II. Tinjauan Pustaka A. Pengertian Tanah Tanah adalah hasil

advertisement
II.
Tinjauan Pustaka
A. Pengertian Tanah
Tanah adalah hasil pengalihragaman bahan mineral dan organik yang
berlangsung di muka daratan
bumi di bawah pengaruh faktor-faktor
lingkungan yang bekerja selama waktu yang sangat panjang, dan mewujud
sebagai suatu tubuh dengan organisasi dan morfologi tertakrifkan
(Schroeder,1984). Selain itu tanah dalam arti lain yaitu semua
bahan,organik,dan anorganik,yang ada di atas lapisan batuan tetap (I.S
Dunn dkk,1992).
Bahan tanah tersusun atas empat komponen, yaitu bahan padat mineral,
bahan padat organik, air, dan udara. Bahan padat mineral terdiri atas bibir
batuan dan mineral primer, lapukan batuan dan mineral, serta mineral
sekunder. Bahan padat organik terdiri atas sisa dan rombakan jasad,
terutama tumbuhan, zat humik, dan jasad hidup penghuni tanah, termasuk
akar tumbuhan hidup. Air mengandung berbagai zat terlarut sehingga
disebut juga larutan tanah.
7
B. Klasifikasi Tanah
Sistem klasifikasi tanah adalah suatu sistem pengaturan beberapa jenis
tanah yang berbeda-beda tapi mempunyai sifat yang serupa ke dalam
kelompok-kelompok dan sub kelompok-sub kelompok berdasarkan
pemakaiannya.(Das, 1995).
Sistem klasifikasi tanah memberikan bahasa yang mudah untuk
menjelaskan secara singkat sifat-sifat tanah yang bervariasi tanpa
penjelasan yang terperinci.
Klasifikasi tanah juga berfungsi untuk study yang lebih terperinci
mengenai keadaan tanah tersebut serta kebutuhan akan pengujian untuk
menentukan sifat teknis seperti karakteristik pemadatan, kekuatan tanah,
berat isi, dan sebagainya (Bowles, 1989).
Adapun sistem klasifikasi tanah tersebut sebagai berikut :
1.
Klasifikasi tanah berdasarkan Unified system
Sistem klasifikasi tanah ini yang paling banyak dipakai untuk
pekerjaan teknik pondasi seperti untuk bendungan, bangunan dan
konstruksi yang sejenis. Sistem ini biasa digunakan untuk desain
lapangan udara dan untuk spesifikasi pekerjaan tanah untuk jalan.
Klasifikasi berdasarkan Unified system (Das. Braja. M, 1988), tanah
dikelompokkan menjadi :
1. Tanah butir kasar (Coarse-grained-soil) yaitu tanah kerikil dan
pasir dimana kurang dari 50% berat total contoh tanah lolos
8
ayakan no. 200. Simbol dari kelompok ini dimulai dengan huruf
awal G atau S. G adalah untuk kerikil (gravel) dan S untuk pasir
(sand) atau tanah berpasir.
2. Tanah berbutir halus (fine-grained-soil) yaitu tanah dimana lebih
dari 50% berat total contoh tanah lolos ayakan no. 200. Simbol
dari kelompok ini dimulai dengan huruf awal M untuk lanau (silt)
anorganik, C untuk lempung (cly) anorganik, dan O untuk lanau
organik dan lempung organik. Simbol PT digunakan untuk tanah
gambut (peat), muck,dan tanah-tanah lain dengan kadar organik
yang tinggi.
3. Tanah organik yang dapat dikenal dari warna, bau, dan sisa
tumbuh-tumbuhan yang terkandung di dalamnya.
