Synergetic Teaching efektif meningkatkan disiplin
dan prestasi belajar peserta didik. Penelitian ini akan dilakukan dalam 2
siklus dimana setiap siklus terdiri dari 2 kali pertemuan.
2.
Berdasarkan Jurnal Internasional
Pendidiakn karakter berdasarkan jurnal internasional yang
disusun oleh Rawana, Justin R E Franks, Jessica L Brownlee, Keith
Rawana, Edward P, Neckoway, Raymond tahun 2011 yang berjudul The
Application of a Strength-Based Approach of Students' Behaviours to the
Development of a Character Education Curriculum for Elementary and
Secondary Schools, menyebutkan :
The fundamental goal of character education is to help students
adopt a set of character traits or values, which are internalized
and reflected in their thoughts, emotions, and behaviours a
their character develops. The six pillar of character education are
a set of important positive characteristics that are inherently
holistic and developmental in nature. They represent values that,
when internalized, eventually become an integral part of an
individual's personality, influencing all aspects of a person's
thought, emotions, and behaviours. In other words, an
individual's behaviour is always related to some aspect of
their character. While these are valued outcomes, educators do
recognize that they do not easily develop in all children, thus
forming the need for character education. However, character is
a diffuse, abstract, and global concept which may be difficult for
children to conceptualize and relate to. Incontrast, the concept of
personal strengths, as represented by positive behaviours, is
concrete and specific and can be linked to a child's day-to-day
functioning.
Berdasarkan juranal di atas dapat disimpulkan tujuan pendidikan
karakter adalah membatu peserta didik untuk mengadopsi satu set
karakter atau nilai-nilai yang diinternalisasikan dan tercermin dalam
Upaya Meningkatkan Disiplin…, Ika Mahfiroh Apriyani, FKIP, UMP, 2017
30
pikiran, emosi, dan perilaku sebagai karakter mereka. Disiplin
merupakan salah satu indikator yang harus dicapai dalam pendidikan
karakter.
3.
Berdasarkan Jurnal Internasional
Berdasarkan jurnal internasional yang ditulis oleh Klavdiya G.
Erdyneeva1 dan kawan-kawan, yang berjudul “Upgrading Educational
Quality through Synergy of Teaching and Research”, yang diterbitkan
oleh International Review of Management and Marketing, menyebutkan:
Strengthening the role of synergy in the development process of
research competence for humanities is able to increase the level
of creative potential of prospective professionals and, hence, is
necessary for productive sectors of the economy and labor market.
For these all above mentioned reasons, our work, in our opinion,
may be helpful for practitioners of humanitarian higher education
institutions, as well as for further development and thus
contributing into the process of upgrading the system of higher
education in Russia.
Berdasarkan
uraian
di
atas
dapat
disimpulkan
bahwa
pembelajaran secara synergetic sangat efektif dan efisiean. Berdasarkan
penelitian di atas penerepan sistem synergetic membantu pekerjaan para
objek penelitian, dan para praktisi. Berdasarka penelitian yang dilakukan
oleh Triani Sulistyarini di atas penerapan metode Synergetic Teaching
mampu meningkatkan beberapa aspek dalam pendidikan karakter salah
satunya disiplin. Dari dua jurnal tentang metode synergetic
dapat
disimpulkan bahwa metode synergetic efektif dalam penerapan
pendidikan karakter, dimana objek penelitian dituntut untuk bekerja
secara sinergi sehingga niali-nilai dicapai dengan baik.
Upaya Meningkatkan Disiplin…, Ika Mahfiroh Apriyani, FKIP, UMP, 2017
31
C. Kerangka Pikir
Berdasarkan kondisi dan keadaan kelas IV SD Negeri Karang Pule
yang menunjukan rendaknya sikap disiplin dan prestasi belajar peserta didik,
penerapan metode Syenergetic Teaching diharapkan akan menggubah kondisi
dan keadaan kelas IV SD Negeri Karang Pule pada pembelajaran PKn.
Adapun bagan kerangka pikir dari pelaksanaan penelitian tindakan
kelas ini, adalah sebagai berikut:
Sikap disiplin dan
prestasi belajar SD
Negeri Karang Pule
pelajaran PKn materi
globalisasi rendah
Kondisi Awal
vv
Tindakan siklus I
pembelajaran dengan
menggunakan Synergetic
Teaching pada
pembelajaran PKn materi
globalisasi
Tindakan
Tindakan siklus II
pembelajaran dengan
menggunakan Synergetic
Teaching pada pembelajaran
PKn materi globalisasi
Kondisi Akhir
Peningkatan
sikap
disiplin dan prestasi
berlajar PKn materi
Globalisasi meningkat
Refleksi
Gambar 2.1 Bagan Kerangka Berpikir
Upaya Meningkatkan Disiplin…, Ika Mahfiroh Apriyani, FKIP, UMP, 2017
32
D. Hipotesis Tindakan
Bersarkan kerangka berpikir yang diuraikan sebelumnya, maka
hipotesis tindakan dalam penelitian tindakan kelas ini dapat dirumuskan :
1.
Melalui metode pembelajaran Synergetic Teaching dapat meningkatkan
sikap disiplin peserta didik pada mata pelajaran PKn materi globalisasi di
kelas IV SD Negeri Karang Pule.
2.
Melalui metode pembelajaran Synergetic Taeching dapat meningkatkan
prestasi belajar peserta didik pada mata pelajaran PKn materi globalisasi
di kelas IV SD Negeri Karang Pule.
Upaya Meningkatkan Disiplin…, Ika Mahfiroh Apriyani, FKIP, UMP, 2017
Download