59 PERKEMBANGAN PENGGUNAAN SISTEM

advertisement
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Seni 2016
Jurusan PBS, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jambi
Mendalo Darat, 5 Agustus 2016
PERKEMBANGAN PENGGUNAAN SISTEM SAPAAN
DALAM BAHASA MELAYU JAMBI
Hustarna ([email protected])
Masbirorotni ([email protected])
Universitas Jambi
Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistem sapaan yang digunakan oleh
penutur bahasa Melayu Jambi pada zaman dahulu dan sekarang dan pertimbangan
penggunaan kata sapaan yang digunakan. Selain itu, peneliti juga mendeskripsikan perbedaan
sistem sapaan yang digunakan dahulu dan sekarang, serta faktor yang mempengaruhi
terjadinya perubahan sistem sapaan tersebut. Penelitian ini menggunakan rancangan
penelitian deskriptif. Data dikumpulkan melalui tehnik wawancara dan observasi. Dari hasil
wawancara terhadap 11 orang informan (4 informan beruasia 75-110 tahun, dan 6 informan
berusia 20-45 tahun) dan hasil observasi, peneliti menemukan ada banyak variasi kata sapaan
yang digunakan oleh para penutur bahasa Melayu Jambi dahulu dan sekarang. Pilihan kata
sapaan yang digunakan untuk menyapa seseorang adalah dengan mempertimbangkan warna
kulit, postur tubuh, dan posisi seseorang yang disapa dalam sebuah keluarga. Selain itu
peneliti juga menemukan beberapa perbedaan sistem sapaan yang digunakan dahulu dan
sekarang. Pada masa sekarang penutur bahasa Melayu Jambi cenderung untuk menggunakan
kata-kata sapaan yang lebih bersifat umum, yang tidak mencirikan bagian dari bahasa Melayu
Jambi misalnya kata ‘nenek’, ‘om’, ‘tante’, ‘umi, ‘abi’, dan ‘bunda’. Pada masa lalu kata
sapaan bisa digunakan untuk melihat tingkatan seseorang dalam keluarga. Sedangkan pada
masa sekarang kata sapaan yang digunakan sebagiannya tidak bisa lagi digunakan untuk
melihat tingkatan seseorang dalam keluarga. Adapun faktor yang mempengaruhi perubahan
penggunaan kata sapaan tersebut adalah adanya faktor gengsi (menganggap kata sapaan dari
bahasa lain lebih bernilai dan modern), agama, pendidikan, intimasi (kedekatan), dan
pernikahan campuran. Pada akhirnya jika perubahan ini terus terjadi maka bisa saja pada
masa yang akan datang orang Melayu Jambi asli tidak akan mengenal sistem sapaan yang ada
dalam bahasa Melayu Jambi.
Kata Kunci: Bahasa Melayu Jambi, perkembangan, kata sapaan.
Pendahuluan
Latar Belakang
Indonesia memiliki beragam bahasa. Salah satunya adalah bahasa Melayu Jambi.
Bahasa Melayu Jambi pun memiliki beragam dialek, yang berbeda antara satu lokasi dengan
lokasi lainnya. Salah satu tempat dimana bahasa Melayu Jambi masih digunakan adalah di
kecamatan Danau Teluk dan Pelayangan. Meski Bahasa Melayu Jambi masih digunakan oleh
masyarakat di beberapa kecamatan di sepanjang aliran sungai Batanghari (diantaranya
kecamatan Danau Teluk dan Pelayangan), banyak generasi mudanya tidak lagi memahami
dan menggunakan bahasa asli Melayu Jambi tersebut. Banyak masyarakat di wilayah
tersebut yang menggunakan bahasa Melayu yang telah bercampur dengan beragam dialek
seperti dialek kota, dialek Jakarta, bahkan bercampur dengan bahasa Indonesia. Oleh karena
itu, keberadaan bahasa asli Melayu Jambi bisa terancam kepunahan. Hal ini sejalan dengan
apa yang dikatakan oleh Holmes (2001: 57) bahwa “The process of language death for the
language comes about through this kind of gradual loss of fluency and competence by its
59
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Seni 2016
Jurusan PBS, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jambi
Mendalo Darat, 5 Agustus 2016
speakers (proses kepunahan bahasa berawal dari mulai berkurangnya kelancaran dan
kompetensi bahasa tersebut oleh para penuturnya).”
Diantara bagian bahasa Jambi yang sudah tidak sesuai lagi dengan yang biasa
digunakan dahulu adalah dari segi kata sapaan. Kata sapaan merupakan salah satu bagian
penting dalam bahasa. Kata sapaan digunakan bukan hanya untuk sekedar penanda bahasa
tetapi juga digunakan sebagai penanda identitas diri penutur dan lawan bicara. Menurut
Holmes (2001: 3) pilihan penggunan bentuk bahasa menentukan tidak hanya sebagai penanda
linguistik tetapi juga sebagai alat penyampai informasi sosial.
Sebagai penanda sosial, kata sapaan dalam bahasa Melayu Jambi memiliki beragam
jenis kata sapaan. Kata sapaan untuk saudara ibu yang lebih tua misalnya tidak sama dengan
kata sapaan untuk saudara ibu yang lebih muda. Kata sapaan untuk saudara ibu yang lebih tua
bisa berupa kata ‘uwak’ sedangkan kata sapaan untuk saudara ibu yang lebih muda bisa
berupa kata ‘paman’ atau ‘bibi’. Kata sapaan yang digunakan bisa mencerminkan tingkatan
seseorang dalam sebuah keluarga besar. Akan tetapi seiring dengan perubahan waktu dan
berkembangnya zaman, kata sapaan yang dulu biasa digunakan tidak lagi sama dengan kata
sapaan yang sekarang digunakan. Kata ‘uwak’ dan yang sejenisnya banyak diganti dengan
kata sapaan yang tidak lagi memperlihatkan tingkatan seseorang dalam keluarga besar.
Misalnya kata ‘mamak’ tidak lagi digunakan hanya untuk menyapa ibu kandung tetapi juga
digunakan sebagai kata sapaan untuk saudara ibu, baik yang lebih muda ataupun yang lebih
tua.