9
Kerikil bersih
(hanya kerikil)
Kerikil dengan
Butiran halus
Pasir bersih
(hanya pasir)
Pasir
dengan butiran
halus
Lanau dan lempung batas cair ≥ 50% Lanau dan lempung batas cair ≤ 50%
Pasir≥ 50% fraksi kasar
lolos saringan No. 4
Tanah berbutir halus
50% atau lebih lolos ayakan No. 200
Tanah berbutir kasar≥ 50% butiran
tertahan saringan No. 200
Kerikil 50%≥ fraksi kasar
tertahan saringan No. 4
Divisi Utama
Simbol
Nama Umum
GW
Kerikil bergradasi-baik dan
campuran kerikil-pasir, sedikit
atau sama sekali tidak
mengandung butiran halus
GP
Kerikil bergradasi-buruk dan
campuran kerikil-pasir, sedikit
atau sama sekali tidak
mengandung butiran halus
GM
Kerikil berlanau, campuran
kerikil-pasir-lanau
GC
Kerikil berlempung, campuran
kerikil-pasir-lempung
SW
Pasir bergradasi-baik , pasir
berkerikil, sedikit atau sama
sekali tidak mengandung butiran
halus
SP
Pasir bergradasi-buruk, pasir
berkerikil, sedikit atau sama
sekali tidak mengandung butiran
halus
SM
Pasir berlanau, campuran pasirlanau
SC
Pasir berlempung, campuran
pasir-lempung
ML
Lanau anorganik, pasir halus
sekali, serbuk batuan, pasir halus
berlanau atau berlempung
CL
Lempung anorganik dengan
plastisitas rendah sampai dengan
sedang lempung berkerikil,
lempung berpasir, lempung
berlanau, lempung “kurus” (lean
clays)
OL
Lanau-organik dan lempung
berlanau organik dengan
plastisitas rendah
MH
Lanau anorganik atau pasir halus
diatomae, atau lanau diatomae,
lanau yang elastis
CH
Lempung anorganik dengan
plastisitas tinggi, lempung
“gemuk” (fat clays)
OH
Tanah-tanah dengan
kandungan organik sangat
PT
tinggi
Sumber : Hary Christady, 1996.
Lempung organik dengan
plastisitas sedang sampai dengan
tinggi
Peat (gambut), muck, dan tanahtanah lain dengan kandungan
organik tinggi
Klasifikasi berdasarkan prosentase butiran halus ; Kurang dari 5% lolos saringan no.200: GM,
GP, SW, SP. Lebih dari 12% lolos saringan no.200 : GM, GC, SM, SC. 5% - 12% lolos
saringan No.200 : Batasan klasifikasi yang mempunyai simbol dobel
Tabel 1. Klasifikasi Tanah Berdasarkan Sistem Unified
Kriteria Klasifikasi
Cu = D60 > 4
D10
Cc =
(D30)2
Antara 1 dan 3
D10 x D60
Tidak memenuhi kedua kriteria untuk
GW
Batas-batas
Atterberg di
bawah garis A
atau PI < 4
Batas-batas
Atterberg di
bawah garis A
atau PI > 7
Cu = D60 > 6
D10
Cc =
Bila batas
Atterberg berada
didaerah arsir
dari diagram
plastisitas, maka
dipakai dobel
simbol
(D30)2
Antara 1 dan 3
D10 x D60
Tidak memenuhi kedua kriteria untuk
SW
Batas-batas
Bila batas
Atterberg di
Atterberg berada
bawah garis A
didaerah arsir
atau PI < 4
dari diagram
Batas-batas
plastisitas, maka
Atterberg di
dipakai dobel
bawah garis A
simbol
atau PI > 7
Diagram Plastisitas:
Untuk mengklasifikasi kadar butiran halus yang
terkandung dalam tanah berbutir halus dan kasar.
Batas Atterberg yang termasuk dalam daerah yang
di arsir berarti batasan klasifikasinya menggunakan
dua simbol.
