bab 2 landasan teori

advertisement
BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1 Studi Kelayakan Bisnis
2.1.1 Pengertian Studi Kelayakan Bisnis
Menurut Brockhouse dan Wadsworth (2010:1) studi kelayakan adalah alat
yang digunakan dalam proses pengembangan bisnis untuk menunjukkan bagaimana
bisnis akan beroperasi di bawah seperangkat asumsi. Asumsi ini termasuk faktorfaktor seperti teknologi (fasilitas, peralatan, dan proses produksi), pembiayaan
(modal, volume, harga pokok, dan upah), pemasaran (harga dan persaingan), dan
sebagainya.
Menurut Umar (2009:8) studi kelayakan bisnis merupakan penelitian
terhadap rencana bisnis yang tidak hanya menganalisis layak atau tidak layak bisnis
dibangun, tetapi juga pada saat dioperasionalkan secara rutin dalam rangka
pencapaian keuntungan yang maksimal untuk waktu yang tidak ditentukan.
Menurut Kasmir dan Jakfar (2013:7) studi kelayakan bisnis adalah suatu
kegiatan yang mempelajari secara mendalam tentang suatu usaha atau bisnis yang
akan dijalankan, dalam rangka menentukan layak atau tidak usaha tersebut
dijalankan.
Jadi studi kelayakan bisnis dapat diterjemahkan sebagai penelitian yang
dilakukan agar dapat mengetahui layak atau tidaknya sebuah bisnis sehingga dapat
diketahui keuntungan dan kerugian yang didapatkan apabila bisnis tersebut
dijalankan.
2.1.2 Manfaat Studi Kelayakan Bisnis
Menurut Umar (2009:19) studi kelayakan bisnis memiliki manfaat yang
beguna bagi berbagai pihak yaitu:
1) Pihak Investor
Studi kelayakan yang layak direalisasikan maka diperlukan pendanaan yang
didapatkan misalnya dari investor untuk modal menjalankan proyek tersebut.
2) Pihak Kreditor
Modal untuk menjalankan proyek juga dapat diperoleh dari pinjaman bank.
Sehingga diperlukan kajian dari studi kelayakan bisnis yang ada.
3) Pihak Manajemen Perusahaan
Studi kelayakan dapat berguna sebagai gambaran potensi sebuah proyek di
masa yang akan datang.
4) Pihak Pemerintah dan Masyarakat
Studi kelayakan perlu memperhatikan kebijakan-kebijakan yang diterapkan
oleh pemerintah karena pemerintah dapat secara langsung maupun tidak
langsung mempengaruhi kebijakan perusahaan.
5) Bagi Tujuan Pembagunan Ekonomi
Studi kelayakan perlu dianalisis manfaat ada didapat dan biaya yang timbul
oleh proyek terhadap perekonomian nasional.
2.1.3 Tujuan Studi Kelayakan Bisnis
Menurut Kasmir dan Jakfar (2013:12), ada lima tujuan dilakukannya studi
kelayakan, yaitu:
1) Menghindari Risiko Kerugian
Untuk meminimalkan risiko atau kerugian yang tidak kita inginkan baik
resiko yang dapat dikendalikan maupun yang tidak dapat dikendalikan.
2) Memudahkan Perencanaan
Perencanaan tersebut meliputi jumlah dana, waktu pelaksanaan, lokasi, pihak
yang berkaitan, cara menjalankan, serta keuntungan yang akan didapat.
3) Memudahkan Pelaksanaan Pekerjaan
Perencanaan yang telah dibuat dapat dijalankan sesuai dengan jadwal
pelaksanaan usaha sehingga pelaksanaan pekerjaan dapat berlangsung dengan
lancar.
4) Memudahkan Pengawasan
Pengawasan dilakukan agar pelaksanaan usaha tidak melenceng dari rencana
yang telah disusun.
5) Memudahkan Pengendalian
Tujuannya yaitu untuk mengembalikan pelaksanaan pekerjaan yang
melenceng dari pengawasan sehingga dapat kembali kearah
yang
sesungguhnya.