Fenomena ini menimbulkan kerancuan dalam berbahasa, khususnya dalam bahasa
Melayu Jambi. Indikasi hilangnya atau berubahnya sebagian sistem sapaan dalam Bahasa
Melayu Jambi membuat peneliti tertarik untuk melakukan penelitian ini. Peneliti sangat
tertarik untuk melihat perkembangan penggunaan bahasa Melayu Jambi khususnya dari segi
penggunaan kata sapaan tersebut. Peneliti ingin mencari tahu apa saja jenis kata sapaan yang
digunakan oleh penutur bahasa Melayu Jambi dulu dan sekarang, jenis kata sapaan apa yang
telah berganti, serta apa penyebab pergantian penggunaan kata sapaan yang digunakan
sekarang oleh penutur bahasa Melayu Jambi.
Kajian Pustaka
Definisi dan fungsi kata sapaan
Ada banyak definisi kata sapaan yang dikemukakan oleh para ahli bahasa. Menurut
Bowe dan Martin (2007) kata sapaan adalah bentuk bahasa yang digunakan sebagai identitas
seseorang dalam masyarakat. Bowe dan Martin menganggap penggunaan sistem sapaan
merupakan hal yang penting yang harus diperhatikan dalam berkomunikasi karena hal
tersebut bisa berpengaruh pada hubungan sosial para penutur bahasa dalam bermasyarakat.
Lebih lanjut Mauss (dalam Bowe dan Martin: 2007: 95) menyatakan bahwa “ Address form
can contribute to a person’s sense of identity and can characterize an individual’s position in
his family and in society at large: it defines his social personality”. In berarti bahwa kata
sapaan bisa mencirikan seseorang bukan hanya dalam keluarga tetapi juga dalam masyarakat.
Dalam Gorat (2012), seorang peneliti bahasa yang bernama Ervin dalam penelitiannya
menyatakan bahwa kata sapaan yang digunakan oleh para penutur bahasa Inggris
menggunakan kata ganti orang kedua.
Selanjutnya Salzman (dalam Nugraha dan Ramadhoni, 2011) mendefinisikan kata
sapaan sebagai kata yang digunakan untuk mengacu kepada seseorang baik dalam ucapan
maupun dalam tulisan. Sedangkan menurut Holmes (2001) kata sapaan adalah kata-kata atau
ungkapan yang digunakan untuk menyebut/memanggil mitra tutur. Holmes juga menganggap
bahwa penggunaan kata sapaan merupakan bagian penting dalam bahasa yang bisa
60
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Seni 2016
Jurusan PBS, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jambi
Mendalo Darat, 5 Agustus 2016
mempengaruhi hubungan seorang penutur dengan para penutur lainnya dalam hubungan
sosial kemasyarakatan. Brown dan Gilman (dalam Rusbiantoro, 2011) menyatakan bahwa
kata sapaan juga berfungsi sebagai simbol yang mengindikasikan kekuasaan dan
kebersamaan. Kekuasaan ditentukan berdasarkan status sosial, usia, jenis kelamin, dan
sebagainya yang menentukan hubungan antara atasan dan bawahan. Kebersamaan yang
dimaksud adalah yang menunjukkan hubungan keakraban di antara para penutur bahasa
dalam sebuah peristiwa bahasa.
Berdasarkan definisi di atas peneliti menyimpulkan bahwa kata sapaan dalam bahasa
Inggris umumnya merujuk pada kata-kata yang digunakan untuk orang kedua/mitra tutur.
Sedangkan menurut Kridalaksana, dalam Bahasa Indonesia kata sapaan adalah kata atau
ungkapan yang digunakan untuk merujuk orang pertama, kedua, dan ketiga. Berdasarkan
fungsinya semua kata sapaan berfungsi sebagai identitas diri dalam keluarga dan masyarakat.
Semua penutur bahasa mesti memperhatikan penggunaan kata sapaan dalam berkomunikasi
karena kesalahan penggunaan kata sapaan bisa menimbulkan masalah dalam proses interaksi
dalam masyarakat. Masalah yang timbul bisa berupa kerenggangan hubungan antara seorang
penutur dengan mitra tuturnya. Kesalahan penggunaan kata sapaan bisa dianggap sebagai
bentuk ketidaksopanan seorang penutur kepada mitra tuturnya. Penutur tersebut bisa
dianggap tidak menghormati mitra tuturnya.
Selain itu ketidakfahaman seseorang akan bagaimana seharusnya menggunakan kata
sapaan dalam berinteraksi juga bisa menimbulkan jarak sosial. Misalnya, jika seseorang tidak
tahu bagaimana menyapa seseorang yang seharusnya ia sapa karena masih ada hubungan
kerabat ketika bertemu di jalan maka untuk menghindari kesalahan penggunaan kata sapaan
maka ia tidak jadi menyapa orang tersebut atau menyapa tanpa menggunakan kata sapaan.
Mitra tuturnya bisa saja beranggapan bahwa ia tidak tahu hubungan kekerabatan diantara
mereka dan/ atau bisa jadi akan dianggap sombong. Hal ini tentu saja akan berdampak negatif
terhadap hubungan sosial diantara mereka. Hal ini didukung oleh pendapat Kartomiharjo
(dalam Rusbiantoro, 2011) bahwa penggunaan kata sapaan akan berpengaruh pada proses
interaksi antara satu penutur dengan penutur lainnya. Lebih lanjut dikatakannya bahwa bukan
hanya adat kebiasaan, norma, nilai dan peraturan yang berlaku dalam masyarakat yang
dijadikan pedoman yang digunakan untuk mengatur perilaku masyarakat, tetapi juga bahasa
yang dimiliki oleh masyarakat tersebut.
Faktor yang mempengaruhi pemilihan kata sapaan
Holmes (2001) mengemukakan bahwa ada banyak faktor yang bisa mempengaruhi
seseorang dalam menggunakan kata sapaan. Dalam bahasa Inggris pemilihan penggunaan
kata sapaan tergantung pada usia, jenis kelamin, hubungan kekerabatan, dan status sosial
(dilihat dari pendidikan dan pekerjaan), jarak sosial (jarak solidaritas para penutur), serta
tingkat formalitas dari sebuah interaksi. Sedangkan dalam bahasa Jawa, pemilihan
penggunaan kata sapaan selain tergantung pada usia, jenis kelamin, hubungan kekerabatan,
dan status sosial, jarak sosial (jarak solidaritas para penutur), serta tingkat formalitas dari
sebuah interaksi, juga tergantung pada status seseorang dalam keluarga.