60
50
CH
40
CL
30
Garis A
CL-ML
20
4
ML
0 10
20
30
ML atau OH
40 50
60 70 80
Batas Cair LL (%)
Garis A : PI = 0.73 (LL-20)
Manual untuk identifikasi secara visual dapat
dilihat di ASTM Designation D-2488
10
C. Tanah Lempung
1. Definisi Tanah Lempung
Tanah lempung merupakan tanah yang berukuran mikroskopis
sampai dengan sub mikroskopis yang berasal dari pelapukan unsurunsur kimiawi penyusun batuan, tanah lempung sangat keras dalam
keadaan kering dan bersifat plastis pada kadar air sedang. Pada
kadar air lebih tinggi lempung bersifat lengket (kohesif) dan s angat
lunak (Das, 1995).
Warna tanah pada tanah lempung tidak dipengaruhi oleh unsur kimia
yang terkandung di dalamnya, karena tidak adanya perbedaan yang
dominan dimana kesemuanya hanya dipengaruhi oleh unsur Natrium
saja yang paling mendominasi. Semakin tinggi plastisitas, grafik yang
dihasilkan pada masing-masing unsur kimia belum tentu sama. Hal ini
disebabkan karena unsur-unsur warna tanah dipengaruhi oleh nilai
Liquid Limit (LL) yang berbeda-beda (Marindo, 2005 dalam Afryana,
2009).
Tanah lempung merupakan partikel mineral yang berukuran lebih
kecil dari 0,002 mm. Partikel-partikel ini merupakan sumber utama
dari kohesi di dalam tanah yang kohesif (Bowles, 1991).
11
1. Jenis Mineral Lempung
a. Kaolinite
merupakan anggota kelompok kaolinite serpentin, yaitu hidrus
alumino silikat dengan rumus kimia Al2 Si2O5(OH)4. Kekokohan
sifat struktur dari partikel kaolinite menyebabkan sifat-sifat
plastisitas dan daya pengembangan atau menyusut kaolinite
menjadi rendah.
b. Illite
Illite adalah mineral bermika yang sering dikenal sebagai mika
tanha dan merupakan mika yang berukuran lempung. Istilah illite
dipakai untuk tanah berbutir halus, sedangkan tanah berbutir kasar
disebut mika hidrus. Rumus kimia illite adalah KyAl2(Fe2Mg2Mg3)
c. Montmorilonite
Mineral ini memiliki potensi plastisitas dan mengembang atau
menyusut yang tinggi sehingga bersifat plastis pada keadaan basah
dan keras pada keadaan kering. Rumus kimia montmorilonite
adalah Al2Mg(Si4O10)(OH)2 xH2O.
d. Vermiculite
adalah suatu mineral alami yang memperluas dengan aplikasi
memanaskan.
Rumus
Mg3Si4O10(OH)2xH2O.
kimia
vermiculite
adalah
12
e. Attapulgite
koloid aktif adalah magnesium alumunium silikat alamiah yang
telah dimurnikan dan diaktifkan dengan cara pemanasan untuk
meningkatkan kemampuan adsorpsinya. Berupa serbuk sangat
halus, mempunyai pH antara 7,0-9,5.
2.
Sifat Tanah Lempung
Tanah lempung lunak mempunyai karakteristik yang khusus
diantaranya daya dukung yang rendah, kemampatan yang tinggi,
indeks plastisitas yang tinggi, kadar air yang relatif tinggi, dan
mempunyai gaya geser yang kecil. Kondisi tanah seperti itu akan
menimbulkan masalah jika dibangun konstruksi di atasnya.
Tanah lempung adalah tanah yang mempunyai partikel mineral
tertentu yang menghasilkan sifat-sifat plastis
pada tanah bila
dicampur air dan dalam keadaan kering akan menjadi keras, sedangkan bila
dibakar akan menjadi padat dan kuat (Grim, 1953 dalam Darmady,
2009).
Tanah lempung (liat) mempunyai sifat – sifat fisis dan kimia yang
penting, antara lain : ( Daryanto, 1994)
a. Plastisitas
Plastisitas atau keliatan tanah liat ditentukan oleh kehalusan
partikel – partikel tanah liat. Kandungan plastisitas tanah liat
bervariasi. Tergantung kehalusan dan kandungan lapisan airnya.