2.1.4 Tahapan-Tahapan Dalam Studi Kelayakan Bisnis
Menurut Kasmis dan Jakfar (2013:18) terdapat 5 tahapan dalam melakukan
studi kelayakan bisnis yaitu sebagai berikut:
1) Pengumpulan data dan informasi
Mengumpulkan data dan informasi yang dibutuhkan baik kualitatif maupun
kuantitatif. Data dan informasi tersebut dapat diperoleh dari sumber-sumber
yang terpercaya.
2) Melakukan pengolahan data
Setelah data dan informasi tersebut terkumpul maka selanjutnya adalah
melakukan pengolahan data dan informasi. Pengolahan tersebut dilakukan
dengan teliti untuk aspek-aspek yang ada, kemudian dilakukan pengecekan
kembali agar memastikan kebenaran hitungan yang telah dilakukan.
3) Analisis data
Langkah selanjutnya adalah melakukan analisis data untuk menentukan
kriteria kelayakan dari aspek-aspek yang ada. Kriteria-kriteria tersebut diukur
agar dapat memenuhi syarat kelayakan bisnis.
4) Mengambil keputusan
Setelah diperoleh hasil pengukuran kriteria tersebut maka selanjutnya adalah
mengambil keputusan atas hasil analisis tersebut. Keputusan diambil sesuai
dengan kriteria yang telah ditetapkan. Apabila hasilnya tidak layak lebih baik
dibatalkan kelanjutannya dengan menyebutkan alasan kenapa tidak layak.
5) Memberi rekomendasi
Langkah terakhir adalah memberikan rekomendasi laporan studi kepada
pihak-pihak yang berkaitan disertai dengan perbaikan atau saran-saran
apabila diperlukan.
2.1.5 Aspek-Aspek Studi Kelayakan Bisnis
2.1.5.1 Aspek Lokasi
Menurut Pinson (2008:37), jika lokasi merupakan salah satu pertimbangan
dalam melakukan pemasaran maka lokasi harus dipilih dengan benar sehingga dapat
diakses oleh pelanggan. Pemilihan lokasi akan ditentukan oleh alasan-alasan seperti
letak lokasi, taget pasar, dan ketersedian parkir.
2.1.5.2 Aspek Pasar
Menurut Umar (2009:34-38) salah
satu
aspek bisnis
yang perlu
diperhitungkan kelayakannya adalah aspek pasar. Jika pasar yang dituju tidak jelas
mengakibatkan prospek bisnis ke depannya pun akan tidak jelas maka resiko
kegagalan bisnis menjadi besar. Pasar merupakan tempat pertemuan penjual dan
pembeli atau saling bertemunya permintaan dan penawaran sehingga membentuk
harga. Bentuk pasar dapat dilihat dari sisi produsen dan konsumen. Berikut bentukbentuk pasar produsen yaitu:
•
Pasar persaingan sempurna
Pada pasar persaingan sempurna, aktivitas persaingan tidaklah
nampak karena tidak terbatasnya jumlah produsen dan konsumen
dapat membeli berapa saja tanpa ada batasan asal bersedia membeli
pada harga pasar.
•
Pasar monopoli
Pada pasar monopoli, bentuk pasar dikuasai oleh seorang saja. Dalam
hal ini tidak ada barang substitusi terhadap barang yang dijual oleh
penjual tunggal.
•
Pasar oligopoli
Pasar oligopoli merupakan perluasan dari pasar monopoli. Dalam
menentukan tingkat harga dan kuantitas produksi, karena pengaruh
dari pesaing sangat terasa, tindakan atau aktivitas pesaing perlu
dimasukkan dalam perhitungan.
•
Pasar persaingan monopolistik
Pasar ini merupakan campuran pasar persaingan sempurna dengan
monopoli. Diakatakan mirip pasar persaingan sempurna karena ada
kebebasan bagi perusahaan untuk keluar masuk pasar. Selain itu
barang yang dijual pun tidak homogen. Oleh karena barang-barang
yang heterogen itu dimiliki oleh beberapa perusahaan besar saja
sehingga pasar ini mirip dengan monopoli.
Sedangkan bentuk-bentuk pasar dari sisi konsumen yaitu :
•
Pasar konsumen
Pasar ini merupakan pasar untuk barang atau jasa yang dibeli atau
disewa oleh perseorangan atau keluarga dalam rangka penggunaan
pribadi (tidak untuk dibisniskan).