Ervin (dalam Gorat, 2012) menyatakan bahwa terdapat 3 faktor yang mempengaruhi
seseorang dalam menggunakan kata sapaan. Yang pertama adalah faktor situasi, yang
ditandai oleh status. Seorang penutur menyapa mitra tutur dengan memperhatikan tempat
dimana status dan gaya bicara ditetapkan dengan jelas, seperti di ruang sidang pengadilan,
ruang rapat kerja di sebuah perusahaan, dll. Dengan latar tersebut pemilihan kata sapaan
seseorang diambil dari identitas sosialnya, misalnya pak hakim, bu guru, dll. Faktor kedua
adalah pangkat. Pangkat merujuk pada tingkatan seseorang dalam suatu kelompok kerja.
61
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Seni 2016
Jurusan PBS, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jambi
Mendalo Darat, 5 Agustus 2016
Sedangkat faktor ketiga adalah perangkat identitas, berupa gelar dalam pekerjaan atau gelar
kehormatan, misalnya pak dokter dan pak Professor.
Perubahan Penggunaan Bahasa
Perkembangan zaman pasti mengindikasikan perubahan. Perubahan yang terjadi tidak
hanya dari segi geografi, topografi, sosial, ekonomi, dan budaya tapi juga bahasa. Hal ini
terjadi karena bahasa mencerminkan budaya suatu bangsa. Bahasa merupakan salah satu
unsur penting sebagai penanda suatu komunitas.
Terjadinya perubahan penggunaan suatu bahasa secara terus menerus bisa
menghilangkan bahasa itu sendiri. Dan akibat fatalnya adalah budaya yang ada juga ikut
hilang. Menurut Dressler (dalam Adisaputera, 2013) kepunahan bahasa bisa diakibatkan oleh
kedwibahasaan atau kemultibahasaan dan akibat desakan bahasa dominan. Sedangkan
menurut Romaine (dalam Adisaputera, 2013), ada 10 faktor yang menyebabkan pergeseran
suatu bahasa. Kesepuluh faktor tersebut adalah (1) kekuatan secara kuantitatif antara
kelompok mayoritas dan kelompok minoritas, (2) kelas sosial, (3) latar belakang agama dan
pendidikan, (4) pola perkampungan/masyarakat, (5) kesetiaan terhadap tanah kelahiran, (6)
derajat kesamaan antara bahasa mayoritas dan bahasa minoritas, (7) luas perkawinan
campuran, (8) sikap mayoritas dan minoritas, (9) kebijakan pemerintah terhadap pengawasan
bahasa dan pendidikan minoritas, dan (10) pola-pola penggunaan bahasa.
Sedangkan menurut Crystal (2003) ada banyak hal yang bisa menyebabkan punahnya
suatu bahasa. Pertama, punahnya suatu bahasa disebabkan oleh telah meninggalnya penutur
bahasa tersebut, yang bisa disebabkan oleh suatu bencana. Kedua, bisa saja penuturnya masih
ada tetapi telah terjadi akulturasi budaya sehingga bahasa asli mengalami perubahan akibat
bercampurnya dua atau lebih budaya dalam sebuah komunitas. Faktor lain bisa berupa
adanya kedwibahasaan. Bahasa dominan akan menggeser bahasa yang jarang dipakai.
Selanjutnya perubahan sikap terhadap suatu bahasa juga bisa menyebabkan hilangnya suatu
bahasa. Adanya sikap antipati terhadap bahasa lokal, karena dianggap kurang elit misalnya,
bisa membuat para penuturnya beralih menggunakan bahasa lain yang dianggap lebih
bernilai. Adanya media, perubahan sistem pendidikan, dan tekanan politik juga bisa menjadi
salah satu faktor punahnya suatu bahasa.
Penelitian- penelitian sebelumnya tentang kata sapaan
Ada beberapa penelitian yang terkait dengan kata sapaan. Sayangnya tidak satupun
penelitian tersebut yang berkaitan dengan kata sapaan dalam bahasa Melayu Jambi.
Penelitian yang terkait dengan kata sapaan diantaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh
Tengku Syarfina (2007), Elfrida W.S Sumampouw (1990), Efsi Kurniasih, dkk (2014),
Wenni Rusbiantoro ( 2011), dan Abdurrahman Adisaputera (2013).
Bahasa Melayu Jambi
Bahasa Melayu Jambi termasuk dalam bahasa Austronesia. Bahasa Melayu Jambi
digunakan di sebagian besar wilayah Provinsi Jambi, kecuali di kabupaten Kerinci dan kota
Sungai Penuh. Bahasa ini memiliki beragam dialek, diantaranya dialek Kota seberang, dialek
Batanghari, dialek tebo, dll. Para pakar bahasa berbeda pendapat mengenai bahasa Melayu
Jambi. Ada yang beranggapan bahwa bahasa Melayu Jambi hanya merupakan dialek dari
bahasa Melayu. Sedangkan sebagian lainnya beranggapan bahwa Bahasa Melayu Jambi
berdiri sendiri sebagai sebuah bahasa (http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Melayu_Jambi).
Menurut sebagian ahli bahasa, bahasa Melayu Jambi merupakan salah satu bahasa
yang terancam punah (http://lingweb.eva.mpg.de/jakarta/jambi_malay.php). Hal ini mungkin
62
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Seni 2016
Jurusan PBS, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jambi
Mendalo Darat, 5 Agustus 2016
disebabkan oleh berkurangnya penutur bahasa tersebut dan telah bercampurnya bahasa
Melayu Jambi dengan bahasa-bahasa lain, yang didapat melalui proses interaksi dengan para
penutur bahasa lain, perkawinan campuran, dan yang didapat melalui media cetak ataupun
media elektronik.
Metode Penelitian
Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data dari penelitian ini adalah semua
jenis kata sapaan yang digunakan dalam bahasa Melayu Jambi. Peneliti menggunakan sumber
data lisan (sumber data hasil wawancara dengan penutur bahasa Melayu Jambi dan
observasi). Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan tehnik purposive sampling dengan
jumlah partisipan sebanyak 11 orang. Kriteria pemilihan partisipan dalam penelitian ini
berdasarkan tingkat usia dan kemampuannya dalam menggunakan bahasa Melayu Jambi.