13
Plastisitas berfungsi sebagai pengikat dalam proses pembentukan
sehingga batu bata yang dibentuk tidak mengalami keretakan atau
berubah bentuk. Tanah liat dengan plastisitas yang tinggi juga akan
sukar dibentuk sehingga perlu ditambahkan bahan bahan yang lain.
b. Kemampuan bentuk
Tanah liat yang digunakan untuk membuat keramik, batu bata dan
genteng harus memiliki kemampuan bentuk agar dapat berdiri
tanpa mengalami perubahan bentuk baik pada waktu proses
maupun setelah pembentukan. Tanah liat dikatakan memiliki daya
kerja apabila mempunyai plastisitas dan kemampuan bentuk yang
baik sehingga mudah dibentuk dan tetap mempertahankan
bentuknya.
c. Daya Suspensi
Daya suspensi adalah sifat yang memungkinkan suatu bahan tetap
dalam cairan. Flokulan merupakan suatu zat
yang akan
menyebabkan butiran – butiran tanah liat berkumpul menjadi
butiran yang lebih besar dan cepat mengendap, contohnya:
magnesium sulfat. Deflokulan merupakan suatu zat yang akan
mempertinggi daya suspensi (menghablur) sehingga butiran –
butiran tanah liat tetap melayang, contohnya: waterglass/sodium
silikat, dan sodium karbonat.
14
d. Penyusutan
Tanah liat untuk mengalami dua kali penyusutan, yakni susut
kering (stelah mengalami proses pengeringan) dan susut bakar
(setelah mengalami proses pembakaran). Penyusutan terjadi karena
menguapnya air selaput pada permukaan dan air pembentuk atau
air mekanis sehingga butiran – butiran tanah liat menjadi rapat.
Pada dasarnya susut bakar dapat dianggap sebagai susut
keseluruhan dari tanah liat sejak dibentuk, dikeringkan sampai
sibakar. Persentase penyusutan yang dipersyaratkan untuk jenis
tanah liat earthenware sebaiknya antara 10% - 15%.
Tanah liat yang terlalu plastis pada umumnya memiliki persentase
penyusutan lebih dari 15% sehingga mengalami resiko retak/pecah
yang tinggi. Untuk mengatasinya dapat ditambahkan pasir halus.
e. Suhu bakar
Suhu bakar berkaitan langsung dengan suhu kematangan, yaitu
kondisi benda yang telah mencapai kematangan pada suhu tertentu
secara tepat tanpa mengalami perubahan bentuk, sehingga dapat
dikatakan tanah liat tersebut memiliki kualitas kemampuan bakar.
Dalam proses pembakaran tanah liat akan mengalami proses
perubahan (ceramic change) pada suhu sekitar 600oC, dengan
hilangnya air pembentuk dari bahan benda.
15
f. Warna Bakar
Warna bakar tanah liat dipengaruhi oleh zat/bahan yang terikat
secara kimiawi pada kandungan tanah. Warna pada tanah liat
disebabkan oleh zat yang mengotorinya, warna abu – abu sampai
hitam mengandung zat arang dan sisa – sisa tumbuhan, warna
merah disebabkan oleh oksida besi (Fe).Perubahan warna batu bata
merah dari keadaan mentah sampai setelah dibakar biasanya sulit
dipastikan.
3. Sifat Tanah Lempung Pada Pembakaran
Tanah Lempung yang dibakar akan mengalami perubahan seperti berikut:
1
Pada temperatur ± 150ºC, terjadi penguapan air pembentuk yang
ditambahkan dalam tanah lempung pada pembentukan setelah menjadi
batu bata mentah.
2
Pada temperatur antara 400ºC - 600ºC, air yang terikat secara kimia
dan` zat-zat lain yang terdapat dalam tanah lempung akan menguap.
3
Pada temperatur diatas 800ºC, terjadi perubahan-perubahan Kristal
dari tanah lempung dan mulai terbentuk bahan gelas yang akan
mengisi pori- pori sehingga batu bata menjadi padat dan keras.