•
Pasar industri
Pasar ini adalah pasar untuk barang atau jasa yang dibeli atau disewa
oleh perseorangan atau organisasi untuk digunakan pada produksi
barang atau jasa lain, baik untuk dijual maupun untuk disewakan
(dipakai untuk diproses lebih lanjut).
•
Pasar penjual kembali (Reseller)
Pasar yang terdiri dari perseorangan/organisasi yang biasa disebut
pedagang menengah yang terdiri dari dealer, distributor, grossier,
agent, dan retailer.
•
Pasar pemerintah
Pasar yang terdiri dari unit-unit pemerintah yang membeli atau
menyewa barang atau jasa untuk menjalankan tugas-tugas pemerintah.
Menurut Umar (2009:59) segmentasi pasar memiliki beberapa aspek yaitu:
•
Aspek geografis
Komponen-kompenen yang meliputi aspek geografis adalah bangsa,
kebangsaan, provinsi, dan kabupaten/kotamadya.
•
Aspek demografis
Komponen-komponen yang meliputi aspek demografis adalah usia,
tahap daur hidup, jenis kelamin, dan pendapatan.
•
Aspek psikografis
Komponen-komponen yang meliputi aspek psikologis adalah kelas
sosial, gaya hidup, dan kepribadian.
2.1.5.3 Aspek Hukum
Menurut Kasmir dan Jakfar (2013:24) untuk memulai suatu studi kelayakan
pada umumnya dimulai dari aspek hukum. Tujuannya adalah untuk meneliti
keabsahan, kesempurnaan, dan keaslian dari dokumen-dokumen yang dimiliki.
Penelitian keabsahan dokumen tersebut dapat dilakukan sesuai dengan prosedur
lembaga yang mengeluarkan dan mengesahkan dokumen yang bersangkutan. Semua
prosedur yang berkaitan dengan izin-izin persyaratan harus dipenuhi terlebih dahulu.
Dokumen-dokumen yang akan diteliti berhubungan dengan aspek hukum ini
adalah sebagai berikut:
1) Bentuk badan usaha
Bentuk badan usaha di Indonesia ada beberapa jenis misalnya Perseroan
Terbatas (PT), Perseroan Komanditer (CV), Koperasi, Yayasan, Firma (Fa),
dan lain-lain.
2) Bukti diri
Kartu identitas dari pemilik usaha yang dikenal dengan nama Kartu Tanda
Penduduk (KTP).
3) Tanda Daftar Perusahaan (TDP)
Perusahaan yang beroperasi di Indonesia harus membuat surat Tanda Daftar
Perusahaan (TDP) sesuai dengan bidang usaha masing-masing.
4) Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)
Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) merupakan hal yang penting karena
setiap usaha yang dijalankan akan memberikan penghasilan pajak kepada
pemerintah sesuai dengan undang-undang yang ada di Indonesia.
5) Izin-izin perusahaan
Izin-izin lain yang diperlukan meliputi Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP)
dan Surat Izin Tempat Usaha (SITU).