Usia partisipan dalam penelitian ini adalah antara 20 tahun – 110 tahun. Adapun kemampuan
dalam menggunakan bahasa Jambi adalah berdasarkan dimana mereka lahir dan tempat
tinggal mereka, dan lamanya mereka menetap di daerah tersebut. Para partisipan dalam
penelitian ini adalah mereka yang lahir dan tinggal di daerah sepanjang aliran sungai
Batanghari, khususnya yang tinggal di kecamatan Danau Teluk dan Pelayangan. Ada dua
jenis metode dalam pengumpulan data linguistik: (1) metode wawancara, dan (2) metode
observasi.
Hasil Dan Pembahasan
Setelah peneliti mengumpulkan data dengan cara mewawancarai para informan dan
melakukan pengamatan langsung serta berdasarkan pengetahuan peneliti sebagai penutur asli
bahasa Melayu Jambi, didapatlah data yang berkaitan dengan sistem sapaan bahasa Melayu
Jambi yang digunakan oleh para penutur bahasa Melayu Jambi pada masa lalu dan sekarang.
Data tersebut didapat dari informan yang berusia di antara 20 - 110 tahun. 4 orang informan
berasal dari generasi tua yaitu yang berusia di antara 70 – 110 tahun. Data dari mereka
digunakan untuk mengetahui sistem sapaan yang dipakai pada masa lalu. Sedangkan 6
informan lainnya berusia antara 20 – 45 tahun. Data dari mereka digunakan untuk
mengetahui sistem sapaan yang digunakan sekarang. Peneliti juga menggunakan
pengetahuannya sebagai penutur asli bahasa Melayu Jambi untuk memperkaya data yang
sudah didapat dari para informan.
Sistem sapaan digunakan dalam hubungan kekerabatan dan non kekerabatan. Sistem
sapaan dalam hubungan kekerabatan berdasarkan hubungan sedarah dan perkawinan.
Sedangkan sistem sapaan dalam hubungan non kekerabatan berdasarkan pergaulan sosial,
profesi, adat, pendidikan, dan lain-lain. Dalam penelitian ini peneliti hanya meneliti
perkembangan sistem sapaan yang berkaitan dengan hubungan kekerabatan. Di bawah ini
adalah tabel kata sapaan yang digunakan oleh para penutur bahasa Melayu Jambi.
Tabel. 1. Kata Sapaan yang Digunakan dalam Bahasa Melayu Jambi Pada Masa Lalu
Kata sapaan yang digunakan
Kata sapaan yang digunakan dulu
untuk:
Orang tua laki-laki
Bapak/pak, baba, ayah, bak
Orang tua perempuan
mak
Orang tua laki-laki ayah
datuk
Orang tua laki-laki ibu
datuk
Orang tua perempuan ayah
nyai
Orang tua perempuan ibu
Nyai, gde
Kakek ayah
buyut
63
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Seni 2016
Jurusan PBS, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jambi
Mendalo Darat, 5 Agustus 2016
Kakek ibu
Satu generasi di atas buyut
Dua generasi di atas buyut
Anak
Anak dari anak
Anak dari cucu
saudara laki-laki ayah yang lebih
tua
Saudara laki-laki ayah yang lebih
muda
buyut
Piyut, noneng, nenek
Pokel, noneng, moyang
Panggil nama
cucu
cicit
Wak, uwak, wak ning, wak te, wak muk,
wak nga, wak ndek, wak sak, wak cik
Pak nga, pak te, pak ning, pak muk, pak
sak, pak njang, pak cik, pak ndek, pak do,
pak busu/paksu
Wak, uwak, wak ning, wak te, wak muk,
wak nga, wak ndek, wak sak, wak cik
Bibi, bining, bite, binga, bindek, bisak,
bicik, bido, meknga, mekte, mekcik,
mekdo, mekyu, mek busu/meksu
Abang, bangte, bangning (baning),
bangndek, bangcik, bangmuk, bangsak
Panggil nama
Saudara perempuan ibu yang
lebih tua
Saudara perempuan ibu yang
lebih muda
Saudara laki-laki yang lebih tua
Saudara laki-laki yang lebih
muda
Saudara perempuan yang lebih tua
Mok, wo, mok ndak, mok ndek, mok te,
mok yu, yu, mok nga, mok cik, mok
ning,mok dang,
Panggil nama
Saudara perempuan yang lebih
muda
Panggilan khas untuk anak lakilaki
Panggilan khas untuk anak
perempuan
saudara ipar laki-laki yang lebih
tua
saudara ipar laki-laki yang lebih
muda
saudara ipar perempuan yang
lebih tua
Bujang, kulup
Supek
Abang, Bangte, bangning (baning),
bangndek, bangcik, bangmuk, bangsak
Adik, panggil nama, adik dan nama
panggilan
Mok, mokte, moktam, moknyang,
mokndek,
mokndak,
mokcik,
moknga,mokning
Adik, panggil nama, adik dan nama
panggilan
Bujang, kulup
Saudara ipar perempuan yang
lebih muda
Panggilan khas untuk anak lakilaki
Panggilan khas untuk anak
perempuan
Antar orang tua (orang tua istri ke
orang tua suami dan sebaliknya)
supek
Besan
64
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Seni 2016
Jurusan PBS, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jambi
Mendalo Darat, 5 Agustus 2016
Orang tua suami
Wak, uwak, wak ning, wak te, wak muk,
wak nga, wak ndek, wak sak, wak cik,
pak nga, pak te, pak ning, pak muk, pak
sak, pak njang, pak cik, pak ndek, pak do,
pak
busu/paksu.
Sesuai
dengan
panggilan sebelum menikah
Wak, uwak, wak ning, wak te, wak muk,
wak nga, wak ndek, wak sak, wak cik,
bibi, bining, bite, binga, bindek, bisak,
bicik, bido, meknga, mekte, mekcik,
mekdo, mekyu, mek busu/meksu. Sesuai
dengan panggilan sebelum menikah.