4
Senyawa-senyawa besi akan berubah menjadi senyawa yang lebih
stabil dan umumnya mempengaruhi warna batu bata.
16
5
Tanah lempung yang mengalami susut kembali disebut susut bakar.
Susut bakar diharapkan tidak menimbulkan cacat seperti perubahan
bentuk (melengkung), pecah-pecah dan retak. Tanah lempung yang
sudah dibakar tidak dapat kembali lagi menjadi tanah lempung atau liat
oleh pengaruh udara maupun air.
D.
Abu Sekam Padi
Sekam padi merupakan salah satu limbah dari produk pertanian. Sekam
padi atau kulit padi adalah bagian terluar dari butir padi yang menjadi hasil
sampingan saaat proses penggilingan padi dilakukan sekitar 20 % dari
bobot padi adalah sekam padi dan kurang lebih 15 % dari komposisi
sekam adalah abu sekam padi yang dihasilkan saat sekam tersebut dibakar.
Sekam padi mengandung abu yang mempunyai kandungan silica yang
tinggi dan selulosa yang menghasilkan karbon ketika terdekomposisi
secara termal.
Abu sekam padi adalah hasil sisa dari pembakaran sekam padi, Abu sekam padi
merupakan salah satu bahan yang potensial digunakan di Indonesia karena
produksi pertanian yang tinggi dan penyebaran yang luas. Untuk menghasilkan
abu sekam padi yang bagus pada saat pembakaran suhu harus terkontrol,
sehingga menghasilkan abu sekam padi yang mengandung silika. Selama
proses perubahan sekam padi menjadi abu, pembakaran memghilangkan
zat-zat organik dan meninggalkan zat sisa yang kaya akan silika.
Selama proses perubahan sekam padi menjadi abu, pembakaran
memghilangkan zat-zat organik dan meninggalkan sisa yang kaya akan
17
silika.Komposisi kimia abu sekam padi adalah SiO2, Al2O3, Fe2O3, CaO,
Na2O, MgO, K2O, dan H2O.
E. Batu Bata
1. Difinisi Batu Bata
Batu bata merah adalah suatu unsur bangunan yang diperuntukkan
pembuatan konstruksi bangunan dan yang dibuat dari tanah dengan
atau tanpa campuran bahan-bahan lain, dibakar cukup tinggi, hingga
tidak dapat hancur lagi bila direndam dalam air. (NI-10,SII-0021-78)
Batu bata adalah salah satu unsur bangunan dalam pembuatan
konstruksi bangunan yang terbuat dari tanah liat ditambah air dengan
atau tanpa bahan campuran lain melalui beberapa tahap pengerjaan,
seperti menggali, mengolah, mencetak, mengeringkan, membakar
pada temperature tinggi hingga matang dan berubah warna, serta akan
mengeras seperti batu jika didinginkan hingga tidak dapat hancur lagi
bila direndam dalam air. Batu bata merah adalah batu buatan yang
terbuat dari suatu bahan yang dibuat oleh manusia supaya mempunyai
sifat-sifat seperti batu. Hal tersebut hanya dapat dicapai dengan
memanasi (membakar) atau dengan pengerjaan-pengerjaan kimia
(Djoko Soejoto, 1954).
Batu bata merupakan salah satu bahan material sebagai bahan
pembuat dinding. Batu bata terbuat dari tanah liat yang dibakar
sampai berwarna kemerah-merahan. Bata merah merupakan suatu
18
unsur bangunan yang diperuntukkan pembuatan kontruksi bangunan
dan yang dibuat dari tanah liat atau tanpa campuran bahan-bahan lain,
dibakar cukup tinggi hingga tidak dapat hancur lagi apabila direndam
dalam air. Menurut Frick (1980), bata merah merupakan hasil industri
rumah yang dilakukan oleh rakyat menggunakan bahan-bahan dasar
seperti lempung, sekam padi dan air.