2.1.5.4 Aspek Lingkungan Industri
Menurut Porter yang dikutip oleh Umar (2009:268) persaingan bisnis
didasarkan oleh 5 aspek utama (lima kekuatan kompetitif) yaitu:
1) Persaingan sesama perusahaan dalam industri
Persaingan dalam industri sangat mempengaruhi kebijakan dan kinerja
perusahaan. Tingkat persaingan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu
•
Jumlah kompetitor
•
Tingkat pertumbuhan industri
•
Karakteristik produk
•
Biaya tetap yang besar
•
Kapasitas
•
Hambatan keluar
2) Kemungkinan masuknya pendatang baru
Masuknya perusahaan sebagai pendatang baru akan menimbulkan sejumlah
implikasi bagi perusahaan yang sudah ada. Faktor-faktor yang menghambat
masuknya pendatang baru ke dalam industri adalah sebagai berikut:
•
Skala ekonomi
•
Diferensiasi produk
•
Kecukupan modal
•
Biaya peralihan
•
Akses ke saluran distribusi
•
Ketidakunggulan biaya independen
•
Peraturan pemerintah
3) Potensi pengembangan produk pengganti
Perusahaan-perusahaan yang berada dalam suatu industri akan bersaing pula
dengan produk pengganti. Walaupun karakteristiknya berbeda, barang
pengganti dapat memberikan fungsi yang sama
4) Kekuatan tawar-menawar pembeli (buyers)
Pembeli
dapat
mempengaruhi
perusahaan
untuk
memotong
harga,
meningkatkan mutu dan pelayanan serta membandingkan perusahaan dengan
kompetitor melalui kekuatan yang mereka miliki. Beberapa kondisi yang
perlu dihadapi perusahaan antara lain:
•
Pembeli membeli dalam jumlah besar
•
Pembeli mampu memproduksi produk yang diperlukan
•
Sifat produk tidak terdiferensiasi dan banyak pemasok
•
Switching cost pemasok adalah kecil
•
Produk yang dibeli perusahaan mempunyai andil persentase yang
besar bagi biaya produksi pembeli
•
Pembeli mempunyai tingkat profitabilitas yang rendah sehingga
sensitif terhadap harga dan diferensiasi servis
•
Produk perusahaan tidak terlalu penting sehingga pembeli dengan
mudah mencari substitusinya
5) Kekuatan tawar-menawar pemasok (suppliers)
•
Jumlah pemasok yang sedikit
•
Produk/layanan yang ada adalah unik dan mampu menciptakan
switching cost yang besar
•
Tidak tersedia produk subtitusi
•
Pemasok mampu melakukan integrasi ke depan dan mengolah produk
yang dihasilkan menjadi produk yang sama dengan yang dihasilkan
perusahaan
•
Perusahaan hanya membeli dalam jumlah yang kecil dari pemasok
2.1.5.5 Aspek Manajemen dan Sumber Daya Manusia
Menurut Kasmir dan Jakfar (2013:168) aspek manajemen merupakan aspek
yang cukup penting dianalisis karena apabila suatu usaha dinyatakan layak untuk
dilaksanakan tetapi di dalam usaha tersebut tidak mendapatkan dukungan dari
manajemen yang baik, bisa jadi akan mengalami kegagalan. Tujuan perusahaan
akan lebih mudah tercapai jika memenuhi tahapan dalam proses manajemen. Proses
manajemen ini akan tergambar masing-masing fungsi yang ada dalam manajemen.
Masing-masing fungsi tidak dapat berjalan sendiri-sendiri, akan tetapi harus
dilaksanakan secara berkesinambungan, karena kaitan antara satu funsgi dengan
fungsi lainnya sangat erat. Adapun Fungsi manajemen tersebut dapat diuraikan
sebagai berikut:
1) Perencanaan (Planning). Perencanaan adalah proses menentukan arah untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam proses ini ditentukan tentang
apa yang harus dilakukan, kapan dan bagaimana melakukannya serta dengan
cara apa hal tersebut dapat dilaksanakan.
2) Pengorganisasian
(Organizing).
Pengorganisasian
adalah
proses
mengelompokkan kegiatan-kegiatan dalam unit-unit. Tujuannya adalah agar
tertata dengan jelas antara tugas, wewenang, dan tanggung jawab.
3) Pelaksanaan (Actuating). Pelaksanaan adalah proses untuk menjalankan
kegiatan dalam organisasi. Dalam menjalankan organisasi para manajer harus
menggerakkan karyawannya.
4) Pengawasan (Controlimg). Pengawasan adalah proses mengukur dan menilai
pelaksanaan tugas apakah telah sesuai dengan rencana yang telah dibuat.
Apabila terjadi penyimpangan maka harus diperbaiki.