Sama seperti memanggil saudara ipar
secara umum
Orang tua istri
Antar ipar (paduaian)
Table 2. Kata Sapaan yang Digunakan dalam Bahasa Melayu Jambi Sekarang
Kata sapaan yang digunakan
Kata sapaan yang digunakan dulu
untuk:
Orang tua laki-laki
Bapak/ Pak, Bak, ayah, aba, papa, abi
Orang tua perempuan
Mak, ibu, umi, bunda
Orang tua laki-laki ayah
Datuk
Orang tua laki-laki ibu
Datuk
Orang tua perempuan ayah
Nyai, nenek
Orang tua perempuan ibu
Nyai, gde, oma, nenek
Kakek ayah
Buyut
Kakek ibu
Buyut
Satu generasi di atas buyut
Nenek, ada yang tidak tahu, moyang
Dua generasi di atas buyut
Moyang, ada yang tidak tahu
Anak
Panggil nama
Anak dari anak
Cucu
Anak dari cucu
Cicit
saudara laki-laki ayah/ibu yang
Wak, uwak, wak ning, wak te, wak muk,
lebih tua
wak nga, wak ndek, wak sak, wak cik,
pak muk, pak cik
Saudara laki-laki ayah/ibu yang
Pak nga, pak te, pak ning, pak muk, pak
lebih muda
sak, pak njang, pak cik, pak ndek, pak do,
pak busu/paksu, paman, om
Saudara perempuan ayah/ibu
Wak, uwak, wak ning, wak te, wak muk,
yang lebih tua
wak nga, wak ndek, wak sak, wak cik,
wakyu, meknjang, mamak, bunda, umi
Saudara perempuan ayah/ ibu
Bibi, bining, bite, binga, bindek, bisak,
yang lebih muda
bicik, bido, meknga, mekte, mekcik,
mekdo, mekyu,
mek busu/meksu,
mak+nama, tante, anti
Saudara laki-laki yang lebih tua
Abang, bangte, bangning (baning),
bangndek, bangcik, bangmuk, bangsak
Saudara laki-laki yang lebih
Panggil nama
65
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Seni 2016
Jurusan PBS, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jambi
Mendalo Darat, 5 Agustus 2016
muda
Saudara perempuan yang lebih
tua
Saudara perempuan yang
muda
saudara ipar laki-laki yang
tua
saudara ipar laki-laki
lebih muda
saudara ipar perempuan
lebih tua
Mok, wo, mok ndak, mok ndek, mok te,
mok yu, yu, mok nga, mok cik, mok
ning, ayuk, kakak, oyu, oning, ote.
Nama panggilan
lebih
lebih
Abang, Bangte, bangning (baning),
bangndek, bangcik, bangmuk, bangsak
nama panggilan
yang
yang
Mok, mokte, moktam, moknyang,
mokndek,
mokndak,
mokcik,
moknga,mokning, ayuk, kakak
nama panggilan
Saudara ipar perempuan yang
lebih muda
Antar orang tua (orang tua istri ke
orang tua suami dan sebaliknya)
Orang tua suami
Besan
Sesuai dengan panggilan suami ke
orang tuanya: ayah, bapak, aba
Sesuai dengan panggilan istri ke orang
tuanya: mak, ibu, mama
Sama seperti memanggil saudara ipar
secara umum
Orang tua istri
Antar ipar (paduaian)
Dari tabel hasil penelitian di atas kita bisa melihat bahwa ada begitu banyak kata sapaan yang
digunakan dalam bahasa Melayu Jambi dulu dan sekarang. Berdasarkan informasi dari para
informan yang berusia di atas 70 tahun (75- 110 tahun), peneliti menemukan ada 4 jenis kata
sapaan yang digunakan untuk menyapa orang tua laki-laki, yaitu ‘bapak/pak’, ‘bak’, ‘ayah’,
dan ‘baba’. Ketiga kata sapaan (bapak/pak, bak, dan ayah) merupakan kata sapaan untuk
orang tua laki-laki yang paling umum digunakan. Sedangkan kata ‘baba’ digunakan oleh
penutur bahasa Melayu Jambi yang orang tuanya keturunan dari bangsa arab.
Kata ‘nyai’ dan ‘gde’ digunakan untuk menyapa orang tua perempuan ayah dan ibu.
Kata ‘nyai’ lebih umum digunakan dari pada kata ‘gde’, bisa untuk menyapa orang tua
perempuan ibu dan ayah, serta saudara-saudara perempuan dari orang tua perempuan ibu dan
ayah. sedangkan kata ‘gde’ biasanya dipakai hanya untuk orang tua perempuan ibu dan
saudara-saudara perempuan orang tua perempuan ibu.
Kata sapaan yang digunakan untuk anak adalah nama panggilan, misalnya Jamil,
Leha, Topik, Supek, Bujang, Kulup, dan lain-lain. ‘Bujang’ dan ‘.Kulup’ merupakan
panggilan khas untuk anak laki-laki, dan ‘Supek’ merupakan panggilan khas untuk anak
perempuan. Ketiga nama panggilan ini sudah jarang digunakan pada masa sekarang. Untuk
saudara laki-laki dan perempuan ayah dan ibu yang lebih tua, secara umum kata sapaan yang
digunakan adalah ‘uwak/wak”. Kata ‘uwak/wak’ bisa ditambah dengan kata sapaan lain yang
bisa disesuaikan dengan postur tubuh, urutan dalam anggota keluarga, atau pun warna kulit.
Sehingga kata ‘uwak/wak’ memiliki variasi yang beragam (wak yu, wak ning, wak te, wak
cik, wak muk, wak ndek, wak ndak, wak sak, wak nga, wak njang). Tambahan sapaan ‘yu’
jika yang disapa orangnya ayu atau berparas cantik/ menarik, ‘ning’ tambahan sapaan untuk
orang yang kulitnya kuning langsat, ‘te’ dipakai jika yang disapa berkulit putih, ‘cik’ jika
66
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Seni 2016
Jurusan PBS, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jambi
Mendalo Darat, 5 Agustus 2016
yang disapa berpostur tubuh kecil/kurus, ‘muk’ untuk orang yang gemuk, ‘ndek’ dan ‘ndak’
untuk orang yang tubuhnya pendek, ‘sak’ untuk orang yang tubuhnya besar, ‘nga’ untuk
orang yang didalam keluarganya berada diurutan tengah.
Kata sapaan untuk saudara perempuan ayah dan ibu yang lebih muda juga bervariasi.