Batu bata mempunyai sifat-sifat fisika sebagai berikut (Van Flack,
1992) :
1. Merupakan senyawa logam dan non logam.
2. Senyawa ini mempunyai ikatan ionik dan/atau ikatan kovalen.
Adanya ikatan ionik ini menyebabkan bahan keramik mempunyai
stabilitas yang relatif tinggi dan tahan terhadap perubahan fisika
dan kimia yang ekstrim.
3. Pada umumnya keramik bersifat isolator.
4. Keramik seperti batubata lainnya bersifat isolator karena memiliki
elektron bebas yang sedikit bahkan tidak ada. Elektron-elektron ini
berbagi dengan atom-atom yang berdekatan membentuk ikatan
kovalen atau perpindahan electron valensi dari kation ke anion
membentuk ikatan ion.
5. Mempunyai modulus elastisitas yang tinggi.
Modulus ini menyatakan tingkat kekakuan atau tegangan yang
diperlukan untuk menghasilkan satu satuan regangan elastis.
19
Keramik umumnya dianggap material yang getas dan tidak ulet.
Sebelum dan sesudah perpatahan, deformasi plastis yang dialami
mikrostruktur hanya sedikit bahkan tidak ada sama sekali.
Kekuatan keramik pada tegangan kompresi sangat baik, sehingga
pada perancangan barang-barang keramik diusahakan agar
pemakaian gaya bersifat kompresif . Sebaliknya kekuatan tarik
keramik tidak menyolok bahkan rendah karena pengaruh cacat
permukaan.
2. Setandar Batu Bata
Standarisasi merupakan syarat mutlak dan menjadi suatu acuan
penting dari sebuah industri di suatu Negara. Standar ukuran batu bata
di Indonesia berdasarkan Y.D.N.I (Yayasan Dana Normalisasi
Indonesia) nomor 15-2094-1991 menetapkan suatu ukuran bata merah
sebagai berikut :
a. Panjang 240 mm, lebar 115 mm dan tebal 25 mm
b. Panjang 230 mm, lebar 110 mm dan tebal 50 mm
Penyimpangan yang diijinkan oleh standar tersebt untuk panjang
adalah 3%, untuk lebar adalah maksimum 4%, sedangkan untuk tebal
adalah maksimum 5% .Sedangkan ukuran standar batu bata menurut
SII -0021-78 yaitu :
20
Tabel 2. Kelas modul batu bata SII – 0021 - 78
Modul
Tebal (mm)
Lebar (mm)
Panjang(mm)
M-5a
65
90
190
M-5b
65
140
220
M-6
55
110
220
Sumber dari SII-0021-78
Penyimpangan ukuran maksimum batu bata yang diperbolehkan
dalam SII-0021-78, adalah sebagai berikut :
Tabel 3. Daftar Penyimpangan Ukuran Maksimum Batu Bata sesuai
dengan SII-0021-78
Kelas
Penyimpangan Ukuran Maksimum (mm)
M-5a dan M-5b
M-6
Tebal
Lebar
Lebar
Panjang
25
2
3
5
2
3
5
50
2
3
5
2
3
5
100
2
3
4
2
3
4
150
2
2
4
2
2
4
200
2
2
4
2
2
4
250
2
2
4
2
2
4
Sumber : SII-0021-78
Panjang Tebal
21
Penyimpangan ukuran standar batu bata terbesar yang diperbolehkan
dalam SII-0021-78, yaitu 3% untuk panjang maksimum, lebar
maksimum 4%, dan tebal maksimum 5%. Sedangkan selisih antara
batu bata berukuran maksimum dengan batu bata berukuran minimum
yang diperbolehkan, yaitu untuk panjang 10 mm, lebar 5 mm, dan
tebal 4 mm. Seiring perkembangan zaman, batu bata yang beredar
dipasaran memiliki ukuran yang bervariasi, seperti contohnya batu
bata yang mempunyai ukuran 5 cm x 10 cm x 20 cm.