2.1.5.6 Aspek Keuangan
Menurut Kasmir dan Jakfar (2013:90) investasi yang diakukan dalam bisnis
tentunya memerlukan sejumlah modal. Besaran modal untuk investasi yang
diperlukan tergantung dari jenis bisnis yang akan digarap sehingga diperlukan
perhitungan terhadap besaran kebutuhan investasi sebelum investasi tersebut
dilaksanakan. Penilaian dalam aspek keuangan meliputi hal-hal berikut:
1) Sumber-sumber dana yang akan diperoleh
2) Kebutuhan biaya investasi
3) Estimasi pendapatan dan biaya investasi
4) Proyeksi neraca dan laporan laba rugi
5) Kriteria penilaian investasi
6) Rasio keuangan yang digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan
Terdapat empat metode yang dipertimbangkan dalam penilaian investasi
yaitu:
1) Payback Period
2) Net Present Value
3) Internal Rate of Return
4) Profitability Index
2.2 Metode Penilaian Investasi
2.2.1 Payback Period
Menurut Rangkuti (2012:7) metode ini bertujuan untuk melakukan
pengukuran investasi dengan melihat kekuatan pengembalian modal tanpa
mempertimbangkan nilai waktu terhadap uang (time value of money)
Kriteria penilaian payback period adalah apabila payback period lebih kecil
dari periode investasi, maka usulan investasi layak dilanjutkan, Sebaliknya apabila
payback period lebih besar dari periode investasi, maka usulan investasi tidak layak
dilanjutkan.
2.2.2 Net Present Value
Menurut Rangkuti (2012:8) unsur-unsur utama dalam menggunakan metode
net present value adalah mengidentifikasi nilai discount rate (nilai r). Discount rate
ditentukan berdasarkan biaya modal untuk mengetahui cash flow di masa yang akan
datang. Net present value merupakan jumlah dari discounted net cash flow dari
waktu ke waktu. Cara perhitungannya adalah dengan, seluruh net cash flow di
discount dengan discount rate tertentu dari tahun (t) basisi yang sama, yakni tahun
pada saat investasi dilakukan. Rumusnya adalah sebagai berikut:
C1, C2, C3, …... = net cash inflow mulai tahun 1,2,3, …… dan seterusnya
k = opportunity cost dari modal yang digunakan (misalnya menggunakan asumsi 6,
artinya apabila modal yang digunakan tersebut didepositokan di bank akan
menghasilkan keuntungan sebesar 6% per tahun).
C0 = initial cost dari investasi yang digunakan
n = periode investasi yang akan dihitung
Kriteria yang dipergunakan dalam penilaian NPV adalah sebagai berikut:
•
Jika NPV = 0 (nol), maka hasil investasi (return) usaha akan sama dengan
tingkat suku bunga yang dipakai dalam analisis, atau dengan kata lain tidak
untung maupun rugi (impas).
•
Jika NPV = - (negatif), maka investasi tersebut rugi atau hasilnya (return) di
bawah tingkat suku bunga (bagi hasil yang diapaki).
•
Jika NPV = + (positif), maka investasi tersebut menguntungkan atau hasilnya
(return) melebihi tingkat bunga (bagi hasil) yang dipakai.
2.2.3 Internal Rate of Return
Menurut (Umar 2009:198) metode Internal Rate of Return digunakan untuk
mencari tingkat bunga yang menyamakan nilai sekarang dari arus kas yang
diharapkan di masa datang.
Metode Internal Rate of Returns dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :
Dimana :
Kriteria Penilaian
Jika IRR yang didapat ternyata lebih besar dari rate of return yang ditentukan maka
investasi dapa diterima.
2.2.4 Profitability Index
Menurut Rangkuti (2012:11) metode analisis Profitability Index sangat mirip
dengan analisis net present value, karena keduanya menggunakan komponen
perhitungan nilai sekarang (present value). Perbedaannya adalah bahwa satuan yang
dipakai dalan net present value adalah nilai uang, sedangkan dalam profitability
index adalah indeks. Rumus perhitungan profitability index adalah sebagai berikut:
Kriteria penilaian investasi dengan menggunakan profitability index juga
sangan mirip dengan net present value, yaitu:
•
Jika profitability index > 1, maka dikatakan layak
•
Jika profitability index < 1, maka dikatakan tidak layak
•
Jika profitability index = 1, maka dikatakan break event point
2.3 Kerangka Pemikiran
PT Bank Mandiri Tbk.
Studi Kelayakan Pemindahan Bank
Mandiri Cabang Mal Puri Indah
Aspek
Lokasi
Aspek
Pasar
Aspek
MSDM
Aspek
Hukum
Layak
Tidak
Layak
Pemindahan Cabang Bank Mandiri Mal
Puri Indah
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran
Aspek
Lingkungan
Industri
Aspek
Keuangan
Download