Secara umum kata sapaan yang digunakan adalah ‘bibi’, ‘bi+’, dan ‘mek+, untuk bisa
membedakan antara saudara perempuan ibu yang lebih muda yang satu dengan yang lain
biasanya ditambah dengan kata ‘yu’, ‘ning’, ‘te’, ‘cik’, ‘muk’, ‘ndek’, ndak’, ‘sak’, ‘nga’,
‘do’, ‘busu/su’. Tambahan sapaan ‘yu’ hanya untuk saudara perempuan ayah dan ibu yang
lebih tua. Tambahan sapaan ‘do’ dan ‘busu/su’ hanya untuk saudara laki-laki dan perempuan
ayah dan ibu yang paling muda/bungsu.
Kata sapaan yang digunakan oleh istri/suami untuk menyapa kedua orang tua
suami/istri adalah kata-kata sapaan yang telah biasa digunakan ketika mereka belum
menikah. Istri atau suami tidak boleh memanggil orang tua pasangannya dengan panggilan
yang sama yang digunakan oleh pasangannya karena hal tersebut dianggap tabu. Jika seorang
suami memanggil ibu dari istrinya dengan panggilan ‘mak’ maka dia akan dianggap menikahi
saudara perempuan kandungnya, dan itu tidak dibolehkan secara adat dan agama.
Berdasarkan informasi dari para penutur bahasa Melayu Jambi yang berusia 20 – 45
tahun, peneliti mendapatkan gambaran penggunaan kata sapaan yang digunakan pada masa
sekarang. Untuk panggilan kepada orang tua laki-laki, kata sapaan yang digunakan lebih
bervariasi yaitu’bapak/pak’, ‘bak’, ‘ayah’, ‘aba’, ‘papa’, dan ‘abi’. Untuk orang tua
perempuan kata sapaan yang digunakan bukan hanya ‘mak’ tetapi ada lagi tambahannya yaitu
‘ibu’, ‘umi’, dan ‘bunda’. Dari data ini terlihat bahwa generasi sekarang lebih bervariasi
dalam menggunakan kata sapaan untuk orang tua laki-laki dan orang tua perempuan. Kata
‘papa’ digunakan dengan alasan lebih terkesan berpendidikan dan lebih modern. Kata ‘abi’
dan ‘umi’ berasal dari bahasa arab yang artinya ‘ayahku’ dan ‘ibuku’. Sebagian informan
mengatakan bahwa penggunaan kata ’abi’ dan ‘umi’ lebih terkesan relijius dan diharapkan
anak-anaknya akan lebih terbiasa dengan istilah-istilah dalam agama islam. Kata ‘ibu’
digunakan karena menganggap bahwa kata ‘mak’ terkesan old fashioned atau kuno.
Sedangkan kata ‘bunda’ digunakan karena kata ini dianggap lebih membawa kesan keibuan
dan lebih modern dari pada kata sapaan ‘mak’. Para orang tua yang ingin anaknya
memanggilnya dengan sapaan ‘abi’, ‘umi’, dan ‘bunda’ umumnya adalah para orang tua yang
asli dari Jambi yang menikah dengan orang dari luar Jambi. Selain itu penggunaan kata
sapaan ini bisa juga ditambah dengan faktor pendidikan dan pekerjaan. Mereka yang anaknya
menyapanya dengan sapaan ini umumnya memiliki pendidikan yang cukup tinggi (sarjana)
dan memiliki pekerjaan yang cukup baik (bukan yang pekerjaannya serabutan).
Untuk orang tua laki-laki ayah kata sapaan yang digunakan masih sama dengan yang
dahulu digunakan yaitu ‘datuk’. Sedangkan untuk menyapa orang tua perempuan ibu kata
sapaan yang digunakan adalah ‘nyai’, ‘gde’, ‘nenek’ dan ‘oma’. Panggilan ‘nenek’ yang
digunakan ada yang disebabkan oleh perbedaan suku dalam sebuah keluarga, misalnya orang
suku melayu asli yang berasal dari Jambi seberang menikah dengan orang padang. Maka kata
sapaan yang digunakan lebih bersifat umum secara nasional. Tetapi penggunaan kata ‘nenek’
ada juga yang disebabkan oleh rasa gengsi, dan merasa terkesan terlalu tua kalau dipanggil
‘nyai’. Perubahan kata sapaan ini ada yang disebabkan oleh yang disapa yang tidak mau
disapa ‘nyai’ dan ada juga karena yang menyapa yang tidak suka menggunakan kata ‘nyai’.
Begitupun dengan penggunaan kata ‘oma’, faktor gengsi juga terlibat di sini. penutur
bahasa Melayu Jambi yang masih tinggal di seberang kota Jambi, yang diwawancarai peneliti
mengatakan bahwa kata ‘nyai’ terkesan kuno, dan merasa sangat tua jika dipanggil ‘nyai’.
Sehingga dia lebih suka dipanggil ‘oma’. Di lihat dari segi usia memang si penutur belum
67
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Seni 2016
Jurusan PBS, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jambi
Mendalo Darat, 5 Agustus 2016
terlalu tua, usianya masih sekitar 34 tahun, akan tetapi dari silsilah keluarga, dia sudah berada
di posisi ‘nyai’.
Kata sapaan untuk kakek ayah dan ibu adalah ‘buyut’. Sedangkan untuk kata sapaan
satu generasi di atas buyut para informan ada yang mengatakan tidak tahu dan ada pula yang
mengatakan bahwa kata sapaan yang digunakan adalah ‘nenek’, dan ada juga yang
mengatakan ‘moyang’. Kata sapaan untuk dua generasi di atas buyut adalah ‘moyang’ dan
beberapa diantara informan tersebut mengatakan mereka tidak tahu kata sapaan yang harus
digunakan dengan beralasan bahwa mereka tidak pernah bertemu dengan generasi-generasi
tua tersebut. Dari jawaban mereka terlihat bahwa mereka tidak begitu faham mengenai kata
sapaan yang harus digunakan untuk generasi-generasi terdahulu.