Adapun syarat-syarat batu bata dalam SNI 15-2094-2000 meliputi
beberapa aspek seperti :
a. Sifat Tampak
Batu bata harus berbentuk ptisma segi empat panjang, menpunyai
rusuk-rusuk yang tajam dan siku, bidang sisanya harus datar, tidak
menunjukan retak-retak.
b. Ukuran dan Toleransi
Standar batu bata merah di Indonesia oleh BSN (Badan Standar
Nasional) nomor 15-2094-2000 menetapkan suatu ukuran standar
untuk batu bata merah sebagai berikut :
Tabel 4 .Ukuran Batu Bata Berdasarkan SNI 15-2094-2000
Modul
Tebal (mm)
Lebar (mm)
Panjang(mm)
M-5a
65±2
90±3
190±4
M-5b
65±2
100±3
190±4
22
Modul
Tebal (mm)
Lebar (mm)
Panjang(mm)
M-6a
52±3
110±4
230±4
M-6b
55±3
110±6
230±5
M-6c
70±3
110±6
230±5
M-6d
80±3
110±6
230±5
Sumber : SNI 15-2094-2000
c. Kuat Tekan
Besarnya kuat tekan rata-rata dan koevisien variasi yang diijinkan
untuk bata merah pasangan dinding sesuai yaitu :
Table 5.Nilai Kuat Tekan
Kelas
Kekuatan Tekan Rata-Rata
Koefisien Variasi
Batu Bata
Izin
Kg/cm2
N/mm2
50
50
5,0
22 %
100
100
10
15 %
150
150
15
15 %
Sumber : (SNI 15-2094-2000)
3. Kegunaan dan Keuntungan Batu bata
Keberadaan batu bata disaat ini banyak mendantangkan keuntungan
yang dimilikinya. Batu bata memiliki banyak kegunaan diantaranya
sebagai bahan bangunan yang berkualitas dalam pembuatan bangunan
23
sipil, seperti gedung, dinding penahan, rumah, dan lain-lain.
Penggunaan batu bata memiliki beberapa keuntungan, yaitu :
a. Dapat diproduksi secara massal
b. Dapat diaplikasikan pada pembangunn gedung dengan tanpa
memerlukan keahlian khusus.
c. Pada kondisi pembebanan yang normal batu bata dapat digunakan
selama masa-masa pelayanan dan batu bata tidak mudah rusak.
d. Batu bata memiliki nilai estetika yang unik terutama jika didesain
dengan pola dan warna yang indah.
e. Perbandingan harganya lebih rendah dibanding dengan jenis batu
bata konvensional yang lain.
f. Pemasangannya cukup mudah dan biaya perawatannya pun murah.
g. Dengan adanya lubang ditengah membuat proses pembakaran lebih
sempurna, dan lebih cepat.
4. Tahapan atau Proses Pembakaran Batu bata
Pembakaran Batu bata dapat dilakukan dengan menyusun batu bata
secara bertingkat dan bagian bawah tumpukan itu diberi terowongan
untuk kayu bakar. Bagian samping tumpukan di tutup dengan batu
bata setengah matang dari proses pembakaran sebelumnya atau batu
bata yang sudah jadi. Sedangkan bagian atasnya ditutup dengan
batang padi dan lumpur tanah liat.
24
Saat kayu bakar telah menjadi bara menyala, maka bagian dapur atau
lubang tempat pembakaran tersebut di tutup dengan lumpur tanah liat.
Tujuanya agar panas dan semburan api selalau mengangah dalam
tumbukan bata. Proses pembakaran ini memakan waktu 1 hari
tergantung jumlah batu bata yang dibakar.
Proses ini ditata sedemikian rupa di atas tungku pembakaran,
memakai kulit sekam padi untuk membakar batu bata ini. Saat musim
hujan, proses pembakaran batu bata itu juga memerlukan waktu lebih
lama dibanding sebelumnya.
Download