Pada generasi dahulu, jenis penggunaan kata sapaan secara jelas memperlihatkan
tingkatan seseorang dalam keluarga. Jika seseorang disapa dengan kata ‘uwak/wak’ atau
‘wak+’ maka jelas seseorang tersebut lebih tua dari ayah atau ibu, sedangkan jika seseorang
tersebut disapa dengan kata sapaan ‘paman’, ‘pak/pak+’, ‘bibi/bi+’, dan ‘mek+’, maka
seseorang tersebut jelas berusia lebih muda dari ayah atau ibu. Akan tetapi kata-kata tersebut
sudah mengalami perubahan penggunaan, kata ‘pak/pak+’ tidak lagi dipakai hanya untuk
saudara ayah atau ibu yang lebih muda tetapi juga dipakai untuk saudara ayah atau ibu yang
lebih tua. Alasan penggunaan tersebut adalah karena tidak mau dianggap tua, kata ‘uwak’
terkesan mengindikasikan yang disapa terlalu tua. Padahal, sesungguhnya tidaklah demikian.
Kata ‘uwak’ memperjelas kedudukan seseorang terhadap orang tua si penutur. Penggunaan
kata ‘mamak’, ‘umi’, dan ‘bunda’, yang seharusnya ‘uwak’ adalah karena menganggap
penggunaan kata-kata tersebut terkesan lebih ‘intimate’ atau dekat. Perubahan seperti ini
tentu saja menimbulkan kerancuan dalam berbahasa.
Perubahan lainnya adalah adanya kata ‘om’ sebagai pengganti kata ‘paman’ atau
‘pak+’ dan ‘tante’, serta ‘anti’ sebagai pengganti ‘bibi/bi+’ dan ‘mek+’. Kata ‘om’, ‘tante’,
dan ‘anti’ digunakan karena yang disapa menganggap kata ini lebih modern. Panggilan ‘om’
dan ‘tante’ ada juga yang disebabkan oleh adanya pernikahan campuran.
Selanjutnya untuk saudara perempuan dan saudara ipar perempuan yang lebih tua kata
sapaan yang digunakan adalah ’wo’, ‘mok/mok+ (yu, ning, te, nga, ndak, ndek, dang, sak,
cik, njang, tam)’, ‘oyu’, ‘oning’, ‘ote’, ‘ayuk’, ‘kakak’. Kata ‘oyu’, ‘ote’, ‘oning’ adalah kata
sapaan yang berasal dari kata ‘mokyu’, ‘mokte’, dan ‘mokning’. Perubahan ini hanya karena
faktor fonologis. Si penutur sewaktu kecil tidak bisa mengucapkan kata-kata ‘‘mokyu’,
‘mokte’, dan ‘mokning’ dengan tepat. Saat ini meski kata ‘mok/mok+’ masih dipakai tetapi
tidak semua penutur suka untuk menyapa atau disapa dengan kata sapaan ini. Untuk generasi
sekarang lebih cenderung menggunakan kata sapaan ‘ayuk’ atau ‘kakak’. Padahal kata ‘ayuk’
dan ‘kakak’ bukanlah berasal dari bahasa Melayu Jambi. Kurang populernya kata sapaan
‘mok/mok+’ karena kata ini dianggap tidak modern.
Kata sapaan berikutnya adalah yang berkaitan dengan hubungan pernikahan. Kata
sapaan yang dipakai oleh istri untuk menyapa orang tua suami adalah sama dengan sapaan
yang digunakan oleh suami ketika menyapa orang tuanya. Begitu pun sebaliknya kata sapaan
yang dipakai suami untuk menyapa orang tua istrinya adalah sama dengan kata sapaan yang
digunakan oleh istri ketika menyapa orang tuanya. Pertimbangan penggunaan kata sapaan
tersebut adalah karena faktor ‘intimacy’, agar hubungan mertua dengan menantu menjadi
lebih dekat. Kata sapaan yang digunakan antar ipar adalah sama seperti sapaan kepada
saudara ipar secara umum.
Dari pemaparan di atas terlihat bahwa sistem sapaan dalam bahasa Melayu Jambi
yang digunakan pada masa lalu dan sekarang ditentukan oleh jenis kelamin, usia, hubungan
kekerabatan, dan kedekatan dengan mitra tutur. Hal ini hampir sama dengan pola sapaan
68
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Seni 2016
Jurusan PBS, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jambi
Mendalo Darat, 5 Agustus 2016
yang ada pada bahasa Melayu Kutai, yaitu ditentukan oleh status, usia, hubungan
kekerabatan, dan kedekatan dengan mitra tutur (Rusbiantoro, 1999). Pada lapisan keluarga
pola penyapaan dalam bahasa Melayu Jambi tidak sama dengan yang ada pada bahasa
Melayu Langkat. Pada bahasa Melayu langkat sapaan dalam keluarga didasari oleh urutan
kelahiran masing-masing anggota keluarga (Adisaputera, 2013).
Selanjutnya, dari hasil penelitian ini peneliti juga menemukan bahwa kata sapaan
dalam bahasa Melayu Jambi sekarang sudah mengalami pergeseran/perubahan yang
disebabkan oleh gengsi, kedekatan (intimacy), reliji, pendidikan dan pernikahan campuran.
Kata sapaan yang ada dalam bahasa Melayu Jambi terdahulu terkesan kuno atau tidak
modern. Selain ini karena adanya rasa tidak mau dianggap terlalu tua. Misalnya seseorang
yang seharusnya disapa dengan kata ‘uwak/wak+’ tetapi tidak mau disapa dengan kata
tersebut sehingga lebih memilih dipanggil ‘pak+’. Perubahan yang seperti ini tentu saja
menimbulkan kerancuan dalam berbahasa. Jika dahulu tingkatan seseorang dalam keluarga
bisa diketahui secara jelas maka dengan perubahan ini akan sulit mengidentifikasi tingkatan
seseorang dalam keluarga. Selain itu perubahan pada sistem sapaan ini juga bisa
menimbulkan kesalahfahaman/ miskomunikasi antara satu penutur dengan penutur lainnya
karena adanya perluasan makna dari salah satu atau beberapa kata sapaan yang digunakan,
misalnya kesamaan kata sapaan untuk orang tua dan saudara orang tua (kata ‘umi’, ‘bunda’
dan ‘mamak’ yang digunakan bukan hanya oleh anak tetapi juga oleh keponakan). Sistem
sapaan yang digunakan oleh penutur bahasa Melayu Jambi saat ini tidak lagi sepenuhnya
sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Mauss (dalam Bowe dan Martin, 2007: 95) yang
mengatakan bahwa “Address forms can contribute to a person’s sense of identity and can
characterize an individual’s position in his family and in society at large: it defines his social
personality”. Sistem sapaan yang digunakan oleh penutur bahasa Melayu Jambi sekarang
lebih mengedepankan unsur kedekatan (intimacy) dibandingkan dengan unsur identitas
(identity).
Jika proses perubahan ini terus berlangsung, maka bisa saja generasi mendatang tidak
akan memahami sistem sapaan asli yang ada dalam bahasa Melayu Jambi. Hal ini merupakan
sebuah keniscayaan karena seperti yang dikemukakan oleh Crystal (2003), bahasa sebuah
komunitas bisa saja hilang karena adanya akulturasi budaya dalam komunitas tersebut,
perubahan sikap (sikap antipati) terhadap bahasa lokal, dan menggunakan bahasa lain yang
dianggap lebih bernilai.
Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan
Dari pemaparan hasil analisa dan pembahasan mengenai perkembangan sistem sapaan
yang ada dalam bahasa Melayu Jambi dahulu dan sekarang, ada beberapa hal yang akan
penulis simpulkan. Pertama, ada banyak variasi kata sapaan yang digunakan dalam bahasa
Melayu Jambi pada masa lalu dan sekarang. Pilihan variasi kata sapaan untuk beberapa mitra
tutur yang setingkat dalam sebuah keluarga secara umum ditentukan oleh warna kulit, postur
tubuh, dan posisi seseorang dalam sebuah keluarga. Walaupun pada prakteknya terkadang
tidak sama dengan kriteria yang sudah ditentukan tersebut. Kedua, sistem sapaan dalam
bahasa Melayu Jambi dahulu dan sekarang ditentukan oleh usia, jenis kelamin, hubungan
kekerabatan dan kedekatan. Ketiga, terdapat beberapa perbedaan antara sistem sapaan yang
digunakan pada masa lalu dan yang digunakan sekarang. Perbedaan tersebut disebabkan oleh
faktor gengsi, pendidikan, reliji, kedekatan, dan pernikahan campuran (akulturasi budaya).
Pada akhirnya jika perubahan ini terus terjadi maka bisa saja pada masa yang akan datang
orang Melayu Jambi asli tidak akan mengenal sistem sapaan yang ada dalam bahasa Melayu
Jambi.
69
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Seni 2016
Jurusan PBS, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jambi
Mendalo Darat, 5 Agustus 2016
Saran
Bahasa merupakan cerminan dari suatu budaya. Dengan semakin tergerusnya bahasa
maka budaya pun bisa ikut hilang. Dengan melihat fakta yang terjadi di lapangan mengenai
perubahan sistem sapaan yang ada dalam bahasa Melayu Jambi peneliti menyarankan agar
para penutur bahasa Melayu Jambi tetap mau menggunakan sistem sapaan yang ada dalam
bahasa Melayu Jambi pada masa lalu. Kata sapaan yang diambil dari bahasa lain belum tentu
cocok dengan budaya yang ada dalam bahasa Melayu Jambi. Selain itu identitas seseorang
dalam keluarga pada sistem sapaan dalam bahasa Melayu Jambi yang digunakan pada masa
lalu lebih jelas dari pada sistem sapaan bahasa Melayu sekarang. Untuk itu para orang tua
hendaknya tidak malu memperkenalkan kata-kata sapaan dalam bahasa Melayu Jambi kepada
generasi muda sehingga para generasi muda bisa ikut serta dalam melestarikan sistem sapaan
yang ada dalam bahasa Melayu Jambi. Untuk pemerintah, peneliti menyarankan agar
pemerintah juga ikut serta dalam melestarikan bahasa Melayu Jambi dengan membuat
kebijakan-kebijakan yang bisa mengangkat citra bahasa Melayu Jambi menjadi lebih baik,
misalnya dengan menjadikan pelajaran bahasa Melayu Jambi sebagai muatan lokal di
sekolah.
Daftar Pustaka
Adisaputera, Abdurahman. 2010. Perubahan Sosial Ekologi dan Perubahan
Budaya
Lingual dalam Sistem Kekerabatan Melayu Langkat.
http://digilib.unimed.ac.id/public/UNIMED-Article-23413
Abdurahman%20Adisaputera.pdf dan
http://digilib.unimed.ac.id/qsearch.php?txtKey=abdurrahman+adisaputera&txt
Mode=normal&Submit=SEARCH diakses tanggal 6 Februari 2015
Bahasa Melayu Jambi
http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Melayu_Jambi diakses tanggal 13
Pebruari 2015
Crystal, David. 2003. Language Death. Cambridge: Cambridge University Press.
Gorat, Ricardo. 2012. Kata Sapaan dalam Bahasa Batak Toba. Skripsi.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/37383/4/Chapter%20II.pdf
dan
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/37383/7/Cover.pdf
diakses tanggal 6/12/2015
Holmes, Janet. 2001. An Introduction to Sociolinguistics (2nd Edition). England: Pearson
Education Limited.
Kurniasih, dkk. 2014. Sapaan dalam Bahasa Melayu Pontianak Wilayah Istana Kadriah.
Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. Vol 3 No.1
http://jurnal.untan.ac.id/index.php/jpdpb/article/view/4204 diakes tanggal 13
Pebruari 2015
Martin, Kylie dan Bowe, Heater. 2007. Communication Across Culture. Australia:
Cambridge University Press.
Rusbiantoro, Wenny. 2011. Penggunaan Kata Sapaan dalam Bahasa Melayu Kutai. Parole:
Journal of Linguistics and Education. Vol. 2 No. 1
http://portalgaruda.org/?ref=browse&mod=viewarticle&article=23093 diakses
tanggal 13 Pebruari 2015.
Sumampouw, 1990. Pola Penyapaan dalam Interaksi Verbal dengan Latar Multi Lingual:
Studi Kasus Warga Kampus Universitas Sam Ratulangi. Disertasi
70
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Seni 2016
Jurusan PBS, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jambi
Mendalo Darat, 5 Agustus 2016
http://books.google.co.id/books/about/Pola_penyapaan_dalam_interaksi_verba
l_de.html?id=2r2KmgEACAAJ&redir_esc=y
Syarfina, Tengku. 2007. Sistem Sapaan dan Istilah Kekerabatan dalam Bahasa Melayu Deli.
Tesis..
Traditional Jambi Malay, http://lingweb.eva.mpg.de/jakarta/jambi_malay.php diakses tanggal
13 Pebruari 2015
71
Download